Pahlawan Padang Rumput 4

Eps 4 Pahlawan Padang Rumput - Liang Yu Sheng

Baca online Pahlawan Padang Rumput - Liang Yu Sheng

Cersil Pahlawan Padang Rumput - Liang Yu Sheng.

"Aku bertanya keadaan Suhu pada Pek-hoat Mo-li, tetapi dia malah telah memberiku satu tendangan sehingga aku terjungkal, kemudian ia berkata pula dengan menyindir, 'Kau boleh pergi dan bertanya kepada murid Hui-bing Siansu, Nyo Hun-cong, siapa sudi mengurus Suhumu!'. Hm, dia mengatakan tidak mengurus, tetapi ia telah memaksa Suhuku hingga tidak tahan berdiam lebih lama lagi di Thian-san. Hm, jika dia berani mencelakai guruku, walaupun kepandaianku rendah aku akan berlatih beberapa puluh tahun lagi untuk menuntut balas."

"Kau tak usah kuatir, Pek-hoat Mo-li tak nanti akan mencelakai Suhumu,"

Kata Nyo Hun-cong tertawa.

"Suhumu sebenarnya sudah bertemu juga denganku, tetapi sedikit pun aku tidak mengetahui bagaimana keadaannya sekarang."

Lalu ia menceritakan dengan jelas apa yang terjadi pada saat bertemu dengan Toh It-hang.

"Meski harus mengelilingi seluruh padang rumput ini, harus tetap kutemukan Suhu,"

Kata Sin Liong-cu dengan mata merah.

"Sebab masih ada beberapa jurus ilmu pedang yang belum aku pelajari, hanya sayang aku tidak mendapatkan sebatang pedang yang bagus."

Sehabis berkata begitu ia lalu mengamat-amati kedua batang pedang yang menggantung di pinggang Hun-cong.

"Sayang kedua pedang ini semua adalah pusaka guruku, kalau tidak, diberikan padamu satu juga tidak menjadi soal,"

Ujar Hun-cong dengan tertawa.

"Aku hanya merasa aneh mengapa kau membawa dua batang pedang, aku bukannya menginginkan barangmu,"

Kata Sin Liong-cu.

"Kedua pedang ini apakah masih belum kaukenali?"

Kata Hun-cong.

"Yang satu ini adalah pedangku Toan-giok-kiam', sedang yang lain adalah 'Yu-liong-kiam' milik Coh Ciau-lam, sewaktu di Thian-san kau tentu sudah pernah melihatnya."

"Mengapa pedangnya bisa berada di tanganmu?"

Tanya Sin Liong-cu dengan mengerling mata yang aneh.

"Suteku yang tak berguna ini telah menyerah pada tentara Boan dan banyak berbuat kejahatan, sehingga aku telah menawannya,"

Tutur Hun-cong dengan wajah masgul.

"Betul apa yang dikatakannya!"

Tiba-tiba kepala suku Kazak menyeletuk.

"Maka kini kami akan membikin upacara pembalasan sakit hati, harap kau tinggal di sini dulu untuk menyaksikan keramaian."

"Ha, Suheng menawan Sute, ini sungguh suatu hal aneh di kalangan persilatan!"

Kata Sin Liong-cu. Pada saat im tiba-tiba Nyo Hun-cong teringat sesuatu.

"Kau masih akan kembali ke Thian-san, bukan?"

Tanyanya kemudian. Sin Liong-cu memanggutkan kepalanya.

"Tentu aku akan kembali ke sana,"

Sahurnya.

"Aku a-kan pergi mencari Suhu dulu, sesudah kuketemukan lantas kembali ke sana bersama dia, jika tidak ketemu, aku pun akan kembali dulu sekaligus untuk berpamitan pada Hui-bing Supek, baru kemudian kuakan pergi mencari dia lagi."

Karena itu Hun-cong lantas melepaskan pedang Ciau-lam, Yu-liong-kiam, dan diserahkan kepada Sin Liong-cu.

"Ini adalah salah satu di antara pedang pusaka gunung kami,"

Hun-cong berpesan padanya.

"Barang ini tidak boleh terjatuh ke tangan orang lain, aku sementara mengembara ke timur dan ke barat tanpa ada ketentuan mati atau hidup, aku pun tidak tahu kapan baru bisa kembali ke Thian-san, juga tak tahu kapan akan menemui ajal, aku hanya minta tolong kau suka menyerahkan kembali pedang ini pada Suhuku, berbareng memintakan maaf padanya bahwa Coh Ciau-lam telah melanggar larangan besar dari perguruan, aku tidak keburu memberitahu pada Suhu, tetapi telah lebih dulu mengambil tindakan sendiri."

Sin Liong-cu menerima pedang pusaka itu, tangannya agak gemetaran. Sementara im, di luar telah ada orang melapor lagi, kali ini adalah pesuruh Hui-ang-kin yang berkata pada Nyo Hun-cong.

"Nyo-taihiap dipersilakan datang pada Hamaya Siocia."

Sebenarnya Sin Liong-cu pun berpikir hendak mohon diri, tetapi oleh kepala suku Kazak itu ia ditahan terus.

"Kau telah lama meninggalkan kampung halaman kita, banyak urusan yang sudah tak kaupahami lagi,"

Katanya pada Sin Liong-cu.

"Bangsa kita sedang mendapat perlakuan sewenang-wenang dari orang lain, ada baiknya kalau kau tinggal beberapa hari lagi untuk bercakap-cakap dengan keluarga kita di sini."

Maka Sin Liong-cu pun menyatakan setuju, sedang Hun-cong lantas keluar menuju perkemahan Hui-ang-kin.

"Kau ada hubungan apakah dengan Hui-ang-kin Siocia?"

Tanya Sin Liong-cu yang merasa heran.

"Hamaya Siocia adalah pahlawan wanita yang tersohor dari daerah selatan, Hui-ang-kin, sungguh mereka merupakan pasangan yang setimpal,"

Kata kepala suku Kazak dengan tertawa.

"Liong-cu, bagaimana kau sampai tidak mengenal nama Hui-ang-kin yang telah tersohor im?"

Tetapi Sin Liong-cu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Dalam usia dua-tiga belas tahun aku sudah naik gunung dan tinggal di Thiansan sudah hampir dua puluh tahun lebih, bagaimana aku bisa mengetahui di padang rumput sini telah muncul seorang pahlawan wanita?"

Katanya kemudian.

"Kabarnya dia adalah murid Pek-hoat Mo-li!"

Tutur kepala suku itu lagi.

"Pek-hoat Mo-li telah mengejar guruku, tetapi selamanya ia tak pernah membawa serta muridnya, darimana aku bisa mengetahui dia itu Hui-ang-kin atau Hui-pek-kin segala?"

Kata Sin Long-cu lagi dengan gemas.

"Hm, murid Pek-hoat Mo-li, aku kira dia pun bukan seorang yang baik."

Kepala suku Kazak berkerut kening demi mendengar perkataan Sin Liong-cu ini.

"Kau telah mencurahkan seluruh pikiranmu buat belajar, itulah hal yang bagus sekali, tetapi terhadap urusan di luar sedikitpun kau tidak pernah bertanya dan tidak mau tahu, hal itu nanti akan membikin susah dirimu sendiri,"

Katanya.

"Agaknya kau tidak bisa membedakan antara yang benar dan yang salah, tidak jelas antara putih dan hitam, kau harus berlaku hati-hati dan jangan tertipu. Hui-ang-kin adalah ketua perserikatan suku-suku bangsa di daerah selatan sini, ia bertempur melawan musuh dengan gagah berani, semua orang memuji dia, bagaimana mungkin dia bisa menjadi orang yang busuk!"

Mendapat omelan ini Sin Liong-cu menjadi kurang senang, tetapi karena kepala suku adalah orang yang lebih tua dan sangat dihormati, maka ia tidak enak untuk mendebatnya.

Kebetulan waktu itu telah ada orang yang datang memanggil kepala suku, maka orang tua ini lantas berkata lagi.

"Dalam dua hari ini aku repot sekali dengan berbagai macam urusan, kau toh orang sendiri, kau boleh pergi melihat-lihat dan berbincang dengan saudarasaudara kita di sini, aku terpaksa tidak menemanimu."

Sementara itu Nyo Hun-cong yang dipanggil Hui-ang-kin telah sampai di perkemahannya, gadis ini mengajak Hun-cong sarapan pagi di tempatnya dan kemudian menarik dia pergi jalan-jalan di padang rumput.

Suasana pagi di padang rumput sangat menarik, sinar matahari terang benderang, rumput menghijau masih basah oleh embun pagi bagaikan butiran mutiara, seperti seorang gadis yang habis bersolek dengan mukanya yang berseri-seri sedang tersenyum, sungguh cantik dan molek sekali.

Perasaan Hui-ang-kin waktu itu sedang gembira, ia bersandar di bahu Huncong sambil bernyanyi-nyanyi kecil, tetapi sebaliknya hati Nyo Hun-cong bergolak seperti ombak mendampar, suara nyanyian yang merdu sama sekali tidak ia dengarkan lagi.

Sesudah Hui-ang-kin menyanyikan beberapa buah lagu populer dari padang rumput, ketika dilihatnya Nyo Hun-cong seperti sedang memikirkan sesuatu, ia telah menarik tangannya.

"Hun-cong,"

Tegurnya.

"Katakanlah sekarang juga apa yang hendak kau ucapkan, walaupun kita berkumpul belum begitu lama, tetapi hubungan kita sudah sangat baik, betul tidak kata-kataku ini? Malam kemarin kau bilang hendak menganggap aku sebagai adik kandung perempuanmu, kalau begitu, perasaan sang kakak seharusnya biarlah adik juga ikut mengetahuinya, Huncong, mungkin kau tidak tahu, bahwa sejak pertempuran yang gaduh di padang rumput itu dan berpencar denganmu, aku telah merasa kesepian, hatiku selalu terkenang padamu."

Tergetar hati Nyo Hun-cong, ia menggigit bibirnya dengan menahan perasaan.

"Hamaya, kau adalah adikku yang paling baik, selama hidup aku akan menganggap kau sebagai adikku yang paling baik!"

Demikian sahurnya.

"Selain adik, apa sudah bukan apa-apa lagi?"

Tanya Hui-ang-kin mendesak dengan senyum simpul.

"Ya, betul, hanya antara kakak dan adik saja,"

Sahut Nyo Hun-cong memanggut. Melihat pemuda ini berkata dengan sungguh-sungguh dan dari air mukanya kelihatan ada perasaan yang aneh dan menderita, Hui-ang-kin terkejut sekali.

"Hun-cong, apa yang kau katakan? Apakah kau telah mempunyai seorang gadis yang lain?"

Tanyanya cepat.

"Ya,"

Jawab Nyo Hun-cong dengan memanggut kepala.

"Sebelum bertemu denganmu, aku telah bertemu dengan seorang gadis yang lain, ia adalah....."

"la adalah putri Nilan Siu-kiat, bukan?"

Hui-ang-kin memotong dengan suara agak gemetar.

"Ya,"

Jawab pula Nyo Hun-cong sambil menggigit bibir lebih kencang.

Karena jawaban ini, muka Hui-ang-kin seketika berubah muram seperti udara yang tadinya terang mendadak tertutup oleh awan mendung, ia tidak berkata lagi, ia coba menahan mengalirnya air mata, adatnya yang keras dan hati yang halus dari seorang gadis yang untuk pertama kalinya terbakar oleh api asmara telah bergolak dengan hebat.

Sesaat itu pikirannya menjadi sangat kalut, selama hidupnya tak pernah ia merasakan pukulan yang begitu hebat, sekalipun musuhnya yang paling buas tidak mungkin membikin hancur hatinya seperti apa yang ia terima dari Nyo Hun-cong sekarang ini.

Akhirnya, lahirnya harus meayerah kepada batinnya yang keras, ia menutup mukanya dan meratap.

"Hm, ternyata benar perkataan Bing-lok, kau sungguh telah mencintai putri musuh!"

"Ya, memang betul, Hui-ang-kin, ia telah menjadi is-teriku,"

Kata Hun-cong pula dengan hati cemas.

"Nyo Hun-cong, kau telah berbuat salah!"

Seru Hui-ang-kin tiba-tiba.

Karena im, seluruh tubuh Nyo Hun-cong gemetar, tiba-tiba bayangan Nilan Ming-hui muncul dalam ingatannya, gadis im begitu halus, begitu agung dan begitu menggiurkan, Nilan Ming-hui serupa dengan rumput kecil yang ada di padang rumput dan memerlukan perlindungannya.

"Tetapi Hui-ang-kin,"

Kata Nyo Hun-cong kemudian dengan suara memprotes.

"Ia adalah seorang gadis yang baik dan berhati lembut, aku kira ia pun akan menganggapmu sebagai tacinya. Sukalah kau pun menganggap dia sebagai adikmu?"

Namun sekonyong-konyong Hui-ang-kin membalikkan tubuh terus berlari kembali menuju ke jalan ketika mereka datang tadi, air mata si gadis sudah menetes turun.

Ia tidak ingin Nyo Hun-cong melihat air matanya dan mengetahui kelemahan perasaannya, walaupun Nyo Hun-cong adalah orang yang paling ia cintai.

Perbuatan Hui-ang-kin yang tiba-tiba im telah membuat Nyo Hun-cong tidak berdaya.

Menarik tubuh gadis itu juga tidak enak, tidak menarik pun salah, ia coba menenangkan semangatnya dan lantas berlari mengejar.

"Hui-ang-kin, adikku yang baik, harap tunggu dulu, tunggu dulu!"

Ia berteriak memanggil.

Akan tetapi Hui-ang-hin masih terus berlari sambil menangis.

Pikiran Nyo Hun-cong waktu im sudah kalut sekali dan hanya berlari mengikut di belakang Hui-ang-kin secara tak sadar.

Pada saat itu juga, tiba-tiba dari depan sana telah menerjang datang beberapa penunggang kuda dengan cepat dan berteriak dengan ramainya "Nyo taihiap, Hui-ang-kin, apa belum tahukah kalian?

Tidak usah kalian kembali ke sana kejarlah ke jurusan barat daya Coh Ciau-lam dan Sin Liong-cu telah kabur!"

Mendengar teriakan yang ramai ini, Nyo Hun-cong terkejut sekali, pikirannya segera tersadar dari kekusutan, secepat kilat ia mencemplak seekor kuda dan lantas dipecut mengejar bagaikan terbang, di atas kuda ia masih sempat berseru.

"Hamaya bantulah aku, lekas kejar dan tangkap kembali pengkhianat itu!"

Hui-ang-kin diam saja tidak menyahut, tetapi ia pun segera mencemplak seekor kuda dan ikut mengudak.

Di atas padang rumput yang luas terlihat empat penunggang kuda berkejaran dengan cepat, sekejap saja yang lainnya sudah tertinggal jauh, Nyo Hun-cong berjajar dengan kuda Hui-ang-kin, tetapi sama sekali Hui-ang-kin tidak memandang diri pemuda ini.

Tidak lama kemudian, kedua penunggang kuda di depan sana sudah mulai terlihat, kedua penunggang kuda tersebut adalah Sin Liong-cu dan Coh Ciaulam.

Hun-cong mengempitkan kedua kakinya dengan kencang di atas perut kuda sehingga berlari lebih cepat lagi, ia berpaling dan berseru pada Hui-ang-kin.

"Sebentar lagi kau cegat Sin Liong-cu, tetapi jangan mencelakai jiwanya sedangkan aku pergi menangkap Coh Ciau-lam,"

Katanya.

Hui-ang-kin masih diam saja tidak menyahut.

Sementara itu kuda Nyo Huncong sudah berada di muka kelihatatanya segera sudah bisa mencapai kedua penunggang kuda yang berada di depannya itu.

Tiba-tiba dari depan sana berlari dengan cepat dua orang penunggang kuda lagi, belum sempat Nyo Hun-cong melihat jelas siapa kedua orang yang mendatanginya im, tiba-tiba terdengar Sin Liong-cu berseru memanggil.

"Susiokco, bantulah menahan mereka mereka hendak mencelakai kami!"

Mendadak Nyo Hun-cong mengendalikan tali kudanya ketika itu kedua penunggang kuda pun sudah datang mendekat, kedua penunggangnya ternyata adalah dua orang Tosu atau imam, masing-masing tangannya memegang sebatang pedang panjang yang mengkilap.

Ketika Nyo Hun-cong hendak berkata di belakangnya ternyata Hui-ang-kin dengan cepat sudah menerobos datang.

"Kau pernah apanya Pek-hoat Mo-li?"

Bentak salah seorang Tosu tua yang memakai tudung kuning dengan tiba-tiba Hui-aing-kin yang memang sedang mendongkol pikirannya sejak tadi, tanpa menjawab lagi mendadak cambuknya telah memecut.

"Kamu mengapa menghalangi aku, kamu malahan berani menyebut nama guruku dengan tidak hormat!"

Dampratnya dengan gusar. Atas jawaban ini, kedua Tosu im saling pandang dan kemudian berteriak.

"Ha akhirnya ketemu juga biarlah Toa-ya membereskan kalian berdua siluman kecil ini dulu baru kemudian pergi mencari gurunya!"

Habis berkata pedang mereka diacungkan, dari dua jurusan segera mereka menyerang, sinar pedang bergemer-depan dengan cepat, serangannya ternyata tipu pukulan yang berbahaya.

"Hai, ada perkara apa berbicaralah lebih dulu!"

Seru Hun-cong cepat sambil menghindar dari serangan orang yang membabi buta.

"Siapa sudi berbicara dengan kau!"

Bentak pula Tosu itu.

Pedangnya terus menyerang dengan cepat dan beruntun tiga kali, ternyata tipu serangannya adalah kiam-hoat yang paling lihai dari golongan Bu-tong pay, walaupun Nyo Hun-cong dapat menduga asal usul mereka, tetapi pertandingan antara jago silat, mati atau hidup hanya tergantung dalam sekejap mata saja, maka ia tidak berani gegabah, ia harus mencurahkan sepenuh perhatiannya untuk mengawasi setiap gerak gerik musuh.

Tiap serangan imam itu ternyata sangat lihai, sedang keuletannya lebih-lebih selama hidup belum pernah dialami Nyo Hun-cong.

Terpaksa Nyo Hun-cong harus mengeluarkan 'Han-tho-kiam-hoat' yang merupakan bagian dari Thian-san-kiam-hoat, serangan pedang pendeknya begitu dilancarkan langsung sinar mengkilapnya berkilauan, sebatang pedang segera menjelma seperti beberapa puluh batang, di waktu cepat, permainan pedangnya seperti arus air yang mengombak ke angkasa dan sinar perak beterbangan, beratus ribu bintik-bintik purih bersebaran turun!

Akan tetapi Tosu itu ternyata sangat lihai juga, pedangnya tidak cepat pula tidak lambat, sinar pedangnya hanya melingkar seperti membentuk satu pagar tembaga dan tembok besi di depan Nyo Hun-cong, ujung pedang Hun-cong sampai di mana saja tentu terbentur balik oleh suatu kekuatan dalam yang luar biasa besarnya, 'Han-tho-kiam-hoat' yang dimainkan selekasnya sudah akan habis jurusnya, tetapi ia masih belum dapat mendesak mundur musuh.

Dalam kerepotannya Hun-cong masih mencoba memandang ke pihak Hui-angkin, gadis ini kelihatan sudah kerepotan sampai rambutnya bersebaran tak teratur, pecut panjangnya hanya berayun tak keruan dan pedangnya berputar-putar tanpa tujuan, agaknya sudah tak tahan lebih lama lagi.

Hun-cong menjadi kuatir sekali, lekas ia mengeluarkan seluruh ilmu pedang Thian-san yang paling lihai dan menyerang secepat kilat.

Melihat permainan Nyo Hun-cong yang hebat, Tosu itu bersuara dengan penuh keheranan, akan tetapi ia tetap terus mempertahankan diri, pedangnya menyambar naik turun, kadang-kadang malahan pedang Nyo Hun-cong tertangkis ke samping, Nyo Hun-cong sudah mandi keringat, tetapi tetap masih tidak dapat melepaskan diri.

Hun-cong yang telah menguasai Thian-san kiam-hoat sebenarnya sudah sulit dicari tandingannya, ilmu pedangnya sungguh sangat lihai dan kalau dibandingkan dengan ilmu pedang Tosu itu tentu jauh lebih bagus, tetapi kalau soal keuletan sebaliknya ia masih kalah jauh, maka ia berbalik berada di bawah angin.

Sementara itu di lain pihak Hui-ang-kin sudah dalam keadaan lelah letih dan kelihatannya segera akan menjadi pecundang, Hun-cong tidak berdaya, ketika ia hendak menggunakan serangan yang paling lihai untuk mengadu jiwa dengan Tosu tua itu, tiba-tiba Tosu tua ini sudah melompat keluar dari kalangan pertempuran.

"Berhenti, berhenti dulu!"

Teriaknya tiba-tiba.

Nyo Hun-cong menarik pedangnya dan dilintangkan di dadanya, ia melihat ke jurusan Hui-ang-kin, kelihatan gadis ini sudah tersengal-sengal napasnya dan juga sudah melompat keluar dari kalangan.

"Sute, kedua orang ini sudah kuketahui sedikit asal-usulnya!"

Kata Tosu tua yang bertanding melawan Nyo Hun-cong im pada kawannya.

"Tidak salah, memang juga sudah kuketahui sedikit asal-usulnya, ia mempunyai ilmu silat yang khas dan menandakan betul adalah ajaran Pek-hoat Mo-li, mereka tidak membohongi kita, dan kalau sudah terang mereka adalah murid Pek-hoat Mo-li, mengapa Suheng berhenti sampai di sini?"

Sahut Tosu yang melawan Hui-ang-kin tadi. Kemudian imam tua berhidung kuning im mendadak tertawa sambil mendongak ke atas.

"Sudah lama aku mendengar Thian-san-kiam-hoat tiada bandingannya di kolong langit, kini terbukti memang tidak salah lagi. Hai, kau pernah apanya Hui-bing Siansu?"

Tanyanya dengan suara nyaring.

Imam tua yang sudah mumpuni dengan ilmu pedangnya yang sudah terlatih puluhan tahun lamanya dan adalah jagoan kelas satu dari Bu-tong-pay ternyata harus bergebrak begitu lama dengan Nyo Hun-cong yang masih begitu muda, jidatnya sendiri sampai berkeringat, tentu saja ia terperanjat dan heran sekali.

"Hui-bing Siansu adalah guruku, maaf numpang tanya siapakah gelar suci Locianpwe?"

Sahut Hun-cong kemudian dengan hormat.

"Kalau kau adalah murid Hui-bing, mengapa berbalik membela murid Pek-hoat Mo-li?"

Bentak Tosu di sebelah sana dengan tiba-tiba.

"Aku tidak memandang pihak mana pun,"

Jawab Nyo Hun-cong dengan lantang.

"Lienghiong ini adalah ketua dari perserikatan suku-suku bangsa di Sinkiang selatan sini, ialah Hui-ang-kin Lienghiong yang namanya tersohor di seluruh padang rumput, mengapa aku tidak boleh membantunya?"

"O, kiranya jagoan wanita ini adalah Hui-ang-kin, sungguh tidak nyana ia adalah murid Pek-hoat Mo-li!"

Ujar Tosu tua im agak tercengang.

"Aku memang adalah murid Pek-hoat Mo-li, pahlawan-pahlawan yang berada di daerah luar sini siapa yang tidak mengetahui?"

Sahut Hui-ang-kin dengan lagak agak congkak.

"Ada apa dengan guruku, ia adalah ahli pedang kelas satu di kalangan persilatan, perbuatan memalukan apakah yang telah diperbuatnya sehingga membuat para Locianpwe begitu gusar?"

"Lienghiong, maafkanlah kami!"

Kata Tosu tua tadi yang kini lagu suaranya sudah berubah menjadi halus.

"Perkara ini panjang ceritanya, aku sepatutnya tidak ingin mengutuk nama gurumu di hadapanmu, tetapi kau masih terlalu muda, banyak urusan yang belum kau ketahui, kau boleh pergi melawan tentara Boan dan menjalankan tugasmu yang mulia, untuk ini kami tentu membantu kau dan tidak nanti merintangi, hanya saja jika kau menuruti perintah gurumu pergi menindas murid keponakanku, itulah yang kami tidak bisa biarkan!"

"Kalau begitu, kiranya kedua Totiang adalah Susiok Toh-taihiap?"

Tanya Huncong terperanjat.

"Betul!"

Sahut kedua Tosu im dengan memanggut. Jika diurutkan ternyata Nyo Hun-cong masih lebih rendah dua tingkat, maka lekas ia memberi hormat pada kedua orang tua ini.

"Kami dengan Hui-bing semua adalah sahabat yang sudah turun-temurun,"

Kata Tosu tua lagi.

"Masing-masing mempunyai hubungan yang khusus, kami menganggap gurumu dari tingkatan yang sama, tetapi karena ia menghormati Sutit kami yang pernah mengetuai satu golongan persilatan, maka ia juga menganggap kedudukannya setingkat, kalau kau hendak mengurutkan secara adat, maka biarlah kau menyebut aku sebagai Susiok juga."

"Maafkanlah aku!"

Kata Nyo Hun-cong sambil memberi hormat lagi, perasaannya pun penuh rasa heran, tetapi ia tak berani bertanya.

Kiranya kedua imam ini baru datang dari Su-jwan, maka mereka tidak mengetahui seluk-beluk Hui-ang-kin.

Sedang diri Toh It-hang asalnya adalah dari kaum bangsawan, belakangan ia telah menjadi Ciang-bun atau ketua Butong-pay, tapi di atasnya masih ada lagi empat orang Susiok atau paman guru, kepandaian It-hang lebih rendah sedikit daripada Ji-susioknya yakni Tosu yang bertanding dengan Nyo.

Hun-cong tadi, yang bernama Oei-yap Tojin, kepandaian Ji-susioknya ini jauh lebih tangguh daripada Susiok yang lain.

Yang bertanding dengan Hui-ang-kin tadi adalah Si-susiok yang bernama Pekciok Tojin.

Mengenai diri Pek-hoat Mo-li, ia asalnya adalah seorang begal besar dari daerah Su-jwan.

Kedekatannya dengan Toh It-hang sebenarnya adalah hubungan percintaan yang sudah dekat pada pernikahan, akan tetapi para Susioknya menganggap Bu-tong-pay adalah salah satu aliran yang bersih dalam kalangan persilatan.

Toh It-hang adalah orang pilihan di dalam golongan mereka dan baru saja menerima jabatan sebagai Ciang-bun atau ketua, maka tidak pantas mendapatkan jodoh seorang begal perempuan.

Pada masa itu, soal perjodohan masih harus menurut kepada keputusan orang tua, Toh It-hang yang sudah piatu dengan sendirinya harus menurut pada perkataan para Susioknya, karena rintangan inilah yang telah membuatnya sangat menderita dan penuh kemasgulan.

Sebenarnya, soalnya bukan sudah tak dapat diperbaiki lagi, tak terduga Pelchoat Mo-li yang berwatak keras sekali, dengan amarahnya ia telah mengeluruk ke Bu-tong-san dan bergebrak dengan Susiok Toh It-hang.

Waktu itu, Oei-yap Tojin dan Pek-ciok Tojin justru tidak berada di situ, Toh It-hang masih mempunyai dua Susiok yang lain yaitu Ang-hun Tojin dan Jingsui Tojin, merekalah yang telah mengerubuti Pek-hoat Mo-li beserta enam murid mereka yang tertua.

Pek-hoat Mo-li yang sendirian melawan delapan jago dari Bu-tong-pay ternyata telah dapat melukai Ang-hun Tojin, sebaliknya iapun terluka oleh pedang Jing-sui Tojin, kedua pihak sama-sama ada yang mengalami luka, Pek hoat Mo-li yang telah patah hati dalam soal asmara mengerti tidak dapat menetap terus di daerah Su-jwan lagi, maka jauh-jauh ia telah datang ke Thian-san dan menyembunyikan diri di sana.

Dan rambutnya dalam semalaman telah berubah menjadi putih semua, maka orang lantas menyebut dirinya Pekhoat Mo-li atau si iblis perempuan berambut putih.

Toh It-hang yang juga mengalami pukulan batin begitu hebat, ia pun menjadi putus asa, tiba-tiba ia meninggalkan kewajibannya sebagai Ciang-bun dan menyusul ke daerah perbatasan, tetapi Pek-hoat Mo-li yang telah salah paham padanya di samping cinta juga benci, maka mereka susah diakurkan kembali.

Selama beberapa puluh tahun ini, kedua orang ini selalu dalam keadaan yang bertentangan dan berlainan jurusan.

Belakangan bahkan Pek-hoat Mo-li mengira Toh It-hang telah bermain cinta dengan murid perempuan Oei-yap Tojin yang bernama Ho Lok-hua dari cemburu menjadi gusar dan hendak mengusir mereka keluar dari daerah Sinkiang, Toh It-hang yang mengetahui watak Pek-hoat Mo-li yang cukup ganas, ia menjadi kuatir Ho Lok-hua dicelakai maka cepat ia mengantar Ho Lok-hua keluar dari daerah Sinkiang, tidak terduga Oei-yap Tojin yang entah mendapat kabar dari mana, jauh-jauh ia telah datang menyusul.

Di waktu masih kecil Sin Liong-cu pernah bertemu sekali dengan Oei-yap Tojin, dengan kedatangan mereka yang secara kebetulan ini justru telah menghindarkan bahaya bagi diri Sin Liong-cu dan Coh Ciau-lam berdua.

Kembali tentang Hui-ang-kin, setelah mendengar perkataan Oei-yap Tojin tadi, ia menjadi gusar.

"Hm, kamu masih berkata membantu aku melawan tentara Boan, tetapi matamata musuh justru telah lolos karena kamu!"

Katanya sengit. Keruan Oei-yap Tojin terperanjat sekali mendengar dampratan itu.

"Apa?"

Tanyanya cepat.

"Sin Liong-cu adalah mata-mata musuh? Ah, mana mungkin! Walaupun aku tidak berada di Thian-san, tetapi pernah juga mendengar murid Toh It-hang ini selalu belajar dengan baik dan sungguhsungguh, bagaimana ia bisa membantu pemerintah Boan-jing!"

"Sin-toako mungkin tidak, tetapi maafkan kalau Tecu harus berterus terang, ia biasanya terlalu ceroboh, mungkin ia sudah kena hasutan Coh Ciau-lam dan telah membebaskan dirinya yang telah kami tawan dan lantas kabur bersama!"

Kata Nyo Hun-cong.

"Coh Ciau-lam yang mana?"

Tanya Oei-yap Tojin.

"Coh Ciau-lam adalah Tecu punya Sute yang tak berguna itu,"

Sahut Hun-cong.

"Ia telah mengkhianati sumpah perguruan dan menyerah pada pihak Boan untuk berbuat sewenang-wenang, kemarin malam telah tertangkap oleh Tecu, tetapi paginya telah terlepas dan kini sudah melarikan diri!"

Karena keterangan ini lantas Oei-yap Tojin ketok-ketok batok kepala sendiri.

"Ya, ya, memang aku si tua bangka ini yang ceroboh!"

Katanya berulang-ulang.

"Baiklah begini saja, kalau kami ketemukan Toh It-hang, kami akan meminta dia memberi ajaran dan hukuman yang setimpal pada Sin Liong-cu, sedang mengenai Coh Ciau-lam, karena ia bukan orang golonganku, maka kami tidak pantas mengurusi dia."

Sementara itu, Sin Liong-cu dan Coh Ciau-lam sudah pergi terlalu jauh, hendak mengejar pun sudah tak keburu lagi, maka terpaksa Nyo Hun-cong dan Hui-ang-kin berpamitan pada Oei-yap Tojin dan Pek-ciok Tojin kembali ke perkemahan bangsa Kazak sana.

Sepanjang jalan Nyo Hun-cong mencoba mengajak Hui-ang-kin bercakapcakap, tetapi Hui-ang-kin tidak menyahut dan tidak menggubris, karena tidak tahan lagi Nyo Hun-cong telah mengalirkan air mata.

"Hui-ang-kin,"

Kata Hun-cong dengan sungguh-sungguh.

"Anggaplah aku telah mengecewakan maksud baikmu, tetapi kita masih harus melawan tentara Boan bersama!"

Tidak diduganya, perkataannya itu makin menambah kegusaran Hui-ang-kin.

"Nyo Hun-cong,"

Sahurnya dengan gemas.

"Siapa yang memikirkan dirimu, kau pandang aku Hui-ang-kin sebegitu rendah dan harus tetap mengikutimu? Hm!"

Akhirnya ia menjengek.

Habis berkata beruntun ia memecut kudanya terus dilarikan kembali ke arah datangnya tadi, Hun-cong tertegun dan tak berani buka suara lagi.

Setelah sampai di perkemahan, lebih dulu Nyo Hun-cong menemui kepala suku Kazak dan meminta maaf, ia menceritakan pengalamannya.

"Cukuplah,"

Kata kepala suku itu sambil tertawa.

"Coh Ciau-lam dapat lolos, hal ini walaupun sangat disayangkan, tetapi kalau kau tetap bersama kami, apakah masih kuatir tidak dapat menangkap dia lagi? Pihak yang benar pasti menang, Tuhan melindungi kita, musuh dan kaum pengkhianat pasti tidak akan mendapat pengampunan, sekarang boleh kau pergi istirahat dulu!"

Dengan perasaan penuh kemasgulan, setelah kembali ke dalam kemah, Huncong tidak pergi mencari Hui-ang-kin. Pada besok paginya, kepada suku Kazak tiba-tiba menerobos datang padanya dan berteriak.

"Apakah artinya ini? Hui-ang-kin telah pergi dengan membawa orang-orangnya!"

Pikiran Nyo Hun-cong tergoncang keras mendapat kabar yang tiba-tiba im.

"Ha? Ia telah pergi tadi malam?"

Tanyanya cepat.

Kepala suku itu mengangsurkan selembar kulit domba, di atasnya penuh tertulis huruf Vigor, ternyata itulah surat yang Hui-ang-kin tinggalkan.

Hun-cong membaca surat itu, di situ tertulis .

Kami suku dari daerah selatan menghaturkan banyak terima kasih atas kesediaan menampung kami.

Kini para pejuang kami yang tersebar telah terhimpun kembali dan sebagian besar sudah kembali ke pangkalan, pejuang-pejuang kami yang berada di sini mengambil keputusan untuk balik ke tempat lama dan menyusun kembali ladang gembala yang baru dan belajar bersama untuk melawan pasukan Boan.

Dengan suku saudara, kami bersedia mengikat tali serikat yang kokoh untuk kebaikan selama-lamanya.

-H a m a y a "Ia kembali ke sana untuk mengakhiri masa berjuang dan guna menyusun kembali ladang peternakannya, sesungguhnya adalah urusan yang betul juga,"

Kata Nyo Hun-cong dengan berat.

"Di daerah selatan sini mereka hakikatnya hanya tamu belaka tentu tidak dapat tinggal terlalu lama, tetapi mereka pergi sedemikian cepat, adalah di luar dugaan juga, ia seharusnya menunggu perundingan urusan yang maha besar selesai barulah berangkat."

Kepala suku Kazak terdiam tak bisa bicara, Nyo Hun-cong lebih kesal hatinya.

Tetapi situasi peperangan dalam keadaan yang genting, awan peperangan sudah gelap, Coh Ciau-lam yang lolos itu telah kembali ke pangkalan pasukan Boan-jing, begitu api peperangan berkobar.

Nyo Hun-cong harus membantu suku Kazak mengatur siasat, ia sesungguhnya tiada tempo lagi untuk memikirkan urusan pribadinya.

Kalau Nyo Hun-cong berada dalam perkemahan di padang rumput Garsin dengan perasaan tegang, maka di sana, di tempat berjarak ribuan li, Nilan Ming-hui yang berada dalam istana jenderal pun sedang dalam keadaan bingung.

Sejak Nyo Hun-cong pergi, tubuhnya telah mengalami perubahan, ia selalu merasa kurang tidur, baru bangun pagi, lewat sebentar sudah merasa kantuk hendak tidur lagi, perutnya pun dirasakan sangat tidak enak, sering kali muntah-muntah, begitu makan lantas muntah, bahkan dalam keadaan perut kosong pun bisa memuntahkan air kecut.

Wajahnya yang cantik tiba-tiba berubah menjadi kumal dan timbul guratan, bahkan timbul pula sedikit bintik-bintik hitam.

Makanannya pun aneh, dulu yang dia suka kini berbalik merasa bosan, tetapi yang dulu tak disukai kini berbalik ingin mencoba, lebih-lebih ia suka makan yang kecut-kecut, perangainya pun berubah suka marah-marah, berbeda jauh dengan sebelumnya, ia sendiri pun merasa agak heran.

Ibunya biasanya memang jarang bertemu dengan dia pernah juga bertemu, ia hanya mengira putrinya sedang sakit dan hendak memanggil tabib untuk memeriksanya.

Ming-hui hakikatnya tidak mengetahui dirinya sakit apa setelah kembali di kamarnya ia hanya merasa sangat kesal dan marah-marah tanpa sebab, ia obrak-abrik dan melemparkan barangnya bersebaran.

Babu inangnya yang mendengar ribut-ribut lalu masuk ke kamar untuk bertanya.

"Ibu hendak memanggil tabib buat memeriksa sakitku, entah sakit aneh macam apa ini, sehari-hari hanya merasa mual saja tetapi toh tidak diketahui sebab musababnya!"

Katanya pada babu itu.

Segera si babu itu menutup pintu kamar dan katanya pelahan pada Siocianya "Siocia sebenarnya aku tidak akan omong, aku telah berpikir beberapa hari ini, aku merasa lebih baik aku beritahukan saja pada Siocia kini keadaan telah mendesak, lebih-lebih harus kukatakan sekarang.

Siocia kau sekali-kali jangan periksa tabib!"

Mendengar perkataan babunya itu Nilan Ming-hui terkejut sekali, ia mengeluarkan suara keheranan.

"Naima apa yang kau katakan?"

Tanyanya pada babunya itu.

"Apa yang kau ketahui dan mengapa aku tidak boleh periksa pada tabib, boleh kau katakan terus terang."

Naima nama babu itu, mengelus-elus rambut si gadis dan lalu berbisik di pinggir kupingnya "Nak, kau telah mengandung!"

Bukan main terkejutnya Nilan Ming-hui sampai tak dapat mengeluarkan separah kata pun, ia merasa tubuhnya lemas lunglai dan ambruk ke bawah, ia bingung, entah senang atau sedih, getir atau gembira air matanya tidak terasa telati mengalir keluar.

Dengan kedua tangan Nahw segera merangkul pundak Ming-hui.

"Anakku sayang, janganlah menangis, biarlah aku carikan daya upaya"

Kata babu itu dengan menghela napas dan penuh rasa kasih sayang.

"Tabib yang diundang Hujin sekali-kali tidak boleh memeriksamu, besok sebaiknya kau pergi jalan-jalan ke padang rumput, aku nanti yang akan menemui Hujin dan menjelaskan bahwa kau hanya kurang enak badan saja dan tiada sakit apa-apa kini sudah baik. Sebenarnya kalau Hujin mengetahui itu pun pantas, hanya dikuatirkan Loya pun mengetahui, inilah yang berbahaya. To Tok sedang menyuruh orang meminang dirimu, di lain pihak Hujin pun takut kepada Loya jika sampai Loya tahu, meski kau tidak didamprat, pasti ibumu yang akan didampratnya habis-habisan."

"Kalau begitu, kelak kalau anakku lahir bagaimana bisa mengelabui mereka?"

Tanya Nilan Ming-hui. Naima pun menghela napas pula.

"Siocia maafkan keberanianku untuk mengatakan hal ini secara berterus terang, bagaimana kalau dihilangkan saja anak ini?"

Kata Naima.

"Kau..... kau maksudkan menggugurkan kandunganku?"

Tanya Ming-hui dengan mata terpentang lebar.

Naima manggut-manggut agak menyesal.

Entah kekuatan yang datang darimana tiba-tiba Nilan Ming-hui melompat bangun dan dengan suara yang begitu keras serta tabah ia berteriak.

"Tidak, tidak mungkin, aku tidak mau! Aku harus mempertahankan anak ini, tidak peduli ia laki-laki atau perempuan, ia adalah anak yang kucintai!"

Katanya.

Sesaat itu, hatinya tiba-tiba penuh dengan kegembiraan, ia merasa jiwanya dan jiwa Nyo Hun-cong telah terikat menjadi satu, apabila anak ini bisa lahir dengan selamat, maka Nyo Hun-cong akan tetap hidup untuk selamanya di sampingnya dan terus begitu sampai mereka berdua meninggal, tetapi jiwa mereka masih akan bersambung terus, bersambung di atas jiwa anak mereka.

Ia mencintai Nyo Hun-cong dengan sepenuh hati, ia pun mencintai anak yang belum lahir ini walaupun belum diketahui laki-laki atau perempuan.

"Aku sudah tidak lagi takut pada orang yang bernama Hui-ang-kin, jiwa Nyo Hun-cong kini sudah hidup dalam tubuhku!"

Teriaknya pula mendadak.

"Hui-ang-kin siapakah maksudmu, Siocia?"

Tanya Nai-ma dengan heran. Nilan Ming-hui hanya tersenyum, ia tidak menjawab. Sebaliknya Naima dalam hati sangat kuatir, pikirnya dalam hati.

"Sungguh anak yang tak mengerti urusan dan masih begini nakal?"

Setelah ia merenung sejenak, pelahan babu ini lantas mendorong diri Nilan Ming-hui.

"Siocia, marilah, aku telah mendapatkan satu akal, coba bagaimana menurut pikiranmu?"

Katanya kemudian. Nilan Ming-hui seperti tersadar dari mimpinya, dengan rasa malu-malu ia bertanya.

"Naima, akal apakah itu?"

"Siocia,"

Kata Naima.

"Bukankah kau sering pergi berburu? Nanti kalau sudah hampir bulan kelima usia kandung-anmu, kau boleh membawa pasukan wanita pergi berburu beberapa ratus li jauhnya di padang rumput sana, aku mempunyai seorang Enso, janda yang tinggal di sana, keponakanku kini bekerja dalam istana sini, dia itu orang yang agak dogol dan kau pun pernah bertemu dengannya, aku akan menyuruhnya ikut pergi bersamamu, walaupun ia agak dogol, tetapi sangat penurut."

Mendengar keterangan babu^/a itu, Nilan Ming-hui menjadi girang sekali.

"Naima, kau sungguh pintar sekali,"

Katanya.

"Kalau aku bilang mau pergi berburu, itu memang tepat. Ya, aku lupa memberitahu padamu bahwa pertama kali aku bertemu dengan ayah dia, waktu itu aku juga sedang berburu!"

"Dia, dia yang mana?"

Tanya Naima heran.

Tetapi baru ia akan buka suara untuk bertanya, segera pula ia mengerti bahwa 'Dia' yang dimaksudkan adalah anak yang ada dalam kandungan Siocianya, tanpa terasa ia tersenyum sendiri.

Sekejap saja telah lewat beberapa bulan, kandungan Nilan Ming-hui kini sudah menginjak lima bulan.

Justru waktu itu Nilan Siu-kiat telah pergi bertempur ke tempat yang agak jauh, maka soal pergi berburu bagi Nilan Ming-hui tentu menjadi lebih mudah lagi, cukup kalau ia memberitahu pada ibunya dan lantas membawa belasan pengiring wanita serta anak dogol itu, maka berangkatlah mereka ke padang rumput sana.

Demikianlah Nilan Ming-hui mendekam dalam perke-mahannya di padang rumput untuk menunggu lahirnya sang bayi, tidak terasa telah lewat pula lebih dari empat bulan.

Pada suatu hari, tiba-tiba Hujin atau ibunya telah menyuruh beberapa serdadu wanita datang menemui Nilan Siocia dan membawa kabar yang mengejutkan, katanya tiga hari yang lalu, pada malam yang gelap dan berangin ribut, istana telah kedatangan seorang begal perempuan yang hendak mencari Loya tetapi karena tidak bertemu, maka begal itu telah menawan seorang pesuruh Siocia dan menanyakan keadaan sang Siocia.

Kepandaian penyamun wanita itu ternyata tinggi sekali, walaupun ia telah dapat menerobos masuk ke dalam istana dan menawan seorang pesuruh kecil Siocia, tetapi masih belum diketahui orang, baru sesudah pesuruh kecil im dipaksa sampai menjerit, barulah jago-jago yang menjaga istana im memburu datang.

Akan tetapi penyamun wanita ini ternyata tidak gentar sedikit pun, dalam kepungan begitu banyak guru-guru silat dari istana, seutas rambut pun tidak terluka, ia pergi datang dengan bebas, waktu hendak pergi bahkan telah melukai beberapa khau-thau (guru silat istana) pula.

Hujin yang sangat ketakutan meminta Siocia suka berhari-hari dan telah mengundang Siocia supaya kembali ke istana saja untuk mempermudah penjagaan terhadapnya.

Nilan Ming-hui yang tiduran di atas pembaringan setelah mendengarkan cerita tadi, dalam hari ia mengerti tentu Hui-ang-kin yang telah datang mencarinya, dengan tak terasa ia mengomel dengan gemas.

"Sungguh seorang penyamun perempuan yang ganas!"

Akan tetapi ia mengerti kepandaiannya jauh di bawah orang dan tidak dapat menandingi Hui-ang-kin, walaupun pulang juga tak berguna, lagi pula setelah ia menghitung harinya, waktu lahir bayinya pun hanya tinggal belasan hari ini saja, bagaimana ia bisa pulang ke rumah?

Terpaksa ia hanya menyuruh keponakan Naima im untuk kembali dulu, ia pesankan supaya menyampaikan pada ibunya bahwa ia baru dapat kembali beberapa hari lagi.

Tempat persembunyian Nilan Ming-hui walaupun cukup rahasia, akan tetapi tidak urung ia pun kuatir, ia takut Hui-ang-kin dapat menemukan dirinya, ia pun tidak mengetahui apakah pesuruh kecil yang ditanya oleh Hui-ang-kin dengan paksa itu sudah membocorkan tempat tinggalnya.

Tetapi segera ia menghibur dirinya sendiri.

"Padang rumput yang sedemikian luasnya, sekalipun ia telah sampai di padang rumput pun tak akan dapat mengetahui di mana aku berada."

Ia memerintahkan pengawalnya yang kesemuanya serdadu wanita im untuk berjaga siang malam bergiliran, ia sendiri walaupun tidak bebas lagi bergerak, ikut berjaga-jaga dengan menaruh sekantongan anak panah kecil di ujung tempat tidurnya, ia bersedia mengadu jiwa mati-matian dengan Hui-ang-kin, apabila ia berani datang.

Malam ketiga, juga suatu malam yang gelap dan angin bertiup kencang.

Setelah lewat tengah malam, di padang rumput yang luas im tiba-tiba berkumandang datang suara derapan telapak kaki kuda, belasan orang yang berperawakan tegap menunggang kuda sedang mendatangi dengan cepat.

Bahkan keponakan Naima tertangkap dan tampak terikat celentang di atas kuda orang.

Serdadu-serdadu wanita dapat melihat dengan jelas di bawah penerangan obor, tidak terlihat seorang wanita pun di antaranya.

Keempat pengawal Nilan Ming-hui sesudah saling pandang dan memberi isyarat, segera dengan senjata mereka menerjang belasan orang im yang kini sudah datang mendekat.

Serdadu-serdadu wanita ini semuanya telah dilatih sendiri oleh Nilan Minghui, kepandaian mereka pun cukup baik, lebih-lebih keempat pengawal pribadinya.

Ilmu memanahnya lebih lihai lagi, sebelum begal-begal itu datang mendekati perkemahan sudah terpanah jatuh beberapa orang.

Ternyata gerombolan orang-orang ini adalah begal kuda dari padang rumput, diketuai oleh seorang yang bernama Ong-toasicu.

Setengah bulan yang lalu ia mendengar kabar ada serombongan wanita sedang berburu di padang rumput, ia tidak tahu yang berburu itu adalah rombongan Nilan Siocia, ia hanya mengira tentu anak gadis kepala suku dari mana, maka ia dengan membawa belasan penunggang kuda memburu datang dari padang rumput Garsin dan hendak membegal.

Di tengah jalan mereka telah bertemu keponakan Naima yang disuruh pulang dulu oleh Nilan Ming-hui, mereka sekaligus menangkapnya dan memaksanya menunjukkan tempat perkemahannya.

Dalam pertempuran yang ribut itu, begal-begal kuda itu ternyata belum bisa memperoleh keunggulan, Ong-toasicu menjadi gugup, tangan kirinya mendorong keponakan Naima dan tangan kanan mengayunkan goloknya membacok dengan sekuatnya.

Serdadu-serdadu wanita yang ketakutan lantas minggir dan memberi kesempatan padanya untuk menerobos masuk ke dalam kemah.

Nilan Ming-hui sudah siap dan duduk di atas kasur, begitu melihat Ongtoasicu menerobos masuk, tangannya segera diayunkan dan segera pula sebuah pisau melayang dengan kecepatan luar biasa, kulit kepala begal ini segera terkelupas sebagian.

Ong-toasicu menggereng kesakitan, hingga tangannya sedikit kendor, keponakan Naima lantas jatuh terguling di tanah, Ong-toasicu masih merangsek dan membacok Nilan Ming-hui, tetapi Nilan Ming-hui telah berguling ke bawah dan segera menyambitkan pula sebatang pisaunya.

"traang", suara beradunya senjata segera terdengar, golok Ong-toasicu telah terpental lepas dari tangan, keruan ia tercengang. Tetapi pada saat itu juga tiba-tiba Nilan Ming-hui berteriak kesakitan, ia telah terlalu banyak menggunakan tenaga, perutnya terasa sakit sekali, kepalanya pusing dan matanya berkunang-kunang, kaki tangannya pun lemas tak bertenaga lagi.

"Nyo Hun-cong, O, Nyo Hun-cong, anakmu tak dapat diselamatkan lagi!"

Serunya dengan merintih kesakitan.

Kala itu keponakan Naima sudah bangun, maka dengan mati-matian ia menerjang Ong-toasicu, akan tetapi hanya beberapa gebrakan saja, kembali ia rubuh oleh pukulan Ong-toasicu.

Berulang-ulang dengan tertawa menyeringai, Ong-toasicu maju lagi dan lantas hendak mencengkeram diri Nilan Ming-hui, pada saat yang berbahaya itu tiba-tiba dari luar kemah terdengar suara yang gaduh sekali, Ong-toasicu yang belum sempat berpaling, belakang punggungnya seketika terasa kesakitan sekali dan tubuhnya tahu-tahu sudah terangkat ke atas oleh orang.

Waktu Nilan Ming-hui membuka matanya dan memandang, ia melihat muka Hui-ang-kin yang penuh dengan napsu membunuh, dengan cambuk di tangan kirinya telah melilit tubuh Ong-toasicu dan tangan kanannya menuding pada Nilan Ming-hui sambil membentak.

"Hm. kiranya kau adalah orang yang bernama Nilan Ming-hui? Mengapa begitu tak berguna, sungguh corak seorang Siocia!"

Ia mengejek.

Sejak Hui-ang-kin berpisah dengan Nyo Hun-cong.

ke-masgulannya belum juga lenyap, seorang diri ia telah datang mengacau di istana jenderal Ili, walaupun tidak mendapatkan Nilan Ming-hui, tetapi telah berhasil mencekal seorang pesuruhnya dan memaksa orang mengaku, sesudah mendapatkan kabar Nilan Ming-hui ia lantas menyusul ke padang rumput sini, justru ia telah bentrok dengan begal ini, maka tanpa banyak bertanya lagi, Hui-ang-kin segera memukul dan mengobrak-abrik begal-begal kuda itu dan juga serdaduserdadu wanita itu pula, ia menerobos masuk ke dalam kemah dan hanya dengan satu gerakan sudah dapat menangkap Ong-toasicu hidup-hidup serta berniat hendak memberi sedikit kegetiran pada Nilan Ming-hui.

Akan tetapi Nilan Ming-hui hanya mengangkat kepala memandang Hui-ang-kin dengan senyuman menghina, sepasang matanya memandang dengan sinar yang tajam, sampai Hui-ang-kin sendiri merasa bergidik.

Namun Hui-ang-kin lantas menjadi gusar sekali, pecutnya digerakkan, tanpa ampun lagi Ong-toasicu terbanting.

"Apa yang kau senyumkan?"

Dampratnya kemudian dengan bengis.

"Jika kau berani, bangunlah dan bertanding beberapa jurus dengan aku, tidak sudi aku membunuh orang yang tidak melawan."

Tetapi Nilan Ming-hui hanya menjawab singkat, suaranya walaupun pelahan, tetapi kedengarannya bagi Hui-ang-kin laksana geledek yang mendadak menggelegar. Kata Nilan Ming-hui kemudian.

"Kau hendak membunuhku, pasti sedikitpun aku tak akan berkelit, hanya dapatkah kiranya kau menunggu setelah aku melahirkan anak, baru kau turun tangan?"

"Apa? Kau akan melahirkan anak, anak siapa?"

Tanya Hui-ang-kin sambil membentak.

"Anak Nyo-taihiap dan aku!"

Sahut Nilan Ming-hui dengan senyuman bangga.

Ketika Hui-ang-kin mengamat-amati, memang betul perut Nilan Ming-hui gendut besar, tanpa berkata-kata lagi Hui-ang-kin membalikkan badannya terus tinggal pergi.

Sementara ini di luar kemah begal-begal kuda dan serdadu-serdadu wanita telah siap bertempur kembali, Ong-toasicu telah berdiri kembali dari pojokan sana dan sudah menjemput goloknya pula.

Tiba-tiba Hui-ang-kin mengkerutkan kening, ia balik lagi dan membentak pada Ong-toasicu.

"Kau siapa? Untuk apa kau datang ke sini?"

Tanyanya. Tadi Ong-toasicu sudah melihat Hui-ang-kin hendak membunuh Nilan Minghui, ia mengira orang adalah penyamun yang segaris dengan dia, maka cepat ia menerangkan.

"Aku dari 'kelompok kuda bergolok' (sebutan gerombolan begal kuda yang bekerja sendiri). Nona, kau dari golongan mana?"

Kata Ong-toasicu balik bertanya.

"Perempuan busuk ini sedang mengandung, menurut kebiasaan biarlah kita tidak membunuhnya. Tampaknya ia adalah anak gadis kepala suku, air minyaknya tentu cukup tebal, kita boleh merampok dia dan dibagi sama rata. Nona, kau sendiri boleh terima satu bagian penuh, aku Ong-toasicu paling gampang dalam urusan demikian ini."

"Ha, kiranya kau adalah begal kuda!"

Bentak Hui-ang-kin pula. Perkataan "Ya"

Yang hendak diucapkan oleh Ong-toasicu belum sempat dikeluarkan, pecut Hui-ang-kin secepat kilat sudah menyambar, batok kepalanya segera hancur pecah, lalu Hui-ang-kin berjalan keluar kemah, menyusul suara jeritan ngeri segera terdengar pula berulang-ulang, tidak seberapa lama, dengan pakaian berlumuran darah di seluruh tubuhnya, Huiang-kin telah kembali masuk lagi ke dalam kemah.

"Aku telah membunuh semua begal-begal kuda ini, kau boleh merawat anakmu baik-baik,"

Katanya pada Nilan Ming-hui dengan dingin.

Nilan Ming-hui terpaku sejenak, ia tidak tahu apa yang harus dikatakan.

Sementara Hui-ang-kin telah menyimpan cambuknya dan meletakkan kembali pedangnya, tiba-tiba ia berkata pula dengan suara yang agak pilu.

"Aku akan pergi, kalau kau bertemu Nyo Hun-cong katakanlah padanya selamanya aku tidak akan mencari dia lagi."

Nilan Ming-hui.memanggutkan kepala dan ketika hendak berkata, mendadak perutnya terasa sakit sekali seperti dipuntir, lekas ia memanggil pelayannya, serdadu-serdadu wanita masuk dan mendorong keluar keponakan Naima.

Sebenarnya Hui-ang-kin bermaksud hendak pergi, namun seketika ia menjadi tertegun dan berdiri di tempatnya.

Tiba-tiba di dalam kemah berkumandang suara tangisan bayi, anak Nyo Hun-cong telah lahir, serdadu-serdadu wanita itu repot kian kemari membantu Nilan Ming-hui bebenah.

Pelayan yang paling dekat sudah menyediakan kain pembungkus dan lantas membalut seluruh tubuh bayi.

Muka Nilan Ming-hui penuh mengunjuk rasa kegirangan, ia merebahkan diri dengan napas yang masih tersengal-sengal.

"Laki-laki atau perempuan?"

Tanyanya kemudian.

"Kionghi (selamat), Siocia, sama dengan kau!"

Sahut si pelayan itu.

"Ha, kiranya adalah seorang nona, baik juga, coba bawa sini, aku hendak melihatnya,"

Kata Nilan Ming-hui.

"Ia mirip sekali dengan Siocia!"

Kata si pelayan pula. Maka dengan pelahan Nilan Ming-hui menepuk anak bayinya.

"Tidak, lebih mirip ayahnya,"

Katanya.

"Lihatlah, mulutnya ditutup rapat-rapat, kalau sudah besar nanti pasti keras hati seperti ayahnya!"

Dalam pada itu si bayi menangis lagi.

"O, anak yang bernasib jelek, baru memuji mulutmu yang mungil kau sudah menangis lagi!"

Kata Nilan Ming-hui sambil tertawa.

Nilan Ming-hui demikian penuh perhatian bermain dengan anaknya, ia sama sekali tidak peduli pada Hui-ang-kin.

Di lain pihak Hui-ang-kin berdiri di situ dengan perasaan hati yang tak keruan, ia tidak mengerti perasaan apakah yang dirasakan saat ini.

Pada saat lain mendadak ia mendekati Ming-hui, ia mengulurkan tangannya dan berkata pada Nilan Ming-hui.

"Bolehkah aku membopongnya?"

Nilan Ming-hui merasa sangsi sebentar, namun akhirnya ia menyerahkan juga anaknya.

Hui-ang-kin meletakkan bayi itu di sikunya dan memandangnya dengan teliti, memang betul juga orok ini mirip dengan Nyo Hun-cong.

Entah mengapa tiba-tiba pada dirinya timbul semacam rasa sangat menyukai anak ini, dalam hatinya timbul satu pikiran hendak membawa pergi bayi ini.

Sementara itu, seorang pelayan telah membawakan air masak yang setengah hangat dan menyuapi bayi itu.

"Siocia, kau perlu belajar merawat anak bayi, merawat anak tidak dapat disamakan bermain golok dan pedang, lebih susah dan repot!"

Kata pelayan lain dengan tertawa.

Mendengar itu Hui-ang-kin diam-diam menertawakan diri sendiri yang berpikir hendak membawa pergi bayi titi, ia menyerahkan kembali bayi kepada Nilan Ming-hui, ia mengeluarkan pula serenteng mutiara dan diberikan padanya.

"Ini berasal dari lautan selatan, aku berikan pada bayi ini sebagai hadiah!"

Katanya pada Nilan Ming-hui.

Mutiara dari lautan selatan di padang rumput adalah barang yang jarang diketemukan.

Nilan Ming-hui memandangnya sekejap, ia bukan heran dan kagum pada mutiara itu, tetapi yang ia kagumkan kini adalah perangai Huiang-kin.

Tidak diduganya orang yang disebut iblis yang membunuh orang tanpa berkedip seperti yang dikabarkan di kalangan tentara Boan ternyata mempunyai perangai yang begitu halus.

Ia menerima mutiara itu dengan sinar mata terharu dan penuh mengandung rasa terima kasih.

Katanya kemudian dengan suara rendah.

"Cici, aku akan memberi nama 'Po-cu padanya, terima kasih atas kebaikanmu!"

Muka Hui-ang-kin menjadi masam, tiba-tiba ia berkata pula dengan dingin.

"Siapa Cirimu, aku adalah musuhmu, lewat beberapa tahun lagi, aku masih ingin mencarimu untuk menentukan siapa yang lebih unggul, sebaiknya kau tunggu saja!"

Tiba-tiba suara tangisan bayi berkumandang lagi, Hui-ang-kin pun lantas berlalu di bawah pandangan serdadu-serdadu wanita ini yang terheran-heran dan di tengah suara tangisan bayi.

Kembali pada Nyo Hun-cong yang juga sedang dalam keadaan gembira sekali di padang rumput Garsin, ia telah membantu suku Kazak mengalahkan Coh Ciau-lam dan telah dapat merebut benteng pertahanan pasukan Boan yang berdekatan.

Pada suatu hari, ketika ia bersama kepala suku yang tua ini sedang menghitung kuda rampasan yang diperoleh dari menang perang, tiba-tiba ada seorang bawahan datang melaporkan bahwa telah dapat menangkap seorang asing, orang ini walaupun berdandan rakyat gembala, tetapi ketika ditanya urusan penggembalaan sedikit pun tidak mengerti, setelah diancam akan digebuki baru ia berteriak katanya hendak mencari Nyo-taihiap.

Hun-cong memerintahkan menggiring masuk orang ini, kemudian dilihatnya orang ini adalah seorang anak dogol yang berusia di atas dua puluh tahun.

"Siapakah kau? Ada apa mencari aku?"

Tanya Hun-cong. Tetapi sebelum menjawab orang ini memandang dulu ke sekelilingnya, kemudian baru ia berkata dengan ragu-ragu dan dengan suara yang tak lancar.

"Nyo-taihiap, Nilan, Nilan....."

Serdadu-serdadu yang berada di samping demi mendengar perkataan "Nilan", semuanya menjadi tercengang, akan tetapi kepala suku Kazak yang tua ini sebaliknya telah tertawa.

"Nyo-taihiap mempunyai urusan silakan dibicarakan, kita tidak mengganggu lagi!"

Katanya sambil membawa pergi semua serdadunya. Diam-diam Nyo Hun-cong berterima kasih pada kepala suku tua ini yang begitu menaruh kepercayaan atas dirinya. Kemudian ia membentak lagi pada orang itu.

"Apakah kau adalah mata-mata musuh yang dikirim oleh Nilan Siu-kiat?"

"Bukan,"

Jawab orang ini.

"Aku adalah suruhan Nilan Siocia, Nilan Siocia adalah gadis yang dibesarkan oleh bibiku."

"Oh! Nilan Siocia menyuruhmu membawa pesan bagiku?"

Tanya Nyo Hun-cong pula. Orang ini memanggut dan mengeluarkan selembar kulit domba dari sakunya, ia menyerahkan barang ini berbareng berkata.

"Siocia telah melahirkan anak perempuan yang mungil!"

Nyo Hun-cong terperanjat sekali, demi mendengar kabar ini, kedua tangannya sampai bergemetaran, ia menyambut kulit domba ini dan dibaca, ternyata memang betul adalah tulisan Nilan Ming-hui sendiri yang mengabarkan lahirnya sang bayi.

Dalam surat dikabarkan lagi bahwa bayi ini karena lahirnya lebih dulu belasan hari sebelum tiba bulannya, maka badannya agak lemah dan menguatirkan, pada akhirnya diharapkan agar Nyo Hun-cong bisa pergi menyambangi dia sekali lagi.

Seketika itu Nyo Hun-cong terperanjat bercampur girang pula, rasa girangnya jauh lebih besar melebihi rasa terkejutnya.

Sebelum ini, walaupun ia sangat mencintai Nilan Ming-hui, tetapi ia selalu berpendapat bahwa perasaan itu tidak begitu kokoh, tetapi kini, ia merasa dirinya dan Nilan Ming-hui sudah terjalin menjadi satu, rasa menyesalnya kepada Hui-ang-kin lambat-laun pun lenyap.

Ia telah begitu mencintai anak yang belum pernah bertemu muka itu, ia ikut berkuatir dengan kelemahan badannya, ia membayangkan bagaimana anak itu menjerit dan menangis.

Setelah menyimpan surat kulit domba itu dengan cepat pula pikirannya pun telah mengambil satu keputusan, ia akan menghadapi segala kemungkinan bahaya untuk pergi menengok anaknya.

Waktu Nyo Hun-cong berangkat dari padang rumput Garsin menuju kota Ili, sementara itu Nilan Ming-hui pun sudah kembali ke kota itu.

Nilan Ming-hui yang biasa berlatih silat, badannya sangat sehat, walaupun baru melahirkan anak, tetapi lewat sebulan ia sudah pulih seperti biasa lagi.

Serdadu-serdadu wanita itu semua adalah pengawalnya, semua ikut menjaga anaknya dengan baik, maka tiada satupun yang membocorkan rahasianya.

Setelah ia kembali ke istana, ia menyerahkan bayi itu pada Naima agar bila diketahui ibunya dapat beralasan bayi itu adalah asuhan Naima.

Nilan Hujin yang melihat putrinya sudah kembali, di samping senang iapun mengomeli.

"Nak, mengapa sekali kau pergi sampai lebih setengah tahun lamanya,"

Katanya sambil merangkul Ming-hui.

"Sekalipun berburu adalah permainan yang menyenangkan, tetapi toh jangan begitu lama, lihatlah rumahmu telah dibikin onar orang semacam ini, ayahmu pun pergi bertempur di tempat yang jauh, penyamun wanita itu begitu datang lantas mengobrak-abrik di sini, orang-orang kita begitu banyak tetapi satu pun tak dapat menangkapnya, sungguh aku ketakutan sekali, apabila kau ada di sini, tentu bisa memberi juga sedikit ajaran pada penyamun wanita itu!"

Mendengar penuturan ibunya ini, Ming-hui hanya diam saja, ia tak berani memberitaku pada ibunya bahwa penyamun wanita itu adalah Hui-ang-kin yang namanya telah tersohor itu, ia lebih-lebih tak berani memberitahu bahwa terhadap penyamun wanita itu ia memang membencinya tetapi juga menyukai pula.

Memang, sejak Hui-ang-kin membikin onar tempat persembunyiannya di padang rumput dan telah membunuh habis begal-begal kuda, bahkan menghadiahkan mutiara pada bayinya, pandangannya terhadap Hui-ang-kin telah ada sedikit perubahan, tentu saja ia masih merasa benci, ia benci karena Hui-ang-kin telah merebut sebagian hati Nyo Hun-cong, tetapi kini ia sudah tak menganggap Hui-ang-kin sebagai musuh lagi.

Hui-ang-kin dalam pandangannya kini bukan lagi 'iblis perempuan', tetapi adalah seorang pahlawan wanita yang berbudi luhur.

Nilan Hujin yang melihat putrinya seperti sedang merenung, ia merasa heran.

"Kenapa, nak? Ayahmu biasa suka memuji ilmu silatmu, apakah kau juga takut pada penyamun wanita itu,"

Tanyanya.

"Ibu,"

Jawab Nilan Ming-hui dengan tersenyum getir.

"Aku sudah mendengar ceritanya dari pelayan, kepandaian penyamun wanita itu pun jarang ada tandingannya, dikua-tirkan kepandaianku betul-betul bukan tandingannya."

Mendengar kata putrinya itu, Nilan Hudjin tertawa terbahak-bahak.

"Ternyata kaupun takut dia,"

Katanya.

"Beberapa hari yang lalu aku masih kuatir penyamun wanita ini akan kembali lagi, akan tetapi kini sedikitpun aku sudah tak perlu kuatir lagi."

"Kenapa? Apakah ayah telah mengundang pula jago-jago silat?"

Tanya Nilan Ming-hui.

"Bukan ayahmu yang telah mengundang."

Kata Nilan Hujin.

"Melainkan Nikulo yang mengundang mereka. Nikulo sebelumnya sudah rnemberitahu ayahmu, maka ayahmu pun mengirim kabar dan menyuruh mereka sementara boleh tinggal dalam istana sini."

"Kenapa? Bukan seorang saja, tetapi 'mereka', jadi ada beberapa orang?"

Tanya Nilan Ming-hui.

"Aku dengar katanya dari golongan apa yang dinamakan 'Thian-liong-pay' dari Tibet,"

Nilan Hudjin menerangkan.

"Mereka dipimpin oleh seorang yang disebut Thian-bong Siansu, semuanya telah datang delapan belas orang, Nikulo mengatakan bahwa Kiamsut dari Thian-liong-pay adalah nomor satu di daerah barat, tetapi jika dibandingkan dengan jago-jago jaman ini, gurunya sendiri Ce Cin-kun terhitung paling tinggi, Hui-bing Siansu terhitung nomor dua, sedang ketua Thian-liong-pay dari Tibet ini boleh menduduki nomor tiga!"

Mendengar cerita itu, dalam hati diam-diam Nilan Ming-hui merasa geli, ia geli Nikulo ternyata sembarangan menyebut Ce Cin-kun dengan Kiamsutnya yang belum pernah ia saksikan berada pada urutan nomor satu, tetapi kalau melihat sedikit kepandaian Nikulo sendiri, bagaimanapun gurunya tak akan bisa melebihi Hui-bing Siansu.

Mengenai Cosu atau ketua Thian-liong-pay yang bernama Thian-liong Siansu, ia pernah mendengar ceritanya dari Nyo Huncong yang pernah seorang diri datang ke Tibet dan bertukar pendapat mengenai ilmu pedang dengan Thian-liong Siansu dan telah dapat menundukkan murid dari Thian-liong-pay.

Maka pikirnya Thian-liong Siansu saja tak dapat menandingi Nyo Hun-cong bagaimana bisa menduduki tempat ketiga.

Sementara itu, Nilan Hudjin telah melandjutkan pula ceritanya.

"Thian-liong-pay mempunyai delapan belas jago yang menerima undangan Nikulo, katanya disebabkan oleh karena mempunyai dendam pada seorang yang bernama Nyo Hun-cong. Aku pernah mendengar dari ayahmu sendiri, katanya orang yang disebut Nyo Hun-cong ini adalah musuh besar kita."

Nilan Ming-hui mendadak seperti tertusuk, pikirnya dalam hati.

"Ha, kiranya mereka datang karena hendak membalas dendam. Thian-bong Siansu ini adalah Sute Thian-liong Siansu, keahlian silatnya tentu tidak di bawah Suhengnya, mungkin karena Thian-liong kurang enak maju ke muka sendiri maka telah menyuruh Sutenya untuk mencoba kepandaian Nyo Hun-cong walaupun tinggi, kalau bertanding satu lawan satu pasti tak akan kalah, tetapi jika sendirian harus menghadapi delapan belas orang jago, dikuatirkan tidak dapat menandingi."

Belum lama ini Ming-hui menyuruh keponakan Naima mengirim surat pada Nyo Hun-cong dan mengharap pemuda ini diam-diam datang menyambangi dia di Ili, kini mendapat kabar yang demikian ini, sebaliknya ia menjadi kuatir dan mengharap Hun-cong jangan datang.

Akan tetapi akhirnya Nyo Hun-cong datang juga.

Di padang rumput yang sementara sudah aman tiada kejadian apa-apa, pemuda ini lantas berpamitan pada kepala suku Kazak.

dengan perjalanan siang dan malam ia lantas menuju kota Ili.

Hun-cong sudah mengenangkan Nilan Ming-hui, dan juga mengenangkan anak perempuannya yang belum pernah ia lihat itu, ia bermaksud akan membawa keluar Nilan Ming-hui ibu dan anak.

Ia tak menghendaki anak perempuannya dibesarkan dalam lingkungan keluarga jenderal Boan-cu.

Malam ini, kembali adalah satu malam yang gelap gulita dan angin meniup santer.

Hun-cong dengan mengandalkan ilmu mengentengkan tubuhnya yang tinggi diam-diam telah memasuki kota Ili dan menyelundup masuk ke dalam istana jenderal, sewaktu melayang masuk ia telah melihat ada beberapa bayangan orang di atas genteng, tetapi ia tak ambil pusing, dengan mengandalkan kepandaiannya yang tinggi dan ketabahan hatinya, ia melayang ke depan secepat burung terbang, pikirnya, tentu itu hanya guru-guru silat yang biasa saja, sekalipun lewat di samping mereka belum tentu bisa mereka ketahui.

Oleh karena itu sedikitpun ia tidak ambil perhatian, ia menuruti jalan yang sudah dihapal-nya dan memasuki rumah Naima.

Waktu itu Nilan Ming-hui sedang bercakap-cakap iseng dengan Naima, tibatiba ia mendengar di luar jendela ada orang mengetok dengan pelahan, waktu ia melompat bangun, dilihatnya ternyata adalah orang yang selama ini ia harapkan dan kenangkan siang dan malam, tanpa tertahan rasa senang dan kuatir bercampur aduk menjadi satu, segera pula kedua orang itu berpelukan kencang.

Naima yang berdiri di samping mereka diam-diam mengalirkan air mata terharu.

Setelah Nilan Ming-hui berpelukan sebentar dengan Nyo Hun-cong, mendadak ia mendorong pergi pemuda ini pula.

"Sudahlah, akhirnya kau datang juga, kini kita boleh di-kata sudah bertemu, kau lekas pergi saja!"

Katanya pada Nyo Hun-cong.

"Jauh-jauh kau minta kedatanganku, tetapi baru bertemu lantas mengusir aku pergi, apakah artinya ini?"

Kata Nyo Hun-cong agak mendongkol.

"Turutilah omonganku, lekas pergi! Lekas pergi!"

Kata Nilan Ming-hui sambil membanting kakinya.

"Di sini ada orang yang sudah menunggu hendak menangkap kau!"

"Orang macam apakah yang akan menangkap aku?"

Sahut Nyo Hun-cong dengan tertawa. Tetapi Nilan Ming-hui tiada tempo buat menjelaskan, ia hanya berulang-ulang mendesak lagi.

"Belakang hari kita masih bisa bertemu, kau jangan tinggal di sini lebih lama lagi!"

Katanya.

Keruan akhirnya Nyo Hun-cong menjadi curiga.

Kedatangannya ini tadinya dengan penuh perasaan yang haragai dan penuh harapan, tidak diduga tahutahu telah terbentur seakan-akan sepanci air dingin telah disiramkan ke atas kepalanya!

Ia mencurigai Nilan Ming-hui tak dapat meninggalkan kehidupannya yang mewah dan tidak bersedia ikut dia mengembara, maka berulang-ulang ia telah mendesaknya pergi.

Pikirnya, aku dan ayahnya memang adalah musuh, maksud kedatanganku mungkin hanya khayalannya belaka.

Mendadak ia berkata pada Nilan Ming-hui dengan muka yang kurang senang.

"Mana anak perempuan kita? Aku toh harus melihatnya dulu baru bisa berpisah."

Naima sudah sejak tadi masuk ke dalam, saat ini sedang membopong keluar bayi itu.

Nyo Hun-cong memburu maju, dilihatnya bayi ini sedang tidur dengan nyenyaknya, air mukanya yang terang tetapi agak kekurusan, betul-betul mirip Nilan Ming-hui cilik.

Hun-cong menundukkan kepalanya, ia mencium muka anaknya dengan pelahan-lahan.

"Lekaslah kau pergi,"

Nilan Ming-hui mendesak pula di belakangnya.

Akhirnya Nyo Hun-cong menjadi marah, ia hendak merampas dan membawa pergi anak ini saja, tetapi sesudah ia berpikir bahwa bayinya baru berusia sebulan dan belum putus menetek, bagaimana dirinya dapat memaksa membawanya pergi?

Ketika itu, tiba-tiba di atas genteng ada suara keresekan pelahan, begitu mendengar, Nyo Hun-cong lantas tahu ada jago kalangan persilatan yang datang.

Ia membalikkan tubuh dan memanggut sekali pada Nilan Siocia habis itu segera ia melompat keluar jendela berbareng menggunakan gerak tipu 'Kuithang-bong-goat', maka segera terdengar suara sesambatan yang berulangulang, kiranya dua orang yang hendak membokong sudah terpental oleh kekuatan tangan Nyo Hun-cong.

Setelah Nyo Hun-cong melompat ke atas rumah, lantas dilihatnya di atas wuwungan rumah sudah penuh berdiri orang-orang dengan berbagai macam potongan dan tiap orangnya membawa sebatang pedang tajam yang mengkilap, sekilas Nyo Hun-cong lantas mengenal orang yang mengepalai yaitu Thianbong Siansu.

"Aku dengan golongan Thian-liong-pay baik dulu maupun belakangan ini selamanya tidak ada permusuhan apa-apa kau mengapa datang-datang hendak membokong aku?"

Tegur Nyo Hun-cong dengan dingin.

"Nyo Hun-cong,"

Sahut Thian-bong dengan gusar.

"Kau telah sesumbar dan telah mengeluruk ke rumah kami, kau sudah menghina kami, menganggap Thian-liong-kiam hoat kami sepeser pun tak berharga dan sekarang kau masih berani berkata tiada permusuhan?"

"Sayang kau berpikiran begitu sempit, masih menyebut dirimu sebagai tokoh dari kalangan persilatan,"

Kata Hun-cong pula sambil terbahak-bahak.

"Kiamhoat masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan pula maka dengan maksud baik dahulu aku berdebat mengenai ilmu pedang dengan Cosumu, kapan aku pernah menghina kau?"

"Hm, kau masih muda dan berasal tingkatan yang lebih rendah, tetapi kau sudah berani sembarang berdebat, ini sudah merupakan suatu dosa yang paling besar, kini kau telah mengacau pula di Sinkiang, menghimpun rakyat gembala untuk melawan pemerintah Boan-jing, ini lebih-lebih satu dosa besar lagi!"

Kata Thian-bong pula. Muka Nyo Hun-cong mendadak berubah demi mendengar kata-kata orang yang terakhir ini, ia mendamprat.

"Aku tadinya masih mengira kau mencari setori karena urusan go-longanmu sendiri, tak dinyana kau malah hendak membantu musuh, membantu kaum penindas!"

Habis berkata pedangnya segera dilolos, tetapi Thian-bong sudah menggerakkan tangannya memberi tanda kedelapan belas orang yang berada di atap rumah yang lebar itu lantas berjajar menjadi satu barisan yang rajin.

Kesemuanya ternyata mempunyai ilmu mengentengkan tubuh yang tinggi, genteng sedikit pun tak mengeluarkan suara apalagi retak.

"Nyo Hun-cong,"

Seru Thian-bong kemudian.

"Jika kau dapat menerobos 'Thian-liong-kiam-tin' kami, aku akan mengampuni kematianmu!"

"Kau boleh lihat nanti!"

Sahut Hun-cong dengan tertawa menyindir.

Segera pula Thian-bong telah menerjang ke depan lebih dulu, namun Nyo Hun-cong lantas memapak dan membabat dengan pedangnya maka kedua batang pedang yang beradu segera mengeluarkan suara nyaring, kedua belah pihak ternyata sama kuatnya.

"Kiranya senjata musuh adalah sebatang pedang pusaka juga!"

Kata Nyo Huncong diam-diam dalam hati.

Dan selagi ia hendak menyerang pula Thian-bong telah melayang lewat di sampingnya dua Lama yang lain pun segera merangsek datang dari dua sayap samping, dengan gerakan 'Liong-bun-kik-long' Nyo Hun-cong menangkis ke kanan dan kiri, akan tetapi kedua Lama ini ternyata hanya memakai gerakan palsu saja hanya bergerak melulu terus melayang lewat lagi.

Dalam sekejap saja barisan Thian-liong-kiam-tin telah digerakkan secara serentak, delapan belas jagoan Thian-liong-pay beruntun telah maju, mereka pergi datang tiada hentinya masing-masing hanya menempati tempatnya sendiri-sendiri dan bekerja sama dengan rapat dan baik sekali, seketika Huncong telah terkepung oleh jago-jago dari Thian-liong-pay dengan rapat.

Diam-diam Hun-cong kagum juga dan berkata dalam hati.

"Ternyata Thianliong-kiam-tin mempunyai keistimewaan tersendiri!"

Ia sebenarnya hanya bertahan saja dan tidak menyerang, ia ingin melihat bagaimana teknik permainan mereka tidak diduganya waktu Thian-bong memberi tanda pula segera mereka membuka serangan baru dan mempercepat serangan, kedelapan belas jago itu lantas berputar di atas genteng dan dengar pedang masing-masing menyerang bagaikan angin badai dan hujan deras membanjir ke arah Nyo Hun-cong dengan serabutan tak teratur.

Kelihatannya tidak teratur, tetapi sebenarnya pergi datang menurut jalannya Pat-kwa.

Hun-cong menjadi gusar, Thian-san-kiam-hoat segera dikeluarkan dengan kecepatan luar biasa sinar pedang berkilauan dan gemerdep seperti bintangbintang di langit.

Sekejap saja beberapa Lama lantas terluka dan menjerit kesakitan.

Pikir Nyo Hun-cong dalam hati.

"Aku dengan Thian-liong Siansu mempunyai hubungan persahabatan, orang-orang ini juga baru kena dihasut oleh pemerintah Boan, lebih baik aku tak usah melukai dan mencelakai jiwa mereka. Lagi pula toh sekarang Thian-liong-kiam-tin sudah cukup aku pahami."

Setelah mengambil keputusan ini, ia kembalikan pedang ke sarungnya gerakannya lantas berubah dan hanya menggunakan keahliannya dengan bertangan kosong, ia menerobos pergi datang di antara Thian-Uong-kiam-tin sesuka hatinya bagaikan ular yang menyusur kian kemari.

Tidak lama kemudian, para Lama ini merasakan perge-langan tangannya kaku dan sakit kesemutan, mereka berteriak terkejut, Nyo Hun-cong masih menerjang di antara barisan kedelapan belas jagoan ini, tiap orang hanya sekali gebrakan sudah kena dirampas senjata mereka terus dilemparkan ke tanah, dalam sekejap saja di atas tanah sudah berserakan penuh dengan pedang.

Di antaranya hanya Thian-bong Siansu yang masih dapat menangkis hingga tiga gebrakan, tetapi akhirnya pun pedangnya terampas lepas dari tangannya oleh Nyo Hun-cong.

Para pengawal dari istana jenderal yang menyaksikan pertarungan ini dari bawah, mereka hanya melihat ada bayangan hitam dan sinar pedang yang terbang kian kemari di atas genteng, di antaranya ada satu sinar putih perak menerobos pergi datang di antara bayangan hitam ini, di mana sinar perak ini tiba di sana juga bayangan hitam ini terpecah belah tak keruan, sebentar kemudian bayangan hitam di atas sudah tersapu bersih oleh sinar putih perak tadi seperti asap hitam yang buyar terkena tiupan angin.

Sudah tentu pengawal-pengawal itu tidak pernah menyaksikan pertempuran semacam ini, mereka tercengang hingga terkesima, kaki tangan mereka lemas semua hingga tanpa sadar senjata mereka semua diturunkan ke bawah.

Dan ketika kemudian mereka memandang lagi, sinar putih perak tadi kini sudah tak bergerak lagi dan sudah berubah menjadi seorang pemuda yang gagah perkasa dengan suaranya yang lantang sedang membentak.

"Hai, kawan-kawan dari Thian-liong-pay,"

Serunya.

"Kali ini aku hanya merampas senjatamu, tetapi lain kali bila bertemu kembali tentu aku tidak akan memberi ampun lagi!"

Pemuda ini adalah Nyo Hun-cong, ia mengenakan pakaian putih dan menggunakan keahliannya bertangan kosong melawan musuh yang bersenjata dan akhirnya telah dapat merampas semua senjata dari kedelapan belas jago Thian-liong-pay itu.

Nyo Hun-cong memutar tubuhnya, ia menggantung pedang pusaka rampasan dari Thian-bong pada pinggangnya sendiri, dengan menggereng ia lantas melompat turun ke bawah, keruan para pengawal yang berada di situ berlari menyingkir, tetapi Nyo Hun-cong pun tidak bermaksud hendak mencelakai mereka, ia terus menerobos masuk lagi ke dalam istana jenderal itu, ia masih mengharap akan bertemu sekali lagi dengan Ming-hui untuk minta penjelasan lebih lanjut.

Sementara itu dari dalam istana, Nikulo telah datang dengan membawa sebarisan pemanah, demi melihat Nyo Hun-cong dapat menembus Thian-liongkiam-tin dan menerjang penjagaan pengawal di luar, ia terkejut sekali, lekas ia memerintahkan melepas panah.

Nyo Hun-cong tiada waktu lagi untuk terus terlibat di situ, sekali badannya bergerak, seperti elang yang menjulang ke atas, ia menghindari adu muka dan menyingkir ke jurusan samping lewat atas beberapa rumah dan menerobos masuk ke taman di belakang sana.

Sampai di kamar Naima ia tidak mendapatkan satu orang pun di sini, Nilan Siocia dan Naima entah telah bersembunyi di mana, ia merasa masgul sekali, dulu kalau ia ingin bertemu dengan Nilan Siocia selamanya menggunakan kamar Naima, kamar Nilan Ming-hui sendiri selamanya belum pernah dikunjunginya.

Maka pikirnya.

"Istana jenderal yang sedemikian besarnya, ke mana aku bisa mendapat tahu tempat tinggalnya."

Tetapi segera ia berpikir lagi.

"Dengan cara demikian ia hendak menghindari aku, terang ia sudah memutuskan hubungan dan tidak bersedia ikut pergi dengan aku lagi."

Sesaat itu ia menjadi masgul dan juga gusar, ketika ia hendak keluar dari gedung itu dengan masih merasa sangsi apakah harus mencari lagi atau tidak, tiba-tiba dari semak-semak pohon sana menongol satu orang.

"Apakah kau adalah Nyo-taihiap?"

Tanya orang itu tiba-tiba dengan suara bisik-bisik. Ketika Nyo Hun-cong melompat maju dan mencekal orang itu, ia lihat orang itu memakai kain serbet dan berdandan sebagai seorang koki.

"Siapa kau?"

Tanya Hun-cong dengan cepat.

"Aku adalah koki di dalam istana sini, aku adalah orang Kazak,"

Jawab orang itu.

"Sahabatmu Asta pagi ini baru berangkat, kabarnya digiring ke Kwan-lwe, lekas kau kejar mereka mungkin masih dapat mengejarnya!"

Kiranya Asta telah tertawan oleh tentara Boan pada waktu terjadi pertempuran seru di padang rumput itu.

Koki ini yang biasa mengantar makanan padanya hingga telah bersahabat dengan dia, maka mengetahui juga bahwa Nyo Hun-cong adalah kawan Asta.

Tadi waktu Nyo Hun-cong mengobrak-abrik istana jenderal, setiap orang telah ketakutan dan lari bersembunyi, ketika koki ini mendengar pula bahwa orang yang datang adalah Nyo Hun-cong, ia tidak memikirkan bahaya lagi, diam-diam ia merayap keluar, dan kebetulan justru telah bertemu Nyo Huncong dengan tepat.

Demikianlah karena berita yang diperoleh ini, mata Nyo Hun-cong bersinar tajam.

"Apa kabarmu ini benar adanya?"

Tanyanya.

"Mana aku yang rendah ini berani membohongi kau?"

Jawab koki itu, ia lantas mengeluarkan dari sakunya satu batu giok yang diberikan oleh Asta, melihat barang ini, Nyo Hun-cong memanggut.

"Terima kasih!"

Katanya segera dan lantas keluar dari istana jenderal itu, ia merebut satu ekor kuda bagus dan segera mengejar pergi secepat terbang.

Hubungan Hun-cong dengan Asta melebihi saudara se-daging-sedarah, karena Nilan Ming-hui telah menghindarkan diri dan tak mau bertemu, ia tentu tak sudi tinggal lebih lama lagi di sana.

Kuda rampasan itu dilarikan Nyo Hun-cong dengan cepat sekali, dalam keadaan lesu dan tak bersemangat sampai pemuda ini tidak mengenal akan istirahat, hanya kalau merasa lapar lantas ia makan sedikit rangsum, demikianlah tanpa ada hentinya ia telah mengejar hingga sehari semalam.

Pada hari kedua waktu senja, terlihat oleh Nyo Hun-cong jauh di depan sana di atas padang rumput luas ini ada belasan penunggang kuda yang mengiring sebuah kereta tawanan.

Setelah dikejar sebentar lagi, rombongan orang ini telah memasuki satu gugusan gunung, gunung ini adalah cabang dari gunung Thian-san yang membujur di daerah padang rumput sini dan tidak seberapa tinggi, oleh karena ini jalan besar umum dapat menembus lembah gunung.

Kuda Nyo Hun-cong yang sudah berlari sehari semalam tampak tersengalsengal napasnya, beruntung kuda ini adalah kuda terbaik di Sin-kiang yang sudah biasa melakukan perjalanan jauh, kalau kuda dari pedalaman atau Kwanlwe pasti sudah ambruk tak tahan dari tadi.

Tetapi Nyo Hun-cong merasa lari kudanya masih terlalu lambat, maka ia melompat turun dari kudanya dan segera mengejar terus dengan berlari secepat angin.

Sesampainya di mulut gugusan gunung ini, tiba-tiba ia mendengar ada suara beradunya senjata dan terdengar pula ada suara tertawa orang.

"Ha, Lo Tiat-pi, beruntung sekali bisa bertemu lagi, kini kita boleh coba-coba lagi ilmu siapa yang lebih tinggi dan lebih rendah,"

Kata suara itu. Nyo Hun-cong menjadi heran.

"Lo Tiat-pi, bagaimana ia bisa bertemu dengan musuh di sini? Apakah antara pengiring kereta tawanan ini pernah terjadi sesuatu perselisihan dengan dia?"

Katanya dalam hati. Sementara ini, kereta tawanan sudah memasuki lembah gunung itu, pikirnya.

"Dalam kereta tawanan ini kalau betul Asta, aku pasti dapat menolong dan meloloskan dia, sementara ini biarlah aku melihat dulu apa yang bakal terjadi."

Maka lantas ia mengenjot tubuhnya dan melompat naik ke atas satu batu cadas, ia menyembunyikan diri dialingi semak-semak dan memandang ke bawah tanpa ada alangan.

Terlihatlah olehnya jauh di lembah sana berdiri seorang pengemis tua dan hanya bertangan satu, mukanya hitam seperti kulit semangka dan rambutnya kusut mirip rumput kering, lubang hidungnya menjengat menghadap ke atas, bahu kirinya kelihatan jelas bekas terkuning oleh golok dari sebelah atas ke bawah, tangan kanan dengan jari-jari yang kurus bagaikan cakar burung memegang sebatang pentung yang biasa dipakai kaum pengemis, betul orang ini adalah Lo Tiat-pi, si tangan baja, yang berwatak aneh itu.

Lo Tiat-pi adalah seorang pendekar di daerah luar sana dan kena) baik dengan Toh It-hang, maka Nyo Hun-cong juga kenal padanya.

Ketika itu hanya kelihatan ia mengeluarkan suara tertawa yang nyekikik seram.

"Ciok-bancu, tiga puluh tahun tidak bertemu, tak terduga kini malah berjumpa di sini, baiklah, sakit hati satu bacokan itu boleh sekarang kita perhitungkan,"

Katanya kemudian dengan suara tajam.

Waktu Nyo Hun-cong memandang pada orang yang disebut Ciok-bancu, terlihat ia adalah seorang tua yang berusia lebih dari lima puluh tahun, kedua matanya merah berapi, tubuhnya kecil kurus, separuh tubuh bagian atas telanjang dan terlihat pula di belakang punggungnya mengidap penyakit koreng, baik koreng besar maupun kecil semuanya lengkap diidapnya, bentuk wajahnya juga jelek sekali.

Dalam hati Nyo Hun-cong berpikir.

"Sudah lama aku mendengar Lo Tiat-pi mempunyai keahlian tersendiri, pada kesempatan yang bagus ini aku dapat menyaksikan sendiri kepandaiannya yang asli."

Nyo Hun-cong yakin Ciok-bancu dengan para pengiring kereta itu betapa pun tinggi kepandaiannya tentunya juga terbatas, maka jelas tak akan dapat menandingi pendekar pengemis itu.

Menurut kebiasaan kalangan kangouw, sewaktu orang membuat perhitungan karena dendam atau sakit hati, maka orang luar tidak diizinkan ikut turun tangan mengganggu.

Ciok-bancu ini asalnya adalah seorang begal besar dari pedalaman, akhir-akhir ini dapat dipancing oleh pemerintah Boan dan telah diberi jabatan sebagai jago pengawal kelas satu dalam istana raja, sebetulnya ia mempunyai keahlian khusus, bahkan kawan-kawan pengawal kereta itu pun mempunyai kepandaian yang tidak lemah.

Nama sebenarnya Ciok-bancu itu adalah Ciok Hua.

Oleh karena Nilan Siu-kiat sudah bertempur beberapa tahun ke sana sini dan tanpa hasil apa pun, selain Nikulo, ia ingin menambah satu dua orang pembantu yang mempunyai kepandaian tinggi, maka ia meminta bantuan To Tok untuk menyampaikannya pada kaisar agar mengirimkan dua orang pengawal istana yang berkepandaian tinggi, Ciok Hua itulah yang dipilih kaisar dan diperintahkan untuk membantu Nilan Siu-kiat.

Sedangkan seorang lagi pengawal kereta tawanan itu bernama Kam Thian-lip, dia juga merupakan pengawal istimewa yang dikirimkan kaisar, ilmu silatnya hanya sedikit di bawah Ciok Hua, mereka berdua telah diperintahkan untuk mengabdi di bawah komando Nilan Siu-kiat.

Sekali ini Nilan Siu-kiat telah memerintahkan Kam Thian-lip pergi ke kota Ili untuk mengiring tawanan, tetapi ia tidak percaya penuh hanya pada kekuatan seorang saja, maka lantas memerintahkan pula Ciok Hua untuk membantunya.

Kebetulan sekali di lembah gunung ini Ciok Hua telah bertemu dengan Lo Tiatpi, sementara itu Kam Thian-lip yang mengiring kereta tawanan justru juga baru sampai di sini, sedangkan Nyo Hun-cong pun telah mengejar datang di belakangnya.

Begitulah, Lo Tiat-pi menunggu Ciok Hua selesai berkata, maka terdengarlah suara tertawanya, mendadak dengan satu tindakan cepat ia telah melompat maju, tangan tunggalnya sudah bergerak, segera satu serangan 'Tok-bi-hoasan' atau seorang diri menggugurkan gunung Hoa-san, telah dia kirim menuju atas kepala musuh, angin pukulannya begitu keras dan cepatnya laksana kilat, jika terkena pukulannya, dapat dipastikan kepala orang bisa hancur remuk.

Walaupun Ciok Hua bertubuh kecil, keuletan ilmu silatnya ternyata cukup matang juga, ia mengegoskan tubuhnya dan tangan kiri segera menangkis, sedang tangan kanan berbareng menyerang pundak kiri Lo Tiat-pi, Lo Tiat-pi hanya bertangan sebelah saja, tetapi cara menangkis dan menyerang dengan satu tangannya ini ternyata tidak kalah seperti orang biasa dan dapat digunakan sesuka hatinya.

Tiba-tiba Ciok Hua menggereng sekali dengan keras, menyusul ia menyerang pula dengan cepat, kedua kepalannya beruntun memukul, langkah kakinya dibarengi pula dengan tendangan, tiap gerakan kaki dan tangannya selalu membawa kekuatan angin yang keras sekali.

Nyo Hun-cong yang menyaksikan pertandingan ini berpikir dalam hati.

"Sungguh tidak nyana pengawal ini ternyata boleh juga, yang dimainkan bahkan adalah 'Hok-hou-kun' dari golongan Pak-pay atau golongan utara."

Waktu dilihatnya lebih lanjut, sekonyong-konyong terdengar suara tertawa yang aneh dari Lo Tiat-pi, tangannya yang tinggal satu itu bisa memutar mengikuti gerak tabuhnya, kelihatannya mengacung ke timur tetapi tahu-tahu memukul ke barat, jika menuding ke barat, sebaliknya menghantam ke timur, tempo-tempo naik ke arah atas kadang-kadang melintang ke samping, sungguh ruwet sekali perubahan pukulannya betul-betul tidak sama dengan ilmu pukulan orang lain, dalam ilmu pukulan nyata ia menggunakan ilmu pukulan ciptaannya sendiri, begitu angin pukulannya sampai segera mengeluarkan suara yang menderu-deru, kalau dilihat dari jauh seperti di atas badannya penuh tumbuh tangan di sana-sini.

"Lo Tiat-pi betul-betul tidak mengecewakan namanya tidak heran Toh Ithang Susiok yang begitu tinggi hati dan mengagungkan diri pun bersedia bersahabat dengan dia"

Puji Nyo Hun-cong diam-diam dalam hari.

Begitulah dua orang yang bertempur dengan tiga tangan itu, setelah saling labrak lewat setengah jam, lambat-laun Ciok Hua sudah mulai berada di bawah angin, sesaat kemudian dalam pertempuran yang seru itu tiba-tiba terdengar suara jeritan ngeri, mendadak Ciok Hua melompat pergi hingga puluhan kaki jauhnya dalam pada itu dengan tangan tunggalnya Lo Tiat-pi sudah bersiap dan lantas me-rangsek maju pula dengan cepat.

Melihat kawannya terdesak, Kam Thian-lip tidak tinggal diam, tiba-tiba ia mengayunkan tangannya beberapa benda bundar bersinar segera terbang menyambar keluar dan menuju ke dada Lo Tiat-pi.

Tetapi Lo Tiat-pi mengangkat tangan tunggalnya seketika senjata rahasia itu semua tergetar jatuh.

Akan tetapi ia tidak menduga bahwa senjata rahasia Kam Thian-lip ternyata sangat lihai sekali, yang dipakai adalah 'Wi-tok-oh-tiap-piau', yakni semacam piau yang berhentak kupu-kupu dan beracun jahat, walaupun kecil wujudnya tetapi di dalamnya tersembunyi perkakas rahasia pula.

Dengan angin pukulan tangan Lo Tiat-pi walaupun keras, tetapi hanya bisa menjatuhkan senjata rahasia itu ke atas tanah saja dan begitu menyentuh tanah, segera pesawat rahasia di dalamnya bergerak dan menjeplak, karena itu segera berbalik terbang ke atas lagi.

Sudah tentu Lo Tiat-pi tak pernah menduga senjata rahasia ini bisa begini lihai, karena tak keburu berkelit, keruan tubuh bagian bawahnya telah terkena dua kali.

Ia menggereng kesakitan dengan gusar, tangan tunggalnya berbareng telah membelah dari atas, Ciok Hua coba menangkis sekuat tenaganya, tetapi ia tak tahan serangan luar biasa itu.

Sebelah pundaknya seketika kena dihantam hingga separuh badan menjadi lumpuh.

Akan tetapi Lo Tiat-pi sendiri pun tidak urung rubuh ke atas tanah dan tak dapat ber-bangkit pula.

Kam Thian-lip yang melihat senjata rahasianya berhasil menjatuhkan musuh, selagi ia hendak menambahi musuhnya dengan saru bacokan lagi, tiba-tiba dari tempat persembunyiannya Nyo Hun-cong telah melayang turun bagaikan burung.

Segera Kam Thian-lip mengayunkan tangannya lagi, kembali beberapa buah senjata rahasia 'Oh-tiap-piau' terbang mengarah ke Nyo Hun-cong, tetapi pemuda ini dapat menyampuk dengan pedangnya, tenaga sampukannya ini bila dibandingkan angin pukulan Lo Tiat-pi masih jauh lebih lihai, keruan beberapa senjata rahasia itu semua terpental oleh sampukan itu, dua prajurit Boan yang malang pertama-tama menghadapi senjata nyasar itu dan segera rubuh terjungkal.

Ketika Nyo Hun-cong menggerakkan pedangnya pula, rubuhnya pun ikut bergeser, satu sinar hijau segera menyambar sampai di belakang Kam Thianlip.

Meski Kam Thian-lip memiliki ilmu senjata rahasia yang sangat bagus, tetapi ilmu silatnya yang asli masih di bawah Ciok Hua, sekalipun bukan terhitung yang rendahan, tetapi mana bisa ia menandingi kiam hoat Nyo Hun-cong, baru saja ia ingin bertahan, tahu-tahu kelima jari tangan kanannya sudah terbabat putus oleh pedang Nyo Hun-cong, bahkan oleh pemuda ini lantas ditambah pula sekali tusukan hingga segera tubuhnya tertusuk tembus.

Ketika Hun-cong memutar balik tubuhnya kembali, tidak seberapa susah dan dalam sekejap ia sudah membereskan belasan serdadu itu.

Ia melompat naik ke atas kereta, ketika ia menegasi, tawanan dalam kereta itu memang betul adalah adik angkatnya, Asta.

Nyo Hun-cong tidak sempat banyak bicara lagi, hanya beberapa kali babatan pedangnya telah memutuskan borgol pada badan Asta.

"Hiante (saudaraku), keluarlah sendiri, aku masih harus pergi melihat seorang Locianpwe,"

Kata Nyo Hun-cong. Habis itu ia lantas berlari mendekati tubuh Lo Tiat-pi dan memanggil.

"Losioksiok."

Lo Tiat-pi membuka matanya, remang-remang ia masih dapat mengenali Nyo Hun-cong.

"Aku sudah tak* berguna lagi!"

Katanya dengan tersenyum getir.

Nyo Hun-cong melihat muka orang tua ini hitam legam, ia mengerti perkataannya bukanlah omong kosong.

Para pendekar dalam kalangan persilatan, pandangannya dalam soal mati dan hidup adalah soal biasa saja, tak perlu disesalkan.

Maka Nyo Hun-cong lantas membungkuk dan bertanya.

"Locianpwe masih ada pesan apa yang hendak ditinggalkan?"

Karenanya, lantas terdengar Lo Tiat-pi menutur dengan suara yang lemah.

"Toh It-hang menyerahkan sepotong surat padaku dan meminta menyerahkan pada Pek-hoat Mo-li, dapatkah me-wakilkanku mengantar surat itu padanya?"

Kata Lo Tiat-pi.

Ternyata Lo Tiat-pi ini dulu juga adalah seorang begal besar dari Su-jwan dan juga adalah pembantu yang terkuat dan Pek-hoat Mo-li, sebaliknya Toh Ithang adalah keturunan dari kaum bangsawan.

Hubungan asmara antara Pek-hoat Mo-li dengan Toh It-hang, Lo Tiat-pi cukup mengetahui dengan jelas.

Pek-hoat Mo-li dirintangi perkawinan mereka oleh para Susiok Toh It-hang hingga menimbulkan keonaran, ia telah melukai dua orang jago dari Bu-tong-pay dan terus lari ke Sinkiang, belakangan Toh It-hang pun melepaskan jabatan Ciangbun dari Bu-tong-pay dan mengikuti jejak Pek-hoat Mo-li menyingkir ke daerah perbatasan sini.

Tidak diduga bahwa kesalah-pahaman yang susah dipadamkan itu masih berekor pula dan timbul pula perselisihan berhubungan dengan urusan Ho Lokhua.

Pek-hoat Mo-li yang sengaja mencari setori sampai dua orang Susiok Toh It-hang pun ikut campur tangan dan datang dari jauh.

Hari ini sesudah mereka bertemu dengan Nyo Hun-cong di padang rumput, dan mengetahui bahwa pahlawan wanita yang tersohor di seluruh Sinkiang, Hui-ang-kin Lienghiong, adalah murid Pek-hoat Mo-li, baru kesan mereka terhadap Pek-hoat Mo-li sedikit berubah dan mulai timbul rasa suka.

Tetapi dua orang Susiok It-hang ini masih terus mencarinya tidak lama kemudian lantas mereka bertemu Toh lt-hang, ketika itu Toh It-hang sudah mengantar pulang Ho Lok-hua kembali ke pedalaman, kemudian baru balik kembali ke Sinkiang dan mengasingkan diri di atas gunung Mus-tak.

Ketika Sin Liong-cu dan Coh Ciau-lam datang menghadap padanya mereka telah didamprat habis-habisan olehnya.

Coh Ciau-lam lantas menerima kembali pedang 'Yu-liong-kiam'nya dari Sin Liong-cu dan lantas pergi dengan mendongkol.

Sin Liong-cu sebaliknya menerima ajaran sang guru dan bersembunyi di atas gunung, ia bersumpah dalam dua puluh tahun tidak akan turun gunung lagi.

Waktu Oei-yap dan Pek-ciok Tojin mencari Toh It-hang justru dalam keadaan yang sunyi dan perasaan hampa dengan halus ia telah menolak permintaan kedua Susioknya ini untuk kembali memegang Ciang-bun golongan Bu-tong-pay.

Sebenarnya Oei-yap dan Pek-ciok Tojin masih hendak pergi lagi mencari Pekhoat Mo-li untuk diajak bertanding, syukur keburu dicegah oleh Toh It-hang, ia berlutut di hadapan mereka guna memohon jangan menantang Pek-hoat Moli.

"Iblis perempuan itu terlalu tidak kenal adat manusia aku lihat pada suatu ketika kau tentu akan mengalami celaka di bawah tangannya"

Kata Oei-yap Tojin dengan gusar.

"Tecu sudah terlalu banyak berdosa jika menemui ke-matian yang malang pun sekali-kali tak berani meminta Susiok pergi membalaskan dendam,"

Sahut Toh It-hang dengan menangis.

Pek-ciok Tojin menghela napas, ia tahu ini adalah karena dalamnya cintaasmara yang tidak dapat disadarkan lagi, maka ia menarik Oei-yap Tojin dan mengeluyur pergi.

Setelah Toh It-hang mengantar pergi kedua Susioknya ia berpikir kian kemari dan merasa kalau kesalah-pahaman ini tak dihilangkan, pasti ganjalan hati ini tak akan ada akhirnya.

Sesudah mengingat-ingat, ia baru ingat barangkali Lo Tiat-pi dapat menjadi orang perantara maka ia telah menulis sepucuk surat dan menyuruh Lo Tiat-pi suka mengantarkan pada Pek-hoat Mo-li.

Tidak terduga di tengah perjalanan Lo Tiat-pi telah bertemu musuhnya dan malah telah tewas di bawah senjata rahasia Kam Thian-lip.

Ciok Hua dan Kam Thian-lip sebenarnya adalah dua orang kepala polisi atau Po-thau dari Su-jwan, dahulu Lo Tiat-pi pernah membikin perkara perampokan di Seng-toh dan dikejar oleh Ciok Hua, setelah bertempur dan bertempur lagi, akhirnya, ia tak dapat melawan musuh yang lebih banyak jumlahnya dan terkena satu bacokan, karena itulah sebelah lengannya telah terbacok buntung.

Mestinya jiwanya pun tak dapat dihindarkan dari kema-tian, kebetulan Toh It-hang justru lewat di situ dan telah menolongnya.

Belakangan Lo Tiat-pi juga datang di Sinkiang dan sering pergi datang berhubungan dengan Toh Ithang.

Begitulah maka demi Nyo Hun-cong mengetahui bahwa Toh It-hang ada surat untuk Pek-hoat Mo-li, walaupun ia tak suka pada Pek-hoat Mo-li, tetapi ia ada hubungan persahabatan yang rapat dengan Toh It-hang, lagi pula ini adalah pesan terakhir dari Lo Tiat-pi, maka ia lantas menyanggupi sepenuhnya.

"Kau jangan kuatir,"

Katanya.

"Toh-susiok mempunyai urusan, aku pasti dapat mengurusnya dengan baik."

Mendengar jawaban ini tiba-tiba mata Lo Tiat-pi kelihatan membalik.

"Budi dan dendam sudah beres, kini aku boleh berangkat dengan lega!"

Katanya dengan tersenyum, tangan tunggalnya pelahan telah menggantung turun dan mangkatlah dia dengan tenang.

Lantas Nyo Hun-cong menggali sebuah liang kubur dan menanam mayat Lo Tiat-pi secara sederhana.

"Saudaraku,"

Katanya kemudian pada Asta.

"Aku ada urusan lain harus pergi ke puncak selatan Thian-san, kau sendiri boleh kembali ke padang rumput Garsin di pangkalan orang Kazak. Mokhidi dan nona Malina pun berada di sana, perjalanan dari sini ke Garsin kira-kira memakan waktu tiga hari, tentara Boan yang terdekat pun sudah terusir semua, aku kira tiada sesuatu bahaya apa-apa lagi yang perlu di-kuatirkan."

Ketika Asta mengetahui adik angkatnya, Mokhidi, sudah kembali dengan selamat, ia menjadi kegirangan.

"Hendaklah kau pun bisa lekas kembali ke sana, agar kita bertiga bisa berkumpul kembali dan bisa membikin pergerakan lagi secara besar-besaran,"

Katanya pada Nyo Hun-cong.

Sebelum berpisahan Hun-cong kuatir nanti Asta bertemu dengan musuh yang lebih tangguh dari dia, maka ia telah menghadiahkan pula pedang pusaka yang ia rampas dari Thian-bong Siansu.

"Pedang ini adalah pusaka dari golongan Thian-liong-pay, kau harus menjaganya dengan baik,"

Pesannya pada Asta.

"Aku pasti tak akan mengecewakan pedang pusaka ini, jika aku mati, aku pun akan menurunkan pada orang yang bersemangat, yang berani melawan pemerintah Boan-jing,"

Janjinya setelah menerima pedang ini.

10 TAMAT Sesudah kedua orang ini masing-masing memberi pesan dan saling berjabatan tangan lalu mereka berpisah.

Sudah sekian lamanya, kini Nyo Hun-cong baru kembali naik lagi ke Thian-san.

Gunung Thian-san yang membujur jauh ini panjangnya lebih dari tiga ribu li.

Hui-bing Siansu tinggal di puncak tertinggi di sebelah utara, sedang Pek-hoat Mo-li bersemayam di puncak selatan, jarak antara kedua puncak inipun ada ribuan li jauhnya.

Maka lebih dulu Nyo Hun-cong telah naik ke puncak utara untuk menemui gurunya sendiri.

Melihat muridnya sudah kembali, bersabdalah Hui-bing pada sang murid.

"Beberapa tahun ini perbuatanmu boleh dikata gilang-gemilang, nyata kau tidak mengecewakan ajar-anku. Hanya kekuatan pasukan Boan memang jauh lebih besar, susah untuk diramalkan kekalahannya, tetapi cukup kalau kau berbuat sebisanya saja, walaupun toh akhirnya gagal, tak usah dibuat menyesal."

"Kau punya Sute, Coh Ciau-lam orangnya sangat pintar, kalau kau dapat membikin sadar dia itulah yang paling baik, tetapi jika tidak bisa lagi, boleh kau mewakilkan aku memusnahkan dia,"

Katanya lagi. Nyo Hun-cong menghaturkan terima kasih atas petunjuk gurunya ini.

"Kau punya Toh-susiok juga adalah orang yang berperangai halus, Pek-hoat Mo-li walaupun aneh ia pun seorang yang berperasaan, kau jangan membantah maksud pikirannya, dengan demikian mungkin dapat mengakurkan mereka"

Hui-bing Siansu menambahkan pula.

Begitulah setelah Nyo-Hun-cong dua hari tinggal bersama gurunya baru ia meninggalkan puncak utara menuju Thian-san selatan, di bagian selatan Thiansan banyak sekali terdapat sungai es, setelah berjalan tujuh delapan hari, dipandang dari jauh sungai es seperti tertimbun tumpukan salju yang bisa bergerak, tetapi setelah dilihat dari dekat, baru kelihatan di permukaan sungai es itu berdiri ribuan tiang es yang tinggi pendek dan besar kecil tak teratur.

Nyo Hun-cong menyusuri pinggiran gunung es itu, ia terus maju, lewat dua hari kemudian, kini sudah dekat dengan sungai es yang mengalir tenang berasal dari puncak di atas.

Dari jauh gerujukan air terjun raksasa yang berwarna putih mengalir turun, tetapi dilihat dari dekat baru ketahuan jelas bahwa itu adalah tiang-tiang es yang tingginya lima enam depa sungsang timbul bertumpuk, ada yang terang tembus berbentuk seperti pagoda, ada pula yang berupa patung raksasa aneka warna corak ragam tiang es ini.

Setelah mengikuti jalan alur sungai es ini dan naik ke atas lagi, lewat pula setengah hari baru ia dapat melintasi satu gundukan es yang bercorak seperti gerujukan air yang besar di depannya melebar merupakan suatu jembatan es yang luas, lalu di pojokan sana menjulang tinggi satu puncak yang terang benderang di atas puncak lainnya.

Nyo Hun-cong menggunakan ilmu mengentengkan tubuhnya yang tinggi untuk merambat naik sampai ke atas puncak, dilihatnya lagi di atas puncak ada pula satu rumah es yang terbuat dari batu es beku.

Pek-hoat Mo-li saat itu kelihatan sedang menunduk dan merangkap tangannya duduk di tengah-tengah rumah itu, lekas Nyo Hun-cong memberi hormat dan memohon bertemu, lama sekali baru Pek-hoat Mo-li membuka matanya.

"Kau masuklah ke sini!"

Katanya kemudian dan menggapai dengan tangannya. Hun-cong menurut, ia masuk ke dalam rumah es itu.

"Apakah gurumu yang menyuruh kau datang kemari?"

Segera terdengar Pekhoat Mo-li bertanya dengan suara keras.

"Bukan, Toh-susioklah yang meminta aku datang,"

Jawab Hun-cong.

"Walaupun aku berada di atas gunung es ini pun mengetahui bahwa ia mempunyai dua orang Susiok telah datang kemari dari Su-jwan, kini ia menyuruh kau datang, apa hendak menantang aku bertanding pedang dengan mereka?"

Tanya Pek-hoat Mo-li lagi dengan muka mendadak berubah.

"Mana bisa terjadi hal begitu."

Lekas Nyo Hun-cong menerangkan.

"Oei-yap dan Pek-ciok berdua Totiang itu sudah kembali lagi ke Su-jwan. Toh-susiok hanya mengirim surat menanyakan kesehatanmu."

Muka Pek-hoat Mo-li baru berubah agak tenang setelah mendengar keterangan Nyo Hun-cong.

"Mana suratnya? Bawa ke sini!"

Katanya kemudian.

Lantas Nyo Hun-cong menghaturkan surat Toh It-hang.

Setelah Pek-hoat Mo-li membuka sampul surat itu dan membacanya, ternyata surat itu tertulis singkat dalam tujuh baris yang berwujud syair yang maksudnya mengutarakan perasaannya bahwa selama ini ia mengalami pertentangan jiwa karena kesalahpahaman mereka, dan mengutarakan seluruh isi hatinya bahwa dia sangat terkenang dirinya pada masa yang lalu, akan tetapi ia masih mengharap jangan mempercayai omongan orang luar dan menginginkan dapat akur kembali.

Sehabis membaca surat itu, tak terasa Pek-hoat Mo-li mengalirkan air mata.

Akan tetapi beberapa puluh tahun ini kesalah-pahaman mereka sudah begitu mendalam, walaupun hatinya tergerak sementara, namun sesudah ia berpikir kembali ia lantas gusar lagi.

"Hm, mereka orang golongan Bu-tong selalu menganggap diri mereka adalah golongan yang lurus jujur dari kalangan persilatan, mereka menganggap diriku ini sebagai hantu, iblis, memang aku pun tak berani mengharapkan bisa sederajat dengan mereka,"

Katanya kemudian.

"Kau kembali saja ke sana dan boleh bilang pada Toh-It-hang, katakan seterusnya aku tidak akan mencari setori lagi padanya, tetapi kalau ia mengharapkan agar bisa akur kembali, itulah yang sekali-kali tidak mungkin."

Sudah tentu Nyo Hun-cong menjadi bingung sebab ia tidak mengetahui selukbeluk persoalan mereka, tetapi jika meneliti perkataannya, rupanya di antara Pek-hoat Mo-li dengan Toh It-hang seperti ada tersangkut urusan asmara.

Maka ia lantas mencoba memberi pendapatnya.

"Orang hidup pun tidak lebih lama dari seabad, apa gunanya membikin orang yang dicintai menderita terus, sedang dirinya sendiri tidak urung juga ikut menderita,"

Katanya dengan halus.

"Toh It-hang telah menceritakan seluruhnya padamu?"

Tanya Pek-hoat Mo-li dengan muka berubah, rambutnya yang putih bersih itu melambai-lambai tertiup angin.

"Tidak, Toh-susiok selamanya tidak pernah bercerita tentang urusan pribadinya,"

Kata Nyo Hun-cong.

"Kalau begitu, kau sendiri yang hendak menasehati aku,"

Tanya pula Pek-hoat Mo-li. Nyo Hun-cong tak berani menjawab. Karena itulah, mendadak Pek-hoat Mo-li mengeluarkan suara jengekan.

"Hm, Hui-ang-kin terhitung orang yang kau cintai, betul tidak?"

Tanyanya tiba-tiba sambil menuding pada Nyo Hun-cong. Sama sekali Nyo Hun-cong tak menduga akan ditanya begitu, keruan ia terkejut.

"Hubunganku dengan Ling-toh (muridmu) hanya seperti kakak dan adik,"

Sahurnya kemudian dengan pilu.

"Itulah!"

Kata Pek-hoat Mo-li pula dengan suara bengis.

"Tetapi mengapa kau juga membuat dia menderita!"

Mendengar teguran ini hati Nyo Hun-cong seperti tertusuk oleh panah tajam, ia tak dapat menjawab separah ka-tapun.

Sementara itu Pek-hoat Mo-li yang penuh dengan rasa kegusaran seperti hendak dilampiaskan seluruhnya atas diri Nyo Hun-cong, ia telah berkata lagi dengan cepat dan rada terputusputus.

"Kau ini termasuk murid dari guru ternama, semua menganggap dirinya sendiri luar biasa,"

Katanya sambil menuding pada Nyo Hun-cong.

"Betapa hebat kau sudah menyiksa diri Hui-ang-kin, tahukah kau? Dan sekarang kau masih berani datang menasehati aku? Jika bukan Hui-ang-kin begitu datang lantas memintakan ampun bagimu dan memohon aku jangan ikut campur tangan. Hm, kalau tidak dari kemarin dulu aku sudah bereskan kau!"

"Hui-ang-kin sekarang berada di mana, bagaimana dengan keadaannya?"

Tanya Hun-cong dengan cepat.

"Ia ada di sini, tetapi ia telah bersumpah tak mau menemui kau lagi,"

Sahut Pek-hoat Mo-li.

Tetapi waktu Hun-cong memandang sekeliling rumah itu, keadaannya kosong belaka, mana ada orang lain lagi?

"Hui-ang-kin telah membangun sebuah gubuk dan berdiam seorang diri di puncak sebelah bawah, apakah kau masih ada muka buat menemui dia?"

Kata Pek-hoat Mo-li lagi sambil menunjuk keluar jendela dengan jarinya.

Tiba-tiba Nyo Hun-cong berseru sekali, ia membalikkan tubuhnya dan lantas berlari keluar sampai berpamitan dengan Pek-hoat Mo-li pun terlupa.

Di belakang sayup-sayup ia masih mendengar suara Pek-hoat Mo-li bergelak tertawa.

Sementara itu, bayangan Nyo Hun-cong sudah tidak kelihatan lagi.

Begitulah dengan terburu-buru dan rasa kuatir Hun-cong ingin lekas menemui Hui-ang-kin.

"Maukah Hui-ang-kin menemui aku?"

Begitulah satu pertanyaan itu muncul dalam pikirannya, secepat angin ia terus meninggalkan tempat Pek-hoat Mo-li.

Aldiirnya ia mendapatkan satu gubuk yang terbuat dari kayu di kaki puncak selatan Thian-san ini, dari dalam gubuk sayup-sayup berkumandang suara orang yang sedang Liam-keng, membaca kitab suci.

"Hui-ang-kin, Hui-ang-kin, aku telah datang! Buka pintu!"

Demikian Hun-cong berteriak dan mengetok pintu sekeras-kerasnya, akan tetapi orang yang berada di dalam sedikit pun tidak memberi sahutan.

Nyo Hun-cong menjadi gugup, ia tak peduli lagi bakal didamprat oleh Hui-angkin, ia melompat masuk ke dalam rumah ini, ia lihat dalam rumah itu asap dupa mengepul tebal, seorang wanita sedang duduk bersemedi di tengah-tengah dengan mata terpejam dan sedang mengucapkan isi kitab suci, terhadap gangguan dari luar, sedikit pun ternyata tak ambil pusing.

Nyo Hun-cong yang dapat melihat dengan jelas siapa adanya wanita ini, jiwanya bergolak seperti terpukul keras oleh gelombang ombak yang besar, seketika ia terkesima dan tak dapat mengeluarkan separah katapun.

Apakah dia ini adalah Hui-ang-kin?

Wanita yang bersemedi ini apakah betul adalah pahlawan wanita di padang rumput yang tersohor dan disegani?

Demikian hampir Nyo Hun-cong tak percaya atas penglihatannya sendiri.

Ternyata wanita yang sedang bersemedi ini rambutnya sudah putih semua, kalau dipandang dari belakang persis sama seperti Pek-hoat Mo-li yang sudah tua ini, apakah mungkin seorang gadis yang berusia dua puluhan tahun seketika rambutnya bisa berubah menjadi putih seluruhnya memenuhi kepalanya?

"Oh!

Hui-ang-kin yang harus dikasihani!

Tentu kesedihan dan pukulan batin yang begitu banyak telah merubah dia menjadi begini macam!"

Ratap Nyo Hun-cong.

Sesaat itu hanya wajah Hui-ang-kin.

yang terbayang dalam pikirannya ia ingat di waktu mereka berdua berendeng bergandengan tangan di padang rumput, percakapan yang menggembirakan di dalam kubu kuno dahulu, semua ini sudah berlalu terbawa angin dan tidak bakal terjadi lagi atas diri 'gadis berambut putih' di depannya ini.

Nyo Hun-cong terharu sekali, sampai hampir berlutut dan memeluknya untuk minta diampuni.

Tetapi apa yang harus diampuninya?

Bayangan Nilan Ming-hui sekilas terbayang olehnya ia dan Nilan Ming-hui toh tiada berbuat salah?

Memang, persoalan dalam urusan asmara kadang-kadang susah untuk bisa dipikirkan secara bijaksana!

Sementara itu Hui-ang-kin masih terus membaca kitab sucinya dengan suara rendah.

"Hui-ang-kin,"

Kata Nyo Hun-cong pula dengan halus.

"Saudara-saudara kita di padang rumput sana masih memerlukan pimpinanmu, marilah berangkat turun gunung bersama aku, kita adalah sahabat yang paling baik dan kekal untuk selamanya!"

Akan tetapi sedikitpun Hui-ang-kin tidak mengangkat kepalanya ia masih terus membaca kitabnya dan bahkan makin lama makin menjadi giat dan lebih keras lagi.

Hun-cong dapat mendengar isi kitab yang dibaca itu seperti kata-kata yang mengandung arti bahwa hidup manusia ini hanya khayalan dan seperti mimpi belaka aldiirnya toh juga akan lenyap tak berbekas.

Ini adalah isi kitab suci ajaran Buddha.

"Hui-ang-kin, mengapakah kau ini?"

Nyo Hun-cong memanggil lagi dengan suara lebih keras karena sudah tak tahan pula.

"Di padang rumput sana dimana-mana masih terdapat api peperangan, sebaliknya kini kau berkata tentang khayal dan rriimpi. Apakah suku bangsamu yang berlumuran darah, bergelimpangan tewas dalam peperangan ini dalam pandanganmu juga hanya bayangan khayalan belaka? Hui-ang-kin! Janganlah kau berbuat bodoh lagi, ikutlah aku turun gunung!"

Akan tetapi Hui-ang-kin masih tetap seperti tak melihat dan tak mendengar, ia bersemedi terus, selain bibirnya yang kelihatan kemak-kemik bergerakgerak, hakikatnya mirip patung jaman purba saja.

Nyo Hun-cong tak berdaya ia terkesima di samping Hui-ang-kin, ia tak mengerti apa yang harus ia perbuat lagi.

Lewat agak lama tiba-tiba teringat sesuatu olehnya "Hui-ang-kin sendirian mengasingkan diri di gunung es sini, jangan-jangan perlawanan di padang rumput sana sudah dipatahkan oleh tentara Boan-jing?"

Demikian pikirnya. Teringat akan demikian ini, tak tertahan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.

"Hui-ang-kin, kini aku tak dapat menemani kau di sini, aku masih harus turun gunung untuk pergi mencari saudara-saudaraku,"

Katanya kemudian sambil menarik napas.

"Biarlah lewat beberapa lama lagi, pasti aku akan datang menengok kau pula."

Habis berkata begitu ia menguatkan hatinya dan segera melompat keluar dari rumah itu dan berangkat pergi.

Setelah Hui-ang-kin mendengar Nyo Hun-cong sudah pergi jauh, tiba-tiba ia melemparkan kitabnya ia menghela napas panjang dan berkata dengan sedih.

"Kau tak akan dapat menemui aku lagi untuk selamanya."

Pada saat yang sama Nilan Ming-hui pun dalam keadaan yang sedih sekali, ayahnya Nilan Siu-kiat telah dipindahkan sebagai Cong-ping di kota Hang-ciu, kabarnya pengangkatan ini adalah usul dari To-Tok.

To-Tok yang baru naik pangkat menjadi Liang-kang, setelah ia berhasil membasmi pasukan sisa tinggalan Loh-ong dari kerajaan Beng, lalu ia telah pula menggantikan kedudukan dan gelar ayahnya sendiri, sebagai Ok Jin-ong, atau Pangeran Ok, ia betul-betul sedang dilimpahi kegembiraan yang bertumpuk-tumpuk, maka ia hidup senang sekali.

Karena tak menginginkan menikah di daerah yang terpencil sana, ia pun tidak bersedia pergi jauh menyambut tunangannya untuk menuruti keinginannya, ia lantas memindahkan Nilan Siu-kiat ke Hang-ciu sebagai bawahannya sendiri.

Nilan Siu-kiat yang juga berasal dari bangsawan, ia pun sudah berulang-ulang mendapat pahala di daerah Sinkiang, maka kalau dia dipindahkan menjadi Cong-ping ke kota Hang-ciu, itupun sudah merupakan hal lumrah.

Akan tetapi Nilan Ming-hui yang merasa hancur hatinya, ia telah menyukai padang rumput di Sinkiang, karena di padang rumput sini terdapat seorang yang ia cintai.

Malam itu sesudah Nyo Hun-cong membikin huru-hara di istana jenderal, ia masih terus menantikan kedatangannya kembali, akan tetapi Nyo Hun-cong tetap tidak kunjung tiba.

Ia menjadi sangsi apakah Nyo Hun-cong menjadi sengit dan marah padanya dan tidak sudi menemuinya lagi.

"Apakah sedikitpun kau tak dapat memahami maksudku?"

Begitulah katanya diam-diam dalam hati.

Akan tetapi Nyo Hun-cong yang dia nantikan tetap tak kunjung datang.

Sebaliknya ayahnya telah kembali dari masa dinasnya dan segera pula disusul dengan boyongan seluruh isi rumah mereka ke selatan.

Setelah Nyo Hun-cong turun dari Thian-san, keadaan di padang rumput sudah jauh berbeda dengan dulu, perkemahan pasukan Boan di mana-mana kini dapat terlihat jelas, tetapi pejuang dari suku-suku bangsa sudah terpencar selebaran atau menyembunyikan senjata mereka dan tak kelihatan lagi.

Ternyata selama sebulan itu, waktu ia pergi-datang ke Thian-san, pasukanpasukan bersenjata yang melawan pemerintah Boan di padang rumput daerah selatan Sinkiang itu telah mengalami pukulan yang hebat.

Pasukan Boan di dae r ah utara telah memperkokoh kedudukan mereka kemudian lantas memindahkan kekuatan pasukannya ke selatan.

Sementara itu To Tok juga sudah memperoleh firman dari raja untuk memindahkan pasukan yang ada di Jing-hai ke daerah Sinkiang sini.

Di lain pihak, padang rumput Garsin sejak perginya Hui-ang-kin dengan membawa orang-orangnya, kekuatannya menjadi banyak berkurang dan lemah, maka dengan gampang saja lantas dipukul pecah oleh musuh.

Akhirnya, sesudah dengari susah payah Nyo Hun-cong dapat menemukan dua adik angkatnya di padang rumput, Asta dan Mokhidi, setelah memperoleh penjelasan situasi perang itu, Hun-cong hanya dapat menghela napas saja.

"Seterusnya, semua urusan harus bergantung pada kalian, aku akan meninggalkan daerah Sinkiang sini,"

Katanya kemudian pada mereka.

Sesudah itu, sekali lagi ia lantas menyelundup masuk ke kota Ili, ia berpikir hendak menemui Nilan Ming-hui buat penghabisan kalinya, ia ingin bertanya pada gadis itu bersedia buron bersama dia atau tidak, ia sudah mengambil keputusan tidak peduli Nilan Ming-hui mau tidak mau harus minggat bersama dia.

Namun satu hal sudah pasti, ia akan kembali ke Kwan-Iwe atau pedalaman.

Di sana adalah tempat tinggalnya yang lama, lagi pula kabarnya di daerah selatan Ciat-kang masih terdapat pula sisa-sisa bawahan Loh-ong dari keluarga kerajaan Beng dan di Ouw-pak juga ada Li Kim, anak Li Cu-seng dengan pasukannya yang cukup besar.

Dan apabila sudah sampai di Kanglam atau daerah selatan, ia berpikir sedikitnya masih dapat membuat pergerakan besar-besaran.

Akan tetapi sayang, ia terlambat, Nilan Ming-hui sudah berangkat beberapa hari yang lalu.

Waktu ia sampai di kota Ili baru mengetahui bahwa Ili Ciangkun sudah berganti orang.

Tetapi ia masih belum mau percaya, berturut-turut ia masih memasuki istana jenderal itu untuk melihat-lihat apakah masih terdapat orang yang dikenalnya, beruntung saat malam tiba baru ia ketemukan keponakan Naima yang masih tinggal di situ, di waktu malam yang sunyi senyap itu diam-diam ia membangunkan anak dogol ini untuk menanyakan kabar Siocianya.

Anak dogol ini ternyata tidak takut-takut lagi pada Hun-cong, bahkan ia mengomeli pemuda ini.

"Siocia kami sudah akan melangsungkan perkawinan di selatan sana, apa gunanya kau mencari dia lagi?"

Katanya.

"Sebelum berangkat, bibi telah berpesan padaku kalau bertemu dengan kau supaya aku memberitahu padamu agar jangan lagi menggoda Siocia kami!"

Mendengar kabar demikian ini, seketika Hun-cong merasa seperti disambar geledek di tengah hari bolong.

"Siocia kembali menikah di mana?"

Tanyanya kemudian dengan cepat.

"Hang-ciu!"

Jawab anak dogol itu.

Sekonyong-konyong Hun-cong tertawa panjang sekali, habis itu ia memutar balik tubuhnya dan lantas berlari pergi.

Malam itu, sepanjang malam ia tidak dapat tidur, pikirannya bergolak naik turun seperti ombak mendampar, tak terasa ia telah mengangkat pit dan membuat syair untuk mengenangkan pengalamannya selama di padang rumput.

Selesai ia bersyair, cuaca pun sudah terang, ia menunggang kuda dan dilarikan dengan cepat.

Sejak ini, di padang rumput tidak dapat diketemukan lagi bayangan Nyo Huncong, yang ada hanya cerita kepahlawanannya yang masih dibuat nyanyian oleh rakyat gembala dan terus membekas di sana.

Sebulan kemudian, Nyo Hun-cong telah sampai di Hang-ciu, kala ini justru adalah hari Tiong-ciu, arus air sungai Ci-tong-kang sudah mulai naik pasang.

Suasana di kota Hang-ciu ramainya bukan main, orang-orang di sini ada yang datang melihat arus Ci-tong-kang ini, ada pula yang datang hendak melihat perayaan pernikahan Pangeran To Tok.

Hari pernikahan To Tok dengan Nilan Ming-hui sudah ditetapkan tanggal delapan belas bulan delapan, jadi tiga hari sesudah hari Tiong-ciu.

Kebetulan Nyo Hun-cong tiba di sana tiga hari sebelum upacara pernikahan mereka.

Musim rontok di daerah selatan, hawa malam dingin segar, rembulan yang bundar bulat menandakan tanggal pertengahan bulan Tiong-ciu.

Ketika ini, keadaan sunyi senyap, hanya pada kediaman Hang-ciu Cong-ping masih ramai, silih berganti bayangan orang dalam suasana yang riang gembira.

Malam itu adalah malam sebelum hari penikahan Siocia dari Hang-ciu Congping Nilan Siu-kiat yang bernama Nilan Ming-hui.

Nilan Siu-kiat mendapat berkat pahala yang besar dan juga atas dukungan To Tok, pangeran muda dari bangsawan Boan, kini ia telah naik pangkat menjadi Cong-ping atau penguasa militer di kota Hang-ciu.

Gadisnya Nilan Ming-hui, yang kecantikan dan kebijaksanaannya sangat tersohor di antara bangsawan sebang-sanya.

Ayahnya yang tiada mempunyai anak lain kecuali ia sendiri, yang merupakan gadis tunggalnya sungguh bukan main ia dimanjakan oleh ayahnya sejak masih muda sudah mengundang dua orang guru silat dan sastra untuk mengajarkan dia ilmu silat di siang hari dan belajar ilmu surat di malam hari, betul-betul merupakan seorang gadis yang pintar dan sempurna dalam kedua hal di atas.

Setelah Nilan Siu-kiat naik pangkat menjadi Cong-ping atas dukungan To Tok, tidak lama kemudian To Tok lantas meminta ayahnya sendiri meminang Nilan Ming-hui.

Pangeran To Tok ini dapat dikatakan adalah orang yang gagah berani di antara bangsa Kijin dari Boan, sejak kecil sudah mahir menarik busur yang kuat dan menunggang kuda.

Ilmu menunggang kuda dan ilmu pedangnya pun dalam kalangan bangsanya termasuk golongan kelas satu, pada usia dua puluh dua ia sudah ikut pasukan negerinya menjajah ke barat dan berhasil mengamankan daerah sana.

Tahun ini ia baru berusia dua puluh delapan tahun dan sudah dianugerahi jabatan dengan pangkat Liang-kang To Tok, ia terhitung satusatunya pejabat tinggi dari bangsawan mereka yang paling muda.

Nilan Siukiat yang dapat merangkap perjodohan ini sudah tentu bertambah jaya dan gembira.

Akan tetapi, justru pada malam sebelum hari upacara pernikahan, Nilan Siocia malahan mencucurkan air mata ia memegangi secarik surat yang berisikan sajak, dengan pelahan ia sedang membacanya ketika membaca sampai pada suatu bagian, saat itu juga ia tak tahan lagi, air matanya bercucuran deras, setelah agak lama kemudian baru ia bergerak bangkit dan dengan suara pelahan-lahan ia memanggil 'Bu-ma'.

Bu-ma atau ibu inang yang dipanggil ini adalah babu inangnya atau Naima sejak bayi yang membesarkan Nilan Siocia adalah Naima maka dengan Naima ini boleh dikata mempunyai hubungan yang sangat rapat dan sayang melebihi kedua orang tuanya sendiri.

Waktu itu Naima sedang tidur di kamar luar, maka begitu mendengar ada panggilan segera ia masuk ke kamar Nilan Siocia.

"Siocia untuk apa kau menyiksa diri!"

Katanya pada momongannya ini yang bertangisan begitu rupa "Siapa yang tidak berkata kau mendapatkan perjodohan yang baik, kalau sampai diketahui Hujin tentu akan membuat dia tambah sedih dan kesal lagi.

Siocia adalah lebih baik kalau kau lupakan hal-hal yang sudah lalu....."

"Bu-ma kau tak usah mengurus aku,"

Nilan Siocia memotong perkataan orang.

"Aku mohon kau bawa kemari Po-cu kecil, aku ingin melihatnya sekali lagi!"

Babu inang itu hanya menggeleng-geleng kepala saja dan menghela napas melihat kecemasan sang Siocia akan tetapi akhirnya ia pergi juga menuruti perintahnya.

Pada waktu itu juga tiba-tiba pelita di depan jendela itu bergoyang-goyang, setelah itu dibarengi oleh mendesirnya angin, sesosok bayangan hitam tahutahu sudah melayang masuk melalui jendela.

Yang melompat masuk ternyata adalah seorang pemuda yang cakap gagah, di bawah sinar pelita yang bergoyang dan remang-remang itu terlihat pada alis mata pemuda ini tersembunyi rasa marah.

Demi melihat di depan Nilan Siocia tergeletak secarik surat sajak yang dia kenali adalah buah tangannya, bahkan di atas surat itu masih terdapat bekas tetesan air mata.

"Moaymoay, kau berbahagia sekali!"

Terdengar pemuda itu menyapa tajam dengan senyum getir. Ketika Nilan Siocia memandang si pemuda, sinar matanya bagaikan bintang yang berkelip-kelip menyorot guram.

"Apakah kau juga tak dapat memahami perasaanku yang sangat menderita dan demikian membenci padaku?"

Tanyanya kemudian. Tetapi pemuda itu telah mengibaskan lengan bajunya dan maju setindak, tibatiba ia berkata pula dengan nada yang cepat.

"Marilah ikut padaku! Apakah kita tidak dapat kabur bersama? Dunia seluas ini, apakah tiada tempat lagi untuk kita?"

"Tetapi siapa suruh kau adalah bangsa Han?"

Sahut Nilan Siocia tiba-tiba dengan dingin dan menundukkan kepalanya. Karena jawaban ini, pemuda itu berubah air mukanya namun segera pula ia tertawa tergelak.

"Haha tadinya aku menyangka kau adalah wanita yang paling gagah di antara bangsamu, tidak nyana kau adalah seorang gadis yang paling setia pada tahta kerajaan bangsamu,"

Katanya kemudian dengan suara yang bersemangat.

Baca Juga: Darah Ksatria Harkat Pendekar 3

Baca Juga: Pendekar Lengan Buntung 2

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger