Ceritasilat Novel Online

Pedang Tetesan Air Mata 5

Eps 5 Pedang Tetesan Air Mata - Khu Lung

Baca online Pedang Tetesan Air Mata - Khu Lung

Cersil Pedang Tetesan Air Mata - Khu Lung.

Karena si manusia asing ini meski nampak seperti binatang buas yang sudah terjepit oleh kejaran pemburu, bagaimanapun juga masih tetap merupakan binatang buas, ia masih berbahaya dan mampu melukai orang.

Walaupun orang ini tidak membawa senjata, namun membawa hawa yang lebih tajam daripada sembilu.

Tangan setiap orang segera menggenggam golok besar yang telah mereka tekadkan untuk tak berpisah dari sisi tubuhnya hingga mati.

Setiap golok sudah bersiap sedia diloloskan dari sarungnya.

Hanya Cu Bong seorang yang masih tetap duduk tak berkutik di sana, bahkan menurunkan perintah yang sama sekali tidak dipahami oleh bawahannya.

Mendadak ia menurunkan perintah.

"Pasang lentera, sulut semua benda yang bisa dipergunakan sebagai alat penerangan."

Tiada orang yang memahami maksud Cu Bong, tapi Suma Cau-kun mengerti.

Ia belum pernah berjumpa dengan Cu Bong.

Tapi begitu dia melangkah masuk ke dalam rumah kecil yang lembab dan bobrok itu, begitu melihat Cu Bong yang duduk di atas pembaringan batu, ia segera tahu kalau orang itu adalah orang yang selama hidup ingin dijumpainya.

Sebenarnya di dalam rumah hanya terdapat setitik cahaya lentera.

Cahaya lentera hanya menandakan kegembiraan, dalam suasana duka begini, cahaya lentera sudah tiada berguna lagi.

Tapi Cu Bong tetap memerintah.

"Pasang seluruh lentera yang ada, biar kusaksikan tamu agung kita ini."

Semua lentera segera dipasang.

Apa yang diucapkan Cu Bong biasanya sudah merupakan perintah yang sangat manjur.

Tiga buah lentera, tujuh batang lilin dan lima batang obor sudah cukup untuk merubah suasana dalam ruangan itu menjadi terang benderang.

Dan cukup pula membuat setiap kerutan di wajah orang-orang itu terlihat jelas.

Itulah kerutan dahi karena penderitaan dan amarah, kerutan yang lebih dalam daripada sayatan golok.

Akhirnya Cu Bong bangkit pelan-pelan, membalikkan tubuhnya dan saling berhadapan muka dengan Suma Cau-kun.

Mereka berdua saling berhadapan tanpa berbicara, saling berpandangan dengan mulut membungkam, seakan-akan dalam jagad tinggal suara percikan api.

Seakan-akan pula di dalam dunia saat ini tinggal mereka berdua saja.

Dua orang manusia yang penuh luka dan penderitaan, dua manusia yang menderita kegagalan.

"Kau adalah Suma Cau-kun?"

Akhirnya Cu Bong menegur.

"Coba tengoklah. Benarkah ini aku?"

"Aku rasa kau tidak mirip, Suma Cau-kun yang tak terkalahkan di dunia ini tidak seharusnya bertampang seperti kau, tapi aku tahu, kau adalah Suma Cau-kun, kau sudah pasti dia."

"Mengapa?"

"Sebab kecuali Suma Cau-kun, di kolong langit sudah tiada orang kedua yang mirip dirimu itu. Tampangmu itu mirip sekali dengan orang yang baru saja menjumpai delapan ratus delapan puluh delapan sosok setan gentayangan."

Ternyata Suma Cau-kun sangat setuju dengan ucapan tersebut.

"Memang tidak banyak orang yang dapat sekaligus menyaksikan delapan ratus delapan puluh delapan sukma gentayangan, tapi juga bukan hanya satu orang."

"Kecuali kau, masih ada siapa lagi?"

Tanya Cu Bong.

"apakah masih ada seorang manusia yang bernama Cu Bong?"

"Agaknya memang begitu."

Cu Bong tertawa terbahak-bahak.

Ia benar-benar tertawa tergelak-gelak, setiap kali mendengar perkataan semacam ini, dia pasti tertawa, ada kalanya suara tertawanya itu bisa terdengar sampai jarak sejauh sepuluh li.

Sekarang dia sedang tertawa, hanya paras mukanya tidak memperlihatkan tertawa, suara tertawanya pun tidak kedengaran oleh siapapun termasuk orang yang berada di sisinya.

Sebab pada hakekatnya dia memang tidak memperdengarkan sedikitpun suara tertawanya.

Tiada suara tertawa, tiada pula suara isak tangis, bukan saja orang lain tak dapat tertawa, mau menangispun tak dapat.

Namun air mata nampak jatuh bercucuran membasahi kelopak mata mereka semua.

Mereka bukan Cu Bong, juga bukan Suma Cau-kun, oleh sebab itu mereka boleh bercucuran air mata.

Cu Bong memandang sekejap kawanan lelaki sejati yang hingga matipun enggan meninggalkan dirinya, sementara sepasang matanya yang besar dan merah membara seolah-olah hendak memuntahkan darah segar.

"Kali ini kami kalah total,"

Serunya parau.

"tapi kami kalah dengan tak puas, sampai matipun tak akan puas."

"Aku tahu!"

Jawab Suma Cau-kun sedih.

"semua persoalan kalian telah kuketahui."

"Tapi ketika kami datang kemari, kau tidak berada di Tiang-an?"

"Ya, waktu itu aku memang tak ada,"

Suma Cau-kun menghela napas panjang.

"aku tidak tahu kau bisa datang sedemikian cepat."

"Maka kau seorang diri pergi ke Lok-yang?"

"Sebenarnya aku ingin pergi seorang diri, menjumpaimu dan menyelesaikan perselisihan di antara kita sampai tuntas, kita berdualah yang membereskan sendiri persoalan ini."

"Benarkah kau berpikir demikian?"

"Benar!"

Tiba-tiba Cu Bong menghela napas panjang pula.

"Aku tidak salah menilaimu, aku tahu seandainya waktu itu kau berada di Tiang-an, paling tidak kau akan memberi sebuah kesempatan kepada kami untuk berduel secara sungguh-sungguh dan jujur."

Jilid ke-11 Suara Cu Bong penuh mengandung nada sedih dan gusar, terusnya.

"Kami memang datang menghantar kematian, tapi kami tak puas diharuskan mati dalam siasat busuk yang rendah dan munafik seperti ini."

"Aku tahu!"

"Akupun tidak menyalahkanmu, seandainya kau berada di Tiang-an waktu itu, tak nanti akan kau lakukan perbuatan biadab yang memalukan seperti ini."

"Kau keliru!"

Kata Suma Cau-kun serius.

"terlepas aku hadir atau tidak, perbuatan tersebut adalah perbuatanku."

"Mengapa?"

"Sebab ketika itu aku masih terhitung Cong-piau-pacu dari Toa Piau-kiok, jadi setiap perbuatan yang dilakukan orang-orang Toa Piau-kiok masih merupakan tanggung jawabku. Setiap dendam ada pemiliknya, kau sudah sepantasnya menuntut balas kepadaku."

"Jadi kedatanganmu hari ini untuk membayar hutang?"

"Benar!"

"Mampukah kau lunasi hutang tersebut?"

Tanya Cu Bong keras-keras.

"dengan cara apa kau hendak melunasi semua hutang tersebut?"

"Biar tak bisa dilunasipun harus kubayar,"

Ucap Suma Cau-kun.

"bagaimana harus kubayar, dengan cara itu pula akan kubayar. Kalau tidak buat apa aku kemari?"

Cu Bong menatapnya lekat-lekat, diapun balas menatap Cu Bong, hanya anehnya dibalik sorot mata mereka berdua sama sekali tiada sorot mata dendam ataupun sakit hati, malah yang nampak adalah sinar mata penuh kekaguman dan hormat.

"Kau mengatakan waktu itu kau masih menjabat Cong-piau-pacu dari Toa Piau-kiok, dan sekarang?"

Tiba-tiba Cu Bong bertanya lagi.

"Entah apa jabatanku sekarang, yang jelas hal mana tiada sangkut pautnya dengan persoalan ini."

"Mengapa?"

"Sebab kau masih tetap bernama Cu Bong dan akupun masih bernama Suma Cau-kun."

Dari balik sorot mata yang dalam pandangan orang lain sudah merupakan seseorang yang gagal total, tiba-tiba memancar kembali sinar kewibawaan yang cukup menggetarkan perasaan orang.

"Hari ini aku datang untuk membayar hutang, hal ini disebabkan kau masih bernama Cu Bong dan aku bernama Suma Cau-kun. Dalam soal ini, tak mungkin akan terjadi perubahan apapun dalam situasi dan kondisi apapun."

Kemudian setelah berhenti sejenak, tambahnya.

"Sekalipun kepala sudah kutung, darah sudah mengalir, rumah tangga sudah hancur dan orang telah binasa, dalam soal ini tak mungkin akan terjadi perubahan, biar sedikitpun."

Ya, memang begitulah keadaan yang sebenarnya.

Kepala boleh kutung, darah boleh mengalir, tapi semangat tak akan pernah tunduk, selamanya tak pernah akan punah.

Memang demikianlah semangat sejati seorang anggota persilatan, semangat jantan seorang lelaki kesatria.

Cu Bong menatap Suma Cau-kun lekat-lekat, dari wajahnya memancar pula sinar kewibawaan yang menggetarkan perasaan siapa saja.

"Kau adalah satu-satunya musuh besarku selama hidup, dendam kesumat di antara kita sudah terikat amat dalam. Entah berapa banyak manusia yang tewas akibat persoalan kita ini.

"kata Cu Bong.

"demi arwah-arwah penasaran tersebut, tak mungkin kita bisa hidup berdampingan lagi."

"Aku mengerti!"

"Walaupun aku Cu Bong menghabiskan seluruh masa hidupku dalam dunia persilatan, banyak orang telah kubunuh dan banyak dendam sakit hati kubuat, namun belum pernah kupandang sebelah matapun terhadap orang lain,"

Kata Cu Bong lebih jauh.

"hanya kau, kau Suma Cau-kun, seorang yang selalu kupandang tinggi."

Nada suaranya menjadi gemetar karena dorongan emosi.

"Hari ini, terimalah sebuah hormat dari aku Cu Bong, untuk orang yang kupandang tinggi."

Cu Bong benar-benar jatuhkan diri berlutut sambil menyembah, lelaki jantan yang tak pernah bertekuk lutut kepada siapapun ini betul-betul berlutut dan menyembah kepada Suma Cau-kun.

Dengan cepat Suma Cau-kun menjatuhkan diri pula berlutut sambil menyembah.

"Aku memberi hormat kepadamu, sebab kau benar-benar seorang enghiong sejati, seorang lelaki jantan yang betul-betul tulen,"

Cu Bong melanjutkan dengan suara parau.

"setelah penyembahanku ini, mungkin kita akan berpisah untuk selamanya."

Sepatah demi sepatah kata dia menambahkan.

"Sebab aku masih tetap akan membunuhmu, aku sudah tidak mempunyai pilihan lain."

"Ya, memang beginilah kehidupan seseorang dalam dunia persilatan,"

Kata Suma Cau-kun serius.

"di antara kita berdua memang sudah tiada pilihan lain."

"Asal kau mengerti, ini lebih baik,"

Suara Cu Bong semakin parau.

"asal kau mengerti, ini memang lebih baik."

Cu Bong beranjak berdiri. Sekali lagi ia mengamati anak buahnya satu persatu dengan pandangan tajam.

"Orang inilah yang bernama Suma Cau-kun, orang yang telah menghancurkan Hiong-say-tong kita,"

Perkataan Cu Bong rendah lagi melamban.

"untuk mewujudkan ambisi dan cita-cita yang diidamkan orang ini, entah berapa sudah saudara-saudara kita yang tewas di tengah jalan, sehingga jenasah mereka tak dapat disemayamkan dengan sewajarnya. Entah berapa banyak pula kakak adik kita yang menjadi janda, bahkan banyak di antara mereka yang terpaksa jadi lonte demi mencari sesuap nasi."

Semua orang mendengarkan dengan penuh perhatian, di antara lelehan air mata terselip cairan darah, sementara otot-otot hijau menonjol keluar pada kepalan masing-masing.

"Dalam hati kecil kita semua pernah bersumpah berat, sebelum memenggal batok kepalanya, kita tak pernah akan pulang ke kampung halaman, sekalipun kita tewas semua dalam medan pertempuran, kita tetap akan menjadi setan untuk merenggut nyawanya."

Kemudian setelah menuding ke arah Suma Cau-kun, dia melanjutkan kata-katanya.

"Sekarang dia telah datang, apa yang dia ucapkan tentu sudah kalian dengar semua dengan jelas....... Ia datang untuk membayar hutang. Hutang darah harus dibayar pula dengan darah."

Sorot mata Cu Bong yang tajam bagaikan sembilu menyapu sekejap wajah anak buahnya, kemudian meneruskan.

"Dia cuma seorang diri, diapun seperti kita semua, telah dikhianati anak buahnya dan dijauhi keluarganya, rumah tangganya telah hancur lebur, anggota keluarganya telah punah, tapi paling tidak kita masih mempunyai saudara, maka bila kita hendak membalas dendam, sekaranglah kesempatan yang paling baik. Dia seorang diri tak mungkin bisa menandingi kerubutan kita orang banyak."

Setelah berhenti sejenak, Cu Bong melanjutkan dengan suara keras dan lantang.

"Di tangan kalian semua telah menggenggam golok, sekarang kalian boleh meloloskan golok dan mencincangnya di sini."

Suasana tetap hening, tak seorangpun yang meloloskan goloknya. Semua orang hanya mendengarkan dengan mulut membungkam, bahkan memandang ke arah Suma Cau-kun barang sekejappun tidak.

"Mengapa kalian belum juga turun tangan?"

Bentak Cu Bong keras-keras.

"apakah tangan kalian sudah melunak? Apakah kalian sudah lupa bagaimana caranya membunuh orang?"

Tiba-tiba A-keng menyerbu ke depan, lalu menyembah di hadapan Suma Cau-kun dan Cu Bong dengan sepenuh hati.

"Lo-cong, aku tahu kesertaanmu bersama kami ke sini adalah untuk bersiap-siap mencari mati,"

Ucap A-keng terharu.

"Lo-cong, kau menghendaki kebajikan, matipun tak menyesal, setelah kematianmu nanti, A-keng pasti akan selesaikan persoalanmu lebih dulu sebelum menyusul kau."

Suma Cau-kun tertawa terbahak-bahak, tiba-tiba serunya.

"Bagus, saudara yang amat setia. Haaahhh.... haaahhhh.... haaahhh.... menghendaki kebajikan memperoleh kebajikan, matipun tak menyesal... sungguh merupakan ucapan yang amat tepat."

"Traang...!"

Mendadak sebilah golok terjatuh ke tanah dari genggaman seseorang. Terhadap orang itu, Cu Bong segera membentak.

"Mang-gou, selama ini kau adalah seorang lelaki sejati, membunuh orang tak pernah berhati lemah. Sekarang, mengapa memegang golokpun kau tak mampu?"

Mang-gou menundukkan kepalanya rendah-rendah, air mata darah turut bercucuran keluar.

"Tong-cu, sesungguhnya dalam mimpipun aku ingin sekali memenggal batok kepala orang ini, tapi sekarang......."

"Bagaimana sekarang?"

Suara Cu Bong semakin keras.

"apakah kau tak ingin membunuhnya sekarang?"

"Aku masih ingin, tapi kalau aku disuruh membunuhnya dengan cara begini, aku benar-benar tak mampu untuk melaksanakannya?"

"Mengapa?"

"Akupun tak tahu karena apa?"

Mang-gou menjauhkan diri berlutut, kemudian menempeleng wajah sendiri dengan sepenuh tenaga, mukanya menjadi babak belur, memar penuh berlepotan darah. Setelah itu terusnya.

"Aku memang pantas mati, aku memang orang bodoh yang pantas mati, meskipun dihati aku mengerti, tapi bila Tongcu menyuruhku mengatakannya ke luar, aku tak mampu untuk mengucapkannya."

"Kau goblok! Bila kau tak mampu, biar aku yang berbicara,"

Cu Bong berteriak keras.

"kau tak mampu membunuhnya, karena sekarang kau telah mengetahui, orang yang saban hari ingin kita bunuh ternyata juga seorang lelaki sejati, dia bernyali menghadapi kita seorang diri, sudah seharusnya kitapun menghadapinya secara jantan, bila kita harus membunuhnya dengan cara begini, sekalipun dendam sakit hati dapat terlampiaskan, namun kita tak akan punya muka untuk bertemu lagi dengan jago-jago di kolong langit....."

Kepada Mang-gou kembali dia bertanya.

"Sekarang katakan, bukankah kau berpikir demikian dalam hati kecilmu?"

Mang-gou tidak menjawab, dia hanya membenturkan kepalanya ke atas tanah, wajahnya telah basah oleh air mata bercampur darah.

Sekali lagi Cu Bong mengalihkan sorot matanya yang lebih tajam dari sembilu itu ke wajah anak buahnya.

"Bagaimana dengan kalian?"

Ia bertanya kepada anak buahnya yang mati hidup bersamanya dan kini tinggal selembar nyawa yang masih dimiliki itu.

"bagaimana jalan pemikiran kalian?"

Tak seorang manusiapun yang menjawab.

Tapi tangan mereka yang menggenggam golok kini sudah terluka, luka yang besar.

Walaupun mereka telah kehilangan segala sesuatunya, namun tidak pernah kehilangan semangat jantan, kebesaran jiwa serta kemurnian jiwa mereka.

Cu Bong memandang mereka, menatapnya satu-persatu, sepasang mata yang bulat besar dan lelah, tiba-tiba saja bersinar kembali.

Mendadak dia mengangkat kepalanya dan berkata.

"Bagus, hanya beginilah baru terhitung saudaraku yang baik, hanya manusia macam begini yang pantas menjadi saudaranya Cu Bong. Aku Cu Bong bisa bersahabat dengan kalian, biar matipun tak bakal menyesal."

Ia berpaling kembali ke arah Suma Cau-kun, lalu suaranya.

"Sudah kau saksikan semuanya ini? Saudara macam apakah yang dimiliki oleh Cu Bong? Adakah di antara mereka yang terhitung anak jadah....?"

Sepasang mata Suma Cau-kun telah memerah, memerah semenjak tadi, namun ia tak melelehkan air mata.

Dia masih berdiri tegak, setegak tembok di situ sampai lama sekali.

Sepatah demi sepatah ia baru berkata.

"Cu Bong, aku tak mampu melebihi dirimu, untuk membersihkan pantatmu pun tak pantas, sebab aku tidak memiliki saudara-saudara sebaik saudara-saudaramu itu."

Perkataan itu bukan diucapkan orang lain, perkataan tersebut diucapkan sendiri oleh Suma Cau-kun.

Suma Cau-kun, si jagoan yang tiada keduanya di kolong langit.

Tiada sinar kebanggaan di balik sorot mata Cu Bong, malah sebaliknya yang nampak hanya kepedihan, dia seolah-olah sedang bertanya kepada diri sendiri.

'Mengapa kita bukan teman, tapi harus berhadapan sebagai musuh bebuyutan?' Tentu saja perkataan semacam ini tak pernah akan diutarakan Cu Bong, ia hanya berkata begini.

"Entah bagaimanapun juga, kau bersikap baik kepada kami, kami pun tak akan melakukan hal-hal jahat kepadamu."

Kemudian setelah berhenti sejenak, dia menambahkan.

"Cuma sayang, ada hal yang tak mungkin dapat berubah untuk selamanya......"

Ia mengepal tinjunya kencang-kencang.

"Aku masih tetap bernama Cu Bong dan kau tetap bernama Suma Cau-kun, oleh karena itu aku masih tetap akan membunuhmu."

Hal inipun terhitung suatu semangat dan tekad, seperti cinta kasih yang sejati, biar laut mengering, biar batu melapuk, semangat dan tekad tersebut tak pernah akan luntur.

Justru karena mereka memiliki semangat dan tekad seperti ini, maka mereka masih selalu dapat hidup di hati kaum lelaki berjiwa kesatria, kendatipun mereka sendiri hakekatnya cuma orang-orang persilatan yang tak berakar.

Kembali Cu Bong berkata.

"Barusan kaupun pernah berkata, persoalan ini sebenarnya merupakan urusan pribadi kita berdua, sudah sepantasnya bila kita juga yang menyelesaikannya."

Kepada Suma Cau-kun ia bertanya.

"Sekarang, apakah sudah tiba pada saatnya?"

"Benar!"

Sekali lagi Cu Bong mengawasi wajahnya sampai lama sekali, tiba-tiba dia berkata.

"Beri sebilah golok untuk Suma Tayhiap."

Mang-gou segera memungut goloknya dan dipersembahkan dengan sepasang tangannya.

Golok itu merupakan sebilah golok besar yang terbuat dari baja murni, sekalipun di sana-sini sudah muncul beberapa buah gumpilan.

"Golok itu bukan golok bagus,"

Demikian Cu Bong berkata lagi.

"namun dalam genggaman Suma Cau-kun, golok macam apapun bisa dipakai semua untuk membunuh orang."

"Benar!"

Suma Cau-kun membelai mata golok yang gumpil.

"golok ini memang sebilah golok pembunuh manusia."

"Itulah sebabnya aku hanya berharap kau bersedia menyanggupi sebuah permintaanku."

"Soal apa?"

"Bila kau mampu membunuhku, harap jangan berbelas kasihan dengan ayunan golokmu,"

Nada suara Cu Bong berubah makin keras.

"kalau tidak, sekalipun aku dapat membunuhmu, pasti akan kubawa rasa sesal ini sampai dalam liang kubur."

Kepada Suma Cau-kun segera tegurnya nyaring.

"Inginkah kau saksikan aku, Cu Bong menderita karena harus memikul rasa sesal sampai di liang kubur?"

Jawaban Suma Cau-kun ternyata lebih tegas lagi.

"Bila aku dapat membunuhmu dalam satu ayunan golok, kau pasti tak akan melihat ayunan golokku yang kedua."

"Bagus, bagus sekali!"

Ooo)O(ooo Cahaya golok berkilauan.

Cu Bong telah meloloskan goloknya.

Semua orang yang berada dalam ruang kecil telah menyingkir.

Orang-orang itu semuanya adalah saudara sehidup semati Cu Bong.

Tapi sekarang, mereka telah menyingkir ke samping.

Siapakah manusia di dunia ini yang bisa lolos dari kematian?

Ya, apa sih yang menakutkan dengan suatu kematian?

Tapi harga diri, martabat serta kesetiaan kawan seorang lelaki sejati tak mungkin boleh dilukai atau dicacati oleh siapapun juga.

Setelah melintangkan goloknya di depan dada, Cu Bong berkata pula.

"Bila aku tewas di ujung golokmu, saudara-saudaraku tak akan pergi mencarimu lagi."

Kemudian ia menambahkan.

"Bila Cu Bong bisa tewas di ujung golok Suma Cau-kun, matipun tak akan menyesal."

Tapi dia toh tak urung berpaling serta memandang sekejap lagi ke arah Tiap-wu, pandangan itu mungkin sekali merupakan pandangannya yang terakhir.

"Seandainya aku tewas di ujung golokmu, aku hanya berharap kau bisa mewakiliku untuk merawatnya."

Perkataan seperti inipun tentu saja tak diutarakan ke luar dari mulutnya. Cu Bong hanya berkata begini.

"Bila kau tewas di ujung golokku, aku pasti akan baik-baik merawat anak binimu."

"Anak biniku?"

Suma Cau-kun tertawa pedih.

"mungkin anak biniku sedang menanti ayunan golokmu untuk mengirim aku menjumpai mereka dan memelihara mereka di sana."

Cu Bong segera merasakan hatinya menjadi tenggelam.

Sekarang dia baru merasa, mungkin kepedihan serta penderitaan yang dialami Suma Cau-kun masih beberapa kali lipat lebih berat dan dalam daripadanya.

Tapi dia telah mencabut goloknya, golok itu sudah disilangkan di depan dada.

Hatinya juga sudah tekad dan nekad.

Soal mati dan hidup sudah perkara kejadian sedetik, mungkin tiada kekuatan lain di dunia ini yang sanggup melerai atau membatalkan duel mati hidup di antara mereka lagi.

Tapi pada saat itulah......pada detik yang terakhir itulah......

"Cu Bong......"

Mendadak Cu Bong mendengar suara orang memanggil, suara tersebut seolah-olah datang dari tempat yang sangat jauh, begitu jauh........

Tapi orang yang memanggil namanya justru berada di sisinya.

Seseorang yang setiap saat dapat menyuruh dia mati demi dirinya.

Seseorang yang selama dalam alam impianpun tak akan pernah bisa dilupakan.

ooo)O(ooo Cu Bong tidak berpaling.

Kini goloknya sudah berada dalam genggaman, musuh bebuyutannya sudah berada di depan mata goloknya.

Semua saudara-saudaranya sedang memandang ke arahnya.

Ia tak boleh berpaling, dia harus mengutamakan soal kesetiaan kawan daripada perasaan pribadi.

"Cu Bong......."

Panggilan itu kembali bergema.

"Cu Bong......."

Suara panggilan yang terasa begitu jauh, seakan-akan pula begitu dekat.

Panggilan dari tempat yang dekat, tapi seolah-olah begitu jauh, sejauh dalam gelombang impian.

Tapi gelombang impian itu justru melekat dalam-dalam di hati kecilnya yang penuh luka.

Akhirnya Cu Bong berpaling.

"Traaaang"

Sekali lagi bergema suara dentingan nyaring.

Akhirnya Cu Bong berpaling, sewaktu berpaling goloknya sudah terkulai ke bawah, sewaktu berpaling Tiap-wu sedang memandang wajahnya.

Yang dia lihat hanya dirinya seorang dan apa yang dirinya lihat sekarangpun hanya dirinya seorang.

Dalam detik yang singkat itu, semua orang seolah-olah lenyap, semua masalah seolah-olah tersapu hilang.

Semua dendam kesumat, semua rasa benci, marah, duka dan pedih seolah-olah berubah menjadi kupu-kupu.

Kupu-kupu yang terbang pergi ke mana-mana.

Kupu-kupu terbang pergi, lalu terbang kembali, tapi siapa yang pergi?

Siapa yang kembali?

Manusiakah?

Atau kupu-kupu?

"Cu Bong, Cu Bong, kau berada di mana?"

"Aku di sini, aku di sini, aku selalu berada di sini."

Dia memang berada di situ.

Tapi goloknya tidak berada di situ.

Hiong-say-tong tidak di situ.

Nama besar yang dipupuk dan dibina selama inipun tidak lagi berada di situ.

Namun orangnya berada di situ.

Selama di situ ada Tiap-wu, di situ pula Cu Bong hadir.

"Ooohhh.... Cu Bong aku salah, kaupun salah."

"Ya, memang aku salah."

"Cu Bong mengapa aku tak pernah mengerti bagaimanakah sebenarnya perasaanmu terhadapku? Mengapa kau tak pernah membiarkan aku tahu?"

Tiap-wu berbisik.

"mengapa kau tak pernah memberi kesempatan kepadaku untuk mengetahui, betapa besarnya rasa cintamu kepadaku? Mengapa akupun tak pernah memberi kesempatan kepadamu untuk mengetahui, berapa besarnya kebutuhanku atas kau yang begitu mencintaiku?"

Tiada jawaban, suasana tetap hening dan sepi. Memang, ada sementara pertanyaan memang tak perlu jawaban, sebab pada hakekatnya memang tak pernah ada jawabannya.

"Cu Bong, aku akan mati, kau tak boleh mati,"

Tiap-wu kembali berbisik.

"aku boleh mati, tapi kau tak boleh mati."

Suaranya bagaikan alunan angin di tengah kabut yang tipis.

"Aku tak mungkin bisa menari bagimu lagi, tapi aku masih bisa bernyanyi untukmu, aku menyanyi, kau mendengarkan. Aku harus menyanyi untukmu dan kau harus mendengarkan nyanyianku."

"Baik, nyanyilah dan aku akan mendengarkan."

Semuanya telah tiada.

Tiada manusia, tiada keresahan, tiada dendam kesumat, kecuali suara nyanyian yang ingin dia nyanyikan, tiada sesuatu apa-apa.

Maka dia pun menyanyi.

Iramanya suaranya makin lama semakin jauh, semakin berhenti-henti.

Dia menyanyi....

Dia pun akhirnya menyanyi......

Kemudian, dia pun berhenti.

Semua kehidupan yang ada di dunia ini seluruhnya terhenti, paling tidak terhenti semuanya pada detik itu.

Tiada tarian lagi di dunia ini, juga tiada nyanyian.

Di dunia ini seakan-akan tiada sesuatu apapun, bahkan air matapun tiada........

Yang kini ada tinggal darah.

Cu Bong berdiri termangu-mangu di situ, memandang wajah Tiap-wu dengan tertegun......

Tiba-tiba wajahnya berubah, berubah menjadi amat pucat bagaikan mayat, sepasang matanya mendelong besar, sayu, tak bersinar......

segala sesuatunya seolah-olah menjadi gelap gulita, lebih gelap dari malam yang tak berbintang....

Ia merasa segalanya punah, lenyap dan hilang tak tahu kemana perginya.

Lalu dia memuntahkan darah segar.

ooo)O(ooo Bab-15.

Kilatan Cahaya Pedang Kota Tiang-an.

Siau-ko masih menanti dengan sabar di ruang tunggu.

Padahal The Seng telah berkata demikian kepadanya.

"Untuk sementara waktu, Cho sianseng masih belum dapat bertemu dengan kau, tapi dia bilang kau boleh berada di sini."

"Aku dapat menunggu dengan sabar,"

Siau-ko tersenyum, senyumannya ramah dan tenang.

"akupun berani menjamin kepadamu, kau pasti belum pernah bertemu dengan seorang manusia yang bisa menunggu terus seperti aku."

"Oya?"

"Sebab aku lebih penyabar dibandingkan dengan siapapun, mungkin jauh lebih sabar daripada seorang kakek yang telah berusia delapan puluh tahun,"

Kata Siau-ko.

"sejak kecil aku sudah tinggal di gunung yang terpencil. Suatu hari untuk menunggu mekarnya sekuntum bunga liar, coba tebak berapa hari aku mesti menunggu?"

"Kau telah menunggu selama berapa hari?"

"Aku telah menunggu selama tiga hari."

"Kemudian kau petik bunga itu dan kau sisipkan di atas bajumu?"

"Tidak! Begitu bunga tadi mekar, akupun beranjak pergi."

"Jadi kau menunggu selama tiga hari hanya dikarenakan ingin melihat bagaimanakah keadaan di saat bunga itu akan mekar?"

The Seng sendiripun termasuk seseorang yang amat sabar, lagi pula tampaknya dia dapat memahami maksud hati Siau-ko.

"terlepas apapun yang sedang kau nantikan, biasanya tak mungkin tanpa sesuatu tujuan, bukan?"

Ia berkata kepada Siau-ko.

"sekalipun kau tidak memetik bunga itu, tapi tujuanmu pasti telah tercapai, lagi pula tujuanmu sudah pasti bukan cuma untuk melihat mekarnya sekuntum bunga liar belaka?"

"Menurut pendapatmu, aku mempunyai tujuan apa?"

"Sekuntum bunga ibaratnya sebuah kehidupan, di saat bunga itu sedang mekar, berarti suatu kehidupan baru pun mulai lahir,"

The Seng berkata.

"di saat-saat lahirnya suatu kehidupan baru di alam semesta ini, seringkali dapat timbul berbagai perubahan yang luar biasa, yang tak mungkin bisa dibandingkan dengan kejadian apapun di dunia ini."

Ia menatap Siau-ko lekat-lekat, kemudian menambahkan.

"Oleh sebab itu aku berpendapat, tiga hari yang kau buang itu tidak terbuang dengan begitu saja, melalui pengamatan kali itu, ilmu pedangmu semakin bertambah pesat kemajuannya."

Siau-ko memandang ke arahnya dengan kaget, ia tak mengira pemuda berwajah segi empat yang sederhana ini ternyata jauh lebih pintar daripada potongan wajahnya.

"Apalagi kalau menunggu seseorang, sudah jelas tak mungkin tiada tujuan, tentu saja kaupun tak akan pergi dengan begitu saja setelah kemunculan Cho sianseng."

The Seng kembali berkata dengan hambar.

"apakah tujuanmu kali ini?"

Tidak sampai Siau-ko buka suara, dia telah berkata lebih jauh.

"Pertanyaan inipun tak perlu kau jawab kepadaku, aku sendiri juga tidak ingin tahu."

"Pertanyaan inipun tak perlu kau jawab kepadaku, aku sendiri juga tidak ingin tahu."

"Pertanyaan ini toh kau sendiri yang ajukan kepadaku. Mengapa pula tak perlu kujawab? Mengapa pula kau tak ingin tahu?"

"Sebab semakin sedikit persoalan yang diketahui seseorang, hal inipun semakin baik."

"Kalau toh kau sendiripun tak ingin tahu, mengapa pula harus bertanya?"

"Aku tak lebih hanya ingin memperingatkan dirimu, aku saja dapat berkata demikian, Cho sianseng tentu dapat berpikir demikian pula."

Setelah berhenti sejenak, dia meneruskan.

"Bila menanti sampai Cho sianseng yang mengajukan pertanyaan ini kepadamu, paling baik kaupun mempunyai sebuah alasan yang sangat baik untuk menjawab pertanyaannya, lagi pula harus dapat membuatnya merasa puas, kalau tidak, lebih baik kau tak usah menunggu lebih jauh."

Lalu dengan wajah serius dan bersungguh hati dia menambahkan.

"Tidak banyak orang yang memberi jawaban kurang memuaskan bagi Cho sianseng bisa hidup hingga kini."

Selesai mengucapkan perkataan tersebut, diapun beranjak pergi, dia seperti tak ingin menunggu bagaimanakah reaksi dari Siau-ko sesudah mendengar perkataan itu.

Tapi setibanya di depan pintu, ia toh berpaling juga sambil berkata.

"Ada satu hal, hampir lupa memberitahukan kepadamu."

"Soal apa?"

"Cho sianseng sempat berpesan kepadaku, apapun yang kau kehendaki, aku harus memenuhinya, entah apa saja yang kau kehendaki."

"Ia benar-benar berkata begitu?"

"Ya, sungguh!"

Siau-ko tertawa, tertawa amat riang.

"Kalau begitu bagus sekali. Sungguh bagus sekali!"

Ooo)O(ooo Sewaktu Cho Tang-lay memanggil The Seng agar menghadap, waktu sudah mendekati tengah hari.

The Seng sama sekali tidak menemukan sesuatu yang berbeda pada dirinya dengan keadaan di hari-hari biasa, seakan-akan peristiwa menakutkan dan memedihkan yang terjadi kemarin, sama sekali tiada hubungan atau sangkut pautnya dengan dia.

Apa saja yang telah dikerjakan Cho Kim untuk membalas dendam kepadanya?

Soal itupun sama sekali tidak dinyatakan olehnya.

Dia hanya bertanya begini.

"Apakah Ko Cian-hui masih menunggu?"

"Ya, dia masih menunggu,"

Jawab The Seng.

"tapi barang yang dia inginkan justru tak sanggup kucarikan semua bagi dia."

"Apa yang dikehendaki olehnya sehingga kaupun tak sanggup untuk mencarikan baginya?"

"Dia minta aku menyiapkan dua puluh meja sayur dan arak yang terbaik di dalam satu jam, bahkan meminta aku untuk menyiapkan hidangan tersebut atas hasil karya koki Tiang-an-kit dan Beng-oh-cun, di samping itu diapun minta aku mengundang semua nona yang paling top di kota ini dalam satu jam untuk menemaninya minum arak."

"Berapa banyak yang dapat kau carikan baginya?"

"Aku hanya bisa menemukan tujuh puluh tiga orang, malah sebagian besar diantaranya kuseret keluar dari bawah tindihan lelaki lain....."

Cho Tang-lay tertawa tergelak setelah mendengar perkataan itu.

"Dalam keadaan seperti ini, nona yang tidak berada dalam tindihan pria lain, tentu saja tak bisa dianggap nona yang top,"

Ia menerangkan.

"cara kerjamu kali ini memang bagus sekali, kalau begitu suasana di tempat kita pagi tadi pasti ramai dan meriah sekali....."

"Ya, ramai sekali, bahkan saudara-saudara dalam piau-kiok yang pandai minum arak pun sempat ditarik olehnya untuk menemani minum arak,"

The Seng menerangkan.

"dia memaksa setiap orang untuk baik-baik memeriahkan suasana ini baginya."

"Memeriahkan? Memeriahkan apa?"

Tanya Cho Tang-lay.

"persoalan apakah yang patut dia meriahkan pada hari ini?"

"Tidak ia terangkan,"

Kata The Seng.

"tapi dulu aku pernah mendengar, ada banyak orang yang melakukan hal begini bila ia tahu dirinya sudah hampir mati."

Cho Tang-lay termenung, mendadak kelopak matanya mulai berkerut kencang, lewat lama sekali baru ia berkata.

"Sayang aku tahu, untuk sementara waktu ini, dia masih belum akan mati."

Ooo)O(ooo Arak telah habis, tamupun telah bubar.

Dalam halaman ruang depan dan serambi tinggal kutungan tusuk konde, tali ikat pinggang serta kotak-kotak gincu yang berserakan, selain itu masih ada pula barang-barang yang tak mungkin bisa dibayangkan orang lain, seakan-akan mereka hendak membuktikan kepada si tuan rumah, mereka benar-benar sudah mabuk.

Bagaimana dengan tuan rumah?

Tuan rumah tidak mabuk, bagaimana mungkin tamunya pada bubar dengan riang gembira?

Siau-ko tidak ubahnya seperti orang mati, dia berbaring di atas selembar pembaringan.

Tapi sewaktu Cho Tang-lay muncul di hadapannya, mendadak orang yang tergeletak seperti orang mati itu segera mendusin bahkan menghela napas panjang.

"Mengapa sih engkau selalu bersedia menampakkan diri bila semuanya sudah mulai berakhir? Apakah sepanjang hidup kau tak pernah senang melihat orang lain bergembira?"

Cho Tang-lay memandangnya dengan dingin, kemudian menjawab dengan hambar.

"Aku memang benar-benar tak suka melihat orang mabuk kepayang.......hmmm...sungguh suatu adegan yang sangat tidak menarik hati....."

Ditatapnya sepasang mata Siau-ko lekat-lekat, kemudian ia melanjutkan.

"Untung sekali kau belum mabuk, orang lain yang mabuk hebat, bukan kau!"

Dari balik sorot mata Siau-ko memang sama sekali tidak diketemukan wajah seorang mabuk.

"Aku dapat melihat, kau masih tetap segar, pikiranmu tetap jernih, jauh lebih jernih daripada kelinci di bulan ketiga."

Mendengar ucapan itu Siau-ko tertawa, tentu saja tertawa terbahak-bahak.

"Haaaahhhh.... haaahhhh.... haaaahhhh..... kau memang tidak salah melihat, sedikitpun tidak salah melihat,"

Kembali ia tertawa tergelak.

"pada hakekatnya sepasang matamu itu memang lebih tajam daripada mata rase di bulan ke sembilan."

"Kau menghendaki orang lain mabuk, mengapa kau sendiri sama sekali tidak mabuk?"

"Sebab aku tahu, cepat atau lambat, si rase pasti akan muncul, selama si rase ada kemungkinan menampakkan diri, sang kelinci tentu saja harus mempertahankan kejernihan otaknya."

"Bila si rase sudah datang, biar sang kelinci dalam keadaan sadarpun tak ada gunanya."

"Oya?"

"Bila tahu rase yang mau datang seharusnya si kelinci cepat-cepat menyelamatkan diri,"

Cho Tang-lay tertawa.

"kecuali kalau si kelinci tersebut pada hakekatnya memang tidak takut dengan si rase."

"Aaaah....mana mungkin kelinci berani dengan rase?"

"Karena di belakang sang kelinci sudah bersiap-siap sebuah tombak, dan tombak itu sudah di arahkan persis ke ulu hati sang rase, setiap saat dapat ditusukkan ke dalam dadanya."

"Tombak? Darimana datangnya tombak?"

Siau-ko mengerdipkan matanya berulang kali. Kembali Cho Tang-lay tertawa.

"Tentu saja datangnya dari dalam peti, sebuah peti yang telah hilang dan kini muncul kembali."

Siau-ko tidak tertawa lagi, sepasang matanyapun tidak berkedip lagi, bahkan ia segera menampilkan perasaan yang sangat kagum, perasaan kagum yang benar-benar muncul dari lubuk hatinya.

"Kau sudah tahu?"

Ia bertanya kepada Cho Tang-lay.

"darimana kau bisa tahu?"

"Kau kira aku telah mengetahui soal apa?", ucap Cho Tang-lay.

"aku tak lebih hanya tahu kalau di dunia ini terdapat semacam orang, bila ia sudah pernah menderita kerugian di tangan orang lain, maka dia pasti akan berusaha keras untuk menagih kembali kerugian tersebut sepuluh kali lipat, aku tak lebih hanya tahu kalau secara kebetulan Siau Lay-hiat termasuk manusia macam begini, lagi pula secara kebetulan aku berhasil menemukan kau."

Sesudah tertawa, ia kembali menambahkan.

"Apa yang kuketahui tak lebih hanya soal ini."

Siau-ko kembali menatap wajahnya sampai setengah harian, kemudian menghela napas.

"Apa yang kau ketahui bukan cuma itu saja, kau sudah mengetahui terlalu banyak,"

Setelah menghela napas, terusnya.

"tak heran kalau Siau Lay-hiat pernah memberitahukan kepadaku, bisa berbincang-bincang soal transaksi dengan Cho sianseng memang merupakan suatu kejadian yang sangat menggembirakan, sebab ada sementara persoalan yang pada hakekatnya tak usah kau terangkan, karena ia sudah mengetahui dengan sendirinya."

Senyuman yang menghiasi wajah Cho Tang-lay pun seakan-akan ikut berubah menjadi senyum getir.

"Sayang sekali aku sendiri masih belum tahu sesungguhnya sudah berapa banyakkah yang telah kuketahui."

"Tahukah kau bahwa kedatanganku kali ini adalah atas suruhan dari Siau Lay-hiat?"

Siau-ko segera menjawab sendiri pertanyaan tersebut,"

Tentu saja kau sudah tahu, bahkan kau pasti sudah tahu pula bahwa persoalan yang ia suruh aku bicarakan denganmu bukan suatu persoalan yang enak dibicarakan?"

"Banyak ragamnya persoalan yang tak enak dibicarakan, lalu ragam manakah yang kau pilih untuk dibicarakan sekarang?"

Tanya Cho Tang-lay kemudian.

"Mungkin termasuk macam yang paling tidak baik,"

Kembali Siau-ko menghela napas.

"bila aku tidak pernah berhutang budi kepadanya, aku benar-benar tak ingin datang kemari untuk membicarakan persoalan tersebut denganmu."

"Kau keliru!", ternyata Cho Tang-lay tersenyum lagi.

"dalam hal ini kau sudah keliru besar."

"Dalam hal mana?"

"Dalam suatu sudut pandangan tertentu, seringkali persoalan yang paling enak dibicarakan dapat berubah menjadi masalah yang paling tak enak dibicarakan, oleh sebab itu dalam suatu sudut pandangan tertentu, persoalan yang tak sedap dibicarakan akan menjadi masalah yang tak enak dibicarakan. Seringkali masalah di dunia ini memang berlangsung kebalikan."

Kemudian Cho Tang-lay menjelaskan lebih jauh.

"Bila Siau-sianseng tak sudi mengirim orang untuk membicarakan masalah ini denganku, melainkan di tengah malam buta yang sepi, muncul mencari aku sambil membawa petinya, kejadian seperti inilah baru merupakan kejadian yang paling tak sedap."

"Jadi terlepas persoalan apakah yang hendak ia bicarakan denganmu, kau tak akan merasa tak senang hati?"

"Ya, begitulah!"

"Kalau begitu bagus sekali."

Namun mimik muka Siau-ko segera berubah menjadi sangat serius, hampir mendekati nada suara Cho Tang-lay, sepatah demi sepatah kata dia berkata.

"Ia suruh aku datang kemari untuk meneruskan kedudukan Suma Cau-kun, memegang pucuk pimpinan dalam Toa Piau-kiok serta menjadi pemilik Toa Piau-kiok."

Sesudah mendengar perkataan seperti ini, siapa saja tentu akan beranggapan Cho Tang-lay bakal melompat saking marahnya.

Tapi dalam kenyataan ia tidak beranjak, malah berkedip matapun tidak, ia Cuma bertanya kepada Siau-ko dengan hambar.

"Betulkah hal ini merupakan keinginan Siau sianseng?"

"Benar!"

Siau-ko mengangguk, kemudian ia berbalik bertanya kepada Cho Tang-lay.

"bagaimana menurut pendapatmu?"

Tanpa berpikir ataupun mempertimbangkannya sama sekali, Cho Tang-lay segera menjawab dan jawabannya singkat lagi sederhana.

"Bagus sekali!"

"Bagus sekali?"

Siau-ko malah merasa terkejut bercampur keheranan.

"apa maksudmu dengan perkataan bagus sekali ini?"

Cho Tang-lay tersenyum dan memberi hormat kepada Siau-ko.

"Bagus sekali berarti saat ini kau telah menjadi pentolan nomor satu dari Toa Piau-kiok sejak sekarang, kau telah menempati bangku pertama dari Toa Piau-kiok."

Siau-ko melongo kemudian termangu-mangu. Sikap Cho Tang-lay terhadapnya juga mulai berubah menjadi munduk-munduk serta sangat menaruh hormat.

"Sejak hari ini tiga puluh enam aliran ho-han di bawah kekuasaan Toa Piau-kiok sudah berada dalam kekuasaanmu secara mutlak, bila ada yang tak mau tunduk di bawah kekuasaanmu, Cho Tang-lay yang pertama-tama akan membabatnya di ujung golokku."

Dengan mempergunakan sorot matanya yang kelabu, ia menatap Siau-ko serta melanjutkan.

"Tapi mulai hari ini, kaupun terhitung sebagai anggota Toa Piau-kiok, seluruh Toa Piau-kiok tunduk di bawah perintahmu, tapi kau sendiripun harus setia dan berjuang demi Toa Piau-kiok menghadapi kesulitan, itulah kesulitanmu, bila Toa Piau-kiok punya musuh besar, diapun merupakan musuh besarmu juga."

Akhirnya Siau-ko menghembuskan napas panjang.

"Aku bisa memahami maksudmu itu."

Ia berkata. Setelah tertawa getir, terusnya.

"Sebetulnya aku masih belum mengerti kenapa secepat itu kau sanggupi permintaanku ini, tapi sekarang...... akhirnya aku bisa memahami maksudmu ini."

"Pada dasarnya persoalan tersebut memang hanya begini, seperti juga sebilah pedang dengan dua mata pedang,"

Nada suara Cho Tang-lay serius tapi senang.

"bila seseorang menghendaki suatu hasil, maka dia wajib untuk mengorbankan diri."

Tiba-tiba saja suaranya kedengaran agak parau.

"Aku pikir, kau tentu sudah mengetahui bukan? Pengorbanan seperti apakah yang telah dilakukan Suma Cau-kun?"

"Bagaimana dengan kau sendiri?"

Tiba-tiba Siau-ko bertanya.

"apa yang pernah kau korbankan?"

Cho Tang-lay tertawa.

"Apa yang pernah ku korbankan? Dan apa pula yang pernah kuperoleh....?"

Dibalik senyuman penuh terkandung nada duka nestapa.

"mungkin persoalan ini tak bisa kujawab, sebab aku sendiripun tidak tahu."

Perkataan ini memang tidak bohong, lagi pula benar-benar diutarakan dengan nada pedih, sehingga Siau-ko mulai menaruh sedikit perasaan simpatik kepadanya.

Untung saja Cho Tang-lay segera dapat memulihkan kembali sikapnya yang dingin dan tenang seperti batu karang.

Bahkan segera mengajukan pula sebuah persoalan yang jauh lebih tajam daripada mata golok.

"Aku bersedia menyanjungmu sebagai pemilik dari Toa Piau-kiok, akupun bersedia berbakti dan berjuang untukmu. Aku percaya kita masing-masing sudah cukup memahami keadaan lawan, dengan berbuat demikian kitapun sama-sama memperoleh kebaikan."

Tiba-tiba ia bertanya kepada Siau-ko.

"Tapi bagaimana dengan orang lain?"

"Orang lain?"

"Tiga puluh enam anggota Toa Piau-kiok rata-rata adalah manusia yang hebat dan tak gampang disinggung, bila kita mengharapkan mereka mau menyanjung dan menghormati dirimu sebagai cong-piau-pacu nya, jelas hal ini bukan suatu pekerjaan yang mudah."

Sekali lagi ia bertanya kepada Siau-ko.

"Apa yang siap kau lakukan?"

"Menurut pendapatmu, apa yang harus kulakukan?"

"Pertama-tama kau harus berwibawa sebelum tumbuh percaya orang lain kepadamu, bila sudah berwibawa dan dipercaya, kau baru dapat memberi komando kepada segenap jago, orang lain baru akan tunduk kepadamu. Bila kau menghendaki jabatan tersebut, tentu saja pertama-tama harus memupuk soal kewibawaan lebih dulu."

"Memupuk kewibawaan?"

Tanya Siau-ko.

"bagaimana caranya memupuk kewibawaan?"

"Sekarang Suma Cau-kun dan aku sedang retak, dia sudah kabur entah kemana karena marah."

"Aku tahu tentang soal ini."

"Bukan hanya kau saja yang tahu, aku percaya masih banyak orang lain yang tahu juga tentang persoalan ini,"

Kata Cho Tang-lay.

"sebelum menemui ajalnya Cho Kim tentu tak akan lupa untuk mengirim orang dan menyebar luaskan berita ini kemana-mana."

"Asal ia bisa membalas dendam kepadamu, lagi pula dia bisa mengerjakannya, aku percaya tak satupun yang dapat dilupakan olehnya......"

Kemudian setelah berhenti sejenak, Siau-ko melanjutkan.

"Akupun percaya yang sanggup ia lakukan pasti tak sedikit jumlahnya."

"Benar! Memang tak sedikit jumlahnya."

"Maka dari itu ketika kau dengar Siau-sianseng suruh aku datang menjabat kedudukan pemimpin perusahaan, kau sama sekali tidak bermaksud untuk menolak."

Siau-ko tertawa getir.

"sebab kaupun sangat berharap aku bisa datang membantumu untuk menyelesaikan sisa-sisa permainan catur ini."

Ternyata di dalam hal ini Cho Tang-lay tidak bermaksud untuk menyangkal.

"Keadaan situasi yang kita hadapi sekarang memang kurang stabil, aku percaya Siau-sianseng tentu memahami pula situasi demikian ini, itulah sebabnya dia minta kau datang kemari."

"Siau sianseng memang amat memahami situasi dan kondisiku, agaknya diapun telah memperhitungkan secara tepat bahwa aku tak bakal menolak tawaran itu."

Cho Tang-lay menatap Siau-ko lekat-lekat, lalu sepatah demi sepatah kata dia berkata.

"Bila kau ingin memupuk wibawa dalam situasi dan kondisi seperti ini, tentu saja harus kau gunakan cara yang langsung menghasilkan manfaatnya."

Siau-ko menatap pula ke arah lawannya lekat-lekat, lewat lama kemudian dia baru bertanya dengan sepatah demi sepatah kata.

"Apakah kau minta aku membunuh Cu Bong untuk memupuk kewibawaanku?"

"Benar!"

"Inikah syarat yang kau ajukan?"

"Bukan syarat, melainkan suatu situasi yang dibutuhkan."

Cho Tang-lay berkata dingin.

"keadaan situasi sudah begini dan kau memang tidak memiliki pilihan yang lain."

Tiba-tiba Siau-ko bangkit berdiri lalu berjalan menuju ke mulut jendela.

ooo)O(ooo Tumpukan salju di luar jendela belum melumer, tapi langit sangat cerah.

Seluruh permukaan tanah berwarna putih keperak-perakan, sedang langit berwarna biru segar.

Dikejauhan sana tiba-tiba muncul selapis awan putih yang melayang datang, tiba-tiba berhenti, kemudian tiba-tiba terbang kembali.

Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya Cho Tang-lay menghela napas panjang.

"Aku cukup memahami kalian, baik engkau maupun Cu Bong, sama-sama termasuk orang persilatan yang lebih mementingkan soal janji daripada keselamatan jiwa, sebab soal mati atau hidup sesungguhnya hanya masalah sesentilan jari,"

Ia berkata dengan nada sungguh-sungguh.

"itulah sebabnya pertemuan yang tak disengaja menghasilkan hubungan yang erat melebihi saudara sendiri."

Dibalik helaan napasnya memang kedengaran sedikit keresahan dan rasa iba.

Didalam pandangan sementara manusia yang pada hakekatnya tidak mengetahui apakah makna yang sesungguhnya dari kata 'sahabat', mungkin kalian tak bisa dianggap sebagai sahabat sejati, tapi aku cukup memahami keadaan kalian."

Setelah berhenti sebentar ia meneruskan.

"Oleh sebab itu akupun dapat memahami bila kau disuruh membunuh Cu Bong, jelas hal ini merupakan pekerjaan yang amat memedihkan hatimu, bukan cuma kepedihan bagimu, juga bagi dirinya, dan kita semua akan sama-sama merasakan kepedihan tersebut."

Siau-ko tidak menjawab, dia hanya membungkam diri dalam seribu bahasa.

"Oleh sebab itu akupun berharap kau bisa memahami pula suatu persoalan,"

Cho Tang-lay berbicara lebih jauh.

"sekalipun kau tidak membunuh Cu Bong, toh masih ada orang lain yang akan pergi membunuhnya. Biarpun dia tidak tewas di tanganmu, sama saja akhirnya dia akan tewas di tangan orang lain."

"Mengapa?"

"Suma Cau-kun telah kehilangan pamor dan kedudukannya, keadaan mereka persis satu sama lainnya, maka batok kepala dari Cu Bong sekarang telah menjadi sasaran dari ke tiga puluh enam orang manusia gagah dari Toa Piau-kiok untuk menaikkan pamor serta martabat mereka di mata orang."

Kemudian ia menjelaskan lebih jauh.

"Sebab Cu Bong juga seorang jagoan yang hebat, lagi pula terhitung musuh bebuyutan Toa Piau-kiok. Barang siapa dapat memenggal batok kepalanya, maka mereka akan menggunakan kesempatan tersebut untuk meninggikan pamor dan kedudukan sendiri, bila mungkin sekalian menggantikan kedudukan Suma Cau-kun."

Setelah berhenti sejenak, terusnya.

"Di antara mereka, paling tidak masih ada tiga orang lainnya yang paling berpengharapan."

"Kau takut dengan mereka?"

"Yang kutakuti bukan mereka."

"Lantas mengapa kau sendiri tidak meneruskan jabatan tersebut?"

"Karena kau!"

Ucap Cho Tang-lay.

"akupun tidak takut dirimu, tapi bila ditambah dengan Siau sianseng, maka di kolong langit menjadi tiada tandingannya lagi."

Kali ini dia berbicara secara jujur.

"Dulu, aku tidak membunuh Cu Bong karena dia kusisihkan untuk Suma Cau-kun, dan kali ini akupun tidak membunuh Cu Bong karena sengaja kusisihkan untuk dirimu. Daripada membiarkan ia tewas terbunuh di tangan orang lain, toh lebih baik membiarkan ia tewas di tanganmu, sebab bagaimanapun juga, cepat atau lambat, akhirnya dia tentu akan tewas."

Mendadak Siau-ko membalikkan badan dan menatap Cho Tang-lay lekat-lekat, dibalik sorot matanya penuh dengan jalur-jalur berdarah, tapi mukanya pucat pias tanpa warna darah.

"Apakah ketiga orang yang barusan kau maksudkan itu kini sudah berada di Tiang-an?"

"Kemungkinan besar."

"Siapakah mereka?"

"Mereka adalah sebuah pedang yang tak berperasaan, sebuah tombak perenggut nyawa dan sekantung senjata rahasia mencabut nyawa."

Cho Tang-lay menerangkan.

"setiap jenis cukup berhak untuk mencantumkan namanya dalam deretan tujuh puluh macam senjata yang paling menakutkan di kolong langit."

"Yang kutanyakan adalah orangnya, bukan senjata andalan mereka....."

"Mereka adalah orang-orang pembunuh manusia, di Tiang-an mereka mempunyai mata-mata di mana-mana, bisa jadi hanya dalam satu dua jam saja mereka telah menemukan Cu Bong, asal kau mengetahui kesemuanya ini, aku rasa hal tersebut sudah lebih dari cukup."

"Mengapa kau tak bersedia menyebut nama-nama mereka?"

"Sebab bila kau sudah mengetahui nama-nama mereka, bisa jadi akan mempengaruhi semangat juang serta perasaan hatimu."

"Dapatkah kita temukan Cu Bong sebelum mereka?"

"Kau tak mungkin bisa, tapi aku dapat."

"Apakah saat ini Cu Bong berada di sini?"

"Dia berada dalam cengkeramanku,"

Kata Cho Tang-lay cepat.

"selama ini dia memang selalu berada di dalam cengkeramanku."

Ooo)O(ooo Senja menyelimuti empat penjuru, di tengah remang-remangnya suasana di tanah perbukitan, tampak Cu Bong berdiri di muka sebuah gundukan tanah baru.

Gundukan tanah itu masih amat baru, belum ada rerumputan yang tumbuh, tiada pula batu nisan yang didirikan, sebab orang dalam kuburan mungkin sudah berubah menjadi kupu-kupu dan terbang pergi.

Yang terkubur dalam gundukan tanah itu mungkin cuma nama besar yang telah kedaluwarsa serta cinta kasih lelaki perempuan yang tak pernah akan punah.

Tapi Cu Bong tetap hidup, Suma Cau-kun pun tetap hidup.

Oleh karena itu perselisihan dan dendam kesumat di antara merekapun tetap utuh, karena perselisihan di antara mereka berdua memang tak pernah bisa diselesaikan orang lain.

Senja semakin kelam.

Cu Bong berdiri termangu-mangu di sana, entah sudah berapa lama ia berdiri, sementara belasan saudaranya mengawasi dia dengan termangu.

Siapapun tak tahu bagaimanakah perasaan hatinya sekarang?

Siapapun tidak tahu pula bagaimanakah perasaan saudara-saudaranya kini?

Namun dalam hati kecil mereka sendiri cukup mengerti, bila kehidupan manusia benar-benar bagaikan sandiwara, bila kehidupannya selama inipun tak lebih hanya sebuah sandiwara, maka tak ayal lagi sandiwara ini sudah mendekati akhir.

Betapapun memedihkan hatinya, sandiwara ini sekarang sudah mencapai saat-saat untuk berakhir.

Tiap-wu tak lebih hanya melangkah setindak lebih dahulu, sedangkan mereka masih harus menyelesaikan perjalanan yang terakhir.

Betapapun susah dan menderitanya, perjalanan itu harus diselesaikan, mereka cuma berharap bisa mencecerkan darah musuhnya untuk mengiringi keberangkatan.

Akhirnya Cu Bong membalikkan badan, mengawasi saudara-saudara sehidup sematinya dan memandang mereka dengan sepasang mata besar yang berwarna merah membara.

Ia memandang wajah mereka satu persatu, memandang cukup lama di wajah setiap orang, seakan-akan setelah pandangan itu lewat, mereka akan berpisah untuk selamanya.

Kemudian ia baru berbicara dengan mempergunakan suara yang parau.

"Kehidupan manusia, ibaratnya suatu perjamuan yang tak mungkin berakhir, sekalipun anak mengikuti bapak, toh akhirnya akan tiba juga saat untuk berpisah. Nah, sekarang, kitapun sudah mencapai saat-saat untuk berpisah."

Paras muka semua saudara-saudaranya berubah, namun Cu Bong berlagak seolah-olah tidak melihat.

"Oleh sebab itu sekarang kuminta kalian agar pergi, paling baik pergi dalam beberapa rombongan, tiap rombongan jangan lebih dari dua orang,"

Kata Cu Bong.

"sebab aku minta kalian harus tetap hidup, selama masih ada di antara kalian yang tetap hidup, berarti Hiong-say-tong masih punya harapan untuk bangkit kembali."

Tiada orang yang beranjak pergi, tiada orang yang menggerakkan tubuhnya dari posisi semula. Cu Bong menjadi mencak-mencak kegusaran, dia berteriak dengan suara bagaikan geledek.

"Kakek moyang, apakah kalian tidak mendengar apa yang locu katakan? Apakah kalian berharap segenap anggota Hiong-say-tong mampus dan ludas?"

Belum ada yang bergerak, juga belum ada yang buka suara, semuanya tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Dengan sekuat tenaga Cu Bong meloloskan ikat pinggang kulitnya yang tebal, kemudian menerjang ke arah mereka.

"Kalian tak mau pergi? Kalian pingin mampus semua? Baik! Locu akan lecuti kalian semua sampai mampus daripada bikin khekinya Locu saja."

Ikat pinggang diayunkan berulang kali, satu persatu dicambuki secara kalap, bekas cambukan, lelehan darah segera menghiasi tubuh orang-orang itu.

Tapi saudara-saudaranya yang tak kenal mati hidup ini tetap tutup mulut sambil mengertak gigi, bergerak sedikitpun tidak.

Suma Cau-kun berdiri di kejauhan sana, memandang dari kejauhan, seakan-akan sama sekali tak berperasaan.

Tapi dari ujung bibirnya sudah mulai nampak cairan darah bercucuran keluar.

Darah itu mengalir keluar lewat bibirnya yang digigit kelewat keras sehingga menimbulkan luka.

Angin mulai berhembus, entah sejak kapan tiba-tiba saja angin puyuh berhembus lewat, menghembusi tubuh setiap orang sehingga terasa sakit bagaikan disayat-sayat dengan pisau.

Akhirnya Cu Bong menurunkan kembali tangannya.

"Baik!"

Dia berkata lantang.

"kalau toh kalian ingin tetap tinggal di sini menemani aku mati, aku akan membiarkan kalian tetap tinggal di sini, tapi kalianpun harus ingat baik-baik, entah siapa yang menang dalam pertarunganku melawan Suma Cau-kun nanti, hasil pertarungan itu sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan kalian. Kalian tak boleh mengusiknya!"

Tiba-tiba Suma Cau-kun tertawa dingin.

"Percuma!"

Dia mengejek.

"dengan cara apapun kau ingin memancing rasa haruku, hal tersebut sama sekali tak ada gunanya."

"Apa kau bilang?"

Cu Bong berteriak parau.

"apa yang barusan kau katakan?"

"Aku tak lebih hanya berharap kau mengerti, meskipun rumah tanggaku telah berantakan sekarang, aku tak akan secara sengaja memenuhi keinginanmu, sengaja membiarkan aku terbunuh di tanganmu, agar kau bisa menggunakan batok kepalaku untuk menegakkan kembali pamormu dan membangun kembali Hiong-say-tong."

Nada suara Suma Cau-kun telah berubah menjadi amat parau.

"Bila kau menghendaki batok kepalaku yang menempel di atas tengkukku ini, kau mesti keluarkan dulu semua kepandaian silat yang kau miliki."

"Kentut anjing ibumu yang bau!"

Cu Bong berteriak marah.

"siapa yang sudi menerima kebaikanmu untuk melepaskan aku? Sebetulnya locu masih menganggap kau sebagai manusia, siapa tahu yang kau lepaskan semua justru hanya kentut, kentut anjing bau!"

"Bagus, umpatan yang amat bagus!"

Suma Cau-kun mendongakkan kepalanya sambil tertawa tergelak.

"bila kau memang bernyali, ayo majulah kemari!"

Sebetulnya Cu Bong telah bersiap-siap akan menerkam ke muka, tiba-tiba saja dia menghentikan langkahnya, amarah yang semula meledak-ledak, tiba-tiba saja mereda kembali, kemudian dengan suatu mimik muka yang aneh, dia mengawasi Suma Cau-kun, seakan-akan baru pertama kali ini dia melihat manusia seperti itu.

"Hei, mengapa kau tak berani kemari?"

Kembali Suma Cau-kun menantang.

"apakah kau hanya bernyali bila sedang menghadapi saudara-saudaramu sendiri? Apakah si Singa Jantan Cu Bong tak lebih cuma manusia jadah seperti ini?"

Tiba-tiba Cu Bong ikut tertawa, ia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

"Bagus, suatu umpatan yang amat bagus, umpatan yang maknanya bagus!"

Gelak tertawanya makin menjadi-jadi.

"hanya sayang sekali, perbuatanmu seperti itu sesungguhnya tidak berguna sama sekali."

"Apa yang kau katakan?"

Suma Cau-kun masih saja tertawa dingin.

"kentut busuk macam apa yang sedang kau lepaskan sekarang?"

Kali ini bukan saja Cu Bong tidak mengumbar amarahnya, dia malahan menghela napas panjang.

"Suma Cau-kun, kau memang seorang Ho-han, seorang lelaki sejati. Dalam sejarah hidupku, aku Cu Bong belum pernah tunduk kepada orang lain, tapi sekarang aku sudah mulai agak kagum kepadamu, tapi bila kau beranggapan aku Cu Bong tak lebih cuma manusia kasar yang tak tahu diri, anggapan tersebut jelas keliru besar, maksud hatimu sudah cukup kupahami."

"Apa yang telah kau pahami?"

"Kau tak perlu memanasi hatiku untuk membunuhmu, kaupun tak usah mempergunakan cara seperti ini untuk mengobarkan hawa amarahku,"

Ucap Cu Bong.

"walaupun aku sudah runtuh bahkan gara-gara seorang wanita menjadi kehilangan sukma dan semangat, seperti baru kehilangan ibu......"

Mendadak ia menepuk dada keras-keras, kemudian melanjutkan.

"Tapi asal aku Cu Bong masih bisa bernapas, aku pasti akan berjuang sampai titik darah penghabisan, kau tak perlu memanasi hatiku, sebab tanpa cara tersebut pun aku tetap akan bertarung sampai titik darah penghabisan......"

"Oya?"

"Batok kepala yang menempel di atas leher, aku Cu Bong pun tak bakal kuserahkan dengan begitu saja kepada orang lain, akupun tak bakal membantu untuk memenuhi keinginanmu,"

Suara Cu Bong bertambah keras dan lantang.

"tapi aku pun tak sudi menerima kemurahan hatimu yang berusaha memenuhi keinginanku."

Dengan sepasang matanya yang melotot besar, dia awasi Suma Cau-kun lekat-lekat, kemudian lanjutnya.

"Dalam pertarungan yang berlangsung hari ini, soal mati hidup, menang kalah sudah bukan suatu persoalan yang berpengaruh besar bagi kita, pada hakekatnya, persoalan semacam itu tak pernah kupikirkan dalam hati, tapi bila kau bermaksud untuk memenuhi keinginanku itu...."

Tiba-tiba suara Cu Bong berubah semakin garang dan mengerikan hati.

"Asal kau mempunyai setitik keinginan seperti ini saja, maka kau Suma Cau-kun bukan manusia yang dilahirkan oleh bapak ibumu, kau adalah anak jadah yang dilahirkan seekor anjing budukan. Asal kau mengalah satu jurus saja, aku segera akan mampus di hadapanmu, biar jadi setanpun tak bakal mengampunimu."

Suma Cau-kun memandangnya lekat-lekat, memandang sepasang matanya yang bulat besar penuh garis-garis darah, memandang manusia yang meskipun menjadi kurus tinggal kulit pembungkus tulang namun masih tetap memiliki semangat jantan bagaikan singa.

Lewat lama, lama kemudian baru dia berkata.

"Baik, kukabulkan permintaanmu itu. Bagaimanapun juga, hari ini kita boleh melangsungkan duel secara jantan, secara bebas dengan sepenuh tenaga."

Cu Bong juga sedang memandang ke arahnya, memandang seorang lambang pendekar besar yang dulu pernah dipuja-puja dan disanjung-sanjung, tapi kini terperosok dalam lumpur kenistaan.

Tiba-tiba saja ia mendongakkan kepalanya dan menghela napas panjang.

"Di dalam kehidupan kita kali ini, kita sudah ditakdirkan menjadi musuh bebuyutan, moga-moga saja dalam penitisan mendatang, kita bisa ditakdirkan menjadi sahabat karib, terlepas siapa yang menang siapa yang kalah, siapa yang hidup siapa yang mati di dalam pertarungan hari ini."

Ooo)O(ooo Angin berhembus makin kencang, udara semakin terasa dingin.

Bukit nun jauh di sana telah dingin, pusara di atas bumi telah dingin, manusiapun berada di tengah hembusan angin dingin, tapi dalam dada mereka, justru membara darah yang panas mendidih.

Darah panas yang selalu mendidih ini, selamanya dan selalu tak pernah menjadi dingin.

Karena dalam dunia ini masih terdapat sementara orang yang di dalam dadanya justru mengalir darah panas yang selamanya tak pernah dingin, oleh sebab itu hati merekapun selalu tak pernah gentar, karena kita harus tahu, selama dalam dada manusia masih mengalir darah yang mendidih, keadilan dan kebenaran selalu dipertahankan.

Hal ini perlu ditegaskan, karena inilah semangat dari suatu kesetiaan kawan.

ooo)O(ooo Senja sudah semakin kelam.

Dalam remang-remangnya suasana, Suma Cau-kun dan Cu Bong berdua telah berubah menjadi dua sosok bayangan manusia yang samar-samar.

Namun dalam pandangan mata kaum lelaki perkasa yang mengalir darah panas dalam dadanya, ke dua sosok bayangan manusia yang samar itu justru jauh lebih tegas dan agung daripada bentuk badan manusia manapun di dunia ini.

Sebab yang mereka perebutkan kini bukan mati hidup, kalah menang atau kehormatan dan kenistaan.

Mereka telah mengesampingkan soal mati hidup, soal kehormatan ataupun kenistaan, mereka tak lebih hanya ingin melakukan suatu pekerjaan yang mereka anggap harus dilakukan oleh mereka.

Sebab memang demikianlah prinsip hidup mereka sebagai manusia di dunia ini.

Kepala boleh putus, darah boleh mengalir, kebahagiaan hidup, kebesaran nama boleh hancur lebur, tapi prinsip hidup harus tetap dipegang teguh.

Jilid ke-12 Dengan perbuatan mereka ini, adakah manusia yang menganggap mereka itu kelewat tolol?

Kalau ada orang yang menganggap mereka kelewat tolol, lalu termasuk manusia macam apakah mereka itu?

Cu Bong masih berdiri dengan wajah serius, Suma Cau-kun juga berdiri dihadapannya dengan wajah serius, mati hidup mereka akan segera ditentukan dalam detik itu.

Anehnya, perasaan yang berkobar di dalam dada mereka berdua sekarang bukan dendam kesumat lagi, melainkan dorongan hawa darah yang membara.

Tiba-tiba Cu Bong bertanya.

"Dalam dasa warsa terakhir ini, tiada pertarungan yang tidak kau menangkan, selama hidup belum pernah bertemu dengan lawan tandingan, apakah selama ini kau hanya mengandalkan sebilah pedang baja yang besar?"

"Benar!"

"Mana pedangmu sekarang?"

"Biarpun pedangnya tak ada, tapi aku, orangnya ada di sini,"

Jawab Suma Cau-kun.

"yang kau ajak bertarung toh bukan pedangku, melainkan orangnya, oleh sebab itu asal orangnya ada di sini, hal ini sudah lebih dari cukup."

"Bukankah kau datang kemari hendak berduel denganku serta menentukan mati hidup, menang kalah denganku? Mengapa tidak kau bawa serta pedangmu?"

"Sebab dengan tangan kosongpun aku sama saja, mampu membunuh singa jantan."

Pelan-pelan Cu Bong mengenakkan kembali ikat pinggangnya, dan kini diapun hanya bertangan telanjang saja.

"Sekalipun sepanjang hidupku aku Cu Bong malang melintang dalam dunia persilatan, budi dan dendam kupisahkan secara tegas dan entah berapa banyak manusia yang tak bisa dipercaya, tidak setia kawan, tidak berperasaan dan tidak tahu malu yang sudah tewas di ujung golokku, biasanya aku selalu membunuh orang dengan mempergunakan sebilah golok biasa."

"Mana golokmu?"

"Golokku ada di sini."

Dia mengulurkan tangannya ke muka, segera muncul seseorang yang menyodorkan sebilah golok besar ke tangannya.

"Golok bagus!"

Suma Cau-kun berteriak keras.

"hanya golok semacam ini yang cocok untuk membunuh manusia."

"Ya, golok ini memang sebilah golok bagus yang cocok untuk membunuh orang,"

Kata Cu Bong sambil membelai mata goloknya.

"tapi orang yang kubunuh dengan golok ini selamanya cuma manusia-manusia rendah bangsa kurcaci, bukan enghiong atau orang gagah."

Sekarang golok itu masih berada di tangannya.

Dengan tangan kiri menggenggam gagang golok, tangan kanan memegang mata golok, tiba-tiba saja.......

'Kraaakkk......' golok itu meski masih berada dalam genggamannya, namun telah patah menjadi dua bagian.

Kutungan golok berubah menjadi pelangi terbang, terbang menuju kegelapan senja yang kian lama kian bertambah gelap, terbang lenyap dari pemandangan.

Biarpun suara dari Cu Bong bertambah parau, pada hakekatnya hampir tak menjadi suara, namun semangat serta kegagahannya masih tetap utuh seperti sediakala.

Ia berkata.

"Jika Suma Cau-kun sanggup bertarung melawan seekor singa jantan dengan tangan kosong, mengapa tidak dengan aku, Cu Bong?"

Ia mengepal sepasang tinjunya kencang-kencang, tinju itu sekeras baja, sebaliknya sepasang kepalan Suma Cau-kun jauh lebih tajam daripada golok.

"Kau datang dari jauh, kau adalah tamu,"

Kata Suma Cau-kun.

"aku tidak bermaksud mengalah kepadamu, tapi kau sudah sepantasnya turun tangan lebih dulu."

"Baik!"

Ooo)O(ooo Ketika mendengar Cu Bong mengucapkan kata 'baik', Mang-gou tahu dirinya sudah hampir berakhir.

'Mang-gou' si Kerbau Baja adalah manusia, dia adalah seorang lelaki sejati.

Tapi ada kalanya dia memang mirip seekor kerbau, watak seperti kerbau, keras kepala seperti kerbau, bahkan jauh lebih liar daripada kerbau liar, lebih buas daripada kerbau buas.

Tubuhnya yang kekar dan sekeras baja, pada hakekatnya menyerupai seekor kerbau baja.

Sayangnya hati atau perasaan si Kerbau Baja ini justeru terbuat dari kaca yang tipis, tak dapat disentuh barang sedikitpun jua, karena begitu disentuh, dia akan hancur dan pecah.

Oleh sebab itu, selama ini dia duduk paling jauh dari arena.

Orang lain telah berdiri semua, tapi ia masih tetap duduk, sebab ia kuatir dirinya tak tahan.

Ada banyak persoalan yang memang tak sanggup ditahan olehnya.

Yang paling tak bisa ditahan olehnya adalah menjumpai manusia-manusia kurcaci yang suka menjual teman, bila bertemu dengan manusia seperti ini, setiap saat ia bersedia mempertaruhkan selembar jiwanya untuk beradu jiwa dengannya.

Diapun paling tak tahan bila bertemu dengan orang yang kelewat setia kawan, sebab bila bertemu dengan manusia seperti ini, diapun setiap saat bersedia mengorbankan selembar jiwanya untuk dijual kepadanya, dijual tanpa syarat dan tak pernah akan disesalkan.

Oleh sebab itu, begitu ia melihat Cu Bong mengatakan 'baik', begitu melihat tinju Cu Bong disodokkan ke muka, ia sadar dirinya sudah hampir habis.

Seperti juga ketika si Sepatu Paku melihat Cu Bong telah berdiri di samping Siau-ko, kecuali mati, dia sudah tidak memiliki jalan ke dua lagi.

Dia hanya berharap sebelum ajalnya tiba, ia dapat menyaksikan Cu Bong merobohkan Suma Cau-kun.

Dia hanya berharap sebelum ajalnya tiba, ia dapat turut bersama Cu Bong pergi ke Toa Piau-kiok dan beradu jiwa dengan Cho Tang-lay.

Asal salah satu saja di antara kedua hal ini bisa jadi terpenuhi, biar Thian bersikap lebih kejam terhadapnyapun, dia akan mati dengan rela.

Dari dulu sampai sekarang, belum pernah ada yang lolos dari kematian, dan sekarang ia telah bersiap-siap untuk mati, rasanya permintaan yang diajukan olehnya tidak terhitung berlebihan.

Sayang sekali, justru Thian tidak bersedia memenuhi keinginannya itu.

Di saat ia sedang menyaksikan Cu Bong seakan-akan telah memperoleh kembali kegagahannya seperti masa lalu, di saat kepalan bajanya di ayun kian kemari melancarkan serangan, tiba-tiba meluncur datang seutas tali serta berwarna hitam yang lembut dan lunak dari belakang.

Tali itu langsung menjirat lehernya kencang-kencang.....

Mang-gou ingin meronta, ingin berteriak-teriak, tapi sayang keadaan sudah terlambat.

Tali itu sudah menjeratnya lehernya kencang-kencang dan menghancurkan tulang lehernya.

Dia hanya merasakan seluruh kekuatan badannya lenyap secara tiba-tiba, kulit badannya tiba-tiba mengendor dan semua cairan yang berada dalam tubuhnya mengalir keluar.

Sementara itu, Cu Bong dan Suma Cau-kun masih melangsungkan pertarungan dengan gencar, orang-orang yang lainpun sedang memusatkan seluruh perhatiannya untuk menyaksikan jalannya pertarungan mereka, tak seorangpun manusia tahu kalau dia telah tewas, juga tiada orang yang berpaling untuk memandang sekejap ke arahnya.

Maka dalam keadaan begitulah seorang lelaki sejati seperti kerbau baja, meninggalkan dunia yang fana ini dengan tenang.

Kematiannya memang jauh lebih mengenaskan daripada kematian si Sepatu Paku.

Pertarungan antara dua orang jago lihay seringkali hanya merupakan urusan satu gebrakan saja, menang kalah, mati hidup pun seringkali ditentukan dalam sekejap mata.

Namun pertarungan antara Suma Cau-kun dengan Cu Bong kali ini justru sama sekali berbeda.

Pertarungan ini mereka langsungkan secara ngotot, payah dan luar biasa.

Mereka sama-sama kelelahan, bukan cuma perasaannya hancur, tenagapun telah punah.

Jurus-jurus serangan yang pada mulanya bisa merenggut jiwa orang, dalam waktu singkat kini sudah tak mampu menunjukkan kehebatannya lagi seperti semula.

Ada kalanya sebuah pukulan dari Suma Cau-kun jelas akan berhasil merobohkan Cu Bong, namun setelah serangannya dilontarkan, tenaga serta sasarannya meleset dua bagian.

Begitu pula keadaan yang dialami Cu Bong ketika itu.

Melihat dua orang jagoan tangguh yang namanya pernah menggetarkan seluruh dunia persilatan ternyata bertarung seperti dua ekor binatang liar yang saling cakar mencakar, sesungguhnya peristiwa semacam ini memang patut disedihkan.

Anehnya, saudara-saudara sehidup semati dari Cu Bong sama sekali tidak memperlihatkan reaksi apapun.

Ada kalanya Cu Bong kena ditonjok sampai roboh, tapi dia segera merangkak bangun dan bertarung kembali.

Anehnya, saudara-saudaranya tetap tidak juga memberikan reaksi, seolah-olah mereka tidak terpengaruh lagi oleh keadaan tersebut.

Mereka semua pernah dirobohkan lawan, asalkan mereka sanggup berdiri kembali setelah roboh, jadi rasanya dirobohkan juga bukan terhitung sesuatu yang luar biasa.

Namun sewaktu Suma Cau-kun roboh terjungkal kali ini, tiba-tiba matanya memancarkan sinar ngeri dan ketakutan yang tak terlukiskan dengan kata-kata.

Mendadak ia bergelinding di atas tanah lalu memeluk Cu Bong erat-erat.

Padahal jurus serangan seperti ini bukan termasuk jurus serangan yang sudi dipergunakan oleh kaum eng-hiong ho-han.

Sepanjang sejarah hidupnya malang melintang dalam dunia persilatan, belum pernah Suma Cau-kun mempergunakan jurus serangan seperti itu bahkan Cu Bong sendiripun tak pernah menyangka dia akan mempergunakannya.

Oleh sebab itu begitu diseret tubuh mereka berdua segera berguling di atas tanah.

Kontan saja api amarah Cu Bong berkobar.

"Duuuukkk......!"

Ia meninju punggung Suma Cau-kun keras-keras. Tapi Suma Cau-kun masih memeluknya kencang-kencang, hanya kali ini dia berbisik di sisi telinga Cu Bong dengan semacam suara yang sangat aneh.

"Kemungkinan besar saudara-saudaramu telah tewas semua, tapi kita harus berlagak seolah-olah tidak tahu."

Cu Bong amat terkejut, dia ingin sekali bertanya.

"Mengapa?"

Namun ia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun, sebab mulutnya telah ditutup oleh Suma Cau-kun. Kemudian ia mendengar Suma Cau-kun kembali berbisik.

"Kita harus melanjutkan pertarungan ini, agar orang lain mengira kita sudah hampir luka parah bersama serta mendekati ajal........"

Cu Bong bukan termasuk seorang lelaki kasar yang berotak bebal dan bodoh.

Diapun termasuk jago kawakan di dalam dunia persilatan.

Dalam waktu yang amat singkat itulah dia telah mengetahui kalau situasi telah mengalami perubahan besar.

Sekalipun saudara-saudaranya masih tetap berada di situ, namun tengkuk mereka sama-sama terkulai lemas ke bawah.

Di samping itu, dia pun dapat mengendus bau busuk yang bisa memuntahkan siapapun yang menciumnya.

Agaknya sementara mereka sedang melangsungkan pertarungan sengit, ada orang yang tanpa mengeluarkan sedikit suarapun mematahkan tulang leher dari saudara-saudaranya.

Padahal saudara-saudaranya termasuk orang-orang yang berpengalaman dalam ratusan kali pertarungan besar maupun kecil.

Mengapa mereka bisa tewas dengan begitu mudah di tangan orang lain?

Cu Bong tidak percaya, tapi sayang sekali, biar dia tak percaya pun sekarang harus mempercayainya.

Walaupun demikian, sekujur badannya telah menjadi dingin karena basah oleh peluh.

Mempergunakan kesempatan itu Suma Cau-kun segera membalikkan badannya dan menindih di atas tubuhnya, sementara tinjunya diayunkan berulang kali menghajar iga serta tulang badannya.

Namun pukulan tersebut tidak kelewat berat, suaranya kedengaran amat pelan.

"Terlepas kita masih terhitung musuh atau sahabat, kali ini kau harus menuruti perkataanku, kalau tidak, kita bisa mati tak meram,"

Demikian dia berbisik.

"Apa yang harus kulakukan sekarang?"

"Kita pergi bersama-sama. Ketika aku mengatakan berangkat nanti, kita melompat bersama dan pergi bersama."

Mendadak kedengaran ada orang tertawa tergelak. Sesudah itu dengan suara yang kebanci-bancian, dia berseru.

"Suma Cau-kun kecil memang terhitung masih agak pintar, sayang sekali hal itu tak ada gunanya bagi Cu Bong."

Kemudian setelah tertawa seram, orang itu melanjutkan.

"Di dunia saat ini hanya ada Cu Bong yang bersedia dipenggal kepalanya, tidak pernah ada Cu Bong yang melarikan diri terbirit-birit."

Mendadak Suma Cau-kun melompat bangun, lalu membentak nyaring.

"Berangkat!"

Ooo)O(ooo Malam itu sangat dingin lagi gelap gulita, sekalipun seseorang pernah mendapat latihan yang ketat untuk berlatih ilmu melihat dalam kegelapan pun sukar rasanya untuk memperhatikan pepohonan ataupun batu karang yang berada diseputarnya, sudah barang tentu mustahil bisa menentukan arah mata angin.

Apalagi di tempat tersebut memang sama sekali tak ada jalan.

Bila seseorang telah berjalan ke tempat yang tiada jalannya, seringkali orang itu dikatakan sudah berada di tempat yang buntu.

Suma Cau-kun masih tersengal-sengal, walaupun paru-parunya terasa hampir meledak, namun dia masih berusaha keras untuk mengendalikan suara dengusan napasnya yang terengah-engah.

Setiap tulang belakang, setiap potong daging tubuhnya, seakan-akan sudah dipaparkan di meja tukang babi, seperti sudah disayat-sayat dengan pisau kecil.

Keadaan Cu Bong waktu itu tidak lebih baik daripada dirinya.

Mereka berdua berdiri bahu menempel bahu, berdiri di tengah kegelapan yang mencengkeram sambil tiada hentinya terengah-engah.

Walaupun mereka sudah tidak mendengar suara langkah kaki dan suara busur dari pemburu, namun mereka dapat merasakan kepedihan dan kesedihan seekor binatang terluka yang sedang dikejar-kejar oleh sang pemburu.

"Tahukah kau, siapakah orang tadi?"

"Aku tahu!"

Jawab Suma Cau-kun.

"mereka yang datang bukan hanya seorang saja, di antara mereka, salah seorang saja mungkin sudah cukup untuk menghadapi kita berdua."

Cu Bong tertawa dingin.

"Sungguh tak kusangka, Suma Cau-kun yang tiada keduanya di kolong langit bisa juga mengutarakan kata-kata yang begitu tak bersemangat."

"Aku bukan patah semangat, apa yang kuucapkan merupakan kenyataan."

Cu Bong termenung, lewat lama sekali dia baru berkata dengan wajah sedih.

"Ya, perkataanmu tadi memang merupakan kenyataan."

Nada suaranya penuh sedu-sedan, terusnya.

"Suma Cau-kun yang sekarang sudah bukan Suma Cau-kun yang dulu lagi, Cu Bong yang sekarang pun sudah bukan Cu Bong yang dulu, kalau tidak bagaimana mungkin kita bisa dikejar-kejar orang macam anjing liar yang kehabisan jalan?"

"Aku memahami maksudmu, sebenarnya kau lebih suka mati daripada melarikan diri, sebab di kolong langit hanya ada Cu Bong yang dipenggal kepalanya, tak pernah ada Cu Bong yang melarikan diri,"

Kata Suma Cau-kun.

"tapi mengapa kau harus menyerahkan batok kepalamu yang besar itu untuk seorang manusia rendah yang munafik hina dan tak tahu malu? Mengapa kita harus menyerahkan batok kepala kita untuk mereka tukar dengan nama besar, pahala dan kesenangan?"

"Akupun memahami maksudmu,"

Ucap Cu Bong keras.

"sekalipun kita hendak menghadiahkan batok kepala kita ini untuk orang lain, kita harus memilih sendiri orang yang pantas kita hargai, kita tak bisa menghadiahkan kepala kita untuk Cho Tang-lay."

Tiba-tiba dari balik kegelapan kedengaran ada orang sedang bertepuk tangan.

"Perkataanmu memang tepat, ucapan yang tepat sekali."

Lagi-lagi si manusia bersuara kebanci-bancian tadi. Sambil tertawa seram dia berkata lebih jauh.

"Dua butir batok kepala yang begitu baik mengapa harus dihadiahkan kepada Cho Tang-lay si telur busuk itu? Aku rasa lebih baik kalian hadiahkan kepadaku saja."

Gelak suaranya makin lama semakin mendekat, sebentar di sebelah kiri, sebentar lagi di sebelah kanan, membuat orang pada hakekatnya tidak bisa menentukan di manakah orang itu sebenarnya.

Seluruh badan Cu Bong mulai menjadi kaku.

Orang itu memang bukan Cho Tang-lay, tapi dia lebih menakutkan daripada Cho Tang-lay.

Sepanjang hidupnya belum pernah Cu Bong menjumpai orang yang memiliki ilmu meringankan tubuh sedemikian menakutkannya.

Pada hakekatnya dia hampir tidak percaya kalau di dunia ini ternyata masih terdapat orang yang berhasil melatih ilmu meringankan tubuhnya sedemikian hebat.

Tapi dengan cepat dia dapat memulihkan kembali ketenangannya, sebab dia telah mendengar suara Suma Cau-kun sedang berbisik di sisi telinganya.

"Yang berbicara bukan hanya seorang, mereka adalah dua saudara kembar, asal kita masih dapat menahan diri, mereka pun tak akan berani bertindak secara sembarangan, oleh sebab itu kita tak boleh membiarkan dia mengetahui keadaan kita yang sebenarnya."

Pada saat itulah wajah mereka berdua disoroti terang benderang secara tiba-tiba, setiap kerutan dan setiap mulut luka yang berada di atas wajah mereka tersorot dengan jelas sekali.

Paling tidak terdapat tiga puluh buah lentera Khong Beng dan tiga puluh buah cahaya lentera yang amat tajam memancar datang dari empat arah delapan penjuru serta menyoroti tubuh mereka.

Dalam detik itu juga tubuh mereka telah berdiri tegak, paras muka mereka pun sama sekali tidak berperasaan.

Walaupun mereka belum sempat melihat dengan jelas dimanakah lawan berada, namun merekapun tidak membiarkan lawan melihat kelelahan, kepedihan serta luka yang mereka derita.

Mereka berdua sama-sama sudah berpengalaman dalam ratusan kali pertempuran besar maupun kecil, mereka telah terwujud sebagai manusia baja dan manusia yang tak sudi tunduk kepada nasib.

Siapapun yang ingin merenggut batok kepalanya, hal ini tak akan bisa dilakukan dengan mudah.

ooo)O(ooo Walaupun cahaya lentera terang benderang, suasana gelap di kejauhan sana masih tetap gelap gulita.

Tiba-tiba Suma Cau-kun tertawa.

"Kongsun Kongsun, baik-baikkah kalian selama ini?"

Dia menyapa sambil tersenyum.

"selama ini aku selalu mengerti, kalian adalah manusia yang sangat tahu tentang baik-buruknya manusia, bila aku memenuhi keinginanmu, mewujudkan ambisi kalian, kalian pasti akan mengubur pula jenasah kami yang tak berkepala ini secara baik-baik, setiap musim semi dan gugur, kau tentu akan berziarah di depan kuburan kami sambil mempersembahkan arak wangi dan bunga."

Sekali lagi terdengar suara tepuk tangan riuh dan gelak tertawa dari kegelapan.

"Perkataanmu itu memang sangat tepat, perkataan yang tepat sekali."

Kali ini suara tertawa itu berkumandang dari sebelah kiri dan kanan, kemudian terlihat dua orang muncul dari kiri kanan di balik kegelapan menuju ke tempat yang disoroti cahaya lampu.

Ke dua orang itu nampaknya seperti dua orang manusia yang berbeda satu dengan lainnya.

Yang seorang mengenakan kopiah mutiara, berikat pinggang kemala, menyoren pedang dan berdandan sebagai seorang kongcu kaya raya, bahkan di atas pedangnyapun ditaburi batu mulia yang mahal harganya.

Sebaliknya yang seorang lagi justru berdandan seperti pengemis, pakaiannya compang-camping, kakinya pengkor dan membawa sebuah tongkat kayu.

Tapi jika kau perhatikan dengan seksama, baik perawakan maupun potongan wajah ke dua orang ini ternyata persis satu sama lainnya.

Nama mereka Kongsun, mereka adalah saudara kembar.

Tiba-tiba Cu Bong teringat kembali akan kedua orang ini, sebetulnya dia selalu beranggapan kedua orang ini sama sekali tiada hubungan dengannya.

Orang pertama adalah Hok-kui-kongcu (Kongcu kaya raya) Kongsun Po-kiam yang menguasai tujuh puluh dua benteng di Kwang-tong dan hidup dalam kemewahan bagaikan seorang raja muda.

Orang kedua adalah Kongsun Kay-ji, seorang pengemis yang luntang-lantung di kolong langit, makan tak teratur, tidur tak nyenyak sampai ketua Kay-pang pun enggan menerimanya.

Tiada orang yang tahu bahwa mereka adalah bersaudara, apalagi mereka adalah saudara kembar.

Jikalau mereka berdua memang saudara kembar, mengapa yang satu hidup dalam kemewahan sedang yang lain justru menjadi pengemis yang melarat?

Cu Bong belum berhasil memecahkan teka-teki tersebut, tapi ia segera teringat dua orang lain.

Tiba-tiba saja dia teringat akan Suma Cau-kun serta Cho Tang-lay.

Mengapa Cho Tang-lay melambangkan Suma Cau-kun di depan masyarakat, sehingga dianggap sebagai lambang seorang pendekar sejati?

Alasan dibalik masalah itu ruwet tapi sederhana, meski sederhana justru sangat rumit, bukan saja Cu Bong tak dapat memahaminya, orang lainpun sama saja tak bakal paham.

Tapi Cu Bong toh berhasil juga memahami akan satu hal.

Andaikata Suma Cau-kun tidak tahu kalau mereka adalah saudara kembar, dia pasti akan mengira Kongsun Po-kiam sebagai orang yang memiliki ilmu meringankan tubuh paling hebat di dunia ini.

Setelah mendengar suara tertawanya yang mengerikan seperti setan, dia pasti akan dibuat ketakutan setengah mati, persis seperti keadaan yang dialami Cu Bong tadi.

Sekarang Cu Bong pun mulai paham, hal tersebut tak lebih hanya semacam tabir asap.

Padahal tabir asap tersebut hanya palsu kosong, dalam sekejap mata bisa berubah menjadi kosong dan punah, punah dan sama sekali tiada.

Persoalan ini bukan saja tak pernah akan diketahui Cu Bong, keadaan yang dihadapi sekarang tidak memberi kesempatan kepadanya untuk memikirkan persoalan-persoalan seperti itu.

Ia dengar Suma Cau-kun sedang berbincang-bincang dengan Kongsun bersaudara.

"Sesungguhnya aku sudah lama menduga kalian berdua bakal datang kemari,"

Kata Suma Cau-kun masih tersenyum.

"semenjak banyak tahun berselang, kalian berdua sudah ingin mengusirku dari dalam Toa Piau-kiok, hanya selama itu kalian belum yakin pasti akan berhasil, tentu saja kalian berdua tak akan melakukan pekerjaan yang tidak meyakinkan, itulah sebabnya kalian berdua menunggu sampai hari ini."

Setelah menghela napas panjang, dia melanjutkan.

"Tapi aku benar-benar tidak menyangka, secepat ini kalian berdua sudah tiba di sini."

"Kau sudah seharusnya dapat menduga sampai ke situ,"

Kata Kongsun Po-kiam.

"kesempatan yang begitu bagus seperti hari ini telah lama sekali kunantikan."

"Darimana kau bisa tahu kalau kesempatan bagus telah tiba?"

"Tentu saja aku tahu."

"Sejak kapan kau tahu akan hal ini?"

Ucap Suma Cau-kun.

"aku tahu dalam istal kudamu memang terdapat seekor kuda jempolan yang sehari bisa menempuh perjalanan sejauh ribuan li, tapi paling cepat kau juga butuh waktu selama empat sampai lima hari untuk bisa sampai di sini."

Kemudian dia mengangkat kepalanya memandang Kongsun Po-kiam, setelah itu tanyanya lagi.

"Apakah sejak lima hari berselang kau sudah dapat memperhitungkan secara tepat bahwa kemarin bakal terjadi peristiwa? Apakah sejak lima hari berselang kau sudah menghitung dengan tepat aku bakal bentrok dengan Cho Tang-lay dan berbalik bermusuhan dengannya?"

"Pernahkah kau bayangkan, siapa tahu akupun mempunyai mata-mata di dalam Toa Piau-kiok?"

"Aku pernah membayangkan sampai ke situ, tapi itupun tak ada gunanya."

"Mengapa tak berguna?"

"Sebab lima hari berselang, aku sendiri saja tak pernah menduga bakal menjumpai peristiwa seperti hari ini. Darimana orang lain bisa tahu?"

"Bagaimana dengan Cho Tang-lay."

"Dia sendiripun tak menyangka,"

Nada suara Suma Cau-kun kedengaran agak sedih dan pedih.

"sampai sesaat sebelum terjadinya perselisihan, ia masih belum percaya kalau aku benar-benar akan berselisih dengannya."

"Oya?"

"Sekalipun ia dapat menduga waktu itu, tak mungkin akan memberitahukan kepadamu."

"Oya?"

"Aku sudah mempunyai hubungan persahabatan selama puluhan tahun dengannya, sekalipun persahabatan itu hancur dalam sedetik, tapi aku yakin tiada orang kedua di dunia ini yang memahami dia jauh melebihi diriku,"

Kata Suma Cau-kun.

"sekalipun dia hendak mengkhianatiku, tak mungkin dia akan menjualnya kepadamu....."

"Kenapa?"

"Sebab kau masih belum pantas!"

Jawaban Suma Cau-kun sangat hambar.

"dalam pandangan Cho Tang-lay, kalian dua bersaudara digabungkan menjadi satupun masih tak ada nilainya."

Setelah menghela napas panjang, dia berkata lebih jauh.

"Oleh sebab itu, aku betul-betul tidak mengerti kenapa kau bisa sampai di sini hari ini? Kecuali kau memang benar-benar memiliki kepandaian untuk meramalkan kejadian-kejadian di masa mendatang......."

Tiba-tiba Kongsun Kay-ji turut menghela napas.

"Walaupun aku tidak memiliki kepandaian untuk meramalkan kejadian yang akan datang, tapi aku bisa menduga sampai ke situ."

Kongsun Po-kiam segera bertanya kepada saudaranya.

"Kau telah menduganya? Apa yang telah kau duga?"

"Tiba-tiba akupun teringat bahwa kau memang seharusnya mengikuti jejakku, lebih banyak bergerak dalam dunia persilatan."

"Mengapa?"

"Sebab bila kaupun sama liciknya seperti aku, maka kau akan segera memahami maksud perkataannya."

"Apa maksud perkataannya?"

"Maksud perkataannya tak lebih hanya minta kepada kita untuk lebih lama menemaninya berbincang-bincang, menemaninya bercakap-cakap....."

Kata Kongsun Kay-ji.

"sebab nyalinya sekarang sudah pecah, semangatnya sudah luntur dan tenaganya sudah habis, dia justru hendak mempergunakan kesempatan di saat kita menemaninya berbincang-bincang, secara diam-diam hawa murninya dipulihkan kembali, dengan begitu bila kita sudah mulai turun tangan nanti, bisa jadi ia masih mampu untuk menahan beberapa jurus serangan kita berdua......"

Kemudian setelah menggelengkan kepalanya sambil menghela napas, dia melanjutkan.

"Sebelum tiba di sungai Huang-ho, api tak pernah padam, sebelum melihat peti mati, air mata tak akan mengalir, agaknya sebelum kita sungguh-sungguh membacok batok kepalanya, Suma Cau-kun kita yang kecil ini benar-benar tidak akan kapok."

Mendadak Suma Cau-kun tertawa, Cu Bong pun juga tertawa, mereka berdua ternyata tertawa tergelak bersama-sama.

"Perkataanmu memang benar, perkataanmu benar sekali!"

Sambil tertawa tergelak, Cu Bong segera menggapai ke arah Kongsun Kay-ji sambil katanya.

"Mari, mari, mari kau cepat kemari, makin cepat memang semakin baik."

"Kau suruh aku ke sana?"

"Oleh karena Cu Toa-tayya sudah tertarik kepada kau si anak jadah cilik yang licik, dan ingin sekali menghadiahkan batok kepala locu kepadamu, maka akan kulihat apakah kau memang berkemampuan untuk mengambilnya sendiri."

"Bagus sekali!"

Sambil tertawa tergelak Suma Cau-kun menepuk-nepuk bahu Cu Bong.

"kalau begitu kuserahkan si anak jadah cilik ini untukmu, sedangkan si anak jadah yang agak gedean, biar buat aku saja."

"Baik! Kita tentukan demikian saja,"

Gelak tertawa Cu Bong semakin keras.

"bila dengan andalkan kemampuan kita berdua saja masih belum mampu menghadapi kedua orang telur busuk ini, lebih baik kita segera memberi tahu untuk ditimpukkan dengan kepala kita."

Mereka berdua segera berdiri berjajar, gelak tertawa bergema memecahkan keheningan, apa itu yang bernama 'hidup', apa pula yang bernama 'mati', semuanya sudah terguling ke samping oleh gelak tertawa mereka itu.

Paras muka Kongsun bersaudara sama sekali tidak berubah.

Memang ada paras muka sementara orang yang selamanya tak pernah akan berubah, wajah mereka selamanya tak pernah akan memperlihatkan mimik wajah baru.

Kebetulan Kongsun bersaudara termasuk manusia jenis ini.

Hanya saja Kongsun Kay-ji kembali menghela napas, sambil menghela napas dia bertanya kepada saudaranya.

"Sudahkah kau dengar perkataan dari saudara ini?"

"Ya, sudah kudengar."

"Siapa sih saudara itu?"

"Agaknya seperti Cu Bong dari Hiong-say-tong."

"Aaaahh, tidak mungkin, tidak mungkin Cu Bong,"

Seru Kongsun Kay-ji cepat.

"Cu Bong dari Hiong-say-tong adalah seorang ho-han yang bisa membedakan antara budi dan dendam secara jelas, selama ini dia merupakan musuh bebuyutan dari Suma Cau-kun si bocah cilik keparat muda dari Toa Piau-kiok, tapi sekarang mengapa mereka berdua bisa berubah jadi orang yang memakai satu celana yang sama?"

Tiba-tiba Cu Bong menggenggam lengan Suma Cau-kun kuat-kuat, lalu bertanya dengan suara dalam.

"Sudah kau dengar perkataan dari pengemis busuk itu?"

"Semuanya telah kudengar dengan sangat jelas."

"Walaupun perkataan dari si pengemis busuk itu rada berbau pengemis, tapi perkataannya justru telah memecahkan keadaan kita pada hari ini,"

Ucap Cu Bong.

"sebetulnya kita adalah musuh bebuyutan, siapa yang bisa menyangka pada hari ini kita justru menjadi sahabat sehidup semati."

"Kita sudah bersahabat?"

"Benar!"

Cu Bong berteriak keras.

"mulai hari ini, semua perselisihan dan permusuhan kita di masa lampau telah dihapuskan sama sekali."

Suma Cau-kun tertawa terbahak-bahak.

"Haaaahh..... haaahhhh..... haaahhh..... bagus, bagus sekali."

"Sehari kita bersahabat, selama hidup kita tetap bersahabat,"

Kata Cu Bong lantang.

"selama hayat masih dikandung badan, bila aku Cu Bong melanggar janji ini, Thian akan menumpas aku."

Suma Cau-kun segera merasakan darah panas mendidih dalam dadanya, kontan dia berseru.

"Kau tak usah kuatir, kita semua tak bakal mati."

Gejolak darah panas ini ibarat segumpal api yang membara, dengan cepat mengobarkan kembali semangat mereka, bahkan sisa kekuatan terakhir yang mereka miliki pun turut terbakar keluar.

Sebab mereka sudah tahu kehidupan mereka di dunia ini sesungguhnya tidak kesepian.

Sebab paling tidak mereka masih mempunyai seorang sahabat, seorang sahabat yang bersedia sehidup semati dengannya.

Bila seseorang telah mendapatkan hal seperti ini di dalam hidupnya, mengapa mereka harus takut mati?

Mereka berdua saling menggenggam tangan lawannya kuat-kuat, terasa gulungan darah panas membawa segumpal kekuatan yang maha sakti mengalir keluar dari dalam dada, sehingga wajah merekapun ikut berubah menjadi bercahaya terang.

Paras muka Kongsun bersaudara justru berubah hebat sekarang.

Kini, Cu Bong dan Suma Cau-kun telah membalikkan badan, berdiri dengan punggung menempel di atas punggung.

"Majulah kalian,"

Seru Suma Cau-kun lantang.

"perduli berapa banyak jumlah kalian, silahkan maju bersama-sama."

Ooo)O(ooo Matahari senja telah tenggelam di langit barat.

Sebetulnya Kongsun bersaudara mengira mereka sudah menjadi ikan dalam jala.

Tapi sekarang, mereka berdua mundur sampai dua langkah tanpa terasa.

Kini mereka baru tahu, sekalipun sang pahlawan sudah berada di jalan buntu, namun semangat kepahlawanan mereka tetap tak boleh dipandang enteng.

Bab-16.

Pahlawan Sejati Hari ini sudah bulan dua tanggal dua puluh tujuh.

Fajar belum menyingsing meski sudah tak jauh lagi, kegelapan malam yang luar biasa masih mencekam tanah pegunungan di luar kota Tiang-an.

Di luar cahaya lentera yang bercahaya terang, tampak dua sosok bayangan manuia munculkan diri.

Seorang membopong alat pie-pa, seorang meniup seruling.

Walaupun tubuh mereka masih samar-samar, suara irama lagu yang sedu-sedan masih mengalun, tapi dapat diketahui mereka adalah si pemusik tua dari rumah makan Tiang-an-kit bersama si nona cilik bermata buta itu.

Mengapa mereka bisa muncul secara tiba-tiba di sana?

Apakah ada orang yang sengaja minta kepada mereka untuk menyanyikan lagu sedih di tempat tersebut?

Ulat sutera telah mati, tapi seratnya tak pernah habis, biar lilin meluber, air mata tak akan mengering.

Darah panas dan semangat tinggi yang semula menghiasi wajah Cu Bong, tiba-tiba saja berubah menjadi serat-serat yang tak menentu.

Karena dia telah melihat lagi seseorang.

Dari balik kegelapan tiba-tiba saja muncul seseorang, dia seperti sukma gentayangan dari kupu-kupu dalam impian, hanya mengenakan pakaian penari yang amat tipis.

Kemudian iapun mulai menari.

"Bertemu bagai tak bertemu. Ada perasaan seperti tanpa perasaan. Di saat nyanyian telah berakhir, mabuk pun jadi mendusin. Rembulan bersinar cerah, suasana pun hening......."

Pakaian penari itu berkibar-kibar seperti kupu-kupu, penarinya juga bagaikan kupu-kupu.

Cu Bong tiak melelehkan air mata, Cu Bong sudah tak berair mata, bahkan darah panaspun seperti sudah mengering.

Dia tahu, penari itu bukan Tiap-wu, tapi tariannya justru membawa dia memasuki alam impian.

Seperti sungguh, bukan sungguh, seperti semu, bukan semu.

Sebetulnya sungguh atau hanya khayalan?

Kalau sungguh bagaimana?

Kalau khayalan bagaimana pula?

Mengapa harus bersikap serius dalam kehidupan yang amat singkat?

Biarkan saja ia pergi, apapun persoalannya, biarkan saja dia pergi......

Dia tahu, bila ada orang hendak membunuhnya pada saat ini, hal tersebut bisa dilakukan dengan mudah, tapi dia tak ambil perduli.

Ia sudah bersiap-siap untuk melepaskan segala sesuatunya.

Tapi Suma Cau-kun tidak membiarkan dia melepaskan dengan begitu saja.

Ketika suara nyanyian masih mengalun, ketika penari masih menari, tiba-tiba Suma Cau-kun menubruk ke muka seperti seekor kucing, dia hendak mencengkeram penari itu dan membunuhnya dengan cepat.....

Penari itu bukan saja tidak menghindar, malah justru maju menyongsong.

Dengan semacam gaya tarian yang indah, dia menyambut ke depan, mula-mula menghindari serangan itu, kemudian membisikkan sesuatu di sisi telinga Suma Cau-kun.

Tiada orang yang mendengar apa yang dikatakan penari itu, tapi setiap orang dapat melihat perubahan dari Suma Cau-kun.

"Tong-tong"

Dia hanya mengucapkan perkataan itu, dua patah kata yang sama sekali tidak mengandung arti apa-apa.

"Tong-tong."

Siapa saja yang mendengar kedua patah kata ini, mereka tak akan menunjukkan reaksi apapun, tapi bagi pendengaran Suma Cau-kun, kedua patah kata ini seperti petir yang tiba-tiba muncul dari tengah udara dan menghantam tubuhnya secara telak.

Dalam waktu singkat dia menghentikan seluruh gerakan tubuhnya, secara mendadak seluruh anggota badannya menjadi kaku, sorot matanya memancarkan sinar ngeri, kaget, tercengang dan seram.

Tanpa terasa selangkah demi selangkah dia mundur terus ke belakang.

"Tong-tong."

Kedua patah kata ini seperti semacam mantera yang amat misterius, dalam waktu yang amat singkat telah merenggut sukma Suma Cau-kun.

Mengapa bisa demikian?

Tak ada yang tahu siapakah penari itu, pun tiada yang tahu darimana datangnya penari itu, tapi dua patah kata yang tak mungkin mengandung sesuatu makna apapun, mengapa bisa merubah Suma Cau-kun menjadi begini rupa?

Tiada orang yang bisa menjelaskan persoalan ini, tapi ada satu hal yang bisa dilihat oleh setiap orang dengan jelas.

Nasib Suma Cau-kun dan Cu Bong sudah hampir berakhir, dalam waktu singkat batok kepala mereka akan ditenteng oleh orang lain.

Si pemusik berambut putih yang buta, meski tak bisa melihat apa-apa, namun di balik nada suara musiknya secara lamat-lamat sudah terdengar hawa nafsu membunuh yang mengerikan.

Tiba-tiba saja seluruh angkasa diliputi hawa nafsu membunuh, termasuk cahaya lentera pun berubah menjadi pucat dan tajam, menyoroti wajah Suma Cau-kun dan Cu Bong yang pucat, juga menyoroti pedang Kongsun Po-kiam yang telah mulai dihunus.

Pedang mestika telah diloloskan dari sarungnya, batok kepalapun segera akan menggelinding ke atas tanah.

Tiba-tiba cahaya lentera yang tajam berkilat.

Di tengah-tengah cahaya lentera mendadak berkelebat pula sekilas cahaya yang jauh lebih tajam.

Cahaya tajam itu berkelebat lewat lalu lenyap, tahu-tahu sebilah pedang telah menembusi dada.

Sebelum pedang di tangan Kongsun Po-kiam lolos semua dari sarung, senjata itu sudah terpantek di atas tanah oleh sebilah pedang lain.

Pedang itu bukan melayang turun secara tiba-tiba dari luar angkasa, tapi seseorang yang melompat sambil melancarkan sebuah tusukan.

Hanya saja orang itu beserta pedangnya datang kelewat cepat, tubuh dan pedangnya seolah-olah telah bersatu padu.

Serangan itu sebetulnya dilancarkan oleh siapa?

Atau orang itu memang memanfaatkan kesempatan tersebut meluncur datang?

Tiada orang yang bisa membedakan, juga tiada orang yang bisa melihat dengan jelas.

Tapi semua orang dapat melihat wajah orang itu dengan jelas sekali.

Dalam sekilas pandangan, orang itu seperti Suma Cau-kun di masa muda dulu, tampan, gagah, jangkung dan berwibawa, pakaiannya berpotongan bagus, berbahan mahal, sorot matanya memancarkan pula sinar kepercayaan pada diri sendiri.

Dalam sekilas pandangan tersebut, hampir tiada orang yang dapat mengenali kalau dia adalah si jago pedang tanpa nama Ko Cian-hui yang dulu terlunta-lunta dalam dunia persilatan.

ooo)O(ooo Irama musik telah berhenti, tarianpun berhenti, si penari berbaring di atas tanah, seolah-olah tak berani mengangkat kepalanya untuk menyaksikan peristiwa berdarah itu.

Siau-ko telah mencabut keluar pedangnya, pedang yang bening bagaikan embun pagi itu tiada noda darah, yang ada hanya noda tetesan air mata.

Dengan pandangan terkejut Kongsun Kay-ji mengawasi orang ini serta pedang tersebut, meskipun tongkat panjang dalam genggamannya telah memperlihatkan posisi menusuk dari tusukan tombak, akan tetapi ia tidak berkeberanian untuk melanjutkan tusukan itu.

Cu Bong dan Suma Cau-kun masih berdiri termangu-mangu di tempat, seakan-akan tidak melihat sesuatu apapun.

Tiba-tiba Kongsun Kay-ji membentak keras.

"Mana pengawal? Apakah kalian semua telah pada mampus? Mengapa belum juga kemari?"

Di luar bayangan sinar, seseorang dengan suara yang sangat lembut menjawab.

"Kali ini perkataanmu tepat sekali, orang-orangmu sudah mampus semua, orang yang membawa lampupun sudah ditukar dengan orang-orangku."

Seorang manusia berbaju perlente, mengenakan mantel bulu binatang dan bergendong tangan pelan-pelan munculkan diri dari balik kegelapan.

Gayanya waktu berjalan amat tenang dan indah, tak seorang manusia pun yang tahu kalau dia adalah seseorang yang cacad kakinya, seorang pincang.

Paras muka Kongsun Kay-ji berubah hebat.

Serunya tanpa sadar.

"Cho Tang-lay, rupanya kau!"

"Ya, aku! Tentu saja aku!"

Pelan-pelan Cho Tang-lay melanjutkan.

"Hanya aku yang bisa menggunakan caramu menghadapi orang lain untuk menghadapi dirimu, bagaimana kau menghabisi nyawa anak buah Cu Bong, dengan cara itu juga anak buahmu pada mampus. Dengan cara apa kau hendak membunuh orang, akupun akan membunuhmu dengan cara yang sama."

Setelah tersenyum, terusnya.

"Kau seharusnya tahu juga, cara kerjaku selama ini selalu adil dan bijaksana."

Tiba-tiba Kongsun Kay-ji melejit ke muka, tongkatnya dengan jurus Wan-hong-si menusuk alis mata Cho Tang-lay.

Ketika tongkat itu menusuk ke depan, tubuhnya justru melompat ke belakang, setelah berjumpalitan di udara dengan gaya burung Manyar membalikkan badan, tahu-tahu ia sudah berada di luar garis cahaya sinar.

Tampaknya dia akan segera lenyap di balik kegelapan sana.

Kecepatannya bereaksi, kemampuannya menghadapi keadaan, boleh dibilang merupakan hasil pengalamannya selama ini untuk memadukan antara kepandaian silat dengan kecerdasan otak.

Sayang sekali, dia toh masih terlambat satu tindak.

Sewaktu badannya berjumpalitan di tengah udara, ia sudah melihat sekilas cahaya pedang yang amat menyilaukan mata meluncur ke arahnya.

Dalam waktu singkat, tahu-tahu sudah berada di depan matanya, begitu menyilaukan mata cahaya pedang tersebut sehingga dia tak mampu membuka matanya.

Menanti ia dapat membuka kembali matanya, cahaya pedang tersebut sudah tidak terlihat lagi, yang terlihat hanya gagang pedang yang seperti tumbuh secara tiba-tiba dari dalam tubuhnya, tumbuh persis di atas dadanya.

Sampai badannya terjatuh ke atas tanah seperti sebutir batu cadas, dia masih mengawasi gagang pedang itu, sorot matanya penuh perasaan kaget, tercengang dan ngeri.

Seakan-akan dia masih belum paham, mengapa secara tiba-tiba dadanya bisa tumbuh sebuah gagang pedang semacam itu.

Tapi dia sudah tahu dimanakah letak mata pedang dari pedang tersebut.

Mata pedang itu sudah amblas semuanya di dalam dadanya.

Begitu pedang meluncur, selembar jiwapun melayang.

"Suatu serangan pedang yang amat cepat, sebuah serangan kilat yang sangat mengagumkan,"

Cho Tang-lay memuji sambil memberi hormat kepada Siau-ko.

"cukup melihat keampuhan dari seranganmu ini, kau sudah cukup mampu untuk memimpin Toa Piau-kiok."

"Memimpin Toa Piau-kiok?"

Tiba-tiba Cu Bong seperti baru mendusin dari impiannya, pelan-pelan dia membalikkan badan dan mengawasi Siau-ko dengan sepasang mata besarnya yang seperti merekah itu.

"Sekarang kau telah memimpin Toa Piau-kiok?"

Dia bertanya lebih jauh. Siau-ko tidak menjawab, dia hanya membungkam dalam seribu bahasa.

"Bagus, bagus sekali.....! Kau memang Ko Cian-hui yang hebat,"

Cu Bong tertawa tergelak.

"sekarang kau memang benar-benar makin lama semakin pandai terbang."

Suara tertawanya amat nyaring dan amat memekikkan telinga.

"Jika kau datang untuk mengambil batok kepalaku ini, silahkan kau mengambilnya dengan segera,"

Gelak tertawa Cu Bong semakin parau.

"sudah sejak lama ingin kuhadiahkan batok kepalaku ini kepada orang, memang lebih baik kuhadiahkan untukmu daripada memberikan kepada orang lain."

Siau-ko tidak tertawa, juga tidak memberikan reaksinya.

Dalam beberapa hari yang amat singkat ini, dia telah melatih diri menjadi seorang manusia sekeras batu karang, bahkan perubahan mimik wajahpun tiada.

"Mengapa kau masih belum juga kemari?"

Cu Bong kembali membentak keras.

"apalagi yang sedang kau nantikan?"

Tiba-tiba ia membalikkan badannya menghadap ke arah Suma Cau-kun, lalu terusnya.

"Tentu saja kau seharusnya lebih tahu bukan, apa yang sedang kunantikan?"

Lewat lama kemudian, pelan-pelan Suma Cau-kun baru mengangkat kepalanya, seolah-olah baru pertama kali melihat orang itu, seakan-akan pula dia telah melupakan semua orang dan persoalan yang pernah dikenal dan dialaminya di masa lalu.

Kembali lewat cukup lama.

Dengan semacam suara yang sangat aneh, Suma Cau-kun baru bertanya kepada Siau-ko.

"Apa yang sedang kau nantikan?"

"Menunggu untuk membereskan dulu sebuah hutang lama antara kau dengan aku."

"Bagus, bagus sekali!"

Di tengah nada suara Suma Cau-kun seolah-olah terkandung suatu kepedihan yang tak terlukiskan dengan kata-kata.

"sekarang memang sudah tiba saatmu untuk menagih hutang kepadaku, orang yang berhutang kepadaku, aku yang berhutang kepada orang, sekarang memang sudah waktunya untuk dibereskan."

"Dengan keadaanmu sekarang, sebetulnya aku tak pantas memaksamu untuk turun tangan,"

Siau-ko berkata dingin.

"tapi sewaktu kau mengalahkan aku tempo hari keadaanku waktu itu juga tidak jauh lebih baik daripada keadaanmu sekarang."

Mendengar ucapan mana ternyata Suma Cau-kun malah tertawa tergelak.

"Sebetulnya aku memang tidak menyalahkan kau, buat apa sih kau mesti banyak berbicara?"

"Tunggu dulu!"

Tiba-tiba Cu Bong membentak keras.

"apakah sekarang kau telah melupakan janji antara kita berdua?"

Suma Cau-kun segera menarik muka.

"Paling baik kau menyingkir sejauh-jauhnya,"

Dia berseru.

"persoalan ini merupakan masalahku dengan Ko Cian-hui, barang siapa ingin mencampurinya, aku hanya akan menghadapinya dengan kematian...."

Cho Tang-lay turut menghela napas.

"Aaaaai..., meskipun sang pahlawan sudah mendekati jalan buntu, bagaimanapun juga pahlawan tetap pahlawan,"

Ia berkata.

"Cu Tongcu, kaupun terhitung seorang pahlawan, kau seharusnya dapat memahami pula jalan pemikirannya. Mengapa kau membiarkan nama besarnya hancur berantakan dengan begitu saja?"

Cho Tang-lay sama sekali tidak memandang ke arah Cu Bong, biar hanya sekejappun, ia malahan berjalan ke muka dan mencabut keluar pedang dari atas dada Kongsun Kay-ji.

Di ujung pedang itu belum juga ditemukan noda darah, yang ada hanya setitik noda tetesan air mata.

Dengan ibu jari dan jari telunjuk dari tangan kirinya Cho Tang-lay menjepit ujung pedang, lalu dia sodorkan gagang pedang itu ke depan Siau-ko.

"Inilah pedang milikmu!"

Ia berkata. Siau-ko sama sekali tidak mengulurkan tangannya untuk menerima pedang tersebut.

"Aku tahu, pedang ini pedangku, tapi akupun tahu, dia tidak berpedang."

"Dia tak punya, tapi kau punya."

Siau-ko segera tertawa.

"Betul! Dia tak punya, aku punya. Keadaanku saat ini agaknya memang seperti demikian."

"Dalam dunia ini, sesungguhnya memang banyak terdapat persoalan yang demikian ini,"

Cho Tang-lay berkata hambar.

"Aku mengerti!"

Kata Siau-ko.

"maksudmu juga telah kupahami semua....."

Akhirnya dia mengulurkan tangannya ke muka.

Tangan itu akhirnya menggenggam juga gagang pedangnya.

Dalam detik itulah senyuman yang semula menghiasai wajahnya tiba-tiba lenyap tak karuan paran, hawa nafsu membunuh mencorong ke luar dari balik matanya, karena pada saat itulah dia telah menusukkan pedangnya ke depan.

Jarak antara ujung pedang dengan dada Cho Tang-lay tidak lebih dari satu depa.

Sebenarnya ujung pedang itu memang sudah di arahkan tepat di atas ulu hati sendiri.

Ternyata dia hanya mempergunakan dua jari tangan untuk menjepit pedang itu dan ternyata pedang itu diserahkan kepada orang lain.

Tiada orang yang dapat membuat kesalahan seperti ini, sebab barang siapa berani membuat kesalahan seperti ini, dia pasti akan tewas di ujung pedang orang lain.

Tidak terkecuali pula dengan diri Cho Tang-lay.

Dalam keadaan seperti ini, pada hakekatnya, dia tidak memiliki kemampuan untuk menghindar ataupun menangkis.

Siau-ko selalu menunggu, menunggu datangnya kesempatan yang sangat baik seperti ini.

Sepasang matanya mengawasi terus wajah Cho Tang-lay, karena setiap pekerjaan yang harus dilakukan olehnya tak lebih hanya menantikan datangnya detik seperti ini.

Pada detik ujung pedang itu hendak menembus ulu hati Cho Tang-lay, bagaimanakah perubahan mimik wajahnya ketika itu?

Paras muka Cho Tang-lay sama sekali tidak menunjukkan perubahan apapun, sebab setiap kejadian yang bakal menimpanya telah diperhitungkan secara baik-baik.

Di saat pedang itu menusuk ke muka, tubuhnya telah menyurut mundur pula ke belakang.

Gerak serangan pedang itu sama sekali tidak berhenti, tusukan itu mengejar lebih maju ke depan.

Untuk kesekian kalinya dia mundur kembali ke belakang.

Tusukan itu telah mempergunakan segenap kekuatan yang dimiliki, kekuatannya lembek dan mengalir keluar tiada habisnya.

Untuk kesekian kalinya dia mundur lagi.

Ujung pedang itu masih dijepit oleh jari tangannya, jarak dengan dadanya masih tetap seperti sedia kala.

Siau-ko segera berhenti.

Ketika ia menghentikan gerakan tersebut, pakaiannya sudah basah kuyup oleh keringat.

Cho Tang-lay memandang ke arahnya dengan pandangan dingin, lalu dengan mempergunakan suara yang lembut tapi dingin ia berkata.

"Kali ini kau benar-benar merasa kepayahan, gara-gara menunggu datangnya kesempatan seperti ini, kau memang sudah mengeluarkan banyak pikiran, mengeluarkan banyak tenaga, kau memang sudah melakukan semuanya dengan sangat baik, aku seharusnya memberi kesempatan kepadamu agar mati terbunuh oleh pedangmu."

Dibalik nada suaranya sama sekali tidak terselip nada mengejek ataupun menyindir, sebab apa yang dia ucapkan memang merupakan sebuah kenyataan.

"Tapi akupun harus memberitahukan kepadamu, bukan suatu pekerjaan yang gampang untuk membunuh seorang manusia macam aku, aku tak bisa membiarkan kau berhasil dengan mudah, apalagi sekalipun kau berhasil membunuh akupun, tak ada gunanya."

Siau-ko tidak berbicara, dia hanya mendengarkan terus dengan seksama.

Ya, dia hanya mendengarkan belaka.

Dalam keadaan dan situasi seperti ini, setiap orang hanya mendengarkan Cho Tang-lay seorang yang berbicara, karena selain dia, apa yang bisa dikatakan orang lain?

Tiba-tiba Cho Tang-lay mengucapkan sepatah kata, sepatah kata yang membuat setiap orang merasa terkejut.

"Jika kau membunuhku, kaupun pasti akan mati,"

Kata Cho Tang-lay kepada Siau-ko.

"bila pedangmu itu benar-benar menembusi dadaku, pada detik yang sama kaupun pasti akan tewas, bahkan bisa jadi akan tewas jauh lebih cepat daripada aku."

Selama ini Cho Tang-lay adalah seorang yang amat jarang berbicara bohong, tapi ucapannya kali ini sungguh membuat orang sukar untuk mempercayainya. Tidak tahan Siau-ko segera bertanya.

"Apakah maksudmu bila tusukan pedang itu berhasil membunuhmu, aku malah akan mati jauh lebih cepat daripadamu?"

"Benar!"

"Kenapa?"

"Sebab aku tahu di dunia ini paling tidak terdapat lima jenis senjata rahasia yang benar-benar bisa membunuh korbannya dalam waktu sedetik,"

Kata Cho Tang-lay.

"dalam dunia persilatan, paling tidak terdapat pula tiga orang yang sanggup mempergunakan senjata rahasia jenis ini."

"Oya?"

"Yang paling penting adalah, akupun sudah tahu salah seorang di antara ketiga orang itu telah berada di sini, dia telah mempergunakan salah satu di antara lima jenis senjata rahasia tersebut untuk mengincar punggungmu."

Kemudian setelah berhenti sejenak, dia menambahkan.

"Bila pedangmu itu berhasil menembusi dadaku, waktu itu kau pasti akan kegirangan, merasa amat bangga, dan siapa saja bila berada dalam keadaan seperti ini tak urung akan menjadi teledor, menjadi gegabah, tidak terkecuali kau sendiri."

Memang, apa yang dikatakannya merupakan sebuah kenyataan.

"Di saat kau paling gembira, paling bangga itulah, tiba-tiba saja kau akan merasakan punggungmu seakan-akan digigit nyamuk.

"kata Cho Tang-lay lebih jauh.

"kemudian kaupun akan roboh secara tiba-tiba, di saat tubuhmu roboh, jantungmu turut berhenti berdetak, waktu itu mungkin aku masih belum mati."

Keringat dingin mulai bercucuran membasahi punggung Siau-ko, diam-diam hatinya bergidik. Dengan pelan Cho Tang-lay berkata lebih jauh.

"Tapi sekarang aku tak usah kuatir lagi, oleh karena aku belum mati, hingga kini untuk sementara waktu mungkin diapun masih belum berani turun tangan, sebab orang itupun sama seperti kita ini, selamanya dia enggan melakukan pekerjaan yang tidak terlalu yakin."

"Siapakah orang ini?"

"Bila kau ingin mengetahui siapakah orang ini, terlebih dulu harus kau pikirkan ke tiga masalahnya."

"Apakah ke tiga masalah itu?"

"Ke satu, mengapa Kongsun bersaudara bisa mempunyai kepandaian meramal kejadian yang akan datang? Mengapa semenjak lima hari berselang mereka sudah tahu kalau dalam Toa Piau-kiok bakal berlangsung perubahan yang amat besar sehingga datang tepat pada saatnya. Kedua, darimanakah datangnya penari berkerudung ini? Sebenarnya Suma Cau-kun hendak membunuhnya demi Cu Bong. Mengapa dia segera mundur setelah mendengar dua patah katanya? Bahkan seolah-olah telah berubah seperti orang lain?"

Siau-ko tidak mengerti, cukup dua masalah itupun sudah tak bisa dipahami olehnya. Sekali lagi Cho Tang-lay memperingatkan kepadanya.

"Padahal kedua masalah tersebut hanya bisa dihitung satu persoalan saja, seperti juga sebuah rumah, biarpun mempunyai dua buah pintu, tapi cukup mempergunakan sebuah anak kunci, kedua-duanya sudah bisa dibuka."

Siau-ko segera tertawa getir.

"Sayang sekali, aku tidak memiliki anak kunci tersebut, akupun tidak tahu harus mencarinya di mana."

"Biasanya anak kunci selalu berada di saku orang hidup, orang yang telah mati tak perlu lagi membawa anak kunci,"

Kata Cho Tang-lay tawar.

"tapi bila kau hendak mencari anak kunci tersebut, tak ada salahnya bila kau mencarinya di tubuh orang mati."

"Siapakah orang mati itu?"

"Kongsun bersaudara tidak memiliki kepandaian untuk meramalkan kejadian yang akan datang, tapi mereka bisa datang tepat pada waktunya, tentu saja ada orang yang minta kedatangan mereka,"

Kata Cho Tang-lay lebih jauh.

"tapi siapa pula yang bisa menghitung dengan tepat pada lima hari sebelumnya bahwa persahabatanku dengan Suma Cau-kun yang telah berlangsung tiga puluh tahun akan berantakan dalam waktu singkat?"

Tidak menunggu orang lain menjawab, dia segera menjawab sendiri pertanyaan itu.

"Hanya ada satu orang, karena perselisihanku dengan Suma Cau-kun juga gara-gara orang ini."

"Apakah orang ini adalah orang mati?"

"Benar! Seharusnya dia memang seorang yang telah mati. Dia tahu setelah kematiannya, Suma Cau-kun tak akan melepaskan aku, karena di saat dia masih hidup, aku telah melintangkan sebilah golok beracun di antara kami semua."

Tiba-tiba berkilat sinar terang dari balik mata Siau-ko, mendadak tanyanya kepada Cho Tang-lay.

"Mungkinkah seorang perempuan lain bisa disaru seperti diri sendiri? Apakah inipun bisa dipakai untuk mengelabuhi suami sendiri....?"

"Bila dia masih hidup, hal tersebut tentu tak bisa mengelabuhinya, tapi jika ia telah mati beberapa hari, keadaannya jadi sedikit berbeda."

Kemudian ia menerangkan lebih jauh.

"Bila seseorang telah mati selama beberapa hari, kulit tubuhnya akan menjadi kaku dan mengeras, paras muka aslinya juga pasti akan turut berubah, bila dia mati karena digantung, maka perubahannya tentu akan lebih banyak dan lebih menakutkan, siapapun orangnya sudah pasti dikelabuhi olehnya."

Siau-ko segera menghela napas panjang.

"Bila seseorang dalam pulangnya ke rumah secara tiba-tiba menemukan anak bininya telah tewas semua, dalam keadaan demikian, persoalan macam apapun mungkin tak akan bisa dilihat secara jelas lagi...."

"Bila secara tiba-tiba ia menemukan kembali bahwa bininya ternyata belum mati, akan berubah menjadi apakah dia?"

Kembali Cho Tang-lay berkata sepatah demi sepatah.

"Pada waktu itu, mungkin dia akan berubah secara tiba-tiba menjadi seseorang yang lain."

Sekali lagi Siau-ko menghela napas panjang.

"Aaaai...., sebenarnya apa yang menyebabkan semua ini terjadi? Seorang wanita mengapa bisa berhati sebuas ini? Mengapa dia sanggup melakukan perbuatan seperti ini?"

"Dalam dunia ini memang terdapat semacam manusia yang sanggup melakukan pekerjaan macam apapun, entah dia lelaki atau perempuan, keduanya sama saja. Bila kau tak habis mengerti hal ini, disebabkan kau bukan termasuk manusia macam begini."

"Bagaimana dengan kau?"

Tanya Siau-ko kepada Cho Tang-lay.

"apakah kau termasuk manusia macam begini?"

"Ya, benar!"

Paras muka Suma Cau-kun telah berubah begitu pucat sehingga sama sekali tiada warna darah, bahkan Cu Bong yang ikut menyaksikan, turut merasakan penderitaannya.

Si penari yang sedang mendekam di atas tanah seolah-olah tidak mendengar sama sekali apa yang sedang dibicarakan Cho Tang-lay.

Cho Tang-lay memandangnya dengan dingin lalu berkata.

"Padahal aku tidak menyalahkan dirimu, karena kita sebenarnya berasal dari satu jenis manusia, tentu kaupun dapat melihat, dalam Toa Piau-kiok terdapat tiga orang yang selalu bersikap tak enak kepadaku, dan cuma mereka bertiga yang bisa menghadapiku, oleh sebab itu secara diam-diam kau telah mengadakan kontak dengan mereka. Itulah sebabnya sekarang kau baru bisa menemukan mereka tepat pada waktunya."

Jilid ke-13 TAMAT "Kau berbuat begitu, tak lebih hanya demi melindungi dirimu sendiri,"

Ucap Cho Tang-lay.

"sebenarnya aku tak mungkin akan turun tangan keji kepadamu lantaran persoalan ini, sayang kau telah salah jalan."

Tiba-tiba nada suaranya kembali berubah, ia tidak menggunakan nada khasnya yang berbicara sepatah demi sepatah kata lagi.

"Perduli disebabkan apakah kau berbuat demikian, tapi yang jelas kau tidak seharusnya berbuat demikian terhadap Suma Cau-kun."

Ditinjau dari sudut luar, Cho Tang-lay sebenarnya tidak mirip seorang manusia yang buas dan kejam, tapi setiap kali dia berbicara dengan mempergunakan nada pembicaraan seperti itu, siapa saja yang mendengarnya tentu akan merasakan bulu kuduknya pada berdiri, ngerinya bukan kepalang.

Tentu saja orang yang paling memahami tentang dia adalah Suma Cau-kun.

Setiap kali dia mendengar Cho Tang-lay berbicara terhadap seseorang dengan mempergunakan nada suara semacam itu, sama artinya orang itu telah dijatuhi hukuman mati.

"Kau tak boleh mengusiknya!"

Tiba-tiba Suma Cau-kun melompat ke depan dan menghalangi di muka penari misterius itu dengan tubuhnya sendiri, bentaknya lebih jauh.

"Perduli perbuatan apapun yang telah dia lakukan, aku tak akan menyalahkan dia. Selama beberapa tahun terakhir ini, akulah yang selalu bersalah kepadanya. Sekalipun aku bakal tewas di tangannya, aku tetap melarangmu mengusiknya barang seujung rambutpun."

Tiba-tiba paras muka Cho Tang-lay berubah hebat, kelopak matanya berkerut kencang, teriaknya mendadak.

"Hati-hati....!"

Sayang peringatan tersebut masih saja terlambat satu tindak. Si penari yang semula berbaring di atas tanah, mendadak saja melompat bangun seraya berseru.

"Bila kau menghendaki mati, pergilah untuk mati!"

Di tengah deruan angin tajam, tiga titik cahaya bintang telah meluncur ke muka menghajar punggung Suma Cau-kun.

Dengan kaki kirinya Cho Tang-lay segera menggaet kaki Suma Cau-kun, kemudian menggunakan telapak tangannya membabat iga Siau-ko.

Begitu Siau-ko melepaskan gagang pedangnya, Cho Tang-lay pergunakan tangan kirinya yang selama ini menjepit ujung pedang untuk membetotnya ke belakang, tahu-tahu gagang pedang itu sudah berpindah ke tangan kanannya.

Beberapa macam gerakan ini hampir diselesaikan semua dalam waktu yang bersamaan, begitu cepatnya gerakan itu sungguh di luar dugaan siapa saja.

Sayang sekali dia masih juga terlambat satu langkah.

Walaupun tubuh Suma Cau-kun tergaet sampai jatuh, walaupun ke tiga macam senjata rahasia itu ada dua di antaranya meleset dari sasaran, toh masih ada satu di antaranya yang menghajar lengan di bawah bahu kirinya secara tepat.

Tanpa berpikir panjang atau mempertimbangkan lagi, Cho Tang-lay segera mengayunkan pedangnya.

Cahaya pedang berkelebat lewat, lengan Suma Cau-kun sebatas bahu segera terpapas kutung.

Siau-ko cukup memahami betapa jahatnya racun yang terkandung pada senjata rahasia tersebut.

Bila ingin mencegah racun tersebut menjalar ke atas, satu-satunya cara memang memotong lengan tersebut sebatas bahu.

Tapi ia toh masih sempat bertanya kepada diri sendiri.

Andaikata dia adalah Cho Tang-lay, dapatkah ia putuskan hal tersebut dalam waktu singkat?

Mampukah dia turun tangan dengan tegas dan cepat?

Angin pedang mengibarkan kain kerudung yang menutupi wajah si penari itu, akhirnya raut wajah aslinya terlihat juga.

Go Wan!

Ternyata penari misterius itu tak lain adalah Go Wan.

Kutungan lengan rontok ke bawah, darah segar segera berhamburan ke mana-mana, akan tetapi tubuh Suma Cau-kun masih tetap berdiri tegak di sana, seperti sebatang tombak berdiri dengan tegap.

Cahaya pedang kembali berkelebat lewat, langsung mengancam tubuh Go Wan.

Ternyata Suma Cau-kun mempergunakan lengannya yang tidak kutung untuk merampas mata pedang yang berada dalam genggaman Cho Tang-lay.

"Kau tidak boleh menyentuhnya,"

Nada suara Suma Cau-kun parau lagi sedih.

"sudah kukatakan, entah aku mati atau hidup, kau tak boleh lagi mengusiknya."

Biar lengannya kutung, jiwanya belum putus. Serangan pedang dari Cho Tang-lay itu seakan-akan tertahan dengan segera oleh sikapnya yang gagah itu, dia tak sanggup lagi meneruskan serangannya.

"Go Wan, aku masih tetap tak akan menyalahkan dirimu, pergilah kau sekarang!"

Go Wan memandang ke arahnya, mempergunakan semacam sorot mata yang tiada orang bisa melukiskan dengan kata-kata untuk memperhatikan suaminya.

"Benar! Aku memang harus berangkat pergi, aku memang seharusnya pergi dari sini,"

Dia berkata pelan.

Tapi ia tidak beranjak pergi.

Tiba-tiba saja ia menubruk ke muka dan memeluk suaminya erat-erat, menempelkan wajahnya di atas lengannya yang putus, mempergunakan wajahnya untuk menyumbat aliran darah dari mulut luka itu.

Darah meleleh di atas wajahnya, air mata pun turut bercucuran keluar.

"Tapi aku telah salah jalan di dalam hidupku ini, aku sudah tak mungkin bisa salah lagi."

Kata Go Wan.

"kali ini aku tak akan salah jalan lagi."

Agaknya dia telah memilih jalan yang terbaik baginya, satu-satunya jalan yang dia miliki.

Cho Tang-lay masih berdiri dengan pedang terhunus.

Tiba-tiba Go Wan memeluk suaminya kencang-kencang dan menumbukkan diri ke ujung pedang tersebut.

Mata pedang segera menembusi punggungnya, menembusi ulu hatinya kemudian menembusi ulu hati Suma Cau-kun.

Pada hakekatnya pedang tersebut memang sebilah pedang mestika yang tajamnya bukan alang kepalang.

Pedang tersebut dengan cepat menembusi dua buah hati.

"Tong-tong....,"

Rintih Go Wan lirih.

"Tong-tong......akhirnya kita mati bersama-sama, mati pada tahun yang sama, bulan yang sama, tanggal yang sama serta saat yang sama, akhirnya kita mati bersama-sama....."

Tong-tong memang berarti sama-sama.

Dan perkataan itu pula merupakan kata-kata terakhir dari kehidupannya di dunia ini.

ooo)O(ooo Pedang mestika tiada berbelas kasihan, pahlawan tiada berair mata.

Suma Cau-kun berdiri di sana bagaikan sebuah tombak, dia tidak melelehkan air mata.

Sampai ajalnya tiba, ia tetap berdiri tegak sampai ajalnya datang, dan dia tidak melelehkan air mata.

Air mata seorang pahlawan telah berubah menjadi darah.

Di atas pedang masih belum juga dijumpai noda darah, yang ada hanya noda tetesan air mata, tapi sekarang, noda tetesan air mata yang misterius itu seakan-akan telah berubah menjadi merah karena darah pahlawan.

ooo)O(ooo Pedang itu masih berada di tangan Cho Tang-lay.

Cho Tang-lay sendiri sedang mengawasi noda tetesan air mata di atas pedang tersebut.

Ia sama sekali tidak menengok ke arah Suma Cau-kun, juga tidak menengok ke arah Go Wan.

Dalam kelompok matanya lebih-lebih tak mungkin ada air mata.

Tapi ia justru sedang mengawasi noda tetesan air mata di atas pedang itu dengan termangu-mangu, seakan-akan menemukan secara mendadak bahwa dibalik noda tetesan air mata tersebut terdapat semacam kekuatan sesat yang jahat dan misterius, pencipta dari segala ketidak beruntungan.

Entah berapa lama sudah lewat, tiba-tiba ia berkata.

"Hari ini telah datang tiga orang, yang sesungguhnya menakutkan bukanlah Kongsun bersaudara, melainkan orang ketiga."

Suara pembicaraan Cho Tang-lay berubah semakin dingin.

"Sebenarnya orang ini tidak seharusnya mati karena dia kelewat pintar kelewat lihay, senjata rahasia maupun ilmu menyaru mukanya, jarang sekali bisa ditandingi orang lain, andaikata barusan dia pergi secara diam-diam, mungkin akupun akan berlagak seakan-akan tidak tahu, karena di kemudian hari aku pasti masih membutuhkan kemampuannya."

"Apakah dia belum pergi?"

Tanya Siau-ko.

"Dia belum pergi karena dia sendiripun juga tahu kalau dia telah melakukan kesalahan, aku tak akan membiarkan dia pergi lagi."

Mendadak dia membalikkan badan menghadap ke arah pemusik buta yang rambutnya telah beruban itu, lalu sepatah demi sepatah kata, ia berkata.

"Ki sianseng, apakah kau mengira aku benar-benar tidak bisa mengenali dirimu?"

Selama ini si pemusik berambut putih itu berdiri dalam suasana remang-remang, antara cahaya lentera dan kegelapan.

Si nona cilik berkuncir yang membawa pie-pa juga berdiri di sampingnya, mukanya yang pucat tidak memancarkan kepedihan, juga tidak menunjukkan rasa ngeri, entah hal ini disebabkan dia memang tak bisa melihat sesuatu apapun, ataukah dia memang sudah menjadi kaku sama sekali.

Pemusik berambut putih itu dengan tangan sebelah memegang seruling, tangan yang lain memegang bahunya, mimik wajahnya sama sekali tidak memperlihatkan perubahan apapun.

"Ki sianseng,"

Kembali Cho Tang-lay berkata kepadanya.

"tiga bintang perenggut nyawa, dua langkah menggeser badan, akal licik membelah dunia. Ilmu menyaru muka Ki sianseng memang amat hebat, kepandaianmu juga sangat luar biasa."

"Terima kasih atas pujianmu, terima kasih banyak, terima kasih banyak,"

Pemusik berambut putih itu mulai berbicara.

"Ki sianseng, kau minta Go Wan datang untuk membawakan tarian dari Tiap-wu, dalam sekejap mata kau telah berhasil menghancurkan semangat tempur dari Cu Tongcu dari Hiong-say-tong serta Suma Cau-kun, tindakanmu ini benar-benar sangat hebat."

"Terima kasih, terima kasih."

"Bila ada seorang pemusik tua dengan mengajak cucu perempuannya yang mengenaskan mencari sesuap nasi dengan menjual suara, siapa saja pasti tak akan perhatikan kakek berambut putih yang buta itu dengan seksama. Oleh sebab itu kau menyamar sebagai dia dengan mengajak cucu perempuannya kemari, menggunakan status pemusik buta meminta Go Wan membawakan tarian, lalu mempergunakan tariannya untuk menarik perhatian orang lain......"

Kemudian Cho Tang-lay melanjutkan.

"Sekalipun wajah pemusik tua itu tak akan menarik perhatian orang namun permainan serulingnya jauh dari kemampuan permainan serulingmu. Dalam hal ini siapa saja tentu dapat membedakannya secara nyata, hanya saja berada dalam keadaan pada waktu itu, tak akan ada manusia yang memperhatikan keadaan tersebut."

"Ucapanmu memang benar,"

Ternyata Ki sianseng mengakui.

"jalan pemikiranku memang begitu."

"Ki sianseng, kau memang seorang manusia berbakat, manusia berbakat yang luar biasa, selama ini aku selalu mengagumimu."

Nada suara Cho Tang-lay yang lembut dan sungkan tiba-tiba saja berubah, dengan menggunakan nadanya yang khas dia berkata.

"Tapi kau tidak seharusnya menyerahkan jarum Coat-juang-ciam mu kepada Go Wan, perbuatanmu kali ini keliru besar sekali."

Ki sianseng menghela napas, dengan nada suara penuh kesedihan dan menyesal, dia berkata setelah menghela napas.

"Aku mengaku, aku memang salah. Walaupun aku belum pernah menduga kalau Go Wan bakal mempergunakannya untuk menghadapi Suma Cau-kun, tapi nyatanya Suma Cau-kun tewas karena benda itu. Aku memang seharusnya dapat menduga bahwa Cho sianseng tentu akan mencatat hutang itu atas namaku."

"Mungkin kau hanya memikirkan nyawa orang lain waktu itu, sehingga melupakan senjata pelindung badan sendiri."

Ki sianseng tidak menjawab, tapi dia mengakui bahwa perkataan tersebut memang benar.

"Perduli bagaimanapun juga, aku memang tidak seharusnya menyerahkan tabung jarum itu kepada orang lain,"

Setelah menghela napas, dengan suara setengah berbisik dia memberitahukan kepada Cho Tang-lay.

"untung saja aku masih memiliki beberapa buah tabung jarum........"

Suaranya sangat lirih, seakan-akan sedang memberitahukan sebuah rahasia pribadi kepada seorang sahabat karibnya.

Cho tang-lay harus memperhatikan dengan seksama untuk bisa mendengar perkataan itu.

Di saat dia masih memasang telinga itulah, jarum Coat-juang-ciam dari Ki sianseng telah dilancarkan, meluncur keluar dari ujung bajunya serta lubang-lubang serulingnya.

Ketiga tabung jarum itu sudah cukup untuk menutup mati semua jalan mundur dari Cho Tang-lay.

Satu tabung dengan tiga jarum saja sudah cukup merenggut nyawa orang, apalagi tiga tabung sekaligus.

Di tambah lagi alat rahasia dari tabung-tabung jarum itu dirancang secara khusus, kecepatan daya serangannya boleh dibilang jauh melebihi kecepatan senjata rahasia pada umumnya.

Sayang sekali Cho Tang-lay jauh lebih cepat.

Pada hakekatnya ia tidak menghindar, tapi pedang yang berada di tangannya telah membentuk gerakan bulat yang amat menyilaukan mata.

Hawa pedang berputar kencang bagaikan air bah yang kuat, segera menciptakan sebuah pusaran air yang sangat kuat.

Dalam waktu singkat ke sembilan titik bintang itu sudah tergulung di dalam lingkaran kekuatan tersebut.

Menanti cahaya pedang lenyap, ke tiga buah tabung jarum itupun turut lenyap.

Ki sianseng segera merasakan hatinya seakan-akan tenggelam.

Siau-ko adalah seseorang yang belajar pedang, sekarang dia tak tahan berteriak memuji juga.

"Suatu ilmu pedang yang sangat bagus!"

"Pedangmu juga merupakan sebilah pedang yang bagus, bagus sekali....!"

Cho Tang-lay tersenyum, tapi kemudian sambil berpaling ke arah Ki sianseng dia bertanya kembali.

"sewaktu aku sedang berbicara tadi, sesungguhnya terhitung juga sebuah kesempatan yang sangat baik, mengapa kau tidak manfaatkan kesempatan tersebut untuk melancarkan serangan dengan sisa tabung jarum yang kau miliki?"

Ki sianseng menggenggam sepasang kepalannya kencang-kencang, peluh dingin telah membasahi seluruh tubuhnya.

"Darimana kau bisa tahu kalau aku masih mempunyai tiga buah tabung jarum? Agaknya berapa banyak tabung yang kumiliki telah kau ketahui dengan jelas."

"Aku rasa semua persoalan tentang dirimu cukup kuketahui, bahkan jauh lebih banyak daripada apa yang kau bayangkan sekarang."

Untuk kesekian kalinya Ki sianseng menghela napas panjang.

"Cho sianseng, kau memang jauh lebih tangguh daripada semua orang, jauh lebih tangguh daripada diriku, kau memang sepantasnya akan berhasil,"

Katanya sedih.

"mulai saat ini, aku tak akan mengkhianatimu lagi."

"Mulai saat ini?"

Cho tang-lay seolah-olah keheranan.

"apakah kau benar-benar mengira kau masih ada kesempatan di kemudian hari.....?"

Paras muka Ki sianseng sama sekali tidak berubah, wajah yang telah dirubah sedemikian rupa dengan obat-obatan memang tidak mudah berubah.

Tapi seluruh tubuhnya justru mengalami perubahan yang sangat besar, seperti seekor ular berbisa yang berhadapan dengan seekor bangau sakti, berubah menjadi tegang dan mengejang keras.

"Kau menginginkan aku berbuat apa?"

Dia bertanya kepada Cho Tang-lay.

"terserah apapun permintaanmu, pasti akan kulaksanakan......."

Cho Tang-lay manggut-manggut.

"Aku sendiripun tidak mengharapkan kau berbuat apa-apa, aku hanya berharap kau suka melakukan suatu pekerjaan yang amat sederhana, perbuatan yang bisa dilakukan oleh setiap orang."

Ternyata Ki sianseng tidak melihat kalau mata orang ini kembali berkerut kencang, dia malah bertanya lagi.

"Kau suruh aku melakukan pekerjaan apa?"

"Aku minta kau pergi mati!"

Sepatah demi sepatah kata Cho Tang-lay berkata.

ooo)O(ooo Mati, kadangkala memang merupakan suatu perbuatan yang sederhana.

Ki sianseng mati dengan amat cepat.

Di saat cahaya pedang di tangan Cho Tang-lay kembali mulai berkelebat, ia telah tewas.

Cahaya pedang hanya berkelebat lewat, tahu-tahu tenggorokannya sudah tertusuk.

Untuk kesekian kalinya kembali Siau-ko memuji.

"Ilmu pedang bagus, betul-betul cepat gerak serangan pedangmu itu......"

Cho Tang-lay tersenyum.

"Pedangmu juga termasuk pedang bagus, jauh lebih bagus daripada apa yang kubayangkan, aku seperti mulai merasa berat untuk mengembalikannya kepadamu."

Ooo)O(ooo Selama ini Cu Bong sama sekali tidak bergerak, lagi pula selalu tenang.

Sebetulnya dia bukan termasuk manusia seperti ini, kematian dari Suma Cau-kun sebenarnya bisa mengobarkan darahnya, membuatnya jadi bersemangat.

Tapi dia sama sekali tidak bergerak, karena kematian dari Suma Cau-kun tiba-tiba saja mengingatkannya akan banyak persoalan dan setiap persoalan tersebut seakan-akan sebuah tombak yang menusuk ke dalam ulu hatinya.

Mengapa Go Wan berbuat demikian?

Demi membalas dendam?

Ataukah demi melindungi diri sendiri?

Seseorang telah melakukan suatu kesalahan, tapi melimpahkan kesalahannya tersebut ke dada orang lain, bukan saja di hati kecilnya tidak merasa menyesal, dia malah berusaha membalas dendam kepada orang lain.

Tingkah laku semacam ini sebenarnya merupakan salah satu titik kelemahan dari umat manusia semenjak dahulu kala.

Seseorang pergi mencelakai jiwa orang lain demi melindungi diri, karena dirinya telah melakukan suatu kesalahan, jalan pemikiran tersebut rasanya memang tak jauh berbeda.

Rasa serakah dan egois, memang merupakan titik kelemahan manusia yang tak mungkin bisa di atasi oleh setiap orang.

Tapi berbeda sekali dengan jalan pemikiran Cu Bong.

Tiba-tiba saja dia mendapat gambaran bahwa Go Wan sampai berbuat demikian bisa jadi hal ini dikarenakan perasaan cintanya yang begitu dalam terhadap Suma Cau-kun.

Cinta yang begitu mendalam sehingga ia menjadi sama sekali tak bisa berbuat apa-apa.

Bila cintanya telah mencapai taraf seperti ini, apalagi cinta dengan cara demikian, akhirnya hanya kepunahan yang akan diperoleh.

Itulah sebabnya diapun menghancurkan diri sendiri, bukan cuma menghancurkan diri sendiri, juga menghancurkan segenap cintanya.

Suma Cau-kun dapat memahami hal tersebut, itulah sebabnya sampai ajalnya tiba, dia sama sekali tidak mendendam.

Bagaimana dengan Tiap-wu?

Di saat Cho Tang-lay menurunkan perintah kepada anak buahnya untuk menyerang Hiong-say-tong, mengapa Tiap-wu melarikan diri?

Mengapa ia lebih suka melarikan diri sekalipun harus diperalat oleh Cho Tang-lay?

Demi 'cinta' kah dia pergi....?

Atau kepergiannya karena 'tidak cinta'.....?

Bila diapun seperti Go Wan mencintai Suma Cau-kun, begitu mencintai Cu Bong, tentu saja dia akan pergi bila dianggapnya Cu Bong sama sekali tidak mengacuhkan dirinya.

Bila dia sama sekali tidak mencintai Cu Bong, tentu saja dia lebih-lebih akan pergi.

Tapi jika dia memang sama sekali tidak berubah, mengapa ia begitu memperhatikan Cu Bong?

Mengapa ingin mati?

Tidak cinta akan timbul benci, cinta yang mendalampun bisa berubah menjadi benci, cinta dan benci memang hanya dipisahkan oleh sebuah garis tipis saja.

Sebenarnya cinta atau benci?

Siapa yang bisa membedakan secara jelas?

Dan siapa pula yang bisa memahami hal-hal seperti itu?

Mendadak Cu Bong tertawa seram.

"Suma Cau-kun, kematianmu memang amat tepat, kematian yang bagus sekali,"

Gelak tertawanya makin keras seperti pekikan monyet.

"sebenarnya kau memang pantas mati, sebab sebetulnya kau memang seorang manusia dungu yang tak ada obatnya bisa disembuhkan lagi."

Menanti ia sudah berhenti tertawa, Cho Tang-lay baru bertanya lagi dengan suara dingin.

"Bagaimana dengan kau sendiri?"

"Aku lebih pantas mati lagi ketimbang dia,"

Kata Cu Bong.

"sudah sejak lama ingin kuhadiahkan batok kepalaku ini untuk orang lain, sayang tiada orang yang mau, namun bila aku harus mati di tanganmu, akupun mati dengan perasaan tak rela."

"Kau tidak bakal mati!"

Tiba-tiba Siau-ko berteriak keras. Dengan cepat ia melompat ke muka dan berdiri berjajar di samping Cu Bong, kemudian digenggamnya lengan Cu Bong erat-erat sambil berseru.

"Siapa berani mengusikmu, aku akan membunuhnya lebih dulu."

Cho Tang-lay memandang ke arah Siau-ko, dia seakan-akan sedang mengawasi seorang bocah yang sudah terlalu dimanja, meski agak marah namun toh masih terselip perasaan sayang dan kasihan.

"Terlepas bagaimanakah sikapmu kepadaku, aku tak pernah mengusikmu, bahkan sewaktu kau menghendaki kematianku pun aku juga tidak menganggumu,"

Kata Cho Tang-lay.

"aku percaya kau sudah seharusnya memahami maksud hatiku."

Mau tak mau Siau-ko memang harus mengakui hal ini.

"Tentu saja aku mengerti,"

Katanya.

Baca Juga: Pedang Hati Suci 2

Baca Juga: Pendekar Kembar 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert