Pahlawan Padang Rumput 5

Eps 5 Pahlawan Padang Rumput - Liang Yu Sheng

Baca online Pahlawan Padang Rumput - Liang Yu Sheng

Cersil Pahlawan Padang Rumput - Liang Yu Sheng.

Belum habis perkataannya tiba-tiba di luar sana terdengar suara terompet berbunyi dengan serentak dan panah-panah beterbangan di angkasa.

Karena kejadian ini, pemuda itu mendelik matanya mendadak pula kedua tangannya ia turunkan lurus dan membalikkan badannya ke depan Nilan Ming-hui.

"Jika kau menghendaki jiwaku, perlu apa kau menggunakan muslihat semacam ini?"

Katanya dengan tertawa menyindir.

"Kini aku serahkan diriku untuk kau ringkus sesukamu, biarlah hitung-hitung sebagai sumbangan besarku pada hari pernikahanmu!"

Sebenarnya Nilan Siocia waktu itu sedang sesenggukan dan menundukkan kepalanya tetapi saat ini juga seketika ia melompat bangun dengan kuatir, mukanya berubah ketn kutan.

"Kau.....kau.....kau mengartikan apakah ini?"

Katanya dengan suara terputusputus.

Pemuda ini tidak menjawab, ia mendekati jendela dan melihat keluar, ternyata di luar taman sudah terang benderang oleh berpuluh lampu obor yang menyorot seperti di waktu siang hari, diikuti pula oleh suara orang yang riuh ramai bagaikan membanjirnya air menuju jurusan timur, tetapi tidak seorang pun yang menuju ke jurusan di mana ia berada terang sekali suara-suara tadi bukan ditujukan pada dirinya karenanya pemuda itu agak merasa heran.

Tidak lama kemudian, suara orang yang riuh ramai itu lambat-laun menjadi sunyi, sinar lampu ini pun satu persatu padam semuanya.

Ketika pemuda itu membalikkan tubuhnya dan sedang hendak berkata lagi, tiba-tiba ia mendengar dari luar ada suara langkah orang yang mendatangi, lekas ia memutar pergi dan bersembunyi di belakang kelambu, maka sejenak kemudian terlihatlah dari luar masuk babu inang Nilan Siocia dengan membopong seorang bayi.

"Siocia kabarnya ada yang menyerang dan merampas orang tahanan di penjara"

Kata babu ini dengan napas yang masih tersengal-sengal setelah masuk dalam kamar.

"Malam ini pasukan pengawal kebanyakan berdinas di sini, tenaga di sana jadi berkurang, karena itu katanya sudah terlolos beberapa orang tahanan, maka tadi dengan segera telah meminta bantuan dari sini. Siocia apa kau kaget?"

Nilan Siocia tidak menjawab, ia hanya mengulur tangannya dan menyambut anak kecil yang berada di gendongan babu ini.

Terdengar suara tangisan yang tiba-tiba keluar dari mulut anak bayi ini, sesaat ini juga pemuda yang bersembunyi di belakang kelambu segera pula sudah melompat keluar.

Babu inang itu terperanjat waktu mendadak melihat ada orang melompat keluar dari belakang tempat tidur.

"Nyo-taiya, hendaklah kau mengampuni Siocia kami, tentu kau tahu bahwa besok adalah hari bahagianya,"

Kata babu itu setelah melihat jelas siapa adanya pemuda itu.

"Aku mengerti!"

Sahut pemuda itu memanggut.

Sejenak kemudian pemuda ini telah menghela napas dan dengan suara pelahan seperti sedang bersenandung, tetapi sebelum suara nyanyiannya berhenti, mendadak dari depan ia telah mengayunkan sebelah telapak tangannya terus memukul ke arah Nilan Siocia.

Keruan Nilan Siocia terperanjat sekali, dengan sendirinya pula ia mengegos dan menghindari serangan itu.

Tidak ia duga hanya dalam waktu secepat itu, anak perempuan yang berada di tangannya tahu-tahu sudah berpindah tangan dan telah terampas oleh pemuda itu.

"Kau..... apakah yang hendak kau lakukan?"

Demikian tanya Nilan Siocia dengan kuatir setelah rasa terkejutnya reda.

Pemuda ini bukan lain adalah Nyo Hun-cong.

Sementara itu dengan sedikit mundur ia sudah menggeser dirinya mendekati jendela habis itu dengan suara gemas baru ia menjawab.

"Sejak hari ini ia sudah bukan milikmu lagi, maka kau tidak berhak untuk bertanya!"

Rupanya bayi perempuan ini sesudah menangis sebentar tadi mungkin sudah merasa lelah dan tertidur, tetapi karena keributan ini, dua matanya yang kecil lantas melek lagi, dan ketika melihat Nilan Siocia yang rambutnya kusut bersebaran seperti hendak menubruk maju pula ia menjadi ketakutan, mulutnya yang kecil telah mewek-mewek lagi dan tangannya bergerak-gerak, suatu tanda akan menangis lagi, lekas Nyo Hun-cong membalikkan tubuh anak bayi itu sambil menepuk dan menimang dengan pelahan.

Dalam pada itu, ia lihat di luar jendela udara terang benderang, sang dewi malam dengan wajahnya yang bulat bundar sedang mengintai di angkasa raya di sekitar taman sunyi sepi, ia menggigit bibir dan mengertak giginya dengan hati berat ia membawa anak itu dan segera menerobos keluar jendela di belakang ia hanya mendengar suara tangis sesambatan dari Nilan Siocia namun tanpa membalikkan kepala lagi ia menggunakan ilmu mengentengkan tubuhnya dan dengan cepat menghilang di malam sunyi.

Dalam taman keadaan sunyi senyap, akan tetapi di luar, di jalanan besar keadaan sebaliknya suasana di jalan kota masih ribut gempar.

Ketika Nyo Hun-cong memandang sekitarnya >a melihat gedung kediaman Cong-ping sebelah sana telah berkobar api yang menjulang tinggi, rombongan orang yang ribut itu terlihat berlari tunggang-langgang di antara jalanan besar, ada yang membawa anak kecil sambil berteriak menangis.

Nyo Hun-cong sendiri yang membopong anaknya mencampurkan diri di antara orang banyak yang ribut kacau itu, ternyata tiada seorang pun yang memperhatikannya.

Hun-cong tahu bahwa kerusuhan itu adalah karena pasukan Boan yang sedang menindas dan menguber pelarian tahanan dari penjara tiba-tiba pikirannya tergerak, tanpa terasa ia menengok ke belakang, ia lihat di pojokan beberapa jalanan dekat kediaman Cong-ping sudah siap dengan penjagaan oleh tentaratentara yang berjumlah agak banyak, maka dapat diduga para pelarian agaknya kabur menuju ke sana maka ada satu regu pasukan berkuda telah mengejar juga dan menerjang ke jurusan itu.

Dalam keadaan kacau-balau itu Nyo Hun-cong tidak dapat melihat dengan jelas, waktu ia memandang anak yang berada dalam pelukannya, ia menghela napas panjang, walaupun dari sana terdengar berkumandang suara beradunya senjata, namun ia terpaksa tak bisa berbuat banyak, ia hanya bisa memikirkan dirinya sendiri dan berlari keluar kota mengikuti arus manusia yang hendak menyelamatkan dirinya masing-masing itu.

Setibanya di luar kota, rombongan penduduk yang ketakutan lambat laun sudah mulai berpencaran, memang sesudah bisa meninggalkan tempat berbahaya, dengan sendirinya mereka mencari tempat untuk istirahat, ada yang duduk dan ada yang tiduran, saking letihnya mereka seperti sudah tidak dapat bangun lagi untuk berjalan.

Hanya Nyo Hun-cong yang masih berjalan terus di antara sunyinya hutan belukar dengan membopong anak kecil.

Selewatnya tengah malam, rembulan pun sudah bergeser ke barat, lambat laun anak kecil itu pun tidur dengan pulasnya dan ketika Nyo Hun-cong hendak mencari suatu tempat untuk istirahat, tiba-tiba ia mendengar pula suara orang-orang yang riuh bercampur dengan suara kelenengan kuda datang dari belakang, ia pikir, boleh jadi ini adalah pasukan Boan yang mengejar pelarian tahanan itu sehingga akhirnya telah sampai di sini pula.

Kalau mendengar suara derapan telapak kaki kuda yang begitu riuh, agaknya pengejaran ini dilakukan dengan kencang sekali.

Tempat di mana Hun-cong berada waktu itu justru adalah suatu tanah pekuburan, rumput alang-alang yang tumbuh di situ tingginya melewati dada orang dewasa maka sambil memondong anaknya ia menyingkir ke pinggir, ia bersembunyi di belakang satu nisan kuburan, alang-alang yang tumbuh tinggi itu.

persis dapat menutup penglihatan orang.

Apabila kemudian ia menegas lagi, terlihat olehnya pengejarnya adalah dua orang penunggang kuda sedang yang dikejar kiranya juga hanya dua orang anak tanggung, satu lelaki dan satu perempuan, melihat wajahnya umur mereka tentu tidak lebih dari enam atau tujuh belas tahun, karenanya ia menjadi heran.

Dua anak tanggung itu setelah berlari sampai kira-kira dua puluh tindak sebelum tanah kuburan itu, sekonyong-konyong mereka berhenti dan berdiri tegak, masing-masing segera melolos senjata pula.

Sementara itu kedua pengejar itu pun sudah sampai, mereka segera melompat turun dari kuda yang satu mengeluarkan senjata rantai besi, sedang yang lain melolos goloknya dua orang yang bertubuh tegap besar dari bangsa Boan ini berbareng lantas menubruk maju dan membentak minta kedua bocah itu lekas menyerahkan diri untuk diringkus.

Tak tahunya kedua anak itu tidak menggubris sama sekali, kedua pedang mereka segera menyambar dengan cepat, mereka malahan menempur kedua orang tegap itu dengan seru dan mati-matian.

Gadis cilik itu gerakannya kelihatan sangat cepat sekali, sedikit ia menurunkan tubuhnya secepat kilat pula ujung pedangnya segera ditusukkan menuju ke leher orang yang menggunakan golok tadi.

Orang itu cepat mundur setindak ke belakang sambil menangkis dengan goloknya tetapi dengan cepat mendadak gadis cilik itu sudah menarik kembali serangannya dan dengan sekali sabet ia mengirim pula satu tusukan ke dada musuh.

Mau tak mau orang itu kembali dipaksa mundur lagi setindak, habis ini tibatiba ia memutar cepat golok besarnya yang segera membentuk satu gulungan sinar perak, ia mengeluarkan ilmu permainan golok 'Kau-to' tunggal dari Kwangwe dan berniat memotong putus pedang gadis cilik ini.

Akan tetapi gadis cilik itu tidak menarik kembali serangannya pula, ia hanya sedikit menekan pedangnya ke bawah terus sekaligus memutar tabuhnya, ia menerobos ke samping, sedang pedangnya dengan cepat sekali berbareng sudah menyambar datang lagi.

Adapun anak muda itu tadi, ilmu pedangnya sebaliknya tidak secepat gadis cilik ini, cara ia bertempur juga berlainan, kelihatannya tangannya seperti memegang senjata yang antap sekali, ujung pedangnya mendadak mengacung ke timur dan tiba-tiba ke barat, tetapi sinar pedangnya selalu membelit-belit serta bisa menjaga diri dengan rapat sekali.

Lawannya yang menggunakan rantai besi itu telah memutar senjatanya dengan cepat sekali sampai mengeluarkan suara angin yang menderu, namun sedikitpun tak dapat menyenggol pedangnya.

Nyo Hun-cong yang mendekam di belakang kuburan menjadi sangat tertarik oleh pertempuran ini, ia mengembara di kalangan kangouw sampai kini sudah ada sepuluh tahun, ilmu silat dari berbagai cabang mana saja sudah pernah ia lihat.

Maka sesudah melihat ilmu permainan pedang sepasang anak lakiperempuan ini ia lantas mengetahui bahwa meski usia mereka masih muda, tetapi sudah pasti mereka mendapatkan ajaran yang baik dari seorang guru ternama.

Hanya gadis cilik itu, pedangnya kelihatan dimainkan dengan cepat dan berebutan hendak mendahului, tetapi dalam hal keuletan ia masih belum cukup, lawannya hanya meladeni dengan tenang, maka setelah agak lama gadis ini tentu akan kehabisan tenaga.

Sebaliknya anak laki-laki itu, gerak pedangnya walaupun sedikit lambat, tetapi terang sudah mendapat pelajaran istimewa 'Bu-kek-kiam-hoat', sungguhpun kelihatannya berada di bawah angin, tetapi malahan tidak berbahaya.

Nyo Hun-cong dengan membopong anaknya masih terus memperhatikan ke dalam kalangan pertempuran, hanya di tangannya ia sudah bersiap-siap apabila gadis cilik itu kelihatan akan menghadapi bahaya, segera ia akan turun tangan untuk menolong.

Setelah bertempur lagi sebentar, lambat laun gadis cilik itu betul-betul sudah mulai di bawah angin.

Waktu itu ia sedang menggunakan jurus 'Hongkwi-loh-hua' atau angin meniup merontokkan bunga, ia menusuk dengan ujung pedangnya sedikit miring dan membalik ke atas dengan maksud hendak memotong pergelangan tangan musuh.

Namun lawannya yang menggunakan golok ini mendadak mengeluarkan suara bentakan, dengan langkah lebar berbareng ia memiringkan tabuhnya dan goloknya segera menyambar pula, ia menggunakan gerak tipu 'Sun-cui-hangciu' atau menjalankan perahu mengikuti arus air, tidak saja ia telah dapat menghindari ujung pedang gadis cilik tadi, sebaliknya berbareng ia membabat dari samping, sinar goloknya bergemerdepan menuju bagian bawah tabuh gadis cilik itu.

Gadis ini tampak agak gugup dan lekas melompat ke samping, dengan mengandalkan keentengan tabuhnya ia berpikir hendak menghindari babatan yang berbahaya itu.

Akan tetapi lawannya seperti sudah mengetahui ia bakal berbuat demikian.

Waktu maju membabat tadi, dua anak panah kecil berbareng telah dia timpukkan pula, bahkan sewaktu melepaskan anak panah tadi, ujung goloknya berbareng menutal tanah lagi dan orang itu terus berbalik berjumpalitan di udara, golok besarnya telah melancarkan pula satu serangan "Tok-bi-hoa-san' atau membelah gunung Hoa-san, ia membacok ke atas kepala gadis cilik itu dan serangan itu tidak mudah untuk dihindari.

Melihat bahaya mengancam keselamatan si gadis itu, tiga butir pelor besi yang sudah siap di tangan Nyo Hun-cong seketika sudah menyambar keluar, orang yang memakai golok itu hanya melihat dua anak panahnya baru sampai di belakang tubuh gadis itu, tiba-tiba telah jatuh ke atas tanah, dan ketika ia merasa terkejut mendadak dirasakan per-gelangan tangannya kesakitan dan menjadi kaku, ketika itu ia baru melayang turun dengan gaya 'Elang lapar menyambar kelinci', golok besarnya juga sedang hendak membacok, namun ia sudah terkena serangan gelap terlebih dulu, maka ia hampir tidak dapat memegang lebih kencang senjatanya, ia menjerit kesakitan, tetapi golok di tangannya masih terus dibacokkan secara kalap!

Waktu ini juga, punggungnya tiba-tiba merasakan pula ada angin dingin menyambar, ujung pedang orang tahu-tahu sudah menusuk datang, di pinggir telinganya ia hanya mendengar suara bentakan nyaring.

"Jangan melukai adikku!"

Dan belum sempat ia berpaling ke belakang, mendadak bahu kirinya sudah terkelupas sepotong kulit dagingnya.

Kiranya yang menyerang dari belakang ini adalah si anak laki-laki tadi.

Ilmu pedang 'Bu-kek-kiam-hoat' si anak muda ini sebenarnya sudah jauh lebih tinggi di atas musuhnya, sekalipun belum cukup matang terlatih dan sesaat tidak bisa lantas memperoleh kemenangan, tetapi toh sudah berada di atas angin.

Maka sambil bertempur ia juga sambil mengawasi si gadis cilik yang ada di sampingnya.

Waktu mendadak melihat gadis itu dalam bahaya, tanpa ayal lagi pedang di tangannya pun menyerang dengan cepat, dengan beberapa kali serangannya yang beruntun dan bertubi-tubi, lebih dulu ia telah membuat musuhnya yang memakai rantai besi ini menjadi kerepotan.

Dengan sendirinya orang ini terdesak hingga mundur beberapa langkah, tetapi anak muda ini tidak lantas merang-sek lebih lanjut, melainkan ia lantas berputar, mendadak ia menggunakan gerakan 'Kuai-bong-hwan-sin' atau ular sawah membalik badan, tabuhnya dibalikkan dengan cepat dan pedang di tangannya segera menusuk ke arah orang tegap besar yang mendesak gadis cilik itu.

Sungguh seperti belalang yang sedang hendak menangkap tonggeret, tetapi tidak terduga burung gereja ada di belakangnya, orang tegap yang memakai golok besar itu belum sempat menengok ke belakang dan ternyata pundaknya sudah terkupas sepotong kulit dagingnya, dalam sekejap itu pula si gadis cilik pun sudah membalikkan tabuhnya kembali, dengan menggerakkan pedangnya ia menusuk pula secara bertubi-tubi.

Orang yang menggunakan golok itu sudah terluka, sudah tentu tak bisa menahan serangan yang begitu gencar datangnya bagaikan angin ribut dan hujan deras yang datang dari muka dan belakang, hanya terlihat olehnya dua sinar pedang yang bergemerdep seperti gunting yang tajam, tanpa ampun lagi orang tegap besar itu segera tabuhnya terpotong menjadi tiga bagian, darah muncrat membasahi tanah.

Orang yang menggunakan rantai besi itu masih cukup cerdik, begitu melihat kawannya tewas segera mencemplak kudanya terus kabur, seekor kuda lainnya yang sudah tak bertuan lagi setelah berulang-ulang meringkik panjang lantas berlari pergi tanpa tujuan.

Meski sudah sejak tadi Nyo Hun-cong berada di belakang kuburan dan menyaksikan pertempuran seru ini, ternyata sepasang anak laki-perempuan itu masih belum sadar dan belum mengetahui kalau ada orang lain yang telah menolong dengan senjata rahasia karena itu Hun-cong tertawa dalam hati.

"Ya maklumlah anak-anak ini masih hijau dan baru muncul di kalangan kangouw."

Waktu itu, sepasang muda-mudi itu telah menyimpan kembali pedang mereka dan seperti sedang bercakap-cakap dengan suara tertahan sambil kedua tangan mereka saling menggenggam kencang.

Nyo Hun-cong dapat melihat mulut mereka berkemak-kemik, tetapi tidak terdengar apa yang mereka percakapkan.

Sekonyong-konyong gadis itu meronta berusaha melepaskan kedua tangannya dan lantas bertanya dengan suara keras.

"Kalau begitu, jadi betul apa yang telah kau akui seluruhnya itu?"

Lalu kelihatan anak muda itu memanggut-manggutkan kepalanya dengan suara sahutan yang lirih.

Meski Nyo Hun-cong di tempat persembunyiannya tidak mendengar dengan terang apa yang dikatakan, tetapi jelas kelihatan dari sikap si pemuda itu adalah tanda pengakuan yang dibenarkannya.

Tetapi demi mendengar suara sahutan itu, si gadis cilik mendadak melompat mundur satu langkah seperti hendak menghindari sesuatu barang yang menakutkan, habis itu tiba-tiba ia melompat kembali pula dan segera mengirim satu tamparan ke muka anak muda itu, begitu keras tamparan itu sampai suara"plak"

Terdengar jelas.

Tatkala itu si anak muda itu justru menghadap ke tempat kuburan, maka dengan jelas Nyo Hun-cong di tempat persembunyiannya itu dapat melihat air muka anak muda itu yang begitu putih pucat dan kaku sikapnya penuh penyesalan dan mengenaskan sekali!

Si gadis cilik itu setelah memberi tamparan, demi melihat anak muda itu bersikap demikian, tiba-tiba ia menutup mukanya dengan kedua tangan dan menangis dengan sedih sekali, tiba-tiba ia membalikkan tubuhnya terus berlari pergi sambil masih terus menangis.

Anak muda itu masih terus berdiri tegak di tempat tadi, sampai sesudah gadis itu hilang bayangannya baru selangkah demi selangkah ia berjalan ke depan.

Sebenarnya Hun-cong berpikir hendak memanggil dia tetapi waktu melihat matanya terpaku dan berjalan setindak demi setindak dengan kaku, mirip seperti arwah halus yang gentayangan di hutan sunyi!

Tanpa terasa ia bergidik, sehingga ia urung memanggil.

Sementara itu si anak muda itu sudah berjalan lewat di pinggir kuburan di mana dia bersembunyi dan menghilang di antara rumput alang-alang yang panjang, ternyata pemuda ini sama sekali tidak memperhatikan bahwa di belakang kuburan itu masih bersembunyi seseorang.

Setelah menyaksikan kejadian yang mengharukan tadi, tidak terasa Nyo Huncong lantas teringat akan keadaan dirinya sendiri pada waktu berpisah dengan Nilan Siocia tidak tahan pula hatinya kembali merasa pedih.

Dalam pada itu tiba-tiba ia mendengar suara "Hu.....hu.....

huuu,"

Seperti suara angin tetapi bukan suara angin, terdengar sangat menyeramkan.

Ia mendongak melihat rembulan, teringat olehnya bahwa malam ini adalah malam ketiga sesudah malam Tiong-ciu, di Ci-tong-kang atau sungai Ci-tong sedang menghadapi gelombang besar di musim rontok.

Tidak terasa ia lantas berdiri dan berjalan menuju arah datangnya suara gelombang ombak, ia terus berjalan menuju pinggir sungai Ci-tong itu sambil tangannya masih tetap membopong anaknya.

Ci-tong-kang yang panjangnya sampai beberapa puluh li itu, di bawah sang dewi malam yang memancarkan sinarnya, permukaan air berkelip-kelip mengeluarkan pantulan sinar rembulan, ketika itu arus air masih belum tiba, jika memandang ke depan hanya terlihat lelangit yang berhimpitan dengan air dan air bergandengan dengan langit, seakan-akan tiada ujung pangkalnya.

Sambil memondong anaknya, Nyo Hun-cong berjalan dengan pelahan di tepi sungai, terdengar suara arus air yang menderu berisik, bermacam pikiran seketika muncul semua, keadaannya seperti sedang mabuk dan gendeng, ia lupa akan arah tujuannya.

Sampai tiba-tiba di telinganya terdengar suara bentakan.

"Nyo Hun-cong!"

Baru mendadak ia seperti tersadar dari impiannya dan menoleh ke belakang.

Dan ketika ia menoleh ke belakang, barulah ia betul-betul tersadar oleh karena kaget, ternyata sudah ada orang yang berdiri di depannya, orang ini adalah seorang tua yang berhidung besar melengkung dan bermata cekung, di sampingnya masih berdiri pula dua orang pemuda yang gagah kuat.

Segera Nyo Hun-cong mengenali orang ini adalah Susiok atau paman guru To Tok, pangeran bakal suami Nilan Siocia, di antara bangsa Boan orang ini bergelar 'Tiat-cio' atau telapak tangan besi, yakni bukan lain daripada Nikulo yang dulu pernah bergebrak dengannya dalam pertempuran di padang rumput.

Muka Nikulo kaku dingin dengan sikap seperti senyum tetapi bukan senyuman, sikapnya sangat menakutkan.

Tiba-tiba ia tepuk kedua tangannya dan lantas mengadang di depan Nyo Hun-cong.

"Nyo Hun-cong, kiranya selamat-selamat saja selama berpisah!"

Tegurnya.

"Perbuatan-perbuatan yang telah kau lakukan selama beberapa tahun ini, walaupun dapat kau mengelabui Nilan Cong-ping dan To Tok, tetapi tidak nanti kau bisa membohongi aku si orang tua, To Tok adalah orang yang mulia dan agung, Nilan Siocia adalah wanita tercantik di antara bangsa Kijin, dengan perbuatanmu ini tidak saja kau telah menodai Nilan Siocia, tetapi bahkan telah menodai bangsa kami. Jika aku tidak mengetahui itulah tidak menjadi soal, tetapi setelah aku mengetahui, sekarang juga aku akan mewakilkan To Tok mencuci bersih noda tersebut."

Waktu ini Nyo Hun-cong dengan tangan kirinya masih membopong anaknya, setelah mendengar serentetan perkataan itu, ia masih tetap tenang saja, ia masih tidak bergerak sedikit pun, mukanya pun tidak memberi tanda apa-apa.

Berlainan sekali dengan kedua pemuda yang berdiri di samping Nikulo ini, mereka sudah tak tahan lagi, berbareng mereka segera menubruk maju, satu di sebelah kiri dan yang lain di kanan.

Namun Nyo Hun-cong sudah siap sedia, ia tertawa dingin, tiba-tiba ia memutar kakinya, dengan cepat ia menggeser pergi menghindari tubrukan musuh, mendadak pula ia membentak dengan suara keras, tangan kanannya sudah dapat mencengkeram kedua tangan pemuda yang menyerang dari sebelah kanan, dengan satu puntiran, pergelangan tangan kanan musuh dia tekuk sedikit, maka tanpa ampun lagi segera terdengar suara teriakan keras seperti babi yang kesakitan hendak disembelih, pemuda ini lantas terbanting jatuh beberapa depa jauhnya.

Sementara ini, pemuda yang menyergap dari sebelah kiri pun sudah sampai serangannya, namun tubuh Nyo Hun-cong tiba-tiba mengkeret ke bawah menghindari kepalan tangan musuh, habis ini sekonyong-konyong pula wbuhnya berdiri tegak dan mengirim satu pukulan ke depan dan dengan tepat pula mengenai muka musuh, segera terdengar suara jeritan keras pula, muka orang itu segera memuncratkan darah, biji matanya pun mencelat keluar dan lantas pemuda itu jatuh pingsan.

Sementara itu, anak yang berada dalam pelukan Nyo Hun-cong terkaget juga hingga terjaga dari tidurnya terus menangis dengan suara keras.

Melihat kedua muridnya baru sekali gebrak sudah terpukul begitu rupa, Nikulo menjadi gusar sekali, dengan satu geraman ia melompat maju, telapak tangan kanannya dengan sepenuh tenaga segera dipukulkan ke atas kepala lawan.

Sebaliknya Nyo Hun-cong pun tidak gentar, ia tidak berkelit, bahkan ia memapak pukulan orang dengan seluruh tenaganya juga, tangan kanannya membalik dan menangkis ke atas.

Ketika kedua tangan beradu, segera seperti dua buah balok kayu besar yang saling bentur, di luar dugaan pada saat itu juga lantas terdengar suara pekikan dan tangisan anak kecil yang mengerikan, ternyata anak bayi itu telah terpental lepas dari tangan Nyo Hun-cong.

Tanpa pikir panjang lagi, segera Hun-cong melayang pergi dan memburu beberapa depa ke depan seperti burung walet yang terbang miring dan syukurlah masih keburu menangkap anak bayi yang terpental itu.

Nyo Hun-cong merasakan pukulan musuh tadi sungguh tidak enteng, akan tetapi Nikulo lebih berat lagi merasakannya dari dia, ia pun terpukul oleh tangkisan Nyo Hun-cong tadi sehingga tidak dapat bertahan lagi untuk berdiri tegak, ia sempoyongan ke belakang hingga puluhan langkah baru dapat menahan kembali tubuhnya agar dapat berdiri tegak.

Ia yang tersohor dengan sepasang 'telapak tangan be-si'nya ternyata tak dapat menahan tangkisan lawan tadi, perasaannya menjadi mendongkol dan gusar sekali, segera ia mengeluarkan senjata tajamnya yang berbentuk kikir, berhentak segi tiga dan bersinar gemerdepan, kikir ini adalah senjata andalannya yang istimewa disebut 'Song-bun-co', ia dapat menggunakannya sebagai belati serta dapat dipakai sebagai tombak pendek yang betul-betul berbahaya sekali, karena dapat pula digunakan untuk menutuk jalan darah musuh.

Sementara itu Nyo Hun-cong pun sudah bebenah kembali dengan baik, ia mengikat anak bayi itu dengan tali pinggangnya di punggung dan mengeluarkan juga pedang pendeknya yang bersinar gemilapan.

Senjata Song-bun-co Nikulo sedikit lebih panjang dari pedang pendek Nyo Hun-cong.

Dalam kalangan persilatan, orang yang bisa menggunakan senjata yang makin pendek adalah yang paling berbahaya.

Kini pedang dan kikir saling beradu sudah tidak sama lagi dengan pertarungan tombak yang panjang dengan jarak antara kedua petarung sedikit jauh, dengan beradunya senjata pendek lantas seperti bergumul saja secara mati-matian, sinar berkelebatnya pedang dan kikir hanya lewat di muka masing-masing orang, apabila salah satu sedikit lengah tentu akan menghadapi bahaya maut dan akan memuncratkan darah.

Nikulo yang sudah gusar sekali telah bertarung dengan sengit dan kalap, ia menusuk, menutuk dan menikam dengan cepat laksana singa mengamuk, pukulannya semua merupakan pukulan-pukulan yang berbahaya sekali.

Sebaliknya Nyo Hun-cong yang menggendong anak di belakang punggungnya, sedang anak itu menangis pula tiada hentinya, ia tak berani main lompat dan harus dengan teliti pula melindungi anak itu, maka agak berat dan payah baginya, keringat telah membasahi seluruh badannya.

Walaupun begitu, ilmu pedangnya adalah ajaran dari guru yang paling wahid di kolong langit ini, ia tidak dapat dipermainkan begitu saja, ia tetap bertarung dengan tenang, pedang pendeknya berulang-ulang membabat dan menusuk pula dari pinggir dan depan, sedikitpun ia tak memberi hati kepada lawannya.

Pertarungan kedua orang ini makin lama makin cepat dan makin berbahaya, sampai pada suatu ketika yang menentukan, Nikulo tiba-tiba menggeser tubuh dan melangkah secepat kilat, tahu-tahu ia sudah berada di belakang Nyo Hun cong dan sekonyong-konyong memberi satu tikaman menuju ke arah anak bayi yang berada dalam gendongan Nyo Hun-cong itu dengan kikirnya.

Untuk menghindarkan serangan ini seharusnya Hun-cong melompat pergi, tetapi ia kuatir mengagetkan anaknya, maka ia hanya memutar sedikit saja, tubuhnya dengan enteng sudah tertarik pergi dan pedangnya disengkelitkan ke atas membentur Nikulo, ia barengi pula dengan mencongkel ke atas dengan keras, dengan meminjam gerakan Nikulo tadi ia bermaksud merebut senjata orang, benar saja dengan congkelan itu, kikir musuh tidak tertahan lagi dan lantas terlepas dari tangan Nikulo serta jatuh ke tanah.

Kedua orang sama-sama tangkasnya, maka sama-sama tak tahan gebrakan tadi, Nikulo yang senjatanya terlepas, orangnya pun segera menubruk maju, waktu ini Nyo Hun-cong masih belum bisa pasang kuda-kuda dengan kuat, karena ini segera ia berhadapan rapat dengan musuh, sementara itu anak yang berada digendongannya tiba-tiba menjerit lagi dengan ngeri, bahkan suaranya pun seperti sudah serak, keruan Nyo Hun-cong menjadi gugup hingga ia tidak keburu berkelit lagi, dadanya lantas terkena pukulan musuh dengan keras, akan tetapi pedang pendeknya pun berbareng didorong menusuk masuk di bawah baju Nikulo hingga ambles tinggal kelihatan gagangnya.

Dengan begitu, kedua orang tersebut sama-sama terkena serangan lawan, setelah Nyo Hun-cong mencabut keluar pedangnya dari tubuh musuh, dirinya sudah tidak tahan lagi, ia hanya merasa matanya berkunang-kunang, langit seperti ambruk dan bumi berputar.

Ia mengerti akan celaka, lekas ia mendekam ke depan supaya tidak terjatuh ke belakang yang dapat menindih dan mencelakai anak yang ada di belakang punggungnya.

Sebaliknya di sebelah sana juga Nikulo sudah jatuh menggelongsor terluka berat, tetapi kedua matanya masih melotot merah berapi.

Jarak di antara mereka tidak lebih empat lima kaki jauhnya, tetapi semua sudah tak kuat bangun kembali apalagi hendak menubruk pula.

Mereka hanya saling melotot saja, sedang angin malam meniup santer membawa suara tangisan anak yang sudah serak.

Suasana dan pemandangan waktu itu sungguh sangat menyeramkan dan menggetarkan hati semua orang.

Selang tak lama kemudian, Nikulo mulai meronta pelahan dan bergerak maju di atas tanah, ia menahan dengan satu tangannya, ternyata dengan sedikit merangkak ia bermaksud mendekati tempat di mana Nyo Hun-cong menggeletak.

Keruan Nyo Hun-cong terkejut sekali, iapun berusaha untuk bergerak sedikit, tetapi seluruh tabuhnya masih terasa lemas tak bertenaga, ketika ia hendak sedikit menggunakan kekuatannya, di tenggorokannya mendadak terasa bau amis, darah segar segera menyembur keluar dari mulutnya.

Nikulo yang bergelar 'Tiat-cio' atau telapak tangan besi, Nyo Hun-cong yang telah terpukul olehnya persis tepat mengenai dadanya, lukanya ternyata lebih berat daripada luka Nikulo yang terkena pedang Hun-cong.

Apabila melihat Nikulo seperti binatang buas yang mendekati ajalnya dengan pelahan-lahan masih berusaha mendekatinya, tetapi dirinya sendiri sedikit pun tak berdaya, perasaan Nyo Hun-cong menjadi gusar dan juga gugup, tidak terasa ia lantas jatuh pingsan tak sadar lagi.

Setelah lewat lagi agak lama, tiba-tiba ia mendengar ada suara panggilan yang berulang-ulang di samping telinganya.

"Nyo-taihiap! Nyo-taihiap!"

Karena suara panggilan ini dengan pelahan ia mulai sadar kembali.

Ia melihat yang berdiri di depannya justru adalah anak muda yang tadi bertempur melawan opsir bangsa Boan dan yang kemudian ditampar oleh gadis cilik itu.

Nyo Hun-cong agak heran, ia bertanya dengan suara pelahan pula.

"Siapakah kau, bagaimana kau mengetahui aku adalah Nyo-taihiap? Ada apakah kau datang ke sini?"

Tetapi anak muda itu tidak lantas menjawab pertanyaannya, sinar kedua matanya guram tak bersemangat.

"Aku ingin mencebur ke sungai!"

Serunya tiba-tiba.

"Kalau begitu, mengapa kau tak segera mencebur ke sungai?"

Tanya Nyo Huncong dengan dingin.

"Melihat keadaanmu, bagaimana aku bisa mencebur?"

Sahut anak muda itu.

"Nyo-taihiap, aku sudah mengenalmu. Beberapa tahun yang lalu, aku pernah melihatmu waktu kau datang bertamu di tempat Toh-cu kami, hanya saja waktu itu aku masih kanak-kanak."

Keterangan ini agak menarik Nyo Hun-cong, ia coba menyanggah tanah dengan sebelah tangannya, lalu ia mang-gut-manggut.

"Itulah, maka kau tak boleh mencebur ke sungai, selanjutnya pun tak boleh mencebur ke sungai,"

Katanya kemudian.

"Kau hanya mendapatkan sedikit penasaran, lantas kau ingin menyelesaikannya dengan menceburkan diri ke sungai. Akan tetapi, ketahuilah olehmu bahwa masih banyak saha-batfamilimu yang karena hendak menegakkan kembali kejayaan negara dan bangsanya telah menderita kesukaran dan penasaran yang lebih besar, banyak pula yang mati dan yang terluka, tetapi kamu yang menjadi orang muda sedikitpun tidak ambil peduli, sebaliknya hanya karena sedikit persoalan lantas hendak mencari kematian, bagaimana kau ada muka buat berhadapan dengan mereka?"

Waktu itu Nyo Hun-cong mengangkat kepalanya sedikit ke atas, ia memandang pada anak muda itu dengan cermat, wajahnya sungguh-sungguh dan kereng, suaranya pelahan serak dan rendah, tetapi tiap perkataannya seperti tambur dan genta yang berbunyi di waktu subuh sehingga menggoncangkan hati anak muda itu.

Pemuda itu memandang Taihiap yang berada di depannya ini, pendekar dan pahlawan yang namanya menggetarkan seluruh kangouw ini kini sudah kehabisan tenaga dan sudah serak suaranya, jelas sekali merupakan orang yang sudah dekat ajalnya.

Dalam keadaan demikan pemuda ini menjadi malu diri, akhirnya ia mengambil suatu keputusan dan kemudian menyahut.

"Aku pasti akan menurut pesan Taihiap."

Pada saat terakhir ini, Nyo Hun-cong meronta sekuatnya dan merobek sepotong kain bajunya, mendadak ia memasukkan jari tengah tangan kanannya ke mulut dan digigit, darah segera mancur keluar, tanpa merintih sedikit pun ia lantas menulis di atas kain sobekan baju itu, sesaat itu si pemuda sampai terkesima melihatnya.

Sehabis menulis, ia menyuruh si anak muda datang mendekat dan menerima 'surat darah' itu.

"Bawalah surat darah ini beserta pedang pendekku itu sebagai bukti, bawalah pula anak ini pergi naik ke Thian-san untuk menemui guruku, Hui-bing Siansu, ia akan mengajarkan kau ilmu pedang yang paling wahid di kolong langit,"

Pesannya pada anak muda itu.

Sehabis memberi pesan ini, lalu seperti semua perkara sudah beres, kedua matanya dikatupkan dan sejak itulah ia tak berkata-kata lagi.

Nyo Hun-cong sudah menghembuskan napasnya yang penghabisan.

Waktu itu rembulan sudah terbenam ke barat, subuh segera akan tiba, di tempat kejauhan dari Ci-tong-kang timbul satu garis putih yang mendatangkan suara gemuruh.

Anak muda itu menyimpan baik-baik 'surat darah' tinggalan Nyo Hun-cong, lalu ia menyelipkan pedang pendek pusaka di pinggangnya pula, dengan membopong anak bayi perempuan itu ia memandang gelombang air Ci-tongkang, ia tidak mengerti perasaan apa yang ia rasakan waktu ini.

Di saat itu juga, tiba-tiba dari jauh terdengar pula ada suara derapan kaki kuda yang mendatangi, pemuda ini mencoba mendengarkan sedikit lebih cermat lagi, ia mendengar seperti berkumandang pula suara wanita yang nyaring sedang memanggil.

"Lak-koh!"

Tiba-tiba ia menghela napas panjang, ia melepaskan baju luar dan mencopot sepatunya dan lantas dilemparkan ke dalam sungai, orangnya pun lantas bersembunyi menyelusup masuk ke dalam semak-semak di tepi sungai itu.

Syukur anak kecil yang berada dalam pangkuannya tidak menangis lagi.

Yang datang ternyata adalah dua orang lelaki dan seorang wanita, yang wanita adalah gadis yang tadi datang bersamanya dan telah menampar mukanya itu, ia datang dengan melarikan kudanya dengan cepat dan tak henti-henti nya memanggil.

"Lak-koh, kau sembunyi di mana? Keluarlah kau!"

Adalah kedua orang lelaki sebaliknya menasehatinya terus sepanjang jalan.

Tetapi begitu beberapa orang ini sudah dekat di tepi sungai dan melihat mayat manusia menggeletak bergelimpangan, mereka menjadi tertegun dan terkesima sejenak.

Kemudian seorang di antaranya tiba-tiba telah berteriak dengan keras.

"He, apa itu bukan Nyo-taihiap? Hei, Nyo-taihiap, Nyo-taihiap, mengapakah kau?"

Ia berlari maju dan meraba-raba tubuh yang menggeletak tenang ini, setelah mengetahui bahwa Nyo Hun-cong sudah tak bernapas lagi, tidak tertahan ia menjerit terkejut. Pikirnya.

"Nyo Hun-cong adalah ahli waris Hui-bing Siansu, ilmu pedangnya jarang ada tandingannya di kalangan persilatan, bagaimana ia bisa tewas secara begini mengenaskan?"

Sementara ini, wanita tadi tiba-tiba mengeluarkan jeritan ngeri dan terus berlari-lari menuju pesisir seperti hendak menceburkan diri ke dalam Citong-kang.

Waktu kedua lelaki ini memandang ke depan, maka terlihatlah di permukaan air terapung sepotong baju, sedang di pesisir menggeletak sepasang sepatu.

Sekonyong-konyong gelombang ombak Ci-tong-kang mendampar naik, suara gemuruhnya bagaikan geledek, air muncrat ke tepi gili-gili, gelombang besar yang pasang naik dengan cepat, sekejap saja sudah mendekati landasan giligili itu.

Karena ini kedua lelaki tadi tiba-tiba menjerit terkejut, mereka melayang maju dan segera menyeret mundur wanita ini, sekalipun begitu cepat mereka bisa mundur toh tidak urung basah kuyup juga terkena air ombak.

Kemudian wanita itu yang kelihatan cemas telah ditarik pergi oleh kawan-kawannya.

Setelah menunggu sampai orang-orang ini pergi jauh, anak muda tadi baru keluar dari semak-semak, ia membopong anak perempuan tadi dan dengan perasaan hancur setindak demi setindak berjalan menuju ke utara dengan langkah yang berat.

-TAMAT-Sampai ketemu lagi di serial lanjutannya TUJUH PENDEKAR THIAN SAN

Baca Juga: Hong Lui Bun 6

Baca Juga: Golok Yanci Pedang Pelangi 1

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger