Ceritasilat Novel Online

Bandit Penyulam 4

Eps 4 Bandit Penyulam - Khu Lung

Baca online Bandit Penyulam - Khu Lung

Cersil Bandit Penyulam - Khu Lung.

Gadis berbaju merah segera menarik lidahnya dan menutup mulutnya, seakan-akan ia bahkan takut kalau orang lain melihatnya.

Bila urusannya memotong hidung atau lidah, wanita ini, yang memerlukan waktu satu jam hanya untuk membasuh mukanya, tentu tidak akan lamban gerak-geriknya.

"Punya siapa hidung terbesar yang ada di sini?"

OuYang Qing tiba-tiba bertanya.

"Mengapa kau ingin tahu?"

"Aku selalu tertarik pada laki-laki berhidung besar!"

OuYang Qing bergurau.

"Gadis kecil ini telah menghabiskan waktu terlalu banyak di tempat-tempat seperti itu,"

Nyonya Kedua tertawa.

"Dua tahun di tempat itu dan bukan hanya hatinya semakin hitam sekarang, kulit mukanya juga semakin tebal."

"Kakak Kedua tentu orang dalam juga,"

OuYang Qing cekikikan.

"Tampaknya ia tahu benar hal-hal baik tentang laki-laki berhidung besar!"

"Sayangnya orang berhidung terbesar itu adalah orang tak berhidung sekarang!"

Ucap Nyonya Ketiga.

"Jadi siapa yang kau bicarakan ini?"

OuYang Qing bertanya.."Duan Tian Cheng!"

Waktu mendengar nama ini, Lu Xiao Feng kembali terkejut. Ia pernah mendengar nama ini sebelumnya, dan pernah juga bertemu dengan orangnya. Si "Menaklukkan Tiga Gunung"

Duan Tian Cheng bukan hanya terkenal karena hidungnya yang amat besar, tapi juga karena gaya dan bokongnya yang besar.

Memotong hidungnya, tak perduli siapa pun pelakunya, benar-benar bukan hal yang mudah untuk dilakukan.

"Apakah kita bermaksud melakukan hal yang sama seperti dulu-dulu?"

Gadis berbaju merah telah menutup mulutnya untuk waktu yang lama dan ia tidak tahan lagi.

"Kita semua makan dan minum dan mabuk sepuasnya?"

"Itu adalah tradisi kita, tentu saja tidak akan berubah,"

Jawab Nyonya Kedua.

"Kalau begitu, karena kita semua sudah ada di sini, mengapa tidak kita mulai?"

Gadis berbaju merah bertanya.

Hati Lu Xiao Feng seperti tenggelam.

-Mereka semua sudah ada di sini?

-Apakah Nyonya Pertama Gong Sun sama sekali tidak datang hari ini?

"Siapa bilang kita semua sudah ada di sini?

Tidakkah kau lihat kalau masih ada sebuah kursi yang kosong?"

Tegur Nyonya Kedua.

"Siapa lagi yang akan datang?"

"Kudengar Kakak Pertama menemukan seorang adik untukmu!"

Nyonya Kedua tersenyum.

"Akhirnya ada yang lebih muda dariku!"

Gadis berbaju merah pun tersenyum.

"Sejak saat ini, jika kalian menggertakku, aku akan balas menggertak dia!"

"Sayangnya dia tidak akan ke sini hari ini!"

Ah-Tu tiba-tiba berkata.

"Mengapa tidak? Dia tidak mau datang?"

Nyonya Kedua mengerutkan keningnya.

"Ia mau, tapi tidak bisa!"

"Seseorang tidak mengijinkannya?"

Nyonya Kedua bertanya. Ah-Tu mengangguk.

"Yah, kalau dia tidak datang, lalu siapa lagi yang kita tunggu?"

Gadis berbaju merah segera memotong, ia tidak sabar lagi untuk memulai acara.

"Seorang tamu!"

"Kita punya seorang tamu tahun ini?"

Mata gadis berbaju merah pun bersinar-sinar.

"Mmhmm!"

Jawab Ah-Tu.

"Bagaimana kemampuan minum araknya?"

Gadis berbaju merah bertanya.

"Kudengar tidak buruk!"

"Tidak perduli betapa pun bagusnya kemampuan minum araknya, asal dia berani datang hari ini, kujamin ia akan masuk ke sini dengan tubuh tegak, tapi pergi dengan tubuh terbujur!"

Gadis berbaju merah tertawa.

"Tampaknya ia bukan hanya jago minum arak, tapi ia pun cukup berani,"

Mata Nyonya Kedua tampak berkerlap-kerlip.

"Kalau tidak, ia tentu telah lari pergi mendengar kalimat-kalimat kalian itu."

"Ia seberani itu?"

Mata gadis berbaju merah tampak berkedip-kedip.

"Ia masih belum lari."

Ah-Tu menjawab.

"Jika dia belum lari juga, lalu mengapa dia tidak masuk?"

Gadis berbaju merah tertawa.

"Mungkinkah dia lebih suka merasakan angin daripada merasakan arak?"

"Ia telah merasakan angin seharian,"

Ah-Tu menjawab.

"Kurasa dia sudah cukup kenyang sekarang."

Seseorang menarik nafas dari atas pohon di luar jendela.

"Aku benar-benar sudah cukup kenyang."

Sambil menarik nafas, Lu Xiao Feng melayang masuk bersama hembusan angin yang lembut.

Sudah lama ia memang ingin masuk.

Tujuh orang seperti ini, bagaimana mungkin mereka tidak tahu kalau ada seseorang di atas pohon di luar jendela?

Lu Xiao Feng tiba-tiba menyadari bahwa bersembunyi di luar sana adalah hal yang sangat bodoh untuk dilakukan.

Ia merasa bahwa dirinya makin lama jadi semakin tolol..Tapi ia tidak kelihatan seperti orang tolol.

Tidak ada orang tolol, tak perduli seperti apa pun tololnya, yang memiliki empat alis mata.

Gadis berbaju merah itu menatapnya, tiba-tiba ia bertepuk tangan dan tertawa.

"Aku tahu kau siapa, kau adalah si telur tolol Lu Xiao Feng yang beralis empat itu!"

Bab 8.

Duel Setelah Adu Minum Kelaparan seharian, tidak mencicipi apa-apa kecuali angin, itu saja sudah merupakan hal yang menyedihkan.

Tapi hal yang lebih menyedihkan daripada itu mungkin, di saat-saat hampir pingsan karena kelaparan, lalu ditertawakan orang dan dipanggil "si telur tolol besar".

Tapi Lu Xiao Feng hanya tertawa.

"Aku tahu banyak orang yang memanggilku si 'telur tolol', tapi banyak juga orang yang suka memanggilku dengan nama lain!"

"Nama apa itu?"

Gadis berbaju merah bertanya.

"Si ayam jantan besar!"

Wajah si gadis berbaju merah tampak memerah, merah menyala seperti warna bajunya.

"Sebenarnya ia punya sebuah nama lain, nama yang lebih bagus."

OuYang Qing tiba-tiba memotong.

"Nama apa itu?"

Gadis berbaju merah segera bertanya lagi, ia sangat ingin mengalihkan pokok pembicaraan.

"Lu si Tiga Telur."

"Lu si Tiga Telur?"

Gadis berbaju merah tampak bingung.

"Apa artinya itu?"

"Sebenarnya sangat sederhana,"

OuYang Qing menjawab dengan acuh tak acuh.

"Karena ia bukan hanya si telur tolol, ia juga si telur bangsat serta si telur busuk. Digabungkan semuanya, bukankah itu sama dengan tiga telur?"

"Oh, itu nama yang bagus sekali!"

Si gadis berbaju merah kembali tertawa hingga terbungkuk-bungkuk.

"Belum pernah kudengar nama sebagus itu dalam hidupku!"

"Karena kalian semua begitu kelaparan, kenapa kalian tidak memecahkan tiga telur itu dan menggorengnya untuk dimakan?"

Nyonya Kedua bergabung dalam percakapan itu dengan sebuah senyuman yang tidak bisa ditebak artinya.

"Karena tiga telur ini tidak segar lagi,"

OuYang Qing menjawab.

"Semuanya sudah busuk."

"Sekarang aku hanya mengkhawatirkan satu hal!"

Nyonya Ketiga menarik nafas.

"Apa itu?"

Tanya OuYang Qing.

"Aku khawatir kalau ia bukan telur bebek, tapi telur ayam!"

"Itu benar-benar sebuah masalah yang amat serius,"

OuYang Qing mengangguk dan menjawab dengan muka yang kaku.

"Jika ia telur ayam, maka seekor ayam betina tentu telah melahirkannya. Jika demikian, bukankah ia putera si ayam betina kecil?"

Walaupun wajah si gadis berbaju merah sekarang semakin merah, ia tak tahan lagi untuk tidak tertawa hingga terbungkuk-bungkuk.

Lu Xiao Feng tidak tertawa, tapi ia menyadari dua hal.

-Kau tidak boleh mencari gara-gara dengan perempuan, terutama perempuan seperti OuYang Qing.

-Seorang laki-laki yang berdebat dengan enam orang wanita akan bernasib seperti seorang pelajar yang mencoba bicara tentang logika dengan enam orang prajurit, lebih baik ia membeli sepotong tahu yang amat besar dan memukul dirinya sendiri dengan tahu itu hingga mati.

Ia telah membuat satu kesalahan, maka ia tidak ingin membuat kesalahan kedua.

Gadis berbaju merah itu masih tertawa.

Bukan hanya suara tawanya itu terdengar enak di telinga, tapi juga seperti menggelitik.

Bila orang mendengar suara tawanya, hati mereka tentu akan ikut merasa gembira, dan mereka pun akan ikut tertawa sedikit.

Tapi Lu Xiao Feng tidak tertawa.

Tiba-tiba ia .

melesat ke depan dan, cepat seperti kilat, mencengkeram tangan si gadis berbaju merah dan menelikungnya ke belakang.

"Awas!"

Nyonya Kedua berseru.

Segera setelah kata itu keluar dari mulutnya, si gadis berbaju merah menyikutkan tangannya yang lain ke rusuk Lu Xiao Feng, bersama dengan tiga jenis senjata lain yang datang dari dua sisi.

Tindakan mereka sangat cepat, terutama si nikouw berjubah hijau dan berkaus kaki putih itu.

Sebuah sinar terlihat di telapak tangannya dan sebatang pedang pendek telah melesat ke arah Lu Xiao Feng, hawanya yang dingin dan keji terasa begitu tebal sehingga sukar bagi orang untuk membuka matanya.

Tapi sayangnya Lu Xiao Feng lebih cepat lagi, dada dan perutnya mengkerut ke dalam dan kedua tangannya tetap mencengkeram tangan si gadis berbaju merah dengan erat.

Ketiga senjata itu keluar pada saat yang bersamaan, dan berhenti pada saat yang bersamaan pula, ujungnya tidak lebih dari 10 cm lagi jaraknya dari titik-titik mematikan di rusuk Lu Xiao Feng.

Tapi Lu Xiao Feng tidak bergerak, bahkan tidak berkedip sedikit pun.

Karena ia tahu bahwa semua serangan itu tidak akan diteruskan.

Jika saudaranya juga jatuh ke tangan seorang musuh, ia pun tidak akan berani bertindak gegabah.

Urat-urat tampak menonjol di tangan si nikouw berjubah hijau yang memegang pedang.

Menghentikan sebuah gerakan seperti itu memang membutuhkan energi yang jauh lebih besar daripada gerakan itu sendiri.

"Lepaskan!"

Nikouw itu berseru dengan gusar, ujung pedangnya sedikit bergetar. Lu Xiao Feng tidak mau melepaskan.

"Aku tidak berbuat salah padamu, mengapa kau tidak melepaskanku?"

Si gadis berbaju merah bertanya, sambil menggigit bibirnya, ia tidak bisa tertawa lagi. Lu Xiao Feng masih tidak mau melepaskan, ia juga tidak menjawab.

"Seorang laki-laki besar sepertimu menakut-nakuti seorang gadis kecil, kau tidak punya malu?"

OuYang Qing tertawa dingin, pedangnya telah terhunus keluar dari lengan bajunya.

Lu Xiao Feng tidak merasa malu.

Wajahnya pun tidak berubah menjadi pucat atau memerah.

Golok lengkung berkilauan yang dipegang oleh Nyonya Kedua juga telah keluar dari dalam lengan bajunya.

Panjang senjata itu tidak lebih dari setengah meter.

"Di antara dua pedang dan satu golok kami, kapan saja kami bisa membuat lusinan lubang di tubuhmu!"

Ia mengancam.

"Jika tidak kau lepaskan saat ini juga, kami akan memastikan kau mati di sini!"

OuYang Qing segera menambahkan. Lu Xiao Feng tiba-tiba tertawa.

"Kau tidak mempercayai apa yang kami katakan?"

Nyonya Kedua bertanya.

"Aku mempercayai setiap patah kata yang kalian ucapkan,"

Lu Xiao Feng menjawab sambil tersenyum.

"tapi aku tidak percaya kalian akan benar-benar membuat gerakan!"

"Oh, benarkah?"

Nyonya Kedua mendengus dengan dingin.

"Karena aku yakin kalian semua telah melihat bahwa aku bukan seorang laki-laki sejati!"

Lu Xiao Feng berkata dengan santai.

"Kau bahkan bukan seorang manusia!"

Si nikouw mengumpat dengan sengit.

"Jadi, karena itu, aku bisa melakukan apa saja!"

"Apa yang akan kau lakukan padanya?"

Ekspresi wajah Nyonya Kedua tampak berubah.

"Aku sebenarnya ingin melepaskannya!"

Jawaban ini benar-benar tak terduga.

"Mengapa kau tidak melepaskannya?"

Nyonya Kedua segera bertanya.

"Setelah kalian menjanjikan dua hal, aku akan melepaskannya!" . Nyonya Kedua berfikir sebentar.

"Asal kau melepaskan dia, jangankan dua hal, bahkan jika...."

Bagian selanjutnya yang ingin ia katakan adalah.

"... bahkan jika ada dua ratus hal pun, aku akan menurut!"

Tapi Nyonya Kedua tidak menyelesaikan kalimatnya.

"Bahkan jika itu hanya setengah janji, kami tidak akan pernah menurut!"

Nyonya Ketiga, yang dari tadi duduk terdiam di kursinya, tiba-tiba berseru.

Suaranya masih selambat, sehalus dan selembut itu.

Tapi saat kata terakhir keluar dari mulutnya, ia menyerang!

Serangannya tidak lambat dan juga tidak lunak.

Senjata pilihannya adalah seutas cambuk, cambuk yang berkilauan, berwarna hitam pekat, dan berbentuk seperti ular.

Sementara ia tadi duduk membisu dan tenang-tenang di tempatnya, diam-diam ia telah membuka gulungan cambuknya di bawah meja.

Waktu ia menyerang dengan cambuknya, senjata itu melesat lebih cepat daripada seekor ular, dan bahkan lebih mematikan daripada ular yang paling mematikan.

"Jangan lukai Adik Ketujuh!"

Nyonya Kedua berseru dengan terkejut.

Tapi Nyonya Ketiga tampaknya tidak perduli.

Ujung cambuknya melingkar seperti kepala seekor ular berbisa dan mengancam jalan darah mematikan di belakang telinga Lu Xiao Feng.

Tapi Lu Xiao Feng telah menghindar pergi, sambil membawa si gadis berbaju merah, sejauh 3 meter.

Nyonya Ketiga tiba-tiba melompat ke udara dan mengayunkan cambuknya dari atas ke bawah.

Tampaknya ia benar-benar telah lupa bahwa adiknya berada di tangan musuhnya karena gerakannya itu tidak mungkin bisa ditarik kembali.

Lu Xiao Feng menarik nafas sendiri.

Ia tidak percaya bahwa wanita yang pendiam dan lemah lembut seperti Nyonya Ketiga ini sebenarnya merupakan seorang wanita yang begini agresif.

Ia tidak percaya kalau perempuan ini benar-benar akan menyerang.

Sekarang setelah ia menyerang, apalagi yang bisa ia lakukan pada si gadis berbaju merah?

Jika ia menyakitinya, maka saudara-saudaranya tentu akan bertarung mati-matian dengannya.

Jika ia melepaskannya, maka kakak-kakaknya tetap akan bertarung mati-matian dengannya.

Maka satu-satunya yang bisa ia lakukan hanyalah balas menyerang!

Selain dari itu, tampaknya ia tidak punya pilihan lain.

Cambuk Nyonya Ketiga tidak memberikan dirinya pilihan yang lain.

Nyonya Kedua tiba-tiba menghentakkan kakinya.

"Baiklah, mari kita singkirkan dulu dia!"

"Bagaimana dengan adik?"

OuYang Qing bertanya.

"Jika ia berani menyentuh sehelai saja rambut adik kita, aku akan mengiris daging di tubuhnya sepotong demi sepotong!"

Selama percakapan singkat itu, Nyonya Ketiga sudah mengayunkan cambuknya sebanyak 20 kali atau lebih.

Lu Xiao Feng menarik nafas lagi.

Ia tidak suka melihat orang terluka, lebih-lebih perempuan.

Tapi ia tidak bisa menghindar terus-menerus, cambuk itu terlalu cepat, terlalu keji.

Ia harus membalas.

Seperti pelangi yang tiba-tiba muncul, golok lengkung Nyonya Kedua pun datang menusuk.

Gerakannya aneh, tapi jauh lebih keji daripada serangan biasa.

Setelah Nyonya Kedua bergerak, mustahil OuYang Qing tidak ikut berpartisipasi juga.

Tapi tepat saat itulah, sebuah suara "bang!"

Terdengar saat sebuah cangkir arak memukul goloknya.

Sepasang sumpit tiba-tiba muncul dari samping dan menjepit cambuk ular itu.

Ah-Tu!

Sepasang sumpit itu, anehnya, berada di tangan Ah-Tu!

Wajah Nyonya Ketiga tampak hijau membesi ketika ia menatap Ah-Tu.

"Aku tidak suka ditekan oleh orang lain!"

Ia berkata dengan lambat.

"Aku tahu,"

Jawab Ah-Tu.

"Jika aku jatuh ke tangannya, kalian tidak perlu mengkhawatirkanku dan juga tidak boleh ragu-ragu!" .

"Aku tahu."

"Lalu mengapa kau tidak mengijinkan aku menyerang?"

"Karena walaupun ia mungkin bukan seorang laki-laki sejati, ia tetaplah seorang manusia!"

"Huh?"

"Setidaknya ia tidak menggunakan adik kita sebagai tameng untuk melawan cambukmu!"

Nyonya Ketiga berfikir sebentar sebelum kembali ke tempat duduknya dengan perlahan-lahan.

Sekarang ia duduk kembali dengan wajar dan tenang di kursinya, tidak bergerak sedikit pun.

Nyonya Kedua juga duduk, sambil memegangi pergelangan tangannya.

Walaupun ia memegang goloknya dengan erat, pergelangan tangannya masih terasa kaku dan sakit karena benturan cangkir arak itu.

Tapi tidak ada tanda-tanda kemarahan di wajahnya.

Tampaknya ia benar-benar patuh pada si pengemis yang penuh kudis ini.

Mata Lu Xiao Feng tampak bersinar-sinar.

"Tadi kau mengatakan tentang dua hal yang kau ingin kami janjikan?"

Tiba-tiba Ah-Tu bertanya. Lu Xiao Feng mengangguk.

"Mengapa tidak kau katakan yang pertama!"

"Tadinya aku hendak meminta kalian untuk membawaku kepada Nyonya Pertama Gong Sun!"

"Dan sekarang?"

"Sekarang hal itu tidak ada gunanya!"

"Mengapa?"

Lu Xiao Feng memandang langsung ke wajahnya.

"Karena sekarang aku sedang berhadapan dengan Nyonya Pertama Gong Sun!"

Ah-Tu tersenyum. Senyumannya tampak sangat ganjil, seperti senyuman sebuah boneka.

"Seharusnya aku telah lama menduga bahwa kau adalah Nyonya Pertama Gong Sun,"

Lu Xiao Feng menarik nafas, menyesali dirinya sendiri.

"Bukan hanya aku telah mengikutimu seharian, aku pun pernah melihatmu sekali sebelumnya!"

"Sebenarnya lebih dari satu kali!"

Ah-Tu tertawa.

"Lebih dari satu kali?"

Lu Xiao Feng agak terkejut mendengar pernyataan itu.

"Malam itu di Gerbang Barat bukanlah pertemuan kita yang pertama!"

"Lalu di mana pertemuan pertama kita?"

Lu Xiao Feng semakin bingung. Ah-Tu tidak menjawab pertanyaan ini secara langsung, tapi ia malah balik bertanya.

"Kau ingat Huo Xiu?"

Tentu saja Lu Xiao Feng ingat pada Huo Xiu.

"Hari itu, waktu kau berjalan keluar dari paviliun kecil Huo Xiu dan sedang menunggu Hua Man Lou di kaki bukit, adakah seorang wanita tua yang membawa sebuah keranjang penuh tumbuh-tumbuhan obat yang baru dipetik, berjalan melewatimu?"

"Wanita itu adalah kau?"

Lu Xiao Feng hampir berteriak. Ah-Tu mengangguk.

"Kau juga berada di sana hari itu?"

Kembali Ah-Tu tertawa kecil.

"Jika aku tidak berada di sana, lalu bagaimana Huo Xiu bisa terjebak di dalam kandang itu?"

Lu Xiao Feng terdiam.

Baru sekarang, pada saat inilah, ia akhirnya faham mengapa mesin Huo Xiu yang berada di bawah altar batu jadi tidak berfungsi.

Hal itu bukan karena seekor tikus masuk dengan tidak disengaja dan menyebabkan mesin itu terkunci.

Tidak mungkin ada kejadian yang begitu kebetulan, dan juga tidak mungkin ada keajaiban.

Keajaiban tidak lebih dari hasil kreasi manusia!

"Aku tahu bahwa Huo Xiu adalah seekor rubah tua, tapi aku tidak akan perduli .

walaupun ia memotong-motong kalian dan menjual kalian ke tukang jagal,"

Ah-Tu meneruskan.

"Tapi seharusnya ia tidak menjual ShangGuan FeiYan juga."

Tentu saja, ShangGuan FeiYan adalah salah satu dari mereka. Lu Xiao Feng tiba-tiba teringat pada sepasang sepatu merah yang bersulamkan seekor burung walet terbang itu.

"Ia membunuh adikku, maka ia harus mati,"

Ah-Tu berkata dengan acuh tak acuh.

"Walaupun ia masih hidup saat ini, kurasa ia lebih suka mampus!"

"Apakah Xue-Er melihatmu hari itu?"

Lu Xiao Feng tiba-tiba bertanya.

"Anak itu benar-benar seorang setan kecil yang cerdik,"

Ah-Tu tersenyum.

"Setelah kalian berdua pergi, ia segera pergi ke ruang mesin di bawah altar batu itu. Ia tahu bahwa di bawah sana tentu ada sesuatu!"

"Ia melihatmu?"

"Tidak, ia tidak melihatku, tapi ia melihat sepatu merah yang aku tinggalkan di sana!"

"Dan itulah sebabnya ia mengira bahwa kakaknya belum mati!"

Lu Xiao Feng tersenyum sedih.

"Akhirnya, ia tetaplah seorang anak-anak, harapannya itu terlalu tinggi,"

Ah-Tu menarik nafas.

"Orang yang mati di tangan Huo Xiu tidak akan pernah kembali lagi!"

"Dan itulah sebabnya kau membiarkan Huo Xiu hidup, kau meninggalkannya untuk Xue-Er!"

"Benar, aku ingin dia sendiri yang balas dendam."

"Tapi aku tidak faham, mengapa kau mau meninggalkan semua harta Huo Xiu untuk dia? Tampaknya kau sendiri pun sangat membutuhkan harta itu!"

Mata Ah-Tu tiba-tiba menampilkan sebuah ekspresi yang amat ganjil.

"Sayangnya jumlah uang yang bisa ia dapatkan dari Huo Xiu tidaklah banyak."

"Oh?"

"Harta itu telah lama jatuh ke tangan orang lain, tidak seorang pun bisa mengharapkan satu tael perak pun dari tangan orang ini!"

"Siapa orang ini?"

Lu Xiao Feng mengerutkan keningnya.

"Dan bagaimana harta yang amat besar itu bisa jatuh ke tangan orang ini?"

Ah-Tu memandang ke kejauhan, matanya menyorotkan sinar ketakutan yang tak dapat diuraikan dengan kata-kata.

"You had said you wanted us to promise you two things,"

She suddenly changed the subject and coldly asked.

"You have told us one, what is the other thing?"

"Tadi kau bilang kau menginginkan kami menjanjikan dua hal untukmu,"

Tiba-tiba ia mengubah pokok pembicaraan dan bertanya dengan dingin.

"Kau baru menyebutkan satu, apa yang kedua?"

"Aku ingin kau ikut denganku!"

"Kau ingin aku ikut denganmu?"

Ah-Tu kembali tertawa.

"Kau jatuh cinta padaku?"

"Ya!"

"Kau jatuh cinta pada nenek penjual kacang gula itu?"

Ah-Tu bertanya, masih tertawa sambil menutupi mulutnya.

"Atau pengemis yang penuh kudis ini?"

"Aku jatuh cinta pada dirimu yang lain!"

"Kau membicarakan tentang -si Bandit Penyulam?"

Mata Ah-Tu tampak berkerlap-kerlip. Lu Xiao Feng mengangguk.

"Kau mengira aku si Bandit Penyulam?"

"Kau menyangkalnya?"

"Tampaknya, walaupun aku membantah sekarang, tentu tidak akan ada gunanya!"

Ah-Tu menarik nafas. Faktanya ada, bukti-bukti pun sesuai, apa gunanya lagi ia menyangkal? "Setidaknya kau pernah menolongku sekali,"

Lu Xiao Feng menarik nafas.

"Aku bukan orang yang mudah melupakan hal seperti itu!" .

"Aku tahu,"

Ah-Tu menjawab secara sederhana.

"kau hanya telur tolol!"

Yang bisa dilakukan Lu Xiao Feng hanyalah berpura-pura tidak mendengarnya.

"Kau bermaksud membawaku kepada Jin Jiu Ling untuk diberi hukuman?"

"Kujamin bahwa kau akan menerima pertimbangan dan persidangan yang adil!"

Tiba-tiba, terdengar sebuah suara "duk!".

Golok Nyonya Kedua telah menancap di meja.

Si nikouw berbaju hijau pun memegang pedangnya di tangannya yang lain.

Ekspresi wajah OuYang Qing tampak dingin, dan bibir Jiang Qing Xia kelihatan pucat.

"Kau ingin kakak kami ikut pergi denganmu? Kau sedang bermimpi ya?"

Si gadis berbaju merah tiba-tiba mulai tertawa, suara tawanya sekarang tidak lagi enak didengar.

"Ia tidak bermimpi,"

Ah-Tu berkata setelah selesai tertawa.

"Aku bersedia ikut dengannya!"

Si gadis berbaju merah terdiam, semua orang terdiam. Bahkan Lu Xiao Feng pun tercengang mendengar ucapannya itu.

"Aku menyukai laki-laki yang bisa berbuat sesuatu, laki-laki yang punya kemampuan,"

Ah-Tu meneruskan dengan lambat.

"Jika seorang laki-laki yang benar-benar memiliki keahlian muncul, aku bersedia pergi ke mana saja bersamanya."

Seseorang tertawa. Kali ini OuYang Qing yang tertawa. Ia adalah orang pertama yang memahami arti ucapan Ah-Tu itu.

"Jadi jika kau ingin kakak kami ikut denganmu, kau harus lebih dulu memperlihatkan keahlianmu!"

"Aku memiliki beberapa keahlian,"

Lu Xiao Feng tersenyum.

"Cuma, aku tidak tahu keahlian mana yang kalian ingin lihat?"

"Aku hanya ingin melihat tiga macam saja!"

"Tiga macam?"

Ah-Tu menatapnya, kelopak matanya tampak melebar.

"Kita akan bertanding sebanyak tiga babak. Jika kau bisa mengalahkanku dalam dua dari tiga babak itu, maka aku akan ikut denganmu!"

"Bertanding tiga babak? Kedengarannya menarik!"

"Kujamin hal ini akan lebih menarik daripada yang engkau perkirakan!"

Mata Lu Xiao Feng tampak berkedip-kedip.

"Jadi apa yang pertama akan kita adu? Lomba minum?"

Ia bergurau.

Ia tahu bahwa perempuan ini tidak akan mau bertanding minum dengannya.

Hanya wanita dungu yang mau bertanding minum dengan seorang laki-laki seperti dirinya.

Tapi Ah-Tu menjawab dengan sebuah kalimat yang bahkan tidak pernah terbayangkan dalam mimpinya.

"Baik! Tanding minum!"

Waktu arak diletakkan di atas meja, Lu Xiao Feng baru menyadari bahwa ia telah melakukan suatu kebodohan lagi.

Saat ini ia dalam keadaan lelah seperti seekor rubah tua dan kelaparan seperti seekor serigala lumpuh.

Yang ia butuhkan untuk diminum saat ini adalah semangkuk besar sop ayam, tapi ia malah meminta adu minum.

Minum tidaklah berbeda dengan aktifitas lain, ia membutuhkan energi.

Di samping itu, saat ini bukanlah masalah besar bagi Nyonya Pertama Gong Sun untuk mabuk, tapi ia sendiri tidak boleh, karena tempat ini dipenuhi oleh orang-orangnya Nyonya Pertama Gong Sun.

Bahkan, seharusnya ia tidak boleh menyentuh alkohol setetes pun.

Tapi sekarang, di atas meja ada enam kendi arak.

Enam kendi arak "Lagu Dari Huzhou".

Sekarang kudis dan luka-luka di tubuh "Ah-Tu"

Tidak bisa lagi ditemukan, ia pun tidak lagi botak.

Ia telah menukar pakaiannya dengan baju bulu yang lembut.

Tampak anggun, ia kelihatan seperti seorang ibu rumah tangga biasa yang berusia setengah baya.

Apakah ini penampilannya yang sebenarnya?

Lu Xiao Feng tidak tahu, juga tidak bisa menebak.

Tidak ada yang tahu seperti apa sebenarnya Nyonya Pertama Gong Sun.

Bahkan suaranya pun bisa berubah kapan saja.

Saat ini, Koleksi

KANG ZUSI . suaranya seperti seorang tuan rumah yang sedang giat menghibur tamunya.

"Enam kendi arak untuk diminum 2 orang,"

Ia tersenyum sambil menatap Lu Xiao Feng.

"menurutmu ini cukup?"

"Kurasa minuman ini malah cukup untuk 2 ekor kuda,"

Lu Xiao Feng balas tersenyum murung.

"sayangnya makanan pengantar araknya tidak cukup banyak!"

Di atas meja hanya tersisa sepiring kecil sayuran dingin.

"Memang makanannya tidak cukup, itu benar,"

Nyonya Pertama Gong Sun tersenyum.

"Untunglah, kita cuma akan beradu minum, bukan adu makan!"

Tentu saja ia tahu bahwa bila seseorang minum arak dalam keadaan perut kosong, maka jumlah alkohol yang bisa diminumnya akan turun drastis; dan sekarang perut Lu Xiao Feng kosong seperti dompet seorang pengemis.

Setelah minum tiga mangkuk arak, ia telah merasa ada sesuatu yang tidak beres; setelah enam mangkuk, ia seolah-olah merasa kalau dirinya baik-baik saja; dua mangkuk lagi, dan ia menyadari bahwa ia sedang bertarung dengan perasaan mual karena arak.

Lalu, entah kenapa, tiba-tiba ia menyadari bahwa ia sedang muntah, muntah-muntah begitu hebatnya sehingga seluruh isi perutnya seperti keluar.

"Kau mabuk!"

Nyonya Pertama Gong Sun masih baik-baik saja dan bersikap seperti Guan Zhong.

"Kau kalah dalam babak ini!"

Lu Xiao Feng ingin menyanggahnya, tapi ia tidak bisa, maka yang bisa ia lakukan hanyalah bergumam sendirian sebagai jawabannya.

"Aku sama sekali tidak merasa mabuk, perutku saja yang rasanya sedikit tidak enak!"

"Kau tidak mengakui kekalahanmu?"

"Baiklah, aku mengakuinya, memangnya kenapa!"

Tentu saja tidak apa-apa.

Di dalam fikirannya sekarang, tidak ada hal di dunia ini yang amat penting.

Di samping itu, walaupun ia kalah dalam babak pertama, masih tersisa dua babak lagi.

Tapi ia lupa satu hal.

Kalah dalam babak ini telah menjamin bahwa ia juga akan kalah pada dua babak berikutnya.

Satu-satunya yang bisa diadu oleh orang mabuk dengan orang lain adalah tidur.

Jelas Nyonya Pertama Gong Sun tidak akan mau adu tidur dengannya.

"Untuk babak kedua, kita akan bertanding pedang!"

Nyonya Pertama Gong Sun berkata.

"Baiklah, tanding pedang!"

Lu Xiao Feng membusungkan dadanya.

"Apa susahnya?"

"Bagus, silakan tunggu di sini sementara aku bertukar pakaian!"

Ucap Nyonya Pertama Gong Sun.

"Kau akan bertukar pakaian lagi?"

"Mm!"

"Kita sedang bertarung atau sedang adu model pakaian?"

"Rupanya kau tidak faham. Bila sedang berduel, orang harus mengenakan pakaian yang cocok untuk berduel!"

"Mengapa begitu?"

Nyonya Pertama Gong Sun tersenyum.

"Karena pakaian seseorang bisa mempengaruhi pembawaan dan sikap orang itu; dan juga karena wanita selalu suka berganti pakaian!"

Lu Xiao Feng sekarang tidak lagi mrasa lapar atau pun lelah.

Alkohol biasanya bisa memberi orang semacam energi dan kekuatan yang aneh.

Tapi gelombang kekuatan dan energi ini adalah tipuan -jika tidak bisa menipu orang lain, setidaknya ia bisa menipu orang itu sendiri.

Tiba-tiba ia teringat pada para "Pendekar Mabuk"

Yang merupakan bagian dari cerita rakyat yang berkembang di dunia persilatan.

Menurut kabar angin, orang-orang ini "hanya bertarung dengan baik jika mereka sedang mabuk, dan semakin banyak mereka minum maka semakin tangguh mereka dalam bertarung."

Menurut cerita, Wu Song si Pembunuh Harimau dari Legenda 108 Pendekar (Para .

Pendekar Batas Air) adalah orang seperti itu.

Jika ia minum satu kendi arak, ia akan memiliki kemampuan bertarung satu "kendi".

Jika ia minum 10 kendi arak, maka ia akan lebih tangguh 10 kali lipat.

Sekarang Lu Xiao Feng merasa seolah-olah ia telah minum 10 kendi arak.

Tiba-tiba ia merasa sebuah gelombang kepercayaan diri muncul dalam dirinya, seakan-akan kemampuannya meningkat 10 kali lipat.

Bahkan jika ia diserang oleh 7 atau 8 ekor harimau sekarang, ia yakin bahwa ia akan dapat mengalahkan dan membunuh mereka.

Sayangnya yang ia hadapi sekarang bukanlah harimau, tapi Nyonya Pertama Gong Sun.

Bila dua orang jago berduel, perhitungan waktu, posisi dan pengambilan keputusan tidak boleh lalai sedikit pun.

Masih bisakah Lu Xiao Feng membuat keputusan dan penilaian yang tepat saat ini?

Dilihat dari tampangnya, ia sedang mengalami kesukaran dalam menentukan apakah ruangan ini bundar atau persegi.

Sampai saat ini, Jiang Qing tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun padanya, tapi saat itu sinar matanya memperlihatkan tanda simpati dan sedih, seakan-akan ia sedang melihat seseorang yang akan segera mati.

Selain dari Nyonya Ketiga, tatapan mata semua orang yang hadir tampak serupa dengannya.

Lu Xiao Feng menatap Nyonya Ketiga sebentar sebelum tersenyum dengan tiba-tiba.

"Jika aku kalah, bolehkah aku memotong telingaku dan memberikannya padamu?"

"Sudah kubilang, aku tidak mencari telinga lagi!"

Nyonya Ketiga menjawab dengan tenang.

"Oh, benar, kau sekarang mencari lidah!"

"Tapi aku tidak menginginkan lidahmu!"

"Lalu apa yang kau inginkan?"

"Aku menginginkan kepalamu!"

"Baik!"

Lu Xiao Feng menegakkan tubuhnya dan tertawa terbahak-bahak.

"Jika aku kalah, maka aku akan menyerahkan kepalaku padamu!"

Bagi dirinya, apakah seseorang punya kepala atau tidak tampaknya tidak begitu penting.

Sekarang, bila Jiang Qing Xia memandangnya, ia seolah-olah sedang memandang seseorang yang tidak berkepala, bahkan tatapan mata si gadis berbaju merah juga memperlihatkan semacam perasaan iba.

Siapa pun bisa melihat dengan mudah bahwa si pemabuk beralis empat ini akan kalah dalam babak berikutnya!

Tapi Lu Xiao Feng masih mencari arak lagi.

Kendi arak berada di atas meja di hadapannya, tetapi ia tetap tidak melihatnya.

Ini karena bola matanya sudah hampir melompat keluar dari kelopaknya, karena seseorang baru saja berjalan keluar dari belakang sana.

Seorang wanita.

Seorang wanita yang cantik, seorang wanita yang lebih menyilaukan daripada sinar matahari, lebih anggun daripada seorang ratu, lebih agung daripada seorang malaikat.

Bahkan pakaian yang dikenakan pun tampaknya bukan dibuat oleh tangan manusia, tapi diciptakan dengan cara mencampurkan warna-warna dan sinar-sinar pelangi dari dunia lain di angkasa.

Lu Xiao Feng tidak mengenal wanita ini, karena seumur hidupnya ia tidak pernah melihat seorang wanita yang demikian cantik dan anggun.

Untunglah, ia masih mengenali pedang di tangannya, sepasang pedang pendek seperti belati dengan panjang sekitar 20 cm dan sehelai pita sutera merah yang terikat pada masing-masing gagangnya.

Mungkinkah ini Nyonya Pertama Gong Sun?

Orang yang sama dengan ibu rumah tangga biasa yang berusia setengah baya tadi?

Orang yang sama dengan si pengemis yang penuh kudis tadi, juga si nenek penjual kacang gula itu?

Lu Xiao Feng menggosok-gosok matanya.

Ia hampir tidak bisa mempercayai apa yang ia lihat di hadapannya ini.

Nyonya Pertama Gong Sun balas menatapnya, sambil tersenyum.

"Kau tidak mengenalku lagi?"

"Hanya ada satu hal yang tidak bisa kubayangkan!"

"Apa itu?"

"Aku tak bisa membayangkan mengapa seorang wanita secantik dirimu mau Koleksi

KANG ZUSI . berpakaian seperti seorang nenek tua. Jika aku menjadi kau, aku tidak akan melakukan itu walaupun ada sebatang pisau di leherku!"

"Bagaimana kau tahu kalau ini adalah penampilanku yang sebenarnya?"

"Aku tidak tahu, aku hanya berharap bahwa ini adalah dirimu yang sebenarnya!"

"Mengapa begitu?"

Lu Xiao Feng menarik nafas lagi.

"Karena jika aku harus mati di tangan seseorang, harapanku satu-satunya adalah mati di tangan seseorang sepertimu."

"Kau benar-benar pintar bicara dengan seorang wanita, ya?"

Nyonya Pertama Gong Sun menjawab dengan genit.

"Bahkan hatiku hampir tersapu bersih."

Ia mendekati Lu Xiao Feng dengan anggun, bajunya yang berwarna-warni seperti pelangi berkibar seperti tertiup oleh angin yang tidak dapat dirasakan, terlihat seperti beratus-ratus ribu utas benang sutera yang sedang menari-nari.

Lu Xiao Feng menarik nafas lagi.

"Kalau lain kali aku berduel pedang lagi, aku pasti akan mengenakan pakaian sepertimu!"

"Oh?"

"Kau belum membuat sebuah gerakan pun, dan mataku telah dibuat kabur!"

"Hatiku tersapu bersih, matamu kabur, kurasa kita berimbang!"

"Tidak!"

"Tidak?"

"Kau punya sepasang pedang di tanganmu, yang aku punya hanyalah segenggam keringat!"

"Di mana pedangmu?"

"Aku tidak membawa sebatang pedang pun!"

"Kau membawa golok?"

"Tidak juga."

"Orang sepertimu? Tidak membawa senjata apa pun bila keluar?"

Nyonya Pertama Gong Sun menarik nafas.

"Itu benar-benar berbahaya!"

"Memang berbahaya, terutama hari ini."

"Kau ingin meminjam sebatang pedang?"

"Ya."

"Kau ingin meminjam dari siapa?"

Lu Xiao Feng berpaling dan tersenyum ke arah si nikouw berjubah hijau. Nyonya Pertama Gong Sun menarik nafas lagi.

"Ternyata dia tidak benar-benar mabuk, ia masih bisa mengenali barang bagus."

Pedang ini juga tidak begitu panjang, tapi tampak berkilauan. Aura pedang itu tampak mencorong dan mendesak keluar. Hanya dengan sebuah sentilan perlahan, pedang itu telah berdengung tiada hentinya.

"Pedang yang amat bagus!"

Lu Xiao Feng tak tahan untuk tidak memujinya ketika ia menggenggam pedang itu di tangannya.

"Sayangnya pedang itu hari ini berada di tangan seorang pemabuk yang akan segera mati!"

Si nikouw berjubah hijau berkata dengan dingin. Lu Xiao Feng tertawa.

"Pemabuk memang benar pemabuk, tapi aku tidak terlalu yakin tentang bagian 'akan segera mati' itu!"

Sekarang mereka berjalan menelusuri paviliun dan tiba di halaman luar.

Sinar bintang tampak berkerlap-kerlip di antara daun-daun pohon gingko raksasa itu dan menerpa wajah Lu Xiao Feng.

Sorot matanya yang seperti orang mabuk tadi tiba-tiba menghilang, sekarang ia tampak secerdik Zhu Ge Liang.

"Kau tidak mabuk?"

Nyonya Kedua berujar dengan tidak percaya. Lu Xiao Feng tidak menyangkal ucapannya.

"Jika kau tidak mabuk, lalu mengapa tadi kau mengaku kalah?"

Nyonya Kedua . mendesak. Lu Xiao Feng tersenyum kecil.

"Jika aku tidak mengaku kalah di babak pertama, tentu aku akan kehilangan babak kedua ini, dan lupakan sajalah babak ketiga!"

"Tampaknya orang ini sebenarnya bukan seorang telur dungu,"

Nyonya Kedua menarik nafas.

"Tapi ia benar-benar seorang telur bajingan!"

Si gadis berbaju merah menyela dengan ketus, sambil menggigit bibirnya.

"Walaupun kau mengaku kalah di babak pertama, belum tentu kau bisa memenangkan babak kedua ini!"

Nyonya Pertama Gong Sun berkata dengan santai.

Setelah menyelesaikan ucapannya itu, ia membuat gerakannya.

Kilatan pedang menari-nari dan pakaian sutera warna-warni yang ia kenakan pun mulai menari-nari pula.

Seluruh tubuhnya seperti berubah menjadi sinar matahari yang menyilaukan dan membutakan, sehingga hampir mustahil bagi orang lain untuk membuka mata, apalagi untuk menebak di mana ia berada atau ke mana arah pedangnya.

Jika orang tidak bisa menduga di mana dia berada, bagaimana orang bisa melihat gerakannya?

Pada pertemuannya yang pertama dengan perempuan ini, Lu Xiao Feng sudah tahu bahwa jurus-jurus dan tekniknya tidak dapat diramal dan selalu berubah, hingga mencapai suatu tingkatan yang nyaris lebih menakutkan daripada jurus-jurus XiMen ChuiXue.

Tapi baru sekarang ia tahu bahwa tekniknya yang dulu itu malah belum mendekat kekuatan puncaknya.

Tampaknya kekuatan teknik seperti ini baru bisa ditampilkan sepenuhnya bila digunakan dengan pakaian warna-warni seperti ini.

Menurut legenda, pedang dan pita seperti ini bukanlah "senjata" , tapi merupakan sebuah tarian kuno di mana penarinya menari dengan tangan kosong, memutar-mutar pita itu di udara, dan barulah Nyonya Pertama Gong Sun, di jaman dulu, orang pertama yang mengambil tarian yang spektakuler ini dan, dengan menambahkan sejumlah variasi, merubahnya menjadi sebuah teknik bertarung yang bisa digunakan untuk membunuh!

Mungkin dulu ia tidak menggunakan pedang bila ia menari di hadapan Kaisar Sheng Wen Shen Wu karena khawatir kalau hawa pedangnya akan membuat takut sang kaisar.

Tapi, secara diam-diam, ia benar-benar menciptakan sebuah ilmu pedang, merubah "pedang dan pita"

Itu menjadi semacam ilmu pedang.

Karena ilmu pedang seperti ini diturunkan dari sebuah tarian, jelas ilmu ini berbeda dari segala jenis ilmu pedang lainnya.

Itulah sebabnya Nyonya Pertama Gong Sun yang ini sengaja bertukar pakaian hari ini, tak perduli hal itu akan menyingkapkan seperti apa penampilannya yang sebenarnya.

Karena kekuatan yang sebenarnya dari ilmu pedang ini hanya bisa ditampilkan melalui "kecantikan" , dan hanya seorang wanita cantik yang legendaris seperti dirinya yang bisa menggunakan ilmu ini sampai ke puncaknya!

Diam-diam Lu Xiao Feng menarik nafas.

Baru sekarang ia menyadari bahwa rahasia ilmu kungfu bukanlah sesuatu yang bisa dibayangkan oleh siapa pun.

Karena permainan ilmu pedang seperti ini benar-benar tak dapat diramalkan, jurus-jurusnya pun terlalu rumit, sekali dimulai rasanya tentu akan seperti air raksa yang sanggup memasuki setiap lubang apa saja!

Bahkan lubang sekecil apa pun, kesalahan sekecil apa pun dalam keputusannya, atau kelalaian sekecil apa pun dalam konsentrasinya, bisa membawa dirinya pada kematian!

Jika ia ingin menang, ia hanya bisa mengandalkan satu kata!

Kecepatan!

Gunakan kecepatan untuk menembus kekacauan, gunakan 'tiada perubahan' untuk menjawab 'selalu berubah'.

Setelah Nyonya Pertama Gong Sun memulai gerakannya, tubuh Lu Xiao Feng pun segera melayang ke arah atap bangunan seberang.

"Ia melarikan diri!"

Si gadis berbaju merah berseru.

Sebelum ia selesai mengucapkan tiga patah kata itu, Lu Xiao Feng telah melayang .

lagi, tubuh dan pedangnya seperti melebur menjadi satu.

Kilatan pedangnya seperti lecutan cambuk kuda, seperti pelangi, langsung mengarah pada Nyonya Pertama Gong Sun dari segala arah.

Kilauan pedangnya berkerlap-kerlip dengan liar tetapi cepat, tapi tidak ada perubahan dalam gerakannya dan seolah-olah ia bahkan tidak memiliki satu pun jalan keluar.

Ia telah memindahkan seluruh energi dan kekuatan di dalam tubuhnya ke dalam serangan yang satu ini --Tiada perubahan, tiada variasi, terkadang hal ini malah merupakan variasi yang terbaik.

Tubuh Nyonya Pertama Gong Sun seperti embun di waktu malam, pedangnya seperti bintang jatuh, tapi ia tetap saja tidak memiliki waktu yang cukup untuk bereaksi.

Tiba-tiba, tubuh dan pedangnya seperti telah diselubungi oleh hawa serangan Lu Xiao Feng.

"Trang!"

Suara itu bergema di keheningan malam.

Kilatan pedang pun berbaur dan serpihan sutera memenuhi angkasa ketika puluhan rumbai-rumbai di baju Nyonya Pertama Gong Sun terpotong.

Tak seorang pun bergerak, tak seorang pun bersuara.

Nyonya Pertama Gong Sun telah berhenti bergerak, ia berdiri tanpa bergerak di sana, tidak menyerang lagi.

Lu Xiao Feng pun berhenti menyerang, ia juga berdiri di sana tanpa bergerak, sambil menatap Nyonya Pertama Gong Sun.

"Babak ini belum berakhir!"

Nyonya Kedua segera berseru.

"Mengapa kalian berdua berhenti?"

"Jika babak ini adalah pertandingan untuk saling membunuh, maka jelas babak ini belum berakhir,"

Lu Xiao Feng menjawab dengan santai.

"Tapi jika babak ini adalah sebuah duel pedang, maka aku telah menang!"

Nyonya Pertama Gong Sun akhirnya menarik nafas panjang.

"Benar, kekuatan seranganmu itu adalah sesuatu yang tidak dapat kukalahkan!"

"Terima kasih banyak."

"Tapi aku tidak pernah menduga bahwa kau bisa melakukan sebuah gerakan seperti itu."

Lu Xiao Feng tersenyum.

"Sebenarnya aku mencuri gerakan itu!"

"Dari mana kau mencurinya?"

"Majikan Benteng Awan Putih."

"Ye Gu Cheng?"

Nyonya Pertama Gong Sun tampak terkejut mendengar jawaban itu. Lu Xiao Feng mengangguk.

"Serangan ini disebut 'Malaikat dari Luar Langit', inilah inti dari ilmu pedang Majikan Benteng Awan Putih, bahkan Tosu Kayu yakin bahwa ilmu ini bisa disebut sebagai ilmu pedang terbaik di dunia!"

Nyonya Pertama Gong Sun menarik nafas.

"Gerakan ini dibuat sebelum gerakan sebenarnya dimulai, penerapannya dilakukan setelah gerakan itu dibuat, ia menggunakan kekerasan untuk melawan kelembutan, menggunakan tiada perubahan sebagai perubahan."

Ia berkata.

"Ilmu ini memang bisa disebut sebagai ilmu pedang terbaik di dunia!"

"Jika Majikan Benteng Awan Putih mendengar sendiri ucapan Nyonya Pertama itu, ia tentu akan sangat senang!"

Lu Xiao Feng tersenyum.

"Tapi seandainya gerakan ini dilakukan olehnya, belum tentu bisa mengalahkanku!"

Nyonya Pertama Gong Sun menjawab dengan dingin.

"Mengapa tidak?"

Lu Xiao Feng tidak bisa menahan perasaan ingin tahunya.

"Karena ia adalah seorang jago pedang tanpa tandingan. Sebelum ia membuat satu gerakan pun, aku tentu telah berjaga-jaga. Tapi tadi, waktu kau melompat ke wuwungan atap, aku malah mengira bahwa kau sedang berusaha melarikan diri, karena itu konsentrasiku pecah, dan aku tidak bisa menangkis serangan yang kau buat dengan seluruh kekuatan tubuhmu itu!" .

"Dan juga karena aku bahkan tidak membawa sebatang pedang pun,"

Lu Xiao Feng tersenyum dan menambahkan.

"Kau mungkin tidak mengira bahwa aku mampu melakukan gerakan seperti itu!"

"Itulah sebabnya kelembutan bisa mengalahkan kekerasan atau yang lemah bisa mengalahkan yang kuat, prinsipnya sama!"

Nyonya Pertama Gong Sun menarik nafas. Lu Xiao Feng pun menarik nafas.

"Untunglah aku sama sekali bukan seorang jago pedang terkenal, kalau tidak aku mungkin telah mati di tanganmu hari ini!"

"Tapi kau belum menang!"

Wajah Nyonya Pertama Gong Sun tampak berubah menjadi gelap.

"Kita masih punya babak ketiga!"

Babak ketiga dan penentuan! "Kita akan bertanding apa di babak ketiga?"

Lu Xiao Feng bertanya.

"Qing-Gong, ilmu meringankan tubuh!"

Lu Xiao Feng tertawa kecil.

"Aku tahu kalau ilmu meringankan tubuh adalah keistimewaanmu; di samping itu kau adalah seorang pria dan memiliki keuntungan tenaga disbanding denganku."

Nyonya Pertama Gong Sun menambahkan.

"Bertanding denganmu dalam ilmu ini akan memberi kerugian padaku, maka...."

"Maka aku seharusnya mengalah dan memberimu sedikit keuntungan juga!"

Lu Xiao Feng menyelesaikan ucapannya.

"Setidaknya kau harus membiarkan aku lari lebih dulu!"

"Tidak masalah!"

"Tapi jika kau bisa menyusulku, maka kau telah menang, kau tidak perlu lagi bersusah-payah."

"Aku memang bukan orang yang suka melakukan hal yang membuat diriku sendiri bersusah-payah!"

"Aku akan menyuruh seseorang untuk memukul lonceng satu kali sebagai tanda, kau baru boleh mengejar setelah lonceng itu berhenti berbunyi!"

"Lonceng itu hanya dipukul satu kali?"

"Hanya satu kali."

"Tampaknya aku sebenarnya tidak dibuat susah sama sekali!"

"Tapi aku harus...."

"Tentu saja kau harus berganti pakaian dulu!"

Lu Xiao Feng menyelesaikan kalimat itu untuknya.

"Ada baju untuk minum, baju untuk duel, tentu saja ada satu baju lagi untuk adu lari."

Nyonya Pertama Gong Sung tertawa merdu.

"Kau sebenarnya sama sekali tidak tolol!"

Ia berkata dengan genit. Malam terasa sedingin air. Ekspresi wajah saudara-saudaranya pun dingin seperti air -seperti air yang beku. Si gadis berbaju merah tiba-tiba mendengus dingin.

"Berpura-pura mabuk, lalu mencuri jurus orang lain, aku paling benci laki-laki seperti ini."

Lu Xiao Feng tersenyum.

"Aku memang bukan sedang berusaha membuatmu menyukaiku!"

"Aku ingin bertanya padamu, kau ini sebenarnya seorang laki-laki bukan?"

"Kau tidak tahu?"

"Aku tak tahu."

"Kurasa kau memang tidak akan tahu,"

Lu Xiao Feng menarik nafas.

"kau hanya seorang anak kecil!"

Gadis berbaju merah itu menatapnya dengan marah sebelum memutar tubuhnya dan melangkah pergi, seakan-akan ia tidak ingin memperdulikan Lu Xiao Feng lagi. Mata OuYang Qing tampak berkedip-kedip..

"Kau tidak bisa menganggapku hanya seorang anak kecil, bukan?"

Ia bertanya.

"Tentu saja kau bukan seorang anak kecil, kau hampir cukup tua untuk menjadi seorang nenek."

OuYang Qing juga menatapnya dengan marah sebelum memutar tubuhnya dan berjalan masuk ke dalam paviliun. Lu Xiao Feng menarik nafas dan duduk di atas tangga yang terbuat dari batu.

"Jika seorang laki-laki hidup sampai umur 60 tahun, setidaknya 10 tahun masa hidupnya tentu akan sia-sia."

Ia bergumam pada dirinya sendiri.

"Kenapa sia-sia?"

Perasaan ingin tahu Nyonya Kedua tidak dapat ditahan lagi.

"Dari 10 tahun itu, setidaknya 5 tahun terbuang karena menunggu wanita berganti pakaian."

"Dan yang 5 tahunnya lagi?"

"Kau ingin mendengarnya?"

"Kau takut mengatakannya?"

Lu Xiao Feng menarik nafas lagi.

"Yah, jika kau harus tahu, akan kuberitahu. Waktu 5 tahun lainnya terbuang karena menunggu wanita melepaskan pakaiannya."

Wajah Nyonya Kedua merah padam karena murka, sementara wajah si nikouw berjubah merah berubah menjadi pucat pasi karena marahnya.

"Aku berubah fikiran!"

Nyonya Ketiga tiba-tiba menyeletuk.

"Berubah fikiran tentang apa?"

Kali ini perasaan ingin tahu Lu Xiao Feng yang tidak bisa ditahan-tahan lagi.

"Aku telah memutuskan bahwa aku ingin memotong lidahmu!"

Nyonya Ketiga menjawab dengan dingin.

Kali ini, seorang pria berbaju hijau dengan wajah penuh jenggot berjalan keluar dari paviliun dengan membawa sebuah lonceng di tangannya dan berhenti di atas tangga batu.

"Kurasa peruntunganku sama sekali tidak buruk."

Lu Xiao Feng kembali bergumam pada dirinya sendiri.

"Setidaknya aku sedang menunggu Nyonya Pertama bertukar pakaian. Jika aku menunggu orang lain, itu baru benar-benar buruk!"

"Orang lain?"

Nyonya Ketiga meliriknya dengan marah.

"Aku tidak menyebut dirimu, kenapa kau marah?"

Lu Xiao Feng menjawab.

Wajah Nyonya Ketiga sekarang berubah sebentar merah dan sebentar pucat.

Saat itulah suara lonceng tiba-tiba berdentang ketika tiga orang melesat keluar dari dalam paviliun.

Tiga orang itu mengenakan pakaian hitam yang serupa, bahkan wajah mereka pun tampak sama.

Setelah melesat keluar dari gedung, mereka bersalto sekali dan meluncur dalam tiga arah yang berbeda.

Teknik yang digunakan tiga orang ini pun sama.

Sebelum dentang lonceng berhenti, ketiganya telah berada di luar tembok yang mengelilingi halaman.

Yang manakah Nyonya Pertama Gong Sun yang sebenarnya?

-Si gadis berbaju merah dan OuYang Qing tentu tadi pura-pura marah supaya mereka bisa masuk dan berpakaian sebagai dua orang umpan.

Siapa yang seharusnya dikejar oleh Lu Xiao Feng?

Tidak perduli yang mana ia pilih untuk dikejar, walaupun ia berhasil menyusulnya, ia tentu akan kehilangan 2 orang lainnya.

Dan di antara 2 orang itu, sangat mungkin salah seorang di antara mereka adalah Nyonya Pertama Gong Sun.

Ini seperti sebuah permainan di jaman dulu, tapi jauh lebih sukar.

Lu Xiao Feng tidak tahu harus melakukan apa.

Nyonya Kedua, Nyonya Ketiga, dan si nikouw berjubah hijau semuanya menyeringai dengan dingin -kali ini Lu Xiao Feng tetap jatuh ke dalam perangkap.

Lu Xiao Feng pun menarik nafas.

"Tampaknya aku tetap saja jatuh oleh tipuannya kali ini!"

Ia tersenyum murung sambil bangkit berdiri dan bergumam.

"Tak perduli apa, kejar saja satu dan lihat hasilnya!" . Ia pun melesat, tapi tiba-tiba, dan dengan secepat kilat, melayang balik dan, dalam sekejap mata, mencengkeram pergelangan tangan laki-laki yang membawa lonceng itu.

"Trang!"

Lonceng itu jatuh ke atas tanah saat laki-laki tersebut terpana melihat perubahan situasi itu.

"Kenapa kau melakukan ini?"

Ia bertanya dengan suara yang serak.

"Bukan karena alasan tertentu,"

Lu Xiao Feng tersenyum.

"Aku hanya ingin membawamu menemui seseorang!"

"Siapa?"

"Jin Jiu Ling!"

Laki-laki itu memandangnya, menatapnya selama beberapa saat sebelum tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak, suara tawa yang merdu seperti suara burung berkicau.

"Lu Xiao Feng benar-benar Lu Xiao Feng, bahkan aku pun terkesan!"

Ternyata laki-laki pembawa lonceng ini adalah Nyonya Pertama Gong Sun yang sebenarnya.

"Bagaimana kau bisa tahu samaranku?"

Tak seorang pun bisa membayangkan bagaimana Lu Xiao Feng bisa tahu.

"Waktu Nona OuYang marah dan masuk ke dalam, aku tahu kalau ada sesuatu yang salah!"

Lu Xiao Feng tersenyum.

"Mengapa begitu?"

"Karena dia bukanlah orang yang bisa kubuat marah hanya dengan satu kalimat saja!"

"Tiga orang wanita masuk dan tiga orang wanita keluar lagi, bagaimana kau tahu kalau aku tidak berada di antara tiga orang itu?"

"Aku tidak tahu."

"Tidak tahu?"

"Aku hanya tahu bahwa seorang laki-laki dewasa dengan wajah yang penuh jenggot seharusnya tidak seharum ini!"

Nyonya Pertama Gong Sun menarik nafas.

"Kelihatannya aku seharusnya tidak berdiri dekat-dekat denganmu,"

Ia berkata sambil tersenyum jengkel.

"benar-benar berbahaya bagi seorang wanita bila berada di dekatmu!"

"Terutama seorang wanita yang seharum kamu!"

Lu Xiao Feng tersenyum. Nyonya Pertama Gong Sun mengeluarkan suara tawa yang terdengar seperti bunyi lonceng.

"Tapi aku tidak pernah mengira bahwa kau akan bertingkah laku seperti seekor anjing kecil, kau bukan hanya bisa menggunakan matamu, tapi juga hidungmu!"

"Ini juga sesuatu yang baru-baru ini kutiru dari orang lain!"

"Dari Hua Man Lou?"

"Benar."

"Tampaknya setiap keistimewaan orang lain akan langsung ditirukan olehmu!"

Nyonya Pertama Gong Sun menarik nafas.

"Itu karena aku selalu bersikap rendah hati."

"Orang yang rendah hati akan selalu bernasib baik!"

Nyonya Pertama Gong Sun mengangguk.

"Itulah sebabnya kalian semua seharusnya bersikap sedikit rendah hati sekarang dan mendengarkan apa yang harus kukatakan!"

"Kami semua mendengarkan!"

Nyonya Pertama Gong Sun meyakinkan dirinya.

"Sekarang kau telah jatuh ke tanganku, jika adik-adikmu menginginkan agar kau tetap aman dan sehat sejahtera, maka sebaiknya mereka tetap tinggal di sini dan menunggu instruksi."

Matanya perlahan-lahan menyapu wajah Nyonya Kedua dan Ketiga sebelum meneruskan dengan dingin.

"Jika seseorang masih ingin mencoba . sesuatu, maka itu berarti ia menginginkanmu segera mati sehingga ia bisa mengambil alih posisimu dan menjadi pemimpin di tempat ini."

"Jangan khawatir, tidak seorang pun di sini yang menginginkan aku mati!"

Nyonya Pertama Gong Sun tersenyum dan menjawab. Nyonya Ketiga tiba-tiba menghentakkan kakinya walaupun biasanya ia selalu bersikap dingin.

"Kau benar-benar hendak pergi bersamanya?"

"Kau seharusnya tahu bahwa aku bukanlah orang yang suka menarik kembali kata-kataku,"

Nyonya Pertama Gong Sun menjawab dengan santai.

"Di samping itu, walaupun aku tidak ingin pergi bersamanya, aku tetap harus pergi. Sekali orang ini mencengkeramkan tangannya pada seorang wanita, ia tidak akan melepaskannya walaupun hal itu akan membunuhnya."

"Terutama seorang wanita yang secantik dan seharum dirimu."

Lu Xiao Feng menambahkan dengan acuh tak acuh.

"Sekarang, aku hanya ingin agar kau hati-hati mengenai sesuatu!"

Nyonya Pertama Gong Sun berkata.

"Apa itu?"

"Hati-hati tanganmu jangan sampai terpotong!"

Bab 9. Keberhasilan Dan Kegagalan Meng Wei selalu bersikap amat waspada walaupun sedang tidur. Seorang laki-laki yang dikenal di dunia persilatan sebagai "Ular Berkepala Tiga"

Tentulah seorang yang selalu waspada, kalau tidak kepalanya tentu akan telah lama ditebas orang walaupun ia memiliki 30 kepala.

Tapi waktu ia terbangun dari tidurnya malam ini, telah ada seseorang yang berdiri di ujung ranjangnya, sedang menatapnya dengan sepasang mata yang berkilauan.

Malam masih larut, di kamar itu tidak ada cahaya, maka ia tidak bisa melihat wajah orang ini.

Tiba-tiba ia merasa bahwa telapak tangannya telah penuh dengan keringat dingin.

Orang ini tidak bergerak, ia pun tidak.

Ia sengaja mengeluarkan suara dengkuran beberapa kali untuk membuat orang ini yakin bahwa ia masih tidur.

Tiba-tiba, ia bergerak dan berusaha meraih golok yang tersembunyi di bawah ketiaknya.

Tapi gerakan orang itu jauh lebih cepat.

Saat lengannya mulai bergerak, orang ini segera menekan pundaknya ke tempat tidur.

Tidak pernah seumur hidupnya ia bertemu dengan orang yang memiliki sepasang tangan yang demikian kuat, seandainya tangan itu menjepit tenggorokannya, nafasnya tentu akan segera berhenti.

Kenyataannya, nafasnya memang hampir saja berhenti.

"Apa yang kau inginkan?"

Ia bertanya dengan suara gemetar. Jawaban orang ini sangatlah sederhana.

"Uang."

"Berapa banyak?"

Meng Wei segera bertanya.

"Seratus ribu tael!"

Ternyata orang ini pun amat tamak.

"Jika kau tidak bisa menyerahkan 100.000 tael, aku akan mencabut nyawamu!"

"Aku akan menyerahkan uang itu!"

Meng Wei bahkan tidak bimbang sedikit pun.

"Aku menginginkannya sekarang juga!"

"Aku bisa memberikannya sekarang juga!"

Orang itu tiba-tiba tertawa.

"Aku tidak tahu kalau Ketua Meng adalah orang yang begitu murah hati."

Ketika ia tertawa, suaranya pun berubah. Suara yang sangat ia kenal.

"Lu Xiao Feng?"

Ucap Meng Wei dengan terkejut.

"Ini aku."

Orang itu mengangguk. Meng Wei menarik nafas dalam-dalam beberapa kali sebelum ia mengeluarkan keluhannya..

"Itu lelucon yang amat lucu, aku hampir mati ketakutan!"

"Aku pun tidak merencanakan gurauan ini dari awal,"

Lu Xiao Feng menjawab sambil tertawa pertanda minta maaf.

"Tapi aku merasa sangat gembira hari ini!"

"Tuan telah menangkap si Bandit Penyulam?"

Mata Meng Wei segera bersinar-sinar.

"Di mana Bos Jin?"

Lu Xiao Feng tidak menjawab, tapi malah mengajukan pertanyaannya sendiri.

"Ia telah pergi kembali ke kota!"

"Apakah racun itu memberi masalah pada dirinya?"

"Untunglah Tuan segera membawanya ke tempat Tabib Shi, Shi Jing Mo memang seorang tabib yang hebat."

"Aku membawa seorang buronan, maka aku harus amat berhati-hati. Itulah sebabnya aku hanya bisa mendatangimu pada malam hari, aku tidak bisa membiarkan para bawahannya menemukan tempat aku berada."

"Aku mengerti."

Meng Wei menjawab.

Diam-diam, ia merasa sedikit lega karena ia tidak mengajak Xiao Hong menginap malam ini.

Ia tidak pernah membiarkan seorang wanita tetap bersamanya di malam hari karena ia tidak pernah percaya pada wanita.

Ini adalah sebuah kebiasaan yang baik sehingga ia memutuskan bahwa ia harus mempertahankannya -seandainya Lu Xiao Feng menemukan seorang pelacur terkenal seperti Xiao Hong tidur di ranjangnya, maka ada kemungkinan Bos Jin juga akan tahu, dan itu bukanlah hal yang baik.

Lu Xiao Feng terdiam dan berfikir sebentar.

"Bisakah kau kirimkan pesan pada orang-orangmu di Yang Cheng dengan menggunakan burung merpati untuk memberitahu Bos Jin agar menungguku tengah malam besok di paviliun tempat tinggal Raja Ular dulu?"

"Tentu saja!"

Meng Wei melompat bangkit dari tempat tidurnya dan segera mengenakan sepatunya.

"Burung merpati itu ada di belakang sini."

"Kau juga punya tinta dan kuas di sini?"

"Ya."

"Mengapa kau tidak menuliskan pesan itu sekarang juga sebelum pergi keluar?"

Meng Wei mengangguk dan menyalakan beberapa buah lentera sebelum mengeluarkan tinta.

"Tuan Lu telah berhasil, minta Bos Jin untuk menunggu di markas Raja Ular tengah malam besok."

Bagi seseorang yang bekerja di Enam Pintu sejak masih kecil, tulisannya sama sekali tidak buruk, dan bahasanya pun mengalir dengan lancar. Lu Xiao Feng berdiri di sampingnya sambil tersenyum.

"Mengapa kau tidak menulisnya dalam tulisan Xiao Zhuan? Dengan cara itu, informasi tidak akan bocor walaupun jatuh ke tangan yang salah?" {Catatan. Xiao Zhuan adalah sebuah bentuk tulisan yang dikembangkan oleh Qing Shi Huang, Kaisar pertama China, sebagai bentuk tulisan pemersatu bagi seluruh rakyat China. Selama masa dinasti Han, Xiao Zhuan perlahan-lahan berkembang ke dalam bentuk yang mirip dengan tulisan tradisional China yang kita kenal sekarang; tetapi, orang-orang terpelajar China masih mempelajari Xiao Zhuan karena "mutu estetika-nya" . Walau sebagian besar orang tidak bisa membaca Xiao Zhuan, tulisan ini masih digunakan dalam kehidupan sehari-hari, terutama sebagai segel.} "Aku adalah orang tua yang tidak berpendidikan."

Meng Wei menjawab sambil tersenyum mencela.

"Aku bahkan tidak bisa menulis Da Zhuan, apalagi Xiao Zhuan. Tapi Tuan tidak usah khawatir, merpati ini semuanya dilatih sendiri oleh Bos Jin, mereka tidak akan tersesat."

"Apakah ia bisa mendapatkan pesan itu pada waktunya?"

"Tentu!"

Meng Wei meyakinkan dirinya sambil menggulung surat itu dan memasukkannya dengan hati-hati ke dalam sebuah tabung kosong yang berukiran amat indah dan terbuat dari sepotong bambu.

Di atas permukaan bambu itu ada Koleksi

KANG ZUSI . sebuah cap berbentuk api.

"Kau akan mengirimkan pesan itu sekarang juga?"

"Aku akan pergi sekarang juga."

Ia menutupi pundaknya dengan mantel dan bergegas keluar.

Setelah menungu sebentar, suara seekor burung yang sedang mengepakkan sayapnya pun terdengar di udara.

Lu Xiao Feng menunggu di kamarnya, menunggu sampai ia kembali.

Baru kemudian ia merangkap tangannya dan bersiap untuk pergi.

"Aku akan pergi ke Yang Cheng sekarang."

Meng Wei bimbang sebentar tapi akhirnya ia bertanya.

"Tadi aku keluar, tapi tampaknya tidak ada seorang pun di luar sana."

"Memang tidak ada."

"Lalu di mana Nyonya Pertama Gong Sun?"

Meng Wei bertanya sambil tersenyum dipaksa. Lu Xiao Feng tersenyum.

"Jika kau menahannya, maukah kau berjalan-jalan di luar sana bersamanya?"

Meng Wei menggelengkan kepalanya.

"Lalu bagaimana kau menahannya?"

"Sebuah rahasia tidak akan menjadi rahasia lagi bila dibocorkan,"

Lu Xiao Feng menjawab sambil tersenyum santai.

"Setelah mengantarkannya, aku akan bercerita bila aku sempat."

"Tuan Lu benar-benar orang yang teliti dan cermat. Seperti yang kukatakan dulu, jika Tuan Lu menekuni profesi kami, ia tentu akan menjadi orang nomor satu di seluruh Enam Pintu!"

Tak terduga, Lu Xiao Feng hanya menarik nafas sebagai jawabannya.

"Sejujurnya, aku tahu bahwa aku tidak akan pernah bisa menandingi Bos Jin kalian itu, tak perduli apa pun yang aku lakukan!"

"Tapi Tuan Lu adalah orang yang menangkap Nyonya Pertama Gong Sun!"

Meng Wei memprotes. Lu Xiao Feng tersenyum murung.

"Ia membuatku bekerja keras untuknya sementara ia sendiri bersantai-santai di tempat tidur. Berdasarkan hal itu saja, kau bisa melihat bahwa ia jauh lebih hebat dariku!" ______________________________ Keadaan paviliun kecil itu masih sama seperti semula, satu-satunya perbedaan adalah orang yang duduk di kursi itu. Jin Jiu Ling sedang berbaring di kursi dengan mata tertutup. Air mukanya tampak cemerlang, dan suasana hatinya pun amat baik. Makanan yang lezat dan mengenyangkan tadi masih ada di dalam perutnya. Masakan Tuan Mai dari Taman Riang Gembira itu memang bisa dianggap selalu memuaskannya. Di samping itu, sekarang bandit itu telah tertangkap, ia bisa menikmati hidupnya tanpa perasaan cemas untuk beberapa tahun ke depan. Ia merasa bahwa ia memang sangat beruntung, begitu mujurnya sehingga ia bisa mendapatkan seorang pembantu sebaik Lu Xiao Feng. Walaupun Lu Xiao Feng belum tiba, ia tidak khawatir sedikit pun, karena ia tahu bahwa rencana Lu Xiao Feng tidak akan pernah kacau. Di atas meja ada secangkir arak Persia. Ia menyentuh kilauan arak di dalam cangkir yang gelap itu dan menghirup araknya dengan perlahan-lahan, menikmati rasanya dengan santai. Ia memang orang yang tahu cara menikmati hidup. Tidak banyak orang seperti ini di dunia. Walau Lu Xiao Feng pun terkadang bisa menikmati hidupnya, sayangnya ia memang terlahir suka ikut campur dalam urusan orang lain. Jin Jiu Ling telah memutuskan bahwa sesudah kasus ini selesai, ia tidak akan pernah lagi terlibat dalam urusan Enam Pintu. Saat inilah ia mendengar sebuah bunyi di atas atap. Itu bukanlah bunyi yang keras, . hanya sesuatu yang mungkin saja disebabkan oleh seekor kucing yang berlarian di atas atap. Wajahnya segera mengembangkan sebuah senyuman. Ia tahu bahwa Lu Xiao Feng tentu telah tiba, dan bahwa ia tentu membawa sesuatu yang berat bersamanya. Bila Lu Xiao Feng bergerak, ia tentu tidak akan pernah membuat suara sedikit pun.

"Aku menghabiskan waktu siang dan malam dengan menyeret-nyeret peti yang berat ini ke mana-mana, sementara kau duduk nyaman di sini sambil minum arak, tampaknya kau memang ditakdirkan untuk hidup enak!"

Jin Jiu Ling baru saja meletakkan cangkirnya waktu ia mendengar Lu Xiao Feng menarik nafas di luar jendela.

Jendela telah dibuka, Jin Jiu Ling telah membukanya dari dalam.

Lu Xiao Feng sendiri tidak masuk, tapi ia mendorong masuk sebuah peti bambu yang amat besar.

"Aku bukan ditakdirkan untuk hidup enak,"

Jin Jiu Ling tersenyum.

"Aku hanya beruntung karena memiliki seorang sahabat seperti Lu Xiao Feng."

Waktu ia menyelesaikan ucapannya itu, Lu Xiao Feng pun telah berada di hadapannya.

"Nasibmu memang benar-benar lebih baik dariku,"

Ia berkata dengan wajah yang kaku.

"Kau memiliki teman-teman yang baik, aku tidak."

"Tugas ini sebenarnya memang sangat sulit, aku tahu kau akan marah,"

Jin Jiu Ling tersenyum.

"Itulah sebabnya aku telah mempersiapkan arak Persia ini untuk meredakan kemarahanmu!"

Kendi emas itu telah berada di atas meja, araknya pun telah dituangkan ke dalam cangkir. Jin Jiu Ling menyerahkannya pada Lu Xiao Feng dengan kedua tangannya.

"Aku sendiri yang mendinginkan es batu ini, dijamin bisa mendinginkanmu pula."

Lu Xiao Feng pun terpaksa tersenyum.

"Ternyata kau benar-benar hebat dalam hal membuat orang lain merasa senang. Seandainya aku seorang wanita, aku juga mungkin telah jatuh cinta padamu."

Ia menerima cangkir itu dan meminum isinya dalam satu tegukan sebelum mengangkat peti bambu itu ke atas meja.

"Menurutmu, apa yang ada di dalam peti ini?"

"Apakah itu seorang penyulam?"

Mata Jin Jiu Ling tampak berkedip-kedip.

"Dia bukan hanya bisa menyulam bunga, tapi juga orang buta!"

Mata Jin Jiu Ling pun tampak bersinar-sinar.

"Lu Xiao Feng benar-benar Lu Xiao Feng, luar biasa!"

Ia mengacungkan jempolnya.

"Aku tidak tahu sudah berapa kali dalam hidupku aku tertipu karena kalimat itu,"

Lu Xiao Feng tertawa getir.

"Tapi anehnya, aku tetap suka mendengarnya!"

"Satu ciuman, dua ciuman, tidak ada yang bisa mengalahkan ciuman keledai!"

Jin Jiu Ling pun tertawa terbahak-bahak.

"Yang mencium tentu tidak akan pernah keliru!"

Masih sambil tertawa, ia membuat sebuah gerakan seakan-akan hendak membuka peti itu.

"Tunggu dulu."

Lu Xiao Feng menghalangi jalannya.

"Kenapa?"

Jin Jiu Ling tercengang. Lu Xiao Feng mengedip-ngedipkan matanya.

"Apakah kau tahu siapa si Bandit Penyulam ini?"

"Bukankah dia Nyonya Pertama Gong Sun?"

Lu Xiao Feng mengangguk.

"Dan apakah kau tahu seperti apa Nyonya Pertama Gong Sun itu?"

Ia bertanya lagi.

"Tidak!"

"Menurut dugaanmu?"

"Seorang nenek tua?"

Jin Jiu Ling tampak bimbang.

"Tebak lagi."

"Walau dia bukan seorang nenek tua, dia tidak mungkin muda, karena seorang wanita muda tidak akan pernah melakukan kejahatan dengan begitu ahli dan keji!"

"Oh?" .

"Dan kurasa dia tidak terlalu cantik, karena seorang wanita cantik tidak akan mau berpakaian seperti seorang wanita tua!"

Lu Xiao Feng menarik nafas.

"Orang-orang mengatakan bahwa kemampuanmu dalam menarik kesimpulan adalah seperti dewa, tapi kali ini kesimpulanmu ngawur belaka!"

"Aku keliru?"

"Keliru sekali!"

"Kalau begitu, perempuan seperti apakah dia?"

"Perempuan yang bisa menghipnotis laki-laki sampai mati, terutama laki-laki sepertimu!"

"Dan laki-laki seperti apakah aku?"

Bibir Jin Jiu Ling membentuk sebuah senyuman yang mengibakan.

"Kau seorang penggoda. Aku hanya berharap bahwa kau tidak terhipnotis olehnya bila kau melihatnya!"

"Ada banyak jenis laki-laki penggoda, setidaknya aku bukan jenis yang mau sembarangan mengarahkan pandangannya pada seorang wanita."

Jin Jiu Ling tertawa dan membuka peti itu.

Ia baru mengintip sedikit tapi sudah terkejut.

Perempuan di dalam peti itu memang terlalu cantik, terlalu cantik seperti sekuntum mawar yang sedang tidur di antara lautan salju.

Usianya mungkin tidak muda lagi, tapi kecantikannya sudah lebih dari cukup untuk membuat orang melupakan usianya.

Jin Jiu Ling menarik nafas.

"Tampaknya tugasmu in sama sekali tidak buruk!"

Pernyataan itu mendapatkan seringai dingin dari Lu Xiao Feng.

"Di mana Hua Man Lou?"

Tiba-tiba ia bertanya.

"Ia sudah pergi!"

"Mengapa ia tidak menungguku?"

Lu Xiao Feng mengerutkan keningnya.

"Karena ia sedang terburu-buru pergi ke Gunung Zi Jin!"

"Untuk apa?"

Jin Jiu Ling menarik nafas.

"Majikan Benteng Awan Putih telah mengatur sebuah duel dengan XiMen ChuiXue pada tanggal 1 bulan depan di Gunung Zi Jin!"

Ekspresi wajah Lu Xiao Feng tampak berubah.

"Sudah cukup banyak orang yang tahu tentang hal ini dan tidak sedikit dari sekitar sini yang telah pergi ke Gunung Zi Jin. Dari apa yang aku dengar, seseorang telah memasang taruhan yang amat besar untuk pertarungan mereka. Kemungkinannya adalah 3 berbanding 2 untuk Ye Gu Cheng!"

"Tanggal berapa hari ini?"

"Tanggal 24."

"Jika aku pergi sekarang juga, mungkin aku bisa tiba pada waktunya!"

Lu Xiao Feng melompat bangkit.

"Tapi Nyonya Pertama Gong Sun ini...."

"Tugasku sudah selesai, dari kepala hingga ke ujung kaki, ia adalah milikmu."

"Kau sedang menggodaku?"

Jin Jiu Ling bertanya sambil tersenyum malu.

"Aku hanya berharap bahwa kau adalah orang yang tahan terhadap godaan!"

"Jangan khawatir."

"Aku tetap khawatir."

"Perempuan ini adalah ular berbisa, aku tidak selancang itu, aku takut tergigit!"

Jin Jiu Ling tertawa.

"Aku khawatir karena ia tidak bisa menggigit sekarang!"

"Ular berbisa terkadang juga tidak bisa menggigit?"

"Aku telah memaksanya meminum 'Minuman Tujuh Hari' miliknya sendiri dalam dosis yang amat besar. Walau nanti terbangun, ia masih tidak bisa bergerak selama . paling sedikit 2 atau 3 hari lagi."

Jin Jiu Ling mendengarkan dalam bisu, nama 'Minuman Tujuh Hari' itu samar-samar seperti dikenal olehnya.

"Jadi dalam 2 atau 3 hari itu, tidak perduli apa pun yang kau lakukan padanya, ia tidak bisa melawan. Tapi jika kau benar-benar melakukan sesuatu terhadap dirinya, maka kau akan berada dalam masalah besar, dan begitu juga aku!"

"Jika kau benar-benar khawatir, mengapa kau tidak tinggal?"

Jin Jiu Ling menawarkan sambil tersenyum.

"Karena aku lebih mengkhawatirkan XiMen ChuiXue!"

Lu Xiao Feng tampaknya sudah bersiap-siap untuk melompat ke luar jendela ketika ia berhenti sebentar.

"Masih ada satu hal yang harus kuminta kau melakukannya untukku!"

"Jangan bimbang untuk memintanya."

"Tolong temukan di mana Xue Bing berada, aku tidak tahu bagaimana cara mendapatkan informasi ini dari orang-orang, tapi kau tahu!"

"Jangan khawatir, walaupun ia berubah menjadi sebuah boneka, aku tetap akan bisa menemukan cara untuk membuatnya bicara!"

Jin Jiu Ling tidak menolak permintaannya sebelum tiba-tiba ia teringat sesuatu.

"Di luar ada seekor kuda, aku yang membawanya ke sini."

Orang sudah tahu bahwa Jin Jiu Ling adalah Bo Le di jaman sekarang dan salah seorang ahli penilai kuda terbaik di tempat ini. Kuda yang ia bawa ke sini tentulah seekor kuda yang bagus.

"Kau bersedia meminjamkannya?"

Lu Xiao Feng sangat senang. Jin Jiu Ling mengangguk tapi kemudian tersenyum.

"Tapi ada satu hal yang aku khawatirkan!"

"Apa itu?"

"Kuda itu adalah seekor kuda betina!" ______________________________ Lu Xiao Feng pergi, pergi bersama kendi arak Persia itu. Suara derap dan ringkik kuda yang terdengar dari bawah segera menjauh. Kuda itu benar-benar hebat. Jin Jiu Ling mendorong jendela hingga terbuka dan mengintip ke luar. Di bawah sana, di halaman, tampak seseorang mengangguk padanya. -Lu Xiao Feng ada di atas kuda itu. Suara derap kaki kuda telah menghilang. Barulah kemudian Jin Jiu Ling menutup jendela, berjalan kembali ke meja, dan menyingkap lengan baju gadis di dalam peti itu. Pada lengan yang seputih akar bunga lotus dan sehalus giok itu, ada sebuah tanda lahir berwarna ungu gelap, seukuran uang logam, dalam bentuk sebuah awan. Jin Jiu Ling mengamatinya dengan teliti sebelum sebuah senyuman bangga muncul di wajahnya.

"Dia memang Nyonya Pertama Gong Sun!"

Ia bergumam.

Bagaimana ia tahu bahwa Nyonya Pertama Gong Sun memiliki tanda lahir seperti itu?

Bagi seorang wanita, hanya orang-orang terdekat dengannya yang akan tahu tentang rahasia seperti ini.

Jin Jiu Ling menutup peti, mengangkatnya dan bergegas membawanya ke lantai bawah paviliun.

Di luar pintu depan ada sebuah tandu berwarna hijau.

Jin Jiu Ling, sambil membawa peti itu, duduk di dalam tandu.

Dua orang laki-laki yang akan membawa tandu itu tidak lain dan tidak bukan adalah dua orang pemburu hadiah yang bertubuh paling kuat di kota itu.

Sebelum ia mengucapkan sepatah kata pun, mereka telah mengangkat tandu dan berlari dengan cepat melintasi jalan raya.

Duduk di dalam tandu, wajah Jin Jiu Ling terlihat sangat puas, rencananya telah % selesai.

Tandu itu masuk ke sebuah jalan kecil, dan kemudian 7 atau 8 jalan kecil lagi, sebelum akhirnya tiba di sebuah jalan besar.

Di mulut jalan itu telah menanti sebuah kereta kuda bercat hitam pekat.

Masih sambil membawa peti itu, Jin Jiu Ling turun dari tandu dan masuk ke dalam .

kereta.

Kereta itu segera melesat di jalan raya dengan sang kusir terus-menerus mencambuk kudanya, mengendalikannya sedemikian rupa seolah-olah kuda itu adalah perpanjangan tangannya sendiri.

Ia tidak lain dan tidak bukan adalah pemburu hadiah terkenal di Yang Cheng, Lu Shao Hua.

Tidak seorang pun terlihat di jalan.

Pada setiap persimpangan, tentu ada 2 orang laki-laki di atas atap rumah di kedua sisi jalan yang memberi isyarat tangan yang sama.

"Tidak ada pelancong malam yang mencurigakan, tidak ada orang yang mengikuti kereta."

Kereta itu kemudian menelusuri 7 atau 8 jalan lagi.

Sekarang orang-orang di atas atap pun telah pergi.

Hanya mereka berdua yang tahu ke mana tujuan kereta ini.

Di sudut sebelah barat kota ada sebuah jalan yang tidak segaris dengan jalan-jalan lainnya, jalan itu pendek dan sempit.

Di jalan itu hanya ada 7 buah bangunan, masing-masing pintunya tampak telah tua dan usang.

Dari ketujuh bangunan itu, tiga di antaranya adalah toko barang-barang antik yang menjual lukisan-lukisan dan kaligrafi kuno, tapi sebagian besar di antaranya adalah palsu, dua toko lainnya menjual kertas dinding atau lukisan, satunya lagi adalah penjual segel cetakan, dan yang terakhir adalah toko payung.

Seharusnya jalan ini merupakan jalan yang amat sunyi dan sepi, hanya dilalui oleh orang-orang miskin dan tua.

Tapi kereta itu berhenti di mulut jalan ini.

Setelah Jin Jiu Ling turun dari kereta, Lu Shao Hua pun segera turun.

Seorang laki-laki tua yang setengah tuli dan setengah buta membuka pintu ke salah satu toko koyok.

Jin Jiu Ling, sambil membawa peti, melesat masuk ke dalamnya.

Di dalam toko ada beberapa kaligrafi atau lukisan yang lusuh dan belum dibingkai.

Jin Jiu Ling menggeser sebuah tiruan lukisan pemandangan dari karya Tang Bo Hu dan mengangkat salah satu batu bata di dinding dengan perlahan-lahan.

Sebuah pintu rahasia segera muncul.

Di balik pintu itu ada sebuah lorong yang amat sempit.

Di ujung lorong ada sebuah pintu lagi yang, bila dibuka, membawa dirinya ke sebuah halaman kecil yang terawat dengan baik serta penuh bunga dan pepohonan.

Halaman itu mungkin tidak besar, tapi setiap bunga dan pohon jelas dipelihara dengan amat teliti dan sempurna oleh ahlinya.

Di balik pepohonan dan semak-semak yang paling lebat, ada sebuah paviliun kecil yang memiliki 5 buah kamar.

Di sana telah ada dua orang pelayan bermata jernih dan berambut ekor kuda, berdiri di tangga untuk menyambutnya.

______________________________ Nyonya Pertama Gong Sun akhirnya terbangun, hanya untuk menemukan bahwa ia sedang berada di sebuah kamar wanita yang sangat indah, berbaring di atas sebuah tempat tidur yang lembut dan nyaman.

Sebuah aroma yang lebih murni dan lebih harum daripada aroma anggrek tercium di ruangan itu, tapi dari mana asalnya?

Ia berbaring di sana dengan tenang, tidak bergerak.

Karena ia memang tidak bisa bergerak.

Bayang-bayang di jendela tampak sedikit condong, senja belum tiba.

Terdengar suara kicauan burung di luar sana, tapi suara manusia tidak terdengar sedikit pun.

"Ada orang di sini?"

Ia berseru. Tidak ada yang menjawab. Seruannya itu memang tidak keras, karena ia tidak punya tenaga untuk berteriak.

"Lu Xiao Feng, ke mana kau pergi...."

Ia mengkertakkan giginya dan hampir mencaci-maki.

"Suatu hari nanti kau akan mati di tanganku!"

Yang bisa ia lakukan hanyalah berbaring di sana dan menunggu.

Lalu tiba-tiba, wajahnya berubah menjadi merah padam -ia ingin buang air.

Tapi tidak perduli betapa kerasnya pun ia berusaha, ia masih tidak bisa bergerak sedikit pun.

Berteriak lagi pun tetap tidak ada gunanya.

Akhirnya ia tidak tahan lagi, satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah buang air di tempat tidur itu.

Ini benar-benar urusan yang .

amat memalukan.

Tempat tidur itu menjadi basah, tapi ia harus tetap berbaring di sana tanpa bergerak.

Ia jadi begitu marahnya hingga hampir menangis.

"Lu Xiao Feng, suatu hari nanti aku akan membuatmu memohon-mohon untuk mampus."

Tiba-tiba, sesuatu jatuh dari atas dan mendarat di dekatnya.

Ternyata seekor ular.

Makhluk yang paling menakutkan baginya adalah ular.

Wajahnya berubah jadi hijau karena ketakutan, tapi ia tetap tidak bisa bergerak sedikit pun.

Yang bisa ia lakukan hanyalah menonton ular itu merayap naik ke atas tubuhnya.

Ia membuka mulutnya untuk menjerit, tetapi karena ketakutan, tidak ada suara yang keluar.

Ular itu baru saja hendak merayap ke atas wajahnya waktu tiba-tiba sebuah bayangan muncul.

Seseorang muncul di kepala ranjang dan, dengan cekatan, menangkap ular itu dan melemparkannya ke luar jendela.

Nyonya Pertama Gong Sun akhirnya bisa menarik nafas lega, tapi wajahnya telah penuh dengan keringat dingin.

Tapi orang ini sedang tersenyum sambil menatapnya.

"Maaf karena telah mengagetkan Nyonya Pertama."

Orang ini berkata dengan suara yang hangat.

Walau ia telah berusia separuh baya, ia masih amat tampan.

Siapa pun bisa melihat bahwa pakaian yang ia kenakan dibuat oleh penjahit terkenal dari bahan yang terbaik.

Tapi senyuman di wajahnya lebih menawan bagi seorang wanita daripada pakaian di tubuhnya.

Nyonya Pertama Gong Sun menatapnya.

"Kau... kau majikan di tempat ini?"

Jin Jiu Ling mengangguk.

"Bagaimana seekor ular bisa masuk ke rumahmu?"

"Karena aku sengaja pergi keluar dan menangkapnya!"

Ekspresi wajah Nyonya Pertama Gong Sun terlihat berubah.

"Mengapa?"

"Karena aku harus memastikan apakah kau, Nyonya Pertama Gong Sun, benar-benar tidak bisa bergerak!"

"Kalian bukan hanya memaksaku minum obat bius, kalian juga telah menotokku,"

Nyonya Pertama Gong Sun menjawab dengan nada pahit.

"Apakah itu tidak cukup?"

"Aku seorang laki-laki yang amat berhati-hati,"

Jin Jiu Ling tersenyum.

"Dan bila urusannya menyangkut dirimu, Nyonya Pertama, aku harus lebih hati-hati lagi."

"Jadi kau adalah Jin Jiu Ling?"

Nyonya Pertama Gong Sun akhirnya bisa menebak.

"Tidak disangka kau memerlukan waktu yang begitu lama untuk mengenaliku!"

"Ke mana bangsat Lu yang mau mampus itu pergi?"

Nyonya Pertama Gong Sun berkata dengan marah, sambil mengkertakkan giginya saat menyebut nama itu.

"Ia telah menyelesaikan tugasnya, dari kepala hingga ke ujung kaki, kau, Nyonya Pertama, adalah milikku!"

Jin Jiu Ling tersenyum dengan santai.

"Di mana ini? Mengapa kau membawaku ke sini?"

"Tempat ini mungking kurang bagus, tapi setidaknya jauh lebih baik daripada penjara."

Jin Jiu Ling menarik nafas dan meneruskan.

"Aku tahu Nyonya Pertama tentu tidak pernah dipenjara sebelumnya, tempat itu benar-benar seperti kandang babi. Di mana-mana ada nyamuk dan kutu busuk. Jika kau, Nyonya Pertama, pergi ke sana, kau akan digigiti hingga menjadi bubur hanya dalam setengah hari. Dan jika kau menjerit, maka kau akan segera dipukuli. Jika kau cukup beruntung dan bertemu dengan salah satu sipir yang paling kejam, maka kau mungkin juga akan mendapatkan siraman air kencing."

Wajah Nyonya Pertama Gong Sun berubah menjadi hijau lagi.

"Kau tidak ingin aku membawamu ke tempat seperti itu, kan?"

Jin Jiu Ling bertanya. Nyonya Pertama Gong Sun tiba-tiba tertawa dingin.

"Aku tahu apa yang sebenarnya kau inginkan!"

"Oh?" .

"Kau hanya menginginkan sebuah pengakuan tertulis dariku!"

"Nyonya Pertama Gong Sun memang seorang wanita yang cerdas...."

Jin Jiu Ling tersenyum.

"Kau ingin agar aku mengaku sebagai si Bandit Penyulam, bahwa aku yang melakukan semua perampokan itu!"

"Benar, asal kau mau menuliskan pengakuan itu, aku akan menjamin bahwa aku tidak akan menyakitimu, kalau tidak...."

"Kalau tidak, apa?"

"Di sekitar sini ada banyak ular,"

Jin Jiu Ling mengancam dengan dingin.

"Kapan saja bila aku mau, aku bisa pergi dan mengambilnya beberapa ratus ekor!"

Nyonya Pertama Gong Sun mengkertakkan giginya lagi.

"Bagaimana kau tahu bahwa aku paling takut pada ular?"

"Aku selalu tahu banyak hal!"

Nyonya Pertama Gong Sun tiba-tiba tertawa dingin lagi.

"Sebenarnya, aku pun tahu banyak hal!"

"Apa yang kau ketahui?"

"Setidaknya aku tahu siapa sebenarnya Bandit Penyulam itu!"

Nyonya Pertama Gong Sun menatap langsung ke matanya waktu bicara, dengan menekankan setiap patah kata.

"Siapa?"

"Kau! Kaulah si Bandit Penyulam yang sebenarnya!"

Jin Jiu Ling berdiri membisu di pinggir tempat tidur, senyumannya yang menawan itu telah menghilang. Di wajahnya tidak terlihat emosi sedikit pun.

"Sebenarnya, dari awal, aku telah curiga bahwa kaulah si Bandit Penyulam itu!"

Nyonya Pertama Gong Sun meneruskan dengan nada mengejek.

"Oh?"

"Aku juga tahu dari awal, kau bermaksud mengkambing-hitamkan diriku!"

"Seandainya pun aku adalah Bandit Penyulam yang sebenarnya, mengapa aku memilihmu untuk dikambing-hitamkan?"

"Karena aku adalah orang yang amat misterius, tidak ada orang yang tahu tentang diriku atau latar-belakangku. Karena itu, tidak perduli apa pun yang kau tuduhkan padaku, orang lain tidak akan sukar mempercayainya!"

"Hanya karena itu?"

"Tentu saja itu bukan alasan yang utama!"

"Lalu ada alasan apa lagi?"

"Alasan yang paling penting adalah, di antara adik-adikku, salah satunya adalah kaki tanganmu. Kau ingin mengkambing-hitamkan aku, agar aku dihukum mati sebagai penggantimu, tapi kematianku juga akan memberi kesempatan bagi dia untuk mengambil posisiku sebagai pemimpin. Sejak awal, kalian berdua memang berusaha untuk membunuh dua ekor burung dengan sebutir batu."

Ekspresi wajah Jin Jiu Ling tampak berubah sedikit tapi kembali normal dengan cepat.

"Kau sudah tahu siapa dia?"

Ia bertanya.

"Sampai sekarang, aku masih belum yakin, tapi suatu hari nanti aku akan tahu!"

"Sayangnya hari itu mungkin tidak akan pernah datang!"

Jin Jiu Ling menjawab dengan dingin.

"Kau tahu bahwa setelah semua perampokan itu terjadi, orang-orang tentu akan datang mencarimu, karena kau adalah pemburu hadiah nomor satu di Enam Pintu. Juga karena tidak ada orang yang akan mencurigaimu."

"Reputasiku memang selalu baik."

"Kau pergi menemui Lu Xiao Feng, karena kau tahu bahwa hanya dia satu-satunya orang yang bisa menandingiku!"

"Dia memang orang yang sangat cerdas, bahkan kau pun harus mengakui hal itu!" .

"Aku hanya mengakui bahwa ia adalah seekor babi."

"Tapi jika dia adalah seekor babi, bagaimana kau bisa jatuh ke tangannya?"

Jin Jiu Ling bertanya sambil bergurau. Nyonya Pertama Gong Sun menggigit bibirnya.

"Mungkin ia adalah seekor babi yang cukup cerdas, tapi babi tetaplah babi!"

Jin Jiu Ling tertawa.

"Tepatnya, karena ia seekor babi, maka ia tertipu olehmu sejak awal!"

Nyonya Pertama Gong Sun meneruskan.

"Oh?"

"Kau sengaja memberikan bunga mawar hitam itu padanya karena kau tahu bahwa ia tentu akan mencari nenek tua Xue!"

"Aku juga tahu bahwa nenek tua Xue tentu akan mengenali mawar itu sebagai hasil karya seorang perempuan!"

Jin Jiu Ling tersenyum penuh tanda kemenangan.

"Itulah sebabnya dia keliru sejak awal, dia mengira bahwa si Bandit Penyulam adalah seorang wanita yang menyamar!"

"Karena ia yakin bahwa mata Nyonya Xue yang ahli tentu tidak akan pernah keliru!"

"Maka kau sengaja menyuruh SiKong ZhaiXing untuk mencuri kain itu dan membawanya ke tempat Jiang Qing Xia, karena kau tahu bahwa Jiang Qing Xia adalah salah seorang adikku!"

"Teruskan."

"Sejak saat itu, Lu Xiao Feng telah memutuskan bahwa ini semua tentu perbuatan Persaudaraan Sepatu Merah!"

"Tidakkah kau lupa bahwa SiKong ZhaiXing adalah si 'Raja Pencuri'? Mengapa ia mau menurut padaku dan berdusta pada Lu Xiao Feng?"

"Karena ia adalah si Raja Pencuri dan kau adalah si raja pemburu hadiah. Bahkan Raja Pencuri pun tidak bisa terhindar dari kekalahan. Tentu ia pernah jatuh ke tanganmu sebelumnya, tapi kau melepaskannya, karena kau tahu bahwa orang seperti dia tentu akan berguna suatu hari nanti!"

Jin Jiu Ling menarik nafas.

"Tidak ada yang tahu tentang hal itu, kau cuma menebaknya, kan?"

Nyonya Pertama Gong Sun tidak membantah, tapi ia malah meneruskan.

"Tapi kalau cuma karena itu, Lu Xiao Feng tetap tidak akan mencurigaiku."

"Benar."

"Kau tahu bahwa setibanya ia di Yang Cheng, ia tentu akan pergi menemui si Raja Ular."

"Jadi menurutmu si Raja Ular adalah kaki tanganku?"

"Tentu saja bukan, ia sama seperti SiKong ZhaiXing, ia berhutang budi padamu. Itulah sebabnya ia bersedia menuruti perintahmu."

"Kali ini kau keliru!"

"Oh?"

"Ia mau menuruti perintahku, karena ia tidak punya pilihan lain!"

"Mengapa?"

"Para pemburu hadiah dan penegak hukum di Yang Cheng semuanya adalah murid-muridku atau murid dari murid-muridku, apalagi aku telah menjadi Komandan Istana Kerajaan. Aku bisa menyapu habis dia dan seluruh organisasinya dari permukaan bumi ini kapan saja aku mau!"

Jin Jiu Ling menjawab terus terang.

"Kau tahu bahwa aku akan muncul di Taman Barat pada tanggal 15 Juli, maka kau menyuruh Raja Ular untuk mengarahkan Lu Xiao Feng ke sana juga!"

"Keberadaanmu mungkin sangat misterius bagi orang lain, tapi aku tahu betul seperti mengenali punggung tanganku."

"Karena ada seseorang di antara saudara-saudaraku yang terus-menerus memberitahumu!"

"Aku memalsukan sebuah surat dan menyuruh Raja Ular untuk mengatur agar Lu . Xiao Feng membacanya,"

Jin Jiu Ling tidak menyangkal lagi.

"Karena aku tahu bahwa Lu Xiao Feng adalah orang yang tidak suka berhutang budi pada orang lain dan ia tentu akan bersikeras masuk ke tempat Raja Ular!"

"Dan sejak saat itulah Lu Xiao Feng benar-benar mulai mencurigaiku."

"Seharusnya kau tidak berusaha membuatnya makan kacang gula itu!"

"Hari itu ada sesuatu yang harus kuawasi di Taman Barat. Bila aku sedang ada urusan, aku tidak suka orang lain menghalangi jalanku."

"Tapi dia malah memintamu untuk mencarikan sepatu merah buatnya!"

"Itulah sebabnya ia benar-benar sangat beruntung tidak mati hari itu."

"Aku juga beruntung."

"Tapi ia masih belum yakin juga, maka kau dan Raja Ular bergabung dan menculik Xue Bing!"

"Orang lain mengatakan bahwa ia adalah seekor harimau betina. Bagiku, ia tidak lebih dari seekor kucing kecil!"

"Dan kemudian kau sengaja membiarkan Lu Xiao Feng menemukan dua buah kamar di jalan kecil itu, membuatnya mengira bahwa tempat itu adalah tempat persembunyianku!"

"Mempersiapkan 2 kamar itu memang membutuhkan kerja keras!"

Jin Jiu Ling berkata terus terang.

"Ah-Tu, tentu saja, adalah seseorang yang kau tempatkan di sana sejak awal!"

"Karena aku tahu bahwa Lu Xiao Feng sendiri tidak akan pernah berhasil menemukanmu!"

"Tapi sebelumnya kau sudah tahu tempat pertemuan kami!"

"Maka aku membuat kotak kayu yang aneh itu dan menyuruh Ah-Tu membawa Lu Xiao Feng ke sana!"

"Tapi mengapa kau pura-pura keracunan?"

Jin Jiu Ling tersenyum.

"Karena aku tidak ingin pergi ke sana!"

"Asal kau tidak pergi dan Lu Xiao Feng pergi, tidak perduli apa pun yang terjadi, siapa yang menang atau kalah, semuanya tidak ada hubungannya denganmu!"

"Aku orang yang selalu berhati-hati, aku tidak pernah melakukan sesuatu yang tidak aku yakini!"

Jin Jiu Ling kembali tersenyum.

"Jadi kau benar-benar yakin tentang seluruh urusan ini?"

"Aku tahu bahwa kau adalah orang yang luar biasa dan mungkin telah mengetahui semua perbuatanku. Aku bahkan tahu bahwa kau telah membunuh Ah-Tu dan menyamar sebagai dirinya. Lu Xiao Feng bisa menemukanmu adalah karena kau yang sengaja membiarkan hal itu terjadi!"

"Kau tahu?"

Nyonya Pertama Gong Sun tampak terkejut.

"Tentu saja, tapi aku tidak terlalu mengkhawatirkan hal itu!"

"Oh?"

"Karena aku juga tahu bahwa rencanaku akan berhasil. Setiap petunjuk, setiap bukti, menunjukkan bahwa kamulah si Bandit Penyulam. Walau kau mengetahui rencanaku, kau masih tidak punya satu pun kesaksian untuk membuktikannya."

Ia tertawa dengan nada penuh kemenangan dan meneruskan.

"Apalagi setelah Xue Bing menghilang dan Raja Ular mati, Lu Xiao Feng pasti sudah membencimu hingga ke tulang sumsum. Maka tidak perduli apa pun yang kau ucapkan, ia tidak akan pernah mempercayaimu atau melepaskanmu. Di samping itu, aku adalah seorang pemburu hadiah terkenal dengan reputasi yang bersih, juga sahabatnya, sementara kau adalah seorang monster wanita yang misterius!"

Nyonya Pertama Gong Sun tak bisa berbuat apa-apa kecuali menarik nafas.

"Kau benar, aku tidak punya bukti sedikit pun. Walau aku dulu memberitahu semua orang bahwa kau adalah si Bandit Penyulam, tidak ada yang akan percaya padaku!"

"Dan walaupun kau mengatakannya sekarang, masih tidak ada orang yang akan . percaya padamu!"

"Jangan lupa bahwa kau barusan telah mengaku!"

Nyonya Pertama Gong Sun membalas dengan dingin. Jin Jiu Ling mendongakkan kepalanya sambil tertawa terbahak-bahak.

"Benar, aku sudah mengaku, tapi memangnya kenapa?"

"Kau mengira bahwa aku adalah orang satu-satunya yang mendengar apa yang kau ucapkan tadi?"

Nyonya Pertama Gong Sun mendengus.

"Sudah kubilang, aku tidak pernah melakukan apa yang tidak aku yakini!"

"Kau yakin tidak ada orang yang mengikutimu ke sini dan bahwa aku tidak bisa bergerak, itulah sebabnya kau mengaku?"

"Aku tidak ingin kau mati tanpa mengetahui alasannya!"

"Kau tidak khawatir kalau Lu Xiao Feng masuk dengan tiba-tiba?"

"Ia mungkin seekor babi, tapi larinya cukup cepat."

Masih sambil tersenyum, ia merogoh ke dalam bajunya dan mengeluarkan sebuah tabung ukiran dari bambu.

"Aku baru saja menerima ini. Datangnya dari Nan Hai lewat seekor merpati pos. Lu Xiao Feng baru saja melewati Nan Hai dan sekarang, sedang dalam perjalanan ke arah Leng Ling."

Sekali lagi, Nyonya Pertama Gong Sun menarik nafas sendiri.

"Tampaknya kau benar-benar telah memikirkan segalanya!"

"Terima kasih."

"Tapi kau tidak akan pernah mendapatkan sepatah kata pun pengakuan dari mulutku!"

"Aku pun telah memikirkan hal ini,"

Jin Jiu Ling menjawab dengan santai.

"Pengakuan ini sebenarnya tidak harus dituliskan olehmu!"

Ekspresi wajah Nyonya Pertama Gong Sun tampak berubah.

"Aku bisa menyuruh seseorang untuk menuliskan seribu pengakuan seperti ini kapan saja aku mau, siapa pun akan melakukannya. Itu karena tidak ada orang yang tahu seperti apa tulisan tanganmu."

"Itulah sebabnya kau bisa membunuhku sekarang juga, karena aku menolak untuk ditahan dan berusaha kabur, maka kau terpaksa membunuhku!"

"Kali ini tebakanmu benar!"

Jin Jiu Ling tertawa.

"Setelah aku mati, seluruh masalah ini akan berakhir, karena tidak ada lagi orang yang akan menentang ceritamu."

Nyonya Pertama Gong Sun mengkertakkan giginya dengan nada pahit.

"Kau bisa lolos begitu saja!"

"Sejak berusia 19 tahun, aku selalu merasa bahwa penjahat-penjahat itu bisa tertangkap karena mereka semua adalah babi-babi yang bodoh. Sudah lama aku ingin melakukan kejahatan yang benar-benar sempurna."

"Dan sekarang keinginanmu menjadi kenyataan!"

"Masih ada satu hal terakhir yang harus dilakukan."

"Aku masih belum mati."

"Tadinya aku berencana untuk membiarkanmu hidup beberapa hari lagi, kau benar-benar seorang wanita cantik yang langka."

Jin Jiu Ling menarik nafas.

"Sayangnya aku baru saja menyadari bahwa sebaiknya aku membunuhmu sesegera mungkin."

Nyonya Pertama Gong Sun menatap langsung ke matanya dan tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.

"Kau merasa bahwa kematian adalah suatu urusan yang sangat lucu?"

"Kematian bukanlah urusan yang lucu, tapi kaulah yang lucu!"

"Oh?"

"Jika kau berpaling, kau akan tahu betapa lucunya dirimu!"

Jin Jiu Ling pun berpaling dan seluruh tubuhnya tiba-tiba seperti membeku. Karena saat ia menoleh ke belakang, ia melihat Lu Xiao Feng. Lu Xiao Feng sedang tersenyum padanya.

"Aku Lu Xiao Feng, si Phoenix Kecil, bukan si Babi Kecil." . Bab 10. Jatuhnya Sang Bandit Ajaib, orang yang berdiri di pintu itu tidak lain dan tidak bukan adalah Lu Xiao Feng, bukan Lu si Tiga Telur, bukan pula Lu si Babi Kecil, tapi Lu Xiao Feng. Bagaimana dia bisa tiba-tiba muncul di sini? Jin Jiu Ling hampir tidak mempercayai matanya sendiri, ini benar-benar tak masuk di akal. Sedemikian terperanjatnya Jin Jiu Ling sehingga ia mengajukan sebuah pertanyaan yang benar-benar bodoh.

"Seharusnya kau sudah pergi sejauh 400 km dari tempat ini!"

"Seharusnya begitu!"

Lu Xiao Feng menjawab.

"Aku telah menerima surat ini dari Nan Hai!"

Jin Jiu Ling menatap tabung bambu di tangannya.

"Aku tahu."

"Kau tahu?"

"Merpati itu memang dilatih olehmu, dan kaulah yang memberikannya pada Meng Wei. Cap dan kertas di mana surat itu tertulis pun semuanya asli. Tapi kali ini merpatinya bukan dilepaskan oleh Meng Wei!"

Jin Jiu Ling tidak mengerti.

"Apakah surat itu berbunyi. 'Lu telah lewat di sini, menuju ke arah barat'?"

"Bagaimana... bagaimana kau tahu?"

Lu Xiao Feng tertawa.

"Tentu saja aku tahu, aku yang menuliskan surat itu!"

Jin Jiu Ling semakin terperanjat.

"Kau yang menulisnya? Kapan kau menulisnya?"

"Dua malam yang lalu."

Lu Xiao Feng tersenyum dan menjelaskan.

"Dua malam yang lalu, aku pergi menemui Meng Wei untuk memintanya menuliskan sebuah surat untukmu, yang memberitahumu untuk bertemu denganku di markas lama Raja Ular. Setidaknya kau tentu tahu hal itu!"

Jin Jiu Ling mengangguk.

"Waktu ia menuliskan surat tersebut malam itu, aku melihat tulisan tangannya. Tulisan itu sama sekali tidak sukar untuk ditiru!"

Karena tulisan tangannya memang terlalu jelek, sebenarnya sukar untuk menirukan tulisan tangan yang bagus, tapi tulisan tangan yang buruk tentu lain ceritanya. Wajah Jin Jiu Ling tampak membiru.

"Malam itu, aku memberikan burung merpati itu kepada salah seorang temanku di Nan Hai dan memintanya untuk melepaskannya sore hari ini."

Ia tersenyum penuh kemenangan dan menerangkan.

"Karena aku tahu bahwa setelah kau bertemu denganku, kau tentu akan mencari-cari alasan untuk membuatku pergi sehingga kau akan mendapatkan kesempatan untuk membunuh Nyonya Pertama Gong Sun."

"Kau tahu bahwa aku akan menyuruh Meng Wei untuk menunggu dan memberikan informasi padaku tentang keberadaanmu?"

Jin Jiu Ling bertanya.

"Aku memang sempat pergi ke Nan Hai dan Meng Wei adalah Kepala Ular di sana, apalagi kau merupakan orang yang selalu amat teliti dan berhati-hati. Jika aku tidak pergi, bagaimana mungkin kau memulai aksimu?"

"Tapi tempat ini...."

"Tempat ini memang cukup rahasia dan terpencil."

Lu Xiao Feng memotong.

"Aku sendiri sukar untuk menemukannya."

"Jadi siapa yang membawamu ke sini?"

"Merpati itu."

Jin Jiu Ling tak sanggup bicara lagi.

"Di angkasa, tabung bambu itu akan mengeluarkan suara siulan. Sejak tengah hari, . aku telah menunggu di atas atap rumah. Aku tahu kalau burung merpati itu tentu akan dapat menemukanmu. Untunglah, ilmu meringankan tubuhku tidak terlalu jelek."

Wajah Jin Jiu Ling berubah-ubah warna dari biru ke hijau. Ia melirik pada Nyonya Pertama Gong Sun, lalu pada Lu Xiao Feng.

"Kalian berdua yang merencanakan ini?"

"Terkejut?"

Lu Xiao Feng tersenyum.

"Kapan kau mulai mencurigaiku?"

"Aku benar-benar mulai curiga sejak hari terbunuhnya Raja Ular!"

"Mengapa?"

"Kau ingat waktu kita menemukan mayatnya, lampu tidak menyala di paviliunnya?"

Jin Jiu Ling mengangguk, tapi tidak mengerti kenapa hal itu disinggung-singgung!

"Jika lampu tidak dinyalakan, maka artinya Raja Ular terbunuh sebelum malam tiba, yang berarti ia terbunuh sebelum ia merasa perlu untuk menyalakan lampu!"

Jin Jiu Ling merasa seluruh tubuhnya menjadi dingin. Ia tidak pernah menyangka kalau petunjuk kecil ini akan menjadi titik balik seluruh kasus tersebut.

"Jika Nyonya Pertama Gong Sun benar-benar mengundangnya untuk bertemu di Taman Barat, lalu mengapa si nyonya malah pergi ke tempatnya dan membunuhnya sebelum itu?"

Lu Xiao Feng meneruskan.

"Itulah sebabnya aku kemudian sadar bahwa orang yang membunuh Raja Ular tentulah orang lain!"

"Dan menurutmu orang itu mungkin aku?"

"Aku tidak yakin, tapi aku cukup yakin kalau Raja Ular bekerja untukmu!"

"Mengapa?"

"Karena hanya kau yang bisa mengendalikan dia, karena waktu ia pergi mencari peta istana untukku, ternyata ia mendapatkannya dengan amat mudah, dan peta itu pun terlalu rinci. Orang jalanan atau ketua para penjahat tidak mungkin sehebat itu, kecuali kalau ia telah bersekutu dengan Komandan Istana!"

Bibir Jin Jiu Ling menjadi putih seperti abu, keningnya telah penuh dengan keringat dingin.

"Pita sutera yang kau gunakan untuk mencekik Raja Ular hingga mati tentu diharapkan akan mengarah pada Nyonya Pertama Gong Sun, tapi pita itu malah menjadi alibi-nya yang sempurna dan membebaskannya dari segala macam tuduhan."

"Mengapa?"

"Karena waktu aku bertarung dengannya, aku telah memotong setengah bagian pita yang terikat di pedangnya. Pita sutera seperti itu bukanlah sesuatu yang bisa kau temukan kapan saja, dan dalam jangka waktu seperti itu dia tentu belum sempat menemukan yang baru!"

Jin Jiu Ling tidak bisa berkata apa-apa.

"Satu lubang kecil bisa menyebabkan seluruh bendungan hancur."

Lu Xiao Feng menarik nafas.

"Apalagi ada lebih dari satu lubang pada rencanamu."

Untuk ketiga kalinya, Jin Jiu Ling bertanya.

"Mengapa?"

"Mempersiapkan dua buah kamar itu adalah gagasanmu yang jenius, tapi kau melupakan satu hal!"

"Apa itu?"

"Setiap orang memiliki aroma yang khas. Seandainya pakaian-pakaian itu benar-benar telah dikenakan oleh Nyonya Pertama Gong Sun, tentu setidaknya masih ada aromanya yang tertinggal."

"Banyak orang yang mengatakan bahwa aku adalah seorang wanita yang amat harum."

Nyonya Pertama Gong Sun menambahkan dengan genit.

"Kau selalu berusaha menjauhkan Hua Man Lou dari segala urusan ini, mungkin karena kau khawatir kalau dia menyadari kenyataan ini. Tapi kau tentu tidak tahu kalau aku pun bisa menirukan dia."

Lu Xiao Feng tersenyum dan meneruskan..

"Sekarang, bila aku memandang pada sesuatu, aku tidak hanya melihat dengan mataku, aku pun akan mencium dengan hidungku!"

"Itulah sebabnya banyak orang yang mengatakan bahwa dia seperti seekor anjing pemburu!"

Nyonya Pertama Gong Sun bergurau.

"Kau sengaja membuat kotak kayu berisi pesan itu dan kemudian sengaja terkena racun supaya aku pergi seorang diri, itu juga sebuah taktik yang jenius. Tapi sayangnya lagi, kau lupa sesuatu."

Sekarang, Jin Jiu Ling hanya bisa mendengarkan.

"Meng Wei adalah jenis orang yang kasar luar dan dalam, ia bahkan tidak tahu Xiao Zhuan, bagaimana mungkin ia bisa mengenali tulisan kuno di kotak itu? Di samping itu, setelah kau terkena racun, ia tidak tampak cemas, tidakkah kau merasa hal itu sangat ganjil?"

"Apalagi, ia pun memiliki uang yang terlalu banyak,"

Nyonya Pertama Gong Sun menambahkan.

"Ia bisa mengumpulkan uang 100.000 tael perak hanya dalam sekejap mata."

"Aku coba berhitung-hitung, dengan upahnya sekarang, jika ia tidak makan apa-apa, tidak minum apa pun, atau tidak membelanjakan satu sen pun untuk membeli sesuatu, ia masih perlu waktu kira-kira 50 atau 60 tahun untuk menabung uang sebanyak 100.000 tael perak!"

"Hehe, kau benar-benar pandai berhitung, ya?"

Nyonya Pertama Gong Sun berkata sambil tersenyum.

"Walaupun begitu, aku masih belum yakin, karena jika Nyonya Xue berkata bahwa sulaman mawar itu dibuat oleh seorang wanita, maka tentulah itu hasil karya seorang wanita, maka...."

"Maka apa yang kau lakukan?"

Jin Jiu Ling akhirnya tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri dan bertanya.

"Maka aku mengeluarkan kain satin merah itu dan mengamatinya dengan teliti untuk beberapa lama."

Kain satin merah itu dicuri oleh SiKong ZhaiXing, lalu dibawa ke Biara Masih Senja oleh Xue Bing, diletakkan di depan patung, tapi akhirnya jatuh juga ke tangan Lu Xiao Feng.

"Aku mengamatinya selama dua jam penuh sebelum aku akhirnya menemukan rahasiamu!"

"Apa yang kau temukan?"

"Aku menemukan bahwa pada salah satu kelopak bunga mawar itu benangnya tidak tersulam dengan rapi seperti pada yang lain. Kelopak bunga itu disulam dalam dua lapisan, maka jika kau melepaskan benang lapisan pertama, di bawahnya masih ada satu lapisan lagi!"

Ia tersenyum dan meneruskan.

"Waktu orang lain melihatmu sedang menyulam mawar ini, sebenarnya kau hanya membuka sulaman lapisan pertama saja. Itulah sebabnya, walau sulaman mawar itu hasil karya seorang wanita, tapi si Bandit Penyulam ternyata seorang laki-laki!"

"Ada lagi?"

"Satu hal lagi, kau seharusnya tidak menculik Xue Bing!"

"Mengapa?"

Jin Jiu Ling bertanya untuk keempat kalinya.

"Karena aku kemudian menemukan bahwa baru-baru ini Xue Bing telah menjadi Adik Ke-delapan Nyonya Pertama Gong Sun. Walaupun Nyonya Pertama Gong Sun adalah si Bandit Penyulam yang sebenarnya, ia tidak akan pernah mengganggu Adik Ke-delapan-nya!"

"Bagaimana kau tahu kalau dia adalah Adik Ke-delapan-ku?"

Nyonya Pertama Gong Sun bertanya.

"Aku tidak mengerti."

"Karena tangan itu!"

"Tangan apa?"

Nyonya Pertama Gong Sun tampak bingung.

"Tangan Sun Zhong!"

Lu Xiao Feng menjelaskan.

"Xue Bing membacok putus tangan . Sun Zhong, tapi tangan itu kemudian muncul lagi di kamar Xue Bing. Tangan itu jelas tidak mungkin merayap sendiri ke sana, dan selain dari kakak-beradik Sepatu Merah, tidak ada orang yang akan membawa-bawa tangan orang lain yang telah dipotong oleh mereka!"

"Jadi waktu kau melihat kantung Adik Ke-tiga yang penuh dengan hidung, kau teringat pada tangan itu?"

Lu Xiao Feng mengangguk.

"Dia baru saja bergabung dan lupa kalau setiap orang harus membawakan sesuatu setiap tahunnya,"

Ia meneruskan.

"Ketika ia teringat, ia lalu pergi kembali dan memungut tangan itu. Tapi malang baginya, ia pergi dengan begitu tergesa-gesa sehingga ia lupa untuk membawanya lagi."

Ia menarik nafas dan meneruskan.

"Waktu aku bertanya padanya bagaimana tangan itu bisa muncul di kamarnya, ia pura-pura tidak tahu kalau aku sedang membicarakan apa, karena ia tidak ingin aku tahu tentang hubungan antara kalian dan dia!"

"Tapi kau bisa menebaknya!"

"Saat aku mendengarmu berkata 'Adik Ke-delapan tidak akan datang', barulah aku kemudian tahu bahwa Adik Ke-delapan tentu dia!"

"Alasan-alasan ini semua hanyalah dugaan belaka!"

Jin Jiu Ling tiba-tiba menyeringai.

"Alasan-alasan ini semua memang hanya dugaan belaka, tapi bagiku, ini sudah cukup!"

Lu Xiao Feng menjawab.

"Benarkah?"

"Ada cukup banyak alasan, tapi tidak cukup bukti."

"Itu karena kau tidak memiliki satu pun bukti."

"Itulah sebabnya aku harus membuatmu mengakui sendiri semua itu, itulah sebabnya aku harus melakukan rencana 'pergi menemui ajal dan kembali' ini!"

"Mengapa?"

"Karena aku faham bahwa hanya bila kau tahu kalau rencanamu telah berhasil, Nyonya Pertama Gong Sun akan mati, barulah kemudian kau akan menceritakan hal yang sebenarnya di hadapannya. Itulah sebabnya aku sengaja menempatkan dirinya dalam situasi yang kritis dan membuatmu berfikir bahwa ia pasti akan mati!"

"Rencana ini memang efektif, tapi akulah orangnya yang harus menderita."

Nyonya Pertama Gong Sun memberi komentar sambil tersenyum sedih.

"Aku tidak pernah pergi ke tempat yang begitu terpencil seperti ini dalam hidupku."

"Tapi bagian yang terpenting adalah kami tidak boleh membiarkanmu tahu tentang hal ini, kami tidak boleh membuatmu curiga kalau kami sebenarnya bersekutu!"

Lu Xiao Feng meneruskan.

"Tapi ada seseorang yang menjadi kaki-tanganmu di antara adik-adikku."

"Karena itu kami terpaksa bersandiwara sedikit di hadapan mereka!"

"Saat ini pun mereka tidak tahu kalau aku pergi karena keinginanku sendiri, bukan karena aku kalah darimu!"

Lu Xiao Feng tersenyum. Nyonya Pertama Gong Sun meliriknya.

"Tidak perlu tersenyum."

Ia memperingatkan.

"Suatu hari nanti, kita akan bertanding ulang, tetap tiga babak, untuk menentukan sekali lagi siapa yang lebih baik, kau atau aku!"

"Tentu saja kau, aku hanya orang tolol."

"Kau memang amat bodoh, aku pun berfikir begitu. Tapi kau masih punya satu sifat yang baik!"

"Aku punya sifat yang baik?"

"Tentu saja,"

Nyonya Pertama Gong Sun menjawab dengan main-main.

"Kadang-kadang, entah apa sebabnya, tiba-tiba kau berubah menjadi cerdas!" .

"Aku sendiri pun sangat bingung!"

Lu Xiao Feng menarik nafas.

"Bukan kau yang bingung, tapi orang lain!"

Nyonya Pertama Gong Sun tersenyum dan melirik Jin Jiu Ling dari sudut matanya.

"Contohnya orang ini, dia tentu sedang bingung memikirkan kenapa kau tiba-tiba menjadi cerdas!"

Lu Xiao Feng tertawa. Jin Jiu Ling tak tahan untuk tidak menarik nafas panjang-panjang.

"Aku benar-benar meremehkanmu!"

"Mungkin aku...."

Lu Xiao Feng hendak menjawab tapi Jin Jiu Ling memotongnya.

"Selama ini aku menganggapmu sebagai seorang sahabat, aku mengira kau orang yang baik. Tidak kusangka kau ternyata bersekutu dengan si Bandit Penyulam dan berusaha mengkambing-hitamkan diriku!"

Lu Xiao Feng berhenti tertawa dan ia memandang Jin Jiu Ling dengan kaget, seolah-olah ia tidak pernah melihat laki-laki ini sebelumnya.

"Sayangnya, tidak perduli dusta apa pun yang kalian katakan tentangku, itu tidak akan berhasil!"

Jin Jiu Ling meneruskan dengan wajah yang kaku.

"Aku telah menjadi abdi masyarakat sejak usia 13 tahun dan selama 30 tahun bekerja tidak pernah melakukan satu pun hal yang melanggar hukum. Tidak perduli apa pun yang kalian tuduhkan padaku, tidak ada orang yang akan percaya pada kalian!"

"Tapi kau barusan telah mengaku!"

"Apa yang kuakui?"

Lu Xiao Feng seperti tercekik. Saat ini, ia masih tidak memiliki satu pun bukti. Tentu saja Jin Jiu Ling pun melihat hal ini.

"Mengapa aku mengaku sebagai si Bandit Penyulam? Siapa yang cukup bodoh untuk melakukan hal itu? Jika kalian berdua mengatakan itu pada orang lain, mereka akan tertawa sampai gigi mereka copot!"

Ia meneruskan dengan dingin.

"Di samping itu, dari Yang Cheng hingga Nan Hai, setiap pemburu hadiah tahu bahwa Nyonya Pertama Gong Sun adalah si Bandit Penyulam. Walaupun kalian berdua membunuhku sekarang, pemerintah tetap akan memburu kalian hingga ke setiap ujung dunia. Kalian tidak bisa kabur!"

Lu Xiao Feng menarik nafas.

"Tampaknya kau menang satu babak lagi."

Ia tersenyum murung.

"Kebajikan selalu menang atas kejahatan, jaring-jaring keadilan tidak memiliki celah, jalan yang benar akan tetap abadi, sebaiknya kalian berdua ikut denganku ke pengadilan dan menurut saja untuk ditahan."

"Kebajikan selalu menang atas kejahatan, yang benar akan tetap abadi,"

Lu Xiao Feng menarik nafas.

"Tak disangka kau benar-benar memahami arti kata pepatah ini."

"Tentu saja aku faham."

"Jika begitu, maka kau seharusnya tahu bahwa tidak perduli apa pun tipuan yang kau lakukan, itu semua tidak berguna!"

"Aku tidak...."

Kali ini giliran Lu Xiao Feng yang memotongnya.

"Kau mengira hanya kami berdua yang mendengarkan percakapan ini?"

Ekspresi wajah Jin Jiu Ling tampak berubah tapi pulih kembali dengan cepat.

"Aku tidak tuli, jika ada orang lain di sekitar sini, mereka tidak bisa bersembunyi dariku!"

"Aku tahu kalau telingamu amat tajam. Satu-satunya sebab kenapa kau tadi tidak mengetahui kedatanganku adalah karena kau terlalu senang pada dirimu sendiri. Malah, jika aku membawa orang-orang dalam jarak 15 m dari sini, mereka tidak akan dapat bersembunyi darimu!"

Jin Jiu Ling mendengus dengan angkuh.

"Dan kau juga tahu bahwa jika seseorang berada lebih dari 15 m dari sini, maka tidak mungkin bagi mereka untuk mendengar apa yang kau ucapkan tadi."

Tapi Lu . Xiao Feng tidak membiarkan Jin Jiu Ling menjawab sebelum meneruskan.

"Sayangnya orang-orang ini berbeda dari orang-orang biasa!"

"Oh?"

"Telinga orang-orang ini bahkan lebih tajam dari telingamu, walaupun kau tidak bisa mendengar mereka, mereka bisa mendengarmu."

Mata Lu Xiao Feng tampak bersinar-sinar ketika ia meneruskan, sambil menekankan setiap patah katanya.

"Karena mereka semua buta. Telinga orang buta selalu jauh lebih tajam daripada telinga orang normal!"

Ekspresi wajah Jin Jiu Ling tampak berubah lagi. Lu Xiao Feng tertawa.

"Kalian bisa keluar sekarang!"

Ia berseru.

Di antara suara tawanya, bunyi gemerisik genteng atap bisa terdengar saat tiga orang wanita berbaju hijau, sambil membimbing tiga orang laki-laki buta, melompat turun dari atas atap dan berjalan masuk.

Sekilas pandang, ketiga wanita itu tampak serupa.

Tapi bila diamati dengan teliti, orang akan tahu bahwa mereka sedang menyamar.

Mereka, tidak lain dan tidak bukan, adalah tiga sosok bayangan yang melesat keluar dari paviliun saat babak terakhir pertandingan antara Lu Xiao Feng dan Nyonya Pertama Gong Sun.

Di antara tiga orang laki-laki yang mereka bimbing, yang satu memiliki 3 bekas luka di wajahnya yang berwarna ungu, yang satu lagi memiliki tulang pipi yang amat menonjol dan sangat berwibawa, sementara yang terakhir adalah seorang laki-laki tua yang tampak sakit-sakitan dan mengenakan pakaian sutera yang mewah.

Waktu ia melihat ketiga laki-laki ini, Jin Jiu Ling merasa seluruh tubuhnya menjadi kaku.

Tentu saja ia mengenali tiga orang ini.

Ia telah membutakan mereka bertiga, Chang Man Tian, Jiang Chong Wei, dan Hua Yi Fan.

Wajah Jiang Chong Wei tampak membiru karena murka.

"Aku telah mengenalmu selama berpuluh-puluh tahun, tidak pernah kusangka kalau kau adalah seorang bajingan yang tidak punya hati!"

"Jaring-jaring keadilan tidak punya celah, jika kau benar-benar memahami artinya, mengapa kau masih melakukan perbuatan ini?"

Chang Man Tian bertanya.

Seluruh tubuh Hua Yi Fan bergetar karena murka.

Ia membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, tapi tidak bisa.

Baca Juga: Pendekar Pendekar Negeri Tayli 8

Baca Juga: Kaki Tiga Menjangan 9

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert