Eps 8 Kedele Maut - Khu Lung
Baca online Kedele Maut - Khu Lung
Cersil Kedele Maut - Khu Lung.
"Yaa benar, sudah hampir sebulan lamanya aku melangkah masuk kedaratan Tionggoan, namun selama ini belum berhasil juga menemukan seorang langganan pun, padahal bekal yang kubawa keluar sudah hampir habis terpakai, bila kau gagal mendapatkan langganan dalam waktu singkat, bisa jadi aku bakal mati kelaparan didaratan Tionggoan ini."
Sambil tertawa dingin Beng Gi ciu menyela .
"Lotiang belum memberikan jawaban yang sejelasnya atas pertanyaan siauli barusan."
Kemudian dengan suara dalam dia melanjutkan .
"Dari mana lotiang bisa tahu kalau siauli sekalian bersembunyi disini dan dari mana pula bisa tahu kalau bakal menjadi langgananmu?"
Kakek berambut putih itu segera tertawa terbahak-bahak .
"Haaahhaaa.haaahi.aku mengandalkan hidungku ini."
"Mengandalkan hidung?"
Beng Gi ciu tertawa geli.
"lotiang memang pandai bergurau, apa sangkut pautnya masalah ini dengan hidungmu?"
"Tentu saja amat besar hubungannya,"
Kata Kakek berambut putih itu tertawa ringan.
"sebab hidungku ini memiliki ketajaman penciuman yang luar biasa, jauh berbeda dengan orang biasa."
"Jadi maksud lotiang, kau mengandalkan ketajaman dari daya penciuman hidungmu itu?"
"Tepat sekali"
Kakek itu manggut-manggut.
"Memang begitulah yang kumaksudkan."
Beng Gi ciu segera mendesak lebih jauh.
"Jadi lotiang pun mengandalkan ketajaman daya ciummu itu untuk mengetahui tempat persembunyian kami disini?"
Kembali Kakek berambut putih itu mengangguk.
"Yaa, memang, demikianlah keadaan yang sesungguhnya."
Lalu sambil berpaling dan memandang sekejap kearah semak belukar dihadapannya, ia berkata lebih jauh .
"Yang menarik perhatianku justru perasaanku yang mengatakan bahwa didalam sana, agaknya terdapat seseorang yang sedang menderita luka parah, terus terang saja aku sedang menaruh perhatian atas dirinya."
"Apa yang kau inginkan?"
Bentak Beng Gi ciu dengan suara dalam lagi berat. Buru-buru Kakek berambut putih itu menggoyangkan tangannya berulang kali seraya berkata .
"Harap nona jangan salah paham, aku sudah menyembuhkan beribu-ribu penyakit yang diderita orang, sudah memeriksa keadaan luka yang diderita beribu jago, tentu saja perhatian yang kucurahkan saat ini adalah luka yang diderita rekanmu itu."
Kemudian sambil menepuk buli-buli dipunggungnya, dia berkata lebih jauh .
"Bila aku tak berhasil mendapatkan uang lagi, bisa jadi aku betulbetul akan mati kelaparan."
Setengah percaya setengah tidak, Beng Gi ciu berseru .
Lotiang benar-benar tidak mempunyai tujuan yang lain?
Apa tujuan yang lain itu?
kakek itu balik bertanya dengan wajah amat serius.
Beng Gi ciu termenung s ej enaki lalu berkata .
Peristiwa ini terlampau aneh dan susah membuat orang untuk mempercayainya, coba bayangkan sendiri, apa sebabnya kau menelusurijulan yang terpencil seperti ini ditengah malam buta dan kebetulan sekali mengapa kau memiliki ketajaman daya cium yang jauh lebih tajam daripada penciuman anjing.
Kemudian dengan suara dalam ia berkata lebih jauh .
"Terus terang saja kukatakan, aku agak mencurigai dirimu sebagai kaki tangan dari partai kupu-kupu"
Sambil tertawa Kakek berambut putih itu menggeleng kepalanya berulang kali, ujarnya .
"akupun pernah mendengar tentang berita munculnya kembali partai kupu-kupu didalam dunia persilatan, terus terang saja kukatakan, aku sendiripun amat membenci orang-orang partai kupukupu, bila keadaan mengijinkan aku pun ingin sekali membunuh beberapa orang anggota dari partai kupu-kupu."
"Mengapa?"
Tanya Beng Gi ciu keheranan. Mendadak Kakek berambut putih itu menjadi emosi, sambil mengkertak gigi kencang-kencang katanya .
"sebab aku mempunyai ikatan dendam kesumat sedalam lautan dengan mereka..tatkala partai kupu-kupu kehilangan kitab pusaka Thian goan bu boh pada seabad berselang dan melakukan pembantaian didalam dunia persilatan, leluhur ku terbunuh pula ditangan mereka."
Menurut hasil pengamatan Beng Gi ciu, dia menemukan kalau Kakek berambut putih itu sama sekali tidak berbohong, karena rasa benci dan dendam yang menyelimuti wajahnya tak mungkin bisa ditunjukkan orang lain.
Maka katanya kemudian sambil tersenyum.
"Tentunya lotiang sangat mahir didalam ilmu pertabiban?"
"Telah kukatakan tadi, biar pun penyakit itu berada didalam ataupun diluar, aku sanggup membuatnya sembuh sama sekali."
"Ditinjau dari kesanggupan lotiang untuk mengendus seseorang diantara kami menderita luka dalam yang cukup parah, membuktikan kalau kemampuan lotiang memang sangat hebat, silahkan"
"Haaaahh.haaaahhhaaahh.kalau begitu transaksi kita pasti akan berhasil."
Tukas si kakek dengan wajah kegirangan. Beng Gi ciu manggut-manggut.
"Yaa, bila lotiang memang mampu menyembuhkan luka, tentu saja siauli merasa amat bersyukur dan berterima kasih sekali."
"Bagus sekali kalau begitu, bagus sekali, tapi kami harus memeriksa keadaan luka nya lebih dulu sebelum berbicara soal harga, silahkan nona mengajakku menjumpainya."
Beng Gi ciu tidak ragu-ragu lagi, dia berjalan lebih dulu menuju ketempat persembunyian Kho Beng serta siau wan.
sambil membawa tongkat bambunya, Kakek berambut putih itu mengikuti dibelakangnya.
Mula-mula dia memperhatikan dulu seluruh tubuh Kho Beng dengan seksama, kemudian baru katanya .
"Luka yang dideritanya tidak enteng, masalahnya darahnya telah membeku didalam isi perutnya..apakah nona telah memberi obatobatan kepadanya?"
"Ya a"
Sinona mengangguk.
"Aku hanya memberi obat penambah darah untuk memperkuat kondisi tubuhnya."
Sekali lagi Kakek berambut putih itu memperhatikan air muka Kho Beng, selang beberapa saat kemudian dia baru berkata .
"Kalau kita ikuti cara pengobatan yang nona lakukan paling tidak masih dibutuhkan waktu selama sepuluh hari untuk menyembuhkan kembali lukanya itu, lagipula dalam sepuluh hari ini dia tak boleh bergerak ataupun melakukan gerakan yang melelahkan, terutama sekali tak boleh emosi dan menuruti gejolak perasaan sendiri, kalau tidak keselamatan jiwanya akan berbahaya sekali."
"Betul Pandangan lotiang memang tepat sekali"
Puji Beng Gi ciu dengan perasaan kagum. setelah berhenti sejenak, desaknya lagi .
"Menurut cara pengobatan yang lotiang lakukan, kira-kira beberapa lama yang dibutuhkan?"
Kakek berambut putih itu tersenyum.
"Biarpun luka dalamnya cukup parah, aku Cuma membutuhkan waktu setengah peminuman untuk bisa membuatnya sembuh dan segar kembali seperti sedia kala"
"Hanya setengah peminuma n teh saja dapat memulihkan kembali kesehatannya?"
Hampir saja Beng Gi ciu melompat bangun saking kagetnya.
"Lotiang kan tidak sedang bergurau, bukan?"
Dengan suara dalam Kakek berambut putih itu berkata .
"Kalau persoalan yang lain boleh saja kita bergurau, tapi dalam soal mengobati penyakit, hal semacam ini tak boleh sekali-kali sampai terjadi, aku bukan termasuk manusia macam begitu."
Beng Gi ciu menjadi kegirangan setengah mati, segera serunya .
"Baiklah, bila lotiang benar-benar mampu menyembuhkan lukanya dalam setengah peminumanteh saja, siauli pasti akan sangat berterima kasih kepadamu."
"Bagus sekali,"
Kakek berambut putih itu tersenyum.
"Tapi. .kita harus membicarakan soal bayarannya dulu."
"Berapa tahil yang lotiang minta?"
Tanya si nona agak tertegun. Kakek berambut putih itu termenung serta berpikir sebentar, kemudian sahutnya sambil tertawa.
"Dalam transaksi yang terjadi pertama kali, aku merasa canggung untuk membuka harga keliwat tinggi, dari para pasien, kedua jadi mengurungkan niatnya"
Setelah garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal, dia baru berkata .
"Bagaimana kalau lima tahil perak, bersediakah kau membayarnya?"
Beng Gi ciu segera tersenyum.
"Bila kau minta lima ribu atau lima laksa tahil peraki mungkin siauli tak mampu membayar sekaligus, tapi kalau Cuma lima tahil peraki itu mah tak terhitung seberapa."
Sambil berpaling kearah siau wan, segera bentaknya .
"Ambil lima tahil emas dan serahkan kepada lotiang ini"
Siau wan jadi tertegun.
"Nona, dia kan cuma menghendaki lima tahil peraki bukan lima tahil emas."
"Tak usah banyak bicara lagi"
Tukas Beng Gi ciu sambil tertawa.
"Cepat ambil keluar dan serahkan kepadanya"
Terpaksa siau wan mengiakan, dengan rasa berat hati dia membuka buntalannya dan mengeluarkan sebatang emas sambil disodorkan kemuka.
Kontan saja paras muka Kakek berambut putih itu berubah menjadi berseri-seri karena kegirangan, katanya .
"Lima tahil emas..wow, ini berarti nilainya hampir mencapai seratus tahil perak. nona, kau.."
"Tak terhitung seberapa, terima saja."
Tukas si nona hambar.
Kakek berambut putih itu segera menyimpan batangan emas tersebut kedalam sakunya, kemudian ia mengambil buli-bulinya dan mengeluarkan sebutir pil berwarna putih, katanya kemudian .
"Apakah kantung air nona berisi air?"
"Ya a, ada"
Beng Gi ciu mengangguk. sambil berkata dia melepaskan kantung airnya. Kakek berambut putih itu menyodorkan pil bewarna putih tadi kehadapan sinona sambil berkata .
"silahkan nona melolohkan obat tersebut kedalam mulutnya."
Beng Gi ciu menerima pil tadi, diamati sejenak lalu berdiri termangu, tampaknya dia merasa agak ragu-ragu. sambil menggelengkan kepalanya dan tertawa, Kakek berambut putih itu bertanya .
"Apakah nona masing sangsi?"
"Ya a, mungkin saja aku memang banyak curiga,"
"tapi Aku cukup memahami perasaan nona."
Tukas si kakek cepat.
"Apa yang kaupahami?"
Tanya Beng Gi ciu agak tergetar. Mendadak Kakek berambut putih itu berkata dengan ilmu menyampaikan suara .
"Nona tidak akan gusar bila aku berbicara blak-blakan dan terus terang?"
"Katakan saja terus terang"
Sahut Beng Gi ciu dengan perasaan agak tergetar. Tentu saja jawaban dari si nona pun diberikan dengan ilmu menyampaikan suara. sambil tersenyum kakek itu berkata .
"Aku lihat pemuda itu tentulah kekasih hati nona bukan, karenanya nona bagitu menguatirkan keselamatan jiwanya?"
"Aaahi ngaco belo"
Seru Beng Gi ciu dengan wajah bersemu merah karena jengah.
Kakek berambut putih itu tertawa terbahak-bahak dan segera mengalihkan pandangan matanya kearah lain.
Beng Gi ciu tidak ragu-ragu lagi, dengan cepat ia menjejalkan pil tersebut kedalam mulut Kho Beng.
Paras muka Kakek berambut putih itu segera berubah serius kembali, buru-buru dia mendekati Kho Beng dan bertanya lembut .
"Bagaimana rasanya pil tersebut?"
"Rada getir, tapi setelah berada dalam perut rasanya menyegarkan"
"Kalau begitu tak salah lagi, cepat kau himpun tenaga dalammu dan membawa sari obat tersebut keseluruh badan, aku jamin kesehatan tubuhmu segera akan pulih kembali seperti sedia kala."
Kho Beng segera memejamkan matanya rapat-rapat dan meng ikuti petunjuk tersebut mulai mengatur pernapasan.
sementara itu Beng Gi ciu serta siau wan menjaga disisi arena dengan wajah teggng dan serius.
Benar juga, tak sampai setengah peminuman teh kemudian, Kho Beng telah membuka matanya kembali.
Kho kongcu Beng Gi ciu segera menegur dengan agak emosi.
"Kau.."
Kesegaran telah memancar dari balik wajah Kho Beng, tiba-tiba dia melompat bangun seraya berkata .
"Aku. benar-benar telah segar kembali."
Beng Gi ciu menjadi kegirangan setengah mati, siau wan pun turut memuji kehebatan kakek itu, katanya .
"Locianpwee, obatmu benar-benar amat mujarab, rupanya khusus dipakai untuk mengobati luka dalam? Lain waktu aku tentu akan membantumu untuk menyiarkan nama besarmu dimana-mana, tanggung kau pasti akan menjadi kaya raya."
Kakek berambut putih itu tertawa.
"Aku tidak mengharapkan punya nama besar, asal bisa mendapat sejumlah uang sebagai biaya dihari tuaku serta sebuah peti mati untuk mengubur jenasahku lain waktu, rasanya itu sudah lebih dari cukup bagiku untuk pulang kedusun."
"Kau orang tua, apakah masih punya keluarga lain?"
Kakek itu menggeleng.
"Aku siorang tua adalah manusia bernasib jelek, sejak dilahir sudah hidup seorang diri, sampai saat ini pun aku tetap hidup sebatang kara tanpa anak tanpa bini."
"ooooh . kasihan benar,"
Bisik siau wan simpatik. Kemudian setelah berhenti sejenak, kembali ujarnya.
"Kau bilang sejak dilahirkan sudah hidup sebatang kara, aku kurang percaya dengan perkataan itu, apakah.."
Sambil menghela napas, Kakek berambut putih itu menyela .
"Bila sudah kuterangkan nanti, kau pasti akan menjadipaham. Disaat ibu sedang mengandung aku, ayahku dibunuh orang secara keji, lalu dikala ibuku melahirkan aku dia mengalami kesulitan dalam kelahiran sehingga terjadi pendarahan hebat, akibatnya aku lahir diapun ikut mati. Aaaai.justru aku bernasib agak baikan ternyata aku bisa hidup sampai berusia sembilan puluh tahunan tanpa sekalipun menderita sakit."
"Kau telah berusia sembilan puluh tahunan?"
Seru siau wan tercengang.
"Wahi aku tak menyangka."
"Lalu menurut pendapatmu, berapa usiaku sekarang?"
"Paling banter baru berusia tujuh puluh tahunan."
Mendadak terdengar Kho Beng mengeluh .
"Aduuuuh ada yang kurang beres."
"Apanya yang kurang beres?"
Tanya Beng Gi ciu dengan perasaan amat terkejut.
Tampak paras muka Kho Beng berubah sangat hebat, peluh dingin telah membasahi seluruh badannya, setelah menghela napas sedih, ia terduduk kembali keatas tanah.
siau wan turut gelisah, sambil menghampiri teriaknya cemas.
"Kho kongcu, sebenarnya apa yang kau rasakan? cepat katakan"
"Aaaai punggungku"
Seru Kho Beng menghela napas.
"Mengapa dengan punggungmu?"
Tanya Beng Gi ciu dengan perasaan amat terkejut.
"Linu, sakit bagaikan ditusuk jarum, aku tak mampu meluruskan badanku kembali."
Sekarang Beng Gi ciu baru mengetahui bahwa Kho Beng telah membungkukkan badannya persis seperti udang, dengan perasaan kaget bercampur gelisah dia segera berpaling kearah Kakek berambut putih itu, tegurnya "Apa yang sebenarnya terjadi?"
"sudah pasti penyakitnya berasal dari pil tadi"
Seru siau wan pula sambil meraba gagang pedangnya. Kakek berambut putih itu mengerutkan dahinya kencangkencang, katanya .
"obat yang kugunakan tak mungkin salahi aku men.."
Setelah berhenti sejenak, katanya lagi dengan suara dalam .
"Cepat. .suruh dia membaringkan diri biar kulakukan pemeriksaan yang seksama, aku percaya dalam waktu singkat dapat menemukan penyebabnya."
Berada dalam keadaan begini, Beng Gi ciu tidak berpikir lebih jauhi dia segera turun tangan sendiri membaringkan Kho Beng keatas tanah, kemudian melepaskan pula pakaian yang dikenakan.
Kakek berambut putih itu cepat-cepat berjongkok dan melakukan pemeriksaan dengan seksama.
Tapi sebentar saja dia sudah mendongakkan kepalanya dan berseru sambil menghentakkan kakinya keatas tanah .
"Aduh celaka."
"sebenarnya apa yang terjadi?"
Buru-buru Beng Gi ciu bertanya. setelah menghela napas, Kakek berambut putih itu berkata .
"Semula kukira dia hanya menderita luka dalam, siapa tahu dia pun sudah menderita keracunan hebat.."
"Ia sama sekali tidak keracunan"
Kata Beng Gi ciu sambil menggretak gigi.
"Dari raut mukanya kau tak akan melihat kalau dia sudah keracunan, kalau bukan begitu racun tersebut tak bisa dibilang sebagai racun luar biasa."
Sambil menunding kearah tulang punggung Kho Beng, dia berkata lebih lanjut .
"sudah kau lihat bekas merah ditulang punggungnya itu?"
Beng Gi ciu serta siau wan berebut melihat arah yang ditunjuk kakek berambut putih itu, benar juga diantara tulang punggung pemuda tersebut benar-benar terdapat sebuah bekas garis panjang bewarna merah.
sambil menghela napas dan menggelengkan kepalanya berulang kali, Kakek berambut putih itu berkata .
"Jangan kau anggap remeh garis merah tersebut, padahal inilah gejala yang khas dari racun Ang bong tok, salah satu racun yang terkeji didunia ini."
"Apa yang bisa terjadi dengan seseorang yang terkena racun Ang bong tok tersebut?"
Tanya Beng Gi ciu gelisah. Kakek berambut putih itu tertawa getir .
"Dalam satu bulan ilmu silatnya akan musnah, tiga bulan kemudian tulang belulangnya membusuk jadi darah kental dan lima bulan kemudian selurh tubuhnya akan membusuk sebelum mati dalam keadaan yang amat mengerikan."
Berubah hebat paras muka Beng Gi ciu setelah mendengar ucapan tersebut, tanyanya kemudian .
"Lantas apa yang mesti kita perbuat sekarang?"
Dengan suara dalam Kakek berambut putih itu berkata .
"Andaikata gejala keracunan ini bisa kuketahui lebih awal mungkin bisa diatasi lebih mudah, tapi sekarang kita mesti memunahkan racun tersebut lebih dulu sebelum menyembuhkan lukanya, tapi kini berhubung racun tersebut belum punah padahal tenaga dalamnya telah pulih kembali, keadaan tersebut semakin mempersulit usaha pengobatan yang hendak kulakukan."
"sebenarnya apakah masih ada cara untuk menyembuhkan lukanya atau tidak?"
Tanya Beng Gi ciu sambil menggertak gigi. Kakek berambut putih itu tertawa angkuh.
"sudah kukatakan tadi, selamanya belum pernah ada penyakit yang gagal kusembuhkan, bila kubilang tak sanggup, bukankah sama artinya dengan merusak nama sendiri, hanya saja"
Setelah biji matanya berputar sejenak kian kemari, dia berkata lebih lanjut .
"Untuk pengobatan luka semacam ini, aku benar-benar menjumpai banyak kesulitan."
Disaat biji matanya berputar inilah Beng Gi ciu dapat melihat dengan jelas bahwa dibalik sinar matanya seakan-akan terpancar sifat licik, keji dan jahatnya.
Namun setelah dipikir sebentar, terpaksa dengan nada merengek katanya lagi .
"Lotiang adalah tabib Hua tou jaman sekarang, bagaimana juga kau harus berusaha untuk menyelamatkannya ."
Tentu saja Kakek berambut putih itu manggut-manggut.
"tapi. .kali ini tak mungkin lukanya bisa kusembuhkan hanya dalam waktu setengah peminuman teh saja."
"Peduli berapa waktu pun yang kau butuhkan, asal lotiang bisa menyembuhkan lukanya, itu sudah cukup, siauli pasti akan berterima kasih sekali padamu."
Kakek berambut putih itu berpikir sebentar, lalu katanya .
"Kali ini bukan dengan biaya lima tahil emas saja bisa menyembuhkan luka tersebut."
Rasa tidak simpatik segera timbul didalam hati kecil Beng Gi ciu, namun ia tidak mempersoalkan masalah kecil tersebut, katanya .
"Terserah berapa pun biaya yang kau minta, coba terangkan berapa jumlah yang kau inginkan?"
"Begini saja, bagaimana kalau ditambah dengan sepuluh kali lipat? siau wan, berikan dua puluh tahil emas kepadanya."
Seru Beng Gi ciu tanpa ragu. sambil menggertak gigi siau wan segera berseru .
"Nona, dia pasti seorang penipu, sudah jelas dia telah membohongi kita habis-habisan, apakah kau bersedia dibohongi sekali lagi."
"Kau tak usah banyak bicara, siapa sih yang menyuruh kau tak tahu aturan?"
Tegur Beng Gi ciu dengan suara dalam. Namun siau wan tetap merasa tak puas, katanya lebih jauh .
"Nona, dengan asal usul kita yang terhormat selama hidup belum pernah ditipu orang mentah-mentah. Mengapa kau bersedia menuruti perkataan situa Bangka ini? sudah jelas racun tersebut berasal dari dalam pil yang diberikan olehnya tadi."
"Tutup mulut"
Bentak Beng Gi ciu gusar. Kemudian setelah berhenti sejenak, katanya lagi .
"Persoalan ini menyangkut hidup mati Kho kongcu, siapa suruh kita kurang berhati-hati sehingga dipecundanginya? Apakah kau masih merasa saying dengan uang sebesar lima puluh tahil emas itu?"
Siau wan tidak banyak bicara lagi, dia segera mengeluarkan sebatang emas dan diserahkan kepada Beng Gi ciu.
Tanpa merasa sayang barang sedikitpun Beng Gi ciu menyerahkan batangan emas tersebut kepada Kakek berambut putih tadi, katanya .
"Ini lima puluh tahil emas, silahkan lotiang menerimanya."
Kakek berambut putih itu tertawa terkekeh-kekeh .
"Bila kudengar dari pembicaraan nona serta budak tersebut, seakan-akan kau menuduh racun tersebut berasal dari obat yang kuberikan tadi bukan?"
"siauli telah salah bicara, harap lotiang sudi memaafkan,"
Sahut Beng Gi ciu dengan wajah tanpa emosi. Kakek berambut putih itu menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya .
"Walaupun aku amat membutuhkan uang tapi aku lebih mementingkan soal nama, bila kalian berdua merusak nama baikku aku tak terima"
"Lantas apa yang lotiang kehendaki?"
Tanya Beng Gi ciu sambil menggigit bibir menahan diri "Emas ini aku tak akan menerimanya lebih dulu, tunggu saja sampai aku berhasil menyembuhkan luka racunnya itu."
"Dengan cara apa lotiang hendak mengobati lukanya? Apakah diberi obat yang lain?"
Kakek berambut putih itu segera tertawa dingin .
"ang bong tok merupakan racun paling keji didunia ini, belum pernah kudengar kalau didunia ini terdapat obat-obatan yang mampu memunahkan racun tersebut?"
"Lantas apa yang hendak kau perbuat?"
Tanya Beng Gi ciu dengan wajah berubah menjadi pucat pias seperti mayat.
"Hanya ada satu cara yakni menghisap keluar sisa racun yang berada didalam tubuhnya dengan tangan dingin."
Kemudian setelah memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, kembali dia berkata .
"Mustahil bagiku untuk melakukan pengobatan ditempat seperti ini, aku pikir hendak kubawa ke kuil Hian thian koan dibukit Wang hu san."
"Apakah harus berbuat demikian?"
Tanya Beng Gi ciu sambil menghela napas panjang. Kakek berambut putih itu mendengus .
"Masih ada sebuah cara lagi, yaitu aku angkat tangan dan pergi dari sini. Nah, silahkan nona memilih sendiri"
Beng Gi ciu termenung berapa saat lamanya, setelah itu dia baru berkata dengan suara dalam .
"Baiklah aku akan menuruti kehendak lotiang."
Kakek berambut putih itu tertawa terbahak-bahak .
"Haaaahhhi.haaahhhaaahhhhi.nona memang seorang yang tegas dan cepat mengambil keputusan, ketegasanmu jauh melebihi lakilaki sejati, bagus..bagus sekali"
Saat itu paras muka Beng Gi ciu telah berubah menjadi dingin dan kaku bagaikan sebuah batu karang, sepatah demi sepatah ia berkata kepada siau wan .
"Mari kita gotong Kho kongcu dan segera berangkat"
"Tunggu dulu"
Mendadak Kakek berambut putih itu mengulapkan tangannya mencegah.
"Apakah lotiang masih ada pesan lain?"
Tanya si nona agak tertegun.
"Kuil Hian thian koan dibukit Wang hu san bukan merupakan tempat yang bisa dikunjungi kaum wanita, lebih baik serahkan saja pemuda itu kepadaku."
Paras muka Beng Gi ciu seketika berubah menjadi lebih tak sedap lagi, sambil menggigit bibir katanya .
"soal ini."
"Nona toh seorang yang tegas dalam mengambil keputusan, apakah kau tak bersedia?"
Rengek Kakek berambut putih sambil tertawa. Kemudian setelah berhenti sejenak dengan suara dalam ia berkata lebih jauh .
"Menggunakan sisa waktu yang luang ini, nona toh bisa memanfaatkannya untuk melakukan penyelidikan apakah Kho kongcu benar-benar telah keracunan Ang bong tok lebih dulu, kemudian kita baru menentukan waktu dan alamat guna saling menyerahkan orang dan uang "
"Apakah kau mempunyai keyakinan untuk menyembuhkan lukanya itu??"
"Bila tak berhasil kusembuhkan luka tersebut, bukan saja aku tak akan menerima lima puluh tahil emas tersebut, bahkan aku pun akan menyerahkan selembar jiwaku ini kepadamu."
Beng Gi ciu segera manggut-manggut.
"Kalau begitu silahkan lotiang menentukan waktu serta tempatnya."
Kakek berambut putih itu berpikir sebentar kemudian jawabnya .
"Bagaimana kalau sepuluh hari kemudian didepan bukit Wang hu san?"
"Baik kita tetapkan dengan sepatah kata ini."
Sahut si nona seraya mengangguk.
sementara itu racun yang mengeram didalam tubuh Kho Beng sudah mulai bekerja, peluh dingin membasahi seluruh tubuhnya, kesadarannya pun berada dalam keadaan ada dan tidak ada, karenanya terhadap pembicaraan yang berlangsung antara kedua orang itu pun dia seperti mendengar seperti jUga tidak, yang pasti sama sekali tiada reaksi dari dirinya pribadi.
Dengan langkah cepat Kakek berambut putih itu berjalan mendekati Kho Beng dan membopongnya, kemudian sambil tertawa ia berkata .
"Kita berjumpa lagi sepuluh hari kemudian"
Sambil membalikkan badan, tanpa berpaling lagi dia beranjak pergi dari situ dengan langkah lebar.
Mengawasi bayangan punggungnya hingga lenyap dari pandangan mata, tanpa terasa Beng Gi ciu menghela napas panjang.
siau wan pun tak mampu menahan diri lagi, dengan air mata bercucuran bisiknya .
"Nona"
Mendadak Beng Gi ciu berpaling seraya menegurnya untuk tidak menangis. siau wan menyeka air matanya yang membasahi wajahnya, siau wan berkata amat sedih .
"Nona, bukankah kau sendiri sedang menangis?"
Beng Gi ciu tertegun, sekarang dia baru menyadari bahwa dia sendiripun telah melelehkan air mata.
Kontan saja paras mukanya berubah menjadi merah padam, buru-buru dia menyeka air mata dipipinya.
setelah menghela napas panjang, siau wan berseru .
"Nona dihari-hari biasa, kau adalah seorang yang berhati keras, mengapa kau bersedia dipermainkan kakek tersebut semaunya sendiri?"
Sambil tertawa getir, Beng Gi ciu menggeleng.
"siapa suruh aku telah salah menilai orang"
"Jadi menurut nona, dia juga yang telah melepaskan racun keji itu?"
"Ya a, paling tidak tujuh delapan puluh persen adalah hasil perbuatannya."
Sahut sinona serius. sambil menggertak gigi, siau wan berseru lagi .
"Kalau toh kau sudah mengetahui akan hal ini, mengapa kau biarkan dia membawa pergi Kho kongcu?"
"Apa boleh buat? selain dia seorang mungkin tiada orang kedua yang mampu menyembuhkan racun didalam tubuh Kho kongcu."
"Menurut pendapatmu, apakah dia benar-benar akan memunahkan racun yang bersarang dalam tubuh Kho kongcu?"
"Paling tidak kita harus menyerempet bahaya dengan melakukan suatu pertaruhan besar."
Cepat-cepat siau wan menggeleng, katanya .
"seandainya aku menjadi nona, akan kutangkap orang itu lalu memaksanya untuk menyerahkan obat pemunah racun tersebut, asal kita iris daging tubuhnya sepotong demi sepotong, aku percaya akhirnya dia pasti akan menyerah."
Beng Gi ciu segera menghela napas panjang.
"Aaaai.anak bocah, kau tidak mengerti akan kelicikan dan kebusukan orang dunia persilatan, bila kau sampai berbuat demikian, sama artinya kau telah mencelakakan jiwa Kho kongcu."
"Asal kita bisa memaksanya untuk menyerahkan obat penawar racun tersebut, bukankah racun yang bersarang dalam tubuh Kho kongcu akan lenyap dan kesehatan tubuhnya akan pulih kembali, kenapa..?"
Kembali Beng Gi ciu menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya .
"Pertama, agaknya ilmu silat yang dimiliki tua Bangka itu tidak berada dibawah kemampuanku, andaikata betul-betul sampai terjadi pertarungan, masih susah untuk diramalkan siapa yang bakal menang."
"Tapi budak kan bisa membantumu, apa yang mesti kita takuti?"
Seru siau wan dengan penuh emosi. Beng Gi ciu segera tertawa getir .
"sekalipun kita berhasil mengungguli dirinya, belum tentu bisa memaksanya untuk menyerahkan obat pemunah racun tersebut, sekalipun dia menyerahkan obat penawar racun tersebut, belum tentu obat itu dapat memunahkan racun yang bersarang ditubuh Kho kongcu."
"Kenapa?"
Tanya siau wan sambil membelalakkan matanya lebarlebar.
"Kemungkinan besar obat yang diserahkan kepada kita benarbenar dapat memunahkan racun yang bersarang ditubuh Kho kongcu tapi bisa jadi obat tersebut merupakan racun keji jenis lainnya, sehingga menyebabkan Kho kongcu mati tanpa disadari."
Setelah berhenti sebentar, dia berkata lagi .
"Kita berdua sama-sama tidak memahami sifat racun ataupun obat, apakah kita mampu untuk mencegah terjadinya peristiwa macam begitu?"
Sambil menggigit bibir siau wan segera berseru .
"Waaaahi kejadian semacam ini benar-benar amat berabe,..aaai.."
Mendadak Beng Gi ciu tertawa pedih, katanya lagi .
"Walaupun demikian keadaannya, tapi aku rasa diapun tak akan berani bermain gila dengan ku, kecuali dia memang sudah bosan hidup."
"Mengapa nona mempunyai keyakinan begini?"
"Coba kau lihat apakah itu?"
Ucap Beng Gi ciu sambil menunding kemuka dan tertawa. siau wan segera berpaling kearah mana yang ditunjuki tanpa terasa serunya dengan tercengang .
"sejak kapan kau perlihatkan kesemuanya ini?"
"Tadi, sewaktu pembicaraan sedang berlangsung,"
Sahut si nona sambil tertawa.
Ternyata diatas batu cadas itu telah muncul sebuah tusukan jari tangan yang dalamnya mencapai satu inci lebih, bekasnya masih baru, ini berarti baru saja dilakukan Beng Gi ciu.
"Nona, kapan kau lakukan serangan dengan jari tanganmu?"
Kembali siau wan bertanya dengan keheranan.
"Tadi, sewaktu kita sedang berbincang-bincang."
"Tapi, apalah gunanya?"
Tanya siau wan tak habis mengerti. Beng Gi ciu segera tersenyum.
"Aku berharap agar dia tahu bahwa aku adalah keturunan dari tiga dewa."
Kemudian dengan pancaran sinar tajam dari balik matanya, dia berkata lebih jauh .
"aku rasa belum ada seorang manusia pun dalam dunia persilatan dewasa ini yang berani cari gara-gara dengan keturunan tiga dewa, aku rasa dengan mengandalkan ilmu jari Tong kim ci tersebut, mungkin kita bisa membuatnya keder dan berpikir berapa kali sebelum berbuat."
"Andaikata dia tak sampai keder dibuatnya."
"Kita masih mempunyai sebuah cara lagi, mari kita ikuti jejaknya"
Kata Beng Gi ciu sambil menggigit bibir.
"Yaa benar,"
Sorak siau wan gembira.
"barusan aku memang ingin mengajak nona untuk berbuat demikian, asal kita mengikuti terus jejaknya, maka andai kata sampai terjadi hal-hal yang tak diinginkan, kita masih mempunyai kesempatan untuk memberikan pertolongan."
"Benar,"
Beng Gi ciu mengangguk.
"Mari kita segera berangkat"
Siau wan mengangguk berulang kali.
Maka bersama Beng Gi ciu mereka berkelebat kedepan melakukan pengejaran terhadap Kakek berambut putih tadi dengan kecepatan bagaikan sambaran petir.
-ooo00000ooo-Kho Beng sama sekali tidak mengerti dari mana datangnya racun yang menyerang tubuhnya, sebab pikiran dan kesadarannya terasa kosong, kalut hingga tak berkemampuan lagi untuk berpikir.
Namun ia mengerti kalau tubuhnya saat itu sedang dibopong oleh si Kakek berambut putih tersebut, beberapa kali dia ingin membuka mulut untuk bertanya, namun sungguh aneh sekali, tak sepatah katapun yang sanggup siucapkan keluar dari mulutnya.
Ia Cuma merasakan punggungnya bagaikan mau patah, setiap gerak langkah Kakek berambut putih itu segera mendatangkan perasaan sakit yang membuat hampir saja ia jatuh pingsan.
setelah membuang waktu hampir satu jam lamanya, akhirnya sampailah mereka dibukit Wan husan, namun pikiran dan kesadaran Kho Beng semakin menghilang.
Bukit Wan hu san bukan termasuk bukit yang besar, namun pepohonan yang tumbuh disitu amat rimbun, bukit dengan daratan yang terjal terbentang dimana-mana.
sambil bersenandung lirih, Kakek berambut putih itu meneruskan perjalanannya menaiki bukit.
Dipuncak bukit terdapat sebuah kuil yang besar, bangunan itu sangat besar lagi megah.
Kakek berambut putih itu tidak memasuki kuil lewat pintu depan, tapi melompati dinding pekarangan dan bagaikan sukma gentayangan lenyap dibalik bangunan berloteng.
Waktu itu fajar baru menyingsing, suasana gelap masih mencekam seluruh bangunan kuil itu.
Didalam kuil tiada arca, tapi berjajar lima buah peti mati yang kelihatannya masih baru.
Dengan wajah gembira kakek itu membaringkan Kho Beng keatas tanah, kemudian sambil menepuk jidatnya dia berseru .
"Hey anak muda, cepat bangun"
Kho Beng segera membuka matanya, namun sorot matanya Nampak sayu dan kelihatan kosong.
Kakek itu segera membuka buli-bulinya, mengeluarkan sebuah botol berisi bubuk obat, setelah dioleskan didepan lubang hidung pemuda tadi, katanya lagi sambil tertawa .
"sekarang apakah kau sudah merasa agak baikan?"
Dengan sepenuh tenaga Kho Beng mengendus obat yang diusapkan didepan lubang hidungnya itu kemudian sambil mengawasi sekejap sekeliling tempat itu, ia menjawab .
"Dimana aku berada sekarang?"
"Tak usah buru-buru ingin tahu, sebentar kau toh akan mengetahui dengan sendirinya,"
Jawab si kakek sambil tertawa. Kemudian setelah membangunkan pemuda tersebut, katanya lagi .
"Mari kita menuju kebawah sana"
Sambil maju dua langkah kedepan, dia membuka penutup peti mati dari salah satu peti mati yang berjajar disana.
Peti mati itu tidak mempunyai sesuatu keistimewaan, didalamnya kosong melompong tiada suatu yang luar biasa.
Tapi Kho Beng segera membelalakkan matanya lebar-lebar, dengan wajah bingung katanya "Lotiang..apakah luka yang kuderita terlalu prah hingga hingga kau ."
Kakek berambut putih itu tertawa tergelak .
"Haah.haaahh.haahh bocah bodoh, kaujangan salah paham, aku situa bukan bermaksud membaringkan badanmu kedalam liang kubur, umurmu masih amat panjang"
"Lantas peti mati ini?"
Kho Beng berbisik dengan kening berkerut. Kembali Kakek berambut putih tersenyum .
"Coba lihatlah "
Ketika ia menekan sebuah tombol yang berada dalam peti mati itu, terdengarlah suara gemerincing nyaring bergema memecahkan keheningan, papan yang berada pada dasar peti mati itu segera bergeser kesamping dan muncullah sebuah lorong rahasia dibawahnya.
sambil tertawa kakek itu berkata kemudian .
"Kau sudah terkena racun yang amat keji bagaimanapun juga luka tersebut harus disembuhkan ditempat ini, nah mari kita turun kebawah."
Dengan langkah cepat dia berjalan masuk lebih dahulu kedalam lorong rahasia dibawah peti mati tersebut.
Kho Beng bagaikan seorang yang telah kehilangan semangat dan pikiran, tanpa mengucapkan sepatah katapun segera mengikuti dibelakangnya turun kebawah.
Belum sampai mereka menuruni belasan anak tangga, kembali bergema suara gemerincingan nyaring, ternyata peti mati tersebut telah pulih kembali dalam keadaan semula.
Lorong dibawah tanah tersebut tidak terlalu panjang, belum lama mereka berjalan, tibalah kedua orang itu disebuah ruangan batu yang sangat luas dan lebar.
Ditengah ruangan batu itu terdapat sebuah meja altar, asap dupa menyelimuti seluruh ruangan hingga membuat suasana disana terasa seram dan amat serius.
Dikedua belah sisi altar tergantung tulisan yang berbunyi .
'Menghimpun setan-setan gentayangan di seluruh dunia.
Memelihara sukma penasaran dari empat penjuru.' Kemudian dikedua belah sisi meja altar terdapat banyak sekali patung-patung yang berwajah mengerikan, keadaan disitu tak ubahnya seperti berada didalam neraka.
Kakek berambut putih itu mengajak Kho Beng menuju kebelakang meja altar, disitu kembali dia membuka sebuah pintu rahasia.
Letak ruang rahasia ini persis berada dibelakang meja altar, keadaan dalam ruangan bersih dan rapi, selain terdapat sebuah pembaringan dan sebuah meja kecil, segala sesuatunya terawatt dan terpelihara sekali.
Kakek berambut putih itu menyuruh Kho Beng membaringkan diri diatas pembaringan, lalu katanya sambil tertawa .
"Tahukah kau sedari kapan tubuhmu terkena racun yang amat keji itu?"
Kho Beng menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Aku tak bisa mengingatnya kembali."
Tapi kemudian seperti memahami akan sesuatu, setelah berpikir sejenak kemudian katanya .
"Aku hanya teringat setelah menelan sebutir pil pemberian lotiang, maka luka dalamku sembuh sama sekali, tapi kemudian."
Ia menghembuskan napas panjang dan berhenti berbicara. sambil menggelengkan kepalanya berulang kali Kakek berambut putih itu berkata .
"obat yang kuberikan kepadamu itu adalah obat yang mustajab untuk menyembuhkan segala macam luka, obat tersebut merupakan obat dewa yang tak ternilai harganya, racun yang mengeram didalam tubuhmu sudah lama hilang, coba pikirkan kembali."
Sambil memejamkan matanya rapat-rapat Kho Beng menggeleng, katanya setengah bergumam "Aku benar-benar tak bisa mengingatnya kembali, aku..aku sangat lelah berilah kesempatan kepadaku untuk beristirahat."
"Tidak Tidak bisa Kau tak boleh beristirahat"
Seru Kakek berambut putih itu sambil menggoncang-goncangkan bahunya.
"kau harus mengingat-ingat dulu persoalan ini, kemudian baru aku akan turun tangan untuk menyembuhkanmu."
"Aku...aku amat lelah"
Bisik Kho Beng.
Kakek berambut putih itu segera mengeluarkan botol obatnya tadi dan menggosokkan kembali sedikit bubuk dibawah lubang hidung anak muda itu.
Tak lama kemudian terlihat Kho Beng mengendusi obat tersebut kuat-kuat, sepasang matanya pun terpentang lebar kembali, diawasinya Kakek berambut putih itu dengan termangu.
Mendadak dari balik mata Kakek berambut putih itu memancar keluar dua buah cahaya hijau yang amat menggidikkan hati, diawasinya wajah Kho Beng tanpa berkedip, sementara mulutnya berkomat-kamit berbicara dengan suara yang tinggi melengking dan amat menusuk telinga.
"Kau harus mengingat ingatnya, apa sebabnya kau sampai keracunan?"
Perasaan ngeri, takut dan murung tahu-tahu menyelimuti seluruh wajah Kho Beng, sepasang matanya bagaikan terhisap oleh cahaya hijau yang menggidikkan hati itu, kembali gumamnya .
"Aku benar-benar tak dapat mengingatnya kembali"
"Kalau begitu aku perlu mengingatkan kepadamu, masih ingat dengan partai kupu-kupu?"
Bagaikan baru tersadar dari ingatan, mendadak Kho Beng berseru keras-keras .
"Ya a betul, aku sudah teringat kembali"
"Apa yang kau ingat kembali"
"Aku teringat sekarang secara bagaimana diriku sampai keracunan"
Dengan perasaan gembira Kakek berambut putih segera berseru .
"Kalau begitu cepat katakan"
Tanpa ragu-ragu Kho Beng berkata .
"Keempat budak dari Dewi In Un yang meracuni diriku, aku masih teringat dengan jelas, sudah pasti mereka"
"Kalau begitu Dewi In Un yang meracuni dirimu?"
Seru si Kakek berambut putih setengah bersorak karena gembira.
"Yaa betul, Dewi In Un, siperempuan siluman yang melakukan semuanya ini"
"Kalau begitu, kau harus mengobati luka racunmu dengan hati tenang dan tentram disini, kemudian baru pergi mencari siluman perempuan itu untuk membalas dendam"
"Yaa.aku hendak mencincang tubuhnya sehingga hancur berkeping-keping"
Seru Kho Beng sambil menggertak gigi menahan diri Kakek berambut putih itu tertawa terbahak-bahaki segera serunya .
"Haaahhhaaahh.haahhhi.aku bersedia untuk mengobati luka racun yang kau derita tapi yang penting adalah kau wajib menuruti perkataanku serta melakukan kerja sama secara baik, mampukah kau melakukannya? "
"Aku mampu"
Jawab pemuda itu cepat.
"Bagus sekali"
Kakek berambut putih itu bertambah girang.
"mari, sekarang juga aku akan mengobati lukamu itu, kendorkan semua pikiran dan badan, lalu pejamkan matamu rapat-rapat"
Kho Beng menurut dan segera melaksanakan apa yang diminta. Lebih kurang setengah peminuman teh kemudian, tiba-tiba terdengar Kakek berambut putih itu berseru .
"Pentang matamu lebar-lebar"
Kho Beng menurut dan segera mementang matanya lebar-lebar, namun sekujur badannya segera bergetar keras, sebab yang dilihatnya saat itu adalah dua buah sinar hijau yang sangat menggidikkan hati.
Terdengar Kakek berambut putih itu berseru lagi dengan suara yang berat lagi dalam.
Bersambung ke
Jilid 32
Jilid 32
"Kho Beng, tataplah sepasang mataku tanpa berkedip, jangan kau gerakkan badanmu, jangan menggunakan tenaga, ingat, aku sedang berusaha mengobati lukamu."
Kata-kata yang muncul dari bibirnya seakan akan mengandung semacam kekuatan atau daya pengaruh yang susah dilawan, membuat Kho Beng menuruti semua perintahnya tanpa membantah.
Mata, kecuali sinar mata terpancar dari balik matanya itu, Kho Beng merasa dirinya seakan-akan sudah tak hadir lagi di dunia ini, seolah-olah seluruh badannya punah dengan begitu saja, kecuali sepasang sorot mata yang tak bergerak.
Tak lama kemudian, Kakek berambut putih itu mengerakkan sepasang telapak tangannya, segumpal asap putih menyembur keluar dari balik telapak tangannya itu dan menyelimuti seluruh tubuh Kho Beng.
Tanpa disadari Kho Beng merasakan kembali tubuhnya bergetar keras, tiba-tiba gumamnya .
"Dingin. dingin"
Namun Kakek berambut putih itu sama sekali tidak menghentikan gerakannya, kabut putih yang menyebur keluar terus menerus menyelimuti seluruh badan Kho Beng hingga sepenanak nasi lamanya, setelah itu baru dia menghentikan perbuatannya.
Bersamaan waktunya, cahaya hijau yang memancar keluar dari balik matanya pun turut hilang, ia pulih kembali kedalam keadaan semula.
Dari balik buli-bulinya dia mengeluarkan sebutir pil merah dan dijejalkan kemulut anak muda tersebut sambil berseru .
"Cepat telan"
Agaknya Kho Beng sudah tak berpikiran dan perasaan lagi, sekarang dia hanya tahu menuruti semua perintahi bahkan tanpa ragu barang sedikitpun dia telan pil merah itu.
selang berapa saat kemudian, Kakek berambut putih itu baru bertanya dengan suara lembut .
"Bagaimana rasamu sekarang?"
"sudah ada baikan, tidak sedingin tadi lagi"
"Bagus sekali"
Kakek itu tertawa gembira.
"Aku telah mendesak keluar racun jahat itu dengan menggunakan ilmu hawa dingin, kau harus tahu Ang bong tok merupakan racun paling jahat di kolong langit, kecuali mempergunakan cara ini tiada cara lain yang bisa digunakan untuk menyembuhkannya."
"Aku tahu."
Sahut Kho Beng kaku.
"sekarang berbaringlah dahulu dengan tenang, selanjutnya tiap hari aku akan mengobati lukamu sebanyak dua kali, kurang lebih sepuluh hari kemudian ia akan sembuh kembali seperti sedia kala."
"Baik kembali"
Sahut Kho Beng kaku.
"Apakah kau lapar?"
Tiba-tiba Kakek berambut putih itu bertanya dengan lembut.
"Yaa, aku agak merasa lapar"
Kakek itu segera mengangguk .
"Beristirahatlah dulu dengan tenang, aku akan menyuruh orang untuk menyiapkan hidangan bagimu"
Ia segera membalikkan badan berjalan menuju keluar, sementara pintu kamar rahasia pun rapat kembali.
Kali ini dia tidak menuju kejalanan semula tapi berbelok ke sisi kiri ruang tengah, disitu dia membuka pula sebuah pintu rahasia yang lain.
Ternyata disekeliling meja altar terdapat dua buah pintu rahasia yang berbeda letak.
Dibalik pintu rahasia itu terdapat pula sebuah ruang rahasia yang luasnya tak berbeda seperti ruangan dimana Kho Beng berada, cuma saja disana tidak terdapat pembaringan, yang tersedia hanya sebuah meja kecil serta dua buah kasur duduk.
Diatas meja kecil terdapat sebuah hiolo kecil yang mengepulkan asap dupa, sementara diatas kasur duduk itu terdapat seorang tosu tua yang kurus dan berambut putih sedang duduk bersila disana.
Ketika Kakek berambut putih itu sudah melangkah masuk ke dalam ruangan, pintu rahasia kembali menutup rapat.
Tosu tua itu menegur .
"Bu liang siu hud, setan tua, tampaknya usahamu telah berhasil dengan sukses"
Kakek berambut putih itu tertawa misterius .
"Tegasnya saja aku baru berhasil mendapat setengahnya saja."
"Apa maksud perkataanku itu?"
"Bocah muda itu mempunyai dasar kekuatan yang sangat tangguh, andaikata tidak dibantu oleh pengaruh obat, hampir saja aku tak mampu mengendalikan dirinya"
"Bagaimana sekarang?"
Tanya si tosu ceking itu sambil tertawa.
"Dengan bersusah payah akhirnya aku berhasil juga menguasai seluruh kesadarannya."
"Bukankah hal ini berarti kau sudah berhasil sembilan puluh persen? waaah..pinto wajib menyampaikan selamat kepadamu"
"Persoalan ini merupakan urusan kita berdua,"
Ucap Kakek berambut putih itu dengan wajah serius.
"ada rejeki kita nikmati bersama, ada bencana kita tanggulangi berbareng, berhasil atau gagal bukanlah urusanku seorang"
Tosu tua itu Nampak tertegun, segera ujarnya .
"Jika kutinjau dari nada pembicaraanmu barusan, tampaknya dalam persoalan ini sudah timbul kesulitan?"
"Darimana kau bisa menduganya?"
Dengus si kakek. tosu tua itu balas mendengus .
"Hal ini sudah terlalu jelas membentang didepan mata, dengan tabiatmu, seandainya tiada kesulitan yang timbul dari peristiwa ini, tak mungkin kau akan bilang, ada rejeki dinikmati bersama, ada bencana ditanggulangi berbareng"
Kakek berambut putih itu segera tertawa tergelak .
"Haaa..haaa.haaaa.tepat sekali, hitung-hitung kau memang termasuk seorang yang hebat, sebetulnya persoalan ini bukan timbul dari Kho Beng pribadi, tapi dia justru membawa ekor yang memusingkan kepala."
"Ekor macam apa?"
Kakek berambut putih itu menghela napas .
"Ada seorang budak tolol jatuh cinta kepadanya, ia tak segansegan mengobral uang untuk memohon pengobatan dariku, malah darinya aku berhasil menipu sejumlah uang."
"Haaahhaaahhhaaahhhi.kalau hanya urusan sekecil ini mah bukan menjadi masalah,"
Seru tosu ceking itu sambil tertawa tergelak-gelak.
"Hmmm, kelihatannya saja bukan menjadi suatu masalah, tapi kau tahu, budak tersebut bukan termasuk manusia persilatan biasa."
"oya, lantas dewa dari manakah dia?"
Tanya tosu ceking itu mulai tertarik.
"Dihadapanku, budak tersebut telah mendemontrasikan kehebatan ilmu silatnya, ilmu jari Tong kim ci."
"Tong kim ci?"
Tosu ceking itu baru merasa terperanjat.
"jangan-jangan dia adalah.."
"Yaa, dia adalah keturunan dari Kim ka sian Beng Cung ciu yang menjadi pimpinan dari tiga dewa"
Tosu ceking itu segera garuk-garuk kepalanya yang tak gatal, ujarnya kemudian .
"waaahi.waaah kalau persoalan ini mah betul-betul merupakan suatu masalah yang sangat merepotkan."
Setelah berpikir sebentar, kembali dia bertanya .
"Lantas bagaimana caramu melepaskan diri dari penguntitannya?"
"Aku telah membuat suatu perjanjian dengannya, kuminta sepuluh hari kemudian ia siapkan lima puluh tahil emas untuk ditukar dengan Kho Beng."
"Apa salahnya kalau kau mengingkari janji setelah sampai pada waktunya? Masa dia bakal datang mencarimu?"
"Tentu saja dia akan datang mencariku, sebab tempat perjanjian kami adalah bukit Wang hu san ini."
Berubah hebat paras muka tosu ceking tersebut, mendadak ia cengkeram dada si Kakek berambut putih itu dan membentak keras .
"Bajingan tua Percuma kau dipanggil setan tua, mengapa kau pintar dimasa-masa silam justru pikun disaat seperti ini."
Kakek berambut putih itu sama sekali tidak gusar, malah sambil tertawa ia berkata lagi .
"jadi kau menganggap tidak sepantasnya kuberitahukan persoalan ini kepadanya?"
"Tentu saja tidak boleh"
Teriak tosu itu. Kemudian sambil menggertak gigi kencang-kencang, katanya lebih lanjut .
"Dengan perbuatanmu ini, bukankah sama artinya hendak mengobrak abrik kuil Hianthian koan ku ini?"
Kakek berambut putih itu masih tetap tersenyum.
"Coba tenangkan dulu pikiranmu, aku ingin bertanya, andaikata dia benar-benar mengobrak-abrik kuil Hian thian koan mu, tapi kau justru mendapatkan Kho Beng si bocah muda tersebut. Coba kau bandingkan, apakah hal ini lebih menguntungkan atau merugikan?"
Tosu tua itu menjadi tertegun, segera hardiknya .
"Apakah maksud perkataanmu itu?"
Si kakek mendengus .
"Hmmm, sebab aku mengetahui dengan pasti, budak tersebut pasti akan menguntil dibelakangku hingga seandainya kukatakan sesuatu tempat secara sembarangan, lagi kenyataannya aku mendatangi kuil Hian thian koan, mungkin kuilmu saat ini sudah diobrak-abrik tak keruan olehnya"
"Benar juga "tosu ceking itu segera berhasil menenangkan pikirannya, tapi sambil menggigit bibir ia berseru .
"Aku rasa hal ini kurang baik."
"Tiada persoalan di dunia ini yang bisa berlangsung dengan lancer dan sukses, paling tidak gangguan toh tetap ada."
"Kalau begitu si budak tersebut pasti sudah berada diluar kuil sekarang?"
Kakek berambut putih itu mengangguk.
"Tak akan salah lagi dugaanku ini."
"Lantas apa yang harus kita perbuat sekarang?"
"Itu mah terserah padamu, sebab urusan ini adalah urusanmu sendiri"
"Mengapa urusanku sendiri?"
Teriak tosu ceking itu gusar.
"Kau yang membawa musuh tangguh tersebut kemari, tentu saja kau pula yang mesti menghadapinya."
Kakek berambut putih itu segera tertawa terbahak-bahak .
"Haaahhihaaahhhhahh.ini sih menurut pemikiranmu yang egois, bukankah kita berkewajiban menanggulangi bencana bersama? sekarang aku sudah mendapat tugas mengurusi Kho Beng, maka sudah sepantasnya kalau kau yang mendapat kewajiban menghadapi serbuan dari musuh tangguh tersebut."
Tosu ceking itu segera menggeleng .
"Rasanya aku tak akan sanggup menghadapi keturunan dari tiga dewa see gwa sam sian."
"Kalau memang begitu terpaksa kita harus menggunakan cara yang lain."
"Bagaimana cara itu?"
"Dalam sepuluh hari mendatang aku rasa dia tak akan berani menyerbu ke dalam kuil sekalipun menyatroni kuilmu, tak mungkin bisa menemukan rahasia dibawah tanah ini. sepuluh hari kemudian, bila kau bersedia meninggalkan kuilmu untuk melarikan diri aku rasa keadaan masih belum terlambat."
"Kau suruh meniggalkan hasil karyaku yang telah kupupuk dan kubina selama hampir separuh hidupku ini?"
Seru si tosu sambil menahan rasa gemas. Kakek berambut putih tertawa bergelak.
"Bila usaha kita telah berhasil dengan sukses dan seluruh dunia telah menjadi milik kita semua, apalah artinya tokoan semacam ini bagimu?"
Sekilas rasa girang segera menghiasi wajah tosu tua itu, setelah berpikir sebentar katanya kemudian .
"Baiklah, kita bicarakan lagi sepuluh hari kemudian"
"kalau begitu kau mesti mengatur sebala sesuatunya dalam kuilmu itu."
Tosu tua tersebut menghembuskan napas dan segera bangkit berdiri "Tunggu sebentar"
Mendadak Kakek berambut putih itu menghalangi.
"Masih ada suatu persoalan yang perlu kupesankan kepadamu."
"soal apa?"
"Semua kegiatan didalam kuil harus berjalan seperti keadaan semula, lipat gandakan jumlah hio dan dupa yang dibakar dan kerahkan semua anggotamu untuk bersembahyang, pokoknya kita harus merubah suasana di dalam tokoan ini jauh lebih ramai dan semarak."
Tosu tua itu mendengus tanpa menjawab. sambil tertawa Kakek berambut putih itu berkata lagi .
"Pintu gerbang harus selalu terbentang lebar, kalau belum sampai tengah malam janganlah ditutup, tapi tindak tanduk kalian tak boleh sampai menimbulkan kecurigaan."
"Andaikata budak itu menggunakan alasan hendak bersembahyang didalam kuil dan masuk kemari melakukan penyelidikan?"
"Kau harus melayaninya sebaik mungkin, ajak dia mengunjungi setiap bagian kuil dan jangan sampai kau tunjukkan hal-hal yang mencurigakan, mengerti?"
"Bajingan tua , dengan berbuat begitu bukankah sama artinya kau hendak member kesulitan kepadaku, bila budak itu diperbolehkan melakukan peninjauan kesegala pelosok dan ternyata tidak menjumpai kau serta Kho Beng, apa akibatnya mungkin kau sendiripun tidak dapat membayangkan sendiri"
"Aaahhh..tampaknya dalam segala hal, aku mesti menuturkan untukmu, kau toh bisa menutup sebuah ruang khusus yang terpencil dengan alasan tempat itu dipakai untuk melakukan pengobatan."
Kemudian setelah tertawa bangga, dia melanjutkan .
"sudah pasti budak tersebut tak akan menunjukkan identitasnya sendiri, dalam hal demikian kau pun tak usah memperlihatkan bahwa kau telah mengetahui identitasnya yang sebenarnya, bila dia bertanya kepada mu mengapa ada disebuah ruangan yang ditutup,"
Bagaikan baru menyadari akan hal itu, tosu tua itu segera menjawab .
"Yaa, pinto bisa bilang kalau ada orang meminjam tempat kepadaku untuk menyembuhkan luka seseorang, siapapun tak boleh mengganggunya sebab hal tersebut dapat membahayakan orang yang menderita keracunan itu."
Kakek berambut putih itu segera menepuk nepuk bahu tosu tua tersebut sambil katanya .
"Totiang, mengapa secara tiba-tiba kau dapat berubah menjadi begini pintar?"
Merah jengah selembar wajah tosu ceking itu, tanpa berkata kata dia segera membalikkan badan dan beranjak dari situ.
sedang si Kakek berambut putih itu segera menjatuhkan diri duduk diatas kasur dan tak lama kemudian sudah terlelap dalam impian yang indah.
Kho Beng masih berbaring diatas pembaringan dengan tenang.
suasana didalam ruangan batu itu memang amat hening, sedemikian heningnya sehingga dapat didengar suara napas serta detak jantung sendiri dengan amat jelas.
Dia ingin merangkak turun dari pembaringan, namun keempat anggota badannya bagaikan tak bertenaga, namun ia dapat merasakan tubuhnya sangat nyaman, rasa sakit dipunggungnya telah lenyap sejak tadi, kecuali sama sekali tak bertenaga, yang lain tidak memperlihatkan gejala yang aneh atau luar biasa.
Ketika ia mencoba untuk mengingat-ingat kembali kejadian yang dialaminya selama dua hari terakhir ini, pikirannya terasa begitu rusak hingga tak mampu untuk mengumpulkan kembali semua pikiran dan perasaannya, seakan-akan segala sesuatu yang pernah terjadi sudah tiada sangkut pautnya lagi dengan dirinya.
Berada dalam keadaan beginilah dia mendengarkan dengus napas dan jantung sendiri, membawanya menuju kealam impian yang penuh ketenangan dan kedamaian.
Entah berapa saat telah lewat, suara gemerincing pintu rahasia yang dibuka orang membuatnya mendusin kembali dari impian.
Ketika ia mencoba untuk membuka matanya, apa yang kemudian terlihat segera membuat pemuda itu tertegun.
Ternyata yang datang bukan Kakek berambut putih itu, juga bukan tosu penghuni kuil, melainkan seorang dayang yang berwajah cantik, Dayang tersebut membawa sebuah baki, diatas baki terletak pelbagai macam hidangan, sambil mendekati Kho Beng ia berbisik lirih "Kho kongcu."
"Terima kasih banyak untuk hidangan yang kau bawakan,"
Kata Kho Beng dengan kening berkerut.
"tapi aku.."
"Kau tak bertenaga dan tak mampu bergerak bukan?"
Sambung dayang itu cepat.
"Ya a benar, sekarang aku merasa terlalu lemah dan lelah."
"Tak apa"
Ujar dayang itu sambil tertawa.
"aku dapat membimbingmu untuk bangun "
Sambil berkata dia benar-benar memayang Kho Beng untuk dibantu bangkit dari pembaringan.
Kho Beng tak mampu menggerakkan tubuhnya, terpaksa dia membiarkan dayang itu untuk membantunya bangun dan duduk bersandar dipinggiran pembaringan.
Tak sampai Kho Beng berbicara, dayang itu telah mengambil semangkuk nasi serta berapa sayuran lalu menyuapnya dengan sabar.
Kendatipun Kho Beng merasa sangat rikuh dan tidak leluasa, namun oleh karena dia betul-betul merasa lapar, maka dalam suapan dayang tersebut dia melahap semua hidangan yang diberikan.
Menanti Kho Beng telah selesai bersantap.
dayang itu baru mengamati sekejap paras muka anak muda itu, kemudian menghela napas panjang sesudah menghabiskan hidangan yang tersedia, Kho Beng merasakan semangat dan kesegaran tubuhnya telah pulih kembali, buru-buru dia berseru .
"Terima kasih banyak nona atas perhatianmu"
Dayang itu menggeleng .
"Kho kongcu tak usah sungkansungkan.."
Kemudian sesudah menatapnya sekali lagi, dia berkata dengan sedih .
"Aku harus segera pergi dari sini"
Namun baru berjalan berapa langkahi dia telah balik kembali kesisi tempat tidur dan berkata .
"Kabarnya ilmu silat Kho kongcu amat tinggi serta menggemparkan seluruh dunia, entah.."
"dari mana kau tahu?"
Tanya Kho Beng setengah bingun.
"Aku dengar hal ini dari majikanku."
Siapa pula majikan perempuan itu? Dayang tersebut menghela napas.
"Majikan perempuan ya majikan perempuan.. a i, nampaknya pikiran dan kesadaranmu telah mulai kabur dan hilang, apalah gunanya banyak bicara denganmu?"
"Kalau memang tak mau berbicara ya sudahlah, otakku ini memang tak bisa dipergunakan lagi, aaaibila kau mempunyai masalah yang menyulitkanmu, lebih baik pergilah mencari totiang itu"
Si dayang segera mendengus sambil menggigit bibir serunya .
"Hmmm, justru dialah seorang raja iblis yang membunuh orang tanpa mengucurkan air mata."
Kho Beng yang mendengar perkataan tersebut jadi tertegun tapi kemudian tertawa hambar, matanya segera dipejamkan kembali dan tidak berbicara lebih lanjut.
Dengan cemas dayang itu mendekatinya serta menggoncangkan bahunya Kho Beng, setelah itu bisiknya .
"Andai kata kuberi sebutir pil untukmu, bersediakah kau untuk menelannya?"
"Tak sedikit obat yang telah kumakan. kenapa pil tersebut harus kutelan?"
"obat tersebut pemberian majikan perempuanku,"
Bisik si dayang.
"tapi kau tak boleh mengatakannya kepada Kakek berambut putih itu, sebab kalau tidak, aku serta majikan perempuanku akan dicelakainya sampai mati"
"Mengapa begitu?"
Tanya Kho Beng dengan kening berkerut. Dayang itu makin gelisah.
"Biarpun kuterangkan kepadamu sekarang juga tidak ada gunanya, lebih baik telan obat ini lebih dulu, mungkin sesudah itu kau akan mengerti dengan sendirinya."
Sambil berkata dia segera mengeluarkan sebutir pil berwarna hitam pekat.
Paras muka Kho Beng sangat dingin dan hambar, sama sekali tidak Nampak perubahan apapun diwajahnya.
Jari tangan dayang itu Nampak agak gemetar, dia seperti rada sangsi, tapi setelah termenung sejenak akhirnya dia menjejalkan obat tersebut kedalam mulut Kho Beng.
Kho Beng sendiri ternyata tanpa ragu-ragu segera menelan pil tersebut kedalam perutnya.
Paras muka dayang itu Nampak berubah makin pucat kehijauhijauan, cepat-cepat dia berbisik ditelinga Kho Beng .
"Ingat, disaat kau dapat memahami perkataanku ini berarti kau akan tahu kalau Kakek berambut putih itu mengandung niat jahat kepadamu, dia hendak mempergunakan ilmu beracun Im han tok kang nya untuk merubah dirimu menjadi seseorang yang lain, maka usahanya tak pernah akan berhasil. Bila kau sudah dapat memahami arti perkatanku ini, jangan sekali-kali kau katakana bahwa aku telah memberimu sebutir obat, ingat baik-baik"
"Mengapa kau begitu ketakutan?"
Tanya Kho Beng. Dengan suara gemetar dayang itu menjawab .
"sebab bila kau mengatakannya, maka aku bersama majikan perempuanku bakal mati konyol, kumohon kepadamu ingatlah baikbaik pesanku ini"
"Baiklah"
Sahut Kho Beng kemudian sambil menghela napas. Dengan perasaan gelisah kembali dayang itu berkata .
"sekarang aku harus pergi dari sini, ingat baik-baik pesanku tadi, jangan sekali-kali kau melupakannya."
Kho Beng mengangguk tanpa bicara, diawasinya bayangan punggung dayang tersebut hingga lenyap dari pandangan mata, sementara pikirannya tetap kosong dan hampa.
Dengan termangu-mangu dia mencoba untuk berpikir namun tak berhasil, tanpa disadarinya akhirnya dia tertidur.
Entah berapa lama dia tertidur, tiba-tiba pemuda itu terjaga kembali, namun kali ini tiada orang yang memasuki ruangan rahasia tersebut, melainkan dia sendiri yang terjaga dari tidurnya.
Mendadak ia merasa ada sesuatu yang tak beres, entah apa sebabnya tiba-tiba muncul perasaan bergidik didalam hati kecilnya.
Ternyata pikiran dan kesadarannya menjadi agak jernih, dia seperti teringat kembali akan dirinya yang terlupakan, disamping itu perkataan dari dayang tersebut mendatangkan pula manfaat bagi dirinya.
'Kakek berambut putih itu hendak menggunakan ilmu Im han tok kang untuk merubahmu menjadi seorang yang lain.
obat ini mungkin bisa membuat kesadaranmu pulih kembali.
Jangan sekali-kali kau katakana, aku dan majikan perempuanku..' Teringat olehnya tempat ini adalah sebuah tokoan, siapa pula dayang tersebut?
Dan siapa pula majikan perempuannya?
Ia ingin memecahkan persoalan tersebut namun tak berhasil menemukan suatu jawaban.
Tapi dia pun terbayang kembali akan cicinya Kho Yang ciu, teringat si kakek tongkat sakti sertya Chin sian kun, teringat Bu wi lojin, Kim bersaudara, pelajar rudin Ho heng serta hwesio daging anjing yang berada di lembah hati Buddha, teringat juga dengan Beng Gi ciu serta siau wan..
Dia cun teringat bagaimana dirinya menyamar sebagai si Naga terbang dari see ih Kongci Cu, bagaimana dia melompat kedalam jurang hingga terluka, teringat juga bagaimana Beng Gi ciu menolongnya, bagaimana si Kakek berambut putih itu muncul secara tiba-tiba hingga membuat luka dalamnya yang sembuh dalam waktu singkat tahu-tahu menderita keracunan hebat.
Makin lama pikirannya semakin jernih, diapun semakin mengerti bahwa Kakek berambut putih itu adalah seorang manusia jahat, walaupun dia belum bisa memastikan dimanakah letak maksud tujuannya, tapi paling tidak dia bermaksud mencelakai dirinya.
Dengan perasaan gelisah dan gusar, buru-buru dia mencoba untuk menghimpun kembali tenaga dalamnya.
Namun dalam pusarnya seolah-olah terjadi pembekuan, seperti juga kosong tanpa ada isinya, betapapun dia telah berupaya untuk menghimpun kembali tenaganya, ternyata tak berhasil juga untuk mengumpulkan kekuatan tenaga murninya.
selain daripada itu, keempat angota badannya tetap terasa lemas tak bertenaga, bahkan keingainannya untuk membalikkan badan pun tak mampu dilakukan.
Dalam perasaan sedih yang mencekam, tiba-tiba saja dia terinagt kembali dengan dayang tersebut, maka dia pun meletakkan seluruh pengharapannya ke atas pundak dayang itu.
Suasana didalam ruang gua gelap gulita tanpa cahaya, dia tak tahu pukul berapa sekarang, dia pun tak tahu sampai kapan Kakek berambut putih itu bakal datang kembali.
Tapi ada satu hal yang diketahui secara pasti, ia sudah pasti telah terpengaruh oleh sejenis ilmu sesat sehingga kehilangan daya pikiran serta kesadarannya, ini berarti selama tenaga dalamnya belum pulih kembali seperti sedia kala, dia masih harus berlagak seakan-akan orang yang kehilangan kesadaran.
Akhirnya ditengah suasana yang serba tak menentu, pintu ruangan rahasia tersebut terbuka kembali, kali ini yang muncul adalah Kakek berambut putih itu.
sedapat mungkin Kho Beng berusaha untuk mengendalikan gejolak hawa amarahnya, dia berusaha memperlihatkan sikapnya yang bodoh bagaikan orang yang kehilangan kesadaran, selama ini dia hanya memandang sekejap sementara mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.
sambil tertawa terkekeh-kekeh, Kakek berambut putih itu menegur .
"Kho Beng apakah hari ini kau merasa baikan?"
"Yaa, rada baikan"
Sahut sang pemuda.
Namun Kakek berambut putih itu seperti merasa sangat terperanjat sekali, dengan sorot matanya yang tajam dia mengawasi wajah pemuda tersebut tanpa berkedip.
nampaknya dia seperti kebingungan dan tidak habis mengerti.
Kho Beng yang menyaksikan kejadian ini menjadi sangat terkejut, hatinya berdebar keras.
Tampak Kakek berambut putih itu menegur lagi dengan kening berkerut kencang .
"Apa yang sedang kaupikirkan?"
Dengan cepat Kho Beng menggeleng.
"Rasanya aku seperti tak memikirkan apa-apa, segala sesuatunya terasa kosong dan samar-samar, aku tak bisa mengingatnya kembali secara pasti dan jelas"
Memang itulah perasaan yang dialaminya setelah menelan obat berwarna hitam.
Kakek berambut putih tertawa puas, nampaknya semua kecurigaanya pun hilang lenyap dari benaknya, dengan wajah girang kembali dia berkata .
"Ya a, begitulah gejala yang akan kau alami selama proses pengobatan dilakukan, tapi lewat berapa hari kemudian keadaanmu akan jauh lebih segar lagi."
Kemudian setelah berpikir sejenak, kembali dia berkata dengan suara dalam .
"Kho Beng, sekarang aku hendak melakukan pengobatan lagi atas racunmu itu, tataplah mataku lekat-lekat serta jangan berpikir yang lain"
"Baik"
Jawab Kho Beng segera.
Dari balik sepasang mata Kakek berambut putih itu kembali mencorong keluar dua buah cahaya hijau yang menggidikkan mata, dalam keadaan apa boleh buat terpaksa Kho Beng balas menatap sorot mata tersebut.
Bersamaan itu pula, seperti apa yang dilakukan sebelumnya, dari sepasang telapak tangannya kembali memancar keluar dua buah gulungan asap putih yang sangat tebal dan segera menyelimuti seluruh badannya.
segulung hawa dingin yang menusuk perasaan dengan cepat menyusup kedalam tubuhnya membuat dia gemetar keras.
Namun pada saat ini pikirannya sudah tertuju pada peringatan dari si dayang, walaupun sepasang matanya menatap sinar hijau yang terpancar keluar dari balik mata lawan, namun pikirannya justru membayang persoalan lain.
Akhirnya Kakek berambut putih itu menghentikan pengobatan dengan senyuman dan menatap Kho Beng tanpa berkedip.
Kho Beng merasa terkejut sekali, buru-buru dia memejamkan matanya rapat-rapat.
Melihat gejala ini si Kakek berambut putih itu berseru tertahan .
"Aaaah, aneh betul.."
Kho Beng yang mendengar seruan tersebut jadi sangat terkejut, namun di masih tetap memejamkan matanya tanpa berbicara. sesudah termenung dan berpikir sejenak, Kakek berambut putih itu segera berkata .
"Kho Beng, apa yang sedang kaupikirkan?"
"Aku tidak memikirkan apa-apa"
Terpaksa pemuda itu menjawab. Kakek berambut putih itu segera mendengus.
"Hmmm, aku tak percaya kalau dalam dunia saat ini terdapat orang yang memiliki dasar tenaga dalam yang begini kuat dan sempurna, ternyata dibawah pengobatan serta daya kerja obatku masih dapat mengendalikan pikiran serta perasaan sendiri"
"Lotiang, apa yang kau katakan?"
Kho Beng berlagak bingung serta tak habis mengerti.
"Hmm, tidak apa-apa"
Lalu setelah berhenti sejenaki dia berkata lagi .
"Kau harus beristirahat sekarang"
Dengan cepat dia membalikkan badan dan beranjak pergi dari situ, tak lama kemudian pintu rahasia kembali tertutup rapat.
Kho Beng segera merasakan hatinya bagaikan tenggelam kedasar samudra, sebab dia tahu tingkah lakunya barusan telah memperlihatkan titik kelemahan yang mengakibatkan timbulnya kecurigaan dihati kakek tersebut.
Ditinjau dari sikap gusar yang diperlihatkan Kakek berambut putih itu sesaat hendak meninggalkan tempat tersebut, dapat disimpulkan dia pasti hendak pergi mencari dayang tersebut.
Terbayang kembali apa yang pernah dikatakan sidayang, tanpa terasa hatinya tercekat, mungkinkah ia benar-benar telah mencelakai si dayang beserta majikan perempuannya?
Tapi apa boleh buat, keempat anggota tubuhnya terasa lemas tak bertenaga, hal ini membuatnya sama sekali tak mampu berkutik, selain hatinya yang amat sakit bagaikan diiris-iris, ia tak bisa berbuat yang lain.
-ooo00000oookuil Hian thian koan termasuk sebuah tokoan yang amat termasyur, saban hari tak sedikit peziarah yang berkunjung kesitu untuk memanjatkan doa ataupun membayar kaul.
senja itu, tampak ada dua orang gadis muda berjalan memasuki bangunan kuil tersebut.
Tentu saja kedua orang ini tak lain adalah Beng Gi ciu beserta dayangnya, siau wan.
Waktu itu suasana didalam kuil kelihatan sangat bersih dan lenggang, sebab sebagian besar peziarah telah meninggalkan tempat itu, yang masih tetap tinggal disitu hanya Beng Gi ciu berdua.
Mula-mula Beng Gi ciu memasang hiolo lebih dulu diruang tengah, kemudian kepada tosu kecil dia mengajukan permohonannya untuk bertemu dengan pimpinan kuil.
Buru-buru tosu kecil itu berkata .
"Koancu sedang berada didalam kuil lo kun tian, silahkan lisicu mengikuti diriku"
Dengan cepat tosu kecil itu mengajak Beng Gi ciu serta siau wan berangkat menuju keruanga Lo kun tian.
Ruang lo kun tian merupakan ruang yang paling besar didalam kuil Hian thian koan tersebut, waktu itu ketua kuil Hian thian koan sedang duduk diruang tengah.
Begitu tiba dimuka ruangan, tosu kecil itu segera berseru .
"Lapor koancu, ada dua orang li sicu hendak bertemu dengan koancu."
Buru-buru Hian thian totiang munculkan diri untuk meyambut, katanya kemudian sambil tertawa .
"Bolehkah pinto tahu, li sicu ada urusan apa?"
"Jauh-jauh datang kemari, siau li selain ingin bersembahyang kepada sam hong congsu, juga karena ingin mengunjungi tokoan termashur diseluruh dunia."
"Perbuatan semacam ini merupakan perbuatan mulia, silahkan duduk untuk minum teh."
Sambil tertawa Beng Gi ciu menggeleng, ujarnya .
"siauli hanya ingin menanyakan bangunan-bangunan besar yang berada didalam kuil ini serta member derma untuk kesejahteraan kuil ini.."
Lalu kepada siau wan merunya .
"Ambil sepuluh tahil emas dan berikan kepada totiang"
Buru-buru Hian thian totiang berkata .
"semenjak pinto jadi pimpinan dikuil ini, belum pernah kami menerima sumbangan sedemikian besarnya, sicu berdua , terima kasih banyak atas derma kalian ini."
Siau wan segera mengeluarkan sepuluh tahil emas dan disodorkan kedepan.
Ternyata tanpa sungkan-sungkan Hian thian totiang segera menerima sumbangan tersebut.
Menyusul kemudian, Hian thian totiang pun mengajak kedua orang tamunya untuk mengunjungi setiap ruangan yang berada didalam komplek bangunan kuil itu.
Ketika tiba diruangan paling belakang, tampaklah gedung yang disebut Tay lang tian berada dalam keadaan tertutup rapat.
Beng Gi ciu segera menegur .
"Apa yang terjadi disini? Mengapa gedung ini tertutup?"
Sambil tertawa paksa sahut Hian thian totiang .
"Kebetulan berapa hari berselang telah datang seorang tabib yang hendak mengobati seorang pasiennya dari keracunan, untuk kelancaran pengobatannya dia telah meminjam gedung tersebut untuk dipakai selama beberapa hari."
"Lalu apa sebabnya pintu gedung itu tertutup rapat?"
"sebab sicu yang menderita sakit itu telah keracunan hebat, untuk pengobatannya dibutuhkan waktu yang lama serta menggunakan semacam pengobatan dengan hawa dingin, oleh karenanya orang lain tak boleh mengganggu ketenangan mereka."
"Berapa harikah yang dibutuhkan untuk menyembuhkan luka keracunan semacam itu?"
"Konon delapan sembilan hari lagi orang tersebut dapat disembuhkan kembali seperti sedia kala."
Beng Gi ciu segera manggut-manggut .
"Terima kasih banyak untuk keterangan totiang"
Maka ia bersama siau wan segera memohon diri dan meninggalkan kuil tersebut dihantar oleh Hian thian totiang hingga didepan pintu gerbang.
Beng Gi ciu serta siau wan segera menuruni bukit Wang hu san, tak lama kemudian mereka berhenti disebuah hutan yang lebat.
Dengan nada menyelidik siau wan segera berkata .
"Hian thian totiang mempunyai tampang yang licik dan banyak akal, dalam sekilas pandangan saja sudah diketahui kalau ia bukan manusia baik-baik, selain itu aku merasakan betapa misteriusnya bangunan tokoan tersebut."
Beng Gi ciu segera mengangguk.
"Yaa, bagaimanakah keadaan yang sesungguhnya sulit bagi kita untuk menentukannya, malam ini kita harus melakukan penyelidikan kembali keatas kuil Hian thian koan tersebut."
Tak lama kemudian hari sudah gelap.
kentongan kedua pun sudah menjelang tiba.
Ditengah kegelapan yang mencekam seluruh jagat inilah, Beng Gi ciu serta siau wan segera berangkat menuju ke kuil Hian thian koan dengan kecepatan tinggi.
Mereka langsung mendekati bangunan tersebut dan bersembunyi disebuah sudut bangunan yang gelap dan tersembunyikan disana.
suasana dalam kuil Hian thian koan waktu itu amat hening, sepi dan tak terdengar sedikit suara pun, meski dalam setiap gedung dipasang lentera sebagai penerangan namun cahayanya amat redup, mungkin semua tosu penghuni kuil tersebut sudah pada tidur.
Lama sekali kedua orang itu bersembunyi disudut ruangan, setelah yakin kalau tiada sesuatu yang mencurigakan, Beng Gi ciu berbisik .
"Ha yo berangkat, kita langsung menuju ke^edung To leng thian."
Senja tadi dibawah bimbingan Hian thian totiang mereka telah mengunjungi setiap bangunan gedung tersebut serta mengamatinya dengan teliti, yang dimaksud sebagai gedung To leng thian tak lain adalah gedung yang dimaksud Hian thian totiang sebagai tempat yang digunakan Kakek berambut putih untuk mengobati luka Kho Beng.
Dengan gerakan yang amat cepat dan ringan, dalam waktu singkat kedua orang tersebut telah tiba diluar gedung TO leng thian, namun setelah diteliti dengan seksama mereka jadi amat terperanjat.
Ternyata pintu gerbang bangunan gedung itu sudah terbuka lebar, kertas segel dipintu pun sudah dilepas orang.
Beng Gi ciu segera member tanda kepada siau wan, kemudian mereka bersama-sama menerobos masuk kedalam ruangan gedung itu.
Ruangan gedung itu tera watt amat rapi dan bersih, diatas meja altar tergantung gambar dari TO leng coasu, lentera yang terletak diatas meja altar menyinari seluruh ruangan yang amat redup itu secara samar-samar.
sejauh mata memandang gedung tersebut berada dalam keadaan kosong, bayangan tubuh Kakek berambut putih maupun Kho Beng sama sekali tidak Nampak disana.
Dengan perasaan gemas siau wan segera berseru .
"Nona, kita sudah ditipu mentah-mentah"
Beng Gi ciu segera memberi tanda agar jangan berisik, kemudian menarik tangan Siau wan dan diajak mengundurkan diri dari ruangan To leng thian dan menyembunyikan diri dibalik kegelapan.
Nona kembali siau wan berbisik.
"Menurut pendapatku si Kakek berambut putih itu pasti bersekongkol dengan Sian thian totiang dari kuil ini, kalau tidak, mengapa tosu tua hidung kerbau itu menipu kita habis-habisan?"
"Permainan busuk apakah yang sedang mereka lakukan saat ini rasanya susah untuk disimpulkan sekarang,"
Kata Beng Gi ciu dengan suara dalam.
"bagaimana punjuga, pokoknya malam ini kita harus dapat membongkar persoalan ini hingga jelas dan tuntas."
"Menurut aku, satu-satunya jalan yang terbaik adalah melakukan keonaran secara besar besaran di dalam kuil Hian thian koan ini, kita tangkap Hian thian totiang dulu, tosu tua itu kemudian menyiksanya agar mengaku, masa kita takut dia tak akan memberikan pengakuannya buat kita?"
"Kita jangan bertindak terlalu gegabah, mari aku sudah mempunyai akal yang bagus,"
Kata Beng Gi ciu kemudian seraya menggeleng.
Tiba-tiba..
Terdengar suara jerit kesakitan yang amat memilukan hati berkumandang mmecahkan keheningan malam.
Walaupun jerit kesakitan tersebut kedengarannya amat lemah dan jauh sekali, namun dengan kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki Beng Gi ciu, ia dapat menangkap suara tersebut dengan jelas sekali.
Kepada siau wan segera tanyanya .
"Apakah kau sudah mendengar?"
Siau wan mengangguk berulang kali .
"Ya a, aku sudah mendengar, ada orang menjerit kesakitan, suaranya sangat memilukan hati, bahkan nampak seperti suara wanita."
Kemudian setelah celingukan sejenak sekeliling tempat itu, kembali la berkata .
"Nona, apakah kau sudah dapat mendengar secara pasti, suara jerit kesakitan itu berasal dari arah mana?"
Beng Gi ciu segera menggeleng.
"seandainya tempat itu bukan terletak dibawah tanah, tentu letaknya sangatjauh dari sini, saking jauhnya sehingga aku sendiripun tak dapat menentukan arahnya secara tepat."
Mereka berdua segera berusaha untuk memasang telinga serta mendengarkan lagi dengan seksama, namun sepeta nak nasi sudah lewat suara jerit kesakitan tersebut ternyata tak kedengaran lagi.
Tak tahan lagi siau wan segera berseru .
"Nona, apa gunanya kita menunggu terus disini? Toh mereka tak akan munculkan diri secara sukarela, lebih baik kita lakukan pemeriksaan kedalam "
Dengan wajah serius Beng Gi ciu termenung berapa saat lamanya, kemudian ia berkata .
"Ya a, nampaknya kita terpaksa harus berbuat begitu, tapi ingat, kau tak boleh bergerak secara sembarangan, mengerti?"
"Mengerti"
Sahut Siau wan cepat.
"Tak usah kuatir nona, aku akan menuruti semua perkataanmu."
Beng Gi ciu segera melompat keluar dari tempat persembunyiannya dan bergerak menuju kearah bangunan kuil, kali ini dia tak berusaha menyembunyikan jejaknya lagi, tapi langsung menuju keruangan dimana Hian thian totiang berdiam.
Didepan kamar ketua kuil merupakan sebuah halaman kecil dengan aneka macam bunga yang tumbuh indah, meski berada dalam kegelapan malam namun tidak mengurangi keindahannya .
siau wan segera berbisik.
"Coba lihat, pintar amat tosu itu menikmati hidupnya, panorama ditempat ini Nampak sangat indah dan menawan hati."
Sementara pembicaraan berlangsung, mereka telah sampai didepan pintu ruangan.
Ruangan itu terbagi menjadi tiga , dua diantaranya berada dalam keadaan gelap.
sedangkan bilik yang berada dibagian tengah masih memancarkan cahaya lentera yang redup, Beng Gi ciu segera mendekati pintu ruang itu, diperhatikannya sejenak ruangan disekitar sana, kemudian baru mulai mengetuk.
Tiada suara jawaban dari dalam ruangan.
Beng Gi ciu menggertak gigi tiga kali ketukannya kali ini dilakukannya keras-keras.
"siapa disitu?"
Nona siau wan segera berbisik.
"mereka tak bakal membukakan pintu untuk kita, lebih baik kita langsung menyusup kedalam."
Baru saja Beng Gi ciu hendak menjawab terdengar dari dalam ruangan bergema suara teguran seseorang .
"siapa diluar?"
Menyusul kemudian pintu ruangan dibuka orang.
Yang membuka pintu adalah seorang tosu berjenggot putih, namun orang itu bukan Hian thian totiang pribadi.
setelah tertegun sejenak, Beng Gi ciu segera menegur .
"Apakah Hian thian totiang tidak berdiam disini?"
Tosu berjenggot putih itu kelihatan amat tercengang dan agak gelagapan, dia berkata .
"si.siapakah kalian? Mengapa kamu berdua datang kemari ditengah malam buta begini..apakah kalian adalah.adalah kawanan perampok"
Berbicara sampai disitu, dia sudah bermaksud untuk berteriak keras-keras memanggil rekan-rekannya .
Tapi Beng Gi ciu telah bertindak cepat, tangannya segera bergerak cepat dan kelima tangannya disentilkan kedepan melepaskan desingan angin serangan yang langsung menotok jalan darah ditubuh si tosu tua tersebut.
Tanpa disuruh siau wan memburu kedepan serta menahan tubuh sitosu tua tersebut agar tidak roboh ketanah, lalu menyeret tubuhnya kedalam kamar dan didudukkan diatas sebuah bangku.
Beng Gi ciu yang menyusul ke dalam segera mengunci pintu ruangan rapat-rapat, kepada siau wan serunya .
"Cepat kau geledah dua bilik lainnya."
Siau wan menyahut dan menyusup masuk kedalam ke dua bilik lainnya, tak lama kemudian ia telah muncul kembali seraya berkata .
"Nona, tiada seorangpun disitu."
"Tak apa, akhirnya toh kita akan berhasil menemukan mereka semua,"
Sahut Beng Gi ciu sambil tertawa dingin.
Kemudian dia ayunkan jari tangannya kedepan, desingan angin tajam segera menyambar api lentera hingga padam, lentera tersebut seketika itujuga padam.
Dengan rasa gembira siau wan maju kedepan, serunya .
"Nona biar budak yang memeriksa orang ini."
"Baik"
Beng Gi ciu mengangguk.
"tapi jangan sampai kau lukai dirinya."
Siau wan mengangguk berulang kali, segera dia mengeluarkan sebuah pisau belati kemudian sambil diayunkan dihadapan tosu tua berjenggot putih itu katanya .
"Bila ingin menyelamatkan nyawamu, berbicaralah secara terus terang, mengerti?"
Jalan darah tosu itu tertotok hingga mulutnya tak mampu bebricara, badanpun tak dapat bergeraki hanya biji matanya saja yang berputar-putar panik, Kembali siau wan membentak dengan suara dalam .
"Jangan kau anggap aku tak berani melukai dirimu, kalau amarahku meluap, akan kusayati tubuhmu lebih dulu, ingin kulihat apakah kau bersedia untuk berbicara atau tidak,"
Kembali tosu tua itu memutar biji matanya dengan panic, namun tak sepatah kata pun yang diucapkan. Beng Gi ciu yang melihat kejadian ini segera tertawa geli, selanya .
"siau wan, kalau jalan darahnya yang tertotok tidak kau bebaskan, bagaimana mungkin dia dapat berbicara?"
Setelah ditegur, siau wan baru menyadari apa yang terjadi, dia sendiripun jadi kegelian sehingga tertawa cekikikan.
sesudah termenung sambil berpikir sejenak, akhirnya dia menotok dulu jalan darah cian hong kiat di kedua belah bahu tosu tersebut, kemudian baru menepuk bebas ketiga buah jalan darah penting yang berada didada tosu tersebut.
Dengan begitu kecuali sepasang tangannya tak mampu digunakan lagi, tosu tua itu dapat berbicara seperti orang normal.
sesudah menghembuskan napas panjang dengan nada setengah merengek tosu tua itu berseru.
"Lihiap berdua, ampunilah jiwaku ini?"
"siapa namamu?"
Tegur siau wan sambil tertawa dingin.
"Pinto bernama Hian hoat, aku termasuk adik seperguruan Hian thian totiang, ketua kuil ini."
Kembali siau wan mendengus.
"Hmmm, nona kami tiada maksud untuk mencelakai jiwa mu, tapi sebagai timbal baliknya kau harus menjawab semua pertanyaan dari kami dengan sejujurnya, kalau tidak,hmmm, aku tak akan menjamin keselamatanmu itu"
Hian hoat totiang mengiakan berulang kali, sahutnya .
"Baik, aku akan menjawab, aku akan menjawab, asal tahu pasti akan kujawab dengan sejujurnya."
"Bagus sekali, dimanakah Hian thian totiang suhengmu sekarang?"
"Dia telah berangkat ke bukit Kun lun"
Jawab tosu itu tanpa berpikir lagi. Beng Gi ciu menjadi melengak sesudah mendengar jawaban itu, segera timbrungnya .
"Pergi kebukit Kun lun? Mau apa dia pergi kebukit Kun lun?"
"Kuil kami masih terhitung cabang dari Kun lunpay, koancu kami mempunyai kewajiban mengunjungi bukit Kun lun satu kali setiap tiga tahun."
"Kapan kembalinya?"
Tanya Beng Gi ciu kemudian sambil menghela napas. Hian hoat totiang tertawa getir .
"Paling cepat tiga bulan, paling lama setengah tahun, bila lihiap berdua bermaksud menantikan kedatangannya, aku rasa.."
"Hmmm, kau pasti sedang berbohong"
Bentak siau wan tiba-tiba.
"tak mungkin ada kejadian yang begitu kebetulan di dunia ini sewaktu kami datang kemari senja tadi, dia masih berada dalam kuil, mana mungkin begitu malam tiba dia telah berangkat kebukit Kun lun?"
Dengan wajah bersungguh-sungguh Hian hoat totiang berkata .
"Apabila lihiap bersikeras mengatakan tak percaya, yaa apa boleh buat, tapi keputusan koancu kami untuk berkunjung kebukit Kun lun sudah lama sekali ditetapkan, jadi bukan kebetulan."
"selama Hian thian totiang berkunjung ke Kun lun san, mungkin kaulah yang mewakilinya menjadi koancu kuil Hian thian koan ini?"
Tanya Beng Gi ciu setelah termenung sejenak. sambil tertawa paksa, Hian hoat totiang manggut-manggut.
"Ya a, memang begitulah, entah apa urusan apa lihiap berdua mengunjungi kuil kami ditengah malam buta begini."
"Kemana perginya orang yang mengobati luka beracun digedung To leng thian tersebut?"
Tiba-tiba Hian hoat totiang tertawa .
"oooo..rupanya kedatangan lihiap berdua disebabkan persoalan ini."
"Hey, apa yang kau tertawakan? Mengapa cepat katakan, mengapa gedung To leng thian sudah kosong? Kemana perginya orang itu?"
"Ia sudah pergi meninggalkan kuil menjelang malam tadi, si tabib yang berambut putih itu telah pergi membawa pasiennya, dia bilang terpaksa harus pindah dari sini karena orang yang berziarah di kuil ini terlalu banyak sehingga ia sulit melakukan pengobatan disiang hari."
"Kemana dia telah pergi?"
Tanya Beng Gi ciu terkejut. Dengan kening berkerut Hian hoat tojin menyahut .
"Aku dengar dia hendak pergi ke belakang bukit situ mencari gua, tapi tidak dijelaskan tempat yang sesungguhnya,"
Walaupun demikian setelah menatap wajah Beng Gi ciu sekejap. dia meneruskan .
"Dia bilang delapan hari kemudian akan datang kembali kesini, sebab waktu itu pasiennya sudah sembuh sama sekali dari pengaruh racunnya."
"Hmmm, apa lagi pesannya?"
Dengus si nona. Tosu itu segera menggeleng.
"Tak ada pesan yang lain, hanya itu saja."
Beng Gi ciu dibuat setengah percaya setengah tidak, untuk berapa saat lamanya dia menjadi kesulitan untuk mengambil keputusan.
sementara itu siau wan telah memutar biji matanya berulang kali, lalu katanya .
"Nona, percayakah kau dengan semua omongan setannya itu?"
Beng Gi ciu berpikir sebentar, mendadak timbul sebuah akal dalam hatinya, sambil tersenyum ia segera berkata kepada siau wan .
"Aku rasa dia tak bakal bohong, mari kita pergi saja."
Siau wan masih ingin membantah, namun niatnya segera dicegah oleh Beng Gi ciu dengan kedipan matanya. Dengan cepat dayang itu memahami apa yang dimaksud majikannya sambil mendengus serunya .
"Hmmm, malam ini terlalu keenakan untuk si tosu tua hidung kerbau ini."
"Jangan kau ceritakan kepada siapa pun atas kejadian malam ini,"
Ancam Beng Gi ciu dengan suara dalam.
"Dengan jalan darah cian keng hiat yang tertotok, lebih baik kau sendiri yang mencari akal untuk membebaskannya."
Tidak menunggu sampai Hian hoat tojin sempat berbicara, gadis itu telah beranjak pergi meninggalkan ruangan tersebut diikuti siau wan dari belakang.
Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang sempurna, mereka melompat keluar dari halaman lalu menyembunyikan diri di atas sebatang pohon yang besar.
setelah menyembunyikan diri baik-Baik, mereka berdua segera menyingkap dedaunan yang rimbun dan mengintip kebawah.
Tampak Hian hoat tojin muncul dari ruangannya dengan sempoyongan, begitu sampai di depan pintu segera teriaknya keraskeras memanggil rekan-rekannya yang lain.
Lama kemudian baru kelihatan seorang tosu setengah umur yang masih mengantuk munculkan diri dihalaman tersebut, dengan kaget bercampur gugup dia berseru .
"susiok, susiok, ada apa?"
"Cepat cepat bebaskan jalan darah cian keng hiat ku yang tertotok"
Seru Hian hoat tojin dengan gelisah.
Tosu setengah umut itu kelihatan terkejut , seakan-akan saat itu baru mengetahui kalau sepasang lengan Hian hoat tojin terkulai lemas kebawah dan tak bisa bergerak.
Dengan gerakan cepat dia menepuk bebas jalan darah Hian hoat tojin yang tertotok itu, kemudian tanyanya dengan perasaan terkejut, bercampur keheranan.
"susiok, sebenarnya apa.apa yang telah terjadi?"
Hian hoat tojin menghela napas panjang .
"Aaaaai sebetulnya sicu berambut putih dan anak muda yang keracunan itu berada dimana?"
Setelah agak tergagap tosu setengah umur itu menjawab.
"Aku dengar mereka sudah pergi ke belakang gunung untuk mencari gua yang sepi, tapi tidak diketahui gua yang manakah mereka berada."
Kembali Hian hoat tojin menghela napas.
"Ingat baik-Baik, bila menjumpai persoalan semacam ini lagi dikemudian hari, jangan sekali-kali mereka ditampung."
"Kee.. kenapa?"
"Tak usah banyak bertanya lagi tukas Hian hoat tojin marah, pokoknya ingat saja pesanku ini, gara-gara peristiwa tersebut, hampir saja selembar jiwaku turut melayang."
Tosu setengah umur itu mengiaka berulang kali dan tak berani bertanya lebih jauh. Hian hoat tojin segera mengulapkan tangannya berulang kali seraya berkata .
"sudah, disini tak ada urusan lagi, cepat mundur dari sini"
Tosu setengah umur itu mengiakan dan segera mengundurkan diri dari situ sementara Hian hoat tojin pun balik kembali kedalam ruangan.
suasana di dalam kuil Hian thian koan pun segera pulih kembali dalam keheningan yang luar biasa.
sementara itu siau wan yang telah memutar sepasang biji matanya sambil mengawasi Beng Gi ciu.
Beng Gi ciu sendiripun sedang terjerumus dalam lamunan yang dalam, sebab berdasarkan yang terbentang didepan mata saat itu, sudah jelas semua tindak tanduk Hian hoat tojin bukan sengaja dibuat-buat tapi memang begitulah kenyataannya.
Melihat majikannya hanya tercengang saja, tak tahan siau wan segera menegur .
"Nona, kawasan dibela kang bukit situ tak terlalu luas, mari kita pergi melakukan pencarian, siapa tahu kita akan berhasil menemukannya?"
Tapi Beng Gi ciu segera menggeleng .
"Tidak Lebih baik kita menunggu sebentar lagi."
Nona kata siau wan sambil berkerut kening.
"kelihatannya apa yang diucapkan tosu itu benar, apa lagi yang kau sangsikan? Lebih baik kita segera."
"Aku mencurigai suara jerit kesakitan yang memilukan hati tadi"
Kata si nona dengan suara dalam. Bersambung
Jilid 33
Jilid 33
"oya betul, dengan jelas kita memang mendengar suara jerit kesakitan yang memilukan hati, tapi.."
Setelah memutar biji matanya, kembali dia melanjutkan.
"Kedengarannya suara itu berasal dari suatu tempat yang jauh sekali, mungkin juga bukan berasal dari kuil ini."
Beng Gi Ciu segera mendengus .
"Kecuali kuil tokoan ini, di bukit Wang hu san sudah tiada rumah penduduk yang lain, juga tak ada bangunan kuil yang lain, dari mana suara tersebut bisa berasal kalau bukan dari sini?"
"Yaa, perkataan nona memang benar,"
Siau wan manggutmanggut, akan tetapi Setelah berpikir sejenak, Beng Gi Ciu berkata .
"Lebih baik kita menunggu sebentar lagi, coba kita lihat apakah suara tadi akan berkumandang lagi?"
Mereka berdua pun melanjutkan usahanya bersembunyi diatas pohon, tapi tunggu punya tunggu hingga mendekati kentongan keempat pun sama sekali tak kedengaran lagi suara tadi.
"Mari kita pergi"
Ajak Beng Gi ciu kemudian.
Mereka berdua segera bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan bangunan kuil tersebut.
Disaat mereka berdua sedang meluncur keluar bangunan kuil inilah, mendadak tampak ada dua sosok bayangan kuning, bagaikan burung elang saja langsung melayang turun diruang depan.
Beng Gi ciu menghentikan langkahnya dan bersama siau wan menyembunyikan diri dibalik pepohonan.
Mereka mencoba untuk pasang telinga, akan tetapi tak kedengaran sedikit suara pun, dengan suara dalamBeng Gi ciu segera berkata .
"Tampaknya ilmu meringankan tubuh yang dimiliki kedua orang tersebut cukup tangguh, mereka bisa terhitung jagoan kelas satu dalam dunia persilatan, tapi siapakah mereka?"
"Mungkin Hian thian loto telah pulang kembali?"
"Tak mungkin, setiap tosu penghuni kuil ini mengenakan jubah berwarna abu-abu, tak mungkin mereka ganti baju kuning dalam waktu singkat, selain itu menurut pendapatku, jangan lagi si Hian thian tosu si tosu tua itu, sekalipun gurunya Hian thian tosu masih hiduppun, rasanya mereka tak akan memiliki kepandaian sehebat ini."
"jadi kalau begitu mereka bukan anggota kuil ini?"
"Ya a, sudah pasti bukan"
Sementara mereka masih berbicara, terdengar suara ujung baju yang terhembus angin bergema memecahkan keheningan, lalu tampak dua sosok bayangan kuning berkelebat lewat dari sisi kiri, lebih kurang tiga kaki dari tempat persembunyian mereka.
Gerakan tubuh orang itu sangat enteng dan cekatan, biarpun sedang melintasi atap rumah, namun nyatanya seperti berjalan ditanah datar saja.
Tanpa terasa Beng Gi ciu serta siau wan dibuat tertegun kembali, kali ini mereka dapat melihat dengan jelas, ternyata mereka adalah dua orang pendeta.
siau wan segera berbisik sambil tertawa geli .
"Aneh betul kedua orang hwesio tua itu, mau apa mereka mendatangi kuil para tosu ditengah malam buta begini?"
"Mari kita ikuti mereka"
Bisik Beng Gi ciu.
Dengan gerakan tubuh yang sangat ringan, dia segera menguntit dibelakang kedua orang pendeta tua itu, selisih jarak mereka kirakira sepuluh kaki lebih.
sementara itu kedua orang pendeta tua tadi telah berputar satu lingkaran mengelilingi bangunan kuil itu, kemudian meluncur keluar dari sana, dengan kesempurnaan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Beng Gi ciu serta siau wan, ternyata perbuatan mereka berdua sama sekali tidak disadari oleh kedua orang pendeta tersebut.
sementara itu, meski kedua orang pendeta tua sudah meninggalkan komplek kuil tersebut, ternyata mereka tidak pergi jauh, kembali kedua orang itu mengelilingi pagar kuil satu kali dan akhirnya berhenti didepan pintu gerbang.
Beng Gi ciu dan siau wan segera bersembunyi dibelakang sebatang pohon, jaraknya dengan pintu gerbang ternyata hanya tujuh delapan kaki.
Dengan menggunakan ilmu menyampaikan suaranya siau wan segera bertanya .
"Nona, tahukah kau apa yang sebenarnya telah terjadi?"
Dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara pula Beng Gi ciu menjawab .
"Jelas sudah keadaannya sekarang, jelas kedua orang pendeta tua itu pun sedang melakukan penyelidikan atas kuil Hian thian koan ini."
"Tapi mengapa mereka keluar lagi dari dalam kuil tersebut bahkan malah berniat mengetuk pintu segala?"
Baru saja Beng Gi ciu hendak menjawab, mendadak tampak salah satu diantara kedua orang pendeta itu membalikkan badannya, kemudian setelah melirik sekejap kearah tempat persembunyian Beng Gi ciu serta siau wan, ia membentak keras .
"siapa disitu?"
Tampak bayangan kuning berkelebat lewat, tahu-tahu ia sudah berada didepan pohon tersebut. Dengan cepat Beng Gi ciu munculkan diri dari tempat persembunyiannya, sambil tertawa dingin ia berseru .
"Lo suhu tajam amat pendengaranmu."
"omitohud."
Paras muka pendeta tua itu tetap dingin tanpa perubahan emosi.
"boleh aku tahu siapakah lisicu berdua dan ada urusan apa melakukan penyelidikan di saat tengah malam buta begini?"
"Kau anggap berhak untuk mengetahui soal ini?"
Seru siau wan cepat. Dalam pada itu, pendeta tua yang satu nya telah melayang datang kesana, mendengar perkataan tersebut, dia segera membentak .
"Besar amat nyalimu, berani bersikap kurangajar terhadap kami?"
Sebenarnya Beng Gi ciu hendak menegur siau wan, tapi setelah mendengar perkataan dari pendeta tua itu, tanpa terasa dia berkerut kening dan balas membentak .
"Nyalimu pun cukup besar, berani sekali berbicara sekasar ini terhadap kami?"
Pendeta tua itu makin naik darah, katanya .
"Hayo cepat katakan asal usul serta identitas kalian yang sebenarnya"
"Kalau kami enggan bicara?"
Jengek Beng Gi ciu hambar. Pendeta tua itu Nampak agak tertegun, agaknya ia tak menyangka kalau lawannya akan menjawab seperti itu, amarahnya makin berkobar, segera serunya keras-keras .
"Hmmm, kecuali kalian sudah bosan hidup."
"Ya a, mungkin saja kami sudah bosan hidup, tapi adakah orang yang mampu membunuh diriku?"
"Budak ingusan Kau terlalu jumawa, tampaknya aku perlu memberi sedikit pengajaran kepadamu"
Sepasang tangannya segera direntangkan, tampak bajunya menggelembung besar dengan cepatnya, sementara jalan darah tay yang hiat dikedua belah keningnya Nampak menonjol keluar.
Beng Gi ciu tertawa dingin, pelan-pelan dia maju kemuka, lalu jengeknya .
"Kau ingin berkelahi?"
"Ya a, kecuali kau bersedia menjawab seluruh pertanyaanku sejujurnya."
"Hmmm, kalau memang ingin berkelahi, mari kita berkelahi, rasanya nonamu tak akan menundukkan kepala dihadapanmu",jengek Beng Gi ciu dengan suara sedingin es.
"Kurang ajar"
Pendeta tua itu makin gusar.
"Nampaknya tabiatmu makin lama makin menjadi, hati-hati dengan seranganku ini"
Tangan kanannya segera diputar, kemudian melepaskan sebuah pukulan dahsyat kedepan.
Beng Gi ciu segera mengebaskan sepasang ujung bajunya kedepan tiba-tiba saja berkelebat lewat selapis cahaya emas yang amat menyilaukan mata, langsung menyongsong datangnya serangan dari pendeta tua itu.
Pendeta tua lainnya yang menontonjalannya pertarungan itu menjadi terperanjat sekali, mendadak dia melejit ke udara sambil berteriak keras .
"sute, cepat mundur"
Ditengah bentakan tersebut, tubuhnya yang masih berada diudara segera menyambar tubuh pendeta tua rekannya dan menariknya hingga mundur sejauh tiga kaki lebih dari posisi semula.
Tentu saja perbuatan ini membuat si pendeta tua tersebut jadi tertegun dantakhabis mengerti.
Menanti tubuh mereka telah melayang turun ketanah, ia baru bersuara dengan nada gelisah.
"Ciangbun suheng, apa-apan kau ini?"
Pendeta tua yang disebut sebagai ciangbunjin itu tidak segera menjawab pertanyaan tersebut, dia mengulapkan tangannya, kemudian berjalan menghampiri Beng Gi ciu.
sementara itu Beng Gi ciu telah menarik kembali serangannya dan tertawa dingin tiada hentinya.
Dengan langkah lebar, pendeta tua itu berjalan mendekat, kemudian sambil merangkap sepasang tangannya didepan dada untuk memberi hormat, katanya .
"Boleh aku tahu siapa nama li sicu?"
"Mengapa kau tidak melapor dulu namamu?"
Sahut Beng Gi ciu dengan suara sedingin salju. Pendeta tua itu manggut-manggut, katanya .
"Aku Phu sian, saat ini menjabat sebagai ketua dari siau lim pay"
Kemudian sambil menunjuk ke arah pendeta tua lainnya yang sedang berjalan mendekat, katanya .
"sedang dia adalah Hwee cuncu, satu diantara lima rasul panca unsur partai kami, juga masih terhitung adik seperguruanku."
Mengetahui siapa yang sedang dihadapannya, Beng Gi ciu merasa amat terkejut, sebab walaupun ia sudah mengetahui kalau ilmu silat yang dimiliki kedua orang pendeta tua itu sangat lihai, namun dia sama sekali tak menyangka kalau orang tua itu adalah ketua siau limpa y, pemimpin dari tujuh partai besar lainnya.
Maka setelah tersenyum, ia berkata .
"Maaf, maaf, siauli adalah Beng Gi ciu, sedang dia adalah budakku siau wan."
Phu sian sanjin segera merasakan semangatnya berkobar kembali, dengan cepat katanya .
"Maafkan kelancanganku untuk bertanya, benarkah ilmu yang Beng li sicu perlihatkan tadi merupakan kepandaian dari tiga dewa see gwa sam sian?"
Beng Gi ciu tertawa hambar, segera tukasnya .
"Losiansu memang hebat sekali pengetahuannya, betul ilmu tersebut memang Kim ka sinkang"
"Kalau begitu Beng siocia adalah keturunan dari Kim ka sian? "
"Benar"
Gadis itu mengangguk. Phu sian sangjin menjadi sangat kegirangan, segera serunya .
"Benar-benar sangat kebetulan, tak disangka kami akan bersua dengan Beng lisicu ditempat ini.Dalam seratus tahun terakhir ini setiap umat persilatan boleh dibilang menyangjung serta menghormati kehebatan tiga dewa, namun sayang belum pernah melihat keturunan dari tiga dewa terjun kembali kedalam dunia persilatan."
Kemudian sambil berpaling kearah Hwee cuncu serunya lagi .
"sute, hayo cepat minta maaf kepada Beng Li sicu"
Terpaksa Hwee cuncu maju memberi hormat, katanya .
"Maaf atas kelancanganku tadi"
Cepat-cepat Beng Gi ciu balas memberi hormat, katanya kemudian .
"Lo siansu terlalu sungkan, padahal siauli sendiripun telah berbuat kesalahan yang sama"
Phu sian sangjin berkata setelah termenung sebentar.
"Kemunculan Beng lisicu secara tiba-tiba dalam dunia persilatan tentunya disebabkan karena ada urusan besar bukan?"
Beng Gi ciu tersenyum.
"sejak kecil siauli berdiam dipulau Bong lay to, ilmu silat yang berhasil kupelajari juga hanya ilmu kucing kaki tiga, sebetulnya aku hanya bermaksud menambah pengetahuan serta mencari pengalaman didalam dunia persilatan, sekalian mencari kedua orang empekku yaitu empek Thian serta empek oh yang sudah setahun meninggalkan pulau Bong lay to, siapa tahu situasi yang kuhadapi sekarang nampaknya telah berubah menjadi amat rumit dan kacau."
"Apakah empek Thian dan empek oh yang Beng li sicu maksudkan adalah keturunan dari Bu khek sian serta Thin lui sian?"
Beng Gi ciu mengangguk.
"Benar, mereka masih setingkat berada diatasku, oleh sebab itu aku memanggil empek kepada mereka."
Kemudian setelah memutar biji matanya, dia berkata lagi .
"Hingga saat ini jejak kedua orang empek ku belum berhasil kutemukan, tapi kujumpai kemunculan kembali partai kupu-kupu di dalam dunia persilatan, oleh sebab itu."
Mendadak ia menghentikan perkataannya dan tidak melanjutkan kembali.
"omitohud"
Phu sian sangjin segera berseru memuji keagungan sang Buddha.
"apakah Beng li sicu sudah mengetahui semua peristiwa yang terjadi dalam dunia persilatan belakangan ini?"
Beng Gi ciu menggeleng.
"Kami berdua belum lama meninggalkan pulau Bong lay to, jadi tidak banyak pula yang kami ketahui tentang persoalan dunia persilatan."
Phu sian sangjin memandang sekejap kuil Hian thian koan yang sepi itu, lalu setelah berpikir sebentar, katanya .
"Beng li sicu adalah keturunan dari tiga dewa, sudah sepantasnya bila kubeberkan keadaan yang sebenarnya."
Maka secara ringkas dia menceritakan kemunculan kedele maut didalam dunia persilatan, bagaimana Kho Beng datang memberi kabar, bagaimana Bok cuncu membuat perjanjian kerja sama dengan Kho Yang ciu dan sebagainya Beng Gi ciu mendengarkan semua penuturan tersebut dengan asyik, menanti Phu sian sangjin telah menyelesaikan perkataannya, dia baru berkata .
"Apakah losiancu telah memohon bantuan dari jago-jago partai lainnya untuk bersama-sama melacaki sarang dewi In Un?"
"Tentu saja"
Jawab Phu sian sangjin cepat.
"Aku telah mengirim surat pemberitahuan keseluruh perguruan besar, aku yakin pelbagai perguruan besar telah mengirim jagojagonya yang lihai untuk mulai bekerja."
Beng Gi ciu sebera tertawa getir.
"Menurut apa yang kuketahui, sarang Dewi In Un terletak dipuncak bukit Cian san dan yang lebih penting lagi adalah ketua partai kupu-kupu yang sekarang Ui sik kong sudah tiba dibukit Cian san."
"Ehmmm, tentang hal ini aku pun sudah mendapat kabar,"
Phu sian sangjin segera mengangguk.
"Tajam benar pendengaran losiansu,"
Puji Beng Gi ciu sambil tertawa.
"lantas apa rencana siansu untuk menanggulangi masalah ini?"
"Masalah tersebut betul-betul amat rumit dan membingungkan hati, tempo dulu entah siapa yang telah dipergunakan Dewi In Un untuk menyamar sebagai Bu wi lojin hingga membangkitkan amarah umat persilatan dan terjadi peristiwa berdarah diperkampungan hui im ceng. Akibat peristiwa itu, Kho Beng kakak beradik berhasil lolos dari musibah, selanjutnya Kho Yang ciu dengan kedele mautnya melakukan pembantaian secara besar-besaran terhadap umat persilatan, kejadian ini dengan cepat menjalinkan permusuhan yang amat mendalam antara Kho Yang ciu dengan segenap umat persilatan, dalam suasana itulah rupanya partai kupu-kupu memanfaatkan kesempatan untuk menancapkan kakinya didaratan Tionggoan."
"Nah coba bayangkan sendiri, bukankah persoalannya menjadi bertambah kalut dan membingungkan."
Beng Gi ciu mengangguk.
"Ya a, situasi memang sangat kalut, tapi..ada urusan apa lo siansU datang kemari?"
"omitohud, setelah aku mendapat laporan dari Bok cuncu yang mengatakan bahwa Dewi In Un sering munculkan diri disekitar bukit Cian san, maka aku merasa perlu untuk melakukan penyelidikan sendiri dengan harapan persoalan diperkampungan Hui im ceng tempo dulu bisa diselidiki hingga tuntas, dengan demikian perselisihan kami dengan dua bersaudara Kho pun bisa mendapat penyelesaian secepatnya."
Beng Gi ciu tertawa hambar.
"Kini pusat kekuatan partai kupu-kupu telah dialihkan kebukit Cian can, aku lihat perselisihan antara dua bersaudara Kho dengan umat persilatan pun telah berubah menjadi masalah kedua"
Dengan wajah serius Phu sian sangjin manggut-manggut.
"Akupun sudah berpikir bahwa masalah penting yang kita hadapi sekarang adalah masalah kehadiran Partai kupu-kupu, andaikata Dewi In Un tidak menyuruh orang menyamar sebagai Bu wi lojin, tak mungkin akan terjadi peristiwa berdarah di perkampungan Hui im ceng. Karenanya akupun mengambil suatu kesimpulan asal masalah Partai kupu-kupu sudah terselesaikan secara otomatis masalah dua bersaudara Kho pun akan terselesaikan dengan sendirinya. Tapi Kho Yang ciu terlalu banyak membunuh orang, rasa dendam yang menumpuk susah rasanya untuk dihapus dengan begitu saja, sedangkan Partai kupu-kupu jelas mempunyai niat jahat terhadap umat persilatan, besar kemungkinan akan terjadi lagi suatu peristiwa besar didalam dunia persilatan."
"Aku dengar perkampungan Hui im ceng pun telah diporakporandakan hingga hancur tak karuan, darah bercucuran dimana-mana dan mayat bertumpuk membukit, tujuh puluh lembar jiwa keluarga Kho telah kalian bantai sampai ludas?"
"omitohud..aku merasa amat menyesal dengan peristiwa ini, tapi.aku tetap berpendapat bahwa bencana besar yang kita hadapi sekarang berasal dari Partai kupu-kupu?"
Kemudian setelah memandang sekejap kearah Beng Gi ciu, kembali dia berkata .
"Pada seabad berselang, tiga dewa telah membunuh ketua Partai kupu-kupu dibawah tebing hati duka dan sekarang Partai kupu-kupu telah muncul kembali dalam dunia persilatan, aku lihat tujuan mereka yang pertama mungkin hendak membalas dendam atas sakit hati itu."
Beng Gi ciu tertawa hambar.
"Persoalan ini memang sudah berada dalam dugaan, tapi ada satu hal yang justru membingungkan hatiku?"
"Persoalan apa?"
"Setiap orang persilatan tahu kalau tiga dewa See gwa sam sian berdiam di pulau Bong lay to, andaikata tujuan Partai kupu-kupu hanya untuk membalas dendam atas sakit hatinya pada seabad berselang sudah pasti mereka akan langsung menuju kepulau Bong lay to, mengapa mereka tidak berbuat demikian sebaliknya malah langsung memasuki daratan Tionggoan?"
Phu sian sangjin dibikin tergagap oleh perkataan tersebut.
"soal ini.soal ini."
Sambil tersenyum Beng Gi ciu melanjutkan kembali kata-katanya .
"Dalam hal ini mungkin saja ada dua penyebabnya, kesatu, mereka hendak merebut kembali kitab pusaka Thian goan bu boh yang telah hilang sejak seabad berselang, kedua, mereka hendak membantai umat persilatan, menaklukan setiap partai dengan kekerasan agar bisa menjadikan dirinya sebagai pemimpin tertinggi dunia persilatan."
Merah jengah selembar wajah Phu sian sangjin, katanya kemudian setelah menghela napas.
"Perkataan Beng li sicu memang benar, tapi aku rasa mereka pun tak akan melupakan dendam sakit hatinya dengan tiga dewa see Gwa sam sian."
"Tapi aku yakin masalah itu masih masalah kedua setelah usahanya menguasai seluruh dunia persilatan berhasil seratus tahun berselang, Partai kupu-kupu pernah melakukan pembantaian berdarah terhadap umat persilatan, walaupun akhirnya ketua mereka tewas ditangan tiga dewa, tapi seratus tahun kemudian ternyata mereka muncul kembali didalam dunia persilatan.sudah pasti kekuatan mereka saat inijauh lebih tangguh, ini berarti badai berdarah tak bisa dihindari lagi oleh umat persilatan. Walau pun demikian, asal tujuh partai besar serta segenap umat persilatan dari empat arah delapan penjuru mau bersatu padu dan memberikan perlawanan secara bersama-sama, aku rasa siapa menang siapa kalah masih susah ditentukan mulai sekarang."
"siauli sekalian pun pasti tak akan berpeluk tangan belaka,"
Kata Beng Gi ciu sambil tertawa.
"atau tegasnya saja maksud siauli mencari empek Thian dan empek oh pun tak lain bermaksud hendak mengajak mereka merundingkan bersama cara untuk menanggulangi serbuan Partai kupu-kupu."
Phu sian sangjin menjadi amat girang, katanya cepat .
"Asal keturunan dari tiga dewa bersedia membantu, sudah pasti usaha kami untuk menumpas kaum iblis tersebut akan berhasil dengan sukses, apakah Beng li sicu akan berhasil menemukan Thian tayhiap dan oh tayhiap."
Belum Beng Gi ciu menggeleng. setelah berhenti sejenak. dia mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain, katanya .
"sebelum itu, ingin sekali siauli mendengar pendapat lo siansu tentang dua bersaudara Kho?"
"seharusnya musuh besar dua bersaudara Kho yang sebetulnya adalah Dewi In Un yang melakukan pengacauan dari tengah, andaikata beruntung Partai kupu-kupu dibasmi, maka asal mereka tidak ingin membuat perhitungan dengan umat persilatan, aku rasa sanak keluarga umat persilatan yang tewas ditangan dua bersaudara Kho pun tak akan mempersoalkan peristiwa itu lagi dan perselisihan dengan begitu saja."
Sambil tertawa Beng Gi ciu manggut-manggut, katanya .
"Pandangan losiansu memang cukup adil, lantas apa sebabnya kau melakukan pemeriksaan atas kuil Hian thian koan ini?"
Kembali paras muka Phu sian sangjin berubah menjadi semu merah.
"Tampaknya Beng li sicu telah mengetahui jejakku sedari tadi?"
"Yaa, sejak masih berada didalam kuil."
"Kalau begitu Beng li sicu pun sedang melakukan penyelidikan atas kuil Hian thian koan ini?"
Tanya Phu sian sangjin tercengang. Beng Gi ciu manggut-manggut.
"Tapi siauli ingin mengetahui lebih dulu apa sebabnya lo siansu melakukan penyelidikan atas kuil Hian thian koan ini?"
"Dalam perjalanan melalui tempat ini tadi, aku seperti mendengar ada suara perempuan yang menjerit kesakitan, suara yang memilukan hati itu berasal dari dalam kuil, karena curiga maka akupun melakukan pemeriksaan disekitar tempat ini"
"Yaa, siauli pun sempat mendengar jeritan kesakitan itu, tapi yang membuat aku bertekad melakukan penyelidikan dalam kuil Hian thian koan ini adalah sebab yang lain."
"Boleh aku tahu apa sebabnya?"
Buru-buru Phu sian sangjin bertanya. Agak memerah paras muka Beng Gi ciu.
"sebenarnya Kho Beng sedang merawat luka beracunnya dalam kuil ini, tapi.."
Tiba-tiba ia menghembuskan napas panjang dan menghentikan perkataannya.
Phu sian sangjin menjadi agak tertegun dan tak habis mengerti, dia tak mengira Beng Gi ciu yang baru terjun kedunia persilatan ternyata dapat menjalin hubungan dengan Kho Beng, lebih-lebih tak menyangka kalau Kho Beng bakal merawat lukanya didalam kuil Hian thian koan ini.
Agaknya Beng Gi ciu sendiripun mengerti bahwa persoalan ini tak mungkin bisa dijelaskan hanya dengan dua tiga patah kata saja.
Maka secara ringkas dia pun bercerita tentang bagaimana perkenalannya dengan Kho Beng, tentu saja banyak persoalan diantaranya yang sengaja ditutupi.
"omitohud."
Phu sian sangjin berseru memuji keagungan sang Buddha.
"Rupanya begitu, tapi aku menemukan ada dua halyang mencurigakan."
"Dalam hal yang mana lo siansu menaruh curiga?"
Buru-buru Beng Gi ciu bertanya.
"Kesatu, aku mengetahui dengan pasti kuil Hian thian koan bukan termasuk pengawasan partai Kun lun, ini berarti ucapan Hian hoat tojin jelas berbohong dan tak ada kebenarannya. Kedua, sisetan tua dari Lamciang adalah seorang manusia munafik yang jahat, keji dan licik sekali, aku cukup memahami watak orang tersebut, jadi mustahil kalau dia mengobati luka Kho Beng hanya dikarenakan kemaruk akan harta."
"sungguhkah perkataan lo siansu ini?"
Tanya Beng Gi ciu sangat terkejut.
"omitohud, apakah Beng li sicu menganggap aku punya kepentingan untuk berbohong?"
Siau wan yang berada disisinya cepat menimbrung.
"Nona, cepat kita tangkap Hian hoat tosu tua itu dan menyiksanya agar mengaku, siapa tahu Kho kongcu sudah mereka celakai"
Phu sian sangjin termenung dan berpikir sebentar, kemudian katanya .
"Barusan aku telah melakukan pemeriksaan disekeliling bangunan kuil ini, sepintas lalu tampaknya tiada sesuatu yang tak beres dengan tempat ini, baru saja aku hendak mengetuk pintu untuk melakukan pemeriksaan kedalam, saat itulah kujumpai kehadiran Beng li sicu disini. Nah Beng Li sicu, apakah kau berhasil menjumpai sesuatu yang mencurigakan?"
"Apapun tak berhasil kutemukan,"
"kalau tidak. masak kami akan tinggalkan tempat ini dengan begitu saja?"
"Waaah.kalau begitu Kho Beng sudah terjebak dalam keadaan yang sangat berbahaya."
Kata Phu sian sangjin kemudian dengan suara berat. Beng Gi ciu menggertak gigi kencang-kencang.
"seandainya sampai terjadi keadaan demikian, aku bersumpah akan meratakan kuil Hian thian koan ini dengan tanah"
Dengan cepat Phu sian sangjin menggeleng kepalanya berulang kali, ia berkata .
"Aku minta Beng li sicu jangan kelewat emosi, yang terpenting buat kita sekarang adalah bagaimana cara menyelamatkan Kho Beng dari ancaman bahaya."
Beng Gi ciu agak tertegun, serunya .
"Menurut yang kuketahui, antara losiansu dengan Kho Beng masih terikat permusuhan yang mendalam, apa sebabnya.."
"Beng lisicu dapat berkata demikian karena kau belum memahami jalan pemikiranku,"
Kata Phu sian sangjin sambil menggoyangkan tangannya berulang kali.
"padahal yang menjadi tujuan utama dari perjuanganku ini tak lain adalah mencari ketenangan dan kedamaian bagi umat persilatan, jadi bagiku tiada hubungan dendam atau sakit hati dengan siapa saja. Tatkala terjadi peristiwa berdarah diperkampungan Hui im ceng belasan tahun berselang, akupun telah berusaha untuk mencegahnya, sayang aku tak berhasil mengatasi kemarahan umat persilatan akhirnya terjadilah peristiwa yang amat mengenaskan itu."
Kemudian setelah menghembuskan napas panjang, pelan-pelan dia berkata lagi .
"Menurut hasil pengamatanku sendiri maupun apa yang kudengar dari pemberitaan, dapat kutarik kesimpulan bahwa Kho sicu sesungguhnya adalah seorang sauhiap yang patut dihormati dan dikagumi, malah banyak hal didalam usaha untuk menumpas kaum iblis tersebut kita masih membutuhkan bantuannya, oleh sebab itu sudah sepantasnya bila aku berusaha memberi pertolongan dengan sekuat tenaga"
Beng Gi ciu tertawa gembira.
"Dengan pengalaman lo siansu yang begitu luas serta pengetahuanmu yang amat banyak, sudah pasti banyak bermanfaat bagi usahaku menolong Kho Beng, kalau begitu aku ucapkan banyak terima kasih atas kehadiran lo siansu ini."
"Aaaah, ini kan sudah menjadi kewajibanku"
Kepada Hwee cuncu segera serunya .
"sute, cepat maju dan menggedor pintu"
Hwee cuncu mengiakan dengan langkah lebar dia berjalan menuju kedepan pintu gerbang kuil Hian thian koan lalu menggedornya keras-keras.
Gedoran itu dilakukan dengan kekuatan besar sehingga menimbulkan suara yang nyaring sekali, ditengah keheningan malam yang mencekam, hampir boleh dibilang seluruh kuil dapat mendengar suara itu.
Tak lama kemudian terdengar suara langkah manusia berkumandang datang, disusul pintu gerbang pun terbuka lebar, seorang tosu setengah umur dengan pandangan terkejut bercampur keheranan mengawasi Phu sian sangjin dan Beng Gi ciu sekalian berempat sekejap.
lalu katanya .
"Ditengah malam buta begini, ka. kalian ada urusan apa datang kemari?"
Hey tosu tua dengan suara yang amat nyaring bagaikan genta, Hwee cuncu berseru .
"Pentang sepasang matamu lebar-lebar, coba lihat siapakah diri kami ini?"
Walaupun dia termasuk seorang pendeta tua yang telah mempunyai hasil latihan selama puluhan tahun dalam agama Buddha, namun sifat berangasannya tak hilang barang sedikitpun, baik dalam tingkah laku maupun dalam pembicaraan dia selalu bersikap kasar.
Itulah sebabnya julukan Hwee cuncu atau rasul api memang cocok sekali dengan keadaannya.
sambil tertawa paksa tosu setengah umur itu menjawab .
"Aku tak ambil perduli siapakah kalian, paling tidak kalian toh tidak seharusnya datang mengacau kuil kami ditengah malam buta begini."
"Mengacau?"
Bentak Hwee cuncu semakin gusar.
"perkataan tersebut sangat tidak pantas kau pergunakan bagi kami, yang benar kami datang untuk melakukan penggeledahan, mengerti? Hmmm kami adalah rombongan dari siau lim pay, aku dikenal orang sebagai Hwee cuncu"
Lalu sambil menunding kebelakang, kembali katanya .
"Dan dia adalah ketua dari partai kami, Phu sian sangjin "
"Aaaaah.."
Dengan wajah berubah hebat tosu setengah umur itu berseru tertahan, buru-buru ia memberi hormat sambil katanya.
"Tak disangka ada tamu agung yang datang berkunjung, maafkan kelancangan pinto."
Phu sian sangjin segera melangkah maju mencegah Hwee cuncu bertindak lebih jauh, kemudian tegurnya .
"Apakah koancu kalian ada didalam kuil?"
"Tidak ada"
Jawab tosu itu agak tergagap. Mendadak Hian hoat tojin munculkan diri dengan langkah lebar, sambil memberi hormat ia segera menyapa .
"Benar-benar menjadi kehormatan buat kami untuk menerima kunjungan dari anda sekalian, silahkan masuk kedalam ruangan untuk minum teh."
Lalu setelah memandang sekejap kearah Beng Gi ciu serta siau wan, sambil tertawa paksa .
"silahkan lisicu berdua masuk pula kedalam"
Beng Gi ciu tertawa dingin, ia sama sekali tak berbicara.
Walaupun Hian hoat tojin telah mempersilahkan tamunya untuk masuk.
ternyata Phu sian sangjin sama sekali tidak menggeserkan langkahnya, dia masih tetap berdiri ditempat semula.
Tentu saja Hian hoat tojin menjadi tersipu-sipu dibuatnya, sambil tertawa paksa segera katanya lagi .
"Apakah lo siancu tidak bersedia untuk memasuki kuil kami?"
"omitohud, boleh aku tahu gelar totiang?"
"Pinto Hian hoat, untuk sementara waktu ini menjabat sebagai koancu kuil ini."
"oooh dimanakah koancu kalian?"
Tanya Phu sian sangjin lagi dengan suara dingin.
"Dia telah pergi kebukit Kun lun,"
Karena Dengan cepat Phu sian sangjin menukas .
"Totiang tak usah melanjutkan perkataanmu itu, aku sudah mengetahui secara pasti kalau kuil kalian tidak termasuk aliran Kun lun pay, lebih baik undang saja koancu kalian untuk bertemu kami."
Berubah hebat paras muka Hian hoat tojin setelah mendengar perkataan ini, katanya .
"Apabila losiansu berkeras mengatakan demikian, pinto pun tak bisa membantah apa-apa, tapi kenyataannya koancu kami betulbetul tak berada didalam kuil hingga tak mungkin bagiku untuk mengundangnya keluar"
Phu sian sangjin segera tertawa dingin .
"Baiklah, kalau toh totiang bersikeras mengatakan demikian, terpaksa aku mesti berbuat kasar kepadamu."
"Apa yang hendak lo siansu lakukan?"
Tanya Hian hoat tojin sambil berusaha menenangkan hatinya.
"Aku sebagai pemimpin dari tujuh partai besar terpaksa akan turunkan perintah untuk melakukan penggeledahan atas kuil Hian thian koan, apakah totiang bermaksud menghalangi perintahku ini?"
"Aku tak berani, silahkan lo siansu melakukan penggeledahan"
Buru-buru tosu itu berseru. Phu sian sangjin mengangguk, kepada Beng Gi ciu katanya kemudian.
"Beng li sicu, mari ikut masuk kedalam kuil"
Dengan langkah lebar dia sebera berjalan masuk kedalam ruangan kuil itu. Hian hoat tojin yang mengikuti dibelakang Phu sian sangjin sebera berkata lagi sambil tertawa paksa .
"Murid-murid kuil kami sudah pada tidur,bagaimana kalau kubunyikan genta untuk membangunkan mereka serta menanti petunjuk dari losiansu?"
"Tidak usah"
Jawab Phu sian sangjin hambar. Lalu sambil berpaling kearah Beng Gi ciu tanyanya.
"Dimanakah Kho sicu merawat luka beracunnya?"
"Digedung To leng tiang, tapi sekarang sudah tak ada apaapanya lagi disana."
Mendadak Hian hoat tojin menimbrung sambil tertawa terbahakbahak.
"Haaaahhhaaahhhaaahhhi.rupanya lo siansu pun datang kemari dikarenakan persoalan tersebut, padahal sicu yang mengobati pemuda itu sudah lama pergi dari sini."
"Aku tak perduli mereka sudah pergi atau belum, yang ingin kulihat adalah gedung To leng tian itu."
"Biar aku menjadi penunjuk jalan"
Seru Hian hoat tojin tanpa ragu-ragu.
Tak lama kemudian sampailah mereka didepan gedung To leng tian, Hian hoat tojin segera membuka pintu lebar-lebar dan berdiri menanti disamping.
Dengan langkah berhati-hati Phu sian sangjin melangkah masuk kedalam ruangan itu, tampak ditengah meja altar tergantung gambar dari To leng, sebuah lentera minyak tergantung disisinya.
Kecuali dibagian muka dan belakang masing-masing terdapat sebuah pintu, jendela di dinding sebelah kiri dan kanan berada dalam keadaan tertutup rapat.
Dengan sorot mata yang tajam Phu sian sangjin memperhatikan sekejap keadaan sekeliling tempat itu, mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.
Hian hoat tojin segera berkata diiringi senyuman yang tidak leluasa.
"Berhubung jemaah yang sembahyang di kuil kami pada siang hari terlalu banyak dan ramai sehingga suasananya amat hiruk pikuk. maka Peksicu itu."
Namun sebelum perkataan itu selesai diucapkan, tanpa berpaling sama sekali Phu sian sangjin membentak secara tiba-tiba .
"sute, cepat bekuk kedua orang tosu tersebut"
Hwee cuncu sama sekali tidak berayal, begitu mendapat perintah ia segera turun tangan dan secepat kilat melancarkan dua buah totokan dahsyat.
Hian hoat tojin menjadi amat terperanjat, namun sebelum ia sempat mengambil suat tindakan, desingan angin jari dari Hwee cuncu telah menghajar dadanya dengan tepat, seketika itu juga tubuhnya roboh terjengkang keatas tanah.
Nasib yang dialami tosu setengah umur yang membukakan pintu gerbang pun tak jauh berbeda, dia berubah menjadi patung yang kaku dan tergeletak diatas tanah.
setelah kedua orang itu berhasil dirobohkan, Phu sian sangjin baru berpaling kearah Beng Gi ciu seraya bertanya .
"Apakah Beng li sicu pernah melakukan pemeriksaan atas ruangan gedung ini?^"
"Akupun hanya melongok sekejap dari sisi pintu, dalam gedung ini kecuali meja altar tersebut sama sekali tiada benda yang lain, apa pula yang harus kuperiksa dengan seksama?"
Dengan suara dalam dan berat Phu sian sangjin sebera berseru .
"Untung sekali li sicu tak masuk kedalam ruangan ini kalau tidak."
Sambil memuji keagungan Buddha, dia pun menutup mulutnya kembali rapat-rapat.
"Kalau tidak bisa kenapa?"
Tanya Beng Gi ciu ingin tahu. Phu sian sangjin tertawa ringan.
"Apakah Beng li sicu pernah mempelajari soal ilmu alat rahasia atau alat perangkap serta lain sebagainya."
"sama sekali tidak pernah"
Tukas si nona sambil tertawa.
"mungkin lo siansu pun seharusnya tahu, tiga dewa see gwa sam sian tidak pernah mempelajari ilmu kepandaian semacam itu."
"Biarpun kepandaian tersebut hanya terhitung ilmu sampingan, kadang kala justru kepandaian semacam inilah yang sering membunuh orang secara keji dan luar biasa."
"Waaah, kalau begitu ruangan ini pasti telah dilengkapi dengan alat rahasia serta alat perangkap yang sangat lihai dan mengerikan hati?"
Phu sian sangjin manggut-manggut.
"Bukan cuma ada, bahkan telah dilengkapi dengan jebakan api Lei kiong hwee cing yang paling hebat dan luar biasa, bahkan pemasangan yang mereka lakukan pun betul-betul kelewat keji"
Kemudian setelah memperhatikan sekejap kedua orang tosu yang telah tertotok jalan darahnya itu, dia berkata lagi .
"Justru disinilah terletak alasanku mengapa kuturunkan perintah untuk membekuk kedua orang tosu tersebut, mungkin mereka sudah terlalu banyak melakukan perbuatan keji dan tak berprikemanusiaan ditempat ini"
"Lo siansu tak bakal salah melihat bukan"
Tanya Beng Gi ciu setengah percaya setengah tidak. Phu sian sangjin tertawa.
"Aku akan segera membuktikannya dihadapan Beng li sicu."
Ujung bajunya segera dikebaskan kedepan, segulung angin pukulan yang maha dahsyat cun sebera menggulung kedepan dengan sangat hebatnya.
Angin pukulan yang maha dahsyat itu langsung menghantam kasur duduk yang terletak didepan meja altar.
Blaaammm Ditengah suara benturan yang amat keras, kasur tersebut terhantam hingga tergetar keras.
Tapi dengan bergetarnya kasur duduk itu, mendadak seluruh ruangan gedung To leng tian ikut berguncang keras bahkan diiringi suara yang amat memekikkan telinga, sebagian besar dari ruangan tersebut amblas dan tenggelam kedasar perut bumi, dalam waktu singkat ruangan tersebut telah lenyap dibalik tanah, sementara permukaan tanah pun merepat kembali seperti sedia kala.
Tak terlukiskan rasa terkejut Beng Gi ciu setelah menyaksikan peristiwa itu, serunya sambil menggigit bibir .
"Benar-benar sebuah alat jebakan yang sangat lihai"
Phu sian sangjin terus tertawa.
"adahal kelihaian dari alat perangkap ini tak sampai disitu saja.."
Belum selesai ucapan itu diucapkan, terdengar suara gemuruh yang amat keras bergema dari bawah tanah sana.
suara tersebut amat keras dan sangat menusuk pendengaran, malah seluruh permukaan tanah pun turut bergetar keras.
Menyusul kemudian muncul segulung gelombang panas yang suhu udaranya makin lama semakin bertambah tinggi, begitu panasnya suasana disitu sehingga tanpa terasa Beng Gi ciu mundur berulang kali kebelakang.
Phu sian sangjin segera berkata .
"Tatkala seorang sudah terperangkap didalam jebakan dibawah tanah tersebut, maka kobaran api yang maha dahsyat dan sanggup melelehkan besi baja akan menyembur serta membakarnya hingga hancur menjadi abu. Dalam keadaan begini, jangan lagi manusia biasa, biarpun dewa atau malaikat juga akan terbakar hancur menjadi abu. Bisa Beng li sicu bayangkan betapa keji dan luar biasanya alat perangkap tersebut"
Sambil menggertak gigi, Beng Gi ciu sebera berkata .
"Benar-benar sangat berbahaya, alat perangkap semacam ini tentunya bukan dipasang sebuah tempat saja bukan? Dan bagaimana lo siansu bisa tahu?"
Phu sian sangjin mengangguk dan berkata.
"tapi biarpun partai kami belum terhitung lihai dalam ilmu perangkap serta alat jebakan, namun aku yakin tiada alat jebakan atau alat rahasia lain yang dapat lolos dari penglihatanku"
Sementara pembicaraan masih berlangsung suara goncangan dibawah tanah makin lama telah makin mereda sebelum akhirnya berhenti sama sekali, suhu panas yang menyengatpun makin berkurang hingga akhirnya mendingin.
suasana hening dan sepi yang luar biasa mencekam daerah sekeliling tempat itu.
Dengan sorot mata yang tajam Beng Gi ciu mencoba untuk memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, kemudian tanyanya keheranan .
"sejak kita masuk kedalam kuil sampai alat rahasia itu mulai bekerja dengan menimbulkan suara gemuruh yang memekakkan telinga, mengapa tak Nampak seorang tosu pun yang datang kemari?"
"Yaa betul, kali ini benar-benar dicekam keheningan yang sangat aneh dan mencurigakan,"
Sambung siau wan.
"Padahal tiada sesuatu yang perlu diherankan,"
Kata Phu sian sangjin kemudian.
"oleh karena mereka telah menduga bakal ada musuh yang menyerang kuil mereka, mungkin saja mereka telah merencanakan ini dengan baik serta cara untuk menanggulanginya, meski kita telah berhasil merusak salah satu alat perangkapnya, mereka toh masih mempunyai alat perangkap kedua, ketiga dan seterusnya untuk menunggu kita masuk perangkap, lantas buat apa mereka harus munculkan diri disini?"
"Menurut lo siansu, apa yang harus kita lakukan sekarang? "
Tanya Beng Gi ciu sambil berkerut kening. Phu sian sangjin tertawa hambar.
"Aku rasa paling tidak Hian hoat tojin masih terhitung seorang jago kelas satu dari kuil Hian thian koan, jadi tidak salah buat kita untuk mendapatkan pengakuan dari mulutnya."
Ujung bajunya segera dikebaskan, segulung desingan angin jari segera menyebar kedepan dan membebaskan tosu tersebut dari pengaruh totokan jalan darah.
Begitu jalan darahnya bebas, Hian hoat tojin segera meronta bangun dan berusaha melarikan diri Melihat itu Phu sian sangjin tertawa terbahak-bahak, ujung jubahnya segera diputar sambil menggulung.
Terasalah segulung tenaga pukulan berpusing menyapu kedepan dan menggulung tubuh Hian hoat tojin hingga tak sanggup berdiri tegak lagi, ia segera roboh telungkup tepat didepan kaki Phu sian sangjin.
setelah mendengus dingin, Phu sian sangjin berkata .
"Bila aku membiarkan kau lolos dari sini, kedudukanku sebagai ketua siau limpay harus kuserahkan pula kepada orang lain"
Hian hoat tojin sadar kalau tiada harapan lagi baginya untuk meloloskan diri, matanya dipejamkan rapat-rapat dan mendekam diatas tanah tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Kembali Phu sian sangjin sengaja menghardik.
"Walaupun aku terhitung masih merupakan murid Buddha yang tak boleh sembarangan melakukan pembunuhan, namun disaat aku bisa membunuh seorang untuk menyelamatkan jiwa seratus jiwa, aku pun tak akan ragu-ragu untuk mengayunkan golok serta menjagalmu, mengerti?"
"Kalau ingin membunuh silahkan membunuh, jangan dianggap aku takut mati"
Teriak Hian hoat tojin sambil menggigit bibir.
Telapak tangannya segera diayunkan dan siap dihantamkan keatas ubun-ubun sendiri Hwee cuncu yang menjaga disisinya segera bertindak cepat dengan menotok kembali dua buah jalan arahnya, setelah itu hardiknya dengan suara dalam .
"Hmmm, pingin mampus? Tak akan segampang itu"
Ternyata kedua buah totokan tersebut dengan tepat sekali menyumbat jalan darah cian keng hiat dibahu kiri dan kanannya.
"omitohud.."
Phu sian sangjin kembali berkata.
"baiklah, kalau roh dia lebih suka mati daripada mengaku terpaksa kita akan memaksanya untuk membuka suara dengan cara menyiksanya ."
Hwee cuncu berpikir sebentar, lalu serunya .
"Bagaimana kalau kita menggunakan ilmu menutup nadi memotong urat untuk memaksanya mengaku berbicara?"
Phu sian sangjin tertawa hambar .
"Asal bisa memaksanya untuk berbicara, terus terang cara apapun bisa kita halalkan."
Hwee cuncu tidak berayal lagi, dia segera mendekati Hiat hoan tojin lalu bentaknya .
"Tosu tua kau benar-benar enggan menjawab"
Sambil menggertak giginya kencang-kencang, Hian hoat tojin membungkam diri dalam seribu bahasa.
Hwee cuncu tertawa dingin, kelima jari tangannya segera disentilkan kedepan, kemudian secara terpisah dia mengetuk tiga kali tulang iga kiri dan kanan tosu tersebut.
Hian hoat tojin sama sekali tidak mengeluh atau mengerang kesakitan, akan tetapi sekujur badannya kelihatan gemetar keras, giginya saling beradu keras dan peluh dingin sebesar kacang kedele bercucuran membasah, jidatnya.
Lebih kurang sepeminuman teh kemudian, Phu sian sangjin berseru pelan.
"Aku rasa sudah cukup,"
Hwee cuncu mengiakan, dengan cepat dia melakukan gerakan mengurut diatas tulang iga kiri dan kanan tosu tersebut.
Lambat laun Hian hoat tojin tidak gemetar lagi, namun nafasnya justru ngos-ngosan seperti dengusan nafas kerbau, dengan suara yang samar dan tak jelas ia berteriak .
"Bunuhlah diriku, kumohon kepada kalian cepatlah bunuh aku.."
Hwee cuncu sebera mendengus dingin .
"Bukankah sejak tadi telah kukatakan kepadamu, mencari matipun bukan suatu pekerjaan yang mudah nah, katakan saja, sebetulnya kau bersedia mengaku atau tidak"
Sambil menggertak gigi kembali Hian hoat tojin membungkam diri dalam seribu bahasa.
"Itu mah gampang sekali"
Jengek Hwee cuncu kemudian sambil tertawa dingin.
"tak salahnya kalau kita mencoba sekali lagi, mungkin kalau ini kau akan berubah pendirianmu."
Kelima jarinya sebera digetarkan lagi, dia hendak mengetuk tulang iga tosu tersebut.
Namun ilmu menyumbat nadi memotong urat betul-betul sebuah siksaan yang luar biasa hebatnya dan sukar ditahan oleh siapapun, cepat-cepat Hian hoat tojin berteriak keras .
"Tunggu dulu, tunggu dulu"
"Nah, cepat katakana, bagaimana keputusanmu?"
Kata Hwee cuncu sambil menghentikan gerakan tangannya. Hian hoat tojin menghela napas panjang.
"Aaai baiklah, aku akan berbicara."
"Nah begitulah baru terhitung tindakan orang yang pandai, sekarang kau boleh berbicara pelan-pelan."
Sambil berpaling kearah Phu sian sangjin, katanya kemudian.
"silahkan ciangbun suheng mulai memeriksanya"
Phu sian sangjin manggut-manggut, tanyanya kemudian ."
Sebenarnya koancu kalian berada didalam kuil atau tidak?"
"Aku tidak tahu"
Jawab Hian hoat tojin sambil menghela napas. Mendengar jawaban tersebut, Hwee cuncu kembali bersiap-siap dengan kelima jarinya, ia membentak .
"siluman tosu bau, licik amat akalmu, rupanya sebelum kusuruh kau merasakan siksaan serta penderitaan yang paling hebat mungkin kau enggan menjawab sejujurnya"
Sambil berkata lagi laGi dia berniat mengetuk tulang iganya. Tapi Hian hoat tojin telah menjerit lebih dulu .
"Tunggu dulu Hud ya"
"Hmmm, jika kau berani berbohong lagi jangan salahkan kalau aku pun tak akan sungkan-sungkan."
Hian hoat tojin menghela napas panjang.
"Maksudku walaupun dia berada didalam kuil namun berada dimanakah dia sekarang aku sungguh-sungguh tidak tahu."
"Lalu sebetulnya dia berada dimana?"
"Didalam ruang bawah tanah didasar peti mati, namun ruang rahasia tersebut mempunyai sebuah lorong jalan tembus langsung berhubungan dengan punggung bukit, andaikata ia menyadari kalau gelagat tidak menguntungkan mungkin saja dia kabur melewati tempat itu."
"Lantas kemanakah perginya kakek berambut putih serta Kho Beng?"
"Mereka pun berada didalam ruang rahasia."
Beng Gi ciu menjadi sangat terperanjat, tak tahan lagi dia menimbrung dari samping.
"Lo siansu, kalau toh dalam ruang rahasia , bisa jadi mereka telah membawa kabur Kho kongcu dari tempat tersebut?"
"Beng li sicu tak usah kuatir,"
Kata Phu sian sangjin sambil tertawa lebar.
"dalam perjalananku meninggalkan bukit siong san kali ini , selain lima rasul panca unsur turut bersamaku, akupun membawa serta enam puluh orang pendeta sakti yang kini telah menyebarkan diri disekeliling bukit Wang husan.Asal mereka belum keluar dari sini, aku percaya tak nanti mereka bisa lolos d ari pengawasan anggota pendeta siau limpay kami."
Beng Gi ciu segera menghembuskan napas panjang, serunya tanpa sadar .
"Kalau begitu aku harus berterima kasih sekali kepada lo siansu"
Agaknya Phu sian sangjin sudah mengetahui hubungan gadis tersebut dengan Kho Beng dilihat dari sikap dan nada pembicaraannya yang gelisah dan tak tenang tanpa terasa tersenyum.
Kontan saja paras muka Beng Gi ciu berubah menjadi semu merah karena jengah.
setelah menarik wajahnya Phu sian sangjin segera membentak lagi kearah Hian hoat tojin .
"Betulkah kakek berambut putih itu mengobati luka beracun dari Kho Beng."
Kembali Hian hoat tojin menghela napas.
"Aaaai,,,setelah aku berbicara terus terang rasanya tiada rahasia yang bisa mengelabui lo siansu lagi, sebetulnya racun Ang bong tok yang diderita Kho sauhiap tak lain adalah ulah dari kakek berambut putih itu sendiri."
"Hmmm, kalau itu mah aku sudah tahu"
Tukas Beng Gi ciu sambil mendengus. Dengan keheranan Hwee cuncu segera menyela .
"Beng li sicu, kalau toh sudah mengetahui hal ini, mengapa kau biarkan dia membawa pergi Kho Beng?"
Beng Gi ciu segera menghela napas panjang.
"Aaaai, hal ini disebabkan aku tak mengerti ilmu pertabiban, andaikata aku menahan Kho kongcu kemudian berakibat dia mati keracunan, bukankah.bukankah...iaaaai?"
Sekali lagi dia menghela napas panjang dan menutup mulut. Phu sian sangjin segera berpaling kembali kearah Hian hoat tojin seraya membentak .
"Lanjutkan perkataanmu"
"Kakek berambut putih itu sudah lama tertarik dengan Kho sauhiap. sebab selain berilmu tinggi diapun sudah menguasai ilmu silat yang tercantum dalam kitab Thian goan bu boh, maka dengan mengandalkan ilmu beracun Im ham tok kang ia berhasil merubah Kho sauhiap menjadi se seorang yang lain."
"Ilmu beracun Ha im tok kang? omitohud"
Seru Phu sian sangjin cepat.
"benar-benar suatu maksud tujuan yang sangat keji dan tak berperi kemanusiaan, walaupun aku sudah mendengar kalau si setan tua dari Lam ciang adalah manusia busuk. namun belum pernah kusangka kalau dia sebetulnya adalah manusia buas yang berhati sekeji ini"
Beng Gi ciu yang berada disisinya buru-buru bertanya .
"sebetulnya ilmu macam apakah ilmu racun Im ham tok kang tersebut?"
Dengan suara dalam Phu sian sangjin berkata .
"Kepandaian itu merupakan sejenis ilmu beracun yang sangat jahat dari wilayah Lam ciang. Dengan menggunakan tiga jenis kekuatan yang sesat yang mengandung hawa dingin beracun, mereka bisa merubah watak seseorang yang berilmu tinggi menjadi orang yang bewatak sesuai dengan kehendak hati mereka. Biasanya orang yang dirubah olehnya dengan menggunakan ilmu beracun tersebut bukan saja watak aslinya akan hilang, kejadian dimasa lampau terlupakan sama sekali, namun tenaga dalam yang dimilikinya justru akan meningkat menjadi sepuluh kali lipat lebih dahsyat."
Setelah berhenti sejenak, kembali ia berkata .
"Jelas sudah sekarang, rupanya si setan tua dari Lam ciang telah bersekongkol dengan pemilik kuil Hian thian koan ini untuk menciptakan seorang tokoh sakti yang bisa mengobrak abrik dunia persilatan serta menguasai seluruh jagat. Benar-benar sebuah rencana yang amat keji"
Lo siansu,Beng Gi ciu segera berkata .
"menurut pandanganku, lebih baik kita berangkat dulu keruang rahasia dibawah tanah untuk menolong orang terlebih dahulu."
"Betul"
Sambil tertawa ketua siau lim pay ini mengangguk. Kepada Hian hoat tojin segera bentaknya .
"Ayo cepat bangun dan tunjukkan jalan buatjalan kami"
Hian hoat tojin tak berani membantah, sambil meronta untuk bangun berdiri, katanya .
"Lo siansu, dapatkah kau membebaskan dulu jalan darahku?"
"Tentu saja boleh"
Sahut Phu sian sangjin sambil tersenyum.
"Cuma kau mesti ingat, apabila mencoba melarikan diri atau mengacau ditengah jalan, kau bakal mendapat sebuah akhir yang amat tragis dan mengerikan hati"
Berbicara sampai disitu, ia segera menyentilkan jari tangannya dan membebaskan jalan darah cian keng hiat dibahu kiri kanangnya yang tertotok.
setelah bebas dari totokan, Hian hoat tojin menggerak-gerakkan dulu sepasang tangannya, kemudian katanya sambil menghela napas .
"Apakah lo siansu hendak berkunjung keruang rahasia dibawah peti mati?"
"Bila apa yang kau ungkap adalah jujur, tentu saja kami harus berkunjung kesana"
Hian hoat tojin tidak banyak berbicara lagi, ia segera beranjak meninggalkan tempat tersebut.
Tak selang berapa saat kemudian, rombongan tersebut telah berjalan masuk kebawah peti mati.
sambil menghentikan langkahnya dan mendengus dingin, Phu sian sangjin segera berkata "Ditempat ini bukan saja terdapat ruang rahasia dan lorong bawah tanah, masih ada tiga buah alat perangkap yang sangat lihai."
"Ketajaman mata lo siansu betul-betul mengagumkan,"
Cepatcepat Hian hoat tojin berseru.
"namun ketiga buah alat perangkap itu tak akan digerakkan secara sembarangan. Bersambung ke
Jilid 34
Jilid 34 Phu sian sangjin tidak menggubris, dia melangkah masuk lebih dulu kedalam ruangan, lalu setelah memandang sekejap kearah lima buah peti mati yang berjajar-jajar itu, sambil tertawa dingin dia mengayunkan telapak tangannya dan menghantam salah satu peti mati tersebut.
Blaaaammm Ditengah benturan yang sangat keras, peti mati itu seketika hancur berantakan dan berceceran keempat penjuru.
Dengan hancurnya peti mati tersebut, maka muncullah sebuah jalan rahasia dibawah tanah.
Tanpa ragu sedikitpun, Phu sian sangjin langsung berjalan menuruni jalan rahasia tersebut.
Begitu sampai didalam ruang bawah tanah, semua orang segera dibuat tertegun, ternyata meja altar ditengah ruangan sudah terbalik, pintu menuju kearah tiga buah ruang rahasia lain pun berada dalam keadaan terbuka lebar, selain meja kursi yang berada dalam keadaan hancur, disitupun membujur dua sosok mayat wanita.
Dari kedua sosok mayat tersebut, seorang berusia empat puluhan tahun, berbaju berkabung sedang yang lain adalah seorang dayang yang masih muda.
Beng GI Ciu memperhatikan sekejap kedua sosok mayat wanita itu, tiba-tiba katanya .
"Aaaaah, seorang masih hidup."
Tanpa membuang waktu lagi dia menempel telapak tangannya diatas jalan darah Ki hay hiat ditubuh perempuan setengah umur itu dan menyalurkan hawa murninya kedalam tubuh orang itu.
Tak lama kemudian terdengar perempuan itu merintih, lalu sadar kembali dari pingsannya.
Dengan cepat Beng Gi ciu menambahi tenaga dalamnya dengan satu bagian, serunya .
"Bagaimana rasamu sekarang?"
Perempuan setengah umur itu memandang sekejap sekeliling tempat itu, lalu gumamnya .
"Tempat ini. .tempat ini bukan akhirat bukan?"
"Bukan"
Sahut Beng Gi ciu sambil tertawa paksa.
"Kau masih hidup didunia ini, sedang ia siansu itu adalah ketua siau lim pay, aku sendiri dari marga Beng, kami datang untuk menolongmu."
Dalam pada itu Phu sian sangjin telah mengeluarkan sebutir pil berwarna putih dan diserahkan kepada Beng Gi ciu seraya berkata .
"Pil ini adalah pil penyambung nyawa sio mia pisia wan dari partai kami, tolong Beng li sicu berikan kepadanya"
Buru-buru Beng Gi ciu menerimanya serta dijejalkan kedalam mulut perempuan setengah umur itu.
Nyata sekali kasiat pil itu, tak lama kemudian kesegaran dan semangat perempuan itu pun jauh lebih baik.
setelah menghembus napas panjang, tiba-tiba perempuan itu menengok kearah mayat dayang tersebut sambil jeritnya kaget .
"ciu leng ciu leng.."
"Tak usah dipanggil lagi, dia telah tewas"
Kata Beng Gi ciu sedih. Perempuan itu segera menangis tersedu-sedu, keluhnya .
"Bocah yang mengenaskan. .kau. kau mati dalam keadaan yang sungguh mengenaskan."
Cepat-cepat Beng Gi ciu menghiburnya, kemudian dengan nada amat gelisah dia berkata .
"sebenarnya apa yang telah terjadi disini? Bukankah ada seorang Kho kongcu yang telah disekap orang jahat yang bernama setan tua dari Lam ciang dan dibawa kemari? Tahukah kau kemanakah mereka telah pergi? Perempuan setengah umur itu menganggukkan kepalanya berulang kali, sahutnya .
"Aku tahu. Kho kongcu telah diculik mereka, dengan ilmu beracun Ham im tok kang mereka bermaksud merubahnya menjadi seseorang yang lain, akulah yang menyuruh ciu leng secara diamdiam menghadiahkan sebutir pil anti racun hawa dingin kepadanya sehingga membuat Kho sauhiap mendapatkan kembali kesadarannya, tapi.."
Tiba-tiba napasnya tersengal sehingga tak sanggup melanjutkan kembali kata-katanya. Beng Gi ciu menunggu sampai napasnya menjadi reda kembali, kemudian baru bertanya dengan nada cemas .
"Tapi kenapa?"
"Tapi perbuatanku segera diketahui iblis tua tersebut, akibatnya kami berdua.kami berdua sama-sama dicelakainya."
Sesudah memandang sejenak sekeliling ruangan, kembali dia berkata lebih jauh .
"Kho kongcu telah dibawa keluar oleh setan tua dari Lam ciang serta Hian thian si tosu tua itu melalui lorong rahasia"
Dengan nada gelisah Beng Gi ciu segera berseru kepada Phu sian sangjin .
"Lo siansu, apa. apa yang mesti kita perbuat sekarang?"
Phu sian sangjin segera berpaling kearah Hian hoat tojin yang berdiri ketakutan ditepi arena, kemudian bentaknya .
"Apakah lorong rahasia tersebut tembus langsung ke punggung bukit?"
"Benar, pinto tak berani berbohong"
Phu sian sangjin segera manggut-manggut, katanya lagi .
"Beng li sicu tak usah kuatir, aku jamin mereka tak akan berhasil meloloskan diri dari kepungan para pendeta siau lim pay dan kujamin Kho Beng pasti dapat lolos dari ancaman maut secara aman dan selamat."
Kemudian sambil berpaling serunya .
"sute"
"silahkan ciangbun suheng memberikan perintah"
Buru-buru Hwee cuncu memberi hormat.
"Kuminta bantuanmu untuk segera menolong Kho Beng, soal lain tunggu pemberitahuanku selanjutnya."
"Terima perintah"
Setelah memberi hormat, Hwee cuncu segera meninggalkan tempat tersebut dengan langkah lebar.
"omitohud.."
Phu sian sangjin berkata kemudian.
"kalau begitu suara jerit kesakitan yang kami dengar tadi sudah pasti berasal dari li sicu berdua sekarang, dapatkah kau mengisahkan pengalamanmu kepada kami?"
Dengan rasa amat berterima kasih perempuan itu menjawab .
"Aku hanya memohon kepada lo siansu agar bersedia membalaskan dendam bagi kematian kami berdua."
"Kau tak usah kuatir, kami pasti akan berusaha membalaskan dendam"
Kata Phu sian sangjin sedikit agak emosi.
"kalau tidak, apa artinya aku menjadi pimpinan dari tujuh partai besar?"
Perempuan setengah umur itu segera menghembuskan napas panjang.
"Aku bernama Yu si hoat , sedang suamiku bernama Tam Cun hoo."
"Tunggu sebentar"
Mendadak Phu sian sangjin menggoyangkan tangannya.
Yusi hoat tertegun dan terpaksa mengurungkan niatnya untuk melanjutkan pembicaraan.
Dengan kening berkerut kencang, Phu sian sangjin segera bergumam seorang diri .
"Tam Cun hoo..apakah kau maksudkan si Tabib sakti dari Tiong ciu, Tam sicu?"
"Yaa, dia adalah suamiku, apakah lo siansu."
Phu sian sangjin menghela napas panjang.
"Aaaaai.dua puluh tahun berselang, aku pernah bertemu dengan Tam sicu bahkan sempat bermain catur sambil minum arak, sayang selama dua puluh tahun terakhir kami tak berjodoh untuk bertemu kembali, dia."
Dengan air mata bercucuran, Yu si hoat berkata .
"Ia telah dicelakai Hian thian koancu hingga tewas"
Setelah menahan isak tangisnya , kembali ia meneruskan katakatanya .
"suamiku almarhum adalah seorang yang termashur karena kepintarannya dalam ilmu pertabiban, rupanya Hian thian siluman tosu itu berniat memakai tenaganya untuk melakukan kejahatan, suamiku bersumpah tidak mau menurut. Maka bajingan itupun menculik aku dan dayangku serta menyekapnya disini, dia menyandera kami serta memaksa suamiku agar menuruti kemauannya, tapi suamiku tetap menolak. Suatu hari suamiku melihat ada kesempatan baik untuk membunuh siluman tosu Hian thian, siapa tahu usahanya bukan cuma gagal total, nyawanya sendiripun turut melayang ditangan siluman tersebut"
Berbicara sampai disini, kembali dia menangis tersedu-sedu.
"Bagaimana selanjutnya?"
Tanya Beng Gi ciu menunjukkan rasa simpatinya.
"apakah mereka tetap menyekapmu didalam kuil?"
Sambil menggigit bibir menahan rasa benci yang meluap Yu si hoat berkata lagi .
"siluman Hian thian telah .tela h memperkosaku, ia menyekap kami berdua didalam ruang bawah tanah, sama sekali tiada kebebasan buat kami berdua."
Dengan kening berkerut dan emosi yang meluap, Beng Gi ciu segera berteriak .
"Aku Beng Gi ciu bersumpah, kalau tak dapat menguliti tubuh Hian thian tosu siluman serta setan tua dari Lam ciang, aku tak akan hidup sebagai manusia layak"
Yu si hoat tertawa getir.
"Aku mengucapkan banyak terima kasih atas kesediaan lihiap untuk membasmi bajingan itu dari muka bumi, meski aku sudah berada diaLam baka aku bakal mati dengan mata meram."
Dengan kening berkerut, tiba-tiba Phu sian sangjin menyela .
"Yu sicu, tahukah kau apa hubungan antara tosu siluman Hian thian dengan partai kupu-kupu?"
"Aku. .aku tak pernah mendengar tentang partai kupu-kupu. aku..aku hanya tahu Hian thian si tosu siluman itu hendak.hendak bekerja sama dengan setan..setan tua dari Lam ciang untuk. .untuk menguasai jagat.."
Dengan semakin menyusutnya kasiat obat yang ditelah, lambat laun kesadaran perempuan itu makin memudar, kini ia sudah berada diambang pintu kematian, Dengan wajah gelisah Beng Gi ciu berkata kepada Phu sian sangjin .
"Lo siansu, apakah kau masih mempunyai obat lain yang bisa menyelamatkan jiwanya?"
"omitohud, aku adalah murid Buddha yang mengutamakan cinta kasih terhadap sesama dan menolong setiap orang yang membutuhkan bantuan andaikata aku sanggup menolongnya, masa aku akan berpeluk tangan belaka."
Kemudian setelah menghembuskan nafas panjang, pelan-pelan dia berkata lagi .
"Denyut jantungnya sudah melemah, nadinya telah terputus, kalau tadi ia masih sadar karena rasa gusar dan penasaran masih menyelimuti dadanya, kini ada orang menyatakan kesediaannya untuk membalaskan dendam, berarti keinginannya telah tercapai, dengan sendirinya hawa murni yang terkumpul pun ikut membuyar, nyawanya sekarang sudah siap meninggalkan raga kasarnya."
Sementara pembicaraan berlangsung, benar juga, kepala Yu si hoat Nampak terkulai kesamping dan memejamkan mata untuk selamanya, ternyata ia telah menghembuskan napasnya yang penghabisan.
Beng Gi ciu penuh dicekam emosi yang meluap, katanya tiba-tiba sambil menghela napas "Aaaai, mengapa kita lupa bertanya siapa yang telah membunuh mereka berdua?"
"Ditanya atau tidak bukan masalah, yang pasti perbuatan ini kalau bukan hasil karya Hian thian si tosu siluman sudah pasti setan tua dari Lam ciang, pokoknya kedua orang itu harus dibasmi dari muka bumi, sebab mereka adalah manusia-manusia jahanam yang berhati keji."
Setelah berhenti sejenak, kembali katanya .
"Tak ada gunanya kita berdiam terus disini, mari kita berangkat"
Beng Gi ciu memandang sekejap sekitar tempat itu, lalu katanya .
"Aku rasa masih banyak urusan yang harus kita kerjakan disini, misalkan saja mengurusi lelayon mereka berdua, lalu mengurusi para tosu penghuni kuil ini."
Phu sian sangjin manggut-manggut .
"Persoalan semacam ini tak mungkin bisa diselesaikan dalam waktu singkat, sebentar aku akan mengirim anak buahku untuk mengurusi semua masalah disini."
Lalu kepada Hian hoat tojin yang berdiri ketakutan disisinya, ia membentak .
"Lorong rahasia itu terletak dimana?"
"Itu dia, berada disisi kiri ruang rahasia tersebut,"
Buru-buru Hian hoat tojin menunjuk kemuka. Phu sian sangjin berpikir sebentar, lalu katanya .
"Untuk mempersingkat waktu, lebih baik kita menelusuri lorong rahasia tersebut."
Beng Gi ciu mengangguk tanpa menjawab, maka dibawah bentakan phu sian sangjin, berangkatlah Hian hoat tojin memasuki ruang rahasia sebelah kiri untuk bertindak sebagai penunjuk jalan.
sebelum melangkah masuk kedalam ruangan, phu sian sangjin memutar biji matanya dulu mengawasi sekeliling tempat itu, tampaknya dia sedang memeriksa apakah disekitar sana masih terdapat perlengkapan alat rahasia yang lain.
Namun dari senyuman lega yang menghiasi wajahnya kemudian, dapat diketahui bahwa ia telah mmeriksa dengan amat jelas keadaan diseputar sana dan merasa yakin kalau tiada ancaman bahaya yang mungkin mereka hadapi.
Beng Gi ciu serta siau wan mengikuti dibelakang Phu sian sangjin, mereka berjalan cepat memasuki lorong.
Tampak Hian hoat tojin menekan sebuah tombol rahasia, lalu terbukalah sebuah pintu rahasia disisi ruangan tersebut.
Dinding bagian atas dan bawah lorong rahasia tersebut terbuat dari lapisan batu rata, selain lebar dan luas juga amat licin, bisa diduga entah berapa besar biaya, tenaga dan waktu yang telah dihabiskan untuk membangun lorong ini.
Lorong tersebut berliku-liku naik turun tidak menentu, setelah berjalan sejauh tiga li lebih, keadaan didepan situ baru Nampak terbentang lebar dan sampailah diujung lorong tersebut.
Dimulut keluar lorong rahasia itu terbentang sebuah hutan yang lebat, suasana amat redup, namun kelihatan sekelompok manusia mengelilingi sekitar tempat itu dengan rapat.
Sebagai pemimpin dari rombongan itu ternyata tak lain adalah Hwee cuncu sendiri, sementara yang lain terdiri dari dua puluhan pendeta siau lim pay yang rata-rata berusia enam puluhan tahun, bermata tajam dan mempunyai gerak gerik yang lincah dan cekatan, dalam sekilas pandangan saja dapat diketahui bahwa mereka adalah sekawanan jago silat yang memiliki tenaga dalam amat sempurna.
sewaktu Phu sian sangjin munculkan diri dari balik lorong, dipimpin oleh Hwee cuncu serentak para pendeta itu memberi hormat seraya berbisik .
"Menjumpai ciangbunjin"
"Apakah orangnya berhasil dihadang?"
Tanya Phu sian sangjin agak gelisah.
"orangnya sih berhasil dihadang, tapi.."
Beng Gi ciu segera merasakan jantungnya hampir copot, mendengar perkataan tersebut, buru-buru dia bertanya .
"Tapi kenapa? Lo siansu, cepat katakan"
Hwee cuncu mengerling sekejap kearahnya, kemudian menjawab .
"Kho sicu berada dalam keadaan sehat walafiat, Cuma hawa murninya belum pulih kembali sehingga keadaannya masih sangat lemah, tapi bila dirawat lukanya selama berapa hari, aku percaya kondisi badannya akan pulih kembali dalam waktu singkat, hanya sayang si setan tua dari Lam ciang memiliki kepandaian silat yang tangguh, terutama ilmu meringankan tubuhnya yang amat sempurna, ia ia berhasil kabur dari sini."
Biarpun dia bisa melarikan diri sampai keujung langit pun, cepat atau lambat akhirnya pasti akan tertangkap juga, kita tak usah terlalu panik dalam hal inibagaimana dengan Hian thian si tosu siluman itu?
"Ia telah tewas karena kesalahan tanganku"
Buru-buru Hwee cuncu menjelaskan.
"Waaah sebetuinya aku telah bersumpah akan menguliti tubuhnya, sekarang dia sudah mampus, keenakan baginya."
Omel Beng Gi ciu.
"Kalau toh orangnya sudah mampus, ya itu anggap selesai saja persoalan ini."
Kata Phu sian sangjin.
"mana Kho sicu?"
"Dia berada diatas batu cadas disebelah sana"
Sahut Hwee cuncu sambil menunjuk kedepan.
sebetulnya persoalan inilah yang ingin diketahui Beng Gi ciu secepatnya, maka tanpa banyak berbicara lagi bersama siau wan buru-buru ia berangkat kesana.
Benar juga, lebih kurang dua puluh kaki didepan sana terdapat sebuah batu cadas yang besar, diatas batu inilah Kho Beng yang kelihatan agak kurus berbaring tak bergerak, disisinya berdiri empat orang pendeta tua berbaju kuning yang siap berjaga-jaga, sementara tak jauh dari situ berbaring sesosok mayat tosu tua.
Beng Gi ciu tahu, mayat tersebut tentu mayat dari Hian thian siluman tosu tersebut, tapi ia tak punya waktu untuk memperhatikan hal-hal semacam ini.
sambil mendekati Kho Beng yang berbaring diatas batu, segera serunya lirih .
"Kho kongcu, Kho kongcu"
Dengan sorot mata yang sayu namun penuh luapan rasa terima kasih, Kho Beng mengawasi gadis tersebut, bibirnya tampak bergerak seperti hendak mengucapkan sesuatu namun tak sepatah katapun yang diucapkan keluar, jelas sudah kondisi badannya telah berubah menjadi sedemikian lemahnya sehingga untuk bicarapun tak mampu lagi.
Dengan penuh rasa iba Beng Gi ciu segera berbisik .
"Kau jangan berbicara dulu, beristirahatlah dengan tenang, kalau hendak berbincang-bincang tunggu sampai badanmu puluh seperti sedia kala."
Berbicara sampai disitu, ia segera melepaskan sekulum senyuman penuh rasa cinta kepadanya.
Mendadak terdengar suara pujian kepada sang Buddha bergema memecahkan keheningan, ternyata Phu sian sangjin serta Hwee cuncu telah berada dihadapannya.
Tidak menunggu Beng Gi ciu buka suara, Phu sian sangjin berkata lebih dulu dengan suara dalam .
"Aku telah mengirim orang untuk menyelesaikan persoalan dikuil Hian thian koan, tapi menurut laporan yang kuperoleh, sekawanan jago lihay dari partai kupu-kupu telah berdatangan dibukit Cian san, padahal tempat ini dekat sekali letaknya dengan bukit Cian san, kita harus meninggalkan tempat ini secepatnya."
"Tapi keadaan Kho kongcu,"
Beng Gi ciu mengerutkan dahinya rapat-rapat.
"Aku sendiripun sedang bimbang karena masalah ini."
Setelah berpikir sebentar, kembali ujarnya .
"Disebelah selatan bukit Wang hu san, jaraknya lebih kurang sepuluh li dari sini terdapat sebuah dusun yang bernama Leng san cun, dalam dusun tersebut hanya terdapat belasan kepala keluarga, kebanyakan hidup sebagai pemburu atau penebang kayu, ketika datang kemarin kami sempat melalui tempat tmpat tersebut, kulihat tempat itu terpencil dan amat sepi, cocok sekali sebagi tempat pengobatan bagi penyakit Kho sicu, aku rasa bila diberi pengobatan secara insentif, tak sampai tiga hari kemudian kondisi tubuhnya telah pulih kebali seperti sedia kala."
Siau wan yang mendengar perkataan ini segera berkata kepada Beng Gi ciu .
"Kalau begitu mari kita buatkan sebuah usungan buat Kho kongcu"
"Kini hari sudah hampir gelap, lebih baik kita segera berangkat,"
Sela Phu sian sangjin cepat-cepat.
"apalagi bila mesti diusung tandu, jelas hal ini akan menghambat, andaikata sampai diketahui orangorang partai kupu-kupu, bukan mustahil kita akan menjadi kerepotan sendiri"
"Kalau memang begitu, biar aku saja yang membopongnya"
Seru siau wan sambil menawarkan diri Dengan cepat Phu sian sangjin menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya .
"Aku rasa hal semacam ini kurang baik, sebab seorang nona yang membopong seorang pria yang terluka berjalan ditengah gunung paling gampang menarik perhatian orang."
"Huuh, begini tak baik, begitupun tak baik, lantas bagaimana yang baik?"
Tanya siau wan sambil cemberut. Dengan wajah amat serius Phu sian sangjin segera berkata .
"Aku mempunyai sebuah usul yang amat baik, bagaimana kalauBeng lisicu berdua berangkat dulu ke dusun Leng san cun untuk menyewa sebuah rumah penduduk lebih dulu sementara aku bersama suteku dengan membawa Kho sicu menyusul dari belakang dengan memecahkan diri menjadi dua rombongan kita bisa menghindari kecurigaan orang partai kupu-kupu, selain itu gerakan kita pun akan bertambah cepat lagi."
Dengan penuh rasa terima kasih Beng Gi ciu berkata .
"Lo siansu, bersediakah kau mengorbankan begitu banyak waktu demi Kho kongcu?"
Phu sian sangjin segera berkata dengan suara dalam .
"Aku hendak mengajaknya berunding bagaimana cara menumpas kaum iblis dari muka bumi setelah menunggu luka Kho kongcu sembuh kembali, tentu saja aku tak akan ambil peduli soal waktu"
"Kalau memang begitu, biar siauli berangkat selangkah lebih duluan."
Seru Beng Gi ciu dengan amat gembira.
setelah memberi hormat, bersama siau wan berangkatlah mereka meninggalkan tempat itu.
Phu sian sangjin mengawasi hingga bayangan tubuh Beng Gi ciu berdua lenyap dikejauhan sana, kemudian baru katanya kepada Hwee cuncu .
"Cepat bopong Kho sicu, kita pun harus segera berangkat"
Buru-buru Hwee cuncu mengiakan dan membopong tubuh Kho Beng, lalu bersama-sama keduanya berangkat menuju kearah selatan.
Waktu itu fajar telah menyingsing, untung saja kabut tebal masih menyelimuti tanah perbukitan itu sehingga pemandangan pada jarak dua kaki masih Nampak agak samar-samar.
Phu sian sangjin menempuh perjalanan tidak terlalu cepat, sebab dia ingin mempertahankan jarak yang tertentu dengan Beng Gi ciu berdua.
sambil menempuh perjalanan Hwee cuncu berkata .
"seabad berselang, tiga dewa see gwa sam sian bersama-sama mengerubuti ketua partai kupu-kupu sehingga menyebabkan iblis tua tersebut tewas dibawah tebing hati duka, andaikata mereka bertarung satu lawan satu entah bagaimanakah akibatnya?"
"Ilmu silat dari partai kupu-kupu mempunyai banyak bagian yang memiliki kehebatan yang luar biasa, jangankan keadaan pada seabad berselang susah ditebak. berbicara menurut keadaan yang terbentang didepan mata saat inipun, bila terjadi pertarungan antara kaum sesat dan lurus, entah siapa yang akhirnya bakal keluar sebagai pemenang?"
Sementara kedua orang itu masih berbincang-bincang, mendadak terdengar seseorang menegur dengan suara yang dingin menyeramkan .
"Hey kalian dua orang hwesiotua, sekarang boleh menghentikan dulu perjalanan kalian."
Phu sian sangjin serta Hwee cuncu yang mendengar teguran ini menjadi terperanjat sekali.
Rupanya walaupun mereka berdua berbincang-bincang sambil menempuh perjalanan, sesungguhnya tak pernah kedua orang itu mengendorkan kewaspadaannya untuk mengawasi sekeliling tempat tersebut.
Padahal kalau berbicara dari tenaga dalam yang dimiliki mereka berdua, asal ada orang memasuki kawasan seluas dua puluh kaki dari tempat mereka berada, jejaknya segera akan ditemukan.
Tapi kenyataannya sekarang, kemunculan orang tersebut sama sekali tidak menimbulkan sedikit suara pun, seandainya orang itu tidak buka suara menegur, mungkin Phu sian sangjin sendiripun tak akan menyadari atas kehadirannya.
serentak kedua orang pendeta sakti dari siau lim pay ini menghentikan langkahnya seraya berpaling, tapi apa yang kemudian terlihat membuat mereka berdua makin terperanjat lagi.
Ternyata orang itu berdiri persis ditengah jalan setapak hanya dua kaki dihadapan mereka, orang tersebut seolah-olah muncul dengan begitu saja dari dalam tanah.
Perawakan tubuhnya ceking lagi kecil, berusia delapan puluh tahunan, memakai baju bewarna kuning dan memelihara jenggot kambing bewarna putih, andaikata sepasang matanya tidak memancarkan cahaya hijau yang menggidikkan hati, mungkin orang akan mengiranya sebagai dewa yang baru turun dari kahyangan.
"omitohud, apakah anda sedang menegur kami?"
Phu sian sangjin segera bertanya. Kakek berbaju kuning itu tertawa.
"Aneh betul, bukankah sudah kukatakan sejelas-jelasnya? Tentu saja kalian berdua yang sedang kuajak bicara."
"Ada urusan apa sicu memanggil kami?"
"Kuharap kalian berdua suka beristirahat sejenak untuk berbincang-bincang."
Lalu dengan sorot mata yang hijau dia menatap wajah Hwee cuncu sekejap dengan pandangan tajam, kemudian katanya lagi .
"Dengan menempuh perjalanan cepat, apalagi mesti membopong seseorang yang menderita sakit berat, tidakkah merasa lelah? "
"Aku tidak lelah"
Jawab Hwee cuncu mendongkol. Buru-buru Phu sian sangjin maju menghadang dihadapan Hwee cuncu, kemudian tegurnya sambil tersenyum.
"sicu berasal dari mana dan siapa namamu?"
"Aku hanya seorang gunung dan tak usah menyebut nama,"
Sahut Kakek berbaju kuning itu sambil mengelus jenggot kambingnya. setelah memutar biji matanya sebentar dia melanjutkan .
"Kalau dugaanku tidak keliru, Lo siansu pastilah ketua siau lim pay saat ini Phu sian sangjin, sedang sicu adalah pendeta dari lima rasul panca unsur bukan?"
Phu sian sangjin semakin terperanjat, dia tak menyangka Kakek berbaju kuning yang enggan menyebut namanya itu ternyata dapat mengenali dirinya sebagai ketua dari siau lim pay. Buru-buru dia berseru .
"Yaa benar, aku memang Phu sian, dari mana sicu bisa kenali diriku?"
Kakek berbaju kuning itu tertawa misterius .
"Ditinjau dari tindak tanduk serta mimik wajahmu, dalam sekilas pandangan saja aku sudah tahu, ternyata dugaanku memang tidak meleset"
Sekali lagi Phu sian sangjin dibuat tertegun.
sudah jelas perkataannya tak dapat dipercaya, dengan begitu banyak pendeta suci yang hidup didunia ini, darimana Kakek berbaju kuning itu bisa mengenali satu diantara sejuta orang dengan begitu tepat dan jelas?
Maka setengah bergurau dia berkata lagi .
"Kecuali sicu adalah dewa yang baru turun dari kahyangan, kalau tidak mana mungkin bisa mengenali diriku dalam sekilas pandangan saja?"
"Kalau memang begitu anggap saja diriku sebagai dewa dari kahyangan"
Ucap Kakek berbaju kuning itu semakin misterius. Phu sian sangjin merasakan hatinya bergetar keras, buru-buru dia berseru .
"Maaf kalau aku tak bisa berdiam terlalu lama disini, biar kita berpisah sampai disini saja"
Namun Kakek berbaju kuning itu sama sekali tidak berniat untuk memberi jalan malah sambil tertawa dingin jengeknya .
"Bukankah orang Buddha mengutamakan soal jodoh? Hari ini aku dapat berjumpa dengan taysu berdua, hal ini menunjukkan kalau diantara kita memang punya jodoh."
"Bila dikemudian hari ada kesempatan silahkan sicu berpesiar kebukit siong san, aku akan menjadi tuan rumah yang baik dan mempersilahkan sicu untuk menginap beberapa hari dalam kuil kami"
Dengan cepat Kakek berbaju kuning itu menggeleng.
"sayang sekali aku tak akan mempunyai waktu luang seperti yang kau maksud, lebih baik sekarang saja kita berbincang-bincang sebentar"
"Tapi menolong orang bagaikan kebakaran, maaf kalau aku tak dapat melayanimu lebih lama,"
Seru Phu sian sangjin mulai gelisah. Pelan-pelan Kakek berbaju kuning itu mengalihkan sorot matanya ke wajah Kho Beng yang berada diatas punggung Hwee cuncu, sesudah tertawa seram, katanya .
"Mungkin lo siansu hendak menolong orang tersebut?"
"Benar"
Ketua siau lim pay ini membenarkan.
"Mengapa dia sakit? sakit atau terluka? Atau mungkin mengalami peristiwa lain?"
"Dia..dia menderita sakit parah"
Phu sian sangjin berusaha menahan sabarnya.
"sakit parah lantas losiansu hendak membawanya kemana? Apakah hendak membawanya pulang kebukit siong san?"
Dengan cepat Phu sian sangjin menggeleng.
"Menuju siau lim si harus membutuhkan waktu yang lama karena perjalanan yang kelewat jauh, tak mungkin kami punya waktu, karenanya aku bermaksud mencari sebuah dusun kecil disekitar bukit ini guna merawatnya."
Kakek berbaju kuning itu memutar kembali biji matanya, mendadak ia bertanya .
"siapakah si penderita sakit itu?"
"soal ini."
Sambil tertawa dan menggelengkan kepalanya Phu sian sangjin melanjutkaan .
"Aku sendiripun kurang begitu jelas, kami hanya menjumpainya secara kebetulan ditengah gunung, oleh karena keadaannya sudah amat parah, timbul rasa kasihan kami untuk menolongnya."
"Hmm, sebagai murid Buddha paling pantang berbohong"
Tegur Kakek berbaju kuning itu dingin.
"Apalagi dengan kedudukan lo siansu sekarang, rasanya tak mungkin akan berbohong pula, perkataanmu mungkin bisa dipercayai."
Merah padam selembar wajah Phu sian sangjin setelah mendengar sindiran itu, diam-diam bisiknya .
"Aku terpaksa harus berbohong, semoga Buddha maha pengasih mengampuni dosa-dosaku."
Sementara itu, Kakek berbaju kuning tadi telah mendesak kembali .
"Aku masih ingin menanyakan satu hal lagi.ketua siau lim pay adalah seorang yang sangat terhormat, biasanya tidak gampang meninggalkan kuilnya dengan begitu saja, tapi kali ini kalian tak segan-segan menempuh perjalanan jauh datang kemari, apakah inipun dikarenakan untuk menolong si penderita sakit ini"
Phu sian sangjin segera tertawa paksa.
"Maksud perjalananku kali ini adalah untuk. untuk memeriksa sebuah cabang-cabang kami dipelbagai daerah, mengenai menolong orang .sesungguhnya hal ini hanya merupakan suatu kejadian yang kebetulan saja."
Mendadak Kakek berbaju kuning itu tertawa terbahak-bahak .
"Haaahhhaaahhhhaaahhhh.lo siansu memang tak malu disebut seorang pendeta agung dari agama Buddha, aku betul-betul merasa sangat kagum"
Setelah berhenti sejenak. dengan nada suara yang berat dan dalam kembali dia berkata "Aku mempunyai sebuah usul, apakah pantas bila kukatakan secara terus terang?"
"silahkan sicu mengutarakannya secara blak-blakan"
"Jikalau pasien tersebut hanya ditemukan lo siansu secara kebetulan ditepi jalan, berarti dia sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan diri siansu, bukan?"
Terpaksa Phu sian sangjin manggut-manggut.
"Yaa, perkataan sicu memang benar."
"Kebetulan sekali, akupun mengerti akan ilmu pertabiban, lagipula tempat tinggalku pun tak jauh dari sini, bila lo siansu sedang sibuk untuk mengontrol cabang-cabang, bagaimana kalau kau serahkan saja pasien ini kepadaku, kujamin dalam waktu yang amat singkat aku bisa memulihkan kembali kondisi badannya seperti keadaan semula."
Diam-diam Phu sian sangjin merasa amat terkejut sehabis mendengar perkataan ini, namun dia berusaha menunjukkan ketenangan hatinya, ujarnya kemudian .
"Mengapa sicu?"
"Lo siansu tidak usah curiga,"
Kata Kakek berbaju kuning itu sambil tertawa. setelah memandang sekejap sekitar sana, terusnya .
"setelah mencapai usia setua ini, aku ingin sekali melakukan kebajikan untuk menebus dosa-dosaku yang lama, coba kalau aku tidak memikirkan nasib seorang cucu perempuanku, mungkin akupun telah mencukur rambut menjadi pendeta."
"omitohud, siapa berniat baik dia pasti akan menerima buah kebaikan, asal sicu mempunyai minat yang baik dan tulus, hal itu sudah lebih dari cukup"
Kakek berbaju kuning itu segera tertawa terbahak-bahak .
"Haaahh.haaahhh.haaahh.harap losiansu menyerahkan si penderita kepadaku"
"soal ini...soal ini..."
Phu sian sangjin menjadi terkejut sekali.
Untuk sesaat dia menjadi gelagapan sebab tak berhasil menemukan alasan yang tepat untuk menolak permintaan orang, karena merasa serba salah akhirnya paras mukanya pun ikut berubah menjadi merah padam.
"Apakah lo siansu keberatan?"
Kakek berbaju kuning itu menegur lagi dengan suara dingin. setelah berpikir sebentar, sambil tertawa paksa Phu sian sangjin segera berkata .
"Bukan keberatan, aku telah menguruti seluruh jalan darah dengan ilmu mengurut rahasia dari partai kami, cara pengurutan seperti ini paling tidak harus berlangsung selama lima hari tanpa berhenti, kalau hal ini tak dilakukan maka akibatnya dia bakal celaka."
"Heeehhheeehh.heeehh.tak nyana lo siansu berhasil mendapatkan alasan yang begitu bagus,"
Jengek Kakek berbaju kuning itu sambil tertawa dingin.
"tapi itupUn tak menjadi soal, karena aku mempunyai bahan obat-obatan yang paling bagus untuk dirinya, kujamin kesehatan tubuhnya akan pulih kembali seperti sedia kala."
Dalam urutan lima rasul panca unsur, rasul api termasuk pendeta yang paling berangasan, sejak tadi ia sudah habis kesabarannya meladeni Kakek berbaju kuning itu.
Hanya selama ini ia mencoba bersabar karena didepan ketuanya.
Tapi sekarang, habis sudah kesabarannya, tak kuasa lagi dia berteriak dengan keras-keras .
"sicu, mengapa sih kau begitu cerewet dan ngomong tiada habisnya?"
Kakek berbaju kuning itu terbahak-bahak .
"Haaahhhaaahhaaahhsaat ini aku sedang berbicara dengan ketua partai anda, hmm orang bilang peraturan dalam siau lim pay amat keras, tampaknya apa yang diceritakan selama ini tiada kenyataannya sama sekali."
Hwee cuncu menjadi amat gusar, baru saja dia hendak mengumbar hawa amarahnya, Phu sian sangjin segera menghalangi niatnya seraya berkata .
"Yaa, peraturan perguruan kami memang sudah kendor, harap sicu jangan mentertawakannya ."
"Lo siansu, sesungguhnya kau bersedia menyerahkan si penderita itu kepadaku atau tidak?"
Kembali Kakek berbaju kuning itu menegur dengan suara dingin menyeramkan.
"Maaf, kalau terpaksa aku berbicara blak-blakan, permintaan sicu tak mungkin akan kukabulkan, sebab aku pernah bersumpah bila sudah mengerjakan sesuatu maka aku tak akan mengakhirinya sebelum berhasil."
Kakek berbaju kuning itu segera tertawa dingin .
"Heeehh.hehhheehhh..kalau toh lo siansu merasa keberatan, aku masih mempunyai sebuah usul lain."
"silahkan diutarakan."
"Siau lim pay sebagai pimpinan dari tujuh partai besar tentu memiliki ilmu silat yang paling top didunia persilatan saat ini, sedang lo siansu sebagai ketua siau lim pay tentu mempunyai ilmu silat nomor wahid pula didunia ini."
"omitohud, puji-pujian sicu tak berani kuterima."
Kembali Kakek berbaju kuning itu tertawa dingin .
"Lo siansu tak usah merendah karena aku tak lain adalah hendak menantang lo siansu untuk menentukan menang kalah lewat pertarungan ilmu silat, siapa yang unggul dialah yang berhak dengan sipenderlta ini, entah bagaimana pendapatmu?"
Perkataan ini sudah jelas merupakan sebuah tantangan bagi Phu sian sangjin, karena bagi umat persilatan yang menampik tantangan orang lain sama artinya dengan mengaku kalah sebelum bertanding.
Biarpun Phu sian sangjin termasuk seorang pendeta agung yang tak memiliki napsu lagi, namun sebagai ketua siau lim pay, sebagai pemimpin dari seluruh umat persilatan didunia ini, bila ia menampik tantangan Kakek berbaju kuning itu sama artinya bahwa pamor serta nama baiknya akan hancur berantakan.
Karena berada dalam keadaan seperti ini, terpaksa dia berkata sambil tertawa paksa .
"Bila sicu bersikeras hendak menentukan persoalan ini melalui pertarungan, terpaksa aku hanya melayani kehendakmu itu."
"Bagus sekali."
Seru si kakek kegirangan, kemudian dengan nada berat lanjutnya .
"Aku bersedia untuk bertarung melawan lo siansu dalam tiga gebrakan, dengan batas tiga jurus inilah kita tentukan siapa yang unggul dan siapa yang kalah."
"Yakinkah sicu dapat meraih kemenangan dalam tiga jurus saja?"
Kata Ketua siau lim pay ini dengan kening berkerut. Kakek berbaju kuning itu tertawa hambar .
"Berdasarkan pengalaman selama bertarung melawan orang, rasanya tiga jurus pun sudah lebih dari cukup"
Hwee cuncu tak dapat menahan diri terus menerus, tiba-tiba ia menimbrung .
"Ciangbun suheng adalah seorang yang berkedudukan terhormat, untuk menghadapi seorang manusia gunung yang tak beradab kenapa mesti turun tangan sendiri? Biar aku yang mewakilimu"
"sute cepat mundur."
Bentak Phu sian sangjin. sementara dengan ilmu menyampaikan suara dia berbisik lagi .
"Aku lihat orang ini rada kurang beres, tampaknya aku mesti turun tangan untuk menghadapinya sendiri"
Hwee cuncu tidak berani banyak berbicara lagi, terpaksa dia menurut dan mengundurkan diri. sementara itu si Kakek berbaju kuning itu telah berkata lagi sambil tertawa terbahak-bahak .
"Haaahh.haahhhhaaahh kelihatannya lo siansu telah menerima tantanganku?"
"setelah sicu mengusulkan begitu, selain kusambut tantanganmu rasanya memang tiada jalan kedua yang dapat kupilih lagi."
"Bagus sekali, bagaimana dengan taruhan kita ? siapa yang unggul dialah yang berhak atas diri sipenderita "
"Aku tak punya usul yang lain"
Jawab phu sian sangjin sambil diam-diam menggigit bibir.
sambil tertawa Kakek berbaju kuning itu manggut-manggut, pelan-pelan ia mencabut keluar sebuah ruyung lemas bewarna emas dari pinggangnya, lalu berkata .
"silahkan lo siansu meloloskan senjata"
Sebetulnya Phu sian sangjin telah bersiap-siap menghadapi musuhnya dengan tangan kosong, namun setelah menyaksikan Kakek berbaju kuning itu meloloskan sebuah ruyung lemas, tergerak hatinya, maka diapun merogoh kedalam sakunya dan mengeluarkan senjata sekop kecil yang jarang sekali dipergunakan.
"silahkan lo siansu melancarkan serangan"
Ujar Kakek berbaju kuning itu kemudian dengan gembira. Phu sian sangjin sebagai ketua siau limpay tentu saja tak dapat melancarkan serangan lebih dulu, sahutnya cepat .
"omitohud, lebih baik sicu menyerang lebih dulu."
"Hmmm hampir saja aku lupa dengan kedudukan lo siansu"
Jengek Kakek berbaju kuning sambil tertawa seram.
"tampaknya jika aku tidak menyerang dulu, losiansu pun tak bakal turun tangan, bukan?"
Phu sian sangjin segera mengangguk.
"Ya a, tebakan sicu memang tepat sekali"
"Haaaahhhaahhhaaahhhh.kalau memang begitu, maaf kalau terpaksa aku menyerang duluan"
Ruyung lemas berwarna emasnya segera digoyangkan dan dilancarkan sebuah sapuan kedepan.
Phu sian sangjin tak berani berayal, secepat kilat ia sambut datangnya ancaman itu dengan senjata sekopnya, ia telah bersiap melangsungkan pertarungan adu kekerasan melawan Kakek berbaju kuning itu.
Tapi secara tiba-tiba Kakek berbaju kuning itu merubah gerakan serangannya, sapuan yang melayang kedepan tiba-tiba saja berubah menjadi sebuah tusukan langsung.
Ternyata ruyung lemas itu telah berubah menjadi sebilah pedang, bukan cuma keras dan menegang, lagipula jurus serangan yang dipergunakanjuga merupakan urus pedang yang maha sakti.
Dari sapuan tahu-tahu berubah menjadi tusukan, sesungguhnya hal semacam ini mustahil bisa terjadi, tapi Kakek berbaju kuning itu bukan cuma bisa merubahnya menjadi mungkin, bahkan sama sekali tak disangka-angka sebelumnya.
Dalam terperanjatnya, cepat-cepat Phu sian sangjin mundur setengah langkah kebelakang, senjatanya segera diputar setengah lingkaran dan untuk kedua kalinya menangkis datangnya ruyung lawan.
Mendadak terdengar Kakek berbaju kuning itu tertawa terbahakbahak.
ruyungnya yang dipakai untuk menusuk bagaikan sebilah pedang, kini berubah kembali sebagai alat penotok jalan darah, sedang yang diarah adalah jalan darah kitong hiat ditubuh Phu sian sangjin.
Dengan sebilah ruyung lemas ternyata dalam waktu singkat bisa dirubah menjadi tiga macam senjata dengan tiga jurus serangan yang berbeda pula, hakekatnya peristiwa semacam ini belum pernah terjadi sebelumnya.
Tak terlukiskan rasa terkejut Phu sian sangjin menghadapi kejadian seperti ini, oleh karena jurus serangan Kakek berbaju kuning itu secara beruntun berubah tiga kali.
Phu sian sangjin terdesak hingga dari posisi menyerang menjadi pihak bertahan, selain itu diapun mesti mundur tiga langkah secara beruntun untuk meloloskan diri dari serangan lawan.
"Jurus pertama"
Seru Kakek berbaju kuning itu sambil tertawa terbahak-bahak.
Bukan saja paras muka Phu sian sangjin berubah menjadi semu merah, peluh dingin sempat membasahi tubuhnya karena kaget, sampai Hwee cuncu yang mengikuti jalannya pertarungan dari tepi arena, segera menjadi tertegun dibuatnya.
"Bersiaplah lo siansu untuk menyambut serangan kedua"
Seru Kakek berbaju kuning itu mendadak sambil tertawa.
Ruyung lemasnya digetarkan hingga menciptakan serentetan suara pekikan yang sangat aneh, mendadak bagaikan segumpal roda cahaya bewarna kuning ia sambar batok kepala Phu sian sangjin.
Phu sian sangjin sama sekali tak sempat melihat dengan jelas jurus serangan apakah yang dipergunakan lawannya, otomatis dia pun tidak tahu bagaimana caranya untuk menghadapi serangan tersebut.
Dalam gugupnya terpaksa ia menciptakan selapis cahaya tajam dengan senjata sekopnya, kemudian dengan menyusunjaringan cahaya yang lembek tapi kuat dia mencoba untuk membendung datangnya ancaman dari musuh.
Traaaaanggg..traaaaangg suara dentingan nyaring berkumandang tiada hentinya, dalam waktu singkat senjata tajam kedua orang itu sudah saling beradu sebanyak tujuh kali lebih.
Phu sian sangjin segera merasakan lengannya menjadi linu dan kesemutan, gejolak darah didalam dadanya membuat hatinya berdebar keras, ia betul-betul merasa terkejut oleh ketangguhan musuhnya.
Walaupun demikian, dengan susah payah jurus serangan inipun berhasil dibendung secara baik.
Kakek berbaju kuning itu segera menarik kembali senjata ruyungnya, sambil tertawa dia berkata .
"Lo siansu memang tak malu menjadi ketua siau lim pay, kesempurnaan ilmu silatmu betul-betul luar biasa."
Merah padam selembar wajah Phu sian sangjin lantaran jengah, walaupun dalam dua gebrakan ini menang kalah masih belum ditentukan namun menurut kejadian yang sesungguhnya sudah jelas dia berada dalam posisi dibawah angin.
Dalam keadaan begini, terpaksa dia berkata sambil tertawa paksa .
"silahkan sicu melanjutkan seranganmu yang terakhir"
Kakek berbaju kuning itu tertawa. Dua jurus telah berlalu, berarti menang kalah akan segera ditentukan oleh jurus terakhir ini "Tampaknya sicu sudah mempersiapkan jurus serangan yang amat tangguh?"
"Jurus serangannya belum tentu tangguh, namun menang kalah sudah pasti akan diketahuinya."
Dengan suara dalam ia melanjutkan .
"Bila dalam jurus serangan yang terakhir ini aku gagal mengungguli lo siansu, aku akan mengaku kalah"
Perkataan itu diucapkan kelewat sombong dan tekebur, bila diucapkan terhadap kawanan jago persilatan yang lain mungkin tidak mendatangkan sesuatu yang luar biasa, namun lawan bicaranya sekarang adalah ketua siau lim pay, tentu saja ucapan mana sangat menggetarkan sukma.
Phu sian sangjin segera tertawa hambar, katanya .
"Bila dalam jurus yang ketiga sicu tak berhasil meraih kemenangan, kau toh bisa melanjutkan pertarungan dan tidak usah mengaku kalah?"
Tapi kakek itu menggeleng.
"Tidak Setiap perkataanku berat bagaikan bukit karang, sekali telah kuutarakan selamanya tak pernah akan kusesali kembali, setelah kubilang tiga jurus, tentu saja menang kalah harus ditentukan dalam tiga jurus juga"
Ruyung lemasnya segera digetarkan dan langsung menusuk ke dada lawannya.
Jurus serangan yang dipakai kali ini adalah jurus pedang, ruyung itupun menegang bagaikan sebilah gedang dan langsung menusuk jalan darah Tam tiong hiat ditubuh lawan.
Dengan cepat Phu sian sangjin menggetarkan senjata sekopnya sambil menciptakan segulung cahaya hitam, serangannya kali ini ditunjukkan untuk membabat pergelangan tangan si kakek yang memegang senjata.
Jurus serangan yang dipakai kali ini merupakan taktik serangan mematahkan serangan, dalam perkiraan phu sian sangjin betapapun istimewa dan sombongnya Kakek berbaju kuning itu, serangan yang dilancarkan dengan dahsyat itu tentu bisa memaksa Kakek berbaju kuning itu menarik kembali serangannya guna melindungi keselamatan sendiri dengan demikian serangan yang ketiga inipun dapat dipatahkan secara mudah.
Asal jurus ini bisa dipatahkan, biarpun Kakek berbaju kuning itu mengingkari janji dan enggan mengaku kalah, paling tidak ia pun tak usah menanggung malu atas kekalahan yang tragis.
Hal ini adalah menurut perhitungannya didalam hati, tapi sayang jurus serangan yang dipergunakan Kakek berbaju kuning itu kelewat dahsyat dan luar biasa, ternyata ditengah jalan terjadi lagi perubahan yang sama sekali diluar dugaan.
Ruyung lemas dari Kakek berbaju kuning itu mendadak berubah bagaikan ular sakti saja, dalam waktu singkat senjata sekop dari Phu sian sangjin telah terbelenggu kencang-kencang .
Bersamaan waktunya muncul pula segulung tenaga maha dahsyat yang susah dilawan menghantam perg elangan tangannya, tak ampun lagi senjata sekop ditangan phu sian sangjin terpental dari cekalan dan terjatuh lebih kurang sepuluh kaki dari tempat semula.
Dengan cepat Kakek berbaju kuning itu menarik kembali ruyung lemasnya, kemudian mendongakkan kepala dan menperdengarkan gelak tertawanya yang amat keras.
sebaliknya paras muka Phu sian sangjin berubah menjadi pucat bagaikan mayat.
seperti sebuah patung saja untuk berapa saat lamanya ia tak mampu mengucapkan sepatah katapun.
Kejadian semacam ini betul-betul tak pernah disangka sebelumnya, dengan kedudukan ketua siau lim pay sebagai pimpinan umat persilatan, ternyata dalam tiga gebrakan saja senjatanya kena dipentalkan orang hingga terlepas dari genggaman, apabila kabar ini sampai tersiar diluaran, sudah pasti seluruh dunia persilatan akan menjadi heboh.
Akibatnya bukan saja pamor serta nama baik siau lim pay akan hancur berantakan, seluruh dunia persilatan pun akan terjadi kehebohan yang menggoncangkan masyarakat.
sementara itu Kakek berbaju kuning telah menghentikan gelak tertawanya, kemudian menegur .
"apakah lo siansu mengaku kalah?"
Phu sian sangjin menghela napas panjang.
"Aaaai, dalam kenyataan aku memang kalah, tentu saja aku tak akan banyak berbicara lagi."
Sambil memutar sepasang biji matanya, Kakek berbaju kuning itu berkata lagi .
"Lo siansu sebagai ketua siau lim pay yang memimpin seluruh dunia persilatan, aku rasa kau tentu mengutamakan soal nama baik, setelah menderita kekalahan hari ini, tentunya kau tak akan tahan, bukan?"
Setelah tertawa seram, lanjutnya .
"sebaliknya kalau peristiwa ini sampai tersiar luas diluaran, nama besarku tentu akan menggetarkan kolong langit dalam waktu singkat"
"omitohud, sudah pasti hal ini akan terjadi, untuk itu kuucapkan selamat dulu kepada sicu"
Kakek berbaju kuning itu tertawa .
"sayang sekali aku bukan seorang manusia yang gemar akan nama besar, terhadap semacam ini aku tidak tertarik sama sekali."
Kemudian setelah menatap sekejap wajah Phu sian sangjin secara misterius, dia berkata lebih jauh .
"aku bersedia menyimpan rahasia ini dengan sebaik-baiknya dan tak akan membocorkan nya kepada siapa pun, dengan begitu nama baik lo siansu serta partai siau lim pay pasti tak akan ternoda oleh peristiwa ini."
Mula mula Phu sian sangjin agak tertegun, kemudian sahutnya .
"Tidak usah, aku tak pernah mempersoalkan masalah semacam itu, setelah menderita kekalahan ditangan sicu, biarpun sicu merahasiakannya, aku toh tetap akan menyiarkan kejadian ini kepada umum."
"Lantas apa yang hendak lo siansu lakukan?"
Tanya si kakek sambil tertawa.
"Aku akan mengumpulkan segenap jago dari kolong langit dan mengumumkan dihadapan mereka kalau aku sudah dikalahkan oleh seorang jago lihay tak dikenal dalam tiga jurus, karena itu aku tak punya muka untuk memikul tanggung jawab sebagai pemimpin umat persilatan lagi, akan kuminta mereka untuk memilih seorang pemimpin baru yang jauh lebih hebat."
Kakek berbaju kuning itu mendengus dingin.
"Hmmm, kalau toh lo siansu tetap keras kepala, aku pun tak akan membujukmu lebih lanjut, terserah pada kemauanmu sendiri,"
Tapi setelah berhenti sejenak. dengan suara dalam ia menambahkan .
"Apakah lo siansu masih ingat dengan perjanjian yang kita buat sebelum pertarungan tadi?"
Phu sian sangjin merasakan hatinya bergetar keras, cepat sahutnya .
"Tentu saja masih ingat, tapi. .apalah gunanya si pasien yang sakit itu untuk sicu, mengapa sicu bersikeras."
"Tujuanku justru terletak pada si sakit itu, karena semua keputusan yang kuambil tak pernah akan kurubah kembali."
Phu sian sangjin segera menghembuskan napas panjang dengan nada dalam dan berat, katanya kemudian .
"Kalau memang begitu, paling tidak sicu harus meninggalkan nama"
"oooo tentu saja,"
Kakek berbaju kuning itu tertawa.
"Aku pasti akan menyebutkan namaku agarlosiansu mengetahui identitasku yang sebenarnya, tapi sebalum itu tolong serahkan dulu sisakit kepadaku"
Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Phu sian sangjin berpaling kearah Hwee cuncu sambil katanya .
"serahkan kepada sicu ini"
"soal ini. .soal ini"
Hwee cuncu menjadi terkejut sekali.
saking gugup dan tergagap nya sampai setengah harian lamanya dia tak mampu melanjutkan perkataan itu.
Menyaksikan hal ini, Kakek berbaju kuning itu segera tertawa terbahak-bahak .
"Haaahh.haaahhhhaaahhhh..siau lim pay adalah suatu partai besar yang memimpin dunia persilatan, mengapa ucapan dari seorang pendeta agungnya justru menela mencle dan sama sekali tidak pegang janji?"
Phu sian sangjin merasakan hatinya amat sakit bagaikan diiris-iris dengan pisau, terpaksa katanya dengan suara dingin .
"sute, sudah kau dengar perkataanku?"
"turut perintah"
Ucap Hwee cuncu sambil menggigit bibir.
Dengan langkah yang berat dia maju berapa langkah kemuka , lalu membaringkan Kho Beng keatas lantai.
Waktu itu kesadaran Kho Beng masih tetap utuh, sehingga terhadap semua perstiwa yang terjadi pun mengetahui dengan jelas, sayang dia tak mampu berkata-kata sehingga terpaksa hanya bisa pasrah pada nasib.
Kakek berbaju kuning itu tertawa girang, dengan cepat ia menyambar tubuh Kakek berbaju kuning dan mengempitnya dibawah ketiak.
setelah tertawa katanya kemudian .
"Terima kasih banyak atas bantuan kalian , aku hendak mohon diri lebih dulu"
Lalu setelah berhenti sejenak, terusnya .
"aku tidak akan menceritakan peristiwa hari ini kepada orang lain, kalian berdua tak usah kuatir, tentang apa yang hendak kalian perbuat, aku tak ingin turut campur"
Sambil berkata ia segera percepat langkahnya siap meninggalkan tempat tersebut. Dengan perasaan gelisah Phu sian sangjin berseru .
"Eeeei, tunggu dulu"
"Apalagi yang hendak lo siansu katakan?"
Tanya si kakek sambil menghentikan langkahnya.
"sicu belum meninggalkan nama"
"Haaahhhaaahhhh.haaahhh.bila losiansu tidak mengingatkan hampir saja melupakan hal ini, nah dengarkan baik-baik lo siansu."
Menyusul kemudian ia pun bersenandung .
"Darah menodai bukit hati duka Dalam sekejap mata seabad telah lewat Kupu-kupu terbang ditanah yang gersang Rumput layu dahanpun mengering Thian melindungi keluarga Ui Ilmu silat berhasil, kekuatan pun pulih Daratan tengah kuserbu, kubangun kembali kejayaan keluargaku"
Bersama dengan selesainya senandung itu, bayangan tubuhnya turut lenyap pula dari pandangan mata.
"omitohud"
Mendadak paras muka Phu sian sangjin berubah menjadi pucat pias bagaikan mayat, ia segera jatuh terduduk keatas tanah.
Hwee cuncu pun berdiri tertegun bagaikan sebuah patung, lama sekali ia tak berkata-kata.
Entah berapa saat telah lewat, pelan-pelan phu sian sangjin menghela napas sambil berbisik .
"sute"
"Ciangbun suheng..
"buru-buru Hwee cuncu menyahut. Nada suara mereka agak parau sehingga kedengarannya sangat mengenaskan. sambil menggelengkan kepalanya berulang kali Phu sian sangjin berkata .
"Tentunya sute sudah mengetahui bukan siapa yang telah kita jumpai barusan?"
Hwee cuncu mengangguk. Bersambung
Jilid 35
Jilid 35
"Yaa, dia adalah ketua partai kupu-kupu Ui Sik kong Yaa betul, memang bajingan tua ini."
Sesudah menghela napas panjang, ketua dari siau lim pay ini berkata lebih lanjut .
"Sungguh tak disangka aku telah jatuh kecundang ditangan bajingan tua ini..aaaai apa yang mesti kita lakukan sekarang?"
Sambil menggertak gigi Hwee cuncu berseru .
"Menurut pendapatku, lebih baik kita himpun seluruh kekuatan Siau lim pay dan melangsungkan pertarungan habis-habisan melawan partai kupu-kupu."
"Jangan kita tak boleh sekali-kali berbuat demikian"
Seru Phu sian sangjin sambil menggeleng.
"Mengapa? Apakah ciangbun suheng mengaku kalah dengan begini saja?"
"Kita harus tahu.. Dengan pengakuan kalah dariku paling banter cuma nama baik Siau lim pay serta nama baikku pribadi yang ternoda,"
Tukas Phu sian sangjin cepat.
"tapi jika kita langsungkan pertempuran habishabisan, banyak kekuatan ini kita yang dipupuk dan dibangun selama banyak tahun ini bakal musnah dalam pertarungan tersebut, bahkan akan mempengaruhi pula hasil karya sejarah kuil kita yang telah berumur ribuan tahun."
"Tapi benarkah dia lihay?"
Seru Hwee cuncu sambil menggertak giginya kencang-kencang.
"Setelah merasakan ketiga jurus serangannya tadi, aku dapat merasakan bahwa cukup dengan kekuatan iblis tua tersebut seorang, dia mampu melenyapkan seluruh kekuatan dari partai siau lim kita."
Baru saja Hwee cuncu hendak berbicara tiba-tiba tampak dua sosok bayangan manusia berkelebat datang, ternyata mereka adalah Beng Gi ciu serta siau wan.
Terdengar Beng Gi ciu telah berseru dari tempat kejauhan .
"siauli telah mendapatkan tempat tinggal yang baik, kenapa sampai sekarang Lo siansu baru sampai disini?"
Tapi menyusul ia menjerit tertahan, serunya .
"Mana mana Kho kongcu?"
Dengan wajah pucat pias seperti mayat, sahut Phu sian sangjin lirih .
"Dia..dia telah dirampas oleh ketua partai kupu-kupu Ui sik kong.."
"Haaaa"
Hampir saja Beng Gi Ciu jatuh pingsan, tanyanya tergagap .
"sung . .sungguh?"
Terpaksa Phu sian sangjin menceritakan kembali pengalaman yang barusan dialaminya, sebagai akhir kata dia berkata dengan sedih .
"Ya a a, semuanya ini memang kesalahanku."
"Lo siansu tak usah terlalu menyesali diri sendiri."
Beng Gi ciu mencoba menghibur walaupun sepasang matanya telah berubah menjadi merah.
"padahal Kejadian semacam ini bukan kesalahan lo siansu yang penting kita harus berunding bagaimana caranya menolong kembali."
Nona siau wan segera berteriak.
"mari kita kejar bajingan tua itu dan merampas kembali Kho kongcu"
Agaknya dia merasa sangat tidak puas dengan kedua orang pendeta tua itu sehingga daLam pembicaraan pun sedikit banyak membawa nada menyindir.
Dengan cepat Beng Gi ciu menggelengkan kepalanya berulang kali .
"Percuma, berbuat seperti itu sama artinya dengan perbuatan orang bodoh yang menghantar kematian sendiri, sama sekali tidak bermanfaat barang sedikitpun jua."
Kemudian sambil berpaling kearah Phu sian sangjin, tanyanya lagi .
"Bagaimana rencana Lo siansu?"
Phu sian sangjin menghela napas panjang.
"satu-satunya jalan saat ini adalah mengumpulkan semua jago persilatan yang ada didunia ini dan akan kujelaskan kisah kekalahanku ditangan Ui sik kong, kemudian akan kuusulkan untuk mencari pemimpin yang baru, dengan pemimpin yang baru inilah kita rundingkan bagaimana caranya menolong Kho sicu serta menumpas habis kaum durjana tua itu dari muka bumi."
"Menang kalah sudah menjadi peristiwa yang lumrah dalam setiap pertandingan,"
Ujar Beng Gi ciu sambil tertawa getir.
"apalagi Ui sik kong adalah pemimpin dari kaum iblis itu, jadi kesalahan dari Lo siansu sebetulnya sudah dapat diduga."
Kemudian setelah memutar biji matanya, dia berkata lebih jauh .
"Kini segenap kekuatan inti partai kupu-kupu telah terhimpun dibukit Cian san, dapat diduga tak lama kemudian mereka akan melakukan pembantaian berdarah didalam dunia persilatan, mati hidupnya dunia persilatan dan keutuhan dari umat kita justru akan tergantung sekali pada hasil pertarungan ini. Dalam keadaan demikian, aku rasa lo siansu tak usah terlalu mempersoalkan nama baik peribadi dan partai sendiri, yang penting kita mesti merundingkan cara penanggulangan yang terbaik."
Merah jengah selembar wajah Phu sian sangjin setelah mendengar perkataan katanya kemudian .
"Nasehat dari Beng li sicu memang benar, tapi ."
Kembali dia menghela napas dan tidak melanjutkan kata-katanya. Beng Gi ciu termenung sambil berpikir sebentar, kemudian katanya .
"siauli mempunyai sebuah usul."
"silahkan Beng lisicu utarakan keluar"
"Aku dengar Bu wi lejin, hwesio daging anjing serta pelajar rudin Ho heng sekalian berada dilembah hati Buddha, mengapa lo siansu tidak segera mengirim berita untuk mengundang para jago dari tujuh partai agar berkumpul semua didalam lembah hati Buddha."
"Lantas bagaimana dengan Beng li sicu sendiri?"
"Aku hendak melanjutkan usahaku untuk mencari empek oh dan empek Thian, baik kutemukan atau tidak, sampai waktunya aku pasti akan hadir di lembah hati Buddha"
"Bagus sekali, kalau begitu kita tetapkan demikian saja"
Beng Gi ciu menghembuskan napas panjang, katanya kemudian .
"Kalau memang begitu harap lo siansu baik-baik menjaga diri, siauli hendak mohon diri lebih dulu. moga-moga kita berjumpa lagi di lembah hati Buddha tak lama kemudian."
"Beng lisicu harus menjaga diri baik-baik pula"
Kata Phu sian sangjin dengan perasaan menyesal Beng Gi ciu tak banyak berbicara lagi, dengan mengajak siau wan berangkatlah dia menuju kejalan semula.
ooo)00000(ooo Kakek berbaju kuning yang menculik Kho Beng memang tak lain adalah ketua partai kupu-kupu Ui sik kong.
Dengan senyum bangga menghiasi wajahnya dan mengapit wajah Kho Beng dibawah ketiaknya, ia berjalan santai menuju kearah bukit Cian san.
Tapi belum sampai sepuluh li kemudian, ternyata dia pun telah menjumpai suatu peristiwa yang sangat diluar dugaan.
Mendadak terdengar seseorang menegur sambil tertawa ringan .
"Hey tua Bangka, kau boleh beristirahat sekarang"
Ui sik kong amat terperanjat, sebab Kejadian ini sama sekali tidak terduga sebelumnya, mungkinkah didunia ini masih ada orang yang memiliki ilmu silat jauh lebih hebat daripada kemampuannya?
Kalau tidak.
apa sebabnya teguran itu bisa muncul begitu mendadak dan sama sekali tak diketahui sebelumnya?
sementara dia masih termenung dengan keheranan, tampak sesosok bayangan manusia telah melayang turun dan berdiri dihadapannya, bahkan sedang mengawasinya sambil tertawa.
orang itu adalah seorang kakek berjenggot putih yang berwajah bagaikan tembaga antik, usianya antara sembilan puluh tahun dan berwajah amat berwibawa.
setelah tertegun sejenak.
Ui Sik, kong segera menegur .
"siapa anda?"
"Lebih baik tak usah kukatakan"
Sahut si kakek sambil tertawa.
"Kenapa?"
"Aku Cuma orang gunung yang liar, apa gunanya menyebut nama? "
Ui sik kong semakin terperanjat, serunya lagi .
"Apa maksud anda menghalangi jalan pergiku?"
Kakek itu segera tertawa.
"Aku sudah berkata secara jelas, silahkan mengaso sebentar sambil berbincang-bincang."
"Maaf aku tak ada waktu untuk menemani"
Tukas Ui sik kong dengan penuh amarah.
sambil membalikkan badan ia siap beranjak pergi dari situ.
Tapi dengan suatu gerakan yang cepat kakek itu telah menghadang kembali dihadapannya "Eeeeee..eeee..eeeee tunggu dulu.."
"sebenarnya apa maksudmu?"
Ui sik kong semakin naik darah.
"Hmmm, lebih baik kita berbicara blak-blakan, tinggalkan Kho Beng dan serahkan kepadaku"
Saking gusarnya Ui sik kong segera tertawa seram, teriaknya ."Licik amat kau si bajingan tua, sebetulnya siapakah kau?"
"Apakah kau tidak merasa bahwa pertanyaan ini tak perlu kujawab sebab kau sudah tahu tapi pura-pura bertanya lagi?"
"Sudah tahu tapi pura-pura bertanya?"
Ui Sik kong tertawa seram.
"heeee.heeeehehh kenapa aku mesti berbuat demikian?"
Jengek si kakek.
"Hmmm, masa dari wajah serta dandananku ini, kau belum dapat menduga siapakah diriku ini?"
Jengek si kakek.
"Aku benar-benar tak dapat mengingatnya"
Kata Ui sik kong sambil berkerut kening. Kakek itu berpikir sebentar, lalu katanya .
"Baiklah akan kuperlihatkan senjata andalanku, siapa tahu hal tersebut akan memperkuat daya ingatanmu sehingga menyebabkan kau dapat teringat kembali akan diriku."
Seraya berkata dia segera mengeluarkan seperangkat senjata gelang rembulan dan gelang surya.
Ui sik kong memperhatikan sejenak.
tiba-tiba meledaklah suara gelak tertawanya yang amat keras hingga menggetarkan seluruh angkasa, sampai lama sekali suara tertawanya masih menggema diangkasa.
Pelan-pelan kakek tersebut menyimpan kembali sepasang gelang surya rembulannya, kemudian menegur .
"Apa yang kau tertawakan?"
Sambil berusaha menghentikan gelak tawanya, Ui sik kong berkata .
"Aku mentertawakan kau yang bertindak pintar, tapi mengapa justru melakukan perbuatan sebodoh ini?"
Si kakek mendengus.
"Hmmm, dimana letak kebodohanku?"
"Siapapun boleh kau tiru, namun tidak sepantasnya menyaru sebagai si naga terbang dari see ih, Kong ci, ketahuilah dia sudah meninggal dunia hampir seabad berselang"
Kemudian setelah berhenti sejenak dengan suara dalam kembali dia berkata .
"Bocah keparat she Kho pun pernah melakukan perbuatan bodoh yang sama namun hasil penyamarannya segera berhasil dibongkar oleh putriku"
Kakek itu segera tertawa.
"Kalau dia menyamar sebagai diriku, tapi aku justru sedang menyamar sebagai diriku sendiri, apakah menyaru sendiripun masih termasuk suatu penyaruan?"
Dengan penuh amarah, Ui Sik kong segera berseru .
"Aku tidak mempunyai banyak waktu untuk berdebatan denganmu, jawab saja selekasnya, kau mau mundur dari sini atau tidak."
Kakek itu balas mendengus marah.
"Tentu saja aku tak bakal menyingkir dari sini, kecuali kalau kau meninggalkan Kho Beng disini"
"Tak nanti akan kulakukan hal semacam ini,"
Seru Ui sik kong bertambah marah.
"Hmmm, tiada persoalan yang tak mungkin terjadi dengan ku, karena persoalan yang tidak mungkin pun bisa berubah menjadi memungkinkan."
Lalu setelah menatap sekejap lawannya, dia melanjutkan .
"Beranikah kita bertaruh?"
"Bagaimana caranya bertaruh?"
Ui sik kong mendengus.
"Pokoknya siapa yang unggul dia yang menentukan nasib bocah itu, mari kita pun beradu tiga jurus, siapa menang dia mendapatkan Kho Beng, bagaimana dengan cara ini, setuju bukan?"
Ui sik kong segera melototkan sepasang matanya bulat-bulat, dia berseru keras .
"Tampaknya kau telah menyaksikan apa yang telah berlangsung tadi?"
"Betul"
Kakek itu mengangguk.
"aku adalah satu-satunya penonton dari peristiwa tadi."
"Kalau memang sudah menyaksikan sendiri, mengapa kau masih berani mengajukan pertaruhan seperti itu dengan ku?"
Hardik Ui sik kong dengan suara yang berat dan dalam. Kakek itu segera tertawa tergelak .
"Haaah.haaahh.lantas bagaimana menurut pendapatmua?"
"Hmm, rupanya kau sudah bosan hidup dan ingin selekasnya mencari mampus"
"sayang sekali dugaanmu kali ini keliru besar", kakek itu masih tetap tersenyum.
"sebab aku sudah menyaksikan taraf kepandaian silat yang kau miliki, justru karena kutahu titik kelemahanmu maka kuusutkan cara tersebut kepadamu"
"Bagus sekali"
Teriak Ui sik kong kemudian sambil menggigit bibir.
"akan kusuruh kau menyaksikan kehebatan ilmu silatku, hayo majulah"
Sambil berkata dia segera membaringkan tubuh Kho Beng keatas tanah.
"silahkan mulai menyerang"
Ucap si kakek sambil tertawa, sikapnya tetap santai dan seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu peristiwa pun terhadap dirinya.
"selamanya aku tak pernah turun mangan lebih dulu, lebih baik kau yang menyerang duluan"
Kata Ui sik kong. Pelan-pelan kakek itu meloloskan sepasang gelang surya rembulannya, kemudian sambil dipersiapkan ia berkata .
"Kalau memang begitu, maaf kalau aku menyerang lebih duluan."
Sepasang gelang emasnya segera bergerak cepat, gelang surya menyambar kearah kepala sementara gelang rembulan menyambar kearah pinggang, bagaikan dua gulungan asap kuning, senjata tersebut meluncur kemuka dengan sangat hebatnya.
sementara itu Ui sik kong telah mempersiapkan ruyung lemas bewarna emasnya, senjata tersebut diayunkan kedepan dan tiba-tiba saja berubah menjadi beribu-ribu cahaya banyaknya yang bersamasama menyapu keluar.
Traaang..traaaaaangggg Ditengah suara dentingan yang amat nyaring, cahaya kuning memancar keempat penjuru sangat menyilaukan mata, bagaikan sang surya yang memercikkan cahayanya keempat penjuru.
Tempaknya kedua belah pihak sama-sama mundur dua langkah, agaknya menang kalah masih belum bisa ditentukan.
Namun paras muka Ui sik kong telah berubah menjadi berat dan amat serius, jelas sudah didalam bentrokan tadi, dia telah menyadari bahwa ilmu silat yang dimiliki kakek tersebut betul-betul lihainya bukan kepalang.
Terpaksa sambil menggigit bibir dia membentak keras .
"Bajingan tua, ternyata kesempurnaan tenaga dalammu masih jauh diatas kemampuan phu sian si bajingan gundul itu, tak heran kau berani menantangku untuk bertarung?"
Kembali kakek itu tertawa.
"Tenaga dalamku memang masih setingkat diatas kemampuanmu, dalam jurus yang kedua nanti, aku akan memaksamu untuk melepaskan ruyung serta mengaku kalah"
"omong kosong"
Teriak Ui sik kong dengan amarah yang meluap.
"bila kau benar-benar mampu memaksaku untuk melepaskan ruyung, saat ini juga aku akan menggorok leher sendiri dan melakukan bunuh diri"
"Haaahh.hahhhh..haaaah masuk hitungankah perkataanmu itu?"
"Hmmm, ucapan tersebut keluar dari mulutku dan masuk kedalam telingamu, siapa bilang tak masuk hitungan."
Setelah berhenti sejenak. kembali dia melanjutkan dengan suara dalam .
"Bagaimana kalau dalam jurus kedua nanti kau gagal memaksaku untuk melepaskan ruyung?"
"Itu mah gampang sekali. Aku tetap akan melakukan hal yang sama seperti dirimu, bunuh diri tepat dihadapanmu, nah, setuju bukan?"
Ui sik kong segera tertawa tergelak .
"Haaah..haaah..haaahhh.bagus sekali, moga-moga saja kau dapat menepati janjimu nanti"
"Hmmm, yang kukuatirkan justru kaulah yang akan menjilat ludah sendiri"
"Tak usah banyak bicara lagi"
Bentak Ui sik kong keras-keras .
"ayoh cepat turun tangan"
Kakek itu segera mengulangi kembali serangannya dengan gelang surya diatas dan gelang rembulan dibawah dia melancarkan serangan dahsyat.
Dengan cepat Ui sik kong memutar ruyungnya menciptakan tiga lingkaran bayangan cahaya untuk membendung datangnya ancaman tersebut.
Ketiga lingkaran cahaya itu dua diantaranya meluncur untuk membendung datangnya serangan dari sepasang gelang surya rembulan, sementara gulungan yang terakhir langsung menumbuk kearah dada lawan.
Terdengar kakek itu tertawa terbahak-bahak, mendadak jurus serangannya berubah, sepasang gelang surya rembulannya berubah menjadi segulung cahaya tajam dan secara keras melawan keras menerjang bahu kanan Ui sik kong.
Terdengar dengusan tertahan bergema memecahkan keheningan, Ui sik kong mundur tiga langkah dengan sempoyongan sementara ruyung lemas bewarna emasnya terlepas dari genggaman dan mencelat sejauh dua kaki lebih dari tempat semula.
Bersamaan itu pula bahu kanannya nyaris tak mampu diangkat kembali, sudah jelas luka yang dideritanya cukup parah.
Peristiwa ini boleh dibilang suatu peristiwa yang luar biasa dan tidak terduga sebelumnya.
Namun sikap kakek itu masih tetap santai, berdiri disitu sambil tersenyum seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu peristiwa pun.
Paras muka Ui sik kong berubah menjadi mengenaskan, sambil menggigit bibir dia membungkam diri dalam seribu bahasa.
"Nah, bagaimana?"
Tegur si kakek kemudian sambil tertawa.
"Kau yang unggul.."
Nada suara ui sik kong dingin seperti salju. Kemudian setelah berhenti sejenak, katanya lagi .
"Ada suatu pertanyaan, kumohon agar kau bersedia menjawab dengan sejelasnya"
"Kalau ada yang mencurigakan hatimu, silahkan tanyakan saja"
Kata si kakek sambil tertawa.
"Ruyung terbangku sudah jelas bersarang tepat didadamu, sepantasnya kalau tak mampus tentu menderita luka yang parah, mengapa kau masih tetap tenang dan sehat walafiat?"
Kakek itu segera tertawa tergelak .
"Haaaa.haaaahh.haaahhh aku pernah minum cairan mestika Giok hu wan ci ditambah pula hasil latihanku hampir seabad lamanya, kesemuanya itu membuat tubuhku berubah menjadi keras dan tahan serangan, tentu saja aku tak takut menghadapi gempuranmU yang dahsyat itu"
Pucat pias selembar wajah Ui sik kong, ia berdiri kaku disitu tanpa sanggup berkata-kata lagi.
Dia tak pernah menyangka kalau dirinya bakal menderita kekalahan secara mengenaskan, dia pun tak mengira kalau Kong ci Cu masih hidup didunia ini, kesemua Kejadian tersebut hampir saja membuatnya tak percaya sama sekali.
sambil menggeser tubuhnya kembali, kakek itu bertanya .
"Apakah masih ada persoalan lain yang mencurigakan?"
Sambil menghela napas ui sik kong segera berkata .
"Ternyata kau benar-benar adalah Kongci Cu"
"Aku toh tak pernah memaksamu untuk percaya."
"Bila kau benar-benar adalah Kongci Cu, masih ada satu hal yang tidak kupahami?"
Kata Ui sik kong dengan kening berkerut.
"soal apa?"
"Kongci Cu adalah sobat karib kakekku almarhum, terhitung juga orang yang berbudi untuk keluarga ui, seharusnya dia adalah sobat kami bukan musuh."
"ooo maksudmu tidak seharusnya aku membantu orang lain?"
Tukas si kakek cepat.
"Yaaa, begitulah maksudku."
Kakek itu menghela napas panjang.
"Aaaai. aku tak bersedia memberi penjelasan yang terlalu mendalam tentang masalah ini, tapi bila kukatakan kepadamu bahwa setiap orang mempunyai cita-cita yang berbeda."
Kemudian setelah berhenti sejenak. lanjutnya dengan suara dalam .
"Bagaimana dengan pertaruhan kita tadi? Apakah anda akan melaksanakannya?"
"Pertaruhan apa?"
Tanya ui sik kong terperanjat. sambil tertawa kakek itu berkata .
"Bagi yang unggul, bukan saja akan memperoleh Kho Beng, lagipula dapat menyaksikan lawannya menggorok leher sendiri dan bunuh diri, aku rasa begitu bukan pertaruhan yang kita janjikan tadi?"
"Kalau aku tak mau melaksanakannya, mau apa kau?"
Seru Ui sik kong sambil menggigit bibir. Kakek itu segera tertawa tergelak.
"Haaahh..haaaahhaaaah..sejak tadi telah kuduga bahwa kau tak bakal menepati janji, tapi akupun tak akan memaksamu untuk melakukan bunuh diri."
Sesudah menghela napas panjang, kembali ujarnya .
Baca Juga: Kait Perpisahan 3
Baca Juga: Pedang Kiri Pedang Kanan 10