Eps 7 Tujuh Pedang Tiga Ruyung - Gan KL
Baca online Tujuh Pedang Tiga Ruyung - Gan KL
Cersil Tujuh Pedang Tiga Ruyung - Gan KL.
Demikian pikir Thi Peng.
Begitu kedua orang itu masuk kesitu, lebih dulu mereka mengebaskan baju masing-masing untuk membuang air yang masih berketes, lalu baju luar dilepas dan diperas, kemudian mengusap muka.
Baju yang basah itu lantas dibentang dan digantung di dinding.
"Apakah Toheng membawa alat ketik api?"
Tanya Cu Pek-ih.
"Umpama membawa alat ketik api juga basah dan tidak dapat digunakan lagi."
Ujar Gin-ho Tojin, cara bicaranya kurang bersemangat, agaknya lagi menanggung sesuatu pikiran.
"Haha, boleh juga duduk dalam kegelapan."
Ucap Cu Pek-ih dengan tertawa. Kedua orang lantas diam. Sejenak kemudian Cu Pek-ih buka mulut pula.
"Tempat ini entah Tokoan (kuil To atau Tao) atau Hudsi (biara Buddha), jika yang dipuja adalah Sam-ciang-loco (tiga tokoh agama Tao yang dipuja), kita harus memberi sembah hormat."
Dalam kegelapan, yang sebentar2 bicara hanya Cu Pek-ih saja, Hoa-san-gin-ho cuma berduduk mematung, tidak buka mulut, juga tidak menanggapi.
Selagi Thi Peng dan lain-lain merasa heran, tiba-tiba Cu Pek-ih berkata pula.
"Toheng, engkau sudah menyerahkan dirimu kedalam agama, sepantasnya urusan budi dan dendam dikesampingkan saja, jika engkau sudah bertekad takkan menuntut balas, kenapa engkau memikirkannya pula?"
Sinar kilat kembali berkelebat, mendadak Hoa-san-gin-ho berdiri, dengan langkah lebar ia menuju kepintu rumah berhala itu, tapi lantas putar balik, dan bergitulah ia mondar-mandir beberapa kali, lalu menghela napas dan menggerundel.
"Tapi kalau tidak menuntut balas, mana bisa rasa dendamku ini terlampias?"
"Balas membalas,lantas sampai kapan baru akan berakhir?"
Ujar Cu Pek-ih.
Hoa-san-gin-ho duduk kembali dan berdiam lagi sekian lamanya, kemudian berkata pula dengan suara berat, Cu-heng, kau tahu betapa susah aku meyakinkan ilmu pedanku, siang malam tidak kenal lelah, orang lain sudah tidur, aku masih giat berlatih, soalnya kutahu bakatku sendiri terlalu rendah, kalau aku tidak berlatih segiatnya, cara bagaimana aku dapat menntut balas?"
"Meski aku tidak mempunyai dendam kesumat apa-apa, caraku berlatih ilmu pedang juga segiat itu,"
Ujar Cu Pek-ih.
"Tapi selama dua puluh tahun ini tak pernah kulupakan dendan kemsumat ini barang sedetikpun, kini ilmu pedangku sudah selesai kuyakinkan, apakah boleh kulupakan sakit hati yang kudendam selama dua puluh tahun ini?"
Seru Gin-ho Tojin.
"Ya, biarpun tidak dapat melupakannya juga harus dibikin lupa, di dunia ini memang banyak urusan yang membikin orang apa boleh buat."
Ujar Cu Pek-ih dengan menyesal.
"Sekalipun dendammu merasuk tulang juga tidak dapat kau tuntut balas."
Thi Peng dan lain-lain sama heran dan kejut mendengar percakapan mereka. Diam-diam mereka sama membatin.
"Siapakah musuh mereka?"
Tertampak Hoa-san-gin-ho berdiri pula dan mondar-mandir diruangan rumah berhala ini, jelas hatinya tidak tentram, penuh pertentangan.
"Toheng,"
Kata Cu Pek-ih lagi.
"Maaf jika kubicara terus terang. Bahwa Siu-siansing itu telah membunuh ayah-bundamu, tapi Cukat It-peng suka menindas orang kecil dan memeras orang baik-baik, Cukat-toanio juga memaksa perempuan baik menjadi pelacur, hal ini cukup diketahui khalayak ramai, sakit hati terbunuhnya mereka itu andaikan harus kau tuntut balas juga tidak pantas dijatuhkan terhadap anak keturunan Siu-siansing."
Thi Peng dan lain-lain sama terkesiap, pikir mereka.
"Hah, kiranya Hoa-san-gin-ho ini asalnya ialah putra Cukat It-peng yang terkenal dijaman dahulu dan juga musuh Siu-siansing."
Teringat kepada permusuhan yang ruwet ini, tanpa terasa semua orang sama menghela napas. Terdengar Hoa-san-gin-ho lagi berkata pula dengan menyesal.
"Wahai, Siu Su, jika kulupakan dendam padamu, memangnya dapat kau lupakan dendammu terhadap orang lain."
Habis bergumam kembali ia duduk lemas lagi.
Kedua orang lantas tidak bicara lagi.
semuanya sama termenung.
Ditengah hujan lebat dan gelegar guntur terdengar ringkik kuda sehingga suasana terasa seram.
Kembali sinar kilat berkelebat, cu Pek-ih berkata.
"Aneh, selain patung Sam-cing-cosu kenapa disini juga ada patung Buddha... ."
Belum lanjut ucapannya, sekonyong-konyong dua sosok bayangan orang menyelinap masuk dari luar.
Keduanya sama bertubuh jangkung, lelaki setengah umur yang jelas berkungfu tinggi.
Sesudah berada didalam, kedua orang mengebaskan air yang membasahi baju mereka, setelah mengucap maaf, lalu mereka duduk dipojok sana.
Meski empat orang berduduk di suatu ruangan, namun siapa pun tak dapat melihat wajah yang lain.
Cu Pek-ih dan Hoa-san-gin-ho tidak bicara, sebaliknya kedua pendatang baru lantas kasakkusuk entah apa yang sedang dibicarakan mereka.
Selang agak lama, ketika sinar kilat berkelebat lagi, waktu Cu Pek-ih dan Gin-ho Tojin memandang kesana, terlihat kedua orang itu juga sedan memandang mereka, setelah keempat orang saling pandang sekejap, semuanya sama tersenyum.
Keadaan kembali gelap lagi, lamat-lamat Cu Pek-ih merasa satu diantaranya seperti sudah dikenalnya, cuma tidak ingat siapa dia.
Suara kasak-kusuk dipojok sana juga sudah berhenti, agaknya kedua orang itu sedang mengheningkan cipta.
Cu Pek-ih coba membisiki Gin-ho Tojin.
"dari geraK tubuh waktu mereka datang tadi, tampaknya mereka bukan sembarang jagoan Kangouw, tapi mengapa aku tidak ingat siapakah mereka ini?"
"Apu pun tidak kenal mereka,"
Gin-ho Tojin menjawab dengan lirih. Cu Pek-ih lantas menghela napas dan menggurutu sendiri.
"Ai, hujan selebat ini, entah sampai kapan baru akan berhenti?!"
Semua orang tidak ada yang menanggapi ucapannya, terpaksa Cu Pek-ih memejamkan mata dan menghimpun tenaga, Keempat orang sama duduk diam dalam kegelapan sehingga serupa patung diatas altar.
Dalam kegelapan keempat orang yang lain menjadi gelisah juga dan berharap hujan lekas berhenti.
Mereka bersembunyi, ada yang dikolong meja sembahyang, ada yang dibelakang altar, sampai bernapas juga tak berani keras-keras.
Tak lama kemudian, mendadak terdengar suara orang, kembali dua sosok bayangan melayang masuk, gerakan mereka ternyata tidak kurang gesitnya daripada kedua pendatang yang pertama.
Semua orang sama terkejut dan memandang kesana.
Dalam kegelapan hanya tertampak dua sosok bayangan tinggi besar, meski tidak tertampak jelas wajahnya, tapi dapat diketahui kedua orang ini adalah orang cacat badaniah.
Agaknya kedua orang ini sama berwatak keras, begitu masuk kesini, mereka memandang sekitarnya apakah ada orang lain atau tidak, seorang diantaranya lantas membentak.
"Jika terus menerus kau recoki diriku, bisa kupukul mampus dirimu."
Suaranya kedengaran agak serak, jelas suara orang tua renta. Seorang lagi mendadak berlutut dan memohon.
"O, ayah... .ayah... ."
Suara tua itu membentak pula dengan gusar.
"Jika tidak kau bawa kepala putra Siu Tok kepadaku, seterusnya tidak perlu kau panggil ayah padaku. Putra yang tidak membalaskan dendam ayahnya, untuk apa aku mengakui dia sebagai anak?"
Orang kedua mendekam dilantai dan menangis tergerung-gerung.
Tidak perlu tanya juga Cu Pek-ih dan Hoa-san-gin-ho tahu siapa kedua orang ini, yaitu Ong Loh-peng dan putranya.
Mendadak Cu Pek-ih bersuara.
"Jika putra berbakti begini tidak kau terima, sungguh engkau ini orang bodoh."
Jin-beng-loh-hou, si pemburu nyawa manusia Ong Loh-peng serentak berpaling dan membentak.
"Siapa itu yang bicara?"
Cu Pek-ih tertawa.
"Aku yang memper temukan kembali kalian ayah dan anak, masakah sekarang engkau tidak kenal lagi padaku."
Dibawah berkelebatnya sinar kilat dapatlah Ong Loh-peng melihat jelas wajah Cu Pek-ih.
Tiba-tiba guntur menggelegar dengan dahsyatnya sehingga kuda yang tertambat di-emper rumah meringkik kaget.
Ong Loh-peng mendengus.
"Hm, kiranya lagi-lagi sahabat yang suka ikut campur urusan ini, untuk apa kau datang kesini?"
"Untuk menunggu seorang teman yang tidak mau mengakui anaknya sendiri."
Sahut Cu Pek-ih dengan tertawa. Ong Loh-peng melangkah maju dan berteriak dengan gusar.
"Kudengar kabar yang mengatakan Mao Kau dan keturunan orang she Siu telah berada disekitar Tinkang sini, sebab itulah kususul kemari... ."
"Memangnya mau apa menyusul kemari?"
Jengek Cu Pek-ih.
"Kau sendiri menunggu disini, apakah juga sedang menunggu orang she Siu?"
Damperat Ong Loh-peng dengan gusar.
"Tampaknya kau sendiri adalah calo bagi orang she Siu itu, tapi biarpun mengoceh tiga hari tiga malam juga takkan menggoyahkan pendirianku."
"Jadi kau pasti akan menuntut balas?"
Cu Pek-ih menegas.
"Tentu saja, sakit hati selama dua puluh tahun harus kubalas,"
Teriak Loh-peng.
"Hm, kau sendiri berjuluk si pemburuh nyawa manusia, kenapa engkau tidak langsung memburu putra orang she Siu, tapi sengaja mempersulit putramu sendiri? Orang she Siu telah menyelamatkan nyawanya, tapi engkau malah....."
"Keparat... ."
Selagi Ong Loh-peng meraung murka, memdadak dari pojok sana seorang mendengus.
"Hm, Siu-siansing telah menyelamatkan jiwa anakmu, tapi berbalik hendak kau bunuh putra Siusiansing, dimana letak keadilan urusan ini?"
Dua sosok bayangan jangkung lantas berbangkit pelahan dari pojok sana, lalu bersama menggeser kearah Ong Loh-peng.
Kedua orang ini sama tinggi perawakannya dan sama besarnya, langkahnya juga sama enteng dan pelahan, dipandang dalam kegelapan serupa badan halus saja.
Dengan suara bengis Ong Loh-peng menegur.
"Siapa kalian, ada sangkut-paut apa denga orang she Siu?"
"Sebelum kau cari orang she Siu untuk menuntut balas, ingin kutanya dulu kepadamu."
Jengek orang yang sebelah kiri.
"Coba jawab, kau sendiri telah banyak membunuh orang jauh diperbatasan utara sana, lalu apakah tidak kau pikirkan orang juga akan menuntut balas padamu?"
Segera orang yang sebelah kanan menyambung.
"Tidak sedikit kafilah yang kau ganggu di padang pasir sana, arwah orang-orang yang kau bunuh dan gentayangan itu juga akan minta ganti nyawa kepadamu."
Terkesiap Ong Loh-peng, dengan suara gemetar ia tanya.
"Se... .sesungguhnya siapa kalian?"
"Siapa kami?"
Jengek orang sebelah kiri.
"Boleh kau lihat sendiri... ."
Belum habis ucapannya, kembali sianr kilat berkelebat disertai guntur menggelegar, kuda juga meringkik dan daun jendela sama bergetar, bumi ini seakan-akan berguncang.
Sekilas Ong Loh-peng dapat melihat wajah kedua orang itu putih pucat dan kaku serupa mayat hidup, namun sinar matanya setajam sembilu.
Wajah kedua orang ternyata serupa bagai pinang dibelah dua.
"Kau...kau... ."
Sambil menuding Ong Loh-peng menyurut mundur dengan gemetar..
"Hehehe,"
Orang sebelah kiri menyeringai.
"Sudah sekian lama kucari kau, selama kau masih hidup didunia sehari, selama sehari pula kafilah di padang pasir akan terasa tidak aman. Maka kukira akan lebih baik kau susul Siu-siansing saja ke-akhirat untuk menuntut balas padanya disana."
Sambil bicara pelahan ia lantas mendesak maju.
Dalam kegelapan, samar-samar Ong Loh-peng merasa wajah orang serupa orang yang pernah dibunuhnya digurun dan sedang menyeringai padanya.
Tiba-tiba terbayang darah yang berhamburan dan mayat yang bergelimpangan....Mendadak ia berteriak, lalu membalik tubuh dan berlari pergi dengan cepat.
Si Thauto berambut kusut sudah berhenti menangis, tapi masih mendekam dilantai, melihat sang ayah berlari pergi seperti orang kurang waras, ia pun menjerit kaget.
"Ayah!"
Cepat ia pun melompat bangun dan ikut lari keluar secepat terbang. Sejak tadi Cu Pek-ih hanya mengikuti kejadian itu dengan tak acuh, mendadak sekarang ia bertepuk tangan dan berkata dengan tertawa.
"Haha, bagus! Tindakan kalian ini sungguh sangat mengagumkan."
Kedua pendatang terakhir itu tersenyum, yang sebelah kiri berkata.
"Seterusnya kukira dia tidak berani lagi mencari orang untuk menuntut balas dan juga tidak berani burbuat kejahatan pula. Tapi kalau dia tidak memperbaiki perbuatannya, suatu ketika dia tetap tak bisa lolos dari tanganku."
"Tadi kulihat jelas kalian adalah tokoh yang gagah dan cakap, mengapa dalam sekejap kalian telah berubah wujud, barangkali kalian juga selalu sedia kedok kulit manusia?"
Tanya Cu Pek-ih dengan tertawa. Kedua orang itu tertawa, seorang diantaranya berkata.
"Tajam benar pandanganmu."
Serentak mereka menanggalkan kedok masing-masing.
"Ketika sinar kilat berkelebat segera dapat kulihat wajah asli kalian, entah sudikah kalian memberitahukan nama kalian yang mulia?"
Tanya Cu Pek-ih.
"Cayhe Toanbok Hong-cing!"
Jawab orang sebelah kiri dengan tersenyum. Hendaknya maklum, biarpun nama "Kim-kiam-hiap"
Telah menggemparkan dunia Kangouw, tapi nama Toanbok Hong-cing sendiri sama sekali asing bagi dunia persilatan.
Cu Pek-ih bersuara heran, ia tidak mengerti ginkang orang sedemikian tinggi, mengapa namanya tidak pernah terdengar didunia Kangouw?
Pandangannya beralih kepada orang sebelah kanan, ketika itu sinar kilat kebetulan berkelebat lagi sehingga kedua orang dapat saling pandang dengan jelas.
Tanpa terasa orang itu memanggil dengan pelahan, lalu menunduk, seperti malu bertemu dengan Pek-ih.
Tergerak hati Cu Pek-ih, teringat olehnya siapa orang ini, dengan suara terputus ia melangkah maju dan menyapa.
"Ah, bukankah engkau ini Siausute Ciok Ling?"
Ia pegang pundak Ciok Ling dengan erat, meski kelihatan kurus dan tua, tapi raut wajah Ciok Ling dan sinar matanya yang terang masih sangat dikenal oleh Cu Pek-ih.
Merasa tidak bisa menghindar lagi, Ciok Ling menghela napas, katanya.
"Suheng, kiranya engkau masih kenal Siaute."
Selama belasan tahun ini dia patah semangat dan putus asa, selalu menghindari bertemu dengan para saudara seperguruan dari Bu-tong-pai, ia tidak ingin keadaannya yang nelangsa dilihat oleh mereka.
Pek-ih memegang erat Ciok Ling dan berkata.
"Ah, masa aku tidak kenal padamu. Selama ini justru selalu ingin kucari dirimu untuk memberi pengajaran sepantasnya....."
Sampai disini suaranya menjadi tersendat. Hati Ciok Ling juga terharu, darah serasa bergolak, ucapnya dengan menunduk.
"Mohon Suheng memberi petunjuk."
"Sejak tujuh belas tahun yang lalu mengapa selalu engkau menghindari kami dan tidak pernah pulang kegunung sama sekali, apakah karena ada sesuatu kesalahan kami terhadapmu atau engkau yang merasa bersalah kepada kami?"
Dengan sedih Ciok Ling menjawab.
"Siaute merasa bersalah kepada diri sendiri dan berdosa terhadap perguruan, sebab... .sebab selama ini Siaute hanya luntang-lantung didunia Kangouw tanpa menghasilkan sesuatu, sungguh Siaute malu untuk bertemu kembali dengan para Suheng, kini hati Siaute sudah beku dan....."
"Hatimu beku?"
Bentak Cu Pek-ih mendadak.
"Mengapa hatimu beku? Usiamu masih muda, hari depanmu masih panjang dan gemilang, mengapa kau patah semangat dan masa bodoh, apakah caramu ini tidak berdosa terhadap orang tua, terhadap perguruan?"
Ciok Ling menunduk dan menghela napas tanpa bicara.
Kedukaan dan kehancuran hatinya sungguh sukar baginya untuk dipaparkan kepada orang lain.
Sudah sepuluh tahun ini dia hidup merana sejak gadis yang dicintainya meninggalkan dia, baginya hidup ini menjadi tidak ada artinya lagi.
Dengan suara lantang Cu Pek-ih berkata pula.
"Sekalipun hatimu mengalami pukulan, tidak layak lantas melupakan segalanya, tidak boleh kau lupakan saudara seperguruanmu yang pernah berkumpul dan belajar bersama sekian lama, terlebih tidak pantas kau lupakan budi kebaikan perguruan yang telah memupukmu,"
"Tapi Siaute... ."
"Jangan bicara lagi, singkatnya mulai sekarang kau harus bangkit kembali, harus memperbaharui hidupmu, supaya dunia tahu bahwa Ciok Ling bukanlah pemuda yang rela tenggelam dalam kehidupan yang tak berarti."
Ciok Ling masih tetap menunduk. Dengan gusar Cu Pek-ih menambahkan.
"Sebenarnya dalam hal apa engkau lebih rendah daripada orang lain, mengapa kau rela dipandang hina orang? Asalkan engkau berdiri tegak dan membusungkan dada, siapa pula yang takkan menghormati orang yang bernama Ciok Ling?"
Hati Ciok Ling mulai tergerak, darah terasa mendidih, mulai tumbuh daya hidupnya. Mendadak ia berbangkit dan berseru lantang.
"Teguran Suheng memang benar, mulai saat ini Siaute menurut pada nasihat Suheng dan akan menjadi manusia baru."
Hao-san-gin-ho yang sejak tadi diam saja mendadak juga berbangkit dan berseru.
"Jika ada orang yang ingin kuajak menjadi sahabatku, orang pertama adalah Ciok-heng!"
Ciok Ling tertawa cerah dan memegang tangan Gin-ho dengan erat, serunya.
"Hoa-san-gin-ho, sungguh sudah lama kukagum padamu."
Toanbok Hong-cing juga berseru dengan tertawa.
"Haha, bagus, inilah peristiwa yang paling menyenangkan selama aku berkelana sekian tahun... ."
"Cuma sayang disini tidak ada arak, kalau tidak tentu aku akan minum sampai mabuk,"
Seru Cu Pek-ih.
"Disini tidak ada arak, memangnya ditempat lain juga tidak ada."
Kata Toanbok Hong-cing.
"Ayo berangkat!"
Meski hujan diluar sudah agak mereda, tapi masih gerimis.
"Kedatangan kita ini adalah untuk berteduh karena kehujanan, masa sekarang akan berangkat begini saja?"
Ujar Cu Pek-ih.
"Menerobos hujan golok dan pedang saja tidak gentar, masakah takut kehujanan?"
Seru Toanbok Hong-cing.
Keempat orang lantas bergelak tertawa.
Segera terdengar ringkik kuda yang ramai, akhirnya derapan kaki kuda pun lenyap dan suasana kembali dalam kesunyian.
Thi Peng berempat yang bersembunyi ditempat gelap baru merasa lega, setelah ditunggu lagi sekian lama, kemudian barulah mereka melompat keluar.
"Wah, jika mereka tidak segera pergi, sungguh aku bisa mati sesak napas,"
Kata Pang Kin.
"Jika tidak ada Hoa-san-gin-ho, tentu sejak tadi kukeluar untuk menemui mereka."
Ujar Thi Peng. Luka Utti Bun tidak terlalu parah, setelah istirahat sekian lama, keadaannya sudah tambah baik dan sudah dapat berjalan. Dengan tersenyum ia pun berkata.
"Meski Hoa-san-gin-ho ada permusuhan dengan Siusiansing, tapi dia pasti bukan orang yang suka membocorkan rahasia orang lain. Justru kukuatir mereka memergoki kita dan timbul salah paham."
Auyang Bing memandang patung yang menjadi kunci lubang masuk tadi dan berkata.
"Selang sekian lama, mungkin hwesio itu segera akan keluar."
"Ya, kita juga harus membereskan jenazah Cia-jiko, tempat ini juga bukan tempat bicara yang baik, marilah kita pergi saja."
Ujar Thi Peng.
Tanpa bicara lagi mereka lantas membawa mayat Cia Tong-hong dan berangkat dibawah hujan.
Suasana rumah berhala ini segera kembali sunyi senyap.
Dalam pada itu subuh pun tiba, di-ufuk timur sudah mulai remang-remang, samar-samar patung sudah mulai kelihatan.
Bilamana patung-patung ini makhluk hidup, setelah menyaksikan sukaduka soal budi dan dendam serta percakapan orang-orang tadi dengan rahasianya, entah bagaimana pula dia akan berpikir.
Tiba-tiba ditengah suara gemercik hujan, ruang rumah berhala ini bergema lagi suara orang menghela napas.
Hah, jangan-jangan patung itu benar-benar hidup dan lagi menyesali manusia dengan beraneka ragam persoalannya didunia ini.
Dibawah remang fajar, pada tempat pemujaan sebelah sana, suara oang menghela napas itu bergema dari balik tabir rumah patung sana.
Anehnya mendadak sebuah patung diantaranya lantas bergerak pelahan, mendadak patung itu melompat keluar dan hinggap ditengah ruangan.
Terlihat patung ini berjubah Tosu, mukanya sangat jelek, sorot matanya mencorong terang seperti dapat menembus segala keburukan dan kejahatan yang terjadi pada kehidupan manusia ini.
Dia memandang sekejap sekeliling ruangan, mendadak melompat kembali kerumah patung dan berkata.
"Sudah pergi semua!"
Dari dalam rumah patung lantas bergema suara orang yang mendongkol.
"Hm, tentu saja sudah pergi semua."
Rupanya patung itu juga bukan patung benaran melainkan manusia hidup.
Tapi siapakah dia?
Setelah mendengar rahasia sebanyak ini dan melihat macam-macam sengketa yang ruwet itu, apa yang akan dilakukannya.
Jika dia sekutu Mao Kau, maka rencana rahasia Thi Peng dan kawan-kawannya bukankah akan gagal total?
Bahkan jiwa mereka pun terancam bahaya, Mana Leng-coa Mao Kau dapat mengampuni mereka.
Sebaliknya bila kedua orang ini sahabat Siu Su, setelah mendengar perundingan rahasia komplotan Thi Peng tadi, mengapa mereka tidak keluar untuk bergabung melainkan cuma mencuri dengar saja secara diam-diam.
Bila mereka teman Siu Su, seharusnya mereka keluar untuk menemui Toanbok Hong-cing dan Ciok Ling serta memberitahukan kepada mereka bahwa rumah berhala inilah tempat sembunyi rahasia Mao kau.
Namun semua itu tidak dilakukan oleh mereka, sungguh sukar untuk dimengerti, siapakah mereka?
Angin pagi tambah dingin, sebaliknya hujan mulai reda.
Dari rumah patung rahasia itu kemudian melompat turun dua orang, tangan kanan seorang memegang pergelangan tangan temannya, perawakan orang kedua ini lebih tinggi, tapi gerakgeriknya lebih lamban.
Dia menengadah dan menarik napas panjang lalu berkata dengan gemas.
"Mengapa kau tutuk diriku, padahal mana ada maksudku untuk melarikan diri? Jika kau tetap siksa diriku cara begini, rasanya lebih baik aku bunuh diri saja."
Yang lebih pendek itu mendengus.
"Hm, jika tidak kututuk dirimu hingga tak bisa berkutik, ketika melihat Ciok Ling tentu engkau sudah berteriak minta tolong. Pendek kata, sebelum menemukan adik Ki tidak dapat kubebaskan dirimu."
Tidak perlu diterangkan lagi kedua orang ini jelas ialah Siu Su dan Buyung Siok-sing.
Tempo hari, karena salah langkah, Siu Su telah kena dikibuli Buyung Siok-sing dan tertawan, sebegitu jauh dia belum berhasil meloloskan diri, sebab pada hakikatnya satu langkah pun Buyung Siok-sing tidak pernah meninggalkan dia tanpa menghiraukan pantangan antara lelaki dan perempuan yang dilarang berdekatan.
======================================================================== ======================== = Apakah Siu su dan Buyung Siok-sing akan menerjang ketempat sembunyi Mao Kau untuk membekuknya?
= Cara bagaimana akan terselesaikan berbagai permusuhan antar kelompok dengan macam2 persoalan yang ruwet itu?
=== Bacalah
Jilid selanjutnya === ======================================================================== ========================
Jilid 18 Mereka berdua semula memakai jubah hijau dan memakai kedok mayat hidup, tapi sepanjang jalan mereka selalu menarik perhatian orang awam, maka Buyung Siok-sing lantas memberi tukar Siu Su dengan jubah Tosu serta diberinya kedok yang buruk sehingga membuat orang awam tidak senang memandang keburukan muka mereka, dengan demikian terhindarlah berbagai kesulitan dalam perjalanan.
Namun dari mana Siu Su tahu akan jejak Mao Kau, dengan sendirinya mereka hanya mencari kian kemari dan tidak menemukan sesuatu.
Setelah berputar kayun, secara tidak sengaja mereka pun berteduh kerumah berhala ini ketika hujan lebat, sungguh mereka tidak menyangka rumah berhala inilah sarang rahasia Mao Kau.
Pada waktu Thi Peng berempat keluar dari lorong bawah tanah, cepat Buyung Siok-sing mengempit Siu Su dan bersembunyi didalam rumah-rumahan patung setelah menutuk hiat-to bisu dan kelumpuhannya.
Dengan demikian merekapun disangka patung karena pakaian mereka mirip jubah yang dipakai patung yang dipuja disitu.
Dengan demikian jadilah mereka seperti patung benar dan dapat mengikuti macam-macam adegan beberapa kelompok orang itu dengan berbagai persoalannya yang ruwet itu.
Dan setelah semua orang sudah pergi barulah Buyung Siok-sing membuka hiat-to Siu Su yang ditutuknya.
Setelah berdiam sejenak, kemudian Siu Su berkata.
"Setelah kau dengar percakapan Thi Peng dan lain-lain tadi, tentu kau tahu bahwa Mao Kau bersembunyi disini,"
"Betul!"
Jawab Buyung Siok-sing. Jika begitu, mengapa tidak lekas kaucari dia?"
Tanya Siu Su.
"Kaupun dengar orang-orang tadi sama hendak memusuhi Mao Kau, mengapa engkau tidak ikut campur?"
"Tujuanku hanya mencari adik Ki, peduli apa urusan Mao Kao denganku?"
"Setelah kau temukan dia, apakah segera akan kau lepaskan diriku?"
"Untuk itu perlu lihat keadaan nanti,"
Jengek Buyung Siok-sing. Diam-diam Siu Su merasa sangsi, pikirnya.
"Meski dia menyatakan tidak peduli urusan Mao Kau, tapi bila bertemu dengan Mao Kau dan dia tetap tidak melepaskan diriku, kan bisa celaka bagiku?"
Tengah berpikir, Buyung Siok-sing lantas menariknya melompat keatas altar tempat Thi Peng menerobos keluar tadi.
"Lubang masuknya tentu pakai alat rahasia, memangnya dapat kau temukan?"
Jengek Siu Su. Buyung Siok-sing juga mendengus.
"Untuk apa ikut resah, murid To-liong-siancu masakah dapat dipersulit oleh soal lubang masuk begini? Hm, pesawat rahasia apa pun sukar mengelabuiku."
"Tapi sudah sekian lamanya, bisa jadi dia sudah pergi dari sini."
"Kuyakin tempat ini pasti cuma ada sebuah lubang keluar, dia takkan pergi dari sini."
Habis berkata, pelahan tangan Buyung Siok-sing meraih dan memutar salah sebuah patung, terdengar suara "krek", segera tertampak sebuah lubang dibawah altar.
"Bagaimana?"
Ucap Buyung Siok-sing sambil tersenyum bangga terhadap Siu Su.
"Ayo, turun!"
Segera ia menarik Siu Su. Dengan mengertak gigi, mendadak Siu Su mendahului melompat kebawah. Dibawah keadaan gelap gulita serupa neraka.
"Mereka ayah dan anak telah kau desak hingga bersembunyi ditempat seperti ini, seharusnya kau tahu batas dan sudahi urusan ini,"
Ujar Buyung Siok-sing dengan menyesal.
Siu Su hanya mendengus saja tanpa menanggapi.
Segala apa sekarang tidak terpikir lagi olehnya, maka hatinya tidak gentar sedikitpun.
Setelah melangkah beberapa tindak, Buyung Siok-sing berkata pula.
"Yang kau pikir hanya menguber musuh sendiri saja, mengapa tidak kau pikirkan juga bahwa orang lain pun ingin menuntut balas padamu gara-gara perbuatan mendiang ayahmu? Apakah ucapan Cu Pek-ih tadi tidak kau dengar?"
"Urusanku tidak perlu kau pikirkan,"
Jengek Siu Su.
"memang tidak perlu kupikirkan, aku justru ingin tahu cara bagaimana akan kau selesaikan urusan ini,"
Jengek Buyung Siok-sing dengan gusar.
Ia percepat langkahnya, tidak lama kemudian, tiba-tiba disebelah kiri lorong ada cahaya lampu yang guram, sebuah tabir tampak terjulur menutupi sebuah pintu.
Nyata dibalik tabir itulah akan ditemuinya musuh bebuyutannya.
Sampai disini segera Siu merandek.
Tak terduga langkah Buyung Siok-sing mendadak juga berhenti, padahal tujuannya ingin mencari Mao Bun-ki, seharusnya dia menerjang kedalam sana.
Terlihat dia termenung sejenak, akhirnya dia memanggil pelahan.
"Adik Ki, adakah engkau didalam?"
Namun dibalik tabir sunyi senyap tiada sesuatu suara.
Cepat Buyung Siok-sing menyingkap tabir dan melompat kedalam.
Ternyata keadaan ruangan yang cukup luas ini morat-marit, meja kursi terjungkir balik, lantai penuh bekas darah, diantara bekas darah itu ada tiga potong jari putus.
Sebuah meja sembahyang doyong bersandar dipojok dinding, lilin diatas meja sudah hampis habis terbakar, cahaya api berkedip, tiada seorang pun didalam kamar ini, apalagi bayangan Mao Kau dan Bun-ki.
Kedua orang sama melenggong, entah bagaimana perasaan Siu Su, entah kecewa atau gembira.
Bilamana sekarang dia bertemu dengan Mao Kau, memang sukar diramalkan bagaimana akibatnya.
Tapi demi tidak menemukan Mao Kau, tanpa terasa timbul juga rasa kecewanya.
Mungkin yang membuatnya kecewa adalah karena tidak terlihat Mao Bun-ki berada disitu.
Karena tidak menemukan Mao kau dan Bun-ki, Siu Su yang seharusnya gembira malah menampilkan rasa kecewa.
Sebaliknya Buyung Siok-sing yang seharusnya kecewa, sorot matanya ternyata tidak menampilkan rasa kecewa.
Ia termenung sejenak, lalu bergumam.
"Masakah mereka sudah pergi... ."
Tiba-tiba dilihatnya dibawah tatakan lilin sana tertindih secarik surat. Cepat ia memburu kesana dan mengambilnya, terbaca surat itu tertulis.
"Pangkalan ketiga sudah dihapus, pindah ke pangkalan kelima."
"Hm, betul tidak?"
Jengak Siu Su.
"Tadi mereka memang berada disini, cuma agak terlambat kedatanganmu."
Buyung Siok-sing diam saja, anak muda itu ditariknya masuk ke pintu yang lain.
Disitu kembali ada sebuah kamar dibawah tanah, ada dua dipan didalam kamar, jelas inilah tempat istirahat Mao Kau berdua.
Bantal selimut masih lengkap, namun orangnya sudah lenyap.
Setelah menembus ruangan ini, kembali ada sebuah lorong gelap dan seram, enah menembus kemana.
"Mereka pasti keluar melalui lorong ini."
Ucap Buyung Siok-sing.
"Hm, pintar juga kau."
Jengek Siu Su. Mendadak Buyung Siok-sing berpaling dan mendamperat.
"Kenapa setiap kataku selalu kau tanggapi dengan mengejek?"
"Mana aku berani."
Sahut Siu Su dingin.
"Hm, kau tahu bilamana hendak kubunuh dirimu adalah sangat mudah."
Jengek Buyung Sioksing pula.
"Jika begitu silakan membunuh, silakan!"
Jawab Siu Su dengan ketus.
Dengan gusar Buyung Siok-sing membenak, mendadak sebelah tangannya menghantam dada anak muda itu.
Segera Siu Su memejamkan mata, tidak mengelak.
Siapa tahu sampai sekian lamanya pukulan Buyung Siok-sing belum juga dilontarkan.
Waktu Siu Su membuka mata, tertampak si nona telah berpaling kesana, seperti tidak suka air mukanya dilihat Siu Su.
"Hm, jika aku tidak kau bunuh, hendaklah kau lepaskan diriku, jika tetap kau siksa diriku cara begini, bagiku akan lebih baik mati saja."
Jengek Siu Su.
"Boleh kau bunuh diri jika ingin mati."
Ucap Siok-sing tanpa menoleh.
"Huh, tubuhku ini adalah pemberian ayah-bunda, seoran lelaki sejati mana boleh membunuh diri?"
"Jika begitu hendaknya kau tutup mulut, bila menemukan Bun-ki tentu kulepaskan dirimu."
"Kalau selama hidup tidak dapat menemukan dia, lalu bagaimana?"
"Selama hidup pula takkan kulepaskanmu!"
Jengek Buyung Siok-sing tanpa menoleh. Siu Su jadi melenggong. Mendadak ia menengadah dan bergelak tertawa.
"Hahahaha! Aku tahu, haha, tahulah aku! Kiranya maksudmu supaya selama hidupku dapat mendampingimu."
Tubuh Buyung Siok-sing seperti gemetar sedikit, damperatnya.
"Apa katamu?"
"Hahahaha!"
Siu Su tetap tertawa.
"Ku tahu, mukamu terlalu jelek, sukar mencari suami, maka kau gunakan akal ini untuk mencari seorang lelaki untuk menemanimu, pantas sengaja kau tahan diriku, rupanya....."
Belum habis ucapannya mendadak Buyung Siok-sing membalik tubuh, sebelah tangan terus menampar.
"plak", dengan keras muka Siu Su tergampar. Dengan gusar Siu Su membentak dan balas menghantam. Akan tetapi urat nadinya tercengkeram sehingga sukar mengeluarkan tenag, sedikit Siok-sing menarik, kembali pergelangan tangannya tercengkeram erat lagi. Karena tak bisa berkutik, Siu Su terus mencaci maki.
"Setan alas, perempuan buruk, siluman jelek! Aku tidak kau bunuh, juga tidak kau lepaskan, lantas mau apa jika bukan untuk dijadikan lakimu? Huh, sepanjang hari hanya memegangi tangan seorang lelaki, tidurpun tidak kau lepaskan, huh, perempuan tidak tahu malu begini juga menghendaki kutemanimu selama hidup, jangan mimpi... ."
Sebenarnya Siu Su bukan pemuda yang bermulut kotor, biasanya dia tenang dan sabar, marah atau senang tidak begitu kelihatan.
Tapi lantaran sudah sekian lama dia ditawan oleh Buyung Siok-sing, hidup tersiksa sehingga sukar menahan rasa gemasnya sekarang.
Sudah digunakan macam-macam akal, dengan halus, dengan kasar, dengan membujuk, dengan memancing dan mengadu domba, namun tetap Buyung Siok-sing tidak mau melepaskan dia.
Saking tidak tahan, akhirnya semua kata-kata kotor dihamburkannya.
Tentu saja Buyung Siok-sing merasa pedih, air mata berlinang dan badan gemetar, serunya, jangan...
jangan kau...
Namun Siu Su masih terus mencaci maki.
"Tutup mulut!"
Bentak Siok-sing mendadak.
"Aku justru tidak mau tutup mulut, kau perempuan bermuka buruk, tak laku kawin... ."
Belum lanjut makian Siu Su, mendadak Buyung Siok-sing menanggalkan kedoknya sambil berteriak.
"Memangnya kau kira aku tidak laku kawin?"
Sekilas pandang, seketika tubuh Siu Su tergetar dan berdiri melongo.
Ternyata yang berdiri didepannya bukan seorang nona bermuka buruk apa segala melainkan seorang perempuan secantik bidadari, sungguh sukar dibayangkan perempuan secantik ini, dengan kata dan istilah apa pun sukar melukiskan kecantikannya.
Biarpun banyak perempuan cantik didunia ini, tapi kalau dibandingkan dia, perempuan cantik lain menjadi tidak ada artinya.
Bila kecantikan orang lain cuma mempesona maka kecantikan Buyung Siok-sing bisa membuat orang gila.
Kecuali orang yang paling berdekatan dengan dia, siapa pun tidak pernah melihat kecantikan wajahnya.
Tapi lelaki yang pernah melihat kecantikannya sudah sama mati gila.
Rupanya ia pun menyadari kecantikannya bisa mendatangkan bencana bagi orang lain dan juga bagi dirinya sendiri, sebab itulah mukanya selalu ditutupi selapis kedok yang buruk.
Setelah dia bersumpah pantang membunuh, dia terlebih enggan wajahnya dilihat orang.
Ia tidak ingin orang lain gila lantaran dia, ia pun tidak suka melihat orang lain mati gila.
Dan sekarang, karena marahnya, saking tidak tahan mendadak ia membuka kedoknya.
Tubuh gemetar, jantungnya juga berdetak.
Ia mengertak gigi dan sekuatnya menahan gejolak perasaan sendiri, teriaknya.
"Sekarang tentu kau tahu apa yang kulakukan ini adalah demi Bun-ki."
Ia menghela napas panjang, lalu menyambung.
"Sebab itulah kupaksa dirimu menemui dia, ingin kuselesaikan permusuhan kalian yang sebenarnya bukan kesalahan kalian melainkan akibat perbuatan orang tua masingmasing, aku tidak dapat melepaskan dirimu, sebab... .sebab aku... ."
Sampai disini Buyung Siok-sing tidak melanjutkan lagi, mukanya menjadi merah.
Siu Su melenggong, sungguh ia tidak mengerti isi hati orang, hati perempuan memang sukar diraba.
Kedua orang sama bungkam sampai sekian lamanya, mendadak api lilin padam seluruhnya, suasana menjadi gelap.
Akhirnya Siu Su berkata.
"Mereka sudah pergi, tempat rahasia ini pun tidak diketahui orang luar, kukira lebih baik kita keluar saja dan mencari ketempat lain."
Tapi Buyung Siok-sing menjawab.
"Jelas dia meninggalkan surat disini, pasti ada orang lain lagi akan datang kemari."
Siu Su tidak membantah lagi, ia membuat api dan menyalakan sepotong sisa lilin lain. Katanya.
"Jika harus menunggu, entah harus menunggu sampai kapan."
Setelah menaruh lilin pada tatakannya, lalu Siu Su menarik kedua dipan agar rapat, ia sendiri lantas duduk diujung dipan sebelah kiri, dipan lain diberikan kepada Buyung Siok-sing.
Nona itu diam saja menyaksikan perbuatan Siu Su, tiba-tiba matanya memancarkan cahaya aneh, sebab apa yang dilakukan Siu Su biasanya adalah pekerjaan Buyung Siok-sing sepanjang perjalanan.
Selang sejenak pula, mendadak Siu Su bertanya.
"Sudah seharian kita tidak makan minum, apakah engkau tidak lapar?"
Siok-sing menunduk dan menjawab.
"Ya, lapar juga... ."
Padahal sepanjang perjalanan ini meski Siu Su kenyang tersiksa, tapi juga cukup merepotkan Buyung Siok-sing, sebentar2 Siu Su minta ini dan itu, tiba-tiba mengeluh lapar, lain saat bilang haus, mendadak tak mau jalan lagi karena lelah katanya.
Dengan sendirinya semua perbuatan Siu Su itu disengaja karena panasaran, meski terkadang Buyung Siok-sing tidak menghiraukannya tapi lebih sering dituruti segala kehendaknya.
Siapa tahu sekarang Siu Su malah tanya dia lapar atau tidak, perubahan ini sangat besar dan aneh, tanpa terasa Siok-sing menunduk rikuh.
Siu Su juga gegetun melihat sikap likat orang.
Dia berubah sebanyak ini lantaran mendadak disadari dirinya adalah seorang lelaki, kalau berada bersama seorang perempuan adalah wajib melindungi perempuan itu.
Padahal sepanjang perjalanan Siu Su belum pernah memandang Buyung Siok-sing sebagai perempuan, ia merasa orang sedemikian galak, bengis, mendadak marah-marah, lain saat main bentak segala.
Tapi sekarang dirasakan olehnya kegalakan si nona juga membawa semacam kelembutan yang pantas dikunyah kembali.
Sepanjang perjalanan mereka entah sudah berapa kali mereka tidur sekamar, tapi sekali ini dirasakan oleh mereka jauh berbeda daripada yang sudah-sudah.
Lilin semakin pendek, sang waktu lalu dengan cepat.....
Mendadak Buyung Siok-sing mengangkat kepala dan berkata dengan dingin.
"Jangan lupa, engkau masih juga tawananku, selanjutnya jangan tanya ini dan itu. Bila kulapar tentu dapat kucari makanan sendiri."
"Aku cuma bermaksud baik... ."
"Tidak perlu berlagak baik."
Jengek Siok-sing.
"Sepanjang jalan engkau selalu membikin repot padaku, sekarang mendadak hatimu berubah sebaik ini, jangan kau kira aku... ."
Dia mengerling dan tidak melanjutkan.
"Ka kira aku mau apa? Kenapa tidak kau katakan?"
Tanya Siu Su. Sampai sekian lama Buyung Siok-sing termenung, katanya kemudian dengan bengis.
"Bila suka dapat kukatakan, tidak suka tentu tidak kukatakan, kau berani memerintah diriku?"
Siu Su mendengus.
"Huh, sungguh perempuan galak!"
Lalu ia melengos dan tidak memandang lagi.
Biarpun dia memandangnya juga takkan mengetahui betapa perasaan Buyung Siok-sing, terlebih takkan tahu betapa pedih dan bertentangan batinnya, sebab semua itu sudah disembunyikannya di dalam lubuk hatinya.
Ketika Siu Su memandang kearah lain, tiba-tiba dilihatnya ditepi dipan ada sebuah kantung sutera.
Kantung ini mestinya berada dibawah dipan, lantaran dipan digeser sehingga kantung sutera itu pun kelihatan.
Segera ia mengambil kantung itu, tertampak ada sulaman bunga peoni, ditengah bunga tersulam pula dua hati yang lengket menjadi satu.
Sulamannya indah dan berbau harum.
Tergerak hati Siu Su, pikirnya.
"Jangan-jangan ini barang milik Bun-ki?"
Ia coba membuka kantung sutera itu, mendadak dari dalam jatuh keluar satu biji kancing kain dan dua comot rambut.
Ia ingat kancing ini adalah kancing bajunya yang terlepas pada waktu dalam perjalanan bersama Bun-ki dahulu, lalu Bun-ki membetulkannya dengan kancing baru.
Tak tersangka kancing lama ini masih disimpannya sekarang.
Jika kancing ini masih disimpannya, jelas rambut ini juga rambutnya.
Siu Su pandang sulaman hati pada kantung itu, timbul perasaan bimbangnya.
"Barang-barang ini asalnya kepunyaanmu bukan?"
Terdengar Buyung Siok-sing lagi bertanya. Tanpa melihat Siu Su menjawab.
"Entah, mungkin betul."
"Apakah kau tahu sebab apa dia menyimpan barangmu sebaik ini?"
"Dari mana kutahu urusannya?"
"Sedemikian besar cintanya padamu, masakah engkau pura-pura tidak tahu?"
Damperat Sioksing dengan gusar.
"Jika engkau punya perasaan, tidak pantas kau lukai lagi hatinya."
"Peduli dia suka padaku atau kepada siapa, memangnya siapa yang menentukan aku harus menyukainya juga?"
Teriak Siu Su sambil berpaling.
"Aku yang menentukan."
Jengek Buyung Siok-sing.
"haha, berdasarkan apa engkau berhak menentukan perasaan orang lain?"
Tanya Siu Su.
"Biarlah kukatakan padamu bahwa antara aku dan dia biarpun tidak ada rasa permusuhan, paling-paling juga kupandang dia sebagai adik perempuan belaka."
"Jika demikian, mengapa kau biarkan cintanya padamu semakin tumbuh?"
"Dia sendiri mau begitu, kenapa menyalahkan diriku?"
Jengek Siu Su.
"Jika ada seorang pria suka padamu, tapi engkau tidak membalas kebaikannya, apa ini pun salahmu?"
Buyung Siok-sing jadi melenggong, katanya kemudian.
"Dia bilang padaku, dahulu kau pun sangat baik padanya, mengapa sekarang....."
"Terus terang, waktu itu tujuanku hanya ingin mengorek rahasia ayahnya,"
Sela Siu Su.
"Jadi tujuanku adalah untuk membikin susah Mao Kau. Betapa mendiang ayahku telah dicelakai oleh Mao Kau, cara pembalasannya juga akan kugunakan dengan cara yang keji, ini namanya 'dengan gigi bayar dengan gigi, dengan darah bayar dengan darah', tahu?"
Dia bicara dengan penuh rasa dendam sehingga membuat Buyung Siok-sing mengkirik juga. Selang agak lama barulah Siok-sing berkata pula.
"Yang ada permusuhan denganmu ialah Mao Kau, dia sendiri kan tidak salah."
Siu Su terdiam, katanya kemudian.
"Ya, sebab itulah kemudian kubebaskan dia... ."
Sampai disini, mendadak diluar bergema suara kaki orang, kedua orang sama terperanjat, cepat mereka tutup mulut.
Suara melangkah diluar segera juga berhenti.
Pelahan Buyung Siok-sing berbangkit, di luar seorang lantas memanggil.
"Suhu!"
Suaranya masih agak jauh, agaknya pendatang ini belum masuk keruangan pertama. Tiba-tiba Siu Su menahan suaranya dan menjawab.
"Masuk kemari!"
Selang sejenak pula, suara orang itu berkata lagi.
"Apakah Suhu sudah tidur? Tecu Tiangsun Jik ingin melapor."
Sekarang suaranya kedengaran berada dikamar sebelah.
"Ah, kiranya anak muridnya, anggota Giok-kut-sucia."
Pikir Siu Su. Segera ia berdehem menirukan suara Mao Kau dan berkata.
"Baik, bicara saja dari situ."
Buyung Siok-sing memandangnya sekejap dengan sorot mata memuji.
Semula ia bermaksud menawan Tiangsun Jik dan kemudian memaksanya bicara, tapi sekarang Siu Su telah menirukan suara Mao Kau dan menyuruhnya bicara sendiri.
Maka terdengar Tiangsun Jik lagi bicara.
"Sesuai perintah Suhu. Tecu telah mengantar sisa tulang Siu Tok ketempat Toh-susiok, maka Toh-susiok minta Tecu menyampaikan kepada Suhu bahwa beliau sudah menerima dengan baik."
Mendengar "sisa tulang belulang Siu Tok", seketika darah Siu Su bergolak, ia mengertak gigi dan sedapatnya menahan rasa gusarnya, katanya pula.
"Lalu apa lagi yang dikatakan Toh Tiong-ki?"
Kening Tiangsun Jik bekernyit, dia sudah mulai sangsi ketika sang guru tidak keluar, sekarang dia tambah curiga, pikirnya.
"Biasanya Suhu tidak pernah langsung menyebut nama Toh-susiok, mengapa sekarang... .Ah, jangan-jangan orang yang bicara ini bukan Suhu melainkan samaran orang lain?"
Diantara kesepuluh anggota Giok-kut-sucia, Tiangsun Jik ini terhitung paling cerdik, tindaktanduknya juga sangat hati-hati, sebab itulah Mao Kau selalu menyerahkan tugas penting kepadanya.
Maka ia pun berlagak tidak tahu dan menjawab.
"Tecu disuruh Toh-susiok untuk menyampaikan kepada Suhu bahwa ke-dua belas pedang dan golok pusaka yang dititipkan Suhu kepadanya telah diatur dengan baik."
Sembari bicara ia mengeluarkan sebuah poci perak mini dan memandang kearah tabir.
"Lantas apa lagi?"
Terdengar suara dibalik tabir bertanya pula. Diam-diam Tiangsun Jik mendengus.
"Hm, sekarang ketahuan juga belangnya. Mana Suhu mempunyai dua belas pedang dan golok pusaka segala, Hm, berani kau palsukan suara Suhu untuk menipuku, sekarang biar kau tahu kelihaianku."
Pelahan ia memutar tutup poci mini itu, ia sendiri lantas memakai tutup hidung, lalu poci mini yang sudah terbuka itu dipegang terbalik, lamat-lamat kelihatan asap tipis teruar keluar dari poci mini itu.
Asap tipis itu melayang masuk kebalik tabir sana, Tiangsun Jik pura-pura bicara lagi.
"Tohsusiok bekerja keras bagi Suhu, beliau telah mengumpulkan dua puluh tujuh tokoh terkemuka daerah Kwan-gwa, diantaranya termasuk pendekar pedang dari Thian-san-pai dan Tiang-pekpai, juga ada....."
Dia bicara asal bicara saja, tapi Siu Su benar-benar dibikin kaget.
Sama sekali tak terpikir olehnya bahwa dari luar Tiangsun Jik telah mengeluarkan obat bius maha lihai yang disebut "Jian-jit-cui-hun-hiang"
Atau dupa pembius mabuk seribu hari. Malahan Siu Su jadi ingin mengorek lebih banyak kekuatan Mao Kau yang lebih lengkap, segera ia tanya pula.
"Dan siapa lagi?"
Tiangsun Jik menyambung.
"Ada lagi jago-jago kelas tinggi daerah Siamsai dan Kamsiok juga sudah dihubungi Toh-susiok, orang-orang ini memang sudah lama dendam terhadap Siu Tok, maka dengan gampang saja Toh-susiok mendapatkan janji bantuan mereka. Bahkan Kiong-sin Leng Liong dari Kai-pang juga telah berhasil dibeli oleh Toh-susiok dengan janji upah sepuluh laksa tahil perak."
Makin tak masuk akal dia membual, makin membikin kejut Siu Su, dan diluar sadarnya dia lantas terkena dupa bius yang digunakan Tiangsun Jik itu.
Hanya sekejap kemudian, Siu Su merasakan kepala pening dan mata ber-kunang2 selagi ia mengeluh bisa celaka, mendadak dirasakan pegangan Buyung Siok-sing padanya juga mengendur.
Waktu ia memandang kesana, nona itu juga kelihatan seperti orang mengantuk dan badan tampak lemas.
Karuan Siu Su kaget, tahulah dia telah terperangkap, cepat ia menahan napas dan mengerahkan segenap sisa tenaga pada sebelah tangannya.
Namun tubuh sudah tak tahan dan terkulai.
Jian-jit-cui-hun-hiang adalah semacam tumbuhan beracun yang cuma terdapat dipegunungan Thian-san tidak berwarna dan tidak berbau, bila terhisap sedikit saja segera tubuh terasa lemas lunglai, namun pikiran tetap jernih.
Obat bius ini adalah ciptaan Sai-jik-hong seorang bandit cabul di Thian-san, obat bius ini digunakannya untuk membius kaum wanita yang diperkosanya.
Perempuan yang terbius akan merasa lemas lunglai tak bertenaga, namun pikiran tetap sadar, dalam keadaan demikian jadi sama sekali tidak dapat melawan meski tahu jelas dirinya diperlakukan tidak senonoh oleh Saijik-hong.
Dalam keadaan tidak berdaya demikian, tentu saja rasa pedih perempuan yang digarap Sai-jikhong sukar diceritakan.
Sebaliknya bila melihat korbannya menderita, Sai-jik-hong justru tambah senang dan semakin bersemangat.
Entah sudah berapa banyak korban yang telah dinodainya berkat obat bius yang ampuh itu.
Dengan sendirinya orang Bu-lim sangat benci kepada perbuatan Sai-jik-hong itu.
Maka beramai2 beberapa tokoh Kwan-gwa telah menggunakan Bi-jin-keh atau akal perempuan cantik, yakni menggunakan perempuan cantik sebagai umpan untuk menjebaknya sehingga akhirnya Sai-jik-hong dapat dibinasakan.
Dengan sendirinya resep obat bius itu lantas tersebar diantara tokoh-tokoh terkemuka didaerah Kwan-gwa, selama ini obat bius itu sering digunakan menjebak musuh yang tangguh, tapi pada umumnya tidak pernah disalah-gunakan.
Begitulah Tiangsun Jik jadi girang demi mendengar suara orang jatuh terkulai dibalik tabir, ia tahu orang didalam sudah terjebak olehnya.
Namun dia memang suka bekerja cermat, ia tunggu lagi sekian lama baru kemudian menyingkap tabir dan masuk kesitu.
Dilhatnya dua orang telah menggeletak tanpa bisa berkutik.
"Hm, nasib kalian memang tidak jelek."
Jengek Tiangsun Jik.
"Suhu menyuruhku mencari Jianjit-cui-hun-hiang ini untuk menghadapi bocah she Siu itu, tapi sekarang kalian berdua telah mendapat prioritas utama untuk mencicipinya."
Kiranya obat bius mabuk seribu hari ini sengaja diminta Toh Tiong-ki dari sahabatnya yang tinggal di Kwan-gwa, tujuannya adalah untuk menghadapi Siu Su.
Rupanya tadi Tiangsun Jik bilang "ada juga", maksudnya adalah obat bius ini juga telah diperolehnya dari Toh Tiong-ki.
Dengan suara bengis ia lantas mendamperat.
"Hm, besar juga nyali kalian, berani memalsukan diri sebagai Suhuku, rasanya harus kuberi hukuman setimpal kepada kalian, kemudian baru kutanyai kalian."
Tiba-tiba ia menatap tajam wajah Siu Su berdua, lalu mendengus.
"Hah, kiranya kalian juga memakai kedok segala. Baik, akan kulihat bagaimana bentuk kalian yang sebenarnya."
Segera ia melompat maju, lebih dulu ia menarik Buyung Siok-sing.
Karena pikirannya masih cukup sadar, karuan Buyung Siok-sing merasa cemas, malu dan juga gusar, Ia lebih suka terbunuh saja daripada kedoknya dibuka orang.
Maklumlah, ia tahu bilamana pemuda ini melihat wajah aslinya, tidak bisa tidak pasti akan timbul nafsu birahinya.
Padahal keadaan sendiri lemas lunglai, tidak mampu meronta, juga tidak sanggup melawan, akibatnya pasti celaka.
Dalam pada itu Tiangsun Jik telah berjongkok dan merangkul pundaknya dan diangkat keatas, jengeknya tiba-tiba.
"Huh, sedemikian halus dan lunak tubuhmu, rasanya seperti seorang perempuan Haha, bila benar kau perempuan cantik, mungkin akan kubikin senang hati lebih dulu baru nanti... ."
Sembari bicara tangan yang lain terus menarik kedok Buyung Siok-sing dan begitu kedok tersingkap, seketika dia melongo kesima dan tidak sanggup bersuara lagi.
Sungguh mimpi pun tak tersangka olehnya dibalik kedok adalah seraut wajah secantik ini, dan perempuan secantik bidadari ini kini justru berada dalam rangkulannya.
Seketika perasaannya menjadi terombang-ambing seperti orang mabuk, nafsu birahinya juga membakar, segera tangannya meraba....Melihat pandangan Tiangsun Jik yang jalang itu sudah diketahui Buyung Siok-sing apa yang terpikir oleh anak muda itu, apalagi sekarang tangan orang mulai beraksi, sungguh ia menjadi malu dan juga gusar setengah mati.
Tapi apa daya, ia tidak bisa berkutik.
Terpaksa ia memejamkan mata dan membatin dengan pedih.
"O, Siu Su, tahu akan terjadi begini, seharusnya sejak dulu kuberitahukan isi hatiku yang sesungguhnya kepadamu, bahwa engkaulah satu2nya pemuda yang pernah menimbulkan cintaku... ."
Tengah berpikir, tangan Tiangsun Jik sudah menyentuh dadanya.
"bret", mendadak baju dadanya terobek....Mata Tiangsun Jik menjadi merah beringas serupa binatang buas, tapi sebelum dia berbuat lebih lanjut, sekonyong-konyong Siu Su menubruk maju dan menghantam sekuatnya. Rupanya sebelum terkulai tadi Siu Su telah menghimpun segenap sisa tenaga pada sebelah tangannya, maksudnya akan memberi pukulan terakhir kepada lawan, dan bila gagal terpaksa harus pasrah nasib. Untuk itu dia berharap Tiangsun Jik akan mendekat dan membuka kedoknya, siapa tahu yang didekati Tiangsun Jik justru adalah Buyung Siok-sing. Dapat dilihatnya kecemasan nona itu dari sinar matanya, diam-diam Siu Su juga kuatir dan gusar, ketika dilihatnya Tiangsun Jik akan berbuat tidak senonoh, tanpa pikir lagi Siu Su meronta dan menubruk kesana sebisanya dan menghantam. Pukulan dengan segenap sisa tenaganya itu sungguh sangat dahsyat.
"blang", tubuh Tiangsun Jik terpental dan tumpah darah, seketika pun binasa. Siu Su sendiri juga tidak mampu menguasai tubuhnya lagi, ia jatuh terkapar dan tepat bertindih diatas dada Buyung Siok-sing. Waktu nona itu membuka mata, dilihatnya mata hidung Siu Su hanya sejengkal saja disebelahnya, dada anak muda itu mendempel diatas dadanya. Sekejap itu kedua orang sama dapat merasakan detak jantung pihak lain yang begitu keras, napas juga terengah. Kedua orang lantas memejamkan mata dan tak berani lagi beradu pandang. Siu Su cuma mencium bau harum yang menggetar sukma, dengus napas yang pelahan tambah memabukkan perasaannya. Ia tidak tahu apakah semua ini memang sudah takdir, perubahan kejadian ini sungguh sedemikian aneh dan kebetulan. Ia tidak berani membuka mata, sebab ia tidak dapat menerka bagaimana perasaan si nona. Rasa cinta memang sesuatu yang ajaib. Tanpa disadari Siu Su bahwa rasa gemasnya terhadap Buyung Siok-sing sepanjang perjalanan ini hanya dalam sekejap pada saat nona itu menanggalkan kedoknya itu telah berubah menjadi rasa cinta. Perubahan yang cepat dan aneh ini memang belum diketahuinya sendiri. Ia pun tidak percaya Buyung Siok-sing yang sebentar marah dan sebentar membentaknya itu juga bisa jatuh hati padanya. Tak diketahuinya perasaan Buyung Siok-sing itu timbul secara pelahan, yaitu berasal dari rasa benci berubah menjadi cinta. Akan tetapi setelah pengalaman sepanjang perjalanan, dirasakannya Siu Su adalah pemuda yang berperasaan, hanya saja perasaan halusnya telah tertutup oleh rasa dendamnya yang membara. Juga ditemukan sifat ke-kanak2an pada diri Siu Su, sifat kekanakan itu secara naluri menimbulkan kasih sayang seorang ibu padanya. Maka setelah berkumpul bersama sekian lama, hati Buyung Siok-sing jadi tambah goyah. Selama dua puluhan tahun ini dia hampir tidak sudi melirik barang sekejap terhadap lelaki mana pun, akan tetapi sekali perasaan yang sudah terpendam sekian lama itu meledak, maka sukar lagi untuk diatasi. Tapi demi Mao Bun-ki, sekuatnya ia tahan perasaan yan bergolak itu, lantaran itu juga, pertentangan batinnya itu telah banyak juga mempengaruhi tingkah laku dan tutur katanya. Maka sifatnya yang sebenarnya tenang dan sabar itu lantas berubah menjadi judes, girang dan marah tidak menentu. Kini suasana jagat raya ini sunyi senyap se-akan2 cuma tersisa mereka berdua saja. Setelah mengalami bahaya yang menentukan mati dan hidup, biasanya perasaan manusia mutlak menjadi lemah. Cinta kasih antara lelaki dan perempuan juga paling mudah tumbuh pasa saat-saat demikian. Entah selang berapa lama lagi, mendadak Siu Su membuka mata. Hampir pada saat yang sama Buyung Siok-sing juga membuka mata. Tapi hanya beradu pandang sekejap itu, keduanya lantas memejamkan mata lagi. Lalu kejap lain sama-sama membuka mata pula, dan seterusnya tidak mau terpejam lagi. Tidak ada yang bersuara, tidak ada yang bergerak... .Dari pandangan masing-masing dapat dibaca pujian pada cinta, dapat mendengar nyanyian cinta, juga dapat mencium bau harum bunga....Sungguh keadaan yang aneh dan perpaduan yang lucu, diatas wajah yang maha cantik itu adalah wajah Siu Su yang buruk karena memakai kedok. Detak jantung dan dengus napas mulai normal kembali. Tenanglah pergolakan perasaan kedua orang, mereka menikmati kemesraan dengan diam. Ditengah suasana yang hening dan adegan aneh itu, se-konyong2 dari luar melayang masuk sesosok bayangan orang. Sekilas melihat keadaan yang aneh ini, seketika pendatang ini berdiri melenggong. Kedua orang yang berbaring itu masih saling pandang, sama sekali mereka tidak tahu bahwa didalam ruangan sudah bertambah seorang dengan wajahnya yang pucat dan agak kurus, nyata dia inilah Mao Bun-ki. Dengan melenggong Bun-ki memandang mereka, bilamana sorot matanya dapat bicara, maka apa yang akan diucapkan entah betapa duka, betapa benci dan murka. Sebab sekali pandang segera dapat dikenalinya orang yang rebah diatas tubuh kakak seperguruannya itu ialah Siu Su, sang jantung hati yang tidak berperasaan itu. Pelahan ia mendekati tempat tidur, mendadak ia berteriak histeris, diraihnya kantung sutera dan kancing kain diatas tempat tidur itu dan dirobeknya hingga hancur. Karena teriakan kalapnya itu telah menyadarkan Siu Su dan Buyung Siok-sing dari buaian asmaranya. Hati mereka tergetar ketika tahu-tahu terlihat Mao Bun-ki sudah berada disitu. Setelah merobek hancur kantung sutera dan kancing kain itu, Bun-ki terus membantingnya dan meng-injak2nya dengan gemas sambil berteriak.
"Persetan!... .Mampus kau!... ."
Untuk mengambil kantung sutera yang ketinggalan ini dia kembali lagi kesini, tak tersangka olehnya disini akan dilihatnya adegan yang membuat hancur perasaannya.
Siu Su dan Siok-sing tidak dapat bicara, dalam keadaan demikian mereka pun tidak tahu apa yang mesti diucapkannya.
Mendadak Bun-ki melompat kedepan Siu Su berdua dan tertawa pedih dan ngeri, serupa tertawa hantu.
Dengan suara melengking ia berseru.
"Suci yang baik, kau bilang hendak menyelesaikan permusuhanku dengan dia, kau katakan akan menariknya untuk bergabung denganku, cara yang kau gunakan ternyata sedemikian hebat."
Dia terkekeh-kekeh lagi, lalu menyambung.
"Dan kau, Siu-kongcu, seharusnya engkau berterima kasih padaku. Tanpa diriku mana kalian dapat berada bersama seperti ini. Kau harus berterima kasih padaku."
Dalam keadaan tidak dapat bicara dan tidak bisa bergerak, juga tidak mampu memberi penjelasan, terpaksa Siu Su dan Siok-sing hanya mendengarkan suara tertawa dan nistanya saja.
Lengking tawa serupa hantu itu menusuk hulu-hati mereka, menyakiti lubuk hatinya.
Setelah berhenti tertawa, mendadak Bun-ki menjerit parau.
"Mengapa kalian tidak bersuara?"
Segera ditariknya Siu Su, dilepaskan kedoknya, diguncang-guncangkan tubuh anak muda itu sambil berteriak.
"Sungguh pemuda yang cakap, pantas Suci tergila-gila padamu."
Habis berteriak ia terus melepaskan pegangannya sehingga Siu Su jatuh terkapar lagi. Bun-ki jadi melengak.
"Hah, kenapa jadi begini? Mengapa tubuh kalian selemas ini? Ehm, ya, kalian tidak perlu memberi penjelasan, kutahu... .Ya, kutahu, dapat kulihat tadi, kalian saling tatap dengan begitu mesra, pada waktu itu biarpun kepala kalian akan dipenggal orang juga takkan kalian rasakan, cuma sayang, pada saat demikian aku justru muncul disini....."
Mendadak ia menampar muka sendiri dua kali dan berseru pula.
"Salahku, salahku sendiri, mengapa kudatang kemari dan menggagalkan perbuatan kalian. Namun kalian... .kalian pun jangan menyesal, pasti akan kuganti rugi kepada kalian."
Lalu ia berjongkok, digesernya Siu Su sehingga muka berhadapan muka diatas tubuh Buyung Siok-sing, dia membetulkan posisi mereka dengan hati-hati sehingga tepat hidung beradu hidung dan mulut beradu mulut.
Kemudian ia berkeplok dan berseru.
"Hah, bagus, begini baru bagus....."
Mendadak ia seperti ingat sesuatu, sambungnya lagi.
"Ah, tidak baik, begini kurang baik. Harus kubikin kalian tidak terpisahkan selama hidup, Eh, Suci yang baik, betul tidak?"
Kekuatan cinta memang sangat besar, tapi bilamana cinta berubah menjadi benci, tenaganya terlebih dahsyat sehingga dapat membuat Mao Bun-ki yang serupa malaikat itu berubah menjadi setan iblis.
Mendadak ia berlari kesamping tempat tidur, dikeluarkannya sebungkus barang, lalu berlari balik kedepan Siu Su berdua, katanya dengan terkekeh.
"Diam saja sayang, jangan bergerak!"
Isi bungkusan itu ternyata jarum dan benang.
Dikeluarkan alat jahit itu, benang dimasukkan kelubang jarum, dengan tangan kanan memegang jarum, tangan lain menarik pergelangan tangan Siu Su dan Buyung Siok-sing, lalu jarum terus ditubleskan ke pergelangan tangan kiri Siok-sing.
Darah segar merembes keluar, rasa sakit menyerang lubuk hati Buyung Siok-sing, namun rasa jasmani jauh daripada rasa sakit rohani.
Terdengar lengking tawa Bun-ki bergema lagi, katanya.
"Coba kau lihat, aku kan sangat baik, telah kuikat kalian menjadi satu."
Segera jarumnya menusuk terlebih dalam sehingga menembus lagi pergelangan tangan Siu Su, lalu ditarik keatas dan ditubleskan lagi dan beitu pula pada tangan yang lain.
Sesudah menjahit kedua tangan orang dengan erat akhirnya Bun-ki mengikat tali pati, habis itu baru berkata.
"Nah, sekarang kalian takkan berpisah lagi untuk selamanya."
Darah segar bertetesan melumuri pergelangan tangan kedua orang itu.
"Coba lihat,"
Bun-ki terkekeh pula.
"Pada tubuhmu sudah ada darahnya dan pada tubuhnya juga sudah ada darahmu. Apakah kalian tidak berterima kasih padaku?"
Mendadak dia seperti ingat sesuatu hal lagi, cepat ia menegluarkan setengah potong gelang baja, dirabanya sejenak, lalu mengeluarkan setengah gelang baja yang lain, gelang baja sebesar jari dan bersinar mengklat.
"Tring", Bun-ki mengetuk kedua belah gelang baja itu, Pada gelang baja sebelah kiri terdapat pula rantai kecil. Air muka Buyung Siok-sing berubah seketika demi melihat gelang baja itu. Air mukanya sejak tadi memang sudah pucat, sekarang tambah seram tampaknya. Bun-ki tetap tertawa ngekek.
"Suci yang manis, tentu kau kenal barang ini bukan? Namun... ."
Ia memandang Siu Su dan menambahkan.
"Apakah Siu-kongcu juga kenal barang ini? Ketahuilah barang ini bernama Tok-liong-goan (gelang naga berbisa) buatan Suhuku dengan baja murni, semula dibuat beliau untuk membelenggu sejenis binatang yang paling aneh, asalkan kedua belah gelang ini tercakup, maka takkan terpisah lagi untuk selamanya, pedang pusaka atau golok mestika apa pun tetap tak dapat menabasnya patah."
Bila kedua belah gelang itu dicakup, besar lingkarannya cuma sebesar cangkir.
Mendadak kedua tangan Bun-ki bekerja "krak", kedua belah gelang itu dipasang dipergelangan tangan Siu Su dan Buyung Siok-sing sehingga tulang tangan mereka serasa mau patah.
Sejauh itu Siu Su tetap tidak pentang matanya, namun sekarang keringat dingin telah menghiasi dahinya.
Tetesan keringat menitik ke pipi Buyung Siok-sing.
Bun-ki menengadah dan tertawa latah.
"Hahaha, bagus, sungguh bagus, benang dapat diputuskan, tapi Tok-liong-goan ini takkan terpatahkan untuk selamanya dan kalianpun takkan berpisah untuk selamanya."
Habis itu mendadak ia termenung.
Pelahan ia duduk dilantai dan memandang Siu Su dan Buyung Siok-sing dengan terbelalak, tampaknya dia sedang memikirkan apa-apa.
Dia seperti lagi merenung dengan cara apa yang lebih keji dan lebih gila untuk menyiksa Siu Su berdua yang telah melkai hatinya ini.
Ia merasa harus menyiksa mereka barulah rasa pedih dan iri sendiri dapat dikurangi.
Cinta yang mendadak berubah menjadi benci yang dahsyat sungguh semacam perasaan yang mengerikan..== ooo OO ooo == Di luar kota Tinkang sebelah timur terdapat tiga bukit, yaitu Jiau-san, Siang-san dan Kim-san.
Disebelah barat kota adalah lereng pegunungan yang jauh membentang ke wilayah Kangling.
Hujan baru reda, sinar matahari memenuhi angkasa.
Dijalan pegunungan ini mendadak muncul tujuh orang pengemis dengan baju yang dekil, perjalanan mereka tampak terburu-buru.
Rombongan pengemis ini terdiri dari berbagai usia, yang menjadi kepala rombongan masih sangat mudah, sinar matanya tajam, mukanya yang agak kurus menampilkan semacam sifat dingin.
Setiba dijalan pegunungan yang sepi ini, segera pengemis muda ini berkata.
"Lekas, bila kurang cepat mungkin akan terlambat!"
Sembari bicara ia lantas mendahului mengeluarkan ginkangnya dan berlari kedepan.
Gerakannya gesit dan cepat, meski keenam orang yang lainnya juga memiliki ginkang lumayan, tapi selisih jauh bilamana dibandingkan pengemis muda ini.
Pengemis muda ini tampak gelisah, jelas ada urusan penting tapi dia juga sering berhenti untuk menunggu keenam kawannya.
Setiba disuatu tempat lereng bukit itu, mendadak pengemis muda itu bersuit, suara suitan melengking nyaring berkumandang hingga jauh.
Begitu mendengar suara suitan, dari beberapa lekuk lereng sana serentak muncul likuran bayangan orang dan berlari kesini, semuanya lelaki kekar berbaju rombeng dan berdandan sebagai pengemis.
"Sudah datang semua?"
Tanya pengemis muda tadi segera sesudah berhadapan. Seorang lelaki berewok menjawab dengan hormat.
"Sudah, hanya saudara keluarga Tan dari Hwe-keh-san minta mengundurkan diri dan mengembalikan uang yang telah diterimanya....."
Air muka pengemis muda itu tampak prihatin, katanya.
"Kurang ajar, berani amat! Dimana mereka sekarang?"
"Disana,"
Jawab lelaki kekar tadi.
Waktu pengemis muda itu memandang kearah yang ditunjuk, dilihatnya dua pengemis kekar lain telah melompat keatas sepotong batu karang, keduanya lantas menarik sehingga dari balik batu terseret keluar dua sosok mayat yang kelihatan babak-belur dan anggota badan sudah terkutung, jelas keduanya mati karena teraniaya berat.
"Baik, cara yang bagus!"
Seru pengemis muda tadi dengan tersenyum.
"Gantung mereka diatas pohon agar ditonton setiap orang, inilah contohnya manusia khianat yang tidak setia pada sumpah persekutuan."
Semua orang terkesiap dan sebagian besar sama menunduk.
Pengemis muda itu menyapu pandang mereka sekeliling, mendadak ia mendekati seorang pengemis kekar yang berdiri pada ujung kiri sana.
Serentak pengemis kekar itu berdiri tegak menjulurkan telapak tangannya.
Sekilas pandang sipengemis muda dapat melihat jari kelingking orang sudah putus sebatas pangkal jari.
"Bagus!"
Pengemis muda itu mengangguk.
Lalu ia mendekat orang kedua, dengan sendirinya orang ini juga tidak punya jari kelingking.
Dan begitu seterusnya, pengemis muda itu melakukan inspeksi, telapak tangan setiap orang diperiksanya semua, diantara ke-dua puluh tujuh lelaki kekar ini ternyata ada delapan orang tanpa jari kelingking.
"Bagus sekali!"
Seru si pengemis muda sambil memberi tanda. Segera kedua puluh tujuh lelaki kekar itu menarik tangan dan disembunyikan didalam saku. Lalu pengemis muda itu angkat bicara dengan sikap kereng.
"Pertemuan hari ini sangat berbahaya dan sukar diramalkan hidup dan mati setiap peserta. Maka kalau diantara kalian ada yang takut dan ingin mengundurkan diri, saat ini masih belum terlambat."
Akan tetapi Ke-dua puluh tujuh orang itu serentak berseru.
"Mati atau hidup tidak menjadi soal, kami siap melaksanakan tugas."
Melihat contoh yang sudah tergantung diatas pohon, mana ada yang berani lagi menyatakan akan mengundurkan diri? Pengemis muda itu tersenyum.
"Jika kalian memang sedemikian setia kawan, segera juga kita akan berangkat. Tapi setiba disana setiap orang harus bertindak dengan hati-hati dan tenang, tanpa perintah tidak boleh sembarangan bertindak."
Serentak semua orang mengiakan.
"Sekarang keluarkan karung masing-masing dan melaksanakan tugas menurut rencana."
Seru pula sipengemis muda.
Suasana menjadi gaduh, orang-orang itu berlari kian-kemari menuju ke gua dan mengeluarkan setumpukan karung, ada yang lima buah, ada yang tujuh buah.
Pengemis muda itu membawa karung terbanyak, dia memegang sembilan buah dan disandang dipunggung.
"Sekarang tutup mulut dan berjalan secara teratur!"
Serunya.
Hendaknya maklum, karung yang tersandang dipunggung setiap pengemis itu menunjukkan kedudukan masing-masing didalam Kai-pang, sedikit pun tidak boleh keliru, kalau keliru bisa mendatangkan maut bagi yang bersangkutan.
Pengemis biasa umumnya cuma membawa sebuah karung, itu pun sudah terhitung kepala kelompok pengemis setempat.
Pengemis yang memiliki tiga buah karung biasanya juga tidak banyak.
Tapi pengemis yang masih muda ini ternyata menyandang sembilan buah karung, hal ini sudah menandakan kedudukannya adalah calon Pangcu.
Lelaki yang lain semuanya kekar tegap, juga tidak mirip kaum pengemis umumnya meski dandanan mereka serupa anggota Kai-pang, malahan semua membawa karung yang menandakan kedudukan yang cukup tinggi, sungguh hal yang aneh.
Segera pengemis muda itu mendahului melangkah kelereng sana, lalu melayang turun kebagian yang landai dengan bersemangat.
Lelaki yang lain tidak ada yang bersuara dan mengikut dibelakang pengemis muda itu dengan tenang.
Tidak lama kemudian, tertampak didepan ada sebuah selat yang diapit tebing gunung dikanankiri, lebar selat itu lebih dari setombak, tapi panjangnya pada beberapa pluh tombak.
Pengemis muda itu memberi tanda, katanya sambil menoleh.
"Sudah sampai, inilah tempatnya!"
Air muka orang-orang tadi serentak berubah, semuanya memandang selat itu dengan sorot mata tajam, sikap mereka menjadi bersemangat dan agak tegang.
Segera pengemis muda itu mendahului berjalan pula kedepan, baru saja tiba diujung selat, mendadak terdengar suara orang membentak berkumandang dari atas.
"Berhenti pendatang itu!"
Menyusul dari atas tebing yang rimbun tetumbuhan itu lantas melayang turun dua sosok bayangan, keduanya juga pengemis yang berbaju rombeng.
Satu diantaranya menyandang sebuah karung berwarna merah, dalam karung penuh terisi bambu runcing berwarna-warni.
Pengemis muda tadi tersenyum dan menyapa.
"Apakah kalian petugas menyambut tamu pertemuan ini."
Pengemis berkarung merah itu tampak ragu sejenak, sahutnya kemudian.
"Betul, entah kalian datang dari mana?"
Sipengemis muda menarik muka, katanya.
"Jika benar murid penyambut tamu, setelah bertemu denganku kenapa tidak lekas berlutut?"
Sembari bicara ia setengah berputar tubuh untuk memperlihatkan ujung karung yang disandangnya. Air muka pengemis berkarung merah berubah, cepat ia berlutut dan menyembah.
"Ampun, Tecu tidak tahu kedatangan Locianjin (calon pejabat)."
Pengemis yang lain berwajah pucat kuning seperti orangt sakit-sakitan, pada tangannya membawa se
Jilid buku, dia mengamat-amati pengemis muda ini dengan cermat, lalu bertanya dengan membungkuk tubuh.
"Mohon tanya siapa nama Locianjin yang mulia dan datang dari mana?"
"Untuk apa engkau banyak bertanya dan tidak lekas menyembah?"
Bentak si pengemis muda. Bersambung ke-19.
Jilid 19
"Nanti setelah Tecu mencocokkan daftar anggota, bila benar tentu akan kulakukan penghormatan sebagaimana mestinya,"
Jawab si pengemis muka kuning. Mendadak lelaki berewok tadi melompat maju dari belakang sipengemis muda dan membentak "sungguh budak yang tidak tahu aturan, masakah tidak kau kenal Ci-locianjin?"
"Ci-locianjin?. ..."
Pengemis muka kuning menegas dan bingung, pelahan ia membuka buku yang dipegangnya, lalu menyambung.
"Coba akan kucocokkan dulu....."
Tiba-tiba si pengemis muda memberi isyarat kedipan mata dan sileiaki berewok lantas berkata.
"Disini, pada nomor urut ini....."
Sembari bicara ia terus mendekati pengemis muka kuning.
"Nomor berapa?. ..."
Tanya pengemis muka kuning.
"Nomor se... ."
Belum lanjut ucapannya, mendadak si berewok menyerang, sebelah tangan mendekap mulut si Pengemis muka kuning, tangan yang lain terus menelikung tangan orang dan lehernya terus dipiting lagi.
"krek", kontan tulang leher pengemis muka kuning itu terjerat patah-Pengemis berkarung merah terkejut, cepat ia menubruk maju sambil membentak.
"Kurang Tujuh Pedang Tiga Ruyung A Diceritakan Oleh; Gan K.L A A A A Bagian 19
"Nanti setelah Tecu mencocokkan daftar anggota, bila benar tentu akan kulakukan penghormatan sebagaimana mestinya,"
Jawab si pengemis muka kuning. Mendadak lelaki berewok tadi melompat maju dari belakang sipengemis muda dan membentak "sungguh budak yang tidak tahu aturan, masakah tidak kau kenal Ci-locianjin?"
"Ci-locianjin?. ..."
Pengemis muka kuning menegas dan bingung, pelahan ia membuka buku yang dipegangnya, lalu menyambung.
"Coba akan kucocokkan dulu....."
Tiba-tiba si pengemis muda memberi isyarat kedipan mata dan sileiaki berewok lantas berkata.
"Disini, pada nomor urut ini....."
Sembari bicara ia terus mendekati pengemis muka kuning.
"Nomor berapa?. ..."
Tanya pengemis muka kuning.
"Nomor se... ."
Belum lanjut ucapannya, mendadak si berewok menyerang, sebelah tangan mendekap mulut si Pengemis muka kuning, tangan yang lain terus menelikung tangan orang dan lehernya terus dipiting lagi.
"krek", kontan tulang leher pengemis muka kuning itu terjerat patah-Pengemis berkarung merah terkejut, cepat ia menubruk maju sambil membentak.
"Kurang ajar! Berani kau. Belum lenyap suaranya si pengemis muda lantas melompat maju, secepat kilat ia tutuk hoatto didada orang, tangan lain terus merampas karung merah yang disandangnya. Tapi pengemis karung merah segera menggeser kesamping, berbareng sebelah kakinya lantas mendepak dan berteriak.
"Ada orang. ..."
Namun sebelum lanjut suaranya, si berewok sudah sempat menghantam kepalanya sehingga batok kepalanya hancur dan darah berhamburan.
"Telapak baja Si |_i ternyata tidak bernama kosong,"
Seru si pengemis muda dengan tersenyum.
Si lelaki berewok yang bernama Li Thi-ciang atau telapak baja si Li itu lantas melepaskan karung merah dari pinggang orang, mayat itu didepaknya kepinggir, lalu berkata dengan tertawa.
"Haha, sekalipun kepala banteng juga dapat kuhancurkan dengan sekali pukul! ' Dengan tersenyum mengemis muda menerima karung merah itu, bambu runcing yang terdapat dalam karung itu dibagikan kepada kawan-kawannya, waktu ia periksa, tertampak pada setiap bambu runcing itu terdapat nomor dan ukiran huruf yang berbunyi;
"Untuk ulang tahun Pangcu, satu bambu satu tahil."
Pengemis muda tertawa, katanya.
"lak tersangka si tua bangka Leng Liong merayakan ulang tahun juga sekaligus mengeduk keuntungan."
Ditengah gelak tawa orang banyak, rombongan mereka lantas masuk menyusuri selat itu.
Waktu mereka menengadah, tertampak diatas cuma selarik sinar saja, tempat ini sungguh sangat berbahaya-Pengemis muda itu menghela napas.
"Tempat ini sungguh sangat strategis, bilamana si tua Leng Liong menambah beberapa penjaga disini, betapapun sukar bagi kita untuk menembusnya."
Belum habis ucapannya, tiba-tiba tertampak bayangan orang berkelebat diujung selat sana.
Tertampak enam orang pengemis berikat pinggang kain biru berbaris dikedua sisi selat, si pengemis muda anggap tidak melihat mereka, dengan langkah lebar ia terus lalu dengan pongahnya.
Seorang pengemis berikat pinggang biru itu berseru.
"Saudara datang dari jauh, Pangcu tidak sempat mengadakan penyambutan, kami disuruh--..-"
Mendadak terhenti ucapannya ketika dilihatnya jumlah karung yang tersandang dipunggung pengemis muda itu-"Dimulut selat tadi sudah dicocokkan dengan buku daftar, apakah kalian perlu tanya lagi asal-usulku?"
Jengek sipengemis muda-Keenam pengemis berikat pinggang biru sama memberi hormat dan menjawab.
"0, tidak berani, silakan Locianjin meneruskan perjalanan dengan ikut kami."
Hendaknya diketahui bahwa anggota Kai-pang tersebar sangat luas, meski keenam anggota Kai-pang itu merasa sangsi, namun tidak berani bertanya lagi, dengan sikap hormat mereka lantas membawa rombongan pendatang ini keSana.
Sekeluar dari selat itu, tertampak disebelah kiri sana dibangun sebuah gapura yang tinggi, diatas gapura berkibar berpuluh lanjur kain berwarna-warni.
Pada puncak gapura terPampangg sehelai kain merah dengan tulisan;
"Pesta perayaan ulang tahun pangcu yang ke_60". Setelah melewati gapura itu, terdengarlah suara hiruk pikuk orang banyak. Ternyata ditanah lapang sana telah bergerombol beberapa ratus kaum jembel, semuanya duduk bersila ditanah dengan ganjal karung, didepan masing.2 terdapat dua buah piring rusak. Piring yang satu berisi macam-macam makanan ikan, piring yang lain berisi arak-Bau arak yang harum teruar menusuk hidung, bau sedap ikan dan daging juga merangsang selera. Kawanan jembel itu duduk menghadapi sebuah panggung bambu yang dibangun setinggi lebih setombak dari permukaan tanah, luas panggung ada empat-lima tombak, di kanan-kiri Panggung terdapat kursi bambu dan berduduk belasan pengemis. Ditanah luang didepan panggung ada dua orang pengemis sedang melawak sehingga menimbulkan gelak tertawa disana-sini. Keenam murid Kai-pang berikat pinggang biru tadi tidak berani sembrono, mereka membawa rombongan si pengemis muda kedepan panggung, begitu berhenti ia lantas memberi hormat dan berkata.
"Silakan Locianjin menunggu sebentar disini, biar Tecu lapor dulu kepada Pangcu agar diadakan penyambutan seperlunya."
"Ah, tidak perlu,"
Sahut si pengemis muda dengan tersenyum.
Mendadak ia melompat keatas panggung dengan gaya yang indah tanpa menimbulkan suara.
Kedua pengemis yang sedang melawak itu kaget, serentak mereka berhenti main.
Kiong-sin Leng Liong duduk diatas panggung, mendadak ia berpaling.
"Main terus!"
Berbareng ia lantas berbangkit dan mendekati si pengemis muda, dipandangnya orang dari atas kebauiah dan sebaliknya dengan kening bekernyit, tiba-tiba ia tertawa nyaring dan berkata.
"Wah, agaknya mata orang she Leng sudah mulai kabur sehingga tidak dapat mengenali asal-usul saudara ini. Numpang tanya sedikit, tingkatan sembilan karung ini saudara peroleh dari mana?"
Pandangan Leng Liong memang tajam, sekali lihat saja ia tahu pengemis muda ini bukanlah anak murid Kai-pang, sebab jelas diketahuinya diantara anggota Kai-pang tidak terdapat tokoh sembilan karung semuda ini-Pengemis muda itu balas mendengus.
"Hm, karung tanda tingkatan Pangcu biasanya datang darimana, dari situ pula kudapat karung tanda tingkatan ini?"
Dia lantas mengebaskan lengan bajunya dan mencari sebuah kursi bambu yang kosong dan duduk disitu tanpa permisi.
Para lelaki berdandan sebagai pengemis yang ikut datang itu serentak juga melompat keatas panggung dengan sikap garang dan siap berkelahi.
Dengan sendirinya pengemis yang sedang melacak tadi tidak dapat meneruskan lagi permainannya.
Para pengemis baik yang diatas panggung maupun yang dibawah juga sama melengak, semuanya diam, suasana gembira seketika berubah menjadi tegang.
Dengan tenang Leng Liong lantas menjawab.
"Kesembilan karung tanda tingkatan yang kupepoleh menuput peraturan leluhur Pang kita, dan ditambah satu demi satu atas usul para saudara dalam Pang kita."
Mendadak nada ucapannya berubah bengis dan bertanya.
"Sahabat ini bkan anggota Kaipang, darimana kau dapat karung tanda tingkat ini?"
Pengemis muda itu tetap tenang juga, jengeknya.
"Siapa bilang aku bukan anggota Kaipang? Aku ini orang rudin, hidup dari minta-minta, setiap orang menyebut diriku pengemis, sebaliknya engkau bilang aku bukan anggota perkumpulan pengemis. Jika demikian, apakah kau sangka aku ini orang kaya?"
Para pengemis kekar yang ikut datang bersama dia serentak tertawa geli. Bahkan si berewok yang bernama Li Thi-ciang itu tertawa paling keras, serunya.
"Setiap peminta adalah pengemis, setiap pengemis adalah anggota Kaipang, dalih ini cukup sederhana, masakah Leng-pangcu sendiri malah tidak mengerti?"
Dengan dingin si pengemis muda lantas menyambung.
"Aku justru lagi heran dari mana dia mendapatkan kedudukan Pangcu ini? Bila Pangcu dipilih oleh para anggota pengemis, kenapa kita sama sekali tidak tahu menahu?"
"Betul, tampaknya dia terpilih dengan cara yang curang, untuk adilnya harus diulangi kembali pemilihan Pangcu."
Sambung Li Thi-ciang.
Begitulah keduanya lantas tanya jawab sendiri se-oiah2 tidak ada orang lain, seketika timbul suara teriakan penasaran orang banyak, para pengemis yang berada diatas panggung juga lantas berbangkit dengan marah.
Mendadak Leng Liong bergelak tertawa, serunya.
"Haha, bagus sekali! Kiranya kedatangan kalian memang sengaja hendak mencari perkara-Memangnya aku lagi merasakan pertemuan hari ini kurang semarak, sekarang kalian datang untuk membikin keramaian, sungguh sangat kebetulan."
Sampai disini mendadak ia menarik muka dan menyambung dengan bengis.
"Hah, cara bagaimana kalian ingin menyelesaikan perkara ini, silakan bicara dan pasti akan kulayani."
Serentak para pengemis diatas dan dibauiah panggung bersorak gemuruh menyatakan dukungannya. Pengemis muda itu tetap duduk tenang dikursinya, jengeknya kenudian.
"Kita ini adalah kaum jembel yang patuh pada peraturan, orang miskin yang sopan, kita sama sekali tidak paham urusan tetek-bengek dunia Kangouw, prihal main bunuh dan main pukul yang merupakan tindak kasar kaum bandit itu sama sekali tidak dikenal oleh kaum jembel kita. Tapi sekarang sengaja kau laksanakan Peraturan yang menyerupai tingkah laku kaum penjahat, betapapun kami harus mewakili leluhur kita untuk menumpas dirimu."
Kawan pengemis yang ikut datang bersama dia serentak berteriak.
"Betul kita minta pemilihan pangcu baru....."
Mendadak seorang pengemis bermata besar dan beralis tebal yang duduk diatas panggung melompat maju sambil membentak.
"Siapa yang minta pemilihan pangcu boleh coba tanya dulu kepada aku Thi Tai-lik!"
"Baik, aku saja yang tanya padamu,"
Bentak Li Thi-ciang mendadak, kontan ia menghantam dada Thi Tai-lik alias Thi si tenaga raksasa.
Thi Tai-lik tidak mengelak juga tidak menghindar, sebaliknya ia sambut pukulan orang dengan pukulan yang sama.
"biang", kedua kepalan beradu dengan telak-Li Thi-ciang tergetar mundur setindak, tapi segera dia berdiri tegak lagi, ia meludahi kepalan sendiri satu kali, lalu bergelak tertawa dan berseru.
"Nah. siapa yang ingin coba-coba lagi?"
Kiranya Li sitenaga raksasa telah terpukul mencelat kebawah panggung, tulang pergelangan tangannya patah, bahkan tumpah darah dan jatuh kelengar-Keruan kawanan jembel menjadi gempar, Leng Liong juga terkesiap, segera ia membentak.
"Keparat, sambut pukuianku ini!"
Siapa tahu belum lagi dia melancarkan pukulan, mendadak sipengemis muda telah melompat maju, sekali jambret ia cengkeram leher baju Li Thi-ciang dan membentak.
"Berlutut!"
Li Thi-ciang melenggong, ia tidak berani membangkang, cepat ia bertekuk lutut Dengan muka kelam si pengemis muda mendamperat.
"Kedatangan kita ini adalah ingin bicara secara beraturan, siapa yang suruh kau main kekerasan? "Ya, TeCu salah,"
Jawab Li Thi-ciang dengan menunduk-Si pengemis muda mendengus.
"Hm, sembarangan menyerang orang dan akan kau tebus dengan mengaku salah begitu saja?"
Mendadak dia angkat sebelah kakinya, kontan Li Thi-ciang ditendang kebawah panggung, tanpa ampun Li Thi-ciang juga tumpah darah dan menggeletak tak bisa berkutik, tampaknya lukanya terlebih parah daripada Thi Tai-lik.
Kawanan jembel mestinya sudah kalap dan berbondong-bondong berkerumun disekitar panggung, tapi demi menyaksikan tindakan pengemis muda ini, rasa murka mereka lantas hilang, sebaliknya malah memuji tindakan Pengemis muda yang bijaksana dan adil ini.
Leng Liong menyapu pandang kaum penyatron ini dengan kening bekernyit, pikirnya.
"pemuda ini sedemikian tabah, tindakannya juga semantap ini, rasanya sangat sukar dihadapi. Jika dia mau berkelahi begitu saja rasanya tidak perlu ditakuti, tapi dia justru bertindak seaneh ini, jelas kedatangannya ini berencana dan mempunyai tujuan tertentu-ii Pejabat ketua Kai-pang yang sudah berpuluh tahun berkecimpung didunia Kangouw ini menjadi sangsi dan diam-diam memikirkan cara bagaimana harus menghadapi lawan yang masih muda itu-Tertampak pengemis muda itu mengangkat tangannya dan menuju kedepan Panggung, teriaknya.
"Kita sesama anggota Kai-pang dan merupakan kekuatan kaum jembel yang terpuji didunia Kangouw, adapun kedatanganku hari ini tidak lain hanya ingin memohon sesuatu. ..."
Dia merandek sejenak, lalu mengacungkan tinju keudara dan berteriak pula.
"yaitu semoga kalian dapat menegakkan keadilan dan kebenaran. Kalian semua adalah lelaki yang berdarah panas, kuyakin permohonanku pasti akan diterima dengan baik."
Dia bicara dengan singkat dan langsung menuju kepersoalannya secara terus terang, anak murid Kai-pang yang pada umumnya adalah lelaki yang polos dan berdarah panas itu sama tertarik dan terpengaruh.
Banyak diantaranya serentak mengangkat tangan dan berteriak.
"Asalkan urusan yang menyangkut keadilan dan kebenaran, kami pasti setuju."
Tambah rapat Leng Liong mengernyitkan keningnya.
Semakin cemerlang cara bicara pengemis muda ini, semakin membuat hatinya tidak enak.
ia merasakan dibalik kata-kata yang gilang gemilang itu pasti tersembunyi sesuatu intrik yang besar.
Tapi dalam keadaan dan tempat ini dia justru tidak mampu membongkar kepalsuan orang.
Dilihatnya pengemis itu memperlihatkan rasa senang, serunya pula.
"Sudah sekian ratus tahun Kai-pang kita berdiri, yang kita lakukan ini meski bukan pekerjaan yang mendatangkan harta benda, namun biasanya setiap tindak-tanduk kita selalu dilakukan secara blak-blakan tanpa mengingkari hati nurani, jauh berbeda dengan perbuatan mereka yang main bunuh dan ramp0k segala, juga tidak sama dengan golongan yang suka berebut wilayah, semua ini pantas menjadi kebanggaan Kai-pang kita, kupercaya saudara-saudara sekalian juga sama merasa bangga untuk ini."
Karena ucapan orang memang beralasan, serentak kawanan pengemis sama membenarkannya. Tapi pengemis muda itu lantas menarik muka dan berkata dengan khidmat.
"Namun akhirakhir ini mendadak kutemukan Pang kita telah jauh berkurang kadarnya, telah luntur, suka berebut nama dan keuntungan serupa juga golongan dan aliran lain, sering bergebrak dan bermusuhan dengan orang."
Tambah lantang suaranya, sambungnya lagi dengan mengangkat tangannya keatas.
"Perbuatan demikian itu sungguh melanggar ajaran leluhur pimpinan pang kita, lantaran itulah kutampil kemuka dan hadir disini, tujuanku adalah meminta agar saudara-saudara suka taat kepada ajaran leluhur, jangan ikut campur urusan permusuhan dan bunuh membunuh didunia Kangouw, ingin kubawa saudara sekalian kembali kejalan yang benar, kembali kepada tujuan suci yang diajarkan leluhur pimpinan Pang kita. Karena apa yang diuraikan itu adalah demi kebaikan Kai-pang, kawanan jembel menjadi percaya ia pasti tokoh Kai-pang yang tidak suka menonjol dan selama ini mengasingkan diri. Sebaliknya Kiong-sin Leng Liong lagi berpikir.
"Apa tujuannya dia bicara bertele-tele begini?"
Pada saat itulah mendadak seorang memanggilnya dari belakang.
"Pangcu. ..."
Waktu Leng Liong berpaling, dilihatnya seorang pengemis bermuka buruk berdiri dibeiakangnya dan menyodorkan secark kertas padanya, lalu tinggal pergi-Tergerak hati Leng Liong, cepat ia membuka lipatan kertas dan dibaca, disitu tertulis.
"Orang ini adalah murid Mao Kau, namanya Thi-tah-sUcia Ci Tok, orang-orang yang ikut datang semuanya juga antek Mao Kau. Tulisan surat ini kelihatan kurang rajin, ditulis dengan arang, jelas ditulis secara terburu-buru. Tapi dari tulisan ini telah disampaikan sebuah rahasia besar yang membuat intrik Mao Kau gagal berantakan. Dalam keadaan demikian Leng Liong tidak sempat lagi memikirkan siaPa yang menulis surat ini, waktu ia pandang kesana, dilihatnya si pengemis muda alias ci Tok asyik berpidato. = Dengan tipu muslihat apa Mao Kau dan anak buahnya akan mengacau dan memecahbelah kekuatanA A A Kai-pang? = Siapa pemberi info kepada Leng Liong tentang intrik Mao Kau itu? ===A Bacalah
Jilid lanjutannya^ === "Maka dari itu, saudara-saudara,"
Demikian Ci Tok lagi berseru dengan bersemangat.
"Demi hari depan Kai-pang kita yang cemerlang, aku mengusulkan agar Pang kita mengadakan pemilihan umum baru untuk mengangkat seorang Pangcu yang bijaksana dan tidak memimpin dengan kekerasan. ..."
"Sudah selesai bicaramu, Ci Tok?"
Bentak Leng Liong mendadak. Pengemis muda alias Thi-tah-sucia ci Tok melengak, tapi ia masih berlagak Pilon dan menjawab.
"Kau bilang apa?"
"Hm, tidak perlu berlagak bodoh,"
Jengek Leng Liong.
"SUdah kuketahui intrik Mao Kau yang bermaksud merajai dunia Kangouw, diam-diam dia berusaha memupuk kekuatan sendiri dan mengadu domba diantara sesama kawan Kangouw, kedatanganmu ini juga untuk urusan ini, bukan?"
Serentak kawanan pengemis menjadi gempar karena ucapan Leng Liong ini. Pengemis muda itu menjadi gugup karena kedoknya terbongkar, sambil membentak ia lantas menubruk maju dan menghantam, teriaknya.
"Ngaco belo! Demi membersihkan anasir jahat didalam Kai-pang, terpaksa kubereskan kau!"
"Hm, kau ingin bergebrak denganku, masih selisih jauh,"
Jengek Leng Liong sambil mengelak.
Dalam sekejap saja kedua orang sudah bergebrak dua_tiga jurus.
Kebanyakan anggota Kaipang masih belum jelas duduknya perkara sehingga mereka ragu, maka semuanya cuma menonton saja pertarungan itu.
Ditengah keributan, sekonyong-konyong terdengar suara kuda lari datang secepat terbang.
Dua ekor kuda gagah menarik sebuah kereta besar menerjang ketengah kerumunan orang banyak dengan mulut berbusa.
Diatas kereta terpancang dua helai panji yang berkibar tertiup angin-Tertampak salah sebuah panji itu ada tulisan "Buyung Siok-sing"
Dan pada panji yang lain tertulis "Siu Su".
Dibeiakang kereta terseret beberapa ikat ranting kayu, golok dan pedang, juga kaki kursi dan meja patah, semuanya terseret ditanah sehingga menimbulkan suara gemuruh dan mengepulkan debu.
Memangnya suasana agak kacau, kini muncul lagi kereta kuda yang unik ini dengan panjinya yang tercantum dua nama orang yang mengejutkan itu.
Kereta kuda itu masih terus membedal langsung menuju kedepan panggung dan lari kuda tampak seperti kesetanan dan sukar ditahan.
Sekilas melirik |_eng Liong juga terkejut, pikirnya.
"Tindak-tanduk Siu Su biasanya memakai perhitungan, yang berada didalam kereta pasti bukan dia, jelas semua ini permainan Mao Kau."
Maka cepat ia berseru.
"Tahan kereta itu dan seret kepinggin"
Serentak dua orang melayang turun dari atas panggung, Seorang adalah anggota Kai-pang, seorang lagi adalah lelaki dengan jari putus yang datang bersama Ci Tok.
Begitu melayang turun, masing-masing hinggap diatas salah seekor kuda itu-Kuda dengan mulut berbuih itu seperti kesurupan setan dan hampir saja panggung bambu diterjang.
Untunglah anggota Kai-pang itu keburu menarik tali kendali sehingga kuda meringkik dan menegak, namun dapatlah ditahan mentah-mentahi Lelaki putus jari itupun bermaksud menahan kuda yang lari cepat itu, namun dia terlambat sekejap sehingga kuda yang satu berhenti mendadak dan kuda yang lain masih membedal kedepan, akibatnya laju kereta menjadi kehilangan keseimbangan, seketika kereta miring dan akan terguling.
"Serahkan padaku saja!"
Jengek si anggota Kai-pang.
"Hm. memangnya aku tidak bisa? 1 jawab lelaki putus jari dengan gusar, mendadak ia hantam punggung kuda. kerena kaget dan kesakitan, kuda lantas meringkik dan berjingkrak, kontan lelaki itu terperosot kebawah dan terlindas roda kereta. Terdengar jeritan ngeri, lengan kanannya telah terlindas putus. Namun orang ini sungguh nekat, mendadak ia melompat bangun lagi. tangan lain terus mengambil segenggam senjata rahasia dan dihamburkan seluruhnya ketubuh kuda. Senjata rahasia itu semua bersarang ditubuh kuda, kembali kuda meringkik kesakitan dan kepala menumbuk panggung bambu, lalu roboh binasa. Dengan sendirinya kereta yang ditariknya itu berguncang keras dan akhirnya juga terguling. Anggota Kai-pang tadi cepat melompat turun, ia tuding orang dan memaki.
"Keparat, kenapa... ."
Meski lengan putus dan kesakitan setengah mati, tapi lelaki itu memang bandel dan juga tangkas, segera ia melompat maju dan membentak.
"Tong-san-hou Le-toaya memang berwatak begini, memangnya kau mau apa? Jika penasaran, boleh kau coba...."Tutup mulut!"
Bentak si pengemis muda mendadak.
Tong-san-hou atau si harimau dari gunung timur melengak, baru sekarang teringat olehnya kedatangannya ini mengemban tugas rahasia, tanpa sadar dia telah membocorkan asalusulnya sendiri.
Melihat wajah pengemis muda yang gusar itu, tanpa terasa kakinya menjadi lemas terus berlutut.
Lelaki gagah perkasa ini ternyata sangat takut terhadap pengemis muda ini.
Tentu saja hal ini membuat kawanan pengemis sama melenggong.
Segera Leng Liong bergelak tertawa dan berteriak.
"Haha, Tong-san-hou, bagus Tong-san-hou, hanya seorang bandit kecil juga berani menyaru sebagai anggota berkantung tujuh Pang kita, Hm, tangkap dia!"
Anggota Kai-pang dapat melihat jelas pada punggung Tong-san-hou memang tersandang tujuh buah karung, tentu saja mereka menjadi gusar, serentak mereka membanjir maju.
Maklumlah, sembarangan menyandang karung yang menandakan tingkatan setiap anggota Kai-pang adalah pantangan besar bagi kawanan pengemis itu.
Tong-san-hou menjadi jeri melihat membanjirnya anggota Kai-pang, cepat ia berseru.
"Cisiauhiap. ..."
Karena gugupnya tanpa terasa dia menyebut nama asli pengemis muda itu.
Pengemis ini memang betul murid utama Mao Kau, Thi-tah-sucia Ci Tok, cocok seperti info yang diterima Leng Liong tadi.
Tentu saja Ci Tok menjadi gugup juga, dengan murka ia mendamperat.
"Goblok!"
Berbareng tangannya bergerak, selarik sinar hitam lantas menyambar kedada Tong-san-hou.
Namun Leng Liong sempat melompat maju dan menyampuk jatuh senjata rahasia orang, dalam pada itu anggota Kai-pang juga telah menerjang maju dan membekuk Tong-san-hou yang ketakutan itu.
"Tangkap hidup-hidup!"
Seru Leng Liong. Lalu ia membalik menghadapi Ci Tok sambil mendengus.
"Hm, orang she Ci, apa yang dapat kau katakan lagi?"
Muka Ci Tok tampak kelam, sampai sekian lama ia tak mampu bicara-Mendadak ia tertawa latah dan berseru.
"Betul, aku ini memang Ci Tok, salahku sendiri membawa pengiring goblok itu, memangnya kau mau apa jika siapa diriku sudah kau ketahui?"
"Bagus, memang lelaki gagah, kalah pun cemerlang,"
Seru Leng Liong-"Siapa bilang aku kalah?"
Jengek Thi-tah-sucia Ci Tok, ia memberi tanda, para lelaki yang berdandan sebagai pengemis dan ikut datang bersama dia serentak mengeluarkan senjata masing-masing yang tersembunyi didalam baju dan didalam karung.
Seketika terdengar dering nyaring dan gemilap sinar senjata tajam, suasana menjadi panas diliputi ketegangan-"Hm, dalam keadaan begini masih berani juga kalian melawan?"
Jengek Leng Liong.
"Memangnya kau kira kami mandah dijagai begitu saja."
Ci Tok balas menjengek.
"Jangan kau kira jumlah kalian lebih banyak dan pasti akan menang, jangan lupa setiap kawan yang datang bersamaku ini adalah jago pilihan... ."
"Tidak Perlu banyak omong, habisi saja-..."
Mendadak terdengar teriakan anggota Kai-pang yang tidak sabar.
Thi-tah-sucia Ci Tok memang tidak malu disebut Thi_ta atau si-nyali baja, menghadapi suasana genting begini dia tetap tabah, serunya Pula.
"Sabar dulu, kawan~kauian> dengarkan keteranganku. ..."
"Keterangan apa!"
Teriak orang banyak.
"Tidak perlu lagi engkau mengoceh, tidak nanti kami mau percaya lagi. Pendek kata hari ini jangan kau harap akan pergi lagi dari sini."
"Betul, kepung dia dan bekuk dia|"
Teriak yang lain disebelah sana. Seketika suara teriakan gusar sahut menyahut disana~sini. Namun Ci Tok tetap tenang saja, dengusnya.
"Hm, jika kalian tidak mau mendengarkan keteranganku, sebentar lagi pasti akan terjadi banjir darah. Sekalipun kami tak bisa lolos dari sini-Pihak Kai-pang kalian pasti juga akan jatuh korban tidak sedikit, untuk itu berarti kekuatan Kai-pang kalian sukar dipulihkan dalam waktu singkat. Kalau kalian tidak percaya, boleh silakan coba-coa."
Serentak kawanan lelaki putus jari yang berdiri dibelakangnya memutar senjata masingmasing sehingga menerbitkan cahaya kemilau.
Seketika kawanan pengemis sama terkesiap dan tidak berani sembarangan bertindak.
Ci Tok menyapu pandang dengan pongahnya, lalu berseru pula.
"Sebenarnya kedatanganku ini tidak berniat jahat. ..."
"Tidak berniat jahat, memangnya handak mengcapkan selamat ulang tahun padaku?"
Jengek Leng Liong. Thi-tah-sucia berlagak tidak mendengar ejekan orang, katanya Pula.
"Waktu kudengar Kaipang mengadakan rapat disini dan sekaligus merayakan ulang tahun Leng-pangcu, bergegas aku lantas menuju kemari, tapi kuatir ditolak untuk menghadir, terpaksa kami menyamar...."Hm, jika kau tambah menyandang beberapa buah karung lagi, kan pengemis tua harus menyembah padamu?"
Sela Leng Liong pula dengan bergelak tertawa.
"Dan apakah itu yang kau katakan tidak berniat jahat kedatanganmu ini?"
"Kubilang tidak bermaksud jahat, sebab kedatangan kami sesungguhnya ingin mengajak kerja sama pihak Kai-pang."
Jawab Thi-tah-sucia, Bilamana selanjutnya Kai-pang tidak ikut campur urusan Leng-coa-bun kami, maka Leng-coa-bun kami bersedia mengikat Persaudaraan dengan kalian."
"Hm, kala kami menoiak?"
Tanya Leng Liong dengan ketus.
"Leng-pangcu,"
Ucap Ci Tok dengan pelahan.
"Meski orang Leng-coa-bun yang datang sekarang cuma beberapa puluh orang saja. tapi semuanya jago pilihan dengan pengalaman tempur yang luas, seorang sanggup menandingi lima atau sepuluh orang Kai-pang. ..."
"Kentut busuk!....Omong kosong!....."
Teriak anak murid Kai-pang mendadak. Cepat Leng Liong memberi tanda dan berkata.
"Biarlah dia bicara dulu!"
Dengan bengis Thi-ta-sucia lantas berteriak.
"Kecuali itu, bila guruku mau tampil kemuka dan berseru, dalam sehari saja pasti dapat menghimpun beberapa ratus tokoh terkemuka untuk menghadapi Kai-pang kalian. Sebab itulah ingin kuperingatkan agar sebelum bertindak sesuatu hendaknya Leng-pangcu menimbangnya dengan masak-masak."
"Menimbang apa?"
Jengek Leng Liong.
"Akan menjadi kawan atau lawan, hal ini bergantung pada keputusan Leng-pangcu dalam sekejap saja, bagaimana akibatnya juga bergantung kepada keputusanmu ini."
"Bicara kian kemari, jadi tujuanmu ingin minta Kai-pang kami jangan ikut campur urusanmu, begitu?"
Tanya Leng Liong.
"Ya, begitulah-"
Jawab Ci Tok.
"memangnya dalam urusan apa kau minta Kai-pang tidak ikut campur persoalan perguruanmu?"
"Pertama adalah mengenai permusuhan orang pribadi dengan Leng-coa-bun kami."
Tutur Ci Tok.
"Untuk itu setiap orang Kangouw dilarang ikut campur, termasuk juga pihak Kai-pang kalian.
"Rupanya maksud kedatanganmu adalah ingin minta Kai-pang kami berpeluk tangan saja dan menyaksikan Leng-coa-bun kalian berkomplot dan memupuk kekuatan, membunuh lawan dan menyingkirkan kawan untuk kemudian merajai dunia persilatan, akhirnya Kai-pang kami juga akan kalian depak kepinggir."
"Yang kumaksudkan pada urusan pertama adalah mengenai permusuhan pribadi, masakah Leng-pangcu tidak mendengar jelas? "Huh, permusuhan pribadi apa, paling-paling urusan yang menyangkut Siu-siansing itu-"
Seru Leng Liong dengan tertawa.
"Asal Leng-pangcu tahu saja."
Ujar Ci jok.
"Hm, untuk apa Kai-pang kami ikut campur urusan itu, melulu Siu Su seorang saja sudah cukup membuat kalian kepala pusing, buat apa orang lain melibatkan diri?"
"Hm, Siu Su?!"
Jengek Ci Tok.
"Memangnya dia itu apa?"
"Usia orang ini masih muda belia, namun menguasai kungfu maha sakti dengan kecerdasan yang tidak ada taranya, bila kesepuluh Giok-kut-sucia perguruan Leng-coa bertemu dengan dia, kukira akan serupa setan ketemu raja akhirat. Memangnya kau sendiri belum pernah bertemu dengan dia?"
"Hm, untung baginya."
Jengek Thi-tah-sucia Ci jok.
"Apa betul belum pernah kau lihat dia?"
Leng Liong menegas.
"Jika dia bertemu denganku, saat ini mungkin sudah pergi menghadap raja akhirat*"
"Huh, paling-paling engkau cuma membual saja dibelakangnya."
Ujar Leng Liong.
"Tapi ingin kuperingatkan padamu, kau perlu hati-hati sedikit, anak muda itu maha sakti, bukan mustahil sekarang juga dia berada dibelakangmu dan telah mendengar ocehanmu."
Seketika ci Tok terkesiap, tanpa terasa ia menoleh. Leng Liong tertawa geli, serunya, Hahaha, nyali baja Thi-tah-sucia ternyata tidak lebih daripada ini saja."
Dari malu Ci Tok menjadi gusar, teriaknya.
"Hm, jika benar sekarang dia berada disini, tentu segera ku....."
Belum lanjut ucapannya, mendadak terdengar orang meraung gusar disertai suara letusan.
Kereta yang ambruk dibawah panggung tadi mendadak pecah meledak, Papan kabin kereta bertebaran dan hancur berkeping-keping.
Ditengah berhamburnya papan kayu dua sosok bayangan orang terus melompat keluar, seorang lantas membentak menyambut ucapan Ci Tok tadi.
"Lantas akan kau apakan?. ..."
Tadinya Leng Liong mengira kereta ini cuma tipuan pihak Leng-coa_bun untuk main gertak saja dan didalamnya tidak berisi seorang penumpang pun, maka sama sekali tidak diperhatikannya lebih lanjut.
Siapa tahu mendadak bisa terjadi Perubahan begini, karuan semua orang sama terkejut.
Bayangan kedua orang itu pun meloncat dengan cepat sehingga seketika tidak dikenali siapa mereka?
.AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA Kiranya tempo hari setelah Mao Bun-ki memergoki Siu Su dan Buyung Siok-sing menggeletak tak bisa berkutik diruang bawah tanah itu, dia menjadi beringas.
Dari sorot mata si nona dapatlah Siu Su dan Buyung Siok-sing merasakan gelagat tidak enak, mereka sama menduga Bun-ki pasti akan mencari jalan untuk menyiksa mereka.
Diam-diam Buyung Siok-sing membatin.
"Tak tersangka Sumoai dapat membenci diriku sedemikian hebat, ai, kuharap dia... dia merusak saja wajahku dan seterusnya aku pun tidak perlu banyak urusan lagi."
Dalam pada itu Siu Su melihat Bun-ki telah mengeluarkan sebilah pisau kecil, mau-tak-mau tergetar juga perasaannya, pikirnya.
"Jangan-jangan dia akan menyayat muka kami. Tidak menjadi soal jika wajahku dirusak olehnya, tapi kalau dia menggores muka Siok-sing sedikit saja pasti takkan kuampuni dia."
Terlihat Bun-ki berdiri termangu, lalu bergumam.
"Aku tak dapat membandingi... .tak dapat membandingi dia... ."
Selain timbul rasa irinya yang menggila, dengan sendirinya timbul juga rasa menyesal dan benci pada diri sendiri.
Dari bungkusan jarum dan benang tadi dikeluarkannya sebuah cermin, dipandangnya wajah Buyung Siok-sing, lalu memandang wajah sendiri dalam cermin, sekonyong-konyong ia mengangkat pisau.
....
Tentu saja Siu Su dan Buyung Siok-sing terkesiap, tapi sungguh diluar dugaan.
Bun-ki tidak menyayat muka siaPa-siapa melainkan muka sendiri yang diirisnya.
Seketika darah segar merembes keluar dari wajahnya yang cantik itu.
Karuan Siu Su dan Buyung Siok-sing sama terperanjat.
Bilamana mereka dapat bersuara pasti mereka akan menjerit.
Bilamana mereka sekarang dapat bergerak, mereka pasti akan merampas pisau yang dipegang Bun-ki itu.
Akan tetapi sekarang mereka sama sekali tidak berdaya, mereka cuma dapat menyaksikan anak perempuan yang khilaP ini lagi mengamuk kepada dirinya sendiri, dengan pisau berulangulang sedang menyayat mukanya sendiri.
Dengan suara memilukan anak dara itu meratap.
"Mao Bun-ki, Oo, Mao BUn-ki, mengapa... mengapa mukamu tidak dilahirkan lebih cantik sedikit... .Kubenci padamu, kubenci... .kubenci pada mukaku ini, kubenci, mengapa... .mengapa mukaku seburuk ini Ditengah ratap tangisnya yang memilukan itu, wajahnya yang cantik molek dan putih mulus itu dalam sekejap telah menjadi hancur. Tak terperikan perasaan Siu Su, juga Buyung Siok-sing tidak tahan menyaksikan adegan mengerikan itu, kontan dia jatuh pingsan. Mendadak Bun-ki melemparkan pisau dan cermin itu, lalu berdiri tertegun sampai sekian lamanya. Siu Su tidak sampai hati untuk memandangnya dan memejamkan mata. Tiba-tiba Bun-ki tertawa seperti orang tidak waras, teriaknya.
"Suci yang baik, selanjutnya aku takkan kalah lagi dibandingkan dirimu, engkau adalah gadis paling cantik didunia ini, aku juga perempuan paling jelek didunia, kita sama-sama nomor satu didunia."
Dia tertawa terkekeh dan berkata pula.
"Kalian jangan takut, tidak nanti kubunuh kalian, aku cuma ingin membuat kalian selalu bersama agar setiap orang tahu bagaimana bentuk kalian!"
Mendadak ia mengangkat tubuh Siu Su berdua terus dibawa lari keluar dari lorong ba^ah tanah.
Dimulut lorong sana menanti sebuah kereta.
Kusir kereta juga anak buah kepercayaan Mao Kau, tentu saja ia terkejut melihat keadaan Bun-ki yang mengerikan itu, saking kagetnya dia jatuh terperosot kebauiah kereta, serunya dengan suara gemetar.
"o, nona, engkau... .engkau... .' Bun-ki terkekeh, katanya.
"Hehe, sekarang aku tambah cantik bukan? Haha, dapatkah kau terka bagaimana bakal suamiku bila melihat keadaanku ini? Sengaja hendak kubikin dia kaget-maka aku berbuat demikian."
Kusir itu menggigil sehingga tidak sanggup bicara lagi. Segera Bun-ki memasukkan Siu Su dan Buyung Siok-sing kedaiam kereta, ia berdiri termenung sejenak, mendadak ia membentak.
"Jaga mereka, berani kau ganggu mereka segera kubinasakan kau."
Kusir itu gemetar ketakutan.
Bun-ki lantas berlari masuk lagi kedaiam ruangan tadi, dikumpulkannya senjata, kaki meja kursi yang patah dan benda lain, lalu dibungkus dengan kain seprei.
Kemudian dia mendapatkan alat tulis, kain seperti yang lain dirobeknya menjadi dua, ditulisnya diatas kain nama Buyung Siok-sing dan siu Su, lalu dibawa kembali ketempat kereta tadi.
Kain seprei bertulisan itu digunakan sebagai bendera dan dipancangkan diatas kereta.
Akhirnya kain seprei pembungkus senjata dirobek menjadi belasan lonjor dan digunakan sebagai tali pengikat macam-macam barang itu serta diikat dibelakang kereta.
Dipandangnya hasil karyanya sendiri dengan tertawa bangga, gumamnya.
"Dengan cara demikian tentu kalian akan tambah terkenal, Barang siapa melihat kereta ini tentu akan menaruh perhatian dan bila orang sama melihat keadaan kalian, hahaha. ..."
Dia tertawa geli hingga menungging, setelah puas tertawa, mendadak ia berkata pula.
"Sepanjang jalan ini bila tidak ada orang membunuh kalian, pada hari pernikahanku kelak hendaknya kalian hadir untuk minum arak, jangan lupa!"
Habis berucap tiba-tiba ia gunakan pisaunya menusuk pantat kedua ekor kuda itu, karena kesakitan, kuda lantas lari seperti kesetanan.
Karena tak bisa berkutik, Siu Su dan Buyung Siok-sing didalam kereta hanya mendengarkan saja suara tertawa latah Bun-ki yang semakin jauh dan akhirnya tak terdengar lagi.
Keduanya lantas memejamkan mata dan pasrah nasib.
Mereka tahu banyak orang Kangouw yang ingin membekuk mereka, perbuatan Mao Bun-ki ini tiada ubahnya serupa mengantarkan mereka kejalan kematian.
Umpama ditengah jalan tidak kepergok musuh, tapi Pasti ada orang yang tertarik oleh kereta yang lari tanpa pengemudi ini, dan bila ada yang menghentikan kereta ini dan melihat keadaan mereka, betapapun pasti akan menimbulkan akibat yang sukar dibayangkan-Siapa tahu kereta ini terus membedal sepanjang jalan tanpa rintangan, kebanyakan orang yang melihatnya segera menyingkir, sementara orang Kangouw ketika melihat kedua Panji itu juga cepat menghindar.
Dengan sendirinya mereka tidak tahu keadaan Siu Su dan Buyung Siok-sing sekarang sama sekali tidak bisa berkutik, tapi kedua nama itu cukup membuat rontok nyali orang yang melihatnya, mana ada yang berani mencari perkara kepada mereka.
Kuda yang kesetanan itu terus berlari kelereng gunung dan secara kebetulan masuk keselat sempit tempat berkumpul orang Kai-pang itu.
Jika kedua orang yang menjaga mulut selat belum mati tentu kereta takkan dapat lewat begitu saja.
Juga keenam jago Kai-pang yang berjaga diujung selat itu kalau belum pergi tentu takkan membiarkan kereta itu masuk kedaiam selat.
Tapi semua ini sungguh sangat kebetulan dan seakan-akan telah diatur oleh yang Maha Kuasa, tanpa halangan kereta itu dapat mencapai tanah mangkuk dibalik selat.
Tatkala mana Leng Liong justru tidak percaya didalam kereta ada penumpang sehingga tidak menaruh perhatian sama sekali.
Akhirnya kereta menumbuk panggung dan terbalik.
Karena guncangan keras itu, mendadak Siu Su merasakan kaki dan tangannya sudah dapat bergerak, disangkanya setelah berselang sekian lama pengaruh obat bius Jian-jit-cui-hun-hiang telah punah.
Namun Buyung Siok-sing yang lebih berat terbius itu masih tetap lemas tak bertenaga.
Dengan rasa syukur Siu Su menghela napas juga, mendadak dirasakan pada ujung mulut sendiri ada setitik rasa asin dan anyir, rupanya karena guncangan kereta yang terguling tadi, tanpa sengaja membikin luka Pergelangan tangannya berdarah lagi, darah menetes kemulut dan masuk tenggorokan, cuma lantaran dalam keadaan panik tadi, maka tidak dirasakannya.
Seketika timbul pikrannya.
"Jangan-jangan tetesan darah segar ini yang memunahkan pengaruh obat bius?"
Waktu ia berpaling, dilihatnya Buyung Siok-sing juga sedang memandangnya dengan kejut dan heran, tapi begitu beradu pandang, Buyung Siok-sing lantas memejamkan mata lagi.
Siu Su sendiri bingung dan tidak tahu apa yang dirasakannya.
Ia termenung sejenak, lalu pelahan menyodorkan pergelangan tangan yang terjahit menjadi satu itu ketepi mulut Buyung Siok-sing.
Mendadak Buyung Siok-sing membuka mata, namun darah segar sudah merembes masuk tenggorokannya, ia tergetar, sejenak kemudian anggota badannya yang kaku mulai hilang dan dapatlah bergerak-Kiranya darah segar memang benar merupakan obat penawar dari obat bius itu.
Ketika kedua orang beradu pandang pula, sekuatnya Buyung Siok-sing mendorong Siu Su, meski tenaganya belum pulih seluruhnya, tapi dorongannya cukup kuat sehingga membikin Siu Su terbalik.
"He, ken... kenapa-..."
Seru Siu Su bingung. Karena waktu itu diluar sedang kacau, maka suara mereka tidak didengar orang.
"Aku benci padamu, jangan kau sentuh lagi diriku,"
Teriak Buyung Siok-sing dengan gemas.
"Jika bukan lantaran... .lantaran kau, mana aku... tentu Bun-ki takkan gila begitu. Engkau manusia tidak berbudi, juga tidak... .tidak tahu malui"
Belum habis ucapannya air matanya lantas bercucuran. Dari mana Siu Su tahu pertentangan batin orang, maka ia menjawab dengan gusar.
"Dalam hal apa aku tidak tahu malu?!1' "Kau... kau memang tidak tahu malu. ..."
Makin deras air mata Buyung Siok-sing, padahal ia sendiri tidak tahu mengapa ia menangis. Siu Su termenung bingung, pikirnya dengan mendongkol.
"Jelas kau suka padaku, mengapa sikapmu sedingin ini pula? Justru lantaran dirimu maka kita terikat menjadi satu seperti ini, kenapa aku yang disalahkan? Mengapa sikapmu padaku sebentar panas sebentar dingin? Dari cemburu Bun~ki menjadi kalap, apakah hal ini juga salahku?"
Makin dipikir makin gemas, akhirnya ia pun memejamkan mata dan menghimpun tenaga.
Karena tenaga belum pulih seluruhnya, ia merasa belum waktunya untuk keluar dari kereta itu.
Dengan menangis Buyung Siok-sing juga sedang membatin.
"Sudah jelas kau tahu perasaanku kepadamu, aku juga sudah menderita bagimu, sampai Sumoaiku tercinta juga berubah benci padaku, semua ini gara-gara dirimu. Tapi bagaimana dengan kau? Kau tidak mau mengerti akan diriku, kau tak berbudi, hanya memikirkan diri sendiri, sungguh kejam kau. ..."
Dengan gemas akhirnya ia pun memejamkan mata untuk menghimpun tenaga.
Dasar latihan mereka sudah sangat kuat, sebab itulah dengan cepat dapatlah tenaga dalam dipulihkan.
Dalam pada itu diluar sedang terjadi pertengkaran antara Leng Liong dan Ci Tok.
Memangnya hati Siu Su lagi mendongkol dan tak terlampiaskan, demi mendengar caci maki ci Tok yang dialamatkan kepadanya, ia tidak tahan lagi, serentak ia memukul dan menendang.
Betapa hebat tenaga pukulan dan tendangannya, dengan sendirinya kabin kereta itu tidak tahan dan pecah meledak, berbareng Siu Su terus melompat keluar.
Dengan sendirinya Buyung Siok-sing juga terseret keluar.
"Memangnya akan kau apakan diriku?"
Demikian Siu Su menanggapi ucapan Ci Tok tadi sambil hinggap didepan lawan. Leng Liong mengucek-ucek matanya dan berseru girang.
"Hah, ternyata benar Siu-kongcu, mengapa engkau bisa muncul disini??"
Disamping girang ia pun kejut dan heran, sungguh ia tidak percaya kepada pandangannya sendiri.
Kawanan pengemis juga tercengang dan gembira demi mendengar pemuda yang mendadak muncul dari dalam kereta yang hancur itu ialah Siu Su.
Sebaliknya Thi-ta-sucia Ci Tok menjadi kaget, serunya tanpa terasa.
"Jadi engkau inilah Siu Su?"
"Betul!"
Jawab Siu Su dengan menahan raSa gusarnya-Suaranya keras menggelegar laksana bunyi guntur dan memekak anak telinga.
"Hahaha! Makanya jangan suka memaki orang dibelakang yang bersangkutan, sekarang tahu-tahu orangnya muncul, coba apa yang akan kau katakan lagi?"
Kata Leng Liong dengan tertawa. Sedapatnya ci Tok berlagak tenang, katanya dengan dingin.
"Sudah lama kudengar namamu, sungguh beruntng bisa bertemu sekarang!"
"Kukira tidak beruntung bagimu,"
Jengek Siu Su.
Sembari bicara ia pun mendesak maju satu langkah.
Dengan sendirinya terpaksa Buyung Siok-sing juga ikut melangkah maju.
Sekilas pandang, mendadak sorot mata Ci Tok berhenti pada wajah Buyung Siok-sing.
Saat itu hampir semua orang juga sama tertarik oleh Buyung Siok-sing yang maha cantik itu.
"Eh, siapakah nona ini, rasanya belum pernah kenal?"
Tanya Ci Tok.
"Untuk apa kau tanya-tanya."
Jengek Buyung Siok-sing. 'Soalnya kulihat nona dan Siu-kongcu ini maju dan mundur selalu bersama serupa dua menjadi satu, sebab itulah kutanya, bila nona tidak suka bicara....."
"Siapa yang dua menjadi satu dengan dia? Kalau bicara hendaknya tahu aturan."
Damperat Siok-sing.
Saking gusarnya ia pun mendesak maju selangkah.
Mau-tak-mau Siu Su terpaksa ikut melangkah maju juga.
Pergelangan mereka sama tertutup oleh lengan jubah sendiri sehingga orang lain cuma melihat mereka maju mundur selalu bersama, tapi tidak tahu apa sebabnya.
Biji mata Ci Tok berputar, mendadak ia tertawa.
"Haha, bagus, bagus. ..."
"Bagus apa?!"
Bentak Siu Su dengan gusar.
Dia bergerak dan bermaksud menubruk maju, siapa tahu Buyung Siok-sing justru berdiri melengket diatas tanah tanpa bergerak.
Maka baru saja kaki Siu Su terangkat, kontan dia hinggap kembali ketempat semula.
Dilihatnya Buyung Siok-sing lantas memutar kesamping dan melangkah kebawah Panggung Terpaksa Siu Su ikut menggeser langkah dan bertanya.
"Kau mau apa "Aku mau pergi! ' jawab Siok-sing ketus.
"Tidak, aku tidak mau pergi."
Teriak siu Su.
"Kebanyakan orang disini tidak kukenai, urusan disini juga bukan urusanmu, yang jelas aku harus angkat kaki dari sini."
Siu Su sangat mendongkol.
"Mau pergi silakan pergi!"
Mendadak ia bertahan ditempatnya tanpa bergerak, dengan sendirinya Buyung Siok-sing tidak dapat menyeretnya secara Paksa.
Melihat kejadian aneh dan lucu itu, semua orang tambah tercengang-"Siu-k0ngcu, sesungguhnya ada-.
-ada apa?"
Tanya Kiong-sin Leng Liong dengan heran. Siu Su jadi melenggong dan tidak tahu cara bagaimana harus menjawab.
"Haha, bagus, bagus sekali. ..."
Mendadak Ci Tok terbahak.
"Masa benar engkau tidak pergi?"
Tiba-tiba Buyung Siok-sing berpaling dan menegur. Muka Siu Su tampak Pucat, dengan menahan rasa dongkol ia menjawab.
"Mati pun aku tidak pergi! "Baik!"
Ucap Siok-sing dengan gemas, mendadak ia berpaling dan tersenyum kepada salah seorang lelaki sambii menggapai.
"Eh, kemarilah!"
Melihat senyum manisnya, sukma lelaki itu hampir terbang keauiang-auiang, seperti orang linglung ia mendekati Siok-sing sambil cengar-cengir, tanyanya.
"Ada urusan aPa, nona?"
"Kemarilah lebih dekat!"
Seru Siok-sing pula dengan senyum yang lebih mengiurkan.
Jangankan lelaki ini, biarpun orang lain juga selama hidup tidak pernah melihat Perempuan secantik Buyung Si0k-sing, maka dengan mata terbelalak orang itu melangkah maju seperti kehilangan ingatan, berulang-ulang biji lehernya naik turun menelan air liur, katanya.
"Nona....."
Tak terduga mendadak Buyung Siok-sing menarik muka, senyum manisnya lenyap seketika, berbareng tangan kiri secepat kilat terus meraih, tahu-tahu golok yang dipegang lelaki itu sudah terampas.
Kelinglungan lelaki itu belum lagi hilang, serunya dengan terkejut.
"He, ada apa, nona. ii Belum lanjut perkataannya, kaki Buyung Siok-sing sudah melayang tiba, kontan ia tertendang mencelat. Hampir pada saat yang sama Buyung Siok-sing juga menggunakan golok rampasan itu untuk menahas tangan kanan sendiri. Karuan semua orang terperanjat, Siu Su juga kaget setengah mati, cepat ia menahan tangan Siok-sing yang memegang golok itu, sekali dicengkeram dengan keras, gol0k lantas jatuh ketanah.
"Lepaskan tidak?"
Bentak Siok-sing sambil mengentak kaki.
"Boleh kau tabas tanganku saja, kenapa mesti kau bikin cacat diri sendiri?"
Jawab Siu Su dengan suara agak gemetar. Bersambung ke-20.
Jilid 20
"Aku justru ingin membikin cacat diri sendiri, mati pun tidak ada sangkut-pautnya denganmu."
Teriak Siok-sing pula, belum habis ucapannya air mata lantas bercucuran.
Tentu saja semua orang sama terheran-heran sampai Kiong-sin Leng Liong yang sudah kenyang asam garam kehidupan Kangouw juga merasa bingung akan hubungan kedua orang yang aneh itu.
otak Thi-ta-sucia Ci Tok terus berputar, diam-diam ia menyurut mundur dua-tiga tindak dan memberi tanda.
Segera tiga orang begundalnya mendekatinya.
"Turun tangan"
Desis Ci Tok sambil memberi tanda kearah siu Su.
Serentak ketiga orang itu merogoh saku, jelas hendak mengambil senjata rahasia.
Dalam pada itu semua orang lagi memperhatikan Siu Su dan Buyung Siok-sing, sehingga tidak ada yang menghiraukan mereka.
Buyung Siok-sing tampak menangis sedih, sedangkan Siu Su berdiri termenung memandangi Buyung Siok-sing, katanya kemudian dengan menyesal.
"Sesungguhnya apa kehendakmu, katakan saja...."
"Jangan.. .Jangan-kau peduli diriku...."
Siok-sing menunduk dengan terguguk.
Mendadak Siu Su menjadi nekat, dijemputnya golok yang jatuh itu, sekali ayun segera ia tabas tangan sendiri.
Siapa tahu sebelum golok menurun kebawahi tahu-tahu tangannya juga dipegang oleh Buyung Siok-sing.
"Untuk apa kau siksa diriku, jika kau mau menabas boleh menabas tanganku saja,"
Ratap Siok-sing.
"Bilakah kusiksa dirimu."
Kata siu su dengan suara tersendat.
"Tapi engkau sendiri"
"Akulah yang salah, boleh kau bunuh saja diriku,"
Ujar siok-sing.
Menyaksikan semua itu, diam-diam dapat dirasakan oleh Leng Liong bahwa diantara kedua orang itu, pasti telah terjadi cinta kasih yang mendalam, soalnya karena ada salah paham, sebab itulah keduanya sekarang lagi uring-uringan.
Dia merasa geli dan sengaja tidak mau ikut campur.
siapa tahu pada saat itu juga mendadak terjadi hujan senjata rahasia, berpuluh bintik tajam berhamburan mengarah siu su, sebaran senjata rahasia itu sangat cepat, tapi cuma menerbitkan suara yang sangat pelahan.
Karena lagi dirundung kekesalan emosi, siu su menjadi lengah dan tidak merasakan datangnya bahaya.
Leng Liong terkejut, cepat ia hendak menolong, namun sudah terlambat.
Bahaya yang mengancam itu sungguh hanya terjadi dalam sedetik saja, mendadak dilihatnya Buyung sioksing membalik keatas tubuh siu su sambil berteriaki "Rebah"
Dan baru saja mereka menjatuhkan diri, berpuluh sinar hitam mengilap itu lantas menyambar lewat diatas kepala mereka, dan Buyung siok-sing tetap terlambat selangkah, dirasakan pundak kesemutan jelas keserempet senjata rahasia.
"Bangsat tidak tahu malu"
Bentak Leng Liong dengan murka, ia berputar terus menghantam Ci Tok-Cepat ci Tok mengelak, tiga orang lantas menubruk maju, tiga batang golok mereka serentak menyerang dari tiga jurusan.
Kiong-sin Leng Liong tidak gentar, sambil menghindar ia balas memukul dan menendang kian kemari sehingga ketiga lawan terdesak mundur.
segera kawanan pengemis dibawah panggung sama berteriak.
"Pangcu sudah turun tangan, kita mau menunggu apa lagi?"
Belum lenyap suaranya, mendadak dari kerumunan orang banyak itu menyambar setitik sinar perak secepat kilat langsung mengarah dada seorang lelaki putus jari diatas panggung.
Kontan lelaki itu mengerang dan jatuh tersungkur dengan darah muncrat.
Cucuran darah juga merangsang kebuasan kawanan lelaki itu seketika suasana berubah menjadi kacau ditengah raungan murka orang banyak-Berpuluh orang anggota Kai-pang segera menyerbu keatas panggung, belasan orang lelaki putus jari juga menerjang kebawah panggung.
Maka terjadilah pertempuran terbuka dan berlangsung dengan sengit.
Mestinya Kiong-sin Leng Liong tidak menghendaki terjadi banjir darah pada saat ini dan ditempat begini, tapi kemarahan umum sudah timbul, betapa pun sukar baginya untuk meng atasinya.
Ditengah pertempuran gaduh itu, tiba-tiba siu su dan Buyung siok-sing sama berbangkit.
Keduanya saling pandang, siu su berucap dengan tergagap.
"Teri... terima kasih....."
"Ahi terima kasih apa?"
Jawab siok-sing lirih dengan mengerling lembut.
segala pertentangan dan salah paham awkara kedua orang seakan-akan memperoleh pengertian dan terhibur oleh ucapan dua kata yang singkat itu, keduanya saling pandang sekian lamanya sampai lupa pada kekacauan yang terjadi disekitarnya.
sekonyong-konyong sinar golok berkelebat, dua batang golok menyambar dari belakang siu su, membacok kepala anak muda itu.
siu su tidak berpaling, ia masih tetap memandang Buyung siok-sing, tapi sebelah tangannya lantas terayun kebelakang.
"trang-trang"
Dua kali, kedua golok yang menyambar tiba itu tergetar jatuh ketanah.
Kedua lelaki yang menyergap itu jadi melenggong, mereka tidak mengerti cara bagaimana Siu Su membikin senjata mereka terlepas, mereka cuma merasakan pergelangan tangan tergetar kesemutan, lalu golok terpental.
selagi kedua orang itu melongo heran dan juga jeri, mendadak terdengar oran membentak dibawah panggung.
"TUrun"
Berbareng itu dua utas tali melayang tiba dari bawah panggung, pada ujung tali tersimpul lingkaran jeratan dan tepat menjerat pada leher kedua lelaki itu, sekali tali ditarik dan jeratan mengencang, kedua orang itu cuma sempat bersuara tertahan, lalu terseret terjungkal kebawah panggung.
"Haha, bagus"
Teriak anggota Kai-pang yang lain.
segera ia pun melemparkan lasso untuk menjerat leher Thi-tah-sucia Ci Tok.
Permainan lasso juga termasuk kepandaian khas kawanan pengemis anggota Kay-pang, menjerat manusia dan binatang atau benda lain dalam jarak beberapa meter boleh dikatakan hampir tidak pernah meleset, seratus kali jerat seratus kali kena.
Terlihat lasso pengemis itu dengan tepat telah menjerat dileher ci Tok, siapa sangka mendadak Ci Tok membentak malah.
"Naik kemari"
Sebelah tangannya meraih tali lasso, menyusul terus disendai dengan kuat, kontan anggota Kai-pang itu mencelat keudara dan jatuh terbanting diatas panggung.
Cepat Ci Tok melompat maju dan memberi bacokan dengan telapak tangan.
Tanpa menoleh lalu ia memutar tangannya kebelakang dan tepat menghantam seorang pengemis lain yang menubruk tiba, kontan pengemis itu mencelat kebawah panggung.
suasana ditanah mangkuk pegunungan ini tambah kacau dan hiruk-pikuk dengan suara teriakan, bentakan dan jeritan ngeri disana-sini serta suara nyaring beradunya senjata.
Darah segar pun berceceran diatas panggung dan menggenangi tanah dibawah.
Mendadak Kiong-sin Leng Liong bersuit panjang dan mengapung keudara, ditinggalkannya lelaki yang bergebrak dengan dia setelah mendesaknya mundur dengan suatu pukulan dahsyat, lalu ia menerjang kearah Thi-tah-sucia Ci Tok.
Pukulan dengan mengapung diatas udara tambah dahsyat, Ci Tok tidak berani gegabah, cepat ia mengelak kesamping, tapi sebilah golok panjang lantas menabas dari sebelahnya, namun dia sempat mendoyongkan tubuh sambil menendang dengan sebelah kaki sehingga golok yang menyergap itu terdepak lepas.
Tiba-tiba bayangan orang berkelebat, Siu Su dan Buyung siok-sing juga telah melayang kedepannya.
Pada saat hampir sama Leng Liong juga hinggap disebelahnya, kedua orang mengapit ci Tok dari kanan kiri-"Hm, apakah kalian ingin main kerubut?
Ayolah, silakan mulai saja"
Jengek Ci Tok dengan lagak takabur.
"Huh, hanya menghadapi dirimu saja perlu main kerubut?"
Jawab Leng Liong dengan gusar. Tapi sebelum dia bertindaki siu su telah memberi tanda, katanya.
"Tunggu sebentar, Leng-pangcu."
Sekilas Leng Liong memandang mayat telah bergelimpangan disana-sini, banjir darah sudah terjadi, tak tertahankan lagi rasa murkanya, teriaknya.
"untuk apa banyak bicara lagi dengan dia? Binasakan saja dia lebih dulu"
"Hanya jiwanya saja masakah berharga?"
Ujar siu su dengan suara tertahan.
"Buat apa kita menimbulkan korban lebih banyak secara sia-sia diantara saudara Kay-pang kita."
Selagi Leng Liong tertegun, segera siu su berseru kepada ci Tok.
"Jika engkau ingin hidup, hendaknya Lekas kau perintahkan begundalmu berhenti bertempur"
"Buat apa kusuruh mereka berhenti? Melihat orang lain mencucurkan darah kan tontonan yang menarik?"
Ujar Ci Tok dengan tertawa-"Memangnya jiwamu sendiri juga tidak kau pikirkan lagi?"
Jengek siu su dengan menahan rasa gusar. Ci Tok tampak ragu, katanya kemudian.
"Jika kuberi perintah gencatan senjata, apakah kalian menjamin keselamatan kami untuk mengundurkan diri dari sini?"
"Baik, kami menjamin keamananmu."
Jawab Leng Liong.
"Umpama dia tidak mau menjamin, akulah yang menjamin."
Sela Buyung siok-sing.
Betapapun sebagai anak perempuan dia ngeri menyaksikan pertempuran sengit itu, suara jeritan ngeri benar-benar telah membuat kusut pikirannya, Ci Tok menyapu pandang sekejap keadaan medan tempur, katanya kemudian sambil menggeleng.
"Korban yang jatuh dari kedua pihak sudah sangat besar, semua orang yang bertempur itu sudah kadung khilap dan nekat, umpama kuberikan perintah berhenti bertempur juga belum tentu mereka mau menurut."
"Habis bagaimana?"
Tanya Buyung siok-sing.
"Apa boleh buat, terpaksa membiarkan mereka bertempur hingga mati semuanya."
Jawab Thi-ta-sucia dengan muka kelam.
Waktu Leng Liong memandang kesana, medan tempur memang kacau, yang bertempur tampak sama nekadnya, semuanya kelihatan seperti binatang buas yang sukar dikendalikan lagi.
Kawanan lelaki putus jari yang sudah sumpah berani mati dan datang bersama Ci Tok itu memang manusia-manusia nekat dunia Kangouw, meski jumlah mereka jauh lebih sedikit dibandingkan anggota Kay-pang, tapi mereka kumpul ditengahi anggota Kai-pang yang mengerubut mereka terpaksa berjubel, malahan yang berada dibelakang tidak mampu ikut memberi bantuan apa pun, dalam keadaan demikian kawanan pengemis sendiri menjadi tambah kacau malah.
Melihat anak buahnya banyak jatuh korban, Leng Liong merasa kasihan juga, katanya.
"Bagaimana kalau kita memberi perintah gencatan senjata bersama?"
"Boleh juga jika mau dicoba,"
Jawab Thi-tah-sucia Ci Toksegera Leng Liong mendahului berteriak.
"Berhenti bertempur, anak murid Kai-pang Berhenti"
Thia-ta-sucia juga membentak dengan lantang.
"Berhenti dulu, saudaraku"
Ia pun dapat melihat gelagat, ia tahu untuk bisa mundur dengan selamat, jalan paling baik adalah gencatan senjata, kalau tidaki terpaksa dia harus mati bersama begundalnya yang pada dasarnya memang tidak takut mati itu.
sebab itulah sesungguhnya ia sendiri jauh lebih besar keinginannya untuk berhenti bertempur daripada siapa pun, cuma dia memang licik, segala sesuatu tidak terlihat pada luarnya-Karena teriakan pimpinan kedua pihak, orang yang bertempur itu sudah mulai mereda.
"Berhenti dulu, anak murid Kai-pang"
Leng Liong mengulangi seruannya-Maka anak murid Kai-pang sudah sebagian menyurut mundur, sebagian lagi menyingkir kesamping.
Kawanan lelaki putus jari mendapat kesempatan untuk ganti napas, mereka juga tidak mendesak maju lagi.
siapa duga, pada saat pertempuran itu hampir berhenti seluruhnya, tiba-tiba ditengah gerombolan kaum pengemis ada orang berteriaki "sudah sekian banyak saudara kita menjadi korban, jika kita tidak menuntut balas bagi yang telah mati, apakah hati nurani kita dapat tentram terhadap saudara kita yang gugur itu?"
"Betul, serbu saja, binasakan mereka seluruhnya untuk membalas dendam bagi saudara kita yang gugur"
Teriak lagi seorang yang lain.
Suara mereka yang seram dan mengharukan itu merangsang lagi semangat tempur kawanan pengemis, serentak mereka berteriak bergemuruh.
Melihat gelagat tidak beres, cepat Leng Liong membentak dengan bengis.
"siapa itu yang sembarangan berteriak?"
Tapi segera terlihat dua sosok anggota anggota Kai-pang menerjang maju kearah seorang lelaki putus jari, sekali sinar golok berkelebat, kontan nyawa seorang melayang-Kawanan lelaki putus jari yang lain menjadi murka, teriak mereka.
"Keparat yang tidak pegang janji, ayolah kita labrak mereka lagi"
Serentak mereka berteriak histeris dan menyerbu pula-seorang anggota Kai-pang agak ayal, kontan perutnya didodet oleh senjata lawan dan menimbulkan jeritan ngeri-Kawanan pengemis yang lain lantas berteriak.
"serbu Balaskan sakit hati saudara kita"
Suasana menjadi panik lagi, pertempuran sengit berbangkit kembali-Melihat keadaan sukar dikendalikan lagi, Ci Tok berkata dengan kurang senang.
"yang melanggar janji adalah pihak Kai-pang sendiri, tidak dapat menyalahkan pihak kami."
Kiong-sin Leng Liong juga merasa wibawanya telah dilanggar, dengan gusar ia membentaki "Berhenti anak murid Kai-pang Barang siapa melanggar perintah pasti akan diberi hukuman setimpal"
Mendadak siu su mendengus.
"Hm, yang melanggar perintah bukanlah anak murid Kai-pang-"
Tentu saja Ci Tok menjadi gusar, bantahnya.
"Fakta membuktikan apa yang terjadi, memangnya pihak kami yang tidak taat kepada perintah jika bukan orang Kai-pang?"
"Yang melanggar perintah itu bukan orang Kai-pang danjuga bukan anak buahmu."
Kata Leng Liong dan ci Tok sama melengak.
"Memangnya siapa dia?"
Tanya Kiong-sin Leng Liong. siu su menuding kesana dan berkata.
"Coba kalian lihat ketiga orang yang paling tangkas itu, ketiga orang yang bermuka hitam dan berdandan sebagai pengemis dengan baju rombeng warna kuning itu, perhatikan gerakgerik mereka"
Waktu semua orang memandang kearah yang ditunjuki benar juga ditengah kekacauan sana terlihat ada tiga orang berdandan sebagai anggota Kai-pang dengan gerak-gerik yang sangat lincah dan tangkas, jelas kungfu mereka jauh lebih tinggi daripada yang lain.
"Ya, betul juga... ."
Ucap Leng Liong dengan suara tertahan.
Tiba-tiba tergerak hatinya, teringat olehnya pengirim info rahasia tadi, ia yakin pasti salah seorang diantara mereka ini, keruan ia tambah curiga.
Dari atas terlihat ketiga orang itu sebentar melompat maju lain saat menyusup mundur kebelakang.
Tiba-tiba salah seorang membacok secara diam-diam sehingga seorang Kai-pang dirobohkan.
Habis itu dia lantas meraung dan menerjang lagi lelaki putus jari seperti orang yang benarbenar nekat.
Karena kedua pihak sedang bertempur dengan sengit, suasana kacau sehingga tidak ada orang yang memperhatikan gerak-gerik ketiga orang itu.
Namun orang yang menonton dari atas panggung dapat mengikuti setiap kejadian itu.
"siapakah orang ini?"
Tanya Leng Liong dengan gusar.
"siapa dia masakah Leng-pangcu belum tahu?"
Kata siu su.
"Dia pasti musuh Kai-pang, juga memusuhi pihak Leng-coa-bun Mao Kau, sebab itulah diamdiam mereka menyusup ketengah Kai-pang untuk mengadu domba kedua pihak kalian, bila terjadi pertempuran sengit seperti ini, tidak peduli pihak mana yang menang dan kalah, yang menarik keuntungan jelas adalah mereka. Bilamana kedua pihak sama-sama runtuh, tentu saja tambah menyenangkan bagi mereka. Karena itulah mereka tetap berusaha agar pertempuran sengit ini terus berlangsung. Baru sekarang Leng Liong menyadari duduknya perkara, ucapnya.
"ya, memang betul sungguh bangsat yang berhati keji....."
Thi-tah-sucia Ci Tokjuga terkesiap, ucapnya dengan kening bekernyit.
"Orang yang bermusuhan dengan kedua pihak kita berdua sangat sedikit didunia persilatan ini, kita harus melihatnya sesungguhnya sebenarany siapakah ketiga orang ini?"
Baru selesai ucapannya, serentak ia melompat kebawah panggung menerjang kearah ketiga musuh yang misterius itu.
Kiong-sin Leng Liong juga tidak mau ketinggalan, cepat ia menyusul kesana-siu su sendiri malah berdiri diam saja diatas panggung dan mengawasi suasana dibawah.
"Engkau yang menemukan rahasia mereka itu, mengapa engkau tidak turut membekuk mereka?"
Ucap Buyung Siok-sing dengan suara lembut.
"Kukuatir engkau ngeri melihat darah yang berceceran dibawahi maka....."
"Ayolah pergi saja, kemanapun tetap ku... -ku... ."
Buyung siok-sing tidak meneruskan ucapannya, sebab mendadak mukanya menjadi merah, lalu menunduk-seketika semangat siu su terbangkit, timbul jiwa kesatrianya, serunya.
"Ayo pergi"
Berbareng mereka bergerak dan melayang turun kesana.
saat itu agaknya ketiga orang berbaju kuning itu pun merasakan gelagat kurang eNak, diamdiam mereka hendak mengeluyur pergi, akan tetapi tahu-tahu Leng Liong dan Ci Tok sudah menghadang didepan mereka.
Mendadak Leng Liong berteriaki "Dengarkan anak murid Kai-pang, ketiga orang inilah biang-keladi daripada pertempuran berdarah ini jangan membiarkan mereka kabur"
Segera Ci Tok juga berseru.
"Kepung mereka, saudara-saudaraku"
Ketiga orang itu saling pandang sekejap serta saling memberi tanda, serentak mereka hendak meloncat pergisiapa tahu, belum lagi mereka bergerak keatas tahu-tahu dua sosok bayangan orang melayang turun dari atas dengan membawa angin pukulan yang dahsyat sambil membentaki "Turun"
Karena damparan angin pukulan itu, ketiga pengemis gadungan itu sama tergetar kebawah lagi.
yang melayang tiba ini adalah siu su dan Buyung siok-sing, sebelum hinggap kepermukaan tanah, lengan baju mereka mengebas sehingga tubuh mereka sempat mengapung lagi sejenak diudara, dengan suara lantang siu su berteriak.
"Barang siapa berani bergerak lagi, segera akan menerima ganjaran setimpal"
Dengan jelas kawanan pengemis beserta lelaki putus jari itu menyaksikan siu su dan Buyung siok-sing melayang diudara serupa malaikat yang turun dari langit, semuanya sama tercengang, dengan sendirinya tiada seorang pun berani bergerak lagi.
Ketika berhadapan dengan siu su dan Buyung Siok-sing, ketiga pengemis gadungan itu sama menunduk dan tidak berani bertatap muka.
Waktu siu su mengawasi mereka dengan teliti, nyata pada muka mereka telah dipoles dengan hangus sehingga wajah asli mereka sukar dikenali.
Dengan suara tertahan siu su berkata kepada Leng Liong.
"Leng-pangcu, ketiga orang ini sama memoles muka masing-masing dengan hangus, agaknya mereka harus dibekuk hidup,hidup untuk dimintai keterangan sejelasnya, kemudian....."
Belum habis ucapan siu su, sekonyong-konyong satu diantara ketiga pengemis gadungan itu mengikik tawa dan berseru.
"Tidak perlu bertindak segala....."
Air muka siu su berubah, tanyanya.
"siapa kau?"
Orang itu masih tertawa, suara tertawanya nyaring merdu, lalu mengangkat kepala dan berkata.
"Eh, adik cilik, masa engkau sudah pangling kepada Cici?"
Ucapan ini membuat semua orang melengaki mereka sama memandang siu su dan ingin tahu apa jawabnya. Ci Tok lantas mendengus.
"Hm, bagus sekali, kiranya dia ini adalah saudara siu-kongcu kita."
Pengemis gadungan yang bicara itu lantas menyingsing lengan bajunya untuk mengusap muka sendiri, hangus yang terpoles pada wajahnya lantas hilang dan tertampaklah kulit mukanya yang putih halus.
Semua orang sama melongo-Sebera juga ada yang mengenalnya sebagai Pekitiohihui-hoa Lim Ki-ceng.
"Hahi kau Lim Ki-ceng"
Seru siu su. Lim Ki-ceng tertawa ngikiki katanya kemudian.
"Ai, sesudah punya kekasih baru lantas melupakan yang lama, ya?"
Seketika air muka Buyung siok-sing juga berubah. Dengan tertawa genit Lim Ki-ceng berucap pula.
"Wahi cantik amat adik ini-Eh, siapakah namamu? Cara bagaimana engkau berkenalan dengan adikku ini? Maukah kau ceritakan padaku? "
"Tutup mulutmu"
Bentak siu su dengan gusar. Lim Ki-ceng menghela napas menyesal, katanya.
"ai, mengapa engkau jadi begini galak padaku? Masa kau lupa tempo hari betapa mesra kau panggil cici padaku, waktu itu hatiku bisa luluh bila mendengar panggilanmu yang mesra itu, tapi sekarang.... sekarang...
"Dia menghela napas panjang dan menunduk seperti orang yang sangat kecewa dan menyesal. Muka Buyung siok-sing sebentar merah sebentar pucat, katanya dengan suara agak gemetar.
"siu su, se.. sebenarnya....."
Tidak kepalang dongkol dan gusar siu su sehingga mukanya merah padam, tapi apa daya, siapa pun, lelaki perkasa macam apapun bila menghadapi perempuan yang suka aleman dan tidak tahu malu begini pasti juga akan mati kutu.
Karena itu, suasana menjadi gempar lagi, semua orang kasak-kusuk membicarakan hal ini.
Leng Liong berpikir dengan cepat, mendadak ia membentak-"Bekuk dulu ketiga orang ini dan urusan diselesaikan belakang"
"Betul"
Seru siu su-Mendadak Lim Ki-ceng berteriaki "Aku ini kakak siu-kongcu dan bibi guru Thi-ta-sucia ci Tok, siapa diantara kalian yang berani mengusik diriku?"
Ci Tok lantas mendengus.
"Hm, tidak cuma seorang bibi guru saja, malahan masih ada dua orang paman guruku, bukan?"
Kedua pengemis gadungan yang lain serentak menjawab.
"ya, betul"
Segera mereka pun mengusap wajah masing-masing sehingga terlihat muka aslinya Jelas mereka juga samaran tokoh diantara jit-kiam-sam-pian (tujuh pedang dan tiga ruyung), yaitu Cojiu-sin-kiam Ting Ih dan ong It-beng.
Kiranya ketiga orang ini kabur dari-pertemuan besar para kesatria yang diadakan Mao Kau di Hangciu tempo hari, mereka lantas berkumpul menjadi satu.
Cuma seketika mereka pun tidak berhasil menemukan jejak Mao Kau yang kemudian terus bersembunyi itu.
sampai suatu hari mereka mendengar kawanan pengemis dari Kai-pang hendak mengadakan pesta ulang tahun bagi Liong-sin Leng Liong ditanah mangkuk pegunungan ini, maka mereka lantas berusaha menyusup ketengah kawanan pengeimis, untuk ini jalan terbaik bagi mereka adalah menyamar sebagai pengemis.
Mestinya mereka bermaksud mengadakan kontak dengan pihak Kai-pang untuk bersamasama menghadapi Mao Kau, tapi ketika mereka melihat Thi-ta-sucia Ci Tok juga muncul disitu dengan begundalnya, segera rencana mereka berubah-Lim Ki-ceng yang mengusulkan agar berusaha mengadu domba antara Kai-pang dengan pihak ci Tok, bilamana kedua pihak sudah jatuh korban dan susut tenaga intinya, lalu dengan kekerasan mereka akan mengancam Leng Liong aaar menuruti kehendak mereka untuk menghadapi Mao Kau.
Biasanya Co-jiu-sin-kiam Ting Ih selalu menuruti setiap kehendak Lim Ki-ceng, dalam demikian ong It-beng juga cuma menurut saja, maka mereka lantas sengaja mengirim info rahasia kepada Leng Liong untuk membongkar kedok Ci Toksiapa tahu urusan lantas berubah lagi, mendadak siu su muncul, biarpun samaran mereka sangat misterius, tapi pandangan siu su yang tajam tetap dapat membongkar tipu-muslihat mereka-Begitulah setelah samaran mereka terbongkar Lim Ki-ceng lantas mengeluarkan kemahirannya lagi dengan main memikat dan mengadu domba, dengan mengerling genit ia berkata pula.
"Jika kalian hendak bertindak kepadaku, agaknya perlu kalian minta izin dulu kepada siukongcu dan Thi-ta-sucia."
Tapi Ci Tok lantas mendengus.
"Hm, sudah lama kalian mengkhianati guruku, memangnya kau kira kami tidak tahu?"
Tergetar juga hati Lim Ki-ceng, tapi dia tertawa terlebih manis, katanya kepada siu su.
"Itu dia, dengar tidaki adik su? Demi membela dirimu, banyak kawan karibku telah berubah, dari kawan berubah menjadi lawan. Tapi engkau malah bersikap garang padaku. masakah tidak kau bela diriku?"
Tiba-tiba timbul sesuatu pikiran siu su, tanyanya.
"Dan bagaimana dengan Ting Ih dan ong It-beng?"
"Tentang mereka----"
Lim Ki-ceng bicara dengan tertawa genit, mendadak ia membalik tubuh dan menghantam tepat mengenai dada Co jiu-sin-kiam Ting Ih.
Keruan Ting Ih kaget, mimpi pun tak terpikir olehnya akan diserang Lim Ki-ceng, ketika mau mengelak sudah terlambat, ia tergetar mundur dua-tiga tindak dan tumpah darah, serunya dengan suara gemetar.
"Ke. --keji amat kau"
Ong It-beng juga kaget, teriaknya dengan gusar.
"Prempuan hina, demi keselamatan sendiri lantas hendak kau jual kawan?"
Mendadak ia menengadah dan bergelak tertawa, suaranya berubah menjadi pedih, serunya.
"Baiklahi apa yang dapat kukatakan lagi, biarlah orang she ong menyempurnakan kehendakmu."
Tiba-tiba ia menggorok leher sendiri dengan pedangnya, seketika darah berhamburan dan robohlah dia terkapar.
Rupanya dia menyadari keadaan yang tidak menguntungkan, betapa pun sukar lolos dari kepungan musuhi maka sekalian dia membunuh diri saja dan habis perkara.
Co jiu-sin-kiam Ting Ih meraba dada yang terpukul Lim Ki-ceng tadi, ucapnya dengan tersenyum pedih.
"Hm, bagus, bagus kau. Sekarang baru sekarang kukenal sesungguhnya siapa kau?"
Mendadak ia menggreget, ia menggigit ujung lidah sendiri hingga putus, ia meraung dan menyemburkan lidah putus dan darah kemuka Lim Ki-ceng, lalu roboh terguling.
Adegan membunuh diri yang mengerikan ini sungguh membuat semua orang terkesiap, sampai Kiong-sin Leng Liong juga menghela napas, katanya.
"sungguh lelaki gagahi kematian yang gemilang"
Dengan suara tandas ci Tokjuga berkata.
"Jelek-jelek mereka ternyata tidak malu sebagai anggota Jit-kiam-sam-Pian"
Sinar matanya berputar, kembali ia mengalihkan pandangnya kepada Lim Ki-ceng.
Dengan lengan bajunya Lim Ki-ceng membersihkan darah yang melumuri wajahnya, biarpun hatinya berbisa, melihat kematian Ting Ih dan ong It-beng yang gagah berani itu, mau-tak-mau ia pun ngeri-Namun dia tetap tertawa genit dan berucap pula.
"Adik cilik, coba kau lihat, lantaran membela dirimu, aku....."
"Diam"
Bentak siu su dengan muka masam.
"Takkan kubunuh dirimu, jika kubunuh dirimu kan cuma membikin kotor tanganku saja."
"Tidak, Saudara siu,"
Bentak Leng Liong mendadaki "Perempuan hina-dina dan beracun seperti ini harus kita cincang dia-"
"Hahhh"
Lim Ki-ceng menjerit ngeri.
Mendadak terbayang olehnya adeganpada sembilan belas tahun yang lalu disuatu tempat pegunungan, dimana seorang pendekar muda gagah perkasa dengan sekujur badan berlumuran darah sedang merintih dan meronta karena dicencang orang.
Tubuhnya bergemetar, mendadak ia menubruk kearah siu su sambil berteriak dengan rasa ngeri.
"Tolong....."
Tapi sebelum orang mendekat, lengan baju siu su lantas mengebas sambil membentaki "Enyah"
Kontan Lim Ki-ceng tergetar mundur beberapa tindak dan jatuh terduduki Disampingnya itulah menggeletak mayat Co-jiu-sin-kiam Ting Ih.
Meski sudah mati, namun kedua mata Ting Ih tampak mendelik, jelas mati dengan penasaran, menanggung benci dan duka.
Melihat wajah Ting Ih yang sudah tak bernyawa itu, mendadak Lim Ki-ceng menangis sedih, ia menubruk keatas mayat Ting Ih sambil meratap.
"o, Ting-toako, aku... aku berdosa padamu..."
Dengan ketus Thi-tah-sucia Ci TOk menjengeki "Hm, baru sekarang merasa menyesal, bukankah sudah terlambat?"
Dalam pada itu kawanan pengemis Kai-pang telah mendesak maju.
"Tidak perlu kalian membunuhku, aku dapat membunuh diri sendiri"
Seru Lim Ki-ceng sambil melompat bangun mendadak-"Hm, membunuh diri? Kan terlalu murah bagimu"
Jengek kawanan pengemis dengan gusar, serentak mereka mendesak maju lagi.
"Siapa berani mendekat?"
Teriak Lim Ki-ceng sambil menarik dada baju sendiri.
Meski dia sudah tergolong setengah umur, namun kulit badannya masih tetap putih mulus, halus terpelihara, dadanya yang masih cukup montok itu tampak berjumbul naik-turun mengikuti getar napasnya.....
semua orang sama melenggong dan menyurut mundur.
Wajah Buyung siok-sing tampak pucat, pelahan ia melengos.
Lim Ki-ceng tertawa pedih, serunya kemudian.
"Tapi sebelum kumati, ada beberapa patah kata ingin kukemukakan."
"Lekas bicara?"
Bentak Leng Liong dengan tak sabar-Lim Ki-ceng membalik tubuh menghadapi siu su, lalu berteriaki "
Kutahu engkau sangat benci terhadap jit-kiam-sam-pian, kutahu engkau sangat menginginkan kematian mereka, kalau bisa hendak kau bunuh sekaligus....."
Siu su tidak mau memandang dada orang, ia menengadah dan mendengus.
"Hm, Jit-kiamsam-pian adalah musuhku yang tak terampuni, ucapanmu memang tidak salah-"
"ya, betul, harus kuakui bahwa memang jit-kiam-sam-pian yang membunuh ayahmu,"
Kata Lim Ki-ceng dengan menyesal, mendadak suaranya berubah sedih.
"Namun... apakah kau tahu sesungguhnya siapa yang membunuh ayahmu?"
Siu su jadi melenggong, tanyanya.
"Siapa?"
Dengan tandas Lim Ki-ceng bertutur.
"Pikirkan saja, waktu itu adalah masa jaya ayahmu, dia sedang malang melintang di dunia Kangouw tanpa tandingan, sebaliknya tatkala mana kepandaian jit-kiam-sam-pian belum lagi mencapai taraf seperti sekarang ini...."
"Hm, biar pun sekarang juga cuma begini saja."jengek Kiong-sin Leng Liong. Lim Ki-ceng berlagak tidak mendengar sindirannya, ia menyambung ceritanya.
"Kalau cuma kepandaian jit-kiam-sam-pian waktu itu, biarpun sepuluh lawan satu juga bukan tandingan siusiansing, mana bisa mereka membunuhnya dan mencencangnya-"
"Habis siapa yang membunuh ayah?"
Teriak siu su dengan suara gemetar. Lim Ki-ceng sengaja berdiam sejeNak, habis itu mendadak berteriaki "Ibumu"
"Hahh Kentut"
Bentak siu su kaget dan gusar, segera ia bermaksud memburu maju untuk memberi hajaran padanya. Tapi Lim Ki-ceng lantas berteriak pula.
"Tentu saja engkau tidak percaya. Tapi hendaknya kau tahu, aku sudah akan mati, untuk apa aku memfitnah ibumu sendiri?Jika kau mau tahu duduk perkara yang sebenarnya, hendaknya kau dengarkan dulu ceritaku lebih lanjut."
Siu su tidak jadi melangkah maju, dengan tubuh bergemetar katanya kemudian.
"Co... -coba jelaskan"
Semua orang juga tercengang oleh cerita yang luar biasa ini, seketika keadaan menjadi sunyi, semuanya pasang telinga ingin mendengarkan duduk perkara peristiwa ngeri yang terjadi pada sembilan belas tahun yang lalu itu.
Maklumlah, meski peristiwa lama itu pernah menggemparkan dunia Kangouw, tapi tidak ada seorang pun tahu bahwa dibalik tragedi itu masih menyangkut sesuatu rahasia lain.
Kiong-sin Leng Liong juga kelihatan prihatin dan tidak ikut bicara lagi.
"Pada waktu sebelum lit-kiam-sam-isian menggerubuti siu Toki ibumu sudah ada hubungan intim dengan ayahmu, atas suruhan Mao Kau, yaitu kakak ibumu, pada saat siu TOk sedang berlatih kungfu, secara mendadak ibumu menutuk hiat-to kelumpuhan ayahmu sehingga mengakibatkan kelumpuhan setengah badan ayahmu, kalau tidaki berdasarkan kepandaian Jitkiam-sam-pian saja mana mampu membunuhnya?"
Tambah terkesiap semua orang oleh keterangan luar biasa ini.
"Kau... -kau bohong"
Teriak siu su dengan gemetar. Lim Ki-ceng menggeleng, ucapnya dengan pelahan.
"Tidaki aku tidak bohong. Apa yang kukatakan ini semuanya benar dan kejadian yang sesungguhnya. Mao Kau sengaja menggunakan Bi jin-keh (akal memperalat perempuan cantik) untuk menjebak ayahmu, yaitu dengan mengorbankan adik perempuannya, siapa tahu sesudah menutuk ayahmu, ibumu jadi menyesal, sebab dia telah benar-benar jatuh cinta kepada siu Tok"
Dia berhenti sejeNak, lalu dengan suara bengis berseru.
"Nah, maka kalau betul kau mau menuntut balas, maka yang harus kau bunuh lebih dulu ialah ibumu"
Sungguh keterangan ini sangat mengguncangkan isi kiranSiu Su, seketika ia menjadi bingung dan tidak tahu apa yang harus dikatakannya.
semua orang juga sama bersuara heran oleh berita ini, dengan suara bengis Leng Liong membentaki "Dan mengapa baru sekarang kau ceritakan hal ini?"
"ya, memang rahasia ini sudah tersimpan selama dua puluh tahun didalam hatiku."
Tutur Lim Ki-ceng pula.
"Kecuali jit-kiam-sam-pian memang tidak ada oran lain yang tahu. Tapi demi kehormatan, demi gengsi jit-kiam-sam-pian sendiri, dengan sendirinya rahasia ini tidak mau disiarkan, baru sekarang----baru sekarang kubeberkan rahasia ini,tujuanku supaya kau tahu sesungguhnya siapa musuhmu?" = Apa daya dan apa yang akan dilakukan siu su setelah diketahuinya kematian ayahnya juga akibat komplotan ibunya dengan Mao Kau? = = Bagaimana nasib Mao Bun-ki yang telah merusak wajah sendiri? = = = = Bacalah terus
Jilid selanjutnya = = = setelah menutur, Lim Ki-ceng menunduki sejenak kemudian mendadak ia angkat kepala dan berteriak lagi.
"Nah, setelah kau tahu jelas siapa yang membunuh ayahmu, jika benar engkau bertekad akan membalas dendam ayah, mengapa tidak kau bunuh ibumu dulu."
Ia menggreget, lalu menyambung.
"Memang betul, Mao Kau bersalah dan pantas mati, Thia Hong juga pantas mati, kami semua memang pantas mati-Tapi sebelum kau bunuh Mao Kau dan lain-lain mengapa tidak kau-.. ."
"Sudahlah, jangan bicara lagi"
Bentak siu su dengan suara pedih-"Tidaki harus kutanya"
Seru Lim Ki-ceng.
"Ingin kutanya lagi padamu, apakah kau tahu siapa yang menulis peringatan 'sepuluh tahun kemudian, darah dibayar dengan darah'?"
Pertanyaan ini membuat semua orang melengak dan sama pasang telinga lebih cermat.
"Akulah yang menulisnya"
Teriak Lim Ki ceng sambil menuding hidung sendiri. selagi semua orang tercengang, mendadak Lim Ki-ceng menyambung pula.
"Bahkan Mao Kau yang menyuruhku menulisnya"
Karuan semua orang terkejut.
"Hahi apakah Mao Kau sudah gila? Masakah dia yang menyuruhmu menulis kata peringatan itu?"
Tanya Leng Liong.
"sudah tentu ada alasannya"
Sambung Lim Ki-ceng.
"Dia kuatir setelah siu Tok mati, lalu jit-kiam-sam-pian akan tercerai-berai. Demi memperkuat pengaruh sendiri, supaya diantara jit-kiam-sam-pian tetap bersatu, maka dia sengaja menulis kata peringatan itu."
Ia menghela napas, kemudian ia sambung pula.
"setelah membaca kata peringatan itu, benar juga timbul rasa takut pada jit-kiam-sam-pian, kuatir keturunan siu Tok akan menuntut balas kepada mereka, maka secara sadar atau tak sadar mereka pun rela diperalat Mao Kau."
Diam-diam Leng Liong menghela napas menyesal dan mengakui rencana Mao Kau itu memang keji, benar-benar gembong iblis yang lihai-"Nah, apa kehendakmu sekarang setelah kubeberkan segala rahasiaku,"
Kata Lim Ki-ceng dengan tersenyum pedih.
"Pergilah"
Siu su memberi tanda-"Aku tidak sudi membunuhmu lagi-.. ."
Pandangan Lim Ki-ceng beralih kepada Leng Liong, pengemis tua itu berkata.
"Baik, aku pun tidak ada komentar....."
Thi-ta-sucia juga bungkam dan tidak ada maksud hendak merintanginya.
Lim Ki-ceng berdiri termangu, mendadak ia tertawa keras dan berteriaki "Kalian tidak sudi membunuhku lagi, tapi aku sendiri sudah bosan hidup,"
Semua orang melenggong, dilihatnya perempuan itu telah menjemput sebatang pedang, dengan kedua tangan memeaang tangkai pedang terus ditubleskan kedalam perut sendiri sambil meratap.
"Ting Ih, jangan kau benci diriku, tunggu sebentar, akan kutemani kau."
Darah segera muncrat, tubuh Lim Ki-ceng lantas ambruk diatas mayat Ting Ih. Terharujuga semua orang, seketika tidak ada yang bicara, lewat sekian lama barulah Leng Liong berseru.
"Ci Toki kau pun boleh pergi saja"
Cahaya senja indah, akan tetapi cahaya yang indah ini takkan tahan lama. ci Tok memandangi cahaya senja dengan termenung, katanya kemudian.
"Lantaran urusan ini, dunia persilatan telah terlanjur banjir darah, entah berapa orang yang telah menjadi korban peristiwa ini, sekarang biarpun ingin menyudahi urusan inijuga sudah terlambat... ."
Ia bicara dengan nada pedih, sambungnya kemudian.
"umpama diriku, sekarang pun kasip untuk lepas tangan begini saja, diantara kesepuluh saudaraku sebagian besar sudah mati ditanganmu, sebagai kepala Cap-toa-sucia mau-tak-mau harus menuntut balas padamu."
Sampai disini, mendadak ia menambahkan dengan suara keras.
"Maka dari itu, supaya tidak mendatangkan bencana bagimu kelaki mestinya sekarang tidak kau lepaskan aku pergi"
Mendadak siu su menatapnya dengan tajam. Cahaya senja menyinari wajah kedua orang yang berubah kemerahan, keduanya sama tahu pihak lawan bukanlah lawan yang empuk -"Pergilah"
Akhirnya siu su berucap dengan menghela napas pelahan. Thi-ta-sucia memandang semua orang sekejap, lalu berucap pula.
"Kejadian tadi sudah cukup mengerikan, tapi tidak sampai sebulan lagi didunia Kangouw masih akan berjangkit tragedi yang terlebih kejam dan menyedihkan. Aku dan kaupun akan menjadi peranan dalam tragedi itu, akhirnya siapa yang akan hidup atau mati biarlah kita tunggu dan lihat saja tanggal mainnya"
Ia mengangkat kedua tangannya memberi salam dan berseru.
"sampai bertemu lagi"
Segera ia melangkah keluar, kawanan lelaki putus jari juga ikut kepergiannya.
suasana sunyi, hanya langkah mereka yang berderap menggetar perasaan orang.
Semua orang masih termenung ditempat masing-masing, ucapan ci Tok sebelum pergi seakan-akan masih terngiang ditelinga mereka.
sampai lama barulah Leng Liong menghela napas dan berkata.
"Permusuhan dendam dan menuntut balas, mengapa dunia persilatan ini penuh permusuhan dan balas dendam melulu?"
Pelahan ia menyapu pandang mayat yang menggeletak disekitarnya itu, sekian banyak jiwa yang berguna kini telah berubah menjadi mayat yang tak berIaedah, sebab musebabnya tidak lebih cuma satu kata yang singkat saja, yaitu permusuhan.
Mendadak ia berpaling menghadapi siu su dan berseru, siu-heng, semoga sejarah hidupmu nanti kecuali permusuhan dan banjir darah masih ada juga welas-asih dan pengampunan."
Siu su termenung bimbang, gumamnya.
"Welas-asih?--"
"Pengampunan?...."
"Betul."
Tukas Leng Liong.
"Hendaknya kau gunakan welas-asih dan suka mengampuni untuk menghadapi musuhmu, dengan begitu roh ayahmu dialam baka pasti juga akan membenarkan tindakanmu dengan tersenyum."
Mendadak siu su bergelak tertawa keras, katanya. Jika kuperlakukan orang dengan welasasih dan mengampuni kesalahan mereka, adakah orang lain juga menaruh welas-asih dan mengampuni kesalahanku?"
Dengan sorot mata tajam mendadak Leng Liong menuding mayat yang berlumuran darah itu dan berkata.
"Apakah kau tahu orang-orang ini mati bagi siapa?"
Berubah juga air muka siu su.
"Bagimu, tahu?"
Teriak Leng Liong mendadak penuh emosi-"
Orang-orang ini semuanya mati bagimu, umpama mereka dapat mengampunimu, mereka tak dapat lagi mengeluh kepadamu, juga tak dapat menuntut balas padamu.
Lantas apa yang akan kau lakukan terhadap mereka."
Tergetar tubuh siu su, ia menunduk dan tidak berani memandang mayat itu lagi. Didengarnya Leng Liong menghela napas pula dan berkata.
"Menghadapi urusan rumit ini, sungguh sukar untuk dibedakan antara budi dan benci, antara kawan dan lawan, semuanya serba ruwet, sudah berpuluh tahun pengemis tua berkecimpung didunia Kangouw, tapi belum pernah menghadapi persoalan sesulit ini."
Sampai lama siu su menunduk dan tidak bicara. Buyung siok-sing yang sejak tadi juga cuma diam saja sekarang mendadak berkata.
"Meski urusan ini maha ruwet, tapi tetap ada orang yang dapat menyelesaikannya."
"siapa?"
Tanya Leng Liong ragu.
"Dia-"
Buyung siok-sing menuding siu su.
"Aku?"
Tanya siu su dengan bingung sambil mengangkat kepalanya.
"Betul, hanya engkau sendiri yang dapat menyelesaikan persoalan ini."
Kata Buyung sioksing.
"Asalkan engkau mau mengambil keputusan tegas, dapat menggunakan pedang tajam untuk memotong segala benang kusut yang melibatkan budi dan benci, antara cinta dan permusuhan, maka segalanya akan beres dan dunia Kangouw pun akan terhindar dari banjir darah lebih banyak lagi."
Siu su termenung memandang sisa cahaya senja yang hampir lenyap itu, gumamnya bimbang.
"Dapatkah aku?"
Pelahan dia menuju kebawah karang dimulut lembah sana memandangi jalan sempit yang membentang jauh kesana, memandang jalan yang sempit dan berliku serupa jalan kehidupan manusia yang penuh rintangan ini....
Buyung siok-sing menyusul pelahan kesampingnya dan melampaui didepannya.
siu su memandang bayangan samping si cantik, garis tubuh yang indah dan profil yang mempesona, seketika timbul rasa bimbang dan rasa hampanya, segera hatinya diliputi pula rasa duka yang tebal.
Diam-diam ia bertanya kepada dirinya sendiri.
"Apa betul hanya aku saja yang dapat menyelesaikan urusan ini?jika aku mati....."
Ia memejamkan mata dan tidak berani membayangkan lebih lanjut.
Entah selang berapa lama, tiba-tiba dari belakangnya berkumandang suara kidung yang mengharukan.
semula cuma suara seorang saja yang pelahan terbawa angin, lalu bergema suara orang banyaki suara duka yang memilukan.
Ia tahu inilah suara kidung kaum pengemis yang lagi mengenangkan kawan-kawannya yang mati, dan sedang mengubur kawan-kawannya yang gugur tadi-Dia tidak berani berpaling untuk memandang gapura yang bertulisan pesta gembira itu.
Hc.ri yang seharusnya gembiara ria kini telah berakhir dengan duka nestapa-semua itu karena siapa dan untuk apa?
Hari sudah gelap, siu su berpaling, ditanah mangkuk sana sudah bertambah banyak gundukan api unggun, disamping setiap api unggun terdapat pula kuburan baru.
gapura pesta sudah dibongkar, Leng Liong berdiri d iba wah panggung menghadapi api unggun yang gemerdep.
suasana sunyi, seram dan mengharukan.
siu su menunduk dan tidak merasakan sejak tadi Buyung siok-sing terus mengawasi gerakgeriknya dan ingin menyelami perasaannya.
Pada saat itulah dua anggota Kai-pang mendekatinya dan menyapa.
"siu-kongcu, Pangcu mohon bicara denganmu."
"Baik, memang kuingin sembahyang atas arwah saudara kita yang telah meninggal,"
Kata siu su dengan khidmat.
setelah berada lagi ditengah kerumunan orang Kai-pang, siu Su melihat setiap setiap anggota Kai-pang sama memandangnya dengan cemas serta sorot mata seakan-akan memohon kepadanya siu su tidak tahu apa kehendak orang, bersama Buyung siok-sing mereka lantas berlutut dan memberi hormat kepada makam kawanan pengemis yang gugur sambil berdoa, lalu ia berbangkit dan menyatakan tekadnya.
"Selanjutnya asalkan ada sesuatu permintaan kawan Kai-pang, tanpa syarat pasti akan kukerjakan, terjun kelautan api pun takkan kutolak-"
Dengan wajah prihatin Leng Liong mendekatinya dan berkata.
"siu-kongcu, Kai-pang hanya ingin mohon sesuatu pada mu-"
"silakan bicara saja,"
Jawab siu su-Ia merasa hutang budi terhadap Kai-pang, meski kawanan pengemis itu tidak dibunuh olehnya, tapi mati karena dia, maka dia berharap akan dapat mengerjakan sesuatu untuk Kai-pang.
Didengarnya Leng Liong berkata pula.
"Kita telah sama menyaksikan betapa ngerinya banjir darah, demi kedamaian, Kai-pang kita memohon siu-kongcu agar suka mengakhiri permusuhan ini dan jangan lagi menerbitkan bunuh membunuh berdarah didunia Kangouw..."
Hati siu su tergetar dan berdiri termenung.
"siu-kongcu."
Seru Leng Liong pula.
Jiwa manusia ciptaan Tuhan, hidup manusia dipermukaan bumi ini sama derajatnya, janganlah lantaran dendam kematian seorang harus mengorbankan pula jiwa orang banyak secara sia-sia.
Permohonan kami hanya semoga siukongcu sudi mengakhiri permusuhan yang berlarut ini dan jangan menerbitkan korban lagi, maka biarpun di-alam baka saudara kita ini pasti juga akan tidur dengan tenang."
Siu su menunduk dan berkata.
"Akan... .akan kupertimbangkan...."
Mendadak seorang anggota Kai-pang berteriaki "Sebelum siu-kongcu menerima permohonan kami, setiap saudara Kai-pang akan tetap berlutut dan takkan meninggalkan tempat ini."
Serentak anggota Kai-pang yang lain berteriak setuju.
Hati siu su tergetar pula, segala apa yang pernah dilakukannya selama ini memang cuma lantaran balas dendam saja, apa yang dipikirkannya melulu usaha menuntut balas belaka, sekarang kalau dia disuruh menghentikan seaala usaha dan permusuhan ini, sungguh hal ini membuatnya serba susahi tapi dalam keadaan demikian dapatkah dia menolak permintaan orang banyaksuasana berubah hening, setiap orang sama menantikan jawaban siu su, pandangan semua orang sama tertuju kepadanya-Akhirnya siu su menghela napas panjang, ucapnya pelahan.
"Kuterima permintaan kalian....."
Serentak bersoraklah kawanan pengemis, tapi siu su lantas menyambung pula dengan lantang.
"Tapi tidak kuketahui cara bagaimana harus kuterima permintaan kalian ini?"
Kembali semua orang melengaki keadaan menjadi hening lagi. siu su mengangkat kepala dan menyapu pandang sekelilingnya sekejap, lalu berseru pula.
"Dalam hati setiap orang pada umumnya mempunyai sesuatu kesulitan yang sukar terbuka, dan kesulitanku ini adalah soal permusuhan, untuk ini kuharap dapat diberi kelonggaran satudua hari agar dapat kupikirkan dengan tenang....."
Belum selesai ucapannya, sekonyong-konyong terdengar suitra gemuruh yang berkumanda dari mulut lembah sana, suara menggelegar bergema hingga lama diangkasa -ooo00000ooo-Menyusul diatas tebing sekeliling tanah mangkuk ini lantas berjangkit suara teriakan orang banyak yang siap menyerbu.
Berbareng itu dari atas lantas berhamburan bola api yang terbuat darijerami dan rumput kering yang dibakar.
Kawanan pengemis sama terkesiap, namun tidak ada seorang pun yang bergeraki semuany tetap berlutut disitu dan mengharapkan jawaban tegas siu su.
Dengan kuatir anak muda itu berseru.
Baca Juga: Setan Harpa 3
Baca Juga: Naga Kemala Putih 4