Eps 1 Hantu Wanita Berambut Putih - Liang Ie Shen
Baca online Hantu Wanita Berambut Putih - Liang Ie Shen
Cersil Hantu Wanita Berambut Putih - Liang Ie Shen.
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com/ Hantu Wanita Berambut Putih (Pek Hoat Mo Lie) Karya .
Liang Ie Shen Saduran .
OKT Selang setengah bulan maka Giok Lo Sat dan Tiat Hoei Liong sudah laratkan kuda mereka di tanah datar wilayah kota Sengtouw, Soetjoan.
Mereka sama-sama mengenakan pakaian serba hitam, sedang bulu kuda mereka merah, secara demikian di mata orang banyak, mereka sangat menyolok mata sekali, hingga mereka menjadi perhatian umum.
Pernah Hoei Liong menasihati anak angkatnya itu untuk dandan sebagai satu pemuda, si nona tertawa dan berkata.
"Aku hendak angkat derajatnya kaum wanita, mengapa aku mesti salin rupa menjadi lelaki?"
Mendengar jawaban itu, Hoei Liong hanya tertawa.
Kedua orang ini bernyali besar, maka itu mereka tak jeri walaupun mereka menjadi perhatian orang banyak.
Mereka tidak takut terhadap hamba-hamba negeri, sebagaimana tentunya tak sembarang hamba negeri berani mengganggu mereka.
Pada suatu hari sampailah ayah dan anak angkat itu di kecamatan Pengkoan, suatu tempat yang terpisah dengan kota Sengtouw kira-kira seratus lie lebih.
Sedangnya mereka berjalan terus, tiba-tiba si nona bertanya pada ayahnya.
"Ayah, bagaimana penglihatanmu selama dua hari ini? Dapatkah ayah melihat bahwa di tengah jalan muncul hambahamba negeri?"
Hoei Liong menjawab anak pungut itu dengan caranya sendiri. Ia kata.
"Jikalau orang tidak mengganggu kita, jangan kita ganggu orang. Kita mempunyai urusan kita sendiri, peduli apa kita dengan mereka itu?"
"Tapi inilah tidak demikian,"
Sang puteri bilang.
"Aku lihat mereka mirip dengan orang-orang polisi rahasia yang tengah ditugaskan mencari orang jahat."
"Bukankah kau telah mencuci tangan dan tak ingin lagi melakukan pekerjaan orang Rimba Hijau,"
Tanya ayahnya.
"Polisi mencari orang jahat, bukankah itu hal yang paling umum? Kenapa kita mesti pusingkan hati untuk urusan mereka itu? Mungkinkah kembali tanganmu gatal dan kau hendak mencari orang untuk diajak bertempur?"
Si Raksasi Kumala tertawa.
"Ayah benar!"
Sahutnya dengan gembira, dengan polos.
"Untuk bertempur juga kau harus mencari lawan yang seimbang,"
Berkata lagi Tiat Hoei Liong.
"Segala orang-orang polisi bantong! Apakah artinya mereka? Membinasakan mereka pun tidak ada artinya!"
Tetapi bukan niat sebenarnya dari Giok Lo Sat untuk usilan, buat tempur orang-orang polisi yang ia tidak kenal itu, yang tidak ada sangkut pautnya dengan dia.
Ia bicara hanya dengan disengaja, untuk mencari bahan pembicaraan.
Sebab ia tampak, setelah meninggalnya Tiat San Ho, ayah itu jadi sangat tidak gembira, maka untuk melenyapkan kedukaan ayah itu, untuk dapat menghibur, atau mengalihkan perhatiannya, ia cari jalan untuk mengadakan pembicaraan.
Begitulah ia ke mukakan hal sersi-sersi yang sedang mencari orang jahat.
Habis bicara.
mereka melanjutkan perjalanan mereka.
Waktu magrib, tibalah mereka di kecamatan Bankoan di mana mereka segera mencari hotel untuk singgah.
Baru mereka masuk ke dalam rumah penginapan itu, atau si anak angkat tiba-tiba berkata.
"Ayah, aku dapat lihat tanda rahasia yang ditinggalkan oleh hamba negeri itu!"
"Tanda rahasia apakah itu?"
Tanya Hoei Liong.
"Rupanya orang yang mereka sedang kejar untuk ditawan itu seorang yang penting,"
Sahut anak-angkatnya.
"Di tembok luar dari rumah penginapan ini ada terlukis gambar seekor kupu-kupu belang. Itulah tanda dari Ram Thian Lip, sersi kenamaan dari Sengtouw. Dia biasa menggunakan senjata rahasia yang beracun, Tokyo Ouwtiap piauw namanya-piauw Kupukupu Beracun. Siapa terkena piauw itu dan terluka. sukar untuk dapat ditolong lagi jiwanya. Maka itu dia telah menjadi satru besarnya kaum Rimba Hijau. Semasa kediamanku di Benggoat kiap, pernah ada satu sahabat kaum Hektoo yang mohon bantuanku untuk menyingkirkan dia. Permohonan itu terpaksa aku tampik, sebabnya ialah, pertama letak Sengtouw terpisah terlalu jauh dari Benggoat kiap, kedua tentara negeri sedang mengancam, aku kuatir, begitu aku pergi, pesanggrahanku nanti diserbu. Kam Thian Lip itu juga punya satu saudara angkat, Tjiauw Hoa namanya, yang kuat dan liehay ilmu silatnya bagian luar. Dia ini juga menjadi polisi di Sengtouw. Tanda rahasia polisi itu adalah tanda rahasia dari Kam Thian Lip untuk Tjiauw Hoa, dengan itu Tjiauw Hoa dititahkan lekas pergi ke bukit Hoeiho nia untuk mencegat orang jahat. Umpama orang jahat itu bukannya orang penting, tidak usah mereka berdua bekerja sama."
"Tapi buat kita, tak peduli penjahat itu orang penting atau bukan,"
Hoei Liong kata kemudian.
"Untuk kita paling baik adalah jangan usilan, jangan berbuat yang tidak-tidak. Tempat ini juga dekat dengan kota Sengtouw, apabila kita lancang bertindak, pasti kita membuat mereka terkejut, hingga mereka bisa menjadi musuh kita. Pasti sekali tak usah kita takut tetapi satu hal sudah pasti, perjalanan kita jadi terhalang."
Si Raksasi Kumala mainkan bibirnya, dia tertawa.
"Aku lihat. ayah. makin lama kau jadi makin penakut?"
Katanya.
"Siapa bilang aku penakut?"
Seru Hoei Liong, agaknya dia gusar.
"Tunggu saja nanti, sesampainya kita di kota raja. nanti kau saksikan!"
Giok Lo Sat tertawa.
Tidak ia layani ayah itu.
Ia memikir untuk dahar nasi.
Di saat ia hendak panggil jongos, untuk minta barang hidangan disiapkan, tiba-tiba ia dengar ketokan pada pintu, dua kali, lalu daun pintu ditolak dari luar, kelihatan masuk pemilik hotel, siapa menutup pintu di belakangnya.
"Nona, apakah nona yang dipanggil Lian Liehiap?"
Dia lantas menanya, suaranya perlahan sekali. Si nona mengawasi dengan tajam.
"Dari mana kau ketahui namaku?"
Dia balik menanya sebelumnya ia berikan jawaban. Tuan rumah itu tidak kaget atau takut, sebaliknya, ia tertawa.
"Inilah tidak aneh, nona."
Sahutnya.
"Aku biasa menyambut banyak tetamu, tamu-tamu kaum saudagar dan juga kalangan Hektoo. Baiklah aku bicara terus terang. Umpamanya Tjoe Tjeetjoe, dia pernah bermalam di sini dan dialah yang telah menyebutkan nama liehiap..."
"Siapakah Tjoe Tjeetjoe itu?"
Tanya Giok Lo Sat. (Tjeetjoe = ketua pesanggrahan; kepala berandal).
"Itulah tjeetjoe yang dijuluki Hweeleng wan si Kera Api."
"Oh. Hweeleng wan Tjoe Poo Tjiang!"
Kata si nona.
"Apakah dia berkedudukan di dekat sini?"
"Benar, nona."
Dengan perlahan-lahan tuan rumah itu rogoh sakunya lalu ia keluarkan sepucuk surat, untuk diserahkan pada tetamunya.
"Adakah surat ini dari dia untuk aku?"
Si nona tanya. Sekarang ia ingat betul, Hweeleng wan itu dahulu adalah salah satu berandal dari perbatasan Soetjoan dan pernah mengambil bagian dalam usaha perampasan pelananya Ong Tjiauw Hie.
"Bukan, nona, ini adalah dari satu tetamu lainnya. Mulanya dia menyebutkan nama Tjoe Tjeetjoe, dia berniat mengirimkan surat ini kepada tjeetjoe itu, belakangan dia ubah pikiran, ditinggalkannya surat ini padaku untuk diserahkan kepada nona."
Si Raksasi Kumala heran.
"Tetapi siapakah itu?"
Dia tanya.
"Kenapa dia pun ketahui aku ada di sini?"
Tuan rumah itu tertawa pula.
"Dalam kedua propinsi Soetjoan dan Siamsay ini. dalam kalangan Hektoo, siapakah yang tidak kenal pada liehiap?"
Kata dia.
"Belum lagi nona sampai di sini, anginnya sudah tiba terlebih dahulu! Di tempat kecil begini, adalah rumahku ini yang dianggap lumayan, dan tetamu itu menduga, jikalau nona datang kemari, pasti sekali nona akan ambil tempat di sini. Kecuali jikalau nona tidak jadi datang..."
Giok Lo Sat tersenyum mendengar ocehan orang itu.
"Baiklah,"
Katanya.
"Ingin aku ketahui, dia siapa!"
Dan ia terima surat yang diangsurkan si pemilik hotel itu, lalu dirobek sampulnya, untuk membeber suratnya.
Segera ia tampak lukisan dari sebelah tangan, tangan yang berlumuran darah segar, tapi tulisan tidak ada dalam surat ini.
"Ha, kiranya dia!"
Kata si nona.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi padanya? Kau bicaralah!"
"Dia tidak bilang suatu apa, aku juga tidak berani menanyakan,"
Sahut tuan rumah.
"Dia baru selesai melukis atau di luar segera terdengar suaranya kelenengan kuda, dengan segera dia serahkan ini kepadaku, dia sendiri kabur dengan mengambil jalan tembok belakang..."
"Oh, begitu? Pantas, satu hurufpun tak ada dalam suratnya. Kemudian, orang polisi yang datang itu, bukankah dia Ouwtiap piauw Kam Thian Lip?"
Tuan rumah itu heran.
"Benar dia, nona! Dari mana nona ketahui dia?"
Ia tanya.
"Dia itu datang bersama satu hamba negara lainnya."
"Dia telah meninggalkan tanda rahasia di tembok luarmu!"
Kata si nona. Tuan rumah itu kaget sekali, sampai berjingkrak.
"Apa?"
Tanyanya, takut.
"Apakah dia tahu yang aku ini mempunyai hubungan dengan sahabat-sahabat kalangan Jalan Hitam?"
"Bukan,"
Si nona menghibur.
"Dia hanya meninggalkan tanda kepada kawannya, yang dia anjurkan untuk menyusul tetamu itu."
Tuan rumah itu berdiam, walaupun hatinya lega.
"Eh, ya, apakah kau tahu di mana, letaknya Hoeiho nia?"
Tanya nona kita kemudian. Pemilik hotel itu manggut.
"Jauhnya dari sini cuma sepuluh lie lebih,"
Dia berikan keterangannya.
"Letaknya ialah di jalan kecil ke Soetjoan Barat."
"Baiklah,"
Kata si nona akhirnya.
"Sekarang kau lekas sediakan beberapa rupa masakan untuk orang tuaku ini, seperti ayam, bebek dan daging."
Dan ia menyebutkan namanamanya, sesudah mana ia berpaling pada ayahnya.
"bukankah semua itu kedoyanan ayah?"
Lalu ia tambahkan.
"Lain dari itu, jangan lupa sediakan satu poci arak!"
Tuan rumah itu, menyahut sambil manggut-manggut.
Di samping itu, ia heran menyaksikan si nona berlaku sangat hormat kepada orang tua itu, yang berulang kali dipanggil "ayah".
Si Raksasi Kumala tersenyum melihat gerak-geriknya pemilik hotel itu.
"Semua sahabat kangouw memanggil aku Giok Lo Sat,"
Katanya kemudian pada tuan rumah itu, sambil tertawa.
"karenanya, kau pun baik panggil saja aku Giok Lo Sat, tidak usah kau memanggil nona atau liehiap. Adalah terhadap ayahku ini baru kau boleh memanggil loodjinkee." (Loodjinkee = tuan (tua) yang dihormati) Tiat Hoei Liong tertawa.
"Tetapi aku merasa aku belum cukup tua! "katanya sambil tertawa. Tuan rumah itu turut tertawa.
"Ya, benar apa yang djiewie bilang,"
Katanya.
"Tetapi sudah biasa bagiku untuk memanggil loodjinkee kepada setiap tetamuku, aku tak dapat merubahnya..."
Habis itu ia lantas undurkan diri, untuk menyiapkan hidangan untuk kedua tetamu itu.
"Namamu benar-benar besar!"
Hoei Liong kata sambil tertawa pada anak pungutnya seberlalunya tuan rumah.
"Untuk beberapa puluh tahun aku mendapat nama di Barat utara, akan tetapi sesampainya aku di Soetjoan ini, orang cuma menyebutkannya aku si tua bangka!"
Giok Lo Sat tertawa.
"Tidak demikian duduknya hal, ayah,"
Anak ini bilang.
"Ayah adalah satu jago tua, mereka dari kalangan muda, mana mereka tahu tentang ayah..."
"Ya, siapakah itu yang meninggalkan surat untukmu?"
Hoei Liong kemudian tanya. Ia kembali kepada surat dari pemillik hotel itu, surat aneh, sebab tulisannya hanya lukisan sebelah tangan berlumuran darah.
"Dia adalah Lo Tiat Pie,"
Sahut sang anak.
"Dulu dia bersanggrah di gunung Bietjhong san di tapal batas Soetjoan Siamsay. Dia ada bersama Tjoe Poo Tjiang ketika aku takluki padanya. Belakangan tentara negeri bekerja keras, pelbagai rombongan di Siamsay telah berpencaran, sejak itu tak tahu aku di mana dia bernaung, maka tidak kusangka, sekarang dia muncul di sini. Namanya tersohor juga dan ilmu silatnya tidak ada celaannya akan tetapi dia bukannya satu berandal luar biasa, maka aku tak mengerti, kenapa polisi Sengtouw hendak menawannya. Ayah, dia mempunyai hubungan rapat denganku, bukan sedikit sudah hadiahnya kepadaku, maka harus aku tolongi dia. Pepatah mengatakan, siapa terima budi, dia harus membalasnya. Demikian juga dalam urusan ini, apapula dia telah menyampaikan kabar ancaman bencananya itu, tak dapat aku berpeluk tangan saja!"
Orang tua itu tertawa.
"Nyata benar kau gatal bertempur!"
Katanya.
"Karena dia termasuk orangmu, aku tidak hendak menghalangi maksudmu. Malah aku suka berangkat bersama kau."
"Untuk melayani beberapa sersi. buat apa ayah turut turun tangan?"
Berkata, si anak angkat.
"Baik ayah duduk saja di sini, dahar dan minum, aku'akan pergi sekarang, sebelum fajar, aku akan sudah .kembali!"
Benar-benar Giok Lo Sat rapikan pakaiannya, terus ia keluar dari hotel.
Tanpa sangsi lagi, ia lari dengan gunakan ilmu enteng tubuhnya.
Dengan jalan ini, tidak sampai setengah jam, sampailah ia di Hoeiho nia.
bukit Rase Terbang.
Itulah satu bukit kecil.
Ia baru mendaki atau ia segera dengar suara senjata beradu, tanda dari pertempuran yang tengah berlangsung.
"Tepat betul kedatanganku ini,"
Pikir si nona.
"Mereka sedang asyik bertempur. Baiklah aku tengok dulu sampai di mana sudah kemajuan ilmu silatnya Lo Tiat Pie..."
Maka ia lari terus.
Malam itu, rembulan memancarkan cahayanya yang gilang gemilang, hingga segala apa tampak nyata.
Giok Lo Sat tiba di atas, ia lihat tidak ada orang di atas bukit, sebaliknya, apabila ia memandang ke arah bawah di lain tempat dari bukit itu, di sana ia lihat empat orang sedang bertempur.
satu lawan tiga.
Dan yang satu itu benarlah Lo Tiat Pie, si Lengan Besi.
Pihak pengepung terdiri dari Kam Thian Lip dan Tjiauw Hoa, yang segera dapat dikenali oleh si nona.
Pengepung yang ketiga, ia kurang kenal, tapi ia lantas dapat kenali.
Waktu si nona datang mendekati, tanpa ada orang melihat padanya, ia ingat pengepung itu adalah Tjio Ho, itu pahlawan Kimiewie yang semasa di Siamsay Selatan pernah ia kejar-kejar hingga dia kabur tidak keruan arahnya.
"Kabarnya Tjio Ho sudah naik pangkat menjadi Hoetjong kauwtauw dari Seetjiang, kenapa sekarang dia berada di sini?"
Si Raksasi Kumala berpikir.
Sementara itu sekarang si nona dapat melihat tegas, Lo Tiat Pie tidak berada sendirian, tapi pada bebokongnya tergendong satu bocah, karena itu, dia nampaknya tak dapat berkelahi dengan leluasa, hingga lekas sekali dia berada dalam ancaman malapetaka.
Menyaksikan demikian, Giok Lo Sat tidak mau berlaku ayal lagi.
sambil menghunus pedangnya, ia perdengarkan seruan yang istimewa, ialah tertawa yang panjang.
Dan sambil bersuara sedemikian rupa, ia lompat, untuk lari turun bukit, guna menghampiri medan pertempuran.
"Celaka!"
Teriak Tjio Ho.
"Giok Lo Sat datang!"
Pahlawan Kimiewie ini menjadi sangat kaget, karena ia kenal baik suara tertawanya yang panjang. Karena itu, ia segera desak Lo Tiat Pie, yang ia serang dengan tipu silatnya "Tohay hoankang", atau.
"Menterbalikkan lautan, menjungkalkan sungai". Dengan itu ia kerjakan kedua tangannya yang liehay. Untuk membela diri, Lo Tiat Pie pentangkan kedua tangannya, sebab tak bisa ia menangkis dengan satu tangan saja. Justeru begitu, Kam Thian Lip dari samping membacok dengan goloknya. Masih Lo Tiat Pie perlihatkan kesehatannya untuk berkelit, akan tetapi ujung golok terlebih sebat pula, maka dengan menerbitkan satu suara perlahan, lengannya kena ditancap golok hingga darahnya muncrat. Berbareng dengan itu, bocah digendongannya juga menjerit dengan keras. Hal ini membuat si Lengan Besi menjadi kalap, hingga dengan menggerakkan kedua tangannya, ia terjang si pahlawan itu. Tjio Ho liehay, dia melayani sambil tertawa, sampai kepada saat yang baik, ia ulur tangannya yang kiri guna menyambar bocah di bebokongnya lawan itu. Lo Tiat Pie berteriak bahna gusarnya, sambit perdengarkan suara gunturnya itu, tangan kanannya menyerang dibarengi sapuan kaki kirinya. Ia jadi bagaikan kalap. Justeru itu Tjiauw Hoa datang meringankan ancaman bagi kawannya itu. Dia menangkis dengan tangan kiri, tangkisan itu dibarengi dengan gaetan, dan tangan kanannya menjotos. Inilah serangan Hengta kimtjiong atau Sambil Miring Memukul Lonceng Emas, suatu jurus dari Hokhouw hoen, koentauw Menakluki Harimau. Sasarannya adalah pundak di bagian yang kosong. Dengan serangan ini, ia kandung maksud jahat. Ia percaya, diserang secara demikian olehnya, Lo Tiat Pie tentu akan berkelit, maka selagi orang berkelit, Kam Thian Lip membarengi membabat ke bawah. Akan tetapi, dia telah menduga keliru. Dalam nekatnya, Lo Tiat Pie tidak takut pada jotosan berbahaya itu, dia malah menyambutnya, hingga keduanya jadi saling serang, kedua-duanya jadi menerima hajaran yang dahsyat. Kalau Tiat Pie remuk pundaknya, Tjiauw Hoa gempur dadanya, maka keduanya roboh sambil sama-sama menjerit hebat.
"Aduh!"
Adalah di saat itu. baru Giok Lo Sat sampai di medan pertempuran.
"Tolongi dulu itu bocah!"
Teriak Lo Tiat Pie, yang melihat si nona, yang ia segera kenali, walaupun ia tengah roboh.
Tjio Ho sendiri berlaku cerdik, begitu ia dapatkan si bocah, ia lompat mundur dari kalangan, sejarak belasan tumbak jauhnya, untuk kabur.
"Ke mana kau hendak lari?"
Bentak si Raksasi Kumala.
Nona ini telah menyaksikan perampasan bocah itu dan mendengar jelas teriakannya Lo Tiat Pie, maka dengan satu jejakan kedua kakinya, ia mencelat ke arah si pahlawan istana, untuk mengejarnya, sedang si pahlawan sendiri tidak tinggal diam saja.
Luar biasa cepatnya gerakan si nona, segera ia datang dekat pahlawan itu.
Dengan kelicinannya, Tjio Ho putar tubuhnya dengan majukan badan si bocah, maksudnya adalah dengan tubuh bocah itu ia tangkis tikaman pedang si nona.
"Manusia tak tahu malu!"
Bentak Giok Lo Sat, yang jemu atas kelicikan orang itu.
Ia cuma mengancam dengan pedangnya, berbareng dengan itu tangan kirinya juga diulur.
Tjio Ho kaget bukan kepalang, karena tahu-tahu ia rasakan lengannya kesemutan, lalu menjadi baal.
Si Raksasi Kumala memperlihatkan kesehatannya, keliehayannya.
Sebab berbareng dengan totokannya kepada bahu lawan, ia pun sambar tubuh si bocah dari cekalannya pahlawan istana itu.
Di bawah sinar rembulan, muka bocah itu tampak nyata.
Sebuah muka yang bundar bagaikan rembulan purnama.
"Bibi. terima kasih!"
Demikian suara bocah itu, yang tadi menangis dan menjerit keras.
Giok Lo Sat tercengang.
Ia heran, di saat demikian itu, bocah ini sudah dapat mengembalikan ketabahannya, pada wajahnya tidak nampak lagi roman takut seperti tadi dia baru disambar si pahlawan istana.
Tjio Ho benar-benar licik, la tidak niat untuk menuntut balas.
Sebaliknya, ia putar tubuhnya untuk angkat kaki.
Rupanya ia sangat jeri terhadap nona itu, si wanita hantu.
Giok Lo Sat tercengang sebentar karena nyali yang besar dari si bocah, habis itu ia tertawa.
"Anak yang baik, kau lihat!"
Katanya.
"Akan aku tolongi kau membekuk manusia jahat itu, untuk kau dapat menggaplok dia barang dua kali! Supaya kau bisa melampiaskan sakit hatimu!..."
Berbareng dengan suara si nona, di sana terdengar jeritannya Lo Tiat Pie.
"Aku inginkan entjek Lo!"
Seru si bocah.
"Biarlah si jahat itu, kita hajar dia di belakang hari saja! Bibi, kau tolongi entjek Lo!"
Itulah saatnya Lo Tiat Pie berlaku nekat terhadap Tjiauw Hoa.
Giok Lo Sat menoleh, ia lihat Kam Thian Lip mendukung Tjiauw Hoa, yang dibawa lari turun gunung, untuk menyingkir di antara ladang gandum yang lebat.
Di pihak lain Lo Tiat Pie, dengan sebelah lengannya tergantung, berdiri dengan sempoyongan, hampir dia roboh, mukanya pucat sekali.
Maka dengan segera nona itu lompat kepada sahabatnya, dan ia tampak bahu kiri orang hampir putung putus bekas bacokan golok, bahu itu pun sudah memperlihatkan warna hitam serta bengkak.
Terang luka itu tak akan dapat diobati lagi.
"Aku terkena ouwtiap piauwnya yang liehay,"
Kata Lo Tiat Pie sambil tertawa meringis.
"sudah itu, aku kena terbacok juga. Inilah untungku, karena dengan begitu, racunnya piauw tidak dapat mengalir terus ke seluruh tubuhku."
Kepala kampak ini memperlihatkan kekuatan tubuh dan hatinya Giok Lo Sat lantas keluarkan obat luka bekalannya.
"Tak ada gunanya obat itu!"
Kata Lo Tiat Pie, kemudian ia ayunkan tangan kanannya, guna menghunus pisau belatinya, lalu ia tabas putus bahunya yang bergelantungan itu, hingga terdengar suara bacokan dari sisa tulang lengannya Karena ini, darah kembali mengalir pula.
Si bocah, yang menyaksikan itu, membuka lebar matanya terus dia menangis.
Giok Lo Sat turunkan bocah itu, ia robek ujung bajunya untuk membalut lukanya Tiat Pie, setelah' luka itu digosok dengan obatnya.
"Laki-laki sejati,"
Katanya sambil tertawa.
"Tidak kecewa kau menjadi sahabatku!"
Lo Tiat Pie menutup rapat mulutnya, ia rupanya menahan sakitnya.
"Aku malu sampai loodjinkee yang merawati aku..."
Katanya kemudian dengan perlahan.
"Ah, sampai waktu begini kau masih hendak pakai aturan!"
Kata si nona.
"Kau tahu, aku sudah cuci tangan, aku tidak bekerja pula dalam dunia Rimba Hijau! Kita sekarang adalah sahabat-sahabat dalam artian sahabat yang sebenarnya!"
"Ah!..."
Bersuara Lo Tiat Pie, romannya pun menyatakan keheranannya. Dahinya telah mengucurkan keringat, rupanya ia masih tetap menahan sakit.
"Anak Tjong, jangan kau menangis,"
Katanya kemudian kepada si bocah, suaranya lemah.
"Jangan kau menangis, entjekmu tidak bakalan mati..." (Entjek = paman.) Lantas ia tersenyum. Giok Lo Sat pun tersenyum melihat ketangguhan orang itu. Menampak orang tersenyum, bocah itu tidak menangis lebih jauh. Lo Tiat Pie menunjuk kepada si nona gagah itu, lalu ia berkata pada bocah itu.
"Nona ini adalah nona gagah dari jaman ini, nona paling gagah. Anak, kau beruntung sekali bertemu dengan nona ini. Kenapa kau tidak unjuk hormatmu serta menghaturkan terima kasih?"
"Anak ini cerdik, dia telah menghaturkan terima kasihnya!"
Kata si Raksasi Kumala sambil tertawa.
Mendengar perkataannya Lo Tiat Pie, bocah itu menghadap pada nona kita untuk memberi hormatnya, buat mengucapkan terima kasihnya.
Giok Lo Sat senang melihat kelakuannya bocah ini.
"Anak siapakah ini?"
Dia tanya Lo Tiat Pie sambil tertawa.
"Berapakah usianya, dan siapakah namanya? Apakah sebabnya dia turut kau menyingkirkan diri?"
Belum sampai Lo Tiat Pie memberi jawaban atau si bocah sudah mendahului.
"Namaku Yo In Tjong,"
Jawabnya.
"Sampai tanggal enam belas yang akan datang, usiaku jangkap lima tahun Ayahku ialah Yo Lian."
Giok Lo Sat agaknya heran, tetapi ia tertawa pula.
"Oh. puteranya Yo Lian!"
Katanya.
"Aku tahu ayahnya tak punya hati sebesar hati dia..."
"Siapa bilang tidak?"
In Tjong tanya.
"Di rumah ayahku sering berkata hendak membunuh dorna! Ya, dorna yang besar, dorna yang besar! Paman Lo memberitahukan padaku, dorna itu hidup akur sekali dengan kaisar. Ayahku tidak takut pada dorna, dia juga tidak takut kaisar! Apa itu masih dibilang tidak punya nyali?"
Si Raksasi Kumala tertawa.
"Baiklah, anggap saja aku yang keliru!"
Katanya.
"Ya, ayahmu bernyali besar!"
Inilah untuk pertama kalinya Giok Lo Sat mengaku salah. Tapi si bocah tak mengetahuinya, masih dia tertawa, dengan puasnya...
"Pada tiga tahun yang lalu,"
Kata Tiat Pie dengan perlahan.
"tak dapat aku menaruh kaki di Siamsay, lantas aku bubarkan orang-orangku, seterusnya aku hidup merantau, sampai belakangan ada orang mengangkat aku menjadi cinteng di rumah Yo Taydjin. Aku terima pekerjaan itu."
Wajahnya Giok Lo Sat tiba-tiba guram.
"Yo Taydjin kau itu jadinya Yo Lian?"
Dia tanya.
"Jikalau bukannya Yo Lian, tidak nanti aku terima pekerjaan itu!"
"Yo Lian ada satu pembesar bersih, tidak dapat aku persalahkan kau,"
Kata si nona.
"Kau omong terus..."
Yo In Tjong tertawa mendengar orang mengatakan ayahnya satu pembesar baik.
"Yo Taydjin perlakukan aku baik sekali, maka aku suka bernaung di bawahnya,"
Tiat Pie akui.
"Di sana aku sembunyikan she dan nama sampai tiga tahun. Tahun ini. dalam bulan Tjhiagwee, pada suatu malam, Yo Taydjin memanggil aku ke dalam kamarnya. Taydjin mengatakan bahwa ia hendak mendakwa Goei Tiong Hian. Dia kata, jikalau dakwaannya tidak berhasil, ada kemungkinan harta bendanya disita dan dirinya sendiri akan dihukum serta seluruh keluarganya, maka itu Taydjin menghendaki aku bawa pergi puteranya berlalu dari kota raja. Taydjin mau tunggu sampai sepuluh hari setelah keberangkatanku bersama puteranya itu, baru dia ajukan dakwaannya itu. Sekarang ini Tjio Ho bersama Kam Thian Lip dan Tjiauw Hoa, telah datang menyusul kami, untuk ditangkap, rupanya Yo Taydjin sudah mengajukan dakwaannya dan dia gagal..."
Pahlawan ini sedih sampai mengucurkan air mata. Ia pun telan sebutir pil untuk melawan rasa sakitnya. Karenanya, ia merasa sedikit ringan.
"Sekarang ke mana kau hendak bawa anak ini?"
Giok Lo Sat tanya kemudian.
"Aku memikir untuk mencarikan dia satu guru silat,"
Sahut Lo Tiat Pie.
"Jikalau ayahnya sampai dicelakai dorna..."
"Akan aku balaskan sakit hatinya!"
Potong In Tjong. Mau atau tidak, Lo Tiat Pie tertawa.
"Lian Liehiap, kau inginkan murid atau tidak?"
Dia tanya si nona kosen.
"Aku suka kepada anak ini,"
Jawab si nona.
"Cuma sekarang belum dapat aku mengambil murid..."ia berhenti sebentar, untuk berpikir. Lalu ia tambahkan.
"Siapa yang tidak mempunyai kepandaian menaklukkan naga dan menundukkan harimau, yang semangatnya besar, orang tak dapat menjadikan bocah ini muridnya! Aku ingat satu orang, hanya sayang dia tinggal di tempat yang jauh sekali. Dia tinggal di atas gunung Thiansan! Apakah kau tidak jeri untuk melakukan perjalanan yang sedemikian jauh?"
Lo Tiat Pie pentangkan kedua matanya.
"Siapakah orangnya yang nona ini demikian hargakan?"
Demikian ia berpikir. Ia lantas menduga-duga. Segera ia berikan jawabannya.
"Mati pun aku tidak takut, kenapa aku mesti jeri untuk perjalanan yang sejauh itu? Tolong beritahukan aku, liehiap, siapakah lootjianpwee itu?"
Giok Lo Sat tertawa.
"Dia adalah satu pemuda gagah, usianya tak seberapa jauh dengan aku!"
Sahutnya.
"Sekarang ini mungkin dia sudah menjadi satu pendeta... Ah, mustahil kau belum pernah mendengar namanya Gak Beng Kie?"
"Aku ingat sekarang,"
Sahut Tiat Pie.
"Pernah aku dengar Yo Taydjin berkata, Him Kengliak itu adalah sahabat paling kekal dari Taydjin, dan Him Kengliak itu mempunyai orang sebawahannya yang diandalkan, namanya Gak Beng Kie. Bukankah liehiap maksudkan Gak Beng Kie dia itu?"
"Kau benar,"
Jawab Giok Lo Sat.
"Aku hendak jelaskan pada kau, jangan kau anggap Gak Beng Kie orang sebawahan yang biasa saja dari Him Kengliak itu. Mungkin ilmu pedangnya dapat dibilang tidak ada keduanya di kolong langit ini, sampai sebegitu jauh, belum pernah ada orang yang melebihkannya! Sekarang pergilah kau pondong bocah ini, kau bawa padanya, lalu kau katakan padanya, aku, Giok Lo Sat yang menyuruh dia menerimanya sebagai muridnya!"
Lo Tiat Pie pandang nona gagah itu.
"Baik!"
Sahutnya.
"Meski tanganku hanya sebelah, masih dapat aku pondong dia mendaki gunung Thiansan!"
"Apakah, kau dapat pergi sekarang?"
Si Raksasi Kumala tanya.
"Dapat!"
Jawab Tiat Pie dengan gagah. Giok Lo Sat ambil sebatang dahan, yang dirautnya untuk dijadikan tongkat.
"Kau pakai ini,"
Katanya.
"Tjio Ho semua telah melihat aku membantu kau, maka sebelum mereka peroleh bantuan orang liehay, tidak nanti mereka berani datang pula mengganggu kamu..."
Lo Tiat Pie tertawa.
"Mereka itu melihat liehiap seperti tikustikus melihat kucing,"
Katanya.
"maka aku sebaliknya percaya sekarang mereka sudah ngiprit lari pulang ke Sengtouw!"
Si Raksasi Kumala manggut.
"Tjoe Poo Tjiang menancap kaki di dalam daerah ini, kau tentu ketahui, bukan?"
Dia kata pula.
"Kau jalan perlahan-lahan saja, setelah fajar kau pasti dapat temui dia. Kau boleh ajak dia untuk sama-sama pergi ke Konggoan untuk menemui Lie Giam. Bilang pada Lie Giam, bahwa akulah yang menghendaki kau mengantar bocah ini ke Thiansan. Wilayah Barat utara adalah wilayahnya Lie Giam, pasti dia punyakan jalan untuk mengantar dan melindungi kau keluar dari Giokboenkwan."
Lo Tiat Pie haturkan terima kasihnya, terus ia paksakan dirinya untuk bangkit.
Dengan bantuan tongkatnya, ia jalan timpang, setindak demi setindak.
Yo In Tjong berjalan di belakangnya pahlawan itu, sering kali ia berpaling, mengawasi Giok Lo Sat sambil melambailambaikan tangannya, hingga si nona hampir-hampir tak dapat menahan hatinya, ia ingin menyambar bocah itu untuk dipondong, supaya dia sendiri yang mengantarkannya pada Tjoe Poo Tjiang.
"Jikalau satu bocah tidak dilatih b*rat, tidak hebat pengalamannya, sukar dia berhasil menjadi manusia yang berharga,"
Pikir dia kemudian.
"Biarlah dia pergi sendiri!"
Karena ini, dia batal hendak menolongnya.
Dia awasi sampai kedua orang itu sudah pergi jauh, baru dia kembali ke hotelnya.
Sementara itu Tiat Hoei Liong, habis bersantap malam, siasia saja ia menanti kembalinya anak pungutnya.
Ia berkuatir, tetapi dalam hatinya, ia berkata.
"Beberapa opas itu mana bisa jadi tandingannya Nie Siang? Buat apa aku kuatirkan dia?..."
Tetapi baru ia mau masuk tidur, atau di luar terdengar suara berisik dan berbareng dengan itu tuan rumah datang menolak pintu, masuk menemui dia.
"Hweelengwan Tjoe Tjeetjoe dan kawan-kawannya telah datang kemari!"
Kata tuan rumah ini perlahan.
"Barusan mereka datang minum teh sambil bercerita, rupanya mereka datang atas perjanjian, tapi sekarang mereka bertengkar, maka itu, dapatkah loodjinkee mendamaikan mereka..."
Walaupun rumah penginapan ini biasa menerima tetamutetamu dari pelbagai golongan, tak membedakan mereka dari Jalan Putih atau Jalan Hitam, tetapi tak sudi si pemilik apabila orang berbuat rusuh di hotelnya.
Maka itu perlu ia cari orang untuk meredakannya.
Tiat Hoei Liong telah terima kebaikan orang, dia malu hati untuk menampik.
"Mari,"
Katanya, lalu ia berbangkit untuk bertindak keluar bersama-sama pemilik itu, terus sampai di ruang luar, tempat tetamu-tetamu itu minum teh.
Di sana, pada sebuah meja, kelihatan Tjie Poo Tjiang duduk di meja kepala, dua tetamu lainnya mendampingi ia di kiri dan kanannya.
Ketiga orang itu sedang berebut omong.
Tetamu yang di kirinya, satu anak muda, berkata dengan nyaring.
"Aku dari Keluarga Tong dari Bankoan tidak pernah minta piauw orang! Kau tidak mengundang minum, kau juga tidak mau minum arak dendaan! Bagaimana itu?"
Tjoe Poo Tjiang menggeprak meja.
"Bagus, bagus!"
Serunya.
"Kau hendak gertak aku dengan namanya Keluarga Tong?! Tidak, tidak hendak aku kembalikan! Tidak kepada Raja Langit juga!"
"Kiranya pemuda itu dari Keluarga Tong,"
Pikir Hoei Liong.
"Tidak dapat aku tidak campur urusan mereka ini..."
Si anak muda juga geprak meja, hingga terdengar suara sangat nyaring. Lalu ia bangkit berdiri.
"Oleh karena Tjoe Tjeetjoe tidak sudi memberi muka,"
Kata dia.
"maka aku yang tak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi, ingin aku meminta pengajaran dari kau beberapa jurus saja! Inilah untuk membantu dengan kedua tanganku kepada sahabat! Tjoe Tjeetjoe, umpama kau bacok aku tiga kali dan tikam aku enam kali, walaupun terbinasa, tidak aku penasaran!..."
Tjoe Poo Tjiang seorang berdarah panas, sambil membuka baju luarnya, ia berbangkit.
"Bagus!"
Serunya.
"Kau hendak adu senjata atau tangan kosong? Atau adu senjata rahasia? Kamu Keluarga Tong, untuk senjata rahasia namamu kesohor di kolong langit, baik kita adu senjata rahasia saja! Di luar sana lega, silahkan kita pergi keluar! Barangku sendiri sudah kubawa, maka kau, pergi kau menyediakannya!"
Demikian ketegangan bertambah naik sampai di puncaknya.
Tiat Hoei Liong menghampiri sambil tertawa, tindakannya lebar, meski suara tertawanya tidak nyaring, toh orang-orang yang mendengarnya terkejut, hati mereka seperti goncang, kuping mereka seperti tuli.
Maka Tjoe Poo Tjiang semua menjadi terkejut.
"Kau ada sahabat dari kalangan mana?"
Tanya Poo Tjiang dan si orang she Tong itu.
"Silakan kau perkenalkan diri!"
Kedua pihak menyangka orang tua ini hendak membantu pihak lainnya... Hoei Liong bertindak sampai di depan meja, ia tarik sebuah kursi, dengan sikap tak sopan, ia duduk di atasnya.
"Tuan ini tentulah Tjoe Tjeetjoe!"
Katanya "Beruntung aku dengan pertemuan ini! Dan kau, saudara, kau adalah saudara Kee Pek! Kau seorang muda dan gagah, aku si orang tua hampir tidak mengenalinya.--Dan ini sahabat?"
Ia menunjuk orang yang ketiga.
"Maaf, mataku yang tua sudah lamur. Maka aku mohon diberitahu she dan nama besar saudara!"
Mendengar itu, kedua pihak terkejut.
Tjoe Poo Tjiang sudah lama terkenal, tidak heran apabila ada orang yang kenali dia.
Tidak demikian dengan pihak lawannya she Tong itu, yang dipanggil "saudara Kee Pek"
Oleh orang tua ini. Panggilan itu menyatakan kedua pihak kenal satu pada lain. Maka Poo Tjiang harus berlaku hati-hati. Ia berpikir.
"Kedua pihak sudah berjanji tidak akan minta bantuan luar, tapi dia kedatangan pembantunya, maka sebentar akan aku tindih dia! Keluarga Tong sudah terkenal sekali!..."
Pihak Tong pun sama terkejutnya Keluarga Tong tinggal di Bankoan, namanya kesohor karena senjata rahasianya, mereka telah menjagoi di kalangan Rimba Persilatan, tetapi Tong Kee Pek ini, dalam umurnya dua puluh tahun, kali ini adalah yang pertama kali bekerja menuruti titah ayahnya, maka dia heran, si orang tua tidak terkenal segera dapat menyebutkan namanya.
Sahabatnya Tong Kee Pek itu berbangkit, dia rangkapkan tangannya.
"Aku yang rendah she Touw dan namaku Beng Tiong,"
Ia menjawab.
"Loosiangseng, ada pengajaran apakah untukku?"
Mirip sebagai seorang yang luas pengalamannya, orang she Touw ini bisa berlaku sabar dan hormat.
"Permusuhan itu harus dihapus tetapi tidak mesti diperhebat,"
Berkata Hoei Liong, ia tidak menjawab anak muda itu.
"Aku si orang tua berlaku lancang, ingin minta secangkir teh dari kamu kedua pihak..."
Ia lantas angkat tehkoan teh, untuk menuang isinya.
"Tunggu dulu!"
Mencegah Poo Tjiang dan Kee Pek Dalam kalangan kangouw ada aturan umum, kalau dalam perselisihan orang minum teh dari kedua pihak, itu tandanya kedua pihak suka berdamai dan akur.
Sekarang keduanya tidak memikir untuk berdamai, dan mereka juga tidak kenal orang tua ini, cara bagaimana mereka bisa biarkan orang datang keringkan teh perdamaian?
"Apakah untuk secangkir teh ini kedua pihak sudi memberikan muka?"
Dia tanya.
Sementara itu, air teh sudah dituang.
Di rumah penginapan itu, cangkir teh dibuat dari kayu oeyyang, yang dilubangi, besarnya seperti mangkok, kayunya kuat, tapi sekarang Hoei Liong menuangkan air teh panas, begitu air teh masuk.
"Tak!"
Pecahlah cangkir itu.
"Ah!"
Kata si orang tua, yang menuang pula air teh ke cangkir yang kedua.
Tapi pun cangkir ini pecah seperti yang pertama.
Demikian juga cangkir yang ketiga, tapi si orang tua menuang pula karena penasaran.
Hingga air teh itu berlimpah di atas meja.
Tjoe Poo Tjiang dan Tong Kee Pek kaget bukan main.
Cangkir kayu itu pecah tak sembarangan.
Cangkir itu kuat, sukar untuk memecahkannya dengan tangan kosong, tetapi sekarang, orang membuatnya pecah dengan air teh-air teh yang dikerahkan berbareng dengan tenaga dalam.
Itulah kepandaian yang belum pernah mereka saksikan.
Maka mereka menjadi tercengang.
"Bagus!"
Tertawa pula Hoei Liong.
"Kami tidak hendak minum teh, teh ini sendiri pun gagal! Eh, tuan rumah, kenapa cangkirmu ini mudah pecah? Lekas kamu bersihkan meja ini!"
Tuan hotel girang berbareng kaget.
"Ya, ya,"
Sahutnya dengan hormat, sambil membungkukbungkuk. Ia terus gunakan sabuknya untuk menyusut kering air teh itu.
"Bagus!"
Hoei Liong berkata pula.
"Tolong kau tukar cangkirnya! Aku masih hendak mohon tuan-tuan ini beri muka kepadaku..."
Hampir berbareng, Tjoe Po Tjiang dan Tong Kee Pek berkata pada orang tua itu.
"Looenghiong, sukalah kau dengar perkataanku!"
Hoei Liong awasi kedua orang itu, lalu ia menunjuk kepada Kee Pek.
"Kaulah yang bicara dulu!"
Katanya. Mukanya pemuda she Tong itu menjadi merah.
"Saudara Touw ini ada sahabat keluargaku."
Ia memulai dengan pembicaraannya.
"Dia membawa dua rupa barang, yang telah dirampas Tjoe Tjeetjoe ini. Berhubung dengan kejadian itu, ayahku mengirim aku untuk mohon Tjoe Tjeetjoe suka berbuat baik dengan mengembalikan barang-barang itu."
Tiat Hoei Liong manggut-manggut.
"Kehormatan kaum kangouw adalah mustika yang tak terbilang harganya,"
Berkata dia.
"Dua mustika itu, benda apakah? --Tjoe Tjeetjoe, coba kau bicara. Bukankah kau merasa berat untuk mengembalikan mustika itu?"
Sekarang adalah mukanya Poo Tjiang yang menjadi merah.
"Saudara Touw ini ada tetamu hamba dari Soenboe Tan Kie Djie dari Siamsay,"
Sahutnya.
"dan barang yang dia bawa itu, satu ada sebatang hosioeouw yang sudah berumur seribu tahun, yang satu lagi ialah sepotong kulit rase putih. Semua barang itu hendak dibawa ke kota raja, untuk dihadiahkan kepada Goei Tiong Hian. Kedua mustika ini, daripada dihadiahkan kepada Goei Tiong Hian, terlebih baik diserahkan padaku. Looenghiong, umpama kata kau menginginkan kedua barang itu, boleh saja. Aku bukannya menginginkan mustika itu, aku hanya tak sudi memberi kesenangan kepada si dorna kebiri!"
Mengkerut jidatnya jago tua itu. Ia berpaling pada Tong Kee Pek.
"Adakah kau ketahui terlebih dulu, kepada siapa barangnya saudara Touw itu hendak diantarnya?"
Dia tanya.
"Terlebih dahulu dia telah membilangnya pada ayahku,"
Sahut Kee Pek.
Kembali jago tua ini kerutkan jidatnya.
Dengan Tong Tjeng Tjoan, ayahnya Kee Pek ini, ia bersahabat kekal, malah pada sepuluh tahun yang lampau, untuk tiga bulan lamanya, pernah ia tinggal di rumah orang she Tong itu, karenanya ia tahu perangai si jago she Tong itu.
"Tidak mungkin Tong Lootoa berlaku tolol begini,"
Katanya dalam hati.
"Kalau benar hal ini pernah diberitahukannya kepada dia, dan dia pun sampai kirim puteranya untuk bantu membelai, dalam hal ini mesti ada terselip suatu urusan lain... Baiklah aku menanyakannya dahulu dengan jelas, baru aku ambil putusan."
Touw Beng Tiong bangun berdiri, kedua tangannya menindih meja. ia hendak bicara. Tapi, baru saja ia mengucapkan.
"Looenghiong, aku mohon sukalah kau dengar aku..."
Mendadak dari luar terdengar satu suara tertawa yang aneh, menyusul mana daun pintu terpentang dan dua orang bertindak masuk.
Yang paling aneh ialah kedua orang ini dandanannya atau romannya, sama satu dengan lain.
Rambut mereka kusut, tubuh mereka jangkung dan kurus, muka seperti tidak ada darahnya, pucat sekali, hingga mereka.
tiga bagian mirip manusia, tujuh bagian mirip hantu!
Mereka mirip dengan mayat yang baru keluar dari liang kubur...
Tjoe Poo Tjiang kaget sekali, sampai ia mencelat bangun.
"Sin Lootoa! Sin Loodjie! Mau apa kamu datang kemari?"
Dia tanya.
"Hai, kiranya mereka ada saudara-saudara Sin!"
Kata Hoei Liong dalam hatinya.
"Sudah lama aku dengar mereka punyakan ilmu silat yang luar biasa, yang kelakuannya pun aneh dan berandalan, tidak disangka-sangka malam ini dapat aku bertemu dengan mereka..."
Dua saudara Sin itu ada Tay Goan dan it Goan, di Siamsay Utara mereka ada jago-jago Rimba Hijau yang kenamaan.
Dan sudah biasa bagi mereka untuk tidak tunduk terhadap siapa juga.
Pada tiga tahun yang lalu, tidak lama sehabisnya kebinasaannya Ong Kee In di medan perang, pernah mereka diundang Kho Eng Siang, yang mengundangnya atas nama Lie Tjoe Seng, untuk berhimpun di Bietjie.
di mana diundang pula semua ketiga puluh enam kepala rombongan, tetapi mereka ini sudah tidak sudi datang hadir, hanya mereka merantau ke Soetjoan di mana mereka jadi cocok betul sama Thio Hian Tiong, hingga mereka mau dianugrahi pangkat pangeran Itdjie Pengkin Ong.
Tidak heran jikalau Tjoe Poo Tjiang jeri terhadap kedua saudara Sin ini.
Baik kedudukannya.
maupun namanya, ia kalah jauh dari dua saudara itu.
Ia pun tahu orang ini berandalan dan telengas.
Atas pertanyaannya itu, Sin It Goan perlihatkan wajah iblis, dia tertawa dingin.
"Kami dengar kau telah mendapatkan dua rupa mustika!"
Katanya, jumawa sekali.
"Lekas kau keluarkan itu! Pat Tayong inginkan mustika itu!"
Pat Tayong adalah gelarnya Thio Hian Tiong.
Thio Hian Tiong ini beda dari Lie Tjoe Seng.
Dia sangat kemaruk akan emas dan perak dan mutiara, berapa banyak juga uang.
dia menghendakinya.
Dia juga gemar sekali membunuh orang.
Maka dia adalah satu Koensie Mo Ong, Raja Iblis Tukang Mengacau Dunia.
Wajahnya Tjoe Poo Tjiang menjadi pucat.
Dia tidak ingin serahkan mustika itu.
Jikalau dia tidak serahkan, dia akan dipaksa.
Bagaimana?
"Jikalau kau tidak sudi menyerahkannya, nanti aku yang ambil sendiri!"
Sin Tay Goan berseru selagi orang bersangsi.
Entah bagaimana gerakannya manusia aneh ini, berbareng dengan ucapannya itu, ia sudah mencelat kepada Tjoe Poo Tjiang, tangannya sudah menyambar bungkusan di pinggangnya orang she Tjoe itu, ketika Tjoe Poo Tjiang sadar, tangannya yang lain sudah menjambret ke arah dadanya.
Dalam kagetnya, Poo Tjiang menjatuhkan diri dengan melenggak ke belakang, terus dia berguling.
Syukur dia dapat berkelit dengan sebat sekali, dengan begitu loloslah dia dari ancaman bencana hebat itu.
Tong Kee Pek dan Touw Beng Tiong kaget, meski begitu dengan berbareng mereka lompat, melewati meja, keduanya mengulurkan tangannya masing-masing untuk dipakai merampas bungkusan dari tangannya Sin Tay Goan.
"Inilah hebat..."
Pikir Hoei Liong, yang terkejut untuk kesembronoannya kedua orang itu. Menyusul mana kedua orang itu, Tong Kee Pek dan Touw Beng Tiong menjerit keras.
"Aduh!"
Dan tubuh mereka roboh terguling, ke kaki tembok.
Sebab tangannya Sin Tay Goan sudah bergerak bagaikan kilat, Beng Tiong kena dilukai, Kee Pek kena ditotok jalan darahnya kiekoet hiat.
Habis itu, Sin Tay Goan tertawa berkakakan, terus saja dengan menenteng buntalan rampasannya itu, ia memutar tubuh, untuk berjalan pergi.
"Hai, tunggu dulu!"
Berseru Hoei Liong. Dan dengan satu gerakan saja. tubuhnya sudah mencelat ke depan orang itu.
"Tua bangka, kau berani merintangi aku?"
Sin Tay Goan berteriak, matanya bersinar, sedang sebelah tangannya pun segera melayang, menyambar batok kepalanya jago tua itu!
Tiat Hoei Liong kelitkan kepalanya.
Tidak peduli Tay Goan bergerak sangat gesit, sambarannya itu tidak mengenai sasarannya, maka terperanjatlah dia.
Dan sedangnya dia terperanjat, segera dia dengar satu seruan keras sekali, seruan yang dibarengi serangannya si jago tua.
Sin Tay Goan merasakan angin menyambar ke arah pinggangnya, lekas-lekas ia menangkis, untuk menjauhkan serangan itu, akan tetapi, tak peduli tenaganya besar, dia terdorong juga, hingga terpelanting.
Tentu saja dia menjadi sangat kaget.
Sin It Goan, yang kaget juga, lekas-lekas gerakan kedua tangannya, untuk melindungi kakaknya itu.
Tiat Hoei Liong berseru pula, dan tangannya berbalik untuk menyambar pundak lawan yang kedua.
Tapi, belum sampai kedua tangan bentrok, Sin Tay Goan sudah maju dengan terjangannya.
Menampak demikian, Hoei Liong membuat perubahan.
Dengan tangan kanan ia layani sang adik, dengan tangan kiri, ia memapaki serangan sang kakak.
Maka ketiga orang itu segeralah bertempur.
Hoei Liong dapat membuat Tay Goan terpelanting, tidak urung ia merasakan sakit pada pundaknya.
"Dua saudara ini bukan bernama kosong belaka,"
Katanya dalam hati.
"tidak heran mereka jadi sangat berkepala batu!..."
Dua saudara Sin itu pentang kedua mata mereka masingmasing, dengan mata terbeliak mereka awasi si tua itu dengan bengis.
Dengan lantas mereka mendak, niatnya maju menyerang.
Mereka bersuara dengan berbareng, suaranya seram.
Tiat Hoei Liong gerakan tangan kirinya disusul dengan tendangan kaki kanan, dengan begitu dia pecahkan serangannya dua saudara itu, yang mengancamnya dengan hebat.
Tay Goan jadi sangat mendongkol, dengan sebelah tangannya ia menyampok, membabat seperti dengan pedang.
It Goan susul kakaknya itu dengan serangan sendiri.
Tiat Hoei Liong gunakan kedua tangannya untuk menangkis, hingga kembali terdengar bentrokan keras sekali.
Dua saudara Sin ini bertenaga kuat tetapi tidak berani mereka adu tenaga.
Mereka dapatkan lawan ini tangguh sekali.
Dengan berbareng mereka lompat melewati meja.
Tapi Hoei Liong keluarkan sebelah kakinya dengan apa ia dupak meja hingga meja itu mental tinggi sampai di langit-langit wuwungan.
Kemudian terdengarlah satu suara nyaring dan berisik, sebab wuwungan itu gempur dan meja pun pecah rusak, pecahan genteng jatuh ke dalam, pecahan meja nyeplos ke genteng!
Tjoe Poo Tjiang kaget, dia lompat berkelit ke ujung tembok.
Dua saudara Sin itu sangat gesit, mereka dapat lolos akibat dari tendangan kepada meja itu.
Sesudah itu, dengan menyiapkan kedua tangan mereka, mereka maju pula.
Mereka tidak jeri, sebaliknya, mereka mendongkol dan penasaran.
Kali ini pertempuran bertambah dahsyat.
Kakak dan adik itu mencoba mengepung dari kiri dan kanan, untuk menggencet, hebat serangan-serangan mereka.
Setiap pukulan berbunyi seperti tulang-tulang dan urat mereka retak.
Hoei Liong tahu orang mempunyai ilmu silat Gwakee, bagian luar, sudah mahir sekali, karenanya, tidak mau dia berlaku sembrono.
Dia harus ambil kedudukan Ngoheng dan Patkwa, dia bersikap halus dan keras dengan saling ganti, serangan dan penjagaan dirinya beraturan.
Setelah bertempur sekian lama, Sin It Goan menggunakan tipu rfflva.
"Kau hendak pedayakan aku? Mana bisa!"
Pikir si jago tua, yang lihat siasat orang. Terus ia gunakan akal untuk lawan akal. Dari kedudukan "Kin"
Dia menyerang dengan sebelah tangannya, lalu dengan sama cepatnya, ia lompat kekedudukan "Lie".
Di sini ia lihat lowongan, tangan kirinya membacok bahunya It Goan.
Orang she Sin yang mudaan itu benar-benar liehay.
Dia gerakan sebelah tangannya, urat-uratnya bersuara meretek, lalu tangannya menjadi seperti mulur dua dim, dengan membuka kepalannya ia menotok jalan darah pekdjie hiat lawannya itu.
Hebat kalau jago-jago bertarung.
Hoei Liong lihat orang tidak akan sanggup melayani, dia menggunakan akal.
Sama-sama mereka menyerang, samasama mereka mengenai.
Hoei Liong segera rasai tangannya kesemutan, maka sambil mengempos tenaga dalam, dia lompat mundur, sambil berkelit dari hajarannya Sin Tay Goan.
Selagi dia berkelit, It Goan berteriak seperti orang kalap, maka ia segera ditarik kakaknya, hingga si jago tua pun dapat ketika untuk bernapas.
Hoei Liong tahu, karena tangannya kesemutan, serangannya mengenai sasaran tidak terlalu hebat.
"Kau tidak apa-apa?"
Tay Goan tanya adiknya. Adik itu menggerakan kedua tangannya.
"Tidak!"
Jawabnya. Cuma sedikit ia merasa sakit. Maka kedua saudara itu dapat segera maju pula.
"Nyata mereka yakin juga ilmu menukar urat meringkas tulang..."
Kata Hoei Liong dalam hatinya melihat gerak-gerik kedua saudara itu.
Terus dia menyerang pula.
Tay Goan dan H Goan kaget juga, karena mereka dapatkan, walaupun musuh sudah kena ditotok jalan darahnya, musuh itu kelihatan seperti tidak mendapat luka suatu apa.
Karena ini, mereka jeri untuk terlalu mendesak, tidak peduli mereka pandai ilmu Tjitsat tjiang (Tangan Tujuh Bintang) dan Tiatho tjiang --Tangan Rase Besi.
Pertempuran berjalan terus, dengan tidak kalah dahsyatnya, bedanya sekarang, mereka sama-sama berhatihati.
Hebat kekuatan tangan dari Tiat Hoei Liong, tenaga dalam itu ia andalkan betul-betul.
Segera juga dua saudara Sin merasakan akibatnya dari tangan yang liehay itu.
Mulanya mereka tidak merasakan apaapa tetapi lambat laun.
jalan napas mereka makin lama makin seret, makin pepat.
hingga mereka jadi kaget dan berkuatir.
Di saat mereka merasa bahwa mereka tidak akan bertahan lama, mendadak mereka dengar satu suara tertawa nyaring tetapi halus.
"Ayah, baik serahkan kedua orang ini kepadaku! Aku telah pergi menangkap udang kecil tetapi kau di sini memancing ikan besar, inilah tidak adil! Tanganku gatal!"
Tiat Hoei Liong tertawa bergelak-gelak, segera dia lompat mundur.
"Baiklah, aku beri ketika kepadamu!"
Katanya.
Dua saudara Sin itu dapat bernapas lega pula, akan tetapi ketika Giok Lo Sat berkelebat, berkelebat pula sinar pedangnya, tahu-tahu dia sudah menghalang dihadapan mereka!
"Kau toh Giok Lo Sat?"
Sin Tay Goan tanya. Nona itu memandangnya dengan tajam, terus dia tertawa terbahak-bahak.
"Melihat dari wajah kamu yang aneh ini, rupanya kamu ada dua saudara Sin!"
Katanya. Tjoe Poe Tjiang tidak tunggu orang menyahuti, dari pojok tembok dia lantas perdengarkan suaranya.
"Lian Liehiap, titahkan mereka kembalikan bungkusan yang dipegang mereka!"
Giok Lo Sat pun lantas ingat Lie Tjoe Seng pernah memberitahukannya bahwa ketika diadakan pertemuan besar di Bietjie, dua saudara Sin ini tidak turut hadir.
Maka selagi orang melengak, dia menambahkan.
"Dulu kamu di Siamsay Utara dan aku di Siamsay Selatan, kami kedua pihak tidak mempunyai sangkutan suatu apa, akan tetapi sekarang ini kamu memusuhi ayahku, maka sekarang juga ingin aku saksikan, kamu mempunyai kepandaian apa hingga kamu berani berjumawa!"
Terus si nona mengkubat-kabitkan pedangnya, yang berkilau-kilauan di depannya, di muka kedua saudara itu, lalu bergantian menikam mereka!
Bukan main murkanya kedua saudara Sin itu, hingga mereka berkaok-kaok.
Mereka sendiri ganas, biasa mereka berlaku galak, nyatanya sekarang, Giok Lo Sat lebih galak daripada mereka --mereka lantas diserang kalang-kabutan.
Maka sebisa-bisa mereka membuat perlawanan, masingmasing repot menggunakan Tjitsat tjiang dan Tiatho tjiang.
Si Raksasi Kumala menyerang secara kacau, agaknya ia menikam ke timur, tahu-tahu terus ke barat, nampaknya dia mengancam ke selatan, tak tahunya dia membabat ke utara!
Terus menerus dia menyerang sampai tiga puluh jurus lebih, sekonyong-konyong dia tertawa!
"Kamu mempunyai kepandaian tetapi itulah bukan kepandaian dari golongan kelas satu!"
Katanya mengejek.
"He. heran, cara bagaimana kamu dengan kepandaian begini macam berani menjagoi, berani angkat diri menjadi raja muda?"
Ia tertawa, tetapi serangannya tak dihentikan, ia masih mendesak, hingga kedua saudara itu kelabakan.
Si Raksasi Kumala menang di atas angin, inilah tidak heran.
Ia memang liehay, dikepung berdua ia tidak takut, tetapi untuk merebut kemenangan cepat, inilah jangan diharap.
Kalau kedua saudara Sin itu jadi demikian keteter, itulah disebabkan Tiat Hoei Liong sudah gempur semangatnya, karena jago tua itu sudah membuat mereka merasa ngilu pada otot-otot dan buku tulang mereka.
Jadi, menghadapi Giok Lo Sat, mereka seolah-olah tak berdaya.
Mereka cuma bisa bela diri, tak dapat mereka membalas menyerang...
Hoei Liong sendiri, setelah mundur dari kalangan sudah lantas menghampiri Tong Kee Pek, untuk menolongi anak itu dari totokannya orang she Sin.
Kemudian, sambil tertawa, dia kata pada anak muda itu.
"Pergi kau haturkan kepada ayahmu bahwa Tiat Hoei Liong menanyakan kesehatannya!"
Kee Pek melengak, lekas-lekas ia memberi hormat.
"Kiranya kau Tiat Siokhoe!"
Katanya "Pantas siokhoe mempunyai tenaga dalam yang hebat sekali. Malam ini keponakanmu sudah membuat dia malu sendirinya..." (Siokhoe --paman).
"Jikalau satu anak muda menerima satu kali ajaran, itulah tidak apa,"
Hoei Liong menghibur.
Jago tua ini lantas periksa lukanya Touw Beng Tiong.
pada pundak siapa ada tanda hitam, tanda dari darah mati, maka ia lantas jejalkan dalam mulut orang itu sebutir obat pulung.
Di dalam hatinya, dia berkata.
"Kiranya persaudaraan Sin ini masih punyakan juga ilmu tangan busuk Toksee tjiang, untuk itu dibutuhkan obat buatan mereka sendiri..."
Toksee tjiang adalah Tangan Pasir Beracun.
Tong Kee Pek muncul dalam dunia kangouw untuk pertama kalinya, dan pada permulaan ini ia telah dirobohkan, maka ia merasa sangat malu, hingga ia jadi sangat mendongkol dan mendendam sakit hati.
Begitu lekas ia telah ditolongi Tiat Hoei Liong, dia ingin melampiaskan kemendongkolannya itu.
Maka, segera ia rogoh sakunya, lalu dengan mengayunkan tangannya, dua rupa senjata rahasia melesat ke arah kedua saudara Sin.
Sin Tay Goan dan Sin It Goan sedang kelabakan karena desakan pedangnya Giok Lo Sat, mereka pun sudah lelah sekali, meski mereka dengar suara aneh dari menyambarnya senjata-senjata rahasia, namun mereka tidak berdaya, sampai berkelitpun mereka tidak sempat.
Maka, kedua orang itu telah menjadi sasarannya Toktjie lee, senjata rahasia bercagak yang beracun.
Senjata rahasia Keluarga Tong sangat kesohor, apalagi toktjie lee itu.
Tapi mereka sangat tangguh, masih mereka dapat pertahankan diri, karena itu mereka dapat lompat kepada Kee Pek, untuk melakukan pembalasan.
Kedua orang itu menjambak dengan tangan mereka yang kuat dan beracun.
Tapi Hoei Liong melihat gerakan kedua saudara itu, dia lompat maju untuk merintangi sambil menyerang dengan tipu silatnya "Tiatmoeitjek"
Atau "Pintu besi", maka tak ampun lagi, Tay Goan dan It Goan roboh saling susul. Mereka sangat mendongkol, selagi roboh, mereka mencaci kalang kabutan, dan cacian itu makin lama makin lemah...
"Kamu telah melukai orang, sekarang kamu rasai liehaynya tuan kecilmu!"
Kee Pek berseru, agaknya dia merasa puas.
Sebenarnya dia hendak mengejek terus, tapi tiba-tiba Giok Lo Sat sudah berdiri di hadapannya dengan wajah dingin dan bengis!
"Bagus senjata rahasiamu!
Liehay kepandaianmu melepaskannya!"
Kata si nona, sambil tertawa tawar.
"Tapi, siapa kesudian menerima bantuanmu? Lekas kau keluarkan obatmu!"
Tong Kee Pek kaget tidak terkira.
"Ini... ini..."
Katanya gugup.
"Anak Siang, inilah Tong Hiantit!"
Hoei Liong menyelak. Ia pun lompat maju, seraya mengatakan.
"Lekas kau keluarkan obatmu!"
Dengan terpaksa, Kee Pek keluarkan obatnya, yaitu kayyoh, obat untuk mencegah racun senjata rahasianya. Meski begitu, dengan suara mendongkol, ia berkata.
"Saudara Touw telah terkena sambaran beracun dari mereka, bagaimana?"
"Jangan kau bergelisah!"
Bentak Giok Lo Sat. Dia sambar kayyoh itu, dilemparkannya pada Sin Tay Goan sambil berkata.
"Kau juga, keluarkanlah obatmu!"
Ini adalah kejadian di luar dugaannya kedua saudara Sin itu.
Mereka segera berhenti mencaci.
Lalu mereka telan obat yang diberikan itu.
Karena ini, tidak lama kemudian, mereka merasa ringan.
Maka itu.
mereka pun keluarkan obat mereka, untuk diserahkan pada si nona.
Giok Lo Sat menyambuti, lalu ia berseru.
"Tinggalkan bungkusan itu! Lekas kamu menggelinding pergi!"
Dengan mulut bungkam, Sin Tay Goan lemparkan bungkusan yang tadi ia rampas dari Tjoe Poo Tjiang, habis itu ia seret adiknya untuk diajak lari ke pintu.
Di muka pintu, ia berpaling sebentar, akan pandang Giok Lo Sat dengan sinar mata mencorong.
Dengan sengit, dia kata.
"Baik, Giok Lo Sat! Sampai kita bertemu pula di belakang hari!"
Si Raksasi Kumala tertawa panjang, tangannya meraba gagang pedangnya.
Dua saudara Sin itu lantas buka langkah lebar.
Mereka kabur dengan tidak berani berpaling pula!
Tjoe Poo Tjiang, Tong Kee Pek dan Touw Beng Tiong, lompat dengan berhareng ke arah bungkusan yang berada di depan si nona, untuk mendahului memiliki bungkusan berharga itu, akan tetapi Giok Lo Sat, dengan gerakan enteng tetapi sebat, sudah mendahului mereka dengan menginjak bungkusan itu.
Sambil berbuat demikian, matanya dibuka lebar.
Tjoe Poo Tjiang mundur dengan segera.
"Isinya bungkusan ini adalah hosioeouw yang berumur seribu tahun dan bulu rase putih,"
Ia beritahukan.
"Mereka hendak bawa itu ke kota raja buat dihadiahkan kepada Goei Tiong Hian, aku merampasnya dengan niatanku menghadiahkannya kepada kau, loodjinkee. Coba loodjinkee bilang, pantas atau tidak yang aku telah merampas barangbarang itu?"
"Benarkah demikian?"
Si nona tegaskan. Touw Beng Tiong angkat kepalanya dan berkata.
"Memang kedua barang itu hendak dihaturkan kepada Goei Tiong Hian, tetapi dengan berbuat begitu, hendak aku menolongi orang. Touwgiesoe Tjoh Kong Tauw adalah pamanku dari pihak ibu, dia telah bergabung dengan Yo Lian memajukan pengaduan, karena itu, oleh Goei Tiong Hian dia sudah dimasukkan dalam penjara istana. Tan Soenboe ketahui kejadian itu, dia memberitahukannya padaku, dia suruh aku lekas pergi ke kota raja untuk berusaha menolonginya. Aku tidak punya jalan untuk melawan dorna kebiri itu, karenanya terpaksa, dengan melawan malu hendak aku mohon belas kasihannya. Tjoh Kong Tauw adalah orang setia dan jujur, dunia mengetahuinya, maka itu, apa salahnya bila aku menolongi dia?"
Giok Lo Sat tercengang. Ini tidak ia sangka. Tapi segera ia ambil putusannya.
"Baiklah, kau boleh ambil bungkusan ini!"
Katanya. Terus dia berpaling pada Tjoe Poo Tjiang dan berkata.
"Lo Tiat Pie telah menolongi anak tunggal dari Yo Lian, dia sedang cari kau, maka pergilah kau lekas pulang!"
"Ah, mengapa kamu tidak mengatakannya siang-siang"
Kata Poo Tjiang pada Kee Pek dan Beng liong berdua.
"Jikalau aku tahu mustika itu untuk menolongi orang, tidak nanti aku merampasnya..."
Ia angkat tangan, akan beri hormat pada semua orang, lantas ia berlalu.
Dengan terburu-buru dia berangkat pulang ke gunungnya.
Touw Beng Tiong maju kepada si nona, ia memberi hormat sambil menghaturkan terima kasihnya.
Giok Lo Sat segera menoleh kepada ayah angkatnya, sinar matanya yang jernih memain.
"Ayah,"
Katanya.
"mari kita pergi ke kota raja untuk menonton keramaian!"
"Baik!"
Sahut ayah itu, yang mempunyai maksud lain. Di dalam hatinya, jago tua ini kata.
"Pembunuh dari puteriku, Kim Laokoay. sudah terbinasa di tangan Gak Beng Kie, tetapi di sana masih ada dua musuh besarku, yaitu Bouwyong Tjiong dan Eng Sioe Yang, mereka semua menjabat pangkat di istana. Mereka juga mestinya bakal kembali ke kota raja. Memang sulit untuk aku turun tangan, tetapi ada baiknya jikalau aku tunggui mereka di kota raja. Mungkin ada jalan untuk aku menuntut balas."
Tong Kee Pek sangat likat. itu dapat dilihat dari wajahnya. Ia menoleh pada Touw Beng Tiong dan berkata.
"Sudah ada Tiat Siokhoe yang akan mengantarkan kau ke kota raja, maafkan saja, aku hendak pulang..."
Ia memberi hormat, lantas ia undurkan diri. Hoei Liong antarkan pemuda itu sampai di luar, kemudian ketika ia kembali, sambil tertawa ia berkata pada anak angkatnya.
"Anak Siang, lain kali aku larang kau membuatnya kaget pada satu anak ayam yang baru mulai keluar menjelajah!..."
Si Raksasi Kumala tersenyum.
"Marilah!"
Ia mengajak.
Maka berlalulah ketiga orang itu.
Mereka jalan bersama, di sepanjang jalan mereka pasang omong.
Sekarang barulah Giok Lo Sat tahu, Touw Beng Tiong ini pernah bekerja sebagai bawahannya Him Kengliak, bekerja sebagai penulis, karenanya ia kenal Gak Beng Kie.
Ingat Him Kengliak, terharulah hati si nona.
"Setelah terbinasanya Him Kengliak, tidak ada lagi penggantinya,"
Kata dia dengan masgul.
"Di mana penjagaan di tapal batas sangat buruk, aku kuatirkan keselamatannya Kerajaan Beng ini..."
"Sebenarnya bukan tidak ada gantinya untuk Him Kengliak,"
Kata Beng Tiong.
"Apa yang dikuatirkan adalah pemerintah nanti tidak mau menghargai orang yang menjadi penggantinya itu..."
Giok Lo Sat berpikir.
"Siapakah kiranya yang dapat menggantikan Him Kengliak untuk membela tapal batas?"
Dia tanya orang she Touw itu.
"Dialah Wan Tjong Hoan yang sekarang menjabat Kiamsoe dalam pasukan tentara Liauwtong,"
Jawab Beng Tiong.
"Dia seorang cerdik pandai di jaman ini. Asalnya dia adalah satu camat dari tingkat ke tujuh. Dia dikenal oleh Him Kengliak, lantas dia diangkat untuk bekerja di perbatasan. Dalam pertempuran di Kongleng, pernah Kengliak dipersulit Ong Hoa Tjeng, sampai dia kalah dan lari meninggalkan kota. Wan Tjong Hoan, dengan menunggang seekor kuda muncul untuk memeriksa keadaan, lalu pulangnya, terus dia minta tentara. Dia nyatakan ingin sendiri membela Liauwhoo bagian timur. Sayang Him Kengliak cuma punyakan lima ribu serdadu, sedang pemerintah tidak sudi menambahnya. Adalah setelah kalah perang, Him Kengliak menugaskan Wan Tjong Hoan memperbaiki urusan ketenteraan sambil mempernahkan rakyat yang mengembara. Dalam peperangan, di waktu siang selagi tentara musuh dapat bergerak dengan leluasa, Wan Tjong Hoan tidak berbuat apa-apa, akan tetapi di waktu malam, dengan berani ia nelusup masuk ke dalam daerah musuh, ia bicara dengan rakyat jelata yang telah dipersatukan. Karena itu, ia berhasil merebut kemenangan, meskipun kemenangan itu kecil. Kemudian ia pergi ke Sanhaykwan untuk membuat pembelaan. Coba tidak ada dia, mungkin siang-siang tentara Boan sudah berhasil menerjang masuk ke Sanhaykwan."
Si Raksasi Kumala segera berpikir.
"Jikalau benar ada orang pandai semacam dia, surat rahasia dari Him Kengliak dapatlah diserahkan padanya. Tapi dia berada di tapal batas, bagaimana aku harus menyampaikannya?"
Ia terus berpikir, tidak dapat ia lantas jalan.
Demikian sampai mereka bertiga tiba di kota raja.
Ketika itu sudah bulan lima tanggal kedua puluhan.
Waktu mereka memasuki pintu kota, mereka lantas tampak suasana ramai...
Orang sedang membuat arak-arakan.
Beberapa puluh pembesar tengah menggotong patung bertubuh emas dari Goei Tiong Hian.
Orang telah memukul gembreng dan menabuh tambur, orang berputaran di jalan-jalan umum di kota raja.
Penduduk, dengan berduyun-duyun menyaksikan keramaian itu.
Dengan suara perlahan terdengarlah cacian dan gerutuan mereka...
Ketika Tiat Hoei Liong bertanya-tanya, ia peroleh keterangan bahwa orang tengah menghormati Goei Tiong Hian dengan patungnya yang dibuat semasa dia masih hidup...
Itulah pujaan sebelum seseorang meninggal dunia.
Jaman itu adalah jaman kerajaan Thian Kee ke empat, Goei Tiong Hian sedang berkuasanya, besar sekali pengaruhnya dalam pemerintahan.
Dia berkuasa di dalam dan juga di luar.
Sebab di dalam ada Keksie, si nyonya berpengaruh.
Banyak pembesar tinggi seperti Gwan Tay Wat, Tjoei Tjeng Sioe, Kouw Peng Kiam.
Hoe Wat, Nie Boen Hoan dan Yo Wie Hoan, yang mengaku Goei Tiong Hian sebagai ayah dan Keksie sebagai ibu.
Adalah Phoa Lie Tjeng, soenboe dari Tjiatkang, yang mulai menggerakkan membuat patung Goei Tiong Hian, semasa hidup hingga teladan ini diturut di pelbagai tempat.
Yang paling belakang adalah usaha di kota raja.
Satu mahasiswa.
yang menggelarkan dirinya si "Pembaca kitab-kitabnya Khong Tjoe", yang bernama Liok Ban Leng, menulis surat pujiannya untuk Goei Tiong Hian.
Dia tulis.
"Khong Tjoe tjok Tjoen Tjioe --Tjiangsin tjok yauw tian". Artinya, kalau Khong Tjoe yang membuat kitab "Tjoen Tjioe", adalah Tjiangsin ---dimaksudkan Goei Tiong Hian --yang membuat teladan. Giok Lo Sat mendongkol melihat tingkah lakunya pelbagai pembesar penjilat itu, hampir tak dapat ia atasi dirinya atau ia sudah hunus pedangnya membasmi kawanan pembesar itu. Syukur Tiat Hoei Liong segera tarik tangannya.
"Sudah jangan tonton lebih lama, aku pun ingin muntah melihatnya!"
Kata ayah ini.
Setelah sampai di kota raja, Giok Lo Sat dan Tiat Hoei Liong berpisah dari Beng Tiong.
Berdua mereka pergi ke Tiangan Piauwkiok.
dan Beng Tiong pergi pada sanaknya yaitu Soen Sin Tjong, satu pembesar tinggi dalam Pengpou, Kementerian Perang.
Ketika mereka berpisah dari Beng Tiong, sambil tertawa dingin nona kita berkata.
"Kau hendak mohon belas kasihannya Goei Tiong Hian. yang kau hendak sogok, aku lihat belum tentu kau berhasil..."
"Aku cuma akan berbuat sebisaku,"
Sahut Beng Tiong.
"Mungkin kelak akan mohon bantuanmu..."
Melihat orang agak tolol tetapi toh jujur, Hoei Liong, suka beritahukan alamatnya Tiangan Piauwkiok.
Pemimpin dari Tiangan Piauwkiok, Liong Tat Sam, ada sahabat kekal dari Hoei Liong, melihat datangnya kedua tetamu, ia menyambut dengan hormat dan melayani dengan manis.
Giok Lo Sat tunggu sampai habis bersantap malam, baru ia tanyakan halnya Yo Lian ditawan.
Liong Tat Sam menghela napas.
"Terlalu panjang untuk dituturkan,"
Sahutnya.
"Tolong kau jelaskan,"
Hoei Liong minta. Tat Sam kembali menghela napas.
"Kamu tahu bukan tentang pergulatan antara Yam Tong dan Tonglim Tong?"
Kata dia, mulai.
"Yam Tong itu adalah partainya Goei Tiong Hian. Sejak Goei Tiong Hian menganugrahkan dirinya sendiri menjadi Kioe Tjian Swee yang maha agung, maka semua pembesar yang bernaung di bawah pengaruhnya dengan sendirinya juga menjadi tjianswee-tjianswee yang maha mulia. Menteri-menteri sipil dan militer di bawahannya ada yang diberi gelar Lima Harimau, Lima Harimau Tutul, Sepuluh Anjing, Sepuluh Bocah, Empat Puluh Cucu dan lain gelaran lagi. Kerja mereka adalah menentang partai Tonglim. Nama Tong Lim ini berasal dari Tonglim Siewan di kota Boesek, yaitu ruang untuk meyakinkan ilmu sastera dari menteri-menteri pembuangan. Sampai sekarang, bila menterimenteri itu jujur dan setia, mereka lantas dipakaikan kopiah Tonglim Tong. Itu artinya mereka adalah orang-orang yang berdosa. Begitulah, konconya Goei Tiong Hian, yang bernama Ong Tjiauw Hoei, sudah membuat daNar nama-namanya seratus anggauta-anggauta penting dari Tonglim Tong. Daftar itu diberi nama Tiam Tjiang Lok, artinya daftar dari panglimapanglima yang nama-namanya telah dicatat. Nama-nama itu dibikin mirip dengan nama-nama seratus delapan jago dari gunung Liang San. Yam Tong sendiri menyebut mereka bangsa orang jujur, dan kaum Tonglim Tong digolongkan kaum tersesat. Menurut daftar itu, setiap menteri setia hendak dilenyapkan. Begitulah nama-namanya Yo Lian, Tjoh Kong Tauw dan Wan Hoa Tiong tercatat paling atas." (Yam Tong = partai orang kebiri. Yam = orang kebiri. Tong = partai. Tonglim berarti Rimba Timur). Giok Lo Sat gusar mendengar penjelasan itu.
"Sungguh dunia terbalik!"
Katanya dengan sengit.
"Setelah Him Kengliak teraniaya,"
Melanjutkan Liong Tat Sam.
"Yo Lian tidak dapat mengatasi diri lagi untuk perbuatan melewati batas dari Goei Tiong Hian, maka dia telah mengajukan dakwaannya yang terdiri dari dua puluh empat fatsal. Sebagai akibat dari itu, --akibat di luar dugaan --di hari kedua telah keluar firman yang menegur Yo Lian karena pengaduannya itu. Keluarnya firman itu mendatangkan kemurkaannya menteri-menteri yang setia, maka mereka lantas menggabungkan diri. mereka hendak mengajukan protes di saat kaisar duduk di singgasana. Goei Tiong Hian memperlihatkan keliehayannya. Dia seperti punyakan tangan yang bisa menutupi langit. Tiga hari berturut-turut dia dapat mencegah Sri Baginda muncul di ruang singgasana. Selama tiga hari itu, dia pun telah selesai dengan persiapannya sendiri. Pada hari ke empat, dengan menuduh orang menjadi konconya Him Kengliak dengan gunakan pengaruh kaisar, dia bekuk enam menteri ialah Yo Lian, Tjoh Kong Tauw, Goei Tay Tiong, Kouw Tay Tjiang, Wan Hoa Tiong dan Tjioe Tiauw Soei. Mereka inilah yang dituduh jadi biangnya. Mereka ini disekap dalam penjara besar Paktin Boesoe. Hebat tindaktanduknya Goei Tiong Hian ini. Habis itu. dia hendak memeras. Alasannya ialah ia menuduh Yo Lian dan kawankawannya pernah menerima sogokan dari Him Kengliak dan sekarang ia ingin uang sogokan itu dikeluarkan. Mereka ada menteri-menteri miskin, mana mereka punya uang banyak untuk diperas? Maka datanglah siksaan untuk mereka, yang dilakukan setiap lima hari sekali. Setiap kalinya mereka masing-masing dirangket empat puluh rotan dan dijepit lima puluh kali. Inilah siksaan yang membuat mereka, mau mati tidak bisa, tinggal hidup tapi menderita. Ada beberapa menteri, yang tak tahan siksaan itu mencoba pada murid dan sanak mereka untuk mengumpulkan uang. Ini juga tidak menolong. Goei Tiong Hian meminta jumlah yang terlalu besar. Malah ini membuka satu jalan untuk Goei Tiong Hian mengeruk uang."
Giok Lo Sat tepuk pahanya.
"Ah. sayang itu hosioeouw yang usianya seribu tahun..."
Keluhnya.
"Apakah itu?"
Tanya Liong Tat Sam. heran. Tapi si nona tertawa, dia tidak menjawab. Dia hanya berkata.
"Baiklah, nanti aku pergi tengok Yo Lian!"
"Jangan sembrono, nona,"
Tat Sam memperingatkan. Dia terkejut untuk niat nona itu.
"Paktin Boesoe bukan kantor sembarangan..."
Nona itu tertawa.
"Sekalipun istana, di sana aku bisa keluar masuk dengan bebas!"
Katanya.
"Apa itu baru Paktin Boesoe? Ya, apakah Bouwyong Tjiong beramai sudah kembali?"
"Aku belum dengar kabar,"
Sahut Tat Sam.
"Besok akan aku selidiki."
Giok Lo Sat ada seorang yang "tidak takut langit, tidak jeri akan bumi", demikian juga Tiat Hoei Liong, sang ayah angkat, maka itu malam, sehabis pasang omong, mereka lantas dandan, mengenakan pakaian malam, lantas mereka pergi ke penjara istana yang dimaksudkan itu.
Tembok penjara tingginya tiga tumbak, atas tembok itu terdapat banyak paku besar yang tajamnya menjulang ke langit.
Tapi semua paku itu tak dapat merintangi Giok Lo Sat dan Hoei Liong berdua.
Ketika mereka ada di atas tembok, jago Barat utara itu berkata pada anak angkatnya.
"Pergi kau selidiki penjara, aku akan menjaga di sini!"
"Baik!"
Sahut si Raksasi Kumala dengan gembira.
Dan ia terus lompat turun ke sebelah dalam tembok pekarangan.
Ia sampai di tanah bagaikan selembar daun rontok, tidak ada suaranya sama sekali.
Setelah berjalan dengan hati-hati.
Giok Lo Sat umpetkan dirinya di pojok yang gelap.
Di situ ia menantikan, matanya dibuka lebar, kupingnya dipasang terang-terang.
Belum lama ia menunggu atau tampaklah suatu sinar terang.
Itu menandakan munculnya satu peronda penjara.
Giok Lo Sat menunggu sampai orang datang cukup dekat, lalu dengan tiba-tiba ia muncul dari tempat sembunyinya.
Dia mencelat ke depan ronda itu dengan goloknya yang berkilau mengkeredep di muka si ronda.
"Yo Lian ada di kamar nomor berapa?"
Tanya dia, membentak. Ronda itu kaget bukan main, ia sampai berjingkrak. Akan tetapi, ketika ia dengar orang menanyakan Yo Lian, mendadak ia menjadi girang.
"Apakah kau hendak menolongi Yo Taydjin?"
Ia balik menanya.
"Dia ada di sana, di kamar nomor enam di ruang barat. Kalau dari sini kau menikung ke kanan, di sanalah dia."
"Jikalau kau mendusta, aku nanti tabas mampus padamu!"
Giok Lo Sat mengancam. Ronda itu membanting kaki.
"Yo Taydjin telah disiksa hingga sekarang napasnya tinggal sekali-sekali, jikalau kau hendak menolong dia, lekaslah!"
Katanya. Dia tidak takut sekarang, dia hanya bergelisah. Giok Lo Sat pandang wajah orang.
"Baik,"
Katanya.
Terus ia tinggalkan ronda ini, yang ia percaya tidak akan main gila.
Separuh lari ia menuju ke tempat yang ditunjuk.
Benar, setelah menikung, ia sampai di kamar No..Pintu penjara terbuat dari besi tebal lima dim, kuncinya besar sekali.
Orang biasa tak akan bisa berbuat suatu apa terhadap kunci dan pintu itu.
Akan tetapi tidak demikian dengan si Raksasi Kumala.
Sebagai orang Rimba Hijau berpengalaman, ia tahu apa yang harus dilakukan.
Nona ini merogoh ke dalam kantong pekpolong, di situ ia simpan segala macam alat.
Ia keluarkan sepotong kawat bengkok, kawat itu dimasukkan ke dalam liang kunci.
Lantas ia mengorek-ngorek.
Tidak lama kunci itu terbuka, maka ia terus singkirkan itu, terus juga ia buka pintu kamar.
Kamar itu gelap, tak terlihat suatu apa jua.
Cuma terdengar suara rintihan perlahan.
Giok Lo Sat keluarkan bahan apinya, untuk dinyalakan.
Segera saja ia tampak Yo .Lian, yang dirantai dan memakai kalung hukuman.
Menteri itu rebah berlumuran darah, hampir dia tak dapat dikenali.
Ia terkejut ketika ia ketahui ada orang datang, tapi lebih terkejut pula waktu ia lihat si nona.
Ia coba gerakan tubuhnya.
"Mau apa kau datang kemari?"
Tanyanya, keras.
"Aku hendak menolongi kau,"
Sahut si nona. Menteri itu menjadi gusar.
"Aku ada satu menteri, mana dapat aku turut kau kabur dari penjara?"
Katanya. Giok Lo Sat mendongkol juga.
"Sampai sekarang ini kau masih unjuk kesetiaanmu!"
Tegurnya.
"Apakah kau tidak menghendaki jiwamu?"
"Biar aku dihukum tabas atau dihukum gantung, tidak ada sangkutannya aku dengan kau'."
Kata menteri itu.
"Kau tidak mengindahkan undang-undang negara! Mana dapat aku berlaku seperti kau?"
"Undang-undang negara! Undang-undang negara! hm!"
Si Raksasi Kumala mengejek.
"Aku bilang, kau adalah si dogol terbesar!"
Yo Lian mencoba menggerakkan tubuhnya.
"Jikalau kau datang lebih dekat padaku, nanti aku benturkan kepalaku hingga aku terbinasa!"
Dia mengancam. Giok Lo Sat menjadi kagum.
"Puteramu telah dibawa Lo Tiat Pie ke Soetjoan, apakah kau tidak ingat puteramu itu?"
Tanya dia dengan sabar. Dia harap dapat membujuk dengan memperingatkan ayah ini kepada anaknya. Dia ingin memecahkan ketololan orang... Tetapi ia menduga keliru. Yo Lian tertawa berkakakan.
"Si Tjong tidak kurang suatu apa, apa lagi yang aku kuatirkan?"
Katanya.
"Hm!"
Mengejek pula si nona.
"Kau mengatakannya kau adalah menteri yang setia, tetapi setelah kau mampus, di dalam istana adalah penghianat semua! Tidakkah itu berarti bahwa daerahnya Kerajaan Beng menjadi semakin lekas tamatnya?"
Kata-kata ini mengejutkan hati sanubarinya Yo Lian. Tapi tetap dia berkeras kepala "Foei!"
Demikian suaranya.
"Adakah kau sangka menterimenteri setia dapat dibikin habis? Apakah kau kira di dalam istana sudah tak ada manusianya? Kau lihat, setelah Him Teng Pek mati, di sana masih ada Wan Tjong Hoan! Yap Siang Kho pergi, lalu ada Ang Sin Tioe yang menggantikannya! Kerajaan Beng tak dapat dirampas bangsa Ouw itu! Kamu bangsa berandal juga tak dapat merampasnya!"
Yo Lian mulai dari Menteri Perang lalu menjadi Tjohhoe Touwgiesoe, menteri muda yang mendampingi kaisar, dan ia telah memangku pangkat beberapa tahun lamanya, tidak heran kalau ia menjadi sangat setia.
Ia anggap, pemerintah ialah ia, ia ialah pemerintah.
Tidak pernah ia memikir, kesetiaan caranya itu adalah kesetiaan yang sesat.
Karenanya, meski orang datang untuk menolongi dia, penolong ini masih ia anggap sebagai "berandal kucar-kacir", sebagai musuh negara.
Sama sekali Yo Lian tidak dapat meramalkan bahwa Kerajaan Beng itu dapat dirampas bangsa Boan setelah ia mati, dan kemudian, Ang Sin Tioe yang diharapkan dan dipuji itu toh pada akhirnya menjadi penghianat bangsa juga...
Giok Lo Sat menjadi gusar, ia menjadi sengit sekali.
"Hm! Jikalau kau tidak dipersakiti hingga begini, tentulah aku bunuh padamu!"
Katanya dalam murkanya itu.
Rupa-rupa perasaan lantas timbul pada nona ini.
Ia berkasihan kepada menteri celaka ini, ia merasa jenaka juga.
Ia mendongkol, ia membencinya, tapi pun ia menghargainya, ia mengagumi.
Ia kagum untuk nyali besar orang, yang tak jeri untuk pengaruh musuh, ia hargai keberanian mendakwa dorna-dorna kebiri.
Ia anggap jenaka dan mendongkol sebab itulah kesetiaan yang tolol...
Mengapa, sampai akan menghadapi kematian, orang masih tak sadar, tak insaf?
Yo Lian berkata pula, kali ini dengan perlahan.
"Sudah, pergilah kau..."
Demikian katanya.
"Kalau nanti kau bertemu anakku, kau beri dia nasihat supaya jangan mau menjadi pembesar negeri. Kau sendiri, jangan kau ajari dia menjadi bandit..."
Mau atau tidak, Giok Lo Sat tertawa.
"Ha, kau masih pikirkan juga hari kemudian puteramu?"
Katanya.
"Hm! Dia jauh terlebih gagah daripada kau! Tidak nanti aku ajarkan dia untuk tiru teladanmu yang gila ini!"
Kedua matanya Yo Lian mendelik dengan tiba-tiba, lalu rapat pula.
Ludahnya pun naik, hingga karenanya, ia menjadi pingsan.
Berbareng dengan itu, dari kejauhan terdengar suara berlari-lari, suara mana disusul dengan teriakan berulangulang.
"Tangkap penjahat! Tangkap penjahat pembongkar penjara!"
Kalau ia mau.
dapat Giok Lo Sat membawa minggat Yo Lian yang tengah pingsan itu.
akan tetapi di detik terakhir itu.
ia ubah pikirannya.
Tanpa bilang suatu apa, ia lompat keluar dari kamar penjara, terus ia lompat lebih jauh.
naik ke atas genteng.
Di atas genteng, Tiat Hoei Liong sedang beraksi.
Dengan menggunakan genteng sebagai senjata, ia timpuki anggautaanggauta Kimiewie yang berada di bawah.
Jitu timpukannya jago tua ini, setiap gentengnya membikin orang-orang terluka.
Ketika ayah angkat ini tampak puterinya bertangan kosong, ia kecele.
"Apakah kau tak dapat cari dia?"
Dia ambil kesempatan akan tanya anak angkat itu.
"Aku tidak hendak menolongi dia!"
Jawab si anak.
"Inilah adat bocah yang aneh..."
Kata Hoei Liong dalam hatinya.
Tidak sempat ia bertanya banyak-banyak.
Mereka telah mensia-siakan tempo.
Ketika itu sudah ada beberapa pahlawan Kimiewie, yang berhasil lompat naik ke genteng.
Jadi, untuk membongkar penjara, temponya sudah tidak ada lagi.
pikir jago tua ini.
"Sekarang marilah kita menyerbu keluar!"
Katanya kemudian.
Giok Lo Sat sedang mendongkol, ia memang tak mempunyai ketika untuk melampiaskan itu.
Sekarang tempo itu datang.
Segera ia perdengarkan tertawanya yang nyaring dan panjang, terus dia lompat, sambil mengayunkan pedangnya, ia menyerbu antara pahlawanpahlawan itu.
la tidak kenal takut.
Ia pun berlaku bengis.
Ia cari setiap anggauta berbahaya dari musuh-musuhnya itu.
Maka sebentar saja, beberapa pahlawan telah roboh terguling jatuh ke tanah, mereka perdengarkan jeritan-jeritan seram.
"Anak Siang, jangan lakukan terlalu banyak pembunuhan!..."
Tiat Hoei Liong peringatkan. Ia sendiri pun bekerja terus, habis menggunakan genteng, ia terus pakai tangannya yang kosong yang liehay.
"Mari!"
Ia mengajak.
Dan mereka lompat untuk berlalu dari tembok penjara, akan melenyapkan diri di genteng rumah penduduk, di tempat yang gelap.
Ruang penjara, sebaliknya, segera menjadi terang.
Begitu lekas berlalunya Giok Lo Sat, Yo Lian tahu bahwa dia tidak bakal hidup lewat malam ini.
Ia sadar dengan cepat.
Ia tidak usah menanti lama atau di situ muncul Paktin Boesoe Khouw Hian Soen bersama Tjiehoei Tjoei Eng Goan, kepala dari Kimiewie yang ditugaskan melindungi penjara istana itu.
Di belakang mereka ini turut dua pegawai penjara, yang menenteng sebuah karung yang dimuatkan tanah.
"Yo Taydjin, harap maafkan yang aku berlaku kurang ajar,"
Berkata Khouw Hian Soen pada Tjohhoe Touwgiesoe itu.
"Malam ini kami hendak antar taydjin pulang ke langit barat..."
Yo Lian tertawa berkakakan.
"Kamu tunggu sebentar,"
Ia kata.
"Aku hendak menulis surat darah, yang aku minta kamu suka tolong persembahkan pada Sri Baginda. Maukah kamu mengijinkannya?"
"Silakan tulis, taydjin,"
Sahut Tjoei Eng Goan. Yo Lian gigit jarinya hingga berdarah, ia robek ujung bajunya yang putih, di situ ia tulis pesannya.
"Lian telah terbinasa di bawah rotan. Adalah tekadku untuk membalas budi Sri Baginda. Maka harap Baginda jangan pikirkan pula pada hamba ini. Lian tidak sudi buron sebagai Thio Kiam, Lian tidak mengharapkan obat sebagai Yo Tjin. Lian tidak menyesal, tidak terhadap Thian, tidak terhadap sesama manusia. Lian cuma ingat, sebagai hamba, Lian pernah terima budi. Khong Tjoe pun membilang, 'Memesan anak tunggal, mengirim jiwa, meski menghadapi saat berbahaya, kehormatannya tak dapat diganggu'. Inilah peganganku, dengan begini bisalah Lian melihat Sri Baginda marhum, tak malu menghadap dua kakek dan sepuluh moyang. Bisa juga Lian menghadap Raja Langit dan Ratu Bumi. Hidup kekal Sri Baginda/ Lian puas!..."
Tjoei Eng Goan kagum membaca tulisan itu, tidak demikian dengan Khouw Hian Soen, yang menjadi anak pungut dari Goei Tiong Hian, hingga wajahnya jadi suram.
"Apa kau belum menulis habis?"
Dia tanya. Yo Lian berdarahkan pula jarinya, lalu ia lanjutkan menulis.
"...Dagingku remuk, darahku berlumuran, saat kematianku tinggallah sedetik lagi. Sebenarnya aku mengejar si dorna, untuk labrak padanya. Tapi, adalah itu kebijaksanaannya Sri Baginda? Tak lebih tak kurang, musuhku meminta jiwaku untuk keinginannya memperoleh anugrah, agar jasa-jasaku lalu menjadi kepunyaannya, untuk nanti dikemukakan kepada Sri Baginda..."
Melihat orang menulis demikian, Khouw Hian Soen habis sabarnya.
"Hm! Sampai sekarang kau masih sesalkan tjiangsin, binatang!"
Katanya. (Tjiangsin itu ada menteri penguasa atas pahlawan-pahlawan dari Tongtjiang dan Seetjiang, ialah Goei Tiong Hian).
"Sudah, lekas kerjakan!"
Kedua pegawai penjara segera menungkrap kepalanya Yo Lian dengan karung yang bermuatkan tanah itu, sampai sebatas dada. maka tak lama kemudian putuslah jiwa Yo Lian. Ia memang sudah sangat payah.
"Bereskan juga Tjoh Kong Tauw dan Goei Tay Tiong!"
Khouw Hian Soen berikan titahnya.
"Kita mesti cegah mereka dibawa buron!"
Karena cuma mereka bertiga yang dibebaskan, maka Tjioe Tiauw Soei bersama Wan Hoa Tiong dan Kouw Tay Tjiang lolos dari kematian.
Tentu saja surat rahasia dari Yo Lian itu tidak disampaikan kepada raja oleh Khouw Hian Soen, akan tetapi Tjoei Eng Goan telah ingat di luar kepala, la memang bersimpati kepada menteri yang bercelaka itu.
Maka kemudian, ketika Tjoei Eng Goan meletakkan jabatan dan pulang ke kampung halamannya, bunyinya pesan itu telah tersiar luas.
Menurut surat rahasia itu, Yo Lian memang tolol, karena ia berkorban tanpa perlunya, tetapi di sebelah itu, orang mesti puji kesetiaan dan kegagahannya.
Ketika Giok Lo Sat dan Tiat Hoei Liong sampai di piauwkiok, membicarakan halnya Yo Lian itu, si nona masih mendongkol dan penasaran.
Ia anggap menteri itu sangat tolol.
"Dia tolol tetapi dia setia, dia pun gagah,"
Kata Hoei Liong.
"Syukur jikalau Sri Baginda mengeluarkan firman untuk memerdekakan dia."
Jago ini tak tahu, seberlalunya mereka, algojo telah datang dan telah lantas menjalankan tugasnya.
Terhibur juga Giok Lo Sat ketika ia mendengar perkataannya ayah angkat itu.
Ia pun masih punya harapan yang raja nanti akan membebaskan menteri itu.
"Sekarang mari kita kembali kepada maksud tujuan kita datang ke kota raja ini,"
Kata si nona.
"Bukankah tujuan kita ada tiga? Pertama kita mesti cari orang yang dapat diberikan pesan rencana dari Him Kengliak. Kedua kita harus menuntut balas untuk adik San Ho, guna mencari Bouwyong Tjiong dan Eng Sioe Yang. Dan ketiga, untuk menolongi menteri yang kukuh dan tolol itu. Untuk yang pertama itu, bisa kita menemukannya, tak dapat kita mencarinya dengan meminta. Untuk yang kedua dan ketiga, kita mesti masuk ke dalam istana. Baiklah, ayah, besok malam aku masuk seorang diri ke istana, guna melihat Bouwyong Tjiong sudah pulang atau belum..."
Hoei Liong tunduk, ia tidak menjawab, ia cuma perdengarkan suara perlahan.
"Biarkan aku pergi, ayah!"
Kata anak pungut ini.
"Tentang keadaan dalam istana, aku lebih paham daripada ayah. Malam ini kita telah mengacau di penjara, pasti pahlawanpahlawan yang liehay telah dikerahkan di sana, dengan begitu bisalah aku masuk dengan gunai kesempatan ini."
"Baik, asal kau waspada!"
Kata sang ayah akhirnya. Ia tahu dalam hal enteng tubuh, ia kalah dari anak angkat ini.
"Jikalau Bouwyong Tjiong sudah pulang, jangan kau ganggu dia. Kau tunggu aku memikirkan akal untuk tantang dia pieboe satu sama satu."
Giok Lo Sat manggut.
"Baik,"
Sahutnya.
Nona ini tidak pernah menduga, belum setengah jam ia meninggalkan penjara istana.
Yo Lian sudah menemui ajalnya secara mengenaskan itu.
Dengan memperlihatkan nyalinya yang besar, besok malamnya Giok Lo Sat nelusup masuk ke dalam istana.
Tapi dia tak tahu di mana kamarnya raja.
"Akan tetapi aku tahu tempatnya si babu susu, Keksie yang cabul itu,"
Pikirnya.
"Baiklah aku pergi dulu ke sana. Mungkin sekali si raja cilik ada di sana..."
Dengan hati-hati, dan cepat, si Raksasi Kumala telah sampai di Lengnio hoe, ialah gedung dalam istana yang menjadi tempat kediamannya si babu susu raja.
Ketika ia sampai di atas wuwungan gedung, di dalam situ kebetulan Keksie lagi pasang omong dengan anak perempuannya.
"Katanya anak Keksie ini ada muridnya Anghoa Koeibo, entah bagaimana sifatnya dia..."
Ia berpikir. Karenanya, ia memasang kuping.
"Anak Teng, kau bukannya masih kecil,"
Demikian terdengar suaranya si babu susu, inang pengasuh raja.
"bagaimana jikalau aku suruh raja ambil kau sebagai selir?"
"Mama."
Berkata Kek Peng Teng.
"kau masih belum terlalu tua, mengapa kau ngaco begitu rupa?"
"Kaulah yang ngaco!"
Kata ibunya.
"Apa jeleknya untuk menjadi selir? Di belakang hari aku nanti berdaya supaya Sri Baginda singkirkan permaisuri! Bila itu sampai terjadi, kaulah pengganti permaisuri itu!"
"Aku tidak memikir untuk menjadi janda!"
Anak itu kata.
"Eh, apa kau bilang?"
Keksie tanya.
"Kenapa kau sumpahi anakku Yoe Kauw lekas mati?"
"Siapa yang sumpahi dia, mama?"
Peng Teng balik menanya.
"Mama harus ketahui, aku toh sudah mempelajari ilmu silat? Aku pandai melihat orang dengan tubuh lemah dan tubuh kuat. cukup aku melihatnya satu kali saja. Memang raja kecil itu kelihatannya tidak kurang suatu apa, akan tetapi ketika dia bicara, suaranya sangat mendesak, pendek, tidak ada suaranya. Tubuhnya pun sangat kosong, selagi berjalan, dia mirip angin halus. Sekarang ini dia dapat bertahan karena dia selalu mengandalkan obat. Aku berani bertaruh, pasti sekali dia tidak bakal hidup sampai tiga tahun lagi!"
Keksie berpikir. Memang, kata-kata anaknya ini benar. Tapi ia berpikir lain.
"Kalau begitu katamu, kita mesti bersiap-siap untuk daya kita!"
Katanya.
"Sekarang aku berkuasa, berpengaruh, tetapi kedudukanku aneh. Coba pikir, sejak jaman purbakala, di mana ada babu susu yang dapat tetap menguasai istana selama-lamanya? Cuma ibu suri yang dapat turut memerintah negara. Maka, anak, jikalau kau menjadi permaisuri, dan nanti raja wafat, kau lantas dapat menjadi ibu suri. Nah, dalam waktu itu puaslah kau, dapat kau bikin apa kau suka! Apakah kau masih takut menjadi janda?"
"Hai, perempuan ini sangat tidak tahu malu!"
Pikir Giok Lo Sat.
"Jikalau aku tidak kuatir nanti mengagetkan di luar, tentu sekarang juga aku bikin habis jiwanya!..."
Kek Peng Teng pun sangat masgul.
Sejak dia masuk dalam istana, dia telah menyaksikan kecabulan ibunya itu, hingga hampir tak dapat dia melihat terus.
Sekarang dia dengar anjuran luar biasa dari ibunya ini.
Dia malu.
dia mendeluh.
"Mama, besok hendak aku pulang!"
Katanya tiba-tiba.
"Pulang?"
Kata ibu itu heran.
"Pulang ke mana? Ini toh rumahmu?"
"Aku hendak cari guruku!"
Kata anak itu, menerangkan. Keksie menghela napas.
"Gurumu itu,"
Katanya.
"dia benar punyakan kepandaian silat yang nomor satu dalam dunia ini, tetapi dia tidak kenal jaman..."
"Tidak peduli, mama, hendak aku cari dia!"
Kata anak itu.
"Ah, anak, kau adalah anakku satu-satunya?"
Berkata dia.
"Kau harus ketahui, keadaan dalam istana ini sangat berbahaya. Jangan kau anggap sekarang aku lagi berkuasa dan berpengaruh. Umpama kata anak Yoe Kauw mati, ada kemungkinan aku nanti dibinasakan orang. Kau pandai silat, aku mengandalkan kau untuk melindungi aku."
Basah matanya Peng Teng.
"Jikalau begitu, jangan mama paksa aku menjadi selir,"
Dia kata.
"Bila mama memaksa, segera aku angkat kaki!"
"Baik,"
Jawab sang ibu.
"Karena kau tidak setuju, nanti aku carikan lain pasangan untukmu. Bagaimana kalau satu tjonggoan baru? Kau dapat memilihnya, boetjonggoan atau boentjonggoan!" (Tjonggoan = mahasiswa tingkat paling tinggi. Boen = sipil. Boe = militer.). Mukanya anak itu merah.
"Mama, aku larang kau mengucap demikian!"
Katanya, keras.
"Sebetulnya hatiku sudah pepat berdiam di dalam istana ini. Besok hendak aku pergi ke Seesan, untuk melihat bunga. Mama ingin turut atau tidak?"
"Aku sudah tua, aku tidak punyakan kegembiraan untuk itu,"
Jawab sang ibu.
"Jikalau kau hendak pergi ke sana, pergilah naik kereta kurung. Dari dalam kereta itu kau dapat mengintai orang di luar, sedang orang di luar tak dapat melihat padamu. Kau lihat, bagaimana ibumu kurang sayang padamu... Baru saja aku titahkan tukang membuatnya. Kereta itu sekarang sudah ditaruh di luar."
Peng Teng tersenyum mendengar kata-kata ibunya itu.
"Sekarang tolong siapkan semangkok somthung untuk Sri Baginda!"
Kata ibu itu kemudian.
"Ah, aku tidak mau!"
Anaknya menolak.
"Nah. nah, kembali kau membawa adatmu!"
Kata ibunya.
"Kau tidak mau pergi, baiklah! Tjoen Koei, Tjoen Koei, mari!"
Tjoen Koei adalah satu dayang, dialah yang dititahkan menyuguhkan kuah somthung untuk raja.
Dayang itu membawa sebuah peti terbuat dari besi, di dalam peti itu --yang bagaikan kuali, --terdapat kuah somthung itu.
Di bawah peti ada api menyala, yang membuatnya somthung itu tetap hangat.
Giok Lo Sat dengar semua pembicaraan ini, dan yang terakhir membuat ia girang.
Begitu lekas dayang itu berangkat, dia tinggalkan tempat sembunyinya untuk menguntit.
Dia mengintil tanpa diketahui si dayang.
Keraton tempat kediaman raja terpisah tak jauh dari gedungnya Keksie, maka itu, jatarTbelum lama, sampailah si dayang di sana.
Giok Lo Sat lihat ada pengawal yang menjaga di luar keraton, maka itu ia lantas umpetkan diri di pojok gununggunungan.
Ia tunggu sampai dayang tadi keluar pula, lalu dengan sepotong tanah, ia timpuk dayang itu.
Timpukannya itu jitu, yang mengenai jidatnya si dayang.
"Aduh!"
Teriaknya, kesakitan.
"Ada apa?"
Teriak satu pengawal, sambil lari menghampiri.
"Ada orang serang aku,"
Sahut si dayang.
"Lihat, rambutku kusut? Sakit..."
"Ah, kau melihat setan! si pengawal tertawa.
"Coba aku lihat, bagian mana yang terserang..."
Dengan tangannya, ia usap muka orang.
Menggunakan ketika si pengawal meleng, Giok Lo Sat keluar dari tempat sembunyinya, untuk terus lompat naik ke atas genteng, yang terbuat dari kaca, dari situ, ia lompat masuk ke pekarangan dalam.
Dari sini terus ia pergi keluar kamar tulis raja.
Di luar, si pengawal asyik bercanda dengan si dayang, dia tidak tahu ada orang sudah nelusup masuk.
Di dalam kamar tulisnya, Yoe Kauw sedang memeriksa surat-surat.
Semua suratnya menteri besar telah disingkirkan Goei Tiong Hian, maka itu raja ini cuma bisa periksa laporannya pembesar-pembesar setempat.
"Ah, orang ini besar nyalinya!"
Kata dia seorang diri.
"Bagaimana dia berani memohon keadilan untuk Him Teng Pek! Dia minta kami bunuh Goei Tiong Hian. Coba kami lihat namanya..."
Yoe Kauw bukannya seorang yang terlalu tolol, hanya karena sudah lama ia dipengaruhi Keksie, hingga ia tak dapat mengangkat dirinya sendiri.
Ia sekarang adalah satu pemuda yang berusia dua puluh tahun, ia mengerti, sungguh menyebalkan untuk menjadi raja boneka.
"Wan Tjong Hoan, penulis pada tangsi tentara di Liauwtong,"
Ia membaca.
"Baik aku ingatkan nama ini. Aku mesti berdaya untuk pakai dia kelak. Ah, ia telah datang ke kota raja untuk menantikan pengangkatan... Baik, beberapa hari lagi. nanti aku titahkan panggil dia menghadap. Tapi, bagaimana kami mesti urus permohonannya ini?"
Tidak berani raja ini mengabulkan permohonan itu, iapun tidak ingin serahkan itu pada Goei Tiong Hian.
Maka ia menjadi bingung.
Sedangnya kaisar ini pusing, tiba-tiba kain jendela terpentang, angin menghembus masuk, suatu suara perlahan menyusul di atas meja.
la menjadi kaget, hingga ia mengeluarkan jeritan.
Di tengah-tengah meja kemudian menancap pisau belati, dan pada belati itu tertusuk selembar kertas yang ada tulisannya, bunyinya.
"Lekas bebaskan Yo Lian! Kubur Him Kengliak dengan cara hormat! Jikalau kau tidak turut, akan aku ambil kepalamu!"
"Mana orang!"
Teriak kaisar ini dalam kagetnya itu.
Dia kelabakan.
Lalu kagetnya bertambah, apabila dia dapatkan, suratnya Wan Tjong Hoan lenyap...
Giok Lo Sat unjuk kesehatannya.
Sedang orang menoleh ke belakang, ia lompat masuk dan menyambar suratnya Wan Tjong Hoan itu.
la bekerja cepat sekali.
Tapi sedangnya ia menyingkir melewati gunung-gunungan, tiba-tiba ia rasakan angin berseliwir keras, lalu satu bayangan bagaikan segumpal awan merah menyambar ke arahnya.
Ia berbalik, pedangnya dipakai membabat.
Nona ini menjadi kaget, karena ia rasakan pedangnya seperti terjepit dan keras untuk ditariknya, hingga ia mesti pakai tenaga besar.
Waktu pedangnya itu terjepit, ia dengar suara sangat nyaring dan berisik, mirip dengan suara gembreng pecah, yang menulikan kuping.
Segera ia berhadapan dengan satu pendeta lhama yang memakai jubah merah yang gerombongan.
Itulah Tjiang Kim Lhama, pelayannya kaisar, yang ditugaskan oleh Goei Tiong Hian.
Dia bertenaga besar dan pandai silat, pandai juga ilmu obat-obatan untuk plesiran di dalam kamar.
Jadi raja hendak diloloh obat pelesiran, supaya dia gemar main perempuan...
Senjata pendeta itu berasal dari Tibet, yaitu sepasang cecer tembaga.
Dia anggap dirinya sudah liehay, maka itu ia kaget ketika ia dapatkan si nona dapat meloloskan pedangnya dari jepitan cecernya itu.
Si Raksasi Kumala menjadi gusar dan penasaran, melihat pendeta itu tercengang ia lantas menyerang, ketika si Ihama menangkis, ia ulangi serangannya.
Dengan begitu mereka jadi bertempur.
Tjiang Kim mainkan sepasang cecernya itu.
dia ingin menjepit pula pedang si nona, akan tetapi kali ini.
dia tidak berhasil.
Malah dia sendiri, dibikin sangat kaget waktu si nona membabat ke arah perutnya, hingga dia mesti kempeskan perutnya itu sambil menjepit pula.
Kembali dia gagal, sedang ikat pinggangnya terbabat kutung.
Karena kagetnya, dia lantas lompat mundur.
Si nona gunakan ketika ini, ia pun lompat mundur juga.
untuk terus memutar tubuh dan berlalu...
Ketika itu riuhlah sekitar istana, karena tanda ada bahaya terdengar dari sana-sini, dan banyak pengawal lari memburu.
Di atas genteng kaca dari keraton Kengdjin kiong segera terdengar satu seruan dari satu bayangan manusia.
"Giok Lo Sat, kau bernyali besar, tetapi kali ini, tidak dapat kau terbang lolos!"
Itulah Bouwyong Tjiong si pemimpin pahlawan istana, ia tahu si nona liehay. maka itu tidak mau ia hampirkan nona itu, untuk bertempur. Kembali ia perdengarkan suaranya yang nyaring.
"Jangan kamu bingung! Lekas tutup pintu luar! Pasang lentera! Lepaskan panah! Jagalah tembok! Habis itu, kamu menggeledah! Tidak nanti dia lolos!"
Oleh karena ia mempunyai Iweekang yang mahir, Bouwyong Tjiong punyakan suara nyaring luar biasa, terdengarnya keras dan jauh.
Segera keraton menjadi terang.
Banyak sekali lentera yang dipasang dan dipancarkan, hingga kelihatan nyata munculnya pelbagai pahlawan.
Giok Lo Sat cerdik, dia berlaku tenang.
Dia tahu.
biar lentera-lentera sangat terang, cahayanya toh tidak dapat menembusi taman, maka itu, ia nelusup di antara pohonpohonan.
Ia mengenakan pakaian malam warna hitam, ini membantu banyak padanya, la selalu cari tempat yang gelap.
Ia juga gunakan akal.
Ialah tiap-tiap kali ia jumput batu dengan apa ia timpuk sana-sini.
hingga ia menerbitkan suara berisik.
Orang menduga ia berada di timur, tak tahunya ia nyelusup ke barat.
Dengan jalan cerdik ini, akhirnya ia dapat meloloskan diri ke Lengnio hoe.
Keksie ketakutan bukan main apabila ia dengar suara berisik, ia kunci pintu kamar, ia lari masuk ke dalam kamar rahasianya di dalam tanah.
Peng Teng sebaliknya menghunus pedang, bersiap akan melindungi ibunya.
Ketika Giok Lo Sat lari sampai di luar gedungnya Keksie, ia tidak lihat ada orang di situ.
Ketika ia tampak kereta kurung, ia tersenyum.
Ia singkap tendanya, lalu ia lompat naik masuk ke dalamnya, sesudah mana.
ia turunkan pula tenda itu.
Kawanan pengawal masih mencari terus, mereka tidak mendapat hasil.
Tidak ada orang di dalam, tidak ada yang molos keluar.
Tentu sekali, mereka menjadi heran.
Bouwyong Tjiong berlaku teliti, ia pasang orang-orangnya, ia pun bantu mencari.
Tapi semua ini sia-sia saja.
Terus sampai terang tanah istana itu digeledah, tetapi mereka tidak menemukan orang yang dicari itu.
Maka Bouwyong Tjiong jadi sangat mendongkol, menyesal dan berduka.
Ia menyangka si nona telah memperlihatkan kemahiran ilmu enteng tubuhnya dan dapat lolos dari kepungannya itu.
Maka akhirnya, ia titahkan untuk berhenti mengadakan pemeriksaan.
Tetapi penjagaan tetap diperkeras.
Selama itu.
si Raksasi Kumala sendiri sedang asyik menyenderkan tubuhnya di dalam kereta yang empuk.
Setelah pengepungan dihentikan, istana jadi tenang pula.
Cuma suasana yang tetap tegang.
Karena berkuatir pada Keksie, maka Peng Teng tidak jadi keluar pagi-pagi, ia keluar setelah matahari naik tinggi.
Ia keluar dari gedungnya dengan naik kereta kurung yang indah.
Ia memang biasa keluar pelesir, maka keretanya dapat keluar masuk dengan bebas.
Walaupun dalam keadaan tegang, tidak ada pahlawan yang berani periksa kereta si inang pengasuh raja, menanyakan pun tidak.
Benar-benar nyaman kereta kurung itu untuk didudukinya.
Empuk dan tidak bergoncang keras.
Tidak lama sampailah kereta itu di Seesan, Gunung Barat.
Selagi Peng Teng hendak turun dari keretanya, untuk melihat lihat bunga-bunga yang indah dan menghirup baunya yang harum, tiba-tiba terdengar suara perlahan di dalam keretanya itu.
seperti tikus sedang makan sesuatu.
Ia menjadi heran.
"Kereta masih begini baru dan indah, mustahil sudah menjadi sarang tikus?"
Kata dia seorang diri.
Ia hendak angkat bantal itu, tetapi belum sampai ia mengangkatnya.
Ia telah merasakan tenaga yang menolak bantal itu, hingga ia menjadi kaget dan mencelat.
Segera jok itu terangkat, maka di bawah itu, yang lega bisa muat berbareng dua orang, berbangkit satu orang dan duduk.
Orang itu pun lantas tertawa.
"Kau baik?"
Tanya orang itu.
"Terima kasih untuk buah angtjo dan buah toh ini!"
Giok Lo Sat merasa lapar, ia hajar bekalan buah tjo dan toh yang manis itu, saking napsunya, ia sampai perdengarkan suara njiplak, suara beradunya kedua baris giginya.
Peng Teng terkejut, tetapi belum sempat ia hunus pedangnya, Giok Lo Sat sudah hajar jendela kaca, terus ia lompat keluar dari kereta itu lalu sambil lari, dia berteriak.
"Orang she Kek, gurumu sudah mati! Jikalau kau tidak berlalu dari keraton, nanti sia-sia saja ilmu silat yang gurumu wariskan padamu!"
"Apakah ada yang bunuh guruku itu?"
Peng Teng berkaok, menanya.
"Siapa?"
"Siapa pun tidak ada yang bunuh padanya!"
Sahut Giok Lo Sat.
"Dia mati karena jengkelkan suami bangsatnya itu! Sekarang ini orang yang mewariskan kepandaian tinggal kau seorang! Sebab anaknya adalah satu bantong, yang tidak ada gunanya! Maka itu jika kau tidak merantau, untuk mengangkat nama, guna kemasyuran gurumu, pasti dia mati dengan mata tak meram!"
Itulah suara yang terakhir, Peng Teng tidak melihat lagi si nona.
Maka lenyaplah kegembiraannya.
Tiat Hoei Liong di tempat mondoknya berkuatir apabila ia menunggu dengan sia-sia kepada anak pungutnya, yang itu malam tidak kembali, sampai paginya; selagi ia menanti terus dengan gelisah, barulah sesudah jauh siang, ia lihat anak itu pulang.
"Ah, ke mana saja kau pergi?"
Tanya dia.
"Aku mengacau di dalam istana,"
Sahut sang anak seraya terus memberikan keterangannya. Mendengar Bouwyong Tjiong telah kembali, wajahnya Hoei Liong menjadi merah.
"Kau nakal!"
Katanya, tertawa, waktu si anak menceritakan ketika ia makan buah-buahannya Kek Peng Teng.
"Sekarang ini sulit juga untuk cari Bouwyong Tjiong,"
Kata si nona sesudah selesai menutur.
"Tentang ia baiklah kita lakukan lain kali. Sekarang telah aku dapatkan orangnya yang tepat untuk diserahkan kitab rencananya Him Kengliak."
"Apakah kau maksudkan Wan Tjong Hoan?"
Tanya Hoei Liong. Orang tua ini dapat menduga.
"Benar."
Jawab sang anak.
"Tentang dia mulanya aku dengar dari Touw Beng Tiong, yang memujinya, tapi aku masih sangsi. Yo Lian pun mengatakannya, Tjong Hoan itu dapat menggantikan Kengliak, masih juga aku ragu-ragu. Tapi sekarang, setelah melihat surat permohonannya itu kepada raja, baru aku percaya dia bernyali besar. Rencana itu baiklah dihaturkan kepadanya.
"Rencananya Kengliak adalah mengenai nasib negara, untuk itu harus kita hati-hati,"
Kata Hoei Liong.
"Karena sekarang ia berada di kota raja, nanti aku minta Liong Toako tolong carikan tempat pemondokannya, sesudah itu, kita nanti pergi padanya. Lebih dahulu kita mesti uji dia."
Memang Wan Tjong Hoan dari perbatasan telah ditarik pulang ke kota raja, untuk menanti tugas yang baru.
Punggawa setingkat ia, di kota raja ada banyak sekali, di mata Kementerian Perang, dia tidak terlihat.
Tapi dia bukan seperti punggawa-punggawa yang kebanyakan itu, maka itu ia mengetahui keadaan di istana, dengan berani dia telah mengajukan permohonannya mengenai sepak terjang Goei Tiong Hian.
Kesudahannya, dia jadi sangat masgul, dia tidak dengar suatu apa dari permohonannya itu.
Itu hari dia duduk seorang diri di tempat kediamannya.
Setelah menyeduh teh, lantas ia membaca kitab ilmu perang dari Soen Boe Tjoe.
Tiba-tiba pintu kamarnya ada yang tolak, lalu satu nona bertindak masuk, bersama nona ini ada seorang tua.
"Wan Tjong Hoan. nyalimu sangat besar!"
Sekonyongkonyong si nona membentak.
"Kenapa kau berani satrukan Goei Kongkong? Apakah dengan perbuatanmu itu kau masih mengharap hidup!" (Kongkong --panggilan untuk orang kebiri.). Wan Tjong Hoan tidak takut, ia hanya heran.
"Siapa kamu?"
Ia balik tanya.
"Kamilah yang datang untuk membunuh kau!"
Sahut si nona. ialah Giok Lo Sat. yang datang bersama ayahnya. Ia rogoh sakunya untuk mengeluarkan surat permohonan, lalu ia lemparkan di atas meja.
"Bukankah kau yang tehtfi menulis ini?"
Ia tegaskan. Tergerak juga hatinya punggawa itu.
"Setelah aku sampai di kota raja ini, aku dengar suratku ini ditahan Keksie,"
Dia berpikir.
"Aku juga dengar Keksie mempunyai satu anak dara yang pandai silat. Apakah benarbenar Keksie telah melihat suratku ini dan sekarang dia mengirimkan gadisnya serta pahlawan untuk membunuh aku?"
Tapi ia tidak takut. Maka dengan suara keras, ia menjawab.
"Ya, aku yang menulisnya! Sekarang kamu mau apa?"
II "Ah, apakah benar-benar kau tidak takut mampus?"
Giok Lo Sat tertawa, la lantas ulurkan tangannya yang halus bagaikan kemala nampaknya, lalu jerijinya digurat-guratkan di atas meja dari kayu merah, setelah ia berhenti menggurat terukirlah di atas meja itu satu huruf.
"Bunuh". Wan Tjong Hoan lihat itu, ia pun tertawa, malah tertawanya besar.
"Jikalau aku takut mati, tidak nanti aku persembahkan suratku itu,"
Katanya.
"Jikalau kau hendak bunuh aku, bunuhlah! Tidak usah kamu banyak bicara!"
"Sret!"
Demikian si Raksasi Kumala hunus pedangnya, la berlaku sangat sebat dan aksinya ganas.
"Foei!"
Seru Wan Tjong Hoan, sambil majukan dirinya, la meludah. Sejenak saja, si nona di depannya telah lenyap. Cuma suara tertawanya yang terdengar, disusul dengan kata-kata.
"Masih bagus! Kau tidak sampai menodai bajuku dengan air ludahmu itu! Coba bajuku kotor, orang berpangkat semacam kau mana sanggup menggantinya?..."
Wan Tjong Hoan melengak. Ia dapat kenyataan si nona tengah berdiri di sampingnya, pedangnya sudah dimasukkan ke dalam sarungnya. Ia heran bukan kepalang.
"Sudah, anak Siang, jangan kau bergurau pula!"
Kata Hoei Liong sambil tertawa. Giok Lo Sat memberi hormat dengan rangkapkan kedua tangannya kepada punggawa itu.
"Bagus!"
Katanya, memuji.
"Kau benar satu enghiong yang tidak takut mati!" (Enghiong = orang gagah; pendekar.). Wan Tjong Hoan heran bukan main. Ia balas menghormat.
"Apakah djiewie bukannya calon-calon pembunuh yang di kirim Keksie dan Goei Tiong Hian?"
Dia tanya. (Djiewie --kedua tuan, yang terhormat.). Si Raksasi Kumala tertawa.
"Kami datang untuk mengantarkan serupa barang pada kau,"
Ia jawab.
"Apakah itu?"
Tanya Tjong Hoan. Si nona buka buntalannya, keluarkan kitab rencananya Him Kengliak. Ia letakkan itu di atas meja. Wan Tjong Hoan lihat kalimat buku itu.
"Liauwtong Loen", artinya.
"Rencana mengenai jasirah Liauwtong". Ia pun sambar buku itu. untuk segera membalik-balik lembarannya.
"Ah!"
Serunya, kaget dan heran.
"Kenapa bukunya Kengliak berada di tangan kamu?"
"Tak usah kau tanyakan itu,"
Sahut Giok Lo Sat tersenyum.
"Andaikata kau anggap buku ini ada faedahnya untukmu, kau ambillah!"
"Jikalau kau tidak menjelaskannya, bagaimana aku dapat menginginkannya kitab peninggalannya Kengliak?"
Kata si punggawa. Si nona mengawasi muka orang.
"Apakah kau mempunyai arak?"
Dia tanya.
"Ada,"
Sahut Tjong Hoan. Nona itu tertawa.
"Kau mempunyai arak, kenapa kau tidak keluarkan?"
Kata dia.
"Cerita kami panjang, tanpa arak untuk melicinkan kerongkongan, bagaimana dapat aku menceritakannya?"
Mau atau tidak, Tjong Hoan pun tertawa.
"Kiranya begitu?"
Kata dia.
"Sayang aku tidak punya makanan untuk menjadi temannya arak..."
Di dalam hatinya, ia menambahkan.
"Nona ini polos!"
Ia lantas keluarkan satu poci arak putih, ia isikan tiga buah cawan.
"Kalau ada hal-hal yang memuaskan, baru gembira minum arak!"
Kata pula si nona.
"Ayah, hari ini aku hendak melanggar pantangan arak!"
Hoei Liong menjawab anak angkatnya itu dengan tenggak habis tiga cawan.
"Sesudahnya Kengliak, baru sekarang aku bertemu pula dengan satu enghiong!"
Katanya.
"Aku juga hendak melanggar pantangan minum arak itu!"
Giok Lo Sat juga hirup araknya, lalu sambil tiap-tiap kali membasahkan tenggorokannya, ia berikan penuturannya mengenai kitab wasiat Him Kengliak itu, yang mulanya diberikan kepada Gak Beng Kie, lalu Gak Beng Kie menyerahkannya kepada To It Hang, kemudian It Hang menyerahkannya lebih jauh kepadanya.
Bukan main terpengaruhnya Wan Tjong Hoan mendengar keterangan itu.
Dengan air mata berlinang, ia berlutut ke arah langit, untuk memberi hormatnya dengan tiga kali berlutut dan tiga kali bangun, sesudah mana barulah dengan cara hormat juga ia terima kitab wasiat itu.
Giok Lo Sat tidak kuat minum, baru menghabiskan beberapa cawan, ia sudah lantas merasakan pengaruhnya, la tahu batas, maka hendak ia menghentikannya.
Selagi ia berniat pamitan, tiba-tiba terdengar pintu kamar diketuk.
Sementara itu sekarang Wan Tjong Hoan ketahui si nona adalah Giok Lo Sat yang menggetarkan dunia kangouw.
"Lian Liehiap,"
Katanya, perlahan.
"untuk sementara, pergilah kamu menyingkir dulu."
Dan ia persilakan ayah dan anak itu pergi ke kamar samping.
Dengan cepat ia singkirkan poci arak serta cawannya, dan meja pun ditutup dengan selembar kain penutup.
Dengan begitu tak nampaklah ukiran huruf "Bunuh"
Dari Giok Lo Sat tadi. Habis itu barulah ia membukakan pintu. Yang datang itu adalah satu opsir.
"Apakah aku berhadapan dengan Wan Siangkong?"
Dia menanya.
"Mungkin orang ini ada pesuruhnya Keksie atau Goei Tiong Hian,"
Pikir Tjong Hoan, yang menyahuti dengan lekas.
"Benar!"
"Sri Paduka sudah lama mengagumi nama siangkong, bagaikan orang berdahaga, ingin ia bertemu dengan siangkong,"
Kata opsir itu.
"Kau dari istana mana?"
Tanya Tjong Hoan.
"Dari istana Sinong hoe,"
Jawab si opsir.
Pangeran Sin Ong.
yang bernama Tjoe Kiam.
adalah adik dari kaisar.
Dia memang terkenal kegemarannya menghormati orang-orang cerdik pandai.
Meski begitu, heran juga Tjong Hoan mendengarnya, ia melengak.
"Wan Siangkong telah melakukan peperangan di Patliepou, di sana siangkong telah melabrak tentara Boantjioe, siapakah tak dengar itu?"
Berkata pula si opsir.
"Ongya kami sangat mengagumi siangkong atas kemenangan itu."
"Cuma pemerintah saja yang tidak tahu!"
Pikir Tjong Hoan.
"Pangeran ini suka memperhatikan urusan di tapal batas, mungkin dia tidak ada kecelaannya..."
Memang putera Tjoe Yoe Kiam (yang kemudian menjadi kaisar Tjong Tjeng) ada terlebih pandai dari pada kakaknya.
Yoe Kauw ada terlalu lemah, dia pun tidak mempunyai putera mahkota.
Maka dari siang-siang Yoe Kiam telah mengincarnya tahta sebagai bakal kepunyaannya.
Malah dia sudah memikirkan juga, setelah menjadi kaisar, dia hendak membereskan Goei Tiong Hian.
Hanya dia belum punyakan panglima perang yang menjadi orang kepercayaannya, karenanya dia ingin menyediakan payung sebelumnya hujan.
Wan Tjong Hoan termasuk dalam pilihannya itu.
Wan Tjong Hoan sedang masgul, sekarang ada orang yang "mengenalnya", hatinya menjadi terbuka juga.
Maka ia terima surat undangannya Yoe Kiam itu sambil ia berikan jawabannya "tolong sampaikan kepada hongya, nanti Tjong Hoan datang mengunjunginya." (Hongya = sri paduka, untuk putera raja.).
Ia hendak menyuguhkan teh, untuk antar opsir itu, atau lantas ada lagi ketukan pada pintu.
Maka ia merasa lucu.
Dalam hatinya, ia berkata.
"Sudah sekian lama aku pulang, untuk menantikan tugas, tidak ada orang yang mempedulikan aku, tetapi malam ini berturut-turut orang telah datang padaku, adakah ini tanda bahwa nasibku sudah mulai berubah menjadi baik?"
Ia membukakan pintu, segera masuklah dua orang.
Yang pertama ada seorang tua berumur kira-kira lima puluh tahun, hidungnya bengkung bagaikan patuk garuda, mulutnya lebar bagaikan mulut singa, romannya sangat jelek, yang kedua seorang dengan seragam opsir Kimiewie, pengawal Baju Sulam.
Dari kamar samping, Giok Lo Sat senantiasa mengintai keluar, maka segera ia kenali, pahlawan Kimiewie itu Tjio Ho adanya "Ha, mau apa Tjio Ho datang kemari?"
Ia tanya dirinya sendiri. Opsir Kimiewie itu maju dua tindak, kepada pesuruhnya putera raja.
"Eh, bukankah kau dari Sinong hoe?"
Dia tanya opsir itu.
"Buat urusan apa kau datang kemari?"
Opsir itu bernama Pek Kong Soe, dia seorang yang mengerti ilmu gelut, dalam barisan pengawalnya Sin Ong, dialah guru yang kenamaan. Dia tak mengetahui Tjio Ho, yang ia kenali, mengenal padanya.
"Inilah tidak bagus,"
Pikirnya.
"Tjio Ho adalah orang kepercayaannya Goei Tiong Hian, tidak leluasa andaikata dia ketahui maksudnya hongya mengundang Wan Tjong Hoan."
Karena ini, dia lantas ambil putusan. Dia percaya kepada kepandaiannya sendiri, dia pun hendak turun tangan terlebih dahulu. Kalau tadi dia duduk terus, sekarang dia berbangkit.
"Tjio Tjiehoei, banyak baik!"
Katanya sambil tertawa, seraya memberi hormat. Tapi di luar dugaan komandan Kimiewie itu, ia terus ulur kedua tangannya, ia menyambar, kakinya turut maju pula.
"Buk!"
Demikian satu suara, yang menyusul dengan terpentalnya tubuh Tjio Ho.
yang terbanting di tangga di depan pintu.
Inilah Wan Tjong Hoan tidak sangka, maka ia menjadi kaget.
Menyusul kejadian yang tidak disangka-angka itu, si orang tua kawannya Tjio Ho itu perdengarkan seruan yang nyaring dan aneh, dalam sekejap saja ia sudah mencelat ke hadapan Pek Hong Soe.
Jago gelut itu segera bersiap.
Ia ingin membanting lawan seperti barusan ia telah robohkan Tjio Ho.
Ia hendak gunakan tipu "Kimlie hoansin", atau.
"Ikan tambra emas membalik diri". Kalau ia berhasil, lawannya akan terbanting hingga mati. Baru Pek Kong Soe mulai bergerak, atau ia dengar bentakan si orang tua.
"Binatang, kau cari mampus!"
Kong Soe kaget. Dengan tiba-tiba ia rasakan pundaknya sangat sakit, hingga tak dapat ia kerahkan tenaganya.
"Kau siapa?"
Bentak Tjong Hoan, yang kaget dan heran.
"Mengapa kau berani berlaku kurang ajar di sini?"
Sambil mengucap demikian, ia lompat, sebelah tangannya menyambar.
"Bagus!"
Seru si orang tua, sambil menggerakan kedua tangannya, untuk menjatuhkan Pek Kong Soe, setelah mana ia terus berkelit dari serangan Tjong Hoan.
Ia tidak membalas menyerang, ia hanya tertawa dan berkata.
"Bocah, kau tidak dapat dicela, pantas Khan kami yang agung tertarik padamu!" (Khan = Khan yang agung, yang besar). Tjong Hoan heran dan kaget. Ia segera tarik kembali tangannya.
"Khan agung siapa?"
Tanya dia. Orang tua itu tertawa pula.
"Memang, tanpa bertempur, orang tidak dapat mengenalnya satu pada lain."
Katanya.
"Kau dan Khan kami yang agung itu pernah bertemu dalam beberapa pertempuran, apakah kau masih hendak menanyakannya lagi?"
Wan Tjong Hoan berpikir dengan cepat.
"Kau jadinya suruhannya Nuerhacha?"
Tanya dia.
"Benar!"
Si orang tua tertawa.
"Khan kami yang maha besar ingin undang kau, tetapi karena dikuatirkan kau nanti banyak tingkah, hingga kau tidak dapat diundang datang. aku diperintahkan datang kemari!!"
Wan Tjong Hoan menjadi gusar sekali.
"Oh, anjing Boantjioe!"
Dia mendamprat.
"Kau berani datang ke Pakkhia untuk banyak tingkah! Jikalau kau tidak diberi pelajaran, nanti kamu pandang kami di Tionggoan sudah tidak ada orangnya!"
Dengan saling susul hingga dua kali, serangannya mendatangkan suara angin. Tjong Hoan serang orang tua itu dengan kedua tangannya. Pahlawan Boantjioe itu main mundur, tetapi segera ia mengancam.
"Aku minta kau jangan turun tangan, atau aku nanti terpaksa berlaku kurang ajar terhadapmu!"
Lalu setelah itu, ia mainkan kedua tangannya, dalam aksi menotok jalan darah.
Wan Tjong Hoan ada seorang ahli perang, ia mengerti ilmu silat, baik dengan menunggang kuda maupun tidak, akan tetapi dalam hal ilmu totok, ia asing, maka itu, didesak dengan ilmu ini, ia menjadi repot, hingga ia menjadi bingung.
Di saat orang sedang bingung itu, tiba-tiba terdengar satu suara tertawa yang nyaring tetapi empuk, disusul dengan kata-kata yang enak didengarnya.
"Eh, Wan Siangkong, kenapa kau bertempur dengan tetamumu?"
Pahlawan Boantjioe itu menjadi heran, ia segera menoleh, hingga tampaklah olehnya satu nona asyik mendatangi dengan tindakan halus ke arah mereka, wajahnya tersungging senyuman bekas tertawanya.
Nona itu tidak hanya manis air mukanya, tetapi juga berpengaruh, hingga tidak sembarang orang berani mengawasinya.
Giok Lo Sat tertawa pula.
Ia datang kepada mereka itu, lalu ia melambaikan tangannya kepada orang tua itu.
"Mari, mari,"
Katanya dengan manis.
"Coba kau terangkan padaku mengapa majikanmu hendak mengundang Wan Siangkong? Jikalau omonganmu beralasan, aku akan minta Wan Siangkong suka turut kau pergi!"
Jago Boantjioe itu heran, sampai tanpa merasa, ia mundur beberapa tindak. Tapi ia bernyali besar. Dalam sekejab saja. ia telah berkuasa pula atas dirinya. Malah ia ingat.
"Dia sangat cantik bagaikan bidadari, mengapa aku tak hendak sekalian membekuk dia untuk dihaturkan kepada Khan yang maha agung?"
Giok Lo Sat tidak menggubris melihat orang sedang berpikir. Lagi-lagi ia tertawa.
"Kau datang dari perbatasan, kau juga diantar satu kepala Kifhiewie, kau mestinya seorang dengan riwayat yang tak sembarang!"
Demikian katanya pula.
"Coba kau katakan padaku, kau adalah tetamunya menteri yang mana dalam kerajaan kami?"
"Dia adalah mata-mata bangsa Boantjioe, untuk apa kau omong banyak dengannya?"
Nyelak Wan Tjong Hoan.
"Bukan begitu!"
Kata si nona, yang masih tertawa.
"Pepatah mengatakan, sutera selembar tak menjadi benang, maka jikalau dia tidak ada yang menyambutnya, yang melindungi, mustahil dia berani menculik orang di bawah terang benderangnya matahari dan di dalam kota raja ini?"
Tjong Hoan segera insaf, maka ia bertindak ke samping, ia biarkan si nona menghadapi tetamunya yang tidak diundang itu. Jago dari Boantjioe itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Nona kecil, ini bukannya urusanmu,"
Kata dia dengan sabar.
"Kau sendiri baiklah turut aku! Jikalau Khan kami yang agung melihat kau, mestinya dia sangat bergirang, dan itu artinya keberuntunganmu seumur hidup! --keberuntungan yang tidak ada habisnya!..."
Wajahnya si nona berubah dengan tiba-tiba, tetapi dengan tiba-tiba juga ia tertawa.
"Banarkah itu?"
Dia menegaskan.
"Maukah kau menerangkannya, atau tidak?"
Melihat orang tertawa manis, jago Boantjioe itu tidak bercuriga.
Ia lantas tertawa cekikikan.
Ia pun ulurkan sebelah tanganaja, untuk cekal lengannya si nona manis.
Giok Lo Sat tarik kembali lengannya itu.
Ia tertawa pula.
"Dibanding dengan Wan Siangkong ini, aku terlebih pandai melayani tetamu, apakah kau tidak kuatir?"
Dia tanya.
"Mendapat perlayanan kau, nona, inilah hal yang aku memintanya pun tidak berani kuharap..."
Sahut si orang tua. Lagi sekali ia ulurkan tangannya. Giok Lo Sat sambar kain penutup meja, hingga di situ terlihatlah ukiran huruf "Bunuh"
Tadi.
Menampak huruf itu, yang ia kenal, orang Boan itu terkejut.
Tiba-tiba ia rasakan sambaran angin ke arah mukanya, segera ia berkelit; walaupun demikian, tidak urung ia merasakan sangat sakit pada pipinya yang kiri, sakitnya sampai ke ulu hati...
Orang Boan ini bernama Tjat Kek To, dia adalah orang kuat pilihan dari Nuerhacha, sekarang ia kena dihajar orang, bukan kepalang murkanya dia.
Maka dia berseru keras, dan sebelah tangannya segera melayang.
Dengan itu ia membuat meja terbalik.
Benci ia kepada ukiran huruf "Bunuh"
Itu.
Giok Lo Sat segera menghunus pedangnya dengan apa ia menyerang, berulang sampai dua tabasan.
Tjat Kek To melakukan perlawanan.
Dia gagah, akan tetapi setelah belasan jurus, dia kewalahan juga, hingga selainnya menangkis atau mengelakan diri, tidak bisa ia melakukan penyerangan membalas.
Gembira si nona dengan pertempurannya ini.
Setelah menang di atas angin, tiba-tiba ia tertawa panjang disusul dengan gerakan kakinya, yang menginjak garis tengah atau "tiongkiong", setelah mana pedangnya berkelebat dan menyambar ke arah tenggorokan lawan.
Berbareng dengan itu, Tiat Hoei Liong berseru dengan nyaring sekali.
"Jangan binasakan dia!"
Dalam saat yang sangat berbahaya itu, si Raksasi Kumala masih dapat mengubah sasaran ujung pedangnya, hingga ia menotok lain anggauta, yang berbahaya juga. Ia tertawa dan berkata.
"Oh, ayah! Tanpa peringatan kau, niscaya sudah aku bunuh dia!"
Tjat Kek To roboh karena terkena pedang lawannya, dia bergulingan di lantai.
"Kau aneh!"
Berkata si nona, menggoda.
"Kau diundang minum arak, kau menampik, sebaliknya, kau minum arak dendaan. Aku hendak tanya kau. Pertanyaan itu sudah aku ajukan tadi! Sebenarnya, kau hendak bicara atau tidak?"
Orang Boan itu kertak giginya menahan sakit. Ia membungkam.
"Hm, kau masih hendak berpura-pura menjadi jagoan?"
Kata si nona, mengejek.
"Ayah, tolong seret Tjio Ho kemari! Biar dia menontonnya!"
Sementara itu, Tiat Hoei Liong segera membangunkan Pek Kong Soe dan Tjio Ho.
Kong Soe tidak terluka parah, dia diantar masuk ke dalam untuk dipakaikan obat.
Tjio Ho terluka pada kakinya, Hoei Liong meletakannya di atas kursi dan ditekan, hingga ia tak dapat berkutik dan dapat memandang si Raksasi Kumala, yang sebaliknya mengawasi padanya sambil tersenyum tawar.
"Tjio Ho, dua kali kau telah lolos dari ujung pedangku!"
Berkata si nona, suaranya berpengaruh.
"Kali ini kau tidak mendapat ampun! Akan tetapi, jikalau kau mendengar kata, dapat aku membuka satu jalan hidup."
Tidak berani Tjio Ho membuka mulutnya, ia bungkam.
"Sekarang lebih dahulu hendak aku memperlihatkan contoh kepadamu!"
Kata pula si nona.
Dan sambil tertawa, dia layangkan sebelah tangannya kepada Tjat Kek To.
Nampaknya ayal sekali melayangnya tangan si nona, akan tetapi ketika tulang iganya orang Boan itu kena terserang, dia menjerit hebat sekali, terus dia bergulingan di lantai.
Luka pedang tadi masih dapat ia pertahankan, tetapi sekarang, ia rasakan tubuhnya seperti digigit ribuan ular berbisa, sakitnya sampai ke ulu hatinya.
Maka tidak peduli dia bertubuh besi atau baja, dia tetap tak berdaya.
"Nanti aku katakan, nanti aku katakan..."
Serunya. Giok Lo Sat mendupak iga kirinya si orang tua, sakitnya pun segera lenyap, hingga darahnya dapat mengalir pula seperti biasa. Sesaat kemudian, orang Boan ini dapat bicara.
"Khan yang maha agung mengirim aku sebagai utusan,"
Demikian ia beri pengakuannya.
"Aku diharuskan datang kepada Goei Kongkong..."
Itulah pengakuan yang sudah diduga Giok Lo Sat dan Tiat Hoei Liong, tidak demikian dengan Wan Tjong Hoan. hingga ia ini menjadi terperanjat. Ia mendongkol dan gusar sekali, tetapi ia menahan sabar.
"Ketika aku hendak berangkat, Khan yang maha agung berkata kepadaku."
Orang Boan itu menerangkan lebih jauh.
"Setelah terbinasanya Him Bantjoe, di Tionggoan tinggal satu Wan Tjong Hoan yang terpandai. Katanya, benar sekarang Wan Tjong Hoan masih berpangkat rendah, tetapi pada suatu hari dia akan memegang kekuasaan tentara, dia akan menjadi musuh tangguh. Maka itu aku ditugaskan pergi ke kota raja untuk menculiknya. Atau jikalau aku tidak dapat menawan hidup-hidup mesti aku binasakan dia..."
"Bagus!"
Tertawa Giok Lo Sat apabila ia dengar keterangannya orang itu. Wan Tjong Hoan berdiam ia tidak dapat segera mengerti. Giok Lo Sat berpaling pada orang she Wan ini.
"Musuh demikian jeri terhadapmu."
Katanya.
"Sekarang kitab wasiat Him Kengliak sudah diserahkan pada orang yang tepat, tidakkah itu bagus?"
Tjat Kek To melanjutkan keterangannya.
"Aku telah mohon bantuan Goei Kongkong akan cari tempat kediaman Wan Siangkong. Goei Kongkong suka membantu. Ia lantas kirim orangnya ke Kementerian Perang. Di Kementerian itu terdapat keterangan jelas perihal Wan Tjong Hoan, maka segera diketahui di mana Wan Siangkong berada. Yang lucu adalah Goei Kongkong, karena dia tak tahu bakat orang. Dia kata, seorang berpangkat kiamsoe yang demikian rendah, kenapa Khan yang maha besar memperhatikannya demikian rupa? Setelah itu dia titahkan Tjio Tjiehoei ini mengantarkan aku kemari."
"Sungguh berbahaya,"
Kata Wan Tjong Hoan dalam hatinya.
Ia merasa beruntung, yang pangkatnya masih kecil, hingga ia tidak menarik perhatiannya Goei Hong Hian, kalau tidak, mungkin siang-siang ia sudah dibikin celaka.
Hoei Liong awasi orang Boan itu.
"Berapa kali kau sudah bertemu si dorna kebiri?"
Tanya dia. Tjat Kek To menjublak.
"Dorna kebiri itu adalah si durhaka Goei Tiong Hian,"
Giok Lo Sat jelaskan.
"Apakah kau tidak tahu?"
Lantas orang Boan itu menjawab.
"Dua kali telah aku bertemu dengannya. Pertama kali ketika aku menyampaikan suratnya Khan yang maha agung. Dan kedua kalinya ialah waktu ia memberitahukan tempat kediaman Wsbi Siangkong."
"Kejadian itu di waktu siang atau malam?"
Hoei Liong tanya pula.
"Keduanya di waktu malam."
"Di waktu kau bertemu dengan dorna kebiri itu, adakah kau berdiri dekat dengannya?"
"Dia beri ijin aku duduk di kursi tetamu yang dihormati, karena itu kita terpisah tidak terlalu dekat, juga tidak terlalu jauh."
"Kira-kira berapa jauh?"
"Dia berada di sebelah timur, aku di sebelah barat,"
Sahut pula Tjat Kek To.
"Jaraknya kira-kira satu tumbak."
"Adakah semua keteranganmu ini benar?"
Hoei Liong tegaskan.
"Tak sepatahpun aku mendusta,"
Orang Boan itu memberi kepastian. Si Raksasi Kumala tertawa.
"Bagus!"
Katanya.
"Kau bicara terus terang, terhadapmu suka aku berlaku murah hati..."
"Terima kasih..."
Kata Tjat Kek To. Tapi, belum sampai habis ia mengucapkan perkataannya, atau tangannya si Raksasi Kumala sudah menyambar batok kepalanya, hingga tanpa menjerit lagi, dia menemui ajalnya.
"Orang yang aku hukum mati seperti dia ini, hingga matinya dengan cara memuaskan, belum ada tiga jumlahnya,"
Kata si nona.
"Coba dia tidak bicara dengan sebenar-benarnya tidak nanti aku mengasihani dia secara demikian!"
Tjio Ho telah saksikan itu semua, hatinya goncang keras, wajahnya menjadi sangat pucat.
Walaupun ia satu jago dan pangkatnya tjiehoei, komandan dari pasukan Kimiewie, ia toh jeri menghadap si Raksasi Kumala yang getas dengan setiap putusannya.
Giok lo Sat berkata pula.
"Sekalipun mayatnya, hendak aku membikinnya hancur musnah! Dengan begini aku hendak cegah Wan Siangkong nanti terlibat-libat..."
Lantas ia keluarkan dari sakunya satu botol kecil warna perak yang isinya semacam bubuk, lalu ditaburkannya bubuk itu ke seluruh tubuhnya si orang Boan itu.
Habis itu, ia berdiri menantikan.
Tak lama kemudian tubuhnya Tjat Kek To menjadi cair, menjadi darah, dengan segera nona itu menggali tanah, untuk menguruk darah itu, hingga benar-benar lenyap tubuh yang besar itu...
"Sekarang adalah giliranmu!"
Kata si nona kemudian kepada Tjio Ho, yang ia awasi dengan keren, selagi tjiehoei itu duduk menjublak dengan heran dan berkuatir.
"Aku menghendaki setiap kata yang aku katakan kau kerjakan. Sepatah saja kau membantahnya, akan aku bikin kau mampus melebihi siksaannya dia ini!..."
"Perintahkanlah, liehiap..."
Kata komandan itu, suaranya gemetar.
"Ayah, bicaralah dengannya!"
Si nona minta ayah angkatnya.
"Kau harus membawa aku menghadap Goei Tiong Hian."
Berkata Tiat Hoei Liong. Tjio Ho terkejut. Si nona segera mendelikan matanya.
"Baik, baik,"
Kata komandan itu, cepat.
"Wan Siangkong, kau tidak dapat berdiam lebih lama pula di sini,"
Kata Hoei Liong kepada Tjong Hoan.
"Untuk sementara, pergilah kau menyingkir ke Sinong hoe. Lukanya Pek Kong Soe tidak berat, dia masih dapat berjalan pulang. Kami sendiri hendak berangkat lebih dulu."
Lalu.
dengan menenteng tubuhnya Tjio Ho, ia berangkat bersama puterinya.
Tiat Hoei Liong mempunyai maksud sendiri.
Ia telah dapat kenyataan, potongan tubuh Tjat Kek To mirip dengan potongan tubuhnya sendiri, dengan lantas ia dapat pikiran untuk menyamar jadi pahlawan Boan itu, supaya ia bisa datang dekat pada si dorna kebiri.
Memang, selama di Tiangan Piauwkiok, pernah ia berkata pada Giok Lo Sat yang ia sedang memikirkan suatu akal untuk dapat menemui Goei Tiong Hian.
"Itulah berbahaya,"
Kata puterinya. Anak ini anggap, bila ia pergi seorang diri, ayah akan menjadi seperti "tangan sebelah tak dapat menerbitkan suara".
"Siapa tidak berani memasuki gua harimau, tak dapat ia mengambil anak macan!"
Kata Hoei Liong.
"Aku tak takut Goei Tiong Hian nanti kenali penyamaranku. Asal dia suka menerima kedatanganku, aku tak tunggu sampai dia sadar, segera akan aku hajar padanya!"
Giok Lo Sat tertawa. Diapun bangsa "tak takut langit, tak jeri bumi". Dia kata.
"Kalau begitu, hendak aku turut memasuki istana! Mari kita. yang satu masuk secara terang, yang lain secara menyerbu keluar!"
Ayah itu membiarkan kehendak anak angkatnya.
Tjio Ho mesti menyerah kepada paksaan, maka itu di malam kedua, dia ajak Tiat Hoei Liong memasuki istana secara diam-diam.
Goei Tiong Hian sudah berkongkol dengan bangsa Boan.
ia merahasiakan sepak terjangnya itu.
Tidak ada orang yang ketahui perbuatannya ini, kecuali beberapa orang yang dipercaya.
Karena ini, setiap kali ia jumpai utusan Boan, ia lakukan itu di waktu malam.
Malah Bouwyong Tjiong masih belum diberitahukan rahasia itu.
Malam itu ia hendak masuk tidur ketika ia dikabarkan Tjio Ho minta bertemu.
Ia terus pakai bajunya dan pergi keluar.
Baru ia muncul diambang pinlu, ia sudah tampak Tjio Ho berdua si utusan Boan tengah berdiri di depan ruang thia.
Tiba-tiba saja ia dapat pikir satu hal.
"Kemarin dulu ketika ia membicarakan Wan Tjong Hoan, utusan Boan itu mengatakan Nuerhacha sangat memperhatikan orang she Wan itu, karenanya aku titahkan dia mencoba menculik Tjong Hoan, supaya Tjong Hoan dibawa dulu menghadap padaku. Sekarang mereka cuma datang berdua, apakah mungkin Wan Tjong Hoan dapat meloloskan diri? Atau karena dia melakukan perlawanan, hingga dia telah terbunuh mati?"
Karena keragu-raguannya ini, Goei Tiong Hian lantas kisiki pengawal pintunya, habis itu, ia bertindak terus ke thia.
Kirakira beberapa tumbak dari Tjio Ho berdua, dia berhenti, untuk berdiri menyandar pada tembok.
Di situ ia buka mulutnya, ia bicara dalam bahasa Boantjioe dengan nyaring.
Katanya.
"Kuluku, ku ke tulu, pake na te totutu!"
Dorna kebiri ini dapat omong Boantjioe karena ia pernah belajar dari Tjat Kek To, tapi kali ini, ia mengucap sejadijadinya saja.
Ia merasa pasti, mendengar ocehannya itu, si utusan Boan akan mentertawakannya.
Ia harap orang nanti membetulkan kesalahan bahasa itu.
Ia sangat cerdik, itulah sebabnya kenapa ia dapatkan kedudukan dan pengaruhnya itu.
Kali ini, ia berhasil.
Tiat Hoei Liong melengak mendengar omongan itu.
Sejenak saja insaflah ia bahwa ia sedang dipancing.
Segera ia lompat, ke arah Goei Tiong Hian, untuk menyerang.
Tiong Hian segera tertawa berkakakan, tangannya menekan suatu knop di tembok di belakangnya.
Di sana ada pesawat rahasia, yang membuat tembok terbuka, maka dengan gunakan pintu rahasia itu, ia menghilang di sebelah lain dari tembok itu!
Hpei Liong kecele, ia sangat menyesal.
Tidak berhasil ia merobohkan si dorna kebiri, kesatu dorna itu sangat licik dan gesit, kedua jarak mereka masih terlalu jauh.
Terpaksa ia memutar tubuh, untuk menyingkirkan diri.
Tjio Ho pun berlaku licik, selagi Hoei Liong menerjang ke arah si dorna, ia putar tubuhnya untuk pergi dari situ, sambil lari keluar pendopo, ia berteriak-teriak.
"Ada orang jahat! Tangkap!"
Dalam sekejap saja kumpullah pengawal-pengalawal pribadi dari Goei Tiong Hian.
Mereka merangsak, menerjang Hoei Liong, siapa sebaliknya telah menjadi gusar sekali, sambil berseru, ia putar tubuhnya untuk memapaki rangsakan.
Baru dua kali tangannya bergerak ke kiri dan kanan, lantas dua pahlawan Tongtjiang roboh terbinasa.
Satu pahlawan istana yang kuat, sudah menyerang dengan gembolannya yang empat puluh kati beratnya, menghantam ke arah kepala.
Hoei Liong lihat serangan itu, sambil mendak ia menanggapi dengan tangan kiri, berbareng dengan itu, tangan kanannya menyambar si pahlawan, tubuh siapa ia angkat dan putar, maka ketika ia lepaskan cekalannya, pahlawan itu terlempar dua tumbak dan terbanting sambil memnperdengarkan suara keras!
Dalam hal liehaynya tangan, Hoei Liong adalah yang nomor satu dalam kalangan kangouw dan tak ada bandingannya dalam Rimba Persilatan, sampai pun Anghoa Kwie-bo jeri terhadapnya, tidak heran menampak orang demikian kosen, pahlawannya Goei Tiong Hian mundur sendirinya.
Dalam murkanya itu, Hoei Liong berbalik maju menerjang, sampai tiba-tiba ia lihat berkelebatnya cahaya hijau ke bebokongnya.
Ia menduga kepada bokongan senjata tajam.
Segera ia berkelit sambil menyampok dari samping.
Ia gagal, tetapi bacokan juga tak mengenai tubuhnya.
Penyerang ini adalah kepala dari Seetjiang, Tjongkauwtauw Lian Seng Houw.
Dia baru pulang dari Soetjoan, dia pergi atas titahnya Goei Tiong Hian guna membasmi bandit.
Sepulangnya, segera dia dikembalikan ke istana.
Dalam ilmu silat, dia ada di bawahan Bouwyong Tjiong.
Genggamannya adalah sepasang Houwtauw kauw, gaetan berkepala harimau, yang ia dapat gunakan dengan baik.
Karena datangnya tjongkauwtauw ini, Hoei Liong jadi dapat tandingan.
Karenanya, pahlawan-pahlawan lainnya berani maju pula, untuk mengepung padanya, la kosen tetapi tak bisa segera ia membuka jalan.
Pihak pengurung, yang tahu ia liehay, tidak mau merapatkan diri "Kamu semua mundur!
Nanti aku yang bekuk bangsat tua ini!"
Demikian satu seruan selagi pertarungan berjalan seru.
Seruan itu disusul dengan serangannya.
Hoei Liong segera putar tubuh, untuk menangkis.
Baca Juga: Iblis Sungai Telaga 14
Baca Juga: Pedang Tanpa Perasaan 9