Ceritasilat Novel Online

Bandit Penyulam 3

Eps 3 Bandit Penyulam - Khu Lung

Baca online Bandit Penyulam - Khu Lung

Cersil Bandit Penyulam - Khu Lung.

"Karena hal ini adalah urusan pribadiku, mengapa aku harus membiarkanmu menggantikanku?"

Raja Ular mendengus.

"Karena tanganmu gemetaran,"

Lu Xiao Feng balas mendengus.

"Karena selama 10 tahun ini kau sakit, karena kau telah tersiksa hingga ke titik di mana kau bahkan tidak tampak seperti seorang manusia lagi. Karena jika kau pergi sekarang, itu sama saja dengan bunuh diri!"

Tubuh Raja Ular yang kaku tiba-tiba menjadi lemas di kursinya, seolah-olah seluruh tubuhnya telah melunglai. Tapi Lu Xiao Feng masih belum melunak.

"Mungkin itulah yang kau inginkan, mati. Karena kau merasa bahwa hidup terus adalah jauh lebih menyakitkan daripada mati. Tapi aku tidak ingin melihatmu mati di tangan orang itu, dan tidak ingin melihat orang yang menghukummu hingga menderita seperti ini hidup di dunia ini."

Ia menggenggam tangan Raja Ular yang dingin dengan erat dan meneruskan, sambil menekankan setiap patah katanya.

"Karena kita bersahabat!"

Raja Ular memandang matanya, tiba-tiba air matanya mulai mengucur seperti pancuran.

"Pernahkah kau melihat isteriku? Tentu saja belum. Maka kau juga tak akan pernah tahu betapa hangat dan lembutnya dia sebagai seorang wanita."

Ia bergumam.

"Pernahkah kau melihat kedua puteraku? Mereka adalah anak-anak yang cerdas dan lucu, mereka baru berumur 5 dan 6 tahun...."

"Mereka tewas di tangan manusia itu?"

Lu Xiao Feng bertanya dengan rahang terkatup rapat.

"Ia bukan manusia!"

Raja Ular mulai sesenggukan lagi, suaranya semakin serak.

"Hatinya lebih berbisa daripada ular atau kalajengking, sifatnya juga lebih kejam daripada monster. Mungkin ia adalah seorang setan betina yang telah melarikan diri dari neraka jahanam!"

"Ia seorang wanita?"

Raja Ular mengangguk.

"Siapa namanya?"

"Nyonya Pertama Gong Sun."

Raja Ular menjelaskan lagi.

"Namanya yang sebenarnya adalah Gong Sun Lan, 'Lan' seperti dalam anggrek. Menurut kabar burung, ia adalah keturunan dari si cantik yang termasyur Nyonya Pertama Gong Sun di jaman awal Dinasti Tang. Maka orang-. orang yang mengenalnya semua memanggilnya Nyonya Pertama Gong Sun juga."

"Tapi aku tidak mengenalnya, aku tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya."

"Ia tidak terkenal, ia juga tidak ingin terkenal. Menurutnya, kemasyuran itu hanya akan membawa kesulitan."

"Paling tidak ia tentu seorang wanita yang sangat cerdas."

Desah Lu Xiao Feng.

Siapa lagi yang lebih tahu tentang kesulitan dan kecemasan yang datang bersamaan dengan kemasyuran selain dari Lu Xiao Feng?

"Tapi ia menggunakan banyak nama alias, nama-nama itulah yang mungkin kau kenal!"

"Oh?"

"Wanita Penjagal, Lebah Bunga Persik, Wanita Lima Racun, Nenek Perampas Jiwa.... Kau tentu telah mendengar semua nama ini sebelumnya!"

"Mereka semua itu adalah dia?"

Ekspresi wajah Lu Xiao Feng pun berubah.

"Semuanya."

"Tampaknya ia benar-benar seorang wanita yang sangat hebat dan menakutkan."

Lu Xiao Feng menarik nafas dan bertanya.

"Jika gerak-geriknya begitu rahasia, lalu bagaimana caramu menemukannya?"

"Aku tidak menemukan dia, dialah yang menemukan aku."

Raja Ular memasukkan tangannya ke dalam bajunya dan mengeluarkan sehelai amplop yang tadinya tergulung kusut tapi kemudian dilicinkan kembali.

"Aku tahu siapa dirimu, dan aku juga tahu kau tentu benar-benar ingin menemuiku. Saat senja hari bulan purnama, aku akan menunggumu di Gerbang Barat. Sebaiknya kau datang membawa beberapa keping uang perak dan mengundangku untuk menikmati masakan sayur-sayuran yang terkenal di sana."

Tulisan tangan itu sangat rapi, sangat indah. Di bagian bawah di mana orang biasanya mencantumkan tanda-tangannya, malah terdapat gambar sebatang bunga anggrek.

"Ia memberikan surat ini pada salah satu anak-buahku yang berada di bagian selatan kota dengan instruksi menyerahkannya langsung padaku!"

"Ia tidak memberikan surat ini langsung padamu, mungkin karena ia tidak tahu di mana kau tinggal!"

Lu Xiao Feng termenung setelah berfikir sebentar.

"Memang tidak banyak orang yang bisa sampai ke tempatku yang kecil ini!"

"Gerbang Barat, apakah itu Pintu Gerbang Barat di mana ada sebaris pohon plum di sebelah dalamnya?"

"Ya."

"Dan hari ini adalah hari bulan purnama?"

"Hari ini tanggal 15."

"Ia mengatur pertemuan itu pada malam hari, sekarang masih pagi dan kau telah bersiap-siap untuk pergi?"

"Kau fikir sekarang ini waktu apa? Pagi?"

Lu Xiao Feng tiba-tiba melihat bahwa sinar matahari di luar sana mulai pudar, ternyata matahari sudah hampir terbenam.

"Dosis obat itu sebenarnya cukup untuk membuatmu tidur sampai besok pagi, tapi tampaknya tidak ada obat yang cukup kuat untukmu."

"Mungkin karena aku benar-benar sudah hampir mati rasa."

Lu Xiao Feng tersenyum sabar.

"Aku tahu kalau aku benar-benar bukan tandingannya,"

Raja Ular memandang Lu Xiao Feng.

"Tapi kau...."

"Kau tidak perlu mencemaskanku, aku pernah bertemu dengan orang-orang yang 10 kali lebih menakutkan daripada dia dan aku masih bisa berada di sini."

Ia tidak membiarkan Raja Ular menjawab dan meneruskan.

"Tapi masih ada satu hal yang membuatku khawatir!"

"Apa?" .

"Aku khawatir kalau aku tak dapat menemukannya. Karena ia memiliki segala macam nama yang berbeda, maka ia tentu memiliki segala macam wujud yang berbeda-beda pula. Di samping itu, semua wanita hanya perlu mengganti pakaiannya dan mereka akan tampak benar-benar berbeda."

"Keahlian menyamarnya memang benar-benar luar biasa dan ia sangat jarang memperlihatkan wajahnya yang asli pada orang lain. Tapi ia memiliki sebuah cacat, selama kau tahu cacat ini, maka kau akan selalu dapat mengenalinya!"

Tampaknya setiap wanita memang memiliki semacam cacat.

"Apa cacatnya?"

Lu Xiao Feng cekikikan sedikit.

"Cacatnya sangat luar biasa."

Tampaknya, semakin cerdas dan cantik wanita itu, semakin luar biasa pula cacatnya.

"Ia memiliki sebuah kebiasaan. Tak perduli apa pun yang ia pakai, tak perduli ia sedang menyamar jadi apa, sepatu yang ia kenakan tidak pernah berubah!"

"Sepatu macam apa yang ia kenakan?"

Mata Lu Xiao Feng tampak berkilauan.

"Sepatu merah!"

Lu Xiao Feng tersentak.

"Sepatu sulam berwarna merah darah, seperti yang dipakai oleh pengantin di hari pernikahannya. Kecuali bukan angsa yang tersulam di sepatu itu, tapi burung hantu!"

Bab 6.

Cara Meloloskan Diri Yang Cerdik Gerbang Barat terletak di bagian barat kota.

Tempat itu adalah sebuah taman bunga dan kebun yang amat besar.

Matahari telah terbenam, di bawah naungan pohon, di dalam pondok-pondok dan paviliun, menyala sejumlah lentera yang terang seperti bintang.

Bersama hembusan angin malam, tercium harum bunga, dan juga bau arak.

Bulan tampak bundar seperti sebuah cermin yang bergelantungan di salah satu pohon.

Dua batang pohon kapas berwarna merah seperti buah cherry saling bertautan dengan akar yang saling mengait, dan berdiri miring satu sama lain, seperti dua orang kekasih yang saling berpelukan dengan lembutnya.

Lu Xiao Feng tiba-tiba teringat pada Xue Bing lagi.

Bila Xue Bing muncul di dalam fikirannya, seakan-akan seseorang telah menusuk hatinya dengan sebatang jarum.

Ia bukanlah orang yang tidak berperasaan, tapi ia juga tahu bahwa ini bukanlah saatnya untuk bersedih.

Ia telah berjalan mengelilingi taman itu sebanyak satu kali.

Malam itu tidak banyak tamu wanita di tempat itu, tapi ia masih harus mencari seorang wanita yang mengenakan sepatu merah.

Tetapi ia tidak menjadi gelisah.

Karena Gong Sun Lan tidak tahu bahwa ada seseorang seperti Lu Xiao Feng yang sedang mencarinya di taman ini.

Ini tentu saja memberi keuntungan baginya.

Bulan yang berbentuk seperti piring dingin telah beranjak naik semakin tinggi di langit malam.

Sinar bulan yang kabur dan samar-samar tampak cukup indah untuk memikat hati manusia.

Jika Xue Bing berada di sisinya, ia tentu akan merengek minta dicarikan tempat duduk dan minta dipesankan seporsi besar masakan yang terkenal di tempat ini.

Di depan orang lain, ia selalu bersikap sangat pemalu, wajahnya memerah sebelum ia bisa mengucapkan sepatah kata pun.

Tapi bila bersama Lu Xiao Feng, maka ia tiba-tiba seperti berubah menjadi seorang anak kecil yang manja.

Meributkan tentang satu hal sebentar, selanjutnya mengomel tentang hal lain, hampir tidak ada saat-saat yang damai di antara mereka.

Lu Xiao Feng tiba-tiba menyadari sesuatu -ia menyukai omelan gadis itu, suka mendengar omelannya, melihatnya mengomel, suka melihatnya melakukan suatu kenakalan di depannya, suka....

Ia berhenti melamun lebih jauh.

Ia bersiap-siap untuk berjalan ke arah lain.

Tepat saat ia hendak berputar, tiba-tiba ia melihat seorang nenek berjalan keluar dari bawah naungan sebatang pohon.

Ia adalah seorang nenek yang sangat tua dan .

mengenakan gaun atau jubah hijau yang telah ditambal lebih dari seratus kali.

Di atas punggungnya seperti ada sebuah batu karang raksasa yang membuat tubuhnya jadi bungkuk.

Maka, bila ia berjalan, ia selalu terbungkuk-bungkuk seperti sedang mencari sesuatu di atas tanah.

Sinar bulan menerangi wajahnya dan tampaklah wajah yang penuh keriput, seperti sehelai kertas kapas yang telah digulung-gulung tapi kemudian dilicinkan kembali.

"Kacang gula!"

Di tangannya tergantung sebuah keranjang bambu yang tertutup oleh sehelai kain katun yang sangat tebal.

"Kacang goreng gula yang segar, lezat dan masih panas. Hanya sepuluh sen sekatinya!"

Wanita tua yang miskin dan kesepian serta telah memasuki usia senja ini masih perlu keluar dan berteriak sekeras mungkin dengan suaranya yang serak itu untuk menjual kacang gulanya.

Lu Xiao Feng tiba-tiba merasa sangat iba padanya, ia memang seorang laki-laki yang penuh perasaan belas kasih.

"Nenek, ke sinilah, aku beli dua kati."

Kacang itu benar-benar harum aromanya dan panas, dan juga segar, persis seperti yang ia teriakkan tadi.

"Kau bilang tadi harganya sepuluh sen sekatinya?"

Nenek itu mengangguk, ia masih terbungkuk-bungkuk, seakan-akan ia sedang tertarik pada sepatu Lu Xiao Feng, padahal itu terjadi karena ia tidak bisa berdiri tegak lagi.

"Tidak, sepuluh sen sekati tidaklah mungkin!"

Lu Xiao Feng menggelengkan kepalanya.

"Hanya sepuluh sen, Tuan, menurutmu itu masih terlalu mahal?"

"Kacang yang begini bagus harganya paling tidak 10 tael perak sekati dan aku tidak mau membayarnya kurang dari satu sen pun!"

Si nenek tersenyum.

Senyuman itu membuat keriput di wajahnya makin kelihatan.

-Apakah orang ini memang dungu ataukah ia seorang yang benar-benar amat kaya?

"Sepuluh tael perak sekati, jika kau mau menjualnya dengan harga itu, maka aku akan membeli dua kati darimu."

Tentu saja si nenek setuju.

"Aku bahkan mau menjualnya dengan harga 20 tael perak sekati!"

Mengapa orang semakin tamak bila mereka semakin tua? "Tapi aku membutuhkan bantuanmu!"

Lu Xiao Feng tersenyum.

"Tuan, apa yang bisa dibantu oleh sekantung tulang tua seperti diriku ini?"

Si nenek balas tersenyum secara sekilas.

"Hanya kau yang bisa melakukan ini!"

Mengapa? "Karena kau terbungkuk-bungkuk seperti itu sehingga kau seolah-olah sedang mencari sesuatu di atas tanah."

Lu Xiao Feng tersenyum.

"Aku butuh bantuanmu untuk menemukan sesuatu!"

Menemukan apa? "Aku ingin kau menemukan seorang wanita yang memakai sepasang sepatu merah untukku. Bukan sepatu merah biasa, tetapi sepasang sepatu merah dengan sulaman burung hantu di atasnya."

Si nenek pun tersenyum.

Tak ada yang lebih cocok untuk diminta dari seseorang seperti dia.

Bahkan jika ia merunduk-runduk di bawah pakaian orang lain, tak ada orang yang akan curiga padanya.

Ia mengambil uang 20 tael perak itu.

Senyumannya begitu lebar sehingga matanya hanya tampak seperti dua garis yang tipis.

"Tunggulah di sini, Tuan, aku akan memberitahumu setelah aku menemukannya."

"Jika kau bisa menemukannya, maka aku akan membeli 5 kati lagi darimu saat kau kembali nanti." . Si nenek meneruskan langkahnya dengan gembira. Lu Xiao Feng juga merasa bahagia, bukan hanya bahagia, tapi juga bangga. Hanya orang cerdas seperti dirinya yang bisa memikirkan cara yang demikian cerdik. Ia tiba-tiba menyadari bahwa ia adalah seorang yang jenius. Tapi ia lupa sesuatu -hidup orang-orang jenius biasanya singkat! Kacang itu masih panas, panas dan mengundang air liur. Lu Xiao Feng memutuskan untuk memberi selamat pada dirinya sendiri atas kerja kerasnya. Ia menemukan sebuah batu cadas yang besar dan relatif bersih untuk diduduki. Setelah duduk, ia membuka kulit sebutir kacang dan hendak memasukkannya ke dalam mulutnya ketika ia tiba-tiba teringat lagi pada Xue Bing. Xue Bing sangat suka makan kacang. Pada hari yang dingin, ia selalu meletakkan kacang di pangkuannya dan menggunakannya untuk menghangatkan tangannya sebelum memakan kacang itu satu demi satu. Sekali waktu saat Lu Xiao Feng bertemu dengannya, ia sedang asyik makan kacang. Hari itu sangat dingin. Tangan Lu Xiao Feng rasanya seperti akan buntung dalam hawa yang dingin membeku itu. Gadis itulah yang menggenggam tangannya dan meletakkannya di atas pangkuannya. Bahkan hingga saat ini, kehangatan yang manis itu tampaknya masih terasa di ujung jari Lu Xiao Feng. Tapi di manakah si dia sekarang berada? Bagaimana mungkin Lu Xiao Feng sanggup memakan kacang ini? Dari balik semak-semak bunga di kejauhan sana, sebuah suara nyanyian yang sedih dan memilukan terdengar mengalun di udara malam.

"Rambut hitam acak-acakan, malam yang telah hening larut, alis mata yang membawa kebencian memikirkan bukit-bukit di kejauhan, tunas bambu yang sedang tumbuh membawa keharuman, untuk siapakah air mata mengalir, untuk siapakah air mata terbagi?"

Suara nyanyian yang indah itu penuh dengan semacam kenangan yang tebal dan tak dapat ditembus.

Lu Xiao Feng menarik nafas dengan lembut.

Kacang-kacang yang tadinya berada di tempatnya karena tertahan oleh sabuk yang diletakkan di atas pangkuannya, sekarang jatuh ke tanah dan berserakan.

Bahkan ia sendiri tidak menyadari bahwa ia adalah orang yang demikian sentimentil dan mudah gelisah.

Ia bersandar pada sebatang pohon di samping batu cadas yang ia duduki dan menutup matanya.

"Bagaimana jika aku tidak pernah menemukannya lagi?"

Tiba-tiba ia merasa amat tertekan dan putus asa, bahkan tidak ingin bergerak sedikit pun.

Tubuhnya sama sekali tak bergerak sehingga ia mirip seperti orang mati.

Saat itulah nenek penjual kacang tadi muncul kembali dari balik kegelapan.

Mata Lu Xiao Feng tidak sepenuhnya tertutup, matanya masih terbuka sedikit seperti sebuah garis tipis.

Reaksi awalnya adalah ia akan duduk dan bertanya pada si nenek apakah ia telah menemukan wanita bersepatu merah itu.

Tapi tiba-tiba, ia melihat bahwa matanya yang tadi tua dan kabur sekarang berkilauan dengan sinar setajam pisau, sinar pembunuh.

Seorang nenek seperti ini seharusnya tidak memiliki sinar mata seperti itu.

Jantung Lu Xiao Feng tiba-tiba seperti tertusuk oleh seberkas cahaya, cahaya inspirasi.

Ia menahan nafasnya.

Nenek itu memandang padanya, memandang pada kacang-kacang yang berserakan di atas tanah, pada bibirnya yang kering, di mulutnya mulai tersungging sebuah senyuman yang menyeramkan dan keji.

Di bawah bayang-bayang pepohonan, air muka Lu Xiao Feng tampak pucat pasi.

"Kacang yang begini enak,"

Si nenek bergumam.

"Satu saja cukup untuk membunuh paling sedikit 3 orang, sayang sekali kalau membiarkannya berserakan saja di sini."

Maka ia berjalan menghampiri dengan terpincang-pincang.

Lu Xiao Feng tiba-tiba menyadari bahwa walaupun jalan si nenek lambat dan canggung, langkah kakinya .

sangat ringan.

Pakaian yang ia kenakan pun begitu panjangnya hingga terseret-seret di tanah, menutupi kakinya.

Sepatu macam apakah yang ada di kaki itu?

Lu Xiao Feng tiba-tiba membuka matanya, menatap si nenek.

Anehnya, si nenek tidak terkejut, paling tidak Lu Xiao Feng tak melihat tanda-tanda kekagetan di wajahnya.

Ia benar-benar seorang wanita yang tak mudah tergoyahkan dan dapat mempertahankan sikapnya dan tersenyum seperti saat mereka bertemu pertama kalinya tadi.

"Tampaknya tidak ada perempuan bersepatu merah di sekitar sini, tapi ada dua orang yang bersepatu kuning dan ungu!"

Lu Xiao Feng membalas senyumannya.

"Di sini ada seorang wanita bersepatu merah, aku telah menemukannya!"

"Tuan telah menemukannya? Di mana Tuan menemukannya? "

"Di sini. Kamu!"

"Saya?"

Si nenek memandangnya dengan heran.

"Mengapa seorang nenek tua sepertiku memakai sepatu merah?"

"Mataku bisa menembus benda-benda."

Lu Xiao Feng berkata seenaknya.

"Dan aku bisa melihat saat ini juga sepatu merah itu ada di kakimu, dan burung hantu itu tersulam di sepatu tersebut!"

Nenek itu tiba-tiba tertawa. Tawanya terdengar seperti suara denting lonceng perak, bukan, bahkan jauh lebih merdu di telinga daripada suara lonceng perak.

"Kau tidak memakan kacang gulaku?"

"Tidak."

"Kacang goreng gula yang begitu lezat, mengapa kau tidak memakannya?"

Lu Xiao Feng menarik nafas.

"Karena aku seorang yang romantis!"

"Orang yang romantis tidak makan kacang gula?"

Si nenek mengedip-ngedipkan matanya.

"Kadang-kadang ya, tapi hanya yang tidak beracun."

Si nenek tertawa, tawa yang bunyinya seperti suara denting lonceng perak.

"Lu Xiao Feng benar-benar Lu Xiao Feng!"

"Kau tahu bahwa aku adalah Lu Xiao Feng?"

"Berapa banyak orang di dunia ini yang memiliki 4 alis di wajahnya?"

Ia tertawa.

Lu Xiao Feng pun tertawa.

Tawanya, tentu saja, tidak menggelitik seperti suara si nenek, ini karena ia bukan benar-benar sedang tertawa.

Ia tahu kalau si nenek hendak menyerang, dan juga tahu bahwa serangan ini tidak akan mudah dihadapi.

Ia benar.

Tepat saat ia mulai tertawa, si nenek mengeluarkan sepasang pedang pendek, belati, dari keranjangnya, pedang dengan seutas selendang sutera berwarna merah menyala terikat pada gagangnya.

Tepat saat ia melihat pedang itu, kedua bilah pedang itu pun berkilauan dan telah tiba di tenggorokannya.

Serangan yang demikian cepat!

Pedang yang begitu cepat!

Lu Xiao Feng tidak berani menangkap pedang itu dengan tangannya, ia khawatir kalau badan pedang telah dilumuri dengan racun.

Biasanya ia merupakan orang yang suka seenaknya dan acuh tak acuh, tapi di saat-saat genting antara hidup dan mati, tidak banyak orang yang lebih bijak dan teliti daripada dirinya bisa ditemukan di dunia ini.

Seperti seekor ikan yang sedang berenang, tiba-tiba ia melayang menjauh.

Bukan hanya reaksinya cepat, gerakan itu sendiri bahkan lebih cepat.

Tapi tidak perduli ke mana pun ia pergi, kilauan pedang yang terang dan menari-nari itu tetap mengikutinya.

Kilauan pedang itu berwarna-warni dan berkerlap-kerlip, di bawah hawa pedang yang dingin dan tak kenal belas kasihan itu, daun-daun di pepohonan rontok dari dahannya dan perlahan-lahan melayang turun ke tanah hanya untuk dicabik-cabik sesaat kemudian oleh kilatan pedang itu.

Tubuh Lu Xiao Feng telah basah kuyup oleh .

keringat.

Ia dulu beranggapan bahwa XiMen ChuiXue dan Ye Gu Cheng adalah jago-jago pedang yang paling menakutkan di dunia persilatan, tapi ia tidak membayangkan bahwa ada seseorang seperti ini di dunia.

"Gong Sun si Cantik dari Masa Lampau, tarian pedangnya bergerak ke segala penjuru, para penonton seperti gunung yang kehilangan warnanya dalam kesedihan, dunia mengaku kalah dan tunduk untuk selamanya."

"Indah seperti Yi yang melesat di antara 9 matahari, angkuh seperti kaisar yang melompat naik ke atas punggung naga, datang seperti guntur yang keras dan mengguncangkan dunia, pergi seperti murninya air sungai dan samudera...."

Mungkin tidak ada penonton yang seperti gunung di sini, tapi wajah Lu Xiao Feng memang telah kehilangan warnanya.

Bahkan bulan purnama yang terang benderang pun kehilangan sinar dan warnanya di bawah hawa pedang yang membekukan ini.

Mungkinkah ini tarian pedang yang dulu diajarkan Nyonya Gong Sun Cui di jaman dulu pada murid-muridnya?

Baru sekarang Lu Xiao Feng benar-benar menyadari bahwa sutera dan pedang tidak hanya bisa digunakan dalam tarian untuk menghibur orang, tapi juga bisa digunakan untuk membunuh.

Kapan saja ia bisa terbunuh oleh pedang-pedang ini.

Mengendalikan pedang-pedang itu dengan kain sutera merah ternyata membuat pedang-pedang itu jauh lebih cepat dan gerakannya jauh lebih lincah daripada hanya menggunakan tangan.

Dan kecepatan pedang-pedang itu dalam perubahan gerakan dan variasinya benar-benar amat membingungkan.

Baju Lu Xiao Feng telah robek di beberapa tempat dan sekarang punggungnya pun terpaksa telah mepet pada sebatang pohon.

"Sing!"

Suara desing terdengar saat pedang-pedang itu terbang membelah udara seperti sepasang naga merah yang memburu ke arahnya.

Kali ini tak ada lagi tempat untuk melarikan diri baginya.

Sudut bibir Nyonya Pertama Gong Sun sekali lagi membentuk sebuah senyuman yang keji.

Tapi ia pun tahu bahwa kemampuan terbaik Lu Xiao Feng adalah menemukan cara untuk bertahan hidup dalam situasi yang amat genting.

Tiba-tiba tubuh Lu Xiao Feng merosot turun di batang pohon seperti seekor ular, dan terus merosot sampai ke tanah.

"Duk!"

Badan pedang itu telah mengenai batang pohon dan menancap di dalamnya.

Saat itulah Lu Xiao Feng melompat bangkit dari tanah dan, dengan sebuah sentilan tangannya, memotong jadi dua selendang sutera yang terikat pada gagang pedang itu!

Ini sama saja seperti memotong tangan yang memegang kedua pedang itu.

Tubuh Nyonya Pertama Gong Sun pun melayang dan ia berjumpalitan di udara, membuat gaunnya yang panjang itu berkibar-kibar.

Akhirnya, Lu Xiao Feng melihat sepatunya.

Sepatu merah!

Bulan yang terang benderang masih bergantung di tengah angkasa, sepatu merah itu hanya terlihat sekilas dalam sinar bulan sebelum tubuh wanita itu melesat pergi sejauh 10 meter lebih.

Tentu saja Lu Xiao Feng tidak mau membiarkannya pergi seperti itu.

Tapi saat ia mulai mengejar, ia telah ketinggalan selangkah di belakang.

Satu langkah yang tak bisa ia perpendek lagi.

Tak perduli apa pun yang ia lakukan, jarak di antara mereka tetap 10 meter.

Lu Xiao Feng telah bertemu dan melihat sejumlah jagoan ilmu meringankan tubuh di dunia persilatan.

Tentu saja, SiKong ZhaiXing adalah yang terbaik di antara mereka, tapi Yan TieShan, Huo TianQing, XiMen ChuiXue dan Hwesio Jujur tidak terlalu jauh di bawahnya.

Tapi jika orang-orang itu berlari menjauh dari Lu Xiao Feng pada saat ini, ia tentu telah berhasil mengejar mereka.

Ia tiba-tiba menyadari bahwa bukan hanya ilmu pedang "nenek"

Ini yang sangat tangguh, tapi ilmu meringankan tubuhnya pun telah mencapai tingkatan yang belum pernah ia temui sebelumnya.

Bunga-bunga, pohon-pohon, taman, hutan, pondok-pondok, altar, paviliun, gedung-gedung, semuanya .

seperti terbang di bawah kaki mereka dan menghilang.

Berikutnya adalah deretan atap rumah, lalu jalan-jalan.

Nyonya Pertama Gong Sun masih belum melambat, jelas ia bukan seorang nenek yang kemampuannya mundur oleh usia tuanya.

Tapi Lu Xiao Feng adalah seorang pemuda bertubuh kuat yang sedang berada di puncak kekuatan mental dan fisiknya, maka ia pun tidak melambat.

Nyonya Pertama Gong Sun menyadari bahwa menyingkirkan orang di belakangnya ini bukanlah urusan yang gampang.

Jalan yang sekarang mereka lewati tampak terang benderang.

Malam masih belum begitu larut dan jalan ini kebetulan merupakan jalan yang paling ramai dan sibuk di kota itu.

Di sana ada dua atau tiga buah warung teh dan warung arak yang berbeda-beda di sepanjang jalan bersama dengan berbagai macam pedagang di kedua sisinya, beberapa di antaranya menjual peralatan rumah tangga dan bumbu masak, sementara beberapa lainnya sibuk menjual makanan seperti bubur ikan dan angsa bakar.

Nyonya Pertama Gong Sun tiba-tiba turun dan mendarat di tengah jalan raya.

"Tolong! Tolong!"

Ia pun mulai menjerit.

Ia berlari ke sebuah warung teh sambil menjerit-jerit.

Lu Xiao Feng mengikutinya dengan rapat.

Tapi seorang nenek yang menjerit-jerit minta pertolongan dengan seorang laki-laki muda yang kuat sedang mengejarnya, bukanlah pemandangan yang indah bagi orang-orang itu, mereka juga tak senang melihat kejadian seperti itu.

Sekarang telah ada beberapa orang pemuda yang tampaknya marah sedang berteriak-teriak dan memaki Lu Xiao Feng, bahkan di antaranya ada yang mengeluarkan pisau.

Lu Xiao Feng tahu kalau ia berada dalam kesulitan.

Tentu ia bisa saja berusaha memberi penjelasan pada orang-orang muda yang pemberani dan adil ini, yang berusaha melakukan apa yang mereka anggap benar, tapi orang-orang ini tampaknya tidak sabar lagi untuk memukulinya hingga jadi bubur!

Tujuh atau delapan orang di antara mereka tiba-tiba menyerangnya secara serentak, ada yang mengayun-ayunkan golok, yang lainnya membawa bangku, dan mereka mengepung Lu Xiao Feng.

"Hei, ken'pa kau mengej'r-ngej'r seor'ng wan'ta tua di teng'h jal'n sini? Kau ing'n memp'rkosanya?"

Mereka berteriak-teriak padanya.

Lu Xiao Feng tak tahu apakah harus tertawa atau menangis.

Ia ingin menjelaskan, tapi tak tahu harus mulai dari mana.

Ia ingin menyerang, tapi tidak tega melakukannya.

Sementara ia sedang bimbang, sebuah bangku datang mengaung dari atas.

Yang bisa ia lakukan adalah mengulurkan tangan dan menangkis dengan tangannya.

"Bum!"

Tangannya baik-baik saja, tapi bangku itu hancur berantakan.

Orang-orang itu terperanjat dan terdiam selama beberapa saat.

Saat itulah seseorang tiba-tiba bergegas maju dan memberikan tamparan di setiap wajah mereka.

Tapi anehnya, tak satu pun dari pemuda-pemuda itu yang membalas serangan itu, mereka juga tidak berusaha menghindar.

Lu Xiao Feng akhirnya menarik nafas lega, ia mengenali orang ini sebagai salah satu dari dua orang laki-laki yang berada di halaman luar paviliun Raja Ular yang mencoba untuk mengujinya kemarin.

"Ap'kah kali'n bangs't-bangs't ini tida'k ta'u s'apa dia?"

Orang itu menunjuk Lu Xiao Feng dan berkata dengan keras.

"Beli'u ad'lah sah'bat b'ik Raja Ular dan or'ang y'ang memil'ki kungfu terb'ik di dunia, Luk Siu Fung!"

Bagi orang-orang muda ini, nama Lu Xiao Feng tidak berarti banyak, tapi sahabat Raja Ular tentu saja tidak boleh disentuh.

Maka orang-orang yang menghunus golok pun segera menyarungkan goloknya, orang-orang yang membawa bangku segera meletakkan bangkunya dan mereka masing-masing berjalan menghampiri Lu Xiao .

Feng dan meminta maaf!

Tapi Lu Xiao Feng telah mengambil kesempatan itu untuk keluar dari kepungan itu dan berlari ke pintu belakang.

Tadi ia melihat Nyonya Pertama Gong Sun melarikan diri lewat pintu belakang ini, tapi sekarang hanya ada seekor anjing tak bertuan yang sedang menggerogoti sebatang tulang di selokan.

Sedikit pun tidak terlihat bayangan Nyonya Pertama Gong Sun.

Lu Xiao Feng menarik nafas dan berputar, ia tahu tidak ada gunanya mengejar lagi.

Laki-laki bertubuh besar itu telah mengikutinya sampai ke sini dan sekarang berjalan menghampirinya.

"K'mi b'ru saja hend'k menc'ri Tuan di G'rbang Bar't,"

Sambil tersenyum, ia berkata pada Lu Xiao Feng, berusaha keras untuk menghilangkan dialek lokalnya.

"Tapi terny'ta Tuan m'lah ada di sini!"

"Apakah ada sesuatu yang terjadi?"

Orang itu mengangguk.

"K'mi t'lah menem'kan di mana nona itu berada, ia...."

Jika ada satu hal yang perlu ditakutkan di dunia ini, itu adalah bila orang-orang Canton berusaha mengucapkan bahasa Mandarin.

Sambil tergagap-gagap dan ucapannya pun terpotong di sana-sini, orang itu telah mengeluarkan butiran keringat yang besar-besar karena frustrasinya.

Tapi Lu Xiao Feng lebih frustrasi lagi.

"Di mana dia?"

Ia memotong.

"Aku 'kan memb'wa Tuan ke s'na!"

Jalan itu masih ramai, tapi melihat laki-laki bertubuh besar ini berjalan ke arah mereka, orang-orang itu semuanya dengan diam-diam dan penuh hormat menyingkir ke samping.

"Marg'ku juga Luk, 'ku Luk Guang."

Tampaknya ia merasa terhormat karena memiliki marga Lu juga. Tapi Lu Xiao Feng hanya berharap agar dia mengurangi bicaranya dan berjalan lebih cepat.

"Aku meng'gumi T'an, k'ngfu T'an ben'r-ben'r yang terb'ik."

Tapi Lu Guang tetap berusaha keras untuk membuatnya terkesan.

"Ini en'ak, T'an mau?"

Ia berkata sambil memasukkan tangannya ke dalam baju dan mengeluarkan beberapa butir kacang gula, kacang goreng gula yang panas dan tampak lezat! Tapi Lu Xiao Feng seperti melihat seekor ular berbisa.

"Dari mana kau mendapatkan ini?"

Ia bertanya sambil mencengkeram tangan Lu Guang.

"Aku memb'linya, tentu s'ja!"

Lu Guang menjawab setelah terkejut sebentar.

"Aku tid'k pern'h meng'mbil barang or'ng lain tanpa al'san!"

"Di mana kau membelinya? Di mana orang yang menjualnya padamu?"

"Di s'na."

Mengikuti arah yang ditunjuk oleh Lu Guang itu, di sana benar-benar ada seorang penjual kacang.

Orang itu sedang sibuk menggoreng sekaleng besar kacang.

Kacang memang bukan barang langka, banyak orang yang menjualnya di mana-mana.

Lu Xiao Feng menarik nafas lega, tapi telapak tangannya telah penuh dengan keringat dingin.

Sambil merenung kembali, ia menyadari bahwa saat-saat ia tadi membuka kulit kacang itu bisa jadi merupakan saat yang paling berbahaya dalam hidupnya.

Jika ia memasukkan kacang itu ke dalam mulutnya, ia tak akan menjadi Lu Xiao Feng lagi saat ini.

"Orang mati adalah orang mati. Orang mati tidak punya nama."

Bahkan detik-detik saat pedang Ye Gu Cheng mengancam dadanya tidaklah begitu berbahaya seperti saat tadi.

Ia tiba-tiba menyadari bahwa ternyata ada untungnya juga tadi merasa romantis.

Di samping itu, paling tidak ia sekarang telah menemukan di mana Xue Bing berada..Lu Xiao Feng tiba-tiba merasa sangat bahagia.

"Jadi namamu juga Lu, hah? Hebat!"

Ia tersenyum dan menepuk pundak Lu Guang.

"Bila kita punya waktu, aku akan mengundangmu minum teh bersamaku."

Minum teh adalah hobinya orang-orang Canton, tidak makan sih oke-oke saja, tapi tidak minum teh adalah tak dapat dimaafkan. Tapi, dengan tidak terduga, Lu Guang menggelengkan kepalanya.

"Aku tidak minum teh, aku hanya minum arak!"

Lu Xiao Feng tertawa, tertawa begitu keras dan kuatnya sehingga orang-orang di jalan itu berpaling dan menatapnya.

Tapi ia tidak perduli.

Bila ia sedang bahagia, ia ingin setiap orang di dunia ini tahu dan bahagia bersamanya.

Sekarang, Lu Guang telah berbelok ke sebuah gang sempit.

Gang ini berada di antara sebuah toko roti dan tukang jahit.

Gang itu sendiri sangat sempit dan tidak mungkin dua orang bisa berjalan berdampingan di situ.

Gang itu seperti sebuah ruang kecil yang sengaja disisakan oleh kedua toko itu saat mereka membangun tokonya.

Mungkin hal itu terjadi karena kedua toko itu tidak saling akur, tak ada yang mau mempunyai sebuah dinding milik bersama yang memisahkan mereka dengan orang yang tidak mereka sukai.

Tapi di ujung gang itu ada sebuah pintu kecil bercat merah.

Seorang laki-laki sedang berdiri di depan pintu itu dengan gelisah.

Begitu gelisahnya ia sehingga ia terus-menerus menggosok kedua tangannya.

Saat melihat Lu Guang, orang itu berjalan menghampiri dan berbisik di telinganya.

Ekspresi wajah Lu Guang segera berubah secara dramatis.

Ia berpaling pada Lu Xiao Feng dengan sebuah senyuman tanda bersalah di wajahnya.

"Di s'ni temp'tnya. Aku...aku t'k bisa m'suk bers'ma Tuan."

Mengapa ia tidak bisa masuk?

Mungkinkah ada sesuatu yang menakutkan di dalam sana?

Lu Xiao Feng berlari masuk.

Ia tak memperdulikan apa yang mungkin ia temui selama ia bisa menemukan Xue Bing.

Di halaman itu hanya ada dua buah kamar, di dalamnya pun telah ada dua orang.

Tak satu pun di antara mereka itu Xue Bing.

Keduanya laki-laki, salah satunya adalah Jin Jiu Ling.

Lu Xiao Feng merasa terkejut melihat perubahan situasi ini.

"Apa yang kau lakukan di sini? Di mana Xue Bing?"

Jin Jiu Ling tidak menjawab, ia malah mengulurkan tangannya -di tangannya ada sehelai baju, baju putih yang ringan dan lembut.

Baju Xue Bing.

Tentu saja Lu Xiao Feng mengenalinya, ekspresi wajahnya pun berubah.

Baju Xue Bing ada di sini, tapi orangnya tidak.

Baju ini tidak mungkin bisa bangkit dan berjalan ke sini dan orangnya pun tidak mungkin melepaskan bajunya di sini dan berjalan ke luar dalam keadaan telanjang.

Lu Xiao Feng tiba-tiba merasa lututnya lemah.

Ia mundur dengan sempoyongan sejauh 2 langkah ke belakang sebelum jatuh ke atas sebuah kursi.

Perutnya mulai terasa sakit lagi.

Ekspresi wajah Jin Jiu Ling pun tampak muram.

"Kau mengenali ini sebagai baju Xue Bing, kan?"

Akhirnya ia bertanya dengan lambat-lambat. Lu Xiao Feng mengangguk. Waktu ia berpisah dengan Xue Bing, gadis itu sedang memakai baju ini.

"Jika bajunya ada di sini, maka ia tentu berada di sini juga tadi!"

"Kau melihatnya?"

Lu Xiao Feng masih menyisakan sebuah harapan. Tapi Jin Jiu Ling menggelengkan kepalanya.

"Waktu kami tiba di sini, tempat ini telah sepi."

"Bagaimana kau bisa menemukan tempat ini?"

"Bukan kami yang menemukan tempat ini."

"Raja Ular?"

Kali ini Jin Jiu Ling mengangguk..

"Ia benar-benar seorang sahabat yang baik, ia melakukan segalanya untukmu!"

Lu Xiao Feng tidak menjawab. Ia sedang bertanya-tanya di dalam hatinya.

"Apakah aku melakukan segala yang aku bisa untuk dia?"

"Mulai pagi ini, semua orang yang berada di bawah pimpinannya mulai mencari Xue Bing untukmu!"

Mereka sangat efektif dalam mencari seseorang, karena mereka menerobos sampai ke sudut-sudut terdalam di kota ini, terutama warung-warung teh, warung arak, penginapan, pedagang kecil, bahkan gerobak-gerobak yang menjual makanan kecil.

Ini biasanya merupakan tempat-tempat di mana berbagai macam orang berada, dan karena itu merupakan tempat terbaik untuk mendapatkan informasi.

Mereka mulai menyisiri tempat-tempat ini untuk mencari informasi serta mencari tahu apakah ada orang-orang asing yang mencurigakan muncul akhir-akhir ini.

Setiap orang, tidak perduli siapa, tentu harus makan dan minum.

Tak ada siapa-siapa di hotel-hotel, maka mereka pun bertanya-tanya apakah ada rumah-rumah yang telah menyewakan kamar kosong pada orang asing.

Dengan tiga ribu orang anggota kelompok itu menanyakan hal yang sama ke seluruh penjuru kota, tentu sesuatu akan muncul ke permukaan dalam waktu yang tidak terlalu lama.

"Di belakang Toko Roti Keluarga Mai, ada sebuah rumah kecil. Tiga atau empat bulan yang lalu, rumah itu disewakan pada seseorang."

Waktu ditanya, pemilik rumah berkata seperti ini.

"Orang yang menyewa rumah itu adalah seorang yang amat tampan dan juga sangat murah hati karena ia telah membayar di depan uang sewa untuk setahun. Tapi sejak itu ia tidak pernah muncul lagi, maka rumah itu tetap kosong selama ini. Tampaknya tidak ada siapa-siapa di dalamnya."

Tidak ada orang di dunia ini yang mau menyewa sebuah rumah dan kemudian hanya membiarkannya kosong. Di balik semua ini tentu ada sebuah alasan, sebuah rahasia.

"Waktu mereka mendapatkan informasi ini saat senja hari, salah seorang dari mereka segera pergi ke sini. Saat itu sepertinya ada suara erangan perempuan di dalam sini. Orang itu tidak berani berlaku gegabah dan pergi mencari bala bantuan. Tapi, waktu mereka kembali, tidak ada siapa-siapa lagi di sini."

"Bagaimana kau tahu semua ini?"

Jin Jiu Ling tersenyum.

"Saudara-saudara yang dulu bekerja untukku sekarang semuanya telah terkenal dan hebat!"

Ia menepuk pundak laki-laki di sampingnya dan tersenyum.

"Ini adalah Ketua Para Pemburu Hadiah di kota ini, Lu Shao Hua."

Baru sekarang Lu Xiao Feng melihat bahwa di sampingnya sedang berdiri seorang laki-laki bertubuh pendek tapi kuat, berambut putih tapi tidak begitu tua, dan mengenakan pakaian berwarna hijau.

Bahkan walaupun bentuk tubuhnya tidak seperti orang normal, matanya berkilat-kilat penuh dengan tenaga, hidungnya bengkok seperti paruh burung elang, dan pinggangnya agak menggelembung, menunjukkan bahwa di samping memakai sebuah cambuk lemas atau tombak bengkok atau senjata lainnya yang luwes, ia juga mungkin membawa rantai dan borgol yang tersembunyi di balik bajunya.

Siapa pun yang telah menghabiskan waktu beberapa hari di dunia persilatan, tentu akan segera mengenalinya sebagai salah seorang jagoan top di Enam Pintu.

"Elang Botak"

Lu Shao Hua. Orang ini dikenal di dunia bawah tanah daerah Tenggara sebagai pemburu hadiah yang paling efektif dan paling ditakuti.

"Walaupun aku adalah seorang abdi masyarakat dan bekerja untuk pemerintah, aku selalu mengagumi Raja Ular. Jika mungkin, aku ingin selalu saling memahami dengan orang-orang di bawah komandonya!"

Lu Shao Hua tersenyum dan berkata. Tapi kenyataannya, ia tahu betul bahwa jika ia ingin menjaga kedamaian kota ini, sebaiknya ia tidak menimbulkan keributan dengan Raja Ular dan orang-orangnya.

"Tapi waktu terbitnya fajar, sekitar 3000 orang anak buah Raja Ular mulai bergerak . tanpa seorang pun dari kami tahu apa yang sedang terjadi, aku tak bisa tinggal diam dan menonton saja seolah-olah tidak terjadi apa-apa."

Maka ia mengirimkan para pemburu hadiah untuk mendapatkan informasi dan mencari tahu tentang kejadian itu.

Kota ini adalah kota terbesar di selatan, sebuah tempat di mana kelompok masyarakat yang terbaik dan terjahat bertemu dan bercampur.

Untuk dapat naik ke posisi Pemimpin para pemburu hadiah di sebuah tempat seperti ini, tentulah membutuhkan seseorang yang istimewa.

Lu Shao Hua meneruskan.

"Waktu informasi tiba padaku bahwa hal ini berhubungan dengan Pendekar Besar Lu, maka aku segera berusaha menemukan cara untuk menyampaikan informasi ini kepada Bos."

Walaupun Jin Jiu Ling telah lama tidak menjadi bos-nya lagi, ia masih tetap memelihara kebiasaan untuk memanggilnya seperti itu.

Lu Xiao Feng sekarang faham mengapa Lu Guang tadi tidak mau masuk ke tempat ini.

Dengan adanya Pemimpin para pemburu hadiah di tempat ini, sebaiknya mereka memang menghindari tempat ini.

"Pakaian Nona Xue ada di sini, tapi orangnya tidak. Hanya ada satu penjelasan!"

Berkata Jin Jiu Ling. Lu Xiao Feng mendengarkan. Ia percaya pada analisa Jin Jiu Ling, tapi hatinya terasa kacau lagi.

"Orang yang menculik dan membawanya ke sini telah menyadari bahwa mereka telah ditemukan, maka orang itu segera membawanya pergi. Tapi karena pakaiannya yang putih seperti salju ini terlalu menyolok, orang itu lalu menukarnya!"

"Apakah di sini ada pakaian ganti?"

Lu Shao Hua membuka laci di sudut kamar, di dalamnya masih ada 6 atau 7 stel pakaian yang berbeda-beda, ada yang untuk laki-laki, ada yang untuk wanita, ada yang untuk orang tua, dan ada pula yang untuk orang-orang muda.

"Di sini hanya ada sebuah ranjang dan ruangannya pun hanya cukup untuk tempat tinggal satu orang. Tapi di sini ada 6 atau 7 macam pakaian yang berbeda-beda, ini membuktikan satu hal."

Jin Jiu Ling menarik kesimpulan.

"Ini membuktikan bahwa orang ini tentu seorang ahli menyamar dan kapan saja bisa muncul dalam wujud berbagai macam orang yang berbeda-beda!"

Lu Xiao Feng menyelesaikan dugaannya yang belum selesai dilontarkan itu.

"Tapi di sini cuma ada pakaian, tidak ada sepatu. Ini juga membuktikan sesuatu!"

Jin Jiu Ling meneruskan.

"Ini membuktikan bahwa tidak perduli ia sedang menyamar sebagai apa, ia selalu memakai sepatu yang sama!"

Lu Xiao Feng menyimpulkan.

"Sepatu merah?"

Jin Jiu Ling bertanya.

"Benar, sepatu merah, sepatu merah yang terbuat dari sutera merah, seperti yang dipakai pengantin baru di saat pernikahannya!"

"Ada beberapa petunjuk yang memperlihatkan bahwa laki-laki tampan yang menyewa tempat ini sebenarnya adalah seorang wanita yang sedang menyamar!"

Jin Jiu Ling berkata.

"Benarkah?"

"Tempat ini penuh dengan debu, sebuah bukti nyata bahwa telah lama tidak ada orang yang tinggal di sini. Alat kebutuhan sehari-hari juga tidak terlihat di sini. Tapi di sini ada sebuah cermin!"

Wanita memang suka bercermin, tapi -"Laki-laki juga suka bercermin, dan untuk menyamar pun dibutuhkan sebuah cermin!"

Lu Xiao Feng menawarkan pendapatnya. Jin Jiu Ling berjalan ke meja yang berada di dekat jendela dan mengambil cermin itu.

"Di sini ada bekas tangan seseorang,"

Ia berkata.

"Tampaknya masih sangat baru."

"Bekas tangan seorang wanita?"

Lu Xiao Feng bertanya. Jin Jiu Ling mengangguk.."Tapi tidak mungkin bekas tangan Xue Bing. Ia disekap di sini. Bahkan jika tangannya tidak terikat, paling tidak urat darahnya tentu tertotok."

Selimut dan seprai tempat tidur tampak berantakan, seolah-olah seseorang tadinya tidur di atas ranjang.

"Jika dugaanku benar, maka selama ini ia tentu berbaring di ranjang ini."

Jin Jiu Ling menarik kesimpulan.

"Anak buah Raja Ular tadi melaporkan bahwa ia mendengar suara rintihan wanita, maka dugaanku adalah Nona Xue tentu sedang terluka!"

Komentar Lu Shao Hua itu mendapatkan tatapan marah dari Jin Jiu Ling. Ia tidak ingin Lu Xiao Feng mengetahui fakta itu, ia tidak ingin Lu Xiao Feng nantinya jadi terlalu khawatir.

"Bahkan jika ia tidak mengatakannya, aku pun telah menduga demikian!"

Desah Lu Xiao Feng.

"Tapi tidak ada bekas-bekas darah di ruangan ini."

Jin Jiu Ling segera menyahut.

"Maka apa pun lukanya itu, tentu tidak serius!"

Kata-kata itu hanyalah untuk menghibur Lu Xiao Feng.

Jika luka yang diderita Xue Bing adalah luka dalam, maka tak perduli betapa pun parahnya luka itu, tentu tidak ada bekas-bekas darah.

Tapi walaupun demikian, Lu Xiao Feng senang mendengar kata-kata itu, ia perlu dihibur saat ini.

"Jelas orang ini membawa pergi Xue Bing dengan tergesa-gesa, itulah sebabnya ada petunjuk-petunjuk yang tertinggal di sini!"

Jin Jiu Ling meneruskan.

"Kapan ia pergi?"

"Sebelum gelap!"

Saat itu Lu Xiao Feng sedang dalam perjalanan ke Gerbang Barat untuk memenuhi perjanjian.

"Nenek"

Penjual kacang itu pun belum muncul. Bisa saja ia berangkat bersama Xue Bing dan pergi ke Gerbang Barat. Mungkin dialah orang yang menyewa tempat ini.

"Tempat ini disewa 2 bulan yang lalu,"

Jin Jiu Ling menambahkan.

"Tepatnya, tanggal 11 Mei."

"11 Mei?"

Ekspresi wajah Lu Xiao Feng pun berubah mendengar fakta itu.

"Perampokan di Istana Kerajaan terjadi pada tanggal 11 Juni. Hari mulai ia menyewa tempat ini adalah tepat sebulan sebelum kejadian itu."

"Dan juga 3 hari sebelum hari ulang tahun Jiang Chong Wei!"

Lu Xiao Feng menambahkan.

"Apa hubungannya hari ulang tahun Jiang Chong Wei dengan urusan ini?"

"Pada hari ulang tahunnya, Jiang Qing Xia datang mengunjunginya untuk mengucapkan selamat ulang tahun."

"Dan hari itulah ia membuat cetakan kunci untuk gudang arak."

Mata Jin Jiu Ling tampak berkerlap-kerlip.

"Untuk menghindari kecurigaan orang bahwa ia mungkin ada hubungannya dengan semua ini, mereka menunggu kira-kira 20 hari lagi sebelum membuat gerakan!"

"Untuk melakukan perampokan yang demikian besar, diperlukan sejumlah rencana, belum lagi mereka harus mencari tahu tentang detil keamanan dan tata ruang Istana Kerajaan. Barulah kemudian rencana itu bisa dilaksanakan dengan kemungkinan berhasil."

"Tentu saja ia tidak bisa terus-menerus muncul sebagai seorang laki-laki berjenggot, maka ia pun berencana pergi ke sebuah tempat terpencil untuk melakukan penyamaran pada malam itu."

Lu Xiao Feng menarik kesimpulan.

"Dan inilah tempat yang sempurna untuk itu!"

Jin Jiu Ling setuju.

"Karena tempat ini berada di tengah-tengah bagian tersibuk dan paling ramai di kota ini, tak seorang pun yang akan curiga!"

"Tampaknya ia sangat mahir dalam mengambil keuntungan dari kesalahan asumsi orang lain!"

Desah Jin Jiu Ling. Lu Shao Hua selama itu mendengarkan dalam bisu. Tapi sekarang ia tidak bisa diam . lagi.

"Mungkinkah orang yang menyewa tempat ini adalah si Bandit Penyulam?"

"Walaupun kita belum yakin betul saat ini, menurutku keyakinan kita adalah 60 atau 70 %!"

Lu Xiao Feng menjawab.

"Lebih dari 70 %!"

Jin Jiu Ling tiba-tiba menyanggah.

"Benarkah?"

"Aku berani mengatakan bahwa paling tidak kita 90 %, jika tidak lebih, yakin tentang hal itu saat ini!"

"Apa yang membuatmu begitu yakin?"

"Karena ini!"

Jin Jiu Ling mengeluarkan sebuah dompet kecil dari sutera merah.

"Aku tadi menemukannya di dalam laci sana. Lihatlah apa isinya!"

Di dalam dompet itu tak lain tak bukan ada sebungkus jarum jahit yang masih baru!

______________________________ Dari toko roti Keluarga Mai di mulut gang, Lu Shao Hua membeli beberapa potong kue bulan yang baru dikeluarkan dari panggangannya.

Bulan purnama masih akan muncul sampai Perayaan Musim Gugur, tetapi kue bulan telah masuk ke pasaran.

Lu Xiao Feng memaksakan dirinya untuk makan setengah potong.

Jalan ini sangat sunyi.

Mereka berjalan kaki sambil makan -Bandit Penyulam tentu tak akan pernah kembali ke tempat itu lagi, maka tidak ada gunanya bagi mereka untuk tinggal di sana lebih lama lagi.

"Jarum ini semuanya terbuat dari besi terbaik dan dibakar lebih dari 100 kali, ini bukanlah jarum biasa!"

Kata Jin Jiu Ling.

"Apakah ujungnya dilumuri racun?"

"Tidak."

Jawab Jin Jiu Ling.

"Ia membiarkan korban-korbannya tetap hidup mungkin dengan tujuan untuk membuktikan bahwa ia bukanlah seorang wanita, tapi seorang laki-laki berjenggot yang bisa menyulam."

"Dan ia memang tidak perlu membunuh mereka!"

"Menurutmu, mungkinkah dia adalah Jiang Qing Xia?"

"Tidak, tidak mungkin!"

Lu Xiao Feng menjawab.

"Ilmu kungfu Jiang Qing Xia memang tidak lemah, tetapi bila dibandingkan dengan orang itu, ia masih jauh sekali!"

Ia meneruskan.

"Tugas Jiang Qing Xia adalah mencari tahu tentang tata ruang Istana Kerajaan dan membuat kunci duplikat untuknya!"

"Menurutmu, Jiang Qing Xia berada di bawah komandonya?"

Lu Xiao Feng mengangguk.

"Jiang Qing Xia adalah orang yang cukup termasyur di dunia persilatan, dan terkenal angkuh pula, bagaimana mungkin ia bersedia menjadi bawahan orang lain?"

Jin Jiu Ling bertanya-tanya.

"Karena orang itu jauh lebih baik daripada Jiang Qing Xia dalam segala hal."

Desah Lu Xiao Feng.

"Tidak pernah dalam hidupku aku bertemu dengan seorang wanita dengan kemampuan kungfu yang begitu luar biasa dan juga licik!"

"Kau bertemu dengannya?"

Jin Jiu Ling terkejut mendengar berita itu.

"Bukan hanya melihatnya, tapi juga hampir terbunuh olehnya!"

Lu Xiao Feng tersenyum murung.

"Bagaimana kau bisa bertemu dengannya?"

"Aku datang untuk memenuhi perjanjian bagi seorang sahabat di Gerbang Barat!"

"Perjanjian? Perjanjian macam apa?"

"Perjanjian hutang jiwa!"

Lu Xiao Feng menarik nafas lelah.

"Dengan siapa sahabatmu itu membuat perjanjian?"

"Nyonya Pertama Gong Sun, Gong Sun Lan."

"Kurasa aku tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya."

Jin Jiu Ling mengerutkan keningnya.

"Itu karena ia memang bukan orang yang terkenal, dan tidak pernah ingin jadi . terkenal!"

"Orang macam apakah dia?"

"Tak tahu."

"Jika kau telah bertemu dengannya, lalu bagaimana kau bisa tidak tahu orang macam apakah dia?"

Jin Jiu Ling bertambah bingung.

"Aku hanya melihat seorang nenek penjual kacang dan membeli dua kati kacang gula darinya. Jika aku memakan satu butir saja, maka kau tidak akan bicara denganku saat ini."

"Kacang gula Nenek Xung!"

Jin Jiu Ling hampir menjerit.

"Kacang gula Nenek Xung?"

Lu Xiao Feng tidak memahami arti kalimat itu.

"Dua tahun yang lalu, sering ditemui orang-orang yang mati di jalan raya."

Jin Jiu Ling menjelaskan.

"Mereka semua diracun sampai mati dan di dekat tubuh mereka selalu berserakan beberapa butir kacang gula."

"Dan semua peristiwa itu terjadi pada malam bulan purnama."

Lu Shao Hua pun tahu tentang kejadian itu.

"Malam ini sedang bulan purnama."

Lu Xiao Feng berkata.

"Dulu aku ditugaskan untuk menangani beberapa kasus ini, tapi aku tak pernah berhasil menemukan petunjuk apa pun,"

Lu Shao Hua menjelaskan lagi.

"Orang-orang yang tewas itu bukan dibunuh oleh musuh bebuyutan yang membalas dendam, mereka juga bukan dibunuh karena uang."

"Tapi karena orang-orang yang mati itu sebagian besar adalah orang-orang yang tidak terkenal, maka peristiwa itu tidak menimbulkan gelombang besar di dunia persilatan."

Jin Jiu Ling menambahkan keterangannya.

"Hanya orang-orang yang bertugas sebagai abdi masyarakat yang mengetahui hal ini."

"Dua tahun yang lalu, ada seorang pegawai perusahaan ekspedisi bernama Zhang Fang yang baru saja terlibat dalam bisnis tersebut, ia pun mati seperti itu."

Berkata Lu Shao Hua.

"Tapi sebelum mati, ia mengucapkan dua kalimat."

"Apa yang ia katakan?"

"Kalimat pertama adalah. 'Kacang gula Nenek Xung.' Kami bertanya siapakah Nenek Xung itu? Mengapa perempuan itu meracuninya? 'Karena setiap bulan purnama, ia selalu ingin membunuh'."

Lu Xiao Feng menarik nafas.

"Jadi dia bukan hanya si Wanita Penjagal, Lebah Bunga Persik, dan Wanita Lima Racun, tapi juga Nenek Xung!"

"Menurutmu, si Bandit Penyulam juga dia?"

"Aku awalnya tidak yakin, tapi ada beberapa hal yang membuktikan bahwa ia adalah si Bandit Penyulam!"

"Hal seperti apa?"

"Aku telah mengejarnya sampai di jalan raya di mana toko roti Keluarga Mai berada sebelum aku kehilangan dia, sekarang aku faham kenapa ia berlari ke arah sini."

"Karena ia tinggal di jalan ini dan lebih mengenal lingkungan sekitarnya daripada kamu!"

"Di samping itu, pakaian yang ada di dalam laci tadi sesuai dengan postur tubuhnya. Didengar dari suaranya, bisa dipastikan bahwa ia belum tua, maka dengan mudah ia bisa menyamar sebagai seorang pemuda tampan!"

Tapi bukan hanya itu hal-hal yang terpenting! Lu Xiao Feng meneruskan.

"Walaupun ia menyamar sebagai seorang nenek tua, ia tetap memakai sepasang sepatu merah -sepatu sutera berwarna merah menyala. Menurut kabar angin, di sepatu itu ada sulaman burung hantu."

"Tidak perduli apa pun, setidak-tidaknya kita sekarang tahu siapa Bandit Penyulam itu!"

Jin Jiu Ling menarik nafas.

"Sayangnya kita tidak berhasil menemukannya, bahkan kita tidak memiliki petunjuk di mana akan memulainya!"

Ucap Lu Shao Hua.."Kita punya."

Lu Xiao Feng tiba-tiba berkata.

"Kita punya sebuah petunjuk?"

"Kita bukan hanya memiliki sebuah petunjuk, kita punya lebih dari satu!"

Lu Xiao Feng meneruskan.

"Yang pertama, kita tahu bahwa Jiang Qing Xia mengenalnya. Yang kedua, karena dia punya markas untuk perampokan di tempat ini, maka di tempat-tempat lain tentu juga ada markasnya yang digunakan untuk perampokannya yang lain!"

"Benar!"

Mata Jin Jiu Ling tampak bersinar-sinar.

"Tidak perduli apa pun, seorang penjahat yang ahli tentu memiliki beberapa kebiasaan khusus. Bagi mereka, sangat sukar untuk merubahnya."

"Itulah sebabnya aku berpendapat bahwa ia tentu memiliki sebuah markas di Nan Hai!"

Nan Hai adalah kota tempat tinggal Hua Yu Gan. Mata Lu Shao Hua pun tampak berkilauan.

"Pemimpin para pemburu hadiah di Nan Hai adalah Meng Wei. Dulu ia juga merupakan anak buah Bos Jin. Aku bisa memintanya untuk mulai mencari sekarang juga. Mungkin saat kalian tiba di sana, mereka telah menemukannya!"

"Kau bisa memintanya untuk melakukan itu sekarang juga?"

"Selama bertahun-tahun ini kami punya suatu cara untuk berkomunikasi,"

Lu Shao Hua mengangguk.

"Dan kami juga berkomunikasi dengan menggunakan cara yang tercepat!"

"Cara apakah itu?"

"Burung merpati."

"Mungkin ia bermaksud membawa Xue Bing ke sana. Jika kita bertindak cepat, mungkin kita dapat menangkapnya di sana!"

Ucap Jin Jiu Ling.

"Aku akan meminta Meng Wei untuk bersikap ekstra hati-hati dan tenang waktu memimpin pencarian supaya tidak mengejutkannya!"

"Kau akan menuliskan surat itu sekarang juga?"

Jin Jiu Ling bertanya.

"Ya."

Ia baru saja hendak mempercepat langkahnya waktu Jin Jiu Ling tiba-tiba memanggilnya kembali.

"Satu hal lagi!"

Lu Shao Hua berhenti dan menunggu instruksinya.

"Berapa banyak uang upeti yang kau dapatkan setiap bulannya dari orang-orang Raja Ular?"

Jin Jiu Ling bertanya, sambil tersenyum. Wajah Lu Shao Hua tampak memerah, tapi ia masih takut untuk mengatakan yang sebenarnya.

"Delapan ratus tael perak, tapi itu dibagi untuk kami semua!"

"Apakah kau tahu bahwa Raja Ular adalah sahabat Lu Xiao Feng?"

Wajah Jin Jiu Ling menjadi gelap.

"Apakah kau tahu bahwa sahabat Lu Xiao Feng juga adalah sahabat Jin Jiu Ling?"

"Aku tahu,"

Kepala Lu Shao Hua makin menunduk.

"Mulai besok aku akan berhenti mengumpulkan uang itu."

"Bagus, mulai besok aku akan mengganti kerugianmu itu dengan menaikkan gajimu!"

Jin Jiu Ling tersenyum.

Lu Shao Hua memandangnya dengan sorot mata yang penuh dengan perasaan terima kasih.

Sambil membungkuk dalam-dalam, ia pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, dan tanpa perlu bicara apa-apa lagi.

Lu Xiao Feng mengawasi kepergiannya, lalu ia tiba-tiba menarik nafas.

"Sekarang aku tahu mengapa orang lain mengatakan bahwa kau adalah orang nomor satu dalam 300 tahun sejarah Enam Pintu!"

"Mengapa?"

Jin Jiu Ling tersenyum.

"Karena kau bukan hanya pintar membeli hati orang, kau juga pintar menjual . teman-temanmu."

"Siapa yang kujual?"

Senyuman Jin Jiu Ling tampak agak dipaksakan sekarang.

"Aku!"

Lu Xiao Feng tersenyum letih.

"Jika bukan kau yang menyeretku ke dalam kekacauan ini, aku tentu tidak akan memiliki perasaan gelisah dan sakit kepala seberat ini."

"Tapi kau akan segera dapat mengalihkan sakit kepalamu itu pada orang lain!"

"Siapa?"

"Si Bandit Penyulam,"

Jin Jiu Ling tersenyum dan menambahkan dengan lambat.

"Nyonya Pertama Gong Sun."

"Haruskah kita berangkat sekarang?"

Lu Xiao Feng tertawa.

"Tentu saja sekarang juga, hal-hal lain harus dikesampingkan saat ini."

"Tapi masih ada sesuatu yang tidak bisa kukesampingkan!"

"Apa?"

"Persahabatan."

"Aku tahu kau hendak pergi menemui Raja Ular lagi,"

Jin Jiu Ling menarik nafas.

"Tapi aku ingin tahu apakah ia bisa dan mau bersahabat denganku?"

Raja Ular tidak bisa.

Karena ia tidak bisa lagi berteman dengan orang lain.

Bagaimana mungkin orang mati bersahabat dengan orang hidup?

Bangunan kecil itu benar-benar sunyi, tidak ada satu pun lampu yang menyala.

Orang-orang yang biasanya berkumpul di halaman telah dikirim keluar semuanya, hanya empat orang yang tinggal untuk berjaga-jaga.

Mereka tampak bingung, tapi tak seorang pun dari mereka yang berani masuk dan melihat ke dalam.

Tanpa ijin dari Raja Ular, tak seorang pun berani naik ke lantai atas.

Tapi tentu saja Lu Xiao Feng adalah sebuah pengecualian.

"Beliau tidak tidur tadi malam, mungkin beliau akhirnya tertidur sekarang."

Pintu itu tidak tertutup rapat.

Lu Xiao Feng mendorongnya hingga terbuka.

Jin Jiu Ling memberinya kayu api untuk penerangan.

Kayu itu baru saja dinyalakan sebentar sebelum padam lagi dan jatuh.

Tangan Lu Xiao Feng seperti kejang, begitu kejangnya sehingga ia tak mampu menggenggam kayu api itu di dalam tangannya.

Dalam waktu sekilas tadi, ia telah melihat mata Raja Ular, mata yang hampir melompat keluar dari kelopaknya.

Ia telah dicekik hingga mati di atas kursinya yang lembut itu, dicekik hingga mati dengan menggunakan sehelai selendang sutera berwarna merah menyala.

Selendang sutera yang sama dengan selendang yang diikatkan oleh Nyonya Pertama Gong Sun pada pedang pendeknya.

Lu Xiao Feng berjalan menghampiri dan menggenggam tangan Raja Ular.

Seluruh tubuhnya pun mulai bergetar.

Tangan Raja Ular lebih dingin daripada tangannya.

Kamar itu gelap gulita.

Jin Jiu Ling tidak menyalakan obor lagi, ia tahu bahwa Lu Xiao Feng tak sanggup untuk melihat wajah Raja Ular lagi.

Ia juga tidak memiliki kata-kata untuk menghibur Lu Xiao Feng.

Kegelapan yang menyerupai kematian, kesunyian yang menyerupai kematian, kesepian yang menyerupai kematian, dalam suasana seperti inilah seorang manusia baru benar-benar merasakan dan memahami betapa nyata dan menakutkan "kematian"

Itu. Waktu pun berlalu serasa bertahun-tahun.

"Mari kita pergi, kita pergi sekarang juga."

Lu Xiao Feng tiba-tiba berkata.

"Ya!"

"Tapi aku tidak akan memberikan sakit kepalaku padanya."

Tiba-tiba ia tertawa, sebuah tawa yang penuh dengan perasaan sakit hati dan amarah yang tak dapat diuraikan dengan kata-kata.

Untunglah Jin Jiu Ling tidak menyalakan lentera, karena ekspresi wajah Lu Xiao Feng itu terlalu menakutkan untuk dilihat.

Yang ia dengar adalah Lu Xiao Feng menekankan setiap patah katanya saat ia berbicara.

"Aku menjamin bahwa ia tidak akan pernah mendapatkan sakit kepala lagi." . Jin Jiu Ling memahami apa maksud ucapannya. Bila kepala seseorang telah dipenggal, orang itu tidak akan pernah menderita sakit kepala lagi! Bab 7. Kegigihan Yang Tak Tergoyahkan Lu Xiao Feng tidak suka naik kereta kuda, tapi ia malah berada di atas sebuah kereta saat ini. Orang memang tak bisa menghindar dari melakukan sesuatu yang tidak mereka sukai.

"Kau harus menemukan sebuah cara untuk bisa tidur di atas kereta, maka bila kau bertemu dengan Nyonya Pertama Gong Sun, kau berada dalam kondisi terbaik untuk menantangnya!"

Lu Xiao Feng tahu bahwa kata-kata Jin Jiu Ling itu benar. Tapi bagaimana mungkin ia bisa tidur pada saat seperti ini?"

Pangeran kecil sangat mengagumi Hua Man Lou dan telah memintanya untuk tinggal di Istana selama beberapa hari. Ia mendapat pelayanan yang baik di Istana, kau tidak usah mengkhawatirkannya lagi."

Lu Xiao Feng lebih tahu daripada orang lain bahwa ia memang tidak perlu mengkhawatirkan benda-benda atau orang-orang di dalam Istana, ia juga tidak perlu khawatir mengenai Raja Ular lagi.

Orang yang harus ia khawatirkan saat ini tidak lain adalah dirinya sendiri.

Tidak perduli betapa kuatnya seseorang, bila dihadapkan dan dibebani dengan tekanan dan beban seberat ini, orang itu tentu akan 'meledak'.

Kuda itu menarik kereta dengan langkah yang amat cepat, dan kereta pun terguncang ke sana ke mari.

Ia berusaha sekuat tenaga untuk memusatkan fikirannya, terlalu banyak hal yang harus ia fikirkan.

Tapi bagaimana jika hati rasanya seperti sedang tercabik-cabik?

Pagi harinya, kereta berhenti di depan sebuah warung tahu yang kecil di sebuah desa di pinggir jalan.

Aroma susu tahu panas yang harum terbawa oleh angin pagi yang lembut sampai di kereta.

"Aku tahu kau sedang tidak ingin makan, tapi setidak-tidaknya kau harus minum sedikit susu tahu panas ini."

Walaupun Lu Xiao Feng tidak ingin membuang-buang waktu, ia tahu kalau ia tidak boleh mengacuhkan perhatian seorang sahabat.

Di samping itu, sais kereta dan kuda penarik kereta pun membutuhkan sedikit istirahat.

Lentera masih menyala di dalam warung itu.

Seseorang sedang duduk di sudut dan meneguk semangkuk besar susu tahu di tangannya dengan suara yang keras.

Sinar lentera berkerlap-kerlip dan menyinari kepalanya, kepala yang benar-benar gundul.

Ia adalah seorang hwesio.

Hwesio ini memiliki wajah persegi dan telinga yang besar.

Sebuah wajah yang membawa keberuntungan, itulah yang akan dikatakan para peramal padamu.

Tapi pakaian yang ia kenakan tampak kotor dan compang-camping, dan sepasang sandal jerami di kakinya pun sudah hampir rusak.

Hwesio Jujur!

Waktu ia melihat hwesio paling aneh di dunia ini, barulah sebuah senyuman muncul di wajah Lu Xiao Feng.

"Hwesio Jujur, kau telah melakukan sesuatu yang tidak jujur baru-baru ini?"

Hwesio Jujur tampaknya benar-benar terkejut saat melihatnya dan hampir menumpahkan susu tahu di tangannya.

"Dilihat dari tampangmu, aku tahu pasti bahwa kau tentu telah berbuat tidak baik tadi malam!"

Lu Xiao Feng tertawa terbahak-bahak.

"Mengapa kau tampak begitu serba salah bila kau melihatku?"

"Hwesio Jujur hanya sekali berbuat tidak jujur dalam hidupnya,"

Hwesio Jujur seperti baru saja menelan seekor tikus.

"Buddha Maha Pengampun, mengapa Hwesio harus bertemu denganmu?"

"Apa salahnya bertemu denganku? Setidak-tidaknya aku bisa membelikan semangkuk susu tahu untukmu!"

Lu Xiao Feng tersenyum.

"Hwesio tidak perlu membayar susu tahu. Hwesio tahu bagaimana caranya Koleksi

KANG ZUSI . memohon belas kasihan pada dermawan."

Ia meneguk tetesan terakhir susu tahunya dengan cepat dan tampaknya ia hendak lari dari tempat itu dengan segera. Tapi Lu Xiao Feng menghalangi jalannya.

"Karena kau tidak membutuhkan aku untuk membayarimu, lalu mengapa kau tidak tinggal di sini dan berbincang-bincang sebentar? OuYang Qing tidak ada di sini, untuk apa kau cepat-cepat pergi?"

"'Sasterawan bertemu dengan prajurit, tidak ada gunanya bicara tentang logika',"

Hwesio Jujur tersenyum sabar.

"Hwesio bertemu dengan Lu Xiao Feng, ini jauh lebih tidak beruntung daripada sasterawan itu. Bincang ini bincang itu, akhirnya Hwesio juga yang menderita!"

"Apa maksud ucapanmu itu?"

"Jika Hwesio tidak menderita, lalu kenapa dulu Hwesio akhirnya harus merangkak di atas tanah?"

"Baiklah, kujamin kau tidak akan merangkak hari ini!"

Lu Xiao Feng tertawa.

"Masih bisa menderita walaupun tidak merangkak,"

Hwesio Jujur menarik nafas.

"Hwesio hanya takut pada dua orang di dunia ini, mengapa Hwesio bertemu denganmu lagi hari ini?"

"Siapa orang satunya lagi?"

"Bahkan jika Hwesio mengatakan siapa orang itu, kau tidak akan kenal!"

"Cobalah!"

Hwesio Jujur bimbang sebentar sebelum akhirnya menyerah.

"Orang ini adalah seorang wanita!"

"Hwesio tampaknya cukup banyak mengenal wanita!"

Lu Xiao Feng bergurau.

"Cukup banyak wanita yang juga mengenal Hwesio."

"Apakah wanita ini OuYang?"

"Bukan OuYang, Gong Sun!"

"Gong Sun?"

Lu Xiao Feng hampir berteriak.

"Apakah itu Nyonya Pertama Gong Sun?"

"Kau juga kenal dia? Bagaimana kau bisa tahu tentang dia?"

Hwesio Jujur juga terkejut.

"Kau mengenalnya?"

Lu Xiao Feng sekarang telah menjerit.

"Kau tahu di mana dia berada?"

"Mengapa kau bertanya?"

"Karena aku punya urusan yang belum terselesaikan dengannya!"

Hwesio Jujur menatap Lu Xiao Feng selama beberapa saat, dan kemudian tertawa terbahak-bahak.

Ia tertawa begitu kerasnya sehingga tubuhnya terbungkuk-bungkuk.

Tiba-tiba ia melarikan diri melalui sisi Lu Xiao Feng dan sudah menjauh hampir 10 meter.

Walaupun jaraknya sudah 10 meter, ia masih tertawa.

Tapi kali ini Lu Xiao Feng telah memutuskan untuk tidak membiarkannya lolos.

Ia berjumpalitan dan menghalangi jalannya lagi.

"Mengapa kau tertawa?"

"Bila Hwesio menemukan sesuatu yang lucu, Hwesio tertawa. Hwesio selalu jujur."

"Apa yang lucu dengan urusan ini?"

"Mengapa kau harus 'menghancurkan kendi' dan bertanya terus?"

"Bahkan jika aku harus menghancurkan kepala seorang hwesio, aku akan terus menanyakan hal ini."

Ia bersikap sangat serius waktu bicara. Hwesio Jujur hanya bisa menarik nafas.

"Kepala Hwesio tidak boleh dihancurkan, Hwesio hanya punya satu kepala."

"Maka bicaralah, mengapa urusan ini begitu lucu?"

"Yang pertama. karena kau tidak akan menemukannya. Yang kedua. karena walaupun kau menemukannya, kau tidak akan mampu mengalahkannya. Yang ketiga, karena walaupun kau bisa mengalahkannya, itu semua sia-sia."

"Kenapa begitu?" .

"Karena setelah kau bertemu dengannya, kau tak akan tega memukulnya. Bahkan kau mungkin berharap bahwa ia akan memukulmu beberapa kali!"

"Ia sangat cantik?"

"Ada empat Wanita Cantik di dunia persilatan, kau mungkin mengenali semuanya, bukan?"

"Ya."

"Apakah menurutmu mereka cantik?"

"Tentu saja cantik."

"Tapi Nyonya Pertama Gong Sun 10 kali lebih cantik dari mereka berempat digabungkan semuanya!"

"Kau telah melihatnya?"

"Buddha Maha Pengampun,"

Desah Hwesio Jujur sambil tersenyum murung.

"Jangan biarkan Hwesio melihatnya lagi. Kalau tidak, walau Hwesio punya 10 buah kepala, Hwesio akan kehilangan semuanya."

"Kau tahu di mana dia berada?"

"Tidak tahu."

Waktu Hwesio Jujur mengatakan tidak tahu, maka ia pasti tidak tahu. Hwesio Jujur tidak pernah berdusta.

"Di mana kau melihatnya terakhir kali?"

"Tidak boleh kuberitahu padamu."

Waktu Hwesio Jujur mengatakan tidak boleh diberitahu padamu, maka ia pasti tidak akan memberitahumu.

Walaupun kau menghancurkan kepalanya, ia tetap tidak akan memberitahumu.

Bahkan Lu Xiao Feng pun tahu bahwa ia tidak mungkin memaksanya bicara.

Yang bisa ia lakukan hanyalah menatapnya dengan marah selama sesaat.

Tiba-tiba ia tertawa.

"Sebenarnya Hwesio tidak hanya memiliki satu kepala."

Hwesio Jujur tidak faham.

"Karena Hwesio masih punya si 'Hwesio Cilik'!"

Ia tertawa, tertawa begitu kerasnya sehingga tubuhnya pun terbungkuk-bungkuk.

Hwesio Jujur menjadi demikian marah sehingga ia tidak sanggup memikirkan sesuatu untuk diucapkan.

Ia tahu bahwa Lu Xiao Feng sedang menggodanya dengan sengaja, tapi tetap saja menjadi marah, begitu marahnya sehingga ia hampir pingsan.

Jin Jiu Ling menonton di pinggir, bahkan ia pun tak tahan untuk tidak tertawa kecil.

"Hwesio tidak berdusta dan masih punya satu hal kecil yang harus diberitahukan padamu."

Hwesio Jujur tiba-tiba menarik nafas.

"Ya? Apa itu?"

Lu Xiao Feng bertanya, tetapi setelah berusaha keras untuk menghentikan tawanya.

"Dilihat dari tampang kalian berdua, wajah kalian tertutup oleh pertanda buruk. Dalam waktu tiga hari, kepala kalian akan dihancurkan oleh seseorang!" ______________________________ Walaupun Meng Wei juga hanya memiliki satu kepala, ia dikenal sebagai "Ular Berkepala Tiga" . Di antara Sembilan Pemburu Hadiah Ternama, ia selalu dianggap sebagai orang yang paling kejam dalam metode kerjanya dan paling tidak kenal belas kasihan dalam melakukan pemeriksaan. Ular Berkepala Tiga, tentu saja, memiliki tiga wajah yang berbeda. Waktu ia melihat Jin Jiu Ling, bukan hanya sikapnya amat hormat, senyumannya pun sangat manis dan murni. Bahkan Lu Xiao Feng merasa sukar untuk membayangkan kalau orang seperti ini tega menuangkan air garam ke luka tawanannya atau memukuli orang hingga jadi bubur di dalam ruang-ruang tahanan yang gelap. Tapi karena adanya orang-orang seperti ini di dunia, setiap orang seharusnya tahu bahwa sebaiknya ia tidak melakukan kejahatan selama hidupnya. Sais yang mengemudikan kereta juga merupakan orang yang berada di bawah komando Lu Shao Hua. Setelah mereka memasuki kota, seseorang dari kelompok pemburu Koleksi

KANG ZUSI .

hadiah setempat segera menyambut mereka dan membawa mereka ke tempat ini.

Ini juga merupakan bagian kota yang sibuk -jelas sebagian besar orang memang benar-benar sukar menyingkirkan kebiasaan semacam ini.

Itulah sebabnya sangat sedikit kejahatan dan misteri yang tidak berhasil diungkapkan di dunia ini.

Meng Wei telah menanti mereka di sebuah warung teh di sudut jalan.

Tujuan akhir mereka adalah sebuah jalan kecil di belakang sana, di ujung jalan itu ada sebuah rumah kecil.

"Orang yang menyewa rumah ini juga seorang pemuda yang amat tampan, dan juga membayar uang sewa setahun di depan."

"Ada orang yang melihat sesuatu di rumah ini sejak itu?"

"Tidak, tampaknya tidak ada orang yang tinggal di sana sejak penyewaan itu."

Mungkin kedatangan mereka telah mendahului Nyonya Pertama Gong Sun.

Setelah membunuh Raja Ular, ia tentu berhenti dulu di suatu tempat.

Apalagi ia juga harus membawa Xue Bing yang sedang terluka.

Itulah sebabnya Jin Jiu Ling memberi instruksi.

"Perintahkan orang-orangmu yang gampang dikenali untuk pergi menjauh sehingga tidak ada orang yang melihat bahwa perhatian khusus sedang ditujukan ke tempat ini!"

"Kami telah bertindak sangat hati-hati selama ini,"

Meng Wei meyakinkannya.

"Orang-orang yang berada di sini semuanya telah menyamar dengan sangat baik."

"Apakah samaran saja sudah cukup?"

Jin Jiu Ling mendengus dingin.

"Seolah-olah orang lain tidak bisa melihat samaran kalian itu."

Bahkan Lu Xiao Feng pun bisa melihat dalam sekilas pandang bahwa para pelayan warung teh, pedagang buah berry di seberang jalan, peramal di sampingnya, dan 7 atau 8 orang tamu di warung teh itu semuanya adalah para pemburu hadiah yang sedang menyamar.

Setelah lama menjadi abdi masyarakat, sukar bagi seseorang untuk menjaga sikap dan tingkah lakunya agar sama seperti orang biasa, terutama ekspresi wajah, yang hampir mustahil tidak terlihat oleh siapa pun yang memperhatikannya.

"Aku akan menyuruh mereka pergi sekarang."

Meng Wei mengiyakan.

Di bawah sudut sebuah atap yang menjuntai di atas jalan, ada seorang pengemis botak kudisan dengan selembar genteng atap yang patah di tangannya.

Waktu Meng Wei lewat, ia mengulurkan genteng atap itu, meminta uang.

Apa yang ia dapatkan hanyalah sebuah tendangan.

Segera semua pemburu hadiah yang menyamar itu bergegas pergi.

"Aku hanya menyisakan dua orang di sini,"

Lapor Meng Wei.

"Dengan demikian, bila terjadi sesuatu, mereka bisa digunakan sebagai kurir."

Yang satunya adalah si pedagang yang berada di seberang jalan.

Warungnya masih seperti semula, tapi pedagang itu telah digantikan oleh seseorang yang tidak begitu menyolok.

Tapi yang satunya lagi siapa?

"Song Hong semakin bagus akhir-akhir ini,"

Jin Jiu Ling memandang pada si pengemis botak.

"Jaga dia baik-baik, dia akan hebat nantinya."

Lu Xiao Feng akhirnya faham bahwa si pengemis botak kudisan itu adalah salah seorang dari mereka juga.

Saat itu belum jam 9 malam, pada bulan Juli waktu terbenamnya matahari memang sedikit lebih lama, maka orang pun tidak perlu menyalakan lampu di dalam rumah.

Sinar matahari terbenam terlihat menembus jendela, memperlihatkan sebuah ruangan yang penuh dengan lapisan debu.

Sepertinya sudah lama tidak ada orang yang tinggal di dalamnya.

Kondisi dan suasana kamar itu sangat mirip dengan kamar sebelumnya.

Di dalam lemari ada 8 atau 9 stel pakaian yang berbeda-beda, di atas meja ada sebuah cermin, dan di samping meja ada sebuah ranjang kecil.

Tidak ada yang menarik, dan juga tidak ada petunjuk yang ditemukan.

Seakan-akan seluruh perjalanan ini cuma sia-sia belaka.

Jin Jiu Ling menggendong tangannya di belakang punggungnya sambil berjalan mondar-mandir di tempat itu.

Tiba-tiba, dengan .

sebuah gerakan yang cepat, ia melompat ke atas sebuah balok penyangga atap, menggeleng-gelengkan kepalanya, dan melompat turun lagi.

"Di sini!"

Meng Wei tiba-tiba berseru dari dapur. Waktu ia berlari ke luar, di tangannya telah ada sebuah kotak kayu berukuran kecil.

"Di mana kau menemukannya?"

Jin Jiu Ling tampak sangat bersuka-cita.

"Di dalam perapian."

Tempat itu benar-benar tempat yang amat baik untuk menyembunyikan sesuatu.

Karena benda ini disembunyikan di sana, tentu ada rahasianya.

Jin Jiu Ling tampaknya bermaksud untuk membuka paksa peti itu, tapi Lu Xiao Feng segera mencegahnya.

"Hati-hati, mungkin ada perangkap di dalamnya."

Jin Jiu Ling menimbang-nimbang berat kotak itu sebentar dan tersenyum.

"Kotak ini benar-benar ringan. Jika ada pegas atau perangkap di dalamnya, seharusnya kotak ini sangat berat."

Tentu saja ia merupakan orang yang selalu berhati-hati, kalau tidak ia tentu telah mati 20 kali sejak 10 tahun yang lalu.

Pegas dan perangkap biasanya terbuat dari logam, yang tentunya akan memberi tambahan bobot yang cukup besar.

Kotak itu tidak ada kuncinya, maka Jin Jiu Ling bisa membukanya dengan mudah.

Tiba-tiba segumpal asap keluar dari dalam kotak.

Jin Jiu Ling berusaha menahan nafasnya, tapi terlambat.

Tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang dan membentur lemari.

Lalu ia roboh ke lantai!

Di dalam kotak itu tidak ada perangkap mekanis, tapi ada sebuah balon kecil yang terbuat dari perut ikan.

Ketika kotak dibuka, jarum yang dipasang di tutup kotak akan menusuk balon dan segera mengeluarkan gas racun yang tersimpan di dalam balon.

Walaupun berhati-hati dan berpengalaman, Jin Jiu Ling tidak mencurigai hal ini.

Tergeletak di atas lantai, ia tampak seperti sebuah balon yang menggelembung.

Seluruh tubuhnya membengkak, parasnya pucat pasi, dan di kepalanya terdapat sebuah goresan.

Kepalanya tadi membentur lemari dan terluka.

-Wajah kalian tertutup oleh pertanda buruk.

Dalam tiga hari, kepala kalian akan dipecahkan oleh seseorang -.

Hwesio Jujur memang jujur.

Lu Xiao Feng menarik nafas dalam-dalam dan membuyarkan gas beracun itu dengan kibasan tangannya.

Memikirkan kembali kata-kata Hwesio Jujur itu, hatinya tiba-tiba terasa agak dingin.

Meng Wei tadi berlari keluar dari ruangan itu secepat yang ia bisa.

Barulah setelah gas itu buyar, ia masuk kembali, sambil mendekap hidungnya.

Sekarang Lu Xiao Feng membantu Jin Jiu Ling duduk dan melindungi jantungnya dengan tenaga dalamnya, berharap dapat menyelamatkan nyawanya.

Meng Wei malah pergi dan memungut kotak itu, tampaknya ia lebih tertarik pada kotak itu daripada terhadap Jin Jiu Ling.

Tapi kotak itu kosong, tidak ada apa-apa di dalamnya.

Setelah memeriksanya beberapa lama, tiba-tiba ia berseru.

"Ini dia!"

Rahasianya bukan berada di dalam kotak, tapi pada tutupnya.

Jika memeriksa dengan cermat, orang bisa melihat bahwa di antara ukir-ukiran pada tutup itu ada sebuah tulisan kuno, yang berasal dari masa sebelum Kaisar Pertama.

Totalnya ada 6 kata.

"Pergi ke Ah-Tu, akan segera kembali."

Semakin jelas, semakin tidak diperhatikan orang, semakin sukar pula menemukannya.

Nyonya Pertama Gong Sun benar-benar memahami bagaimana caranya fikiran manusia berfungsi.

Siapa yang memikirkan cara berkomunikasi seperti ini?

-Ia menyuruh seseorang untuk memberi sesuatu pada Ah-Tu, karena Ah-Tu akan segera kembali.

Tapi kepada siapa instruksi itu ditujukan?

Apa yang harus diserahkan pada Ah-Tu?

Siapa pula Ah-Tu?

Pertanyaan-pertanyaan ini mustahil untuk dijawab saat ini.."Ah-Tu, Ah-Tu...."

Meng Wei mengerutkan keningnya dan bergumam pada dirinya sendiri.

"Mungkinkah Ah-Tu yang itu?"

"Kau kenal Ah-Tu?"

Lu Xiao Feng bertanya, walaupun ia tahu jawabannya.

"Di mulut jalan ada seorang pengemis, semua orang memanggilnya Ah-Tu."

"Di mana dia sekarang?"

"Supaya Song Hong bisa tinggal di sana dan menyamar sebagai dirinya, kami telah mengusirnya pergi."

"Cepat, cari dia."

Meng Wei segera hendak berlalu.

"Tunggu sebentar."

Meng Wei menunggu instruksinya.

"Apakah ia tahu mengapa kalian mengusirnya pergi?"

"Aku hanya mengatakan padanya bahwa ia tidak diijinkan mengemis di situ."

Meng Wei menggelengkan kepalanya. Seorang pemburu hadiah sebenarnya tidak memerlukan alasan apa pun untuk mengusir seorang pengemis.

"Bila kau menemukannya, segera beritahu aku. Tidak perduli apa pun, jangan biarkan dia tahu."

"Ya, Tuan. Aku akan segera kembali setelah aku menemukannya."

"Tidak usah kembali ke sini. Aku akan membawa Jin Jiu Ling ke tempat Shi Jing Mo. Jika kau menemukan sesuatu, pergi saja ke sana!"

Shi Jing Mo adalah tabib paling terkenal di kota ini, tentu saja Meng Wei pun tahu hal ini.

"Juga suruh orang-orangmu mencari debu dan menaburkannya di tempat kita tadi berada, pastikan debu itu kelihatan wajar."

"Ya, Tuan."

"Dan letakkan kembali kotak ini di tempat kau menemukannya."

"Ya, Tuan."

"Song Hong juga harus pergi dari sini, suruh orang lain yang berpatroli di mulut jalan. Mungkin ada baiknya juga menempatkan seseorang di halaman rumah sebelah, ia juga harus segera memberitahuku bila ada sesuatu yang mencurigakan!"

"Ya, Tuan."

Meng Wei berdiri di sana dan memandang pada Lu Xiao Feng, seolah-olah ia ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak jadi. Tapi waktu berjalan ke pintu, ia lalu berubah fikiran dan berpaling.

"Jika Pendekar Besar Lu masuk Enam Pintu, maka kami semua terpaksa harus ke belakang untuk mengurus bayi saja."

Ia berkata sambil tersenyum.

______________________________ Lu Xiao Feng pun cukup bangga pada dirinya sendiri.

Caranya menangani keadaan yang genting benar-benar mengagumkan.

Bahkan jika Jin Jiu Ling dalam keadaan sehat, ia tidak bisa berbuat lebih baik lagi daripada dirinya.

Sayangnya, Lu Xiao Feng bukanlah seorang dewa, maka ada kejadian-kejadian tertentu yang tidak bisa ia duga sebelumnya.

Shi Jing Mo tidak berada di rumahnya.

Tabib ini biasanya suka berlagak sok penting dan sangat jarang pergi ke rumah pasiennya tapi merekalah yang harus datang kepadanya.

Tetapi Majikan Serambi Giok Indah adalah sebuah pengecualian.

Luka-luka pada mata Ye Yi Fan masih belum sembuh benar, tapi ia juga telah pulih dari perasaan terkejut karena ia bisa menggumamkan nama-nama lukisan terkenal miliknya yang hilang.

Mengapa semakin kaya seseorang, semakin sukar bagi mereka untuk melupakan benda-benda materi yang hilang?

Mungkinkah karena mereka tidak bisa melupakannya maka mereka menjadi kaya?

Saat ini tidak ada lagi cara untuk memberitahukan perubahan situasi yang tak terduga ini pada Meng Wei, maka Lu Xiao Feng pun hanya bisa duduk menunggu di ruang tamu gedung Shi.

Hal yang aneh adalah, entah kenapa fikirannya sekarang benar-benar sedang jernih.

Tiba-tiba banyak hal yang muncul di dalam fikirannya, hal-hal yang tidak pernah ia fikirkan sebelumnya..Sementara ia sedang dalam renungan, berita dari Meng Wei tiba.

"Ah-Tu ada di rumahnya."

"Seorang pengemis memiliki rumah?"

"Pengemis tetaplah seorang manusia, bahkan anjing saja mempunyai lubang kecil miliknya sendiri, apalagi seorang pengemis."

Tapi kau akan sangat bermurah hati bila menyebut rumah Ah-Tu sebagai sebuah "lubang".

Tempat itu tidak lebih dari sebuah dinding bata yang kecil, terkucil dan setengah runtuh sehingga membentuk sebuah ruangan kecil.

Di keempat sisinya ada lubang-lubang yang berfungsi sebagai jendela.

Tempat itu berbau apek karena gelombang udara musim panas, maka papan kayu yang biasanya digunakan untuk menutupi "jendela-jendela"

Itu masih belum dipakukan. Bagian dalamnya tampak terang.

"Apakah Ah-Tu masih ada di dalam?"

"Ya, tidak tahu dari mana ia mendapatkan sekendi arak, tapi ia sedang menikmatinya sendirian di dalam sana."

"Sudah ada orang yang bicara dengannya?"

"Tidak, tapi tadi ada seseorang di sana."

"Seperti apa orang itu?"

"Orangnya berkulit kuning, memakai sebuah topi yang ujung atasnya berbentuk seperti buah cherry merah, berpakaian seperti seorang kurir atau seorang pegawai di kantor pejabat atau seperti itulah."

Tidak lama setelah percakapan singkat itu, seorang kurir yang memakai topi cherry merah datang dengan penuh lagak mendaki bukit kecil itu.

Ia membawa sebuah kantung kain berwarna kuning.

Sesudah mengamati sekelilingnya sebentar, ia melompat ke dalam rumah Ah-Tu.

Tentu saja ia tidak melihat Lu Xiao Feng dan Meng Wei, keduanya bersembunyi di atas sebuah pohon yang amat besar.

"Haruskah kita masuk dan menyergap mereka sekarang?"

Meng Wei berbisik.

"Orang yang akan kita tangkap bukanlah dia."

Lu Xiao Feng segera menggelengkan kepalanya.

"Tuan bermaksud menemukan si Bandit Penyulam dari dia?"

Meng Wei segera faham.

"Mmhmm."

"Tulisan di kotak itu mengatakan bahwa ia akan segera kembali, menurut Tuan ia akan kembali ke tempat Nyonya Pertama Gong Sun?"

Lu Xiao Feng mengangguk.

"Dan kantung itu tentu sesuatu yang akan diberikan pada perempuan itu, ia mungkin telah kembali ke tempatnya sekarang!"

Meng Wei menahan sabarnya dan menunggu.

Ia tidak harus menunggu lama.

Kurir bertopi cherry merah itu berjalan keluar dan, sambil menggumamkan sebuah irama, menuruni bukit kecil itu.

Ia telah melakukan tugasnya, maka ia tampak jauh lebih santai sekarang.

Setelah menunggu beberapa saat lagi, cahaya di dalam "rumah"

Kecil itu tiba-tiba padam dan setelah itu Ah-Tu berjalan keluar.

Sebelum pergi, ia menutup jalan masuk ke "rumah"nya dengan sebuah pintu yang terbuat dari sebilah potongan kayu yang cukup besar.

Ia membawa dua buah kantung yang terbuat dari tali rami di punggungnya, kantung kain berwarna kuning tadi tentu berada di dalam salah satu kantung rami itu.

"Aku akan mengikutinya, kau pulanglah dan rawatlah Bos Jin-mu."

"Tuan akan pergi tanpa membawa bantuan, bagaimana jika...."

"Tak usah cemas, aku tidak mungkin mati!"

Lu Xiao Feng menepuk pundaknya.

Bulan masih belum penuh.

Angin malam membawa tanda-tanda musim gugur.

Ini adalah cuaca yang sempurna untuk bepergian.

Ah-Tu tidak menyewa sebuah kereta, ia juga tidak menaiki seekor kuda, tapi ia malah hanya berjalan kaki dengan acuh Koleksi

KANG ZUSI .

tak acuh di depan, seolah-olah ia tidak memiliki sedikit pun perasaan khawatir di dunia ini.

Tidak ada orang lain yang melintas di jalan raya ini kecuali mereka berdua, satu di depan dan satunya lagi di belakang.

Kadang-kadang Ah-Tu akan menggumamkan sebuah lagu, kali lain ia akan menirukan adegan-adegan dalam opera atau drama-drama dengan suara yang keras; tapi tampaknya langkah kakinya malah semakin lambat.

Lu Xiao Feng berusaha menahan dirinya untuk tidak pergi mencari sebuah cambuk dan memukul orang ini beberapa kali agar berjalan lebih cepat.

Setelah menghabiskan waktu yang rasanya bertahun-tahun, bintang-bintang mulai tampak jarang-jarang dan bulan pun mulai menghilang, tapi Ah-Tu masih belum mempercepat langkahnya.

Ia malah menghampiri sebuah pohon di pinggir jalan dan duduk di bawahnya.

Ia membuka salah satu kantungnya, mengeluarkan seekor bebek panggang, sekendi arak, dan ajaibnya, mulai makan di pinggir jalan itu.

Lu Xiao Feng menarik nafas, yang bisa ia lakukan hanyalah mencari sebatang pohon yang letaknya jauh dan naik ke atasnya.

Ia menunggu, dan menonton.

Tiba-tiba ia menyadari bahwa ia sangat kelaparan.

Dua hari terakhir ini ia tidak mendapatkan makanan yang layak.

Tadinya hal itu terjadi karena ia tidak mau makan, tapi sekarang ia benar-benar tidak bisa makan.

Ah-Tu merobek salah satu kaki bebek itu dan menggigitnya sekali, lalu ia meminum araknya.

Tiba-tiba ia menarik nafas.

"Benar-benar membosankan kalau minum sendirian. Jika ada seseorang di sini bersamaku, ini baru hebat."

Ia bergumam sendirian.

Lu Xiao Feng benar-benar tergoda untuk turun dan ikut makan bersamanya.

Tapi ia malah hanya bisa menontonnya makan.

Akhirnya Ah-Tu selesai.

Ia menggosok-gosokkan tangannya ke celananya dan meneruskan perjalanannya.

Lu Xiao Feng benar-benar terkejut bercampur senang saat menemukan bahwa, selain kaki yang tadinya dirobek oleh Ah-Tu, separuh bagian bebek panggang itu sama sekali belum tersentuh waktu Ah-Tu meninggalkannya di atas tanah.

Pengemis ini tampaknya benar-benar lupa kalau dirinya adalah seorang pengemis.

Tentu saja ia bukan benar-benar seorang pengemis, tapi Lu Xiao Feng merasa seakan-akan ia telah hampir mati kelaparan, ia sangat tergoda untuk memungut separuh bagian bebek itu dan menggunakannya untuk mengisi perutnya.

Tapi ia harus menahan diri.

Bila ia mengingat-ingat semua kutu yang berada di tubuh Ah-Tu, walau ia benar-benar akan mati kelaparan pun ia akan memilih kematian daripada memakan bebek itu.

Perjalanan diteruskan, dan sebelum ia sadar, Lu Xiao Feng menemukan bahwa hari telah pagi.

Malam hari di bulan Juli selalu relatif singkat waktunya dan matahari pun tiba-tiba terbit.

Dengan perlahan-lahan tapi pasti, semakin banyak orang yang bermaksud pergi ke pasar, muncul di jalan raya.

Tiba-tiba Ah-Tu mulai berlari secepat mungkin di jalan itu.

Seorang pengemis jorok seperti dirinya tidak akan pernah menarik perhatian orang lain di jalan, biarpun ia sedang lari atau bergulingan.

Tapi bagaimana mungkin Lu Xiao Feng pun berlari mengejarnya seperti seekor anjing liar?

Tapi apa lagi yang bisa ia lakukan selain berlari?

Bahkan jika orang lain menganggapnya gila, ia tetap harus berlari.

Dan larinya Ah-Tu ternyata cukup cepat juga.

Bila tidak ada orang lain di jalan, ia berjalan lebih lambat daripada seekor siput, tapi bila ada orang lain di jalan, ia berlari lebih cepat daripada seekor kelinci.

Lu Xiao Feng tiba-tiba menyadari bahwa orang ini bukanlah orang yang mudah untuk dihadapi.

Mengawasi orang seperti ini tidaklah mudah.

Untunglah Ah-Tu tidak pernah melihat ke belakang, dan tampaknya ia juga sudah agak lelah.

Tiba-tiba ia melompat ke bagian belakang sebuah pedati yang ditarik oleh seekor keledai dan membawa sisa-sisa daging babi.

Ia bersandar pada bagian luar pedati itu dan tampaknya .

bersiap-siap hendak tidur.

Sais pedati itu berpaling ke belakang dan menatapnya dengan marah, tapi tidak mengusirnya turun.

Lu Xiao Feng menarik nafas dan ia mendapatkan sebuah penemuan lagi.

bepergian sebagai seorang pengemis ternyata memiliki sejumlah keuntungan yang tidak pernah bisa diduga oleh orang lain.

Tidak heran ada pepatah yang mengatakan.

"Menjadi orang miskin lebih baik daripada menjadi pangeran."

Matahari perlahan-lahan naik ke angkasa.

Mata Ah-Tu tertutup, seolah-olah ia benar-benar tidur lelap.

Lu Xiao Feng malah sedang keringatan, ia terbakar di bawah terik matahari, lelah, lapar, haus, dan tidak boleh berhenti.

Untuk dapat menemukan Nyonya Pertama Gong Sun, ia harus mengikuti orang ini tidak perduli apa pun.

Jika beruntung, ia tentu akan bertemu dengan sejumlah penjual arak dingin atau nasi sapi di pinggir jalan.

Tapi keberuntungan tidak berada di fihaknya, bahkan penjual kue pai pun tidak berhasil ditemukan.

Ternyata orang-orang di selatan sangat pemilih dalam soal makanan.

Untuk makan, mereka harus menemukan sebuah tempat yang nyaman untuk duduk dan makan.

Pedagang-pedagang kecil seperti itu sangat jarang berhasil menjual sesuatu di wilayah ini.

Maka hampir mustahil bagi pedagang-pedagang kecil untuk tetap bertahan dalam bisnisnya.

Maka Lu Xiao Feng pun hanya bisa bertahan.

Tadinya di pinggir jalan itu ada deretan tanah persawahan yang dialiri air.

Baru sekarang jalan melingkar ke kaki sebuah gunung yang hijau.

Tiba-tiba Ah-Tu melompat turun dari pedati dan mulai berlari mendaki gunung itu.

Di bawah naungan pepohonan dan rerumputan di lereng gunung itu, setidaknya udara akan terasa lebih sejuk.

Setelah tidur di pedati, Ah-Tu sekarang tampaknya telah penuh dengan energi.

Lu Xiao Feng tidak punya pilihan lain kecuali mengikutinya.

Tiba-tiba ia menyadari satu hal lagi, bukan hanya pengemis jorok dan miskin ini memiliki fisik yang kuat, tapi ia juga tampaknya memiliki sedikit ilmu meringankan tubuh.

Untunglah baginya gunung itu tidak terlalu tinggi, di samping itu, jika Ah-Tu mau berlari mendaki lereng gunung, mungkin tempat tujuannya memang tidak terlalu jauh.

Mungkin sekali markas rahasia Nyonya Pertama Gong Sun berada di atas sebuah gunung.

Tapi anehnya, gunung ini benar-benar sepi, bukan hanya tidak ada bangunan yang terlihat di sisi jalan, tetapi jalan-jalan di gunung itu pun sangat sempit dan berkelok-kelok.

Setibanya di puncak, udara tiba-tiba dipenuhi oleh sebuah aroma yang mengundang selera, aroma daging kambing rebus.

Tentu ada sebuah rumah di sana, tentu itu rumahnya Nyonya Pertama Gong Sun.

Tapi, Lu Xiao Feng kembali keliru.

Tidak ada bangunan di puncak itu, yang ada hanyalah sekelompok pengemis yang sedang makan dan minum.

"Anggaplah dirimu beruntung,"

Seseorang berkata saat mereka melihat Ah-Tu.

"Kami baru saja mencuri seekor kambing gemuk dan sekarang hendak menikmatinya. Karena kau muncul, mengapa tidak bergabung dengan kami?"

"Hehe, tentu aku telah berbuat sebuah pahala beberapa hari terakhir ini, tidak perduli ke mana pun aku pergi, aku selalu bertemu makanan enak!"

Ah-Tu tertawa sambil berjalan menghampiri mereka.

Tapi Lu Xiao Feng terpaksa cuma menonton lagi.

Tidak mungkin ia bisa bergabung dengan para pengemis ini dan ikut memakan kambing curian itu, ia tidak boleh terlihat oleh Ah-Tu.

Maka ia hanya bisa bersembunyi di balik sebuah batu karang, merasa begitu kelaparan sampai-sampai perutnya pun mulai terasa sakit.

Ia bahkan mulai merasa menyesal, seharusnya ia memungut dan memakan daging bebek itu tadi malam.

Ah-Tu tampaknya segera akrab dengan para pengemis itu.

Mereka tertawa-tawa dan berpesta sepuas hatinya, seakan-akan mereka sedang berada di Surga ke-7, tapi Lu Xiao Feng merasa seolah-olah ia sedang berada di .

dasar Neraka.

Belum pernah ia begitu menderita seperti ini di dalam hidupnya.

Baru sekarang ia akhirnya menyadari betapa menakutkannya kelaparan itu.

Jika ia bisa menggunakan kesempatan yang sedikit ini dan menutup matanya sebentar, mungkin rasanya tidak seburuk ini.

Tetapi mungkin ada lagi anak buah Nyonya Pertama Gong Sun yang berada di antara para pengemis itu, mereka bisa saja menunggu Ah-Tu di sini untuk mengambil alih barang antaran itu.

Maka Lu Xiao Feng tidak boleh lengah sedikit pun, ia harus berkonsentrasi untuk mengamati mereka.

Jika Ah-Tu diam-diam berhasil menyerahkan kantung kuning itu pada orang lain untuk dibawa kepada Nyonya Pertama Gong Sun tanpa terlihat olehnya, bukankah semua penderitaan yang ia alami ini akan sia-sia saja?

Akhirnya para pengemis itu telah selesai makan.

Ah-Tu mengucapkan terimakasih kepada mereka sebelum, anehnya, memulai perjalanannya menuruni gunung.

Apa tujuan tamasya-nya tadi ke atas gunung ini?

"Mungkinkah ia telah menyerahkan kantung kuning itu pada orang lain?

Kenapa aku tidak melihatnya?"

Lu Xiao Feng tidak mampu membayangkan kejadian yang sebenarnya.

Tapi karena ia tidak melihat apa-apa, ia harus tetap mengikuti Ah-Tu.

Di tengah perjalanan menuruni gunung, tiba-tiba Ah-Tu berhenti dan mengeluarkan kantung kuning itu dari salah satu kantung tali rami yang ia bawa.

Setelah menelitinya sebentar, ia memasukkannya kembali ke dalam buntalan di punggungnya.

"Untunglah salah satu dari pencuri kambing itu tidak mencurinya,"

Ia tersenyum dan bergumam pada dirinya sendiri.

"Kalau tidak kepalaku mungkin tidak akan lama lagi berada di leherku!"

Apa yang ada di dalam kantung kuning itu?

Kenapa begitu penting?

Lu Xiao Feng tidak bisa melihat, juga tidak bisa menebak.

Tak perduli apa, setidaknya benda itu masih ada pada Ah-Tu.

Lagipula, jika benda itu benar-benar penting, mungkin ia sendiri yang harus menyerahkannya pada Nyonya Pertama Gong Sun.

Tampaknya semua penderitaan yang dialami Lu Xiao Feng tidaklah sia-sia sama sekali.

Tapi hal yang paling menjengkelkan adalah Ah-Tu menuruni gunung itu tepat melalui jalan naiknya tadi.

Tidak mungkin ia naik ke atas gunung cuma untuk makan kambing, kan?

Mungkinkah ia telah melihat bahwa seseorang sedang menguntitnya dan sengaja membuatnya menderita sedikit?

Tidak, itu juga tidak mungkin.

Ia sama sekali tidak tampak gugup, dan jika ia memang melihat seseorang mengikutinya, ia tidak mungkin kembali melalui jalan yang sama.

Lu Xiao Feng bahkan semakin yakin kalau ia tidak mungkin ketahuan.

Bahkan jika ia harus kelaparan dua hari lagi, ia tidak akan mengeluarkan suara sedikit pun.

Akhir-akhir ini banyak orang yang sampai pada kesimpulan bahwa ilmu meringankan tubuhnya termasuk 5 yang terbaik di dunia.

"Bila seseorang dibebani dengan semacam tugas yang rahasia dan penting, tidak perduli apakah ada orang lain yang mengikutinya atau tidak, perjalanannya tentu akan sengaja dibuat berliku-liku."

Tentu itulah penyebabnya, Lu Xiao Feng tampak puas dengan penjelasan ini.

Setelah menuruni gunung, gerakan Ah-Tu, seperti yang telah diduga, jadi jauh lebih stabil.

Setelah berjalan satu jam lebih, ia memasuki sebuah kota.

Setelah mengelilingi jalan-jalan di kota itu sebanyak dua kali, ia lalu memasuki sebuah rumah makan, tapi kemudian keluar lewat pintu belakang.

Tiba-tiba, ia berbelok dan menelusuri sebuah gang, di dalam gang itu hanya ada sebuah pintu.

Pintu tersebut adalah pintu belakang sebuah kebun bunga dari sebuah kompleks yang amat besar.

Ia seperti baru tiba di rumah sendiri, karena ia berjalan masuk tanpa mengetuk pintu sama sekali.

Setelah berada di halaman, tampaknya ia pun sangat mengenali lika-liku tempat itu.

Dua kali belokan dan putaran dan ia telah berhasil keluar dari .

semak-semak bunga, melewati sebuah jembatan kecil, dan tiba di sebuah paviliun kecil yang berada di tepi sebuah kolam bunga lotus.

Terlihat sinar lampu di lantai atas paviliun itu.

Baru sekarang Lu Xiao Feng menyadari bahwa senja hari pun telah berlalu.

Lewat senja, matahari terbenam masih bisa terlihat di atas cakrawala.

Paviliun kecil itu tampak terang-benderang, tapi tidak terdengar suara orang, bahkan tidak terlihat seorang pun pelayan.

Ah-Tu juga tidak berhenti di sini, karena ia terus menaiki tangga.

Di dalam sebuah ruangan yang penuh hiasan di lantai atas, tidak terlihat satu orang pun, tapi satu set perangkat makan yang mahal dan arak telah tertata rapi di atas sebuah meja.

"Tampaknya nasib mujurnya benar-benar luar biasa, ke mana pun pergi ia selalu bertemu makanan yang enak."

Walaupun tidak ada orang di sana, di atas meja ada 8 pasang sumpit dan cangkir arak.

Ah-Tu duduk, mengambil sepasang sumpit, menjepit sepotong "Ayam Mabuk", tapi kemudian menggelengkan kepalanya dan meletakkannya kembali.

Ia merogoh ke belakang dan mengeluarkan kantung kuning itu lagi.

"Tidak disangka kalau aku kembali menjadi orang pertama yang tiba di sini."

Ia bergumam.

Jelas ia sedang menunggu orang lain.

Tapi orang-orang macam apa yang ia tunggu?

Apakah Nyonya Pertama Gong Sun termasuk di antaranya?

Di samping paviliun itu ada sebuah pohon gingko yang rimbun dan amat besar, penuh dengan dedaunan dan dahan-dahan, cocok untuk tempat bersembunyi.

Dan letaknya pun persis menghadap jendela ruangan itu.

Seperti seekor kadal, Lu Xiao Feng merayap naik ke batang pohon yang menghadap jendela dan menemukan sebuah bagian dari pohon itu yang penuh dengan dedaunan.

Hari semakin gelap, jika seseorang melihat keluar dari jendela, ia tentu akan tetap aman.

Setidaknya sekarang Ah-Tu telah tiba di tempat tujuannya, ia tidak perlu khawatir lagi kalau-kalau ia melakukan tipuan.

Lu Xiao Feng baru saja hendak menarik nafas dalam-dalam dan beristirahat sebentar waktu ia sayup-sayup mendengar suara kibasan baju yang tertiup angin.

Sebuah bayangan manusia terlihat melintasi dahan-dahan pohon dan mendarat di paviliun itu dengan gerakan "Mengibas Awan Dengan Cekatan"

Yang indah.

"Gerakan yang indah, ilmu meringankan tubuh yang sangat murni."

Lu Xiao Feng segera membuka matanya lebar-lebar untuk melihat.

Tapi ia telah tahu bahwa orang ini bukanlah Nyonya Pertama Gong Sun.

Walaupun ilmu kungfu orang ini termasuk kelas satu, tapi masih berada di bawah Nyonya Pertama Gong Sun, dan, tentu saja di bawah dirinya juga.

Tapi orang ini pun seorang wanita, usianya sekitar 40 tahun, tapi wajahnya seperti masih berusia separuhnya.

Pada dirinya masih tampak kesegaran dan kepolosan seorang wanita muda, tapi gayanya dan lirikan matanya terlihat jauh lebih menggoda daripada yang bisa ditemui pada seorang gadis muda.

Ia mengenakan pakaian berwarna ungu gelap tetapi ketat dengan sebuah buntalan kuning pula di tangannya.

Tadi, waktu ia sedang melintasi pohon, Lu Xiao Feng pun telah melihat bahwa ia juga memakai sepasang sepatu merah.

Tapi sekarang ia telah duduk.

"Kau lagi yang pertama."

Ia memberi Ah-Tu sebuah senyuman yang manis.

"Laki-laki memang tidak sabaran, kami selalu harus menunggu wanita."

Ah-Tu menarik nafas.

Sekarang ada sesuatu yang bisa disimpulkan oleh Lu Xiao Feng.

Ia menyadari bahwa dugaannya tadi benar, Ah-Tu ini bukanlah orang yang mudah untuk dihadapi, dan kedudukannya pun tidaklah rendah.

Bagaimana mungkin ia, seorang pengemis yang penuh kutu, bisa duduk sejajar dengan wanita berbaju ungu yang memiliki ilmu meringankan tubuh dan gaya yang sangat indah ini?

Mungkinkah ia juga seorang .

jago kungfu?

Lu Xiao Feng selalu menganggap dirinya sendiri memiliki pengetahuan yang amat luas mengenai orang-orang dan kejadian-kejadian di dunia persilatan.

Tapi sekarang ia menyadari bahwa masih banyak jago-jago di dunia ini yang tidak ia kenal, setidaknya dua orang di depannya ini adalah orang-orang yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

Angin tiba-tiba membawa sebuah gelombang suara tawa yang mirip dengan dentingan lonceng perak.

Orangnya belum tiba, tapi suara tawanya sudah.

"Adik ke-7 datang."

Wanita berbaju ungu itu berkata.

Ucapannya bahkan belum selesai ketika satu orang lagi muncul di ruangan itu.

Tentu saja seorang wanita lagi.

Rambutnya dibentuk berupa dua ekor kuda dan berwarna hitam legam, matanya berkilauan, giginya bersinar-sinar, dan senyumannya manis.

Ia adalah seorang gadis muda berbaju merah dan tangannya pun menggenggam sebuah buntalan kuning.

Ia tersenyum kecil pada Ah-Tu dan kemudian berpaling pada si wanita berbaju ungu.

"Nyonya kedua, kau datang cepat!"

"Yang tua memang tidak sabaran, kami selalu harus menunggu yang muda."

Si wanita berbaju ungu menarik nafas.

"Sejak kapan kau jadi tidak sabaran?"

Ia tertawa, suara tawa seperti dentingan lonceng perak pun terdengar lagi.

"Orang lain tentu harus bersyukur jika mereka bisa sabar terhadap apa yang kau lakukan."

Wanita berbaju ungu menatapnya dan menarik nafas.

"Aku tidak faham apa yang kau tertawakan. Mengapa kau terus tertawa siang dan malam?"

"Karena ia mengira bahwa ia kelihatan sangat cantik bila ia tertawa,"

Ah-Tu menjawab seenaknya.

"Belum lagi sepasang lesung pipinya yang manis itu, jika ia tidak tertawa, lalu bagaimana mungkin orang bisa melihatnya?"

Gadis berbaju merah itu menatapnya dengan marah, tapi kemudian tertawa lagi.

Dan kali ini ia tidak bisa berhenti.

Lu Xiao Feng sekarang tahu bahwa wanita berbaju ungu itu dikenal sebagai Nyonya Kedua.

Nyonya Kedua?

Mungkinkah itu singkatan dari Nyonya Kedua Gong Sun?

Jika Nyonya Kedua Gong Sun ada di sini, tentu Nyonya Pertama Gong Sun tidak jauh-jauh dari tempat ini.

Lu Xiao Feng akhirnya merasa sedikit senang, setidaknya semua penderitaannya ini tidak sia-sia.

Di samping itu, suara tawa gadis berbaju merah itu mampu membuat orang yang mendengarnya merasa bahagia.

Sayangnya Lu Xiao Feng pun tidak mengenalnya.

"Mari kita bertaruh,"

Ia masih tertawa.

"Siapa menurut kalian yang terakhir datang kali ini?"

"Adik Ketiga, tentu saja,"

Nyonya Kedua menjawab.

"Ia memerlukan waktu satu jam hanya untuk membasuh mukanya, bahkan jika kau membakar alis matanya pun ia tetap tidak akan buru-buru datang."

"Benar!"

Gadis berbaju merah itu bertepuk tangan dengan gembira dan tertawa.

"Tentu dia lagi kali ini."

"Salah, kali ini bukan dia."

Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari lantai bawah.

Suara itu sangat lembut, dan sangat lambat, sementara seseorang berjalan naik ke lantai atas.

Walaupun ia sedang berjalan perlahan-lahan sekarang, Lu Xiao Feng tadi tidak melihat kapan ia memasuki gedung itu.

Gadis berbaju merah tampak terkejut melihatnya, tapi kemudian ia segera tertawa lagi.

"Siapa yang mengira kalau sebuah keajaiban telah terjadi? Nyonya Ketiga tidak terlambat datang!"

Bukan hanya suaranya yang lembut, tingkah-lakunya pun lemah lembut, senyumannya bahkan semakin lembut ketika ia dengan perlahan berjalan menaiki tangga, duduk dengan perlahan dan dengan perlahan meletakkan kantung kuning miliknya di atas meja.

Baru kemudian ia menarik nafas..

"Bukan hanya aku tidak datang terlambat, tapi aku pun telah berada di sini sebelum kalian semua."

"Benarkah?"

Gadis berbaju merah bertanya.

"Aku tiba di sini tadi malam dan tidur di lantai bawah. Aku bermaksud datang lebih dulu dan memberi kejutan pada kalian semua!"

"Jadi mengapa kau menunggu sampai sekarang baru datang ke atas sini?"

Gadis berbaju merah pun tertawa.

"Karena ada banyak hal yang harus kulakukan!"

Nyonya Ketiga menarik nafas.

"Seperti apa?"

"Aku harus menyisir rambutku, dan kemudian membasuh wajahku, dan lalu mengenakan bajuku, dan kemudian memakai sepatuku...."

Kali ini, bahkan Lu Xiao Feng pun, yang sedang bergantung di atas pohon, terpaksa tertawa kecil. Gadis berbaju merah itu telah terbungkuk-bungkuk sambil tertawa.

"Ini benar-benar hal yang sangat penting."

Ia berkata, sambil berusaha menarik nafas.

"Sudah kubilang, dia butuh waktu satu jam untuk membasuh mukanya."

Bahkan Nyonya Kedua pun tak tahan untuk tidak tertawa kecil.

"Aku hanya mengherankan satu hal!"

Ah-Tu tiba-tiba memotong.

"Apa itu?"

Gadis berbaju merah bertanya sebelum dua orang lainnya sempat melakukannya.

"Selain menyisir rambutnya, membasuh mukanya, memakai baju dan sepatunya, bagaimana ia punya waktu untuk melakukan hal lainnya dalam seharian?"

"Ini benar-benar masalah yang serius,"

Gadis berbaju merah berusaha keras menahan tawanya dan menjawab dengan muka yang kaku.

"Jika nanti ia menikah, ia bahkan mungkin tidak punya waktu untuk punya anak, itu memang serius!"

Tapi sebelum ucapannya selesai, ia sudah hampir bergulingan di lantai karena tertawa.

"Yang kutahu adalah kau tentu saja akan punya waktu untuk punya anak,"

Nyonya Ketiga tampaknya sama sekali tidak marah, malah ia menjawab dengan perlahan.

"Nanti kau akan memiliki sedikitnya 70 atau 80 orang anak."

"Bahkan jika aku punya satu setiap tahunnya, bagaimana mungkin aku bisa punya sebanyak itu?"

Gadis berbaju merah masih tertawa.

"Jika kau bisa melahirkan banyak anak sekaligus, bukankah hal itu mungkin saja terjadi?"

"Hanya babi yang bisa melahirkan banyak anak sekaligus, aku bukan seekor...."

Gadis berbaju merah berhenti di tengah kalimatnya, tiba-tiba ia menyadari bahwa pada dasarnya ia sedang membuat lelucon tentang dirinya sendiri. Nyonya Kedua tidak bisa menahan tawanya lagi.

"Hehe, jadi kau bukan seekor babi? Seharusnya kau mengatakan hal ini pada setiap orang, untuk menghindari kebingungan."

Ia bergurau.

"Oh, aku faham,"

Gadis berbaju merah mencibirkan mulutnya.

"Kakak Ke-empat dan Kakak Ke-enam tidak ada di sini, jadi kalian semua menggunakan kesempatan ini untuk membuat lelucon tentang diriku!"

"Lalu apa bedanya jika mereka berada di sini?"

Tanya Nyonya Ketiga.

"Setidaknya mereka akan membantuku bicara, gabungan kalian berdua bahkan tidak ada artinya bagi salah seorang saja dari mereka."

Angin kembali bertiup dan tiga orang lagi melayang masuk melalui jendela seperti burung.

"Setidaknya ada satu hal yang aku yakini, aku tahu kalau dia bukan seekor babi!"

Salah seorang dari mereka tersenyum dan berkata. Si gadis berbaju merah bertepuk tangan lagi dengan gembira dan tertawa.

"Kalian dengar itu? Aku tahu bahwa Kakak Ke-empat akan berada di fihakku."

"Tapi, apakah dia jika bukan seekor babi kecil?"

Nyonya Ketiga malah bertanya.."Ia hanya seekor ayam betina, itu saja!"

Kakak Ke-empat menjawab.

"Aku seekor ayam betina?"

Si gadis berbaju merah tercengang mendengar jawaban itu.

"Jika bukan, lalu kenapa kau selalu. 'hihihihi', tertawa terus-menerus siang dan malam?"

Gadis berbaju merah itu tidak bisa lagi tertawa, Lu Xiao Feng juga tidak -Di antara 3 orang wanita yang terakhir datang itu, ia mengenali 2 orang di antaranya.

Salah satunya, tentu saja, Jiang Qing Xia, hal itu tidak membuatnya terkejut.

Tapi, walaupun dalam mimpi, tidak pernah ia bisa membayangkan bahwa "Kakak Keempat"

Mereka adalah OuYang Qing!

Pelacur terkenal yang pernah dibuatnya marah itu, yang hanya mencintai uang tapi tidak perduli pada wajah, OuYang Qing yang itu dan satu-satunya!

Melihat OuYang Qing datang bersama dengan Jiang Qing Xia, melihat bahwa ilmu ginkang OuYang Qing tidak berada di bawah Jiang Qing Xia, Lu Xiao Feng hampir terjatuh dari atas pohon.

Organisasi "Sepatu Merah"

Ini tampaknya benar-benar memiliki anggota dari berbagai kalangan.

OuYang Qing dan Jiang Qing Xia jelas merupakan figur-figur yang menonjol di dalam organisasi ini.

Di atas meja ada delapan pasang sumpit, dan sekarang tujuh orang telah tiba.

Wanita berbaju ungu adalah Nyonya Kedua, wanita yang membutuhkan waktu satu jam untuk membasuh mukanya itu adalah Nyonya Ketiga, Kakak Ke-empat adalah OuYang Qing, Kakak Ke-lima adalah Jiang Qing Xia, Kakak Ke-enam adalah seorang nikouw gundul berkaus kaki putih dan berjubah hijau, dan si ayam betina kecil yang tidak pernah berhenti tertawa itu adalah yang nomor tujuh.

Jadi di mana Nyonya Pertama?

Kenapa Nyonya Pertama Gong Sun belum muncul?

Dan Ah-Tu yang penuh kutu itu, apa hubungannya dengan mereka?

Di mana posisinya?

Mereka bertujuh telah duduk dan meletakkan kantung kuning di hadapan mereka.

Hanya kursi utama yang masih kosong, jelas disisakan untuk Nyonya Pertama Gong Sun.

"Jadi apa yang kalian berenam bawa pulang kali ini?"

Ah-Tu tiba-tiba bertanya.

"Bisakah kalian perlihatkan padaku?"

"Tentu saja bisa,"

Si gadis berbaju merah menjawab sebelum yang lainnya sempat.

"Karena Kakak Ketiga lebih dulu berada di sini, mengapa tidak kita persilakan dia untuk lebih dulu memperlihatkan apa yang ia bawa pulang?"

Nyonya Ketiga tidak keberatan atau menolak, dengan perlahan ia mengulurkan tangannya dan mulai membuka kancing-kancing di kantungnya.

Sekarang ia sedang membuka kancing ketiga, tapi tadi perlu waktu 10 menit hanya untuk membuka kancing pertama.

"Kalian mungkin tahan, tapi aku tidak,"

Nyonya Kedua menarik nafas dan tersenyum sabar.

"Ijinkan aku yang lebih dulu memperlihatkan apa yang aku dapatkan."

Sekarang Lu Xiao Feng membuka matanya lebar-lebar dan ia memusatkan perhatian pada kantung itu.

Apa yang ada di dalam kantung kuning yang misterius itu?

Telah lama ia ingin mengetahuinya.

Maka dialah yang paling tertarik untuk melihat isinya daripada orang lain yang hadir di situ.

Untunglah baginya, gerakan Nyonya Kedua tidak lambat dan tak lama kemudian ia telah membuka kantungnya.

Di dalamnya ada 70 atau 80 buah buku deposito bank dengan ukuran yang berbeda-beda.

"Tahun ini memang bukan tahun yang berhasil bagiku, dan aku pun hanya keluar selama 3 bulan,"

Ia menjelaskan.

"Maka aku hanya berhasil mendapatkan satu juta delapan ratus delapan puluh ribu tael perak dari bank-bank sekitar sini. Tapi tahun depan aku tentu akan mendapatkan hasil dua kali lipat."

Dalam waktu kurang dari setahun ia mampu mengumpulkan lebih dari 1,8 juta tael perak, dan masih menyatakan bahwa tahun ini adalah tahun yang buruk?

Lu Xiao Feng diam-diam menarik nafas.

Seumur-umur ia tidak bisa membayangkan Nyonya Kedua ini melakukan bisnis apa.

Dari apa yang ia ketahui, para bajingan terbesar .

dan terhebat di dunia penjahat hanya dapat mengumpulkan setengah dari apa yang didapatkan perempuan ini.

Ia tidak bisa memikirkan bisnis lain di dunia ini yang lebih menguntungkan daripada kejahatan.

"Jika kita hanya mendapatkan 1,8 juta tael, maka kurasa kita harus sedikit menghemat pengeluaran kita tahun ini."

Nyonya Ketiga menarik nafas.

"Bagaimana denganmu? Bagaimana penghasilanmu tahun ini?"

Nyonya Kedua bertanya.

"Tahun ini tidak buruk bagiku,"

Nyonya Ketiga tersenyum.

"Tampaknya akhir-akhir ini cukup banyak orang yang tidak ingin kehilangan hidungnya."

Tidak ingin kehilangan hidungnya, berarti mereka bersedia kehilangan muka mereka, berarti bahwa mereka tak tahu malu.

Lu Xiao Feng pun faham kalimat ini, tapi apa hubungannya hal itu dengan penghasilan perempuan itu tahun ini?

Itu yang tidak difahami oleh Lu Xiao Feng.

Untunglah, kali ini Nyonya Ketiga telah selesai membuka ketiga kancing pada kantungnya.

Di dalamnya ada sehelai kain minyak.

Ia membuka gulungan kain minyak itu, hanya untuk membuka sebuah gulungan kain satin merah lagi.

Luar biasa, di dalam kain satin merah itu ada 70 atau 80 buah hidung yang berbeda-beda ukuran dan berbeda-beda bentuknya!

Hidung manusia!

Lu Xiao Feng hampir terjatuh dari atas pohon lagi.

Bagaimana mungkin seorang wanita yang begini lembut dan sopan bisa begitu kejam, bahkan tidak terbayang olehnya kalau perempuan ini tega memotong 70 atau 80 buah hidung itu dengan tangannya sendiri!

"Yah, karena mereka tidak menginginkan hidung mereka lagi, maka aku memutuskan untuk memotongkannya bagi mereka!"

Nyonya Ketiga berkata dengan lembut.

"Itu ide yang sangat bagus!"

Gadis berbaju merah bertepuk tangan dan tertawa lagi.

"Tapi tahun depan aku tidak akan melakukan hal ini lagi!"

"Apa yang akan kau lakukan tahun depan?"

Tanya si gadis berbaju merah.

"Tahun depan aku akan memotong lidah!"

"Memotong lidah? Kenapa begitu?"

"Karena akhir-akhir ini aku menyadari bahwa orang-orang di dunia ini terlalu banyak bicara!"

Nyonya Ketiga menarik nafas dengan ringan dan menjelaskan dengan lambat-lambat.

"Jika aku tidak mengenalmu, aku tentu tidak akan percaya bahwa kau adalah orang yang demikian kejam dan tidak kenal belas kasihan walaupun kau memukulku sampai mati!"

Gadis berbaju merah menjulurkan lidahnya sedikit dan tertawa dengan suara yang mirip dengan bunyi dentingan lonceng perak.

"Aku tidak akan membunuhmu, paling-paling yang kulakukan adalah memotong lidahmu!"

Nyonya Ketiga menjawab dengan santai.

Baca Juga: Raja Silat 9

Baca Juga: Pedang Ular Emas 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert