Ceritasilat Novel Online

Lentera Maut 1

Eps 1 Lentera Maut - Khu Lung

Baca online Lentera Maut - Khu Lung

Cersil Lentera Maut - Khu Lung.

Lentera Maut (Ang Teng Hek Mo) Karya . Khu Lung Sumber djvu . BBSC Ebook oleh . Hendra & Dewi KZ

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com/

http.//dewi-kz.info/

Daftar Isi . Lentera Maut Daftar Isi .

Jilid 1

Jilid 2

Jilid 3

Jilid 4

Jilid 5

Jilid 6

Jilid 7

Jilid 8

Jilid 9

Jilid 10

Jilid 11

Jilid 12

Jilid 13

Jilid 14

Jilid 15

Jilid 16

Jilid 17

Jilid 18

Jilid 19

Jilid 20

Jilid 21

Jilid 22

Jilid 23

Jilid 24

Jilid 25

Jilid 26

Jilid 1 ORANG BILANG, hidup didalam rumah penjara adalah suatu penderitaan, harus melakukan kerja-paksa dan tidak boleh bertemu dengan "orang luar", kalau bukan pada waktu-waktu yang sudah ditentukan.

("akan tetapi, hidup didalam biara, barang kali lebih menderita..." ) kata Cie in suthay didalam hati; Karena agaknya dia sedang membandingkan derita orang yang hidup didalam rumah penjara, dengan orang orang yang hidup didalam biara seperti dia.

Cie in suthay adalah seorang biarawati yang muda usia, memiliki ilmu yang perkasa akan tetapi pernah mengalami siksa asmara; sehingga dia memilih hidup didalam biara, mendekati sang Budha buat menjauhi dewi asmara atau cinta.

Akan tetapi, mungkin karena usianya yang masih muda, atau mungkin pula karena bakatnya yang memang tidak ada; maka Cie in suthay sering sering memaki setan setan yang menggoda, membakar semangatnya, atau menyimpan rasa dendam, atau ingin mengembara membasmi setan setan yang merajalela.

Dahulu nama Cie in suthay adalah Liong Cie In.

Sejak kecil dia sudah belajar ilmu silat pada Thian jie sengjin yang sakti ilmunya, terutama dalam hal kelincahan tubuh dan ilmu lari cepat "Leng pou hui pu" atau terbang diatas air.

Dalam masa perjuangan tentara rakyat yang hendak menggulingkan pemerintah penjajah bangsa Mongolia, Liong Cie In membantu gerakan yang dipimpin oleh almarhum Thio Su Seng, dan pada kesempatan itu Liong Cie In mendapat tambahan ilmu dari seorang pendeta sakti, yakni Cit Siu tojin yang menjadi pembantu utama dari almarhum.

Kemudian dara yang perkasa itu terlibat dalam kasih asmara dengan seorang laki laki muda yang perkasa, yakni si pendekar tanpa bayangan Tan Sun Hian, namun akhirnya diketahui oleh dara yang perkasa itu, bahwa Tan Sun Hian sebenarnya sudah beristeri dan sudah mempunyai seorang anak, sehingga Liong Cie In hampir saja membunuh diri, sekiranya dia tidak bertemu dengan Bok-lan siancu seorang bhiksu sakti yang hanya memiliki sebelah tangan kanan, sebab lengan kirinya putus sebatas pundak.

Dan sejak saat itu Liong Cie In menjadi murid dari bikshuni tua yang sakti itu, belajar agama dan mendapat tambahan pelajaran ilmu silat, serta mengganti nama menjadi Cie in suthay karena dia bertekad hendak menjadi seorang biarawati, supaya jauh dari goda dan jauh dari pengaruh cinta asmara.

Sementara itu sudah tiga bulan lamanya Cie in-suthay ditinggal pergi oleh gurunya dan sudah tiga bulan pula biarawati yang muda usia itu merawat Lie Hong Giok yang terkena penyakit jiwa, menjadi seorang perempuan sinting sebab diganggu oleh si iblis penyebar maut atau Toat beng sim".

Perkenalan Cie in suthay dengan dara Lie Hong Giok adalah sejak mereka bahu membahu ikut gerakan penentang pemerintah penjajah bangsa asing, sampai kemudian mereka ikut menggabungkan diri dalam kelompok pendekar penegak keadilan, melakukan aksi pengganyangan terhadap markas pusat persekutuan Thian tok bun, suatu persekutuan penyebar racun maut sebagai kegiatan dari si iblis penyebar maut.

Kemudian ketika pada suatu kesempatan Cie in suthay sedang melakukan perjalanan bersama sama si macan terbang Lie Hui Houw.

maka secara tidak disengaja biarawati yang muda usia itu bertemu dengan Lie Hong Giok yang sedang menderita, sebagai seorang perempuan sinting, sebagai korban perbuatan biadab dari si iblis penyebar maut.

Ada kemajuan yang dicapai oleh Lie Hong Giok, berkat rawatan Cie in suthay yang cermat dan teliti, memakai obat obat dan cara cara seperti yang diberitahukan oleh Bok lan siancu, gurunya Cie in suthay.

Secara berangsur angsur kesehatan Lie Hong Giok menjadi pulih lagi, akan tetapi nyala-api dimatanya dara yang bernasib malang itu bagaikan sudah padam, seperti dia merasa tidak ada lagi gunanya dia hidup didalam dunia ini, sebab perawannya sudah hilang bahkan pernah dia melahirkan bayi didalam sebuah kuil tua, tanpa ada dukun atau seseorang yang membantu dia !

Konon waktu Bok lan siancu pulang dari perjalanan musibah, bhiksuni yang sudah tua dan sakti ilmunya itu membawa berita baru yang dia ceritakan dihadapan Cie in suthay .

" --dikota Hie ciang, orang orang Kay pang atau orang orang gelandangan sedang pecah menjadi dua golongan."

Demikian Bok lan siancu memulai dengan bertanya yang baru itu dan meneruskan lagi.

"...dahulu orang orang gelandangan didalam kota Hie ciang dipimpin oleh seorang laki laki yang bernama Lim Tiong Houw. Akan tetapi sejak kepergiannya sepuluh tahun yang lalu, pimpinan diganti oleh seorang laki laki yang bernama Ouw Beng Tek dan baru baru ini Ouw Beng Tek itu mati dibunuh seseorang sehingga terjadilah orang orang gelandangan didalam kota Hie ciang saling berebut hendak menjadi pemimpin."

"persoalan mereka yang saling berebut kedudukan itu, tentunya dengau mudah dapat dibereskan oleh Gwa Teng Kie dan Gwa Teng Sin, dua kakak beradik yang menjadi pejabat ketua umum persekutuan Kay pang..."

Kata Cie in suthay yang memutus perkataan gurunya.

"Dua bocah bocah itu, mengurus diri saja mereka tidak mampu bagaimana mungkin sanggup mengatasi urusan perkumpulan Kay pang yang sudah sangat meluas itu ..?"

Sahut Bok lan siancu yang sebenarnya sudah tidak mau mencampuri urusan orang orang yang sedang berselisihan; namun bhiksuni tua yang sakti ilmunya itu menyimpan sesuatu maksud terhadap muridnya yang sedang dia ajak bicara.

"... pertentangan antara sesama orang-orang gelandangan didalam kota Hie ciang itu kemudian ditunggangi oleh seseorang atau sekelompok orang orang yang sengaja hendak menambah kekeruhan. Dua bocah yang kau sebut namanya tadi, sudah tiga kali mengirim utusan buat mengambil alih pimpinan Kay pang di dalam kota itu akan tetapi dua orang yang menjadi utusan itu sudah binasa pada sebelum mereka memasuki kota Hie ciang; dan yang seorang lagi atau yang ketika mampus waktu dia baru semalaman tiba . ."

Perhatian Cie in suthay menjadi tertarik dan dia memperhatikan setiap kata kata yang diucapkan o!eh gurunya yang meneruskan menceritakan tentang peristiwa yang sedang terjadi didalam kota Hie ciang; bahkan sering kali Cie-in suthay menanya kalau ada sesuatu yang dia rasa belum jelas terlebih mengenai sebab sebab Lim Tiong Houw pergi meninggalkan kota Hie Ciang; Ouw Beng Tek dibunuh orang dan sebagainya sampai Bok lan siancu berulangkali perlihatkan tanda kepingin tidur, sebab malam semakin bertambah larut namun Cie in suthay belum merasa cukup mengajukan pertanyaan sampai kepada persoalan yang sekecil kecilnya.

Waktu sudah berada seorang diri didalam kamarnya, dw-kz biarawati yang muda usia itu masih duduk berpikir; sampai mendadak dia teringat dengan si macan terbang Lie Hui Houw.

Setelah berpisah habis bahu membahu menolong Lie Hong Giok, maka Cie in suthay tidak pernah bertemu lagi dengan macan terbang Lie Hui Houw; padahal pemuda itu pernah datang kuil Cui gwat am bersama kekasihnya, Cin Siao Yan; dan kedatangan pemuda itu yang hendak menyambangi Cie in ternyata sia sia belaka sebab kuil Cui gwat am tidak boleh menerima kunjungan tamu laki laki.

Malam itu, karena adanya urusan dikota Hie ciang, maka Cie in suthay menjadi teringat dengan si macan terbang Lie Hui Houw.

Biarawati yang muda usia dan cantik rupawan ini tak mengetahui apakah si macan terbang Lie Hui Houw masih menumpang dirumah si naga sakti Louw Sin Liong, ataukah sudah pergi membawa kekasihnya ke teluk Hek liu ouw sebab sesuai dengan rencananya pemuda itu hendak mengajak kekasihnya menemui si jeriji sakti Phang Bun Liong, datuk dari para pendekar penegak keadilan.

("akan kususul dia, kemanapun dia pergi...") biarawati yang muda usia itu memutuskan di dalam hatinya; sebab untuk yang kesekian kalinya ternyata dia tidak berhasil mengatasi diri dari "gangguan"

Setan setan, dan dia bertekad hendak mencampuri urusan orang orang gelandangan yang katanya sedang saling gontok didalam kota Hie ciang.

Setelah menetapkan tekadnya maka biarawati yang muda usia itu sempat tidur selama dua jam; dan pada pagi harinya dia menghilang dari kuil Cui gwat am, dengan meninggalkan sepucuk surat buat gurunya, sebagai ganti pamit buat dia menjernihkan urusan didalam kota Hie ciang !

Bok lan siancu tertawa didalam hati waktu dia habis membaca surat muridnya.

Bhiksuni tua yang sakti ilmunya ini memang sudah mengetahui, bahwa usia muda dan semangat yang masih membara belum memungkinkan buat muridnya itu mendekati sang Budha, sehingga Bok lan siancu membiarkan sang murid itu mengamalkan darma baktinya didunia yang bebas, yang masih banyak setan setan yang berkeliaran.

)o(dw)(X)(kz)0( Sepanjang melakukan perjalanan hendak mencari si macan terbang Lie Hui Houw, maka Cie in suthay menjadi ingat masa perkenalannya dengan si macan terbang itu yang kadang kadang bisa membikin dia tersenyum seorang diri, menganggap lucu oleh karena pada waktu itu dia menghadapi DUA "macan terbang", bukannya cuma SATU macan terbang.

Waktu itu maharaja Beng tay couw merupakan raja Beng yang pertama setelah berhasil mengusir kaum penjajah bangsa Mongolia.

Adalah merupakan suatu kebanggaan bagi bangsa dan negara yang berhasil merebut kemerdekaan setelah sedemikian lamanya dijajah oleh bangsa asing.

Kemerdekaan antara lain merupakan suatu kebebasan dari penindasan kaum penjajah.

Akan tetapi rakyat negri Cina yang mengharapkan suatu kehidupan yang aman dan tentram, ternyata telah dihadapkan oleh suatu kekecewaan oleh karena keamanan negara ternyata belum tercapai, meskipun yang memerintah sudah merupakan bangsa sendiri.

Cu Juan Csang yang mengangkat diri menjadi maharaja Beng yang pertama, merasa perlu untuk memerintah memakai tangan besi, istimewa terhadap orang orang yang pernah mendukung atau pernah memihak dengan Thio Su Seng seorang tokoh yang dianggap sebagai saingan oleh Cu Juan Csan dalam memperjuangkan kemerdekaan negeri Cina.

Meskipun tokoh Thio Su Seng sudah binasa dan segala kesatuannya sudah dibubarkan, namun maharaja Beng merasa curiga bahwa antek anteknya Thio Su Seng masih hendak berusaha merebut pemerintahan melalui suatu pemberontakan.

Beng tay couw atau maharaja Beng yang agung itu kemudian mengeluarkan perintah menangkap dan menghukum mati bagi antek-anteknya Thio Su Seng berikut semua keluarga mereka; dan pihak istana mengetahui adanya suatu "daftar nama"

Dari seratus delapan orang orang yang pernah menjadi pendukung gerakan Thio Su Seng, dan maharaja Beng tay couw lalu memerintahkan mencari dan merebut daftar nama itu.

Untuk tugas ini telah dibentuk suatu kesatuan "dinas rahasia"

Yang terdiri dari tiga belas orang jago istana atau Tay lwee sip sam ciu; alias tiga belas malaikat maut.

Tay Iwee sip sam ciu dipimpin oleh seorang pangeran muda, salah seorang keponakan maharaja Beng yang mahir ilmu silatnya, dan merupakaj sesuatu hal yang istimewa baginya pada kesatuan dinas rahasia ini, bahwa mereka memiliki pakaian seragam yang lengkap dengan selubung penutup kepala sehingga wajah muka mereka tidak kelihatan dan tidak saling mengenal diantara sesama rekan mereka.

Tanda pengenal mereka adalah nomor urut dalam lingkaran gambar seekor naga yang terdapat dibagian dada sebelah kiri pada seragam mereka, serta sebuah lencana khusus yang berupa cincin.

Pakaian seragam dari ke tiga belas malaikat maut itu, masing masing saling berbeda warna.

Misalnya warna kuning emas bagi Tay lwee siap sam ciu yang pertama sebagai pemimpin, warna hitam bagi Tay lwee sip sam ciu nomor dua warna hijau untuk nomor delapan dan lain sebagainya.

Sepak terjang ke tiga belas malaikat itu yang melakukan tugas penyelidikan dikalangan masyarakat, dalam sekejap telah menghebohkan berkat kekejaman tindakan mereka.

Rakyat jelata hidup dalam suasana penuh rasa takut dan saling curiga, setiap saat nyawa mereka akan hilang tanpa dapat diramal,bila kiranya mereka kena tuduhan menjadi antek anteknya gerakan Thio Su Seng, atau ikut mengetahui tentang adanya "daftar nama"

Keseratus delapan orang orang menjadi pendukung gerakan Thio Su Seng itu.

Suasana gelisah dan rasa curiga ini tidak melulu terjadi dikalangan rakyat jelata, akan tetapi juga dikalangan rimba persilatan ikut menjadi heboh; sebab sepak terjang ke tiga belas malaikat maut itu justeru dipusatkan pada kelompok orang orang gagah.

Sementara itu, seorang lelaki bermuka hitam bekas kena terbakar oleh teriknya sinar matahari bertubuh agak kurus tapi berotot, dikawal oleh sejumlah alat negara untuk menerima kebebasannya dari rumah penjara dekat Tembok besar Ban lie tang shia.

Hampir duapuluh tahun lamanya dia menjadi penghuni rumah penjara itu.

menjalani derita dan siksa, melakukan kerja paksa tanpa menghiraukan panasnya terik sinar matahari atau musim dingin yang penuh dengan salju.

Dahulu lelaki ini merupakan seorang pemuda yang tampan dan tangkas, sekarang dia bermuka hitam dan kelihatan lebih tua dari usia yang baru mendekati empat puluh tahun.

Seharusnya dia mengalami hukuman seumur hidup sebagai orang tahanan pihak pemerintah penjajah, sebab dia ikut perjuangan yang menentang kaum penjajah bangsa Mongolia.

Akan tetapi berkat kemerdekaan bangsa dan negaranya, maka hari itu dia menerima kebebasannya.

Lelaki itu tertawa tak sudahnya waktu dia sudah berada diluar tembok penjara.

Dia telah merdeka, seperti juga bangsa dan negaranya yang sudah bebas dari belenggu kaum penjajah.

Dia sekarang sudah bebas dan mempunyai kesempatan buat melepas dendam terhadap orang atau orang orang telah mcnghianati dia, mengakibatkan dia kena ditangkap dan harus mengalami derita didalam rumah penjara, melakukan kerja paksa yang tidak mengenal perikemanusiaan !

Dahulu lelaki itu adalah seorang panglima ketiga dari persekutuan "naga hijau"

Ataa Ceng liong pang, suatu persekutuan orang-orang gagah yang menentang penjajah bangsa Mongolia.

Kemudian dia mendapat perintah dari pangcu atau ketua persekutuan buat dia membunuh pejabat pemerintah kota Hang ciu, sebab pejabat pemerintah itu adalah seorang penghianat bangsa yang kesudian mengabdi pada bangsa asing.

Dikota Hang ciu yang besar dan ramai, sengaja lelaki itu tidak memilih sebuah rumah penginapan buat dia memondok, sesuai dengan saran salah seorang rekan seperjuangannya, dan dia menginap didalam sebuah kuil tua yang letaknya dekat perbatasan luar kota.

Akan tetapi, segala persiapan yang cermat dan teliti itu ternyata sia sia belaka, karena pihak pejabat pemerintah setempat segera mengetahui tentang tugas dan kedatangannya dikota Hang ciu, bahkan pihak pejabat pemerintah itu telah mengetahui tempat memondoknya yang istimewa, dan menyergap lalu menangkap dia memakai suatu muslihat.

Sebagai seorang ksatrya yang tangkas dan memiliki semangat baja, sudah pasti dia pantang menyerah dan akan melakukan sampai pada akhir hayatnya, akan tetapi waktu itu dia kena perangkap yakin seyakin yakinnya, bahwa seseorang telah menghianati dia, dan seseorang itu pasti adalah rekan seperjuangan yang menyarankan dia memilih tempat mondok didalam sebuah kuil tua.

Dengan demikian, segala derita selama dia dihukum melakukan kerja paksa didalam rumah penjara, terasa lebih menyakitkan adalah derita membendung dendam yang membara !

Sekarang setelah dia memperoleh kebebasannya maka kesempatan pertama yang hendak dia pergunakan adalah untuk melakukan balas dendam terhadap orang yang sudah menghianati dia.

Langkah kakinya tidak mengenal lelah buat dia menempuh jarak perjalanan yang jauh menuju keatas gunung Ceng liong san, tempat markas pusat persekutuan Ceng liong pang dahulu, dua puluh tahun yang lalu !

Setelah hampir dua puluh tahun lamanya dia menjadi orang hukuman, sekarang laki-laki itu bagaikan sudah lupa dengan kebiasaannya dahulu, selagi dia menjadi seorang pemuda tampan yang selalu berpakaian bersih dan rapih.

Pakaiannya sekarang dari bahan katun bagaikan pakaian seorang desa.

Bekalnya sangat terbatas, dari itu dia tidak pernah masuk ke sebuah rumah makan buat dia mengisi perut, sedangkan untuk tidur dia memilih kuil kuil tua yang sudah tidak ada penghuninya atau bercampur dengan orang orang gelandangan.

Didalam hati, sebenarnya laki laki bekas orang hukuman itu merasa heran; mengapa bukan Thio Su Seng yang menjadi raja ?

Mengapa justeru Cu Juan Tsyang ?

Laki laki bekas orang hukuman itu teringat dengan masa lalu selagi dia masih menjadi panglima ketiga pada perkumpulan Ceng liong pang.

Dia lebih condong dengan gerakan yang dipimpin oleh Thio Su Seng; sebaliknya pangcu Ceng liong pang kelihatannya memihak dengan gerakan "Pelangi merah"

Yang dipimpin oleh Cu Juan Tsyang.

Dan sekarang ternyata pangcu itu yang "menang".

Maka didalam hati dia menjadi tersenyum.

Namun sekarang dia tidak perduli siapa saja yang menjadi raja.

Yang penting negara sudah merdeka tidak lagi dijajah oleh bangsa asing, seperti cita cita dan perjuangannya.

Dan yang lebih penting lagi dia sekarang ikut jadi merdeka, tidak lagi menjadi orang hukuman yang hidup didalam rumah penjara !

Akan tetapi, selama dia melakukan perjalanan itu, dilihatnya rakyat jelata hidup dalam keadaan gelisah, takut bicara dengan orang-orang yang mereka tidak kenal, terhadap seseorang pendatang seperti dia, sehingga sangat berbeda dengan janji-janji selama masa perjuangan masih berlangsung bahwa rakyat jelata akan hidup amat tentram kalau negara sudah merdeka !

Namun demikian, dendam yang membara di dalam tubuhnya, telah menjadikan laki laki bekas orang hukuman itu bersikap "masa bodo", tidak mau dia mencampuri urusan lain orang.

Dia sekarang justru selalu menghindar dan bicara hanya seperlunya jauh berbeda kalau dibanding dengan waktu dia masih muda.

Akan tetapi ketika pada suatu hari dia memasuki kota Lu liang thang, jiwa ksatrya yang tetap dia miliki, memaksa laki laki bekas orang hukuman itu jadi menunda perjalanannya.

Di dalam kota Lu liang thang ini, adalah menjadi tempat tinggalnya seorang pendekar muda bernama Lee Kuo Cen serta adik perempuannya yang bernama Lee Su Nio, sipendekar perempuan berbaju merah atau Ang ie liehiap.

Baik Lee Ku Cen maupun adiknya, mereka berdua hampir selalu tidak pernah berada dirumah.

Keduanya seringkali merantau menunaikan bhakti sebagai semua para pendekar penegak keadilan, seperti baru-baru ini mereka ikut didalam aksi pengganyangan terhadap markas besar si iblis penyebar maut yang melakukan kegiatan sebagai pemimpin dari persekutuan Thian tok bun, atau persekutuan penyebar racun maut.

Kedua pendekar ini, Lee Kuo Cen dan Lee Su Nio, merupakan orang orang yang namanya justeru dicantum didalam daftar nama ke 108 orang orang yang mendukung gerakan Thio Su Seng, lagipula segala sepak terjang kedua pendekar muda itu sudah banyak diketahui orang, sehingga tidak sukar buat pihak alat negara mencari alamat mereka, terlebih bagi kesatuan dinas rahasia yang menamakan diri sebagai Tay lwee sip-sam ciu atau tigabelas malaikat maut.

Tay lwee sip sam ciu yang ke tujuh berhasil memperoleh keterangan tentang kegiatan yang pernah dilakukan oleh Lee Kuo Cen berdua adik perempuannya.

Dinas rahasia itu mendatangi pihak pejabat pemerintah setempat, yang bermaksud untuk meminta bantuan tenaga pasukan tentara buat menangkap kedua pendekar muda itu, yang dia yakin akan melakukan perlawanan dan tak mudah untuk ditangkap, meskipun anggota dinas rahasia yang ke tujuh itu memiliki ilmu yang tinggi.

Kedatangan rombongan pasukan tentara itu dibawah pimpinan seorang perwira muda serta didampingi oleh Tay lwee sip sam ciu yang ke tujuh akan tetapi ketika mereka tiba di tempat tujuan, mereka hanya berhasil menemui Ang-ie liehiap Lee Su Nio berikut suami isteri yang menjadi pembantu rumah tangga, sedangkan pemuda Lee Kuo Cen sedang melakukan perjalanan mengembara.

Dara perkasa berbaju merah itu justeru baru dua hari berada dirumah, bermaksud hendak menemui kakaknya sebab dia telah mendengar berita tentang sepak terjang Tay lwee sip sam ciu yang mendapat tugas langsung dari istana kerajaan Beng.

Akan tetapi dara yang perkasa itu belum berhasil bertemu dengan kakaknya, sebaliknya pihak alat negara justeru telah datang hendak menangkap dia berikut kakaknya.

Ang ie liehiap Lee Su Nio melakukan perlawanan tanpa menghiraukan banyak pihak alat negara yang mengepung dia, akan tetapi, dara perkasa berbaju merah itu tak mau menyebar maut dikalangan bangsa sendiri.

Dalam usahanya hendak melarikan diri pedangnya lebih banyak dipakai buat dia melindungi dirinya, atau buat mengancam Tay lwee sip sam ciu yang ketujuh serta si perwira muda yang ikut melakukan pengepungan.

Akibat cara dia bertempur itu, justeru jadi merugikan dara perkasa berbaju merah itu, sebab pihak tentara menjadi berani mengurung dan mengepung dia secara ketat, bahkan Lee Su Nio menjadi tidak berdaya memberikan pertolongan waktu suami-isteri pembantu rumah tangganya kena ditangkap dan digiring ke kantor pejabat pemerintah.

Di lain pihak Tay lwee sip-sam ciu yang ke tujuh menghadapi kenyataan bahwa memang tidak mudah buat dia menangkap Ang-ie liehiap Lee Su Nio, apalagi kalau pada saat itu Lee Kuo Cen ikut mendampingi adiknya.

Tay lwee sip sam ciu yang ke tujuh itu kemudian memerintahkan beberapa orang tentara buat membakar rumahnya Lee Su Nio, sementara pengepungan tetap dilakukan; namun sambil mereka bergerak keluar rumah.

Pedih hati Lee Su Nio waktu menyaksikan rumah dan harta bendanya dibakar habis Dara perkasa berbaju merah itu sebenarnya mempunyai kesempatan buat melarikan diri dari kepungan tentara yang sekarang terjadi di bagian luar rumah, di jalan raya, akan tetapi dara yang perkasa itu sekarang tidak dapat lagi membendung kemarahannya.

Mayat mayat dan orang orang yang terluka parah, mulai bergelimpangan di jalan raya terkena amukan pedang dara perkasa berbaju merah itu.

Biasanya, jalan raya tempat terjadinya pertempuran itu merupakan jalan yang ramai dengan arus lalu lintas.

Akan tetapi karena adanya pihak alat alat negara yang hendak melakukan penangkapan atas diri Lee Su Nio, maka hilang lenyap orang-orang yang berlalu lintas, bahkan para tetangga pada berlomba menutup pintu rumah mereka.

Kemudian waktu terjadi pembakaran terhadap rumah Lee Su Nio, maka para tetangga berhamburan saling berlomba membuka pintu buat mengeluarkan harta benda mereka, sehingga dalam sekejab keadaan menjadi bertambah kacau balau, banyak terdengar pekik suara perempuan dan kanak kanak, bercampur dengan suara tatis dan suara dari orang-orang yang sedang mengepung Lee Su Nio.

Pihak pejabat yang menerima laporan kilat mengenai pertempuran itu, cepat cepat mengirimkan bala bantuan yang beberapa kali lebih banyak jumlahnya, ditambah dengan seorang perwira menengah bernama Yo Sun Kong, yang pernah menjadi pembantu dari ciangkun Lie Kim Liang, perwira tinggi, yang menjabat pangkat sebagai kepala pasukan gerak cepat di istana kerajaan Beng.

Keadaan Lee Su Nio sekarang menjadi gawat, dikepung dalam suatu lingkaran pasukan tentara yang hampir 100 orang banyaknya serta tay lwee siap sam ciu yang ke 7 dan rekan rekannya yang secara silih berganti ikut melakukan pengepungan terhadap dara perkasa berbaju merah itu.

Betapapun halnya keadaan yang hiruk pikuk itu telah menarik perhatiannya laki laki bekas orang hukuman itu, yang baru saja memasuki kota Lu liang thang.

Sejenak laki laki bekas hukuman itu bagaikan lupa dengan perjalanannya yang hendak mendaki gunung Ceng liong san buat mencari seorang orang yang telah menghianati dia.

Dia bergerak lincah dan ringan waktu dia lompat naik keatas sebuah pohon untuk dia duduk seenaknya pada sebuah dahan di mana dia menggoyang goyang kepala waktu melihat hanya seorang perempuan muda yang harus dikepung oleh sedemikian banyaknya kaum laki laki.

Akan tetapi, perempuan muda yang berbaju merah sangat cantik dan sangat perkasa sehingga secara mendadak laki-laki bekas orang hukuman itu menjadi terkenang dengan masa lalu, karena dia teringat dengan seorang dara yang pernah dia kenal dan pernah menjadi tambatan hatinya.

Kelincahan dan kegagahan dara berbaju merah itu, tidak ubahnya seperti dara yang pernah menjadi tambatan hatinya.

Secara begitu mendadak, secara begitu tiba tiba, didalam hati laki laki bekas seorang hukuman itu jadi mengeluh.

(Hong Moay, mengapa bisa terjadi seperti ini?

mengapa nasib sekejam itu memisah kita ...?!) Dan, secara begitu tiba-tiba juga sepasang laki-laki itu menjadi basah dengan air mata!

Mungkin karena adanya kenangan lama itu maka laki laki bekas orang hukuman itu bagaikan lupa dengan sikapnya yang sudah tidak mau mencampuri urusan yang lainnya orang.

Dia berteriak perdengarkan suaranya yang bagaikan aum seekor harimau jantan, seperti kebiasaan dulu lalu tubuhnya melesat bagaikan seekor macan yang sedang terbang !

Dua kepala tentara dia injak menjadi landasan buat dia lompat sekali lagi, sampai dia berhasil mendekati Ang ie liehiap Lee Su Nio!

Sebelah telapak tangannya kemudian memukul lengan Yo Sun Kong yang sedang menyerang Lee Sun Nio memakai sebatang ruyung besi, sementara sikutnya ikut bekerja mencari sasaran pada seorang tentara yang hendak menikam Lee Sun Nio memakai sebatang tombak panjang.

Si perwira Yo Sun Kong adalah seorang jago yarg sudah cukup lama meraja lela, tapi dia tidak kuasa menghindar dari pukulan yang datangnya sangat cepat serta diluar dugaannya.

Tulang lengannya remuk tak dapat dia gunakan lagi, senjata lantas saja terlepas dan dia hampir hampir tewas karena kena tikaman pedang Lee Su Nio sekiranya dia tidak lekas lekas ditolong oleh Tay lwee sip sam ciu yang ke tujuh.

Seorang tentara yang kena sikut tadi, terlempar jatuh tak dapat bangun lagi, sementara dua tentara yang kepalanya kena injak menjadi landasan, tewas seketika karena batok kepalanya itu menjadi remuk !

Tay lwee sip sam ciu yang ke 7 dilibat dengan pertempuran melawan Lee Su Nio, dan keadaan menjadi kacau balau karena datangnya laki laki bekas orang hukuman itu, yang sekarang sedang dihadang oleh si perwira muda, namun si perwira muda itu cepat terkulai tidak berdaya kena tendangan geledek pada bagian dadanya.

Tay sip sam ciu yang ke 7 menjadi sangat terkejut karena dia sempat melirik dan melihat si perwira muda yang kena ditendang.

Cepat cepat dia bersiaga waktu laki tidak dikenal itu mendekati, dan dengan gerakannya yang cepat pula Tay lwee sip ciu sam ke-7 itu bahkan mendahului menyerang, menikam memakai pedangnya dengan jurus maut ular belang melepas bisa.

Sekali lagi terdengar laki laki bekas orang hukuman itu terpekik bagaikan aum seekor harimau yang sedang marah, sementara tangan kirinya bergerak bagaikan nekad hendak menangkis pedang lawan yang tajam namun gerak tangannya cepat berobah dan tahu-tahu dia berhasil memegang lengan lawannya yang memegang pedang, lalu lengan itu dia putar sedangkan telapak tangan kanannya menyambar dengan amat pesatnya, langsung merenggut muka Tay Lee sip sam ciu ke 7 yang memakai selubung penutup kepala, sampai kain selubung itu robek dan muka itu penuh berlumuran darah !

Tay lwee sip sam ciu yang ke 7 tewas tanpa dia mampu bersuara dan pihak tentara menjadi tambah kacau ketakutan, karena mereka kehilangan pemimpin, akan tetapi Ang ie liehiap Lee Su Nio cepat cepat mengajak penolongnya itu lari menyingkir, karena tak mau dara ini membiarkan laki-laki perkasa itu menyebar maut lagi.

)o(dw)(X)(hend)o( ANGIN sepoi sepoi meniup mengurangi teriknya sinar matahari disiang hari itu.

Ang ie liehiap Lee Su Nio menyingkap anak rambut yang menutupi sebelah daun telinganya kena tiupan angin tadi.

Dara perkasa berbaju merah itu duduk diatas sebuah batu besar ditepi jalan, dekat perbatasan kota Lu liang thang, sedangkan laki laki bekas orang hukuman itu berdiri disisi dara yang perkasa cantik jelita itu.

"... tayhiap. kita belum berkenalan, Namaku Lee Su Nio ..."

Terdengar antara kata dara perkasa berbaju merah itu, setelah lebih dahulu dia mengucap terima kasih atas bantuan laki laki yang belum dikenalnya itu.

"Lee Su Nio ..?"

Ulang laki laki bekas orang hukuman itu, perlahan suaranya, lebih mirip dia berkata pada dirinya sendiri, dan agaknya dia segan memperkenalkan namanya, bahkan kelihatannya dia bersikap acuh.

Hanya didalam hatinya, untuk yang sekian kalinya dia menjadi teringat dengan dara tambatan hatinya.

Sementara itu, Lee Su Nio yang menunggu sia sia dan laki laki tidak meneruskan perkataannya, maka ganti dia yang bicara lagi.

"Dan siapa nama tayhiap ..?"

Demikian tanyanya.

"Akh ! Apa arti sebuah nama ... ?"

Sahut laki laki bekas orang hukuman itu, sementara pandangan matanya jauh tertuju ke suatu arah, kelihatan hampa.

("Hong moay dimana kau sekarang berada?

Apakah sudah mendahului aku meninggalkan dunia yang fana ini ...

?") laki laki bekas orang hukuman itu mengeluh didalam hati yang sudah terlalu sering dia lakukan.

Ang ie liehiap Lee Su Nio adalah seorang dara perkasa yang sudah biasa berkenalan dan seringkali menghadapi berbagai macam keanehan dari orang-orang rimba persilatan, sehingga dia tidak merasa heran kalau laki-laki perkasa itu tidak mau memperkenalkan namanya.

"Mengapa mereka hendak menangkap kau?"

Tiba tiba laki laki bekas orang hukuman itu menanya, setelah keduanya sama sama hening sejenak.

"Suatu kejadian yang sudah aku duga . ."

Sahut Lee Su Nio yang lalu menambahkan perkataannya selagi laki-laki yang belum dikenalnya itu menatap dengan sepasang sinar matanya yang tajam .

"Saat ini dikalangan khalayak ramai sedang banyak diperbincangkan tentang sepak terjangnya Tay-lwee sip sam ciu. "Tiga belas jago istana ?"

Laki laki bekas orang hukuman itu memutus perkataan Lee Su Nio.

"Benar. Mereka bahkan banyak dikenal sebagai tiga belas malaikat maut. Mereka mendapat tugas langsung dari istana kerajaan buat menyelidiki dan mencari daftar nama seratus delapan orang orang yang pernah menjadi pendukung dari gerakan Thio Su Seng almarhum ..."

"Tunggu ! Mengapa kau bilang Thio Su Seng almarhum... ."

Sekali lagi laki-laki bekas orang hukuman itu memutus perkataan Lee Su Nio, dan sepasang matanya semakin tajam mengawasi muka Lee Su Nio.

Ang ie liehiap Lee Su Nio terbelalak terpesona, sehingga sejenak dia ikut mengawasi muka laki laki yang sedang dia ajak bicara itu.

Apakah benar-benar laki laki yang tak mau dikenal namanya itu tidak mengetahui bahwa Thio Su Seng sudah binasa?

Ataukah laki laki itu orang sinting ..?

Sebab, tewasnya Thio Su Seng sebagai seorang tokoh perjuangan, diketahui oleh hampir setiap orang.

"Thio pek hu sudah tewas dan hal ini sudah diketahui oleh semua orang ..."

Akhirnya kata Lee Su Nio; dengan nada suara yang menyatakan dia merasa tidak puas.

Akan tetapi, lelaki bekas orang hukuman Itu bagaikan tidak menghiraukan perasaan Lee Su Nio.

Tidak dilihat oleh Lee Su Nio tentang adanya perobahan pada muka lelaki itu, yang entah merasa kaget atau merasa heran karena mendengar Thio Su Seng sudah binasa; sebaliknya lelaki itu terdengar menanya lagi .

"Apa sebabnya Thio Su Seng binasa...!?"

Terbelalak sepasang mata Ang ie-liehiap Lee Su Nio ketika mendengar pertanyaan itu.

Apakah lelakiini benar benar merupakan seorang sinting ?

Ataukah lelaki itu sedang memperolok dia?

Akan tetapi, nada suara lelaki itu kedengaran wajar waktu dia mengajukan pertanyaannya.

"Thio pek hu tewas sebagai seorang ksatrya pejuang bangsa dan dalam suatu pertempuran yang dapat menentukan...."

Akhirnya Lee Su Nio memberikan jawaban tetap dengan perdengarkan nada suara seperti dia merasa tersinggung. "Oh ..!"

Hanya itu yang diucapkan oleh laki laki bekas orang hukuman itu.

Pada mukanya tidak kelihatan dia merasa ikut berduka cita, juga pada sepasang matanya tidak kelihatan seperti dia ikut bersedih hati.

sikapnya kelihatan begitu acuh seperti tidak berperasaan, ini menurut penilaian Ang ie-liehiap Lee Su Nio pada waktu itu sehingga untuk yang kesekian kalinya, Lee Su Nio jadi menatap muka laki laki yang sedang dia ajak bicara Suatu wajah muka yang belum pernah dia kenal, namun ilmu yang dimiliki oleh laki laki itu sangat dahsyat agak mirip dengan jurus jurus ilmu silat golongan Siao lim, namun cara penggunakannya terlalu keras terutama pada saat laki laki itu membinasakan Tay lwee sip sam cui yang ke tujuh.

Cakaran tangannya bagaikan menggunakan ilmu pukulan Lohan ngo heng kun pada jurus pukulan "macan" ( "houw kun" ).

". .dalam menunaikan tugas mencari daftar nama itu, ternyata Tay lwee sip sam ciu telah bertindak sangat ganas dan kejam, sehingga masyarakat menjadi sangat gelisah dan takut, karena setiap saat mereka dapat ditindak sebagai antek antek kaum pemberontak yang diancam dengan hukuman mati.."

Dara perkasa berbaju merah itu berkata lagi yang kembali pada pokok pembicaraannya dan dia bahkan meneruskan perkataannya selagi laki laki bekas orang hukuman itu diam mendengarkan.

" ..namaku dan nama kakak tercantum didalam daftar nama itu, karena sesungguhnya kami pernah ikut menbantu perjuangan Thio pek hu, . ."

"Siapakah yang menyusun daftar nama itu. ..?"

Laki laki bekas orang hukuman itu menanya, selagi Lee Su Nio menunda bicara.

"Bo im kiamhiap Tan Sun Hian, sipendekar tanpa bayangan..."

Sahut Lee Su Nio.

"Pendekar tanpa bayangan ? ha ha ha ? benarkah ilmu yang dimilikinya sesuai dengan gelar yang dia pakai ...?""

Tanya laki laki bekas orang hukuman itu, yang bahkan menyertai tawa yang seperti mengejek.

Akan tetapi, sekarang Ang ie liehiap Lee Su Nio tidak menghiraukan lagi, meskipun perkataan laki laki itu bernada mengejek.

Didalam hati, dara yang perkasa dan yang berbaju merah ini sedang memikirkan sesuatu mengenai laki laki yang tidak mau memberitahukan namanya itu.

"Bo-im kiamhiap Tan Sun Hian menyusun daftar nama itu atas perintah Cit siu tojin, akan tetapi Cit siu tojin juga sudah wafat sehingga tidak diketahui pada siapa gerangan daftar nama itu dipegang . ."

Lee Su Nio menambahkan keterangannya.

"Akh ! jadi Cit siu tojin juga sudah binasa ...?"

Gumam laki laki bekas orang hukuman itu akan tetapi nada suaranya wajar dan sangat mengesankan, sehingga Lee Su Nio mulai percaya bahwa laki laki itu tidak mengetahui perihal Cit siu tojin yang sudah binasa.

"Tayhiap kenal dengan Cit siu tojin...?"

Sengaja Lee Su Nio menanya. "Dia merupakan pembantu utama dalam pasukan Thio Su Seng, bersama Pheng hweshio dan si biang pengemis Pit Leng Hee..." "Oh... !"

Lee Su Nio bersuara bagaikan tanpa terasa; sebab diluar dugaannya, laki-laki itu mengetahui tentang ketiga tokoh yang disebutnya tadi, bahkan dengan seenaknya dia menyebut nama Pit Leng Hee yang dikatakan sebagai si biang pengemis, dan seenaknya juga menyebut Pheng Hweeshio yang menjadi guru dari Thio Su-Seng, sekaligus menjadi guru dari Cu Juan Tsyang yang saat itu menjadi maharaja Beng!

("...

siapakah sebenarnya laki laki yang perkasa ini...?" tanya Lee Su Nio didalam hati.

Laki laki yang perkasa itu dapat digolongkan sebagai seorang pendekar yang aneh (koay hiap) sebab dia tidak mau memperkenalkan namanya seolah olah dia memang tidak memiliki nama (Boe beng), dan lebih aneh lagi laki laki itu tidak mengetahui bahwa Thio Su Seng dan Cit siu tojin telah binasa padahal laki laki itu kenal dengan nama nama ketiga tokoh yang menjadi pembantu utama dari almarhum Thio-Su Seng.

Jelas bahwa laki laki yang perkasa itu pernah mengasingkan diri untuk sekian tahun lamanya, sehingga dia tidak mengetahui segala perkembangan dan berbagai peristiwa yang telah terjadi.

Konon selagi Lee Su Nio terbenam dalam alam pemikirannya, maka dari arah dalam kota Lu liang thang kelihatan debu mengepul tinggi, menandakan datangnya serombongan orang orang yang menunggang kuda, yang dilarikan dengan amat pesatnya.

Dara perkasa yang berbaju merah itu menduga bahwa pihak tentara sudah tentu diperintahkan untuk melakukan pengejaran, sedangkan dia merasa enggan untuk bertempur lagi melawan tentara negeri .

".Tayhiap, rupanya kita dikejar ..."

Lee Su Nio berkata, selagi sepasang matanya mengawasi kearah tentara negeri yang tengah mendatangi dengan naik kuda.

"Kita ganyang mereka ... !"

Sahut lelaki bekas orang hukuman itu dengan seenaknya "Jangan. Kita tidak perlu menyebar maut dikalangan bangsa sendiri. Marilah kita pergi ..."

Sahut Lee Su Nio.

"Kemana tujuan kau....?"

Tanya lelaki bekas orang hukuman itu, setelah sejenak dia diam seperti ragu-ragu; sedangkan lagak dan nada suaranya seperti orang yang merasa berat berpisah dengan dara perkasa berbaju merah itu yang mampu membikin dia menjadi terkenang dengan dara tambatan hatinya.

Sementara itu didengarnya Lee Su Nio menberikan jawaban.

"Aku hendak mencari kakak yang mungkin sudah berada diteluk Hek liu ouw ditempat Phang lo cianpwee.."

""Si jeriji sakti dari Hek liong pang. Kau sampaikan salamku kepadanya sebab aku masih mempunyai urusan ditempat lain..."

Sekali lagi dara perkasa berbaju merah itu menjadi terpesona dan kagum karena agaknya laki laki itu pun sudah kenal dengan It ci sian Phang Bun Liong seorang tokoh kenamaan yang bahkan sudah dianggap menjadi seorang datuk bagi kelompok para pendekar penegak keadilan!

"Bagaimana mungkin aku menyampaikan salam itu, sedang nama tayhiap tidak aku kenal .,.?"

Sahut Lee Su Nio, sambil untuk pertama kalinya dia perlihatkan senyumnya, dan senyumnya itu justeru telah membangkitkan lagi kenangan lama bagi laki laki bekas orang hukuman itu, oleh karena sekali lagi dia jadi terkenang dengan senyum manis dara tambatan hatinya.

"Katakan padanya bahwa di goa naga ada seekor macan dan macan itu menyampaikan salam hangat buat dia.. ,"

Akhirnya sahut laki laki bekas orang hukuman itu. "Di goa naga ada seekor macan .."

Ulang Ang ie liehiap Lee Su Nio; akan tetapi dara yang perkasa ini sekali lagi menjadi terpesona dengan lagak aneh dari laki laki yang tidak dia ketahui namanya itu; sebab secara mendadak laki laki itu telah berlari lari pesat meninggalkan dia, bagaikan orang yang sedang dikejar hantu !

Ang ie liehiap Lee Su Nio tersenyum dan membiarkan laki laki yang perkasa itu kabur dengan amat pesatnya, dan dara perkasa berbaju merah itu lalu mengambil aran lain, hendak menuju ke teluk Hek liu ouw yang letaknya didekat kota Intay.

Setelah terpisah cukup jauh dari kota Lu liang thang, maka laki laki bekas orang hukuman itu perlambat langkah kakinya, menyusuri jalan pegunungan yang bertebing itu sunyi sambil dia mengenangkan pertemuannya dengan Ang ie liehiap Lee Su Nio yang dia anggap begitu mengesankan, dan sekali lagi dia menjadi terkenang dengan dara tambatan hatinya, yang saat itu dia tidak ketahui entah berada dimana, dan dia bahkan tidak mengetahui entah dara tambatan hatinya itu sudah binasa atau masih hidup.

("Hong moay, dimana kau sekarang berada...?") sekali lagi dia mengeluh didalam hatinya; dan selekas itu juga sepasang matanya kembali basah dengan sisa air matanya.

Waktu hari sudah mendekati magrib, laki laki bekas orang hukuman itu tiba didekat sebuah desa yang bernama Ang sie cung; dan kebenaran dia melihat adanya seorang pedagang nasi memakai bangunan gubuk kecil di sisi jalan.

Laki laki bekas orang hukuman itu memesan makanan dengan sedikit arak buat dia menghilangkan rasa dahaga dan dia belum selesai makan waktu kemudian datang lagi dua orang Iaki Iaki yang ikut memesan makanan dan duduk didekat dia.

Kedua orang laki laki yang baru datang itu perlihatkan sikap dan lagak sebagai orang orang yang mengerti ilmu silat, akan tetapi lagak dan perkataan kedua laki laki itu tidak dihiraukan oleh laki laki bekas orang hukuman yang bahkan kelihatannya seperti sedang terbenam didalam lamunan mengenangkan berbagai kejadian lama, selagi dahulu hampir selalu dia didampingi oleh dara tambatan hatinya, sampai seseorang telah menghianati dia.

Dilain saat kedua orang laki laki itu selesai bersantap, dan mereka mendahului meneruskan perjalanan memasuki desa Ang sie cung.

"Agaknya hari ini desa Ang sie cung banyak kedatangan orang orang gagah,,."

Gumam pedagang nasi itu selagi dia mengemasi mangkok mangkok bekas kedua orang laki laki tadi makan, dan dia bicara bagaikan kepada dirinya sendiri, maka dari itu tanpa dia mengawasi kearah tempat laki-laki bekas orang hukuman itu duduk.

"Orang orang gagah ? mengapa kau risaukan kalau mereka datang ke desa itu?"

Tanya laki laki bekas orang hukuman itu, meskipun dia perlihatkan sikap acuh.

Pedagang nasi itu menunda pekerjaannya mengawasi kearah tamunya dan memberikan jawaban .

"Siapa yang tidak menjadi risau kalau kedatangan mereka hanya untuk mengacau.

Biasanya aku berdagang didalam desa itu yang ramai, akan tetapi sekarang aku terpaksa mengungsi ke tempat yang sunyi ini ..."

"Hm...."

Laki laki bekas orang hukuman itu bersuara; namun sikapnya kembali seperti tidak ingin menghiraukan atau tidak ingin mencampuri urusan lain orang, berlainan dengan wataknya di waktu dia masih muda, karena semangatnya selalu membara buat membela keadilan.

Akan tetapi si pedagang nasi itu yang justeru menyambung perkataannya; memperlihatkan lagak bahwa dia memang gemar bicara .

"Sebelum Thio cuncu binasa, desa kamt selalu dalam keadaan aman, bebas dari segala kekacauan ..."

"Siapakah Thio cuncu itu ?"

Tanya laki-laki bekas orang hukuman itu, tetap perlihatkan sikap acuh; akan tetapi dalam hati dia bertanya-tanya, oleh karena dia bagaikan teringat dengan seseorang, setelah dia mendengar disebut nama "Thio cuncu".

"Thio liang Hok..dia menjadi ketua desa kami yang disukai oleh segenap lapisan penduduk setempat ..."

"Thio liang Hok ?"

Laki laki bekas orang hukuman itu mengulang menyebut nama, memutus perkataan si pedagang nasi. oleh karena dia mulai teringat dengan kejadian Iama dan merasa kenal dengan nama "Thio Liang Hok"

Yang disebutkan itu, sementara si pedagang nasi lalu memberikan penjelasan.

"Thio cuncu memang banyak dikenal orang dan banyak bersahabat dengan tokoh orang orang rimba persilatan. Dia tewas waktu melakukan perlawanan terhadap pihak alat negara yang hendak menangkap dia. Sekarang rumah tangganya berantakan dan banyak sanak keluarganya yang kena ditangkap, sedangkan kedudukan ketua desa diambil alih oleh Ma Kok Sun. seorang penghuni yang sebenarnya belum cukup lama berdiam di desa Ang sie cung, namun mempunyai hubungan yang luas dengan pihak alat negara, juga dengan pejabat pemerintah dikota Lu Liang thang". Sesungguhnya si pedagang nasi itu tidak perlu meneruskan perkataannya, oleh karena laki laki bekas orang hukuman itu sudah teringat dengan nama Thio Liang Hok, seorang laki laki yang masih ada hubungan keluarga dengan almarhum Thio Su Seng yang pernah dia kenal, oleh karena dahulu laki laki bekas orang hukuman itu pernah menerima tugas dari Thio Su Seng buat dia menemui Thio Liang Hok, yang pada saat itu sedang mengusahakan dana bagi pembeayaan gerakan perjuangan yang dipimpin oleh almarhum Thio Su Seng. Lelaki bekas orang hukuman itu menjadi teringat lagi dengan saat saat waktu dia bertemu dengan Thio Liang Hok, dan dia pun teringat juga dengan perkataan Thio Liang-Hok tentang dana dana sumbangan yang diperoleh dari masyarakat desa Ang sie thung. Sekarang Thio Liang Hok sudah binasa dan desa Ang sie thung sedang dilanda kekacauan, maka semangatnya bangkit untuk membela; sehingga dia lalu memasuki desa Ang sie thung tanpa menunggu si pedagang nasi menyelesaikan perkataannya. Akan tetapi, diluar tahu lelaki bekas orang hukuman itu si pedagang nasi justru jadi bersenyum selagi dia membiarkan lelaki bekas orang hukuman itu bergegas memasuki desa Ang sie thung. Suasana didalam desa yang didatangi itu kelihatan tenang, bahkan terlalu tenang sebab keadaannya sangat sunyi tidak banyak orang orang yang berlalu lintas dan kebanyakan rumah rumah penduduk pada menutup pintunya. Untuk pertama kalinya sejak dia keluar dari rumah penjara, lelaki bekas hukuman itu merasa perlu untuk memasuki sebuah rumah penginapan yang sekaligus merupakan rumah makan untuk umum, oleh karena hanya di tempat itu dia melihat berkumpulnya banyak orang orang yang sedang makan dan minum, dan kebanyakan dari mereka itu justru merupakan orang orang dari kalangan rimba persilatan. Lelaki bekas orang hukuman itu masuk dan mengatur langkah kakinya tanpa dia menghiraukan banyaknya pandangan mata yang mengawasi dia, dan dia langsung mendekati tempat pengurus rumah penginapan yang saat itu sedang menghitung uang pembayaran melalui seorang pelayan yarg masih muda usianya. Baik si pelayan maupun si pengurus rumah penginapan itu, kelihatan ragu ragu waktu mengetahui maksud kedatangannya laki laki bekas orang hukuman itu yang hendak menyewa sebuah kamar sampai laki laki bekas orang hukuman itu mengeluarkan sisa uangnya buat dia melunaskan sewa kamar yang dipesannya.

"Akh eh..." kata si pengurus rumah penginapan yang kelihatan gugup dan memaksa diri untuk bersenyum, sementara sebelah tangannya menyodorkan sebuah buku tamu sambil dia memerintahkan seorang pelayan buat mengantarkan tamu itu kedalam kamar yang disewa oleh tamunya yang pada mulanya dia anggap sebagai seorang gelandangan alias pengemis. Pengurus rumah peiginapan itu kemudian mengawasi buku tamu yang sudah diisi tadi selagi si pelayan mengantarkan tamu yang istimewa itu dan dia menjadi terpesona oleh karena tamunya itu hanya menulis dua kata "boe beng"

Atau tanpa nama.

Dilain pihak laki laki bekas orang hukuman itu baru saja tiba didekat pintu kamar ketika telinganya yang terlatih mendengar suara angin yang tidak wajar yang menyambar kearahnya.

Dengan geraknya yang lincah dan tangkas laki laki bekas orang hukuman itu memutar tubuh sambil sepasang tangannya bergerak menangkap dua batang pisau belati yang terbang mengarah dia; lalu memukul dua batang pisau lainnya sampai terpental kearah asal mencari sasaran pada dua orang laki laki yang telah melakukan penyerangan gelap itu.

Kedua penyerang gelap itu setengah mati menghindar dari pisau pisau yang berbalik mengancam mereka, dan mereka langsung lari lari ketakutan bagaikan yang orang bertemu dengan hantu !

Juga si pelayan yang mengantarkan, ikut ketakutan sampai tubuhnya gemetar, namun laki laki bekas orang hukuman itu hanya memperdengarkan suaranya yang mengejek itu dan membiarkan si pelayan yang cepat cepat meninggalkan dia.

Waktu malam sudah bertambah larut, hujan gerimis pun mulai turun rincik-rincik membasahi bumi.

Laki laki bekas orang hukuman itu rebah seorang diri menikmati empuknya kasur tempat dia tidur yang sudah sekian tahun lamanya tidak pernah dia rasakan lagi.

Dia tidak cepat tertidur pulas karena pikirannya kembali mengenangkan masa lalu, dan masa pertemuannya dengan Thio Liang Hok.

Kemudian waktu genteng diatas kamar tidurnya terdengar berbunyi perlahan, maka dia segera mengetahui adanya seseorang di atas genteng itu, namun ia sengaja tidak menghiraukan bahkan dia sengaja meramkan sepasang matanya, berlaku bagaikan dia sudah pulas tertidur.

Suara langkah kaki dari seseorang yang berada diatas genteng itu, meyakinkan laki laki bekas hukuman itu bahwa seseorang itu pasti mahir akan kepandaiannya dalam ilmu ringan tubuh dan suara itu lalu berpindah untuk kemudian lompat turun, mendekati daun jendela kamar yang ditutup rapat.

Laki laki bekas orang hukuman itu masih tetap rebah dengan sepasang mata rapat dia tutup.

Agaknya dia sengaja hendak membiarkan seseorang itu memasuki kamarnya, untuk kemudian hendak dia tangkap dan memaksa memberikan keterangan tentang keadaan didesa Ang sie cung yang katanya dalam keadaan gawat itu.

Akan tetapi, harapan laki laki bekas orang hukuman itu menjadi sia sia belaka, ketika mendadak menjadi suatu pertempuran diluar rumah penginapan, sedangkan seseorang yang semula berada didekat jendela kamarnya sekarang telah menjauhkan diri karena agaknya seseorang itu hendak menyatukan diri dengan kelompok orang orang yang sedang bertempur.

Laki laki bekas orang hukuman itu lalu bangun dari tempat tidurnya.

Dia mengencangkan tali celana yang mengikat dipinggangnya, setelah itu dia lompat keluar melalui jendela kamar sampai dilain saat dia melihat adanya dua kelompok orang orang yang sedang bertempur, yang dia tidak ketahui masing masing dari golongan mana hingga tidak mau dia sembarangan memberi bantuannya.

Ada suatu hal yang menarik perhatian laki laki bekas orang hukuman itu, bahwa ditengah kelompok orang orang yang sedang bertempur itu, dilihatnya adanya seseorang yang berpakaian serba hitam, lengkap dengan penutup muka dan pembungkus kepala memakai dua helai kain yang juga berwarna hitam pekat.

Segera terpikir oleh laki laki bekas orang hukuman itu, bahwa orang yang memakai pakaian serba hitam itu adalah Tay lwee sip sam ciu seperti yang dia dengar melalui Ang in liehiap Lee Sun Nio, dan yang baru dia binasakan.

Akan tetapi, tidak disadarinya bahwa seseorang itu bukan memakai selubung penutup kepala yang begitu rapih dilihatnya melainkan berupa secarik kain yang menutupi bagian muka yakni pada bagian hidung dan mulutnya.

Dan, suatu Keanehan lain yang dilihat oleh lelaki bekas orang hukuman itu diantara orang orang yang sedang bertempur itu, tak seorangpun ada yang berseragam tentara negeri.

Mungkinkah mereka sengaja menyamar sebagai rakyat jelata ?

pikir lelaki bekas orang hukuman itu didalam hati.

Sejenak lelaki bekas orang hukuman itu memperhatikan orang orang yang menjadi pihaknya seseorang yang memakai pakaian serba hitam itu, lalu seperti yang menjadi kebiasaannya segera dia memperdengarkan pekik suaranya yang khas bagaikan aum seekor harimau jantan, sambil dia lompat memasuki arena pertempuran.

Lelaki bekas orang hukuman itu meraih tubuh dua orang yang bermaksud menghadang dia.

Kedua tubuh orang orang itu diangkatnya melalui bagian dari punggung mereka, lalu dua dua kepala mereka diadunya satu dengan lain mengakibatkan kedua orang orang itu segera tewas dengan kepala pecah berlumuran darah !

Pada saat berikut, laki laki bekas orang hukuman itu sudan berdiri berhadapan dengan orang yang berpakaian serba hitam itu, sehingga bertambah jelas dia melihat orang itu memegang sepasang pisau belati pada tangan yang kiri maupun pada tangan yang kanan sedangkan dikitar bagian pinggangnya yang ramping, bergantungan belasan pisau belati yang rapih memakai sarung.

"Hm...!"

Desis laki laki bekas orang hukuman itu yang perdengarkan suara mengejek, oleh karena dia teringat bahwa baru saja dia pernah dibokong memakai pisau pisau belati yang seperti itu.

Laki laki bekas orang hukuman itu bersiap perlihatkan lagak hendak melakukan sesuatu penyerangan, dan orang yang berpakaian serba hitam itu mendahului lompat mundur agak menyamping, bagaikan dia merasa gentar.

Melihat lagak dan gerak seseorang yang berpakaian serba hitam itu, maka lelaki bekas orang hukuman itu menjadi tertawa lalu sebelah tangan kirinya memukul dengan gerak tipu "bangau putih menangkap ikan" dan pada waktu orang itu lagi lagi melompat menyamping buat menghindar, maka sebelah kaki kanannya menyapu bagaikan geledek menyambar akar pohon.

Orang yang berpakaian serba hitam itu bersuara kaget, namun untung bagi diabahwa sempat melompat tinggi dan jauh sambil sepasang tangannya bergerak melepaskan dua batang pisau belati yang dipegangnya.

)o(dw)(X)(hend)o( SEKALI LAGI lelaki bekas orang hukuman itu memperdengarkan suara tawa, sambil kedua tangannya menyambut pisau belati yang terbang kearahnya, dan dia berkata secara jenaka .

"Kau dapat menghindar dari dua seranganku, maka sekali ini aku biarkan engkau hidup.. ."

Demikian dia berkata seperti menggerutu, namun yang dia tujukan kepada oiang yang memakai pakaian serba hitam itu sambil dia bergerak menghindar dari serangan beberapa orang yang hendak mengepung dia lalu memasang pisau belati yang ditangannya berhasil merobek perut dua orang yang mendekatinya, sehingga kedua orang itu tewas dengan perdengarkan pekik suara yang mengerikan.

Laki laki bekas orang hukuman itu ingin meneruskan menyebar maut, ketika secara mendadak didengarnya suara seseorang yang berteriak dan berkata .

"Sam ceecu tahan ! kau sudah menyerang orang-orang sendiri ... l" Itulah suatu suara seruan dari seorang laki laki yang sedang bertempur dan berusaha hendak mendekati laki laki bekas orang hukuman itu. Teriak suara itu cukup keras dan jelas di dengar oleh laki laki bekas orang hukuman itu Dan teriak suara itu agaknya sangat mempengaruhi jalan pikiran laki laki bekas orang hukuman itu sehingga diam terpukau sambil dia mengawasi orang yang mengeluarkan teriak suara itu. Lelaki bekas orang hukuman itu kemudian sempat mengenali bahwa lelaki yang berteriak itu adalah si pedagang nasi yang berdagang didekat perbatasan desa Ang sie cung tempat petang tadi dia singgah dan makan. Dan sebagai akibat laki laki bekas orang hukuman itu dengan lengah, maka secara tiba tiba dia terkena sabetan ujung golok pada bagian pahanya, sehingga celananya robek dan pahanya mengeluarkan darah. Laki laki bekas orang hukuman itu berpekik bagaikan aum seekor harimau jantan yang kena luka. Sebatang pisau belati ditangan kanannya melesat dan membenam dibagian dada kanan seorang laki laki yang bersenjata golok itu membelalak sepasang matanya; sambil sebelah tangan kirinya berusaha hendak mencabut pisau belati tajam itu yang membenam di dadanya namun pada saat itu juga laki laki.bekas orang hukuman itu sudah menerkam dan merobek muka orang yang melukai dia, sehingga orang itu berpekik dan sekali lagi berpekik mengerikan.

"Bagus, sam ceecu ! kau sekarang berpihak pada orang orang yang tepat...!"

Terdengar lagi sipedagang nasi tadi berteriak, sementara dia pun berhasil melukai salah seorang lawan yang sedang mengepung dia.

("kurang ajar!

siapakah dia itu ...

?") laki laki bekas orang hukuman itu berkata didalam hati, sementara dengan.langkah kaki pincang dan hanya bersenjata sebatang pisau belati, dia harus mengamuk didalam kepungan tiga orang laki-laki gagah yang melakukan penyerangan.

Sementara itu, orang yang memakai pakaian Serba hitam juga tidak tinggal diam.

Dia mengamuk dengan sepasang pisau belati dikedua tangannya.

Ilmu silatnya tinggi dan gerak tubuhnya lincah gesit, sedangkan pisau belatinya kadang kadang terbang melesat mencari sasaran pada pihak musuh, untuk secepat itu juga dia telah meraih lagi sebatang pisau belati lain dari bagian pinggangnya.

Pihak lawan sangat tangguh dan lebih banyak jumlahnya, akan tetapi sekarang mereka menjadi jeri atau gentar karena orang yang berpakaian serba hitam itu sangat gagah lagi pula sekarang dibantu oleh laki laki yang tetap perkasa meskipun sebelah pahanya sudah terluka.

Jilid 2 Dalam keadaan pertempuran yang kacau balau itu, tiba tiba terdengar ada pekik suara seseorang yang mengajak kawan-kawannya mengundurkan diri sehingga pada saat berikutnya kelompok orang orang yang bertempur itu kelihatan memisah diri, dan mereka yang melarikan diri ternyata tidak dikejar oleh pihak lawan sebab laki laki si pedagang nasi berteriak melarang, sambil dia mendekati laki laki bekas orang hukuman yang dia sebut sebagai sam ceecu atau pemimpin ke tiga.

"Sam ceecu, kau terluka..."

Kata si pedagang nasi yang kelihatannya kaget, namun dia menyertai senyumnya, sementara lelaki bekas orang hukuman itu berdiri tegak sambil dia mengawasi si pedagang nasi tanpa dia mengucap apa apa, sehingga si pedagang nasi itu yang berkata lagi .

"Sam ceecu, mari kau ikut ketempat kami, akan kurawat dan kuobati luka itu.. ."

"Siapa kau ... ?"

Tiba tiba lelaki bekas orang hukuman itu bertanya, nada suaranya penuh wibawa membikin si pedagang nasi itu menunda tindakannya yang hendak tambah mendekati.

"Sam ceecu, apakah kau benar benar telah lupa kepadaku ? Aku adalah Ang Sin Tiu yang selalu mendampingi Thio cuncu ..."

Si pedagang nasi itu menyudahi perkataannya, sementara sepasang matanya segera kelihatan berlinang basah.

Agaknya dia sedih sewaktu menyebut nama Thio cuncu tadi, sementara laki laki bekas orang hukuman itu mendadak menjadi teringat dengan Ang Sin Tiu, yang dahulu menjadi pembantu utama dari Thio Liang Hok.

"Akh, kiranya kau ... " akhirnya laki-laki bekas orang hukuman itu berkata; lalu dia ganti mengawasi orang yang berpakaian serba hitam, yang saat itu juga sudah ikut mendekati.

"Sam ceecu ini adalah ..."

"Susiok, tunggu! tak layak kita bicara di sini... ."

Orang yang berpakaian serba hitam itu memutus perkataan Ang Sin Tiu dan nada suaranya terdengar halus merdu sebagai suara seorang perempuan.

"Benar, marilah Sam ceecu ikut dengan kami ."

Kata Ang Sin Tiu yang menyadari keadaan.

Laki-laki bekas orang hukuman itu manggut.

Dia merobek bagian kaki celananya untuk dia mengikat luka dibagian pahanya, setelah itu dia ikut rombongan orang orang yang memilih jalan sebelah selatan sampai dilain saat mereka memasuki suatu arah jalan belukar yang penuh liku dan menemui sebuah bangunan tua yang kelihatannya sudah tidak terawat lagi.

Bangunan tua itu cukup besar dan luas.

Ada beberapa buah kamar yang lengkap dengan perabotannya, meskipun semua perabot itu merupakan barang barang tua yang tidak ada harganya.

Ang Sin Tiu ajak tamunya memasuki sebuah kamar, dimana kemudian dia mengobati dan membalut luka dibagian paha laki laki bekas orang hukuman itu, sambil dia berkata .

"Sam ceecu, luka ini cukup parah meskipun tak terlalu dalam ---" "Tidak apa apa, sebaiknya kau ceritakan tentang kalian..."

Sahut laki laki bekas orang hukuman itu.

Ang Sin Tiu ikut mengawasi tamunya.

Matanya berlinang basah dengan air mata, meskipun sebenarnya dia merupakan seorang laki laki yang keras hati.

"Sam ceecu, orang orang mengatakan kau justeru sudah mati ..."

Sejenak laki laki bekas orang hukuman itu terdiam tidak mengucap apa apa, selagi sepasang matanya bersinar hampa mengawasi Ang Sin Tiu; dan sepasang mata itu kemudian berobah kelihatan seperti bersinar menyala menyimpan dendam yang begitu membara.

Suaranya ikut berobah serak parau ketika dia bicara .

"Orang orang siapa maksud kau ...?"

Demikian tanya laki laki bekas orang hukuman itu, tetap sambil dia mengawasi Ang Sin Tiu.

Tak kuasa Ang Sin Tiu mengadu-pandang dengan laki laki yang dia kenal sebagai pemimpin ketiga itu.

Dia menunduk dan menarik napas panjang, sebelum dia memberi jawaban.

"Dulu, selagi Thio cuncu masih menjadi ketua didesa ini; kami pernah kedatangan beberapa rekan dari kalangan rimba persilatan. Dan mereka mengatakan, bahwa kau kena ditangkap oleh pihak perintah penjajah, dan sudah dihukum mati. ...."

Demikian akhirnya Ang Sin Tiu dengan suara yang terdengar perlahan.

"Hm! jadi hal penangkapan atas diriku sudah diketahui oleh orang banyak.. .?" laki-laki bekas orang hukuman itu berkata bagaikan pada dirinya sendiri, namun nada suaranya itu jelas terdengar menyimpan nada dendam. "Apakah sam ceecu berhasil melarikan diri ..?"

Tanya Ang Sin Tiu yang mengangkat mukanya buat mengawasi laki laki bekas orang hukuman itu.

Sepasang sinar mata laki laki bekas orang hukuman itu kian menyala.

Jelas kelihatan dia merasa tidak puas dengan pertanyaan Ang Sin Tiu, namun dia berkata.

""Setiap hari aku memakai belenggu rantai besi di kaki, dan melakukan kerja paksa; akan tetapi sebaiknya jangan kau menanya lagi..

Laki laki bekas orang hukuman itu tidak meneruskan perkataannya.

dia perlihatkan lagak tidak senang untuk pembicaraan perihal penderitaannya itu.

Seseorang kemudian memasuki kamar itu dan seseorang itu justeru adalah orang yang memakai pakaian serba hitam tadi namun sekarang dia sudah melepas kain penutup muka dan penutup kepalanya sehingga jelas kelihatan bahwa dia adalah seorang dara yang bermuka cantik serta berambut panjang sebatas punggung.

"Sam ceecu ini adalah Lianhua, puteri tunggal Thio cuncu."

Ang Sin Tiu memperkenalkan dara cantik itu kepada laki laki bekas orang hukuman itu yang masih tetap dia anggap sebagai pemimpin ketiga dari persekutuan "naga hijau"

Atau ceng liong pang.

Thio Lian hua yang masih berpakaian serba hitam itu mendekati dan memberi hormat sedangkan laki laki bekas orang hukuman ini jadi termenung memikirkan bahwa sudah terlalu lama harus menyimpan diri di dalam rumah penjara, sehingga sekarang dia berhadapan dengan seorang dara anak sahabatnya yang dahulu tentunya belum dilahirkan.

Seandainya pada waktu itu dia tidak kena difitnah oleh seseorang, mungkin dia juga telah menikah dengan dara tambatan hatinya, dan mempunyai seorang anak perempuan yang secantik Thio Lian hua !

Sementara itu Ang Sin Tiu meneruskan bicara selagi laki laki bekas orang hukuman itu masih terbenam dalam lamunannya .

"Sam ceecu, negara kita sekarang sudah merdeka, akan tetapi kita memiliki seorang raja yang lalim. Cu Juan tsyang ternyata menyimpan dendam dan menganggap Thio Su Seng sebagai saingan bahkan mencurigai bahwa orang orang yang pernah mendukung gerakan Thio Su Seng akan bangkit lagi dan menentang pemerintahannya... ."

Ang Sin Tiu menghentikan perkataannya, dan mengajak tamunya minum, yang baru saja diantar oleh seorang laki laki, setelah itu Ang Sin Tiu menyambung pembicaraannya.

"..., raja yang lalim itu mengeluarkan perintah menangkap dan menghukum mati semua orang orang yang pernah membantu atau mendukung gerakan Thio Su Seng, dan Thio cuncu tewas karena adanya seseorang yang melaporkan, mengatakan Thio cuncu sanak terdekat dari Thio Su Seng dan yang ikut mendukung atau membantu--"

".. Thio cuncu ditangkap oleh serombongan tentara yang sengaja didatangkan dari kota Lu liang thang, dan Thio cuncu tewas ditangan seorang yang berpakaian seragam serba hijau, lengkap dengan kain selubung penutup kepala dan muka, yang juga berwarna hijau ..."

"Tay lwee sip sam ciu ..."

Gumam laki laki bekas orang hukuman itu, sehingga dia memutus perkataannya Ang Sin Tiu.

"Ya, benar Tay lwee sip sam ciu yang ke 8 sesuai dengan nomor dalam lingkaran gambar seekor naga pada bagian dada sebelah diri...."

Sahut Ang Sin Tiu yang lalu meneruskan perkataannya .

"... Saat itu aku sedang ditugaskan mengantarkan Lian hua yang ziarah ke makam almarhum ibunya, dan kami terpaksa harus menyelamatkan diri sesuai dengan saran saran sebagian penduduk desa ini yang tetap setia dengan Thio cuncu ..."

" ,.. kami umpatkan diri sampai kemudian kami mengetahui bahwa orang yang melaporkan kepada pihak pemerintah adalah Ma Kok Sun, dan Ma Kok Sun ini yang sekarang justru diangkat menjadi kepala desa Ang sie cung oleh pihak pejabat pemerintah kota Lu liang thang ---"... Lian hua bertekad hendak membalas dendam terhadap Ma Kok Sun, dan kami mendukung sepenuhnya. Akan tetapi Ma Kok Sun memiliki banyak orang-orang yang sengaja dibayar buat melindungi dia, ditambah dengan sebagian penduduk desa yang memihak dia sehingga beberapa kali kami harus bertempur, dan niat membalas dendam belum berhasil kami laksanakan ...

"... kami umpatkan diri dan menyusun kekuatan ditempat ini, sebaliknya Ma Kok Sun juga memperkuat diri dengan mengundang banyak jago jago kaum rimba persilatan yang mau menerima bayaran, sehingga setiap hari berdatangan orang orang yang memasuki desa ini...

"Aku sengaja menyamar menjual nasi dekat perbatasan desa. Aku selalu menggunakan bubuk racun terhadap mereka yang aku curigai akan membantu Ma Kok Sun andaikata mereka singgah dan makan ditempatku. Akan tetapi petang tadi aku menjadi terkejut waktu melibat kedatangan sam ceecu. Aku agak ragu ragu sehingga aku tidak perkenalkan diriku, dan aku bertanya pada diriku sendiri, apakah mungkin sam ceecu masih hidup...? ".. kemudian aku cepat cepat berkemas dan menemui Lian hua, sampai kemudian Lian hua mendatangi tempat sam ceecu menginap; namun kami yang ikut mengawasi kepergian Lian hua, telah berpapasan dan bertempur dengan orang orangnya Ma Kok Sun."

Bertepatan dengan Ang Sin Tiu menyudahi perkataannya itu maka terdengar suara ribut ribut dibagian luar dari bangunan tua itu dan seseorang kemudian memasuki kamar dengan tergesa gesa membawa laporan bahwa tempat mereka telah diserbu oleh banyak orang orang dari Ma Kok Sun.

"Hai ! Rupanya mereka sudah mengetahui tempat kita, dan kita harus melakukan pertempuran yang menentukan ..."

Kata Ang Sin Tiu yang tetap bersikap tenang, lalu dia mengawasi luka pada kaki tamunya dan dia berkata lagi .

"... sam ceecu, luka pada ,.."

"Tidak apa apa.."

"Sahut lelaki bekas orang hukuman itu yang memutus perkataan Ang Sin Tiu, dan dia bahkan mendahulukan bangun dari tempat duduknya, untuk kemudian dia ikut keluar.

Pertempuran diluar bangunan tua itu sudah terjadi secara kacau, dan diantara suara yang ribut ribut itu terdengar teriak suara seseorang yang memberikan perintah membakar bangunan tua itu.

Thio Lian hua menjadi geram waktu mengetahui orang yang memberikan perintah itu justeru adalah Ma Kok Sun.

"Itulah Ma Kok Sun .... ."

Teriak dara yang masih berpakaian serba hitam itu; sambil dia lari mendekati buat menyerang Ma Kok Sun.

Ang Sin Tiu hendak mengikuti Thio Lian hua, akan tetapi dia dihadang oleh beberapa orang musuh yang langsung mengepung dia.

Laki laki bekas orang hukuman itu juga dihadang oleh gerombolan musuh yang ternyata telah datang dalam jumlah yang banyak sekali.

Luka pada pahanya sudah dibalut rapih dan sudah mendapat pengobatan akan tetapi mau tak mau gerak kelincahannya menjadi berkurang, dan laki laki bekas orang hukuman itu lalu mengerahkan tenaganya yang dia saIurkan pada sepasang tangannya, sehingga dalam sekejap dia berhasil menghajar empat orang musuh yang langsung tewas dengan mulut mereka mengeluarkan darah segar.

Dua orang laki laki pendatang baru yang magrib tadi ikut singgah dan makan ditempat Ang Sin Tiu; menjadi geram waktu menyaksikan kegagahan laki laki bekas orang hukuman itu.

Mereka berdua sama sama menggunakan senjata senjata golok, dan serentak mereka menyerang memakai gerak tipu "sepasang naga merebut mutiara".

"Bagus "..! !"

Seru laki laki bekas orang hukuman itu dengan nada suara mengejek.

Sikapnya kelihatan tenang dan bergerak menyisi dari sebatang golok yang mengarah bagian sebelah kiri iganya sementara telapak tangan kirinya mencari sasaran pada lengan musuh yang seorang lagi.

Musuh yang diserang lengannya itu menjadi sangat terkejut.

Dia cukup lama menjadi jago menjelajah di kalangan rimba persilatan.

dari itu gerakannya cepat dan tangkas, waktu dia membatalkan serangannya yang sekaligus untuk menghindar pukulan yang mengarah bagian lengannya.

Akan tetapi, gerak musuh itu agaknya sudah menjadi perhitungan lelaki bekas orang hukuman itu, sebab telapak tangan kirinya menyambar terus dengan ganti arah dan gerak, sehingga tahu tahu tangan kiri lawan yang sekarang kena dia pegang dan tarik secara tiba tiba, mengakibatkan lelaki bersenjata golok itu terjerumus maju ke sebelah depan, lalu sebelah kepalan tangan kanan lelaki bekas orang hukuman itu menghajar bagian dada, bagaikan pukulan sebuah palu godam; Jelas bahwa lelaki bekas orang hukuman itu telah bergerak menggunakan jurus "macan" (houw-kun) dan jurus "ular" (coa-kun), ilmu pukulan yang khas dari Siao lim.

Dia bergerak sangat tangkas dan cermat, mengakibatkan lawannya tak kuasa menolong diri dan rubuh tewas dengan mulut mengeluarkan darah segar !

Lawan yang seorang lagi kelihatan sangat cemas, namun dia yakin tak boleh berdiam diri; dari itu dia mendahulukan menyerang, membacok dengan gerak tipu "tay san ap teng, atau gunung tay san menindih.

Laki laki bekas orang hukuman itu tertawa mengejek, dan menghilang dari hadapan musuh yang membacok; kemudian dari bagian sisi kiri, sebelah tangan kanannya menyerang jidat musuh itu dengan gerak "Ho kun" atau kuntao bango; mengakibatkan jari jari tangannya penuh berlumuran darah, karena jidat musuhnya itu menjadi bolong dan tewas seketika.

Segera terdengar pekik suara bagaikan aum seekor harimau jantan, oleh karena laki laki bekas orang hukuman itu telah dikurung oleh belasan musuh yang hendak membinasakan dia.

("ternyata dia masih seperti dulu....") kata Ang Sin Tiu didalam hati; sebab dia teringat dengan kebiasaan sam ceecu atau panglima ketiga dari Ceng liong pang yang terkenal gagah perkasa itu.

Ang Sin Tiu yang bertempur memakai senjata sebatang golok; kelihatan sangat mementingkan keselamatan nyawa Thio Lian hua, yang pada saat itu sedang bertempur melawan Ma Kok Sun serta dua orang pembantunya.

Hasrat hatinya Ang Sin Tiu hendak mendekati dan memberikan bantuan bagi Thio Lian hua akan tetapi dia dihadang dan tidak mudah buat dia menerobos musuh yang bahkan segera mengepung dia.

Waktu mendengar pekik suara laki laki bekas orang hukuman itu dan mengetahui bahwa Sam ceecu itu sudah berhasil membinasakan dua lawannya yang terkenal sebagai kawanan maka semangat Ang Sin Tiu bangkit dan goloknya berhasil melukai salah seorang pengepungnya, sehingga selanjutnya dia harus menghadapi sisa 3 orang lawan.

Di pihak Thio Lian hua, dia sedang menghadapi lawan yang bukan sembarangan lawan.

Ma Kok Sun adalah musuh yang telah mengakibatkan ayahnya itu menjadi binasa.

Dia harus membalas dendam namun Ma Kok Sun mahir ilmu silatnya, dan dua orang pembantunya juga merupakan jago jago kawakan yang terkenal kejam dan ganas.

Seorang musuh hampir berhasil mengkait kaki Thio Lian hua memakai senjata kaitan baja.

Dara ini melompat tinggi sambil ia melepas sebatarg pisau belati yang mengarah musuh yang bersenjata sepasang kait baja itu, namun pisaunya kena disampok tidak berhasil mencapai sasaran.

Seorang musuh lain menyapu tubuh Thio lian hua memakai senjata golok, akan tetapi dara yang masih berpakaian serba hitam itu, sempat menendang lengan musuh yang memegang golok itu selagi tubuhnya meluncur turun.

Thio Lian hua bernapas lega, karena keadaannya tadi sangat gawat.

Akan tetapi, bertepatan pada saat itu juga, Ma Kok Sun membarengi menyerang memakai senjata pian koan pit yang semacam alat tulis cina.

Ma Kok Sun menverang bagaikan membokong.

Dia menikam dari bagian belakang Thio Lian hua, namun dara yang berpakaian serba hitam itu cukup tangkas buat memutar tubuh sambil menangkis memakai pisau belati ditangan kirinya, sementara belati ditangan kanannya terbang meluncur kearah Ma Kok Sun.

Ma Kok Sun tidak menduga dengan gerak yang tangkas dan cepat dari lawannya itu.

Belati yang terbang meluncur dengan cepat sudah membenam dibagian dadanya, akan tetapi sempat dia lompat mundur dan tempatnya diganti oleh dua orang pembantunya yang baru datang, buat merintangi serangan susulan dari Thio Lian hua.

Dara berpakaian serba hitam itu kemudian harus mengamuk didalam kepungan enam orang laki laki, atas perintahnya Ma Kok Sun yang menjadi naik pitam karena kena dilukai tadi.

Sekali lagi terdengar pekik suara mengerikan bagaikan aum seekor harimau yang sedang marah, disusul dengan melayangnya tubuh beberapa orang yang kena dilontarkan oleh lelaki bekas orang hukuman itu, yang mengamuk dan berhasil mendekati Thio Lian hua yang sedang dikepung.

Pihak musuhdw menjadi sangat gentar melihat kegagahan lelaki yang mereka takz kenal itu, dan Thio Lian hua menggunakan kesempatan itu buat dia mendekati Ma Kok Sun.

Ma Kok Sun kehilangan orang-orangnya yang pada melarikan diri karena ketakutan, waktu melihat Thio Lian hua datang mendekati, dan Ma Kok Sun juga bergegas hendak menyingkir melarikan diri.

Dara berpakaian serba hitam itu melontarkan sebatang pisau belati, yang tepat membenam dibagian lutut sebelah kiri dari Ma Kok Sun; dan waktu sekali lagi tangan kiri Thio Lian hua bergerak, maka lutut sebelah kanan yang menjadi sasaran pisau belati itu.

Ma Kok Sun terjatuh bagaikan orang yang berlutut memohon keampunan, akan tetapi dua batang lagi pisau belati melayang dan membenam pada sepasang telapak tangannya, bahkan menembus langsung sampai bagian dada.

Ma kok Sun perdengarkan pekik teriak yang sangat mengerikan, namun tak sampai lama dia harus menderita; oleh karena Ang Sin Tiu telah menikam dia memakai goloknya sehingga tewaslah Ma Kok Sun itu.

)o(dwkz)(X)(hen)o( DARA YANG berpakaian serba hitam itu menangis lupa malu setelah dia berhasil membalas dendam ayahnya, setelah itu dia berIutut mengucap terima kasih kepada laki-laki yang dia sebut sebagai "Sam ceecu" ; sementara laki laki bekas orang hukuman itu repot membangunkan.

Dalam.percakapan selanjutnya yang terjadi didalam bangunan tua itu, maka laki-laki bekas orang hukuman itu menganggap bahwa Thio Lian hua dan rekan seperjalanan Ang Sin Tiu tidak akan bebas dari kejaran pihak alat negara; terlebih dari Tay lwee sip sam ciu yang terkenal ganas dan tinggi ilmunya, Oleh karena itu dia menyarankan agar sebaiknya Ang Sin Tiu berdua Thio Lian hua bergabung dengan si jeriji sakti Phang Bun Liong yang menjadi Hek liong pangcu.

"Hek liong pang? bukankah sudah lama persekutuan itu dibubarkan.. .?"

Tanya Ang Sin Tiu yang banyak mengetahui perihal perkembangan didalam kalangan rimba persilatan.

Sejenak laki laki bekas orang hukuman itu menjadi terdiam mengawasi Ang Sin Tiu namun akhirnya dia berkata .

"Aku tidak tahu, akan tetapi aku baru saja bertemu dengan Ang ie liehiap Lee Su Nio yang mengatakan hendak mendatangi It ci sian Phang Bun Liong diteluk Hek liu ouw..."

Nama Ang ie liehiap Lee Su Nio cukup dikenal oleh Ang Sin Tiu, juga oleh Thio Lian hua itu.

Kedua duanya percaya bahwa si jeriji Sakti Phang Bun Liong masih menjadi penghuni teluk Hek liu ouw, meskipun persekutuan Hek liong pang sudah dibubarkan.

"Baik Kami akan mengikuti saran sam-ceecu buat berlindung ditempat Phang lo-cianpwee, akan tetapi sam ceecu sendiri hendak kemana .,,,?"

Akhirnya tanya Ang Sin Tiu. Laki laki bekas orang hukuman itu diam seperti termenung tidak segera memberikan jawaban, sampai sesaat lamanya baru dia berkata ..

"Aku bermaksud mendaki gunung Ceng-liong san.., ,"

"Ceng liong pang sekarang hanya dipimpin oleh Yang toako ,.."

Ang Sin Tiu memberikan keterangan.

"Yang toako kau maksud Yang Cong Loei si "tangan beracun",..,?"

Tanya laki laki bekas orang hukuman itu dengan nada suara yang terdengar gemetar, dan sepasang matanya bersinar aneh.

Sementara itu terdengar Ang Sin Tiu memberikan jawabannya.

""Benar.

Sejak kemerdekaan negeri kita tercapai dan Ca Juan Tsyang menjadi Beng-tay couw, maka pangcu ikut mendampingi menjadi penghuni istana kerajaan, sedangkan toa ceecu dan jie ceecu ikut mengundurkan diri dari Ceng liong pang; namun mereka tidak ikut mengabdi pada Beng tay couw, hanya entah dimana gerangan mereka berdua sekarang menetap --"

Ang Sin Tiu mengucapkan kata-katanya yang sebenarnya merupakan keterangan yang sangat penting artinya bagi lelaki bekas orang hukuman itu akan tetapi pada waktu itu kelihatannya dia bagaikan tidak mendengarkan oleh karena dia justru termenung bagaikan orang yang kehilangan sukma dan pada sinar matanya menyala bagaikan sinar mata seekor harimau jantan yang menyimpan dendam.

"Yang Cong Loei --"

Gumam lelaki bekas orang hukuman itu, perlahan suaranya akan tetapi cukup didengar oleh Ang Sin Tiu berdua Thio Lian hua.

"Sam ceecu, kau kenapa.. ?"

Tanya Ang Sin Tiu waktu Thio Lian Hua memberikan tanda. Laki-laki bekas orang hukuman itu bagaikan tersentak waktu dia mendengar pertanyaan Ang Sin tiu.

"Akh, tidak ..."

Sahut dia perlahan; lalu dia menambahkan perkataannya .

"... hari sudah mendekati pagi sebaiknya aku pergi sekarang. Dan kalian juga sebaiknya berkemas buat meninggalkan desa ini.,."

Ang Sin Tiu hendak mencegah, akan tetapi dia tidak berhasil, dari itu sekali lagi dia dan Thio Lian Hua mengucapkan terima kasih.

Laki laki bekas orang hukuman itu kemudian balik ke tempat penginapan, buat dia mengambil bungkusan pakaiannya yang sebenarnya tidak ada harganya.

Orang orang di rumah penginapan sudah banyak yang terbangun dari tidur mereka, sebab mereka mengetahui perihal terjadinya pertempuran yang mengakibatkan tewasnya Ma Kok Sun, mereka mengawasi lelaki bekas orang hukuman itu dengan muka ketakutan, akan tetapi lelaki itu tenang tenang saja memasuki kamarnya, lalu keluar lagi untuk langsung meninggalkan desa Ang sie cung.

Sekali lagi langkah kakinya yang kokoh kuat menyusuri jalan yang menuju kearah gunung Ceng liong san, dan langkah kakinya itu bagaikan dia ingin cepat cepat mencapai tempat tujuan.

Lelaki bekas orang hukuman itu bahkan terus melakukan perjalanannya, baik pada waktu siang maupun pada waktu malam hari, dia hanya sejenak beristirahat pada waktu makan atau tidur kalau dia merasa sudah sangat mengantuk sehingga pada waktu lohor dia memasuki dusun Yo kee po, dan teringat dengan kenalannya yang bernama Yo Hok Sin.

Saat itu bekal uangnya sudah habis, hingga laki laki bekas orang hukuman itu bermaksud hendak meminjam sedikit uang kepada kenalannya itu, Sebab dia belum makan siang sedangkan perjalanan masih jauh dari tempat tujuan.

Lebih dari dua puluh tahun yang lalu, di dusun Yo kee po katanya Yo Hok Sin membuka rumah perguruan ilmu silat sehingga laki laki bekas orang hukuman itu merasa yakin bahwa tidak akan sukar buat dia mencari rumah kenalannya itu, akan tetapi waktu dia menanyakan kepada seorang orang yang dia temui, maka orang itu balik mengawasi dia dengan perlihatkan muka ketakutan.

"Kau hendak mencari Yo Hok Sin ,...?"

Demikian orang itu balik menanya dengan suara gemetar. "Benar, kata dia membuka rumah perguruan ilmu silat didusun ini..,"

Sahut laki laki bekas orang hukuman itu, sedangkan didalam hati dia merasa heran berbareng merasa curiga.

Orang itu manggut manggut akan tetapi sepasang matanya melirik kearah sekitar tempat itu, seperti dia sedang meneliti, dan suaranya perlahan waktu dia berkata lagi.

"Akan tetapi Yo Hok Sin sekarang sudah binasa, rumahnya sudah dikuasai oleh orang lain. .."

"Maksud kau, keluarganya sudah pindah ke lain tempat. ..?"

Tanya laki laki bekas orang hukuman itu; sedangkan didalam hati dia merasa menyesal, bahwa orang yang hendak dia temui buat dipinjam uangnya, ternyata sudah binasa.

Orang yang diajak bicara tidak segera memberikan jawaban.

Sepasang matanya melirik kesuatu arah, lalu pada wajah mukanya kelihatan dia semakin menjadi ketakutan; lalu dia berkata terburu buru.

"Tak tahu, kau tanyakan saja kepada lain orang..."

Sehabis berkata begitu, maka orang itu buru buru pergi meninggalkan laki laki bekas orang hukuman itu, sehingga laki laki bekas orang hukuman itu menjadi bertambah heran dan curiga, lalu dia memerlukan melihat ke arah orang tadi melirik.

Disudut jalan dekat orang orang yang sedang berdagang memakai meja dan keranjang buah laki laki bekas orang hukuman itu melihat adanya dua orang pemuda yang sedang mengawasi dia dengan perlihatkan lagak girang dan sikap mengejek.

Dua orang pemuda yang sedang mengawasi itu adalah orang orang yang berpakaian sebagai layaknya orang orang yang mengerti ilmu silat.

Kedua duanya memiliki tubuh yang kuat serta dengan otot otot yang terlatih.

Setelah sejenak berdiri diam maka laki laki bekas orang hukuman itu lalu meneruskan lagi langkah kakinya, melewati tempat kedua pemuda yang sejak tadi mengawasi dia dengan perlihatkan sikap garang dan lagak menghina.

Didalam hati laki laki bekas orang hukuman itu merasa yakin bahwa kedua orang pemuda itu akan merintangi dia akan tetapi kenyataan kedua pemuda itu membiarkan dia lewat; sampai kemudian dia menyusuri keramaian penduduk desa itu, dan ia langsung melangkah sampai dia memasuki suatu jalan yang sunyi dimana mendadak dia berhenti karena adanya suara seseorang wanita yang menyapa dia .

"Toaya, tunggu....!"

Laki laki bekas orang hukuman itu memutar tubuhnya, dan melihat orang yang menyapa itu adalah seorang perempuan muda, berpakaian sederhana seperti layaknya seorang gadis desa, namun wajah muka perempuan itu cukup cantik dan ramping bentuk tubuhnya.

Gadis desa itu menunduk malu waktu dia sudah berdiri berhadapan dengan laki laki bekas orang hukuman itu, yang sedang mengawasi dan merasa heran.

Dengan memaksa diri.

gadis desa itu kemudian menanya.

"Toa-ya aku dengar tadi kau menanyakan keterangan perihal Yo suhu ..."

"Yo Hok Sin maksud kau ... ?"

Gadis desa itu manggut membenarkan dan berkata lagi ;

"Apakah toa ya bernama Yo Hok San, pamannya Yo kouwnio ..?" "Bukan ..."

Sahut lelaki bekas orang hukuman itu sambil dia menggoyangkan kepalanya. "Oh ! maafkan sebab aku salah duga .."

Gadis desa itu berkata lagi, sementara mukanya perlihatkan rasa meayesal bercampur duka, lalu dia bergegas hendak pergi meninggakan lelaki bekas orang hukuman itu, "Tunggu ..!""

Kata lelaki bekas orang hukuman itu.

Sejak semula lelaki bekas orang hukuman itu memang sudah merasa curiga, kalau kalau telah terjadi sesuatu terhadap Yo Hok Sin dan keluarganya, dari itu ingin benar dia memperoleh keterangan pada kesempatan dia bertemu dengan gadis desa itu.

"kau jangan takut ."

Kata lelaki bekas orang hukuman itu dengan suara yang terdengar ramah, sebab melihat seorang gadis desa itu gemetar ketakutan, waktu mendengar kata kata "tunggu"

Tadi sementara laki laki bekas orang hukuman itu meneruskan perkataannya .

"... aku adalan sahabatnya Yo suhu, dapat kau anggap aku sebagai pamanya Yo kouwnio. Nah sekarang kau antar aku menemui Yo kouwnio,..,"

Gadis desa itu masih memperlihatkan rasa takut, dia mengawasi dengan sinar mata curiga, sehingga laki laki bekas orang hukuman itu harus perlihatkan senyum ramah, untuk yang pertama kalinya dia lakukan sejak dia lepas dari rumah penjara, senyum yang diperlihatkan oleh laki laki bekas orang hukuman itu ternyata berhasil mengurangi rasa takutnya gadis desa itu yang kemudian manggut dan mengantarkan untuk menemui Yo kouwnio atau nona Yo yang ternyata sedang umpatkan diri disuatu kuil tua yang letaknya ditempat belukar, sebelah utara dusun Yo kee po.

Waktu keduanya sudah mendekati letak bangunan kuil tua itu, maka terdengar oleh mereka adanya suara orang-orang yang sedang bertempur memakai senjata tajam, yang tentunya sedang terjadi didalam ruangan kuil tua itu.

"Hayaaa ! rupanya mereka sudah mengetahui tempat Yo kouwnio umpatkan diri . .! "

Gadis desa itu berkata dan cepat cepat dia lari memasuki kuil tua itu.

Lelaki bekas orang hukuman itu bergerak cepat mendampingi gadis desa itu, dan sempat menarik memakai sebelah tangannya, waktu sebatang tombak datang menyambar, selagi mereka baru saja memasuki pintu halaman kuil tua.

Tombak itu nyaris mencapai sasaran, dan didalam halaman kuil itu terdapat 4 orang pemuda bersenjata, yang sekarang bersikap mengurung kedua orang yang baru datang itu.

Seorang pemuda yang tadi menikam memakai tombak, mengawasi dengan sikap mengejek, karena melihat lelaki bekas orang hukuman itu tak membekal senjata.

Pemuda itu lalu berteriak, dan sekali lagi dia menikam memakai tombaknya, dan sekali ini ditujukan kepada laki laki yang tidak dikenalnya itu.

Laki laki bekas orang hukuman itu bersikap tenang, Sebelah tangannya tetap memegang lengan kanan gadis desa yang berdiri ketakutan disisinya.

Hanya sedikit tubuh laki laki bekas orang hukuman itu bergerak miring waktu ujung tombak datang menikam, lalu dengan sebelah tangan kanannya, dia meraih datang tombak dan secepat itu juga dia menarik membikin si pemilik terperosok mendekati lalu sebuah tendangan mengakibatkan pemuda itu terlempar balik dengan mulut mengeluarkan darah!

Sebatang tombak yang sekarang berada di tangan laki laki bekas orang hukuman itu.dan dia lontarkan disaat seorang pemuda bersenjata golok sedang lompat menerkam hendak menyerang.

Tubuh pemuda bersenjata golok itu tak berhasil mendekati sebab tombak itu telah membenam diperutnya, pemuda itu rubuh tewas seketika!

Dua orang pemuda lainnya yang menyaksikan kejadian itu, berteriak ketakutan dan lari memasuki ruangan dalam kuil.

dimana seorang dara perkasa berbaju hijau sedang dikepung dan berada dalam keadaan yang sangat membahayakan nyawanya.

Segera terdengar pekik suara bagaikan aum seekor harimau jantan yang sedang marah; dan laki laki bekas orang hukuman itu mulai mengamuk memakai sebelah tangan kanannya, sebab tangan kirinya masih tetap dia gunakan buat memegang lengan kanan gadis desa yang perlu dia lindungi.

Sebatang golok datang manyambar, akan tetapi tangkas dan cepat golok itu berhasil dikebut; sedangkan sipemilik kena ditendang tewas seperti pemuda yang bersenjata tombak tadi.

Lalu dengan golok rampasan itu dia mengamuk dan dalam sekejab dia berhasil melukai empat orang lawan yang mendekati.

Mungkin karena tenaganya yang besar, atau mungkin karena golok itu terlalu sering dia pakai buat menangkis berbagai macam senjata; maka disuatu saat selagi golok itu terbentur dengan golok seorang musuh, maka goloknya putus menjadi dua dan laki laki bekas orang hukuman itu hampir terkena tabasan golok lawannya andaikata dia tidak lekas lekas miringkan tubuhnya, sambil dia membenamkan sisa goloknya ditubuh lawannya, sehingga lawan itu tewas seketika dan golok lawan itu direbutnya, sebagai ganti golok yang patah dua tadi.

Dara perkasa berbaju hijau atau Yo kouwnio yang sedang dikepung oleh serombongan musuhnya, menjadi bangkit semangat perlawanannya waktu melihat datangnya seseorang yang membantu dia meskipun orang itu tidak dikenalnya.

Pedang dara perkasa berbaju hijau itu bergerak tambah lincah mencari sasaran pada musuh, sedangkan pihak musuh menjadi gentar, sebab melihat beberapa orang rekan-rekan mereka sudah tewas menjadi mayat.

Secara serentak pihak musuh itu lalu bergerak hendak melarikan diri akan tetapi tidak mudah mereka lakukan niat mereka, akan tetapi Yo Kouwnio tak mungkin mau sembarang melepas musuhnya, dan dalam hal ini dia dibantu oleh laki laki bekas orang hukuman itu sehingga akhirnya hanya sisa beberapa orang saja yang berhasil menyelamatkan diri.

Didusun Yo kee po; untuk waktu yang cukup lama Yo Hok Sin mengusahakan rumah perguruan ilmu silat yang khas dari keluarga Yo.

Murid muridnya cukup banyak, disamping dia mendidik ketiga orang anaknya yakni Yo Bun Siang, Yo Bun Lian dan Yo Bun Seng.

Yang pertama dan Ketiga adalah laki laki, sedangkan yang kedua adalah perempuan.

Disaat sedang memuncaknya kancah perjuangan rakyat yang menentang pemerintah penjajah, dusun Yo kee po banyak berkurang penduduknya.

Kemudian waktu kemerdekaan telah dicapai, maka dusun Yo kee po bertambah lagi penduduknya dengan para pendatang baru, antara lain terdapat seorang hartawan bernama Lim Toan Ceng, yang ternyata banyak memiliki kawan kawan orang orang rimba persilatan, termasuk kaum pelarian dari persekutuan Thian tok bun yang terpencar berantakan setelah markas mereka dibasmi.

Kawan kawan Lim Toan Ceng yang sering berdatangan didusun Yo kee po, kemudian mengetahui bahwa Yo Hok Sin pernah menjadi pendukung gerakan Thio Su Seng, serta bersahabat erat dengan Kanglam hiap Ong Tiong Kun.

seorang tokoh kenamaan yang menjadi musuh bebuyutan bagi orang orang Thian tok bun, bahkan sejak persekutuan itu memakai nama Han bie kauw.

Sisa gerombolan Thian tok bun itu kemudian berhasil menghasut Lim Toan Ceng.

Mereka kemudian membentuk perkumpulan Cung lien hui, persatuan kaum pemuda yang mendukung pemerintah kerajaan Beng, sehingga didalam waktu yang singkat para pemuda setempat banyak yang mendaftarkan diri menjadi anggota, tidak terkecuali para pemuda yang semula belajar ilmu silat pada Yo Hok Sin.

Pihak Yo Hok Sin menjadi tidak puas karena banyak murid muridnya yang pindah menjadi anggota Cung lien hui, sedangkan para pendiri dari perkumpulan itu justeru sedang dia curigai sebagai orang orang dari golongan yang sesat.

Telah beberapa kali terjadi bentrokan senjata antara pihak Yo Hok Sin dengan pihak Cung lien hui, dan kenyataannya pihak Yo Hok Sin menjadi tidak berdaya, malahan pihak Yo Hok Sin kemudian dituduh sebagai orang orang yang menentang pihak pemerintah kerajaan Beng.

Murid muridnya Yo Hok Sin menjadi semakin berkurang, mereka takut bahwa setiap waktu mereka bakal ditangkap dan dihukum mati.

disamping mereka selalu mendapat ancaman dari pihak orang orang Cun lien hui.

Yo Hok Sin tidak dapat lagi menahan kesabarannya.

Seorang diri dia mendatangi markas Cung lien hui hendak menemui Lim Toan Ceng, akan tetapi yang menyambut kedatangannya adalah Lim Biauw Kie, yang didampingi oleh beberapa orang pemuda yang menjadi anggota Cung lien hui ; serta beberapa orang laki-laki bermuka garang bekas gembong-gembong Thian tok bun.

Pada mulanya Yo Hok Sin tidak menduga, bahwa ditempat itu dia bakal berhadapan dengan orang orang bekas dari persekutuan Thian tok bun yang terkenal dengan ganas dan kejam, sedangkan orang yang bernama Lim Biauw Kie, mengaku sebagai saudara misan dari Lim Toan Ceng.

Lim Biauw Kie ini sebenarnya adalah muridnya Coa Hok Ciang; si orang hutan tangan panjang" yang pernah merajalela di kalangan rimba persilatan.

Dahulu pernah terjadi, Lim Bauw Kie datang di kota Gie lung an, hendak menemui seorang adik seperguruannya yang bernama Can Hok Ling; akan tetapi ternyata Lim Biauw datang terlambat, sebab Can Hok Ling sudah mati dibunuh oleh Liauw Cong In, setelah Can Hok Ling ditangkap oleh si pendekar tanpa bayangan Tan Sun Hian., Kemudian Lim Biauw Kie menemui Ouw lt To yang waktu itu telah menjadi kauwcu Thian tok bun cabang kota Gie lung an, dan Ouw It To lalu menganjurkan agar Lim Biauw Kie menghubungi Yo Jin Hce, ketua Thian Tok bun cabang Yo sin cung, untuk membantu usaha merampas kereta harta yang sedang diangkut oleh rombongannya Tiauw-Cong In dengan janji jika berhasil maka Lim Biauw Kie akan menerima upah yang besar.

Lim Biauw Kie dapat menyusul rombongan Coa Kie Hian yang sedang membawa 20 orang anggota Thian tok bun, dan atas sarannya Lim biauw Kie maka mereka merencanakan perampasan kiriman harta dengan menyamar sebagai kawanan perampok.

Dengan memakai sarannya Lim Biauw Kie itu, mereka ternyata berhasil merampas kereta harta, akan tetapi pada pertempuran yang berikutnya Lim Biauw Kie kena ditikam oleh pedangnya Liong Cie In (yang kemudian menjadi biarawati muda dengan nama Cie in suthay), sehingga Lim Biauw Kie rubuh dengan perdengarkan pekik mengerikan, dan orang-orang menduga bahwa Lim Biauw Kie telah binasa, padahal dia hanya berpura pura dan berhasil menyelamatkan diri pada setelah pertempuran itu selesai.

Sementara itu, sia sia Yo Hok Sin memaksa hendak bertemu dengan Lim Toan Ceng, sampai akhirnya terjadi pertengkaran dan seorang diri Yo Hok Sin harus melakukan perlawanan terhadap beberapa orang pemuda yang diperintah menyerang dan mengepung.

Betapapun halnya, Yo Hok Sin adalah seorang tokoh kaum rimba persilatan yang dimalui, tidak sukar bagi dia untuk melukai beberapa orang pemuda yang mengepung itu sampai kemudian terdengar teriak suara seseorang yang memerintahkan sisa para pemuda itu mengundurkan diri.

Suara seseorang itu amat keras menyeramkan dan waktu Yo Hok Sin mengawasi dilihatnya orang itu memiliki wajah muka hitam memiara jenggot pendek yang runcing seperti duri landak, bertubuh penuh otot karena dia adalah Hek houw Thio Leng, si macan hitam bekas ketua Thian tok bun cabang kota Boe-ouw.

"Bagus! kau pelarian dari kota Boe-ouw juga berada di sini..,..!"

Kata Yo Hok Sin dengan nada suara mengejek.

"Hm!

Yo Hok Sin sebaiknya kau jangan menjual lagak disini.

Kau akan dihukum mati oleh pemerintah kita kalau kau ditangkap seperti kawan kawan kau yang sudah mendahulukan kau ..."

"Penghianat....!" maki Yo Hok Sin yang sangat gusar, sampai tangannya kelihatan gemetar waktu dia menuding dan karena tak dapat membendung kemarahannya, maka dia langsung lompat menyerang, memakai kepalan tangan kanan dengan jurus "dewa sakti menyerahkan buah butho" Hek houw Thio Leng tertawa sambil dia lompat menyisi, berkelit dari serangan Yo Hok sin; untuk kemudian dia balas memukul mengarah bagian punggung lawan itu. Yo Hok Sin mengangkat tangan kirinya yang dia pakai untuk menangkis, kedua tangan mereka saling membentur dengan keras; mengakibatkan Yo Hok Sin terjerumus ke sebelah depan dan Hek houw Thio Leng terdorong mundur beberapa langkah kebelakang.

"Bagus ,.,!"

Seru Hek houw Thio Leng dergan nada suara mengejek; meskipun di dalam hati dia terkejut karena tidak menduga lawan yang tubuhnya lebih kurus itu, ternyata memiliki tenaga yang besar.

Dipihak Yo Hok Sin.

dia memang sudah menduga akan tenaga besar dari si macan-hitam Thio Leng, akan tetapi dia berhati tabah dan tidak menghiraukan bahwa tangan kirinya terasa sakit akibat benturan tadi.

Dia bersiap siaga, menambah tenaganya yang dia salurkan pada sepasang tangannya, lalu dia menyerang lagi dengan gerak tipu "petani membelah kayu ".

Hek houw Thio Leng sudah bersiap-siap dan dia hendak menangkis pukulan lawannya.

Sengaja sekali lagi dia hendak mengadu tenaga, akan tetapi dia terkejut karena lawannya hanya menipu dia dengan serangannya tadi, sebab secara tiba-tiba sebelah kaki Yo Hok Sin yang justeru menendang, mengakibatkan Hek houw Thio leng rubuh terguling dan si macan hitam ini harus terus menggulingkan tubuhnya buat menghindar dari injakan kaki Yo Hok Sin yang berulang kali nyaris mencapai sasaran.

Hek hok Thio Leng kemudian tertolong dari ancaman maut, sebab dua oiang rekannya cepat cepat memasuki gelanggang pertempuran dan menyerang Yo Hok Sin secara silih berganti, sehingga pada detik detik berikutnya Yo Hok Sin harus melawan tiga orang musuh yang bukan merupakan lawan lemah sebab ketiga tiganya merupakan tokoh tokoh bekas pimpinan persekutuan Thian tok bun, atau persekutuan penyebar racun maut, sebuah perkumpulan yang didirikan oleh Han-bie kauwcu berdua Han-bie niocu sehabis perkumpulan Han bie kauw diganyang berantakan.

Yo Hok Sin cukup tangguh menghadapi kepungan ketiga lawan yang kuat itu, akan tetapi tiba tiba lambat laun dia kehabisan tenaga, terlebih karena beberapa kali dia harus menerima pukulan dari Hek houw Thio Leng yang bertenaga besar, selagi dia tidak siaga sebab memperhatikan seorang lawan yang tangan kirinya memakai kaitan baja, sebagai ganti lima jari tangannya yang sudah putus.

Disuatu saat Yo Hok Sin tidak dapat menghindar dari serangan orang yang memakai kait baja itu.

Lehernya kena kegaet robek dan mengeluarkan banyak darah.

Dia belum berhasil membebaskan lehernya yang masih terkait, ketika sebelah kepalan Hek houw Thio Leng menghujam dibagian matanya yang sebelah kanan, sampai biji matanya keluar dan Yo Hok Sin meram menahan rasa sakit.

Suatu tendangan dari lawan yang ketiga, mengakibatkan tubuh Yo Hok Sin terlempar dan terguling dilantai; lalu sekali lagi dia kena diinjak oleh Hek houw Thio Leng yang bertenaga besar, sampai terdengar bunyi suara tulang tulang iganya yang patah, dan darah mengalir keluar dari mulut serta lehernya yang bekas kena kait baja tadi.

Setelah membinasakan Yo Hok Sin maka Hek houw Thio Leng mengajak sekelompok rombongannya buat mendatangi rumah keluarga Yo dimana mereka mengepung ketiga anaknya Yo Hok Sin, tanpa ada seorang murid Yo Hok Sin yang berani ikut bertempur, bahkan mereka melarikan diri kabur semuanya.

Dalam pertempuran yang kacau itu, si bungsu Yo Bun Seng tewas ditangan laki laki yang memakai kait baja, sedangkan Yo Bun Siang terluka parah namun sempat diajak lari oleh adiknya, Yo Bun Lian, sampai kemudian mereka umpatkan diri didalam kuil tua yang letaknya ditempat yang belukar.

Sampai berhari hari lamanya sepasang muda mudi itu umpatkan diri, dan segala kebutuhan mereka disediakan oleh si gadis desa Lie Sin Nio yang berhasil dihubungi oleh Yo Bun Lian.

Dahulu si gadis desa Lie Sin Nio bekerja sebagai pelayan pada keluarganya Yo.

Dia berhenti karena ibunya sakit dan dia ternyata masih tetap setia terhadap bekas majikannya.

Kedusun Ang Sie cung ada adiknya Yo Hok Sin yang bernama Yo Hok San dan Yo Bun Lian lalu menulis surat buat minta pamannya itu datang untuk bersama sama melakukan balas dendam.

Surat itu dibawa oleh kakaknya Lie Sin Nio, namun sang paman itu belum datang sampai Lie Sin Nio membawa seseorang yang tidak dikenal oleh Yo Bun Lian, tepat disaat kedua muda mudi itu dikepung oleh musuh dan dalam pertempuran itu Yo Bun Siang bahkan tewas meskipun pihak musuh akhirnya dapat dihalau.

"Laki laki yang memakai kait baja, kau tahu siapa namanya.??"

Tanya laki laki bekas orang hukuman itu selagi Yo Bun Lian menceritakan kisahnya.

"Entah siapa namanya dia tidak ikut didalam rombongan tadi. Dia kurus agak tinggi berkulit kuning pucat dan jalannya agak pincang kaki kirinya ",sahut Yo Bun Lian yang ternyata masih terus mengalirkan air mata, menangisi kakaknya yang sudah binasa.

"Hm ! ternyata dia masih mengganas.."

Laki-laki bekas orang hukuman itu seperti menggerutu.

"Inkong kenal dia ... ?"

Tanya Yo Bun Lian; dan sekilas dia menjadi curiga, khawatir kalau kalau orang yang telah membantu itu justru bersahabat dengan musuh yang memakai kait baja itu.

Laki-laki bekas orang hukuman itu manggut, akan tetapi pada mukanya dia tidak diperlihatkan perobahan apa apa, hanya sepasang matanya yang kelihatan bersinar seperti menyala, dan dia berkata .

"Namanya Cie Tong Hee. Dia memakai gelar si "kait baja" dan kait baja itu memang tidak pernah lepas dari tangan kirinya, sebab dia memang sengaja menggantikan kelima jari tangannya dengan kait baja itu ..."

Laki laki bekas orang hukuman itu tidak meneruskan perkataannya, meskipun sebenarnya Yo Bun Lian sedang mendengarkan dengan penuh perhatian.

Dengan membicarakan si kait baja Cie Tong Hee, laki laki bekas orang hukuman itu bagaikan teringat dengan pengalamannya tempo dulu, waktu seorang diri dia mendaki gunung Ho san, mengganyang kelompok berandal yang dipimpin oleh si "kait baja Cie Tong Hee serta kakaknya yang bernama Cie Tong Him, si beruang kepala putih.

Kemudian dia pun menjadi teringat juga dengan nama gunung Hong san yang membikin dia terbayang lagi dengan dara tambatan hatinya sehingga secara mendadak sinar matanya berubah menjadi hampa, meskipun pada mukanya dia tidak perlihatkan apa apa; dan dia bahkan bagaikan tidak sadar waktu dia mengucap kata kata dengai suara yang amat perlahan .

"Adik Hong; dimana kau kini berada ..?"

Sejak tadi Yo Bun Lian sedang mengawasi laki laki yang sedang duduk termenung dihadapannya itu, dara yang cantik dan yang sudah menjadi anak yatim ini masih menunggu laki laki itu bicara lagi tentang si kait baja Cie Tong Hee akan tetapi laki laki itu tetap duduk termenung bahkan ada butir butir air mata yang kemudian menetes membasahi mukanya, lalu sesaat kemudian laki laki itu menyambung perkataannya tetap dengan suara yang terdengar perlahan, menandakan dia sedang menyimpan suatu rasa duka .

"Maafkan aku, marilah kita datangi tempatnya Cung lien hui dan ."

"Aku kira tidak perlu kita datangi mereka sebab aku yakin mereka justeru akan datang mencari kita ,.." sahut Yo Bun Lian dengan muka muram, mengingat mereka hanya berdua dan pihak musuh sangat banyak dan kuat; Laki laki bekas orang hukuman itu tidak memaksa dia bangun berdiri dan menemukan adanya makanan yang sedang disediakan oleh Lie Sin Nio sehingga sambil menantikan kedatangan dari rombongan pihak musuhnya, mereka bertiga lalu mengisi perut. Mereka baru saja selesai makan, ketika pihak musuh ternyata benar-benar sudah mendatangi dengan perdengarkan suara mereka yang ribut sudah terdengar sejak dari jauh! Laki laki bekas orang hukuman itu mengajak Yo Bun Lian keluar buat menunggu musuh di halaman kuil dan memerintahkan Lie Sin Nio untuk tetap berada diruangan dalam. Rombongan musuh yang datang terdiri dari belasan orang banyaknya, dipimpin oleh Hek houw Thio Leng bertiga dengan si kait baja Cie Tong Hee dan Lo Thong Sun. Seorang pemuda yang tadi menjadi pecundang dan berhasil melarikan diri, memberitahukan Thio Leng dengan menunjuk kearah laki laki bekas orang hukuman itu. Hek houw Thio Leng perdengarkan suara mengejek sambil dia melangkah tambah mendekati, diikuti oleh si "kait baja" Cie Tong Hee dan Lo Teng Soen.

"Hm ! jagoan tengik pernah apa kau dengan keluarga Yo...?"

Tegur si macan hitam Thio Leng dengan nada suara menghina.

Laki laki bekas orang hukuman itu tidak menghiraukan teguran si macan hitam, sebaliknya pandangan matanya ditujukan kepada si "kait baja Cie Tong Hee.

sampai disuatu saat si "kait baja" ikut mengawasi dan pandang mata mereka berdua saling bertemu.

Kelihatan ada sedikit perobahan pada mukanya yang pucat dari si "kait baja".

Agaknya Cie Tong Hee merasa seperti pernah mengenal dengan laki laki bekas orang hukuman itu, namun entah dimana sudah dia lupa.

."Cie Tong Hee.

apakah benar benar kau sudan tidak kenal lagi dengan aku --!"

Akhirnya kata laki laki bekas orang hukuman itu dengan nada suara bengis. Si "kait baja"Cie Tong Hee tambah mengawasi dan tambah meneliti;

"Hm ! segala gelandangan mengaku kenal aku . !"

Gumam Cie Tong Hee dengan suara mengejek.

"Akh ! Kau lupa atau tidak lupa aku tidak perduli. Dulu aku pernah berkata, kalau sekali lagi kita bertemu, maka kaki kananmu akan kubikin pincang ..."

"Kau . .I" akhirnya kata Cie Tong Hee sambil dia menuding dengan kedua jari tangan kanannya yang kelihatan gemetar, juga nada suaranya ikut gemetar juga; namun dia berusaha meneruskan berkata .

"Kau ... bukankah kau sudah mati ..?"

"Kalau aku sudah mati kau sekarang tentunya bertemu dengan hantuku ... ."

Sahut laki laki bekas orang hukuman itu, juga dengan nada suara yang mengejek.

Tidak pernah Cie Tong Hee bermimpi bahwa sesudah dua puluh tahun lamanya, hari itu dia akan bertemu lagi dengan sam ceecu dari Ceng liong pang yang gagah perkasa itu, yang sudah membinasakan kakaknya dan melukai kaki kirinya sehingga dia cacad menjadi pincang jalannya, padahal berita yang dia dengar dikatakan bahwa "sam ceecu" itu sudah tewas didalam rumah penjara kaum penjajah bangsa Mongolia.

Sementara itu si macan hitam Thio Leng yang tidak mengetahui kegagahan laki laki bekas orang hukuman itu, dan laki laki itu justru sedang mengawasi dengan sepasang sinar mata yang menyala, lalu dia berkata dengan nada suara yang bengis.

"....kau memakai gelar "macan hitam", mukamu memang hitam akan tetapi dengan hak apa kau berani mengaku macan ... ?"

Hek houw Thio Leng menjadi marah tak terkirakan. Dia berteriak geram sambil melompat menerkam memakai sepasang kepalannya yang besar.

"Ha ha ha ! Gerak seekor macan bukanlah seperti itu , !" terdengar laki laki bekas orang hukuman itu tertawa dan berkata dengan menghina, sementara sepasang tangannya ikut bergerak, menyambut sepasang kepalan tangan Thio Leng yang secepat kilat dia pegang pada bagian lengannya. Hek houw Thio Leng sangat terkejut karena melihat gerak cepat dari lelaki yang tak dikenalnya itu, akan tetapi dia adalah seorang jago kawakan, dia cepat mengalihkan arah meluncurnya sepasang tangannya, sambil dia ikut membuang dirinya menyamping.

"Bagus, kau dapat menghindar! sekarang kau perhatikan gerak seekor macan yang sebenarnya . !"

Lelaki bekas orang hukuman itu berkata lagi, dan dia menyudahi perkataannya dengan membarengi menyerang Thio Leng, juga memakai sepasang kepalan seperti yang dilakukan oleh si macan hitam tadi.

Hek houw Thio Leng bergegas hendak menghindar dari serangan sepasang kepalan itu, akan tetapi tahu tahu sepasang tangan laki laki itu sudah berhasil menangkap dia pada bagian tengkuknya, dan pada saat berikutnya tubuh Hek houw Thio Leng yang besar melayang jauh, namun untung bagi si macan hitam ini tubuhnya terbentur dengan tubuh tiga orang pemuda, sehingga mereka semuanya terjatuh bersama sama !

)o(dw)(X)(hen)o( HEK HOUW THIO LENG bertambah geram merasa dihina dihadapan orang banyak.

Dia merayap bangun; dan dia menghalau waktu dua orang pemuda pendek membantu dia berdiri.

Lalu dia melihat bahwa Yo Bun Lian sedang mengamuk memakai pedang didalam kurungan kelompok gerombolan pemuda, sementara Lo Tong Soen sedang menghadapi laki laki yang perkasa itu, dan Cie Tong Hee masih gugup berdiri disisi bagaikan patung hidup.

"Pengecut; mengapa kau diam saja... !"

Teriak Hek houw Thio Leng yang ditujukan kepada Cie Tong Hee, sambil dia melepaskan ikatan pinggangnya yang ternyata adalah merupakan senjata Joan pian atau cambuk lemas.

Lo Tong Soen menyisih waktu Hek houw Thio Leng menyerang memakai senjata cambuk lemas, dan si macan hitam ini bahkan menyerang saling susul sebanyak lima kali, mengakibatkan sesaat laki laki bekas orang hukuman itu menjadi kelihatan kelabakan, sebab dia memang tidak bersenjata.

Sementara itu.

Lo Tong Soen sudab menyiapkan sebatang golok, sedangkan Cie Tong Hee memegang sebatang pedang di tangan kanannya.

Sejenak Lo Tong Soen berdua Cie Tong Hee saling mengawasi, setelah itu keduanya perdengarkan suatu suara seruan, dan secara serentak mereka melakukan penyerangan terhadap laki laki bekas orang hukuman itu.

Laki laki bekas orang hukuman itu menjadi agak terkejut waktu dia mendengar suara seruan; dan melihat Cie Tong Hee melakukan serangan bersama sama Lo Tong Soen, yang seorang memakai sebatang golok dan yang lain menggunakan sebatang pedang.

( im yang to loan to hoat .,,!") pikir laki laki bekas orang hukuman itu didalam hati, dan dia menjadi teringat dengan pengalaman tempo dulu.

Im yang to loan to hoat adalah ilmu yang khas diciptakan oleh Cie Hee tojin yang bermukim diatas gunung Bong san, dan Cie Tong Hee dua bersaudara dengan Cie Tong Him adalah merupakan murid muridnya Cie Hee tojin.

Cie Tong Hee bersenjata pedang dan Cie Tong Him yang tubuhnya lebih besar memakai senjata golok.

Akan tetapi dalam mereka berdua memadu ilmu Im yang to loan to hoat, golok dan pedang seolah olah suami isteri yang saling memadu kasih dan dapat saling bertukar tempat atau saling membantu.

Jadi, golok kadang kadang bergerak sebagai benar benar golok, palsu karena bergerak seolah olah sebagai pedang, demikian pula sebaliknya.

Dahulu laki laki bekas orang hukuman itu memakai senjata Ceng liong kiam (pedang naga hijau) yang menjadi barang pusaka milik Ceng liong pang.

Ceng liong kiam ada sepasang, pedang yang laki-laki dan pedang yang perempuan.

Laki laki bekas orang hukuman itu memakai pedang Ceng liong kiam yang laki-laki, sementara pedang Ceng liong kiam yang perempuan dipakai oleh dara tambatan hatinya.

Jadi, dulu waktu dia melukai Cie Tong Hee dan membinasakan Cie Tong Him laki laki bekas orang hukuman itu memakai pedang pusaka, akan tetapi sekarang dia tidak bersenjata, dan jelas terpikir olehnya bahwa Lo Tong Soen yang dia belum kenal dan bersenjata golok pasti adalah satu muridnya Cie hee tojin atau menjadi saudara seperguruan dari Cie Tong Hee !

Namun demikian laki laki bekas orang hukuman itu tidak sempat berpikir lama oleh karena serangan Cie Tong Hee berdua Lo Tong Soen segera datang.

Dengan mengandalkan kegesitan tubuhnya lelaki bekas orang hukuman itu dapat menghindar dari kedua serangan pertama, dan waktu kedua musuh itu menyerang lagi, maka tiba-tiba lelaki bekas orang hukuman itu lompat menerkam Hek houw Thio Leng, sehingga hampir hampir si macan hitam itu menjadi korban goloknya Lo Tong Soen yang sedang membayangi lelaki bekas orang hukuman itu.

Hek houw Thio Leng terkejut waktu secara tiba tiba dia diterkam oleh lelaki yang tidak dikenalnya itu, yang bergerak bagaikan seekor macan kumbang, dan dia menjadi lebih terkejut lagi waktu goloknya Lo Tong Soen bagaikan mengancam dia.

Si macan hitam Thio Leng menjerit dan dapat juga dia menghindar dari maut, akan tetapi ujung cambuknya kena dipegang oleh lelaki bekas orang hukuman itu yang sengaja tidak mau melepaskan lagi.

Hek houw Thio Leng kemudian hendak mengangkat sebelah tangan kirinya buat dia menangkis goloknya Lo Teng Soen yang masih menyambungi, sedangkan tangan kanannya masih memegang cambuknya yang sedang ditarik oleh laki laki yang tidak dikenalnya, bahkan si macan hitam kalah tenaga, sehingga terpaksa Hek houw Thio Leng melepaskan pegangannya dan cepat cepat dia melompat menghindar dari golok rekannya.

Peluh dingin segera mengucur membasahi muka si macan hitam Thio Leng yang baru lepas dari ancaman maut kena serangan golok rekannya sendiri.

)o(dw)(X)(hen)o(

Jilid 3 SEMENTARA itu, bunyi suara cambuk terdengar menggetar di udara waktu cambuk itu sudah dikuasai sepenuhnya oleh laki laki bekas orang hukuman itu dan cambuk itu bergerak bebas bagaikan seekor naga yang sedang menari.

("Louw jieko, kau lihatlah aku gunakan ilmu kebanggaanmu.,..!) laki laki bekas orang hukuman itu berkata didalam hatinya sambil dia mempermainkan cambuknya yang menderu bersuara bagaikan aum seekor naga sakti.

Tepat pada saat itu, Cie Tong Hee datang menyerang memakai pedang.

Gerak serangan Cie Tong Hee bukan menikam akan tetapi membacok sebagai layaknya sebatang golok yang dipakai menyerang.

Itulah serangan golok palsu, atau pedang bukan pedang akan tetapi dipakai sebagai golok.

Laki laki bekas orang hukuman itu sudah mempunyai pengalaman waktu tempo dulu, dari itu dia tidak mau kena tipu musuh.

Dia cepat bergerak sebelum Cie Tong Hee merobah cara penyerangan menjadi pedang yang benar benar pedang.

Cambuk ditangannya berputar menderu deru dan secara tiba tiba menghantam kebagian belakang bukan kepada Cie Tong Hee yang sedang menyerang dan ternyata dibagian belakang itu justeru sedang bergegas Lo Tong Soen menyerang dengan menikam memakai goloknya.

Cambuk itu bergerak pesat bagai seekor naga sakti melibat tiang, berhasil melibat golok dan berbareng dengan itu laki laki bekas orang hukuman itu bergerak pesat menghindar dari bacokan pedangnya Cie Tong Hee, sambil dia menarik memakai tenaga, mengakibatkan tubuh Lo Tong Soen ikut tertarik dan menggantikan keadaan tempatnya berdiri tadi, sehingga waktu Cie Tong Hee merobah cara menyerang, menikam memakai pedangnya, maka tanpa ampun lagi tubuh Lo Tong Soen yang kena ditikam !

Cie Tong Hee berteriak haru waktu mengetahui dia mencapai sasaran yang salah.Untung bagi dia bahwa dia tidak sempat diserang lagi oleh cambuk musuh, sebab laki laki bekas orang hukuman itu sedang dihadapi oleh Hek houw Thio Leng yang memakai sebatang tombak panjang.

Cepat cepat Cie Tong Hee melepaskan pegangannya pada pedangnya yang ujungnya masih membenam ditubuh Lo Tong Soen, dan tanpa menghiraukan suatu apa lagi dia memutar tubuh hendak lari meninggallan tempat pertempuran itu.

Gerak laki laki bekas orang hukuman itu menjadi tertunda sebab dia diserang secara mendadak oleh Hek houw Thio Leng memakai sebatang tombak panjang akan tetapi tidak sukar baginya untuk berkelit menghindar dari tusukan tombak, sedangkan untuk menghadapi gerak berikutnya tangan kirinya berhasil memegang bagian lain pada tombak yang sedang dipegang oleh si macan hitam; lalu cambuk ditangan kanannya bergerak bagaikan seekor naga sakti melepas api, mengakibatkan rambut rambut dari Hek houw Thio Leng lepas dari kepalanya, dan si macan hitam berteriak kesakitan melepas pegangannya pada tombaknya dan cepat cepat dia lari kabur dengan membekap kepalanya yang kena dicukur gundul.

" Kunyuk !

Kau mau lari kemana ..-.

Bentak laki laki bekas orang hukuman itu, lalu dia melontarkan tombak yang sedang dipegang pada tangan kirinya dan tombak itu melayang mencapai sasaran pada betis kanan Cie Tong Hee, tembus dari bagian belakang kebagian depan.

Jadi bukan si macan hitam yang diarahnya !

Sekali lagi Cie Tong Hee berteriak, akan tetapi dia tetap lari dengan kedua kakinya yang pincang, tidak lari cepat sebab tombak panjang yang masih membenam.

Namun demikian laki laki bekas orang hukuman itu tak rnengejar, sebaliknya cambuknya menderu deru sambil dia mendekati para pemuda yang masih sedang mengepung Yo Bun Lian.

Para pemuda itu menjadi sangat ketakutan, mereka kabur karena melihat pemimpin mereka sudah mendahulukan.

Yo Bun Lian ingin mengejar, akan tetapi laki laki bekas orang hukuman itu mencegah.

"Akan tetapi, musuh musuhku belum tewas, aku harus membalas dendam ..!"

Kata Yo Bun Lian yang hendak membantah.

"Sia sia kau mengejar. Si "kait baja" Cie Tong Hee dan Hek houw Thio Leng tidak akan mungkin singgah ditempat Cung lien hui. Mereka pasti menghilang dan Cung lien hui juga segera akan dibubarkan oleh Liem Biauw Kie dan Liem Toan Ceng.. ."

"Akan tetapi, aku harus membalas dendam.. .!"

Ulang Yo Bun Lian yang masih berusaha membantah, ingin melakukan pengejaran terhadap musuh musuhnya. Laki laki bekas orang hukuman itu lalu berkata lagi.

"Kau memang wajib membalas dendam dan sudah tentu kau harus lakukan dengan kedua tanganmu sendiri ... !" "Maksudmu, kau tidak mau membantuku lagi ... ?"

Tanya Yo Bun Lian, dan selekas itu juga dia mengalirkan air matanya.

"Bukan aku tidak mau membantu, akan tetapi aku katakan kau wajib melakukan dengan tanganmu sendiri ...."

Sahut laki laki itu yang mengulang perkataannya.

"Akan tetapi, ilmu kepandaianku ..."

Tak mampu Yo Bun Lian melengkapi perkataannya, kepalanya menunduk dan semakin banyak berlinangkan air matanya.

"Justru itulah sebabnya, aku sengaja membiarkan kedua musuhmu itu hidup untuk sementara. Kau masih muda akan tetapi kau sekarang menjadi anak yatim piatu. Kalau kau mau mengikuti saranku, sebaiknya kau belajar lagi, cukup lagi lima tahun dan kau pasti akan berhasil membalas dendam tanpa bantuan lain orang ..."

"Aku . ., aku ... apakah kau mau menerima aku menjadi muridmu..?"

Tanya Yo Bun Lian, namun tetap dengan kepala menunduk. Laki laki bekas orang hukuman itu tertawa tawa wajar karena merasa lucu, bukan tawa menghina atau mengejek, lalu dia berkata.

"Aku bukan tidak mau mempunyai murid, sebab aku masih mempunyai urusan lain, akan tetapi ada seorang tayhiap yang menjadi sahabatku, namanya Wie Beng Yam. Dia menetap diatas gunung 0ey san bersama isterinya seorang liehiap. Kalau kau mau, akan aku tulis surat supaya mereka menerima kau sebagai murid..,"

Nama tayhiap Wie Beng Yam memang sudah pernah didengar oleh Yo Bun Lian dari almarhum ayahnya, dari itu sudah tentu dia menjadi sangat girang kalau dapat diterima menjadi murid pasangan suami isteri yang terkenal gagah perkasa itu.

Didalam kuil tua itu tidak ada kertas buat menulis surat, akan tetapi bagaikan orang yang teringat dengan sesuatu maka laki laki bekas orang hukuman itu merogoh kantongnya dan mengeluarkan sesuatu benda yang lalu dia berikan pada Yo Bun Lian, sambil dia berkata .

"Kau bawa saja ini dan kau katakan bahwa aku yang menghendaki kau belajar pada mereka ..."

Yo Bun Lian menyambuti dan meneliti benda itu, yang ternyata adalah sebuah lencana yang dibuat dari bahan perak, tanpa ada huruf kecuali gambar seekor macan terbang.

Dara yang sudah menjadi anak yatim piatu itu percaya, bahwa lencana yang dia pegang itu akan menjadi semacam pengenal bagi tayhiap Wie Beng Yam, dari itu dia mengucap terima kasih sambil berlutut, mengakibatkan lelaki bekas orang hukuman itu menjadi kelabakan.

Dengan demikian meskipun berat rasa hatinya, namun Yo Bun Lian melepas juga kepergian lelaki yang telah menolong dia itu yang katanya masih mempunyai urusan lain namun yang agaknya tidak mau dia memberitahukan.

Dipihak laki laki bekas orang hukuman itu selekas dia meninggalkan kuil tua itu, maka dia memerlukan singgah dirumah Liem Toan Ceng yang dapat dia temui, namun Liem Biauw Lie sudah menghilang entah kemana juga Hek houw Thio Leng dan si "kait baja" Cie Tong Hee sudah menghilang, Laki laki bekas orang hukuman itu berhasil mengancam Liem Toan Ceng, sampai dia yakin bahwa hartawan itu tidak akan mengganggu dara Yo Bun Lian, dan dari hartawan itu juga; laki laki bekas orang hukuman itu berhasil "memeras" sejumlah uang buat bekal dia meneruskan perjalanannya, menuju gunung Ceng liong san !

Sementara itu, ada dusun Liong bun yang letaknya tidak terlalu jauh terpisah dari atas gunung Ceng liong san.

Dusun itu keadaannya aman dan tenang, bebas dari kekacauan atau kerusuhan, mungkin karena letaknya yang terpisah tidak terlalu jauh dengan gunung Ceng liong san sehingga pihak yang merasa biasa mengacau menjadi agak jeri terhadap orang orang Ceng liong pang, sedangkan pihak Ceng liong pang sendiri agaknya memang tidak mau mengganggu ketenangan kampung itu.

Seorang laki laki yang usianya lebih dari lima puluh tahun, mengusahakan sebuah kedai nasi yang lumayan besarnya, akan tetapi hanya dibantu oleh anak perempuannya, Mulan; dan menantunya yang bernama Pek Tiong Ho.

Laki laki pengusaha kedai nasi itu agak kurus dan agak tinggi bentuk tubuhnya, kelihatannya dia adalah seorang laki laki yang sudah biasa bekerja keras, memperjuangkan hidup demi memupuk keluarga.

Akan tetapi sayang isterinya sudah mendahulukan dia sehingga dia hidup menjadi duda tidak mau kawin lagi karena setia dengan janji waktu dia mengawini isterinya dulu.

Tidak banyak orang yang mengetahui, bahwa tempo dulu selagi dia belum mempunyai anak bini, laki laki itu pernah ikut menjadi anggota persekutuan Ceng liong pang, punya kedudukan yang cukup lumayan berkat ilmu silatnya cukup mahir, sampai banyak orang mengenal dia sebagai Kim to Hua Beng Yao, si golok emas; sebab dia memang bersenjata sebatang golok yang mengeluarkan sinar kuning seperti emas.

Sekarang Hua Beng Yao hidup sederhana sebagai seorang pengusaha kedai nasi, dia sudah berusaha dan berhasil melupakan masa lalu yang hampir selalu menempuh bahaya, akan tetapi dalam suasana gelak dan tawa mengikuti gelora semangat muda yang membara, sekarang goloknya sudah dia buang, jauh ke dasar jurang Ceng liong san selagi dia bertekad hendak meninggalkan gunung yang sudah cukup lama menjadi tempat dia bernaung, mendampingi "Sam ceecu" yang gagah perkasa, yang dia sangat kagumi dan hormati, meskipun usia "sam ceecu"

Itu lebih muda dari usianya sendiri.

Tekad Hua Beng Yao meninggalkan gunung Ceng liong san adalah ketika dia mendengar bahwa "sam ceecu" sudah tewas didalam rumah penjara pihak pemerintah bangsa asing.

Dia sangat menyesal bahwa dulu "Jie ceecu" dan si burung Hong" yang menjadi kekasihnya "sam ceecu" tidak berhasil menolong membebaskan sam ceecu Itu, sedangkan dia sendiri, kedudukannya didalam "pang" atau persekutuan tidak memungkinkan buat dia ikut orang orang yang sedang berusaha hendak memberikan pertolongan terhadap sam-ceecu, disamping kepandaiannya memang tidak memadai buat dia menerjang tembok pertahanan rumah penjara tempat sam ceecu itu ditahan.

"adiknya dw yang nakal"

Istilah itu kadang-kadang Kim to Hua Beng Yao gunakan terhadap sam ceecu yang sudah dia anggap sebagai adikz kandungnya, sebab meskipun si golok emas ini menjadi anak buahnya sam-ceecu, akan tetapi sang pimpinan itu senang bergaul dan senang bergurau terhadap semua bawahannya sedangkan terhadap si golok emas yang sudah dianggapnya sebagai kakak kandungnya, sam ceecu itu selalu menggoda memakai "istilah kakak yang Jenaka".

"Kakak yang jenaka", Padahal Kim to Hua Beng Yao tidak semestinya dia digolongkan sebagai seorang yang gemar melawak atau berkelakar, Adik yang nakal" itu menganggap bahwa sang kakak jenaka sebab Kim-to Hua Beng Yao seringkali bersikap sebagai "orang tua yang cerewet" atau "bawel", sering memberikan nasehat nasehat terhadap kenakalan sang adik, sebab "adiknya yanp nakal"

Itu kadang kadang bersikap "berandalan".

Tetapi, karena sikapnya yang berandal itu, justeru sang "adik yang nakal" itu berhasil merebut cinta kasih si burung Hong yang cantik dan perkasa puteri tunggal pangcu Ceng liong pang yang menjadi idaman dan rebutan orang orang muda yang perkasa !

Akhir akhir ini setelah sekian lama Kim to Hua Beng Yao mengusahakan kedai nasinya mendadak saja dia seringkali memimpikan sang adik yang nakal itu datang menemui dia.

Muka adik yang nakal itu cerah dan tetap kebiasaannya berlaku nakal, sehingga mimpi itu amat berkesan bagi Kim to Hua Beng Yao; namun yang berakhir dengan suatu kesedihan apabila dia telah tersadar dari tidurnya sehingga lagi-lagi si golok emas itu harus mengalirkan air matanya, mengenangkan nasib adik yang nakal itu.

Pagi itu seperti biasanya dia bergegas membuka kedai nasinya bersama menantunya; sedangkan Hua Mu lan masih sibuk didapur menyiapkan beberapa macam makanan.

Kim to Hua Beng Yao masih teringat dengan mimpinya semalam, bahwasanya lagi lagi dia telah kedatangan sang adik yang nakal, akan tetapi kenyataannya yang segera datang adalah 6 orang lelaki muda yang lagaknya sangat garang dan kedatangan mereka ini bahkan langsung sudah menyerang dan mengepung menantunya, Pek Tiong Ho tanpa sesuatu sebab yang diketahuinya.

Pek Tiong Ho tidak mengerti ilmu silat dan Kim to Hua Beng Yao tidak pernah menduga bahwa menantunya bakal diserang bahkan dikepung.

Dari itu tidak sempat si golok mas Hua Beng Yao menolong menantunya yang rebah terluka parah, akan tetapi belum sampai menemui ajalnya, sebab Kim to Hua-Beng Yao lompat menerkam dan menendang sekaligus 2 orang pemuda yang sedang berusaha hendak membinasakan menantunya itu.

"Anjing anjing geladak! apa sebab kalian datang melakukan pengacauan..,?" tanya Kim to Hua Beng Yao membendung rasa marah dan sempat melirik ke arah Hua Mu lan yang datang sambil berlari dan menangis, merangkul suaminya yang rebah terluka parah. Empat pemuda yang berdiri dengan sikap mengurung Kim to Hua Beng Yao saling mengawasi dan sempat pula mereka melirik ke arah kedua rekannya yang sedang merayap bangun, bekas kena tendangan tadi. Para pemuda itu agaknya datang dengan membawa tekad dan kata sepakat. Mereka tentunya memang sudah merencanakan hendak membunuh Pek Tiong Ho dan sudah pula memperhitungkan adanya Kim to Hua Beng Yao yang pasti akan merintangi niat mereka. Dengan suatu tanda yang mereka berikan keempat pemuda yang bersikap mengurung itu menyiapkan senjata mereka yang rata rata memakai golok, sementara kedua pemuda yang kena ditendang tadi juga ikut menyiapkan golok mereka namun keduanya tetap berdiri waspada diluar garis pengurungan. Ke 4 pemuda yang sudah menyiapkan golok golok itu tidak langsung melakukan penyerangan terhadap Kim to Hua Beng Yao, mereka bergerak dalam lingkaran dengan langkah langkah kaki dan sikap "pat kwa". Pada mulanya Kim to Hua Beng Yao perlihatkan muka geram dan sikap mengejek, sebab melihat para pemuda itu menyiapkan senjata golok suatu senjata yang biasa menjadi permainannya. Akan tetapi pada detik detik berikutnya dia menjadi bercekat sebab mengenali segala gerak para pemuda itu, sehingga dia menjadi bertambah heran, entah apa sebabnya menantunya bermusuhan dengan para pemuda dari golongan Pat kwa bun, suatu golongan yang sangat dikenal dengan ilmu silat golok Pat kwa ! Betapapun halnya, waktu itu Kim-to Hua Beng Yao tidak mempunyai kesempatan buat berpikir lama. Orang-orang yang mengurung dia adalah orang orang muda yang tidak menghiraukan kesopanan kaum rimba persilatan oleh karena mereka segera lakukan penyerangan meskipun Hua Beng Yao tidak bersenjata. Didalam hati Kim to Hua Beng Yao jadi mengeluh, akan tetapi gerak tubuhnya masih cukup lincah buat dia menghindarkan diri dari serangan dua orang pemuda dan sesuai dengan perhitungannya, selagi dia berkelit dan melompat mundur, dia pasti bakal diserang lagi oleh dua orang pemuda yang lain. Agak nekad kelihatannya, waktu Kim to Hua Beng Yao berusaha hendak merebut golok seorang pemuda yang sedang membacok, sementara sebelah kakinya menendang seorang pemuda yang lainnya. Dua gerak berlainan yang dilakukan sekaligus oleh Kim to Hua Beng Yao, dan si golok mas ini berhasil menangkap lengan kanan musuh yang sedang memegang golok, akan tetapi tendangannya nyaris karena lawannya dapat melompat menghindar dan berbareng pada saat itu dua pemuda lainnya datang menerkam, yang seorang membacok kakinya dan yang seorang lagi hendak menikam iganya Hua Beng Yao ! Kim to Hua Beng Yao harus menolong diri dari ancaman orang orang yang sedang menyerang itu, sehingga terpaksa dia harus melepaskan pegangannya, batal hendak merebut golok musuh, sebaliknya dia harus melompat jauh buat menghindar namun dia disambut oleh dua orang pemuda yang pernah dia tendang tadi. Kedua pemuda yang sejak tadi berdiri dengan siap siaga, dapat menduga dengan tepat arah Hua Beng Yao lompat menghindar, dari itu mereka segera menyapu dengan golok golok mereka selagi Hua Beng Yao baru saja menginjak lantai. Sekali lagi Kim to Hua Beng Yao harus lompat tinggi buat menghindar. Dia menyesal bahwa pada saat itu dia tidak bersenjata sehingga tidak dapat dia menangkis senjata musuh dan menghadapi mereka. Keadaan si golok mas Hua Beng Yao tetapi dalam gawat karena selagi dia lompat tinggi keatas; dibawah sudah siap menunggu musuh musuh yang akan menyerang dia lagi. Dari itu waktu dia lompat tadi, sudah dia perhitungkan dan kedua telapak tangannya dia gunakan buat mendorong atap rumah, sehingga waktu tubuhnya meluncur turun, maka menjadi menyimpang namun dia tetap dikejar oleh pemuda lain yang menerkam hendak membelah tubuhnya memakai golok mereka. Berkat cara dia melesat turun tadi maka sempat Kim to Hua Beng Yao meraih sebuah bangku panjang selagi kedua pemuda lawannya hendak membelah dia. Dengan bangku panjang itu Hua Beng Yao menangkis sepasang golok kedua lawannya, sehingga golok golok itu membenam tidak segera dapat dicabut oleh si pemiliknya, sedangkan Hua Beng Yao menggunakan kesempatan itu buat memandang salah seorang pemuda yang paling berdekatan dengan dia sehingga pemuda itu kena sabetan pedang terlempar jauh, akan tetapi temannya sudah berhasil mencabut goloknya yang membenam dibangku panjang, akan tetapi dia tak perlu mengulang serangannya, sebab dua temannya sudah mewakilkan dia buat menyerang Hua Beng Yao. Berat perjuangan Kim to Hua Beng Yao yang harus melakukan perlawanan terhadap enam orang pemuda yang bersenjata golok, sedangkan dia sendiri hanya memakai bangku panjang yang dia gunakan buat menangkis atau memukul. Bangku kayu yang panjang itu cukup kuat akan tetapi lambat laun banyak yang rusak terkena bacokan golok, sementara napas Hua Beng Yao kian memburu karena dia harus mempergunakan tenaga yang besar memakai senjata bangku panjang yang cukup berat itu. Kim to Hua Beng Yao sangat cemas, terlebih karena menantunya dilihatnya tetap rebah dan Hua Mu lan masih menangis ketakutan, menandakan luka menantunya itu pasti sangat parah. Tidak ada kesempatan buat Hua Beng Yao mendekati dan melihat keadaan menantunya. Dia harus bertempur bagaikan seekor banteng yang mengamuk. Dua orang pemuda sempat dia hajar pada tulang iga mereka, akan tetapi empat pemuda lainnya tetap mengepung dia dengan langkah dan gerak patkwa, mengakibatkan Hua Beng Yao bagaikan terkurung di dalam rimba golok. Disaat keadaan Kim to Hua Beng Yao menjadi semakin gawat, tiba-tiba seorang pemuda lain memasuki pintu kedai nasi itu. Pemuda ini memiliki tubuh kurus dengan muka pucat seperti hantu kurang darah; dia mengawasi keadaan pertempuran, lalu secepat kilat sepasang tangannya bergerak dan tahu tahu dua batang pisau belati terbang kearah Kim to Hua Beng Yao yang sedang bertempur, dan tepat mencapai sasarannya pada sepasang mata si golok mas ! Kim to Hua Beng Yao meraung karena rasa sakit pada sepasang matanya, dan karena gusar dengan perbuatan pengecut dari pemuda itu, maka bangku yang dipegangnya dia lontarkan dan menimpa seorang pemuda lawannya membikin pemuda itu remuk kepalanya sebab Hua Beng Yao telah mengerahkan sisa tenaganya; setelah itu sepasang tangannya meraba dan mencabut sepasang pisau belati yang membenam di matanya, dan pisau belati itu dia lontarkan ke arah pintu, akan tetapi pemuda yang menyerang tadi sudah pindah tempat. Si golok mas Hua Beng Yao sudah buta sepasang matanya yang terus mengeluarkan darah. Akan tetapi dia masih berusaha melawan sisa lawannya yang mengepung dia, dengan mengerahkan alat pendengarannya meskipun dia sekarang tak bersenjata lagi, sebab bangku panjang tadi sudah dia lontarkan. Beberapa kali Hua Beng Yao masih sempat membebaskan diri dari serangan para pengepungnya, akan tetapi disaat berikutnya sebatang golok membenam dibagian perutnya. Dengan mengerahkan sisa tenaganya, Hua Beng Yao memukul memakai kepalan tangannya, sehingga si penyerang yang belum sempat mencabut goloknya yang membenam di perut Hua Beng Yao, kena pukulan pada mukanya dan dia rubuh binasa, sementara Hua Beng Yao sempat mencabut golok musuh dari perutnya yang segera memancurkan darah segar ! Hua Mu lan berteriak waktu dia melihat keadaan ayahnya, akan tetapi Hua Beng Yao masih dapat mengamuk dengan sebatang golok ditangannya dan dia bahkan dapat membinasakan dua pemuda lagi, untuk kemudian dia rubuh kehabisan tenaga dan kehabisan darah, apalagi lukanya bertambah dengan beberapa tikaman dan bacokan golok lawannya. Sekali lagi Hua Mu lan berteriak, dan dia bahkan melepaskan rangkulannya pada suaminya dan lari mendekati tempat ayahnya yang rebah tewas akan tetapi secara tiba tiba dia ditarik oleh pemuda yang bermuka seperti hantu kurang darah, yang tadi membokong ayahnya memakai sepasang pisau belati. Pemuda bermuka pucat itu menarik sebelah tangan Hua Mu lan, sampai Hua Mu lan terkulai didalam rangkulan pemuda itu, dan kedua muka mereka menjadi saling berdekatan; lalu secara tiba tiba Hua Mu lan berteriak lagi.

"Kau... kau. ..!"

Agaknya Hua Mu lan kenal dengan pemuda itu,dia tak kuasa menyebut namanya, sebab pemuda itu sebenarnya adalah Go Cay Sim, yang sudah lebih dari lima tahun tidak pernah dilihatnya lagi.

"Ha ha ha . .!"

Terdengar Go Cay Sim tertawa bagaikan hantu yang sedang tertawa.

Lima tahun Go Cay Sim harus menghilang dari dusun itu dengan membawa hati yang luka karena Hua Mu lan menolak cintanya.

Kemudian Hua Mu lan menikah dengan Pek Tiong Ho, sehingga Go Cay Sim jadi menyimpan dendam terhadap pasangan suami-isteri itu, yang sudah dia kenal sejak mereka masih sama sama kecil.

"Kau. .. kau sangat kejam membunuh ayahku ... " kata Hua Mu lan dengan isak tangisnya, namun dia meneruskan perkataannya." ..sekarang aku tahu bahwa kau yang telah mengajak kawan kawanmu karena kau menyimpan dendam ..."

Sambil mengucapkan perkataannya, Hua-Mu lan pun meronta, akan tetapi Go Cay Sim perketat rangkulannya memakai sebelah tangan kanannya.

"Siapa yang kejam. Lan moay.. ? kata Go Cay Sim dengan suara lemah, menandakan rasa kasihnya belum padam dan tetap menyebut adik kepada perempuan yang sudah menjadi bini Pek Tiong Ho itu dan Go Cay Sim menyambung perkataannya.

" ... siapa yang kejam, Lan moay? kau atau aku. Kau mau bergaul dengan aku, dan kau berikan harapan padaku, akan tetapi waktu datang lamaranku kau tolak dan kau katakan bahwa ..."

Tak kuasa Go Cay Sim meneruskan perkataannya.

terasa amat pedih hatinya kalau harus teringat lagi dengan kata kata yang dahulu pernah dikenang dan diucapkan oleh Mu lan akan tetapi sesaat kemudian Go Cay Sim berkata lagi .

" --akan tetapi, aku tetap menyintai kau, meskipun perlakuan kau itu aku anggap sangat kejam sekali ---."

Terdengar perlahan dia mengucapkan perkataannya itu, juga sikapnya kelihatan berobah menjadi lunak, dan dia menyambung lagi perkataannya sehabis sejenak dia menunda .

" --bagiku, tak ada bedanya kau dulu dan kau sekarang. Aku tetap menyintai kau dan aku tetap merindukan kau ---"

Go Cay Sim kemudian berusaha hendak mencium muka Hua Mu lan yang masih berada didalam rangkulannya. Hua Mu lan meronta menghindar, dan dia berkata .

"Aku... aku sekarang sudah menjadi isterinya --"

"Aku tidak perduli ! kau adalah milikku, aku tidak rela tubuhmu disentuh oleh laki-laki lain. Aku tidak rela, aku benar benar tidak rela ---I" Wajah muka Go Cay Sim kembali jadi berobah. Sekarang berobah bagaikan manusia kemasukan iblis, yang tak kuasa mengekang nafsu dan dia bahkan berkata lagi .

"... katakan kepadaku, apa kelebihan dia sehingga kau mau menyerahkan tubuhmu buat dia, tetapi kau menolak cintaku ? Katakan.!"" Agaknya Go Cay Sim benar benar sudah kembali menjadi buas. Pakaian Hua Mu lan kemudian dirobeknya, sehingga bagian dadanya yang terlindung baju dalam yang terbuat dari kain warna merah menjadi kelihatan jelas. Hua Mu lan merintih ketakutan sementara Pek Tiong Ho yang sebenarnya belum binasa, tidak berdaya memberikan pertolongan. Hanya dia perdengarkan suara yang tidak jelas. Sementara itu, Hua Mu lan merintih terus dan tubuhnya yang lemah terkulai bahkan menjadi terjatuh rebah dilantai, namun Go Cay Sim tetap merangkul dan berkata lagi . "Kau telah menyiksa aku. Lebih dari lima tahun lamanya aku terpaksa menjauhi kau buat mencari ilmu, akan tetapi kau tetap terbayang dan aku tidak sanggup menghapus kau dari lubuk hatiku . ."

"Aduh, aduh, jangan..."

Rintih Hua Mu lan yang tak kuasa menahan tubuh pemuda itu yang menindihkan dia dan memaksa hendak membuka pakaiannya.

Disaat Go Cay Sim hampir berhasil mencari niatnya, mendadak datang dua orang laki laki dan perempuan usia pertengahan.

Yang laki laki menjamah punggung Go Cay Sim yang lalu dia lontarkan, sedangkan yang perempuan karena tak kuasa menahan marah melihat perbuatan laknat yang hendak dilakukan oleh Go Cay Sim, maka dengan suatu tikaman pedang nyawanya pemuda itu melayang sebelum dia sempat melihat orang yang membunuh dia !

)c(dwkz)

Suami isteri yang usianya mendekati 40 tahun itu masih tetap gemar mengamalkan ilmu menegakkan keadilan.

Mereka datang tepat menolong Hua mu lan dan suaminya serta membinasakan Go Cay Sim akan tetapi mereka telah berlaku lengah dengan membiarkan sisa dua pemuda temannya Go Cay Sim melarikan diri padahal mereka adalah anggota persekutuan Ceng liong pang diatas gunung Ceng liong san.

Sebagai akibat dari perbuatan mereka itu maka "yan siang hui"

Jadi bermusuhan dengan pihak Ceng liong pang, terutama dengan kedua kakaknya Go Cay Sim yang bernama Go Cay Bun dan Go Cay Bu.

Tiga bersaudara Go itu diatas gunung Ceng liong san dikenal sebagai Liong in sam koay atau tiga manusia jejadian dari lembah naga, setelah terjadinya peristiwa Go Cay Sim dibinasakan maka dua bersaudara Go menjadi Liong in jie koay atau sepasang manusia memedi lembah naga.

Liong-in jie koay yang menerima laporan dari sisa anak buah adik mereka yang bungsu merasa sadar bahwa "yang siang hui" bukan merupakan musuh yang lemah; sehingga bukan pekerjaan yang mudah buat mereka melakukan balas dendam.

Akan tetapi, seperti kata seseorang bahwa di alam ini memang penuh hantu, maka Liong in jie koay go Cay Bu berhasil membinasakan pasangan suami isteri yang siang hui dengan memakai muslihat yang keji.

"Yang siang hui mempunyai seorang anak dara yang baru enam belas tahun umurnya.

Dara manis lincah dan manja terhadap kakeknya (ayahnya Cin Yan Hui).

Kakek Cin mahir ilmu silatnya, juga dara Cin Siao Yan pandai ilmu silat sebagai hasil didikan ayahnya dan ibunya.

Kakek Cin tahu bahwa anak dan menantunya tewas di tangan Liong in jie koay Go Cay Bun dan berdua Go Cay Bu, akan tetapi kakek Cin berpendapat tak ada guna permusuhan dan balas dendam berlangsung.

Jadi tidak ada niat sikakek untuk membalas dendam atau menganjurkan cucunya membalas dendam, sebaliknya kakek Cin justeru ingin menghindar dengan mengajak cucunya mengungsi dari tempat kediaman mereka.

Lee Siang Yan, ibunya Cin Siao Yan; mempunyai dua keponakan di kota Lu liang thang.

Mereka adalah Lee Kuo Cen dan Lee Su Nio sehingga kakek Cin bermaksud hendak mengajak cucunya mengungsi ke kota Lu liang thang.

Akan tetapi agaknya memang sudah menjadi kehendak takdir bahwa kakek dan cucu itu harus melintas gunung Ceng liong san, dan bertemu dengan Liong in jie koay yang justru sedang bertugas meronda bersama sekelompok anak buahnya.

"Liong in jie koay . .."

Kata si kakek dengan cemas waktu dihadang, dan dia menyambung perkataannya .

"... kalian telah membunuh anak dan menantuku, apakah masih belum cukup buat kalian biarkan kami lewat --?"

"Ha ha ha ! permusuhan akan tak sudahnya balas membalas akan terus berlangsung kalau aku tidak menghabiskan kalian sampai ke akarnya .

"sahut Go Cay Bun yang menyertai tawa menyeramkan.

"Ya ya. mari kita tempur mereka. Lebih baik kita mati dari pada dihina... ."

Kata Cin Siao Yan kepada kakeknya.

"Siao Yan, lekas kau lari dan aku rintangi mereka ini ..."

Kata kakek Cin yang menyadari bahwa suatu pertempuran akan terjadi.

Dara manja itu tidak rela membiarkan kakeknya yang bertempur dia siap hendak menghadapi musuh akan tetapi sang kakek tetap menghendaki cucunya kabur.

Sementara itu Go Cay Bun menjadi tertawa menghina dan berkata.

"Tidak seorang dari kalian yang bakal lolos, ha-ha-ha ... !"

Go Cay Bun menyudahi perkataannya itu dengan suatu bacokan golok mengarah si kakek tua, sementara si kakek menangkis memakai pedangnya, sambil dia berteriak supaya cucunya melarikan diri.

Cin Siao Yan merasa sangat penasaran, akan tetapi dia terpaksa bergegas hendak lari; namun Go Cay Bu tertawa dan mengejar sambil dia mengeluarkan senjatanya yang berupa pecut panjang.

Pecut panjang itu dikibaskan diudara sampai perdengarkan bunyi suara menderu, lalu pecut itu menyerang Cin Siao Yan mengarah bagian betis kakinya.

Meskipun dia sedang lari, akan tetapi Cin Siao Yan mengetahui datangnya serangan.

Dara manja ini lompat tinggi dan terhindar dari serangan tadi dia pun telah mengeluarkan pedangnya, sehingga waktu Go Cay Bu datang mendekati maka dara manja itu mendahulukan menyerang, menikam memakai gerak tipu "burung walet menembus daun jendela.

Go Cay Bu tertawa, dia berkelit sementara pecutnya lagi lagi telah menderu, menghajar dengan gerak tipu "naga hijau melibat tiang*.

Cin Siao Yan cukup mahir ilmu silatnya, akan tetapi dia belum pernah melakukan pertempuran, apalagi menghadapi lawan bengis seperti Go Cay Bu, yang mukanya hitam seperti hantu dari lobang dapur.

Dara yang biasa berlaku manja itu menjadi cemas dan gentar, sehingga datang rasa takutnya.

Syukur bagi dia bahwa dalam gugupnya dia masih dapat menghindar dari pecut lawannya.

Sekali lagi pecut Go Cay Bu menyerang dan sekali lagi Cin Siao Yan bergegas menghindar.

Dara yang biasa berlaku manja itu mengandalkan kelincahan tubuhnya dan menggunakan gerak tipu "lee hie-ta teng" (ikan gabus meletik), dengan demikian sampai berulang kali dia dapat menghindar, akan tetapi tidak sempat dia balas melakukan penyerangan.

Sekali terdapat juga kesempatan buat Cin Siao Yan balas menyerang, akan tetapi dara manja itu tidak menggunakan kesempatan itu buat melakukan penyerangan, melainkan dia buru buru melarikan diri.

Sekali lagi Go Cay Bu menjadi tertawa, lalu dengan lima kali lompatan secara beruntun dia mengejar Cin Siao Yan, untuk kemudian pecutnya bergerak dan berhasil melibat betis kaki dara manja itu.

Dengan suatu gerakan, Cin Siao Yan terjatuh celentang.

Dia berusaha hendak bangun berdiri, akan tetapi sekali lagi Go Cay Bu menarik dan sekali lagi dara manja itu jatuh celentang.

Cin Siao Yan meramkan sepasang matanya, siap menunggu maut !

Akan tetapi Go Cay Bu malah tertawa sambil dia melangkah mendekati, sedangkan pecutnya beberapa kali perdengarkan suara menderu sebab agaknya dia sengaja mengancam, bukan untuk melukai Cin Siao Yan.

Dara yang biasanya berlaku manja itu menjadi heran, karena maut belum merengut nyawanya, dia memberanikan diri membuka sepasang matanya buat melihat akan tetapi selekas itu juga dia buru buru menutup lagi sepasang matanya, bahkan dibantu dengan sepasang telapak tangannya, sebab dilihatnya musuh itu sedang membuka celana.

"Mengapa kau tidak bunuh aku ... .?""tanya dara manja itu, tetap meram dan menutup bagian mukanya memakai sepasang telapak tangannya, sebab dia tidak mengetahui bahwa musuh justru hendak memperkosa dia.

"Ha ha ha ha ! Dara manis seperti kau, akan sia sia kalau mati muda. Akan kuajak kau kesatu jalan menuju sorga . ..."

Sahut Go Cay Bu yang lagi lagi menyertai tawa yang menyeramkan.

Cin Siao Yan tetap meramkan sepasang matanya, akan tetapi tiba tiba dia menjadi terkejut waktu dia merasakan tubuhnya dirangkul.

Dia meronta, apalagi waktu musuh yang hitam mukanya itu berusaha hendak mencium dan membuka pakaiannya.

Dara manja itu berteriak.

Berteriak sekerasnya.

Sementara itu laki laki bekas orang hukuman yang telah melakukan perjalanan sedemikian jauhnya hari itu justru sedang menyusuri jalan daerah pegunungan Ceng liong san dengan semangat membara membawa dendam.

Akan tetapi, mendadak dia menjadi terpesona waktu didengarnya ada pekik teriak seorang wanita yang meminta tolong.

Dihentikannya langkah kakinya, telinganya mencari arah suara yang didengarnya tadi setelah itu dia lompat melesat dan hinggap didekat tempat Cin Siao Yan yang sedang menghadapi bencana hendak diperkosa.

"Laki laki laknat ., !"

Laki laki bekas orang hukuman itu memaki karena tak tertahankan marahnya menghadapi percobaan perbuatan laknat itu.

Go Cay Bu lompat bangun.

Sempat dia meraih pecutnya, akan tetapi lupa dia memakai celananya.

Karena marahnya, maka dihajarnya laki laki yang merintang niatnya yang hendak memperkosa Cin Siao Yan.

Laki laki bekas orang hukuman itu menggunakan tangan kirinya buat dia menyambuti pecut yang sedang mengarah mukanya, dan waktu dia menarik, maka Go Cay Bu ikut terperosok mendekati, dan sebelum si muka hitam itu siaga, maka dadanya telah dihajar membikin dada itu menjadi bolong bertanda tapak lima jari tangan!

Itulah pukulan memakai tenaga "houw jiauw kang" atau tenaga "cakar macan"; sehingga mati seketika.

Cin Siao Yan pun telah bangun berdiri.

Dia sedang memancingkan bajunya dan dia terpesona menyaksikan dahsyatnya tenaga laki laki yang telah menolong dia.

"Kouwnio, tidak seharusnya kau berada ditempat yang menjadi daerah kekuasaannya si "tangan beracun" Yang Cong Loei...* kata laki laki bekas orang hukuman itu; setelah dia mendekati Cin Siao Yan.

"Aku.. Aku justeru hendak menyingkir dari tempat ini bersama yaya. Eh... yaya sedang bertempur melawan rombongan mereka, lekas kau bantu yaya. ."

Sahut dara manja itu yang tiba tiba menjadi gugup karena teringat dengan kakeknya.

Sekali lagi telinga laki laki bekas orang hukuman itu "bekerja" mencari arah bunyi suara senjata beradu, setelah itu dia lari dengan meraih sebelah tangan Cin Siao Yan.

"Tunggu.. .."

Seru Cin Siao Yan, dan dara manja itu memungut pedangnya dan bungkusannya yang terjatuh tadi, setelah itu dia mendekati laki laki penolongnya, sambil dia mcnyertai seberkas senyuman yang manis dan mengulurkan sebelah tangannya untuk dibiarkannya laki laki itu menuntun dia.

Sementara itu kakek Cin hanya dapat bertahan menghadapi serangan serangan lawannya, sedangkan pundak kirinya sudah terluka, akan tetapi dia terus berkelahi dan pikirannya lebih dia curahkan kepada Cin Siao Yan yang dia risaukan.

Sekali terjadi pedang si kakek terlempar lepas dari tangannya, kena sampokan golok Go Cay Bun yang berat.

"Ha. ha ha..."

Tawa Go Cay Bun yang merintang waktu anak buahnya hendak membunuh si kakek, karena agaknya Go Cay Bun bermaksud hendak menguliti pecundangnya supaya mati tersiksa.

Si kakek diam menerima nasib dibawah ancaman beberapa senjata tajam dekat tubuhnya.

Tak mau orang tua ini memohon ampun hanya didalam hati dia berdoa agar cucunya dapat menyelamatkan diri.

"Hem ! beginikah caranya laki laki menghina seorang tua yang tidak berdaya ...?"

Terdengar tiba tiba kata seseorang yang mengejek.

"Siapa kau yang berani mengejek tuan besar ?"

Kata Go Cay Bun sambil dia mengawasi laki laki yang datang menuntun Cin Siao Yan.

"Kau menjadi tuan besar atau kau menjadi kacungnya si tangan beracun Yang Cong Loei....?"

Balik tanya laki laki bekas orang hukuman itu, dan nada suaranya semakin bertambah mengejek.

"Bedebah !

Kau berani menyebut nama ketua kami ..!* Go Cay Bun memaki, dan menyudahi perkataannya dengan melakukan penyerangan, membacok memakai goloknya dengan gerak tipu san ap teng" atau gunung tay san menindih karena agaknya dia ingin membelah tubuh laki laki yang berulang kali telah mengejek dia.

Laki laki bekas orang hukuman itu mendorong Cin Siao Yan kesisi kiri sambil sebelah kakinya menendang lengan Go Cay-Bun, membikin Go Cay Bun berteriak kesakitan dan golokrya terlempar lepas dari pegangannya.

Gerak berikutnya dari laki laki bekas orang hukuman itu adalah tangan kanannya yang menghajar dada Go Cay Bun, membikin tubuh Go Cay Bun terpental dengan mulut muntahkan darah segar dan mati seketika !

Maka lari kabur semua anak buahnya Liong in jie koay membawa berita buat ketua mereka, si tangan beracun" Yang Cong-Loei !

Sementara itu Cin Siao Yan mengejar orang orang yang sedang melarikan diri sambil dara manja itu berteriak mengancam dan mengangkat pedangnya tinggi tinggi sambil mendadak dia terjatuh karena sebelah kakinya tergelincir menginjak batu dan karena jatuhnya itu, maka berantakan isi bungkusan pakaian yang dibawanya.

Laki laki bekas orang hukuman itu menjadi tertawa karena melihat lagak manja Cin Siao Yan yang dia anggap lucu, dan baru hari itu dapat tertawa ria sejak dia kena di penjara !

Dara yang biasa berlaku manja itu menunda niatnya yang hendak memungut pakaiannya yang berantakan.

Dia menengadah mengawasi laki laki itu dengan sepasang mata mendelik karena mendongkol, sampai kemudian dara manja itu mengeluarkan lidahnya, balas mengejek laki laki yang menertawakan dia.

Sekali lagi laki laki bekas orang hukuman itu menjadi tertawa.

Tertawa girang yang sejenak dapat melupakan kepedihan didalam hatinya, serta dendam yang sekian lamanya membara didalam hatinya.

Sementara itu kakek Cin sudah mendekati laki laki penolongnya, dia mengucapkan terima kasih dan berkata .

"Cong su, kau telah menanam bibit permusuhan dengan si tangan beracun Yang Cong Loei, dan si kepala besi Cee Kay Bu, seorang pendeta gadungan yang terkenal ganas dan laknat ,.. !"

Tiat tauw ciang Cee Kay Bu . ."

Ulang laki laki bekas orang hukuman itu.

"Benar, sebab kedua bersaudara Go Cay Bun dan Go Cay Bu adalah murid muridnya si kepala besi atau si pendeta gadungan itu"

Sahut si kakek yang kemudian secara singkat memberitahukan tentang awal kisahnya pertempuran dia melawan orang orang Ceng liong pang, namun dia tidak menyebutkan perihal anak dan menantunya yang pernah menolong Hua Mu lan.

Laki laki bekas orang hukuman itu diam mendengarkan sambil dia berpikir, setelah si kakek selesai bicara; maka dia berkata.

"Lo jin kee, belum lama aku pernah bertemu dengan liehiap Lee Su Nio, dia tidak lagi menetap dikota Lu liang thang ..."

Demikian kata lelaki bekas orang hukuman itu yang kemudian menceritakan kisah pertemuannya dengan Ang ie liehiap Lee Su Nio, untuk kemudian dia menambahkan perkataannya .

" ... kalau lo jinkee bermaksud hendak menemui liehiap Lee Su Nio, sebaiknya menyusul ke teluk Hek liu ouw ... " "Sangat jauh untuk menempuh perjalanan ke wilayah utara itu ---"

Kata kakek Cin dengan muka muram.

"Aku masih mempunyai urusan dengan si "tangan beracun" Yang Cong Loei, dari itu maafkan aku tak dapat menemani kalian."

Lelaki bekas orang hukuman itu menyudahi perkataannya dengan memberi hormat dan minta diri, karena dia hendak melaksanakan niatnya membalas dendam.

Akan tetapi secara tiba tiba Cin Siao Yan ikut bicara.

"Tunggu! ayahku pernah berkata bahwa seorang ksatria tidak akan menolong setengah jalan ... " Laki laki bekas orang hukuman itu batal meninggalkan kakek Cin berdua cucunya. Dia diam termenung karena harga dirinya kena disentuh oleh perkataan dara yang biasa berlaku manja itu dan sesaat kemudian dia berkata, "Akan tetapi sudah aku katakan bahwa aku masih mempunyai urusan dengan si tangan beracun Yang Cong Loei .."

"Urusan kau adalah urusan kami juga. Kedua orang tuaku tewas oleh orang orang Ceng liong pang, dan kami baru saja diperhina oleh mereka. Kami hendak ikut kau untuk melepas dendam"

Kata Cin Siao Yan penuh semangat sehingga sekilas sepasang matanya kelihatan seperti menyala.

Laki laki bekas orang hukuman itu tidak daoat mengucapkan apa apapun.

Dia yakin bahwa dia tidak kuasa untuk mencegah niat dara manja yang hendak membalas dendam kedua orang tuanya.

Dia lalu mengawasi kakek Cin setelah sejenak dia diam berpikir.

Kakek Cin ikut menatap laki Iaki yang sudah menolong dia dan cucunya.

Orang tua ini kemudian menarik napas dan berkata .

"Aku sudah tua, tidak ada gunanya lagi dan tidak mungkin lagi aku kuat bertempur. Silahkan kalian pergi berdua dan aku akan menunggu didekat perbatasan dusun Liong bun."

Cin Siao Yan kelihatan bersenyum, lalu dia menyerahkan bungkusan pakaiannya kepada kakeknya, sambil dia berkata . " Ya-ya. kau tolong bawakan bungkusan ini."

Sesudah dia menyerahkan bungkusan pakaiannya, maka dengan muka tetap berseri seri, lalu dara manja itu mengulurkan sebelah tangan kirinya, bukan buat dituntun akan tetapi dia yang menuntun sebelah tangan laki laki bekas orang hukuman itu, untuk diajak mendaki gunung Ceng liong san !

Sinar matahari menerobos daun daun pohon di atas gunung Ceng liong san.

Segala yang dilihatnya oleh laki laki bekas orang hukuman itu sangat mengesankan, mendatangkan kenangan lama, waktu dia sedang memadu kasih dengan dara tambatan hatinya, berjalan berdua dua saling merangkul atau saling berpegang tangan, mirip seperti yang sedang dia lakukan bersama Cin Siao Yan yang saat itu mendampingi dia mendaki gunung itu.

Kenangan lama yang sangat merangsang laki laki bekas orang hukuman itu; mengakibatkan kadang kadang dia lupa bahwa tangan yang sedang dia tuntun atau pegang itu adalah tangan dara manja Cin Siao Yan.

Dia merasa seolah olah sedang menuntun dara tambatan hatinya, sehingga beberapa kali dia mempererat pegangannya dengan cara yang penuh rasa kasih dan sayang.

Segala laku laki laki bekas orang hukuman itu, culup dirasakan oleh dara manja Cin Siao Yan dan dia yang memang biasa berlaku manja, membiarkan bahkan merasa bangga dan senang hatinya, karena dia dapat mendampingi seorang laki laki perkasa yang memang menjadi idaman dan impiannya, sehingga dia lupa dengan beda umur antara mereka berdua !

( persetan dengan umur .

) Cin Siao Yan berkata didalam hati, dan keduanya meneruskan langkah kaki mereka tanpa mengucap apa apa, hanya keduanya terbawa hanyut oleh alam pemikiran masing masing, sampai tiba tiba mereka dihadang oleh sekelompok orang orang Ceng liong pang, yang dipimpin oleh seorang laki laki bermuka menyeramkan.

"Siapa kalian dan apa yang menyebabkan kalian mengacau tempat kami . .?"

Tanya orang yang menjadi pimpinan itu, yang tentunya sudah menerima laporan dari sisa anak buahnya Liong in jie koay Go Cay Bun berdua Go Cay Bu.

"Ha ha ha ! rupanya Touw tauwbak masih tetap membawa lagak garang ..."

Laki-laki bekas hukuman orang berkata sambil dia menyertai suara tawa.

Pemimpin rombongan orang orang Ceng Liong pang itu kelihatan terkejut.

Dia tidak kenal dengan laki laki yang sedang berdiri dihadapannya, yang dikatakan sudah mengacau ditempat itu, sebaliknya laki laki itu ternyata mengetahui nama dan kedudukannya.

"Siapa kau dan mengapa kau mengetahui pangkatku pada dua puluh tahun yang lampau.., ."

Demikian pemimpin itu menanya.

"Ha ha ha !

Touw tauwbak, masihkah kau ingat dengan sapta marga persekutuan kau?"" laki laki bekas orang hukuman itu menanya lagi; tetap dengan menyertai tawa namun tidak secara dia mengejek.

"Mengapa tidak . .!"

Sahut pemimpin rombongan itu yang sesungguhnya bernama Touw liong Kie.

"Hukuman apakah yang berlaku bagi anggota yang menghina seorang tua tidak bersenjata dan hukuman apakah yang berlaku bagi anggota yang hendak memperkosa anak perawan ..?"

Touw Liong Kie berdiri diam terpesona, sehingga untuk sejenak dia tidak mengucap apa apa, sebaliknya laki laki bekas orang hukuman itu yang menyambung perkataannya.

""Nah. aku sudah mewakilkan si "tangan beracun" Yang Cong Loei menghukum Liong-in jie-koay Go Cay Bun dan Go Cay Bu, oleh karena mereka sudah melanggar peraturan persekutuan, dari itu mengapa kau katakan aku mengacau ..?"

Tak tertahankan lagi kemarahan Touw Liong Kie, juga semua anggota pasukannya sebab adalah suatu kejadian yang aib buat mereka mendengar nama ketua mereka diucapkan seenaknya oleh "orang luar" itu.

Mereka serentak berteriak dan menyerang, akan tetapi sekali berkelebat maka laki laki bekas orang hukuman itu sudah terbang menghilang, dengan meraih pinggang Cin Siao Yan yang ramping, sambil dia perdengarkan suara tawa mengejek.

Dara manja Cin Siao Yan membiarkan pinggangnya diraih bahkan dia sengaja meringankan tubuhnya yang diajak lompat bagaikan terbang, padahal dara manja ini sudah menyiapkan pedangnya karena menduga bakal ikut berpesta menghadapi rombongan orang-orang Ceng liong pang itu.

Dilain pihak; Touw Liong Kie dan rombongannya mengawasi kearah suara tawa tadi lalu dilihatnya lelaki bekas orang hukuman itu sedang berlari menuju markas mereka dengan sebelah tangan menarik tangan Cin Siao Yan.

Serentak mereka mengejar meskipun mereka sudah tertinggal cukup jauh, sampai kemudian mereka menemui orang yang mereka kejar sedang dihadang oleh rekan rekan mereka di halaman dari bangunan markas mereka."

Dalam marahnya, Touw Liong Kie langsung menyerang memakai senjata bandering dari besi, diikuti oleh segenap pasukannya yang segera mengepung.

Akan tetapi dengan mudah laki laki bekas orang hukuman itu menghindar sambil menghalau beberapa senjata yang ditujukan terhadap dara manja Cin Siao Yan bahkan sepasang kakinya sempat menendang rubuh beberapa orang Ceng liong pang.

"Tahan ... !" tiba tiba teriak seseorang, yang ternyata adalah si "tangan beracun" Yang Cong Loei. Serentak orang orang yang sedang mengepung menjadi memisah diri, membikin laki laki bekas orang hukuman itu bebas mendekati si "tangan beracun"

Yang Cong Loei, tetap sambil dia menuntun sebelah tangan Cin Siao Yan, sementara sepasang matanya bersinar menyala menatap sarung tangan dari kulit rusa yang membungkus tangan kiri Yang Cong Loei.

"Tetamu siapakah yang telah datang ditempatku, Tok see ciang Yang Cong Loei ...?* tanya si "tangan beracun"

Yang Cong Loei dengan suara ramah tetapi agung sikap dan nada suaranya.

"Ha ha ha! Yang Cong Loei, rupanya masa 20 tahun cukup lama sehingga kau tidak mengenali aku lagi..."

Sahut laki laki bekas orang hukuman itu sambil dia menyertai tawa mengejek.

Yang Cong Loei mengawasi dan meneliti lalu tiba tiba dia teringat dengan seseorang.

Seseorang yang diketahui sudah binasa didalam rumah penjara.

Tanpa rasa tubuhnya menjadi gemetar, karena menyimpan terasa terharu.

"Kau . kau.! sam ceecu ! bukankah kau sudah binasa didalam penjara kaum penjajah .. ?"

Demikian Yang Cong Loei berkata dengan terbata bata.

"Ha ha ha! Agaknya kau si penghianat benar benar menghendaki aku mati .,.!"

Sahut laki laki bekas orang hukuman itu, tetap dengan suara mengejek bahkan menghina, sedangkan sepasang matanya menjadi kian menyala ! "Tetapi .,, tetapi..."

Sehingga laki laki bekas orang hukuman itu memutus perkataan Yang Cong Loei yang masih kelihatan gugup.

"Tetapi aku sekarang justeru datang buat membalas dendam.."

Demikian dia berkata karena tak kuasa menahan rasa dendam yang sudah begitu lama dibendungnya.

Tanpa ada orang yang melihat sebelah tangannya sudah melepaskan pegangannya pada dara manja Cin Siao Yan, lalu bagaikan seekor macan terbang dia lompat menerkam si tangan beracun Yang Cong Loei sedangkan tangan kirinya siap hendak memukul dengan mengerahkan tenaga hauw hauw kang akan tetapi waktu sempat Yang Cong Loei menghindar, maka kakinya yang menendang membikin tubuh Yang Cong Loei terpental jatuh, Laki laki bekas orang hukuman itu lompat sekali lagi buat menyusul ketempat Yang Cong Loei terjatuh, dia bergerak hendak memukul lagi.

Segenap pasukannya Yang Cong Loei bergerak hendak menolong tanpa menghiraukan Cin Siao Yan merintanginya.

Akan tetapi si "tangan beracun"

Yang Cong Loei berteriak .

"Tahan ... !"

Semua menunda gerakan mereka.

Juga laki laki bekas orang hukuman itu yang sebenarnya sudah siap hendak melakukan penyerangan, sementara Yang Cong Loei lalu pergunakan kesempatan itu buat dia bicara .

""Sam ceecu, kau tadi menuduh aku sebagai penghianat.

Aku rela mati ditanganmu; tetapi aku menghendaki penjelasan tentang tuduhanmu itu."

Laki laki bekas orang hukuman itu perdengarkan suara mengejek ;

"Hm ! Yang Cong Loei. Duapuluh tahun yang lalu kau bukan tandinganku dan kini pun kau tetap bukan tandinganku, dari itu kau berlaku pengecut dan menghianati aku. Hanya kau yang mengetahui tempat aku menginap karena yang menyarankan, akan tetapi kau melaporkan kepada pihak bangsa asing dan mereka menangkap aku dengan memakai cara yang sangat pengecut; dan cara pengecut itu kau yang sarankan pada siperwira yang kau ancam waktu malam-malam kau datangi tempat dia, dengan memakai kain penutup muka warna hitam. Kau menganggap perbuatanmu licin bagaikan belut, akan tetapi kau lupa bahwa si perwira sempat melihat sarung tangan dari kulit rusa yang biasa kau pakai ---!" "Fitnah ! itulah fitnah belaka dan seseorang telah menjadikan aku sebagai si kambing hitam..,."

Kata si tangan beracun Yang Cong Loei, namun selekas itu juga perkataannya telah diputus oleh lelaki bekas orang hukuman itu .

"Bedebah ! kau boleh ingkar dari perbuatanmu akan tetapi aku ---"

Dan si "tangan.beracun" Yang Cong Loei buru buru ganti memutus perkataan lelaki yang masih dia anggap sebagai si "pemimpin ketiga" .

*Sam ceecu.

Sudah aku katakan bahwa rela menerima kematian ditangan kau, akan tetapi dengarkan dulu perkataanku, supaya di suatu saat kau dapat menghilangkan rasa penasaranku.., .

" "Penasaran ? huh ..!" kata laki laki bekas orang hukuman itu akan tetapi dia menunda gerak tangannya yang sudah siap hendak merenggut nyawa si "tangan beracun" Yang Cong Loei, dan membiarkan Yang Cong Loei berkata lagi .

"Tiga hari setelah kau berangkat ke kota Hang ciu buat menunaikan tugasmu, maka pangcu memerintahkan aku melakukan perjalanan jauh ke bagian barat, ke perbatasan Thibet. Setelah tiga bulan lamanya, maka aku baru mengetahui bahwa kau telah ditangkap dan tewas didalam penjara."

"Boleh saja kau mengarang ceritamu", kata laki laki bekas orang hukuman itu dengan nada suara mengejek, sedangkan sikapnya tetap kelihatan bengis. "Akan tetapi aku mempunyai saksi . ."Yang Cong Loei membantah.

"Siapa saksi itu . .?" "Touw Liong Kie .

"sahut Yang Cong Loei singkat.

"Hm ! dia komplot kau..,..!"

"Dan jie ceecu mengetahui kepergianku, sebab dia pun mengetahui perintah yang ditugaskan oleh pangcu kepadaku ."

Yang Cong Loei berusaha membantah.

"Loei ji ko .."

Laki laki bekas orang hukuman itu bersuara seperti orang menggerutu, akan tetapi cukup didengar oleh Yang Cong Loei, dan laki laki itu lalu menyambung perkataannya.

" -. Louw jie ko juga hadir dan mengetahui waktu mendapat tugas ke kota Hang-ciu. Akan tetapi, tidak mungkin Louw jie ko itu menghianati aku..."

"Orang lain yang hadir pada waktu itu adalah Toa-ceecu ."

Si tangan beracun Yang Cong loei berkata untuk mengingatkan sam-ceecu itu dengan kejadian lama, dan sam ceecu itu lalu berkata lagi .

"Poei twako juga tak mungkin menghianati aku. Lain orang lagi yang mengetahui tugasku itu adalah pangcu, sebab pangcu justeru yang memberikan tugas itu, akan tetapi tak mungkin menghianati aku, sebab kalau memang pangcu menghendaki nyawaku cukup bagi dia untuk mengeluarkan sebuah "cian pay* dan aku harus taat dengan peraturan yang berlaku bagi setiap anggota pcrsekutuan kita..."

Tiba tiba Touw Liong Kie ikut bicara sambil dia melangkah mendekati .

"Sam ceecu aku mempunyai sedikit keterangan yang barangkali --"

"Keterangan apakah itu ? Lekas kau bicara-"kata laki laki bekas orang hukuman itu tak sabar.

"Hari itu, sebelum kau berangkat aku berpapasan dengan jie ceecu ditaman belakang, dan jie ceecu sedang berjalan seorang diri; menunduk sambil dia menggerutu. Cepat cepat aku umpatkan diri sehingga sempat aku mendengar beberapa kalimat perkataannya.

" -Aku tidak sangka pangcu berpikiran dungu. Dia mengetahui hubungan Hong-moay dengan samtee, dan dia marah; akan tetapi waktu aku melamar Hong-moay, dengan tegas pangcu menolak --"

Sam cee-cu, apakah ..."

Touw Liong Kie tidak sempat menyudahi kalimat perkataannya, sebab sudah diputus oleh laki laki bekas orang hukuman itu. "Cukup... .!"

Katanya, sementara tiba tiba air matanya berlinang lagi membasahi mukanya dan sebelah tangannya turun lambat lambat, bekas dipakai untuk mengancam Yang Cong Loei.

Tidak pernah dia duga tidak pernah dia sangka bahwa karena cinta, maka kakaknya yang kedua rela menghianati dia !

"Akh !

Louw jie ko...

Louw jie ko .

"Dia berkata seperti mengeluh.

"Sam ceecu, marilah kau duduk beristirahat didalam ..."

Ajak si "tangan beracun" Yang Cong Loei yang ikut menjadi terharu dan memegang erat sebelah tangan orang yang hampir membunuh dia. "Yong toako, maafkan sikapku yang telah menuduh kau..."

Kata laki laki bekas orang hukuman itu dengan nada suara haru, dan dia cuma membiarkan dituntun untuk diajak masuk, bahkan dara manja Cin Siao Yan ikut menuntun sebelah tangannya yang lain.

Dengan demikian laki laki bekas orang hukuman itu melupakan dendamnya yang dia tujukan terhadap si tangan racun Yang Cong Loei, dan dendam itu sekarang dia alihkan kepada Louw jie ko atau sang kakak kedua dalam persekutuan Ceng liong pang.

Sementara itu, laki laki bekas orang hukuman itu dapat membujuk dara manja Cin Siao Yan buat menyudahi permusuhan terhadap orang orang Ceng liong pang itu, mengingat Liong in jie koay Go Cay Bun dan Go Cay Bu sudah dibinasakan dan Liong in jie koay ini justeru yang membinasakan pasangan suami isteri Yan siang hui, ayah dan ibunya dara Cin Siao Yan.

"Sebaliknya si tangan beracun Yang Cong Loei hendak menyerahkan kedudukan sebagai pangcu atau ketua, maka laki laki bekas hukuman itu menolak, akan tetapi dengan lapang hati dia menerima waktu diberikan beberapa potong pakaian dan sejumlah uang perak buat bekal dia dalam perjalanan mencari Louw jie ko atau sang kakak yang kedua. Si "tangan beracun" Yang Cong Loei kemudian mengantarkan bekas sam ceecu itu, yang memaksa hendak segera meneruskan perjalanannya. Dara manja Cin Siao Yan tetap mendampingi laki laki yang menjadi kebanggaannya itu, dan mereka menyusuri gunung Ceng liong san dengan dikawal bagaikan seorang raja dan ratu yang sedang melakukan perjalanan, sehingga banyak hal hal yang indah yang dipikirkan oleh.dara manja itu.

Jilid 4 WAKTU rombongan ini tiba dikaki gunung Ceng liong san, maka laki laki bekas orang hukuman itu minta diri untuk dia berdua dara Cin Siao Yan meneruskan perjalanan mereka, menuju kearah dusun Liong bun buat menemui kakek Cin yang berjanji menunggu.

Matahari waktu itu sudah condong kesebelah barat, dan dara manja Cin Siao Yan melakukan perjalanannya itu dengan hati ria serta bangga, sehingga tak sudahnya dia berceritera tentang dirinya dan juga tentang diri ibu dan ayahnya yang katanya gemar merantau, sebaliknya laki laki bekas orang hukuman itu kelihatan tetap bermuka muram, karena lagi lagi dia jadi teringat dan terbenam dalam kenangan lama waktu hubungannya sedang erat mesra dengan dara tambatan hatinya.

"Eh mengapa kau kelihatan muram ...?"

Tanya dara manja Cin Siao Yan waktu sempat dia memperhatikan keadaan teman seperjalanannya.

"Akh, tidak.... sahut laki laki bekas orang hukuman itu, sambil sejenak dia mengawasi dara manja Cin Siao Yan dan memaksakan diri untuk bersenyum.

"Hm! kau tidak membohongi aku ?"

Tanya dara manja Cin Siao Yan yang mempererat pegangannya pada sebelah pada tangan laki laki yang sedang dituntunnya.

Laki laki bekas orang hukuman itu tidak segera memberikan jawaban, sebaliknya sepasang matanya mengawasi hampa kesuatu arah namun tetap dia meneruskan langkah kakinya, mengikuti dara manja Cin Siao Yan yang berjalan disisinya.

"Kau tahu, aku sedang menyimpan dendam ..."

Akhirnya laki laki bekas orang hukuman itu berkata, oleh karena dilihatnya dara manja Cin Siao Yan perlihatkan muka bersungut.

"Akan tetapi, sekarang kau sudah mengetahui orang yang menghianati kau ..."

Cin Siao Yang berkata lagi, karena percakapan di atas gunung Ceng liong san tadi, didengar dan diketahui semuanya oleh dara manja itu.

Sekali lagi laki laki bekas orang hukuman itu tidak segera memberikan jawaban, sehingga Cin Siao Yan yang meneruskan perkataannya.

".., ,buat apa kau bersusah hati dan bermuka muram, karena dalam waktu yang dekat kau dapat melepas dendam itu . !* "Dia bukan seorang yang lemah, ilmunya tinggi sekali... ."

Laki laki bekas orang hukuman itu berkata dengan suara perlahan sementara didalam hati dia jadi memikirkan tentang Louw jie ko atau sang kakak yang kedua itu.

Baca Juga: Iblis Sungai Telaga 15

Baca Juga: Bentrok Rimba Persilatan 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert