Eps 5 Dua Musuh Turunan - Liang Ie Shen
Baca online Dua Musuh Turunan - Liang Ie Shen
Cersil Dua Musuh Turunan - Liang Ie Shen.
Lantas ia keluarkan gambar yang ia ambil dari rumahnya Tjio Eng, ia pajang itu di paseban tersebut. Ketika Pit To Hoan memandang gambar itu, ia menghela napas panjang.
"Bila negara tak kurang suatu apa, aku akan kembali....."
Katanya dengan perlahan. Terus dia menambahkan.
"Ketika dahulu gambar ini dilukis, mungkin orang telah menemaninya sambil main catur dan minum arak. Saudara Thio, kau ada dari keluarga terpelajar, silakan kau pegang biji putih."
Tingkah polanya kedua orang ini membuat heran orang banyak.
Bagaimana penting artinya panah Loklim tjian yang disiarkan, akan tetapi sekarang ini, mereka berdua bercokol memandangi gambar, bermain catur.
Tiauw Im tak kurang herannya.
"Keponakan muridku ini sebenarnya belum pernah aku melihatnya, kenapa Tjinsamkay ketahui dia ada dari keluarga sasterawan?"
Ia berpikir.
"Kenapa dia ketahui orang pandai main catur?"
In Loei berada didampingnya pendeta itu, dia berpaling kepadanya seraya berkata.
"Pasti saja dia mengetahuinya, oleh karena gambar itu ada gambar kota Souwtjioe!"
Tiauw Im menjadi terlebih heran.
"Kau belum pernah pergi ke Souwtjioe, kenapa kau pun ketahui itu?"
Dia tanya. Tjoei Hong ada bersama mereka ini, dengan dingin dia berkata.
"Pasti sekali dia ketahui!"
Dengan "dia", dia maksudkan In Loei.
Tiauw Im berdiam, ia terbenam dalam kegelapan.
Dipaseban sebaliknya, kedua orang yang sedang main catur dengan tenang, asyik menceguk arak mereka.
Semua orang mengawasi mereka dari kejauhan, semua terbenam dalam keheranan, hingga mereka jadi masgul sendirinya.
Pit To Hoan dengan biji hitamnya telah mengatur siasat "Yan siang hoei" -"Burung walet terbang berpasangan."
Ia ambil kedudukan di satu pojok. Atas itu Tan Hong segera menyerang ke tengah, mengambil kedudukan "Thiangoan" -"Asalnya langit"
"Ah, saudara, tak segan kau berebut sepotong daerah denganku?"
Kata Pit To Hoan, yang kena terdesak.
Ia berpikir lama, baharu ia geser pula satu bijinya, akan tetapi Tan Hong bertindak seperti tanpa berpikir pula.
Kembali dia pengaruhi lawannya.
Pertandingan berjalan terus, sampai setengah jam, habis itu, dengan keringatnya mengetel, Pit To Hoan berbangkit, dengan tangannya, ia sampok biji caturnya.
"Tak dapat aku lawan terus padamu....."
Katanya masgul. Tan Hong berbangkit sambil tertawa.
"Terima kasih, kau mengalah!"
Katanya. Terus ia gulung gambar yang dipajang itu. Semua orang heran, tetapi mereka bergerak. Pit To Hoan dapat melirik sikap tetamu-tetamu-nya itu.
"Saudara Thio, bukannya aku si orang tua tak tahu aturan,"
Ia lantas berkata.
"karena kau telah mengundang begini banyak sahabat, tidak dapat tidak, mesti aku bertindak dengan turuti aturan. Saudara, ingin aku meminta pengajaran beberapa jurus ilmu pedang darimu....."
Sepasang matanya Tan Hong bercahaya. Baginya, permintaan To Hoan ini seperti di luar sangkaannya. Tetapi tetap ia bersikap tenang. Terus ia menjura.
"Jikalau begitu, baiklah,"
Ia kata.
"Aku minta lootjianpwee menaruh belas kasihan terhadapku....."
Dari pojok tembok, To Hoan turunkan sepotong tongkat panjang.
"Tongkat pengemis ini dapat juga digunakan!"
Katanya. Tan Hong sudah lantas ambil kedudukan di sebelah bawah. To Hoan tahu orang tidak berani turun tangan terlebih dahulu, maka ia tak mau buang tempo lagi.
"Awas!"
Ia peringatkan. Terus ia menyambar pinggangnya si anak muda.
"Bagus!"
Seru Tan Hong sambil lompat, hingga tongkat Hanliong pang, yang terbuat dari kayu hangliong yang kuat, lewat di bawah kakinya.
Habis itu, tidak tunggu sampai tubuhnya turun menginjak tanah, pedangnya sudah menggantikan menyambar, menikam ke arah jalan darah hoakhay hiat.
Itulah serangan "Pekhong koandjit" -"Bianglala putih mengalingi matahari."
"Bagus!"
Berseru To Hoan, sambil mundur, seraya menarik kembali tongkatnya, untuk dipakai menotok nadi orang.
Itulah serangan saling balas yang dahsyat sekali.
Tan Hong tarik kembali tangannya berikut tubuhnya, akan menyingkir dari ancaman To Hoan.
Ia telah gunakan tipu "Djitgoat kengthian" -"Matahari dan rembulan melewati garis."
"Bagus, saudara Thio!"
Pit To Hoan memuji pula.
"Sungguh liehay ilmu pedangmu!"
Selagi memberi pujian, jago tua ini ulangi serangannya yang tak kurang berbahayanya dengan gerakannya yang cepat.
Nampaknya tidak ada jalan untuk Tan Hong berkelit atau menangkis, ia sudah sangat terdesak, akan tetapi di saat ujung tongkatnya mengancam, tahutahu!
"Trang!"
Demikian terdengar.
Karena keberaniannya, si anak muda toh menangkis juga.
Maka itu lelatu api pun muncrat.
Pit To Hoan kaget, hingga ia mencelat mundur, kalau tidak, ujung pedang yang menyambar terus, bisa mengenai tubuhnya.
Semua tetamu berseru kaget dalam hati mereka.
Malah Tiauw Im Hweeshio turut merasa heran juga.
Mungkinkah Tan Hong tidak dapat mempengaruhi pula pedangnya?
Melainkan To Hoan sendiri yang mengetahui bahwa anak muda itu telah mengalah terhadapnya.
Ia lantas periksa tongkatnya, tongkat itu tidak gompal.
Ia tertawa.
"Pedangmu dan tongkatku sama-sama tidak rusak, mari, tak usah kau sungkan sungkan!"
Ia menantang.
Malah ia yang mendahului menyerang pula.
Kali ini, ia berlaku terlebih bengis pula.
Dengan sebat tetapi tenang Thio Tan Hong mengadakan perlawanan.
Tongkat sangat mendesak, ia melayaninya dengan kegesitan tubuhnya, yang enteng sekali.
Cepat jalannya pertempuran, sebentar saja sudah lima puluh jurus.
Satu kali Tan Hong menyerang dengan tipu "Liongboen kouwliong" -"Gelombang di Liongboen,"
Di saat ujung pedang hampir bentrok dengan tongkat, mendadak To Hoan menarik kembali, akan berbalik menyambar ke arah pinggang.
Diserang secara demikian rupa, Tan Hong mendak, terus ia mencelat ke samping.
"Sayang! Sayang!"
Mengeluh orang banyak dalam hatinya.
Tiauw Im kembali heran.
Ia tahu, bila tongkat diturunkan sedikit lagi, bebokong atau kempolan Tan Hong mesti kena tersapu.
Mungkinkah To Hoan juga tak dapat menguasai tongkatnya itu?
Cuma Tan Hong yang tahu, jago tua itu mengalah terhadapnya, seperti tadi ia mengalah terhadap orang tua itu.
Selagi ia belum tahu pasti apa baik ia ulangi serangannya atau tidak, tiba-tiba ia dengar tuan rumahnya tertawa terbahak-bahak.
-ooo0dw0ooo-BAB X "Saudara Thio, ilmu pedangmu liehay, tetaplah hatiku si orang tua!"
To Hoan mengucap habis tertawa.
Terus ia menikam dengan tongkatnya ke arah perutnya si anak muda, di depan mana ada melintang pedangnya.
Tan Hong menolak dengan pedangnya, untuk mengelakkan diri, dengan begitu kedua senjata jadi membentur satu dengan lain.
Tapi inilah gerakan untuk menyudahi pertempuran, untuk mengubah permusuhan menjadi persahabatan.
Selagi orang banyak heran, Pit To Hoan telah berkata dengan nyaring.
"Saudara Thio, kau adalah sahabatku, maka itu, urusan bagaimana besar juga, dengan memandang mukaku, sukalah kau menghabiskannya!"
Terus ia lemparkan tongkatnya, lalu ia cekal tangannya Tan Hong, untuk dituntun sampai di pintu luar, untuk mengantarkan sendiri orang pergi.
Sepasang matanya Tjioe San Bin berputar, semua jago Rimba Hijau pun menjadi tegang sendirinya.
Dengan sikapnya yang tenang tetapi angker, To Hoan jalan berendeng dengan Thio Tan Hong.
Ia tahu sikapnya San Bin dan tetamu-tetamunya, seperti tidak mengambil mumat, ia jalan terus.
Ini ada cara agung dari orang kangouw mengantarkan tetamunya pergi pulang.
Biar mereka tidak puas, San Bin dan tetamu-tetamunya membiarkan To Hoan mengantar Thio Tan Hong berlalu.
Di luar, kuda putih berjingkrakan dan berbenger.
Tan Hong hampiri kudanya itu, dengan sebelah tangan memegang gagang pedang, ia menjura kepada Pit To Hoan.
"Loopeh, terima kasih!"
Ia mengucap, menyusul mana tubuhnya mencelat naik ke bebokong kudanya. Terus ia bersenanjung.
"Di saat terancam dari Tiongtjioe, akan aku kembali, semoga negara nanti mengeluarkan jago yang pandai. Jikalau nanti datang hari dari gelombang tenang, ingin aku bersama kau mendaki panggung orang-orang cendekiawan."
Ketika itu, mata pemuda she Thio ini bentrok dengan sinar mata In Loei, yang mengawasi kepadanya, tetapi terus ia keprak kudanya, untuk dilarikan, hingga sejenak kemudian hilanglah ia dari pandangan mata orang banyak, untuk melalui beberapa lie jauhnya.....
Pit To Hoan terus mengawasi tetamunya yang muda dan gagah itu, akhirnya dia tunjukkan jempolnya dan memuji.
"Sungguh agung! Dia dapat menangkan leluhurnya! Tidak kecewa Tjio Eng mewakilkan dia menjaganya selama beberapa puluh tahun!"
Tjeetjoe Na Thian Sek lampaui orang banyak, akan menghampiri tuan rumah.
"Siapakah sebenarnya anak muda berkuda putih itu?"
Dia tanya.
"Hongthianloei bersama Kimtoo Tjeetjoe telah mengirimkan panah Loklim tjian, adakah itu diakhiri secara begini saja?"
To Hoan mengalihkan pandangannya ke arah Tjoei Hong, ia tertawa.
"Nona Tjioe, mengertikah kau sekarang?"
Dia tanya.
"Kakek guruku itu, Peng Hweeshio, mempunyai tiga murid. Murid yang kedua, Tjoe Goan Tjiang, mulia kedudukannya, dia menjadi kaisar yang membangun Kerajaan Beng yang besar. Murid yang kesatu, Thio Soe Seng, telah terbinasa dalam peperangan di Tiangkang, tetapi si anak muda berkuda putih ini adalah turunannya. Di antara tiga muridnya itu, akulah yang paling tidak berguna, turun temurun, kami tetap hidup sebagai orang biasa saja....."
Semua tetamu belum pernah mendengar riwayat keluarga she Pit ini atau dongengnya itu, mereka semua tidak mengerti.
"Apa? Apa kau kata?"
Tanya mereka.
"Jadi si mahasiswa berkuda putih itu turunan Thio Soe Seng? Hubungan apakah yang ada antara Hongthianloei Tjio Eng dengan dia itu?"
Tjoei Hong tidak pedulikan pertanyaan orang banyak itu, ia menghela napas.
"Ya, mengertilah aku sekarang,"
Ia sahuti tuan rumah itu.
"Rupanya leluhurku dulu adalah orang kepercayaan yang telah menerima tugas dari Thio Soe Seng untuk menyimpan gambar itu. Akan tetapi dia ini, dia adalah musuh besar dari In Siangkong....."
Pit To Hoan kerutkan alisnya.
"Maka itu telah kukatakan, masih ada sesuatu yang belum jelas bagiku,"
Ia berkata.
"dan ini adalah satu di antaranya. Dalam surat ayahmu itu tidak dituliskan sesuatu..... In Siangkong, bagaimana caranya maka kau jadi bermusuhan dengan dia itu?"
Ia terus tanya In Loei. Pucat muka orang yang ditanya itu, air matanya berlinang. Sekian lama, ia berdiam saja. Semua orang makin heran, ada pula yang bertanya.
"Marilah, kita bicara di dalam,"
Akhirnya To Hoan mengajak. Mereka kembali ke ruang dalam, untuk duduk. Sekarang ia ingin memberikan keterangannya.
"Pada waktu dahulu, tiga saudara angkat telah bersama-sama mengangkat senjata,"
Ia jelaskan.
"lalu belakangan, cuma satu yang berhasil membangun negara. Berbicara sebenarnya, aku pun tidak puas. Adalah aturan dalam keluargaku, anak-anak kami mesti hidup sepuluh tahun sebagai pendeta dan sepuluh tahun sebagai pengemis. Inilah peringatan leluhur kami yang pertama, kedua kami diberi ketika untuk merantau di seluruh negeri, guna mencari gambar yang mempunyai hubungan dengan usaha pembangunan negara, supaya setelah mendapat gambar itu, kami bisa berdaya untuk dengan anak cucunya Tjoe Goan Tjiang memperebutkan kegagahan. Sekarang ini tidak usah aku bersusah hati pula, selanjutnya anakku tak usah lagi menjadi hweeshio, tak usah lagi menjadi pengemis!"
"Apakah artinya kata-kata kau ini, Pit loo enghiong?"
Tegaskan Na Tjeetjoe. Pit To Hoan tertawa sedih, ia menyahut.
"Pada jaman dahulu Hong Djiam Kek bercita-cita mengendalikan negara, dia telah main catur dengan Lie Sie Bin, belum sampai selesai satu rintasan, atau dia telah mengaduk-aduk biji caturnya, dia kata, tak dapat lagi dia memperebutkan negara. Nyata dia telah putus asa, kalah dari Lie Sie Bin. Aku tidak berangan-angan besar sebagai Hong Djiam Kek itu, sebab dahulunya aku tidak tahu diri, aku masih memikir, setelah aku berhasil mendapatkan gambar itu, hendak aku bergerak, untuk memburu menjangan di Tionggoan. Tapi sekarang ini, ikhlas aku, aku menyerah kalah terhadap Thio Tan Hong. Gambar itu telah bertemu dengan pemiliknya yang sah! Bukankah kamu telah mendengar syairnya Thio Tan Hong itu, yang ia ucapkan tadi. Bagaimana, besar cita-citanya! Dengan menuruti petunjuk dalam gambar itu, Thio Tan Hong hendak menggali harta besar yang dipendam leluhurnya dulu, dengan menggunakan peta buminya itu, dia mencoba bergerak, untuk mendayakan usaha kerajaan, untuk sekali lagi memperebutkan Negara dengan anak cucunya keluarga Tjoe!"
San Bin habis sabar, dia berjingkrak.
"Hanya aku kuatir dia nanti persembahkan negara kepada bangsa asing!"
Katanya dengan dingin.
"Apa kau kata?"
Tanya To Hoan, tenang.
"Pit Lootjianpwee, apakah kau masih belum ketahui?"
San Bin balik menanya, hatinya masih sangat mendongkol.
"Ayah si pemuda berkuda putih itu, Thio Tjong Tjioe, berada di negara Watzu di mana dia menjadi perdana menteri muda! Sekarang ini usaha negara Watzu untuk menerjang masuk ke negeri kita boleh dikatakan sudah sampai di depan mata, dia telah dating seorang diri kemari, jikalau dia bukannya mata-mata, habis apa? Malah aku kuatirkan dia lebih berbahaya daripada mata-mata umumnya! Coba pikir! Kalau dia berhasil mendapatkan peta negeri itu, mungkin wilayah kita yang bagus letaknya, akan berada dalam telapakan tangannya, dia dapat melihat dengan tegas, jikalau peta itu diserahkan kepada bangsa Watzu dan bangsa itu mengerahkan angkatan perangnya menuruti petunjuk peta itu, dapatkah Tionggoan melakukan perlawanan?"
Wajah Pit To Hoan berubah menjadi pucat.
"Benarkah apa yang kau katakan ini?"
Tanyanya.
"Sedikitpun aku tak dusta!"
Sahut San Bin.
"Kami ayah dan anak telah mengerek bendera Djitgoat Kie, kami menentang bangsa Tartar, umum telah ketahui, maka dalam urusan demikian besar mana dapat aku omong kosong! Demikian sakit hati yang besar dari In Siangkong ini, itupun disebabkan si penghianat besar Thio Tjong Tjioe! Adik Loei, cobalah kau ceritakan semua kepada orang-orang gagah ini?"
Tak tahan In Loei akan kedukaannya, mendengar perkataan San Bin itu, ia menangis, hingga tak dapat ia bicara.
"Jangan berduka, adik Loei,"
San Bin menghibur.
"Pit Lootjianpwee dan semua orang gagah ini pastilah akan berbuat sesuatu untukmu. Baiklah aku yang mewakilkan kau menuturkannya."
Segera San Bin ceritakan halnya In Tjeng disiksa menggembala kuda di Negara asing, bagaimana In Tjeng itu teraniaya dalam perjalanan pulang, dan lainnya.
Mendengar semua itu, To Hoan rubuhkan diri dalam kursinya.
"Pantas keluargaku mencari turunan Thio Soe Seng dengan sia-sia saja,"
Katanya selang sekian lama.
"sedikit juga kita tidak dapat mengendus, kiranya dia telah pergi jauh kepadang pasir."
Tiba-tiba jago tua ini lompat bangun, nampaknya ia murka.
"Benarkah Thio Soe Seng mempunyai anak cucu demikian buruk?"
Tanya dia.
"Melihat roman Thio Tan Hong, mana pantas dia menjadi satu penghianat?"
"Ada bapaknya mesti ada anaknya!"
Kata San Bin.
"Dengan melihat tabeatnya saja mana bisa diputuskan dia sebenarnya manusia macam apa?"
Muka To Hoan menjadi merah, matanya menyala, seolah-olah hendak menyemburkan api.
"Jikalau demikian, akulah yang keliru!"
Akhirnya dia berseru. Baharu San Bin hendak melanjutkan, atau Tiauw Im telah menyambungi dia.
"Lootoako, aku katakan kau keliru,"
Kata pendeta ini.
"Thio Tjong Tjioe itu memang benar satu penghianat besar! Pernah aku mendatangi negara Watzu itu dan karenanya pernah aku tercelakai dia!"
Pit To Hoan tunduk, tapi masih ia mengatakan dengan perlahan.
"Aku salah! Apa benar aku salah?"
Melihat sikap orang, San Bin berkata pula.
"Pit Lootjianpwee,"
Katanya.
"mungkin karena kekeliruan kau, dan kurang perhatian, kau kena dikelabui penghianat itu. Thio Tan Hong telah mengundang semua orang gagah datang ke rumahmu, ia tentunya telah perhitungkan masak-masak, mungkin ia pergunakan kau sebagai tameng, supaya kau dapat menolongi dia memberi keterangan, untuk memecahkan kesulitannya, supaya selanjutnya kaum Rimba Hijau tidak lagi menyusahkan padanya."
"Hm!"
Jago tua itu perdengarkan suaranya.
"apabila dia benar-benar penghianat, pasti akan aku binasakan dia dengan tanganku sendiri!"
Matanya lantas bersinar, tapi wajahnya tetap penuh keragu-raguan.
San Bin tahu orang tentu belum percaya penuh padanya, masih ia hendak meyakinkannya, tetapi selagi ia hendak buka mulutnya, ia lihat tuan rumah itu pergi keluar sambil memanggil.
"Mana orang!"
Terus dia perintahkan satu pegawainya.
"Lekas kau selidiki, apakah orang yang aku titahkan sudah kembali atau belum?"
Habis itu, ia kembali ke dalam sambil mengatakan.
"Kalau dilihat begini, mungkin di depan mata kita ini akan terbit ancaman bahaya besar!....."
Semua hadirin menjadi heran.
"Ancaman bencana apakah?"
Tanya mereka yang tak mengerti.
"Kita berjumlah banyak di sini, bencana apakah itu? Mungkinkah kita tidak dapat menentangnya?"
"Saudara-saudara, kamu masih belum mengetahui jelas,"
Sahut Pit To Hoan dengan penjelasannya.
"Keluargaku adalah keluarga yang menjadi musuh turunan besar dari kaisar kerajaan Beng. Dimasa hidupnya Tjoe Goan Tjiang, pernah mengumumkan titah rahasia untuk membasmi sampai diakarnya kedua keluarga Thio dan Pit. Keluarga kami menjadi pendeta dan pengemis selama turun temurun, sebabnya, kecuali alasan-alasan yang pernah aku sebutkan, satu alasan lainnya ialah guna melindungi diri dari ancaman bahaya itu. Bersukur kepada leluhurku, berkat perlindungannya, beberapa turunan kami telah selamat tidak kurang suatu apa dan belum pernah kami dapat diendus pemerintah. Atau mungkin karena aku pernah merantau, nama kosongku telah mengundang ancaman bahaya. Ialah sejak beberapa tahun yang lalu, aku tahu ada "
Elang dan anjing"
Yang memperhatikan diriku.
Itulah sebabnya kenapa aku mengambil tempat yang sepi ini untuk menyembunyikan diri.
Tapi aku rasa aku belum bebas.
Beberapa hari yang lalu, telah datang beberapa orang asing yang tidak dikenal.
Menurut orang-orang kampung, mereka itu telah menanyakan asalusulku.
Aku percaya, mereka adalah kaki tangan pemerintah.
Baiklah aku bicara terus terang, beberapa hari yang lalu, aku berniat untuk pindah dari sini, akan tetapi karena Thio Tan Hong menjanjikan untuk membuat pertemuan di sini, aku telah menunda kepindahanku itu.
Umpama kata pemerintah mengetahui kita akan berkumpul di sini, pasti kaisar she Tjoe itu mengirimkan orang-orangnya yang pandai untuk membekuk kita!
Bukankah mereka dapat menggunakan jaring untuk meringkus kita semua?"
Mendengar ini, semua tetamu jago-jago Rimba Hijau, jadi bimbang. Dugaan To Hoan masuk diakal. Tjek Po Tjiang, yang pernah dikalahkan Thio Tan Hong, lantas berkata.
"Apakah betul urusan begini kebenaran? Va, aku percaya, inilah jebakan yang diatur si bangsat kecil berkuda putih itu!"
To Hoan berpikir keras, tidak dapat ia bicara.
"Sungguh mencurigakan!"
Na Tjeetjoe turut mengutarakan pikirannya.
"Bagaimana anak cucunya Thio Soe Seng dapat bekerja sama dengan pemerintah?"
To Hoan kemukakan pula kesangsiannya.
"Jangan ragu-ragu, lootjianpwee1."
Kata Tjioe San Bin.
"Thio Tjong Tjioe ayah dan anak bisa menjadi mata-mata bangsa Watzu, maka itu, mereka pasti juga bisa menjadi mata-mata pemerintah! Orang sebangsa dia, apa yang dia tidak dapat lakukan?"
"Benar!"
Tiauw Im campur bicara.
"Thio Tjong Tjioe itu pernah berhubungan surat menyurat dengan dorna kebiri Ong Tjin, inilah aku ketahui."
Pit To Hoan buat main kumisnya, ia berpikir keras.
"Sebenarnya aku tidak menduga jelek terhadapnya,"
Katanya kemudian.
"tapi sekarang, mendengar keteranganmu, Tjioe Hiantit, benar-benar sulit untuk aku mengambil keputusan. Ah, urusan ada begini suram, sulit untuk dipecahkannya. Mungkinkah Thio Tan Hong menggunakan akal memperlambat gerakan pasukan guna mencegah kepindahanku, supaya kaki tangan pemerintah keburu datang untuk melakukan penangkapan? Ah, benar-benar, tahu manusia, tahu mukanya, tak tahu hatinya! Apakah aku telah keliru melihat orang?"
Pit To Hoan cerdas, ia pandai melihat segala apa, hari ini adalah untuk pertama kalinya ia terbenam dalam kesangsian, hingga tak dapat ia segera mengambil keputusan.
Tjioe San Bin telah mengumbar hawa amarahnya.
"Urusan ini jangan disangsikan pula!"
Katanya dengan nyaring.
"Pastilah sudah, ini ada jebakan yang dipasang Thio Tan Hong! Maka sekarang marilah kita bicarakan daya untuk mengadakan perlawanan terhadapnya!"
Riuh suara para tetamu itu, mereka masing-masing mengutarakan pikiran mereka.
Ada yang menghendaki menunggu datangnya musuh, untuk memberikan perlawanan.
Ada yang menganggap, lebih baik menyingkir terlebih dahulu, supaya nanti mereka dapat lantas menyiarkan panah Loklim tjian secara luas, guna mengumpulkan semua anggauta Jalan Hitam di Selatan dan Utara, guna bersama sama menghadapi Thio Tan Hong itu, sedikitnya Thio Tan Hong harus dikurung, hingga sulit baginya untuk angkat kaki satu tindak saja.
Pit To Hoan menjadi bergelisah, masih ia bersangsi, sedang suara para hadirin itu, hampir semuanya menentang Thio Tan Hong.
Di antaranya Cuma In Loei seorang, yang duduk diam di atas kursinya.
Dia sangat berduka, air matanya masih berlinang.
Menampak sikap orang itu, ia menjadi curiga.
"Bicara tentang permusuhan, dialah yang bermusuh paling hebat dengan Thio TanHong,"
Ia berpikir.
"Kenapa sekarang dia diam saja? Apakah di sini terselip suatu urusan lain?"
Tiba-tiba ingin To Hoan menghampiri In Loei, untuk bicara dengannya -bicara berdua saja, -tetapi waktu itu, orang ramai berbicara, ruang menjadi berisik, tak ada kata-kata yang terdengar nyata.
Maka itu, tuan rumah ini kerutkan sepasang alisnya.
Dalam keriuhan itu, sekonyong-konyong orang mendengar kuda berbenger.
"Si bangsat kecil berkuda putih datang pula!"
Tiba-tiba ada yang bersuara.
Sekejap saja, ruang menjadi sunyi, ketegangan muncul sebagai gantinya.
Suara kelenengan kuda pun lantas terdengar nyata, makin lama makin dekat.
Pit To Hoan lompat bangun, dia lari keluar.
Satu penunggang kuda tengah mendatangi!
Dialah Thio Tan Hong!
Mukanya pucat, penuh dengan keringat.
Begitu sampai, ia lompat turun dari kudanya, menghampiri tuan rumah.
"Siepeh, lekas lari!"
Katanya cepat, singkat. To Hoan mengawasi dengan mata mendelik.
"Bagus!"
Ujarnya dingin.
"Lelakon apa lagi kau mainkan?"
Tan Hong melengak, mukanya menjadi pucat, tapi segera ia dongak, akan tertawa bergelak-gelak.
"Langit yang tinggi, siapakah yang kenal aku?"
Katanya, lalu ia teruskan.
"Tuan Pit, pada saat ini tak ingin aku memainkan lidah, untuk kau mempercayai aku, aku cuma mohon, lekas kau pergi, untuk menyingkirkan diri! Tentara negeri terpisah kurang lebih sepuluh lie lagi dari sini!"
Inilah To Hoan tidak sangka, ia menjadi sangat gusar.
"Bagus!"
Serunya.
"Aku akan adu jiwaku, akan aku siram tanah dengan darah! Untuk membuat kau....."
Dalam keadaan yang sangat murka, tak dapat To Hoan melanjutkan katakatanya. Sebenarnya hendak ia mengucapkan, .....berhasil!"
Tapi berbareng dengan itu, sekarang ia dapat melihat lebih nyata.
Ia tampak pakaiannya kecipratan darah, mukanya tegang.
Maka itu, dapatkah pemuda ini mendusta?
Selagi orang berdiam, Tan Hong berkata pula.
"Aku baharu sampai belasan lie di luar kampung ini ketika aku berpapasan dengan pasukan serdadu pemerintah. Kita bentrok. Aku rubuhkan dua di antaranya! Mengandal kepada kudaku ini, yang larinya keras, aku kembali kesini, untuk menyampaikan kabar....."
"Sret!"
Demikian terdengar satu suara, yang disusul dengan suara menghembus.
Dan panah api sudah menyambar ke arah Thio Tan Hong!
Hweesin tan Tjek Po Tjiang sangat gusar, maka itu, belum sampai ia lompat maju, panah apinya, tjoayam tjian, telah ia lepaskan.
Menyusul ini beberapa orang lompat maju, di antaranya Na Tjeetjoe dari Imma tjoan.
"Bocah cilik!"
Dia mendamprat.
"Apakah kau sangka kami bertiga anakanak kecil, hingga dapat kau permainkan?"
Dan tidak memberikan ketika untuk orang membela diri ia maju terlebih jauh. Empat lima orang lainnya juga merangsek maju.
"Binatang cilik, kau ngaco belo!"
Mereka itu mencaci.
"Siapa yang kau hendak dustai? Kau mesti dibunuh dulu, baharu kita labrak tentera negeri! Jangan harap kau bisa jaring kita semua! Tak gampang!"
Cacian ini membikin yang merangsek makin banyak, di lain saat, Tan Hong telah dikurung, diserang pelbagai macam senjata.
Mau atau tidak, terpaksa pemuda itu harus menggunakan pedangnya, untuk membela diri.
Di antara suara "trang trang"
Banyak kali, terlihatlah beberapa senjata terbabat kutung oleh pedangnya pemuda itu, hingga kurungan itu nampak sia-sia saja.
Siapa tak bersenjata, ia terpaksa mesti mundur.
Menampak demikian, San Bin tolak tubuh In Loei.
"Lekas maju!"
Dia menganjurkan.
"Gunakan pedangmu untuk melawan dia!"
Tanpa merasa orang she In ini menghunus pedangnya, ia menyerbu ke dalam kurungan.
Tan Hong berkelebatan di antara pengepung-pengepungnya, baju putihnya pun beterbangan, sambil terus melindungi diri, ia berteriak-teriak pula.
"Kamu lihat kudaku! Jikalau benar aku memihak tentera negeri, mana bisa kudaku terluka demikian?"
Orang-orang menoleh dan mereka dapatkan pada sebelah kaki kuda itu tertancap dua batang anak panah.
Itulah anak panah tentera negeri.
Orang-orang kaum Rimba Persilatan sangat menyayangi kuda itu, apapula pooma, kuda "mustika"
Atau jempolan sebagai Tjiauwya saytjoe ma, maka itu, tertarik hati mereka. Mereka sayangi kuda itu, yang anak panahnya belum sempat dicabut Tan Hong, sebab perlu ia lekas-lekas memberi kabar.
"Siapa tahu jikalau ia tidak lagi menggunakan akal menyiksa diri?"
Teriak Hweesin tan Tjek Poo Tjiang, yang ingat kepada "Kouwdjiokkee" -tipudaya mempersakiti kulit-daging.
Dan dengan cambuknya, ia menyerang.
Tan Hong tangkis serangan itu, yang hebat, menyusul mana, cambuk itu terpapas kutung ujungnya!
"Maju!"
San Bin menganjurkan pula.
Adalah di saat itu, In Loei telah datang dekat si anak muda, yang terus ia serang dengan pedangnya.
Tan Hong terkejut, mukanya menjadi pucat.
Ia tidak mau melayani berkelahi, malah menangkis pun tidak, dengan kesebatannya, ia berkelit, terus ia menjauhkan diri.
Poo Tjiang lihat caranya orang berkelahi, ia menyangka orang telah mulai jeri, dengan sengit, ia merangsek pula.
Mulanya ia putar cambuknya, habis itu, ia menyerang.
Mulanya ia mengancam ke atas, dengan tipu "Soathoa kayteng" -"Kembang salju menutupi kepala,"
Setelah itu, ia menyambar kebawah, dengan "Kouwsie poankin" -"Pohon tua terbongkar akarnya."
Tan Hong tangkis serangan itu.
Akibatnya adalah satu suara nyaring terdengar dari terkutungnya cambuk itu menjadi dua potong, hingga selanjutnya, senjata itu tidak dapat digunakan lagi.
In Loei menghampiri pula si anak muda, seperti orang tak sadar akan dirinya, kembali ia menyerang, tapi pedangnya kali ini seperti tertahan di udara, turun tidak, ditarik pun tidak.....
Thio Tan Hong berteriak pula.
"Api sudah membakar alis, kenapa kamu masih belum hendak angkat kaki? Kenapa kamu masih libat aku?"
"Tjis, kau hendak gertak kita dengan tentera negeri?"
Na tjeetjoe mengejek.
"Kita justeru ada orang-orang yang menjadi besar di antara golok dan tombak tentera negeri itu! -Maju!"
Dan ia maju sambil anjurkan kawan-kawannya. Thio Tan Hong memutar diri, pedangnya pun berputaran. Dengan cara itu hendak dia mencegah serangan.
"Mereka yang datang itu adalah rombongan pahlawan Kimie wie dari kota raja!"
Dia masih berteriak, memperingatkan.
"Apa kamu sangka mereka ada pasukan serdadu yang biasa? Mungkin juga bersama mereka datang tiga ahli silat terbesar dari kota raja!"
Kimie wie adalah pasukan pahlawan berjuba sulam, dan tiga jago yang Tan Hong maksudkan adalah Kimie wie Tjiehoei Thio Hong Hoe, komandan barisan pahlawan berseragam sulam itu, Gietjian Siewie Hoan Tiong, pahlawan pengiring raja dan Lweeteng Wiesoe Khoan Tiong, pahlawan dari keraton.
Mereka asalnya tiga jago Rimba Persilatan, mereka kosen dan sangat terkenal, hingga mereka disebut "Kengsoe Samtoa Khotjioe"
Yaitu tiga jago silat dari kota raja.
Mendengar seruan orang yang terakhir ini, baharulah orang-orang Rimba Hijau itu terperanjat.
Memang berbahaya kalau dipihak pahlawan-pahlawan Kimie wie, yang tidak boleh dipandang ringan, terdapat juga tiga jago kenamaan itu.
Mereka tercengang.
Waktu itu kudanya Thio Tan Hong, yang telah terluka itu, memperdengarkan suara nyaring.
Ia telah dirintangi Tiauw Im Hweeshio, yang menghalang di depannya.
Ia berbunyi karena lukanya di kaki terasa sakit.
Melihat kuda itu terluka, Pit To Hoan berpikir.
"Kuda ini kuda pilihan, larinya pesat dan kencang sekali, sekarang dia kena dipanah sampai dua kali, benar heran! Orang yang sanggup memanah kuda ini, kalau bukan ketiga jago yang barusan disebutkan itu, mesti ada orang gagah luar biasa lainnya! Maka itu, apa yang dikatakan bocah ini, lebih baik dipercaya daripada tidak!....."
Dalam kesangsian itu, To Hoan masih dengar pula keterangannya Tan Hong.
"Di belakang pasukan Kimie wie itu masih ada satu barisan besar tentara Gielim koen!"
Demikian si mahasiswa.
"Jikalau yang hendak ditawan Cuma Tuan Pit seorang saja, untuk apa dikerahkan begitu banyak tentara? Jikalau Gielim koen memecah kekuatannya, untuk menyerbu pesanggrahan tuan masing-masing, bagaimana nanti tuan-tuan melayani mereka?"
Besar pengaruhnya perkataan ini, lantas sebagian kecil tetamu yang dengan tersipu-sipu pamitan dari Pit To Hoan, dengan naiki kudanya masing-masing, mereka kabur pulang.
Tapi San Bin menjadi sangat mendongkol dan murka.
"Penghianat, kau main gertak!"
Dia berteriak.
"Kau bukannya pemimpin pasukan Gielim koen itu, cara bagaimana kau ketahui siasat mereka mengatur tentera? Pastilah kau koncoh mereka!"
Thio Tan Hong melengak, dia tertawa terbahak-bahak.
Lalu dengan gerakan "Pathong hongie" -"Hujan angin di empat penjuru" -ia halau senjata Na Thian Sek, Tjek Po Tjoen dan San Bin sekaligus.
Ia masih tertawa pula dan berkata.
"Kecewa ayahmu yang pernah menjadi panglima di perbatasan! Andaikata kau benar belum pernah membaca kitab perang, mestinya kau mengerti ilmu perang walaupun hanya sedikit! Siapa menjadi panglima perang, dia harus dapat menerka peraturan musuh, dia mesti faham akan pertahanan pihak sendiri, atau paling sedikit dia mesti melihat gelagat. Kau menyebut aku penghianat, tapi sekarang kita berhadapan dengan musuh yang berjumlah besar, apa tidak bodoh kalau kamu mencelakai diri sendiri karena aku seorang?....."
Belum sempat Tan Hong menutup mulutnya, sebahagian pengurungnya telah mengundurkan diri, untuk angkat kaki. Muka Tjioe San Bin menjadi merah, ia malu dan mendongkol.
"Pesanggrahanku bukan di sini, aku juga tidak takut tentara negeri nanti mengurung aku!"
Ia berteriak dalam murkanya.
"Masih hendak aku mencoba ilmu pedangmu! Adik Loei, maju!"
In Loei tangkis pedang Tan Hong, untuk di-sampok, atas mana, San Bin membacok.
Tan Hong bersenyum.
Pedangnya tidak mental atas sampokannya In Loei, sebaliknya, dengan dibantu gerakan tangan kiri, ia sambarkan itu ke arah San Bin, dari bacokan siapa ia berkelit.
Suara "Trang!"
Segera terdengar, lalu tanpa dia merasa, orang she Tjioe itu kehilangan goloknya, yang telah terlepas dari cekalannya dan jatuh ke tanah!
Pit To Hoan saksikan pertempuran itu, ia mengerti, maka diam-diam ia angguk-anggukkan kepalanya.
"Jikalau Thio Tan Hong turun tangan sungguh-sungguh, San Bin mesti terbinasa atau sedikitnya terluka, ia berpikir.
"Semua orang yang mengepung Tan Hong, tertabas senjatanya, dari sepuluh, sembilan yang terkena....."
Sementara itu si kuda putih masih terhalang Tiauw Im, tak henti-hentinya dia perdengarkan suaranya.
Menampak demikian, To Hoan maju, mulutnya perdengarkan suara meniru benger kuda, kemudian sambil menggerakkan tangan kirinya, ia lompat untuk mendekati kuda itu.
Kuda putih itu cerdas sekali, dia seperti tahu orang bermaksud baik, dia taruh ke empat kakinya di tanah, tidak lagi dia berlompatan atau berjingkrakan, maka To Hoan dapat menghampiri untuk segera mengusap-usap lehernya, setelah mana, dengan tangan kanan, cepat bagaikan kilat, orang she Pit ini mencabut kedua anak panah yang nancap dipahanya dan kemudian dengan tak kurang sebatnya, ia obati luka itu.
Sebagai seorang kangouw ulung, Pit To Hoan mengerti segala apa, sampai sifat kuda dan cara mengobatinya.
Tiauw Im tercengang bahna kagumnya.
San Bin di lain pihak sudah memungut pula goloknya, untuk bersama Thian Sek mengepung pula lawannya.
In Loei pun, dengan bengis, melakukan serangannya berulang-ulang.
Tak tenang hati To Hoan menyaksikan pertempuran macam itu.
"Saudara Thio, ini kudamu!"
Akhirnya ia teriaki Tan Hong.
"Lekaslah kau berlalu!"
San Bin terkejut, ketika ia berpaling, ia lihat To Hoan tengah menolak minggir pada Tiauw Im Hweeshio, akan membiarkan kuda putih lari ke arah majikannya. Tjek Po Tjiang menjadi gelisah.
"Pit looenghiong, harap kau pikir masak-masak!"
Ia serukan tuan rumah itu.
"Membekuk harimau mudah, melepaskannya berbahaya!"
Ia peringatkan. Pit To Hoan seperti tak mendengar perkataan orang.
"Saudara Thio, aku mengerti kau, aku terima kebaikanmu!"
Masih ia berkata pada Tan Hong.
"Luka kudamu tidak parah, lekaslah kau pergi!"
Karena heran, Na Thian Sek mundur, untuk menghentikan serangannya.
Melihat demikian, In Loei pun lompat ke samping.
Karena ini, Tjioe San Bin turut mundur beberapa tindak.
Thio Tan Hong bersenyum, separuh ber-senanjung, ia berkata.
"Persahabatan dari beberapa turunan benar berharga, tapi persahabatan pada suatu saat lebih berharga pula..... Pit Loopeh, jangan kau pedulikan aku, lekas-lekas kau singkirkan dirimu!"
"Keluargaku besar, aku pun masih harus be-benah,"
Sahut Pit To Hoan.
"Baiklah kau sendiri yang menyingkir terlebih dahulu! -Eh, Na Tjeetjoe, Tjek Tjhoengtjoe, juga engkau Tjioe Hiantit, lekas-lekas kamu angkat kaki! Tentang Thio Tan Hong, tak usah kau pedulikan pula!"
Na Thian Sek bingung, akan tetapi tanpa mengucap sepatah kata, ia naik ke atas kudanya, untuk segera berlalu.
Tjek Po Tjiang berdiri menjublak, masih ia belum mengerti.....
San Bin juga berdiri diam dengan goloknya ditangan, ia masih memikir, kemudian, selagi ia berniat membuka mulutnya, sekonyong-konyong ia dengar suara sangat riuh dari datangnya pasukan tentera dan tindakan ratusan ekor kuda, menyusul mana, anak-anak panah sudah lantas menyambar saling susul, suaranya keras menderu-deru.
Bagaikan bukit ambruk, demikian seruan tak putusnya dari tentera negeri, yang mendatangi sangat pesat.
Wajah Pit To Hoan menjadi pucat pasi.
"Lekas!"
Ia teriaki pengurus rumah itu. Kemudian, dengan suara sangat berduka, ia menambahkan.
"Kamu semua tidak mau siang-siang angkat kaki, sekarang sungguh sukar!....."
Kampung-halaman si orang she Pit dikurung bukit-bukit, dari suatu jalan bukit terlihat tiga orang mendatangi dengan cepat seperti bayangan, di belakang mereka ada beberapa puluh penunggang kuda yang muncul dari antara lembah.
Lantas ketiga penunggang kuda itu menghampiri mereka, untuk perlihatkan diri di depan mereka.
Habis itu, mereka semua lantas menuju ke arah rumahnya Pit To Hoan.
Jauh di belakang seperti terdengar adanya banyak tentera lainnya, yang tengah mendatangi.
Menampak datangnya musuh, Pit To Hoan tertawa berkakakan.
Segera ia maju, untuk memapak ketiga penunggang kuda itu serta barisan mereka.
"Apakah harganya aku si orang tua she Pit dengan beberapa potong tulang-tulangnya yang telah tua?"
Berkata ia.
"Samwie thaydjin, berhubung dengan kunjunganmu itu, aku merasa beruntung!....."
Dari ketiga perwira itu, yang di tengah mempunyai "alis pedang"
Dan "mata harimau"
Romannya bengis. Ia adalah Thio Hong Hoe, tjiehoei atau komandan dari pasukan pahlawan bersulam Kimie wie. Ia kesohor dengan ilmu golok Ngohouw Toanboen too-nya -"Lima harimau mencegat pintu."
Orang yang berada di sebelah kiri komandan ini bermuka hitam bagaikan pantat kwali, kumisnya pendek dan kaku.
Dia adalah Gietjian siewie Hoan Tiong, pahlawan kaisar.
Sedang yang berada di sebelah kanan, yang wajahnya kuning gelap dengan mata yang belo, adalah ahli silat dari keraton ialah Khoan Tiong yang kenamaan.
Hoan Tiong pada belasan tahun yang lampau pernah mengenal Pit To Hoan, maka itu ialah yang mulai bicara.
"Pit Toaya, kami datang atas titahnya Sri Baginda,"
Demikian katanya.
"maka itu, aku minta janganlah kau sesesalkan aku. Kami minta sukalah kau turut berjalan bersama kami. Tidak nanti kami membuatnya kau susah....."
Pit To Hoan menyambut dengan tertawa dingin, ia telah memikir untuk memberikan jawabannya ketika ia dengar Thio Hong Hoe tertawa bergelak-gelak sendirinya, setelah mana, dia berkata dengan jumawa.
"Hoan Hiantee, bukankah sia-sia belaka kata-katamu ini? Kau tahu macam apa Tjinsamkay yang kenamaan itu? Mana dia mau menyerah begitu saja? Maka baiklah kita bicara terus terang kepadanya!"
Lalu dia pandang To Hoan dan melanjutkan.
"Pit Toaya, untuk urusan kita hari ini, tak dapat tidak mesti kita turun tangan! Oleh karena itu, silakan kau hunus senjatamu, mari kau berikan pengajaranmu beberapa jurus! Jikalau kau dapat layani golokku ini, tak peduli urusan bagaimana besarpun, aku berani bertanggung jawab, untuk membiarkan kau angkat kaki! Tentang saudara-saudara kaum Rimba Hijau, yang kebetulan turut hadir di sini, aku pun mengundangnya untuk mereka turun tangan juga, sedang mereka yang termasuk bukan saudara-saudara Rimba Hijau, aku persilakan mereka untuk lekas menyingkir. Kami datang tidak untuk menawan mereka yang tidak bersalah dan berdosa!"
Habis mengucap demikian, tiba-tiba matanya tjiehoei dari Kimie wie ini menyapu, sambil menggerakkan goloknya, dia menegur.
"Eh, tuan mahasiswa, kau sebenarnya ada hoohan dari golongan apa?"
Thio Tan Hong tertawa atas teguran itu.
"Kau adalah tjiehoei yang hendak melakukan penangkapan, aku adalah tjinsoe yang hendak membekuk setan!"
Dia menjawab. Thio Hong Hoe tertawa bergelak.
"Jikalau demikian adanya, kita juga harus mengadu kepandaian!"
Ia kata. Ia sangat menantang. Khoan Tiong adalah yang tadi mendahului rombongan, dialah yang telah memanah kuda putih, maka itu, ia sudah lantas melirik pada Thio Tan Hong.
"Ah, kiranya kau juga berada di sini!"
Kata dia dengan jumawa.
"Bagus, bagus! Sahabat, kuda putih itu mesti ditinggalkan di sini untuk aku!"
Ia pun segera siapkan busur dan anak panahnya, untuk memanah pula.
"Khoan Hiantee, tahan!"
Seru Hoan Tiong, yang suka sekali pada kuda pilihan itu.
"Jangan kau memanah pula, lebih baik kuda itu ditangkap hiduphidup!"
Dan Gietjian siewie ini sudah lantas mengajak barisannya maju untuk menangkap kuda putih yang dimaksudkan itu.
Tiba-tiba saja beberapa anggota Kimie wie perdengarkan jeritan mereka, jeritan dari kesakitan.
Tanpa mereka ketahui apa sebabnya, bahu mereka itu telah diserang senjata bagaikan jarum halusnya, yang membuatnya mereka merasa sangat sakit.
Khoan Tiong sudah lantas mengerti.
"Ah, kiranya kau pandai menggunakan jarum Bweehoa tjiam!"
Ia tegur Thio Tan Hong.
"Kalau ada kehormatan tetapi tidak dibalas, itu namanya tidak hormat. Nah, kau lihat panahku!"
Busur segera ditarik dan anak panah melesat bagaikan bintang jatuh, nyaring bunyinya "Sret!"
Thio Tan Hong tidak berani menyambuti anak panah itu, ia hanya berkelit.
Anak panah itu melesat menjurus ke muka Tiauw Im Hweeshio.
Maka pendeta ini menggunakan tongkatnya, hingga kedua senjata bentrok keras dan lelatu apinya muncrat.
Karena serangan ini, dia menjadi murka sekali.
"Tjioe Hiantit, mari maju!"
Dia berteriak dengan anjurannya, lalu dengan memutar tongkatnya itu, dia menyerbu ke dalam pasukan Kimie wie.
Hoan Tiong menggunakan sepasang gembolan, ia maju, untuk cegat pendeta itu.
Karena ini, senjata mereka berdua jadi bentrok dengan menerbitkan suara keras.
Tongkat Tiauw Im kena tersampok hingga sedikit mental ke samping, tetapi di lain pihak, telapak tangan Hoan Tiong terasa sakit dan kesemutan, hampir saja ia lepaskan gembolannya.
Tentu saja pahlawan kaisar ini menjadi kaget sekali, sebab di dalam istana, di antara kawannya, ialah yang tersohor sebagai toaieksoe, orang terkuat.
Tapi ia tidak menjadi jeri, dengan cepat ia maju pula, untuk melawan pendeta itu.
Pit To Hoan saksikan pertempuran itu, ia tertawa terbahak-bahak.
Ia lantas ambil toya Hangliong pang-nya.
"Thio Thaydjin, kau sangat memandang mata padaku, marilah kita cobacoba!"
Ia tantang Thio Hong Hoe.
"Bagus, bagus!"
Hong Hoe pun tertawa seraya memutar goloknya.
"Mari kita pakai aturan kaum kangouw, kita bertempur satu lawan satu! Jikalau kau dapat lolos dari golokku ini, aku suka menjelaskannya, di sini tidak akan ada orang yang nanti berani menghalang-halangi pula padamu!"
Masih komandan Kimie wie itu memperlihatkan kejumawaannya.
Dalam murkanya, Pit To Hoan maju untuk segera menyerang.
Thio Hong Hoe bertindak ke samping, untuk melewatkan serangan itu, berbareng dengan tindakannya, goloknya menyambar, untuk membalas.
Tanpa dapat dicegah, toya dan golok bentrok keras, hingga mereka masing-masing mundur tiga tindak.
"Bagus!"
Seru Pit To Hoan.
"Tak kecewa ahli silat nomor satu dari kota raja!"
Sambil mengucap demikian, ia ulangi serangannya.
Dengan ujung goloknya, Hong Hoe menyambut toya secara enteng, waktu goloknya mental ke atas, tiba-tiba saja ia membacok, dari atas ke bawah, membabat batang leher!
Hebat serangan yang berbahaya itu, hingga To Hoan, untuk menghindarkan diri, sudah menggunakan ilmu silat "Thiepoankioe"
Atau "Jembatan papan besi".
Ialah dengan kaki kiri menahan diri, kaki kanannya diangkat lurus, tubuhnya berbareng melenggak ke belakang, hingga ia jadi terlentang dengan bantuan kaki kirinya itu.
Dengan begitu, sambaran golok lewat tanpa mengenai sasarannya.
Habis itu, dengan lompatan "Leehie tateng"
Atau "Ikan gabus meletik", ia bangkit bangun, hingga golok lawan hampir saja kena didupak.
"Nama Tjinsamkay bukan nama kosong belaka!"
Thio Hong Hoe memuji, sambil maju menyerang pula, dengan desakan "Lianhoan samtoo"
Atau "Bacokan tiga kali beruntun".
Didesak secara demikian, Pit To Hoan main mundur.
Dipihak lain, Khoan Tiong sudah bertempur dengan Thio Tan Hong.
Pahlawan dari keraton ini menggunakan samtjiat djoanpian, karena ia mengandalkan kepandaiannya, sedang ia juga belum kenal si mahasiswa, ia memandang enteng kepada musuh yang menyerupai anak sekolah itu.
Begitulah ia mulai, dengan menindak maju, ia menyerang dengan "Ouwliong djiauwtjoe"
Atau "Naga hitam melilit tiang", untuk melibat lengan orang dengan cambuknya guna merampas pedangnya.
Thio Tan Hong perdengarkan tertawa menghina beberapa kali, ia kumpulkan tenaganya di lengannya, berbareng dengan itu, ia membabat berulang-ulang, tanpa mensia-siakan waktu.
Khoan Tiong terkejut, hingga dia mesti lompat mundur.
Karena dia seorang ahli, dengan cepat dia dapat perbaiki diri, hingga di saat itu, dia lolos dari bahaya, malah dia dapat gunakan "Kimna host", ilmu "Menangkap", untuk menjambak rambut orang.
Tan Hong mengelakkan diri dengan membabat tangan orang, tetapi karena ini, samtjiat pian dari lawan itu menjadi bebas, hingga kembali cambuk itu dapat dipakai menyerang pula.
Kali ini sasaran adalah pinggang si mahasiswa.
Thio Tan Hong tidak mau mengalah, setelah berkelit dari jambakan itu, kembali ia mendesak, bacokannya menyambar berulang kali, hingga Khoan Tiong mesti mundur.
Pahlawan dari keraton itu menggunakan senjata panjang akan tetapi ia tidak mendapat kesempatan mengambil keuntungan dari genggamannya itu.
Selagi begitu, sejumlah anggauta Kimie wie telah lari ke arah rumahnya Pit To Hoan.
Sambil bertempur, Thio Tan Hong melirik ke arah kawan-kawannya.
Tiauw Im dan Hoan Tiong ada seimbang, tidak demikian dengan Pit To Hoan, yang terdesak Thio Hong Hoe.
Komandan itu terutama menang di atas angin karena golok Biantoo-nya yang tajam luar biasa dan ia ada terlebih muda dan sedang gagahnya.
To Hoan cuma dapat membela diri, maka itu, lama kelamaan ia bisa menghadapi bencana.
Melirik ke pihak lain lagi, Tan Hong dapatkan In Loei dengan pedangnya telah membabat kutung senjata pelbagai anggauta Kimie wie, dengan cara itu si nona lindungi Tjioe San Bin dan Tjek Po Tjiang.
Tentu saja, mereka itu berkelahi sambil mundur.
Hingga akhirnya mereka mendekati Tiauw Im Hweeshio.
Hoan Tiong tengah melawan si pendeta dengan hebat, sampai ia berulang kali berseru, tatkala tiba-tiba ia lihat sebatang pedang berkilau menyambar ke arah dadanya.
Ia lantas gunakan gembolan kirinya, guna menjaga diri, dengan gembolan kanan, ia menangkis.
In Loei berlaku gesit dan cerdik, tidak sudi ia membentur senjata berat dari lawannya itu, maka itu, kecewalah Hoan Tiong, yang menyangka dapat membuat pedang musuh terpental.
Selagi ia sibuk mengawasi pedang berkelebatan, gembolannya yang kiri telah kena "ditahan"
Tongkatnya Tiauw Im Hweeshio, hingga tak dapat ia berbuat suatu apa.
Maka pada akhirnya, pundaknya kena tertusuk pedang, dalam murkanya, ia berteriak keras, terus ia menimpuk dengan gembolan kirinya!
In Loei berlaku sangat sebat, begitu gembolan melayang, begitu ia egoskan tubuhnya, maka gembolan itu melayang terus.
Lalu menyusul suatu suara sangat keras, batu gunung pecah berhamburan.
Sebab batu itu kena terhajar gembolan, yang menyambar beberapa tombak jauhnya.
Ketika si penyerang berpedang itu berkelit, Hoan Tiong lompat keluar kalangan, guna menyingkir dari kepungan.
In Loei tidak mau mengejar, hanya bersama Tiauw Im Hweeshio, ia pun menerjang keluar kurungan, hingga di lain saat, ia telah dihampirkan kudanya, ke atas mana ia lompat naik, hingga seterusnya dapat ia membuka jalan.
Tan Hong lega menampak In Loei lolos dari kepungan, karenanya dengan semangat bertambah-tambah, terus ia desak Khoan Tiong, hingga Gietjian siewie itu mesti mundur pula beberapa tindak.
Ia segera gunakan ketikanya, akan teriaki Pit To Hoan tentang ancaman bencana, supaya Tjinsamkay angkat kaki.
Pit To Hoan tengah berkelahi dengan hebat, ia berdiam, ia tidak sahuti teriakan orang itu.
Tan Hong kerutkan alis.
Ia tahu, orang tua itu sudah nekat, peringatannya itu tidak digubris.
Ketika ia memandang pula ke arah In Loei, ia tampak si nona tetap membuka jalan, di kirinya ada Tiauw Im Hweeshio, di kanannya ada Tjoei Hong bersama San Bin.
Tjek Po Tjiang bersama lain-lain orang Rimba Hijau mengikuti di belakang pembuka jalan itu.
Kelihatannya mereka segera akan lolos dari kepungan.....
"Jikalau tidak sekarang aku menyingkir, aku hendak tunggu kapan lagi?"
Pikir anak muda ini. Maka dengan nyaring ia teriaki pula Pit To Hoan.
"Biarkan gunung tetap hijau, jangan kuatirkan tak ada kayu bakar! Pit looenghiong, mari kita bersama menerjang!"
Tjinsamkay tetap tidak menyahuti, hanya dengan Hangliong pang-nya ia layani musuhnya bertarung.
Nampaknya ia telah menjadi nekat benar-benar.
Dalam masgulnya, tiba-tiba Thio Tan Hong ingat janji tadi di antara Pit To Hoan dan Thio Hong Hoe.
Yaitu apabila jago tua itu tak dapat lolos dari golok musuh, atau tegasnya, tak dapat dia kalahkan komandan Kimie wie itu, tidak mau dia angkat kaki, karenanya, walaupun dia terdesak, masih dia ngotot melayani musuh yang tangguh.
Itulah berbahaya.
"Dalam keadaan seperti ini, mana dapat orang berkepala batu?"
Pikir Tan Hong terlebih jauh.
Tapi tetap ia tidak peroleh daya.
Ia tahu, umpama kata ia bantui To Hoan dan mereka menang, tentu To Hoan tidak mau mengakhiri karena mereka itu telah berjanji satu lawan satu.
Tiba-tiba terdengar satu suara keras.
"Turunkan aku! Hendak aku menghajar penjahat!"
Dengan segera tergeraklah hatinya Tan Hong.
Orang yang bicara itu adalah puteranya To Hoan.
Putera itu tengah digendong koartk.ee, kuasa rumah.
Si koankee sendiri, bersama sejumlah orangnya To Hoan, asyik melawan musuh, untuk menoblos kurungan.
Bocah itu belum tahu suatu apa, ia berani, maka itu ingin ia turun dari gendongan untuk membantu melabrak musuh.....
Tanpa bersangsi pula, Tan Hong tinggalkan lawannya, dengan berlompatan, ia menerjang ke arah rombongan Kimie wiesoe.
Ia putarkan pedangnya hingga tidak ada orang yang dapat merintangi padanya.
Pada lain saat sampailah kepada si koankee.
Dengan tidak berkata suatu apa, ia jambret anaknya To Hoan, hingga koankee itu kaget dan berteriak.
"Lekas kamu menyerbu keluar!"
Tan Hong serukan si koankee dan kawan-kawannya.
Sementara itu ia telah bunuh beberapa musuh, yang mencoba menerjang kepadanya.
Ia pun nerobos keluar, akan akhirnya perdengarkan suitan mulut yang nyaring.
Kuda Tjiauwya saytjoe ma sedang dikurung, dia menerjang ke sana-sini tanpa hasil, ketika dia dengar suitan tuannya dengan tiba-tiba dia lompat, akan menerjang hebat sekali.
Maka kali ini dia berhasil, sebab dua musuh dihadapannya kena ditubruk rubuh dan terinjak tubuhnya.
"Duduklah di atasnya!"
Seru Tan Hong kepada si bocah, tubuh siapa ia naikkan ke atas bebokong kudanya itu, yang telah datang padanya.
"Pegang dengan keras!"
Bocah itu baharu berumur tujuh atau delapan tahun, dia benar bernyali besar sekali, begitu duduk di bebokong kuda, dia mendekam, dia pegangi suri kuda, yang membawa dia kabur!
Thio Tan Hong masih bekerja.
Iapun tunjukkan kegesitannya.
Dengan berlompatan, dia hampiri Pit To Hoan.
Justeru itu beberapa wiesoe mencoba menahan kuda putih, atas itu si bocah berteriak, kuda itu juga berbenger keras.
Tan Hong gunakan ketikanya.
"Pit Loopeh, kau dengar!"
Dia berseru.
"Apakah masih tak hendak lindungi puteramu itu?"
Sambil mengucap demikian, Tan Hong pakai pedangnya akan membentur golok Biantoo dari Thio Hong Hoe yang dipakai membacok si jago tua.
To Hoan menghela napas, masih ia menyerang musuhnya hingga dua kali, habis itu ia lari ke arah tengah, ke arah kuda putih beserta kudanya.
Karena ini, Tan Hong kembali perdengarkan suitannya, yang ditujukan kepada kudanya, hingga kuda itu tidak lagi menyerbu keras mendobrak rintangan.
Dengan cepat To Hoan menghampiri Tjiauwya saytjoe ma, dengan tiga batang senjata rahasianya, ia rubuhkan tiga wiesoe yang mengepung kuda, hingga ia dapat ketika akan datang dekat sekali pada kuda itu, ke bebokong siapa ia segera lompat.
Yang paling dulu ia lakukan ialah memondong puteranya..
Kuda putih itu berbenger keras dan panjang, terus dia lompat, untuk lari kabur, hingga sesaat kemudian keluarlah dari kepungan.
Thio Hong Hoe menjadi sangat gusar.
Ia merasa orang telah permainkan padanya.
Maka dengan hebat ia serang Tan Hong, si pengacau itu.
Tan Hong tangkis bacokan golok Toanboen too, ia merasakan satu benturan keras sekali, hampir saja pedangnya terlepas dari cekalannya.
Ia segera insyaf akan ketangguannya komandan ini.
"Dia bukannya bernama kosong, dia benar liehay,"
Demikian ia pikir.
"Tidak kecewa dia menjadi jago silat nomor satu dari kota raja."
Tapi mahasiswa ini tidak jeri, waktu ia tangkis pula lain bacokan, ia kerahkan tenaga ditangannya, hingga kedua senjata beradu dengan keras.
Tapi suara yang diperdengarkan tidak nyaring seperti semula tadi.
Kesudahannya pun membuat Hong Hoe kaget.
Sebab goloknya telah dibikin sempoak pedang lawannya itu.
"Tak takut aku dengan pedangmu!"
Dia berseru kemudian, sambil tertawa.
Lagi-lagi ia menyerang.
Tan Hong tangkis serangan itu, kali ini ia menjadi heran.
Begitu rupa lawan menggunakan goloknya, hingga golok, Toanboen too itu seperti nempel dengan pedangnya, sulit pedang itu ditarik kembali dan sukar untuk digerakkan terlebih jauh.
Itulah ilmu yang dinamakan ilmu "tempel"!
"Bagus!
Mari kita adu kepandaian!"
Itulah suara nyaring dari Tan Hong, yang telah tertawa besar, karena ia tidak menjadi jeri pedangnya hendak dibikin "mati".
Dengan satu gerakan lain, pedangnya lantas lolos dari tempelan.
Ia tahu tipunya bagaimana melepaskan diri.
Waktu itu terdengar suara mengaungnya anak panah, disusul dengan berbengernya kuda putih dan pula dengan teriakan Khoan Tiong.
"Toako, lekas kejar! Si bangsat tua she Pit sudah kabur!"
Hong Hoe sadar dalam sekejap itu. Tahulah ia bahwa ia telah diperdayai Thio Tan Hong, yang menggunakan akal "Wie Goei kioe Tio"
Yaitu "mengurung negeri Goei untuk menolongi negeri Tio."
Mahasiswa itu melibat ia untuk memberi ketika supaya To Hoan dapat menyingkirkan diri.
Meskipun ia sangat mendongkol, Hong Hoe toh lompat keluar kalangan, akan tetapi di samping ia, Thio Tan Hong tidak diam saja, mahasiswa ini pun lompat sambil menikam padanya.
Ia putar tubuhnya, ia tangkis pedang, di lain pihak, dengan tangan kiri ia menyerang ke dada lawan.
Thio Tan Hong berkelit dengan cepat, tidak urung ia terkena juga angina serangan itu, yang membuatnya ia merasa sakit, hingga ia mesti empos semangatnya, menjalankan napasnya, guna menghindarkan diri dari akibat serangan itu.
Thio Hong Hoe berlompat pula, malah segera ia dapat rampas seekor kuda dengan apa ia terus kejar Pit To Hoan atau si kuda putih Tjiauwya saytjoe ma.
Thio Tan Hong tertawa menampak musuh mengejar itu.
Di dalam hatinya, ia kata.
"Walaupun kudaku telah terkena tiga batang anak panah, tidak nanti kau sanggup kejar dan candak dia!"
Akan tetapi, ia sendiri pun tidak segera dapat lolos.
Selagi ia hendak toblos kepungan, ia menghadapi kepungan berlapis.
Sebab Hoan Tiong, sambil memutar gembolannya, menghalang di tengah jalan, dia cegat orang, terus dia menyerang.
Hingga Tan Hong menghadapi kesukaran.
Sepasang gembolan lawan sangat berat, sulit untuk dilawan dengan pedang.
Di samping orang she Hoan itu ada lagi pelbagai pahlawan, anggauta-anggauta dari Kimie wie, yang menerjang sambil mengurung.
Hoan Tiong itu gagah, dia berimbang dengan Tiauw Im, maka dia pun standing dengan Tan Hong.
In Loei sudah lolos dari kepungan ketika ia dengar suara riuh di belakangnya, ketika ia menoleh, ia tampak Tan Hong tengah dikepung musuh yang berseruseru.
Tanpa merasa, ia menjadi berkuatir sekali, hingga untuk sesaat, ia berduduk diam di atas kudanya.
Justeru itu Khoan Tiong telah melepaskan anak panahnya yang liehay.
Dalam kagetnya, In Loei masih dapat berkelit, tapi celaka, leher kudanya terkena anak panah musuh, hingga pada ketika itu juga kuda rubuh terguling, dan penunggangnya pun turut rubuh juga.
Belum sempat ia bangun, atau beberapa wiesoe sudah maju, untuk menubruk, guna menyerbu musuh ini.
In Loei masih sempat membalikkan tubuh, begitu berbalik, begitu ia menyabet dengan pedangnya.
Hebat tangkisan ini, hingga banyak senjata lawan terbabat kutung.
Sekalian musuh itu terkejut, selagi mereka tercengang, In Loei lompat bangun untuk berdiri.
Tapi begitu lekas ia bangun, begitu lekas juga datang serangan Khoan Tiong, dengan samtjiat pian-nya, yang mengarah pinggangnya.
Dengan kesusu, ia menangkis.
Liehay cambuk sambung tiga dari Khoan Tiong, setelah serangannya yang pertama itu gagal, ia mengulanginya, terus ia mendesak.
In Loei repot juga, tidak dapat ia membabat kutung cambuk itu, yang dimainkan dengan sempurna oleh pemiliknya.
Ia jadi penasaran, ia juga mencoba mendesak.
Satu kali, Khoan Tiong lompat mundur tiga tindak, begitu mundur, ia kerahkan tenaganya, ia menyambuk pula.
In Loei lompat dari sambaran itu, ia lolos dari bahaya.
Keduanya lantas, bertarung dengan seru.
Sayang bagi In Loei, ia kalah tenaga, maka itu, berselang kira-kira tiga puluh jurus, keringatnya lantas mengucur, karenanya, tenaganya menjadi berkurang sendiri.
Khoan Tiong lihat keadaan musuhnya, ia tertawa besar, ia ulangi desakannya.
Ia mengharap segera dapat merubuhkan lawan itu.
Belasan anggauta Kimie wie sementara itu telah memecah diri di sekitar kedua orang yang sedang bertanding itu, mereka menjaga supaya In Loei tak dapat kabur dan lolos.
Di pihak lain, Thio Tan Hong telah berada dalam kepungan, pedangnya yang tajam itu dibikin tak berdaya oleh sepasang gembolan yang berat dari Hoan Tiong, di samping itu, ia pun harus waspada terhadap senjata kawankawannya Hoan Tiong itu.
Selagi ia terkepung itu, Tan Hong lihat In Loei rubuh dari kudanya, hingga ia menjadi kaget sekali.
Karena ini, mendadak ia memutar tubuhnya dan pedangnya dibabatkan dengan hebat kepada musuhnya, dengan tangan kirinya ia sambar satu anggauta Kimie wie yang dengan berani merangsak padanya.
Ia menyambar leher bajunya, ia tarik musuh itu, hingga tubuhnya terangkat.
Ini ada baiknya untuknya hingga musuh lainnya menjadi jeri karena takut menikam kawan sendiri.
Hoan Tiong penasaran, dia membalas menyerang.
Tan Hong berlaku cerdik, bukannya ia menangkis, ia hanya majukan tubuh musuh yang ia telah bekuk itu.
Hoan Tiong kaget, terpaksa, dengan cepat-cepat, ia tarik kembali gembolannya.
Ketika ini dipakai Tan Hong untuk menerjang keluar, tubuh mangsanya itu tetap ia gunakan sebagai tameng.
Hoan Tiong penasaran sekali, ia mengejar.
Tan Hong lihat kelakuan musuh, ia tertawa berkakakan.
"Kau sambutlah!"
Ia berseru, terus ia lemparkan musuhnya ke arah si orang she Hoan.
Hoan Tiong tidak dapat berbuat lain daripada menyambuti tubuh anggauta Kimie wie itu.
Tan Hong sebaliknya, sambil masih tertawa sudah menyerbu ke dalam kepungan In Loei.
Nona In sedang terancam bahaya ketika ia tampak munculnya Tan Hong.
Tiba-tiba saja, hatinya bercekat.
Dengan lantas ia ingat surat wasiat kulit kambing yang berdarah.
Siapa sangka.
"musuhnya"
Ini, yang ia benci, tapi yang ia sayangi, kembali datang untuk menolongi padanya.
Maka bimbanglah ia.
Apakah orang mesti dipandang sebagai sahabat atau tetap sebagai musuh besar Apakah ia mesti terima bantuannya musuh ini?
Oleh karena ia sedang menggunakan otaknya, In Loei terperanjat sekali ketika cambuk Khoan Tiong menyambar ke kepalanya, akan tetapi sebelum ia menangkis atau berkelit, kupingnya mendengar seruan yang ia kenal baik.
"Adik kecil, lekas kau menangkis!"
Atas ini, benar-benar ia gerakkan pedangnya dan menangkis dengan hebat.
Satu suara nyaring terdengar atas tangkisan itu, yang membuatnya Khoan Tiong kaget dan mendongkol tidak kepalang, sebab samtjiat pian-nya kena terbabat kutung menjadi empat potong!
Segera juga Tan Hong dan In Loei bertempur berdampingan, pedang mereka dapat digunakan masing-masing, di kiri dan kanan.
Sekarang mereka dapat bergerak dengan leluasa.
Sebentar saja belasan anggauta Kimie wie rubuh terluka.
Hoan Tiong, dengan memutar sepasang gembolannya, datang memburu.KhoanTiong lihat kawan itu, ia berteriak dengan peringatannya.
"Djieko, hati-hati!"
Dengan tetap berdampingan, Tan Hong dan In Loei berbareng menyerang musuh kosen ini yang bersenjatakan gegaman berat itu.
Disambut secara demikian rupa, Hoan Tiong kaget, sampai ia menjadi gugup, bukannya ia menangkis, ia hanya melempar kedua gembolannya, ia sendiri lompat bergulingan, akan tetapi walaupun demikian, meskipun jiwanya tertolong, rambutnya toh terbabat juga hingga putus sebagian!
Belum pernah Hoan Tiong dikalahkan begini macam, ketika ia lompat bangun, ia menjadi sangat gusar.
"Serbu mereka dengan pasukan, berkuda!"
Ia berteriak dengan titahnya.
Beberapa puluh anggauta Kimie wie taati titah itu, mereka mencari kuda mereka, untuk lompat naik ke atasnya, habis mana, dengan mengatur diri menjadi empat baris, mereka maju untuk menerjang.
"Lekas naik ke gunung!"
Berseru Tan Hong, yang melihat sikap musuh.
Kalau mereka sampai kena diterjang, pasti mereka tidak berdaya.
In Loei turut nasihat itu, ia sudah lantas lompat mundur, akan seterusnya lari ke arah gunung.
Ia lari dengan cepat sekali.
Di depan rumah Pit To Hoan, kira-kira satu lie jauhnya, memang ada sebuah bukit.
Dengan cepat ia sudah sampai di kaki bukit itu.
Tan Hong terus dampingi si nona dengan siapa ia lari bersama.
Pasukan kuda musuh juga lari cepat, sebentar kemudian mereka sudah mendatangi dekat.
Satu penunggang kuda dapat melampaui kawan-kawannya, ia telah datang dekat sekali.
Tan Hong lihat bahaya, ia sambar tubuhnya In Loei, terus ia lemparkan ke arah gunung.
Ia sendiri segera memutar tubuh, untuk lompat minggir, hingga musuh melewati ia.
Tapi, begitu musuh lewat, begitu ia lompat mencelat, naik ke bebokong kuda di belakang musuh, dan belum sempat musuh berdaya, ia sudah menjambak, ia menarik dengan keras, ia melemparnya, hingga tubuh musuh terpental beberapa tombak di sebelah belakang!
Masih sukur untuk anggauta Kimie wie ini, coba dia dilemparkan ke depan kuda, pasti dia kena terinjak-injak kuda yang tengah berlari-lari kencang itu.
Dengan kuda musuh itu, Tan Hong lari terus sampai di tepi gunung.
Di situ terdapat beberapa pohon kayu besar.
Dari atas kudanya, dengan berani Tan Hong lompat, untuk menyambar secabang pohon.
Oleh karena gerakannya itu, tubuhnya menjadi terayun.
Justeru ia sedang terayun, ia lepaskan cekalannya, maka di lain saat, tubuhnya telah sampai di tanjakan bukit di mana ia bisa menaruh kaki dengan tepat, hingga ia tidak kurang suatu apa.
Kemudian ia menoleh ke arah In Loei, si nona tengah berdiri mengawasi padanya.
Nona In telah berada di tengah bukit.
Ketika itu hari sudah magrib, maka pasukan berkuda Kimie wie tidak berani mencoba mengejar terus, hingga mereka cuma bisa berteriak-teriak di kaki bukit.
Hoan Tiong masih penasaran, dia mendatangkan sejumlah pasukan Gielimkoen, untuk membuat penjagaan di kaki bukit yang bersiap sedia dengan panah mereka.
Dia pun tertawa dan berkata secara mengejek.
"Hendak aku lihat, berapa lama kamu dapat berdiam di atas bukit!"
Tan Hong telah menyusul In Loei, mereka naik ke atas, dari sana mereka memandang kesekitarnya.
Mereka tampak bukit itu telah terkurung musuh.
Yang paling nyata tertampak adalah bendera-bendera Gielim koen, pasukan kaisar.
Sesudah bertempur mati-matian sekian lama, Tan Hong dan In Loei merasakan sangat lelah dan juga lapar.
Hal ini membuatnya mereka berpikir.
Ketika itu adalah musim pertama, dan seperti biasanya dimusim pertama itu, pada siang hari sang siang jadi terang benderang, maka pada magrib atau selewatnya suka turun hujan.
Demikian hari itu, tiba-tiba air langit mulai turun.
"Adik kecil, mari kita cari tempat berlindung!"
Tan Hong mengajak.
"Tentang barang makanan, kau jangan kuatir, aku masih membekalnya sedikit ransum kering."
In Loei bungkam, ia cuma menoleh. Tak tahu ia, harus bicara atau tidak dengan musuh turunan ini.....
"Di sana ada sebuah goa,"
Tan Hong berkata pula.
"Mari kita pergi kesana."
Mahasiswa ini bukan cuma mengajak, tapi tanpa menunggu jawaban lagi, ia sambar sebelah tangan orang untuk dituntun.
Beradu tangan dengan si anak muda, In Loei merasakan tubuhnya mengkirik, tangannya dingin.
Tan Hong merasakan tangan dingin itu, ia dapat menerka hati si nona tentu sedang bimbang, pikirannya tidak tenteram.
Goa itu bukan goa sewajarnya, hanya tanah berlubang saja, karena di atasnya terdapat dua potong batu besar yang ujungnya lebih, yang tidak mengenai tanah atau batu karang, hingga di bawahnya ada tempat yang luang, cukup untuk dua orang dan mereka tak akan tertimpa air hujan.
Tan Hong tuntun kawannya memasuki goa itu, di situ mereka berdiri berhadapan, hati mereka sama-sama memukul, di dalam hati, mereka saling tanya, apa yang mereka harus lakukan.....
Adalah Tan Hong, yang hatinya terlebih tenang.
"Adik kecil,"
Berkata si anak muda kemudian, sesudah mereka sama-sama bungkam sekian lama.
"benarkah permusuhan kita kedua keluarga tak dapat diselesaikan?"
Cuaca waktu itu suram, walaupun mereka berdekatan, Tan Hong tak dapat melihat tegas air muka si nona.
Meski begitu, kupingnya dapat menangkap suara baju nona itu, yang disebabkan tangannya telah merabah gagang pedangnya.
Tan Hong menghela napas.
"Inilah yang dikatakan, kalau bukannya musuh, kita tak dapat berkumpul bersama!"
Katanya dengan duka.
"Adik kecil, baiklah kau bunuh saja aku! Binasa ditanganmu, mati pun aku tak menyesal, tak penasaran....."
Justeru itu gledek menggelegar, kilat menyambar, dengan terangnya cahaya kilat itu, Tan Hong tampak wajah In Loei pucat pasi, sedang matanya berlinangkan air mata.
Dengan menyender pada batu, si nona pegangi tali bajunya, sedang pedangnya telah tercabut separuh, suatu tanda ia ingin menghunusnya tetapi tertunda.
Dengan lenyapnya cahaya kilat itu, goa pun menjadi gelap kembali.
Dalam kegelapan itu, terdengarlah suara napasnya si nona In.
Sampai sekian lama, masih tidak terdengar jawabannya atas perkataannya si anak muda.
Tan Hong keluarkan rangsum keringnya.
"Adik kecil, mari dahar,"
Ia mengundang. In Loei tetap menyender, sedikit jua tubuhnya tak bergeming. Masgul Tan Hong menampak sikap orang itu, tetapi dengan paksakan ia tertawa geli.
"Adik kecil, kali ini tidak akan aku katakan kau menganglap makanan!"
Katanya bergurau.
"Mari dahar!"
Pemuda ini mengharap si nona gembira, tidak tahunya.
"Plok!"
Tangannya kena disampok nona itu, rangsum keringnya jatuh ke tanah.
Ia jadi sangat menyesal, dengan tertawa meringis, ia punguti rangsum kering itu, yang terus ia letakkan di atas batu.
In Loei sangat berduka, hatinya pepat sekali, hingga ingin ia menangis, tetapi tidak dapat ia perdengarkan suaranya, air matanya pun tidak mau mengucur keluar.
Di dalam kegelapan itu, ia dengar helaan napas dari anak muda di depannya.
"Pembalasan sakit hati..... pembalasan sakit hati....."
Kata si anak muda, suaranya perlahan.
"Sakit hati saling balas, bilakah itu akan berakhir? Leluhurku dengan Tjoe Goan Tjiang telah memperebutkan negara, dia telah mewariskan surat wasiat yang memesan supaya anak cucunya mewakilkan dia menuntut balas..... Meskipun demikian, pesan pembalasan keluargaku itu bukannya dimaksudkan menuruti hawa napsu saja membunuh musuh tetapi yang paling utama adalah berdaya untuk merampas kerajaan Beng"
In Loei dengar itu, tubuhnya bergidik.
"Memang benar, saling balas ini ada hebat sekali, begitu dahulu, begitu sekarang ia berpikir.
"Jikalau keluarga Thio dapat membalas sakit hatinya, bukankah mereka akan membinasakan segenap orang kota, hingga darah mengalir diseluruh tegalan....."
"Jikalau Thio Tan Hong, untuk pembalasannya itu, bersekutu dengan bangsa Watzu, tentera siapa ia bawa masuk ke Tionggoan untuk menggempur kerajaan Beng, maka dia adalah satu manusia yang paling berdosa....."
Ia memikir pula.
"Jikalau itu sampai terjadi, aku pun tidak akan memberi ampun padanya!....."
Hebat nona ini berpikir, tanpa merasa, tangannya telah meraba pula gagang pedangnya. Tapi segera ia dengar pula suara orang.
"Leluhurku menyingkir ke negeri Watzu,"
Demikian Tan Hong berkata, seorang diri.
"Ketika itu bangsa Mongolia sedang lemahnya, di bahagian dalam, mereka terpecah belah. Ketika itu juga tentera kerajaan Beng berulang kali datang menyerbu, melakukan perampasan. Di samping itu, kerajaan Beng juga meminta bangsa Mongolia setiap tahun mengantar upeti. Hal ini membuatnya bangsa Mongolia menjadi sangat bersakit hati, merasa penasaran dan bergusar sangat, hingga mereka memikir untuk mencari balas..... Ha, manusia terhadap manusia, Negara terhadap negara, mengapa di antara mereka ada demikian banyak dendaman? Mengapa mereka hendak saling menuntut balas? Sungguh aku tidak mengerti! Kenapa mereka tidak hendak saling memperlakukan sama rata, sama derajat, untuk hidup damai satu dengan lain?"
Tertarik hati In Loei mendengar kata-kata itu.
"Leluhurku dan marhum raja Watzu sama-sama memikir untuk mencari balas,"
Tan Hong berkata pula.
"mereka hendak mencari balas terhadap kerajaan Beng. Oleh karena minatnya itu, leluhurku telah memangku pangkat di dalam negeri Watzu. Setiap hari bangsa Watzu itu jadi semakin kuat. Berbareng dengan itu, pangkat leluhurku juga setiap waktu menjadi terlebih tinggi. Demikian, setelah turun sampai pada ayahku, bukan saja ayah telah diwariskan pangkat leluhurku itu, malah belakangan dia diangkat menjadi Yoe sinsiang, perdana menteri muda."
Belum selesai Tan Hong dengan kata-katanya itu, tidak peduli tidak ada orang yang melayani ia bicara, karena si nona tetap bungkam, ia melanjutkan pula.
"Ayahku ingat baik-baik sakit hati itu, maka itu terhadap anak cucunya Tjoe Goan Tjiang, juga terhadap mereka yang sangat menyintai kerajaan Beng, dia mendendam hebat sekali, sampai meresap ke tulang-tulangnya!..... Pada tiga puluh tahun yang lampau ketika engkong-mu diutus ke negeri Watzu,"
Ia menambahkan kepada In Loei.
"di sana ia selalu mengutarakan bahwa dia adalah menteri yang sangat setia dari kerajaan Beng. Mendengar itu, ayahku menjadi naik darah, maka ayah segera menahan engkong-mu itu, engkong-mu itu dipaksa berdiam di daerah es dan salju, ia hidup dengan mengembala kuda sampai dua puluh tahun lamanya!....."
In Loei kertek giginya. Kata-kata Tan Hong membuat ia berpikir keras.
"Engkong telah menderita selama dua puluh tahun,"
Ia berpikir.
"karena sakit hati itu, engkong menginginkan supaya sekeluarga Thio dibunuh semua. Tapi kerajaan Beng telah merampas negara leluhurnya, tidak heran kalau keluarga Thio jadi sangat bersakit hati, sampai karenanya, engkong-ku turut terlibat. Sungguh ini ada dendaman turun temurun..... Dapatkah aku tak mempedulikan sakit hati leluhurku itu? Engkong ingin turunannya membalas dendam, bolehkah aku membiarkannya?"
In Loei cekal gagang pedangnya akan tetapi pikirannya sangat ruwet.
"Engkong-mu itu mengembala kuda di antara es dan salju sampai dua puluh tahun lamanya, selama itu tidak pernah dia hendak tunduk,"
Terdengar Tan Hong mulai berkata pula.
"Oleh karena itu kemudian ayahku pun tertarik hatinya dan mengagumi kekerasan hati dari engkong-mu itu. Ayahku pernah berceritera kepadaku tentang hikayat engkong-mu itu. Ayah katakan ketika engkong-mu secara diam-diam minggat pulang ke negerinya, sebelumnya ayahku telah mengetahui, sekalipun demikian, ayah sengaja tidak mengirim pasukan tentera untuk mencegah, engkong-mu dibiarkan dapat menyingkir. Malah ayahku pun berkata, ketika itu ayah telah tugaskan Tantai Tjiangkoen menyampaikan kepada ayahmu tiga pucuk surat tertutup untuk menolong engkong-mu dari ancaman bahaya maut. Hanya saying sekali, engkong-mu tidak sudi mempercayainya, hingga dengan begitu engkong-mu telah mensiasiakan maksud hati baik dari ayahku itu hingga ayah merasa kecewa."
In Loei mendengar, ia bersangsi. Benarkah cerita Tan Hong ini? Masih ia membungkam. Masih ia pegangi gagang pedangnya. Tan Hong menghela napas.
"Memang perbuatan ayahku terhadap engkong-mu ada keterlaluan,"
Ia berkata pula.
"maka itu tidaklah heran kalau engkong-mu tidak mempercayai maksud baik dari ayahku itu. Orang tua marhum telah berhutang, sudah selayaknya turunannya membayar hutang itu! Maka juga tidak mengherankan bahwa kau jadi membenci sangat padaku! Ah....."
In Loei tetap membungkam. Si anak muda melanjutkan pula.
"Negeri Watzu itu setiap hari bertambah kuat, karenanya kerajaan Beng, selanjutnya tidak berani menghina pula. Malah kemudian, keadaan menjadi berbalik.
"Pada sepuluh tahun yang lalu, guruku telah datang ke negeri Watzu.
Mulanya terdengar kabar, guruku itu datang hendak melakukan pembalasan untuk engkong-mu itu, akan tetapi kemudian, ia berbalik menjadi guruku.
Dialah yang mengingatkan aku bahwa aku adalah bangsa Tionghoa, bahwa karenanya tidak dapat aku pandang Tionggoan sebagai musuh!
Belakangan, setelah datangnya guruku itu, perangi ayahku telah berubah.
Sering aku lihat ayahku di waktu malam, menumbuki dadanya sendiri, seorang diri ia suka jalan mengitari kamarnya.
Pernah ayahku mengoceh seorang diri, katanya.
"Membalas dendam! Membalas dendam! Harus atau tidak aku membalasdendam?"
Dalam keadaan itu, ayah tampak beringas, sikapnya menakutkan. Pernah beberapa kali aku hiburi ayah, tapi ia menjadi gusar, dia deliki aku! Dia kata.
"anak, kau mesti ingat sakit hati leluhurmu yang bagaikan gunung besarnya!"
"Kau tahu dengan cara bagaimana sekarang aku pulang ke Tionggoan? Sebenarnya aku telah membolos. Dari semua orang, melainkan guruku seorang yang mengetahuinya. Guruku telah menjelaskan segala apa mengenai kaum Rimba Persilatan di Tionggoan. Kau harus ketahui, aku adalah bangsa Tionghoa, pasti aku tidak akan membantu bangsa Watzu menyerbu Tionggoan! Akan tetapi, aku juga hendak menuntut balas....."
"Bagaimana kau hendak membalasnya?"
In Loei tergerak hatinya, hingga ia bertanya demikian.
"Setelah aku sampai di Tionggoan, yang pertama-tama aku lakukan ialah membuat penyelidikan,"
Sahut Tan Hong.
"Aku telah melihat jelas, pemerintahan kerajaan Beng sesungguhnya telah jadi buruk sekali. Maka itu, untuk menuntut balas, nampaknya tidak ada kesukarannya. Apa bila aku mendapatkan peta bumi serta harta yang terpendam, maka dengan menggunakan pengaruh uang itu aku kumpulkan kawan sekerja, untuk kemudian mengerek bendera, dengan demikian tidaklah sukar untuk merampas kerajaan Beng!"
In Loei terperanjat.
"Apakah kau berniat menjadi kaisar?"
Dia tanya. Thio Tan Hong tertawa.
"Kaisar pun asalnya rakyat jelata!"
Dia kata.
"Negara dari satu keluarga, dari satu she, dapatkah itu dipegang kekal untuk beratus abad? Jikalau aku dapat merampas kerajaan Beng, bukan saja aku hendak menjadi raja....."
"Apakah itu untuk mencari balas?"
In Loei tanya pula.
"Juga bukan hanya untuk membalas dendam!"
Jawab Tan Hong.
"Andaikata berlaksa negara di kolong langit ini tidak menggerakkan senjata, bagaimana baiknya?....."
Ia berhenti sebentar, ia tertawa bergelak. Lalu ia bersenanjung.
"Berapakah usianya manusia? Negara aman, bagaimana dapat ditunggu? Coba muncul satu nabi, bukankah persamaan kekal abadi untuk berlaksa abad? Haha! Jikalau dapat aku mencapai keinginan hatiku, untuk apa aku mesti menjadi kaisar?"
Di tempat gelap seperti itu, In Loei tidak tampak wajah orang, akan tetapi dapat ia merasakan hati besar orang itu.
"Kau menjadi kaisar atau tidak, itulah tidak aneh!"
Ia campur bicara. Tak sanggup dia untuk terus membungkam.
"Hanya jikalau kau bercita-cita merampas Negara yang luasnya sembilan laksa lie dari kerajaan Beng, maka kau menghendakinya atau tidak, aku kuatir kau toh akan membunuh seluruh orang kota hingga darah mengalir seluas tegalan! Sekarang ini bangsa Mongolia hendak menyerbu, jikalau kau memusuhi kerajaan Beng, bukankah kau jadi membantu bangsa Watzu itu?"
Ditanya begitu, Tan Hong berdiam sebentar.
"Adik kecil, kata-katamu beralasan juga,"
Ia menyahut dengan perlahan.
"Adik kecil, kakakmu suka mendengar perkataanmu. Jikalau kau tidak mengijinkan aku menjadi kaisar, aku suka tidak menjadi kaisar. Adik kecil, katakanlah, akan aku turut kau."
Halus suara pemuda ini, enak didengarnya. Maka merahlah muka In Loei, ia jengah tetapi iapun girang. Tiba-tiba saja ia gerakkan sebelah tangannya, akan tolak tubuh orang.
"Siapakah yang inginkan kau dengar perkataanku!"
Dia bentak, suaranya gusar.....
"Bagaimana? Kembali kau gusar....."
Kata Tan Hong.
Si nona diam, tidak ia menyahuti.
Tan Hong menghela napas, tangannya diulurkan ke batu di mana ia taruh rangsum keringnya.
Ia dapatkan batu telah kosong.
Rangsum itu telah dimakan si nona!
Selama mendengarkan orang berceritera, tanpa merasa, In Loei dahar rangsum itu.
Pernah ia insaf bahwa "tidak selayaknya"
Ia makan rangsum itu, tidak tahunya ia telah dahar hingga potongan yang terakhir!
Diam-diam Tan Hong tertawa dalam hatinya.
Ketika ia awasi si nona, di tempat yang gelap itu ia hanya tampak sepasang matanya yang bersinar hidup bagaikan bintang di malam gelap gulita.
"Adik kecil, sudah waktunya untuk kau tidur,"
Tan Hong kata kemudian.
Lalu, dengan perlahan, ia nyanyikan sebuah lagu halus.
In Loei lelah dan ngantuk, ia telah dahar cukup, mendengar lagu itu, hatinya tertarik, di luar tahunya, ia meramkan matanya.....
Tan Hong, dengan pedang di tangan, bertindak ke mulut goa, untuk menjadi centeng.....
Hujan sudah berhenti akan tetapi di malam buta, tentera pahlawan tidak berani mendaki bukit untuk mengejar terus orang-orang yang menyingkirkan diri itu.
Pemuda itu pun lelah dan ngantuk, akan tetapi untuk menjaga In Loei, ia kuatkan hati untuk tinggal melek. Tidak berani ia tidur. Sekonyong-konyong terdengar teriakan In Loei.
"Engko..engko.....Engkong, engkong......"
"Ya,"
Sahut si anak muda. Habis itu, ia tidak dengar apa-apa lagi. Ia berpaling ke dalam tapi In Loei diam terus, cuma suara napasnya terdengar perlahan.
"Dia ngigo....."
Kata si anak muda, yang terus bertindak ke dalam, akan membuka baju luarnya, baju mana ia pakai menyelimuti tubuh si nona, tanpa nona itu sadar.
Kemudian ia kembali ke mulut goa di mana ia duduk mendeprok.
In Loei tengah bermimpi.
Ia lihat Thio Tan Hong melenggakkan kepalanya dan tertawa panjang, tetapi ketika si anak muda mengusap-usap gambar lukisannya, tiba-tiba dia menangis sedih dan kemudian, dia bernyanyi dengan nada tinggi.
Heran In Loei atas tingkah laku orang, ia pun merasa kasihan.
Maka ia menghampirinya, ia pegang pundak orang.
Di saat itu ia tampak engkong-nya menghampiri dia, tangan engkong itu menyekal tongkat bamboo yang ada bulunya.
Bengis roman si engkong ketika ia nyelak di antara kedua orang itu, terus dia angkat tongkatnya, dipakai mengemplang!
"Engko, tolong!"
Teriak In Loei dalam mimpinya itu.
Segera nona ini lihat soetjiat, yaitu tanda kebesaran ditangan engkong-nya, telah berubah menjadi surat wasiat kulit kambing yang berdarah, dengan surat wasiat itu, sang engkong tutupi kepala cucunya, sambil mendamprat.
"Siapakah engko-mu? Lekas kau bunuh dia?"
Waktu itu In Loei endus baunya darah yang berbau bacin, yang berulang kali menyerang hidungnya, hingga hampir tak kuat ia menahannya.
Lebih celaka lagi, ia tidak dapat berteriak, maka akhirnya, sadarlah ia dari tidurnya, dari mimpinya yang hebat itu.
Mengawasi ke mulut goa, si nona tampak sorot matahari yang melusup disela sela.
Ia mengawasi, ia tenteramkan hatinya, yang berdenyut.
Begitu ia merasa tenang, ia dapatkan tubuhnya berkerudung baju Tan Hong.
Segera ia rasakan pipinya panas, hatinya pun memukul.
Lantas ia turunkan baju itu, terus iajalan perlahan, menuju ke mulut goa.
Tan Hong tengah duduk dibatu, ujung pedangnya menunjang tanah, kepalanya ditundukkan.
Karena ngantuknya anak muda ini tidak sanggup bertahan lagi, ia ngelenggut, mendekati terang tanah, ia tertidur juga.....
Kembali surat wasiat kulit kambing yang berdarah berkelebat di mata In Loei, terus saja ia cekal keras gagang pedangnya.
Di dalam hatinya, nona ini berkata.
"Jikalau aku hendak tikam dia, inilah ketikanya yang baik. Ah, ah, mengapa aku berpikir begini macam? Engkong, engkong,"
Ia mengeluh.
"engkong, jangan paksa aku, jangan paksa aku!....."
Samar-samar In Loei seperti lihat engkong-nya mendatangi dengan tangannya masih memegang soetjiat, tepat seperti di waktu ia bermimpi, mata engkong-nya itu bengis.
"Mustahilkah aku masih bermimpi?"
Sambil menanya begitu dalam hatinya, In Loei terus gigit jari tangannya.
Kontan ia merasakan sakit.
Maka terang sudah, ia bukan tengah bermimpi pula.
Tapi, kalau itu bukannya impian, kenapa ia seperti sedang bermimpi, ia bagaikan belum sadar?
Kalau ia sadar, sungguh hebat penderitaannya ini.
Ia tengah menghadapi musuhnya, yang engkong titahkan ia bunuh!
"Jikalau aku lepaskan ketika yang baik ini, aku tidak binasakan orang keluarga Thio, apakah engkong di alam baka tidak sesalkan aku?"
Demikian ia tanya dirinya.
Dengan tangan pada gagang pedang In Loei maju lagi dua tindak, tiba-tiba ia masukkan satu jari tangannya ke dalam mulut, ia menggigit, kembali ia merasakan sakit.
Kali ini ia sadar benar-benar, di depan matanya tidak lagi terbayang engkong nya.
Maka pedang, yang ia telah cabut, ia masukkan pula ke dalam sarungnya.
Sebaliknya daripada menikam pemuda itu, adalah baju orang yang ia keredongkan kepada pemiliknya.....
Thio Tan Hong merasa tubuhnya tersentuh, ia segera lempangkan tubuhnya, lantas ia lompat bangun.
Segera ia tertawa.
"Eh, adik kecil, pagi-pagi begini kau sudah bangun?"
Dia tanya.
"Kenapa kau tidak tidur pula?"
In Loei gigit bibirnya, mukanya menjadi pucat.
Tan Hong awasi pemudi ini, matanya bersinar halus, ia nampaknya sangat mengasihani si nona.
Nona In lihat sinar mata orang itu, ia tampak wajahnya yang sangat simpati, luka hatinya, hingga hampir ia menangis.
Lekas-lekas ia putar tubuhnya, untuk tidak mengawasi lebih jauh pemuda itu.
Tan Hong menghela napas, terus ia memandang ke arah bawah bukit.
Ia lihat beberapa puluh pahlawan Kimie wie, bersama-sama dengan serdaduserdadu Gielim koen, mereka terpecah dalam beberapa rombongan, mereka tengah mendaki bukit.
Terang sekali mereka hendak mencari terlebih jauh kedua orang yang mereka sedang kepung-kepung.
Bingung juga si anak muda.
Tidak sukar menggempur beberapa puluh pahlawan.
Tidak demikian dengan kurungan di bawah bukit itu, di mana, tertampak bendera bendera, suatu tanda dari pengurungan yang rapat.
Car bagaimana kurungan itu dapat ditoblos?
Selagi anak muda ini berpikir keras, ia lihat kawanan pahlawan sudah sampai di tengah bukit.
Ia lantas sambar tangannya In Loei, untuk diajak lari ke belakang satu batu besar.
Makin lama rombongan pahlawan datang makin dekat.
Sekonyong-konyong terdengar seruannya Thio Hong Hoe.
"Keluar! Keluar kamu! Aku telah melihat padamu! Hendak aku bicara dengan kamu!"
Hati Tan Hong bercekat.
Thio Hong Hoe adalah satu jago dari kota raja.
Ia tidak sangka orang dapat datang demikian cepat, malah dialah yang pimpin rombongan pahlawan dan serdadu istana itu untuk menggeledah bukit.
Dengan golok Biantoo-nya, Thio Hong Hoe menuding ke atas bukit, kembali ia perdengarkan suaranya yang nyaring.
"Kenapa kamu main sembunyi-sembunyian? Begitukah kelakuannya satu hoohan?....."
Kali ini belum Hong Hoe menutup mulutnya atau satu orang, bagaikan bayangan, telah lompat muncul, bajunya berkibar-kibar ditiup angin. Di tangannya terhunus pedang.
"Thio Thaydjin gagah perkasa!"
Demikian orang itu -ialah Thio Tan Hong -berkata sambil tertawa.
"kau telah pimpin beribu-ribu serdadu dan kuda, kau juga telah menyerang bukit ini, sungguh kau satu hoohan1."
Melengak Thio Hong Hoe, mukanya menjadi merah secara mendadak. Itulah sindiran hebat.
"Jangan kau memancing kemurkaanku!"
Katanya kemudian. Dapat ia tenangkan diri.
"Meski benar di bawah gunung ini ada pasukan perang yang berjumlah besar, kamu sebenarnya boleh berurusan dengan aku si orang she Thio saja!"
Thio Tan Hong kibaskan pedangnya. Ia tertawa.
"Bagus, bagus!"
Katanya dengan gembira.
"Kalau begitu, silakan kau kemukakan syarat-syaratmu!"
Thio Hong Hoe tidak lantas sambut tantangan itu, ia hanya mengawasi dengan tajam kepada dua orang itu. Waktu itu In Loei pun turut munculkan diri.
"Aku lihat kamu bukan orang-orang Jalan Hitam,"
Katanya.
"Sebenarnya kamu mempunyai hubungan apa dengan Tjinsamkay Pit To Hoan?"
"Tentang hubungan itu, tak usah kau mengetahuinya,"
Jawab Tan Hong.
"Baik kita jangan ngobrol saja! Mari kita bertempur sampai tiga atau lima ratus jurus! Bagaimana andaikata kau tidak mampu mengalahkan aku?"
Tan Hong merasa, dalam tenaga dalam, ia kalah dari komandan Kimie wie itu, akan tetapi dalam hal ilmu pedang, ia menang di atas angin, maka ia percaya, dengan bertanding sekian banyak jurus, mestinya mereka seri.
Ini ada baiknya untuknya.
Ia tahu Thio Hong Hoe kagumi dirinya sendiri, sengaja ia gunakan kata kata itu untuk membangkitkan kemendongkolan orang.
Kembali Thio Hong Hoe lirik kedua orang itu.
"Tidak usah kita bertanding satu lawan satu!"
Katanya dengan jumawa.
"Kamu boleh maju berdua berbareng!"
Tan Hong tertawa dingin.
"Kalau begitu maka sejak ini Kengsoe Samtoa Khotjioe akan tinggal dua orang saja!"
Katanya secara menghina.
(Kengsoe Samtoa Khotjioe berarti "tiga jago terbesar dari kota raja." ) Dengan perkataan ini Tan Hong artikan, bahwa ia berdua In Loei mengerubuti komandan Kimie wie itu, sudah pasti si komandan akan terbinasa.
Thio Hong Hoe tidak kena dipancing, dia tertawa.
"Aku lihat itulah tidak mudah!"
Katanya.
"Ilmu silat kamu berdua telah aku lihat, jikalau kita bertanding satu lawan satu, mungkin kau dapat bertahan sampai lima ratus jurus. Kau majukan tantanganmu ini, mengerti aku maksudmu. Sudah tentu aku tidak sudi dipedayakan!"
"Sungguh orang ini liehay!"
Kata Tan Hong dalam hatinya. Ia bercekat.
"Tahu pihak sana, tahu pihak sendiri, demikian pepatah. Pikiran dia sama dengan pikiranku."
Lantas dia menyahuti.
"Kalau begitu baiklah kita tidak mengadakan batas lima ratus jurus itu! Mari kita bertempur satu lawan satu. Kau boleh utarakan syaratmu!"
Thio Hong Hoe sebutkan syaratnya, ia kata.
"Tentang sahabatmu ini, dengan ilmu silatnya, mungkin dia dapat bertahan sampai seratus jurus, maka itu, baiklah kita atur begini. Kamu berdua maju bersama, kita bertempur sebanyak lima puluh jurus. Jikalau kamu yang peroleh kemenangan, nanti aku pujikan kamu supaya kamu diangkat menjadi boe kiedjin tahun ini, untuk itu kamu tidak usah diuji pula!"
Thio Tan Hong tertawa bergelak.
"Untuk kami berdua menangkan kau, itulah gampang, sama seperti kita membalikkan tangan!"
Katanya.
"Perlu apa menunggu sampai lima puluh jurus? Malah dalam lima jurus, bila kami tidak dapat mengalahkan kau, kau boleh perbuat sesukamu atas dari kami! Jikalau dalam lima jurus kami menangkan kau, kami tidak kemaruk dengan gelaran boe tjonggoan-mu, apapula boe tjinsoel Untuk kami, air ada biru, gunung ada hijau, di belakang hari masih dapat kita bertemu pula!"
Inilah ejekan untuk Hong Hoe, dia dipancing kegusarannya.
Dengan itupun Tan Hong maksudkan, andaikata mereka berdua yang menang, maka Thio Hong Hoe mesti membiarkan mereka angkat kaki tanpa gangguan.
Sementara itu Hong Hoe mempunyai maksud, ia berkeras hendak tempur kedua orang ini.
Kemarin ia tidak berhasil mengejar Pit To Hoan, ketika ia kembali, ia tampak Hoan Tiong dan Khoan Tiong mendapat luka.
Ia menjadi kaget.
"Apa yang telah terjadi?"
Ia tanya kedua kawan itu.
Hoan Tiong dan Khoan Tiong tuturkan pengepungannya terhadap Tan Hong dan In Loei, mau atau tidak, mereka mesti puji ilmu silat kedua orang yang hendak ditawan itu.
Pada waktu berkatakata, mereka ini nampaknya masih jeri.
Mendengar itu, Thio Hong Hoe menjadi sangat heran, hingga ia berpikir.
"Dari mereka berdua, si mahasiswa berkuda putih nampaknya yang lebih liehay, kelihatannya dia melebihi satu tingkat daripada Hoan Tiong dan Khoan Tiong, tetapi, dengan berkelahi bersama, dalam tujuh puluh jurus, tidak heran apabila mereka dapat mengalahkan kedua sahabat ini. Yang aneh adalah mereka dapat merebut kemenangan dalam beberapa jurus saja!"
Hong Hoe adalah ahli silat kenamaan, ia tahu bagaimana peryakinan ilmu silatnya, maka, mendengar ada orang yang demikian liehay, timbullah keinginannya untuk mencoba-coba kepandaian orang itu.
Demikian ia majukan tantangannya.
Benar benar ia tidak percaya, di dalam lima puluh jurus ia akan dapat dikalahkan.
Tapi sekarang ia dengar Tan Hong mengatakan lima jurus, bukan main mendongkolnya ia.
Meski demikian, ia tertawa terbahak-bahak, goloknya diacungkan.
"Baiklah!"
Serunya.
"Sekarang jurus yang pertama! Kamu sambut!"
Segera golok berkelebat, kelihatannya seperti ke kiri dan ke kanan. Hong Hoe telah menggunakan jurus "Lioeseng siantian"
Atau "Bintang sapu menyambar, kilat berkelebat."
Serangan itu ditujukan ke arah kedua lawannya. In Loei menyender di lamping batu, ia bagaikan orang tak sadar akan dirinya, Tan Hong lihat keadaan orang, dia menyerukan.
"Adik kecil, lekas keluarkan kepandaianmu!"
Tan Hong tidak hanya berteriak, berbareng dengan kata-katanya itu, tubuhnya mencelat ke depan In Loei, pedangnya digerakkan dalam gerakan "Memotong sungai."
Dengan itu ia tangkis serangan pertama dari Hong Hoe.
Golok menyerang, pedang menangkis, maka itu, keduanya bentrok keras, suaranya nyaring, tetapi golok Hong Hoe benar-benar liehay, sekalipun ditangkis, sambarannya tak kehilangan sasarannya, masih ujung golok bergerak ke arah In Loei.Nona In sudah lantas menangkis, habis itu tubuhnya limbung, ia mundur dua tindak.
Tidak berhasil ia mencegah serangan Hong Hoe itu.
Coba Tan Hong tidak mendahului menangkis, mungkin pedangnya terlepas dan terpental dari cekalannya.
Thio Hong Hoe lihat ia berhasil, ia tertawa berkakakan.
"Kiranya ilmu pedang kamu cuma sebegini!"
Katanya dengan mengejek.
"Hati-hati, kamu sambut golokku! Inilah jurusku yang kedua, namanya "
Pathong hongie ", yaitu "
Angin dan hujan di delapan penjuru "! Kamu mesti menyambutnya dengan pedang berbareng! Aku memberitahukan ini supaya jangan nanti kamu sesalkan aku!....."
In Loei tidak sadar akan adanya bahaya meskipun ia telah dihajar hingga sempoyongan dan mundur, sepasang matanya yang tadinya hidup sekarang lenyap sinarnya.
Tan Hong lihat keadaan orang itu, ia segera membisiki.
"Adik kecil, meskipun kau membenci aku tapi sekarang mesti kita mundurkan dulu musuh ini! Kau boleh sayangi jiwamu, agar di belakang hari dapat kau mencari balas terhadapku! Oh, adik tolol!....."
Adalah di saat itu, serangan yang kedua dari Hong Hoe telah tiba, sinar golok itu berkelebatan menyilaukan mata. Serangan itu ada jurus yang paling liehay dari ilmu silat "Ngohouw toanboen too"
Atau "Lima ekor harimau mencegat pintu".
Sudah tentu jurus ini ada terlebih liehay daripada yang pertama.
Tergerak hati In Loei, tetapi air matanya segera mengembeng.
Tapi sekarang ia tidak lagi sedungu tadi.
Ia angkat pedangnya, dengan putarkan itu, ia menangkis.
Perbuatannya ini diturut dengan gerakan serupa dari Thio Tan Hong.
Maka itu, berangkaplah pedang mereka masing-masing.
Dan gagallah serangan Hong Hoe yang kedua kali itu.
"Bagus!"
Seru komandan Kimie wie itu.
"Benar-benar bagus cara kamu menangkis ini! Sekarang sambutlah lagi yang ketiga!"
Hong Hoe maju satu tindak, golok Biantoo dimajukan, bukan sejurus, tapi kembali ke kiri dan ke kanan, cepatnya luar biasa. Itu pun ada jurus "Hoenhoa hoetlioe"
Yaitu "Memisah bunga, mengebut yanglioe".
Halus mulanya, keras akibatnya.
Dengan cara ini, ia menyerang sambil membela diri.
Serangan juga disusul dengan tertawa nyaring dan panjang.
In Loei gerakkan tangannya, maka menyambarlah Tjengbeng kiam, diikuti berbareng dengan pedangnya Tan Hong, hingga kedua pedang kembali berangkap jadi satu dengan apa golok lawan dapat ditutup!
Kali ini baharulah Thio Hong Hoe terkejut, hatinya bercekat.
Lekas-lekas ia tarik goloknya, untuk dipakai melindungi diri.
Ia telah kerahkan tenaganya, karena goloknya itu terjepit keras.
Ia berhasil juga menarik goloknya akan tetapi ia mesti mundur dengan limbung, napasnya pun memburu.
"Bagus, tak kecewa ia menjadi orang kosen nomor satu di kota raja,"
Tan Hong memuji di dalam hatinya. Sementara itu ia telah memasang mata tajam. Hong Hoe telah memasang kuda-kuda "Poetteng poetpat,"
Goloknya melintang di depan dadanya, kedua matanya dibuka lebar-lebar, sinar matanya masih menunjukkan kagetnya tadi. Tan Hong kerutkan alisnya. Ia berpikir.
"Orang ini luas pengalamannya, sekarang ia ambil sikap membela diri, dengan lagi satu jurus, belum tentu dia dapat dikalahkan....."
Setelah memasang kuda-kudanya itu, tenang hatinya Thio Hong Hoe.
"Aku telah menyerang tiga kali, masih ada satu kali lagi!"
Ia berseru dengan nyaring.
"Habis itu, akan aku biarkan kamu berlalu terlebih dahulu! -Kamu sudah siap? Bagus! Sambutlah!"
Thio Tan Hong melirik pada In Loei, kali ini ia tampak kedua matanya bersinar tajam.
Itulah sinar mata yang wajar, nyata keadaan si nona telah pulih kembali.
Dengan sinar mata demikian, In Loei tengah mengawasi musuh.
Menampak demikian, Tan Hong dapat harapan.
Tiba-tiba saja ia berseru, terus ia maju menyerang.
Perbuatan ini dengan serentak diturut In Loei, hingga mereka jadi maju berbareng, kedua pedang berkelebatan, ujungnya menikam.
Thio Hong Hoe mendak, goloknya dilintangkan, dipakai menangkis kedua pedang lawan.
Habis itu, ia putar tubuhnya, goloknya tergerak pula, disusul dengan mencelatnya tubuhnya.
Tan Hong tak sangka orang ada demikian sebat, di dalam hatinya, ia mengeluh.
"Celaka..... kalau ini gagal, dia lolos, dengan begitu lewatlah jurus ke empat, kita mesti mengaku kalah....."
Maka itu, hendak ia lanjutkan serangan-nya.
Untuk itu hendak ia menangkis dulu, baharu ia menikam.
Selagi Tan Hong memikir demikian, In Loei telah bekerja.
Sekonyong-konyong Hong Hoe menjerit, disusul, dengan rubuhnya tubuhnya.
In Loei telah berlaku sangat sebat, selagi pedang Tan Hong melayani golok lawan, ia menyambar kaki orang, tepat ujung pedang itu mengenai sasarannya, maka bahna kaget dan sakit, jago dari kota raja itu tak dapat injak tanah lagi.
Tan Hong terkejut karena herannya.
Ia menduga, dengan mencelatnya Hong Hoe, pedang In Loei akan menemui tempat kosong seperti pedangnya sendiri.
Dengan lompatan "Lehie tateng"
Atau "Ikan gabus meletik,"
Hong Hoe mencelat bangun, terus ia pandang kedua lawannya dengan menyeringai. Ia mengibaskan sebelah tangannya, lalu ia berkata.
"Benar liehay sepasang pedang kamu! Sekarang kamu boleh pergi!"
Khoan Tiong sudah mendampingi kawannya ini.
"Toako, secara demikian mudah kau membebaskan mereka?"
Ia menegur.
"Ya,"
Jawab Hong Hoe.
"Koentjoe itgan, koayma itpian! Biarkan mereka pergi!"
Khoan Tiong seperti menggerutu "Koentjoe itgan, koayma itpian" -"Gentleman dengan sepatah kata, kuda jempolan dengan satu cambukan,"
Tapi ia berdiam tidak berani ia mengucapkan kata-kata.
"Mereka bukannya orang-orang Jalan Hitam!"
Kata Hong Hoe pula.
"Dengan melepaskan mereka, kita tidak mendapat salah. Kenapa kita mesti serakahkan jasa semacam ini?"
Merah wajahnya Khoan Tiong.
"Oleh karena kau yang menanggung jawab, toako, kita tidak dapat berkata apa apa lagi"
Katanya. Hong Hoe segera berikan titahnya untuk memberi jalan kepada kedua anak muda itu. Thio Tan Hong menghormat pada komandan Kimie wie itu.
"Dua kali kita telah bertempur, masih belum tahu aku she dan namamu,"
Berkata Hong Hoe.
"Sebenarnya kau datang dari mana?"
Tan Hong bersikap lesu, ia menguap.
"Kau orang she Thio, aku juga orang she Thio,"
sahutnya.
"Thio kau tidak sama dengan Thio aku, akan tetapi pada lima ratus tahun yang lalu, kita berasal dari satu keluarga. Maka itu, baiklah aku panggil kau toako.
"Toako,"
Ia tambahkan.
"adikmu telah lelah sekali, di sini pun banyak orang dan berisik, tidak dapat aku tidur di sini, karenanya, maafkan aku, tak dapat kami temani kau lebih lama pula....."
Wajah Khoan Tiong berubah pula menjadi merah, tidak demikian dengan Thio Hong Hoe, dengan sikap wajar dia malah tertawa.
"Kau jumawa, kau juga gagah, tidak kecewa aku mendapatkan saudara satu she sebagai kau!"
Ia kata.
"Baiklah saudara, kau boleh pergi!"
Tan Hong segera bersenanjung.
"Jikalau masih ada sifat orang kangouw, orang menjadi jenderal pun tidak kecewa..... Air biru, gunung hijau, di belakang hari nanti kita bertemu pula, saudara, aku pergi!"
Ia tambahkan.
Terus ia tuntun tangan In Loei untuk diajak turun gunung di mana tidak ada satu serdadu juga yang merintangi mereka.
Di sepanjang jalan, In Loei terus bungkam.
Setelah melalui kira-kira tujuh lie, mereka tinggalkan tentera negeri jauh sekali di belakang mereka.
Di depan mereka terdapat jalan simpang tiga, di situ Tan Hong menguap.
"Adik kecil, mari kita cari tempat untuk beristirahat dulu,"
Ia kata pada kawannya.
"Jalan yang di tengah ini untuk ke kota Tjengteng, yang di kiri untuk ke kota Loanshin. Aku pikir, baik kita menuju ke Tjengteng saja."
In Loei kebutkan bajunya.
"Kau ambil jalanmu, aku ambil jalanku!"
Ia menyahut dengan dingin. Tan Hong melengak.
"Demikian rupa kau benci aku?"
Dia tanya. In Loei menyingkir dari pandangan orang, ia kerutkan alis.
"Aku haturkan terima kasih yang kau telah menolong aku,"
Si nona berkata pula.
"akan tetapi permusuhan kita kedua keluarga, tidak ada jalan untuk memecahkannya!..... Ah, siapa suruh engkong menutup mata siang-siang, coba ia masih hidup, mungkin aku dapat menasehati supaya dia mengubah pikirannya..... Sekarang sudah tidak dapat lagi..... Pesan dari leluhur, cara bagaimana turunannya dapat menentangnya?..... Ah, ini dia takdir....."
"Aku tidak percaya takdir!"
Kata Tan Hong, tegas.
"Kalau kau tidak percaya, habis kau mau apa?"
Si nona tanya.
"Baiklah, kau boleh pergi! Jikalau kau menuju ke timur, nanti aku menuju ke barat!"
Wajah Tan Hong tampaknya muram.
"Jikalau sudah pasti kau hendak menuntut balas, kenapa kau tidak lakukan itu sekarang saja?"
Dia tanya.
Ia lesu sekali.
Merah mata In Loei, kakinya terus menindak.
Ia berjalan dengan sangat cepat, tidak ia menoleh.....
-ooo0dw0ooo-BAB XI Walaupun ia berlari-lari, In Loei toh dengar helaan napas panjang di belakangnya, helaan mana disusul dengan kata-kata.
"Melihat kau menyebabkan kau berduka, tidak melihat kau maka akulah yang bersusah hati..... Ah, daripada kau yang berduka, baiklah aku saja..... Adik kecil, baik-baiklah kau jaga dirimu. Kau pergi adik, kau pergi!....."
Nona ini keras hati meskipun ia rasakan hatinya itu sakit.
Ia masih dapat kuatkan hati, untuk tidak menoleh.
Akan tetapi air matanya, tak dapat ditahan.
Dengan terbawa angin, In Loei masih dengar kata-kata orang.
"Saling melihat tetap tidak seperti saling melihat, merasa cinta toh tidak merasa cinta....."
Dalam usianya tujuh belas tahun, belum pernah In Loei memikir halnya kasih sayang antara pemudi dan pemuda, mendengar itu, merah mukanya. Di dalam hatinya, ia jadi memikir.
"Apakah benar aku telah terjerumus ke dalam jala cinta?"
Lantas hatinya menjadi bimbang, mukanya merah sampai ke kupingnya.
Ia lari terus, setelah beberapa puluh tombak, baharu ia berani berpaling ke belakang.
Sekarang ini ia tidak lihat sekalipun bayangan Thio Tan Hong!
Akhir-akhirnya tibalah In Loei di kota Tjengteng, sebelum matahari terbenam.
Ia langsung mencari sebuah hotel besar di mana, dengan mengunci pintu rapat-rapat, ia segera rebahkan diri di atas pembaringan.
Tak tahu nona ini, berapa lama ia telah pulas, waktu ia sadar, ia dengar suara gembreng diiringi dengan kata-kata nyaring, seperti orang tengah membentak bentak, suara mana disusul lagi dengan suara jongos hotel, yang mengetuk pintu setiap kamar untuk memberitahukan.
"Hotelku telah disewa seluruhnya oleh pembesar negeri, menyesal sekali aku mesti minta tuan meninggalkan hotelku ini untuk mencari lain rumah penginapan. Tentang uang sewa, itu akan aku kembalikan. Inilah terpaksa, harap tuan sudi memaafkannya....."
Seperti sudah menjadi kebiasaan, satu kali sebuah hotel diborong oleh pembesar negeri, penumpang-penumpang itu puas atau tidak mereka harus pindah.
Demikianlah tindakan terpaksa dari pemilik hotel.
Kamar In Loei diketok paling belakang, ia sudah dandan, sudah siap sedia, begitu ia membuka pintu, ia katakan pada jongos yang mengetoknya.
"Kau tidak usah menjelaskan lagi, aku sudah tahu, sekarang aku pergi!"
"Maaf,"
Kata jongos itu, yang terus mengawasi tetamunya, dari atas ke bawah, dari bawah ke atas. In Loei heran atas sikap orang.
"Apakah yang kau awasi?"
Dia tanya.
"Aku lihat tuan bukan penduduk sini,"
Sahut jongos itu.
"maka itu, dalam keadaan begini mungkin sulit bagi kau mencari lain rumah penginapan."
In Loei makin heran.
"Apa?"
Dia tegaskan.
"Kenapa jadi sulit?"
Jongos itu menutup pintu.
"Apakah tuan tahu kenapa pembesar negeri hendak pakai hotel kami ini?"
Kata dia dengan perlahan sekali. In Loei menggelengkan kepala.
"Suara tadi sangat berisik, aku tidak dapat dengar nyata,"
Ia kata.
"Apa yang aku ketahui, inilah persiapan untuk melayani utusan dari Mongolia,"
Terangkan jongos itu, suaranya tetap perlahan.
"Sampai Sri Baginda menugaskan pasukan Gielim koen guna mengiringi utusan itu. Berhubung dengan itu, semua hotel di Tjengteng, tengah hari telah mendapat pemberitahuan bahwa kalau dihotelnya menumpang tetamu atau tetamu-tetamu yang dapat menimbulkan kecurigaan, dia atau mereka itu mesti dilaporkan pada polisi. Maka itu aku kuatir, dengan pindah ke lain hotel, tuan bisa menemui kesulitan yang memusingkan kepala....."
Mendengar itu, In Loei tertawa.
"Habis, cara bagaimana kau berani membiarkan aku tetap menumpang di sini?"
Katanya.
"Apakah aku tidak mendatangkan kecurigaan itu?"
Jongos itu berdiam, tiba-tiba ia ingat suatu apa.
"Bukankah tuan she In?"
Tanyanya. In Loei bercekat. Waktu mendaftarkan nama, ia memakai she dan nama palsu. Ia heran kenapa jongos itu ketahui she-nya. Maka segera ia sambar tangan orang, yang nadinya terus ia pegangi.
"Kau siapa?"
Dia tanya dengan bengis.
"Jangan kuatir, tuan,"
Sahut jongos itu, agaknya ia tidak takut.
"Kita ada orang sendiri. Jikalau tuan tidak percaya padaku, aku mempunyai suatu barang yang tuan telah tinggalkan di sini, kalau tuan melihat itu, tuan akan segera ketahui duduknya hal"
In Loei tidak takut.
Ia pikir, kalau toh mesti menggunakan kekerasan, jongos ini tidak akan lolos dari tangannya.
Karena itu ia lepaskan cekalannya, ia biarkan jongos itu pergi mengambil barang yang dia sebutkan itu.
Jongos itu ngeloyor pergi, tidak lama kemudian kembalilah ia bersama kuasa hotel, siapa memegang satu bungkusan kecil yang terbungkus oleh kain sutera, terus ia berikan kepada tetamunya.
"In Siangkong, inilah barang yang tetamuku tinggalkan untukmu,"
Ia kata.
In Loei terima bungkusan itu, dengan hati-hati ia membukanya.
Ia lantas lihat sepotong sanhoe biru hijau, yang mempunyai sembilan tangkai.
Ia menjadi tercengang.
Karena itulah sanhoe kepunyaannya sendiri yang ia berikan kepada Tjio Tjoei Hong selaku tanda mata.
"Apakah dia juga datang kemari?"
Tanyanya. Dengan "dia"
Ia maksudkan "dia"
Wanita.
"Apakah dia juga berdiam di sini?"
"Nona Tjio sampai di sini kemarin,"
Jawab kuasa hotel itu.
"Dia telah melukiskan jelas padaku tentang roman dan potongan In Siangkong, dia minta kami memperhatikannya. Sungguh kebetulan, benar-benar In Siangkong dating ke hotel kami!"
In Loei berdiam. Ia segera ingat cintanya Tjoei Hong terhadapnya, yang nona itu tidak dapat lupakan. Karena ini, ia jadi mengeluh sendirinya.
"Baiklah aku menjelaskan, tuan,"
Si kuasa hotel berkata pula.
"Hotel kami ini adalah miliknya partai Hayyang Pang, dan usaha kita adalah dengan cara diam-diam melayani keperluannya orang kangouw yang menjadi kaum kita. Hongthianloei Tjio Lootjianpwee itu adalah kenalan baik dari kami, dan Nona Tjio datang kesusu kemarin malam, terus dia titipkan barangnya ini. Nona itu juga memesan supaya kau besok pergi ke Tjengliong kiap, untuk menantikan dia. Si nona pesan, bila siangkong sampai di sana nanti ada orang yang menyambut padamu untuk diantarkan."
In Loei manggut.
"Habis, sekarang aku harus bermalam di mana?"
Dia tanya.
"Oleh karena siangkong ada orang kita sendiri,"
Sahut si kuasa hotel.
"aku minta siangkong suka serahkan kamar itu, untuk kami menggantinya dengan kamar kerjaku sendiri. Aku harap siangkong suka memaafkan sikap kami ini."
Tetapi In Loei menunjukkan kegirangannya.
"Bagus, bagus!"
Katanya.
"Sekalian aku hendak tengok macamnya utusan dari Mongolia itu, bagaimana keangkerannya hingga ia mesti dilayani secara begini!"
Maka malam itu, habis bersantap, In Loei berpura-pura tidur.
Dengan begitu, ia jadi dapat beristirahat.
Segera juga terdengar tindakannya kaki-kaki kuda dan suara bengernya, pun suara manusia terdengar riuh menjadi satu.
Dan hamba-hamba hotel lantas berlari-lari keluar untuk mengadakan penyambutan.
In Loei tidak berani munculkan diri, maka itu ia cuma mengintai dari selasela pintu.
Segera juga tampak empat perwira mengantarkan delapan orang Mongolia memasuki hotel, yang berjalan di tengah, diiring dikedua sampingnya.
Dengan segera In Loei kenali orang yang jalan di tengah-tengah, yang istimewa menarik perhatiannya.
Dia adalah si pangeran asing yang pernah bertempur dengannya ketika terjadi penyerbuan kepada Tjioe Kian.
Hotel itu adalah yang terbesar di kota Tjengteng, banyak kamarnya, ke empat perwira Gielim koen memeriksai semua kamar, habis itu mereka Tanya kuasa hotel.
"Apakah di sini tak ada orang lainnya lagi?"
"Paduka tuan telah sudi pakai hotel kita, mana kita berani menerima lain penumpang,"
Kuasa itu menjawab dengan hormat. Tadinya masih hendak dilakukan pemeriksaan ke dalam, tempat keluarga kuasa hotel dan orang-orangnya, tetapi si pangeran asing mencegah.
"Tak usah tongnia demikian teliti,"
Katanya sambil tertawa.
"Walaupun Tionggoan besar, mungkin belum ada orang yang berani menjadi lawan kami! Atau andaikata ada juga yang berani, dia tentunya ingin mencari mampusnya sendiri, untuk itu tak usah tongnia beramai turun tangan, cukup asal kamu bertanggung jawab atas penguburan mereka itu!....."
"Benar, benar!"
Memuji ke empat perwira Gielim koen itu.
"Memang orang-orang gagah dari negeri Tuan, semua tak ada tandingannya di kolong langit ini. Adalah kami yang terlalu berhati-hati....."
Mendongkol In Loei mendengar perkataan orang itu.
"Sebentar akan aku berikan kamu pengertian apa yang dinamakan liehay!"
Pikirnya.
Ia anggap orang menghina diri sendiri, sedang di sini ada soal kebangsaan.
Sebentar kemudian, selesai sudah utusan itu mengambil kamar, lalu dua orang Mongolia serta dua perwira Gielim koen ditugaskan bergantian berjaga malam.
In Loei tunggu saatnya, untuk salin yaheng ie, pakaian untuk keluar malam, begitu lekas ia dengar suara kentongan tiga kali, dengan hati-hati ia keluar dari kamarnya, untuk mendekam dulu di ujung payon.
Tapi ia siap sedia dengan senjata rahasianya, Bweehoa Ouwtiap piauw -"Kupu-kupu yang bermain di antara bunga-bunga bwee."
Ia tunggu waktu, bila kedua cinteng Mongolia itu membalik belakang terhadapnya, hendak ia serang mereka itu.
Tiba-tiba di atas wuwungan berkelebat satu bayangan putih.
In Loei lihat itu, ia terkejut.
Sekejap saja ia lihat berkelebatnya satu tubuh manusia, orang itu memakai topeng, bajunya putih dan panjang, maka di dalam gelap tampak tegas warna putih dari pakaiannya itu.
Segera juga hati In Loei berdenyut.
Sekelebatan ia ingat kejadian pada malam itu, waktu Thio Tan Hong nyelundup masuk ke Tjiokee tjhoeng.
Karena ini, ia lantas goyangkan tangannya, untuk memberi tanda.
Orang bertopeng itu membalikkan tubuhnya, ia rupanya lihat tanda yang diberikan, malah ia membalas menggerakkan kedua tangannya, menunjuk ke arah luar, maksudnya menyuruh si nona lekas berlalu.
Belum sempat In Loei berpikir, untuk mengambil keputusan, ia tampak orang itu sudah lompat turun, menyusul mana ia dengar dua jeritan dari kesakitan.
Sebab dengan kesehatannya, orang bertopeng itu sudah menyerang dan membinasakan kedua pahlawan Mongolia itu.
"Itulah serangan Kimkong tjioe yang liehay!"
Memuji In Loei, kagum.
"Belum pernah aku tampak Tan Hong menggunakan semacam pukulan. Apakah dia adanya atau lain orang?"
Tengah si nona berpikir, dari dalam telah lompat keluar kedua cinteng Gielim koen, tetapi kembali dengan kesehatannya, bukan ia menyingkir, si orang bertopeng justeru menerjang, ketika kedua tangannya bergerak, tidak ampun lagi ia menotok urat lemah dipinggangnya.
Itulah perwira Gielim koen yang di sebelah kiri, tetapi yang di sebelah kanan, kepandaiannya tidak selemah kawannya, dengan gerakan "Tjioehoei piepee,"
Atau "Tangan mementil piepee,"
Dapat ia egoskan diri dari bahaya. Si orang bertopeng segera berseru.
"Kenapa anak cucunya Oey Tee mesti jual jiwa untuk bangsa Tartar?"
Suara itu perlahan, In Loei tidak dapat mendengar dengan nyata.
Ia hanya heran kenapa dari pukulan kematian, orang itu mengubahnya dengan totokan jalan darah, hingga orang Gielim koen itu tidak dibinasakan.
Tidak lama mereka itu bertempur, lantas perwira Gielim koen itu mundur, atas mana si orang bertopeng lompat ke dalam, ke arah kamar dari si pangeran asing.
Belum sampai orang itu di muka pintu, dengan tiba-tiba daun pintu terpentang lebar, disusul dengan suara tertawa yang nyaring, dan munculnya satu bayangan, gerakan tubuh bayangan itu mendatangkan siuran angin.
Mau atau tidak, si orang bertopeng mundur tiga tindak.
In Loei tidak pergi ketika diberi tanda oleh si orang bertopeng, ia diam di tempatnya mendekam, dari situ ia dapat lihat siapa adanya orang yang keluar dari dalam kamar itu, ialah Tantai Mie Ming.
Jago Mongolia itu telah memasuki Tionggoan, entah dengan cara bagaimana, sekarang ia menemani si pangeran asing yang menjadi utusan itu.
Segera In Loei lihat, setetah mundur, si orang bertopeng maju pula, dia menyerang.
Tantai Mie Ming gerakkan tangannya berikut tubuhnya, atas mana si orang bertopeng rubuh terjungkal, jumpalitan, tapi sekejap saja, ia sudah berdiri pula.
Kaget sekali In Loei, hingga ia berteriak.
"Lekas menyingkir!"
Sedang tiga batang senjata rahasianya dengan saling susul ditimpukkan kepada Tantai Mie Ming.
Ia tujukan ke atas, ke tengah dan ke bawah, untuk membuatnya orang repot.
Tantai Mie Ming kibaskan kedua tangannya, belum lagi senjata rahasia tiba pada tubuhnya, tiga-tiganya sudah jatuh kelantai!
Selagi jago asing itu menangkis piauw, si orang bertopeng sudah maju pula dengan serangan kedua tangannya.
Masih sempat Tantai Mie Ming menangkis, juga dengan kedua tangannya, maka itu ke empat tangan jadi beradu dengan keras hingga terbit suara nyaring.
Sebagai akibatnya, si orang bertopeng mundur dengan tubuh limbung, tapi tidak sampai rubuh.
"Bagus!"
Sera Tantai Mie Ming.
"Siapa sanggup lawan tanganku, dia terhitung satu hoohan juga!"
Setelah kegagalannya ini, si orang bertopeng lari keluar, berniat lompat naik ke atas genteng.
Perwira Gielim koen yang tadi menyaksikan jalannya pertempuran, ketika ia lihat orang hendak lari, dengan mendadak ia membokong dengan djoanpiannya, cambuk yang lemas.
In Loei saksikan perbuatan orang itu, ia menjadi gusar, serta merta tangannya terayun, sebatang piauw-nya terbang menyambar.
Perwira itu tidak sepandai Tantai Mie Ming, lengannya terkena piauw, tak ampun lagi, ia rubuh dengan tak sadarkan diri, cambuknya turut jatuh.
Pada saat itu si orang bertopeng pun sudah naik ke atas tembok dari mana ia lompat terus ke atas genteng.
"Terima kasih!"
Ia mengucap dengan perlahan kepada nona kita, ia tidak berhenti lari atau menghampiri, ia berlalu terus dengan cepat sekali.
Karena In Loei tercengang menyaksikan kelakuan orang itu, ia hanya melihat bahagian belakangnya saja.
Ia jadi berpikir.
Mendengar suaranya dan melihat bebokongnya, seolah-olah ia pernah kenal orang itu, orang itu tak mirip dengan Thio Tan Hong.....
Sedang ia diam berpikir, beberapa pahlawan Mongolia serta anggautaanggauta Gielim koen tampak mendatangi, malah Tantai Mie Ming menjurus ke arah tempatnya sembunyi, hingga ia menjadi terkejut.
Lebih-lebih ketika Mie Ming, sambil memandang ke arahnya, perdengarkan tertawanya.
"Mana si orang jahat?"
Pahlawan-pahlawan itu saling menanya. Sekonyong-konyong Tantai Mie Ming putar tubuhnya dan ia melepaskan panah ke lain arah daripada In Loei, habis mana ia kata.
"Orang-orang jahat banyak jumlahnya, di antara kamu, dua orang melindungi ongya, yang lainnya semua turut aku!"
Inilah di luar sangkaan In Loei maka ia menjadi heran atas sikap Tantai Mie Ming.
Bukankah Mie Ming telah dapat mencari ia?
Kenapa dia justeru mengajak rombongannya pergi ke lain jurusan?
Sungguh ia tidak mengerti.
Setelah orang-orang pergi, In Loei turun dari tempatnya sembunyi, dengan matanya yang awas ia segera tampak jongos hotel, yang menyembunyikan diri dipojok yang gelap, melambaikan tangannya.
Ia lantas menghampiri.
"Mari turut aku!"
Kata jongos itu.
"Selagi keadaan kalut, kita mesti menyingkir."
In Loei ikut dengan tidak banyak omong.
Ia percaya jongos itu.
Untung bagi mereka, mereka tidak menemui siapa juga.
Ketika itu pintu kota masih belum ditutup, si jongos mengajak tetamunya sampai di suatu tanjakan di luar kota.
"Sebentar jam lima, ada orang yang akan menjemput siangkong,"
Kata jongos itu lega. In Loei keluarkan napas.
"Sungguh berbahaya!"
Ia kata. Dalam cahaya rembulan dan bintang-bintang yang samar-samar, si nona tampak wajah si jongos berseri-seri. Dia pun berkata.
"Nona Tjio memesan supaya siangkong ingat untuk membawa sanhoe. Apakah siangkong telah sediakan itu?"
In Loei menjadi masgul, ruwet pikirannya. Baharu tenang satu gelombang, sudah datang gelombang yang lain.
"Aku tahu sudah,"
Katanya, dengan terpaksa. Menampak wajah si "pemuda"
Berubah, jongos itu tidak berani tertawa lagi.
Berselang kira-kira setengah jam, dua ekor kuda tampak mendatangi, yang satu ada penunggangnya, yang lain kosong.
Setelah penunggang kuda itu dating dekat, ia kenali orang itu adalah Tjek Po Tjiang.
Hweesin tan Tjek Po Tjiang itu sangat membenci Thio Tan Hong, terhadap In Loei juga ia tidak berkesan terlalu baik, akan tetapi bertemu kali ini, ia girang juga, maka sambil memberi hormat, ia kata.
"Kau juga dapat lolos? Bagaimana dengan si bangsat berkuda putih itu? Bukankah itu hari dialah yang dating membawa pasukan negeri?"
Orang she Tjek ini tetap menyangka Tan Hong mencelakai mereka. In Loei menyahut dengan dingin sekali.
"Dia justeru mengorbankan segala apa untuk menolongi Pit loo enghiong. Apakah Pit loo enghiong tidak menceritakannya padamu?"
"Adakah itu benar?"
Ia menegaskan.
"Aku belum bertemu dengan Pit loo enghiong. Cuma Nona Tjio yang menyuruh aku menyambut kau, supaya dengan menunggang kuda kita mencari dia."
Tanpa menjawab kata-kata orang, In Loei menanya.
"Di mana adanya Pit iooenghiong sekarang?"
Demikian pertanyaannya.
"Menurut nona Tjio, setelah Pit iooenghiong lolos dari bahaya, dia bernaung di tempatnya Na Thian Sek di Imma tjoan. Tempat itu terpisah dari sini kirakira sepuluh lie. Ah, cahaya terang sudah mendatangi, kita mesti lekas berangkat!"
Po Tjiang lantas serahkan kuda yang kosong, ia silakan In Loei menaikinya, sesudah mana ia jalan di sebelah depan sebagai pengantar.
Mereka kaburkan kuda mereka dan pada waktu fajar sampailah mereka di sebuah lembah.
"Inilah selat Tjengliong kiap,"
Tjek Po Tjiang memberitahukan. Terus ia bersuit tiga kali beruntun. Dengan lantas suitan itu mendapat sambutan.
"Itulah nona Tjio sedang mendatangi,"
Kata Po Tjiang.
"Pergi kau masuk kelembah untuk papaki dia. Aku sendiri masih hendak pergi kepada Pit Iooenghiong,"
In Loei menurut, ia turun dari kudanya, ia lantas bertindak ke dalam lembah.
Belum jauh ia jalan atau dari satu tikungan ia tampak munculnya satu orang, ialah Tjio Tjoei Hong.
Nona itu mendatangi sambil berlari-lari, air matanya bercucuran, begitu datang dekat In Loei, ia lompat menubruk, ia merangkul dengan keras.
"Ah, akhirnya kita bertemu pula!....."
Serunya. In Loei pegangi orang, untuk diajak duduk.
"Kau telah janjikan aku untuk bertemu dengan kau,"
Katanya tertawa.
"tentunya itu bukan untuk bicara tentang cinta....."
Tjoei Hong cemberut, matanya melotot, tapi ia seka air matanya.
"Thian telah melindungi hingga kita telah bertemu pula,"
Katanya dengan perasaan bersukur.
"akan tetapi engko Tjioe.....engko Tjioe....."
In Loei terkejut.
"Engko Tjioe kenapa?"
Dia tanya.
"Aku berkesan keliru terhadap kakak angkatmu itu, dia sebenarnya orang baik hati....."
Tjoei Hong jawab.
"Katakan lekas, engko Tjioe kenapa?"
Tegaskan In Loei tanpa pedulikan pengutaraan orang.
"Ketika itu hari kau rubuh dari kuda hingga kau kena terkurung,"
Sahut Tjoei Hong dengan ceritanya.
"kami telah kembali dengan niat menolongi kau. Tapi kami telah dipotong musuh. Belakangan muncul Thio Hong Hoe. Dia gagal mengejar Pit iooenghiong, dia rintangi aku dan Tjioe Toako. Kami berdua bukan tandingan dari Hong Hoe, baharu belasan jurus, aku telah kena tersampok belakang goloknya hingga aku rubuh dari kudaku, pada saat itu hampir aku kena dibekuk musuh, Tjioe Toako telah berlaku mati-matian menolongi aku. Ia lompat turun dari kudanya, dengan menerjang bahaya terinjak-injak kaki kuda, ia sambar paha Thio Hong Hoe, ia gigit. Karena ini, Thio Hong Hoe mengemplang dengan goloknya, hingga ia pingsan, habis itu, dia naik ke kudanya untuk lari pergi, mungkin untuk mengobati lukanya, hingga aku tidak dikejarnya terlebih jauh."
Di antara In Loei dan Tjioe San Bin ada perasaan yang tak menyenangkan mereka, akan tetapi meskipun demikian, mereka menyayangi satu pada lain bagaikan saudara sendiri, maka itu, mendengar keadaan San Bin itu, In Loei kaget dan kuatir.
"Kalau begitu, perlu kita lekas pergi menolongi,"
Katanya.
"Aku minta kau datang kemari justeru untuk mencari daya buat menolongi dia,"
Kata Tjoei Hong.
"Dengar dulu perkataanku. Masih ada satu hal yang aneh sekali. Setelah hari itu aku lolos dari bahaya, lalu kemarin dulu aku bermalam di kecamatan Keekoan. Di situ, pada waktu tengah malam, aku dibikin sadar karena kaget oleh seorang yang bertopeng, yang memancing aku pergi keluar kota. Turut penglihatanku, ilmu silat dia itu ada terlebih liehay daripada aku, tetapi dia tidak mencelakai aku. Setibanya di luar kota, dia lantas tinggalkan aku pergi. Perbuatannya itu membuat aku jadi heran dan berpikir. Baharu besok siang, aku mengerti perbuatannya si orang bertopeng itu. Kiranya malam itu, polisi di kota Keekoan telah dikerahkan tenaganya untuk melakukan penggeledahan umum. Hotel hotel diperiksa teliti, mereka yang berlalu lintas juga ditanyai melit-melit. Menurut kabar, tindakan itu diambil untuk persiapan menyambut seorang besar, untuk menjaga keamanan. Terang sudah, si orang bertopeng itu memancing aku keluar kota karena ia telah mengetahuinya terlebih dahulu tentang akan dilakukannya penggeledahan itu. Dan tentu sekali, dia bermaksud baik."
In Loei menjadi heran sekali.
"Orang bertopeng..... orang bertopeng?....."
Katanya tak tegas.
"Bagaimana tentang potongan tubuhnya, dia mirip atau tidak dengan orang yang telah nyelusup masuk ke rumahmu dahulu -yaitu si mahasiswa berkuda putih?"
"Di waktu malam gelap seperti itu, aku tidak dapat melihat dengan nyata,"
Sahut Tjoei Hong.
"Lain dari itu, aku juga tidak memikir tentang mahasiswa berkuda putih itu. Karenanya, tak dapat aku berkata suatu apa."
Dengan sendirinya, wajah In Loei menjadi ber-semu dadu.
"Aku tahu siapa si orang besar yang hendak disambut di Keekoan itu,"
Ia beritahu.
"Mereka adalah utusan bangsa Mongolia serta sekalian pengiringnya. Oleh karena Keekoan ada sebuah kota besar, rupanya dipandang perlu untuk melakukan penggeledahan umum itu."
Tjoei Hong heran.
"Bagaimana kau ketahui itu?"
Tanyanya.
"Tadi malam aku juga telah melihat orang bertopeng itu,"
Jawab In Loei.
"Tentang ini, belakangan saja kita perbincangkan pula. Baiklah kau bicara terlebih dahulu, tentang kau."
Tjoei Hong menurut.
"Kemarin malam aku telah bertemu dengan satu sahabat dari ayahku,"
Ia berceritera.
"Dari sahabat itu, aku dapat tahu Pit Iooenghiong sudah lolos dari ancaman marah bahaya. Lantas aku cari Pit iooenghiong itu. Tidak tahunya, Pit iooenghiong juga telah bertemu dengan si orang bertopeng dan si orang bertopeng itu telah menitipkan sepucuk surat padanya. Pit Iooenghiong berkata, si orang bertopeng itu mirip seperti Thio Tan Hong yang kedua. Kemudian Pit iooenghiong tiba di rumah keluarga Na, di sana pun si orang bertopeng telah meninggalkan suratnya. Oleh karena ia baharu saja terlepas dari bahaya, Pit iooenghiong tidak berniat untuk mencari tahu tentang orang bertopeng itu."
"Bagaimana bunyi surat si orang bertopeng itu?"
Tanya In Loei.
"Surat itu mengatakan bahwa si orang bertopeng ketahui rombongan utusan bangsa Watzu itu pergi ke Pakkhia, yang menjadi pemimpin adalah satu pangeran. Dia menduga bangsa Watzu hendak mengajukan suatu permintaan. Benar perhubungan antara Kerajaan Beng dan negara Watzu telah jadi buruk, tetapi kaisar Beng berniat memperbaiki itu, maka juga terhadap utusan Watzu itu, ia menyambutnya dengan gembira, dalam hal tindakan memberi perlindungan. Ia sangat berhati-hati. Surat itu juga mengatakan, si orang bertopeng ketahui Tjioe Toako berada di tangan tentera negeri. Untuk menolongi Tjioe Toako, dia usulkan supaya kita berkumpul, supaya kita cegat rombongan utusan bangsa Watzu itu, untuk menawan si pangeran juga. Dengan tindakan kita ini, jikalau kita berhasil, kesatu kita dapat menolongi Tjioe Toako, dan kedua, pemerintah juga tak usah dengan tundukkan kepala memohon perdamaian dari bangsa asing itu. Lebih jauh surat itu menunjuk, selat Tjengliong Kiap bagus letaknya, berbahaya, maka ia anggap, di sini dapat kita umpetkan diri, untuk mencegat rombongan utusan itu. Si orang bertopeng berjanji, pada saat pencegatan mungkin dia bisa datang untuk memberikan bantuannya."
"Bagaimana pikiran Pit Iooenghiong?"
In Loei tanya pula.
"Ketika Pit iooenghiong ketahui Tjioe Toako tertawan musuh, ia kaget dan kuatir bukan main. Ia tahu, tidak ada waktu lagi untuk mengirim panah loklim tjian, sebab air yang jauh tidak dapat dipakai menolong kebakaran yang dekat. Maka itu ia setuju akan daya yang disarankan si orang bertopeng, tidak peduli tindakan ini sangat berbahaya. Baiklah kita mencobanya. Karena itu Pit iooenghiong minta kita bergantian memasang mata di sini, untuk menunggu ia datang bersama kawan kawannya."
In Loei berpikir, hingga tak dapat ia bicara. Ia tahu Tantai Mie Ming gagah luar biasa, sungguh sulit merampas orang di bawah perlindungan dia itu. Selagi ia masih berpikir, si nona tegur padanya.
"Apakah jongos hotel telah menyerahkan sanhoe padamu?"
Demikian tanyanya.
"Ya, sudah,"
Jawab In Loei.
"Justeru sekarang masih ada tempo, ingin aku tanya kau suatu hal,"
Kata pula Nona Tjio.
"Apakah itu?"
In Loei balik menanya. Tjoei Hong mengawasi.
"Sepanjang jalan ini, bagaimana sikapmu terhadapku, kau tahu sendiri,"
Ia kata.
"Meskipun kita ada suami isteri, yang benar adalah tak pernah kau perlakukan aku sebagai isterimu, bukan?"
"Ah, mengapa di waktu begini kau menanyakan urusan itu?"
Tanya In Loei, romannya tidak wajar, agaknya dia bingung.
"Sudah sekian hari hatiku pepat,"
Tjoei Hong akui.
"Aku adalah seorang dengan perangai terburu napsu, maka urusan ini tidak bisa aku tidak menanyakannya dengan jelas."
In Loei kewalahan.
Ketika itu matahari sudah mulai muncul, maka dapat dipercaya, perutusan Watzu akan segera tiba di selat.
Karena ini, In Loei jadi bertambah tidak bernapsu akan bicara tentang perhubungan mereka sebagai suami isteri.
Tibatiba ia tertawa, kedua biji matanya pun berputar.
"Entjie Hong!"
Katanya, riang gembira.
"aku mengerti maksudmu. Kau suruh si jongos menyampaikan sanhoe padaku ialah agar....."
Ia berhenti, agaknya ia tengah berpikir. Tjoei Hong memotong.
"Ialah untuk menanyakan pikiranmu. Umpama kata kau tidak suka padaku, sanhoe itu kau simpan, untuk diserahkan pada lain orang. Seandainya kau....."
In Loei pun memotong.
"Entjie Hong, sanhoe ini adalah kepunyaanku untuk kau, selaku pesalin, cara bagaimana itu dapat diserahkan kepada lain orang? Sekarang, dengan tanganku sendiri, aku serahkan pula padamu."
Tjoei Hong terhibur, ia terima batu permata itu. Tiba-tiba saja, In Loei berkata secara sembarangan.
"Ah, Tjioe Toako benar-benar seorang yang baik..... Bukankah aku tidak mendustai kau?"
Tjoei Hong tercengang, lekas ia tunduk, hingga ia tampak pada sanhoe itu, dilembaran bunga yang ketiga, ukiran huruf "Tjioe".
Lantas saja wajahnya berubah.
Tadinya nona Tjio ini hendak bicara, segera ia tercegah oleh berisiknya suara serombongan kuda dan orang yang mendatangi di luar selat, yang terus memasuki selat itu.
Dengan lantas In Loei dan Tjoei Hong sembunyikan diri di antara batu besar yang berdiri tegak bagaikan rebung, dari situ mereka tampak serombongan kecil barisan serdadu sebagai pembuka jalan.
Di sana terlihat si pangeran Mongolia berjalan dengan merendengkan kudanya bersama Tantai Mie Ming.
"Celaka, mereka telah tiba!"
Berbisik Tjoei Hong pada In Loei, agaknya ia terkejut.
"Pit To Hoan sendiri masih belum datang....."
Si pangeran mainkan cambuknya, di atas kudanya itu, ia tampak bangga atas dirinya sendiri.
Selagi rombongan itu berjalan terus, tiba-tiba terdengar orang menyanyikan satu lagu rakyat Mongolia -si penyanyi tengah mendatangi dari arah depan, memapaki rombongan itu.
"Aku adalah garuda dari tanah datar berumput, Sayapku terbuka membiak angin dan mega..... Di waktu pagi, aku terbang kesungai Onan, Di waktu malam, aku menginap di kota Karim. Tiga bulan telah aku terbang, Tak dapat aku bebas dari tangan Khan Terbesar!"
Itulah nyanyian rakyat Mongolia yang memuji Khan mereka yang terbesar yaitu Genghis Khan.
Mendengar itu, si pangeran jadi gembira bukan main.
Tidak ia sangka, di tempat asing ini, dapat ia menemui bangsanya sendiri dan mendengar nyanyian yang paling dibanggakan.
Maka segera ia tahan kudanya, ia lompat turun.
"Untuk membangun pula kebesaran Khan Terbesar, itu harus dilihat dari kita!"
Kata ia pada Tantai Mie Ming. Kemudian ia berikan titahnya.
"Coba panggil orang Mongolia itu."
Masih orang tadi bernyanyi pula.
"Tangan Khan Terbesar menungkrap bumi, Di masa hidupnya dia sangat kenamaan, Tetapi dia toh mati dan kembali ke tanah, Luas tanahnya tak lebih daripada satu kuburan....."
Lagu ini dinyanyikan dalam bahasa Mongolia, akan tetapi itu bukannya nyanyian rakyat Mongolia seperti yang pertama itu.
Inilah lagu karya si penyanyi sendiri.
Mendengar itu, pucat muka si pangeran.
Sementara itu si penyanyi telah datang dekat.
"Apakah kau datang dari Mongolia?"
Tanya pangeran ini.
"Lagumu yang belakangan itu belum pernah aku mendengarnya. Dari mana kau dapat nyanyian itu?"
Penyanyi itu memakai karpus Mongolia, yang pinggirannya terbuat dari kulit kambing hingga menutupi mukanya dan yang tampak hanya sepasang matanya yang tajam.
Pakaiannya pun pakaian rakyat Mongolia, hanya dipakainya di tanah daerah Tionggoan hingga nampaknya asing dan, menyolok mata sekali.
Tapi ditanya demikian, dia menjura.
"Itulah lagu yang istimewa kubuat untuk kau mendengarnya,"
Demikian jawabannya.
Lalu habis berkata begitu, sebelah tangannya bergerak bagaikan kilat, menyambar lengan bawah dari si pangeran, bahagian nadinya!
Tantai Mie Ming telah siap sedia untuk segala kejadian, dia sangat teliti dan cerdik, dia mempunyai mata yang tajam sekali, begitu ia tampak orang bergerak, begitu dia bergerak juga dengan sikutnya.
Si penyanyi itu rubuh sambil menarik si pangeran, demikian keras cekalannya, sampai setelah jatuh bersama, masih ia tidak hendak melepaskannya.
Tantai Mie Ming bergerak pula, pesat bagaikan angin kakinya menendang, tangan kanannya menyambar.
Si penyanyi menggulingkan tubuhnya, untuk mengegoskan diri dari dua serangan berbareng, akan tetapi dia kalah sebat, tangan Mie Ming telah menyambar lehernya.
Si pangeran sendiri juga liehay, dengan gunakan ketika yang baik itu, ia menyerang dengan tangan kirinya yang bebas dari cekalan, sedang dengkulnya dipakai mendengkul perut orang.
Diserang secara demikian, terpaksa si penyanyi lepaskan cekalannya, dia lompat, justeru untuk menyambut kepalan Mie Ming, yang telah menyerang pula padanya.
Ia berhasil meloloskan lehernya dari jambakan.
Waktu lompat dan menginjak tanah, tubuhnya limbung, akan tetapi atas desakan, ia melawan terus hingga dua tiga gebrak.
Nyata ia pandai ilmu silat Mongolia, ilmu Taylek Kimkong Tjioe!
In Loei kaget dan heran tidak terkira.
"Dialah si orang bertopeng!"
Serunya.
Ia tidak lihat tegas roman orang tapi ia seperti mengenalnya, cuma tak ingat ia, siapa orang itu dan di mana mereka pernah bertemu.
Tantai Mie Ming bergerak lincah bagaikan kera, kepalannya menyambarnyambar bagaikan tubrukan harimau, dengan cara itu dia membuat si penyanyi tidak dikenal itu mesti senantiasa mundur dengan terpaksa.
Cuma kepalannya perdengarkan suara angin tak kalah hebatnya, tak kalah berbahayanya, walaupun ia main mundur ilmu silatnya tidak menjadi kacau.
In Loei menjadi gelisah memikirkan orang yang tak dikenal ini.
"Dia tak mirip dengan Thio Tan Hong....."
Katanya dalam hatinya.
"Dia dapat melayani Tantai Mie Ming secara begini gigih, kepandaiannya tidak ada di bawahan Tan Hong....."
"Juga aneh,"
Si nona berpikir terlebih jauh.
"Bukankah kemarin malam Tantai Mie Ming seperti memberi ketika untuk dia menyingkirkan diri tapi kenapa sekarang Mie Ming membela mati-matian pangeran Mongolia itu? Sungguh aneh....."
Setelah dia menang di atas angin, Tantai Mie Ming lanjutkan terus desakannya.
Pahlawan-pahlawan Mongolia ketahui baik lihay-nya Mie Ming dan sifatnya juga, yaitu di waktu bertempur, tak sudi Mie Ming dihantui, maka itu, mereka tonton pertempuran itu.
Tidak demikian dengan dua anggauta Gielim koen, mereka ini hendak mencari muka, dengan lantas mereka maju dari kiri dan kanan, untuk menyerang secara curang.
Dengan sekonyong-konyong Tantai Mie Ming berhenti menyerang.
"Minggir!"
Dia berseru.
Akan tetapi selagi jago Mongolia ini membentak, si penyanyi dengan tidak menyia-nyiakan sedetik juga ketikanya yang baik itu, sudah bergerak pula dengan ilmu silat Thaylek Kimkong Tjioe.
Maka sekejap saja, kedua serdadu Gielimkoen itu kena disambar, untuk terus dilemparkan ke lembah!
Habis itu, tak menunda pula, penyanyi ini kembali maju, untuk tempur Tantai Mie Ming.
Ia tidak menjadi jeri walaupun tadi ia kena didesak hebat lawannya yang tangguh itu.
Setelah beberapa jurus, Tantai Mie Ming beseru dengan nyaring sekali, seruan itu dibarengi dengan gerakan tangannya.
Dengan telak si penyanyi kena dihajar pundaknya, atas itu, dia rubuh terguling, mental sampai sejauh satu tombak, ketika ia lompat bangun pula, tubuhnya limbung dan terhuyung.
Tantai Mie Ming tidak maju pula untuk meneruskan serangannya, dia Cuma tertawa riang.
Adalah beberapa pahlawan Mongolia lainnya, yang maju dengan berbareng untuk mencekuk si penyanyi itu.
Adalah di saat itu, mendadak terdengar suara sangat riuh, dari muncul dan merangsaknya, serombongan orang, hingga pasukan depan si pangeran menjadi kacau dengan lantas.
Itulah rombongannya Pit To Hoan, yang telah dating dengan tepat dan membuat tentera negeri tak dapat merintangi mereka.
Tantai Mie Ming lompat maju, segera ia cegat Pit To Hoan, hingga mereka jadi bertempur satu sama satu.
Dengan tipu silat "Mega melintang, memotong puncak gunung,"
Jago Mongolia ini menurunkan tangan jahat.
Pit To Hoan yang bersenjatakan tongkat Hang-liong koen, membebaskan diri, habis mana, ia pun membalas, dengan menotok jalan darah tjiangboen hiat, mengarah kedua mata lawannya.
Gelaran Tjinsamkay tersohor selama beberapa puluh tahun karena liehay ilmu silat tongkatnya.
"Bagus!"
Berseru Tantai Mie Ming.
Dengan gerakan tubuhnya, ia membuatnya tongkat To Hoan kehilangan sasarannya.
Malah sebaliknya, hampir Tjinsamkay kena dijambret, syukur dia keburu tancap kaki dengan ilmunya "Tjinkin twie" -"Berat seribu kati,"
Berbareng dengan mana, tongkatnya menyambar pula!
Mau atau tidak, Mie Ming terkejut juga.
Selagi keadaan kacau itu, si penyanyi dapat melabrak pengepungnya, hingga beberapa orang kena dirubuhkan, hingga ia mendapat ketika untuk lolos dari kepungan.
In Loei kerutkan alis, ia sangat tidak mengerti.
Penyanyi itu demikian bernyali besar, seorang diri dia serang si pangeran, tapi sekarang, justeru datang bala bantuan, mengapa dia singkirkan diri.
Dan kaburnya pun sangat cepat seperti angina menuju ke arah ia!
In Loei tak dapat menahan lagi hatinya, dia lompat keluar dari tempatnya sembunyi.
"Kau siapa?"
Ia menegur selagi ia papaki penyanyi itu. Orang itu tidak membuka mulutnya, ia justeru menyahuti dengan satu kepalannya. Dalam herannya, In Loei berkelit, sesudah mana, ia hunus pedangnya.
"Tidak membantu kawan, itulah perbuatan tidak bejik!"
Kata In Loei.
"Mari kita maju untuk membasmi musuh!"
Melihat In Loei menghunus Tjengbeng kiam yang tajam luar biasa, si penyanyi juga cabut goloknya, dengan sepasang mata mencorong, ia terus saja membacok.
Kembali In Loei menjadi heran, akan tetapi ia menangkis.
Habis menyerang, si penyanyi memutar tubuhnya, untuk lari.
Tjoei Hong juga lompat keluar.
"Sungguh seorang aneh!"
Katanya. In Loei memandang kekalangan pertempuran.
"Baik kita jangan memperhatikan dia,"
Kata nona In.
"Mari kita bantui Pit Iooenghiong1."
Waktu itu Tantai Mie Ming dan Pit To Hoan bertarung seru selama beberapa puluh jurus, bedanya adalah Mie Ming bertangan kosong, To Hoan bersenjatakan toya.
"Bagus!"
Seru Mie Ming selagi mereka bertempur terus.
"Sejak aku menginjak tanah daerah Tionggoan, kau adalah hohan yang pertama-tama aku menemuinya. Sekarang hendak aku menggunakan senjata!"
Dan segera ia cabut sepasang gaetannya dengan apa ia tangkis toya Pit To Hoan hingga terpental, setelah itu, ia balas menyerang, terus ia mendesak.
Nampaknya To Hoan repot, hingga, melihat itu, In Loei berseru.
"Celaka!"
Lantas ia maju menerjang.
Apa mau ia telah dicegat beberapa musuh, benar ia dapat menahas golok musuh, tapi ia toh kena dilihat oleh dua pahlawan Mongolia, hingga ia mesti melayani dulu mereka itu, yang dua-duanya bersenjatakan gegaman berat yang sulit untuk ditabasnya kutung.
Na Thian Sek, Tjek Po Tjiang dan Tjio Tjoei Hong beramai juga menemui tandingannya masing-masing, mereka telah dikurung hingga tak dapat mereka rapatkan diri, untuk berkumpul menjadi satu.
Pit To Hoan telah mengeluarkan seantero kepandaiannya, masih ia tidak mampu undurkan Tantai Mie Ming, siangkauw-nya, sepasang gaetan, bergerak-gerak cepat bagaikan ular naga keluar dari laut atau burung garuda mengejar mega.....
Beberapa kali Hangliong pang hampir saja kena digaet terlepas.
"Aku tidak sangka aku akan terbinasa ditangan orang Ouw ini....."
Kata To Hoan dalam hatinya, saking berduka.
Dalam saat sangat tegang itu bagi pihak penyerbu, mendadak serdadu-serdadu pengiring pangeran berteriak-teriak, semua lari berserabutan, di antara itu terdengar suara menggelugur berulang-ulang, yang menggetarkan selat.
Ketika In Loei memandang ke atas bukit, ia tampak perbuatan luar biasa dari si penyanyi yang dandan sebagai orang Mongolia itu, siapa dengan tenaganya yang kuat, satu demi satu batu-batu yang besar dia tolak hingga menggelinding jatuh kebawah bukit hingga melanggar para tentara pengiring, yang menyebabkan mereka berlarian menyingkirkan diri.
Selat Tjengliong Kiap terletak di antara kedua bukit yang tinggi, selatnya sempit, dengan bergeluntungan batu-batu besar, maka bahaya itu sangat mengancam, siapa kena dilanggar, tak dapat di kira-kirakan bencana yang dia dapatkan, maka musuh semua buyar, lari berserabutan.
Juga pahlawan-pahlawan Mongolia jadi kaget dan ketakutan.
In Loei gunakan ketikanya, ia rubuhkan satu di antara dua lawannya, setelah yang kedua mundur, ia lari ke arah Tantai Mie Ming, siapa terus ia serang, malah dengan cara mendesak.
"Ha, kembali kau, nona cilik!"
Seru Mie Ming, yang dengan gaetan kirinya mencoba menempel Tjengbeng kiam.
"Mari kita mundur!"
Kata Pit To Hoan pada In Loei.
Sambil mengucap begitu, ia tangkis serangannya Mie Ming, lalu ia mundur dengan cepat, sedang In Loei dapat ketika untuk mundur bersama.
Tantai Mie Ming lompat untuk mengejar, tapi baharu ia lari dua tindak, di sebelah depannya, sebuah batu besar menggelinding turun, tepat menjurus padanya.
Dalam keadaan seperti itu, ia pasang kuda-kudanya, ketika batu sampai, ia menahan dengan kedua tangannya, lalu dengan mengerahkan tenaganya ia tolak batu itu, hingga batu itu terpental, menimpa batu lainnya yang menerbitkan suara gemuruh, hancurannya terbang ke segala penjuru.
Ketika ini digunakan oleh Pit To Hoan beramai akan singkirkan diri ke atas bukit.
Tantai Mie Ming masih hendak mengejar, ia dicegah si pangeran.
"Tantai Tjiangkoen, sudahlah, jangan kejar mereka!"
Kata pangeran ini, yang hatinya ciut. Ia juga kuatirkan musuhnya mengatur barisan sembunyi. Pit To Hoan beramai telah lari terus mendaki bukit.
"Hoohan, tunggu!"
Ia teriaki penolongnya.
Si orang tidak dikenal yang dandan sebagai orang Mongolia itu telah menantikan sampai To Hoan semua tiba di tengah bukit, tiba-tiba ia perdengarkan suitan panjang, habis mana, ia lari turun ke belakang bukit.
Maka ketika To Hoan sampai di atas, orang aneh itu sudah tak nampak sekalipun bayangannya.
"Sungguh aneh!"
Kata Tjinsamkay.
Karena terpaksa, ia ajak kawan-kawannya turun gunung, akan kembali ke rumah keluarga Na di mana mereka bicarakan hal si orang luar biasa itu.
Mereka menduga-duga.
Cuma dalam satu hal mereka sependapat, bahwa orang aneh itu adalah si orang bertopeng.....
"Bukan cuma dia yang aneh, juga si orang Ouw,"
Kata To Hoan kemudian.
"Ketika kita mulai lari, Tjek Laotee sudah lari lebih dahulu, apabila batu gunung itu jatuhnya ke belakang sedikit, sudah pasti Tjek Laotee terancam bahaya besar."
"Mungkin, untuk menghindarkan tentera negeri bercelaka maka dia berbuat demikian,"
Kata Tjek Po Tjiang. Mendengar semua pembicaraan itu, In Loei tertawa.
"Dia bukannya orang Ouw, dia adalah Tantai Mie Ming!"
Ia beritahu.
"Dia adalah orang Han yang menjadi besar di Mongolia."
Pit To Hoan kerutkan alis.
"Walaupun aku benci sangat turunannya Tjoe Goan Tjiang,"
Berkata jago tua ini.
"akan tetapi siapa membantu bangsa Ouw, apapula dia bernama Mie Ming, dia sungguh menyebalkan! -Aku benci padanya!"
"Mie Ming"
Itu, atau "Biat Beng,"
Artinya.
"Memusnakan ahala Ming (Beng)."
In Loei juga tuturkan halnya Tantai Mie Ming yang sengaja membiarkan dia dapat loloskan diri. Kembali orang ramai bicarakan sikapnya Mie Ming itu.
"Tentang si orang aneh, lain kali saja kita selidiki asal usulnya,"
Kata To Hoan kemudian.
"Tentang sikap Tantai Mie Ming, kita juga baik tunda dulu. Sekarang ini yang paling perlu adalah dengan cara bagaimana kita dapat menolongi San Bin."
Mereka itu bungkam, tidak ada yang mendapat pikiran baik.
"Oleh karena kita tidak peroleh daya, terpaksa kita mesti gunakan kekerasan!"
Kata In Loei akhirnya. Kita merampas kereta persakitan di tengah jalan!"
"Jumlah tentera pengiring sangat besar,"
Tjek Po Tjiang peringatan.
"juga terdapat tiga pahlawan nomor satu dari kota raja, aku kuatir bukan saja kita tidak akan berhasil, mungkin kita akan nampak kerugian....."
"Sekarang baiklah kita selidiki dahulu,"
To Hoan usulkan kemudian.
Demikianlah mereka bekerja.
Pada waktu magrib, penyelidik telah kembali dengan warta yang diperolehnya.
Thio Hong Hoe telah menugaskan Khoan Tiong mengepalai sebagian besar serdadu-serdadu Gielim koen serta anggauta Kimie wie, untuk membantu menyapu pelbagai pasanggrahan, sedang dia sendiri bersama Hoan Tiong, dengan mengajak kira-kira tujuh puluh serdadu Gielim koen, sudah berangkat mengiringi orang-orang tawanan pulang ke kota raja.
"Besok mereka akan lewat di sini,"
Demikian mata-mata itu mengakhiri laporannya.
"Bagus!"
Seru To Hoan dengan girang.
"Biarlah besok kita ambil sikap keras terhadap mereka itu!" -ooo0dw0ooo-BAB XII Malam itu In Loei merasa gelisah, tak dapat ia tidur pules. Ia sangat berduka mengingat San Bin berada dalam tangan musuh.
"Besok, sekalipun masti mengadu jiwa, aku mesti tolongi dia!"
Ia berpikir.
Segera ia bayangkan bagaimana San Bin menghendakinya supaya mereka berdua bersikap sebagai kakak beradik satu dengan lain.
Ia pun merasa tidak tenteram mengenai kesan San Bin terhadap dirinya.
"Untukku berkorban guna menolongi dia, ada urusan gampang,"
Ia berpikir lebih jauh.
"akan tetapi untuk aku terima cintanya, itulah tak dapat....."
Waktu itu ia dengar suara batuk-batuk dari Tjoei Hong, yang tidur di kamar sebelah.
Ia duga, nona Tjio juga sedang berpikir keras maka nona itu masih belum tidur pules.
Tertawalah In Loei seorang diri ketika ia ingat tingkah lakunya Tjoei Hong yang sangat menyintai ia, yang "tergila-gila"
Terhadapnya. Karena ini, terbayanglah Tjoei Hong dan San Bin di depan matanya. Maka ia tertawa dalam hatinya dan berkata.
"Baik, begini harus aku bekerja! Mereka itu mesti dipadukan satu pada lain, dengan begitu terhindarlah aku dari segala kesulitan!....."
Baharu lenyap bayangan San Bin dan Tjoei Hong, atau sekarang berpetalah bayangan dari Thio Tan Hong, si mahasiswa berkuda putih.
Ini bukan lagi satu kesulitan, ini adalah "hal yang sangat hebat".....
Bimbang hati In Loei, sampai ia tak dapat memikir suatu apa, ia rasakan otaknya seperti kosong.
Tidak mau ia memikirkannya terlebih jauh, tidak berani ia mengingat-ingat pula si anak muda.....
Di hari kedua pagi-pagi, Pit To Hoan sudah siap sedia.
Ketika In Loei muncul di thia, ruang luar, di sana telah berkumpul kawan-kawan mereka.
"Kami telah mendapat keterangan jelas,"
Berkata To Hoan.
"Thio Hong Hoe bersama Hoan Tiong telah pimpin lima puluh serdadu Gielim koen, mereka mengiring enam buah kereta persakitan, di antaranya ada sebuah yang besar istimewa, selama dalam perjalanan, Hong Hoe di atas kudanya tak pernah berpisah jauh dari kiri kanannya kereta istimewa itu, keras sekali penjagaannya Maka itu aku duga, tawanan dalam kereta itu mestinya keponakan San Bin Mengenai usaha kita ini, tak keburu kita mengirim pula berita loklim tjian Jumlah orang-orangnya saudara Na serta saudara-saudara yang berada di dekat sini ada lebih daripada empat puluh jiwa, aku anggap jumlah ini sudah cukup Thio Hong Hoe memang liehay, tetapi aku rasa, dengan aku berdua In Siangkong yang melayani padanya, mungkin kita dapat mempertahankan diri Tjengliong Kiap ada selat berbahaya, maka kita pun dapat menggunakan akalnya si orang aneh yang kemarin menggelindingkan batu-batu dari atas bukit" .
"Jika kita menyerang dengan batu besar, apa tak kuatir kita nanti mengenai kereta-kereta persakitan?"
Tanya Na Thian Sek.
"Jangan kita pakai batu yang besar-besar,"
To Hoan beritahu.
"Kita pakai batu-batu koral sebesar telur ayam, dengan itu kita melempari kalang-kabutan pada tentera negeri. Maksud kita adalah untuk membuat mereka kalut, supaya perhatiannya menjadi kacau balau. Na Tjeetjoe, nona Tjio, silakan kamu pimpin belasan saudara, untuk mendaki bukit, guna mengacau musuh itu. Barangkali tentera negeri itu akan sampai di lembah pada waktu tengah hari, maka sekarang juga kita boleh bersiap sedia. Mari kita berangkat!"
Segera rombongan itu keluar dari thia, akan naiki kudanya masing-masing dan mulai berangkat. In Loei larikan kudanya berdampingan dengan Tjinsamkay Pit To Hoan.
"Pit Lootjianpwee, kenapa kau tidak pakai kuda putih"
Tanya nona ini. Memang To Hoan tidak pakai kuda putih itu. Ia tertawa.
"Telah aku kembalikan kuda itu pada pemiliknya!"
Ia jawab sambil tertawa.
"Apa? Kapan Thio Tan Hong bertemu pula dengan iootjianpwee?"
Tanya In Loei heran.
"Tjiauwya saytjoe ma benar-benar kuda yang sangat luar biasa,"
Jawab To Hoan.
"Sifatnya cerdas sekali. Hari itu dia dititahkan majikannya untuk membawa aku kabur, dia telah meloloskan aku dari bahaya, habis itu dia berbenger tidak hentinya, tak mau dia tunduk lagi terhadap aku. Tahulah aku, dia ingat pada majikannya, maka aku lepaskan dia pergi sendirian."
"Bagaimana iootjianpwee bisa ketahui dia pasti akan dapat mencari majikannya?"
In Loei tanya pula.
"Apakah tidak sayang umpama kata dia dicegat orang jahat di tengah jalan?"
To Hoan kembali tertawa.
"Adalah biasanya kuda perang yang baik dapat mencari majikannya sendiri,"
Ia kata.
"apapula Tjiauwya saytjoe ma ada seekor kuda yang luar biasa sekali. Lagi pula, siapa yang tidak liehay luar biasa, tidak nanti dia sanggup mencegat kuda jempolan itu!"
In Loei memang ketahui kecerdikan kuda itu, akan tetapi karena ia pikirkan sangat Tan Hong, ia jadi berkuatir juga. Habis berbicara, To Hoan tertawa pula.
"In Siangkong,"
Kata dia, kalau nona Tjio tidak memberitahukannya kepadaku, sungguh aku tidak ketahui Thio Tan Hong itu adalah musuh besarmu turun temurun....."
Muka In Loei merah.
Ia tidak menjawab.
Untuk menyingkir dari To Hoan, ia bunyikan cambuknya hingga kudanya lompat kabur.
Heran To Hoan menyaksikan kelakuan orang itu.
Ia lantas menduga pada sesuatu hal.
Karena ini, ia tidak menanyakan terlebih jauh.
Tidak lama berselang, sampailah mereka di selat, lantas mereka masuk ke dalam lembah.
Seperti telah direncanakan, To Hoan lantas atur rombongan yang mesti sembunyikan diri, habis mana mereka terus menantikan sang waktu.
Tepat selagi matahari mulai condong kebarat, dari arah depan datang warta pemberitahuan dari juru pengintai.
"Sudah datang! Sudah datang!"
Semua orang segera menyiapkan senjatanya masing-masing, tegang hati mereka selagi mereka memasang mata, menanti-nanti.
Mereka tidak usah menunggu lama atau mereka lantas nampak lerotan dari enam buah kereta persakitan serta barisan serdadu pengiringnya.
Perlahan bergeraknya lerotan itu.
"Itulah kereta yang di tengah!"
To Hoan kata pada In Loei sambil menunjuk. In Loei mengawasi dengan tajam. Tiba-tiba terdengar suara tertawa nyaring dari Thio Hong Hoe, sambil berkata dengan keras.
"Untuk merampas persakitan, inilah saatnya!"
To Hoan dan In Loei jadi terperanjat.
Nyata, dengan begitu, komandan Kimie wie itu telah menduga maksud mereka dan telah bersedia-sedia untuk menyerbu tukang cegat.
Tapi anak panah telah dipasang dibusurnya, tak dapat jikalau tidak terus dipanahkan.
Maka To Hoan memberikan isyaratnya.
Segera rombongan-rombongan yang bersembunyi munculkan diri.
Thio Hong Hoe dengan sebat mengatur barisannya, untuk melindungi kereta-kereta, guna menyambut serangan.
Dengan berani To Hoan maju di muka rombongannya, untuk menyerbu.
Barisan Gielim koen adalah barisan yang terpilih, mereka sudah terdidik, maka itu rapi perlawanan mereka, tidak peduli rombongan dari Na keetjhoeng ada tangguh, mereka tidak dapat segera digempur hancur, mereka dapat membuat perlawanan yang gigih.
Kembali terdengar tertawa nyaring dari Thio Hong Hoe.
"Tjinsamkay, orang tua she Pit!"
Demikian suaranya itu, yang berupa ejekan.
"Kemarin ini aku telah membiarkan kau lolos, kenapa sekarang kau berani antarkan diri masuk ke dalam jaring?"
Pit To Hoan tahan kudanya. Ia pun bersikap dingin.
"Lihat saja siapa yang masuk ke dalam jaring!"
Sahutnya.
Lalu dengan mendadak ia perdengarkan suitan nyaring, yang berkumandang di dalam lembah sampai umpama kata burung-burung kaget dan pada terbang.....
Itulah tanda rahasia untuk rombongan tersembunyi di atas bukit, tanda untuk mereka itu mulai turun tangan.
Menyambut tanda rahasia itu, Na Poo Tjiang segera perlihatkan diri, di belakangnya ada rombongannya.
Belum lagi Poo Tjiang bergerak, atau sekonyong-konyong terdengar suara dari sambar-menyambarnya pelbagai senjata rahasia, hingga ia jadi kaget sekali.
"Celaka!"
Serunya.
Juga banyak batu-batu ditimpukkan ke arah rombongan Na keetjhoeng ini.
Nyata pihak penyerang dipimpin Hoan Tiong, Gietjian siewie yang menjadi salah satu dari tiga jago nomor satu dari kota raja.
Dia mempunyai senjata rahasia "bor terbang" -hoeitjoei.
Tjek Poo Tjiang adalah ahli senjata rahasia, walaupun demikian, tidak dapat ia tidak berlaku hati-hati untuk melayani musuh, sedang orang-orangnya menjadi repot, karena mereka kalah desak.
Pertempuran dilakukan terutama dengan main saling timpuk batu.
Oleh karena serangan di luar dugaan itu, barisan bersembunyi ini jadi tidak mampu membantu kawannya di dalam lembah, untuk membokong tentera negeri.
Thio Hong Hoe merasa sangat puas, hingga ia tertawa berkakakan.
"Satu panglima, mana boleh tak memeriksa keletakan tempat!"
Katanya, jumawa.
"Satu panglima mesti senantiasa berjaga-jaga! Tjinsamkay, dalam ilmu silat kau liehay tetapi kau kurang membaca kitab perang!"
Pit To Hoan jadi sangat mendongkol, ia seperti ngamuk dengan toya Hangliong pang-nya, setelah menyampok beberapa senjata musuh, sambil maju, tangan kirinya menyambar satu musuh yang ia cekuk, habis mana bagaikan entengnya rumput, tubuh itu dilemparkan jauh.
In Loei di lain pihak juga sudah menerjang hebat, dengan dua bacokan, ia rusakkan seragam besi orang, hingga musuh-musuh yang berada di depannya terpaksa harus mundur.
Dengan begitu, dapat ia merangsak seperti Pit To Hoan.
Thio Hong Hoe memimpin dengan tabah, dengan memberikan isyaratnya, barisannya terpecah dua, membiarkan To Hoan dan In Loei menyerbu di antara mereka.
Satu pasukan lainnya mencegat majunya rombongan perampas persakitan itu.
(bersambung
Jilid 2) CATATAN 1) halaman 129--Tjio Eng adalah keturunan dari Tjio Thian Tok (perwira bawahan Thio Soe Seng, leluhur Thio Tan Hong), sedangkan lukisan yang berada di rumah Tjio Eng lalu diambil Thio Tan Hong adalah peta harta peninggalan Thio Soe Seng.
Lukisan itu sebelumnya berada di rumah In Boe Yang, lalu oleh istri In Boe Yang diserahkan kepada Tjioe Eng, kejadian ini diceritakan di Hoan Kiam Kie Tjeng (Sebilah Pedang Mustika).
Lukisan itu adalah lukisan yang dilihat In Loei dan Tjio Tjoei Hong sewaktu dipanggil Tjioe Eng naik ke atas loteng.
2) halaman 142--"Kapu-kapu telah hanyut, untuk apa menanyakan tentang sumber asalnya?"
Thio Tan Hong adalah turunan dari Thio Soe Seng, pada waktu Thio Soe Seng kalah perang dan terbunuh, perwira bawahannya, Tjio Thian Tok (ayah Hongthianloei Tjio Eng) berhasil melarikan anak Thio Soe Seng ke luar perbatasan (Mongolia), anak itu adalah kakek Thio Tan Hong.
Baca Hoan Kiam Kie Tjeng (Sebilah Pedang Mustika) 3) halaman 252 -Ternyata urusan peta bumi ini kembali muncul di cerita berikutnya, Sanhoa Liehiap (Pendekar Wanita Penyebar Bunga), kali ini turunan keluarga Pit yang tidak mau kalah dengan keluarga Tjoe dan Thio untuk menjadi kaisar.
Sebab dari tiga murid Pheng Hweeshio, Tjoe Goan Tjiang dan Thio Soe Seng sudah mencicipi tahta kerajaan, hanya keluarga Pit yang belum.
Turunan keluarga Pit itu juga merasa lebih berhak atas peta tsb, karena leluhurnya ikut membuat.
-ooo00dw00ooo-Seri ke 2 Thiansan Karya .
Liang Ie Shen Saduran .
OKT Ebook oleh .
Dewi KZ
http.//kangzusi.com atau
http.//dewikz.byethost22.com
Jilid 2 Bab XII (lanjutan) Dengan membelakangi kereta persakitan, Hong Hoe menuding To Hoan dengan golok Biantoo-nya, sambil tertawa, ia kata.
"Tjinsamkay mari kita bertempur pula tiga ratus jurus!"
Kemudian ia melirik pada In Loei sambil menambahkan.
"Bagus, bagus, kau pun datang bersama. Baiklah kamu boleh maju berbareng! Aku sendiri, aku tidak membutuhkan lain pembantu!"
To Hoan rasakan mukanya menjadi panas sekali, ia gusar tak kepalang.
"Hari ini kita bertempur untuk kawan masing-masing!"
Ia kata dengan sengit.
"Tidak peduli jumlah kamu jauh terlebih besar, hendak aku adu jiwaku!"
Lalu dengan jurus "Honghouw inliong' "Harimau di antara angin dan naga di dalam mega,"
Ia menyerang hebat sekali dengan toya-nya, anginnya pun menyambar keras.
Dengan tubuh tidak bergerak dari tempatnya berdiri, Thio Hong Hoe tangkis serangan toya Tjinsamkay, begitu pula ketika In Loei menikam, ia halau ujung pedang Tjengbeng kiam itu, sesudah mana dengan kegesitannya, ia balas menyerang, beruntun tiga kali.
Diam-diam Tjinsamkay mengeluh dalam hatinya.
Serangan dahsyatnya telah gagal.
Siapa tahu, musuh ada terlebih hebat daripadanya, tak peduli ia berdua.
Terpaksa ia ubah caranya bersilat, satu kali ia menyampok sambil memutar tubuhnya.
In Loei di lain pihak memperlihatkan kepesatan-nya bergerak, ia menyerang seperti kawannya, sama sekali tak sudi ia kalah desak.
Hong Hoe tangguh, dibanding dengan To Hoan, ia menang satu tingkat, maka itu dengan tambah lawan dalam dirinya nona In, berselang tiga puluh jurus, repot juga ia, hingga ia terdesak mundur.
In Loei cerdik sekali, menggunakan ketikanya yang baik, dengan kegesitannya, ia tinggalkan lawannya, yang ia biarkan dilayani To Hoan, ia sendiri lompat melesat ke kereta persakitan.
Tegang hati si nona.
Tidak ia sangka, Hong Hoe dapat dilewatkan secara demikian mudah.
Ia merasa curiga juga.
Apakah benar Hong Hoe demikian alpa?
Akan tetapi, dalam keadaan itu, tak sempat In Loei berpikir lama.
Maka juga, dengan cepat ia singkap penutup kereta persakitan itu!
Di dalam kereta terdapat satu tubuh orang yang merengket, karena kereta ditutupi kain penutup, maka orang tak dapat melihat dengan jelas.
Walaupun begitu, In Loei menjadi sangat girang.
"Tjioe Toako."
Ia berseru. Dan ia pindahkan pedangnya dari tangan kanan ke tangan kiri, lalu dengan tangan itu ia menyambar tubuhnya San Bin. Tiba-tiba tubuh yang merengket itu perdengarkan tertawa iblis "Hm! Hm!"
Tubuh itu pun berbangkit, sebelah tangannya menyambar, menyekal keras lengannya In Loei di bahagian nadi. Tidak terkira kagetnya si nona. Sungguh ia tidak menyangka.
"Silakan masuk!"
Terdengar tubuh merengket itu bersuara sambil terus menarik dengan keras.
Tanpa ia berkuasa, tubuh In Loei tertarik masuk ke dalam kerangkeng.
Ketika ia terbetot pedangnya di tangan kiri itu menyambar tenda hingga tenda itu robek dan mendatangkan cahaya terang.
"Ah, kiranya kau?"
Seru orang yang merengket itu, agaknya ia terkejut.
In Loei cerdik, ia tidak menjadi gugup, selagi orang tercengang, pedangnya digerakkan, menikam tangan orang.
Orang itu kaget, ia lepaskan cekalannya, terus ia lompat keluar dari kerangkeng.
Baca Juga: Hong Lui Bun 12
Baca Juga: Bara Maharani 1