Tujuh Pedang Tiga Ruyung 6

Eps 6 Tujuh Pedang Tiga Ruyung - Gan KL

Baca online Tujuh Pedang Tiga Ruyung - Gan KL

Cersil Tujuh Pedang Tiga Ruyung - Gan KL.

Suaranya serak, nadanya kaku, tidak membawa emosi apa pun, kedengaran seperti suara dari kuburan. Ko Bun menyurut mundur dan menjatuhkan diri diatas kursi, gumamnya.

"Jika engkau tidak keluar, lantas siapakah orang tadi?"

Ia coba mengamat-amati wajah "mayat hidup"

Ini, setiap orang yang melihat tampangnya ini pasti akan menyesal.

Inilah sebuah wajah yang tidak menyerupai manusia, kulit daging pada mukanya sudah kaku, ditambah lagi codet yang jelek dan sorot mata yang kaku, juga gerakan yang kaku pula....Diam-diam Ko Bun membatin.

"Adalah mudah bagi orang yang mau menyamar seperti bentuknya ini, asalkan perawakannya mirip dia....Tapi siapa pula orang yang menyamar seperti dia tadi?"

Selagi dia memikirkan hal yang sukar dimengerti ini, tiba-tiba diluar ada orang berseru.

"He, dia... dia juga berada disini!"

Ko Bun terkejut dan menoleh, terlihat Mao Bun-ki melangkah masuk dengan pandangan keheranan terhadap Hoan-hun, mendadak ia berpaling dan berkata kepada Ko Bun.

"Se...sesungguhnya siapa kau?"

"Masa engkau tidak kenal lagi padaku?"

Sahut Ko Bun dengan tersenyum.

"Kukenal dirimu, tapi engkau menyamar, aku... aku... ."

Mendadak matanya basah, tubuh rada gemetar, ucapnya pula dengan tersendat.

"Dengan sepenuh hati kupasrahkan seg... segalanya kepadamu, tapi... .tapi belum lagi kuketahui sesungguhnya siapa dirimu."

Ia menunduk dan akhirnya air mata tak tertahan lagi. Hati Ko Bun merasa terharu, tapi tetap tersenyum dan menjawab.

"Aku ialah aku, jangan engkau berpikir terlalu banyak."

Dengan tersendat Bun-ki berkata.

"Tak perlu engkau berdusta lagi padaku, setiap orang memang dapat menutupi perasaan sendiri, tapi kecuali orang mati, siapa pula didunia ini yang mampu mengatasi sorot mata sendiri dan membuat kulit daging muka sendiri berubah menjadi kaku seperti batu untuk menyembunyikan segala perasaannya?"

Hati Ko Bun tergetar, hanya muka orang mati saja yang dapat berubah kaku seperti batu, ucapan ini menyadarkan dia, mendadak ia berbangkit dan membentak.

"Betul, bila orang itu memakai kedok, kulit daging mukanya juga akan berubah kaku serupa orang mati."

Sambiul bicara, sorot matanya lantas beralih kearah Hoan-hun.

"Apa katamu?"

Tangan Bun-ki. Belum lenyap suaranya.

"tring", tatakan lilin jatuh kelantai, keadaan menjadi gelap.

"Lari kemana?"

Bentak Ko Bun. Dalam kegelapan seorang lantas menjengek.

"Hm, orang she Siu, jadinya engkau tetap terjebak olehku."

Tergetar hati Ko Bun, cepat ia menggeser kepojok dinding. Mao Bun-ki lantas berseru.

"Hah, jadi... jadi engkau memang benar keturunan Siu Tok?"

Dalam kegelapan kembali orang mendengus lagi.

"Betul, dia memang putra Siu Tok, masakah sekarang engkau masih belum mau mengerti?"

Suaranya nyaring tajam dan tidak serupa suara lelaki lagi.

"Su... Suci, engkau datang?!"

Seru Bun-ki dengan suara gemetar. Ko Bun juga berseru kaget.

"Buyung Siok-sing!"

Dalam kegelapan malam, samar-samar kelihatan bayangan seorang muncul didepan jendela dan menjengek.

"Betul, aku ini Buyung Siok-sing. Nah, jaga pintunya, Sumoai, jangan sampai dia kabur!"

Ia berhenti sejenak, lalu berucap pula.

"Bocah she Siu, kau kira dirimu maha pintar dan dapat mengelabui setiap orang, sesungguhnya engkau adalah seorang tolol. Jika kau mau menuntut balas, seharusnya kau lakukan secara terang-terangan, mengapa sengaja kau tipu Sumoaiku? Manusia yang paling kejam didunia ini adalah orang yang suka menipu hati anak perempuan, Sumoaiku masih suci bersih dan engkau sampai hati mempermainkan dia!"

"Suci, jangan... jangan kau katakan lagi... ."

Jerit Bun-ki dengan pedih, air mata pun bercucuran.

"Jangan bergerak, diam saja disitu,"

Kata Buyung Siok-sing. Lalu sambungnya.

"Orang she Siu, sudah lama kutahu engkau tidak bermaksud baik, cuma sayang belum kudapatkan akal untuk membongkar kedokmu. Kulihat Sumoai semakin merana dan tidak boleh kutinggal diam, Kupikir untuk menuntut balas terhadap keluarga Mao, tentu dengan segala daya upaya engkau akan mencari kelemahannya, terutama segala sesuatu yang tidak menguntungkan Jit-kiam-sam-pian pasti akan kau cari, betul tidak?"

Ia tertawa dingin, lalu melanjutkan.

"Belasan tahun yang lalu, pada waktu aku masih kecil, pada suatu malam tiba-tiba datang kerumahku seorang lelaki berlumuran darah, dia itulah si golok kilat Cu Bing, sebelum ajalnya dia menceritakan apa yang terjadi, aku dan ibu telah menguburnya. Kemudian aku pun menjadi murid guruku yang berbudi itu. Selama belasan tahun ini telah kulupakan kejadian masa lampau, baru setelah bertemu denganmu, kupikir bila benar kau musuh keluarga Mao, tentu engkau akan senang mendapat tahu kejadian dahulu itu, maka aku lantas menyamar dan sengaja ditemukan olehmu. Semula engkau tidak percaya, tapi setelah kau selidiki dan diketahui belasan tahun yang lalu memang pernah terjadi peristiwa berdarah itu, maka akhirnya orang pintar semacam dirimu pun tertipu olehku."

Ia tertawa ejek, lalu menyambung lagi.

"Sungguh lucu, engkau malah memberi nama padaku sebagai Hoan-hun, masa tidak kau pikirkan didunia ini masakah ada mayat hidup segala? Saat ini Cu Cu-bing berada dalam kuburnya, mungkin tulang belulangnya juga sudah ancur, tapi tampaknya kau sangat gembira. Sudah beberapa kali ingin kubinasakan dirimu, jika bukan lantaran Sumoai, tentu sudah lama jiwamu amblas."

Bun-ki masih menangis, dahi Ko Bun alias Siu Su juga berkeringat dingin. Terdengar Buyung Siok-sing berkata pula.

"Jika Sumoai tidak mengingatkan kulit muka orang mati segala, tentu sampai saat ini engkau masih terkelabui. Nah, orang pintar, maksud uraianku ini adalah untuk menyadarkan dirimu bahwa segala di dnia ini tidak ada kepintaran yan mutlak dapat membodohi orang lain."

Siu Su termenung sejenak, mendadak ia menengadah dan bergelak tertawa.

"Haha, memang betul, didunia ini mana ada mayat hidup segala? Semula aku cuma berpikir wajah Hoan-hun yang kaku itu kan dapat ditiru oleh setiap orang, tidak kupikirkan hal lain dibalik samarannya ini. Sekarang aku cuma ingin tanya sesuatu padamu, mengapa di Leng-un-si tadi engkau mau bersusah payah membawa pergi mayat Thia Hong."

Buyung Siok-sing tampak melengak.

"Siapa yang pernah ke Leng-un-si tadi?"

Kembali Siu Su terkesiap, pikirnya.

"Jika bukan dia, lantas siapa pula yang menyamar sebagai Hoan-hun tadi?"

Terdengar Buyung Siok-sing berkata pula.

"Nah, Sumoai, pembicaraannya kukira sudah selesai, kenapa engkau tidak lekas turun tangan."

Bun-ki masih menunduk dan menangis, seperti tidak mendengar ucapannya. Dengan suara keras Buyung Siok-sing membentak.

"Apakah tidak kau dengar ucapanku, Sumoai? Inilah orang yang mencuri hatimu, dia yang menipumu, dia musuhmu yang hendak membunuh ayahmu!"

Mendadak Bun-ki mengangkat kepala dan bertanya dengan suara gemetar.

"Apakah... apakah engkau memang sengaja mendustaiku? Jadi sama....sama sekali engkau tidak sungguh2 baik padaku?.."

Kerongkongannya serasa tersumbat, dia tidak dapat meneruskan lagi. Gadis yang sedang mabuk kepayang ini benar-benar kehilangan akal sehatnya. Mendadak Siu Su menghela napas panjang, ucapnya pelahan.

"Ya, aku memang bohong padamu."

Dia bicara sangat pelahan, setiap katanya serupa pukulan godam yang meremuk rendamkan hati Bun-ki.

Si nona menjerit dan memburu kedepan Siu Su.

Kedua kepalan Siu Su tergenggam erat dan berdiri kaku, sorot matanya yang terang bergemerdep dalam kegelapan serupa kerlip bintang kejora dilangit yang pekat.

Begitu kebentrok dengan sinar mata anak muda ini, mendadak Bun-ki menjerit lagi, ia mendekap mukanya dan membalik tubuh terus berlari pergi.

"Sumoai, Sumoai!"

Teriak Buyung Siok-sing. Namun Mao Bun-i sudah menghilang dalam kegelapan malam. Mendadak Buyung Siok-sing berpaling menghadapi Siu Su, ucapnya dengan gemas.

"Coba kau lihat, itulah nona yang telah kau tipu, telah kau lukai hatinya, sebaliknya sampai saat ini dia tidak sampai hati mencelakaimu."

Siu Su berdiri kaku, sorot matanya tampak guram juga.

"Sedemikian tulus ikhlasnya terhadapmu, jika engkau mempunyai perasaan, tidak layak kau bikin susah dia lagi, jika ada hati nuranimu selanjutnya jangan kau temui dia, meski ayahnya....."

"Sakit hati ayah setinggi langit!"

Tukas Siu Su mendadak, singkat tapi tegas.

"Jadi engkau tetap ingin menuntut balas, tetap akan kau tipu dia lagi?"

Bentak Buyung Sioksing.

"Ya, tanpa kompromi!"

Jawab Siu Su dengan membusungkan dada.

Belum lenyap suaranya, serentak Buyung Siok-sing menubruk maju terus menghantam dadanya.

Namun Siu Su sempat mengengos.

Tapi serangan Buyung Siok-sing segera berubah, sekarang kedua telapak tangannya menyerang sekaligus, tangan kiri memotong pinggang dan kepalan kanan menghantam lambung, hendak didesaknya supaya Siu Su terpepet ke ujung dinding.

Siapa tahu tubuh Siu Su mendadak meluncur keatas, dalam keadaan demikian bila kedua kakinya bergerak tentu dapat menendang muka lawan dan terpaksa Buyung Siok-sing harus melompat mundur.

Tapi Siu Su sama sekali tidak bermaksud melancarkan serangan balasan, begitu meluncur keatas dia terus melayang kesamping.

Buyung Siok-sing membentak, tangannya membalik untuk menghantam punggung lawan.

Tanpa menoleh Siu Su melompat lebih jauh kesana, jengeknya.

"Buyung Siok-sing, aku sudah mengalah tiga jurus!"

"Siapa minta kau mengalah?!"

Demikian jengek Buyung Siok-sing, kedua tangannya bergerak lagi, sekaligus ia menyerang pula tujuh kali.

Serangannya ganas tanpa kenal ampun, semuanya mengincar tempat maut ditubuh Siu Su, bila kena cukup membuatnya binasa.

Dengan kepandaian "mendengarkan suara membedakan arah", Siu Su tidak berpaling, namun setiap serangan Buyung Siok-sing dapat dihindarnya dengan tepat.

"Hm, biarpun engkau tidak balas menyerang tetap akan kubinasakan dirimu,"

Jengek Buyung Siok-sing.

Belum habis ucapannya, se-konyong2 sebelah tangan Siu Su menyampuk kebelakang, karena tidak ter-sangka2, pergelangan tangan kanan Buyung Siok-sing terserempet sehingga kesemutan dan sukar terangkat lagi tangannya.

Hendaknya maklum, kungfu Buyung Siok-sing sangat tinggi, jika serangan Siu Su tidak dilancarkan pada saat yang tepat, betapapun sukar mengenai lawan.

Inilah intisari ilmu silat "menyerang pada saat tak terduga oleh lawan".

Selagi Buyung Siok-sing melengak, terdengar Siu Su menjengek.

"Buyung Siok-sing hari ini kuampuni jiwamu, camkanlah dengan baik!"

Ketika kata terakhir diucapkan, suaranya sudah berada berpuluh tombak jauhnya.

Sampai sekian lama Buyung Siok-sing berdiri terkesima, akhirnya ia menyurut mundur dan jatuhkan diri diatas kursi sambil bergumam.

"Sumoai... .O, Sumoai, ayahmu mempunyai musuh selihai ini, ai... ."

Dia merasa hati tertekan dan tubuh lemas, bicara saja enggan.

Dalam pada itu secepat terbang Siu Su telah melayang pergi, setelah melintasi pagar tembok, tiba-tiba terdengar kesiur angin dibelakang.

Dengan gusar ia membentak.

"Buyung Siok-sing, masih berani kau susul kemari?!"

Selagi ia hendak menghantam kebelakang, mendadak seorang menegurnya.

"Aku adanya, Kongcu!"

Siu Su tahan pukulannya yang sudah hampir dilontarkan, berbareng ia terus turun kebawah dan berpaling, terlihat seorang melompat turun dari pagar tembok, kiranya Kiu-ciok-sin-tu Liang Siang-jin, si laba-laba kaki sembilan.

Meski kungfu Liang Siang-jin tidak terlalu tinggi, tapi ginkangnya tergolong kelas top, dengan enteng ia hinggap didepan Siu Su.

Dengan girang Siu Su memegang pundak orang dan bertanya.

"He, Liang-toako, cara bagaimana engkau kemari?"

"Aku tidak pernah pergi dari sini dan selalu menunggu kedatangan Kongcu."

Jawab Liang Siangjin.

"Soalnya....."

Mengapa Thio Jit dan lain-lain sama pergi tanpa pamit?"

Potong Siu Su.

"Memang hendak kukatakan kepada Kongcu bahwa selanjutnya terpaksa tak dapat kubekerja lagi bagimu,"

Tutur Siang-jin dengan menyesal.

"Maka Thio Jit dan saudara yang lain juga...Ai..."

Ia menghela napas dan tidak melanjutkan. Siu Su tertegun, ia lepaskan pundak orang, tanyanya pula dengan pelahan.

"Memangnya ada... ada persoalan apa?"

"Soalnya seorang musuh Kongcu telah menunjukkan sesuatu benda tanda pengenal dari seorang penolongku masa lampau, dengan tanda pengenal penolongku itu dia minta kubantu menyelidiki jejak Kongcu....."

Tergetar hati Siu Su oleh penuturan Liang Siang-jin ini.

"Tapi Kongcu pun tidak perlu kuatir, sambung Liang Siang-jin.

"Setelah berkumpul sekian hari dengan Kongcu, sudah kukenal pribadimu, mana bisa kubocorkan rahasiamu kepenolongku itu, setelah kupertimbangkan, terpaksa... ."

"Terpaksa tidak membantu pihak manapun, begitu?"

Tukas Siu Su dengan tersenyum. Liang Siang-jin menunduk, katanya.

"Ya, kuyakin Kongcu pasti dapat memaklumi kedudukanku yang serba sulit ini."

Siu Su berpikir sejenak, katanya kemudian.

"Liang-heng sungguh seorang kawan sejati, betapapun engkau tidak mau mengkhianati diriku, dengan keterus-teranganmu ini, sungguh aku sangat berterima kasih padamu, mana dapat kusalahkan dirimu?"

Semakin lugas cara bicara Siu Su, semakin membuat hati Liang Siang-jin tidak enak. Siu Su tertawa dan berkata pula.

"Padahal mulai sekarang jejakku juga tidak perlu dirahasiakan lagi, maka Liang-heng juga tidak perlu serba salah lagi terhadap sahabatmu itu, silakan kau katakan kepadanya mengenai jejakku sekarang."

Liang Siang-jin tampak kikuk, katanya kemudian.

"Musuh Kongcu itu datang dari Kun-lun-san, bahkan terhitung Sute pejabat ketua Kun-lun-pai sekarang. Kungfunya yang tinggi tergolong kelas top didunia persilatan."

"Anak murid Kun-lun-pai?"

Siu Su menegas dengan kening bekernyit.

"Sebelum menjadi murid Kun-lun-pai, orang ini sudah terhitung jagoan didunia persilatan, dia bernama Tio Kok-beng dan berjuluk Bu-ih-cian (panah tanpa sayap), belasan tahun yang lalu bermusuhan dengan ayah Kongcu....."

"Musuh mendiang ayah sama juga musuhku."

Tukas Siu Su tegas. Setelah termenung lagi sejenak, kemudian Liang Siang-jin berkata.

"Setelah jejak Kongcu terbuka, tentu musuh akan muncul disetiap tempat, untuk ini hendaknya Kongcu selalu waspada. Ai, sungguh menyesal tidak... tidak kubantu lagi, semoga Kongcu selalu diberkati dengan selamat... ."

Ia termenung seperti ingin bicara apa-apa lagi, tapi akhirnya dia memberi hormat dan mohon diri.

Tanpa bicara Siu Su menyaksikan kepergian orang, mendadak dirasakan semuanya serba sunyi.

Jagat raya ini seolah-lah tersisa dia sendiri saja, dedaunan berbunyi gemersik tertiup angin serupa musuh yang sedang mengintai disekelilingnya..== oo OOO oo == Sang surya telah terbit.

Angin meniup semilir.

Air danau Barat (Se-oh) yang tenang itu mulai bergelombang pelahan dan memantulkan cahaya yang menyilaukan mata.

Meski masih pagi namun permukaan danau sudah mulai ramai, semua perahu pesiar telah berkumpul ditepi danau menanti penumpang.

Perahu pesiar itu tertambat berderet-deret memenuhi tepi danau.

Angin pagi sayup-sayup membawa bau sedap arak dan santapan yang merangsang selera.

Terdengar suara senda gurau orang mulai ramai, dibawah pepohonan Liu ditepi danau yang rindang penuh berjubel orang, hanya dalam waktu singkat, di-mana2 orang berkerumun.....

Hari ini adalah sidang pleno kaum kesatria yang diselenggarakan oleh jago utama dan orang kaya nomor satu di Hangciu, yaitu Leng-coa Mao Kau.

Semua kesatria yang diundang telah berkumpul di Se-oh.

Deretan perahu pesiar itu digandeng dengan ikatan tali atau rantai sehingga ratusan perahu terpajang serupa sebuah istana terapung.

Para nona penghibur diatas perahu sama memandangi para tamu yang naik keatas perahu dengan pandangan gembira dan juga heran.

Banyak penumpang itu melangkah kedalam perahu dengan pelahan, ada yang main lompat begitu saja.

Mereka bersenda gurau dan makan minum, cara mereka minum arak serupa orang biasa minum teh saja.

Meski pakaian mereka rata-rata sangat perlente dan terhormat, tapi sukar menutupi gerak-gerik mereka yang tangkas dan kasar, sorot matanya yang tajam, dadanya yang bidang....Diam-diam para nona penghibur mengagumi lelaki yang kekar dan kuat ini.

Biasanya yang mereka layani adalah kaum Susing atau orang terpelajar yang lemah lembut atau saudagar yang gemuk dengan perutnya yang buncit, atau para mengiring yang kotor tutur katanya.

Sering juga kaum pelancong yang awam, kakek dan nenek yang jalannya ter-tatih2 atau kaum wanita dengan anak kecil dan sebagainya.

Tapi hari ini apa yang mereka lihat serba baru semuanya, diam-diam mereka bergembira, mereka tidak tahu bahwa kaum lelaki kekar dan tegap ini setiap saat dapat mendatangkan banjir darah bagi mereka, setiap saat bisa membikin danau yang tenang ini bergolak.

Sekonyong-konyong dari tepi danau sebelah sana bergema suara aba-aba.

Serentak para tokoh yang berada dibawah pepohonan, diantaranya termasuk Leng-coa Mao Kau, Cu-bo-sin-kiam Ting Ih, Pek-poh-hui-hoa Lim Ki-cing, Ha-siok-siang-kiam berdua saudara Ong dan jago ternama lain, mereka terus naik keatas perahu.

Diantara orang-orang itu, yang paling menyolok adalah dua kakek yang berbaju perlente dengan sikap gagah, tapi sangat asing didunia Kangouw.

Ada lagi seorang yang diam-diam mengherankan orang, kelihatannya orang ini seperti sesosok mayat hidup, mukanya ada bekas luka yang kemerahan dibawah cahaya matahari.

Diam-diam para jago membicarakan siapa mereka?

Mengapa sikap Mao Kau tampak sangat sungkan terhadap mereka?

Dengan wajah berseri Mao Kau beramah tamah dengan para tamu undangannya, namun dibalik kegembiraannya itu, sorot matanya menampilkan juga rasa kuatir yang sukar dijelaskan.

Dia berdiri dihaluan kapal dan menyapu pandang sekeliling, tiba-tiba bergema orang bersorak diseling orang menyapa memberi salam.

Rasa murungnya segera lenyap dan berubah menjadi rasa bangga, serunya sambil mengangkat tangannya keatas.

"Terima kasih banyak-banyak atas kedatangan saudara2 sekalian, mumpung sekarang kita berkumpul disini, silakan hadirin makan minum dulu sepuasnya, habis itu barulah kita memasuki acara pokok nanti... ."

Ditengah puji sorak orang banyak pelahan ia mengundurkan diri kedalam kapal.

"Mao-toako", kata Lim Ki-cing yang mengiringinya dengan tertawa.

"Umpama anak orang she Siu itu saat ini berada disini tentu juga akan mundur teratur bilamana melihat betapa besar kekuatan yang mendukung Mao-toako disini!"

Mao Kau tertawa senang. Tiba-tiba Thia Ki mendengus.

"Hm, jika anak muda itu berwatak serupa bapaknya, biarpun sorak gemuruh orang banyak lebih lantang lagi juga sukar menggertaknya mundur."

Seketika wajah berseri Mao Kau berubah kelam. Cepat Poa Kiam menukas dengan tertawa.

"Tapi biarpun dia tidak mau mundur, jika kita berdua sudah disini, bisa berbuat apa dia?"

Hati Mao Kau kembali dibuat besar lagi.

Dan begitulah dia sebentar senang dan sebentar sedih, sungguh makan tidak merasakan enak, tidur juga kurang nyenyak.

Entah selang berapa lama, terdengar ada orang berseru diluar.

"Kini perjamuan sudah selesai, diharapkan Mao-toako tampil untuk bicara."

Lalu ada seorang lagi berteriak.

"Mao-toako telah memperlakukan kita sehormat ini, apa pun permintaan Mao-toako pasti akan kami laksanakan baginya."

Semangat Mao Kau terbangkit, segera ia melangkah keluar dan berseru.

"Selama ini berkat dukungan saudara2 sekalian sehingga dapatlah Mao Kau berkumpul dengan kalian seperti sekarang. Walaupun aku menyadari ada juga perbuatanku yang salah, tapi dalam hati nuraniku kurasa dapat bertanggung jawab terhadap para sahabat. Misalnya kejadian belasan tahun yang lalu, ketika itu orang she Mao tanpa menghiraukan resiko sendiri telah berusaha menumpas si iblis Siu Tok, semua itu juga demi kesejahteraan saudara-saudara khususnya dan dunia Kangouw umumnya."

Serentak semua orang berkeplok memuji, sebab terbunuhnya Siu Tok oleh Mao Kau dahulu memang sangat menggemparkan. Mao Kau tertawa, katanya pula.

"Tapi sekarang keturunan Siu Tok konon telah muncul didunia Kangouw, jika dulu Mao Kau membinasakan Siu Tok demi membela para kawan, sekarang kumohon bantuan para sahabat agar beramai menghadapi keturunan Siu Tok itu."

Serentak hadirin bersorak setuju. Dengan lantang Mao Kau berseru pula.

"Atas dukungan para kawan, tentu saja aku... ."

Pada saat itulah mendadak ditengah orang banyak seorang berteriak.

"Orang she Mao jangan membual!"

Semua orang terkejut dan berpaling kesana. Tertampaklah dihaluan sebuah perahu berpajang indah berdiri seorang perempuan hamil, dengan tangan bertolak pinggang ia menuding Mao Kau dan memaki.

"Jika benar engkau menghargai kawan, tentu Thia Hong takkan kau bunuh! Hanya mulutmu saja yang manis, padahal engkau manusia berhati binatang!"

Kebanyakan hadirin kenal perempuan hamil ini adalah salah seorang tokoh Jit-kiam-sam-pian, yaitu Wan-yang-siang-kiam Lim Lin.

Dengan sendirinya mereka heran melihat Lim Lin memaki Mao Kau dengan beringas sambil menangis.

Dengan air muka berubah Mao Kau berkata.

"Thia Hong serupa saudara kandung orang she Mao, mana bisa kubunuh dia, kenapa....."

Lim Lin berteriak pula dengan parau.

"Tanpa malu berani kau bilang Thia Hong serupa saudara kandung. Sekarang coba jawab, jika benar dia tidak kau bunuh, dimana dia berada, lekas katakan."

Serentak pandangan semua orang berpusat kearah Mao Kau.

Biarpun Mao Kau seorang gembong persilatan, menghadapi beratus pasang mata yang penuh pertanyaan itu, gugup juga dia.

Dengan suara tergagap ia berkata.

"Ya, me... memang...memang Thia-toako telah meninggal."

Dengan kalap Lim Lin berteriak pula.

"Siapa yang membunuhnya?"

Mao Kau melenggong, sejenak ia tidak dapat bicara.

Seketika orang ramai berkasak-kusuk membicarakan hal ini.

Mendadak terdengar orang mendengus, seorang muncul dari belakang Mao Kau, seorang yang berwajah kaku dan juga bertubuh tegak kaku serupa mayat hidup, dengan bengis ia berteriak.

"Akulah yang membunuh Thia Hong!"

Sambil menggreget Lim Lin berteriak.

"Selamanya kita tidak kenal, apalagi bermusuhan, mengapa kau bunuh dia?"

Hoan-hun atau si mayat hidup mendengus.

"Dia berdosa terhadap Mao-toako, maka kubunuh dia."

Seketika terjadi lagi kegemparan, semua orang sama membatin.

"Kiranya benar Mao Kau yang mendalangi pembunuhan Thia Hong."

Hampir semua hadirin itu tahu hubungan erat antara Thia Hong dan Mao Kau, sekarang diketahui Mao Kau sampai hati membunuh kawan karib sendiri, karuan semuanya merasa ngeri juga.

Sesudah menyapu pandang hadirin sekejap, lalu Hoan-hun berseru paula.

"Tujuh belas tahun yang lalu Mao-toako membuka Piaukok gelap... ."

Bahwa rahasia pribadinya secara terang-terangan dibongkar Cu Cu-bing didepan umum, keruan Mao Kau menjadi murka, mendadak sebelah tangannya menolak kedada Hoan-hun sambil membentak.

"Mengoceh apa kau? Mundur!"

Karena tolakan itu, Hoan-hun sempoyongan dan "blang", ia jatuh terjengkang diatas kapal, tapi ia masih berteriak pula.

"Mao-toako, apa yang kulakukan ini adalah demi membela dirimu, mengapa aku malah....."

Hadirin yang memang sudah ngeri terhadap kekejian Mao Kau, kini mendengar pula dia pernah membuka Piaukok gelap yang dipandang kotor oleh sesama orang persilatan, sekarang teman sendiri dipukul lagi hingga terjungkal, keruan semua orang tambah patah semangat dan tidak dapat membenarkan tindakan Mao Kau itu, diam-diam ada sebagian hadirin lantas mengundurkan diri.

Melihat usaha yang dipupuknya selama belasan tahun akan hancur dalam sekejap ini, Mao Kau tambah gelisah, berulang ia memberi salam kepada hadirin dan berseru.

"Sabar saudarasaudara, dengarkan penjelasanku, janganlah kalian percaya kepada ocehan mereka....."

Mendadak Lim Lin melompat ke haluan kapal Mao Kau. Segera Mao Kau membentak.

"Kau mau apa?"

"Jika kau tega membunuh Thia Hong, boleh kau bunuh saja diriku sekalian!"

Teriak Lim Lin dengan penuh duka.

Ditengah suaranya yang parau itu serentak ia melancarkan serangan, semuanya serangan maut.

Biarpun lihai serangan Lim Lin, tapi dia sedang mengandung, perutnya besar sehingga gerakgeriknya tidak leluasa.

Dari malu Mao Kau menjadi murka, bentaknya.

"Perempuan bejat, berani kau main gila disini."

Sambil mengengos, telapak tangan lantas menabas dan tepat mengenai pundak Lim Lin.

Tanpa ampun Lim Lin menjerit dan jatuh terkapar, meledaklah tangisnya.

Pada umumnya manusia bersimpati terhadap kaum perempuan yang lemah, apalagi sekarang Lim Lin lagi hamil, menyaksikan Mao Kau sampai hati menganiaya wanita hamil, semua orang menjadi gusar.

Meski mereka tetap jeri terhadap wibawa Mao Kau, tapi sudah banyak yang mengeluarkan suara dengusan, bahkan sebagian lagi lantas tinggal pergi.

Kedua saudara Ong dari Ho-siok-siang-kiam saling pandang sekejap, melihat tindakan Mao Kau yang kejam ini, tanpa terasa mereka jadi teringat kepada ucapan Ko Bun, pikir mereka.

"Akhir-akhir ini Mao Kau ternyata begini sombong dan membiarkan putri sendiri bertindak kasar terhadap kaum angkatan tua, sekarang keadaannya sudah mendekati tercerai-berai dan dikucilkan para pendukunnya, kenapa kesempatan ini tidak kami gunakan untuk menumpasnya?"

Berpikir demikian Ong It-beng lantas berteriak.

"Wahai para kawan, orang she Mao ini cuma lahirnya saja kelihatan alim, padahal batinnya kotor dan keji, biarpun kita pernah sehidup-semati dengan dia, tapi melihat kelakuannya yang se-wenang2 ini, betapapun kita tidak dapat tinggal diam."

Ong It-peng juga lantas melolos pedang dan berseru.

"Thia-toaso, biarlah kami akan membalaskan sakit hatimu."

"Sret", kontan ia menusuk iga kiri Mao Kau. Hoan-hun, si mayat hidup telah berdiri disudut kapal sana, sorot matanya menampilkan rasa senang, Thia Ki dan Poa Kiam juga saling pandang sekejap dan tersenyum puas. Selagi Co-jiu-sin-kiam Ting Ih hendak melompat maju, mendadak ia dicegah Lim Ki-cing serta dibisikinya.

"Alangkah senangnya duduk tenang menyaksikan pertarungan antara dua harimau, jika main gagah-gagahan tentu akan rugi sendiri."

Ting Ih melengak, tapi akhirnya dia duduk kembali. Dalam pada itu Mao Kau sempat menghindari serangan Ong It-peng, bentaknya.

"It-peng, apakah engkau sudah gila?"

Ong It-peng mendengus, sekaligus ia menyerang lagi tiga kali.

Dia memainkan pedangnya dengan tangan yan g tersisa, bagian yang diserang selalu tempat yang mematikan, sungguh lihai sekali.

Muka Mao Kau tampak kelam, jelas tidak kepalang rasa gusarnya.

Tapi rupanya dia juga menguatirkan sesuatu, maka dia tidak ingin bertempur dengan Ong It-peng, cepat ia mengelak lagi kesamping sambil berseru.

"Ayo maju!"

Waktu serangan Ong It-peng dilancarkan lagi, se-konyong2 empat jalur cahaya terang menyambar tiba dengan membawa suara mendesing, menyusul terdengarlah senjata beradu dan menimbulkan suara nyaring, lalu Ong It-peng melompat mundur sambil melepaskan pedangnya.

Tertampak empat orang berjubah biru dan bersepatu hitam dengan pedang terhunus berbaris menghadang didepan Ong It-peng, baik maju maupun mundur, semuanya sudah terjaga oleh pedang keempat orang berjubah biru itu.

Hati Ong It-peng terkesiap, pikirnya.

"Orang she Mao sungguh licin sekali, rupanya lebih dulu dia sudah menyembunyikan anak buahnya disini... ."

Belum habis pikirnya, terdengar Mao Kau berseru dengan lantang.

"Ong-lotoa, dalam hal apa aku kurang baik padamu, hendaknya kau jelaskan didepan orang banyak supaya segalanya menjadi terang!"

Dengan sendirinya kedua Ong bersaudara tidak berani menceritakan kejadian mereka dibikin malu oleh Mao Bun-ki di Se-oh tempo hari. Maka Ong It-peng menjawab menjawab dengan suara bengis.

"Kau ingkar janji dan tidak tahu malu, diam-diam membuka Piaukok gelap untuk merampok kawan sendiri, diam-diam membunuh Thia Toako, perbuatanmu yang kejam dan kotor ini tidak dapat dibenarkan oleh siapa pun, kami bersaudara hanya ingin menegakkan keadilan bagi sesama saudara dunia persilatan, tidak perlu bicara tentang persengketaan pribadi segala."

Ucapannya cukup menarik simpati hadirin yang belum tinggal pergi, banyak yang terpengaruh dan serentak berbangkit dengan senjata siap ditangan, Keruan para perempuan penghibur yang semula bergembira itu menjadi panik.

Mao Kau menjadi murka, ia memberi tanda dan membentak.

"Serang!"

Begitu aba-aba diberikan, serentak keempat jago pedang berseragam biru bergerak, empat pedang menusuk sekaligus.

"Hm, kaum keroco juga berani pamer didepanku?!"

Jengek Ong It-peng, berbareng pedangnya berputar, cahaya pedang kemilauan, serentak keempat pedang lawan tertahan, Menyusul pedangnya melingkar, cepat ia balas menyerang.

Keempat jago pedang berseragam biru juga bukan jago rendahan, mereka sudah terlatih dan dapat bekerja sama dengan rapat.

Setelah menghindarkan serangan lawan, secepat kilat mereka melancarkan dua belas kali serangan lagi, semuanya mengincar tempat maut ditubuh Ong It-peng.

Namun Ong It-peng dapat mematahkan setiap serangan lawan, pengalaman tempurnya sangat luas, betapa keempat jago pedang seragam biru mencecarnya tetap tidak mampu membobol garis pertahanannya, sebaliknya terkadang Ong It-peng melancarkan serangan balasan pula.

Dengan begitu kedua pihak menjadi saling bertahan dan sukar merobohkan lawan.

Melihat itu, diam-diam Mao Kau gelisah, ia pikir jika pertempuran berlangsung lebih lama lagi, bisa jadi keempat jago pedang yang digemblengnya sekian tahun akan musnah pula secara siasia.

Apalagi bila mengingat keempat jago pedang lain yang ikut pergi bersama Thia Hong kemarin, saat ini ternyata belum kelihatan pulang.

Pelahan Mao Kau bergeser kesamping Hoan-hun, dengan suara mendesis ia tanya.

"Kemarin waktu membunuh Thia Hong, apakah kau lihat keempat jago pedang baju biru?"

Hoan-hun mengangguk dengan kaku.

"Lihat."

"Dan kemana mereka?"

Tanya pula Mao Kau.

"Sudah mati."

Jawab Hoan-hun dengan tetap dingin. Mao Kau melengak, desisnya.

"Cara bagaimana matinya?"

"Tentu saja terbunuh, masakah mereka mati sakit?"

Jawab Hoan-hun ketus. Dengan menggreget Mao Kau menegas.

"Siapa yang membunuh mereka?"

Belum lagi Hoan-hun menjawab, terdengar suara dering nyaring dihaluan kapal, waktu menoleh, terlihat dua pedang mencelat ke udara dan jatuh kedalam danau.

Dua orang berseragam biru cepat melompat mundur dengan bertangan kosong tanpa senjata.

Ong It-peng terus membayangi mereka sambil membentak.

"Kena!"

Sinar pedang terpencar menjadi dua jalur dan menyambar tenggorokan kedua lawan secepat kilat.

Meski kepandaian jago pedang berseragam biru itu tidak lemah, tapi serangan Ong It-peng sungguh cepat dan ganas sehingga membuat mereka rada kerepotan.

"Cring-cring", sedapatnya mereka berusaha menangkis. Walaupun tenggorokan mereka terhindar dari tembusan pedang lawan, tidak urung pundak mereka tersayat hingga mengucurkan darah. Kedua jago berbaju biru yang lain bermaksud menolong kawannya, tapi mereka pun tergetar mundur oleh pedang Ong It-peng yang berputar balik, tangan mereka kesemutan sehingga hampir saja tidak mampu mengangkat pedangnya lagi. Sendirian Ong It-peng mengalahkan empat jago pedang andalan Mao Kau, dia sangat bangga, dengan pedang melintang didada ia menatap Mao Kau dengan tajam, dengusnya.

"Siapa lagi jago yang akan kau tampilkan?"

Gemerdep sinar mata Mao Kau, sekilas pandang dilihatnya sebagian besar hadirin sama melotot padanya.

Sedangkan kedua kakek Thia Ki Dan Poa Kiam tetap duduk santai ditempatnya, sikapnya dingin dan tak acuh seperti tidak berminat terhadap apa yang terjadi disekitarnya.

Juga Pek-poh-hui-hoa Lim Ki-cing dan Co-jiu-sin-kiam Ting Ih, keduanya juga bersikap tak acuh.

Pikiran Mao Kau bekerja cepat, segera ia berkata pula.

"Ong-lotoa, hendaknya kau ingat pertemuan ini kuadakan demi menghadapi keturunan orang she Siu. Apa yang terjadi dahulu kalian bersaudara juga punya andil, buat apa sekarang kita malah bertengkar sendiri dan melupakan urusan yang lebih penting?"

"Perbuatanmu yang kejam dan rencanamu yang keji terhadap kawan sendiri, apakah semua itu juga demi menghadapi keturunan orang she Siu?"

Jengek Ong It-peng. Mendadak Mao Kau berputar tubuh dan berseru terhadap hadirin.

"Apakah saudara-saudara tahu bahwa keturunan orang she Siu itu bukan lain daripada orang yang menamakan dirinya Kim-kiam-hiap yang akhir-akhir ini telah menggemparkan dunia Kangouw itu?"

Keterangan ini membikin kaget semua orang, bahkan ada yang bersuara terkejut.

Maklumlah, meski munculnya Kim-kiam-hiap belum lama, tapi tindak-tanduknya sudah menjadi bahan cerita dunia Kangouw.

Berbareng itu didunia Kangouw juga muncul berbagai cerita misterius yang lain yang menyangkut kelihaian Kim-kiam-hiap, dengan sendirinya juga ada berita yang menjelekkan namanya dan mengatakan perbuatannya terlalu kejam.

Bilamana berita yang tersiar itu benar, maka hal itu tidak ada ubahnya seperti Siu Tok kedua telah lahir kembali di Kangouw.

Peristiwa "Siu-siansing"

Masa lampau masih teringat baik oleh sebagian besar hadirin, maka keterangan Mao Kau telah membuat mereka tertegun.

Betapa tajam pandangan Mao Kau, melihat hadirin sudah terpengaruh oleh keterangannya, diam-diam ia bergirang, cepat ia menyambung.

"Hari ini aku telah menanggung salah paham kawan sendiri, kematian bagiku tidaklah menjadi soal, namun bila persatuan kita selama ini akan pecah begitu saja, sungguh aku sangat menyesal....."

Ia lantas ter-batuk2, ia tahu para pengikutnya telah mulai tidak percaya lagi padanya, maka sedapatnya dia mengulur waktu untuk menunggu terjadinya sesuatu keajaiban disamping berusaha membujuk lagi hadirin agar mau berpikir lebih panjang lagi.

Bicara sampai disini, mendadak ia menghela napas panjang dan tidak meneruskan.

Mendadak Lim Lin berbangkit, teriaknya pula sambil menuding Mao Kau.

"Dahulu kau jebak Siu Tok dengan muslihatmu yang keji, lebih dulu kau bikin cacat kedua kakinya. Ditimbang dari semua itu, hanya engkau biang keladinya, jika mau menuntut balas, yang akan dicari putra Siu Tok jelas cuma kau saja."

Lalu ia berpaling kearah hadirin, serunya pula dengan menangis.

"Jangan lagi kalian mau percaya kepada ocehannya, kasisan Thia Hong, setelah bekerja mati2an baginya, akhirnya malah menjadi korban keganasan Mao Kau sendiri."

Belum habis ucapannya mendadak sebelah tangan Mao Kau menghantam, pukulan dahsyat membuat Lim Lin yang hamil itu tidak tahan lagi, ia jatuh terjungkal dan pingsan. Serentak Ong It-peng berteriak.

"Lihatlah kawan-kawan, nasin Thia-toako suami istri adalah contoh bagi kita. Jika sekarang tidak kita binasakan bangsat she Mao yang tak berbudi ini, kelak kita pun akan mengalami nasib yang sama seperti Thia-toako berdua."

"Sret,"

Segera ia mendahului menusuk Mao Kau dengan pedangnya.

Ong It-beng tahu betapa tinggi kepandaian Mao Kau, ia tahu kalau satu lawan satu sang kakak pasti bukan tandingannya, maka cepat ia pun melolos pedang dan menubruk maju.

"sret", kontan ia pun menabas pinggang Mao Kau. Sebagai sahabat lama, Mao Kau juga tahu paduan pedang kedua Ong bersaudara tidak boleh dipandang enteng. Cepat ia meraba pinggang, sekali berputar segera angin menderu, seutas cambuk panjang melayang keudara, kontan pedang Ong It-peng tertangkis kesamping, menyusul cambuk menyambar kebawah menggulung pedang Ong It-beng. Dengan sendirinya Ong It-peng tidak menunggu sampai pedang terlibat oleh cambuk musuh, cepat ia menarik kembali pedangnya dan melompat mundur berdiri sejajar dengan Ong It-peng. Begitu kedua orang bergabung, tanpa ayal lagi mereka menubruk maju pula, kedua pedang lantas menyerang lagi, yang seorang menusuk dari kanan, yang lain menabas dari kiri. Serangan gabungan ini tentu saja jauh lebih kuat daripada tadi, tanpa terasa semua orang sama bersorak memuji. Terkesiap juga Mao Kau melihat kedua Ong bersaudara dapat melancarkan ilmu pedang "Liang-gi-kiam-hoat", Segera ia putar cambuknya dengan lebih gencar, ditengah bayangan cambuk timbul juga semacam daya isap yang kencang sehingga membuat kedua pedang lawan saling bentur. Kedua Ong bersaudara kaget, cepat mereka menarik kembali pedangnya, sekali berputar pedang mereka menusuk lagi kedepan. Setelah daya isap cambuknya tidak mampu melepaskan pedang dari pegangan lawan, tahulah Mao Kau sukar untuk mengalahkannya. Dia cukup licik, ia tahu semua orang hanya menonton saja disamping, sebab mereka masih jeri terhadap wibawanya, tapi bila dia memperlihatkan sedikit kelemahan, serentak orang-orang itu pasti akan maju mengerubutnya. Maka sedapatnya ia berlagak tenang dan sengaja mengejek.

"Huh, Liang-gi-kiam-hoat ternyata cuma begini saja! Ayolah coba lagi!"

Segera Ong It-peng balas membentak.

"Orang she Mao jangan berlagak pilon, jika kau tahu diri, lekas serahkan nyawamu saja!"

Serangan mereka tambah gencar, sama sekali Mao Kau tidak bisa lebih unggul.

Menyaksikan keadaan demikian, hadirin kasak-kusuk lagi, ada yang menyatakan kagumnya terhadap kelihaian Ho-siok-siang-kiam, ada yang meragukan ketahanan Mao Kau.

Malahan ada yang mengusulkan membantu kedua Ong bersaudara untuk membereskan Mao Kau dan mengangkat pemimpin persekutuan yang baru.

Tidak jauh dari deretan perahu sana, dibawah pohon yang rindang berdiri seorang nona jelita, dengan alis berkerut dia mengikuti pertarungan Mao Kau dan kedua Ong bersaudara.

Pembicaraan tadi dan kasak-kusuk para penonton juga dapat didengarnya dengan jelas, setiap kata orang serasa sembilu menusuk hulu hatinya.

Dengan muka pucat dan bibir gemetar ia bergumam pelahan.

"O, ayah! Benarkah engkau orang kejam begitu? Jadi akibat pengkhianatan pengikutmu ini adalah hasil kerjamu sendiri? O, Tuhan, apa yang harus kulakukan?"

Dia, Mao Bun-ki, hampir tidak diperhatikan oleh hadirin yang asyik mengikuti pertarungan sengit itu.

Nona itu berdiri bingung di balik pohon dan tidak tahu bagaimana baiknya.

Dengan sendirinya tak dilihatnya dibawah pohon diseberang danau sana juga berdiri seorang pemuda cakap berbaju hijau.

Dia juga sedang mengikuti pertarungan Mao Kau melawan kedua Ong bersaudara, begitu tajam sorot matanya dan merasa pasti nasib Mao Kau ditakdirkan akan berakhir.

Se-konyong2 terjadi kegaduhan, air muka anak muda itu bercahaya, sebab dilihatnya Co-jiusin-kiam Ting Ih telah bertindak dan ikut terjun didalam arena pertempuran, dia berdiri dipihak kedua Ong bersaudara dan mengerubuti Mao Kau.

Dengan demikian kekuatan Mao Kau lantas tertampak terdesak dibawah angin, meski anak buahnya bermaksud ikut maju membantu, tapi melihat Lim Ki-cing dan lain-lain juga siap tempur, maka tidak ada yang berani bergerak.

Tiga jalur sinar tajam dihaluan kapal berputar lincah bagaikan naga hidup melingkari bayangan cambuk, setiap jurus serangan ketiga orang selalu mengincar tempat maut, serangan kedua Ong bersaudara dan Ting Ih sudah tidak kenal ampun lagi terhadap orang yang tadi masih dipandangnya sebagai saudara tua.

Mao Kau juga pantang menyerah, semula dia berusaha mengulur waktu untuk menunggu munculnya bala bantuan, tapi keajaiban yang ditunggu tidak kunjung tiba, sebaliknya malah menimbulkan antipati hadirin yang lain sehingga Ting Ih ikut mengeroyoknya, keruan ia gugup dan juga murka sehingga bertempur dengan mati-matian.

Semula Ting Ih bertiga melengak melihat Mao Kau menyerang dengan nekat, tapi segera mereka tahu serangan kalap ini pun merupakan keputus-asaan lawan.

Hal ini dapat dirasakan dari serangan cambuk Mao Kau, tampaknya gencar, namun lemah.

Sebagai jago pedang kawakan, dengan segera mereka mengetahui apa yang terjadi.

Mereka saling pandang sekejap dengan tertawa.

Teriak Ting Ih.

"Orang she Mao, menyerah saja sebelum kepalamu berpisah dengan tubuhmu!"

Akan tetapi Mao Kau meraung murka, cambuk menyambar lagi terlebih cepat.

Namun seperti sudah diduga Ting Ih bertiga, kekuatan Mao Kau memang sudah surut ibaratnya pelita kehabisan minyak.

Begitu cambuk kebentur ketiga pedang, kontan tertekan dan sukat berputar lagi.

Pada detik yang gawat bagi Mao Kau itu, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring, selarik sinar merah berkilau menyambar datang secepat kilat.

Co-jiu-sin-kiam mendengus, mendadak pedang yang menusuk Mao Kau itu berputar keatas memapak datangnya cahaya merah.

Begitu kedua pedang beradu, seketika pedang Ting Ih merasa terhisap oleh semacam tenaga yang maha kuat sehingga tidak sanggup bertahan.

Keruan kejutnya tak terkatakan.

"Lepas!"

Terdengar lagi bentakan orang.

Di tengah gemerdepnya bayangan yang memenuhi angkasa, benarlah pedang Ting Ih lantas terlepas dari cekalan, cepat ia melompat mundur dan berdiri melongo.

Segera sesosok bayangan orang berkelebat, tahu-tahu Mao Bun-ki sudah berdiri disisi Mao Kau dengan pedang merah terhunus.

Air mukanya tampak dingin, entah pedih, entah gusar.

Sekali tangan Bun-ki terayun keatas, seketika pedang Ting Ih yang melengket pada pedang merahnya mencelat ke udara dan jatuh jauh ditepi danau sana.

Kekuatan yang jarang terlihat dan tak pernah terdengar ini sungguh sangat menggemparkan para penonton, muka Ho-siok-siang-kiam juga pucat, maklum, sebelum ini mereka memang sudah pernah merasakan betapa lihainya daya isap pedang merah Mao Bun-ki itu.

Baru saja gerak tubuh Mao Kau berdiri tegak kembali, cambuk lantas berputar pula.

"Tarrr", tahu2 leher Ong It-beng yang lagi terkesima itu terlilit.

"Pergi!"

Bentak Mao Kau sambil menyendalkan cambuknya.

Sama sekali Ong It-beng tidak sempat menjerit dan tahu-tahu napasnya putus, tubuhnya yang jangkung juga ikut terangkat oleh ayunan cambuk dan terlempar kedalam danau.

Bergemuruhlah sorak puji orang banyak, beberapa tukang perahu dan nona penghibur yang menyaksikan kejadian itu menjadi ketakutan dan lari terbirit-birit tanpa menghiraukan perahu dan harta milik mereka lagi.

Alis Bun-ki bekernyit, belum lagi dia sempat bersuara, cambuk Mao Kau kembali beraksi lagi, langsung mengarah leher Ong It-peng.

Rupanya begitu melihat pedang merah Mao Bun-ki, seketika rontoklah nyali kedua Ong bersaudara, makanya Ong It-beng semudah itu diserang oleh Mao Kau.

Sekarang Ong It-peng juga ketakutan, namun dia berusaha melawan sekuatnya, mendadak pedang dilemparkan kedada Mao Kau, ia sendiri melompat kesamping dan terjun kedalam danau untuk menyelamatkan diri.

Dalam keadaan murka Mao Kau tidak perduli lagi bagaimana penilaian hadirin yang lain kepadanya, mendadak ia membalik tubuh dan melototi Ting Ih.

Sorot matanya yang dingin tajam membuat Ting Ih ngeri.

Pelahan Ting Ih menyurut mundur kesamping Pek-poh-hui-hoa.

"Hm, apa yang akan kalian katakan lagi sekarang?"

Jengek Mao Kau.

"Ai, Mao-toako,"

Cepat Lim Ki-cing berseru.

"apa yang terjadi ini kan tidak ada sangkut-pautnya denganku, mengapa aku pun kau tegur? Kalau adik Bun-ki tidak segera turun tangan, tentu aku pun akan membantu Mao-toako."

Mao Kau mendengus dan pelahan menggeser maju lagi dengan penuh nafsu membunuh.

Air muka Lim Ki-cing tampak pucat.

Mendadak tangannya membalik, pergelangan tangan Ting Ih dicengkeramnya sambil berteriak.

"Mao-toako, kuserahkan dia kepadamu dan aku pun mohon diri saja!"

Bersambung ke 15.

Jilid 15 Mendadak ia lemparkan Ting Ih kearah Mao Kau, ia sendiri lantas melompat kesana, melayang keatas pohon liu, sekali dahan pohon melenting, tubuhnya ikut terbang kesana, dengan beberapa kali gerakan yang sama, dapatlah ia menghilang dalam sekejap.

Mimpi pun Ting Ih tidak menyangka Lim Ki-cing dapat bertindak sekejam ini kepadanya.

Karena pergelangan tangan tercengkeram, sekujur badan terasa lemas sehingga tanpa kuasa ia terlempar kearah Mao Kau.

Nafsu membunuh Mao Kau tampak berkobar, kontan ia papak tubuh orang dengan suatu pukulan "Blang"

Dengan tepat dada Ting Ih yang bidang itu terhantam, kontan Ting Ih meraung dan tumpah darah, tubuh pun mencelat dan jatuh kedepan Thia Ki dan Poa Kiam yang tetap berduduk santai ditempatnya.

Kedua kakek itu tetap tenang saja, mereka saling pandang sekejap, hanya kulit muka mereka sedikit bergerak, tapi tidak bersuara.

Kiranya mereka sedang bicara dengan ilmu "Toan-im-jip-bit", semacam ilmu mengirimkan gelombang suara, Poa Kiam sedang bertanya.

"Apakah kau lihat anak Su?"

Thia Ki menjawab.

"Sejak tadi sudah kulihat, dia sembunyi ditepi danau seberang sana. Tapi tak dapat menghindari pandanganku. Cuma dia tidak mau memperlihatkan dirinya, maka sebaiknya kitapun tidak perlu ikut campur."

"Jika jelas dia sudah datang, untuk apa lagi kita berdiam disini? Ayolah pergi saja!"

Kata Poa Kiam.

Kiranya kedua kakek ini menyusul Siu Su ke daerah Kanglam, tapi seketika mereka tidak dapat menemukan anak muda itu.

Sesudah berundung, mereka sengaja mencari Mao Kau lebih dulu dengan berlagak hendak membantunya, tapi tujuan sebenarnya agar dapat bertemu dengan Siu Su.

Sekarang setelah mereka melihat Siu Su sudah datang, mereka tidak mau tinggal lagi disitu, serentak mereka melayang ketepi danau sana.

Dari jauh Siu Su dapat melihat berkelebatnya kedua kakek ini, cepat ia pun mengeluyur pergi, agaknya dia tidak suka bertemu dengan mereka.

"Kalian hendak kemana?"

Seru Mao Kau terhadap kedua kakek.

Dia menaruh harapan kedua kakek ini akan membantunya untuk menghadapi keturunan Siu Tok, sekarang kedua kakek pergi tanpa pamit, keruan ia terkejut dan mendongkol.

Segera ia bermaksud mengejarnya.

Tapi Bun-ki lantas menghadang dan berkata.

"Ayah, tak perlu menyusul mereka. Diatas kapal masih ada seorang yang lebih menggemaskan, masa ayah tidak tahu?"

Karena pengikutnya sama berkhianat, pikiran Mao Kau menjadi kacau, dengan gusar ia berteriak.

"Siapa dia?"

Pelahan Bun-ki mengalihkan pandangnya terhadap Hoan-hun dan mendengus.

"Masakah ayah mengira dia Siam-tian-sin-to Cu Cu-bing yang sebenarnya?"

Hati Mao Kau tergerak, teriaknya.

"Habis siapa dia kalau bukan Cu-bing?"

"Cu Cu-bing sudah lama mati,"

Kata Bun-ki, dia sengaja memalsukan nama Cu Cu-bing dan menyamar serupa mayat hidup untuk menipu ayah. Malahan dia bukan mayat hidup pertama, yang menyamar sebagai mayat hidup pertama adalah Suciku."

Semakin banyak dia bicara semakin bingung orang lain, bukan saja Mao Kau bingung, bahkan orang yang mengaku "Hoan-hun"

Juga tidak mengerti. Setelah melenggong sejenak, lalu Mao Kau bertanya.

"Sucimu... .dia yang menyamar Hoanhun lebih dulu?... ."

Bun-ki menghela napas, katanya.

"Urusan ini cukup panjang untuk diceritakan, seketika juga sukar kujelaskan... ."

Mendadak ia membalik tubuh dan berkata kepada Hoan-hun.

"Jika kau benar seorang kesatria sejati, hendaknya kau perlihatkan wajahmu yang asli, seorang lelaki kenapa mesti main tutup kepala dan ganti nama segala? Perempuan saja tidak sudi berbuat demikian."

Tiba-tiba teringat olehnya Siu Su yang memakai nama samaran "Ko Bun"

Itu, maka pada nadanya lantas menunjukkan perasaannya yang bertentangan, ya mendongkol, ya menyesal dan hampa. Mendadak "Hoan-hun"

Kedua ini mendongak dan tertawa latah.

"Apa yang kau tertawai?"

Tegur Bun-ki dengan kening bekernyit.

"Hahaha, memang betul, sebabnya aku menyamar sebagai mayat hidup adalah untuk menipu ayahmu,"

Seru Hoan-hun dengan tertawa.

"Tapi aku pun tidak pernah menyangka Hoan-hun pertama itu juga palsu. Selama hidupku tidak pernah kutemui urusan yang liku-liku dan membuat orang bingung seperti ini. Asalkan lebih dulu kau ceritakan duduknya perkara ini, pasti juga akan kuperlihatkan wajah asliku."

"Ucapanmu dapat dipercaya?"

Tanya Bun-ki.

"Mengapa tidak? Kata-kata seorang lelaki sejati masa dijilat kembali,"

Ujar Hoan-hun.

"Begini soalnya,"

Bun-ki mulai menutur.

"Suciku Buyung Siok-sing ingin menyelidiki asal-usul putra Siu Tok itu, maka dia menyamar sebagai Cu Cu-bing yang sudah mati itu dan menyelundup ketempat putra Siu Tok."

"O, jadi dia sengaja menyamar seperti ini."

Gumam Hoan-hun, baru sekarang ia tahu duduknya perkara.

"Sebaliknya kukira didunia ini memang ada orang serupa mayat hidup begini, tak terduga aku telah tertipu olehnya."

"Suciku memang maha cerdik, mana dapat kau tandingi dia,"

Jengek Bun-ki.

"Yang kau pikirkan hanya membantu putra Siu Tok, kau pun mengira mudah menyamar sebagai Hoan-hun, lalu membawa mayat Thia Hong ketempat ayah, padahal Thia Hong juga terbunuh oleh putra Siu Tok."

Mendadak Mao Kau berseru.

"Sesungguhnya siapakah putra Siu Tok, dimana dia sekarang?"

Diam-diam Bun-ki menghela napas, ia berlagak tidak mendengar pertanyaan sang ayah, katanya pula terhadap Hoan-hun.

"Nah, sudah kuberitahukan duduk perkara ini, sekarang bagaimana dengan dirimu?"

Orang itu termenung sejenak, mendadak ia tertawa dan berseru.

"Apakah perlu kau tahu siapa diriku?"

Tangan Bun-ki bergetar pelahan sehingga pedang merah yang dipegangnya gemerdep, sambil menatap ujung pedang ia berkata.

"Jika tidak kau katakan terus terang, mungkin pedangku ini akan memaksamu bicara."

Hoan-hun menjengek.

"Hm, apakah aku akan bicara atau tidak, betapapun aku akan belajar kenal dengan pedangmu."

"Baik!"

Bentak Bun-ki, kontan cahaya merah terus menyambar kedepan.

Rupanya Hoan-hun memang sengaja hendak menguji sampai dimana kehebatan pedang merah si nona, ia tidak mundur, sebaliknya memapak maju, tangan menyampuk dari samping untuk menghantam punggung pedang.

Siapa tahu, baru saja telapak tangannya menyentuh batang pedang, seketika tubuhnya tergetar, telapak tangannya serasa terhisap oleh semacam tenaga gaib yang timbul dari pedang merah itu sehingga sukar ditarik kembali.

Sambil membentak pelahan Bun-ki mendorong pedangna kedepan.

"Sesungguhnya siapa kau, lekas katakan!"

Belum lenyap suaranya, mendadak tubuh Hoan-hun bisa memanjang keatas, sebelah kakinya terus menendang pergelangan tangan Bun-ki yang memegang pedang.

Cepat Bun-ki mengengos kesamping, pada kesempatan itulah Hoan-hun terus melayang keluar jendela.

Sungguh tak terduga oleh Bun-ki bahwa orang mampu lolos dari isapan pedang merahnya, ia terkesiap.

Terdengarlah suara tertawa nyaring berkumandang dari luar.

"Haha, apakah kau ingin tahu siapa diriku? Lihatlah ini!"

Menyusul suara tertawa itu, selarik sinar emas lantas menyambar tiba. Mao Kau terkejut dan cepat mengelak. Pedang Bun-ki lantas menyampuk.

"tring", sinar emas itu terhisap oleh pedang merah. Waktu mereka memeriksanya, kiranya sebilah pedang emas kecil. Air muka Mao Kau berubah, serunya tanpa terasa.

"Kim-kiam-hiap!"

Ia memburu kedepan jendela kapal, tertampak pepohonan melambai tertiup angin, cuaca sudah dekat magrib, mana ada bayangan Kim-kiam-hiap segala.

Ia berdiri termenung, gumamnya kemudian sambil menghela napas.

"Sungguh tidak nyana keparat yang menamakan dirinya Kim-kiam-hiap bisa berada diatas kapalku."

"Ayah,"

Ucap Bun-ki dengan menunduk.

"engkau... .engkau... ."

Meski banyak yang ingin dibicarakannya dengan sang ayah, tapi kerongkongan serasa tersumbat oleh rasa duka yang tak terhingga.

Mao Kau lantas menuju kehaluan kapal lagi, dia seperti ingin bicara pula dengan hadirin yang belum bubar itu, tapi sekilas pandang yang masih berada disitu, ternyata sudah tersisa sangat sedikit.

Seketika hati terasa sedih sehingga sukar bersuara dan cuma termenung memandangi sedikit orang itu.

Biasanya suksesnya seorang pahlawan hanya melalui perjuangan yang panjang dan bersusah payah, tapi pada waktu hancur bisa hanyut dengan cepat serupa es yang cair terbakar api.

Dia berdiri dihaluan perahu dengan perasaan hampa, sedapatnya ia coba menyampaikan beberapa patah kata.

"Selama hidup ini Mao Kau berkecimpung didunia Kangouw, soal sukses atau gagal tidak perlu lagi dibicarakan, yang membesarkan hatiku adalah saudara-saudara ternyata masihsudi menghargai orang she Mao dan....."

Belum lanjut ucapannya, se-konyong2 bergema derap kaki kuda yang ramai dari kejauhan, dari suaranya dapat ditaksir sedikitnya ada belasan penunggang kuda.

Sejenak kemudian, tertampaklah muncul serombongan penunggang kuda, yang paling depan adalah seorang pemuda berwajah kuning gagah perkasa, sembari melarikan kudanya dia berteriak dari kejauhan.

"Saudara-saudara yang hadir disini silakan lekas meninggalkan danau ini agar tidak ikut menjadi korban!"

Suaranya lantang menggema angkasa.

Semua orang yang masih tinggal disitu sama terkesiap.

Sebagian tidak menghiraukan seruan Mao Kau lagi, beramai-ramai mereka membubarkan diri.

Mao Kau menjadi gusar, dapat dikenalinya pemuda berbaju kuning itu, teriaknya.

"Kim Ciauhiong, kau pun datang mengacau?!"

Kiranya pemuda ini adalah satu diantara Tahy-hing-siang-gi, kedua kesatria dari Thay-hing-san. Sambil memutar cambuknya Kim Ciau-hiong bergelak tertawa dan berteriak.

"Betul, aku pun datang, saat kematianmu pun sudah tiba, Mao Kau!"

Mendadak ia menghentikan kudanya, ia tuding kebelakang sana dengan cambuknya.

"Coba lihatlah, sarangmu sudah kubakar menjadi abu, para pengikutmu sudah sama meninggalkan dirimu, saat ini engkau serupa anjing buduk yang tidak punya rumah lagi, apa pula artinya hidup bagimu? Lekas serahkan nyawamu saja!"

Sambil bicara cambuknya memberi tanda, serentak belasan penunggang kuda itu memutar balik kesana, hanya sekejap saja debu yang mengepul lantas buyar tertiup angin.

Kejut dan gusar sekali Mao Kau, waktu ia memandang kesana, memang betul tempat kediamannya tampak diliputi asap tebal, api telah berkobar dengan dahsyatnya.

Kuatir terjadi apa-apa atas diri sang ayah, cepat Bun-ki memegangi pundak Mao Kau dan berkata.

"Ayah, engkau sudah tua, sudah waktunya harus tirakat saja. Kesempatan ini bolehlah kita gunakan mencari suatu tempat tetirah yang cocok untuk mengasingkan diri agar anak dapat melayani ayah dengan tenang, hal ini kan lebih baik daripada tetap berkecimpung didunia Kangouw yang kotor ini?"

Hati Bun-ki sendiri juga sudah remuk, maka ia pun tidak ingin bertemu lagi dengan Siu Su.

Leng-coa Mao Kau termangu sekian lama, mendadak ia bergelak tertawa.

Bun-ki jadi melenggong malah, tak tersangka olehnya dalam keadaan begini sang ayah masih dapat tertawa.

Ia tidak tahu sang ayah adalah seorang gembong iblis yang berjiwa lain daripada yang lain, mana orang biasa dapat menyelami jalan pikirannya?

Di tengah tertawa latahnya Mao Kau berkata.

"Jangan takut nak, orang-orang ini tak dapat membikin keder ayahmu... ."

Sampai disini sorot matanya berubah mencorong, ucapnya pula dengan beringas.

"Sebelum ayah kemari, lebih dulu sudah kusiapkan satu tindak lanjut, kalau cuma sedikit pukulan seperti ini belum dapat meruntuhkan iman ayahmu."

Diam-diam Bun-ki merasa kagum juga terhadap keteguhan jiwa sang ayah.

Tapi bilamana teringat kepada lawan seperti Siu Su yang juga sukar dirobohkan, mau-tak-mau ia pun ngeri.

Mao Kau memandang anak perempuan kesayangan dengan tajam, dapat dilihatnya dalam hati putrinya ini pasti menanggung sesuatu rahasia.

Setelah berpikir, mendadak ia bergumam.

"Ya, ya, tahulah aku!"

Tergetar hati Bun-ki.

"Ayah tahu apa?"

"Putra Siu Tok itu adalah Ko Bun dan Ko Bun itu ialah samaran putra Siu Tok."

Kata Mao Kau pelahan.

Gembong dunia persilatan ini memang mempunyai daya pikir diatas orang biasa.

Tubuh Bun-ki tergetar, tanpa terasa ia menyurut mundur dua tindak dengan air mata bercucuran.

Pada saat itulah mendadak seorang membentak.

"Mao Kau, lihatlah siapa ini yang berada disini?!"

Waktu Mao Kau memandang kesana dengan terkejut tertampak ditengah danau mendadak menongol keluar sebuah kepala yang rambut sudah beruban, namun lengket diatas kepala karena basah, kedua matanya yang tua memancarkan sinar terang, kiranya dia inilah jago tua dalam air, Hwe-gan-kim-tiau Siau Ti, si elang bermata merah api.

Sambil membentak cambuk Mao Kau lantas menyabat kesana.

Meski cambuk cukup panjang, namun sabatannya tidak mencapai sasarannya, hanya air danau yang tepercik dan muncrat ke sekitarnya.

Siau Ti tertawa.

"Orang she Mao, untuk apa berlagak kereng lagi? Biarpun didaratan engkau dapat malang melintang, cobalah turun kedalam air, mari kita tentukan siapa yang lebih unggul?!"

Dia mengambang setengah badan diatas air, nyata kemahirannya berenang sukar ada bandingannya. Tidak kepalang gusar Mao Kau.

"Tua bangka she Siau, jika berani naiklah kemari!"

Siau-lotiau tertawa keras.

"Untuk apa kunaik kesitu? Didalam air sekarang sudah siap beratus kawan kami dari danau Koyu dan Angtiok, sepantasnya kami menyuguh kau minum air danau sekenyangnya."

Hati Mao Kau terkesiap pula. Tiba-tiba air danau beriak, seorang menongol lagi dari dalam danau dan berteriak.

"Orang she Mao, masih kenal padaku tidak?"

Belum lagi Mao Kau menjawab, Siau-lotiau telah menyela dengan tertawa.

"Untuk apa banyak omomg dengan dia, apakah saudara kita dibawah sudah siap?"

Kiranya orang yang muncul belakangan ini adalah Siau Peng, si ikan emas, putra tungal Siau Ti.

"Setiap saat siap bergerak, ayah!"

Seru Siau Ti dengan tertawa.

"Baik, mulai!"

Teriak Siau Ti. Siau Peng mengiakan, kembali ia menyelam kedalam air bagai ikan, permukaan air hanya menimbulkan riak kecil dan segera tenang kembali. Kejut dan gusar Mao Kau, bentaknya.

"Siau-loji, sesungguhnya permainan apa yang hendak kau lakukan?"

"Tidak perlu tanya, segera engkau akan tahu sendiri,"

Seru Siau Ti dengan tertawa.

Belum lenyap suaranya, terdengarlah suara gemuruh, beberapa perahu didekat Mao Kau mendadak tenggelam kebawah, perahu yang ditumpanginya juga mendadak berguncang keras, badan perahu juga mulai ambles.

"Cepat mundur, ayah!"

Teriak Bun-ki kuatir.

Pada saat itu juga tampak belasan lelaki berbaju hitam ketat memanjat keatas perahu.

Cepat Bun-ki mengayun pedangnya, sekali sinar menyambar, tahu-tahu belasan orang itu sudah menghilang lagi kedalam air.

Mao Kau sempat melompat ketepi danau.

Baru saja dia meninggalkan kapalnya, badan kapal lantas tenggelam dengan cepat.

Lim Lin yang masih tergeletak tak sadar itu ikut karam kedalam danau.

Bun-ki tidak sempat menghiraukan orang lain, ia putar pedangnya dan menerjang, dengan terbungkus cahaya merah, secepat terbang ia pun melayang ketepi danau.

"Hahaha, Siau-loji, memangnya dapat berbuat apa terhadapku?"

Mao Kau tertawa latah. Siau Ti juga tertawa.

"Huh, kau kira kami benar-benar hendak membinasakanmu? Kami sengaja ingin menyaksikan cara bagaimana kau lari terbirit-birit dan itu sudah cukup."

Dari malu Leng-coa Mao Kau menjadi gusar.

"Tua bangka she Siau, bolehlah kau tetap sembunyi didalam air, tapi begitu kau injak daratan, segera kucincang dirimu hingga hancur lebur."

"Haha, apakah akan kau tunggu diriku disitu?"

Ejek Siau Ti.

"Betul, lihat saja!"

Kata Mao Kau.

======================================================================== ======================== = Sesungguhnya apa yang terjadi atas tempat kediaman Mao Kau, kemana perginya anak muridnya?

= Apa pula yang akan dilakukan Ko Bun alias Siu Su yang masih harus menghadapi musuh lain diluar Mao Kau?

=== Bacalah

Jilid lanjutannya === ======================================================================== ======================== Apakah tidak kau pikirkan sarangmu yang sudah terbakar menjadi puing itu?

Bila kau tunggu disini, kedua saudara Kim dari Tahy-hing-san pasti akan kegirangan,"

Seru Siau Ti dengan tertawa. Kembali Mao Kau melengak.

"Ingat orang she Mao,"

Seru Siau Ti pula.

"selanjutnya jangan se-kali2 muncul diatas permukaan air, begitu berada dipermukaan air, senantiasa akan kunantikan dirimu disitu."

Ditengah gelak tertawanya dia lantas menyelam dan menghilang didalam air.

Dengan gregetan Mao Kau berdiri ditepi danau, sungguh ia merasakan nasib sendiri yang nelangsa, orang kalau lagi apes, di-mana2 pun akan dihina orang.

Bun-ki menghela napas, katanya sedih.

"Ayah, marilah kita coba pulang melongok rumah!"

"Kalau sudah terbakar, apanya yang mau dilongok!"

Jawab Mao Kau dengan mendongkol.

Walaupun begitu ucapannya, tidak urung ia lantas mendahului melayang kesana.

Saat itu matahari hampir terbenam, tiba-tiba beberapa gumpalan awan hitam bergeser tiba sehingga cuaca yang semula cerah berubah menjadi guram.

Danau Barat yang semula ramai dengan para pelancong telah berubah menjadi sunyi, dengan cepat Mao kau dan Bun-ki berlari kerumahnya, hanya sebentar saja dari jauh lantas tercium bau hangus yang menusuk hidung.

Perkampungan Mao meliputi areal seluas beberapa hektar, tapi kini beratus bangunan megah itu sudah berubah menjadi puing.

hanya beberapa puluh penunggang kuda berbaju hitam tampak berkitaran di sekeliling lautan api.

Mao Kau tahu umpama ada orang ingin memadamkan api tentu juga telah diusir oleh kawanan penunggang kuda itu, anak buahnya yang bertugas jaga kalau tidak kabur tentu juga sudah terbunuh semua.

Dalam gusarnya Mao Kau berteriak murka dan memburu kesana secepat terbang.

Siapa tahu kawanan penunggang kuda berbaju hitam itu seperti sudah memperhitungkan Mao Kau pasti akan pulang, maka sebelum Mao Kau mendekat, lebih dulu mereka sudah kabur lebih dulu, hanya dari jauh berkumandang suara orang berteriak.

"Orang she Mao, yang membakar perkampungan adalah kedua saudara Kim kami, jika engkau merasa penasaran silakan datang ke Tay-hing-san untuk mencari kami....."

Suara itu lambat-laun menjauh, akhirnya lenyap bersama derapan kaki kuda yang riuh tadi. Mao Bun-ki berlari mengelilingi lautan api, katanya kemudian.

"Ayah, api tidak dapat dipadamkan, andaikan padam juga segalanya sudah terlambat."

Dengan muka kelam Mao Kau mencari suatu tempat yang agak kecil api yang berkobar, lalu menerjang kedalam.

Karuan Bun-ki berteriak kaget, cepat ia ikut melompat kesana.

Tertampak api hanya berkobar dengan hebatnya disekeliling luar, tapi lantaran perkampungan ini sangat luas, maka beberapa gedung besar bagian tengah malah belum terjilat api.

Sekali hantam Mao Kau membikin pintu tengah terpentang dan cepat menyelinap kedalam.

Se konyong2 dari ruangan pendopo yang sekelilingnya telah terjilat api itu berkumandang suara orang tertawa dingin.

Mao Kau terkesiap dan cepat berhenti.

Terdengar seorang menjengek.

"Hm, baru sekarang kau datang, Mao Kau? Sudah cukup lama kutunggu disini!"

"Siapa?"

Bentak Mao Kau.

Diam-diam Mao Bun-ki juga sudah ikut masuk kesitu.

Tertampak asap memenuhi ruangan, dibagian dalam sana muncul sesosok bayangan orang seolah2 hantu yang menongol dari tengah kabut.

Selama hidup Mao Kau berkelana didunia Kangouw dan entah betapa banyak peristiwa besar yang ditemuinya, tapi dalam sekejap ini tanpa terasa timbul juga rasa ngerinya.

Dengan kedua telapak tangan siap berjaga ia membentak.

"Jadi kau ini Siu... ."

Bayangan itu mendengus dan melangkah maju, katanya.

"Lihatlah lebih jelas siapa diriku?"

Ternyata orang ini berbaju perlente, berwajah cakap, bersikap kereng, nyata dia memang Siu Su adanya.

Mao Kau dan Bun-ki sudah menduga siapa yang akan dihadapinya, tidak urung mereka menjerit kaget juga, tubuh Bun-ki juga agak gemetar.

Setajam sembilu Siu Su menatap Mao Kau, ia sengaja tidak memandang Bun-ki sekejap pun, ucapnya sekata demi sekata.

"Mao Kau, apakah sudah kau lihat jelas. Nah, aku inilah putra Siusiansing yang hendak menagih hutang berdarah delapan belas tahun yang lalu kepadamu."

Lamat-lamat Mao Kau merasa raut wajah dan juga perawakan anak muda didepannya itu mirip benar dengan Siu-siansing yang menunggang kuda sendirian dan disergapnya ditengah pegunungan sunyi berkabut pada delapan belas tahun yang lampau itu.

Sesaat ia merasa seperti melihat arwah Siu-siansing, tanpa tertahan ia pun mengkirik dan menyurut mundur, butiran keringat pun menghiasi dahinya.

"Utang darah harus dibayar dengan darah, apakah kau mau lari?"

Bentak Siu Su sambil mendekati Mao Kau selangkah demi selangkah.

Setiap langkah anak muda itu serupa menginjak ulu-hati Mao Kau dan membuatnya bergetar.

Sebenarnya Mao Kau bukan kaum pengecut, tapi demi berhadapan dengan Siu Su, entah mengapa ia menjadi jeri, sebab perbawa Siu-siansing delapan belas tahun yang lalu itu masih membuatnya gentar.

Dia juga belum lupa kepada tulisan "Sepuluh tahun kemudian, hutang darah dibayar dengan darah"

Yang membuatnya tidak enak makan dan tidak nyenyak tidur itu. Bun-ki menggreget, mendadak ia berteriak.

"Lekas pergi ayah, biar kutahan dia!"

Belum lenyap suaranya, tahu-tahu bayangan Siu Su sudah melayang tiba dan menghantam dada Mao Kau.

Gerak tubuhnya sangat gesit, jurus serangan aneh, setiap gerak langkahnya sedemikian gagah, nyata benar persamaannya dengan mendiang Siu-siansing alias Siu Tok dahulu.

Karena jeri, Mao Kau tidak berani menangkis, sambil meraung ia terus lari keluar.

"Lari kemana?"

Bentak Siu Su, segera ia hendak mengejar. Tapi Bun-ki lantas berteriak.

"Siu Su, jangan... .jangan kau kejar lagi... ."

Suaranya gemetar, penuh rasa sedih dan hampa.

Tergetar hati Siu Su, tapi ia tidak menoleh, dengan mengertak gigi ia tetap mengejar keluar.

Air mata Bun-ki bercucuran, mendadak pedangnya menusuk dari samping dengan ujung pedang agak gemetar.

Dilihatnya Siu Su tidak berusaha menghindar, diam-diam ia berpikir dengan pedih.

"Jika seranganku mematikan dirimu, pasti aku pun akan ikut mati bersamamu... ."

Baru timbul pikiran ini, mendadak dilihatnya tangan Siu Su mengebas kesamping, dengan dua jari ia menyelentik batang pedang Mao Bun-ki.

"Tring", seketika Siu Su merasa jari kesemutan, tenaga selentikan lenyap. Dalam kagetnya terpaksa ia berhenti.

"Ken... kenapa engkau harus menuntut balas?"

Tanya Bun-ki dengan suara gemetar. Siu Su menarik napas dalam-dalam, jawabnya.

"Sakit hati pembunuhan ayah sukar dihapus!"

"Betul, sakit hati pembunuhan ayah tak dapat dihapus, tapi bila engkau hendak membunuh ayahku, terpaksa harus kubunuhmu lebih dulu,"

Seru Bun-ki dengan menangis. Mendadak Siu Su menubruk maju sambil mengertak, sebelah tangannya lantas menghantam muka si nona. Bun-ki lantas memejamkan mata malah dan menurunkan pedangnya, katanya.

"Baiklah, boleh kau bunuh diriku saja!"

Seketika tersirap darah Siu Su, ia tahan mentah-mentah serangannya.

Wajah si nona yang sayu dengan butiran air mata menghiasi pipinya itu membuat hati Siu Su sekeras baja itu menjadi kusut.

Dengan mata terpejam Bun-ki berucap.

"Ayahku sudah tua, sekarang telah ditinggalkan pula anak buahnya, rumah musnah dan keluarga hancur, sudah cukup engkau membuatnya sengsara, apa pula yang akan kau lakukan terhadapnya?"

Mendadak alis Siu Su menegak, teriaknya.

"Dan cara bagaimana dia membikin celaka ayahku, sampai tulang belulang saja tercerai berai... ."

Di tengah teriakannya ia terus melompat pergi, berkobarnya api dendam telah memutuskan benang cintanya.

Meski Bun-ki mengejar keluar, namun sukar menyusulnya lagi.

Tapi baru saja Siu Su menerobos keluar lautan api dan belum sempat lari lebih jauh, sekonyong2 seorang menegurnya dengan tertawa.

"Haha, biarpun kau lari kian kemari tetap sukar lolos dari penguntitan kami!"

Belum lenyap suaranya, dua sosok bayangan secepat terbang sudah hinggap didepannya.

Siu Su terkejut, nyata yang berdiri didepannya adalah dua kakek berbaju mentereng, mereka ialah Poa Kiam dan Thia Ki.

Melihat kedua kakek ini, mau-tak-mau Siu Su menghela napas gegetun dan terpaksa berdiri disitu.

Dalam pada itu Bun-ki sudah menyusul tiba, melihat kedua kakek itu ia pun melenggong.

Sambil menuding ke barat sana, Thia Ki berseru.

"Nona Mao, ayahmu lari kesana, lekas kau susul!"

Poa Kiam lantas menyambung.

"Anak muda ini takkan mampu berkutik jika kami berdua tua bangka sudah menghadang disini, betapapun dia tidak bisa mengejar lagi kesana."

Bun-ki memandang Siu Su sekejap, tampaknya ingin bicara sesuatu tapi urung.

"Ada urusan apa boleh dibicarakan kelak, sekarang lekas kau pergi saja."

Ujar Thia Ki. Dengan tersenuym pedih Bun-ki berkata.

"Terima kasih atas bantuan kedua Cianpwe... ."

Segera ia membalik tubuh dan berlari pergi kearah yang ditunjuk Thia Ki tanpa memandang Siu Su lagi. Siu Su termangu sejenak, katanya kemudian dengan menyesal.

"Kutahu kalian sengaja mencegah kutuntut balas kematian ayahku, sebab itulah selalu kuhindari penguntitan kalian. Padahal sakit hati ayah sedalam lautan, kenapa kalian....."

"Eh, kenapa kau laupa kepada pesan ibumu?"

Sela Thia Ki.

"Yang selalu kau pikir hanya sakit hati ayah, tak pernah kau pikirkan bilamana Mao Kau kau bunuh, betapa ibumu akan berduka?"

Poa Kiam lantas menyambung.

"Padahal kalau tidak atas permintaan ibumu, untuk apa kami bersusah payah menyusul kemari."

"Permusuhan lebih baik diakhiri daripada berlarut, inilah pesan yang sering diucapkan ibumu,"

Tukas Thia Ki.

"Ayahmu sudah meninggal, biarpun Mao Kau kau bunuh juga ayahmu tidak dapat hidup kembali."

"Apalagi kau sendiri,"

Sambung Poa Kiam pula.

"Sekarang dia sudah cukup mengenaskan kau kerjai, apa pula yang akan kau lakukan terhadapnya?"

Begitulah kedua kakek itu terus bicara sambung menyambung, sama sekali tidak memberi kesempatan bicara bagi Siu Su.

Dengan menunduk perasaan Siu Su bergolak dengan hebat, sampai lama sekali baru berkata dengan menghela napas.

"Setelah kedua paman berada disini, apa yang dapat kukatakan lagi... ."

"Aku tidak peduli kau mau bilang apa, pendek kata, mau atau tidak mau kami berdua harus selalu mendampingimu sampai kami membawamu kembali ketempat ibumu sana."

Kata Thia Ki.

"Ya, terserah kepada kehendak paman."

Ujar Siu Su.

"Nah, beginilah baru anak baik,"

Ujar Thia Ki dan Poa Kiam dengan tertawa cerah.

"Di tempat tinggal Siautit sana tersedia macam-macam arak enak, silakan para paman ikut minum barang beberapa cawan disana,"

Kata Siu Su kemudian.

"Hahaha, sungguh anak yang baik, hobi kedua pamanmu rupanya sudah kau kenal benar,"

Ujar Thia Ki dengan tertawa.

Kedua kakek itu lantas ikut Siu Su pulang kegedung itu, setelah Hoan-hun dan anak buah Liang Siang-jin pergi semua, rumah ini lantas sunyi senyap tidak berpenghuni.

Siu Su menyalakan lampu dan membawakan arak, meski cuma ada arak tanpa hidangan, tapi ketiga orang dapat minum dengan gembira, bahkan Siu Su seperti sudah melupakan segala macam duka lara.

Habis satu botol, air muka Siu Su belum berubah, sebaliknya muka Thia Ki lantas merah, malahan Poa Kiam sudah mulai sinting dan ber-ulang2 minta tambah arak lagi.

Segera Siu Su mengambil lagi sebotol.

Setelah habis terminum botol kedua ini.

Thia Ki gan Poa Kiam benar-benar mabuk hingga lupa daratan.

Gemerdep sinar mata Siu Su, ia coba memanggil.

"Thia-toasiok, Poa-jicek?"

Tentu saja tidak ada jawaban. Siu Su menghela napas dan berucap.

"Maaf jika aku kurang sopan terhadap kedua paman. Demi menuntut balas sakit hati ayah, terpaksa mesti bikin susah kedua paman untuk sementara."

Segera ia bawa Thia Ki dan Poa Kiam keruang bawah tanah, disitu tersimpan macam-macam arak.

Kedua orang tua itu dibaringkan digudang arak ini.

Arak yang tersimpan disini adalah arak pilihan dan tersimpan puluhan tahun lamanya, waktu diminum terasa enak, sesudah masuk keperut akan cepat membuat mabuk, dan sekali mabuk sukar untuk siuman kembali.

Siu Su bergumam pula.

"Sekali kedua paman mabuk sedikitnya berlangsung selama tiga hari, maaf jika Siautit tinggal pergi, kelak setelah kubalas dendam baru akan kumohon ampun kepada paman."

Dia tinggalkan gudang dibawah tanah itu, pintu digembok.

Pintu gudang sangat kuat, jika sudah siuman, untuk keluar juga Thia Kim dan Poa Kiam akan berkutetan sekian lamanya.

Sementara itu senja sudah tiba pula.

Dibawah cahaya sang surya yang ke-merah2an mendadak dilihatnya ditengah ruangan besar itu telah bertambah dua sosok bayangan panjang.

Siu Su terkejut, baru saja ia berhenti melangkah, segera terdengar orang menegur dengan suara parau.

"Siu-kongcu, apakah arak masih tersedia?"

Sinar mata Siu Su mengerling tajam, lalu tertawa dan menjawab.

"Arak tentu saja ada, tapi perlu dibuktikan dulu apakah engkau setimpal untuk minum arakku atau tidak?"

Terlihat olehnya dua orang berjubah hijau berduduk disebelah meja besar sana dengan air muka kaku dingin. Ternyata dua Hoan-hun kembar. Hoan-hun yang sebelah kiri berkata dengan tertawa.

"Barangkali aku setimpal mendapat suguhan arak?"

Air muka Siu Su agak berubah, bentaknya pelahan.

"Siapa diantara kalian adalah Buyung Sioksing?"

"Kami berdua bukan Buyung Siok-sing."

Jawab kedua Hoan-hun itu dengan tertawa.

Di tengah gelak tertawa mereka, sekali tangan mereka mengusap muka masing-masing, seketika tertanggal kedok yang mereka pakai.

Waktu Siu Su mengawasi, tertampak seorang diantaranya berhidung tegak dan bermulut besar mukanya kereng, dia inilah Kim-kiam-hiap Toanbok Hong-cing.

Seorang lagi beralis panjang dan bermata besar, berjenggot pendek, wajah yang cakap membawa semacam kebosanan orang hidup.

Kiranya dia inilah Ciok Ling yang sudah berpisah setahunan itu.

Kemunculan kedua orang secara mendadak ini membuat Siu Su tercengang, seketika ia tidak dapat bicara.

Dengan tersenyum Toanbok Hong-cing berkata.

"Akulah yang membawa sesosok mayat dari Leng-un-si kerumah Mao Kau, entah jasa ini setimpal untuk mendapatkan suguhan arak Siuheng atau tidak?"

"Ah, kiranya perbuatanmu!"

Seru Siu Su terkejut dan bergirang. Sudah lama tanda tanya ini tersimpan dalam hatinya dan baru sekarang terjawab.

"Haha, kawan lama bertemu kembali, adalah pantas kusuguhi arak,"

Seru Siu Su dengan gembira.

"Cuma sayang, sementara ini gudang arak telah kugunakan sebagai penjara dan tak dapat kuambilkan araknya."

"Haha, masakah benar kuminta disuguhi arak? Aku cuma menggoda dirimu saja,"

Seru Toanbok Hong-cing dengan tertawa. Mendadak ia sambung dengan serius.

"Hubungan kedua kakek Thia dan Poa tidak sembarangan dengan Siu-heng, mengapa engkau mencekoki mereka hingga mabuk dan mengurungnya didalam gudang arak? Sungguh aku tidak mengerti akan maksud perbuatanmu ini?"

Siu Su tertawa.

"Haha, tampaknya setiap tindakanku sukar mengelabui mata telinga saudara."

Lalu dengan prihatin ia berkata pula.

"Soalnya kedua pamanku itu berkeras membujukku agar menyudahi permusuhan ini, maka....."

Mendadak Ciok Ling menyela.

"Apa salahnya jika permusuhan dihapus saja daripada terus berlarut, untuk ini kuyakin ibumu pasti juga akan bersyukur."

Siu Su tidak menanggapi ucapannya, sebab saat ini dia datang bersama Toanbok Hong-cing, betapapun dirinya tidak pantas bicara kasar padanya. Didengarnya Toanbok Hong-cing telah berkata pula.

"Siu-heng, meski kita baru berkenalan, tapi rasanya seperti sahabat lama saja. Ada sedikit pendapat pribadiku entah Siu-heng sudi mendengarkan atau tidak?"

"Silakan bicara saja."

Kata Siu Su.

"Menurut pendapatku,"

Ujar Toanbok Hong-cing.

"Meski benar Mao Kau adalah pembunuh ayahmu, musuh yang tak terampunkan bagimu, tapi dia juga paman satu2nya, adik ibumu. Apalagi antara putri kesayangannya juga ada hubungan mesra dengan Siu-heng sendiri, keruwetan antara kasih dan dendam ini sungguh sukar dimengerti oleh orang luar seperti kami ini, namun seperti bunyi pepatah, 'dimana dapat mengampuni orang, hendaknya diampuni' Siuheng telah mendesak Mao Kau sedemikian rupa sehingga dia kabur serupa anjing buduk yang tak punya rumah lagi, apakah tidak cukup sampai disini saja kau ampuni jiwanya?"

Kim-kiam-hiap Toanbok Hong-cing bicara dengan tulus dan simpatik, lugas apa adanya. Hanya cara bicara demikianlah dapat menggetarkan perasaan Siu Su. Anak muda itu terdiam sejenak, katanya kemudian.

"Sesungguhnya persoalan ini memang sangat ruwet sehingga Siaute sendiri tidak tahu cara bagaimana mengakhirinya, tapi... .kalau saudara menyatakan saat ini Mao Kau telah menghadapi jalan buntu, betapapun Siaute belum dapat menerima kenyataan ini."

"Tapi dia sudah jelas tidak dapat bercokol lagi di Hangciu, didunia persilatan juga sudah kehilangan pamor, biarpun kungfunya tinggi selanjutnya sudah tidak berpengaruh lagi, paling2 dia cuma dapat mencari suatu tempat pengasingan untuk menghabiskan hari tuanya."

Siu Su menggeleng.

"Tokoh angkuh semacam Mao Kau, mana dia rela mengakhiri hari tua dengan hidup kesepian? Meski pangkalannya di Hangciu sudah tumbang, tapi jauh sebelum dia mengadakan pertemuan besar para kesatria di Hangciu ini, lebih dulu dia sudah mengatur jalan mundur agar kelak dapat bangkit kembali. Tatkala mana tentu tidak gampang lagi jika ingin menumpasnya."

"Adakah fakta yang mendukung tuduhanmu ini?"

Tanya Toanbok Hong-cing.

"Masa anda tidak melihat sesuatu keganjilan,"

Ujar Siu Su.

"Dalam pertemuan besar para kesatria yang baru saja berlangsung dengan gagal, kesepuluh Giok-kut-sucia andalan Mao Kau kan tidak ada yang muncul, Jit-sing-pian Toh Tiong-ki ada hubungan erat dengan dia, sampai saat ini dia juga tidak tampak batang hidungnya. Memang sukar melihat keganjilan ini jika tidak diperhatikan dengan cermat, tapi setelah diketahui, banyak keganjilan lantas terlihat."

"Tapi diantara kesepuluh murid andalan Mao Kau itu kan sudah tewas beberapa orang?... ."

Gumam Toanbok Hong-cing.

"Betul, memang beberapa diantaranya sudah mati, tapi masih ada Toat-beng-sucia, Gin-tosucia dan Thi-kun-sucia, ketiga orang ini tergolong jago pilihan diantara kesepuluh murid andalannya itu, apalagi murid utama Giok-kut-sucia, Thi-tah-sucia Ci To selama ini belum pernah muncul sama sekali."

"Jit-kiam-sam-pian saja sudah hancur, apalagi cuma kesepuluh murid Mao Kau, apa yang perlu ditakuti?"

Ujar Toanbok Hong-cing.

"Yang menakutkan bukanlah kesepuluh anak muridnya itu, tapi dikuatirkan mereka secara diam-diam mengumpulkan segala macam sampah masyarakat Kangouw dan membentuk suatu kekuatan gelap,"

Tutur Siu Su.

"Umumnya serangan terang mudah dihindar, sergapan gelap sukar dijaga. Kekalahan Leng-coa Mao Kau sekali ini adalah karena dia terlalu pongah, terlalu banyak pamer kekuatan, bilamana dia menunggu kesempatan dan bergerak secara diam-diam, rasanya sukar bagi kita untuk menghadapi dia."

Terkesiap juga Toanbok Hong-cing oleh uraian Siu Su ini, ucapnya.

"Analisa Siu-heng sungguh sangat mengagumkan....."

"Sudah sekian lama Mao Kau merajai dunia Kangouw,"

Sambung Siu Su pula.

"Segala urusan baik dari golongan putih maupun kalangan hitam, selalu dia punya andil tertentu. Selama duapuluh tahun ini harta benda yang telah dikumpulkannya pasti cukup mengejutkan jumlahnya. Tapi setelah rumahnya dimusnahkan oleh api, ternyata dirumah ini tidak kelihatan ada harta yang dikumpulkannya selama ini?"

"Jangan-jangan telah digunakannya sebagai dana untuk mengumpulkan anak buah dan memupuk kekuatan?"

Ujar Toanbok Hong-cing.

"Tepat, memang begitulah adanya."

Seru Siu Su. Sejenak Toanbok Hong-cing termenung, katanya kemudian.

"Bila betul apa yang kita duga ini, maka orang she Mao itu harus diakui memang seorang gembong iblis yang maha hebat... ."

"Sebab itulah baik yang menyangkut urusan pribadi maupun berhubungan dengan kepentingan umum, betapapun aku tidak dapat menyudahi persoalanku dengan Mao Kau."

Kata Siu Su.

"Setelah penjelasanku ini, tentu kalian berdua dapatlah memaklumi kesulitanku."

Seketika Toanbok Hong-cing dan Ciok Ling saling pandang. Sampai agak lama barulah Ciok Ling berkata.

"Tapi masih ada satu hal kukira engkau perlu memperhatikannya."

"Urusan apa?"

Tanya Siu Su.

"Tidak sedikit mendiang ayahmu pernah mengikat permusuhan dengan orang Kangouw, sekarang kau muncul dengan wajah aslimu, tentu banyak sekali orang yang akan menuntut balas padamu,"

Tutur Ciok Ling.

"Hal ini sudah kuketahui,"

Sahut Siu Su.

"Bahwa kau ingin mencari Mao Kau untuk menuntut balas, disamping itu kau pun harus berjaga kepada orang yang akan menuntut balas padamu, kurasakan engkau jadi sedemikian terpencil, namun watakmu juga sedemikian keras... .ai!"

Ciok Ling mengakhiri ucapannya dengan menghela napas.

Namun dapatlah Siu Su menangkap betapa perhatian orang tua yang dipandang sebagai pamannya itu terhadap dirinya.

Tak tersangka olehnya tokoh Kangouw kawakan, pendekar pedang yang sudah bosan akan kehidupan yang fana ini, ternyata sedemikian besar memperhatikan dirinya.

Seketika hati Siu Su terasa terharu dan berterima kasih, ucapnya denan tersenyum pedih.

"Sejak Kiu-ciok-sin-tu meninggalkan diriku, aku memang merasa terpencil dan tidak mempunyai pendukung lagi. Tapi sampai saat ini dapat kuketahui, aku masih mempunyai beberapa kawan sejati."

Mendadak Toanbok Hong-cing berseru.

"Ketua Kai-pang, LengLiong Pangcu, baik ilmu silatnya maupun pengaruhnya tergolong tokoh terkemuka dunia Kangouw, orang ini pun sangat simpatik, mengapa engkau tidak mohon bantuannya?"

"Orang tua ini sudah pernah bertengkar mulut denganku, kukira selanjutnya tidak mungkin dia membantuku."

Tutur Siu Su. Dia tersenyum pedih, lalu menyambung.

"Orang Kangouw sekarang sama tahu Mao Kau telah berantakan ditinggal pengikutnya dan sudah menghadapi jalan buntu, siapa pula yang tahu kekuatanku juga sangat kecil, bahkan lebih terkucil daripada Mao Kau."

Ciok Ling sedang menatap kedok "Hoan-hun"

Yang dipegangnya, katanya tiba-tiba.

"Apakah kau tahu sebab apa kutemui dirimu dengan memakai kedok ini?"

Tanpa menunggu jawaban Siu Su, segera ia menyambung.

"Kukira betapa pun engkau takkan mampu menerkanya. Soalnya, sejak berkenalan dengan Toanbok-heng, hatiku yang semula dingin, hampa dan putus asa itu, tiba-tiba jadi hangat kembali, terutama setelah melihat dia memakai kedok ini, aku menjadi tertarik untuk menirunya, sebab kupikir adalah sangat mudah membuat kedok tiruan begini, maka dalam waktu beberapa hari saja telah kubikin sejumlah kedok muka yang tipis begini... ."

"Apakah ada maksudmu menyuruhku juga memakai kedok begini?"

Sela Siu Su. Ciok Ling tersenyum.

"Dalam dongeng kuno banyak cerita tentang seorang dapat berubah menjadi beberapa orang. Bilamana kita juga mengumpulkan sekian sahabat dan sama-sama memakai kedok yang serupa, lalu siapakah yang tahu 'Hoan-hun' manakah samaran Toanbok Hong-cing dan mana pula samaran Siu Su. Dengan cara begini bukankah sekaligus engkau juga dapat menyulap dirimu menjadi beberapa orang?"

"Wah, bilamana ada tokoh dunia persilatan lain juga meniru caramu membuat kedok ini untuk berbuat kejahatan, lantas cara bagaimana kita harus bertindak?"

Ujar Siu Su.

"Untuk ini kukira tidak perlu kau kuatir,"

Ujar Toanbok Hong-cing.

"Untuk membuat kedok demikian, meski mudah diuraikan, tapi sesungguhnya bukan pekerjaan gampang. Memang sederhana cara membuatnya, tapi orang yang paham pembuatan kedok ini boleh dikatakan dapat dihitung dengan jari, Sekalipun benar ada orang lain juga membuat kedok mayat hidup begini, hal ini malah beruntung bagi kita sehingga orang lain akan dikelabui. Cara demikian sebenarnya kurang gemilang tapi untuk menghadapi manusia licik seperti Mao Kau, cara ini sama tepatnya untuk menghukum dia."

Siu Su terdiam agak lama, katanya kemudian dengan pelahan.

"Tindakan ini memang tepat untuk menghadapi Mao Kau, tapi aku merasa tidak boleh menggunakan kedok ini untuk menghindari musuh mendiang ayahku, sebab kemunculanku sekali ini justru ingin membikin lunas segala utang-piutang ayahku dahulu."

Toanbok Hong-cing saling pandang sekejap dengan Ciok Ling. Akhirnya Ciok Lin berkata.

"Apapun juga tetap akan kuberi sebuah kedok begini kepadamu, digunakan atau tidak terserah kepadamu sendiri."

Siu Su tertawa dan menerima kedok tipis itu dan disimpannya didalam baju.

Sementara itu hari sudah gelap, sampai sekian lama mereka duduk diam diruangan gelap, semuanya merenungkan urusannya sendiri.

Dalam keheningan, sekonyong-konyong bergema suara nyaring gelang tembaga daun pintu diketuk.

"Ada orang menggedor pintu,"

Seru Siu Su dengan suara tertahan sambil berbangkit. Belum lenyap suaranya, serentak Toanbok Hong-cing telah berlari kesana sambil mengenakan kedoknya, desisnya.

"Biar kubukakan pintu!"

Siu Su memandangi bayangan orang berkelebat dalam kegelapan halaman, sesaat kemudian, sesosok bayangan melayang kembali dan berdiri ditengah halaman. Dengan heran Siu Su bertanya.

"Apakah diluar tidak ada orang? Siapa yang mengedor pintu?"

Bayangan yang berdiri dihalaman itu mendadak mendengus.

"Akulah yang menggedor pintu!"

Siu Su melengak, mendadak teringat olehnya siapa orang ini, serunya.

"Hei, Buyung Siok-sing, untuk apa kau kemari?"

"Benar, aku memang Buyung Siok-sing adanya."

Jengek orang itu.

"Aku ingin tanya padamu, kemana perginya Sumoaiku oleh perbuatanmu?"

Dengan lebih ketus Siu Su menjawab.

"Bila kutahu dia pergi kemana saat ini, tentu sejak tadi sudah kukejar kesana."

Baru saja Buyung Siok-sing mendengus, mendadak dari samping muncul lagi sesosok bayangan yang serupa dengan dia, begitu sorot mata kedua orang kebentrok, seketika mereka sama melengak.

Bayangan orang ini tentulah Toanbok Hong-cing yang baru kembali dari membuka pintu itu.

"Siapa kau?"

Tegur Buyung Siok-sing dengan suara bengis.

"Kau sendiri siapa?"

Jawab Toanbok Hong-cing dengan tertawa.

"Kau mayat hidup, aku juga mayat hidup, masa engkau tidak kenal padaku?"

Diam-diam Ciok Ling juga mengeluarkan kedoknya dan dipakai, lalu ia pun melompat kehalaman sana sambil berseru.

"Disini masih ada lagi mayat hidup, kau kenal padaku?"

Kejut dan gusar Buyung Siok-sing, bentaknya dengan gusar.

"Orang she Siu, tidak perlu kau main sandiwara, aku cuma minta kau serahkan kembali Sumoaiku, kalau tidak, terpaksa harus kuseret dirimu kedepan guruku untuk memberi pertanggungan jawab kepada beliau."

Tergerak pikiran Siu Su, mendadak ia pun memakai kedok pemberian Ciok Ling tadi dan berseru.

"Siapa yang she Siu? Aku juga mayat hidup, apa kau kenal padaku?!"

Tadi dia sembunyi dibalik pohon ditepi danau supaya tidak menyolok mata, sebab itulah dia sengaja memakai baju hijau, tak tersangka sekarang baju hijau justru tepat untuk menyamar sebagai Hoan-hun atau mayat hidup.

Sekali bertepuk tangan ia terus melompat kesamping Toanbok Hong-cing.

Sekarang tiga orang berkedok tiruan berdiri melingkar disitu, semuanya diam saja, perawakan mereka hampir sama.

Dengan mata melotot Buyung Siok-sing memandangi ketiga orang itu tanpa berkedip, sukar lagi baginya untuk mengenali siapa diantaranya Siu Su.

Terdengar ketika orang tertawa bersama.

Dengan mendongkol mendadak Buyung Siok-sing menerjang ketengah ketiga orang itu, kedua tangan bekerja cepat, dalam sekejab ia menyerang belasan kali.

Jurus serangannya sangat aneh, ketiga orang dicecar secara bergantian, habis itu salah seorang diantaranya lantas diterjangnya.

Siu Su bertiga tidak mau balas menyerang, sebab mereka memang tidak mau melukai Buyung Siok-sing, tapi mereka juga tidak ingin dikenali Buyung Siok-sing dari gerak serangan mereka, maka begitu diterjang oleh Buyung Siok-sing, sedapatnya Siu Su main mengelak.

Setelah menerjang yang satu, segera Buyung Siok-sing menerjang orang kedua, cepat Toanbok Hong-cing juga menghindar kesamping.

Tapi pada saat yang sama Buyung Siok-sing terus menerjang Ciok Ling dan begitu seterusnya, setelah terjang sini-sana, akhirnya keempat orang jadi bercampur baur.

Ketika keempat orang berhenti bergerak, bukan saja Buyung Sok-sing tidak tahu lagi siapa Siu Su, bahkan Siu Su bertiga juga sukar membedakan lagi siapa diantaranya Buyung Siok-sing, sebab gerakan mereka tadi sama cepatnya dan sama gesitnya sehingga pandangan menjadi kabur dan tidak saling kenal lagi.

Seketika mereka berempat berdiri bingung ditempat, tidak ada yang mau bersuara.

Merasa akalnya berhasil dengan baik, diam-diam Buyung Siok-sing bergirang, pikirnya lagi.

"Saat ini bila aku angkat kaki lebih dulu, mereka bertiga pasti takkan menyangka akulah yang pergi dulu, sebab diantara empat orang yang paling ingin pergi dulu pastilah Siu Su. Memang pada saat itu telah timbul maksud Siu Su untuk pergi dari situ, anak muda itu lagi berpikir.

"Urusan pribadiku belum selesai, jika aku terlibat urusan dengan Buyung Siok-sing, tentu akan berlarut-larut, lebih baik aku angkat kaki lebih dulu, biar kutingalkan Buyung Sioksing kepada mereka berdua."

Tengah Siu Su berpikir, Buyung Siok-sing juga sudah ambil keputusan untuk pergi, ia pikir.

"Bila kupergi sekarang juga, kedua orang yang lain tentu mengira yang pergi adalah Siu Su, sedangkan yang dua orang tentu takkan ikut pergi karena harus menghadapi diriku disini. Sebaliknya Siu Su pasti akan berusaha ikut kepergianku."

Mendadak ia terus melompat kesamping dan melayang pergi. Bersambung ke-16.

Jilid 16 Benar juga, Siu Su juga yakin Buyung Siok-sing pasti tidak mau pergi lebih dulu, disangkanya yang kabur itu ialah Toanbok Hong-cing, kalau Buyung Siok-sing masih tinggal disini, ia pikir untuk apa kudiam juga disini?

Karena pikiran itu, serentak ia pun mengejar kesana.

Maka yang tertinggal disitu sekarang hanya Toanbok Hong-cing dan Ciok Ling berdua saja.

Karena mereka juga tidak mau bersuara, dengan sendirinya mereka tidak tahu siapa pihak lain.

Pikir Ciok Ling, Buyung Siok-sing tidak mungkin kabur lebih dulu, yang pergi itu tentu Toanbok Hong-cing, dia bermaksud memancing pergi Buyung Siok-sing, siapa tahu Buyung Siok-sing justru sengaja tinggal disini sampai semuanya pergi lebih dulu."

Sebaliknya Toanbok Hong-cing juga lagi berpikir sama, disangkanya Ciok Ling yang pergi dulu dan disusul oleh Siu Su.

Meski mereka bertiga terhitung orang cerdik, tapi mereka tetap tidak dapat menyelami perasaan kaum wanita yang jelimet, dan sekali salah duga, semuanya menjadi kacau balau!

Jadi baik Toanbok Hong-cing maupun Ciok Ling sama mengira pihak lain adalah Buyung Sioksing.

Tadi Toanbok Hong-cing mendengar pujian Mao Bun-ki terhadap sang Suci, sudah timbul maksudnya akan menguji kehebatan kungfu Buyung Siok-sing, sekarang tanpa ragu lagi ia lantas mendahului menyerang.

Ciok Ling juga berpikir setelah Siu Su pergi, biarlah kutahan Buyung Siok-sing disini.

Maka ia menangkis serangan lawan dan balas menyerang.

Kedua orang sama tidak menggunakan kungfu perguruan sendiri melainkan saling labrak dengan bungkam, setelah belasan jurus, mendadak Ciok Ling menubruk maju, secara beruntun tangan yang satu menjotos muka lawan, menyusul kepalan yang lain terus menghantam dada, Inilah serangan berantai Bu-tong-pai yang lihai.

Akhirnya tanpa terasa Ciok Ling mengeluarkan juga kungfu perguruan sendiri.

Dengan sendirinya Toanbok Hong-cing kenal kungfu orang , cepat ia melompat mundur sambil berteriak.

"Ciok Ling?"

Tentu saja Ciok Ling juga kaget dan menahan daya pukulannya, serunya dengan sangsi.

"Eng... engkau Toanbok-heng?!"

Toanbok Hong-cing mengentak kaki dan menggurutu.

"Wah celaka! Kita salah sangka semua!"

Cepat Ciok Ling melompat keatas pagar tembok, namun suasana malam sunyi senyap, bayangan Siu Su dan Buyung Siok-sing sudah tidak kelihatan lagi.

"Wah, bilamana Siu Su menyangka Buyung Siok-sing yang ikut pergi bersama dia itu ialah salah seorang diantara kita, akibatnya sungguh sukar dibayangkan,"

Gumam Ciok Ling.

"Kejar!"

Seru Toanbok Hong-cing.

"Mungkin tidak dapat menyusulnya lagi,"

Ciok Ling menggeleng.

"Tidak dapat menyusulnya juga harus dicoba."

Seru Hong-cing.

Segera mereka memburu ke jurusan sana.......

=== ooo OO ooo === Sementara itu, dalam waktu singkat saja Siu Su sudah dapat menyusul bayangan orang didepan, ia yakin yang disusulnya pasti Toanbok Hong-cing, maka ia lantas berseru.

"Tunggu sebentar, Toanbok-heng!"

Tentu saja Buyung Siok-sing bergirang demi mengenali suara Siu Su, namun dia tidak memperlihatkan sesuatu tanda dan berhenti. Begitu sampai didepan orang, dengan tertawa Siu Su berkata pula.

"Untung tadi cuma ada empat mayat hidup, kalau tidak, bisa tambah membingungkan orang. Toanbok-heng, Buyung Siok-sing itu sungguh perempuan luar biasa, hanya sayang berwajah buruk, kalau tidak tentu jadilah dia nona serba lengkap dan sukar dicari bandingannya."

Sama sekali tak terpikir olehnya bahwa orang yang jalan berendeng dengan dia justru adalah Buyung Siok-sing yang "berwajah buruk".

Sembari bicara mereka berlari lagi sekian jauhnya kedepan.

Mendadak Buyung Siok-sing memutar kesamping.

Selagi Siu Su hendak tanya apa kehendak orang, mendadak pergelangan tangan sendiri telah kena dicengkeram.

Sama sekali tak terpikir olehnya gerak memutar Buyung Siok-sing itu hanya untuk membelokkan perhatian Siu Su dan ternyata anak muda itu dapat ditipunya.

Keruan Siu Su kaget.

"Hei, siapa kau?"

Dengan mencengkeram urat nadi pergelangan tangan Siu Su, cepat Buyung Siok-sing menambahi lagi tutukan pada Kik-ti-hiat di bagian kedua lengannya sehingga tangan Siu Su tidak dapat bergerak lagi, tapi kaki tetap dapat berjalan.

Sembari tetap berlari dan tetap menarik tangan Siu Su, Buyung Siok-sing lantas menjengek.

"Hm, kau tanya siapa aku? Inilah Buyung Siok-sing yang berwajah buruk!"

Seketika Siu Su melenggong dan tidak sanggup bicara lagi.

Tapi apa daya, kedua lengan terasa kaku, tanpa kuasa ia ikut lari terseret.

Tentu saja ia gugup, cemas dan juga menyesal, sejenak kemudian ia coba berkata.

"Nona Buyung, kau tahu antara lelaki dan perempuan ada pembatasannya, caramu memegang tanganku ini bukankah kurang sopan?"

"Hm, jika kau ingin kulepaskan tanganmu, boleh juga kututuk hiat-to pingsanmu, boleh kau pilih."

Siu Su terkesiap, saat ini dia masih ada harapan dapat membebaskan diri, jika tertutuk pingsan, nasibnya tentu celaka. Terpaksa ia diam saja.

"Betapapun aku juga tidak dapat memanggul dirimu, maka kakimu harus lebih giat sedikit,"

Ujar Buyung Siok-sing. Siu Su menyesali dirinya yang ceroboh sehingga tertipu seorang perempuan. Selang sejenak, kembali ia bertanya lagi.

"Nona Buyung, sesungguhnya hendak kau bawaku kemana? Ketempat gurumu atau mencari nona Mao?"

"Kau tahu Sumoaiku berada dimana?"

Tergerak hati Siu Su, jawabnya.

"Meski sekarang tidak kuketahui, tapi bila kucari pasti dapat kutemukan dia."

Ia pikir Toh dirinya memang ingin mencari Mao Kau, maka sekalian dapat mencari Mao Bun-ki, tentu Buyung Siok-sing tak dapat menutuk pingsan padanya, sepanjang jalan juga tidak mungkin selalu menggandeng tangannya, asalkan pegangannya mengendur sedikit, segera ada kesempatan baginya untuk meloloskan diri.

"Baik, kupercaya kepadamu, lekas kita mencari Sumoaiku."

Kata Buyung Siok-sing.

"Tapi awas, jika kau sengaja main gila, nanti biar kau tahu betapa wajahku yang jelek ini tidak lebih jahat daripada tanganku."

Diam-diam Siu Su membatin.

"Sungguh konyol. Tanpa sengaja aku mengatakan mukanya buruk, selama hidupku ini pasti akan dibencinya habis2an. Tampaknya sebelum dapat kulepaskan diri sedikit banyak pasti akan tersiksa olehnya."

Belum habis ia berpikir, terdengar Buyung Siok-sing mendengus lagi.

"Awas, jangan sekali-kali berusaha melarikan diri. Dengan susah payah baru dapat kutawan dirimu, mana dapat kulepaskanmu begitu saja. Waktu tidur akan kututuk hiat-to tidurmu, dalam keadaan sadar akan kucengkeram urat nadimu, bila berani main gila bisa kupotong sebelah kakimu, lalu kubuatkan kaki palsu bagimu. Toh aku ini perempuan buruk, apa pun dapat kulakukan, aku juga tidak pantang pembatasan antara lelaki dan perempuan segala."

"Wah, celaka... ."

Kembali Siu Su mengeluh.

"Ayo, kejurusan mana? Lekas jalan!"

Bentak Buyung Siok-sing.

Siu Su memandang kegelapan malam sana, dimana Mao Kau berada mana dia tahu?

Apa daya?

Terpaksa pasrah nasib dan melangkah maju ke depan..=== oo OOOOO oo === Sejak pertemuan besar para kesatria yang berakhir dengan menghebohkan itu, dunia persilatan daerah Kanglam menjadi lebih sepi daripada biasanya.

Namun diam-diam orang Bu-lim juga merasa heran, sebab para peran pokok dalam pertemuan besar itu kemudian lantas tidak diketahui jejaknya.

Bukan cuma Mao Kau saja yang tiada kabar beritanya, sampai Ong It-peng, Cu Pek-ih, Hoa-san-gin-ho dan sebagainya juga tidak siketahui kemana perginya.

Lebih-lebih "Siu-kongcu"

Yang misterius itu, bayangannya saja tidak kelihatan.

Tapi didunia Kangouw lantas tersiar pula semacam berita.

Katanya Leng-coa Mao Kau tidak rela sarangnya diobrak-abrik orang, diam-diam ia sedang memupuk kekuatan untuk bangkit kembali, bahkan pengaruhnya terlebih besar dan lebih misterius daripada dulu.....

Walaupun desas-desus itu sangat santer, namun jejak Leng-coa Mao Kau tetap tak diketahui.

Menjelang musim panas, gumpalan awan memenuhi langit, malam tambah gelap, terkadang berkumandang gemuruh guntur melempen, angin meniup membawa hawa kelembaban, suatu tanda hujan badai selekasnya akan turun.

Ditengah antara kota Tanyang dan Tinkang, disawah ladang tepi jalan raya berdiri sebuah Suteng atau rumah pemujaan leluhur yang sudah bobrok, dalam kegelapan malam rumah berhala ini serupa seekor binatang raksasa yang mendekam di tengah ladang.

Bunyi serangga bagai paduan suara ditengah deru angin dan berkelebatnya cahaya kilat, tibatiba dari kejauhan muncul lima sosok bayangan melintasi sawah ladang dan menuju kerumah berhala itu dengan cepat.

Setiba di depan rumah berhala itu, dengan cerdik orang-orang itu mengawasi sekitarnya, setelah pasti tiada sesuatu tanda mencurigakan, barulah mereka menyelinap kedalam suteng yang daun pintunya sudah rusak sebelah itu.

Di halaman dalam rumput alang-alang hampir memenuhi halaman, ruangan tengah cukup megah, tapi juga sudah bobrok, cat merah sama terkupas, daun jendela juga terlepas, undak2an batu juga tumbuh rumput liar sehingga semakin menambah keseraman suteng yang tak terawat ini.

Dua orang yang berjalan didepan menaiki undak2an batu dan mendorong pintu ruang tengah dengan pelahan, terdengar suara keriut, daun pintu terpentang dengan mudah, segera debu berhamburan dari atas.

Cepat orang-orang itu menyurut mundur, setelah debu rontok habis barulah mereka masuk kesitu.

Seorang diantaranya merapatkan lagi daun pintu dan kembali menimbulkan rontoknya debu.

Sekonyong-konyong cahaya api berkelebat, obor telah dinyalakan.

Di bawah cahaya api kelihatan galagasi memenuhi ruangan, debu bertimbun di-mana2, kecuali altar sembahyang yang masih agak utuh, baik patung maupun meja sembahyang sudah sama rusak dan runtuh, jelas tempat ini sudah lama sekali tidak dirawat.

Bahkan patung apa yang dipuja disini sudah tidak dikenal lagi.

Orang yang menyalakan obor itu adalah seorang pemuda jangkung berbaju ringkas, baru saja dia tersenyum, segera ia menggerakkan kepalanya memberi isyarat kepada temannya.

Teman yang diberi isyarat juga seorang pemuda cakap berdandan ringkas, segera ia melompat keatas altar, dengan hati-hati sekali ia gunakan dua jari untuk memegang pundak salah sebuah patung, diam-diam ia mengerahkan tenaga untuk memutarkan.

Maka terdengarlah suara "keriat-keriut".

Sejenak kemudian, dibawah altar lantas muncul sebuah lubang sebesar dua-tiga kaki bulatan tengahnya.

Pemuda jangkung tadi memberi tanda kepada tiga orang temannya yang lain sambil mendesis.

"Ikut kemari!"

Dengan membawa obor segera ia mendahului melompat kedalam lubang.

Ketiga orang itu, yang satu lelaki bermuka hitam dan bercambang, seorang lagi setengah baya bermuka putih dan berjenggot jarang, orang ketiga adalah lelaki pendek kecil tapi kelihatan tangkas.

Mereka saling pandang sekejap, tanpa bersuara mereka lantas ikut melompat kedalam lubang itu dengan wajah prihatin, hal ini menandakan hati mereka agak tegang.

Si pemuda cakap cepat menarik jarinya yang memutar patung, lalu menyelinap juga kedalam lubang dan patung itu segera bergeser kembali kepada posisi semula, segera juga lubang dibawah altar lantas merapat kembali.

Setiba didalam lubang bawah tanah, ia mengangguk pelahan terhadap si pemuda jangkung sebagai tanda semuanya sudah beres.

Pemuda jangkung juga mengangguk sebagai tanda tahu, lalu melangkah kedepan.

Di bawah cahaya obor kelima orang terus menyusuri sebuah lorong sempit, tercium bau apek lembab yang menusuk hidung, suasana seram.

Kedua pemuda yang berjalan di depan seperti cukup apal terhadap lorong bawah tanah ini, mereka tidak pernah berhenti.

Setelah membelok dua-tiga kali, se-konyong2 angin dingin menyambar tiba dan api obor mendadak padam.

Suasana menjadi gelap gulita, seram seperti di neraka.

Dalam kegelapan mendadak berkumandang orang membentak dengan suara tertahan.

"Sunlui-keng-cit (guntur musim semi mengejutkan ular)!"

Segera kedua pemuda yang berjalan didepan menjawab.

"Leng-kau-ting-siau (naga sakti naik ke langit) Dalam kegelapan seorang mendengus, cepat pemuda jangkung itu memberi hormat.

"Tecu Thi Peng dan Auyang Bing telah mengundang datang Wi-im-sam-kiat dan mohon berjumpa dengan Insu (guru berbudi)."

Kiranya kedua pemuda ini adalah murid Mao Kau, yaitu dua murid utama kesepuluh Ciok-kutsucia, Toat-beng-sucia (duta perengut nyawa) Thi Peng dan Gin-to-sucia (duta golok perak) Auyang Bing."

Selesai mereka bicara, lorong bawah tanah itu mendadak terang benderang suara orang tadi lantas berkumandang lagi dari balik tabir yang terpasang disebelah kiri lorong.

"Masuk!"

Dengan hormat Thi Peng dan Auyang Bing mengiakan, mereka membawa Wi-im-sam-kiat atau tiga jagoan dari Wi-im, masuk kebalik tabir sana.

Di dalam adalah sebuah ruang rahasia seluas empat meter persegi, sebuah meja sembahyang terletak ditengah dengan dua batang lilin sebesar lengan anak kecil, dibawah cahaya lilin yang cukup terang tertampak diatas meja sembahyang tertaruh sebuah tempayan tembaga, didepan meja sembahyang ada sebuah kursi berlapis kulit harimau, disitulah berduduk seorang tua jangkung dengan tulang pipi menonjol, mata besar dan hidung seperti paruh elang.

Dia inilah Leng-coa Mao Kau, si ular sakti yang baru saja mengalami musibah, rumah hancur, usaha bangkrut, para mengikut sama meninggalkannya pula, lalu sudah sekian lama ia sendiri pun menghilang.

Mao Kau sekarang kelihatan lesu, agak kurus, kerut mukanya tambah nyata, lagak kereng masa lalu sudah lenyap, hanya sorot matanya yang tajam itu belum lagi berkurang.

Ia pandang Wi-im-sam-kiat dengan tajam tanpa berkedip.

Thi Peng dan Auyang Bing melangkah maju dan memberi hormat sambil melapor.

"Tecu berdua telah melaksanakan tugas ke utara dan selatan sungai besar (Tiangkang) untuk menghimpun para pahlawan, kini mendapatkan kesanggupan Wi-im-sam-kiat yang mau membantu, maka Tecu khusus mengantarnya kemari untuk menemui Insu."

Habis melapor, Thi Peng berdua lantas berbangkit dan melangkah mundur serta memperkenalkan Wi-im-sam-kiat satu persatu.

Rupanya lelaki bermuka hitam dan bercambang itu adalah kepala Wi-im-sam-kiat, Thi-ciang Utti Bun, si telapak besi sakti.

Lelaki setengah baya bermuka putih adalah jago kedua Ciok-binboan-koan Tong-hong, si hakim bermuka kemala, dan lelaki pendek kecil tapi tangkas itu adalah Pang Kin berjuluk Lui-tian-kiam, si pedang guntur dan kilat.

Ketiga orang sama mempunyai kungfu yang khas, mereka terkenal sebagai tokoh hartawan disekitar daratan dan perairan Wiyang.

Selama ini Mao Kau belum kenal ketiga tokoh ini, cuma nama Wi-im-sam-kiat sudah sering didengarnya sebelum ini, walaupun belum diketahui dengan jelas berapa bobot ketiga orang tamu ini, namun orang bermaksud baik hendak membantunya, dengan tersenyum ia lantas membungkuk tubuh sebagai tanda hormat dan menyapa.

"Kalian bertiga ingin membantu, dengan sendirinya kuterima dengan senang hati. Cuma urusan ini bukan tugas ringan, malahan sangat berbahaya, untuk ini hendaknya ketiga saudara menimbang secara masak."

Sebagai kepala ketiga jago Wiyang itu. Utti Bun lantas menjawab.

"Nama kebesaran Mao-toako sudah lama tersiar luas, bahwa hari ini kami dapat sekedar mengabdikan diri sungguh suatu kehormatan bagi kami. Maka apapun yang harus kami laksanakan tidak nanti kami tolak."

Terkilas senyuman puas pada sorot mata Mao Kau, ia mengucapkan terima kasih, lalu dikeluarkannya tiga bentuk mainan kecil yang indah dan diberikan kepada ketiga orang itu, katanya.

"Sedikit tanda mata ini sekedar tanda hormat dariku, bilamana kelak berhasil memulihkan kejayaan masa lalu, tentu Mao kau akan memberi tanda terima kasih yang pantas."

Wi-im-sam-kiat saling pandang sekejap, lalu menerima hadiah itu dan mengucapkan terima kasih. Habis itu mendadak Mao kau bicara lagi dengan serius.

"Bahwa terpaksa orang she Mao mengasingkan diri disini untuk memupuk kekuatan, sebelum pekerjaan dimulai, segala sesuatu harus dirahasiakan. Untuk ini kukira kalian bertiga dapat memaklumi kesukaranku, sebab itulah... ."

Sampai disini Mao kau berdehem dan melirik sekejap tempayan yang terletak diatas meja dan tidak meneruskan ucapannya. Wi-im-sam-kiat saling pandang sekejap, Lalu Utti Bun berkata dengan suara lantang.

"Apa pun juga kami patuh kepada perintah Toako."

Begitu dia berucap demikian, Gin-to-sucia Auyang Bing yang berdiri disamping segera melolos sebilah golok perak yang berkemilau dan diserahkan kepada Utti Bun.

Dengan khidmat Utti Bun menerima golok perak itu, bersama Cia Tong-hong dan Pang Kin mereka lantas maju kedepan meja sembayang, sekilas mereka melirik tempayan tembaga itu, terlihat isinya adalah arak darah, didalam tempayan terdapat berpuluh potong ujung jari kecil.

Berubah juga air muka mereka bertiga, Utti Bun memandang sekejap wajah Mao kau yang dingin itu, akhirnya dia mengertak gigi dan angkat golok perek lalu "sret", jari kecil tangan kiri sendiri dipotongnya hinga putus dan jatuh kedalam tempayan.

Ber-turut2 Cia Tong-hong dan Pang Kin bergiliran menerima golok perak itu dan masing-masing juga memotong ujung jari kelingking sendiri.

Muka mereka sama berubah pucat.

Sebaliknya arak darah dalam tempayan bertambah kental.

Auyang Bing lantas mengambil cangkir, dengan khidmat ia menceduk tiga cangkir arak darah, lalu disodorkan kepad Wi-im-sam-kiat.

Setelah menerima ketiga cangkir arak darah, Wi-im-sam-kiat menyurut mundur kehadapan Mao Kau, lalu berlutut berjajar, dengan khidmat mereka bersumpah.

"Kami, Utti Bun, Cia Tong-hong dan Pang Kin, selanjutnya berjanji akan setia bekerja dibawah perintah Mao-toako dan pasti takkan membocorkan segala sesuatu yang kami ketahui disini, bilamana melanggar sumpah ini, biarlah kami binasa serupa jari ini."

Berbareng mereka lantas menenggak arak darah masing-masing. Air muka Mao Kau berubah cerah, ucapnya.

"Silakan kalian bangun, mulai sekarang kalian adalah saudaraku sehidup semati, ada rejeki dirasakan bersama, ada kesukaran ditanggung bersama, bila aku... ."

Belum habis ucapannya, se-konyong2 terdengar suara seorang berteriak dan berkumandang dari lorong sana.

"Dimana beradanya Mao-tayhiap?"

Air muka Mao Kau berubah seketika, sorot matanya yang tajam menatap Thi Peng, Auyang Bing dan Wi-im-sam-kiat, tanyanya.

"Apakah waktu kalian masuk kesini telah diketahui orang?"

Cepat Thi Peng melapor.

"Jejak Tecu berlima waktu datang kemari sangat dirahasiakan, sebelumnya juga sudah kami periksa sekitar sini dan tidak terlihat bayangan seorang pun, dari suara pendatang ini nadanya seperti belum....."

Belum habis perkataannya, terdengarlah suara langkah orang dari lorong sempit itu.

Air muka Mao Kau berubah pula, sekali mengayun tangan lilin dipadamkannya, namun dia tetap duduk tenang ditempatnya, sorot matanya yang tajam menatap tabir yang menutupi pintu tembus kelorong itu dan siap tempur.

Thi Peng berlima serentak juga menyebar dan siap diberbagai pojok.

Terdengar suara langkah orang semakin dekat, agaknya tidak cuma satu orang saja.

Pelahan Mao Kau berbangkit dan siap melancarkan serangan.

Didengarnya suara kaki mendadak berhenti dibalik tabir, lalu suara lantang seorang bertanya.

"Mao-tayhiap... ."

Suaranya berat, tapi jelas, menggetar anak telinga. Mao Kau menggeser kesamping tabir, telapak tangan siap dibelakang tabis, lalu menjawab dengan suara pelahan, Siapa?"

Suara dibalik tabir menjawab.

"Kong-yu dari Kun-lun mohon bertemu!"

Kembali suaranya menggetar anak telinga dan se-olah2 tersiar dari berbagai penjuru dan membuat Mao Kau ragu harus menyerang kearah mana.

Setelah berpikir, cepat Mao Kau melayang mundur, lilin dinyalakan pula, lalu duduk tenang lagi dikursinya, kemudian dia memberi tanda dan berkata.

"Singkap tabir, silakan tamu masuk!"

Serentak Thi Peng dan Auyang Bing memburu kesamping tabir dengan belati terhunus.

Sekali sinar pisau berkelebat, dengan ujung belati mereka mengangkat kain tabir.

Di bawah cahaya lilin tertampaklah didepan pintu berdiri seorang paderi tinggi besar, berkasa warna kelabu dengan tangan memegang tasbih.

Seorang lagi berbaju pendek dan berikat kepala hijau, memakai sepatu rumput, seorang lelaki setengah umur yang berdandan sebagai petani berdiri disamping si paderi, sorot matanya tajam kemilau lagi menatap Mao Kau.

Dengan pelahan Mao Kau berkata.

"Aku inilah Mao Kau, ada keperluan apa kalian berkunjung kemari?"

Hwesio tinggi besar itu melirik kedua belati Thi Peng dan Auyang Bing yang melintang didepan pintu itu, ucapnya.

"Dari jauh aku berkunjung kemari, apakah cara begini biasanya Mao-tayhiap menerima tamu?"

Mao Kau mendengus.

"Caraku menerima tamu biasanya juga melihat apa maksud kedatangan kalian."

Hwesio yang mengaku bergelar Kong-yu itu bergelak tertawa, ucapnya.

"Jika ada maksud jahatku, sebelum datang kemari rasanya perlu kudatangi dulu putra orang she Siu itu, Betul tidak, Mao-sicu?"

Serentak Mao Kau berbangkit dan menegur.

"Sesungguhnya siapa kau dan mau apa?"

"Orang beragama sudah melupakan asal-usulnya, kedatanganku kesini memang ada sesuatu keperluan."

Ujar Kong-yu dengan tertawa.

"Urusan apa?"

Tanya Mao kau.

"Selama hidupku ini tidak dapat berdiri berdampingan dengan putra Siu Tok itu!"

Kata Kong-yu. Sejenak Mao Kau melengak, setelah menatap tajam si hwesio sekejap, mendadak ia tertawa dan berseru.

"Silakan masuk!"

Serentak Thi Peng dan Auyang Bing menarik kembali senjatanya. Kong-yu Hwesio dan lelaki petani itu lantas melangkah masuk.

"Mao Kau lagi kepepet dan tidak mempunyai tempat pantas untuk menerima tamu, diharap kalian suka maklum,"

Ujar Mao Kau. Sesudah berhadapan dengan kedua tamunya, dengan prihatin ia menyambung lagi.

"Sesungguhnya tempat sembunyi orang she Mao ini sangat dirahasiakan dan kuyakin sangat sedikit diketahui orang entah cara bagaimana kalian mampu menemukan tempat ini, sungguh aku tidak mengerti."

"Ya, aku memang tidak mempunyai kesaktian mencari tempatmu ini,"

Kata Kong-yu Hwesio.

"Tapi, nah ini dia... ."

Ia tuding petani itu dan menyambung.

"Tanpa bantuan Liang-sicu ini, betapa pun tidak mungkin dapat kutemukan Mao-sicu."

Mao Kau memandang lelaki berdandan petani itu sekejap, serunya dengan tertawa.

"Aha, barangkali anda inilah Liang Siang-jin, Liang-tayhiap yang termashur itu?"

Petani itu tersenyum.

"Ah, mana berani kuterima sebutan Tayhiap segala. Paling-paling lantaran setiap hari aku bergaul dengan orang dari berbagai lapisan masyarakat sehingga sumber beritaku jauh lebih cepat dan dapat dipercaya."

"Memang sudah lama kudengar pergaulan Liang-tayhiap yang luas, mata-telingamu tersebar di segenap pelosok, apa pun mendengar, setelah bertemu sekarang, terbukti memang tidak bernama kosong. Sungguh harus disesalkan Oh-site belum sempat mengajak Liang-tayhiap kesini untuk diperkenalkan padaku, kalau tidak tentu takkan terjadi salah paham seperti tadi."

Hendaklah maklum, memang sudah lama Mao Kau bermaksud merangkul Liang Siang-jin untuk bekerja sama, maka dia pernah menyuruh Pat-bin-ling-long Oh Ci-hui untuk membujuknya, sekarang dilihatnya Liang Siang-jin datang sendiri, tentu saja ia sangat girang.

Setelah beramah tamah sejenak, lalu, Mao Kau bertanya.

"Bahwa sudah sekian lama kuasingkan diri disini, entah ada petunjuk apakah atas kunjungan Taisu berdua secara tiba-tiba ini?"

Kong-yu menyebut nama Buddha, lalu mengeluarkan sebuah sepatu kecil anyaman benang perak dan disodorkan kepada Mao Kau, katanya.

"Apakah Mao-sicu kenal pemilik barang ini?"

Mao Kau memandangnya dengan bingung, jawabnya kemudian dengan menggeleng.

"Maaf, mungkin mata tua sehingga tidak kukenal lagi barang ini."

Dengan tersenyum Kong-yu menyodorkan sepatu kecil itu kedapan Liang Siang-jin, tanyanya.

"Apakah Liang-sicu mengenalnya?"

Wajah Liang Siang-jin tampak khidmat, jawabnya.

"Inilah barang tanda pengenal penolongku yang paling kuhormati, yaitu Ban-biau Siansing Locianpwe, sampai mati pun tetap kukenal benda ini."

Hati Mao kau terkesiap, serunya.

"Ban-biau Siansing?"

Kong-yu mengerling dengan tersenyum, katanya.

"Bilamana putri anda berada disini, tentu dia juga kenal asal-usul barang ini."

Mao Kau merasa heran.

"Ban-biau Siansing suka berkelana menjelajahi jagat, beliau serupa naga sakti yang cuma terlihat ekornya dan tak tertampak kepalanya, hanya sekilas muncul lantas hilang lagi. Selama dua puluh tahun ini juga cuma muncul beberapa kali saja didepan umum, dari mana putriku bisa mengenalnya? Ah, mungkin Taisu salah sangka....."

Belum habis ucapannya, se-konyong2 tabir pintu disebelah kanan sana tersingkap, sesosok bayangan ramping melayang keluar, siapa lagi dia kalau bukan Mao Bun-ki.

Pakaiannya sekarang sudah berganti putih mulus, rambutnya tampak kusut, kelihatan kurus dan pucat, hanya kedua matanya kelihatan tambah besar.

Ia memandang sekejap sepatu perak yang dipegang Kong-yu Taisu, lalu berkata pelahan.

"Memang betul, kukenal barang tanda pengenal ini."

Dia bicara dengan kaku tanpa emosi, seperti sudah kehilangan gairah hidup. Tentu saja Mao kau tambah heran.

"dari mana kau kenal barang ini?"

"Tentu saja anak kenal, sebab sepatu perak mini ini adalah milik guruku,"

Tutur Bun-ki.

Wi-im-sam-kiat memandang si nona, terpesona kepada kecantikannya sehingga apa yang diucapkannya tidak diperhatikan oleh mereka.

Namun keterangan Bun-ki telah mengejutkan Mao Kau, Liang Siang-jin dan lain-lain.

Dengan heran Liang Siang-jin berseru.

"Tak tersangka nona Mao adalah murid Ban-biau Siansing... ."

"Siapa itu Ban-biau Siansing? Siapa yang mengenalnya?"

Tukas Bun-ki dengan ketus. Liang Siang-jin jadi melongo, dengan pandangan heran ia tanya Kong-yu Taisu. Kong-yu tertawa, tuturnya.

"Pantas juga bila kalian sama heran oleh urusan ini, sebab kejadian ini sendiri memang peristiwa yang aneh dan mengejutkan, Bahkan nona Mao kenal sepatu mini ini sebagai milik To liong-siancu, sebaliknya Liang-sicu cuma tahu barang ini adalah tanda pengenal pribadi Ban-biau Siansing, seluk-beluk urusan ini hanya aku saja yang tahu sedikit."

"Mohon Taisu memberi penjelasan."

Kata Mao Kau.

"Orang Kangouw sama tahu ilmu silat To-liong-siancu maha tinggi dan sukar diukur, bahkan kepandaiannya merias muka cukup menandingi Seng-jiu Siansing jaman dulu yang terkenal ahli menyamar."

"Ya, hal ini memang cukup diketahui setiap orang Kangouw kawakan, entah ada sangkut-paut apa antara dia dan Ban-biau Siansing?"

Tanya Mao Kau. Kong-yu terbahak.

"Soalnya justru To-liong-siancu adalah Ban-biau Siansing, dan Ban-biau Siansing sama dengan To liong-siancu."

Semua orang sama melenggong. Pelahan Kong-yu menyambung pula.

"Dahulu, setelah To-liong-siancu mengasingkan diri dan menyimpan golok jagalnya, meski maksudnya ingin tirakat dan menyesali perbuatannya, namun dia tetap merasakan banyak kejadian didunia Kangouw yang tidak adil".

"Sebab itulah dia lantas menyaru sebagai lelaki dan memakai nama Ban-biau Siansing untuk menjelajahi Kangouw lagi?"

Tukas Mao Kau.

"Tepat, Mao-sicu sungguh seorang yang cerdik,"

Ujar Kong-yu dengan tertawa.

"Pantas tingkah-laku Ban-biau Siansing sedemikian misterius, mendadak muncul, tahu-tahu menghilang pula, entah datang dari mana, perginya juga tidak diketahui lagi jejaknya sehingga tiada seorang pun orang Kangouw tahu asal-usulnya."

Ujar Mao Kau dengan gegetun. Tiba-tiba tergerak pikirannya, katanya pula.

"Rahasia dunia Kangouw ini sejauh itu tiada seorang pun yang tahu, bahkan putriku yang menjadi muridnya juga tidak pernah diberitahu, tapi entah darimana Taisu malah mengetahuinya?"

"Tidak boleh kukatakan, tidak boleh kukatakan,"

Tiba-tiba Kong-yu menjawab dengan menyitir ucapan Buddha. Terpaksa Mao Kau ganti haluan dan bertanya.

"Dan apa kehendak Taisu dengan memperlihatkan sepatu perak mini ini?"

"Bahwa Mao-sicu bermaksud membangun kembali pangkalanmu, untuk ini seharusnya kuberi bantuan seperlunya mengingat musuh yang kita hadapi adalah sama."

"Jika Taisu mempunyai niat demikian, sungguh Cayhe merasa sangat berterima kasih,"

Kata Mao kau. Dengan tersenyum Kong-yu berkata pula.

"Meski To-liong-siancu tidak mendapatkan sesuatu pahala didunia Kangouw, tapi orang Kangouw yang pernah ditolong oleh Ban-biau Siansing berjumlah tidak sedikit, apabila Mao-sicu menggunakan sepatu perak ini sebagai tanda pengenal beliau untuk menghimpun para pahlawan, kukira pekerjaan ini sangat bermanfaat bagi Mao-sicu, sebab itulah jauh-jauh kudatang kemari untuk mempersembahkan barang ini kepadamu, tentu Mao-sicu dapat mengerti maksudku ini."

Mao Kau ada jasa apa sehingga mendapatkan dukungan Taisu sebesar ini?"

Ucap Mao kau. Meski diluar dia tetap tenang saja, tapi didalam hati merasa girang sekali.

"Cuma..."

Kong-yu memandang Mao kau dengan tersenyum.

"Bilamana kelak Mao-sicu sudah berhasil bangkit kembali, hendaknya jangan lupa kepada diriku."

"Tentu saja... ."

"Tapi,"

Potong Kong-yu.

"Didunia persilatan dinegeri ini sejak dulu hingga sekarang selalu terbagi dalam beberapa wilayah kekuasaan masing-masing, di utara sungai besar ada ketua perserikatan Bu-lim, didaerah selatan juga ada pimpinan dunia persilatan, untuk ini kukira Maosicu pasti juga maklum."

Tiba-tiba air muka Mao Kau berubah kelam.

"Bicara kesana kemari, rupanya tujuan Taisu adalah ingin membagi wilayah kekuasaan denganku?"

Dengan tenang Kong-yu menjawab.

"Bilamana kita gunakan Tiangkang sebagai tapal batas, daerah selatan menjadi wilayah kekuasaan Mao-sicu dan utara sungai menjadi daerah pengaruhku, kita saling mendukung, bekerja sama, tentu akan saling menguntungkan."

Mao Kau terdiam sejenak, mendadak ia tertawa keras dan berkata.

"Tak tersangka Taisu ternyata mempunyai ambisi sebesar ini... ."

"Hendaknya Mao-sicu ingat, bersatu teguh, berpisah runtuh, bahkan besar untung-ruginya, cuma dimana letak untungnya dan ruginya belum lagi kukatakan,"

Sampai disini si hwesio berhenti sejenak, lalu menyambung pelahan.

"Dengan sepatu mini yang kubawa ini dapat menghimpun para pahlawan, inilah keuntungan pertama."

"Betul, memang menguntungkan."

Jengek Mao kau.

Kong-yu tersenyum, mendadak ia membalik tubuh secepat kilat, kedua tangan bekerja cepat, terdengar Thi Peng dan Auyang Bing menjerit kaget, tahu-tahu kedua belati mereka sudah berpindah ketangan si hwesio.

Hanya sekali membalik tubuh saja senjata dua orang sudah dirampasnya, betapa cepat dan jitu cara turun tangannya sungguh sangat mengejutkan.

Sambil siap tempur lebih lanjut Thi Peng dan Auyang Bing lantas melompat mundur dengan terkesiap.

Serentak Mao Kau berbangkit dan membentak.

"Apa maksud tindakan Taisu ini?"

Pelahan Kong-yu menaruh senjata rampasan diatas meja, lalu berkata pula dengan tersenyum.

"Kudatang jauh dari Kun-lun-san, kupercaya kungfu sendiri tidak terlalu rendah, berdasarkan sedikit kemampuanku ini sudah cukup untuk memberi segala bantuan kepada Mao-sicu, inilah keuntungan kedua bagimu." ======================================================================== ======================== = Sesungguhnya siapa Kong-yu Hwesio ini? Jadikah dia bersekutu dengan Mao Kau? = Dimana beradanya Siu Su, apa yang sedang dirancangnya dalam usahanya mencari musuh? === Bacalah

Jilid lanjutannya === ======================================================================== ======================== Mao Kau termenung sejenak sambil duduk kembali, lalu mengangguk.

"Baik, ini pun dapat dianggap suatu keuntungan bagiku."

Kong-yu mengerling sekejap, lalu bicara pula.

"Mao-sicu telah berusaha memupuk kekuatan, tujuanmu adalah membangkitkan kembali kejayaan masa lalu, tapi yang lebih utama adalah ingin menumpas bencana yang senantiasa mengancam dirimu itu, ialah putra Siu Tok, betul tidak?"

Sambil mengreget Mao Kau menjawab.

"Betul!"

"Tapi saat ini dimana beradanya putra Siu Tok, apakah kau tahu?"

Selagi Mao Kau melenggong, segera Kong-yu melanjutkan.

"Saat ini dia mungkin berada di daerah Kanglam, bisa jadi jauh diluar perbatasan utara sana, atau bukan mustahil bersembunyi ditengah semak pohon di kegelapan sekitar rumah berhala ini."

Seketika air muka Mao Kau berubah hebat, kembali ia berbangkit, dibawah cahaya lilin kelihatan pucat mukanya.

Mao Kau benar-benar sudah serupa burung yang ketakutan bila mendengar suara jepretan pelinteng, asalkan mendengar "putra Siu Tok"

Disebut, seketika hati berdebar dan bingung. Kong-yu menatap tajam muka Mao kau, katanya pula dengan pelahan.

"Tahu pihak sendiri dan kenal kekuatan lawan barulah seratus kali bertempur seratus kali menang. Inilah ajaran siasat perang yang dikenal oleh siapa pun. Bila Mao-sicu ingin memenangkan perang tanding ini, tentu perlu kau temukan dulu dimana jejak putra Siu Tok, betul tidak?"

"Betul."

Sahut Mao kau kaku. Kong-yu tersenyum.

"Kawanku Liang-sicu ini mempunyai mata-telinga di segenap pelosok negeri, kecuali dia mungkin tiada orang lain yang mampu menemukan jejak orang she Siu, bilamana Mao-sicu mau bergabung denganku mengingat diriku tentu Liang-sicu mau berusaha mencari dimana beradanya putra orang she Siu itu, dan inilah keuntungan ketiga bagimu."

Mao Kau duduk bersandar dikursinya dan berkata.

"Betul, inilah keuntungan ketiga,"

Berulang ia menyatakan "betul", tapi makin lama makin lirih, air mukanya juga semakin kalem. Dengan sendirinya Kong-yu tahu hati orang sudah mulai goyah, segera ia berkata pula dengan tertawa.

"Tapi bila antara kita terjadi keretakan, jelas lebih banyak ruginya."

"Rugi dalam hal apa?"

Mao kau coba bertanya pula.

"Jika tidak ada kesepakatan diantara kita, tentu orang she Siu itulah yang akan kuajak bersekutu, lantas bagaimana akibatnya, kukira tanpa kuceritakan pasti juga Mao-sicu sudah tahu sendiri."

Mendadak wajah Mao kau berubah beringas, teriaknya.

"Jika demikian, memangnya kau kira dapat kau pergi begitu saja?"

Kong-yu menengadah dan tertawa.

"Umpama kami tidak mampu menerobos keluar dari sini, tidak lebih dari tiga hari setiap tindak-tanduk Mao-sicu pasti juga akan sampai ditelinga orang she Siu, selanjutnya dimana pun Mao-sicu bercokol tetap akan diketahui olehnya, apalagi... hehe, umpama Mao-sicu ingin menahan kami disini, kukira juga bukan pekerjaan gampang."

Sampai disini ia lantas berpaling dan bertanya kepada Liang Siang-jin.

"Betul tidak, Liang-sicu?"

Tanpa memperlihatkan sesuatu emosi Liang Siang-jin menjawab.

"Betul."

Waktu Kong-yu berpaling kembali, dilihatnya Mao Kau berduduk lemas dikursinya dengan kulit muka berkerut-kerut, segera ia berkata pula.

"Maka kuharapkan Mao-sicu memberi... ."

"Memberi apa?"

Bentak Mao Kau mendadak.

"Maksudku, sebelum persatuan kita terlaksana, perlu kuminta dulu pembagian setengah kekuatan manusia dan benda dari Mao-sicu, selain itu juga ingin kuketahui termasuk siapasiapa saja orang yang ikut dalam 'sumpah potong jari' yang kau tetapkan ini."

"Lantas bagaimana setelah persekutuan kita terlaksana?"

Tanya Mao kau.

"Tentu saja pembagian wilayah kekuasaan secara tegas seperti apa yang kukatakan tadi, Maosicu di daerah selatan sungai dan kami di utara, kedua pihak bahu membahu dan saling membantu bila perlu."

"Alangkah serakahnya hwesio ini!"

Teriak Mao kau sambil menggebrak meja.

"Hm, memangnya kenapa?"

Jengek Kong-yu.

"Daerah Kanglam jauh lebih menguntungkan daripada daerah utara, jika kuberikan kekuasaan Kanglam padamu, memangnya belum memuaskanmu."

Gemertuk gigi Mao Kau dan mengepal tinjunya erat-erat, sejenak kemudian dia berteriak pula.

"Dan apalagi kehendakmu yang lain.?"

Kong-yu tersenyum licik, ucapnya.

"Ingin kutahu dulu apakah Mao-sicu sudah menerima syaratku yang pertama?"

"Hm, kau kira aku sudah terima?"

Jengek Mao Kau.

"Mengingat keuntungan kedua pihak, tentu saja akan Mao-sicu terima,"

Ujar Kong-yu dengan tertawa. Lalu sambungnya.

"Tentang permintaanku yang kedua menjadi jauh lebih sederhana. Bahwa bila antara kita sudah ada persekutuan, dengan sendirinya akan kuberitahukan asalusulku."

"Jadi untuk menceritakan asal-usulmu itu juga merupakan suatu syarat?"

Jengek Mao Kau.

"Haha, betul."

Seru Kong-yu.

"Dan apa yang kau minta?"

Teriak Mao Kau dengan gusar.

"Minta sebuah kepala manusia."

Ucap Kong-yu dengan tenang. Serentak Mao kau menggebrak meja lagi sambil berbangkit, dengan beringas ia tanya.

"Kepala siapa?"

Kong-yu tersenyum, pelahan ia menggeser kedepan tabir dan berdiri disitu, ia menyapu pandang sekejap dengan sinar matanya yang tajam, air mukanya berubah menjadi kelam penuh nafsu membunuh.

Leng-coa Mao Kau juga siap tempur, Mao Bun-ki berdiri dibelakangnya dengan wajah pucat sambil memandang Kong-yu dengan dingin.

Auyang Bing dan Thi Peng saling pandang dengan perasaan ngeri.

Wi-im-sam-kiat berdiri berjajar dengan hati sama kebat-kebit, terutama sinar mata Cia Tonghong tampak gemerdep memperlihatkan rasa waswas, semua orang sama bertanya didalam hati.

"Kepala siapakah yang dikehendaki hwesio ini?"

Terlihat Kong-yu hwesio melirik sekejap setiap orang yang berada disitu, lalu berucap dengan suara berat.

"Sebelum cukur rambut, jelek2 diriku juga punya nama didunia Kangouw. Sayangnya aku telah salah mengambil isteri perempuan jalang, diam-diam perempuan celaka itu bergendakan dengan lelaki lain, dia membikin malu padaku, bahkan mengakibatkan aku dihina oleh Siu Tok... ."

Tergerak hati Mao kau, tercetus pertanyaannya.

"Hah, jangan-jangan anda ini Bo-ih-cian Tio Kok-bing!"

Kong-yu Hwesio menengadah dan terbahak.

"Ya, memang betul!"

"Jadi musuhmu yang akan kau....."

Belum lanjut ucapan Mao kau, serentak Kong-yu melompat maju. Pada detik itu juga air muka Cia Tong-hong juga berubah mendadak, cepat ia menggeser dan melayang kearah pintu sebelah sana.

"Lari kemana?!"

Bentak Kong-yu Hwesio sambil memburu maju, secepat kilat kedua tangan menghantam punggung Cia Tong-hong. Kungfu Cia Tong-hong juga tidak rendah, dengan jurus "Tai-tau-bong-goat"

Atau mengangkat kepala memandang rembulan, ia berpaling sambil menangkis, berbareng sebelah tangan lain balas menutuk perut Kong-yu.

Cia Tong-hong adalah ahli Tiam-hiat, meski belum sempat digunakan senjata andalannya, yaitu sepasang Boan-koan-pit, potlot baja, namun tutukan jarinya cukup keras dan jitu, bila kena pasti binasa.

Mendadak Kong-yu bersuit sambil berputar, dengan gerakan yang tak terduga serangannya berubah, dari menghantam berubah menjadi mencengkeram.

Sungguh jurus serangan yang lihai, sebelum Cia Tong-hong tahu apa yang terjadi.

"krek", terdengar suara tulang patah, Cia Tong-hong menjerit ngeri dan jatuh kelenger. Ternyata kedua pergelangan tangannya telah dipatahkan pleh Kung-yu Hwesio. Malahan Kong-yu lantas menambahi sekali tendang sehingga kena dagunya, ditengah cahaya lilin yang bergoyang Kong-yu sudah berdiri tegak. Kedua orang hanya bergebrak dua jurus dan cuma berlangsung dalam sekejap saja, setelah Cia Tong-hong menggeletak semua orang masih berdiri melongo. Semuanya kejut dan sangsi, sebab tidak tahu sesungguhnya ada permusuhan apa diantara Kong-yu Hwesio dan Cia Tong-hong. Demi melihat saudara angkatnya roboh, serentak Utti Bun dan Pang Kin lantas menubruk maju. Pan Kin melolos pedangnya dan membentak.

"Selamanya kami tidak ada permusuhan apa pun denganmu, mengapa kau turun tangan sekeji ini kepada saudara kami?"

"Bayar nyawa Jite kami!"

Teriak Utti Bun, kontan telapak tangan besi lantas menghatam. Tapi Mao Kau lantas membentak.

"Berhenti! Akan kutanya dia lebih dulu."

Utti Bun dan Pang Kin tidak berani bergerak lagi melainkan cuma mendelik kepada Kong-yu Hwesio.

"Hm, kau mau tanya apa?"

Jengek Kong-yu. Mao Kau menyeringai, katanya.

"Kau tahu Wi-im-sam-kiat sudah bersumpah setia padaku, sekarang kau berani mencederai salah seorang diantaranya didepanku, memangnya sengaja kau pamer kekuatan disini?"

"Setelah kita sepakat untuk bersekutu, anak buahmu sama juga dengan anak buahku, jika pimpinan ada permusuhan dengan anak buahnya, mengapa tidak boleh kubunuh dia?"

"memangnya ada permusuhan apa antara kalian?"

Tanya Mao Kau.

"Cia Tong-hong inilah yang telah menghancurkan rumah tanggaku tujuh belas tahun yang lampau, mengapa tidak boleh kubunuh dia?"

Teriak Kong-yu dengan penuh dendam.

Semua orang sama melengak, betapapun Utti Bun dan Pang Kin tidak dapat ikut campur lagi, soalnya mengenai perzinahan dengan istri orang, hal ini merupakan pantangan besar orang persilatan, dengan alasan apa pun tak dapat diampuni.

Mao kau melenggong sejenak, ia duduk kembali, lalu berkata.

"Dan apalagi perkataanmu yang ketiga?"

"Sebelum kukatakan soal ketiga ini, hendaknya... ."

Mendadak Kong-yu menuding Utti Bun dan Pang Kin berdua dan membentak.

"Sekarang juga Mao-sicu tangkap kedua orang ini."

Serentak Utti Bun dan Pang Kin menyurut mundur. Sedangkan Mao kau lantas tanya.

"Sebab apa?"

"Dengan sendirinya ada alasanku, tangkap saja dulu!"

Kata Kong-yu.

Selagi Mao kau merasa ragu, se-konyong2 sinar pedang berkelebat dan cahaya lilin sama padam, secepat kilat Pang Kin telah mengayun pedangnya dan sekali tabas memadamkan api lilin.

Berbareng Utti Bun lantas membentak.

"Orang she Mao, engkau orang yang tidak dapat dipercaya, tiada gunanya kami tinggal lebih lama disini, selamat tinggal!"

"Hm, dapatkah kau pergi?"

Jengek Kong-yu. Dalam kegelapan segera terdengar suara "blang"

Sekali, dua orang telah adu pukulan.

Sekonyong-konyong cahaya api berkelebat, tertampak Kiu-ciok-sin-tu Liang Siang-jin telah menyalakan lilin dan berdiri di pojok sana dengan tersenyum.

Di sebelah lan Utti Bun dan Kong-yu Hwesio sudah saling ebrak beberapa jurus, pukulan Utti Bun sangat dahsyat, memang tidak malu berjuluk "telapak tangan besi".

"Coba beradu tangan lagi sekali!"

Jengek Kong-yu. Kembali terdengar "blang"

Yang lebih keras, empat telapak tangan Utti Bun dan Kong-yu beradu, Utti Bun menyurut mundur beberapa langkah dengan tergeliat, mendadak ia berteriak dan tumpah darah terus roboh disamping meja sembahyang.

Tempayan tembaga ikut teraih dan tumpah, darah dan jari berserakan di lantai.

Dengan pedang terhunus Pang Kin berdiri di pojok sana dengan pandangan yang jeri.

"Lekas menyerah, pengkhianat!"

Bentak Mao Kau.

Tubuh Pang Kin tampak gemetar, pedang pun hampir terlepas.

Biarpun tinggi kepandaiannya, berada dibawah pengawasan tokoh-tokoh kelas tinggi sebanyak ini, mau-tak-mau ia ketakutan.

Dengan suara bengis Kong-yu lantas berkata.

"Cia Tong-hong merasa diselamatkan oleh Siu Tok, tidak nanti dia setia kepada Mao Kau, kalian berdua adalah saudara angkat orang she Cia, tentu juga kalian bukan manusia baik-baik."

Ia berhenti sejenak, nafsu membunuhnya tampak berkobar, katanya pula.

"Melanggar sumpah dan berkhianat harus dihukaum mati, tapi bila kau mau mengaku atas suruhan siapa kalian menyelundup kesini, mungkin Mao-tayhiap akan mengampuni jiwamu."

Dengan suara lantang Pang Kin coba membantah.

"Kami bertiga mestinya ingin mengabdi kepada Mao-toako, tapi lantaran Jiko kami kau bunuh, terpaksa kami membelanya, sama sekali tidak ada maksud khianat kami, apalagi disuruh orang."

"Hm, apa betul?"

Jengek Kong-yu Sembari bersuara, pelahan ia melangkah maju mendekati Pang Kin. Muka Pang Kin menjadi pucat, ucapnya dengan rada keder.

"Sudah tentu benar. Ada permusuhan apa antara Jiko kami dengan Siu Tok dan dirimu, sama sekali kami tidak tahu menahu, biarpun kau bunuh diriku juga tetap ini saja yang dapat kukatakan."

Dalam pada itu Utti Bun sudah mulai siuman, dengan terengah ia pun bicara.

"Mao-toako, dengan sesungguh hati kami ingin...ingin bekerja bagimu, tapi jika cara demikian engkau memperlakukan orang, siapa pula yang mau bergabung denganmu?"

Sejak tadi Auyang Bing dan Thi Peng berdiri kaku disamping, mendadak Thi Peng ikut bicara.

"Suhu, tampaknya mereka bertiga memang sungguh-sungguh ingin bekerja setia kepada Suhu, menurut pendapat Tecu sebenarnya tidak ada persoalan diantara mereka, harap Suhu jangan percaya kepada ocehan orang luar."

Betapapun hati Mao Kau tergerak juga, namun dia tetap merasa ragu, sejenak kemudian barulah ia berkata.

"Ya, kutahu, kalian mundur saja."

Kong-yu lantas mendengus.

"Kuberi nasihat dengan cara baik, sekarang terserah Mao-sicu bagaimana akan bertindak."

"Nasihat baik apa,"

Seru Pang Kin mendadak.

"soalnya Jiko kami sudah kau bunuh, kau kuatir kami akan menuntut balas dan ingin membabat rumput sampai akarnya, maka hendak kau binasakan juga kami."

"Apa katamu?"

Bentak Kong-yu dengan murka dan segera hendak menerjangnya. Tapi Mao Kau lantas mencegah.

"Nanti dulu, Taisu!"

"Lebih baik salah bunuh sepuluh orang daripada tersisa seorang yang akan mendatangkan bibit bencana dikemudian hari, bila Mao-sicu tidak turut nasihatku, kelak engkau pasti akan menyesal sendiri,"

Ujar Kong-yu. Tiba-tiba Thi Peng mendengus.

"Engkau dijanjikan kekuasaan setengah negeri ini dan belum lagi puas, memangnya hendak kau bikin lagi Suhu dikhianati setiap pengikutnya supaya engkau dapat mengangkangi dunia ini?"

"Tutup mulut, Peng-ji!"

Bentak Mao Kau. Lalu ia berpaling dan berkata kepada Kong-yu.

"Persoalan anggota kami sendiri boleh dikesampingkan dulu, sekarang silakan Taisu menjelaskan dulu permintaanmu yang ketiga."

Bersambung ke-17.\

Jilid 17

"Semula kusangka engkau seorang tokoh yang tegas dan dapat melihat kenyataan, maka kubicara terus terang padamu, siapa tahu engkau juga berpikir seperti orang perempuan, mana mungkin bisa menghasilkan pekerjaan besar. Biarlah tidak jadi kukatakan urusan lain."

Sambil memegang lilin Liang Siang-jin lantas mendekatinya dengan pelahan, katanya dengan tertawa.

"Taisu jangan marah dulu, harap Mao-tayhiap juga sudi mendengarkan keteranganku."

"Ada urusan apa, silakan Liang-tayhiap bicara saja,"

Kata Mao Kau. Liang Siang-jin menaruh lilin diatas meja, lalu berucap.

"Persoalan kedua pihak sama-sama mempunyai alasan yang cukup, jika Taisu mau menjelaskan permintaanmu yang ketiga, kukira urusannya akan lebih mudah dibicarakan."

"Kuanggap ucapan Liang-heng ini tidak membela pihak manapun, kuterima jasa baik Liangheng,"

Ujar Mao Kau.

"Tapi... ."

Belum lanjut ucapan Kong-yu, tiba-tiba Liang Siang-jin memotong.

"Tentang permintaan Taisu yang ketiga itu, jika sekiranya Taisu sungkan mengatakan sendiri, biarlah Cayhe mewakili engkau bicara."

"Silakan, ingin kudengarkan apa kehendaknya, kata Mao Kau ketus. Dengan tersenyum Liang Siang-jin berucap.

"Sebenarnya permintaan Taisu hanya urusan sepele saja, beliau ingin mengangkat Mao-tayhiap sebagai kaum Cianpwe demi memperkukuh kepercayaan kedua pihak."

Mao Kau tidak menyangka permintaan orang hanya urusan begini saja, ia bergirang, tapi ia pun tidak mengerti apa maksud orang yang sesungguhnya, apakah ingin mengangkat guru padanya?

Maka berkatalah dia dengan rendah hati.

"Ah, mana berani kuterima gagasan demikian ini, Taisu sendiri seorang paderi saleh... ."

Diam-diam Liang Siang-jin tertawa geli, tapi dimulut ia bicara lagi dengan serius.

"Taisu mengajukan permintaan ini dengan setulus hati, maka anda juga tidak perlu sungkan."

Mao Ka tersenyum.

"Jika demikian, lantas apa imbalan yang diminta Taisu?"

Ia pikir, jika benar orang mau mengaku guru padanya biarpun kepala Utti Bun dan Pang Kin yang diminta juga akan diberikannya.

Sekilas ia melirik Pang Kin dan Utti Bun.

Dalam pada itu Pang Kin sudah membangunkan Utti Bun, hati mereka kembali kebat-kebit setelah mengikuti percakapan itu, Thi Peng dan Auyang Bing juga merasa penasaran.

Terdengar Liang Siang-jin lagi berkata dengan tertawa.

"Imbalan yang diminta Taisu hanya satu panggilan dari Mao-tayhiap....."

"panggilan apa?"

Sela Mao Kau dengan tertawa. Liang Siang-jin melirik sekejap kearah Mao Bun-ki yang berdiri dibelakang sang ayah itu, lalu menyurut mundur dua tindak dan menjawab.

"Dia minta Mao-tayhiap memanggilnya sebagai anak menantu....."

Sebutan 'anak menantu' ini membikin orang terkesiap. Sampai sekian lama Mao kau terkesima, mendadak ia melompat bangun dan berteriak.

"Apa katamu?!"

Dengan Liang Siang-jin menjawab dengan tersenyum.

"Maksudku, Taisu ingin menjadi menantu Mao-tayhiap, bila diantara kalian terikat menjadi besanan, sedikitnya Cayhe ikut bahagia sebagai perantaranya. Peristiwa menggembirakan ini selanjutnya pasti akan tercatat dalam sejarah dunia persilatan sepanjang jaman."

Sedapatnya Mao Kau menahan rasa gusarnya, jengeknya.

"Kong-yu Taysu adalah orang yang telah meninggalkan rumah, tidakkah Liang-heng cuma bergurau saja."

"Tidak, sama sekali tidak bergurau."

Jawab Liang Siang-jin.

"Janda boleh kawin lagi, duda juga boleh menikah pula. Meski Kong-yu Taysu telah cukur rambut dan menjadi hwesio, asalkan dia menanggalkan jubahnya dan piara rambut kembali, segera pula beliau akan berubah menjadi seorang lelaki gagah perkasa."

Pandangan Mao Kau beralih kearah Kong-yu, tanyanya dengan gusar.

"Apakah betul ucapannya?"

Kong-yu duduk tenang saja dan menjawab.

"Jika urusan ini tidak dapat kau terima, urusan lain juga anggap batal."

Mata Mao Kau melotot, kedua tinju terkepal erat, Auyang Bing dan Thi Peng juga lantas menggeser kesana, menyumbat jalan keluar.

Suasana dalam ruangan bawah tanah ini seketika berubah tegang.

Dengan beringas Mao Kau berucap sekata demi sekata.

"Jika kau minta putriku menjadi istrimu, hanya bilamana air sungai mengalir terbalik dan matahari terbit di barat."

Serentak Kong-yu berbangkit dan mendengus.

"Apa katamu, coba ulangi lagi!"

"Jika... ."

Belum lanjut perkataan Mao Kau, mendadak Bun-ki memotong.

"Aku akan kawin dengan dia!"

Suaranya pelahan dan dingin, sama sekali tidak menampilkan perasaan, tapi sangat diluar dugaan orang dan mengejutkan.

Sampai Kiu-ciok-sin-tu Liang Siang-jin juga terperanjat, seketika lenyap senyumannya.

Air muka Thi Peng dan Auyang Bing juga pucat.

Sudah lama mereka berdua juga menaksir Ma Bun-ki dan belum pernah mendapat sambutan yang pantas dari nona itu, siapa tahu gadis yang angkuh ini sekarang mendadak menyatakan mau kawin dengan seorang kepala gundul alias hwesio.

Sampai gemetar tubuh Mao kau menahan gejolak perasaannya.

"Anak Ki, masuklah sana!"

Muka Bun-ki tampak pucat lesi, sorot matanya justru memancarkan semacam sinar yang aneh. Dia tetap berdiri tak bergerak ditempatnya, jawabnya kalem.

"Dengan suka-rela anak bersedia kawin dengan dia!"

Mao Kau menyurut mundur dengan lemas, hampir saja dia jatuh terkulai. Dengan geram ia berseru sekata demi sekata.

"Anak Ki, jangan kau pikirkan ayahmu, biarpun usaha ayah akan gagal total juga takkan mengorbankan dirimu untuk dijadikan istri hwesio ini."

Dengan sinar mata tajam ia menyapu pandang sekejap dan mendadak membentak.

"Jaga semua jalan keluar, siap tempur!"

Auyang Bing dan Thi Peng berteriak mengiakan. Pang Kin juga memegang pedang dan siap melabrak musuh. Bun-ki lantas melangkah maju dengan pelahan serupa badan halus, katanya.

"Seorang perempuan akhirnya toh harus menikah, menikah dengan siapa pun sama saja. Hanya saja ada syaratku, harus menunggu sampai pekerjaannya berhasil dengan baik barulah aku mau melangsungkan upacara nikah dengan dia."

"Tapi....."

"Itulah keputusanku, ayah, tidak perlu disesalkan lagi,"

Sela Bun-ki. Mao Kau terkesima sekian lama, akhirnya ia duduk kembali dikursinya dengan lemas. Dengan tertawa manis Bun-ki lantas berkata kepada Kong-yu Hwesio.

"Nah, kan sudah kuterima lamaranmu, kenapa tidak lekas kau sembah kepada ayah?"

Kong-yu Hwesio sendiri jadi melengak, sahutnya dengan gelagapan dan menyengir.

"O, ini...ini... ."

Karena ingin membalas sakit hati dan demi memupuk kedudukan sendiri, dengan berbagai cara dia berusaha memperistri Mao Bun-ki.

Tapi sekarang dia masih memakai kasa (jubah hwesio), usianya juga jauh lebih tua, jika dia disuruh menyembah dan memanggil "bapak mertua"

Kepada Mao Kau, sungguh hal ini membuatnya rikuh. Berputar biji mata Liang Siang-jin, cepat ia berkata dengan tertawa.

"Ah, masakah Taisu perlu merasa malu segala. Lamaran sudah diterima, selain perlu menyembah dan memanggil mertua, bahkan juga harus menyerahkan beberapa barang tanda mata sekedar mengukuhkan perjodohan ini."

"Tapi paderi... ."

Mendadak Kong-yu merasa ucapannya tidak betul dan cepat tutup mulut.

"Anak menantu, begitulah sebutan bagi dirimu sendiri,"

Tukas Liang Siang-jin dengan gelak tertawa.

Bahwa seorang hwesio harus menyebut dirinya sendiri sebagai anak menantu dan memanggil orang sebagai mertua, sungguh lelucon yang tidak lucu.

Namun dalam keadaan begini, siapapun tidak ada yang merasa geli.

Hati Kong-yu Hwesio terasa gembira, tak dirasakannya ucapan Liang Siang-jin yang bernada mengejek itu, ia termenng sejenak dengan ragu, akhirnya berkata dengan pelahan.

"Tapi Cayhe terburu-buru keluar rumah sehingga tidak membawa sesuatu benda berharga....."

"Selanjutnya kalian adalah orang sekeluarga, apa alangannya Taisu menggunakan sepatu perak mini sebagai emas kawin, sepatu itu memang milik guru nona Mao, jadinya kan lebih baik."

Demikian usul Liang Siang-jin. Kong-yu termenung dan tidak menanggapi.

"Memangnya kau rasakan berat memberikan sepatu mini itu?"

Jengek Bun-ki.

"Ah, masa,"

Seru Kong-yu mendadak, akhirnya ia keluarkan sepatu mini itu dan diserahkan kepada Mao Kau. Melihat orang telah mengeluarkan sepatu perak itu, diam-diam Liang Siang-jin membatin.

"Asalkan tanda pengenal ini telah kau serahkan, selanjutnya aku pun tidak perlu tunduk lagi kepada perintahmu."

Sedangkan wajah Thi Peng dan Auyang Bing tampak kelam dan mata merah berapi, meski tidak bersuara, namun dari sorot mata mereka yang penuh kebencian sudah cukup bicara segalanya.

Pikiran Mao Kau juga bergolak, diam-diam sudah timbul niatnya membunuh, tapi dalam keadaan ditempat ini betapapun dia tidak dapat bertindak secara terang2an, maka sepatu mini dari Kong-yu Hwesio lantas diterimanya.

Sekilas dilihatnya air muka Thi Peng dan Auyang Bing yang penuh rasa dendam itu, segera ia memberi tanda dan berkata.

"Wi-im-sam-kiat terluka satu dan yang satu lagi tewas, lekas kalian membantu Pang Kin membereskan jenazah yang mati dan merawat luka yang cedera, untuk apa berdiri saja disini?"

Auyang Bing dan Thi Peng mengiakan dan mengangkat jenazah Cia Tong-hong dan memayang pergi Utti Bun yang terluka itu bersama Pang Kin.

Diam-diam Mao Kau menghela napas, dikeluarkan sebuah kipas lempit, lalu berkata.

"Ini, terimalah!"

Selagi Kong-yu belum tahu apa kehendak Mao Kau. Liang Siang-jin lantas menepuk pundaknya dan berkata.

"Itulah tanda mata balasan dari bakal mertua, lekas kau terima."

Setelah Kong-yu menerima kipas itu, mendadak dirasakannya sikap Liang Siang-jin terhadap dirinya baik sebutan maupun cara bicara ternyata telah berubah agak kasar.

Teringat pada hal ini, terkesiap juga dia, dengan menyengir ia coba berkata.

"Sekali ini telah banyak mendapat bantuan Liang-heng, sungguh aku....."

Liang Siang-jin mendengus.

"Aku seangkatan dengan Mao-tayhiap, selanjutnya lebih pantas kaupun panggil aku sebagai paman, kalau tidak kan terasa kurang sopan?"

Kong-yu jadi melenggong dan tidak sanggup bicara lagi. Melihat perubahan sikap dan cara bicara mereka, diam-diam Mao Kau bergirang, pikirnyanya.

"Hm, biarpun engkau selicin belut dan hampir saja aku terjebak olehmu, tapi akhirnya kau sendiri tetap salah, sekarang berbalik aku yang akan mengemudikan dirimu."

Hati Kong-yu juga terkesiap demi melihat sikap Mao kau yang pongah itu, tapi ia pun tidak gentar, pikirnya.

"Hm, tidak perlu kau senang, bila ada sesuatu maksud jahatmu padaku, segera engkau akan tahu rasa."

Yang paling gembira adalah Kiu-ciok-sin-tu Liang Siang-jin, pikirnya diam-diam.

"Wahai saudara Siu, jika benar mereka bedua bergabung menghadapi dirimu, memang engkau akan repot juga, untunglah kedua oang ini sama-sama mempunyai niat busuk sehingga engkau pun tidak perlu kuatir lagi."

Air muka Mao Bun-ki kelihatan tetap dingin saja, ia pun berpikir.

"Wahai Siu Su, bila aku tidak dapat menjadi istrimu, pasti juga aku takkan menikah dengan orang lain, begitu pula bila engkau tidak dapat menikahiku, pasti juga takkan kubiarkan kau nikahi orang lain."

Begitulah cinta kasihnya yang semula berkobar kini telah berubah menjadi dendam kesumat.

Wataknya yang suci bersih kini juga berubah menjadi dingin, kejam tanpa kenal ampun.

Jika mereka yang berada disini sama mempnyai pikiran masing-masing, Thi Peng dan Auyang Bing yang sudah meninggalkan ruang ini juga sukar diraba jalan pikirannya.

Setelah keluar dari ruangan itu, menerobos lorong dan keluar lagi keruangan tengah rumah berhala yang kotor itu.

Diluar kegelapan malam tetap pekat, bahkan hujan keras disertai suara gemuruh guntur dan terkadang berkelebatnya sinar kilat memecah angkasa yang gelap, Inilah sesaat yang paling gelap sebelum subuh tiba.

Baru saja keluar diruang rumah berhala itu, segera Thi Peng berhenti dan memberi hormat kepada Pang Kin.

ucapnya.

"Sungguh Siaute merasa sangat berterima kasih bahwa Pang-heng telah tutup mulut serapatnya."

Dengan suara gemas Pang Kin menjawab.

"Ai, janganlah Thi-heng bicara demikian, kami bersaudara sudah lama menerima budi kebaikan Siu-siansing, adalah pantas bila kami bekerja baginya. Apalagi sekali ini juga kami telah menjadi korban keganasan mereka."

Auyang Bing muncl paling akhir, sambil merapatkan kembali lubang bawah tanah itu, katanya dengan menyesal.

"Sungguh kami tidak menyangka ditengah jalan bisa muncul seorang Kongyu Hwesio, kalau tidak tentu kami takkan mengundang kalian bertiga dan mengakibatkan Ciatoako tewas secara sia-sia."

Utti Bun menghela napas.

"Ah, mungkin sudah takdir, tak dapat menyalahkan kalian... ."

Mendadak Thi Peng menghela napas panjang.

"Takdir... takdir... .Jika bukan takdir masakah kami berdua dapat mengetahui bahwa guru kami yang paling kami hormati dan kagumi adalah musuh kami pula yang telah membunuh segenap anggota keluarga kami."

Dengan heran Pang Kin bertanya.

"Eh, kiranya baru sekarang kalian mengetahui Mao Kau adalah musuh yang membunuh keluarga kalian, tadinya kusangka kalian cuma dendam saja, maka pura-pura berguru kepada Mao Kau."

"Sebenarnya kami berdua adalah saudara misan,"

Demikian Auyang Bing bertutur dengan sedih.

"Pada waktu berumur tujuh kami sudah berguru kepada orang she Mao."

"Mengapa kalian masuk keperguruannya?"

Tanya Pang Kin.

"Tatkala mana sudah timbul ambisi Mao Kau yang ingin merajai dunia persilatan, sebab itulah dia khusus mencari anak yatim piatu yang cukup berbakat untuk dijadikan murid kepercayaan sendiri demi memupuk kekuatan dikemudian hari."

"Dengan sendirinya sama sekali tak tersangka olehnya bahwa diantara anak yatim piatu yang diterimanya itu terdapat juga putra musuh sendiri yang telah menjadi korban keganasannya,"

Sambung Thi Peng dengan gemas.

"Rupanya jaring langit memang cukup ketat, apa yang telah diatur Thian terkadang memang sangat ajaib."

Saat itu diluar suara guntur lagi menggelegar sehingga makin membuktikan kebesaran Thian.

"Oo, jadi dia ang menemukan kalian dan bukan kalian yang mencari dia."

Ucap Pang Kin dengan gegetun. Utti Bun juga tertarik oleh cerita mereka itu, ia meronta bangun dan bertanya.

"Jika hal itu sudah terjadi belasan tahun dan tidak kalian ketahui, kenapa akhir-akhir ini dapat diketahui kalian?"

Thi Peng tersenyum pedih.

"Apabila Mao Kau tidak bermaksud mencakup segenap jagoan didunia ini, tentu kami takkan mencari kalian bertiga. Dan bila kami tidak mencari kalian tentu kami takkan pulang ke Wi-im dan tentu pula takkan mengetahui persoalan ini, jika persoalan ini tidak kami ketahui, pasti juga Cia-jiko takkan tewas."

"Tapi jika Cia-jiko tidak mati, kalian berdua yang sudah mati."

Tukas Pang Kin dengan sedih.

"Mengapa bisa begitu?"

Tanya Auyang Bing dengan heran.

"Sebab ketika kalian berkunjung ketempat kami, diam-diam kami sudah menaruh racun didalam arak,"

Tutur Pang Kin.

"Kami ingin meracun mati kedua utusan Mao Kau sekedar membalas budi kebaikan Siu-siansing, siapa tahu..... ."

"Ya, waktu perjamuan di Sam-kiat-ceng kalian, segera kami mengetahui dalam arak beracun."

Tukas Thi Peng dengan tertawa.

"Dari sana beru kami tahu bahwa antara Wi-im-sam-kiat juga ada permusuhan dengan Mao kau. Kalau tidak, mana kami berani secara terang2an mengajak kerja sama dengan kalian kesini, memangnya kami tidak kuatir akan dijual oleh kalian."

Utti Bun dan Pang Kin sama melenggong, kemudian Pang Kin berkata.

"O, kiranya kalian juga cerdik."

"Ah, sama-sama."

Ujar Thi Peng dengan tersenyum.

Ke-empat orang lantas saling pandang dengan sama-sama merasa ngeri.

Dunia Kangouw memang penuh intrik, penuh pertentangan antar pribadi dan kelompok, setiap saat bisa terjadi perubahan dan bilamana salah dalam sekejap mungkin akan mendatangkan bencana bagi diri sendiri.

Sejenak kemudian Utti Bun berkata pula.

"Agaknya setiba di Wi-im kalian menemukan sesuatu..."

"Ya, Wi-im sesungguhnya adalah kampung halaman kami,"

Tutur Thi Peng.

"Seplangnya disana, dengan sendirinya kami berziarah kemakam leluhur, siapa tahu....."

Tiba-tiba tertampil rasa duka dan juga dendamnya, dengan tandas ia sambung pula.

"Selesai kami berziarah dan baru meninggalkan makam leluhur, tiba-tiba datang dua orang kakek berjubah hijau. Waktu itu sudah jauh malam, karena ingin tahu sesungguhnya siapa kedua kakek itu dan apa yang akan diperbuatnya, maka diam-diam kami bersembunyi. Dalam kegelapan terlihat kedua kakek itu yang satu tinggi dan yang lain pendek, keduanya berbaju dekil, rambut sudah ubanan, tampaknya merekapun dirundung duka nestapa. Mereka memberi hormat didepan makam leluhur kami, kakek yang pendek mendadak menghela napas panjang dan bergumam, 'Wahai Siu Tok, ternyata tidak salah ucapanmu!' Hati kami sama terkesiap waktu itu, sungguh kami tidak menyangka orang tua kami almarhum bisa ada sangkut-pautnya dengan gembong iblis Siu Tok itu? Kudengar kakek yang tinggi itu juga bergumam dengan menyesal, 'Wahai Siu Tok, dahulu pernah kau bilang Mao kau telah banyak melakukan perbuatan kotor dan jahat disekitar Tinkang, sayang kami tidak mau percaya, tapi setelah tujuh belas tahun kemudian sekarang kami telah menyelidiki daerah sekitar Tinkang dan baru diketahui bahwa keteranganmu memang benar seluruhnya. Namun urusan sudah terlambat.' Mendengar uraian kakek tinggi itu, kembali hati kami bergetar....."

Sampai disini, Pang Kin coba menyela.

"Apakah makam itu makam ayah-bundamu?"

"Betul."

Jawab Thi Peng.

"Jika begitu, untuk apa kedua kakek itu menyebut Siu-siansing didepan makam dan menyebut pula apa yang diperbuat Mao kau di Tinkang segala?"

Tanya Pang Kin.

"Meski asal leluhurku di Wi-im, tapi ayah membuka Piaukok di Tinkang."

Tutur Thi Peng.

"Setelah kedua orang tua dan paman serta bibi terbunuh pada sembilan belas tahun yang lalu, sanak famili yang masih hidup lantas membawa layon orang tua kami kembali ke kampung halaman di Wi-im."

Sampai disini air matanya tak terbendung lagi, sambungnya dengan tersendat.

"Kematian orang tua kami sungguh sangat mengerikan, biarpun marah, namun tidak ada seorang kawan Kangouw yang mengetahui siapa pembunuhnya. Maka hatiku tergerak ketika mendengar ucapan kedua kakek itu, kupikir perkataan mereka itu pasti ada sangkut-pautnya dengan ayahbundaku."

Sampai disini, kerongkongan Thi Peng serasa tersumbat dan tidak sanggup meneruskan lagi. Pelahan Auyang Bing menepuk bahu sang Suheng, lalu menyambung.

"Selagi kami merasa sangsi, kakek tinggi itu berkata pula, 'Wahai arwah didalam kuburan, bilamana kalian bisa mendengar di-alam baka, ketahuilah bahwa musuh kalian akhirnya ketahuan juga, dia bukan lain ialah Mao kau.' Kakek yang lain lantas menyambung, ' Meski kalian tidak mempunyai keturunan yang akan menuntut balas bagimu, tapi... .' Sampai disini kami tidak tahan lagi, tanpa berjanji serentak kami melompat keluar bersama dan menangis sedih didepan makam."

Auyang Bing mengusap air matanya yang bercucuran, lalu melanjutkan.

"Tentu saja kedua kakek itu terkejut, tapi setelah mereka tahu kami adalah keturunan orang di dalam kuburan, serentak mereka pun bersorak dan bersyukur. Kakek jangkung itu meng-amat2i kami sejenak, mendadak air mukanya berubah dan bertanya, 'Apakah kalian murid Mao Kau?' Kami lantas menceritakan tentang masuknya kami keperguruan Mao Kau yang tidak sengaja itu, sungguh duka dan murka kami pada waktu itu sukar dilukiskan."

Thi Peng berhenti menangis dan menyambung.

"Sejak dari kedua kakek itu kami mengetahui Mao kau adalah musuh kami, tentu saja disamping girang hati kami juga berduka dan murka. Sebab musuh yang ingin kami cari akhirnya ditemukan juga, tapi Thian justru mengatur kami masuk dalam perguruannya sehingga kami secara diam-diam dapat menyabot segala usahanya."

"Masakah Mao kau sendiri sama sekali tidak tahu?"

Ujar Pang Kin dengan alis berkerut. Wajah Thi Peng yang belum kering dari air mata itu menampilkan senyuman licik, katanya.

"Itulah ganjaran yang diberikan oleh Thian. Sebab pada waktu kami masuk perguruan, Mao Kau mengharuskan kami bersumpah agar selamanya tidak lagi mengungkit asal-usul kami sendiri."

"Tindakannya itu adalah ingin memutuskan segala hubungan kekeluargaan kami dengan leluhur kami agar dapat bekerja baginya dengan sepenuh hati dan mati baginya,"

Sambung Auyang Bing dengan gemas.

"Tapi dia tidak menyangka bahwa masih ada Thian yang maha kuasa yang telah mengatur dan menentukan segalanya akhirnya senjata makan tuan dan dia harus menelan hasil perbuatannya sendiri,"

Kata Thi Peng dengan tersenyum pedih.

Utti Bun dan Pang Kin sama menghela napas, agar tidak membikin duka hati Thi Peng dan Auyang Bing, mereka tidak tanya lagi cara bagaimana kematian orang tua mereka yang mengenaskan itu.

Tapi Pang Kin lantas bertanya.

"Sesungguhnya siapakah kedua kakek itu?"

"Kami telah tanya mereka berulang-ulang tapi mereka tidak mau omong, mereka lantas tinggal pergi begitu saja kecuali menyatakan bahwa nama mereka sudah terlupakan dua puluh tahun yang lalu."

Tutur Thi Peng dengan gegetun.

Diluar suara guntur tambah keras, hujan semakin deras.

Perasaan semua orang sama tertekan dan memandang air hujan yang seperti dituangkan dari atas itu, semua diam saja.

Kecuali pada waktu sinar kilat berkelebat, suasana gelap gulita, siapa pun tidak dapat melihat wajah masing-masing, namun keempat orang mempunyai dendam yang sama dan saling mengerti.

Mendadak Thi Peng bersuara pula.

"Dan sekarang bagaimana dengan jenazah Cia-jiko, akan dikebumikan dimana?"

"Cia-jiko sudah meninggal, kami wajib menuntut balas baginya, supaya rohnya dapat tenang di alam baka, harus kami kebumikan dia se-baik2nya,"

Ujar Utti Bun. Tiba-tiba Pang Kin menambahkan.

"Eh, kukira untuk menuntut balas, kesempatan yang terbesar terletak juga pada tangan Thi-heng berdua, kalian yang selalu mendampingi jahanam she Mao itu, mengapa kalian tidak ada rencana untuk membunuhnya?"

"Cara membunuh Mao kau terhadap orang tua kami terlalu keji... ."

Saking emosinya Thi Peng tidak sanggup meneruskan, sejenak kemudian baru menyambung pula dengan gemas.

"Maka bila kami hanya membunuh dia begitu saja, kan terlalu murah baginya?"

"Jika demikian, kecuali akan kami bantu dari dalam, kukira kita masih harus mengatur seperlunya, kalau tidak... ."

Belum lanjut pembicaraan mereka, mendadak terdengar suara derapan kaki kuda yang ramai ditengah hujan lebat.

"Ssst, ada orang datang!"

Desis Auyang Bing dengan air muka berubah.

Waktu mereka pasang kuping, suara lari kuda itu ternyata menuju kerumah berhala ini.

Cepat Auyang Bing mengangkat mayat Cia Tong-hong dan disembunyikan dibawah meja sembahyang, katanya dengan suara tertahan.

"Lekas sembunyi ditempat yang tak kelihatan."

Rumah berhala ini memang cukup luas, ada belasan patung yang dipuja disini, ruangan ini sedikitnya ada belasan meter luasnya.

Cepat mereka lantas mencari tempat sembunyi.

Sejenak kemudian, terdengar suara ringkik kuda diluar, seorang berkata dengan tertawa.

"Haha, untung dapatlah kita menemukan tempat berteduh sebaik ini."

Baru lenyap suaranya, masuklah dua orang dengan basah kuyup.

Seorang muka putih dan berjenggot pendek, tegap dan gagah.

Seorang lagi rambut terikat diatas kepala dan berjubah kelabu, langkahnya tampak gesit, tapi sikapnya kelihatan lesu.

Thi Peng yang bersembunyi dibelakang altar samar-samar dapat membedakan bangun tubuh kedua orang ini, mendadak sinar kilat berkelebat hingga wujud kedua orang itu tertampak jelas.

"Ah, kiranya Jing-hong-kiam-Cu Pek-ih dan Hoa-san-gin-ho,"

Baca Juga: Seruling Perak Sepasang Walet 5

Baca Juga: Harimau Kemala Putih 5

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger