Kisah Pedang Bersatu Padu 4

Eps 4 Kisah Pedang Bersatu Padu - Okt

Baca online Kisah Pedang Bersatu Padu - Okt

Cersil Kisah Pedang Bersatu Padu - Okt.

Mendadak Ci Hiap berkata. Ia baru saja ingat. Giok Houw menurut, setelah meraba, ia berdiam saja. Ci Hiap menghela napas.

"Tidak usah kau berkata, aku sudah tahu."

Katanya berduka.

"Bingkisan dari propinsi Ouwpak ---itu ikat pinggang kumala ---telah dirampas penjahat... Aku menyesal, bukan saja aku tidak dapat membantu kau. bahkan aku membikin kau bertambah sulit..."

"Biarlah penjahat mengambil itu, nanti juga dapat kita merampas pulang,"

Berkata Giok Houw menghibur.

"Jiko, ke mana perginya semangat laki-laki dari kau? Kenapa baru terpukul sedikit kau sudah lesu?"

Giok Houw sendiri sangat berkuatir dan berduka akan tetapi ia berhasil menguasai diri, untuk berlaku tenang, hanya Ci Hiap bukannya satu bocah, dan dia mengetahui baik yang dia telah terluka parah.

"Sekarang ini beban merampas pulang bingkisan itu aku serahkan pada kau, toako,"

Katanya.

"Tenteram hatiku karena kaulah yang bertanggung jawab. Sekarang aku hendak minta satu pertolongan, ialah tolong kau menghiburkan ayahku..."

"Jiko. jangan kau pikir yang bukan-bukan,"

Berkata Giok Houw.

Di dalam hatinya ia tetap berkuatir sekali.

Keadaan Ci Hiap terus memburuk.

Selagi Houw Cu berduka dan tak berdaya itu, kupingnya mendengar suara rumput berkelisik di sampingnya di mana ada gombolan lebat.

"Bagus, jahanam!"

Pikirnya.

"Kamu terlalu menghina aku! Rupanya kamu datang untuk mencari tahu kita sudah mampus atau belum... Bagus kamu datang, lebih dulu aku akan membalaskan sakit hatinya Ciu Jiko!"

Ia lantas menjumput beberapa potong batu. untuk menimpuk begitu lekas ia melihat orang muncul. Segera terdengar suara tindakan kaki.

"Kepandaian mereka ini tidak berarti,"

Giok Houw berpikir.

Kalau orang lihai, tindakan kakinya tidak bakal kedengaran.

Ia terus memasang mata.

Mendadak di dalam rujuk itu terdengar suara orang bernyanyi, menyanyi lagu "Bunga teratai rontok"

Dari kaum pengemis. Ia mendengari.

"Sekuntum ialah setangkai bunga teratai! Tuan besar yang mempunyai uang, janganlah kau mentertawai kami. Sekalipun Han Sin, ada harinya yang dia mengemis nasi, sedang Ngo Cu Sih, melintasi kota Ciauwkwan, rambutnya berubah ubanan. Manusia itu ada saatnya malang dan beruntung, bencana dan rejekinya hanya bergantung sama seputaran detik. Maka itu, tuan besar, jikalau kau suka mengamal uang, di tengah jalan bintangmu akan cemerlang terus sampai di rumah!"

Itulah nyanyian yang Giok Houw dengar ketika ia hendak menaiki perahu. Maka ia melepaskan batunya, ia berlompat bangun.

"Mau apa kamu datang kemari?"

Ia tanya. Di sana muncul dua orang pengemis, keduanya tertawa.

"Siapa mendapatkan uang orang, dia harus memberikan pertolongannya!"

Kata satu di antaranya.

"Dan kami datang untuk menolongi kedua tocu supaya bencana atas dirimu buyar!"

Hati Giok Houw terkesiap.

"Jadinya kamu sudah ketahui dari siang-siang apa yang bakal terjadi hari ini?"

Ia tanya.

"Aku melihat bintang di atasan kepala kamu cemerlang sekali, jiwi tocu,"

Sahut orang yang ditanya.

"kami telah dapat menduga, hanya kami tidak menyangka bahwa mereka turun tangan secara sangat telengas begini."

"Adakah kamu anggauta-anggauta Kaypang?"

Giok Houw tanya. Ia ingat kepada Kaypang yaitu Partai Pengemis.

"Thio Tocu."

Menyahut pengemis itu.

"jikalau kau percaya kami. kami minta sukalah kau menyerahkan sahabatmu ini pada kami untuk kami menolong mengobatinya, kalau tidak, tidak usahlah tocu mencari tahu hal ichwal kami."

Dijawab demikian rupa, Giok Houw mengawasi dua pengemis itu, lantas ia tertawa terbahak.

"Sahabat-sahabat kaum kangouw cuma mengutamakan kepercayaan,"

Bilangnya.

"Baiklah, aku menyerahkan saudaraku itu kepada kamu!"

Giok Houw bukanlah seorang yang gampang mempercayai orang hanya dia dapat melihat keadaan sedang keadaannya Ci Hiap berbahaya sekali.

Umpama kata kedua pengemis jahat hatinya, tidak usah mereka menggunakan akal busuk lagi akan merampas jiwa Ci Hiap itu.

Lagi pula, kepandaian mereka ini tidak berarti, ia sangsi mereka berani main gila di depannya.

Kedua pengemis itu lantas memeriksa lukanya Ci Hiap.

"Thio Tocu."

Katanya kemudian.

"kami minta sukalah tocu serta sahabatmu ini pergi ke tempat kami untuk singgah beberapa hari".

"Apakah di sini dia tidak dapat diobati?"

Giok Houw tanya. Kedua pengemis itu tertawa.

"Jikalau luka ini gampang di obati, tidak nanti pukulan mereka itu disebut Cit Im Ciang yang beracun jahat."

Kata mereka.

Giok Houw luas pergaulannya tetapi ia belum pernah mendengar tentang Cit lm Ciang yang disebutkan ini.

dari itu.

hatinya bercekacuga.

Pengemis yang sebelah kiri mengeluarkan tiga batang jarum perak, dengan diatur tersusun, satu di atas dan dua di kiri kanan, dia menusuki itu di dada Ci Hiap, masuknya jarum hingga separuhnya.

Lekas sekali, jarum itu terlihat berubah menjadi hitam.

Menampak itu, Giok Houw kaget.

Ia menginsafi jahatnya racun itu.

"Inilah daya untuk mencegah bekerjanya racun menjadi hebat,"

Si pengemis memberikan keterangan.

"Buat dapat menyingkirkan seluruh racun, dibutuhkan waktu sedikitnya tiga hari. Thio Tocu, kau terkena cincin beracun, kau tidak terluka parah sebagai sahabatmu ini, maka itu di sini juga dapat kami mengobati kau, asal kau suka menahan sedikit rasa nyeri."

Giok Houw heran yang kedua pengemis itu juga tahu ia telah terlukakan, sedang ia tidak mengasi kentara apaapa.

"Jiwi benar lihai,"

Ia berkata tertawa.

"Lukaku tidak berarti, tidak usah kamu menguatirkannya."

Habis berkata, pemuda ini menghunus goloknya, dengan ujung golok ia membelek jari tangannya yang terluka racun itu.

dengan begitu darahnya lantas mengucur keluar.

Ketika darah itu mengenai rumput, rumput itu layu dengan segera.

Lekas sekali darah hitam itu keluar habis, disusul sama darah yang segar.

Luka itu lantas juga dibalut.

"Mohon tanya, jiwi, apakah racun pada lukaku ini sudah bersih?"

Ia tanya kedua pengemis itu. Kedua orang Kaypang itu heran dan kagum.

"Tocu sangat lihai, jarang orang seperti kau!"

Mereka memuji.

"Pantaslah kaum kangouw dari golongan tertua, kalau mereka menyebut nama tocu, mereka mengeluarkan jempol mereka."

Sebenarnya Giok Houw hendak memberikan tangannya diobati kedua pengemis itu atau ia memikir baiklah ia kasi lihat kepandaiannya supaya orang kagum dan heran, supaya mereka jangan memikir yang tidaktidak.

Nyata ia berhasil.

Ia pun melihat orang sungguhsungguh hendak mengobati Ci Hiap, pada mereka tidak tampak sedikit kecurigaan juga, dari itu ia lantas mengangkat tubuh kawannya itu, untuk dipanggul, buat dibawa turun gunung bersama kedua pengemis itu.

Satu jam kira-kira mereka berjalan, mereka tiba di sebuah rumah besar, yang kelihatan kekar bagaikan bentengan, sebagaimana tiga lapis pintunya terbuat dari besi dan setiap pintu ada pengemis yang menjaganya.

Giok Houw dipimpin memasuki sebuah ruang di mana segala perabotan nampak mahal harganya tetapi penghuni-penghuninya adalah orang-orang dengan pakaian banyak tambalannya.

"Tolong turunkan sahabatmu, tocu."

Berkata satu di antara kedua pengemis itu, setelah mana ia memanggil seorang pengemis, yang agaknya bertenaga besar, buat membawa Ci Hiap ke ruang belakang.

Dari ruang besar itu, Giok Houw melihat samar-samar cahaya api, yang kemudian disusul sama bunyinya air bergolak.

Maka ia berbangkit, akan mendekati loneng.

guna melihat ke ruang belakang itu.

Di sana orang tengah memasak air di dalam sebuah kwali besar, apinya berkobar, airnya berdidih.

Tubuh Ci Hiap ditelanjangi, tubuhnya itu mau disusuri air panas itu.

Satu di antara kedua pengemis tadi menghampirkan si anak muda.

"Apakah hati tocu tidak tenang?"

Dia menanya tertawa.

"Meski kami bangsa pengemis bakal menjadi kelaparan hebat, tidak nanti kami masak sahabatmu ini untuk dagingnya dijadikan barang makanan..."

Giok Houw mengangkat kedua tangannya.

"Tuan-tuan bergurau!"

Katanya.

Ia pernah mendengar dari Hek Pek Moko bahwa di India ada semacam cara pengobatan memunahkan bisa, ia hanya tidak mendapat tahu ilmu pengobatan itu telah masuk ke Tiongkok di antara kaum Kaypang ini.

Lantas pemuda ini dipersilahkan duduk.

"Aku menghaturkan terima kasih yang jiwi sudah sudi menolongi sahabatku itu,"

Kemudian Giok Houw berkata.

"Dapatkah aku mengetahui she dan nama jiwi yang besar?"

Kedua pengemis itu tertawa.

"Kami ada tukang putar kayun, kami tidak dapat berbuat apa-apa,"

Kata yang satu, merendahkan diri.

"Kami bangsa pengemis, mana kami mempunyai nama? Maka itu baiklah tocu tidak menanyakan."

"Kalau begitu, apakah tongcu jiwi ada di rumah?"

Tanya Giok Houw pula "Apakah dapat siauwtee dipertemukan dengannya?"

Di dalam Kaypang, ketuanya dipanggil pangcu, dan tongcu ialah semacam ketua cabang, yang kedudukannya di setiap propinsi, mengurus semua saudaranya dalam satu propinsi di mana dia berdiam.

Dengan melihat rumah orang begini besar dan tegar, Giok Houw menduga kepada satu tongcu.

Demikian ia mengajukan pertanyaannya.

"Di sini tidak ada tongcu,"

Ia mendapat jawaban.

"Di sini tidak ada orang yang melayani tocu, maka itu kami mohon diberi maaf saja."

Giok Houw menjadi masgul.

"Mungkinkah mereka ini berdua si tuan rumah?"

Ia menduga-duga.

"Dengan melihat kepandaian mereka ini, tidak layaknya mereka mengepalai Kaypang dari sebuah propinsi..."

Selagi berpikir itu.

kupingnya mendengar suara dari kerepotan di dalam ruang belakang itu, bahkan ada suara menggosok golok atau pedang terbentur.

Ia tidak takut, ia tidak mau menanyakan, hanya hatinya tidak tenang sendirinya.

Kedua pengemis itu sebaliknya bicara tidak sudahnya, ada saja yang mereka bicarakan.

Selang sekian lama Giok Houw habisjuga sabarnya.

"Tentang kaum Rimba Persilatan di wilayah Shoatang, siauwtee ketahui juga sedikit-sedikit,"

Katanya "hanya belum pernah siauwtee mendengar halnya rombongan mereka, yang demikian telengas, maka itu, selagi jiwi ada penduduk asli di sini, tahukah jiwi mengenai mereka itu?

Aku berterima kasih sekali jikalau jiwi suka menuturkan hal ichwal mereka."

"Siapa yang pandai menggunakan pukulan tangan Cit Im Ciang dengan apa dia melukai orang, sudah pasti dialah kaum Cit Im Kauw,"

Menyahut salah satu pengemis.

"Apakah Cit Im Kauw itu suatu partai sesat yang baru bangun?"

Giok Houw tanya.

"Begitulah kiranya,"

Menyahut pengemis yang satu.

"Kita pun tidak mengetahui jelas,"

Menjawab yang lain.

"Thio Tocu, kau mempunyai seorang sahabat lama, mungkin sahabatmu itu mengetahuinya"

"Sahabat lama dari aku?"

Si anak muda tanya, heran.

"Apakah ia berada di sini?"

"Kami telah mengirim orang mengundang sahabatmu itu, tocu, hanya entahlah, ia suka datang atau tidak..."

"Sebenarnya, siapakah dia?"

Kedua pengemis itu tertawa.

"Kalau sebentar tocu menemuinya, pasti tocu mengenalnya!"

Sahut salah satu di antaranya.

"Kami tidak berani menyebutkan namanya langsung!"

Kembali pemuda itu menjadi masgul.

Untuk menanya memaksa, ia tidak mau.

Maka itu sebisa-bisa ia menungkuli diri dengan bicara dari lain-lain urusan saja.

Kedua pengemis itu lantas berbicara tentang penghidupan kaumnya, bagaimana harus berpura-pura bercacad untuk dapat memohon amal, bagaimana mereka mencuri ayam, dan bagaimana mereka menakluki anjing jahat dan lainnya.

Menarik hati ceritanya mereka itu.

Hanya Giok Houw sendiri, karena pikirannya berada di lain jurusan, ia tetap tidak tenang hati.

Berselang lagi sekian lama maka terlihatlah datangnya seorang pengemis yang pakaiannya tambalan dari tujuh warna yang berlainan, melihat siapa, kedua pengemis pelayannya segera berbangkit, untuk berdiri tegak dengan kedua tangan dikasi turun.

"Akhir-akhirnya datang juga si tuan rumah,"

Kata Giok Houw di dalam hatinya. Ia baru hendak menegur, atau mendadak pengemis itu mengangsurkan sebatang tongkat bambu kepadanya, dengan sikap sangat menghormat, dia berkata.

"Harap dengan tongkat ini Thio Tocu mengetuk tiga kali pada meja suci itu! Jikalau tocu masih kurang puas, aku sendiri bersedia mewakilkan pangcu kami menerima hukuman rangket!"

Mendengar itu, Giok Houw heran sekali. Tentang kaum Kaypang ini, ia mengetahui banyak juga. Umpama ini satu pengemis, dialah dari golongan atau tingkat ke tujuh atau "kantung tujuh."

Jadi kedudukannya sudah tinggi sekali.

Sekalipun tongcu dari sebuah propinsi, belum tentu dia dari tingkat ke tujuh ini.

Sekarang satu pengemis tingkat ke tujuh ini berlaku sebagai pelayan tetamu, itulah sangat aneh.

Yang lebih aneh pula, ia pun mengenali tongkat yang diangsurkan kepadanya itu.

Tongkat itu hijau bagaikan kumala, tekukannya ada sembilan.

Jadi itulah tongkatnya pangcu, tongkat keramat dari Kaypang.

Dengan pengemis tingkat tujuh ini meminta orang mengetuk meja suci hingga tiga kali, itu artinya pangcu mereka lagi menghaturkan maaf atau meminta ampunan.

Maka itu apakah tidak aneh seorang pangcu yang kedudukannya tinggi sekali sekarang meminta maaf kepada orang ---di dalam ini hal, terhadapnya?

Bukankah aneh, pengemis ini juga bersedia menggantikan pangcu-nya menerima hukuman rangket?

Saking herannya, Giok Houw menjadi berdiam saja.

"Apakah Thio Tocu menolak permohonan pangcu kami?"

Tanya pengemis tingkat tujuh itu, romannya dia cemas hatinya.

"Sebenarnya, apakah artinya ini?"

Giok Houw tanya.

"Tolong kau memberikan penjelasannya."

Pemuda ini menjadi memikir banyak.

Hingga ia mau menduga, mungkin si perampas bingkisan ada orang Kaypang?

Atau mungkinkah pangcu mereka telah keliru membunuh orang, yang menjadi sahabatnya?

Kalau tidak, apakah perlunya ini upacara luar biasa?

Ia pun heran sebab sebegitu jauh yang ia ingat, semenjak Pangcu Pit Kheng Thian bercacad, Kaypang belum lagi mempunyai pangcu yang baru dan kedudukan pangcu mereka diwakilkan Tianglo The Kok Yu dari Pakkhia.

Kalau pangcu yang dimaksudkan ini benar The Kok Yu adanya maka dengan Kok Yu ia tidak mempunyai sangkutan apa-apa.

Lagi pula, kenapa The Kok Yu berada di sini?

"Kami semua cuma tahu menurut titahnya pangcu kami,"

Berkata pula pengemis tingkat tujuh itu.

"segala yang lainnya, kami tidak tahu menahu. Jikalau tocu tidak sudi memberi maaf maka pangcu kami tidak ada muka untuk bertemu sama tocu!"

Giok Houw menjadi masgul.

Tidak ada jalan lain, ia menyambuti tongkat dan mengetuk tiga kali perlahanperlahan.

Begitu lekas ketukan tiga kali itu berhenti, begitu lekas terlihat terbukanya pintu pojok dari mana muncul seorang pengemis dengan pakaian sembilan warna yang tidak keruan tambalannya, jalannya dibantu dengan tongkatnya.

Begitu melihat pengemis itu.

bukan main kagetnya Siauw Houw Cu hingga dia melengak.

"Pit... Pit Toako!"

Serunya.

"Oh, kiranya kau!"

Keng Thian ---demikian pengemis itu ---menjura dalam hingga kepalanya hampir mengenai lantai.

"Saudara Thio,"

Katanya perlahan.

"sebenarnya aku tidak punya muka untuk bertemu pula denganmu, maka itu aku sangat bersyukur yang kau suka memberi maaf padaku."

Kesalahannya Pit Keng Thian ini ialah dulu hari, karena ia berkhianat kepada tentara rakyat ---karena ia suka dipanggil bekerja oleh pemerintah ---ia menyebabkan penderitaan hebat dari Yap Cong Liu dan Yap Seng Lim paman dan keponakan itu, hingga mereka ini mesti kabur jauh, hanya kemudian, sebab ia dicurigai pemerintah, ia terluka di tangannya Gilimkun Tongnia Law Tong Sun, maka syukur untuknya, ia dapat ditolong Thio Tan Hong.

Sebenarnya Tiauw Im Hweeshio dan yang lainnya hendak membunuh padanya tetapi Tan Hong suka memberi ampun mengingat leluhurnya ---yaitu Pit Leng Hie, sang kakek, pernah membantui Thio Su Seng mengusir bangsa Mongolia, sedang Pit To Hoan, ayahnya, adalah pemimpin kaum Rimba Persilatan.

Begitu, rangsakan tentara negeri dirintangi dan ia dikasih lolos.

Sebagai kesudahan dari penderitaannya itu, yang disebabkan ia salah pikir, Pit Keng Thian bertobat, selama delapan tahun, ia mengeram diri, tidak pernah ia keluar dari rumahnya.

Sambil bersembunyi, ia meyakinkan terus ilmu kepandaian Keluarga Pit, yang ia ajari kepada kaum pengemis, yang masih suka takluk di bawah pimpinannya.

Ia pun berhasil berbuat jasa untuk Kaypang.

Maka kemudian, sekalian tianglo tetap mengangkat ia sebagai pangcu, ketuanya.

Thio Giok Houw girang sekali hingga ia bertepuk-tepuk tangan.

"Bagus! Bagus!"

Serunya.

"Kaummu berpencar di dunia kangouw, kamu telah membantu padaku, maka kamu seperti juga menambah bukan sedikit kuping dan mata bagiku!"

"Aku berbuat sedikit sekali, untuk menebus kesalahanku dulu hari,"

Kata Kheng Thian.

"maka itu, harap itu jangan dibuat pikiran. Yang penting sekarang ialah selentingan yang aku peroleh. Kauwcu dari Cit Im Kauw hendak memusuhkan kau, Thio Tococ."

"Siapakah itu kauwcu dari Cit Im Kauw?"

Tanya Giok Houw.

"Bagaimana sebenarnya Cit Im Kauw itu?"

"Di dalam dunia Rimba Persilatan ada seorang imam tertua yang disebut Ci Hee Tojin. Bukankah kau kenal imam itu?"

"Aku tidak melainkan kenal dia,"

Sahut Giok Houw.

"Pada kira sepuluh tahun yang lalu Ci Hee Tojin telah mengepalai sejumlah orang lihai dari golongan sesat, mereka datang ke Chongsan untuk menantang thaysucouw kami. Mulanya dia melawan guruku, kekuatan mereka seimbang, kemudian dia dilabrak oleh kakek guruku hingga kabur tunggang langgang. Pertempuran itu aku telah menyaksikannya sendiri. Murid nomor dua dari Ci Hee Tojin. yaitu Yang Cong Hay. yang pernah menjadi congkoan dari istana kaisar, adalah musuh besar kami."

Pit Kheng Thian mencegluk air tehnya, untuk membasahkan kerongkongannya.

"Nah, urusanmu ini pun mulanya dengan Yang Cong Hay itu. Thio Tocu."

Ia berkata pula. menyambungi.

"Ci Hee Tojin mempunyai tiga orang murid, semua orang mengetahuinya..."

"Murid kepalanya ialah Poan Thian Lo,"

Berkata Giok Houw.

"murid nomor dua yaitu Yang Cong Hay dan murid nomor tiga Bong Goan Cu. Semua mereka bertiga pemah bertempur sama aku, mereka bukanlah orangorang terlalu luar biasa."

"Tetapi dia masih mempunyai satu murid lain tentang siapa sedikit sekali yang mengetahuinya,"

Kata Pit Kheng Thian. Giok Houw heran.

"Siapakah dia?"

"Dialah seorang wanita."

"Benar-benar aku belum pernah mendengar Ci Hee Tojin mempunyai murid wanita."

"Sebenarnya murid wanita ini ialah yang paling dulu berguru kepada Ci Hee Tojin. Belum lewat lima tahun ia belajar, ia telah meninggalkan rumah perguruannya. Ketika ia berpisah dari gurunya itu, Poan Thian Lo bertiga masih belum masuk berguru."

"Dengan begitu dia menjadi murid kepala..."

"Tidak salah. Dia bernama Im Oen Giok. Asalnya dialah anaknya sahabat "Iji Hee Tojin. Ketika sahabat itu mau menutup mata, ia menitipkan anaknya itu kepada si imam. Waktu itu si anak baru berumur dua belas tahun. Selang lima tahun kemudian, ia menjadi besar dan cantik. Di luar dugaan. Ci Hee Tojin terpincuk kecantikan muridnya itu. hendak dia memperkosanya. Saking takutnya, Im Oen Giok buron, lalu dia bersembunyi di wilayah suku bangsa Biauw. Entah bagaimana, dia berhasil meyakinkan kepandaian membuat obat-obatan beracun bangsa Biauw itu. Ia pun menikah sama satu jago silat yang pandai menggunakan racun. Dia murid kesayangan Ci Hee Tojin, dia telah mewariskan kepandaian gurunya, maka itu, setelah belajar lebih jauh di tanah Biauw, dia jadi semakin lihai, hingga dia bukan lagi tandingan dari ketiga muridnya Ci Hee yang belakangan itu. Tiga puluh tahun semenjak buron dari gurunya, Im Oen Giok juga menerima murid. Mulanya dia bersiap sedia untuk membela diri, sebab dia kuatir gurunya nanti datang menyerang padanya, lalu lamalama diajadi membangun partai sendiri.

"Apakah Ci Hee Tojin pernah mencari muridnya itu?"

"Mana mau Ci Hee Tojin mencari muridnya? Dia telah menjadi seorang tertua, dia mesti memegang derajat. Lagi pula, dia malu kalau lain orang mendapat tahu rahasianya itu. Meski begitu. Im Oen Giok terus menyekap diri, tidak berani dia muncul di dunia kangouw."

"Pantas orang tidak mengenalnya."

"Im Oen Giok mengambil she-nya sebagai dasar, maka itu ia menamakan partainya partai Cit Im Kauw."

Tepat Pit Kheng Thian baru berbicara sampai di situ, telinganya mendengar tindakan kaki berlari-lari. Ia lantas kata.

"Kauwcu dari Cit Im Kauw memimpin sendiri orangorangnya datang ke mari! Baiklah aku mengatur dulu sebentar, baru aku menutur lebih jauh."

Dan ia memberikan pelbagai titahnya, singkat dan cepat. Terus ia melanjuti.

"Ci Hee Tojin mati pada tahun yang baru lalu. Selekasnya ia mendapat tahu kematian gurunya itu. Im Oen Giok lantas berani memunculkan diri. Ini sebabnya kenapa orang mulai mendengar halnya Cit Im Kauw. Pada musim dingin yang baru lewat, si kaisar anjing akhirnya mampus juga. lantas itu disusul sama rapat kamu kaum orang kosen dengan kesudahannya bingkisan pelbagai propinsi dirampas-rampasi! Ah, saudara Thio. bagus sepak terjangmu, sungguh itu menggembirakan! ---Lekas keluarkan arak!"

Pit Kheng Thian dibujuk menakluk oleh Kaisar Eng Cong, kesudahannya dari itu usahanya gagal, namanya rusak, tubuhnya bercacad, maka itu ia benci sangat kaisar itu, yang ia namakan "kaisar anjing."

Banyak tahun ia berduka dan menyesal dan mendendam, maka itu.

sampai di saat itu, ia tetap membenci Ki Tin, ialah kaisar itu.

Ketika itu, orang mulai mendengar seruan-seruan berisik.

Itulah tanda telah datang dekatnya rombongan Cit Im Kauw.

Kemudian lantas terdengar suara nyaring.

"Kawanan pengemis, kamu dengar! Bukankah di antara kita tidak ada sangkutan apa-apa, seperti air sumur tidak mengganggu air kali? Oleh karena itu jikalau kamu mengerti keadaan, lekas kamu antar keluar itu dua bocah!"

Rombongan Cit Im Kauw berada di luar ---di luar tiga lapis pintu ---tetapi suara itu telah terdengar tajam sekali. Giok Houw terperanjat.

"Kauwcu dari Cit Im Kauw ini benar tidak boleh dipandang ringan."

Pikirnya.

"Biarlah dia menjerit-jerit bagaikan hantu di luar!"

Berkata Pit Kheng Thian.

"Masih belum waktunya untuk melayani dia!"

Suara tajam di luar itu terdengar pula.

"Bagus ya! Kamu tidak mau memberi muka padaku, maka jangan kamu sesalkan aku tidak menaruh belas kasihan!"

Segera terdengar suara digempurnya pintu besi, dari hancurnya batu.

Pula ada suara menyambarnya anakanak panah.

Menyusul itu terdengar banyak tindakan kaki, juga dari mereka yang memanjat tembok.

Sekarang terdengar seruan dari kawanan Cit Im Kauw itu serta sejumlah orang Kaypang.

Sampai di situ.

Pit Kheng Thian mengasi dengar suaranya yang juga nyaring.

"Baiklah! Ke sorga yang ada jalannya kamu tidak mau masuk, kamu justru nerobos ke noraka yang tidak ada pintunya! Kamu hendak mengantarkan jiwa kamu sendiri, nah. kamu masuklah!"

Suara ini melintasi tiga lapis pintu besi.

terdengar tegas di lapis yang paling luar itu, maka juga, segera terdengar suaranya besi beradu yang menulikan telingga.

Giok Houw heran mendengar suara nyaring itu.

"Pit Kheng Thian telah dibikin remuk tulang piepeenya pada delapan tahun yang lalu oleh Law Tong Sun, benar ketika itu guruku sudah memberikan ia pel Siauwhoan Tan akan tetapi itu cuma guna menolong jiwanya, ilmu silatnya telah habis, kenapa sekarang tenaga dalamnya masih begini lihai?"

Demikian ia menanya di dalam hatinya. Habis mengasi dengar suaranya itu, Pit Kheng Thian tidak mempedulikan lagi yang di luar orang membuat berisik sebagai mengamuk.

"Barang bingkisan pelbagai propinsi kena dirampasrampas. kejadian itu sangat menggemparkan,"

Demikian ia melanjuti.

"Sementara ilmu pedang dari Yang Cong Hay telah dilatih sempurna, dia mulai bergerak pula, untuk itu, lebih dulu ia bertindak secara diam-diam. Dia mau mengumpul banyak orang kosen guna menentang kau, saudara Thio."

Giok Houw tertawa.

"Dia rupanya bermimpi untuk menjadi pula congkoan dari istana kaisar!'"

Katanya.

"Perampasan telah terjadi dan sangat menggemparkan,"

Meneruskan Pit Kheng Thian.

"meski begitu pelbagai tokbu atau sunbu tidak berani melaporkan itu kepada junjungan mereka. Berhubung dengan itu. Yang Cong Hay lantas mendapat akal kejinya. Ialah dia mengatur pekerjaan merampas semua barang bingkisan yang telah dirampas oleh pihakmu, saudara Thio. Usahanya ini tentu saja ada jauh terlebih berjasa daripada si pelindung bingkisan yang bekerja terang-terangan!"

Giok Houw lantas ingat si berewokan yang tangguh yang telah melakukan perampasan di atas perahu perang, yang senjatanya boneka berkaki satu, hanya belum sempat ia menanya, Pit Kheng Thian sudah melanjuti penuturannya.

"Setahu bagaimana jalannya, Yang Cong Hay telah mendapat tahu rahasia gurunya dan bahwa gurunya ada mempunyai seorang murid wanita yang lihai, maka ia lantas pergi membujuki kakak seperguruannya itu guna bekerja sama dengannya. Im Oen Giok tidak ingat lagi rumah perguruannya, tetapi sebab Ci Hee Tojin sudah mati, ia jadi berpikir untuk menggunakan ketika ini guna membikin tersohor partainya, dari itu dia seperti mengasi dirinya dibujuk Yang Cong Hay. Demikianlah ia turun tangan, ia menyeterukan pihakmu, saudara Thio."

Berbicara sampai di situ.

Keng Thian dihampirkan seorang muridnya, yang melaporkan bahwa kawanan Cit Im Kauw sudah berhasil mendobrak pintu besi lapis yang kedua.

Menerima laporan itu, Kheng Thian mencegluk araknya berulang-ulang.

"Kau pentang lebar pintu yang ketiga, kau biarkan mereka masuk!"

Ia memberi titahnya. Dan ketika murid itu mengundurkan diri, ia memerintahkan lain muridnya yang berada di sampingnya.

"Lekas kau membawa ke mari sebuah guci arak yang besar!"

Habis menenggak pula araknya, pangcu dari Kaypang ini nampaknya menjadi sangat gembira, hingga ia seperti tidak memikir bahwa ia lagi didatangi musuh yang lihai dan berbahaya.

"Setelah hidup menyendiri delapan tahun, hari ini kembali aku menemui saat dari kagembiraan!"

Katanya.

"Saudara Thio, mari kita menonton pertempuran sambil minum arak!"

Sesaat ini Giok Houw seperti melihat pula Pit Kheng Thian di saat dia memimpin tentara rakyat, meski orang telah bercacad, dia nampak gagah sekali, ia hanya tidak mengerti, meskipun agaknya dia bakal melakukan pertempuran, dia mengatakan "menonton pertempuran sambil minum arak."

Di sebelah depan ada satu pekarangan yang luas, yang menjadi tempat berlatih silat, ke sana Kheng Thian menitah orang-orangnya memindahkan meja perjamuan.

Segerajuga pintu lapis yang ketiga telah dipentang, maka di situ terlihat masuknya rombongan Cit Im Kauw, di antara siapa terdengar suara wanita yang tajam tadi.

"Bagus! Kiranya si bocah ada di sini! Ha, dia bahkan menjadi tetamu mulia dari pangcu! Aku si perempuan tua hendak meminta orang, maka itu, Pit Pangcu, sebenarnya kau hendak menyerahkan si bocah atau tidak?"

Giok Houw melihat, wanita itu ada seorang wanita tua yang tubuhnya kurus kering, rambutnya teriap awutawutan, mukanya ada cacatnya di sana-sini, romannya sangacelek.

"Adakah dia Im Oen Giok?"

Ia tanya dalam hatinya.

Menurut dugaannya, kauwcu dari Cit Im Kauw ini mestinya cantik, jikalau tidak, tidak nanti Ci Hee Tojin menjadi tergila-gila terhadapnya sampai dia melupakan diri.

Atau sedikitnya, ia tidaklah sejelek ini.

Pemuda ini tidak pernah memikir bahwa selama berdiam di wilayah suku bangsa Biauw.

karena kegemarannya sama bisa, Oen Giok sudah berkawan dengan pelbagai ular beracun, tubuhnya biasa diuji dengan pagutan ular-ular itu, kalajengking, kelabang dan lainnya yang berbisa.

Pit Kheng Thian menenggak pula araknya, baru ia membuka mulutnya.

Lebih dulu ia tertawa terbahakbahak.

Katanya.

"Cuma bangsa pengemis yang meminta apa-apa dari lain orang, tidak sebaliknya, lain orang memohon apa-apa dari bangsa pengemis!"

Cit Im Kauwcu menjadi gusar, tanpa membilang apaapa lagi, ia mengibaskan tangannya, menyusul mana orang-orangnya segera merangsak ke depan.

Siauw Houw Cu mau turun ke lorak, guna menyambut mereka itu, tetapi Pit Kheng Thian menahan padanya seraya berkata.

"Tunggu sebentar."

Rombongan Cit Im Kauw ini lantas disambut oleh orang-orang Kaypang, yang tadi menjaga di pintu lapis kesatu, kedua dan ketiga.

Mereka semua menggunakan semacam toya.

Jumlah mereka seimbang sama jumlah musuh.

Adalah senjata musuh itu ada dipakaikan bisa, sedang di antaranya ada yang sudah mahir tangan Cit Im Ciang-nya.

Cit Im Kauwcu melihat Pit Kheng Thian dan Thio Giok Houw tidak segera turun tangan, ia pun terpaksa berdiam saja, ia cuma saban-saban memberikan pimpinannya.

Di dalam pertempuran itu, pihak Kaypang nampak sedikit lebih lemah, hanya mereka itu maju dan mundur dengan teratur, saban-saban mereka dapat membendung rangsakan musuh.

Dengan banyak menyaksikan sebentar.

Giok Houw mengetahui mereka itu mengambil kedudukan patbun dan ngopouw.

ialah patbun atau delapan pintu menurut garis patkwa, dan ngopouw atau lima tindak menurut ngoheng atau ke lima unsur emas, kayu, air.

api dan tanah.

Maka itu, meski mereka lebih lemah, beberapa kali mereka bisa merangsak dan mengurung.

Rombongan Cit Im Kauw itu terdiri sebagian dari wanita, karena mereka saban-saban berseru, suara mereka menjadi lebih nyaring dan tajam.

Dalam tempo yang pendek, ada orang-orang yang telah terluka.

Untuk Kaypang, luka di pihaknya itu tidak mengasi pengaruh, sebabnya ialah mereka bertarung di sarang sendiri dan mereka juga mempunyai obat pemunah racun.

Di pihak Cit Im Kauw, pengaruhnya terasa.

Inilah pertempuran mereka yang terdahsyat.

Hajaran tongkat pun hebat, siapa roboh karena itu, dia merintih-rintih dan suara rintihan itu mempengaruhi hati kawan-kawannya yang belum terluka.

Dengan demikian, sendirinya rombongan mereka mulai rancu.

Cit Im Kauwcu dapat melihat nyata kelemahan pihaknya itu, ia lantas berseru lama, habis berseru, ia lompat maju, untuk turut turun tangan.

Dengan lekas ia dapat menyengkeram seorang musuhnya dari tingkat ke tujuh.

Ia memang mempunyai jari tangan yang panjang dan tajam kukunya.

Setelah itu, ia menangkis satu serangan dari pengemis tingkat tujuh yang lainnya.

Ini artinya terbuka sebuah lowongan, maka ia berlompat ke arah tangga lorak.

Di sini ia dipapaki sepuluh pengemis, yang toyanya turun berbareng.

Ia menggunakan dua tangannya, untuk menangkis dan menangkap, maka empat lima batang toya dapat ia patahkan.

Hanya, karena ia pun kena terhajar dua kali, hatinya panas bukan main.

Ia menyerang bagaikan kalap.

Lagi-lagi iamelukakan dua lawan tingkat tujuh, hingga dada mereka ini ringsak.

Dengan ia membantu, ia membikin pihaknya tidak terdesak lagi seperti tadi.

Maka lagi sekali ia mendesak ke undakan tangga.

"Thio Giok How!"

Tegurnya dingin.

"Kaulah si biang gara-gara, cara bagaimana sekarang kau main berdiam diri di luar kalangan."

"Saudara Thio,"

Berkata Kheng Thian, memesan.

"hatihatilah kau melayani dia. Jangan lupa akan perubahan patbun dan ngopou."

Mendengar ini Giok Houw mengerti maksudnya pangcu itu mengatakan minum arak sambil menonton, kiranya dia menghendaki ia memperhatikan garis-garis pertempuran di pihak Kaypang itu.

Ia lantas merobek ujung bajunya, juiran itu ia pakai menggubat kedua tangannya.

"Cit Im Kauwcu!"

Ia berkata.

"mengapa kau demikian tega membiarkan murid-muridmu yang wanita dengan luka-lukanya itu Marilah kita bertempur satu lawan satu!"

Kauwcu itu tertawa dingin.

"Dirimu sendiri sukar kau membelainya, sekarang kau memohon keampunan untuk orang-orang Kaypang!"

Sahutnya.

"Cit Im Kauw paling mengerti membedakan budi dan permusuhan, maka itu. dengan kaum Kaypang melukakan murid-muridku, mereka harus membayarnya sepuluh kali lipat!..."

Suaranya kauwcu ini belum berhenti atau tangannya sudah menyerang kepada Thio Giok Houw, dan serangannya dahsyat sekali.

Giok Houw berkelit.

Ia percaya, dengan kelitan itu bahaya sudah lewat, maka ia lantas membalas.

Ia menggunakan ilmu silat Taylek Kimkong, yang keras sekali.

Ia ingin mencoba mengadu tenaga.

Im Oen Giok lihai, serangan dahsyat itu ia hindarkan dengan tipu silatnya yang lunak, dengan tangan kirinya, menyusul mana, ia menyerang pula, dengan tangan kanannya, yang ke lima jarinya ia pentang.

Ke lima jari itu mempunyai kuku panjang lima dim masing-masing, warnanya hitam mengkilap, pula ada menyiarkan bau bacin.

Giok Houw terkejut.

Ia tidak menyangka lawannya mempunyai kuku-kuku sepanjang itu, hampir mukanya kena dicakar, syukur ia mempunyai ilmu yoga hingga dapat ia berkelit dengan lincah.

Ke lima kuku wanita itu lewat di pundaknya, cuma merobek baju, tidak melukai daging atau kulit pundak.

Tapi ia tidak mau jadi orang yang hanya diserang, ia mau membalas.

Maka itu, di saat ia bebas itu, ia membalas.

Dengan jeriji Tiatci Sinkang, ia menotok lengan jago wanita itu!

Cit Im Kauwcu terkejut.

Begitu kenatertotok, ia merasakan lengannya itu tidak bertenaga lagi, lengan itu meroyot turun.

Telapakan tangannya pun terasa kaku.

Dengan lantas ia mengumpul tenaganya di jari tangannya, dengan lekas ia memutar tubuhnya, dengan lekas juga ia menyerang lagi.

Kembali ia menggunakan lima jerijinya yang beracun itu.

Giok Houw terperanjat mendapatkan totokannya tidak memberi hasil memuaskan, ia hanya tidak ketahui, kaget dan herannya kauwcu itu jauh melebihkan kagetnya itu.

Kauwcu ini melatih diri beberapa puluh tahun di wilayah Biauw, ia percaya ia lihai tanpa tandingan, ingin ia menjagoi, siapa tahu, pertama kali ini ia bentrok, ia justeru menghadapi satu anak muda yang begini lihai.

Ia kata di dalam hatinya.

"Syukur dia takut pada kukuku, tangannya digubat, jikalau tidak, pasti aku celaka. Pantas Yang Cong Hay memesan aku untuk berlaku hati-hati. katanya dia ini muridnya Thio Tan Hong... Pertempuran kedua jago ini berjalan terus, hanya selanjutnya, kedua pihak bersikap semakin waspada. Dua-duanya sama-sama tidak mau sampai menjadi kurban totokan atau cengkeraman masing-masing. Pit Kheng Thian kagum menyaksikan pertempuran itu. Lama-lama, Cit Im Kauwcu menjadi penasaran, maka ketika ia mencoba menyerang, ia menyerang sambil mengasi dengar seruan nyaring, la tetap menggunakan Cit Im Ciang, serangannya merupakan totokan jari dan cengkeraman bergantian. Giok Houw berlaku tenang tetapi gesit. Dengan "Coanhoa jiauwsi"

Atau "Menembusi bunga melibat pohon,"

Ia senantiasa berkelit dengan lincah.

Untuk membalas menyerang, dengan tangan kiri ia menggunakan Hian Ki Cianghoat.

dengan tangan kanan ia menggunakan Ngoheng kun.

Dengan begini ia berlaku keras dan lunak bergantian.

Sesudah bertempur sekian lama tanpa ia memperoleh hasil.

Cit Im Kauwcu lantas menggunakan racunnya.

Ia menyentil-nyentilkan jari tangannya, atas mana lantas terhembus bau bacin atau amis.

Mulanya Giok Houw dapat mempertahankan diri tetapi tidak lama kemudian, ia merasakan kepalanya pusing dan matanya mulai berkunang-kunang, ia lantas merasa mual dan ingin tumpah-tumpah.

Dengan begini tidak saja perhatiannya, tenaganya pun menjadi berkurang sendirinya.

Ia menginsafi bahaya yang mengancam dirinya, lekas-lekas memusatkan pikirannya.

ia mengerahkan tenaga dalamnya.

Biar bagaimana, karena ia mesti memisah perhatian, ia menjadi kalah unggul.

Selagi pertempuran berjalan dahsyat itu.

si orang wanita, yang kemarin ini tangannya dipatahkan Giok Houw, lantas berseru dengan tajam.

"Suhu. aku minta kau patahkan kedua tangannya! Dia telah mematahkan tanganku, dia mesti mengganti kerugian berikut bunganya!"

Wanita itu beroman kasar seperti pria. begitu juga suaranya.

"Baik!"

Jawab Cit Im Kauwcu, yang dipanggil suhu itu.

"Aku nanti balaskan sakit hatimu!"

Perkataan itu segera diwujudkan.

Dengan mendadak ketua Tit lm Kauw ini melonjorkan tangannya yang panjang, untuk menyengkeram ke batok kepala lawannya.

Inilah serangan berikut siasat.

Ia telah pikir, guna melindungi diri, Giok Houw bakal menangkis dengan dua-dua tangannya, bila terkaannya jitu.

hendak ia sekalian menyambar tulang piepee si lawan.

Kalau ia berhasil, celakalah kedua tangan si anak muda.

Di saat kauwcu itu lagi menyerang, tiba-tiba terdengar satu seruan nyaring tetapi halus.

"Ibu. jangan bikin dia bercacad! Baik tangkap hidup saja! Kami masih harus menukar dia dengan barang yang bagus!"

Seruan itu membikin Im Oen Giok bersangsi. justeru mana. Giok Houw kembali menggunakan ilmu yoganya, maka pundaknya bebas dari cengkeraman yang berbahaya itu. Im Oen Giok kagum hingga ia memuji.

"Bagus!"

Di luar dugaannya itu, si anak muda tidak melawan keras dengan keras, serangannya tidak ditangkis hanya melainkan dikelit.

Dengan ilmu yoga.

kecuali lincah, Giok Houw dapat membuat tulang-tulangnya dan dagingnya seperti ciut ringkas.

Giok Houw sebaliknya berseru di dalam hatinya.

"Sungguh berbahaya!"

Kalau si wanita tidak bersangsi, mungkin ia kenajuga terserang.

Untuk ia.

lecet kulit saja sudah berarti bahaya.

Lantas si anak muda melirik ke arah suara yang memanggil ibu itu.

Ia lantas mengenali si nona yang memancing dan menipu padanya, si nona yang mengaku jadi anaknya si sasterawan palsu.

Menurut PitKheng Thian, nona itu bernama Im Siu Lan dan dialah puteri tunggal yang sangat disayang Cit Im Kauwcu itu.

Nona Siu Lan melihat Giok Houw melirik kepadanya, ia tertawa manis dan menanya.

"Apa kabar dengan kesehatannya sahabatmu? Aku sangat memikirkan dia! Tadi malam aku ditolongi, aku berterima kasih, maka itu hari ini aku minta ibuku memberi ampun kamu!"

Giok Houw mendongkol sekali. Bukankah si nona telah menggunakan tipu keji untuk mencelakai mereka terutama Ci Hiap? Maka ia mendamprat.

"Siluman wanita yang sangat kejam!"

Tapi ia tidak melainkan mendamprat ia juga bekerja. Dengan satu lompatan "Coanhoa jiauwsi,"

Dengan sekonyong-konyong saja ia meninggalkan Cit Im Kauwcu, buat berlompat kepada si nona, pundak siapa ia samber.

Ia ingin merusak tulang piepee nona itu.

Cit Im Kauwcu lihai sekali, ia pun sangat menyayangi puterinya, sudah tentu ia tidak akan mengijinkan puterinya itu dibikin celaka, maka ia pun berlompat menyusul sambil berteriak.

"Tahan!"

Tangannya yang panjang dan bau itu diulur, guna menghalangi tangan si anak muda.

"Kau sambarlah!"

Giok Houw berseru.

Ia berhasil menyambar si nona, tubuh siapa ia tidak lantas lukai, hanya ia tarik, untuk memakai tubuh itu menjadi sasarannya si kauwcu!

Im Oen Giok tidak membatalkan serangannya meskipun tubuh anaknya dipakai sebagai pelindung diri si anak muda.

Ia benar-benar lihai.

Ia tidak menyambar pundak puterinya itu.

tangannya dikasih lewat di atasan pundak si puteri.

dikasih lewat terus, hingga ia tetap mengarah si anak muda.

Giok Houw terkejut.

Inilah ia tidak sangka.

Terpaksa ia melepaskan tangannya hingga si nona menjadi merdeka, sedang ia pun bebas dari tangan beracun si nyonya.

Hanya ada satu hal yang kembali berada di luar dugaannya.

Sambil menyerang, kaki si nyonya diayun sekalian.

Maka tidak tempo lagi, si anak muda kena terdupak dengkulnya, hingga ia kaget dan terhuyung mundur beberapa tindak.

Cit Im Kauwcu hendak merangsak, guna mengulangi serangannya, tetapi ia terhalang.

Dengan tiba-tiba si nona berteriak "Aduh!"

Dan tubuhnya roboh di rangkulan ibunya itu.

"Apakah kau terluka?"

Tanya si ibu kaget.

"Aduh!"

Menjerit pula si nona, yang terus mengatakan sakit tulang piepee-nya, ialah tulang selangkanya Tentu sekali inilah kedustaan belaka, kalau benar tulang selangkanya terluka.

tidak dia dapat bersikap demikian.

Mulanya Cit Im Kauwcu kaget, akhirnya dia tertawa.

Sebab dia lantas mengerti.

"Jangan kuatir, aku nanti tangkap hidup padanya!"

Katanya tertawa.

Di dalam pertempuran beramai.

pihak Cit Im Kauwcu lebih unggul.

Lebih banyak orang Kaypang yang terluka, di antaranya ada empat pengemis tingkat ke tujuh.

Untuk mereka, syukurnya ialah barisan mereka masih belum terdobrak, mereka tetap membela diri dalam siasat patbun dan ngopouw.

Giok Houw melihat kelemahan pihaknya itu.

selagi ia tidak terlihat si nyonya, ia lompat menyerbu ke dalam barisan musuh, untuk menyerang, maka lantas juga ia dapat merobohkan dua musuh, setelah mana.

ia masuk dalam rombongan Kaypang.

Ia menempatkan diri dalam kedudukan cinbun, ia memungut sebatang tongkat yang terletak di tanah, dengan begitu, ia bisa lantas membantui pihak Kaypang itu.

Di dalam ilmu toya Hangliong Panghoat, ia belum mahir, tetapi meski demikian, ia merupakan satu bantuan besar.

Begitulah kedudukan pihak Kaypang jadi dapat dipertahankan.

Cit Im Kauwcu menjadi gusar dan penasaran, ia lompat maju, niatnya menyusul si anak muda sambil menggempur rombongan musuh.

Baru ia maju atau belasan tongkat menghalang di depannya.

Tentu sekali, jangan harap ia dapat menangkap hidup pada anak muda itu.

Selagi bertempur itu, lagi beberapa orang Cit Im Kauw roboh terlukakan.

Dalam murkanya, Cit Im Kauwcu memaksa maju.

Ia berhasil menjambak dua orang Kaypang.

Untuk ini ia tidak memperdulikan yang satu kemplangan mengenai tubuhnya.

Ia mempunyai tenaga dalam yang lihai.

Dengan begitu, ia dapat maju ke tengah, hingga pihaknya kembali menjadi unggul.

Tengah orang berkutat hebat itu, mendadak terdengar suaranya Pit Kheng Thian.

Mulanya ketua Kaypang ini tertawa terbahak, baru dia berkata nyaring.

"Kamu boleh bertempur terus! Kamu menggunakan tanganmu, aku akan menggunakan mulutku!"

Ia benar-benar tidak berlompat maju.

untuk menyerang, hanya ia mengangkat guci arak untuk menggelogoki isinya, habis mana.

ia membuka mulutnya, ia menyemburkan arak dari dalam mulutnya itu.

Bagaikan air tumpah, arak itu menyembur keluar!

Beberapa murid wanita dari Cit Im Kauw.

yang berada di paling depan, lantas kena kesemperot.

Dengan lantas mereka menjadi gelagapan, mereka berteriak-teriak.

Bau arak itu membikin mereka mual, kepala atau rambut mereka basah, mata mereka perih dan sakit, sampai tidak dapat dibuka.

Menyusuli "penyerangan"

Dari Pit Kheng Thian ini, ialah serangan yang dinamakan "gelombang arak,"

Kaum Kaypang lantas menyerang dengan seru, hinggga beberapa musuh roboh seketika juga.

Mereka mirip menempur serombongan orang buta melek.

Kheng Thian berdiri di undakan tangga, terus menerus ia menyemburkan araknya.

Cit Im Kauwcu menjadi gusar sekali, ia maju untuk melindungi orang-orangnya, tetapi usahanya ini tidak memberi hasil yang memuaskan.

Arak yang tersampok olehnya kembali mengenai orang-orangnya sendiri, arak itu berhamburan.

Ia sendiri pun, terutama sepasang tangan bajunya, basah terkena arak itu.

Pit Kheng Thian melanjuti terus semburannya, makin lama makin gencar.

Pula ada tetesan arak, yang mendatangkan rasa nyeri pada kulit yang terkena tepat.

Maka akhirnya, tanpa titah dari ketuanya lagi.

kawanan Cit Im Kauw itu lantas pada melarikan diri.

Ketika delapan tahun yang lalu tulang piepee-nya dirusak oleh Law Tong Sun, Kheng Thian hidup dengan putus asa.

Dengan ilmu silatnya telah ludas.

apa ia bisa bikin?

Untuk tungkuli diri, ia saban-saban menenggak arak.

Makin lama ia minum, makin bertambah kekuatan minumnya itu.

Mendadak ia mendapat pikiran, kenapa iatidak mau meyakinkan semacam ilmu, ialah ilmu menyemprot atau menyembur dengan arak?

Segera ia mengambil putusan, lantas ia mencoba.

Selang sekian lama, ia memperoleh hasilnya.

Arak itu dapat digunai sebagai senjata rahasia Maka ia meyakinkan terus dengan sungguh-sungguh.

Dari perlahan, semburannya menjadi cepat, dari kendor menjadi keras.

Karena ia kuat minum, araknya itu jadi tidak ada habisnya.

Untuk menambah, ia pun siap sedia dengan guci araknya.

Oleh karena itu tadi, ia minum arak banyak-banyak selaku persiapan.

Semakin ia mendekati sinting, makin hebat serangannya itu.

Giok Houw tertawa bergelak-gelak ketika ia telah menyaksikan kesudahannya pertempuran itu, sebab musuh kabur, tinggal si kauwcu sendiri.

Dia ini hendak menghajar Pit Kheng Thian tetapi dia dirintangi Giok Houw.

Akhirnya dia kalah hati, dia ajak orang-orangnya mengangkat kaki, hanya sembari sipat kuping mereka mencaci kalang kabutan...

Seberlalunya musuh, Pit Kheng Thian mengasi perintah akan menutup pintu, guna membikin betul pintu-pintu yang rusak dan menyingkirkan segala bekasbekas pertempuran, terutama untuk menolongi mereka yang terluka yang berjumlah delapan belas orang.

Sebagai hasil "peperangan"

Itu, pihak Cit Im Kauw meninggalkan empat belas anggautanya, antaranya delapan anggauta wanita.

Mereka ini lantas ditahan.

Tidak lama seberesnya pertempuran itu.

salah seorang yang merawati Ciu Ci Hiap datang melapurkan, yang Ci Hiap sudah berhasil ditolong, dia telah diberi obat, dia tinggal beristirahat saja.

Untuk itu, dia diberikan sebuah kamar sendiri.

"Mari kita lihat!"

Giok Houw mengajak.

KengThian setuju, bersama-sama mereka pergi ke kamar Ci Hiap, yang sedang merebahkan diri.

la masih lemah dan mukanya masih sedikit bengkak tetapi ia sudah bebas dari ancaman bahaya racun.

Ia mirip dengan orang sehat, la girang ketika ia diberitahukan kesudahannya pertempuran barusan.

"Sayang..."

Katanya mendapat tahu Siu Lan lolos. Kepada Kheng Thian ia menghaturkan terima kasihnya ia telah ditolong dan dilindungi.

"Kita tidak berhasil membekuk Im Siu Lan tetapi kita dapat menawan empat belas anggauta Cit Im Kauw,"

Giok Houw memberi keterangan terlebih jauh. Bagus !"

Ci Hiap memuji.

"Bagaimana hendak diatur dengan orang-orang tawanan itu? Kalau toako setuju, aku mempunyai sebuah pikiran..."

"Apakah itu, jiko?"

Giok Houw tanya.

"Aku pikir baiklah mereka itu ditukar dengan bingkisan dari Ouwpak."

Giok Houw agaknya setuju.

"Entah pikiran Pit Toako?"

Ia tanya Kheng Thian. Kheng Thian tertawa sebelumnya ia menyahuti. Ia kata.

"Kami bangsa pengemis, pekerjaan kami setiap hari ialah membuka mulut untuk minta amal dari lain orang, tetapi sekarang kami mempunyai orang-orang tawanan, itu artinya kami mesti memelihara mereka, mereka yang menggantikan kami mementang mulut. Inilah tidak tepat! Maka itu, kalau daya kita ini dapat dijalankan, itulah baik sekali!"

Ci Hiap senang yang pikirannya itu dapat persetujuan.

"Kalau begitu, Pit Toako, silahkanlah kau bekerja,"

Giok Houw bilang.

Pit Kheng Thian setuju, maka ia lanta's menulis sepucuk surat untuk Cit Im Kauw dan menitahkan seorang Kaypang membawa itu kepada Cit Im Kauwcu.

Ketika itu Giok Houw lantas ingat si berewokan yang lihai, maka ia tanya Kheng Thian kalau-kalau ketua Kaypang ini ketahui siapa dia itu.

Ia menjelaskan potongannya si berewokan itu serta kekosenannya.

"Tidak salah lagi, dia tentulah Taylek Sin Le Kong Thian si Malaikat Kuat,"

Berkata Kheng Thian.

"Yang Cong Hay benar-benar lihai, dia sampai dapat minta bantuannya orang kosen itu."

"Le Kong Thian itu orang bagaimana ?"

Giok Houw tanya pula.

"Kenapa sebelumnya ini aku belum pernah mendengar orang sebut-sebut namanya?"

"Tentang asal-usul dia adalah sebuah teka-teki,"

Menyahut Kheng Thian.

"Pernah aku mengirim dua belas muridku kepada pelbagai orang-orang Rimba Persilatan yang kenamaan, untuk mencari keterangan perihalnya, tidak ada seorang jua yang dimintai keterangannya sanggup menuturkannya dengan jelas. Apa yang orang ketahui ialah ia biasa muncul di wilayah Barat daya, pernah ada yang melihat ia membegal saudagar dalam perjalanan dan juga ada yang pernah menemui ia lagi merampas wanita muda. Pada tiga tahun yang lalu, jago wanita dari Cengshia Pay, yaitu Nona Cio Tiok Kun serta dua kakak seperguruannya yang pria, ketika lagi lewat di pegunungan Bekcek San di propinsi Kamsiok, hampir kena dibegal si berewokan itu. Nona Cio itu mau menjaga mukanya, dia tidak menguwarkan peristiwa itu hanya secara diam-diam dia minta bantuannya orang dari tingkatan lebih tua, yang bersahabat kekal sama pihak perguruannya, untuk mencari Le Kong Thian itu, apamau, dua orang yang diminta bantuannya itu telah kena dikalahkan. Kemudian lagi, sesudah mencari keterangan dengan susah payah, barulah diketahui she dan namanya itu. Ia bertenaga besar sekali, maka itu orang-orang Jalan Hitam di'Kamliang, yang belum mengetahui she dan namanya, menamakannya Taylek Sin si Malaikat Kuat. Ia tidak mau memperdulikan orang dari Jalan Putih atau Jalan Hitam, kalau ia mau bekerja, iakerjakan saja. Iajugajarang muncul. Hanya setiap kali ia muncul, mesti-mesti ada orang yang malang peruntungannya, yang menjadi mangsanya. Demikian telah terjadi pada bulan yang lalu, bingkisan dari Shoatang, yang pihakmu baru saja dapat rampas, lantas dirampas olehnya. Peristiwa itu aku ketahui sesudahnya terjadi."

"Bukan bingkisan dari Shoatang saja, yang dari Kangsouw pun ia rampas menurut caranya itu", Giok Houw menambahkan.

"Ia memegat dan merampas di saat kita baru berhasil. Hanya ketika ia merampas bingkisan dari Ciatkang, ia bertemu sama kami, ia tidak berhasil. Boleh dibilang itulah satu pukulan baginya."

"Orang luar biasa sebagai ia, yang bekerja sendirian dan sewaktu-waktu, paling sukar dijaganya,"

Berkata Kheng Thian pula.

"Umpama rombongan dari Cit Im Kauw, meski mereka lihai, dengan mereka merupakan satu rombongan, kedatangannya lantas diketahui."

"Cit Im Kauwjuga bangsa sesat,"

Kata Giok Houw.

"entah biasanya, bagaimanakah sebenarnya sifat mereka itu?"

"Cit Im Kauw baru muncul tahun ini. Memang mereka nampaknya sesat tetapi belum terdengar mereka pernah melakukan kejahatan besar. Itu pula sebabnya kami kaum Kaypang ingin hidup rukun dengannya. Kalau menurut dugaan umum, Cit Im Kauw tentulah setuju empat belas anggautanya ditukar dengan bingkisan dari Ouwpak itu."

Giok Houw setuju sama pendapat ketua Kaypang ini.

Sampai di situ berhenti sudah pembicaraan mereka, untuk mereka sama-sama beristirahat.

Mereka masuk tidur sehabisnya bersantap tengah hari.

Ketika mereka mendusin, hari sudah magrib.

Tepat habis mereka bersantap, utusan Kaypang kepada Cit lm Kauw pulang dengan laporannya, katanya Cit Im Kauwcu setuju dengan usul menukar orang dengan barang bingkisan hanya dia mengajukan syarat supaya Giok Houw yang datang sendiri untuk bertemu dengan Im Oen Giok untuk membicarakannya terlebih jauh.

Cit Im Kauw mengemukakan alasan di dalam urusan mereka, Kaypang cuma sebagai pembantu, maka itu, untuk bicara, mesti Giok Houw yang bicara sendiri.

Mendengar laporan itu, Pit Kheng Thian berdiam.

Ia tidak puas sekali, ia merasa bahwa ia tidak dilihat mata.

"Memang Cit Im Kauwcu itu tidak pantas sekali,"

Kata Giok Houw.

"Sekarang bagaimana pendapat Pit Toako?"

"Aku tidak menghiraukan dia tidak memandang partaiku,"

Kata Kheng Thian.

"Aku hanya menguatirkan kelicikannya. Siapa tahu kalau-kalau dia mau menggunakan tipu muslihat?"

"Apakah toako berkuatir dia nanti menahan aku?"

Giok Houw tanya tegas.

"Kau pergi seorang diri, artinya kau masuk ke guha harimau."

Berkata ketua Kaypang itu.

"maka itu, apakah itu bukannya urusan yang menguatirkan?"

"Kalau begitu, kita tetap menahan dulu empat belas orangnya, untuk dijadikan manusia tanggungan. Apakah masih kita berkuatir?"

"Tetapi harga diri kau. saudara Thio. jauh lebih mahal daripada empat belas orangnya itu!"

"Toako, kau mengangkat aku terlalu tinggi! Untuk mendapatkan pulang barang bingkisan, aku tidak takut untuk mencoba menempuh bahaya. Lagi pula. masih belum tentu dia nanti mencelakai aku..."

Melihat niat orang keras sekali, Kheng Thian tidak mencegah lebih jauh. Ia hanya berkata.

"Karena Cit Im Kauwcu pandai menggunakan racun, baiklah berhatihati."

Giok Houw terharu mendapatkan orang demikian memberati dirinya, maka di dalam hatinya ia kata.

"Ketika dulu hari suhu menolongi dia, aku tidak setuju, melihat sifatnya sekarang ini, sungguh tepat perbuatan suhu itu. Memang, kita selalu harus berbuat baik kepada sesama manusia kecuali orang jahat yang sudah tidak dapat ditolong pula, kita masih harus mencoba memperbaikinya..."

Setelah itu, Kheng Thian menitahkan orangnya yang menjadi pembawa suratnya untuk turut pada Giok Houw, sebagai pengantar dan kawan.

Cit Im Kauwcu berdiam di sebuah gunung di selatan sungai Ki Sui.

Di situ ada sebuah balai istirahat kepunyaan salah seorang muridnya yang berharta.

Ketika Giok Houw tiba di sana hari sudah mendekati jam tiga.

Di muka pintu, ia sudah ditunggui dua murid wanita dari Im Oen Giok.

Ia lantas disambut dan dipimpin masuk ke dalam tetapi pengantarnya diminta menunggu di luar.

Di dalam.

Giok Houw melihat ruang bersih dan dipajang, nampaknya itu disiapkan untuk menyambut tetamu yang dihormati tetapi ia diajak masuk terus ke pintu samping, jalan di beberapa lorong yang berliku.

Ia tidak disambut nyonya rumah.

Ia diperlakukan bukan sebagai tetamu yang dihormati itu, hingga ia lantas jadi bercuriga.

Meski begitu, ia tidak takut, ia turut terus.

Akhir-akhirnya ia dipimpin masuk ke dalam sebuah kamar yang bersih dan sepi di mana ia dipersilahkan duduk, lalu disuguhkan air teh.

Salah satu dari kedua pengantar itu berkata.

"Harap tocu suka menanti sebentar, Kauwcu kami tengah melayani seorang tetamunya, selekasnya tetamu itu berlalu, dia akan menemui tocu."

Giok Houw menjadi tidak senang. Nyata si tetamu bukannya ia hanya lain orang. Pikirnya.

"Dia mengundang aku tetapi dia menyambut tetamunya yang lain. Inilah perbuatan kurang ajar. Mungkin benar dia mengandung maksud tidak bagus..."

Kemudian ia berpikir lagi.

Ia heran untuk tetamunya kauwcu itu.

Siapakah dia itu, yang disambutnya sampai rumah dipajang?

Habis menyuguhkan teh, kedua wanita itu mengundurkan diri.

Giok Houw periksa air teh itu, yang harum, tidak ada tandanya dicampuri racun, tetapi untuk menjaga diri, ia tidak minum hanya ia buang.

Kemudian ia perhatikan kamar itu, yang terawat baik dan perlengkapannya menyenangkan.

Kamar itu mempunyai dua pintu samping, satu di antaranya menghadapi taman.

Itulah pintu dari mana tadi ia diantar masuk.

Pintu yang satunya lagi tertutup rapat, dikunci dengan tambahan rantai.

Di atas itu ada sebuah kaca rasa yang tebal.

Kaca semacam itu pernah ia lihat di istana Bhok Kokkong.

Dengan adanya kaca itu, orang dari luar tidak dapat melihat ke dalam, sebaliknya orang di dalam bisa melihat keluar.

Pemuda ini berbangkit, akan mendekati kaca itu, maka itu ia bisa melihat, kamar yang di sebelahnya itu ialah sebuah kamar lebar dengan perabotannya mentereng.

Sementara itu, cepat sang tempo berjalan.

"Heran,"

Pikirnya.

Sudah sekian lama ia masih dibiarkan bersendirian saja.

Maka lama-lama, ia menjadi tidak sabaran Adalah di itu waktu, kupingnya mendengar suara tertawa yang keras yang seperti menulikan telinga.

Ia lantas mengawasi ke kaca.

Cit Im Kauwcu tertampak lagi mengantarkan satu orang masuk ke dalam ruang besar itu.

Melihat tetamu itu, Giok Houw terkejut.

Ia mengenali si berewokan.

yang menurut Kheng Thian adalah Le Kong Thian dan julukannya Taylek Sin si Malaikat Kuat.

ialah itu jago dari Barat daya.

"Benar-benar Cit Im Kauwcu bermaksud tidak baik."

Ia berpikir.

"Dia mengundang aku datang ke mari untuk mengadakan pembicaraan, kiranya undangan itu melainkan pancingan belaka..."

Bagaimana juga, hatinya pemuda ini bercekat.

Melayani Cit Im Kauwcu.

ia merasa ungkulan.

Atau kalau perlu, ia merasa bahwa ia bisa menyingkirkan diri.

Sekarang kauwcu itu dibantu si berewokan.

Itulah hebat!

Mana bisa mereka suka satu melawan satu?

"Tuan Le, mengapa kau tertawa?"

Terdengar pertanyaannya lm Oen Giok.

"Kauwcu berbahagia sekali, mana boleh aku tidak memberi selamat padamu?"

Kata Kong Thian.

"Apakah itu yang kau menyebutkannya bahagia?"

"Aku mendengar kabar kauwcu telah mengalahkan kaum Kaypang dan dari tangannya Thio Giok Houw telah mendapatkan sebuah ikat pinggang kumalayang berhara seperti harganya sebuah kota,"

Menyahut si berewokan itu.

"Inilah tindakan pertama dari kauwcu, umpama kata itulah percobaan pertama dari golok mustika, telah ternyata tajamnya golok itu. maka itu, apakah itu bukannya satu hal yang membahagiakan, yang menggirangkan?"

Cit Im Kauw tidak berhasil mengalahkan Kaypang tetapi mereka telah mendapat ikat pinggang kumala itu, hal itu membikin mereka girang sekali, mereka menganggap muka mereka bercahaya terang, maka juga, meskipun ia likat, Cit Im Kauwcu toh tertawa.

"Sebenarnya di dalam hal itu kami mengandal kepada pengaruh besar dari Tuan!"

Katanya. Giok houw heran. Dari pembicaraan mereka itu berdua, rupanya Le Kong Thian tidak tahu bahwa antara Cit Im Kauwcu dan ia ada janji pertemuan. Maka ia berpikir pula.

"Jikalau Cit Im Kauwcu berniat mencelakai aku, mestinya dia telah lantas memberitahukan maksudnya itu kepada Le Kong Thian, mestinya mereka sudah lantas turun tangan menawan aku. Dengan berhasil membekuk aku. bukankah itu pun suatu hal yang menggirangkan mereka? Sekarang mereka sudah tidak berbuat demikian..."

Dalam herannya itu, anak muda ini menjadi berpikir banyak.

"Habis, kenapa Cit Im Kauwcu menempatkan aku dalam kamar ini? Bukankah dia seperti sengaja membikin supaya aku dapat mendengar pembicaraan mereka itu?"

Kembali terdengar tertawanya Le Kong Thian, yang terus berkata.

"Aku pun mempunyai satu kabar girang yang bakal menambah kebahagian Kauwcu hingga pasti Kauwcu girang mendengarnya!"

Oen Giok agaknya heran.

"Apakah itu?"

Ia tanya.

"Aku telah datang ke mari atas titah tuanku, untuk merekoki jodohnya tuanku yang muda!"

Sahutnya.

"Bukankah itu satu hal hal yang sangat menggirangkan?"

"Siapakah yang dipenujui tuanmu itu?"

Cit Im Kauwcu menanya.

"Ah, Kauwt'oe bernura-nura saja!"

Kong Thian tertawa.

"Aku datang memberi selamat pada Kauwcu, dari itu tentu sekali aku datang untuk minum arak kegirangan dari puterimu!"

Mendengar kata-kata itu.

Giok Houw heran ditambah heran.

Ia heran sebab Le Kong Thian datang sebagai orang pertengahan, sebagai comblang.

Itulah tugas di luar dugaannya.

Lalu ia menjadi lebih heran pula mengingat, satu jago sebagai Kong Thian toh masih mempunyai tuan atau majikan.

Tidak pantasnya si berewokan ini masih diperintah orang pergi datang, tak selayaknya dia menjadi budak orang.

Kalau begitu, siapakah majikannya itu?

Majikan itu mesti bukan sembarang orang!

Atas kata-kata itu, Cit Im Kauwcu tidak lantas mengasi dengar suaranya.

Ia menuang dan meminum tehnya dengan perlahan-perlahan.

"Kenapa Kauwcu bersangsi?"

Kong Thian tanya.

"Bukankah tuan mudamu sudah mempunyai isteri?"

Kemudian tanya si nyonya rumah. Kong Thian tertawa.

"Isteri tetapi bukan isteri sah, bukannya isteri yang pertama,"

Dia menyahut.

"yang benar ialah tuan muda kami itu telah mengambil dua gundik. Untuk seorang lelaki, bukankah umum dia mempunyai tiga isteri dan empat gundik? Apakah Kauwcu memberati ini? Baiklah, jikalau Kauwcu masih kurang puas, aku mengajukan pula suatu jaminan!"

"Jaminan apakah itu?"

Cit Im Kauwcu tanya.

"Pada harian nikah nanti, majikan mudaku sendiri yang akan datang ke mari untuk menyambut pengantinnya, dia akan sekalian membawa kedua gundiknya untuk mereka bersama menghunjuk hormatnya kepada Kauwcu. lalu di hadapan para tertua Rimba Persilatan yang menghadiri pesta nikah itu, akan dibikin secara sah surat pernikahan dengan mana ditetapkan puteri Kauwcu menjadi isteri pertama dan sah! Apakah dengan begini masih ada yang meraguragukan Kauwcu?"

Menurut Giok Houw, jaminan itu ialah jaminan tidak keruan.

Bukankah selayaknya saja di harian nikah si mempelai laki-laki datang sendiri menyambut isterinya?

Bukankah surat nikah ada keharusan umum?

Bukankah tak umumnya yang gundik atau gundik-gundik datang menghunjuk hormat kepada nona pengantin atau orang tua nona pengantin itu?

Tapi Cit Im Kauwcu agaknya setuju dengan jaminan itu.

Dia tertawa dan berkata.

"Agaknya Keluarga Kiauw bersungguh-sungguh!"

"Jika Keluarga Kiauw tidak bersungguh-sungguh, mana aku sudi datang ke mari untuk menjadi orang pertengahan bagi tuan mudaku itu?"

Kata KongThian.

"Dengan main gila, apakah tiga nama Le Kong Thian masih dapat mendengung di dalam dunia Rimba Persilatan? Maka itu, Kauwcu, aku suka memberi pikiran kepada kau untuk kau jangan ragu-ragu pula. Untuk kau, perangkapan jodoh ini akan menguntungkan bukan main, bukan saja Cit Im Kauw menjadi ada senderannya juga mustika yang kamu rampas itu boleh tidak usah dipeserahkan kembali!"

Giok Houw bertambah herannya. Ia memikirkan.

"Siapakah Keluarga Kiauw itu? Kenapa dia begini berpengaruh? Bukankah perjodohan semacam begini bukannya perjodohan yang wajar? Kenapa Cit Im Kauw, yang demikian berpengaruh, nampaknya tidak menjadi mendongkol bahkan sudi menundukan kepala? Pula aneh Le Kong Thian ini. Benar-benarkah dia budaknya Keluarga Kiauw itu? Kalau budak, mengapa dapat menjadi comblang, bahkan dia dapat mengambil keputusan?"

Siauw Houw Cu muda.

tetapi pengalamannya sudah banyak, pengetahuannya luas, hanya kali ini, ia dibikin bingung agaknya.

Ia pula lantas dibikin bingung oleh sikapnya Cit Im Kauwcu, yang mulanya nampak menyetujui lamarannya Kong Thian itu.

Sesudah berdiam sekian lama, kauwcu itu memberikan jawabannya.

"Aku menghaturkan banyak-banyak terima kasih untuk kebaikan Le Toaya! Aku menghaturkan banyak-banyak terima kasih kepada majikanmu yang telah menghargai padaku, hanya tentang perjodohan ini, aku tidak dapat menerimanya."

Kong Thian terperanjat.

"Kenapakah?"

Ia tanya heran sekali.

"Anakku telah ada jodohnya,"

Menyahut nyonya rumah singkat.

Itulah alasan belaka untuk menampik.

Sekalipun Giok Houw, ia tidak mempercayainya.

Kalau alasan itu alasan benar, perlu apa Im Oen Giok menanyakan tentang gundik orang?

"Kauwcu!"

Berkata Le Kong Thian. Ia tertawa, tetapi dingin tertawanya.

"Mengapa Kauwcu tidak hendak omong terus terang bahwa kau mencela keluarga Kiauw itu?"

Cit Im Kauwcu pun mengasi lihat roman sungguhsungguh.

"LeToaya, berat kata-katamu ini!"

Sahutnya.

"Tetapi, Kauwcu,"

Kata pula Kong Thian.

"sebelum aku mengajukan lamaran ini, telah aku menyelidikinya terang, sama sekali puterimu belum ada jodohnya!"

"Perjodohan itu baru saja ditetapkan."

Kong Thian bertambah heran.

"Siapakah pihak laki-laki itu?"

"Maaf, aku tidak dapat menyebutkan nama pihak lelaki itu."

"Hm, Kauwcu!"

Kata KongThian dengan suara di hidung.

"benar-benar kau hendak mempersulit aku! Baiklah, pembicaraanmu ini akan aku sampaikan kepada majikanku, tidak sepatah kata juga yang akan aku sembunyikan."

"Urusan perjodohan ini berhasil atau gagal, itulah tetap satu urusan, persahabatan kita tetap ada,"

Kata Cit Im Kauwcu.

"Le Toaya, kau tidak menjadi kurang senang, bukan?"

"Aku hanya mewakilkan majikanku yang muda untuk mengajukan lamaran,"

Kata I e Kong Thian.

"Bahwa aku kecele atau tidak, itulah bergantung nanti kepada cara berpikirnya majikanku yang muda itu. Hanya, Kauwcu, maafkan aku omong terus terang, sekalipun benar puterimu telah dijodohkan kepada lain orang, akan tetapi perlulah kau menimbang masak-masak kecuali memangnya Cit Im Kauw tidak berniat mengangkat kepala di dalam dunia kangouw ini!"

Untuk sejenak, nampaknya Cit Im Kauwcu ragu-ragu, tetapi setelah berpikir, ia berkata.

"Membatalkan perjodohan itu atau menetapkan perjodohan yang baru. semua itu bergantung kepada anakku sendiri!"

Kong Thian heran tapi ia tertawa.

"Kalau begitu ayah dan ibu jadi sudah tidak dapat berkuasa lagi?"

Tanyanya.

"Anakku itu anak satu-satunya, terpaksa aku menyayangi dia secara berlebih-lebihan,"

Menjawab si nyonya.

"Di dalam urusan perjodohannya, terpaksa aku mesti memerlukan persetujuannya sendiri, segala apa harus dijelaskan kepadanya."

Kong Thian mendapat harapan pula, maka ia memikir untuk jangan terlalu memaksa.

"Kalau begitu, aku minta sukalah Kauwcu berdamai sama puterimu itu,"

Katanya.

"Aku akan menanti kabar di sini."

Cit Im Kauwcu lantas mengundurkan diri.

Kong Thian berada sendirian, ia berjalan mundarmandir.

Beberapa kali ia mengasi dengar tertawa aneh.

tertawa kepuasan.

Giok Houw di dalam kamarnya tetap menantikan, iajadi tertarik hati dan ingin mengetahui akhirnya pembicarahan hal jodoh itu.

Tapi ia segera diganggu oleh munculnya wanita yang tadi melayaninya.

Dia itu muncul dari pintu yang menghadap ke taman itu.

Dia datang tanpa bicara, hanya mengulapkan tangan menggapai, untuk mencegah ia bicara, supaya ia suka ikut dia itu.

Bukan main herannya anak muda ini tetapi ia bertindak perlahan, mengikuti anggauta wanita dari Cit Im Kauw itu.

Ia diajakjalan berliku-liku pula, melewati beberapa lorong, sampai di depan sebuah kamar.

"Kau masuklah!"

Berkata pengantar itu. Giok Houw menurut. Ia menolak daun pintu, untuk bertindak masuk. Di dalam situ ia melihat Cit Im Kauwcu lagi duduk menantikan. Ia heran sekali.

"Bukannya dia berdamai sama puterinya, dia menantikan aku di situ,"

Pikirnya.

"Apakah perlunya?"

Im Oen Giok menunjuk sebuah kursi di sampingnya. Dia menyuruh duduk.

"Bukankah gurumu itu Thio Tan Hong?"

Dia lantas menanya.

"Benar,"

Menyahut Giok Houw dengan sikap menghormat.

"Kabarnya ketika di Chongsan dia pernah mengalahkan Ci Hee Tojin... Ah, itu pun bisa dibilang dia telah membantu aku melampiaskan dendamanku..."

Kauwcu itu bicara seorang diri dan dengan perlahan sekali.

Giok Houw tidak menyangka Oen Giok mengeluarkan kata-kata itu di depannya.

Itulah pengutaraan kesebalan atau kejemuan terhadap gurunya yaitu Ci Hee Tojin.

Tapi, ia masih mesti menghadapi lain keanehan pula.

Cit Im Kauwcu mengawasi dengan tajam, sinar matanya dimainkan.

Ia melihat itu, ia merasa lucu.

Pikirnya.

"Aku toh bukannya si tuan muda keluarga Kiauw itu! Perlu apa kau memandangi aku?"

Cit Im Kauwcu masih mengawasi, lalu terlihat dia bersenyum.

"Eh, bocak cilik, kau sudah menikah atau belum?"

Sekonyong-konyong dia menanya. Itulah puncaknya keheranan si anak muda.

"Aku datang ke mari untuk membicarakan pertukaran barang bingkisan dengan orang-orangmu!"

Ia berkata.

"Perlu apa kau menanya urusan pribadiku sendiri?"

"Bukankah kau telah mendengar pembicaraan Le Kong Thian barusan?"

Si nyonya tanya. Ia mengawasi, ia tidak menjawab pertanyaan orang.

"Apakah sangkutannya itu dengan aku?"

"Anakku tidak dapat menerima baik lamaran keluarga Kiauw itu, kau tahu apa sebabnya?"

Hati Giok Houw bercekat. Cit Im Kauwcu tidak memperdulikan apa yang si anak muda pikir.

"Aku tidak sangka kau beruntung sekali, bocah!"

Demikian katanya Dia seperti bicara sama dirinya sendiri.

"Anakku penuju padamu!"

Melihat sikap nyonya ini, agaknya ia menghendaki si anak muda bersyukur karenanya. Giok Houw tapinya tidak puas.

"Eh, kau mau bicara atau tidak?"

Ia tanya.

"Mana ikat pinggang kumala itu? Mari serahkan itu padaku, untuk aku bawa pulang, nanti aku lantas memerdekakan empat belas muridmu!"

Mendadak kauwcu itu bangun berdiri.

"Ah, apakah benar kau tidak puas dengan anakku?"

Dia tanya.

"Heran!"

Menjawab Giok Houw.

"Keluarga Kiauw memaksa melamar anakmu, kau tidak mupakat! Kenapa sekarang kau memaksa aku?"

"Bagus ya!"

Berseru si nyonya.

"Ikat pinggang kumala itu! Kau hendak membawanya pulang atau tidak!"

"Jangan kau lupa!"

Giok Houw pun mengancam.

"Masih ada empat belas orangmu di tangan Kaypang!"

"Hm!"

Kata si nyonya dingin.

"Asal aku menerima baik lamaran Keluarga Kiauw itu, tidak usah sampai si mahluk aneh she Kiauw sendiri yang turun tangan, asal aku bekerja sama dengan si orang she Le, sudah cukup akan aku menyerbu ke sarang Kaypang! Siapa dapat menahan kami? Apa aku mesti takut tidak dapat menolongi orang-orangku itu? Sekalipun kau. bocah, jangan harap kau dapat pulang dengan masih hidup!"

Giok Houw mengibaskan tangan bajunya sambil berbangkit, niatnya untuk menerjang keluar, guna keluar dari kamar itu, atau hampir berbareng, ia mendengar suara keras dan tajam di luar kamar.

"Kejar! Kejar penjahat perempuan itu!"

Di tempatnya Cit Im Kauwcu ada penjahat, itulah keanehan paling besar, maka juga Cit Im Kauwcu mencelat bangun, berbareng bersama si anak muda, dia maju ke jendela, untuk memandang ke luar.

Mereka melihat seorang nona.

dengan pakaiannya berkibar-kibar, tengah lari menuju ke arah tembok pekarangan, lincah gerakannya itu.

Segera menyusul masuknya Im Siu Lan.

gadisnya Oen Giok, romannya sangat bingung.

Segera dia berkata dengan suara tajam.

"Ibu. lekas! Bangsat perempuan itu membawa lari ikat pinggang kumala!"

Dialah yang tadi itu berseru tajam memerintahkan mengejar penjahat.

Giok Houw heran akan menyaksikan si nona pembawa lari ikat pinggang kumala itu.

yang ia lantas kenali ialah Nona Liong yang ia tak dapat melupakannya!

Tengah pemuda ini melongo saking herannya, ia mendengar suara "Ser!"

Keras.

Itulah Cit Im Kauwcu, yang telah menimpuk dengan sebatang Tokci hoan atau cincinnya yang beracun, menyusul mana tubuhnya juga berlompat tinggi, melesat melintasi jendela, untuk menyusul si penjahat wanita.

"Awas. Tokci hoan!"

Giok Houw berseru. Hanya, belum lagi berhenti suaranya itu atau Cit Im Kauwcu sudah menghalang di depan Nona Liong, guna mencegah si nona kabur terus.

"Aku tahu!"

Demikian suara si nona.

yang tangannya mengibas, hingga cincin beracun itu gagal mengenai sasarannya.

Terus si nona tertawa manis.

Tapi hanya sejenak, lantas terdengar suara memberebet.

Inilah disebabkan ujung bajunya, yang barusan dipakai mengibas, sudah robek disamber tangannya nyonya rumah yang bengis itu!

Gebrakan itu telah segera menunjuki lihainya kedua pihak.

Cincin beracun telah kena dihalau oleh si nona, tetapi si nona.

sendiri robek ujung bajunya yang panjang.

Biar bagaimana, si nona masih menang seurat.

Hanya habis itu, Cit Im Kauwcu sudah mengulangi serangannya, beruntun tiga kali.

Nona Liong melayani, bukan dengan membalas menyerang, hanya sambil main berkelit.

Dan ia senantiasa berhasil menyelamatkan dirinya.

"Kauwcu. tahan!"

Akhirnya Giok Houw berseru.

Ketika itu Im Siu Lan telah tiba di antara mereka, ia sudah lantas membacok Nona Liong, akan tetapi goloknya dirintangi si pemuda.

Ia terkejut hingga ia mundur tiga tindak, mukanya pucat.

"Apakah kau satu golongan dengan bangsat perempuan ini?"

Ia tanya bengis, goloknya disiapkan untuk mengulangi serangannya.

"Bocah tidak tahu diri!"

Cit Im Kauwcu pun berseru.

"Hari ini jangan kau mengharap dapat lolos dari tangan nyonya tuamu, kecuali dalam impian!"

"Sabar, kauwcu!"

Giok Houw berkata pula. la tidak menggubris cacian.

"Aku hendak bicara."

"Ibu. coba dengar perkataannya,"

Berkata Siu Lan.

"Kauwcu,"

Kata Giok Houw selagi si nyonya belum menjawab gadisnya.

"sebagaimana kau sudah ketahui, aku datang ke mari untuk merundingkan soal pertukaran barang dengan manusia. Tentang nona ini, baiklah aku menjelaskan. Ia benar-benar sahabatku. Maka itu, setelah dia mendapat ikat pinggang kumala itu, itulah sama saja dengan aku yang mendapatkannya. Perihal orang-orangmu yang menjadi tawananan pihak Kaypang, kau serahkan mereka padaku, akulah yang menanggung, nanti aku merdekakan mereka! Cara pertukaran ini toh tepat dan kamu tidak menampak..."

Alisnya Siu Lan bangun berdiri.

"Pernah apakah dia denganmu?"

Ia menanya bengis. Giok Houw tidak menyahuti, bahkan dia lantas berdiri berendeng di samping Nona Liong, sambil memandang Cit Im Kauwcu, ia kata.

"Kauwcu. terserah pada kau, kau ingin bertempur atau damai! Cukup dengan satu katakatamu!"

"Lebih dulu kau suruh bangsat perempuan itu membayar pulang ikat pinggang kumala itu!"

Berkata Cit lm Kauwcu.

"Habis itu, dapat aku membiarkan dia pergi!"

Nona Liong tertawa, dia mendahului si pemuda menyahuti.

"Sahabatku ini berlaku terus terang dan mulia,"

Katanya.

"dia sengaja membiarkan aku menang bertaruh, maka itu mana bisa aku pun membiarkan dia?"

Nona Liong dan Giok Houw lagi bertaruh, tentu sekali Im Siu Lan tidak ketahui itu.

ia hanya menjadi mendongkol saking jelusnya mendengar lagu suara si nona itu terhadap si anak muda-lagu yang manis sekali.

Maka akhirnya ia membanting kakinya.

"Sudahlah, ibu, jangan perdulikan dia! Kau turun tanganlah!"

Dengan "dia."

Ia maksudkan Giok Houw. Nona Liong tidak takut, bahkan dia tertawa geli "Ah, nona, kau sungguh menarik hati!"

Katanya, menggoda.

"Jadinya, pada sebelumnya kamu turun tangan, lebih dulu kamu masih memperdulikan sana sini?..."

Siu Lan menjadi gusar, ia maju untuk membacok.

Nona Liong mengeluarkan Tiatsiu Kanghu, kepandaian Tangan Baju Besi, maka sekali ia mengibas, tangan bajunya menangkis golok, dengan berbunyi nyaring, golok Liuyap to dari Siu Lan lantas tersampok terbang, jatuh di tanah.

Justru itu punggung Siu Lan ada yangjambak, untuk ditarik mundur.

Itulah Cit lm Kauwcu, yang kuatir gadisnya tcrluka, yang sudah lantas menarik mundur anaknya itu.

Nona Liong memandang Giok Houw.

ia tertawa.

"Siauw Houw Cu, kau masih berat untuk berlalu atau tidak?"

Tanyanya.

Hati si pemuda berdebaran.

Inilah yang pertamakah nona itu memanggil ia dengan nama kecilnya itu, aliasnya.

Tentu sekali, ia suka lantas meninggalkan tempat berbahaya itu.

maka ia mengangguk.

Hanyalah, di saat ia memikir untuk menyingkir berbareng bersama si nona, keduanya segera dikejutkan oleh satu suara keras dan nyaring, yang berisik sekali.

Di samping mereka, tembok pekarangan gempur tidak keruan-keruan, membuat sebuah liang yang besar sekali, batu dan pasir kapurnya runtuh berhamburan, setelah mana terdengar suara tertawa nyaring dari Le Kong Thian, yang muncul dari antara liang tembok itu.

Teranglah, dengan Tokkak Tongjin, atau boneka kuningan yang berkaki tunggal, yang menjadi gegamannya, dia menggempur tembok itu hingga berlubang, untuk dia segera dapat masuk ke pekarangan dalam itu.

Nona Liong tercengang melihat ketangguhan orang itu.

Le Kong Thian maju untuk menghalang di jalanan yang bakal diambil sepasang muda-mudi itu.

di lain pihak sambil menghadapi Cit Im Kauwcu ia tertawa dan berkata kepada kauwcu itu.

"Bukankah kamu ibu dan anak telah bicara selesai? Bagaimana lamarannya keluarga Kiauw itu, kamu dapat menerima atau tidak?"

Mukanya Siu Lan menjadi merah, ia gusar berbareng malu sekali, bergantian ia memandang Giok Houw dan comblang dari pihak keluarga Kiauw itu, atau mendadak ia mengasi dengar tangisannya, air matanya terus meleleh turun.

Kong Thian heran.

"Nona Im, siapakah menghinamu?"

Ia tanya. Matanya Cit Im Kauwcu mencilak dan berputar.

"Rumah kami kedatangan penjahat!"

Ia berkata, suaranya sengit.

"Ini penjahat perempuan telah merampas ikat pinggang dari tangan anakku ini!" -dia menuding kepada Nona Liong.

"Aku belum mempunyai kesempatan berbicara kepada anakku apa pula mengenai urusan perjodohan itu..."

Kong Thian tertawa berkakak.

"Inilah urusan sangat kecil!"

Katanya.

"Apakah ini ada harganya untuk ditangiskan? Baiklah, nanti aku menolongi kau merampasnya pulang!"

Hanya dengan satu gerakan "Taysan apteng,"

Atau "Gunung Taysan menindih batok kepala,"

Dengan boneka kuningannya, si orang kuat menghajar kepalanya Nona Liong. Dengan sebat dan lincah, nona itu berkelit.

"Bagus!"

Berseru si raksasa.

Bagaikan angin cepatnya, bonekanya itu sudah berbal ik menyapu ke arah pinggang si nona.

Selagi Nona Liong berkelit pula.

Giok Houw menyerang dengan Bianto, goloknya yang lihai itu.

Ia membabat.

Itulah tindakan guna menolong si nona.

Le Kong Thian menggeraki terus bonekanya, hingga boneka dan golok bentrok keras, suaranya nyaring, lelatunya meletik.

Dan Giok Houw, dia terhuyung mundur saking kerasnya benturan boneka kuningan itu.

Im Siu Lan kaget hingga ia berhenti menangis dengan tiba-tiba.

"Ikat pinggang kumala itu dirampas si bangsat perempuan, kau tangkap si bangsat perempuan saja!"

Teriaknya. Le Kong Thian tertawa.

"Aku mengerti!"

Jawabnya.

Dia berlompat maju ke arah Giok Houw, untuk sebelum si anak muda sempat memperbaiki kedudukannya, menghajar pula dengan dahsyat.

Di saat sangat mengancam untuk si anak muda, satu pedang bersinar berkeredepan.

menyambar kepada si orang kuat-menyambarnya dari atas ke bawah.

Sebab Nona Liong telah mengambil kesempatan untuk mencelat tinggi, guna menyerang orang yang lagi mau membinasakan Giok Houw.

Itulah sabatan pedang "Houw Tek siagoat"

Atau "Houw Tek memanah rembulan."

Ujung pedang, dengan melintasi pinggiran boneka, meluncur ke tenggorokan.

Ketika itu, Le Kong Thian juga tengah berlompat, maka terpaksa ia menarik pulang gegamannya, untuk melindungi dirinya.

Nona Liong membatalkan serangannya, ia turun ke tanah, disusul si orang kuat.

Giok Houw mendapat ketika, ia dapat memperbaiki diri, tetapi ia tidak terus berdiri diam saja, hanya dengan sebat ia maju menyerang dengan goloknya, membabat lengan si orang kuat.

Ia mengeluarkan jurusnya "Burung bangau putih menyisih bulu."

Le Kong Thian heran untuk Nona Liong, serangannya tadi sangat luar biasa dan berbahaya.

"Dia hebat, dia tak di bawahan Thio Giok Houw;"

Pikirnya.

"Hari ini aku dilibat dua bocah ini, mungkin aku sulit melayani mereka..."

Maka itu.

di satu pihak ia menangkis si anak muda, di lain pihak ia memasang mata kepada si pemudi.

Tepat sekali dugaannya, sebab si nona kembali menyerang ia secara mendadak tengah ia melayani Giok Houw.

Le Kong Thian sudah siap sedia, ia tidak takuti bokongan si nona.

hanya segera ia mendapatkan cara serangan yang luar biasa.

Nona Liong menggunakan "Kim ciam touw bian,"

Atau Jarum emas menembusi benang, satu jurus dari ilmu silat berantai Lianhoan Toatbeng Kiamhoat dari Butong Pay.

Ujung pedang seharusnya menyontek ke atas.

guna menikam kerongkongan, untuk disambungi dengan "Giokli touwso"

Atau "Bidadari menenun,"

Untuk diubah lagi dengan "Kera putih meloncati cabang,"

Demikian seterusnya.

Dengan begitu serangan barulah cocok dengan namanya ilmu silat itu, Lianhoan Toatbeng Kiamhoat, atau Merampas Jiwa Berantai.

Akan tetapi Nona Liong tidak melanjuti jurus itu menuruti runtunannya, baru jurus yang pertama, ujung pedang sudah mengubah sasaran, ialah dari tenggorokan ke arah tulang selangka, untuk memutuskan tulang piepee yang sangat berbahaya itu.

Sebab siapa rusak tulang selangkanya, habis juga semua ilmu kepandaiannya.

Le Kong Thian lihai sekali, walaupun ada itu perubahan mendadak, ia masih dapat melindungi dirinya.

Nona Liong mengubah terus urutan serangannya.

Ia tidak menggunakan Giokli Touwso, ia rubah itu dengan "Kimkong hokmo"

Atau "Arhat menakluki iblis."

Satu jurus dari Tatmo Kiamhoat dari Siauwlim Pay.

Kalau Giokli Touwso itu lunak.

Kimkong Hokmo adalah keras.

Kong Thian dapat menangkis, tetapi karena serangan bukan lunak seperti dugaannya, ia tidak dapat menangkis dengan tepat, ujung pedang saking kerasnya meluncur terus, hingga tahu-tahu ia kaget karena pundaknya dimampiri ujung pedang!

Nona Liong girang sekali dengan hasil penyerangannya itu.

Setelah itu.

ia tinggal menyontek saja.

Kong Thian lihai, meski ia sudah terluka, selama ujung pedang belum disontekan terlebih jauh, ia masih dapat berdaya.

Demikian ia terus mendak, hingga si nona tidak dapat menyontek, bahkan pedangnya itu seperti kena ditempel, sampai tidak dapat segera ditarik pulang.

Karena ini, ia lantas menggunakan gagang bonekanya, guna menyodok si nona, untuk menotok jalan darahnya di betulan dada.

Di situ memang pernahnya joanmoa hiat, otot "najong lunak."

Giok Houw tidak berdiam saja guna menolongi si nona ia membacok, sedang si nona sendiri membarengi menarik pedangnya sambil berkelit, seraya dengan tangan yang lain ia mengibas ke arah mukanya lawan, untuk membikin kabur mata orang.

Giok Houw sendiri melanjuti menotok ke pundak dengan totokan Tiatci Sinkangatau Jeriji Besi.

Biarpun ia sangat lihai, Kong Thian toh terpaksa mesti berkelit.

Maka itu, bebaslah pedang si nona.

Cit Im Kauwcu menyaksikan pertempuran itu, melihat orang menggunakan jurus-jurus yang lihai itu, ia heran dan kaget.

Ia telah memikir, ia mesti turun tangan, guna membantui Le Kong Thian.

akan tetapi waktu ia memandang gadisnya, ia lantas mengubah pikirannya, ia menjadi berdiam saja, ia hanya menonton terus.

Itulah sebab ia melihat tegas matanya Siu Lan diarahkan berulang-ulang pada si anak muda.

Terang anaknya, yang sangat disayang itu, masih mengharapi Giok Houw.

Giok Houw sendiripun berkelahi dengan kaget dan girang dengan berbareng.

Kaget sebab ia mendapat bukti nyata lihainya Kong Thian.

Yang membikin ia girang ialah ia dapat bertempur bersatu padu dengan si nona meskipun inilah yang pertama kali mereka bergebrak bersama melawan satu musuh yang tangguh, mereka seperti juga sudah pernah berlatih bersama.

Rupanya disebabkan si nona mengerti ilmu silat dari banyak partai persilatan lainnya maka dia jadi dapat mencocoki diri di dalam waktu yang pendek sekali.

Le Kong Thian juga mendapat perasaan kaget dan girang seperti Giok Houw itu.

Ia kaget karena kekuatirannya nanti tidak sanggup mengalahkan sepasang muda-mudi itu.

Kalau ia gagal, ia bakal ditertawakan Cit Im Kauwcu.

Bukankah kauwcu itu cuma menonton?

Ia girang sebab mendapat kenyataan Nona Liong sangat cantik, melebihi Im Siu Lan, sedang ilmu silatnya juga menang banyak dari puterinya Cit Im Kauwcu itu.

Hingga ia berpikir.

"Kalau majikan muda mendapat tahu ada nona begini cantik, aku tanggung dia akan mensia-siakan semua nona-nona yang berada di dampingnya!"

Jago ini berpikir demikian sebab ia tahu benar maksud utama dari KeluargaKiauw melamar Im Siu Lan, ialah agar setelah adanya hubungan pernikahan itu, mereka dapat mempunyai "Pektok Pithong,"

Yaitu kitab ilmu obat-obatan yang beracun dari Cit Im Kauw.

Mereka sudah lihai dalam ilmu silat, dengan lihai juga dalam ilmu obat-obatan-di dalam hal ini.

segala macam racun --maka pastilah mereka dapat menjagoi seorang diri.

Jadinya, buku obat yang perlu, bukan dirinya Siu Lan...

Siu Lan tidak mendapat tahu maksudnya Kong Thian itu.

maka ia mengharap-harap sangat Kong Thian nanti berhasil mencekuk si nona perampas ikat pinggang kumalanya.

la pikir, jikalau nona itu tidak dapat dibekuk hidup-hidup, dihajar mampus pun boleh.

Ia mengawasi dengan perhatian.

Di dalam pertempuran itu, Le Kong Thian telah memisah perhatiannya.

Di dalam sepuluh bagian, yang tujuh ia utamakan terhadap Thio Giok Houw, yang tiga terhadap Nona Liong.

Tentu sekali, menampak itu, hati Siu Lan menjadi gegetun.

Di lain pihak, Nona Liong tidak sudi menerima baik itu macam kebaikan hati dari orang tangguh ini, dari itu ia menyerang dengan bengis sekali, cepat dan membahayakan.

Ia senantiasa mencari jalan darah.

Giok Houw telah lantas menggunakan ilmu golok "Pek Hian Ki,"

Karena ia menginsafi bahwa ia lagi melayani seorang lawan kosen sekali.

Dengan begitu, ia membuat tubuhnya bagaikan dikurung berkilauan goloknya.

Sia-sia belaka Kong Thian mencoba merobohkan si anak muda, bahkan karenanya beberapa kali hampir ia merasai ujung pedang si pemudi.

Lewat lagi sekian lama, Le Kong Thian lantas merasakan dirinya terdesak di bawah angin.

Di samping itu ia menyaksikan Cit Im Kauwcu bersama puterinya menonton saja, maka ia mendongkol bukan main.

saking mendongkol, ia jadi berkelahi dengan keras, dengan bonekanya saban-saban ia menyampok golok Bianto dari si anak muda.

sampai ia seperti tidak menghiraukan lowongannya sendiri.

Untuk bisa melumpuhkan perlawanan Nona Liong, ia berani menggunakan "Khongciu Jippek Jin."

Yaitu ilmu tangan melawan senjata tajam, guna mencoba merampas pedang si nona.

Atas ini, nona itu melakukan perlawanan dengan menunjuki kelincahan tubuhnya, berkelit sana dan berkelit sini bagaikan ikan yang licin...

Giok Houw lihai matanya, ia mendapat lihat jalannya pertempuran itu.

iajuga segera menggunakan saatnya dengan baik.

Demikian satu kali ia merangsak ke tengah, ujung goloknya menyontek ke dada lawannya.

Le Kong Thian tetap lihai iajuga melihat segala apa.

Justru ia diserang secara berbahaya itu, ia lantas menekan pesawat rahasia dari bonekanya itu, maka mulutnya boneka itu terpentang sendirinya, mulut itu dipakai menyambut golok Bianto, untuk digigit atau dijepit, berbareng dengan mana, ia berseru nyaring, bonekanya diteruskan, dipakai menghantam si anak muda.

Itulah apa yang dinamakan serangan dari tenaga seribu kati...

Kalau Giok Houw tidak melepaskan goloknya dan lompat berkelit, celakalah ia...

Im Siu Lan kaget hingga tak dapat ia tak berseru tajam, sebelah tangannya terayun, melepaskan lima biji Tokci hoan ke arah Kong Thian!

Di dalam waktu yang sangat genting itu, tubuhnya Nona Liong berkelebat dan Kong Thian memperdengarkan jeritan luar biasa.

Sebab sebat luar biasa, ujung pedang nona itu telah membabat kutung setabung rambutnya!

Giok Houw mundur dengan terhuyung menyusul jeritan luar biasa itu.

Suara tingtong 1ima kali terdengar saling susul.

Itulah suaranya Tokci hoan yang nengenai boneka kuningan dan mental balik sendirinya.

Di lain pihak Cit Im Kauwcu sudah merangkul tubuh puterinya, untuk dibawa berlompat mundur setombak lebih, ke tempat yang aman, sambil ia menegur.

"Hai, budak, kau benar-benar tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi! Le Toaya lagi melayani dua bocah itu, mana perlu dia mendapatkan bantuanmu?"

Dengan maksud sengaja Cit Im Kauwcu mengucap demikian, itu melulu untuk melindungi puterinya, sebab ia tahu betul, anaknya justru menyerang Kong Thian guna menolongi Thio Giok Houw.

Le Kong Thian mengerti segala apa, ia tahu bagaimana ia harus membawa sikapnya.

Maka ia tidak hendak membeber rahasia hatinya Nona Im.

Ketika itu, ia pun tengah diserang rapat pula oleh Giok Houw dan Nona Liong, kedua muda-mudi yang nyata lihai.

Ia membiarkan Im Oen Giok dengan ocehannya itu.

"Jikalau aku tidak melukakan dia, ada kemungkinan hari ini aku roboh di tangan mereka berdua,"

Berpikir Kong Thian kemudian. Dengan "dia,"

Ia maksudkan Nona Liong. Ia telah melihat bagaimana ia hendak didesak. Barusan toh, selagi ia mau merobohkan si pemuda, si pemudi telah menghalanginya, hingga pemuda itu lolos dari tangannya.

"Sudah, biarlah, nanti aku carikan lain nona cantik untuk majikanku yang muda..."

Dengan keputusannya ini, ia lantas memutar bonekanya, untuk mendesak kedua lawan itu.

karena mana, meskipun si nona lihai sekali ilmu pedangnya, tidak dapat dia menoblos kurungan itu.

Hanya, biarpun demikian, Kong Thian tidak bisa merampas ketika, hingga kesudahannya, mereka berimbang, sama kuatnya.

Sesudah bertarung lebih daripada seratus jurus.

Nona Liong telah bermandikan keringat, sedang Le Kong Thian, napasnya bekerja lebih cepat daripada biasanya dan hatinya berdebaran disebabkan penasaran dan kekuatirannya, sebab ia ingin mempercepat ber hentinya pertempuran itu tetapi ia tidak berhasil.

Ia mengerti baik sekali bahayanya untuk bertempur lama, bahkan ada kemungkinan, mereka bercelaka bersama bertiga...

Hanya, setelah sampai sebegitu jauh, Le Kong Thian melihat nyata, meskipun si nona lihai ilmu pedangnya, kiamhoat, dia masih kurang latihannya dalam hal kanglek.

atau tenaga dalam, dia masih kalah dari Giok Houw, maka ia lantas memikir akal, yang terus juga ia mewujudkannya, ialah tengah mereka berkutat seru itu, mendadak ia menggertak Giok Houw dengan satu serangan, selagi si anak muda berkelit, ia terus menghajar Nona Liong!

Beratnya tokkak tongjin dari Kong Thian ini ada seratus dua puluh hati, maka bisalah dimengerti hebatnya ketika ia menggunakan seluruh tenaganya untuk menyerang.

Itulah ada bagaikan gunung Taysan roboh menguruk batuk kepala.

Giok Houw kaget bukan main.

Mana bisa ia mencegah lagi?

Mana dapat hajaran itu ditangkis?

Terpaksa ia mengayun tangannya, dengan goloknya ia menimpuk Kong Thian!

Justru itu Nona Liong terdengar tertawa gembira, ia bukannya remuk terhajar boneka kuningan itu, ia justru berada di atasnya, tubuhnya terangkat dengan meminjam tenaga pedangnya yang ujungnya ditempelkan pada boneka itu.

hingga tubuhnya itu menjadi seperti berada di tengah udara.

Kong Thian tidak menyangka sama sekali.

Itulah ilmu ringan tubuh yang mahir luar biasa.

Saking heran, ia menjadi melengak.

Justru ia melengak, justru goloknya Giok Houw tiba.

Biarnya ia lihai.

tidak ada kesempatan untuknya menarik pulang bonekanya, atau hanya berkelit.

Tepat golok mengenai pundaknya!

Hanya luar biasa, golok itu mental balik...

Giok Houw terkejut.

Ia tidak menyangka lawan begini lihai.

sekalipun golok mustika tidak mempan terhadapnya.

Golok mengenai pundak dengan menerbitkan suara, hanya bukan suara logam membentur daging atau tulang tetapi toh logam itu kalah.

Ia pun melengak, hanya lekas juga ia sadar sendirinya, hingga ia dapat memikir untuk mengadu tenaga kosong...

Nona Liong tidak terus berdiam di udara bagaikan anak dangsu, ia tidak membiarkan pedangnya duduk tetap di atas boneka kuningan itu, dengan mengerahkan sedikit tenaganya, ia bergerak, untukjumpalitan mendekati musuh, guna menikam dengan pedangnya itu.

Pedangnya telah berkelebat seperti bianglala.

Kong Thian bukannya tidak terluka sama sekali.

Sebenarnya dua helai otot di pundaknya itu telah tertusuk putus, hanya dua lembar otot saja tidak membahayakan jiwanya, ia tidak terhalang untuk berkelahi terus.

Hanya lacur untuknya, ia tetap kalah gesit menghadapi pemudi itu, meski ia mencoba berkelit, dengan mengegos juga kepaianya.

toh pundak kirinya tertancap juga ujung pedang nancap dalam tiga dim.

Jadi luka ini lebih besar daripada luka pundaknya yang kanan.

Ia kaget dan berkuatir.

ia menjerit keras sekali, dengan sekuat tenaganya ia mengangkat bonekanya, untuk dilemparkan, hingga senjata itu jatuh terbanting di tanah, atas mana ia membuka tindakannya, untuk lari kabur.

Biarpun ia sangat murka, tidak berani ia berkelahi terus.

Menyusul larinya si raksasa, Nona Liong pun berlompat ke tembok, hanya ia mengambil lain jurusan daripada arahnya Le Kong Thian.

Thio Giok Houw tahu apa yang ia harus lakukan, dengan cepat ia memungut goloknya, ia menghadap Cit lm Kauwcu untuk memberi hormat seraya berkata.

"Kata-katanya seorang kuncu sama dengan dicambuknya sekor kuda yang larinya pesat, maka itu, dengan ikat pinggang kumala telah diambil oleh pihakku, besok orang-orangmu bakal dilepas pulang!"

Im Siu Lan telah menyaksikan semua itu. kupingnya telah mendengar perkataan si anak muda, ia menjadi melongo. Cit Im Kauwcu menghela napas, ia berkata dengan perlahan.

"Anak tolol, orang hendak berlalu, mana dapat kita menahannya?"

Kata-katanya Oen Giok ini mengandung dua maksud.

Di samping itu berarti Giok Houw tidak dapat ditahan pula, sebab orang pun bagaikan air mengalir yang tidak menghiraukan bunga yang rontok--tegasnya orang tidak menyinta, juga terang sudah, tidak bisa mereka menangkap anak muda itu selagi Le Kong Thian yang demikian gagah kena dipecundangi mereka.

Giok Houw sudah lantas mengangkat kaki, ia hanya tidak seperti berlalunya Nona Liong.

Setibanya di luar, Kong Thian tidak nampak sekalipun bayangannya, sedang Nona Liong lagi berlari-lari.

Melihat si nona ia berpikir.

"Di dalam ilmu enteng tubuh, nona ini jauh lebih lihai daripada Le Kong Thian, sekarang ia masih nampak, terang ia sengaja hendak menantikan aku."

Maka ia pergi menyusul nona itu.

Nona Liong benar-benar tidak dapat diterka hatinya.

Ketika ia mendengar tindakan kaki orang, yang ia tahu pasti ada dari Giok Houw, ia lari dengan mempercepat tindakannya.

Keduanya lari turun gunung, jarak di antara mereka kira-kira setengah li.

"Nona Liong!"

Memanggil si anak muda. Ia kuatir ia nanti kehilangan nona itu.

"Nona Liong, tunggu aku!"

Nona itu tertawa, larinya lantas dipertahankan. Tidak lama. Giok Houw telah berada di belakang orang. Si nona lantas berpaling, mukanya masih tersungging senyuman.

"Aku kira kau masih merasa berat untuk berlalu dari sana?"

Katanya. Mukanya si anak muda menjadi merah.

"Jangan bergurau!"

Katanya.

"Siapa bergurau?"

Kata si nona.

"Bukankah mereka, itu ibu dan anak, bicara dari hal yang benar? Jikalau kau menganggap itulah guyon, kau mensia-siakan maksud baik dari orang."

Giok Houw membesarkan nyalinya.

"Hati mereka itu kau kenal,"

Katanya.

"akan tetapi hatiku, hatiku tidak ada yang mengetahui!"

Mendengar kata-kata itu, di antara sinar rembulan, kelihatan muka si nona bersemu dadu.

Juga si anak muda merasa hatinya berdenyutan sendirinya.

Nona Liong lantas menunduki kepala.

Hanya sebentar, ia sudah lantas mengangkat itu, ia bahkan tertawa.

"Tentang hatimu, tentu sekali aku mengetahui!"

Katanya. Hati Giok Houw hampir berlompat keluar. Si nona tertawa, iamenambahkan.

"Kau terus-terusan mengejar aku, bukankah itu karena ikat pinggang kumala? Hm! Kaulah seorang yang berpikiran cupat!"

Giok Houw bingung.

Di dalam urusan kangouw, telah banyak pengalamannya, hanya di dalam urusan asmara, ia masih asing, kulitnya tipis sekali.

Tadi ia telah memberanikan diri, mengutarakan rasa hatinya, siapa tahu, si nona membuatnya guyon.

Karena dilawan tertawa, mulutnya menjadi bungkam, pikirannya seperti butek.

Si nona bersenyum melihat orang berdiam saja.

"Bukankah aku telah dapat menerka hatimu?"

Katanya pula.

"Sebenarnya ikat pinggang kumala itu kau dapat merampasnya dari Cit Im Kauwcu..."

Berkata si anak muda. terpaksa.

"Tetapi, kau pun turut berjasa!"

Si nona memotong.

"Benar bukan? Hanyalah sayang kalau ikat pinggang kumala ini dikutungi dua, jadinya tidak berharga. Ikat pinggang ini ditabur dengan tiga puluh enam mutiara yabengcu dan setiap mutiaranya berharga sedikitnya sepuluh laksa tail perak... Baiklah, mari kita omong terus terang. Coba bilang, kau menghendaki berapa butir?"

"Aku bukannya memikir untuk membagi-bagi barang..."

Kata si anak muda.

"Aku... ah!... aku..."

"Ah. aku... aku apa sih? Kenapa ragu-ragu? Kau bicaralah!"

Kulit mukanya Houw Cu merah.

"Sebenarnya aku tidak mengerti, apa maksudmu merampas demikian banyak barang bingkisan?"

Akhirnya ia berkata.

"Bahkan untuk itu, kau menerjang ancaman bahaya besar. Lihatlah kejadian barusan! Umpama kata Cit Im Kauwcu turun tangan, aku kuatir kita sukar lolos dari tangan mereka itu..."

Si nona tertawa.

"Baiklah, bicara pergi pulang, aku toh menerima budimu!"

Katanya.

"Biarlah aku memberikan kau lebih banyak mutiara!"

"Tapi pihakku, pihak kami, aku maksudkan,"

Kata Giok Houw.

"pihak kami ada perlunya dengan itu, untuk kami, ada harganya untuk menempuh bahaya besar. Untuk kau, untuk apakah sebenarnya?"

Baik suaranya, baik romannya, terang Giok Houw menunjuki perhatiannya kepada si nona.

Nona Liong ketahui itu, di dalam hatinya ia bersyukur, tetapi ia masih mengasi lihat roman sungguh-sungguh.

Ia kata.

"Aku tidak tanya kau untuk apa kamu merampas bingkisan, perlu apa kau mau tahu maksudku? Kecewa kau menjadi tocu. aturan kaum kangouw kau tidak mengerti!"

Ia tidak menantikan jawaban, ia tertawa dan berkata pula.

"Ikat pinggang kumala ini kau tidak niat untuk kita membagibaginya, dengan begitu, kali ini akulah yang menang bertaruh! Sekarang kau harus berhati-hati, kalau kau kalah pula, aku sendiri tidak dapat berlaku sungkan terhadapmu! Semua bingkisan yang kau telah berhasil merampasnya, semua itu harus diserahkan padaku!"

Giok Houw menyeringai.

"Tidak dapatkah kita bicara urusan bukannya urusan perampasan bingkisan?"

Ia tanya.

"Tidak salah!"

Berkata si nona tertawa.

"Kita telah bekerja sama mengundurkan musuh, dengan begitu bisalah dianggap di antara kita ada hubungan yang baik. tetapi janganlah kau lupa bahwa kita berdua tengah bertaruh! Apa yang kau hendak tanyakan, pikirlah dulu dan tanyakanlah, tetapi apa yang tidak harus, taruh kata kau menanyakannya juga, tidak nanti aku jawab."

"Baiklah!"

Bilang si anak muda.

"Sekarang aku mau tanya she dan namamu. Toh boleh, bukan?"

Nona itu berpikir sejenak, lalu dia tertawa.

"Di dalam ini satu bulan kita telah bertemu hingga beberapa kali,"

Sahutnya.

"sudah selayaknya namaku aku beritahukan kepada kau. Aku Liong Kiam Hong. Lain kali. kau panggil saja aku Kiam Hong. tidak usah main nonanona tak hentinya, cuma-cuma membuatnya orang sakit gigi'"

"Nona Liong... eh. Liong Kiam Hong,"

Kata si anak muda.

"Sekarang aku hendak tanya kau tentang satu orang. Kenalkah kau Hok Thian Touw dari Thiansan?"

Kiam Hong tertawa.

"Apakah kau hendak menanyakan juga sekalian orang yang aku kenal?"

Ia tanya.

"Kenapa kau tidak menanyakan juga siapa ayah dan ibuku serta siapa guruku?"

Kecuali tertawa, kepala si nona digoyang dan matanya memain, maka tahulah Giok Houw bahwa orang tengah bergurau, akan tetapi ia pun bersandiwara, ia berlagak tidak mengerti.

"Aku justeru hendak menanyakannya tetapi aku tidak berani lancang,"

Sahutnya, romannya sungguh-sungguh.

"Sayang aku tidak mempunyai buku catatan keluargaku,"

Menjawab si nona.

"kalau tidak, bolehlah aku perlihatkan itu padamu, supaya dengan begitu bisalah dihematkan waktu untukmu bertanya-tanya."

Di jaman itu, mengenai urusan perjodohan adalah biasa pihak yang satu menanyakan hal keturunan pihak yang lain, dan untuk mengetahui leluhur orang, buku catatan kekeluargaan perlu diperiksa Demikian jawabannya si nona, ia melainkan main-main tetapi Giok Houw justeru mengandung maksud, maka itu, mendapat jawaban itu.

mukanya anak muda ini menjadi merah, ia menjadi jengah.

"Jikalau kau suka memberi keterangan, berikanlah,"

Katanya.

"karena itu perlu apa kau mentertawai aku?"

"Kenalanku banyak sekali,"

Berkata si nona.

"kalau setiap orang menanyakan seperti kau ini, sampai terang tanah juga kita tidak akan bicara habis. Nah kau lihatlah, sang fajar benar-benar hendak menyingsing! Apa lagi yang kau hendak tanyakan?"

Giok Houw berdiam. Karena disenggapi demikian rupa, apa lagi yang ia bisa tanya? Liong Kiam Hong tertawa.

"Kau tidak mau menanya, aku justeru mempunyai sesuatu yang hendak aku memberitahukannya kepada kau!"

Katanya.

"Apakah itu?"

"Barang bingkisan dari pelbagai propinsi Barat daya diberangkatkan bersama menuju ke kota raja, jumlah keretanya beberapa puluh buah,"

Berkata si nona.

"Mereka itu juga berangkat secara terang-terang. Jikalau tidak salah, lagi setengah bulan, mereka itu bakal tiba di luar kota Ganbunkwan. Aku mendengar kabar ada serombongan orang yang hendak merampasnya. Berhubung dengan itu, apabila kau tidak bekerja lekas, kau akan menubruk tempat kosong!"

"Benarkah itu?"

"Aku ialah orang yang maha adil, maka itu. untuk mengalahkan kau, aku mesti mengalahkannya hingga kau puas. Jikalau kau tidak mau percaya aku, itulah urusanmu sendiri, pasti kau bakal gagal. Sekarang aku hendak pergi!"

Benar-benar, setelah berkata, si nona lantas lari pergi. Giok Houw malu hati untuk mengejar. Ia lantas berpikir.

"Di luar Ganbunkwan nanti, aku toh bakal bertemu pula sama dia. Sekarang aku mendapat tahu juga namanya!"

Toh mengenai keterangan si nona, ia ragu-ragu, ia separuh percaya dan separuh tidak.

Beberapa propinsi Barat daya itu ialah propinsi-propinsi paling jauh jaraknya dari kota raja, karenanya di tempat mana juga dapat orang melakukan perampasan pada barang-barang bingkisan itu.

Beberapa bulan sebelum ia berangkat ke Selatan, ia pun telah mendengar kabar bahwa Leng In Hong sudah menerima undangan hingga dia bersedia untuk memberikan bantuannya, kalau In Hong turun tangan, biarpun perlindungan bingkisan itu bekerja sama, bergabung, pihak pelindungnya tidak nanti dapat menghalang-halangi Nyonya Hok Thian Touw itu.

Pula, perampasan barang-barang bingkisan itu terjatuh di bawah tanggung jawab Kimto Cecu Ciu San Bin sendiri, tidak ada alasan kenapa semua bingkisan itu tidak bakal terampas.

Oleh karena ini, hatinya menjadi lega.

Demikian, tepat di waktu fajar, ia telah kembali ke tempat kaum Kaypang.

di mana Pit Kheng Thian dan Ciu Ci Hiap lagi menantikan padanya, bahkan Ci Hiap agaknya mau segera berangkat.

Di luar pintu sudah siap dua ekor kuda tunggang.

"Ada urusan penting apa?"

Si anak muda mendahului menanya.

"Baru saja aku menerima warta lisan dari ayahku,"

Menjawab Ci Hiap.

"Apakah kau ada membawa ikat pinggang kumala itu? Biarpun tidak, kita toh mesti lantas berangkat juga."

Giok Houw memberi keterangan tentang peristiwa tadi malam, ia hanya tidak menuturkan sekalian perkataannya Liong Kiam Hong.

Pit Kheng Thian heran mendengar Le Kong Thian hadir di rumahnyaCit Im Kauwcu itu, sedang Ci Hiap menyayangi yang ikat pinggang kumala didapatkan Nona Liong.

"Lekas kau bersiap, mari kita berangkat!"

Kata Ci Hiap kemudian.

"Tetapi kau baru sembuh, jiko,"

Kata Giok Houw.

"Urusan apa demikian penting? Tidak dapatkah aku sendiri yang mengurusnya? Kau baik beristirahat lagi beberapa hari di sini..."

"Semua sisa bisa di tubuhku telah habis disingk+Fkan,"

Berkata Ci Hiap.

"Pit Pangcu juga sudah menyiapkan dua ekor kuda untuk kita Benar tenagaku belum pulih semuanya tetapi kita menunggang kuda, aku rasa tidak ada halangannya."

Giok Houw melihat Kheng Thian juga tidak mencegah, ia mau percaya urusan ada sangat penting. Ci Hiap segera berkata pula.

"Urusan ini urusan apa. sebentar di tengah jalan aku akan memberi penjelasan kepadamu. Sekarang mari kita berangkat agar tidak mensia-siakan tempo!"

Karena ini, tidak ayal lagi, ia lompat naik atas kudanya.

"Mari!"

Ia kata. Keduanya pamitan dari Kheng Thian, siapa mengantar sampai di luar pintu pekarangan, sembari mengulapkan tangannya, ketua Kaypang itu memesan.

"Saudarasaudara, baik-baiklah di jalan! Aku mendoa untuk keselamatanmu! Kalau nanti kamu bertemu sama Thio Tayhiap, tolong kamu menyampaikan hormatku. Aku berjanji, apabila sudah beres aku mengatur kaumku ini, aku nanti memberikan bantuanku kepada kamu!"

Giok Houw bersyukur kepada ketua Kaypang ini, yang ia puji tinggi martabatnya.

Sungguh jarang orang seperti Pit Kheng Thian itu.

Berdua mereka lantas melarikan kuda mereka.

Selang sekian lama, baru Ciu Ci Hiap mulai bicara.

Ia kata.

"Menurut orang yang membawa warta lisan dari ayah itu, kita berdua diminta lekas ke luar Ganbunkwan untuk membantu padanya"

"Bukankah ada disebutkan waktunya agar kita tiba di sana dalam tempo setengah bulan?"

Giok Houw tanya. Ci Hiap heran.

"Oh. kau pun sudah mendapat tahu urusan itu?"

Ia balik menanya.

"Ada seorang sahabat yang memberitahukannya, hanya tidak jelas."

"Bingkisan dari pelbagai propinsi Barat daya itu diantar tergabung,"

Berkata Ci Hiap.

"Kabarnya, di antara pelindung-pelindungnya, ada dua orang yang lihai sekali, selama di sepanjang jalan itu. telah belasan orang kita yang terlukakan mereka itu termasuk Peklek Ciu Tong Koan Ho si Tangan Gledek. Thian loei Kiam In Bwee Kok si Pedang Kilat Guntur dan Hweetan Cu Cu Liok Hiong si Peluru Api, itu beberapa jago tua. Diduga, selewatnya setengah bulan, rombongan besar itu bakal tiba luar kota Ganbunkwan. Karena ini ayahku mengirim kabar kilat ke pelbagai arah untuk minta bantuan cepat, agar kita semua bisa berkumpul menjadi satu di Ganbunkwan untuk menghadapi musuh tangguh itu."

Keterangannya Ci Hiap ini sama dengan keterangannya Liong Kiam Hong hanya ini ada terlebih jelas.

Tentu sekali Giok Houw heran mengingat kena dirobohkannya beberapa jago tua itu.

Jadi benar musuh lihai sekali.

Ci Hiap mencambuk kudanya.

"Siapakah sahabatmu itu yang mengasi kabar padamu?"

Ia tanya. Giok Houw bersangsi sejenak, lalu ia memberitahukan itulah Nona Liong.

"Mengapa dia ketahui itu?"

Ci Hiap tanya heran. Giok Houw pun heran.

"Ya, mengapakah dia ketahui itu?"

Sahutnya, seperti pada diri sendiri. Ia pun telah memikir itu berulangkah, tidak juga ia mendapat jawabannya.

"Entahlah dia berpihak kepada siapa?"

Ci Hiap tanya pula.

"Jangan-jangan dia tidak berpihak pada yang mana juga. Sebenarnya dia tengah bertaruh sama aku untuk siapa yang dapat merampas lebih banyak, dialah yang menang..."

Ci Hiap mengerutkan keningnya.

"Dengan begitu kita jadi mesti menghadapi lagi satu musuh yang tangguh..."

Katanya masgul. Hanya sedetik, ia tertawa dan kata.

"Aku lihat nona itu agaknya bermaksud sesuatu terhadapmu, jikalau bisa terjadi, dari musuh ia menjadi sahabat, sungguh dia akan merupakan satu bantuan besar!"

Hati Giok Houw bercekat.

"Jiko bergurau!"

Katanya kemudian.

"Bagaimana dengan kabar lisan itu, apakah antaranya ada kabar apaapa dari atau mengenai Leng In Hong?"

Ci Hiap tidak menyahut, seraya ia mencambuk pula kudanya, untuk mendahului Giok Houw.

Pemuda ini bingung, maka ia ingin segera tiba di Ganbunkwan, supaya segala apa segera menjadi terang.

Karena ia berpikir keras, pernah ia bermimpi dan mendusin dengan tertawa seorang diri.

Ia heran kenapa ia demikian memikirkan Nona Liong sedang si nona baru dikenal.

Perjalanan dilakukan cepat sekali dan pula dengan mengambil jalan motong.

Tiga belas hari kemudian tibalah mereka di sebuah dusun di luar kota Ganbunkwan ialah dusun Hungoan, terpisahnya dari kota tinggal seratus li.

Mereka singgah di dusun itu.

Sekarang mereka tak usah terlalu tergesa-gesa lagi.

Hanyalah, setibanya di dalam dusun, mereka menampak suasana yang mengherankan mereka.

Ketika itu magrib.

Mereka mendapatkan dusun sunyi.

Dari sepuluh rumah umpamanya, yang sembilan sudah menutup pintu.

Orang yang berlalu lintas juga cuma nampak dua tiga orang.

"Biar pasar sudah bubar, tidak selayaknya tempat begini sepi."

Kata Giok Houw.

"Di sebelah depan tentulah sangat sedikit rumah, terpaksa kita mesti bermalam di sini,"

Bilang Ci Hiap.

Ia lantas jalan di depan, akan pergi ke rumah penginapan yang ia kenal baik, sebab pemiliknya adalah sanak salah satu tauwbak-nya.

Begitu tiba, ia mengetuk pintu.

Jongos mengintai di sela pintu sebelumnya ia membukai.

"Maaf, penginapan kami telah diborong orang,"

Kata dia. Ci Hiap tidak mau banya omong. Ia mengasi lihat tanda, ialah "Jitgoat Siangki" ---bendera "Matahari dan Rembulan" ---sembari ia kata singkat.

"Maukah kau menolong mendapati sebuah kamar saja?"

Si jongos mengenali bendera itu.

"Baiklah,"

Katanya, cepat.

"Harap jiwi menanti sebentar, aku hendak bicara dulu sama tuan pengurus."

Ia terus masuk ke dalam. Tidak lama muncullah tuan rumah, yang mementang pintu seraya berkata.

"Syukur masih ada sebuah kamar kosong. Silahkan masuk!"

Ia berhenti sebentar, terus ia menambahkan.

"Selama ini keamanan terganggu, kalau tuan-tuan mempunyai barang berharga, haraplah jaga baik-baik sendiri, terutama j angan dikasih lihat orang."

Ci Hiap kurang pengalaman tetapi ia tahu tuan rumah tentu maksudkan benderanya itu maka lekas-lekas ia menyimpannya.

Semasuknya ke dalam, tuan rumah melayani dengan hormat, tetapi terang ia berlaku sangat hati-hati.

Ci Hiap juga tidak berani menjelaskan tentang dirinya.

Adalah setelah berada di dalam kamarnya, Giok Houw tanya jongos.

"Ada terjadi apakah di sini maka dusun ini begini sunyi?"

"Ada sepasukan tentera negeri yang malam ini bakal di tempatkan di sini,"

Sahut si jongos.

"ketika kepala kampung menerima warta dan perintah, ia lantas menitahkan penduduk mengalah. Penduduk semua takut perkara, siapa masih berani berdiam di sini?"

Hungoan tin terpisah seratus li dari kota Ganbunkwan, sering tentera negeri lewat di dusun ini untuk bekerja sama dengan tentera yang bertugas untuk bersamasama mengurung tenteranya Kimto Cecu Ciu San Bin.

Ci Hiap ketahui itu, ia menjadi tidak heran.

Ia hanya ingin berhati-hati.

Habis bersantap malam, selagi mereka pasang omong, ada orang mengetuk pintu kamar mereka, perlahan ketukannya.

Giok Houw lantas membukai.

Itulah seorang yang bertubuh besar, yang tidak dikenal.

Selagi ia mengawasi, orang itu sudah lantas berkata dengan perlahan.

"Thio Tocu, terimalah hormat hambamu. Ah siauwcecu pun ada di sini! Apakah cecu masih mengenali aku?"

Ci Hiap mengenali satu tauwbak kecil yang bernama Touw Kan Louw, maka ia menitahkan orang masuk, setelah pintu dikunci, tauwbak itu d ipersilahkan duduk.

"Cecu sudah mengundang banyak orang gagah untuk bersama merampas bingkisan dari Barat daya, apakah siauwcecu ketahui itu?"

Touw Kan Louw tanya.

"Aku datang justeru karena urusan itu."

"Tentu bukan sedikit yang telah datang?"

Giok Houw tanya. Touw Kan Louw mengangguk.

"Akulah yang ditugaskan cecu untuk menyambut pelbagai tetamu,"

Ia menerangkan.

"yang datang cukup banyak hanyalah yang gagah sedikit sekali, karena mana cecu menjadi berkuatir sekali, kuatir nanti roboh di tangan musuh. Syukur tocu tiba malam ini, kita jadi seperti dapat memakan obat untuk menenteramkan hati."

"Siapakah pihak sana itu yang demikian lihai?"

"Menurut keterangannya orang yang pernah dirobohkan, yang muncul di sana ialah seorang muda, yang usianya mungkin belum mencapai tiga puluh tahun."

Giok Houw menunjuki herannya.

"Bukankah kereta bingkisan mereka akan tiba nusa?"

"Menurut penyelidikan pihak kita, mungkin besok."

"Jadi itulah terlebih cepat satu hari daripada dugaan kita."

"Memang. Rupanya mereka juga sudah mendengar selentingan dan karenanya lantas bersiap sedia. Malam ini bakal ada pasukan negeri sampai di sini, rupanya itulah persediaan untuk menyambut tibanya kereta bingkisan itu besok. Malam ini kita harus berhati-hati."

"Di mana besok orang akan turun tangan?"

Giok Houw tanya lagi.

"Telah dijanjikan di selat Cheeliong Kiap empat puluh li dari sini dan waktunya ialah tengah hari,"

Menjawab Touw Kan Louw.

"Kalau begitu, kita berangkat besok sehabisnya bersantap,"

Kata Ci Hiap.

"Masih ada tempo untuk kita."

"Yang dikuatirkan ialah rombongan tentera akan jalan bersama kita,"

Kata Kan Louw.

"Maka baiklah kita berangkat mendahului mereka itu. Aku sudah pesan tuan rumah untuk masak nasi jam empat, supaya kita bisa berangkat jam lima."

"Bagus begitu!"

Kata Giok Houw.

"Jiko, bagaimana kau rasa tubuhmu?"

"Sudah pulih seluruhnya. Akibat belasan hari berada di punggung kuda, tubuhku rasanya pada ngilu, maka kalau besok kita bertempur, itu dapat membantu aku melemaskan otot-ototku."

Giok Houw berdiam, pikirannya rada kusut, sebab ia girang dan berkuatir berbareng.

Girang karena mungkin besok ia akan bertemu sama Nona Liong.

Ia berkuatir karena pihaknya kekurangan orang gagah kelas satu.

Bukankah musuh terbukti lihai sekali?

Bukankah musuh seorang muda?

Maka mungkin, masih ada kawannya yang berusia tinggi...

Tong Koan Ho, In Bwee Kok dan Cu Liok Hiong, semuanyajago tua, kena dipecundangi, itulah hebat.

Pasti pemuda itu tidak ada di bawahannya sendiri.

Kalau Le Kong Thian pun datang, itulah berbahaya.

Justeru mereka berdiam, di jendela terlihat berkelebatnya bayangan orang.

Ci Hiap melihat itu, ia lompat bangun.

Tepat bersama lompatnya itu, ada batu yang menyambar ke dalam, yang memadamkan pelita.

Sia-sia percobaannya Ci Hiap, ia tidak berhasil menyambuti batu itu.

Segera pun terdengar suara yang dalam di luar jendela itu.

"Binatang kecil Thio Giok Houw, kau menggelindinglah keluar!"

Giok Houw mengenali suara itu hanya lupa orangnya.

"Sahabat siapa yang main-main denganku?"

Katanya.

Ia berkata sambil menghunus goloknya, untuk memutar itu di hadapannya, belum suaranya sirap, ia sudah lompat ke luar jendela.

Hari itu Gouwgwee Capsha.

yaitu tanggal tiga belas bulan lima, rembulan hampir bundar, cahayanya terang, sedang langit pun jernih, maka itu setibanya di latar, Giok Houw bisa melihat tegas orang yang menantang padanya itu, orang mana sudah lantas memapaki ia dengan tikaman pedang.

Dialah Ku Kiu Gi, orang paling terkenal di dalam Butong Pay generasi kedua, hanya dia itu pernah menjadi pecundangnya.

Serangannya Ku Kiu Gi berantai, sebab begitu ia ditangkis, begitu ia menyerang pula.

Sikap itu membikin Giok Houw mendongkol.

"Mengapa kamu menggoda aku?"

Ia menegur.

Baru ia berkata begitu, dari sampingnya pun menyambar sebatang pedang lain.

Dan inilah Ko In Tojin, suheng atau kakak seperguruannya Kiu Gi, meski benar dia kalah dari sute-nya, tetapi dia menang tabiat aserannya.

Maka juga ketika dia menikam, dia menggunakan tenaga besar.

Dia juga lantas membentak.

"Kau kembalikan ikat pinggang kumala itu, urusan beres! Kalau tidak, kau tidak bisa lolos dari keadilan!"

Giok Houw menangkis sambil menyampok, dengan begitu selagi ia bebas dari serangan, si penyerang sendiri terhuyung karena kuda-kudanya tergempur.

"Ikat pinggang itu tidak ada padaku, mana bisa aku menyerahkan kepada kau?"

Berkata si anak muda tertawa.

"Laginya, taruh katakumala itu telah berada di tanganku, tidak nanti aku sudi mengembalikannya!"

Imam itu gusar sekali, dalam penasarannya ia menyerang pula.

semakin sengit.

Touw Kan Louw turut keluar, ketika ia mengenali Ku Kiu Gi dan Ko In Tojin, ia menjadi heran sekali.

Dalam bahasa rahasia kaum kangouw, ia tanya mereka itu.

"Jiwi, bukankah jiwi datang membantui Kimto Cecu? Jiwi, kamu bertiga adalah orang-orang dari satu kalangan!"

Ko In mendelik kepada tauwbak itu.

"Jangan kau usil!"

Bentaknya.

"Siapa bilang dialah kawan kami?"

Dan tiga kali pula ia menyerang terus menerus kepada lawannya. Kan Louw heran bukan main, ia masih berniat memisahkan.

"Jangan pedulikan dia,"

KataCi Hiap perlahan kepada tauwbak itu. Ia sebal untuk kegalakannya si imam.

"Biar si hidung kerbau ini menderita!"

Ci Hiap ketahui baik, sekalipun dibantu Ku Kiu Gi.

imam itu tidak akan dapat berbuat banyak.

Hanya, setelah menyaksikan sekian lama, ia menjadi heran.

Ia mendapatkan Giok Houw terus membela diri.

dia tidak mau menyerang, maka dia kena dikurung dan lama-lama nampaknya jatuh di bawah angin.

Baru-baru ini Siauw Houw Cu hendak merampas bingkisan, ia telah keluarkan kepandaiannya, selewatnya seratus jurus, ia baru memperoleh kemenangan.

Kali ini lain duduknya.

Ia tidak membawa ikat pinggang kumala.

ia juga tidak mau melayani mereka itu berdua, dari itu, ia berkelahi dengan setengah hati.

Di lain pihak, Ku Kiu Gi pun telah mengeluarkan seseluruh kepandaian ilmu pedangnya.

Lianhoan Toatbeng Kiamhoat dari Butong Pay, dan dia dapat bekerja sama dengan Ko In Tojin, hingga mereka menjadi hebat.

Begitulah, beberapa kali ia menghadapi serangan-serangan yang membahayakan.

"Toako, jangan sungkan terhadap mereka!"

Akhirnya C ie Hiap berkata. Belum berhenti suaranya cecu muda itu atau Ko In Tojin sudah menyerang dengan jurusnya "Naga naik ke langit."

Dengan apa ia arah tenggorokannya si anak muda. Menyaksikan itu, Giok Houw menjadi panas hatinya. Tanpa menanti ujung pedang menumblas tenggorokannya, ia menangkis dengan ilmu golok "Hoki hoain"

Atau "Menutup hujan membalik awan,"

Suatujurus ajarannya ThioTan Hong, bahkan itulah suatu keistimewaan dari ilmu silat gurunya itu.

Golok dan pedang lantas beradu, bukannya pedang dibikin mental, hanya bagaikan dilibat.

lalu diputar melilit, atas mana Ko In, yang mempertahankan pedangnya, lantas kena tertarik, hampir dia tidak dapat mempertahankan diri, hampir pedangnya terlepas dari cekalannya, syukur untuknya.

Kiu Gi segera datang menolongi.

"Sayang!"

Mengeluh Ci Hiap ketika pedang si imam lolos.

Meski begitu, Ko In lantas berbalik kena didesak, hingga dia mesti mundur beberapa tindak.

Giok Houw terus merangsak Ku Kiu Gi, demikian rupa, sampai jago muda dari Butong Pay itu bernapas mengorong, hingga ilmu pedangnya menjadi kacau, hingga ia pun mesti main mundur seperti suheng-nya.

Melihat keadaan musuh ini, Giok Houw menjadi heran sekali, hingga ia berpikir.

"Turut pantas, melihat kegagahannya Kiu Gi, taruh kata aku dapat mengalahkan dia, itu mesti terjadi selewatnya lima sampai tujuh puluh jurus, kenapa dia sekarang menjadi begini lemah melebihkan Ko In Tojin? Mungkinkah dia lagi menggunakan tipu daya?"

Tepat si anak muda beragu-ragu itu, kupingnya mendengar suara yang nyaring dan bengis.

"Kamu berdua masih tidak mau mundur, apakah kamu hendak menanti sampai kamu mendapat malu?"

Itulah suaranya seorang berusia lanjut.

Ku Kiu Gi menyahut, dengan lantas ia lompat keluar dari kalangan.

Ko In Tojin tidak dapat berkelahi seorang diri, ia turut mundur.

Kapan Giok Houw mengangkat kepalanya, ia melihat seorang imam tua, yang mengenakan juba hitam, telah berada di depannya secara tiba-tiba.

"Apakah kau muridnya Thio Tan Hong?"

Menanya imam itu, suaranya dingin, tangannya menuding dengan hudtim, ialah kebutannya.

"Tidak salah! Tidak salah! Ilmu silatmu benar-benar lihai! Hingga aku si imam tua, aku kena dibikin tertarik hatiku olehmu, hingga aku terpaksa mau mohon pelajaran beberapajurus dari kau!"

Dalam cuaca remang-remang malam itu, Giok Houw melihat kedua matanya si imam bersinar sangat tajam, sinar mata menyatakan mahirnya lweekang atau tenaga dalam, dari imam itu.

Ia lantas sadar bahwa Kiu Gi sengaja main mundur, untuk memancing ia sampai kepada imam ini.

Ia terus melintangi goloknya, untuk memberi hormat kepada si imam.

Ia berkata.

"Totiang mengenal guruku, dengan begitu totiang adalah orang terlebih tua daripada aku, maka itu terimalah hormatnya boanpwee."

Boanpwee ialah orang yang terlebih muda, atau "aku yang rendah."

"Hra!"

Imam tua itu mengasi dengar suaranya.

"apakah kelakuanmu menyatakan di matamu masih ada orang yang terlebih tua?"

Mendengar lagu suara orang. Giok Houw dapat menerka maksud imam ini. Ia masih berlaku sabar.

"Boanpwee minta sukalah totiang mendengar keteranganku,"

Katanya.

"Mana aku sempat mendengari perkataanmu?"

Kata si imam. sikapnya tetap dingin.

"Sebentar kita bicara sesudah aku melihat kepandaianmu!"

Sampai di situ, habis kesabarannya Siauw Houw Cu.

"Jikalau totiang berkukuh hendak memberi pengajaran padaku, terpaksa boanpwee nanti melayani,"

Kata ia.

"Hanya terlebih dulu sukalah totiang memberitahukan gelaran totiang yang suci."

"Kau menyambuti aku hingga beberapa jurus, nanti kau mendapat tahu sendiri!"

Kata si imam, yang membawa lagak aneh.

"Jikalau kau tidak sanggup melayani aku selama beberapa jurus itu, tidak usah kau tanya lagi!"

Giok Houw tidak kenal imam itu tetapi ia menduga kepada salah satu jago tua dari Butong pay. Sikap orang itu membuatnya girang.

"Memang lebih baik lagi kau tidak memperkenalkan dirimu,"

Pikirnya.

"Jikalau aku ketahui namamu, aku jadi tidak leluasa untuk melayani."

Maka ia lantas menyahuti.

"Jikalau demikian, aku minta totiang suka lantas memberi pengajaran kepadaku, nanti aku memaksakan diri untuk melayaninya."

Imam itu tertawa, lalu mendadak ia telah berada di depan si anak muda sekali, kebutannya pun bekerja.

Ia maju hampir tak nampak gerakan tubuhnya.

Sedang kebutannya itu, yang terbuka buyar, kelihatan setiap lembarnya menjadi kaku bagaikan jarum.

Itulah hebat kalau diingat bahwa kebutan biasanya lemas sekali.

Untuk berkelit, Giok Houw lantas mengeluarkan jurus "Coanhoa jiauwsi,"

Atau "Menembusi bunga, memutari pohon."

Ia berkelit seraya memutar tubuhnya pesat sekali, sembari berputar, ia membalas menyerang dengan tangan kosong dengan Kimkong Cianglek, atau Tenaga Arhat.

Dengan itu ia menolak kebutan itu.

Berbareng dengan itu, ia menyerang dengan benarbenar, dengan bacokan goloknya, ialah bacokan "Twichong bonggoat" = "Menolak jendela memandang rembulan."

Sasarannya ialah gagang hudtim atau kebutan itu.

"Bagus!"

Si imam berseru di dalam hatinya ketika ia menyaksikan gerakan saling susul dari anak muda itu, karena ia menjadi kagum sekali.

"Pantaslah dia jadi begini bertingkah, dia tidak memandang mata sama sekali kepada murid-murid Butong Pay!"

Sementara itu, bacokannya Giok Houw mengenai tepat gagang hudtim, hanya kesudahannya itu membikin ia heran.

Suara nyaring terdengar tetapi hudtim tidak kutung.

Entah gagang itu terbuat dari benda apa, dia tidak mempan dibacok golok Bianto yang tajam sekali.

"Bagus!"

Berseru si imam menyusuli bentroknya dua senjata mereka, kebutannya dibalik, atas mana goloknya si anak muda seperti juga ketutupan kebutan itu. Itulah akibatnya tenaga imjioe, atau "tenaga lunak,"

Yang dahsyat. Giok Houw segera menarik goloknya, untuk meloloskannya dari kebutan itu, akan tetapi ia tidak segera memperoleh hasil, karena selagi ia menarik, ia bagaikan diikuti kebutan imam itu.

"Hahaha!"

Si imam tertawa.

"Lepas tanganmu!"

Dan ia menarik dengan keras.

"Tidak gampang-gampang aku melepaskan tanganku!"

Menjawab Giok Houw, dengan dingin.

Ia bukannya melepaskan goloknya, ia justeru mengajukan tangan kirinya dengan cara mendadak, menyerang dengan jeriji tangannya.

Ia telah menggunakan ilmu silat "Tiatci Sinkang,"

Atau "Jeriji Sakti,"

Yang langka di dalam kalangan persilatan, sedang sasarannya ialah nadi imam itu.

Bukan main kagetnya si imam, dengan segera ia menarik pulang tangannya.

Tentu sekali, karenanya, pengerahan tenaganya atas kebutannya menjadi terganggu.

"Fuh!"

Giok Houw meniup ke arah kebutan sambil ia menarik pulang goloknya ---menarik ke samping ---hingga ada beberapa lembar kebutan itu terpapas kutung!

Si imam tidak cuma menarik pulang kebutannya, tangannya itu terus dipakai membalas menyerang juga.

Kalau tadi ia menggunakan tenaga lunak, sekarang ia memakai yangkong, atau tenaga keras.

Ia bergerak sangat cepat.

Tidak ampun lagi, pundak si anak muda kena terkebut!

Giok Houw tidak roboh atau merasa sakit terkena kebutan itu.

Ia masih sempat menggunakan kepandaiannya, yaitu ilmu yoga, hingga kebutan lewat dengan licin di pundaknya itu.

Berbareng dengan itu, ia tidak cuma berkelit, ia juga menyerang.

Maka kali ini tangan mereka berdua bentrok keras, sampai terdengar suara nyaring, atas mana, keduanya sama-sama mundur tiga tindak.

Mukanya si imam lantas saja menjadi merah dan sebelah tangannya tahu-tahu sudah menghunus sebatang pedang!

Melihat pedang itu hati Giok Houw berdebar.

"Aku tidak sangka dialah adik seperguruan dari ciangbunjin Butong Pay,"

Pikirnya.

"Dengan dia telah menghunus pedang, mungkin aku tidak sanggup melayani terus padanya..."

Jago-jago nomor satu dan Butong Pay terdiri dari tujuh saudara seperguruan, nama-nama mereka --ialah nama-nama suci --menuruti urutan nomor tingkat.

Empat di antaranya telah meninggal dunia, sekarang menjadi tinggal tiga.

ialah Lee Khong Tojin yang ke empat, Liok Ji Tojin yang ke enam, dan Cit Seng Cu yang ke tujuh.

Dan ini imam ialah Cit Seng Cu, yang termuda.

Ialah yang termuda, di dalam ilmu silat iajusteru lihai sekali, ia cuma berada di bawahan Liok Ji Tojin, si ciangbunjin, ahli waris Butong Pay yang menjadi kepala atau ketua.

Dengan kebutan dan pedangnya itu, ia pernah mengangkat pamor Butong Pay.

Kebutannya itu, seperti sudah diketahui, dapat digunai secara lunak dan keras bergantian.

Karena menggunakan kebutan, jarang ia menggunakan pedangnya dengan apa ia pandai ilmu pedang Lianhoan Toatbeng Kiamhoat yang terdiri dari tujuh puluh dua jurus.

Ko In Tojin dan Ku Kiu Gi telah melindungi bingkisan propinsi Ouwpak, karena bingkisan itu kena dirampas Thio Giok Houw, mereka menjadi gusar dan penasaran.

Mulanya mereka ingin minta bantuan Liok Ji Tojin, supaya ketua itu berurusan langsung dengan Thio Tan Hong, kemudian maksud ini dibatalkan sebab Thio Tan Hong berada terlalu jauh di Chongsan, Tali, Inlam.

Untuk pergi dan pulang tempo yang diminta terlalu lama.

Mungkin Thio Tan Hong suka memberi muka, tapi sementara itu, barang bingkisannya mungkin juga telah habis dibagi-bagi.

Pula mereka kuatir ditolak Liok Ji.

Bahkan ada kemungkinan mereka tidak mendapat muka dari ketua itu.

Sebab, kecuali Liok Ji Tojin sangat halus budi pekertinya, juga aturan Butong Pay melarang anggauta-anggautanya bekerja melindungi piauw.

Dengan diam-diam melindungi bingkisan, mereka telah menjadi piauwsu, mereka sudah melanggar aturan partai.

Maka kejadianlah mereka mencari paman guru mereka ini.

yang mereka tahu biasa gemar mencari urusan...

Di masa mudanya, Cit Seng Cu bertabiat keras, sampai usianya lanjut, tabiat itu hanya dapat diubah sedikit.

Maka itu, ketika kedua keponakan muridnya itu datang mengadu sambil mohon pertolongan, ia lantas menjadi tidak senang.

Ia menganggap, adalah satu urusan lain yang keponakan murid ini melanggar aturan partai, dan adalah urusan lain lagi bahwa mereka diperhina orang dan dikalahkan oleh satu anak muda.

Ia kata Butong Pay kehilangan muka dan itu harus dicuci.

Demikian ia suka membantu kedua keponakan muridnya itu.

Kebetulan ada undangan umum dari Ciu San Bin, yang mohon bantuan dari sana sini, maka Cit Seng Cu mengajak Ko In Tojin dan Ku Kiu Gi pergi ke luar kota Ganbunkwan.

guna menantikan Thio Giok Houw.

Mereka menantikan tepat.

Giok Houw cerdik, maka ia lantas mengasi dengar suaranya yang nyaring.

"Sungguh beruntung sekali hari ini aku dapat berkenalan sama ilmu kepandaian lunak dan keras yang istimewa dari locianpwee, karena locianpwee sangat memandang mata padaku yang muda, aku harus menghaturkan terima kasihku!"

Cit Seng Cu terperanjat.

Dengan ia dipanggil locianpwee, artinya, orang dari tingkatan terlebih tua, terang sudah bahwa anak muda itu telah mengenali dirinya siapa.

Tanpa merasa, kembali mukanya menjadi merah.

Tapi i a terpaksa, ia tidak dapat mundur.

Dengan suara bengis, ia kata.

"Dengan memandang Thio Tan Hong, aku tidak hendak menyusahi kau, asal kau dapat melayani pedangku tujuh puluh dua jurus, akan aku lepaskan padamu, kalau tidak, maka kau mesti bertanggung jawab buat ikat pinggang kumala itu!"

Ancaman Cit Seng Cu ini hebat sekali.

Tidak tanggungtanggung, dia menyebutkan semua jurusnya dari ilmu pedangnya Lianhoan Toatbeng Kiamhoat itu.

Tapi Thio Giok Houw tidak menjadi jeri, bahkan sambil tertawa ia berkata.

"Locianpwee, aku yang muda merasa beruntung sekali bahwa locianpwee sudi memberi pengajaran padaku dengan seluruh kepandaian locianpwee, dari itu umpama kata aku yang muda kalah, itulah kekalahan dengan kehormatan!"

Cit Seng Cu tertawa dingin.

"Hanya aku kuatir kau nanti tidak sanggup melayani sepenuhnya!"

Katanya mengejek. Belum lagi berhenti suaranya, serangannya sudah dimulai, dengan jurus "Mega musim semi terbentang mendadak."

Thio Giok Houw telah berlaku waspada, maka berbareng dengan datangnya serangan itu, tubuhnya bergoyang bagaikan mau roboh. Sebab ia lantas bergerak dengan sikapnya "Hongpiauw lokhoa"

Atau "Angin meniup bunga rontok."

Dengan begitu pedang si imam lewat tanpa hasil di samping iganya, atas mana dengan sebat ia membacok ke bawah! "Bagus!"

Berseru Ci Hiap, yang memuji kawannya.

Sudah kelitan sang kawan manis sekali, bacokannya pun hebat, sebab itulah salah satu jurus dari ilmu golok Toanbun to.

Mestinya tidak dapat tidak, lengannya si imam mesti terbacok putus.

Cit Seng Cu lihai sekali.

Meski ia sudah gagal menikam, pedangnya tidak meluncur terus, masih ia dapat menahannya, untuk dipakai menyontek, maka itu, ia berhasil menangkis bacokan si anak muda.

Kedua senjata bentrok dan golok Bianto terpental.

Menyusul itu, ia kasih bekerja kebutannya dengan j urus "Hujan magrib dan mega pagi."

Kebutannya itu lantas terbuka, hingga benar mirip dengan awan yang hitam, hingga kepala si anak muda seperti tertungkrap.

"Bagus!"

Ku Kiu Gi memuji paman gurunya.

Demikian, dimulai dengan serangan yang berbahaya dan tangkisan yang manis, dua orang itu ---satu tua dan satu muda ---mulai mengasi lihat ilmu silat mereka yang lihai.

Lihai sang kebutan, lihai juga sentilannya Siauw Houw Cu, hingga ada terdengar suara trang-tring, hingga Cit Seng Cu mesti berkelit.

Ketika untuk kedua kalinya dia menikam dengan jurus "Badai merusak bunga,"

Kembali Giok Houw menggagalkannya.

Ku Kiu Gi dan Ciu Cia Hiap kagum berbareng hati mereka gentar.

Kalau mereka yang menghadapi serangan itu, sudah tentu mereka tidak berdaya.

Dari kaget, mereka jadi memuji.

Bicara di dalam hal kanglek, latihan Thio Giok Houw kalah jauh dari Cit Seng Cu, tetapi dia menang dengan aneka ragam ilmu silatnya, dengan kelincahannya.

Maka itu, tempo si imam baru menyerang dua kali, ia sudah membalasnya tiga kali.

Setiap kali diserang, ia segera membalas.

Di dalam tiga jurus itu, beruntun ia telah mempergunakan ilmu "Coanhoa jiauwsi" ---Menembusi bunga, mengitari pohon,"

Juga Tiatci Sinkang atau sentilan Jeriji Besi, dari Taylek Kimkong Ciang atau Tangan Arhat, sedang dengan goloknya, ia menggunakan Ngohouw Toanbun to, ilmu golok keluarganya.

Cit Seng Cu kagum melihat Tiatci Sinkang anak muda ini, sebab kebutannya kena disentil mental.

Bukankah orang masih, muda sekali?

Bagaimana dia telah mempunyai tenaga dalam demikian tangguh, hingga dia dapat bertahan terhadap jago tua kelas satu?

Justeru Giok Houw menggunakan pelbagai macam ilmu silatnya itu, justeru ia membangkitkan penasarannya Cit Seng Cu yang bertabiat aseran itu, yang biasa mau menang sendiri, karena mana, imam ini jadi bersilat makin keras, kalau mulanya dia masih ingat Thio Tan Hong, selanjutnya, dia seperti melupakannya.

Dia tentu akan runtuh kalau di dalam tempo tujuh puluh dua jurus dia gagal merobohkan anak muda di hadapannya ini.

Hebat mereka bertempur, meski Giok Houw terdesak, ia tidak mau mengangkat kaki.

Tanpa merasa, mereka sudah melewati tiga puluh jurus.

Giok Houw telah keluarkan semua kepandaiannya, ia tetap berada di bawah angin.

Selewatnya itu, sulit untuk ia membalas menyerang.

Ia paling malui tenaga lunak dan tenaga keras dari si imam, yang digunainya tanpa ketentuan, yang saban-saban ditukar bergantian, hingga sulit untuk menduganya.

Biar bagaimana, ia masih kalah latihan.

Maka akhirnya ia pikir.

"Imam tua ini betul-betul lihai luar biasa, namanya bukan nama kosong belaka. Dilihat begini, paling lama aku dapat bertahan lagi sehirupan teh...

"Empat puluh sembilan! Lima puluh!"

Mendadak terdengar seruan saling susul dari Ciu Ci Hiap. Puteranya San Bin ini telah menghitung pelbagai jurus yang dilewatkan.

"Sudah cukup lima puluh jurus!"

Demikian ia mengulangi.

Mendengar itu, semangat Giok Houw terbangun.

Bukankah tinggal lagi dua puluh dua jurus?

Ia lantas mengumpul semangatnya, ia mengempos itu, untuk dapat melayani terus.

Di pihak lain, Cit Seng Cu agaknya tergerak hatinya.

Seruannya Ci Hiap menyadarkan ia bahwa ia sudah menggunakan dua per tiga dari semua jurusnya.

Itulah berbahaya.

Itulah telah selewati dugaannya.

Mendadak ia berseru panjang, pedangnya lantas berkelebatan, seumpama gelombang sungai Tiangkang!

Giok Houw terkejut.

Ia memperhebat perlawanannya.

Karen ia menangkis berulang-ulang, berulang-ulang juga terdengar suara tangtang-tingting, dari beradunya pedang dan golok.

Hanya menyusul itu, daya pembelaannja menjadi terperciut, makin lama jadi makin kecil.

Sinar pedang terus berkelebatan, di samping itu, ujung kebutan saban-saban menyambar ke depan muka si anak muda...

Siauw Houw Cu terdesak umpama kata hingga ia sukar bernapas.

Ia mesti mengandal betul atas keawasan matanya, kesehatan kedua tangannya, kelincahan tubuhnya.

Ia mesti pandai menangkis dan berkelit dan menghajar setiap serangan dengan maksud menghalaunya.

Kalau tidak, ia bisa celaka.

Setiap pedang dan golok bentrok, tangannya bergemetar dan sesemutan dan hatinya terkesiap.

Hanya syukur, ia bernyali besar, ia terus berlaku tabah.

Di saat pertempuran berlangsung sangat dahsyat itu, mendadak Cit Seng Cu menyerang dengan tikaman yang dinamakan "Hengci thianlam,"

Atau "Menuding melintang ke selatan."

Ketika Giok Houw menangkis dengan bersuara nyaring goloknya kena"

Dibikin mental, tapi karena ia segera mendak, ujung pedang lewat di atasan pundaknya itu.

cuma bajunya yang kena tersontek robek.

Cit Seng Cu juga bukannya tidak menampak kerugian.

Sedikit dari ujung pedangnya, yang disambar golok Bianto, telah terpapas kutung.

Ini pula sebabnya ujung pedang, yang menjadi tumpul, tidak dapat melukai kulit pundak.

Ci Hiap terbengong menyaksikan serangan berbahaya itu, tetapi ia toh masih ingat untuk menghitung.

"Enam puluh dua!"

Justeru itu ada terdengar suara orang tertawa sambil terus berkata-kata.

"Sayang, sayang sekali! Pedangnya si imam tua masih belum mencapai puncaknya kemahiran dan si bocah cilik telah melewatkan saatnya yang baik!"

Suara itu dikeluarkan j usteru Cit Seng Cu hendak memulai dengan serangannya yang ke enam puluh tiga, ia menjadi gusar dan membatalkan serangannya itu.

"Kau mahluk apa?"

Dia menegur sengit, matanya mendelik.

Imam ini menduga suara itu mestinya keluar dari salah satu antara dua kawannya Thio Giok Houw, Touw Kan Louw atau Ciu Ci Hiap.

Tentu saja, ia tidak melihat mata pada mereka berdua, yang ia pandang seperti "bubeng siauwcut" ---perajurit-perajurit yang tidak ternama.

Adalah sesudah matanya bentrok sama si "mahluk apa"

Itu, baru ia terkejut.

Di antara sinarnya rembulan, di undakan lorak tangga terlihat berdiri dua orang, yang mengawasi ia dengan wajah tersungging senyuman.

Yang seorang adalah seorang opsir dengan pinggang menyoreng pedang, yang lainnya satu anak muda yang tampan, yang dandan sebagai seorang pelajar, usianya belum tiga puluh tahun.

Yang bicara barusan itu adalah ini anak muda.

Ia terkejut karena lihai sebagai ia, ia tidak mendengar atau melihat munculnya mereka itu.

Tidakkah itu heran?

Si pelajar kembali tertawa, aneh suaranya.

Habis itu, ia menunjuk dengan kipasnya, ia kata dingin.

"Tentang aku ini mahluk apa, memang kau tentunya tidak mengetahuinya! Tetapi perihal kau sendiri mahluk apa, inilah aku tahu pasti!"

Ia menoleh kepada si opsir, untuk tertawa dan berkata.

"Aku menyangka Ciu San Bin mengundang orang-orang yang gagah luar biasa sekali, tidak tahunya kecuali ini muridnya Thio Tan Hong juga ini imam bau yang tak punya guna! Chian Tayjin, kau takut atau tidak mendapat salah dari Butong Pay?"

Orang militer berpangkat itu tertawa.

"Aku telah makan nasiku ini, biarpun raja langit yang menjadi musuhku, aku tidak takut!"

Katanya terkebur. Pelajar muda itu bersenyum.

"Bagus!"

Dia berseru.

"Karena kau tidak takut, baiklah, akan aku bekuk semua kamu beberapa bangsat berbulu!"

Ketika Cit Seng Cu mulai datang di rumah penginapan, Touw Kan Louw telah datangi dia.

Dia memang memberi keterangan bahwa dia datang untuk membantui Ciu San Bin, tetapi tentu saja itulah kedustaan belaka, sebab dia hendak menggunakan saatnya untuk mencari Thio Giok Houw, akan tetapi sekarang, dia dicaci demikian rupa oleh si pelajar, dia menjadi gusar sekali, sudah kepalang, maulah dia menorek, mengaku benar sebagai orang undangannya Ciu San Bin itu.

Maka dia kata dengan nyaring.

"Bocah cilik yang bicara besar, toya kau berdiri tegak di sini, kau majulah untuk membekuk dia!"

Sengaja dia menantang dengan menyebut dirinya toya atau si tua imam yang suci...

Acuh tak acuh, si pelajar tertawa pula.

Ia mengipasngipas, lantas ia mengangkat kakinya, untuk turun berlenggang dari undakan tangga, guna menghampirkan senak hatinya.

Di pihaknya Giok Houw, ia terkejut ketika ia mendengar si pelajar memanggil si perwira dengan "Chian Tayjin."

Ia lantas ingat.

"Orang berpangkat ini she Chian, apakah dia bukannya Chian Tiang Cun, tongnia atau komandan yang baru dari pasukan Gilimkun?"

Pemuda ini menduga tepat.

Asalnya Tiang Cun adalah congkoan atau kepala dari sekalian busu, guru silat atau pahlawan, dari istana thaycu, putera mahkota, dengan thaycu telah naik ke tahta sebagai kaisar, dia dengan sendirinya turut naik menjadi tongnia dari pasukan pengiring raja itu.

Tentang ilmu silatnya, tidak ada orang yang mengetahuinya, hanya karena kedudukannya itu, dengan sendirinya dialah orang nomor satu dalam kalangan busu di kota raja.

Hanyalah tentang si pelajar, Giok Houw tidak bisa menerka.

Ia cuma merasa heran untuk kedudukan si pelajar ini.

Si tongnia mestinya lebih berkuasa, akan tetapi dari caranya bicara, dari sikapnya, nyata Chian Tiang Cun lebih menghormati si pemuda daripada si pemuda memandang kepadanya.

Cit Seng Cu memandang Giok Houw dan berkata.

"Masih ada sisa sepuluh jurus! Baiklah itu ditunda dulu, lain kali saja aku nanti menempur pula padamu!"

Setelah itu, ia berpaling kepada si pelajar, yang sudah lantas tiba di undakan tangga terakhir.

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring, atau terlihat Ko In Tojin bersama Ku Kiu Gi, dengan masing-masing pedangnya meluncur, maju menyerang pelajar itu.

Mereka rupanya sangat mendongkol untuk kejumawaannya pelajar ini, yang terutama tidak memandang mata kepada paman guru mereka.

Sebenarnya, di samping kemendongkolan itu, mereka kuatir Giok Houw nanti mendahului pamannya turun tangan.

Selagi orang mendatangi ke arahnya, si pelajar tetap membawa sikapnya acuh tak acuh itu, dia berlenggang seraya mengibas-ngibas dengan kipasnya, tetap dia bertindak ke arah Cit Seng Cu.

Di antara Ko In dan Kiu Gi, si imamlah yang sampai paling dulu, dengan begitu dia jugalah yang menikam terlebih dahulu.

"Celaka!"

Cit Seng Cu berseru ketika ia menyaksikan sepak terjang keponakan muridnya itu.

Juga Giok Houw turut terkejut.

Entah bagaimana gerakannya, ketika pedang Ko In tiba kepada tubuh si pelajar, mendadak pedang itu telah tercekal olehnya, untuk terus dipatahkan hingga berbunyi meletek!

Ku Kiu Gi tiba belakangan, ia pun menyerang terus.

Ia ada terlebih lihai daripada saudara seperguruannya itu, ia menyerang dengan waspada, jurusnya pun diubah seketika.

Pelajar itu memandang orang tak mata secara berlebihan, ia menduga Kiu Gi sepantar sama Ko In dalam hal ilmu pedang, maka ia pun bersikap serupa, untuk menangkap pedang penyerangnya, guna dipatahkan pula.

Kesudahannya barulah ia terkejut sendirinya.

Tahu-tahu ujung pedang meluncur terus, merobek ujung bajunya!

"Sayang!"

Kiu Gi menyesalkan dirinya, sedang mulanya ia merasa pasti bahwa ia bakal dapat menikam tepat kepada pelajar gede kepala itu.

"Lepas tanganmu!"

Si pelajar membentak di saat Kiu Gi tersayang-sayang itu.

Sambil berteriak demikian, si pelajar menutup kipasnya, dengan ujung kipas itu, ia menotok lengan penyerangnya.

Kelihatannya ia tidak bergerak sangat cepat, akan tetapi Kiu Gi tidak dapat meloloskan diri, tangannya kena tertotok hingga dia merasakan sangat nyeri, terpaksa dia berlompat ke samping.

Meski begitu, dia tidak dapat melindungi pedangnya, yang dengan cepat berpindah tangan kepada si pelajar, sedang Ko In kena ditendang jumpalitan.

Kiu Gi masih sempat berkelit, kalau tidak, ia pun bakal kena tendangan susulan dari pelajar itu, yang mendupak secara beruntun.

Baru sekarang Cit Seng Cu kaget sekali.

Adalah di luar sangkaannya yang dalam gebrakan-gebrakan singkat itu, kedua keponakan muridnya kena dirobohkan secara demikian memalukan.

Karena ini tidak menanti sampai si pelajar menghampirkan padanya, ialah yang berlompat maju sambil mendahulukan mengebut ke muka orang.

Ia menggunakan jurus "Rambut poni menutupi dahi."

Kebutan itu mestinya hebat, akan tetapi si pelajar tidak takut.

Ia tidak menangkis, ia tidak berkelit mundur, bahkan ia dongak sambil tertawa terbahak, terus dengan mendadak ia meniup.

Maka berhamburanlah semua lembaran bulu kebutan itu, tidak ada sehelai juga yang mengenai sasarannya!

Cit Seng Cu berpengalaman dalam hal pertempuran, meski kejadian itu sangat luar biasa, ia tidak menjadi kaget dan tidak menjadi bingung karenanya.

Setelah gagalnya kebutan, segera ia menikam dengan pedangnya.

Dalam tergesa-gesa itu, ia sampai lupa bahwa pedangnya sudah tumpul bekas ditabas Giok Houw.

Maka juga, ketika si pelajar muda menarik perutnya, dia selamat dari tikaman.

Kalau tidak, lagi setengah dim, ujung pedang akan tiba pada sasarannya.

Pelajar itu tertawa.

"Imam tua, kau pun sambutlah tanganku!"

Kata dia dingin.

Dan dia membalas.

Kipasnya diangkat, lalu ditunda.

Itulah gerakan untuk menotok atau menikam, tinggal menanti turunnya saja tangan.

Sebagai seorang ahli silat, Cit Seng Cu mengerti ancaman bahaya.

Ia tidak mau sembarang bergerak, ia ingin menanti serangan lawan itu.

Maka ia memasang matanya.

Pelajar muda itu bagaikan menggertak.

Inilah siasatnya untuk menarik perhatian si imam, agar orang mengawasinya.

Hanya ia tidak berdiam lama.

Dengan mendadak ia berseru aneh, dengan tiba-tiba ia menyerang dengan tangan kirinya, dari itu ujung pedang meluncur melintasi kipasnya.

Ia nyata telah menyerang dengan tikaman "Hengci thianlam"

Seperti lawannya tadi.

Jago Butong Pay itu sudah siap sedia, matanya dipasang tajam-tajam, tidak urung ia kalah sebat.

Karena terus-menerus mengawasi kipas, ia menjadi kalah sebat.

la terkejut ketika ia berkelit mendak, tusuk kondenya yang terbuat dari perak kena terbabat sedikit!

Pelajar itu tertawa terbahak-bahak.

"Bagaimana?"

Tanyanya.

"Sudah kubilang, ilmu pedangmu belum mencapai puncaknya kemahiran! Tadi kau tidak percaya, bukan? Sekarang kau tentu percaya sudah! Kalau tadi kau bertindak seperti aku ini, mana bisa bocah itu lolos?"

Cit Seng Cu menjadi murka tidak terkirakan, tanpa membilang apa-apa, ia maju menyerang, ia menggunakan dua-dua kebutan dan pedangnya.

Sebagai jago Butong, ia malu bukan main, hingga ia menjadi seperti kalap.

Si pelajar muda tidak mau melayani orang yang bagaikan gila itu, ia main mundur, baru beberapa tindak, mendadak ia melemparkan pedang di tangan kirinya itu sambil ia berkata nyaring.

"Kau tukarlah pedang di tanganmu dengan ini pedang keponakan muridmu! Pedangmu itu sudah tidak dapat digunai!"

Memang juga, pedang si pelajar muda ialah pedang rampasannya tadi -pedangnya Kui Kiu Gi.

Dadanya Cit Seng Cu seperti mau meledak, meski begitu, ia toh menyambuti.

Hebat pedang yang dilemparkan itu, untuk menyambutnya, ia menahan dengan pedang buntungnya, kemudian dengan sebat ia melemparkan pedangnya sendiri, guna menyambar gagang pedang keponakannya itu.

"Nah begitu, kau peganglah pedang itu!"

Kata si pelajar tertawa.

"Aku masih ingin belajar kenal dengan tujuh puluh dua jurus Lianhoan Toatbeng Kiamhoat dari ButongPay!"

Tanpa menyahuti lagi, Cit Seng Cu mulai pula dengan penyerangannya, hanya kali ini ia tidak berlaku kalap seperti tadi.

Si anak muda tetap berlaku tenang.

Di samping kipasnya, ia sekarang juga menggunakan tangan kirinya yang kosong itu.

Inilah ilmu silat "Khongciu Jippek Jin," --tangan kosong melawan senjata tajam.

Setiap orang yang mengerti silat ada mempelajari silat tangan kosong melawan senjata itu, hanya itu biasanya dipakai jikalau sudah terpaksa, untuk membela diri, guna merampas senjata musuh, tetapi anak muda ini berlaku lain daripada yang lain.

Dia justeru menggunakannya tidak menanti saat terpaksa itu.

Dia segera menggunakannya di samping kipasnya.

Mungkin ini disebabkan musuh menggunakan kebutan dan pedang berbareng, mungkin dia hendak memamerkan kepandaiannya itu.

Pula segera ternyata, dia tidak hanya ingin merampas senjata musuh, hanya dia main totok juga, seperti dengan kipasnya dia saban-saban mencari jalan darah lawannya.

Maka itu sekarang bisa dimengerti, dia rupanya berbuat begitu untuk menghina jago Butong Pay itu.

Cit Seng Cu berkelahi dengan hati panas, pemusatan perhatiannya menjadi terganggu, biarpun ia lihai.

penyerangannya menjadi kurang bahayanya.

Setiap tikaman atau babatan pedangnya dengan gampang saja kena dihalau lawan yang muda itu, yang sikapnya sangat tenang, bahkan sebaliknya, ia sendiri hampir-hampir kena ditotok beberapa kali.

Kebutannya juga tidak berdaya menghadapi kipas lawan yang tidak dikenal itu, saban-saban kebutan itu kena dikipas buyar.

Kipas itu seperti diperantikan guna memunahkan kebutan itu.

Seumurnya inilah yang pertama kali Cit Seng Cu menghadapi lawan yang setangguh ini.

Sesudah berulang-ulang gagal, perlahan-lahan dapat ia mengendalikan dirinya, hingga ia dapat berkelahi dengan tenang juga.

Perubahan ini ada baiknya untuknya, ia menjadi bisa berkelahi dengan baik.

Biarpun demikian, sesudah berjalan kira-kira tiga puluh jurus, ia mendapat kenyataan ialah yang kena didesak mundur.

Komandan Gilimkun yang menonton semenjak tadi terdengar tertawa.

"Kiauw Siheng, sekarang bukannya siang lagi!"

Ia berkata.

"Ilmu silat Butong Pay juga cuma sebegini saja, tidak ada bagiannya yang menarik hati untuk dipandang, baiklah kau jangan membuang tempo lama-lama lagi!"

Kapan Thio Giok Houw mendengar suara itu, ia lantas berpikir.

"Apa bukannya dia inilah majikan muda dari Le Kong Thian?"

Pikirnya. Orang itu she Kiauw dan Kong Thian, dalam pembicaraannya sama Cit Im Kauwcu, menyebut-nyebut Keluarga Kiauw.

"Bret!"

Demikian terdengar selagi Giok Houw berpikir itu.

Itulah suaranya tangan si anak muda menjambret robek ujung jubahnya si imam, menyusul mana kipasnya menyambar ke arah batok kepala orang pertapaan itu.

nampaknya sangat mengancam.

Giok Houw menonton pertandingan itu dengan perhatian penuh, ia melihat si imam terancam bahaya, tanpa ayal lagi ia berlompat ke gelanggang, untuk memberikan pertolongannya.

Ia bukannya menangkis, guna menalangi imam itu, hanya ia membacok dengan jurusnya "Rantai menutup sungai,"

Sedang tangan kirinya menotok dengan jurus dari Tiatci Sinkang, mengarah lengannya pelajar muda yang lihai itu.

Atas datangnya serangan yang tiba-tiba itu.

si pelajar membela dirinya.

Dengan kipasnya ia menangkis bacokan, dengan gampang bacokan itu kena dibikin lenyap ancaman bahayanya.

Dan totokan, bukannya ia kelit, hanya ia sambut dengan kepalan kirinya.

Giok Houw terkejut ketika merasakan totokannya mengenai sesuatu yang keras seperti batu atau besi, maka ia mengeluarkan suara heran, begitu juga si pelajar muda, maka itu, sama-sama mereka berlompat mundur tiga tindak Tatkala si pelajar memeriksa kepalannya, ia mendapati dua buah titik merah.

Cit Seng Cu mengetahui orang yang membantu adalah si anak muda, ia mengasi dengar suara "Hm!"

Seraya meneruskan.

"Sisa sepuluh jurus lagi dari aku, dengan ini aku membikin buras saja! Hanya ikat pinggang kumala itu, aku tetap hendak mengambilnya pulang!"

Giok Houw tertawa dan menyahut.

"Tunggulah sampai habis pertempuran ini, masih belum terlalu lambat untuk kita berdua membuat perhitungan pula!"

Si pelajar muda tidak gusar yang ia dirintangi Giok Houw, ia turut tertawa dan berkata.

"Kamu semua adalah ikan-ikan di dasarnya kwali, buat apa kamu berisik tidak keruan?"

Ia baru berkata begitu, atau tubuhnya mencelat maju dengan secara sangat pesat, sedang kipasnya yang terbuka dilipatnya kuncup.

Dua-dua Giok Houw dan Cit Seng Cu merasakan seperti juga mereka terancam pada tubuh mereka bagian yang berbahaya.

Si imam segera menangkis dengan kebutannya sedang si anak muda berkelit dengan suatu gerak dari "Coanhoa jiauwsi."

Dengan begitu, dua-dua mereka bebas dari bahaya.

Akan tetapi si pelajar muda tidak berhenti dengan itu satu serangan, ia mendesak, ia mengulanginya, hingga sebentar saja, ia sudah menyerang belasan kali, baik dengan kipasnya maupun dengan jeriji tangan kirinya, semuanya serangannya itu sangat berbahaya.

Bertiga mereka bergebrak seru.

Dengan tenaga dalamnya yang mahir, Cit Seng Cu mencoba bertahan, sedang Giok Houw melawan dengan pelbagai macam ilmu silatnya yang campur baur itu.

dengan begitu mereka dapat melayani pelajar yang kosen itu, hingga dia ini kewalahan juga.

Sedang serunya mereka bertarung, tiba-tiba Giok Houw berkata nyaring.

"Bangsat kecil she Kiauw, nyalimu sungguh besar sekali! Bagaimana kau berani menyelundup masuk ke Tionggoan?"

Pelajar muda itu terkejut hingga ia melengak, sedang dia percaya betul bahwa orang tak ada yang mengenalnya. Justeru dia berdiam, justeru Giok Houw menyerang denganjurus "Paysan oenciang"

Dari Taylek Kimkong Ciang.

hingga tangannya benar-benar seperti ambruknya gunung (paysan).

Dia kaget sekali, terpaksa dia berkelit, tetapi selagi dia berkelit, kebutannya Cit Seng Cu bekerja, menyambar ke mukanya.

Sia-sia belaka dia berkelit, beberapa lembar kebutan itu mengenai juga mukanya itu hingga lecet, hingga lantas mengalirkan darah!

Gipk Houw melihat tegas, ia tertawa dan berkata.

"Wakilmu sedang merundingkan soal jodohmu, sekarang mukamu terluka, sungguh, tak bagus untuk kau menjadi baba pengantin!"

Bukan main gusarnya pelajar ini.

Sebat luar biasa ia menyambar dengan tangan kirinya, mencekal kebutannya Cit Seng Cu yang belum sempat ditarik pulang.

Giok Houw menolongi, ia membacok, tetapi goloknya tertangkis kipas.

Cit Seng Cu terperanjat, ia mengerahkan tenaga dalamnya, yang ia telah latih selama beberapa puluh tahun, ia pun memasang kuda-kudanya, hingga ia berdiri tegak bagaikan tanggul besi, maka juga, biarpun si pelajar sangat lihai, dia tidak dapat membetot imam itu.

Saking penasaran, sekonyong-konyong dia menghajar lengan si imam.

Inilah gerakan luar biasa cepat.

Dia melepaskan cekalannya, dia terus menyerang, kenanya tepat.

Si imam merasakan lengannya itu sakit sekali, panas dan lantas memberi tanda merah seperti bekas kebakar, tubuhnya juga terhuyung.

Menyusul itu, si pelajar menyerang Giok Houw.

Ia telah menurunkan beberapa pukulan jahat.

Giok Houw membela diri sambil mundur.

Seorang diri, ia keteter.

Pelajar muda itu tertawa bergelak.

"Baiklah kamu ketahui!"

Katanya, nyaring dan jumawa.

"Aku memang hendak membereskan kamu rombongan murid-murid yang menamakan dirinya dari kalangan sejati! Aku memang ingin melihat di Tionggoan ada orang macam bagaimana yang lihai!"

Giok Houw terkesiap juga hatinya.

"Ah, benar-benar dia si orang she Kiauw yang menjadi majikan muda dari Le Kong Thian!"

Pikirnya.

"Kalau dia begini muda sudah begini lihai, bisa dimengerti lihainya si bangsat she Kiauw yang tua itu! Kalau dilihat begini, tidak bisa tidak, aku mesti mengundang guruku... Sejenak itu, hampir pemuda ini kena terhajar kipas lawan, yang terus mendesak padanya. Syukur untuknya, selagi ia terancam bahaya, Cit Seng Cu merangsak dan menyerang dengan tikaman-tikamannya yang berbahaya, sebab biar bagaimana, dialah jago Butong yang tua. Selagi serangannya pelajar she Kiauw ini dapat dibataskan, tiba-tiba telingamerekamendengar suara berisik dari tindakan banyak kaki kuda. Teranglah itu satu pasukan tentara yang lagi mendatangi. Giok Houw sudah lantas mengasi dengar seruannya.

"CiuJiko, lekas kau pulang dulu dan nantikan saja aku di sana!"

Tapi si pelajar tertawa dan berkata.

"Ah, kau masih memikir untuk pergi?"

Ia lantas mengibas kipasnya, menangkis serangannya Cit Seng Cu, sambil berbuat begitu, ia maju kepada si anak muda seraya mengirim tangan kirinya, dengan serangan Pekkhong ciang.

"Memukul udara kosong."

Giok Houw melihat datangnya serangan.

Tadi mereka telah mengadu tenaga, ia percaya orang bertenaga tidak terlalu hebat, maka hendak ia mencoba pula.

Ia menyambut keras dengan keras, ia mengerahkan tenaga Taylek Kimkong Ciang.

Pelajar muda itu mempunyai tenaga dalam yang mahir sekali, tenaganya itu dapat dibikin lunak dan keras sesuka hatinya.

Demikian kali ini, selagi orang berlaku keras, ia menggunakan tenaga lembek.

Giok Houw terperanjat akan merasakan sasaran yang lembek sekali, tanpa terasa, tubuhnya maju ke depan, terjerunuk ke arah musuh, siapa sebaliknya seperti menghilang, maka juga, meski ia berdaya untuk berkelit, pundaknya masih tersambar lawannya, cuma pundaknya panas dan sakit.

Kalau tidak, hancurlah tulang selangkanya, habislah ilmu silatnya.

Setelah itu, si pelajar muda mendesak Cit Seng Cu.

Ia agaknya hendak memegat jalan mundur dari kedua lawannya itu.

Ketika itu terdengar suara nyaring dari Chian Tiang Cun si komandan Gilimkun.

"Kiauw Siheng, kau layani lah dua orang ini, yang lain-lainnya kau serahkan padaku!"

Ko In Tojin bersama Ku Kiu Gi lantas maju, untuk membantu paman guru mereka, tetapi mereka segera dirintangi tongnia itu, siapa justeru berteriak demikian dan maju karena ia melihat gerak-gerik dua orang ini.

Maka terjadilah pertempuran dua rombongan.

Pedangnya Ko In telah dirampas si pelajar muda, ia terpaksa berkelahi dengan tangan kosong.

Chian Tiang Cun pun hendak memamerkan kepandaiannya, ia tidak menghunus pedangnya, ia melawan dengan tangan kosongjuga.

Dengan tangan kanan ia melindungi dadanya, dengan tangan kiri, ia menyambut tinju si imam.

Baca Juga: Gelang Perasa Gu Long

Baca Juga: Tiga Maha Besar 1

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger