Eps 5 Tujuh Pedang Tiga Ruyung - Gan KL
Baca online Tujuh Pedang Tiga Ruyung - Gan KL
Cersil Tujuh Pedang Tiga Ruyung - Gan KL.
"Dasar manusia tamak, melihat bisa mengeduk keuntungan, Mao Kau tidak tinggal diam, ia pun melakukan pengawalan gelap semacam itu, Dengan kungfunya, dengan sendirinya usahanya semakin maju. Pada waktu itulah dia menambah beberapa antek seperti Pat-bin-ling-long Oh Ci-hui, Ho Lim, Ki Mo dan sebagainya."
Ko Bun mendengus mendengar nama antek-antek Mao Kau itu. Ong Peng lantas menyambung.
"Cuma untuk menjaga nama baik sendiri, dengan sendirinya ia menyembunyikan pekerjaan itu, orang yang datang minta pengawalannya harus tahu jalannya lebih dulu, Oh Ci-hui adalag wakilnya yang mengadakan kontak dengan para pemesan. Sampai akhirnya, karena begundalnya bertambah banyak sehingga Mao Kau pun jarang turun tangan sendiri."
"Sungguh tak tersangka tokoh utama Jit-kiam-sam-pian yang termashur itu juga melakukan pekerjaan rendah begitu, sungguh lebih rendah daripada aku Thio It-tong."
Sela Thio It-tong.
"Meski Mao Kau melakukan pekerjaan pengawalan gelap, tapi diantara tokoh Jit-kiam-sam-pian yang lain masih ada yang lebih kotor daripada dia,"
Jengek Ong Peng.
"Oo, siapa?"
Tanya Thio It-tong.
"Justru diantara tokoh Jit-kiam-sam-pian itu ada yang diam-diam khusus melakukan pembegalan barang kawalan gelap itu."
Tutur Ong Peng. Seketika alis Ko Bun bekernyit dan mencorong sinar matanya, desisnya.
"Wan-yang-siangkiam!"
"Betul, memang Wan-yang-siang-kiam,"
Kata Ong Peng.
"Hal ini kebetulan dapat kudengar dari seorang saksi mata yang melihat kejadian itu."
"Hah, saksi mata? Siapakah dia?"
Sela Thio It-tong pula. Segera Ong Peng memanggil masuk seorang yang menunggu diluar.
"Orang ini tak punya she dan nama, tapi terkenal sebagai Sam-cia-jiu (tiga tangan), dari nama julukannya ini jelas pekerjaannya adalah tukang mengerayangi isi rumah orang. Pada suatu malam hujan lebat dan tepat untuk aksi kaum maling seperti Sam-cia-jiu itu, malam itu dia mengalami nasib sial, perbuatannya diketahui orang dan dikejar, untung dia masih sempat kabur keluar kota dan meninggalkan pengejarnya, dan secara kebetulan memergoki peristiwa itu."
Sampai disini Ong Peng lantas berpaling dan membentak.
"Ayolah lekas ceritakan apa yang kau lihat waktu itu kepada Kongcu kita."
Cepat Sam-cia-jiu mengiakan dengan hormat, matanya yang kecil seperti mata tikus itu gemerdip, bibirnya yang tebal seperti mulut kelinci itu mulai bersuara.
"Malam itu hamba dikejar dan berusaha menyelamatkan diri keluar kota, baru saja sempat bernapas, tiba-tiba kulihat didepan ada seorang menghunus pedang didepan sebuah kereta kuda. Hamba ketakutan dan cepat bersembunyi di semak-semak tepi jalan. Selang sejenak, terdengar ditengah jalan ada orang bicara, 'Thia Hong, kenapa kau bekerja secara ngawur, apakah tidak kau ketahui barang ini... .' belum habis ucapannya seorang telah memotong dengan tertawa. 'Haha, meski barang ini dikawal olehmu Siam-tian-sin-to (golok kilat) tetap orang she Thia tidak peduli,' --Menyusul lantas terdengar gemerincing suara berudanya senjata. Karena ingin tahu apa yang terjadi kucoba mengintip, siapa tahu lantas terdengar jeritan ngeri, bahkan jeritan ngeri itu terus susul menyusul sampai empat kali. Karuan aku ketakutan dan tidak jadi mengintip. Habis jeritan ngeri itu, keadaan lantas sepi, hanya hujan yang bertambah deras, kuraba kepalaku yang basah kuyup oleh air hujan bercampur dengan keringat dingin. Hamba tidak berani lagi tinggal lebih lama disitu, cepat merangkak ke pematang sawah dan kabur. Semalaman itu pekerjaan hamba gagal total tanpa hasil apa pun, sebaliknya diuber-uber orang dan ketakutan setengah mati, ditambah lagi kehujanan, maka setiba dirumah hamba lantas jatuh sakit sampai hampir sebulan baru sembuh."
"Baiklah, cukup,"
Bentak Ong Peng sambil melemparkan sepotong uang perak kepadanya.
"Nah, boleh kau pergi sana. Ingat, apa yang terjadi malam ini dilarang kau ceritakan kepada orang lain. Bila sampai bocor pasti kucabut nyawamu!"
Dengan munduk-munduk Sam-cia-jiu mengiakan, setelah mengantungi uang perak itu, ia menyurut mundur dan melangkah pergi diantar oleh penjaga diluar. Sepergi orang, Ko Bun menghela napas gegetun.
"Betapa rapi perbuatan jahat seorang, pada akhirnya pasti akan ketahuan juga. Mana Thia Hong pernah menyangka bahwa diam-diam ada seorang telah melihat perbuatannya... ."
Mendadak ia menggebrak meja dan berseru kepada Thio It-tong.
"Eh, lekas kau susul dia dan sekap dia dikamar sana, tanpa diperintah dilarang keluar."
Thio It-tong melenggong, tapi cepat ia melaksanakan perintah Ko Bun.
"Apakah Kongcu bermaksud menyimpan dia untuk dijadikan saksi?"
Tanya Ong Peng dengan tersenyum.
"Darimana Kongcu mengetahui urusan ini kecuali Sam-cia-jiu?"
Ko Bun hanya tersenyum saja tanpa bicara, mendadak dia bertepuk tangan.
Segera muncul seorang yang berwajah kaku, sorot mata buram, tubuh juga kaku seperti patung, sekilas pandang orang ini serupa mayat hidup saja.
Sementara itu hari sudah terang benderang, diruang tamu sudah disiapkan pula meja perjamuan.
Kembali Ko Bun menyilakan Thia Hong dan Lim Lin hadir.
"Betapapun pagi ini kita harus minum sepuasnya, sayang ada urusan penting harus kutinggalkan rumah, kalau tidak sungguh ingin kulayani anda agar berdiam lebih lama disini,"
Kata Ko Bun. Thia Hong mengucapkan terima kasih dengan rendah hati.
"Tuang arak!"
Seru Ko Bun sambil memberi anda.
Segera seorang menuangkan arak dari belakang tempat Thia Hong berduduk.
Dengan sendirinya Thia Hong dapat melihat tangan yang memgang poci arak ini sangat mantap, arak yang dituang kecawan tampak berwarna kemerah-merahan, sekali tuang lantas secawan penuh, setetespun tidak tercecer.
"Pelayan semalam itu terlalu usil mulut, pagi ini sudah kuganti pelayan yang lain,"
Tutur Ko Bun dengan tertawa.
"Tubuh orang ini hampir mati rasa seluruhnya, biarpun ditusuk juga takkan menimbulkan rasa sakit baginya, Hal ini ada segi baiknya, yaitu setiap perintah majikan pasti akan dilaksanakannya dengan baik, umpama dia disuruh mati juga takkan ragu. Mempunyai budak seperti ini sungguh hatiku sangat bangga dan puas."
Diam-diam Thia Hong heran, entah mengapa tanpa sebab pemuda ini bisa menonjolkan seorang budak kebanggaannya, waktu ia berpaling, terlihat sang istri sedang memandang kebelakangnya seperti melihat sesuatu yang membuatnya tercengang.
Tanpa terasa Thia Hong juga berpaling dan memandang muka pelayan dibelakangnya, terlihat sorot mata orang yang kaku dingin itu juga sedang memandang padanya.
Terasa sorot mata orang seperti sudah dikenalnya, tapi jelas orang ini belum pernah dilihatnya, ia menjadi tercengang.
Dalam pada itu sipelayan aneh telah menggeser kebelakang Lim Lin untuk menuangkan arak, lalu menggeser lagi kebelakang Ko Bun.
Selama hidup Thia Hong berkecimpung didunia Kangouw, entah berapa banyak manusia aneh dan tokoh kosen yang dilihatnya, tapi belum pernah terlihat seorang kaku linglung dan lamban mirip mayat hidup demikian.
Dalam pada itu Ko Bun telah mengajak minum, terpaksa Thia hong ikut menenggak secawan.
Waktu ia taruh kembali cawan araknya, tertampak sorot mata yang kaku dingin itu sedang menatapnya.
"Lekas menuangkan arak lagi bagi tamu, Hoan Hun!"
Seru Ko Bun.
Sungguh aneh, manusia yang kaku dan dingin serupa mayat hidup ini ternyata bernama Hoan Hun atau mayat hidup.
Pelahan Hoan Hun menggeser lagi mengitari meja dan menuangkan arak satu persatu, tap sorot matanya tidak pernah lagi meninggalkan wajah Thia Hong.
Orang persilatan paling mengutamakan ketenangan dan kesabaran, tapi sekarang hati Thia Hong ternyata berdebar-debar, tak terpikir olehnya mengapa sorot mata orang serasa sudah sedemikian dikenalnya.
Cahaya matahari pagi menyinari wajah Hoan Hun yang kaku itu sehingga kelihatan bekas lukanya yang menyolok pada mukanya.
Thia Hong berdehem risi, ucapnya dengan tersenyum ewa.
"Hoan Hun... .sungguh nama yang aneh."
"Soalnya orang ini mengaku sudah pernah mati satu kali, lalu hidup kembali sebab itulah kuberi nama Hoan Hun padanya, meski nama jelek, tapi cukup berarti, betul tidak?"
Tanya Ko Bun.
"Ya, ya, betul,"
Sahut Thia Hong dengan kikuk sambil menenggak araknya.
"Kongcu sungguh beruntung dengan mudah dapat menemukan pembantu yang baik, tidak seperti pelayan umumnya yang suka banyak mulut,"
Tiba-tiba Lim Lin ikut menimbrung.
"Orang ini bukan kutemukan sendiri, tapi dibawa kesini oleh seorang sahabatku pada suatu malam hujan lebat pada tujuh belas tahun yang lalu, dibawa kesini dari luar kota Hangciu,"
Ko Bun sengaja bicara dengan pelahan, setiap kalimat selalu berhenti.
Dan setiap kali berhenti selalu terlihat air muka Thia Hong ikut berubah.
Sekejap itu dalam benak Thia Hong terbayang kembali adegan masa lampau, adegan berdarah yang mengerikan.....
Se-olah2 terbayang olehnya suara jeritan dibawah hujan lebat, seorang lantas membalik tubuh hendak lari, tapi tidak berhasil dan terbunuh.
Seorang lagi berdiri tegak dengan membusungkan dada tanpa gentar, sorot matanya dingin dan kaku.....
"Trang", tanpa terasa cawan arak yang dipegang Thia Hong jatuh kelantai dan pecah berantakan. Ko Bun terbahak.
"Haha, belum seberapa anda minum, masakah sekarang juga anda sudah mabuk?"
Ia berhenti tertawa dan membentak.
"Lekas bersihkan lantai, Hoan Hun!"
Pelahan Hoan Hun menaruh poci arak diatas meja, lalu berjongkok untuk membersihkan pecahan cawan yang berserakan itu sambil sebentar-sebentar memandang Thia Hong dengan sorot matanya yang kaku dingin itu.
Thia Hong juga menatapnya, sinar mata kedua orang beradu, mendadak timbul nafsu membunuh Thia Hong, pelahan ia menjulurkan tangannya kebawah meja, bilamana jarinya menutuk kepelipis orang, seketika Hoan Hun akan binasa.
Pada saat itulah tiba-tiba Ko Bun berseru.
"Haha, minum arak pantang berperut kosong, kenapa anda tidak makan sedikit. Inilah irisan paha ayam yang lezat, silakan anda rasakan sedikit."
Berbareng Ko Bun telah menyumpit sepotong daging ayam dan disodorkan kemuka Thia Hong, hanya beberapa senti saja didepan hidungnya.
Jika Thia Hong tidak menyambut suguhan tersebut, sumpit orang mungkin akan menutuk Jintiong-hiat diatas bibir dan dibawah hidungnya, tempat yang berbahaya.
Terpaksa ia menarik kembali tangannya dari bawah meja, ia angkat piring untuk menerima suguhan daging ayam itu.
Dalam pada itu Hoan Hun pun sempat berdiri.
Seperti tidak terjadi apa-apa Ko Bun menarik kembali sumpitnya, Sebaliknya Thia Hong menjadi heran dan curiga, entah gerakan Ko Bun itu sengaja atau cuma kebetulan saja.
Meski sudah makan minum lagi sekian lama, namun Thia Hong tidak merasakan lezatnya hidangan, Lim Lin lantas berkata.
"Atas kemurahan hati tuan rumah kita telah mengganggu semalam, kini sudah saatnya kita harus mohon diri!"
"Betul, betul, sekarang juga kami mohon pamit!"
Tukas Thia Hong sambil berbangkit.
"Ah, kenapa anda jadi terburu-buru?"
Kata Ko Bun dengan tertawa.
"Jangan-jangan anda merasa mual terhadap muka kaum budak yang buruk itu. Baiklah, lekas kau pergi saja, Hoan Hun... .Ai, muka orang ini memang jelek, daya ingatnya juga lenyap, tapi ada satu hal tidak pernah terlupakan olehnya?"
Hati Thia Hong tergetar, tanpa terasa ia tanya.
"Hal apa?"
Ko Bun tidak menjawab melainkan menatapnya lekat-lekat, habis itu mendadak ia tertawa dan berkata.
"Haha, jika anda sudah tahu, masakah perlu kujelaskan lagi?"
Berubah air muka Thia Hong.
"Kutahu apa? Urusan apa, dari mana kutahu?"
Meski cukup berpengalaman, tidak urung sikap Thia Hong sekarang menjadi serba salah.
"Hahaha, apakah anda tahu atau tidak, yan jelas didunia ini kan cuma aku, kau dan dia saja..."
Mendadak ucapannya berhenti, sambil menggebrak meja ia berseru.
"Wah, celaka!"
Baru saja Thia Hong dapat menenangkan hati dan angkat cawan arak, mendadak cawan arak ia taruh kembali dan bertanya dengan gugup.
"Ada apa?"
Dengan kening bekernyit Ko Bun berkata.
"Selain aku dan kau masih ada lagi seorang lain yang tahu urusan ini."
Tanpa terasa Thia HOng terus bertanya.
"Siapa lagi yang tahu?"
Setelah berucap demikian barulah ia menyesal, sebab dengan ucapan ini tidak ada bedanya dirinya telah mengakui apa yang tidak mau diakuinya tadi.
Tapi ucapan sudah terlanjur keluar, tidak mungkin ditarik kembali lagi.
Ko Bun tersenyum, namun ia tetap bicara dengan serius.
"Kabarnya sebelum Hoan Hun datang kemari, dia pernah tinggal sekian lama ditempat Co-jiu-sin-kiam Ting Ih, mungkin... ."
Sampai disini ia menghela napas dan tidak meneruskan. Dilihatnya Thia Hong melenggong dengan alis berkerut, lalu Ko Bun menyambung pelahan.
"Jika sekiranya hubungan anda dengan Ting Ih cukup baik tentu tidak menjadi soal, kalau tidak, bila diketahui oleh orang itu, urusan pasti runyam."
Mendadak Thia Hong menepuk meja dan berseru dengan bengis.
"Apa yang kau maksudkan, sama sekali aku tidak paham."
Ko Bun bergelak tertawa dan berlagak tidak melihatnya, katanya pula.
"Jika aku menjadi dirimu tentu aku akan... .Ai, jika anda tidak dapat mempercayaiku, lebih baik tidak kukatakan saja."
Habis itu ia menuang arak dan minum sendiri. Sampai lama Thia Hong melongo, mukanya sebentar merah sebentar pucat, jelas terjadi tertentangan batin. Akhirnya ia menghembuskan napas dan bertanya.
"Jika engkau menjadi diriku lantas bagaimana?"
Dengan tersenyum Ko Bun menjawab.
"Kalau aku menjadi dirimu, dalam keadaan kepepet begini pasti kubereskan orang yang tahu seluk-beluk urusan ini."
"Hahahaha!"
Mendadak Thia Hong terbahak.
"Apakah kau sendiri tidak tahu persoalan ini?"
Kau tahu, bila ingin kubunuh dirimu boleh dikatakan seperti membaliki telapak tanganku sendiri."
Ko Bun tidak menghiraukannya, ia pun tertawa dan berucap.
"Coba dengarkan, adakah sesuatu suara diluar?"
Thia Hong tercengang karena mendadak orang mengemukakan hal yang tidak ada sangkutpautnya dengan urusan yang sedang dibicarakan.
Tapi waktu ia mendengarkan dengan cermat, terdengar suara derapan kuda lari yang cepat, baru saja derap kaki kuda lari keluar, dalam sekejap saja suaranya lantas lenyap.
Diam-diam Thia Hong terkejut dan mengakui betapa cepatnya lari kuda itu, namun dimulut ia berucap dengan dingin.
"Kuda kesayangan anda sudah kulihat tadi."
"Dan siapa penunggangnya apakah kau tahu?"
Berubah air muka Thia Hong, tanyanya bengis.
"Memangnya si... .si mayat hidup itu?"
"Haha, orang bilang Wan-yang-siang-kiam serba pintar, tampaknya memang tidak keliru. Betul penunggang kuda itu memang Hoan Hun adanya, saat ini dia tentu sudah berada di luar kota Kahin. Meski orang ini linglung dan tidak ingat apa-apa lagi, dia hanya patuh padaku saja da cuma tetap ingat kepada peristiwa pada malam hujan lebat tujuh belas tahun yang lalu."
Dia menenggak arak sendiri dan tidak bicara lagi.
Sampai lama Thia Hong termenung, diam-diam ia masgul, ia merasa setiap gerak-gerik sendiri seakan-akan sudah dalam pengamatan Kongcu kaya yang tampaknya polos dan juga lugas ini.
Setelah berpikir sekian laam, akhirnya Thia Hong bertanya dengan menggebrak meja.
"Sebenarnya apa maksudmu dengan ucapan dan tindakanmu ini? Sesungguhnya siapa kau?"
"Tenang, sabar!"
Ucap Ko Bun dengan tersenyum.
"Jangan emosi! Sesungguhnya tidak ada maksud jahat apa pun, yang kuinginkan supaya anda mengetahui dulu akan bahaya apa yang mungkin menimpamu, setiba di Hangciu nanti, jika bertemu dengan Mao-toaya, kita....."
"Dari mana kau tahu aku akan pergi ke Hangciu dan bertemu dengan Mao Kau?"
Tukas Thia Hong dengan kaget.
"Sepuluh hari lagi Mao-toaya akan mengadakan sidang pertemuan para kesatria dikota Hangciu, berita ini sudah tersiar luas dengan sendirinya kutahu juga, cuma....."
"Cuma apa?"
Potong Thia Hong. Ko Bun menghela napas.
"Jika aku menjadi dirimu, lebih baik tidak menghadiri pertemuan besar para kesatria ini."
Thia Hong tampak ragu dan termenung, sejenak kemudian ia bergumam sendiri.
"Ken...kenapa tidak hadir... .Tetap kami harus hadir."
Dengan sungguh-sungguh Ko Bun berkata pula.
"Meski kita baru berkenalan, tapi aku sangat ingin bersahabat dengan kesatria besar seperti anda ini. Umpama anda jadi hadir pada pertemuan itu nanti, hendaknya juga jangan bekerja bagi Mao Kau. Maklumlah, urusan terahasia apa pun didunia ini pada akhirnya pasti bocor, bilamana anda ikut melaksanakan sesuatu proyek besar sesudah urusan selesai, tidak nanti Mao Kau yang berjiwa sempit dan licin itu melepaskan dirimu begitu saja."
Ia berhenti sejenak, melihat air muka Thia Hong rada berubah, diam-diam ia merasa geli, tapi dengan serius ia menyambung lagi.
"Kukira untung rugi persoalan ini tidak perlu kujelaskan lebih lanjut, tentu anda dapat menimbangnya sendiri. Yang jelas saat ini Mao Kau sudah menjadi titik sasaran setiap orang Kangouw, bahaya sudah mengamcamnya dimana-mana, untuk apa anda mesti ikut mengaduk ditengah air keruh ini. Padahal kalau Mao Kau binasa dan usahanya berantakan, hal ini kan menguntungkan anda dan tidak perlu menguatirkan lagi peristiwa masa lampau, mengenai orang she Ting....."
Mendadak ia mengetuk meja dan menambahkan dengan tertawa.
"Orang ini cuma gagah tanpa akal, untuk membunuhnya juga tidak perlu membuang tenaga."
Thia Hong memandang jauh keluar jendela tanpa bicara, dari kertuk gigi dan kedua tinjunya yang terkepal erat itu jelas kelihatan pertentangan batinnya yang keras. Pelahan Ko Bun menyambung.
"Dengan kungfu dan kecerdasan anda serta hubunganmu yang luas didunia Kangouw, masakah engkau mesti merasa lebih asor daripada Mao Kau, apalagi kalau ditambah dengan harta kekayaanku, haha, apa salahnya kalau kita mengambil dan menggantikannya daripada selalu berada dibawah perintah orang?"
"Mengambil dan menggantikannya."
Kata-kata ini serupa godam besar mengetuk hati Thia Hong.
Air mukanya sebentar-sebentar berubah, kedua alisnya terkerut rapat, sorot matanya sebentar guram sebentar terang.
Sekonyong-konyong ia berbangkit dan mengetuk meja, serunya.
"Baik, setuju!"
Dengan tatapan tajam Ko Bun menegas.
"Apakah keputusanmu sudah pasti?"
Serentak Thia hong melangkah kedepan anak muda itu dan menjura, ucapnya.
"Jika tidak ada petunjukmu, saat ini aku pasti masih terlena didalam impianku sendiri. Dengan ucapanmu tadi, seketika pikiranku terbuka melebihi belajar sepuluh tahun lamanya."
Cepat Ko Bun membalas hormat orang dan berkata.
"Ah, jika bukan terhadap orang bijaksana sebagai anda, kata-kata tadi tidak nanti kukemukakan."
Thia Hong terbahak.
"Haha, sungguh tidak nyana perjalananku ke Kanglam ini dapat bersahabat dengan orang seperti Ko-heng, kelak bilamana mana ada kemajuan usahaku, semua ini adalah jasa Ko-heng dan budi ini pasti takkan kulupakan."
Ah, terima kasih atas pujianmu,"
Ujar Ko Bun dengan tertawa.
"Diriku ini seorang lemah, namun selama hidupku paling kagum terhadap kaum kesatria dan pengelana Kangouw."
Thia Hong tertawa, ia pikir meski anak muda ini kelihatan banyak tipu akalnya, juga orang kaya, namun tidak punya nama dan juga tidak berpengaruh, sebab itulah dia berusaha menarik tokoh Kangouw semacam diriku, tujuannya jelas cuma untuk mengembangkan nama dan meraih kedudukan saja.
Berpikir demikian, rasa waswasnya terhadap Ko Bun lantas banyak berkurang.
Selesai makan minum, hari pun dekat lohor, Thia Hong berdua lantas mohon diri.
"Setelah persepakatan ini, biarlah kami mohon diri untuk berangkat, Atas hadiah kuda dan benda mestika, bersama ini pula kami mengucapkan terima kasih, semoga kelak... ."
"Dari mana anda tahu akan sumbangan kuda dan sedikit tanda mata dariku?"
Tanya Ko Bun dengan tercengang.
"Ko-heng dilahirkan ditengah keluarga jaya, dengan sendirinya tidak tahu seluk-beluk pekerjaan kaum Kangouw kami."
Seru Thia Hong dengan tertawa.
"Bicara terus terang, apa yang diucapkan Ko-heng semalam dikamar telah kudengar."
Ko Bun tampak melenggong, akhirnya ia menghela napas dan berkata.
"Ai, kungfu anda sungguh hebat dan sukar ada bandingannya, sungguh sangat mengagumkan."
Jilid 11 Di tengah gelak tertawa senang Thia Hong berdua lantas meninggalkan ruangan tamu.
Ko Bun memerintahkan kuda disiapkan.
Sesudah memberi salam, berangkatlah Thia Hong dan Lim Lin.
Menyaksikan kepergian orang dikejauahan, kembali tersembul senyuman Ko Bun yang khas itu.
Diam-diam ia membatin.
"Ong It-peng dan Ong It-beng telah kuhasut hingga marah, mereka sudah terperangkap olehku, Pek-poh-huihoa Lim Ki-cing berwatak garang, asalkan kuperlakukan agak panas, tentu dia juga takkan lolos dari cengkeramanku. Sekarang Wanyang-siang-kiam juga telah terpikat olehku dengan dengan nama dan keuntungan....Mengenai Co-jiu-sin-kiam Ting Ih, tentu dia akan dibereskan oleh Wan-yang-siang-kiam. Sekarang tersisa Toh Tiong-ki saja seorang, yang lain-lain seperti Pat-bing-ting-long Oh Ci-hui dan Ho Lim terlebih tidak ada artinya bagiku."
Debu yang mengepul dikejauhan sudah lenyap, dengan tersenyum puas ia membalik tubuh hendak masuk rumah. Siapa tahu, baru saja bergerak, se-konyong2 seorang menegur dengan tertawa.
"Haha, lihai amat tipu berantai anda ini, Jit-kiam-sam-pian sudah ada lima orang yang pasti dapat kau bereskan, sisanya tinggal Jit-sing-pian Toh Tiong-ki saja saja, sekali ini Leng-coa Mao Kau benar-benar dipereteli kaki-tangannya dan akan bangkrut habis-habisan."
Suaranya nyaring, setiap katanya menggetar sukma. Keruan Ko Bun terkejut, cepat ia berpaling dan membentak.
"Siapa?"
Waktu ia memandang kesana, ternyata dipojok undak-undakan batu sana berduduk seorang kurus kering dengan baju penuh tambalan, namun berkulit badan putih, sinar matanya juga tajam, seorang pengemis setengah umur.
"Haha, jelek-jelek orang rudin sudah pernah bertemu satu kali dengan Kongcu, memangnya Kongcu sudah lupa?"
Seru si pengemis pula sambil berbangkit. Ko Bun tertegun, tapi segera ia pun tertawa.
"Aha, kukira siapa, rupanya Kiong-sin Lengtayhiap! Baik-baikkah selama ini?"
Walaupun dalam hati terkesiap, namun air mukanya tidak memperlihatkan sesuatu perasaan, Diam-diam ia menaruh curiga terhadap Leng Liong yang muncul mendadak ditempatnya ini.
Maka sambil menyongsong si pengemis, sebelah tangannya terjulur seperti hendak menepuk bahu orang, tapi sebenarnya bermaksud menutuk Hiat-to maut dibelakang telinga.
Kiong-sin Leng Liong tetap bergelak tertawa, seperti tidak mengetahui tindakan Ko Bun itu.
Ko Bun menjadi ragu, pada saat terakhir mendadak ia urungkan serangannya.
Seketika Leng Liong berhenti tertawa dan menatap Ko Bun dengan tajam, katanya.
"Tutukan Kongcu ini seharusnya diteruskan, kalau tidak, bilamana rahasia pekerjaanmu bocor, kan bisa bikin susah Kongcu sendiri?"
Muka Ko Bun menjadi merah, ucapnya dengan tertawa.
"Ah, apabila Leng-tayhiap tidak sedikit pun kuatir terhadap seranganku, hal ini menandakan engkau tidak bermaksud jahat terhadapku, kenapa perlu kuturun tangan lagi?"
"Haha, sudah puluhan tahun orang she Leng berkecimpung didunia Kangouw, tapi tokoh muda cerdik pandai sebagai Kongcu sungguh baru pertama kali ini kulihat,"
Kata Leng Liong dengan gegetun.
"Terima kasih,"
Sahut Ko Bun "Sudah sekian lama tidak kulihat Liang Siang-jin, Liang-toako, entah dimana sekarang dia? Leng-tayhiap adalah sahabat karibnya tentu tahu jejaknya?"
"Dari mana kau tahu hubunganku dengan dia?"
Tanyan Leng Liong dengan heran.
"Meski cara kerjaku kurang rapi, tapi kalau Liang-toako tidak membicarakan urusan ini dengan Leng-tayhiap, dari mana kiranya Leng-tayhiap dapat mengetahui sejelas ini? Apalagi juga bukan rahasia lagi hubungan erat antara Kiu-ciok-sin-hu dengan pihak Kai-pang."
Kiong-sin Leng Liong menatap Ko Bun beberapa kejap, katanya kemudian dengan menyesal.
"Bertindak cepat dan tegas, memperkirakan sesuatu dengan tepat, mengatur taktik secara jitu, siapa pun pasti akan celaka bilamana mengikat permusuhan dengan orang seperti Kongcu. Sepuluh hari lagi akan tiba hari pertemuan para kesatria, tatkala mana mungkin Leng-coa Mao Kau harus merasakan betapa pahitnya berhadapan dengan Kongcu."
"Jika Leng-tayhiap berminat, bagaimana kalau ikut menyaksikan keramaian nanti?"
Kata Ko Bun. Kiong-sin Leng Liong termenung sejenak, ucapnya kemudian.
"Meski Kongcu telah mengatur taktik serapi ini, tapi Wan-yang-siang-kiam dan lain-lain sampai saat ini masih terpengaruh oleh wibawa Mao Kau, umpama dalam hati mereka sudah timbul rasa tidak senang, belum tentu mereka berani bersikap menantang terhadap Mao Kau.
"Sumbunya sudah kupasang, bila tiba saatnya, asalkan kusulut sumbu itu, segera api akan berkobar, kalau Mao Kau tidak terbakar hingga hangus mana bisa terlampias rasa dendamku?"
Setelah berhenti sejenak, dengan tersenyum Ko Bun lantas bertanya.
"Kedatangan Lengtayhiap ini pasti ada sesuatu petunjuk padaku?"
Sembari bicara ia terus bersikap menyilakan orang masuk kerumah, tapi Kiong-sin Leng Liong tidak segera melangkah, sorot matanya yang tajam menyapu pandang sekejap sekeliling, setelah yakin tidak ada orang lain, dengan suara tertahan ia berkata.
"Berhubung dengan urusan Kongcu, Liang-Siang-jin pernah datang mencariku, katanya dalam keadaan perlu mohon kukerahkan pasukan kaum jembel untuk membantu. Meski sudah lama kuhormati mendiang Siu-locianpwe, Kongcu juga baru muncul didunia Kangouw, mengingat urusan ini sangat luas sangkut-pautnya dengan kepentingan orang banyak, maka diam-diam sudah kukuntit dan mengawasi gerak-gerik Kongcu sekian lamanya....."
"Ingin kau ketahui dapatkah kulaksanakan tugasku?"
Tukas Ko Bun.
"Betul."
Jawab Leng Liong terus terang.
"Ternyata Kongcu memang naga diantara manusia, bangau ditengah ayam. Sebab itulah sekarang kudatang kemari untuk bertanya kepada Kongcu dalam hal apa dimana tenaga kaum jembel diperlukan bantuannya?"
"Terima kasih atas maksud baik Leng-tayhiap,"
Jawab Ko Bun.
"Setelah urusan ini berkembang sejauh ini, rasanya sudah tidak ada lagi yang berharga untuk mengerahkan anggota-anggota Kai-pang. Jadi sekali lagi terima kasih atas budi kebaikan Leng-tayhiap."
Meski dia bicara dengan tersenyum, tapi kata2nya cukup tajam, rupanya ia rada tersinggung oleh kata "mohon bantuan"
Yang diucapkan Leng Liong tadi, hal ini membangkitkan rasa angkuhnya. Leng Liong tertawa.
"Jika demikian, baiklah kutunggu kabar baik Kongcu, dalam pesta perayaan Kongcu nanti hendaknya jangan lupa mengundang diriku."
Ditengah gelak tertawanya ia menyurut mundur dan memberi hormat, lalu membalik tubuh dan melangkah pergi. Memandangi bayangan punggung orang yang semakin jauh, diam-diam Ko Bun membatin.
"Hm, biarpun pengaruh sindikat kaum jembel setinggi langit juga aku Siu Su belum tentu perlu memohon bantuanmu."
Pemuda yang sukses biasanya memang sukar terhindar dari sifat angkuh..== ooo OO ooo == Senja sudah hampir lalu.
Sebuah kereta berwarna putih perak ditarik empat ekor kuda putih mulus berlari dijalan raya ditengah keramaian kota.
Menjelang magrib, pasar malam dijalan raya Kahin bertambah ramai dan berjubel dengan orang yang berlalu lalang, ditengah jalan raya yang ramai itu kereta kuda ini dilarikan dengan cepat serupa seekor ikan yang lincah menyusur kian kemari didalam air.
Sais didepan kereta berseragam putih, tubuhnya tegak, cambuknya terangkat tinggi.
"tarrr", pelahan cambuknya menggeletar diatas punggung kuda. Kereta putih perak ditarik empat kuda putih mulus, saisnya juga berseragam putih, sungguh sangat menarik perhatian orang dan membuat kagum. Siapakah penumpang kereta itu? Inilah yang menimbulkan dugaan-dugaan dalam hati orang ramai. Kereta dilarikan cepat kedepan dan menimbulkan kepulan debu tipis, namun tiada menyenggol ujung baju seorang pun. Selagi keempat ekor kuda putih berlari kencang, se-konyong2 kawanan kuda itu meringkik keras sambil berjingkrak, semuanya berdiri dengan kaki belakang dan tidak mampu berlari maju selangkah pun kedepan. Sais kereta Thi Jit terkejut, ia angkat cambuk sambil berpaling kebelakang. Terdengar suara seorang lagi membentak.
"Kereta siapa berani ngebut ditengah jalan raya ramai ini, apakah tidak kuatir menubruk orang?"
Thia Jit melompat turun dari tempatnya, terdengar orang banyak menjerit kaget menyaksikan seorang Thauto (hwesio berambut) berbaju hitam dengan rambut panjang terurai diatas pundak, pangkal rambut diikat dengan sebuah ikat kepala perak mengkilat.
Yang luar biasa adalah Thauto ini dengan tangan kiri menarik bemper belakang kereta sehingga perawakannya yang tinggi besar itu se-akan2 berakar didalam tanah, serentak kereta itu tertahan berhenti.
Bahwa kereta yang ditarik empat kuda dan sedang dilarikan dengan kencang itu dapat ditahan oleh tenaga sebelah tangan si Thauto berbaju hitam ini, keruan tidak kepalang kaget Thia Jit sehingga dia berdiri melongo tak bisa bicara.
Dari cahaya lampu pertokoan kedua tepi jalan kelihatan Thauto berbaju hitam ini memang cuma bertangan satu, sebab lengan baju kanan kelihatan kosong terselip pada tali pinggang.
Muka Thauto ini juga aneh, sejalur bekas luka memanjang dari ujung mata kiri melintang miring kebawah pipi kanan, dibawah cahaya lampu terlihat codet yang kemerahan itu berpadu dengan mata kanan yang masih tersisa dan berjelitan memancarkan sinar tajam itu sehingga kelihatan agak seram.
Sungguh lelaki perkasa, bukan saja Thia Jit terkejut, penonton yang menyaksikan juga melenggong.
Habis suara jeritan kaget orang banyak tadi, segera suasana jalan raya berubah menjadi sunyi.
Sinar mata tunggal si Thauto menyapu pandang Thia Jit sekejap, dengan alis menegak segera ia membentak pula.
"Apakah kau bisu atau tuli, masakah tidak mendengar pertanyaanku?"
Thia Jit berdehem dan menjawab.
"Harap Taysu jangan....."
Belum lanjut ucapannya, terdengar suara lantang bertanya dari dalam kereta.
"Ada apa, Thia Jit?"
Pelahan pintu kereta terbuka, lalu melangkah turun seorang pemuda tampan berjubah sulam mentereng, Setelah melihat apa yang terjadi, mau-tak-mau terunjuk juga rasa kejutnya, tapi segera ia tersenyum dan memberi hormat, serunya.
"Tenaga sakti Taysu sungguh mengejutkan, kukira tenaga raksasa pahlawan jaman dahulu kala juga tidak lebih dari pada ini."
Meski bicara sambil tertawa, tapi sikapnya membawa semacam wibawa yang agung.
Thauto baju hitam meng-amat-inya beberapa kejap, mendadak ia lepaskan pegangannya pada kereta dan mendekati Ko Bun, bentaknya pula.
"Jadi kaulah majukan kereta ini?"
Suara bentakannya menggelegar membikin kaget penonton, tapi pemuda perlente ini tetap tenang dan tersenyum, jawabnya.
"Cayhe Ko Bun, memang betul kereta ini milikku."
Dengan alis menegak si Thauto berteriak pula.
"Melarikan kereta secepat ini ditengah jalan raya yang ramai, jelas sengaja mencari perkara dan menumbuk orang, berdasarkan apa kau berani berbuat tidak se-mena2 begini?"
"Sengaja mencari perkara dan bermaksud menumbuk orang? Ingin kutanya kepada Taysu, bilakah keretaku menumbuk orang?"
Jawab pemuda Ko Bun dengan tertawa. Tercengang juga si Thauto, mendadak ia menengadah dan bergelak tertawa, katanya.
"Baik, anggap kau mujur, Bukan saja kudamu bagus, saisnya juga hebat, kau pun punya mulut yang pandai bicara. Salahku sendiri tidak membekukmu setelah keretamu menerjang orang."
Belum lenyap suara tertawanya, Thauto berbaju hitam yang aneh ini lantas membalik tubuh dan melangkah pergi.
""Nanti dulu, Taysu!"
Seru Ko Bun tiba-tiba. Serentak Thauto itu berpaling, damperatnya dengan kurang senang.
"Kau mau apa lagi?"
"Petang hari indah ini tepat untuk makan minum, bilamana Taysu tidak ada urusan, bagaimana jika kita minum bersama barang dua-tiga cawan?"
Kata Ko Bun. Si Thauto meraba janggutnya yang pendek kaku sambil tertawa.
"Haha, sungguh menarik, sudah dua puluh tahun tidak berkunjung ke Kanglam, tak tersangka hari ini dapat berjumpa dengan pemuda menarik seperti kau ini. Baik, mari kita minum sampai mabuk."
Sembari tersenyum Ko Bun menyilakan si Thauto menuju kesebuah rumah makan besar yang tepat berada didepan situ, sekilas ia mengedipi Thia Jit, meski tanpa bicara, namun jelas maksudnya menyuruh Thia Jit menyelidiki asal-usul Thau-to aneh ini.
Meski hari belum lagi gelap, namun rumah makan itu sudah penuh tetamu, Ko Bun dan si Thauto baju hitam memilih sebuah meja kelas utama, setelah menenggak tiga cawan arak mulailah Thauto itu berbicara dengan riang gembira.
Kedua orang ini sangat kontras, yang satu kasar, yang lain lembut, yang satu bermuka buruk, yang lain berwajah tampan, dengan sendirinya mereka sangat menarik perhatian tetamu lain dan ber-tanya2 siapakah kedua orang ini?
Yang mengherankan Ko Bun adalah kecuali tenaga raksasanya, Thauto berbaju hitam ini juga sangat luas pengetahuannya dan pengalamannya, seluruh negeri sudah pernah dijelajahinya.
Tapi bila ditanya mengenai asal-usulnya, segera ia berusaha membelokkan pembicaraan orang, seperti dibalik sejarah hidupnya mengandung sesuatu rahasia besar.
Tidak lama kemudian.
Bayangan Thia Jit tampak berkelebat diujung tangga.
Dengan sesuatu alasan Ko Bun meninggalkan sebentar tamunya dan turun kebawah.
Segera Thia Jit menyongsongnya dan memberi laporan.
"Hamba sudah tanyai segenap kawan di Kahin sini, diketahui Thauto ini baru datang semalam, tidak mondok dibiara, juga tidak masuk rumah penginapan, sebaliknya semalaman terus minum arak tanpa mabuk. Bila orang bertanya namanya, ia mengaku sebagai Loan-hoat Thauto (si Thauto berambut kusut). Pagi-pagi ia telah mengitari kota sekeliling, tampaknya seperti sedang mencari jejak seseorang. Bekernyit kening Ko Bun, katanya kemudian setelah berpikir.
"Sudah lama engkau berkecimpung didunia Kangouw, pernah kau dengar seorang tokoh semacam ini?"
"Tidak pernah."
Jawab Thia Jit sambil menggeleng.
"Padahal asalkan namanya sedikit menonjol saja pasti tidak terlepas dari mata telinga kami."
Tambah rapat kerut kening Ko Bun.
"Aneh juga jika begitu. Selain punya tenaga raksasa pengetahuan Thauto ini juga sangat luas, jelas dia bukan tokoh Kangouw yang tidak bernama, apalagi lahiriahnya begini aneh, cacat lagi, kemana dia pergi pasti menarik perhatian orang. Jika namanya sedikit menonjol saja pasti takkan dilupakan siapa pun yang pernah melihatnya."
Belum habis dia bicara, tiba-tiba terlihat seorang Tosu muda berjubah kelabu dan bersepatu kain hitam, pedang bergantung dipinggangnya, rambut digelung tinggi dengan tusuk kundai diatas kepala, dengan langkah enteng lalu disebelahnya.
Waktu lewat disamping Ko Bun, Tosu muda itu menoleh dan memandangnya sekejap, sorot matanya mengandung senyuman.
Selagi hati Ko Bun tergerak, tahu-tahu Tojin muda berjubah kelabu itu sudah pergi jauh dan lenyap ditengah keramaian pasar malam.
Langkah tojin itu kelihatan santai, padahal sangat gesit dan cepat, kalau ginkangnya tidak hebat pasti tidak dapat berjalan secepat itu.
"Kau tahu tojin itu?"
Tanya Ko Bun dengan suara tertahan. Thia Jit menggeleng.
"Kecuali anak murid Bu-tong-pai, jarang ada tojin yang membawa pedang didunia persilatan, tapi kawanan tosu Bu-tong-pai berjubah biru, tojin yang berpedang dan berjubah kelabu seperti ini seketika hamba tidak ingat akan asal-usulnya,"
"Baiklah, jika begitu kembali dan tunggu saja dikereta,"
Kata Ko Bun dan ia naik kembali keatas loteng rumah makan. Dalam hati Ko Bun membatin.
"Hwesio beranbut dan Tosu ini tampaknya bukan orang biasa, tapi asal-usulnya tidak diketahui pula, mengapa mereka bisa muncul sekaligus dikota Kahin ini?... ."
Setiba diatas loteng, dilihatnya si Thauto lagi memandang keluar jendela, agaknya ingin menemukan seseorang.
Waktu Ko Bun berdehem cepat Thauto itu berpaling, alisnya yang tebal tampak bekernyit, tanyanya tiba-tiba.
"Baru saja ada seorang tojin berjubah kelabu, apakah kau lihat?"
Tergerak hati Ko Bun, jawabnya.
"Adakah sesuatu yang aneh pada tojin yang Taysu maksudkan itu?"
"Tojin yang berjubah kelabu begitu dahulu hanya terdapat pada golongan Hoa-san-pai saja, itu pun cuma dipakai oleh tokoh-tokoh perguruan tersebut yang terkemuka. Selama berpuluh tahun terakhir ini Hoa-san-pai sudah banyak mundur, sungguh aku tidak mengerti mengapa di Kahin sekarang bisa mendadak muncul seorang ahli pedang tokoh Hoa-san-pai."
Dengan sendirinya Ko Bun juga merasa heran. Dilihatnya si Thauto berambut kusut telah menenggak arak lagi, lalu menyambung.
"Sepanjang perjalananku kesini, sudah ada sekian kelompok tokoh Bu-lim yang telah kulihat, tampaknya mereka sama ter-gesa2 dan seperti menanggung sesuatu pikiran, entah dari mana asal-usul mereka dan apa maksud tujuannya?"
"Tapi dalam pandangan orang lain, bukankah Taysu sendiri juga dipandang begitu?"
Ujar Ko Bun. Thauto itu melengak, mendadak ia terbahak-bahak.
"Hahaha, paling-paling hanya kedua lenganku ini sedikit bertenaga, memangnya terhitung apa?"
Sesudah orang puas tertawa, kemudian Ko Bun berkata.
"Akhir-akhir ini daerah Kanglam sering bermunculan jejak kaum pendekar, mungkin kedatangan mereka ada sangkut-pautnya dengan Enghiong-taihwe (pertemuan para kesatria) yang akan diadakan Mao Kau, entah kedatangan Taysu apakah juga lantaran urusan ini?"
"Haha, apa artinya pertemuan yang diadakan Mao Kau itu, mana bisa... ."
Mendadak suara si Thauto terhenti, dengan prihatin ia menyambung lagi.
"Jika kau sendiri bukan orang dunia persilatan, mengapa urusan dunia persilatan begitu menarik perhatianmu dan begitu jelas kau ketahui?"
"Meski cayhe bukan orang dunia persilatan, tapi beruntung banyak mempunyai sahabat dari kalangan tersebut, karena bergaul setiap hari dan sering bicara hal-hal yang menyangkut orang persilatan, maka seluk-beluknya dapatlah kuikuti dengan jelas."
Mendadak si Thauto bertanya dengan sorot mata mencorong.
"Jika begitu, apakah pernah kau dengar akhir-akhir ini didaerah Kanglam ada muncul seorang kakek bertangan buntung sebelah yang datang dari daerah perbatasan utara?"
Melihat sikap prihatin si Thauto ketika bertanya, Ko Bun merasa tertarik, tanyanya.
"Apakah kedatangan Taysu ke Kanglam ini disebabkan urusan ini?"
Tiba-tiba sinar mata si Thauto menampilkan rasa duka, ucapnya pelahan.
"Sudah ada dua puluh tahun aku tidak pernah berjumpa dengan kakek ini, mestinya tidak kuketahui matihidupnya, akhir-akhir ini terdengar usahanya sukses didaerah perbatasan sana, waktu kudatangi, kudapat kabar dia telah berangkat ke Kanglam sini untuk mencari jejak seseorang."
"Siapa yang dicarinya?"
Tanya Ko Bun.
"Keturunan seorang she Siu... ."
Bicara sampai disini si Thauto merasa terlanjur omong, alisnya berkerut, segera ia berkata pula dengan ketus.
"Jika kau lihat jejak orang tua itu hendaknya segera kau katakan padaku, kalau tidak tahu, untuk apa bertanya?"
Diam-diam Ko Bun mentertawakan watak si Thauto yang keras itu, ia pikir tenaga raksasanya memang sangat mengejutkan, apabila orang ini dapat diperalat tentu akan banyak gunanya, maka dengan tersenym ia berkata pula.
"Saat ini cayhe memang tidak tahu, tapi asalkan orang yang dimaksudkan Taysu itu benar berada didaerah Kanglam, kuyakin dalam waktu sebulan pasti dapat kuselidiki dimana dia berada."
Semangat si Thauto terbangkit.
"Apakah betul?"
"Mana berani kuomong kosong kepada Taysu, cuma entah bagaimana bentuk wajah kakek itu, berapa usianya?"
"Usia orang ini sudah lebih enam puluh tahun, perawakannya tinggi besar, suaranya lantang seperti bunyi genta, buntung tangan kanan, sekilas pandang hampir mirip diriku."
"Jika begitu menyolok keadaan si kakek, untuk mencarinya tentu tidak sukar."
Ujar Ko Bun.
"Hahaha, bila betul demikian, selama sebulan ini jelas aku akan nebeng padamu,"
Seru si Thauto dengan tergelak..== oo OOO oo == Pagi hari pada musim semi yang indah, sebuah kereta berwarna perak dilarikan keluar Kahin menuju Hangciu.
Ko Bun berduduk menyanding jendela kereta yang setengah terbuka, memandang keindahan alam yang dilaluinya, suasana sunyi, hanya detak kaki kuda dan gemertak roda kereta yang terdengar.
Si Thauto berambut kusut berduduk didepannya sambil mengangkat sebuah buli-buli dan asyik menikmati araknya.
Tiba-tiba terdengar suara detak kaki binatang berlari yang berat dari jauh mendekat, si Thauto coba melongok keluar, tertampak dari jauh berlari datang dua ekor unta berpunuk ganda.
Diatas kedua unta itu berduduk melintang dua wanita cantik berdandan suku bangsa asing perbatasan utara, bergaun longgar dan berlengan baju sempit, muka pakai kain kerudung.
Kedua unta dengan cepat bersimpang jalan dengan kereta ini, sekilas kelihatan kerling mata kedua wanita cantik dibalik kain kerudungnya.
Ko Bun merasa heran, sungguh aneh didaerah Kanglam yang menghijau permai ini mengapa terdapat binatang yang biasanya dijuluki sebagai "kapal gurun"
Ini, bahkan penunggang unta adalah dua perempuan cantik. Selagi Ko Bun merasa bingung, mendadak si Thauto menolak pintu kereta dan mendesis.
"Sampai bertemu di Hangciu."
Belum habis ucapannya serentak ia melompat keluar kereta.
Ko Bun tidak sempat bertanya, ia tambah heran.
Dilihatnya si Thauto telah berlari kesana mengikuti lari kedua ekor unta tadi.
Kereta tetap dilarikan kedepan, suasana tetap sunyi, namun hati Ko Bun sekarang telah bertambah lagi dengan macam-macam tanda tanya.
Sejak tiba didaerah Kanglam, segala sesuatu telah diaturnya dengan sangat rapi, setiap kejadian yang timbul takkan membuatnya terkejut, sebab semuanya sudah dalam perhitungannya.
Tapi sekarang munculnya si Thauto berambut kusut, si tojin muda dan kedua perempuan cantik penunggang unta ini adalah hal-hal yang sukar dipecahkannya.
Meski hal-hal ini tampaknya tidak ada sangkut-pautnya dengan dia, tapi aneh, dalam lubuk hatinya timbul semacam perasaan waswas yang sukar dijelaskan.
Entah berapa lama kemudian, mendadak terdengar Thia Jit yang menjadi sais itu berteriak diluar.
"Kongcu, coba kau lihatlah!"
Laju kereta diperlambat, waktu Ko Bun melongok keluar jendela, tertampak ditepi jalan sana adalah lapangan rumput hijau mengelilingi sebuah kolam berbentuk melengkung, lebar kolam empat-lima tombak dan panjangnya belasan tombak, air yang mengalir tampak sangat lambat.
Suasana sunyi senyap, tiada terdengar suara manusia, diseberang kolam sana tampak berdiri dua buah kemah besar berbentuk bulat, Ditepi kolam ada beberapa ekor unta dan sepuluhan ekor kuda belang sedang makan rumput dengan tenang.
Terdengar Thia Jit lagi bergumam.
"Sungguh aneh, didaerah Kanglam mengapa terdapat perkemahan seperti kemah orang mongol?"
Tengah ia bicara kereta lantas dihentikan.
Ko Bun juga heran dan terkesima memandang adegan yang ganjil itu.
Mendadak seekor burung bangau terbang mengitari permukaan kolam dan menyelam, lalu terbang lagi keudara dengan seekor ikan pada paruhnya.
Belum lagi percikan air kolam tenang kembali, dari dalam kemah diseberang berlari keluar seorang anak berbaju kuning sambil bersorak gembira.
Menyusul lantas muncul pula seorang gadis berkurudung dengan gaun longgar dan baju lengan sempit, dari jauh dia menggapai tangan kepada Ko Bun.
Tentu saja Ko Bun melengak, didengarnya gadis berkerudung lagi berseru.
"Tuan tamu diseberang itu silakan turun dari keretamu, majikan kami mengundang engkau mampir keperkemahan kami."
Meski logatnya agak aneh, namun suaranya nyaring dan enak didengar.
Dalam pada itu anak berbaju kuning itu telah mengitari kolam dan berlari kedepan kereta, tanpa kenal takut ia pegang lengan baju Ko Bun dan bertanya.
"Wah, alangkah gagahnya kuda-kuda ini! Alangkah indahnya kereta perak ini adan alangkah cakapnya penumpangnya!"
Dengan tertawa cerah Ko Bun bertanya.
"Eh, adik cilik, siapakah majikan kalian? Untuk apa mengundang diriku?"
Anak itu berkedip-kedip, jawabnya sambil menggeleng.
"Entah, aku tidak tahu, bisa jadi dia kenal padamu."
Dengan kening bekernyit dan karena ingin tahu, Ko Bun turun dari keretanya dan membiarkan dirinya ditarik sianak keseberang sana.
Dibalik kain kerudung tipis itu lamat-lamat kelihatan dekik pipi sigadis dengan giginya yang putih rajin, dia tersenyum manis kepada Ko Bun, lalu berlari kedalam kemah sambil berseru.
"Loyacu, tamu sudah datang!"
Ko Bun berdehem, dari dalam kemah lantas terdengar suara seorang tua berbicara.
"Tuan tamu diluar silakan masuk saja, maafkan gerak-gerikku kurang leluasa sehingga tidak dapat melakukan penyambutan."
Gadis tadi lantas menyingkap tenda dan melongok keluar sambil berkata dengan tertawa.
"Loyacu menyilakan tuan masuk kemari!"
Ko Bun memandang sekejap sekitarnya, meski diluar kemah bergerombol kuda dan unta, namun keadaan sunyi dan tenang, pada kemah lain yang lebih kecil tersiar bau sedap daging.
Ia tersenyum kepada anak berbaju kuning tadi, lalu melangkah masuk kedalam kemah.
Waktu ia angkat kepala, diluar perkemahan kelihatan sederhana, tapi didalam ternyata terpajang sangat mewah, dan beberapa meja berkaki pendek teratur diatas permadani terbuat dari kulit harimau.
Tidak usah yang lain melulu permadani ini saja sudah membuat setiap orang yang masuk kedalam kemah akan merasakan kehangatan.
Dari balik tabir kulit harimau tutul terdengar suara orang berdehem, lalu muncul seorang tua bermantel warna ungu, tubuhnya bungkuk, langkahnya tertatih-tatih.
Pada mukanya juga memakai sehelai kain kerudung tipis warna ungu, jenggot putih panjang melambai dibawah janggut, tidak terlihat jelas wajah aslinya.
Nemun kedua matanya yang tidak tertutup itu memancarkan cahaya tajam sehingga sangat tak seimbang dengan tubuhnya yang bungkuk itu.
Diam-diam Ko Bun merasa heran, namun air mukanya tidak memperlihatkan sesuatu perasaan.
Si kakek berkerudung memandang Ko Bun sekejap sambil duduk bersandar pada dipan berlapis kulit harimau, katanya dengan tertawa.
"Silakan anda duduk saja secara santai, maafkan jika pelayananku kurang baik."
Kakek ini jelas datang dari daerah luar perbatasan utara, namun logat bicaranya adalah logat Hopak. Pikiran Ko Bun bergolak, tapi ia lantas memberi hormat dan menyapa.
"Cayhe Ko Bun, entah ada petunjuk apakah Lotiang (bapak) mengundang diriku?"
"O, duduk-duduk dulu....Tho-koh, ambilkan teh!"
Ucap si kakek.
Tho-koh, si gadis berkerudung tadi mengiakan dan masuk kebalik tabir, sedangkan sianak berbaju kuning asyik memandang Ko Bun tanpa berkedip.
Betapapun Ko Bun tidak dapat menerka asal-usul kakek ini, juga tidak dapat meraba apa kehendaknya, terpaksa ia duduk termenung menunggu orang bicara lagi.
Sejenak kemudian Thi-koh membawakan alat minum terdiri dari poci dan cangkir kemala hijau.
Isi poci itu adalah teh susu kuda yang biasa menjadi minuman se-hari2 kaum penggembala digurun pasir.
Dengan sorot mata tajam si kakek berkerudung mendadak bertanya.
"Anda sungguh pemuda teladan, entah siapa orang tua anda?"
Pertanyaan yang tak terduga ini membuat Ko Bun melenggong, jawabnya kemudian dengan tersenyum.
"Ah, orang tua Cayhe adalah saudagar biasa di selatan, Lotiang sendiri adalah naga diantara manusia, entah ada keperluan apa."
Mendadak si kakek menengadah dan bergelak tertawa, pada saat yang sama sebelah tangannya yang tersembunyi dibalik mantel menjentik pelahan, kontan dua jalur angin tajam menyambar kearah Ko Bun.
Tentu saja anak muda itu terkejut, kedua larik sinar hitam itu menyambar tiba dengan cepat dan terbagi dari dua arah, muka dan belakang.
Sungguh serangan senjata rahasia yang aneh, tapi juga cepat dan lihai.
Hanya sekejap saja sambaran senjata rahasia sudah dekat dengan muka Ko Bun, dengan cepat otak Ko Bun bekerja, ia tidak menghindar.
Maka terdengarlah suara "cring"
Sekali, kedua larik sinar hitam saling bentur dan terpental jatuh disamping Ko Bun. Begitu senjata rahasia terpental jatuh, si kakek lantas tertawa pula dan berkata.
"Sungguh hebat, sungguh tabah! Kalau anda tidak lagi mengaku sebagai anak murid tokoh kosen, tentu mataku yang lamur."
Berubah juga air muka Ko Bun, tapi dengan tetap tenang ia menjawab.
"Ah, tabah apa? Soalnya cayhe tidak ada permusuhan apa pun dengan Lotiang, kuyakin takkan sembarangan Lotiang membikin celaka diriku, makanya kudiam saja, apalagi... .Haha, umpama aku ingin menghindar juga tidak tahu bagaimana caranya."
"Hm, jadi kau tahu tak ada maksudku membikin celaka jiwamu, maka engkau tidak perlu menghindar, begitu?"
Jengek si kakek.
"Tho-koh dan Liu-ji, coba kalian masing-masing mencungkil sebelah mata orang ini."
Alis Ko Bun menegak. Dilihatnya Tho-koh tersenyum dan berkata padanya.
"Maaf tuan tamu!"
Ditengah senyum manisnya, sedikit bergerak, tahu-tahu tangannya yang putih terus mencolok mata kiri Ko Bun.
Si anak berbaju kuning, Liu-ji dengan tertawa lantas menyerang juga mata kanan Ko Bun, serangan kedua orang sama cepatnya tanpa kenal ampun sedikit pun.
Sama sekali Ko Bun tidak menyangka dirinya akan diperlakukan begitu oleh kakek berkerudung itu.
Kedua tangan lawan sudah menyambar tiba, jika dirinya tidak menghindar kedua mata bisa jadi akan dibutakan didalam kemah ini.
Diam-diam ia juga menghimpun tenaga pada tangannya, sekali tangan bergerak, kontan Thokoh dan Liu-ji tergetar dan mencelat.
Maklumlah, sejak kecil Ko Bun meyakinkan Hoa-kut-sin-kun, sebagian tubuhnya dapat bekerja secara tak terduga dan menyerang dari bagian yang tidak tersangka.
Tapi jika sekarang dia mengeluarkan Hoa-kut-sin-kun andalannya, hal ini sama dengan membocorkan identitasnya sendiri.
Sebab itulah diam-diam sudah timbul maksudnya untuk membinasakan lawan.
Untunglah pada detik yang menentukan itu, se-konyong2 ada suara orang membentak diluar kemah.
"Berhenti!"
Serangan Tho-koh dan Liu-ji rada merandek, pada saat itulah selarik sinar perak lantas menyambar datang dari luar, sekaligus menabas bahu kanan Tho-koh dan tangan Liu-ji.
"Bret", Tho-koh sempat berkelit sehingga cuma lengan baju saja yang terpapas sepotong. Meski kecil, namun kungfu Liu-ji juga tidak lemah, cepat ia mendak kebawah, kontan ia balas menghantam iga pendatang itu. Tho-koh rada gugup karena lengan bajunya robek, tapi segera ia pun menggeser kesamping dan melancarkan dua kali pukulan. Kerja sama kedua orang sangat rapat, seketika serangan pendatang dapat dibendungnya. Ko Bun tetap berdiri ditempat semula, waktu ia perhatikan, kiranya oran yang melayang tiba dari luar kemah itu ialah si tojin muda berjubah kelabu yang dilihatnya kemarin. Ditengah berkibar lengan jubahnya yang lebar, dalam sekejap pedang perak yang dimainkannya sudah melancarkan tujuh jurus serangan, semuanya mengancam bagian maut ditubuh Tho-koh dan Liu-ji, begitu keji serangannya seakan-akan mempunyai dendam kesumat kepada kedua lawannya itu. Biarpun cepat dan gesit, tapi ditengah kemah yang sempit, Tho-koh dan Liu-ji rada kelabakan juga didesak oleh serangan si tojin muda yang lihai dan tampaknya sebentar lagi bisa terbinasa. Sampai saat ini Ko Bun belum lagi tahu misteri apa yang terkandung dibalik kejadian ini, maka sejauh ini dia tetap berdiam ditempatnya dengan tenang. Dengan tajam si kakek berkerudung juga terus mengawasi gaya serangan si tojin, mendadak ia membentak.
"Berhenti!"
Serentak Tho-koh dan Liu-ji melompat mundur.
Si tojin juga menarik kembali pedangnya, dipandangnya Ko Bun sekejap, sorot matanya menampilkan senyuman, tapi ketika ia berpaling kearah si kakek, sikapnya berubah kereng lagi.
Si kakek tetap berbaring kaku di dipan sana dengan mantel longgar menutup tubuhnya, tegurnya dengan suara berat.
"Apakah anda orang Hoa-san? Berani kau main gila disini?"
Si tojin jubah kelabu mendengus.
"Hm, kudengar diluar Giok-bun-koan (salah satu pintu gerbang tembok besar diujung barat) ada seorang bandit suka melakukan segala macam kejahatan, kafilah yang biasa lewat digurun pasir sana menyebutnya sebagai 'perangkap hangat digurun'."
"Sungguh julukan yang aneh?!"
Pikir Ko Bun dengan kening bekernyit. Terdengar si tojin melanjutkan lagi.
"Setiap kafilah yang kepergok oleh 'perangkap gurun' itu pasti akan terbunuh dan tak terkubur. Tak tersangka hari ini 'perangkap dari gurun' itu bisa berada didaerah Kanglam, Hm, apakah karena kafilah digurun pasir sana sudah habis kau bunuh semuanya, maka sekarang kau cari sasaran kesini?"
"Apa yang kau katakan? Sungguh sangat lucu."
Ujar si kakek dengan tertawa dingin. Dengan suara bengis si tojin berjubah kelabu berkata pula.
"Perangkap gurun itu suka menjebak kafilah dengan kecantikan wanita dan bau daging sedap agar mau masuk kedalam perkemahannya, habis itu baru dibunuhnya. Perbuatan ini serupa benar dengan apa yang kalian lakukan sekarang, memangnya perlu kau berlagak pilon lagi?"
"Ah, kiranya demikian artinya perangkap hangat digurun yang dikatakannya,"
Demikian Ko Bun membatin. Dilihatnya sinar mata si kakek berkerudung tetap sedingin es dan diam saja. Maka si tojin berucap pula dengan tertawa.
"Cuma hari ini kau si perangkap gurun ini kebentur ditangan diriku Hoa-san-gin-ho (bangau perak dari Hoa-san), mungkin selanjutnya tidak dapat lagi kau bikin celaka sesamamu."
"Apa betul?"
Jengek si kakek tiba-tiba. Belum lenyap suaranya, se-konyong2 seorang membentak pula diluar kemah.
"Apakah saudara Ko berada disini?"
"Bret", tabir kemah terobek menjadi dua, dari luar melangkah masuk seorang Thauto hitam berambut kusut, bermata besar dan bertangan satu. Begitu melihat keadaan didalam kemah, serentak ia bergelak tertawa.
"Aha, bagus, bagus sekali, semuanya berada disini!"
Air muka si kakek berkerudung yang sejak tadi diam saja mendadak berubah pada saat itulah si Thauto menyapu pandang kearahnya sehingga sorot mata kedua orang berbentrok.
Tergetar tubuh si tojin, teriaknya.
"Hah, jadi... .jadi kau... ."
Selagi semua orang melengak, se-konyong2 si kakek berkerudung melompat dari tempat tidur dan menyusup kebalik tabir kulit harimau secepat burung terbang. Hati Ko Bun tergerak, tanyanya.
"Apakah dia ini orang yang Taysu cari?"
Selagi si tojin tertegun bingung, mendadak si Thauto membentak sekali terus mengejar kebalik tabir sana.
Ko Bun dan si tojin alias HOa-san-gin-ho saling pandang sekejap, segera keduanya menyusul masuk kesitu.
Tertampaklah si kakek berkerudung berdiri tegak dengan muka menghadap kemah dan tangan lurus kebawah.
Si Thauto mengentak kaki dan berteriak dengan suara agak gemetar.
"Coba ber...berpaling kemari biar kupandang sekejap."
Thauto yang tinggi besar dan kasar ini sekarang bersuara gemetar dengan wajah menampilkan rasa pedih dan duka, sama sekali berbeda daripada waktu datangnya tadi.
Namun si kakek bermantel yang berdiri mungkur itu tetap diam saja tanpa bersuara.
Alis Hoa-san-gin-ho bekernyit, ia memburu maju dan bermaksud menarik tubuh si kakek untuk diputar kesebelah sini.
Siapa tahu mendadak si Thauto mengangkat sebelah tangannya untuk merintanginya sambil membentak.
"Kau mau apa?"
Hoa-san-gin-ho terkejut dan juga gusar.
"Sialan, katanya kau ingin melihat tampangnya, kenapa kau rintangi aku?"
Sambil mengomel ia terus menyurut mundur lagi.
Ko Bun juga heran, tujuan si tojin hendak membantunya, tapi si Thauto malah menghalanginya, sebenarnya bagaimana urusan ini sungguh sukar untuk dimengerti.
Terdengar si kakek berbatuk sekali, lalu berkata dengan suara serak.
"Apakah benar kalian minta kuputar badan?"
Kembali tergetqar hati si Thauto, serunya gemetar.
"Ya, le... lekas... ."
Mendadak si kakek tertawa latah dan serentak membalik tubuh, sekaligus mantelnya dibuang, kerudung mukanya juga lantas ditarik.
Waktu Ko Bun mengawasi, tak tertahan ia berteriak kaget.
Sungguh tak tersangka olehnya kakek yang berpaling kesini ini ternyata Pat-bin-ling-long Oh Ci-hui adanya.
Seketika semua orang melenggong, hanya Oh Ci-hui saja yang tertawa latah.
Air muka Hoa-san-gin-ho pelahan berubah kelam, sorot mata Ko Bun juga memancarkan cahaya aneh pula, Se-konyong2 si Thauto berambut kusut membentak, secepat kilat ia mencengkeram leher baju Oh Ci-hui, seketika tubuhnya terangkat serupa paha babi yang menyangkol diatas meja tukang jagal.
Biarpun Oh Ci-hui terkenal "Pat-bin-ling-long"
Atau lincah menghadapi delapan penjuru, tidak urung sekarang menjadi ketakutan, terutama sorot mata si Thauto yang beringas itu membuatnya tidak berani meronta.
Tubuh Oh Ci-hui juga besar, tapi si Thauto dapat mengangkatnya dengan enteng, tenaga sakti ini membuat Hoa-san-gin-ho terkesiap juga.
Dalam pada itu Oh Ci-hui lantas berteriak.
"Taysu, dalam uru...urusan apakah aku berbuat... .berbuat salah padamu?"
Sinar mata si Thauto kelihatan buas, ia diam saja dan melotot, agaknya dia sangat gemas terhadap orang she Oh ini.
Tambah takut Oh Ci-hui, ia pandang Ko Bun dengan sorot mata mohon belas kasihan, katanya dengan suara gemetar.
"Adik...adik Ko, mohon... mohon bantuanmu sudilah membujuk kawanmu ini melepaskan diriku... .kita adalah kawan, urusan apa pun dapat dirundingkan."
Ko Bun tersenyum.
"Ai, kan Oh-heng sendiri yang bercanda dengan orang, apa salahnya jika orang lain juga bergurau denganmu?"
Oh Ci-hui menyengir dengan muka pucat, katanya pula.
"Se...sebenarnya bukan maksudku untuk bercanda... .Apa... apa kehendak Taysu, harap suka bicara saja."
Mendadak si Thauto meraung terus melemparkan Oh Ci-hui, tubuh orang she Oh yang gede itu terbanting dengan keras.
Setelah melototinya lagi sekejap, segera si Thauto melangkah pergi.
Maklumlah, sesungguhnya dia memang tidak bermusuhan apa pun dengan Oh Ci-hui, soalnya dia kecewa dan malu sehingga menimbulkan rasa gusar, sebab semula ia mengira orang berkerudung ini adalah orang yang akan dicarinya itu.
Oh Ci-hui menghembus napas lega, tapi juga merasa bingung.
"Eh, jangan pergi dulu. Taysu."
Seru Ko Bun. Si Thauto ragu sejenak, akhirnya berhenti lalu menengadah dan berucap dengan menyesal.
"Dunia seluas ini... .kemana akan kucari?... ."
Dengan tersenyum Ko Bun bertanya.
"Apakah engkau mengira Oh-heng ini adalah si kakek berkerudung tadi?"
Mendadak si Thauto berpaling dan mendelik. Sementara itu Oh Ci-hui telah merangkak bangun, cepat ia berucap dengan menyengir.
"Apa yang kulakukan ini adalah karena Mao-toako kami ingin tahu seluk-beluk adik Ko ini, makanya aku disuruh menyamar untuk menyelidikinya."
Ia merandek sejenak, lalu bertutur pula kepada Ko Bun.
"Tapi tindakan Mao-toako ini sesungguhnya juga tidak bermaksud jahat terhadap adik Ko, maksudnya cuma demi... demi putri kesayangan Mao-toako sendiri."
Pelahan Hoa-san-gin-ho memasukkan pedang kesarungnya, lalu mendekati Ko Bun dan berkata.
"Sungguh tidak diketahui dibalik persoalan ini terdapat lagi liku-liku seperti ini. Kiranya anda ini bakal menantu Mao-sicu. jika tahu sebelumnya, tentu aku tidak perlu terburu-buru kemari."
Ko Bun memang berterima kasih kepadanya, sekarang timbul lagi rasa akrabnya terhadap tojin muda ini, ia memberi hormat dan berkata.
"Cayhe tidak kenal Totiang, tapi Totiang telah menaruh perhatian terhadap diriku, sungguh hatiku sangat berterima kasih, semoga kelak ada kesempatan untuk berkumpul dengan Totiang untuk ber-bincang2."
Tampaknya Hoa-san-gin-ho juga terharu oleh ucapan Ko Bun, sahutnya' Seterusnya mungkin aku akan lebih sering bergerak didunia Kangouw, bila bisa bersahabat dengan tokoh sebagai anda, sungguh beruntung dan bahagia bagiku."
Disini kedua orang asyik bercengkerama, disebelah sana si Thauto masih terus memandangi Oh Ci-hui sehingga membuatnya tidak berani mengangkat kepala.
Rupanya dalam benak si Thauto seolah-olah terbayang dua pasang mata secara bergantian.
Salah sepasang mata itu terasa begitu dikenalnya, tapi rasanya juga berjarak sedemikian jauhnya.
Mata ini mengandung cahaya yang welas-asih dan akrab, tapi mendadak bisa berubah menjadi bengis dan garang.
Sejak kecil ia sudah kenal sepasang mata ini, kehidupannya juga banyak berubah terpengaruh oleh sinar mata itu.....
Sepasang mata yang lain adalah mata diluar kain kerudung tadi, mestinya sinar mata itu sedemikian lembut dan mempesona, tapi sekarang kelihatan berjarak sangat jauh, kelihatan lemah dan licin, sama sekali berbeda daripada mata diluar kain kerudung tadi.
Begitulah pikiran si Thauto terus berputar dan membayangkan berbagai kejadian buruk dan menyedihkan pada masa lampau.
Tiba-tiba Oh Ci-hui berdehem dan berucap.
"Sungguh hebat tenaga sakti Taysu, entah Taysu ini.."
Tak terduga mendadak si Thauto berteriak.
"Ah! Tidak benar!"
Dengan cepat ia menubruk maju, Keruan Oh Ci-hui terkejut, ia coba mengelak, namun si Thauto masih membayanginya dan tetap menubruk maju.
Meski kungfu Oh Ci-hui tidak lemah, tapi menghadapi si Thauto yang aneh ini, hatinya sudah gentar lebih dulu, ia tidak berani melawan, selagi hendak menghindar lagi, tahu-tahu leher bajunya sudah tercengkeram lagi oleh si Thauto terus diangkat pula.
Gemerdep sinar mata Ko Bun, ucapnya dengan tersenyum.
"Apakah Taysu sekarang dapat membedakan Oh-heng ini sebenarnya bukan kakek berkerudung tadi?"
"Betul,"
Si Thauto mengangguk dengan beringas.
"Memang telah tertukar!"
Sambil mengguncang-gunvangkan tubuh Oh Ci-hui ia membentak dengan bengis.
"Lekas jawab, siapakah orang tadi? Kemana perginya sekarang? Mengapa dia tidak mau menemui diriku?"
Oh Ci-hui ketakutan sehingga muka pucat, jawabnya tergegap.
"Taysu mungkin....mungkin salah paham."
"Salah paham apa?"
Teriak Thauto.
"Jika tidak mengaku terus terang, bisa kurobek tubuhmu menjadi dua."
Menghadapi orang semacam Oh Ci-hui sebenarnya sikap keras si Thauto cukup efektif, akan tetapi masih ada sesuatu kekuatan lain yang lebih ditakuti Oh Ci-hui sehingga apa pun dia tidak berani mengaku terus terang, ia cuma menjawab dengan gemetar.
"Jika Taysu tidak percaya, aku... ."
Mendadak si Thauto mencengkeram terlebih keras sehingga dada Oh Ci-hui hampir pecah tergencet, keringat dingin pun memenuhi dahinya. Dengan tersenyum Ko Bun menyela.
"Sebenarnya Taysu tidak perlu bertanya lagi padanya, saat ini meski orang berkerudung itu sudah pergi, tapi bila dia ada hubungan dengan Mao Kau, tentu dia akan pergi juga ke Hangciu."
Selagi Hoa-san-gin-ho hendak ikut bicara, sekonyong-konyong terdengar derap kaki kuda berlari dari kejauhan, hanya sekejap saja kuda itu sudah sampai didepan kemah, lalu suara seorang berteriak.
"KO-heng, apakah engkau berada didalam?"
Belum lenyap suaranya, belasan orang bergolok ber-bondong2 menyingkap tabir kemah dan menerobos masuk, yang paling depan adalah seorang berbaju pendek dan pakai ikat kepala hijau, bersepatu tipis, sekilas pandang serupa lelaki kekar kaum petani, namun wajahnya kelihatan cerdik tangkas, gerak-geriknya juga lincah dan gesit, seluruh tubuh se-akan2 penuh gairah.
"Aha, ini dia, Liang-toako datang."
Seru Oh Ci-hui tiba-tiba dengan gembira. Tapi lelaki berbaju cekak ini tidak memandangnya sama sekali, langsung ia mendekati Ko Bun dan menyapa.
"Adakah Ko-heng mengalami sesuatu?"
"O, tidak apa-apa, terima kasih atas perhatian Liang-toako,"
Jawab Ko Bun. Hati Hoa-san-gi-ho tergerak, pikirnya dengan heran.
"Pemuda she Ko ini masih muda belia, tampaknya bukan orang Kangouw, tapi ternyata mempunyai kekuatan tersembunyi yang tidak kecil, setiap kali bila dia menghadapi kesulitan, selalu tampil orang untuk membelanya."
Sesudah Ko Bun dan lelaki kekar itu bicara sebentar dan diperkenalkan pula bahwa orang ini adalah Kiu-ciok-sin-tu Liang Siang-jin yang termashur, seketika hati semua orang tergetar pula.
Sungguh sukar untuk dipercaya, Lelaki udik begini ternyata mempunyai kekuatan gaib yang mampu memimpin beribu orang dari kalangan hitam.
Terdengar Liang Siang-jin berkata pula dengan tertawa.
"Kebetulan aku lewat disini dan melihat Thia Jit lagi sibuk mencari bala-bantuan, cepat kususul kesini, ternyata Ko-heng hanya mengalami terkejut saja."
Sekilas ia pandang Hoa-san-gin-ho, lalu menyambung.
"Anda ini tentunya satu diantara ketiga pendekar pedang Hoa-san-pai yang masih ada, Gin-ho Totiang adanya, Totiang selalu membantu kesulitan orang serupa urusannya sendiri, sungguh orang she Liang merasa sangat kagum."
Habis itu ia lantas berpaling kearah si Thauto dan berucap pula.
"Tenaga raksasa Taysu sungguh sangat mengecutkan, orang she Liang juga kagum luar biasa."
Lalu sorot matanya yang tajam menatap Oh Ci-hui, katanya.
"Oh-heng bekerja bagi Mao-toaya kita, sungguh tekun dan giat, tapi juga telah banyak berbuat salah, hal ini sangat kusesalkan, untuk ini Oh-heng perlu mendapat ganjaran sekedarnya."
Kemudian ia berkata pula kepada Ko Bun dengan tertawa.
"Kota Hangciu sekarang sudah ramai sekali, sebelumnya aku pun tidak menyangka tokoh Bu-lim sebanyak ini akan berkumpul dikota ini. Jika sekarang Ko-heng mau berangkat boleh silakan saja."
Dia terus mencerocos kian kemari, sama sekali tidak memberi kesempatan bicara bagi orang lain, hanya dalam sekejap hampir asal-usul orang telah diuraikannya semua, ucapannya cukup sopan, tapi juga tegas dan terhormat.
Diam-diam Hoan-san-gin-ho membatin.
"Kiu-ciok-sin-tu memang tidak bernama kosong."
Segera si Thauto rambut kusut juga mengendurkan tangannya dan melemparkan Oh Ci-hui ketanah, katanya terhadap Liang Siang-jin.
"Apakah hendak kau bawa dia?"
Liang Siang-jin tersenyum.
"Cayhe memang ingin mengundang Oh-heng kesuatu tempat untuk istirahat barang beberapa hari lamanya, habis itu mungkin perlu kuminta bantuan Oh-heng pula."
Bersambung 12
Jilid 12 Segera ia memberi tanda, serentak empat lelaki kekar memburu maju, Oh Ci-hui yang masih belum tenang itu terus diringkusnya dengan tali. Segera Liang Siang-jin berkata pula.
"Karena masih ada sedikit urusan, kumohon diri untuk berangkat lebih dulu."
Meski diluar kemah masih terdapat kawanan kuda dan unta, namun kakek berkerudung dan si gadis Tho-koh serta Liu-ji kini sudah menghilang semua.
Bersama rombongannya Liang Siang-jin mendahului mencemplak keatas kuda terus dilarikan kedepan, Oh Ci-hui justru diikat berjalan dibelakang kuda.
Kedua lengan Oh Ci-hui terikat, tubuh tidak dapat bergerak, namun kedua kakinya bebas dan dapat berlari, tapi celakalah dia, begitu kuda dilarikan, terpaksa ia harus ikut berlari.
Semula dengan ginkangnya yang tidak rendah belum lagi dirasakan, ia cuma merasa terhina dan mendongkol saja, berulang ia berteriak dibelakang kuda.
"Liang-heng... .Liang-toako...Tidak pernah kulakukan sesuatu kesalahan padamu, mengapa engkau menyiksa diriku cara begini?"
Tapi lama-lama karena lari kuda semakin cepat, ia mulai tidak tahan, suaranya parau, napas ter-engah2, biarpun kedua kakinya cukup kuat juga tidak tahan akan beban tubuhnya yang gendut.
Sambil mengangkat cambuknya Liang Siang-jin berpaling dengan tertawa, katanya,"Akhir-akhir ini Oh-heng hidup senang dan kurang gerak badan, jika sekarang dapat berolah-raga lari, tentu akan bermanfaat bagi kesehatanmu."
Serentak anggota rombongannya bergelak tertawa.
"Tapi... Liang-heng... .Hk, huk-huk... ampunilah diriku... ."
Begitulah sekuatnya ia berteriak dengan parau sambil terbatuk-batuk, akhirnya ia tidak tahan dan jatuh terseret ditanah.
Bajunya yang masih baru sama robek tergesek oleh tanah dan kerikil, bahkan sebentar saja tubuhnya juga babak belur.
Mendadak hatinya sangat menyesal, bilamana beberapa tahun ini dia mengurangi perbuatannya yang jahat dan lebih banyak berlatih kungfu, tentu takkan berakibat seperti sekarang ini.
Liang Siang-jin berpaling dan melihat Oh Ci-hui sudah berada dalam keadaan payah, mendadak ia memberi tanda dan menahan kudanya, serentak rombongannya ikut berhenti.
Segera Liang Siang-jin melompat turun dari kudanya dan membangunkan Oh Ci-hui, katanya dengan tertawa.
"Wah, hari ini tentu telah banyak membikin susah Oh-heng."
Napas Oh Ci-hui ngos-ngosan, mana dia sanggup bicara lagi, Liang Siang-jin lantas mengempitnya keatas kuda dan dibawa kesuatu perkampungan diluar kota Hangciu, sebuah perkampungan yang tidak terlalu besar, tapi cukup longgar dan tidak mewah.
Sementara itu hari sudah gelap, diruang tengah cahaya lampu terang benderang, sebuah meja perjamuan sudah disiapkan.
Liang Siang-jin memayang Oh Ci-hui yang masih terengah-engah itu keruangan itu, ia bertepuk tangan, segera empat nona manis mulai menyajikan santapan yang sangat lezat.
Melihat makanan enak, seketika semangat Oh Ci-hui terbangkit.
Maklumlah orang gemuk didunia ini pada umumnya memang rakus, bila melihat makanan lantas lupa daratan.
"Santapan yang tersedia sekiranya cocok dengan selera Oh-heng?"
Ucap Liang Siang-jin dengan tertawa.
Betapapun cerdik Oh Ci-hui, saat ini tak diketahuinya sebenarnya apa maksud Liang Siang-jin, lebih dulu menyiksanya, kemudian menjamunya.
Ia melenggong sejenak, kemudian menjawab dengan gelagapan.
"O, sangat baik, sangat cocok!"
Dengan tertawa Liang Siang-jin berkata pula.
"Kawanan nona yang meladeni kita ini adalah penghibur terkenal dari Yangciu, kemarin sudah kusaksikan tari dan nyanyi mereka semuanya memang seniwati pilihan... ."
Tanpa terasa Oh Ci-hui melirik kesana, tertampak beberapa anak perempuan itu berbaris didepannya, kerlingan mata yang membetot sukma sama tertuju kepadanya.
Seketika rasa siksa derita yang dialaminya tadi dirasakan banyak berkurang, berulang ia mengangguk dan berkata.
"Wah, hebat, semuanya hebat... ."
"Haha, jadi Oh-heng merasa puas dan tertarik oleh mereka?"
Kembali Oh Ci-hui melengak, jawabnya dengan tergagap.
"Ah, Liang-heng... .Tentu saja aku puas... .Sebenarnya apa kehendak Liang-heng, sungguh aku tidak... ."
"Soalnya tadi aku telah memperlakukan Oh-heng dengan agak kasar, sungguh hatiku terasa tidak enak, sebab itulah ingin kuberi ganti rugi padamu agar Oh-heng melupakan kejadian tadi."
Oh Ci-hui menyengir.
"Ah, kutahu Liang-heng memang sahabat yang berbudi luhur, tentu takkan memperlakukan diriku dengan berlebihan. Kita adalah orang sendiri, masakah kupikirkan sedikit kejadian tak berarti tadi?"
"Haha, bagus, bagus!"
Liang Siang-jin tergelak.
"Cuma santapan ini sangat sederhana, silakan Oh-heng menikmati seadanya, kemudian... .haha!"
Tanpa terasa Oh Ci-hui melirik lagi santapan dan keempat anak perempuan cantik itu, ia tertawa dan angkat sumpit terus hendak menyikat santapan, satu porsi Ang-sio-ti-te (kaki babi masak saus manis) didepan terus hendak dicomotnya.
Tak tersangka mendadak Liang Siang-jin berseru.
"Nanti dulu!"
"Tring", sumpit Oh Ci-hui sudah menyentuh tepi mangkuk dan tidak berani diteruskan lagi, ia pandang Lian Siang-jin dengan bingung. Dengan serius Linag Siang-jin berucap.
"Sudah lama Oh-heng berkecimpung didunia Kangouw, mengapa engkau tidak tahu peraturan umum, sebelum tuan rumah angkat sumpit, mana boleh tetamu makan dulu?!"
Oh Ci-hui tidak berani membantah, ia menarik kembali sumpitnya, katanya dengan menyengir.
"O, jadi... .jadi aku kurang adat, maaf!... Silakan Liang-heng mulai dulu!"
Liang Siang-jin tersenyum, sumpit diangkatnya, tapi baru terjulur setengah jalan, mendadak ia menghela napas dan ditarik kembali lagi. Oh Ci-hui tambah bingung oleh kelakuan tuan rumah.
"Bila santapan jadi dingin tentu rasanya tidak enak lagi. Sesungguhnya Liang-heng ada persoalan apa?"
"Agaknya Oh-heng tidak tahu bahwa saat ini hatiku sedang merisaukan dua urusan yang tidak boleh ditunda,"
Tutur Liang Siang-jin sambil menggeleng.
"Karena itulah harap Oh-heng suka menunggu sebentar lagi."
Sumpit lantas ditaruhnya kembali dimeja, lalu duduk termenung dan ber-ulang2 menghela napas.
Karuan Oh Ci-hui hanya menelan air liur saja, bau santapan yang sedap terus menerus menyerang hidungnya mengakibatkan biji lehernya naik-turun.
Selang sejenak pula, akhirnya ia benar-benar tidak tahan lagi, segera ia berkata.
"Sesungguhnya ada urusan apa yang merisaukan Liang-heng, dapatkah memberitahu agar sedikit banyak cayhe bisa ikut membagi kesulitanmu?"
Liang Siang-jin tertawa cerah.
"Jika benar Oh-heng sudi membantu, tentu hatiku tidak perlu risau lagi. Sebenarnya apa yang kurisaukan ini tidak lain hanya sesuatu pertanyaan yang sukar kupecahkan, lantaran itulah siang dan malam selalu kupikirkan sehingga mengakibatkan tidur tidak nyenyak dan makan tidak enak."
"O, kiranya begitu,"
Kata Oh Ci-hui sambil tiada hentinya mengincar santapan diatas meja.
"Sebab itulah, jika berul Oh-heng mengaku bersahabat denganku dan mau membantu maka sekarang juga ingin kuminta sesuatu keterangan padamu, yakni mengenai orang yang disebut 'perangkap hangat dari gurun', tokoh aneh berkerudung yang juga dijuluki 'Jin-beng-lak-hou' (sipemburu nyawa manusia), sesungguhnya untuk urusan apakah dia datang kedaerah Kanglam? Bagaimana bentuk wajah asli orang ini?"
Air muka Oh Ci-hui berubah mendadak, jawabnya dengan gelagapan, Ah, cayhe sendiri jarang....jarang berkelana keluar Kanglam, dari mana kutahu seluk-beluk mengenai Jin-beng-lak-hou itu?"
"Hm, begitu sampai di Kanglam dia lantas mengadakan kontak dengan Mao-toaya, jika dia tidak ada hubungan lama dengan Mao-toaya masakah bisa bertindak demikian?"
Jengek Liang Siangjin.
"Dan jika dia sudah lama berhubungan dengan Mao-toaya kita, mustahil Oh-heng tidak tahu seluk-beluknya? Apalagi selama dua hari ini Oh-heng selalu tinggal didalam kemah perangkap hangat itu, agaknya khusus menunggu datangnya Ko-kongcu itu. Padahal dia bukan orang dunia persilatan, mengapa Jin-beng-lak-hou menaruh perhatian sebesar itu terhadapnya?"
Oh Ci-hui terkesiap, pikirnya.
"Kiu-ciok-sin-tu ini memang lihai, setiap gerak-gerik orang tetap tidak terhindar dari pengawasannya."
Meski hati berpikir demikian, tapi dimulut ia tertawa dan berkata.
"Sebenarnya Mao-toako cuma ingin menyelidiki asal-usulnya berhubung putrinya jatuh cinta kepada Ko-kongcu, urusan ini sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan Jin-beng-lak-hou....Padahal kalau Ko-kongcu bukan orang bU-lim, entah mengapa Liang-toako juga menaruh perhatian sebesar ini kepadanya."
Mendadak alis Liang Siang-jin menegak.
"brak", ia banting sumpit keatas meja dan menjengek.
"Hm, akhir-akhir ini Oh-heng terlalu banyak bergerak mulut dan sangat sedikit bergerak badan, kukira kau perlu berolah raga lebih banyak seperti tadi... ."
Mendadak ia bertepuk tangan dan berseru.
"Mana orangnya!"
Keruan wajah Oh Ci-hui berubah pucat, serunya cepat.
"Wah, nanti dulu, Liang-heng! Kita kan orang sendiri, ada urusan apa boleh dibicarakan saja dengan baik-baik."
"Daripada kubicara, kukira yang mesti bicara dengan baik-baik ialah Oh-heng."
Dengus Liang Siang-jin. Terpaksa Oh Ci-hui menghela napas, ucapnya.
"Ai, bicara terus terang, apa yang terjadi didunia Kangouw akhir-akhir ini semuanya disebabkan....."
"Kejadian apa? Hendaknya bicara yang jelas."
Jengek Liang Siang-jin.
Oh Ci-hui memandang sekitarnya, tertampak belasan lelaki kekar dengan senjata terhunus sama melototinya dengan bengis.
Ngeri juga hati Oh Ci-hui, cepat ia menyambung, pertemuan para kesatria yang akan diadakan Mao-toako beberapa hari lagi ini, Lalu tentang tokoh-tokoh Jit-kiam-sam-pian masa lampau yang juga akan hadir, umpama pula kedatangan Jin-beng-lak-hou yang biasanya jarang masuk daerah Tionggoan....Semua ini hanya bertujuan menyelidiki sesuatu hal saja, yaitu...
Ia berhenti sejenak, lalu menyambung dengan pelahan.
"Yaitu ingin mencari tahu keturunan Siu-siansing, gembong iblis dunia persilatan belasan tahun lalu, apakah betul dia muncul didunia Kangouw dan apakah Kim-kiam-hiap yang menggemparkan akhir-akhir ini ada sangkutpautnya dengan Siu-siansing dan keturunannya?"
"Lalu apa lagi?"
Tanya Liang Siang-jin dengan kening bekernyit.
"Ada lagi, diam-diam ada orang mencurigai Ko-kongcu itu... .hehe, jangan-jangan dia inilah keturunan Siu-siansing. Sebenarnya aku sendiri tidak percaya, tapi berdasarkan macammacam petunjuk mau-tak-mau orang harus bercuriga. Ai, apa yang kulakukan ini sebenarnya juga cuma atas perintah saja."
Tiba-tiba Liang Siang-jin membentak.
"Macam-macam petunjuk apa maksudmu? memangnya kalian mendapatkan indikasi yang membuktikan Kongcu hartawan ini adalah keturunan Siu siansing yang termashur masa lampau itu? Haha, sungguh lucu!"
Dia tertawa lantang sehingga mangkuk-piring sama gemerincing tergetar.
Sebenarnya Oh Ci-hui juga bukan orang bodoh, bahkan dia cukup licin, dari cara tertawa Liang Siang-jin dapat dirasakannya ada sesuatu yang tidak wajar.
Maka ia sengaja menghela napas, lalu berkata.
"Bilamana Ko-kongcu itu diketahui benar adalah keturunan Siu-siansing, maka akibatnya sukarlah dibayangkan, bukan cuma dia saja, mungkin sahabat dan begundalnya juga akan... ."
"Apa katamu?"
Mendadak Liang Siang-jin menggebrak meja. Keruan Oh Ci-hui berjingkat kaget, cepat ia menyambung.
"O, maksudku... .maksudku jika Kokongcu itu....."
"Coba katakan,"
Potong Liang Siang-jin dengan muka masam.
"Mengapa kalian menghubungkan Ko-kongcu itu dengan Siu-siansing? Bahwa orang she Liang telah bersahabat dengan dia, dengan sendirinya tak boleh kalian sembarangan menduga dan menuduhnya."
Cepat Oh Ci-hui berganti haluan, ucapnya.
"Kira-kira dua puluh tahun yang lalu, waktu itu Liangheng belum muncul didunia Kangouw, aku sendiripun entah berada dimana, namun nama Jitkiam-sam-pian sudah gilang gemilang, nama Siu-siansing bahkan termashur dan menduduki kursi utama dunia persilatan."
Liang Siang-jin hanya mendengus saja, meski ia tidak tahu mengapa orang membicara hal ini, tapi karena urusannya menyangkut Siu-siansing, maka ia tidak memotongnya.
Terdengar Oh Ci-hui menyambung lagi.
"Tatkala mana Siu-siansing boleh dikatakan malang melintang didunia Kangouw tanpa tandingan, setiap orang Kangouw sama takut bila menyebutnya, namun tidak ada seorang pun yang benar-benar takluk dan menghormati dia, sebab setiap tindak-tanduknya selalu menuruti wataknya sendiri, bila marah lantas main bunuh tanpa kenal ampun, segala aturan dan etika tidak dihiraukannya... ."
"Hm, pribadi Siu-locianpwe itu masakah boleh sembarangan kau cemoohkan?"
Jengek Liang Siang-jin.
"Cayhe mana berani memberi penilaian terhadap perbuatan Siu-siansing dulu, jangankan diriku, biarpun para pejabat ketua beberapa perguruan besar juga tidak berani memberikan penilaian yang negatif."
Ujar Oh Ci-hui.
"Cuma apa yang kukatakan ini adalah demi....."
"Demi apa?"
Desak Liang Siang-jin ketika orang mendadak berhenti. Entah sengaja atau tidak, Oh Ci-hui menghela napas panjang, lalu berkata.
"Bilamana mengingat kelakuan Siu-siansing yang demikian itu, mustahil jika dia tidak mempunyai musuh didunia Kangouw, cuma kungfunya teramat tinggi, matinya juga terlalu dini sehingga musuh musuhnya tidak sempat menuntut balas pada masa hidupnya, sesudah mati apalagi yang dapat dibalas? Namun begitu mereka senantiasa ingin tahu adakah Siu-siansing meninggalkan keturunan?"
"Kalau ada keturunan lantas mau apa?"
Liang Siang-jin menegas.
"Apakah Siu-siansing mempunyai keturunan atau tidak sudah banyak kabar yang tersiar dan siapapun tidak tahu dengan pasti, sebab tindak-tanduk selama hidup Siu-siansing sangat eksentrik, jejaknya juga tidak menentu, sampai soal apakah dia pernah berkeluarga dan adakah menerima murid juga tidak ada yang tahu terkecuali Mao-toako saja seorang."
Sekali ini Liang Siang-jin diam saja dan mendengarkan dengan cermat. Maka Oh Ci-hui bertutur pula.
"Apa sebabnya, hal ini sudah merupakan rahasia umum didunia persilatan dan Liang-heng sendiri juga sudah tahu, Semula Mao-toako tidak suka menyiarkan hal ini, tapi kemudian karena terpaksa sehingga persoalan tersebut diumumkan secara terbuka. Dengan sendirinya berita tentang keturunan Siu-siansing itu cukup menggemparkan, padahal selama ini musuh-musuhnya selalu mencari dimana beradanya keturunan Siu-siansing, semuanya ingin menuntut balas padanya."
Terkerut alis Liang Siang-jin, pikirnya.
"Tak tersangka bukan cuma dia saja yang ingin menuntut balas kepada musuh, sebaliknya orang lain juga ingin mencari dan menuntut balas padanya, Ai, pertentangan ini entah cara bagaimana harus diselesaikan."
Oh Ci-hui memandangnya sekejap, mendadak ia tertawa dan menyambung.
"Padahal bilamana Siu-siansing mempunyai keturunan, maka keturunannya itu pun terhitung sanak famili Maotoako sendiri. Meski dahulu Mao-toako memperlakukan Siu-siansing... .ai, sebenarnya itu pun terpaksa, betapapun dia tetap sayang kepada adik perempuan sendiri, ia pun senantiasa memikirkan anak dalam kandungannya. Asalkan anak itu tidak memikirkan lagi kejadian masa lampau, tentu juga Mao-toako takkan berbuat apa-apa terhadapnya, bahkan bersedia membantu dia menghadapi musuh2nya, Hal ini dikatakan Mao-toako kepadaku, mestinya tidak boleh kuceritakan kepada orang lain."
"Setahumu, musuh mendiang Siu-siansing itu sampai sekarang kira-kira berapa banyak?"
Tanya Liang Siang-jin.
"Wah, musuh mendiang Siu-siansing dahulu sukar dihitung jumlahnya, kini ditambah lagi dengan keturunannya, mana dapat kukatakan jumlahnya, bisa jadi... .bisa jadi diantara kawan Liang-toako sendiri juga ada musuh Siu-siansing."
"Jika begitu, jadi Jin-beng-lak-hou itu mungkin juga musuh Siu-siansing?"
Tanya Liang Siang-jin.
"Mungkin... .apakah dia ada sangkut-pautnya dengan Liang-toako?"
Tanya Oh Ci-hui dengan ragu! Dengan sorot mata tajam Liang Siang-jin berkata.
"Ingat, jiwa Oh-heng masih tergenggam dalam tanganku, untuk membereskan jiwa seorang rasanya tiada sesuatu kesulitan bagiku!"
Mau-tak mau Oh Ci-hui merasa ngeri, semula ia mengira Liang Siang-jin tak berani membunuhnya, tapi kalau dipikir sekarang, ancaman orang juga beralasan, bilamana dirinya dibunuh disini, siapa yang tahu.
Sesudah berpikir, akhirnya Oh Ci-hui menghela napas dan berucap.
"Tentu Liang-heng pernah mendengar beberapa puluh tahun yang lalu didunia Kangouw ada seorang guru silat terkenal dengan permainan 36 jurus tombak dan 72 jurus toya, namanya Ang Loh-peng berjuluk tombak sakti."
"Ya, kutahu."
Kata Liang Siang-jin.
"Meski tindak-tanduk si tombak sakti Ang Loh-peng itu sangat jujur, namun wataknya keras dan beranggasan. Pada umur setengah baya dia kematian istri. Dia cuma mempunyai seorang anak lelaki, konon putranya ini sukar dididik dan buruk kelakuannya, suatu hari Ang-loenghiong menjadi murka dan membunuh anaknya sendiri, dalam pada itu justru datanglah Siu-siansing... ."
Pada saat itulah mendadak seorang bergelak tertawa diluar dan berteriak.
"Haha, bagus kiranya dia memang Ang Loh-peng."
Meski keras suara tertawanya, namun kedengarannya serupa juga suara orang menangis.
Selagi semua orang terkesiap, terlihat bayangan orang berkelebat, seorang Thauto berbaju hitam dengan rambut semrawut melayang tiba, sekali lengan bajunya mengebas, seketika belasan lelaki kekar yang berjaga dipintu tergetar mundur sempoyongan, senjata pun banyak yang terlepas dari pegangan.
Ditengah jerit kaget orang banyak, si Thauto memburu kedepan Oh Ci-hui secepat kilat.
Melihat si Thuato, nyali Oh Ci-hui sudah pecah, seketika ia gemetar.
Segera Thauto rambut kusut mencengkeram kuduk Oh Ci-hui sambil membentak, Ayo bicara, dimana orang itu sekarang?"
Tapi sampai sekian lama Oh Ci-hui tidak menjawab, terdengar suara "krek", tulang leher Oh Cihui ternyata patah dicengkeram oleh si Thauto sehingga ingin menjerit saja tidak sempat.
Thauto rambut kusut melongo juga melihat korbannya sudah tidak bernyawa, ia lempar mayat Oh Ci-hui kesamping, lalu berpaling memandang Liang Siang-jin sekejap, mendadak ia menghela napas, diambilnya poci arak diatas meja, corong poci diarahkan kemulut dan arak lantas dituang, isi poci ditenggaknya hingga habis.
Belasan lelaki anak buah Liang Siang-jin sama melongo terkesima, belum pernah mereka lihat tenaga raksasa seperti ini.
Air muka Liang Siang-jin berubah merah, ucapnya.
"Biarpun tenaga sakti Taysu sangat hebat juga tidak pantas sembarangan mencelakai nyawa orang, memangnya Taysu pandang orang she Liang ini boleh dipermainkan sesukamu?"
Si Thauto berdiri termangu dengan memegang poci arak seperti tidak mendengar ucapan Liang Siang-jin itu, hanya berulang-ulang ia bergumam.
"Kiranya dia... .kiranya memang dia... ."
Tergerak hati Liang Siang-jin, selagi dia hendak bertanya lagi, mendadak si Thauto menggertak sekali terus menerjang keluar sehingga sebuah meja tertumbuk berantakan.
Belasan lelaki didekat pintu sama menyingkir dan tidak berani merintanginya.
Dengan mata merah dan beringas si Thauto terus menerjang keluar, tiba-tiba bayangan kelabu berkelebat, tahu-tahu seorang menghadang di depannya sambil mendengus.
"Hm, sehabis membunuh orang lantas mau pergi begini saja, masakah didunia ada urusan semudah ini?"
Mata si Thauto merah membara, ia tidak peduli siapa penghadang itu, kontan ia membentak.
"Minggir!"
Berbareng sebelah tangannya lantas menghantam. Semua orang sudah menyaksikan betapa dahsyat tenaganya.
"blang", sungguh sangat dahsyat dan tepat pukulan si Thauto mengenai tubuhnya. Terkesiap juga si Thauto, sebab ketika dada orang terpukul, ia merasa tempat yang tersentuh tangannya itu lunak dan ringan seperti mengenai tempat kosong dan tangan terhisap dan tak bisa bergerak lagi. Keruan Thauto rambut kusut terkejut sekali, waktu ia awasi orang, kiranya seorang hwesio berkasa warna kelabu dan tangan memegang tasbih dan terangkat didepan dada sedang berdiri tegak disitu. Meski dimulut menyebut nama Buddha, tapi tutur katanya tidak mirip orang beragama umumnya, jelas ia menjadi hwesio setengah jalan sehingga belum bersih seluruhnya dari kehidupan dunia ramai. Waktu itu Liang Siang-jin juga telah memburu keluar, ia pun melongo demi menyaksikan pukulan si Thauto yang maha dahsyat itu tidak dapat merobohkan si hwesio, sebaliknya tangan si Thauto malah melengket di dadanya. Terdengar hwesio setengah baya itu menyebut nama Buddha, lalu berucap.
"Baru saja seorang telah kau celakai, sekarang kau mau mengganas lagi, bilamana pukulanmu ini mengenai tubuh orang lain, bukankah selembar jiwa akan melayang lagi?"
Dalam pada itu si Thauto asyik berusaha membetoto, tapi tangannya tetap melengket didada si hwesio, ia tahu telah bertemu dengan tokoh yang memiliki lwekang maha tinggi.
Se-konyong2 ia menggertak lagi sekerasnya, sebelah kakinya terus menendang.
Si hwesio berkerut kening, mendadak ia membusungkan dada, telapak tangan terus memotong pergelangan kaki si Thauto.
Mendadak si Thauto merasa tangannya terpental oleh semacam tenaga pantulan yang kuat, kaki juga akan tersabat oleh lawan, Sekuatnya ia berputar terus melompat keatas, sebelah tangan meraih emper rumah, tubuh lantas melayang keatas rumah.
Terdengar dia berseru.
"Kutahu siapa kau....kukenal siapa kau....."
Ditengah teriakannya itu terdengarlah genteng pecah dan rontok, dalam sekejap saja si Thauto sudah menghilang di kejauhan. Si hwesio setengah baya menghela napas dan menggeleng kepala, ucapnya.
"Karma... karma... ."
Segera ia berpaling dan memberi hormat serta menyapa.
"Apakah sicu ini Liang Siang-jin, Liang-tayhiap?"
Heran juga Liang Siang-jin orang kenal namanya, cepat ia mengiakan dan membalas hormat si hwesio.
"Paderi miskin Kong-in datang dari Kun-lun untuk menemui Liang-sicu dan minta petunjuk sesuatu urusan,"
Ucap si hwesio pula dengan tersenyum.
Kembali Liang Siang-jin terkesiap, didunia Kangouw akhir-akhir ini sudah jarang terlihat jejak tokoh Kun-lun-pai, sekarang mendadak muncul seorang paderi Kun-lun-pai selihai ini, rasanya biarpun pejabat ketua Kun-lun-pai sendiri juga tidak lebih dari ini.
Kedatangannya ternyata untuk mencarinya, memangnya urusan apa?
Dengan ragu Liang Siang-jin menjawab.
"Taysu datang dari jauh, maaf jika tidak ada penyambutan yang layak. Silakan masuk dan duduk didalam."
Sementara itu ruang tamu sudah dibersihkan, mayat Oh Ci-hui sudah digotong pergi.
Pat-binling-long yang biasanya sangat licin itu akhirnya ternyata mati juga ditangan orang yang tak terduga sama sekali.
Sesudah menyilakan tamunya berduduk, lalu Liang Siang-jin bertanya keperluan si hwesio.
"Nama Liang-sicu sudah lama kukagumi, tapi kalau tidak ada seorang perantaar tentu juga paderi miskin tidak berani berkunjung kemari."
Tutur hwesio yang bergelar Kong-in itu.
"Kesudian kunjungan Taysu ini sungguh suatu kehormatan besar bagiku,"
Sahut Liang Siang-jin dengan rendah hati.
"Cuma mohon diberi keterangan, entah siapakah perantara yang disebut Taysu itu, mungkinkah beliau adalah kenalan lama orang she Liang."
"Betul,"
Sahut Kong-in Taysu dengan tersenyum.
"Tentu Liang-sicu masih ingat kepada Lo It-to."
"Lo It-to?"
Liang Siang-jin menegas.
"Ahh, dimanakah dia sekarang?"
"Sejak mengalami hajaran Sicu dahulu, orang ini telah menjadi anggota Kun-lun-pai kami, sekarang dia adalah murid ketujuh Suhengku pejabat ketua perguruan kami."
Liang Siang-jin menghela napas.
"Buang golok jagalnya dan segera menjadi Buddha, Lo It-to memang seorang gagah sejati, bila dibandingkan dia, sungguh aku harus merasa malu."
Diam-diam ia pun heran hwesio didepannya ini masih belum tua, tapi ternyata saudara seperguruan pejabat ketua Kun-lun-pai sekarang.
Supaya maklum, pejabat ketua Kun-lun-pai sekarang diketahui sudah berusia sangat lanjut, walaupun jarang berkelana didunia Kangouw, tapi tingkatannya sangat tinggi, dia terhitung beberapa tokoh tertua dunia persilatan yang dapat dihitung dengan jari yang masih hidup sekarang.
Sedangkan Kun-lun-ngo-lo atau lima tertua Kun-lun-pai yang termashur didunia Kangouw juga tidak lebih cuma murid keluarga swasta ketua Kun-lun-pai itu.
Dengan tersenyum Kong-in lantas berkata pula.
"Buddha maha pengasi dan penyelamat sesamanya. Kedatanganku sekali ini kedaerah Kanglam juga ingin mencari tahu seorang, seringkali Kai-sat (nama agama Lo It-to) Sutit bicara padaku mengenai Liang-sicu yang berbudi luhur dan bersahabat yang tersebar diseluruh pelosok negeri. Karena sudah puluhan tahun tidak pernah berkunjung ke daerah Kanglam, maka usaha mencari orang sekali ini terpaksa perlu kumohon bantuan Liang-sicu."
"Ah, kenapa Taysu bicara dengan sungkan, orang she Liang adalah orang kasar, mana berani menerima pujian Taysu ini,"
Kata Liang Siang-jin.
"Entah siapakah gerangan orang yang hendak dicari Taysu, jika mampu tentu akan kubantu sepenuh tenaga."
"Kedatanganku ini selain atas perantara Kai-sat Sutit, ada lagi titipan sesuatu dari seorang, entah Liang-sicu masih ingat tidak kepada orang ini?"
Sambil berkata Kong-in mengeluarkan sebelah sepatu mainan kecil terbuat dari benang perak, kelihatan sangat indah dan mungil pembuatannya.
Tergetar tubuh Liang Siang-jin melihat benda itu, serunya gemetar.
"He, Ban...Ban-locianpwe... ."
Pelahan ia terima sepatu itu.
"Ah, tampaknya Sicu masih ingat dengan baik kepadanya."
Kata Kong-in.
Wajah Liang Siang-jin keluhatan penuh diliputi emosi, dengan sangat menghormat ia junjung sepatu nitu dan ditaruh diatas meja, lalu berlutut dan menyembah tiga kali, serunya dengan rasa duka.
"O, mana bisa Tecu lupa kepada engkau orang tua, biarpun Tecu orang bodoh juga bukan manusia yang lupa budi, kalau tidak ditolong oleh Locianpwe, sudah dulu-dulu tubuh Tecu hancur-lebur, mana dapat hidup sampai sekarang."
Diam-diam Kong-in mengangguk dan membatin.
"Orang ini ternyata seorang lelaki berdarah panas, tidak sia-sia tampaknya kedatanganku ini."
Liang Siang-jin mengheningkan cipta sekian lama, habis itu baru berbangkit dan berkata dengan menyesal.
"Taysu membawa tanda pengenal ini, mengapa tidak kau katakan sejak tadi. Setinggi langit hutang budiku kepada Ban-locianpwe, asalkan ada sekata pesan saja dari beliau, biarpun aku disuruh terjun ke lautan api juga takkan kutolak, apalagi cuma sedikit persoalan ini,"
"Tapi meski urusan ini dikatakan sepele, untuk dikerjakan justru tidak mudah... ."
"Betapa sulit, sesuatu urusan pasti dapat kuselesaikan,"
Tukas Liang Siang-jin.
"Asalkan benar didunia ini terdapat orang begitu, apakah dia masih hidup atau sudah mati, kuyakin pasti dapat menemukan jejaknya."
"Apakah betul?"
Kong-in menegas.
"Jika Taysu tidak percaya, kuberani bersumpah didepan tanda pengenal Ban-locianpwe ini, apabila tidak dapat kutemkan jejak orang yang hendak dicari, biarlah aku....."
"Jika tidak dapat kau temukan jejak orang ini, biar kau mau matipun tidak bisa mati."
Tukas Kong-in.
"Baik, boleh juga demikian,"
Seru Liang Siang-jin. Kong-in tertawa cerah.
"Orang yang ingin kucari itu meski tidak ternama didunia Kangouw, tapi kalau kusebutkan tentu juga akan kau ketahui."
"Siapakah?"
Tanya Siang-jin. Tiba-tiba wajah Kong-in menampilkan rasa benci, sinar matanya juga memancarkan nafsu membunuh, ucapnya pelahan.
"Dia adalah putra mendiang Siu Tok, si Iblis yang maha jahat masa dahulu itu, aku tidak tahu siapa namanya, tapi kalau dihitung tahun ini sedikitnya sudah mencapai 18 atau 19 tahun."
Hati Liang Siang-jin tergetar, ucapnya.
"Untuk apa Taysu mencarinya."
Kong-in menengadah, katanya dengan menggreget.
"Dendamku pada Siu Tok sedalam lautan, sungguh kalau bisa ingin kubeset kulit dan memakan dagingnya. Cuma sayang dia sudah mampus lebih dulu, hutang ayah dibayar anak, terpaksa sekarang kutagih hutang kepada anaknya."
Nada ucapannya yang penuh dendam dan benci itu membuat ngeri hati Liang Siang-jin, ia termenung sejenak, diam-diam ia membatin.
"Wahai Siu Su, yang kau pikir cuma menuntut balas kepada orang lain, tapi tidak kau ketahui orang lain juga akan menuntut balas kepadamu, permusuhan kalian membikin aku ikut serba susah."
Maklumlah, Seng-jiu-siansing ada hubungan guru dan murid dengan dia, mau-tak-mau dia harus melaksanakan perintah sang guru.
Tapi pemilik sepatu perak ini juga tidak boleh diremehkan, dia hutang budi besar kepadanya, padahal tadi dia sudah bersumpah, keruan dia serba salah.
Begitulah seketika ia menjadi bingung dan tak tahu apa yang harus dilakukannya.
Kong-in menatapnya dengan tajam, tanyanya pula dengan suara berat.
"Pernah kau dengar orang ini? Kau tahu dia berada dimana?"
Lama juga Liang Siang-jin tercengang, jawabnya kemudian dengan tergegap.
"Taysu tinggal jauh di Kun-lun-san sana, entah cara bagaimana mengikat permusuhan dengan Siu-siansing itu?"
Kong-in Taysu termenung, pikirannya bergolak, terbayang pula adegan kejadian masa lampau. Dia berkomat-kamit, sampai sekian lama barulah berkata pula.
"Coba ingin kutanya padamu, dendam pembunuhan ayah terlebih berat atau sakit hati direbutnya istri terlebih dalam?"
"Dendam dan sakit hati memang sukar dipisah-pisahkan, dendam pembunuhan ayah dan sakit hati direbutnya istri sukar untuk dibedakan mana yang lebih berat,"
Jawab Liang Siang-jin dengan tergegap. Tersembul senyuman pedih pada ujung mulut Kong-in, ia menengadah, katanya pelahan.
"Apakah kau tahu sebab apa aku mencukur rambut menjadi hwesio? Apakah kau tahu siapa diriku sebelum menjadi hwesio?"
Mendadak hati Liang Siang-jin tergerak, teringat seorang olehnya.....
== oo OOO oo == Menjelang senja, sunyi senyap meliputi Leng-un-si, biara termashur yang terletak ditepi barat Se-oh itu.
Dihalaman depan biara itu berdiri seorang pemuda tampan sedang memandang cahaya senja yang indah dilangit barat sana, pemuda itu kelihatan tenang, tapi diantara mata alisnya juga memperlihatkan rasa gelisah seperti sedang menunggu sesuatu.
Diluar pintu halaman, dipelataran berduduk tersebar disana sini beberapa puluh pengemis yang dekil, pengemis didepan biara Leng-un-si juga merupakan suatu pemandangan khas ditepi Seoh.
Tapi para pengemis ini kelihatan adem-ayem, semuanya berbaring santai berbantalkan tumpukan karung.
Sampai sekian lamanya pemuda tampan itu berpaling, mukanya kemerahan dibawah cahaya senja, ia memandang kian-kemari, kemudian melangkah keluar dan bertanya pelahan.
"Apakah benar Leng-locianpwe pasti akan kemari?"
Seorang pengemis muda yang bertubuh kurus kering dan berduduk disamping kiri sana, meski usianya masih muda, tapi karung goni yan dibawanya justru paling banyak, dengan sorot mata tajam ia menjawab.
"Tidak pasti."
Air muka si pemuda tampan rada berubah.
"Tadi kau bilang dia akan datang?"
"Mungkin datang, mungkin tidak, kan tidak ada yang memastikannya."
Sahut pengemis muda itu dengan tak acuh. Terangkat alis si pemuda tampan.
"Jika begitu, mengapa kau minta kutunggu sekian lamanya?"
Karena gelisah, suaranya menjadi keras dan agak aseran. Pengemis muda itu mendengus.
"Hm, siapa yang menyuruhmu menunggu?"
Dengan muka merah pemuda itu berteriak.
"Kurang ajar! Biarpun Pangcu kalian juga tidak berani bicara sekasar ini kepadaku."
Si pengemis muda hanya mendengus saja tanpa bicara. Kembali pemuda tampan membentak.
"Tampaknya kau minta dihajat tuan muda, ayo berdiri!"
Pelahan pengemis muda membuka mata dan memandangnya sekejap, jawabnya dengan tak acuh.
"Selamanya aku tidak bergebrak dengan orang perempuan."
Pemuda tampan melengak, mukanya bertambah merah, untuk sejenak ia berdiri terkesima, akhirnya dia mengentak kaki dan mengomel.
"Setelah bertemu dengan Pangcu kalian baru akan kuhajar adat padamu!"
Berpuluh pengemis itu sama tertawa, segera pemuda tampan menyingkir kesana.
Dadanya tampak berjumbul, jelas menahan gusar.
Tapi tak dapat berbuat apa-apa, dia tidak dapat bergebrak dengan kawanan pengemis ini, sebab dia perlu menemui Pangcu kaum jembel itu untuk mencari keterangan satu orang.
Sambil berjalan pelahan, tanpa terasa pemuda tampan ini menghela napas, hatinya lagi risau, tapi sukar diceritakan kepada orang biarpun orang yang paling dekat dengan dia, sebab itulah terpaksa ia ingin minta bantuan kepada pemimpin kaum jembel yang luas pengetahuannya itu.
Tapi apa mau dikatakan lagi, Leng-pangcu yang dicari sukar ditemukan.
Tanpa terasa ia membelai rambut sendiri yang agak kusut dengan tangannya yang putih bersih, meski dia berdandan sebagai lelaki, namun gerak-gerik sebagai orang perempuan sukar ditutupinya.
Tidak jauh ia berjalan, tiba-tiba dilihatnya dua orang kakek berambut putih datang dari depan, kedua kakek ini sama mengenakan pakaian perlente, rambutnya yang putih panjang terurai dan melambai tertiup angin.
Yang satu gemuk dan yang lain kurus sehingga keduanya kelihatan berbeda.
Setiba beberapa meter didepan pemuda tampan ini, kedua kakek itu mendadak berhenti, mereka memandang pemuda ini dengan heran, lalu keduanya saling pandang sekejap, kakek sebelah kiri berucap pelahan.
"Mirip benar?!"
Kakek sebelah kanan mengangguk, sahutnya dengan sama lirihnya.
"Ya, jika dia perempuan... ."
"Dia memang perempuan,"
Sela kakek sebelah kiri.
"Ai, kalau terjadi duapuluh tahun yang lalu..."
Sampai disini mendadak kedua kakek itu tutup mulut, keduanya menunduk lesu. Alis pemuda tampan menegak, tegurnya.
"Kalian mengoceh apa?"
Mata telinganya sangat tajam, biarpun kedua kakek itu bercakap dengan suara lirih, tapi dapat didengarnya dengan jelas.
Kembali kedua kakek saling pandang sekejap dan tidak ada yang menjawab, mereka terus lalu disamping si pemuda.
Mendongkol hati pemuda tampan ini, tapi dapatlah ditahan.
Mestinya dia berwatak pemberang, entah mengapa, akhir-akhir ini wataknya telah berubah jauh lebih sabar.
Sebuah kereta kuda menunggu di kejauhan, menunggu dibawah sebaris pohon liu yang rindang.
Pelahan pemuda tampan menuju kearah kereta.
Mendadak sesosok bayangan orang muncul dari balik pohon liu, seorang pemuda cakap berbaju kuning emas berdiri tegak didepannya sambil menyapa.
"Mengapa baru sekarang nona datang, apakah asyik pesiar atau... ."
Si pemuda tampan mendelik, dengan ketus ia menjawab.
"Tidak perlu kau urus!"
Sembari bicara, langsung ia menuju ke kereta kuda. Siapa tahu pemuda berbaju kuning emas ini lantas melompat lagi kedepannya dan berkata pula dengan tertawa.
"Masa aku tidak boleh urus, Suhu menyuruhku....."
"Thi Peng,"
Bentak si pemuda cakap.
"Jangan kau kira ayah sayang padamu lantas kau lupa akan siapa dirimu, betapapun nona tetap berhak memerintahmu."
Bukan saja dia menyebut nona pada diri sendiri, bahkan nadanya juga lagak seorang putri keluarga terhormat yang selalu disanjung puji, Tidak perlu dijelaskan lagi, dia inilah Mao Bun-ki, putri tunggal kesayangan Leng-coa Mao Kau.
Aneh juga, bukankah dia sudah pulang ketempat gurunya?
Mengapa sekarang berada kembali di daerah Kanglam?
Pemuda berbaju emas sengaja menghela napas dan berkata.
"Wah, jika demikian kata nona, terpaksa aku tidak bisa bilang apa-apa lagi."
Ia berhenti sejenak sambil melirik Bun-ki sekejap, lalu menyambung dengan pelahan.
"Sebenarnya dengan maksud baik ingin kusampaikan sesuatu berita kepada nona."
Pemuda berbaju kuning emas ini adalah murid Mao Kau, anggota Giok-kut-sucia, Thi Peng.
Akhir-akhir ini banya diantara kesepuluh anggota Ciok-kut-sucia mengalami cedera, dengan sendirinya Mao Kau jadi lebih sayang terhadap beberapa murid andalannya yang tersisa itu, sebab itulah sikap Thi Peng juga tidak terlalu takut terhadap Mao Bun-ki.
Mestinya Bun-ki sudah melangkah kesana lagi, mendadak ia menoleh dan bartanya dengan dingin.
"Berita apa?"
"Jika nona tidak sudi mendengar, anggaplah tidak ada,"
Ujar Thi Peng dengan menyengir.
Alis Bun-ki menegak lagi, dengan mendongkol langsung ia naik kereta dan memerintahkan kusir untuk segera berangkat.
Segera cambuk kusir bergeletar, Thi Peng tetap berdiri di tempatnya dengan tersenyum simpul, senyum yang agak misterius.
Baru saja kereta hendak berangkat, mendadak pintu kereta terbuka lagi dan Bun-ki melompat turun kedepan Thi Peng, bentaknya dengan mata mendelik.
"Berita apa? Sesungguhnya berita apa?"
Thi Peng sengaja berlagak adem ayem sambil meraba janggutnya yang masih pendek, ucapnya kalem.
"Tentang berita ini, hehe... ."
Bun-ki menjadi murka.
"plak", kontan ia gampar muka orang sambil membentak.
"Sialan! kau mau bicara tidak?"
Thi Peng tetap tersenyum, ia meraba-raba tempat yang terpukul itu sambil berucap pelahan.
"Berita... .berita ini menyangkut seorang yang sangat menarik perhatian nona... .Aduh... ah... ."
Sedapatnya Bun-ki menahan rasa gusarnya, ucapnya dengan tertawa manis.
"Wah, apakah mukamu sakit karena gamparanku?"
Berbareng ia raba muka orang walaupun tidak kepalang rasa dongkolnya. Thi Peng menyengir dengan mata setengah terpejam.
"Ah, sudah... .sudah tidak sakit lagi..."
Apakah berita yang kau maksudkan menyangkut diri Ko Bun?"
Tanya Bun-ki dengan suara yang dibuat halus. Thi Peng mengangguk sambil mengeluh.
"Oo, sakit....."
"Kutahu, tidak nanti kau bekerja percuma."
Ujar Bun-ki dengan tertawa.
"Sebenarnya bukan maksudku memperhatikan dia, cuma kalau tidak kau katakan, hatiku terasa kesal. Tapi setelah kau katakan, tentu aku... ."
Sampai disini ia tertawa manis dan tidak meneruskan.
"Betul."
Thi Peng menegas dengan tertawa sambil memandang kian-kemari. Bun-ki mengangguk.
"Tentang bocah she Ko itu, saat ini mungkin dia... sudah mati,"
Kata Thi Peng pelahan.
Hati Bun-ki tergetar, tapi sesaat itu pikirannya serasa hampa.
Ia tidak duka, tidak menderita, juga tidak percaya bahwa Ko Bun sudah mati.
Ia cuma merasa hampa, bingung dan kusut.
Didengarnya Thi Peng berkata pula dengan tertawa.
"Suhu selalu merasakan bocah itu serupa keturunan seorang musuhnya, tapi tidak dapat memastikannya, juga dirasakan oleh Suhu kemungkinan bocah itu akan berbuat sesuatu yang tidak menguntungkan Suhu, sebab itulah akhir-akhir ini hati Suhu selalu tidak tenteram, akhirnya....."
Ia berhenti sejenak, lalu menyambung dengan tertawa.
"Pada suatu hari mendadak Suhu berkata kepadaku, 'Biarlah aku mengingkari orang segajat ini daripada seorang mengingkari diriku', Dan esoknya, yaitu kemarin, Suhu lantas mengumpulkan belasan jago terkemuka untuk menghabisi nyawa bocah she Ko itu. Bahkan mereka diberi pesan boleh bertindak sesuka mereka, dengan cara apa pun boleh, pokoknya bocah she Ko itu harus mati."
Ia menengadah dan bergelak tertawa, lalu berkata pula.
"Dan setelah selang sekian lamanya, hehe, mustahil jiwa bocah she Ko itu takkan amblas?"
Bun-ki berdiri seperti patung ditempatnya, cahaya senja menyinari wajahnya yang pucat. Dengan menyengir Thi Peng berkata.
"Nona, apa yang kuketahui sudah keberitahukan semua padamu, engkau....."
Mendadak Bun-ki membalik tubuh.
"plak", sekuatnya ia gampar lagi muka Thi Peng, lalu melompat naik keatas kereta, dirampasnya tali kendali dan cemeti dari tangan si kusir.
"tarrr", secepat terbang ia larikan kereta itu. Pukulan Bun-ki sungguh keras sehingga membikin mata Thi Peng ber-kunang2.
"bluk", ia jatuh terduduk dengan muka merah bengap. Ia tertegun sejenak, dirabanya pipi sendiri, gigi pun terasa gompal. Waktu ia mendongak, kembali ia terkesiap, terlihat dua kakek berbaju perlente dengan badan gemuk dan kurus berdiri didepannya. Meski dandanan kedua kakek ini tidak luar biasa, tapi wajah dan sorot mata mereka membawa semacam perbawa aneh yang sukar dilukiskan, mereka menatap Thi Peng dengan tajam. Betapapun tabah hati Thi Peng, tidak urung merasa ngeri juga, ia lupa akan rasa sakit mukanya yang tergampar itu, rasanya serba salah apakah harus berbangkit atau tetap berduduk disitu.
"Siapa anak perempuan tadi?"
Terdengar kakek sebelah kiri bertanya.
Dia bicara dengan pelahan dan jelas, tapi menimbulkan semacam perasaan tidak enak bagi pendengarnya.
Setelah terkesima sejenak, mendadak Thi Peng melompat bangun, tanpa bicara ia melangkah pergi.
Siapa tahu, tidak kelihatan bergerak, tahu-tahu kedua kakek itu sudah menghadang didepannya.
"Siapa anak perempuan tadi?"
Yang bertanya sekarang adalah kakek sebelah kanan, dengan nada yang sama serupa diucapkan oleh satu orang saja. Mendadak Thi Peng membusungkan dada dan berteriak.
"Tak perlu kau urus!"
Kakek sebelah kiri tertawa.
"Hah, engkau tak mau menjawab, akan kupukul mati kau!"
Suara tertawanya juga sangat aneh sehingga membuat Thi Peng mengkirik, ia coba memandang sekelilingnya dengan harapan akan melihat bala bantuan, tapi sekitarnya tidak ada seorang pun, cahaya senja sudah lenyap, hari tambah kelam.
Si kakek sebelah kanan juga tertawa dan berkata.
"Beritahukan padaku, tentu untung bagimu."
Tapi Thi Peng lantas membentak.
"Menyingkir!"
Berbareng kedua kepalan lantas menghantam sekaligus.
Sudah diduga serangannya pasti takkan merobohkan lawan, maka selain menyerang dengan sepenuh tenaga juga telah disiapkan langkah berikutnya, asalkan kedua kakek itu mengelak, segera dia akan menrejang lewat dan kabur secepatnya.
Maklumlah, ia merasa tidak tahan oleh sorot mata kedua kakek yang aneh dan bertenaga gaib itu.
Siapa tahu baru saja kedua kepalan menghantam, entah mengapa tahu-tahu kedua kepalan terpegang oleh kedua kakek itu.
"plak", pukulannya seperti mengenai tanah liat dan tidak menimbulkan sesuatu cedera. Kembali Thi Peng terkesiap, ia membentak lagi sambil menarik tangan sekuatnya. Tak terduga seluruh tenaganya juga dirasakan lenyap sama sekali, waktu ia pandang orang, kedua pasang mata orang tetap menatapnya dengan cahaya yang berkuatan gaib. Si kakek sebelah kiri berkata pula dengan tertawa.
"Tak dapat kau lawan diriku."
"Maka lebih baik kau bicara saja terus terang."
Sambung kakek sebelah kanan. Kedua orang sama tertawa, seketika Thi Peng merasa hilang keberaniannya, tanpa terasa ia menjawab.
"Dia putri kesayangan Leng-coa Mao Kau!"
Kedua kakek saling pandang sekejab, dibalik sorot mata mereka itu se-akan2 hendak bilang.
"Aha, ternyata betul."
Segera kakek sebelah kiri berkata.
"Jika demikian, jadi kau ini murid Mao Kao?"
Dengan kaku Thi Peng mengangguk.
"Bawa kami menemui Mao Kau,"
Kata kakek sebelah kanan.
Belum lagi Thi Peng sempat menjawab, entah bagaimana caranya, tahu-tahu Thi Peng sudah terhimpit ditengah mereka terus digiring kesana.
Pada saat itulah dibawah pohon liu sana seperti ada berkelebatnya bayangan orang, hanya sekejap saja lantas menghilang dalam kegelapan..== oo OOO oo == Kota Hangciu yang indah permai itu selama beberapa hari terakhir ini telah bertambah ramai.
Di tepi Se-oh atau Danau Barat yang indah itu tampak Ko Bun berdiri tertegun memandangi seorang tojin disampingnya, yaitu Hoa-san-gin-ho.
Jago pedang kelas satu Hoa-san-pai itu memegang pedangnya dengan telapak tangannya yang putih pucat, waktu ujung pedangnya berputar, tahu-tahu ia menusuk sekali pada lengannya sendiri.
Setetes darah segar lantas menitik kedalam air danau yang hijau kebiruan.
Ko Bun melenggong, tanyanya dengan heran.
"He, apa yang kau lakukan, Totiang?"
Gin-ho Tojin menengadah, sampai sekian lama barulah ia menghela napas dan berucap.
"Dendam!"
"Dendam?"
Ko Bun menegas dengan kening bekernyit. Pelahan Gin-ho Tojin menunduk, dengan sorot mata tajam ia pandang Ko Bun dan berucap.
"Ya, dendam!"
Mendadak ia menggulung lengan jubahnya sehingga kelihatan lengannya penuh bekas luka tusukan pedang, membuat ngeri orang yang melihatnya.
"Kau lihat ini, Ko-heng,"
Sambung Gin-ho Tojin dengan suara berat.
"Semua ini adalah dendam, selama dua puluh tahun selain dendam tiada sesuatu yang terpikir olehku, tapi rasa dendam ini justru sukar terlampias, maka... maka terpaksa kusiksa tubuhku sendiri agar rasa dendamku terlampias berikut darah yang mengucur. Kalau tidak, entah cara bagaimana aku dapat hidup sampai sekarang."
Ko Bun termenung sekian lama sambil bergumam.
"Dendam... .dendam... ."
Gin-ho Tojin tersenyum pedih.
"Dendam pembunuhan ayah, sakit hati yang sukar disembuhkan, kukira tidak setiap orang sanggup menahan rasa dendam demikian... ."
Mendadak ia menatap Ko Bun dan berkata pula.
"Ko-heng, apakah kau tahu rasanya dendam? Dia selain membawa sengsara bagi orang yang bersangkutan, tapi juga dapat membangkitkan semangat juang orang. Tapi... .tentunya aku tidak tahu... .Dendam pembunuhan ayah, sakit hati termusnahnya keluarga....."
Pelahan dia memejamkan mata lagi, seperti ingin menutupi air matanya yang mulai mengembang pada kelopak matanya. Ko Bun memandang jauh kedepan dengan bimbang, tanyanya tiba-tiba.
"Siapa musuhmu itu? Dapatkah kau beritahu padaku?"
"Untuk apa?"
Tanya Gin-ho Tojin.
"Supaya, bisa jadi dapat kubantu sekuat tenagaku,"
Sahut Ko Bun. Gin-ho Tojin memandangnya tanpa berkedip, entah berapa lama barulah ia menghela napas dan berkata.
"Musuhku ialah....."
Belum lanjut ucapannya, mendadak terdengar seorang berteriak.
"Itu dia disini!"
Dengan terkejut mereka berpaling, terlihatlah dari kanan-kiri tepi danau muncul belasan orang berbaju panjang dan menyandang pedang.
Langkah belasan orang itu enteng dan gesit, semuanya tersenyum simpul, enam orang yang berada disebelah kiri sama berseru dengan gembira.
"Nah, disini!"
Bersambung ke-13.
Jilid 13 Langsung mereka mendekati Hoa-san-gin-ho, seorang yang mengepalai mereka berbaju panjang warna merah, perawakannya gagah perkasa, dia inilah salah seorang pendekar pedang termashur, Jing-hong-kiam Cu Pek-ih.
Setelah mengamat-amati Hoa-san-gin-ho sejenak, dengan suara lantang ia menyapa dengan tertawa.
"Selama belasan tahun ini tidak pernah melihat pendekar pedang berbaju perak dari Hoa-san, tak tersangka sekarang dapat bertemu lagi disini. Mohon tanya, mungkin To-heng inilah Gin-ho Totiang yang baru turun dari Hoa-san?"
Kedua orang saling pandang dengan kagum, sesudah bercengkerama sebentar, Cu Pek-ih lantas memperkenalkan pendekar pedang yang datang bersamanya kepada Gin-ho Tojin.
Hanya bercakap sebentar saja mereka lantas merasa cocok satu dengan yang lain.
Dalam pada itu lima orang yang datang dari tepi kiri danau itu juga sedang berseru.
"Aha, itu dia disitu!"
Langsung mereka mendekati Ko Bun, yang kepala rombongan adalah seorang berbahu lebar dan berbaju mewah, dia inilah Thia Hong dari Wan-yang-siang-kiam. Ko Bun tersenyum dan menyapa.
"Ah, kiranya Thia-heng juga berada disini."
Sekilas pandang dapatlah dilihat keempat orang yang datang bersama Thia Hong itu rata-rata masih muda, paling tua berumur tiga puluhan, semuanya berjubah biru dan bersepatu hitam, meski pada wajah masing-masing tersembul senyuman, namun sorot mata mereka tidak menunjuk setitik senyuman apa pun.
"Aha, memang sudah kuduga Ko-heng pasti tidak mau menyiakan keramaian ini dan tentu akan datang juga ke Hangciu sini,"
Seru Thia Hong dengan tertawa. Tiba-tiba Cu Pek-ih mendekati Thia Hong dan berkata.
"Hari ini biar aku menjadi tuan rumah, akan kujamu Gin-ho Totiang ini untuk makan minum sepuasnya."
Thia Hong melenggong, tapi segera menjawab dengan tertawa.
"Ah, tepat! Kalian berdua adalah pendekar pedang jaman kini, adalah pantas bila kalian berkumpul untuk bercengkerama."
"Kongcu ini berada bersama Gin-ho Totiang, tentu akan kuundang sekalian, maaf jika kuganggu pembicaraan kalian dengan Kongcu ini,"
Kata Cu Pek-ih pula dengan tertawa terhadap Ko Bun. Gin-ho Tojin lantas menyambung.
"Undangan Cu-tayhiap ini sungguh tidak enak ditolak, bagaimana kalau Ko-heng ikut hadir minum beberapa cawan?"
Belum lagi Thia Hong menanggapi, keempat kawannya yang berjubah biru itu tampak kurang senang. Alis Thia Hong juga bekernyit, katanya.
"Tapi kami baru saja bertemu kembali dengan Ko-heng, kami pun ingin berkumpul untuk makan minum sepuasnya... ."
"Wah, jika demikian, tampaknya terpaksa aku harus berpisah sementara dengan Gin-ho Totiang."
Tukas Ko Bun. Selagi Gin-ho Tojin berpikir, segera Cu Pek-ih mendahului berseru.
"Baik juga, biarlah kita berpisah untuk sementara!"
Tanpa menunggu persetujuan orang, segera ia menarik Gin-ho Tojin menuju kearahnya sendiri. Sesudah sekian jauhnya, ia menghela napas dan berkata.
"Asal-usul bocah she Ko itu tidak jelas, cara bicaranya juga tidak beres, tentu ada sesuatu rahasianya yang tidak ingin diketahui orang. Kita adalah kawan karib dan ingin minum sepuasnya, kalau bisa tanpa kehadiran bocah itu akan lebih baik."
Baru saja Hoa-san-gin-ho mengernyitkan kening, segera ia digiring pergi oleh kawanan pendekar pedang gagah itu.
Sebaliknya Ko Bun dan Thia Hong tetap bicara dan bergurau, tapi sejauh itu dia tidak memperkenalkan keempat jago pedang berjubah biru kepada Ko Bun.
Langkah keempat orang itu tampak gesit dan tangkas, sorot mata tajam, tampaknya kungfu mereka pasti tidak rendah.
Tapi sikap Jing-hong-kiam Cu Pek-ih terhadap mereka tampaknya juga biasa2 saja, agaknya mereka bukan jago ternama dunia persilatan.
Sekarang cara berjalan keempat orang ini juga ganjil, yang dua orang berjalan didepan dan dua yang lain berjalan dibelakang Ko Bun, cara berjalan mereka teratur seperti barisan pengawal yang ketat.
Tergerak hati Ko Bun, diam-diam ia mulai curiga, tapi dia juga tidak merasa kuatir, sebab ia yakin salah seorang Wan-yang-siang-kiam yaitu Thia Hong sudah terpikat oleh tipunya.
Setelah menyusuri pepohonan liu yang rindang dan melintas tanjakan, tibalah dia dilereng bukit, ketikamendekati makam Gak Hui, dengan suara lantang Ko Bun berseru.
"Thia-heng, tanpa terasa kita sudah berjalan sampai di makam Gak-ong, disini memang banyak arak sembahyang, kemana kita akan mencari rumah makan untuk minum sepuasnya."
"Ada, ada, jangan kuatir!"
Sahut Thia Hong dengan tertawa. Belum lenyap suaranya, serentak keempat jago pedang berjubah biru sama melolos pedangnya. Air muka Ko Bun berubah, ucapnya dengan suara tertahan.
"Thia-heng, ada apa ini?"
Diam-diam ia pun merasa gegetun, diakuinya Leng-coa Mao Kau benar-benar seorang pimpinan sejati, baru dua-tiga hari yang singkat saja Thia Hong sudah dapat ditarik lagi ke pihaknya.
Ia tidak tahu bahwa watak Thia Hong memang serupa ujung rambut, kearah mana angin metiup, kearah itu pula dia mendoyong.
Dilihatnya Thia hOng lagi menarik muka dan mendengus.
"Ya, beginilah!"
Sekali ia memberi tanda, segera pedang keempat orang berbaju biru menyerang Ko Bun.
Sampai sekarang Ko Bun belum pernah memperlihatkan kungfunya didepan umum, tapi serangan empat pedang secara serentak ini tidak ada peluang baginya untuk memilih.
Di tengah sambaran sinar pedang, cepat Ko Bun meloncat keatas.
Terdengar Thia Hong tertawa mengejek.
"Haha, hebat amat pemuda pelajar lemah yang tak mahir ilmu silat, tampaknya Mao-toako memang jauh lebih tajam pandangannya daripada orang lain."
Dalam sekejap itulah keempat jago pedang berbaju biru telah melancarkan serangan tujuh kali sehingga ke-28 serangan mereka serupa dihamburkan pada saat yang sama.
Ko Bun mengebaskan lengan bajunya dan mengelak pelahan, setiap serangan lawan nyaris mengenai tubuhnya, namun semuanya terhindar tanpa menyentuh baju pun.
Diam-diam keempat jago pedang baju biru merasa terkejut, sungguh mereka tidak menyangka anak muda ini dapat bergerak segesit ini.
Padahal Ko Bun sendiri jauh lebih terkejut daripada mereka, serangan keempat lawan sedemikian gencarnya, semuanya serangan lihai.
Thia Hong menyaksikan pertarungan itu disamping, setelah keempat kawannya tidak mampu mengenai sasarannya dengan serangan berantai tadi, diam-diam ia pun tercengang.
Ia juga heran mengapa Ko Bun belum lagi terpaksa melancarkan serangan balasan?
Belum lenyap pikirannya, se-konyong2 terdengar suara "trang-tring"
Yang ramai, tahu-tahu keempat pedang kawannya sudah berada ditangan Ko Bun.
Ujung pedang yang tajam itu digenggam begitu saja oleh telapak tangan anak muda itu.
Karuan Thia Hong terkesiap, keempat jago pedang berbaju biru juga melenggong.
Padahal keempat orang ini adalah jago andalan Mao Kau yang dipupuk sejak beberapa tahun terakhir, mereka hampir senantiasa berada disekeliling Mao Kau, biarpun namanya tidak terkenal didunia Kangouw, tapi sering kali Mao Kau menguji mereka dengan tokoh Bu-lim yang terkenal dan terbukti kungfu mereka ternyata tidak kalah dibandingkan tokoh-tokoh tersebut.
Hendaknya maklum, selama beberapa tahun terakhir ini nama Mao Kau membubung tinggi dan keuntungan pun berlimpah sehingga jauh lebih sayang terhadap jiwa raganya sendiri, dalam benaknya senantiasa terbayang wajah Siu Tok sebelum ajalnya di pegunungan sunyi delapan belas tahun yang lalu, maka dia sengaja memupuk serombongan jago pedang pengawal pribadi untuk digunakan bilamana perlu.
Sebab itulah dia sangat sayang kepada rombongan jago pedang seragam biru, sebaliknya kawanan jago pedang itu juga cukup tahu akan harga dirinya, siapa tahu sekarang setelah berhadapan sasaran yang dituju, sekaligus mereka lantas kecundang.
Begitulah sekilas pandang melihat sekelilingnya tidak terdapat orang lain, seketika sorot mata Ko Bun memancarkan cahaya buas, nafsu membunuhnya berkobar.
Sekali tangannya berputar, konan keempat pedang musuh terpuntir patah, ujung pedang patah yang terpegang secepat kilat menyambar kedepan, selagi keempat jago pedang berseragam biru terkejut dan belum sempat timbul pikiran untuk berkelit, tahu-tahu ujung pedang patah sudah bersarang didada mereka.
Terdengar jeritan empat orang berbareng.
Muka Thia Hong juga pucat seketika, serunya dengan gelagapan.
"Kau... .kau... ."
Melihat ketangkasan Ko Bun ini, tiba-tiba teringat olehnya bayangan seorang.
Selama belasan tahun ini dia tidak berani mengenangkan bayangan orang ini, sebab itulah bayangan ini mestinya sudah mulai dilupakannya.
Tapi sekarang bayangan yang sudah mulai samar dalam benaknya itu mendadak timbul sedemikian jelasnya.
Pelahan Ko Bun melangkah maju, wajahnya yang tampan se-akan2 menampilkan senyuman mengejek...
Dalam sekejap itu Wan-yang-siang-kiam yang termashur seolah-olah kehilangan semangat tempur, dengan suara gemetar ia berucap.
"Kau... .jadi kau....."
Dengan senyum menghina Ko Bun berucap.
"Ya, aku! Utang darah bayar darah?"
Darahnya bergolak, hatinya penuh dendam, sungguh ia ingin mencuci tangannya dengan darah segar musuh.
Thia Hong masih gemetar, sedangkan Ko Bun tambah mendekat.
Sekonyong-konyong sinar pedang berkelebat, pada detik terakhir Thia Hong yang gemetar itu telah melolos pedang dan menabas keleher Ko Bun.
Jago pedang yang sudah berpuluh tahun berkecimpung didunia Kangouw ini pada detik terakhir yang menentukan mati-hidupnya telah sekali lagi memperlihatkan kelicikannya, dengan rasa takut dan gemetar untuk menutupi gerakannya, pada saat lawan sama sekali tidak berjaga-jaga barulah dia melolos pedang dan melancarkan serangan.
Dengan pengalaman yang luas ditambah ilmu pedangnya yang hebat, serangan kilat ini sungguh lihai sekali, dimana sinar pedang berkelebat, tahu-tahu ujung pedang sudah menyambar keleher Ko Bun.
Mendadak tubuh Ko Bun mendoyong kebelakang, lengan bajunya yang longgar terus menggulung keatas.
Cepat Thia Hong memutar pedangnya, dari samping ia tabas sikut lawan.
Serangan ini juga berbahaya, bagian sikut biasanya sukar berputar, Thia Hong yakin serangannya pasti akan membikin buntung tangan musuh.
Siapa tahu tangan Ko Bun yang terselubung oleh lengan baju yang longgar itu justru dapat mematahkan serangannya, waktu Thia Hong merasakan apa yang terjadi, tahu-tahu ujung pedangnya sudah terpegang lawan.
"Tring", kembali ujung pedang dipatahkan, sorot mata Ko Bun berubah beringas. Pada saat Thia Hong terkejut itulah, ujung pedang patah juga sudah bersarang didadanya. Ko Bun mendengar jeritan ngeri disertai muncratnya darah segar musuh mengucur ketangannya, Ia angkat tangannya yang berlepotan darah segar, ia lalu memejamkan mata dan berdoa pelahan.
"Ayah, inilah yang pertama....."
Tiba-tiba air matanya menitik diatas tangan yang berlumuran darah itu, kiranya beginilah rasanya orang menuntut balas, pedih dan ngeri.
Namun mayat musuh sudah roboh, rasa tegangnya juga terasa longgar.
"Tring", tanpa merasa pedang patah jatuh ketanah. Pada saat itulah mendadak seorang tertawa dan menegur dibelakangnya.
"Setelah orang ini kau bunuh, bolehkah pengemis tua ikut bantu menanam mayatnya, Siu-kongcu?"
Suara orang yang sudah dikenalnya, tanpa berpaling juga Ko Bun tahu siapa dia.
Pelahan ia membalik tubuh, ditengah remang malam kelihatan Kiong-sin Leng Liong berdiri tegak disitu sambil memegang seutas tali panjang dan sedang memandangnya dengan senyum-tak-senyum.
"Setelah orang ini kau bunuh, biarpun tidak disaksikan siapa pun, memangnya kau kira orang lain tak dapat menerka siapa pembunuhnya?"
Kata si pengemis tua. Saat ini mendadak Ko Bun merasakan kelelahan dan kebosanan yang mendalam, kebosanan orang hidup. Dia seperti tidak ingin banyak pikir lagi, sahutnya dengan menghela napas.
"Urusan apa pun, pada suatu hari pasti akan terbeber dengan jelas. Soal siapa diriku atau diriku siapa, apa alangannya jika nanti diketahui orang?"
"Haha, bagus, bagus!"
Leng Liong bergelak tertawa.
"Jika begitu, segala perencanaan yang sudah diatur itu bukankah akan percuma saja? Mungkin engkau tidak merasa sayang, tapi pengemis tua justru merasa sayang."
Pelahan Ko Bun menunduk, mendadak ia mengangkat kepala pula dan berteriak.
"Sesungguhnya siapa kau? Ada sangkut-paut apa dengan diriku? Mengapa selalu kau ikut campur urusanku?"
Dalam kegelapan kedua mata Leng Liong tampak mencorong terang.
Pengemis tua, ketua Kaipang yang selama berpuluh tahun ini berkelana di dunia Kangouw mendadak air mukanya berubah prihatin, dia tidak bersuara, tangannya bergerak pelahan, tali panjang yang dipegangnya mendadak melejit keatas dan menari diudara.
Sekali sendal tali itu melingkar turun dan jatuh diatas keempat mayat jago pedang berseragam biru tadi.
Berulang-ulang tangan Leng Liong bergetar dan menggeser, tali panjang itu juga ikut melingkar dan berputar, mendadak ia menarik, lalu berputar dan melangkah kesana, tali panjang itu mengencang, ternyata beberapa sosok mayat itu telah diseretnya kesana.
Gerak tali untuk mengikat beberapa sosok mayat itu sungguh hebat sekali, sampai Ko Bun juga melongo.
Untuk pertama kalinya ia saksikan kepandaian orang Kangouw yang sukar dijajaki dan tidak dipamerkan didepan umum ini.
Dilihatnya Kiong-sin Leng Liong masih terus melangkah kesana sambil menyeret seikat mayat.
Dengan enteng Ko Bun melompat kesampingnya dan bertanya.
"Telah kuperlakukan dirimu dengan kasar, mengapa engkau masih juga membantuku?"
Leng Liong tidak memandangnya sekejap pun, ia terus melangkah kedalam hutan yang jarangjarang pohonnya, disitu sudah menunggu dua pengemis dan sedang menggali liang kubur. Ko Bun membentak.
"Kau tahu, sama sekali aku tidak memerlukan bantuanmu, aku... ."
"Hm,"
Leng Liong mendengus.
"saat ini musuhmu sudah berada dimana-mana, asalkan kau muncul, entah berapa banyak orang yang akan membinasakanmu. Kalau aku tidak membantumu, siapa yang akan membantu?"
Ko Bun tertegun, gumamnya.
"Kalau tidak kau bantu, siapa yang membantuku... ."
"Hm, perubahan cuaca sukar diduga, kemalangan manusia sukar diramal, dalam sehari saja mungkin bisa terjadi macam-macam perubahan, orang yang menjadi sahabatmu hari ini bisa jadi besok akan berubah menjadi musuhmu, sekalipun kau punya kungfu maha tinggi dengan kepintaran yang tak ada taranya, namun urusan dunia Kangouw terlalu ruwet dan banyak likulikunya, siapa pula yang dapat menerka apa yang bakal terjadi nanti?"
Ko Bun terkesima, ia coba mencerna arti ucapan orang.
Pada saat itulah mendadak dari tengah hutan sana berkumandang suara kereta kuda yang dilarikan dengan cepat, tapi mendadak pula berhenti.
Menyusul lantas terdengar suara bentakan nyaring memecah keheningan malam.
Hati Ko Bun tergetar, ia merasa suara nyaring orang sudah dikenalnya benar.
Air muka Kiong-sin Leng Liong juga agak berubah, ucapnya dengan suara tertahan.
"Lekas pergi, lekas! Urusan disini, biar kuselesaikan bagimu!"
Hanya sekilas senyuman Ko Bun, ia menuruti keangkuhan orang tua, sebab itulah seringkali anak muda ini suka melakukan hal-hal yang emosional, dan kebanyakan perbuatan emosional adalah perbuatan yang bodoh.
Begitulah tanpa berucap ia terus putar tubuh dan melompat keluar hutan.
Memandangi bayangan punggung anak muda itu, Leng Liong menggeleng, entah senang entah sedih, gumamnya.
"Kembali begini perangainya, serupa benar... ." . == ooo OOOO ooo == Di luar hutan sana sebuah kereta kuda berhenti didepan mayat Thia Hong, seorang pemuda tampan dan berpakaian perlente berdiri disamping kereta dan sedang mengamati mayat Thia Hong. Waktu ia angkat kepalanya, tiba-tiba diketahuinya sepasang mata sedang menatapnya lekatlekat, seketika kedua pasang mata beradu pandang. Jantung si dia berdebar, segera tersembul senyuman kejut dan girangnya, tergurnya dengan suara gemetar.
"Hai, engkau tidak... .tidak mati."
Segera ia bergerak seperti mau menubruk kerangkulan Ko Bun, tapi urung. Dengan tertawa hambar Ko Bun menyapa.
"Bun-ki, kau tampak kurus."
Suara tertawa dan ucapan ini bagaikan gelombang besar yang mendampar jantung Mao Bun-ki, tubuhnya gemetar, matanya pun merah.
"Kau... kaupun kurus... ."
Ucapnya lirih, sampai disini, mendadak ia menyurut mundur, lalu berteriak.
"Kau... .sesungguhnya siapa kau? Apakah engkau musuh ayahku? Apakah engkau yang membunuh Thia Hong?"
Gemerdep sinar mata Ko Bun, jawabnya.
"Orang ini....."
"Orang ini terbunuh olehku!"
Mendadak dari muka dan belakangnya dua orang menukas ucapannya.
"Orang ini dibunuh olehku!"
Dengan terkejut Ko Bun berpaling, dilihatnya dari belakang hutan melangkah keluar Kiong-sin Leng Liong.
Mao Bun-ki juga terkejut dan menoleh, ditengah remang malam terlihat muncul seorang dengan wajah kaku dan tubuh tegak, sorot matanya buram, seorang aneh berjubah hijau, bekas luka pada mukanya yang panjang menambah seram dan misteriusnya.
"Siapa kau!"
Bentak Bun-ki. Biji matanya berputar, segera ia menambahkan lagi.
"Siapa yang membunuh Thia Hong?"
Tak tahunya orang aneh ini seperti tidak mendengar bentaknya, dengan kaku ia tetap melangkah maju lewat disampingnya, lalu berjongkok untuk mengangkat mayat Thia Hong.
Mungkin karena terpengaruh oleh kekuatan gaib orang yang seram, seketika Bun-ki hanya menyaksikan orang berbuat tanpa mencegahnya.
Setelah mengangkat mayat Thia Hong, dengan kaku orang aneh itu berdiri dan mulai melangkah pergi, sorot matanya yang buram mendadak berubah setajam sinar kilat dan memandang Ko Bun sekilas, lalu dengan kaku lewat disisi Leng Liong terus menghilang dalam kegelapan sana.
Biarpun Leng Liong adalah tokoh yang lihai, tidak urung ia pun mengunjuk rasa heran, seperti ingin tanya ia pandang Ko Bun sekejap, tapi dilihatnya anak muda itu juga berdiri melongo dengan bingung.
Mendadak Bun-ki berseru.
"Leng-pangcu, kebetulan memang ingin kucari dirimu."
Agaknya karena bingung dan juga kikuk, sebab dia tidak berani mencegah perbuatan si jubah hijau yang aneh tadi, maka dia berucap demikian untuk menghilangkan rasa canggungnya.
Leng Liong juga melengak, segera ia menjawab dengan tertawa.
"Ada keperluan apa nona mencari diriku?"
"Aku... .aku... ."
Bun-ki menjadi gelagapan, dia mencari Leng Liong adalah untuk minta keterangan tentang Ko Bun, sekarang anak muda itu sudah berada disitu, seketika ia tidak dapat menyambung lagi ucapannya.
Ia yakin Ko Bun pasti bukan orang yang pantas dicurigai ayahnya, sebab itulah ia menjadi agak menyesal dan juga bingung, sebab ia tidak tahu cara bagaimana harus memberi penjelasan kepada ayahnya tentang Ko Bun.
Melihat kecanggungan si nona, Leng Liong bergelak tertawa.
"Haha, urusan anak muda seperti kalian rasanya sukar dipahami orang tua semacam kami ini."
Muka Bun-ki menjadi merah, dilihatnya Ko Bun masih berdiri termangu ditempatnya, entah apa yang sedang dipikirkannya. Pelahan ia mendekati anak muda itu dan berkata.
"Tadi aku... salah tuduh padamu, tapi... tapi lebih baik sukalah engkau menghindar untuk sementara, sebab ayahku... ."
Yang sedang dipikir Ko Bun adalah pandangan "mayat hidup"
Yang berjubah hijau tadi sehingga perkataan si nona tidak diperhatikannya. Malahan lantas terlihat mata Ko Bun terbelalak lebar, lalu mengetuk jidat sendiri sambil berseru.
"Ah, tidak betul... .tidak betul... ."
Habis itu, mendadak ia membalik tubuh terus berlari pergi. Keruan Bun-ki melongo bingung.
"Hai, kau... ."
Mestinya dia hendak mengejar, tapi sekilas ia pandang Leng Liong sekejap, ia menjadi malu dan tidak jadi menyusulnya. Leng Liong terbahak.
"Haha, tidak apa, pengemis tua tidak melihat apa pun!"
Muka Bun-ki menjadi merah pula, akhirnya dia melompat keatas keretanya dan dilarikan dengan cepat.
Debu mengepul, hanya sekejap saja lantas menghilang dalam kegelapan..== oo OOO oo == Sudah jauh malam....Kerlip bintang menyinari sebuah pintu besar bercat merah dengan sepasang singa batu yang kelihatan ada disamping pintu.
Gedung keluarga Mao di Hangciu tidak pernah sepi, siang maupun malam.
Saat itu tujuh atau delapan lelaki berbaju ringkas tampak mondar-mandir didepan pintu, tugas mereka adalah menyambut tamu, melaporkan, meronda dan menyelidik.
Tapi ditengah malam musim semi yang indah ini, kedua tugas yang terakhir tadi sudah diremehkan mereka, mereka sudah lena oleh suasana yang aman tenteram.
Mereka cuma mondar-mandir dengan kemalas-malasan di pekarangan, ada yang mulai berduduk bersandar singa batu, terkadang juga satu-dua orang diantaranya membanyol tentang hal-hal yang konyol sehingga menimbulkan gelak tertawa temannya.
Se-konyong2 suara tertawa mereka berhenti serentak, sorot mata mereka yang semula tak acuh seketika berubah menjadi prihatin, yang berdiri tambah tegak berdirinya, yang berduduk cepat berbangkit.
Dalam kegelapan seorang berjubah hijau dengan kaku muncul dari kegelapan dan mendekati pintu, dibawah cahaya pelita kelihatan wajahnya yang kaku serupa mayat hidup itu cukup mengerikan orang, padanya terpanggul sesosok mayat yang masih berlumuran darah.
Semua orang terkejut, ada yang menyurut mundur untuk memberi jalan kepadanya, biarpun orang2 ini tergolong lelaki kasar, tapi sekarang tiada seorang pun berani bersuara menegur.
Si jubah hijau sama sekali tidak memandang mereka, langsung ia naik undak2an batu pintu gerbang.
Ketika kedelapan penjaga itu bersuara kaget, tahu-yahu orang aneh itu sudah masuk kedalam.
Gedung keluarga Mao di Hangciu yang terjaga dengan ketat ini dianggapnya seperti tempat umum yang boleh masuk keluar dengan bebas.
Selangkah demi selangkah ia melintasi halaman, menuju keserambi sana, seketika gemparlah seluruh rumah.
Suara ribut berkumandang kedalam ruangan tengah, saat itu cahaya lampu diruangan besar itu masih terang benderang, Leng-coa Mao Kau asyik makan minum dengan gembira, ketika mendengar suara ribut-ribut itu ia berkerut kening dan bertanya.
"Ada kejadian apa?"
Dua jago pedang berseragam biru segera berlari keluar.
Yang hadir diruang tamu itu kecuali tuan rumah Mao Kau, ada lagi Ho-siok-siang-kiam, Gu-bosiang-hui, Pek-poh-hui-hoa dan lain-lain, meski merekapun terkejut, tapi juga tidak terlalu menghiraukan.
Orang yang berduduk pada tempat tamu utama memakai mantel dan kerudung kepala, agaknya dia inilah Jin-beng-to-hou, si jagal manusia dari Kwan-gwa itu, Dia duduk tidak bergerak, biarpun berada ditengah orang banyak serupa juga berduduk sendirian, sikapnya yang keras se-akan2 tidak pernah terpengaruh oleh apa pun yang terjadi.
Pada saat itu terdengar keributan diluar bertambah ramai, ada orang membentak.
"Siapa itu? Berani sembarangan terobosan disini?"
Di tengah teguran dan bentakan tetap tidak ada seorang pun berani merintangi.
Orang berjubah hijau itu pun tidak menghiraukan orang lain, langsung ia menuju keruangan besar.
Dalam pada itu kedua jago pedang berseragam biru sudah memburu tiba, melihat si jubah hijau yang aneh itu, tanpa terasa mereka pun ngeri.
Kedua orang saling pandang sekejap, serentak mereka melolos pedang dan membentak.
"Berhenti! Jika ada keperluan, hendaknya memberitahukan dulu!"
Akan tetapi si jubah hijau hanya memandang dingin terhadap mereka, lalu dengan langkah yang kaku ia tetap menuju kedepan. Kedua jago seragam biru serentak membentak.
"sret-sret", kedua pedang mereka menusuk dari kiri dan kanan. Tapi lantas terdengar suara "cring"
Yang nyaring, kedua pedang itu saling bentur, entah dengan cara bagaimana si jubah hijau telah menyusup, dibawah sambaran pedang dan tahu-tahu sudah berada dibelakang kedua lawan.
Kedua orang itu terkesiap, dengan melongo mereka menyaksikan orang tetap melangkah kedepan tanpa berani menyerang lagi.
Akhirnya Mao Kau juga dikejutkan oleh peristiwa ini, dia muncul didepan ruangan tamu, Si jubah hijau langsung mendekati Mao Kau, tapi segera ia dihadang lagi oleh sebarisan lelaki bergolok.
"Berhenti!"
Seorang lantas membentak. Akan tetapi Mao Kau juga berseru.
"Menyingkir, biarkan dia kemari!"
Dengan langkah dan wajah kaku orang itu tidak menghiraukan barisan golok, dia menuju keruangan tamu.
Disitu semua orang sudah sama berbangkit kecuali Jin-beng-to-hou yang angkuh itu.
Sesudah berhadapan, dengan sorot mata kaku si jubah hijau menatap Mao Kau, mendadak mayat yang dipanggulnya dilemparkan ke lantai.
Waktu semua orang mengawasi dan mengetahui mayat itu adalah Thia Hong, tanpa terasa mereka sama bersuara kaget.
Betapa tenangnya Mao Kau, tidak urung berubah juga air mukanya, dengan suara bengis ia lantas menegur.
"Siapa kau? Untuk apa kau datang kemari dengan memanggul mayat?"
Dia belum lagi tahu jelas maksud kedatangan orang, sebagai tuan rumah, dengan sendirinya tidak boleh turun tangan begitu saja.
Dilihatnya wajah si jubah hijau yang kaku itu tiba-tiba menampilkan secercah senyuman, karena tersenyum sehingga mukanya berkerut, maka bekas luka pada mukanya juga ikut tertarik sehingga kelihatan lebih jelek dan menakutkan.
Dengan pelahan ia berkata.
"Siapa aku?... ."
Kembali ia menatap Mao Kau dan menyambung dengan sekata demi sekata.
"Masa tidak kau kenal lagi padaku?"
Alis Mao Kau bekernyit dengan erat, dengan sorot mata tajam ia pandang orang aneh ini. Tiba-tiba Pek-po-hui-hoa Lim Ki-cing tertawa dan menyela.
"Jika engkau sahabat Mao-toako, hendaknya lekas kau katakan saja terus terang, untuk apa main teka-teki segala?"
Tapi Co-jiu-sin-kiam Ting Ih lantas menegur dengan kurang senang.
"Apakah engkau yang membunuh Thia Hong?... ."
"Betul."
Jawab si jubah hijau tegas dan singkat. Semua orang terkejut, tanpa terasa sama menyurut mundur.
"creng", serentak mereka melolos senjata.
"Setelah kau bunuh dia, kau bawa lagi mayatnya kesini, memangnya kau pun ingin mencari mampus,"
Jengek Lim Ki-cing. Namun si jubah hijau seperti tidak menghiraukan ucapannya, ia menatap Mao Kau dengan tajam dan berkata lagi.
"Benarkah engkau sudah pangling padaku?"
"Jika benar kau sahabatku, mengapa kau bunuh Thia Hong?"
Jawab Mao Kau dengan beringas.
"Ya, peretanyaan tepat!"
Sambung Ting Ih.
"crit", mendadak pedangnya menusuk bahu si jubah hijau. Namun cuma sedikit bergerak, berbareng jari si jubah hijau menyelentik dari balik lengan bajunya "cring", Kontan serangan Ting Ih dipatahkan, malahan ia berucap dengan pelahan.
"Delapan belas tahun yang lalu, dibawah hujan lebat ditengah malam... ."
Karena serangannya gagal, dengan gusar Ting Ih bermaksud menyerang lagi, tapi Mao Kau lantas mencegahnya.
"Berhenti dulu, Ting-heng, dengar ceritanya."
Suasana ruangan tamu menjadi sunyi, semua orang sama pasang telinga. Dengan pandangan lekat si jubah hijau melanjutkan ucapannya.
"Waktu itu kulakukan pengawalan satu partai barang bagimu, ditengah jalan telah dibegal dan jiwaku hampir melayang, masakah kejadian itu sudah kau lupakan?"
Tergetar hati Mao Kau, mendadak teringat olehnya akan seorang, serunya dengan terkejut.
"Hei, kau Cu Cu-bing! Jadi... .jadi kau ini adik Cu-bing!"
"Cu Cu-bing... .Ya, betul, aku inilah Cu Cu-bing!"
Ucap si jubah hijau dengan kaku.
"O, Cu-bing,"
Seru Mao Kau sambil memburu maju dan merangkul bahu orang.
"Mengapa baru... baru sekarang kau datang menemuiku?"
Dengan muka kelam Ting Ih menukas.
"Tidak peduli siapa dia, kalau Thia-toako sudah dibunuhnya, tetap tidak dapat kutinggal diam."
Mao Kau tampak kurang senang, tapi si jubah hijau alias Cu Cu-bing lantas mendengus.
"Hm, memangnya tidak boleh kubunuh dia?"
Pelahan ia menengadah, ia tuding codet pada mukanya, lalu berkata pula.
"Coba lihat, dia manusia rendah, demi keuntungan pribadi dia khianati kawan sendiri, dia telah melukaiku, meski serangan ini tidak sampai menewaskan diriku, tapi tusukan maut ini telah membuatku kehilangan ingatan selama delapan belas tahun, selama itu kuhidup tersiksa dan sengsara, inilah... ."
Dia berpaling kearah Mao Kau dan melanjutkan.
"Inilah sebabnya baru sekarang dapat kudatang menemuimu, sebab sejauh itu aku tidak ingat pada apa yang terjadi pada masa lampau, bahkan tidak ingat kepada nama sendiri. Kalau tidak tentu sudah sejak dulu-dulu kupulang untuk melaporkan padamu bahwa barang kawalan pada delapan belas tahun yang lalu....."
"Apakah orang yang membegal barang kawalanmu itu ialah Thia Hong."
Potong Mao Kau dengan melotot.
"Betul,"
Jawab Cu Cu-bing.
"Telah kuhilangkan barang kawalanku, kalau tidak kubunuh dia, mana dapat kupulang untuk menemuimu?"
Sampai disini, suasana diruangan sudah mencapai klimaksnya.
Siapapun tidak berani bicara lagi, bahkan Ting Ih yang penasaran karena serangannya dipatahkan orang tadi diam-diam juga sudah memasukkan kembali pedang kesarungnya.
Sejenak Mao Kau termenung, mendadak ia bergelak tertawa.
"Hahaha, bagus, bagus! Hari ini sungguh hari bahagia, bukan cuma perkara yang ter-katung2 selama delapan belas tahun tak diketahui sebab musebabnya kini telah menjadi jelas, bahkan saudaraku yang menghilang selama delapan belas tahun kini telah pulang lagi kesisiku... .Haha, sungguh aku sangat bahagia dan harus dirayakan."
Mendadak ia bertepuk tangan dan berteriak.
"Ayo, ulangi kembali perjamuan ini untuk menghormati Ci-hiante!"
Lalu ia pun memberi perintah agar mayat Thia Hong dibawa pergi untuk dikubur, diberi pesan pula agar istri Thia Hong yang sedang hamil itu untuk sementara jangan diberitahu.
Anak buah Mao Kau lantas sibuk melaksanakan perintah itu.
Dengan tertawa genit Lim Ki-cing berkata.
"Mao-toako, orang telah berbuat khianat padamu, tapi engkau masih memperlakukannya dengan baik, sungguh aku takluk lahir batin atas kebijaksanaanmu."
Biji matanya berputar, ia melirik Cu Cu-bing sekejap, lalu ia berkata.
"Makanya menurut pendapatku, saudara Cu, sakit hatimu sudah terbalas, dendammu sudah terlampias, kini telah berkumpul kembali dengan sahabat lama, peristiwa bahagia ini pantas dirayakan dengan gembira dan engkau mestinya dapat tertawa, Ai, terus terang, sikapmu yang kaku ini membuat orang merasa tidak enak."
"Jika merasa tidak enak, jangan kau pandang diriku,"
Jengek Cu Cu-bing. Lim Ki-cing melengak dan tida mampu tertawa lagi. Dengan terbahak Mao Kau menyela.
"Haha, sesama saudara sendiri, untuk apa....."
Belum lanjut ucapannya, mendadak terlihat Thi Peng berlari datang dengan napas terengahengah, dari jauh dia sudah berteriak.
"Suhu... Suhu... ada orang ingin menemui engkau!"
Dengan kening bekernyit Mao Kau bertanya.
"Siapa? Mengapa kau jadi gugup begini?"
Napas Thi Peng masih tersengal, jawabnya.
"Kedua orang ini... ."
Mendadak ia berhenti sambil memandang Cu Cu-bing dengan melenggong.
"Dia ini Cu-susiok!"
Kata Mao Kau. Thi Peng menyambung.
"Kungfu kedua orang ini sungguh sangat mengejutkan, entah apa maksud tujuan mereka mencari Suhu, tidak diketahui kawan atau lawan."
Meski dalam hati merasa sangsi, sedapatnya Mao Kau berlagak tenang, ucapnya dengan tertawa.
"Haha, peduli apa maksud kedatangan mereka, masakah mereka dapat berbuat sesukanya disini?"
Maklumlah, yang hadir di tempatnya sekarang tergolong tokoh kelas terkemuka seluruhnya, dengan ucapannya itu berarti pula dia menjunjung martabat para tamunya itu.
Dengan tertawa genit Lim Ki-cing berkata pula.
"Kungfu mereka sangat hebat... Wah, siapakah mereka? Justru ingin kulihat mereka... ."
Sampai disini tiba-tiba dilihatnya pandangan semua orang sama terarah keluar pintu, tanpa terasa ia berhenti bicara dan ikut memandang kesana.
Tertampaklah dua orang kakek berbaju perlente, perawakan keduanya sangat tinggi, yang seorang gemuk dan yang lain kurus, keduanya berdiri berjajar didepan ruangan tamu.
Sorot mata mereka membawa semacam tenaga gaib yang aneh dan membuat jantung orang berdebar.
Mao Kau terkesiap, segera ia menyapa dengan tertawa.
"Entah ada keperluan apa Anda berdua mencari orang she Mao....."
Kakek sebelah kiri yang gemuk dan berwajah bundar mengelus jenggotnya dan memotong ucapan tuan rumah.
"Aku Thia Ki!"
"Dan aku Poa Kiam!"
Sambung kakek kurus sebelah kiri dengan tertawa. Keduanya terus melangkah kedepan Mao Kau, kakek gemuk yang bernama Thia Ki berucap.
"Jadi kau ini Mao Kau? Ehm, memang rada mirip... ."
"Delapan belas tahun yang lalu pernah kulihat adik perempuanmu... ."
Sambung si kakek kurus alias Poa Kiam, dia bicara dengan hambar, akan tetapi segera menimbulkan kegemparan orang banyak.
Semua orang yang hadir sama terkesiap, sampai si jubah hijau yang mengaku bernama Cu Cubing juga menampilkan rasa terkejut.
Setelah menenangkan diri, Mao Kau coba bertanya.
"Oo, jadi... jadi Anda pernah melihat adik perempuanku, entah... entah berada dimanakah dia sekarang?"
Meski sedapatnya ia menahan gejolak perasaannya, tidak urung suaranya rada gemetar.
Sudah tentu yang membuatnya tergetar bukan karena adik perempuannya, melainkan anak dalam kandungan adiknya pada delapan belas tahn yang lampau itu.
Jin-beng-to-hou, si jagal manusia yang memakai kerudung muka itu sejak tadi berduduk diam saja, kini ia pun berbangkit dengan sorot mata tajam.
Terdengar Thia Ki berkata pula dengan singkat.
"Hai-thian-ko-to!"
Nama tempat ini kembali membuat semua orang terperanjat. Cepat Mao Kau bertanya.
"Dan bagai... .bagaimana dengan anak yang dlahirkannya?... ."
"Dengan sendirinya berguru kepada Hai-thian-ko-yan"
Jawab Poa Kiam dengan tertawa. Tergetar hati Mao Kau, ia menyurut mundur beberapa tindak dan jatuh terduduk dikursi. Jinbeng-to-hou juga duduk kembali.
"tring", sebuah sumpit gading terjatuh kelantai. Seketika wajah Mao Kau kelihatan sebentar hijau sebentar pucat, jelas hatinya sangat terguncang. Juga tidak terkecuali Ho-siok-siang-kiam, Pek-poh-hui-hoa, Co-jiu-sin-kiam dan lain-lain yang bersangkutan dengan kematian Siu Tok dahulu, semuanya juga kebat-kebit. Bahwa putra Siu Tok bila benar murid Hai-thian-ko-yan, maka tidak perlu disangsikan lagi akan kungfunya, jika demikian, dendam delapan belas tahun yang lalu itu bukankah benar akan terjadi hutang darah harus dibayar dengan darah. Mendadak Thia Ki mendekati Mao Kau, katanya dengan tertawa.
"Biarpun putra Siu Tok adalah murid Hai-thia-ko-yan, tapi kalau kami berdua berada disini, apa yang perlu kau takuti?"
Serentak Mao Kau berdiri.
"Maksudmu... ."
"Hahaha, kedatangan kami justru hendak membela kau,"
Seru Poa Kiam dengan tertawa.
Gemerdep sinar mata Mao Kau, ia mau percaya, tapi juga tidak berani percaya.
Diam-diam ia membatin cara bagaimana dapat menyelami kebenaran maksud kedatangan kedua kakek aneh in serta menguji betapa tinggi kungfu mereka?
Sementara itu malam bertambah larut, angin meniup dingin membuat suasana tegang sedikit mengendur.
Pada saat itulah se-konyong2 terdengar suara orang tertawa latah, meski suara tertawa itu kedengaran sangat jauh, namun terasa memekak telinga.
Seorang jago pedang berseragam biru tampak berlari masuk dan melapor.
"Diluar ada tamu lagi.."
"Siapa? Tengah malam buta begini berkunjung kemari... ."
Bentak Mao Kau dengan melotot. Dengan hormat si baju biru melapor.
"Mereka mengaku sebagai Cu Pek-ih dari Bu-tong, Gin-ho Tojin dari Hoa-san dan lagi... ."
Hanya nama kedua orang ini saja sudah cukup membuat gempar orang banyak. Mao Kau menyengir dan memotong.
"Wah, tak tersangka malam ini ramai benar akan kedatangan tetamu, Adakah mereka menyatakan maksud kunjungannya?"
Dengan tergegap si baju biru menjawab.
"Orang-orang itu seperti mabuk, mereka bilang esok adalah hari pertemuan besar para ksatria, maka malam ini juga mereka ingin menemui dulu tuan rumah, katanya ingin minta minum beberapa cawan arak segala... ."
Alis Mao Kau berkerut, ia termenung sejenak, sudah cukup kesulitan yang dihadapinya sekarang, sungguh ia tidak mau menambah kesukaran lain.
Tapi cara bagaimana pula dia dapat menolak kedatangan tokoh terkemuka dunia persilatan itu.
Begitulah ia mulai menerka apa maksud kedatangan jago-jago pedang itu.
Karena sudah sekian lama tidak ada keputusan, si baju biru yang masih menunggu itu akhirnya bertanya.
"Apakah mereka disilakan masuk atau....."
"Undang masuk kemari!"
Ucap Mao Kau kemudian.
Baru saja ia berkata demikian, terdengarlah gelak tertawa diluar disusul dengan dendang orang disertai irama ketukan pedang, menyusul masuklah dua orang, yaitu Cu Pek-ih bergandeng tangan dengan Hoa-san-gin-ho, keduanya kini tampak memakai caping dan baju ijuk, agaknya dalam keadaan mabuk.
Dibelakang mereka ikut pula tiga orang dengan gelak tertawa.
Mao Kau berkerut kening, ia berdehem lalu berseru dengan lantang, Maaf, Mao Kau tidak tahu kedatangan tamu agung sehingga tidak melakukan sambutan yang layak...
Cu Pek-ih berhenti berdendang, katanya.
"Sambutan layak Mao-tayhiap sudah cukup kuterima seperti ini, yang penting, sediakan saja minuman sedap."
Hoa-san-gin-ho juga berseru dengan tertawa,"Haha, asalkan tersedia arak sedap. apa pula yang kuharapkan lagi!"
Habis berkata, kedua orang lantas berdendang pula.
Mao Kau tidak menanggapi, dengan tersenyum ia menyilakan tetamu masuk kedalam.
Setiba ditengah ruangan, Cu Pek-ih menyapu pandang sekejap hadirin disitu, tiba-tiba ia bergumam.
"Satu, dua... lima, aha, bagus, bagus sekali. Tak tersangka Jit-kiam-sam-pian yang termashur hari ini telah berkumpul lima orang disini,sungguh sangat menggembirakan. Selamat bertemu!"
Pek-poh-hui-hoa Lim Ki-cing menjawab dengan tertawa.
"Aha, janganlah Cu-tayhiap memuji, kami ini terhitung apa, masakah dapat dibandingkan pedang sakti pendekar Bu-tong?"
Cu Pek-ih menggoyang kedua tangannya dan berkata.
"Ai, didepan Jit-kiam-sam-pian mana berani kubicara tentang pedang segala!"
Sampai disini, mendadak ia mengertak.
"Haiit!"
Pedang yang dipegangnya tahu-tahu menyambar keatas dan "crat", dengan tepat menancap ditengah belandar. Hoa-san-gin-ho sengaja berlagak serius, ia tepuk pundak Cu Pek-ih dan berkata.
"Cu-heng, janganlah engkau rendah hati. Bicara tentang ilmu pedang, memang banyak juga jago pedang dari berbagai aliran lain, namun ilmu pedang Bu-tong-pai tetap paling menonjol. Delapan puluh satu jurus Kiu-kiong-lian-goan-kiam sekali dimainkan bagaikan air bah yang tak terbendungkan. ..."
"Ah, Toheng terlalu memuji,"
Ujar Cu Pek-ih dengan tertawa.
"Lalu bagaimana pula dengan Hoa-san-kiam-hoat kalian?"
Hoa-san-gin-ho memutar pedangnya sehingga menimbulkan deru angin yang keras, sumbu lilin diruangan sama bergoyang, sebentar mengkeret dan lain saat memanjang. Lalu ia berkata dengan menggeleng.
"Tentang Hoa-san-kiam-hoat... Haha, susah, pahit, sepat, tidak sedap, cuma... .ya, lumayanlah!"
Ditengah gelak tertawanya pedang berputar terlebih kencang, angin tajam menyambar dan api lilin seluruh ruangan mendadak padam. Dengan alis berkerut Mao Kau membentak.
"Nyalakan lampu!"
Dalam kegelapan terdengar orang berlari, tentu anak buahnya berusaha mengambil lampu.
Sejenak kemudian, lampu telah menyala lagi.
Pada saat cahaya lampu terpancar itulah, serentak terdengar beberapa orang menjerit kaget.
Kiranya sejak tadi Jin-beng-to-hou yang selalu berkerudung itu diam saja, kedatangan Cu Pekih dan lain-lain sama sekali diremehkannya.
Tapi pada saat lampu menyala kembali, tahu-tahu seorang lelaki tinggi besar bercaping dan berbaju ijuk sudah berdiri didepannya serta menarik kain kerudungnya, selagi Jin-beng-to-hou merasa gusar, orang yang menarik kain kerudungnya sudah menjerit kaget lebih dulu.
Waktu semua orang memandang kesana, tertampak orang berbaju ijuk yang menjerit kaget itu lantas membuka caping dan menanggalkan baju ijuknya sehingga kelihatan rambutnya yang kusut dan bajunya yang hitam.
Nyata dia inilah si Thauto berambut kusut.
Matanya yang tinggal satu itu tampak gemerdep, codet pada mukanya juga berubah merah membara, serupa benar dengan bekas luka pada muka Jin-beng-to-hou.
Serentak Jin-beng berbangkit dengan tubuh agak gemetar, mantelnya juga lantas tersingkap sehingga kelihatan jenggotnya yang putih serta lengan baju kirinya yang kosong tanpa tangan.
Kedua orang berdiri berhadapan, si Thauto dan Jin-beng-to-hou bukan saja perawakan sama tingginya, bekas luka dimuka dan sikap keduanya juga serupa, bedanya cuma bekas luka Jinbeng-to-hou itu tepat menyerempet lewat mata kirinya sehingga mata itu tidak sampai buta.
Persamaan kedua orang ini membuat semua orang terkesiap pula, keadaan menjadi hening, semuanya merasa heran.
Si Thauto tampak gemetar dan berucap.
"Ahh... .engkau... ."
Mendadak ia berlutut dan menyembah sambil berteriak.
"O, ayah! Mengapa engkau tidak sudi bertemu denganku, mengapa... ."
Thauto berbaju hitam yang kelihatan gagah perkasa ini sekarang menyembah sambil menangis ter-gerung seperti anak kecil.
Jin-beng-to-hou memandang si Thauto tanpa bersuara, hanya jenggotnya yang putih itu kelihatan juga rada bergetar.
Sorot matanya tampak buram, sejenak kemudian dua titik air mata menetes membasahi pipinya.
Dengan alis berkerut Mao Kau juga tidak bicara, sekarang dapat dipahaminya ocehan Hoa-sangin-ho dan Cu Pek-ih tadi kiranya cuma untuk memencarkan perhatian orang banyak saja.
Lalu mereka memutar pedang dengan kencang untuk memadamkan lampu, pada saat panik itulah si Thauto lantas mendekati Jin-beng-to-hou untuk menyingkap kain kerudungnya supaya antara dan anak dapat bertemu.
Ia cukup tahu seluk beluk kedua ayah beranak ini, sebab itulah dia tidak terharu oleh adegan si Thauto yang menyembah dan menangis itu, sebaliknya ia merasa kesal.
Tangisan si Thauto tidak mereda, ia masih terus berteriak.
"O, ayah, mengapa engkau tidak sudi menemuiku....."
Mendadak Jin-beng-to-hou membentak.
"Siapa ayahmu!"
Sambil mengentak kaki segera ia hendak tingga pergi. Serentak Cu Pek-ih dan Gin-ho Tojin melompat maju dan menghadang didepan orang.
"Ai, Locianpwe, masakah engkau sedemikian tega terhadap anak sendiri?"
Kata Cu Pek-ih.
"Banyak urusan!"
Bentak Jin-beng-to-hou sambil mendorong kedepan dengan kedua tangannya.
Cepat Cu Pek-ih berdua mengelak, tapi pada saat itu juga si Thauto pun sudah menubruk maju dan merangkul erat kedua kaki Jin-beng-to-hou sambil berseru dan menangis.
"Ayah, jika mau bunuh, boleh kau bunuh diriku saja!"
Sorot mata Jin-beng-to-hou tampak beringas, namun tubuh tidak dapat bergerak lagi, jengeknya.
"Hm, memangnya kenapa jika kubunuh dirimu?"
Mendadak ia menengadah dan tertawa latah, tertawa yang penuh rasa duka dan penasaran, teriaknya.
"Haha, hari ini tidak ada lagi orang she Siu yang akan ikut campur urusanku!"
Habis berkata telapak tangannya sebagai golok terus membacok keatas kepala si Thauto.
Semua orang menjerit kuatir, tapi telapak tangan yang kurus itu segera berhenti ketika menyentuh rambut si Thauto yang kusut dan tidak diteruskan.
Mao Kau menghela napas panjang, ucapnya.
"Ong-heng, kejadian sudah lama lampau, untuk apa pula engkau mengingatnya lagi?"
Jin-beng-to-hou bergelak tertawa pula, teriaknya.
"Melupakannya?... .Haha, melupakannya?..."
Ia tertawa seperti orang menangis sehingga menimbulkan rasa heran bagi pendengarnya, dengan suara parau ia menyambung lagi.
"Lantaran anak durhaka ini, aku telah mengorbankan segala hasil usahaku dan sebelah lenganku, selama dua puluh tahun aku hidup sengsara ditengah gurun yang gersang, dan sekarang ada orang menyuruhku melupakannya?... ."
Sekejap itu kejadian dua puluh tahun yang lampau se-akan2 terbayang kembali, masih teringat jelas olehnya seraut wajah dengan pandangannya yang menghina sesamanya serta nada yang dingin itu berkata kepadanya;
"Manusia ini ciptaan Tuhan, sekalipun engkau ayahnya juga tidak berhak mencabut nyawanya, telah kau buntungi sebelah lengannya, akupun akan membuntungi sebelah lenganmu, kau bacok mukanya, akupun akan membacok sekali pada mukamu, inilah pelajaran bagimu bahwa setiap tindak-tanduk orang didunia ini tidak boleh didasarkan atas kehendak pribadi seorang dan boleh sembarang membikin cacat atau mencabut jiwa orang lain."
Dirasakan dingin pada lengan kiri sendiri, betapa mata golok orang telah menguntungi lengannya itu, kejadian yang tak mungkin dilupakannya selama hidup.
Teringat olehnya selagi dirinya tersiksa dan menggeletak ditanah karena terluka parah itu, putranya justru ikut minggat bersama orang she Siu itu.
Dengan merintih ia telah bersumpah pasti akan menuntut balas kejadian itu.
Menuntut balas dan menuntut balas.....
Mendadak ia membentak.
"Jika kau mau mengakui diriku sebagai ayahmu, kecuali kaupun memperlakukan putra orang she Siu itu dengan cara yang sama, bacok mukanya dan buntungi sebelah tangannya, habis itu baru boleh kau temui aku lagi."
Mendadak ia dorong tubuh si Thauto, dikenakannya mantelnya yang longgar, secepat terbang ia terus melayang keluar.
"Ayah!"
Teriak si Thauto, langsung ia mengejar keluar, hanya sekejap saja bayangan mereka sudah ditelan kegelapan. Hoa-san-gin-ho menghela napas menyesal. ucapnya pelahan.
"Ai, sungguh tak tersangka Sin jiang Ong Lu-peng yang sudah tua masih tetap membawa perangai sekeras ini, padahal... .orang yang hadir disini masakah cuma mereka saja yang ingin menuntut balas kepada keturunan orang she Siu?" ======================================================================== ======================== = Apalagi yang akan dihadapi Ko Bun yang kini harus menghadapi kemunculan musuh sebanyak ini? = Adakah jalan keluar untuk menghapus semua sengketa yang menyangkut balas membalas ini? === Bacalah
Jilid lanjutannya === ======================================================================== ======================== Bersambung 14
Jilid 14 Air muka Mao Kau kelihatan dingin dan mengangguk pelahan.
Sedangkan Thia Ki dan Poa Kiam saling pandang sekejap.
Cu Cu-bing yang berjuluk Sian-tian-sin-to (si golok kilat) juga menampilkan senyuman misterius..== oo OOO oo == Saat itu Mao Bun-ki sedang melarikan kudanya dengan cepat, tapi jaraknya dengan Ko Bun justru semakin jauh.
Nyata lari kuda ternyata tidak dapat menyusul kecepatan lari orang.
Ko Bun mendengar derap kaki kuda semakin jauh tertinggal dibelakang, mendadak ia berputar, membelok kedalam hutan lebat disebelah kiri sana.
Setelah menyusuri hutan itu ditengah remang malam kelihatan sebuah perkampungan yang dibangun dengan sangat megah, dengan cepat ia melayang masuk ke perkampungan itu.
Ia heran suasana sunyi senyap, padahal biasanya kedatangannya segera disambut meriah.
Langsung ia menuju keruangan tengah, disitupun tidak ada orang.
Hanya diatas meja secarik kertas yang tertindih dibawah lampu.
Waktu Ko Bun mengambil dan membacanya, isinya cuma beberapa huruf saja dan berbunyi.
'Kongcu, atas perintah Toako kami, tak dapat lagi kami meladeni Kongcu.' Yang bertanda tangan dibawahnya adalah Thio Jit, Ong Peng dan Thio It-tang.
Kening Ko Bun bekernyit, tiba-tiba terdengar suara langkah orang pelahan bergema dari ruangan belakang, jelas sedang menuju kesini.
Di tengah malam sunyi, suara langkah orang ini kedengaran sangat seram.
"Siapa?"
Bentak Ko Bun dengan suara tertahan.
Tabir tersingkap, sesosok tubuh kaku dengan wajah bercodet melangkah masuk dengan membawa sebatang lilin putih.
Dia ternyata juga Hoan-hun atau si mayat hidup.
Cahaya lilin menyinari wajahnya yang pucat, ia tersenyum terhadap Ko Bun, sukar diraba apa arti senyumannya ini.
Ko Bun terkesiap, serunya.
"Engkau sudah kembali? Dan orang tadi?"
Hoan-hun atau mayat hidup kelihatan bingung, pelahan ia menggeleng.
"Hah, apakah sejak tadi engkau tidak pernah pergi dari sini?"
Seru Ko Bun pula. Pelahan Hoan-hun mengangguk, sorot matanya memandang jauh kegelapan malam, ucapnya pelahan.
"Mereka sudah pergi semua, tertinggal aku saja disini."
Baca Juga: Perguruan Sejati Khu Lung
Baca Juga: Raja Naga Tujuh Bintang 2