Eps 3 Setan Harpa - Khu Lung Tjan Id
Baca online Setan Harpa - Khu Lung Tjan Id
Cersil Setan Harpa - Khu Lung Tjan Id.
Kontan saja Ong Bun kim mendongakkan kepalanya sambil tertawa tergelak.
"Haaahhh... haaahhh... haaahh... asal Kwancu berani mendatangi tempat itu, tentu saja aku Ong Bun kim akan melayani keinginanmu."
"Kalau begitu, hayo ikut aku!"
Habis berkata ia lantas menutulkan ujung kakinya ke tanah dan berangkat meninggalkan Hou-kwan menuju ke sebuah bukit di belakang sana.
Ong Bun kim tertawa dingin, ia menyusul di belakangnya dengan tak kalah cepatnya.
Setelah naik ke atas tebing, mereka berputar menuju ke sebuah puncak jauh di depan sana, dalam waktu singkat sampailah kedua orang itu di puncak bukit itu, dan si Jago pedang setan iblispun segera menghentikan larinya.
Ong Bun kim mencoba untuk mengawasi sekejap sekeliling tempat itu, tampak olehnya luas puncak itu mencapai sepuluh kaki, di bawah sana ternganga sebuah jurang yang tiada terkirakan dalamnya.
"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... tempat ini memang merupakan sebuah tempat yang sangat bagus!"
Katanya kemudian sambil tertawa dingin. Jago pedang setan iblis ikut tertawa dingin.
"Benar, tempat ini memang suatu tempat yang sangat baik, di bawah dasar jurang sana akan menjadi tempat kubur dari salah seorang di antara kita berdua!"
"Manusia pedang setan iblis, tak usah banyak berbicara lagi, loloskan senjatamu!"
Bentak Ong Bun kim kemudian. Jago pedang setan iblis tertawa dingin-"Criing...!"
Cahaya tajam berkilauan, tahu-tahu pedang Cing kang kiam telah diloloskan dan siap melancarkan serangan.
"Silahkan kau turun tangan lebih dulu!"
Bentaknya kemudian.
"Sebagai tamu tidak akan mendahului tuan rumah, silahkan kwancu turun tangan lebih dulu!"
"Terhadap seorang boanpwe angkatan muda macam kau, kenapa aku musti turun tangan duluan? Ada baiknya kau saja yang menyerang lebih dahulu."
Ong Bun kim tertawa sinis.
"Hmm! Kalau begitu maaf!"
Katanya. -ooo000dw000ooo-
Jilid 7 BAB 19 DENGAN suatu lompatan maut ia menerjang ke muka, harpa besinya disertai dengan tenaga serangan yang kuat disodok ke depan menghantam tubuh Jago pedang setan iblis, sungguh amat dahsyat serangan tersebut.
Berbarengan dengan serangan yang dilancarkan Ong Bun-kim, Jago pedang setan iblis menggetarkan pula pedang mestikanya, cahaya tajam berkilauan dan ia melancarkan serangan kilat.
Hampir boleh dibilang kedua belah pihak sama-sama melancarkan serangan pada saat yang bersamaan.
Bayangan manusia berkelebat lewat, tak kuasa lagi Ong Bun -kim terdesak mundur sejauh tiga langkah, disaat yang amat singkat ternyata Jago pedang setan iblis telah melancarkan tiga buah serangan berantai.
Kecepatan dalam melancarkan serangan, ketepatan dalam perubahan jurus, semuanya mencerminkan bahwa dia adalah seorang Jago pedang kenamaan.
Dari ketiga jurus ancaman inilah Ong Bun kim menyadari bahwa keadaannya pada hari ini jauh lebih banyak bahayanya dari pada keberuntungan.
Apa yang tersiar dalam dunia persilatan ternyata memang bukan nama kosong belaka, ilmu silat yang dimiliki Jago pedang setan iblis berkali-kali lipat lebih tinggi dari pada kepandaian sendiri.
Paras muka Jago pedang setan iblispun agak berubah setelah menyaksikan kelihayan Ong Bun kim, dia tidak menyangka kalau dengan usianya semuda itu ternyata ilmu silatnya sudah mencapai taraf yang cukup tinggi.
Ia tertawa dingin.
"Hehmmm... tak kunyana kalau ilmu silatmu sudah mencapai tingkatan setinggi ini!"
"Aku lihat ilmu silat dari Coa kwancu juga sangat hebat, bagaimana kalau rasakan lagi beberapa jurus serangahku ini !"
Berbareng dengan selesainya ucapan tersebut, sebuah serangan kilat kembali dilancarkan.
Pada saat ini, hawa napsu membunuh telah menyelimuti seluruh wajah Jago pedang setan jblis, di bawah serangan kilat dari Ong Bun kim itu, pedang mestikanya berputar membentuk selapis cahaya pedang yang mana dengan cepatnya me-nyelimuti seluruh tubuh anak muda itu.
Suatu pertarungan sengit akhirnya pun di mulai.
Yaa, pertarungan ini merupakan suatu pertarungan yang mempertaruhkan mati hidup kedua belah pihak, barang siapa kalah dalam pertarungan tersebut maka hilanglah harapannya untuk melanjutkan hidup.
Dalam waktu singkat kedua belah pihak sudah terlibat dalam pertarungan sengit yang luar biasa dahsyatnya.
Bayangan harpa, cahaya pedang disertai desingan angin tajam menyambar dan menderu tiada hentinya, sungguh mengerikan sekali pemandangan peda waktu itu.
Limabelas jurus....
Duapuluh jurus...
Dalam waktu singkat limapuluh jurus sudah dilewatkan tanpa terasa.
Bumi serasa bergoncang, sinar rembulan serasa pudar, sungguh amat mendebarkan sukma keadaan itu.
Tapi pada saat itulah Ong Bun kim sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kepayahan, peluh dingin telah membasahi jidatnya, wajahnya pucat dan napasnya agak tersengal.
Sebaliknya keadaan Jago pedang setan iblis makin lama semakin kuat dan serangannya makin lama semakin gencar, seakan-akan air bah yang menggulung lewat melewati tanggul yang jebol.
Keadaan Ong Bun-kim bertambah kritis, ia semakin sadar bahwa lebih banyak bahaya baginya dari pada keuntungan, selembar jiwanya bagaikan berada di ujung tanduk.
Tiba-tiba...
Jago pedang setan iblis membentak keras, pedang mustikanya digetarkan ke muka melancarkan sebuah serangan.
Di balik serangan itu terkandunglah tiga macam perubahan yang tak sama, daya penghancurnya luar biasa dan menggetarkan sukma.
Ong Bun kim tak berani menyambut serangan tersebut dengan kekerasan, buru buru ia berkelit ke samping...
Tapi sebelum tubuhnya sempat menghindar ke samping, Jago pedang setan iblis sudah memburu ke depan, telapak tangan kirinya langsung diayunkan ke muka.
"Blaaang ...!"
Dengan telak serangan tersebut bersarang di dada Ong Bun kim, ini mengakibatkan si anak muda itu muntah darah segar, tubuhnya mencelat sejauh satu kaki lebih dan terjatuh tepat di tepi jurang.
Jago pedang Setan iblis tertawa dingin, ejeknya.
"Hmmm... cuma mengandalkan kepandaian seperti ini berani mencari aku untuk membalas dendam? Bangsat, temui saja arwah ayahmu di alam baka !"
Diiringi suara tertawa dingin, tiba-tiba ia menerjang ke arah Ong Bua kim, cahaya tajam berkilauan dan langsung membacok ke arah batok kepala si anak muda itu.
Suasana menjadi tegang dan keadaan sangat kritis ....
sedetik sebelum tusukan itu bersarang di tubuh Ong Bun kim, mendadak si anak muda itu melejit ke udara dengan mempergunakan segenap kekuatan yang dimilikinya, setelah itu membuat gerakan setengah busur di angkasa.
Berbareng dengan lejitan tersebut, secara tiba-tiba harpa besinya ikut pula disambit ke depan...
Tindakan ini sama sekali di luar dugaan Mo-kui kiam jin, ketika menyadari akan datangnya ancaman, untuk menghindar tak sempat lagi dan ...
"Blang ... !"
Tubuhnya terhajar telak oleh serangan tersebut, sambil muntah darah tubuhnya terjungkal ke tanah.
Ong Bun kim sendiri karena harus melancarkan serangan dengan mempergunakan segenap kekuatan yang dimiliki, isi perutnya mengalami goncangan keras, sambil muntah muntah darah segar, ia jatuh tak sadarkan diri ....
Pelan pelan Jago pedang setan iblis bangkit berdiri, sambil menyeka noda darah di ujung bibirnya ia tertawa dingin, kemudian merogoh ke dalam sakunya dan ambil ke luar tiga batang pedang kecil yang tipis seperti daun yang liu dan bersinar tajam.
Itulah pedang Liu yap kiam, senjata andalannya yang paling tangguh.
"Kubunuh kau bajingan cilik!"
Bentaknya. Tiba-tiba seseorang menjerit keras.
"Tahan!"
Di tengah bentakan tersebut tampaklah sesosok bayangan manusia berkelebat lewat, cepat-cepat Jago pedang setan iblis menarik kembali pedang Liu-yapkiamnya sambil mengalihkan sorot matanya ke arah gelanggang, tapi dengan cepat paras mukanya berubah.
"Rupa rupanya kau.....?"
Ternyata orang yang barusan munculkan diri itu bukan lain adalah Coa Siok-oh, putri dari jago pedang setan iblis.
Kemunculan Coa Siok-oh secara tiba-tiba di tempat itu sungguh berada di luar dugaan siapa-pun, apalagi muncul dengan wajah hijau membesi.
"Ayah....kau tak boleh membinasakan dia."
Teriaknya keras-keras.
"Kenapa?"
Tanya Jago pedang setan iblis dengan suara tak kalah kerasnya.
"Kau telah membinasakan suamiku...."
"Aku tidak membunuhnya."
"Ayah, aku tahu kau telah membunuhnya, sekarang apakah putraku juga akan kau bunuh juga?"
"Dia dia adalah putramu?"
"Benar!"
"Hasil hubunganmu dengan Phang Pak-bun..."
"Ayah, kau jangan menghina aku!"
Pekik Coa Siok-oh dengan suara penasaran.
"Hmmm.......!Masa dia adalah anak hasil hubunganmu dengan si Latah dari empat samudra Ong See-liat."
"Benar!"
"Kalau begitu, aku lebih-lebih tak dapat melepaskan dirinya!"
Paras muka Coa Siok-oh berubah hebat jeritnya.
"Ayah..."
"Sejak semula aku telah memberitahukan kepadamu aku tidak mengakui dirimu sebagai putriku, lagi..."
"Baik, jika kau ingin membinasakan dirinya bunuhlah aku lebih dahulu !"
"Aku tidak ingin membunuhmu!"
"Kalau begitu, lepaskanlah dia!"
"Tidak, hayo minggir kau dari hadapanku!"
Diiringi bentakan nyaring, jago pedang setan iblis menerjang maju ke arah depan dan menghampiri Ong Bunkim..
"Berhenti!"
Bentak Coa Siok-oh pula.
"jangan memaksa aku untuk turun tangan kepadamu!"
Coa Siok-oh berdiri dengan wajah menyeramkan matanya melotot besar dan wajahnya menyeringai seram, keadaannya sungguh mengerikan.
"Kau berani?"
Teriak Jago pedang setan iblis penasaran. Di tengah bentakan nyaring, mendadak ia maju ke depan sambil melepaskan sebuah serangan kilat ke arah Coa Siokoh.
"Ayah "
Teriak Coa Siok-oh dengan kaget.
Seruling peraknya digetarkan keras dan digunakan untuk menangkis serangan pedang dari ayahnya tapi secara tibatiba ia menarik kembali senjata serulingnya itu, ia tak berani bertarung melawan ayahnya sendiri.
Tubuhnya cepat cepat berkelit ke sampitg lalu melayang lima depa ke belakang.
Baru saja Coa Siok-oh bergsrak mundur, tiba-tiba ia saksikan pedang Liu-yap-kiam di tangan kiri Jago pedang setan iblis telah dilontarkan ke arah tubuh Ong Bun-kim.
Diantara kilatan cahaya putih yang membelah angkasa, seperti orang kalap Coa Siok-oh berteriak.
"Kau..."
Seperti orang gila ia memburu ke arah Ong Bun-kim Mendadak terdengar jeritan ngeri berkumandang memecahkan kesunyian, pedang Liu-yap-kiam yang terakhir telah menembusi punggung perempuan tersebut.
Sedangkan dua bilah pedang Liu-yap-kiam yang pertama telah menembusi pula punggung Ong Bun-kim, yang tertinggal hanya sebuah gagang pedang kecil yang berwarna putih, darah bercucuran ke luar dengan derasnya.
Coa Siok-oh sambil menjerit kesakitan ikut roboh pula ke atas tanah, sekujur badannya basah oleh darah.
Jago pedang setan iblis merasakan sekujur badannya gemetar keras, mimpipun dia tak menyangka kalau putrinya akan menjadi tameng bagi anak muda itu, untuk sesaat lamanya ia berdiri tertegun saking kaget dan terkesiapnya.
Sesudah roboh ke tanah, Coa Siok-oh kembali merangkak bangun, wajahnya mencerminkan sinar kengerian yang menggidikkan hati, matanya beringas dan memancarkan sinar garang, sambil membimbing bangun Ong Bun-kim yang tidak sadarkan diri teriaknya keraskeras.
"Ayah, bunuhlah kami berdua!"
Jago pedang setan iblis bagaikan sedang menghadapi suatu peristiwa yang mengerikan baginya, ia cuma berdiri mematung di sana tanpa bergerak sedikitpun jua.
Mendadak dari atas puncak To-ciok-hong sana berkumandang suara pekikan nyaring, menyusul munculnya tiga sosok bayangan manusia, mereka adalah perempuan cantik berbaju kuning serta dua orang manusia aneh cebol lagi bungkuk itu.
"Kwancu, kau tidak, apa-apa bukan?"
"Aku tidak apa-apa!"
"Ayah!"
Teriak Coa Siok-oh tiba-tiba.
"jika kau tidak akan membunuh kami berdua lagi, kami akan segera pergi meninggalkan tempat ini!"
Jago pedang setan iblis masih tetap berdiri mematung ditempat semula bergerak sedikitpun tidak.
Melihat itu, sambil menggigit bibir Coa Siok oh segera menutul kakinya di permukaan tanah dan berlalu dari situ.
Tiba-tiba bayangan manusia berbaju kuning berkelebat lewat, perempuan cantik berbaju kuning atau Tongcu bagian hukuman dari Hou-kwan itu sudah menghadang jalan perginya.
"Mau apa kau?"
Bentak Coa Sioh-oh segera.
"Jangan harap kalian bisa pergi dari sini!"
"Biarkan mereka pergi!"
Tiba-tiba Jago pedang setan iblis membentak nyaring.
Bentakan tersebut bukan saja sama sekali di luar dugaan Coa Siok-oh, bahkan perempuan cantik berbaju kuning itupun akan merasa tertegun dan untuk sesaat lamanya tak, tahu apa yang musti dilakukan.
Setelah tertegun sesaat, perempuan cantik berbaju kuning itu baru berkata dengan hormat.
"Baik!"
"Jangan kuatir, biarkan mereka pergi"
Kata Jago pedang setan iblis lagi dengan suara dalam.
"dalam tiga hari mereka pasti akan mampus karena keracunan, sekalipun Hoa To hidup lagi juga tak nanti bisa selamatkan jiwa mereka berdua...."
Belum habis perkataan itu diucapkan, kembali ada sesosok bayangan kuning berkelebat menuju ke arah puncak tebing, dia adalah seorang kakek berbaju kuning, sikapnya tampak gugup dan tergesa-gesa sekali.
"Tongcu penyampai perintah, ada urusan apa membuatmu tampak gugup sekali?"
Tanya Jago pedang setan iblis dengan kening berkerut.
"Lapor lapor kwancu ada kejadian kurang... kurang menguntungkan "
Seru Tongcu penyampai berita gelagapan.
"Apa yang telah terjadi? Laporkan pelan-pelan!"
"Bunga bunga iblis dari neraka."
"Mengapa dengan Bunga iblis dari neraka?"
"Ia telah tiba di lembah kita!"
"Mau apa dia datang ke mari?"
"Katanya jika Ong Bun-kim tidak diserahkan, maka dia akan membunuh seluruh anggota perguruan kita."
"Dia berada di mana sekarang?"
Tanya Jago pedang setan iblis dengan wajah berubah.
"Berada di mulut lembah!"
Sebelum Jago pedang setan iblis menjawab sesuatu, Coa Siok-oh telah mempergunakan segenap tenaga yang dimilikinya untuk mengempit Ong Bun-kim lagi turun ke bawah bukit.
"Lu Hengcu!"
Jago pedang setan iblis segera membentak.
"Tecu siap menerima perintah!"
"Beri tanda kepada seluruh anggota perguruan kita, jangan halangi perjalanan mereka berdua!"
"Baik!"
Dengan mengempit tubuh Ong Bun kim, Coa Siok oh berhasil menuruni tebing tanduk naga dan kabur ke luar dari lembah tersebut.
Sesungguhnya karena apa ia bersedia mengorbankan tubuhnya demi menyelamatkan Ong Bun kim?
Karena kasih sayang seorang ibu?
Atau karena maksud tujuan lain?
Tentu saja kemungkinan pertama jauh lebih besar dari pada kemungkinan kedua, seandainya bukan ibu kandung sendiri, mana mungkin ia rela mengorbankan jiwanya demi menyelamatkan jiwa Ong Bun kim?
Biasanya, kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya akan tercermin pada saat keadaan menyangkut mati hidup seseorang.
Waktu itu, Coa Siok oh sambil mengempit tubuh Ong Bun kim sedang meluncur ke luar dari lembah naga hijau, sepanjang perjalanan mereka tidak menemui kesulitan atau hadangan hadangan apapun.
Akan tetapi, justru karena harus kabur sambil membawa beban berat, darah yang mengucur ke luar dari mulut luka bekas tertembus pedang Liu yap kiam itu semakin gencar dan deras, lama kelamaan perempuan itu tak kuasa menahan diri, sambil mendengus tertahan tubuhnya roboh terjengkang di mulut lembah.
Berbareng dengan robohnya Coa Siok oh, sesosok bayangan manusia melayang datang tepat di hadapan mereka berdua, dan orang itu bukan lain adalah Bunga iblis dari neraka.
Dengan sepasang biji matanya yang jeli dia memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, kemudian dengan paras muka berubah ia menjerit tertahan Agaknya ia tidak percaya kalau Ong Bun kim dan Coa Siok oh telah terkena pedang Liu yap kiam, darah segar telah membasahi seluruh tubuh kedua orang itu.
Betapa hancurnya perasaan Bunga iblis dari neraka setelah menyaksikan kejadian itu, sambil membentak ia menggerakkan jari tangannya untuk menotok jalan darah di tubuh kedua orang itu sehingga darah tidak mengalir ke luar lagi.
Setelah darah berhenti mengalir, ia baru membopong mereka berdua kabur ke luar dari lembah tersebut.
Beberapa li kemudian ia baru berhenti, di baringkannya kedua orang itu di tanah, kemudian sambil memandang wajah Ong Bun-kim yang pucat pias, air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya.
-oo00dw00oo-BAB 20 WALAUPUN Ong Bun-kim telah berada di tepi jurang kematian, tapi tangannya masih menggenggam kencangkencang harpa besinya yang dapat memantulkan irama kesedihan dari hatinya.
Dengan amat sedih perempuan itu berkata.
"Mungkin aku datang selangkah terlambat, kekasihku... ohh kekasihku..."
Keluhan tersebut penuh dengan nada kesedihan, membuat siapapun yang mendengar akan ikut melelehkan air matanya.
Padahal ketika ia meninggalkan Ong Bun kim tempo hari, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan sikap perhatian atau sayang, padahal rasa cinta gadis itu terhadapnya sudah tak terlukiskan lagi dengan kata-kata...
Kini Ong Bun kim telah terluka, lagi pula ia terkena pedang Liu yap kiam yang tersohor karena amat beracun, dalam tiga hari mendatang, jiwanya sudah pasti akan melayang meninggalkan raganya.
Kenyataan tersebut, bagaimana mungkin tidak membuat hatinya menjadi sedih dan sakit?
Bagaimana mungkin tidak membuat hatinya hancur bagaikan dicabik-cabik?
Dari dalam sakunya dia mengambil ke luar sebuah pil dan dijejalkan ke dalam mulut Ong Bun kim, kemudian dengan pancaran hawa murni dia mulai menguruti jalan darah di sekujur badan anak muda itu.
Tak lama kemudian, Ong Bun kimpun sadar kembali dari pingsannya, pelan pelan ia membuka matanya...
Pertama tama ia marasakan punggungnya sakit sekali seperti disayat-sayat dengan pisau, kesadarannya masih belum pulih kembali seperti sedia kala, apa yang terpampang di depan matanya hanya bayangan yang masih kabur dan buram...
Mulutnya terpentang lebar seperti hendak mengucapkan sesuatu, namun lama, lama sekali, ia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.
Menyaksikan kejadian tersebut, Bunga iblis dari neraka merasa amat sedih hingga air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya, tak tahan lagi ia berteriak.
"Adik Ong..."
Dengan air mata berderai seperti anak sungai, ia mendekap Ong Bun kim dalam pelukannya lalu menangis tersedu sedu. Rupanya Ong Bun kim dapat mendengar suaranya itu, dengan kepayahan ia bertanya.
"Sii ... siaapakah kau ...?"
"Aku adalah Bunga iblis dari neraka!"
"Haaah..."
Ia menjerit tertahan, mengikuti jeritan kaget di luar dugaan tersebut akhirnya ia berhasil melihat jelas raut wajah bunga iblis dari neraka itu...
Tiba tiba ia merasa ada dua tetes air mata yang membasahi wajahnya dan mengalir ke sisi telinga ...
Ia merasa berterima kasih sekali atas kedatangan Bunga iblis dari neraka menjelang tibanya ajal yang akan mengakhiri hidupnya, ia merasa gadis itu telah memberikan kebahagiaan baginya menjelang kematian yang mengenaskan.
"Terima kasih atas kedatanganmu..."
Ujarnya dengan suara sedih dan kepayahan.
"Aku telah datang terlambat!"
Bisik gadis itu sedih.
"Tidak..."
Tiba tiba ia merasakan semangatnya kembali berkobar, ia merasa seakan-akan cinta kasih telah menciptakan suatu kekuatan yang tak terhingga baginya, membuat ia melupakan sakit yang ada di punggungnya...
Setelah berhasil menenangkan hatinya yang bergolak, diapun bertanya dengan suara lirih.
"Kaukah yang telah menolong aku?"
"Bukan!"
"Lantas siapa?"
"Dia!"
Mengikuti arah yang ditunjuk Bunga iblis dari neraka, Ong Bun kim segera menjumpai Coa Siok oh berada di situ, melihat ini sekujur tubuhnya kontan gemetar keras, serunya tertahan.
"Oooh dia.....Yaa ampun, kenapa bisa dia?"
"Ia sudah terkena pedang Liu yap kiam...."
Kata Bunga iblis dari neraka lirih.
"Mana mungkin ..? Mana mungkin?"
Seru Ong Bun kim dengan perasaan bergolak keras.
"Kau maksudkan mana mungkin dia akan menolongmu?"
"Benar!"
"Siapakah dia?"
"Aku ... aku tidak tahu ..."
Yaa, dia memang tidak dapat membuktikan siapakah sebenarnya perempuan itu, ibunya atau bukan?
Tapi ia dapat menyelamatkan dirinya, hal ini benar benar di luar dugaan Ong Bun kim.
Suatu pergolakan mendadak mencekam perasaan anak muda itu, teriaknya kemudian.
"Sadarkan dia!"
Bunga iblis dari neraka mengangguk, dia mengeluarkan lagi sebutir pil dan dijejalkan ke mulut Coa Siok-oh, kemudian dengan mengerahkan tenaga dalamnya berusaha untuk menyembunyikan luka yang dideritanya.
Tapi keadaan Coa Siok-oh sudah terlampau parah, setelah terkena pedang Liu-yap-kiam, dia harus mengerahkan juga tenaga dalamnya untuk membawa Ong Bun kim melarikan diri, darah yang mengucur ke luar sudah kelewat banyak, hawa murni yang dibuang juga melampui batas, hakekatnya ia sudah berada di tepi jurang kematian.
Bunga iblis dari neraka telah berusaha dengan sekuat tenaga untuk menyembuhkan luka itu, akan tetapi Coa Siok oh belum berhasil juga disadarkan dari pingsannya...
Dalam keadaan demikian, Bunga iblis dari neraka menghela napas panjang, katanya.
"Kemungkinan besar ia sudah tiada harapan lagi!"
"Tidak, bagaimanapun juga dia harus di sadarkan kembali, walau hanya sebentar saja."
Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Bunga Iblis dari neraka menyalurkan kembali hawa murninya untuk membantu perempuan itu, kurang lebih satu jam kemudian akhirnya Coa Siok oh telah sadar kembali dari pingsannya.
Pelan pelan ia menggerakkan kelopak matanya lalu membuka matanya dan memandang sekejap sekeliling tempat itu.
Mengenaskan sekali keadaannya, sambil membuka mulutnya ia berbisik dengan suara terbata bata.
"Di mana Bun kim....? Bun....Bun kim "
Ucapan pertama setelah sadar kembali dari pingsannya adalah memanggil nama Ong Bun kim, dari sini dapat diketahui betapa dalamnya perasaan cinta seorang ibu terhadap anaknya.
Sekalipun Ong Bun kim lebih bodoh, sekarang diapun dapat membuktikan bahwa siapakah di antara Siau Hui-un dan Coa Siok-oh yang merupakan ibu kandungnya.
Dengan perasaan sedih yang meluap dan rasa menyesal yang berlipat ganda, menyerang hatinya, pemuda itu menangis, air matanya jatuh bercucuran membasahi pipinya.
Selama hidup, baru pertama kali ini dia mengakui akan kesalahan sendiri, akibat hasutan serta ulah Siau Hui-un yang tidak bertanggung jawab, ia telah menghajar ibunya sendiri sewaktu berada di bawah puncak Hu hou hong, bahkan hampir saja ia akan membunuhnya.
Dengan perasaan yang hancur lebur, pemuda itu menangis semakin menjadi.
"Bun-kim oooh Bun kim di mana kau nak..? Di mana kau berada..?"
Coa Siok oh masih saja memanggil namanya dengan suara tersendat.
Panggilan dari seorang ibu menjelang ajalnya, suatu adegan yang cukup memilukan hati.
Bunga iblis dari neraka yang menyaksikan kejadian itu ikut mengucurkan air matanya, ia berteriak.
"Adik Ong, ia sedang memanggil dirimu!"
Ong Bun-kim membuka mulutnya, gemetar keras sekujur badannya, akhirnya ia berteriak memanggil.
"Ibu!"
Sambil berteriak kalap ia menubruk ke dalam pelukan ibunya dan mendekapnya kencang-kencang, pemandangan itu sungguh mengharukan membuat orang ikut merasakan hatinya menjadi pedih.
Karena menerima tubrukan dari Ong Bun kim tersebut, pedang Liu yap kiam yang terbenam di punggung Coa Siok oh semakin menusuk ke dalam tubuhnya, ia mendesis kesakitan, tapi dengan sekuat tenaga ditahannya rasa sakit yang menyayat itu.
Diulurnya tangan yang gemetar dan tak ber-tenaga itu, lalu dibelainya wajah Ong Bun kim, seakan akan sedetik menjelang ajalnya dia ingin mengingat baik baik raut wajah putranya.
Air mata Ong Bun kim yang sebesar kacang kedelai menetes ke bawah membasahi tangan Coa Siok oh...
"Nak, kau .... kau sedang menangis?"
Bisik perempuan itu dengan suara lemah.
"Ibu "
Panggilan pemuda itu lebih mengibakan hati orang.
"Nak, kau....apakah kau telah .... telah mengakui diriku sebagai sebagai ibumu?"
"Oh ibu! Ampunilah anakmu yang tidak berbakti ini....aku telah menghajarmu....mencari maki dirimu, oh ibu ... aku ... aku benar benar seorang anak yang tidak berbakti...."
Air mata Coa Siok oh berlinang pula dengan derasnya ...
sekulum senyuman penuh kedamaian ...
senyuman menjelang tibanya sang ajal menghiasi ujung bibirnya...
Dengan bersusah payah dan mempergunakan segenap kemampuan yang dimilikinya ia berkata.
"Nak, ibu ...ibu telah memaafkan semua kesalahanmu ..kau ... kau tidak bersalah, kesemuanya itu bukan ... bukan kesalahanmu!"
"Ibu!"
"Ibu dapat mati...lari., lantaran untuk menolongmu, aku..aku akan matidengan hati puas..."
Selama hidup belum pernah Bunga iblis dari neraka menyaksikan adegan perpisahan antara hidup dan mati seperti ini, dia tak tahan menyaksikan peristiwa tersebut lebih jauh, sambil menutup wajahnya ia menangis tersedusedu .."Nak, ibu....
ibu merasa tidak tahan lagi ...."
Tiba tiba Coa Siok oh berbisik lagi.
"Tidak, ibu! Kau pasti dapat hidup terus...."
"Ibu... ibu tak akan hidup lebih lama lagi, ibu., .ibu menyayangimu...sayang....sayang hanya sedikit yang dapat kuberikan untukmu....."
"Tidak, oh ibu! Terlalu banyak yang telah kau berikan kepadaku, terlalu banyak ...."
"Tidak, ibu tidak memberi apa apa kepadaku. ...aku....akupun tidak dapat merawatmu serta mencintaimu ... tapi...tapi setiap hari aku.... aku selalu memikirkan dirimu nak, aku....aku...."
"Ibu, aku tidak menyalahkan kau !"
"Asal .... asal kau tidak menyalahkan diriku .... aku ... akupun akan pergi dengan tenang."
Suara pembicaraan tersebut makin lama semakin lirih sehingga akhirnya hampir tak kedengaran lagi, yaa, malaikat elmaut telah menggapaikan tangan kepadanya, selembar nyawanya sudah akan direnggut pergi dari alam semesta yang penuh dengan kejadian Apakah yang berhasil didapatkan sepanjang hidupnya?
Cinta pertamanya sebagai kuncup bunga yang layu sebelum berkembang, hubungan kasih sayangnya dengan Phang Pak bun hanya melintas bagaikan impian.
Meskipun ia kawin dengan Ong See liat di bawah tekanan ayahnya, tapi cintanya yang sudah tak utuh itu dipersembahkan juga kepadanya, sayang musibah selalu mengikuti kemanapun dia pergi.
Suaminya telah mati, putranya hilang lenyap tak berbekas.
Ketika akhirnya ia berhasil menemukan kembali putranya, terjadi lagi peristiwa perebutan anak, yang mana membuatnya penasaran dan lebih menderita.
Kalau ditanya apa yang berhasil diperolehnya selama ini, maka hal itu tak lebih hanya pengakuan ibu dari putranya, kecuali itu hampir tiada sesuatu apapun yang berharga diperolehnya.
"Oooh ibu, kau harus hidup lebih lanjut kau harus hidup lebih lanjut ...."
Jarit Ong Bun kim. Dengan lemah perempuan itu gelengkan kepalanya.
"Ibu ...ibu tak sanggup lagi, kalau kalau kau berhasil lolos lolos dari kematian, jangan ... jangan lupa untuk ... untuk membalaskan deadam baa bagi ayahmu..."
Tiba-tiba kepalanya terkulai ke samping dan menghembuskan napas penghabisan.
"Ibu ... !"
Bagaikan orang gila Ong Bun kim menggoncang goncangkan tubuh Coa Siok oh.
Pukulan batin diterimanya ini terlampau berat, menyusul teriakan itu, dia muntah darah segar dan tubuhnya segera terjatuh di samping tubuh ibunya.
Peristiwa ini sungguh merupakan suatu tragedi yang memilukan hati setiap orang.
Bunga iblis dari neraka yang menyaksikan kejadian itu menjerit keras karena kaget, isak tangisnya seketika berhenti.
Untuk sesaat suasana menjadi hening ...
sepi....tak kedengaran sedikit suarapun.
Ong Bun kim adalah seorang yang sudah menderita luka parah, mana sanggup ia terima pukulan batin itu?
Dengan cepatnya pemuda itu jatuh tak sadarkan diri ....
Sambil menahan lelehan air matanya, Bunga iblis dari neraka harus mempergunakan segala daya upaya untuk menolong pemuda itu, akhirnya setelah bersusah payah sekian lama, Ong Bun kim sadar kembali dari pingsannya ...
"Di ... di manakah ibuku?"
Bisiknya seperti orang yang kehilangan ingatan.
"Dia ... dia telah meninggal dunia!"
"Yaa, ... dia memang telah mati ..... yaaa, sudah mati ...."
"Adik Ong, orang yang sudah mati tak akan bangkit kembali, kau ... kau tak usah terlampau sedih ..."
Hibur Bunga iblis dari neraka dengan suara pedih.
"Benar apa harganya nyawa seorang manusia? Hidup yaa hidup, mati yaa mati ....aaai, aku ... bukankah aku sendiripun seseorang yang sudah mendekati pada ajalnya...?"
"Tidak, kau tidak bakal mati!"
"Aku tahu aku bakal ... mati, isi perutku seperti dibakar dengan api, punggungku sakit seperti diiris iris, dan kesadaranku ... makin lama ... makin pudar ...."
"Kau... kau tidak akan mati!"
Jerit gadis itu seperti orang histeris.
Tapi ia mengerti bahwa malaikat kematian sedang menggapai ke arah Ong Bun kim, dia akan merenggut selembar nyawanya yang berharga itu.
Tiba-tiba Ong Bun kim seperti dapat menyadari akan sesuatu, soal mati hidupnya tidak dipikirkan lagi dalam hatinya, seperti orang bodoh ia bergumam.
"Baiklah, matipun tak apa di alam baka aku ..... aku bakal bertemu dengan ayah yang belum pernah kujumpai ... aku pun akan bertemu kembali dengan ibuku .... yang baru meninggal, kita .... kita sekeluarga bakal ber-kumpul kembali di alam baka ..."
"Tidak ... jangan kau teruskan ucapanmu."
Teriak Bunga iblis dari neraka cepat-cepat. Ong Bun kim tertawa sedih.
"Di alam semesta aku telah memperoleh kasih sayang, apa lagi yang hendak kuharapkan.."
Tanpa terasa meleleh juga dua baris air mata, air mata menjelang saat tibanya ajal.
"Adik Ong ..."
Teriak gadis itu. Ia mendekap di atas tubuhnya sambil menangis tersedu sedu ... seperti sedang menangisi kematian kekasihnya.
"Dalam ... dalam kehidupan manusia yang penuh kesuraman ini, kau telah memberikan cinta kepadaku ..,. kau telah memberikan pula kebahagiaan yang singkat kepadaku, aku ... aku merasa berterima kasih sekali kepadamu."
"Kau ... kau jangan berbicara lagi ..."
Ucapan tersebut disertai isak tangis yang mengenaskan, membuat suasana kian bertambah sedih dan murung ...
mereka saling berpelukan dah menangis, yaa, dalam sedetik menjelang perpisahan tersebut mereka harus manfaatkan kesempatan yang ada dengan sebaik baiknya, sebab selewatnya itu, njungkin mereka tak akan berjumpa lagi.
Mendadak ....
Bunga iblis dari neraka merasakan tubuh Ong Bun kim mulai tak bertenaga, kelopak matanya mulai merapat, sedang sepasang tangan yang digunakan untuk memeluknya kini menjadi lemas dan terkulai ke bawah.
"Adik Ong ...."
Seperti orang kalap ia menjerit.
Jeritan tersebut ibaratnya jeritan yang muncul dari dasar jiwanya, Ong Bun kim dapat mendengarnya tapi tak mampu menjawab lagi, dalam keadaan demikian tubuhnya sudah tak berfungsi sebagaimana mestinya lagi.
Ia mendekap di atas tubuhnya dan menangis tersedu sedu...
Tiba-tiba ...
Serentetan suara langkah manusia ber-kumandang memecahkan keheningan dan menyadar-kan kembali Bunga iblis dari neraka dari isak tangisnya yang penuh kepedihan.
Dengan cepat ia mengalihkan perhatiannya ke arah mana bsrasaloya suara itu, tampak sesosok bayangan manusia berbaju abu-abu pelan-pelan berjalan ke luar dari balik hutan, dalam sekejap mata mereka telah berdiri saling berhadapan muka.
Orang itu bukan lain adalah gadis berbaju abu-abu yang berwajah pucat, berambut panjang dan bermuka murung dan sedih yang pernah dijumpai Ong Bun kim itu.
Ketika itu tanpa mengucapkan sepatah kata-pun mereka telah berpisah, kini dikala Ong Bun kim tak mampu berbicara lagi, kembali ia telah munculkan diri.
Bunga iblis dari neraka tertegun!
Dari mimik wajah gadis berbaju abu abu itu sukar rasanya untuk menemukan satu pergolakan emosi, sekalipun ada, itupun hanya terbatas pada kesedihan dan sikap yang murung.
Dalam pada itu, si dara berbaju abu abu itu telah menatap Bunga iblis dari neraka sekejap, kemudian tegurnya.
"Dia adalah kekasihmu?"
Mula mula Bunga iblis dari neraka tertegun, menyusul kemudian dengan sedih dia manggut-manggut. Nona itu mengernyitkan alis matanya, lalu berkata lagi.
"Aku lihat dia belum mati!"
"Sekarang belum tapi sudah hampir...."
Tampaknya nona berbaju abu abu itu mempunyai perasaan yang sama, pelan pelan dia mengangguk.
"Bolehkah aku periksa keadaan tubuhnya serta melihatnya apakah dia masih bisa diselamatkan atau tidak?"
Bunga iblis dari neraka segera merasakan semangatnya berkobar kembali, segera dia berseru.
"Baik, silahkan kau periksa ke dadanya sekarang juga!"
Nona berbaju abu abu itu maju menghampiri ke depan, lalu berjongkok di sisi tubuh Ong Bun kim dan mencekal urat nadinya dengan wajah serius, makin lama ia memeriksa denyutan nadinya, paras muka nona itu berubah makin aneh.
Tak terlukiskan rasa cemas Bunga iblis dari neraka setelah menyaksikan kejadian itu buru-buru tanyanya.
"Apakah dia masih dapat ditolong?"
Nona berbaju abu abu itu menghela napas panjang.
"Aaaai susah, kecuali..."
"Kecuali kenapa?"
"Kecuali mata uang kematian, tak seorang manusiapun dapat menyelamatkan selembar jiwanya!"
"Apa? Mata uang kematian?"
Seru bunga iblis dari neraka agak tertahan, rupanya nona itu merasa sangat kaget.
"Yaa, benar! Harus ada mata uang kematian !"
Untuk sesaat lamanya Bunga iblis dari neraka berdiri tertegun di situ, hampir saja dia mencurigai bahwa telinganya telah salah mendengar, sebab perkataan tersebut kenyataannya jauh sekali berhubungan dengan urusan yang sebenarnya.
Mata uang kematian bukan suatu bahan obat mustajab yang bisa dipakai untuk menyembuhkan penyakit orang, lebih lebih bukan sebutir kimwan yang bisa menghidupkan kembali orang yang setengah mati, nama mungkin benda tersebut dapat menolong selembar nyawa Ong Bun kim?
Untuk sesaat lamanya Bunga iblis dari neraka hanya bisa berdiri tertegun di situ sambil mengawasi wajah si nona berbaju abu abu yang misterius itu dengan termangu mangu.
"Aku berbicara sejujurnya"
Demikian si nona berbaju abu abu itu menegaskan kembali.
"kecuali mata uang kematian, tak seorangpun mampu untuk menyelamatkan jiwanya!"
"Kenapa?"
"Apakah kau tidak tahu bahwa mata uang kematian adalah benda benda peninggalan dari Iblis cantik pembawa maut?"
"Yaa, aku tahu!"
"Si ong mo ci atau Iblis cantik pembawa maut adalah seorang jagoan aneh dari dunia persilatan yang tersohor sekali namanya, ilmu silat yang dimilikinya sangat tinggi, dan mata uang kematian tersebut justeru mencantumkan letak di mana ia sedang terkurung!"
Sesudah mendengar penjelasan tersebut, Bunga iblis dari neraka baru mengerti apa sebabnya mata uang kematian dapat digunakan untuk menolong selembar jiwa Ong Bun kim.
Sekalipun demikian, sebuah pertanyaan masih juga memenuhi benaknya, kembali ia berkata.
"Sekalipun ia berhasil mendapatkan mata uang kematian, jiwanya tak mungkin bisa bertahan sekian lama, paling tidak jiwanya cuma dapat bertahan kira kira satu jam lagi."
"Aku dapat menolongnya untuk hidup selama sepuluh hari lagi, dalam sepuluh hari itu, keadaannya tak ubahnya seperti seorang manusia biasa, hawa beracun dari pedang Liu-yap-kiam yang bersarang di tubuhnyapun tidak akan kambuh kembali, tapi ia tak boleh turun tangan melakukan perkelahian ataupun mengerahkan hawa murni yang dimilikinya, sebab setiap kali ia berkelahi maka kemungkinan besar nyawanya yang tinggal sepuluh hari itu akan berkurang menjadi hanya delapan hari atau bahkan cuma lima hari belaka!"
Perkataan itu cukup menggetarkan sukma Bunga iblis dari neraka, timbul sebercak sinar harapan dari dalam hatinya, sebab bagaimanapun jua waktu yang tersedia selama sepuluh hari tentu jauh lebih besar dari pada waktu yang cuma satu jam, siapa tahu dalam sepuluh hari yang tersedia, ia sudah akan berhasil mendapatkan mata uang kematian tersebut.
"Kalau begitu, tolonglah selembar jiwanya!"
Pinta Bunga iblis dari neraka setelah termenung sejenak.
Paras muka si nona berbaju abu-abu itu masih tetap tawar tanpa emosi, di antara berkelebatnya jari-jari tangan, secara beruntun dia menotok beberapa buah jalan darah penting di sekujur badan Ong Bun-kim, setelah itu dia mengeluarkan sebungkus bubuk obat dari sakunya dan dituangkan ke mulut Ong Bun-kim.
Begitu hawa racun yang bersarang dalam tubuh Ong Bun-kim telah ditutup oleh nona berbaju abu-abu tadi, dia lantas menyalurkan hawa murninya ke dalam tubuh anak muda itu guna menyembuhkan luka yang dideritanya, pelan-pelan paras muka Ong Bun-kim pulih kembali menjadi segar dan bersemu merah.
Sekali lagi nona berbaju abu-abu itu menatap sekejap wajah Ong Bun-kim dengan sepasang biji matanya yang sayu dan penuh kemurungan itu, kemudian dibukanya bungkusan berisi obat itu dan dituangkan ke mulut si anak muda itu.
Selanjutnya kepada Bunga iblis dari neraka dia berkata.
"Kini luka dalamnya telah sembuh kembali, sedang hanya racunnya telah kubendung untuk sementara waktu, bila sepuluh hari sudah lewat maka sekujur tubuhnya akan menghitam dan jiwanya akan melayang meninggalkan raganya."
"Aku tahu!" 00oodwoo00 BAB 21 APABILA kau tidak menginginkan kematiannya, maka dalam sepuluh hari ini mata uang kematian harus berhasil kau temukan, kalau tidak tak seorang manusiapun dalam dunia persilatan dewasa ini yang sanggup menyelamatkan selembar jiwanya,"
Kata nona berbaju abu-abu itu lagi.
"Aku pasti akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk mendapatkan mata uang kematian!"
"Ingat baik-baik pesanku, jangan mengijinkan dirinya untuk turun tangan, sebab satu kali dia berkelahi maka akibatnya harapan untuk hidup akan semakin tipis, aku percaya kau dapat memahami perkataanku! Nah, aku akan pergi dulu!"
Dengan penuh perasaan berterima kasih Bunga iblis dari neraka memandang sekejap ke arahnya, tiba-tiba ia menegur.
"Kenapa kau bersedia menolong jiwanya?"
"Aku ?"
Dengan perasaan tak menentu dan sinar mata yang bertambah sayu dia tertawa, sekulum senyuman yang makin menterakan rasa sedih di atas wajahnya, dengan sedih ia berkata.
"Aku sendiripun tidak tahu....mungkin saja dalam penghidupan manusia yang serba menyedihkan ini, aku dan dia mempunyai nasib yang sama menderitanya."
"Aku dapat merasakan bahwa wajahmu amat sayu, dan murung..."
Nona berbaju abu-abu itu tertawa getir.
"Apakah kau sendiri tidak demikian? Hanya saja kau berbeda dengan aku, kau dapat menyembunyikan semua kesedihan dan kemurunganmu di dalam hati, agar senyuman menutupi dan menyembunyikan kemurungan serta kesedihanmu itu."
"Tahukah kau manusia macam apakah aku ini?"
"Yaa, aku tahu."
Tiba-tiba di atas wajah si Bunga iblis dari neraka yang cantik terlintas rasa sedih yang amat tebal, air mata segera jatuh bercucuran membasahi pipinya.
"Ucapanmu memang benar, aku paksakan senyuman untuk selalu menghiasi bibirku, aku ingin membuang untuk sementara waktu kesedihan serta iemurungan yang menguasai perasaanku "
Sekali lagi si nona berbaju abu-abu itu tertawa getir.
"Kau telah mencintainya?"
Dia bertanya. Setelah menghela napas ringan, kembali ia melanjutkan.
"Dia adalah seorang lelaki yang sudah terbiasa menerima semua kenyataan yang pahit dan penuh kegetiran, kau memang harus memberikan cintamu kepadanya, sebab dia membutuhkan itu!"
"Semoga saja aku dapat mencintainya!"
Bisik Bunga iblis dari neraka sambil tertawa getir.
"Semoga kalian dapat saling cinta mencintai, nah aku hendak pergi lebih dulu!"
Nona berbaju abu abu itu segera bangkit berdiri, kemudian dengan membawa tubuhnya yang lesu dan sayu dia berlalu dari situ dan lenyap di balik pepohonan....
Memandang bayangan punggung si nona berbaju abuabu yang pergi menjauh, Bunga iblis dari neraka menghela napas panjang, tiba-tiba ia menemukan bahwa gadis itu terlampau mengenaskan, seakan-akan nasibnya memang sudah ditakdirkan demikian.
Ia menghela napas sedih, lalu bisiknya.
"Terlalu banyak perempuan yang tidak beruntung hidup di dunia ini....seperti juga dia...."
Belum habis gumaman tersebut ketika Ong Bun-kim sadar kembali dari pingsannya, pelan-pelan ia mengawasi sekejap sekeliling tempat itu, akhirnya sorot mata yang penuh diliputi perasaan heran dan penuh tanda tanya itu berhenti di atas wajah Bunga Iblis dari neraka.
"Aku aku masih hidup?"
Bisiknya. Dengan sedih Bunga iblis dari neraka mengangguk.
"Yaa, kau masih hidup...."
Tampaknya Ong Bun-kim merasa bahwa hal ini tak mungkin terjadi, ia merasa sukmanya seakan-akan telah terlepas meninggalkan tubuh kasarnya, mana mungkin dia masih hidup?
Hal ini tak akan mungkin bisa terjadi....!
Dia bangkit dan duduk di atas tanah, tapi kenyataan telah terbentang di depan mata, kenyataan membuktikan bahwa dia masih hidup, hidup secara sungguh-sungguh di dunia ini.
"Siapa yang telah menyelamatkan jiwaku?"
Akhirnya pemuda itu bertanya lagi setelah tertegun sekian lama.
"Seorang perempuan berbaju abu-abu...."
Bunga iblis dari nerakapun menuturkan kembali pengalamannya ketika muncul seorang nona berbaju abuabu dan turun tangan menyelamatkan selembar jiwa si anak muda itu. Akhirnya ia menambahkan.
"Seandainya dia tidak datang tepat pada waktu-nya, mungkin kau benar-benar sudah mati."
Ong Bun -kim sudah pernah berjumpa dengan nona berbaju abu-abu itu, tapi dia tak menyangka kalau ia bakal menyelamatkan jiwanya, dalam detik itu bayangan tubuh si nona berbaju abu-abu yang sayu dan diliputi kesedihan itu melintas kembali dalam benaknya...
Sesaat kemudian sambil tertawa getir dia ber-kata.
"Aaaai sungguh tidak kusangka kalau ia telah menyelamatkan jiwaku."
"Sekalipun demikian, kau hanya mempunyai kesempatan hidup selama sepuluh hari!"
"Sepuluh hari?"
Sekujur badan Ong Bun-kim segera bergetar keras, ditatapnya sekejap wajah Bunga iblis dari neraka dengan perasaan tercekat, lalu serunya kembali.
"Jadi... jadi aku masih bisa hidup sepuluh hari saja?"
"Yaa, cuma sepuluh hari."
"Apa bedanya hidup sepuluh hari dengan mati?"
"Tidak, tentu saja besar bedanya, paling tidak kau masih mempunyai harapan untuk hidup."
"Harapan apa?"
"Asal mata uang kematian berhasil ditemukan, kau pasti akan selamat yaa, kecuali mata uang kematian bisa didapatkan...."
"Maksudmu mata uang kematian dapat menyelamatkan jiwaku?"
"Benar!"
Jawab Bunga iblis dari neraka.
"sebab mata uang kematian menunjukkan di mana Iblis cantik pembawa maut disekap, kecuali iblis cantik pembawa maut, dalam dunia persilatan dewasa ini tiada orang kedua lagi yang bisa menolong jiwamu."
"Tapi .... tapi .... tidakkah hal ini terlalu sukar..."
"Sekalipun terlalu sukar untuk didapatkan, toh jauh lebih baik demikian sebab bagaimana pun jua harapan masih tetap ada!"
"Benar, manusia memang bisa hidup karena mempunyai harapan, ada harapan memang jauh lebih baik dari pada sama sekali tiada harapan."
"Oleh karena itulah aku pasti akan berusaha untuk mendapatkan mata uang kematian bagimu."
Ong Bun-kim tertawa getir.
"Budi kebaikan yang kau lepaskan kepadaku, entah dengan cara apa aku Ong Bun kim akan membalasnya, aaai ..."
"Jangan membicarakan soal membalas budi. bukan pembalasan yang kuharapkan dari apa yang kulakukan selama ini bagimu ..."
"Sekarang, bersediakah kau memberitahukan kepadaku siapa namamu?"
"Tentu saja bersedia, aku bernama Tan Hong-hong!"
"Enci Tan, aku..."
Ketika sinar matanya menyapu sekejap jenazah Coa Siok oh yang tergeletak di atas tanah, mendadak sekujur badannya gemetar keras, rasa sedih kembali muncul dalam hatinya dan mencekam seluruh perasaannya, tanpa di sadari titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.
Bunga iblis dari neraka yang menyaksikan kejadian tersebut tentu saja mengetahui bagaimanakah perasaan Ong Bun kim ketika itu, segera hiburnya dengan lembut.
"Adik Ong, kau tak usah bersedih hati yang kelewat sangat ..."
"Aku benar benar berbuat salah kepadanya, aku telah melakukan suatu tindakan yang keliru kepadanya !"
"Aku yakin dia pasti akan memaafkan kesalahanmu itu, mari kita kubur jenazahnya!"
Melotot sebesar gundu sepasang biji mata Ong Bun kim, sambil menggigit bibir menahan rasa dendam serunya.
"Siau Hui-un akan kucari dan kucincang tubuhnya menjadi berkeping-keping, dialah penyebab terjadinya peristiwa berdarah ini, ia berperan terlalu mirip dengan keadaan sesungguhnya... perempuan berhati bisa, perempuan berhati ular berkepala manusia, bila aku tak bisa mencincang tubuhnya menjadi kepingan-kepingan kecil, aku bersumpah tak akan menjadi manusia."
Berbicara sampai di situ, hawa napsu membunuh yang tebal dan mengerikan segera menyelimuti seluruh wajahnya, begitu seram milik wajahnya ketika itu membuat siapapun yang menyaksikan ikut merasakan bergidik.
"Jangan, jangan kau lakukan perbuatan itu"
Pinta Bunga iblis dari neraka dengan nada setengah merengek.
"kau tak boleh mengerahkan tenaga lagi untuk berkelahi!"
"Kenapa?"
"Sebab bila kau sampai bertenaga apalagi berkelahi dengan orang, maka nyawamu hanya akan bertahan selama lima hari saja!"
Mendengar jawaban tersebut, Ong Bun kim segera tertawa dingin tiada hentinya.
"Heehhh ... heehbh ... heeehhh ... , lima haripun sudah lebih dari cukup bagiku, asal Siau Hui un dapat kubunuh sampai mampus, sekalipun detik itu juga aku mampus, akupun akan mampus dengan hati yang lega!"
Bunga iblis dari neraka menghela napas panjang.
"Aaaai.... dengan cara apa kau hendak membinasakan dirinya?"
Ia bertanya.
"Aku hendak membunuhnya dikala ia sedang tidak menaruh perhatian kepadaku!"
"Yaa, aku tak dapat melarang keinginanmu, terserahlah apa yang ingin kau lakukan, sekarang lebih baik kita kubur dulu jenazah ibumu!"
Ong Bun-kim mengangguk dengan sedih, maka kedua orang itupun segera turun tangan untuk mengebumikan Coa Siok oh, perempuan yang malang itu ke dalam tanah.
Nasib yang buruk dan kejam telah mendatangkan kepedihan kekecewaan sepanjang hidupnya, sekarang semuanya telah berakhir, semuanya telah lenyap mengikuti lenyapnya badan tertimbun tanah liat.
Berdiri termangu di depan kuburannya yang baru, tanpa sadar Ong Bun kim mengucurkan titik air mata menyesal, diam-diam ia berjanji dalam hatinya.
"Ooh ibu! Selama aku tidak mati, aku pasti akan membalaskan dendam bagi sakit hatimu, beristirahatlah dengan tenang..."
Lama, lama sekali ia berdiri termangu sebelum akhirnya berlalu dengan berat hati meninggalkan tempat itu.
Ong Bun kim dan Bunga iblis dari neraka pelan-pelan berjalan menembusi jalan setapak...
wajah mereka diliputi oleh kemurungan, kesedihan dan kesayuan yang mengenaskan.
Mereka berdua sama-sama tercekam dalam jalan pemikirannya sendiri-sendiri, masing-masing terbuai dalam kenangan dan persoalan yang berbeda...
tapi ada satu kesamaan mereka, yakni kedua-duanya berada dalam keadaan melamun.
Apa yang dipikirkan Ong Bun kim ketika itu tidak lain adalah soal membalas dendam, bagaimana caranya membunuh Siau Hui un, perempuan licik dan keji yang telah mengoyak-ngoyakkan kehidupannya.
Sedang Bunga iblis dari neraka terbuai dalam pemikiran bagaimana caranya mendapatkan mata uang kematian.
Tanpa mata uang kematian, tak mungkin Ong Bun kim bisa hidup lebih jauh.
Tapi, diantara enam biji mata uang kematian, dua biji diantaranya berada di tangan Kui jin suseng, sedang empat biji yang lain berada di Hiat hay longcu, di manakah kedua orang itu berada sekarang?
Ia harus mendapatkan kembali semua mata uang kematian dalam jangka waktu seluluh hari, hal ini sungguh merupakan suatu pekerjaan yang sulit dan tidak gampang dilaksanakan.
Berpikir sampai di situ, tanpa sadar Bunga iblis dari neraka bertanya.
"Sekarang kau hendak pergi ke mana?"
"Pergi ke lembah Sin li kok dan mencari kokcunya Siau Hui un untuk membuat perhitungan..."
Belum habis perkataan itu berkumandang, mendadak terdengar suara tertawa dingin yang menggidikkan hati berkumandang memecahkan kesunyian.
"Heeehhh...heeehhh....heeehh...Ong Bun kim kau anggap dendam sakit hatimu bisa kau tuntut balas ?"
Paras muka Ong Bun kim dan Bunga iblis dari neraka sama sama berubah hebat, serentak mereka memutar tubuhnya ke arah mana berasalnya suara ejekan tadi.
Tapi begitu mengetahui siapa yang berdiri di hadapannya, sekujur badan Ong Bun kim segera gemetar keras, serunya tertahan.
"Aaaah .... kau ?"
"Benar, akulah Siau Hui un !"
Dalam saat dan keadaan seperti ini ternyata Siau Hui un bisa munculkan diri di tempat tersebut, kejadian ini sungguh berada di luar dugaan Ong Bun kim, hawa napsu membunuh yang tebal seketika itu juga menyelimuti seluruh wajahnya.
"Adik Ong, diakah musuh besar ibumu?"
Bisik Bunga iblis dari neraka dengan lirih.
"Benar, aku hendak membinasakan perempuan bangsat ini!"
Siau Hui un tertawa dingin tiada hentinya.
"Heehh...heeehhh...heeehhh...Ong Bun kim, aku tidak menyangka kau masih belum mampus di ujung pedang Liu yap kiam tersebut..."
Dengan kalap Ong Bun kim tertawa seram.
"Haaahhh...haahhh...haahhh...Siau Hui un, kau perempuan yang berhati keji seperti racun ular, bukan ayahku saja yang telah kau celakai, akupun hendak kau bunuh. Bila aku tidak bisa mencincang tubuhmu menjadi berkeping keping, aku bersumpah tak akan menjadi manusia, sekarang aku memang hendak mencarimu---"
"Hmm---! Kau anggap hanya dirimu yang mencariku? Ketahuilah akupun sedang mencarimu..."
"Bagus sekali...aku tidak mengira kalau kau telah menggunakan siasat yang begitu tak tahu malu dan rendah derajatnya, kau babi perempuan biadab..."
Siau Hui un tertawa seram, selangkah demi selangkah dia mendekati Ong Bun kim lalu tegur nya lagi.
"Sekarang gurumu berada di mana?"
"Mau apa kau?"
"Aku sedang mencarinya!"
"Huuuh...kau perempuan macam babi biadab masih belum berhak untuk mengetahui hal itu."
"Ong Bun kim, ketahuilah kau, selama ini aku selalu mengikuti ke mana kau pergi, tujuanku tak lain adalah ingin membunuhmu setelah kau mengerti duduk perkara yang sesungguhnya..."
"Jadi kau telah mengakui bahwa kau bukan ibuku?^ bentak Ong Bun kim dengan geramnya.
"Benar."
Jawab Siau Hui un dingin.
"aku memang bukan ibumu, ibu kandungmu Coa Siok oh telah mampus di ujung pedang Liu yap kiam lantaran untuk melindungi kau ..!"
"Jadi kaupun telah mengaku bahwa kau juga yang telah mencelakai ayahku ... ?"
"Benar!"
"Mengapa kau harus membinasakan ayahku? Hayo jawab!"
Teriak Ong Bun kim sangat marah.
"Kau tak usah tahu tentang urusan ini!"
"Kalau begitu kau mengaku-ngaku sebagai ibuku selama ini tak lain karena ingin mendapatkan sebuah benda dari tubuhku?"
"Tepat sekali ucapanmu!"
Selapis hawa pembunuhan yang tebal dan mengerikan segera menyelimuti seluruh wajah Ong Bun kim, saking besarnya luapan emosi yang mencekam anak muda itu, membuat sekujur badannya gemetar keras.
Harpa besi yang tergantung pada punggungnya segera dilepaskan, kemudian bertanya.
"Siau Hui un, aku hendak menjagal tubuhmu!"
"Heeehh...heeehh....heeehh..... akupun hendak melenyapkan nyawa anjingmu dari muka bumi!"
Ejek Siau Hui un sambil tertawa dingin.
Ong Bun kim tertawa seram, tubhhnya seperti macan terluka langsung menerjang ke arah Siau Hui un ....Paras muka Bunga iblis dari neraka berubah hebat, bentaknya.
"Adik Ong, jangan turun tangan sendiri, biar aku yang membinasakan bangsat itu."
Secepat anak panah yang terlepas dari busurnya Bunga iblis dari neraka melompat ke depan dan menghadang di hadapan Ong Bun kim.
"Menyingkir kau!"
Bentak Ong Bun kim tiba tiba. Paras muka Bunga iblis dari neraka berubah hebat, bisiknya dengan suara gemetar.
"Kau ..."
"Aku hendak turun tangan sendiri untuk membunuh perempuan terkutuk itu ..."
"Tapi kau ..."
"Tak usah banyak bicara lagi, aku sudah tidak tahan, aku harus mencincang tubuhnya sekarang juga ...."
Dalam pada itu Siau Hui un telah meloloskan sebilah kutungan pedang yang panjangnya dua depa dari punggungnya, lalu dengan wajah diliputi napsu membunuh ia berseru.
"Tak seorangpun di antara kalian yang dapat kabur dari cengkeramanku!"
Setelah berhenti sebentar, kembali ujarnya.
"Ong Bun kim sebetulnya aku tidak ingin membunuh kau, tapi sekarang, mau tak mau pembunuhan ini harus kulaksanakan!"
"Karena aku telah berhasil membongkar kedok kelicikanmu?"
Ejek Ong Bun kim sinis.
"Benar!"
"Kau memang seorang perempuan yang benar-benar amat jahat dan kejam, bukan ayahku saja telah kau bunuh, kaupun hendak membuat aku jadi gila, kau hendak suruh aku membunuh ibu kandungku sendiri kau perempuan biadab."
"Apa salahku? Itu toh merupakan rencana bagus yang telah kususun dengan cermat, cuma rencanaku itu kini sudah kau ketahui ... kenapa kau?"
Ong Bun kim tak dapat mengendalikan perasaannya lagi, ia segera membentak nyaring.
"Enci Tan, minggirlah kau, hendak kujagal perempuan biadab yang tak tahu malu ini!"
Di tengah bentakan nyaring, secepat kilat Ong Bun kim menerjang ke arah tubuh Siau Hui un, harpa besinya diayunkan kemuka dan diiringi deruan angin tajam ia melepaskan sebuah serangan maut.
Di dalam melancarkan serangan mautnya itu, Ong Bun kim telah sertakan juga segenap tenaga dalam yang dimilikinya, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya ancaman tersebut.
Siau Hui un mengejek dingin, tangannya lantas digetarkan dan kutungan pedangnya disertai kilatan cahaya tajam melepaskan pula sebuah serangan yang tak kalah dahsyatnya ke tubuh lawan.
Bayangan manusia berkelebat lewat, tubuh Ong Bun kim segera terdesak rnundur selangkah.
Dari bentrokan yang berlangsung dalam satu gebrakan ini, segera dapat diketahui siapakah di antara kedua orang itu yang lebih tangguh.
Berbicara dari kemampuan ilmu silat yang di miliki Ong Bun kim, tampaknya ia masih selisih jauh bila dibandingkan dengan Siau Hui un.
Memang, tenaga dalam yang dimiliki Ong Bun-kim bukan tandingan Siau Hui-un, lagi pula tanpa keyakinan yang masak mana berani Siau Hui-un mendatangi tempat itu seorang diri ?
Bunga iblis dari neraka yang mengikuti jalan nya pertarungan itu segera berubah paras mukanya, ia tahu betapa gawatnya keadaan Ong Bun-kim ketika itu.
Jangankan untuk membalas dendam, bisa jadi selembar nyawapun bakal ikut kabur.
000ooodwooo000 BAB 22 PARAS muka Ong Bun-kim ikut pula berubah hebat, ia membentak nyaring, serangannya makin dipercepat dan sekali lagi ia menubruk ke arah Siau Hui-un sambil melepaskan dua buah serangan.
Siau Hui-un sendiripun tak mau unjukkan kelemahan sendiri, napsu membunuhnya telah timbul dari dasar hatinya, sambil membentak keras, pedang kutungnya secara beruntun melancarkan tiga buah serangan berantai yang maha dahsyat.
Dalam waktu singkat, kedua orang itu masing-masing telah melancarkan lima buah serangan berantai.
Bunga iblis dari neraka hanya berdiri di sisi gelanggang sambil bersiap sedia melepaskan serangan maut, mendadak perasaannya bergetar keras, ia saksikan ilmu silat yang dipergunakan Siau Hui-un terdapat banyak bagian yang agak mirip dengan kepandaian silat milik Ong Bun-kim.
Hanya saja perubahan jurus serangan yang di pakai Siau Hui-un jauh lebih sakti daripada jurus serangan milik Ong Bun-kim, dan lagi dalam soal tenaga dalam pun ia jauh lebih tinggi dari pada si anak muda itu.
Bunga iblis dari neraka menjadi tidak habis mengerti, dia tak tahu kenapa kepandaian silat mereka berdua begitu mirip antara satu dengan lainnya.
-ooo0dw0ooo-
Jilid 8 DALAM pada itu, pertarungan antara Ong Bun kim dengan Siau Hui-un telah berlangsung sepuluh gebrakan, waktu itu posisi Ong Bun-kim sangat tidak menguntungkan, tubuhnya terdesak mundur berulang kali, keadaannya berbahaya sekali.
Tiba-tiba Toan kiam-giok-jin (Perempuan cantik pedang kutung) Siau Hui-un membentak keras, sebuah serangan dilancarkan dengan kecepatan luar biasa, sementara jari tangannya menyodok lengan kiri anak muda itu.
Tusukan pedang tersebut bukan cuma cepat, tapi ganasnya bukan kepalang, sungguh hal ini merupakan suatu ancaman bagi siapapun.
Waktu itu Ong Bun kim sendiripun sudah nekad dan siap beradu jiwa, dia membentak pula, bukan menghindar tubuhnya malah maju ke depan, sebuah serangan kilat dilancarkan dengan menggunakan harpa besinya.
Bertarung secara adu jiwa semacam ini betul-betul di luar dugaan Toan kiam giok jin Siau Hui un, dalam keadaan seperti ini andaikata ia tidak menarik kembali pedangnya, sekalipun Ong Bun kim bakal tewas di ujung pedangnya, akan tetapi dia sendiripun pasti akan binasa termakan oleh pukulan harpa baja dari Ong Bun kim.
Suasana menjadi kritis dan sangat berbahaya, cepat cepat Siau Hui-un menarik kembali pedangnya sambil mundur....
"Sambutlah sebuah seranganku ini lagi!"
Bentak Ong Bun kim.
Harpa besinya diputar balik, secara beruntun ia lancarkan kembali tiga buah serangan berantai.
Mendadak Siau Hui un membentak keras, pedangnya berkelebat lewat, begitu membendung ancaman dari Ong Bun kim, terletak tangan kirinya langsung membacok ke bawah.
"Blaaang ... .!"
Ong Ban kim mendengus tertahan, tubuhnya terhajar mundur sejauh tujuh delapan langkah setelah termakan pukulan telak dari perempuan she Siau itu...
"Uaaak ... .!"
Anak muda itu muntah-muntah darah segar, tak ampun tubuhnya segera roboh terjungkal ke tanah.
Sesungguhnya Ong Bun kim adalah seseorang yang telah menderita luka parah, ditambah lagi punggungnya sudah terkena tusukan pedang Liu yap kiam.
tentu saja pertarungan itu sangat merugikan posisi maupun kekuatan tubuhnya.
Kendatipun pukulan yang bersarang telak di atas tubuhnya-itu tidak mengena pada bagian yang mematikan, akan tetapi sudah cukup membuat Ong Bun kim muntah darah segar dan roboh terjungkal ke atas tanah.
Begitu musuhnya berhasil dirobohkan, bagai-kan burung elang menyambar kelinci, Siau Hui.
un melompat ke tengah udara dan langsung menerkam tubuh si anak muda itu ...
Bunga iblis dari neraka tidak ambil diam, ketika Siau hui un menerjang ke depan, diapun ikut melompat ke muka serta menghadang jalan perginya, senjata pipa besinya langsung disodok ke depan.
Serangan dari Bunga iblis dari neraka ini cepatnya bukan kepalang, mau tak mau Siau Hui un harus menarik kembali gerakan tubuhnya kalau tak ingin termakan sodokan lawan.
Paras mukanya kontan berubah hebat, tegurnya.
"Hey, mau apa kau?"
"Dan kau sendiri?"
Bunga iblis dari neraka balik bertanya.
"Aku hendak membunuhnya!"
Bunga iblis dari neraka segera tertawa dingin.
"Heeehh... heeehhh... heehhh ..selama aku berada di sini, jangan harap kau bisa membunuhnya!"
"Oya? Aku tidak percaya...."
"Kenapa tidak dicoba?"
Siau Hui un tidak banyak berbicara, pedang kutungnya segera diayun ke muka melancarkan tiga buah serangan berantai, semuanya dilakukan dengan gerakan cepat dan tertuju seluruh bagian mematikan di tubuh Bunga iblis dari neraka.
Gadis itu membentak nyaring, tubuhnya melejit ke tengah udara, Thiat piepanya secara beruntun melancarkan juga tiga buah serangan berantai yang tak kalah dahsyatnya.
Bayangan manusia saling berkelebat lewat, ke tiga buah serangan berantai yang dilancarkan Bunga iblis dari neraka itu seketika mendesak Siau Hui un sehingga mundur tujuhdelapan langkah dari posisinya semula sebelum berhasil berdiri tegak.
Dari sini terbuktilah sudah bahwa kepandaian silat yang dimiliki Bunga iblis dari neraka jauh di atas kepandaian Siau Hui un.
Kejadian ini tentu saja sangat mengejutkan Siau Hui un pribadi, mimpipun tak pernah di sangka olehnya bahwa Bunga iblis dari neraka telah berhasil melatih ilmu silatnya hingga mencapai tingkatan sedahsyat itu.
"Siau Hui un!"
Bentak Bunga iblis dari neraka kemudian.
"jika kau nekad turun tangan terus, jangan salahkan kalau aku benar-benar akan menjagal selembar nyawamu!"
Perkataan itu diucapkan dengan disertai bawa napsu membunuh yang amat tebal, membuat siapapun jua yang mendengar merasakan hatinya menjadi bergidik, paras muka Siau Hui un kontas saja berubah hebat.
Siau Hui un tak pernah menduga kalau si nona yang masih muda itu ternyata memiliki kepandaian silat yang luar biasa, sekalipun demikian sebagai seorang manusia yang tinggi hati, ia tak mau menunjukkan kelemahannya dihadapan orang.
Maka sambil tertawa dingin ejeknya.
"Aaaaa ... belum tentu!"
Begitu ucapan terakhir diutarakan, seperti anak panah yang terlepas dari busur ia melesat ke depan dan menerjang ke arah Bunga iblis dari neraka, pedang kutungnya dengan membawa desingan angin tajam langsung membacok ke tubuh lawan.
"Bangsat, rupanya kau memang kepingin mampus."
Bentak Bunga iblis dari neraka.
Senjata thiat pie pa nya mengikuti gerakan bayangan tubuh menerjang ke muka, diantara berkilaunya cahaya tajam tahu-tahu diapun telah melepaskan dua buah serangan berantai.
Berbareng dikala Bunga iblis dari neraka turun tangan, sesosok banyangan manusia bagaikan sebuah sukma gentayangan telah menyambar ke arah Ong Bun kim dan melarikan anak muda itu.
Sungguh cepat gerakan tubuh orang tersebut, hal ini membuat Bunga iblis dari neraka sama sekali tidak merasakannya.
Waktu itu segenap perhatiannya hampir tertuju pada pertarungan, dua buah serangan dilepaskan secara beruntun yang memaksa Toan kiam giok jin Siau Hui un terdesak kembali sejauh tujuh -delapan langkah ke belakang.
Belum puas dengan hasil yang dicapai, Bunga iblis dari neraka kembali meluncur ke depan sambil melancarkan sebuah serangan lagi.
Dalam sekeja mata, kedua orang itu sudah terlibat dalam dua puluh gebrakan lebih.
Ilmu silat yang dimiliki Siau Hui un nyatanya memang bukan tandingan Bunga iblis dari neraka, duapuluh gebrakan kemudian ia benar-benar sudah terdesak di bawah angin, posisinya berbahaya sekali, dan ia tidak memiliki kekuatan lagi untuk melancarkan serangan balasan.
"Roboh kau ..."
Mendadak Bunga iblis dari neraka membentak keras.
"Blaaang ... !"
Sebuah serangan bersarang telak di tubuh Siau Hui un, membuat perempuan itu terpental sejauh satu kaki lebih dan muntah-muntah darah segar.
"Kalau kau tidak segera enyah dari sini, jangan salahkan kalau aku akan bertindak kejam!"
Bentak Bunga iblis dari neraka sambil menggertak gigi menahan marah. Siau Hui un tertawa dingin.
"Bagus sekali, kalau betul-betul bernyali, sebutkan siapa namamu!"
"Bunga iblis dari neraka .... !"
Belum habis perkataan itu, dengan membawa lukanya yang cukup parah Siau Hui un telah putar badan dan kabur dari situ.
Di tengah keheningan yang mulai menyelimuti seluruh jagad, tiba-tiba berkumandang suara tertawa dingin dari belakang.
"Heeehhh ... heeehhh ... heeehhh ....Bunga iblis dari neraka, ilmu silatmu memang terhitung lihay sekali."
Betapa terpsranjatnya. Bunga iblis dari neraka setelah mendengar teguran tersebut, dengan, cepat ia berpaling, tapi paras mukanya Segera berubah hebat.
"Lepaskan dia ..."
Hardiknya. Berbareng dengan bentakan itu, tubuhnya secepat sambaran kilat menyerang ke depan dan berusaha melepaskan Ong Bun kim dari cengkeraman orang itu "Mundur!"
Orang itu kembali membentak nyaring.
"kalau tetap membangkang, jangan salahkan kalau kubunuh orang ini lebih dulu!"
Mau tak mau Bunga iblis dari neraka harus menarik kembali serangannya sambil menyurut ke belakang, pucat pias wajahnya karena emosi.
"Hiat hay long cu ....mau apa ... mau apa kau?"
Bentaknya kemudian sambil menahan geram.
Tak salah lagi, yang datang memang Hiat hay long cu ( Si romantis dari Hiat hay ) Teng Kun adanya!
Kembali kejadian ini merupakan suatu peristiwa yang mengejutkan dan sama sekali di luar dugaan orang, siapakah yang akan menduga kalau dia bakal menangkap Ong Bun kim sebagai sandera dikala Bunga iblis dari neraka sedang terlibat pertarungan seru melawan Siau Hui un?
Sekulum senyuman dingin yang sukar di lukiskan dengan kata kata segera menghiasi raut wajahnya, ia menjawab.
"Ooh ... .sederhana sekali, aku hanya menginginkan dua biji mata uang kematian yang berada di sakunya!"
Bunga iblis dari neraka tertawa dingin.
"Hmmm ..... kau jangan bermimpi di siang hari bolong, mata uang kematian itu telah dibawa kabur orang!"
"Sungguhkah perkataanmu?"
"Kalau tidak percaya, mengapa tidak kau geledah sendiri isi sakunya ?"
Hiat hay long cu merasa perkataan itu ada benarnya juga, sekujur badan Ong Bun kim segera digeledah dengan seksama, kenyataannya kedua biji mata uang kematian itu memang betul betul sudah lenyap tak berbekas.
Paras mukanya segera berubah hebat, bentaknya.
"Siapa yang telah membawanya kabur?"
"Ku-jin suseng!"
"Sungguhkah itu?"
"Buat apa aku musti bohong?"
Hiat hay. long cu segera tertawa, dalam waktu yang teramat singkat itu pelbagai perubahan berlangsung di atas wajahnya, dia seakan akan sedang memikirkan sesuatu ....
"Hei, sekarang kau dapat melepaskan orang itu bukan?"
Tegur Bunga iblis dari neraka dengan ketus.
"Aaaah hal ini mana boleh kulakukan?"
Jawab Hiat hay long-cu sambil tertawa dingin.
"Lantas apa yang kau inginkan?"
"Sukar untuk dikatakan!"
Hawa pembunuhan sekali lagi menyelimuti seluruh wajah Bunga iblis dari neraka, serunya.
"Teng Kun, tempo hari aku telah mengampuni selembar jiwamu, jangan kau anggap aku tak mampu membunuhmu. Bila kau berani mengganggu Ong Bun kim barang seujung rambutpun, aku akan suruh kau mampus pula dalam keadaan mengerikan."
Cukup menggidikkan hati orang perkataan dari Bunga iblis dari neraka itu, demikian dingin dan seramnya dapat membuat bulu kuduk orang pada bangun berdiri.
Tapi Hiat hay long cu masih juga tertawa dingin tiada hentinya.
"Heebhh ... heeebhh ... beeehhh ... kau tak perlu mengancam, sebab terhadap persoalan ini, aku tidak begitu memikirkannya di dalam hati!"
"Jadi kau benar benar tak mau melepaskan orang itu?"
Hiat hay long cu tertawa tengik, sambil cengar cengir penuh maksud cabul ia menggoyangkan kipasnya berulang kali.
"Boleh saja bila kau menginginkan kulepaskan orang ini"
Demikian ia berkata.
"cuma ada satu syarat "
"Apa syaratmu itu? Cepat katakan!"
Hiat hay long cu tertawa seram.
"Tan Hong hong, tahukah kau bahwa aku Teng Kun sudah lama sangat merindukan dirimu "
"Apa .... apa kau bilang?"
Teriak Bunga iblis dari neraka dengan mata melotot besar. Sekali lagi Hiat hay long cu tertawa dingin.
"Kalau kurang jelas baiklah kauterangkan dengan lebih jelas lagi, sudah lama aku Teng Kun jatuh cinta kepadamu ....."
"Kurangajar, kau pingin mampus ...."
Bunga iblis dari neraka tak dapat mengendalikan hawa amarahnya lagi, sambil membentak keras tubuhnya menerjang ke depan, sebuah pukulan, dahsyat segera disodokkan ke tubuh Hiat hay Iong cu.
Tapi sebelum serangan dari gadis tersebut berhasil mengenai tubuhnya, Hiat hay long cu telah membentak.
"Kalau kau masih juga tak tahu diri, jangan salahkan kalau kubunuh dirinya!"
Mendengar ancaman itu, Bunga iblis dari neraka tak berani sembarangan berkutik lagi, sebab bagaimanapun jua dia musti memikirkan juga keselamatan Ong Bun kim.
Terpaksa sambil menggertak giginya ia menahan gerakan majunya dan berdiri termangu di situ.
Hiat hay long cu tertawa licik, katanya.
"Tan Hong hong, jangan kau anggap aku sedang merayumu, apa yang kuucapkan benar-benar merupakan suara hatiku ...."
"Kentut busukmu!"
"Hai Tan Hong-hong, jangan keburu marah dulu, bagaimana kalau kita bertukai syarat "
"Apa syaratmu?"
"Nona Tan, kau tak usah berlagak bodoh lagi, boleh saja Ong Bun kim kuserahkan kepadamu, tapi kaupun harus ikut diriku!"
Bunga iblis dari neraka bersin beberapa kali, bagaimanapun juga ucapan tersebut telah menimbulkan suatu firasat tak enak dalam hati.
nya, tanpa disadari sekujur badannya gemetar keras ....
yaaa, kejadian itu merupakan suatu kejadian yang mengerikan dan menakutkan baginya.
Tiba tiba ia seperti teringat akan suatu masalah, sambil tertawa dingin ia berkata .
"Hei, aku ingin mengajukan suatu pertanyaan kepadamu!"
"Silahkan nona tanyakan!"
"Apakah keempat buah biji mata uang kematian itu berada di sakumu?"
"Benar!"
Bunga iblis dari neraka mengertak giginya menahan emosi, dalam detik detik itulah dia harus mengambil keputusan cepat, dia teramat mencintai Ong Bun kim, ia harus menyelamatkan selembar jiwanya.
Ia hendak memberikan semua kebahagiaan kepada Ong Bun kim serta meninggalkan penderitaan dan siksaan kepada diri sendiri ....
ia telah bertekad hendak menggunakan kesucian tubuhnya untuk ditukar dengan keempat biji mata uang kematian tersebut.
Baginya, jelas peristiwa ini merupakan suatu siksaan batin, suatu penderitaan yang berkepanjangan, tapi kini kenyataan telah berada di depan mata, ia harus berani menghadapi kenyataan tersebut, sebab kecuali berbuat demikian, sudah jelas tiada jalan lain lagi.
Yaa.
kejadian itu memang merupakan suatu peristiwa yang kejam dan sadis, seorang gadis rela mengorbankan kesucian tubuhnya untuk ditukarkan dengan benda yang dibutuhkan kekasihnya, kejadian apa lagi yang bisa menangkan peristiwa semacam itu?
Hian hay long cu tertawa terkekeh kekeh, ejeknya.
"Wahai nona Tan, ada persoalan apa kau menanyakan tentang mata uang kematian tersebut?"
Setelah mengambil keputusan dalam hatinya, Bunga iblis dari neraka malahan merasa lebih tenang dan lega, ia tertawa ewa.
"Bukankah kau berharap bisa mendapatkan tubuhku?"
Katanya. Hiat hay long cu segera tertawa cabul, dengan wajah tengik sahutnya berulang kali.
"Betul! Betul sekali!"
"Boleh saja kalau kau menginginkannya, tapi aku pun mempunyai sebuah syarat Apa syaratmu itu?"
"Kau berikan ke empat biji mata uang kematian dan Ong Bun kim kepadaku, sebagai gantinya akan kuserahkan tubuhku untukmu."
Perkataan itu segera mencengangkan hati si romantis dari Hiat hay long cu ini ia menjadi tertegun dan lama sekali berdiri membungkam...
Setelah berpikir beberapa saat, iapun menjawab sambil tertawa dingin.
"Seandainya aku tak dapat memenuhi keinginanmu itu?"
"Kubunuh kau!"
Kembali Hiat hay long cu tertawa dingin, lama sekali ia mempertimbangkan persoalan itu, akhirnya ia berkata lagi.
"Baiklah, aku akan menerima syaratmu itu, cuma aku hendak mengajukan pula sebuah syarat yakni setelah kejadian kau dilarang membalas dendam kepadaku!"
Mendengar jawaban tersebut, paras muka Bunga iblis dari neraka berubah hebat, sungguh luar biasa tindakan yang diambil Hiat-hay-long cu, melarangnya membalas dendam?
Bukankah hal ini akan memberi kesempatan kepadanya untuk menguarkan berita tersebut di tempat luaran ?
Bunga iblis dari neraka merasa menemui kesulitan untuk menjawab, untuk sesaat lamanya ia hanya bisa tertegun di sana.
00ooOdwOoo00 BAB 23
"BAGAIMANA keputusanmu?"
Tanya Hiat hay long Cu kemudian setelah suasana hening untuk sesaat lamanya. Bunga iblis dari neraka menggigit bibirnya kencangkencang, akhirnya ia mengangguk.
"Baiklah, tapi kaupun tak boleh memberitahukan persoalan kita berdua ini kepada siapapun!"
"Baik, aku setujui"
"Kalau begitu, serahkan dulu Ong Bun kim dan keempat biji mata uang kematian itu."
Pelan pelan Hiat hay long cu berjalan kehadapan Bunga iblis dari neraka, kemudian katanya;
"Nona Tan, ilmu silatmu jauh di atas kepandaian silatku, mau tak mau aku musti menotok dulu jalan darahmu, bila permainan kita telah usia nanti kau baru akan kubebaskan kembali."
Air muka Bunga iblis dari neraka amat sayu dan murung, seluruh perasaannya seakan-akan telah menjadi kaku dan mati rasa, dalam keadaan beginilah dengan suatu gerakan yang aneh Hiat hay long cu menotok jalan darah di atas tubuhnya.
Begitu jalan darahnya tertotok, segenap kekuatan yang berada dalam tubuh Bunga iblis dari neraka menjadi buyar.
Sekali lagi Hiat hay long cu tertawa dingin, empat biji mata uang kematian diambil ke luar dan diserahkan kepada gadis itu, sedang Org Bun kim dibaringkan pula ke atas tanah.
Suatu peristiwa yang kejam dan menakutkan akhirnya berlangsung juga ...
Sambil tertawa cabul Hiat hay long cu menarik tangan Bunga iblis dari neraka untuk memasuki sebuah gua karang tak jauh letaknya dari situ...
Di dalam gua itulah dengan gerak gerik yang memuakkan ia menelanjangi gadis itu, lalu menggagahinya secara brutal ....
Ong Bun-kim masih tetap berbaring di atas tanah ...
tahukah dia, bahwa suatu peristiwa yang memilukan hati telah berlangsung lantaran dia ?
Impian indah pun buyar mengikuti berlangsungnya peristiwa yang memilukan hati itu.
Bagaimanapun jua, gadis itu adalah gadis pertama yang dicintainya, tapi kini gadis tersebut telah menyerahkan kesucian tubuhnya untuk seorang manusia hidung bangor yang cabul dan memuakkan.
Bila suatu ketika ia mengetahui akan kejadian ini, entah bagaimanakah perasaannya ketika itu?
Entah kejadian mengerikan apa lagi yang bakal berlangsung?
Yaa, kejadian ini memang tak terbayangkan oleh siapapun, jika Ong Bun kim tahu kalau Bunga iblis dari neraka telah mengorbankan kesuciannya demi menolong keselamatan jiwanya, dapatkah ia menerima pukulan batin yang amat berat itu?
Tak lama kemudian, dari dalam gua ber-kumandang suara gelak tertawa yang amat nyaring, dengan membawa wajah yang puas dan bangga Hiat hay long cu berjalan ke luar dari gua itu dan berlalu dari sana dengan gerakan cepat.
Selang sejenak kemudian, Bunga iblis dari neraka dengan wajah yang pucat dan air mata masih membasahi pipinya berjalan ke luar pula dari gua itu, langkah tubuhnya kelihatan agak sempoyongan ....
Ia tampak begitu sayu, begitu murung dan seperti orang yang kehilangan semangat, terlampau berat pukulan batin yang diterimanya itu, dan pukulan batin tersebut bukan sembarang au orang bisa menahannya.
Tapi ia telah menerima kenyataan tersebut.
Impian yang indah indah kini telah buyar, terkoyakkoyak ditangan seorang iblis.
Yang ditinggalkan untuknya sekarang hanya suatu impian yang menakutkan, suatu kenangan yang buruk dan tak akan terlupakan selamanya, entah perempuan macam apapun, tak nanti mereka akan melupakan kejadian tersebut hingga akhir hayatnya.
Dengan pandangan kosong dan langkah sempoyongan ia berjalan mendekati Ong Bun kim.
Sampai detik itu Ong Bun kim masih tergeletak di tanah dalam keadaan tak sadar.
Akhirnya Bunga iblis dari neraka berhenti di sisi tubuh Ong Bun kim, memandang sang pemuda yang tergeletak dalam keadaan tak sadar itu, tak kuasa lagi ia mendekap di atas tubuhnya dan menangis tersedu sedu.
Sungguh memilukan hati suara tangisannya, semua kesedihan dan penderitaannya dilampiaskan ke luar dalam tangisannya itu.
Lama, lama sekali, ia baru menghentikan isak tangisnya, hawa murni lantas disalurkan ke dalam tubuh Ong Bun kim dan berusaha untuk mengobati lukanya.
Kurang lebih setengah jam kemudian, akhirnya Ong Bun kim sadar kembali dari pingsannya ....
Ia duduk bersila dan mengatur sebentar pemapasannya, setelah itu baru tanyanya.
"Enci Tan, ke mana perginya Siau Hui un?"
"Ia telah kabur!"
Sorot mata Ong Bun kim segera dialihkan ke atas wajah Bunga iblis dari neraka, mendadak ia temukan paras muka gadis itu berubah menjadi pucat menakutkan, wajahnya tampak begitu layu, begitu luruh hingga mengharukan sekali.
Tergetar juga perasaannya, tanpa sadar ia berseru.
"Enci Tan .... kau sakit?"
Hampir saja air matanya jatuh bercucuran ketika mendengar pertanyaan itu, sambil menahan air matanya agar jangan meleleh ke luar nona itu balik bertanya.
"Masa benar?"
"Yaa, benar, wajahmu kelihatan pucat sekali "
"Mungkin terlalu banyak tenaga yang kugunakan sewaktu bertarung tadi, ketika kau masih tak sadar tadi, Hiat hay long cu telah datang, aku berhasil mendapatkan ke empat biji mata uang kematian itu..."
Ketika berbicara sampai di situ, nona itu betul-betul tak kuasa menahan diri, hampir saja air matanya jatuh bercucuran, ucapan itu jadi terputus sampai di tengah jalan dan ia tak mampu berbicara lebih jauh.
Rupanya berita itu jauh di luar dugaan Ong Bun kim, katanya.
"Enci Tan, kau berhasil mendapatkan ke empat biji mata uang kematian itu?"
"Benar!"
Dikeluarkannya ke empat biji mata uang kematian itu dan diserahkan ke tangan Ong Bun kim.
Si anak muda itu merasakan hatinya bergolak keras, tentu saja dia tak akan menyangka kalau ke empat biji mata uang kematian tersebut di dapatkan Bunga iblis dari neraka dengan menjual kesucian tubuhnya.
Ketika menerima mata uang kematian itu, sekujur badan Ong Bun kim gemetar keras, katanya penuh luapan rasa haru.
"Enci Tan, aku ... aku tak tahu bagaimana harus berterima kasih kepadamu ... ."
"Itu bukan terhitung banyak bagimu!"
Sahut Bunga iblis dari neraka sambil tertawa paksa.
"Enci Tan, mungkin saja aku masih ada kesempatan hidup selama lima hari, dalam lima hari ini dapatkah kita temukan guruku Kui jin suseng, hal ini masih merupakan sultu kejadian yang sukar diduga sebelumnya ...."
"Kita bisa berusaha mencarinya dengan sepenuh tenaga ..". bagaimanapun jua ia harus kita temukan!"
Bunga iblis dari neraka cukup mengerti, bila Kui jin suseng tidak berhasil ditemukan, maka sia-sialah ia mengorbankan kesucian tubuhnya.
"Aaaai Aku kuatir kalau hal ini tidak mudah untuk dilaksanakan!"
Keluh Ong Bun kim sambil menghela napas.
"Jangan putus asa! Suatu ketika pasti akan kita temukan jejak gurumu itu. Oya, tiba-tiba saja aku teringat akan suatu persoalan, kau merasakan tidak bahwa gerakan jurus silat yang dipergunakan Siau Hui un berasal satu aliran denganmu? Aku menemukan kesamaan-kesamaan dalam gerakan-gerakannya dengan gerakanmu."
"Aaaah ... Benarkah telah terjadi peristiwa itu?"
Seru Ong Bun kim tertegun.
"Betul, hanya saja aku tidak habis mengerti, kenapa bisa menjadi demikian ... ."
Tampaknya Ong Bun kim sedang memikirkan sesuatu, tapi ia sendiripun tidak berhasil menemukan suatu "kemungkinan"
Yang merupakan latar belakangnya, ia merasa banyak persoalan tak mungkin bisa ia jawab sendiri kecuali Kuijin suseng yang menerangkan kesemuanya itu kepadanya.
Sementara semua orang masih termenung, tiba-tiba ia mendengar suara langkah manusia tempat itu itu, dengan cepat ia mendongakkan kepalanya, maka tampaklah Ngo ou tiau khek (si tukang pancing dari lima telaga) yang memakai topi lebar dan membawa alat pancingan itu pelanpelan berjalan mendekat.
Ong Bun kim agak terkejut, untuk menghindarkan diri dari segala kemungkinan yang tidak diinginkan dia segala melompat bangun.
Pada saat itulah, Ngo ou tiau khek telah tiba dihadapan Ong Bun kim, sesudah memberi hormat katanya.
"Ong saahiap, terimalah salam hormatku ini!"
Ong Bun kim tertegun, ia tak habis mengerti kenapa kakek ini bersikap demikian sungkan kepadanya, padahal sewaktu berada di benteng Tui hong po tempo hari, dengan marah dan penuh perasaan dendam ia bersama Kang Peng putrinya Lui tian jiu telah berlalu dari sana setelah ia menderita kalah di tangannya.
Hanya sebentar Ong Bun kira tertegun, agar tidak kehilangan rasa hormatnya buru-buru ia balas memberi hormat.
"Tidak berani, ada urusan apa kau datang ke mari?"
"Ong sauhiap, adapun maksud kedatangku hari ini adalah khusus untuk minta maaf atas kelancangan serta keteledoranku hingga mengakibatkan terjadinya peristiwa yang tidak diinginkan dalam benteng Tui hong po!"
"Apakah locianpwe telah berhasil mengetahui duduk perkara yang sebenarnya?"
"Benar, Kiam hay lak yu memang bukan mati di tangan Ong sauhiap, melainkan telah tewas di tangan seseorang yang lain!"
"Dibunuh oleh Sam jiu hek hou (rase hitam berlengan tiga) ?"
"Kemungkinan benar kemungkinan tidak benar, cuma bagaimanakah duduknya persoalan yang sesungguhnya masih belum bisa dipastikan, sebab hingga kici orang tidak habis mengeri dengan masalah Sam jiu hek hou itu, mengapa ia bisa menggunakan ilmu silat dari enam partai besar."
"Apakab locianpwe tidak tahu kalau dia adalah anak buahnya lembah Sin li kok?"
"Aku tahu!"
"Kokcu dari lembah Sin li kok pun pandai mempergunakan ilmu silat dari aliran enam partai besar!"
"Aaaah masa iya ?"
Seru Ngo ou-tiau khek tertegun, alis matanya yang putih lantas berkenyit, gumamya.
"kalau begitu tak heran lagi jangan-jangan... jangan-jangan..."
"Jangan-jangan kenapa?"
"Jangan-jangan antara Kui jin suseng dengan lembah Sin li kok memang mempunyai hubungan?"
Terkesiap Ong Bun km setelah mendengar perkataan itu, sebab kemungkinan begitu memang ada, kalau tidak, kenapa Siau Hui un dapat pula mempergunakan ilmu silat dari aliran enam partai besar?
Terdengar Ngo ou tiau kbek telah berkata lagi.
"Aku rasa hanya seorang yang bisa menjawab semua pertanyaan kita ini, orang itu yakin Kui jin suseng sendiri!"
"Betul!"
"Nah, itulah sebabnya aku datang mencarimu, karena persoalan ini hanya kau saja yang dapat membantu ..."
"Apakah kau mengetahui tentang jejak Kuijin suseng ?"
"Benar!"
Jawaban itu segera menggetarkan perasaan Ong Bun kim serta Bunga iblis dari neraka, tanpa disadari serentak mereka seru bersama.
"Dia berada di mana?"
"Berapa hari berselang, di sekitar kota Kay hong dan Lok yang telah muncul jejak dari Kuijin suseng, banyak sekali barang kawalan para perusahaan piaukiok yang kena dia begal!"
"Betulkah kejadian itu?"
"tanya Ong Bun-kim dengan wajah berubah.
"Benar, lagi pula sebelum turun tangan ia selalu memberi sepucuk surat pemberitahuan kepada lawannya, bahwa dalam tiga hari mendatang dia akan turun tangan."
"Kalau begitu, apakah dia telah munculkan diri kembali?"
"Yaa, semalam Kui jin suseng telah meninggalkan pula sepucuk surat di rumahnya Shen Ting, Sheng cengcu yang berdiam di luar kota Lok yang, katanya dia menghendaki sebilah pedang mestika milik keluarga tersebut !"
Ong Bun kim menjadi sangat girang, serunya dengan cepat. Kalau begitu, kemungkinan besar besok malam Kui jin suseng akan turun tangan?"
"Benar, justru lantaran kejadian ini, dunia persilatan telah terjadi pergolakan yang amat hebat, pelbagai jago lihay dari segala penjuru termasuk pula jago-jago kelas satu dari enam partai besar, kemungkinan sekali telah berdatangan semua di luar kota Lok yang!"
"Bagus sekali!"
Pekik Bunga iblis dari neraka.
"kebetulan kami memang sedang mencarinya!"
"Apa salahnya kalau kita berangkat bersama untuk menyaksikan kejadian itu?"
"Baik!"
Maka berangkatlah ketiga orang itu menuju ke kota Lok yang.
Keesokan harinya, Ong Bun kin, Ngo ou tiau khek serta Bunga iblis dari neraka telah tiba di perkampungan keluarga Shen yang terletak di luar kota Lok yang.
Waktu itu kentongan kedua tiba, suasana disekehling tempat itu sunyi, senyap tak kedengaran sedikit suarapun.
Betul juga, sekeliling hutan yang melingkari perkampungan keluarga Shen, ditemukan terdapat banyak sekali bayangan hitam yang bergerak-gerak, jelas mereka adalah jago-jago persilatan yang datang untuk ikut meramaikan suasana.
Kepada Ong Bun kim, Ngo ou tiau khek segera berbisik.
"Perhatikanlah suasana di sekitar tempat ini, aku hendak menjumpai Shen cengcu lebih dahulu!"
Ong Bun kim mengangguk tanda setuju, dan si tukang pancing dari lima telagapun berlalu dari situ.
Suasana amat hening dan sepi, disekeliling perkampungan keluarga Shen secara lamat-lamat terpancar ke luar selapis hawa pembunuhan yang sangat tebal.
Ditengah keheningan yang mencekam seluruh jagat itulah, tiba-tiba terdengar suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang dari hutan sebelah kiri.
Ong Bun kim amat terkejut mendengar teriakan itu, sebab jeritan ngeri itu cukup membetot sukma orang.
Dengan gerak-gerik yang lincah dan cekatan, si anak muda itu segera melompat ke depan dan menerjang ke arah mana berasalnya suara itu.
Bunga iblis dari neraka tak berani berayal, diapun buruburu menyusul dari belakang.
Tapi begitu tiba di tempat tersebut, seketika itu juga Ong Bun kim menjadi tertegun.
Sesosok mayat manusia yang berwarna hitam pekat karena sudah terbakar menjadi arang tergeletak di atas tanah.
Baru saja dia hendak mendekati mayat itu, langkah kaki manusia yang ramai berkumandang dari belakang, disusul munculnya puluhan sosok bayangan manusia.
Orang-orang itu kebanyakan adalah para jago yang datang untuk menonton keramaian, diantaranya terdapat pula para anak murid dari enam partai besar.
"Inilah mayat keenam yang ditemukan."
Kedengaran seseorang berkata dengan suara nyaring.
Dengan perasaan tercekat semua orang berpaling ke arah mana berasalnya ucapan itu, ternyata dia adalah seorang kakek berambut putih.
Paras muka Ong Bun kim ikut berubah hebat.
"Mayat ini adalah mayat ke enam yang ditemukan?"
Bisiknya.
"Yaa, mayat ke enam yang mati di bawah ilmu pukulan yang sama!"
"Ilmu pukulan apakah itu?"
"Aku sendiripun kurang jelas!"
Sahut kakek yang berambut putih itu sambil tertawa dingin, kemudian ia melangkah pergi meninggalkan tempat itu.
Pada saat inilah muncul seorang tosu berusia lanjut yang menghampiri ke hadapan Ong Bun kim, lalu setelah tertawa dingin katanya.
"Bukankah kau adalah muridnya Kui jin suseng?"
"Benar!"
"Engkau juga yang telah membunuh puluhan orang rekan-rekan kami dari enam partai besar di luar benteng Tui hong po tempo hari?"
"Dugaanmu memang benar!"
Toosu itu kembali tertawa dingin.
"Setelah menyelesaikan persoalan gurumu nanti, enam partai besar pasti akan mengirim orang untuk menuntut keadilan darimu "
Selesai berkata ia lantas berlalu dari sana. Tiba-tiba dari antara kerumunan orang banyak terdengar seseorang berseru.
"Hei, bukankah kau sudah terkena pedang Liu yap kiam yang amat beracun ....?"
Agak terkejut Ong Bun kim ketika mendengar pertanyaan itu, tanpa sadar ia balik bertanya.
"Dari mana kau bisa tahu?"
"Setiap umat persilatan telah, mengetahui akan kejadian ini, dan lagi menurut berita yang tersiar, konon dalam tiga hari mendatang racun itu akan mulai bekerja serta merenggut nyawamu!"
Terhadap persoalan ini, Ong Bun kim betul-betul merasa tercengang dan sedikit di luar dugaan.
Ia tidak mengira sedemikian cepatnya berita itu sudah tersiar luas dalam dunia persilatan, lebih-lebih tidak menyangka kalau setiap umat persilatan telah mengetahui kejadian ini.
Sorot semua orang ditujukan ke arah Ong Bun kim dengan pandangan kaget dan tercekat, sebab nama besar si anak muda itu sesungguhnya tidak berada di bawah gurunya, maka merekapun saling membubarkan diri dan berlalu dari situ.
Kini dalam gelanggang tinggal Ong Bun kim dan Bunga iblis dari neraka, mereka memperhatikan sekejap mayat yang terbakar hingga hangus itu sekejap, kemudian pelanpelan berlalu dari situ.
Di luar perkampungan keluarga Shen, segera diliputi hawa pembunuhan yang tebal dan mengerikan.
Kentongan ketiga baru saja lewat, mendadak....
Suara tertawa dingin yang menyeramkan berkumandang memecahkan kesunyian, suara tertawa dingin itu begitu seram dan dingin seperti es membuat siapapun yang mendengarnya menjadi bergidik dan berdiri semua bulu romanya.
Ketika mereka mencoba untuk mendongakkan kepalanya, tampaklah sesosok bayangan hitam secepat sambaran kilat meluncur ke arah pintu gerbang perkampungan keluarga Shen.
Semua orang yang mendengar suara tertawa dingin itu rata-rata merasakan hatinya bergetar keras.
Paras muka Ong Bun kim mengalami juga perubahan hebat.
Begitu tiba di depan pintu gerbang manusia berkerudung hitam itu berdiri tegak sekokoh bukit karang, lalu memperdengarkan lagi suara tertawa dinginnya yang menyeramkan.
Belum habis suara tertawa dingin itu, seorang kakek berjenggot panjang diiringi empat orang laki-laki berpakaian ringkas telah munculkan diri dari balik pintu.
Tak usah ditanya lagi sudah dapat diketahui bahwa orang itu tak lain adalah cengcu dari perkampungan keluarga Shen.
Setelah saling berhadap-hadapan, Shen-keh cengcu Shen Ting tertawa dingin, lalu tegurnya.
"Tak kusangka kau benar-benar datang memenuhi janji..." -oo00dw00oo-BAB 24
"SHEN loji, hayo cepat serahkan benda yang kukehendaki !"
Perintah manusia berkerudung hitam itu seram.
"Maaf, permintaanmu itu tak bisa kukabulkan."
"Jadi kau kepingin mampus?"
Bentakan itu penuh disertai dengan hawa membunuh yang tebal, membuat siapa saja yang mendengar bentakan itu akan tercekat dan seram. Shen Ting tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh......hah haaahhh haaahhh sekaiipun aku orang she Shen musti mengorbankan selembar jiwaku, tak nanti akan kuserahkan benda mestika keluargaku untukmu!"
"Kurangajar, jadi kau kepingin mampus !"
Tampak bayangan manusia berbaju hitam berkelebat lewat, tahu-tahu secepat sambaran kilat Kui jin suseng telah menubruk ke arah Shen Ting, sebuah pukulan dahsyat segera di lontarkan ke depan.
Betapa cepatnya daya serangan yang di lancarkan itu, seandainya betul-betul bersarang ditubuh lawan niscaya akan mengakibatkan suatu luka dalam yang fatal.
Tapi, dikala Kui jin suseng sedang melepas kan serangannya yang maha dahsyat itulah, tiba-tiba berkumandang suara bentakan keras yang menggelegar dan amat memekikkan telinga.
"Tahan!"
Puluhan sosok bayangan manusia berbarengan menerjang ke arah Kui jin Suseng, orang-orang itu tak lain adalah anak murid dari enam partai besar persilatan.
Begitu tiba di tengah arena, serentak orang-orang itu menyebarkan diri dan mengurung Kui jin suseng di tengah gelanggang.
"Hei, mau apa kalian semua?"
Bentak Kui jin suseng dengan suara yang dingin menyeramkan. Seorang pendeta yang sudah tua segera tampil ke depan, lalu katanya.
"Aku pikir saudara pasti sudah mengetahui apa maksud kedatangan dari kami enam partai besar persilatan, puluhan tahun berselang, kau pernah melarikan enam kitab pusaka ilmu silat dari enam perguruan besar, maka hari ini bila tidak kau serahkan kembali kepada kami, tak nanti kami enam partai besar akan melepaskan dirimu dengan begitu saja ... ."
Kui jin suseng segera tertawa dingin.
"Heeehhh ... heeehhh ... heeehhh ... kalau begitu lihat saja bagaimana akhirnya nanti?"
"Jadi, kau benar-benar tak akan menyerah-kepada kami?"
"Kalau yaa kenapa?"
"Kalau begitu, jangan salahkan kalau kami orang-orang dari enam partai besar akan menyalahi dirimu!"
Begitu selesai berkata, pendeta tua itu segera melompat ke depan dan secepat sambaran kilat menerjang ke arah tubuh Kuijin suseng, sebuah pukulan dahsyat dilontarkan ke depan dengan hebatnya.
Hebat sekali tenaga pukulan yang disertakan dalam serangan yang dilancarkan pendeta tua itu, rupanya Kui jin suseng tahu kelihayan orang, cepat-cepat dia melejit ke samping dan tidak berani menyambut serangan tersebut dengan keras lawan keras.
Belum sampai Kui jin suseng berpijakkan kakinya ke tanah, kembali cahaya tajam berkelebat lewat dan serentetan bayangan pedang tahu-tahu sudah menyambar lagi tubuh Kui jin suseng.
Mendadak....
Dentingan suara khim pembetot nyawa berkumandang memecahkan kesunyian, kontan jago-jago dari enam partai besar merasakan hatinya seperti disayat-sayat dengan pisau tajam, karena tak tahan serentak mereka melompat mundur ke belakang.
Menggunakan kesempatan inilah dengan suatu gerakan yang cepat seperti sambaran kilat Ong Bun kim melayang masuk ke dalam arena.
Paras muka semua jago dari enam partai besar berubah hebat, sorot mata mereka sama-sama ditujukan ke wajah Ong Bun kim.
Selapis hawa membunuh yang tebal dan mengerikan telah menyelimuti seluruh wajah Ong Bun kim, ditatapnya wajah Kui jin suseng yang berkerudung hitam itu tajam tajam, lalu bertanya.
"Kui jin suseng, akhirnya aku berhasil menemukan kembali jejakmu .... kau tidak mengira bukan?"
"Mau apa kau?"
"Kui jin seseng! Aku ingin bertanya kepadamu, kenapa kau membunuh ayahku? Hayo jawab!"
Hawa membunuh yang lebih tebal dan mengerikan sekali lagi menghiasi wajah si anak muda itu.
"Kalau aku enggan berbicara?"
Ejek Kuijin suseng sambil tertawa sinis. Bunga iblis dari neraka yang berada di sisinya tiba-tiba ikut menghardik dengan suara keras.
"Kui-jin suseng, serahkan mata uang kematian yang berada di tanganmu itu kepadaku..."
"Untuk apa?"
"Ong Bun-kim telah terkena pedang beracun Liu-yap-tok -kiam, kecuali mata uang kematian tak ada cara lain yang bisa menyelamatkan jiwanya lagi."
"Ia terkena tusukan pedang beracun Liu-yap-tokiam ?"
"Benar!"
"Tidak, aku tak bisa menyerahkan mata uang kematian tersebut kepada dirimu."
"Kui-jin suseng, aku matipun tiada mengapa"
Bentak Ong Bun-kim penuh terpengaruh emosi.
"tapi kau harus memberitahukan kepadaku mengapa kau telah membunuh ayahku!"
"Tidak, aku tidak akan mengatakannya kepadamu!"
"Kalau kau tidak mengatakannya kembali, jangan salahkan kalau aku hendak turun tangan untuk membunuh dirimu!"
Bentak Ong Bun-kim.
Selapis hawa membunuh yang belum pernah terlihat sebelumnya telah menyelimuti seluruh wajah Ong Bun kim, sambil menggenggam harpa besinya selangkah demi selangkah ia maju ke dapan dan mendekati kehadapan Kui jin suseng.
Mendadak.
....
Ia membentak keras, kemudian tubuhnya menerjang ke arah Kui jin suseng dan harpa besinya, secepat sambaran kilat menyambar ke arah dada serta pinggang lawan.
Bersamaan dengan serangan yang dilancarkan Ong Bun kim, Bunga iblis dari neraka membentak keras pula.
"Tahan!"
Ia memutar tubuhnya dan menghadang di hadapan Ong Bun kim. Dengan geram dan mendongkol si anak muda itu segera membentak keras.
"Mau apa kau?"
"Kau tak boleh turun tangan lagi!"
Benar, ia memang tak boleh turun tangan lagi, sebab kalau tidak sisa kehidupannya yang tinggal tiga-lima hari itu mungkin akan musnah juga pada saat itu.
"Tidak, bagaimanapun jua aku harus membunuhnya sampai mati!"
Bentak Ong Bu kim ketus.
"Serahkan saja orang itu kepadaku!"
"Tidak, aku harus membunuhnya dengan tanganku sendiri...."
Belum habis si anak muda itu berbicara, mendadak bentakan dingin berkumandang memecahkan kesunyian, secara tiba tiba Kui-jin suseng melancarkan sebuah pukulan, kemudian tubuhnya berputar kencang dan meluncur ke arah hutan.
Tindakan Kui-jin suseng yang secara tiba-tiba kabur meninggalkan gelanggang ini sama sekali berada di luar dugaan semua orang, bahkan Ong Bun kim sendiripun tertegun dan berdiri kaku di tempat.
"Hai, mau kabur ke mana kau?"
Serentak jago jago dari enam perguruan besar itu membentak nyariog.
Puluhan sosok bayangan manusia, bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya serentak meluncur ke depan dan melakukan pengejaran secara ketat.
"Kau anggap bisa kabur dengan begitu saji?"
Bunga iblis dari neraka itu pula membentak nyaring. Tubuhnya lantas melejit ke depan dan melakukan pengejaran pula dengan kecepatan luar biasa.
"Enci Tan, kembali!"
Tiba tiba Ong Bun kim membentak keras.
Mendengar bentakan itu, mau tak mau Bunga iblis dari neraka terpaksa harus menghentikan pengejarannya, dengan rasa heran dan tidak habis mengerti ia berpaling seraya bertanya;
"Hei, kenapa kau memanggil aku?"
"Kembali!"
Meskipun perasaannya tercengang dan pikirannya bingung oleh tindak tanduk anak muda itu, toh Bunga iblis dari neraka pelan-pelan berjalan kembali juga.
Dari tempat kejauhan sana secara lamat-lamat kedengaran suara bentakan bentakan nyaring masih menggelegar memecahkan keheningan.
Setibanya di hadapan Ong Bun kim, dengan rasa ingin tahu Bunga iblis dari neraka bertanya.
"Kenapa kau tidak mengijinkan aku untuk menyusul orang itu?"
Ong Bun kim segera tertawa getir.
"Enci Tan, tak usah dikejar lagi, sebab pada hakekatnya orang itu bukan Kui jin suseng..."
"Apa? Dia dia bukan Kui jin suseng?"
"Betul, dia bukan Kui jin suseng, melainkan seseorang yang sedang mencatut namanya!"
"Dari ... dari mana kau bisa tahu?"
"Lengan kiri Kui jin suseng sudah kutung, tak mungkin tangan kirinya itu bisa dipergunakan lagi, tapi orang itu melancarkan serangannya dengan tangan kiri, padahal hal ini tak mungkin bisa terjadi ... sebab itulah aku lantas menyimpulkan bahwa dia adalah seseorang yang sedang mencatut nama Kui jin suseng."
Bunga iblis dari neraka merasa amat terkejut sesudah mendengar keterangan itu, untuk sesaat ia sampai berdiri tertegun di tempat semula.
"Dan lagi, aku berani memastikan bahwa orang yang telah mencatut nama Kuijin suseng itu adalah seorang perempuan"
Kembali Ong Bun kim berkata.
"sebab ketika melancarkan serangan tadi aku telah menjumpai jari-jari tangannya yang kecil, ramping dan halus, sudah jelas jarijari tangan seorang perempuan !"
"Kenapa orang itu akan mencatut nama gurumu untuk melakukan perbuatan perbuatan demikian?"
"Entahlah, aku sendiripun merasa kurang jelas!"
Berbicara sampai di sini Ong Bun kim menghela napas panjang, kembali lanjutnya.
"Dia tak bakal menampakkan diri, selamanya tak akan menampakkan diri lagi!"
Bunga iblis dari neraka merasakan hatinya bergetar keras, sebab jika Kui jin suseng tidak berhasil ditemukan, maka nyawa Ong Bum kim tak akan tertolong lagi, itu berarti pengorbanan tubuhnya juga sia-sia belaka.
"Enci Tan"
Kembali Ong Bum kim bertanya "sesungguhnya aku masih bisa hidup berapa hari lagi?"
"Paling sedikit tiga hari dan paling banyak lima hari !"
Mendengar itu pemuda tersebut tertawa getir.
"Kalau begitu, aku harus menyusun dulu sebuah rencana jangka panjang "
Bisiknya.
"Rencana jangka panjang?"
"Yaa, rencana jangka panjang, aku bakal mati ..ini merupakan suatu kenyataan yang tak dapat dibantah atau disangkal, tiga hari akan lewat dalam sekejap mata, mau tak mau aku harus memikirkan bagi masa-masa selanjutnya ..."
"Masa selanjutnya?"
"Ya masa selanjutnya! Enci Tan, percayakah kau bahwa aku adalah seseorang yang sudah hampir mendekati ajalnya?"
"Kau tidak akan mati ... ."
"Sekarang bukan masanya yang tepat untuk mengucapkan segala macam kata-kata hiburan, enci Tan, barsediakah kau untuk mengabulkan sebuah permintaanku?"
"Apa permintaanmu itu?"
"Kawinlah dengan aku!"
"Apa? Kawin dengan kau?"
Tiba-tiba sekujur badan Bunga iblis dari reraka gemetar keras, perkataan itu benar-benar merupakan sebuah perkataan yang sangat mengejutkan hatinya.
"Benar"
Jawab Ong Ban kim.
"aku minta agar kau bersedia kawin denganku, dalam tiga hari ini kita harus menjadi suami istri yang paling baik dan bahagia, sebab tiga hari kemudian aku bakal mati, walaupun bagimu peristiwa iai merupakan suatu peristiwa yang tragis dan mengenaskan hati, tapi setelah aku mati nanti, aku berharap aku bisa mempunyai seorang anak yang bisa membalaskan dendam bagiku, bersediakah kau enci Tan?"
Ucapan tersebut benar-benar menghancurkan perasaan Bunga iblis dari neraka.
Perkataan itu ibaratnya sebilah pedang tajam yang mengoyak hati Bunga iblis dari neraka, kalau bisa dia ingin menangis sepuas-puasnya, tapi dalam keadaan demikian ia tak sanggup untuk menangis seperti apa yang diinginkan.
Ong Bunkim mana tahu kalau tubuhnya telah dijadikan hadiah?
Mana dia tahu kalau perawannya telah direnggut oleh Hiat hay long cu demi bisa memperoleh empat biji mata uang kematian guna menyelamatkan selembar jiwanya?
Ditatapnya wajah Bunga iblis dari neraka yang penuh penderitaan dan siksaan itu, kemudian kembali bertanya.
"Enci Tan, bersediakah kau memenuhi keinginanku ini?"
"Aku ...."
Bunga iblis dari neraka merasakim tenggorokannya seperti tersumbat oleh sesuatu benda, tidak!
tahan lagi ia menangis tersedu-sedu, di tubruknya Ong Bun kim lalu dipeluknya erat-erat, di sana ia melampiaskan seluruh rasa sedihnya yang selama ini tertumpuk di dalam hati.....
Dengan penuh kasih sayang Ong Bun-kim membelai rambutnya yang hitam -mulus, lalu bisiknya dengan lembut.
"Kenapa kau? Apakah kau tidak bersedia?"
"Aku ... aku ... bagaimana kalau aku memikirkannya lebih dahulu ...?"
Suara isak tangisnya sungguh memilukan hati, bagaikan hujan gerimis air matanya jatuh bercucuran, Ong Bun kim ikut bersedih hati dibuatnya.
Bunga iblis dari neraka tak ingin melukai perasaan Ong Bun kim, maka ia harus mempertimbangkan dahulu masalah ini, padahal persoalan itu sudah tak perlu dipertimbangkan lagi, karena ia tak dapat menikah dengan orang yang paling dicintainya ini.
Ia merasa tubuhnya sudah ternoda, selaput perawannya telah dilalap oleh Hiat hay longcu, ia merasa tidak pantas tubuhnya yang telah ternoda itu dipersembahkan untuk kekasih hatinya.
Ya, ia tak dapat berbuat demikian, apa yang bisa dilakukan sekarang hanya mengulur waktu sedapat mungkin.
"Kalau begitu, mari kita tinggalkan tempat ini"
Bisik Ong Bun kim.
"Ke mana kita akan pergi?"
"Akan kucari suatu tempat yang baik agar kau bisa mempertimbangkan persoalan ini sebaik-baiknya, aku akan menantikan dirimu!"
"Tidak!"
"Enci Tan, kau ... kau menolak?"
"Aku ... ."
Ong Bun-kin segera menghela napas panjang.
"Aaaai... aku tak dapat memaksamu, walaupun kau pernah mencintaiku, aku pun pernah kau selamatkan jiwanya, tapi aku dapat merasakan bahwa banyak kesulitan yang sedang kau hadapi, yaa ketika berpisah untuk pertama kalinya dulu, bukankah kau telah pergi meninggalkan aku ....?"
"Adik Ong ..."
Air matanya bercucuran semakin deras, saking sedihnya ia sampai tak mampu berkata kata lagi.
"Terhadap dirimu, aku belum pernah bisa memahami"
Kata Ong Bun kim lagi.
"sudahlah, lebih baik kita berpisah sampai di sini saja."
Selesai berkata ia lantas putar badan dan berlalu dari situ.
Ketika memutar tubuhnya itu, dua titik air matanya jatuh berlinang membasahi pipinya, ia bukan merasa sayang karena hidupnya sudah hampir berakhir, tapi ia merasa terluka hatinya karena pinangannya ditolak mentahmentah oleh orang.
Dia adalah seorang pemuda yang cerdik, dari kepedihan serta kemurungan yang mencekam wajah Bunga iblis dari neraka, ia telah menemukan bahwa sesungguhnya ia tidak benar-benar mencintainya.
Tapi pernahkah dia menduga bahwa Bunga iblis dari neraka bersikap demikian karena ia sudah ternoda dan merasa tak pantas untuk mempersembahkan tubuhnya yang sudah tak perawan itu untuk kekasihnya?
Ketika pemuda itu memutar tubuhnya sambil melangkah pergi, Bunga iblis dari neraka merasakan hatinya benarbenar hancur lebur, teriaknya dengan amat pedih.
"Adik Ong, kau ... kau tak dapat memahami hatiku, aku ... ."
"Yaa, aku memang tak dapat memahami dirimu, selanjutnya mungkin tiada kesempatan lagi bagiku untuk berusaha memahami hatimu...."
Berbicara sampai di situ, ia melanjutkan kembali langkahnya untuk berlalu meninggalkan tempat tersebut.
"Adik Ong!"
Kembali bunga iblis dari neraka berseru.
"kau.... tidak bersediakah kau untuk melakukan perjalanan bersama-samaku ...?"
"Hal itu cuma akan menambah kesedihan dan kepedihan dihati masing-masing, lebih baik kita berpisah sampai disini saja."
Belum habis perkataan dari Ong Bun-kim itu, mendadak...
Suara bentakan nyaring berkumandang memecahkan kesunyian, Ong Bun kim merasa hatinya tergerak, dengan cepat ia melompat ke depan dan memburu ke arah mana berasalnya bentakan tadi.
Di situ kini hanya tertinggal Bunga iblis dari neraka yang amat sedih dan merasa hatinya sudah tercabik cabik dan hancur lebur tak karuan lagi.
Sementara itu Ong Bun kim telah memburu ke depan, begitu tiba di tempat tujuan tampaklah jago-jago dari enam partai besar sedang mengerubuti seorang perempuan berkerudung dan terlibat dalam suatu pertarungan yang amat seru.
"Berhenti!"
Bentakan nyaring kembali menggelegar memecahkan keheningan disekitar sana.
Bentakan itu keras sekali bagaikan guntur yang membelah bumi disiang hari bolong, sedemikian kerasnya sampai membuat telinga semua orang merasa mendengung keras.
-oo00dw00oo-BAB 25 DENGAN terkejut jago jago dari enam partai besar segera menarik kembali serangannya dan pelan-pelan mundur ke belakang..."
Mereka mencoba untuk menengok sekeliling tempat itu, tapi suasana amat sepi dan hening, sesosok bayangan manusiapun tidak tampak.
Seorang pendeta tua yang berada dalam gelanggang segera menegur dengan lantang.
"Siapa di situ?"
"Aku..."
Bayangan manusia berkelebat lewat"
Dan tahu tahu lima kaki di belakang mereka telah bertambah lagi dengan sosok bayangan hitam.
Semua orang merasa terperanjat dengan kemunculan bayangan hitam itu, sementara Ong Bun kim yang menjumpai kemunculan bayangan manusia itupun segera mencorong sinar tajam dari matanya, dia awasi manusia berbaju hitam itu tanpa berkedip.
"Sungguh besar amat nyalimu!"
Bentak bayangan hitam tersebut dengan gusar.
"tak kusangka kau berani mencatut namaku untuk berbuat keonaran di tempat ini!"
Semua orang menjerit tertahan, sekarang mereka baru tahu kalau bayangan hitam yang barusan muncul inilah Kui jin suseng yang sesungguhnya.
Hawa membunuh yang tebal mulai menyelimuti wajah Ong Bun kim yang masih juga menyembunyikan diri.
Jago-jago dari enam partai besar sama-sama berdiri tertegun dengan wajah bingung, mereka tidak habis mengerti apa gerangan yang sesungguhnya telah terjadi.
Mendadak ....
Bayangan manusia berbaju hitam berkelebat lewat, dengan suatu gerakan yang amat cepat Kui jin suseng melompat ke hadapan perempuan berkerudung hitam itu, lalu bentaknya keras-keras.
"Mengapa kau mencatut namaku?"
"Kau adalah Kui jin suseng?"
"Betul!"
"Yang asli atau yang gadungan?"
"Kurangajar, kau cari mampus!"
Di tengah bentakan yang amat nyaring, Kui-jin suseng melancarkan sebuah pukulan dahsyat ke depan.
Dengan suatu gerakan yang lincah perempuan berkerundung hitam itu melejit ke samping untuk menghindarkan diri dari ancaman maut itu.
Pada saat yang bersamaan pula, pendeta tua yang menjadi pemimpin rombongan jago-jago enam partai telah maju sambil membentak.
"Tahan, sesungguhnya siapa diantara kalian berdua yang benar-benar adalah Kui jin suseng?"
"Aku!"
Kui jin suseng segera menyahut. Perempuan berkerudung hitam itu tertawa dingin.
"Kui -jin suseng, akhirnya aku berhasil menggunakan namamu untuk memancing kemunculanmu ... ."
Serunya keras.
"Kau..."
Perempuan berkerudung hitam itu segera melepaskan kain cadar yang menutupi wajahnya, ketika sinar mata semua orang ditujukan ke arahnya, hampir saja mereka menjerit kaget, termasuk juga Ong Bun kim diantaranya...
Ternyata perempuan berkerudung itu bukan lain adalah Lan Siok ling....!"
"He, apa maksudmu yang sebenarnya?"
Bentak Kui jin suseng dengan geramnya.
"Kui jin suseng, kau telah membunuh ayah dari muridmu, sesungguhnya karena apa? Kenapa kau tak berani berjumpa dengannya ...?"
Ong Bun kim tidak menyangka kalau tujuan Lan Siok ling memancing kemunculan Kui jin suseng adalah lantaran persoalan ini, kesemuanya itu membuat Ong Bun kim merasa amat berterima kasih sekali.
Sebaliknya Kui jin suseng sendiri malah berdiri tertegun dan untuk sesaat tak tahu apa yang musti dilakukan.
Pendeta tua yang berada di hadapannya segera bertanya pula.
"Betulkah kau adalah Kui jin suseng?"
"Betul!"
"Lantas apakah enam
Jilid kitab pusaka dari enam partai besar telah kau curi?"
"Benar!"
"Aku harap kitab-kitab itu segera diserahkan kembali kepada kami..."
"Dalam setahun mendatang, aku Kui-jin suseng pasti akan mengembalikannya kepada kalian...."
"Ketika pertama kali kau melarikan enam
Jilid kitab pusaka dari enam partai besar, sesungguhnya dengan tujuan apa?"
"Tentang soal ini lebih baik tak usah taysu ketahui..."
"Hari ini bila kau tidak serahkan kembali ke enam
Jilid kitab pusaka itu kepada kami, jangan harap bisa tinggalkan tempat ini dengan selamat..."
Begitu selesai berkata, sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan ke depan.
Ketika pendeta tua itu sudah bersiap-siap melancarkan serangannya, secepat sambaran kilat Ong Bun kim meluncur ke depan, kemudian bentaknya keras-keras.
"Tahan!"
Bayangan manusia berkelebat lewat, dan tahu-tahu ia sudah berdiri di hadapan Kui-jin suseng.
Kemunculan Ong Bun-kim yang sama sekali tidak terduga itu sungguh mengejutkan hati Kui jin suseng, tanpa disadari ia mundur beberapa langkah ke belakang.
"Kui-jin suseng!"
Ong Bun-kim segera membentak dengan suara keras.
"akhirnya aku berhasil menjumpai dirimu kembali, kenapa tidak kau lepaskan topeng yang kau kenakan itu?"
Seluruh badan Kui-jin suseng gemetar keras.
"Kui-jin suseng, benarkah kau telah membunuh ayahku?"
Tanya anak muda itu lagi. -oo0dw0oo--
Jilid 9
"BENAR!"
Sambil menggigit bibir menahas rasa dendam nya, si anak muda itu berseru lebih jauh.
"Kenapa kau telah membunuhnya? Hayo jawab!"
"Kau ingin tahu?"
"Benar!"
"Serahkan dulu harpa besi itu kepadaku!"
"Untuk apa?"
"Jika hari ini aku tidak mati, semua rahasia tersebut pasti akan kuberitahukan kepadamu!"
"Kau..."
"Serahkan harpa besi itu kepadaku!"
Suara bentakannya kali ini sangat keras, sangat berwibawa dan membuat perasaan orang bergoncang keras.
Tanpa sadar Ong Bun-kim melangkah ke depan dan mengangsurkan harpa besi itu kepada nya, Kui-jin suseng segera menyambut harpa besi itu kemudian baru menyapu sekejap wajah wajah para jago enam partai dengan sinar mata mengerikan.
"Kalian jangan terlalu memaksa orang, setelah berjanji satu tahun, sampai waktunya enam
Jilid kitab pusaka itu pasti akan kukembalikan kepada kalian semua, tapi bila kalian memaksa untuk turun tangan lagi, hati hati kalau aku sampai turun tangan membunuh kalian!"
Terkejut dan ngeri perasaan jago-jago enam partai itu setelah mendengar perkataan tadi.
"Bun-kim, hayo kita pergi!"
Bentak Kui-jin suseng kemudian.
Begitu kata terakhir diucapkan, dengan suatu gerakan cepat ia telah berkelebat meninggalkan tempat itu.
Ong Bun-kim segera menyusulnya dari belakang, ketika jago-jago dari enam partai besar mencoba untuk menyusulnya, tiga dentingan irama khim mencabut nyawa menahan orang-orang itu untuk melanjutkan pengejarannya.
Dalam waktu singkat Kui-jin suseng serta Ong Bun-kim sudah berada puluhan kaki jauh nya, menyusul kemudian bayangan tubuh mereka lenyap dari pandangan mata ...
Dalam waktu singkat Kui-jin suseng dan Ong Bun-kim sudah berada setengah li dari tempat semula, dikala kedua orang itu sedang melanjutkan perjalanan dengan cepat, tibatiba serentetan suara tertawa dingin yang menyeramkan berkumandang memecahkan keheningan.
Mendengar suara tersebut, Kui-jin suseng segera menghentikan langkahnya dan berpaling ke arah mana berasalnya suara itu.
"Kui-jin suseng, akhirnya kita bertemu lagi!"
Suara menyeramkan itu kembali ber kumandang. Kui-jin suseng mendongakkan kepalanya dan tertawa seram.
"Haaaahh ... haaahhh ... haaaabbh . .. betul sobat, kita memang telah berjumpa kembali, kenapa kau tidak menampilkan diri untuk saling bertemu muka?"
Ong Bun-kim sama sekali tidak memahami apa gerangan yang telah terjadi, tapi ia dapat menduga kalau orang-orang itu pastilah musuh tangguh yang selama ini mengejar Kuijin suseng.
Tapi siapakah orang itu?
Kenapa Kui-jin suseng menunjukkan perasaan takut terhadap lawannya?
Kembali kedengaran orang itu tertawa dingin sambil berkata.
"Kui-jin suseng, sudah belasan tahun aku mencarimu, kau memang betul-betul mempunyai kepandaian, ternyata selama banyak tahun kau berhasil menyembunyikan dirimu serahasia mungkin."
"Mau apa kau sekarang?"
"Apa lagi? Tentu saja membinasakan kau!"
"Apa pula dendam sakit hati yang terikat di antara kita berdua?"
"Sudah terlalu banyak yang kau ketahui, aku tidak membunuhmu akhirnya suatu saat kau pasti akan mencariku, bukankah begitu?"
Kui jin suseng tertawa dingin.
"Betul!"
Jawabnya. Selama ini hanya suara pembicaraannya yang kedengaran tapi tidak nampak batang hidungnya, Ong Bunkim tidak tahu manusia semacam apakah lawannya itu? "Orang itu adalah muridmu...?"
Kembali pihak lawan membentak dengan suara dingin.
"Betul!"
"Putra Ong See-liat?"
"Tepat!"
"Bagus sekali, nah Kui-jin suseng! Apakah kau ada pesan terakhir yang hendak kau sampai kan?"
"Tidak ada!"
"Bagus sekali!"
Kembali orang itu berseru dengan suara menyeramkan.
"aku akan segera membinasakan kau!"
"Lebih baik turun tanganlah secepatnya!"
"Siapakah mereka?"
Tak tahan Ong Bun kim berbisik.
"Asal aku tidak mampus, semua rahasia ini akan kuberitahukan kepadamu ..."
Jawab Kui jin suseng.
"sekarang aku sudah tak punya waktu untuk banyak berbicara lagi!"
Diam-diam bergidik juga Ong Bun-kim menghadapi kejadian tersebut. Sementara itu Kui-jin suseng telah menggenggam harpa besinya, lalu bentaknya lirih.
"Kau juga harus bersiap sedia, dia pasti akan membunuh pula dirimu..!"
Sekali lagi Ong Bun-kim merasakan hatinya tercekat, dia tidak tahu siapakah lawan mereka, dan iapun tidak tahu kenapa Kui-jin suseng begitu takut menghadapinya ...
Sekarang ia baru tahu, ternyata selama ini Kui-jin suseng tak berani munculkan diri lantaran dia kuatir berjumpa muka dengan orang tersebut...
Mendadak Kui-jin suseng membentak keras.
"Sobat, kenapa kau belum juga melancarkan serangan?"
Belum habis perkataan itu diucapkan, tiba-tiba kedengaran bentakan keras menggelegar di udara, serentetan cahaya putih dengan kecepatan luar biasa menyambar ke tubuh Kui-jin suseng.
Ketika cahaya putih itu menyambar lewat, Kui-jin suseng segera membentak keras.
"Sobat, aku akan beradu jiwa denganmu!"
Cahaya putih berkelebar lewat, tiba-tiba Kui-jin suseng mempergunakan harpa besinya untuk menyongsong tibanya sinar putih itu.
Bayangan manusia berputar mengikuti gerakan cahaya putih itu, mendadak serentetan jerit kesakitan berkumandang memecahkan keheningan.
Tubuh Kui-jin suseng menjelat ke belakang dan roboh terjengkang ks atas tanah.
Sementara itu cahaya putih itu kembali menyambar lewat, terpaksa ia harus kabur lagi sejauh tujuh delapan kaki dari posisi semula.
Kecepatan gerak dari cahaya putih itu sungguh mengerikan hati, selama ini Ong Bun-kim tidak berhasil mengetahui dengan jelas manusiakah atau kilatkah yang menyambar-nyambar, sebab kecepatan bergeraknya sinar putih itu sulit dilukiskan dengan kata-kata.
Sinar matanya yang penuh rasa kaget dan ngeri itu dialihkan kembali ke tubuh Kui-jin suseng, ternyata ia sudah tergeletak tak berkutik lagi, tampaknya cukup parah luka yang dideritanya...
Ong Bun-kim merasakan denyutan nadinya bertambah cepat, tak kuasa lagi ia menjerit.
"Suhu!"
Tiba-tiba suara yang dingin menyeramkan itu berkumandang kembali di sisi telinganya.
"Ia sudah mati!"
Ong Bun kim merasa dadanya seperti terkena pukulan martil yang sangat berat, kepalanya pusing telinganya mendengung keras, nyaris tubuhnya roboh terjengkang ke tanah.
Pada saat itulah, tiba-tiba suara yang dingin menyeramkan tadi kembali menggelegar.
"Serahkan juga selembar nyawamu ..."
Cahaya putih sekali lagi berkelebat lewat dan menyambar ke arah Ong Bun-kim.
Pada saat cahaya putih itu berkelebat lewat tiba-tiba sesosok bayangan manusia bergerak ke depan dan menyongsong datangnya cahaya putih itu..
Suatu bentakan yang memekikkan telinga berkumandang memenuhi seluruh angkasa, cahaya putih serta bayangan manusia itu segera saling berpisah ke belakang ...
Ternyata orang yang melancarkan serangan pertama kali tadi adalah kakek berambut putih yang pernah dijumpainya tadi, cuma raut wajahnya kini sudah berubah agak pucat.
Cahaya putih kembali berkelebat lewat dan kabur dari situ.
Selama pertarungan berlangsung, ternyata Ong Bun-kim tidak berhasil mengikuti jalannya pertarungan antara si kakek berambut putih dengan cahaya putih tadi, diapun tidak tahu sesungguhnya siapa yang berhasil menangkan pertarungan itu.
Tapi kalau dilihat dari kemampuan si kakek berambut putih yang sanggup menerima serangan dari cahaya putih itu tanpa roboh seperti halnya dengan Kui-jin suseng, hal ini sudah cukup mengejutkan hati, sebab dari sini semakin membuktikan bahwa ilmu silat yang dimilikinya betu-betul sudah mencapai tingkatan yang luar biasa.
Kakek berambut putih itu berdiri termangu-mangu untuk sesaat lamanya, kemudian sambil memandang sekejap diri Ong Bun kim katanya.
"Coba tengoklah dulu gurumu, apakah dia masih hidup ataukah sudah mati?"
Mendengar perkataan itu dengan perasaan bergetar keras Ong Bun kim memburu ke sisi tubuhnya lalu merobek kain cadar yang menutupi wajah Kui jin suseng.
Segera terlihatlah bahwa Kui jin suseng adalah seorang kakek berusia limapuluh tahunan yang berwajah tampan dan gagah.
Sementara itu darah segar masih saja mengucur ke luar dengan derasnya, warna hitam agak menyelimuti wajahnya, tapi dia belum tewas.
"Suhu ...."
Dengan perasaan yang bergolak keras Ong Bun kim berteriak memanggil.
Tapi Kui jin suseng sama sekali tak berkutik.
Kakek berambut putih itu segera menghampiri ke hadapan Kui jin suseng, ia mengeluarkan sebutir pil dan dijejalkan ke dalam mulutnya, kemudian sambil mengerahkan tenaga dalamnya ia bantu untuk menyadarkan kembali jago tersebut.
Dengan perasaan sedih Ong Bun-kim mengawasi perubahan di atas wajah Kui-jin suseng, kurang lebih setengah jam kemudian gurunya baru tampak bergerak dan siuman kembali dari pingsannya.
"Suhu ..."
Sekali lagi Ong Bun-kim berteriak dengan penuh luapan emosi.
Pelan-pelan Kui-jin suseng mengalihkan sinar matanya ke atas wajah Ong Bun-kim, sikapnya tampak pula terpengaruh oleh golakan emosi, air mata mengembang dalam kelopak matanya.
Ong Bun-kim ikut merasa bersedih hati, terlepas apakah Kui-jin suseng telah membunuh ayahnya atau tidak, bagaimanapun juga ia telah memeliharanya selama limabelas tahun dan mewariskan semua kepandaian silat yang dimilikinya kepadanya.
Rasa sayang dan benci segera berkecamuk dalam hatinya membuat ia merasa makin sedih dan tersiksa ..Dengau sinar mata yang redup Kui-jin suseng memandang sekejap wajah si kakek berambut putih itu, tiba-tiba serunya dengan terkejut.
"Locianpwe, kau?"
Kakek berambut putih itu mengangguk lirih. Kembali Kui jin suseng menghela napas panjang, katanya.
"Bun kim, aku ... aku merasa telah berbuat salah kepadamu ..."
"Suhu, mengapa kau membunuh ayahku? Maukah kau memberitahukan latar belakang kejadian itu kepadaku?"
Pinta Ong Bun kim dengan luapan emosi yang berkobarkobar Dengan sedih Ku jin suseng mengangguk.
"Yaa, aku memang seharusnya memberitahukan persoalan ini kepadamu... sebelum aku mati, semua rahasia ini harus kuberitahukan kepadamu, karena aku sendiri sudah tak sanggup menyelesaikan pekerjaan yang harus kuselesaikan."
"Kau ... kau tidak akan mati ..."
Kui jin suseng mendongakkan kepalanya lalu tertawa tergelak -gelak seperti orang kalap.
"Haaaahhb ... haaahhh ..haaahhh... limabelas tahun sudah aku bersembunyi dan menghindarkan diri dari perjumpaan dengannya, tapi pada akhirnya aku tak dapat meloloskan diri dari tangan kejinya..."
"Siapakah dia?"
"San tian jin (manusia kilat)!"
Mendengar perkataan itu tiba-tiba Ong Bun kim bergidik, bulu romanya pada bangun berdiri, secara tiba-tiba ia teringat akan sesuatu, serunya tak tahan.
"San tian jin? Dia ... bukankah dia adalah "pembunuh dari Kiam hay lak yu ..."
"Dari mana kau bisa tahu?"
Tiba -tiba kakek berambut putih itu menyela dari samping.
"Sesaat sebelum tewas Lui tian jiu berkata bahwa orang yang membunuh mereka bernama San ... waktu itu perkataannya sudah tidak jelas sehingga mungkin yang dimaksudkan adalah "San" (kilat) bukan san (tiga) seperiti yang kudengar ... maklumlah karena dua huruf kata itu hampir sama suaranya, kecuali dia, ilmu silat dari Sam jiu hek hou (rase hitam berlengan tiga) masih belum mampu untuk membinasakan mereka semua."
"Benar!"
Kata Kui jin suseng.
"yang membunuh Kiam hay lak yu adalah San tian jin si manusia kilat !"
Dengan perasaan teramat pedih dan bingung Ong Bun kim mengawasi wajah gurunya, lalu setelah termenung sekian lama katanya.
"Mengapa kau harus membunuh ayahku?"
"Karena cinta!"
"Cinta ....?"
"Yaa, benar. Karena cinta, sebab aku dengan Siau Huiun pernah terlibat dalam suatu hubungan cinta!"
Perkataan itu sangat mengejutkan hati Ong Bun-kim, sebab kenyataan tersebut benar-benar amat di luar dugaannya ....Ketika Kui jin suseng menyasikkan Ong Bun-kim memandang ke arahnya dengan wajah tertegun, ia lantas bertanya.
"Kau .... kau tidak percaya?"
"Aku tidak tahu!"
"Yaa, kau tidak akan tahu, sebab persoalan ini justru menyeretku sehingga membunuh ayahmu...."
"Kenapa kau membunuhnya?"
Kui-jin suseng termenung sebentar, lalu katanya.
"Beginilah kejadiannya.....Aku dengan Siau Hui-un sesungguhnya adalah sepasang kekasih yang saling cinta mencintai, persoalan ini jarang diketahui oleh orang-orang dari dunia persilatan, waktu itu kebetulan sekali kami berpisah dalam jangka waktu yang cukup lama lantaran saling mengambek oleh sebab suatu masalah kecil. Di dalam saat perpisahan tersebut, aku mengikuti guruku berdiam di atas gunung dan belajar silat selama lima tahun lamanya, di dalam lima tahun itu, aku selalu merindukan kekasihku Toan-kiam-giok-jin Siau Hui-un yang kucintai itu. -oo0dw0oo-BAB 26 LlMA tahun kemudian akupun turun gunung, tapi ketika itu Siau Hui-un telah kawin dengan ayahmu. Atas peristiwa tersebut aku merasa amat bersedih hati bahkan mengalami tekanan batin selama banyak waktu, aku mulai membenci setiap persoalan yang ada di dunia ini, akupun mulai membenci setiap manusia yang kujumpai, semenjak itulah aku mulai gemar membunuh orang.
"Suatu hari, aku bertemu dengan Siau Hui un. Setelah mengalami perpisahan selama lima tahun, kami berdua sama-sama merasakan bahwa cinta kami sesungguhnya begitu dalam dan terukir dalam hati kami, dari mulutnya dapat ku ketahui pula bahwa kehidupannya setelah perkawinan tidak bahagia. Seorang suami dengan dua istri memang kebanyakan tak bisa memperoleh kebahagiaan, itu bukan berarti ayahmu kurang baik kepadanya, sebaliknya karena ia selalu beranggapan bahwa cinta yang diperolehnya hanya separuh. Karena itu dalam perjumpaan tersebut kamipun melakukan hubungan suami istri sampai beberapa kali, kemudian kamipun berpisah dengan penuh kesedihan. Setelah meninggalkan Siau Hui un, tiba-tiba muncul sebuah siasat keji dalam benakku, aku ingin membunuh ayahmu, kebetulan pada waktu itupun aku berkenalan dengannya. Ilmu silat yang dimiliki ayahmu memang amat lihay, hakekatnya tiada tandingan lagi di dunia waktu itu, aku pernah beradu kepandaian dengannya tapi tak pernah kulampaui jurus ke delapan. Untuk mewujudkan tekadku untuk mendapatkan Siau Hui un kembali, maka secara diam diam kucuri kitab pusaka ilmu silat dari enam partai besar, setelah berhasil akupun menyembunyikan diri dan mulai berlatih diri dengan tekun. Selama mengasingkan diri, setiap sepuluh hari sampai setengah bulan, Siau Hui un selalu datang mengunjungiku, kecuali bermesraan dan melakukan hubungan suami istri, kami tidak melakukan yang lain, tapi setiap kali setelah melakukan hubungan sex, iapun pergi meninggalkan aku. Suatu hari tiba-tiba Siau Hui un datang mencariku, ia bertanya kenapa aku tidak berusaha untuk melenyapkan Ong See liat dari muka bumi? Katanya setelah Ong See liat di bunuh, maka pasti dapat hidup berdampingan terus hingga tua nanti. Tentu saja persoalan ini sudah menjadi rencanaku sejak awal, maka akupun membeberkan rencanaku itu kepadanya, waktu itu ia bersedia untuk melakukan serangan lebih dulu secara diam-diam dan minta aku menetapkan waktu yang tepat untuk melaksanakan rencana itu. Pada hari yang telah ditetapkan, Siau Hui un memasukkan sejenis racun yang kuat dan tidak berbau dalam air minum ayahmu, ketika ayahmu sudah mulai keracunan, akupun menyergapnya secara tiba tiba dan membinasakan ayahmu. Coba kalau ayahmu tidak keracunan lebih dulu. mungkin bukan lengan kiriku saja yang dibacok kutung, bahkan selembar nyawaku mungkin ikut melayang. Maka akupun memburu kembali ke tempat tinggal kalian. Ketika itu ibumu Coa Siok oh sedang berlarian ke luar, aku segera menghantamnya sampai terluka, tapi ketika aku tiba dalam ruangan belakang, tiba-tiba kujumpai suatu peristiwa lain yang sama sekali di luar dugaanku. Waktu aku masuk ke ruang dalam, dari balik kamar tiba tiba terdengar suara Siau Hui-un sedang bercakap-cakap dengan seorang pria. Terdengar pria itu berkata begini.
"Adik Siau, caramu ini memang benar-benar jitu, setelah Kui jin suseng melenyapkan Ong See liat, lantas kitapun melenyapkan dirinya, selanjutnya dalam dunia persilatan tentu akan tersiar kabar yang mengatakan bahwa Ong See liat berhasil membebaskan sakit hatinya sendiri ... ."
Ketika mendengar sampai di situ, api amarah yang berkobar dalam dadaku sudah tak ter-kendalikan, karena tanpa kusadari ternyata Siau Hui un telah mempergunakan siasat keji untuk mencelakaiku, dalam kenyataannya ia sudah mempunyai kekasih gelap yang lain.
Ketika mendengar perkataan laki laki tadi, Siau Hui un bertanya.
"Apakah dengan ilmu silatmu dapat membunuh Kui jin suseng?"
"Jangankan baru Kui jin suseng, sekalipun Ong See liat juga tidak kupandang sebelah matapun!"
"Kalau memang begitu, bagus sekali..."
Belum lagi kata kata dari Siau Hui un habis diutarakan, tiba tiba kedengaran suara anak kecil menangis berkumandang memecahkan kesunyian. Siau Hui un lantas bertanya.
"Bagaimana dengan anak jadah itu?"
"Apa salahnya kalau kita bereskan saja?"
"Jangan, jangan dibunuh, konon Ong See liat mempunyai se
Jilid kitab pusaka yang di sembunyikan dalam tubuhnya."
"Kalau begitu kita bawa saja anak jadah itu, jika kitab pusaka itu sudah ditemukan baru kita jagal dia!"
"Baik!"
Pada waktu itulah tiba tiba timbul suatu ingatan dalam hatiku, aku segera memburu ke dalam kamar dan menyaksikan kau sedang menangis menjerit jerit, tanpa banyak bicara kau kusambar lalu kubawa kabur dari ruangan itu.
Rupanya Siau Hui un berhasil mengetahui jejakku, sambil menyusul dari belakang ia lantas membentak.
"Hei, mau kau bawa ke mana Ong Bun kim?"
Dengan marah aku mendamprat.
"Siau Hui un, aku telah terperangkap oleh siasat kejimu, kau perempuan berhati bisa, rupanya dengan siasat satu batu membunuh dua burung kau ingin mencelakai aku dengan Ong See liat? Hmm, ingat saja! Suatu hari akupun akan membunuh kau ... ."
Ketika aku memburu ke luar ruangan, tiba tiba seseorang telah membentak keras.
"Saudara, meskipun kau telah mengetahui rencanaku, tapi jangan harap bisa lolos dari cengkramanku!"
Bayangan putih berkelebat lewat, seorang laki laki berusia tigapuluh tahunan sudah menghadang jalan pergiku, tak usah ditanya lagi orang itu bukan lain adalah kekasih gelap kedua dari Siau Hui un yang ia menyebut diri sendiri sebagai San tian jin, si manusia kilat.
Maka kamipun terlibat dalam suatu pertarungan sengit, tapi ilmu silat orang itu sungguh mengejutkan hati, dalam tiga gebrakan saja aku sudah termakan oleh sebuah pukulannya.
Ketika itu aku cukup menyadari bahwa kalau tidak kabur lagi, nyawaku pasti akan ludas seketika itu jua, maka secara nekad kulancarkan tiga buah serangan berantai yang paling dahsyat lalu melejit dan kabur dari situ.
Ternyata mereka tak mau lepaskan aku dengan begitu saja, kejar mengejar berlangsung seru, ketika sampai di tepi sebuah jurang maka sambil menggigit bibir akupun terjun ke bawah.
Ketika mencapai tanah, sekali lagi aku menahan tanah dengan tangan kiriku karena tangan kiriku sudah terluka, sekalipun kutung toh nyawa kita berdua berhasil di selamatkan.
Tapi dengan begitu akupun berhasil lolos dengan selamat, maka akupun membawa kau menuju tebing Kui ong gan, di sana kuwariskan semua ilmu silatku.
Rasanya cerita selanjutnya dapat kau ketahui sendiri bukan?"
Ketika berbicara sampai di situ, keadaan Kui jin suseng sudah amat payah, nafasnya amat lirih dan jiwanya makin terancam...
Saking pedihnya air mata jatuh bercucuran membasahi wajah Ong Bun kim, tanyanya.
"Jadi kalau begitu kematian ayahku di tanganmu sebetulnya sama sekali tak ada hubungannya dengan Mo kui kiam jiu itu kwancu dari Hou kwan ... ?.
"Yaa, sama sekali tak ada hubungannya, kami belum pernah saling berjumpa muka."
"Kini enam
Jilid kitab pusaka dari enam partai besar itu berada di mana... ?"
Kui jin suseng menghembuskan nafas panjang, setelah berhenti sebentar katanya.
"Setelah kubawa kau menuju ke Kui ong gan, diam-diam kubalik kembali ke tempat tinggalku semula, ternyata ke enam
Jilid kitab pusaka itu sudah dibawa kabur oleh Siau Hui un serta manusia kilat, sedang ia sendiripun pergi entah ke mana."
Aku lantas bersumpah akan mendidik kau menjadi seorang jago yang lihay dalam dunia persilatan, agar kau dapat membalaskan dendam atas kematian ayahmu.
"Hingga tujuh -delapan tahun kemudian aku baru muncul sekali dalam dunia persilatan, kukunjungi lembah Sin li kok untuk mencari Siau Hui un, tapi ilmu silatku masih bukan tandingannya. Demi terwujudnya cita-citaku untuk membalas dendam, akhirnya teringat olehku akan mata uang kematian, sebab mata uang kematian mungkin bisa menunjukkan tempat persembunyian Si ong mo ci, kata orang asal mata uang kematian bisa ditemukan mungkin saja bisa mendapatkan pula serangkaian ilmu silat tinggi. Ketika kau sudah tamat belajar, akupun suruh kau pergi mencari Tui hong pocu, sebab bila kau memperkenalkan diri sebagai Ong See liat, dia akan menceritakan kejadian ini kepadamu. Sedang aku untuk sementara waktu tak ingin berjumpa dulu denganmu, bila iblis cantik pembawa maut telah kutemukan dan dendamku sudah terbalaskan, aku baru akan munculkan diri di hadapanmu untuk menebus dosa ..."
Ong Bun kim menggigit bibir menahan diri, dalam kesedihan yang tak terhingga ditatapnya Kui jin suseng dengan termangu-mangu, lama sekali ia membungkam dalam seribu basa.
Kedengaran Kui jin suseng berkata lagi.
"Kini semua duduknya persoalan telah kau fahami, tugas membalas dendampun terpaksa harus kuserahkan kembali ke atas bahumu !"
"Kalau memang begitu, bolehkah aku meng-ajukan sebuah pertanyaan lagi ... .?"
"Katakan ... katakanlah !"
"Ayahku masih mempunyai seorang sahabat yang bernama Hiat hay ki khek ..apakah kau tahu ?"
"Yaa, aku tahu !"
"Kau pernah berjumpa dengannya?"
"Belum !"
"Sekarang dia berada di mana?"
"Konon sudah jauh pergi ke Lam hay, hingga kini tiada kabar berita tentangnya !"
"Apakah kau juga tahu kalau aku mempunyai sebuah Liong bei?"
"Yaa, aku tahu ! Waktu itu ayahmu pernah memberitahukan persoalan tersebut kepadaku, katanya sebuah Hong bei yang melukiskan burung hong, ia hadiahkan untuk seorang sahabat karibnya, diapun bilang barang siapa mengenakan Hong bei tersebut, dia adalah istrimu !"
"Kenapa ibuku tak pernah memberitahukan persoalan ini kepadaku?"
"Soal itu aku kurang begitu tahu!"
Dengan berat hati dan sedih Ong Bun kim menganggukkan kepalanya, mungkin saja menjelang kematiannya ibunya hendak memberitahukan persoalan itu, sayang ia sudah tak sanggup buka suara lagi..."
Terdengar Kui jin suseng kembali berkata.
"Seandainya aku tidak mendengar kalau kau sudah terkena pedang beracun Liu yap kiam dari Mo kui kiam jiu hingga nyawamu berada di ambang kematian, akupun tak akan munculkan diri. Nah, apakah kau menghendaki mata uang kematian itu?"
"Benar !"
Kui jin suseng segera merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan dua biji mata uang kematian yang mana lantas diserahkan kepada Ong Bun kim ..Dalam pada itu paras muka Kui jin suseng makin lama semakin menghitam dan keadaannya makin lemah ....
Dalam keadaan"demikian Ong Bun kim betul-betul tidak tahu bagaimana sikapnya terhadap gurunya itu, dia tak tahu haruskah merasa dendam ataukah merasa berhutang budi.
Kui jin suseng kembali menghembuskan napas panjang, katanya.
"Bersedia ... bersediakah kau untuk ... untuk melakukan suatu ... suatu pekerjaan bagiku .., ?"
"Katakanlah !"
"Bantu .... bantulah aku un ... untuk menemukan kembali ke enam
Jilid ki ... kitab pusaka milik enam par ... partai besar ..."
"Aku pasti akan melakukannya untukmu, aku pasti akan merampasnya kembali dan dikembalikan kepada enam partai besar..."
"Kaa ... kalau begitu.... ba...baik sekali ..."
Nafasnya amat memburu hingga agak tersengal, terusnya agak terputus-putus.
"ber. .. bersediakah kau un ... untuk memaafkan aku ... ?"
"Aku bersedia memaafkanmu!"
Sekulum senyuman sehingga menghiasi ujung bibir Kui jin suseng, tapi senyuman itu hanya berlangsung dalam waktu singkat sebab kepalanya tiba-tiba terkulai dan Kui-jin suseng yang termashur namanya di mana-mana inipun menghembuskan napasnya yang penghabisan.
Memandang jenazah gurunya yang membujur di depan mata, tidak tahan dua titik air mata jatuh berlinang membasahi pipi pemuda itu, sekalipun ia telah melakukan suatu perbuatan yang tak bisa diampuni, tapi bagaimanapun juga dia mempunyai budi kebaikan kepadanya.
Cinta dan dendam sudah seharusnya dihapus mengikuti kematian yang menjelang padan ya...
oleh karena itu diapun memaafkan kesalahannya!
Memandang jenazah Kui-jin suseng yang hitam seperti arang, kakek berambut putih yang selama ini hanya berdiam diri itu menghela napas panjang lalu katanya.
"Hidup sebagai seorang manusia, sungguh amat sulit untuk membedakan mana yang buruk dan mana yang baik !"
"Benar"
Gumam Ong Bun -kim pula.
"sebagai seorang manusia, memang sulit untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk ...locianpwe, terima kasih banyak atas budi pertolonganmu tadi!"
"Aaaah, itu tidak terhitung seberapa!"
Baru selesai kakek berambut putih itu berbicara, tiba-tiba kedengaran suara langkah hianusia berkumandang memecahkan kesunyian, ketika Ong Bun-kim coba berpaling, terlihatlah dua orang dayang berbaju biru sedang berjalan menghampiri ke arahnya.
Ong Bun-kim agak tertegun, dengan cepat ia menarik kembali sinar matanya dan dialihkan ke atas jenazah Kuijin suseng, kemudian dibopongnya jenazah itu untuk berlalu dari situ.
Mendadak dua orang dayang berbaju biru itu menghadang jalan perginya ....
Menyaksikan perbuatan mereka itu paras muka Ong Bun-kim berubah hebat, segera bentaknya.
"Mau apa kalian?"
"Apakah kau beroama Ong Bun-kim?"
Tarya dayang berbaju biru yarg ada di sebelah kiri.
"Benar!"
"Siocia kami ingin bertemu dengan kau!"
Ong Bun-kim tertegun oleh ucapan tersebut, segera serunya.
"Aku tak pernah kenal dengan siocia kalian, mau apa dia mengundangku untuk berjumpa?"
"Tentang soal ini, kau akan mengetahui dengan sendirinya setelah berjumpa nanti!"
Paras muka Ong Bun-kim agak berubah.
"Siapakah nona kalian itu?"
Tegurnya.
"Asal kau telah berjumpa dengannya, nanti toh akan kau ketahui sendiri!"
"Sebelum kalian menerangkan siapakah nona kalian, jangan harap aku akan mengikuti kalian!"
Akhirnya dayang berbaju biru yang rada di sebelah kanan itu menjawab sejujurnya.
"Nona kami adalah Gin Lo-sat (iblis perempuan-berbaju perak) dari pekumpulan Hui-mo pang (iblis terbang)!"
Ong Bun-kim merasa asing dengan nama orang itu, ia agak tertegun dibuatnya, sedang kakek berambut putih yang ada di belakangnya agak berubah muka, ditatapnya sekejap kedua orang dayang berbaju biru itu dengan pandangan jeri.
Ong Bun-kim segera tertawa dingin, katanya.
"Tapi aku tidak merasa kenal dengan nona kalian aku tak ingin pergi ke sana ..."
"Tidak, bagaimanapun jua kau harus pergi menjumpainya!"
Kontan saja Ong Bua kim tertawa dingin.
"Apakah nona berdua hendak memaksaku dengan kekerasan?"
Ejeknya.
"Setiap orang yang diundang nona kami belum pernah ada yang berani menolak undangan nya, apalagi tak mau pergi menemuinya!"
"Tapi kalau aku tak mau ikut, lantas kalian mau apa?"
Kembali Ong Bun-kim mengejek.
"Saudara, kuanjurkan kepadamu lebih baik jangan menolak arak kehormatan dengan me milih arak hukuman!"
Ong Bun-kim tertawa dingin, mendadak ter dengar ujung baju tersampok angin, kembali ada puluhan sosok bayangan manusia melayang datang dari kejauhan.
Mereka segera membentuk barisan dan menghadang semua jalan mundur dari tempat itu, karena mereka tak lain adalah anak murid dari enam partai besar"
Paras muka Ong Bun-kim berubah hebat.
Pendeta tua yang menjadi pemimpin rombongan itu melirik ke arah Ong Bun-kim sekejap, lalu sinar matanya dialihkan kembali ke atas jenazah Kui-jin suseng, tampaknya ia merasa terkejut dan sedikit tercengang, hingga tanpa sadar serunya.
"Suhumu telah mati?"
"Betul!"
Jawab Ong Bun-kim dingin.
"Di manakah keenam
Jilid kitab pusaka kami?"
"Kalian tak usah kuatir,"
Jengek Ong Bun kim dingin.
"asal aku Ong Bun-kim tidak mati, dalam waktu setahun ke enam
Jilid kitab pusaka dari enam partai besar pasti akan kukembalikan!"
Seorang imam tua yang berada di barisan depan segera mendengus dingin, katanya ketus.
"Lantas, bagaimana pula pertanggungan jawab saudara atas puluhan lembar nyawa anggota enam partai besar kami yang tewas di tanganmu?"
Paras muka Ong Bun-kim berubah hebat.
"Kalau begitu kalian datang mencari balas denganku?"
Serunya lantang.
"Kami cuma berharap agar sicu bersedia mengembalikan ke enam
Jilid kitab pusaka itu kepada kami!" 0oodwoo0 BAB 27
"TADI kan sudah kukatakan bahwa pada suatu hari kitab-kitab tersebut pasti akan kuserahkan kembali kepada kalian enam partai besar!"
"Kami minta kitab itu detik ini juga!"
"Kalau aku tak sanggup menyerahkannya, maka kalian hendak menggunakan kekerasan?"
"Benar!"
"Kalau begitu coba saja untuk mempraktekkan kelihayan kalian!"
Imam tua yang berada di barisan depan itu segera menggerakkan pedang ditangannya, dengan jurus Hong-siajian im (angin membuyarkan sisa awan) langsung menerjang tubuh Ong Bun-kim, sungguh cepat gerakan serangan tadi.
Pada saat yang bersamaan, sesosok bayangan biru berkelebat lewat diiringi bentakan nyaring.
"Pingin mampus ..."
Ternyata dia adalah dayang berbaju biru yang ada disebelah kanan, secepat kilat tubuhnya menerjang ke depan, seketika itu juga serangan pedang dari imam tua itu terbendung oleh ancamannya.
Terkesiap juga Ong Bun-kim setelah menyaksikan kehebatan dayang baju biru itu.
"Kalau kalian berani turun tangan lagi, jangan salahkan kalau kucabut nyawamu!"
Demikian dayang baju biru itu mengancam. Paras muka pendeta tua itu agak berubah, diapun menghardik.
"Li-sicu, siapakah kau?"
"Dayang dari Gin lo-sat, perkumpulan Hui mo-pang!"
"Apa? Perkumpulan Hui-mo-pang?"
Hampir dengan suara yang sama kerasnya semua jago dari enam partai besar berteriak kaget, sekilas rasa kaget dan tercekat segera menyelimuti seluruh wajahnya.
Dari sini dapatlah diketahui bahwa perkumpulan Huimo-pang bukanlah suatu perkumpulan biasa.
"Betul!"
Sahut dayang berbaju biru itu dengan dingin.
"Ong Bun-kim adalah orang yang telah diundang oleh pangcu perkumpulan kami, jika kalian berani menyinggung seujung rambut nya saja, segera akan kujagal kalian semua, kalau tidak percaya boleh saja untuk mencoba nya!"
Untuk sementara waktu semua jago dari enam partai besar tak berani berkutik, mereka dibuat tertegun oleh kejadian tersebut.
Seorang dayang baju biru yang lain segera berkata pula kepada Ong Bun-kim dengan suara dingin.
"Hayo berangkat saudara!"
"Sayang aku tidak mempunyai waktu untuk memenuhi harapanmu itu!"
Jawab Ong Bun kim dengan paras muka agak berubah.
"Jadi kau enggan pergi?"
"Tepat sekali, aku memang enggan pergi!"
Baru selesai Ong Bun-kim menjawab, tiba tiba terdengar bentakan keras menggelegar di angkasa, menyusul pendeta tua itu berseru.
"Perkumpulan Hui-mo-pang dapat membuat orang lain jeri, tapi jangan harap bisa menakut kan kami enam partai besar!"
Belum habis perkataan itu, ia sudah maju ke depan dan menerjang tubuh Ong Bun-kim. Ketika pendeta tua itu melejit ke udara sambil melancarkan terkaman, dayang berbaju biru itu segera membentak keras.
"Hmm ... ! Rupanya kau sudah bosan hidup!"
Secepat sambaran petir ia menyongsong datangnya tubrukan itu, sebuah pukulan dahsyat dilepaskan pula ke depan.
Bayangan manusia saling menyambar, puluhan sosok bayangan manusia secara bersamaan meluncur pula ke depan menyerang Ong Bun-kim.
Dayang berbaju biru lainnya membentak pula dengan suara nyaring, tubuhnya ikut me nerkam ke depan ...
Jeritan-jeritan ngeri yang menyayatkan hati seketika memecahkan keheningan malam, keadaan kian lama kian bertambah seram.
Pada saat itulah, dengan tangan kirinya menjepit tubuh Ong Bun-kim, tiba-tiba kakek berambut putih itu berseru.
"Hayo berangkat ..."
Tubuhnya melejit ke udara, seperti seekor kelelawar hijau, ia melayang ke udara dan kabur dari itu.
Sungguh cepat gerakan melayang dari kakek berambut putih itu, boleh dibilang melebihi kecepatan dari sambaran kilat, hanya dalam beberapa kali lompatan saja tubuhnya sudah berada puluhan kaki dari tempat semula.
la kabur terus menuju ke arah sebuah bukit yang tinggi, satu li kemudian dia baru menghentikan larinya dan menurunkan tubuh Ong Bun-kim dari dukungan.
Dengan termangu-mangu Ong Bun-kim mengawasi sekejap kakek berambut putih itu, lalu katanya.
"Locianpwe, banyak terima kasih atas bantuan mu, sekali lagi kau telah menyelamatkan jiwa mu!"
"Aaaah ... cuma urusan sepele kenapa musti kau risaukan? Kata terima kasih lebih baik tak usah disinggung kembali!"
"Locianpwe, sesungguhnya apakah yang disebut Huimo-pang itu? Organisasi macam apakah dia?"
Selapis rasa murung menyelimuti wajah kakek berambut putih itu, jawabnya sesudah termenung sejenak.
"Organisasi macam apakah sesungguhnya Hui-mo-pang itu, hingga kini tidak diketahui oleh siapapun, cuma ia sudah muncul selama beberapa bulan dalam dunia persilatan."
"Menurut apa yang kuketahui, Hui-mo-pang bukan didirikan dalam dunia persilatan di daratan Tionggoan kita, melainkan datangnya dari suatu tempat lain, siapa pangcunya tidak diketahui orang, bagaimana raut wajahnya juga tak pernah dijumpai orang, tapi katanya ilmu silat yang dimilikinya luar biasa lihaynya sehingga boleh dibilang belum pernah ada orang yang mampu menerima tiga jurus serangannya."
"Beberapa bulan berselang, Hui-mo pang telah menciptakan beberapa kejadian berdarah dalam dunia persilatan, seperti misalnya perkumpulan Cing ih pang ( baju hijau).
"Lui hong kau (perkumpulan angin geledek), lantaran mereka menolak untuk menggabungkan diri dengan organisasinya, maka akibatnya semua anggota perkumpulan mereka dibantai oleh orang-orang Hui mo pang hingga ludas, seorangpun tak ada yang berhasil lolos dengan selamat ..."
Menggigil sekujur tubuh Ong Bun kim setelah mendengar perkataan itu, serunya tertahan.
"Oooh...kiranya sudah berlangsung peristiwa berdarah yang demikian mengerikan?"
"Benar!"
Kakek berambut putih itu kembali manggutmanggut.
"malahan ada beberapa orang jago silat kelas satu dari dunia persilatan, seperti misalnya Tiong ciu siang kiam (sepasang pedang, dari Tiong ciu), Giok bin koay khek (tamu aneh berwajah pualam) dan Ngo gak sin kay (pengemis satu dari panca bukit) sekalian telah tewas pula di tangan mereka ... ."
"Oooh.... sungguh mengerikan perbuatan mereka itu!"
Bisik Ong Bun kim dengan perasaan bergidik.
"Oleh karena itulah bbanyak sekali jdago lihay dari adunia persilatabn yang dewasa ini terpaksa menggabungkan diri dengan mereka ..."
"Tapi, ada persoalan apa ia datang mencariku?"
"Apa lagi? Sudah barang tentu ia hendak menarikmu agar bergabung dengan organisasinya!"
Kontan saja Ong Bun kim tertawa dingin.
"Heehh ..heeehhh ..heeehh ... sayang sekali ia salah perhitungan, sebab aku Ong Bun kim bukanlah manusia semacam itu!"
Kakek berambut putih itu kembali manggut manggut, katanya.
"Kecuali perkumpulan Hui mo pang yang kemunculannya dalam dunia persilatan telah menggemparkan seluruh dunia persilatan, aku dengar sebuah perguruan lain yang hanya kudengar namanya tapi tak kujumpai anggota perguruannya yang telah muncul juga dalam dunia persilatan ..."
"Perguruan apakah itu?"
"Yu leng jin!"
"Manusia tanpa sukma ...?"
"Betul, Manusia tanpa sukma ini sudah pernah muncul beberapa kali dalam dunia persilatan, diapun telah menciptakan beberapa peristiwa berdarah yang mengerikan, tapi tak seorang manusiapun yang mengetahui bahwa musuh nya sesungguhnya seorang manusia ataukah sesosok sukma gentayangan belaka!"
Ong Bun kim menarik napas dingin, sekali lagi tubuhnya menggigil keras ..... Kakek berambut putih itu menghela napas panjang, kembali ia berbisik dengan murung.
"Aaaai ... beberapa organisasi misterius mulai menteror dunia persilatan kita, tampaknya suatu badai pembunuhan yang mengerikan segera akan menjelang tiba.. ."
Ong Bun kim tertegun sekian lamanya tanpa mengetahui apa yang musti dilakukan, lama sekali, ia baru berkata.
"Bolehkah boanpwe mengetahui nama besar dari locianpwe?"
Kakek berambut putih itu gelengkan kepalanya berulang kali.
"Tidak perlu tahu, ketika kusambut sebuah pukulan dari si manusia kilat tadi, lukaku sampai sekarang masih belum sembuh ..."
"Apa . .? Locianpwe, kau ... kau telah ter-luka?"
Seru Ong Bun kim sangat terkejut.
"Betul, aku sudah terluka, hanya saja secara paksa kutekan luka itu di dalam tubuh sehingga tidak kambuh, jika luka itu tibdak segera kuobdati maka akibatanya selembar jibwaku juga akan ikut melayang, oleh karena itu aku harus segera meninggalkan tempat ini!"
"Silahkan Locianpwe!"
Kakek berambut putih itu manggut-manggut, ia lantas melejit ke udara dan berlalu dari situ.
Sepeninggal kakek berambut putih tadi, Ong Bun kim mengebumikan jenazah Kui jin suseng di situ, di depan kuburan ia bersembahyang lama sekali, lalu dengan termangu mangu dia baru mengeluarkan seluruh mata uang kematian yang diperolehnya itu.
Bentuk dari keenam buah mata uang itu ternyata berbeda antara yang satu dengan lainnya, tapi bila digabungkan menjadi satu secara berurutan, maka terbacalah beberapa buah huruf kata yang berbunyi demikian.
"Thian san Bwee nia Hong shia,"
Membaca tulisan tersebut, Ong Bun kim menjadi tertegun dan untuk sesaat lamanya dia hanya berdiri termangu seperti orang bodoh..
Kemungkinan besar di atas bukit Thian san tebing Bwe nia kota Hong shia itulah Si ong mo ci (iblis cantik pembawa maut) disekap orang.
Ooh Thian!
Padahal ia hanya mempunyai kesempatan hidup selama tiga hari lagi, bagaimana mungkin dalam tiga hari yang amat singkat itu dia dapat mencapai bukit Thian san?
Dari sana menuju ke bukit Thian san, paling tidak juga membutuhkan waktu di atas sepuluh hari, pada hakekatnya suatu hal yang mustahil uptuk mencapai bukit tersebut dalam tiga hari yang singkat.
Kehidupannya kembali dari harapan terjatuh ke dalam keputus asaan, ia merasa saat kematian baginya sudah makin mendekat.
Memandang ke enam biji mata uang kematian tersebut, untuk sesaat lamanya ia hanya berdiri dengan sedih.
Yaa, kehidupannya sudah tiada harapan lagi, api yang bisa ia lakukan sekarang hanya menunggu tibanya saat kematian, kecuali itu ia sama sekali tiada harapan lainnya....
Tiba-tiba...
Dikala Ong Bun kim sedang berdiri termangu dengan perasaan amat sedih, dari belakang tubuhnya kedengaran seseorang memanggil.
"Ong sauhiap!"
Mendengar perkartaan tersebut Otng Bun kim meraqsakan tubuhnya rbergetar keras, ia berpaling ke belakang, dilihatnya Lan Siok ling yang telah menyaru sebagai gurunya "Kui jin suseng"
Telah berdiri kurang lebih satu tombak di belakangnya.
Paras muka Lan Siok ling yang diliputi kemurungan dan kesedihan membuat jantung Ong Bun kim berdebar sangat keras.
Seandainya bukan lantaran dia, kemungkinan besar Kui jin suseng tak akan munculkan diri dan .diapun kemungkinan besar masih belum mengetahui sebab terbunuhnya ayah dan ibunya.
Terhadap dirinya, kecuali Lan Siok-ling menaruh perasaan simpatik dan memperhatikan, diapun menaruh cinta kepadanya.
Sekalipun ia sendiri tidak mencintainya, tapi seseorang yang dicintai adalah suatu kejadian yang membahagiakan sekarang, ia baru dapat merasakan betapa berharganya cinta.
Dengan wajah yang murung, sedih dan layu ia tertawa lirih.
Lan Siok ling memandang sekejap kuburan dari Kui jin suseng, kemudian -dengan sedih bisiknya.
"Ia sudah tiada?"
"Yaa, benar!"
"Akulah yaog telah mencelakai jiwanya . ."
"Tidak ..."
"Ong sauhiap, aku...aku merasa amal bersalah kepadanya ..."
Ketika berbicara sampai di situ, tak bisa dicegah lagi air matanya jatuh berlinang membasahi pipinya. Ong Bun kim sendiripun merasa amat sedih, ia menjawab.
"Aku tidak menyalahkanmu. lagi pula sepantasnya kalau kuberterima kasih kepadamu, seandainya kau tidak mencatut namanya dan menyaru sebagai dia, sampai sekarang dia tak akan munculkan diri!"
"Kau tidak menyalahkan aku?"
Bisik ^sang nona dengan sedih tapi lebih lega perasaannya.
"Tentu saja tidak!"
"Oooh ... Ong sauhiap ..."
Dengan sedih ia memanggil nama si anak muda itu, lalu tidak tahan lagi ia menjatuhkah diri ke dalam pelukannya dan menangis tersedu-sedu.
Ia sendiripun tak tahu, luapan emosinya itu karena rasa terima kasihnya ataukah karena ia sudah menaruh bibit cinta kepadanya.
Ong Bun kim membalas pelukannya dan membelai rambutnya yang hitam dengan sedih, ia merasa dalam alam kehidupan yang serba susah dan tersiksa ini, orang yang dicintainya adalah orang yang paling berbahagia ...
Lama ..
lama sekali, ia baru mendongakkan kepalanya dan memandang wajah Ong Bun kim, mukanya yang basah oleh air mata menambah daya pesona gadis itu.
Lama kelamaan Ong Bun kim tidak tahan juga, dirangkulnya gadis itu dengan mesra lalu diciumnya bibir yang mungil dan merah merekah itu dengan lembut.
Kejadian di luar dugaan ini disambut kaget oleh si nona, tiba-tiba saja tubuhnya menggigil keras.
Keadaannya waktu itu persis seperti keadaan dari gadis manapun di dunia ini ketika untuk pertama kalinya dicium orang, tubuh yang menggigil menunjukkan luapan rasa gembira dan senang yang mencekam perasaannya waktu itu.
Ciuman, membuat ia merasa amat puas.
Ciuman, membuat mereka melupakan semua kebusukan dan kejelekan yang ada di dunia ini.
Lama-lama kemudian, mereka baru melepaskan diri dari rangkulan.
Dengan sedih gadis itu bertanya.
"Cintakah kau kepadaku?"
Ong Bun-kim memandangnya dengan tatapan kosong, agaknya belum pernah ia mempertimbangkan persoalan ini ...
cintakah?
Atau tidak men cintainya?
Yaa, sebelum perkenalan belum pernah ia jumpai gadis itu ...
satu-satunya orang yang di cintai hanya seorang gadis yang bernama Bunga iblis dari neraka.
Sekarang, apa yang musti ia jawab?
Ia tak tahu bagaimana caranya mengatasi persoalan itu.
Sekalipun ia mencintainya, ia percaya cinta nya kepada gadis itu sudah tidak sempurna lagi"
Maka sambil tertawa getir ucapnya.
"Aku ... aku tidak tahu!"
"Apa? Kau tidak tahu?"
"Kalau ciuman sebagai perlambang cinta, aku telah mencintaimu ..."
"Kalau begitu kau mencintai aku?"
Tanya Lan Siok Ling dengan wajah yang amat sedih.
"Benar!"
Dengan sedih Lan Siok ling membandang sekejap dke arah Ong Buna kim, bibirnya bbergetar seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi akhirnya ia batalkan niatnya itu, ia merasa sekalipun ada berjuta juta perkataan yang ingin diucapkan, tapi dia tak tahu dari manakah dia harus mulai dengan pembicaraannya.
Tiba tiba Ong Bun kim seperti teringat akan sesuatu, dia lantas bertanya dengan suara keras.
"Nona Lan, apakah kau mencintai diriku?"
"Yaa, aku cinta padamu!"
"Bersediakah kau melakukan suatu pekerjaan! bagiku?"
"Aku bersedia, apa yang kau inginkan? Katakanlah dengan cepat kepadaku!"
"Kawinlah dengan aku!"
"Apa?"
Tanpa sadar Lan Siok ling menjerit tertahan, lalu dia mundur dua tiga langkah dengan tindakan lebar; Ucapan dari Ong Bun kim itu benar benar berada di luar dugaannya, hal mana membuat hatinya merasa amat terperanjat.
"Kawin dengan kau?"
Bisiknya dengan suara gemetar.
"Betul!"
Dengan perasaan tertegun dan sedikit di luar dugaan gadis itu memandang wajah Ong Bun kim tanpa berkedip, seakan akan ia sedang bertanya kepadanya.."Kenapa ., ."
"Tahukah kau bahwa aku sudah hampir mati?"
Demikian Ong Bun kim berkata lagi.
"Kau sudah pernah memberitahukan soal ini kepadaku!"
"Aku masih ada kesempatan hidup selama tiga hari, maka aku minta agar kau bersedia kawin denganku!"
"Kenapa?"
"Sebab aku sangat berharap aku mempuyai seorang keturunan yang bisa membalaskan dendam bagi sakit hatiku!"
Setelah menghela napas panjang, pemuda itu kembali berkata.
"Aku tahu bahwa permintaanku ini adalah suatu permintaan yang mau menang sendiri dan tidak pakai aturan, tapi aku tak bisa tidak harus berbuat begini, seandainya kau bersedia mengorbankan diri demiku, sekalipun aku sudah berada di alam baka, aku tetap akan merasa sangat berterima kasih kepadamu ..."
"Bukankah kau telah berhasil mendapatkan mata uang kematian?"
Tanya Lan Siok-ling se sudah termenung sebentar.
"Benar . .b ."
"Kalau begditu, kau tak akaan mati!"
"Akub sudah tiada waktu sepanjang itu lagi untuk berangkat ke tempat yang dimaksudkan!"
"Di manakah letak tempat itu?"
"Bukit Thian-san!"
"Thian-san?"
Lan Siok ling membelalakkan sepasang matanya lebar-lebar, kemudian dengan sedih ia menghela napas panjang.
"yaa, kau ... kau memang tiada cukup waktu untuk mencapai tempat tersebut, paling tidak kau membutuhkan waktu selama sepuluh hari untuk mencapai bukit Thian-san dari tempat ini..."
"Oleh sebab itulah aku harus kawin denganmu,"
Kata Ong Bun kim dengan sedih.
"aku tahu peristiwa ini mungkin merupakan suatu peristiwa yang keji bagimu, tapi aku mohon kepadamu agar kau bersedia mengabulkan permintaanku ini, bersediakah kau memenuhi keinginanku ini? Bersediakah kau ..!"
"Aku...."
"Bila kau merasa keberatan, aku tidak akan memaksamu, katakan saja berterus terang!"
"Engkoh Ong, aku mengabulkan permintaanmu itu!"
Kembali jawaban tersebut membuat Ong Bun kim tertegun, suatu jawaban yang sama sekali di luar dugaan. Dengan luapan perasaan terima kasih yang tak terhingga Ong Bun kim segera berseru.
"Kau benar-benar telah mengabulkan permintaanku?"
Lan Siok ling amat sedih, air matanya jatuh berlinang membasahi pipinya, ia menubruk ke dalam pelukan Ong Bun kim, kemudian menangis tersedu-sedu.
"Aku bersedia, aku aku bersedia melakukan pekerjaan apapun untukmu!"
Sekali lagi Ong Bun-kim merasa amat terharu dan berterima kasih, tanpa terasa titik air matanya jatuh bercucuran membasahi pipinya.
Yaa, kejadian ini memang merupakan suatu peristiwa yang cukup mengharukan, bukan suatu hal yang lumrah seorang gadis bersedia mengorbankan semua kebahagiaan hidupnya demi orang lain.
Dengan penuh kasih sayang dibelainya gadis itu, sementara titik air mata tanpa terasa jatuh menetes membasahi pipinya.
Lama, lama sekali, dia baru berkata.
"Mari kita pergi!"
"Ke mana?"
"Mencari suatu rtempat yang romtantis, kita harqus hidup secarar baik-baik dan gembira selama tiga hari ini!"
"Seandainya aku tak dapat memberikan anak untukmu?"
Tanya Lan Siok-ling penuh rasa kuatir. -ooo00dw00ooo-Bab 28 SEMOGA Thian melimpahkan rahmat dan hidayatnya untuk diri kita berdua,"
Jawab pemuda itu lirih.
"Kalau begitu mari kita pergi!"
Ong Bun-kim mengambil harpa besinya yang tergeletak di tanah, merangkul gadis itu dan pelan-pelan berlalu dari situ.
Ia tidak memperdulikan ke mana mereka akan pergi, mereka pergi tanpa tujuan, mereka pun tak tahu kemana harus tinggal.
Tak jauh di depan sana terdapat sebuah gua karang yang besar, sambil merangkul gadis itu ia masuk ke dalamnya.
Gua karang itu sangat besar, dalam lagi, Ong Bun-kim berpaling dan memandang gadis itu sekejap, lalu katanya.
"Adik Lan, bersediakah kau tinggal bersamaku selama tiga hari di sini ....?"
"Aku bersedia ...."
"Aku sangat berterima kasih kepadamu, sekalipun berada di alam baka ...."
"Sudahlah engkoh Ong, jangan kau bicarakan lagi kata kata semacam itu."
Ia menciumnya....
ciuman tersebut pertanda dari permulaan suatu kematian.
Malam semakin sepi, udara makin gelap gulita.
Di tengah keheningan malam yang panjang dan sepi, di tengah suasana yang hening dan penuh kemurungan, ia telah mempersembahkan kesuciannya untuk pemuda yang ia cintai, sedang yang tersisa hanya kenangan yang penuh dengan penderitaan.
Ketika mereka telah menyelesaikan hubungan suami istri, gadis itupun menangis.
Seperti pula gadis gadis lain yang baru kehilangan perawannya, ia menangis sedih, isak tangisnya membuat orang merasa terharu dan ikut beriba hati.
Mendadak ....Dikala Lan Siok ling sedang menangis dengan sedihnya, dari luar gua berkumandang suara langkah manusia, menyusul kemudian seorang gadis membentak keras.
"Siapa yang berada dalam gua?"
Ong Bu-kim dan Lan Siok ling sama sama merasa terperanjat, sebelum mereka melakukan suatu tindakan, bayangan manusia telah berkelebat lewat, seorang gadis berbaju merah tahu-tahu sudah melayang masuk dan berdiri di hadapan mereka.
Padahal waktu itu pakaian Lan Siok ling masih acak acakan tidak keruan, noda darah masih membekas di atas lantai, tentu saja terhadap kemunculan si nona berbaju merah yang sangat tiba-tiba itu mereka berdua sama sama merasa tertegun.
Gadis berbiju merah itu mempunyai raut wajah yang cantik jelita, dengan biji matanya yang jeli ia menyapu sekejap sekeliling tempat itu, lalu dengan paras muka berubah hebat bentaknya.
"Bajingan cabul!"
Ong Bun-kin terkesiap, ia berdiri melongo. Lan Siok ling terparanjat pula, saking kagetnya diapun tak mampu berkata apa apa. Terdengar gadis berbaju merah itu kembali membentak marah.
"Bajingan cabul, berani betul menggagahi gadis di tempat ini, kubunuh kau ...."
Tubuhnya menerjang maju ke depan, begitu tiba di hadapan Ong -Bun kim pergelangan tangannya segera diayunkan ke depan melancarkan sebuah pukulan dahsyat.
Baca Juga: Golok Halilintar Khu Lung
Baca Juga: Antara Budi Dan Cinta 5