Pahlawan Padang Rumput 3

Eps 3 Pahlawan Padang Rumput - Liang Yu Sheng

Baca online Pahlawan Padang Rumput - Liang Yu Sheng

Cersil Pahlawan Padang Rumput - Liang Yu Sheng.

Namun Nyo Hun-cong sudah memegangnya.

"Kenapa kau?"

Tanyanya. Tetapi Nilan Ming-hui telah memejamkan matanya, ia merasa sedih sekali.

"Sekarang kau tentu benci sekali padaku,"

Katanya kemudian dengan pilu.

"Mengapa aku benci padamu, kau toh bukan ayahmu!"

Sahut Hun-cong.

Tetapi Ming-hui masih belum bisa memahami perasaannya, hatinya laksana gelombang ombak yang bergolak.

Ya, sejak ia bertemu Nyo Hun-cong, ia telah tertarik oleh semangat kepahlawanannya, setelah berpisah, dalam hatinya lantas seperti bertambah sesuatu, tetapi juga seperti berkurang sesuatu.

Hanya dalam mimpi mereka beberapa kali bertemu, tak terduga kini si pemuda ini betul-betul telah berada di sampingnya, malahan ia telah rebah di pangkuannya.

Akan tetapi saat itu ia merasakan bahwa jarak antara dia dan Hun-cong begitu dekat, tetapi juga begitu jauh!

"Ia adalah milik Hui-ang-kin dan bukan milikku!"

Pikiran semacam ini terus bergolak dalam hatinya dan seperti jarum yang tajam sedang menusuk-nusuk, sakitnya melebihi jarum Hui-ang-kin yang berbisa tadi.

Tiba-tiba Hun-cong melihat Ming-hui seperti bunga yang layu, mukanya makin pucat dan napasnya makin sesak.

Lekas ia pegang nadinya, ia merasakan denyutannya cepat luar biasa, ia lihat kulit mukanya kaku kejang, dalam hati ia menjadi heran.

"Aku telah mencabut jarum beracun tadi, tetapi mengapa sakitnya berbalik begini berat dan berbahaya?"

Seketika timbul semacam firasat pada Nyo Hun-cong seakan-akan merasa ketakutan, ia ambil lagi dua butir pil Pik-ling-tan yang terbuat dari teratai Thian-san itu untuk di-telankan pada Ming-hui.

"Kau boleh istirahatlah, jangan kau kuatir, akan kubawa kau keluar dari sini!"

Katanya pelahan. Semalaman Nilan Ming-hui terus menerus bermimpi buruk, ia terus mengigau, kadang bahkan menangis dan terjaga dari tidurnya, dan berteriak.

"Toako, jangan benci diriku!"

Tetapi Nyo Hun-cong juga terus menghibur dia.

"Aku tidak benci padamu!"

Namun Ming-hui masih tetap mengigau begitu.

Malam telah lewat, siang hari telah tiba kembali.

Di angkasa gurun penuh dengan gumpalan awan putih yang indah karena sorotan sinar matahari.

Nyo Hun-cong yang berjaga semalam, badannya terasa letih, tetapi ada orang sakit yang memerlukan penjagaannya, semacam rasa kewajiban menguatkan dirinya, ia harus membawa gadis ini keluar dari bukit ini.

Di lembah yang sunyi ini tidak ada obat-obatan dan juga tiada makanan, kalau tinggal di sini terus tentu hanya menantikan Kematian belaka.

Jika dibawa keluar, bila bertemu pasukan Boan, ia akan menyerahkan Ming-hui dan ia sendiri bisa lantas melarikan diri, sebaliknya bila bertemu pejuang penggembala, dengan pengaruhnya ia masih dapat menyelamatkan diri Minghui.

Maka setelah Hun-cong memperbaiki kereta rusak itu, ia letakkan Nilan Minghui di atasnya, lalu dengan pelahan-lahan ia mendorong kereta keluar dari lembah gunung itu.

Di padang rumput di mana-mana hanya terlihat mayat yang bergelimpangan, di udara penuh dengan gerombolan elang-elang lapar yang menyergap ke bawah untuk memakan bangkai manusia.

Ada elang raksasa yang kedua sayapnya bila dipentang lebarnya beberapa depa, kalau sedang menyambar turun dari atas membawa angin yang mengeluarkan suara keras, sungguh keadaannya sangat mengerikan.

Waktu itu di padang rumput seorang manusia hidup pun tidak terlihat, yang tertampak hanya beberapa ekor kuda yang tak bermajikan sedang berlari kian kemari tanpa tujuan.

Nyo Hun-cong bergidik, ia komat-kamit bergumam sendiri.

"Perang, perang! Bilakah tidak ada perang lagi!"

Kemudian Hun-cong menangkap dua ekor kuda tak bertuan im dan lantas dipasang di keretanya, ia mencari lagi sedikit makanan dan ditaruh di atas kereta dan segera dengan keretanya berjalan menuju selatan.

Sepanjang jalan pun hanya mayat belaka, pasukan kedua belah pihak yang bertempur kemarin, kini entah telah sampai di mana.

Pelahan-lahan, mayat-mayat mulai sedikit, tetapi manusia hidup masih tetap belum bisa dijumpainya.

Sementara itu sakit Nilan Ming-hui makin lama ternyata makin berat, suhu badannya panas dan tidak hentinya mengigau, napasnya pun makin lemah.

Padang rumput yang luas seaka"

Akan tiada ujungnya.

Malam kemarin begitu banyak orang berada di padang rumput kini telah lenyap, Nyo Hun-cong mendorong kereta dan berjalan terus di padang luas, ia merasa anehnya kesunyian.

Sedang sakit Nilan Ming-hui membuat ia semakin kuatir.

Sang surya yang terbit dari arah timur lambat-laun sudah hampir terbenam ke barat lagi.

Kedua pipi Nilan Ming-hui merah membara, jantung Hun-cong berdebar melihat wajah yang begitu menggiurkan.

Tetapi kekuatirannya itu hanya 'sinar yang membalik', hanya kemolekan im sudah di tepi jurang kematian.

Kini Hun-cong tidak kikuk lagi tentang laki perempuan, dengan pelahan ia membuka baju Ming-hui dan memijit-mijit untuk melancarkan jalan darahnya.

Hun-cong pernah mempelajari cara mengobati dengan jarum, tetapi ia tidak membekal jarum, terpaksa dengan jarinya ia memijit di antara urat nadi tempat-tempat yang perlu.

Sebentar kemudian pelahan-lahan Nilan Ming-hui telah mulai sadar kembali.

"Toako,"

Tiba-tiba ia bertanya.

"Aku tahu aku bakal mati, maukah kau katakan padaku dengan sesungguhnya, sedikitpun jangan membohongi aku, maukah kau?"

"Bicaralah, aku pasti akan menjawab dengan sejujurnya!"

Sahut Hun-cong. Tetapi muka Nilan Ming-hui lantas menjadi merah jengah sampai di lehernya, ia bicara dengan suara lirih.

"Toako,"

Bisiknya kemudian.

"Katakanlah.....katakanlah dengan sesungguhnya, apakah kau cinta padaku?"

Seketika tergoncang hati Nyo Hun-cong, jantungnya berdebar-debar, terhadap orang sakit yang begitu berat, apakah ia harus mengecewakannya, dalam keadaan demikian ia sesungguhnya tidak bisa mengatasi perasaannya sendiri lagi.

Ia merangkul Nilan Ming-hui dengan erat dan berbisik di tepi telinganya.

"Ya, Ming-hui, dengan sesungguhnya aku cinta padamu."

Aneh bin ajaib, seumpama bunga yang sudah kering layu dapat tiba-tiba segar dan hidup kembali.

Perkataan Nyo Hun-cong tadi ternyata melebihi kemanjuran Pik-ling-tan, Nilan Ming-hui merasa seperti ada sesuatu yang hangat mengalir di seluruh tubuhnya.

Hun-cong merasa tangannya dipegang Ming-hui, tiba-tiba gadis ini telah bertenaga kembali, pelahan-lahan, ia bisa duduk dan ambruk lagi di pangkuan Nyo Hun-cong, mulutnya merapat berdekatan dengan muka Nyo Hun-cong.

Hati pemudi yang sedang terbakar pun menempel lekat di hati Nyo Hun-cong.

Senja di padang rumput hawa sedikit mulai dingin, tetapi hati Hun-cong sebaliknya terasa panas luar biasa, ya, panas sekali.

Tanpa sadar Hun-cong merangkul Ming-hui juga, bermacam perasaan aneh dan kusut seperti kuda liar yang berlari dan juga seperti gelombang ombak yang mendampar lubuk hatinya, ruwet tetapi juga mengharukan.

Dalam keadaan demikian tidak bisa dikatakan bahwa sedikit pun tiada perasaan menyesal dalam hati Nyo Hun-cong.

Sekilas ia ingat juga kepada Hui-ang-kin.

Hui-ang-kin atau si Selendang Merah, hati gadis ini begitu tulus, suara tawanya begitu nyaring seperti bunyi ke-lenengan unta di padang rumput.

Ia ingat juga kala bersembayang pada malam itu, bersama Hui-ang-kin mereka berlarian dan bercakap sepanjang malam, gadis ini begitu lincah dan begitu bebas pula.

Malam itu Hui-ang-kin samar-samar pun sudah mengutarakan isi hatinya yang sesungguhnya, tetapi ia seperti menolak perasaan orang, ia tidak membukakan pintu untuknya.

Walaupun sejak pertama kali bertemu dengan Hui-ang-kin ia sudah menganggapnya sebagai keluarga yang paling dekat dan rapat, perasaan hatinya ini boleh dikata jauh di atas perasaannya terhadap Nilan Ming-hui sekarang ini.

Tetapi rasa menyesal ini sekejap saja sudah lenyap.

Nyo Hun-cong adalah seorang Enghiong, ksatria, seorang pahlawan, hati pahlawan menyuruh dia tidak boleh menyesal, menepati perkataan sendiri, itu sudah menjadi kebiasaannya, apalagi gadis yang ada dalam pelukannya sekarang ini begitu tulus cintanya.

Ia merasa Hui-ang-kin seperti dia, harus kuat menderita segala macam pukulan, termasuk pukulan batin.

Sebaliknya Nilan Ming-hui dalam pandangannya seperti sekuntum bunga yang halus lemah, walaupun ia bisa bersilat, tetapi dia begitu bersih, begitu halus dan masih kekanak-kanakan yang memerlukan perlindungannya untuk pelahanlahan menuntun dia menuju ke pihak sendiri.

Demikianlah dengan mesra Nyo Hun-cong dan Nilan Ming-hui saling rangkul dengan kencang, mereka telah tenggelam dalam suasana asmara yang memabukkan.

Lewat beberapa lama, mereka baru sadar kembali terkaget oleh suara kelenengan kuda yang ramai.

Nyo Hun-cong mengangkat kepala, terlihat olehnya dari jauh telah datang beberapa puluh penunggang kuda.

Sebentar saja mereka sudah sampai di depannya, salah seorang yang mengepalai lantas tertawa menyindir.

"Hai apakah kau yang bernama Nyo Hun-cong?"

Segera orang itu menegur.

"Mengapa kau merampas tawanan kami dan juga telah membunuh kawan kami?"

Lekas Hun-cong melepaskan pelukannya atas Nilan Ming-hui dan cepat melompat keluar dari kereta.

"Nyo Hun-cong, pengkhianat, rasakan golokku ini!"

Segera pula seorang yang berbadan tegap berewok berteriak sambil membacok tanpa menunggu orang buka suara. Tetapi dengan cepat Nyo Hin-cong menghindarkan ba-cokannya.

"Nanti dulu, kau ini siapa?"

Tanya Hun-cong dengan mendongkol.

"Aku Nyo Hun-cong adalah seorang laki-laki sejati, masa mau kaucemarkan dengan perkataanmu yang kotor itu, kapan aku berkhianat, sedikit pun aku tiada salah terhadapmu, jika kau tidak bisa menjelaskan, aku pun akan menyeret kau untuk diadukan pada Hui-ang-kin!"

Orang yang tegap berewokan itu mengeluarkan ejekan.

"Hm, Hui-ang-kin, kau hanya tahu menggunakan Hui-ang-kin sebagai jimat pelindungmu! Tetapi aku hendak tanya padamu, mengapa kau membunuh pejuang kami dan melindungi musuh serta merebut tawan anku, sekarang kau malah berani berlagak? Apakah hal tersebut tidak bisa disebut sebagai pengkhianat?"

Mendengar dampratan orang, muka Nyo Hun-cong menjadi merah padam karena gusarnya.

"Kapan aku membunuh pejuangmu dan melindungi musuh?"

Ia membentak.

"Aku telah bertempur beberapa tahun di daerah utara, kini aku datang pula ke daerah selatan sini dan bertempur di pihak kalian, jika aku hendak berkhianat mengapa harus bersusah payah menyeberangi gurun luas ini?"

"Baik, coba aku tanya padamu,"

Kata orang im lagi.

"Siapakah orang yang berada di dalam kereta im? Dua orang yang telah kau bunuh di lembah gunung sana im siapa? Bukti-bukti telah jelas, apakah aku yang memfitnah kamu."

Hun-cong terperanjat mendengarnya, batinnya.

"Celaka, kesalah-pahaman ini kini sudah makin meluas lagi."

Ketika ia hendak menerangkan, orang tadi sudah berkata pula.

"Tahukah kau siapakah aku ini? Aku adalah Bing-lok, kepala suku Kedar, dua orang yang telah kau bunuh im adalah pejuang yang paling kuat dari bawahanku. Nah sekarang orang yang di dalam keretamu im adalah tawan-anku!"

Ternyata kedua orang yang terkena pisau di dadanya dan terbunuh oleh Nilan Ming-hui kemarin malam im, yang seorang seketika im masih belum tewas, dalam keadaan yang payah ia masih merasa penasaran, ia ingin menulis nama musuh di atas tanah, tetapi ia tidak mengetahui namanya, dalam keadaan ceroboh dan saatnya yang terakhir, ia telah menulis dengan darahnya di atas tanah tiga huruf nama Nyo Hun-cong.

Waktu im malam gelap, Hun-cong juga sedang sibuk merawat luka Nilan Minghui, ia tidak memperhatikan bahwa orang yang telah dekat ajalnya im masih bisa meninggalkan suatu fitnahan kotor.

Kedar adalah suku bangsa yang suka berkelahi dan pemberani, mereka mempunyai suatu adat kuno turun menurun, apabila bertempur dengan musuh dan mereka tidak bisa melawan serta terluka, jika kenal siapa musuh itu, sebelum ajalnya tentu menuliskan nama musuhnya dengan darah, harapannya supaya bisa diketahui oleh bangsanya dan membalaskan sakit hatinya.

Pada waktu terjadi pertempuran yang gaduh sekali di padang rumput im, terlebih dulu pihak suku-suku bangsa selatan Sinkiang yang unggul, belakangan bala bantuan pasukan Boan telah datang, waktu itu Nyo Hun-cong telah melompat masuk ke cekungan gunung, suku-suku bangsa selatan Sinkiang berbalik terkepung, mereka dengan mati-matian menerobos kepungan dan mengalami kerugian yang tidak sedikit, itu pula sebabnya mengapa Hun-cong berjalan satu hari masih tidak menemukan manusia hidup satupun.

Pasukan Boan selanjutnya mundur kembali ke kota Ili dan pejuang-pejuang dari suku bangsa itu juga telah terpecah dan terpencar di gurun pasir yang luas itu.

Ketika pertempuran ribut itu terjadi, kepala suku Kedar, Bing-lok, dengan pejuang mereka tergencet di suatu sudut, pasukan induk musuh yang mengejar pihak lawan malah tidak sempat menghabiskan mereka dan akhirnya mereka beruntung bisa meloloskan diri.

Mereka mencari anggota sukunya di mana-mana, ketika sampai di lembah gunung itu mereka telah menemukan mayat kedua orang pejuang suku mereka dan di atas tanah ada tulisan tersebut.

Waktu itu Bing-lok terperanjat sekali, ia tahu nama Nyo Hun-cong yang termasyhur di daerah utara, tetapi ia masih belum mengetahui tingkah laku Nyo Hun-cong pribadi, ia pun tidak mengetahui bahwa nama Hui-ang-kin di daerah selatan.

Ia mengira Nyo Hun-cong sama seperti Coh Ciau-lam, hanya seorang 'pembantu' saja yang karena ilmu pedangnya yang mengagumkan telah membuat namanya tersohor.

Sementara ini iapun mendengar Nyo Hun-cong adalah Suheng Coh Ciau-lam, kala Coh Ciau-lam menggabungkan diri pada pahlawan tua Danu, nama yang selalu ia agungkan pun pakai nama Nyo Hun-cong.

Ia pun mengetahui tentang pengkhianatan Coh Ciau-lam, ia mengira Nyo Huncong akan mengikuti jejak Sutenya, Coh Ciau-lam, dan datang ke daerah selatan hendak mencelakai dan menipu mereka.

Oleh karena itu, maka ia telah membawa pengikutnya yang berjumlah tiga puluh orang lebih mengikuti perjalanan Nyo Hun-cong.

Nyo Hun-cong yang karena harus merawat Nilan Ming-hui dengan baik, ia tidak dapat melarikan keretanya dengan cepat, maka telah terkejar oleh mereka.

Begitulah ketika Nyo Hun-cong merasa serba sulit, tiba-tiba Nilan Ming-hui telah menyingkap kerai kereta dan menongolkan mukanya.

"Kamu jangan memfitnah dia, kedua orang itu akulah yang membunuh!"

Serunya.

Nilan Ming-hui yang sudah merasakan hangatnya asmara, seperti ikan mendapatkan air, walaupun dalam keadaan sakit, matanya ternyata masih begitu jeli dan air mukanya terang.

Ia memang wanita cantik suku Kijin dari Boan-ciu, ketika tiba-tiba ia menunjukkan dirinya di padang rumput yang luas itu keruan saja seakan-akan pelangi yang menghiasi angkasa dengan aneka warnanya di waktu senja.

Seketika Bing-lok merasa seperti ada cahaya yang menyilaukan, pandangan matanya kabur, ia lekas menenangkan pikirannya.

"Apa, apa yang kau katakan?"

Ia bertanya pula dengan membentak.

"Kamu masih belum jelas? Kedua orang itu adalah nonamu yang membunuhnya!"

Nilan Ming-hui menegaskan.

Pada saat itu pula tiba-tiba Bing-lok telah melihat dua huruf 'Nilan' yang tersulam di kerai kereta itu, ia terperanjat dan juga senang.

Semula ia mengira di dalam kereta itu hanya keluarga orang biasa saja dari panglima Boan, kini setelah melihat keadaan yang sebenarnya itu segera ia teringat bahwa ia sudah lama mendengar panglima Boan, Nilan Siu-kiat, jenderal dari kota lli, jenderal itu mempunyai seorang anak gadis yang cantik dan mempunyai kepandaian rangkap yang sempurna, yakni ilmu silat dan ilmu surat, inikah orangnya?

"Baik juga kalau kau yang membunuh, bukan kau yang membunuh pun baik, juga, kau kini hanya tawananku, maka lekas ikut aku kembali ke sana!"

Kata Bing-lok dengan tertawa sambil mengayunkan cambuknya. Namun Nilan Ming-hui tertawa mengejek.

"Hm, barangkali kau pun ingin ikut kedua kawanmu itu pergi menemui Giam-loong (raja akhirat)? mereka berdua juga mengatakan hendak menawan aku baru terkena pisau terbangku!"

Ancamnya. Tetapi Bing-lok tidak mempedulikan ancaman si gadis, ia memberi tanda pada bawahannya untuk maju menyergap.

"Tidak boleh!"

Tiba-tiba Nyo Hun-cong berteriak menghadang di depan.

"Mengapa tidak boleh?"

Bentak Bing-lok dibarengi satu kali pecutan. Tetapi sekali Nyo Hun-cong menggerakkan tangannya, ia telah merebut cambuk musuh dan segera dibikin patah menjadi dua potong.

"Untuk apa kau bertempur?"

Bentaknya kemudian. Melihat kedua mata Nyo Hun-cong mendelik dan kelihatan gagah perkasa, seketika Bing-lok menjadi jeri dan tidak berani maju mendesak.

"Sebenarnya kau bertempur untuk siapa?"

Ia balik bertanya.

"Aku telah bertempur melawan tentara Boan tidak kurang dari ratusan kali di daerah utara dan selatan, tetapi menggelikan sekali, ternyata kau bertempur untuk siapa masih belum mengetahui!"

Sahut Hun-cong.

"Nyo Hun-cong, kaukira dengan membantu bertempur bagi kami, kau lantas boleh mengacau semanmu? Kami pun sudah bertempur sekian tahun, siapa yang tidak tahu tujuannya adalah hendak mengusir bandit Boan,"

Kata seorang bawahan Bing-lok dengan gusar.

"Benar!"

Seru pula Nyo Hun-cong.

"Tetapi apa gunanya hendak mengusir pergi orang Boan? Apakah bukan karena mereka tidak menganggap kita sebagai manusia, merampas peternakan kita, memperkosa wanita kita dan memperbudak rakyat kita? Kini kau hendak menangkap wanita ini buat tawananmu, bukankah juga hendak menodai dia dan tidak menganggap dia sebagai manusia, dan hendak mem-perbudaknya? Kamu tidak menginginkan musuh berbuat demikian, kini mengapa kamu sendiri yang hendak berbuat demikian ini?"

Perkataan dan pertanyaan yang beruntun itu ternyata membikin orang-orang Bing-lok menjadi bungkam, mereka tidak bisa menjawab.

"Dia adalah musuh kami, dia telah membunuh dua orang saudara kami, mengapa kami tidak boleh menangkap dia sebagai tawanan?"

Bentak Bing-lok pula dengan penasaran.

"Yang berperang melawan kalian adalah tentara Boan-ciu dan bukan dia!"

Sahut Hun-cong lagi.

"Di medan pertempuran kami membunuh orang Boan yang bersenjata, makin banyak membunuhnya makin baik, tetapi sekarang di sini kalian hendak mengerubuti seorang gadis yang bertangan kosong, apakah kalian tidak merasa malu? Ia telah membunuh kedua orangmu adalah karena mereka telah mengancam keselamatan dirinya, terpaksa dia harus membela diri. Aku mau berkata, yang salah bukan dia, tetapi adalah pihakmu sendiri!"

Orang-orang Bing-lok semua mengetahui Nyo Hun-cong adalah pahlawan yang menghadapi tentara Boan dengan gagah berani, walaupun Bing-lok mencurigai dia berkhianat dan membawa bawahannya mengejar kemari, tetapi sebelum mereka mendapatkan bukti-bukti yang nyata, bagaimana pun mereka masih mempunyai rasa hormat pada diri Nyo Hun-cong.

Ketika im Nyo Hun-cong dengan spontan telah melontarkan perkataan tadi, tampaknya seperti ada benarnya juga, tetapi soal memperbudak tawanan adalah adat turun temurun di padang rumput sejak ribuan tahun yang lalu, kebiasaan ini sudah meresap di batin tiap orang, maka seperti Nyo Hun-cong, ia hanya bisa berdebat dengan menggunakan akal sehat saja Sebaliknya Bing-lok adalah orang yang sombong dan tinggi hati, ia pun pernah tertarik pada Hui-ang-kin, hanya Hui-ang-kin yang tidak menggubris padanya.

Waktu pemilihan Beng-cu atau ketua perserikatan ia tidak ikut datang, pertama karena ada ganjalan hati tersebut, kedua karena dia tidak mau tunduk pada Hui-ang-kin.

Begitulah maka sehabis Nyo Hun-cong berkata, lalu ia memandang Nilan Minghui pula.

"Nyo Hun-cong,"

Tiba-tiba Bing-lok membentak pula.

"Aku hendak bertanya mengapa kau melindungi dia, kau bilang kau bukan pengkhianat dan adalah pahlawan besar, kenapa pahlawan besar kita ini hendak melindungi dan bertindak sebagai kusir untuk anak gadis musuh kita. Hahaha! Lucu sekali bukan?"

Kegusaran Nyo Hun-cong memuncak karena ejekan ini, sampai tubuhnya gemetar.

"Saudara-saudara,"

Seru Bing-lok pula.

"Lihatlah kalian, inilah jejak sang pahlawan besar Nyo Hun-cong. Tahukah karian siapa perempuan ini? Dia adalah anak gadis Ili Ciangkun Nilan Siu-kiat. Hm, Nyo Hun-cong, kalau kau bukan telah bersekongkol dengan mereka, mengapa mau terus melindungi dirinya, orang lain bertempur mati-matian, tetapi kau malah mengiring kereta anak gadis Nilan Siu-kiat."

"Saudara-saudara! Tangkap dan ikat mereka berdua!"

Perintah Bing-lok pada bawahannya.

Perkataan Bing-lok seperti minyak disiramkan di atas api, bawahannya ternyata dapat dihasut dan segera menjadi kalap, golok dan tombak lantas digerakkan dan mengepung maju.

Sementara im Nilan Ming-hui telah siap dengan pisau terbangnya, tapi Nyo Hun-cong telah mencegahnya.

"Jangan!"

Teriaknya.

Namun sudah terlambat, pisau Nilan Ming-hui yang pertama sudah melayang, sinar putih yang gemerlap langsung menuju dada Bing-lok dengan tepat.

Syukur secepat kilat Hun-cong keburu melesat terus menjepit pisau itu dengan jarinya, pisau itu hanya kurang tiga inci di depan dada Bing-lok.

Dalam keadaan gugup, Bing-lok telah membacok juga dengan goloknya, lekas Hun-cong menunduk dan menerobos lewat di bawah tajamnya golok musuh.

"Ming-hui, lekas kau sembunyi di dalam kereta,"

Seru Hun-cong pada Nilan Ming-hui.

Karena diteriaki begitu oleh Nyo Hun-cong, pisau Nilan Ming-hui tidak dilemparkan lagi, namun dia belum mau masuk ke dalam kereta, ia ingin menonton cara Nyo Hun-cong berkelahi.

Sementara itu, Bing-lok mana mau menerima begitu saja, goloknya telah membacok pula, anak buahnya pun mengembut maju, bahkan telah membagi tujuh.atau delapan orang pula memburu ke sana untuk menangkap Nilan Ming-hui.

Melihat gelagat sudah runyam, dalam hati Nyo Hun-cong diam-diam mengeluh.

"Celaka, urusan ini tidak dapat diselesaikan begitu saja!"

Kemudian ia putar tubuhnya yang gesit dan cepat, ia menerobos kian kemari di bawah sinar tajam golok dan tombak, tangan menutuk dan kaki melayang, dalam sekejap saja lebih dari tiga puluh orang itu semuanya termasuk Binglok sendiri telah ditutuk jalan darahnya.

Ada yang sedang hendak menubruk ke muka, ada pula yang berlagak mengangkat golok hendak membacok, tetapi semua ternyata tidak bisa bergerak, semuanya seperti terpaku di tempatnya masing-masing.

Nilan Ming-hui yang melihat keadaan begitu menjadi geli, ia tertawa cekikikan di atas keretanya, tetapi Nyo Hun-cong berbalik merasakan kegetiran yang susah diucapkan, ini sungguh kesalah-pahaman yang berat dan kini ditambah pula lebih dalam lagi, ia tidak berani membayangkan bagaimana kesudahannya nanti.

Dalam pada itu, tiba-tiba terdengar Nilan Ming-hui berseru girang.

"Pasukan Boan telah datang!"

Lekas Nyo Hun-cong melompat naik ke atas kereta, betul saja ia melihat dari jauh debu mengepul, lekas ia melompat turun lagi.

"Kalian lekas lari!"

Serunya pada Bing-lok.

"Pasukan Boan dengan kekuatan cukup besar telah datang kemari, biarlah kutinggal di sini untuk mencegah kedatangan mereka!"

Habis berkata begitu, segera ia seperti kupu-kupu yang menari menerobos kian kemari di antara orang-orang itu dan sebentar saja orang-orang itu sudah pulih kembali seperti semula, mereka sudah bisa bergerak lagi.

"Tetapi aku tidak mau menerima budimu!"

Kata Bing-lok dengan sengit.

Habis ini ia segera melompat ke atas kudanya dan pergi bersama orangorangnya.

Nyo Hun-cong lantas melolos pedang pendeknya, ia siap begitu pasukan Boan itu datang mendekat, setelah menenangkan diri, ia sendiri segera menerobos pergi mencari Hui-ang-kin buat menerangkan apa yang sebenarnya telah terjadi.

Selagi ia berpikir, rombongan pasukan Boan itu telah mendekat pula.

Di depan berlari dua orang, semula Nyo Hun-cong masih mengira tentu dua opsir tentara Boan, tetapi setelah ditegasi dari dekat, baru ia tahu, serdadu Boan sedang melepaskan panah di belakangnya, dan kedua orang ini mengayunkan pedangnya membabat datangnya panah itu, kadang-kadang mereka membalikkan badan untuk bertempur sebentar dan kemudian lari lagi.

Pasukan Boan itu semakin dekat, kini Nyo Hun-cong sudah bisa melihat jelas, kedua orang ini adalah laki-laki dan perempuan, yang laki berusia antara tiga puluhan lebih dan berdandan seperti sastrawan, ilmu silatnya tinggi sekali.

Sedang yang perempuan antara dua puluhan tahun, gerakannya pun tidak lemah.

Tiba-tiba hati Nyo Hun-cong menjadi girang sekali.

Yang wanita memang dia tidak kenal, tetapi yang lelaki itu adalah sahabat baiknya sendiri.

Lelaki itu adalah jago ternama dari Bu-tong-pay yang bernama Toh It-hang.

Menurut keterangan gurunya, Toh It-hang pun gemas akan keadaan di daerah dataran tengah, maka jauh-jauh telah menyingkir ke tempat yang sepi di daerah perbatasan ini.

Suhunya pun mengatakan bahwa Toh It-hang mempunyai Lwe-kang yang sudah mencapai tingkat sempurna, walaupun umurnya sudah dekat enam puluh tahun, tetapi kalau dilihat masih seperti tiga puluh tahun lebih.

Waktu Hun-cong masih berada di Thian-san, sudah beberapa kali bertemu dengan dia, Toh It-hang tidak menganggap dirinya lebih tua dari Nyo Huncong dan berkeras hendak bergaul sebagai saudara saja.

Tentu saja Hun-cong tidak mau menerima.

Belakangan baru ia tahu bahwa sebenarnya semula Toh It-hang hendak mengangkat guru pada Hui-bing Siansu.

Hui-bing Siansu menganggap orang sejak lama sudah menjadi jago atau ketua dari salah satu cabang tersendiri, yakni Bu-tong-pay, maka tidak mau menerima pengangkatan im.

Karena im juga, hubungan antara Toh It-hang dengan Hui-bing Siansu terbatas di tengah-tengah sahabat dan guru, di lain pihak Toh It-hang dengan Nyo Hun-cong pun terjalin di antara hubungan serupa itu.

Kini demi melihat Toh It-hang dikejar oleh tentara Boan, segera Nyo Huncong mengayunkan pedangnya dan maju memapaknya.

Ketika im Toh It-hang pun sudah mengenali Hun-cong.

"Laute (saudaraku), kau bersama dia menandingi empat 'kelinci' yang di belakang im, aku sendiri akan membuat kocar-kacir serdadu Boan yang lain,"

Katanya pada Hun-cong.

Habis itu ia lantas membalik badan dan menerjang ke arah musuh.

Nyo Hun-cong mengangkat kepalanya melihat pasukan Boan di sana, pasukan itu dipimpin oleh empat orang opsir.

Yang mengepalai ternyata adalah orang yang bernama Nikulo, yang dulu bersama Coh Ciau-lam mengerubuti dirinya di gurun pasir itu.

Pada saat im tiba-tiba terdengar suara seman dari belakang yang dikenal sebagai suara Nilan Ming-hui, dan lantas terlihat air muka Nikulo ada tanda-tanda curiga.

Nyo Hun-cong tidak sempat bertanya lagi, ia melangkah maju terus melayang ke depan, pedangnya mengikuti gerakan tubuhnya, sinar hijau segera menusuk ke dada Nikulo.

Tetapi Nikulo keburu menangkis dengan senjata Song-bun-co secepat angin.

"krek", suara senjata kawan Nikulo sendiri terbabat putus. Menyusul ia memberi satu tamparan telapak tangan, segera seorang opsir musuh yang lain terpental pula beberapa depa. Orang ketiga, kawan Nikulo memakai senjata tombak panjang yang beratnya tujuh puluh dua kati, dengan kuat ia menyongkel dengan tombaknya dan berbareng menusuk pula. Tetapi Nyo Hun-cong sempat menghindari ujung tombak itu, tangan kirinya diulurkan dan segera membetot tombak musuh.

"Roboh!"

Teriaknya.

Tidak diduga bahwa opsir Boan im adalah orang kuat ternama dalam pasukan Boan, walaupun ia tergopoh-gopoh karena terbetot oleh Nyo Hun-cong, akan tetapi ia belum jatuh dan masih coba mempertahankan tarikan musuh.

Nikulo yang melihat begitu, cepat mengambil kesempatan yang baik ini, senjata Song-bun-co telah digerakkan mengarah bagian bawah Hun-cong dan berbareng tangan kirinya menghantam pundak sebelah kanan Hun-cong dengan sekuat tenaganya.

Tiba-tiba dengan suara keras Nyo Hun-cong membentak.

Tombak panjang yang ia betot tadi mendadak didorong ke depan.

Opsir yang masih mempertahankan betotan Hun-cong tidak tahan lagi, ia menjerit dan tangannya berdarah, ia segera terpental pula beberapa depa jauhnya dan pingsan.

Dengan kecepatan yang luar biasa, Nyo Hun-cong membalik tubuh dan senjata Song-bun-co musuh segera terlempar ke udara karena sampukannya.

Sampukan Hun-cong ternyata tidak hanya sampai di situ saja, tapi juga telah mengenai tubuh musuhnya, yaitu Nikulo.

Di daerah Kwan-lwe, Nikulo yang terkenal dengan tangan besinya ini ternyata tidak tahan oleh kekuatan tangan Nyo Hun-cong yang hebat itu, badannya sampai mencelat tinggi beberapa depa ke atas seperti layang-layang putus benangnya.

Beruntung ilmu kepandaiannya sudah mempunyai dasar yang tinggi, ia berjumpalitan satu kali dan turun kembali di antara pasukannya yang kacau itu, segera pula ia angkat langkah seribu alias kabur.

Sementara itu.

Toh It-hang dan wanita muda tadi dengan pedang mereka telah mengamuk dan menerjang pasukan Boan, pedang mereka diobat-abitkan ke sana kemari, maka terdengarlah suara jeritan yang mengerikan.

Keadaan dengan cepat kembali sunyi, di sana-sini hanya terdapat mayatmayat serdadu musuh yang bergelimpangan dan banyak pula yang terluka atau lari.

Pasukan musuh dengan cepat telah bubar seperti awan tersapu angin.

"Hun-cong,"

Sapa Toh It-hang kemudian.

"Tidak nyana kepandaianmu telah maju begitu pesat."

"Tetapi aku masih mengharap petunjuk Susiok,"

Jawab Nyo Hun-cong. Toh It-hang kemudian melihat Nilan Ming-hui berada di atas kereta, ia agak terheran-heran. Nyo Hun-cong kuatir orang akan salah mengerti, maka ia lekas memberi tahu.

"Ia seorang diri telah terpencar dari rombongannya dan terlunta-lunta di padang pasir, aku berpikir hendak mengantarkannya pulang,"

Katanya.

"Itu adalah pantas,"

Ujar Toh It-hang.

"Sungguh kebetulan sekali, kau mengantar orang, aku pun sedang mengantar orang."

Setelah berbicara begitu Toh It-hang lantas memperkenalkan wanita muda tadi.

"Dia ini adalah anak gadis Susiokku, namanya Ho Lok-hua,"

Katanya.

"Aku hendak mengantar dia pulang ke pedalaman sana, lain hari jika kau bertemu dia, kuharap kau suka membantu dia."

Selesai bicara ia berpamitan dan segera berpisah dengan Nyo Hun-cong.

Hun-cong melihat air muka Toh It-hang seperti menunjukkan rasa sedih, apalagi hubungan antara mereka sebenarnya sangat kental, dalam keadaan biasa, tentu tidak berpamitan secara tergesa-gesa begitu, sekalipun dalam keadaan yang kalut juga pasti akan berbincang-bincang mengenai keadaan masing-masing selama ini.

Akan tetapi kini, bahkan nama Suhunya saja tidak ditanya sudah buru-buru berpisah, ini sungguh aneh sekali.

Ia tak mengerti orang pandai seperti Toh It-hang masih mempunyai urusan yang membuat ia begitu kuatir.

Agaknya Hun-cong tidak tahu bahwa sekali ini Toh It-hang tergesa-gesa meneruskan perjalanan adalah karena kuatir Pek-hoat Mo-li akan mencari dia untuk bikin perhitungan.

Begitulah, kemudian setelah Nyo Hun-cong dan Nilan Ming-hui berjalan beberapa hari lagi, mereka telah sampai di luar kota Ili (ibukota Sinkiang).

Sementara im, kesehatan Ming-hui sudah pulih, kembali ia menata rambut dan tersenyum pada Nyo Hun-cong.

"Kau tentu kurang enak jika masuk ke kota,"

Katanya kemudian.

"Sebaiknya nanti kalau sudah malam baru kau dan aku kembali ke sana, kereta ini kita buang saja."

Perasaan Hun-cong kini terasa sangat berat, laksana tertindih barang yang antap, iapun merasa sedih karena harus berpisah. Karenanya ia jadi termangu-mangu, sesudah agak lama baru ia bisa bersuara.

"Biar kau pulang saja ke sana sendiri, aku akan pergi, harap kaujaga dirimu baik-baik,"

Katanya kemudian. Akan tetapi Nilan Ming-hui dengan cepat sudah menahannya sambil menggenggam tangan Hun-cong.

"Tidak, kau jangan pergi, aku tidak perkenankan kau pergi,"

Katanya dengan tertawa.

"Kau harus menemani aku pulang, jangan kau takut, istana di mana kami tinggal sangat besar, sehingga kau tidak bisa kepergok ayahku. Aku punya seorang babu tua, ia baik sekali terhadapku, ia tinggal di suatu tempat di sudut timur istana im yang terdiri tiga rumah. Ya, terpaksa harus sedikit merendahkan dirimu, nanti kubawa kau menemui dia, dan minta dia mengaku kau sebagai keponakannya, sementara itu kau jangan sembarangan bergerak, tanggung tiada orang yang bisa mengenalimu."

Tetapi Nyo Hun-cong telah menggeleng kepalanya.

"Tidak mungkin,"

Katanya.

"Aku akan pergi mencari orang-orang Kazak saja."

"Dan masih ada lagi, Hui-ang-kin, bukan?"

Sambung Nilan Ming-hui dengan suara berat.

"Betul,"

Sahut Nyo Hun-cong dengan serius.

"Mengapa aku tidak boleh mencari dia, aku hendak mengetahui keadaan mereka dan suku-suku bangsa di daerah selatan sana setelah habis bertempur?"

Nilan Ming-hui tertawa pula sambil meleletkan lidahnya.

"Haya, Tuanku, hanya satu perkataanku saja lantas membuat kaumarah bukan?"

Ia menggoda.

"Siapa yang bilang kau tidak boleh pergi mencari Huiang-kin. Cuma menurut pendapatku, sehabis pertempuran besar im, di gurun pasir yang luas apakah begitu gampang mencarinya? Lebih baik sementara kau tinggal di sini dulu, sumber berita ayahku sangat luas dan cepat, dari semua tempat ada berita yang dikirimkan padanya, tentu ia bisa tahu suku-suku bangsa di daerah selatan im berada di mana, aku nanti akan mencari kabar bagimu, jika kau telah mengetahui di mana Hui-ang-kin berada, baru kau pergi mencari dia, kan belum terlambat!"

Nyo Hun-cong terdiam, ia pikir perkataan Ming-hui memang betul juga, kesempatan ini boleh sekalian aku gunakan buat mencari tahu keadaan musuh.

Malam im betul-betul Nilan Ming-hui telah membawa Hun-cong pulang ke dalam istana ayahnya secara diam-diam.

Setelah bertemu dengan babunya, ia menerangkan apa maksudnya, babu itu menjadi ketakutan sekali begitu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Tetapi babu im sangat sayang pada Ming-hui seperti anak kandung sendiri, ia tidak dapat menolak permohonan Nilan Ming-hui, akhirnya ia luluskan juga permintaannya.

Cuma saja babu itu pun minta syarat-syarat, di antaranya adalah Nyo Huncong tidak boleh bergerak di luar tiga ruangan rumah im.

Nyo Hun-cong pun menyanggupi syarat im.

Besoknya pagi-pagi sekali, secara diam-diam Nilan Ming-hui telah keluar pula, ke luar kota sana dan pulang dengan membawa keretanya.

Setelah ia menemui ayahnya, ia pura-pura berkata bahwa ia telah dapat melarikan diri dari pertempuran im.

Nilan Siu-kiat mengetahui anak gadisnya cukup pandai dalam ilmu silat, maka ia pun tidak curiga apa-apa.

Dengan begitu, sekejap saja telah lewat setengah bulan pula.

Nilan Ming-hui belum mendapat kabar tentang tempat Hui-ang-kin dengan orang-orangnya, satu soal lain yang datangnya mendadak telah menindih perasaannya seperti tertindih gunung.

Tekanan batin yang sangat menyakitkan dan meruwetkan pikirannya itu adalah seperti pada waktu ia sendiri mencurigai Nyo Hun-cong telah mencintai Huiang-kin, tekanan batin yang berat ini bagaimana pun tidak bisa dihilangkan begitu saja.

Dulu yang membuat tekanan batinnya adalah bayangan Hui-ang-kin, tetapi kini adalah seorang tamu yang ada dalam istana ayahnya.

Belasan hari sesudah dia pulang ke rumah, istana jenderal im telah kedatangan seorang tamu dari jauh.

Tamu ini bernama To Tok, usianya tahun ini baru dua puluh lima, tetapi dalam usia semuda im ia sudah menjabat pangkat Ting-wan-ciangkun, pangkatnya ini lebih tinggi daripada ayahnya.

Tidak hanya im saja, ia masih terhitung putra bangsawan dari keluarga kerajaan yang menjadi kesayangan raja, semua ini tidak dapat ditandingi oleh Nilan Siu-kiat.

To Tok yang dapat berpangkat tinggi dalam usia muda, sama sekali bukan karena ayahnya yang bangsawan, tetapi karena ia sendiri memang seorang lelaki yang perkasa di antara orang-orang Kijin dari bangsa Boan, sejak kecil ia suka ilmu silat, memanah, ilmu pedang dan menunggang kuda, dalam kalangan kaum muda setingkatannya, ia terhitung kelas satu di antara tentara Ki-jin.

Tiga tahun yang lalu, ia mengikuti maharaja menjajah ke barat, dan telah mengamankan daerah-daerah di sana, sehingga namanya segera tersebar harum di seluruh negeri, semua pejabat kerajaan siapa yang tidak mengagumi dirinya.

Usianya masih muda dan ia masih belum mengikat diri dengan gadis mana pun, banyak kaum bangsawan dan pejabat tinggi yang hilir mudik datang hendak merangkap jodoh dengan dia, akan tetapi ia mempunyai pandangan dan pilihan yang terlalu tinggi, satu pun belum ia pandang cocok untuk menjadi pasangannya.

Bakal istri idealnya jelas selain harus cantik laksana bidadari, harus pula pandai ilmu silat dan ilmu surat.

Tapi gadis yang sempurna begitu harus dicari di mana?

Sejak To Tok berumur tujuh atau delapan belas tahun sudah banyak yang hendak merundingkan perjodohannya, tetapi sekejap saja tanpa terasa kini ia sudah menginjak usia dua puluh lima tahun.

Di jaman permulaan dinasti Boan, lelaki yang sudah berusia dua puluh lima tahun tetapi masih belum mendapatkan jodoh, yang menjadi orang tua biasanya lantas menjadi kuatir.

Ayahnya, Ok Jin-ong atau pangeran Ok, waktu mendapat tahu bahwa jenderal dari Ili, Nilan Siu-kiat mempunyai seorang anak gadis berparas cantik molek, di antara bangsa Kijin boleh dikata tiada bandingannya.

Lebih jauh ia mendapat tahu gadis im baru berumur mendekati dua puluh tahun dan juga masih belum dapat jodoh.

Tadinya karena Nilan Ming-hui masih kecil, sementara im Nilan Siu-kiat sendiri kian kemari menjalankan tugas di daerah perbatasan sana, maka ayah To Tok tidak memperhatikan gadis itu, tapi kini setelah ingat, ia merasa selain gadis ini kiranya tiada yang lebih setimpal pula.

Kemudian setelah ayah-bunda To Tok membicarakannya dengan To Tok sendiri, pangeran ini pun sudah mendengar nama Nilan Ming-hui, bahkan paman seperguruannya, Nikulo, bertugas pula di bawah Nilan Siu-kiat, waktu To Tok masih bertempur di daerah barat sana, Nikulo pernah jauh-jauh datang dari Sinkiang menemui dia dan membicarakan diri Nilan Ming-hui, Nikulo telah memuji setinggi langit gadis itu.

Katanya gadis ini tidak hanya cantik laksana bidadari, tetapi soal ilmu silat pun jauh di atas jago-jago bangsa Boan umumnya.

Malahan dengan tertawa ia pernah berkata.

"Ciangkun, menurut penglihatanku, bisa jadi ilmu silatnya masih di atasmu!"

Keruan saja hati To Tok tergerak, tetapi karena belum melihat dengan mata kepala sendiri, ia masih belum puas dan percaya penuh.

Karenanya, waktu ayah-bundanya membicarakan dengan dia, ia lantas bilang.

"'Biarlah jangan bicara soal jodoh dulu, tunggu aku pergi ke Sinkiang melihatnya sendiri."

Kebetulan waktu itu suku-suku bangsa di daerah Sinkiang dengan gigih bangkit melawan pasukan Boan, Nilan Siu-kiat yang mengepalai tentara di kota Ili, walaupun mendapat beberapa kemenangan, tetapi masih tidak berdaya menindas kekuatan perlawanan rakyat gembala dari Sinkiang itu.

To Tok lantas mengajukan dirinya berkeliling ke Sinkiang, sudah tentu kaisar girang sekali dan segera menitahkan dia sebagai utusan raja dan pergi memeriksa situasi militer di Sinkiang, bahkan raja bilang padanya.

"Kau adalah seorang ahli militer kelas satu di antara bangsa Boan kita, kau berangkatlah ke sana dan memberi sedikit saran pada Nilan Siu-kiat."

Ternyata raja tidak mengetahui bahwa kepergian To Tok ke Sinkiang mempunyai maksud tujuan lain.

Setelah To Tok tiba di kota Ili dan tinggal di dalam istana jenderal, selain menjadi tamu agung Nilan Siu-kiat, sementara itu ia pun menjadi atasannya karena To Tok datang sebagai utusan raja.

Keruan saja Nilan Siu-kiat sangat memuji dia.

Nikulo yang mengetahui maksud kedatangan To Tok yang menjadi keponakan seperguruannya, diam-diam ia telah memberitahu pada Nilan Siu-kiat.

"Ciangkun, kuucapkan selamat, pangeran muda kita masih belum mengikat jodoh, dengan Siocia kita mereka sungguh merupakan pasangan yang setimpal,"

Katanya pada Nilan Siu-kiat. Mendengar itu hati Nilan Siu-kiat tergoncang keras, ia terkejut dan juga bergirang.

"Bagaimana aku berani mengharapkan,"

Sahutnya sambil tersenyum.

"Asal Ciangkun setuju saja, soal ini pasti akan jadi, hal lain-lain aku berani tanggung,"

Kata Nikulo pula.

"Walaupun ia adalah orang yang agung, tetapi kalau diurut ia masih keponakan seperguruanku, jika aku yang bicara pasti urusan ini akan beres."

Sebenarnya Nikulo sudah mengetahui maksud tujuan kedatangan To Tok, tentu saja tiada halangannya ia mendahului menjadi perantaranya.

"Ok Jin-ong jauh-jauh berada di Pakkia (Beijing), masakah kita yang berada di tempat yang sepi terpencil begini mendadak bisa membicarakan soal perjodohan dengan dia?"

Ujar Nilan Siu-kiat pula.

"Tentu juga tidak perlu begitu tergesa-gesa,"

Kata Nikulo.

"Biarlah mereka saling bertemu muka dulu, aku tanggung keponakanku im begitu tiba kembali di kota raja, pangeran tua tentu segera akan mengutus orangnya ke sini untuk melamar."

Sementara im Nilan Ming-hui walaupun mengetahui adanya seorang utusan raja yang bernama To Tok telah datang meninjau, tetapi semula ia tidak menaruh sesuatu pikiran dalam hatinya.

Pada suatu hari, ayahnya telah memanggil dan mengajaknya pergi bermain ke taman bunga di belakang istana, ayah anak berdua berjalan sampai di ruangan berlatih silat, tiba-tiba Nilan Siu-kiat dengan tertawa berkata pada gadisnya.

"Anakku, mari kita coba berlatih memanah."

"Wah, kiranya ayah akan menjajal aku,"

Sahut Ming-hui.

"Baiklah, berlomba pun boleh, hanya saja jika aku yang menang, apakah yang ayah akan hadiahkan padaku?"

"Aku akan memberimu hadiah barang yang paling bagus, supaya selama hidupmu terbenam dalam kejayaan dan kebahagiaan,"

Jawab Nilan Siu-kiat.

"Ayah, kau omong tak keruan, mana ada barang yang begitu bagus, aku tidak mengharapkan,"

Kata Ming-hui.

"Jika aku menang, cukup ayah menghadiahkan aku kulit banteng yang ayah dapatkan dari berburu."

"Hanya selembar kulit banteng terhitung apa? Baiklah kita berlomba!"

Kata Nilan Siu-kiat akhirnya.

Lalu ia mementang busur panahnya, tiga anak panah beruntun telah dia bidikan dan segera kena pada tanda merah di depan sana yang berjarak kirakira seratus tombak, lalu ia memanah dengan membalik mbuhnya, tiga anak panah segera menancap pula di tengah tanda merah, kemudian ia lemparkan busurnya dan tertawa panjang.

"Anakku, lihatlah, ayahmu masih belum begitu tua, bukan?"

Katanya "Ayah tentu masih belum tua"

Sahut Nilan Ming-hui seraya tersenyum.

"Ilmu memanah ayah bagus betul, tetapi anakmu kiranya juga tidak memalukan, lihatlah aku!"

Habis berkata begitu, satu anak panahnya telah menyambar ke angkasa menyusul ia bidikan satu anak panah yang lain, anak panah pertama yang baru turun telah terkena persis oleh anak panah kedua dua anak panah yang saling bentur segera naik pula ke atas dan kemudian jatuh semua.

Nilan Ming-hui seakan-akan tidak memanah dengan sungguh-sungguh, tetapi tangannya tidak henti-hentinya bergerak, berturut-turut ia lepaskan enam anak panah, tiap-tiap anak panah membentur anak panah yang lebih dulu dilepaskan.

"Ilmu memanah yang mengagumkan,"

Tiba-tiba terdengar suara pujian orang menyelingi suara tertawa Nilan Ming-hui, lalu dari belakang semak-semak sana terlihat muncul dua orang lelaki, yang seorang adalah Nikulo sedang yang lain adalah To Tok.

Waktu Nilan Ming-hui melihat Nikulo, mendadak ia teringat tempo hari waktu berada dalam satu kereta bersama Nyo Hun-cong dan telah dipergoki olehnya walaupun tidak mengetahui apakah waktu im orang melihat jelas dirinya atau tidak, tetapi air mukanya lantas berubah.

Nilan Siu-kiat lantas memegang tangan anak gadisnya dan hendak memperkenalkannya pada To Tok, di luar dugaan tiba-tiba Ming-hui meronta melepaskan tangannya dan berlari pergi.

"Sungguh tidak tahu aturan, harap pangeran jangan marah,"

Kata Nilan Siukiat pada To Tok sambil mengomel pada putrinya.

"Anak perempuan tidak tahu adat dan memalukan, ia tidak mengetahui kau adalah pangeran, ia memang takut bertemu dengan orang asing."

Padahal Nilan Ming-hui yang sudah biasa kian kemari di padang rumput luas itu, mana bisa disamakan seperti bangsa Han yang terlalu kokoh dalam adat pergaulan laki-laki dan perempuan, hanya Nilan Siu-kiat sendiri yang sengaja mengolok-olok anak gadisnya seperti Siocia bangsa Han saja.

Sementara itu, demi melihat Nilan Ming-hui, semangat To Tok sudah terbang ke awang-awang, ia tidak menduga di jagad ini betul-betul ada perempuan secantik bidadari, bahkan mempunyai keahlian silat yang begitu tinggi, dalam keadaan kesengsem terpesona pada hakikatnya ia tidak mendengarkan apa yang Nilan Siu-kiat katakan padanya tadi.

Sementara itu setelah Nilan Ming-hui lari balik ke rumah babu inangnya, diam-diam ia telah menceritakan pengalamannya itu kepada Nyo Hun-cong.

"Aku telah bertemu dengan orang yang dipanggil To Tok, dia masih sangat muda seperti dirimu,"

Demikian tuturnya.

"Hah! Jahanam ini, dengan maksud apa dia datang di daerah Sinkiang sini?"

Kata Hun-cong dengan gemas.

"Apakah ia datang ke sini buat menjagal pula rakyat-rakyat gembala? Hm, aku pasti akan menusuk dia hingga tembus!"

"Aduh! Begitu kejamnya,"

Kata Nilan Ming-hui dengan meleletkan lidahnya. Tapi Hun-cong diam saja dengan wajah yang marah. Karena itu Nilan Ming-hui lantas memeluk tubuhnya dan menggoyanggoyangnya.

"Baiklah tidak usah menyebut dia lagi, kau jangan marah. Ya, berceritalah padaku hal lain saja, maukah?"

Godanya. Hun-cong tertawa karena banyolan Nilan Ming-hui.

"Adalah berbahaya sekali kau berada di sini, kau masih banyak tugas lain yang agung, tidaklah menguntungkan jika sekarang kau mengajak To Tok berkelahi, sekalipun sepuluh To Tok juga tidak dapat dibandingkan kau seorang, dengarlah kataku dan jangan kau berbuat hal-hal yang begitu bodoh!"

Katanya kemudian pada Hun-cong.

Hati Hun-cong menjadi dingin kembali, ia merasakan hangatnya kasih sayang dari seorang gadis.

Kasih sayang begini ini tidak ia dapatkan dari Hui-ang-kin.

Hui-ang-kin masih punya kekurangan dasar kehalusannya sebagai seorang gadis, ia masih belum paham bagaimana harus mengutarakan perasaannya yang halus itu.

Tiba-tiba, semacam perasaan beruntung telah mengalir masuk lubuk hati Nyo Hun-cong bagaikan aliran listrik, ia peluk tubuh Ming-hui dengan kencang, pipinya digosokkan pelahan-lahan ke pipi Ming-hui, napasnya rada memburu tapi sepatah kata pun tak sanggup diucapkannya.

Ia hanya berpikir.

"Perkataan Ming-hui memang betul. Aku akan mengumpulkan orang-orang Kazak lagi untuk mengusir tentara Boan, berperang tidak bisa mengandalkan hasil dari pembunuhan satu-dua orang panglima musuh saja lantas segalanya bisa beres!"

Besoknya, hari kedua, seperti biasa Ming-hui pergi memberi selamat pagi pada ayahnya. Begitu melihat gadisnya ini Nilan Siu-kiat lantas bertanya dengan muka berseri-seri.

"Anakku, berapakah umurmu tahun ini?"

Demikian tanya orang tua ini.

"Ayah kok begitu pelupa, umur gadisnya sendiri saja tidak ingat lagi, sudah sembilan belas tahun, bukan?"

Jawab Nilan Ming-hui dengan mendekap mulurnya yang mungil. Atas jawaban gadisnya ini Nilan Siu-kiat tertawa terbahak-bahak.

"O, ya sudah sembilan belas tahun, ayahmu ini sungguh celaka, mempunyai gadis yang sudah berumur sembilan belas tahun masih belum mencarikan mertua baginya!"

Katanya lagi.

"Ayah, janganlah kau menggoda diriku,"

Ucap Ming-hui dengan air muka berubah.

"Ming-hui, kau tak usah malu-malu,"

Ujar Nilan Siu-kiat lagi sambil mengeluselus rambut gadisnya "Ayahmu sesungguhnya sudah menemukan jodoh yang setimpal bagimu, sekalipun mimpi kau pasti tak pernah menyangkanya!"

Keruan Ming-hui terperanjat, ia membuka matanya lebar-lebar karena kagetnya tetapi Nilan Siu-kial masih berbicara terus.

"Coba kau terka siapakah dia itu, ia bukan lain adalah To Tok, jika kau menjadi jodohnya, dengan sendirinya kau bakal menjadi permaisurinya!"

Begitulah Nilan Siu-kiat berkata sambil memandang gadisnya dengan tersenyum girang, sebaliknya Nilan Ming-hui tiba-tiba berteriak.

"Aku tidak mau kawin!"

Berbareng air matanya segera turun deras bagaikan hujan. Nilan Siu-kiat heran dan terperanjat sekali.

"Orang semacam ini tidak kau kawini, lalu siapa lagi yang inemdak kaupilih?"

Tanyanya dengan suara keras.

"Selain prJ*a mahkota yang ada sekarang ini, siapa lagi orang yang bisa membandingi dia? Kau ini, baiknya jangan terus berlaku seperti anak-anak saja!"

Tetapi mendadak Nilan Ming-hui menutup mukanya dan menangis tersedusedu.

"Aku tidak mau kawin dan juga tidak kepingin menjadi permaisuri segala,"

Sahutnya kemudian dengan suara serak.

Sudah tentu Nilan Siu-kiat menjadi marah, ia berjingkrak, berulang-ulang ia membanting kakinya.

Sementara itu, tiba-tiba dari luar kamar sana terdengar suara Nikulo yang melapor hendak bertemu.

Nilan Siu-kiat memberi tanda dengan tangannya dan berkata pada gadisnya "Baiklah, kau kembali ke kamarmu dan berpikir dulu, nanti kusuruh ibumu bicara denganmu."

Agaknya sedikitpun ia tidak mengerti hubungan Ming-hui dengan Nyo Huncong, malahan ia mengira gadisnya sengaja malu-malu kucing.

Dan sejak itulah, beberapa hari beruntun ibu Ming-hui terus mendekati gadisnya omong sana dan bujuk sini, tetapi ternyata Ming-hui masih tetap bandel dan hanya menangis saja.

"Coba kau pikirkan,"

Kata ibunya.

"Aku dan ayahmu hanya mempunyai seorang anak perempuan, di hari tua nanti pun mengharap bisa mendapatkan sandaran! Kau adalah Ki-jin, sedangkan To Tok adalah anak tunggal dari Ok Jin-ong yang dalam usia begitu muda sudah mendapatkan pahala begitu besar, apakah dari kalangan bangsawan bisa kau dapatkan orang kedua seperti dia?"

"Sementara itu, ia pun merupakan atasan ayahmu, jika kau tidak mengawuti dia coba pikirkan, apa ayahmu bisa mendapat kebaikan! Ming-hui, apakah kau hendak bikin susah ayah-bundamu? Kau biasanya begitu berbakti, tetapi mengapa sekali ini kau begini bandel, toh ayah dan ibu semua menginginkan kau bahagia!"

Kata ibunya mengakhiri.

Ming-hui mendengarkan petuah sang ibu yang panjang lebar ini, ia merasa seperti sambaran petir di atas kepalanya dan dia hanya terpaku hingga lama tak dapat mengeluarkan sepatah kata ibunya hanya menghela napas dan lantas tinggal pergi.

Setelah ibunya pergi pikiran Nilan Ming-hui segera tenggelam seperti gelombang ombak di tengah samudera yang tiada hentinya bergolak.

Ia sangat mencintai Nyo Hun-cong, tetapi Nyo Hun-cong adalah musuh besar pula dari ayahnya dan juga bangsanya jika ia dan Hun-cong terus saling cinta secara membuta begitu, bagaimanakah akibatnya Mereka sebenarnya tidak mungkin menjadi pasangan, apalagi seperti sekarang ini Nyo Hun-cong sembunyi di dekat dirinya tidak lebih hanya untuk sementara saja sekitarnya penuh musuh yang ingin mencelakainya walaupun Hun-cong mempunyai kepandaian setinggi langit, kalau hanya seorang diri terkurung di antara tentara musuh yang banyak tentunya sangat berbahaya sekali.

Jika dirinya ingin mendapat kesudahan yang baik, jalan satu-satunya dirinya ikut pergi bersama Nyo Hun-cong dan ikut memanggul senjata melawan kedua orang tua dan bangsanya.

Akan tetapi, ini adalah tidak mungkin, ia adalah gadis tunggal dari ayahbundanya melawan orang tua itu sungguh tidak pernah ia bayangkan, ia mencintai Nyo Hun-cong, tapi ia pun mencintai kedua orang tuanya.

Ia tidak tahu harus mengorbankan siapa di antara mereka ia terus berpikir selama sehari semalam.

Beruntun hingga beberapa hari Nyo Hun-cong tidak melihat Nilan Ming-hui datang menemui dirinya ia sendiri merasa heran, malam ini ia termenung di dalam kamarnya tiba-tiba Ming-hui muncul.

Beberapa hari tidak bertemu, ternyata gadis ini sudah banyak kurus, matanya merah bengkak, keruan Huncong menjadi kaget, lekas ia bertanya.

Akan tetapi tanpa menjawab Nilan Ming-hui telah menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Nyo Hun-cong dan menciumnya berulang-ulang dengan mesra ia memeluk dengan sangat erat.

"Ming-hui, soal apakah yang membuat kau begini, katakanlah pada orang yang paling mencintaimu dan jangan terus bungkam,"

Kata Hun-cong sambil mengelus rambut si gadis dengan suara penuh kasih sayang.

"Sungguhkah kau mencintai aku, mati atau hidup tidak bakal berubah cintamu?"

Tanya Nilan Ming-hui tiba-tiba.

"Apakah perlu aku rogoh dan menunjukkan hatiku?"

Sahut Nyo Hun-cong. Karena jawaban ini, di luar dugaan mendadak Ming-hui berseru.

"Jika kau betul-betul mencintai aku, baiklah, kuharap kau segera meninggalkan diriku!"

"Apa katamu?"

Tanya Hun-cong dengan kaget.

"Ya biarlah aku yang akan menerima segala penderitaan, aku tidak menginginkan kau menghadapi bahaya di sini!"

Kata Ming-hui dengan menangis.

"Ming-hui, mengapa kau berkata begitu,"

Ujar Hun-cong.

"Aku pasti akan melindungi dirimu sekuat tenagaku, apakah kau mengira aku tak mampu membela dirimu? Kalau tidak, marilah kaupergi denganku, padang rumput yang demikian luas, apakah kau masih kuatir tidak bisa mendapatkan tempat untuk berteduh?"

Tetapi dengan pelahan-lahan Ming-hui melepaskan genggaman tangannya "Kita tidak mungkin menjadi suami-isteri, tidak mungkin!"

Ratapnya pula.

"Mengapa tidak mungkin?"

Seru Hun-cong sambil melompat, ia seperti terkena sekali cambukan, hatinya terpukul.

"Sudahlah tak usah kau tanya lagi! Kita telah ditakdirkan tidak bisa berkumpul menjadi satu. Ya siapa yang menyuruh kau adalah bangsa Han?"

Kata Ming-hui pula.

Mendengar itu, muka Nyo Hun-cong berubah, teringat olehnya dia ini adalah anak gadis musuhnya sekilas hati sanubarinya seperti sedang menegur padanya "Hai!

Nyo Hun-cong, sadarlah, bukankah memang begitu.

Bagaimana kau bisa terus tergoda oleh gadis musuh."

Hatinya ternyata tidak dapat memahami perasaan yang lemah dari Nilan Ming-hui.

Setelah pemuda ini tahu bahwa Ming-hui tidak bersedia ikut dengan dirinya, hatinya terasa seperti teriris-iris oleh senjata tajam, ia menjadi salah sangka bahwa Ming-hui masih tetap berdiri di pihak ayahnya.

Begitulah, maka selagi Nyo Hun-cong hendak mendorong pergi Nilan Ming-hui, tetapi demi melihat mukanya yang penuh air mata, tangannya lantas dilepas lagi.

Saat lain Nilan Ming-hui telah memeluk dirinya pula dengan kencang.

"Sebelum kita berpisah, aku mohon kau jangan gusar dan jangan memarahi diriku,"

Serunya dengan suara serak.

"Ming-hui, aku selamanya tak akan menyesali dirimu!"

Kata Hun-cong pasti dengan menghela napas.

"Ya, aku tahu kau mencurigai diriku, tetapi percayalah, untuk menghilangkan kecurigaanmu im, aku bersedia menyerahkan segala milikku padamu, walaupun kita tidak dapat menjadi suami-istri, tetapi aku tetap masih menjadi istrimu,"

Kata Ming-hui.

"Ming-hui, janganlah kau berkata demikian!"

Ujar Hun-cong dengan perasaan hancur.

Akan tetapi sesaat im, bibirnya sudah terkancing oleh bibir Nilan Ming-hui yang halus lemas sampai ia hampir tak dapat bernapas.

Pelahan-lahan, ia lupa diri, ia telah merasakan sesuatu kebahagiaan untuk pertama kali dalam kehidupannya, tetapi merupakan pula penderitaan bagi kehidupan selanjutnya.

Sewaktu Hun-cong sadar kembali, Nilan Ming-hui sudah tak terlihat, dalam kamar hanya tinggal keadaan yang kosong dan gelap.

Hun-cong menghela napas dan berkata dalam hati.

"Aku harus pergi sekarang juga!"

Selagi ia akan bebenah buntalannya untuk berangkat, tiba-tiba jendelanya dibuka orang, menyusul telah melompat masuk seorang lelaki.

"Nyo Hun-cong, kau harus pergi sekarang juga!"

Bentak orang im yang ternyata bukan lain daripada Nikulo. Nyo Hun-cong melompat bangun.

"Nikulo, apa kaucari mampus!"

Bentaknya pula.

"Aku bukan tandinganmu, itu aku cukup tahu,"

Kata Nikulo.

"Tetapi jika aku takut dibunuh olehmu tentu tak nanti aku datang kemari. Sudah lama aku mengetahui kau berada di sini, kau telah mencintai Siocia kami, bukan?"

"Kau tak perlu urus!"

Sahut Hun-cong dengan gusar.

"Hm, kauanggap dirimu seorang pahlawan, tetapi aku melihat dirimu sedikitpun tiada tanda-tanda kepahlawanan!"

Kata Nikulo menyindir. Mendengar sindiran im, Nyo Hun-cong mendelik matanya.

"Di manakah letak kesalahanku, coba katakan!"

Teriaknya sengit.

"Jika kau sungguh-sungguh mencintai Nilan Ming-hui Siocia, mengapa kau tidak memikirkan dirinya,"

Kata Nikulo.

"Tahukah kau bahwa dia sudah mempunyai orang dalam hatinya, jika bukan tahun ini tentu tahun depan ia sudah akan menikah, suaminya beribu kali lipat lebih baik daripada dirimu, mengapa kau masih terus menggoda dia dan membikin dia menderita!"

"Siapa bakal suaminya?"

Tanya Nyo Hun-cong dengan membentak.

"Taiciangkun To Tok!"

Jawab Nikulo.

Baru habis perkataannya, mendadak ia menjerit sekali, ternyata ia sudah roboh di atas tanah, Nyo Hun-cong bergerak secepat kilat, ia tutuk 'Nuimoa-hiat' Nikulo.

Tempo hari sewaktu Nikulo mengejar Toh It-hang di padang rumput, pernah ia memergoki Nyo Hun-cong berbarengan dengan Nilan Ming-hui, waktu itu meski Nilan Ming-hui dengan cepat telah bersembunyi dalam kereta, akan tetapi dengan jelas Nikulo sudah dapat melihat orangnya, kejadian ini terus ia simpan dalam hati.

Beberapa hari ini waktu ia berbincang dengan Nilan Siukiat dan mengetahui Nilan Ming-hui tidak mau mengawini To Tok.

Nilan Siukiat juga berkali-kali menghela napas, walaupun tidak terus terang diceritakan, tetapi Nikulo sudah menduga tentu ada sebab-sebabnya.

Setelah ia pikir, ia mendapatkan satu akal, maka malan-malam ia datang menemui Nyo Hun-cong dan hendak membuat pemuda ini pergi dengan perkataannya.

Demikianlah, maka sesudah Nyo Hun-cong menutuk roboh Nikulo, hatinya masih merasa gusar dan juga tertusuk, ia mestinya sudah hendak angkat kaki, tetapi karena omongan orang tadi, pikiran lain segera timbul dalam hatinya.

"Coba aku lihat-lihat ke dalam istana sana, toh aku memang hendak menyelidiki keadaan musuh."

Ia segera melayang keluar jendela, dalam keadaan gusar dan benci, hakikatnya ia sudah tidak memikirkan bahaya bagi jiwanya lagi.

Tidak lama kemudian, di istana jenderal telah kedatangan tetamu yang tak diundang, dengan mendekam di atas atap ruangan tengah dan sedang mengintip ke bawah, orang ini adalah Nyo Hun-cong.

Kebetulan di ruang pendopo itu sedang duduk bercakap-cakap antara Nilan Siu-kiat dan To Tok, Nyo Hun-cong telah siap dan berjaga-jaga, ia memegang kencang pedangnya, ia pikir mereka tentu sedang mempersoalkan perjodohan Nilan Ming-hui, biarlah aku mendengarkan apa yang mereka percakapkan, walaupun aku harus tewas di padang pasir sini, sedikitnya aku akan memberi sekali tusukan lebih dulu pada jahanam To Tok ini.

Tengah ia berpikir, terdengar Nilan Siu-kiat lagi berkata.

"Khim-ce-tajin (paduka tuan utusan), biarlah kita giring kedua orang Hwe itu untuk diperiksa, bagaimana?"

Mendengar percakapan ini Hun-cong menjadi heran.

"Aneh, ternyata mereka bukan sedang mempersoalkan perjodohan, melainkan sedang merembuk orang Hwe apa yang kurang jelas!"

Ia tak tahu bahwa soal perjodohan Ming-hui harryi berjalan di belakang layar saja, menunggu ayah To Tok yang jauh berada di kota raja, menurut kebiasaan atau adat isi-adat kaum bangsawan, untuk mencari putri pangeran bukan soal sederhana, tentu tidak mungkin diselesaikan begitu saja oleh To Tok sendiri.

Kali ini mereka berkumpul, yang diurus justru betul-betul adalah urusan 'dinas' dan sedang akan buka sidang memeriksa orang Kazak yang tertawan.

Maka setelah perintah Nilan Siu-kiat dilaksanakan, tidak lama kemudian barisan pengawal menggiring masuk seorang lelaki dan seorang perempuan.

Begitu melihat kedua orang ini, darah Nyo Hun-cong seketika membara, ternyata yang lelaki itu adalah adik angkatnya sendiri, Mokhidi.

Sejak terpencar karena serangan angin topan di gurun Taklamakan, Hun-cong tak pernah bertemu pula dengan Mokhidi.

Waktu sedang mencari 'sumber air hitam', ia telah bertemu dengan adik angkat yang lain, Asta, tetapi Asta pun tidak mengetahui mati hidup Mokhidi, tidak diduga kini malahan bertemu di dalam istana jenderal sini, bahkan di samping Mokhidi masih ada pula seorang nona bangsa Kazak yang cantik.

Mokhidi dan nona itu J;borgol dengan rantai yang besar sementara Nilan Siukiat telah membentak menyuruh mereka berlutut, tetapi ternyata mereka berkepala batu, mereka malah melengos dengan angkuh.

"Orang gagah!"

Puji To Tok dengan mengacungkan jempolnya.

"Kau orangorang Kazak kini berkumpul di mana, bicaralah padaku, aku m ~"ghargai lelaki yang gagah, maka aku berjanji padamu boleh kcn pergi menawarkan penaklukan bagi mereka, sedikitpun aku tidak akan mencelakai bangsamu!"

"Siapa percaya dengan omongan bangsa Boan-ciu!"

Sahut Mokhidi dengan gusar dan berani.

"Hm, arak suguhan tidak diterima, tetapi minta arak dendaan, baik, seret dia dan segera rangket!"

Bentak Nilan Siu-kiat dengan gusar.

Akan tetapi belum habis suara perkataannya, tiba-tiba terdengar suara bentakan keras.

Nyo Hun-cong telah melayang turun dari atas genting, pedangnya laksana sambaran kilat, dengan cepat telah menusuk muka To Tok.

Ketika To Tok melihat Nyo Hun-cong mendadak melompat turun dari atas dan sinar pedangnya menyambar menusuk mukanya, ia berteriak sekali dan berbareng angkat sebuah kursi di sampingnya terus ditangkiskan.

Maka terdengarlah suara berantakan, kursi itu telah terbelah menjadi dua, To Tok segera memukul pula dengan kepalannya, akan tetapi Hun-cong tidak gampang terkena, pada saat lain sebelah kakinya telah melayang, seketika musuli terjungkal menyusul pedangnya hendak ditusukkan pula.

Akan tetapi tiba-tiba ia melihat Nilan Siu-kiat dengan tidak mempedulikan jiwanya sendiri telah merangkul tubuh To Tok sambil mendelik padanya.

"Tidak kuperkenankan kau mencelakai ayahku!"

Demikian tiba-tiba perkataan yang pernah diucapkan oleh Nilan Ming-hui mendadak berkumandang di telinganya.

Karena itulah Nyo Hun-cong merandek dan terlambat sedikit, sementara im Nilan Siu-kiat dengan masih merangkul To Tok telah menggelinding pergi sejauh beberapa depa, barisan pengawal pun lantas datang mengurung.

Nyo Hun-cong menjadi gusar sekali, ia membentak dengan suara menggeledek.

"Yang merintangi aku mati!"

Segera pula pedangnya menusuk dan telapak tangannya membelah, sekejap saja ia telah dapat menewaskan lima orang, dengan satu lompatan, pedangnya segera diayun beruntun, rantai yang memborgol diri Mokhidi dan nona im lantas putus menjadi dua.

"Dapatkah kalian naik ke atas rumah?"

Tanyanya. Perempuan muda itu memanggut.

"Ayo, pergi!"

Ajaknya, lalu ia mengadang di belakang dengan pedangnya, ia melindungi kawan-kawannya dan melompat ke atas atap rumah, sementara im anak panah dari bawah telah berhamburan laksana hujan.

Hun-cong melepaskan baju luarnya, ia menggunakan tenaga dalamnya, bajunya dikebutkan naik turun, anak panah yang tersapu oleh baju panjang im lantas berserakan tak keruan, tidak lama mereka bertiga sudah lepas dari bahaya dan telah berada di luar istana.

Sewaktu Nyo Hun-cong mengenakan bajunya kembali, ternyata baju im masih baik-baik saja, satu lubang kecil pun tiada.

"Nyo-taihiap sungguh luar biasa!"

Mokhidi memuji. Hun-cong hanya tersenyum saja, segera ia membawa mereka melalui jalan kecil dan keluar dari kota. Setelah berada di luar kota, Mokhidi berkata pada perempuan muda tadi.

"Inilah orang yang selalu aku bicarakan padamu im, Nyo-toako, Nyo Hun-cong Taihiap!"

Maka tanpa ayal wanita muda im segera memberi hormat.

"Ia adalah nona-yang selalu kukatakan padamu itu, namanya Malina,"

Kata Mokhidi sambil memperkenalkan wanita muda im pada Nyo Hun-cong.

Malina adalah sahabat baik Mokhidi sejak masih kanak-kanak, mereka sering perg, berburu bersama, belakangan ia ikut keluarganya pindah ke aaerah selatan, karena im hubungan mereka pun terputus, tetapi Mokhidi masih selalu merindukan gadis ini.

Asta suka menggoda mereka berdua, maka begitu Hun-cong mendengar gadis ini ialah Malina, ia lantas mengerti apa artinya.

Tentang kisah Mokhidi sejak serangan topan itu sederhana saja, pada hari terjadinya angin ribut, akhirnya ia bertemu serombongan saudagar yang akan menuju ke selatan, justru di antara mereka terdapat pula keluarga Malina, maka Mokhidi lantas menggabungkan diri bersama mereka dan telah bertemu kembali dengan Malina.

Waktu itu di perkampungan mereka sedang diadakan perayaan dan permainan 'domba nakal', kaum muda menunggang kuda saling berkejaran, ada juga yang mengajak Malina, tetapi ia selalu menolak, sedang ia merasa kesepian, kebetulan Mokhidi telah tiba, keruan gadis im kegirangan dan bersorak.

Segera pula Malina memohon pada kakaknya untuk menyediakan seekor kuda bagi Mokhidi, dan tanpa bertanya bagaimana keadaannya sesudah berpisah, mereka bersama pergi bermain 'domba nakal'.

Begitu pemuda-pemuda lain mengetahui bahwa mereka adalah kekasih lama yang bertemu kembali, semuanya ikut bergembira juga.

Begitulah setelah Hun-cong mendengar cerita itu, ia lantas memberi selamat juga pada mereka.

Ketika berbicara tentang tempat berkumpulnya orang Kazak di daerah selatan, ternyata jarak dengan tempat di mana Hui-ang-kin menetap tidak lebih dari tiga ratus li, hanya saja karena di padang rumput yang luas, sedang bangsa gembala yang kian kemari berpindah tiada menentu, maka saling tidak mengetahui.

Bangsa Kazak adalah bangsa yang baru berpindah ke daerah selatan, kecuali rombongan keluarga Malina masih ada pula beberapa kelompok lainnya.

Lalu Nyo Hun-cong bertanya pula bagaimana sampai mereka bisa tertawan, mendengar pertanyaan ini muka Mokhidi segera berubah menjadi gemas.

"Nyo-taihiap,"

Katanya kemudian.

"Kau baik dalam segalanya, hanya satu hal saja yang tidak baik!"

"Apa yang tidak baik?"

Tanya Nyo Hun-cong dengan heran.

"Kaupunya seorang Sute yang busuk, mengapa kau tidak memberi ajaran padanya?"

Sahut Mokhidi sengit.

"Ya, itu memang kesalahanku!"

Kata Hun-cong.

"Tetapi aku pun belum lama ini baru tahu ia telah berubah begitu busuk. Kenapa, ada soal apa lagi antara kamu dengan Coh Ciau-lam?"

"Justru dialah yang telah menawan kami dari padang rumput Garsin dan terus digusur ke kota Ili,"

Sahut Mokhidi pula.

"Apakah dia yang telah menggiring kau ke sini?"

Tanya Hun-cong.

"Kalau begitu tentu ia kini masih berada di Ili, biarlah aku kembali ke sana untuk menangkap dia!"

"Bukan dia yang datang sendiri, kini ia sendiri malah sedang repot,"

Tutur Mokhidi.

"Ia sedang berangkat pergi bersama satu pasukan tentara untuk menduduki satu benteng antara tiga puluh li di padang rumput Garsin dan terus mengincar gerak-gerik kami. Ia telah mengirim satu orang datang pada kami dan meminta orang Kazak harus bekerja dan memberi rangsum padanya, sudah tentu kami tidak mau dihina. Kepala suku kami telah mengusir pergi utusan itu, tetapi mendadak pada malam buta ia telah datang sendirian dan menawan pergi anak kepala suku kami sebagai jaminan. Sungguhpun demikian, kepala suku kami tetap membandel dan tak menggubris padanya, tetapi bagaimanapun juga kasih sayang ayah anak yang dahm tidak bisa diabaikan, maka diam-diam ia telah menyuruh kami pergi menyelidiki."

"Ya, memang, kau dan Asta termasuk orang yang pating perkasa di antara bangsa Kazak, kau telah sampai di daerah selatan sini tentu saja ia menugaskan kamu, aku kira kepala suku tentu ingin kau diam-diam merebut kembali anaknya, bukan?"

Ujar Nyo Hun-cong.

"Ya, memang betul!"

Sahut Mokhidi.

"Ia tidak mengetahui kepandaian silatku sebenarnya masih jauh dibandingkan Coh Ciau-lam. Akan tetapi, aku tentu tak dapat menolak perintah itu, bukan? Walaupun aku tidak dapat menandingi Coh Ciau-lam, tetapi kau tentu sudah tahu bahwa kami bangsa Kazak selamanya tidak pernah takut pada musuh yang lebih tangguh, aku toh tidak bisa membuang muka bangsaku dan mengatakan bahwa aku tidak berani pergi bukan? Lagi pula aku juga tidak takut padanya, kupikir jika bertemu dia paling banyak hanya mati, buat aku itu bukan masalah. Sementara itu supaya ia mengetahui bahwa di antara bangsa Kazak kami juga ada pahlawan yang tak gentar mati, ia telah menyerang kami waktu tengah malam, kami pun sanggup memberikan perlawanan!"

"Bagus, kau tidak malu melakukannya sebagai saudaraku!"

Puji Hun-cong sambil mengacungkan jempolnya atas keberanian dan jiwa pahlawan orang.

Ia memuji Mokhidi dengan sungguh-sungguh, bahkan diam-diam ia sendiri merasa malu.

Mokhidi dan Malina adalah kekasih yang sudah lama baru bertemu kembali, baru berkumpul beberapa hari, Mokhidi sudah rela mempertaruhkan jiwanya untuk mempertahankan keagungan nama bangsa Kazak, perkataannya begitu tegas, sedikitpun tanpa sangsi, seperti hal itu sudah sepantasnya demi keadilan.

Ia juga percaya dirinya sendiri, jika dalam keadaan mendesak, ia pun dapat memandang kematian seperti kembali ke asalnya saja, akan tetapi kini ia ternyata tidak dapat memutuskan perasaannya terhadap anak gadis musuhnya itu.

"Terus terang saja, Toako, aku sebenarnya juga tak tega meninggalkan Malina,"

Kata Mokhidi pula.

"Sebelum aku berangkat telah kukatakan padanya bahwa kepergianku kali ini tiada harapan hidup, karena pihak musuh jauh lebih lihai dari diriku, aku telah katakan padanya, sesudah aku mati, agar menjaga diri baik-baik dan jangan mengenangkan diriku, di antara bangsa kita masih banyak pemuda perkasa, janganlah berbuat bodoh, harus memilih satu yang baik di antaranya dan kawinlah dengan dia serta boleh berikan namaku untuk nama anaknya yang pertama, dengan begitu aku sudah cukup puas."

"Tak tahunya nona bodoh ini malahan mengalirkan air mata,"

Mokhidi menutur lebih jauh.

"Tetapi lekas pula ia menyusut kering air matanya dan dengan nekat hendak pergi bersama aku, aku tidak memperkenankan, ia lantas akan bunuh diri di hadapanku, ia telah berkata pula bahwa aku memandang enteng pada wanita, katanya lelaki bisa pergi mengapa wanita tidak dapat pergi. Aku katakan pada Malina, aku tahu dia juga mengerti ilmu silat, tetapi hendak berterus terang padanya, sekalipun ditambah dirinya juga masih bukan tandingan musuh! Tetapi Malina sedikitpun tidak mau mengerti, ia berkata dengan tertawa, jika mau mati biarlah mati bersama, dengan begitu biar musuh tahu juga bahwa wanita bangsa Kazak pun mempunyai pahlawan yang tidak boleh dibuat permainan! Ia berbicara demikian serius dianggapnya mati bersamaku adalah hal yang tidak perlu dipikirkan lagi!"

Nyo Hun-cong terharu sekali mendengar cerita ini, matanya telah basah mengembeng air mata.

"Nona Malina kau hebat sekali!"

Katanya kemudian dengan tersenyum.

Lalu ia teringat pada Nilan Ming-hui, Ming-hui tidak bersedia meninggalkan ayahnya dan ikut dia.

Menghadapi Malina, perasaannya kagum dan juga girang serta getir pula, ia kagum dan girang bagi diri Mokhidi yang bisa mendapatkan gadis yang begitu baik dan getir untuk dirinya sendiri.

"Nyo-taihiap, kau jangan percaya omongannya,"

Kata Malina tersenyum.

"Urusan kecil ini tidak berharga dibuat cerita, ia telah menambah dan membumbui seperti perbuatan yang seharusnya dilakukan itu adalah hal-hal yang luar biasa, sungguh menjemukan!"

Hun-cong menepuk-nepuk pundak Mokhidi.

"Saudaraku yang baik,"

Katanya.

"Ceritamu sangat menarik, ceritakanlah terus. Malina kelihatannya mengomeli-mu, tetapi sesungguhnya ia sangat menyayangi kau, apa yang ia perbuat memang hal yang luar biasa dan kau sedikitpun tidak membesar-besarkan."

"Wah, Nyo-taihiap, kau malahan menyokongnya, tentu akan makin membuat dia lebih besar kepala lagi!"

Kata Malina.

"Kemudian aku dan nona Malina malam-malam lantas mengunjungi benteng Coh Ciau-lam,"

Sambung Mokhidi.

"Akan tetapi belum kami ketemukan anak kepala suku, kami telah kepergok lebih dulu oleh Coh Ciau-lam. Coh Ciau-lam sudah kenal padaku, maka kami berdua bertempur mati-matian. Sungguh kurang ajar sekali, jika dia membunuh kami tentu sudah beres, justru ia hanya mengurung kami dengan pedangnya, kami tidak bisa melukai dia, sedang pedangnya hanya berkelebat ke sana-sini sekitar kami sambil berseru agar kami menyerah, sudah tentu kami marah sekati, dengan tak memikirkan jiwa lagi kami telah menubruk ujung pedangnya, entah mengapa segera kami merasa lemas tak berdaya terus roboh ke tanah.

"Kamu telah kena ditutuk,"

Kata Nyo Hun-cong.

"Aku pun pernah mendengar kau cerita ilmu menutuk ini, tetapi tak tahu kalau begitu lihai!"

Kata Mokhidi pula.

"Setelah ia menawan kami, ia lantas berkata, bagus sekali Mokhidi, sudah lama aku tahu kau adalah pahlawan yang gagah dari bangsa Kazak dan tangan kanan Nyo Hun-cong, baiklah, aku harus memberimu sedikit kegetiran, supaya kau tahu. Malina juga dikenal orang sebagai nona yang paling berani dari wanita Kazak, musuh selalu menyebut demikian padanya. Lantas Coh Ciau-lam merangket kami masing-masing dua puluh kali, kami sudah tak bisa bergerak lagi karena pukulan-pukulan' itu, kemudian ia baru memerintahkan orang menggiring kami ke kota Ili sini dan diserahkan kepada orang yang disebutnya Nilan-ciangkun."

"Setelah kami berada di Ili,"

Sambung Mokhidi lebih lanjut.

"Lantas kami di penjara dalam istana Ciangkun, orang-orang di situ sedikit ramah kepada kami, setiap hari ada ikan dan arak, kami pikir paling banyak hanya mati, tidaklah rugi kalau makan sepuasnya. Malina yang melihat selera makanku begitu malah berkuatir atas diriku, katanya 'Hai, Mokhidi, kau perlu hatihati, jangan masuk perangkap musuh, mereka meladeni kita begini adalah memakai cara halus hendak membuat kita menyerah padanya kau jangan percaya pada belas kasihan harimau dan senyuman serigala' Aku tertawa terbahak-bahak oleh ucapan Malina ini, aku telah katakan padanya kau dan aku walaupun sudah berpisah beberapa tahun, namun apakah kau tidak tahu apa artinya kesedihan, di sini ada makanan, ada minuman, buat apa sungkansungkan, jadi setan yang sudah kenyang lebih baik daripada setan kelaparan. Karena aku membanyol ia tertawa, belakangan ia sendiri malahan makan lebih banyak dan lebih bemapsu daripada aku,"

Kata Mokhidi mengakhiri ceritanya.

"Nyo taihiap jangan kau dengar dia, aku mengerti dia adalah lelaki yang baik, betul atau tidak?"

Sahut Malina sambil mendekat.

"Mokhidi,"

Kata Hun-cong dengan sungguh-sungguh.

"Kau beruntung sekali, kau mempunyai nona yang begitu memperhatikan dirimu, adalah beribu kali lebih baik daripada berpeluk cium padamu!"

"Mokhidi, aku pasti membalaskan sakit hatimu ini, aku akan menawan Coh Ciau-lam dan akan kuserahkan padamu untuk balas dirangket masing-masing empat puluh kali,"

Katanya kemudian.

Sepanjang jalan mereka bertiga saling menceritakan keadaan masing-masing selama berpisah, setelah berjalan lima enam hari, mereka telah memasuki padang rumput yang luas dan sudah jauh sekali dari Ili.

Pada suatu hari, mereka sampai di suatu pos pemberhentian di padang rumput itu, yakni tempat untuk menambali makanan kuda dan tempat penginapan untuk orang lewat, m sekitar tempat pemberhentian itu ada warung-warung makan yang menjual daging kuda dan arak.

Mereka masuk ke sana untuk minum, tiba-tiba mereka melihat ada tujuh delapan serdadu Boan sedang makan di sana.

Terdengar percakapan mereka.

"Nikulo sesumbar kepandaiannya adalah ajaran guru silat ternama dari Kwan-lwe, tetapi dalam perkelahian ternyata sedikit pun tak berguna, ratusan orang kita telah dipukul morat-marit oleh tiga orang saja, kalau kita yang tak berkepandaian ini tak usah dipersoalkan, tetapi dia begitu saling gebrak sudah lantas melarikan diri?"

"Dia adalah Toh It-hang yang kita kejar, katanya adalah jagoan dari golongan Bu-tong, di samping dia masih ada seorang pemuda yang katanya lebih lihai lagi, ia adalah Nyo Hun-cong yang namanya telah menggetarkan seluruh Sinkiang utara, aku tidak pernah kenal, apakah betul dia?"

Kata seorang yang lain.

"Aku percaya omongan Nikulo, hari itu dengan mata kepalaku sendiri aku telah melihat orang she Nyo im menangkap dan melemparkan beberapa kapten kita seperti elang mencengkeram ayam saja, aku kira kalau bukan Nyo Huncong, orang lain pasti tak memiliki kepandaian yang begitu tinggi!"

Bercakap sampai di sini, sekilas serdadu yang berbicara ini tiba-tiba melihat Nyo Hun-cong sedang minum di pojok-an sana, keruan ia terkejut dan gugup sekali.

"Lekas lari, lekas selamatkan jiwa!"

Teriaknya cepat.

Serdadu-serdadu yang lain menjadi bingung tak mengerti, di samping sana Hun-cong dengan enaknya masih minum araknya terus dan tak mempedulikan mereka.

Serdadu-serdadu lain yang melihat kawannya berteriak ketakutan, segera ada beberapa orang lain yang melihat Nyo Hun-cong, seketika suara teriakan ketakutan bergemuruh dan berebut lari keluar.

Akan tetapi, tiba-tiba di tempat pemberhentian im muncul seorang nenek tua yang mengadang di tengah jalan sambil mementangkan kedua tangannya, tanpa ampun segera beberapa serdadu itu terpental kembali ke dalam warung arak im, dua serdadu yang lain bermaksud menerobos di bawah bahu orang tetapi sekali nenek im menggerakkan tangannya, dua serdadu itu sudah kena tercengkeram olehnya dan segera terbanting mampus.

"Tidak boleh pergi!"

Bentak nenek im.

"Lekas katakan, di mana Toh It-hang berada dan kenapa kau mengejar dia?"

Tentu saja serdadu itu ketakutan bukan main, saking takutnya sehingga tak mampu buka mulut lagi, akhirnya ada beberapa di antaranya dengan gemetar mengatakan.

"Ia telah ditolong oleh Nyo Hun-cong, pergi ke mana lagi kami tidak mengetahuinya."

Kemudian nenek im dapat melihat Nyo Hun-cong sedang minum arak.

"Hm, kau juga ada di sini, kalau begitu tidak usah tanya pada mereka!"

Ujarnya Habis im satu persatu serdadu-serdadu im telah dilempar keluar dan semua terbanting mampus.

Menyaksikan kejadian luar biasa ini, pelahan-lahan Malina bertanya "Siapakah nenek tua ini?

Kenapa begitu bengis?

Serdadu-serdadu ini toh tidak bertempur dengan kita di medan perang, apa gunanya membunuh mereka secara begitu keji!"

"Ia adalah Pek-hoat Mo-li, kau sekali-kali jangan bikin gusar padanya"

Huncong menerangkan dengan bisik-bisik.

Sementara itu Pek-hoat Mo-li telah mengulur tangannya hendak menjambret Nyo Hun-cong, namun dengan enteng Hun-cong telah berkelit ke samping dan terus memberi hormat.

"Pek-locianpwe, angin apakah yang telah meniup kau sampai di sini?"

Hun-cong lantas menyapanya.

"Aku tiada waktu untuk bercakap banyak denganmu,"

Sahut Pek-hoat Mo-li.

"Lekas kau beritahu padaku, Toh It-hang telah pergi ke mana bukankah ia bersama dengan seorang wanita?"

"Toh-susiok betul bersama dengan seorang nona ia bilang hendak mengantar kembali nona im ke Kwan-lwe!"

Jawab Hun-cong.

"Hm! Aku tidak percaya omongannya im, dulu aku telah mengusir mereka tetapi mereka tidak mau pergi, kini sebaliknya mereka mau pergi dengan sendirinya?"

Kata Pek-hoat Mo-li dengan tertawa dingin. Hun-cong menjadi bingung, ia tidak mengetahui seluk-beluk apa yang dikatakannya ini.

"Nyo Hun-cong, kau bawa aku mencari mereka!"

Kata Pek-hoat Mo-li, berbareng tangan bergerak ia hendak menjambret Nyo Hun-cong lagi. Namun Nyo Hun-cong dengan cepat bisa mengegos, tangan Pek-hoat Mo-li kembali menangkap angin.

"Pek-locianpwe, Tecu sesungguhnya tidak tahu ke mana perginya Toh-susiok,"

Kata Nyo Hun-cong pula. Dua kali hendak mencekal tak kena agaknya Pek-hoat Mo-li tercengang juga ia agak kurang senang pula.

"Kepandaianmu ternyata maju pesat, terhadap orang muda dan tingkatan bawah, sekali aku serang tak kena pasti tidak aku ulangi lagi, baikkah, terhitung kau yang beruntung, bolehlah kau pergi, tanpa kau aku pun bisa mencari dia"

Kata Pek-hoat Mo-li akhirnya.

Habis berkata Pek-hoat Mo-li pergi menuju ke barat, sedang Nyo Hun-cong bersama Mokhidi dan Malina bertiga meneruskan perjalanan ke selatan, sepanjang jalan Mokhidi masih merasa penasaran oleh sikap Pek-hoat Mo-li tadi.

"Pek-hoat Mo-li suka berlaku sangat bengis, perkataannya tidak bisa dibantah orang lain, kali ini boleh dikata terhitung baik buat kita"

Kata Hun-cong.

Sedang untuk apa Pek-hoat Mo-li mencari Toh It-hang, itulah yang Hun-cong sendiri tidak tahu.

Setelah mereka berjalan tujuh delapan hari lagi, mereka telah sampai di padang rumput Garsin, kegembiraan Hun-cong luar biasa orang-orang Kazak yang hendak ia cari akhirnya telah diketemukan.

Selagi ia berpikir hendak membentuk kembali pasukan sal ^rela untuk melawan tentara Boan, tiba-tiba Mokhidi menuding ke depan dan berkata dengan gembira "Nah, sesudah lewat bukit ini, di muka sana adalah perkampungan kami."

Segera Hun-cong melarikan kudanya ke depan, setelah melalui bukit itu, benar saja terlihat banyak perkemahan besar-kecil di sana sini, sementara itu Mokhidi dan Malina lantas berteriak.

"Kawan-kawan, kami telah kembali!"

Rakyat gembala yang ada dalam perkemahan segera membanjir keluar, suara sorak sorai gemuruh berkumandang.

Dalam rombongan orang itu tiba-tiba terlihat satu selendang merah berkibar tertiup angin, Nyo Hun-cong terperanjat, mendadak seorang wanita muda telah menerobos ke luar di antara orang banyak dengan cepat dan berseru memanggil.

"Nyo Hun-cong, mengapa kau juga telah datang!"

Wanita muda ini bukan lain adalah Hui-ang-kin atau si Selendang Merah.

Demi melihat gadis ini, sesaat perasaan Nyo Hun-cong tercekat, tidak keruan rasanya pahit, getir, manis, pedas dan kecut bercampur aduk, sesaat ia tak dapat mengeluarkan eepatdh katapun.

Dalam pada itu dengan tersenyum simpul Hui-ang-kin telah menyapa pula padanya tetapi yang disapa tidak buka suara.

Waktu itu memang Hun-cong seketika menjadi linglung, bayangan Nilan Minghui telah berkelebat dalam hatinya tiba-tiba Hun-cong merasa seperti dirinya berdosa.

Dan saat ia hendak berkata sekonyong-konyong seorang tegap berewokan telah muncul dari samping.

"Nyo Hun-cong sama sekali tidak gendeng?"

Kata orang itu.

"Sedang kita bertempur secara mati-matian, ia malah enak-enakan bersatu kereta dengan wanita ayu dan mengantar putri Nilan Siu-kiat kembali ke kota Ili!"

"Tutup bacotmu!"

Bentak Hun-cong dengan sengit. Muka Hui-ang-kin seketika berubah, tetapi ia lekas tenang kembali dan menarik pergi Nyo Hun-cong dan Bing-lok, orang yang tinggi tegap dan berewokan itu.

"Kalau ada omongan sebaiknya dibicarakan nanti malam saja kini orang Kazak sedang menyambut kedatangan pahlawan mereka kau malahan ribut-ribut di sini!"

Kata Hui-ang-kin pada Bing-lok.

Sementara itu kepala suku Kazak di daerah selatan demi mendengar kedatangan Nyo Hun-cong, telah berjingkrak kegirangan, ia seperti ketiban rejeki, seperti kejatuhan mes-tika dari langit.

Nyo Hun-cong telah beberapa tahun ini membantu orang Kazak di daerah utara orang Kazak yang berada di selatan dengan sendirinya pun sudah mendengar.

"Nyo-taihiap, kami telah mengharap siang dan malam, akhirnya terkabul juga harapan itu atas kedatanganmu,"

Kata kepala suku.

"Beberapa hari yang lalu, pahlawan wanita Hamaya telah datang kemari, ia juga telah menceritakan soal dirimu, kalian berdua ternyata sudah saling kenal, itu sungguh sangat baik, aku sedang berunding dengan Hamaya cara bagaimana memperkuat perserikatan kita kini kau telah datang, kau tentu dapat lebih banyak memberi saran kepada kami."

Mendengar percakapan ini, dari samping Bing-lok tertawa menyindir.

Nyo Hun-cong terpaksa menahan diri dengan penuh kedongkolan.

Di samping berbincang dengan kepala suku Kazak itu, ia pun menanyakan keadaan dan pengalaman Hui-ang-kin sesudah berpisah.

Ternyata pada pertempuran besar di padang rumput im, semula suku-suku bangsa daerah selatan mendapat keunggulan, belakangan bala bantuan pasukan Boan telah datang secara besar-besaran, rakyat penggembala im tak dapat menahan lagi dan berlari berpencar.

Seperti diketahui, Hui-ang-kin terluka oleh kebakaran api pada waktu menyelidiki 'sumber air hitam', beruntung ia telah ditolong oleh keempat pahlawan dan terus buron hingga ratusan li lebih baru bertemu kembali dengan orang-orang Kazak di sini, sedang Bing-lok menyusul bersama kepalakepala suku yang lain.

Ketika malam tiba kepala suku Kazak dan kepala-kepala suku di daerah selatan lainnya mengadakan perjamuan untuk Nyo Hun-cong.

Selagi kepala suku Kazak memuji-muji Nyo Hun-cong, kepala suku Kedar, Bing-lok, tiba-tiba berdiri dan berkata.

"Mata kita perlu lebih awas dan terang sedikit, jangan seorang pengecut dianggap orang gagah dan mata-mata musuh dianggap pahlawan!"

"Apa maksudmu im,"

Kata kepala suku Kazak heran dengan mata membelalak.

"Di waktu pertempuran besar im Nyo Hun-cong telah melarikan diri sendiri dan membantu putri Nilan Siu-kiat membunuh dua orang pejuang bangsa Kedar kami, sepanjang jalan ia bersatu kereta dengan putri musuh dan tinggal di Ili sekian lamanya baru kembali ke sini,"

Kata Bing-lok dengan tertawa menyindir.

"Aku ingin bertanya pada Hamaya Beng-cu dan para ketua dari suku-suku, tindakan seperti Hun-cong ini sebenarnya mata-mata musuh atau pahlawan?"

"Betulkah demikian?"

Tanya Hui-ang-kin segera pada Nyo Hun-cong. Sebelum pemuda ini menjawab, terdengar kepala suku dari Tahsan berteriak.

"Siapa bilang Nyo Hun-cong adalah mata-mata musuh, sampai mati pun aku tidak percaya!"

Namun Hun-cong sudah lantas berdiri dengan tenang, mukanya menghadap pada Hui-ang-kin dan berkata.

"Memang betul, putri Nilan Siu-kiat betul aku yang telah menolong!"

Air muka Hui-ang-kin berubah keras mendengar pengakuan Hun-cong, seluruh ruangan pun menjadi ribut.

"Akan tetapi, yang menolong Bing-lok pun adalah aku. Ada satu pasukan Boan telah mengejar datang, tetapi akulah dan satu tokoh terkemuka dari kalangan silat lain yang telah menghalau musuh, barulah dia bisa menyelamatkan diri!"

Tutur Nyo hun-cong. Muka Bing-lok menjadi merah padam.

"Aku tak akan terima budimu,"

Teriaknya.

"Lebih dulu kau telah menutuk aku, kemudian kau pura-pura menolongku dan bertempur dengan serdadu Boan itu."

"Kalau begitu memang benar Nyo Hun-cong yang telah membantu kau menahan kejaran pasukan Boan!"

Kata Hui-ang-kin. Bing-lok tidak bisa menjawab, ia bungkam, tetapi Mokhidi telah berteriak.

"Kau tidak mau menerima budinya aku yang menerima budinya kami berdua juga dia yang telah menolong, semua berkat Nyo-taihiap yang telah menggempur mundur pasukan pengawal Nilan Siu-kiat dan melukai To Tok baru kita bisa meloloskan diri!"

"Ya akupun tidak percaya kalau Nyo Hun-cong adalah mata-mata musuh, tetapi mengapa kau telah menolong putri Nilan Siu-kiat?"

Tanya Hui-ang-kin tiba-tiba.

"Dan mengapa kau telah membantu dia membunuh dua orang pahlawan kami?"

Bing-lok menambahkan pertanyaan Hui-ang-kin. Segera tertampak air muka Nyo Hun-cong berubah menjadi kereng dan dengan suara keras ia balas bertanya pada Hui-ang-kin.

"Hamaya, kau adalah wanita, aku hendak bertanya padamu, jika seumpama kau dipaksa dengan kekerasan oleh orang lain, kau melawan atau tidak? Nilan Siukiat adalah musuh kita, tetapi putrinya belum pernah bermusuhan dengan kita, orang bawahan Bing-lok hendak melanggar dia dan telah terbunuh olehnya, mengapa kesalahan tersebut dipikulkan atas diriku."

"Dia adalah tawanan kami, mengapa tidak boleh diperbuat menurut kesukaan kami?"

Jawab Bing-lok.

"Justru itulah aku tidak setuju mempermainkan tawanan tidak sebagai manusia,"

Sahut Nyo Hun-cong dengan lantang.

"Seandainya orang kita yang tertawan musuh, lalu wanitanya diperkosa, diperbudak sesukanya, apakah kamu hendak meniru cara mereka?"

Kiranya kebiasaan menganggap tawanan adalah milik pihak yang mendapat kemenangan itu sudah turun-temurun ribuan tahun di antara suku-suku bangsa di Sinkiang, keruan perkataan Nyo Hun-cong telah membikin gempar mereka, segera keadaan menjadi riuh, di sana-sini terdengar bisikan-bisikan saling mempercakapkan soal ini.

"Lagi pula ia belum menjadi tawanan kamu, orangmu belum sempat turun tangan sudah lantas terbunuh olehnya, waktu itu dia malahan masih dalam keadaan sakit berat,"

Kata Nyo Hun-cong pula dengan menyindir. Muka Hui-ang-kin kelihatan muram, tetapi tenang, tiba-tiba ia menepuk tangan meminta semua diam.

"Mengancam wanita dalam keadaan sakit, dosanya memang patut dihukum,"

Ujar Hui-ang-kin.

"Tetapi Nyo Hun-cong, sebaliknya aku hendak bertanya kepadamu, cara bagaimana kau berkenalan dengan putri Nilan Siu-kiat dan mengapa kau melindungi dia?"

"Menyesal, Hui-ang-kin, itu adalah urusan pribadiku,"

Sahut Nyo Hun-cong dengan suara rendah.

"Cukup apabila ia bukan musuh kita, mengapa aku tidak boleh bersahabat dengan dia."

"Terang dalam hatimu ada kepalsuan,"

Bentak Bing-lok.

"Nilan Siu-kiat adalah musuh besar kita, sudah tentu putrinya juga bukan orang baik-baik, mana ada orang bersahabat dengan putrinya tetapi bermusuhan dengan ayahnya. Nyo Hun-cong, biarlah aku membuka kedokmu, aku lihat kau telah tergoda oleh kecantikan putrinya dan secara diam-diam telah menjadi 'tamu halus'nya."

Sesaat itu hati Hui-ang-kin seperti teriris-iris, tetapi ia tidak buka suara, sedapat mungkin ia menahan kepedihan perasaannya.

Sementara itu, semua orang telah berbisik-bisik pula, pandangan mereka dalam hal membedakan orang baik atau busuk di antara pihak musuh, kebanyakan kepala-kepala suku itu masih belum mempunyai pandangan.

"Ya, aku pun mengetahui tindakanku ini bakal menimbulkan kecurigaan,"

Kata Hun-cong pula dengan suara nyaring, sinar matanya mengerling seluruh ruangan.

"Tetapi cara bagaimana agar supaya kamu tidak curiga. Aku mempunyai satu jalan, coba kalian setuju atau tidak?"

"Silakan berbicara!"

Kata kepala suku dari Tahsan.

"Begini, aku dengar anak kesayangan kepala suku Kazak telah ditawan oleh Coh Ciau-lam dan sampai kini belum dilepas kembali, aku bersedia merebut kembali anaknya dan menawan hidup-hidup Coh Ciau-lam serta akan kubawa kemari!"

Kata Nyo Hun-cong. Mendengar perkataan ini kepala suku Kazak matanya menjadi basah berkacakaca saking terharunya.

"Nyo Hun-cong, aku toh tidak mencurigai dirimu, kau adalah talang punggung kami, aku tidak ingin kau pergi menghadapi bahaya sendiri,"

Kata kepala suku itu dengan suara pelahan. Tetapi Bing-lok ternyata berkata lain.

"Siapa yang tidak mengetahui Coh Ciau-lam adalah Sutemu,"

Katanya.

"Mana bisa kau pergi sendiri untuk menghadapi bahaya, sudah jelas kau bersekongkol dengan dia, menyuruh kau pergi sama saja dengan melepas harimau kembali ke gunung!"

Keruan amarah Nyo Hun-cong memuncak karena tuduhan orang yang tidaktidak ini, kedua tangannya ditepuk dan segera akan bertindak, namun tibatiba Hui-ang-kin telah bersuara mencegah.

"Kalian tentunya tidak akan mencurigai aku adalah mata-mata musuh bukan?"

Kata Hui-ang-kin.

"Nah, sekarang aku pergi bersama dia, jika tidak bisa menangkap Coh Ciau-lam, kami pun tak akan kembali, aku jamin dengan kepalaku bahwa Nyo Hun-cong bukan mata-mata musuh?"

Hui-ang-kin adalah Beng-cu atau ketua perserikatan dari suku-suku bangsa di daerah selatan, begitu perkataannya diucapkan, seluruh ruangan menjadi sunyi dan tidak seorang pun berani berdebat lagi.

Malam kedua, Hui-ang-kin dan Nyo Hun-cong telah berpakaian peranti jalan malam dan bersama-sama berangkat menyelidiki benteng musuh yang menjadi kedudukan Coh Ciau-lam yang letaknya berapa puluh li jauhnya.

Sepanjang jalan Hui-ang-kin hanya bersungut dan tidak berkata-kata, beberapa kali Nyo Hun-cong hendak menerangkan mengenai Nilan Ming-hui, tetapi Hui-ang-kin hanya menarik muka dan menyahut.

"Itu kan urusan pribadimu, aku tidak boleh ikut campur, apa gunanya menceritakan padaku!"

Demikian ia berolok-olok.

"Hui-ang-kin,"

Kata Hun-cong akhirnya.

"Dengan hubunganmu dan aku, maka aku berlaku begitu sungguh-sungguh, aku tidak ingin bicara di hadapan orangorang itu bukan berarti tidak ingin membicarakan padamu, aku menganggap kau sebagai saudaraku yang paling dekat, jika kau tidak menolak aku pun bersedia menganggap kau sebagai "ji d.n i kandungku!"

"Betulkah itu? Aku tentu bersedia memanggilmi,-cna-gai kakak, cuma aku kuatir jangan-jangan setelah kau melihat taci lantas melupakan adik,"

Ucap Hui-ang-kin dengan tertawa.

"Hui-ang-kin, biarlah aku mengatakan terus terang padamu, antara aku dengan Nilan Ming-hui....."

Belum habis perkataannya, tiba-tiba Hui-ang-kin telah menyambung.

"Tiada hubungan yang istimewa, begitu bukan yang hendak kau katakan? Sudahlah, kau tidak usah mencoba menerangkan lebih jauh lagi, biarlah kita menawan Coh Ciau-lam lebih dulu."

Hati Nyo Hun-cong seperti tertasuk-tusuk dan tak tahan karenanya sama sekali tidak ia duga bahwa Hui-ang-k;n bisa percaya antara dirinya dengan Nilan Ming-hui tiada sesuatu huhungan istimewa padahal dirinya malah sudah berhubungan suami istri dengan Ming-hui.

Sebenarnya Hun-cong hendak menjelaskan, tetapi demi melihat Hui-ang-kin begitu percaya pada dirinya perkataan yang hendak diutarakan segera tertahan lagi.

Ia pikir, jika sekarang ia menerangkan apa yang terjadi, ia kuatir Hui-ang-kin tidak tahan pukulan itu, sehingga tugas mereka bisa menjadi kacau dan urusan menangkap Coh Ciau-lam akan gagal.

Biarlah sesudah urusan beres semua baru akan dijelaskan padanya.

Kedua orang mempunyai kemahiran ilmu meringankan tubuh yang tinggi itu, belum habis percakapan mereka, benteng di mana Coh Ciau-lam berada sudah terlihat di depan, sesudah mereka berjanji dengan tanda-tanda, mereka lantas berbagi dua jurusan, satu arah selatan dan yang lain jurusan utara serta bersama-sama melayang naik ke atas benteng itu.

Mereka berdua memang berilmu meringankan tubuh yang tinggi, mereka melayang dari rumah ke rumah dengan cepat.

Tak seberapa lama mereka sudah sampai di gedung yang dituju.

Baru Hui-ang-kin hendak melompat naik ke atas rumah itu, tidak terduga ada sambaran angin yang keras berbareng sesosok bayangan orang telah menubruk dari atas kepala Hui-ang-kin.

Sama sekali Hui-ang-kin tidak menduga akan serangan itu, maka hampir saja terbacok, ia terkejut sekali, tidak sempat lagi melolos pedangnya, maka dengan cepat ia menggunakan gerakan 'Se-hing-giau-hwa-hun', ia mencelat ke belakang menghindarkan diri dari serangan itu.

Setelah mengawasi, baru ia tahu bahwa yang menerjangnya ternyata seorang Hwesio tinggi besar, tangannya menggenggam golok.

Hui-ang-kin balas merangsek, maka segera terdengar "creng-creng", suara beradunya senjata, antara pedang pendek Hui-ang-kin dan golok besar Hwesio itu.

Hwesio itu tidak berhasil membacok, sebaliknya lawannya berputar cepat seperti kitiran, suara angin menyambar, dengan gerakan 'Kwai-bong-hwan-sin' atau ular besar membalik tubuh, segera ia membabat pula ke pinggang Huiang-kin.

Hui-ang-kin menjadi gusar sekali, cambuknya bersuara, sekali diayunkan, tangan Hwesio itu sudah terbelit oleh pecutnya dan dibarengi dengan satu tarikan, tubuh Hwesio yang besar seperti kerbau telah terseret maju.

Ketika Hwesio itu hendak berteriak, bawah ketiaknya telah terkena tutukan, kiranya Nyo Hun-cong dengan cepat telah memburu datang dan telah menutuk jalan darahnya.

Hui-ang-kin masih hendak menusuk dengan pedangnya, tetapi tangannya keburu dicekal oleh Nyo Hun-cong.

"Nanti dulu!"

Kata pemuda titi, segera pedangnya ditodongkan di belakang leher Hwesio itu.

"Apakah kau murid Thian-liong Siansu?"

Tanya Hun-cong pada Hwesio itu.

"Bagaimana jika betul?"

Sahut Hwesio itu dengan marah.

"Lima tahun yang lalu aku pernah diperintah oleh Suhu pergi menemui Thianliong Siansu, jika dihitung kita masih sahabat,"

Kata Nyo Hun-cong.

"Aku tidak akan mencelakai jiwamu, lekas katakan pada kami, kamar yang mana tempat tinggal Ha-ciangkun?"

Thian-liong Siansu yang dikatakan Nyo Hun-cong itu adalah seorang Hwesio atau Lama besar dari Tibet, ilmu silatnya cukup tinggi dan mempunyai corak tersendiri, ia menciptakan seratus dua puluh enam rupa pukulan yang disebut Thian-liong-cio-hoat, gerakan pedang dan goloknya pun terjelma dari pukulan itu dan mempunyai keistimewaan tersendiri.

Thian-liong Siansu menerima murid di Tibet secara luas, ia dengar ilmu silat dan ilmu pedang Hui-bing Siansu menjagoi dunia persilatan, ia lantas mengutus orang dan menantang hendak menjajal ilmu Hui-bing Siansu, waktu itu Huncong sedang akan menggabungkan diri dengan pasukan bangsa Kazak dan ada urusan hendak pergi ke Tibet untuk menghubungi rakyat Tibet di sana dan diajak bersama-sama melawan kekuasaan Boan-ciu.

Hui-bing Siansu yang sudah sungkan turun gunung lantas memerintahkan Nyo Hun-cong sekalian mampir mengunjungi Thian-liong.

Sesudah Hun-cong dan Thian-liong Siansu saling berdebat tentang ilmu pedang, ia baru mengerti walaupun Thian-liong-kiam-hoat mempunyai keistimewaan tersendiri, tetapi masih banyak kelemahannya, karena ia masih muda dan tak bisa berpikir panjang, ia telah mengutarakan apa yang dipikirkannya im sehingga' Thian-liong Siansu merasa kurang senang, segera dia menyuruh murid utamanya bertanding dengan Nyo Hun-cong, tetapi muridnya im hanya bertahan beberapa jurus saja sudah dikalahkan oleh Huncong, muridnya masih belum mau menerima begitu saja dan minta bertanding lagi dengan tangan, tetapi juga tiada beberapa gebrakan sudah terkurung pula oleh pukulan tangan Hun-cong dan tak mampu bergerak lebih jauh.

Walaupun Thian-liong Siansu angkuh dan tinggi hati, tetapi ia pun bisa melihat dengan jelas, ia tahu kemahiran Hun-cong bahkan masih di atas dirinya sendiri, tentu tak usah bertanya lagi tentang ilmu Hui-bing Siansu.

Sesudah im rasa keangkuhan dan kesombongannya lantas lenyap semua, sebaliknya lantas mengusulkan berhubungan baik dan mengikat persahabatan yang kekal dengan Nyo Hun-cong.

Tentang kejadian ini, murid-murid Thian-liong Siansu banyak yang mengetahui, kala im, Hwesio besar berjubah merah ini tidak mengenali orang, tetapi setelah mendengar cerita Hun-cong tadi ia terperanjat.

"Apakah kau adalah Nyo-taihiap?"

Tanyanya.

"Betul, aku adalah Nyo Hun-cong,"

Sahut yang ditanya sambil menurunkan pedang dan memulihkan tutukan tadi.

"Aku adalah orang yang didatangkan oleh Ha-ciangkun sebagai penjaga di sini, tentu aku tidak bisa memberitahu padamu di mana ia berada, karena kau adalah sahabat Suhu, biarlah aku tidak akan berteriak, jika kau tidak suka, mau kau bunuh, boleh lekas bunuhlah aku!"

Kata Hwesio atau Lama itu. Mendengar ucapan itu, diam-diam Hun-cong memuji Lama ini sebagai laki-laki tulen.

"Baiklah kalau begitu,"

Katanya kemudian dengan tersenyum kepada Hui-angkin, mereka lantas menggunakan gerakan 'Pek-ho-jiong-thian' atau burung bangau menjulang ke langit, mereka melayang pergi lagi.

Hui-ang-kin melihat ruangan-ruangan begitu banyak dan rumah berjajar, ia lantas bertanya kepada kawannya.

"Gedung-gedung begini banyak seperti ini, bagaimana kita bisa mencari?"

"Kau tak usah kuatir, aku ada akal,"

Ujar Hun-cong, lantas ia mengeluarkan belerang dari kantongnya dan membakar belerang tersebut serta dilemparkan ke kandang kuda, api lantas berkobar dengan cepat, kuda-kuda ketakutan dan menerjang keluar dari kandang, sementara im barisan pengawal musuh pun sudah datang hendak menolong memadamkan api, keadaan menjadi panik.

Hun-cong dan Hui-ang-kin yang berpakaian malam hitam, dari atas wuwungan rumah mereka bisa melihat dengan jelas sekali, mereka melihat ada satu orang tegap bangsa Boan yang mengenakan jubah kebesaran dengan lagak dan sikap yang kereng sedang memberi petunjuk dan menenteramkan mereka supaya tidak ribut, agaknya ia bisa mengatur dengan baik.

"Aku kenal dengan orang ini yang bernama Ha-haptoh, dia adalah salah satu panglima bawahan To Tok, panglima pemerintah Boan yang ada di Sinkiang kecuali Nilan Siu-kiat, dia ini terhitung yang paling pandai, agaknya tidak salah kelihatannya,"

Kata Hun-cong.

Setelah itu ia menarik Hui-ang-kin, berbareng mereka melayang turun ke bawah.

Di bawah penerangan api obor, mereka telah dapat terlihat, segera di bawah terjadi suara teriakan yang ribut.

Beberapa pengawal segera menerjang maju, yang pertama memakai sepasang tameng berbentuk Pat-kwa, begitu berhadapan langsung menyerang dengan gerakan 'Tok-pi-hwa-san' atau membelah gunung Hwa-san, ia telah membelah dari atas kepala Hui-ang-kin.

Hui-ang-kin ayun cambuknya hendak memberi pukulan balasan, tidak tahunya Nyo Hun-cong ternyata lebih cepat dari dia, dari samping pedangnya sudah memotong, sinar pedangnya berkelebat tubuh pengawal itu seketika terkurung menjadi dua.

Di samping sana Hui-ang-kin pun dengan cepat mengayun cambuknya, dan pengawal yang kedua sudah terlempar ke gundukan api, sebelah pedangnya bergerak pula dan pengawal ketiga pun tertusuk tembus.

Ketiga pengawal itu sebenarnya adalah orang terkuat di kediaman Ciangkun itu, kini tiada satu gebrakan satu persatu sudah tewas semua, pengawal lainnya segera berlari bersebaran, walaupun bagaimana tenangnya Ha-haptoh kini pun menjadi gugup.

"Anak kepala suku Kazak ada di mana, lekas lepaskan dia!"

Bentak Hun-cong mengancam. Akan tetapi, pada saat itu juga, tiba-tiba di antara sinar api yang berkobar itu berkelebat keluar satu orang.

"Nyo Hun-cong, inilah anak kepala suku Kazak itu, jika kau ada kemampuan, rebutlah ini!"

Seru orang itu dengan gelak tertawa.

"Kau pengkhianat Coh Ciau-lam!"

Damprat Hui-ang-kin pada orang itu yang ternyata bukan lain daripada Coh Ciau-lam.

Tanpa pikir lagi segera Hui-ang-kin mengayun cambuknya, tetapi Coh Ciau-lam telah mendorong maju anak kepala suku Kazak itu, keruan Hui-ang-kin lekas menarik kembali pecutnya, dalam pada itu anak tanggung yang baru berusia belasan tahun itu sudah pucat ketakutan.

"Lepaskan dia, kalau tidak aku akan habisi jiwa Ciang-kunmu ini lebih dulu!"

Bentak Nyo Hun-cong.

"Suheng,"

Kata Coh Ciau-lam dengan cengar-cengir.

"Kau tak usah marah, kau lepaskan dulu Ha-ciangkun, nanti aku juga lepaskan anak ini."

Amarah Nyo Hun-cong bukan main, tiba-tiba ia berteriak keras.

"Baik, kau terima ini!"

Berbareng itu ia melemparkan tubuh Ha-haptoh ke arah Coh Ciaulam seperti melempar bola, dengan tak terasa Coh Ciau-lam mengulurkan kedua tangannya hendak menerima.

Tetapi pada saat itu juga, dengan satu suitan panjang, dengan cepat Hun-cong telah menubruk ke arah Coh Ciau-lam, dengan satu gerak tipu 'Twi-jong-bonggwat' atau membuka jendela memandang rembulan, dengan pukulannya ia memaksa Coh Ciau-lam mundur ke samping, sedang tangan kirinya berbareng menarik anak muda itu.

Hui-ang-kin tidak tinggal diam, segera gadis ini melompat maju menyambut anak muda itu, setelah Coh Ciau-lam melepaskan Ha-haptoh, pedang 'Yu-liong-kiam'-nya segera dikeluarkan, dengan gerak tipu 'Kiam-ciam-in-soa' pedangnya segera ditusukkan ke belakang punggung Huiang-kin.

"Hm, masih berani kau berlaku ganas?"

Bentak Hun-cong, berbareng telah menusukkan pedangnya ke pundak Coh Ciau-lam. Dalam pada. itu, tiba-tiba Coh Ciau-lam berteriak.

"Thian-bong Siansu, lekas bantu aku!"

Lalu dengan sekuat tenaga ia menangkis rangsekan Hun-cong.

"Hui-ang-kin, kau boleh pergi dulu, tunggu aku di luar benteng, setelah kutangkap pengkhianat ini segera akan kususul!"

Seru Hun-cong.

Setelah Coh Ciau-lam berteriak tadi ternyata tidak ada sahutan, sebaliknya serangan Hun-cong makin gencar saja, Coh Ciau-lam sudah tak berdaya menangkis lebih lama lagi, dengan sekali lompatan ia bermaksud untuk melarikan diri.

Akan tetapi gerakan Nyo Hun-cong laksana kera yang gesit sekali, tangan kirinya menutuk dan mengenai 'Sam-li-hiat', Coh Ciau-lam hendak menghindar, tetapi sudah tak keburu lagi, walaupun tutukan im tidak kena persis, tetapi salah satu bahunya sudah mati kaku.

Dengan sebelah tangannya, Hun-cong segera merebut pedang 'Yu-liong-kiam' sambil membentak.

"Ikut aku!"

Berbareng tiga jarinya telah memijat dengan keras urat nadi tangan Coh Ciau-lam dan lantas ditarik meloncat ke atap rumah.

Para pengawal pada kaget terkesima, tiada satupun yang berani mengejar.

Tidak lama kenudian, Hun-cong sudah keluar dari benteng, tiba-tiba terdengar di lapangan luas sana ada suara pertempuran yang ramai, setelah ia perhatikan, ternyata Hui-ang-kin yang tangan kanannya menyeret anak kepala suku Kazak dan hanya dengan cambuk di tangan kirinya sedang bertempur dengan seru melawan seorang Hwesio.

Hwesio im menggunakan sebatang pedang, tindakannya menggeser menurut aturan Pat-kwa dan sedang merang-sek Hui-ang-kin hingga gadis ini terpaksa hanya bisa menangkis saja.

Demi nampak Hwesio ini, segera terdengar Coh Ciau-lam berteriak lagi.

"Thian-bong Siansu, Nyo Hun-cong berada di sini!"

Thian-bong Siansu adalah Sute Thian-bong Siansu, ilmu pedangnya juga tinggi.

Dahulu waktu mendengar Nyo Hun-cong telah mengalahkan Thian-liong, hatinya tidak terima, ia ingin sekali mencari Hun-cong untuk diajak bertanding, karena im ia telah ditarik kemari oleh Coh Ciau-lam, Ha-haptoh melayani dia dengan hormat sekali.

Waktu Nyo Hun-cong dan Hui-ang-kin berdua melompat turun tadi, ia sebenarnya sudah berada di situ, tetapi karena ia tidak kenal Nyo Hun-cong dan hanya melihat seorang pemuda sedang bertempur melawan Coh Ciau-lam, sedang seorang wanita muda telah menyeret seorang anak muda untuk kabur, ia berpikir Coh Ciau-lam yang berkepandaian tinggi tentu tidak menjadi soal melawan si pemuda, ditambah pula suara-suara orang yang ramai, hakikatnya ia tidak mendengar apa yang Coh Ciau-lam teriakkan padanya tadi, tanpa pikir lagi ia lantas mengejar Hui-ang-kin.

Ilmu meringankan tubuh Hui-ang-kin walaupun mempunyai keistimewaan sendiri dan di atas Thian-bong, tetapi karena bertambah satu beban, yakni membawa seorang anak, akhirnya terkejar olehnya dan telah bertempur ratusan jurus, Hui-ang-kin yang hanya bisa menggunakan satu tangan saja, ternyata berbalik terdesak di bawah angin.

Ketika mendadak Thian-bong Siansu melihat Ciau-lam diseret oleh Nyo Huncong seperti orang menuntun kambing, ia menjadi terkejut sekali, ia lepaskan Hui-ang-kin dan memapak Hun-cong dengan pedangnya.

Lebih dulu Nyo Hun-cong dengan tatakannya yang keras membuat Coh Ciaulam tak bisa berkutik, dengan demikian, walaupun ia bisa melancarkan sendiri tutukan itu, sedikitnya harus enam jam lagi.

"Kau ini apa bukan Suheng Coh Ciau-lam?"

Tanya Thian-bong segera dengan terheran-heran.

"Coh Ciau-lam membaui 3 pemerintah Boan-jin menindas rakyat Sinkiang, Tibet dan Mongolia, mengapa kau bersedia membantu yang jahat supaya semakin jahat?"

Sahut Nyo Hun-cong cepat.

"Aku, Jut-keh-lang, tidak mengurusi segala tetek-be-ngek, hanya mendengar dari Thian-liong Suheng, bahwa kau berani berdebat tentang ilmu pedang dengan kami, itulah yang ingin kujajal!"

Kata Thian-bong lagi.

"Ya, waktu itu aku masih terlalu muda dan kurang mengerti,"

Nyo Hun-cong menerangkan.

"Sebenarnya Thian-liong Siansu mempunyai ilmu pedang dan Cio-hoat yang hebat, kami orang muda mana bisa menyelami begitu saja."

"Kau mau memberi pelajaran, itulah yang kurasakan telah menghinakan kami!"

Kata Thian-bong menjengek. Hui-ang-kin menjadi jengkel melihat lagak dan perkataan Hwesio ini, kontan ia pun balas menyindir.

"Kau ingin dia memberi pelajaran padamu, sesungguhnya kau jangan mencari susah sendiri!"

Thian-bong menjadi merah padam mukanya, ia menjadi gusa"-sekali dan lantas berteriak.

"Nyo Hun-cong, hati-hati, terimalah serangan ini!"

Belum habis perkataannya, satu tusukan pedang segera menuju ke dada Nyo Huncong. Hun-cong berkelit menurut gaya serangan orang, beruntun ia menghindari tiga kali serangan pedang lawan.

"Mengapa kau tak melolos pedangmu?"

Bentak Thian-bong mendongkol.

"Wan-pwe tidak berani menggerakkan senjata di hadapan Cian-pwe,"

Kata Nyo Hun-cong dengan kedua tangannya diturunkan lurus ke lutut, perkataannya kelihatan merendah, tetapi sebenarnya sebaliknya.

Thian-bong menjadi gusar, pedangnya beruntun me-rangsek lagi dengan cepat.

"Kau berani pandang enteng padaku,"

Dampratnya lagi. Nyo Hun-cong berkelit semaunya, ilmu pedang Thian-bong Siansu walaupun lihai, toh sedikit pun tidak dapat melukainya.

"Mengapa kau harus sungkan-sungkan padanya,"

Ujar Hui-ang-kin dari samping.

"Sebentar lagi jika ada pasukan Boan yang mengejar kemari bukankah kita akan menjadi tambah repot."

Hun-cong pikir omongan itu ada betulnya juga, mendadak tubuhnya bergerak cepat, kedua jarinya diulur mengarah pada kedua mata Thian-bong, keruan Thian-bong terperanjat sekali, pedangnya ditarik untuk menangkis, tetapi bahunya telah terpukul oleh Hun-cong, pedang panjangnya langsung jatuh ke tanah.

"Maaf,"

Kata Hun-cong, lantas ia mengempit tubuh Coh Ciau-lam dan kabur dengan cepat bersama Hui-ang-kin.

Maka kembalilah Thian-bong Siansu ke Tibet dengan hati penuh rasa dendam.

Sesudah Nyo Hun-cong dan Hui-ang-kin berangkat tadi, para kepala suku lantas menyalakan lilin besar dan duduk berputar di dalam kemah, kebanyakan kepala-kepala suku itu kuatir atas keselamatan Hui-ang-kin dan Nyo Huncong, mana mereka mau pergi tidur, hanya Bing-lok seorang yang masih berbisik-bisik dengan begundalnya ia malah kuatir Hun-cong yang telah pergi itu akan kembali lagi.

Kepala-kepala suku itu bercakap-cakap sepanjang malam, tanpa terasa sudah jauh malam, kepala suku Sinjia telah menguap.

"Kenapa begitu tak berguna,"

Kata kepala suku Tahsan menggoda.

"Malam ini kita semua tidur, sedikitnya akan menunggu sampai besok pagi."

Kepala suku Kazak menyetujuinya, kemudian berkata.

"Ya, tetapi dikuatirkan sampai pagi nanti mereka masih belum kembali. Karena anakku y ari"; tak berguna harus membikin Nyo-taihiap dan Hamaya pergi menghadapi bahaya, aku sesungguhnya merasa tak enak sekali."

"Ya, serdadu Boan yang ribuan banyaknya berkumpul di suatu benteng kecil, ditambah orang lihai seperti Coh Ciau-lam, mereka berdua hendak pergi menolong dan menawan orang dengan masuk keluar benteng musuh sesukanya, sesungguhnya adalah mimpi belaka,"

Kata Bing-lok menyindir.

"Sebaliknya aku kuatir Nyo Hun-cong saat ini sudah bersekongkol dengan Sutenya dan telah menahan Beng-cu kita."

Karena olok-olok ini kepala suku Tahsan memandang hina kepada Bing-lok, ia menjadi sangat mendongkol, dan ketika ia hendak unjuk gigi, tiba-tiba pintu kemah tersingkap dan Hui-ang-kin dengan tersenyum simpul telah melangkah masuk.

"Inilah putramu telah kembali, sedikit pun tak kurang sesuatu apa pun, kami telah menyelesaikan tanggung jawab yang tadi diberikan kepada kami!"

Katanya sambil mendorong anak muda im kepada kepala suku Kazak.

"Dan mana Nyo Hun-cong?"

Tanya Bing-lok dengan cepat ketika tidak melihat Nyo Hun-cong.

Namun dari luar kemah terdengar Nyo Hun-cong telah menyahut dan lantas melangkah masuk, ia meletakkan Coh Ciau-lam di tengah kemah, selanjurnya ia tertawa terbahak-bahak.

"Syukurlah aku tidak sampai membikin kalian kecewa, inilah Coh Ciau-lam yang kalian kehendaki im!"

Katanya kemudian.

Dalam keadaan girang dan terharu kepala suku Kazak merangkul putranya, air matanya mengalir deras, berulang-ulang ia menghaturkan terima kasih pada Nyo Hun-cong.

Kepala suku Tahsan pun tidak ketinggalan mengacungkan jempolnya memuji, sedang Hui-ang-kin terlihat gembira.

Hanya Bing-lok sendiri yang mati kutu, ia tak bisa berkata apa-apa lagi.

"Keparat Coh Ciau-lam ini aku serahkan padamu,"

Kata Hun-cong pada kepala suku Kazak.

Segera kepala suku im memerintahkan orangnya meringkus Coh Ciau-lam dengan rantai besi, walaupun bagaimana tingginya kepandaian Coh Ciau-lam kini ia tak akan bisa bergerak lagi.

Menurut rencana, pada malam kedua nanti sesudah mengumpulkan kepala-kepala suku lainnya, akan diadakan upacara pembalasan sakit hati.

Coh Ciau-lam akan dibuat sesajen sembahyang bagi pejuang-pejuang yang telah menjadi korbannya.

Sesudah Nyo Hun-cong dan Hui-ang-kin melaksanakan tugas semalaman, kini mereka pun sudah merasa lelah sekali, sesudah mereka minum sedikit susu kuda lantas pergi mengaso.

Sebelum mereka berpamitan, diam-diam Hui-ang-kin berkata pada Nyo Huncong dengan tersenyum.

"Sampai ketemu, besok kita bicarakan dengan baik."

Nyo Hun-cong hanya manggut-manggut dengan masgul.

"Kenapa kau masih tidak bergembira?"

Kata Hui-ang-kin pula dengan tertawa.

"Kalau ada omongan apa-apa, besok bisa kau katakan dengan baik-baik, jika kau ada permintaan apa-apa, akan kuhaluskan semuanya untukmu."

Setelah berkata begitu, kembali ia tertawa lagi.

Hui-ang-kin mengira bahwa besok Nyo Hun-cong pasti akan mengutarakan semua isi hatinya, mengutarakan rasa cinta padanya, maka malam ini ia bahkan sudah akan membayangkan akan bermimpi yang muluk-muluk.

Esok paginya Nyo Hun-cong telah dibangunkan oleh penjaga, katanya ada orang yang mencarinya.

Nyo Hun-cong mengenakan pakaiannya dan bangun, sementara itu kepala suku Kazak telah membawa masuk seorang lelaki setengah umur.

"Ha, Sin Liong-cu, kiranya adalah kau,"

Panggil Nyo Hun-cong.

"Bagaimana kau bisa sampai di sini?"

Sin Liong-cu adalah murid Toh It-hang, ia sebenarnya adalah putra seorang penggembala Kazak, setelah berguru pada Toh It-hang, ia telah belajar dengan sungguh-sungguh dan tidak rnempedulikan segala persoalan di luar, terhadap ilmu pedang dan pukulan dari golongannya, boleh dikatakan sudah memperoleh seluruh ilmu dan kepandaian gurunya.

Sewaktu di Thian-san, ia dan Nyo Hun-cong serta Coh Ciau-lam sering berkumpul bersama, hanya wataknya agak aneh, dengan Hun-cong ia tidak begitu cocok, sebaliknya dengan Ciau-lam ia bisa lebih akur.

Ketiga orang ini sering merundingkan bersama soal ilmu silat dan saling memanggil sebagai saudara.

Sin Liong-cu dengan kepala suku Kazak sebenarnya memang kenal, kepala suku itu sangat girang dan bangga sekali bahwa di antara sukunya terdapat seorang yang menjadi murid salah satu jagoan dari Bu-tong-pay.

Setelah bertemu Nyo Hun-cong, dengan memutar biji matanya yang aneh Sin Liong-cu lantas bertanya.

"Bagaimana dengan guruku? Tahukah kau ke mana perginya?"

"Mengapa beberapa hari ini aku selalu ditanya orang mengenai gurumu itu?"

Sahut Hun-cong dengan tertawa.

"Pek-hoat Mo-li bertanya soal gurumu padaku, kini kau juga menanyakan gurumu padaku."

"Itulah karena aku juga telah bertemu Pek-hoat Mo-li si siluman tua itu, aku kemudian kemari untuk menanyai kau,"

Kata Sin Liong-cu lagi.

Baca Juga: Lembah Nirmala 12

Baca Juga: Pukulan Naga Sakti 9

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger