Pahlawan Padang Rumput 2

Eps 2 Pahlawan Padang Rumput - Liang Yu Sheng

Baca online Pahlawan Padang Rumput - Liang Yu Sheng

Cersil Pahlawan Padang Rumput - Liang Yu Sheng.

Muka Abu pucat pasi demi mendengar tertampaknya sungai itu, ia mengeluarkan seruling dan membawakan lagi lagu-lagu yang sedih.

Semula Hui-ang-kin hanya berkerut alis, akhirnya ia menghela napas juga dan berkata.

"Nyanyilah, ya nyanyilah! Biarlah kau bernyanyi terus seharian sesudah itu tidak akan kudengarkan lagi lagumu!"

"Hui-ang-kin, tidakkah kau sangat menyukai laguku, kau tidak mau mendengarkan laguku lagi selamanya?"

Tanya Abu dengan setengah meratap. Cambuk Hui-ang-kin bergerak lagi, tetapi tidak memukulnya, hanya digerakgerakkan saja.

"Kau suka menyanyi boleh kau bernyanyi sepuasmu, banyak bicara apa lagi, nanti aku pukul kau,"

Ancam Hui-ang-kin.

Selewatnya 'Tiat-bun-kwan', di depan adalah padang rumput yang luas, sungai Merak mengalir melingkar di antara padang rumput, di kejauhan sana puncak gunung kelihatan jelas penuh dengan salju, warna langit berubah beraneka coraknya, di kedua tepi sungai pohon melambai-lambai, pemandangan alam yang indah tenteram penuh mengandung suasana kebahagiaan.

"Sudah hampir, sampai,"

Seru Hui-ang-kin sambil mengacungkan cambuknya.

Dari jauh sudah kelihatan asap mengepul, sampai di sini suara nyanyian Abu tiba-tiba berhenti, mukanya bertambah pucat lagi.

Mereka berkuda dengan cepat, tidak lama kemudian terlihat perkemahan berderet berdiri di sana.

Beramai-ramai rakyat gembala keluar menyambut, kaum wanita dan anak-anak berlari-lari di lapangan luas sana sambil menari dan tertawa riang.

Mereka berteriak memanggil-manggil.

"Hamaya (nama asli Hui-ang-kin) kita sudah kembali!"

Dalam pada itu serombongan pemuda segera bernyanyi dengan alat musiknya.

Kita punya pahlawan wanita.....Hamaya, Namanya tersohor di padang rumput, Kanak-kanak melihat dia bergelak tertawa.

Musuh melihat dia lari ketakutan!

Sapu tangan putih bersulam bunga mawar, Melambaikan sapu tangan, menyanyikan Hamaya kita, Pemuda-pemuda di padang rumput semua tahu dia, Hura, lihatlah dia telah datang bersama kudanya.

"Hui-ang-kin, suara nyanyian orang banyak ini jauh lebih kuat dan lebih enak didengar daripada nyanyian seorang!"

Ujar Nyo Hun-cong pelahan. Mata Hui-ang-kin mengembeng basah, ia terharu.

"Aku mengerti!"

Sahutnya kemudian dengan pelahan juga.

Kemudian mereka melompat turun dari kuda, segera Hui-ang-kin menggiring Abu dan membawa Nyo Hun-cong masuk di antara rombongan orang yang memapaknya itu.

Abu agak gemetaran, tetapi ia tahan sebisanya seperti tidak terjadi sesuatu.

Kemudian dari dalam tenda paling akhir keluarlah tiga orang tua, rambut mereka berwarna putih perak, begitu melihat kedatangan Hui-ang-kin mereka segera membungkukkan badan memberi hormat kepadanya.

Segera Hui-ang-kin berlutut dan menangis di hadapan orang-orang tua itu.

"Aku terlambat!"

Ratapnya sedih. Seorang tua itu membangunkan dia dan bertanya.

"Abu telah kautangkap kembali, tetapi siapakah dia ini?"

"Dia adalah Nyo Hun-cong, Nyo-taihiap!"

Jawab Hui-ang-kin.

Orang-orang di samping segera bersorak lagi, para pemudanya lantas berduyun-duyun maju.

Ketiga orang tua tadi membungkuk lagi memberi hormat, Nyo Hun-cong tahu ketiga orang ini adalah para Kiai atau pemimpin agama bangsa mereka, maka cepat ia membalas hormat orang.

"Nyo-taihiap sudi datang kemari, sungguh baik sekali,"

Kata mereka.

Para Kiai itu menyilakan Hui-ang-kin masuk ke dalam perkemahan, Abu diikat di luar, sedang Nyo Hun-cong dibawa pergi membersihkan badan dan mengaso.

Menjadi tamu di padang rumput, jika tuan rumah menyilakan tamunya mencuci badan atau mandi, itu adalah su-atu kehormatan besar bagi si tamu.

Waktu senja, matahari sudah terbenam diganti dengan rembulan muda yang baru terbit pelahan.

Setelah makan malam, di dataran rumput di luar perkemahan telah dinyalakan api unggun, kaum wanita dan para pemuda suku bangsa Lopuh mulai memainkan alat musik dan mengitari api unggun sambil bernyanyi menari dengan gembira.

"Nyo-taihiap, malam ini kami bersembahyang untuk Danu-loenghiong,"

Demikian seorang Kiai masuk ke kemah dan memanggilnya.

"Bolehkah aku minta segenggam hio, aku hendak menghormati Danuloenghiong!"

Kata Nyo Hun-cong sambil melompat keluar.

"Tunggulah sebentar setelah Hamaya sembahyang,"

Kata Kiai itu.

Nyo Hun-cong ikut keluar dari perkemahan, ia lihat Hui-ang-kin dan Abu sudah berdiri di lapangan rumput, Hui-ang-kin mengenakan baju putih seluruhnya, sedangkan wajah Abu putih pucat seperti mayat, suasana nampak sangat khidmat.

Malam di padang rumput di waktu musim panas, udara terang dan tenang, langit penuh dengan bintang-bintang yang gemerdepan seperti batu permata tersunting di layar beludru biru yang luas, puncak gunung penuh salju menegak di kejauhan dengan megahnya, berdiri di antara angkasa malam yang berwarna biru tua bagai intan berkilauan.

Di padang rumput, para pahlawan bangsa Lopuh sedang mengitari api unggun dan memutari pahlawan wanita mereka, Hui-ang-kin alias Hamaya, juga mengitari si pengkhianat, Abu.

Di atas padang rumput sudah dibangun sebuah panggung yang tinggi, di atas panggung dipasang tiga pot besar yang tingginya lebih dari tiga kaki, ketiga Kiai berlutut di muka pot tadi sedang sembahyang dengan khidmat, di bawah panggung suasana sunyi senyap, keadaan nampak sangat sungguh-sungguh dan angker.

Nyo Hun-cong coba melirik Hui-ang-kin, kelihatan nona ini menundukkan kepalanya, matanya mengkilap basah mengembeng air mata.

Nyo Hun-cong ikut pilu, ia merasa sayang di malam yang serba indah di padang rumput ini ternyata dipertontonkan adegan yang begitu memilukan.

Setelah ketiga Kiai tadi sembahyang, dengan tenang kemudian mereka berdiri dan Hui-ang-kin segera menggiring Abu naik ke atas panggung.

"Abu, di muka Danu-loenghiong, tahukah kau akan dosamu?"

Kiai yang tertua mulai bertanya. Muka Abu pucat serupa mayat, ia bungkam dan tak berani bersuara. Kiai tadi segera memberi tanda dan memanggil.

"Bawa kemari itu tawanan serdadu Boan!"

Maka dua pahlawan bangsa Lopuh lantas menggusur seorang tawanan ke atas panggung.

"Kaubicara terus terang saja, kami tentu takkan menyiksamu!"

Kata Kiai tadi kepada si tawanan dengan suara yang ramah. Karena itu, tawanan itu lantas membalikkan tubuh menghadap ke arah orang banyak di bawah panggung.

"Aku adalah pengawal perwira Abaku dari pasukan Boan,"

Ia mulai penuturannya.

"Bulan yang lalu waktu terjadi pertempuran di padang rumput Aksu, dalam pertempuran sengit yang berlangsung tiga hari tiga malam itu, kerugian di pihak kami sangat besar, karena takut pihak kalian masih akan datang pula bala bantuan, komandan pasukan kami sebenarnya bersedia akan mundur pada esok harinya."

"Namun pada malam itu,"

Katanya melanjutkan.

"Penyelidik kami datang memberi laporan, katanya telah diperoleh hubungan dengan bantuan dari dalam pasukan musuh sambil menyerahkan sepotong belahan bambu yang di atasnya tergambar peta, malahan terukir pula huruf-huruf, 'Kemah ketiga, bantuan sukar datang', komandan kami bertanya, 'Dapatkah orang itu dipercaya?' dan dijawab oleh penyelidik bahwa boleh dipercaya penuh karena Coh Ciau-lam yang menjamin. Komandan kami memahami dan malam kedua segera menyergap di tengah malam. Kemudian baru kutahu bahwa di perkemahan ketiga berdiam kepala suku kalian, kami menyerbu ke dalam kemah, di sana ternyata Danu-loenghiong hanya dijaga oleh beberapa pengawal saja. Tetapi ia bertempur dengan gagah berani, semula kami bermaksud menangkapnya hidup-hidup, tapi beruntun ia membunuh beberapa orang kami, ia sendiri pun berlumuran darah dan terluka parah, komandan kami melihat dia terluka berat dan masih bertempur dengan gigih, komandan sendiri lantas maju mengepung, tidak terduga dengan sekali geraman keras, sekonyong-konyong Danu menerjang keluar dan membunuh lagi beberapa kawan kami. Golok komandan sempat menusuk dadanya dan senjatanya pun terpukul lepas oleh kami. Tidak tersangka dia masih menubruk maju dan merangkul komandan kami dan sukar untuk dilepas, para pengawal kami menghujani dia dengan bacokan dan setelah menyeretnya sekian lama baru dapat terlepas, ternyata komandan kami pun sudah mati tercekik! Cepat kami membawa mayat komandan dan mundur keluar kemah, kami bermaksud memberi tahu pada wakil komandan, tak terduga begitu keluar dari kemah segera bertemu dengan para pahla-wsimu yang mati-matian menerjang datang hendak menolong Danu-loenghiong, dari seluruh pasukan hanya aku saja yang tertawan karena terluka, yang lain-lain sudah mati semua dalam pertempuran."

Begitu tawanan itu selesai dengan ceritanya, seketika di bawah panggung bergema pekik ramai suara tangisan ter-sedu-sedan. Kiai tertua mengangkat tangannya dan kemudian berkata.

"Insya Allah nama Danu dapat kita jadikan sebagai lambang kejayaan bagi bangsa Lopuh kita, darahnya mengalir untuk menyelamatkan wanita dan anak-anak kita, beliau betul-betul tidak malu disebut sebagai anak Allah, ia tidak malu dihormati sebagai bapak kita. Namanya pasti akan hidup untuk selamanya."

"Hidup! Danu-loenghiong,"

Begitulah sambutan dari bawah panggung dengan suara gemuruh. Darah Nyo Hun-cong terbakar panas, ia pikir.

"Kalau ada ayah yang begitu perkasa, tidaklah heran jika mempunyai anak gadis yang gagah berani pula!"

Setelah Kiai berdoa dan memuji, suasana pun tenang, ia bertanya lagi pada si tawanan.

"Barang-barang peninggalan komandanmu seperti belahan bambu itu apakah termasuk di antaranya yang masih kau simpan?"

Tawanan itu mengangguk dan mengeluarkan belahan bambu yang dimaksud dari sakunya dan menyerahkannya pada Kiai.

"Hamaya kau boleh periksa sendiri!"

Kata Kiai sambil menyerahkan belahan bambu itu pada Hui-ang-kin.

Hui-ang-kin menerima barang itu, ia memeriksanya dengan teliti, air mukanya mendadak berubah.

Huruf yang terukir di atas belahan bambu itu ia kenal betul sebagai huruf tulisan Abu sendiri.

Walaupun sepanjang perjalanan pulang telah banyak timbul kecurigaan terhadap Abu, tapi sekali waktu timbul harapannya bahwa mungkin hal itu hanya fitnah belaka, perasaan ini terlalu halus, bagaimanapun Abu adalah orang yang pernah ia cintai, sesungguhnya tidak pernah ia bayangkan pemuda biduan ini adalah lelaki yang berjiwa rendah dan kotor.

Kiai tertua melihat tangan Hui-ang-kin bergemetaran memegang belahan bambu itu, ia mendekati nona itu.

"Hamaya, bangsa kita sedang memandang padamu, coba katakanlah apa yang harus kita perbuat sekarang?"

Tanyanya dengan serius. Alis Hui-ang-kin tiba-tiba menegak, ia menghadap ke depan suku bangsanya dan menggerakkan belahan bambu yang dipegangnya dan berseru.

"Bukti nyata berada di sini, yang mempedayai hingga menyebabkan kematian ayahku adalah Abu ini!"

Ia memutar badan lagi, belahan bambu itu dilemparkan ke depan Abu sambil membentak.

"Berani kau menyangkal bahwa ini bukan ukiranmu?"

"Ya, memang betul aku yang mengukir,"

Abu mengaku dengan suara keder.

"Ikat dia, aku ingin mengorek hatinya untuk sesaji sembahyang!"

Teriak Huiang-kin dengan tertawa seram.

Suasana di bawah panggung ini seketika menjadi sunyi sepi.

Selain ketiga Kiai, sebelumnya tiada orang lain yang tahu bahwa Abu adalah mata-mata musuh, Abu adalah biduan pujaan dan kesayangan para nona di padang rumput, siapa pun tidak menduga, suara nyanyian orang yang begitu merdu ternyata mempunyai jiwa yang begitu kotor.

Para pemuda semua tahu bahwa Abu adalah kekasih Hui-ang-kin, kini selain ikut merasa pilu untuk Hui-ang-kin, juga mereka ingin tahu dan keheranheranan memandang diri nona ini.

Sementara itu Hui-ang-kin telah mencabut pedang pendeknya, ia berlutut di hadapan layon abu jenazah ayahnya dan berkata dengan menangis.

"O, ayah! Anakmu kini akan membalaskan dendammu!"

Di bawah pandangan orang banyak, mendadak Hui-ang-kin melompat bangun dan mengusap air matanya, pedangnya gemerdep di tengah malam gelap, setindak demi setindak ia berjalan mendekati Abu.

"Hui-ang-kin, dapatkah kauperkenankan aku bicara sedikit saja,"

Tiba-tiba Abu berseru.

"Jika kau merasa penasaran, tentu kau boleh membela diri!"

Kata Kiai. Hui-ang-kin bertindak maju lagi, ia membalik pedangnya dan lantas berhenti.

"Bicaralah!"

Bentaknya. Di luar dugaan, Abu malah tertawa bergelak-gelak seperti orang gila.

"Hui-ang-kin, di mana cambukmu?"

Tanyanya tiba-tiba dengan lantang.

"Aku tidak ingin membantah, Danu-loenghiong memang gugur karena perbuatanku, itu memang kesalahanku, akan tetapi, Hui-ang-kin apakah kau sendiri tidak ada kesalahan? Aku, Abu, dianggap orang sebagai kekasihmu, tetapi kau selalu menakut-nakuti aku dengan cambukmu, tidak peduli soal besar atau kecil, semua harus kuturuti perintahmu, dalam hal apa aku masih merupakan kekasihmu lagi, namun lebih mirip budakmu yang rendah saja! Sebaliknya kau seperti majikanku yang maha tinggi dan maha kuasa!"

"Pada waktu kau mengutarakan rasa cintamu padaku, juga kauanggap aku seperti anak kecil yang tak mengerti sesuatu? 'Abu, menurutlah perintahku!', 'Abu, buatlah begini dan jangan berbuat begitu!', 'Abu, kau berada di sampingku, tak perlu merasa takut!'."

"Coba lihat, di mana kaupandang aku sederajat denganmu? Aku seperti tidak mempunyai kepintaran apa-apa, segalanya berkat perlindunganmu, juga para pemuda mengira aku ini seperti orang yang mendadak naik ke atas hanya karena kau sudi menginginkan diriku."

"Dalam nyanyian rakyat kita, biasanya kita umpamakan lelaki sebagai matahari dan wanita sebagai rembulan, tetapi di antara kita, engkaulah yang laksana matahari dan aku hanya seperti sebutir bintang kecil yang bersinar guram saja seakan-akan kalau bisa memancarkan sedikit cahaya itupun karena berkat dirimu!".

"Kau memang boleh bangga, pahlawan padang rumput kita ke mana pun dan sampai di mana pun, para pemuda seperti ingin mengerumuni rembulan dan mengitarimu. Sebaliknya apakah aku sendiri tidak boleh mempunyai kebanggaan sedikit pun? Apakah suara nyanyianku jika sedang berkumandang di angkasa padang rumput tak dapat menarik perhatian dan sorot mata kekaguman para nona muda?"

"Hui-ang-kin, kau adalah pahlawan wanita akan tetapi aku tidak tahan lagi, pada waktu itulah Coh Ciau-lam dengan diam-diam telah datang menemui aku, ia membujukku membantu dia untuk menangkap Danu-loenghiong, kemudian memaksa bangsa Lopuh supaya takluk pada kerajaan Boan, katanya 'Setelah beberapa tahun bertempur pun sudah letih semuanya lebih baik menurut pada pasukan Boan dai-melewatkan hari-hari yang tenteram, di antara sukumu ini yang berkeras ingin perang adalah ayah-anak Danu, jika yang rua dapat ditangkap, yang muda tentu tak berani ber-ouat sesukanya."

"Perang atau tidak, itulah aku tidak peduli, tetapi aku memang sengaja membuat marah Hui-ang-kin, aku hendak berbuat sesuatu yang menggemparkan orang, agar pada Suatu ketika ia akan datang menyembah dan memohon padaku juga. Kini aku sudah tahu kesalahanku, Hui-ang-kin, tetapi aku tidak akan memohon pengampunanmu, kau boleh membelah dadaku, keluarkanlah hati dari orang yang pernah kaucintai."

Demikian Abu mengakhiri ucapannya.

Tangan Hui-ang-kin mendadak gemetaran, ia benci dan gemas sekali pada Abu, cintanya pada Abu kini sudah ludes sama sekali, ia bukannya tak tega mengangkat tangannya buat membunuh dia bukan!

Tetapi perkataan Abu yang terakhir tadi sama sekali tidak ia duga sebelumnya.

Tidak sedikit nona muda yang biasanya mengagumi suara nyanyian Abu, demi mendengar perkataannya sebelum menjalani kematiannya tadi, tiba-tiba mereka merasa walaupun dosa orang ini patut dihukum mati, tetapi rasanya harus dikasihani juga.

Bahkan ada nona-nona yang menundukkan kepala dan tak berani memandang ke atas panggung.

Nyo Hun-cong yang ikut berdiri di atas panggung, dengan jelas dapat melihat pedang Hui-ang-kin sedikit gemetar, ia dapat melihatnya pula letak kebaikan dan kelemahan watak Hui-ang-kin.

Ini adalah suatu persoalan rumit yang perlu dibicarakan dengan Hui-ang-kin secara baik-baik, demikian pikir Nyo Hun-cong.

Sementara itu para pemuda sedang berteriak-teriak dengan marah, banyak yang ingin naik ke atas panggung untuk menghajar Abu, syukur Kiai segera mengacungkan kedua tangannya untuk mencegah, dengan pelahan ia berseru.

"Demi kejayaan bangsa kita jika kamu diminta menyerahkan kambing dan sapi piaraanmu, kamu berkata ambillah sekalian kuda betinaku! Jika guna kebahagiaan bangsa kita dan menghendaki kamu pergi berperang, kamu berkata ikutkanlah anakku yang bani dewasa! Jika kamu berbuat sesuatu untuk kita semua dan merasa penasaran, janganlah kamu membantah, tetapi selesaikanlah lebih dahulu pekerjaan itu! Ini adalah salah satu ajaran dalam kitab suci kita dan telah tersebar ratusan tahun di padang rumput dan sudah kita ketahui bersama, bukankah begitu?"

Akhirnya ia bertanya. Abu menundukkan kepala, sedang Kiai berbicara semakin cepat dan semakin bersemangat, ia menyambung lagi.

"Kita bangsa Lopuh semua paham arti sabda Nabi tadi, demi Allah dan demi pihak yang benar untuk kebahagiaan bangsa kita semua, segala apa pun kita bersedia menyerahkannya, bukankah begitu, Abu? Kini, tentara Boan dari Kwan-gwa telah menjajah ke Kwan-lwe dan malahan terus menyerbu ke daerah Sinkiang kita, kuda perang mereka berlari sesukanya di padang rumput, serdadu mereka mengejar kafilah kita dan merampok kekayaan kita, mereka ingin menghancurkan kita, kaum penggembala kita di padang rumput tunduk seperti domba yang jinak untuk menjadi budak mereka. Memang, kecuali kalau kita sama sekali tak bertulang, jika sebaliknya tentu tiada seorang pun yang sudi berbuat begitu!"

"Abu, bangsa kita sedang melawan keganasan dan sedang mengalirkan darah, mereka berbuat untuk kejayaan bangsa Lopuh, apa yang dimiliki semua sudah dipersembahkan. Tetapi kau, hanya sedikit kesukaran sudah tak tahan, bahkan kau malah berlomba kebanggaan dengan orang yang kaucintai!"

"Apa yang dapat dibanggakan? Mempedayai pahlawan tua kita yang sangat kita hormati itu? Membunuh saudara-saudara sebangsamu dan menjadi anjing musuh? Hm, ini adalah perbuatan yang paling kotor dari budak yang tak tahu diri, sungguh memalukan kau masih berani mencela Hui-ang-kin!"

"Hui-ang-kin, ayahmu yang sudah di surga sedang memandang kau, bangsamu di bawah panggung sedang melihat kau, kini kau adalah pewaris dari kepala suku kita, kau boleh bertindak menurut pikiranmu."

"Hui-ang-kin, apakah yang hendak kauperbuat?"

Tanya Kiai mengakhiri pidatonya.

"Bawa arak kemari!"

Teriak Hui-ang-kin segera dengan suara lantang.

Maka seorang pemuda segera datang membawakan satu cawan besar berisi setengah cawan arak.

Dengan tangan kiri Hui-ang-kin memegang cawan itu, tangan kanan dengan pedangnya secepat kilat segera menusuk ke dada si Abu, dalam sekejap darah Abu muncrat keluar, Hui-ang-kin menadah dengan cawan dan segera terisi penuh satu cawan arak bercampur darah.

Ketika pedang dicabut, ujung pedang Hui-ang-kin sudah menancap dan mengait keluar sepotong hati manusia yang masih berlumuran darah.

Menyusul di antara suara tertawanya yang panjang dan seram, kakinya melayang, kontan mayat Abu terpental ke bawah panggung.

Hui-ang-kin menjinjing pedangnya, dengan cawan yang berisi arak darah ia membalik dan berjalan pelahan-lahan menuju tempat abu jenazah ayahnya, ketiga Kiai ikut di belakangnya, arak darah disiramkan dan hati Abu tertancap di atas panggung di muka meja abu, dan Hui-ang-kin pun menangis tersedusedu.

"Oh, ayah! Kini kau boleh memejamkan mata dengan tenang!"

Ia meratap.

Suasana di padang rumput sunyi senyap, semua orang yang hadir di situ menundukkan kepalanya, mengheningkan cipta.

Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara yang ramai disusul dengan suara derapan telapak kaki kuda yang semakin mendekat, dari jurusan timur telah menerobos datang sepasukan orang berkuda yang dikepalai seorang pembawa sebuah panji lebar.

Segera terdengar penjaga bangsa Lopuh berteriak.

"Kepala suku bangsa Tahsan datang!"

Tidak lama kemudian dari sebelah barat sana datang pula serombongan orang, penjaga melaporkan lagi.

"Wakil serikat lima kelompok suku Sahji datang!"

Begitulah berturut-turut tidak sampai setengah jam ternyata telah datang berkumpul tiga kepala suku dan empat belas pasukan dari kelompok suku lainnya.

Mereka berbaris rata berjajar dekat panggung tinggi itu.

Melihat keadaan yang tiba-tiba ini, air muka ketiga Kiai yang berada di atas panggung berubah hebat.

Angin malam di padang rumput bertiup semilir, api unggun di bawah panggung waktu itu sedang berkobar dengan hebat, Hui-ang-kin dengan menjinjing pedangnya maju ke muka panggung, tetapi ia tidak mengerti apa yang harus dilakukannya.

"Hamaya, lebih dulu meminta para paman naik ke atas panggung untuk sembahyang,"

Ujar Kiai dengan suara tenang. Hui-ang-kin membuang arak darah yang segera kering dihisap pasir.

"Para paman dan sahabat-sahabat,"

Katanya kemudian.

"Terima kasih, kalian telah datang dari tempat jauh, walaupun ayahku sudah meninggal, tetapi ia seperti masih hidup, darahnya sudah menetes di atas padang rumput, tetapi darah musuh dan pengkhianat telah menetes pula di atas padang rumput. Melihat kamu sekalian datang secara berduyun-duyun, aku yakin jika darah kita akan mengalir bagaikan sungai. Jika padang rumput mengubur kita seorang, pasti musuh akan terkubur sepuluh orang!"

"Abu ayahku masih berada di atas panggung ini, arwah ayahku tetap di atas kamu sekalian, ia sedang mendengarkan perkataan kamu sekalian, kini silakan kalian naik kemari!"

Ia mengakhiri pidato sambutannya.

"Hui-ang-kin yang hebat!"

Dalam hati Nyo Hun-cong memuji.

"Rombongan orang-orang ini gelagatnya tidak hanya hendak sembahyang, jika mereka benar-benar ada maksud tertentu, perkataan Hui-ang-kin tadi sungguh bisa membuat malu mereka, menghadap abu Danu-loenghiong, siapa pun harus bersumpah setia, kukira dapat memompa semangat dalam pertempuran melawan musuh."

Betul saja para kepala dan wakil-wakil suku lantas berbaris naik ke atas panggung, Hui-ang-kin melambai tangannya pada Nyo Hun-cong, dengan tenang Hun-cong lantas mengikut di belakang mereka, dengan rasa curiga semua orang memandang padanya, tetapi tiada yang berani buka suara.

Begitulah satu persatu mereka menuang arak darah di depan abu Danuloenghiong, paling belakang bergilir sampai Nyo Hun-cong, kepala suku Tahsan tiba-tiba bertanya.

"Siapakah dia?"

"Ia adalah Nyo Hun-cong, Nyo-taihiap!"

Jawab Hui-ang-kin. Semua orang terkejut begitu mendengar nama pendekar ini disebutkan.

"Ia mewakili orang-orang Kazak atau bangsa Lopuh?"

Tanya pula kepala suku Tahsan itu.

"Aku adalah orang Han,"

Sahut Nyo Hun-cong dengan ketus.

"Aku pun adalah kawan seperjuangan orang Kazak dan sahabat Hamaya! Aku tidak mewakili siapa pun juga, siapa yang melawan pasukan Boan, akulah kawannya begitu pun sebaliknya?"

Karena kata-kata yang bersemangat ini, kepala dan wakil-wakil suku itu semua berteriak.

"Bagus!"

Dengan tenang kemudian kepala suku Tahsan bertanya pada ketiga Kiai.

"Danu-loenghiong kini sudah meninggal, bukankah anak gadisnya yang akan menggantikan kedudukannya?"

"Apakah kauanggap kami punya Hamaya kurang cakap?"

Kiai itu berbalik bertanya.

"Hui-ang-kin, pahlawan wanita yang tersohor di seluruh Sinkiang selatan, siapa berani bilang ia kurang cakap!"

Ujar kepala suku Tahsan dengan sungguhsungguh.

"Tetapi kau jangan lupa, pahlawan tua Danu bukan saja kepala sukumu, tetapi juga adalah ketua serikat kita."

"Kami datang menyembah pahlawan tua Danu, kami justru juga ingin pada malam ini menetapkan siapakah yang pantas menjadi ketua serikat yang baru,"

Sambung wakil dari suku Sahji.

"Kami bukannya tidak mengagumi nona Huiang-kin, tetapi menurut peraturan kita harus diadakan pertandingan, baru bisa menentukan siapa-siapa yang akan menjadi ketua baru kita."

"Memang, usiaku masih terlalu muda, tentang ketua serikat itu aku sekali-kali tak berani menginginkan, aku tidak berani ikut berlomba, jika ada yang terpilih, akulah yang pertama-tama tunduk padanya!"

Sahut Hui-ang-kin dengan cepat dan merendah.

"Tidak, itu tidak boleh,"

Seru kepala suku Sahmal sambil tertawa.

"Pahlawan wanita Hui-ang-kin dan pejuang-pejuang dari suku Lopuh mana boleh tidak ikut berlomba? Kami bukannya hendak berebut menjadi ketua serikat, tetapi tujuan kami adalah untuk memilih seorang ketua yang betul-betul dapat kami puji dan bisa memimpin kita melawan musuh!"

"Kiranya demikian,"

Pikir Hun-cong dalam hati dengan lega.

"Cukup hanya orang yang sanggup melawan tentara Boan saja sudah dapat dipilih."

Maka ia lantas menyeletuk.

"Hamaya, musuh sedang menanti, siapa pun tak usah merendah diri, berbuatlah menurut peraturan kalian yang sudah ada."

Hui-ang-kin memandang Nyo Hun-cong, lalu meinanggutkan kepala tanda menyanggupinya.

Pertandingan segera dimulai, walaupun bukan pertarungan mengadu jiwa, tetapi cukup menggetarkan hati.

Babak pertama ialah gulat, jago dari suku Sahmal telah dibanting roboh oleh jago dari suku Sahji, yang tersebut belakangan ini kemudian terbanting pula oleh jago dari suku Lopuh hingga copot dua giginya.

Jago suku Tahsan kemudian mengalahkan lagi jago dari Lopuh, Hui-ang-kin adalah wanita, kurang pantas untuk ikut bergulat, maka ia tidak turut, sampai akhirnya sudah tiada orang yang berani rnaju bertanding lagi, ketika jago suku Tahsan akan dianggap sebagai juara, tiba-tiba Nyo Hun-cong tampil ke muka di antara orang banyak.

"Harap aku pun boleh diikut-sertakan, jika menang boleh anggap saja kemenangan bagi nona Hamaya!"

Kata Hun-cong. Dengan suara pelahan Hui-ang-kin mengucapkan terima kasih. Jago suku Tahsan tadi bernama Akat, ia adalah jago gulat dari seluruh daerah selatan Sinkiang.

"Hm, bagaimana bisa tahu kamu yang akan menang?"

Jengeknya dengan gusar. Segera ia mendekati Nyo Hun-cong.

"Nyo-taihiap harap memberi beberapa pelajaran,"

Kata Hui-ang-kin. Nyo Hun-cong tersenyum, kedua tangannya diluruskan ke lututnya.

"Silakan!"

Katanya.

Cara bergulat di sana adalah empat tangan bersikapan di antara badan masing-masing, selamanya tiada cara kedua tangan diturunkan dan kaki berdiri tegak.

Karenanya Akat menjadi "heran dengan sikap Nyo Hun-cong ini.

"Cara begini bagaimana bisa terhitung bergulat,"

Katanya.

"Kau boleh mengeluarkan tenaga sesukamu, kalau aku terbanting roboh, boleh menganggap aku yang kalah,"

Kata Nyo Hun-cong dengan tersenyum.

Akat menjadi gusar, dengan kedua kaki sedikit menekuk dan kedua lutut menyanggah kuat, kedua tangannya segera berusaha mengangkat badan Nyo Hun-cong dan hendak dibantingnya.

"Pergi!"

Bentak Nyo Hun-cong.

Tidak terlihat ia berkelit atau gerakan tangannya, Akat ternyata sudah terpental beberapa kaki jauhnya.

Semua orang saling pandang dengan heran dengan kejadian itu.

Sementara itu sesudah Akat menggelindingkan badannya, segera ia bangun lagi, ia kuatkan kuda-kudanya, dengan kedua tangan memegang pundak Nyo Hun-cong, tangan kiri mendorong.

Tangan kanan kelima jarinya seperti kaitan menarik ke bawah, ini adalah satu gerakan dalam ilmu gulat yang dinamakan 'Thui-jong-bonggwat', membuka jendela memandang rembulan.

"Pergi!"

Bentak Nyo Hun-cong pula. Ternyata ia tidak jatuh, sebaliknya tubuh Akat yang tinggi besar telah terpental lagi dan jatuh telentang. Karena kagetnya Akat lalu berteriak.

"Ilmu siluman, ilmu siluman!"

Hui-ang-kin yang ilmu silatnya cukup dalam, melihat Nyo Hun-cong dengan tidak bergerak sedikit pun telah membanting roboh lawannya, tanpa terasa mulutnya memuji.

"Sungguh ilmu 'Tiap-ie-sip-pat-tiat' (Menempel baju jatuh delapan belas kali) yang luar biasa!"

Ilmu ini kalau bukan ahli tenaga dalam yang telah mahir betul, tidak akan mudah mempelajarinya.

Teori 'Tiap-ie-sip-pat-tiat' adalah sama dengan 'Thay-kek-kun' yang mengutamakan 'pinjam tenaga memukul balik tenaga lawan', dengan menggunakan tenaga yang musuh keluarkan untuk memukul musuh sendiri, hanya 'Tiap-ie-sip-pat-tiat' masih harus mahir dalam mengumpulkan napas untuk berbalik memukul musuh, dibandingkan 'pinjam tenaga memukul balik tenaga lawan' adalah lebih sukar lagi.

Walaupun Akat pandai bergulat, tetapi ia tidak paham ilmu semacam ini sehingga ia masih belum mau mengaku kalah.

"Jika kau tidak menggunakan ilmu siluman, tetapi pakai kepandaian gulat menurut peraturan biasa dan aku terbanting roboh, segera aku akan mengaku kalah,"

Teriaknya penasaran. Kepala suku dari Tahsan adalah seorang ahli tenaga dalam, maka ia tahu ilmu Nyo Hun-cong yang asli.

"Kau tidak mengerti ilmu ini, jangan sembarang mengoceh,"

Ia mengomel sambil tertawa.

Ia tahu diri sendiri bukan tandingan Nyo Hun-cong, maka ia tak berani maju bertanding, hanya hendak mengakui kekalahan Akat dan menyuruhnya mundur teratur.

Tetapi ternyata Akat masih berdiri tegak di hadapan Nyo Hun-cong dan tidak ambil peduli kata-kata orang lain.

Nyo Hun-cong mengerti lawan masih penasaran dan belum mau takluk, segera kedua kakinya agak dilengkungkan dan kedua tangannya diulurkan sambil berkata.

"Ayo, marilah mulai lagi!"

Akat segera menubruk maju dan membetot tangan Nyo Hun-cong, yang disebut belakangan ini menarik tangannya ke bawah dan ujung kakinya sedikit mengait, Akat yang sudah mengeluarkan tenaga sepenuhnya sukar untuk berhenti lagi dan karena keseimbangan badannya berkurang, segera ia jatuh tersungkur oleh gaetan kaki Nyo Hun-cong tadi.

"Bagus,"

Kata Akat setelah bangun dan mengacungkan jempolnya.

"Inilah baru namanya bergulat, kini aku mengaku kalah!"

Sedang Nyo Hun-cong akan mundur, dari rombongan orang Tahsan telah tampil kembali seorang yang bertenaga besar bernama Takad.

"Nyo-taihiap, marilah kita coba-coba kepalan saja,"

Tantangnya. Orang ini tingginya enam kaki lebih, kedua lengan dengan ototnya menonjol di sana-sini, waktu tangan terulur bahkan bersuara berkeretekan. Tiba-tiba Hui-ang-kin maju ke tengah.

"Nyo-taihiap adalah tamu kita, tidak baik kalau terus merecoki dia, biarlah aku yang coba-coba kepalanmu,"

Ujarnya. Hui-ang-kin yang berpotongan lemah-lembut dan kecil langsing, kalau dibandingkan dengan raksasa itu sungguh sangat menyolok sekati. Sementara itu Nyo Hun-cong telah mundur dengan tersenyum.

"Hamaya,"

Kata Takad.

"Ilmu pedangmu tersohor di seluruh daerah selatan, tetapi beradu kaki dan tangan tidak boleh dibuat gegabah, dengan satu kepalan aku sanggup memukul mati seekor unta, jika sampai melukai dirimu nanti, itulah kurang enak rasanya,"

Setelah berkata begitu ia memukul dengan satu kepalannya pada satu pohon kecil, segera pohon itu ambruk roboh.

Hui-ang-kin hanya meliriknya dan anggap seperti tidak terjadi apa-apa, ia hanya tersenyum.

"Pohon adalah barang tak bergerak, mana bisa dibandingkan orang yang dapat bergerak,"

Katanya.

"Kau boleh mengeluarkan pukulanmu, kalau aku mati terpukul, bangsaku juga tak akan menyalahkan kau."

Takad berpikir, umpama orang bisa berputar-putar, cukup terkena angin kepalanku saja sudah bisa dirobohkan, andaikan aku tidak bisa mengenai dirinya, dia pun tak akan bisa memukul diriku, jika dia hanya main berkelit, itu sudah terhitung aku yang menang.

Berpikir begitu, mendadak ia memukul, Hui-ang-kin berkelit dengan tenang dan segera sudah berada di belakangnya, telapak tangan segera memukul dan mengenai punggung lawannya.

Kekuatan yang dipergunakan Hui-ang-kin adalah kekuatan ahli tenaga dalam, keruan Takad kesakitan dan berteriak-teriak.

Tetapi ia pun tidak lemah, tangannya membalik lantas menyambar, tangan yang sebesar kipas itu mencengkeram Hui-ang-kin, tetapi Hui-ang-kin keburu berkelit, ia lantas mengulurkan tangannya dengan pelahan mendorong pundak orang, karena itu Takad segera tergopoh-gopoh mundur beberapa tindak ke belakang.

Menyusul kemudian dengan suara geram, ia melompat maju menubruk dan memukul dengan kedua kepalan berbareng seperti dua martil besi yang tak dapat ditahan.

Hui-ang-kin sedikit mengegos dan berbareng mengulurkan tangan menarik tangan lawannya.

Pukulan Takad tadi, kekuatannya tidak kurang dari ribuan kati kerasnya, kini ditarik sekaligus oleh Hui-ang-kin, seketika ia kehilangan keseimbangan badannya, segera ia merasa seperti melayang di udara dan terbang menuju ke sana.

Syukur Nyo Hun-cong dengan cepat rpenggunakan ilmu mengentengkan tubuh, seperti anak panah terlepas dari busurnya memburu dan memegang tubuh orang, setelah diletakkan turun, seluruh padang rumput sudah bergemuruh dengan tepuk tangan memuji.

Takad ternyata adalah seorang laki-laki yang lugu, lebih dahulu ia menghaturkan terima kasih pada Nyo Hun-cong yang telah menolong dia, kemudian ia menjura pada Hui-ang-kin.

"Nona mempunyai kepandaian, aku Takad kini betul-betul takluk!"

Katanya.

Hui-ang-kin hanya tersenyum.

Menyusul dari suku Sinjah keluar empat penunggang kuda yang gagah, ilmu menunggang kuda mereka harus dipuji, setelah mengitari tanah rumput sana, mereka tiba-tiba berhenti dan bertanya.

"Kami hendak meminta pelajaran ilmu menunggang kuda dari jago-jago Lopuh dan juga kepandaian menggunakan cambuk."

"Lekas bawa sini kuda putihku!"

Perintah Hui-ang-kin segera. Keempat penunggang kuda itu tak menduga bahwa Hui-ang-kin sendiri yang menerima tantangan mereka.

"Nona Hui-ang-kin, apakah kau juga yang akan berlomba? Kalau begitu boleh pilih lagi tiga kawan lainnya,"

Kata mereka berbareng.

Sementara kawan Hui-ang-kin telah menuntun keluar seekor kuda putih, Huiang-kin menyemplak naik ke atas kudanya dan melolos cambuknya yang diayunkan hingga segera terdengar suara seperti suara petasan.

"Biarlah aku seorang diri menerima pengajaran kepandaian menunggang kuda dan ilmu cambuk dari kalian berempat,"

Sahutnya kemudian. Habis berkata, kedua kakinya mengempit kencang kuda yang segera berlari layaknya terbang di antara dataran rumput itu.

"Bagus", teriak keempat penunggang kuda tadi. Mereka segera menerjang berbareng menyusuli Hui-ang-kin, setelah dekat tiba-tiba mereka membagi ke sirrj nng dan dari muka belakang hendak mencegat, empat cambuk panjang segera disabetkan ke arah Hui-ang-kin dan kelihatannya hampir mengenai badan gadis itu. Karena kejadian ini, para wanita suku Lopuh sama berteriak kaget. Tetapi tahu-tahu Hui-ang-kin yang tadinya kelihatan di atas punggung kuda telah lenyap, ternyata ia sejak tadi sudah bersembunyi di bawah perut kudanya. Kuda putihnya yang terkena satu pecutan mendadak menerjang ke muka, penunggang kuda yang di depan menarik kudanya hendak menghindari supaya kuda putih lewat di sampingnya. Namun cepat sekali Hui-ang-kin tahu-tahu sudah putar balik kembali di punggung kudanya dan cambuk panjangnya sudah bekerja, penunggang kuda tadi melihat saja belum jelas sudah terlempar jatuh dari kudanya. Hui-ang-kin tidak tinggal diam lagi, pecutnya yang menyabet balik telah memaksa jatuh pula seorang penunggang yang lain. Tinggal dua orang ya^g lain seketika menjadi kalang-kabut, mereka mencoba menghindar tetapi tidak seberapa lama satu persatu sudah disapu jatuh oleh Hui-ang-kin. Kepala suku Tahsan sudah tak tahan lagi, ia cepat berlari keluar dan menghadang di muka kuda Hui-ang-kin.

"Apakah nona sudah letih?"

Tanyanya. Hui-ang-kin melompat turun dari kudanya, ia memberi hormat.

"Jika paman sudi memberi pelajaran, mana/ aku berani menolak,"

Sahutnya merendah. Kepala suku Tahsan ini bernama Pahla, ia memahami 'Thian-liong-cio-hwat' dari Tibet, ia terhitung salah satu ahli tenaga dalam.

"Aku ingin belajar Cio-hoat dari nona,"

Katanya.

"Kalau begitu, silakan mulai menyerang,"

Jawab Hui-ang-kin.

Secepat angin Pahla segera membuka serangan, kedua lengan dijulurkan keluar, dengan telapak tangan kanannya yang baru dijulurkan tadi sampai di tengah jalan telah dia tarik kembali dan diganti menjadi kepalan yang memukul dada Hui-ang-kin.

Tapi gerakan Hui-ang-kin sangat gesit dan cepat, tiba-tiba ia membalikkan badannya dan dengan satu dorongan tangannya telah memusnahkan serangan lawan, kedua telapak tangannya pelahan ditepukkan mematahkan serangan lawan, menyusul kedua telapak tangannya pelahan ditepukkan pula.

Dengan begitu pundak lawan sudah terkena sekali pukulan.

Cepat Pahla mengkerutkan badan dan menarik tangannya, telapak tangan menebas ke bawah hendak memotong urat nadi Hui-ang-kin, gerakan ini cepat sekali seperti letikan api, serangan ini adalah pukulan paling lihai dari 'Thianliong-cio-hwat', bergaya menahan dan berbalik menyerang.

Tidak disangka, Hui-ang-kin hanya berputar dengan pelahan, badannya tahutahu sudah melayang pergi bagaikan sedang menari.

Pikiran Nyo Hun-cong tergerak oleh gaya tubuh Hui-ang-kin, ia pikir.

"Cara ini seperti sudah pernah kulihat, entah di mana?"

Setelah berpikir dan mengingat lagi baru ia teringat dulu sewaktu dirinya baru tiga tahun belajar silat di Thian-san, waktu itu Coh Ciau-lam belum lama naik gunung, Suhu minta dirinya mewakili memberi pelajaran Cio-hwat atau ilmu pukulan dengan telapak tangan kepada Coh Ciau-lam.

Pada suatu hari, kakak beradik seperguruan sedang saling belajar, tiba-tiba datang seorang nenek.

"Cio-hwat yang bagus", kata nenek itu sambil menyuruh kedua kakak-beradik berbareng mencoba menyerang padanya, ia sendiri hanya melayang ke sana sini, sebentar saja dirinya sudah terkena beberapa kali serangan telapak tangan nenek itu, beruntung orang tidak memukul dengan sungguh-an, maka ia tidak merasa sakit. Kala itu, tahu-tahu Suhunya pun muncul.

"Pek-thay-po,*kenapa kauakali anak-anak,"

Tanya Suhu dengan tertawa.

"Hui-bing, kau selalu tidak mau bertanding denganku, aku mengira Thian-sancio-hwat tiada lawannya di kolong langit ini, tidak tahunya hanya begini saja,"

Kata nenek itu dengan muka menghina.

Belakangan Suhu dipaksa bertanding dengan dia, kedua anak tersebut waktu itu menyaksikan pertandingan ramai itu sampai berkunang-kunang, sampai bayangannya saja tidak dapat dibedakan.

Pada suatu saat, tiba-tiba nenek itu keluar dari kalangan dan terus mengeluyur pergi dengan diam-diam tanpa diketahui alasannya.

"Mengapa perempuan tua ini begitu suka mengunggulkan diri,"

Sesal Suhunya.

Karena heran kakak-beradik seperguruan ini berulang kali telah bertanya, aldiirnya barulah diketahui bahwa tadi Suhu telah memenangkan satu pukulan.

Begitulah maka demi Nyo Hun-cong melihat Hui-ang-kin mempunyai pukulan serupa im segera ia teringat pada nenek tua itu, tidak usah melihat terus ia sudah tahu Hui-ang-kin pasti bakal menang.

Dan betul juga, tidak lama kemudian mendadak terdengar teriakan Pahla, ia telah terlempar dua tiga depa ke sana.

Syukur Hui-ang-kin memburu cepat, ia melayang ke muka secepat anak panah, tangannya sudah memegang tung-kak kaki Pahla, dengan paksa ditarik kembali.

Tadi sewaktu Pahla bertanding dengan Hui-ang-kin, ia mempunyai 'Thianliong-cio-hwat' yang mempunyai seratus dua puluh enam pukulan yang sudah dikeluarkan lebih dari separahnya, akan tetapi belum dapat menyenggol sedikit pun tubuh Hui-ang-kin, bahkan kain bajunya saja tak mampu menyenggol, ia menjadi keder dan gugup, dengan segera ia menggunakan tiga pukulan paling lihai dari 'Thian-liong-cio-hwat'.

Pukulan pertama 'Oh-liong-ka-thiau' atau naga hitam membelit tiang, dua telapak tangannya satu memuntir dan yang satu membelit menubruk ke tubuh Hui-ang-kin, tetapi Hui-ang-kin telah mengegos dan melayang pergi lagi.

"Bagus!"

Seru Pahla sambil badan mendekam terus melompat maju, pukulan keduanya 'Siang-liong-jut-hai' atau sepasang naga keluar dari lautan, dua telapak tangannya berbareng menggempur bagian belakang Hui-ang-kin.

Hui-ang-kin kembali berkelit dan memutar tubuhnya.

Tetapi kedua telapak Pahla yang memukul sampai di tengah jalan, mendadak berubah menjadi kepalan, pukulan yang ketiga 'Ting-san-gia-houw' atau naik gunung menunggang macan, kepalan kiri menangkis dan kepalan kanan mendadak memukul keras.

Gerakan ini begitu cepat dan luar biasa ia mengira Hui-ang-kin pasti tidak terluput dari pukulan ini, tidak terduga Hui-ang-kin telah menaikkan kedua tangannya dan segera menahan kedua bahu lawan, berbareng terdengar ia membentak.

"Pergi!"

Tubuh Pahla yang besar bagai kerbau segera terlempar pergi.

Orang banyak sama menjerit, Pahla sendiri pun semangatnya seperti sudah terbang.

Tidak tahunya gerakan Hui-ang-kin ternyata begitu cepat, sudah melemparkan tubuh orang masih dapat menariknya kembali.

Setelah Pahla bisa berdiri tegak, ia mengusap keringatnya dan terus menjura.

"Kepandaian nona sungguh sangat luar biasa, aku dan bangsaku dengan sungguh-sungguh mengangkat nona sebagai ketua serikat kita yang baru!"

Katanya kemudian dengan serius.

Maka terdengar di seluruh padang rumput suara sorak-sorai yang bergemuruh, kepala dan wakil dari suku Sahji, Sahmal, dan Sinja semua berkerumun datang memberi selamat pada Hui-ang-kin.

Berturut-turut Hui-ang-kin memenangkan tiga kali pertandingan, mengalahkan orang kuat dari daerah selatan, dengan cambuknya merobohkan empat penunggang kuda yang terpandai dan mengalahkan Pahla dengan telapak tangannya, tiap kemenangan menunjukkan keahliannya yang berlainan, keruan saja tiga bangsa dan empat belas kelompok suku tiada seorang pun yang tak kagum dan takut, juga mereka bersyukur bisa mendapatkan .eorang pemimpin serikat yang perkasa.

Ketika Hui-ang-kin hendak menolak pengangkatan ini, tapi mana bisa dia menolak lagi, segera ia disongsong naik ke atas panggung, Nyo Hun-cong pun ikut naik ke atas.

Dengan pelahan ia berbisik di telinga Hui-ang-kin.

"Hui-ang-kin, terimalah pengangkatan mereka untuk menjadi 'Beng-cu' (ketua perserikatan)."

Hui-ang-kin memandang ke sekelilingnya, lalu ia pun berkata pelahan.

"Nyotaihiap, tetapi kau harus tetap tinggal di daerah selatan sini!"

Sementara para kepala suku itu pun mengerumuni Nyo Hun-cong juga.

"Betul, Nyo-taihiap kau tadi bertanding mewakili suku Lopuh, kau harus juga membantu Beng-cu kami yang baru!"

Kata mereka.

"Siapa saja yang melawan tentara Boan, aku senantiasa siap membantunya,"

Sahut Nyo Hun-cong dengan tertawa.

"Nona Hamaya kini adalah tulang punggung pertahanan di daerah selatan sini, jika aku tinggal di sini aku akan membantu di bawah perintahnya."

Mendengar perkataan Nyo Hun-cong itu, semua orang kembali bersorak lagi.

Hui-ang-kin lalu membayangkan ayahnya lagi dan bersama dengan para kepala dan wakil suku bangsa, mereka bersumpah setia dengan darah, Hui-ang-kin sendiri kini berlaku sebagai ketua serikat atau Beng-cu.

Dengan begitu, suasana di padang rumput segera berubah menjadi riang gembira, pemuda-pemudi mengitari api unggun mulai menyanyikan lagi lagu yang memuja nama Hui-ang kin atau Si Selendang Merah.

Sejenak saja terdengar suara.

"Kita punya pahlawan wanita.....Hamaya, namanya yang tersohor di padang rumput....."

Bergema di angkasa luas.

Kiai-Kiai dari suku Lopuh melihat semua orang dalam keadaan riang sekali, mereka pun merasa senang.

Maka mereka lantas menyatakan sepanjang malam ini boleh bersuka ria sepuasnya untuk merayakan terpilihnya Hui-ang-kin sebagai Beng-cu atau ketua serikat dari suku-suku bangsa, dan memperbolehkan pemuda-pemudi bermain 'domba nakal'.

Yang dinamakan permainan 'domba nakal' ialah suatu gabungan dari 'ilmu menunggang kuda' dan mengejar kekasih, pemuda-pemudi menaiki kuda dan berkejar-kejaran di padang rumput luas, pemuda di muka dan pemudi mengejar di belakangnya.

Jika pemudanya terkejar oleh pemudinya, maka ia harus menerima pecutan cambuk dari pemudi sesukanya.

Kelihatannya si pemudi memperoleh kemurahan, akan tetapi tidak gampang bagi pemuda-pemuda yang menginginkan pecutan pemudi, sebab pemudinya pun tidak semba-rangan mengejar dan memecuti pemudanya kalau bukan pemuda yang menjadi,pacarnya.

Waktu itu Nyo Hun-cong sudah turun di bawah panggung dan bercampur di antara mereka, ia pun bernyanyi dan menari bersama dengan mereka.

Sementara itu pasangan pemuda-pemudi yang menunggang kuda berkejaran di padang luas asyik dengan permainan 'domba nakal', sesaat suara pecut terdengar di sana-sini, seluruh tanah padang rumput penuh dengan suasana yang riang gembira.

Nyo Hun-cong ikut merasakan kegembiraan itu, tiba-tiba orang-orang di kedua sampingnya pada minggir, ternyata Hui-ang-kin tidak diketahui entah sejak kapan telah turun dari panggung dan telah mendekatinya.

"Nyo-taihiap, kau tidak bermain 'domba nakal' juga?"

Tanyanya dengan tersenyum. Hati Nyo Hun-cong berdebar.

"Tidak, aku tidak pandai menunggang kuda dan tidak tahu cara-caranya,"

Jawabnya dengan cepat.

"Kau tak usah gugup, aku tidak bermaksud memecutmu,"

Kata Hui-ang-kin lagi dengan tersenyum pula.

"Mereka orang muda bermain 'domba nakal' buat berlatih ilmu menunggang kuda? Aku paling suka suasana malam di padang rumput, maukah kau menemani aku pergi berjalan-jalan?"

Mendengar itu, muka Nyo Hun-cong menjadi merah, merasa dirinya terlalu banyak berpikir yang bukan-bukan.

Ketika ia hendak menjawab, ia lihat pemuda-pemudi di sekitarnya sedang memandang dengan tersenyum kagum, ia menjadi rikuh.

"Kalau begitu baiklah, kita pergi berjalan-jalan, tetapi tak usah menunggang kuda, dengan langkah kita kiranya tak kalah dengan kuda mereka,"

Ujarnya.

Ia masih mencoba menghindari permainan 'domba nakal' dengan Hui-ang-kin.

Angin malam di padang rumput sayup-sayup membawa bau-bauan rumput wangi, bintang-bintang berkelap-kelip seperti pelita yang sedang menari.

Kedua orang im berjalan terus, makin lama makin jauh, tidak terasa telah jauh dari suasana ramai dan sampai di padang luas, di belakang mereka suara nyanyian yang memuja Hui-ang-kin sayup-sayup masih terdengar.

Hui-ang-kin tersenyum simpul, agaknya seperti senang sekali.

Tiba-tiba Nyo Hun-cong teringat oleh perkataan Abu tadi, pelahan-lahan ia menarik tangan Hui-ang-kin.

"Hamaya, selamat dan berbahagialah, kau telah diangkat menjadi Beng-cu mereka,"

Katanya pada Hui-ang -kin. Hui-ang-kin menjadi tercengang.

"Apa? Kau juga begini sungkan padaku, kepandaianku masih jauh dibandingkan kau?"

Sahurnya kemudian. Nyo Hun-cong tersenyum. Tiba-tiba ia berkata lagi.

"Hui-ang-kin, kalau betul kau tidak suka cara-cara yang terlalu kaku, baiklah aku hendak bicara terus-terang padamu, apa kau akan menyesali diriku?"

Mata Hui-ang-kin bersinar, agaknya ia terheran-heran.

"Nyo-taihiap, jika aku ada kesalahan yang letaknya aku tidak tahu, bicaralah terus terang,"

Katanya. Nyo Hun-cong berpikir sejenak, habis itu baru ia berkata lagi di bawah pandangan Hui-ang-kin yang tajam.

"Hamaya,"

Ia memulai.

"Pemuda-pemudi di padang rumput semua memujamu, kepandaianmu juga memang tiada bandingannya di kalangan wanita dan boleh disebut gagah perkasa, tetapi apakah juga sudah terpikir olehmu pu-jaanpujaan semacam itu bisa juga menimbulkan angin pasir yang berbalik bisa mengubur dirimu?"

"Im bukan aku yang menyuruh mereka menyanyikan lagu pujaan begitu, jika kau tak suka mendengarnya, aku dapat melarang mereka menyanyikannya,"

Kata Hui-ang-kin. Nyo Hun-cong bergelak tertawa karena jawabannya.

"Hui-ang-kin,"

Katanya.

"Kau ternyata tidak paham maksudku, aku sangat suka dengan lagu-lagu im, karena aku suka melihat rakyat gembala mempunyai pahlawan pujaannya, mereka bersatu padu di bawah orang pujaannya tentu bisa menimbulkan tenaga persatuan yang besar, dan kau, Hui-ang-kin, juga pantas dibuat pujaan lagu mereka!"

"Tetapi bukan ini yang kumaksudkan, maksudku adalah, apakah kau sudah pernah memikirkan bahwa lagu-lagu pujaan ini juga bisa membawa bibit bahaya bagimu, Hui-ang-kin, masih ingatkah kau perkataan Abu sebelum binasa?"

Hui-ang-kin melepaskan tangannya yang dipegang o-rang, ia memandang Huncong dengan penuh tanda tanya.

"Nyo-taihiap, apakah kauanggap perkataan Abu im memang betul?"

Tanyanya.

"Hui-ang-kin,"

Kata Hun-cong dengan sungguh-sungguh pula.

"Kematian Abu memang sudah sepantasnya, tetapi apa yang ia katakan padamu, adalah bagian berharga untuk kaupikirkan, ia adalah kekasihmu, mengapa ia sampai berkhianat dan malahan berbalik memihak musuh?"

"Itu adalah karena jiwanya yang rendah!"

Sahut Hui-ang-kin dengan muka merah padam.

"Itu memang betul, jiwanya memang rendah dan busuk,"

Kata Nyo Hun-cong.

"Tetapi ia bisa berkhianat sedikitnya ada sangkut-pautnya dengan dirimu."

"Maksudmu aku pun bersalah?"

Tanya Hui-ang-kin. Nyo Hun-cong memegang erat-erat lagi tangan Hui-ang-kin.

"Betul,"

Katanya.

"Kau pun bersalah, Hui-ang-kin! Aku berkenalan denganmu memang belum lama, tetapi dalam beberapa hari ini aku telah dapat memahami bahwa semua orang memuja dirimu, semua mengatakan kau adalah pahlawan wanita, namamu tersohor di padang rumput, aku merasa dalam hatimu telah tumbuh semacam perasaan, perasaan ini adalah perasaan bangga di dalam hati!"

"Kaukatakan aku bangga diri!"

Tanya Hui-ang-kin dengan nada kurang senang.

"Kau bisa tanya pada bangsaku, aku terhadap mereka bukankah sangat ramah? Anak kecil sekalipun suka bersahabat denganku!"

Nyo Hun-cong tertawa demi mendengar keterangan ini.

"Nah karena rasa kebanggaanmu tidak kelihatan di lahir, maka sampai kau sendiri pun tidak merasakannya,"

Katanya kemudian.

"Kebanggaan di dalam hati, sering-sering hanya melihat orang yang paling dekat dengan dirimu,"

Ia melanjutkan.

"Abu pernah dekat denganmu, maka ia merasakan benar rasa kebanggaan pada dirimu, kau tidak pernah memandang dia sederajat denganmu, bukankah begitu, Hui-ang-kin?"

"Urusan Abu masih soal kecil, jika kau masih terus merasa kebanggaan pada dirimu tumbuh dalam hatimu, bahkan berkembang biak, maka Hui-ang-kin, benih itu pasti akan meracuni jiwamu!"

"Hui-ang-kin, coba berterus-teranglah padaku, di kala kau mendengar suara orang yang memujamu, bagaimana perasaanmu? Apakah menimbulkan kegirangan pada dirimu? Atau menimbulkan kewaspadaanmu? Aku menerka, kau tentu sangat girang, andaikan lahirmu mengatakan tidak senang, tetapi di dalam hatimu kau tentu tetap girang, tidakkah begitu, Hui-ang-kin?"

Huncong mengakhiri perkataannya.

"Memang betul, Nyo-taihiap, begitulah sesungguhnya,"

Hui-ang-kin memanggutkan kepalanya, kemudian katanya.

"Aku tidak membohongimu, memang sebenarnya adalah begitu."

Setelah ia mengulangi perkataannya tadi, ia lantas diam saja, ia menggandeng tangan Nyo Hun-cong dan pelahan-lahan berjalan di atas padang rumput, lama dan lama sekali baru ia seperti sadar dari mimpinya.

"Nyo-taihiap, aku berterima kasih padamu,"

Katanya lagi sambil menghela napas.

Mendengar im, Hun-cong merasa ganjalan hatinya segera hilang, ia mendongak ke atas, bulan ternyata sudah lewat di tengah langit dan mendoyong ke barat.

Ia merasakan Hui-ang Hn juga seperti rembulan yang bersih tanpa noda lagi.

Dengan girang ia bersiul-siul, Hui-ang-kin pun terharu oleh rasa girangnya, kemudian ia pun menyanyikan lagu gembira yang paling merdu di padang rumput dengan suara lirih.

"Persoalan pokok sudah beres, kini bolehlah kita bermain sepuasnya,"

Kata Nyo Hun-cong dengan tersenyum. Justru pada waktu itu sedang berlari lewat di depan sana seekor kambing dengan cepat seperti kaget oleh suara orang. Hui-ang-kin tertawa riang melihat kambing itu.

"Mari kita memburunya, kita boleh pula berlomba Gin-kang (ilmu meringankan tubuh), tetapi kau jangan mengatakan aku sombong atau bangga,"

Ajaknya sambil menuding kambing itu.

"Ini tiada sangkut-pautnya dengan kebanggaan, baiklah kau mengejar lebih dulu!"

Jawab Hun-cong. Baru selesai perkataannya, sekonyong-konyong Hui-ang-kin sudah mengejar ke sana bagaikan terbang, mirip pula segulungan bayangan putih yang bergulung-gulung di padang rumput.

"Ilmu meringankan tubuh yang bagus!"

Puji Nyo Hun-cong.

Segera ia pun melangkah dan mengudak dengan cepat pula.

Kalau Hui-ang-kin berlari dengan cepat, maka Nyo Hun-cong pun mengejar dengan kencang, tidak lama mereka sudah melampaui kambing tadi, tetapi semangat mereka masih penuh, maka mereka masih terus lari berkejaran dengan cepat laksana angin kencang.

Mereka menggunakan ilmu meringankan tubuh, larinya makin lama makin cepat, karena Nyo Hun-cong membiarkan Hui-ang-kin lebih dulu, selalu ia pertahankan beberapa puluh tindak di belakangnya.

"Dapatkah kau mengejarku?"

Tanya Hui-ang-kin sambil berlari.

"Lihat saja!"

Sahut Hun-cong.

Ia segera mengumpulkan tenaganya dan menggunakan ilmu berlari cepat 'Patpoh-kan-sian' atau delapan langkah memburu tonggeret, beberapa kali naik turun ia sudah berhasil mendahului di muka Hui-ang-kin.

Lalu segera pula ia membalik badan dan mengadang dengan kedua tangannya.

"Hui-ang-kin, ilmu larimu sungguh bagus sekali, meski aku berhasil mengejarmu, tetapi dahiku pun sudah berkeringat!"

Ujarnya.

"Aku tidak suka kau pura-pura merendah, lebih baik kau berterus-terang bilang aku yang menang,"

Kata Hui-ang-kin dengan tertawa. Setelah kedua orang tertawa sebentar, mendadak Hui-ang-kin berkata lagi.

"Lihat, entah kita sudah lari berapa jauh, gunung yang ada di muka sana bernama gunung Mahsal, pemandangannya bagus sekali, bangsaku sering berburu dan bermain ke sana, berjalan mulai dari perkampungan kami, mereka sedikitnya harus berjalan satu hari penuh."

Karena sedang gembira, lantas Hun-cong mengajak ke pegunungan itu.

"Baiklah, mari kita coba main ke sana!"

Serunya.

"Baiklah, kita boleh bermain sampai pagi hari baru kembali,"

Sahut Hui-angkin setuju. Habis berkata segera ia mendahului lagi berlari ke depan. Tetapi baru saja mereka sampai di kaki gunung, tiba-tiba Hui-ang-kin berpaling dan berkata.

"Dengarkan, di sana seperti ada suara orang."

"Kita coba memanjat pohon besar itu,"

Kata Hun-cong pula.

Berbareng mereka lantas meloncat ke atas sebuah pohon besar di samping, sebentar saja mereka sudah berada di pucuk pohon.

Mereka memandang ke bawah sana, terlihat di dataran yang miring di lereng gunung sana ada dua orang sedang bertarung dengan sengit, yang satu berdandan seperti orang Kazak dan memakai pedang, sedang yang lain berdandan orang Boan-ciu, tangan kiri memegang golok dan tangan kanan menggunakan pedang, gerakannya agak aneh.

Nyo Hun-cong hampir berteriak setelah melihat dengan jelas.

Ternyata yang memakai pedang panjang itu adalah Asta, dia ini adalah pejuang bangsa Kazak dan juga adalah adik angkat Nyo Hun-cong.

Sebagaimana diketahui, sebulan yang lalu ketika sedang menyeberangi gurun pasir yang luas, mereka telah terpencar karena serangan angin topan yang hebat.

Adapun orang yang berdandan macam orang Boan-ciu itu Nyo Hun-cong sendiri tidak kenal padanya.

Di bawah sinar rembulan, mereka berdua sedang bertarung dengan seru dan ramai.

Orang itu tangan kirinya memakai golok dan tangan kanan menggunakan pedang, ternyata gerakannya sangat ruwet dan aneh, walaupun Asta adalah pejuang yang tersohor, tetapi masih tidak bisa menandinginya, ia terdesak mundur, apalagi di kaki gunung sana masih ada seorang lagi berperawakan tinggi besar, tangannya mengayunkan tombak, persis menutup jalan mundur Asta.

"Kini kau mau menyerahkan petamu atau tidak!"

Teriak orang tadi sambil mendahului menghantam.

"Hm, kau hendak merebut secara kekerasan, tidak nanti aku memberikan,"

Sahut Asta dengan gusar.

Orang berpakaian Boan-ciu itu tertawa menyindir, segera goloknya membacok dan pedangnya berbareng menusuk, beruntun ia memberi pukulan yang luar biasa.

Asta jadi kerepotan, ia menangkis dengan pedang panjangnya, tetapi dia lantas berteriak kaget, ternyata pedangnya telah digaet lepas oleh senjata musuh.

Dengan cepat Asta melompat pergi dan berebut jalan hendak lari, namun satu tusukan tombak segera memapak dia lagi.

Rupanya orang yang berdandan seperti Kijin dari Boan-ciu tadi bernama Khu Tong-lok, dia adalah murid ketiga dari golongan Tiang-pek-san, 'Hong-luikiam' Ce Cin-kun.

Yang menggunakan tombak panjang itu bernama Liu Se-giam, adalah adik seperguruannya yang nomor lima.

Ce Cin-kun adalah jago silat kelas satu dari Kwan-gwa (daerah sebelah utara tembok besar), ilmu silatnya mempunyai keistimewaan tersendiri, gerakannya tidak sama dengan ilmu silat yang ada di daerah Kwan-lwe (daerah sebelah selatan tembok besar).

Khu Tong-lok adalah muridnya yang terpandai, dengan tangan kanan kiri ia bisa menggunakan golok dan pedang berbareng dengan gerakan-gerakan aneh, Nyo Hun-cong sendiri pun merasa heran melihat gerak tipu serangan orang tersebut.

Karena ia hendak melihat jelas cara orang bergerak, maka sementara ia masih belum segera turun tangan.

Sementara itu, begitu tombak Liu Se-giam ditusukkan, keburu Khu Tong-lok lantas berteriak.

"Sute, biarkan dia hidup!"

Tetapi belum habis perkataannya, sekonyong-konyong ada suara angin menyambar dari atas kepala, satu bayangan orang serupa burung besar teiah menyambar, belum sempat ia lihat dengan jelas sudah terdengar jeritan Liu Se-giam, tombaknya ternyata sudah direbut orang yang baru datang tiba-tiba ini.

Kiranya Nyo Hun-cong baru saja menggunakan ilmu ginkangnya, 'Eng-kektiang-gong' atau burung elang menyerang dari angkasa, satu tangannya merebut senjata musuh, tangan yang lain menarik Asta ke sampingnya.

"Kalian kenapa mengerubuti kawanku, hayo, lekas bilang, kalau ada alasannya aku lantas melepaskan kalian, jika tidak beralasan, hm, maka harus diberi sedikit tanda jasa padamu,"

Bentak Nyo Hun-cong.

Dan selagi Khu Tong-lok hendak menjawab, tiba-tiba dari atas pohon terdengar pula suara tertawa nyaring, menyusul kelihatan selendang merah melambai-lambai, segera melayang turun pula Hui-ang-kin seperti burung dari atas langit.

"Hui-ang-kin, Hui-ang-kin!"

Teriak Liu Se-giam.

"Fui, kau juga kenal aku?"

Huiang-kin menjengek. Segera pula ia mencabut cambuk dan melolos pedangnya.

"Ternyata kau juga dapat mempergunakan dua macam senjata berbareng, baiklah, kita boleh coba-coba,"

Tantangnya pada Khu Tong-lok.

"Hamaya, jangan dulu, coba dengarkan apa yang akan mereka katakan,"

Huncong mencegah.

Lalu ia menarik Asta untuk diperkenalkan pada Hui-ang-kin.

Girang Asta tidak kepalang, ia merangkul Nyo Hun-cong sambil melompatlompat dan memanggil berulang-ulang, kemudian ia bertanya.

"Bagaimana kau bisa menyelamatkan diri? Dan bagaimana bisa berkenalan dengan pahlawan wanita Hui-ang-kin?"

Dalam pada itu, sejak Khu Tong-lok keluar dari pintu perguruannya, jarang ia menemui tandingan, tadi Nyo Hun-cong telah unjuk dua kali gerakan dan membikin dia terkejut sekali, tetapi ia masih mengira dengan golok dan pedangnya tak akan kalah pada lawannya.

Kini ia lihat lawannya bertiga sedang berbicara dengan asyiknya seakan-akan tidak pandang sebelah mata pada dirinya, keruan ia menjadi gusar sekali.

"Asta!"

Ia berteriak.

"Aku tidak takut kau telah dapat bantuan, kalian bertiga maju semua aku pun tidak keder, petamu tetap harus kauserahkan padaku!"

Hui-ang-kin menjadi sengit, ia mengayunkan cambuknya hendak maju, tetapi ia telah ditahan oleh Nyo Hun-cong.

"Peta apa?"

Tanya Hun-cong pada Asta.

"Apa milik mereka?"

"Ceritanya terlalu panjang,"

Jawab Asta.

"Sama sekali aku tidak mengharapkan barang berharga, tetapi peta itu berasal bukanlah milik mereka, datang-datang mereka lantas ingin merebut, sudah tentu aku jengkel, maka lebih-lebih tidak akan kuberikan!"

Mendengar penuturan begitu, Nyo Hun-cong segera berseru.

"Cukup, aku pergi membereskan mereka, Hui-ang-kin, Asta, kalian tak boleh ikut membantu."

Hui-ang-kin merengut kurang senang, sebaliknya Asta tersenyum simpul melihat kakak angkatnya maju memapak musuh. Dalam pada im Nyo Hun-cong telah melompat maju.

"Baiklah, kamu dua orang ini tidak terima bukan? Nah, boleh terjang saja padaku semua."

"Kita boleh satu lawan satu, dan coba adu senjata, kau beritahukan dulu namamu!"

Kata Khu Tong-lok. Nyo Hun-cong tertawa bergelak.

"Mana kamu berharga sampai aku menggunakan senjata dan beritahu namaku, hm, coba terimalah ini!"

Katanya sambil tangan kanannya yang memegang tombak yang direbut tadi, lalu ditimpukan kembali ke arah Liu Se-giam.

Melihat angin tajam menyambar, mana berani Liu Se-giam menyambut senjatanya sendiri ini, ia berkelit ke kiri, tombak itu menancap masuk ke dalam batu, hingga api batu muncrat ke sana-sini.

Meski Liu Se-giam sudah menggunakan seluruh tenaganya, baru bisa ia mencabut keluar tombak itu, tetapi mukanya sudah hijau pucat.

Kemudian tertampak Hun-cong sengaja mengulur dan menekuk-nekuk lengannya.

"Bagaimana?"

Katanya kemudian dengan menjengek.

"Kamu berdua dengan senjata boleh maju menghantam aku yang bertangan kosong ini, apa kamu masih tidak berani? Hm, sungguh sampah yang tak berguna!"

Khu Tong-lok melihat kembali Nyo Hun-cong telah menunjukkan satu gerakan 'Li-Kong Sia-cio' atau Li Kong memanah batu, melempar tombak sampai amblas ke dalam batu, hatinya sudah keder, tetapi setelah dia berpikir lagi, dirinya punya 'Hong-lui-to-kiam' selama ini telah menjagoi Kwan-gwa, orang ini sekalipun lihai, tetapi dengan tangan kosong masa aku harus takut padanya."

Ia tidak kenal siapakah Nyo Hun-cong, tetapi Sutenya kenal pada Hui-ang-kin dan meneriakkan namanya tadi, nama Hui-ang-kin yang tersohor ia pun sudah mendengar. Karena itu, pikirnya.

"Orang ini hendak menempur kami dengan tangan kosong, bagaimanapun aku tak akan bisa kalah padanya, hanya Hui-ang-kin yang namanya sudah lama dikenal sebagai pahlawan wanita nomor satu di daerah selatan sini, jika ia turun tangan, mungkin ia sama kuatnya dengan aku, sedang Suteku kepandaiannya lebih lemah, melawan orang ini mungkin kalah kuat."

Selagi ia merenung, tiba tiba Hun-cong telah membentak lagi.

"Bagaimana, jika kamu tidak berani maju, maka kamu harus minta maaf pada adikku ini!"

Mata Khu Tong-lok berputar, lalu ia berkata.

"Baiklah, kita berjanji dulu, kita bertarung terang-terangan, orang di samping tak boleh menyergap dengan senjata gelap, jika hendak membokong, kita boleh janji pakai cara lain saja?"

"Kau cerewet apalagi,"

Gertak Hun-cong.

"Kawanku pasti tidak ikut campur tangan, sebaliknya kalian boleh maju semua, supaya aku hemat tenaga!"

Mendadak Khu Tong-lok menusuk dengan goloknya saking gemasnya.

"Ini adalah kau yang janji sendiri, kalau mampus jangan kausalahkan aku,"

Katanya.

Tetapi tangan kiri Hun-cong telah menyampuk dan menekan, dengan pelahan ia menyentil batang golok musuh, sedang tangan kanan menggunakan gerakan lihai dari Kim-na-jiu, yaitu 'Kim-tiau-jiau-tho' atau elang emas mencengkeram kelinci, mendadak ia hendak merebut pedang Khu Tong-lok di tangan kanan, tetapi Khu Tong-lok telah menarik goloknya, tangan kanan dengan pedangnya melancarkan jurus 'Seng-liong-in-hong' atau menunggang naga memancing burung hong, dengan satu gerakan tetapi tiga macam serangan, ia menusuk tenggorokan dan membacok kedua pundak orang, ia menyerang dan juga berjaga dengan susah payah baru bisa menghindarkan serangan Nyo Hun-cong dengan jurus Kim-na-jiu tadi.

"Se-giam, lekas!"

Ia berteriak pada Sutenya.

"Ia hendak mencoba kekuatan kita berdua mengapa kau masih tinggal diam di situ!"

Sebenarnya Liu Se-giam sudah merasa jeri, tetapi dibentak oleh Suhengnya, terpaksa ia maju dengan tombaknya dan menyerang dari samping.

Gerakan Hong-lui-to-kiam dari Khu Tong-lok memang aneh sekali, tetapi Liu Se-giam pun tidak lemah.

Golok, pedang dan tombak, dua orang tiga macam senjata, dengan kencang sekali mereka mengembut Nyo Hun-cong.

Asta yang menonton di pinggir sampai hatinya berdebar-debar dan berkeringat dingin, tetapi Hui-ang-kin malah dengan tenang dan tersenyum berbisik padanya.

"Kau punya kakak angkat sudah akan menang!"

Ternyata Thian-san-kiam-hoat adalah kumpulan dari berbagai intisari cabang ilmu silat yang diciptakan oleh Hui-bing Siansu, sedang terhadap Hong-luikiam-hoat, walaupun Nyo Hun-cong belum pernah menyaksikan, tetapi setelah menyaksikan sebentar tadi ia sudah dapat meraba caranya.

Gerakan Khu Tong-lok walaupun aneh, tetapi tidak terlepas dari cara satu menyerang, satu menjaga, yakni dengan dasar kerjasama, jika menyerang dengan goloknya, pedangnya ditarik untuk menjaga, cara bertempur begini memang cermat sekali.

Setelah Hun-cong memahami cara musuh, telapak tangan segera berubah dan tiap-tiap gerakannya mendahului musuh menyerang lebih dulu, pedang lawan belum menusuk ia sudah berkelit menarik tangannya, lawan menarik senjatanya, ia lekas menubruk menghantam lagi.

Dengan begitu sesudah lewat beberapa gerakan, cara permainan Khu Tong-lok sudah menjadi kalut.

Nyo Hun-cong bersiul panjang, telapak tangan berubah lagi, dengan rapat ia mencecar Khu Tong-lok, telapak tangan kirinya malang membabat dan tegak membelah, gerakannya pun sempa golok dan pedang, sedang jari tangan kanannya keras seperti besi bersambaran di antara senjata musuh hendak menutuk jalan darah lawannya.

Walaupun Hun-cong bertangan kosong, tetapi ia seperti memakai dua senjata, keruan Khu Tong-lok terdesak hingga kalang kabut.

Liu Se-giam yang melihat Suhengnya berulang menghadapi bahaya, walaupun hatinya jeri, terpaksa ia harus menolong dengan mati-matian, ia memutar tombaknya menyerang dari sisi lain dan menusuk pundak orang.

Tetapi Nyo Hun-cong tanpa membalik kepalanya, mendadak ia membalik tangannya membetot dan membentak.

"Pergi!"

Tombak musuh ternyata sudah dirampas oleh Hun-cong dan Liu Se-giam pun terpental dua-tiga depa jauhnya. Lekas Khu Tong-lok melompat keluar dari kalangan pertempuran.

"Sudah cukup,"

Ia berteriak.

"Aku bukan tandinganmu, peta wasiat pun aku tidak kehendaki lagi. Sobat, bolehkah aku mengetahui namamu?"

"Baik, kini boleh kuberitahukan padamu, aku pun tak takut kalian menuntut balas,"

Kata Nyo Hun-cong bergelak tawa.

"Dia saja kamu tidak mengenalnya, mana boleh disebut lagi jago darimana?"

Kata Asta di samping dengan menyindir.

"Kamu dengarkan yang jelas, ia adalah Nyo Hun-cong, Nyo-taihiap!"

Khu Tong-lok bergidik, pikirnya.

"Pantas ia begini lihai, dendam ini agaknya selama hidup tak mungkin bisa dibalas lagi."

Maka ia merasa masgul, ia menarik Liu Se-giam dan hendak pergi.

"Nanti dulu!"

Bentak Nyo Hun-cong tiba-tiba.

"Siapakah mereka im?"

Ia berbalik tanya pada Asta.

"Mereka mengatakan sendiri sebagai murid Hong-lui-kiam Ce Cin-kun dari Kwan-gwa, dan datang kemari hendak mencari harta karun, mereka sungguh ganas sekali,"

Jawab Asta.

Nyo Hun-cong teringat pernah mendengar dari Suhunya, bahwa empat puluh tahun yang lalu, Ce Cin-kun dari Kwan-gwa pernah mengelilingi daerah Sinkiang dan naik ke Thian-san untuk mencari dia.

Dikatakan lagi bahwa Ce Cin-kun ini di Kwan-gwa masih terhitung golongan yang baik, ilmu silatnya pun mempunyai keistimewaan tersendiri, mengingat sama-sama dari kalangan persilatan, Hui-bing Siansu telah buka pintu menemuinya.

Lalu kedua orang telah berdiskusi mengenai ilmu pedang di puncak Thian-san, tetapi Ce Cin-kun tidak mau dipandang lebih muda, lagaknya sedikit sombong.

Karena tiada persesuaian paham, kemudian mereka pun bubar.

"Karena itu,"

Pikir Hun-cong.

"Guru kedua orang ini dengan Suhuku sendiri pernah bertemu walaupun tidak sama suku bangsanya, tetapi jika mereka tidak membantu tentara Boan memusuhi kita, agaknya tidaklah menjadi soal membiarkan mereka pergi."

Berpikir begitu, ia lalu membentak lagi.

"Kalian berdiri baik-baik di situ, jangan berani mencoba sembarang bergerak, tunggu aku jelaskan dulu persoalannya dan nanti aku biarkan kalian pergi."

Sambil berkata begitu, ia memungut satu batu dan hanya pelahan diremasnya batu itu hingga hancur menjadi kerikil, waktu itu justru sedang terbang lewat serombongan burung.

Hun-cong mengayunkan tangannya, seketika burung terbang itu jatuh bergelimpangan terkena sambitan batu.

"Jika kamu tak mendengar kata-kataku, itulah contohnya,"

Ancam Nyo Huncong. Melihat kemahiran orang meremas batu, Khu Tong-lok telah berpikir.

"Keahlian semacam ini meski Suhu sendiri juga bisa, tetapi belum tentu matang sampai begini."

Sudah tentu ia menjadi kuncup nyalinya, mana berani membantah lagi.

Lalu Nyo Hun-cong menarik diri Asta ke samping, ia tanya lagi bagaimana keadaan mereka setelah berpisah selama ini.

Maka barulah ia mengetahui bahwa waktu terjadi angin ribut di padang pasir, Asta lantas menggali tanah dan mendekam untuk menghindari serangan angin yang berlangsung beberapa lama, setelah angin topan itu berhenti barulah ia menyingkirkan pasir yang menguruk di atas tubuhnya dan bangun untuk memeriksa keadaan sekitarnya.

Tetapi kawan seperjalanan mereka yang seluruhnya berjumlah delapan qrang, kecuali Nyo Hun-cong dan Mokhidi sudah tidak diketemukan, kelima orang lainnya dan empat ekor unta sudah tertanam hidup-hidup oleh gundukan pasir, waktu semuanya digali keluar, mereka sudah tak bernyawa lagi.

Asta menangis sedih, ia kubur secara sederhana kawan-kawannya yang sudah meninggal itu.

Masih beruntung, kantongan air dan rangsum keringnya tidak pecah teruruk.

Asta menggendong kedua kantong air dan sekantong rangsum serta mengiris sepotong daging unta, lalu berjalan lagi menuju selatan.

Tetapi padang pasir setelah terjadi angin ribut, keadaan dan bentuknya sudah berubah semua, apalagi tak mempunyai pedoman, pada hakikatnya tidak dapat membedakan arah atau jurusan lagi.

Setelah berjalan lagi beberapa hari, Asta masih belum dapat melintasi padang pasir itu, sementara itu air dan rang-sumnya sudah habis setengahnya.

Pada waktu senja, Asta memeriksa bekas tapak kaki sendiri di atas padang pasir.

""tapi makin dilihat makin menakutkan, ia jadi mengkirik sendiri. Tiba-tiba di padang pasir ia menemukan lagi bekas-bekas kaki orang lain, tidak terasa ia girang sekali, lekas ia kejar mengikuti bekas kaki itu. Akhirnya ia melihat di atas satu gundukan pasir tergeletak seorang tua, lengannya terluka dan masih belum sembuh, Asta menyuapi dia dengan air dan rangsum, tak lama kemudian orang tua itu baru dapat berbicara. Menurut keterangannya, ia juga telah bertemu musuh di padang pasir, setelah terluka ia berlari sekuatnya, tetapi tidak diduga telah bertemu angin badai seperti yang dialami Asta, meski sudah dapat melewatkan bahaya serangan angin im, tetap tidak diketemukan jalan keluar dari padang pasir. Tenaga orang tua im sudah habis dan tak bersemangat lagi, walaupun setelah minum air keadaannya sedikit baik, tetapi ia sendiri menduga pasti takkan bisa keluar dari padang pasir, maka ia lalu menyuruh Asta tak usah mengurusi dia lagi dan boleh mencari jalan untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Namun Asta sudah biasa dengan wataknya yang suka menolong, bukan saja ia tidak meninggalkannya, malah ia tetap melayani orang tua im. Orang tua itu sangat berterima kasih padanya, dengan suara terputus-putus ia berbicara dengan Asta, Asta pun tidak berbohong, ia menceritakan asal-usul yang sebenarnya. Setelah orang tua itu mengetahui Asta adalah pahlawan yang melawan pasukan Boan, ia menghela napas lega.

"Aku adalah bangsa Uigor,"

Tuturnya.

"Tentara Boan memasuki daerah sini, sedikit pun aku belum menyumbangkan tenagaku, sungguh aku harus merasa malu."

"Tetapi kau dan aku walaupun berlainan tujuan, bagaimana pun kita sama-sama menginginkan rakyat yang berada di padang rumput sini bisa hidup sejahtera dan melewatkan hari-harinya dengan aman, percayakah kau pada kata-kataku ini?"

Tanyanya. Asta manggut-manggut. Maka orang tua im lantas berkata terus terang.

"Selama hidup aku mengembara di padang rumput, perlunya adalah hendak mencari satu tempat penyimpanan harta, tidak, tidak, mungkin malah beberapa puluh atau beberapa ratus tempat. Jika harta im dapat ditemukan, rakyat di padang rumput pasti semua akan ikut mendapatkan faedahnya. Belakangan ini aku telah menemukan satu tempat penyimpanan harta besar, asalkan lewat antara daerah selatan dan gua Merak, tentu bisa tiba pada tempat im."

Habis berkata begitu, ia sekali lagi memandang Asta dengan penuh kepercayaan.

"Aku tahu, aku sudah bakal mati, sekarang juga aku serahkan peta wasiatku padamu!"

Habis berkata ia mengeluarkan sepotong kulit domba, di atasnya tergambar peta, malahan juga ada tulisannya.

Bercerita sampai di sini, segera Asta mengeluarkan kulit domba tersebut dan diperlihatkan pada Nyo Hun-cong.

Apa yang Hun-cong lihat pada kulit domba im adalah beberapa tulisan.

"Jika mendapatkan 'sumber air hitam', seluruh dataran padang rumput pasti akan bercahaya".

"Apakah artinya ini?"

Tanya Nyo Hun-cong dengan penuh keheranan.

"Aku pun tidak mengerti,"

Kata Asta.

Hun-cong memeriksa lagi peta itu, di atas kulit itu terlihat gambar padang rumput dengan satu gunung yang tinggi, di tengah gunung tergambar jalan yang berliku-liku, di tengah puncak gunung yang mengitari terdapat suatu tanah datar, di atas tanah datar itu tenukis banyak tanda-tanda.

"Apa yang terlukis di atas ini, apakah bukan gunung yang sekarang kita injak ini?"

Kata Nyo Hun-cong dengan heran.

"Ya, betul, jika tidak, bagaimana aku bisa sampai di sini,"

Sahut Asta.

"Cara bagaimana kau bisa bertemu dengan orang itu?"

Tanya Nyo Hun-cong.

"Setelah orang tua itu menyerahkan peta padaku, kakinya berkelojot sekali dan kemudian meninggal,"

Tutur Asta lagi.

"Aku telah menguburnya di padang pasir, pikiranku segera penuh dengan pertanyaan, siapakah orang tua ini? Barang atau harta apakah yang dia cari selama hidupnya? Hal ini kupikirkan semalam suntuk."

"Esok harinya, ketika aku sedang bersiap-siap hendak melanjutkan perjalanan, tiba-tiba dua orang ini telah datang, begitu sampai, mereka tanya padaku apakah melihat orang tua itu, aku telah menceritakan menurut apa yang sebenarnya te"jadi. Tapi mereka malah melolos senjata dan mengancamku agar menyerahkan peta ini. Nyo-taihiap, kau tentu tehn, watakku yang tidak suka pada kekerasan, apalagi perkataan orang tua itu sebelum meninggal begitu serius, bahkan dikatakannya ada sangkut-pautnya dengan kepentingan rakyat padang rumput, keruan saja tidak begitu gampang aku mau menyerahkan peta itu pada mereka."

"Akhirnya aku lawan mereka, tetapi kepandaian kedua orang ini ternyata boleh juga, Nyo-taihiap, tadi kau sudah menyaksikan sendiri, aku memang bukan tandingan mereka, tetapi mereka tak punya air, juga kurang rangsum, aku mengetahui kelemahan mereka, aku lantas balas mengancam jika berani mendesak aku lagi akan kupecahkan kantong air dan membuang rangsum, biar kita mampus bersama."

"Setelah mereka berpikir, lantas berkata, 'Ya, sudahlah, kami tahu jalan di sini, kaubawa air dan rangsum, maka biarlah kami bawa kau keluar dari padang pasir ini, sebaliknya kau harus beri air dan rangsum pada kami.'. Aku pun menyatakan setuju, dan setelah berjalan tiga hari, akhirnya kami tiba di luar padang pasir, di depan lantas tertampak ada gunung ini. Kala itulah, mereka segera mengganas lagi dan memaksa aku menyerahkan peta pada mereka dan terus mengejar sampai di atas gunung ini."

"Baiklah, mari kita pergi melihat ke sana!"

Kata Nyo Hun-cong setelah penuturan Asta selesai. Dengan menggiring Khu Tong-lok dan Liu Se-giam, mereka berlima mendaki dari kaki gunung, ternyata betul di atas gunung dan di"

Bawah apitan puncakpuncak gunung terdapat tanah datar, di tengah tanah datar tersebut terdapat satu telaga kecil, tapi telaga penuh dengan bunga dan banyak pepohonan, pemandangannya agak indah.

"Tempat ini, dulu kami sering datang bermain di sini dan mandi di telaga, apakah harta besar itu tersimpan di sini?"

Kata Hui-ang-kin. Segera ia memburu maju dengan kudanya menuju pinggir telaga, tetapi mendadak ia berteriak.

"Auuh!"

Hun-cong kaget, lekas ia menyusul ke sana, ia lihat air telaga berwarna hitam mengkilap, permukaan air seperti tertutup selapis minyak. Nyo Hun-cong berkerut kening melihat keadaan ini.

"Kenapa air ini begitu kotor, bagaimana kau bisa mandi di sini?"

Katanya.

"Dulu mana bisa keadaannya seperti ini, dulu airnya bening sampai terlihat dasarnya, terang dan segar bahkan di tengah telaga masih ada bunga teratainya!"

Hui-ang-kin menerangkan.

Nyo Hun-cong coba mergelilingi pinggiran telaga, tetapi ia merasa tanah di situ empuk dan lunak.

Selagi ia heran, tiba-tiba tidak jauh di tepi telaga, di permukaan tanah mendadak menyembur keluar satu pancuran air hitam, Nyo Hun-cong dan yang lain menjadi tercengang, mereka tidak mengerti 'barang aneh' apakah pancuran air hitam im?

"Apakah ini yang dikatakan bisa memberikan cahaya di padang rumput atau 'sumber air hitam' yang dimaksudkan itu?"

Pikir Nyo Hun-cong.

Di daerah Sinkiang, memang kaya dengan tambang minyak, hanya saja beberapa ratus tahun yang lalu, orang masih belum mengerti bagaimana cara menggali dan mengolahnya, sehingga kekayaan alam yang begitu besar masih terpendam di bawah tanah.

Orang tua im sejak kecil terlahir di daerah padang pasir dan telah mengelilingi seluruh Sinkiang, lima puluh tahun yang lalu ketika dengan tidak sengaja ia menemukan pancuran minyak asli yang menyembur dari bawah tanah, hal mana telah membuatnya heran sekali.

Kala im adalah musim rontok, cuaca cukup dingin, ia menyalakan api untuk menghangatkan badannya, letikan api telah menjilat minyak asli tadi, maka segera berkobarlah, pancuran minyak im hanya sedikit yang mengalir keluar ke atas permukaan, maka sekejap saja sudah terbakar habis.

Orang itu bernama Adatoh, juga pandai ilmu silat dan punya cita-cita yang besar, maka segera ia bersumpah hendak mencari 'sumber air hitam' itu di seluruh Sinkiang.

Setelah ia mencari berpuluh tahun, pernah juga ia menemukan beberapa tempat yang sedikit sekali mengandung minyak yang dapat mancur keluar sendiri.

Pada masa itu, tentu ia tidak paham tentang apa yang dinamakan pengeboran dan mengolah minyak, ia hanya berpikir.

"Jika bisa menemukan 'sumber air hitam' yang besar, di padang rumput pasti akan terang bersinar."

Yang dimaksudkan terang bersinar adalah masa yang jaya.

Setelah berpengalaman beberapa puluh tahun mencari 'sumber air hitam', dengan pelahan ia sudah dapat membedakan tempat-tempat yang dapat menghasilkan minyak, karena tanah pasirnya berlainan sekali.

Ia menemukan tempat dataran di gunung Mahsal tadi, agaknya tanah di sini sama seperti tempat yang mengandung minyak lainnya.

Dalam kegirangannya, ia telah melukiskan petanya dan bermaksud kembab mencari suku bangsanya untuk datang menggali dan mengetahui apakah di bawah tanah sini ada 'sumber air hitam' yang dia cari itu.

Tetapi ia tidak menduga sesampainya di padang pasir, ia telah bertemu dengan musuhnya dan terluka berat, malahan juga tidak menemukan jalan keluar dan akhirnya binasa di tengah gurun.

Taksiran Adatoh memang tidak salah, di tanah dataran ini memang kaya kandungan minyaknya, hanya lapisan minyaknya terlalu dalam di bawah permukaan, maka tak sampai menyembur keluar.

Tidak terduga sebulan yang lalu, di padang pasir telah terjadi angin badai, seperti yang telah dialami oleh Nyo Hun-cong itulah, di gunung Mahsal ini telah terjadi gempa bumi pula, tanahnya menjadi retak, minyak asli pelahanlahan juga merembes keluar, maka telaga kecil yang airnya bening terang pun segera menjadi hitam kehijauan.

Sementara itu, Nyo Hun-cong dan Hui-ang-kin sedang terkesima melihat 'sumber air hitam' itu, mereka tidak memperhatikan Khu Tong-lok dan Liu Se-giam, kedua orang ini menggunakan kesempatan itu untuk mundur beberapa tindak, kemudian Khu Tong-lok memberi tanda dengan matanya kepada Liu Se-giam, ia lantas mengeluarkan batu apinya dari kantong, sekali menggosok geretan apinya secepat kilat segera dilemparkan ke tengah telaga.

"Apa yang kau perbuat?"

Bentak Nyo Hun-cong dengan kaget.

Selagi tubuhnya bergerak hendak balik menangkap mereka, mendadak suara letusan segera terdengar dan menyembur keluarlah satu riang api, sekejap saja seluruh permukaan telaga berubah menjadi lautan api, dengan cepat pula api menjalar naik ke tepi.

"Celaka!"

Keluh Nyo Hun-cong.

Dengan satu tangan ia mengangkat Asta, tubuhnya lantas melompat pergi jauh, baru saja ia bisa berdiri tegak, asap tebal dan api sudah menjulang tinggi.

Dalam kepungan asap yang tebal, Hui-ang-kin ikut berlari keluar, hanya karena terlambat satu tindak saja, kaki, tangan dan dadanya telah terbakar oleh api.

Lekas Nyo Hun-cong memberi pertolongan dan tidak dapat mengawasi lagi Khu Tong-lok dan Liu Se-giam.

Kedua orang ini menggunakan kesempatan itu untuk kabur.

Di saku Nyo Hun-cong selalu tersedia 'Pik-ling-tan', semacam pil yang terbuat dari bunga teratai salju dari Thian-san, pil ini dapat menyembuhkan segala luka dalam dan menghilangkan racun api.

Lekas ia keluarkan pil tersebut dan diminumkan pada Hui-ang-kin.

"Beratkah lukamu?"

Tanyanya. Hui-ang-kin kelihatan meringis menahan sakitnya, jawabnya.

"Tidak apa, istirahat sebentar saja tentu juga sudah baikan."

Baju sebelah atas Hui-ang-kin telah robek terbakar, kulitnya yang putih bersih terlihat jelas.

Hun-cong tak berani melihat terus, kemudian ia melepaskan bajunya sendiri dan diselimutkan pada Hui-ang-kin.

Nyo Hun-cong menyaksikan api berkobar bergolak di tengah telaga, ia menghela napas.

"Ini betul-betul telah 'terang bersinar'."

Sementara itu Hui-ang-kin yang rebah di tanah melihat seluruh udara penuh dengan asap tebal yang berbau sangit. Tiba-tiba Hui-ang-kin melompat bangun, teriaknya.

"Celaka, Celaka!"

Habis berteriak begitu.

"Aduuh!"

Ia menjerit kesakitan lagi dan jatuh kembali. Nyo Hun-cong tidak pedulikan rasa kikuk lagi, lekas ia membangunkan gadis ini.

"Kenapa?"

Tanyanya.

"Aku tidak apa-apa, yang kukuatirkan adalah suku bangsaku,"

Kata Hui-angkin.

"Tempat bangsamu berkumpul, dari sini sedikitnya ada ratusan li, bagaimana api bisa membakar mereka?"

Ujar Hun-cong.

"Kau sudah bertempur sekian tahun, masakah masih belum tahu?"

Kata Huiang-kin.

"Tentara Boan di padang rumput banyak mendirikan 'Hoan-hwe-tai' (panggung api), dengan menggunakan api sebagai tanda berkumpulnya pasukan, sedangkan kami suku-suku di selatan, jika keadaan genting segera membakar kotoran kuda, penggembala yang melihat asap memenuhi angkasa segera akan memburu datang."

"Asap kotoran kuda yang terbakar baunya sangat busuk, rakyat gembala tahu hal im. Kini kaulihat, api yang menjulang tinggi ini membawa bau busuk pula, aku kuatir pasukan Boan dan orang-orang kita bisa memburu datang ke sini berbarengan dan bila kedua belah pihak bertemu, tentu pertempuran besarbesaran tak dapat dihindarkan lagi. Maka kita lebih baik lekas kembali saja, lekas!"

Kata Hui-ang-kin akhirnya.

"Omonganmu memang betul, mengapa aku bisa menjadi begini goblok!"

Sahut Hun-cong sambil mengetok kepalanya sendiri.

Sebenarnya bukannya ia tidak mengerti, hanya karena ia hendak mengobati luka bakar Hui-ang-kin, maka ia tidak ingat akan hal tersebut.

Ia telah memeriksa luka Hui-ang-kin, ternyata bukan luka parah, tetapi sementara tidak dapat menggunakan ilmu mengentengkan tubuh.

Setelah bingung sejenak, lalu ia berkata.

"Biarlah aku menggendongmu saja."

Hui-ang-kin sama sekali tidak merasa kikuk, ia merangkul leher Nyo Hun-cong dan membiarkan pemuda ini menggendongnya keluar dari tempat im.

Menggendong orang luka di punggungnya, Hun-cong tak berani berlari seperti waktu datangnya dengan cara balapan memburu kambing, dengan sendirinya kecepatannya menjadi berkurang banyak, dengan begitu saja ia masih harus sering berhenti menanti Asta yang ikut di belakangnya.

Setelah berlari tidak begitu lama, cuaca sudah terang, tiba-tiba dari jauh terlihat debu mengepul seperti ada pasukan besar yang mendatangi.

Nyo Hun-cong kembali memberikan satu pil 'Pik-ling-tan' pada Hui-ang-kin.

"Aku akan mulai berlari dengan cepat, kau berhati-hatilah!"

Katanya sambil tangan yang lain menarik tubuh Asta dan segera berlari secepat terbang.

Lewat setengah jam, kira-kira sudah berlari hingga tujuh atau delapan puluh li, di belakang mereka tiba-tiba terdengar suara kelenengan kuda, lebih dari sepuluh penunggang kuda ternyata telah datang, panah mereka berseliweran menyambar.

Nyo Hun-cong terpaksa menurunkan Hui-ang-kin lebih dulu, ia berpesan pada Asta.

"Kaujaga dia, aku akan menggempur mundur serdadu-serdadu yang mengejar ini."

Selesai berkata Hun-cong segera melayang pergi, kedua tangannya memapak panah-panah yang berseliweran itu.

Ia tangkap panah-panah im dan segera disambitkan kembali, dengan begitu, sebentar saja ia telah dapat melukai beberapa orang.

Penunggang kuda yang lain segera mengurung, namun Hun-cong telah menggunakan kecepatan tubuhnya, ia naik turun, pedang pusakanya menusuk dan telapak tangan memotong, lebih sepuluh orang musuh tidak seberapa lama sudah bersih terbunuh.

Dengan suara tertawa panjang, Nyo Hun-cong merebut dua busur panah dan dua kantong anak panah serta dua ekor kuda, dengan langkah lebar ia berjalan kembali ke tempat Hui-ang-kin berada.

Tetapi, beberapa penunggang kuda ini ternyata adalah regu penyelidik bagi pasukan induk, setelah Hun-cong bertempur dengan mereka, pasukan perintis musuh sudah mengepung lagi.

Terpaksa Nyo Hun-cong bersama Asta membawa Hui-ang-kin berlindung di belakang sebuah bukit pasir, bila serdadu Boan ada yang mendekat segera mereka panah.

Panahnya ternyata tidak pernah luput, beberapa penunggang kuda yang hendak menerjang naik semua tewas terpanah.

Serdadu Boan terpaksa hanya melihat dari jauh dan memanah mereka secara ngawur.

Mereka mana mempunyai tenaga sebesar Nyo Hun-cong, panahnya kebanyakan tidak sampai pada sasarannya, andaikan ada yang bisa sampai pun kekuatannya sudah lemah.

Nyo Hun-cong dan Asta kadang menyampuk panah itu dan balas memanah lagi.

Setelah pasukan perintis tiba, seterusnya tentu pasukan induk.

Hun-cong lihat beruntun telah tiba beberapa pasukan besar yang mendatangi dari jauh, setelah dekat segera mereka menerjang, melihat gelagatnya bagaimana pun tidak mungkin Hun-cong bisa meloloskan diri.

Sementara itu di belakang terdengar pula bunyi tambur perang yang gemuruh, seperti kedua belah pihak sedang saling kejar mengejar.

Dalam keadaan yang genting itu, dari samping sana tiba-tiba telah menerjang datang empat orang penunggang kuda dengan cepat.

Berturut-turut Nyo Hun-cong melepaskan dua anak panah dengan maksud memanah orang yang mengepalai, tetapi orang itu ilmu menunggang kudanya ternyata sangat mahir, dengan memiringkan tubuhnya ke samping dan menerobos lewat di bawah perut kuda, segera ia telah balik kembali di atas kudanya.

Kedua panah yang dilepaskan ternyata luput semua.

"Orang sendiri!"

Seru Hui-ang-kin tiba-tiba.

Waktu Hun-cong menegas, barulah ia mengenali mereka itu adalah empat jago dari suku Sinjia yang semalam bertanding dengan Hui-ang-kin.

Cepat laksana angin keempat jago penunggang kuda itu segera sudah menerjang datang.

"Kami sudah terkurung oleh musuh, kalian lekas ikut bersama kami menerobos keluar!"

Teriak mereka.

Salah seorang dari keempat jago itu segera menarik Hui-ang-kin ke atas kudanya dan segera menerjang keluar ke sana lagi.

Nyo Hun-cong dan Asta cepat melompat naik ke kuda yang tadi mereka rebut dan segera ikut menerjang, tetapi mereka sudah telanjur terpotong pula oleh tentara Boan.

Hun-cong lihat keempat penunggang kuda itu sudah berkumpul kembali dengan suku mereka yang berjumlah dua ratus orang lebih.

Walaupun di belakang ada yang mengejar, tapi ada banyak harapan untuk bisa lolos, maka ia bersama Asta segera melakukan perlawanan dan bertempur mati-matian.

Tidak seberapa lama, Asta terluka dan lantas tertawan oleh tentara Boan.

Hun-cong sendiri pun tidak urung terluka pundaknya.

Sesaat kemudian ia mendengar suara jeritan ngeri korban pertempuran di sana-sini, agaknya kepala-kepala suku sudah datang dengan bala bantuannya.

Sementara itu terdengar suara orang memanggil tanpa henti-hentinya.

"Hamaya engkau ada di mana?"

Kiranya mereka masih belum tahu kalau Huiang-kin sudah ditolong keempat orang penunggang tadi, maka mereka masih terus mencarinya.

Kepala Suku Tahsan, Pahla, dari jauh sudah melihat Nyo Hun-cong, akan tetapi tidak dapat mendekat karena terhadang oleh serdadu Boan.

Kala itu, pertempuran di padang rumput berlangsung dalam keadaan gaduh.

Dalam pada itu Hun-cong melihat di tengah pasukan Boan berkibar bendera pengenal Nilan Ciangkun, pikirnya.

"Eh, kiranya orang ini juga sudah datang!"

Baru ia berpikir, mendadak pundaknya terkena bacokan lagi.

Lekas Nyo Hun-cong balik menyerang, telapak tangannya telah membikin roboh beberapa orang, pedang pendeknya terus melindungi tubuhnya.

Pertempuran yang gaduh makin memuncak, suara pertempuran makin hebat, suara jeritan ngeri saling bunuh membunuh pun makin mengerikan.

Sekonyong-konyong kedudukan tentara Boan menjadi kacau, berpuluh ribu serdadunya mendadak mundur dengan cepat seperti arus air.

Dalam keadaan demikian walaupun Nyo Hun-cong memiliki kepandaian yang luar biasa, tapi berada di tengah-tengah lautan manusia, tak dapat ia menahan banjirnya arus manusia itu, terpaksa ia pun ikut terbawa mundur.

Saat im para serdadu Boan hanya ingat lekas melarikan diri, mereka sudah tak peduli lagi bahwa di antara pasukannya sendiri masih tersembunyi seorang musuh.

Serdadu-serdadu yang mundur serupa datangnya ombak yang beruntun mendampar, malahan tiada seorang pun yang mencoba mengurung atau hendak menghantam Nyo Hun-cong.

Dalam pertempuran yang gaduh itu, kuda Nyo Hun-cong telah roboh binasa terkena panah, sekuatnya ia melompat bangun, dengan lengannya yang kuat ia dapat menyambar beberapa serdadu musuh, tetapi ia masih tidak mampu keluar dari kepungan, masih terus terbawa arus pasukan yang sedang mundur karena kalah itu, tubuhnya tak terasa harus ikut berlari tanpa bisa menguasai diri lagi.

Dalam keadaan begitu, tiba-tiba di antara pasukan Boan muncul seorang yang berteriak kepada kawan-kawannya.

"Bala bantuan kita selekasnya akan datang, dilarang mundur, yang melanggar akan dihukum mati!"

Akan tetapi seketika mana bisa terhenti, ada beberapa serdadu yang bermaksud berhenti, namun mereka jadi tergencet dan terbawa lari lagi oleh datangnya pasukan yang mundur dari depan.

Nyo Hun-cong mengeluh bakal celaka dan terpaksa berlari, tiba-tiba ia melihat bendera tanda kebesaran Nilan Ciangkun berkibar di samping sana.

Tertampak Nilan Siu-kiat yang naik seekor kuda bagus dengan dikawal rapat sedang membentak dan berteriak-teriak.

Dalam keadaan sedemikian ributnya, sudah tentu orang tidak mengerti apa yang diteriakkannya.

Tiba-tiba Nilan Siu-kiat dapat melihat wajah Nyo Hun-cong juga, ia terkejut.

Kudanya segera dibelokkan dan menerjang ke arah Hun-cong, beberapa serdadu segera rubuh diterjangnya.

Waktu tangannya diayunkan maka beberapa anak panah bagaikan kilat sudah menyambar ke muka Hun-cong.

Hun-cong yang terdesak di antara rombongan orang yang berjubel-jubel im tidak bisa berkelit, ia coba mengegos sebisanya tetapi tidak urung bahunya sudah terkena satu anak panah.

Nyo Hun-cong masih bisa menenangkan pikiran dan mengumpulkan tenaganya, kedua tangannya segera meraih dua orang serdadu Boan terdekat terus dilemparkan ke arah Nilan Siu-kiat.

Keruan kuda Nilan Siu-kiat terperanjat dan membeda!

menerjang ke samping, pengawal Nilan Siu-kiat berduyung-duyung mengikuti panglimanya, tetapi Nyo Hun-cong sendiri tetap terbawa mundur oleh arus pasukan yang kalah.

Sebentar saja bendera tanda kebesaran pun makin mendekat dan tinggal berjarak dua tiga puluh depa.

Lewat sebentar pula, Hun-cong merasakan bahunya pegal kaku, ia berpikir.

"Apakah tadi terkena panah beracun?"

Dalam keadaan yang ribut ia sempat merogoh sakunya dan mengeluarkan sebutir 'Pik-ling-tan', pil itu pun segera ditelannya.

Meskipun begitu ia masih merasa dadanya mual dan kedua kakinya pun mulai lemas.

Pada saat itu, jika umpama ia lengah sedikit saja pasti akan mati terinjakinjak oleh pasukan yang sedang mendesak mundur itu.

"Aku tak boleh mati, saudara-saudara dari bangsa Kazak belum aku temukan. Aku tak boleh mati!"

Begitu teriaknya dalam hati.

Tekadnya itu seperti mendatangkan satu kekuatan besar pada dirinya, ia segera berlari lebih kencang lagi.

Pasukan yang mundur itu mulai tersebar, mulai terpencar menjadi kelompokkelompok yang berusaha melarikan diri, arus manusia yang menekan segera terasa berkurang.

Hun-cong mengambil kesempatan itu untuk melepaskan diri, ia terus berlari menuju ke tempat yang tidak banyak orangnya, la lari dan lari terus.

Ia tak tahu sudah berlari berapa lama, tiba-tiba ia melihat di depan ada satu bidang tanah cekung, di dalamnya seperti ada suara orang dan kuda.

Apakah ada juga pasukan yang bersembunyi di sini?"

Demikian pikirnya.

Tetapi kala itu Nyo Hun-cong sudah tidak dapat berpikir lebih banyak lagi, ia meloncat ke dalamnya, dan ketika ia hendak melompat naik ke atas bukit di atasnya, sekonyong-konyong kedua kakinya menjadi lemas, tulang-tulang seperti hendak retak, baru saja ia melompat beberapa tindak ia sudah terjatuh lagi.

Namun Hun-cong masih belum pingsan, ia masih mengerti itu adalah karena terlalu banyak menggunakan tenaga, maka badannya tak tahan.

Ditambah pula terluka oleh panah beracun, otot dagingnya menjadi kaku, ia merangkak naik ke tengah beberapa batu cadas yang mengelilinginya dan duduk bersila, ia telan lagi sebutir Pik-ling-tan.

Pik-ling-tan ini berguna sekali untuk luka dalam dan juga bisa menghilangkan racun, hanya kalau habis menelan harus duduk tenang.

Tadi Nyo Hun-cong berlari dengan kencang, sebenarnya sangat bahaya, beruntung dia punya tenaga dalam cukup tinggi, dengan memaksakan diri ia menahan serangan racun sehingga tidak sampai menyebar, maka tidak begitu berbahaya baginya.

Kini setelah semangat dan tenaganya habis, tentu tak boleh bergerak semannya lagi.

Setelah Nyo Hun-cong duduk, dengan pedang pendeknya ia mengiris bahunya yang terluka, ia menekan dan memijit dengan jarinya, segera darah hitam kental mengalir keluar, setelah mengalir kira-kira secangkir baru menyusul keluar darah merah.

"Jahat sekali!"

Kata Hun-cong dalam hati sambil membungkus lukanya dengan sobekan bajunya.

Saat ini darah yang terkena racun sudah keluar, tetapi tenaga dan semangatnya belum pulih.

Hun-cong bersemedi sebentar, ia mencoba menyembuhkan diri dengan Khi-kang.

"Tolonglah aku, Thian! Janganlah ada orang lain yang datang!"

Doanya dalam hati.

Dengan tenang Nyo Hun-cong duduk mengumpulkan tenaga dan melancarkan aliran darah, terhadap urusan disekitarnya seakan-akan tidak mau tahu dan juga tidak mau melihat.

Entah sudah lewat berapa lama, ia merasa tenaganya sudah pulih dan perutnya panas, ia mengerti sudah tidak berbahaya lagi barulah kemudian ia berdiri.

Ia memandang sekelilingnya, keadaan sudah jauh malam, angin meniup silir semilir, di sekitar lembah gunung ini sunyi senyap, satu bayangan orang pun tidak ada, kedua pihak pasukan masing-masing entah sudah berada di mana.

Nyo Hun-cong coba menggerakkan otot miangnya, ia merasa selain tenaga agak kurang sedikit, lain-lainnya sudah pulih seperti biasa.

Tiba-tiba ia teringat tadi waktu ia melompat ke dalam cekungan tanah, seperti ada suara orang dan kuda.

Entah apakah masih berada dalam cekungan tanah?

Kawan atau lawan, ini perlu dilihat terlebih jelas.

Maka ia lantas mencabut pedangnya dan melompat naik ke atas bukit sana, ia melihat lembah di bawah bukit itu, rumput alang-alang panjangnya melebihi tinggi orang dewasa, di antara tumpukan rumput sana ada sebuah kereta yang tampaknya sudah rusak.

Nyo Hun-cong coba mendengarkan, ia tengkurap ke tanah, tiba-tiba ia mendengar suara orang yang sudah pernah dikenalnya.

"Jangan kau coba-coba mendekati aku!"

Terdengar suara bentakan.

Ketika dipertegas lagi Nyo Hun-cong menjadi terperanjat sekali.

Bukankah ini suara Nilan Ming-hui?

Lekas Hun-cong melompat keluar.

Ia lihat di samping kereta rusak itu ada dua orang laki-laki yang berbadan tegap sedang menggertak seorang wanita muda yang ada di atas kereta.

Pikir Hun-cong.

"Ilmu silat Nilan Ming-hui pun tidak terlalu rendah, mengapa ia bisa diancam oleh orang, apakah seperti aku, karena ia terluka?"

La menjadi sangsi, terdengar pula seorang di antara mereka telah berteriak lagi.

"Kau nona kecil ini, sungguh tidak tahu kebaikan dan keburukan, kau sudah menjadi tawanan kami, kau harus menuruti kemauanku, kami tidak hendak membunuhmu dan juga tidak ingin memukulmu, mengapa kau masih berteriak-teriak?"

"Hm, siapa berani coba-coba mendekatiku segera akan kuberi sekali tusukan,"

Demikian Nilan Ming-hui mengancam.

"Kamu jangan kira aku tak dapat bergerak, jika kamu berani mendekat, lihat saja kalau aku tak membunuh kamu!"

Tetapi kedua orang itu telah bergelak ketawa.

"Sungguh tidak nyana, seorang nona kecil seperti kau ini berani omong begitu besar,"

Kata mereka. Saat itulah Nyo Hun-cong melompat keluar dengan tiba-tiba. Semula kedua orang itu agak kaget, tetapi mereka segera maju untuk mencegat Hun-cong.

"Siapa kau?"

Bentak mereka berbareng. Nyo Hun-cong lihat mereka berdua ini berdandan seperti suku bangsa Uigor dan badan mereka masih berlepotan darah.

"Kalian dari kelompok suku mana? Kenalkah pada Hui-ang-kin?"

Hun-cong balas bertanya. Kedua orang itu agak terperanjat demi melihat cara berpakaian Nyo Huncong.

"Apakah kau pengikut Hui-ang-kin?"

Tanya mereka lagi dan dijawab Hun-cong dengan mengangguk-angguk.

"Kami adalah dari suku Kedar, aku tahu Hui-ang-kin telah menjadi Beng-cu dari daerah selatan, cuma tempo hari kelompok kami belum ikut berkumpul di sana,"

Tutur orang yang menjadi pimpinannya itu.

"Kalau kalian semua adalah pejuang dari daerah selatan sini, maka kita adalah kawan sendiri, lepaskanlah nona ini!"

Kata Nyo Hun-cong. Sementara im Nilan Ming-hui telah mengenali siapakah pemuda yang sedang berbicara membela dirinya ini. Segera ia berseru pula kepada Nyo Hun-cong dalam bahasa Han.

"Nyo-taihiap! Usirlah kedua orang ini,"

Katanya. Sudah tentu kedua orang itu tak mengerti apa yang dikatakan im, mereka lantas bertanya kepada Nyo Hun-cong.

"Bagaimana? Apakah kau kenal dia! Kau adalah kawan panglima Boan?"

Tegur mereka. Tetapi Nyo Hun-cong geleng-geleng kepala.

"Aku adalah kawan Hui-ang-kin, juga sahabat nona ini, kalian jangan menahan dia!"

Sahurnya. Orang yang menjadi kepala tadi tiba-tiba tertawa menyindir.

"Kau menakut-nakuti aku dengan nama Hui-ang-kin? Hm, kau mengerti aturan atau tidak?"

Katanya.

"Ia adalah tawanan kami, sekalipun Hui-ang-kin yang datang sendiri pun ia tak bisa menyuruh kami melepaskan dia. Hm, agaknya kau juga telah suka padanya bukan? Terus-terang aku juga menginginkan dia menjadi istriku, sedang saudara ini menginginkan kereta dan senjatanya, kau datang belakangan, maka tiada bagianmu!"

Nyo Hun-cong terkejut mendengarnya.

Tiba-tiba ia teringat bahwa rakyat gembala di padang rumput, dulu sering karena berebut tanah menggembala dan sumber air lantas saling bertempur, menurut peraturan pada suku bangsa itu, apabila ada lawan yang tertawan, maka ia dipaksa membudak pada yang menang, siapa yang menangkap tawanan im terserah pada keputusannya.

Belakangan setelah tentara Boan-jing datang, persatuan di antara suku-suku bangsa agak bertambah erat, soal saling bunuh sudah jauh berkurang, tetapi hanya soal tawanan masih belum ada pembatalan yang jelas.

Kini kedua orang ini mengemukakan peraturan yang sudah turun-temurun itu, sesaat Nyo Hun-cong berbalik menjadi bingung dan tak bisa menjawab.

"Nyo Hun-cong, mengapa kau tidak bantu aku mengusir mereka?"

Teriak Nilan Ming-hui.

"Apakah kau hendak mempedayai aku bersama mereka?"

"Ada aku di sini, mereka tidak dapat mencelakaimu, kau tak usah takut!"

Seru Hun-cong. Tetapi belum habis perkataannya, kedua orang im sudah hendak menubruk ke atas kereta. Dengan cepat Hun-cong mengulurkan kedua tangannya, dengan enteng dia tarik mereka turun kembali.

"Apa maumu?"

Bentak kedua orang itu dengan gusar dan berbareng membacok dengan goloknya.

Nyo Hun-cong kembali mengulurkan tangannya dan menjepit dengan kedua jarinya, segera sisi belakang golok sudah terjepit, orang im dengan sekuat tenaga hendak menarik kembali senjatanya, tetapi tetap saja tidak berhasil.

"Nanti dulu,"

Kata Hun-cong.

"Sebaiknya kalian memandang diriku dan melepaskan dia, akan kuberi kalian masing-masing sepuluh ekor kuda."

"Kau ini siapa, mengapa harus melihat mukamu?"

Bentak orang yang satunya lagi.

"Aku datang dari sebelah utara, namaku Nyo Hun-cong, apakah kamu tidak pernah mendengarnya?"

Kata Nyo Hun-cong dengan tersenyum.

Nyo Hun-cong mengira setelah mereka mendengar namanya, sedikitnya akan memberi muka padanya, tidak terduga setelah kedua orang itu agak terperanjat, mereka bahkan terus bergelak tertawa.

"Kau betul-betul adalah Nyo Hun-cong?"

Tanya yang seorang.

"Nyo Hun-cong telah membantu orang Kazak bertempur selama beberapa tahun, lebih-lebih ia harus tahu aturan, jika soal benar dan salah pun tidak bisa membedakan, buat apa lagi kami berperang?"

"Kau telah menyaru sebagai orang yang bernama Nyo Hun-cong?"

Bentak seorang yang lain lagi.

"Nyo Hun-cong mana bisa datang ke sini seorang diri? Aku melihat kau begitu rapat dengan puteri panglima Boan ini, bahasa yang dipakai entah bahasa Han atau Boan-ciu, terang kau adalah sahabat lamanya. Hm, kau tentu adalah mata-mata musuh!"

Nyo Hun-cong menjadi gusar dan gugup, ia mengerti peraturan tentang tawanan di padang rumput memang buruk sekali, sejak lama Nyo Hun-cong sudah berpikir hendak mencari jalan membantu mereka menghilangkan kebiasaan jelek itu, akan tetapi sesuatu kebiasaan umumnya tidaklah gampang dirombak begitu saja dalam waktu singkat, lagi pula ia sedang disibukkan dengan perlawanan pada tentara Boan, maka hingga kini ia masih belum sempat mengemukakannya, kini bila hendak menerangkan pada kedua orang ini, seketika pun kiranya takkan bisa bikin mereka mengerti.

Selagi Nyo Hun-cong tertegun, tiba-tiba mereka meronta melepaskan tangannya terus menubruk pula ke arah Nilan Ming-hui.

Dalam keadaan tak terduga itu, Hun-cong terpaksa mengambil dua potong kerikil dan lantas ditimpukkan.

Keruan kedua orang itu mengeluarkan suara jeritan.

"Aduhh", mereka sudah tertimpuk kena siku kakinya tempat hiat-to atau jalan darah, mereka terus berlutut tanpa bisa berkutik lagi. Dan selagi Hun-cong hendak maju, tiba-tiba terdengar dua suara jeritan ngeri, kedua orang tegap itu sudah bergelimpangan di tanah, darahnya muncrat membasahi tanah. Ternyata waktu Nilan Ming-hui melihat kedua orang ini menubruk maju dan Nyo Hun-cong ternyata tidak mencegah, ia menjadi gusar sekali, maka dengan cepat ia tim-pukkan dua buah pisaunya. Kedua orang itu telah tertutuk hiat-tonya oleh Nyo Hun-cong, sudah tentu tidak dapat berkelit lagi, maka semua tertusuk tepat pada hulu hatinya oleh pisau terbang itu. Kejadian itu berlangsung secepat kilat, karenanya Hun-cong menjadi tercengang sejenak tetapi ia segera mendekati si gadis.

"Ming-hui, mengapa kau begitu ringan tangan?"

Demikian tegurnya. Tetapi Nilan Ming-hui sudah menangis tersedu-sedu.

"Kiranya hatimu adalah begitu, orang lain hendak merampas aku untuk dinodai, kau bukannya membela tetapi malah menyalahkan aku!"

Teriaknya.

Hari Hun-cong menjadi lemah oleh tangis dan ratapan Ming-hui.

Pikirnya, dia menjaga diri, aku memang tak bisa menyalahkan dia.

Maka ia lantas naik ke atas kereta, ia mengusap air mata si nona dengan lengan bajunya.

Ia lihat rambut Ming-hui kusut bertebaran dan mukanya penuh kotoran darah.

"Apakah kau terluka?"

Tanyanya. Saat itu, Nilan Ming-hui seperti telah bertemu dengan sanak keluarganya, tiba-tiba ia menjatuhkan dirinya ke bahu Nyo Hun-cong sambil menangis tersedu.

"Ya, aku terluka, pundakku panas kaku rasanya, lekas kau periksa, apakah sudah terkena senjata rahasia beracun?"

Sahutnya kemudian. Dalam keadaan begitu, Nyo Hun-cong tidak bisa tinggal diam, ia lantas mengusap kering noda darah di muka si gadis.

"Kau telah membunuh orang sampai terciprat begitu banyak darah,"

Sahurnya.

"Ya, aku kan harus menyelamatkan jiwaku, kalau aku tidak membunuh, tentu akulah yang akan dibunuh. Mengapa kau masih belum memeriksa lukaku, aku telah terkena senjata rahasia perempuan setan itu,"

Kata Nilan Ming-hui menerangkan.

Hati Nyo Hun-cong saat itu ruwet sekali, ia ragu-ragu, ia mengerti orang yang dibunuh Nilan Ming-hui pasti adalah pejuang-pejuang dari rakyat gembala, apakah ini bukan berarti gadis ini adalah musuhnya?

Tetapi ia pernah menolong jiwanya, lagi pula orang yang ada di hadapannya sekarang ini adalah gadis yang harus dikasihani.

Namun bila ia berpikir pula, dalam keadaan perang yang gaduh seperti ini susah menanggung bahwa orang tidak akan membunuh, karenanya ia hanya bisa menghela napas panjang.

"Apakah kau datang bertempur membantu ayahmu?"

Tanyanya kemudian.

"Maukah kau merawat aku lebih dulu? Kau sedikit pun tidak sayang padaku, sebentar kalau racun menjalar aku tentu bisa mampus,"

Sahut Ming-hui.

Hun-cong menurut, segera ia memeriksa lukanya, tetapi ia tidak melihat ada darah, ia menggunakan pedang pendeknya untuk merobek sedikit baju di pundak orang, maka terlihat pundaknya sudah hitam bengkak.

"Ha, ternyata betul kau telah terkena jarum beracun!"

Serunya kaget. Ia lekas keluarkan dua butir pil Pik-ling-tan dan menyuruh Ming-hui lekas menelan.

"Dapatkah kau menahan sakit?"

Ia bertanya lagi.

"Apa?"

Tanya Nilan Ming-hui dengan tidak mengerti.

"Jarum beracun ini harus diambil dengan batu sembe-rani, tetapi di sini tidak ada benda itu, maka kalau hendak mengobati harus dicabut dahulu,"

Kata Nyo Hun-cong.

"Kau boleh mencabutnya, aku sanggup menahan sakit,"

Sahut Nilan Ming-hui.

Maka dengan tangan kirinya, Hun-cong menahan pundak orang.

Karena jaraknya terlalu dekat, segera tercium bau wangi yang merangsang hidung, tempat di mana tangannya memegang adalah daging yang empuk menarik, ini adalah untuk pertama kalinya Nyo Hun-cong dekat dengan perempuan.

Keruan hatinya tergoncang, ia lekas membelah sedikit kulit dagingnya, setelah menemukan jarum beracun im, ia jepit dengan jarinya lantas dicabut, beruntun ia mencabut tiga jarum perak, ia memijit pula darah yang beracun supaya keluar dan membungkus lukanya dengan sobekan baju.

"Kau boleh tiduran dulu,"

Ujar Hun-cong kemudian.

Tetapi ia menjadi terkejut demi menegasi ketiga jarum ini.

Senjata rahasia beracun yang kecil sekali ini kalau bukan orang yang Lwekangnya sudah sempurna betul tidak mungkin bisa menggunakannya, sebenarnya siapakah gerangan penyerangnya ini?

Selagi ia hendak bertanya, tiba-tiba Nilan Ming-hui sudah bicara sendiri.

"Sebenarnya aku mengikuti ayah pindah bersama pasukannya dan bermaksud kembali ke kota Ili, tetapi di tengah jalan kami melihat ada tanda api,"

Begitu ia menerangkan.

"Ayahku membawa tentaranya lantas memburu ke sini, karenanya aku juga harus ikut kemari. Tak terduga begitu sampai di sini, segera mengalami pertempuran yang gaduh itu, aku bertemu dengan empat orang penunggang kuda, aku berhasil membunuh dua di antara mereka, tetapi di antara mereka terdapat seorang perempuan, ia telah menggerakkan tangannya sekali dan aku lantas terluka olehnya!"

Mendengar penuturan ini, air muka Nyo Hun-cong tiba-tiba berubah.

"Hui-ang-kin!"

Serunya tiba-tiba.

"Hui-ang-kin?"

Tanpa tertahan Nilan Ming-hui pun ikut berteriak.

"Kau kenal dia?"

Tanyanya lagi.

"Toako, balaskanlah dendamku ini!"

Sementara itu sambil berkata dengan manja, kepalanya sudah diletakkan di pangkuan Nyo Hun-cong.

Panggilan yang tadinya 'Taihiap' kini pun sudah berubah menjadi Toako atau kakak, dengan setengah gusar dan setengah aleman ia mengucapkan kata-katanya tadi.

Tetapi Nyo Hun-cong menyahut dengan rasa sedih dalam hati, kemudian dengan pelahan ia bangunkan orang.

"Ming-hui dendam ini tidak bisa dibalas lagi!"

Katanya dengan rasa haru.

"Kenapa?"

Tanya Ming-hui sambil menarik muka, lalu katanya lebih lanjut.

"Oh, mengertilah aku, Toako tentu telah mencintai perempuan setan dari padang rumput itu!"

Tiba-tiba Hun-cong memegang kencang kedua pundak orang, kedua matanya menatap tajam.

"Ming-hui, apa yang kita bicarakan ini adalah sungguh-sungguh,"

Katanya dengan suara yang berat dan kereng.

"Coba katakan, manusia macam apakah Hui-ang-kin ini dalam pandanganmu? Apakah ia adalah iblis perempuan? Apakah musuhmu? Jika dia tidak melukaimu dengan jarum beracunnya, apakah kau juga benci padanya?"

"Apakah karena ia bermusuhan dengan bangsamu? Atau karena ayahmu sering menyebut dia setan, iblis, dan menyuruhmu membenci dia, bukankah begitu?"

Tanya Hun-cong lagi.

Sekaligus Hun-cong telah mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan itu, perasaannya penuh dengan kemendongkolan tetapi juga terharu, ia menantikan jawaban si gadis.

Akan tetapi Nilan Ming-hui begitu molek, begitu cantik, Nyo Hun-cong yang berdiri di sampingnya seperti merasakan kehangatan, tetapi karena perkataan orang tadi yang seperti membawa bayangan gelap, membikin ia merasa dingin pula.

Pada waktu itu, hatinya telah ada satu keputusan, jika Ming-hui berdiri di pihak ayahnya dan membenci Hui-ang-kin karena dia ini adalah pahlawan wanita dari padang rumput, maka gadis ini adalah musuhnya pula dan ia akan membunuhnya, atau sedikitnya tidak akan gubris dia lagi.

Justru keputusan yang tersebut belakangan itulah yang membikin ia terharu, sampai suaranya menjadi gemetar.

Di lain pihak Nilan Ming-hui memandang Nyo Hun-cong dengan heran, ia tidak mengetahui apa yang terkandung dalam pikiran Nyo Hun-cong, ia hanya merasakan keadaan yang serius, ia paham perkataan Nyo Hun-cong sudah di luar persoalan asmara.

Perkataannya bukan lagi seperti perkataan terhadap kekasih lagi, tetapi perkataannya seperti telah dipersembahkan bagi suatu perjuangan yang suci.

Jiwa Hui-ang-kin begitu juga, oleh karena itu persahabatan di antara mereka begitu erat dan tak bisa putus.

Karena itulah Nilan Ming-hui merasakan semacam kesedihan yang aneh.

"Dengarkanlah omonganku ini,"

Katanya kemudian dengan suara rendah.

"Aku benci peperangan, kau juga pernah berkata padaku demikian, bukan? Ya, walaupun kita benci perang, tetapi justru peranglah yang membawa kita terlibat ke dalamnya, kalau ada perkataan nasib, maka ini adalah nasib kita yang sudah ditakdirkan."

"Aku tidak kenal Hui-ang-kin, tetapi sejak aku datang ke padang rumput sini, aku lantas sering mendengar orang menyebut namanya. Ya, memang tidak salah perkataanmu, ayahku, bangsaku, semua mengatakan dia adalah perempuan setan, setan yang membunuh manusia tanpa berkedip, membunuh orang seperti membabat rumput, terhadap dia aku pun timbul rasa takut."

"Tetapi aku juga tak percaya seluruh perkataan ayah, aku mengerti, waktu kami masuk ke sini pun telah membunuh orang tidak sedikit. Ya, tetapi ini toh adalah peperangan, kami membunuh mereka, dan mereka membunuh kami, kami menamakan Hui-ang-kin setan iblis, siapa tahu dia pun menamakan ayah setan iblis?"

"Kadang aku malah berpikir, seorang nona muda seperti Hui-ang-kin, menunggang kuda perang dan berlari kian kemari di padang rumput, ia dihormati bangsanya, tetapi dikutuk oleh orang kami, tidak peduli bagaimana pun ia tetap adalah seorang pahlawan."

"Terus terang saja, secara diam-diam aku pun pernah mengagumi dia!"

"Aku tidak kenal Hui-ang-kin, tetapi sampai pada waktu aku terluka oleh jarum beracunnya, aku telah menerka, perempuan yang pandai silat itu tentu adalah Hui-ang-kin. Ya, di waktu jarum beracunnya membuat aku kesakitan, maka aku membenci dia, benci karena gerak tangannya begitu keji."

"Selain itu, aku masih ada persoalan lain pula yang membuat kubenci dia, sudahlah, Toako, aku tidak akan berkata lagi, aku tahu kau adalah sahabatnya yang paling baik."

Sehabis berkata begitu tiba-tiba Nilan Ming-hui menjadi malu dan menundukkan kepala, matanya seperti ada sinar yang menggetarkan hati orang.

Nyo Hun-cong menghela napas lega.

Ia tahu, Nilan Ming-hui masih tetap benci pada Hui-ang-kin, tetapi benci ini jauh lebih enteng dibanding dengan benci yang ia kuaurkan im, bencinya ini tidak serupa dengan benci ayahnya.

Perkataannya ada yang samar, ia memandang posisi perang di antara kedua pihak adalah sama, 'Ini toh adalah perang, kita membunuh mereka, mereka juga membunuh kita', seakan-akan dalam hal ini tidak ada soal putih dan hitam atau salah dan benar, ini adalah tidak betul, tidak betul!

Dalam hati Hun-cong dengan tegas ia ingin mengatakan, 'tidak betul!'.

Banyak perkataan yang hendak dia ucapkan padanya, agar gadis ini bisa membedakan antara yang salah dan yang benar.

Tetapi ia tahu, pengertian ini tidak begitu saja dapat diterima oleh Ming-hui.

Di samping im, ia merasa di antara orang Boan-ciu terdapat seorang wanita seperti dia ini sudah merupakan satu keistimewaan, di dalam perasaan mereka seperti juga ada tempat yang sama, ada semacam perasaan yang aneh, aneh sebab dengan anak musuh bisa ada persamaan perasaan.

Tanpa terasa Nyo Hun-cong telah mengusap-usap rambut Nilan Ming-Hui.

"Ming-hui,"

Katanya kemudian pelahan-lahan.

"Aku tidak menyalahkan kau lagi, dan kau juga jangan membenci Hui-ang-kin pula, kau terluka oleh jarumnya dan anggap dia terlalu ganas, tetapi apakah kau tahu, aku pun terluka oleh panah beracun dan hampir tewas?"

"Kau suruh aku membalaskan dendammu, tapi apa pula yang akan kauperbuat untuk membalaskan dendamku?"

Tanya Hun-cong pada aldiirnya. Nilan Ming-hui menjadi heran oleh kata-kata ini.

"Memang kepandaianku dibandingkan kau masih terpaut jauh,"

Sahutnya kemudian.

"Tetapi bagaimana kau bisa tahu aku tidak bisa membalaskan dendammu? Beritahu aku, siapa yang melukaimu dengan panah beracun."

"Ayahmu!"

Sahut Nyo Hun-cong dengan dingin.

Mendengar itu, seketika Ming-hui seperti disambar petir, mukanya sekejap saja berubah menjadi pucat sekali, ia melompat bangun, tetapi segera roboh lagi dengan lemas.

Baca Juga: Kisah Pedang Bersatu Padu 7

Baca Juga: Misteri Pulau Neraka 5

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger