Ceritasilat Novel Online

Setan Harpa 5

Eps 5 Setan Harpa - Khu Lung Tjan Id

Baca online Setan Harpa - Khu Lung Tjan Id

Cersil Setan Harpa - Khu Lung Tjan Id.

"Apa? Ia tidak berada di sini?"

"Benar!"

Paras muka Ong Bun-kim kembali berubah, hawa napsu membunuh segera menyelimuti seluruh wajahnya.

"Sekarang dia berada di mana?"

"Tentang soal ini dari mana aku bisa tahu?"

"Omong kosong!"

"Kenapa aku musti berbohong kepadamu?"

"Masakah kau tidak tahu ke mana ia telah pergi?"

Tong Wan-tin kembali tertawa dingin.

"Benar, ia tidak memberitahukan kepadaku, dari mana pula aku bisa mengetahuinya."

"Apa? Kau tidak tahu?"

Bentak Ong Bun-kim semakin geram.

"ia kan seorang kokcu dari suatu perguruan; masa kau sebagai wakilnya tidak tahu ke manakah ia telah pergi? Hmmm pada hakekatnya kau cuma ngaco belo tak karuan! Baiklah, jika kau enggan mengaku, hati-hati kalau aku Ong Bun-kim terpaksa akan membunuh orang lagi."

Paras muka Tong Wan-tin berubah pula.

"Kalau ingin membunuh orang, mengapa tidak mencobanya mulai sekarang saja?"

Tantangnya.

"Haahhh.....haaah....haaahh..."

Ong Bung kim mendongakkan kepalanya dan tertawa seram.

"kalau memang kalian pingin mati, jangan salahkan kalau aku akan bertindak keji kepadamu!"

Begitu selesai berkata, si anak muda itu segera menerjang maju ke depan sambil melancarkan serangan kilat ke arah Tong Wan-tin, wakil ketua dari lembah Sin-li-kok.

Harpa besinya diayunkan berulang kali melancarkan dua buah serangan berantai yang maha dahsyat.

Begitu Ong Bun-kim mulai melancarkan serangannya, dua orang perempuan tua yang berada di belakang Tong Wan-tin ikut mengayunkan pula toya besinya untuk mengerubuti si anak muda itu.

Serangan toya dari kedua orang nyonya tua itu dilepaskan dari kiri dan kanan secara berbarengan, kecepatannya sukar dilukiskan dengan kata-kata, di bawah desakan dahsyat dari kedua orang itu, mau tak mau anak muda tersebut harus mundur selangkah.

Menggunakan kesempatan itulah secepat kilat Tong Wan-tin menubruk maju ke depan.

Ong Bun-kim membentak nyaring, ia mengelakkan diri dari tubrukan Tong Wan-tin itu, kemudian melancarkan dua buah serangan berantai yang sangat hebat.

Dalam waktu singkat pertarungan berkobar dengan serunya, kedua belah pihak saling menyerang dan saling menerjang dengan kehebatan yang luar biasa.

Mendadak terdengar jeritan ngeri berkumandang memecahkan keheningan, tampaklah nenek di sebelah kiri itu termakan serabngan dan roboh dterjengkang ke aatas tanah.

--ooo00dw00ooo-BAB 38 ONG BUN-KIM segera menerjang maju ke depan sambil membentak.

"Hayo jawab ! Bersedia tidak kau terangkan di manakah Siau Hui-un berada sekarang?"

Tong Wan-tin tidak menjawab.

Ong Bun kim merasa gusar sekali sampai tubuhnya bergetar keras, ia membentak nyaring lalu secepat kilat menerjang ke arah Tong Wan tin dan secara beruntun melepaskan dua buah serangan dahsyat.

Dengusan tertahan kembali berkumandang memecahkan keheningan, tubuh Tong Wan tin mencelat ke belakang dan muntah darah segar, untuk sesaat lamanya ia tak sanggup untuk bangkit kembali.

Ong Bun-kim segera menerjang ke depan, begitu sampai di hadapan Tong Wan-tin, ia siap mencengkeram tubuhnya.

Tapi pada saat itulah bayangan manusia kembali berkelebat lewat, cahaya tajam berkilauan menusuk pandangan, tahu-tahu cahaya pedang itu sudah mengancam punggung Ong Bun-kim.

Sungguh cepat gerakan tubuh orang itu, nyaris Ong Bunkim gagal untuk menghindarkan diri, untunglah disaat yang kritis ia masih sempat berkelit sejauh satu kaki lebih dari tempat semula.

Begitu lolos dari ancaman mautdan mengetahui siapa gerangan orang itu, paras muka Ong Bun-kim berubah, hawa nafsu membunuh menyelimuti wajahnya, dengan suara geram teriaknya.

"Oooh kiranya kau?"

Ternyata orang itu bukan lain adalah Siau Hui-un. Sambil tertawa dingin perempuan itu menyahut.

"Benar, memang aku!"

Ong Bun kim tertawa seram, katanya kembali.

"Siau Hui-un, aku mengira kau telah bersembunyi dalam neraka tingkat delapanbelas, dan tak berani menjumpai diriku lagi, haaahhh haaahhh haahhh kenapa sekarang telah munculkan diri kembali?"

Suara gelak tertawa dari Ong Bun-kim mengerikan sekali, membuat orang yang mendengarnya terasa mengerikan sekali. Siau Hui-un tertawa dingin.

"Ong Bun-kim, apa yang kau tertawakan?"

Bentaknya.

"Aku tertawa karena hari ini kau bakal mampus di tanganku, Siau Hui-un! Sebelum ku-binasakan dirimu, sebelumnya ada satu pebrsoalan hendak dkuberitahukan kaepadamu "

"Katakan!"

"Pernahkah ayahku berbuat sesuatu yang merugikan dirimu?"

"Tidak pernah!"

"Kalau begitu, kenapa kau telah membinasakan dirinya?"

"Entahlah!"

"Kurangajar! Masa kau tidak tahu?"

"Benar, aku tidak tahu!"

"Kalau begitu menjelang saat kematianmu tiba, pesanpesan terakhir apakah yang hendak kau sampaikan?"

"Tidak ada!"

"Bagus, kalau memang tidak ada, sekarang juga akan kubunuh dirimu . ..."

"Mengapa tidak mencobanya dengan segera?"

Ong Bun kim membentak nyaring, dengan cepat ia menerjang ke arah Siau Hui un sambil melancarkan sebuah pukulan dahsyat.

Ong Bun-kim begitu mulai bergerak, Siau Hui un pun segera mengambil tindakan, kedua belah pihak sama sama melayang ke udara dan saling melepaskan dua buah serangan gencar.

Atas bentrokan yang kemudian terjadi, tubuh Siau Hui un kena didesak mundur sejauh tiga langkah oleh serangan dari Ong Bun kim itu, belum lagi ia bersiap itu secara beruntun pemuda itu telah melancarkan kembali lima serangan berantai.

Ilmu silat yang dimiliki Siau Hui un nyata bukan tandingan Ong Bun kim, di bawah desakan gencar dari si anak muda itu, secara beruntun ia didesak mundur terus hingga tak punya kekuatan lagi untuk melancarkan serangan balasan.

"Roboh kau!"

Tiba-tiba Ong Bun-kim membentak keras.

"Blaaang !"

Tubuh Siau Hui-un bagaikan-sebutir peluru mencelat ke belakang dan roboh tak berkutik lagi, Ong Bunkim segera mejompat ke depan dan tahu tahu Siau Hui-un telah dicengkeram olehnya.

Semua kejadian ini berlangsung dalam waktu singkat, begitu berhasil mencengkeram tubuh Siau Hui-un, bahwa napsu membunuh yang menyelimuti wajah Ong Bun-kim berkobar semakin tebal.

"Siau Hui-un!"

Bentak anak muda itu kemudian.

"tak kau sangka bukan, suatu ketika kau bakal terjatuh ke tanganku "

Siau Hui un hanya bisa memandang ke arah musuhnya dengan sepasang mata melotot besar, katanya kemudiarn dengan dingint.

"Mau bunuh ceqpatlah bunuh, arpa gunanya kau musti banyak berbicara ?"

Ong Bun-kim tertawa seram.

"Haahhh .... haahhh ... haahhh ... untuk membunuhmu lebih gampang dari pada membalikkan telapak tangan sendiri, cuma sebelum kau kubunuh, lebih dahulu aku ingin menanyakan satu hal kepadamu, kau taruh di mana kah keenam

Jilid kitab pusaka dari ko enam partai besar? Hayo jawab!"

"Euam kitab pusaka dari enam partai besar?"

"Benar!"

"Kalau aku tak mau bicara?"

Ejek Siau Hui un sambil tertawa dingin tiada hentinya. Berkobar hawa amarah dalam hati Ong Bun kim.

"Kau tak mau berbicara?"

Bentaknya.

"Benar!"

"Kalau begitu, di manakah letak markas besar dari perguruan San tian bun ...?"

"Mau apa kau tanyakan tentang persoalan ini?"

"Aku bendak mencari ketua dari perguruan San tian bun, bukankah dia adalah kekasih gelapmu?"

"Benar!"

"Di manakah letak markas besar San tian-bun? Hayo cepat katakan!"

"Kalau aku tak mau menjawab?"

Ong Bun kim segera tertawa dingin tiada hentinya.

"Siau Hui un, kau juga seorang manusia cerdik, karena seorang manusia kilat kau tega membinasakan ayahku serta Sastrawan setan harpa, apa yang telah diberikan Manusia kilat itu kepadamu?"

"Soal ini tak perlu kau ketahui!"

"Benar, aku memang tak usah mengurusinya, cuma aku hendak memperingatkan dirimu, penghargaan apakah yang telah diberikan Manusia kilat kepadamu sehingga kau bersedia untuk berkorban baginya?"

Perasaan Siau Hui-un mulai bergolak, ia mulai diliputi oleh emosi. Menyaksikan perempuan itu belum juga menjawab, dengan wajah berubah dan diiringi suara, tertawa dingin, Ong Bun-kim berkata lagi.

"Kau toh sudah tahu bahwa kau telah kutawan sekarang, kenapa Manusia kilat tidak berusaha untuk menolongmu? Pada hakekatnya ia sama sekali tak pandang sebelah matapun kepadamu... ."

"Kau tak usah banyak berbicara lagi, kalau hendak bunuh hayolah segera turun tangan!"

"Siau Hui-un, kau benar benar bersikeras tak mau menjawab?"

Bentak Ong Bun-kim.

"Benar!"

Sekali lagi Ong Bun kim tertawa dingin.

"Siau Hui un, buat apa kau musti menjadi seorang bodoh?"

Katanya.

"bilamana kau bersedia untuk menjelaskan di mana kau simpan ke enam

Jilid kitab pusaka dari enam partai besar dan di manakah letak markas besar dari Perguruan San tian bun, siapa tahu kalau akupun akan menghadiahkan sesosok mayat yang utuh bagimu!"

"Aaaaah, sudah!-Kau tak usah banyak bicara lagi."

"Jadi kalau begitu, kau tidak bersedia untuk menjawab?"

"Benar!"

Pelan pelan Ong Bun-kim mengangkat telapak tangannya ke udara, tapi sebelum melancarkan serangannya mendadak ia teringat akan sesuatu, sambil mengempit tubuh Siau Hui-un, berangkatlah ia menuju ke luar lebah Sin li kok.

Dalam waktu singkat, Ong Bun-kim telah berada di luar lembah Sin li kok...

Siau Hui-un menjadi sangat ketakutan, dengan suara gemetar tanyanya;

"Ong Bun-kim, kau hendak membawa aku ke mana?"

"Untuk bersembahyang di depan kuburan ibuku!"

Sahut Ong Bun kim dingin.

"Aaaah ... !"

Siau Hui un menjerit kaget, paras mukanya segera berubah hebat.

Sementara itu Ong Bun kim telah berada dalam perjalanan menuju ke bukit Cing liong san, senja itu sampailah ia tiba di luar lembah Cing liong kok yang permai itu.

Dari tempat kejauhan, tampaklah kuburan dari Coa Siok oh bertengger dengan anggunnya di depan sana.

Dalam sekali lompatan, Ong Bun kim telah tiba di depan kuburan ibunya, memandang gundukan tanah di hadapannya, lama, lama sekali pemuda itu berdiri termangu, akhirnya tak tahan titik air mata jatuh bercucuran mem basahi pipinya ....

Ia meletakkan tubuh Siau Hui ubn di hadapan kudburan Coa Siok aoh, kemudian gubmamnya dengan suara lirih.

"Ooooh ibu! Aku telah membawa musuh besarmu ke hadapan kuburanmu, hari ini aku hendak menggunakan batok kepalanya untuk bersembahyang di depan nisanmu ...."

Ia merasa sedih sekali, sehingga tak tahan ia menangis tersedu sedu karena terharu.

Setelah hening sekian waktu, akhirnya Siau Hui un kembali diangkat ke tengah udara, paras muka perempuan itu kelihatan pucat pias seperti mayat, keadaannya mengenaskan sekali.

"Siau Hui-un!"

Ong Bun-kim kembali membentak keras.

"hayo jawab, kau simpan ke enam

Jilid kitab pusaka dan enam partai besar itu di mana... ?"

"Hmm! Jangan harap aku akan menjawab...."

"Bagus, bila kau tidak berbicara lagi, segera kukutungi dahulu sepasang tanganmu, akan kulihat kau bersedia menjawab atau tidak?"

"Aku tetap tak mau bicara!"

Ong Bun kim merasa gusar sekali, cepat ia menyambar kutungan pedang milik Siau Hui un dan diangkatnya tinggi tinggi, kemudian bentaknya lagi dengan suara keras.

"Hayo jawab, kau hendak berbicara atau tidak?"

"Tidak ... ."

Begitu kata "Tidak"

Meluncur ke luar dari mulutnya, serta merta Ong Bun-kim mengayun kan kutungan pedangnya ke bawah ....

"Kraas!"

Mengikuti tebasan tajam, terdengar suara dengusan tertahan berkumandang memecahkan keheningan, tahu tahu lengan kiri Siau Hui un sudah terputus kutung menjadi dua bagian.

"Mau jawab apa tidak? Ke enam

Jilid kitab pusaka itu kau simpan dimana?"

Sekali lagi Ong Bun kim membentak.

"Aku... aku bicara, aku ..aku bicara ..."

"Di mana ? Hayo cepat jawab !"

Di tangan San-tian-mo-kun (raja iblis bertubuh kilat)"

"Siapakah Raja iblis bertubuh kilat itu?"

"Dia adalah ketua perguruan dari San-tian hml"

"Di mana letaknya markas besar dari San tianbun?"

"Di... aduuuh !"

Belum habis Siau Hui-un menjawab, jeritan ngeri yang menyayatkan hati telah berkumandang dari mulut perempuan itu.

Ong Bun -kim merasa sangat terkejut, ia saksikan darah segar telah berhamburan dari batok kepala perempuan itu, jelas ia telah tewas dalam keadaan yang mengerikan.

Dengan cepat Ong Bun kim berpaling, terdengar suara tertawa dingin berkumandang memecahkan keheningan, menyusul kemudian kurang lebih tiga kaki di sebelah depan sana muncul sesosok manusia berbaju putih.

Paras muka Ong Bun kim segera berubah, karena orang itu ternyata adalah Manusia kilat.

Terdengar manusia kilat tertawa dingin, lalu katanya.

"Ong Bun kim, sungguh hebat sekali per-buatanmu kali ini!"

Ong Bun kim balas tertawa dingin.

"Caramu membunuh orang dari belakang punggung orang terhitung suatu tindakan yang hebat pula!"

"Apanya yang hebat? Aku tidak lebih hanya membuatnya agar jangan banyak berbicara!"

"Kau takut ia membocorkan alamat dari markas besar kalian?"

"Benar!"

"Kalau begitu kau saja yang berbicara, toh sama saja pula!"

"Aku yang berbicara ..."

Jelas ia masih belum memahami arti kata yang sebenarnya dari ucapan Ong Bun kim itu. Kontan saja si anak muda itu tertawa dingin, katanya kemudian;

"Benar, kau saja yang berbicara soal ini!"

Akhirnya orang itu mengerti juga maksud pembicaraan dari Ong Bun kim itu, sambil tertawa seram ejeknya.

"Heeehhh..,heeehhh...heeehhh...aku ingin tahu dengan cara apakah kau hendak memaksaku untuk berbicara?"

"Sebentar kau akan menjadi paham dengan sendirinya!"

Begitu selesai berkata, secepat sambaran kilat Ong Bun kim menerjang ke muka dan menyerang Manusia kilat.

Begitu Ong Bun kim melancarkan serangannya cahaya putih segera berkelebat lewat, dengan gerakan yang tak kalah cepatnya Manusia kilat balas menerjang ke arah Ong Bun kim, hawa pukulan panas yang menyengat badan serasa menyebar ke empat penjuru.

Dua sosok bayangan manusia saling menyambar di tengah udara, dalam waktu singkat Ong Bun kim telah melancarkan tiga buah serangan berantai...

Rupanya Manusiar kilat itu tidak menyangka kalqau Ong Bun kim rmemiliki ilmu silat selihay ini, seketika itu juga ia kena didesak hingga mundur sejauh tujuh delapan langkah.

Ong Bun kim tidak sudi memberi kesempatan kepada musuhnya untuk menghindar, seperti orang kalap secara beruntun harpa besinya diguna kan untuk melepaskan tiga buah serangan dahsyat.

Pertarungan ini benar-benar merupakan suatu pertarungan yang amat seru ...

-oo0dw0oo--

Jilid 13 MENDADAK bayangan putih kembali berkelebat lewat, cahaya putih lainnya tiba-tiba menerjang ke tubuh Ong Bun kim dengan kecepatan luar biasa, dalam sekejap mata di sekeliling tempat itu bermunculan tiga orang manusia kilat lagi.

Salah satu di antara manusia kilat itu telah menyerang Ong Bun kim, serangannya yang hebat serta gerakan tubuhnya yang lihay membuat si anak muda itu sedikit merasa kewalahan.

Mendadak terdengar bentakan keras menggelegar di angkasa, dua orang manusia kilat lainnya serentak maju pula ke depan, dengan dikerubuti oleh empat orang manusia kilat, Ong Bun kim makin terdesak dan mundur tujuh delapan langkah dengan sempoyongan.

Ong Bun kim membentak penuh kegusaran, teriaknya.

"Sungguh tak kusangka dari San tian bunpun bisa mempergunakan cara rendah yang memalukan semacam ini untuk mengerubuti musuhnya, tindakan kalian ini sungguh jauh di luar dugaan orang!"

Salah seorang Manusia kilat di antaranya segera berkata dengan dingin.

"Bocah keparat, kenapa kau masih belum juga menyerahkan diri?"

"Hayo majulah dan lancarkan seranganmu!"

Belum habis perkataan si anak muda itu, empat sosok bayangan putih serentak telah menerjang ke depan dengan kecepatan luar biasa, mereka mengerubuti Ong Bun kim secara gencar-Satu orang manusia kilat sudah cukup membuat Ong Bun kim kewalahan, apalagi sekarang empat orang turun tangan bersama, sudah barang tentu si anak muda itu menjadi terdesak hebat.

Mendadak....dikala empat orang manusia kilat itu sedang mengerubuti anak muda tersebut, sesosok bayangan manusia berbaju hijau tanpa menimbulkan sedikit suarapun telah muncul di tengah gelanggang, bentaknya dengan suara lantang.

"Manusia yang tak tahu malu, lihat pedang!"

Cahaya tajam berkelebat lewat, dengan suatu gerakan yang sama-sekali tak terduga manusia berbaju hijau itu melancarkan dua buah serangan pedang yang sangat hebat, di mana cahaya pedang nya berkelebat lewat segera terdengar jeritan ngeri yang menyayatkan bati berkumandang memecahkan keheningan.

Salah seorang manusia kilat di antaranya segera termakan oleh bacokan pedang itu dan tewas seketika.

Kejadian ini sangat mangejutkan tiga orang manusia kilat lainnya, serentak mereka menarik diri sambil mundur.

Ong Bun kim sendiri merasa amat terkejut, cepat ia mendongakkan kepalanya, ternyata pendatang itu bukan lain adalah manusia berbaju hijau yang misterius itu.

-ooo00dw00ooo-Bab 39 DALAM keadaan dan saat seperti ini, manusia baju hijau yang misterius itu dapat muncul di sana, kejadian ini sungguh di luar dugaan siapa pun juga.

Salah seorang manusia kilat itu segera tertawa dingin, lalu katanya.

"Siapakah kau?"

"Hmm.......Kalian masih belum berhak untuk mengetahuinya!"

Sahut manusia berbaju hijau itu dengan wajah tanpa emosi.

"Apakah kau bermaksud untuk mencampuri urusan ini?"

"Benar."

"Hmm...! Agaknya kau sudah bosan hidup!"

"Mungkin memang begitulah!"

"Bangsat, rupanya kau pingin mampus..."

Bayangan manusia berbaju putih berkelebat lewat, seorang manusia kilat telah menerjang ke depan melancarkan serangan maut ke arah musuhnya.

Manusia berbaju hijau itu segera meloloskan pedangnya dan dalam waktu singkat kedua belah pihak telah saling menyerang sebanyak tiga gebrakan lebih.

Disaat Manusia berbaju hijau itu mulai melancarkan serangan, Ong Bun-kimpun ikut menerjang pula salah seorang manusia kilat lainnya dan mengirim dua buah pukulan gencar.

Pada saat ini Ong Bun-kim sudah mempunyai niat untuk beradu jiwa, maka semua serangan yang dilancarkan disertai dengan tenaga penuh, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya serangan-serangan yang dilancarkan olehnya itu.

Tiba-tiba terdengar jerit kesakitan berkumandang memecahkan keheningan, ternyata Manusia kilat yang sedang bertempur melawan orang berbaju hijau itu sudah kena ditusuk dadanya hingga tembus ke punggung.

Begitu musuhnya berhasil dibunuh, manusia berbaju hijau itu segera berkelebat menerjang manusia kilat yang lain, di antara perputaran bunga-bunga pedang di angkasa, secara beruntun ia lepaskan dua buah serangan gencar.

Ilmu pedang yang dimiliki manusia berbaju hijau itu sungguh hebatnya bukan kepalang, di antara gerakan tangannya yang enteng, secara beruntun ia telah membunuh dua orang manusia kilat, andaikata bukan dilihat dengan mata kepala sendiri, siapapun tak akan percaya dengan kenyataan tersebut.

Kembali terdengar jeritan ngeri yang me-milukan hati berkumandang memecahkan keheningan, Manusia kilat yang satu ini pun tewas di ujung pedang si manusia berbaju hijau yang maha lihay itu.

Tindakannya untuk membunuh tiga orang Minusia kilat dilakukan hanya dalam sekejap mata, ketika pedangnya telah disarungkan kembali, air muka manusia berbaju hijau itu masih tetap tenang seperti sediakala, sedikitpun tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia sudah mengerahkan tenaga yang cukup besar.

Kini, dengan sinar matanya yang lembut ia sedang mengawasi jalannya pertarungan antara Ong Bun-kim melawan manusia kilat.

Dalam pada itu, pertarungan antara Ong Bun-kim melawan Manusia kilat telah berlangsung hampir tujuh delapan jurus banyaknya, di bawah serangkaian serangan gencar dari Ong Bun-kim, dalam waktu singkat si Manusia kilat telah ke teter hebat sehingga sukar untuk mempertahankan diri lagi.

Tiba-tiba Ong Bun-kim membentak keras, harpa besi di tangan kanannya diayun ke muka melancarkan serangan mematikan, sementara tangan kirinya melepaskan pula sebuah pukulan dahsyat.

"Blaang !"

Kontan saja Manusia kilat itu terhajar telak dan roboh ke atas tanah.

Ong Bun-kim segera melompat ke depan, lalu dicengkeramnya tubuh orang itu.

Sementara ia sedang mencengkeram manusia kilat, manusia berbaju hijau itu telah tertawa getir, tiba-tiba ia berjalan ke depan dan menghampiri pusara dari Coa Siokoh.

Setelah berdiri di depan pusara Coa Siok-oh, selapis rasa sedih yang amat mendalam segera menyelimuti wajahnya, kalau dilihat dari gerak geriknya itu jelas ia sedang berkabung untuk kematian perempuan itu, seperti juga sedang mengenangkan kembali kenangan masa silamnya.

Tindak tanduk orang itu segera membuat Ong Bun-kim menjadi tertegun dan berdiri melongo.

Setelah termenung sejenak, dicengkeramnya tubuh manusia kilat itu dan berjalan menuju ke hadapan pusara ibunya.

Manusia berbaju hijau itu masih tetap berdiri tak berkutik di tempat semula.

Lama kelamaan Ong Bun-kim menjadi tak sabar, ia segera memberi hormat seraya berkata.

"Locianpwe, terima kasih banyak atas bantuan mu, di mana sebanyak dua kali kau telah menyelamatkan jiwaku!"

Pelan-pelan Manusia berbaju hijau itu mengalihkan sinar matanya ke atas wajah Ong Bun-kim, kemudian katanya.

"Hanya urusan kecil semacam itu, kenapa kau musti berterima kasih kepadaku."

"Locianpwe, bolehkah aku tahu, apakah kau adalah kenalan lama dari mendiang ibuku?"

Tanya anak muda itu kemudian. Dengan wajah serius Manusia berbaju hijau itu manggutmanggut.

"Yaa, benar! Aku memang kenal dengannya!"

"Bolehkah aku tahu siapa nama dari locianpwe?"

"Nama dan julukan yang sudah lewat, biarkanlah dimakan masa, buat apa musti disinggung kembali?"

Ong Bun-kim tertawa hambar.

"Apakah locianpwe tidak bersedia mem-beritahukan namamu kepadaku?"

Pintanya. Manusia berbaju hijau itu termenung dan berpikir sebentar, kemudian sahutnya.

"Aku bernama Phang Pak-bun!"

"Apa?"

Tanpa sadar Ong Bun-kim menjerit keras dan mundur dua-tiga depa dengan langkah lebar.

"kau... kau adalah Mo-kui-seng-kiam (pedang malaikat setan iblis)?"

Suaranya penuh kecemasan dan rasa terkesiap yang tak terkirakan besarnya.

"Benar!"

Manusia berbaju hijau itu kembali mengangguk.

Untuk sesaat lamanya Ong Bun-kim berdiri tertegun di situ.

Phang Pak-bun!

Bukankah dia adalah kekasih pertama dari Coa Siok-oh, ibu kandungnya?

Tak nyana kalau ia sudah dua kali menolong dirinya dari ancaman bahaya maut.

Mo-kui-seng-kiam tertawa sedih, lalu menegur;

"Kau merasa kejadian ini berada di luar dugaanmu?"

"Benar!"

"Kau sudah tahu tentang hubungan antara ibumu dengan diriku?"

"Yaa, aku tahu!"

Mo kui seng kiam menghela napas panjang, katanya pelan.

"Aaaai ...sayang kami memang tak berjodoh!"

"Locianpwe, bolehkah kuajukan sebuah per-tanyaan kepadamu?"

"Persoalan apa yang membingungkan pikiranmu? Katakanlah!"

"Sejak ibuku kawin dengan ayahku, apakah kau mengadakan hubungan gelap dengannya?"

"Siapa yang berkata begini?"

Tanya Phang Pak bun geram.

"Siau Hui uni"

"Hmmm! Dia hanya ngaco belo tidak karuan!"

Serunya cepat, tapi sejenak kemudian sambil menghela napas katanya lebih lanjut.

"Yaa,semenjak ia kawin dengan ayahmu, kami memang pernah berjumpa satu kali, tapi perjumpaan kami itu ditandai dengan kesucian dan kebersihan, kita hanya saling mengenang kembali masamasa silam yang penuh keindahan dan penuh keharmonisan itu, sisanya kamipun hanya menghela napas dan bersedih hati."

Setelah menghela napas panjang, kembali katanya.

"Sungguh tak kusangka sekali berpisah puluhan tahun sudah lewat dan sekarang ia telah tiada!"

"Locianpwe, ibuku telah menyia-nyiakan harapanmu, ia membuatmu susah dan bersedih hati!"

"Tidak, aku tidak mempunyai pikiran demikian semuanya ini sudah merupakan suratan takdir!"

"Kalau begitu, kau amat membenci ayahku bukan?"

Kembali Mo-kui-serig-kiam gelengkan kepala nya berulang kali.

"Tidak, aku tidak membenci kepada siapapun, mungkin kami memang tidak berjodoh, kami memang pernah memupuk impian indah, pernah bergembira bersama, selama ini terdapat pula kenangan yang amat indah dan syahdu akan tetapi kesemuanya ini sudah lewat, semuanya telah berakhir."

Ketika berbicara sampai di sini, suaranya kedengaran amat parau, ini menunjukkan bahwa ia memang benarbenar sedang bersedih hati.

Tanpa terasa Ong Bun-kim ikut merasakan pula kepedihan dan kesedihan yang sedang mencskam perasaan orang itu, ia dapat meresapi bagaimana perasaan hatinya sekarang.

Ia telah membayar cintanya dengan mahal, tapi selamanya ia tak dapat merasakan bagaimanakah manisnya cinta itu.

Ia memandang sekejap ke arah Ong Bun kim, lalu tanyanya.

"Apakah ayahmu telah dibunuh oleh Kui-jin-suseng?"

"Benar!"

"Apakah Sastrawan setan harpa itu adalah gurumu?"

"Binar, dia memang guruku!"

"Sesungguhnya, apa yang telah terjadi di-antara kalian semua?"

Secara ringkas Ong Bun-kim segera menceritakan hubungan cinta dan dendam antara gurunya, ayahnya, Siau Hui-un dan Coa Siok-oh.

Ketika selesai mendengarkan penurutan tersebut.

Phang Pak-bun segera bertanya lagi.

"Kalau begitu, orang yang telah membunur ayahmu kecuali Kui-jin suseng, masih ada seorang yang bernama San-tian-mo-kun?"

"Benar!"

"Kini San-tian-mo-kun berada di mana?"

"Tentang persoalan ini, asal kita tanyakan kepada Manusia kilat, ini, mungkin saja dia akan mengetahuinya!"

Selapis hawa pembunuhan yang amat tebal segera menyelimuti wajah Mo-kui-seng-kiam Phang Pak-bun, bentaknya kemudian.

"Kalau begitu, tanyakan persoalan ini kepada-nya!"

Ong Bun-kim manggut-manggut, telapak tangannya secara beruntun menotok beberapa buah jalan darah penting di sekujur badan Manusia kilat itu, beberapa saat kemudian manusia kilat itupun sadar kembali dari pingsannya.

Manusia kilat ini berusia antara empatpuluh tahunan, mukanya cukup tampan.

Dengan wajah menyeringai menyeramkan, Ong Bun-kim segera membentak nyaring.

"Hei manusia kilat, kau pingin mati ataukah pingin hidup?"

Manusia kilat itu memandang sekejap sekeliling tempat itu, mendadak paras mukanya berubah menjadi pucat, sahutnya.

"Bagaimana kalau ingin hidup? Dan bagaimana pula kalau ingin mati ?"

"Kalau ingin hidup, kau harus menjawab beberapa buah pertanyaan yang kuajukan!"

"Pertanyaan apa-yang hendak kau ajukan kepadaku?"

"Benarkah ketua perguruan kalian bernama San-tian-mokun, si raja iblis bertubuh kilat?"

"Benar!"

"Di manakah letak markas besar perguruan kalian?"

"Pertanyaan ini tak dapat, kujawab!"

"Apa? Kau enggan menjawab?"

"Yaa, benar, aku tak berani menjawabnya!"

Ong Bun-kim segera tertawa seram.

"Heehh....heehh....heehh....buat apa kau musti menerima siksaan tubuh yang amat menderita? Asal tanganku ini kuayunkan, aku percaya kau tak akan sanggup untuk menerima ilmu memisah otot memilin tulangku ini!"

Mendengar ancaman tersebut, paras muka manusia kilat itu segera berubah hebat.

"Hayo jawab, kau hendak berbicara tidak?"

Bentak Ong Bun-kim lagi dengan suara keras.

"Tidak!"

Ong Bun-kim tak dapat menahan diri lagi, diiringi bentakan lirih tangan kanannya segera diayun kan ke depan berulang kali, dengan suatu gerakan yang amat cepat ia menotok beberapa buah jalan darah penting di tubuh manusia kilat itu.

Mengikuti gerakan tangan dari Ong Bun-kim, manusia kilat segera mendengus tertahan, peluh sebesar kacang kedelai mengucur keluar membasahi jidatnya, ia tampak menderita sekali.

"Kalau kau tidak berbicara lagi, segera akan kusuruh kau menderita sampai mampus..."

Bentak Ong Bun-kim lagi.

"Aku... aku bicara..."

Jeritannya itu amat menyayatkan hati, membuat orang menjadi bergidik rasanya. Ong Bun-kim segera melancarkan kembali beberapa buah totokan untuk membebaskan orang itu dari pengaruh totokan.

"Nah, sekarang bicaralah!"

Ia berseru. Manusia kilat menghembuskan napas berulang kali, setelah ketegangannya agak berkurang dia baru menjawab.

"Perguruan kami letaknya ada di bukit Thian-mo-san, selat Thian-mo-shia....."

"Berapa banyak seluruh anggota perguruan kalian?"

"Limapuluh orang lebih!"

Ong Bun-kim segera mendengus dingin.

"Hmm! Memandang di atas kejujuranmu, aku Ong Bunkim akan mengampuni selembar jiwamu, cuma, seluruh kepandaian silatb yang kau milikdi akan kupunahkaan sama sekali.b"

Jari tangannya kembali berkelebat lewat, dan seluruh ilmu silat yang dimiliki Manusia kilat itupun lenyap tak berbekas. Kemudian sambil melemparkan tubuhnya ke atas tanah, ia berkata dengan dingin.

"Sekarang, kau boleh pergi dari sini!"

Setelah memandang sekejap ke arah Ong Bun-kim dengan penuh kebencian, Manusia kilat itu segera memutar badannya dan berlalu dari situ dengan sempoyongan.

Sepeninggal manusia kilat tadi, Ong Bun-kim baru memandang sekejap ke arah Mo-kui-seng-kiam, selanjutnya sinar matanya dialihkan kembali ke atas mayat Siau Hui un yang tergeletak di tanah.

Wajahnya kontan berubah menjadi bengis, setelah tertawa dingin katanya.

"Siau Hui-un, aku hendak mencincang tubuh-mu menjadi berkeping-keping."

Pada saat itulah suara tertawa dingin kembali berkumandang memecahkan keheningan.

"Ong Bun-kim, caramu itu terlampau kejam dan sedikitpun tidak mengenal akan peri kemanusiaan!"

Kata orang itu.

Cahaya lentera tampak berkelebat lewat, tahu-tahu Titeng-khek (tamu pembawa lampu) yang misterius itu telah munculkan diri kurang lebih dua kaki di hadapannya.

Waktu itu rasa benci yang berkobar dalam dada Ong Bun-kim belum terlampiaskan, dengan ketus serunya.

"Kejam ? Haaahhh haaahhh....haaahhh.... masa kau tidak tahu kalau orang tuaku telah tewas di tangannya...?"

"Ong Bun-kim, kalau memang begitu persoalan-nya maka tindakanmu itu keliru besar, sekalipun seseorang yang berhati kejam dan selama hidupnya sudah seringkali melakukan kejahatan, setelah mati maka semua dendam sakit hatipun akan ikut punah, tindakanmu mencincang mayat bukanlah suatu tindakan yang terpuji bagi kaum persilatan kita!"

Ong Bun-kim masih mencoba untuk membantah, akan tetapi Phang Pak-bun telah berkata lebih dahulu.

"Benar, apa yang diucapkan saudara ini memang merupakan kata-kata yang benar!"

Tiba-tiba Manusia pembawa lampu itu berseru.

"Hei ! bukankah kau adalah lo-Phang?"

Mo-kui-seng-kiam Phang "Pak -bun agak tertegun, lalu sahutnya dengan cepat.

"Benar dan kau...."

"Masa kau tidak dapat menebak diriku dari suara pembicaraanku ini!"

"Ya, sayang sekali aku tak dapat mengenalinya!"

"Phang lo-heng, kau benar-benar seorang pelupa, aku kan Ting Lam-tiong !"

"Apa kau adalah lo-Ting?"

"Benar!"

Sementara dalam pembicaraan tersebut, manusia pembawa lampu telah berada di hadapan Mo-kui-sengkiam, usia orang itu bternyata seimbadng dengan usia aPhang Pak-bun, bcuma saja tubuhnya jauh lebih jangkung dan ceking dari pada rekannya.

Sementara itu Phang Pak-bun telah tertawa terbahakbahak.

"Haahh...haahh..haahh...sungguh tak kusangka setelah berpisah selama duapuluh tahun, kita dapat saling berjumpa kembali, kejadian ini sungguh di luar dugaanku, lo-Ting, apa maksudmu membawa lampu lentera itu?"

"Maksudku adalah untuk menerangi jalan!"

"Huuss ngaco belo tak karuan!"

"Bukan, aku bukannya sedang ngaco belo, aku membawa lampu memang bertujuan untuk menerangi jalan, cuma lampu ini sesungguhnya mempunyai kegunaan lainnya!"

"Lo Ting, sejak berpisah pada duapuluh tahun berselang, apakah selama ini kau berada dalam keadaan baik-baik?"

"Yaa, baik, baik sekali!"

"Bagaimana dengan keadaan Lo-gou?"

"Sudah belasan tahun tak pernah berjumpa dengannya, aku rasa mungkin ia sudah mati."

Belum habis perkataan itu selesai diucapkan, tiba-tiba muncul sesosok bayangan manusia yang langsung menggampar wajah tamu pembawa lampu.

Untung saja Tamu pembawa lampu memiliki ilmu silat yang cukup tinggi, sekali mengigos tahu-tahu dia sudah menghindar ke samping.

"Siapa kau?"

Segera bentaknya. Tiada seorangpun yang menjawab. Hal mana segera membuat kemarahan tamu pembawa lampu menjadi berkobar, dengan wajah memerah serunya lagi.

"Ai, telur busuk dari manakah....."

Belum habis perkataan itu diucapkan, kembali ada segumpal senjata rahasia yang langsung menghantam ke wajah Tamu pembawa lampu.

Tapi kali ini Tamu pembawa lampu telah bersiap sedia, ketika menghindarkan diri dari serangan tersebut, serta merta tubuhnya meluncur ke depan dan menerjang ke arah mana datangnya serangan tadi.

Cahaya lampu berkelebat lewat, tahu-tahu Tamu pembawa lampu sudah menerjang ke muka.

Tapi pada saat yang bersamaan sesosok bayangan hitam telah menerjang pula ke depan, dua sosok bayangan manusia itu segera bertemu menjadi satu di udara kemudian masing-masing berpisah ke arah yang berlawanan.

Ternyata orang itu adalah seorang laki-laki berbaju hitam yang berusia empatpuluh tahunan, tubuhnya kecil dan pendek.

Menyaksikan kemunculan orang itu, Tamu pembawa lampu agak tertegun, kemudian bentaknya.

"Oooh....rupanya kau?"

"Kenapa?"

Sahut manusia berbaju hitam itu. Sambil tertawa dingin.

"apakah kau merasa di luar dugaan karena aku belum mampus?"

"Soal ini ... ."

"Hei, telur busuk tua! Kenapa kau menyumpahi aku sudah modar? Kau memang kurang ajar !"

Tamu Pembawa larmpu tertawa tertbahak-bahak.

"Hqaaahhh....haaahrhh....haaahhh....orang bilang Cho co, ternyata Cho co segera datang, untung saja aku bilang setan yang mau datang maka yang muncul bukan manusia melainkan setan!"

Kakek berbaju hitam itupun ikut tertawa tergelak "Ting loji, kau jangan keburu senang lebih dulu, jika aku mampus maka kakimu akan kuseret pula untuk bersamasama masuk ke dalam liang kubur ...!"

Mo-kui-seng-kiam Phang Pak-bun segera tersenyum.

"Saudara Gou"

Demikian katanya.

"sudah belasan tahun tak pernah berjumpa muka, suuggui tak kusangka kegagahanmu sekarang masin tak kalah dengan kegagahanmu dulu, apakah selama ini kau berada dalam keadaan baik-baik saja?"

"Terima kasih banyak, untungnya saja aku selalu sehat wal'afiat!"

Sekarang Ong Bun-kim baru tahu bahwa ke tiga orang itu adalah-sahabat kental, hanya saja dia tak tahu siapa gerangan kakek berbaju hitam ini. Sementara ia masih termenung, Phang Pak bun telah berseru.

"Ong Bun-kim, kemarilah ! Hayo kau jumpai kedua orang locianpwe ini !"

"Tak usah, kita sudah pernah bertemu muka!"

Tukas kakek berbaju hitam itu tiba-tiba. Ong Bun-kim menjadi tertegun, pikirnya.

"Tamu pembawa lampu memang pernah ku-jumpai, tapi sejak kapankah aku pernah berjumpa dengan kakek berbaju hitam ini "

Oo00dw00oO BAB 40 KARENA berpikir demikian iapun alihkan kembali sorot matanya ke arah orang itu. Rupanya si kakek berbaju hitam itu dapat menebak suara hati Ong Bun-kim, ia lantas berseru.

"Hei bocah muda, masakah kau sudah lupa dengan suaraku?"

Tiba tiba Ong Bun-kim teringat akan seseorang, dia lantas berseru dengan terperanjat.

"Kau .... kau adalah Kelelawar malam?"

"Tepat sekali!"

"Waaah .... rupanya kau orang tua yang datang, maaf kalau boanpwe bersikap kurang hormat!"

"Tak perlu banyak adat!"

Maka Ong Bun-kimpun segera maju ke depan dan memberi hormat kepada Tamu pembawa lentera ..Dalam pembicaraan yang kemudian berlangsung, dapat diketahui bahwa mereka bertiga disebut orang persilatan sebagai Bu-lim-sam-eng (tiga pahlawan dari dunia persilatan) dimasa lalu.

Sekarang usia mereka bertiga sudah agak lanjut, akan tetapi ketika tersohor dalam dunia persilatan dulu, ketiga orang tersebut masih muda belia, mereka merupakan jago muda pilihan di waktu itu.

Sementara itu, si Kelelawar malam telah berkata.

"Apakah saudara berdua masih sering melakukan perjalanan, dalam dunia persilatan?"

Mo-kui-seng-kiam Phang Pak-bun gelengkan kepalanya berulang kali. Sedangkan Tamu Pembawa lampu menyahut.

"Aku memang masih sering melakukan perjalanan dalam dunia persilatan !"

"Kalau begitu coba lihatlah, bukankah badai pembunuhan yang mengerikan telah menyelimuti dunia persilatan saat ini?"

"Benar!"

"Siapakah ketua dari perguruan San-tian-bun, hingga kini masih merupakan suatu teka teki besar,"

Kata Kelelawar malam lebih jauh.

"cuma, kecuali San tian-mo-kun, masih ada pula perguruan Yu-leng-bun yang akan mendatangkan badai berdarah bagi dunia persilatan kita!"

"Yaa, kejadian ini memang merupakan suatu kejadian yang bisa diterka mulai sekarang!"

"Dewasa ini kedua perguruan rahasia itu masih belum berkutik ataupun melakukan suatu tindak tanduk, entah apa alasannya sampai mereka berbuat demikian, terutama sekali pihak Yu leng-bun, tentang perguruan ini lebih-lebih aneh lagi, sampai sekarang belum ada seorang manusiapun yang tahu siapa gerangan ketua perguruannya itu."

Ketika berbicara sampai di sini, Kelelawar malam menghela napas panjang kembali ujarnya.

"Duapuluh tahun berselang, menjelang saat kematiannya Thian jian cuncu telah meramalkan bahwa dunia persilatan pada masa ini akan tertimpa suatu badai pembunuhan yang luar biasa, apabila dugaan ini benar, maka pada masa ini pula Sin-kiam bakal ketemu dengan pemiliknya."

Sementara penbicaraan sedang berlangsung, tiba-tiba Ong Bun-kim menyela dari samping.

"Silahkan locianpwe bertiga melanjutkan pembicaraan, aku hendak mohon diri lebih dahulu!"

"Kau hendak ke mana?"

Mo-kui-seng-kiam Phang Pakbun segera menegurnya dengan rasa ingin tahu.

"Aku hendak berkunjung ke perguruan San-tian-bun."

"Mengunjungi perguruan San-tian-bun?"

"Benar!"

Phang Pak-bun segera mengerutkan alis matanya.

"Berbicara dari ilmu silat yang kau miliki sekarang, jelas kepandaianmu masih bukan tandingan dari San-tian-mokun, sehingga kalau berbicara soal membalas dendam, aku pikir hal ini masih terlalu pagi untuk dibicarakan sekarang."

"Ong Bun kim!"

Seru Kelelawar malam pula.

"menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan, katanya kau mempunyai sebuah mestika yang diincar oleh setiap umat persilatan, aku rasa berita yang tersiar luas itu bukanlah suatu berita bohong ataukah suatu berita isapan jempol belaka..."

"Tapi aku benar-benar tidak berhasil menemukan sesuatu yang aneh di atas tubuhku!"

"Ong Bun kim!"

Kembali Kelelawar malam bertanya.

"konon sewaktu ayahmu lenyap dari dunia persilatan tempo hari, masih ada seorang Giok bin hiap yang ikut pula lenyap dari keramaian dunia, apakah kau mengetahui tentang persoalan ini?"

"Yaa, aku tahu!"

"Kemudian ayabhmu telah muncudlkan diri kembaali seorang dirib, sementara sampai kini Giok bin hiap tak pernah tampak batang hidungnya lagi, aku pikir dibalik persoalan ini pasti ada sebab-sebab tertentu, hanya saja untuk sementara waktu hal mana masih sulit untuk diduga."

Setelah berhenti sebentar, ia berkata lebih jauh.

"Coba kau pikirkan kembali, apakah di atas tubuhmu masih terdapat tempat atau bagian lain yang aneh?"

Ong Bun kim gelengkan kepalanya berulang kali.

"Aku tak dapat menemukannya!"

Ia berseru. Si Kelelawar malam segera mengernyitkan sepasang alis matanya, sesudah berpikir sebentar japun berkata lagi;

"Mungkinkah tempat penyimpanan benda itu telah ditulis di salah satu bagian dari tubuhmu?"

Mendengar ucapan tersebut, Ong Bun kim segera merasakan hatinya bergetar keras.

"Ditulis di atas tubuhku?"

"Benar, kecuali demikian rasanya tiada cara lain yang bisa diterima dengan akal segar, coba kau lepaskan seluruh pakaianmu, akan kami periksa apa benar ada tulisan di atas tubuhmu."

"Aaaab hal ini mana mungkin bisa terjadi?"

"Lebih baik kita percaya ada dari pada mengatakan tak ada, di sini toh tak ada perempuan, apa salahnya untuk bertelanjang bulat di hadapan kami bertiga?"

Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Ong Bun kim harus melepaskan semua pakaian yang dikenakan olehnya.

Akan tetapi walaupun Mo kui seng kiam, Kelelawar malam dan tamu pembawa lampu sudah melakukan pemeriksaan yang teliti di atas tubuh Ong Bun kim yang bugil, hasilnya tetap nihil, mereka tidak berhasil menemukan sebuah tulisan-pun.

"Yaa, betul-betul tak ada tulisannya!"

Keluh si Kelelawar malam kemudian. Sementara itu Ong Bun kim telah mengenakan kembali pakaiannya, sambil merentangkan tangan nya ia berseru.

"Sekarang, kalian sudah percaya, bukan?"

Baru habis Ong Bun kim berbicara, tiba tiba terdengar suara tertawa dingin berkumandang memecahkan keheningan, lalu muncullah dua sosok bayangan seperti manusia tanpa sukma pada jarak tiga kaki di hadapannya.

"Apa? Manusia tanpa sukma?"

Bisik Ong Bun kim pula dengan air muka berubah. Dalam pada itu, salah seorang di antara Yu leng jin itu telah menegur dengan suara dingin.

"Siapakah diantara kalian semua yang bernama Ong Bun kim?"

"Kalau aku, mau apa kau?"

Sahut Ong Bun kim dengan paras muka berubah.

"Oooh...! Rupanya kau, tolong tanya kenalkah kau dengan seseorang yang bernama Dewi mawar merah?"

"Kenapa dia?"

Tanya pemuda itu dengan perasaan tercekat.

"Ia telah menjadi tawanan dari perguruan kami..."

Paras muka Ong Bun kim kembalib berubah, bentadknya.

"Sungguhkaah perkataanmu bitu?"

"Betul, kedatanganku ke mari adalah karena mendapat perintah dari Bun cu untuk mengundang kehadiran saudara dalam perguruan kami!"

"Kalau aku enggan pergi?"

"Aku pikir tiada alasan bagimu untuk tidak ke situ, sebab Dewi mawar merah toh masih berada dalam cengkeraman kami!"

"Oooh ..jadi kalian hendak menggunakannya sebagai sandera untuk memaksaku?"

"Yaa, boleh saya kau anggap demikian!"

"Perguruan kalian terletak di mana?"

"Asal ikut kami, kau toh akan mengetahui dengan sendirinya!"

"Sayang sepanjang hidup aku Ong Bun kim enggan dipaksa apalagi disuruh menuruti perintah orang, setelah kalian berdua datang ke mari rasanya akupun tak dapat membiarkan kalian pergi lagi dengan selamat!"

Di tengah bentakan nyaring, secepat kilat tubuhnya meluncur ke muka dan menerjang ke dua orang tersebut.

"Bekuk dua orang itu hidup-hidup!"

Bisik Kelelawar malam dengan suara lirih.

Berbareng dengan bentakan tersebut, bayangan manusia berbaju hitam berkelebat lewat, tahu-tahu Kelelawar malam telah menerjang ke muka lebih duluan.

Ong Bun kim tak ambil diam, sambil memutar senjata harpa besinya diapun membuka serangan terhadap seorang Manusia tanpa sukma.

Dalam pada itu, Mo kui seng kiam (pedang malaikat setan iblis) Phang Pakbun telah meloloskan pedangnya dan menerjang pula ke tengah arena dengan kecepatan luar biasa, menyusul kemudian Thi teng khek (Tamu pembawa lampu) ikut pula menerjang ke arena.

Tiga orang jago lihay ditambah Ong Bun kim segera membuka serangan dengan ancaman-ancaman yang mengerikan, sungguh tak terlukiskan kedahsyatan dari serangan tersebut.

Satu jeritan ngeri memekikkan telinga ber-kumandang memecahkan kebeningan, salah seorang manusia tanpa sukma itu roboh terkapar dengan bermandikan darah, jiwanya langsung melayang tinggalkan raganya.

Dengusan tertahan kembali berkumandang, Manusia tanpa sukma kedua ikut pula roboh terkapar ke tanah.

Deugan suatu gerakan cepat Phang Pak bun mencengkeram tubuh Manusia tanpa sukma tersebut, kemudian bentaknya.

"Hayo bicara, di mana letak markas besar perguruan Yu leng bun?"

"Mau apa kau tanyakan persoalan itu?"

"Jawab saja, di mana markas besar dari per-guruan Yu leng bun?"

"Di bukit Thian san!"

Mendengar jawaban tersebut,, Ong Bun kim merasakan hatinya bergetar keras, serunya tanpa sadar.

"Apa? Berada dir bukit Thian satn?"

"Betul!"

"qSiapakah Bun cur (ketua perguruan) kalian?"

"Yu leng lojin (kakek tanpa sukma)!"

"Di bagian mana dari bukit Thian san?"

Bentak Phang Pak bun kembali.

"Maaf, aku tak dapat memberitahukan hal ini kepadamu!"

"Huuh, kau enggan berbicara?"

Phang Pak bun tertawa dingin tiada hentinya.

"memang kau sudah kepingin mencicipi bagaimana rasanya kalau disiksa?"

Seraya berkata, tangan kanannya bergerak cepat melepaskan sebuah totokan ke tubuh orang itu.

Ketika termakan totokan dari Phang Pak bun tersebut, darah kental segera memancar ke luar dengan derasnya dari mulut Manusia tanpa sukma tersebut, lalu diiringi jeritan yang memilukan hati, ia putus nyawa dan tewas dalam keadaan mengenaskan.

Rupanya "Yu leng jin"

Tersebut telah menggigit lidah sendiri untuk membunuh diri. Peristiwa ini sangat menegunkan Phang Pak bun, ujarnya kemudian setelah termangu-mangu sesaat.

"Aaah, tak kusangka kalau terhitung seorang laki-laki jantan yang bernyali!"

Sambil berkata, ia lepaskan tubuh lawannya sehingga roboh terkapar di atas tanah.

"Waab, jika perguruan Yu leng bun terletak di atas bukit Thian san, kemungkinan besar hai ini ada hubungannya dengan mata uang kematian,"

Seru Ong Bun kim tanpa terasa.

"Apa yang ditulis di atas mata uang kematian tersebut?"

"Thian san Bwe nia Hong shia, bila dilihat dari tertangkapnya Dewi Mawar merah di tempat tersebut, itu berarti besar dugaan jika tebakanku benar, aku musti cepatcepat menyusul ke situ."

"Mari kutemanimu!"

Seru Phang Pak bun cepat. Kemudian sambil berpaling ke arah Tamu pembawa lampu dan Kelelawar malam, ujarnya kembali.

"Bagaimana dengan kalian berdua?"

"Silahkan kalian berangkat!"

Maka Ong Bun-kim dan Phang Pak bun berpamitan dengan tamu pembawa lampu serta kelelawar malam untuk melakukan perjalanan, dalam waktu singkat mereka telah berada puluhan kaki jauhnya dari tempat semula.

"Adik Ong ... !."

Mendadak terdengar seseorang berseru nyaring.

Mendengar panggilan itu, Ong Bun kim menghentikan larinya sambil berpaling, tampaklah Bunga iblis dari neraka sedang berjalan menghampirinya.

Paras muka Ong Bun-kim berubah hebat, tiba-tiba ia teringat dengan apa yang telah diucapkan Hiat hay longcu kepadanya ...

tanpa terasa api kemarahan berkobar dalam hatinya.

Paras muka Bunga iblis dari neraka kelihatan sangat masgul dan murung, siapapun dapat melihat bahwa perasaannya sedang dicekam oleh rasa sedih dan kesal yang amat sangat.

"Ada urusan apa kau mencariku,"

Tegur Gng Bun kim kemudian dengan ketusnya.

"Adik Ong . ."

"Tutup mulut! aku bukan adik Ong mu."

"Kau ..."

"Aku membencimu Bunga iblis dari neraka! Aku membencimu setengah mati karena kau telah membohongiku ..."

"Aku membohongimu? Aku telah berbohong apa kepadamu?"

"Kau adalah seorang perempuan lacur yang bisa dijamah dan dinikmati oleh setiap pria..."

"Apa? Kau ..."

Saking gusarnya sekujur tubuh Bunga iblis dari neraka menggigil keras, untuk sesaat lamanya ia tak sanggup mengucapkan sepatah kata-pun.

"Hiat hay longcu yang mengatakan kesemuanya itu kepadaku"

Kata Ong Bun kim lagi dengan ketus.

"sekarang katakanlah, apakah kau adalah seorang perempuan baik baik?"

Air mata bercucuran dengan derasnya membasahi wajah Bunga iblis dari neraka yang sayu dan mengenaskan itu, katanya.

"Ong Bun kim, suatu ketika kau akan tahu aku ini seorang perempuan baik atau bukan, sekarang aku tak ingin banyak berdebat denganmu, aku datang hanya ingin memberitahukan satu hal kepadamu!"

"Apa yang hendak kau katakan? Cepat katakan!"

Bunga iblis dari neraka tak ingin mem-beritahukan soal ternodanya dia karena ingin menolong pemuda tersebut, ia merasa penderitaan tersebut lebih baik ditanggung sendiri dari pada rahasia itu diceritakan, toh belum tentu Ong Bun kim akan mempercayainya.

Maka sambil mengendalikan rasa sedih yang mencekam perasaannya, perempuan itu berkata lagi.

"Tentang harta mestika yang tersiar dalam dunia persilatan, benda tersebut betul-betul berada di atas tubuhmu ..."

"Darimana kau bisa tahu!"

"Masih ada satu tempat yang belum kau cari!"

"Jangan kuatir!"

Jengek Ong Bun kim sambil tertawa dingin.

"setiap bagian tubuhku telah kami cari dengan seksama."

"Aku bilang masih ada satu bagian tempat yang belum kau periksa!"

Seru bunga iblis dari neraka lagi dengan tegas.

"Di mana "tanya Phang Pak-bun tak tahan.

"Di atas telapak kakinya!"

Jawaban dari Bunga iblis dari neraka ini segera menggetarkan perasaan Oig Bun-kim serta Phang Pak bun, untuk sesaat lamanya mereka hanya bisa memandangi perempuan tersebut dengan termangu-mangu.

"Sebentar kau bboleh memeriksad sendiri telapaak kakimu, coba blihatlah benarkah ucapanku itu, nah! Kita berpisah dulu sampai di sini"

Bisik Bunga iblis dari neraka dengan sedih. Selesai berkata ia putar badan dan barlalu dari situ dengan wajah lebih murung dan sedih. Diam-diam ia memberitahu kepada diri sendiri.

"Ong Bun-kim, selamat berpisah ... kita tak akan berjumpa lagi untuk selama-lamanya...."

Dengan membawa hati yang hancur tercabik-cabik, dan rasa sedih yang luar biasa, ia berlalu dari situ dan lenyap di balik kegelapan sana.

Ong Bun kim hanya memandang bayangan punggungnya dengan wajah penuh kesedihan, dalam hati ia merasa hatinya bagaikan dicabik-cabik dengan pisau tajam, rasanya sakit sekali.

"Ooh Thian ... !"

Demikian ia berpekik di hati.

"kenapa aku bisa jatuh cinta kepadanya?"

Tiba tiba Pang Pak bun membentak keras;

"Ong Bun kim, lopaskan sepatumu! Akan kuperiksa telapak kakimu itu ..."

Ong Bun kim tersentak bangun dari lamunannya, ia memandang ke arah Phang Pak bun, kemudian bertanya.

"Kau beranggapan bahwa tulisan tersebut bisa ditulis pada telapak kakiku."

"Yaa, siapa tahu memang begitu?"

Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Ong Bun Kim duduk dan melepaskan sepatunya, kemudian ia sodorkan telapak kakinya itu ke hadapan Pang Pak bun sambil berkata.

"Lihatlah sendiri!"

Mo kui sen kiam memandang ke arah telapak kaki pemuda itu dengan seksama, mendadak ia berseru tertahan, wajahnya segera menunjukkan rasa kaget, dan terkesiap yang bukan kepalang ...

Ong Bun kim merasa terkesiap, paras mukanya segera berubah hebat.

Waktu itu, sorot mata Phang Pak bun tanpa berkedip sedikitpun sedang memperhatikan telapak kaki Ong Bun kim dengan terkesima, ia macam orang yang kehilangan ingatan.

"Locianpwe, kenapa kau? "seru Ong Bun kim dengan perasaan terkesiap. Pelan pelan Pbang Pak bun menenangkan pergolakan dalam hatinya, kemudian sambil menatap wajah anak muda itu, bisiknya.

"Di atas telapak kakimu benar-benar ada tulisan!"

"Hitlah ....? !"

Seperti kena digodam dengan martil berat, Ong Bun kim merasakan hatinya terkesiap, ia benar benar kaget dan bingung oleh kenyataan tersebut.

Benarkah di atas telapak kakinya betul-betul ada tulisan seperti yang barusan dikatakan?

Tapi kalau ditinjau dari perubahan wajah Phang Pak bun, jelas dapat diketahui bahwa apa-apa yang diucapkan memang betul, kalau tidak kenapa ia menunjukkan rasa kaget yang luar biasa?

"Apa bunyi tulisan yang tercantum di situ?"

Tanya Ong Bun kim kemudian dengan suara gemetar.

"Pada kaki sebelah kanan tercantum tulisan "Bu cing tong" (gua tak berperasaan, sedangkan di kaki sebelah kiri tertulis.

"Masuk gua berbelok ke kanan ... !"

Dengan perasaan sangsi dan setengah percaya setengah tidak, Ong Bun kim memeriksa telapak kaki sendiri, ternyata tulisanb yang tercantumd di situ memanga persis sepertib apa yang diucapkan Phang Pak Bun barusan.

Untuk sesaat lamanya ia menjadi tertegun dan mengawasi wajah Phang Pak bun dengan termangu-mangu.

"Tulisan di atas telapak kakimu itu tampaknya sudah mulai diukir ketika kau masih kecil dulu"

Kata Pang Pak bun kemudian.

"tampaknya ayahmu menaruh maksud yang sangat mendalam dengan tulisan tersebut, siapa tahu kalau disitulah letak harta mestika tersebut diisimpan."

Ong Bun kim merasa perkataan itu ada benarnya juga, Kemungkinan besar gua Bu cing-tong adalah tempat harta mestika itu disimpan, kalau tidak, tak mungkin ayahnya menuliskan kata kata tersebut pada telapak kakinya.

Berpikir demikian, tanpa terasa iapun bertanya.

"Di manakah letak gua Bu cing tong itu?"

Phang Pak bun yang ditanya menjadi tertegun, kemudian gelengkan kepalanya berulang kali.

"Entahlah, aku sendiripun. tak tahu!"

"Kau tidak tahu?"

"Yaa, sulit juga buat kita untuk mengetahui di mana letak gua Bu cing tong tersebut, sebab ayahmu sama sekali tidak mencantumkan nama bukit itu di sana, waah ! Kalau begini ceritanya, sulit juga buat kita untuk menemukan tempat itu."

"Sesungguhnya ada berapa banyakkah gua Bu cing tong di dunia ini?"

"Kebanyakan orang persilatan selalu menyebut nama tempat atau nama bukit dengan sekehendak hati sendiri, lalu diberi tulisan sebagai tanda pengenal, sesungguhnya di manakah letak gua Bu-cing-tong itu, sulit juga buat kita untuk menduganya."

"Kalau begitu bukankah tulisan ini percuma saja dicantumkan di atas telapak kakiku?"

Phang Pak-bun kembali gelengkan kepalanya berulang kali.

"Bukan begitu maksudnya, bila ditinjau dari perbuatan ayahmu yang mencatat tempat penyimpanan harta mestika itu di atas telapak kakimu, itu berarti beliau beranggapan bahwa suatu ketika kau akan mengetahui dengan sendirinya letak tempat itu. Nah, sekarang lebih baik kita berpisah untuk melakukan pekerjaan masing-masing!"

"Mengerjakan apa?"

"Kau hendak ke mana? Bukit Thian-san?"

Tanya Phang Pak-bun setelah termenung sebentar.

"Benar!"

"Kalau begitu, kau pergilah seorang diri, sedang aku! Hendak kucari beberapa orang cianpwe sekalian menyelidiki di manakah letak gua Bu-cing-tong tersebut, bagaimana menurut pendapatmu?"

"Bagus, bagus sekali".

"Kalau begitu, kita berjalan demikian saja!"

Ong Bun-kim manggut-manggut, diapun mengenakan kembali sepatunya. Phang Pak-bun kembali berkata kepada si anak muda itu.

"Ong Bun-kim, kralau dilihat tutlisan "Thian-saqn Bwenia Hong-rshia"

Tersebut dicantumkan pada mata uang kematian, kemungkinan besar hal itu ada hubungannya dengan Si-ong mo-ci (iblis cantik pembawa maut), kau musti berhati-hati di dalam menghadapi persoalan tersebut!"

"Boanpwe mengerti!"

"Kalau begitu, kita berpisah sampai di sini saja, baikbaiklah menjaga dirimu."

"Kaupun musti baik-baik menjaga diri!"

Mereka berduapun saling berpisah untuk melanjutkan perjalanannya masing-masing.

00OdwO00 Bukit Thian-san Bunga salju turun dengan derasnya menyelimuti permukaan tanah, udara terasa amat dingin, tanah perbukitan dengan puncaknya yang menyeramkan semuanya terlapis salju yang tebal.

Ong Bun-kim harus membuang waktu yang sangat banyak, sebelum berhasil menemukan bukit Bwe-nia.

Yang dinamakan bukit Bwe-nia adalah suatu hutan bunga sakura yang muncul di antara tanah perbukitan yang dilapisi salju, bunga-bunga sakura itu sedang mekar dengan indahnya, membuat pemandangan alam di sekeliling tempat itu tampak menarik hati.

Dengan kecepatan yang luar biasa Ong Bun-kim lari masuk ke dalam hutan bunga sakura, tapi ia tidak menjumpai benteng Hong-shia seperti yang tercantum dalam mata uang kematian.

Untuk sesaat lamanya pemuda itu menjadi tertegun dan berdiri termangu-mangu sambil mengawasi sekeliling tempat itu, tapi kecuali tebing yang curam, puncak yang tinggi serta bunga salju yang melayang-layang di udara, tiada sesuatu apapun yang terlihat.

Sesudah termenung sebentar, sekali lagi dia menjejak kakinya ke atas tanah dan berkelebat menuju ke atas tebing.

Dalam waktu singkat, ia telah berada di puncak yang tertinggi dari bukit Bwe-nia, dengan sorot mata yang tajam ia celingukan ke sana ke mari, mendadak dari antara tebing bukit di sebelah depan sana terlihat sebuah bangunan berloteng yang amat indah.

Di antara bunga bunga salju yang melayang di udara, membuat orang hampir sukar untuk melihat dengan jelas apakah bangunan loteng itu betul-betul sebuah bangunan ataukah hanya khayalan atau fatamorgana saja.

Ong Bun-kim merasa amat girang, dengan sekali lompatan ia berkelebat menuju ke arah bangunan loteng di ternpat kejauhan itu.

Setelah menembusi hutan bunga bwe, sampailah ia di depan sebuah jeram yang lebar sekali, kira-kira luasnya mencapai puluhan kaki lebih, air jeram mengalir dengan derasnya.

Ong Bun-kim segera melompat turun ke bawah jeram tersebut, tapi pada saat itulah mendadak terdengar suara tertawa dingin berkumandang memecahkan keheningan.

"Datang untuk memenuhi janji?"

Tegur seseorang.

"Memangnya bukan? Toh pihak kalian telah mengutus dua orang anggota untuk mengundang kedatanganku?"

Mendadak si anak muda itu teringat bahwa dua orang Yu-leng-jin tersebut telah dibunuh, maka buru buru serunya kembali.

"Kenapa kau musti bertanya tanya lagi, tentu saja aku datang untuk memenuhi janji."

"Kalau memang begitu, kenapa tidak tampak kedua orang anggota perguruan kami?"

Ong Bun-kim termenung dan berpikir sejenak, kemudian katanya sambil tersenyum.

"Soal ini cayhe tidak bisa menjawab, sebab aku sendiripun tak begitu tahu."

"Jangan-jangan mereka sudah tewas ditangan mu ?"

Dengus orang itu tiba tiba dengan suara seram. O000dw000O BAB 41

"AAAH ! Aku rasa tak sampai demikian, sebab mereka telah pulang lebih dulu dari pada ku. Apakah Dewi mawar merah berada di sini?"

"Benar"

"Karena persoalan apa, Bun-cu kalian mengundangku kemari?"

Manusia tanpa sukma tertawa dingin tiada hentinya.

"Heeehhh ... heeehhh ... heeehljh ... Menurut pengakuan Dewi mawar merah, kau mempunyai hubungan batin yang sangat akrab dengannya, oleh sebab itu sengaja Bun-cu kami mengundang kedatanganmu kemari!"

"Kalau begitu, bawalah aku menemuinya!"

Diam-diam tercekat juga perasaan OngBun-kim sesudah berlangsungnya pembicaraan tersebut, mencoba untuk mendongakkan kepalanya dan menengok sekeliling tempat itu, tapi kecuali suara air dalam jeram, tidak terdengar suara yang lain lagi, tentu saja lebih-lebih tak kelihatan bayangan manusianya.

Menghadapi kesemuanya itu, si anak muda itu merasa bergidik, diam-diam ia menghimpun hawa murninya dan melambung ke udara untuk mendaki ke atas tebing bukit tersebut.

Sesudah bersusah payah, sampailah dia di atas tebing, dari mana ditemukan sebuah jalanan bukit yang langsung menghubungkan tempat tersebut dengan bangunan berloteng yang amat megah itu.

Dengan sangat berhati-hati Ong Bun kim bergerak menyelusuri jalanan bukit itu dan meluncur ke depan sana.

Kurang-lebih lima kaki kemudian mendadak Suara tertawa dingin yang terdengar tadi kembali berkumandang memecahkan keheningan, suaranya dingin menyeramkan membuat siapapua bergidik rasanya.

Ong Bun-kim segera berhenti, lalu bentaknya.

"Siapa di sana?"

Mengikuti suara bentakan itu,, tampak bayangan manusia berkelebat lewat, tahu -tahu muncul empat sosok bayangan manusia berwarna abu-abu yang bagaikan sukma gentayangan melayang turun tepat di hadapan mukanya.

"Yu-leng-jin !"

Hampir saja ke tiga patah kata tersebut meluncur ke luar dari mulut Ong Bun-kim.

"Engkaukah yang bernama Ong Bun-kim?"

Terdengar salah seorang"

Di antara empat manusia tanpa sukma menegur dengan nadba dingin.

"Betudl!"

"Apakah kaua datang memenuhbi janji?"

"Benar!"

"Beranikah kau untuk mengikuti aku masuk ke dalam gedung........?"

Kembali manusia tanpa sukma menegur. Ong Bun-kim segera tertawa dingin.

"Heehhh heehhh. heeehh. jangankan cuma sebuah perguruan tanpa sukma, sekalipun bukit golok atau hutan pedangpun aku Ong Bun-kim tak akan mengernyitkan alis mata!"

"Kalau begitu mari ikutlah aku!"

"Silahkan!"

Manusia tanpa sukma itupun memutar badan dan bergerak maju ke depan sana, sungguh cepat gerakan tubuhnya ibarat kilat yang menyambar.

Sambil menggertak gigi Ong Bun-kim menghimpun tenaga dalamnya dan menyusul dari belakang.

Si anak muda itu adalah seorang pemuda yang cerdik, mana ia tak tahu kalau Yu leng jin sedang menyandera Dewi mawar merah dan memaksanya untuk menerima syarat yang mereka ajukan, mungkin juga pihak musuh hendak memaksanya untuk masuk menjadi anggota Perguruan Yu leng bun, maka meskipun belum tahu tujuan musuh, ia sadar bahwa perjalanannya menyatroni perguruan Yu leng bun kali ini lebih banyak bahayanya dari pada keberuntungan....

Tapi, bagaimanapun juga dia harus memasuki perguruan tersebut....

sekalipun kepergiannya mungkin akan mengakibatkan kematian, tapi bagaimapun jua dia harus memasukinya juga.

Setelah berjalan sejauh beberapa puluh kaki, sampailah mereka di depan sebuah tebing batu karang yang sangat tinggi, di antara tebing karang tersebut terdapat sebuah gua yang sangat besar..Empat orang Yu leng jin tersebut segera menyebarkan diri ke dua belah sisi dan berdiri angker di situ.

Ong Bun kim memperhatikan sekejap keadaan di sekeliling tempat itu, ia jumpai bangunan loteng itu letaknya berada di ujung gua tersebut, jaraknya lebih kurang duapuluh sampai tigapuluh kaki dari tempat di mana ia berada sekarang.

"Silahkan masuk!"

Kata Manusia tanpa sukma tersebut.

Setelah memandang sekejap ke arah bangunan bertingkat itu, Ong Bun kim kembali mengalihkan sorot matanya ke wajah Yu leng jin, tapi manusia manusia tanpa sukma itu sudah memutar badannya dan berlalu dari situ ...

Sampai detik ini Ong Bun kim masih belum tahu apakah bangunan berloteng itu adalah perguruan Yu leng bun atau tidak, cuma sekarang ia telah bertekad untuk memasuki sarang harimau, ia harus menyelidiki perguruan itu dan mencari tahu apa tujuan mereka mengundangnya ke mari.

Apalagi Dewi mawar merah telah tertangkap, bagaimanapun jua ia harus berusaha dangan sekuat tenaga untuk menolongnya.

Maka mengikuti di belakang Manbusia tanpa sukmda ia bergerak maenuju ke depan bsana.

Dengan suatu gerakan cepat, manusia tanpa sukma bergerak maju ke depan, ketika tiba tiga empatpuluh kaki dari bangunan berloteng itu.

mendadak ia berbelok ke sebelah kiri.

Ong Bun kim tertegun, tanpa terasa ia menghentikan langkahnya dan celingukan ke sana ke mari.

Rupanya Manusia tanpa sukma merasakan juga gerak geriknya itu, ia segera ikut berhenti sambil menegur.

"Kenapa kau berhenti?"

"Sebenarnya di manakah letak perguruan kalian?"

"Ikut saja diriku, toh akhirnya kau akan tahu dengan sendirinya."

Ong Bun kim mengerutkan dahinya dan termenung, untuk sesaat lamanya ia cuma membungkam diri.

Akhirnya sampailah mereka di depan sebuah gua, ketika melihat kemunculan manusia tanpa sukma tersebut, empat orang manusia tanpa sukma yang bertugas di depan gua tersebut segera memberi hormat dengan sikap yang munduk-munduk, kemudian katanya.

"Menyambut kedatangan Congkoan pulang ke perguruan!"

"Tak usah banyak adat!"

Dengus manusia tanpa sukma itu dengan suara dingin.

"Terima kasih Congkoan!"

Ong Bun kim mencoba untuk rnenengok keadaan dalam gua tersebut, yang tampak hanya kegelapan yang mencekam sekeliling tempat tersebut, apapun tidak terlihat.

Sementara ia masih celingukan, manusia tanpa sukma yang dipanggil dengan sebutan "Congkoan"

Itu telah berkata lagi kepada Ong Bun kim.

"Saudara, mari ikuti aku!"

"Silahkan!"

Congkoan tersebut membawa Ong Bun kim masuk ke dalam gua, sedang lainnya tetap tinggal di mulut gua tersebut.

Setelah berjalan sejauh tiga kaki lebih dalam gua itu, sampailah Ong Bun kim berdua disuatu persimpangan jalan yang amat rumit sekali, persimpangan itu bercabang-cabang banyak, entah ke mana saja jalanan itu tertembus.

Berkatalah Congkoan itu kepada Ong Bun kim.

"Baik-baiklah ikuti diriku, jangan sampai salah jalan!"

"Tak usah kuatir, silahkan!"

Tampaknya jalanan dalam gua itu diatur dengan sistim suatu barisan yang sangat lihay, sedemikian banyak likuliku dan tikungan yang berada dalam gua itu sehingga sudah sekian lama mereka berjalan, namun tak terdengar sedikit suara pun.

Tanpa terasa Ong Bun kim menghela napas panjang, katanya.

"Sungguh tak kusangka begini megah bangunan di dalam gua karang ini, sungguh membuat orang merasa kagum!"

"Hm.....! Apanya yang perlu di kagumi?"

Jengek sang Congkoan dingin.

Merekapun melanrjutkan perjalantan kembali meneqmbusi gua terserbut, setelah berjalan sekian lama akhirnya sampailah dalam sebuah ruang batu yang sangat lebar, ruangan itu merupakan sebuah istana yang besar dengan tiang-tiang penuh ukiran yang indah.

Hampir saja Ong Bun kim tidak percaya dengan apa yaog dilihatnya sekarang, coba kalau tidak disaksikan dengan mata kepala sendiri, ia tak menyangka kalau dalam gua karang tersebut bisa terdapat sebuah bangunan istana yang demikian megahnya.

Butiran mutiara dan permata yang memancarkan sinar berkilauan menghiasi tiap-tiang penyangga yang besar, jumlahnya sampai puluhan biji, pancaran sinar yarg berkilauan tersebut segera menyinari seluruh ruangan dan membuatnya menjadi terang benderang bagaikan disiang hari saja.

Menyaksikan kesemuanya itu, Ong Bun-kim menjadi tertegun dan berdiri terbelalak dengan mulut melongo...

"Silahkan mengikuti aku!"

Kata Congkoan kembali dengan nada dingin.

Ong Bun kim tertawa ewa, mengikuti di belakang sang Congkoan mereka masuk ke dalam ruang istana, beberapa saat kemudian tibalah mereka di sebuah ruangan lain yang lebih megah, puluhan orang manusia tanpa sukma berdiri berjejer dikedua belah sisi ruangan.

Semua manusia tanpa sukma itu mengenakan kain cadar berwarna abu-abu, sehingga sulit buat orang lain untuk melihat paras muka mereka.

Setelah sampai di ujung ruangan, Ong Bun kin pun tiba di depan sebuah istana, di belakang meja batu yang panjang kosong tiada seorang manusiapun, agak berubah wajah Ong Bun kim menghadapi kejadian tersebut.

"Sobat, apa maksudmu dengan kesemuanya itu?"

Tegurnya ketus. Sang Congkoan agak tertegun menghadapi teguran tersebut, ia menjadi melongo dan tidak habis mengerti.

"Kalau memang kalian bermaksud mengundang kedatanganku kemari, kenapa tidak tampak tuan rumah, yang menjumpai diriku?"

Sang congkoan tertawa dingin.

"Sebentar lagi majikan kami pasti akan munculkan diri!"

Sahutnya.

"Apakah aku harus menunggunya ....?"

Seru Oog Bun kim sambil tertawa dingin. Belum habis pemuda itu berbicara, mendadak terdengar suara bentakan nyaring berkumandang memecahkan keheningan.

"Hu buncu tiba?"

Mengikuti bentakan nyaring tersebut puluhan orangorang Yu -leng jin yang berada di depan istana serentak menjatuhkan diri berlutut ke atas tanah sambil berseru nyaring.

"Menyambut dengan hormat kedatangan Hu buncu !"

Untuk sesaat lamanya Ong Buri-kjm merasa tercekam oleh suasana yang dihadapinya itu, suasana dalam ruanganpun seketika berubah menjadi hening, sepi dan tak terdengar sedikit suarapun. -oo0dw0oo--

Jilid 14 SUARA langkah manusia menggema memenuhi seluruh ruangan, ketika Ong Bun kim mendongakkan kepalanya, tampaklah seorang kakek berbaju abu-abu dibawah iringan empat orang Manusia tanpa sukma berjalan masuk ke dalam ruangan istana tersebut.

Dengan sorot mata tajam wakil ketua perguruan itu menyapu sekejap sekeliling tempat itu, kemudian serunya dengan dingin.

"Bangun semua!"

"Terima kasio Hu-buncu!"

Dengan penuh rasa hormat sekali manusia tanpa sukma bangun berdiri dan mundur ke samping".

Hawa amarah mulai menyelimuti seluruh wajah Ong-Bun-kim.

Ketika sorot mata Hu-buncu itu dialihkan ke atas wajah pemuda tersebut, tiba-tiba ia tertawa sambil berkata.

"Kaukah yang bernama Ong Bun-kim?"

"Aku rasa tak akan salah lagi!"

Sahut pemuda itu sambil tertawa dingin tiada hentinya. Hu-buncu pun tertawa dingin, kembali katanya.

"Dengan usia semuda itu ternyata sanggup menggetarkan seluruh dunia persilatan, kau memang tak malu disebut seorang jagoan angkatan muda dari dunia persilatan!"

"Terlalu memuji, tolong tanya apakah Bun-cu kalian malu untuk berjumpa dengan orang?"

Paras muka wakil ketua itu berubah hebat.

"Saudara apa maksudmu mengucapkan kata kata semacam itu?"

Tegurnya dengan nada tak senang.

"Tidak bermaksud apa apa, aku hanya heran, kalau bukan lantaran malu berjumpa dengan orang, kenapa ia tidak munculkan diri untuk menjumpai diriku?"

Kontan saja Hu buncu dari Yu leng-bun itu tertawa dingin tiada hentinya.

"Heeehh heeehh ....heeehh dengan kedudukanmu dalam persilatan, masih belum pantas untuk berjumpa muka dengan Bun-cu kami!"

Paras muka Ong Bun-kim berubah hebat setelah mendengar perkataan itu, sambil tertawa dingin jengeknya.

"Lantas siapakah yang pantas untuk menjumpainya?"

"Sulit sekali untuk dibicarakan!"

Ong Bun-kim tertawa sinis, katanya kemudian.

"Kalau begitu ada persoalan apa kalian mengundangku kemari? Kenapa tidak diutarakan saja secara terus terang?"

Hu buncu dari perguruan Yu leng bun itu tertawa terbahak bahak.

"Haaah haaahh haaahh.. ...saudara benar-benar seorang manusia berjiwa terbuka yang bermulut tajam."

Senyuman diujung bibirnya mendadak lenyap tak berbekas, kemudian ujarnya lagi.

"Adapun maksud kami mengundang kehadiranmu kemari, karena ada sedikit urusan penting yang hendak dirundingkan denganmu!"

"Persoalan apa yang hendak dirundingkan"

"Sudah lama Buncu perguruan kami mendengar akan nama besarmu, maka sengaja beliau mengundang kedatangan saudara kemari untuk..."

"Minta kepadaku untuk bergabung dengan perguruan kalian?"

"Bergabung sih tak berani, kami hanya mengharapkan suatu kerja sama, asal kau bersedia untuk kerja sama dengan kami, jika suatu ketika usaha kita berhasil maka hasilnya kita bagi secara adil" 0000OdwO0000 BAB 42 KEMBALI Ong Bun kim tertawa dingin.

"Heeehhh....heeehh....heeehhh.... sayang sekali aku tidak mempunyai ambisi sebesar ini!"

Agaknya pihak lawan sana sekali tidak dibuat gusar oleh jawaban dari Ong Bu kim tersebut, sambil tertawa ewa kembali katanya.

"Penolakan anda sudah berada dalam dugaan Buncu kami, cuma apakah saudara ingat akan..." *"Dewi mawar merah masudmu?"

Tukas pemuda itu sambil mendengus.

"Betul!"

"Sekarang ia berada dimana?"

"Tentu saja berada dalam perguruan kami!"

"Sudah mati atau masih hidup?"

Orang itu tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh hsaahhh.. ..haaahhh kau terlalu memikirkan yang bukan-bukan, masa, ia bakal mati?"

"Aku ingin bertemu dengannya!"

"Boleh saja!"

Dengan suara dalam dan berat Hu Buncu berseru.

"Tongcu bagian penyampaian perintah, siap terima perintah!"

"Tecu siap menerima perintah!"

Dari depan istana berkelebat keluar seorang manusia tanpa sukma dan berdiri dengan penuh hormat didepan wakil ketuanya.

"Sampaikan perintah kepada Tongcu bagian penyiksaan agar menghadap kemari!"

"Baik!"

Selesai menyahut, ia putar badan dan berjalan menuju ke ruang batu lainnya.

Ong-Bun-kim yang mendengar ucapan tersebut merasakan hatinya bergetar keras, rasa ngeri dan seram melintas diatas wajahnya, siapakah Tongcu bagian siksa itu?

Apakah dia adalah Dewi mawar merah?

Tidak, tidak mungkin, hal ini tidak mungkin terjadi.

Tuan penolong dari Dewi mawar merah ketua perkumpulan Hui yan pang serta segenap aaggota perguruannya telan tewas ditangan orang-orang tanpa sukma, tak mungkin ia akan menggabungkan diri dengan perguruan Yu leng bun.

Lantas siapa pula Tongcu ruang bagian siksa?

Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benak Ong Bun kim, mendadak terdengar suara langkah manusia berkumandang memecahkan keheningan, ketika ia berpaling, anak muda tersebut segera menjerit tertahan, dadanya seperti dihantam dengan martil berat, sekujur tubuhnya kontan saja bergetar keras.

Terlihatlah si Dewi mawar merah diiringi dua orang Manusia tanpa sukma dan Tongcu bagian penyampaian perintah muncul dari balik sebuah ruangan batu dan berjalan menuju ke ruang tengah.

Peristiwa yang sama sekali diluar dugaan ini segera juga menggetarkan hati Ong Bun kim.

Dengan langkah yang lemah gemulai Dewi mawar merah berjalan ke hadapan wakil ketua dari perguruan Yu leng-bun itu, setelah memberi hormat katanya.

"Lapor Hu-buncu, ada persoalan apa kau mengundang kehadiranku?"

"Yap tongcu, Sahabatmu Ong tayhiap datang menjengukku?"

"Oya..."

Pelan-pelan Dewi mawar merah mengalihkan sorot matanya ke wajah Ong Bun-kim, lalu dengan paras muka berubah sapanya sambil tertawa.

"Ong Bun-kim kau masih kenal dengan aku Yap Soh cu?"

Tak terlukiskan rasa kaget dan gusar Ong Bun kim menyaksikan kejadian tesebut, dia berusaha keras menekan perasaan marahnya, lalu jawabnya agak ketus.

"Tentu saja aku masih kenalimu!"

"Baik-baikkah selama ini?"

"Terima kasih banyak atas perhatianmu!"

Dewi bunga mawar mulai tertawa cekikikkan, suara tertawanya membawa nada kalap yang menyeramkan.

Secara tiba-tiba Ong Bun-kim merasa bahwa perempuan itu se-olah-olah telah berubah menjadi seorang perempuan yang lain.

seorang perempuan keji yang mengerikan.

Senyuman dibibir Dewi mawar merah mendadak lenyap tak berbekas, kemudian serunya.

"Ong Bun kim, kau tidak menyangka bukan kalau aku telah menggabungkan diri dengan perguruan Yu leng bun?"

"Kau kau benar-benar telah bergabung dengan perguruan Yu leng bun ?"

"Benar !"

"Kau..."

Hampir meledak dada Ong Bun kim saking gusarnya, untuk sesaat ia tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

"Bukankah aku baik-baik saja?"

Kata Dewi mawar merah sambil tertawa lebar.

"Kau... kau..."

"Ehh kenapa kau menjadi marah? Ong Bun kim, kami sengaja mengundangmu kemari karena ada sedikit persoalan yang hendak dirundingkan denganmu..."

Ong Bun kim tertawa seram, suara tertawa yang keras itu segera memotong ucapan Dewi mawar merah yang belum habis, hardiknya dengan suara seperti geledek.

"Kau suruh akupun bergabung dangan perguruan Yuleng bun?"

"Betul!"

"Dewi mawar merah, rupanya aku telah salah menilai akan dirimu!"

"Tidak, kau sama sekali tidak salah menilaiku!"

"Kau sudih mslupakan dendam berdarah dari gurumu?"

Paras muka Dewi mawar merah berubah hebat.

"Tidak melupakan..."

"Lantas kau..."

"Aku telah bertemu dengan Yu-leng lojin, aku tahu bahwa Yu-ieng lojin adalah seorang yang baik sekali."

"Apa? Kau bilang apa?"

"Yu leng lojin adalah seorang manusia berbakat yang berilmu tinggi, ia berhati bajik dan penuh welas kasih, apa yang dipikirkan selama ini hanyalah bagaimana caranya menolong umat manusia didunia, dia adalah seorang yang baik sekali, aku mengaguminya, akupun menaruh hormat kepadanya, oleh karena itu aku bersedia masuk menjadi anggota perguruannya."

"Dewi mawar merah, kau..."

Saking marahnya Ong Bun kim sampai tak sanggup melanjutkan kata-katanya.

"Oleh karena itulah aku minta kepadamu untuk bergabung dengan perguruan Yu leng bun, mari kita bersama-sama merajai dunia persilatan,.,"

Ujar Dewi mawar merah lebih jauh.

"Kentut busuk !"

Bentak Ong Bun kim dengan gusarnya. Dewi mawar merah sama sekali tidak menjadi marah, ia masih tetap tertawa lebar.

"Ong Bun kim!"

Demikian katanya.

"Aku berbuat demikian adalah demi kebaikanmu..."

"Dewi mawar -merah!"

Bentak Ong Bun kim sangat gusar.

"apakah kau sudah lupa akan budi pemeliharaan dan didikan dari gurumu selama puluhan tahun ini? Kenapa kau rela menggabungkan diri dengan perguruan dari musuh besarmu sendiri ?"

"Padahal berbicara sesungguhnya, dia sendirilah yang pantas dibunuh bukan ketua perguruan Yu-leng bun..."

"Apa? Kau bilang apa?"

Sekujur badan Ong Bun kim gemetar keras ia sudah tak dapat mengendalikan lagi kobaran hawa amarah yang berkobar dalam dadanya.

"Padahal Hian ih li-hiap (pendekar wanita berbaju hitam) lah. pembunuh yang sesungguhnya."

Ujar Dewi mawar merah lagi dengan suara dingin.

"Apa? Kau perempuan rendah yang tak tahu malu..."

Ong Bun kim tak mengendalikan kobaran hawa amarahnya lagi, sambil membentak gusar ia menerjang ke arah Dawl mawar merah, telapak tangan kanannya diayun dan sebuah pukulan telah dilepaskan.

Serangan yang dilancarkan Ong Bun kim dalam keadaan gusar ini betul-betul cepat seperti sambaran kilat, kehebatannya tak boleh dianggap enteng.."Tahan!"

Bentak Dewi mawar merah dengan suara dingin.

Telapak tangan kanannya diayunb ke depan membedndung serangan adari Ong-bun-kibm, lalu tubuhnya melompat mundur tujuh delapan langkah dari tempat semula.

Hawa napsu membunuh yang amat tebal telah menyelimuti seluruh wajah Ong Bun-kim, kembali bentaknya.

"Dewi mawar merah, aku hendak mewakili gurumu untuk membunuh kau!"

Dewi mawar merah tertawa dingin.

"Ong Bun kim, apakah kau tidak bersedia mendengarkan nasehatku yang baik ini..."

"Kau perempuan sialan yang melupakan kebaikan orang, aku bersumpah hendak membunuhmu sampai mati!"

"Ong Bun-kim, kenapa kau menolak arak kehormatan dan memilih arak hukuman."

Saking marah dan mendongkolnya, sekujur tubuh Ong Bun kim bergetar keras, sambil membentak tubuhnya menerjang ke arah Dewi mawar merah dengan kecepatan luar biasa, suatu pukulan dahsyat yang mengerikan segera dilontarkan keluar.

Desingan angin tajam yang luar biasa dan mengandung hawa pembunuh dari Ong Bun-kim itu secepat kilat menggulung tubuh Dewi mawar merah, yang mana membuat gadis itu berubah muka.

Telapak tangan kenanya diputar untuk menangkis ancaman lawan, sementara tubuhnya berkelebat menyingkir ke samping.

Ong Bun-kim tak sudi melepaskan kesempatan tersebut dengan begitu saja...

tubuhnya berputar kencang, dua buah pukulan berantai dilepaskan, serang yangan lebih mendekati adu jiwa ini membuat Dewi mawar merah tak mampu lagi melepaskan serangannya.

Mendadak Dewi mawar merah membentak nyaring, tubuhnya berputar kencang, dalam keadaan terancam telapak tangan kanannya melancarkan sebuah bacokan, serangan tersebut kontan memaksa tubuh Ong Bun kim harus mundur sejauh tiga depa.

Mendadak bayangan manusia barkelebat lewat, menyusul kemudian seseorang membentak keras.

"Tahan!"

Mengikuti berkelebatnya bayangan manusia itu, tiba-tiba Ong Bun kim merasakan tibanya segulung angin pukulan bsrhawa dingin yang memaksanya mundur sejauh tujuh delapan langkah.

ketika ia mendongakkan kepalanya, tampaklah olehnya bahwa orang yang melancarkan sergapan itu ternyata bukan lain adalah Hu buncu, si wakil ketua dari perguruan Yu leng bun.

"Hei, mau apa kau?"

Bentak Ong Bun kim dengan gusar.

"Kau anggap tempat ini adalah btempat nenekmu dyang boleh dibiakin onar seenakbnya?"

Tegur wakil ketua itu dengan dingin. Ong Bun-kim menggertak giginya menahan diri, lalu bentaknya kembali dengan suara keras.

"Dewi mawar merah, kau betul-betul tak mau sadar dari pikiran setan mu?"

"Kau sendiri yang tak mau sadar dari pikiran setanmu!"

Ong Bun kim tertawa seram.

"Haahhh... haaahhh... haaahhh... bagus, bagus sekali, akan kupunahkan semua kalian siluman-siluman bangsat yang tak tahu diri."

Menyusul bentakan keras, Ong Bun-kim mencabut keluarkan harpa besinya dan langsung dihantamkan ketubuh wakil ketua dari perguruan Yu leng bun itu dengan suatu serangan dahsyat.

"Kau pingin mampus?"

Bentak Hu buncu marah.

Telapak tangan kanannya diputar dan ia lepaskan sebuah pukulan dahsyat pula kedepan.

Bayangan manusia saling berputar dengan cepatnya, dalam waktu singkat ke dua belah pihak telah saling menyerang tiga jurus.

Walaupun Ong Bun kim sedang beradu jiwa tapi tenaga dalamnya masih tetap bukan tandingannya dari kepandaian Hu buncu.

Secara beruntun, ia kena didesak mundur sejauh tujuh delapan langkah dari posisi semula.

"Ong Bun-kim!"

Bentak Hu buncu kemudian dengan suara keras.

"kenapa kau begitu tak tahu diri?"

"Kentut busuk, sambutlah sebuah pukulan-ku lagi"

Ditengah bentakan keras, harap besinya secara beruntun melancarkan kembali ke tiga buah serangan berantai. Hu buncu tertawa dingin, katanya kemudian.

"Kalau memang demikian, kau jangan salahkan aku lagi bila akan bertindak kejam!"

Secepat kilat ia menubruk ke muka, tubuhnya berputar kesana kemari, dan secara beruntun dia pun melancarkan tiga buah pukulan kilat.

Hawa pukulan yang kuat dan berhawa dingin membuat Ong Bun kim tak kuasa menahan diri, mimpipun pemuda itu tak mengira kalau ilmu silat yang dimiliki wakil ketua dari perguruan Yu leng-bun tersebut ternyata sedemikian lihaynya.

Tak sampai tiga gebrakan lagi, sudah pasti dia akan terluka oleh pukulan dahsyat yang berhawa dingin itu.

Mendadak.

suatu bentakan yang bernada dingin tapi berat, pelan-pelan berkumandang diudara.

"Tahan!"

Suara rtersebut seakant-akan mengandunqg daya pengaruhr yang tak terkirakan besarnya, begitu mendengar seruan tersebut, dengan kekuatan Hu-buncu menarik kembali serangan nya dan mundur kebelakang.

Untuk sesaat lamanya, suasana dalam ruangan istana itu menjadi sunyi sepi tak kedengaran sedikit katapun.

"Hu Buncu!"

Kembali suara itu berkumandang.

"Hamba disini!"

"Kau sebagai seorang wakil tuan rumah dari perguruan kami. kenapa melayani tamu dengan cara seperti itu?"

"Baik! Baik!"

"Menganiaya orang dengan mengandalkan ilmu silat merupakan suatu pelanggaran yang tak terampuni dalam perguruan kita."

"Hamba tahu salah!"

"Apalagi Ong sauhiap adalah tamu yang sengaja kuundang datang, mana boleh kau bersikap seperti itu kepada tamuku?"

"Hamba tak akan berani berbuat salah lagi!".

"Baik!"

Kata suara menyeramkan itu lagi "mengingat pelanggaran ini baru kau lakukan untuk pertama kalinya, kuampuni kesalahanmu itu!"

"Terima kasih majikan!"

Setelah sirapnya suara itu, suasana disekitar tempat tersebut pulih kembali dalam keheningan.

Selama pembicaran tersebut berlangsung tadi, Ong-Bun-Kim telah pasang telinga baik baik untuk memperhatikan sumber dari suara itu, tapi ia tak berhasil menentukan dari arah manakah suara tersebut berasal, ia hanya merasa suara pembicaraan tadi seakan-akan berkumandang datang dari empat arah delapan penjuru.

Setelah hening sekian lamanya, tiba-tiba suara berat yang menyeramkan itu kembali berkumandang;

"Yap tongcu!"

"Tecu siap menanti perintah dalam ruangan!"

Jawab Dewi mawar merah dengan hormat.

"Bawa Ong sauhiap datang menjumpaiku!"

"Baik!"

Ong Bun-kiam yang mendengar ucapan tersebut segera berubah wajahnya, dengan dingin ia berkata.

"Yakinkah engkau bahwa aku pasti akan pergi menjumpaimu?"

"Bukankah kau datang kemari untuk menjumpai diriku?"

Suara menyeramkan itu balik bertanya sambil tertawa.

"Benar!"

"Kalau begitu, tentu saja kau akan datang untuk menjumpai diriku!"

"Tapi sekarang aku telah berubah rencana semula!"

"Tak ingin menjumpaiku? Ataukah tidak berani datang menjumpaiku?"

"Kenapa aku tak berani menjumpaimu? Aku hanya tak ingin menjumpai dirimu saja!"

"Apakah kau tak ingin mengetahui manusia macam apakah aku ini?"

"Tidak ingin!"

"Kau juga tak ingin mengetahui macam apakah raut wajahku?"

"Tidak ingin!"

"Haaahhh. haaahhh.. ...haaahhh aku tahu sekarang, rupanya kau merasa takut!"

"Takut?"

Ong Bun-kim tertawa dingin tiada hentinya.

"selama hidup aku Ong-Bun-kim tak punah mengenai arti kata takut, jangan harap kau bisa menakut nakuti diriku!"

"Bagus sekali, aku ingin mengucapkan sepatah kata kepadamu, apakah kau percaya?"

"Apa yang hendak kau katakan?"

"Seandainya kau berjumpa denganku, aku percaya kau pasti akan bergabung dengan perguruan kami!" 0000OdwO0000 BAB 43 UCAPAN tersebut kontan saja membuat paras muka Ong Bun kim berubah hebat.

"Aku tidak percaya dengan perkataanmu itu!"

Serunya.

"Kalau tidak percaya, apa salahnya-bila kau masuk ke dalam untuk membuktikannya sendiri?"

Pancingan tersebut kontan saja membangkitkan kemarahan dihati Ong Bun-kim.

Ia tidak percaya kalau musuhnya memiliki kepandaian sehebat itu sehingga setelah ia berjumpa dengan lawan, maka ia akan bersedia masuk menjadi anggota perguruan.

"Kau mempunyai keyakinan tersebut?"

Tegurnya sambil tertawa dingin.

"Yaa, seratus persen pasti benar!"

"Andaikata setelah berjumpa denganmu-nanti aku masih tetap tak bersedia masuk menjadi anggota perguruanmu"

"Terserahblah kau mau berdbuat apa saja!"a "Bagus sekali!b"

Baru selesai Ong Bun-kim berkata, suara yang berat dan menyeramkan itu kembali berkumandang.

"Yap tongcu !"

"Tecu siap menerima perintahmu!"

"Bawa Ong Bun-kim masuk lewat pintu nomor tiga!"

"Baik!"

Selesai menjawab, Dewi mawar merah melirik sekejap ke arah Ong Bun-kim dan berkata kembali.

"Ong Bun-kim. mari kita berangkat !"

Ong Bun-kim memandang sekejap ke arah Dewi mawar merah, dalam keadaan demikian terpaksa ia harus menekan kobaran hawa amarahnya, ia memberi tahu kepada diri sendiri asal bisa keluar dari perguruan Yu leng bun, maka ia harus berusaha keras untuk membawa serta Dewi mawar merah keluar dari tempat itu, dan yang paling penting sekarang adalah menjumpai Yu leng lojin lebih dulu.

Ia tidak percaya kalau Yu leng lojin memiliki kemampuan yang demikian hebatnya, sehingga dirinya bersedia masuk menjadi anggota perguruan Yu leng bun setelah berjumpa dengannya.

Kedengarannya hal tersebut mirip dengan suatu dongeng saja, tapi ia tak berani bertindak gegabah, sebab dari pembicaraan Yu leng lojin, dapat diketahui bahwa ia mempunyai keyakinan seratus persen terhadap kejadian itu.

Ketika Ong Bun kim menyaksikan Dewi mawar merah berjalan menuju ke belakang istana, terpaksa dia harus mengikuti pula dibelakangnya, sebab ia ingin tahu kejadian yang bakal berlangsung selanjutnya .

Pada saat Ong Bun kim sedang berjalan menuju ke belakang inilah, mendadak terdengar suara gelak tertawa nyaring berkumandang datang dari luar istana tersebut.

"Haaafah haaah....haahh Ong Bun kim, cepat amat perjalananmu!"

Ong Bun kim merasa terkesiap mendengar suara itu, demikian pula dengan kawanan jago dari perguruan Yu leng bun yang ada di sana, rata-rata merasa terperanjat oleh datangnya seruan yang muncul secara tiba-tiba itu.

"Siapa disitu?" -Wakil ketua dari perguruan Yu leng bun segera membentak keras. Suara langkah kaki yang lamban berkumandang memecahkan keheningan, tampaklah si kakek berambut putih yang misterius itu pelan-pelan berjalan masuk kedalam istana. Hampir saja Ong Bun-kirn menjerit tertahan setelah menjumpai kakek misterius itu. Paras muka Wakil ketua dari pebrguruan Yu-lengd-bun berubah heabat, lalu bentabknya.

"Siapa kau?"

"Haaahhh haaahhh haaahhh kenapa kalian musti mengurusi siapa aku!"

Kata kakek berambut putih itu sambil tertawa terbahak-bahak. Dengan sekali lompatan, wakil ketua dari perguruan Yu leng-bun itu menerjang ke hadapan si kakek berambut putih, kemudian hardiknya.

"Ada urusan apa kau datang kemari?"

"Mencari orang!"

"Siapa yang kau cari?"

"Ong Bun-kim!"

"Locianpwe, kau sedang mencari aku?"

Tegur Ong Bunkim dengan wajah berubah. Kakek berambut putih itu kembali tertawa terbahak bahak.

"Haaahh........baaahhh ..haaahhh..... benar, bukankah kita telah berjanji untuk datang kemari bersama-sama? Kenapa kau nyelonong masuk seorang diri?"

Ong Bun kim agak tertegun, diam diam dampratnya.

"Betul-betul ketemu setan disiang hari bolong, sejak kapan aku berjanji denganmu?"

Tapi pikiran lain segera melintas dalam benaknya, ia tahu bahwa ucapan tersebut pasti mengandung maksudmaksud tertentu. Maka setelah berpikir sebentar ia berkata.

"Aku tak ingin kau datang sendiri kemari maka aku datang lebih duluan."

"Mengapa kau kuatir tulang-tulang tuaku ini bakal berserakan disini? Jangan kuatir. aku kan sudah masuk peti mati separuh bagian, kalau kau si bocah muda pun tidak takut, kenapa aku musti takut?"

Tercekat Ong Bun-kim setelah mendengar perkataan itu.

Dari ucapan kakek berambut putih itu dapat diketahui bahwa tempat itu berbahaya sekali, jika ia sudah masuk kesitu, berarti tiada harapan lagi untuk keluar dari situ dengan selamat.

"Keliru besar bila kau berkata demikian!"

Kata Hu-buncu tiba-tiba dengan membentak.

"Bagian mana yang keliru?"

"Jika kau datang ke perguruan kami dengan maksud mencari orang, kenapa tidak lapor kedatanganmu kepada anggota perguruan kami?"

Kakek berakibat putih itu tertawa terbahak-bahak.

"Haaahh haaahh haaahh rupanya karena soal itu, saudara keliru besar, adalah mereka yang tidak masuk untuk memberi laporan, bukannya aku tidak suruh mereka masuk untuk memberi lapor lebih dulu."

"Arpa maksud perkattaanmu itu?"

"Mqereka terlalu mralas, sekarang mungkin lagi tidur di mulut gua sana..!"

"Apa? Kau..."

Kakek berambut putih itu masih juga tersenyum, kembali ujarnya.

"Maaf seribu kali maaf, mereka sudah tertidur pulas dimulut gua sana."

"Jadi kalau begitu kau masuk kemari seorang diri?"

"Memangnya kenapa?"

Wakil ketua dari perguruan Yu-leng-bun merasa bahwa hal ini tak mungkin terjadi, sebab semua lorong dalam gua diatur menurut kedudukan sebuah barisan, kecuali belasan orang anggota perguruan tingkat atas yang mengetahui rahasia dari barisan tersebut, boleh dibilang tiada seorang anggota lain yang memahaminya.

Mungkinkah kakek berambut putih ini bisa masuk keluar sekehendak hatinya sendiri?

Kemudian kakek berambut putih itu tertawa terbahakbahak.

"Haaahhh haaahhh......haaahhhh..... Hu buncu, kau tak usah kuatir, kalau cuma barisan Pat kwa-tin sih masih belum cukup untuk mengurung aku si tua bangka di sini"

Sekali lagi paras muka Hu Buncu berubah hebat, mimpipun ia tak mengira kalau kakek berambut putih itu dapat memahami barisan yang di-atur dalam lorong gua tersebut.

Dari malu ia menjadi gusar, segera katanya.

"Ooh kalau begitu, maksud kedatanganmu memang mengandung niat yang tidak baik!"

"Darimana kau bisa berkata demikian?"

"Menyusup masuk kedaerah terlarang perguruan kami dengan cara yang tak tahu diri, aku ingin lihat sampai dimanakah kelihayan ilmu silat yang kau miliki itu sehingga berani datang mengacau kemari!"

"Haaahhh....haaahhh...haaahhh.... ada apa? Kau ingin main kekerasan....?"

Ejek kakek berambut putih itu sambil terbahak-bahak.

"Betul!"

"Haahaa... buat apa?"

"Aaah, tutup mulut anjingmu! Lihat serangan !"

Diiringi bentakan nyaring, wakil ketua dari perguruan Yu leng bun itu menerjang maju ke depan, secepat kilat tangan kanannya melancarkan sebuah cengkeraman mencakar wajah kakek berambut putih itu.

Sementara tangan kanannya melancarkan cengkeraman, tangan kirinya melepaskan pula sebuah pukulan.

"Hey,apakah begini cara kalian menyambut kedatangan seorang tamu agung ?"

Bentak kakek berambut putih itu.

Ditengah bentakan yang amat keras, tangan kanannya diayun ke muka membendung datangnya ancaman tersebut.

Daya kekuatan yang tercantum dalam tangkisan tersebut kelihatannya biasa dan tiada sesuatu yang aneh!

padahal sesungguhnya dibalik kesederhanaan itu justru tersimpanlah suatu daya kekuatan yang betul-betul mengerikan hati.

"Bangsat, kau pingin mampus rupanya!"

Bentak Hu Buncu dengan suara menggelegar.

Tangan kirinya segera diayunkan ke muka melepaskan sebuah pukulan untuk menyongsong datangnya ancaman dari tangan kanan kakek berambut putih itu.

Bayangan manusia saling menumbuk dan berputar kencang, lalu dua bayangan saling berpisah kesamping.

Tampak wakil ketua dari perguruan Yu leng-bun itu mundur belasan langkah dengan sempoyongan sebelum akhirnya dapat berdiri tegak, mukanya pucat pias seperti mayat, peluh dingin mengucur keluar dengan derasnya membasahi kening dan jidatnya.

Pertarungan antara dua jago tangguh memang selalu dilangsungkan dengan kecepatan luar biasa, Ong Bun kim yang berdiri disamping sama sekali tak sempat melihat jelas jurus serangan apakah yang dipergunakan kakek berambut putih itu untuk memukul mundur si wakil ketua.

Sambil tertawa hambar kakek berambut putih itu berkata.

"Hu Buncu, bila pertarungan ini dilangsungkan lebih jauh, akhirnya pasti akan terjadi suatu keadaan yang mengerikan."

"Sii.... siapakah kau?"

Bentak Hu Buncu dengan gusarnya.

"Siapakah aku tak perlu kau ketahui, sebab ini tak penting bagimu!"

"Sebenarnya ada urusan apa kau datang kemari?"

"Waaah...waah Hu Buncu, aku lihat telingamu pasti tuli atau banyak kotorannya, bukankah sudah kukatakan kepadamu bahwa aku datang kemari untuk mencari Ong Bun kim?"

"Mau apa kau mencari dirinya?"

"Aaah! Soal itu sih tak perlu bkau ketahui, podkoknya itu urusaanku dengannya.b..!"

Hu Buncu segera tertawa dingin.

"Saudara, aku harap kau mengerti, sekalipun kau bisa masuk kemari dengan gampang, waktu pergi tidaklah semudah apa yang kau bayangkan semula, mengerti...!"

"Oooh, soal itu sih kuketahui"

Ia melirik sekejap kearah Ong Bun kim, lalu ujarnya lebih jauh.

"Ong Bun kim mari kita pergi tinggalkan tempat ini!"

"Pergi?"

"Benar! Bukankah kita telah berjanji akan pergi ke tempat yang lain ?"

Paras muka Ong Bun kim berubah.

"Tapi sekarang aku ingin masuk ke dalam dan menjumpai Yu leng lojin lebih dahulu, kami telah bertaruh untuk persoalan itu"

"Tapi kau telah berjanji lebih dulu denganku, kita harus selesaikan dahulu persoalan diantara kita berdua!"

Diri pembicaraan tersebut.

Ong Bun kim segera dapat menarik kesimpulan kalau kakek berambut putih itu merasa takut sekali dengan Yu leng lojin, bahkan berusaha dengan segala kemampuan untuk menghalanginya masuk kedalam.

Maka setelah berpikir sebentar, ujarnya sambil tersenyum.

"Tapi sekarang aku belum ingin pergi meninggalkan tempat ini!"

Paras muka kakek berambut putih itu berubah hebat, teriaknya dengan peauh kegusaran.

"Bocah muda kau tak akan menyesal?"

"Menyesal apa?"

"Dia toh menyetujui syarat syaratku lebih dahulu, mengapa secara tiba tiba enggan pergi bersamaku?"

"Omong kosong!"

Bentak Ong Bun kim pula dengan tak kalah gusarnya.

Bocah muda rupanya kau cari mampus....

Kakek berambut putih Hu membentak gusar, lalu secepat kilat menerjang kehadapan Ong Bun kim dan mencengkeram tubuhnya.

Mendadak....

dissat kakek berambut putih itu melancarkan serangannya, wakil ketua dan congkoan perguruan Yu-leng bun ikut pula bergerak, dalam waktu yang bersamaan mereka lompat ke depan menghadang jalan pergi kakek itu, kemudian masing-masing melancarkan sebuah pukulan mematikan.

"Kalian cari mampus?"

Bentak kakek berambut putih setengah menjerit. Hu Buncu tertawa dingin.

"Heeebhh... heeehhh..d heeehhh aku kuaatir kau sendirbilah yang sudah kepingin mampus!."

"Bagus sekali!"

Bersama dengan ucapan itu, tubuh si kakek berambut putih melompat ke depan sekali lagi, dengan kecepatan luar biasa ia lepaskan serangkaian pukulan dahsyat.

Wakil ketua dan Congkoan dari perguruan Yu-leng bun tidak ambil diam, serentak mereka menghadang kembali perjalanan lawan sambil melancarkan pula pukulanpukulan untuk membendung datangnya ancaman tersebut.

Bayangan manusia saling berputar dan menyambar, tampaknya suatu pertarungan sengit segera akan berkobar.

"Tahan !"

Mendadak bentakan keras dengan suara yang menyeramkan berkumandang memecahkan keheningan.

Bentakan tersebut kembali berasal dari mulut Yu-leng Lojin.

Ong Bun kim merasa hatinya bergetar keras, ia tak tahu apa yang bakal terjadi selanjutnya.

Sementara bentakan itu telah berkumandang, ketiga sosok bayangan manusia yang sedang bertarung itu pun sama-sama melompat mundur ke belakang dan berdiri dengan wajah serius.

Kakek berambut putih itu memandang sekejap sekeliling tempat itu, lalu membungkam dalam seribu bahasa.

"Hu Buncu!"

Terdengar suara dari Yu leng lojin kembali berkumandang memecahkan keheningan.

"Hamba siap menerima perintah?"

"Aku lihat napsu angkara murkamu kian hari kian bertambah besar?"

Paras muka Hu Buncu berubah hebat, dengan ketakutan ia membungkam dalam seribu bahasa.

"Hmm! Turun tangan secara sembarangan, lupakah bahwa dirimu adalah wakil tuan rumah dari perguruan kita?"

Kembali suara Yu-leng lojin menegur dengan ketus.

"Hamba tak akan melupakannya!"

"Kalau kau sudah tahu bila orang itu adalah tamu kita, mengapa kau ucapkan kata-kata yang tak senonoh?"

"Hamba tahu salah!"

"Baik, tadi aku sudah mengampuni kau sekali, maka kali ini kau musti menampar mulut sendiri empat kali!"

"Terima kasih Buncu!"

Selesai berkatar dia terus mengtayunkan telapakq tangannya dan rmenggampar mulut sendiri sebanyak empat kali.

"Plak! Plook! Plaak! Ploooook!"

Tamparan itu keras, membuat sepasang pipinya kontan saja menjadi merah dan membengkak besar.

Tercekat perasaan Ong Bun-kim setelah menyaksikan adegan tersebut, ia tak mengira kalau lawan akan menghukum wakil ketuanya dihadapan orang lain.

Sesudah menampar mulut sendiri, bagaikan seekor ayam jago yang kalah bertarung, wakil ketua dari perguruan tanpa sukma itu berdiri membungkam di sisi arena dengan sepasang tangan lurus ke bawah.

"Sobat!"

Suara dari Yu-leng lojin kembali berkumandang.

"aku telah menghukum anak buahku, rasanya sakit hatimu telah terlampiaskan bukan?"

"Haaahhh haaahhh haaahhh yaa, bolehlah dikatakan telah terlampiaskan!"

Sahut kakek berambut putih itu sambil tertawa terbahak-bahak dengan kerasnya.

"Sobat, apa maksudmu datang kemari? Benarkah kau datang hanya untuk mencari Ong Bun-kim?"

"Betul!"

"Tapi sayang Ong sauhiap sudah keburu ada janji denganku, selamanya, aku bekerja tanpa menyusahkan siapapun juga, maka begini saja..."

"Bagaimana?"

"Bagaimana jika sobat bersama Ong sau-hiap masuk kemari berbareng?"

Kakek berbaju putih itu kembali tertawa-terbahak-bahak.

"Haaahh... haaahh.... haaaahh... begitu pun boleh juga, sebab bagaimanapun juga aku toh sudah tua dan hampir masuk liang kubur, jadi soal mati hidupku tak akan terlalu kupikirkan lagi dalam hati."

Sekali lagi ia menyebutkan kata-kata yang sama, hal ini membuat bulu kuduk Ong Bun kim pada bangun berdiri.

Bagaimanapun juga ia tidak percaya kalau Yu-leng lojin adalah seorang manusia super yang berilmu tinggi, sehingga barang siapa yang berani masuk ke dalam, jiwanya pasti akan melayang.

"Yap tongcu....!"

Suara panggilan dari Yu leng-lojin kembali berkumandang.

"Tecu siapa menerima perintah!"

"Bawa mereka masuk lewat pintu nomor tujuh!"

"Baik!"

Mendengar suara tersebut, sekali lagi Ong Bun-kim merasa terperanjat, bukankan terang-terangan ia mendengar kalau mereka dipersilahkan masuk lewat kamar ke tiga?

Kenapa sekarang dirubah menjadi kamar tujuh?

Mungkinkah disekitar tempat ini terdapat berpuluh puluh buah pintu rahasia yang dipat menghubungkan tempat itu dengan tempat tinggal Yu-leng-lo-jin?

00000OdwO00000 BAB 44 SEMENTARA ia masih termenung, si Dewi mawar merah telah beranjak dan menuju ke ruang belakang.

Ong Bun-kim segera melirik sekejap kearah kakek berambut putih itu, kemudian ikut pula masuk kebelakang.

Kakek berambut putih itu tidak banyak bicara, diapun segera menyusul dibelakangnya.

Setelah masuk ke istana belakang, Dewi mawar merah berbelok melalui sebuah lorong rahasia, lebih kurang lima depa kemudian ia berhenti dan tangannya menekan sebuah tonjolan batu karang diatas dinding.

Menyusul tekanan itu, terdengarlah bunyi gemerincing yang amat nyaring berkumandang memecahkan keheningan, bersama menggesernya sebuah dinding batu ke samping, muncullah belasan buah lorong rahasia yang membentang ke empat penjuru.

Dewi mawar merah berjaian masuk ke dalam lorong ke tujuh dari sebelah kanan dan menelusurinya dengan cepat.

Tiba-tiba kakek berambut putih ita berseru.

"Nona, kau tak perlu repot-repot menghantar kami, biar kami berdua masuk sendiri!"

"Begitupun boleh juga!"

Sambut Dewi mawar merah sambil tertawa dingin, lalu ia putar badan dan mengundurkan diri dari situ.

Sepeninggal dewi mawar merah dari situ, Ong Bun-kim baru mengalihkan sinar matanya ke wajah kakek berambut putih itu, betapa tercekatnya dia ketika menjumpai kakek itu berdiri dengan wajah yang berat dan amat serius.

"Hei locianpwe, kenapa kau?"

Tanyanya kemudian. Kakek berambut putih itu menempelkan bibirnya dekat telinga anak muda itu, lalu tegurnya.

"Ong Bun-kim, apakah kau sedang mencari kematian buat diri sendiri?"

Sembari berbisik, kskek berambut putih ini menggerakkan sepasang tangannya terus menerus, pancaran hawa murni yang berhebmbus disekitai dtempat itu dengaan cepat memunabhkan suara pembicaraan mereka hingga tak mungkin buat Yu-leng lojin untuk menangkap pembicaraan mereka.

Sekali lagi Ong Bun kim meratakan katinya tercekat, kembali ia bertanya tertegun.

"Kenapa?"

"Aku ingin bertanya,"

Bagaimanakah taraf tenaga dalam yang kau miliki jika dibandingkan dengan Dewi mawar merah?"

"Tidak selisih banyak!"

Dewi mawar merah yang mempunyai dendam sakit hati sedalam lautan dengan Yu leng lojinpun bisa dipengaruhi sehingga menjadi anggota perguruan Yu leng bun apalagi kau...."

"Aaah, masakah dia begitu hebat sehingga setiap orang bisa tunduk kepadanya?"

"Benar, ia memang sangat Iihay karena kemungkinan besar ia telah berhasil melatih ilmu hipnotis Gi sin tay hoat (ilmu memindah sukma)"

"Aaaaah..."

Mendengar keterangan tersebut, Ong Bun kim tak dapat mengandaikan rasa kagetnya lagi hingga berseru tertahan.

"Selama banyak waktu, aku selalu melakukan penyelidikan yang seksama dan orang itu mungkin sekali adalah dia...."

"Siapa?"

"Sampai waktunya kau akan tahu dengan sendirinya, dan Yu leng lojin yang sekarang kemungkinan besar adalah orang itu!"

Sudah barang tentu Ong Bun kira tidak mengerti siapa yang dimaksudkan oleh kakek berambut putih itu, cuma kalau ditinjau dari sikap si kakek berambut putih yang serius dan cemas, dapat diketahui bahwa lawannya pastilah seorang manusia yang lihay sekali.

Konon menurut berita yang tersebar dalam dunia persilatan, dikatakan bahwa ilmu Gi sin tay hoat merupakan sebangsa ilmu sesat yang sangat lihay, ilmu itu berdasarkan tatapan mata seseorang untuk mempengaruhi orang lain melakukan kebaikan ataupun kejahatan tanpa disadari oleh sang-korban sendiri, jadi sifatnya lebih mirip dengan suatu ilmu Hipnotis.

"Kau mengatakan orang itu juga pandai ilmu hipnotis Gi sin tay boat ?"

Seru Ong Bun kim dengan perasaan tercekat.

"Ketika itu dia belum bisa, tapi sekarang sulitlah untuk dibicarakan..."

"Seandainya dia adalah orang yang sedang kau cari-cari, bagaimana akibatnya?"

"Yaa, akibatnya sukar untuk dilukiskan lagi dengan katakata!"

Sahut kakek itu sambil mengeluh.

Dengan perasaan bergidik Ong Bun kim memandang wajah kakek berambut putih yang misterius itu tanpa berkedip, beberapa kbali ia menggeradkkan bibirnya saeperti hendak mbengucapkan sesuatu tapi setiap kali pula niat tersebut diurungkan.

Dengan wajah bersungguh-sungguh Kakek berambut putih itu berkata lagi.

"Setelah berjumpa deagan Yu leng lojin nanti, aku harap kau saka mendengarkan semua perkataanku, kalau tidak maka kemungkinan besar jiwamu dan jiwaku akan lenyap ditangannya, tahu kah kau?"

"Boanpwe tahu."

"Nah kalau begitu mari kita berangkat!"

Setelah berbicara sampai disitu, kakek berambut putih itupun menghentikan pula gerakan tangannya, kemudian setelah memandang ke lorong dikejauhan sana, ia melanjutkan kembali perjalanannya ke depan.

Ong-Bun-kim segera mengikuti dibelakangnya dengan ketat.

Sepanjang perjalanan meski kakek berambut putih itu berusaha keras memperlihatkan ketenangan dan kesantaiannya, tapi siapapun dapat mengetahui bahwa hati kecilnya adalah diliputi oleh ketegangan yang luar biasa.

Ong Bun-kim sendiripun merasakan jantungnya berdebar keras setelah mendengar perkataan dari kakek berambut putih itu, ia tahu sedikit salah bertindak maka bukan saja ia bersama kakek itu tak bisa lolos lagi dari tempat ini, bahkan kemungkinan besar akan dikendalikan dan dikuasahi pikirannya oleh pengaruh Yu-leng lojin.

Bila dipikirkan kembali, sesungguhnya kejadian ini memang merupakan suatu kejadian yang mengerikan sekali, sudah barang tentu ia merasa terkesiap sekali.

Sementara itu mereka berdua telah tiba dihadapan sebuah pintu batu yang amat besar.

Kakek berambut patih itu segera menghentikan langkahnya sambil mendongakkan kepalanya, diatas dinding karang terbacalah tiga huruf besar yang bertuliskan.

"YU-LENG-BUN"

"Yu-leng buncu!"

Dengan suara dingin kakek berambut putih itu segera berkata.

"kami sudah berada di sini kenapa kau tidak membukakan pintu untuk kami?"

"Masuk saja kedalam, pintu itu tidak terkunci!"

Suara dari Yu leng lojin kembali berkumandang dari dalam.

Kakek berambut putih itu tertawa dingin, setelah melirik sekejap ke arah Ong Bun-kim, tiba-tiba dari sakunya ia mengeluarkan sebutir pil dan memberi tanda kepada si-anak muda itu agar menelannya.

Sebetulnya Ong Bun-kim ingin bertanya, tapi lantaran kakek berambut itu telah memberi tanda kepadanya agar rjangan bertanyat, maka dengan pqikiran penuh tarnda tanya ia telan pil tersebut ke dalam perutnya.

Kakek berambut putih itu sendiripun menelan sebutir pil, setelah itu baru mengerahkan tenaganya untuk mendorong pintu.

Ruangan dibalik pintu adalah suatu tempat yang gelap gulita, kakek berambut putih itu segera mengerling kembali memberi tanda kepada Oag Bun-kim, kemudian berjalan lebih duluan, terpaksa si anak muda itu mengiringi di belakangnya.

Sekonyong-konyong...pada saat kakek berambut putih dan Ong Bun-kin hendak masuk ke daiam pintu batu itulah, bayangan manusia berkelebat lewat diiringi desingan dingin yang tajam, menyusul kemudian muculnya dua sosok bayangan hitam yang langsung menggulung ke arah tubuh mereka berdua.

Sedemikian cepatnya perubahan tersebut berlangsung, membuat kakek berambut putih iian Ong Bun-kim yang sudah bersiap sedia-pun merasa agak kewalahan untuk mengatasinya.

Sambil menggertak gigi, Ong Bu-kim segera mengayunkan senjata harpa besinya untuk menyongsong datangnya tubrukan dari bayangan hitam tersebut Baru saja serangan dahsyat hendak dilancarkan, suara bentakan dari Yu leng lojin telah menggelegar diruangan.

"Mundur!"

Bayangan hitam kembali berkelebat lewat secepat sukma gentayangan tahu-tahu sudah lenyap kembali tak berbekas.

Menggigil keras tubuh Ong Bun-kim menghadapi sergapan aneh tersebut, semenjak munculkan diri sampai lenyap kembali dari pandangan mata ternyata Ong Bunkiam tak mampu menangkap dengan jelas bayangan apakah bayangan hitam tersebut.

"Manusia? Atau sukma gentayangan?"

Demikian ia berpikir. Paras muka si kakek berambut putih itu-pun berubah hebat, baru saja ia hendak berbicara, tiba-tiba suara dari Yu leng lojin yang misterius itu kembali telah berkumandang.

"Sobat! Anggota perguruanku tak tahu diri, biar kumohonkan maaf bagi kelancangannya barusan!"

Kakek berambut putih itu tertawa ewa, lalu berjalan masuk lebih dulu.

Ong Bun kim menyusul di belakang, ketika tiba dalam ruangan ia merasa bahwa suasana disitu bukan cuma gelap gulita saja, bahkan suhu udaranya amat dingin dan membekukan badan.

Berbicara soal tenaga dalam yang dimiliki Ong Bun-kim saat ini, boleh dibilang ia sudah memiliki tenaga sebesar delapan puluh tahun hasil latihan, melihat dalam kegelapan baginya adalah soal biasa, tapi benda yang berada dalam ruangan tersebut ternyata tak mampu ia bedakan secara jelas.

Ternyata keadaan itu dialami pula oleh si kakek berambut putih, ia merasa kesulitan untuk menyaksikan benda-benda yang berada disekitar ruangan gua itu.

Walaupun ilmu silat yang dimiliki mereka berdua cukup lihay, dalam keadaan demikian kedua orang itu tak berani masuk secara gegabah, maka untuk sesaat lamanya Ong Bun kim berdua hanya berdiri saja didepan pintu.

Selang sesaat kemudian, suara teguran dari Yu-leng lojin kembali berkumandang memecahkan keheningan.

"Sobat, kenapa tak berani masuk? Ataukah disebabkan ruangan itu terlampau gelap?"

"Yaa, memang aku merasa terlampau gelap!"

Sahut kakek berambut putih itu sambil tertawa ewa.

"Pengawal kanan!"

Yu-leng lojin segera berseru.

"Hamba siap!", dibalik kegelapan segera berkumandang kembali suara sahutan yang dingin.

"Pasang lampu!"

"Baik!"

Berbareng dengan berkumandangnya sahutan itu, setitik cahaya tajam meluncur keluar dari balik ruangan, menyusul kemudian sebuah lentera pun memancarkan cahayanya menerangi sekeliling tempat itu, dengan cepat pemandangan dalam ruanganpun tertampak jelas.

Kepandaiannya memercikkan api memasang lampu yang baru didemonstrasikan itu betul betul mengejutkan hati setiap orang.

Dengan meminjam sorotan cahaya lentera maka Ong bun-kim dapat melihat bahwa ruangan tersebut adalah sebuah ruangan batu yang mungil dan indah, luasnya tiga empat kaki dengan perabot yang lengkap, pada ruangan bagian belakang sana duduklah sesosok bayangan hitam.

Sayang sinar lentera itu amat lirih sehingga sukar melihat jelas raut wajah orang itu meski demikian tanpa ditanyapun dapat di ketahui bahwa orang itu adalah Yu leng lojin, Buncu dari perguruan Yu leng bun.

Disekeliling tubuh kakek misterius itu, tampaklah selapis cahaya berwarna yang aneh sekali.

Dengan suara dingin Ong Bun-kim segera menegur.

"Yu-leng lojin, kami telah tiba disini, ada urusan apa kau memanggil kami. ?"

"Aku sudah tahu kalau kalian telah tiba disini."

Jawab Yu-leng lojin ketus. Kemudian setelah berhenti sebentar, sambil tertawa katanya lagi.

"Sobat lama, masih ingatkah dengan aku?"

Ucapan "sobat lama"

Tersebut dengan cepat menggetarkan perasaan kakek berambut putih itu, tapi ketika dilihatnya sinar tajam memancar keluar dari balik matanya, tiba-tiba ia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh ..haaahhh.....haaahhh....rupanya memang kau!"

Serunya dengan lantang.

"Kenapa diluar dugaanmu?"

"Yaa, sedikit diluar dugaan!"

Paras muka Ong Bun kim ikut berubah, tanyanya tanpa terasa.

"Locianpwe, siapakah dia?"

"Pak khek sin-mo (iblis sakti dari kutub utara), salah satu dari Bu-lim sam lo (tiga dedengkot dari dunia persilatan)!"

Mendengar nama orang itu, Ong-Bun-kim kembali merasakan hatinya bergetar keras, merinding rasanya ia karena ngeri.

Mimpipun ia tak menyangka kalau Yu-leng lojin ternyata adalah Pak-khek-sin mo, salah seorang diantara Bu-lim sam lo.

Yu leng lojin tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh.. haaahhh haaahhh... setelah berpisah puluhan tahun, sobat lama, bisa saling bertemu kembali, kejadian ini sungguh merupakan suatu peristiwa yang patut digirangkan."

Katanya lantang.

"wahai Tay-khek Cin kun. aku lihat ilmu silatmu jauh lebih hebat daripada kepandaianmu di-masa silam."

"Oooh. ! Jadi locianpwe adalah Tay khek Cinkun dari Bu lim sam lo ?"

Sekali lagi Ong Bun kim berseru tertahan.

Kakek berambut putih itu manggut-manggut, mendadak ia maju ke depan dan meng hampiri Yu leng lojin, sementara iblis sakti dari kutub utara itu masih tetap duduk tak berkutik ditempat semula.

Melihat rekannya maju, Ong Bun-kim pun segera mengikuti dibelakang Tay-khek cinkun maju ke muka.

"Berhenti!"

Tiba-tiba Yu leng lojin membentak keras.

Menyusul bentakan keras dari Yu leng lojin tersebut, Tay khek Cinkun dan Ong Bun-kim tanpa sadar ikut menghentikan langkah kakinya.

Waktu itu, selisih jarak antara kedua belah pihak tinggal dua kaki, sekarang secara lamat-lamat Ong Bun-kim dapat melihat bahwa Yu-leng lojin adalah seorang kakek yang kurus kering, ia duduk diatas sebuah kursi dengan sepasang mata terbuka sedikit.

Tay-khek Cinkun tertawa ewa, lalu kembali tegurnya.

"Siu buncu, tidak kusangka ambisimu begitu besar, setelah lewat puluhan tahun kau masih juga menjadi buncu dari perguruan Yu leng-bun yang misterius..."

Yu leng lojin tertawa seram.

"Haaahh haaahh haaahh. mana, mana"

Katanya.

"aku orang she Siu tidak lebih hanya seorang murid sesat dari golongan kiri, manusia semacam aku tidak pantas untuk berhubungan dengan seorang pendekar besar seperti kau, cuma heeehh....heeehh...heeehh..."

Setelah tertawa dingin tiada hentinya, ia membatalkan ucapan selanjutnya dan menghentikan pembicaraannya sampai diisitu. Paras muka Ong Bun-kim berubah hebat, bentaknya.

"Yu leng buncu, aku datang kemari ingin membuktikan dengan cara apakah kau hendak membuat diriku masuk menjadi anggota perguruan secara sukarela."

Yu-leng Lojin tertawa terbahak bahak.

"Haaahh haaahh -haaahh .... keangkuhan dan kekerasan hati Ong sauhiap memang sangat cocok dengan seleraku."

"Sayang sekali kau tidak cocok dengan seleraku."

Tukas Ong Bun kim dengan geramnya. Sekali lagi Yu leng lojin tertawa terbahak bahak.

"Haaah... haaahh... haaahh Ong sauhiap, lohu bersumpah akan berusaha mendapatkan dirimu, walau dengan cara apapun juga."

"Ingin kusaksikan dengan cara apakah kau bisa mendapatkan diriku!"

Tay-khek Cinkun yang berdiam diri disisinya, mendadak ikut berkata setelah tertawa terbahak-bahak.

"Buncu, apakah aku si sobat karibmu tidak menarik perhatianmu?"

"Oooh tertarik, tentu saja sangat tertarik, kenapa? Apakah kau pun berniat untuk masuk menjadi anggota perguruanku?"

"Benar buncu, sungguh tak kusangka setelah berpisah puluhan tahun, kau berhasil melatih ilmu hipnotis Gi-sin -tay hoat yang maha dahsyat itu, mumpung ada kesempatan lohu ingin sekali mencoba kehebatan ilmu kepandaianmu itu?"

"Tentu saja cuma ada satu persoalan ingin kutanyakan terlebih dahulu kepadamu."

"Katakan!"

"Apa sebetulnya tujuan Buncu dengan mendirikan perguruan Yu-leng-bun ini ?"

"Sobat, apakah kau tidak merasa bahwa pertanyaan itu merupakan suatu pertanyaan yang sudah tahu tapi masih bertanya lagi? Tentu saja Pun-buncu mendirikan perguruan ini dengan maksud hendak menguasai seluruh dunia persilatan."

"Ehmm. besar juga ambisimu!"

Yu-leng lojin tertawa hambar.

"Apa yang kukatakan adalah suatu kenyataan, aku harap kau suka mempercayainya"

Setelah tertawa angkuh, terusnya.

"Sobat, dengan tenang hati perguruan ksmi membuka pintunya lebar-lebar untuk menerima siapapun yang ingin menjadi anggota perguruan, tidak terkecuali pula dirimu!"

Tay khek Sinkun tertawa nyaring.

"Buncu, apa salahnya bila kita bertaruh lebih dulu."

"Bertaruh apa?"

"Jika ilmu hipnotis Gi sin tay hoatmu dapat menyuruh aku melakukan perbuatan di luar kesadaranku, maka aku dan Ong Bun kira dengan suka rela bersedia masuk menjadi anggota perguruanmu, bagaimana pendapatmu?"

"Bagus sekali!"

"Tapi sebaliknya jika ilmu Gi sin tay hoat mu gagal untuk memerintahkan aku melakukan perbuatan diluar kesadaranku?"

"Tentu saja kalian akan kulepas pergi dari sini"

"Aku menginginkan tambahan sebuah syarat lagi."

"Apa syaratmu?"

"Serahkan Yap tongcu kepadaku!"

"Soal ini..."

Yu leng lojin termenung sejenak, akhirnya setelah tertawa dingin sahutnya.

"baiklah!"

Ong Bun kim segera merasakan jantungnya berdebar keras sekali, walaupun suasana dalam ruangan remang itu telah dilipiti ketegangan yang mengerikan, tapi taruhan tersebut jauh lebih membetot perasaannya.

Dua orang tokoh persilatan yang maha dahsyat segera akan melangsungkan suatu pertarungan yang bakal mempengaruhi mati hidup mereka, dalam pertarungan tersebut tiada orang yang saling pukul memukul, tidak pula dengan senjata, tapi duel tersebut akan berlangsung dengan biasa, sederhana dan tegang.

Bila dalam duel tersebut ternyata tenaga dalam yang dimiliki Tay khek Cinkun tak sanggup melawan pengaruh ilmu Gi sin tay hoat dari Yu leng lojin, maka mereka berdua akan segera musnah dalam perguruan Yu leng bun tersebut.

Dalam pertarungan ini Tay khek Cinkun tidak mengijinkan Ong Bun kim untuk menerima tantangan dari Yu leng lojin, hal ini tentu saja disebabkan tenaga dalam yang dimiliki si anak muda itu masih belum cukup untuk mempertahankan diri dari pengaruh ilmu Gi sin tay hoat dari musuh.

Terdengar Yu leng lojin tertawa dingin, kemu dian berkata.

"Sungguh tak kusangka setelah berpisah puluhan tahun, kita masih punya kesempatan untuk beradu kekuatan, kejadian ini sungguh merupakan suatu peristiwa yang patut digirangkan, betul bukan?"

"Betul!"

"Kemarilah lebih dekat kepadaku!"

OooOdwOooo BAB 45 PELAN-PELAN Taykhek Cinkun menggeserkan tubuhnya untuk maju lebih dekat lagi dengan Yu leng lojin.

Ong Bun kim yang mengawasi terus langkah kaki Tay khek Cinkun, diam-diam merasakan hatinya tercekat, setiap langkah kaki kakek itu seakan-akan membuat jantungnya hampir saja melompat keluar dari rongga dadanya.

Akhirnya Tay khek Cinkun berhenti pada jarak tiga depa dihadapan Yu leng lojin, katanya kemudian.

"Siau Buncu. aku telah bersiap sedia menerima pengaruh ilmu Gi sin tay hoat mu itu!"

"Tataplah sepasang mataku tanpa berkedip"

Kata Yu leng lojin dengan dingin.

"dalam setengah jam kemudian, kita akan mengetahui siapa yang lebih unggul dan siapa yang lebih asor!"

"Bagus sekali!"

Sepasang mata Yu leng lojin yang terpejam itu mendadak dipentangkan lebar-lebar, sepasang sinar mata yang lebih tajam dari sembilu segera terpancar keluar dari balik matanya dan mendatangkan perasaan bergidikb bagi siapapun dyang melihatnyaa.

Sinar mata Taby khek Cinkun dialihkah ke atas mata Yu leng lojin dan menatapnya lekat-lekat, selanjutnya mereka berdua tak ada yang bergerak lagi...

Sekilas pandangan, cara beradu kekuatan semacam itu amat sederhana dan biasa, seakan-akan ada dua orang manusia yang saling bertatapan, tanpa suatu keistimewaan apapun....

Tapi Ong Bun kim segera merasakan hatinya bergidik, bulu roma tanpa terasa pada berdiri sendiri...

"Apa yang kau jumpai?"

Tiba-tiba Yu leng lojin tertawa. Suara itu berat, rendah dan menyeramkan, membuat siapapun yang mendengar serasa bergidik.

"Aku melihat sepasang matamu!"

Jawab Tay khek-Cinkun dengan suara rendah.

Setelah, bergemanya tanya jawab itu suasana dalam ruangan pulih kembali dalam keheningan.

Dari sini dapatlah diketahui bahwa kedua orang itu saling beradu kekuatan dengan hati yang sungguh-sungguh, kalau disatu pihak berusaha mengerahkan tenaga sesatnya untuk memperkuat tenaga pengaruh ilmu Gi-sin tayhoatnya, maka yang lain berusaha melakukan perlawanan dengan mengerahkan segenap tenaga dalam yang dipunyainya.

Tak lama kemudian, dengan suara yang rendah dan berat Yu leng lojin kembali berkata.

"Sobat, bukankah kau melihat suasana di tahun baru.. laki perempuan tua muda dengan pakaian yang berwarna warni sedang berjalan disebuah jalan raya, bocah cilik bermain petasan. yang tua bersalaman penuh-riang gembira."

"Tidak!"

Setelah sepatah kata yang singkat suasana pulih kembali dalam keheningan yang mencekam.

Ong Bun-kim tak berani menatap sepasang mata Yuleng-lojin, sebab sorot matanya yang tajan dan mengerikan itu cukup mendatangkan perasaan ngeri baginya.

Kurang lebih setengah perminum teh kemudian, suara dari Yu leng lojin kembali berkumandang;

"Sobat, apakah kau melihat di sebuah jalan raya ada seorang pengemis cilik?"

"Yaa...,. yaa.... aku melihatnya !"

Suara jawaban dari Tay khek Cin kun kedengaran agak gemetar...

Mendengar jawaban tersebut, Ong Bun kim merasaaan hatinya bergetar keras, hampir saja ia menjerit keras saking kagetnya.

Mimpipun ia tak menyangka kalau Tay khek Cinkun ternyata tak tahan menerima pengaruh dari ilmu Gi-sin-tay hoat lawan, bahkan sekarang sudah mulai menyaksikan pemandangan khayalan yang diciptakan olehnya.

Kenyataan tersebut sungguh merupakan suatu peristiwa yang sangat menggetarkan perasaan Ong Bun kim.

-oo0dw0oo--

Jilid 15 SEKULUM senyuman bmulai menghiasid wajah Yuleng alojin yang kurubs kering... senyuman itu kelihatan kaku, dingin dan mengerikan "Dalam musim apakah waktu itu?"

Dengan suara berat dan dalam kembali ia bertanya.

"Musim dingin!"

"Pakaian apa yang dikenakan pengemis cilik itu?"

"Baju biru, baju yang dekil dan berlubang, ia kedinginan hingga tubuhnya menggigil !"

"Lihatkah kau waktu itu muncul tiga empat orang bocah yang berbaju perlente sedang berjalan menghampirinya."

"Yaa, ya, aku melihatnya!"

"Mereka sedang mencemoohnya, mengejeknya"

"Yaa, benar!"

"Lihatkah kau ada seorang bocah kecil berbaju hijau mengambil sebutir batu dan menimpuk pengemis cilik itu?"

"Yaa, aku melihatnya."

"Menyusul kemudian, bocah-bocah yang lain mulai menghajar tubuhnya secara bertubi-tubi?"

Sekujur badan Tay khek Cinkun gemetar semakin keras wajahnya telah berubah menjadi pucat pias seperti mayat, tampak sekujur badannya berputar lalu darah kental mulai meleleh keluar membasahi ujung bibirnya.

"Yaa, aku melihatnya!"

Kembali ia menjawab dengan suara gemetar.

Jawaban tersebut hampir saja membuat Ong Bun kim menjerit tertahan saking kagetnya.

Yu leng lojin mulai tertawa, tertawanya kelihatan seram dan mendirikan bulu roma, kembali ia bertanya.

"Coba lihatlah mirip siapakah tampang pengemis cilik itu?"

"Mirip aku!"

Tay khek Cinkun menjawab lirih.

"Oooh !"

Akhirnya Ong Bun kim tak kuasa menahan diri, ia menjerit keras.

Pada hakekatnya kejadian ini merupakan suatu peristiwa yang sama sekali tidak masuk akal, mimpipun ia tak menyangka kalau ilmu Gi sin tay-hoat bisa membuat orang kehilangan kesadarannya dan terpengaruh oleh khayalankhayalan yang di-diktekan orang lain "Bukankah mereka sedang memukuli dirimu secara keji?"

Kembali Yu leng lojin bertanya dengan suara dingin.

Sekujur badan Tay khek Cinkun bergetar keras beberapa kali, akhirnya ia muntahkan kembali darah kental untuk kedua kalinya, makin pucat raut wajahnya...

"Tidak, mereka rtelah pergi!"

Ttiba-tiba ia menqyahut.

"Apa?"

Kali ini Yu leng lojin yang menjerit sekeras-kerasnya.

Dengan pandangan seram dan ngeri Ong Bun-kim mengawasi mereka tanpa berkedip, ia saksikan paras muka Yu leng lojin mulai berubah menjadi pucat pias, darah segar mulai menyembur ke luar dari mulutnya.

Ong Bun kim semakin terkejut, ditatapnya kedua orang itu dengan sepasang mata terbelalak lebar, tak terlukiskan rasa kaget yang menyelimuti hatinya waktu itu.

Suara Yu leng lojin akhirnya berubah menjadi gemetar, kembali ia berbisik.

"Mereka sedang menganiaya dirimu mereka sedang menghajar tubuhmu hingga babak belur..."

"Tidak, mereka mereka telah pergi..."

"Tak mungkin tak mungkin... mereka sedang menganiaya dirimu.... mereka sedang menghajar tubuhmu.."

Teriakan Yu leng lojin kian lama kian bertambah keras, kian lama kian bertambah kalap sehingga kedengaran mengerikan sekali.

"Tidak mereka benar-benar telah pergi!"

Kali ini Tay khek Cinkun menjawab dengan tegas.

Suasana pulih kembali dalam keheningan yang luar biasa, tak terdengar sedikit suara pun.

Hawa kematian serasa makin menyelimuti suasana disekeliling tempat itu!

meskipun Yu leng lojin melakukan serangan terakhirnya dengan mengerahkan segenap kekuatan yaag dimilikinya, akan tetapi Tay khek Cinkun telah memberikan perlawanannya pula dengan gigih...

Setengah jam telah lewat dalam keheningan yang mengerikan.

Mendadak....

"Uuaak!"

Tay khek Cinkun muntah darah segar, tubuhnya yang besar roboh terjengkang keatas tanah.

Sebaliknya Yu leng lojin muntah pula darah kental, sepasang matanya segera terpejam rapat-rapat.

Pertarungan gengsipun segera berakhir!

Sambil berteriak keras, Ong Bun kim segera menubruk ke arah Tay khek Cinkun.

"Locianpwe...?"

Darah kental masih meleleh keluar tiada henti nya dari ujung bibir Tay khek Cinkun, agaknya cukup parah luka dalam yang dideritanya ketika itu...

"Yu leng lojin!"

Dengan geramnya Ong Bun kim membentak.

"kau iblis keji yang tak berperasaan aku akan beradu jiwa denganmu!"

Ditengah bentakan nyaring, sebuah pukulan dahsyat langsung diayunkan ke tubuh Yu leng lojin.

Serangan Ong Bun kim yang dilancarkan dalam keadaan marah ini telah disertakan Tenaga dalam yang luar biasa hebatnya, kekuatan serangan tersebut ibaratnya gelombang samudra yang menyapa tiba, dengan membawa desingan tajam langsung menggulung ke tubuh Yu Ieng lojin.

Disaat yang kritis....

bentakan dingin mendadak bergema membelah angkasa.

"Bangsat, cari mati kau!"

Segulung angin pukulan berhawa dingin yang mengerikan segera berhembus ke depan menyongsong datangnya ancaman dari anak muda tersebut.

"Blaaang !"

Ong Bun kim tak sanggup berdiri tegak, termakan benturan keras tersebut, tubuhnya mundur sejauh tujuh delapan langkah dari posisi semula.

Sesosok bayangan hitam bagaikan sesosok sukma gentayangan tiba-tiba berkelebat lewat didepan mata dan muncul di belakang tubuh Yu leng lojin....

Hawa napsu membunuh telah menyelimuti seluruh wajah Ong Bun kim, ketika ia hendak melepaskan pukulan untuk kedua kalinya, tiba-tiba terdengar Tay khek Cinkun membentak.

"Tahan!"

Ong-Bun-kim tercekat, ketika ia berpaling tampaklah Tay khek Cinkun telah bangkit berdiri, sambil membesut noda darah diujung bibirnya, ia berkata dengan dingin.

"Siu Buncu, ilmu Gi sin tay hoat yang kau miliki betulbetul telah membuka lebar-lebar sepasang mataku, sungguh mengagumkan! Sungguh mengagumkan !"

"Kesempurnaan tenaga dalammu jauh diluar dugaanku!"

Sahut Yu leng lojin seram.

"Hmm, kini pertarungan telah berlangsung, aku rasa menang kalahpun telah bisa ditentukan bukan?"

"Betul!"

"Kalau begitu mari kita pergi!"

Kata Tay khek Cinkun setelah melirik sekejap ke arah Ong Bun kim.

Tanpa membuang waktu lagi ia beranjak dan melangkah keluar dari pintu ruangan.

Tapi pada saat Tay-khek Cinkun siap beranjak itulah dua sosok bayangan hitam tiba-tiba menghadang jalan pergi mereka.b Dengan wajah bderubah Taykhek aCinkun segera mbembentak nyaring.

Minggir kalian!"

Salah satu dari kedua bayangan hitan itu mendengus dingin, kemudian sahutnya.

"Setelah kalian memasuki pintu Yu-leng-bun, maka jangan harap bisa keluar lagi dari Seng si kwan (batas antara mati dan hidup) sobat! Tinggalkan dulu nyawa kalian!"

Paras muka Tay khek Cinkun kembali berubah hebat, perubahan yang terjadi diluar dugaan ini sungguh membuat hati mereka berdua merasa terperanjat sekali.

Sekalipun ia memiliki kepandaian silat yang amat lihay, akan tetapi dengan luka yang di deritanya sekarang, jelas mustahil baginya untuk bertarung melawan orang lain, betul masih ada Ong Bun-kim disitu, namun tenaga dalam yang dimiliki anak muda itu masih belum cukup untuk menandingi dua kekuatan orang musuhnya.

Maka setelah wajahnya berubah hebat, Tay khek Cinkun menghimpun kembali segenap sisa kekuatan yang dimilikinya siap untuk melangsungkan pertarungan terakhir Sementara dimulut diapun menegur dengan sinis.

"Buncu, beginilah caramu menetapi janji."

Yu-leng lojin tidak menjawab, dia hanya mendongakkan kepalanya dan tertawa seram. Tak terlukiskan rasa gusar Ong Bunkim, segera bentaknya dengan penuh kemarahan.

"Bangsat, rupanya kaucari mampus."

Dengan kobaran hawa amarahnya yang berkobar-kobar, Ong Bun-kim melejit ke udara dan menerjang ke arah dua sosok bayangan hitam itu, sebuah pukulan dahayat segera dilepaskan.

Baru saja serangan dari si anak muda itu meluncur ke depan, bayangan hitam berputar kencang, dua gulung telaga pukulan yang maha dahsyat segera meluncur ke udara dan balas menerjang ke arah Ong Bun kim.

Dalam keadaan demikian, terpaksa Tay-khek Cinkun harus melepaskan pula pukulan satu-satunya yang masih sanggup ia lancarkan itu.

"Tahan!"

Mendadak Yu leng lojin membentak dengan suara yang keras dan menggelegar.

Bayangan hitam berkelebat lewat, tahu-tahu ke dua orang manusia msterius itu sudah melayang mundur dari tempat itu.

Tay khek Cinkun dan Ong Bun kim pan bersama sama menarik kembali serangannya sambil mundur kebelakang.

"Pengawal kiri kanan!"

Y u leng lojin kembali membentak.

"Siap"

"Jangan kalian susahkan sahababt-sahabatku itud, selamanya akua paling memeganbg janji, maka biarkanlah kedua orang itu pergi meninggalkan tempat ini."

"Baik!"

Selesai menyahut, kedua orang itu berkelebat kembali ke samping untuk memberi jalan lewat.

"Siau Buncu"

Kata Tay khek Cinkun kemudian sambil tertawa dingin, budi kebaikanmu ini pasti akan kubalas di kemudian hari!"

Sehabis berkata ia memutar badan dan berlalu dari sini. Sepeninggal Tay khek Cinkun dan Ong Bon-kim, pengawal kanan mendadak berbisik.

"Buncu...."

"Tak usah kuatir, mereka pasti akan kem bali lagi."

Ucapan tersebut diutarakan dengan penuh keyakinan, tapi atas dasar apakah, ia percaya kalau Tay khek Cinkun dan Ong bun kim bakal kembali lagi ke situ?

Dalam pada itu Tay khek Cinkun dan Ong Bun kim telah berjalan keluar dari Yu leng bun dan tiba di istana bagian tengah, sementara itu wakil ketua dari perguruan Yu-leng bun serta sekalian anggota perguruannya masih belum pergi meninggalkan tempat itu.

Ketika Wakil Buncu sekalian menyaksikan kemunculan kedua orang itu kembali dalam keadaan hidup, paras mukanya segera berubah hebat.

"Engkau hendak pergi?"

Tegur Hu buncu kemudian sambil menatap Tay-khek Cinkun tajam-tajam.

"Benar."

Jawaban Tay khek Cinkun hanya singkat sekali, lalu sinar matanya yang tajam itu dialihkan ke atas wajah Dewi mawar merah.

"Dewi mawar merah!"

Bentaknya kemudian dengan suara dingin.

"hayo ikut kami tinggalkan tempat ini!"

"Kenapa?"

Tanya Dewi mawar merah dengan wajah berubah.

"Soal ini tanyakan saja kepada Yu leng lojin!"

Belum habis perkataan dari Tay Khek Cinkun tersebut, suara dari Yu leng lojin telah berkumandang di ruangan.

"Yap tongcu!"

"Tecu ada disini!"

"Pergilah bersama mereka, mulai sekarang kau adalah milik mereka."

Air muki Dewi mawar merah segera berubah hebat sekali, jeritnya keras-keras.

"Buncu, kau jangan biarkan aku pergi bersama mereka, aku tak mau mengikuti mereka, aku ingin bersamamu.... aku ingin bersamamu menolong mereka yang sengsara... oh Buncu biarkanlah aku berada disini."r Jeritan-jeritatnnya itu ternyaqta berubah menjradi isak tangis yang memedihkan hati. Keadaan semacam ini sungguh mengejutkan siapa pun juga, dari sini pula dapat dibuktikan bahwa daya pengaruh dari Yu leng lojin memang benar-benar mengejutkan hati orang. Suara dingin dari Yu leng lojin kembali berkumandang tiba.

"Pergi, Pergilah mengikuti mereka, jika kau dapat menampilkan diri secara baik, di kemudian hari mungkin aku masih bisa menerimamu kembali, tapi kalau kau tak mau pergi maka selama hidup jangan harap bisa kembali lagi ke perguruan kita mengerti?"

"Mengerti!"

"Nah, pergilah kau begitu!"

"Baik!"

Tercekat juga perasaan Tay-khek Cinkun setelah mengikuti berlangsungnya adegan tersebut, pikirnya.

"Iblis sakti dari kutub utara betul-betul tak malu disebut sebagai iblisnya iblis, manusia sesatnya manusia sesat lain."

Berpikir-demikian, iapun berkata kepada Ong Bun-kim.

"Hayo kita berangkat!"

Ong Bun-kim manggut-manggut, kepada Dewi mawar merah segera bentaknya.

"Hayo jalan, ikut kami pergi meninggalkan tempat ini!"

Dengan wajah yang sedih dan memelas Dewi mawar merah berjaIan mengikuti dibelakang Tay-khek Cinkun, sementara Ong Bun kim berjalan dipaling belakang sendiri.

Dalam perjalanan keluar dari gua, ternyata sepanjang jalan mereka tidak menjumpai hadangan apapun.

Setelah keluar dari gua, Tay-khek Cinkun melejit keudara dan meluncur ke depan dengan kecepatan luar biasa dalam waktu singkat ia telah berada puluhan kaki jauh nya dari tempat semula, akhirnya berhenti dalam sebuah hutan.

Dengan tatapan dingin ia melirik sekejap ke arah Dewi mawar merah, kemudian sambil duduk katanya.

"Ong Bun-kim, bila aku telah selesai menyembuhkan lukaku nanti, kita baru menyusun rencana berikutnya!"

"Baik!"

Tay khek Cinkun segera memejamkan matanya untuk mengatur pernapasan, tapi sesaat kemudian tiba-tiba menjerit kaget, paras mukanya berubah hebat dan peluh mulai bercucuran membasahi jidatnya.

Ong Bun kim ikut terperanjat oleh jeritan kaget Tay im Cinkun tersebut, dengan mata terbelalak dan mulut melongo serunya.

"Locianpwe, kenapa kau?"

Tay khek-Cinkun tertawa getir, sahutnya.

"Kita semua sudah terkena sergapan kejinya, kita berdua sudah termakan olen racun gilanya yang tak berwujud dan berbahaya.

"Haaahhh !"

Ong Bun kim menjerit tertahan.

"Kalau tidak percaya, cobalah sendiri..."

Ong Bun kim segera duduk bersila sambil mengatur pernapasannya, tapi begitu hawa murninya dihimpun, ia segera merasakan ada segulung hawa dingin yang luar biasa muncul dari pusarnya dan terus naik ke atas....

membekukan sekujur tubuhnya dan membuyarkan tenaga dalam yang dimilikinya, halmana tentu saja amat mengejutkan hati.

"Lebih baik pulang dan menjumpai Bun-cu kami!"

Sela Dewi mawar merah dengan suara menyeramkan.

"kecuali dia seorang, didunia dewasa ini tiada seorang pun yang bisa menolong kalian, kalau tidak maka sekujur tubuh kalian akan merasakan kesakitan yang luar biasa, kemudian akan semakin bertambah sakitnya, hingga kemudian menjadi gila..."

Paras muka Ong Bun kim berubah hebat.

"Dewi mawar merah, kubunuh dirimu lebih dulu!"

Bentaknya.

Diiringi bentakan keras, tiba-tiba saja ia menubruk ke arah Dewi mawar merah dan melepaskan sebuah pukulan dahsyat.

Akan tetapi sebelum serangan tersebut mencapai sasarannya, tiba-tiba si anak muda itu menjerit kesakitan, lalu tubuhnya yang berada di udara jatuh ke bawah dan terguling-guling.

Tampak sekujur tubuh anak muda itu gemetar keras, dengan suara yang memilukan ia mengeluh.

"Oooh.s.... sakit.. oooh sakit sekali..."

Tay khek Cinkun menjadi amat terperanjat, segera jeritnya.

"Ong Bun kim, kenapa kau? Aduh..."

Belum habis ucapannya itu, seperti juga Ong Bun kim, tiba-tiba ia menjerit kesakitan dengan tubuh menggigil keras, mereka berguling-guling diatas tanah seakan-akan sekujur tubuh mereka sudah ditembusi oleh beribu-ribu batang pisau belati, keadaan sungguh mengerikan sekali...

Tiba-tiba...

selapis bawa pembbunuhan yang mendgerikan menyeliamuti wajah Dewib mawar merah yang cantik itu, kemudian dengan muka menyeringai seram pelan pelan telapak tangan kanannya diangkat ke udara, dan selangkah demi selangkah dihampirinya Tay khek Cinkun serta Ong Bun kim yang masih bergulingan ditanah penuh kesakitan itu 0000OdwO0000 BAB 46 PADAHAL keadaan Tay khek Cinkun dan Ong Ban kim ketika itu sangat payah, pada hakekatnya mereka sudah tak bertenaga lagi untuk melancarkan serangan.

Dalam menghadapi Dewi mawar merah yang secara tiba-tiba berubah menjadi seorang pembunuh keji ini, kecuali pasrah memang tiada jalan lagi bagi kedua orang itu untuk menghindarkan diri.

Bisa dibayangkan, seandainya pukulan itu keburu dilancarkan, bagaimana mungkin Tay khek Cin kun dan Ong Bun kim bisa menyelamatkan jiwanya dari kematian?

Sementara itu hawa napsu membunuh yang menyelimuti wajah Dewi mawar merah kian lama kian bertambah tebal.

Sambil tertawa dingin, ia bergumam.

"Daripada dibiarkan hidup lama-lama, lebih baik sekarang juga kukirim kalian berdua untuk pulang ke alam baka!"

Sebuah pukulan yang maha dahsyat segera dilepaskan kearah tubuh Ong Bun kim.

Serangan tersebut akhirnya dilepaskan juga bahkan dilancarkan secara keji, dengan tenaga pukulannya yang sebesar sepuluh bagian itu apa yang terjadi bila Ong Bunkim terhajar telak?

Untunglah disaat yang amat kritis ini, sebuah bentakan nyaring berkumandang memecahkan keheningan...

"Tahan!"

Menyusul bentakan tersebut, sesosok bayangan manusia secepat sambaran kilat meluncur masuk ke dalam gelanggang.

Oleh bentakan yang menggelegar itu tanpa sadar Dewi mawar merah menarik kembali hawa serangannya yang dilancarkan kearah Ong Bun-kim itu dan melompat mundur dari situ.

Sesudah mundur beberapa langkah, ia mendongakkan kepalanya Seorang perempuan berbaju hitam yang anggun tahu-tahu sudah berdiri tegak dihadapan mukanya.

Dengan wajah berubah hebat ia menatap perempuan itu lekat-lekat, kata "Suhu"

Hampir saja meluncur keluar dari mulutnya.

Ternyata perempuan yang baru sbaja muncul kan ddiri itu bukan alain adalah Hiabn ih-lihiap (pendekar perguruan berbaju hitam).

Dengan wajah tercengang, heran dan sangsi Hian-ih lihiap memperhatikan sekejap keadaan Ong Bun-kim dan Tay khek Cinkun yang bergulingan diatas tanah itu lalu dengan perasaan terperanjat tegurnya.

"Soh cu! Kau sudah edan?"

Air muka Dewi mawar merah berubah hebat, lalu jawabnya ketus;

"Aku belum edan!"

"Kau hendak membinasakan kedua orang itu."

Jelas Hian-ih lihiap masih belum tahu kalau Yap Soh-cu yang dididik dan dipeliha ranya selama puluhan tahun bagaikan anak sendiri ini telah terpengaruh oleh ilmu Yuleng lojin sehingga telah berubah menjadi seorang perempuan yang lain.

"Betul!"

Jawab Yap Soh cu dengan dingin.

"Kenapa kau hendak membunuh mereka?"

"Daripada membiarkan mereka hidup dengan menanggung derita, lebih baik dibunuh saja biar beres."

"Ngaco belo!"

"Ngaco belo apa?!"

"Kita sebagai orang-orang kalangan pendekar harus turun tangan menolong orang yang menderita, menolong bukan harus dilakukan dengan cara memusnahkannya, mengerti?"

"Tapi aku harus membunuh mereka!"

"Kenapa?"

Dengan wajan berubah menjadi seram dan mengerikan, Dewi mawar merah tertawa dingin tiada hentinya.

"Heehhh....heeeh... heeehh bukan saja aku hendak membunuh mereka, akupun hendak membunuh kau!"

"Apa?"

Hampir saja Hian ih lihiap tidak percaya dengan pendengaran sendiri, dengan terkejut ia berseru tertahan lalu mundur tiga empat langkah dengan sempoyongan, ditatapnya Dewi mawar merah dengan mata terbelalak lebar.

Hawa napsu membunuh kembali menyelimuti wajah Dewi mawar merah, ujarnya lagi.

"Akupun hendak membinasakan dirimu."

"Kau... kau...."

Hian ih lihiap dibikin terkesiap oleh kejadian yang sama sekali diluar dugaannya ini, sehingga urntuk sesaat lamtanya tak sangguqp mengucapkan srepatah katapun.

"Aku bilang, aku hendak membunuh kau!", seru Dewi mawar merah lagi dengan nada menyeramkan.

"Kau... kau sudah gila?"

"Tidak! Sedikitpun aku tidak gila!"

"Lantas, kau...."

"Kenapa aku hendak membunuhmu bukan?"

Sela Dewi mawar merah dengan suara yang sinis. Hian ih lihiap betul-betul merasakan batinnya terpukul, dengan perasaan sedih dan penuh penderitaan, serunya dengan suara gemetar.

"Benar!"

"Terus terang kukatakan kepadamu, suamimu-lah pembunuh keji yang telah membunuh ayah ibuku!"

"Apa.....?"

Sekali lagi Hian ih lihiap menjerit sekeraskerasnya.

"Buat apa kau musti terkejut? Suamimu adalah pembunuh yang telah membinasakan ayahku dan ibuku, karena ia tak tega membunuh aku maka aku dirawanya pulang ke-rumah."

"Dari mana kau mendengar semua berita tersebut?"

"Aku dapat melihatnya dari tengah ilmu Gi sin-tay-hoat yang dilakukan khusus oleh Yu-leng lojin bagiku!"

"Kau bilang Yu-leng lojin?"

"Benar, dia adalah Buncu ku sekarang, aku telah masuk menjadi anggota perguruan Yu-leng bun."

Kontan saja Hian-ih-lihiap merasakan kepalanya seakanakan dipukul dengan martil yang berat sekali, matanya menjadi berkunang-kunang, kepalanya menjadi pusing, dada sesak dan wajah berubah menjadi pucat pias seperti mayat, dengan sempoyongan ia mundur ke belakang dan hampir saja roboh terjengkang ke tanah.

Peristiwa ini sungguh berada diluar dugaannya dan amat menggetarkan seluruh perasaan Hian ih liap, Yaa!

Bagaimanapun juga, peristiwa ini baginya merupakan suatu peristiwa yang betul-betul menakutkan sekali.

Dengan suara gemetar diapun bertanya kembali.

"Jadi kau benar-benar sudah masuk menjadi anggota perkumpulan Yu-leng bun?"

"Benar?"

"Kau?."

Saking gemetarnya menahan luapan emosi, Hian ih lihiap tak sanggup melanjutkan kembali katakatanya.

"Terus terang kuberitahukan kepadamu, setelah suamimu membunuh ayahku, ia telah memperkosa pula ibuku kemudian Buncu kami membalaskan dendam bagiku dengan membunuh suamimu serta seluruh anggota perguruannya."

"Omong kosong!"

"Tidak! Sama sekali tidak omong kosong, aku berbicara sesungguhnya"

"Aku ingin bertanya, antara suamiku dengan ayah ibumu sebenarnya mempunyai dendam sakit hati apa?"

"Sama sekali tak ada."

"Kalau menuang tak ada, kenapa ia dapat membunuh ayah ibumu?"

"Sebab suamimu terpikat oleh kecantikan ibuku, maka timbul niat jahatnya untuk membunuh ayahku serta menodai ibuku"

"Hal ini tak mungkin bisa terjadi."

Bentak Hian ih lihiap dengan gusarnya.

"Siapa bilang tak mungkin? Jelas mungkin sekali."

"Sekarang Yu leng lojin berada dimana?"

Bentak Hian ih lihiap amat geram.

"Mau apa kau?"

"Ia telah mengirim orang membunuh suamiku membantai anggota perguruanku, dan sekarang dengan menggunakan ilmu sesat..."

"Tutup mulut!"

Bentak Dewi mawar merah.

"dia adalah orang baik, kularang kau menghina dan mencemooh dirinya."

"Yap Soh cu!"

Bentak Hian ih lihiap "Perduli ucapanmu itu merupakan kenyataan atau bukan, yang jelas terhadap dirimu aku tak pernah memperlakukannya secara jelek, tak pernah merugikan kau!"

"Yaa tentu saja karena kau punya tujuan!"

"Apa tujuanku?"

"Takut dikemudian hari aku membunuh dirimu!"

"Ucapan mu itu sama sekali tidak beralasan!"

Dewi mawar merah tertawa dingin tiada hentinya.

"Perduli beralasan atau tidak pokoknya aku hendak membunuh kau!"

"Kau berani?"

Bentak Hian ih lihiap dengan geramnya.

"Kenapa tak berani? Sambutlah seranganku ini."

Ditengah bentakan yang amat nyaring, Dewi mawar merah menerjang maju kedepan, kemudian sebuah pukulan dahsyat dilancarkan ke arah Hian ih lihiap.

Gadis itu benar-benat melepaskban serangan yandg dahsyat dan maematikan orang.b Semua kesadaran dan tabiat sesungguhnya telah dipunahkan oleh pengaruh hipnotis, yang masih tersisa dalam benaknya saat ini adalah kebiasaan dan kejahatan yang dipengaruhi hawa sesat.

Hian ih lihiap sama sekali tidak tahu kalau muridnya telah terpengaruh oleh ilmu hipnotis yang jahat, maka ketika dilihatnya Dewi mawar merah benar-benar melancarkan serangan mematikan ke arahnya, dengan penuh kegusaran dia membentak.

"Yap Soh cu, kau bsraai menyerang aku ?"

Ditengah bentakan nyaring, ia lepaskan pula sebuah pukulan untuk membendung datangnya ancaman tersebut.

Bayangan manusia saling berputar, dalam waktu singkat kedua belah pihak telah melancarkan tiga buah serangan.

Sudah barang tentu ilmu silat yang dimiliki Dewi mawar merah bukan tandingan dari Hian-ih lihiap, selewatnya tiga gerakan tersebut, ia kena terdesak hingga mundur sejauh satu kaki lebih dari posisinya semula.

"Yap Soh-cu!"

Kembali Hian-ih lihiap membentak.

"jika kau berani turun tangan lagi, jangan salahkan kalau aku benar-benar akan membunuhmu"

"Kalau berani, bunuh saja diriku ini!"

Bentak Dewi mawar merah setengah kalap.

Ditengah jeritan keras yang memekikkan teIinga, kembali ia menubruk kedepan dan secara beruntun melancarkan tiga buah serangan tersebut.

Habis sudah kesadaran Hian ih lihiap menghadapi tingkah laku muridnya, ditengah bentakan keras, telapak tangan kanannya dibabat keluar melepaskan dua buah serangan kilat yang disertai dengan tenaga pukulan dahsyat.

Yu leng lojin telah menciptakan suatu tragedi yang memilukan hati bagi kedua orang itu....

yaa, akibat dari ulahnya, murid dan guru telah terlibat sendiri dalam suatu pertarungan yang mempengaruhi mati hidup kedua belah pihak.

Dikala guru dan murid sedang terlibat dalam pertarungan yang sengit inilah, Tay-khek Cinkun serta Ong Bun kim tersadar kembal dari pederitaannya.

Mereka menghentikan gerakan tubuhnya yang bergelindingan di tanah, bagaikan orang yang baru sembuh dari penyakit parah, kedua orang itu berbaring ditanah dengan lemas seperti tak bertenaga.

Tapi suara pertarungan antara Hian-ih lihiap dengan Dewi mawar merah dengan cepat menyadarkan kembali Ong Bun-kim, cepat cepat dia bangun berduaduk dan alihkanb sorot matanya ke tengah arena.

Berubahlah wajahnya setelah mengetahui siapa yang terlibat dalam pertarungan itu.

Serta merta itu pula Tay Khek Cinkun telah duduk pula sambil menonton jalannya pertarungan, tiba-tiba ia bertanya.

"Ong Bun-kim, siapakah perempuan yang sedang bertarung melawati Dewi mawar merah itu?"

"Suhunya !"

"Apa? Dia adalah gurunya Dewi mawar merah?"

"Benar, dia pula nyonya pangcu dari perkumpulan Huiyan-pang?"

"Waaah, hal ini mana boleh jadi !"

Belum habis ucapan dari Tay-khek Cinkun tersebut, bentakan keras yang diiringi dengusan tertahan telah berkumandang memecahkan keheningan, menyusul kemudian tubuh Dewi mawar merah mencelat ke belakang dan roboh terjengkang ke atas tanah.

"Kubunuh kau perempuan sialan yang tak tahu budi!"

Bentak Hian ih lihiap lagi. Sambil menerjang maju ke depan, sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan ke tubuh gadis itu.

"Locianpwe, tahan!"

Tiba-tiba Ong Bun kim membentak keras.

Oleh bentakan Ong Bun kim yang keras i tu, serta merta Hian ih lihiap menarik kembali serangannya sambil mundur ke belakang, ketika berpaling ke arah anak muda tersebut, tampak sekali wajahnya diliputi oleh luapan emosi.

Pelan-pelan Ong Bun-kim bangun berdiri, setelah memandang sekejap ke arah Dewi mawar merah yang tergeletak di tanah, ujarnya dengan nada sedih.

"Locianpwe, jangan kau bunuh dirinya!"

"Kenapa?"

"Sebab ia sudah terkena pengaruh ilmu sesat!"

"Ia benar-benar sudah menggabungkan diri dengan perguruan Yu-leng bun ?"

Tanya Hian ih lihiap.

"Benar !"

"Yaa ampun !"

Sambil menjerit keras, titik air mata jatuh bercucuran membasahi pipi perempuan itu.

"Hujin tak perlu bersedih hati"

Hibur Tay khek Cinkun dengan cepat.

"sebab semua perbuatannya dilakukan tanpa sadar, ia sudah terpengaruh oleh ilmu sesat yang bisa menghilangkan kresadaran orang!t"

Hian ih Iihiaqp berpaling ke rOng Bun kim, kemudian katanya.

"Cianpwe ini adalah.. ?"

"Dia adalah Tay khek Cinkun!"

Dengan terkejut Hian ih lihiap lantas berseru.

"Oooh ! Kiranya adalah locianpwe, terimalah salam dari Ong Sian bi!"

"Hujin tak perlu banyak adat!"

"Benarkah ia terpengaruh oleh ilmu sesat dari Yu leng lojin?"

Tanya Hian ih lihiap kemudian.

"Benar."

"Tak heran kalau dia hendak membunuh kalian berdua!"

"Apa?"

Ong Bun kim dan Tay khek Cinkun menjerit tertahan.

Hian ih lihiap menghela napas panjang, diapun membeberkan peristiwa yang telah dilihatnya barusan kepada kedua orang itu, sudah barang tentu Ong Bun kim berdua merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri mengingat baru saja mereka lolos dari lubang jarum.

Coba kalau Hian ih lihiap tidak muncul tepat pada saatnya, bukankah jiwa mereka berdua telah melayang tinggalkan raga untuk melaporkan diri kepada Raja akhirat?

"Aaah sungguh suatu peristiwa yang mengerikan hati!"

Gumam Tay kbek Cinkun kemudian.

"Apakah kalianpun sudah terkena tangan jahat dari Yu leng lojin?"

Tanya hian ih lihiap.

"Benar!"

Jawab Tay khek Cinkun, kemudian sambil berpaling kearah Ong Bun kim, ujarnya kembali.

"sebelum memasuki Yu leng bun tadi, aku telah menduga kalau Yu leng lojin bakal mempergunakan racun untuk mencelakai kita, sebab itu-lah Kuanjurkan kepadamu untuk minum sebutir pil anti racun"

"Yaa memang begitulah!"

"Aaay ! Tapi tidak kusangka sama sekali kalau racun tak berujud dari Yuleng lojin ternyata sedemikian lihaynya sehingga kemanjuran pil anti racunnya tak berdaya sama sekali"

Saking gemas dan mendendamnya, Ong Bun kim menggertak giginya keras-keras. Mendadak Dewi mawar merah yang tergeletak ditepi arena berteriak keras.

"Hian-ih lihiap, kalau kau punya kepandaian, hayo bunuhlah aku."

"Kalau anggap aku tak berani membinasakan dirimu?"

Bentak Hian-ih lihiap dengan wajah berubah.

"Kalau memang berani, kenapa tidak segera turun tangan?"

Saking gusarnya sekujur badan Hian-ih li hian gemetar keras, tapi sebelum pertarungan itu bertindak sesuatu, Ong Bun-kim telah menerjang lebih dulu sambil membentak.

"Dewi mawar merah, kau ingin mampus?"

Didalam gusarnya ia telah cengkeram tubuh Dewi mawar merah dan mengangkatnya tinggi-tinggi.

"Ong Bun-kim, lepaskan dia!"

Tay-khek cin kun segera membentak. Ketika kena dibentak, serta merta Ong Bun kim menurunkan kembali gadis itu keatas tanah.

"Dewi mawar merah!"

Ujar Tay khek Cinkun kemudian dengan suara dingin.

"bukankah kau amat menyanjung Yu leng lojin?"

"Benar!"

"Kau berani tidak melanggar ucapannya?"

"Tidak!"

"Nah, bukankah dia telah menyerahkan kau kepada kami? Memangnya kau berani membangkang perkataannya?"

"Tidak berani!"

"Kalau memang demikian, maka kau harus mendengarkan semua perkataan kami, kalau tidak maka perbuatanmu itu sama artinya dengan bersikap tidak hormat terhadap Yu leng lojin!" 0000OdwO0000 BAB 47 DENGAN sendiri Dewi mawar merah menundukkan kepalanya dari tidak berbicara lagi, sementara sinar matanya yang dialihkan kearah Hian ih lihiap masih tetap memancarkan hawa napsu membunuh yang amat tebal, membuat siapapun yang melihatnya merasa hatinya tercekat. Tiba-tiba Hian ih lihiap bertanya.

"Dimanakah letak Yu leng bun?"

Ong Bun-kim menggigil keras, serunya tanpa sadar.

"Mau apa kau?"

"Hendak kujumpai dirinya"

Dewi mawar merah segera menuding ke depan sambil berkata.

"Itu dia, didalam gua ditempat kejauhan sana"

Hian ih lihiap memandang sekejap ketempat kejauhan sana, setelah itu dengan hawa napsu membunuh menyelimuti wajahnya ia berkata.

"Aku hendak membunuhnya?"

Selesai berkata ia lantas menggerakkan tubuhnya dan meluncur kearah gua itu dengan kecepatan tinggi. Terkesiap Ong Bun kim menyaksikan tindakan perempuan itu.

"Berhenti!"

Tay kbek Cinkun segera membentak. Ditengah bentakan tersebut, dengan mengerahkan segenap sisa kekuatan yang dimilikinya ia melompat kemuka dan menghadang jalan pergi Hian ih li hiap.

"Mau apa kau?"

Hian ih lihiap segera berseru dengan kaget.

"Mau apa pula kau?"

Tay khek Cinkun balik bertanya.

"Aku hendak menjumpai Yu leng lojin untuk membalas dendam!"

"Hujin aku harap sebelum kau laksanakan hal tersebut, pikirkan dulu tiga kali, camkan dulu bahwa perbuatanmu itu lebih banyak resikonya dari pada keberuntungan."

"Aah, tidak perlu dipikirkan lagi!"

"Ketahuilah hujin, ilmu silatmu masih jauh ketinggalan bila dibandingkan dengan kepandaiannya kau masih bukan tandingan bajingan tua tersebut!"

"Tentang soal ini sudah kupikirkan masak-masak, harap kau tak usah menguatirkan diriku!"

Tay khek Cinkun segera menghela napas panjang, katanya kembali.

"Hujin, bukannya aku sengaja menyombongkan diri, dengan mengandalkan tenaga dalam yang kumilikipun masih terkena racun gila tak berwujud Bu heng hong bong ci tok, apalagi kau? Bagaimana seandainya kau berubah menjadi seperti Dewi mawar merah setelah berjumpa dengannya nanti?"

Paras muka Hian ih lihiap segera berubah hebat. Tay khek Cinkun berkata lebih jauh.

"Bukan saja dendam sakit hatimu tak terlampiaskan, bahkan kau malahan akan dipergunakan olehnya."

"Jadi, kau menyarankan aku jangan membalas dendam?"

"Aku tidak bermaksud demikian, aku hanya mengingatkan kepadamu agar janganlah disebabkan suatu masalah yang kecil mengakibatkan masalah besar menjadi terbengkalai, dengan mengandalkan emosi dan keberanian saja masih belum cukup untuk mengatasi persoalan, malah bisa jadi akan berakibat fatal!"

"Lantas bagaimanakah aku musti bertindak menurut pendapatmu?"

"Seharusnya kau menyusun rencana jangka panjang lebih dahulu, setelah rencana matang barulah mulai bertindak"

"Aaai....kalau begitu biar kupertimbangkan kembali nasehatmu itu."

"Yaa, memang lebih baik hujin berpikir tiga kali dulu sebelum bertindak!"

Dengan mulut membungkam, perdekar baju hitam termenung dan berpikir beberapa waktu lamanya.

Sementara waktu, Ong Bun kim yang membungkam selama ini tiba-tiba berpaling ke arah Dewi mawar merah sambil menegur.

"Dewi mawar merah, aku ingin bertanya kepadamu..."

"Katakanlah!"

"Siapa yang mampu memunahkan pengaruh racun giia tak berwujud ini...?"

"Yu-leng lojin!"

"Kecuali dia?"

"Didunia ini tak akan kau jumpai orang kedua!"

"Dalam jangka waktu berapa lama racun gila tak berwujud itu baru mulai kambuh dan bekerja?"

Setiap satu jam akan kambuh satu kali, setiap kali kambuh maka tenaga dalam yang dimiliki akan berkurang dari lima sampai sepuluh tahun hasil latihan, bila sampai kambuh untuk ketiga kalinya, maka sekujur badan akan menjadi kering dan tewas."

Bergidik juga Ong Bun-kim setelah mendengar perkataan itu, serunya tanpa terasa.

"Sungguhkah perkataan itu?"

"Benar!"

Bukan saja Ong Bun-kim dibikin terperanjat oleh perkataan itu, bahkan Tay khek Cin kun pun merasakan jantungnya berdebar keras. tak tahan lagi dia berseru.

"Jadi kalau begitu, kami hanya mempunyai waktu hidup selama dua jam saja?"

"Benar!"

Jawaban tersebut benar-benar menggidikkan hati semua orang, untuk sesaat lamanya Ong Bun kim dan Tay khek Cinkun hanya bisa berdiri tertegun tanpa sanggup mengucapkan sepatah katapun.

"Cuma..."

Kata Dewi mawar merah lagi dengan dingin, tentu saja kalian bisa lolos dari kematian tersebut.

"Apa caranya?"

Bentak Ong Bun kim.

"Menjumpai Buncu kami Yu leng lojin, hanya dia yang bisa menyelamatkan kalian dari kematian."

"Apa? Mencarinya?"

"Tentu saja. kalian harus menjumpainya untuk minta obat penawar racun itu!"

"Kalau kami enggan menjumpainya?"

"Mampuslah kamu berdua!"

Dengan hati bergidik dan wajah memucat, Ong Bun kim berdiri tertegun ditempat sambil membungkam dalam seribu bahasa. Tiba-tiba Tay kbek Cinkhn berpaling ke arah anak muda itu dan berkata.

"Ong Bun Kim, sekarang hanya ada dua cara buat kita..."

"Cara apa?"

"Pertama adalah mati, kedua adalah jalan hidup, menurut penglihatan ku lebih baik kita pergi saja untuk menjumpai Yu leng lojin dan meminta obat penawar darinya."

"Apa kau bilang?"

"Asal kita dapatkan obat pemunahnya, maka kita baru akan terhindar dari kematian."

Ong Ban kim tertawa dingin tiada hentinya.

"Heeehh heeehhh heeehhh sungguh tak kusangka perkataan semacam inipun bisa kau ucapkan, kalau kau ingin mencarinya, pergilah menjumpai sendiri!"

"Dan kau?"

"Aku Ong Bun kim lebih rela mati keracunan dari pada pergi memohon kepadanya!"

"Kau ingin mati?"

"Benar, terus terang kuberitahukan kepadamu, aku tak akan tuidukkan kepala kepada Yu-leng Lojin, sampai matipun aku tak akan tunduk, mengertikan kau?"

Tiba-tiba Tay-khek Cinkun mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

"Haahhh....haaihhh......haaahhh punya semangat! Punya semangat! Aku memang tak salah menilaimu, betul! Sekalipun harus mati keracunan, kita tak akan tundukkan kepala kepadanya, barisan aku hanya sengaja mempergunakan kata-kata tersebut untuk menyelidiki karakter dan watakmu yang sesungguhnya"

Mendengar perkataan tersebut, Ong Bun kim baru mengerti akan maksud orang, serunya juga.

"Oooh kiranya begitu!"

Tay khek Cinkun menghela napas panjang, ujarnya lagi.

"Kau memang benar-benar seorang manusia berbakat yang punya jiwa ksatria, cuma sayang kita benar-benar tak akan hidup lebih dari dua jam lagi."

Ong Bun kim segera berpaling, kemudian bantahnya.

"Dewi mawar merah, ada satu persoalan ingin kutanyakan lagi kepadamu, kemana larinya ke enam biji mata uang kematian itu?"

"Sudah kuserahkan kepada Buncu dari perguruan Yuleng bun."

"Kau sudah berkunjung ke benteng Hong-she?"

"Belum!"

Ong Bun-kim segera berpaling kembali kearah Tay-khek Cinkun, lalu bertanya.

"Locianpwe, mungkin ia bisa menyelamatkan kita berdua!"

"Siapa yang kau maksudkan?"

"Iblis cantik pembawa maut!"

Paras muka Tay khek Cinkun segera berubah.

"Yaa. betul!"

Serunya.

"mungkin ia bisa menyelamatkan jiwa kita berdua"

"Aku tahu dia berada dimana, hayo berangkat, sekarang juga pergi menjumpainya"

Selesai mengucapkan kata tersebut Ong Bun-kim segera berangkat lebih dulu meninggal kan tempat itu. Tay khek Cinkun memandang sekejap ke arah Hian-ih lihiap berdua, lalu serunya.

"Mari kita ikut pergi!"

Selesai berkata, iapun berangkat menyusul dibelakangnya sianak muda yang telah berangkat duluan itu.

Dewi mawar merah tertawa hambar, dia ikut pun menyusul dibelakang kedua orang ini.

Dalam keadaan demikian mau tak mau Hian-ih Iihiap harus mengikuti pula kepergian Ong Bun-kim berdua, sebab jika Ong Bun kim dan Tay-khek Cinkun sampai roboh kembali karena bekerjanya racun ditubuh mereka, besar kemungkinan-nya kalau Dewi mawar merah akan manfaatkan kesempatan tersebut untuk membunuh kedua orang itu.

Maka diapun menjejakkan kakinya ke tanah dan meluncur kedepan menyusul rekan-rekan lainnya...

Baca Juga: Rahasia Hiolo Kumala 3

Baca Juga: Dendam Sejagad Legenda Kematian 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert