Eps 5 Kisah Pedang Bersatu Padu - Okt
Baca online Kisah Pedang Bersatu Padu - Okt
Cersil Kisah Pedang Bersatu Padu - Okt.
Ia tidak menangkis untuk hanya membikin lengan lawan terpental, ia menangkis sambil memutar tangannya, untuk membangkol, maka lekas juga terdengar suara membeletuk, tahu-tahu sebelah lengannya Ko In keseleo dan terus turun!
Ku Kiu Gi menjadi kaget sekali, maka ia berlompat maju, guna menyerang, buat menolongi saudara seperguruannya itu.
la menggunakan dua-dua tangannya, tangan kanan sebagai kepalan meninju ke dada, tangan kiri dengan jeriji menotok ke dahi untuk mencari jalan darah thayyang hiat.
"Bagus!"
Berseru Chian Tiang Cun seraya menyambut serangan berbahaya itu.
Ia tidak jeri sama sekali.
Dengan tangan kanannya ia tetap melindungi dadanya, dengan tangan kirinya ia menangkap serangan ke kepala.
Begitu ia dapat mencekal, ia menarik untuk diteruskan ditalakkan keras.
Tanpa ampun lagi, Ku Kiu Gi kena dibikin terpelanting satu tombak lebih!
Ko in payah sekali.
Dengan sebelah tangan tidak dapat diangkat, tidak sanggup ia melayani komandan Gilimkun itu.
Baru dua jurus, punggungnya sudah kena dijambak hingga ia tidak dapat berkutik lagi.
Ciu Ci Hiap sementara itu telah menggunakan goloknya untuk merusak jendela.
"Kena!"
Berseru Tiang Cun.
yang menyerang kepada pemuda she Ciu itu dengan dua biji senjata rahasianya yang merupakan huicui, ialah penggerek terbang!
Touw Kan Louw melihat datangnya senjata rahasia itu, ia lantas menyambar bangku, dengan memeluk itu, di berlompat ke depan Ci Hiap, guna melindungi itu cecu muda.
Maka dengan dua kali suara berisik, penggerek itu nancap di bangku, hanya apa celaka, yang satu tembus ujungnya, mengenai kakinya!
Ci Hiap lompat keluar jendela, ia berseru.
"Kalau ada budi tidak dibalas, itu bukan namanya hormat!"
Lantas ia menimpuk dengan tiga batang huito, atau golok terbang, sebatang kepada Tiang Cun, yang dua kepada si pelajar muda. Berbareng dengan itu, Touw Kan Louw berseru.
"Siauwcecu, lekas menyingkir!"
Chian Tiang Cun benar-benar lihay, ia dapat menangkap huito Ci Hiap dan menggunakan itu untuk membalas menyerang, hingga kalau dia tidak sebat, puteranya Kimto Cecu bisa tertumbas kepalanya.
Tidak ayal lagi, meskipun merasa berat untuk Kan Louw, Ci Hiap kabur juga.
Ia tahu, percuma ia melawan musuh kosen itu.
Biar bagaimana, dua batang huito anak muda ini toh berhasil menolong Giok Houw.
Si pelajar muda sudah berada di atas angin ketika kupingnya mendengar angin menyambar dari arah belakangnya, tanpa berpaling lagi, ia menangkis ke belakang, dengan begitu ia membikin kedua huito mental balik, terbang ke udara.
Justeru itu, Giok Houw, yang habis membacok dengan bacokan "Tokpek Hoasan" --"Menggempur gunung Hoasan."
Sudah lantas lompat mundur dua tindak sambil berseru.
"Lari, jangan tunggu waktu lagi!"
Ia menyerukan si imam.
Ia telah melihat suasana buruk.
Cit Seng Toje pun tahu keadaan.
ia harus turut kabur.
Sekarang ini ia tidak ingat lagi akan keangkuhannya sebagai jago Butong yang tua...
Ketika itu nyata sekali terdengar suara "Buk!"
Itulah Ku Kiu Gi yang merasakan tinjunya Chian Tiang Cun.
Guna membantu paman gurunya, ia melupakan segala apa, ia maju maka ia menjadi bulan-bulannya komandan Gilimkun itu.
Cit Seng Cu menyaksikan kejadian itu, ia melihat tubuh keponakan muridnya terhuyung, ia merasa kasihan.
Justeru ini, larinya terlambat, ia lantas tercandak si pelajar muda, yang lantas menotok punggungnya di mana ada jalan darah citonghiat.
Giok Houw melihat si imam terancam bahaya, ia berlompat maju, guna membentur tubuhnya imam itu hingga dia terhuyung dua tindak, di lain pihak dengan tatokan Tiatci Sinkang, ia membikin si pelajar membatalkan serangannya.
Hanya celaka Ku Kiu Gi, dia telah kena dicekuk Chian Tiang Cun.
Cit Seng Cu cuma bisa menghela napas, bersamasama Giok Houw, yang kembali melepas langkah panjang, ia lari dengan berlompat naik ke atas genteng.
Si pelajar tidak puas, ia masih mengejar terus.
"Sudahlah!"
Berkata Chian Tiang Cun, si komandan Gilimkun.
"Kita sudah menang besar, jangan kita kejar musuh yang sudah mogok, biarkan mereka kabur!"
"Kecuali si hidung kerbau berlutut dan mengangguk tiga kali kepadaku, dia tidak bisa dapat ampun!"
Kata pelajar itu, sengit.
Dia membenci Cit Seng Cu sebab tadi mukanya telah kena dibikin baret, sedang juga dia angkuh sekali, dia menganggap dia terlebih gagah daripada komandan Gilimkun itu, selagi si komandan berhasil membekuk tiga orang, ia sendiri satu pun tidak.
Cit Seng Cu mendengar suara terkebur dari pelajar itu, berbangkitlah kemarahannya, maka ia batal lari terus, bahkan dia berlompat turun ke tanah di mana ia memasang kuda-kudanya.
"Sudah,"
Kata Giok Houw, membujuk.
"untuk seorang kuncu, membalas sakit hati sepuluh tahun terbelakang masih belum terlambat! Buat apa menuruti hawa amarah?"
Sekarang terlihat obornya lentera negeri, yang tadi baru terdengar suaranya saja yang berisik.
Obor mereka itu berlerot bagaikan kunang-kunang, sedang suaranya jadi semakin berisik.
Dari suara kuda ternyata itulah barisan berkuda.
Cit Seng Cu putus daya, terpaksa ia ikut lari.
Si pelajar benar-benar penasaran, ia mengejar terus.
Mereka bertiga ada orang-orang dengan kepandaian enteng tubuh yang mahir, maka itu, selang setengah jam berkejar-kejaran, mereka sudah meninggalkan dusun itu belasan li.
Si pelajar dapat menyusul semakin dekat, dia lantas berulangkah' memperdengarkan ejekannya, baik tertawa maupun kata-kata tajam, Giok Houw dapat mengendalikan diri, ia berdiam saja, tidak demikian dengan si imam aseran, hingga timbul pula niatnya menempur pula lawan yang tangguh itu.
Inilah apa yang diharap si pelajar.
Tepat si imam hendak membalik tubuhnya, guna menghadapi musuh ini yang cerdik menimpuk dia dengan sebutir batu, yang sudah disiapkan semenjak tadi.
Cit Seng Cu tengah memutar tubuh, dia menjadi kepalang tanggung, maka tepatlah punggungnya, yaitu jalan darah intay hiat, kena ditimpuk.
Tak sempat menjerit lagi, dia roboh seketika.
Giok Houw kaget bukan main.
Syukur ia berada dekat imam itu.
Ia lantas membungkuk menyambar tubuh orang, buat dibawa kabur terus.
Di dekat situ ada rimba, ia lantas lari ke arah rimba itu.
Si pelajar melihat niat orang itu, dia tertawa terbahak dan berkata dengan nyaring.
"Jangan kata baru lari masuk ke dalam rimba, ke ujung langit juga aku akan mengejar terus! Tidak nanti kamu dapat lolos dari telapakan tanganku!"
Di dalam kalangan kangouw ada peribahasa yang membilang.
"Kalau bertemu rimba, jangan masuk,"
Tetapi si pelajar kosen sekali, dia besar nyalinya, dia tidak menghiraukan peribahasa itu. dia mengejar terus.
"Inilah berbahaya,"
Giok Houw mengeluh.
Seorang diri ia pasti dapat lolos, tetapi ia hendak menolong jiwanya si hidung kerbau yang bandel itu.
Mana dapat ia meninggalkannya?
Meskipun si imam tergendong, lamalama ia pasti bakal kena dicandak musuh...
Tengah mereka saling kejar, sedang si pelajar puas sekali dan Giok Houw sebaliknya semakin bingung, mendadak di antara mereka terdengar satu bentakan nyaring tetapi halus, disusul lama berkelebatnya suatu cahaya berkilau kuning emas dari suatu benda mirip bunga bwee, benda mana pun bersuara mengaung perlahan.
Si pelajar muda lihai, dengan kipasnya ia menyampok benda itu, yang merupakan senjata rahasia.
Tentu saja ia menjadi terkejut, karena tidak keruan-keruan di situ ada serangan gelap, sedang senjata rahasia itu hebat sekali.
Sebenarnya ia hendak menegur si penyerang atau sebelum ia sempat membuka mulutnya, sudah menyambar senjata yang kedua, disusul sama yang ketiga.
Terpaksa ia berkelit berlompatan.
Tidak berani ia sembarang menangkis, sebab yang pertama saja telah menyebabkan muncratnya lelatu api.
Thio Giok Houw mendapat lihat kejadian itu, ia lantas berhenti berlari-lari.
Ia pun lantas bernapas lega.
"Kiranya kau, suci!"
Ia menyapa.
Ia mengenali baik senjata rahasia itu ialah bunga emas.
Memang le Sin Cu adalah orang yang menghalangi si pelajar muda.
Dia tergelar Sanhoa Lihiap, nona gagah penyebar bunga, tetapi sekarang ini, di dalam ilmu menimpuk dengan senjatanya itu, kimhoa atau "bunga emas,"
Ia telah melebihkan gurunya.
Maka itu tidaklah heran kalau si pelajar lantas menjadi kelabakan.
Sin Cu tidak lantas menyahuti si anak muda, ia hanya terus menguji si pelajar.
Setiap bunga emasnya tentu mencari jalan darah.
Pelajar itu repot menangkis, repot berkelit, berlompat tinggi dan rendah bergantian, tetapi dia maju terus.
Di akhirnya dia menegur nyaring.
"Orang yang bersembunyi dalam rimba, yang main menggelap dengan senjata rahasia, adakah kau seorang gagah? Jikalau kau mempunyai nyali, mari menemui aku, mari kita bertempur secara terang-terangan!"
Ia belum berhenti menantang itu ketika mendadak sekuntum bunga emas menyamber kepalanya hingga ada seutas rambutnya yang kena terpapas kutung! Sambil tertawa panjang, Sin Cu lantas muncul.
"Kau mempunyai kepandaian apa maka kau berani memandang enteng kepada kaum Rimba Persilatan dari Tionggoan?", ia menanya. Pelajar itu heran ketika menyaksikan orang yang merintangi, ia ialah seorang nyonya muda yang cantik manis. Ia melengak sejenak, lalu ia tertawa.
"Jadinya kaulah Sanhoa Lihiap yang kesohor dalam dunia kangouw?"
Katanya, menegur.
"Aku telah menyaksikan kepandaianmu menyebar bunga emas. Sekarang aku ingin melihat ilmu pedang Hian Ki Kiamhoat!"
Kata-katanya ini ditutup berbareng sama mencelatnya tubuhnya sambil ia menyerang dengan kipasnya.
Kipas, yang dipentang itu, telah dirangkap, lalu ujungnya menotok pelipis.
Sin Cu menyabet dengan pedangnya.
Itulah gerakannya yang sukar diduga.
Itulah gerakan benarbenar dan berpura-pura atau gertakan belaka.
Maka bersangsilah si anak muda.
Kesangsian ini membuat gerakannya ayal.
Maka ketika ujung pedang menyabet terus, putuslah selembar tulang kipasnya, putus ujungnya.
Karena kipas ada kipas besi, terdengarlah suaranya yang keras.
Si anak muda pun lihai.
Diam-diam, akan tetapi sebat luar biasa, tangan kirinya diajukan dalam gerakan Kimnaciu.
Tidak perduli Sin Cu sangat gesit, ujung bajunya kena juga disamber hingga robek dan kutung sepotong kecil!
Gebrakan pertama ini membikin keduanya sama-sama terkejut.
Si anak muda tidak menyangka pedang orang pedang mustika.
Si nyonya muda tidak menduga tangan orang demikian sebat.
Oleh karena ini, mereka jadi tidak berani saling memandang enteng, keduanya sama-sama berhati-hati.
Pertempuran lantas dilanjutkan.
Pedang bagaikan berputaran, kipas seperti berterbangan.
Dengan cepat tiga puluh jurus telah dilalui.
Thio Giok Houw melepaskan Cit Seng Cu.
Dia ini, yang mahir tenaga dalamnya, dapat meluruskan pernapasannya, dengan begitu dia berhasil membebaskan diri dari totokan.
Hanya untuk sesaat itu, jalan darahnya tidak dapat berjalan lancar seperti biasa.
"Kau jangan takut,"
Berkata Giok Houw.
"Suci-ku telah datang!"
"Siapayang takut!"
Kata Cit Seng Cu dengan sengit.
"Aku hendak mengadu jiwa dengannya!"
Ia lantas berlompat bangun, atau ia lantas terhuyung-huyung, tubuhnya tak dapat berdiri tegak. Itulah bukti bahwa kesegarannya belum pulih. Sambil tertawa Giok Houw memegangi tubuh orang.
"Jangan bergusar, Ioocianpwee,"
Katanya, menghibur.
"Nanti aku yang muda mewakilkan kau maju."
Mukanya imam itu menjadi merah. Ia merasa likat sekali. Tapi Thio Giok Houw telah menolong padanya, tidak dapat ia menegur atau mendamprat anak muda itu. Giok Houw segera maju beberapa tindak.
"Suci!"
Katanya, nyaring.
"Di belakang kita ada pasukan besar dari tentera negeri, perlu kita lekas-lekas membereskan bangsat kecil ini!"
"Baiklah!"
Menjawab Sin Cu.
"Mari kita lawan dia dengan Hian Ki Kiamhoat! Di dalam tempo sepuluh jurus, kita mesti membikin dia keok!"
Panas hatinya anak muda itu, ia gusar. Di dalam hatinya, ia kata.
"Jikalau aku tidak mampu melawan kau, akan aku pulang ke Sehek..."
Belum habis ia berpikir, atau Giok Houw sudah tiba, goloknya lantas menyerang.
Ia tidak takut.
Ia menganggap, meski ilmu pedang Sin Cu lihai, tenaga dalamnya belum tentu mahir betul, wanita itu cuma menang sedikit daripada Cit Seng Cu.
Yang dimalui adalah pedang mustika.
Ia percaya, tanpa pedang mustikanya itu, musuh bakal kena dikalahkan dalam tempo tiga puluh jurus.
Tadi ia dikepung Cit Seng Cu dan Giok Houw, ia menang di atas angin.
Sekarang Giok Houw dibantu Sin Cu, ia percaya ia akan dapat melayani dengan sama imbangannya.
Ia barulah kaget ketika datang bacokan Giok Houw itu.
Itulah bacokan luar biasa.
Dengan goloknya, golok Bianto yang tajam luar biasa, Giok Houw bukan menyerang dengan ilmu golok hanya dengan ilmu pedang, sebab ia mesti mengimbangi Sin Cu, guna mereka menggunakan ilmu pedang Hian Ki Kiamhoat.
Anak muda itu berkelit.
Ia lantas tidak diberi kesempatan.
Giok Houw mengulangi serangannya, Sin Cu turut menyerang.
Maka musuh itu seperti juga dikurung, dia bagaikan dipegat di depan dan di belakang.
Golok membulang baling, pedang berkelebatan.
Akur sekali gerakan golok dan pedang itu.
Dalam kagetnya, si anak muda membela diri.
Dengan kipasnya, ia bersilat dengan tipu silat "Patsian kweehay,"
Yaitu "Delapan dewa menyeberangi laut."
Ia membuka dan menutup kipasnya bergantian, untuk menangkis berbareng menyerang.
Tapi ia terdesak.
Tiga kali kipasnya kena dicoblos ujung pedang Sin Cu.
Bertempur terlebih jauh, kedua pihak telah memperlihatkan kepandaian masing-masing.
Sabansaban penyerangan tergabung Sin Cu dan Giok Houw dapat ditolak atau dipecahkan, saban-saban pedang dan golok datang pula dengan berbareng, ancamannya tetap sama lihaynya.
Golok disampok, pedang ditangkis, tetapi senantiasa kedua senjata bergabung pula, bersatu padu.
Untuk melawannya, si anak muda menggunakan kipasnya yang lihai dibantu tangan kirinya yang memainkan ilmu silat Kimna ciu yang tidak kurang lihainya.
Tidak urung akhirnya, ujung bajunya pun telah kena ditoblos bolong seperti tadi kipasnya.
Segera juga terdengar suara terompet tentara yang mendatangi.
"Kali ini aku memberi ampun kepada kamu!"
Tiba-tiba si anak muda berseru.
"Jikalau kamu mempunyai nyali, sebentar kita bertemu pula di medan perang!"
Sin Cu tidak menggubris suara orang itu, justeru orang membuka mulut, ia menyerang, pedangnya meluncur ke tenggorokan. Ia menggunakan tipu silat "Pekhong koanjit"
Atau "Bianglala putih menutup matahari."
Sementara Thio Giok Houw, dengan goloknya, dia menggores pundak lawan!
Pemuda itu benar-benar lihai.
la mencoba berkelit dengan mengasi tubuhnya mendak, lalu sambil berseru ia meneruskan membalas menyerang Giok Houw pada bagian bawah!
Giok Houw terkejut.
Ia tidak menyangka musuh demikian sebat.
Terpaksa ia berkelit sambil berlompat.
Si anak muda tidak menyusul, bahkan sebaliknya, ia berlompat mundur.
Ia berniat menyingkir dari kepungan.
Karena ia menyerang Giok Houw, untuk berlompat mundur itu, ia mensia-siakan tempo, tepat ia berlompat, tepat pedangnya Sin Cu tiba.
Terpaksa ia menangkis.
Akibatnya ialah satu tulang kipasnya kembali kena terbabat putus!
Selama itu tujuh jurus telah berjalan.
Jadi tepat perkataannya Sin Cu, di dalam sepuluh jurus hendak ia mengalahkan lawan yang tangguh itu.
Si anak muda mesti menyingkir dengan pundaknya tergores goloknya Giok Houw dan dua batang tulang kipasnya terbabat pedangnya Sin Cu.
Sin Cu dan Giok Houw tidak mau mengejar.
Mereka kuatir pasukan tentera nanti keburu tiba.
"Sayang!"
Giok Houw mengeluh menyesal. Sin Cu tertawa.
"Dia dapat benahan sampai tujuh jurus, itulah bukti dia sebenarnya berada di atasan kita!"
Katanya. Sebagai seorang jujur, ia mengakui musuh lebih lihai. Kalau mereka satu lawan satu, entahlah. Ketika itu Cit Seng Cu, dengan tindakan perlahan. datang menghampirkan mereka.
"Eh, ini toh C it Seng T j oe Totiang dari Butong San?"
Berkata Sin Cu, agaknya heran.
"Pada sepuluh tahun dulu, ketika aku turut guruku mengunjungi gunungmu, aku beruntung dapat bertemu sama totiang, totiang, aku tidak menyangka bahwa kita dapat bertemu di sini. Apakah totiang datang untuk membantu kami?"
Mukanya imam itu bersemu merah.
"Benar dan bukan,"
Sahutnya. Sin Cu heran.
"Bagaimana itu?"
Tanyanya. Thio Giok Houw tertawa.
"Sebenarnya Cit Seng Cu Totiang datang mencari aku untuk membuat perhitungan!"
Katanya. Sin Cu mengasi lihat roman heran, lalu ia bersikap sungguh-sungguh.
"Siauw Houw Cu, di dalam urusan apa kau mendapat salah dari totiang?"
Ia menanya.
"Mengapa kau masih tidak mau menghaturkan maaf?"
Mendengar perkataan si nyonya muda, Cit Seng Cu berkata di dalam hatinya.
"Kalau bukan mereka suci dan sute datang membantu aku, mungkin sekarang aku telah terjatuh ke dalam tangannya si orang she Kiauw itu, tetapi jikalau aku tidak berhasil mendapatkan pulang ikat pinggang kumala itu, ke mana aku mesti taruh mukanya partaiku, Butong Pay?"
Karena ini, dengan menebalkan muka. ia lantas berkata.
"Sebenarnya di antara kita tidak ada urusan yang besar sekali. Aku ada mempunyai dua orang keponakan, sikap mereka itu tidak benar, mereka sudah menerima undangan sunbu dari propinsi Ouwpak, dengan begitu mereka menjadi bertanggung jawab untuk keselamatannya barang hadiah untuk raja..."
Sin Cu lantas mengerti, ia tertawa.
"Lalu di tengah jalan, barang angkutan itu kena dirampas sute-ku ini?"
Ia tanya.
"Benar. Barang itu telah kena dirampas ini saudara seperguruanmu. Kedua keponakanku itu memang tidak pantas perbuatannya, akan tetapi... kami pihak Butong Pay, sudah seratus tahun lebih, belum pernah kami mendapatkan pengalaman semacam ini... Maka itu asal sute-mu ini suka memberi muka, nanti aku menitahkan kedua keponakanku itu datang kepada kamu untuk menghaturkan maafnya."
Sin Cu mengerti, untuk menjaga nama baik Butong Pay.
Cit Seng Cu mau minta Siauw Houw Cu membayar pulang hadiah untuk kaisar itu.
Ia jadi berpikir.
Butong Pay bersahabat sama gurunya, tidak ada halangannya untuk mengasi pulang hadiah dari satu propinsi.
Hanya di samping itu, ada keberatannya, yang dapat jadi berlarutlarut.
Hadiah datang dari pelbagai propinsi, di antara pelindung-pelindungnya, mungkin ada salah satu kenalan lain.
Bagaimana kalau mereka itu pun datang minta tolong?
Jikalau pihak Butong Pay diterima, dapatkah mereka ditolak?
Bukankah itu berarti sikap tidak adil, ya berat sebelah?
"Mana dia itu dua keponakan dari totiang?"
Sin Cu tanya. Ia tidak lantas memberikan jawabannya.
"Sebenarnya mereka datang bersama pinto tetapi sekarang, mereka..."
"Tadi dalam pertempuran di rumah penginapan, mereka kena ditawan musuh!"
Berkata Giok Houw, yang meneruskan. Ia melihat imam itu likat dan bicaranya ayal-ayalan. Sin Cu pun berkata.
"Tadi ketika lewat di dusun depan aku melihat tentera negeri menggiring seorang imam serta seorang pelajar usia pertengahan, mungkinkah mereka keponakan totiang itu?"
Mukanya Cit Seng Cu menjadi merah pula.
"Pinto malu sekali, karena tidak punya kemampuan, pinto tidak dapat melindungi kedua keponakanku itu,"
Cit Seng Cu mengaku.
"Mereka itu adalah murid-murid ciangbunjin kami. Yang menjadi imam itu ialah Ko In dan yang satunya Ku Kiu Gi."
Mendengar begitu, tahulah Sin Cu bahwa dua keponakannya Cit Seng Cu itu ialah orang-orang kenamaan tingkat kedua dari Butong Pay, pantas Cit Seng Cu, si paman guru, sampai turun tangan.
Thio Giok Houw berpura-pura berduka, ia menghela napas.
"Dua murid lihai dari partai totiang telah kena ditawan, itu lebih-lebih merusak nama partai totiang"
Katanya. Cit Seng Cu mendongkol sekali. Ia merasa tersinggung.
"Kalau nanti pinto sudah pulang ke gunung!"
Ia berkata nyaring.
"pinto akan melaporkan kejadian ini kepada ciangbunjin kami, lantas kami akan mengumpulkan semua anggauta partai untuk membikin perhitungan dengan musuh!"
Giok Houw tidak mengambil mumat orang panas hati. Ia tersenyum.
"Si pelajar she Kiauw itu tidak diketahui asal-usulnya,"
Berkata ia.
"tetapi itu perwira she Chian, dialah taytongnia dari Gilimkun!"
Cit Seng Cu tercengang.
Adalah salah satu aturan dari Butong Pay, kecuali urusan sangat besar, partai itu dilarang bentrok sama pemerintah.
Di jaman Goan, pernah Butong Pay membantu secara diam-diam pada tentera rakyat melawan pemerintah, tetapi itulah disebabkan bangsa asing yang memerintah Tiongkok.
Tindakan mereka itu, setelah dirundingkan di dalam rapat, dianggap tepat.
Kali ini, duduknya hal lain, maka itu mana dapat Butong Pay menggunakan kekerasan merampas pulang Ko In Todlin dan Ku Kiu Gi?
Cit Seng Cu mengerti hal ini, maka itu, kaget ia mendengar Giok Houw menyebut lawan adalah taytongnia, atau komandan besar, dari Gilimkun, yaitu pasukan kaisar.
Tapi ia mendongkol, ia tidak dapat mengendalikan diri.
"Inilah urusan partai kami, tidak dapat orang luar mencampur tahu!"
Katanya sengit.
"Aku akan mengadu jiwa tuaku ini! Biarpun ciangbunjin kami akan menegur dan menghukum aku, mau aku mencari orang she Chian itu untuk berhitungan dengannya!"
Giok Houw bersenyum pula, hanya kali ini ia membungkam. Di dalam hatinya, ia kata.
"Menghadapi si orang she Chian, mungkin kau dapat bertempur seri, tetapi kalau dia dibantu si orang she Kiauw, meskipun kau mengadu jiwa tuamu, itu masih tidak ada faedahnya!..."
"Totiang, sabar,"
Berkata Sin Cu.
"Aku pikir, bunga merah itu serta daun yang hijau, asalnya ialah satu cabang. Demikian juga dengan pelbagai partai persilatan, maka itu, pantaslah kaum Rimba Persilatan saling membantu. Totiang, dengan melupakan diri sendiri, suka aku bekerja untuk partai kamu itu. Aku mengharap, umpama kata aku beruntung menolongi kedua keponakanmu itu, sukalah kau memberi maaf pada suteku ini..."
"Ini... ini..."
Kata si imam, tidak lancar "Sebenarnya aku tidak bermusuhan dengan sute-mu ini, dari itu jikalau kau suka membantu, aku bersyukur sekali. Hanyalah itu barang bingkisan, itu barang bingkisan..."
Sin Cu tertawa.
"Bukankah urusan barang bingkisan itu mengenai muka partaimu?"
Katanya.
"Baiklah, mengenai itu suka aku bertanggung jawab, nanti aku mendayakan agar muka partai dapat dilindungi serta kedua keponakanmu itu bisa dimerdekakan!"
"Kalau itu dapat terjadi, itulah paling bagus!"
Cit Seng Cu bilang.
"Akupun tidak sudi menjadi kaki tangannya sunbu dari Ouwpak! Sebenarnya, barang bingkisan itu diserahkan kepada kamu ada terlebih baik daripada dihaturkan kepada raja."
"Baiklah, begini perjanjian kita!"
Kata Sin Cu pula.
"Sekarang, totiang, ingin aku menanya kau, apakah sebentar kau membantu kami atau tidak?"
"Lihiap suka membantu aku, aku, biarpun tubuhku hancur lebur, aku pasti tidak akan menampik,"
Menyahut Cit Seng Cu.
"Lihiap, lebih dulu aku menghaturkan diperbanyak terima kasih kepadamu!"
Thio Giok Houw heran mendengar kata-kata kakak seperguruan itu.
Apakah yang Sin Cu niat lakukan?
Kenapa kakak itu menjanjikan dua urusan itu?
Menolongi Ko In dan Kiu Gi ada satu soal.
Tanpa mengembalikan ikat pinggang kumala, muka terang Butong Pay juga hendak dilindungi.
Bagaimana itu?
"Siauw Houw Cu"
Berkata Sin Tioe.
"di waktu tengah hari kita mesti berada di Cheeliongkiap, tahukah kau?"
"Aku tahu. Kita boleh pergi bersama."
"Baiklah kau ketahui, begitu menerima lioklimcian Kimto Cecu, aku lantas datang bersama kawan-kawan dari sepanjang pesisir."
Sin Cu menerangkan.
"adalah karena melihat kau dikejar musuh, aku lantas menggunakan ketika datang ke mari untuk menolongi kau. Karena itu, sekarang mereka semua masih menantikan aku. Perlu aku pergi kepada mereka, untuk tetap berjalan bersama. Lantaran ini, aku akan terlambat sedikit. Sekarang baiklah kamu berangkat lebih dulu."
Giok Houw menurut, bahkan ia lantas berpisah dari suci itu.
Ia berangkat bersama Cit Seng Cu.
Ganjalan di antara mereka sudah lenyap.
Keduanya berlari-lari dengan ilmunya enteng tubuh.
Tepat di waktu tengahhari, mereka sudah sampai di selat Cheeliongkiap.
Keduanya lantas mendaki gunung.
Di sana terlihat Ciu San Bin dan rombongannya sudah memernahkan diri mereka masing-masing.
San Bin memberi tanda.
Sebab sudah tidak ada tempo lagi, bersama Cit Seng Cu, Giok Houw pun memilih tempat sembunyi dari mana mereka bisa memandang ke jalan umum yang bakal diambil rombongan pengantar bingkisan pelbagai propinsi barat daya.
Orang tidak usah menanti lama akan mendengar suaranya kuda serta roda-roda kereta yang lagi mendatangi.
Itulah barisan pengantar serta barangbarang bingkisannya.
Jumlah kereta ada beberapa puluh buah, jalannya berlerot-lerot.
memasuki selat yang panjang itu.
Di paling depan terlihat dua opsir tentera bersama beberapa piauwsu menjadi pembukajalan.
Begitu lekas semua kereta sudah masuk ke dalam selat, Ciu San Bin lantas memberikan pertandaannya untuk semua kawannya.
Rombongan pertama meluruk turun terlebih dulu.
Rombongan ini di kepalai Beng Ki, hucecu, pemimpin kedua, yang terkenal lihai panahnya.
Demikian terlihat, begitu ia bekerja, seorang opsir lantas terjungkal roboh.
Rombongan kereta itu berhenti berjalan segera setelah robohnya opsir mereka.
Tentera pengantar sudah lantas menempatkan diri, untuk mengurung, guna menjagai.
Si opsir pun membentak kawanan berandal, yang dikatakan kurang ajar.
Ia memutar tombaknya, untuk meruntuhkan tiga batang anak panah yang dilepaskan Beng Ki.
Nyata ia ada terlebih lihai daripada kawannya yang roboh itu.
Di dalam rombongannya Beng Ki ada salah satu jago Kwantong, yaitu Pok In Peng.
Dia ini lantas menghampirkan si opsir, untuk menyerang dengan pedangnya.
Opsir itu melayani, tetapi baru beberapa jurus, ia sudah terlempar jatuh dari kudanya, yang kena terpanah Beng Ki, belum ia sempat berlompat bangun, ujung pedangnya In Peng sudah menembusi dadanya, merampas jiwanya.
Mendadak In Peng mendengar sambaran angin di belakangnya.
Dengan sebat ia menangkis ke belakang, sambil menangkis ia memutar tubuh.
Ia merasakan bentrokan yang berat.
Lantas ia mengenali penyerangnya, ialah seorang yang dikenal, yaitu Goei Tay Yu asal seorang pemilik peternakan kuda di Kwantong.
Dia berada di dalam rombongan tentara, terang sudah dia telah kena diundang menjadi pengiring angkutan bingkisan.
Setelah bentroknya senjata mereka, Goei Tay Yu berkata dengan perlahan sekali.
"Lekas kau menyingkirkan diri. Di dalam rombonganku ini ada orang yang lihai luar biasa, kalau lambat, nanti sudah kasep!"
"Terima kasih untuk kebaikan kau,"
Menjawab In Peng.
"Tapi aku bekerja untuk sahabat, untuk itu aku tidak takut hilang jiwa. Aku pun mengharap kau janganlah menjadi kaki tangannya pembesar negeri!"
"Pergi, lekas pergi!"
Kata Tay Yu seraya membanting kaki.
Iabergelisah sendiri.
In Peng masih mengira orang menggertak padanya, atau mendadak ia mendengar satu seruan nyaring yang membikin kupingnya ketulian, lalu ia melihat satu orang, yang tubuhnya tinggi dan besar, muncul dari dalam barisan.
Orang itu, bagaikan raksasa, maju dengan senjatanya yang berupa boneka tokkak tongjin.
Beng Ki sudah lantas menyerang pula dengan anak panahnya.
Orang itu maju terus, ia menyampok anak panah hingga patah.
Beng Ki baru menyerang tiga kali, ketika musuh itu mendekati ia, hingga ia tidak keburu memanah lagi, tahu-tahu ia telah dihajar hingga roboh dengan kepada remuk!
Baru sekarang Pok In Peng kaget.
In B wee Kok dan Touw Cu Peng lantas maju mengepung raksasa itu dengan pedang dan tombak mereka masing-masing.
Merekalah orang-orang yang bertenaga besar.
Musuh itu melawan.
Lagi sekali dia berseru nyaring, yang menulikan telinga itu, lalu gegamannya menyampok.
Lantas pedang In Bwee Kok terlempar ke udara, dan tombaknya Touw Cu Peng terpatah dua.
In Peng mau membantu kedua kawannya, ia menikam ke punggung musuh itu sebelum senjata orang sempat ditarik pulang.
Ia kaget tetapi ia tidak takut.
Musuh itu seperti mempunyai mata di belakang kepadanya, ia memutar tubuhnya, membuat senjatanya berada di depannya.
Tepat pedang mengenai boneka.
Tak tahan In Peng akan bentrokan itu, pedangnya mental balik, tubuhnya bagaikan terdampar.
Ia tidak sampai roboh sebab tubuhnya keburu ditahan In Bwee Kok, hanyalah, gempuran boneka membuatnya keluar darah pada mata, kuping, hidung dan mulutnya!
In Bwee Kok dan Touw C oe Peng tidak berani berkelahi lagi, dengan menolongi Pok In Peng, mereka kabur kembali ke lereng gunung.
Menampak munculnya Le Kong Thian, ialah si raksasa dengan senjata bonekanya, Thio Giok Houw kata pada Cit Seng Cu.
"Mari kita layani binatang itu, untuk mengempur pamornya!"
Sambil mengajak itu.
Giok Houw lantas maju, hanya baru beberapa tindak, mendadak ia mendapatkan bagian belakang dari barisan negeri itu kacau, lalu di sana muncul dua penunggang kuda wanita.
Mengenali mereka itu, ia menjadi heran berbareng girang.
Merekalah Leng In Hong serta orang yang ia ingin menemuinya bagaikan ia sangat berdahaga.
Liong KiamHong!
Dari dalam pasukan tentara muncul seorang sambil berseru-seru.
"Perempuan liar dari mana berani berlaku kurang ajar di sini?"
Dia mencoba memegat In Hong.
Nyonya muda ini tidak memperdulikannya, ia maju terus, begitu keduanya datang dekat, ia menikam.
Orang itu bersenjatakan sepasang bandenng, dengan itu dia lantas menangkis dan menyerang.
In Hong berlaku sebat sekali, ia tidak sudi memberi ketika.
Setelah beruntun menikam tiga kali, ia membikin musuh terjungkel dari atas kudanya.
Bersama punggawa itu ada dua punggawa lainnya, yang mengiringi dia.
Mereka ini terkejut, tetapi mereka lantas maju.
"Serahkan mereka padaku!"
Berseru Liong Kiam Hong.
Dan ia bersiap.
Kedua opsir itu berpangkat chamciang dan chamciang muda.
Si chamciang maju di depan, dengan goloknya yang besar, ia lantas membacok.
Kiam Hong berkelit, dengan lincah dia membalas menyerang.
Cuma dua kali dia menikam, pedangnya lantas menobloskan tulang piepee punggawa itu, yang terus roboh dari kudanya.
Si chamciang muda kaget.
Celaka untuknya, belum lagi ia bersiap sedia, si Nona Liong sudah maju kepadanya dan dengan satu tikaman, ia kena dirobohkan juga.
Kaget dan gugup, ia sampai tidak sempat menggunakan senjatanya.
Sampai di situ, kedua wanita itu tidak ada yang rintangi lagi, maka sebentar kemudian, mereka sudah mendekati Le Kong Thian.
Di sini keduanya lompat turun dari kuda mereka.
"Bagus ilmu pedang kamu"
Memuji si raksasa.
"Nah, kamu majulah berdua!"
Tantangan itu tidak dijawab, hanya In Hong kata kepada kawannya.
"Kiam Hong, kau berjaga-jaga, nanti aku layani dia ini!"
Mendengar itu, Kong Thian heran. Ia berpikir.
"Wanita ini besar nyalinya! Dia mau menempur aku seorang diri!"
Tentu sekali, ia bersedia menerima tantangan.
Maka dengan satu kibasan senjatanya, ia menitahkan tentaranya mundur, agar di situ terbuka satu kalangan kosong.
Ia lantas memandangi In Hong, terus dia tertawa nyaring.
Ia kata.
"Seumurku, aku paling menyayangi wanita yang cantik, maka itu awas kau akan bonekaku ini! Umpama kata kau tidak dapat menangkis, lepas-lekas kau memberi tanda dengan berkaok!..."
In Hong mementang lebar kedua matanya, memperlihatkan roman keren.
"Kau cuma budaknya si bangsat tua she Kiauw, cara bagaimana kau berani berlaku begini kurang ajar?"
Bentaknya.
"Lihat pedang!"
Kong Thian heran orang mengetahui tentang dirinya, tetapi ia tidak sempat berpikir, pedang nyonya muda itu telah tiba padanya, maka ia mengangkat bonekanya, untuk menangkis.
Suara nyaring terdengar akibat beradunya kedua senjata.
Pedangnya In Hong mental, tetapi si nona tidak kurang suatu apa, bahkan pedangnya, setelah mental itu, berbalik menyerang pula, sekarang ke arah dada!
"Sungguh sebat!"
Kong Thian memuji, kagum, sedang bonekanya dikasi turun, untuk menghajar pedang berikut pemiliknya!
Di pihak Ciu San Bin, banyak orang yang kaget hingga mereka mengeluarkan seruan tertahan.
Si cantik itu tengah terancam bahaya.
Tapi Thio Giok Houw terus kata pada Cit Seng Cu.
"Itulah jurus yang indah!"
In Hong berkelit, sambil berkelit ia mencelatkan tubuhnya tinggi, di waktu ia turun, ia menikam dengan gerakan "Sinengtianci"
Atau "Garuda sakti mementang sayap."
Cit Song Cu melihat jurus itu, ia heran, hingga ia berkata di dalam hatinya.
"Itu toh jurus pedang biasa dari Butong Pay Apakah indahnya?"
Terus ia memasang mata.
Hanya sejenak, imam dari Butong Pay ini menjadi kaget dan heran, hingga ia melengak.
Ia mengatakan jurusnya nyonya muda itu jurus biasa dari ilmu silat Butong Pay, partainya, akan tetapi kesudahannya dahsyat sekali.
Le Kong Thian bertenaga besar dan lihai, dia nampaknya sangat gesit, tetapi dia kalah gesit dari In Hong.
Ujung pedang nyonya muda itu telah mendahului mampir tepat di pundak, yang menjadi sasarannya!
Pundak itu memakai baju lapis tapi baju lapis itu kena dibikin tembus.
Hanya syukur untuknya, dia masih sempat berkelit mendak, jikalau tidak, mestilah pundaknya itu bolong.
Kalau jago Butong Pay itu heran, Le Kong Thian heran berbareng gusar sekali.
Dia pun mulanya menyangka orang menggunakan junis yang biasa dari Butong Pay itu, tak tahunya, digunai si nyonya muda, jurus itu menjadi lihai sekali.
Dalam murkanya, Kong Thian lantas menyerang saling susul dengan sengit sekali.
Ia mendongkol dan penasaran.
Maka tidaklah heran kalau bonekanya mendatangkan suara angin mendesir-desir, hingga ada pasir dan batu halus yang berterbangan.
Diserang secara dahsyat itu, Nyonya Hok Thian Touw mengasi lihat ketenangan dan kelincahannya, ia berlaku sabar tetapi gesit.
Ia selalu menyingkir dari setiap hajaran boneka, ia pun senantiasa menggunakan ketika untuk membalas menyerang.
Menyaksikan kepandaian nyonya muda itu.
Giok Houw kagum dan berkata di dalam hatinya.
"Pantas pada delapan atau sembilan tahun yang sudah suhu memuji tinggi kepada Hok Thian Touw, bahwa dipercaya dia di belakang hari bakal menjadi pembangun dari satu partai persilatan baru, lihat saja sekarang, isterinya pun sudah begini lihai. Kalau Thian Touw juga datang ke mari, sudah pasti kita bakal menang!"
Benar hebat pertarungan itu.
Cepat sekali mereka telah melalui seratus jurus.
Le Kong Thian lihai, dia kuat dan ulat, meskipun senjatanya berat, dia tidak nampak letih.
In Hong, yang tubuhnya enteng dan gesit, yang pedangnya lihai, tidak kalah ulatnya.
Maka bertarunglah mereka dengan sein.
Kong Thian tidak kalah, akan tetapi sekarang, dia tidak dapat berlaku garang lagi sebagai semula Dia tidak kalah tetapi dia dipaksa mengambil sikap membela diri!
Thio Giok Houw menonton pertarungan dengan matanya tak lepas dari keadaan di sekitarnya.
Selagi pertarungan berjalan seru itu, ia menampak perubahan di belakang pasukan negeri.
Ia lantas memasang mata Ia tidak usah menanti lama akan mendapat kenyataan di mulut selat telah muncul sepasukan wanita, bahkan ia lantas mengenali yang menjadi pemimpinnya, ialah ke empat budaknya Liong Kiam Hong.
Ceng Heng, Hee Hoo.
Ciu Kiok dan Tong Bwee.
Hanyalah pasukan wanita itu tidak maju menerjang, mereka hanya menutup selat.
Rupanya Liong Kiam Hong telah membuat persiapannya itu, guna memegat kalau-kalau ada bantuan tentara negeri dari arah kota Ganbunkwan.
"Benar-benar Nona Liong adalah orang dari kaum kita,"
Pikir Giok Houw terlebih jauh.
"Melihat perhubungannya dengan In Hong demikian erat, mungkin ilmu silatnya pun In Hong yang mengajarinya. Kalau ini benar, adakah dia bergurau saja yang dia bertaruh denganku dalam urusan merampas barang bingkisan?"
Menduga begini rupa, tanpa merasa Giok Houw tertawa sendirinya. Ia girang bahwa Nona Liong itu bukannya musuh hanya kawan! "Kau mentertawakan apa?"
Tanya Cit Seng Cu heran.
"Benar nona itu lihai ilmu pedangnya tetapi ia pun sukar merebut kemenangan. Aku justeru berkuatir untuknya..."
Giok Houw tidak menjawab hanya ia memperhatikan.
Ia melihat Le Kong Thian, setelah sekian lama membela diri saja, mulai mengubah sikap.
Sekarang dia mencoba membalas menyerang.
Agaknya dia berlaku nekat, agar kedua pihak sama-sama celaka.
Maka hebatlah gerakgerik bonekanya.
Bagaikan perahu enteng di atas gelombang dahsyat, demikian tubuh In Hong, yang bergerak dengan lincah menjauhkan diri dari setiap ancaman.
Maka itu, tetap mereka berimbang kekuatannya.
Dalam keadaan tegang itu, matanya Giok Houw digeser dari arah In Hong ke arah Le Kong Thian, atau mendadak si raksasa itu berseru keras, sedang tubuhnya Nyonya Hok Thian Touw mencelat mundur, untuk terus lari naik ke lereng.
Tubuhnya Kong Thian sebaliknya mengasi lihat sinar merah...
In Hong lari ke arah Giok Houw.
"Apakah suci-mu telah datang?"
Dia menanya, napasnya tersengal-sengal.
"Dia bakal lekas tiba,"
Menyahut orang yang ditanya. In Hong mengangguk, lantas ia duduk bersila.
"Enci Leng, kau kenapa?"
Giok Houw tanya.
"Tidak apa. tidak apa"
Menyahut nyonya muda itu.
"Aku tidak mendapat luka di dalam. Sayang dia terluka bukan di bagiannya yang berbahaya..."
Giok Houw mengawasi.
In Hong bermandikan peluh, uap putih menghembus samar-samar dari kepalanya.
Ia mengerti bahwa pernapasan orang berjalan tidak lurus dan sekarang lagi disalurkan, maka itu ia tidak menanya lebih jauh.
Sebaliknya ia mengajak Cit Seng Cu turun dari lereng, guna mencegah kalau-kalau Le Kong Thian mengamuk.
Pertempuran, yang kalui .ml.ih lantas dimulai pula.
Kelika limk Houw dan si imam tiba di kaki hukil di mulut selat sebelah selaian iihiik nl satu pasukan serdadu.
Di sana debu mengepul naik dan bendera berkibar-kibar.
Jauh di muka pasukan iln terlihat majunya dua penunggang kuda, yang segera dapat dikenali sebagai si pelajar muda she Kiauw serta Chian Tiang Cun si komandan Gilimkun.
Di pihak Ciu San Bin, Hweepin tan Cu Tay Hiong menyambut si pelajar dengan tiga biji pelurunya yang dipakaikan belirang.
Si pelajar menyambut dengan kipasnya.
Ia girang menyaksikan musuh memperlakukan pelurunya secara demikian.
Pelurunya itu.
biasanya, tidak bisa ditanggapi dengan tangan dan tidak boleh ditangkis juga.
Baik ditanggapi maupun ditangkis, peluru itu bakal meledak sendiri seperti petasan banting.
Benarlah, ketika peluru bentrok sama kipas, terdengarlah suara ledakannya yang nyaring dan api pun berkobar.
Maka Tay Hiong girang sekali, sampai ia bersorak.
Si pelajar muda tapinya.
setelah tangkisannya itu, segera mengipas dua kali, cepat dan dengan bertenaga.
Hebat akibat kipasan itu.
Api belirang bukannya membakar dia hanya terbang balik membakar berapa orangnya San Bin.
Tay Hiong kaget sekali, maka syukur ia tabah, lantas ia menyerang pula berulang-ulang, bahkan di antaranya ia melepaskan juga sebatang Coayam chian atau panah api "Ular".
Si pelajar muda tidak takut, ia bahkan tertawa lebar.
"Segala mutiara sebesar beras pun mengeluarkan cahaya berkilau!"
Katanya mengejek.
Ia mengibas kipasnya berulang-ulang, menghalau setiap peluru berapi itu.
Hanyalah, ketika panah api menyambar, meski ia sendiri tidak kurang suatu apa, kudanya menjadi kurban terbakar bulunya, hingga ia mesti lekas-lekas lompat turun dari kudanya itu, demikian juga Chian Tiang Cun.
"Kalau kunjungan tidak dibalas dengan kunjungan, itulah bukannya hormat!"
Berseru komandan Gilimkun itu, yang hatinya panas.
Ia lantas menyerang dengan sebatang pusut terbangnya.
Tidak tanggung-tanggung, ia menghajar rusak bungbung peluru berapi Cu Tay Hong, hingga bumbung itu pecah dan pelurunya pada meletus menyala, hingga Hweesin Tan menjadi kelabakan, kepala dan jidatnya kena terbakar api pelurunya sendiri!
Peklek Ciu Tong Koan Ho dan Thianloei Kiam In Bwee Kok melihat suasana memburuk itu.
mereka lantas maju.
Mereka berlaku sebat, siapa tahu, si pelajar muda lebih sebat pula Dia ini maju sambil tertawa, belum lagi tertawanya sirap, tahu-tahu dia sudah mendekati In Bwee Kok, ketika pedang orang she In ini meluncur ke arahnya, pedang itu disampok kipas dan tulang lengan Bwee Kok kena terhajar hingga patah!
Pedang itu berat tiga puluh enam kati, waktu melesat, ujungnya mengenai seorang opsir tentera yang baru tiba di situ.
maka opsir malang ini lantas roboh dari atas kudanya!
Tong Koan Ho menyerang sambil berseru.
Dia digelarkan Peklek Ciu, si Tangan Guntur, maka tangannya itu lihai sekali.
Si pelajar muda tidak menangkis, ia berkelit seraya melengak ke belakang.
Anginnya serangan itu mengenai dada, membuatnya orang sukar bernapas.
Atas ini si pelajar menjadi gusar, ia segera membalas menyerang.
Koan Ho hendak mengulangi serangannya tetapi ia ketinggalan, ia kena tertotok, maka ia lantas roboh dengan mulut ternganga, sebab baru saja ia hendak berseru pula membarengi serangan gunturnya itu.
Habis itu si pelajar mengerahkan tenaga dalamnya, untuk mengempos napasnya, yang tadi bagaikan tertutup, setelah mana dengan merasa lega ia tertawa lebar.
Justeru itu ada sinar menyambar.
Ia mengenali sinar pedang.
"Ah, mengapa ada begini banyak wanita lihai!"
Pikirnya. Ia lantas menangkis dengan kipasnya. Tapi tangkisan itu gagal, pedang menyambar pula, terus beruntun beberapa kali, hingga repot ia mengelakkannya. Penyerang itu ialah si Nona Liong.
"Bagus!"
Si pelajar memuji, lalu dia tertawa pula.
"Nona yang manis, dari siapa kau pelajarkan ilmu pedangmu ini?"
Matanya yang tajam pun menatap wajah orang, sinar matanya memain, lagaknya ceriwis sekali. Kiam Hong murka, ia tidak menjawab hanya ia menyerang. Ia menggunakan jurus "Naga menari-nari."
Pelajar itu kembali tertawa.
"Meski ilmu pedangmu lihai, kau tidak dapat berbuat suatu apa terhadapku!"
Katanya jumawa.
Sambil tertawa, ia menggeraki kipasnya, agaknya ia ingin menempel pedang si nona, untuk dibikin menjadi tidak berdaya.
Kiam Hong tidak sudi mengasi dirinya dipermainkan.
Seperti Leng ln Hong, ilmu pedangnya pun banyak ragamnya.
Maka ia dapat menyerang dengan pelbagai macam jurus, sambil menyerang ia menjaga diri agar pedangnya tidak terpengaruhkan, supaya tubuhnya tak sampai tertotok.
Si pelajar menangkis satu serangan yang nampaknya hebat, atau si nona mengurangi serangannya itu.
dihentikan di tengah jalan, sedangnya lawan bingung, ia mengubah sasarannya, mendadak ia membabat ke batang leher.
Pemuda pelajar itu terkejut.
Inilah di luar dugaannya Dia sebat, dan masih sempat menangkis.
"Traang!!"
Kedua senjata bentrok nyaring.
Pedangnya Kiam Hong kena dibikin mental, meski begitu, pelajar ini toh mengeluarkan peluh dingin.
Hampir dia gagal.
Kiam Hong pun terkejut.
Pelajar itu benar-benar lihai.
Ia merasa orang lebih lihai daripada Le Kong Thian yang bertenaga raksasa itu.
Tapi ia tidak takut, ia menyerang pula, dengan jurus berantai "Ayam emas merampas gabah," ---"Anak walet menembusi rimba," ---"Kera putih mencelat di cabang"
Dan "Burung garuda menerkam kelinci."
Inilah penyerangan sambil membela diri. Ia tidak mau datang terlalu dekat pada lawannya itu. Dengan cepat beberapa jurus telah dilewatkan.
"Sayang kepandaian kau ini!"
Kata si pelajar.
"Kenapa kau masuk dalam dunia kangouw?"
Sembari berkata dia merangsak.
kipasnya dibuka dan dirapatkan bergantian tangan kirinya meluncur dengan dilindungi kipasnya itu.
Lima jarinya kuat seperti cengkeraman.
Dengan itu dia hendak mencoba merampas pedang si nona, hingga Kiam Hong terpaksa main mundur.
Terus pelajar itu merangsak.
Satu kali ia membikin pedang si nona mental dengan jurus kipasnya "Hujan menindih, mega membalik."
Lalu dengan perlahan ia kata.
"Baiklah kau menjadi isteriku! Nanti kita berlatih sama-sama, untuk kemudian menjagoi dikolong langit ini hingga menjadi tanpa tandingan!..."
Kiam Hong mendongkol sekali.
"Fui!"
Ia berludah seraya ia perhebat serangannya.
Pelajar itu berniat menangkap si nona hidup-hidup, karena ini, hampir saja dia kenaterlukakan.
Tepat tengah si nona dikurung kipasnya si pelajar, Giok Houw dan Cit Seng Cu tiba di antara mereka.
Tanpa ayal lagi, si anak muda menerjang dengan jurusnya "Kuda tunggangan menerjang keluar."
Dengan begitu ia berhasil memecahkan kurungan kipas, hingga Kiam Hong menjadi merdeka, hingga kembali dia dapat melakukan penyerangan membalas.
Cit Seng Cu ingin membantu Giok Houw ketika ia melihat Chian Tiang Cun.
Komandan Gilimkun itu ialah musuhnya, maka batal ia menghampirkan Giok Houw, sebaliknya ia pergi menerjang taytongnia itu.
Thio Giok Houw dan Liong Kiam Hong, dengan ilmu pedang mereka yang bergabung bersatu padu pernah mengalahkan Le Kong Thian yang kuat dan lihai itu, dari itu meski si pelajar menang seurat daripada Kong Thian, dia pun tidak dapat berbuat banyak.
Maka itu setelah kena didesak, beberapajurus kemudian, dia mengubah caranya berkelahi.
Ialah dia main mundur ke arah pasukan tentara.
Rupanya dia hendak memancing dua lawannya ini.
"Ke mana kau hendak kabur!"
Kiam Hong membentak seraya ia berlompat, guna memegat jalan mundur lawannya itu, sedang Thio Giok Houw mendesak dengan dua bacokannya saling susul, di kiri dengan jurus "Couw Pa Ong membuka pakaian perang,"
Dan di kanan dengan jurus "Harimau kumbang mencuri hati."
"Hai, bocah, apakah benar-benar kau hendak mengadu jiwamu!"
Ia membentak.
"Ya. aku menghendaki jiwamu!"
Sahut Giok Houw sambil membacok, tenaganya dikerahkan dengan Kimkong Cianlat, Tenaga Arhat.
Berbareng dengan itu, tengah si pelajar repot berkelit.
Kiam Hong menyerang, maka ia berhasil mencoblos ujung baju orang.
Pelajar itu mendongkol, ia kata sambil tertawa dingin.
"Kamu adalah ikan-ikan di dasar jala. kamu masih belum menginsafi kematian kamu!"
Ketika itu datang serangan dari Giok Houw dan Kiam Hong, dia menggeraki dua-dua tangannya.
dengan kipasnya dia menangkis golok Bianto dari si anak muda, dengan tangan kiri dia menyambar gagang pedang si nona.
Dia girang sekali.
Dia merasa pasti bahwa dia bakal berhasil merampas pedang yang tajam dari nona itu.
Sedangnya si pelajar bergirang itu, demikian juga si nona.
Kiam Hong pun lagi menggunakan tipu-tipu yang dapat pula membahayakan dirinya.
Ialah ia memancing.
Ketika tangan si pelajar tiba, ia sampok itu dengan ujung tangan bajunya, yang dikipaskan terbalik.
Ujung baju itu mengenai belakang telapakan tangan.
Itulah pukulan Thiatsiu Kang atau Tangan Baju Besi.
Si pelajar lihai akan tetapi dia toh menjerit, bahna sakit dan kagetnya.
Itulah serangan di luar sangkaannya.
Giok Houw menyerang tengah lawan kaget itu, tetapi si anak muda masih dapat mengelakkannya.
Hanya karena ini, dia lantas kena didesak muda-mudi itu, yang merangsak dengan hebat, hingga dia jadi cuma dapat main menangkis saja.
Pertarungan di antara Cit Seng Cu dan Chian Tiang Cun juga menghadapi saat serunya.
Tiang Cun bersenjatakan golok model gergaji.
Itulah senjata yang diperantikan memunahkan pedang dan golok.
Maka syukur untuk Cit Seng Cu, di sebelah pedang di tangan kanannya, di tangan kirinya ada hudtim, kebutan, kedua gegaman mana, satu keras dan satu lembek, dapat ia satu padukan, hingga tak usahlah ia kena didesak.
Berlangsung terlebih jauh, suasana pertempuran nampak lebih baik di pihak rombongannya Ciu San Bin.
Si pelajar muda melihat itu.
di akhirnya dia berseru keras dan nyaring.
Seruan itu mendapat sambutan dari Le Kong Thian.
yang lantas muncul pula.
Tadi dia terlukakan In Hong, luka itu tidak berbahaya, setelah luka itu dibalut, dia dapat berkelahi pula seperti biasa.
Hanya barusan dia mau beristirahat.
Maka hebat akibatnya ketika dia maju dengan membulang-balingkan tokkak tongjin, bonekanya itu yang berat.
Thio Giok Houw melihat majunya si raksasa, di dalam hatinya, ia mengeluh.
Siapa dapat merintangi musuh tangguh itu sedang ia dan Kiam Hong repot memegat pelajar yang lihai ini dan Cit Seng Cu lagi melayani Chian Tiang Cun.
Terang Kong Thian mencoba merangsak ke arahnya.
Si pelajar senang sekali, dia lantas tertawa riang.
"Le Laotoa, lekas, lekas!"
Demikian dia berseru.
"Awas, jangan kau loloskan ayam betina ini!"
Tentu sekali dia maksudkan Kiam Hong. Kong Thian pun tertawa, dia menyahut.
"Dialah si pemudi yang aku mengatakannya kepada kau! Bagaimana! Tidak ada kecelanya, bukan? Penujukah kau?"
Si anak muda tidak menyahut, dia repot menangkis bacokan berantai hingga tiga kali dari Giok Houw.
Saban-saban goloknya Siauw Houw Cu kena dibikin mental.
Le Kong Thian maju terus, lagi lima atau enam tombak, dia bakal sampai pada Siairo Houw Cu.
Justeru itu.
tentara negeri mundur dengan tiba-tiba, nampak kacau keadaannya.
Di mulut selat terdengar satu kali suara nyaring, di sana meluncur naik panah api, warnanya biru.
Itulah pertandaan, yang lantas disambut dengan tampik sorak dari atas dan bawah gunung, disambut pula munculnya satu pasukan serdadu, jumlahnya tidak besar akan tetapi tangguh, tentara negeri itu lantas kena dilabrak berhamburan.
Datangnya pasukan itu dari lereng selatan.
Le Kong Thian terkejut.
Ia tahu bahagian selatan itu telah terjaga seribu serdadu Gilimkun.
"Siapa itu yang datang! Bagaimana dia dapat mendobolkan penjagaan barisan Gilimkun?"
Maka ia batal maju terus, ia memutar tujuan akan menuju ke arah selatan itu.
Segera ia melihat mendatanginya seorang wanita, tapi belum lagi ia menampak tegas, telinganya sudah lantas mendengar deruman senjata rahasia di udara serta menampak sinarsinar kuning emas berkilauan.
Ia menggunakan bonekanya, untuk menangkis, dengan begitu di antara suara nyaring, bonekanya meruntuhkan senjata-senjata rahasia itu.
Untuk herannya, ia merasa telapakan tangannya tergetar, suatu tanda senjata rahasia itu besar tenaga menyambarnya, ia tidak heran lama, atau lantas ia tertawa berkakak.
Di dalam kalangan kangouw, ia lebih berpengalaman daripada si pelajar muda she Kiauw, pengetahuannya lebih luwas.
Sambil tertawa ia berseru.
"Aku kira siapa, tak tahunya Sanhoa Lihiap! Nona Ie, kau juga datang untuk membantu meriahkan?"
Sin Cu heran. Ia tidak kenal orang ini. yang sebaliknya mengenali ia. Karena orang itu gagah, ia tidak berani berlaku sembrono.
"Jikalau kau ada hubungannya sama guruku, silahkan kau mundur!"
Ia kata.
"Kita harus menjaga agar persahabatan kita jangan terganggu."
Le Kong Thian tertawa terbahak-bahak.
"Jikalau bukannya ingin belajar kenal sama kepandaiannya Thio Tayhiap, tidak nanti kami datang ke mari!"
Katanya jumawa.
"Sanhoa Lihiap, senjata rahasia dan ilmu pedangmu bukan sembarang akan tetapi hari ini kau tidak nanti memperoleh keuntungan, barang bingkisan tidak nanti dapat dirampas olehmu! Jikalau kau memaksa hendak merampas juga, itu tak akan terjadi kecuali gurumu datang ke mari!"
Sin Cu lantas mengerti bahwa orang hendak menyeterukan gurunya dengan alasan melindungi barang bingkisan itu.
Ia menjadi heran.
Bukankah ia tidak kenal mereka itu?
Apakah mereka ini berjumawa saja atau memang benar mereka lihai sekali?
Menurut apa yang ia lihat, orang ini dan si pelajar muda bukanlah tandingan gurunya.
"Sayang gurumu berada jauh di perbatasan Inlam, aku tidak beruntung dapat menemuinya,"
Berkata Kong Thian pula.
"Maka itu sekarang biarlah aku belajar kenal dengan pedangmu saja!"
Kata-kata ini di akhiri dengan satu kemplangan bonekanya, yang dari atas turun ke bawah. Ia menggunakan pukulan "Gunung Taysan menindih batok kepala."
Sin Cu tidak mau menangkis.
Ia berkelit.
Sambil mendak, ia menusuk ke bawahan iga lawan itu, mencari jalan darah jikhie hiat.
Kong Thian menarik pulang bonekanya, untuk dipakai menangkis sambil menyerang dengan melintang, atas mana nyonya muda itu lompat mencelat, lalu sambil turun, pedangnya menusuk ke pundak.
Kong Thian benar gesit, dia dapat menarik pulang senjatanya, untuk dipakai menangkis.
Kali ini kedua senjata bentrok hingga berbunyi nyaring, pedang mental, telapakan Sin Cu terasa nyeri.
Pedang kecil dan enteng, tidak dapat pedang melawan boneka yang besar dan berat.
Le Kong Thian tidak berhenti sampai di situ, selagi pedang mental itu, ia kembali menyerang.
Cepat sekali ia mengulanginya.
Mau atau tidak.
Sin Ci mencelat mundur setombak jauhnya.
Ketika itu, Cit Seng Cu masih bertempur terus dengan Chian Tiang Cun.
Mulanya kekuatan mereka berimbang, setelah lewat seratus jurus, terbukti imam dari Butong I'ay menang unggul dalam tenaga dalam, sedang kedua senjatanya keras dan lunak berbareng.
Dengan pedang ia bersilat dengan ilmu pedang Citcapji Ciu Lianhoan Toatbcng Kiam, yang terdiri dari tujuh puluh dua jurus, dengan hudtim ia mengebui berulang-ulang membikin golok lawan tidak berdaya, hingga golok itu tidak dapat dipakai menindih pedang.
Chian Tiang Cun kena dipaksa main mundur.
"Imam tua dari Butong San!"
Ia berkata.
"kenapa kau mencampin tahu urusan kita ini? Baiklah kau lekas mengundurkan diri, nanti aku memerdekakan kedua keponakanmu!"
"Kau tidak sanggup melawan aku, baru sekarang kau suka berdamai!"
Menyahut si imam.
"Sekarang aku hendak membantui mereka sampai di akhirnya!"
Dan ia terus menyerang dengan hebat, hampir pedangnya meminta kurban.
"Hidung kerbau, sungguh kau tidak tahu keadaan!"
Berseru komandan besar barisan Gilimkun itu.
yang menjadi gusar.
Ia menyerang, tetapi sia-sia saja.
Ia terdesak tetapi belum kalah.
Di lain pihak lagi Thio Giok I louw bersama Liong Kiam Hong, melawan si anak muda terpelajar, masih sama ulatnya, benar mereka lebih unggul akan tetapi mereka tidakjuga berhasil merebut kemenangan.
Pelajar itu ukil sekali.
Selagi pertempuran berlangsung terus, si anak muda berseru nyaring.
Atas itu, Kong Thian mendesak Sin Cu tiga kali beruntun.
Ia tidak memperoleh hasil kecuali ia membikin si nona mundur dua tindak.
Sampai di situ, bukannya ia mendesak terus, mendadak ia berlompat mundur, terus mendekati Cit Seng Cu untuk menghajar punggung imam itu.
Cit Seng Cu merasakan datangnya serangan, sambil berlompat berkelit, ia menangkis dengan kebutannya.
la tidak memperoleh hasil yang mempuaskan kecuali ia bebas dari bahaya.
Ketika ia berkelit itu, ia terhuyung beberapa tindak.
Chian Tiang Cun terlepas dari bahaya, lantas bersama Kong Thian.
ia maju kepada Thio Giok Houw dan Liong Kiam Hong.
Terang mereka hendak membantui atau menalangi si pelajar muda.
"Adik Houw, awas!"
Sin Cu menteriaki Siauw Houw Cu.
Sembari berteriak, ia menimpuk dengan bunga emasnya, guna merintangi Kong Thian.
Chian Tiang Cun dapat menghampirkan si pelajar, hingga dia itu jadi memperoleh bantuan.
Sin Cu bersama Cit Seng Cu tiba sesaat kemudian.
Setelah berkumpul menjadi satu, kedua pihak bertempur terus.
Dengan empat melawan tiga, pihak Sin Cu tetap menang di atas angin.
Si pemuda pelajar kembali mengasi dengar seruannya, yang berupa siulan.
Kali ini pertandaannya itu untuk tentera negeri serta sekalian pengiringnya, untuk mereka itu mundur, mereka bertiga sendiri mundur sambil melindungi, mencegah rangsakan Sin Cu semua.
Dengan perlahan mereka mundur ke sebuah kereta keledai.
Selagi merangsak itu, Thio Giok Houw tertawa dan berkata dengan nyaring.
"Mari kita lihat siapa sebenarnya si ikan di dasar jala! Mari maju!"
Rombongannya Sin Cu terdiri dari belasan orang, maju terus. Semua mereka bersamaan pikiran.
"Musuh mundur ke arah kereta, pasti itulah kereta yang memuat barang bingkisan!"
Di mulut selat, seribu serdadu Gilimkun tidak bisa menerjang masuk.
Mereka kena dirintangi tentaranya San Bin.
Tentara negeri, yang berada di dalam selat, repot melawan pihak penyerangnya.
Dengan begitu, Kong Thian semua jadi berada di dalam kurungan.
Di antara kawannya Sin Cu ada Cio Pa, pangcu atau ketua dari Taysan Pang.
Dia bertenaga paling besar, senjatanya pun sepasang gembolan.
Ketika di telah dapat mendekati kereta keledai itu, sebelah tangannya diayun, dan, brak!
--maka ringsaklah kap kereta itu!
Sin Cu bersama Giok Houw, Kiam Hong dan Cit Seng Cu lagi melibat Le Kong Thian dan si pelajar muda, dari itu San Bin dan kawan-kawannya yang maju terus ke kereta, guna merampas bingkisan.
Justeru itu.
mengikuti ambruknya kap kereta, dari dalam kereta itu terdengar suara tertawa yang nyaring sekali hingga tidak cuma menulikan bahkan menyakiti telinga.
Dan dengan rusaknya kap kereta itu, di atas itu terlihat bercokolnya seorang tua dengan muka merah, yang tubuhnya besar dan tinggi tongkrongannya.
Dengan mementang lebar kedua matanya, yang tajam, dia berkata keras.
"Siapakah yang berani mengganggu tidur yang nyenyak dari aku si orang tua?"
Gembolannya Cio Pa meluncur terus.
Atas itu si orang tua tidak berkelit, sebaliknya dia menanggapi, untuk menangkap dan menarik.
Cio Pa sendiri turut berlompat naik, maka itu, belum lagi kakinya menginjak tetap, tubuhnya telah kena terbetot, tangannya tercekal keras.
Orang tua itu berseru pula, sambil berseru kedua tangannya diangkat dan diayun, maka tubuh Cio Pa lantas terangkat, terlempar ke dalam kereta, sedang kedua gembolannya terlepas dan terbang!
San Bin sekalian menjadi terkejut.
Dua orang berlompat naik ke kereta itu, belum sempat mereka lompat mundur, untuk pergi turun, mereka pun tersambar kedua tangan si orang tua muka merah itu.
mereka juga telah lantas dilempar ke dalam kereta seperti Cio Pa!
Mereka tidak sempal bersuara, Jcarena berbareng dengan cekatannya, orang tua itu telah menotokjalan darah mereka.
Dalam kaget dan herannya.
Giok Houw berlompat naik ke kereta, guna menyerang orang tua itu, untuk sekalian menolongi tiga kawannya.
Ia lantas disambut sampokan si orang tua yang lihai itu.
yang terus memutar tangannya, guna menangkap.
Nampaknya itulah cekalan biasa saja akan tetapi ia tidak bisa berkelit lagi.
Sin Cu melihat bahaya mengancam kawannya itu, ia menimpuk dengan tiga bunga emasnya.
Si orang tua melihat datangnya serangan, ia mengangkat tangan kirinya, jeriji tangannya dibuka, dipakai menyentil, maka dengan saling susul ketiga bunga emas itu jatuh bagaikan bintang rontok!
Giok Houw tidak berdiam saja.
Untuk membebaskan tangannya itu, ia menggunakan ilmu yoganya, maka tangannya itu lantas melejit terlepas.
Tapi si orang tua terus menyampok, pundaknya kena terbentur, hingga ia merasakan sakit dan panas sekali, sebelah tangannya itu turun bagaikan semper dan goloknya hampir lepas dari pegangannya.
Syukur ia cepat berkelit, kalau tidak, mungkin tangannya itu akan kena terpatahkan.
Orang tua muka merah itu tertawa.
"Hanya beberapa bangsat cilik ini?"
Katanya.
"Le Kong Thian. bagaimana? Kenapa untuk beberapa bangsat cilik ini kau mengganggu aku?"
Kong Thian berdiam, terang ia tidak berani menjawab.
"Ketahuilah, ayah. di sini ada muridnya Thio Tan Hong,"
Berkata si pelajar muda.
"Aku mohon supaya ayah memberikan bantuan..."
Mata si orang tua mendelik.
"Thio Tan Hong itu datang atau tidak?"
Dia tanya.
"Mengenai muridnya, cukup kamu yang melayaninya!"
Thio Giok Houw tidak puas mendengar suara besar dari orang tua itu. Ia telah lantas mengurut baik tangannya yang tadi terhajar, ia menoleh kepada Sin Cu dan kata.
"Mari kita kepung dia!"
Sin Cu menjawab dengan menghunus pedangnya dan segera menikam.
Si orang tua, dengan tangan kosong, lantas melayani.
Dia bukan menangkis hanya hendak merampas pedang orang.
Segera ternyata ia lihai ilmunya "Khongciu jippek jin,"
Ialah tangan kosong melawan senjata tajam.
Sin Cu menggeraki pedangnya, untuk ditarik pulang, dengan begitu gagal sambaran si orang tua, sedang itu waktu, menyusul Sin Cu.
Giok Houw menyerang dengan goloknya.
Dengan berkilauan, golok itu datang dari kiri disabetkan ke kanan.
Di lain pihak Sin Cu.
dengan kesehatannya, sudah memapas, dari kanan ke kiri.
Itulah serangan dari siangkiam happek, sepasang pedang bersatu padu dari Thio Tan Hong dan Sin Cu berdua Giok Houw telah memperolehnya enam atau tujuh bagian.
Orang tua muka merah itu mengasi dengar suara heran, kedua tangannya dipakai mengibas, untuk menghalau dua serangan saling susul itu.
"Bret!"
Demikian satu suara nyaring, dan ujung bajunya terkena ujung pedang dan robek karenanya.
Meski begitu, pedang dan golok kedua penyerang itu kena dibikin terpental, syukur tidak sampai terlepas dari cekalan.
"Bagus!"
Berseru si orang tua memuji.
"Serangan ini boleh juga dilihat!"
Setelah mundur setindak.
Sin Cu dan Giok Houw maju pula.
untuk mengulangi serangan mereka.
Mereka tidak menjadi gentar mendapatkan musuh tua ini demikian lihai, bahkan mereka memperbesar tenaga mereka.
"Cekal keras senjatamu!"
Bentak orang tua itu.
"Awas!"
Dia mengasi dengar suaranya dan membawa juga lagaknya si orang tua, akan tetapi kendati demikian, dia tidak berani acuh tak acuh seperti semula, sekarang dia berlaku hati-hati.
Jadi dia bukan menggertak belaka.
Ketika sebelah tangannya digerakkan tangan itu nampak mencekal seutas rantai besi, yang ujungnya ada bandringnya, dengan memutar itu, ia lantas membikin pedang dan golok kedua lawannya kalah pengaruh.
Pertarungan terus berlangsung.
Dengan rantainya itu, si orang tua bukan melainkan mencegah orang merangsak dekat kepadanya.
Dia juga menyerang.
Demikian ketika golok Giok Houw berkelebat, dia memapaki menyamber, terus dia menarik.
Pemuda itu terkejut, tubuhnya tertarik dan terhuyung maju.
Sin Cu melihat adik seperguruan itu terancam bahaya, ia menolongi dengan tikamannya.
Si orang tua mengetahui pedang si nonya muda pedang mustika, ia tertawa, lekas-lekas ia menarik pulang rantainya itu.
kemudian sambil menganggukangguk, ia kata pada si anak muda.
"Kau sanggup mempertahankan diri dari sambaranku ini, maka lagi lima tahun, kau pasti akan dapat mengalahkan anakku! Hm! Tak dapat kau dibiarkan tinggal hidup!"
Belum berhenti mendengungnya kata-kata itu.
rantainya sudah bekerja pula.
Giok Houw menggunakan golok untuk menjalankan jurus-jurus dari ilmu pedang bersatu padu dari Thio Tan Hong, biar bagaimana, goloknya itu tidak dapat disamakan dengan pedang.
Melawan si pelajar muda, mereka bisa merebut kemenangan dalam beberapa jurus, tetapi melayani orang tua ini.
mereka repot.
Maka beruntung untuknya.
Sin Cu dapat memainkan pedangnya mahir sekali, beberapa kali goloknya dapat ditolong dari serangan musuh yang lihai itu.
Ketika itu di mulut selat selatan keadaan pasukan negeri mulai menjadi baik pula.
Inilah karena pimpinannya Chian Tiang Cun.
Cit Seng Cu dan Liong Kiam Hong mesti melayani si pelajar muda.
komandan Gilimkun itu menjadi mendapat kebebasan.
Demikian ia mengepalai langsung barisannya itu.
Bertempur belum lama.
Thio Giok Houw yang terdesak ujung bajunya kena disamber rantainya si orang tua hingga robek.
Melihat itu, Ciu San Bin membantu dengan menyerang dengan tiga buah golok terbang.
"Hahaha! Kau mau menggantikan mampus?"
Tertawa si orang tua, yang terus menyambut golok terbang itu dengan rantainya, hingga terdengar suara tingtong tiga kali, terus ketiga golok itu terbang balik, ke arah Sin Cu.
Nyonya Yap Seng Lim tidak takut, hanya ia terperanjat juga.
Dengan pedangnya ia memukul jatuh tiba buah golok itu.
Hanya karena repot menangkis, ia menjadi terhalang kesehatannya.
Dengan sampokan rantainya, orang tua itu jugamenangkis goloknya Giok Houw, habis mana, rantainya itu menyamber ke arah San Bin.
Hebat rantai itu.
cengkeramannya mengenai pundak.
Maka tidak ampun lagi.
San Bin kena tertarik, terus tubuhnya dicekuk.
dilemparkan ke dalam kereta!
Giok Houw kaget dan berkuatir.
ia maju untuk menolongi ketua itu, tetapi ia tidak bisa berbuat banyak.
Rantainya si orang tua menghalang, mencegah niatnya itu.
Ia kena dipukul mundur.
"Adik Houw. mari kita mundur dulu!"
Akhirnya Sin Cu berkata.
"Baik kita pergi melihat enci Leng, dia sudah pulih kesegarannya atau belum."
Sin Cu dibikin heran oleh cara berkelahinya si orang tua.
Selama itu, dia duduk bercokol saja di atas keretanya, hingga tidak ketahuan pasti, dia sebenarnya bercacad kedua kakinya atau sengaja dia memandang enteng kepada lawan-lawannya.
Karena ini ia memikir, baiklah ia mencoba melawan bersama In Hong.
"yang ilmu pedangnya telah maju pesat sekali. Perpaduannya dengan Giok Houw kurang sempurna, berdua mereka tidak dapat melayani terus si orang tua. Giok Houw pun menginsafi orang tua muka merah itu terlalu tangguh untuk mereka, ia suka mendengar kata terhadap Sin Cu. si kakak seperguruan. Ia pikir, baiklah ia mundur, guna melabrak tentara musuh. Si orang tua tertawa melihat musuh-musuhnya mengundurkan diri.
"Apa kamu sangka aku tidak dapat membekukmu?"
Katanya, dingin.
"Kong Thian, mari!"
Kong Thian, si raksasa, segera datang menghampirkan kepinggir kereta.
Orang tua itu mengulur tangannya, akan memegang pundak orang, setelah mana ia mengangkat tubuhnya, guna duduk di pundak raksasa itu dengan kedua kaki terpentang.
Maka sekarang ketahuanlah bahwa ia telah bercacad di kakinya.
Sebenarnya dia telah meyakinkan semacam ilmu silat lihai dari kalangan sesat, pada tiga tahun yang baru lalu, dia benar-benar tersesat, akan tetapi berkat ketekunannya, hingga tenaga dalamnya jadi mahir sekali, dia tidak sampai terbinasa karenanya, hanyalah kedua kakinya yang menjadi mati, tubuh dan kedua tangannya dapat bekerja seperti biasa, dari itu, meskipun dengan duduk bercokol, dia bisa berkelahi dengan lihai sekali.
Ini sebabnya kenapa bersama anaknya, si pelajar muda.
dari tempat ribuan li.
dia datang untuk memegang tanggung jawab atas barang-barang hadiah untuk kaisar.
Anaknya itu ialah yang maju di muka dan karena terpaksa, sekarang dia pun muncul.
Kong Thian bertubuh tinggi besar, dengan si orang tua bercokol di pundaknya, dia masih dapat bergerak dengan leluasa, bahkan dia telah terlatih di dalam hal membawabawa majikannya secara demikian, hingga dia ketahui bagaimana harus membawa diri agar majikan itu bisa berkelahi dengan sempurna.
Pula, dengan begitu, si orang tua menjadi berada di tempat yang tinggi luar biasa.
Dengan cepat ketua dan ketua muda dari rombongan dari Thayouw, yaitu Liu TekChong dan Chio Peng Kin, telah kena disambar rantai si orang tua dan tertawan.
Kemenangan ini pun membawa perubahan kepada tentera negeri, yang berbalik menjadi lebih unggul.
Ketika itu cuaca mulai berubah, hari mendekati magrib.
Leng In Hong masih saja duduk bersila, untuk menjalankan pernapasannya, guna memulihkan kesegarannya.
Masih ada dua lagi jalan darahnya, yang belum dapat disalurkan kembali.
Tengah ia memelihara diri itu, tiba-tiba ada orang yang berkelebat ke arahnya, berkelebat bagaikan bayangan, dan tangan orang itu menyamber ke tangannya, hingga teiapakan tangannya kena tercekal, atau segera ia merasakan ada hawa yang tersalurkan kepadanya, hawa mana mengalir terus ke seluruh tubuhnya, hingga ia merasakan segar luar biasa.
Lantas ia berlompat bangun.
"Akhir-akhirnya kau datang, Thian Touw!"
Serunya.
la tidak kaget oleh itu bayangan hanyajusteru bergembira.
Yang datang itu memang Hok Thian Touw, suaminya.
Thian Touw sengaja datang mencari ke medan pertempuran itu, sebab ia telah mendengar kabar perihal bakal dilakukannya perampasan bingkisan dan ia menduga mesti isterinya berada di situ.
"In Hong, mari kita pulang ke Thiansan!"
Mengajak suami itu. Sang isteri heran, ia mengawasi suaminya.
"Adakah kedatangan kau cuma untuk mengajak aku pulang?"
Tanyanya.
"Aku telah mengasi ingat untuk kau jangan masuk dalam dunia kangouw, kau tidak mau mendengar,"
Berkata suami itu.
"Kau lihat sekarang, bukankah kau telah menderita?"
In Hong tertawa dingin.
"Merampungkan pelajaran ilmu pedang, adakah itu melainkan untuk memelihara diri?"
Tanyanya.
"Dari jaman dahulu hingga sekarang ini, berapa banyak orang gagah yang telah berkurban untuk negara dan rakyat, yang tidak menyayangi kepalanya terlempar dan darahnya yang panas mengucur keluar, apapula baru penderitaan seperti ini? Baiklah, jikalau kau jeri, kau pulang sendiri saja! Aku lelah menerima undangan dari Kimto Cecu, tidak dapat aku meninggalkan mereka itu untuk lari seorang diri!"
Thian Touw menghela napas.
"Masih saja kau membawa tabiatmu yang keras dan kukuh,"
Katanya menyesal.
"Kau tidak dapat meninggalkan mereka, habis apakah aku dapat meninggalkan kau? Jikalau toh mesti pulang, kita mesti pulang bersama!"
"Jikalau kita mesti berdiam di sini, kita pun mesti berdiam bersama!"
Kata In Hong.
"Thian Touw, tidak dapatkah kau membantu aku kali ini?"
Thian Touw berdiam. Ia berpikir keras.
"Sebenarnya, kau suka atau tidak pergi bersama aku?"
Tanya ia sesaat kemudian.
"Kau bantu dulu aku. nanti aku turut kau pulang!"
Menyahut sang isteri. Thian Touw mementang kedua matanya, ia mengerutkan alisnya.
"Tegasnya?"
Ia tanya.
"Kau membantu aku mengalahkan orang tua muka merah itu!"
Kata In Hong seraya tangannya menunjuk. Thian Touw mengawasi kepada orang tua yang disebutkan itu.
"Tahukah kau siapa orang tua itu?"
Ia tanya.
"Dialah si hantu tua she Kiauw dari Sengsiu hay di gunung Kunlun San,"
Menjawab sang isteri.
"Tahukah kau bahwa dialah orang yang ilmu silatnya paling tinggi? Kenapa kau boleh mencari musuh dalam dirinya orang tua itu?"
"Apakah kau takut padanya?"
Sang isteri tanya, tertawa dingin.
"Aku bukannya takut hanya ilmu pedangku belum diyakinkan sempurna."
Sahut Thian Touw.
"Untukku, tiga sampai lima tahun yang mendatang adalah saat-saat paling penting. Hari ini, jikalau kita melawan dia, kita dapal mengundurkannya, akan tetapi kemudian, kalau mereka ayah dan anak dan dibantu oleh Le Kong Thian, pengurus rumah tangganya itu, sering-sering datang ke Thiansan, untuk mengganggu kita, mana dapat kita berlatih dengan tenang?"
"Pulang pergi, kau toh mementingkan dirimu sendiri saja!"
Kata In Hong sambil tertawa dingin.
"Baiklah, jikalau kau tidak berani, biar aku yang pergi sendiri!"
Thian Touw menarik tangan baju isterinya itu.
"Jikalau kita menanti lagi tiga tahun, di waktu mana peryakinanku telah rampung, kita bakal tidak mempunyai tandingan."
Katanya, membujuk.
"Sekarang ini kita tidak mempunyai kepastian akan memperoleh kemenangan, dari itu aku minta sukalah kau pikir pula masak-masak..."
In Hong tidak menjawab, hanya dengan menghunus pedangnya, ia membabat kutung ujung bajunya yang dicekal suaminya itu, lantas dia ngeloyor pergi.
Thian Touw gelisah bukan main.
Ia melompat ke depan seraya mementang kedua tangannya.
"Kau pergi seorang diri, apakah kau hendak mengantarkan jiwamu?"
Tanyanya.
"Daripada kabur meninggalkan kawan-kawan, lebih baik mati di tangan musuh!"
Berkata isteri itu.
"Thian Touw, pergilah baik-baik kau meyakinkan ilmu pedangmu, jikalau nanti kau telah merampungkan itu, hingga di kolong langit ini tidak ada tandinganmu, baru kau membuatkan aku sebuah kuburan di mana kau boleh menarahkan batu nisan dengan ukiran kata-kata 'Isterinya ahli pedang nomor satu di kolong langit,' supaya orang-orang gagah di jaman belakangan dapat mengetahui bahwa ahli pedang nomor satu di kolong langit ini masih tidak sanggup melindungi isterinya!"
Mukanya Thian Touw menjadi merah, ia likat sekali.
"Baiklah!"
Katanya "Aku justeru paling takut pada mulutmu ini! Mari kita turun bersama!"
In Hong girang bukan main.
"Mari kita bekuk dulu si bangsat cilik she Kiauw itu!"
Katanya.
"Setelah itu baru kita tempur si hantu tua!"
Thian Touw mengerutkan alis.
"Sudah cukup kita mengusir Kiauw Pak Beng si siluman tua, untuk apa kita membekuk puteranya?"
Katanya.
"Bukankah dengan begitu kita menjadi menanam bibit permusuhan besar?"
"Kau belum tahu, tua bangka itu telah menawan lima atau enam orang pihak kita,"
Menerangkan sang isteri.
"Kita membekuk anaknya supaya anak itu dapat ditukar dengan kemerdekaan mereka itu. Kau suka pergi atau tidak?"
Thian Touw kalah didesak, la tertawa.
"Baiklah, hari ini aku mendengar perkataan kau!"
Katanya.
"Tapi ingat, habis ini kaulah yang mesti mendengar perkataanku!"
In Hong tertawa.
"Di dalam hal itu harus dilihat dulu. apa yang kau akan katakan itu."
Jawabnya.
"Ah, sudahlah, jangan banyak omong lagi! Mari lekas!"
Inilah sebab matanya In Hong lihai, sekali dan ia melihat si pelajar muda lagi mengejar Giok Houw.
Habis berkata begitu, ia berlompat menyusul Giok Houw itu, lalu terus tanpa membilang apa-apa, ia menyerang si pelajar, guna merintangi dia melancarkan serangan terhadap Siauw Houw Cu.
Pelajar muda itu mengenali nyonya muda ini, yang tadi bertempur seruh sama Le Kong Thian.
karena ia merasa terlebih lihai, ia tidak menjadi takut, ia lantas melawan.
Bahkan ia terus saja mendesak dengan pelbagai pukulan dan totokannya yang lihai.
In Hong terdesak hingga ia kewalahan.
"Sayang."
Berkata pelajar she Kiauw itu tertawa lebar.
"Kau begini cantik, kau pun begini lihai. kenapa kau kesudian ikut berandal? Jikalau kau suka mengubah kelakuanmu, suka aku menggabung jodoh dengan jodohmu!"
Baru saja pemuda ini menutup mulutnya atau satu serangan dahsyat diluncurkan kepadanya, itulah serangannya Hok Thian Touw, yang sambil berseru telah berlompat melesat ke arahnya.
Dan hebatnya, kipas besinya yang lihai itu telah terbabat kutung menjadi dua potong!
Sebenarnya pelajar ini, yang lihai, telah berkelit dengan sebat sekali, akan tetapi sia-sia belaka, kelitannya itu tidak menolong.
Maka ia menjadi kaget sekarang apapula tahu-tahu ujung pedang telah mengancam kepadanya.
"Jangan bergerak!"
Thian Touw mengancam.
Selagi mata orang dipentang melongo dan tubuhnya berdiri diam bagaikan patung.
Giok Houw telah berlompat maju akan menotok lawannya itu, hingga dia benar-benar mati kutunya.
Ia tertawa, begitu juga In Hong.
Isteri ini memang lihai.
tetapi dengan kepandaiannya, dia masih dapat bertahan lama melawan si pelajar, kalau barusan ia kena terdesak, itulah karena ia sengaja berbuat demikian.
guna memancing bangunnya hawa amarahnya Thian Touw, suaminya itu.
Si orang tua melihat puteranya kena tertawan, ia kaget sekali.
"Lekas pegat mereka!"
Ia berseru kepada Kong Thian, si congkoan atau kuasa rumah, yang berlaku sebagai sekor kuda tunggangan...
Kong Thian baru lari dua tindak atau In Hong dan suaminya telah datang padanya, maka kedua pihak segera datang dekat satu sama lain.
Si orang tua segera mengerjakan rantainya, sedang sepasang suami isteri itu juga menyerang dengan pedang mereka yang bersatu padu.
Akibatnya itu ialah bentrokan yang nyaring serta meletiknya kembang api di depan mereka bertiga.
Ujung rantai mental balik sampai hampir mengenai jidatnya Kong Thian.
Thian Touw tidak berhenti bergerak karena bentrokan dahsyat itu.
Dengan memindahkan kaki dengan "Tindakan Naga,"
Ia maju untuk merangsak.
guna mengulangi serangannya, di dalam hal mana dengan serempak serangannya itu ditelad isterinya.
Karena suami isteri ini telah menggunakan ilmu pedangnya yang tergabung menjadi satu, maka hebat sekali daya serangan mereka.
Oleh karena rangsakan kedua lawan itu, gerakgeriknya Kiauw Pak Beng menjadi kurang merdeka.
Rantainya itu menghendaki pertempuran renggang, Thian Touw berdua sebaliknya merangsak, untuk merapat.
Biar ia berada di atas pundak Kong Thian, hingga ia jadi berada di sebelah atas, tetap jago tua itu kurang leluasa.
Pula, setiap kali ia menyerang, setiap kali serangannya itu dipunahkan kedua batang pedang bersatu padu itu.
Setiap jurus dari Thian Touw adalah jurus yang berlainan, atau jurus-jurus yang ia telah mencampurkannya menjadi satu, cuma sekarang ia belum dapat menyempurnakannya.
Gerakan mereka ini juga berbareng menyulitkan tindakannya Kong Thian, yang harus bisa membawa diri, agar di antara ia dan majikannya itu terdapat kerja sama yang erat.
Beberapa kali ia menyerang dengan bonekanya, saban-saban ia gagal, bahkan sebaliknya, gembolannya lecet atau kentop bekas terkena pedang.
Biar bagaimana, ia pun dapat mengganggu juga rantai majikannya itu, yang menjadi kurang merdeka.
Leng In Hong melihat Kong Thian kena terpengaruhkan Thian Touw.
ia lantas mendesak, untuk dapat membabat kakinya si orang tua.
Oleh karena rantainya tidak dapat dipakai berkelahi rapat, si orang tua menjadi repot, dari repot dia menjadi mendongkol.
Dia mesti menggunakan tangannya guna menghalau setiap serangan si nona.
"Menyingkir"
Akhirnyajago tua itu berteriak dalam murkanya.
Dia menekan pundaknya Kong Thian, menyusul itu tubuhnya terangkat, mencelat tinggi.
Atas tekanan majikannya, Kong Thian lantas berkelit.
Dengan mencelat, si orang tua bermuka merah dapat menggunakan pula rantainya.
Dengan hebat ia menyerang suami isteri lawannya itu.
Thian Touw dan In Hong menggunakan ilmu silatnya pedang bersatu padu.
mereka menangkis.
Kali ini hebat serangan rantai, mereka sampai terhuyung mundur beberapa tindak.
Si orang tua sendiri, tubuhnya lantas turun ke bawah.
Mulanya dia mengulur sebelah tangannya, untuk memegang tanah, guna menjaga dirinya, setelah berputar, dia duduk bersila.
Sekarang terlihat tegas matinya kedua kakinya itu.
Begitu ia duduk numprah, begitu ia memutar rantainya, hingga sekarang ia dapat berkelahi seperti tadi waktu ia bercokol di atas kereta atau di pundaknya Kong Thian, melainkan tak dapat lagi dia maju atau mundur seperti waktu dibantu Kong Thian itu.
Thian Touw dan In Hong tidak bisa mendesak pula.
Serangan rantai terlalu hebat untuk dapat dirangsak.
Kong Thian mundur ke samping, di waktu ia memeriksa bonekanya, ia mendapatkan boneka itu "terluka"
Lecet dan berlubang kecil-kecil bekas papasan dan tikaman pedang.
Itulah bukti dari lihainya pedang dan ilmu pedang Hok Thian Touw, maka itu, mengingat kekosenan si anak muda, raksasa itu menggigil sendirinya.
Coba ia tidak kosen dan senjatanya berat luar biasa, pastilah ia sudah terbinasa di tangannya lawan ini.
Di samping itu, ia berkuatir sekali untuk majikannya yang muda.
yang lagi dijagai Thio Giok Houw.
Tidak saja si pelajar muda telah mati kutunya akibat totokan Siauw Houw Cu, dia pun terus diancam golok yang tajam, yang ujungnya diarahkan ke punggungnya, hingga setiap saat dia dapat ditikam!
Kong Thian merasa dia dapat mengalahkan Giok Houw tetapi suasana membuatnya ia jeri.
Seteiah menyaksikan Thian Touw dan isterinya tidak dapat berbuat apa-apa terhadap si orang tua muka merah, Thio Giok Houw berkata kepada dia itu, nyaring.
"Eh, siluman tua she Kiauw, kau masih menghendaki anakmu atau tidak?"
Orang tua itu berhenti bersilat, ia tertawa dingin.
"Kamu yang menamakan diri murid-murid perguruan kenamaan,"
Sahutnya, mengejek.
"sekarang kamu bersikap begini rupa! Jadi kamu hendak memaksa aku?"
"Siluman tua she Kiauw, jangan kau terlalu berkepala besar!"
Kata In Hong, yang juga tertawa dingin.
"Siapakah yang jeri terhadapmu? Sekarang ini baiklah kita bicara dulu dari hal perdagangan, setelah itu baru kita melakukan pertempuran yang memutuskan!"
Perdagangan macam apa itu?"
Tanya Kiauw Pak Beng. Masih ia tertawa mengejek.
"Kau telah menangkap beberapa orang pihakku,"
Berkata Giok Houw, yang mendahului si nyonya muda.
"bukankah kau hendak menggunakan mereka sebagai alat memaksa kita agar kita jangan merampas barang bingkisan?"
Mendengar itu, orang tua itu tertawa lebar.
"Bocah, kau sangat berkepala besar!"
Katanya.
"Kenapa kau tidak mau kalah bicara? Aku menawan orang-orang di pihakmu untuk menghajar adat saja. bukannya untuk mempengaruhi kepada kamu, bukannya untuk menggencet!"
"Jikalau begitu, mengapa kau marah-marah tidak keruan?"
In Hong berkata, membaliki.
"Kami membekuk anakmu yang kau sayangi bagaikan mustika juga untuk membalas hormatmu itu! Ada budi harus dibalas, bukan?"
Orang tua itu mendongkol bukan main.
"Baiklah!"
Sahutnya.
"Mari kita omong dengan singkat saja! Kamu lepaskan dulu anakku, nanti aku menitahkan mereka memerdekakan kawan-kawanmu! Bukankah kamu puas dengan ini macam jual beli?"
"Mana dapat kita menjadi demikian dogol?"
Kata Siauw Houw Cu tertawa mengejek.
"Mana dapat kita melepaskan dulu anakmu?"
"Kau tahu apa?"
Kata si orang tua.
"Kawan-kawanmu itu telah tertotok ilmuku yang istimewa, kecuali aku dan anakku berdua, lain orang siapa juga tidak nanti dapat membebaskan mereka!"
"Locianpwee ini adalah orang tua gagahjaman sekarang, dialah guru silat terbesar, tidak nanti dia menpedayakan anak-anak muda,"
Berkata Hok Thian Touw.
"Adik Houw. kau lepaskanlah Kiauw Kongcu!"
Giok Houw berpikir.
"Kau benar lihai ilmu silatmu tetapi tentang kelicikan kaum kangouw kau tidak tahu banyak..."
Tapi matanya memain dan ia tertawa.
"Baiklah, aku mempunyai dayaku!"
Katanya. Lantas ia menotok pelajar muda itu. Ia menggunakan ilmu totok ajarannya Hek Pek Moko. dan sasarannya ialah jalan darah hiathay.
"Kau mempunyai ilmu totok yang istimewa, aku juga!"
Ia berkata kepada si orang tua.
"Sebentar setelah kau membebaskan kawan-kawanku, aku pun akan membebaskan anakmu ini. Jikalau kau main gila, di dalam tempo satu jam, anakmu ini bakal bercacad seluruhnya hingga dia menjadi orang tanpa daksa!"
Mukanya si orang tua menjadi matang biru.
Ia gusar sekali bahwa Giok Houw tidak mau mempercayainya.
Hok Thian Touw juga menganggap Giok Houw bersikap keterlaluan, akan tetapi ia terpaksa berdiam saja, sedang Giok Houw sendiri tidak sudi mengambil mumat, hanya lantas ia menggiring si Kiauw muda ke kereta.
Chian Tiang Cun menjaga di kereta itu, melihat keadaan demikian rupa, ia terpaksa mengeluarkan orang-orang tawanannya, maka si pelajar lantas menotok bebas mereka itu, atas mana Giok Houw pun tidak berayal akan membebaskan anak muda ini.
Sebenarnya pelajar ini sangat membenci Giok Houw, yang ia awasi dengan bengis.
Lantaran ia baru bebas dan Giok Houw pun didampingi Sin Cu, terpaksa ia menahan sabar, ia tidak berani menggeraki kaki tangan atau membuka bacotnya.
Si orang tua sementara itu berpikir cepat.
Ia heran Hok Thian Touw mengenal padanya dan sikap Thian Touw pun halus.
Ia lantas berkata.
"Aku telah mendengar kabar perihal seorang she Hok yang ayah dan anak, di dalam dua turunan, telah meyakinkan ilmu pedang di atas gunung Thiansan. sekarang melihat ilmu pedangmu ini beda daripada yang kebanyakan, bukankah kau puteranya HokTiong Heng?"
"Benar,"
Menjawab Thian Touw.
"Ayahku pun pernah menyebut-nyebut nama locianpwee. Ayahku itu telah menutup mata pada sepuluh tahun yang sudah."
"Sayang, sayang,"
Berkata si orang tua.
"Dengan ayahmu itu aku cuma pernah bertemu satu kali akan tetapi tujuan kita adalah sama, kita cuma mau meyakinkan ilmu silat, untuk memperoleh kemajuan, kita tidak menghendaki mendapat nama..."
Mendengar itu. In Hong mengerutkan alis dan kata di dalam hatinya.
"Kau cuma omong saja. Selama ilmu silatmu belum mahir, kau tetap menyembunyikan diri, tetapi selama yang belakangan ini, sepak terjangmu buruk! Mana dapat cita-cita pamanku disamakan denganmu?"
Meskipun dia memikir demikian, menyaksikan suaminya berlaku hormat kepada orang tua itu, ia tidak berani membilang apa-apa.
Kalau bukan lagi berada di depan musuh, yang demikian lihai, pastilah ia tidak mau mengerti mengenai sikap suaminya ini...
Orang tua muka merah ini, yang bernama Kiauw Pak Beng, dan anaknya yang diberi nama Kiauw Siauw, memang gemar meyakinkan ilmu silat, sama seperti kegemarannya Hok Tiong Heng dan putera, setelah sampai pada saat ia menjadi orang cacad, baru ia memperoleh kemajuan, hanyalah dia dari kalangan sesat.
Benar seperti dugaannya In Hong, dia sekarang menjadi pelindung angkutan barang bingkisan cuma dengan maksud dapat mengangkat nama.
Sebenarnya, tujuannya ialah mencari Thio Tan Hong, untuk menguji kepandaiannya itu, ia tidak sangka di sini ia akan bertemu sama Thian Touw suami isteri dan kesudahannya mereka sama tangguhnya.
Setelah pertukaran orang tawanan itu beres, Kiauw Pak Beng berpikir sebentar, terus ia kata pada Hok Thian Touw.
"Kau dapat meyakinkan ilmu pedangmu begini rupa, itulah pelajaran yang sukar didapatkannya, hanya, jikalau kau memikir untuk mengalahkan aku, itulah tidak dapat, sekali-kali tidak! Umpama kata kau sebaliknya terlukakan olehku, pasti habislah semua kepandaianmu itu. Aku menghargai ayahmu, dari itu tidak sudi aku membuat peryakinan kau selama sepuluh tahun menjadi musnah di dalam tempo satu hari. Maka aku pikir, baiklah kau pergi pulang saja!"
Thian Touw bersangsi. Memang, di dalam ilmu pedang, ia masih kalah dari orang tua ini. Leng In Hong dapat menduga kesangsian suaminya, ia mendahului menyahut.
"Jikalau kau menghendaki kami pulang ke Thiansan. itulah gampang!"
Demikian katanya.
"Kau pergi, lantas kita pergi, semua urusan di sini, kita sama-sama tidak menggubrisnya!"
Kiauw Pak Beng tertawa melenggak.
"Jadi kau menghendaki aku mengangkat kaki?"
Tanyanya.
"Apakah yang dianggap lucu!"
Kata In Hong.
"Bukankah kau menginginkan kami pergi dari sini?"
Kiauw Pak Beng menjadi tidak senang.
"Telah begini tua usiaku, belum pernah aku menemui orang yang berani menentang kehendakku!"
Katanya.
"Maka itu, anak-anak muda, bagaimana kamu berani menyuruh aku mengangkat kaki?"
"Jikalau kau tidak pergi, kami juga tidak mau pergi!"
In Hong membelar.
"Siapa juga tidak dapat menggertak kami!"
Kiauw Pak Beng tertawa dingin.
"Kalau begitu, kamu jadi hendak dapat menggertak kami!"
Bilangnya. Ia lantas menatap pada Hok Thian Touw. Anak muda itu membalas mengawasi.
"Jikalau locianpwee tidak dapat memaafkan kami. terpaksa kami suami isteri akan melayaninya!"
Sahutnya. Terpaksa Thian Touw mengatakan demikian. Sikap isterinya itu membuatnya tidak mempunyai pilihan lain. Dengan sekonyong-konyong Kiauw Pak Beng tertawa nyaring. Ia juga mengibas rantainya.
"Baiklah kalau begitu!"
Serunya.
"Mari kamu maju!"
Thian Touw menggeraki pedangnya sambil ia berkelit, untuk menyelamatkan diri dari ujung rantai yang bercengkeraman itu, sebaliknya In Hong dengan berani merangsak maju.
"Bagus!"
Berseru Kiauw Pak Beng seraya dia menyamber pula.
In Hong mesti mundur dengan terhuyung dari serangan ini, sedang Thian Touw, yang sudah bersiap, menangkis, hingga dua senjata itu bentrok dengan nyaring.
Demikian mereka bertarung pula.
Dengan lekas telah berjalan tujuh atau delapan jurus.
Pak Beng hebat sekali, dengan rantainya ia seperti mengurung suami isteri itu.
Biar bagaimana, Thian Touw jeri juga melihat lihainya si jago tua, maka ia berlaku hati-hati sekali.
In Hong melihat sikap suaminya, ia menjadi tidak sabaran, lagi-lagi ia maju.
Atau baru tiga empat jurus, ia mesti mundur pula.
Hampir-hampir iadilanggarujung rantai besi itu.
Thian Touw melirik isterinya, mukanya menjadi merah sendirinya.
Ia lantas pikir.
"In Hong tidak takut, kenapa aku jeri? Biar aku mengadu jiwaku, supaya dia jangan memandang tidak mata padaku!"
Benar saja, anak muda ini lantas maju.
Diamenggunakan ilmu pedangnya dengan cara sungguhsungguh.
Ilmu pedang Thiansan Kiamhoat lihai sekali, meski dia kalah tenaga dalam, karena dia tidak takut sedang dia pun bersatu padu dengan isterinya dia merasa, meskipun tidak menang, tidak nanti dia kalah.
Karena pertempuran ini, pertarungan lain pihak telah berhenti semuanya.
Semua mata diarahkan ke gelanggang ini.
Segala apa sunyi kecuali suara anginnya ketiga senjata, atau kapan terjadi ---bentrokan senjata mereka itu.
Baik pedang maupun rantai, kedua-duanya berkilau di cahaya sinar layung.
Siapa yang berdiri dekat telah lantas mundur sedikit, supaya mereka tidak usah dimampirkan rantai yang panjang.
Mereka rata-rata mendelong saking kagum untuk kegagahannya ketiga orang itu.
Selagi hebatnya mereka bertempur, mendadak terdengar seman Kiauw Pak Beng, seruan yang nyaring sekali.
Dan ujung rantainya, di waktu berbalik, mencari punggungnya Hok Thian Touw.
Anak muda ini tidak berani keras melawan keras.
Ia menangkis secara tidak langsung, meski begitu, ketika pedang nempel sama rantai, ia lantas merasakan tindihan yang berat, yang membikin ia terkejut.
Tidak dapat ia menarik pulang pedangnya, yang secara luar biasa cepat lantas terlilit rantai.
Juga Leng In Hong menjadi, terkejut.
Ia telah membarengi suaminya itu, guna menangkis senjata musuh, atau pedangnya pun terlihat bersama tanpa ia keburu menariknya pulang.
Kiauw Pak Beng lihai matanya serta lihai juga otaknya, dengan kecerdasannya, sesudah melayani orang sekian lama, ia dapat menyelami pokok ilmu silat pedang tergabung itu, maka itu, ia lantas memikirkan tipu silat apa ia dapat gunakan untuk merobohkan kedua musuh itu.
Begitulah, begitu tiba saatnya, ia mencoba menempel terus menggulung senjata kedua musuhnya itu.
Hok Thian Touw menjadi bingung.
Sia-sia belaka percobaannya akan meloloskan pedangnya.
Ketika ia melirik isterinya, In Hong pun tidak dapat melepaskan senjatanya dan dahi isteri itu sudah mulai mengeluarkan peluh.
Benar isteri itu tidak nampak takut, ia toh berkuatir sendiri.
Maka ia lantas mengempos semangatnya, untuk berontak, la mengerahkan tenaganya, lantas ia menyontek pedangnya.
Percobaannya ini membikin In Hong dapat mengangkat pundaknya.
Hanya sejenak, Kiauw Pak Beng terlihat bersenyum.
Tadi dia berseru, dia mengerahkan tenaganya.
Sekarang dia meletakkan ujung rantainya di dua-dua kakinya.
Thian Touw heran dan menduga-duga.
Tengah ia berpikir itu, ia merasakan ada persentuhan di antara tenaga dalam mereka.
Pak Beng tidak menyerang pula, tenaganya agak berkurang.
Kemudian lagi, ia merasakan tenaga dalamnya seperti terbetot jago tua itu.
Ia mau menyangka bahwa ia lagi dipancing, ia tidak berani berlaku alpa.
Kiauw Pak Beng ada maksudnya kenapa dia membawa sikapnya ini yang luar biasa.
Karena sesatnya, kedua kakinya menjadi kurban, cacad itu mendukakan kepadanya.
Tentu sekali ia ingin mengobatinya.
Setelah kakinya itu membeku dan kaku, ia percaya, obatnya ialah emposan tenaga dalam sejati dan yang mahir pula.
Jikalau tidak, tidak ada harapan cacadnya itu dapat dilenyapkan.
Di antara sahabat-sababatnya tidak ada yang dapat menolong.
Maka kebetulan sekali, sekarang ia menghadapi musuh dalam dirinya ini sepasang suami isteri.
Selagi menyalurkan tenaga dalam orang itu, hatinya berdebaran.
Ia kuatir mereka mendusin bahwa tenaga dalam mereka lagi dicuri...
Semua penonton tetap berdiam.
Mereka tidak tahu duduknya hal.
mereka menyangka orang tengah saling menguji tenaga dalam.
Mereka menonton terus.
Tidak lama nampak Kiauw Pak Beng mengeluarkan keringat dan hawa putih keluar dari embun-embunannya.
Sebaliknya Thian Touw dan isterinya tinggal tenang saja.
Pihak San Bin bergirang, mereka menyangka kawannya menang.
Giok Houw juga mengeluarkan napas lega, hanya dasar cerdik dan berpengalaman, ia menonton dengan saban-saban melepas mata ke sekitarnya, terutama ke arah rombongan musuh.
Ia heran ketika tahu-tahu ia tidak melihat Kiauw Siauw, si pemuda pelajar, demikian juga Nona Liong.
Dari heran, ia menjadi bercuriga.
Ia telah menanyakan beberapa kawannya, mereka itu menggeleng kepala.
Saking curiga, tanpa sangsi lagi, ia lantas menyingkir dari selat.
Pertandingan tenaga dalam itu masih berlangsung terus.
Sekarang Thian Touw dan isterinya merasa tenaga lawan telah menjadi sangat lemah, lalu tidak lama, lawan seperti kehabisan tenaganya.
Turut biasa, sampai itu waktu, Kiauw Pak Beiij* mesti kehabisan tenaga dan roboh sendirinya, hanya ia tidak, dia tetap duduk bersila tak bergeming, tidak roboh.
Selagi Thian Touw heran itu, sekonyong-konyong si orang tua bermuka merah tertawa tiga kali, nyaring tertawanya, habis itu, sambil menarik pulang rantainya, dia berlompat bangun, untuk berdiri, seraya dia berkata keras.
"Mengingat peryakinanmu yang lama dan sukar, aku si orang tua tidak niat mencelakai kamu, maka itu sekarang aku memberi ampun satu kali kepada kamu, akan tetapi di belakang hari, jikalau kamu berani main gila, aku nanti datang mencari untuk membikin perhitungan! Mengenai barang bingkisan ini aku beri ingat kepadamu, baiklah kamu jangan campur tangan lagi! Cukup telah aku bicara, maka maulah aku pergi!"
Kiauw Pak Beng lantas berjalan pergi, benar tindakannya perlahan, ia toh bisa jalan dengan tetap, sedang tadinya ialah seorang lumpuh.
Sebenarnya, kaki kirinya belum tersalurkan benar, tetapi ia perlu lekaslekas menyingkir.
Kalau ada orang yang ketahui rahasianya itu, di dalam keadaan seperti itu, ia tidak berdaya, ia belum pulih tenaganya.
Di antara kawan-kawan Ciu San Bin, ada beberapa yang heran dan bercuriga, akan tetapi karena mereka tahu, orang tua itu sangat lihai, mereka tidak berani maju untuk menegur.
Sudah begitu, mereka pun berdiam saja, tidak ada yang hendak mengutarakan kecurigaannya itu pada Thian Touw dan In Hong.
Sebentar kemudian Kiauw Pak Beng sudah keluar dari selat.
Ia diturut oleh Le Kong Thian dan Chian Tiang Cun juga.
Tanpa mengatakan apa-apa, komandan Gilimkun ini turut pergi dengan meninggalkan rombongannya.
Ciu San Bin lantas bertindak.
Ia mengapalai orangorangnya untuk merampas kereta.
Kepada semua pelindung bingkisan itu, San Bin kata dengan bengis.
"Letaki senjata kamu, semua boleh pergi!"
Bagaikan mendengar keampunan, semua serdadu dan atasannya melempar-lemparkan senjata mereka, hanya sebelum mereka dibiarkan pergi, lebih dulu mereka digeledah satu demi satu.
Dari mereka itu tidak kedapatan apa-apa.
Ketika mereka telah pergi semua, rembulan sudah berada tinggi.
San Bin menjadi heran.
Dari barisannya, yang memeniksa kereta-kereta, diterima laporan nihil.
Tidak ada kedapatan barang bingkisan.
Yang ada hanya rangsum serta beberapa rupa barang lain ialah hasil bumi wilayah barat daya.
"Hai, ke mana perginya bingkisan?"
Demikian orang saling bertanya. Semua heran dan penasaran. Bukankah mereka telah berkelahi lama dan hebat, ada yang terluka dan terbinasa? "Mungkinkah itu dibawa Kiauw Pak Beng dan Le Kong Thian?"
Dugaan ini disangsikan. Kiauw Pak Beng orang kenamaan dan dia pun mengatakan tidak hendak mencampuri lagi urusan bingkisan itu.
"Tapi kalau benar dia membawanya sendiri ke Pakkhia, bukankah itu bakal menambah besar namanya?"
Kata In Hong.
Nyonya ini masih sangsi.
Thian Touw ragu-ragu.
Tidak nanti Pak Beng dan Kong Thian membawa barang tanpa terlihat.
Biasanya barang bingkisan berjumlah besar dan berat.
Anggapan ini dibenarkan oleh beberapa yang lain.
Habis, mana dia barang bingkisan itu?
Ke mana perginya?
Semua orang berpikir keras.
Segera In Hong ingat, di antara mereka tidak nampak Giok Houw.
dan Kiam Hong.
Ia tanya, ke mana perginya mereka itu berdua.
Semua orang menggeleng kepala.
Tadi tidak ada yang memperhatikan muda-mudi itu.
Sekarang ternyata, anak Kiauw Pak Beng pun tidak ada.
"Pastilah bingkisan itu dibawa kabur Kiauw Siauw!"
Kata In Hong.
"Mari kita menyusul! Mungkin Giok Houw lagi mengejar dia!"
Kali ini dugaan Nyonya Hok Thian Touw tepat.
Memang Giok Houw menyangka Kiauw Siauw yang membawa bingkisan, maka itu ia lantas menyusul.
Di tengah jalan ia bertemu orang ronda, yang menerangkan benar ada orang seperti si pemuda pelajar yang kabur pergi dengan kudanya tanpa dia dapat dicegah.
Setelah ditunjuki arah yang diambil Kiauw Siauw, Giok Houw menyusul sambil berlari keras.
Setengahjam sudah ia lari cepat, lantas kupingnya mendengar suara senjata beradu.
Maka ia perkeras larinya.
Untuk girangnya, ia melihat di sebelah depan, di bawah lereng, ke empat budaknya Nona Liong lagi mengepung Kiauw Siauw, si nona sendiri ada bersama mereka.
Sebenarnya ke empat budak itu bukan tandingan si pemuda pelajar dan dengan gampang mereka dapat dikalahkan, kalau sekarang mereka bisa mengurung, itulah disebabkan mereka berempat telah melatih semacam ilmu berkelahi yang berupa pengepungan, sedang sekarang mereka dibantu nonanya sendiri.
Biar dia gagah, pemuda itu tidak bisa lantas meloloskan diri.
Hati Giok Houw menjadi lega.
Ia lari menghampirkan.
sambil tertawa dan dengan suara tegas, ia kata.
"Nona Liong, harap saja semangkok air ini kita minum bersama!"
Itulah kata-kata rahasia kaum kangouw dan artinya meminta pembagian sama rata. Kiauw Siauw mengerti bahasa rahasia itu, dia tertawa.
"Air masih belum diminum!"
Dia berkata mengejek.
"Jikalau kau ingin menjilat darah di atas golok, nah kau majulah!"
Hebat pemuda pelajar ini, selagi mulutnya mengoceh demikian, kipasnya dikasi bekerja, tepat mengenai satu budaknya Kiam Hong, hingga budak itu lantas roboh!
Nona Liong mendongkol, ia mendesak.
Dengan jurus "Puteri naga menusuk benang,"
Ia menikam jalan darah jikhie hiat lawannya itu.
Kiauw Siauw Siauw berani dan sebat sekali.
Ia membebaskan diri justeru sambil maju, hingga ia bisa mendekati Hee Hoo dan Tong Bwee, pedang siapa ia ketok jatuh.
Lalu sambil tertawa, ia menjambret punggungnya budak yang ke empat, niatnya untuk ditarik dan ditangkap, agar budak itu dapat dijadikan tameng.
Giok Houw tiba di saat si budak terancam itu, dengan goloknya, dia membacok.
Kembali Kiauw Siauw Siauw mengasi lihat kepandaiannya.
Ia membebaskan diri dengan gerakan kedua tangannya berbareng.
Dengan kipasnya ia punahkan tikaman si nona, dengan tangkapan "Tay Kimna,"
Ia membikin Giok Houw menarik pulang serangannya itu.
CATATAN 1) Hal Law Tong Sun memaksa Tiat Keng Sim untuk menyerahkan pedang Cio Keng To sehingga Keng To mengusir Keng Sim dari perguruaannya dapat diikuti dalam cerita Sanhoa Lihiap atau Pendekar Wanita Penyebar Bunga.
2) Peristiwa penyerbuan Ci Hee Tojin dan kawankawannya pada saat ulang tahun ke delapan puluh Hian Ki Itsu dapat dibaca di cerita Sanhoa Lihiap atau Pendekar Wanita Penyebar Bunga.
Giok Houw tidak mundur, ia maju terus.
Sekarang ia menggantikan ke empat budak itu, untuk bersama Kiam Hong melawan pemuda kosen itu.
hingga mereka jadi bertarung seruh sekali.
Sesudah lima puluh jurus ternyata, perpaduan di antara Giok Houw dan Kiam Hong menjadi bertambah erat.
Kiauw Siauw Siauw melihat itu, ia menjadi berpikir.
"Melihat begini, meski aku tidak bakal kalah, aku toh sukar merebut kemenangan, jikalau datang bantuan untuk mereka, aku bisa susah..."
Kekuatiran ini beralasan.
Bahkan asal ke empat budak turut maju, ia bisa terkurung dan terkalahkan.
Ke empat budak itu tidak bisa lantas maju karena yang satunya masih belum pulih kesegarannya.
Kiauw Siauw Siauw lantas bertindak.
Ingin ia lekas kabur.
Ia mencoba memapas jeriji tangannya Giok Houw yang memegang golok.
Pemuda ini mengelakkan tangannya.
Siauw Siauw tidak mendesaknya lagi, ia berbalik menyerang nona Liong.
"Kau mau kabur?"
Giok Houw membentak. Ia melihat sikapnya lawan ini. Lantas ia berlompat maju. membacok ke arah nadi orang. Ia menggunakan jurus "Matahari putih menutupi matahari."
Kiam Hong mendengar suaranya Giok Houw.
mendadak ia sadar.
Siauw Siauw hendak mengancam padanya, supaya kalau ia mundur, dia pun bukan maju terus, hanya hendak mundur, guna berlompat lari.
Maka itu ia membalas menyerang dengan kebutan ujung bajunya.
Tepat kebutannya ini mengenai kipas besi, sedang pedangnya menikam, menembusi tangan baju orang.
Siauw Siauw terkejut.
Ia jadi berlaku waspada.
Karena barusan gagal, ia lantas memikir lain akal.
Mendadak ia bersiul nyaring.
Dari lereng gunung lantas terlihat munculnya sekor kuda.
Itulah kuda tunggangannya, yang tadi ia tinggalkan untuk bisa melayani Kiam Hong berlima.
Kuda itu jinak dan telah terlatih baik, benar kaki depannya terpanah Nona Liong tetapi sekarang dia dapat berlari seperti biasa, tadi dia berdiam saja.
setelah dipanggil, baru dia menghampirkan majikannya.
Terkejut juga Giok Houw melihat munculnya kuda itu.
Justeru begitu.
Siauw Siauw mengancam mukanya Nona Liong, meneruskan mana, ia menyampok goloknya si anak muda.
Giok Houw kaget, telapakan tangannya nyeri, goloknya hampir terlepas.
Syukur untuknya, belum sempat ia bersiap itu, Kiam Hong sudah mendahului menyerang, hingga si pelajar tidak bisa mengulangi serangannya terhadapnya.
Siauw Siauw memang berniat kabur, maka itu selagi ditikam si nona, setelah berkelit, ia meneruskan lari kabur.
Hanya apa yang aneh, ia lari dengan bertentangan tujuan dengan kudanya.
Giok Houw heran, segera ia dapat membade.
Semenjak tadi pun ia telah perhatikan tubuh musuh dan tidak ada tanda-tandanya musuh ini menyembunyikan barang berharga.
Sekarang kuda itu kabur ke selatan.
Siauw Siauw sendiri ke utara.
Maka ia tidak mengejar si pelajar, hanya lari ke arah kuda, dengan huito, golok rahasianya, ia menimpuk kuda itu, tepat kena kempolannya.
"Kejar kuda itu!"
Ia pun berseru. Kiam Hong melengak. sejenak, lantas dia pun sadar.
"Benar!"
Serunya.
"Bingkisan tidak ada pada Siauw Siauw, tentu ada pada kudanya!"
Hanya kuda itu. kecuali selanya, tidak membawa barang lainnya.
"Jangan kita dijual!"
Kata Giok Houw.
"Kenapa kuda dan orang lari berlainan jurusan? Kuda itu terdidik dan majikannya licin, si majikan tentu hendak memancing kita mengejar dia. Mari!"
Kuda itu lari keras sekali Panahnya si nona dan golok terbang si pemuda membuatnya sangat kesakitan, maka dia kabur sekerasnya.
Giok Houw berdua Kiam Hong berlari keras tetapi tidak bisa lantas menyandak, terpaksa mereka mengikuti saja.
Mereka percaya, setelah habis tenaganya, kuda itu mesti roboh sendirinya atau dia keburu kecandak.
Benar juga, selang setengah jam, kudanya Siauw Siauw terlihat lari semakin kendor.
Selagi muda-mudi ini mengejar terus, tiba-tiba kuping mereka mendengar suara mengaungnya anak panah, yang keluar dari rimba di tepi jalan.
"Sahabat mana di sana?"
Giok Houw menegur. Tapi ia belum mendapat jawaban ketika terdengar suara kuda meringkik keras, lantas kuda Siauw Siauw roboh untuk tidak bergerak lagi.
"Orang itu dapat memanah kuda sekali mati, dia lihai,"
Pikir Giok Houw.
Segera juga dari dalam rimba muncul sebarisan terdiri dari kira-kira tiga puluh orang, semuanya wanita, sedang yang berada di muka ialah seorang wanita tua.
siapa terus tertawa lebar dan berkata nyaring.
"Bagus! Kiranya kau!"
Giok Houw terperanjat.
Ia lantas mengenali Cit Im Kauwcu, yang bercokol di atas kudanya.
Pula itu waktu, satu nona lari kepada kuda yang roboh, untuk mengambil selanya.
Nona itu ialah Im Siu Lan, gadisnya kauwcu itu.
Ketika dia mengangkat sela, untuk dibawa pergi, tubuhnya sedikit terhuyung, seperti dia memakai tenaga besar.
"Selamat bertemu, kauwcu!"
Berkata Giok Houw seraya memberi hormat.
"Aku merasa beruntung sekali dengan pertemuan ini!"
"Mungkin kau sendiri hendak mengatakan tidak beruntung!"
Kata Cit Im Kauwcu, yang tertawa mengejek.
"Hm! Kiranya kau masih mengenali aku!"
"Sabar, kauwcu,"
Berkata Giok Houw.
"Di antara kita memang ada perselisihan paham tetapi kau harus ingat, di dalam urusanmu dengan kaum Kaypang. aku telah membantu pihakmu. Tidakkah urusan kita dapat dihabiskankan?"
Giok Houw pernah menampik lamaran kauwcu itu dan sekarang ia menyebut-nyebut urusan dengan kaum Kaypang, yang menyakiti hati si kauwcu.
tidak heran nyonya tua itu menjadi gusar.
Berulangkah dia tertawa dingin dan mengatakan.
"Hm! Hm!"
"Sudah, ibu!"
Kata Siu Lan.
"Dia tidak mau bicara tentang persahabatan, kita ambil jalan masing-masing, supaya ibu tidak usah mendongkol."
Sengaja Siu Lan mengatakan demikian sebab ia kuatir ibunya nanti menyerang si anak muda.
Dengan begitu ia mau melepas budi pada anak muda itu.
Cit Im Kauwcu dapat membade hati puterinya, ia menjadi sedikit sabar.
Ia kata dengan dingin.
"Bocah yang baik. awas lain kali, jangan kau bentrok pula denganku!"
Habis berkata, nyonya itu memutar kudanya untuk berlalu. Giok Houw bergelisah sendirinya.
"Tunggu!"
Ia berkata. Cit Im Kauwcu menoleh.
"Aku telah lepaskan kau, apakah kau masih mau banyak rewel"
Dia menegur.
"Kita tidak mengganggu, kita mengambil jalan masingmasing, itu memang paling baik,"
Kata si anak muda.
"Aku cuma minta kauwcu suka menyerahkan sela kuda itu padaku, lantas aku pergi dari sini."
"Sela ini selamu?"
Tanya kauwcu itu, tertawa mengejek.
"Adalah kuda itu yang aku kejar-kejar,"
Menjawab Giok Houw.
"Lihat di kempolan kuda ada goloknya, itulah golokku."
Kauwcu itu tetap tertawa dingin.
"Kuda ini kudamu?"
Dia tanya pula.
"Itulah kuda orang jahat, yang penjahatnya telah aku usir,"
Menyahut Giok Houw.
"Karena itu menurut aturan kangouw, kuda ini kepunyaanku."
"Aturan apa? Segala aturan Jalan Hitam?"
Kata si nyonya tua, dingin.
"Jadi kamu pun penjahat? Baiklah, begini saja. Kita turut aturan Jalan Hitam itu. Kuda ini aku yang panah, maka selanya menjadi milikku!"
Kata-katanya nyonya tua ini ada benarnya.
Menurut aturan Jalan Hitam, barang itu ---sela ---harus dibagi dua.
Hanya sela satu.
Apakah sela itu mesti dibelah dua?
Giok Houw terdesak tapi ia masih bicara pula.
Ia berlaku sabar.
"Baiklah aku omong terus terang."
Katanya.
"Pemilik kuda ini bermusuh kamu asyik sekali!"
Kali ini Kiam Hong jengah juga. In Hong tertawa pula.
"Siauw Houw Cu!"
Katanya.
"Kau tahu. adikku ini sudah sejak siang-siang ingin sekali belajar kenal dengan kau!"
Thio Giok Houw merasakan hatinya berdenyut, ia jengah berbareng girang sekali.
"Benarkah?"
Ia tanya, perlahan.
"Dia sering mendengar aku menyebut-nyebut kau,"
Berkata pula In Hong.
"Aku mengatakan kau cerdik, jenakadan lihai ilmu silatmu, dia tertarik hatinya. Ketika aku menerima undangan Kimto Cecu dan mengetahui kau mengepalai perampasan barang-barang hadiah di wilayah Selatan, dia tidak dapat mengendalikan hati lagi, dia lantas berangkat untuk dengan diam-diam menguji kepandaianmu!"
"Nah, ini dia yang dikata. gelombang sungai Tiangkang yang belakang mendorong yang depan, dan di dalam dunia itu, yang baru menggantikan orang lama!"
Berkata Sin Cu bersenyum.
"Ya, sejaman demi sejaman, orang bertambah gagah. Mereka ini berdua masih muda tetapi mereka sudah dapat melakukan sesuatu yang menggemparkan seluruh negara, mereka jauh terlebih gagah daripada kita semasa muda kita. Sebenarnya aku bicara tentang Nona Liong tetapi dengan sendirinya suteku ini turut kesebut-sebut. Syukur kau bukannya orang luar, enci Leng, maka tidak usahlah aku merasa malu!"
In Hong tertawa.
"Aku memang hendak memuji adik Hong-ku ini lihai!"
Ia bilang.
"Enci Leng!"
Berkata Kiam Hong. menyelak.
"Jikalau kau masih menggodai aku. hendak aku pergi!"
"Ya, mari kita bicara tentang urusan yang penting"
Berkata juga Giok Houw.
"Barang hadiah telah orang merampasnya secara enak sekali..."
"Begitu?"
Tanya Sin Cu.
"Siapakah yang melakukan itu?"
"Cit lm Kauwcu!"
Giok Houw memberitahukan.
la lantas menuturkan perbuatan kauwcu itu.
yang memegat kuda dan merampas pelananya tanpa ia dan Kiam Hong berhasil merampasnya, karena kauwcu itu lihai dan cerdik, dia sudah lantas mengangkat kaki.
"Kalau begitu, pada si pemuda she Kiauw itu tidak ada barang hadiahnya,"
Berkata Sin Cu.
"Menurut kau ini, pastilah di dalam pelana itu ada tersembunyi barang hadiah itu. Ah, urusan menjadi ruwet..."
"Bagaimana kepandaiannya Cit Im Kauwcu itu?"
In Hong tanya.
"Dibanding dengan kami berdua, dia lebih lihai sedikit"
Menyahut Kiam Hong.
"Dibanding dengan enci berdua, dia kalah jauh."
"Habis, apakah yang menjadikan ruwet?"
In Hong tanya pula.
"Sebab keluarga Kiauw mempunyai keinginan berbesan sama Cit Im Kauwcu,"
Menyahut Giok Houw.
"Apabila mereka berdua bergabung menjadi satu, untuk mendapatkan pulang bingkisan itu. tidakkah kita bakal melakukan pertempuran dahsyat?"
Mendengar itu, Kiam Hong tertawa geli.
"Kau omong kurang jelas, mari aku yang mewakilkan!"
Katanya.
"Kiauw Pak Beng ingin mengambil puteri Cit lm Kauwcu sebagai nona mantu, untuk itu dia telah mengirim comblangnya, ialah Le Kong Thian. akan tetapi Nona Im itu, yang dia sukai ialah ini Siauw Houw Cu!"
Giok Houw likat, ia berdiam.
"Oh, begitu!"
Kata In Hong.
"Ya. ini ruwet juga!"
"Menurut apa yang aku dengar, kelakuannya Cit Im Kauwcu tidak terlalu buruk,"
Berkata Sin Cu.
"maka itu lebih baik jikalau kita tidak usah menggunakan senjata terhadapnya. Hanya untuk mendapatkan barang hadiah, itu benar-benar sukar jikalau keluarga Kiauw bekerja sama dengannya. Perlu kita mencari pembantu yang lihai."
"Lebih perlu daripada itu. kita mesti segera mengetahui di mana Cil Im Kauwcu menempatkan diri,"
Giok Houw memberi ingat.
"Kita mesti bekerja sebat sekali. Dari sini ke Pakkhia. perjalanan hanya tiga atau empat hari, apabila mereka itu keburu membawa barang bingkisan sampai di kota raja, itu artinya lebih sulit lagi!"
Kiam Hong tertawa.
"Jikalau barang bingkisan itu terjatuh dalam tangannya Cit Im Kauwcu,"
Katanya.
"aku percaya belum tentu dia akan mengantarkannya kepada raja, kebanyakan dia akan menahannya sendiri, untuk dijadikan pesaiin puterinya! Dan aku mau lihat nantinya, Kiauw Siauw Siauw yang bakal makan umpan atau kau yang akan kena dipancing!"
"Ah, kembali kau bergurau!"
Kata Giok Houw.
"Mari kita lekas memikirkan dayanya!"
In Hong dan Sin Cu berdiam.
"Yang berada bersama Thian Touw itu apa bukan orang dari Kaypang?"
In Hong tanya.
"Benar. Dialah Hupangcu Tie Goan,"
Menjawab Sin Cu.
Ketika Ciu San Bin memecah rombongan akan mencari Giok Houw, ia mengatur setiap rombongan terdiri daripada dua orang.
In Hong dan Sin fjoe sangat akrab pergaulannya, maka itu, mereka merupakan satu rombongan.
Memang mereka berdua sudah lama tidak bertemu.
San Bin kuatir Thian Touw kurang kenal jalanan, ia minta Tie Goan sebagai kawannya.
Demikian, ketua muda Kaypang ada bersama jago Thiansan itu.
Sin Cu lantas mengerti maksud orang setelah ia ditanya In Hong.
"Benar, kita membutuhkan dengan orang-orang gagah, maka itu, jikalau kau menghendakinya, aku kuatir mereka itu tidak mau mengerti."
Cit Im Kauwcu membuka matanya lebar-lebar, sepasang alisnya bangun.
"Hm, kau menggertak aku dengari orang-orang gagah!"
Katanya, tertawa dingin.
"Aku tidak takut!"
"Apakah artinya sebuah pelana?"
Im Siu Lan turut bicara.
"Kau bicaralah baik-baik, mungkin kami nanti bersikap bersahabat denganmu!"
"Benar."
Berkata Cit Im Kauwcu, yang mengubah lagu suaranya.
"Jikalau kau menghendaki pelana ini, mari turut aku pulang, nanti aku suka bicara secara baik-baik denganmu. Jikalau kau tidak sudi memakai aturan, akulah leluhurmu yang tidak mengenal aturan!"
Liong Kiam Hong mendengar semua itu, ia tertawa terkekeh-kekeh.
"Jadi kamu menghendaki dia seorang saja?"
Ia menanya. Siu Lan menjadi mendongkol.
"Siapa bicara sama kau, wanita penjahat?"
Dia mendamprat. Sebelah tangannya lantas diayunkan dan dua buah cincinnya yang beracun terbang menyamber. Kiam Hong berlaku celi dan sebat, ia kelit itu.
"Bicaralah dengan baik, kenapa mesti menggerakkan tangan?"
Giok Houw menegur.
"Sekarang serahkan dulu pelana itu. lain kali pasti aku akan datang berkunjung bersama Kimlo Cecu untuk menghaturkan terima kasih kami!"
"Bocah ini tidak bersungguh hati,"
Kata Cit Im Kauwcu.
"Anak Lan. kau berangkatlah lebih dulu!..."
"Perlahan!"
Giok Houw berseru, lantas dia menyusul. Cit im Kauwcu tertawa dingin, sepuluh jeriji tangannya lantas digerakkan.
"Minggir!"
Dia berteriak seraya tertawa dingin.
Thio Giok Houw tahu bahwa jeriji tangannya nyonya tua itu ada bisanya, ia berkelit.
Liong Kiam Hong menghunus pedangnya, untuk bergerak, atau Cit Im Kauwcu mendahului berlompat menubruk, tangannya menyamber.
Nona Liong tidak takut, setelah berkelit, ia meneruskan menikam dengan jurusnya "Bianglala melintasi langit."
Cit Im Kauwcu tidak melayani, dengan mengisar kaki, ia membawa tubuhnya mendekati Giok Houw pula, untuk menyerang anak muda itu.
Maka kejadianlah ia menjadi melayani muda-mudi itu.
yang ia tidak menempurnya sungguh-sungguh, ia hanya merintangi saja.
Dengan begitu sebentar kemudian, Siu Lan dapat menjauhkan diri, terus berlalu pergi.
Si anak muda mendongkol sekali yang ia telah dipermainkan, dalam sengitnya ia menyerang berulangulang.
Cit Im Kauwcu melayani dengan tidak kurang hebatnya, hanya habis itu, sambil tertawa nyaring, ia memutar tubuh untuk mengangkat langkah panjang, guna meninggalkan pemuda itu.
Giok Houw penasaran, ia mengejar, diikuti Kiam Hong.
Ketiganya ada ahli-ahli ilmu ringan tubuh, dari itu bisa dimengerti yang larinya mereka pesat luar biasa.
Tidak lama, Cit Im Kauwcu berhasil menyandak rombongannya, ia lantas lompat naik atas punggung kuda sambil berseru memerintah.
"Lepas panah!"
Perintah itu ditaati. Hujan anak panah lantas menyamber Giok Houw dan Kiam Hong. Sembari mengawasi, sambil tertawa, kauwcu itu kata dengan nyaring.
"Inilah panah yang ada racunnya, yang dapat menutup jalan darah di kerongkongan! Siapa yang tidak takut mampus, mari mengejar!"
Giok Houw dan Kiam Hong repot menangkis hujan anak panah itu.
sambil membela diri, mereka mengawasi rombongan musuh.
Di sana tidak ada Siu Lan.
Mungkin nona itu, dengan menunggang kuda.
sudah mendahului kabur.
Terpaksa mereka tidak mengejar terus, maka di lain saat.
Cit Im Kauwcu dan rombongannya lelah pergi jauh.
"Aku tidak menyangka akan datangnya gangguan ini,"
Kata si pemuda kemudian. Kiam Hong tertawa. Ia bukannya masgul atau mendongkol, ia justeru menggoda.
"Ah, kau masih bergurau!"
Kata Giok Houw masgul.
"Siapakah yang main-main?"
Tertawa si nona.
"Bukankah orang ada demikian manis budi mengundang kau menjadi tetamunya?"
"Kalau aku man pergi, aku akan pergi bersama kau!"
Kata si anak muda. Lagi-lagi nona itu tertawa.
"Orang tidak mengundang aku!"
Katanya.
"Aku tidak mempunyai muka terang sebagai kau!"
Siauw Houw Cu kewalahan.
"Kiranya kau bukan cuma ilmu silatmu lihai!"
Katanya akhirnya.
"Nyata aku pun tidak dapat melawan bibirmu yang bagaikan tombak dan lidahmu yang seperti pedang!"
Kiam Hong tentu telah menjawab si pemuda kalau itu waktu tidak terdengar suara panggilan.
"Siauw Houw Cu!"
Dan "Adik Hong!"
Giok Houw segera berpaling, maka ia melihat Ie Sin Cu datang bersama Leng In Hong.
"Kiranya kamu berdua telah mengenal satu pada lain?"
In Hong kata tertawa.
"Bukan melainkan kenal bahkan golok dan pedang kita entah berapa kali sudah saling gempur!"
Berkata si nona yangjenaka, yang gemar sekali bergurau. Ia digoda tetapi ia tidak menjadi likat.
"Begitu?"
Kata In Hong.
"Sungguh bantuan mereka,"
Ia bilang.
"Kapan tiba saatnya, kau bersama Thian Touw boleh melayani itu ayah dan anak she Kiauw. Untuk mencari tahu halnya Cit Im Kauwcu. kita mesti minta bantuannya Tie Goan. Syukur bagian selatan dari gunung di mana penyelidikan harus dilakukan tidak jauh terpisahnya dari sini."
Sampai di situ. mereka mendaki bukit. Tiba di atas. Lcng In Hong mengasi dengar siulannya yang nyaring halus, yang terdengar sampai di tempat jauh. Sin Cu tertawa.
"Baru delapan tahun kita tidak bertemu, enci, tenaga dalammu maju pesat jauh melebihkan aku!"
Ia memuji.
Tidak antara lama.
dari tempat jauh terdengar siulan serupa, yang menjadi jawaban siulan si nyonya muda.
Suara itu tidak tinggi, tetapi halus dan jelas.
Itulah tanda dari ilmu tenaga dalam yang mahir.
Itulah jawaban dari Thian Touw.
"Urusan ini membikin repot kamu suami isteri,"
Berkata Sin Cu.
"Kenapa kau menjadi sungkan terhadapku, adikku?"
Tanya In Hong.
"Ah. sungguh memusingkan kepala. Kau tahu. kalau bukan untuk aku. tidak nanti Thian Touw sudi turun gunung."
"Ya, aku justeru hendak memberitahukan kau. Thian Touw pernah datang ke tempatku, dia meninggalkan surat dengan apa dia minta kami membujuki kau pulang. Sebenarnya soal apa yang kamu pertengkarkan?"
Mukanya In Hong bersemu merah, agaknya ia malu.
"Sebenarnyaaku mengagumi kau dan toako Seng Lim,"
Katanya perlahan. Nyonya Yap Seng Lim tertawa.
"Kamu justeru pasangan yang setimpal, pasangan dewa-dewi,"
Katanya.
"Kenapa sebaliknya kau mengagumi penghidupan kita. penghidupan kaum kangouw?"
Nyonya Hok Thian Touw menghela napas.
"Adik."
Katanya.
"baru beberapa tahun kita tidak bertemu, kau lantas berlaku sungkan terhadapku..."
Sin Cu menggengam keras tangan kawan itu. ia tertawa.
"Apakah Thian Touw menghina kau?"
Ia tanya.
"Sampai sebegitu jauh, tidak,"
Menyahut In Hong.
"Habis, kenapakah kamu berselisih paham?"
"Aku justeru ingin berselisih hebat dengannya!"
Kata In Hong sengit. Sin Cu tertawa.
"Dia justeru tidak mau melayani kau! Benarkah? Di antara suami isteri. ada urusan apa juga. itu harus didamaikan, kedua pihak mesti saling mengerti. Kalau dapat, janganlah orang berselisih!"
"Hanya dia, dia sangat kurang memperhatikan lain orang! Sebenarnya dia melarang aku turun gunung! Ketika aku menerima undangan, aku pergi dengan diam-diam. Dia tidak senang atas kepergianku ini. Demikian tadi. ketika aku mengajak dia mengepung si siluman tua. dia kurang setuju."
Dari suratnya Thian Touw.
Sin Cu sudah tahu di antara Thian Touw dan In Hong terbit perselisihan paham, hanya ia tidak menyangka bahwa sampai di saat seperti ini.
Thian Touw masih tidak setuju membantu mereka.
"Kalau begitu,"
Katanya.
"scselesainya urusan ini. baiklah kau pulang. Jikalau kamu dapat menciptakan suatu partai baru. itulah bagus sekali."
In Hong menyeringai.
"Dengan begitu aku bukan lagi burung hong yang terbang di mega hanya burung hong di dalam sangkar!"
Berkata ia. berduka.
"Untuk apakah orang mempelajari ilmu pedang? Thian Touw tidak mau memikirkan atau menginsafi itu. dia seperti juga cuma ketahui, bahwa demi ilmu maka barulah orang meyakinkan ilmu silat pedang itu. Karenanya, dia seperti hendak mengasingkan diri! Aku? Tidak biasa aku dengan itu macam penghidupan! Setiap tengah malam, di waktu sangat sumi. dia melatih sendiri ilmu pedangnya. Aku sendiri, adik. aku memikirkan kau. aku memikirkan itu hari-hari ketika kita berada di antara pasukan tentera rakyat!"
"Begitu, enci? Aku berterima kasih untuk perhatianmu itu!"
Kata Sm Cu tertawa.
"Lagi pula dia sangat angkuh!"
"Begitu? Inilah aku tidak lihat."
"Memang itu tidak kentara pada wajahnya. Sekarang ini dia belum mencapai puncak latihannya, dia sudah menempatkan diri sebagai pendiri suatu partai. Dia tidak melihat mata kepada siapa juga. Sekalipun Thio Tayhiap. dia cuma mengagumi sedikit. Dia berani mengatakan Thio Tayhiap bukannya orang yang tekun mencari ilmu kepandaian, dia kata Thio Tayhiap sering perhatiannya oleh banyak urusan luaran, bahwa sikap Thio Tayhiap itu mengganggu kemajuan dirinya sendiri. Maka dia berpendapat, di akhirnya Thio Tayhiap melainkan menjadi satu tayhiap yang menggemparkan negara, tayhiap kekurangan kesempurnaan sebagai seorang yang membangun. Dia pun sering mentertawakan aku dan mengatakan, jikalau aku tetap sering ikut kamu merantau, kalau aku menjadi muridnya, aku mesti belajar silat mulai dari permulaannya lagi! Memangnya dia menganggap aku sebagai muridnya, di dalam hatinya belum pernah dia memandang aku sebagai isterinya yang sederajat dengannya."
"Memang, pendapat atau pandangan orang banyak yang tidak sama,"
Kata Sin Cu.
"hanya di antara suami isteri. pandangan bahwa diri sendiri yang tertinggi, itulah kurang tepat. Pandangannya itu perlu diichtiarkan perubahannya."
"Karena sikapnya itu. aku suka tidak mempelajari ilmu silat ajarannya,"
Berkata In Hong.
"Sayang aku bebal, jikalau tidak, aku juga ingin membangun suatu partai persilatan sendiri, untuk dapat menempur dia!"
Thio Giok Houw tidak puas mendengar Thian Touw mencela pandangan gurunya, maka itu, mendengar perkataan In Hong yang terakhir ini, ia campur bicara.
"Enci Leng, kami semua kangen padamu, dari itu, baiklah kau perlambat beberapa tahun pulangmu ke gunung!"
Katanya.
"Mari bersama suci Sin Cu kita meyakinkan ilmu pedang Hian Ki Kiamhoat hingga sempurna. Semua kitabnya Thian Touw telah kau lihat, sedang ilmu pedang Hian Ki Kiamhoat juga ada gabungan dari pelbagai ilmu silat lainnya, jikalau kita yakinkan, mungkin kita dapat menciptakan suatu ilmu pedang baru yang dapat menandingi peryakinannya Thian Touw itu! Sampai itu waktu maka kaulah yang justeru menyuruh dia menjadi muridmu!"
Sin Cu tertawa geli.
"Eh, Siauw Houw Cu, tabiatmu sungguh tabiatnya satu bocah! Apakah kau hendak mencerai beraikan mereka, suami isteri?"
Giok Houw jengah.
"Bukan maksudku begitu,"
Katanya. Mukanya pun bersemu dadu. Sepasang alisnya In Hong bangun.
"Aku paling senang dengan tabiat jujur Siauw Houw Cu ini!"
Katanya.
"Memang benar pikirannya itu. Kita dapat meyakinkan ilmu bersama, untuk menciptakan suatu ilmu silat baru. untuk di belakang hari dipakai menguji kepandaiannya Thian Touw, agar dia mengetahui, bahwa dengan hidup di dalam dunia kangouw juga orang dapat menciptakan sesuatu!"
"Sudahlah!"
Sin Cu tertawa.
"Apakah gampang untuk menciptakan suatu ilmu silat baru atau membangun partai yang lainnya lagi?"
"Tetapi, adikku,"
Membantah In Hong.
"ada pepatah yang mengujarkan. tiga orang tukang kulit yang bau dapat mengalahkan satu Cukat Liang! Kita bertiga bukannya si tukang-tukang kulit yang bau itu! Mustahil kita kalah?"
Nyonya muda ini berbicara dengan bersemangat hingga tampak gagah sekali.
"Bagus, bagus!"
Sin Cu tertawa.
"Kamu suami isteri yang lagi membawa adat, lantas kamu menyeret-nyeret kami! Ingat, jikalau Thian Touw mengetahui ini, dia dapat mengatakan kami membantu berbuat jahat!"
Kiam Hong berdiam saja sekian lama, tapi sekarang mendadak ia bersuara.
"Ah, Hok Toako datang!"
Katanya. Memang benar, segerajuga terlihat Thian Touw mendatangi bersama seorang pengemis tua. Thian Touw melihat mereka berempat. Dia tertawa.
"Kiranya Siauw Houw Cu dan Nona Liong ada di sini!"
Katanya.
"Bagaimana, apakah hadiah itu telah dapat dirampas pulang?"
"Terima kasih untuk perhatianmu, Hok Toako,"
Kata Siauw Houw Cu tawar.
"Kami justeru hendak mencari kamu berdua untuk memohon bantuan kamu,"
Menjawab Sin Cu. Tie Goan menjura dalam.
"Silahkan kau menitahkan, Ie Lihiap."
Katanya merendah.
"Aku si pengemis tua pasti akan memberikan bantuan sebisaku."
"Hanya sayang,"
Berkata Thian Touw.
"mungkin aku tidak dapat membantu apa-apa. Mengenai urusan kaum kangouw, apa pun aku tidak mengerti."
Dia bicara merendah, tapi hatinya tak gembira.
"Tie Pangcu, aku justeru hendak memohon bantuanmu."
Berkata Sin Cu.
"Enci Leng, hari ini kami membikin letih kamu suami isteri, maka itu pergilah kamu berdua beristirahat. Tentang yang barusan kita bicarakan, baik juga sekalian kau omongkan dengan HokToako."
Thian Touw merasa tidak enak. Ia tidak tahu urusan apa itu. Ia melihat roman isterinya tidak wajar.
"Baiklah,"
Katanya.
"Aku memang ingin bicara sama In Hong."
Suami isteri ini bicara sebentar, lantas keduanya masuk ke dalam rimba.
Siauw Houw Cu dan Liong Kiam Hong, seperti sudah berjanji, juga lantas mengundurkan diri bersama-sama.
Tidak lama dari dalam rimba lantas terdengar suaranya Thian Touw dan In Hong, kadang-kadang perlahan, tempo-tempo keras.
Kiam Hong mendengar itu, dia tertawa.
"Benar-benar mereka sepasang musuh!"
Katanya.
"Sebentar mereka rapat sekali, sebentar seperti es dan arang yang tidak dapat nempel bersatu! Kau dengar, mungkin mereka lagi berkelahi!"
Nona ini mengatakan demikian, karena ia mendengar jelas suara orang, yang berselisih paham, hingga kecuali salah satu mengubah sikap, mereka bisa menjadi bertempur, atau sulit untuk mendamaikannya...
Giok Houw berduka.
Ia merasa berkasihan untuk In Hong.
"Sudahlah, kita jangan mencuri dengar suami isteri itu berselisih!"
Katanya kemudian.
"Mari kita pergi ke rimba sana."
Kiam Hong memperlihatkan roman tidak puas.
"Kalau menurut kau, aku jadi lagi mencuri mendengar perselisihan orang!"
Katanya.
"Sebenarnya aku pun malas mendengarnya! Kalau mau pergi, mari kita pergi!"
Giok Houw tertawa.
"Ingat, kita jangan bercedera dulu!"
Mukanya si nona menjadi merah, hatinya panas, mau ia menghentikan tindakannya, atau tanpa merasa, ia berjalan terus, mengikuti Giok Houw pergi ke lain bagian dari rimba itu.
Ketika itu langit baru terang, angin pagi membawa haaimnya bunga, yang membuat hati mereka menjadi terbuka dan lega.
"Selama berada di gunung Thiansan, cuma di antara waktu kedua musim semi dan panas baru aku melihat bunga-bunga mekar,"
Berkata Kiam Hong.
"Di sana itu cuma teratai salju yang kedapatan selama empat musim, bunga apa juga tidak dapat melawannya. Sangat sukar untuk melihat bunga itu."
"Aku telah menanti setengah tahun, baru hari ini untuk pertama kali aku mendengar asal-usulmu,"
Berkata Giok Houw. Si nona baru menyebutkan dia asal gunung Thiansan. Nona itu tertawa.
"Tadinya kau menganggap aku orang apa?"
"Mukanya aku menyangka kau puterinya satu keluarga kaum persilatan, yang membawa-bawa budak pergi merantau."
"Apakah aku mirip dengan puterinya satu keluarga persilatan seperti kau sebutkan?"
"Hanya belakangan aku melihat kau tidak mempunyai gerak-gerik seorang nona hartawan. Lantas dugaanku berubah. Aku menyangka kau puterinya seorang raja gunung. Tetapi kau tidak sebebas puteri gunung yang kebanyakan. Kau cerdas sekali, sikapmu terus terang, aku menjadi berpikir lain. Aku sampai tidak dapat menerka-nerka kau sebenarnya orang dari golongan mana. Adalah kemudian lagi, setelah melihat ilmu pedangmu, aku menduga kepada Enci Leng. Ya. sifatmu pun hampir mirip sifat enci Leng itu."
Kiam Hong tertawa, ia menutup mulutnya.
"Segala apa kau telah gunai untuk melukiskan roman dan sifatku!"
Katanya.
"Syukur di sini tidak ada lain orang yang mendengarnya, kalau tidak, orang tentunya tertawa hingga sukar untuk menutup mulutnya! Baiklah kau ketahui, Cun Heng berempat itu bukannya budakbudakku. Sebenarnya dulu hari, ibuku pernah menjadi salah seorang tauwbak wanita, sedang ibu mereka berempat itu ialah serdadu-serdadunya enci Leng."
Memang, selama Leng In Hong masih menjadi berandal, ibunya Kiam Hong menjadi salah satu pembantunya yang dipercaya, sayang di dalam satu pertempuran, nyonya itu telah terbinasa, maka Kiam Hong dirawat In Hong.
dipandang sebagai adik, dididik dalam ilmu silat.
Kemudian lagi.
ketika In Hong menikah dengan Thian Touw.
bukan saja Kiam Hong turut terus, juga beberapa serdadu wanitanya, yang berat berpisah dengannya, hanya kawanan serdadu wanita itu tidak dapat tinggal sama-sama di atas gunung, mereka mendirikan semacam perkampungan di kaki gunung itu.
hingga mereka dapat tinggal tetap berkumpul bersama.
In Hong memilih empat anak bekas serdadunya, untuk dijadikan kawan bermain Kiam Hong.
dan merekalah Cun Heng berempat itu.
"Kalau begitu, enci Leng ialah enci-mu berbareng gurumu juga,"
Berkata Giok Houw.
"Memang. Aku diajari silat semenjak aku masih kecil, hanya karena beda usia kami tidak ada sepuluh tahun, kami berbahasa kakak dan adik. Mengenai urusan merampas bingkisan ini. Hok Toako tidak setuju, dia melarang enci Leng. Tapi dia tidak dapat melarang aku, maka itu aku pergi dengan mengajak Cun Heng beramai. terpaksa aku membikin mereka mirip budak."
"Sungguh aku tidak menyangka, baru ini pertama kali kau muncul di dalam dunia kangouw. sepak terjangmu sudah mirip dengan seorang yang telah berpengalaman!"
"Jangan kau lupa bahwa aku terlahir di jaman huruharadan hidup di dalam dunia kangouw! Aku menjadi besar di dalam pasukan suka rela!"
"Secara demikian, di antara kita banyak yang mirip satu dengan lain. Sedari masih kecil, aku telah kehilangan kasih sayang orang tuaku. Aku pun menjadi besar dalam dunia kangouw, di jaman huruhara. Perlakuan enci Sin Cu terhadap aku mirip sama perlakuan enci Leng terhadapmu."
"Tentang asal-usulmu aku telah mengetahuinya dari siang-siang dari enci Leng,"
Kiam Hong memberitahukan.
"maka juga sebelumnya aku bertemu sama kau, semenjak aku masih kecil sekali, kau sudah jadi seperti sahabatku."
"Sayang untukku, sebelumnya ini, aku tidak tahu apaapa tentang kau. Cuma ada satu hal yang sama di antara kita. Yaitu ketika pertama kali aku bertemu sama kau, aku merasa aku seperti sudah pemah melihat kau, aku merasa seperti aku pernah kenal padamu. Ya, inilah aneh! Toh ketika pertama kali kita bertemu, kaulah musuhku, tetapi aku telah memandangnya sebagai sahabat!"
"Benarkah itu?"
Tanya Kiam Hong perlahan.
"Benar."
Sahutnya, perlahan juga.
Tanpa merasa mereka saling menjabat tangan eraterat..
Selagi sepasang muda-mudi ini menikmati persahabatan mereka, Thian Touw dan In Hong lagi berselisih.
Thian Touw menganggap bahwa urusan telah selesai dan ia mengajak istcrinya pulang ke gunung.
Sebaliknya In Hong mengatakan belum, ln Hongjustru mengajak suami itu pergi mencari Cit Im Kauwcu.
untuk mendapatkan bingkisan yang dibawa pergi kauwcu itu.
"Aku mengira cukup setelah dia dikalahkan itu waktu, aku tidak menyangka bahwa dia mesti dikalahkan menurut keteranganmu ini!..."
"Membantu sahabat harus membantu sampai di akhirnya!"
In Hong memotong.
"Mana dapat kita berhenti di tengah jalan?"
"Hm!"
Suami itu bersuara di hidung.
"Jikalau kita tidak bersungguh-sungguh hati meyakinkan ilmu silat pedang kita maka seumur hidup kita ini juga, aku kuatir. kita tidak mempunyai pengharapan untuk mengalahkan orang she Kiauw itu!"
"Akan tetapi sedikitnya kita dapat juga mencegah dia terus-terusan .berlaku jahat!"
Sang isteri masih tidak mau mengalah.
"Secara begitu dapat kita mencegah sahabat-sahabat kita dicelakai dia! Bukankah tadi kita telah mencoba padanya? Asal kau tidak takut, umpama kata kita dapat mengalahkan dia, sedikitnya kita akan dapat mempertahankan diri. Berimbang kekuatan kita kedua belah pihak. Secara demikian pun kita menjadi sudah dapat membantu banyak kepada C ioe Toako beramai!"
Thian Touw mengangkat kepalanya, memandangi langit. Ia nampak hilang kegembiraannya.
"Aku menyiksa diri mempelajari ilmu pedang, harapanku ialah agar aku berhasil membangun satu partai baru."
Katanya dingin.
"kau sebaliknya menghendaki aku menjadi tukang pukulnya Kimto cecu! Adakah aku berbakat menjadi seorang tukang pukul saja?"
Meluap pula darahnya ln Hong.
"Aku tidak mengerti kau!"
Katanya.
"Kau diundang, diminta membantu, kau sebaliknya memandang dirimu dihina! Inilah aneh! Dengan membantu Ciu Toako merampas bingkisan untuk kaisar, itu artinya kita membantu tentera rakyat, supaya tentera itu berpakai hangat dan makan kenyang, supaya di utara mereka dapat menjaga serangannya bangsa Tartar dan Boanciu, dan di Laut Timur melawan gangguan perompakperompak kate! Apakah dengan menjadi tukang pukul demikian tidak berharga?"
"Aku tidak memikir untuk menjadi seorang enghiong atau hookiat,"
Kata Thian Touw.
"maka itu, urusan besar ini untuk membela negara dan menyelamatkan rakyat, jangan kau damaikan denganku."
In Hong tertawa dingin.
"Aku mengerti kau memandang enteng kepada orangorang yang disebut enghiong atau hookiat di satu jaman."
Katanya.
"Kau sebaliknya hendak menjadi guru besar dari suatu partai, supaya kau dapat dan meninggalkan nama untuk laksaan tahun. Sekarang hendak aku menanya kau, umpama kata kau berhasil berdiam di atas gunung Thiansan tanpa gangguan, akan tetapi di depan matamu kau melihat rakyat di seluruh negara ini menderita siksaan, lalu meskipun kau bisa meyakinkan ilmu pedang hingga kau menjadi kiamsian, atau dewa pedang, apakah artinya itu? Apakah artinya kepandaian dan nama besarmu jikalau kita toh menjadi rakyat taklukan?"
Thian Touw berdiam.
"Pula harus diingat, yang ada di sini ialah semua sahabat kita,"
Berkata pula In Hong.
"Guru dari enci Sin Cu, Tayhiap Thio Tan Hong, pernah membantu kau dengan memberi petunjuk berharga kepadamu, dengan petunjuknya itu dalam beberapa tahun ini kau berhasil mendapatkan kemajuan besar. Memang, biar bagaimana, semua itu telah terjadi berkat ketekunanmu. akan tetapi kendati demikian, petunjuk Thio Tayhiap tidak dapat dilenyapkan dengan begitu saja! Sekarang ini dua muridnya Thio Tayhiap ada di sini, apa mungkin kau tega hati tak sudi membantu pada mereka? Apakah kau senang membiarkan mereka dihajar mampus oleh si siluman tua she Kiauw? Kalau benar begitu, sudahlah, tidak usah aku omong banyak kepadamu, hanya hendak aku mengatakan, terang kau telah berbuat tak selayaknya terhadap Thio Tayhiap!"
In Hong mengawasi tajam akan tetapi Thian Touw menyingkir dari sepasang mata isterinya itu.
"Sudahlah, tidak usah kau bicara banyak-banyak,"
Ia bilang.
"Kau hendak membantu mereka itu. Baik! Sekarang aku tanya, apakah pada itu ada batasnya? Apakah kau ingin aku terus-terusan mengikuti mereka merantau dalam dunia kangouw? Hingga akhir-akhirnya aku tidak memperoleh apa juga?"
"Setiap orang ada cita-citanya, mana dapat aku memaksanya?"
Menjawab sang isteri.
"Demikianpun aku, aku tidak dapat memaksa kau! Hanyalah aku berpikir, di dalam halnya kita ini, sedikitnya kita harus dapat membantu mereka hingga di akhirnya! Aku artikan, kita harus membantu mereka hingga mereka berhasil merampas semua bingkisan di Utara, sesudah itu baru kita pulang ke Thiansan."
"Aku kuatir, sampai itu waktu, nanti muncul pula urusan lainnya, urusan yang bakal melibat aku!"
Mendengar itu, tiba-tiba In Hong merasakan sesuatu ketawaran, hingga ia menjadi sangat berduka, hingga air mukanya menjadi guram. Ia mengawasi suaminya.
"Oh, Thian Touw."
Katanya.
"kau kiranya menganggap aku sebagai tambang yang melibat kakimu... Kalau demikian, kau boleh legakan hati. Aku hanya meminta untuk ini satu kali saja!"
Thian Touw melengak. Ia lantas mengawasi isteri itu, tangan siapa ia cekal keras.
"In Hong, apakah artinya perkataanmu ini?"
Tanyanya.
"Tidak ada artinya,"
Sahut isteri itu.
"Aku cuma tidak ingin menjadi tambang yang melibat kakimu itu..."
"In Hong"
Kata suami itu.
"kitalah suami isteri yang pernah menderita, kita harus menjadi pasangan yang kekal abadi, bahwa aku menghendaki kau lekas-lekas pulang ke Thiansan, itu melulu karena aku memikir kebaikanmu..."
"Ya, aku mengerti, terima kasih..."
Sahut In Hong.
"Baiklah, kali ini suka aku mendengar kau!"
Kata suami itu akhirnya.
"Sebentar aku turut kau pergi kepada mereka itu. Bukankah kau senang sekarang?"
"Thian Touw. aku bukan lagi anak kecil, maka tak usahlah kau 'perlakukan aku seperti semasa kita anakanak. sebentar kau godai aku hingga aku marah, lalu sebentar lagi kau baiki aku. Kali ini kau suka membantu aku. aku sangat bersyukur terhadapmu. Tentang lainnya, baiklah di belakang hari saja kita omongkan pula perlahan-perlahan."
Di mulut Thian Touw mengatakan demikian, di hati ia merasa tidak enak.
hatinya kurang tenteram.
Ia melihat ketawarannya isteri itu.
meskipun sang isteri sangat berterima kasih padanya.
Ia menjadi seperti melihat bayangan dari suatu perpisahan...
Berbareng sama pembicaraannya ini sepasang suami isteri.
yang menghadapi saat-saat sangat tegang, di lain bagian dari rimba itu juga terjadi pembicaraan di antara sepasang muda-mudi, hanyalah mereka ini berbicara dengan asyik dan gembira.
Mereka ini bagaikan burung burung berbisik atau bunga-bunga menghembuskan baunya yang harum.
Merekalah Liong Kiam Hong dan Thio Giok Houw.
"Ilmu silat Hok Thian Touw."
Kata si anak muda.
"untuk jaman ini, kecuali guruku, tidak ada yang melebihkannya. Sebenarnya, berhubung dengan itu. aku bergirang sekali untuk enci In Hong. Sayang sekarang ternyata cita-cita mereka berlainan, pandangan mereka berbeda satu dari lain."
Kiam Hong tertawa.
"Toh ada kamu yang menunjang enci In Hong! Mana berani Thian Touw menghina dia?"
Kata nona ini.
"Itulah bukan soalnya. Kami juga bukannya menganjurkan bentroknya mereka sebagai suami isteri. Kami cuma ingin memberi sedikit rasa pada Thian Touw, supaya dia jangan terlalu berkepala besar."
Nona Liong tertawa pula.
"Ya. kita memang lagi bergurau."
Katanya.
"Siapa yang menghendaki suami isteri itu bentrok? Kau bermaksud baik. Sungguh bagus jikalau enci In Hong dapat membangun suatu cabang persilatan baru. Untuk kalangan ilmu silat, itu bagus sekali".
"Demikian juga kita,"
Berkata Giok Houw kemudian.
"kalau nanti telah selesai urusan di sini, kita berdua juga baiklah saling melatih diri. untuk mencari tahu bagianbagian apa yang dapat dipakai untuk memperoleh kemajuan terlebih jauh."
"Memang benar katamu. Hanya semoga kita jangan menjadi seperti mereka itu. Kita mesti betul-betul melatih diri, untuk mendapat kemajuan, jangan diam-diam, kita sebenarnya lagi mengadu kepandaian..."
Baru ia mengucap demikian, nona ini merasa ia telah terlepasan bicara, maka sendirinya mukanya menjadi merah.
Ketika itu Sin Cu telah mendengar cukup segala keterangan yang dia kehendaki dari Tie Goan, maka itu sambil tertawa, ia berkata dengan nyaring.
"He, kamu dua pasang bocah cilik, pembicaraan kamu telah selesai atau belum?"
Hok Thian Touw dan Leng In Hong muncul dari dalam rimba sebelah kiri, dari sebelah kanan, Thio Giok Houw keluar bersama Liong Kiam Hong.
Mereka mendengar suaranya Nona Ie, mereka menyangka lagi digodai, semua merasa likat sendirinya.
Di lain pihak, Sin Cu sudah lantas melihat wajah orang, maka ia menduga di antara In Hong dan Thian Touw telah terjadi sesuatu, ia menjadi masgul sendirinya.
Biar bagaimana In Hong tidak tampak riang gembira, sedang Thian Touw tenang saja.
Adalah Kiam Hong dan Giok Houw, yang air mukanya terang.
"Mereka sekarang berada di utara Himnie San, di Tang keepo, ialah rumahnya keluarga Tang!"
Ia lantas menambahkan.
"Tempat itu terpisah dari sini enam atau tujuh puluh li."
"Bukankah Tang keepo itu tempat kediamannya Tokse Ciu Tang Bok si Tangan Pasir Beracun?"
Giok Houw menegaskan.
"Benar! jawab Sin Cu.
"Cit Im Kauwcu ialah ahli racun, mungkin Tang Bok ingin belajar daripadanya, maka ia menyambut kauwcu itu dengan baik. Hanya aku mau percaya, tidak nanti Tang Bok berani menentang kita. Dari itu. berhubung dengan kepergian kita ini ke sana. lebih dulu kita harus memberi muka kepadanya."
"Jikalau begitu, tidak dapat kita berayal lagi,"
Bilang In Hong.
"Enci, silahkan kau memberikan titah-titahmu."
Sin Cu manggut.
"Hok Toako, terima kasih untuk bantuan kau ini,"
Ia berkata kepada Thian Touw.
"Syukur untuk kita, saudara-saudara dari Kaypang pandai sekali mencari segala sesuatu, maka mengenai Tang keepo. Tie Hiocu telah menutur segala apa jelas sekali kepada kita. Seperti aku bilang barusan, pertama kita pergi dengan memakai aturan, jikalau terpaksa baru kita menggunakan kekerasan. Lagi satu hal hendak aku jelaskan, jikalau si siluman tua she Kiauw tidak muncul, aku mengharap Hok Toako tidak usah turut turun tangan."
Mendengar perkataannya Sin Cu ini, lega hatinya Thian Touw. la menganggap bantuannya diminta agar supaya ia menjadi "tukang pukul."
Maka kalau ia bakal dihadapkan kepada Kiauw Pak Beng satu orang, kedudukannya sebagai tukang pukul itu setimpal juga, tidaklah ia terhina.
Karena ini, tidak berpikir banyak lagi.
Sementara itu Im Siu Lan.
yang telah mendapatkan pelana, bersama-sama ibunya sudah lantas pulang ke Tang keepo Selama di perjalanan, nona itu berpikir keras.
Di satu pihak dia penasaran terhadap Thio Giok Houw, yang tidak sudi menyinta kepadanya, di pihak lain dia berkuatir terhadap keluarga Kiauw.
Dia takut Kiauw Siauw Siauw nanti memaksa ingin menikah padanya.
Setibanya di rumah, Cit Im Kauwcu menyambuti pelana dari tangan gadisnya.
"Pelana ini berat sekali, dalamnya tentu ada barang bingkisannya!"
Katanya.
"Apakah perlunya kita merampas bingkisan?"
Sang anak tanya "Kita hendak membangun Cit Im Kauw. maka bingkisan ini perlu sekali untuk segala biayanya,"
Menyahut Cit Im Kauw Cu.
"Kemudian kita dapat membangun sebuah kuil yang besar di dalam mana kita bisa menerima semua anak-anak perempuan yang yatim piatu dan bersengsara."
Memang aneh sifatnya kauwcu ini, yang sangat mengandalkan kepada racunnya, maka juga, walaupun dia muncul belum lama. dia lantas terkenal sebagai kaum agama sesat.
"Aku kuatir dengan mendapatkan ini. kemudian kita bakal tidak dapat merasakan ketenteraman,"
Berkata Siu Lan, yang seperti memperoleh firasat jelek.
"Ya, kau benarjuga!"
Kata sang ibu, yang mendadak ingat sesuatu.
"Kuda yang kita binasakan itu kuda asal Ferghana, mungkin itulah kudanya keluarga Kiauw. Thio Giok Houw tidak usah dibuat kuatir, tidak demikian dengan keluarga itu. sedang baru-baru ini Le Kong Thian telah datang sebagai orang perantara mengajukan lamaran. Memang bisa jadi nanti terbit keruwetan..."
Siu Lan telah memikir untuk membujuki ibunya membayar pulang pelana itu kepada Giok Houw akan tetapi dia "membenci"
Pemuda itu, dia menjadi bersangsi, tetapi sekarang, mendengar perkataannya si ibu, dia singkirkan pikirannya itu. Nyata ibunya jeri kepada keluarga Kiauw. Cit Im Kauwcu mengawasi anaknya.
"Siu Lan,"
Katanya, perlahan.
"kau baiklah menerima baik lamarannya keluarga Kiauw itu. Mereka, ayah dan anak, kosen sekali, sedang perjodohan itu, aku lihat tidak dapat dicela. Sekarang ini kau sudah berusia delapan belas tahun, dengan menikah siang-siang, tentu dirimu telah ada ketentuannya."
Muka si nona menjadi merah.
"Ibu, terang kau jeri kepada siluman she Kiauw yang tua itu, kau tidak menyayang dan menjual, anak perempuanmu,"
Katanya.
"Kenapa kau menyatakan perjodohan itu tidak ada kecelaannya? Bocah she Kiauw itu justeru penggemar si rambut licin dan pipi berpupur, sedang di rumahnya, dia telah mempunyai dua gundik. Laki-laki semacam dia itu benarkah mahluk baik-baik?"
"Soal gundik, itulah gampang. Mereka dapat disuruh pergi."
Siu Lan mendadak menjadi gusar.
"Orang semacam dia, dapatkah diharap dia nanti tidak mengambil pula yang baru?"
Katanya sengit.
"Urusan gundik ada urusan kecil, tak usah itu dikuatirkan, tetapi yang penting ialah, ayah dan anak berdua itu biasa berbuat sewenang-wenang, mereka dasarnya bukan manusia baik-baik! Tidak, ibu. tidak dapat aku menikah sama keluarga itu!"
"Mereka biasa berbuat sewenang-wenang, bukankah itu tidak ada sangkut pautnya dengan kita?"
Tanya si ibu.
"Memang mereka bukannya bangsa kuncu akan tetapi kita sendiri, orang menyebut kita kaum sesat..."
"Jadi menurut ibu, kita kedua pihak setimpal betul?"
Kata Siu Lan tertawa dingin. Ia melampiaskan kemendongkolannya dengan mengejek.
"Sedikitnya ilmu silat mereka itu tak ada tandingannya di kolong langit ini,"
Berkata sang ibu, mengegos.
"Ilmu silat tinggi saja apa artinya?"
Tanya si anak.
"Bukankah dulu hari itu ilmu silat guru ibu tidak jelek? Habis kenapa ibu sering-sering mengutuk dan mencacinya?"
Terperanjat hati Cit Im Kauwcu mendengar suara puterinya ini.
Dialah muridnya Ci Hee Tojin.
Ketika usia mudanya, hampir dia diganggu kehormatan dirinya oleh sang guru.
Karena itu.
dia menyingkir dari rumah gurunya itu.
Kejadian itu membuatnya sakit hati dan mendongkol hingga sepuluh tahun lamanya, karenanya, sering dia mengutuk dan mencaci gurunya itu.
Di luar sangkaannya, anaknya ini telah mendapat dengar kutukan dan cacian itu.
Dan di luar dugaannya, sekarang anak ini berani menyebutnya itu di hadapannya.
Maka menceloslah hatinya, hingga parasnya menjadi pucat pasi.
"Baik. baik!"
Kalanya nyaring, tetapi suaranya menggetar.
"mulai sekarang ini hingga selanjutnya, aku tak akan tahu menahu lagi urusan pernikahanmu!"
Mendadak Siu Lan menjerit menangis, ia menubruk ke rangkulan ibunya.
"Ibu, aku salah omong..."
Katanya sambil menangis.
"Dasar kita yang malang, kita selalu menjadi penghinaan pihak laki-laki!..."
Ibu itu menjadi sabar pula. ia mengusap-usap rambut anaknya.
"Aku tahu di dalam hatimu sudah ada seorang lain."
Katanya, perlahan.
"Aku pun menginsafi, keluarga Kiauw bukan saja mendesak bahkan memaksa kita. Hanya sayang, sayang sekali, orang lain ada muridnya kaum lurus bersih dan kita. kita tidak mencapai tingkat dia..."
Ibu itu menghendaki anaknya melupai Thio Giok Houw. Mendengar perkataannya sang ibu. Siu Lan menjadi malu dan "
Menyesal, ia berduka sekali, hingga air matanya lantas mengucur pula dengan deras. Dia menolak tangan ibunya dan berkata dengan keras.
"Memang aku tidak setimpal terhadap siapa juga! Untuk seumurku, aku tidak akan menikah!"
"Anak Lan. jangan kau berduka demikian"
Cit Im Kauwcu membujuk.
"Orang yang menjadi ibu. tidak ada yang tidak memikirkan kebaikan anaknya. Hanya mengenai kita ini. kedudukan ibumu benar-benar sukar. Apakah kau tidak dapat mengerti ibumu? Baiklah, hari ini kita menunda urusan perjodohanmu. Sekarang kau bantulah memikirkan, tindakan apa kita harus ambil untuk menentang keluarga Kiauw itu?"
Pikirannya Siu Lan kusut sekali, tak tahu ia mesti memikirkan apa. Ia menangis. Lagi sekali ia nelusup di dada ibunya.
"Ibu!"
Katanya. Tengah ibu dan anak ini tidak berdaya, seorang bujang datang dengan wartanya bahwa "Si Tuan Le telah datang pula memohon bertemu!"
Cit Im Kauwcu melengak.
"Anak Lan. pergi kau ke kamarmu,"
Ia kata perlahan.
"Kau boleh beristirahat. Kau bawa pelana ini dan simpan."
Siu Lan menurut, ia berlalu bersama pelana rampasannya itu. Belum lama dari berlalunya nona ini. Kong Thian muncul dengan senjata bonekanya di tangannya, sembari tertawa lebar dia berkata.
"Kauwcu, aku datang untuk menyampaikan kabar girang!"
Cit Im Kauwcu menyambut dengan terpaksa.
"Kabar girang apakah itu?"
Tanyanya, sedang hatinya tidak tenteram.
"Aku datang untuk mengantar panjar!"
Kata Kong Thian. tetap n> aring.
"Tentang itu baiklah, baiklah dibicarakan... perlahanperlahan..."
Kata nyonya rumah, yang hatinya sangat kusut, hingga dia menjadi bingung sekali.
"Tentang barang antar panjar itu hendak aku menjelaskan,"
Kata Kong Thian, yang tidak mengambil mumat keberatan orang.
"Itulah barang yang di kolong langit ini tidak ada tandingannya! Bahkan seorang chiakiong nionio, permaisuri raja, tidak akan menerima pesalin demikian macam!"
"Tetapi kami tidak mengharapi yang terlalu istimewa,"
Kata Cit Im Kauwcu.
"Laginya, tunggulah sampai selesainya pembicaraan, baru itu diantarkan, itu waktu masih belum terlambat..."
Akan tetapi Le Kong Thian. si comblang istimewa, tertawa pula lebar-lebar.
"Pesalin itu sudah Kauwcu terima!"
Katanya nyaring.
"Kita adalah orang baik-baik. tidak dapat kita main gila! Apakah Kauwcu hendak membatalkan perjodohan ini?"
Mendengar itu, Cit Im Kauwcu terkejut.
"Apakah itu?"
Diaa tanya. Tapi segera ia mendusin. Hendak ia bicara, atau Le Kong Thian sudah mendahului.
"Tadi malam majikan kami yang muda kehilangan sekor kuda tunggang."
Demikian katanya si manusia raksasa "Tentang kuda yang hilang itu, sekarang telah didapat keterangannya, ialah Kauwcu yang mendapatkannya."
"Maafkan aku. kuda itu telah terbinasakan."
Kata nyonya rumah.
"Mulanya aku tidak tahu kuda itu kepunyaan siapa..."
"Kuda itu tidak berarti apa-apa"
Kata Kong Thian.
"Adalah pelananya yang penting! Pelana itu memuat bingkisan dari propinsi-propinsi Utara!"
"Mengenai ini, ingin aku memberi penjelasan,"
Berkata Cit lm Kauwcu.
"Datangnya kami ke Utara ini memang dengan niat kami membantui kamu. untuk membantu melindungi bingkisan, maka itu kebetulan sekali, tanpa disengaja, aku mendapatkan bingkisan itu. Tentu sekali tidak berani aku mengangkangi itu. Maka lain hari saja aku sendiri yang akan mengantarkan pulang."
Kauwcu ini berlaku terus terang.
Ia pun mengharap, dengan memulangi pelana itu, ialah bingkisan tersebut, ia bakal tidak nanti dipaksa menikahkan puterinya kepada keluarga Kiauw.
Sebenarnya, berat ia akan menyerahkan harta besar itu...
Le Kong Thian menggoyangi tangan.
"Majikanku telah mengubah pikirannya,"
Kata ia.
"Dia bilang, daripada dipersembahkan kepada kaisar, lebih baik dihaturkan kepada besannya. Maka itu, kauwcu, begitu kau terima pesalin ini, lantas kau menjadi hartawan besar yang nomor satu di kolong langit ini! Hal yang demikian baik, ke mana lagi hendak dicari? Hanya aku si orang perantaraan, aku ingin omong juga terus terang. Ialah begitu kau menerima ini, kau harus mengirim balasannya. Aturan pergi dan pulang, bukankah?"
Demikian rupa si raksasa ini bicara, hingga sebagai comblang, ia seperti merasa pembicaraan telah matang dan pasti, sebagai juga ia tidak memberikan ketika lagi akan Cit Im Kauwcu menolak.
Kauwcu dari Cit Im Kauw itu menjadi mendongkol berbareng jeri.
Dalam sejenak itu saja, pelbagai pikiran telah menyandingi ia.
semua itu berubah pergi datang disebabkan ragu-ragunya.
lantaran sulit untuknya segera mengambil keputusan.
Ia telah pikir.
"Jikalau aku terima pesalin ini, itu berarti aku bersanak sama seorang besan jagoan, untuk pihakku, inilah tidak ada jeleknya."
Tapi ia pun memikir.
"Hanyalah dengan begini, apa aku bukan seperti telah menjual anak darahku? Pula si Lan tidak sudi nikah anaknya itu!"
Oleh karena ia harus memberikan jawabannya, di dalam kesangsianaja itu. kauwijoe ini lantas berkata.
"Tuan Le. aku mengucap terima kasih kepadamu sebagai orang perantaraan, hanya sayang kami. si janda sebatangkara dan si anak piatu, kami dari keluarga kecil, kami tidak dapat menyiapkan pesalin. Habis, bagaimana Tuan Le hendak menyuruh aku mengaturnya?"
Le Kong Thian tertawa lebar.
"Majikanku dapat mengantar panjar dengan bingkisan dari lima propinsi Utara, mustahil karenanya dia masih mengharap mendapatkan pesalin luar biasa dari pihak kau?"
Ia berkata.
"Untuk kauwijoe, pesalinmu adalah yang wajar, yang telah siap sedia! Silahkan kauwcu membuat salinan dari Pektok Pitpoen dan lantas mengirimkan itu, semua lantas sudah beres!"
"Pektok Pitpoen"
Itu ialah kitab dari pelbagai macam racun, kitab pusaka Cit Im Kauw, maka mendengar katakata orang itu, Cit Im Kauwcu kata di dalam hatinya.
"Kiranya si siluman tua she Kiauw ini mengilar dan mengarah kitab pusakaku itu! Aku tadinya menyangka dia benar-benar bermaksud baik berbesan denganku..."
Le Kong Thian mengawasi orang, yang berdiam sekian lama itu.
"Majikanku lagi menantikan jawaban, bagaimana pikiran kauwcu?"
Ia mendesak.
"Sukalah Tuan Le mengasi ketika untuk aku berbicara dulu dengan anakku,"
Berkata kauwcu itu dengan jawabannya.
"Dapatkah kau menantikan?"
"Majikanku bakal lekas datang ke mari."
Kata Kong Thian.
"maka itu tidak berani kami membuatnya kauwcu menggeser kaki kemala dari kauwcu Kita harus berlaku terus terang, jikalau kauwcu menghendaki berbicara sendiri sama majikanku itu, nanti aku pergi mengundangnya!"
Kembali inilah desakan dari si raksasa. Cit Im Kauwcu terperanjat. Ia menjadi bergelisah.
"Tunggu dulu!..."
Katanya bingung. Le Kong Thian berlaku tenang, dia tertawa gembira.
"Kamu berdua besan, lambat laun kamu bakal bertemu juga!"
Katanya pula.
Baca Juga: Golok Bulan Sabit 5
Baca Juga: Raja Naga Tujuh Bintang 5