Eps 4 Setan Harpa - Khu Lung Tjan Id
Baca online Setan Harpa - Khu Lung Tjan Id
Cersil Setan Harpa - Khu Lung Tjan Id.
Sungguh cepat gerakan tubuhnya, membuat orang bukan saja kaget pun merasa kagum.
"Tahan,"
Lan Siok ling segera berteriak keras.
Mendengar bentakan itu, tanpa sadar si nona berbaju merah itu menghentikan gerakan tabuhnya dan memandang ke arah Lan Siok liag dengan wajah tertegun, tampaknya ia merasa tidak habis mengerti dengan kejadian yang sedang berlangsung di hadapan matanya.
"Dia ... dia bukan penjahat cabul!"
Kata Lan Siok ling kemudian dengan nada sedih.
"Se ... sesungguhnya apa yang telah terjadi?"
"Aku bersedia untuk ..... untuk tidur dengannya!"
"Kau bersedia?"
"Yaa, benar!"
"Kalau memang bersedia, mengapa kau musti menangis?"
"Aku..."
Oleh pertanyaan itu Lan Siok lbing dibikin terdtegun, gelagapaan dan tak mampub menjawab.
Tampaknya gadis berbaju merah itu belum pernah merasakan bagaimana perasaan seorang gadis bila selaput daranya direnggut orang, kalau tidak, tak mungkin dia akan mengajukan pertanyaan seperti itu.
"Nona, kalau tak ada urusan lagi di tempat ini, aku harap kau segera pergi tinggalkan tempat ini!"
Kata Ong Bun kim kemudian dengan suara dingin.
Si nona berbaju merah itu memandang Ong Bun kini sekejap, tiba tiba ia beranjak dan maju beberapa langkah lagi ke depan, tapi secara mendadak ia menghentikan kembali langkah kakinya.
Tentu saja kejadian itu sangat mencengangkan Ong Bun kitn maupun Lan Siok ling "Aku lihat, tampaknya saudara menderita luka yang cukup parah?"
Kata gadis berbaju merah lagi.
"Benar, dari mana kau bisa tahu?"
Seru Ong Bun-kim dengan perasaan hati yang tercekat.
"Menurut penglihatanku, umurmu tinggal empat hari lagi, benar bukan?"
"Betul!"
Jawab si anak muda itu pelan meski sekujur badannya telah menggigil karena ngeri.
"Kalau demikian kejadiannya, maka aku rasa persoalan ini tidak sederhana ... ."
"Persoalan apa yang tidak sederhana?"
"Kau adalah seseorang yang sudah hampir mati, kenapa nona itu bersedia menyerahkan tubuhnya untukmu?"
"Justru karena dia sudah hampir mati, maka aku baru bersedia menyerahkan tubuhku kepadanya!"
Jawab Lan Siok ling cepat.
"Kenapa?"
"Karena ia membutuhkan seorang keturunan untuk membalas dendam bagi kematiannya!"
Paras muka gadis berbaju merah itu segera berubah hebat, serunya tak tahan.
"Jadi kau adalah Ong Bun kim?"
"Benar!"
"Apakah mata uang kematian berada di tanganmu?"
Mendengar pertanyaan tersebut paras muka Ong Bun kim berubah hebat, sabutnya dengan dingin.
"Benar! Apakah nona datang ke mari lantaran mata uang kematianku itu?"
"Betul!"
Mencorong sinar tajamb dari balik matda Ong Bun kim saetelah mendengabr pengakuan tersebut, katanya.
"Akan tetapi, mata uang kematian itu justru berada di sakuku ..."
Si nona berbaju merah itu segera tertawa dingin.
"Heeehh ...heeehhh .... heeehhh .., kau anggap aku tak bisa turun tangan untuk merampas mata uang kematian itu dari tanganmu?"
"Kalau memang demikian, kenapa kau tidak mencoba untuk merampas sendiri mata uang kematian itu dari tanganku?"
Si nona berbaju merah itu segera melompat ke udara lalu menerjang ke tubuh Ong Bun kim.
Sebelum si anak muda itu sempat menghindarkan dirinya, tahu tahu ia merasa tubuhnya menjadi kaku dan jalan darahnya sudah kena ditotok secara telak.
Tangannya lantas disambar ke depan, dan tubuh Ong Bun kim sudah kena dicengkeram oleh gadis baju merah itu.
"Hei, mau apa kata?"
Lan Siok ling segera membentak gusar. Sebuah pukulan segera dilontarkan ke muka untuk membendung tibanya ancaman musuh. Dengan cepat si nona berbaju merah itu mengebaskan tangan kirinya ke depan.
"Mundur kau ....."
Di bawah kebasan ringan dari si nona berbaju merah itu, Lan Siok Ling tak mampu berdiri tegak dan secara beruntun mundur tujuh delapan langkah dengan terhuyung-huyung, nyaris tubuhnya jatuh tertelentang di atas tanah.
Menggunakan kesempatan itulah si nona berbaju merah itu melejit ke muka dan melon.
pat ke luar dari gua tersebut.
Buru-buru Lan Siok-ling memburu ke Iuar gua, tapi gerakan tubuh si nona berbaju merab itu cepat seperti sambaran kilat, dalam sekali kelebatan saja tahu tahu tubuhnya sudah berada puluhan kaki jauhnya dan posisi semula.
Mendadak...
Suara bentakan nyaring kembali berkumandang memecahkan kesunyian, sesosok bayangan hitam melompat ke luar dari balik kegelapan dan menghadang jalan perginya.
Karena merasa munculnya bayangan manusia lain, serta merta nona berbaju merah itu meng-hentikan gerakan tubuhnya.
Dengan biji matanya yang jeli ia menyapu sekejap sekeliling tempat itu, kemudian katanya dengan dingin.
-oo0dw0oo--
Jilid 10
"BUNGA iblis dari neraka, lagi-lagi kau!"
"Bertul, memang lagi-lagi aku yang muncul di hadapanmu. Aku hanya ingin tahu, hendak kau bawa ke mana adik Ong ku itu?"
"Jangan kuatir, pokoknya aku tidak akan membinasakan dirinya!"
"Apa yang hendak kau lakukan terhadapnya?"
"Mungkin akan menyelamatkan jiwanya!"
"Kau dapat menolongnya ?"
Tanya Bunga iblis dari neraka dengan paras muka berubah.
"Kemungkinan besar! Kau dapat berlega hati bukan?"
Bunga iblis dari neraka mengangguk pelan, sahutnya.
"Dia adalah seorang pemuda yang bernasib jelek, semoga saja kau tak akan membinasakan dirinya!"
"Jangan kuatir!"
Selesai berkata ia sudah siap meninggalkan tempat itu. Tapi belum sempat ia berlalu dari situ, tiba tiba terdengar seseorang membentak lagi.
"Berhenti!"
Mendengar seruan itu, si nona berbaju merah segera membatalkan niatnya untuk pergi dari situ.
Bayangan manusia berbaju biru segera ber-kelebat lewat, dua orang dayang berbaju biru yang pernab dijumpainya tadi, kini sudah menghadang kembali jalan pergi mereka.
"Mau apa kalian berdua datang kemari?"
"Minta kepadamu untuk lepaskan dia!"
Sahut dayang baju biru yang ada di sebelah kanan.
"Siapakah kalian berdua?"
"Pesuruh dari Gin Lo sat, perkumpulan Hui mo pang!"
Mendengar nama itu, si nona berbaju merah itu segera tertawa terbahak bahak.
"Haahhh ... haaahhh ... haaahhh ... apa hubungan kalian berdua dengan Ong Bun-kim?"
"Nona kami ingin menjumpainya!"
"Kalau aku enggan menyerahkannya kepadamu?"
"Aku pikir nona adalah seorang yang pintar, masa tak akan kau serahkan orang itu kepada kami?"
Si nona cantik berbaju merah kembali tertawa dingin.
"Heeabhh ... heeehhh ... heoehhh ... secara terus terang kuberitahukan kepada kalian, nama besar Hui mo pang mungkin bisa membuat orang lain menjadi takut, tapi jangan harap bisa memecahkan nyaliku!"
Mendengar perkataan itu, paras muka dua orang dayang berbaju birupun ikut berubah hebat.
"Jadi kau tetap bersikeras tak akan menyerahkan kepadaku?"
"Kalau kalian merasa punya kepandaian yang bisa diandalkan, apa salahnya kalau dicoba sendiri?"
Tampaknya dayang berbaju biru itu sudah tak dapat menahan sabar lagi, sambil membentak keras ia langsung menubruk ke arah nona cantik berbaju merah itu, sebuah pukulan dahsyat langsung ditujukan ke dada lawan.
Serangan itu dilancarkan dengan kecepatan yang luar biasa dan sulit dilukiskan deogan kata-kata.
"Cari mampus ... ."
Bentak nona berbaju merah itu marah.
Bayangan merah berkelebat lewat, dua serangan gencar dilepaskan untuk membendung kedua buah serangan lawan.
Habat juga pukulannya itu, secara tepat ia berhasil mendesak kedua orang dayang berbaju biru itu untuk menarik kembali serangan mereka.
Hawa napsu membunuh segera menyelimuti wajah nona cantik berbaju merah itu, bentaknya.
"Kalian pingin mampus?"
Belum habis dua orang dayang itu mem-bentak keras, sambil melompat ke depan sekali lagi mereka telah melancarkan serangan kilat. Nona cantik berbaju merah itu tak tahan lagi segera bentaknya.
"Kurangajar, kubunuh kalian berdua!"
Secepat kilat ia meleparkan tiga buah serangan berantai.
Ilmu silat yang dimiliki gadis cantik berbaju merah itu memang tinggi dan mengerikan, tampak bayangan merah berputar kian ke mari, dua orang dayang itu gagal untuk mendekati musuhnya.
Tiba tiba .....
Sesosok bayangan manusia kembali me-nerjang masuk ke dalam arena, ternyata orang itu adalah Lan Siok ling, ketika dilihatnya nona cantik berbaju merah itu sedang terlibat dalam suatu pertarungan yang sengit melawan dua orang dayang berbaju biru itu, mendadak ia ikut menerjang pula ke depan.
Bungab iblis dari nerdaka segera bertaindak cepat, iab maju ke depan dan menghadang jalan perginya.
"Mau apa kau?"
Bentaknya.
"Engkoh Ong berada ditangannya!"
Teriak Lan Siok ling penuh kecemasan. Bunga iblis dari neraka segera tertawa dingin.
"Heehhb ... hehhh ... heehh jangan kuatir, dia tak akan membunuhnya."
"Siapakah orang itu?"
"Dia mempunyai nama julukan yang amat tersohor, aku pikir kaupun pasti akan terkejut setelah mengetahuinya . ..."
"Siapa dia?"
"Dawi mawar merah ...."
"Aaaah...!"
Dengan perasaan amat terkejut Lan Siok ling menjerit tertahan, sepasang matanya terbelalak lebar lebar seperti dua buah gundu, ia benar benar amat terkejut oleh ke nyataan tersebut.
Sementara itu dua kali dengusan tertahan berkumandang dari arah gelanggang, dua orang dayang berbaju biru itu terlempar ke luar dari arena, lalu muntah darah segar dan tak dapat bangun kembali Dewi mawar merah tertawa dingin, tubuh-nya segera melompat ke depan dan berlalu dari situ.
Tak seorang manusiapun yang tahu ....atau menduganya, apa yang hendak di lakukan Dewi Mawar merah atas Bun kim, menyelamatkan jiwanya?
Ataukah mempunyai tujuan tertentu?
Dengan suatu kecepatan yang luar biasa Dewi mawar merah membawa Ong Bun kim berlalu dari situ, sangat cepat ia berlarian di tengah kegelapan malam, dalam waktu singkat tubuhnya sudah lenyap dibalik tikungan di depan sana.
Setelah melewati suatu masa yang lama dan panjang sekali, akhirnya Ong Bun kim sadar kembali dari pingsannya, ia merasa tubuhnya masih berada di bawah ketiak Dewi mawar merah, bahkan sama sekali tak mampu berkutik.
Paras mukanya segera berubah, segera bentaknya.
"Hei, sebenarnya apa yang hendak kau lakukan?"
Dewi mawar merah menengok pemuda itu sekejap ketika dilihatnya Ong Bun kim telah sadar, lalu sahutnya ketus.
"Pokoknya aku tak akan membunuhmu, kenapa musti kuatir?"
"Sebenarnya apa yang hendak kabu lakukan terhaddapku?"
"Menyelaamatkan jiwamu!b"
"Apa...? Kau .... kau dapat menyelamatkan jiwaku?"
"Benar..."
Ketika kata terakhir selesai diucapkan, ia telah menotok kembali jalan darah Ong Bun-kim.
Kemudian dengan beberapa kali lompatan Dewi mawar merah telah melewati tebing bukit itu, kemudian tubuhnya berputar dan lari menuju ke atas sebuah tebing curam yang amat terjal letaknya.
Di atas tebing curam yang terjal terdapat sebuah gua kecil, dengan sekali lompat Dewi mawar merah menerobos masuk ke dalam gua tersebut.
Baru saja gadis itu menginjakkan kakinya ke atas tanah dalam gua itu, dari balik gua segera berkumandang suara bentakan nyaring.
"Siapa di situ?"
"Aku, suhu!"
Dewi mawar merah segera menyahut.
"Kau? Muridku?"
Belum selesai perkataan itu, Dewi mawar merah telah menerobos masuk ke dalam gua.
Jangan dilihat ruangan masuk gua itu sempit sekali, ternyata ruangan dalamnya mana lebar, bersih lagi.
Kecuali sebuah pembaringan batu dan beberapa buah kursi batu, dalam gua tersebut tidak tampak perabot lain.
Seorang perempuan tua berbaju hitam yang kira kira berusia limapuluh tahun pelan-pelan bangkit berdiri dan menyongsong kedatangan gadis itu.
Dewi mawar merah maju serta memberi hormat, lalu katanya;
"Tecu memberi hormat buat suhu!"
"Tak usah banyak adat, eei siapa yang kau bawa?"
Dewi mawar merah membaringkan tubuh Ong Bun-kim di atas tanah, lalu ujarnya.
"Suhu, ia menderita luka parah!"
Setajam sembilu sinar mata perempuan tua berbaju hitam itu, diawasinya sekujur tubuh Ong Bun-kim, lalu secara tiba-tiba ia berseru tertahan.
"Aaah....!"
Jeritan itu mengadung nada kaget dan heran, membuat Dewi mawar merah menjadi tertegun. -ooo0dw0ooo-BAB 29
"KENAPA suhu?"
Di atas raut wajah perempuan tqua berbaju hitarm yang penuh berkeriput itu segera menampilkan luapan emosi dan perasaan keheranan yang sangat tebal, tegurnya.
"Siok-cu, sia... siapakah dia?"
"Ia bernama Ong Bun-kim!"
"Ong Bun-kim ?"
"Betul.... ada apa dengan dia?"
"Aneh, benar-benar sangat aneh."
"Apanya yang aneh?"
"Coba lihatlah, bukankah bukankah raut wajahnya rada mirip dengan wajahmu sendiri?"
"Apa?"
Dewi mawar merah menjerit kaget.
Ucapan tersebut sungguh di luar dugaannya, ia tak menyangka rampai ke situ maka bisa dibayangkan betapa terkejutnya setelah mendengar perkataan dari gurunya.
Lama, lama sekali, ia baru bertanya dengan suara gemetar.
"Suhu, kau ...kau mengatakan wajahnya agak mirip dengan wajahku?"
"Benar!"
Tanpa terasa Dewi mawar merah mengamati wajah Ong Bun kim tajam tajam, benar juga, semakin dipandang ia merasa wajan Ong Bun kim semakin mirip dengan wajahnya, untuk sesaat lamanya ia menjadi tertegun dan berdiri mematung di situ.
Selang sesaat kemudian, dengan alis mata berkerut perempuan tua berbaju hitam itu berkata lagi.
"jangan... jangan..."
Jangan jangan kenapa? Ia tidak mengutarakan lebih lanjut, hanya secara tiba-tiba ia mengalihkan pembicaraannya ke soal lain.
"Di mana letak lukanya?"
"Di atas punggung!"
"Terluka karena apa?"
"Terkena pedarg beracun Liu yap kiam milik Mo kui kiam jiu!"
Perempuan tua berbaju hitam iiu seperti mempertimbangkan sesuatu, lama-lama sekali ia membungkam dalam seribu basa... Tiba tiba Dewi mawar merah kerkata lagi.
"Suhu, ada satu persoalan aku lupa mem-beritahukannya kepadamu..."
"Soal apa?"
"Mata uang kematian berada disakunya!"
Sekujur badan perempuan tua berbaju hitam itu menggigil keras, lalu dengan suara gemetar bisiknya.
"Sung... sungguhkan perkataanmu itu?"
"Sungguh!"
"Dia memiliki berapa biji?"
"Enam biji!"
"Dari dari mana kau bisa tahu?"
"Setiap umat persilatan sudah mengetahui akan kejadian ini, aku rasa berita itu tak mungkin bisa salah lagi!"
Sekali lagi sekujur badan perempuan tua berbaju hitam itu menggigil keras, wajahnya penuh pancaran emosi... di balik kesedihan yang meliputi wajahnya, dia seakan-akan sedang memikirkan sesuatu...
"Suhu!"
Kembali Dewi mawar merah berkata.
"Konon dia membutuhkan mata uang kematian karena katanya hanya Iblis cantik pembawa maut yang dapat menyelamatkan jiwanya, bila suhu berhasil menyelamatkan jiwanya sekarang, aku pikir dia pasti rela untuk menyerahkan mata uang kematian untuk kita!"
Perempuan tua berbaju hitam itu menghela napas sedih, katanya kemudian.
"Aaaai... akhirnya mata uang kematian ada juga kabar beritanya..."
Setelah menghela, napas lagi, ia baru berkata.
"Balikkan tubuhnya, akan kuperiksa mulut luka pada punggungnya itu!"
Sambil berkata, pelan-pelan perempuan tua berbaju hitam itu berjalan menghampiri si anak muda itu.
Dewi mawar merah telah membalikkan tubuh Ong Bun kim dengan punggungnya menghadapi ke atas, pakaian bagian punggung yang terluka dirobeknya pula, maka tampaklah dua bilah pedang Lui yap kiam telah menembusi tubuhnya hingga tinggal gagangnya, tiga inci diseputar mulut luka telah berubah menjadi hitam pekat.
"Suhu, kau dapat menolong jiwanya?"
Tanya Dewi mawar merah kemudian dengan perasaan cemas.
"Aaai... tampaknya sulit!"
Jawab perempuan tua berbaju hitam itu sambil menggelengkan kepalanya.
"Aaaah ... !"
Mendengar jawaban tersebut Dewi mawar merah menjerit keras karena kaget.
"Cuma, untungnya masih ada sedikit harapan! "Kalau begitu cepat tolonglah jiwanya!"
Pinta si gadis cemas. Tiba tiba perempuan tua barbaju hitam itu bertanya.
"Sudah berapa lama kau kenal dengannya?"
"Baru beberapa jam!"
"Tampaknya kau sangat menguatirkan keselamatan jiwanya?"
Kontan saja selembar wajah Dewi mawar merah berubah menjadi merah padam seperti kepiting rebus.
"Suhu, aku berbuat demikian semuanya demi mata uang kematian!"
Belanya cepat-cepat. Perempuan tua berbaju hitam itu tertawa ewa.
"Baiklah!"
Katanya kemudian.
"akan kucoba untuk menolongnya, tapi seandainya sampai gagal atau dia sampai mati, aku tak mau menanggung resikonya..."
"Tidak mungkin suhu, aku percaya tenaga dalam suhu amat sempurna, ilmu pertabibanmu juga tak terkalahkan."
"Cukup, kau tak perlu menyanjung diriku!"
Sambil tertawa perempuan tua berbaju hitam itu mengeluarkan sebutir pil berwana hitam dari sakunya lalu dijejalkan ke dalam mulut Ong Bun-kim....
Kemudian ia serahkan pula dua bungkus bubuk obat kepada Dewi mawar merah sambil pesannya.
"Ingat, ketika kugunakan hawa murni untuk mengisap ke luar pedang Liu yap kiam yang bersarang di punggungnya nanti, kau harus menaburkan bubuk obat itu secara terpisah di atas mulut lukanya!"
"Aku mengerti, suhu!"
Dengan perasaan berat perempuan tua ber-baju hitam itu mengangguk, tangan kanannya segera bekerja keras untuk menepuk sadar jalan darah Oag Bun-kim yang tertotok.
Bersamaan waktunya ketika ia menotok bebas jalan darah tersebut, dengan suatu gerakan yang sangat cepat, tangan kanannya ditempelkan di atas punggung si anak muda itu, kemudian pelan-pelan digerakkan naik ke atas...
Pada saat tangannya bergerak naik ke atas itulah, dua bilah pedang Liu yap kiam yang ber-sarang dalam tubuhnya itu ikut terdorong ke luar dari dari dalam badan.
Akhirnya dengan mengikuti gerakan tangan kanan perempuan tua berbaju hitam tadi, pedang itu menongol ke luar dari kulit badan dan diiringi jerit kesakitan yang mengakibatkan Ong Bun kim jatuh tak sadarkan diri, kedua bilah pedang Liu yap kiam tadi dapat dikeluarkan semuanya...
Darah hitam yang kental dan berbau busuk mengalir keluar dengan derasnya membasahi seluruh badan.
Djwi mawar merah bertindak cepat, dua bungkus bubuk obat yang telah dipersiapkan itu segera ditaburkan di atas mulut luka.
Pada saat itu juga tangan kanan perempuan tua berbaju hitam itu kembali digerakkan dengan cepat untuk menekan di atas jalan darah Mia-bun hiat di tubuh Ong Bun kim, hawa murninya segera disalurkan ke luar dengan dahsyat untuk menyembuhkan luka yang diderita si anak muda itu.
Dewi mawar merah mengawasi mereka berdua dengan wajah cemas, ia tak bisa berbuat banyak dalam keadaan ini kecuali memandang mereka belaka dengan peluh membasahi tubuh-nya ...
Kurang lebih satu jam kemudian, paras muka Ong Bun kim lambat laun berubah semakin merah dan segar....peluh sebesar kacang kedelai-pun menetes ke luar dengan derasnya membasahi seluruh badan.
Dua jam kemudian tangan si perempuan tua berbaju hitam yang menempel di atas jalan darah Mia bun hiat akhirnya bergeser juga ke bawah....
Dengan mengerahkan segenap kekuatan tenaga dalam yang dimilikinya, perempuan tua berbaju hitam itu berhasil memaksa ke luar racun keji yang bersarang dalam tubuh Ong Bun kim, selembar jiwanya yang sudah berada di tepi lembah kematian akhirnya berhasil diselamatkan juga.
Pelan-pelan perempuan tua itu membuka matanya dan memandang Dewi mawar merah sekejap, lala bisiknya.
"Ia sudah tidak berbahaya lagi keadaannya!"
"Terima kasih banyak suhu ... ."
Perempuan tua berbaju hitam itu tertawa getir.
"Berilah sebutir obat lagi kepadanya, dalam tiga hari kemudian, kesehatan tubuhnya tentu akan pulih kembali seperti sediakala!"
Sambil berkata ia merogoh ke dalam saku-nya dan mengeluarkan sebutir pil untuk di serahkan kepada Ong Bun kim.
Tak lama kemudian, Ong Bun kim telah sadar pula...
ia merasakah sekujur badannya nyaman dan segar, mulutnya harum dan semua rasa sakitnya lenyap tak berbekas, tentu saja ia lantas mengetahui apa gerangan yang telah terjadi.
Sinar matanya dialihkan ke samping untuk memperhatikan perempuan tua berbaju hitam dan Dewi mawar merah sekejap, kemudian se-telah tertegun sekian lamanya dia baru bertanya.
"Kenapa dengan kau?"
"Kau tidak akan mati!"
Kata Dewi mawar merah.
"Kau....kau telah menolongku?"
"Bukan! Suhuku yang telah menyelamatkan jiwamu!"
"Aku....aku benar-benar tak akan mati?"
Tiba tiba Ong Bun-kim bertanya lagi.
"Yaa, kau tidak akan mati, suhuku telah menolong jiwamu dari ancaman bahaya!"
Tampaknya Ong Bun-kim tidak merasa gembira karena jiwanya berhasil diselamatkan, sebaliknya ia malah terjerumus dalam kemurungan, kesengsaraan dan tekanan batin.
Justeru karena dia menganggap dirinya pasti mati, maka ia melakukan hubungan suami istri dengan seorang gadis yang sesungguhnya tidak ia cintai, bukankah kejadian ini merupakan suatu tragedi yang amat menyedihkan hati?
Berpikir sampai di sini, tanpa sadar ia bergumam seorang diri.
"Aaai. .terlalu tambat....terlalu lambat..."
"Persoalan apa yang terlambat?"
Tanya Dewi mawar merah dengan wajah keheranan. Ong Bun kim tertawa getir, ia bangun dari atas tanah dan menyahut dengan pedih.
"Aaah ... tidak apa apa ...."
Jawabannya hampir berbisik sehingga beberapa patah kata itu sukar didengar dengan jelas ..."
Kepada Perempuan tua berbaju hitam itu dia memberi hormat, lalu katanya pelan.
"Locianpwe, terima kasih banyak atas budi pertolonganmu!"
Perempuan tua berbaju hitam itu tertawa getir.
"Aaaah ... hanya urusan sekecil itu bukan terhitung seberapa, aku lihat sepertinya terdapat banyak persoalan yang merisaukan hatimu?"
Ong Bun kim hanya tertawa getir, ditatapnya wajah perempuan tua berbaju hitam itu dengan pandangan kosong.... Selang sejenak kemudian, perempuan tua berbaju hitam itu baru bertanya kembali.
"Kau bernama Ong Bun-kim?"
"Betul!"
"Di mana kah ayah ibumu?"
"Mereka sudah berpulang ke alam baka!"
"Siapa nama mereka?"
"Ong See-liat dan Coa Siok-oh!"
"Ooh.......rupanya mereka....tahukah kau, bahwa wajahmu sangat mirip dengan wajah muridku?"
Ong Bun kim terperanjat, dengan sinar mata sangsi ditatapnya Dewi mawar merah sekejap, kemudian serunya tak tertahan.
"Wajahnya mirip sekali dengan wajahku?"
"Benar!"
"Kenapa?"
"Aku sendiripun tidak tahu! "
Ong Bun kim segera tertawa ewas katanya.
"Bukankah nona ini menghendaki mata uang kematian?"
"Benar, sudah banyak tahun ia mencari jejak dari benda tersebut!"
Ong Bun kim segera merogoh ke dalam sakunya dia mengeluarkan ke enam biji mata uang kematian itu, sambil diserahkan kerada Dewi mawar merah katanya.
"Aku membutuhkan mata uang kematian demi menyelamatkan jiwaku, tapi sekarang jiwaku telah diselamatkan, itu berarti mata uang kematian sudah tidak berarti lagi bagiku, nah terimalah mata uang kematian itu, akupun hendak mohon diri lebih dahulu!"
Selesai berkata dia mengambil harpa besinya dari atas tanah lalu selangkah demi selangkah berjalan ke luar dari gua tersebut...
Tindakan tersebut sungguh di luar dugaan orang, baik perempuan tua berbaju hitam maupun Dewi Mawar merah sama sama dibbikin tertegun odleh kejadian tearsebut.
"Tunggub sebentar saudara!"
Tiba-tiba parempuan tua berbaju hitam itu membentak keras. Ong Bun kim berhenti seraya berpaling, tanyanya.
"Masih ada persoalan apa lagi yang hendak locianpwe katakan?"
"Kenapa kau musti terburu buru pergi meninggalkan tempat ini?"
"Aku tak ingin terlalu lama mengganggu ketenangan kalian ..."
"Tidak menjadi soal, aku masih ada beberapa persoalan ingin kutanyakan kepadamu!"
Terpaksa Ong Bun -kim menghentikan langkahnya sambil berjalan balik ke tempat semula.
"Silahkan Locianpwe memberi petunjuk!"
Katanya.
"Bukankah orang tuamu mati terbunuh?"
Tanya perempuan tua berbaju hitam itu kemudian.
"Benar!"
"Dibunuh oleh Kwancu dari perguruan Hou kwan?"
"Dia hanya termasuk salah seorang di antaranya, tapi yang pasti masih ada orang yang lain."
"Siapa?"
"Manusia kilat!"
Tampaknya perempuan tua berbaju hitam itu merasaamat asing sekali dengan manusia kilat itu, dia agak tertegun lalu tanyanya lagi.
"Tinggikah ilmu silat yang dimilikinya?"
"Menurut apa yang kuketahui, mungkin agak sulit untuk menemukan orang yang sanggup menandingi kepandaiannya!"
"Kalau memang begitu, bukankah harapan-mu untuk membalas dendam menjadi tipis sekali?"
"Sekalipun agak sulit, tapi boanpwe percaya suatu ketika aku pasti akan berhasil untuk membalas sakit hati ini!"
"Ehmm... punya semangat! Cuma, aku merasa amat suka dengan dirimu, bolehkah aku tahu berapa usiamu tahun ini?"
"Tahun ini boanpwe berusia delapan belas tahun!"
"Tahukah kau mengapa selama ini kami selalu berusaha untuk menemukan mata uang kematian?"
"Boanpwe tidak tahu! "Engkau ingin tahu?"
"Harap cianpwe memberi penjelasan!"
"Pernahkah kau dengar bahwa puluhan tahun berselang, dalam dunia persilatan terdapat sebuah perkumpulan yang bernamba Hui -yan-pandg?"
Agak terkesaiap Ong Bun-kimb ketika mendengar nama tersebut, sahutnya dengan cepat.
"Yaa, aku pernah mendengar!"
"Aku adalah Hian i-lihiap (pendekar wanita baju hitam) istrinya Si-hun-kiam-khek (jago pedang pembetot sukma) pangcu dari perkumpulan Hui-yanpang."
"Bukankah perkumpulan Hui-yan-pang telah dibasmi orang?"
Sela Ong Bun-kim tanpa sadar.
"Yaa, benar!"
"Lantas kau......."
"Aku adalah satu-satunya orang yang berhasil meloloskan diri dari cengkeraman iblis!"
Ketika berbicara sampai di sini, mukanya tampak jelas terpengaruh oleh emosi, agaknya peristiwa tadi telah membangkitkan kembali perasaan dendam yang tersimpan dalam hatinya selama ini.
Ong Bun-kim seperti teringat akan suatu hal, kembali dia bertanya.
"Perkumpulan Hui yang-pang dibasmi oleh siapa ? Kenapa sampai dibasmi orang?" 00odwo00 BAB 30 HIAN-IH-LIHIAP menghela napas sedih, katanya.
"Puluhan tahun berselang, ketika suatu hari mendiang suamiku pulang dari bepergian, ia muncul dengan membawa seorang bayi dan bayi itu bukan lain adalah muridku ini sekembalinya ke rumah, wajahnya tampak sedikit gugup dan tidak tenang, ia menitahkan kepadaku agar membawa bayi perempuan ini melarikan diri."
"Kenapa?"
Tidak tahan Ong Bun-kim menyela lagi.
"Ada orang yang hendak membunuhnya,"
Jawab Hian-ih lihiap sambil menghela napas panjang, kemudian terusnya.
"pada malam itulah dua sosok bayangan manusia, sukar bagi kita untuk membedakan apakah dia manusia ataukah sukma gentayangan...."
"Aaaah....dia adalah Yu leng jiu (manusia tanpa sukma)..."seru Ong Bun kim tertahan. Hian ih lihiap agak tertegun, lalu katanya.
"Sebutan itu memang cocok sekali dengan keadaannya, begitu munculkan diri Manusia tanpa sukma segera memaksa suamiku agar menyerahkan bayi perempuan serta enam biji mata uang kematian yang berhasil diperolehnya itu."
"Tentu saja suamimu tak akan menyerahkan kepada mereka bukan? Dan kedua orarg Manusia tanpa sukma itu lantas membunuh suamimu?"
Tukas Ong Bun kim lebih jauh.
"Benar ketika itu aku cukup menyadari gawatnya persoalan maka kami bersembunyi di dalam kamar rahasia di bawah tanah, ruang bawah tanah itu tidak diketahui oleh siapapun termasuk anggota perkumpulan kami kecuali aku dan suamiku.
"Maka aku dan mruridku berhasilt lolos dari benqcana tersebut, rhingga hari kedua aku baru berani ke luar dari ruang bawah tanah ini, tapi waktu itu semua anggota perkumpulanku telah telah di bunuh habis, keadaannya mengerikan sekali.
"Sementara aku masih menangis karena sedih, tiba tiba kudengar ada orang tertawa dingin, aku tahu Yu leng jin pasti sudah mundul kembali di situ, maka akupun melarikan diri terbirit birit ....
"Manusia manusia tanpa sukma itu mengejar terus dengan ketat, karena terdesak akupun terjun ke dalam sungai, untungnya jiwaku masih dapat diselamatkan, maka akhirnya sampailah aku di sini. Tapi setelah berada di tempat ini baru kuketahui bahwa mata uang kematian yang berada dalam bungkusan disaku muridku telah lenyap entah sedari kapan."
"Apakah mata uang kematian itu sebenarnya berada dalam sakunya?"
Tanya Ong Bun kim.
"Benar, oleh karena itulah sebagaimana kukatakan tadi, mata uang kematian sesungguh-nya erat sekali hubungannya dengan asal usul muridku ini!"
Kembali merupakan suatu peristiwa, yang sama sekali berada di luar dugaan Ong Bun kim ditinjau dari kejadian tersebut, jelaslah sudah bahwa perkembangan peristiwa itu sesungguhnya tidak sederhana.
Ong Bun kim kembali bertanya.
"Tahukah kau kalau suamimu pernah berjumpa dengan Iblis cantik pembawa maut?"
"Apa yang kudengar hanya dari cerita orang saja, benar atau tidak bisa dipercaya, cuma kematian suamiku dan anggota perguruan di tangan orang-orang tanpa sukma itu adalah suatu kenyataan."
"Kalau memang demikian, kenapa kau tidak membalaskan dendam bagi kematian suami dan anggota perkumpulanmu? Aku lihat ilmu silat yang kau miliki lihay sekali?"
"Pada waktu itu kepandaian silatku masih belum sanggup untuk menandingi kelihayan manusia-manusia tanpa sukma, kemudian setelah masuk ke dalam gua ini, tanpa sengaja ketemukan se
Jilid kitab pusaka peninggalan orang pintar di sini, sekalipun seluruh isi kitab berhasil kupelajari, sayang manusia manusia tanpa sukma tak pernah munculkan diri kembali."
Setelah mendengar penjelasan itu, Ong Bun kim baru berpikir.
"Tak heran kalau ilmu silat yang dimiliki nya lihay sekali, rupanya ia pernah memperoleh se
Jilid kitab pusaka....Berpikir sampai di situ, kembali dia bertanya.
"Nona ini sangat membutuhkan mata uang kematian, mungkinkah hal ini ada sangkut pautnya dengan asal usulnya?"
"Yaa, mungkin sekali benar!"
Ong Bun kim kembali termenung sejenak, akhirnya ia berkata.
"Locianpwe, kalau tak ada urusan lagi, aku ingin mohon diri lebih dahulu!"
"Apa salahnya kalau berdiam beberapa hari lagi di sini? Mungkin saja kau dan aku punya jodoh, aku ingin sekali menghadiahkan sebutir obat mestika peninggalan jago aneh itu kepada-mu, konon obat ini kalau di makan seorang pria dapat menambah tenaga dalamnya sebesar dua puluh tahun hasil latihan!"
Sekalipun dihati kecilnya Oig Bun kim merasa sangat girang, tapi ia tetap berkata merendah.
"Boanpwee tidak berani menerima pemberian yang amat tak ternilai harganya ini!"
"Tak usah menampik lagi!"
Kata perempuan tua berbaju hitam itu cepat.
"Bagaimanapun juga tak ada gunanya obat ini disimpan terus, sebab obat ini Khusus hanya untuk seorang pria, dan lagi akupun ingin mewariskan isi dan kitab pusaka ilmu silat itu kepadamu!"
Berdenyut keras jantung Ong Bun kim serunya.
"Tapi boanpwe ..."
"Sudahlah, kau tak perlu menampik terus menerus, tinggal saja barang sepuluh hari di sini!"
Niatnya untuk membalas dendam memaksa Ong Bun kim mau tak mau harus tetap tinggal di situ, dia harus belajar ilmu silat, dengan bekal ilmu yang tinggi ia baru bisa membalas dendam, sebab itu diapun menerima tawaran baik orarg.
Hian ih lihiap kembali menghadiahkan sebutir pil berwarna kuning emas untuk Ong Bun kim, ketika obat tersebut telah ditelannya, si anak muda itu segera merasakan seluruh angota badannya menjadi panas seperti terbakar menderitanya bukan kepalang.
Dengan suatu gerakan yang sangat cepat Hian ih lihiap turun tangan untuk menguruti jalan darah penting disekujur tubuh pemuda itu.
Kurang lebih setengah jam kemudian, Ong Bun kim baru mengeluarkan keringat sebesar kacang kedelai, ia merasakan semangatnya segar kembali, tenaga dalamnya juga terasa lebih kuat dan dahsyat.
Terhadap kebaikan hati Hian ih lihiap, di samping rasa terima kasihnya, Ong Bun kim tak tahu apa yang musti dikatakan.
Sejabk itulah Hian idh lihiap secaraa sabar dan telibti mewariskan ilmu silatnya kepada Ong Bun kim...
Sepuluh hari berlalu seperti sekejap mata.
Bukan saja Ong Bun kim berhasil diselamat-kan selembar jiwanya dari bahaya maut, bahkan lantaran bencana ia mendapat rejeki, tenaga dalamnya bukan cuma memperoleh kemajuan yang amat pesat, diapun memperoleh serangkaian ilmu silat yang amat tinggi.
Sepuluh hari kemudian, dengan air mata barcucuran ia berpamitan dengan Hian ih lihiap, katanya.
"Seandainya boanpwe berhasil membalas dendam, tak akan kulupakan budi kebaikan dari locianpwe ...."
"Tak perlu berterima kasih, pergilah! Baik baik menjaga diri...."
"Selamat tinggal cianpwe!"
Hian ih lihiap manggutmanggut, kepada Dewi mawar merah katanya pula,dengan lembut.
"Muridku, kau boleh pergi pula dari sini, kunjungilah tempat seperti yang tercantum di atas mata uang kematian, coba periksalah tempat macam apakah di sana, jangan lupa bila kau berjumpa dengan manusia tanpa sukma, segera-lah kembali untuk melaporkan kepadaku!"
"Aku tahu suhu!"
"Nah, kalian boleh berangkat bersama-sama!"
Maka setelah berpamitan dengan Hian ih lihiap, berangkatlah Ong Bun kim dan Dewi mawar merah meninggalkan gua itu.
Sepanjang perjalanan kedua orang itu membisu dalam seribu basa, lama, lama sekali, Dewi mawar merah baru berkata.
"Kau hendak ka mana?"
"Akan kucari musuh musuh besarku untuk membalas dendam, dan kau? "Menuju ke bukit Thian san?"
"Yaa, aku akan berkunjung ke situ ... Ong sauhiap, menurut .... menurut pendapatmu ....mungkinkah kita berdua sebenarnya ada sedikit hubungan?"
"Hubungan?"
"Yaa, benar!"
"Aaaah, mana mungkin?"
"Yaaa, mana mungkin? Cuma wajah kita berdua mirip sekali antara yang satu dengan lainnya, dan hal ini justru merupakan sbuatu kenyataan d...."
"Tidak seakitar sedikit mbanusia di dunia ini yang mempunyai wajah agak mirip antara yang satu dengan lainnya.!"
"Semoga saja demikian ... Ong sauhiap, bagaimana kalau kita berpisah sampai di sini saja?"
"Baiklah, jaga dirimu baik baik!"
"Kaupun harus baik baik pula menjaga dirimu!"
Diiringi ucapan selamat tinggal, kedua orang itupun berpisah....tentu saja dibalik perpisahan itu tercermin juga luapan perasaan sedih dan murung.
Sekalipun hanya berkumpul selama belasan hari, siapa yang bilang tak mungkin timbulkan benih benih cinta di antara mereka?
Hanya saja rasa cinta di antara mereka masih terbatas oleh suatu jarak yang cukup jauh, tentu saja mereka berdua sama sama tak irgin mengutarakannya ke luar.
Untuk sementara waktu baiklah kita tinggalkan dulu perjalanan Dewi mawar merah menuju bukit Thian san.
Dalam pada itu, setelah berpisah dengan Ong Bun kim segera berangkat menuju ke bukit Cing liong san.
Senja itu, ia telah tiba kembali di lembah Cing liong kok di atas bukit Cing liong san.
Sekarang dia harus membunuh Mo kui kiam-jin (jago pedang setan iblis) untuk membalas dendam, seandainya tiada pertolongan dari Hian ih lihiap, mungkin selembar jiwanya sudah lama melaporkan diri ke alam baka.
Terbayang semua penderitaan dan siksaan yang dialaminya selama ini, hawa napsu mem-bunuh yang sangat tebal segera menyelimuti seluruh wajahnya.
Ia memandang sekejap dua buah patung harimau batu di depan pintu gerbang, lalu sambil tertawa dingin ejeknya.
"Heeehhh ... heeehhh ... heeehhh ..perguruan Hou kwan! Hari ini akan kulenyap-kan kalian semua dari muka bumi!"
Ketika sepasang telapak tangannya di dorong ke depan, gulungan angin pukulan yang maha dahsyat segera menyambar ke muka.
"Blaang! Blaang!"
Di tengah dua kali bentur-an keras yang memekikkan telinga, dua buah patung harimau yang besar dan berat itu segera terhajar hingga hancur berkeping keping.
Ong Bun kim tertawa dingin, setelah meng-amati sekejap hasil karyanya, kembali ia melanjutkan perjalanannya menuju ke dalam.
Mendadak ....
prada saat Ong Butn kim sedang meqlanjutkan perjarlanannya memasuk"
Lembah, suatu bentakan geledek menggelegar memecahkan kesunyian.
"Berhenti!"
Beberapa sosok bayangan manusia berbaju kuning tiba tiba saja menghadang jalan pergi anak muda itu. Sebagai pemimpin rombongan tidak lain adalah Mo huan jiu (tangan sakti gelang iblis).
"Minggir!"
Bentak Ong Bun kim gusar. Agaknya baru sekarang Mo huan jiu mengetahui siapakah musuhnya itu. kontan saja paras mukanya berubah hebat.
"Aaaah....rupanya kau !"
Ia menjerit tertahan.
"Yaa, betul! Memang aku ...."
Bersamaan dengan selesainya kata "aku", secepat sambaran kilat Ong Bun kim menerjang ke muka, telapak tangannya diayunkan berulang kali, tiga kali jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memecahkan keheningan.
Tidak sempat berpikir untuk kedua kalinya, ternyata Mo huan jiu serta dua orang kakek berbaju kuning itu sudah terhajar telak oleh serangan Ong Bun kim hingga tewas seketika itu juga.
Anak muda itu sama sekali tidak menghentikan gerakan tubuhnya, begitu berhasil dengan serangannya, kembali ia meneruskan perjalanannya menerobos ke dalam lembah.
Keadaannya sekarang ibarat malaikat bengis yang baru turun dari khayangan, dengan membawa hawa pembunuhan yang mengerikan ia menerjang masuk ke dalam lembah, hanya beberapa kali lompatan saja ia sudah berhasil melewati dinding pekarangan.
Puluhan orang jago berbaju kuning segera tampilkan diri dan menghadang di depan pintu.
Salah seorang kakek berbaju kuning yang menjadi pemimpin rombongan kangsun menegur setelah tertawa dingin.
"Heeehhh ... heeehhh ... heeehhh ..sungguh tak kusangka kau tidak mampus di ujung pedang Liu yap kiam, kejadian ini benar-benar berada di luar dugaanku..."
"Tidak usah banyak bicara, hayo cepat menyingkir!"
Bentak Ong Bun kim sambil menahan geramnya.
"Menyingkir? Hmm! Jangan bermimpi di siang hari bolong ...."
"Bangsat, rupanya kau sudah pingin mampus."
Di antara bentakan nyaring, secepat petir Ong Bun kim menerjang ke depan.
Tapi baru saja ia menggerakkan tubuhnya, puluhan gulung angin pukulan yang maha dahsyat serentak dilontarkan pula ke arahnya.
Sungguh dahsyat tenaga pukulan yang terkandung dalam serangan tersebut, ibaratnya gulungan ombak di tengah samudra bebas, gelombang angin dahsyat tadi menyapu tiba.
Ong Bun-kim tidak berani menerima serangan tersebut dengan keras lawan keras, ia cukup mengetahui kehebatan ancaman tersebut, dengan suatu gerakan yang gesit ia mundur ke belakang untuk menghindar.
Tapi begitu mundur, seperti anak panah yang terlepas dari busurnya ia melompat kembali ke depan, bayangan manusia berkelebat lewat, jeritan ngeri yang menyayatkan hati ber kumandang berulang kali.
Napsu membunuh yang berkobar dalam dada Ong Bunkim betul-betul telah mencapai pada puncaknya, kembali ia membentak nyaring.
"Hari ini aku Ong Bun-kim akan mencuci seluruh perguruan Hou-kwan dengan darah...."
Serangan gencar dilancarkan bertubi-tubi, jeritan ngeri yang menyayatkan batipuh bergema susul menyusul....
Pembunuhan brutal mulai berlangsung.
Sungguh pembunuhan itu merupakan suatu pembunuhan yang mengerikan.
Puluhan jago perguruan Hou kwan yang kebetulan berada di situ dalam waktu singkat telah menyurut makin sedikit, kini tinggal tujuh delapan orang saja yang masih hidup dan berdiri dengan wajah ngeri serta ketakutan.
"Tahan...!"
Seru bentakan menggeledek tiba-tiba menggelegar di angkasa.
Suara tersebut nyaring dan sangat memekikkan telinga, dari sini dapat terbukti bahwa tenaga dalam yang dimiliki orang itu betul-betul sudah mencapai tingkat kesempurnaan.
Ong Bun kim menarik kembali serangannya sambil mundur, sinar matanya yang tajam menyapu sekejap sekeliling tempat itu.
Tampaklah empat sosok bayangan manusia meluncur datang ke tengah gelanggang.
Begitu mengetahui siapa yang ditang, paras muka Ong Bun kim berubah sangat hebat.
Ternyata orang yang berjalan paling duluan tak lain adalah Kwancu dari perguruan Hou kwan, Mo kui kiam jiu (jago pedang sbetan iblis), seddangkan di belaakangnya mengikubti perempuan Cantik baju kuning yang menjabat sebagai tongcu ruang siksa serta manusia aneh berbadan bungkuk dan bertubuh cebol.
Mo kui kiam jiu sendiripun berubah wajahnya setelah bertemu dengan Ong Bun kim, tanpa sadar ia berseru.
"Haaah, kau ...?"
Ong Bun kim menengadah dan tertawa tergelak-gelak.
"Haaahhh ... haaahhh ... haaahhh ...betul, memang aku! Tak pernah kau sangka bukan ?"
"Kau belum mampus ?"
"Mampus? Haaahhh .... haaahhh .... haaahh..."
Sekali lagi Ong Bun kim tertawa seram.
"Jago pedang setan iblis, yang bakal mampus sekarang bukan aku melainkan kau, hayo cabut ke luar pedangmu!"
Seraya membentak nyaring, Ong Bun kim menggenggam harpa bajanya erat erat, kemudian selangkah demi selangkah ia maju mendekat ....
Paras maka Mo kui kiam jiu berubah hebat, katanya dengan suara menyeramkan.
"Tempo hari aku telah mengampuni selembar jiwamu, tapi kali ini aku tidak akan membiarkan kau tinggalkan tempat ini dalam keadaan hidup ....!"
"Crrring!"
Sebilah pedang baja yang memancarkan sinar berkilauan segera diloloskan dari sarungnya.
"Mo kui kiam jiu!"
Bentak Ong Bun kim dengan nada keras.
"sebelum ajalmu tiba, pesan terakhir apa yang hendak kau sampaikan?"
"Haaahhh......haaahhh. haaahhh Ong Bun kim, kau jangan sombong dulu, siapa menang siapa kalah belum diketahui, apa guna-nya kau keburu senang lebih dahulu!"
Ong Bun kim tak dapat menahan diri lagi, segera bentaknya.
"Bangsat, tak usah banyak kerbicara lagi, lihat serangan!"
Berbareng dengan selesainya perkataan itu, harpa besinya dengan menciptakan selapis cahaya tajam yang berkilauan langsung menerjang tubuh Mo kui kiam jiu serangannya amat cepat dan sungguh mengerikan bagi siapapun yang menghadapinya.
Mo kui kiam jiu tak mau mengalah, dia ikut membentak keras, pedangnya diputar untuk menangkis serangan harpa besi itu, kemudian gerakan pedangnya berubah, dan secara beruntun ia lepaskan tiga buah serangan berantai.
Ketiga buah serangan itupun diblancarkan dengadn kecepatan yanag luar biasa sebrta tenaga dalam yang hebat.
Dengan dasar kepandaian silat yang dimiliki Ong Bun kim sekarang, pada hakekatnya ia tidak pandang sebelah matapun atas kehebatan Mo kui kiam jiu, sambil tertawa dingin harpa besinya diputar ke sana ke mari, secara beruntun diapun membalas dengan tiga buah serangan pula.
Bayangan manusia saling menyambar, seketika itu juga Mo kui kiam jiu kena didesak hingga mundur tujuh delapan langkah.
Setelah berlangsungnya kejadian ini, si Jago pedang setan iblis baru merasa terperanjat, ia tak mengira kalau ilmu silat yang dimiliki Ong bun kim sekarang telah mencapai taraf sedemikian lihaynya.
Sementara masih tertegun.
Ong Bun kim telih bergerak lebih jauh, kali ini dia melepas-kan empat buah serangan.
Padahal waktu itu Mo kui kbm jiu sudah tidak bertenaga lagi untuk memberi perlawanan, dengan susah payah ia bendung semua serangan dari pemuda itu, kemudian merogoh ke dalam sakunya dan mencabut keluar pedang Liu yap kiam itu.
Belum lagi pedang Liu yap kiam yang di rogoh dari sakunya terpegang oleh jari tangan Mo kui kiam jiu, mendadak Ong Bun kim membentak keras, tangan kirinya membacok ke bawah, berbareng kaki kanannya melepaskan sebuah tendangan maut.
Suatu kombirasi serangan yang sangat indah, lihay dan cepat.
"Blaaang ... !"
Serangan bersarang telak di tubuh lawan, diiringi jerit kesakitan yang memilukan hati tubuh si Jago pedang setara iblis mencelat ke belakang sejauh tiga kaki dan muntah darah segar.
Ong Bun kim melejit ke udara, secepat kilat ia memburu ke depan lalu dicengkeramnya tubuh jago tersebut.
Ketika Ong Bun kim sedang mencengkeram tubuh Mo kui kiam jiu, dua bentakan keras menggelegar di udara, dua orang manusia aneh bungkuk dan cebol itu serentak maju ke depan melancarkan tubrukan kilat.
Ong Bun kim segera memutar harpa bajanya seraya membentak.
"Berhenti! Kalian ingin mampus?"
Menyusul putaran senjata harpa besi itu tubuhnya mundur satu kaki ke belakang, me-nyaksikan hawa pembunuhan yang menyelimuti wajah si anak muda itu bergidik juga perasaan dua manusia aneh yarng bungkuk dan tcebol itu.
Jagoq pedang setan irblis membuka matanya memandang Ong Bun kim sekejap, diantara wajahnya yang pucat pasi terlintas warna kelabu yang mengenaskan .....
"Jago pedang setan iblis!"
Bentak Ong Bun kim dengan suara tajam.
"kau tidak mengira akan mengalami keadaan seperti ini bukan ?"
"Mau .....mau apa kau?"
"Apa lagi? Dengan cara yang sama aku hendak membalas kepadamu!"
Selesai berkata mengempit tubuh Mo kui-kiam jiu dengan tangan kanannya, sedang tangan kirinya merogoh ke dalam satu dan mengeluarkan tiga bilah pedang Liu yap kiam.
Ia, tertawa dingin, dengan kaki kirinya Mo-kui kiam jiu ditendang keras keras.
"Blaaang!"
Seperti sebuah bola kulit, tubuh jago pedang setan iblis mencelat ke udara dan meluncur ke depan dengan cepatnya.
Ong Bun kim tidak berhenti sampat di situ saja, begitu Mo kui kiam jiu mencelat ke udara, cahaya putih berkelebat lewat, pedang Liu yap kiam yang berada di tangan pemuda itu sudah disambit ke depan...
Jeritan ngeri yang menyayatkan hati sekali lagi berkumandang di udara, tiga bilah pedang Liu yap kiam tersebut semuanya menancap di tubuh Mo kui kiam jiu, pembalasan dendam dengan cara yang samapun berakhir.
Menyaksikan kekejaman serta keteguhan hati pemuda itu.
sedikit banyak manusia bungkuk manusia cebol dan perempuan cantik berbaju kuning itu begidik juga.
Ong Bun kim segera tertawa tergelak, ia merasa puas sekali dengan hasil yang diperoleh dari pembalasan dendam itu...
"Ong Bun kim!"
Mendadak dari belakang tubuhnya berkumandang suara teguran.
"sungguh keji perbuatanmu itu...."
Ong Bun kim berpaling, ketika mengetahui siapa yang berada di situ, paras mukanya kontan berubah hebat.
"Haaah... Siau Hui un! Kiranya kau....."
Teriaknya.
"Benar!"
Ong Bun kim menengadah dan tertawa seram.
"Perempuan sundal! Aku memang sedang berusaha mencarimu, sungguh kebetulan sekali kau mengantarkan dirimu sendiri..."
Berbareng dengan bentakan itu, tubuhnya langsung menerjang ke arah Siau Hui un.
Perempuan itu tertawa dingin, ia tak merasa jeri barang sedikitpun terhadap pemuda itu, tapi sebelum ia sempat mengucapkan sesuatu, tiba-tiba berkumandang suara bentakan nyaring.
"Bajingan cilik, aku akan beradu jiwa denganmu!"
Manusia bungkuk dan manusia cebol dengan gerakan cepat telah menubruk datang, satu dari kiri yang lain dari kanan langsung menyergap si anak muda itu dengan serangan dahsyat.
0oo0dw0oo0 BAB 31 SERANGAN yang dilepaskan manusia bungkuk dan manusia cebol itu betul-betul amat dahsyat, bayangan manusia baru saja berkelebat lewat, tahu tahu angin pukulan sudah berada di depan mata.
"Kalian pingin mampus?"
Bentak Ong Bun-kim Harpa bajanya diayun dan sebuah serangan telah dilancarkan pula.
Sesungguhnya serangan tersebut sudah cukup untuk mendesak mundur serangan dari dua orang manusia aneh itu, tapi tampaknya mereka berdua seperti sudah kalap, tanpa mempedulikan keselamatan sendiri serangan demi serangan di lancarkan secara bertubi-tubi.
Menghadapi kekalapan orang, hawa napsu membunuh di hati Ong Bun kim segera berkobar, ia membentak keras lalu secara beruntun melepaskan dua buah serangan untuk menghajar kedua orang lawannya.
Jerit kesakitan kembali berkumandang me-mecahkan kesunyian, ketika bayangan manusia saling berpisah, tampaklah manusia cebol dah manusia bungkuk itu sudah roboh terkapar di tanah dengan batok kepala pecah, darah kental berhamburan ke mana mana.
Semua peristiwa itu berlangsung dalam waktu singkat, begitu selesai membereskan dua orang manusia aneh itu, dengan kecepatan paling tinggi ia menerjang ke hadapan Siau Hui un.
Rupanya atas kemajuan pesat yang diperoleh Ong Bun kim dalam ilmu silatnya, Siau Hui un merasa amat terperanjat, ia tertawa dingin, kemudian katanya.
"Sungguh tak kusangka kepandaian silatmu telah peroleh kemajuan yang pesat sekali!"
"Heeehhh....heeehhh....heeehhh... Siau Hui un, aku hendak bertanya kepadamu..."
"Apa yang hendak kau tanyakan?"
"Benarkah suhuku Kui jin suseng adalah kekasihmu?"
"Betul!"
"Benarkah Manusia kilbat adalah kekasdihmu yang keduaa?"
"Tepat sekali!"
"Siapakah manusia kilat itu?"
"Selama hidup jangan harap kau akan mengetahuinya!"
"Lalu di manakah keenam
Jilid kitab pusaka lari enam partai besar?"
Bentak pemuda itu lebih jauh.
"Semuanya berada di sakuku!"
"Serahkan kepadaku!"
"Woouw, Ong Bun kim! Dengan andalkan kepandaian apa kau berani memaksaku dengan cara begitu!"
"Siau Hui un, dendam orang tuaku bagaimanapun harus dibalas, hutang darah bayar darah, hutang nyawa buyar nyawa, lihat serangan ... ."
Berbareng dengan kata yang terakhir, tubuhnya melesat ke depan dan menubruk perempuan itu, sebuah serangan segera dilepaskan.
Setelah berjumpa dengan musuh besarnya, kobaran api dendam yang berkorbar dalam dada Ong Bun kim tak terkendalikan lagi, ketika tangan kanan melepaskan serangan, tangan kiripun digetarkan pula melancarkan sebuah pukulan.
Tampaknya Siau Hui un tidak bermaksud untuk melayani Ong Bun-kim dengan suatu pertarungan, ketika pemuda itu melancarkan serangan, pedang kutungnya segera diputar untuk membendung tibanya ancaman, kemudian bentaknya keras keras.
"Tunggu sebentar!"
Ong Bun kim mundur dua tiga langkah, lalu tegurnya.
"Apa lagi yang hendak kau katakan?"
"Jika kau benar benar ingin bertarung, kenapa kita tidak tinggalkan dulu tempat ini?"
Begitu selesai berkata ia lantas berkelebat meninggalkan tempat itu, setelah keluar dari lembah Cing liong kok, tubuhnya masih saja bergerak maju terus tiada hentinya.
Ong Bun kim tertawa dingin, ia percepat langkahnya untuk menyusul perempuan itu.
Kurang lebih beberapa li kemudian, Siau Hui un baru menghentikan larinya, ia berhenti sambil memutar badan.
Ong Bun kim tertawa seram, dengan sinar mata memancarkan hawa pembunuhan yang tebal diawasinya Siau Hui un tanpa berkedip ..
Kemudian selangkah demi selangkah ia maju mendekatinya, sambil menggigit bibir katanya.
"Siau Hui un, aku hendak menghbancur lumatkan dtubuhmu menjadia berkeping kepibng, aku hendak mempergunakan batok kepalamu untuk bersembahyang di depan kuburan ibuku."
"Huuuh....! Enak betul perkataanmu"
Ejek Siau Hui un sambil tertawa dingin.
"aku kuatir yang mati bukan aku melainkan kau sendiri!"
Mendengar perkataan itu Oag Bun kim segera tertawa kalap, dengan hawa pembunuhan yang tebal ia tertawa sekeras-kerasnya, kemudian sambil menarik wajahnya ia membentak.
"Perempuan sundal, kalau begitu cobalah dulu kehebatanku ini!"
Di tengah bentakan nyaring tubuh Ong Bun kim bagaikan sgulung angin puyuh langsung menerjang ke muka, lalu dengan mempergunakan jurus serangan yang terampuh ia lepaskan tiga buah serangan berantai.
Dalam keadaan kalap Ong Bun kim sudah tidak memikirkan apa-apa lagi, semua jurus serangan yang dipakai rata rata adalah jurus mematikan yang paling keji, perubahan gerakannya sukar diduga tapi arahnya selalu tepat dan menggidikkan.
Menghadapi serangan semacam ini, dengan kaget Siau Hui un mengunci serangan itu lalu dengan tangan kirinya ia lepaskan sebuah serangan balasan.
Bayangan manusia berputar ke sana ke mari, dalam waktu singkat Siau Hui un sudah kena didesak hingga mundur sejauh tujuh delapan langkah dari posisi semula.
Ong Bun kim membentak keras lalu menubruk ke muka, tapi sebelum pemuda itu sempat meneruskan gerakannya, mendadak terdengar suara bentakan nyaring yang mengerikan menggema memecahkan kesunyian;
"Tahan!"
Suaranya dingin dan penuh kewibawaan, dengan perasaan tercekat Ong Bun kim segera menarik kembali tubuhnya dan memeriksa ke adaan di sekeliling tempat itu, tapi suasana tetap sepi dan tak nampak sesosok banyangan manusiapun.
Paras mukanya berubah hebat, bentaknya.
"Siapa di situ?"
Orang itu hanya tertawa dingin tiada hentinya, suara tertawanya persis seperti suara tertawa si Manusia kilat ketika pertama kali berjumpa dengan gurunya tempo hari..
Terbayang sampai di situ, dengan wajah hijau membesi Ong Bun kim segera berseru.
"Kau adalah Manusia kilat?"
"Benar!"
Berdebar keras rjantung Ong Bunt kim meng-hadapqi orang itu, mernyusul kemudian sambil tertawa seram katanya.
"Manusia kilat, jika kau memang bernyali, kenapa kau tak berani ujukkan dirimu?"
"Aku memang bertujuan mencarimu, kenapa tidak berani menampakkan diri ?"
Ketika kata terakhir diucapkan, cahaya putih berkelebat lewat, dan tahu tahu lima kaki di depan sana telah bertambah dengan sesosok bayangan berwarna putih.
"Haaahhh ... haaahhh ... haaahbh ... Manusia kilat, akupun sedang mencarimu."
Seru Ong Bun kini sambil tertawa seram.
"Mau apa kau mencari aku?"
"Mencincang tubuhmu!"
Kontan saja Manusia kilat tertawa dingin.
"Kau masih belum mampu untuk melakukannya!"
Ia mengejek.
"Bisa atau tidak, kita buktikan saja bersama!"
Selesai berkata Ong Bun kim melompat ke depan secepat kilat, sasarannya adalah si Manusia kilat.
Baru saja pemuda itu bergerak, cahaya putih menyambar pula bersamaan waktunya, tahu-tahu manusia kilat telah mendahului serangan dengan menggulung anak muda itu.
Pada hakekatnya gerakan tubuh kedua belah pihak sama sama cepatnya, tapi sampai di tengah jalan, Ong Bun kim merasa tubuhnya ditahan oleh segulung tenaga pukulan dan tak sanggup bergerak lebih jauh.
Cahaya putih berkelebat lewat dan Manusia kilat kembali telah mundur satu kaki ke belakang, katanya.
"Ong Bun kim, kau ingin mati atau ingin hidup?"
"Kalau mati bagaimana? Kalau hidup bagaimana?"
"Kalau ingin hidup, menjadi muridku..."
"Setelah menjadi muridmu lantas bagaimana?"
Ejek Ong Bun kim sambil tertawa dingin.
"Kita bersama-sama akan membangun kerajaan yang menguasai seluruh dunia persilatan!"
"Boleh saja, tapi ada sebuah syarat!"
"Apa syaratmu?"
"Batok kepalamu dan Siau Hui un harus diserahkan dulu kepadaku!"
"Jadi kalau begitu, kau lebih suka mampus?"
Bentak Manusia kilat.
"Betul!"
"Bajingan cilik, kujagal engkau!"
Dengan geramnya manusia kilat maju ke muka, tampak selapis cahaya putih berkelebat lewat, tahu-tahu ia sudah menyerang pemuda itu.
Ong Bun kim sedikitpun tidak jeri, sambil membentak harpa bajanya bekerja pula dengan cepat, sebuah serangan balas disapu ke depan dengan disertai tenaga dahsyat.
Gerakan yang dilakukan kedua belah pihak sama sama cepat dan sama sama mematikan, Ong Bun kim merasakan tenaga pukulan lawan yang menekan padanya amat berat sekali.
Selain dari pada itu gerakan tubuhnya cepat pula, entah sampai taraf mana kepandaian yang dimilikinya itu.
Diantara berkelebatnya bayangan manusia, seketika itu juga ia didesak mundur sejauh tujuh delapan langkah.
Manusia Kilat tertawa seram, katanya.
"Ong Bun kim, seandainya aku tidak memandang bahwa tubuhmu masih ada nilainya, tak nanti kuterima kau sebagai muridku, benar-kah kau masih juga tak sadarkan diri?"
"Karena ditubuhku terkandung se
Jilid kitab pusaka?"
Ejek Ong Bun kim sambil melancarkan tiga buah serangan.
"Mungkin benar mungkin juga tidak, sesungguhnya kitab pusaka itu kau sembunyikan di mana? Kalau tidak kau akui, jangan salahkan kalau aku tidak akan berlaku sungkan sungkan lagi kepadamu."
"Haaahhh ... haaahhh ... haaahhh ..bukankah sudah kau katakan bahwa barangnya berada di sakuku? Kenapa tidak lalu bunuh saja diriku lalu dicari pelan-pelan..."
"Bangsat, rupanya kau sudah bosan hidup..."
Diiringi bentakan marah Manusia Kilat melancarkan tiga buah serangan berantai.
Ong Bun kim tidak berdiam diri saja, dalam keadaan terancam bahaya secara beruntun ia lancarkan pula dua buah serangan untuk menghalau ancaman tersebut.
Tapi hasilnya, kendatipun kedua buah serangan itu berhasil menggagalkan serangan Manusia kilat, namun darah di dalam tubuhnya ikut bergelora juga.
Pada saat itulah, suara tertawa dingin yang menggidikkan hati memecahkan keheningan, lalu seseorang membentak.
"Tahan!"
Cahaya putih berkelebat lewat, manusia kilat mundur tiga kaki ke belakang lalu tegurnya.
"Siapa di situ?"
Tiada seorangpun yang menjawab. Suasana menjadi hening dan sepi, suatu keheningan yang penuh diliputi hawa pembunuhan yang mengerikan. Tiba -tiba Manusia kilat membentak lagi.
"Sobat, kalau memang sudah datang, kenapa tidak berani menampakkan diri....?"
Suara tertawa dingin kembali berkumandang dua sosok bayangan hitam bagaikan sukma gentayangan melayang tiba dari jarak tiga kaki, ilmu meringankan tubuhnya amat lihay dan mengejutkan hati.
Menyaksikan kemunculan kedua orang itu.
Manusia kilat segera tertawa dingin.
"Hesehh....heeehhh... .heeehh....kukira siapa yang teiah datang, rupanya jago-jago dari perguruan Yu leng bun (sukma gentayangan)..."
Mendengar ucapan tersebut, Ong Bun kim merasa terperanjat pula, tanpa sadar ia berseru.
"Kalian adalah Yu leng jin (manusia tanpa sukma)?"
"Benar!"
Peristiwa yang dijumpainya hari ini benar-benar hebat, dalam satu tempat dan satu keadaan secara beruntun ia telah menjumpai dua jenis manusia paling misterius, yakni Manusia kilat dan Manusia tanpa sukma, hal ini cukup menggetarkan perasaannya.
"Ada urusan apa kau datang kemari?"
Tegur Ong Bun kim sambil tertawa dingin.
"Mencari kau!"
"Mencari aku ada persoalan apa?"
"Bukankah mata uang kematian berada di tanganmu?"
"Benar!"
"Berapa banyak yang kau miliki?"
"Enam biji!"
"Serahkan kepada kami sekarang juga!"
"Heeehhh....beeehhh....heeehhh. ...enak benar kalau omong"
Ejek Ong Bun kim sambil tertawa dingin.
"sayang semua mata uang kematian telah kuserahkan kepada orang lain!"
"Kau serahkan kepada siapa?"
Bentak manusia tanpa sukma yang berada di sebelah kanan.
"Pemiliknya yang sah!"
"Pemiliknya yang sah?"
"Benar, bukankah mata uang kematian itu mempunyai pemiliknya yang sah? Puluhan tahun berselang, ketika kalian hendak membunuh Hian ih li hiap dan seorang bayi perempuan..."
"Apa? Mereka masih hidup"
"Betul, mereka masih hidup?"
"Bayi perempuan itu...."
"Sekarang sudah menjadi seorang gadis remaja, aku telah serahkan mata uang kematian tersebut kepada mereka!"
"Sungguhkah perkataanmu itu?"
"Tentu saja sungguh!"
Manusia tanpa sukma yang berada di sisi kanan itu segera menghardik.
"Sekarang mereka berada di mana? Hayo jawab!"
Di balik bentakan itu penuh mengandung nada mengancam dan hawa pembunuhan yang mengerikan. Ong Bun-kim tertawa dingin, katanya.
"Kalian tak usah kuatir, dia pasti dapat menemu kan kalian semua!"
"Hayo jawab ! Sekarang mereka berada di mana?" -oo0dw0oo--
Jilid 11
"KALAU aku enggan menjawab?"
"Memangnya sudah kepingin mampus?"
"Haaahh haaahh haaahh tepat sekali perkataanmu itu!"
Ong Bun-kim tertawa terbahak bahak.
Bayangan manusia berputar kencang seperti sukma gentayangan saja manusia tanpa sukma itu bergerak maju ke muka menghampiri Ong Bun kim, sebelum tubuhnya tiba, segulung angin pukulan yang berhawa dingin telah menggulung tiba lebih dahulu.
Baru saja Ong Bun-kim hendak menghindarkan diri dari ancaman itu, manusia tanpa sukma sudah melayang mundur kembali ke posisi semula, katanya dengan dingin.
"Sebelum pertarungan dilangsungkan, terlebih dulu aku hendak menanyakan satu persoalan kepadamu!"
"Katakan cepat!"
"Kau pernah membaca isi tulisan yang tertera di atas mata uang kematian tersebut?"
"Benar!"
"Selain dari pada itu, apakah kau adalah putranya Ong See-liat?"
"Perkataanmu juga benar!"
"Kalau begitu, kami lebih-lebih tak akan mengampuni jiwamu!"
Kembali bayangan hitam berkelebat lewat lalu menerjang ke muka secepat sambaran kilat, tapi berbareng itu pula cahaya putih menyambar ke tengah gelanggang, pada saat yang bersamaan Manusia kilat melepaskan sebuah serangan dahsyat ke tubuh manusia tanpa sukma.
Bayangan putih dan bayangan hitam saling berputar satu lingkaran di udara kemudian ke duanya sama-sama melayang mundur satu kaki dari posisi semula.
"Hei, apa-apaan kau?"-tegur Manusia tanpa sukma dengan nada tak senang, hati. Manusia kilat tertawa dingin.
"Sobat, kalian jangan bertindak seenaknya sendiri, dia adalah orang yang kumaui, kalian tak boleh mengganggu seujung rarhbutnyapun!"
Manusia tanpa sukma berganti tertawa dingin.
"Hieehh. .heeehh..... .heeehh Orang yang kau maui?"
"Benar!"
"Huuhh ! Besar amat bocotmu......"
"Aku berbicara yang sesungguhnya, barang siapa sudah kumaui, maka tak seorangpun diantara mereka yang dapat lolos dari cengkeramanku, mengerti.. !"
"Baah....! Manusia kilat, kamu itu manusia macam apa? Berani betul bicara sesumbar."
Ejek Manusia tanpa sukma yang berada di sebelah kanan sambil tertawa dingin. Manusia kilat tertawa seram.
"Kalau tidak percaya, silahkan saja untuk mencobanya sendiri!"
Demikian dia menantang.
Manusia tanpa sukma tertawa dingin, tubuhnya yang hitam seperti sukma gentayangan dengan membawa desingan angin dingin langsung menerjang ke arah Ong Bun-kim.
Sekali lagi cahaya putih membelah angkasa, Manusia kilat membawa serentetan cahaya putih melejit ke udara dan memapaki datangnya terkaman dari Manusia tanpa sukma.
Di saat manusia kilat itu bertindak, manusia tanpa sukma lainnya tidak pula menganggur, dengan menggunakan kesempatan tersebut ia menubruk ke arah Ong Bun-kim.
Tubrukan itu cepat sekali, mau tak mau si anak muda itu harus membentak keras, harpa bajanya ikut pula dipakai untuk melancarkan serangan.
0oo0dw0oo0 BAB 32 BERBARENG dengan serangan dari harpa baja itu, telapak tangan kirinya diayun pula ke muka melancarkan sebuah serangan dahsyat.
Pertarungan segera berkobar dengan sengit nya, angin pukulan menderu deru, bayangan hitam menyambarnyambar.
Di tengah tegangnya suasana, kembali ke-dengaran seseorang tertawa merdu lalu menegur.
"Kenapa kalian berempat musti bertarung seseru ini?"
Sedemikian mendadaknya suara itu muncul membuat kawanan jago yang sedang bertempur serta merta menghentikan pertarungan mereka.
Ong Bun-kim berpaling ke samping, dijumpainya ada dua orang dayang berbaju biru sambil menggotong sebuah tandu berwarna biru bergerak cepat mendekati arena.
Dua orang dayang-berbaju biru itu tak lain adalah dua orang pesuruh dari Hui-mo-pang, terkesiap juga Ong Bunkim menghadapi kejadian ini, pikirnya.
"Jangan-jangan Gin Lo-sat dari Hui-mo-pang telah datang pula ke mari?"
Sementara ia masih termenung, tandu itu sudah tiba di tengah gelanggang pertarungan. Dua orang dayang berbaju biru ttu melirik Ong Bun-kim sekejap, lalu serunya.
"Sudah sampai!"
Tandu berhenti, horden segera disingkap dan seorang gadis cantik berbaju biru berjalan keluar dari balik tandu itu dengan langkah yang lemah gemulai...
Gagis itu berusia duapuluh satu, dua tahunan, mukanya cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, biji matanya bening dan jeli, ia memang tak malu disebut seorang gadis rupawan.
Ong Bun-kim kesemsem dibuatnya menyaksikan kecantikan dara berbaju biru itu.
Dangan matanya yang jeli dara bberbaju biru itdu menyapu sekejaap sekeliling gbelanggang, kemudian sorot matanya berhenti di atas wajah Ong Bun kim, sesudah tertawa dingin katanya.
"Apakah kau yang bernama Ong Bun kim?"
"Betul!"
Gadis berbaju biru itu tertawa ringan, kembali tanyanya.
"Lantas di manakah sahabatmu itu?"
"Sahabatku yang mana?"
"Orang yang telah melukai dayangku itu!"
"Heeehh...heeehhb...heeehhb.,.mau apa kau mencari dia?"
Tegur Ong Bun kim sambil tertawa.
"Membunuhnya!" .
"Huuuh...! Besar amat bacotmu, tidak takut lidahmu kena disambar geledek sampai putus?"
"Aku tidak membual tidak pula menggertak, aku berbicara apa adanya!"
Setelah tertawa dingin ia melanjutkan.
"nah, sekarang kau harus ikut kami pergi!"
"Pergi ke mana?"
"Ke markas besar perkumpulan kami!"
"Siapa kau?"
"Wakil pangcu dari perkumpulan Hui mo pang, orangorang memanggilku Gin Losat!"
Ong Bun kim kembali tertawa dingin.
"Hmmm....! Kenapa aku musti ke markas perkumpulan kalian? Aku merasa tak pernah kenal dengan kalian!"
"Soal semacam ini lebih baik tak usah kau tanyakan dulu, sampai waktunya kau toh akan mengetahui sendiri!"
"Jadi kedatanganmu ke sini adalah secara khusus untuk mengundang diriku."
"Benar sekali perkataan itu."
Ong Bun kim tertawa dingin.
"Heehmm...heehhmm...aku merasa berbangga hati dengan kenyataan ini, sebab ada begini banyak jago kenamaan yang secara khusus datang mencariku, cuma ...kuatirnya aku tak bisa pergi mengikutimu."
"Kenapa?"
"Tidakkah ..kau lihat ada begini banyak jago yang berurusan denganku di tempat ini!"
Ong Bun kim cukup jelas denganb keadaan dirinyda, berbicara daari kepandaian sbilat yang dimiliki dua orang Manusia tanpa sukma dan Manusia kilat, ia masih bukan tandingannya, lebih lebih dengan Hu pangcu dari Hui mo pang ini, dia tahu kepandaian silat gadis itu lihay sekali.
Maka timbullah satu ingatan dalam benaknya untuk mengadu domba mereka bertiga, asal ketiga pihak itu sudah bentrok dan tarung sendiri, maka akibatnya dialah yang akan menjadi nelayan yang beruntung.
Sebab itulah dia lantas berusaha memanasi hati Gin Lo sat dengan kata -kata yang tak sedap tadi.
Betul juga, paras muka Gin Lo sat berubah hebat setelah mendengar perkataan itu, katanya.
"Kalau aku menghendaki kau ikut diriku pergi, siapa yang berani mengatakan tidak?"
Manusia tanpa sukma tidak tahan oleh sindiran tersebut, ia tertawa dingin lalu serunya.
"Huuuh ! Kau sendiri itu manusia macam apa?"
"Aku tidak terhitung manusia macam apa-apa, kalau punya keberanian hayo unjukkan saja kepandaianmu!"
Ejek Gin Lo sat sambil tertawa cekikikan.
Dengan berlangsungnya perang mulut, situasi dalam arena berubah menjadi tegang, hawa pembunuhanpun menyelimuti seluruh angkasa.
Manusia tanpa sukma yang berada di sebelah kanan segera tertawa dingin, bayangan hitam berkelebat ke depan tiba-tiba ia menerjang ke tubuh Ong Bun kim.
"Bajingan yang bosan hidup !"
Jengek seseorang sambil tertawa sinis.
Bayangan biru melompat pula ke tengah arena, dengan suatu gerakan manis Gin Lo sat menyongsong kedatangan manusia tanpa Sukma.
Di kala Gin Lo sat telah turun tangan, Manusia tanpa sukma lainnya ikut bertindak pula, dia manfaatkan kesempatan itu sebaik baiknya untuk menerkam Ong Bun kim.
Cahaya putih berkelebat lewat.
Manusia kilat yang kali ini bertindak untuk menghadang jalan pergi Manusia tanpa sukma itu.
Empat sosok bayangan manusia hampir pada saat yang bersamaan terjun ke dalam gelanggang, bentakan-bentakan nyaring, deruan angin pukulan menciptakan perpaduan suara yang mengerikan.
Ong Bun kim ssperti teringat akan sesuatu, tiba tiba ia memutar tubuhnya sambil membentak.
"Siau Hui un, krita jangan hanyta menganggur, hqayo serahkan jirwa anjingmu kepadaku!"
Ia melompat ke depan dan menubruk ke arah Siau Hui un.
Berbareng dengan tubrukan itu, tangan kiri-nya melepaskan sebuah pukulan dengan sepenuh tenaga.
Siau Hui un menggigit bibirnya, dengan keras lawan keras ia sambut datangnya serangan dari anak muda itu.
Sementara benturan berlangsung, harpa besi di tangan kanan Ong Bun kim berkelebat pula melancarkan tiga buah serangan.
Secara beruntun Siau Hui un didesak hingga mundur tujuh-delapan langkah dengan sempoyongan, untunglah di saat yang kritis bayangan biru berkelebat lewat, dua oramg dayang berbaju biru itu secara tiba tiba melancarkan serangan ke arah Ong Bun kim.
Serangan dari kedua orang dayang itu cukup keras, ini membuat anak muda kita naik pitam, dengan geramnya ia menghardik.
"Dayang sialan, kubunuh dirimu "
Harpanya diputar sedemikian rupa hingga menimbulkan deruan angin tajam, jurus-jurus serangan mematikan berhamburan tiada hentinya.
Di tengah berkobarnya pertarungan sengit, tiba tiba Ong Bun kim mendengar ada suara bisikan lembut seperti suara nyamuk menggema di sisi telinganya.
"Hei bodoh, kalau sekarang tidak kabur mau menunggu sampai kapan lagi ....?"
Mendengar bisikan itu Ong Bun kim kaget, betul juga, kalau sekarang tidak angkat kaki, lain waktu pasti sulit untuk kabur dari kepungan jago jago lihay itu.
Tapi musuh besar ada di depan mata, harusnya ia tinggalkan musuhnya untuk melarikan diri?
Sudah barang tentu hal ini merupakan suatu perbuatan yang tak mungkin bisa dilakukan.
Untuk kedua kalinya bisikan seperti nyamuk itu berkumandang di sisi telinganya.
"Hei bego, kenapa berdiri mematung terus? Hayo cepat ambil langkah seribu dari situ!"
Walaupun kali ini Ong Bun kim tertegun lagi, tapi ia sama sekali tidak meninggalkan tempat itu, malah sebaliknya sambil membentak ia lepaskan dua serangan untuk membendung gerak maju dayang dayang berbaju biru ku, kemudian badannya ber-kelebat ke samping dan mengejar Siau Hui un yang sementara itu sudah menyingkir ke belakang.
Pada saat ini Ong Bun kim sudah mempunyai niat untuk beradu jiwa, begitu menyerang ia kerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya, hebat sekali akibatnya.
Mendadak, bayangan abu abu kembali menyambar lewat, secepat kilat orang itu meluncur ke arah Ong Bun kim dan menggunakan kesempatan dikala pemuda itu tidak siap ia totok jalan darahnya.
Ong Bun kim tidak menyangka bakal ada serangan dari belakang, baru saja merasa kaget badannya sudah menjadi kaku dan tahu-tahu ia sudah dibawa kabur dari sana.
Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki orang itu amat sempurna, dalam beberapa kali lompatan saja tubuhnya sudah mencapai puluhan kaki, sekali pun jalan darahnya tertotok Ong Bun kim masih ada dalam keadaan sadar, segera bentaknya;
"Turunkan aku!"
Manusia berbaju abu abu itu tidak menjawab ia malah tancap gas untuk kabur dari sana.
Dalam waktu singkat beberapa li sudah di lewatkan, akhirnya manusia berbaju abu abu itui menurunkan Oog Bun kim ke atas tanah dan menepuk bebas jalan darahnya yang tertotok.
Dengan cekatan pemuda itu melompat bangun dan mengamati orang itu, tapi dengan cepat ia tertegun.
"Lho, kamu?"
Serunya-tertahan.
"Yaa, memang aku!". Ternyata orang itu adalah si gadis berbaju-abu abu yang beberapa kali pernah dijumpai Ong Bun kim, sewaktu pemuda itu terkena pedang Liu yap kiam, gadis itu pula yang telah menyelamatkan jiwanya. Paras muka Ong Bun kim berubah hebat-bentaknya.
"Sebenarnya apa maksudmu berbuat demikian?"
"Apa lagi? Tentu saja menolongmu!"
"Menolong aku?"
"Yaa, aku melakukannya untuk menolongmu!"
"Siapa yang suruh kau untuk menolongku?"
Teriak pemuda itu dengan perasaan tak senang hati.
Selesai berkata dengan ketus ia lantas putar badan dan berjalan kembali ke arah tempat semula.
Bayangan abu-abu mendadak berkelebat di depan mata, tahu tahu gadis bsrbaju abu abu itu telah menghadang kembali di hadapannya.
"Ong Bun-kim, kau sudah kepingbin mampus?"
Terdiaknya.
"Aku piangin mampus atabu tidak apa sangkut pautnya dengan dirimu?"
Damprat pemuda itu. Sekujur tubuh si nona berbaju abu -abu menggigil keras, rupanya ucapan itu telah menyinggung perasaan halusnya, dengan wajah berubah teriaknya keras-keras.
"Dari pada kau mampus di tangan orang lain, lebih baik mati di tanganku saja!"
Bayangan abu-abu menyambar ke depan, mendadak ia menghantam tubuh pemuda tersebut. Tangan kanannya diayun ke muka dan ...
"Plaaak!"
Sebuah tempelengan telah bersarang telak di atas pipi Ong Bun-kim membuat si anak muda itu mundur tujuh delapan langkah dengan sempoyongan.
"Kau ... kau memukul aku?"
Dengan gemetar ia bertanya. Agaknya nona berbaju abu abupun merasa tertegun sesudah menempeleng Ong Bun-kim, lama, lama sekali, mendadak ia menutupi muka nya sendiri dan menangis tersedu-sedu.
"Enyah! Enyah dari sini!"
Jeritnya keras-keras.
Sebenarnya Ong Bun-kim merasa marah sekali dan diliputi oleh napsu ingin membalas dendam, tapi setelah nona berbaju abu-abu itu menangis tersedu-sedu, ia malah tertegun dibuat nya sehingga berdiri termangu seperti patung.
Beberapa saat kemudian nona berbaju abu abu itu baru berhenti menangis, mukanya yang pucat pias memancarkan kebulatan tekadnya, setelah melemparkan kerlingan terakhir ke wajah Ong Bun-kim tiba-tiba ia beranjak dari situ.
Tentu saja tingkah laku gadis itu sangat mencengangkan bati Ong Bun-kim, serunya tak tertahan.
"Nona!"
Nona berbaju abu-abu itu berhenti lalu berpaling dan memandang Ong Bun-kim sekejap, setelah itu sambil tertawa dingin katanya.
"Benar, mati hidupmu memang tak ada sangkut pautnya dengan aku, kalau toh kau bersikeras ingin mampus, apa sangkut pautnya dengan aku? Kenapa pula aku musti mengurusi nya? Ong Bun-kim, silahkan angkat kaki dari hadapanku!"
Selesai berkata, ia melanjutkan kembali langkahnya berlalu dari tempat itu.
"Nona ..."
Sekali lagi Ong Bun-kim berteriak.
"Ong Bun-kim, kau masih ada urusan apa lagi yang hendak diperbincangkan dengan aku?"
Ong Bun-kim tertawa getir, katanya.
"Aku hanya ingin mengucapkan bbanyak terima kadsih atas budi paertolongan tempbo hari!"
"Oooh ..itu sih hanya pekerjaan kecil, tak usah kau ucapkan terima kasih kepadaku!"
Memandang wajah si nona yang murung, sedih dan pucat pasi; timbul suatu perasaan dalam hati kecil pemuda itu bahwasanya mereka adalah senasib sependeritaan, hal ini amat menggetarkan perasaannya hingga tanpa terasa ia menghela napas panjang.
"Aaaai ... ketahuilah nona, dendam sakit hati orang tuaku belum terbalas, tapi kau telah melarikan aku ..."
"Sanggupkah dendammu itu kau tuntut balas?"
Jengek si nona berbaju abu-abu itu sambil mendengus.
"Tentang soal ini ..."
"Ong Bun -kim, kau jangan terlampau tekebur, ketahuilah bahwa kepandaian silatmu yang amat cetek itu masih belum cukup sebagai bekalmu untuk membalas dendam, betul Siau Hui un adalah musuh besarmu, tapi otak dari pembunuhan yang sesungguhnya adalah Manusia kilat sendiri, tak usah membicarakan yang lain, sanggup tidak ilmu silatmu menandingi kelihayan si manusia kilat?"
"Soal ini ...."
"Hmm ... !"
Kembali nona berbaju abu abu itu mendengus.
"manusia kilat yang munculkan diri sekarang tidak lebih hanya salah seorang di antara sekian banyak anggota perguruan San-tiam-bun, seandainya si Manusia kilat yang sesungguhnya telah muncul di hadapanmu, semenjak tadi nyawamu sudah lenyap tak ber bekas..."
"Apa? Manusia kilat itu bukan cuma se orang?"
"Siapa bilang hanya seorang? Jumlahnya paling tidak juga mencapai puluhan orang, Ketua dari perguruan Kilatlah yang merupakan musuh besarmu yang sesungguhnya..."
Bergidik Ong Bun-kim setelah mendengar perkataan itu, sekujur tubuhnya menggigil keras.
Seandainya apa yang dircapkan merupakan kenyataan, keinginannya untuk membalas dendam bukankah jauh lebih sulit dari pada naik ke langit?
Berpikir sampai di situ tanpa terasa lagi dia menghela napas panjang.
Nona berbaju abu-abu itu tertawa dingin.
"Bagaimana?"
Ejeknya.
"putus asa?"
Ong Bun-kim terrtawa getir.
"Puttus asa sih tidqak ..."
"Lantars mengapa menghela napas panjang?"
"Aku menghela napas lantaran kenyataan yang sesungguhnya ternyata sama sekali di luar dugaan!"
"Terlepas soal Manusia kilat,"
Kembali nona berbaju abuabu itu menerangkan.
"kelihayan ilmu silat yang dimiliki Manusia tanpa sukma hanya mungkin di atasmu dan tak mungkin lebih lemah dari padamu, hal ini merupakan suatu kenyataan pula, tentunya kau tidak menyangkal bukan?"
"Yaa, aku tidak menyangkal!"
"Hu-pangcu dari Hui-mo-pang lebih-lebih merupakan seorang gembong iblis perempuan yang menakutkan, kelihayan ilmu silatnya tidak berada di bawah kemampuan ketuanya sendiri, baik siapapun yang berhasil menangkan pertarungan itu, kau toh sama saja tak akan bisa lolos dengan selamat..."
"Yaa, ucapanmu memang suatu kenyataan!"
"Oleh karena itulah, sekalipun kau ingin membalas dendam, tapi lebih baik sedikitlah menahan diri!"
Ong Bun-kim tertawa jengah.
"Yaa ... yaa ... aku telah memahami maksud hati nona yang sesungguhnya ... !"
Ujarnya lirih. Pelan-pelan sikap si nona berbaju abu-abu pun menjadi lebih lembut dan halus, dengan termangu-mangu diawasinya Ong Bun-kim beberapa kejap, kemudian sambil tertawa getir ia berkata.
"Kalau begitu, kau pasti sudah memaafkan diriku atas sebuah tempelenganku tadi bukan?"
"Tamparan itu memang pantas kuterima!"
"Dasar bodoh!"
Desis si nona.
Ia telah tertawa kembali, malah tertawanya begitu riang dan gembira.
Ong Bun-kim ikut tertawa, cuma tertawanya begitu getir, pahit dan terpaksa.
Tiba-tiba nona berbaju abu-abu itu menarik kembali senyumannya, kemudian dengan wajah serius ia berkata.
"Aku ingin mengajukan satu pertanyaan kepadamu, apakah kau bersedia untuk menjawabnya?"
"Katakanlah!"
"Aku dengar kau menyimpan se
Jilid kitab pusaka, benarkah berita itu?"
Tanya si nona. Dengan cepat Ong Bun -kim gelengkan kepalanya.
"Tidak, aku tidak punya kitab pusaka!"
"Kalau begitu kau pasti mempunyai peta penyimpan harta?"
"Juga tidak ada!"
"Aaaaah, tidak mungkin!"
"Sungguh, aku bicara sesungguhnya, buat apa kubohongi dirimu?"
"Kalau memang begitu, sesungguhnya di tubuhmu terdapat benda apa yang berharga?"
Ong Bun-kim tertegun sejenak, kemudian kembali menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada! Bsnar-benar tidak ada!"
"Tidak mungkin, pasti ada, bahkan seratus persen pasti ada..."
"Tapi benda apakah yang kau maksudkan?"
"Aku sendiripun tak tahu."
Mendengar jawaban itu, Ong Bun-kim segera tertawa.
"Tapi binar, aku betul-betul tak punya apa-apa "
Tegasnya.
"Aku tidak percaya."
"Tidak percaya? Bagaimana kalau kulepaskan semua pakaianku sampai telanjang."
Mendadak ia merasa ucapannya telah salah digunakan, kontan saja wajahnya berubah jadi merah padam, kata kata selanjutnyapun ikut ter telan mentah mentah.
Air muka nona berbaju abu-abu itu berubah pula menjadi merah padam karena jengah.
"Idiih tak tahu malu!"
Dampratnya. -oo0dw0oo-BAB 33 SAKING gelisah dan paniknya, Ong Bun-kim sampai mendepak-depakkan kakinya berulang kali ke tanah, serunya.
"Aku benar-benar tak punya benda berharga !"
"Aku rasa benda tersebut pasti ada di dalam tubuhmu, hanya saja hingga kini kau masih belum tahu..."
Ong Bun-kim tertawa lebar.
"Seandainya kitab pusaka itu benar-benar berada di sakuku, masakah aku tidak mengetahuinya?"
"Tapi mungkin juga barang itu bukan se-
Jilid kitab pusaka!"
"Apa?"
Tanpa sadar Ong Bun-kimb menjerit kagetd dan menatap sia nona berbaju abbu abu itu dengan termangu.
"Bukan juga benda itu bukan se
Jilid kitab pusaka!"
Nona berbaju abu abu itu mengulangi kembali kata katanya.
"Lantas benda apakah itu?"
"Tentang benda apakah itu, aku rasa orang lain tak ada yang tahu, tapi aku bisa menunjukkan bukti yang nyata sekali yakni alasan dari pihak Yu leng bun, San tian jin dan Hui mopang untuk berusaha mendapatkan kau, konon dikarenakan di atas tubuhmu terdapat pusakanya!"
"Pusaka?"
"Betul, pusaka!"
Kontan saja Ong Bun kim tertawa tergelak-gelak.
"Haaahh...haaahh...haaahh...di atas tubuhku ada pusakanya? Sungguh menggelikan, sungguh menggelikan sekali! Haaahh...haaahh...haaahh...."
"Hei, jangan tertawa dulu!"
Bentak si-nona. Oag Bun kim segera menghentikan tertawa nya, lalu dengan serius berkata lagi.
"Baik, baik, aku tidak akan tertawa lagi, aku tidak akam tertawa lagi, coba sekarang kau terang kan dulu, pusaka macam apakah yang mereka maksudkan?"
"Ong Bun kim, jangan kita persoalkan dulu masalah itu"
Ujar nona berbaju abu abu dengan serius.
"aku ingin menanyakan satu hal kepadamu."
"Ajukanlah pertanyaanmu itu, akan kudengar kan baik baik."
"Konon menurut cerita yang tersiar dalam dunia persilatan, katanya ilmu silat yang dimiliki ayahmu kecuali Iblis cantik pembawa maut seorang telah tiada tandingannya lagi, benarkah itu?"
"Benar!"
"Dari mana ia peroleh ilmu silatnya?"
"Mana aku tahu?"
"Nah, itulah dia! Di sini letak teka teki itu!"
"Aku tidak mengerti dengan ucapanmu!"
"Benarkah ayahmu pernah memperoleh se
Jilid kitab pusaka atau tidak, untuk sementara waktu kita ke sampingkan dulu, tapi aliran dari ilmu silat yang dimiliki ayahmu justru hanya ada satu kemungkinannya saja."
"Kemungkinan apa?"
"Berasal dari warisan seseoranbg!"
"Tapi apa sdangkut pautnya aantara kejadianb itu dengan pusaka yang berada dalam tubuhku?"
"Kuncinya justru terletak di sini!"
"Waaah...waaah... bagaimana sih urusannya? Kok makin lama semakin aneh dan makin membingungkan saja?"
Nona berbaju abu abu itu menarik napas panjang, setelah berhenti sejenak katanya.
"Sebetulnya kejadian ini memang rada aneh dan misterius, menurut pendapatku kalau bukan ayahmu mempelajari ilmu silat itu dari seseorang, maka dia pasti telah berkunjung ke suatu tempat ..."
"Yaa, kenapa musti dibicarakan lagi? Kalau ilmu silatnya bukan berasal dari warisan orang, tentu saja ia menemukan se
Jilid kitab ketika pergi ke suatu tempat."
"Yaa betul, memang begitulah maksudku!"
"Tapi kenapa pula dengan persoalan ini?"
"Aku pikir tempat itu tentulah tempat pengasingan dari seorang tokoh silat yang berilmu tinggi dan ayahmu tentu sudah memberitahukan letak tempat itu kepadamu ..."
"Huuuss! Kau jangan ngaco belo tak karuan, sewaktu ayahku mati dulu, aku masih belum tahu urusan!"
"Bukan, yang kuartikan adalah ia telah memberitahukan kepadamu lewat "mestika"
Yang menjadi masalah sekarang ini!"
"Jadi maksudmu, ayahku telah meninggalkan tempat misterius itu kepadaku agar suatu ketika aku bisa berkunjung ke situ untuk mempelajari ilmu silat maha sakti?"
"Benar, aku memang maksudkan demikian!"
"Tapi hal ini tak mungkin terjadi, aku tidak punya apaapa, mana mungkin bisa kumiliki mestika tersebut."
"Yaa, benar, memang di sinilah letak keanehannya, kalau dugaan ini tidak keliru, kemungkinan kejadian ini bakal ada perkembangan lainnya."
Belum habis si nona berbaju abu abu itu me nyelesaikan kata-katanya mendadak terdengar suara langkah manusia berkumandang memecahkan kesunyian, lalu seseorang berseru.
"Bocah perempuan, analisamu itu memang tepat dan sangat masuk di akal."
Mendengar ucapan itu dengan perasaan terperanjat Ong Bun kim mendongakkan kepalanya, maka tampaklah rsi kakek berambtut putih yang pqernah dijumpainrya itu sedang berjalan menghampiri ke arahnya.
Ong Bun kim tertegun dan melongo, hingga sekarang ia masih belum tahu siapa gerangan si kakek berambut putih itu.
Buru buru dia bangkit dan memberi hormat katanya.
"Locianpwe, rupanya kau....."
"Ya, betul! Memang aku,"
Sesudah berhenti sejenak, ia berpaling dan memandang nona berbaju abu-abu itu sekejap, kemudian lanjutnya lebih jauh.
"nona, siapakah kau?"
"Boanpwe bernama Yu Cing!"
Nona itu memperkenalkan.
"Bocah perempuan, analisamu tadi sungguh membuat orang menjadi kagum, sesungguhnya mestika yang berada di tubuh Ong Bun kim bukan se
Jilid kitab pusaka, melainkan suatu "mestika"
Yang luar biasa hebatnya dan tak ternilai harganya."
"Sudah....sudahlah....kalian jangan merecoki aku terus menerus dengan segala macam mestika!"
Keluh Ong Bun kim sambil tertawa getir.
"Bocah muda, kami bukan hanya mengigau disiang hari bolong, apa yang kukatakan adalah suatu kenyataan!"
"Kalau kenyataan, coba berilah alasan yang cukup kuat kepadaku agar akupun dapat ikut mempercayainya."
Kakek berambut putih itu memperhatikan Ong Bun kim sekejap, lalu sinar matanya dialihkan ke wajah Yu Cing atau si nona berbaju abu abu itu, katanya.
"Bocah perempuan, menurut pendapatmu tadi, masalah ini bakal muncul kemunculan apa?"
"Boanpwe kuatir salah berbicara."
"Tidak mengapa, coba utarakan saja secara berterus terang."
"Konon sejak Ong See liat muncul kembali ke dalam dunia persilatan setelah berita lenyapnya dia selama banyak tahun, hanya dalam enam-tujuh tahun saja ilmu silatnya telah mendapat kemajuan yang pesat sekali, ini menunjukkan kalau ilmu silatnya itu berasal dari ajaran orang lain."
"Dugaan semacam itu memang masuk diakal!"
"Kalau memang demikian, maka di dunia ini hanya ada satu orang saja yang sanggup melakukan pekerjaan besar ini "
"Siapa?"
Tanpa sadar Ong Bun kim berseru.
"Hek mo im (bayangan iblis hitam)"
"Hek mo im?"
Ong Bun kim termangu sejenak.
"apakah diapun berwujud seorang manusia?"
"Tentu saja!"
Ong Bun kim segera berpaling ke arah kakek berambut putih itu sambil bertanya.
"Siapakah manusia yang bernama Hek mo im itu?"
"Seperti pula julukan yang berhasil diraihnya itu, belum pernah ada seorang manusiapun yang mengetahui siapakah dia, tapi dia pernah munculkan diri di depan umum, sekalipun wujudnya pada saat itu hanya suatu bayangan hitam yang besar sekali..."
"Kalau begitu dia adalah manusia ?"
"Bukan! Dia manusia biasa!"
"Manusia macam apakah dia itu?"
"Sejak munculkan diri dalam dunia persilatan Hek mo im hanya muncul sebanyak beberapa kali saja di muka umum, tapi setiap kali pemunculannya selalu menciptakan suatu peristiwa besar yang menggemparkan seluruh dunia persilatan, pada pemunculan yang pertama ia berhasil melenyapkan Mo hay su pah (empat raja bengis dari samudra iblis), pada pemunculan kedua ia menyapu lenyap Tang hay mo ong (raja iblis dari lautan timur) dan pada pemunculannya yang ketiga ia membubar kan perkumpulan Im hun kau..."
"Manusia macam apa saja yang telan ia basmi itu?"
"Mo hay su pah adalah empat orang gembong iblis pembunuh manusia tanpa berkedip, keempat orang itu pernah menciptakan badai darah dalam dunia persilatan, tak seorangpun jago persilatan yang sanggup menandingi kehebatan mereka. Sedangkan Tang hay mo ong serta Im hun kau adalah manusia-manusia yang menciptakan pembantaian manusia secara besar-besaran demi terwujudnya cita-cita mereka untuk merajai dunia persilatan, andaikata Hek mo im tidak muncul tepat pada saatnya, entah bagaimana akibat dari ulah mereka itu."
"Kalau begitu Bayangan iblis hitam adalah seorang Bu seng (malaikat ilmu silat)?"
"Betul, dia adalah seorang malaikat ilmu silat. Setiap umat persilatan yang menyinggung nama orang ini pasti akan menunjukkan sikap yang sangat menaruh hormat. Cuma berbicara kembali, meskipun Hek mo im hanya tiga kali munculkan diri dalam dunia persilatan, kalau dihitung dengan jari waktunya sudah mencapai enam tujuh puluh tahun berselang."
"Apakah selama ini tak pernah bada seorang mandusiapun yang pearnah bertemu debngan wajah aslinya?"
Tanya Ong Bun kim dengan perasaan amat tercekat.
"Yaa, selamanya belum pernah ada seorang manusiapun yang pernah menjumpai raut wajah aslinya, cuma menurut cerita orang, Sin kiam (pedang wasiat) yang bikin hati orang keder itu bakal muncul kembali dalam dunia persilatan tak lama kemudian ..."
"Pedang wasiat?"
"Betul, pedang wasiat! Pedang tersebut adalah sebilah pedang antik yang luar biasa tajamnya, dengan mengandalkan pedang wasiat inilah Hok mo im telah menyelamatkan dunia persilatan dari beberapa kali badai besar ..."
Setelah berhenti sejenak, kepada Yu Cing kembali ia bertanya.
"Bocah perempuan, mengapa kau mengatakan bahwa Ong See liat pernah berjumpa dengan Hek mo im?"
"Locianpwe, kau kenal dengan Tiang seng lojin (kakek panjang usia) ... ?"
Yu Cing balik bertanya.
"Yaa, kenal, aku kenal, masa dia masih hidup!"
"Betul, dia masih hidup, malah aku pernah berjumpa dengannya, dia bilang ada beberapa jurus serangan yang dipergunakan Ong See liat rada mirip dengan jurus serangan yang dipakai Hek mo in, bahkan persoalan di balik masalah itu katanya amat kacau ..."
"Bagaimana kacaunya?"
"Persoalan ini menyangkut pula diri ayahku!"
Mendengar ucapan tersebut, si kakek be-rambut putih serta Ong Bun kim sama -sama merasa terperanjat. Lama sekali, kakek berambut putih itu baru berkata.
"Kalau begitu coba kau terangkan lebih jauh?"
Yu Cing menghela napas sedih, katanya setelah termenung sejenak.
"Locianpwe, kenalkah kau dengan seorang perempuan yang bernama Leng po siancu di masa lalu?"
"Lohu pernah mendengar nama orang ini, tapi belum pernah berjumpa dengan orangnya !"
"Dia adalah ibu kandungku, waktu itu beliau telah jatuh cinta dengan Giok bin hiap (pendekar berwajah pualam), tapi sebelum menikah ibuku telah mengandung, suatu hari Ong See liat datang mencari Giok bin hiap ..."
"Mau apa ayahku datang mencari ayahmu?"
Seru Ong Bun kim dengan perasaan terkejut.
"Ayahmu dengan Giok bin hiap abdalah sepasang dsahabat karib, asetiap orang pebrsilatan mengetahui persoalan ini, konon ayahmu mengajak ayahku untuk bersama-sama pergi mencari mestika, tapi sejak kepergian itu mereka lenyap tak ada kabar beritanya ..."
"Tapi ayahku telah pulang ke rumah!"
Sela Ong Bun kim.
"Nah, di sinilah terletak keanehan dari kejadian itu hingga ayahmu muncul kembali di dalam dunia persilatan, ibuku ingin pergi mencari ayahmu tapi ayahmu lenyap kembali tak berbekas!"
"Mungkin ketika itu ayahku sudah berdiam di lembah Lip jin kok sehingga jejaknya sukar ditemukan ..."
"Tapi ibuku waktu itu menduga bahwa kemungkinan besar ayahku sudah berubah hati!"
"Berubah hati?"
"Yaa, kalau tidak, tak mungkin dia tak akan kembali ke rumah untuk berkumpul kembali dengan kami."
Ong Bun-kim benar-benar tidak habis mengerti apa gerangan yang sesungguhnya telah terjadi, dengan kening berkerut ia lantas berkata.
"Lantas, apa hubungannya antara persoalan ini dengan mestika tersebut ... ?"
"Ini menunjukkan bahwa Ong See-liat dengan Giok-binhiap benar-benar sudah pernah bertemu dengan Hek-moim, sedangkan mestika yang dimaksudkan berada di tubuhmu, ada kemungkinan adalah Pedang mestika milik Hek mo im tersebut!"
"Jadi maksudnya ayahku telah berhasil mendapatkan pedang mestika tersebut ...!"
Seru Ong Bun kim tertegun.
"Sekalipun pedang mestika itu belum didapatkan olehnya, paling tidak ia tahu di manakah pedang mestika tersebut disimpan ..."
"Yaa, aku mengerti sekarang, jadi maksudmu ayahku telah mencatat tempat penyimpanan mestika itu di suatu benda dan kemudian benda itu berada ditubuhku?"
"Betul! Memang demikian yang kumaksudkan!"
Ong Bun-kim segera tertawa getir.
"Tapi tak dapat kupikirkan benda apakah yang terdapat di dalam tubuhku sekarang ini!"
Katanya.
"Badai pembunuhan berdarah sudah berada di ambang pintu dunia persilatan, sekarang aku hendak pergi menyelidiki beberapa persoalan itu, lebih baik masalah tersebut kau pecahkan sendiri saja, karena sekarang juga aku harus pergi dari sini!"
"Silahkan lociapwe!"
Beberapa langkarh kemudian mendtadak kakek beraqmbut putih itu rberhenti lagi, kemudian ujarnya lebih jauh.
"Aku harap baik-baiklah kau menjaga diri-mu, kemungkinan besar tugas berat untuk menanggulangi mara bahaya yang mengancam dunia persilatan dewasa ini sudah terjatuh di atas pundakmu!"
"Boanpwe tak akan melupakan peringatan maupun nesehat cianpwe!"
"Bagus, kalau begitu aku akan mohon diri lebih dulu!"
Dengan suatu lompatan kilat kakek berambut putih itu melejit ke udara lalu melesat ke depan. Sepeninggal kakek berambut putih itu, Ong Bun-kim baru bertanya kepada Yu Cing.
"Siapakah orang tadi?"
"Kemungkinan besar adalah Thay-khek cin-kun!"
Jawab si nona.
Mendengar rama tersebut, Ong bun-kim merasa terperanjat sekali, mungkinkah kakek berambut putih inilah yang pernah memberitahukan kepada ibunya bahwa ayahnya telah dibunuh oleh kui-jin suseng?
Benarkah dia adalah Tay-khek cin kun salah seorang di antara Bu lim sam lo yang amat tersohor namanya itu?
Kejadian tersebut benar-benar di luar dugaan Ong Bun kim, bahkan mimpipun tak pernah ia sangka.
Setelah termenung sejenak, ia baru berkata.
"Apa? Masakah dia adalah Tay khek Cin kun?"
"Yaa, kemungkinan besar benar!"
Untuk sesaat lamanya Ong Bun-kim berdiri termangu mangu, ia tak tahu apa yang musti dilakukan sekarang. Menyaksikan keadaan dari si anak muda itu, Yu Cing segera menghela napas panjang, katanya.
"Ong Bun kim, akupun hendak pergi dari sini ... ."
"Kau hendak pergi ke mana?"
"Pulang ke rumah!"
"Kenapa tidak melakukan perjilanan bersama-samaku saja ..."
Mendadak pemuda itu merasa kata-kata tersebut tidak pantas diucapkan terhadap seorang gadis muda, maka buru buru kata selanjutnya ditelan kembali. Yu Cing tertawa getir, bisiknya.
"Melakukan perjalanan bersamamu ...?"
"Maksudku aku mengajakmu untuk bersama-sama menegakkan keadilan dan kebenaran dalam dunia persilatan!"
Cepat-cepat pemuda itu membetulkan kesalahan bicaranya.
"Sayang sekali kau telah beristri!"
Perkataan itu kembali menggetarkan perasaan Ong Bun-kim, ia sampai terbelalak karena kagetnya. Dengan nada yang pedih Lu Cing kembali bertanya.
"Cintakah kau kepada Bunga iblis dari neraka?"
"Yaa, aku pernah mencintainya "
"Dan sekarang?"
"Semuanya sudah lewat, semuanya telah berlalu bagaikan segulung hembusan angin malam!"
"Kenapa?"
"Sebab kita berdua tak mampu saling memahami perasaan pihak lainnya, kita tak mempunyai kecocokan hati!"
"Ong Bun-kim, kau keliru besar!"
Seru Yu Cing dengan cepat.
"kalau ditanya gadis manakah di dunia ini yang paling mencintaimu, maka jawabanya hanya dia seorang!"
"Dari mana kau bisa berkata demikian?"
"Karena kau, dia telah..."
Ketika berbicara sampai di situ, mendadak Yu Cing menutup mulutnya kembali. -ooo0dw0ooo-BAB 34
"HEl, lantaran aku, apa yang telah ia laku kan?"
Desak Ong Bun-kim cepat dengan perasaan gelisah.
"Tentang persoalan ini, lebih baik kau tanya kan secara langsung kepadanya, aaai.....! Aku rasa tak mungkin akan kau jumpai perempuan kedua yang begitu baik kepadamu di dunia ini!"
Ong Bun-kim semakin kebingungan dibuatnya, ia sampai berdiri tertegun dan memandangi wajah Yu Cing dengan wajah termangu.
"Baik-baiklah menghibur hatinya,"
Kata Yu Cing lebih lanjut.
"dengan demikian ia akan merasa lebih baikan keadaannya, nah ! aku tak bisa berdiam lebih lama lagi di sini, akupun harus segera tinggalkan, tempat ini, semoga saja kau dapat baik-baik menjaga diri..."
Berbicara sampai di situ, pelan-pelan gadis itu memutar tubuhnya dan berlalu dari sana.
Kali ini Ong Bun kim tidak mencegah kepergiannya, dia hanya memandangi bayangan punggung Yu Cing yang makin menjauh dengan wajah termangu, dalam benaknya kini hanya dipenuhi oleh ucapan terakhir dari si gadis sebelum pergi tadi ...
Yaa, perkataan itu sangat membingungkan pikirannya, ia tak mampu menebaknya, iapun tak sanggup untuk memecahkannya ...
Sesudah gundah sekian lama, akhirnya ia menghela napas panjang.
Teringat bahwa dendam sakit hatinya yang sedalam lautan belum terbalas juga, timbul kembali perasaan sedih dan dukanya yang amat mendalam.
Mendadak perasaannya agak guncang, mungkinkah ayahnya Ong See liat benar-benar mempunyai suatu benda yang disembunyikan dalam tubuhnya?
Ia mencoba untuk pejamkan matanya sambil membayangkan setiap bagian tubuhnya yang mungkin bisa digunakan untuk menyembunyikan barang, seperti misalnya pakaian, sepatu dan lain-lainnya, tapi tak terbayangkan olehnya benda apakah yang bisa disembunyikan dalam tubuhnya itu.
Akhirnya dia menghela napas panjang, kemudian dengan putus asa bangkit berdiri dan pelan-pelan melanjutkan perjalanannya menuju ke depan.
Dia tak tahu harus ke manakah sekarang, yaa, tempat manakah yang pantas dikunjunginya?
Terbayang sampai ke sini, sambil menggertak gigi menahan rasa geramnya ia berbisik.
"Manusia kilat, Siau Hui un, pada suatu hari aku pasti akan menghancur lumatkan tubuhmu menjadi berkepingkeping..."
Belum habis dia bergumam, tiba-tiba kedengaran suara tertawa dingin berkumandang dari kejauhan, menyusul kemudian seseorang berseru nyaring.
"Ong Bun kim, cepat amat kepergianmu itu!"
Ong Bun kim terkesiap dan segera berpaling, tapi dengan cepat wajahoya berubah hebat, ternyata Gin Lo sat beserta dua orang dayangnya sedang meluncur datang dengan kecepatan tinggi.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan?"
Dengan geramnya si anak muda itu membentak.
"Ikut kami pergi dari sini!"
"Hmm ..! Jangan mimpi disiang hari bolong!"
Air muka Gin Lo sat segera berubah hebat.
"Ong Bun kim!"
Katanya.
"kalau tadi kau berhasil kabur dari cengkeraman kami, maka sekarang jangan harap kau bisa melepaskan diri dengan begitu saja!"
"Hmmm! Kenapa tidak segera mencobanya?"
"Ong Bun kim, kalau kau keras kepala terus menerus, jangan salahkan kalau terpaksa kutindak dirimu dengan kekerasan!"
Berbareng dengan selesainya perkataan itu, secepat kilat Gin Lo sat menerjang ke muka menghampiri pemuda itu, sementara kedua orang dayangnya menghadang jalan mundur dari tempat itu.
Bentakan keras menggelegar di angkasa, dengan suatu lompatan ke udara Gin Lo sat menerkam tubuh Ong Bun kim, telapak tangannya langsung mencengkeram batok kepalanya.
Sungguh cepat dan luar biasa cengkeramannya itu, Ong Bun kim tak berani bertindak gegabah, harpa bajanya segera diputar untuk membendung datangnya ancaman itu.
Tapi sebelum serangannya mencapai sasaran, pukulan kedua dari Gin Lo sat kembali telah menyambar tiba.
Kali ini serangannya dilancarkan dengan kecepatan yang makin luar biasa pada hakekatnya tak memberi kesempatan buat si anak muda itu untuk menghindarkan diri.
Di tengah menggulungnya desingan angin pukulan kedua dari Gin Lo sat, mendadak menyambar lewat sekilas cahaya putih yang langsung menyambar ke tubuh Gin Lo sat.
"Wahai Gin Lo sat, kembali kita berjumpa muka!"
Seru orang itu dengan suara lantang.
Ternyata orang yang melancarkan serangan itu bukan lain adalah Manusia kilat.
Kalau dilihat dari kehadiran jago-jago lihay itu, seakanakan mereka belum merasa puas sebelum berhasil membekuk diri Ong Bun kim.
Demikianlah, disaat manusia kilat menyerang Gin Lo sat, dua sosok bayangan hitam lain secepat sambaran kilat langsung menerjang ke arah pemuda itu, ternyata mereka adalah Yu-leng-jin.
Terpaksa Ong Bun-kim harus memutar harpa bajanya untuk memberi perlawanan, sebuah serangan dahsyat langsung dilontarkan ke tubuh kedua orang manusia tanpa sukma.
"Tahan!"
Suatu bentakan menggeledek kembali berkumandang memecahkan keheningan.
Suara itu nyaring sekali memekakkan telinga, ini membuat semua orang menjadi terperanjat dan serentak menarik kembali serangannya sambil melompat mundur ke belakang.
Ketika semua orang berpaling, tampaklah seorang manusia baju hijau yang berusia empat-puluh tahunan dengan menggembol sebilah pedang berjalan masuk ke dalam gelanggang.
Kemunculan yang tak terduga ini sangat mencengangkan semua orang, hampir setiap jago yang hadir di sana dibikin tertegun olehnya.
Tapi tak seorangpun yang mengetahui siapa gerangan manusia berbaju hijau itu, tapi pancaran sinar wajahnya begitu berwibawa dan agung, membuat siapapun tak berani mengusiknya secara gegabah.
Pelan-pelan manusia berbaju hijau itu mengalihkan sinar matanya ke wajah Ong Bun-kim, kemudian tegurnya.
"Apakah kau yang bernama Ong Bun-kim?"
"Benar !"
"Putra dari Ong See-liat?"
"Benar!"
Manusia berbaju hijau itu mengerutkan dahinya, seakanakan terdapat banyak kemurungan yang berkecamuk dalam benaknya, setelah menghela napas panjang ia bertanya lagi.
"Apakah kau dilahirkan oleh Coa Siok-oh?"
Tercekat perasaan Ong Bun-kim mendengar perkataan itu, namun jawabnya juga.
"Benar!"
Dengan tatapan dingin manusia berbaju hijau itu mengerling sekejap ke atas wajah orang-orang yang hadir di sana, kemudian katanya lagi dengan suara ketus.
"Sekarang, kalian semua boleh pergi me-ninggalkan tempat ini!"
"Wouw....! Besar amat lagakmu"
Seru manusia kilat sambil tertawa dingin.
"siapa kau?"
"Kau. nggak usah banyak bertanya, sekarang kalau kau betul-betul jantan, hadapilah aku!"
Selesai mengucapkan kata-kata itu, manusia hijau itu segera meloloskan pedangnya, cahaya tajam segera berkilauan memancar keempat penjuru. Manusia kilat segera tertawa dingin, katanya.
"Ingin kulihat sampai di manakah taraf kehebatan yang kau miliki, sehingga begitu berani mengucapkan kata tidak senonoh di hadapanku!"
Berbareng dengan selesainya ucapan terakhir, tiba-tiba ia menerjang ke arah Ong Bun-kim dengan kecepatan luar biasa.
Manusia berbaju hijau itu membentak pula, pedangnya langsung disapu ke depan.
Cahaya pedang berkelebat lewat, detik itu juga Manusia kilat kena didesak mundur sejauh lima-enam langkah dari posisi semula, sementara ia belum berhasil berdiri tegak, manusia berbaju hijau itu telah menerjang maju lagi sambil melancarkan sebuah tusukan.
Serangan yang dilancarkan manusia berbaju hijau ini sungguh cepatnya luar biasa, bikin orang menjadi bergidik rasanya, secara beruntun manusia kilat harus mundur sejauh tujuh-delapan langkah untuk menghindarkan diri dari ancaman.
Sementara serangan kedua telah selesai, serangan ketiga kembali menerobos datang.
Cahaya kilat segera memancar ke empat penjuru, tibatiba terdengar jeritan ngeri yang memilukan hati berkumandang memecahkan keheningan, tampak manusia berbaju hijau itu berkelebat lewat dan melompat kembali ke samping Ong Bun-kim.
Tampaklah manusia kilat yang ternyata adalah seorang kakek berambut putih berusia limapuluh tahunan sudah menggeletak mati di atas tanah dengan dada berlubang.
Darah kental yang berbau amis berhamburan memenuhi seluruh permukaan tanah, keadaan mengerikan sekali.
Gerakan dari manusia berbaju hijau itu memang hebat dan luar biasa, untuk sesaat suasana dalam gelanggang menjadi sepi, hening dan tak kedengaran suara apa apa.
"Siapa lagi yang bermaksud untuk turun tangan?"
Tegurnya kemudian sambil memandang sekejap sekeliling gelanggang.
Kepandaian silat yang dimiliki manusia berbaju hijau itu terbukti Iihaynya bukan kepalang, kejadian ini sungguh menggetarkan perasaan setiap orang, untuk sesaat lamanya tak seorangpun berani berkutik ataupun mengucapkan sepatah kata.
Karena tiada seorangpun yang bersuara, maka orang itu memandang sekejap ke arah Ong Bun-kim lalu berkata.
"Ong. Bun-kim, mari kita pergi dari sini!"
Sesungguhnya Ong Bun-kim sendiripun tidak kenal dengan manusia berbaju hijau itu, ia tak tahu siapa gerangan orang tersebut, maka ia malah tertegun dibuatnya.
"Tunggu sebentar!"
Mendadak Gin Lo-sat berseru sambil munculkan diri menghadang jalan pergi mereka.
"Mau apa kau?"
Tegur manusia berbaju hijau itu. Gin Lo-sat segera tertawa dingin.
"Hehh....heehhi...heehh....ilmu silat yang kau miliki betul-betul membuat orang merasa kagum...."
"Ada apa? Kaupun bermaksud untuk menerima beberapa buah tusukan pedangku ?"
Jengek orang itu dingin.
"Beranikah kbau menghadapi sderangan gabungaan dariku bersamba sahabat dari-Yu-leng-bun ini?"
Manusia berbaju hijau itu segera menengadah dan tertawa terbahak-bahak.
"Haahh haahh haahh siapa bilang kalau aku takut untuk menghadapi serangan gabungan kalian bertiga?"
Manusia berbaju hijau itu segera melintangkan pedangnya sambil berdiri tegak, ia telah bersiap sedia untuk menghadapi setiap kemungkinan yang bakal menimpa dirinya.
Gin Lo sat memang seorang perempuan yang cerdik dan berotak licik, adapun tujuannya untuk menyeret kedua orang manusia tanpa sukma untuk melangsungkan pertarungan melawan manusia berbaju hijau itu, tak lain adalah agar memberi kesempatan bagi kedua orang dayangnya untuk menyerang Ong Bun-kim.
Maka begitu tantangannya disambut lawan, serta merta ia memberi tanda kerlingan mata kepada kedua orang dayangnya, lalu pelan-pelan berjalan masuk ke dalam arena.
"Tunggu sebentar!"
Mendadak Manusia berbaju hijau itu berseru setelah tertawa dingin.
Gin Lo-sat tertegun, ia menghentikan langkah kakinya ke depan.
Dengan suatu gerakan cepat, manusia berbaju hijau itu menggeserkan tubuhnya ke samping Ong Bun-kim.
Tindakan itu tentu saja mengejutkan si anak muda itu, tapi sebelum ia sempat berbuat sesuatu manusia berbaju hijau tadi telah berbisik dengan suara lirih.
"Ong Bun-kim, sanggupkah kau untuk menghadapi serangan gabungan dari dua orang dayang tersebut?"
Ong Bun-kim mengangguk.
"Aku ingin bertanya kepadamu lagi,"
Kembali manusia berbaju hijau itu berkata.
"kau tahu, kenapa tenaga dalammu yang sebesar seratus tahun hasil latihan itu tak kau gunakan sebagaimana mestinya?"
Baru saja Ong Bun-kim tertegun, orang itu telah berkata lebih lanjut.
"Tentunya kau tidak tahu, bukan? Nah, dengarkan baikbaik! Tenaga dahsyat tersebut tak dapat kau gunakan sebab urat Jin dan tok yang berada dalam tubuhmu belum tembusl Heran! Kenapa, kenapa kedua buah nadi penting itu belum pernah ditembusi?"
"Aku juga tidak tahu!"
Sahut pemuda itu melongo.
"Kau tahu? Seandainya urat nadi Jin-meh dan Tok-meh yang ada dalam tubuhmu sudah tembus, maka ilmu silat yang kau milikbi jauh di atas dkepandaian silaat yang dimilikib orang-orang ini!"
Ong Bun-kim semakin tertegun, ia merasa setengah percaya setengah tidak terhadap perkataan itu.
"Sekarang berdirilah baik-baik"
Kata manusia berbaju hijau itu.
"aku hendak mempergunakan gerakan paling cepat untuk menembusi nadi Jin-meh dan tok-meh mu itu!"
Sudah barang tentu Ong Bun-kim tidak percaya kejadian itu sebenarnya ada atau tidak, tapi mendengar ucapan orang itu, dia manggut juga.
Manusia berbaju hijau itu segera membentak keras, telapak tangan kirinya tiba-tiba berkelebat ke depan dan secara beruntun melancarkan beberapa buah totokan.
Ong Bun-kim hanya merasakan sekujur tubuhnya menjadi sakit, tiba-tiba saja badannya roboh terjengkang ke tanah.
Gin Lo-sat dan Yu-leng-jin bertiga sama-sama tertegun, sementara mereka belum tahu apa yang musti dilakukan.
Manusia berbaju hijau itu telah menggerakkan kembali tangan kirinya untuk melancarkan tiga buah totokan kilat ke atas tiga buah jalan darah penting di tubuh si anak muda tersebut.
Gerak serangan dari Manusia berbaju hijau itu boleh dibilang cepatnya sukar dilukiskan dengan kata-kata, begitu totokannya selesai Ong Bun-kim telah bangkit berdiri kembali.
Ketika hawa murninya kemudian dicoba, terasalah begitu besar hawa murni, yang menggulung-gulung dalam tubuhnya, seakan-akan sebuah bendungan yang jebol terlanda air bah....
Sebenarnya sejak makan obat aneh, tenaga dalam yang dimiliki Ong Bun -kim telah mencapai enampuluh tahun hasil latihan, apalagi setelah msndapat pemberian obat mestika dari Hian-ih-lihiap, si pendekar berbaju hitam, hakekat nya tenaga dalam yang ia miliki sudah berada di atas delapanpuluh tahun hasil latihan, cuma sayang nya urat penting Jin-meh dan tok-mehnya belum tembus; sehingga hawa murni yang amat dahsyatpun tak bisa dipergunakan sebagaimana mestinya.
Sekarang, urat penting jin-meh dan tok-meh nya sudah tembus, hawa murni yang terhimpun dalam tubuhpun bisa.dipakai sebagaimana mestinya, ini semua membuat si anak muda itu berubah menjadi seorang jago yang sangat lihay, kehebatan ilmu silatnya sudah jauh di atas kepandaian beberapa orang di sana.
Demikianlah, sertelah memandangt sekejap ke araqh Ong Bun-kim, rpelan-pelan manusia berbaju hijau itu masuk ke arena dan berkata.
"Sekarang kalian sudah boleh melancarkan serangan!"
Gin Lo-sat dan Yu-leng-jin serentak bergerak maju ke depan, mereka langsung bergerak menghampiri manusia berbaju hijau itu.
Cahaya kilat segera memancar ke empat penjuru dan menyilaukan mata, dengan sebuah tebasan pedang ia bendung serangan gabungan dari kedua orang musuhnya itu.
Berbareng itu juga....dLpihak lain dua orang dayang berbaju biru itu membentak nyaring, lalu dengan garang menerjang tubuh Ong Bun kim sambil melepaskan sebuah pukulan gencar.
"Kurang ajar, rupanya kalian sudah bosan hidup."
Bentak Ong Bun kim dengan geramnya.
Di tengah bentakan gusar, senjita harpa besinya disodok ke muka melepaskan sebuah serangan balasan.
Kedua orang dayang itu benar benar tak tahu diri, di bawah serangan harpa besi dari Ong Bun kim, tiba tiba mereka berpisah ke kiri dan ke kanan lalu menerkam bersama.
Ong Bun kim menghardik keras, dengan menghimpun segenap tenaga dalam yang dimiliki-nya ia melepaskan lagi sebuah serangan dahsyat.
Jeritan ngeri yang memilukan hati segera bergema memecahkan kesunyian, percikan darah segar berhamburan ke mana mana.
Dayang berbaju biru yang berada di paling depan terhajar telak oleh serangan itu, tubuhnya kontan mencelat ke belakang dan tewas seketika itu juga.
Ong Bun kim kembali membentak nyaring, serangan kedua dilancarkan sekali lagi.
Dayang berbaju biru yang kedua inipun mencelat ke belakang sambil menjerit kesakitan, setelah muntah darah segar ia tergeletak tewas di tempat.
Setelah membereskan dua orang lawannya, Ong Bun kim menarik kembali serangannya dan mundur ke belakang, untuk sesaat lamanya ia berdiri termangu di sana, seakan-akan pemuda itu tercengang dia kaget oleh kehebatan tenaga dalam yang dimilikinya sekarang.
"Adik Ong !"
Mendadak seseorang memanggilnya dengan suara yang lirih dan memilukan hati.
Dengan perasaan tercekat Ong Bun kim segera mendongakkan kepalanya, tampaklah Bunga iblis dari neraka dengan wajah yang sayu sedang berjalan menghampirinya.
Teringat ucapan dari Yu Cing sebelum pergi tadi, Oag Bun kim agak tertegun juga oleh per-temuan tersebut.
Suara tertawa dingin kembali berkumandang di sana, menyusul kemudian seseorang mengejek "Oh...sungguh merangsang panggilan itu!"
Bersamaan dengan selesainya perkataan itu, sesosok bayangan manusia berbaju perlente melesat masuk ke dalam arena.
Kemunculan orang itu segera disambut seruan kaget oleh Ong Bun kim maupun Bunga Iblis dari neraka;
"Haaah...Hiat hay long cu, rupanya kau!"
Hiat hay long cu kembali tertawa dingin.
"Yaa, betul! Memang aku!"
Air muka Bunga iblis dari neraka berubah hebat, tampaknya ia sedang menahan geram dalam hatinya. Hawa napsu membunuhpun menyelimuti wajah Ong Bun kim, segera bentaknya nyaring.
"Hiat,hay long cu, kebetulan sekali aku memang sedang mencarimu ..."
"Mau apa kau cari aku?"
"Mau apa lagi? Tentu saja membunuhmu "
"Kenapa hendak membunuhku?"
"Masih ingatkah kau dengan hutang sebuah pukulan atas diriku?"
"Yaa, aku masih ingat!"
"Nah, aku sekarang hendak menagih hutang tersebut."
Hiat -hay -longcu (si romantis dari lautan darah) segera tertawa dingin.
"Hehha heehhh heeehh boleh saja, cuma ada satu hal hendak kuberitahukan dulu kepadamu." -ooo0dw0ooo-BAB 35
"PERSOALAN apakah, itu?"
Tanya sang pemuda.
"Mengenai diri Tan Hong-hong..."
Mendengar perkataan itu, paras muka Bunga iblis dari neraka segera berubah hebat, dengan menahan geram bentaknya .
"Teng Kun, kalau kau berani mengucapkan sepatah kata saja, segera kurenggut nyawamu!"
"Haaahhh haaahhh haaahhh apa toh salahnya kalau kuceritakan kepadanya?"
Ejek Hiat hay longcu sambil tertawa bergelak. Menggigil keras sekujur badan bBunga iblis dardi neraka sakinga geramnya menahban amarah, untuk sesaat ia tidak sanggup mengucapkan sepatah katapun...
"Sebenarnya persoalan apakah itu."
Kembali Ong Bun Kim membentak dengan nada ingin tahu. Hiat hay long cu tertawa bangga.
"Haaahbh.. .baaahhb....baaahhh...kau anggap enci Tan yang kau kenal ini adalah seorang perempuan baik-baik."
"Teng kun, kubunuh kau!"
Bentak Bunga iblis dari neraka dengan penuh kemarahan.
Di tengah bentakan nyaring, tubuhnya melejit ke udara lalu menerjang ke arah Teng Kun dengan kecepatan luar biasa, pie-pa bajanya langsung diayunkan ke atas batok kepalanya.
Pada saat Bunga iblis dari neraka melancarkan serangan mautnya itu, Ong Bun kim membentak pula dengan lantang.
"Tahan!"
Di tengah bentakan nyaring tubuhnya me-nerobos ke tengah arena dan memisahkan kedua orang itu secara paksa. Ong Bun kim agak terpengaruh oleh emosi ketika itu, kembali bentaknya keras keras.
"Teng Kun, rahasia apakah yang terdapat padanya? Cepat kau beritahukan kepadaku!"
Diam-diam Teng Kun menghimpun tenaga dalamnya untuk bersiap sedia, kemudian sahutnya dingin.
"Kau anggap dia adalah seorang perempuan baik-baik?"
Ong Bun-kim merasakan hatinya terkesiap, ucapan tersebut ibaratnya sebilah pedang tajam yang menembusi ulu hatinya, untuk sesaat si anak muda itu berdiri,bodoh.
"Kau. ......kau "
Bisiknya agak gemetar.
"Apa yang kuucapkan adalah kata-kata yang sesungguhnya"
Sahut Teng Kun lagi sambil tertawa dingin.
"dia adalah seorang perempuan murahan yang bisa diperoleh siapapun asal bisa memberi sedikit uang kepadanya, bahkan dengan akupun pernah mempunyai hubungan yang panas dan luar biasa. ...haahh ... ..haaahhb.,...haaahhh...."
"Apa?"
Ong Bun-kim menjerit sekeras-kerasnya, ia merasa kepalanya seperti dipukul dengan martil berat, matanya berkunang-kunang dan dadanya menjadi sesak, dengan sempoyongan ia mundur beberapa langkah.
Dikala Ong Bun-kim sedang amat terperanjat itulah tiba tiba Hiat hay longcu membentak keras, kipasnya disambar ke muka dengban kecepatan badgaikan sambarana kilat dan menobtok beberapa buah jalan darah penting di tubuh anak muda itu.
Mimpi pun Ong Bun-kim tidak menyangka kalau Hiat -hay -long cu mempunyai niat sebusuk itu, tahu tahu ia merasa tubuhnya sakit dan mengejang keras, darah kental muntah dari mulutnya dan tahu tahu ia sudah dikempit oleh orang tersebut.
Kemarahan Bunga iblis dari neraka tak terlukiskan lagi dengan kata-kata segera bentak nya nyaring .
-oo0dw0oo--
Jilid 12
"TENG KUN, bajingan terkutuk, kubunuh kau!"
Dalam gusarnya ia langsung menerjang ke hadapan Hian hay-lohg-cu, senjata pie-pa bajanya langsung disambarkan ke atas batok kepala lawan.
"Tahan!"
Hiat-hay-long-cu menghardik sambil melejit mundur beberapa langkah ke belakang.
"Lepaskan dia!"
Hiat-hay-longcu tertawa dingin, hawa napsu membunuh telah menyelimuti wajahnya, ia berkata.
"Tan Hong-hong, jika kau berani turun tangan, maka yang bakal mampus duluan adalah Ong Bun-kim!"
Ancaman itu diutarakan dengan penuh kobaran nafsu membunuh, sehingga kedengaran mengerikan sekali.
Menggigil keras sekujur badan Bunga iblis dari neraka, saking gusarnya sepasang matanya yang jeli sampai berapiapi, ia benar-benar dibikin tak berkutik oleh ancaman musuh.
"Hiat-hay-longcu!"
Akhirnya ia berkata sambil menggertak gigi menahan emosi.
"apa yang hendak kau lakukan terhadapnya?"
"Tak usah kuatir, tak nanti kubunuh orang ini!"
Selesai berkata tiba-tiba ia menlejit ke udara dan berlalu dari tempat itu.
Pada saat Hiat-hay-longcu melompat ke udara dan siap pergi meninggalkan tempat itu, tiba-tiba sesosok bayangan hijau menghadang jalan perginya.
Bayangan hijau itu tak lain adalah Manusia berbaju hijau itu.
Sekilas hawa nafsu membunuh yang mengerikan telah menyelimuti wajah orang itu, katanya dengan suara dingin.
"Kuperintahkan kepadamu untuk lepaskan orang itu!"
Hiat-hay-longcu tertawa dingin.
"Hmm ! Memangnya aku musti turuti perintahmu? Kalau aku tak mau lantas mau apa kau?"
"Bangsat! Rupanrya kau sudah botsan hidup?"
Sekqali lagi Hiat-hray-longcu tertawa seram.
"Heehhh heehhh....beehhh sebelum terjadi sesuatu yang tak diinginkan, terlebih dulu hendak kuperingatkan kepadamu, jika kau berani turun tangan, maka aku kuatir Ong Bun-kim yang akan mampus lebih duluan !"
"Kau berani?"
"Haahhh haahhh haahhh kenapa tak berani?"
Jawab Hiat-hay-longcu sinis.
"coba saja melancarkan serangan kepadaku, nanti kita buktikan bers.ama, aku berani membunuhnya lebih dahulu atau tidak!"
Seraya berkata, ujung kipasnya lantas ditempelkan di atas ubun-ubun si anak muda itu.
Air muka manusia berbaju hijau itu berubah hebat, sama seperti Bunga iblis dari neraka, bidannya menggigil menahan rasa geramnya, kendatipun ilmu silat yang dimilikinya terhitung sangat hebat, sayang kemampuannya itu tak mampu dipergunakan untuk menyelamatkan.
jiwa Ong Bun-kim.
Diiringi suara tertawa dingin, Hiat-hay-longcu kembali melejit ke udara dan berlalu dari situ.
00OdwO00 Entah berapa lama sudah lewat, pelan-pelan Ong Bunkim sadar kembali dari pingsannya, ia merasa kepalanya masih pusing sekali, matanya serasa masih berkunang ditambah perutnya mual.
Ketika keadaan sudah rada segar, ia mulai mengenang kembali peristiwa yang telah menimpanya Ia hanya tahu kalau jalan darahnya ditotok Hiat-hay longcu secara tiba-tiba, kemudian apa yang terjadi tak diketahui lagi olehnya Begitu sepasang matanya dipentangkan, pemuda itu makin terperanjat lagi dibuatnya.
Ternyata ia berada di suatu ruangan yang besar sekali dengan segala perabot yang indah dan mewah, puluhan orang manusia berbaju biru berdiri dalam ruangan tersebut, sedang ia sendiri berbaring di lantai.
Ia menjadi tertegun dan tak tahu apa gerangan yang telah terjadi atas dirinya sekarang.
Sementara ia masih termangu, tiba-tiba kedengaran seseorang tertawa dingin lalu menegur.
"Ong tayhiap, rupanya kau telah sadar kembali?"
Pelan-pelan Ong Bun-kim bangkit berdiri, ia merasa sekujur tubuhnya lemas tak bertenaga.
Sadarlah pemuda kita bahwasanya ia sudah ditotok orang, maka sinar matanya lantas dialihkan ke sekeliling ruangan, mendadak ia jumpai Hiat-hay long-cu berada pula di antara orang-orang itu.
"Hahh kau ..?"
Seru Ong Bun-kim dengan air muka agak berubah.
"Betul, memang aku!"
Sepasang gigi Ong Bun-kim gemerutukan menahan rasa geramnya, kalau bisa dia ingin mencincang tubuh Hiat-haylong-cu menjadi ber-keping-keping untuk melampiaskan rasa dendam dihatinya.
Tiba-tiba ia jumpai di sebelah kanan ruangan berdiri seorang perempuan yang amat di kenal olehnya, orang itu tak lain adalah Gin Lo-sat kenyataan ini sangat mengejutkan hati Ong Bun-kim.
"Jadi Hiat hay-long-cu sudah menjadi anggota perkumpulan Hui-mo-pang?"
Demikian pikirnya.
Rupanya dugaan tersebut ada benarnya juga dan jelaslah sudah bahwa Hiat-hay-long-cu sengaja, menggunakan siasat untuk membekuknya agar bisa diserahkan kepada pihak Hui-mo-pang.
Berpikir sampai ke situ, menggigil sekujur badan anak muda itu saking marahnya.
Pada saat itulah seseorang berseru dengan lantang.
"Tay pangcu tiba!"
Seketika itu juga suasana dalam ruangan menjadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, lalu terdengar suara langkah kaki manusia yang makin lama semakin mendekat.
Tiba-tiba Ong Bun-kim merasa matanya menjadi silau, seorang gadis yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan diiringi empat orang dayang berbaju biru berjalan masuk ke dalam ruangan.
Serentak semua manusia berbaju biru termasuk juga Hiat-hay-long-cu di antaranya menjatuhkan diri berlutut di atas tanah sambil berseru.
"Tecu sikalian menyampaikan salam sejahtera untuk Tay pangcu!"
Tay pangcu dari Hui-mo pang tertawa hambar, sahutnya.
"Tak usah banyak adat!"
Suaranya merdu merayu seperti bkicauan burung dnuri, membuat oarang serasa terbbuai jadinya.
Ong Bun-kim sendiripun merasa terkesima oleh kecantikan orang, sekalipun demikian iapun merasa agak heran, kalau gadis tersebut hanya sebagai Tay pangcu (wakil ketua), lantas siapakah ketua yang sebenarnya ?
Setelah memberi hormat dengan suasana yang hidmat, puluhan orang manusia berbaju biru itu bangkit berdiri dan menyingkir ke samping.
Paras muka Tay pangcu dari Hui-mo pang amat hambar tanpa emosi, dengan matanya yang jeli ia mengerling sekejap wajah Ong Bun-kim, lalu dengan suara agak tertegun serunya.
"Jadi kau yang bernama Ong Bun kim?"
Ong Bun kim hanya memandang sekejap ke arahnya, ia telah membungkam dalam seribu bahasa. Sekali lagi Tay pangcu dari Hui mo pang itu tertegun.
"Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?"
Tegurnya.
Ong Bun-kim tetap membungkam dan tidak menjawab.
Tindakan anak muda itu segera menggusarkan wakil ketua dari Hui mo pang ini, bahkan paras muka puluhan orang manusia berbaju biru yang berada dalam ruangan itupun berubah hebat.
"Ong Bun kim!"
Dengan suara dingin Hiat-hay-long cu segera membentak keras.
"kalau kau tidak menjawab juga, jangan salahkan kalau kau akan kutempeleng beberapa kali!"
Ong Bun kim tetap tertawa dingin tiada henti-nya, tak sepatah katapun yang diutarakan.
Paras muka Hiat hay long cu betul betul berubah sangat hebat, sambil membentak gusar tubuhnya menerjang kehadapan si anak muda itu, kemudian telapak tangannya diayun ke atas wajah Ong Bun-kim dan menamparnya keras keras.
"Piaak....! Plook....!"
Ong Bun kim kena di-tampar keraskeras sehingga pipinya bengkak dan mulutnya berdarah. Anak muda itu segera tertawa dingin, katanya.
"Teng Kun, ingat ingat saja dengan dua tempelenganmu sekarang, suatu ketika aku pasti akan membalaskan berikut bunga...."
"Bangsat, akan kutempeleng kau beberapa kali lagi."
Tangannya segera diayun ke muka siap menempaleng wajah Ong Bun kim lagi.
"Tahan!"
Mendadak berkumandang suara bentakan nyaring.
Mendengar bentakan tersebut, mbau tak mau Hiatd haylong-cu haarus menarik kembbali serangannya.
Setelah melirik sekejap wakil ketua dari Hui-mo pang itu, ujarnya dengan penuh rasa hormat.
"Baik, tay-pangcu!"
"Bebaskan jalan darahnya yang tertotok!"
"Baik!"
Tanpa berani membangkarg, Hiat-hai-long cu segera menepuk bebas jalan darah Ong Bun-kim yang tertotok.
Pada dasarnya Ong Bun kim menang sudah terluka dan luka itu belum sembuh, maka kendatipun jalan darahnya sudah dibebaskan, akan tetapi kekuatan, hawa murninya belum berhasil dipulihkan kembali seperti sediakala.
"Ong Bun-kim!"
Kembali wakil ketua Hui-mo-pang berkata.
"kalautoh sudah sampai di sini, apa salabnya kalau kita berbicara.secara baik-baik?"
"Soal apa yang mesti kita bicarakan?"
Jawab Ong Bun kim dengan suara dingin. Wakil ketua dari Hui-mo pang itu tertawa ringan, sungguh besar daya pikatnya.
"Oh....tadinya aku masih mengira kau tak pandai berbicara, untung kau bukan seorang bisu, tahukah kau kenapa kuundang kehadiranmu kemari? "Hmm..! Suatu cara mengundang yang sangat bagus."
"Aku toh sudah mengundang kehadiranmu secara baikbaik, adalah kau sendiri yang enggan datang."
Ong Bun-kim kembali tertawa dingin.
"Heeehhh...heeehhh...heeehhh... sekarang kau telah "mengundangku'"
Kemari, hayo katakanlah maksud tujuanmu yang sesungguhnya!"
"Aaah....! Kalau dibilang, sesungguhnya bukan suatu masalah yang terlampau sulit untuk dilakukan, aku hanya ingin mengajakmu untuk menjadi anggota perkumpulan kami!"
Kata Wakil ketua Hui-mo-pang sambil tertawa ringan.
"Haaahhh.. haaahhh....haaabhb....rupanya itulah maksudmu, sayang aku enggan untuk menerimanya!"
Ong Bun-kim terbahak-bahak.
"Kenapa?"
"Kenapa aku mesti masuk menjadi anggota perkumpulan kalian?"
"Kita akan bersama-sama membangun suatu dunia persilatan yang berada di bawah telapak kaki kita!"
Kontan sraja Ong Bun kimt tertawa dinginq tiadi hentinyar.
"Biarlah maksud baikmu itu kuterima dalam hati saja"
Katanya.
"sayang sekali aku tidak mempunyai rejeki sebesar itu untuk menikmatinya!"
"Tapi sayang, bagaimanapun juga kau harus masuk menjadi anggota perkumpulan kami!"
"Kalau aku tetap menolak?"
"Boleh saja, cuma kau harus dapat menyambut tiga buah tusukan pedangku tanpa kalah, asal kau mampu segera kami lepaskan dirimu untuk tinggalkan tempat ini!"
Ucapan yang terlalu tekabur dan sama sekali tak pandang sebelah matapun kepada lawannya ini segera membangkitkah hawa amarah dalam hati Ong Bun-kim, air mukanya kontan berubah.
"Menerima tiga jurus serangan pedangmu?"
Ulangnya.
"Betul!"
"Seandainya aku sanggup menyambut ketiga buah serangan pedangmu tanpa kalah?"
"Silahkan kau tinggalkan tempat ini, dan selanjutnya perkumpulan kami tak akan menyulitkan dirimu lagi!"
"Harus ditambah dengan sebuah syarat lagi!"
Sambung anak muda itu dengan cepat.
"Syarat apa?"
"Serahkan Hiat-hay long-cu kepadaku!"
"Boleh saja, cuma....andaikata kau yang kalah?"
"Aku siap menerima keputusanmu!"
"Bagus sekali!"
Seru wakil ketua dari Hui mo-pang itu.
"siapkan pedang ... .!"
Dengan hormat seorang dayang berbaju biru munculkan diri dan mempersembahkan sebilah pedang.
Dengan jari-jarinya yang lembut ia menyambut pedang itu, lalu selangkah demi selangkah berjalan menuju ke tengah ruangan.
"Apakah kau Tay-pangcu ingin bertarung dengan seorang yang sedang terluka seperti aku sekarang?"
Tiba-tiba Ong Bun-kim berseru.
"Jangan kuatir!"
Jawab si nona sambil tertawa "tak nanti akan kumanfaatkan keuntungan itu!"
Seraya berkata ia merogoh sakunya dan menngeluarkan sebutir pil yang kemudian diserahkan kepada Ong Bun-kim.
Si anak muda itupun tanpa sungkan-sungkan segera menerimanya, setelah obat ditelan ia duduk bersila untuk menyembuhkan lukanya itu.
Setengah jam kemudian, luka yang dideritanya itu telah sembuh sama sekali, pelan-pelan ia bangkit berdiri.
"Sudah mampu untuk berkelahi?"
Wakil ketua dari Hui rao pang itu segera bertanya.
"Sudah, tapi ada-satu hal lagi hendak ku-tanyakan lebih dulu kepadamu!"
"Kalau begitu katakan saja!"
"Kalau kau adalah wakil ketua, maka siapakah ketua sesungguhnya?"
"Oh...soal ini merupakan rahasia besar bagi perkumpulan kami, asal kau berhasil menangkan aku, sudah pasti soal itu akan ku-beritahukan kepadamu ... !"
"Bagus sekali."
Ong Bun kim tidak berbicara lagi, sekokoh bukit karang ia berdiri tegak di tempat, harpa bajanya disiap sediakan untuk melancarkan serangan mematikan.
Wakil ketua dari Hui mo pang itu tidak langsung melancarkan serangan, dengan nada yang dingin tegurnya.
"Sudah bersiap sedia?"
"Silahkan tay pangcu melancarkan seranganmu!"
Tay pangcu dari Hui mo pang tertawa dingin, sesudah manggut sekali, pedang yang berada di tangan kanannya itu pelan-pelan diangkat ke tengah udara ...
Sinar mata semua orang yang berada dalam ruangan itu segera ditujukan ke wajah Ong Bun kim serta Tay pangcu, suasana dalam gelanggang pun seketika tercekam dalam ketegangan.
Agaknya tak seorangpun yang percaya bahwa Ong Bun kim sanggup menerima tiga buah serangan maut dari Tay pangcu, lebih lebih tidak percaya kalau ilmu silat yang dimiliki anak muda itu sesungguhnya hebat luar biasa.
Sementara itu Ong Bun kim telah mempersiapkan diri baik-baik, ia beranggapan bahwa lebih baik jiwanya hilang di tangan orang dari pada tidak menerima ketiga buah serangan musuh.
Kini segenap tenaga dalam yang dimilikinya telah dihimpun ke dalam tubuh untuk bersiap sedia menyambut tiga buah serangan kilat dari Tay pangcu perkumpulan Hui mo pang.
Tay pangcu melirik Ong Bun kimb sekejap, kemuddian sambil tertaawa dingin katabnya.
"Berhati-hatilah, aku siap melancarkan serangan!"
"Silahkan!"
Di tengah bentakan nyaring yang menggeledek bayangan manusia saling menyambar, cahaya kilat membumbung ke angkasa dengan membawa desingan angin tajam yang menggidikkan hati, pedang itu langsung menusuk ke tubuh Ong Bun-kim.
Dengan sigap anak muda itu memutar harpa besinya untuk menangkis datangnya ancaman tersebut.
Bayangan manusia berputar kencang, dengan suatu gerakan manis berhasil juga Ong Bun-kim untuk meloloskan diri dari serangan kilat tay pangcu, tapi pedang itu mendadak berubah arah, diantara kilatan cahaya yang menyilaukan mata serangan pedang kedua telah tiba.
Kali ini serangannya jauh lebih cepat dari pada serangan yang pertama tadi, baru saja Ong Bun-kim melepaskan diri dari ancaman yang pertama, serangan kedua yang maha dahsyat itu telah mengancam ke arah dadanya.
-ooo00dw00oooBAB PERUBAHAN jurus serangan itu betul-betul di luar dugaan, mengucur ke luar peluh dingin saking kagetnya, cepat-cepat pemuda itu berkelit ke samping sambil melepaskan sebuah serangan balasan.
Tapi sebelum tubuhnya sempat menghindarkan diri ke samping, ujung pedang lawan telah mencungkil kearah tubuhnya, menyusul kemudian tay-pangcu dari Hui-mopang itu sudah mundur kembali ke tempat semula.
Semua orang menjadi tertegun oleh kejadian itu, Ong Bun kim sendiripun merasa terperanjat.
Kalahkah si anak muda itu?
Ataukah ia berhasil menghindarkan diri dari ketiga buah serangan lawan ?
"Ong Bun kim!"
Kata tay pangcu sambil tersenyum.
"terima kasih atas kerelaanmu untuk mengalah!"
Kontan Ong Bun kim merasakan kepalanya pusing dan dadanya seperti terhantam martil berat, nyaris tubuhnya roboh terjengkang ke tanah.
Ia sudah kalah?
Di manakah letak kekalahannya ...?
Peristiwa ini benar-benar merubpakan suatu perdistiwa yang taka pernah diduga bsebelumnya, maka sinar matanya segera dialihkan ke tubuh sendiri.
Apa yang dilihat?
Ternyata baju bagian dadanya sudah robek besar sehingga tampak kulit dadanya.
Tak terlukiskan rasa kaget yang dialami Ong Bun kim saat ini, terbukti sudah bahwa ilmu pedang yang dimiliki gadis itu betul-betul sudah mencapai ke tingkatan yang menakutkan sekali.
Terbukti bajunya telah tersambar robek tanpa melukai kulit badannya, dari sini dapat diketahui betapa menakutkannya ilmu silat yang dimiliki orang itu.
Hiat hay long cu segera tertawa dingin ejeknya.
"Ong Bun kim, kau kalah!"
Pucat pias selembar wajah Ong Bun kim, sekujur badannya gemetar keras, kenyataan tersebut sangat menggetarkan perasaannya, bahkan terasa jauh lebih menakutkan dari pada menghadapi ancaman kematian.
Tiba-tiba saja suasana dalam ruangan besar itu menjadi hening, sepi dan tak kedengaran sedikit suarapun.
"Aku akan beradu jiwa denganmu!"
Tiba-tiba Oag Bun kim membentak kalap.
Dalam sedih dan putus asanya ia telah melupakan janji sendiri, sambil membentak keras tubuhnya langsung menerjang ke arah Tay pangcu dari Hui mo pang itu, harpa bajanya dengan disertai tenaga serangan yang luar biasa langsung dihantamkan ke tubuh lawan.
Serangan yang dilancarkan dalam keadaan kalap dan kecewa ini betul-betul disertai tenaga serangan yang maha dahsyat.
Tay pangcu dari Hui mo pang segera membentak keras.
"Tahan!"
Karena beatakan tersebut, terpaksa Ong Bun kim menarik kembali serangannya.
"Ong Bun kim!"
Kata Tay pangcu kemudian dengan lantang.
"apakah kau hendak mengingkari janji?"
Ong Bun kim berdiri bodoh.
Kembali sinar mata Tay pangcu dialihkan ke wajah Ong Bun kim, mendadak ia berseru kaget lalu air mukanya berubah hebat, dengan sempoyongan tubuhnya mundur enam-tujuh langkah dari posisi semula.
Perubahan tersebut amat mengejutkan semua orang yang hadir dalam ruangan itu, demikian pula dengan Ong Bun kim sendiri.
Lama, lama sekarli, akhirnya Taty pangcu berhasqil mengendalikarn luapan emosinya, dengan nada agak gemetar bisiknya.
"Kau ...."
"Kenapa dengan aku?"
Tiba tiba ia menemukan bahwa sinar mata Tay pangcu sedang tertuju pada lencana "Liong-bei"
Yang bergantung di dadanya itu, bahkan nona itu memperhatikannya tanpa berkedip. Tindak tanduk lawannya yang aneh ini segera membuat Ong Bun kim menjadi tertegun.
"Benda apakah yang berada di dadamu itu?"
Tay pangcu menegur dengan suara gemetar.
"Kenapa? Kau menginginkannya?"
Jengek si anak muda itu sinis.
"Aku hanya ingin bertanya benda apakah itu?"
"Lencana Liong bei ... ."
"Aaah!"
Sekali lagi Tay pangcu berteriak penuh rasa kaget.
Aneh sekali tindak tanduk tay pangcu dari perkumpulan Hui mo pang tersebut, semenjak menjumpai lencana Liong bei yang tergantung di dada Ong Bun kim itu, sorot matanya yang jeli selalu diliputi rasa kaget yang luar biasa.
Lama kelamaan Ong Bun kim dibikin tidak habis mengerti juga oleh sikap lawannya yang aneh itu.
"Hei, kenapa kau?"
Tegurnya kemudian.
"Darimana kau dapatkan lencana liong bei itu?"
Bentak Tay pangcu dengan suara keras.
"Mau apa kau?"
"Aku ingin tahu!"
"Benda ini milikku?"
"Perlihatkan kepadaku!"
Ong Bun kim segera tertawa dingin.
"Heeehbh heeehbh beeehhb itu kan benda milikku, kenapa aku harus perlihatkan kepadamu?"
Air muka Tay pangcu berubah hebat.
"Berikan kepadaku!"
Serunya.
"bagaimanapun juga aku harus melihatnya ..."
"Eeeh jadi kau hendak menggunakan kekerasan?"
Tay pangcu tidak menggubris seruan pemuda itu, dengan nada memerintah bentaknya.
"Lepaskan dan perlihatkan kepadaku!"
"Mau lihat boleh saja, tapi harus kau terangkan dulu alasannya yang masuk akal!"
"Eeeh....jadi kau bersikeras tak mau menyerah kannya kepadaku?"
Tay pangcu dari Hui m o pang kembali membentak. Ong Bun kim kembali tertawa dingin.
"Asal kau dapat memberi alasan yang masuk di akal kepadaku, benda ini segera kuserahkan kepadamu untuk kau lihat, kalau tidak Hmm Kecuali mempergunakan kekerasan!"
Sekali lagi paras muka tay-pangcu dari Hui-mo pang berubah hebat, sambil membentak keras tiba-tiba badannya menerjang ke arah Ong Bun-kim, tangan kanannya segera diayun ke depan mencengkeram lencana Liong bei didada si anak muda itu.
Cengkeraman yang dilakukan Tay-pangcu dari Hui-mopang ini sungguh cepat melebihi sambaran kilat, buru-buru Ong Bun-kim mengayunkan harpa bajanya untuk menghantam telapak tangan lawan yang menyambar ke arah lencananya itu.
Tay-pangcu dari Hui-mo-pang kembali membentak keras, tangan kirinya berkelebat ke depan kemudian melompat mundur ke belakang, dalam waktu yang amat singkat inilah dalam genggamannya telah bertambah dengan lencana liong-bei milik Ong Bun-kim.
Menyaksikan peristiwa itu.
Paras muka anak muda itu berubah hebat, segera bentaknya.
"Serahkan kembali liong-bei ku itu!"
Ia melejit ke depan dan menerjang ke arah tay-pangcu, harpa bajanya disertai tenaga serangan yang hebat menyapu ke tubuh lawan.
Tay-pangcu dari Hui-mo-pang membentak pula, tangan kanannya diayun ke depan dan secara tiba-tiba Ong Bunkim merasa datangnya segulung hembusan angin lembut yang memaksanya mundur beberapa kaki dari situ.
Ong Bun-kim terkejut sekali, akibat dari desakan tersebut hampir meledak dadanya karena kegusaran, tapi kenyataan menunjukkan bahwa ilmu silat yang dimilikinya masih bukan tandingan lawan, sekalipun marah-marah tapi apa gunanya?
Sementara itu perhatian Tay-pangcu dari Hui-mo-pang telah tertuju semua di atas lencana liong-bei, sesaat kemudian paras mukanya berubah berulang kali, perasaannya bergolak keras, ia seperti terkejut, seperti tertegun tapi seperti juga gembira....
Semua anggota Hui-mo-pang membungkam dalam seribu bahasa, mereka hanya bisa mengikuti perubahan sikap pang-cu mereka yang jauh berbeda dari hari-hari biasa itu, mereka tak tahu sesungguh-nya apa yang telah terjadi.
Tapi kalau ditinjau dari sikap serta perhatiannya yang begitu serius terhadap lencana liong-bei itu, dapat diketahui bahwa lencana tersebut pasti mengandung suatu rahasia besar.....
Lama, lama sekali, akhirnya tay-pangcu dari Hui-mopang kembali bertanya dengan suara gemetar.
"Apakah liong-bei ini benar-benar telah kau pakai semenjak kecil?"
"Mau percaya atau tidak terserah kepadamu,"
Kata Ong Bun-kim marah.
"kini kau sudah melihat cukup lama, hayo kembalikan benda itu kepadaku!"
Tay-pangcu dari Hui-mo-pang tidak berbicara apa-apa, dia hanya berdiri di sana dengan wajah termangu.
Gadis itu seperti mengalami rasa kaget yang kelewat batas sehingga tak tahu apa yang musti dilakukan.
Untuk sesaat Ong Bun-kim sendiripun dibikin tertegun oleh sikap tay-pangcu, dengan wajah melongo diawasinya gadis itu tanpa berkedip.
Lama kemudian, gadis itu baru menghela napas panjang, sinar matanya kembali dialihkan ke atas wajah Ong Bunkim, ia seperti memperhatikannya, seperti juga sedang memikirkan sesuatu...
Suasana dalam ruangan menjadi sepi, hening dan tak kedengaran sedikit suarapun.
"Siapakah ayahmu?"
Tiba-tiba nona itu menegur kembali. Ong Bun-kim agak tertegun, kemudian sahutnya ketus.
"Tentang soal ini lebih baik kau tak usah tahu!"
Gadis itu tidak menjadi gusar oleh sikapnya nya yang ketus itu, malahan sambil menghela napas sedih katanya lagi.
"Aku sudah lama sekali mencarimu!"
"Mencari aku? Mau apa kau mencari aku?"
"Karena....karena...."
Ia menjadi berbata-bata dan tak sanggup melanjutkan kembali kata-katanya. Setelah tertegun sejenak akhirnya ia berkata kembali.
"Akupun mempunyai sebuah Hong-bei yang bentuknya mirip sekali dengan liong-beimu itu...."
"Apa....!"
Ong Bun-kim menjerit keras, dadanya seperti kena dihantam martil berat, kepalanya menjadi pusing dan tubuhnya mundur dua-tiga langkah dengan sempoyongan.
Mendadak ia teringat dengan perkataan dari Kui-jinsuseng, dikatakan bahwa Liong-hong-bei sesungguhnya adalah sepasang, tapi oleh ayahnya hong-bei atau lencana burung hong itu dihadiahkan kepada seorang temannya, ditetapkan bahwa barang siapa membawa hong-bei tersebut, dialah calon istrinya.
Ketika terbayang sampai ke situ, dengan jantung berdebar keras anak muda itu lantas bertanya.
"Kau...kau mempunyai sebuah Hong-bei?"
"Benar!"
"Kalau begitu kau..."
"Aku..."
Mereka saling berpandangan dengan wajah tertegun, lama sekali kedua orang itu tak sanggup berkata-kata.
Yaa, kejadian ini memang sama sekali di luar dugaan, bukan saja membuat mereka tercengang bahkan hampir tidak percaya dengan apa yang terbentang di hadapannya.
Dengan termangu-mangu Ong Bun-kim memperhatikan gadis itu Tay-pangcu dari Hui-mo-pang pelan-pelan menggeserkan kakinya menuju ke arah ruang tengah.
Sinar mata semua anggota Hui-mo-pang ber-sama-sama dialihkan ke atas wajah tay-pangcunya, tak seorangpun yang bersuara atau menggerakkan tubuhnya dari tempat masing-masing Setibanya di atas mimbar, tay-pangcu baru berseru.
"Hu-pangcu!"
"Tecu ada di sini!"
Gin Lo-sat tampil ke depan.
"Kecuali kau seorang yang tetap tinggal disini, semua anggota perkumpulan kita dipersilahkan mengundurkan diri dari sini!"
"Baik!"
Maka di bawah perintah Gin lo-sat serentak semua anggota perkumpulan Hui-mo-pang me-ngundurkan diri dari tempat itu.
Sepeninggal orang-orang itu semua, tay-pangcu baru mengalihkan sinar matanya ke atas wajah Ong Bun-kim, katanya.
"Ong siangkong, apakah ibumu pernah memberitahukan soal Liong-hong-bei (lencana naga dan burung hong) kepadamu?"
"Yaa, aku tahu!"
Jawab Ong Bun-kim dengan perasaan agak bergetar.
Sesungguhnya kedua belah pihak telah mengetahui dengan jelas bahwa mereka adalah sepasang suami istri, akan tetapi kedua belah pihak sama-sama tak ingin mengutarakan persoalan ini lebih dahulu.
"Ong siangkong, kita berdua..."
"Yaa, aku sudah tahu!"
"Lantas kau..."
Gadis itu tak tahu bagaimana harus menyambung ucapannya.
"Aku..."
Anak muda itupun tak tahu apa yang mesti dikatakan.
"Kau... kau telah mengakuinya?"
"Aku... aku tidak tahu!"
Mendengar jawaban itu, paras muka gadis tersebut berubah hebat.
"Engkau tahu apa sebabnya kudirikan per-kumpulan Hui-mo-pang ini?"
Teriaknya.
"Kenapa?"
"Kau tahu, kenapa perkumpulan kami tidak mempunyai pangcu?"
"Coba kau terangkan, kenapa tak ada pangcunya?"
"Karena kaulah pangcunya!"
"Apa?"
Ong Bun-kim menjerit kaget.
Kejadian itu sungguh berada diluar dugaannya, dengan terperanjat ditatap gadis itu tanpa berkedip, lama sekali ia tak mengucapkan sepatah katapun.
Gadis itu tertawa getir, kemudian berkata lebih jauh.
"Aku tak lebih hanya melaksanakan tugas pangcu untuk sementara waktu, sebab kau adalah suamiku, dan akupun harus mengangkat dirimu sebagai pangcunya, sebab ketika kudirikan perkumpulan Hui-mo-pang ini, keadaan tersebut telah kuterangkan kepada semua anggota..."
"Kau beritahu kepada mereka bahwa suamimu lah pangcu yang sebenarnya dari perkumpulan Hui mo-pang?"
"Benar!"
"Lantas..."
"Mulai sekarang kau adalah pangcu dari perkumpulan Hui-mo-pang!"
Ong Bun-kim sama sekali tidak girang oleh kejadian tersebut, paras mukanya tetap hambar tanpa emosi, ditatapnya sang "istri"
Sekejap kemudian katanya dengan dingin.
"Siapakah ayahmu?"
"Hiat-hay-khi-khek (si penunggang kuda dari hiat-hay)!"
"Apa? Ayahmu adalah Hiat-hay-khi-khek?"
Hiat hay khi khek adalah sahabat karibnya Su hay bong khek, tentang soal ini ia sudah tahu jelas, tapi ia tidak tahu kalau ayahnya telah meng hadiahkan "Hong bei"
Tersebut untuk Hiat hay khi khek.
Konon si Penunggang kuda dari Hiat hay telah pergi ke Lam hay, kalau memang gadis cantik ini adalah putrinya, lantas di manakah Hiat hay khi khek sendiri?
Sudah mati?
Berpikir sampai di situ, tanpa terasa ia bertanya.
"Sudah meninggal dunia!"
"Sudah wafat?"
"Benar, sudah wafat! Setelah pergi jauh ke Lam hay tempo dulu, ayahku telah menikah dengan putrinya Lam hay kaucu, akulah satu satu-nya anak yang dilahirkan, setelah kakek meninggal ayah melanjutkan jabatan ketua Lam hay kau. Lima tahun berselang ayah dan ibu secara beruntun meninggal dunia, sebelum menghembuskan napasnya yang terakhir ayah hanya beritahu kepadaku agar mencari seseorang yang memakai kalung Liong bei, sebab orang itu adalah suamiku."
Ia berhenti sejenak untuk mengatur pernapasan, kemudian terusnya.
"Aku pernah bertanya kepada ayah, siapakah yang mempunyai liong bei yang mirip dengan Hong bei yang kukenakan ini? Beliau mengatakan bahwa orang itu sudah meninggal dunia, tapi benda itu sudah diwariskan kepada putranya dan aku dipesan agar menyelidiki secara seksama dikemudian hari..."
"Apakah ia tidak memberitahukan kepadamu siapakah nama ayahku?"
"Yaa, ia tidak mengatakannya...sebab ketika hendak mengatakan nama ayahmu, ia keburu menghembuskan napas terakhir."
Berbicara sampai di sini, ia tak dapat menahan rasa sedihnya lagi, titik air mata jatuh ber linang membasahi pipinya.
"Maka, kaupun mendirikan perkumpulan Hui mo pang ini?"
Kata Ong Bun kim kemudian.
"Benar, sesampainya di daratan Tionggoan, aku pun berkenalan dengan adik angkatku sekarang Gin Lo sat, agar bisa menemukan jejakmu dengan mudah, mau tak mau aku harus mencari anggota perguruan sambil menyebar orang untuk mencari orang yang memakai Liong bei, akhirnya kaupun berhasil kutemukan..." 000odwo000 BAB 37 TERBAYANG kembali pengalamannya hingga tiba di perkumpulan Hui mo pang, tiba tiba saja hawa amarah dalam hati Ong Bun kim berkobar kembali dengan hebatnya. Sementara itu tay pangcu telah membisikkan sesuatu ke sisi telinga Gin Lo sat, menyusul kemudian Gin Lo sat memperhatikan Ong Bun kim beberapa saat lamanya, lalu ujarnya.
"Ong sauhiap, enci bilang bersbediakah kau untduk menikah dengaannya?"
"Aku akbu rasa soal ini jangan kita bicarakan dulu untuk sementara waktu."
"Kenapa?"
"Karena antara kita berdua belum mempunyai saling pengertian yang mendalam!"
"Lantas sampai keadaan bagaimanakah baru bisa dikatakan sebagai saling ada pengertian?"
"Wah, soal ini sulit untuk diterangkan!"
Gin Lo sat tersenyum, katanya kemudian.
"Ong sauhiap, kalau kau menyanggupinya maka berarti pula kau adalah pangcu dari perkumpulan Hui mo pang!"
Mendengar perkataan itu paras Ong Bun kim segera berubah.
"Hei, rupanya kalian hendak menggunakan kedudukan pangcu itu sebagai umpan untuk me-mancingku?"
"Oooh....tentu saja bukan!"
"Kalau begitu..."
"Sebab jika kau tidak kawin dengan enciku maka lantaran sebutannya juga bukan suami istri, tentu saja kau tak dapat menempati kedudukan sebagai seorang pangcu dari Hui mo pang!"
Kontan saja Ong Bun kim tertawa dingin.
"Heeehb..heeehh...heeehh...Meskipun aku Ong Bun kim hanya seorang tukang silat kasaran yang tidak mempunyai kedudukan ataupun nama besar, tapi aku masih belum menganggap kedudukan se bagai "pangcu"
Itu di dalam hati, harap kalian berdua jangan salah mengartikan jalan pemikiranku."
Gin Lo sat tidak mengira kalau Ong Bun kim bakal mengucapkan kata kata semacam itu, kontan saja paras mukanya berubah hebat.
"Jadi kalau begitu, kau tidak mengakui akan adanya ikatan perkawinan ini?"
Katanya kemudian sambil tersenyum.
"Aku sama sekali tidak mempunyai maksud demikian , .."
"Jadi kalau begitu, kau telah menyetujuinya?"
"Akupun tidak menyetujui!"
"Jadi,sebenarnya bagaimanakah maksudmu itu?"
"Persoalan tentang perkawinan itu lebih baik dibicarakan dikemudian hari saja, sebaliknya tentang kedudukan pangcupun terpaksa dibiarkan saja lebih dulu, kita bicarakan nanti kalau sudah ada penyelesaian dulu mengenai hubungan kami berdua."
"Apakah Ong sauhiap beranggapabn bahwa enciku dtidak pantas unatuk menikah denbganmu...."
"Tentu saja bukan demikian maksudku "
"Jadi kau sudah mempunyai istri?"
Mendengar pertanyaan itu, Ong Bun kim me-rasakan hatinya bergetar keras, setelah termenung sejenak sahutnya.
"Yaa, hal itu merupakan salah satu alasanku...."
Tiba tiba Tay pangcu dari Hui mo pang itu berteriak keras.
"Aaa...apa...? Kau... kau sudah mempunyai istri? Si....siapakah dia?"
Suaranya agak gemetar karena menahan emosi yang berkobar, sepasang matanya yang tajam menatap wajah Ong Bun kim tanpa berkedip. Si anak muda itu tertawa hambar, katanya.
"Persoalan ini adalah persoalan pribadi, lebih baik tak usah kau tanyakan lagi!"
"Kenapa aku tak boleh menanyakannya ke-padamu?"
Paras muka Oag Bun kim berubah.
"Dengan dasar apa kau menanyakan persoalan ini kepadaku?"
"Aku toh istrimu yang sah!"
"Tapi untuk sementara waktu masih belum kuakui!"
Kemarahan yang berkobar dalam dada Tay pangcu dari Hui mo pang ini benar-benar sudah meledak, sekujur badannya gemetar keras, mimpi-pun ia tak mengira kalau Oag Bun kim sedikitpun tidak memandang sebelah mata kepadanya.
Setelah tertawa dingin gadis itu lantas berkata.
"Ong siangkong, asal kau bersedia kawin denganku, maka mulai detik ini kau adalah pangcu dari perkumpulan Hui mo pang!"
"Sayang sekali, aku Ong Bun kim bukanlah manusia semacam itu!"
"Akupun bisa membantumu untuk menuntut balas atas sakit hatimu selama ini!"
"Terima kasih banyak atas maksud baikmu itu, aku Ong Bun kim seorang diri masih mampu untuk menuntut balas!"
"Hei, jadi kalau begitu bicara pulang pergi sekian lama, kau masih tetap tidak menyetujui usulku ini."
"Benar! Untuk sementara waktu Ong Bun kim tak dapat menyanggupi semua permintaanmu itu!"
Sekujur badan Tray pangcu dari tHui-mo-pang ituq kembali gemetarr keras, kalau bisa dia ingin menggigit si anak muda itu sampai mampus-sehingga rasa gemas dan jengkelnya dapat terlampiaskan .
Sekalipun demikian, Ong Bun kim mempunyai pendirian serta harga diri yang tak dapat diganggu gugat oleh siapapun, ia mempunyai keangkuhan dan watak jaga gengsi yang tinggi, dia tak ingin kena terpancing oleh soal nama dan kedudukan sehingga kehilangan harga dirinya.
Ia lebih lebih tidak berharap untuk memperoleh nama besar atas dasar pamor dari istrinya, bila kejadian ini sampai tersiar dalam dunia persilatan dikemudian hari, orang pasti akan mencemooh dan metertawakan dirinya, hal inilah yang justru dipikirkan dan dipertimbangkan Ong Bun kim, ia tak sanggup menerima ejekan ejekan semacam itu.
Paras muka Tay pangcu dari Hui mo pang kembali berubah, bentaknya kemudian.
"Ong Bun-kim, sesungguhnya kau menyetujui atau tidak?"
"Tidak setuju!"
Mendadak Tay-pangcu dari Hui-mo-pang mendongakkan kepalanya dan tertawa seram, suaranya tajam melengking dan terasa sangat mengerikan hati, rupanya perasaan maupun pikirannya telah diliputi oleh hawa nafsu membunuh yang amat tebal dan menggunakan gelak tertawa yang menyeramkan itulah dia hendak melampiaskan keluar semua perasaannya itu Tiba-tiba gelak tertawanya itu berhenti di tengah jalan, lalu bentaknya keras-keras.
"Bagus, bagus sekali, Ong Bun-kim! Kalau toh kau tidak menganggap diriku di dalam hati, aku harap kau segera enyah dari sini, hati-hati kalau dikemudian hari kau datang memohon kepadaku!"
"Heehhh....heeehh....heeehh.....jangan kuatir,"
Sahut Ong Bun-kim sambil tertawa dingin pula.
"selama hidup aku Ong Bun-kim tidak akan memohon kepadamu!"
"Bagus sekali!"
Dengan wajah hijau membesi karena gusar gadis itu berpaling ke arah Gin Losat, lalu serunya lagi.
"Adikku, bawa dia ke luar dari sini!"
"Baik!"
"Serahkan Liong-bei itu kepadaku!"
Ong Bun-kim segera berseru dingin.
Tay-pangcu dari perkumpulan Hui-mo-pang itu tidak menyahut atau mengiakan, dia segera me-lemparkan Liongbei tersebut kepada Ong Bun-kim.
Setelah menerima kembali benda itu, si anak muda itu memasukkannya ke dalam saku, kemudian ia bertanya.
"Kalau begitu, bagaimana dengan pertaruhan diantara kita berdua ?"
"Sama sekali hapus sampai di sini!"
Ong Bun-kim tertawa dingin, tanpa meng-ucapkan katakata lagi dia memutar tubuhnya dan berjalan menuju ke ruang depan, Gin Lo-sat mengikuti di belakangnya.
Sebentar kemudian mereka sudah ke luar dari gedung besar dan tiba di luar bangunan.
Setelah menembusi kebun bunga di depan bangunan itu, tak lama kemudian sampailah mereka di depan sebuah tebing yang curam, di tepi tebing tersebut terbentang sebuah jalan kecil yang ber-hubungan langsung dengan bawah bukit.
Kepada Gin Lo-sat, Ong Bun-kim lantas berkata.
"Hu pangcu, harap berhenti sampai di sini saja, aku hendak mohon diri lebih dahulu!"
Sehabis berkata ia lantas menutulkan sepasang kakinya ke atas tanah dan meluncur ke arah jalanan kecil di sisi tebing itu, sepanjang perjalanan pemuda itu bergerak dengan kecepatan luar biasa, sasampai-nya di bawah bukit, ia baru menghentikan langkahnya.
Ketika terbayang kembali kejadian disaat tadi, pemuda itu menghela napas panjang, pikirnya.
"Aaaai sekarang aku harus ke mana? Ah, benar! Aku harus pergi mencari Siau Hui-un untuk membalas dendam!"
Setelah mengambil keputusan, diapun merubah arah dan menempuh jalan raya menuju ke lembah Sin-li-kok.
Keadaan di dalam lembah Sin-li-kok masih seperti sedia kala, iapun bergerak menelusuri lembah yang memanjang itu, menembusi hutan lebat dan tiba di luar tembok pekarangan.
Mendadak...
Sesosok bayangan merah diikuti beberapa orang dara berbaju merah lainnya menghadang jalan perginya.
Keadaan Ong Bun-kim pada saat ini telah diliputi oleh hawa nafsu membunuh yang luar biasa, ia lantas membentak keras;
"Menyingkir kau!"
Di tengah bentakan keras tersebut, harpa besi di tangan kanannya segera digetarkan untuk me-lancarkan serangan.
Serangan yang dilancarkan Ong Bun-kim secara tiba-tiba ini sungguh cepat bagaikan sambaran kilat dua orang gadis berbaju bmerah yang beradda di barisan paaling depan segbera menjerit kesakitan, lalu roboh binasa di atas tanah.
Begitu berhasil dengan serangannya, Ong Bun-kim kembali melompat ke tengah udara dan meluncur ke luar dinding pekarangan tersebut.
Dengan membawa hawa nafsu membunuh yang menggila, di dalam beberapa kali lompatan saja Ong Bunkim telah tiba di depan pintu gerbang bangunan loteng yang indah itu.
Baru saja dia hendak menyerbu ke dalam, tiba-tiba beberapa orang perempuan berbaju merah yang berdiri di undak-undakan sebelah depan itu menghadang jalan perginya.
"Kurangajar, rupanya kalian sudah bosan hidup."
Bentak Ong Bun-kim dengan gusarnya.
Harpa besi yang berada di tangan kanannya segera melancarkan serangan dahsyat, dikombinasi kan dengan pukulan dari tangan kirinya.
Sekali lagi terdengar dua kali jeritan ngeri yang memilukan hati berkumandang memecahkan keheningan, dua orang perempuan berbaju merah yang kebetulan berada di barisan terdepan segera kena dihajar dan tewas seketika.
Ong Bun-kim melejit ke udara dan, langsung menyerbu ke dalam ruangan...
"Berhenti!"
Suatu bentakan nyaring kembali berkumandang memecahkan keheningan.
Bayangan merah berkelebat datang dari empat penjuru, dalam waktu singkat ada puluhan sosok bayangan manusia yang bermunculan di sana dan menghadang jalan pergi anak muda itu.
, Ong Bun-kim mundur selangkah ke belakang untuk mengambil posisi, kemudian baru mendongak kan kepalanya untuk melihat siapakah orang yang berdiri dihadapannya.
Ternyata diaIah Sip-hiat-yau hoa (bunga siluman penghisap darah) yang memimpin puluhan orang anak buahnya.
Paras muka Siluman bunga penghisap darahpun agak berubah setelah mengetahui siapa tamunya itu.
"Ong Bun-kim!"
Serunya kemudian.
"sungguh tak kusangka kau telah berkunjung kembali ke lembah Sin-likok, pertemuan kali ini sungguh suatu pertemuan yang tak pernah disangka!"
Ong Bun-kim enggan banyak berbicara, ia segera membentak keras.
"Cepat suruh Siau Hui-un ke luar dari tempat persembunyiannya...."
"Mau apa kau mencarinya?"
"Mencincang tubuhnya menjadi berkeping-keping!"
"Heehh....heehh heehh aku kuatir harapanmu itu tak akan terlaksana!"
"Kau benar-benar tak mau menyubruhnya ke luar?d"
Bentak Ong Buan-kim sambil mebnggigit bibir menahan diri.
"Benar!"
"Bajingan, rupanya kau sudah bosan hidup!"
Ong Bun-kim segera membentak keras, seperti anak panah yang terlepas dari busurnya dia me-nerjang maju ke depan, harpa bajanya secepat kilat menyerang ke depan dengan membawa kilatan cahaya tajam, yang di arah adalah bagian mematikan di tubuh Sip-hiat-yau-hoa.
Agaknya Siluman bunga penghisap darah telah menduga bahwa Ong Bun-kim bakal bertindak demikian, diapun segera membentak keras, telapak tangan kirinya diayun ke depan dan balas melancarkan sebuah serangan yang mematikan.
Bayangan manusia berkelebat lewat, puluhan orang perempuan berbaju merah itupun serentak maju ke depan dan bersama-sama melancarkan serangan untuk mengerubuti anak muda itu.
Ong Bun-kim membentak nyaring, sebuah pukulan dilancarkan untuk mendesak pergi serangan gabungan lawan, sementara tangan kanannya mulai memetik senar tali harpanya dan memainkan irama pembetot sukma.
"Criing...! Criing...I Criing...!"
Setelah tiga kali sentilan lewat, serentak semua orang tersentak mundur ke belakang dengan sempoyongan.
Menggunakan kesempatan baik itu, Ong Bun-kim bergerak maju ke depan dengan kecepatan luar biasa, harpa besinya digunakan untuk melancarkan serangan berulang kali.
Jeritan-jeritan ngeri yang menyayatkan hati segera berkumandang memecahkan keheningan....
Sungguh mengerikan sekali jeritan ngeri tersebut, bunga darah kental berhamburan ke mana-mana, mayat demi mayat jatuh bergelimpangan diatas tanah.
Pembunuhan brutal....kejadian ini benar-benar merupakan suatu pembunuhan yang mengerikan.
Dalam waktu singkat puluhan jago perempuan berbaju merah itu sudah mati binasa semua di ujung harpa besi Ong Bun-kim, kecuali Siluman Bunga pengisap darah seorang yang berhasil kabur kebelakang dengan ketakutan, hampir semuanya sudah tewas.
Selangkah demi selangkah Ong Bun-kim bergerak ke depan menghampirinya, sambil menggigit bibir katanya.
"Sekarang jawab, kau hendak memanggil Siau Hui-un ke luar dari tempat persembunyiannya atau tidak?"
"Aku ..."
"Hayo jawab, maru atau tidak?"
Baru saja perkaqtaan dari Ong Brun-kim itu selesai diucapkan, tiba-tiba terdengar suara tertawa dingin yang tak sedap didengar berkumandang ke luar dari balik pintu gerbang.
"Heeehh......heeehhh. heeehhh.... Ong Bun-kim!"
Kata orang itu.
"sungguh tak kusangka kau berani datang ke mari lagi untuk membuat keonacan dan kekacauan". Ketika Ong Bun-kim mendongakkan kepalanya, maka tampaklah wakil kokcu dari Sin-li-kok yakni Tong Wan-tin diiringi dua orang perempuan tua dan duapuluhan jago lihaynya telah munculkan diri di depan pintu gerbang. Ketika menyaksikan mayat-mayat yang ber-gelimpangan di atas tanah, paras muka Ton Wan-tin kembali berubah hebat, tegurnya kemudian.
"Kaukah yang telah membinasakan orang-orang itu?"
"Benar!"
"Jadi kedatanganmu ke mari adalah untuk membantai semua anggota perguruan kami.."
"Bila Siau Hui-un tidak kau panggil keluar untuk menerima kematiannya, maka yang mampus mungkin bukan cuma beberapa orang itu saja."
"Mau apa kau mencari dirinya?"
"Mencincang tubuhnya!"
"Oooh kalau begitu kau datang kemari untuk menuntut balas?"
"Benar!"
"Tolong tanya dendam sakit hati macam apakah yang terjalin antara kau dengan kokcu kami?"
"Soal ini lebih baik tak usah kau tanyakan!"
"Kenapa?"
"Yang sedang kucari adalah dia, yang akan kubunuh pun juga dia!"
Hu-kokcu dari lembah Sin-li-kok Tong Wan-tin segera tertawa dingin tiada hentinya.
"Heeehhh hehhh heeehhh tapi sayang kokcu kami tidak berada dalam lembah saat ini..."
Baca Juga: Pendekar Kembar 8
Baca Juga: Rahasia Hiolo Kumala Gu Long