Tujuh Pendekar Pedang Gunung ThianSan 6

Eps 6 Tujuh Pendekar Pedang Gunung ThianSan - Liang Ie Shen

Baca online Tujuh Pendekar Pedang Gunung ThianSan - Liang Ie Shen

Cersil Tujuh Pendekar Pedang Gunung ThianSan - Liang Ie Shen.

Kiongcu membetulkan rambutnya yang hitam gombyok dan halus mengkilap itu dengan pelahan, kemudian barulah ia beTkata dengan rasa hampa.

"Nona, Boh, sungguh aku sangat menyesalkan diriku yang terlahir di keluarga kerajaan yang entah berapa banyak bibit dosa telah ditanamkan. Seperti keluargamu yang bahagia telah dibikin hancur berantakan, tentunya kau sangat membenci kami. Tapi ketahuilah, nona, aku sendiri-pun menyesalkan kejadian itu. Di dalam kerajaan aku tak mempunyai barang seorang kawan wanita. Cici, bila kau suka mendengarkan, biarlah aku ceritakan terus terang padamu betapa sulit penghidupan yang kami lewatkan sebagai putri di dalam kerajaan."

Wan-lian melihat putri raja itu bermata redup sayu, alisnya lentik cantik bagai bunga tanjung mekar di lembah sunyi yang menarik dan harus dikasihani.

Maka ia menggeser tempat duduknya lebih dekat dan menjawabnya.

"Baiklah Kiongcu, ceritakanlah."

Sambil memainkan ujung bajunya pelahan-lahan, lalu berceritalah putri kerajaan itu kisah kehidupan di dalam kerajaan.

"Jangan kaukira hidup kami sebagai Putri yang mewah dan agung tiada bandingannya, padahal kalah jauh kalau dibandingkan keluarga biasa,"

Demikian ia memulai.

"Begitu kami dilahirkan, segera ada 20 Kiongli (pelayan, dayang) dan 8 mak inang yang merawat kami, dengan para Kiongli itu kadang-kadang masih bisa diajak bicara, tetapi kedelapan mak inang itulah sungguh bengis tidak kepalang. Sedikit-sedikit ajaran leluhur dan peraturan keluarga, segala tata krama keluarga raja ditonjolkan dan menutup kami di kerajaan yang sunyi."

"Menurut peraturan kerajaan kami, begitu, Kiongcu dilahirkan segera berpisah dengan ayah bunda, kalau tiada kejadian luar biasa, kesempatan sedikit sekali untuk bersua dengan para anggota keluarga. Bila bisa mendapat kesayangan ayah Baginda masih baikan, kalau tidak, segalanya harus tergantung mak inang untuk menentukan."

"Seperti Enciku tertua, dengan susah payah menunggu sampai menikah dan sesudah upacara pernikahan, segera ia dipingit lagi di dalam kamar oleh mak inang dan tidak diperkenankan bertemu dengan Hu-ma, lewat setengah tahun Toa-kiongcu tidak tahan lagi, ia menyuruh Kiongli pergi memanggil Hu-ma ke kamarnya, siapa tahu dirintangi mak inang, katanya, 'Ini tidak boleh, kalau ada orang tahu bahkan Kiongcu bisa dikatakan tidak kenal malu.' Tanpa berdaya terpaksa Toa-kiong-cu bersabar. Selang beberapa bulan kemudian, kembali Toa-kiongcu hendak memanggil Hu-ma pula dan lagi-lagi dirintangi mak inang, ia bilang, 'Kalau Kiongcu berkeras hendak memasukkan Hu-ma, harus mengeluarkan sedikit uang tutup mulut.' Terpaksa Toakiongcu membagikan 100 tail emas, mak inang bilang kurang, ia menambah 100 tail emas pula dan bilang kurang lagi, sudah ditambah sampai 500 tail masih bilang kurang juga, akhirnya Toa-kiongcu menjadi jengkel, ia membatalkan niatnya memanggil Hu-ma"

"Dan pada waktu Sincia, Toa-kiongcu masuk kerajaan memberi selamat pada ayah Baginda sekalian bertanya, 'Sebenarnya ayah Baginda menikahkan hamba Putri dengan siapa?' Ayah sangat heran dengan pertanyaan itu, katanya, 'Bukankah Ki Cing adalah suamimu?' Jawab Toa-kiongcu, 'Macam apakah Ki Cing itu? Sudah setahun hamba Putri menikah, tetapi belum sekalipun juga bertemu dengannya!' Ayah Baginda bertanya lagi, 'Kenapa kalian berdua tidak bertemu?' 'Dilarang mak inang!' jawab Toa-kiongcu. Ayah tertawa mendengar penuturan itu, katanya, 'Soal diri kalian suami istri, mengapa harus mak inang yang mengurusi?' Karena itu, kontan saja Toa-kiongcu kembali ke istana terus memanggil mak inang dan didamperat habis-habisan, lalu Huma dipanggil ke istana tanpa halangan lagi."

"Ya, Enciku yang tertua itu paling besar nyalinya, maka ia berani bertindak seperti itu. Padahal Kiongcu yang lain, termasuk tiga keturunan yang bertakhta di daerah Kwanlwe juga tak terhindar dari hinaan mak inang!"

Cerita yang tak pernah didengarnya ini membikin Boh Wanlian merasa serba baru dan sangat aneh.

"Menurut peraturan kerajaan kami,"

Demikian Kiongcu melanjutkan.

"Kalau Kiongcu sudah mati, segala pakaian dan perhiasan lantas menjadi milik mak inang yang bersangkutan. Sebab itu mak inang makin keras mengawasi para Kiongcu, melarang ini, tak boleh itu, sampai kebebasan bergerak pun tidak ada, dan banyak Kiongcu justru karena siksaan itu telah mati mengenaskan di istana sunyi. Kalau dipikir, aku sendiri masih mendingan."

Diam-diam Wan-lian berpikir.

"Kalau begitu tampaknya cara mak inang menghadapi Kiongcu dengan bengis tidak berbeda banyak seperti induk semang terhadap pelacurnya."

"Dan apakah Putri keluarga biasa juga terikat oleh peraturan-peraturan semacam itu?"

Tanya Kiongcu tiba-tiba. Hua-ciau tersenyum.

"Putri-putri bangsa kami dari apa yang disebut kaum ningrat juga serupa saja diawasi dengan keras,"

Sahurnya.

"Bedanya cuma tidak di bawah perintah mak inang saja. Mungkin bangsawan kerajaan kalian adalah kaum ningrat, maka sekalipun Kaisar betapa kotor perbuatannya, tapi Kiongcu harus tunduk pada adat keturunan keluarga."

"Aku adalah putri ketiga ayah, waktu umur 5-6 tahun, ayah Baginda wafat (yang benar menjadi Hwesio di Ngo-tai-san) dan digantikan kakak Baginda,"

Demikian tutur Kiongcu lagi.

"Kalau dibanding Kiongcu lain, aku terhitung paling bebas dari siksaan mak inang. Tapi tinggal dalam kerajaan sunyi, sehari rasanya setahun, seperti hidup dalam penjara. Belakangan Yong-yo telah datang, ia adalah sanak keluarga terdekat kami dan Kakak Baginda memandangnya bagai saudara, maka ia sering berkunjung ke kerajaan, ia melihatku masgul setiap hari dan lantas membawaku berkunjung ke rumahnya, ibunya juga sangat suka padaku, maka seterusnya sering kugunakan alasan pergi ke Sianghu dan mengeluyur keluar kerajaan."

"Sampai suatu hari di musim panas tahun lalu, tiba-tiba Yong-yo mencariku dan bertanya apakah aku menyimpan obat luka dalam yang mustajab dari kerajaan. Aku bertanya untuk apa dan kenapa tidak pergi minta pada Kaisar saja. Tapi ia hanya tertawa dan tak menjawab. Aku lantas ngambek, kalau ia tidak menerangkan, aku pun tidak akan memberikan obatnya. Karena kewalahan, akhirnya ia menerangkan obat itu untuk menyembuhkan luka seorang begal Kangouw. Aku tertarik oleh kejadian serba baru ini, kuminta dia agar diperbolehkan melihat, sesudah aku berjanji pegang rahasia, kemudian aku diajak pergi melihat. Semula kusangka begal besar itu entah betapa bengis wajahnya, siapa tahu ternyata adalah seorang pemuda."

"Ya, bahkan pemuda yang cakap,"

Sambung Wan-lian sambil tersenyum.

"Boh-cici, jangan bergurau,"

Kata Hua-ciau jengah.

"Sesudah aku kena pisau di Ngo-tai-san dan kemudian terluka pula dalam kepungan pasukan pengawal di Jing-liang-si, lukaku yang parah itu terlalu banyak mengeluarkan darah hingga cukup berat. Bila tak ada obat yang diberi Kiongcu, mungkin nyawaku siang-siang sudah melayang."

Mendengar cerita itu, pahamlah Wan-lian, diam-diam ia berpikir.

"Orang kesepian seperti Kiongcu ini tentu mempunyai berbagai pikiran khayal. Ketika tiba-tiba bertemu seorang 'begal besar' yang muda dan gagah, tentu saja ia tertarik dan sering mengeluyur keluar kerajaan. Dan lama-lama tentu timbul bibit cintanya. Hanya entah bagaimana pikiran Hua-ciau terhadapnya?"

"Watakku yang kepala batu, sesuatu yang aku kehendaki selalu berusaha kuperolehnya,"

Kata Kiongcu pula dengan mulut menjengit mungil.

"Sungguh aku bisa mati konyol di dalam kerajaan. Kini Yong-yo bilang Ciau-long selekasnya akan pergi dari sini, Boh-cici apakah kedatanganmu ini hendak membawanya pergi? Maukah kalian bawa serta diriku? Ya, mungkin kalian tak tahu, kadang-kadang aku pun melamun ingin tumbuh sepasang sayap dan terbang dari pingitan!"

"Cintamu bagai si cebol ingin menggapai rembulan saja, mana mungkin terjadi,"

Pikir Wan-lian diam-diam.

Dan selagi mereka terdiam, tiba-tiba di luar terdengar suara tindakan orang.

Lekas Wan-lian membetulkan ikat kepalanya dan ketika berpaling ia lihat Nilan Yong-yo yang mendatangi.

Nampak Kiongcu tengah duduk asyik mengobrol dengan Boh Wan-lian, Yong-yo terheran-heran.

"Sam-kiongcu, waktu sudah larut malam, bolehlah kau kembali ke kamar untuk mengaso saja,"

Katanya kemudian.

"Ah, Yong-yo Koko, apakah kau pun bengis seperti mak inang terhadapku?"

Sahut Sam-kiongcu mengomel. Wan-lian ikut tertawa oleh kata-kata itu.

"Ya, aku pun sudah harus pergi,"

Katanya juga.

"Apa sudah lama kaukenal Ciau-long? Sejak kapankah kau datang ke Sianghu sini?"

Tanya Yong-yo pada Wan-lian tibatiba dengan agak curiga.

"Sama-sama orang asing di tanah perantauan, sekali bertemu tiada halangan buat bersahabat,"

Sahut Wan-lian tertawa.

Dengan jawaban orang bagai bersajak yang mengandung arti tiada jeleknya bersahabat meski baru berkenalan dan mungkin maksudnya semua orang yang berada dalam kamar termasuk dirinya, mau tak mau Yong-yo berkerut kening juga tetapi ia pun tidak menahan lebih jauh, ia membiarkan Boh Wan-lian pergi.

Dara ini melihat Tiong-bing lagi mondar-mandir sendirian di bawah, sesudah keluar dari Thian-hong-lau, ia lihat semangat pemuda ini lesu, lekas ia mendekatinya dan memegang tangannya, siapa duga mendadak Tiong-bing mengebas tangan orang.

"Buat apa kau kembali, bukankah lebih senang menemani Kongcu ganteng itu?"

Katanya cemburu.

"Kembali kau mengunjuk sifatmu seperti kerbau,"

Sahut Wan-lian.

"Aku pergi bicara dengan Thio Hua-ciau, ada sangkut-paut apa dengan Nilan-kongcu?"

"Apa betul?"

Tiong-bing menegas.

"Kulihat kau sangat disukai Nilan-kongcu itu. Kau pun bilang dia sangat baik, tetapi terhadapku kenapa dia begitu dingin sikapnya?"

"Coba ceritakan, dingin bagaimana?"

Tanya Wan-lian. Lalu berceritalah Kui Tiong-bing tentang kejadian tadi, Wan-lian terpingkal-pingkal geli oleh penuturan orang.

"Pantas saja,"

Demikian katanya.

"Kau begitu kasar, datang-datang minta orang padanya, mengapa kau malah menyalahkan dia? Coba kaupikir, bila seorang putra Perdana Menteri lain kauperlakukan begitu kasar, kalau kau tak ditangkap masuk penjara itulah baru aneh."

Karena kata-kata Wan-lian, Tiong-bing menjadi bungkam.

"Namun,"

Sambung si gadis.

"Tampaknya Nilan-kongcu sudah timbul rasa curiga juga. Meski ia seorang luar biasa, tapi apapun juga ia bukan orang pihak kita, aku kuatir kita tak akan lama lagi berdiam di sini. Umpama ia tidak curiga, tetapi malam ini kau telah unjuk kepandaianmu mengutungi pedang Coh Ciau-lam dan bertempur sama kuatnya, tentu saja semua orang menaruh curiga asal paham sedikit ilmu silat saja di Sianghu ini."

"Bukankah di tengah jalan kita juga sudah mengunjuk kepandaian hebat mengalahkan Kang-pak-sam-moh, mengapa kedua bersaudara Liok masih membawa kita ke sini?"

Ujar Tiong-bing.

"Kau betul-betul masih hijau,"

Kata Wan-lian.

"Mana boleh kaubandingkan Kang-pak-sam-moh dengan Coh Ciau-lam. Di kota-raja ini siapa orangnya yang mampu menerima tiga gebrakan Ciau-lam tentu seketika akan membuat geger."

"Lalu, apa kita harus segera angkat kaki?"

Tanya si pemuda.

"Meski aku tadi sudah berjumpa dengan Thio Hua-ciau, tapi belum sempat memberitahukan maksud kedatangan kita,"

Sahut Wan-lian.

"Kita harus segera pergi atau tidak, tunggulah sampai malam nanti biar aku berpikir dulu."

"Begitu lama kau berada di dalam loteng, lalu apa yang kau percakapkan dengannya?"

Tanya Tiong-bing sangsi. Namun si dara tak menjawabnya, ia tersenyum dan mendorong orang agar pergi tidur saja. Besok pagi-pagi sekali Boh Wan-lian sudah membangunkan Tiong-bing.

"Hari ini kita minta cuti, mari kita jalan-jalan keluar mencari seorang sobat,"

Ajaknya segera. Heran sekali Tiong-bing, belum pernah ia mendengar si gadis mempunyai sahabat di kota-raja.

"Bukan sahabatku, tapi kenalan lama Pho-pepek,"

Kata Wan-lian pula.

"Ia adalah Piauthau tua terkenal di lima propinsi utara ini, namanya Ciok Cin-hui, tersohor karena ilmu pedangnya Liap-hun-sip-sam-kiam. Jago tua ini sangat berbudi, sudah lebih 30 tahun ia malang melintang belum pernah gagal dalam pengawalannya. Menurut Pho-pepek, meski bagus ilmu pedangnya, tapi tersohornya justru bukan karena ilmu silatnya, melainkan budi bahasanya yang halus, maka sahabat dari segala lapisan suka memberi muka padanya."

"Kenapa tak kaukatakan sejak dulu,"

Ujar Tiong-bing.

"Sudah seharusnya kita pergi menemui Locianpwe yang hebat ini."

"Waktu kecil aku sudah pernah bertemu dia,"

Tutur Wanlian.

"Tetapi beberapa tahun terakhir ini kabarnya ia sudah menutup Piaukiok dan menganggur di rumah melewatkan hari tua yang tenteram, urusan di luar sudah malas untuk ikutikutan lagi. Namun mengingat hubungan baiknya dengan Phopepek, terhadap urusan kita rasanya tidak nanti ia berpeluk tangan, kelak bila Thio-kongcu hendak keluar, kukira tidak mungkin tanpa bantuannya."

Begitulah lantas mereka minta cuti sehari kepada kepala pengurus Sianghu dan dengan sendirinya diluluskan mengingat kepandaian yang mereka tunjukkan kemarin.

"Rumahnya kuingat di sekitar gang Hongsing, tetapi letaknya yang betul aku sudah lupa,"

Demikian kata Wan-lian di tengah jalan.

"Tapi rasanya tidak susah menemukannya bila bertanya."

Kemudian sampailah mereka di mulut suatu gang, dan selagi mereka hendak bertanya penduduk di situ, tiba-tiba dilihatnya beberapa orang beramai-ramai memikul masakan perjamuan terus masuk ke gang itu.

Malahan terdengar seorang di antaranya sedang berkata.

"Beberapa hari ini Cioklopiauthau menjamu tamu terus, hari ini entah kedatangan tamu darimana lagi?"

Girang sekali Boh Wan-lian mendengar pembicaraan itu.

"Apakah Ciok-lopiauthau yang menjamu tamu?"

Tanyanya tiba-tiba menimbrung. Orang itu melirik sekejap ke arah Wan-lian.

"Tentunya bukan menjamu kau,"

Sahutnya kemudian dengan dingin.

Namun si gadis tidak ambil pusing, ia tersenyum dan mengikuti di belakang pemikul-pemikul itu.

Setiba di depan sebuah gedung besar, segera barang daharan itu dibawa masuk pelayan.

Lekas Wan-lian maju memberi hormat dan menerangkan maksud kedatangannya pada salah seorang centing itu.

"Kalian membawa kartu nama tidak?"

Tanya penjaga pintu itu setelah mengamat-amati kedua muda-mudi itu.

"Karena terburu-buru, maka kami tidak membawa,"

Sahut Wan-lian.

"Tapi cukup bila kausampaikan bahwa Kanglam Pho Jing-cu minta bertemu."

Akhirnya sambil setengah menggerundel centing itu melaporkan juga ke dalam.

"Kauhilang Piauthau tua ini berbudi, agaknya belum pasti,"

Ujar Tiong-bing.

"Ia bukan pembesar negeri dan juga bukan kaum ningrat, mengapa harus pakai kartu nama baru mau bertemu?"

Wan-lian berkerut kening tak menjawab. Selang tak lama centing tadi kelihatan keluar lagi.

"Loyacu (tuan besar) kami tidak ada di rumah,"

Demikian ia memberitahu. Tiong-bing menjadi gusar oleh keterangan itu.

"Terangterangan aku melihat sedang menjamu tamu, mengapa kalian bilang tidak ada di rumah?"

Damperatnya segera.

"Hm, kalau tidak mau menerima tamu mengapa harus berbohong, macam tokoh Kangouw apakah ini?"

Dan karena ribut-ribut itulah mendadak pintu terpentang, seorang Thauto (Hwesio piara rambut) yang kasar telah melompat keluar, sekaligus Tiong-bing lantas didorongnya sambil membentak.

"Ada apakah bocah ini membikin ribut di sini?"

Tiong-bing menjadi gusar, kontan ia menyambut orang dengan Kim-na-jiu-hoat dari Eng-jiau-kang yang hebat, telapak tangannya tiba-tiba balas menahan pundak orang.

Sebenarnya tiada maksud jahat pada Thauto itu, ia hanya coba menggertak saja, siapa duga Tiong-bing tak bisa ditakuttakuti bahkah balas merangsek dengan tenaganya yang besar hingga Thauto itu hampir ditekan mendeprok ke bawah.

Thauto itu terkejut sekali, lekas ia menggeser sedikit samhil merangkap kedua tangannya mengangkat sekuatnya ke atas untuk melepaskan diri dari pegangan Kui Tiong-bing yang kuat, bahkan berbareng itu ia terus menjotos pula ke muka orang.

Siapa duga pukulan ini justru dimanfaatkan Kui Tiong-bing, sekali cekal kepalanya kena dibetot terus ditelikung ke bawah.

Untung Thauto itupun cukup tangkas, ia menggeram sekali dan kepalanya malah menyodok maju.

Nampak Kim-na-jiu-hoat yang hebat tak bisa merobohkan lawannya, Tiong-bing terperanjat juga.

Nyata ia tak kenal bahwa Thauto ini sesungguhnya tokoh ternama di Kangouw, tapi karena tak ungkulan menahan seorang muda, Thauto itupun serba sulit, kepalan kena dipegang dan terasa sakit pedas, hanya ia menahan sekuatnya hingga tidak sampai menjerit.

Tiong-bing insyaf telah menemukan lawan tangguh, segera ia bermaksud melontarkan serangan yang lebih lihai kalau tidak keburu Boh Wan-lian maju memisah di tengah.

"He, apakah kau bukan Thong-bing Susiok?"

Seru gadis itu.

Thauto itu bersuara heran oleh panggilan itu, ia menarik tangan sekuatnya yang dibarengi Tiong-bing mendorong ke depan, keruan ia terhuyung-huyung dan lekas menenangkan diri, sambil menggenggam kencang kedua kepalannya itu ia memandang Tiong-bing dengan mata masih melotot.

"Sungguh lucu, orang sendiri tidak saling kenal,"

Kata Boh Wan-lian tersenyum.

"Tiong-bing, lekas kau minta maaf, ia adalah kawan Leng Bwe-hong, orang Kangouw menyebutnya Kuai-thau-to Thong-bing Hwesio!"

Karena perkenalan itu, mendadak Thong-bing Hwesio bergelak tertawa terus merangkul Kui Tiong-bing.

"Benar-benar orang muda yang perkasa, kami golongan tua bangka ini selekasnya tentu tiada gunanya lagi,"

Demikian katanya.

Nyata meski tabiat Thong-bing kasar, tapi orangnya sangat jujur, seketika ia menyatakan rasa kagumnya pada ilmu silat Kui Tiong-bing.

Dalam pada itu dari dalam telah keluar pula beberapa orang, dua orang di depan yang seorang tinggi kurus dan bermata mendelik, yang seorang lagi pendek gemuk, kepala botak, mirip tong paku.

Heran dan terkejut Tiong-bing oleh rupa mereka yang jelek itu.

"Eh, Siang-sioksiok dan Thia-sioksiok, kiranya kalian juga ada di sini,"

Segera Wan-lian menyapa girang. Kiranya mereka adalah Song-bun-sin Siang Ing dan Thi-tah Thia Tong yang sudah dikenalnya di Ngo-tai-san dulu.

"Haha, kau menyamar sebagai pemuda cakap, keruan saja wajahmu bertambah jelek,"

Kata mereka tertawa demi mengenali Boh Wan-lian dalam penyamarannya sebagai jejaka.

Dan selagi Wan-lian hendak memperkenalkan Tiong-bing pada mereka, tiba-tiba dari belakang Siang Ing menyelinap maju seorang dengan cepat terus menarik tangan Boh Wanlian.

"Ai, para paman saja yang kau urus sampai aku tak kaulihat lagi!"

Seru orang itu.

Girang luar biasa Boh Wan-lian begitu mengenali orang.

Tadi karena ia bisa menemukan Thong-bing Hwesio dan kawan-kawan serta perawakan Siang Ing yang tinggi besar, maka orang di belakangnya tidak diperhatikan olehnya.

"He, le-cici, kau juga di sini,"

Seru Wan-lian kemudian. Orang itu memang Ie Lan-cu adanya.

"Di sini bukan tempatnya bicara, marilah masuk saja bertemu dengan Ciok-locianpwe,"

Ajak Thong-bing. Lalu ia pun mendahului masuk sambil berteriak.

"Ciok-loji, ada tamu yang kau telantarkan, kau harus didenda minum banyak!"

Ketika Wan-lian memandang, ia lihat dalam ruangan situ sudah duduk belasan orang, ia mengenali orang tua kurus yang duduk di tengah itu adalah tuan rumah, Ciok Cin-hui, sedang yang lain-lain hanya seorang saja yang dikenalnya, ialah Thio Jing-goan, perwira bawahan Li Lay-hing.

Maka cepat Ciok Cin-hui bangkit menyambut kedatangan orang, ia memberi hormat pada Boh Wan-lian dan Kui Tiongbing sambil minta maaf.

"Siapakah mereka ini, mengapa tak kau perkenalkan padaku?"

Tegurnya kemudian pada Thongbing.

"Inilah nona Boh Wan-lian, dan yang bernama bernama"

Thong-bing garuk-garuk kepala tak bisa melanjutkan.

"He, nona Boh, siapa namanya waktu kaupanggil tadi, coba kau memanggilnya sekali lagi."

Nampak kelakuan Thong-bing Hwesio, Ciok Cin-hui tertawa, lalu Wan-lian dan Tiong-bing pun memberi hormat pada jago tua itu.

"Apakah Ciok-lopek masih ingat diriku?"

Tanya si gadis.

"Aku adalah anak perempuan yang pernah ke sini bersama Pho-pepek."

"Ya, ya, ternyata kau sudah begini besarnya,"

Sahut Ciok Cin-hui sesudah ingat.

"Dan bagaimana dengan Pho-pepek? Eh, dan ini"

"Ia bernama Kui Tiong-bing,"

Kata Wan-lian memperkenalkan mereka.

"Ia disuruh Pho-pepek mengiringiku menemui kau orang tua."

"Ehm, bagus, bagus!"

Ujar Ciok Cin-hui berulang-ulang sambil mengelus jenggot. Wan-lian menjadi jengah, parasnya bersemu merah.

"Bagus apa kauhilang?"

Seru Thong-bing tiba-tiba.

"Kepandaiannya luar biasa, aku si Hwesio ini hampir saja mewa-ki Ikanmu tangan dipatahkannya."

Kiranya Ciok Cin-hui sangat suka bersahabat, cuma dalam beberapa hari ini ia banyak kedatangan kawan-kawan dari kalangan Hek-to atau lapisan gelap, maka segalanya harus berlaku hati-hati.

Dan karena tadi penjaga melaporkan bahwa Pho Jing-cu minta bertemu, mula-mula ia bergirang, tetapi kemudian setelah bertanya rupa orang yang datang ternyata dua orang pemuda, ia menjadi curiga juga, sebab ia mengenal Pho Jing-cu sama sekali tak mempunyai murid.

"Siapakah yang berani memakai nama Pho Jing-cu, biarlah aku melihatnya,"

Kata Thong-bing Hwesio.

Lalu ia pun memapak keluar hingga terjadilah peristiwa tadi dan hampir saja tangannya dipuntir patah Kui Tiong-bing.

Begitulah, maka Ciok Cin-hui tertawa oleh perkataan Thong-bing tadi.

Segera ia mempersilakan Wan-lian dan Tiong-bing duduk dalam perjamuannya dan diperkenalkan pada hadirin yang lain.

Ternyata di antara tamu-tamu itu lebih separoh adalah gembong Thian-te-hwe.

Kiranya sesudah para pahlawan membikin rusuh di Ngo-taisan, Thong-bing Hwesio, Thia Tong dan Siang Ing bertiga telah diperintahkan ke Kwitang untuk mengawasi gerak-gerik Ping-lam-ong Siang Ci-sin dan sekalian menghubungi kawankawan seperjuangan di sana.

Tak terduga baru saja mereka sampai di Kwitang, Go Sam-kui sudah mengumumkan pemberontakannya dan disambut dengan gerakan militer Siang Ci-sin.

Kemudian mereka pun berhasil menghubungi kawan-kawan Thian-te-hwe dan bekas pengikut Loh-ong.

Siapa tahu Siang Ci-sin ternyata bolak-balik tidak bisa dipercaya, belum setahun memberontak, ia sudah menyerah lagi pada pemerintah Boan.

Tentu saja kesempatan itu digunakan pemerintah Boan untuk menggerebek dan menangkap tokoh-tokoh gerakan bawah tanah di daerah selatan itu.

Karena tidak bisa tinggal lebih lama lagi di sana, Thong-bing dan kawan-kawan lantas kembali ke utara dan sekalian menyelundup ke kota-raja, berkat bantuan Ciok Cinhui, mereka aman.

Sedang Thio Jing-goan datang ke kota-raja karena ada perintah Li Lay-hing.

Mengenai Ie Lan-cu, ia lebih menggemparkan lagi.

Ia paling dulu datang di kota-raja, sudah dua kali ia memasuki istana To Tok, malahan satu kali pernah bertarung sengit melawan To Tok sendiri.

Belakangan karena jago-jago pengawal lantas membanjir datang, syukur gadis ini bisa meloloskan diri berkat Gin-kangnya yang bagus, karena peristiwa itu ia pun diuber-uber hendak ditangkap, kebetulan pada suatu hari bertemu Thong-bing Hwesio dan berbicara tentang Ciok Cin-hui yang baik budi itu, lalu mereka pun bernaung di tempat jago tua itu.

Dan sudah hampir dua bulan Ie Lan-cu tinggal di rumah jago she Ciok ini tanpa keluar pintu, ia terus memperdalam ilmu pedangnya.

Beberapa hari yang lalu karena memperoleh kabar tentang diri Thio Hua-ciau, barulah ia menyelidik ke istana Perdana Menteri.

Pertama kali ia dipergoki kedua bersaudara Liok yang sedang meronda, tapi ia dapat melayang cepat lewat tanpa rintangan.

Tapi pada kedua kalinya ia kepergok Coh Ciau-lam dan hampir saja ia tertangkap olehnya.

Begitulah, maka semua orang merasa senang karena bisa bersua lagi.

Dalam perjamuan itu Ngo-kim-kiam-hoat Kui Tiong-bing telah menjadi buah tutur karena berasal dari ajaran mendiang Cwan-tiong Tayhiap Yap Hun-sun yang tersohor, maka Ciok Cin-hui sangat tertarik.

"Liap-hun-sip-sam-kiam milikku menurut kawan Bu-liir mirip dengan Ngo-kim-kiam-hoat,"

Demikian ia berkata.

"Cuma tempat Yap-tayhiap terlalu jauh hingga aku tak sempat menemuinya. Tapi 30 tahun lalu aku pernah bertemu muridnya yang bernama Kui Thian-lan dan aku pun minta belajar kenal dengan ilmu pedangnya itu, namun karena sibuk dalam dinas pergerakan, ia tidak suka mengunjukkan. Kini Kui-hiantit adalah cucu luar Yap-tayhiap dan beruntung bisa bertemu, sekali ini jangan lagi dilewatkan kesempatan ini."

Lalu ia meminta Kui Tiong-bing suka mempertontonkan ilmu pedangnya.

Dan karena pengaruh air kata-kata, darah muda pula, Tiong-bing pun tidak menolak, segera ia melolos pedang hingga bersinar gemilapan menyilaukan mata.

"Pedang bagus!"

Puji Ciok Cin-hui.

"Maafkan bila ada kekurangan,"

Kata Tiong-bing merendah sembari memberi hormat pada para tamu.

Habis itu, begitu tubuh berputar sinar pedangnya menyambar cepat hingga orangnya tertutup rapat oleh selapis sinar putih, begitu keras, angin tajam menderu-deru hingga daun jendela ikut tergetar.

"Bagus!"

Seru Cin-hui memuji pula.

Kemudian ia menuang secawan arak.

Sekonyong-konyong ia menyiramkan arak itu ke arah Kui Tiong-bing.

Semula Thong-bing Hwesio terkejut oleh perbuatan jago tua itu, tetapi segera ia pun paham akan maksud orang, maka bersama yang lain mereka pun menyiram arak beramai-ramai ke tengah.

Tapi baru habis sekali arak mereka disiramkan, mendadak terdengar suitan nyaring, angin tajam tadi pun berhenti, keadaan kembali sepi, Tiong-bing mengembalikan pedangnya ke sarung, ia berdiri tegak di tengah kalangan dan di sekitarnya kelihatan basah di lingkungi sebuah bundaran karena tetesan arak yang disiramkan orang banyak tadi.

Seketika itu juga semua orang bertepuk tangan memuji.

"Tak bisa masuk disiram air, sungguh kiam-hoat yang hebat!"

Kata Ciok Cin-hui.

"Masih harus minta petunjuk dari Locianpwe,"

Sahut Kui Tiong-bing merendah sambil memberi hormat lagi.

Ciok Cin-hui orangnya ternyata suka berterus terang, tanpa menolak ia pun menjinjing pedangnya dan maju ke tengah menggantikan Kui Tiong-bing.

Sinar matanya memandang tajam ke ujung pedangnya sendiri, ketika mendadak ia bergerak, seketika sebuah sinar perak seakan-akan menyambar jatuh.

Mula-mula tidak begitu cepat, maka Tiongbing dapat melihat jelas, memang gerak-geriknya hampir mirip Ngo-kim-kiam-hoat, maka diam-diam ia pun memperhatikan setiap gerak tipu orang.

Mendadak kelihatan Ciok Cin-hui mempercepat pedangnya, hingga akhirnya seluruh ruangan seakan-akan penuh dengan sinar pedangnya yang bergulung-gulung ke sana kemari.

"Kecepatannya belum mengherankan, marilah saksikan tenaga saudara tua kita ini,"

Kata seorang Piauthau tua.

Sambil berkata ia terus meraup segenggam kwaci, mendadak dengan gerak tipu 'Boan-thian-uh' atau hujan gerimis memenuhi langit, dengan cara menghamburkan am-gi, Piauthau tua itu menyam-bitkan kwaci ke tengah kalangan.

Perbuatannya ini segera diikuti pula yang lain.

"Kwaci sekecil ini bila disambitkan dengan kuat mungkin lebih susah ditahan daripada siraman air,"

Demikian pikir Wanlian.

Tak ia duga, barang kecil itupun tergetar oleh angin pedang yang menyambar cepat itu, kwaci yang dihamburkan ternyata terpental balik, ada dua biji kwaci malahan mengenai muka Wan-lian hingga rasanya pedas bagai digigit nyamuk, keruan ia pun terkejut.

Sejenak kemudian, diiringi suara tertawanya, mendadak Ciok Cin-hui menghentikan permainan pedangnya, ia memberi hormat berkeliling sambil berkata.

"Sudah tua rasanya tak berguna lagi."

Dan waktu semua orang memandang lantai, seperti Kui Tiong-bing menolak siraman arak tadi, kwaci itu terserak di lantai berwujud satu lingkaran.

Seketika semua orang bersorak-sorai memuji.

Diam-diam Tiong-bing mengakui tenaga dalam Ciok Cin-hui yang memang masih lebih tinggi darinya, usianya ternyata tidak mengurangi kepandaian orang, jahe memang selalu pedas yang tua.

"Terima kasih atas petunjuk Ciok-locianpwe tadi,"

Kata Tiong-bing kemudian sesudah kembali duduk.

"Hadiah perkenalan ini sungguh berharga,"

Ujar Wan-lian.

"Ya, cita-cita selama 30 tahun barulah terkabul hari ini,"

Sahut Ciok Cin-hui.

"Kita sama-sama mendapat faedah dari pertukaran pengetahuan tadi, mana berani kubilang memberi petunjuk."

Kiranya Ngo-kim-kiam-hoat dan Liap-hun-sip-sam-kiam sama-sama mengutamakan kecepatan, yang satu cepat ganas dan yang lain gesit cekatan.

Dengan saling tukar pertunjukan tadi tentu saja banyak menambah faedah kiam-hoat masingmasing.

Dalam girangnya Cin-hui mengajak para tamunya ke taman di belakang rumah, ke lapangan berlatih, ia ingin tetamu lain pun mengunjuk ilmu silat masing-masing.

Ia ternyata sangat suka pada Boh Wan-lian, berulang kali ia menyuruh gadis ini pindah tinggal di rumahnya bersama Kui Tiong-bing.

Karena permintaan itu, ketika Wan-lian hendak bicara, tibatiba Ie Lan-cu mendahului buka suara.

"Boh-cici masih ada sedikit keperluan, ia bilang satu dua hari lagi baru bisa pindah ke sini,"

Katanya. Wan-lian heran, kapan dirinya pernah berkata demikian padanya? Tetapi Ie Lan-cu telah mencubit pelahan tangannya, berbareng sebuah lintingan kertas kecil telah berpindah ke tangannya.

"Ya, Ciok-pepek, lewat dua hari lagi kami akan pindah ke sini,"

Demikian Wan-lian menyambung.

Ciok Cin-hui sudah kawakan di Kangouw, tentu saja ia tahu apa artinya itu, walaupun agak kecewa, tetapi juga tidak dapat memaksa.

Setelah Kui Tiong-bing dan Boh Wan-lian kembali ke Sianghu, mereka melihat pajangan-pajangan di taman sudah lenyap, keadaan menjadi sepi.

Waktu mereka mencari tahu, kiranya Sam-kiongcu sudah kembali ke istana bahkan Nilan Yong-yo sendiri menghadap Kaisar.

Karena itu perasaan Wan-lian menjadi tak enak seperti bakal ada alamat buruk.

Sesudah sampai di kamarnya, cepat ia membuka lintingan kertas yang disodorkan Ie Lan-cu tadi, ia lihat kertas itu tertulis .

'Malam ini lekas lari keluar Sianghu bersama Thio-kongcu, kalau terlambat dikuatirkan ada perubahan hebat!', la terkejut.

Apakah yang bakal terjadi?

Waktu itu hari sudah gelap, sinar bulan purnama menambah keindahan taman bunga itu, tetapi Boh Wan-lian tiada pikiran untuk menikmati keindahan pemandangan lagi.

"Kita istirahat buat mengumpulkan semangat,"

Katanya pada Tiong-bing.

"Tengah malam nanti segera kita naik ke Thian-hong-lau memanggil keluar Thio-kongcu."

Tapi di luar dugaan, belum sampai tengah malam, keadaan sudah berubah.

Selagi Boh Wan-lian dan Kui Tiong-bing hendak bebenah dan asyik berbisik-bisik merundingkan cara bagaimana pergi mengeluarkan Thio-kongcu, tiba-tiba mereka mendengar di luar ada beberapa suara petasan yang keras.

Waktu mereka melongok dari jendela, tertampak di luar banyak orang melepaskan sebangsa mercon.

"Bukan malam Capgomeh, juga tiada sesuatu perayaan, mengapa main petasan?"

Pikir Wan-lian.

Sekonyong-konyong dari belakang gunung-gunungan pinggir jembatan, dalam semak-semak dan tempat-tempat gelap di taman itu muncul banyak orang, ada sepasukan pengawal kerajaan, juga ada pengawal dari Sianghu sendiri.

Sungguh Wan-lian sangat terkejut.

"Kita sudah dikepung, lekas menerjang keluar!"

Katanya gugup sambil menarik Kui Tiong-bing.

Cepat Tiong-bing melolos pedang pusakanya, ia menggeram sekali, sambil memutar pedang ia menjebol daun jendela dan segera membawa Boh Wan-lian menerjang keluar.

Kiranya tadi malam, sesudah penggerebekan Coh Ciau-lam gagal karena dirintangi Nilan Yong-yo, ia sangat mendongkol.

Dulu sewaktu Ie Lan-cu hendak membunuh To Tok di Ngotai-san, ia pun menyaksikan sendiri, maka begitu bertemu segera Ciau-lam dapat mengenali Lan-cu.

Belakangan setelah bergebrak, melihat pedang si gadis adalah barang peninggalan Suhengnya, Njo Hun-cong, dan yang dimainkan juga Thiansan-kiam-hoat, keruan ia bertambah terkejut dan heran.

Malam itu juga ia kembali ke istana dan segera minta menghadap Kaisar Khong-hi, ia menceritakan cara bagaimana Yong-yo melindungi 'penyamun wanita' itu.

Tapi Khong-hi tertawa dan berkata.

"Sifat Nilan Yong-yo masih anak-anak, kukuh pada pendirian, tetapi melindungi kiranya juga tidak sampai. Menurutku, ia tidak mengetahui ada penjahat menyelundup ke dalam rumahnya, maka tidak senang kaubikin ribut di rumahnya. Begini saja, besok biar kupanggil dia menemaniku membaca, Kiongcu juga kupanggil kembali ke istana. Malamnya boleh kaubawa pasukan pengawal, sesudah memberi tahu Nilan-siang-ya lalu bersama-sama mengepung dan menangkapnya."

Karena janji Khong-hi itu, Ciau-lam menjadi girang, segera ia pergi mengatur seperlunya.

Dan malamnya ia membawa 300 serdadu, di antaranya ada pula beberapa Thongling yang terhitung jagoan.

Kembali pada Tiong-bing yang tadi menerjang keluar, pedangnya menyambar cepat, segera banyak senjata yang terkurung.

Dalam pada itu Boh Wan-lian pun telah membuntuti di belakangnya.

"Ikut aku,"

Kata si gadis pelahan.

Habis itu ia menghamburkan dulu pasir beracunnya, lalu ia mencari jalanjalan sepi di depan, sambil bertempur sambil berlari.

Tiongbing menjaga bagian belakang, ia mengurungi semua senjata yang menyerang dari samping.

Jalanan di taman Sianghu itu berliku-liku sedemikian rupa, orang yang sudah lama tinggal di situ pun kadang-kadang bisa kesasar.

Tapi Boh Wan-lian yang cerdik dan berpikir panjang, begitu ia datang ke sini, ia lantas menghafalkan jalanan itu, malahan tempat-tempat yang banyak simpang jalan dan ruwet sudah ia siapkan petanya untuk setiap waktu digunakan.

Sudah 3 -4 bulan ia masuk ke Sianghu, jalanan di taman itu kini sudah cukup dipahami, kini walaupun di taman itu penuh dengan pasukan pengawal, tetapi kena dibikin bingung juga oleh cara Boh Wan-lian menikung ke kanan dan berbelok ke kiri, ia selalu mencari jalan kecil untuk menghindarkan kejaran, maka dalam sekejap saja mereka sudah bisa meninggalkan kejaran pasukan pengawal.

Tak lama kemudian mereka telah sampai di dekat Thianhong-lau, mereka mendekam bersembunyi di belakang sebuah gunung-gunungan yang gelap, waktu mereka mendongak memandang, kembali mereka terkejut.

Mereka melihat Thian-hong-lau yang bertingkat tujuh itu pada pojok atas serambi tingkat ketiga ada dua orang yang sedang bertarung dengan sengitnya, seorang dikenali sebagai Coh Ciau-lam, sedang yang lain adalah Thio Hua-ciau.

Di bawah Thian-hong-lau sudah menanti ratusan pasukan pengawal yang siap dengan panahnya.

Tampaknya Ciau-lam menyerang dengan hebatnya, berulang-ulang Thio Hua-ciau harus berkelit menghindarkan ancaman pedang musuh.

Sesudah menghindarkan beberapa serangan, mendadak Ciau-lam melangkah maju dan menusuk, tapi tiba-tiba Hua-ciau mengenjot tubuh, ia melompat naik ke tingkat empat.

Permainan pedang Ciau-lam secepat kilat, kalau mau cukup ia mengayun pedangnya dan segera akan bisa menebas kutung kedua kaki lawan pada waktu Hua-ciau melompat naik, tetapi entah mengapa ia tidak berbuat begitu, sebaliknya ia mengegos ke samping, pedangnya menutul genting rumah dan tubuhnya dengan enteng membal ke atas, hampir berbareng dengan Hua-ciau yang menancapkan kaki di emper tingkat empat, pedangnya secepat angin merangsek pula.

Sebab apakah Ciau-lam tidak mau melukai Thio Hua-ciau?

Kiranya pada waktu ia menggeledah Thian-hong-lau tadi atas petunjuk Liok Bing dan Liok Liang, ia masuk ke lapisan tembok rahasia Thian-hong-lau itu dan memergoki Hua-ciau di sana, segera ia mengenalnya sebagai salah seorang yang pernah hendak membunuh To Tok di Ngo-tai-san dulu, kemudian dalam pertempuran malam-malam di Jing-Iiang-si pun sejalan dengan le Lan-cu.

Ia menjadi girang, pikirnya.

"Taruh kata tidak bisa menangkap 'penyamun wanita' itu, tapi bisa menangkap orang inipun berjasa besar,. Karena itulah ia hendak menangkapnya hidup-hidup dan tidak ingin menewaskan jiwanya. Tetapi ilmu silat Thio Hua-ciau juga tidak lemah, lebih-lebih ilmu pedangnya ajaran dari Bu-kek-pay, walaupun bukan tandingan Coh Ciau-lam, namun kalau Ciau-lam hendak menangkapnya hidup-hidup juga tidak gampang dilakukannya. Berulang-ulang Ciau-lam menyerang dengan berbagai macam gaya serangan, ia bermaksud memukul jatuh dulu pedang Hua-ciau, tetapi Hua-ciau terus berjaga dengan rapat, maka di atas gedung tingkat empat itu kembali mereka bergebrak 30 -40 jurus lagi. Lama-lama Ciau-lam menjadi gusar, tiba-tiba permainan pedangnya berubah, ia menyerang cepat sehingga pedangnya seakan-akan menjelma menjadi belasan batang. Hua-ciau tak sempat mengelakkan diri lagi, lengan kirinya tertusuk sekali, ia menjerit, ia memutar tubuh dan melompat lagi ke tingkat lima. Melihat susah menangkap hidup-hidup lawannya, segera timbul pikiran jahat Coh Ciau-lam, ia pikir melukai dulu Thio Hua-ciau, habis itu baru menangkapnya hidup-hidup. Ia tidak menduga Hua-ciau cukup perkasa, walaupun terkena tusukan sekali ia masih dapat melompat naik ke tingkat yang lebih atas. Tetapi sudah tentu Ciau-lam tidak mau melepaskan begitu saja, ia pun melompat pelahan dan dengan enteng menyusul ke tingkat lima, bahkan ia bisa mendahului mencegat jalan mundur Hua-ciau, ia memaksanya membelakangi bagian luar loteng, hingga lebih susah untuk menjaga diri. Dalam keadaan yang mendebarkan itu, selagi Kui Tiongbing dan Boh Wan-lian berpikir hendak memberi bantuan, tiba-tiba dari tingkat enam menerjang keluar seorang gadis, cepat ia menutul kaki dan bagai burung terbang menyambar turun miring, pedang pendeknya tahu-tahu membentur pedang Coh Ciau-lam hingga lelatu api menciprat, pedang Coh Ciau-lam tergumpii. Gadis ini tidak lain daripada Ie Lan-cu yang hendak ditangkapnya itu. Kiranya Ie Lan-cu tak kenal seluk-beluk rahasia dalam Thian-hong-lau, sebelum tengah malam ia sudah datang. Ia menggeledah dan mencari tiap-tiap tingkat, tapi tidak menemukan Thio Hua-ciau, waktu sampai di tingkat enam, tatkala itu Coh Ciau-lam sudah mengepung dengan pasukannya. Lan-cu mendekam di belakang pot bunga, ia memandang ke bawah, ia lihat Hua-ciau sedang diuber-uber oleh Coh Ciau-lam, keadaannya sangat menguatirkan, maka cepat ia mengunjukkan diri dan menebas pedang musuh dengan pedang pusakanya, Toangiok-kiam. Melihat Ie Lan-cu mengunjukkan diri, segera Ciau-lam mengalihkan pokok tujuannya, pedangnya bergerak, beruntun ia menusuk tempat-tempat berbahaya le Lan-cu. Dalam pada itu Thio Hua-ciau telah melompat pula naik ke tingkat enam. Ilmu silat Lan-cu lebih tinggi dari Thio Hua-ciau, tetapi Coh Ciau-lam bermaksud menangkap hidup-hidup, tiap serangannya ganas dan berbahaya. Belasan jurus telah lewat, le Lan-cu melihat gelagat jelek, ia pun melayang naik ke tingkat enam. Di atas situ ia melihat Hua-ciau sedang membalut lukanya tadi.

"Bagaimana?"

Tanya Lan-cu kuatir. Melihat wajah orang yang simpati, Hua-ciau tergerak hatinya, ia tak merasakan sakit lagi, pedangnya digerakkan seraya berkata.

"Tidak apa-apa!"

Belum kedua orang itu berbicara lebih banyak, cepat Ciaulam sudah menyusul datang dan menyerang pula, lekas Lancu memotong dengan pedang pusakanya, sedang Hua-ciau mendadak membungkuk, ia menggunakan tipu gerakan 'Pengpoh-te-gim' atau menggelar permadani ke tanah, ia membabat kedua kaki Coh Ciau-lam.

Namun Ciau-lam memang sangat lihai, ia menusuk ke samping pada Ie Lan-cu yang dipaksa berkelit, berbareng pedangnya memutar ke bawah sambil menyungkit, pedang Thio Hua-ciau yang membabat itu segera terpental terbang ke tingkat teratas Thian-hong-lau.

Dengan mati-matian Ie Lan-cu bertahan, sedang Hua-ciau melayang ke tingkat atas memburu senjatanya yang terpental itu, sementara Ie Lan-cu dan Coh Ciau-lam dengan cepat menyusul ke atas.

Hua-ciau tak berani ayal lagi, berkat pedang pusaka Ie Lancu yang menahan dari depan, ia pun memainkan seranganserangan hebat dari Bu-kek-kiam.

Meski Ciau-lam sendirian melawan dua musuh, namun ia masih lebih banyak menyerang daripada berjaga.

Begitulah ketiga orang bertempur sengit di atas Thianhong-lau tingkat teratas, walaupun Ciau-lam berada di atas angin, tapi dalam sekejap ia pun tak berdaya mengalahkan kedua lawannya.

Dalam pada itu dari loteng tingkat tiga tiba-tiba melayang keluar empat sosok bayangan, dua di antaranya adalah Liok Liang dan Liok Bing, sedang dua lainnya adalah jagoan kelas tinggi dari pasukan pengawal.

Mereka tadi sedang menggeledah sisa komplotan lainnya dalam lapisan tembok rahasia di tingkat tiga itu, tetapi tak mendapatkan sesuatu, maka kini mereka datang membantu.

Tiong-bing dan Wan-lian di tempat gelap di belakang gunung-gunungan, mereka lihat di atas Thian-hong-lau sana Ciau-lam makin lama makin ganas, mereka menjadi kuatir.

"Kau lekas membantu mereka,"

Kata Wan-lian.

"Kaudo-rong mereka turun ke bawah, lalu berlari ke jurusan sini mengikuti aku menerjang keluar."

Kala itu pasukan pengawal yang berada di bawah Thianhong-lau semua lagi mendongak ke atas, mereka terkesima oleh pertempuran sengit yang terjadi di atas sana, tiap orang hanya melihat ke atas, tiada seorang pun yang insyaf bahwa di dekatnya masih bersembunyi dua orang musuh.

Secara tiba-tiba Kui Tiong-bing menerjang keluar, ia melayang lewat di atas kepala pasukan pengawal itu dengan kecepatan luar biasa, beberapa pengawal itu tiba-tiba merasakan kepala kesakitan, waktu mereka menengadah, tahu-tahu kepala mereka dipakai Tiong-bing sebagai batu loncatan untuk melompat ke atas Thian-hong-lau.

Pasukan pengawal itu bergemuruh, segera mereka menghujani dengan anak panah, tapi Tiong-bing memutar pedangnya dan anak panah itu terbentur pergi semua.

Dalam pada itu ia tidak menghentikan langkahnya, ia genggam tiga buah anting-anting emas, setingkat demi setingkat ia melompat naik ke atas, sekejap saja ia sudah sampai di tingkat empat, kekuatan anak panah sudah lemah dan tak bisa mengenai sasarannya.

Waktu Tiong-bing mendongak, ia lihat seorang Thongling pasukan pengawal baru saja sampai di tingkat teratas, cepat Tiong-bing mengayun tangannya, baru saja Thongling itu hendak maju membantu Coh Ciau-lam, tibatiba punggungnya kesakitan, ia terjungkal ke bawah.

Kembali pasukan pengawal riuh gemuruh, waktu mereka menangkap Thongling yang jatuh itu dan diperiksa, ternyata orangnya sudah mampus.

Waktu itu Liok Bing dan Liok Liang baru Saja sampai di tingkat lima, mendadak mereka melihat Tiong-bing melayang naik, mereka terkejut, lekas mereka bersembunyi masuk ke dalam ruangan.

Sesudah Tiong-bing naik sampai tingkat lima, ia tak menggubris mereka, tangan kirinya kembali bergerak, sebuah anting-anting menyambar menuju seorang Thongling lain yang juga baru saja naik.

Tak ia duga Thongling ini ternyata seorang jagoan kelas satu bernama Oh Hian-tik, dalam pasukan pengawal ia hanya di bawah Coh Ciau-lam dan Thio Sing-pin.

Ia menggunakan sebuah ruyung lemas dan anting-anting emas itu kena disabet jatuh.

Kui Tiong-bing mengge-ram gusar, ia tak menghentikan tindakannya, cepat ia menerjang ke tingkat paling atas, segera pedangnya membacok.

Oh Hian-tik tak tahu pemuda ini menggunakan pedang pusaka, ia mengayun ruyungnya untuk menangkis, tahu-tahu ia menjerit kaget, lekas ia mundur beberapa langkah, kiranya pucuk ruyungnya sudah terbabat putus sebagian.

Segera Tiong-bing merangsek maju pula, berbareng ia bidikkan juga tiga anting-anting yang sudah digenggam di tangan kirinya mengarah jalan darah di punggung Ciau-lam.

Dalam pertarungan sengit melawan Hua-ciau dan Ie Lan-cu berdua, ketika mendadak Ciau-lam mendengar angin tajam menyambar dari belakang, cepat ia mengulur tangan meraup ke belakang, ia dapat menangkap anting-anting yang menyambar itu, tapi karena itu pula pedangnya sedikit merandek, kesempatan itu meluputkan Ie Lan-cu dari rangsekan Coh Ciau-lam tadi.

Sesudah Tiong-bing membidikkan anting-anting emasnya, menyusul segera ia merangsek maju, tiba-tiba ia pun melihat Coh Ciau-lam mengayun tangannya, sebuah sinar emas bersuara menyambar cepat ke arahnya, kekuatannya cukup mengejutkan.

Tiong-bing tahu itulah anting-antingnya sendiri yang di-timpukkan balik oleh Coh Ciau-lam, tapi mendengar suara sambaran itu membawa suara mendenging, segera dapat diketahui cara Coh Ciau-lam menggunakan senjata rahasia memang jauh lebih mahir dan kuat daripada dirinya, ia tak berani menyambutnya, ia mengayun pedangnya menyampuk.

Saat itu Oh Hian-tik yang mundur tadi telah maju pula, ruyungnya menyabet ke kaki Kui Tiong-bing.

Di sebelah sana Ie Lan-cu dengan gerak tipu 'Li Kong Sia-Ciok' atau Li Kong menahan batu, ia menusuk cepat, lekas Ciau-lam menarik pedang untuk menangkis, pada kesempatan itulah Ie Lan-cu menerobos ke samping kiri, ia menduduki tempat yang lebih menguntungkan sambil berteriak.

"Tiongbing, kita keroyok dia dari kanan dan kiri, lekas, lekas!"

Cepat Tiong-bing mengenjot tubuh menghindarkan sabetan ruyung Oh Hian-tik tadi dan selagi masih di atas, pedangnya menikam cepat ke bawah.

Tetapi Coh Ciau-lam tidak mandah ditusuk, ia mengegos tubuh seraya balas menusuk ke atas, saat itu Ie Lan-cu tidak tinggal diam, dari sebelah kiri ia pun membabat.

Dalam keadaan begitu, bila Ciau-lam tidak berkelit, walau ia dapat menusuk Kui Tiong-bing, namun ia sendiri pasti juga akan terluka parah oleh serangan Ie Lan-cu.

Serangan Ie Lancu ini betul-betul tepat sekali, ia dapat melepaskan bahaya yang mengancam Kui Tiong-bing.

Terpaksa Coh Ciau-lam memutar pergi, menyusul berulangulang ia menusuk ke kanan dan ke kiri secepat kilat, ia menahan serangan yang kini datang dari kanan dan kiri pula.

Sementara itu Tiong-bing dapat menggantikan lowongan Thio Hua-ciau, dan Hua-ciau dapat meloloskan diri untuk segera menempur Oh Hian-tik sendirian.

Dengan majunya Kui Tiong-bing itu, keadaan segera banyak berubah.

Jika tadi Ciau-lam berada di atas angin, kini sebaliknya ia jadi kerepotan.

Kiam-hoat Tiong-bing dan Lan-cu adalah ajaran guru pandai dan tidak terlalu banyak berseli-sih dengan Coh Ciau-lam, lebih-lebih kedua orang ini sama-sama memakai pedang pusaka, mereka menyerang dari sayap kanan dan kiri, Coh Ciau-lam mengeluarkan seluruh kemampuannya, namun berulang-ulang ia masih harus menghadapi rangsekan berbahaya, masih mendingan ia mempunyai kekuatan dan keuletan yang sempurna, ia mengeluarkan tipu-tipu pukulan ganas dan hebat, secara paksa barulah ia bisa bertahan satu lawan dua.

Di sebelah sana Thio Hua-ciau yang sendirian menempur Oh Hian-tik malahan tercecar.

Oh Hian-tik ternyata sudah biasa memainkan ruyungnya dengan gagah sekali.

Sebaliknya Hua-ciau karena sudah bertempur sekian lama, ditambah lengan kirinya terluka, ia tak sanggup bertahan lebih lama, ia kena didesak mundur terus, jika mundur beberapa tindak lagi, segera ia akan terguling ke bawah Thian-hong-lau.

Nampak itu Ie Lan-cu menjadi gugup, sementara itu dari bawah loteng telah naik pula beberapa orang jagoan.

"Pergi!"

Tiba-tiba terdengar Tiong-bing membentak, pokiamnya cepat memaksa Coh Ciau-lam mundur, habis itu dengan kecepatan luar biasa ia menerjang keluar dari sayap kanan, ia menusuk pula ke punggung Oh Hian-tik yang sedang me-rangsek Thio Hua-ciau, dengan tergopoh-gopoh Oh Hiantik membalik tubuh dan membungkuk untuk menghindarkan serangan itu, pada kesempatan itu Tiong-bing sudah dapat menyeret Thio Hua-ciau menerjang turun, pedangnya menutul pojok emper gedung tingkat enam, dengan cepat melayang turun ke tingkat lima.

Tatkala itu justru ada dua orang Thongling hendak melompat naik ke tingkat lima, lekas Tiong-bing melepas tangan dan meneriaki Hua-ciau.

"Kaulompat turun dari sana!"

Habis itu mendadak ia terjun menukik ke bawah memapak kedua Thongling yang hendak melompat naik itu, pedang di tangan kanan menusuk dan telapak tangan kiri memukul berbareng, manabisa kedua Thongling itu menahan serangan hebat ini?

Segera seorang tertusuk oleh pokiam dan yang lain batok kepalanya remuk, kedua mayat berbareng menggelundung ke bawah.

Segera Tiong-bing menyusul melompat ke bawah, ia mengayun pedangnya membuka jalan dan diikuti Hua-ciau dari belakangnya.

Saat itulah terdengar suara teriakan tajam Ie Lan-cu.

Kiranya sewaktu Coh Ciau-lam kena didesak mundur oleh tusukan Kui Tiong-bing tadi, ia sedikit merandek, pada kesempatan itu bagai burung terbang Lan-cu melayang turun ke bawah, Ciau-lam menaruh perhatian penuh atas Ie Lan-cu, ia tak peduli Kui Tiong-bing melarikan diri, ia hanya mengejar Ie Lan-cu.

Liok Bing dan Liok Liang sementara sedang muncul dari loteng tingkat lima, Ciau-lam segera memapak mereka, waktu melayang lewat di atas mereka, ia sekalian menyambar mereka dan membawanya turun.

Kedua orang ini paham jalan-jalan di dalam taman, Ciau-lam kuatir 'penyamun wanita' ini lolos dan bersembunyi dalam taman, maka ia ingin menggunakan mereka sebagai penunjuk jalan.

Sementara Lan-cu bisa mendahului tiba di atas tanah, ia mengayun pedangnya, menyusul suara nyaring terdengar, beberapa senjata musuh telah terkuning atau terbentur pergi.

Ia memutar pedangnya lagi, tapi tiba-tiba terasa angin tajam menyambar dari samping, tahu-tahu pedang Ciau-lam telah menyerang pula, dalam kagetnya sampai Lan-cu berteriak.

Dan karena suara Ie Lan-cu tadi, Tiong-bing menerjang kembali mati-matian.

Sekonyong-konyong dari atas gununggunungan menerjang keluar dengan cepat seorang, ketika kedua tangannya menyebar berulang-ulang, segera terdengar jeritan pasukan pengawal yang mengejarnya itu dan segera pula berlari menghindar.

Orang ini tidak lain adalah Boh Wanlian.

Dengan senjata rahasianya 'Pasir pencabut nyawa', ia menimpuk muka dan mata pasukan pengawal yang mengejar, sekali sebar segeng-gaman, meski pasir itu tidak bisa mencapai jarak jauh, tetapi untuk melawan orang banyak dari dekat ternyata membawa hasil yang memuaskan.

Di pihak lain Ciau-lam yang menempur Ie Lan-cu, pada suatu kesempatan mendadak merangsek maju hendak merebut pedang si gadis.

Tapi dari depan segera disambut Boh Wan-lian dengan segenggam pasir beracunnya.

Coh Ciaulam berkelit berbareng memukul, pasir itu tergetar jatuh oleh angin pukulannya yang keras.

Dalam pada itu terdengar di belakangnya suara gertakan, Theng-kau-pokiam Tiong-bing bagai naga perak telah menyambar dari samping, lekas Ciaulam menyampuk menghindarkan ancaman itu, dengan enteng sekali Ciau-lam menutulkan kakinya, ia melayang pergi jauh.

Karena itu Kui Tiong-bing, le Lan-cu dan Thio Hua-ciau dapat menerjang pergi mengikuti petunjuk Boh Wan-lian.

Gusar sekali Coh Ciau-lam melihat lawannya bisa lolos, ia membentak memerintahkan Liok Bing dan Liok Liang ikut mengejar disertai beberapa jago pengawal pula.

Terhadap jalan-jalan di dalam taman itu Boh Wan-lian sudah sangat hafal, bagai kupu-kupu menerobos di antara bunga-bunga, tempo-tempo meloncat ke atas, kadang melompat turun secara berliku-liku, ia membawa kawankawannya menuju luar taman, pasukan pengawal sudah dapat mereka tinggalkan hingga jauh.

Hanya Coh Ciau-lam dan beberapa jagoan lain masih mengejar mereka dengan kencang.

Tetapi begitu Boh Wan-lian melihat Ciau-lam mengejar dekat, segera ia menghamburkan pasir beracun, meski tak bisa mengenai sasarannya, namun bisa juga menghambat pengejaran musuh.

Kejar-mengejar itu dalam sekejap saja sudah sampai di pintu taman sebelah barat, nampak mereka seperti banteng mengamuk, penjaga pintu mana berani mencoba menghadang.

Ketika sudah dekat, Kui Tiong-bing menggempur pintu taman itu hingga terpentang dan segera mereka berlari pergi dengan cepat.

Ciau-lam masih terus mengejar tak mau menyudahi.

Ketika itu sudah lewat tengah malam, keadaan jalan-jalan dan rumah sepi senyap.

Sesudah lewat beberapa jalan kota, Wan-lian dan kawan-kawan terkejar masuk sebuah gang buntu, di ujung gang itu hanyalah selokan penuh lumpur berbau busuk.

Tibatiba Ciau-lam membentak keras, ia melompat ke atas rumah penduduk, dengan Ginkangnya yang tinggi ia mendahului di depan Boh Wan-lian, dengan pedang terhunus ia mencegat mereka, sedang Oh Hian-tik dan lain-lain berjaga di mulut gang.

Waktu itu senjata pasir Boh Wan-lian sudah habis digunakan, ia memberi tanda pada Kui Tiong-bing, lalu"

Mereka menerjang maju hendak mengeroyok Coh Ciau-lam dengan mati-matian.

Sementara Oh Hian-tik dan kedua bersaudara Liok pun memburu maju, maka segera pertarungan seru berkobar lagi.

Pada saat itulah mendadak sebuah pintu rumah penduduk terbuka lebar, dari dalam keluar dua orang laki-laki, seorang sudah tua dan yang lain setengah umur, semuanya masih gagah.

Yang tua berjenggot panjang, tangannya membawa huncwe atau pipa tembakau panjang, ia menyedot beberapa kali huncwenya, mendadak ia menyebut, sisa-sisa tembakau dan lelatu api kena disebul menciprat keluar dari pipanya, ternyata orang tua itu me-gadang di tengah antara Coh Ciaulam dan Kui Tiong-bing.

Lelaki setengah umur itu mencekal sebuah pipa tembakau, hanya ukurannya jauh lebih kecil daripada huncwe si orang tua tadi.

Begitu mereka keluar, segera ia menuding Liok Bing dan Liok Liang dan berkata pada si orang tua.

"Tia (ayah), yang menjebak dan hendak membikin malu kita ialah kedua orang ini."

"Manusia mana yang berani ngaco-balo di sini?"

Bentak Ciau-lam cepat dengan mata mendelik.

Setelah itu, ia melompat melewati orang tua di depannya itu terus menusuk Kui Tiong-bing.

Coh Ciau-lam yang congkak, sombong dan tinggi hati, ia menganggap dirinya sebagai Enghiong, meski dilihatnya corak kedua orang baru ini agak aneh dan lain daripada yang lain, tapi sebelum jelas maksud kedatangan mereka, ia tak sudi turun tangan menyerang dulu.

"Kaukira Siauya takut padamu?"

Tiong-bing balas membentak sambil menangkis serangan musuh.

Sinar pedang Ciau-lam berkelebat cepat, dalam sekejap ia sudah memberi tiga tusukan, Tiong-bing terdesak mundur beberapa tindak.

Dalam pada itu Ie Lan-cu dan Boh Wan-lian pun sudah memburu maju, sedang jago-jago pengawal yang mencegat di mulut gang pun berbondong-bondong maju mengembut.

"Tia, mereka adalah penolong kita!"

Terdengar laki-laki setengah umur tadi berkata pula sambil menuding Kui Tiongbing.

"Kita cukup kenal budi dan dendam, lebih dulu kita balas budi, kemudian balas dendam,"

Seru si orang tua sambil mengangkat huncwenya, dengan cepat sekali lalu menghantam 'Hun-tai-hiat' di pinggang Coh Ciau-lam.

Karena diserang, Ciau-lam menjadi gusar, pedangnya segera menyampuk, ia merasa tenaga orang tua ini sangat berat, pedangnya sampai tergetar, tangannya pun terasa pedas.

Kiranya kedua orang ini yang tua ialah pemimpin Piaukiok tersohor di Lamkhia yang bernama Beng Bu-wi, yang setengah umur itu ialah anaknya, Beng Kian.

Beng Bu-wi dan Ciok Cinhui disebut orang sebagai dua Piauthau yang menjagoi daerah selatan dan utara.

Selama mereka mengawal belum pernah gagal.

Kali ini Beng Kian kena diselomoti Liok Bing Dan Liok Liang untuk mengawal tiga puluh enam gadis dan hampir saja jatuh di tangan Kang-pak-sam-moh, kemudian ia pulang dan melaporkannya pada sang ayah.

Walaupun Beng Bu-wi sudah tua, tapi masih berdarah muda, waktu mendengar laporan itu, meski tak berani merecoki Sianghu, namun ia merasa sangat gemas pada Liok Bing dan Liok Liang.

Katanya, tidak peduli kedua bersaudara Liok itu jago dari Sianghu, sedikitnya mereka tergolong orang Kangouw juga, tapi mereka berani menyelomoti dan membikin malu Bu-wi-piaukiok, maka kita harus mencari mereka untuk menuntut keadilan.

Kemudian ia menuruti anjuran putranya, ia menutup perusahaannya lalu datang ke kota-raja dengan sang putra.

Sepanjang jalan mereka tak menemukan Hek Hui-hong, hingga makin membikin mereka mendongkol.

Sesampainya di ibu-kota, segera ia hendak mencari kedua bersaudara Liok, tapi atas usul sang putra, ia pun mengurungkan pula niatnya, kata putranya.

"Sianghu begitu besar dan luas, kau orangtua pergi mencari mereka, kalau mereka tidak mau menemui, kita pun tak berdaya, apalagi mereka hanya tingkatan bawah di kalangan persilatan, dan kita meluruk mereka tentunya hanya akan merendahkan kita."

Beng Bu-wi pikir betul juga perkataan putranya itu, maka sesudah berunding, pertama-tama mereka hendak mencari dulu Ciok Cin-hui, atas nama jago tua ini mengundang semua kawan sekerja serta kedua bersaudara Liok untuk bertemu di perjamuan.

Ciok Cin-hui adalah pemimpin kalangan persilatan di kota-raja, kedua bersaudara Liok bukan pembesar negeri, mereka hanya mencari sesuap nasi saja di kalangan Kangouw, mereka pasti akan datang ke perjamuan itu.

Pada saat itulah Beng Bu-wi akan mengharuskan kedua bersaudara Liok itu untuk menyembah minta maaf padanya, kalau tidak, mereka akan segera dihajar dan diusir pergi dari kota-raja.

Malam Coh Ciau-lam menggerebek Thian-Hong-lau juga adalah malam Beng Bu-wi ayah dan anak sampai di kota-raja.

Lewat lohor mereka baru tiba, karena belum menyediakan sesuatu oleh-oleh, maka diputuskan besok baru pergi menemui Ciok Cin-hui.

Malam itu mereka menginap di rumah seorang bekas pegawainya.

Tengah malam tiba-tiba mereka mendengar suara kejar-mengejar yang ramai, mereka terbangun dan keluar melihatnya, tak terduga memergoki orang yang hendak mereka cari.

Begitulah ketika huncwe Beng Bu-wi kena disampuk pedang Ciau-lam tadi dan hampir saja senjata anehnya terlepas dari tangan.

Kekuatan mereka berdua ternyata seimbang, maka keduanya sama-sama terkejut.

Tapi cepat sekali si orang tua she Beng itu menggerakkan huncwenya pula, dengan sebuah tipu tiga gerakan untuk kedua kalinya ia menyerang lagi.

Ciau-lam pun tidak memberi hati padanya, tiba-tiba ujung pedangnya memotong ke atas, dengan tipu 'Poat-jau-king-coa' atau menyingkap rumput mengejutkan ular, ia mengarah perge-langan tangan Beng Bu-wi, lekas orang tua ini membalikkan huncwenya untuk menangkis, ia menggunakan tipu 'To-pah-kim-ceng' atau balik memukul lonceng emas.

Ciau-lam membentak.

"Lepas tangan!"

La melangkah ke samping, pedangnya secepat kilat menyabet dengan tipu gerakan 'Sun-cui-tui-ciu' atau mendorong perahu mengikuti arus air.

Sekonyong-konyong Beng Bu-wi mendoyong ke belakang, ia mengeluarkan tipu silat hebat 'Thi-pan-kio' atau jembatan papan baja, untuk menghindarkan ujung pedang yang menyambar lewat di depan dada itu, kemudian dengan cepat ia meloncat pergi sambil tertawa menyindir.

"Belum tentu bisa!"

Berbareng kaki kirinya pun menendang.

Ciau-lam menarik kembali pedangnya, telapak tangan kiri memotong dengan cepat, tetapi kaki kanan Beng Bu-wi telah melayang juga, tendangan bertubi-tubi itu hebat sekali.

Coh Ciau-lam tak berdaya untuk berkelit, terpaksa ia meloncat naik tinggi untuk menghindarkan tendangan.

Sementara itu Kui Tiong-bing dan Ie Lan-cu pun sudah bergebrak sengit dengan jago-jago pengawal, dalam seribu kerepotannya, Tiong-bing masih sempat membidikkan sebuah anting-anting emasnya ke arah Coh Ciau-lam yarfg sedang meloncat ke atas, tak terduga Ciau-lam memang sangat lihai, ia malahan mengulur tangan menyambut, habis itu ia pun membidikkan anting-anting itu ke arah Beng Bu-wi yang baru saja memburu maju.

Begitu dilihatnya ada senjata rahasia menyambar, lekas ia menyampuk dengan huncwenya, antinganting itu kena dipukul pecah menjadi beberapa keping.

Dalam pada itu Ciau-lam telah turun ke bawah dan tepat berada di belakang Beng Bu-wi, segera ia menusuk pula pundak kanan musuh dengan tipu 'Giok-bong-hwan-sin' atau ular sawah membalik tubuh, seraya membentak.

"Terima pula serangan ini!"

"Siapa takut padamu!"

Si orang tua she Beng balas membentak.

Tahu-tahu huncwenya membentur ke belakang, pedang Coh Ciau-lam kembali terbentur pergi, berbareng orang tua itu sedikit memutar dengan tipu 'Sian-koh-song-cu' atau bidadari mengirim anak, dari samping ia mengetok 'Hun-cui-hiat' Coh Ciau-lam.

Ciau-lam menjadi gusar, ia berkelit sambil menyerang dengan pedangnya berulang-ulang, menusuk, membelah dan memotong, ia mainkan Thian-san-kiam-hoat sedemikian rupa hebatnya.

Di samping itu huncwe Beng Bu-wi juga bekerja dengan lihainya, menyerang sambil berjaga, latihannya berpuluh tahun tidak bisa dipandang enteng, gerakannya begitu antap dan tenang, sekalipun Ciau-lam di pihak penyerang, namun ia tak mampu mengalahkan lawannya.

Sementara itu Kui Tiong-bing dan Ie Lan-cu sudah membikin kalang kabut kawanan pengawal yang mengembut itu, dengan pokiam mereka saja sudah cukup membuat senjata-senjata musuh tak berdaya mendekati mereka.

Di sebelah lain, Beng Kian tems memperhatikan keadaan sang ayah, ia lihat sang ayah hanya sanggup menangkis dan tidak sanggup menyerang.

Ia menjadi gugup, ia kuatir ayahnya yang sudah berusia lanjut tidak sanggup melawan musuh tangguh terlalu lama.

"Biar kugantikan Beng-loenghiong,"

Kata Tiong-bing.

Segera ia menarik pedangnya dan balik menghadapi Ciau-lam untuk menggantikan Beng Bu-wi.

Tiong-bing cukup mengenal kepandaian orang, waktu ia menyaksikan beberapa gebrakan kala Beng Bu-wi mewakilkan menahan serangan Coh Ciau-lam tadi, segera ia tahu orang tua ini tidak lemah, sekalipun tidak bisa menang tapi juga tak nanti kalah.

Maka lalu ia membiarkan Beng Bu-wi seorang diri menempur Coh Ciau-lam.

Kini nampak Beng Kian berkuatir, ia menjadi geli, ia menertawai si anak ternyata tak kenal sang ayah sendiri.

Tapi ia pun tak dapat membiarkan orang tua itu mewakilkan dia bertempur terus, ia harus menggantikannya.

Walaupun sementara Ciau-lam berada di pihak penyerang, namun keningnya terlihat sudah berkeringat juga, dan demi melihat Tiong-bing datang pula, ia menjadi gugup.

Tiba-tiba terdengar suitan panjang Beng Bu-wi, huncwenya menotok pura-pura, habis itu dengan cepat mundur.

"Aku selamanya tak pernah dua lawan satu, jika kau tidak terima, boleh datang mencariku di Lamkhia Bu-wi-piaukiok!"

Katanya tertawa dingin.

Saat itu Tiong-bing sudah menggantikannya bergebrak dengan Coh Ciau-lam, serangan kedua belah pihak sama-sama hebat dan ganas.

Dengan penuh perhatian Ciau-lam melayani musuh, hakikatnya ia tak mendengarkan apa yang dikatakan si orang tua itu.

Ciau-lam sudah bertempur dengan Beng Bu-wi, tenaganya sudah banyak berkurang, kini hams bertarung lagi melawan Kui Tiong-bing, dengan sendirinya ketangkasannya berkurang daripada biasanya.

Sebenarnya ia lebih unggul dari Tiongbing, tapi kini hanya bisa seimbang saja.

Karena itu Tiong-bing bisa menyerang tems.

Sesudah Beng Bu-wi lepas dari pertarungannya melawan Coh Ciau-lam, kembali ia bersuit panjang, bagai burung menerobos hutan, ia melayang turun di samping kedua bersaudara Liok, ia menyelipkan huncwenya di pinggang dan tems menerjang maju, kedua tangannya memukul berbareng ke depan, lekas Liok Bing menangkis.

Tapi tiba-tiba Beng Buwi menabah pukulannya ke dada orang dengan tangan kiri dan lima jari tangan kanan bagai cakar segera mencengkeram ke bawah bahu.

Lekas Liok Bing menunduk untuk menghindari, tetapi sudah terlambat, ia kena dicekal hingga tak bisa berkutik.

Saat itu Liok Liang telah menubruk maju dengan tipu 'Taiping-tian-sit' atau burung garuda mementang sayap, ia memotong miring ke dada lawan.

Namun Beng Bu-wi mengayun tubuh Liok Bing ke depan, terpaksa Liok Liang menarik serangannya agar tak mengenai saudaranya sendiri.

Mendadak Beng Bu-wi tertawa, dengan gerak 'Pan-liong-jiaupoh' atau ular naga melingkar langkah, tahu-tahu ia sudah sampai di hadapan Liok Liang, ketika tangannya mengulur, tanpa ampun lagi tangan Liok Liang dipencet kencang urat nadinya dan begitu Bu-wi mengangkat tangannya, kedua bersaudara Liok itu segera dilempar ke dalam air lumpur yang berbau busuk di gang buntu itu.

Senang sekali Beng Bu-wi bisa melampiaskan rasa mendongkolnya, ia mengambil pula huncwenya dan disedot serta disemburnya asap tembakaunya yang bersemu kehijauhijauan.

Menyaksikan ketangkasan orang tua ini, jago-jago pengawal yang lain merasa jeri juga.

Pasa saat itu Oh Hian-tik sedang mengayun ruyungnya memaksa Boh Wan-lian mundur setindak, habis itu ia bermaksud menggabungkan diri dengan Coh Ciau-lam, tetapi kembali Beng Bu-wi menggertak keras, asap tembakaunya mengepul tebal, Oh Hian-tik terbatuk-batuk tersedak asap tembakau itu, segera dari samping Ie Lan-cu menusuk dengan cepat, lekas Oh Hian-tik menangkis, kembali ruyungnya tertabas putus sebagian pula.

Thio Hua-ciau yang sedang berada di belakangnya kontan mendepak, beruntun Oh Hiantik kecundang, sungguh tak terduga olehnya dari belakang masih didepak lagi, keruan ia me-nyelonong ke depan yang segera dipapak Beng Bu-wi, sekali sanggah tubuh orang dan diangkat sambil menggertak pula, tanpa ampun Oh Hian-tik terlempar, tubuhnya ambles masuk ke dalam lumpur menyusul kedua bersaudara Liok tadi.

Malam ini berulang-ulang Ciau-lam menemukan lawan tangguh, ia gusar dan kuatir juga.

Sedang Kui Tiong-bing bagai anak banteng baru lahir yang tak mengenal apa artinya takut, menggunakan kesempatan saat Ciau-lam mulai merasa payah kehabisan tenaga, Theng-kau-pokiamnya segera bekerja lebih hebat lagi, berulang kali ia melontarkan gempuran lihai.

Ngo-kim-kiam-hoat memang mengutamakan menyerang, tadinya ia hanya bertahan menuruti nasehat Leng Bwe-hong, karena memang Coh Ciau-lam lebih unggul darinya, tetapi kini Coh Ciau-lam sudah letih dan payah ketabahannya, Tiong-bing segera bertambah semangat, ia tak memberi hati lagi pada lawannya, ia selalu membarengi bahkan mendahului menyerang, keruan Ciau-lam menjadi mendongkol dan gemas.

Apalagi dilihatnya pembantunya yang terkuat, Oh Hian-tik, juga telah kena dilempar masuk ke dalam lumpur, sedang di antara jago-jago pengawal hanya tinggal tiga empat orang saja.

Tiba-tiba ia berganti siasat, ia pura-pura menusuk sehingga Tiong-bing terpancing menangkis, menyusul pedangnya secepat kilat menusuk pula dari samping ke bahu Tiong-bing di tempat 'Hong-hu-hiat'.

Tampaknya Tiong-bing tidak keburu menangkis lagi dan pasti akan tertusuk, tetapi mendadak terdengar suara gertakan orang terus disusul dengan suara nyaring beradunya senjata.

Kiranya Beng Bu-wi telah memburu maju tepat pada waktunya, dengan tipu 'Heng-keh-kim-nio' atau menyangga belan-dar melintang, huncwenya menangkis pedang Ciau-lam yang sedang menusuk itu.

Ciau-lam tahu kekuatan orang tua ini tidak lemah, ia tidak ingin bentrok keras lawan keras, mendadak ia membungkukkan tubuh dan berputar cepat, habis itu pedangnya beruntun menusuk Ie Lan-cu dan Boh Wan-lian.

Kedua orang itu dipaksa harus berkelit menyingkir, kesempatan ini segera digunakan Ciau-lam untuk meloloskan diri dari kepungan.

"Biji berduri, kelak saja ditangkap lagi!"

Serunya seraya mengangkat pedangnya.

'Biji berduri' maksudnya musuh tangguh dan susah ditangkap.

Ia membawa jago-jago pengawal lainnya mundur cepat ke mulut gang tadi.

Beng Bu-wi agaknya masih getol bertempur karena menemukan tandingan yang sembabat.

ia masih hendak mengejar, teriaknya.

"Hayolah, biar kita bertarung lagi satu lawan satu! Berani?"

"Aku Coh Ciau-lam mana takut pada seorang tua bangka macam kau ini?"

Sahut Ciau-lam gusar.

"Kau ingin bertempur seorang lawan seorang? Baik, dua hari lagi nanti kita tetapkan suatu tempat untuk menentukan siapa yang lebih unggul."

Mendengar Ciau-lam memperkenalkan namanya, seketika Beng Bu-wi tertegun.

Beng Bu-wi dan Coh Ciau-lam sama-sama adalah tokoh kalangan Kangouw, walaupun mereka tidak pernah bertemu, namun nama masing-masing yang tersohor sudah saling kenal.

Kini Coh Ciau-lam memperkenalkan namanya sendiri, Beng Bu-wi jadi berpikir.

"Aku betul-betul sudah pikun, ilmu pedang orang ini begini hebat, mengapa aku melupakan dia? Tokoh Kangouw yang menggunakan pedang meskipun banyak, tapi yang paling ternama hanya tiga orang saja, satu ialah Pho Jing-cu, seorang lagi ialah Ciok Cin-hui, sedang yang lain ialah dia, Coh Ciau-lam (Leng Bwe-hong termasuk angkatan belakangan, walaupun tersohor di daerah barat-laut, namun Beng Bu-wi tidak mengenalnya). Kiam-hoat Pho Jingcu dan Ciok Cin-hui berdua aku sudah pernah melihatnya, tampaknya ilmu pedang orang ini pasti tidak di bawah kedua orang yang duluan. Hanya beberapa waktu berselang pernah kudengar orang bilang dia sudah menjadi Thongling pasukan pengawal Kaisar, apakah rombongan orang yang kubantu sekarang ini adalah pelarian yang hendak ditangkapnya?"

Walaupun Beng Bu-wi berbudi luhur dan bersemangat pahlawan, namun ia banyak mempunyai harta benda, bila harus bermusuhan dengan pemerintah, hal ini harus ia pikirkan.

Maka tantangan Coh Ciau-lam tadi seketika telah membuatnya bungkam dan ragu-ragu.

Sebaliknya Boh Wan-lian mempunyai pendapat sendiri, ia lihat meski Coh Ciau-lam kena dikalahkan, tetapi untuk mencelakainya bukan soal gampang.

Rombongannya bisa lolos dari sarang macan sudah beruntung, untuk apa lagi mengejar musuh, pula malam ini pasukan pengawal sudah dikerahkan sekuatnya, kalau terus terlibat pertempuran, tentu akan sangat membahayakan.

Karena itu ia menjawil Kui Tiong-bing, ia sendiri maju dan berkata pada Beng Bu-wi.

"Beng-Ioyacu, kita tidak pernah memukul anjing yang sudah kecemplung air, biarkan saja mereka pergi."

Tapi Tiong-bing maju lagi sambil mengacungkan pedangnya dan membentak.

"Sembelih ayam tak perlu pakai golok, kau ingin bertanding, Siauya setiap saat bersedia!"

"Kau tidak sesuai!"

Sahut Ciau-lam menyindir.

Ia sudah lemas dan takut mereka mengejar, tapi untuk mempertahankan perbawanya ia tak bisa tidak harus bersuara galak.

Dan karena Beng Bu-wi bungkam tak bersuara, sudah tentu ia tidak ingin tinggal lebih lama di situ.

Segera ia memimpin orang-orangnya pergi, sampai Liok Bing dan Liok Liang serta Oh Hian-tik yang masih bergumul dalam lumpur juga tak sempat ditolong lagi.

Dengan muka muram Beng Bu-wi kembali ke dalam rumah, sementara itu tuan rumah dengan kuatir sedang menanti di depan pintu.

Bu-wi menyuruhnya lekas pindah, pergi malam itu juga.

Thio Hua-ciau merasa sangat tidak enak, ia maju meminta maaf pada mereka yang ikut tersangkut.

"Saat kritis ini tak usah dipikir lagi,"

Ujar Beng Bu-wi.

"Tolong tanya, kalian sebenarnya dari golongan mana? Dan kini hendak menuju kemana?"

"Kami adalah bawahan Li Lay-hing Ciangkun, kini hendak bernaung di tempat Ciok-lopiauthau,"

Jawab Kui Tiong-bing sambil menjura.

"Ha, kiranya kalian adalah kawan-kawan Ciok-lopiauthau dan bawahan Li-ciangkun, meski aku harus mengorbankan diri dan rumah tangga juga masih cukup berharga!"

Seru Beng Buwi. Kemudian Tiong-bing menghaturkan terima kasih atas pertolongannya dan telah sudi ikut turun tangan membantu.

"Kau telah mempertahankan nama baik Bu-wi-piaukiok kami, aku malahan belum menyampaikan terima kasihku!"

Kata Bu-wi tertawa sambil mengelus jenggot.

Rombongan mereka lalu berangkat ke rumah Ciok Cin-hui sebelum fajar tiba.

Waktu Ciok Cin-hui mengetahui mereka telah membikin onar yang maha dahsyat, sedang sebelumnya sama sekali tidak berunding dengannya, ia menjadi kurang senang.

"Kami kuatir akan merembet ke diri Ciok-lopek,"

Lan-cu menerangkan dan meminta maaf.

"Aku dan Pho Jing-cu adalah sahabat sehidup semati, murid dan kawannya aku berani menerima, seumpama ada urusan besar setinggi langit, aku pun berani bertanggung jawab!"

Kata Ciok Cin-hui tanpa pikir.

Nampak sifat dan budinya yang luhur, diam-diam Beng Buwi merasa malu diri.

Kedua orang tua bisa saling bertemu lagi, mereka pun sangat girang.

Selagi semua orang mengobrol ke timur dan ke barat di ruang tamu, sementara itu diam-diam le Lan-cu menarik Thio Hua-ciau ke pelataran luar, di bawah sebatang pohon kamboja, ia membalut luka di lengan pemuda itu dengan rasa kasih sayang.

"Hari ini aku membalut lukamu, lain hari kalau aku meninggal, sukakah kau memetik sekuntum bunga Lan (cempaka) dan ditancapkan di muka kuburanku?"

Tanya Lancu pelahan. Mendengar itu mata Hua-ciau terbelalak lebar, ia tidak mengerti maksud orang dan mengapa berkata begitu. Melihat pemuda ini bungkam, Lan-cu tersenyum.

"Tahukah kau, mengapa kami menyambutmu keluar dari Sianghu?"

Tanyanya pula.

Karena pertanyaan itu, muka Thio Hua-ciau berubah merah, ia mengira Ie Lan-cu lagi menyindir halus padanya karena tak tega meninggalkan Kiongcu.

Ketika ia hendak memberi penjelasan, ia mendengar Ie Lan-cu sudah buka suara lagi.

"Kui Tiong-bing dan Boh Wan-lian berdua orang jauh-jauh datang ke sini karena mendapat perintah dari Li-ciangkun dan Lauw-toaci, mereka ingin kau tampil ke muka untuk mengumpulkan semua bekas pengikut Loh-ong di daerah selatan sungai agar siap memulai pergerakan,"

Katanya menerangkan.

"Kesehatanku baru pulih kembali bulan yang lalu, bukan aku tak tega meninggalkan Sianghu,"

Kata Hua-ciau lirih. Lan-cu tertawa geli karena kata-kata itu.

"Siapa bilang kau tak tega meninggalkan Sianghu?"

Katanya.

Hua-ciau memandang gadis aneh yang sampai kini belum diketahui asal-usulnya itu.

Ia teringat bagaimana dengan tidak menghiraukan jiwa sendiri gadis ini telah menolongnya pada waktu malam-malam ia menyelidiki Jing-liang-si di atas Ngotai-san, terkenang olehnya kejadian-kejadian yang telah lalu itu, hatinya tiba-tiba tergerak.

"Tetapi keadaan paling belakang ini telah banyak mengalami perubahan besar,"

Terdengar Ie Lan-cu berkata pula dengan sikap sungguh-sungguh.

"Bekas pengikut Lohong baru sedikit yang menongol pada waktu pemberontakan raja-raja muda di selatan itu, mereka sudah lantas digempur habis-habisan oleh pasukan pemerintah yang jauh lebih besar. Karena itu, apabila membuat pergerakan lagi di selatan sudah terang tidak gampang. Maka Li-ciangkun telah mengutus seorang perwiranya datang kemari untuk menyampaikan maksudnya, katanya, karena keadaan mendesak, maka lebih baik sementara tetap mempertahankan kekuatan yang masih ada di Su-cwan itu. Ia pikir hendak memilih seorang di antara kita yang berada di ibu-kota ini yang berani mati untuk melakukan sesuatu peristiwa yang menggemparkan."

"Hendak mencari seorang yang berani mati, itulah sangat mudah! Urusan apakah itu?"

Tanya Hua-ciau.

"Kabarnya pemerintah Boan sudah menunjuk To Tok sebagai panglima yang akan menggempur ke barat dengan pasukan 'Pat-ki' yang sudah terlatih sempurna dan telah merencanakan di samping menumpas kekuatan Go Sam-kui berbareng juga hendak membasmi Li-ciangkun,"

Demikian Lan-cu menerangkan.

"Oleh sebab itu Li-ciangkun berharap kita yang berada di ibu-kota dapat berdaya melenyapkan jiwa keparat To Tok ini.

"Tugas ini biar aku yang melaksanakannya,"

Kata Hua-ciau dengan semangat menyala-nyala dan darah mendidih.

"Kau tak usah berebut denganku, kepada orang-orang aku telah menyatakan bahwa aku harus membunuh To Tok dengan tanganku sendiri, kalau tidak mati pun aku tak akan tenteram,"

Ujar Lan-cu.

"Pada waktu masuk Sianghu untuk menolongmu, aku sudah dua kali menyelidiki Onghui dan malah sudah pernah bertarung melawan To Tok sendiri. Kabarnya sejak itu ia telah memperkuat penjagaannya, di samping menugaskan Coh Ciau-lam sebagai orang yang bertanggung jawab untuk menangkapku, ia juga mengumpulkan jago-jago pengawal dan memasang jaringjaring menantikan kedatangan kita. Karenanya kalau kini hendak membunuhnya, agaknya bukan soal gampang lagi."

"Sebab itu juga, maka urusan ini tidak bisa kaulakukan sendiri,"

Ujar Hua-ciau.

"Ya, mereka pun berkata begitu,"

Kata Lan-cu.

"Tetapi menurut pikiran Li-ciangkun, untuk membunuh To Tok, pembunuhnya itu sudah tentu harus siap untuk mati bersama, ma-kanyajiwa lebih banyak untuk menukar jiwa seorang. Malahan menurut pikiran Li-ciangkun, sebenarnya ia tidak setuju dengan cara pembunuhan gelap, tapi karena persoalan sudah terlalu mendesak dan memaksa, maka tiada jalan lain kecuali harus dengan cara tadi. Dan sesudah membunuh To Tok, walaupun tidak bisa menghalangi pemerintah Boan untuk mengganti panglima lain untuk menggempur kita, namun sedikitnya bisa mengulur tempo dan menghambat waktu penyerbuannya, dengan begitu kita dapat lebih banyak kesempatan untuk mempersiapkan diri."

"Ya, tapi bagaimanapun juga kita tak bisa membiarkanmu seorang diri yang menghadapi bahaya,"

Kata Hua-ciau pula.

"Cici, tugas ini biarlah aku yang mewakilkanmu, kau pernah menolong jiwaku, tapi sedikitpun aku belum pernah berbuat sesuatu untukmu."

Thio Hua-ciau mengucapkan kata-kata ini dengan penuh rasa simpati, karena itu Lan-cu terharu, ia tahan perasaannya itu untuk tidak mencucurkan air mata.

"Kau masih tidak paham, siapa saja boleh mengorbankan jiwa, hanya kau tak boleh!"

Katanya kemudian dengan tertawa paksa.

"Kau adalah putra Thio-tayciangkun, bawahan ayahmu meski dikata sudah kocar-kacir, namun yang kita harapkan adalah selekasnya bisa menghimpunnya kembali, dan tugas yang maha besar ini harus diserahkan kepadamu. Sebab itu juga, maka sebelum kita bergerak secara besar-besaran di ibu-kota untuk melenyapkan To Tok, kau harus ditolong dulu keluar dari Sianghu. Kau harus tahu, Nilan-onghui (Ming-hui) adalah adik sepupu Perdana Menteri Nilan Ming-cu atau bibi Nilan Yong-yo, sekalipun Nilan Yong-yo sangat baik terhadapmu, namun kita tidak bisa tanpa berjaga-jaga lebih dulu."

Dengan mata tak berkedip Hua-ciau memandang Ie Lan-cu, ia lihat gadis ini waktu berbicara mengenai Nilan-onghui mendadak lagu suaranya berubah lemah tak lancar, tiba-tiba sebutir air matanya menetes.

Seketika perasaan Hua-ciau ikut tergoncang, tiba-tiba teringat olehnya pada waktu mengacau di Ngo-tai-san dulu, sesudah dirinya, malam itu juga, Ie Lan-cu telah datang dan ternyata Nilan-onghui sendiri datang ke penjara membebaskan dirinya, bahkan telah memberi mereka sebuah 'lingci' atau anak panah perintah.

Tatkala itu ia melihat Ie Lan-cu dan Nilan-onghui duduk berendeng dengan air mata meleleh, sikap aneh itu serupa saja dengan malam ini.

Ia mendapat firasat bahwa di dalam keanehan ini tentu tersembunyi hal-hal yang luar biasa.

Maka dengan pelahan, tanpa terasa ia menarik tangan Ie Lan-cu dan memandangnya mesra.

"Bagai kabut dan awan yang terapung di langit, sedikitpun aku tidak memahamimu, tapi aku sangat berterima kasih padamu, juga percaya penuh padamu,"

Katanya pasti.

"Jika memang kau harus membunuh To Tok dengan tanganmu sendiri, itulah tentu kau mempunyai alasan yang kuat, aku tak hendak merin-tangimu, sebaliknya aku pasti akan membantu sekuat tenagaku."

Mendengar itu, Ie Lan-cu sangat terharu.

"Kau baik sekali, bila aku tidak terbinasa kelak pasti aku akan membuyarkan kabut dan menyingkap awan itu untukmu,"

Katanya.

"Tapi bila mendadak aku terbinasa, maka sudilah kau pergi mencari Leng Bwe-hong dan menyampaikan pesanku agar ia suka bersembahyang di depan kuburan ayahku dan sampaikan bahwa putrinya sudah berbuat sekuat tenaganya untuk membalas sakit hatinya."

Berkata sampai di sini, ia tertawa duka, kemudian ia melanjutkan pula.

"Dan juga pesanku, aku paling menyukai bunga Lan, harap kau jangan lupa memetik sekuntum bunga Lan untuk ditancapkan di depan kuburanku."

Karena percakapan mereka ini, malam itu juga Thio Huaciau terus menerus bermimpi buruk.

Esok paginya, Thio Jing-goan telah mengumpulkan semua orang di kamar rahasia untuk berunding, yang diumumkan sudah tentu adalah perintah membunuh To Tok.

Nama dan pengaruh Ciok-lopiauthau di Pakkhia cukup besar, ia pun banyak berhubungan dengan pejabat-pejabat tinggi, opas dan petugas biasa tentu tidak berani sembarangan menggeledah rumahnya, maka dengan penuh rasa setia kawan, ia tidak sayang berkorban jiwa dan rumah tangga untuk melindungi para pahlawan yang bersembunyi di rumahnya itu.

Sedang mengenai Beng Bu-wi ayah dan anak, karena para pahlawan itu tak ingin terlihat oleh mereka, maka oleh Ciok-lopiauthau telah diupayakan diantar keluar Pakkhia, untuk selanjutnya mereka lalu pergi sendiri mencari Hek Huihong untuk menuntut balas sakit hati mereka.

Coh Ciau-lam yang berulang-ulang kecundang pada malam itu, pada hari kedua ia pergi menemui Ok-jin-ong To Tok, ia melaporkan pengalamannya semalam.

Waktu To Tok mendengar bahwa di dalam Thian-hong-lau ditemukan seorang pemuda komplotan si 'penyamun wanita', ia menjadi tertarik.

Sesudah bertanya dengan jelas rupanya, mendadak ia menggebrak meja dan berkata.

"Orang ini pernah kutangkap di Ngo-tai-san dulu, belakangan juga ditolong oleh 'penyamun wanita' itu."

Setelah Coh Ciau-lam pergi, dengan penuh curiga To Tok masuk ke belakang untuk menemui istrinya.

Istrinya, Nilan-onghui, sejak istananya geger karena kedatangan 'penyamun wanita', semangatnya menjadi sangat buruk, ia menjadi lesu dan penat seperti hendak sakit.

Maka dipanggilnya tabib kerajaan sekalipun tidak diketahui sebab musabab penyakitnya.

"Penyamun wanita itu sudah tertangkap?"

Tanyanya tertawa paksa pada waktu melihat suaminya datang.

"Tertangkap? Coh Ciau-lam saja kecundang oleh orang,"

Sahut To Tok.

"Penyamun wanita itu ternyata masih mempunyai seorang kawan sekomplotan, ialah pemuda yang dulu tertangkap di Ngo-tai-san dan yang belakangan mendadak lolos ditolong orang."

Nilan-onghui berseru kaget demi mendengar keterangan itu.

"Kalau begitu, penyamun wanita ini betul-betul dia!"

Katanya.

"Dia? Dia siapa?"

Tanya To Tok heran.

"Ialah gadis berkedok yang menolong si pemuda malam itu!"

Kata Nilanonghui.

"Aku sendiri tidak mengerti, ada soal apa aku dengan penyamun wanita itu? Sudah beberapa kali ia ingin membunuhku!"

Kata To Tok pula. Tiba-tiba ia seperti ingat sesuatu, ia tertawa lalu berkata lagi.

"Penyamun wanita yang datang ini tidak pernah kaulihat tetapi aku malah sudah bertempur dengannya. Kali ini di bawah sorot sinar lampu, aku telah dapat melihatnya dengan jelas, perawakan dan sikapnya ternyata banyak menyerupaimu. Coba aneh atau tidak?"

Nilan-onghui sedang memegangi sebuah cangkir teh, karena kata-kata To Tok itu cangkir teh itu mendadak terjatuh tanpa terasa hingga hancur berantakan.

"Apa betul?"

Katanya tertawa coba menenangkan diri.

To Tok terkejut, ia memandang istrinya yang bermuka pucat lemah bagai orang sakit dan sangat harus dikasihani.

Ia menyangka istrinya terlalu terkejut.

Tiba-tiba hati sanubarinya timbul semacam firasat, seperti ada sesuatu kekuatan yang mendorongnya untuk memberitahu apa yang dipikirkan selama ini.

Pelahan ia membetulkan gulungan rambut istrinya itu.

"Istriku, harap kaumaafkan aku!"

Katanya pelahan. Nilan-onghui terkejut, ia tidak berani menjawab, hatinya berdebar-debar, To Tok melanjutkan pula.

"Kita sudah menikah delapan belas tahun, selama delapan belas tahun ini kau selalu merasa kesal dan jarang sekali nampak kau tertawa gembira, kau tidak bilang sebab-sebabnya, tapi aku pun bisa mengerti."

"Mengerti apa?"

Tanya Nilan-onghui berkerut kening.

"Kau adalah wanita tercantik dari bangsa kita, pintar dan rupawan, tetapi aku hanya seorang kasar saja, sekalipun kau tidak bilang, aku juga tahu bahwa kau tidak menyukaiku,"

Kata To Tok menghela napas.

"Ongya, mengapa kau berkata begitu,"

Sahut Nilan-onghui pilu dan air mata berlinang.

"Ongya adalah tulang punggung kerajaan, adalah Enghiong nomor satu bangsa kita, aku bisa menikah denganmu boleh dikata sudah berlebihan."

"Hujin,"

Kata To Tok pula.

"Sebagai suami istri selama delapan belas tahun, apakah sepatah katapun tak mau kaukatakan terus terang padaku? Kutahu aku tidak setimpal mendapat-kanmu, tetapi aku memandangmu jauh lebih penting dari jiwaku, aku telah berdaya sebisanya untuk membuatmu gembira, tapi rasanya itu lebih susah daripada mencapai bulan di langit."

Tak bisa lagi Nilan-onghui menahan perasaannya, air matanya makin deras mengalir.

"Ongya,"

Katanya.

"Jangan kau berkata begitu. Kau tak mengerti, pertemuan kita agak terlambat"

"Apa katamu?"

Tanya To Tok kaget. Tiba-tiba Nilan-onghui sadar, rahasia hatinya belum waktunya untuk dibeberkan, maka dengan lengan baju ia menutupi mukanya, ia mengusap air matanya.

"Pula kita tak mempunyai barang seorang anak pun,"

Sambungnya pula. Kata-kata terakhir ini ternyata membikin muka To Tok menjadi merah jengah.

"Itu memang salahku,"

Sahutnya dengan tersenyum getir.

"Aku terus mengelabuimu selama ini. Tahun dulu, ketika aku memimpin pasukan menggempur negeri Kim, aku terkena sebatang anak panah yang tepat mengenai buah ginjalku, menurut tabib, aku sudah ditakdirkan tidak bisa mempunyai keturunan, namun aku masih belum putus asa, dalam beberapa tahun belakangan ini, aku masih terus berusaha mendapatkan obat mukjizat, karena ada orang juga bilang masih ada harapan. Oleh karena itu, aku terus mengelabuimu. Ya, sebab kukuatir bila aku menceritakan padamu, kau akan makin tak menyukaiku."

Keterangan To Tok ini sungguh di luar dugaan Nilanonghui, tak disangkanya bahwa sampai kini ia tak mempunyai seorang anak, di dalamnya ternyata masih ada rahasianya.

Ia bilang soal anak, sebenarnya karena teringat akan putrinya (Ie Lan-cu) hingga mendadak ia menyinggung soal itu.

Kini setelah To Tok memberi penjelasan, sebaliknya ia merasa tidak enak, ia menunduk malu.

Sementara itu To Tok telah menyambung pula.

"Jika memang kau menyukai anak-anak, biarlah kita memungut seorang. Bagaimana pendapatmu, apa putra Si-pwelek lebih baik? Atau putri sulung Jit-pwelek lebih baik?"

Nilan-onghui tidak menjawab, pikirannya sedang kusut oleh rasa suka duka yang bercampur aduk bagai arus ombak.

Ia teringat pada pertemuannya yang aneh dengan Njo Huncong di padang rumput, kemudian perpisahan yang terakhir di Hangciu, kejadian-kejadian yang telah silam itu semua terbayang kembali olehnya, semua kejadian itu terukir dalam hatinya dan tak dapat dilupakan seumur hidupnya.

Melihat sang istri menundukkan kepala dan menutupi sebagian mukanya, kembali To Tok mendesak lagi.

"Katakanlah, kaupilih mana yang lebih baik!"

Onghui mengangkat kepala, ia lihat sang suami sedang memandang padanya dengan sinar mata yang penuh penyesalan pada diri sendiri dan sangat berduka, ia ingat selama delapan belas tahun menikah ini, suaminya memang betul mencurahkan seluruh cinta kasih padanya.

Sekonyongkonyong timbul perasaannya bahwa suaminya harus 'dikasihani' juga.

Karena itu ia lalu membersihkan air mata dan dengan tersenyum ia bertanya.

"Kau maksudkan"

"Memungut seorang anak lelaki atau perempuan! Kaupilih mana yang lebih baik?"

To Tok menegas. Remuk rendam hati Nilan-onghui, tiba-tiba ia berkata.

"Aku tidak mau semua, aku ingin"

"Ingin apa?"

Tanya To Tok cepat. Onghui meraba pelahan muka dan kepala sang suami.

"Ongya, aku ada sebuah permohonan, dapatkah kau memenuhi?"

Katanya lirih.

"Apapun akan kupenuhi!"

Jawab To Tok tegas.

"Ten tentang 'penyamun wanita' itu, maukah kau berjanji bahwa kau tak akan mencelakainya, maukah kau?"

Kata Ong hui tak lancar. Terkejut sekali To Tok oleh permintaan itu, matanya terbuka lebar.

"Sebab apa?"

Tanyanya heran.

"Katakanlah dulu, maukah kau berjanji?"

Kata Onghui.

"Baiklah, aku berjanji padamu!"

Sahut To Tok pasti.

"Aku akan perintahkan Coh Ciau-lam menghentikan pengejarannya, malahan, kecuali dia menggunakan pedangnya untuk menusuk tubuhku, aku pasti tak akan bergebrak lagi dengannya!"

"Ia memakai pedang?"

Tanya Nilan-onghui.

"Ya, bahkan ilmu pedang anak perempuan ini bagus sekali, hanya tenaganya sedikit kurang, kalau tidak, pasti aku bukan tandingannya,"

Sahut To Tok menjelaskan.

"Menurut Coh Ciau-lam, ilmu pedangnya itu dinamakan Thian-san-kiam-hoat dan sama-sama seperguruan dengannya."

Nilan-onghui bersandar pada sebuah tiang rumah, ia memandang jauh, jauh sekali keluar rumah, ke lautan mega di langit, gumpalan mega yang terapung di langit itu dilihatnya seperti puncak Thian-san yang letaknya di tengah gurun pasir itu.

la teringat pada putrinya yang baru berusia dua tahun sudah direbut oleh Njo Hun-cong, apabila penyamun wanita ini adalah anaknya itu, maka seharusnya tahun ini ia sudah gadis remaja yang berusia dua puluh tahun.

Dimanakah dia selama delapan belas tahun ini?

Siapakah yang telah memelihara dan membesarkan dia?

Kesemuanya ini Onghui sangat haus akan mengetahuinya.

Ya, apa saja yang bersangkutan dengan putrinya itu asal bisa diketahuinya, pasti akan membikin senang hatinya, walaupun hanya sedikit saja.

Namun waktu mendengar bahwa yang dipelajari gadis ini ialah Thian-san-kiam-hoat, dalam hatinya mendadak timbul perasaan ngeri.

"Oh, Hun-cong! Betulkah kau mati pun tak akan meram hingga kau menyuruh putrimu mempelajari baik-baik ilmu pedangmu untuk membalas sakit hatimu?"

Ratapnya dalam hati.

la berpikir dan berpikir terus, la bergidik ngeri.

Tiba-tiba ia teringat, pada suatu malam yang sunyi di padang rumput, dimana Njo Hun-cong pernah berkata, 'Bangsa kita saling bertempur, namun kau bukan musuhku, aku berjanji selamanya tak akan mencelakaimu.

Akan tetapi bila sampai kaujatuh ke dalam rangkulan orang lain, maka kau akan membawa bencana juga padanya, akibat itu ialah .

Mati!'.

Sungguh itu adalah cinta yang picik.

Kematian Njo Huncong telah membuat ia merana selama delapan belas tahun, masa mudanya selama delapan belas tahun itu telah dilewatkannya dengan penuh penderitaan batin dan kekosongan jiwa, sedikitnya ini sudah cukup buat menebus dosanya yang 'mengingkari janji' itu, demikian pikirnya.

Ya, kadang-kadang ia membenci To Tok juga, tetapi tempo-tempo pun mencintainya.

Betapapun toh suami istri selama delapan belas tahun.

Sering ia berpikir.

"Yang menganiaya hingga kematian Njo Hun-cong toh bukan To Tok, bahkan soal ini sedikitpun To Tok tidak mengetahui, walau mereka adalah musuh besar yang tak dapat hidup bersama!"

Demikianlah ia sering menghibur diri sendiri dengan cara berpikir semacam itu.

Akan tetapi kini, putrinya telah datang, ilmu pedang yang dipelajarinya selekasnya akan diwujudkan di atas tubuh suaminya!

Betapa mengerikan adegan itu.

Tiba-tiba ia menutup mukanya.

Tidak!

Ia tidak memperbolehkan To Tok mencelakai putrinya, sama halnya juga ia tidak memperbolehkan putrinya mencelakai To Tok.

Akhirnya ia menghela napas.

Sementara itu dengan penuh rasa heran To Tok menyaksikan sang istri termenung bersandar tiang, ia tak berani mengejutkannya.

Kini tiba-tiba mendengar orang menghela napas pelahan, ia lekas mendekatinya.

"Kenapakah kau?"

Tanyanya pelahan sambil memegang pundak sang istri.

"Aku pun tak memperkenankan dia mencelakaimu!"

Kata Nilan-onghui tiba-tiba sambil berpaling muka. Kejut To Tok sekali ini melebihi tadi, sampai ia mundur beberapa langkah.

"Kau kau kenal dia? Ia akan menuruti perkataanmu?"

Tanyanya dengan suara terputus-putus.

"Coba, kau menjadi begitu terkejut,"

Sahut Onghui dengan tertawa, akan tetapi keringat dingin sudah membasahi tubuhnya ketika sadar telah kelepasan mulut.

"Tadi aku mendengar kaubilang bahwa anak perempuan itu mirip aku, maka dalam hatiku lalu timbul semacam pikiran, 'Alangkah baiknya apabila ia adalah putri kita', Kau sangat mencintaiku, pikirku, kau tentu tak akan mencelakai orang yang berwajah mirip aku, makanya aku memberanikan diri memohon padanya. Kupikir, kalau secara diam-diam aku begitu sayang padanya, bila seumpama ia mengetahuinya, mungkin ia juga akan menurut perkataanku."

"Ming-hui,"

Kata To Tok menghela napas.

"Sungguh kau seperti seorang anak saja, pikiranmu masih begitu kekanakkanakan!"

Dan sejak itulah Nilan-onghui banyak berubah lebih baik terhadap To Tok daripada biasanya, ia seperti mendapat semacam firasat 'Malaikat elmaut sudah mementang sayap beterbangan di atas kepala mereka.

Ketenangan di depan mata sementara ini hanya merupakan malam sebelum angin badai'.

Dan akhirnya tiba juga pada suatu hari yang demikian ini.

Hari itu secara resmi To Tok menerima titah Kaisar agar mengumpulkan pasukan darat dan sungai dari seluruh negeri untuk menggempur Go Sam-kui dan menumpas Li Lay-hing.

Sebenarnya soal ini sudah lama dibicarakan Kaisar dengannya, hanya ia tidak ingin diketahui Onghui.

Padanya juga timbul semacam firasat, ia merasa jiwanya sudah dekat ajal, parasaan semacam itu tidak pernah timbul sebelumnya.

Ia bukan takut pada Go Sam-kui, dalam pandangannya ia hanya serupa api lilin yang tertiup angin, cukup asal ia maju dan menambahi sekali tiup, api lilin itu akan segera padam.

Lebih-lebih ia bukan takut peperangan, perang adalah hal yang biasa baginya.

Memang aneh, rasa takut itu tidak diketahui sebabnya, rasa takut itu timbul sejak perubahan Onghui yang lain dari biasanya.

Ia seperti merasakan semacam 'alamat jelek' dari sinar mata Onghui yang aneh.

Kadang ia terjaga di tengah malam, ia lihat biji mata Onghui berkelap-kelip bagai batu permata yang bersinar di malam gelap, dan ia terkejut hingga mandi keringat dingin.

Hari itu sesudah ia menerima titah raja, ia lalu kembali ke rumah untuk memberitahu Onghui.

"Ongya, sungguh kukuatir ditinggalkanmu!"

Kata Onghui parau.

"Selekasnya aku akan kembali,"

Ujar To Tok. Onghui terdiam, lewat sejenak, tiba-tiba ia berkata pula.

"Baik juga kau pergi agar gadis itu tidak merecokimu terus."

"Mengapa kau selalu bercerita tentang gadis itu?"

Tanya To Tok berkerut kening. Onghui tidak menjawab.

"Kapan kau berangkat?"

Tanyanya kemudian.

"Besok melakukan inspeksi, lusa berangkat,"

Jawab To Tok.

Dan karena itu, semalam suntuk To Tok tidak bisa tidur.

Di lain pihak, Ie Lan-cu pun seperti mendapat firasat yang aneh.

Dalam beberapa hari ini ia telah berlatih Thian-san-kiam-hoat dengan giat tanpa menghiraukan urusan lain, tetapi bila selesai berlatih, tanggul kuat dalam hatinya tak mampu lagi menahan pergolakan perasaannya.

Ia merasa gembira, tapi juga merasa berduka.

Ia sangat mencintai ayahnya, walaupun hakikatnya ia tak ingat lagi bagaimana wajah sang ayah itu, sebab waktu ayahnya mangkat, ia baru berusia dua tahun.

Namun hikayat ayahnya turun temurun telah menjadi buah bibir rakyat di padang rumput luas sepanjang masa.

Selalu didengarnya cerita rakyat gembala yang begitu memuja jasa ayahnya.

Ayahnya pernah membantu bangsa Kazak melawan pasukan Boan-jing, rakyat gembala kalau bercerita tentang Njo Hun-cong Tayhiap, sungguh seperti mereka bercerita tentang sanak keluarga mereka sendiri.

Ia bangga mempunyai ayah pahlawan yang begitu gagah, oleh karena itu 'surat darah' ayahnya yang ia terima dari Leng Bwe-hong pada waktu ia berusia enam belas tahun selalu tersimpan baik-baik dalam bajunya dan bagai benda ribuan kati beratnya terus menindih dalam hatinya.

Apabila ia tidak dapat melaksanakan pesan terakhir sang ayah, selama itu juga hatinya akan selalu tertekan.

Kini ia telah memutuskan menerima ke-matian, dengan mengorbankan jiwa untuk melaksanakan pesan terakhir ayahnya.

Keputusan ini membikin tekanan hatinya mendadak menjadi enteng, maka ia merasa girang secara aneh.

Namun ia juga merasa berduka yang ia sendiri tak dapat mengerti.

Cintakah ia kepada ibunya?

Ia sendiri tak bisa menjawab, la dibesarkan dalam keadaan sebatang kara, 'Jinlang' (keluarga teidekat) hanya ada seorang, ialah Leng Bwehong.

Ia sangat haus akan cinta ibu, tapi cinta itu ternyata bercampur rasa dendam.

Sungguh ia ingin bisa menemukan ibunya untuk bertanya padanya bagaimana keadaan sebelum ia berusia dua tahun.

Ia mendapat firasat bahwa keberangkatannya untuk 'berjibaku' ini untuk selamanya tak akan bisa bersua pula dengan ibunya, juga sangat mungkin ibunya sampai kini masih belum tahu bahwa ia adalah putrinya.

Selain itu, akhir-akhir ini, dalam hatinya yang sunyi mendadak telah melekat masuk sesosok bayangan.

Bayangan itu adalah bayangan Thio Hua-ciau.

Ia sendiri pun tak jelas, sejak kapan telah timbul cintanya yang begitu mendalam terhadapnya.

Dalam kekusutan pikiran Ie Lan-cu itu, akhirnya tiba juga suatu hari yang menggemparkan.

Hari itu, Thio Jing-goan dan kawan-kawan sudah mendapat kabar bahwa To Tok akan memeriksa pasukannya, bahkan juga mendapat tahu bahwa Nilan-onghui akan bersembahyang ke Ho-hut-si.

Ciok Cin-hui yang mengenal betul keadaan kotaraja, diam-diam sudah banyak mata-mata yang ia pasang.

Hari pertama Ok-onghui memberitahu pengurus kuil Ho-hut-si, hari kedua segera mereka mendapat tahu.

Sebab Onghui hendak datang sembahyang, dengan sendirinya pengurus kuil memberitahukan kepada para Hwesio untuk bersiap, justru di antara Hwesio-hwesio itu terdapat mata-mata Ciok Cin-hui.

Ini adalah kesempatan terakhir untuk membunuh To Tok.

Tetapi pada kesempatan terakhir ini, ternyata sangat sulit untuk turun tangan.

Dilakukan pada waktu parade militer, itulah jelas tidak mungkin.

Melakukan pembunuhan di depan ratusan ribu tentara ibaratnya hanya akan mengantar nyawa belaka, sedang untuk memasuki lapangan militer saja orang biasa tidak diperkenankan sembarangan masuk.

Dalam perundingan, berbagai pendapat bersimpang-siur, Ie Lan-cu hanya membisu aneh.

Waktu Thio Hua-ciau memandang gadis ini, tiba-tiba timbul perasaan berat untuk berpisah, la insyaf betapa pentingnya membunuh To Tok bagi perjuangan mereka yang maha besar, tetapi ia sungguh tidak tega membiarkan seorang gadis yang dibesarkan dalam kancah penderitaan dan kesunyian menuju ke lembah kematian pada waktu masanya yang masih muda belia dan mulai masak ini.

Karena itu, ia lalu buka suara.

"Kalau sudah tiada jalan untuk turun tangan, biarlah urusan ini ditangguhkan dulu,"

Katanya.

"Siapa bilang tiada jalan untuk turun tangan?"

Sela Lan-cu dengan dingin.

"Bukankah kita bisa datang dan menunggu di Se-san, di Ho-hut-si!"

"Sesudah memeriksa pasukan, entah To Tok masih ada urusan besar apa yang harus diselesaikannya, dapatkah kau memastikan dia akan datang ke Ho-hut-si?"

Ujar Boh Wanlian.

"Menurut perasaanku pasti ia akan datang,"

Kata Lan-cu.

"Lagipula, tak peduli ia datang atau tidak, kita juga hanya ada kesempatan ini untuk mencobanya. Bila kalian tidak mau pergi, biarlah aku seorang diri yang pergi!"

"Kau anak dara ini bernyali besar, masakah kami malah takut?"

Teriak Thong-bing Hwesio.

"Hayolah, kalau mau pergi biar kita pergi bersama, aku nanti yang menghadang pengawalnya, dan membiarkan kau yang pertama-tama turun tangan!"

Mendengar itu, Lan-cu tersenyum.

Sebaliknya Hua-ciau bungkam, sedang Siang Ing dan Thia Thong bertepuk tangan menyatakan setuju, dan begitulah urusan itu telah diputuskan.

Pada hari itu, To Tok memeriksa pasukannya di lapangan militer, ratusan ribu tentaranya dengan bersenjata lengkap tampak siap sedia menghadapi pertempuran dengan semangat.

"Tayswe, dengan pasukan sekuat ini, Go Sam-kui dan Li Lay-hing tidak nanti tahan sekali pukul,"

Ujar seorang ajudan di sampingnya.

Tapi To Tok hanya menyahut dingin, ia memacu kudanya pelahan memeriksa pasukan itu, sikapnya tawar sekali.

Para perwira tinggi seorang demi seorang maju memberi laporan padanya, ia pun mengangguk-angguk dingin saja.

Karena sikapnya yang luar biasa itulah membuat para perwira merasa heran, Mereka tak mengerti, panglima mereka ini bisa berubah begitu banyak, sedikitpun tidak mengunjuk sikap gagah dan berwibawa seperti biasanya.

Karena itulah diam-diam mereka menggerundel bahwa akan ada alamat jelek.

Dan karena cara memeriksanya yang tidak bersemangat itu, maka belum sampai lohor sudah berakhir.

"Tayswe, apakah akan mengumpulkan para perwira untuk diberi petuah?"

Seru sang ajudan.

"Tidak usah!"

Kata To Tok sambil menggoyang kepala. Heran juga ajudannya, ia membungkuk dan bertanya pula.

"Kalau begitu, kapan akan dilakukan 'Tiam-ciang'?"

Menurut peraturan, sebelum pasukan bergerak harus dilakukan Tiam-ciang dulu.

Upacara Tiam-ciang atau penunjukkan panglima ialah untuk membagi tugas pada para perwira.

Tak terduga, kembali To Tok menggeleng kepala.

"Untuk apa buru-buru? Sekeluamya dari kota masih bisa dilakukan!"

Katanya.

"Apakah Tayswe buru-buru hendak pergi ke istana untuk mohon diri pada Hongsiang?"

Tanya ajudannya pula.

"Besok masih ada tempo, tak usah menghadap sekarang,"

Kata To Tok berkerut kening mulai tak sabar. Dan selagi ajudan hendak bertanya pula, To Tok sudah mendahului membentak.

"Tak usah banyak mulut lagi, aku masih ada urusan lain!"

Ajudannya kuncup tak berani buka suara lagi, tetapi makin menambah herannya atas sikap atasannya ini.

Sebenarnya pekerjaan mengatur Tiam-ciang dan lain-lain adalah tugas ajudan, ia tak menduga begitu bertanya malah didamperat.

Setelah To Tok membubarkan pasukan, ia berkata pada ajudannya.

"Kaubawa pasukan pengawal pribadi dan bersamaku pergi sembahyang ke Ho-hut-si!"

"Sekarang juga pergi sembahyang?"

Tanya sang ajudan yang terheran-heran.

"Ya, apa tidak boleh?"

Damperat To Tok pula.

Keruan ajudan itu tak berani bersuara pula.

Tak lama kemudian, tiga ratus pengawal pribadi yang lengkap persenjataannya dan belasan jago pengawal pilihan sudah bersiap, dengan berduyun-duyun mengelilingi To Tok dan segera menuju ke Se-san (pegunungan di barat kota-raja).

Semangat To Tok lesu, perasaannya hampa.

Hanya satu hal yang terus diingat olehnya.

Harus bertemu dengan istriku!

Lain tidak.

Saat itu, ia merasa istrinya jauh lebih penting daripada segala urusan perwira dan tentaranya, bahkan sekalipun Kaisar.

Dalam beberapa hari ini ia merasa sungguh-sungguh telah mendapatkannya, tetapi juga seperti akan kehilangan dia.

Sang istri itu mau pergi sembahyang dan berdoa agar menang dalam pertempuran nanti serta kembali dengan selamat penuh kejayaan, inilah betul-betul luar biasa dan belum pernah terjadi.

Maka kini ia hanya mempunyai satu keinginan, ialah bias selekasnya berhadapan dengan sang istri agar bisa mengutarakan rasa terima kasihnya.

Musim rontok di Se-san pemandangannya sangat indah, puncak gunung biru kehijauan, daun rontok kuning kemerahan, air terjun Giokcwan-san menggerujuk bagai pelangi yang menggelantung di langit memutih perak, gumpalan awan yang mengelilingi puncak bagai ombak samudra yang bergulung-gulung.

Pemandangan indah itu sedikitpun tak sempat dinikmati To Tok.

Sesudah sampai di kaki gunung, ia turun dari kudanya lalu berjalan naik.

Dari jauh ia sudah melihat asap debu mengebul tebal.

Dengan penuh gembira ia berjalan menuju Ho-hut-si.

Pasukan pengawal berjaga di kedua samping jalan sambil mengusir pergi pengunjung demi keselamatan panglima mereka.

Sesudah naik sampai di tengah gunung, Ho-hut-si sudah di depan mata, sekonyong-konyong dari samping jalan muncul seorang nenek yang sudah ubanan dengan menundukkan kepala menangis sedih.

Waktu tentara membentak dan mengusirnya, ia masih tak mau menyingkir.

"Enyahkan dia!"

Bentak ajudan To Tok. Tapi mendadak nenek itu menangis menggerung-gerung.

"O, suamiku!"

Teriaknya berulang-ulang. To Tok berkerut kening oleh ratapan orang.

"Jangan usir dia!"

Perintahnya sembari berjalan maju dan bertanya.

"Mengapa kau menangis?"

"Suamiku meninggalkanku selama delapan belas tahun dan kemarin dulu baru pulang lantas jatuh sakit keras, aku hendak bersembahyang untuknya agar Buddha melindunginya supaya selamat,"

Kata nenek itu. Terguncang hati To Tok, ia menggumam sendiri.

"Kau juga delapan belas tahun "

"Ya, delapan belas tahun, dosa selama delapan belas tahun,"

Sambung si nenek. Tangannya yang memegang tongkat gemetaran, dan karena itu suaranya juga terputusputus. To Tok bergidik, ia tergetar.

"Dosa apa?"

Tanyanya lagi.

"Sebenarnya ia tak menyukai aku, karena dipaksa orang tua baru mau menikahiku,"

Si nenek menutur sambil tersedusedu.

"Setelah menikah, segera ia lari pergi ke tempat jauh hingga delapan belas tahun, kini sesudah ia insyaf dan berbalik pikiran, siapa tahu terkena penyakit jahat. O, Tayjin, apakah ini kalau bukan dosa?"

Makin mendengar makin merasa tak enak, mendadak To Tok merasa suara orang meski lagu suara orang tua, tetapi suara itu seperti sudah pernah dikenalnya.

"Coba maju ke sini!"

Panggilnya sambil melambaikan tangan.

Rambut uban si nenek itu bergerak-gerak tertiup angin, tangan yang mencekal tongkat makin gemetar, setindak demi setindak ia maju mendekati To Tok pelahan.

Dengan penuh heran pasukan tentara dan pengawal mengawasinya, mereka heran mengapa Ongya bisa membiarkan seorang nenek mendekati dan berbicara dengannya, sungguh hal ini sangat luar biasa.

"Kalian menyingkir sedikit, biarkan dia datang kemari!"

Perintah To Tok pula. Jangan kata para tentara dan pengawal itu terheran-heran, bahkan para pahlawan yang menyamar dan bersembunyi di sekitarnya pun merasa heran.

"Anak dara ini sungguh berbakat, ia telah memainkan perannya begitu wajar sekali!"

Puji mereka dalam hati. Dan begitulah setindak demi setindak si nenek terus melangkah maju ke depan To Tok, napasnya kelihatan tersengal-sengal payah.

"Coba angkat kepalamu!"

Kata To Tok.

Tapi mendadak nenek itu menggerakkan tangannya, tongkat di tangannya tahu-tahu putus menjadi dua, di dalam tongkat itu tersembunyi sebilah pedang pendek yang bersinar mengkilap menyilaukan!

Secepat kilat pedang itu menusuk To Tok.

Karena kejadian yang tiba-tiba dan di luar dugaan itu, walaupun To Tok berusaha berkelit dengan cepat, namun lengan kirinya sudah kena tertusuk.

Dalam pada itu, To Tok pun mencabut pedangnya, cepat ia membabat, nenek itu menundukkan kepala menghindarkan diri, tapi karena goncangan angin pedang, rambut palsu di kepalanya itu lantas terjatuh.

Maka tertampak jelas nenek itu telah berubah menjadi seorang gadis jelita.

Pada saat itu juga, para pahlawan yang sudah bay-hok (bersembunyi) di atas gunung beramai-ramai lantas menyerbu keluar.

Lekas pasukan pengawal menahan serbuan musuh sekuatnya.

"Lekas tahan serangan dari luar, tak usah membantu ke sini!"

Seru To Tok ketika beberapa jago pengawal hendak membantunya.

Jago-jago pengawal itu tahu To Tok sangat perkasa, kepandaiannya pasti tidak di bawah mereka, untuk menangkap seorang anak dara tentunya tidak susah.

Sebaliknya orang-orang yang menyerbu dari atas gunung itu jauh lebih ganas dan gagah.

Maka mereka menuruti perintah To Tok, mereka balik tubuh untuk maju menempur sengit para pahlawan.

Karena terluka lengannya, To Tok menjadi gusar, pedangnya diputar sedemikian rupa hingga angin menyambar keras.

Gadis yang menyamar sebagai nenek ubanan itu tiada lain daripada Ie Lan-cu.

Begitu pedangnya berhasil melukai musuh, segera tubuhnya melesat, pedang pendeknya yang enteng dan cepat menusuk ke kiri dan tikam ke kanan, dalam sekejap saja mereka sudah bergebrak lebih dua puluh jurus, To Tok bertenaga besar bagai kerbau, maka tak berapa lama pedang Ie Lan-cu tertekan di bawah hingga ia mandi keringat, minyak cat di mukanya menjadi lengket dengan air keringatnya, terasa agak risi, dalam seribu kerepotannya itu Lan-cu membesut mukanya dengan lengan bajunya hingga guratan dan keriput wajahnya dalam samarannya itu terseka bersih dan wajah aslinya tertampak jelas, dalam kagetnya demi mengenali orang, To Tok menjerit.

Dan pada saat itulah pintu Ho-hut-si terpentang lebar, dari dalam tertampak sebuah joli besar berhiaskan batu pualam manikam hijau digotong keluar.

"Berjanjilah padaku, janganlah kau mencelakai dia, maukah kau?"

Tiba-tiba suara Onghui yang diucapkan malam itu berkumandang dalam telinga To Tok.

Tiba-tiba pandangannya kabur dan pikirannya remang-remang.

Karena itu beruntun Ie Lan-cu melancarkan beberapa tusukan lagi, kembali To Tok menderita beberapa luka.

Dengan mata melotot beringas, sekuat tenaga To Tok berusaha balas menggempur musuh, namun sekilas dilihatnya si gadis di hadapannya ini mirip istrinya pada malam pengantin dahulu, sesaat terasa dingin hatinya, lagi-lagi dadanya kena tertusuk sekali.

Tak tahan lagi To Tok oleh luka-lukanya, ia menjerit keras, pedangnya mendadak ditimpukkan ke depan, ketika Lan-cu berkelit, dengan tepat pedang itu menembus dada seorang pengawal yang memburu datang hendak menolong To Tok.

Betapa lihai Kiam-hoat le Lan-cu, begitu berkelit segera ia merangsek maju lagi.

Meski To Tok mengangkat tangan hendak menangkis, tapi terdengarlah suara "kraak,"

Lima jarinya tertabas kutung semua.

Ujung pedang le Lan-cu yang tadinya mengarah tenggorokan orang sedikit tergoncang menceng hingga menembus leher To Tok, tapi jalan napasnya masih belum terputus.

To Tok menjerit ngeri, darah segar muncrat, orangnya roboh, hanya belum mati seketika.

Dan ketika Lan-cu hendak menambahi sekali tusuk lagi, joli tadi sudah berhenti di depannya, dari dalam keluar dengan cepat seorang wanita agung terus menahan pelahan tangan Lan-cu.

Seketika tergoncang tubuh Lan-cu oleh pegangan tangan orang, pedangnya tahu-tahu jatuh ke tanah.

Dan karena itu jago-jago pengawal yang sudah datang mengepung itu segera dapat menangkapnya.

Lan-cu tak melawan, ia menyerah dirinya ditangkap, mukanya putih pucat dan matanya terpaku memandang wanita agung itu sambil tertawa seram.

"Onghui yang agung, aku telah membikin susah kau!"

Demikian katanya pelahan.

Wajah Nilan-onghui pucat bagai mayat, tak sanggup ia mengucapkan sepatah katapun.

Tiba-tiba ia merasa kakinya dirangkul orang, ia lihat dengan bermandi darah To Tok merangkul kakinya erat-erat sambil menengadah.

Lekas Onghui berjongkok hendak memayang sang suami, namun didengarnya suara To Tok yang amat lemah berkata padanya.

"Terima kasih, isteriku!"

Tak tahan lagi Onghui oleh pukulan perasaan itu, ia menjerit dan roboh tak sadarkan diri tagi.

Sementara itu pertempuran sengit sudah terjadi antara para pahlawan dengan pasukan pengawal.

Dengan gagah berani Thong-bing Hwesio dan kawan-kawan berusaha mendekati Ie Lan-cu untuk menolongnya.

Tadi mereka sudah girang melihat le Lan-cu berhasil merobohkan To Tok, siapa tahu tiba-tiba datang Onghui dan gadis itu pasrah diringkus musuh begitu saja, mereka kuatir dan gugup, maka segera mereka menerjang maju untuk menolong, namun mereka lantas dikerubut pasukan pengawal yang jauh lebih banyak dan menyaksikan Ie Lan-cu diseret musuh ke dalam Ho-hut-si tanpa berdaya.

Dalam pada itu To Tok dan Onghui sudah digotong masuk ke dalam kuil itu juga oleh orang-orangnya.

Rombongan Thong-bing Hwesio masih berusaha hendak menerjang ke dalam kuil itu, tapi jago-jago pengawal tidak lemah juga, pula dalam jumlah lebih banyak, dalam pertarungan sengit itu Siang Ing terluka lebih dulu pundaknya oleh sambitan pisau terbang musuh, Thia Tong pun terluka oleh panah.

Sedang Thio Hua-ciau dengan penuh noda darah memutar pedang menerjang musuh mati-matian.

Thong-bing Hwesio berusaha memburu maju untuk menggabungkan diri dengan pemuda ini, siapa duga begitu berhadapan, tahu-tahu Hua-ciau mengayun pedang terus menusuk ke arahnya sambil berteriak.

"Biarlah aku mengadu jiwa denganmu!"

"Hai, orang sendiri!"

Seru Thong-bing kaget sembari mengelakkan serangan itu. Namun pandangan Hua-ciau kelihatan kabur, orangnya ternuyung-huyung hendak roboh.

"Celaka!"

Keluh Thong-bing dalam hati.

Kawpn-kawannya sudah banyak yang terluka, cara bagaimana kini bisa keluar dari kepungan musuh?.

Ketika keadaan berbahaya, tiba-tiba pasukan pengawal yang mengepung itu kelihatan menyingkir ke samping, tertampak Kui Tiong-bing memutar kencang pedangnya menerobos datang menolong.

"Mari lekas terjang keluar!"

Seru pemuda ini.

Habis itu, ia mendahului memutar tubuh terus menerjang kembali ke arah datangnya tadi sambil menyeret Thio Huaciau terus diikuti Thong-bing Hwesio dan lain-lain dengan rapat.

Di sebelah sana, di bawah iringan Thio Jing-guan dan kawan-kawan, Wan-lian menghamburkan pasirnya yang berbisa dan mati-matian menerjang keluar kepungan hingga pasukan pengawal itu tak mampu menahannya.

Karena itu tak lama kemudian mereka berhasil lolos semua ke balik gunung sana.

Di lain pihak, sesudah Nilan-onghui digotong masuk kuil dan sadar kembali, namun ia tak mendapatkan lagi adanya Ie Lan-cu.

"Penyamun wanita itu sudah dikerangkeng dan dijaga rapat,"

Demikian seorang perwira coba memberi laporan padanya "Sementara ini telah dipanggil juga tabib kerajaan, maka Onghui jangan kuatir."

"Kalian keluar semua!"

Kata Onghui tiba-tiba sambil mengebaskan tangannya. Namun perwira itu masih ragu-ragu dan tetap di tempatnya.

"Kalian keluar semua!"

Bentak To Tok yang tiba-tiba tersadar dengan suara serak.

Nampak Ongya mereka tak bertenaga lagi dan suaranya berat, seluruh tubuh pun bermandi darah, perwira itu dan pengawal-pengawal lain tahu betapapun cepat tabib kerajaan bisa datang, tak akan bisa menghidupkan Ongya mereka, mereka menduga ada pesan terakhir yang hendak To Tok bicarakan pada Onghui, maka tak berani lagi mereka ayal, segera mereka mengundurkan diri keluar.

"Ongya,"

Kata Nilan-onghui kemudian sambil merangkul sang suami erat-erat dengan air mata bercucuran.

"Sudah sekian lamanya aku mendustai kau sesuatu bahwa si gadis pembunuh itu ia ialah puteriku sendiri"

"In ini su sudah lama kuketahui,"

Sahut To Tok terputusputus dan tersenyum getir.

Tak tahan lagi hati Onghui, ia menangis menggerunggerung, sungguh hancur luluh rasanya.

Tiba-tiba To Tok merangkak hendak bangun, ia tahan tubuhnya dengan siku sambil memegang tangan sang isteri kencang-kencang.

"Ming-hui,"

Katanya parau.

"Aku merasa puas, barulah hari ini kuketahui bahwa sesungguhnya kau pun mencintai aku!"

Pedih sekali bagai disayat-sayat hati Nilan-onghui.

Apa betul ia mencintai To Tok?

Tidak.

Cintanya itu lebih tepat dikatakan kasihan.

Namun kini, pada saat sang suami sudah dekat ajalnya, tiba-tiba terasa juga olehnya seakan-akan memang mencintainya.

Ia menunduk tak menjawab, pelahanlahan ia mengecup pipi sang suami sekalipun darah menodai mulut dan rambutnya.

"Nasib puterimu itu biarlah kuserahkan kebijaksanaanmu,"

Kata To Tok pula dengan lemah.

"Ya, Ming-hui, aku sangat puas,"

Makin lama makin lemah dan semakin lirih suaranya, pelahan-lahan tangan yang memegang sang isteri pun menjadi kendor, matanya sudah tertutup rapat, nyata ia telah menghembuskan napasnya yang penghabisan.

Ngeri Nilan-onghui oleh suasana seram itu, lekas ia membuka kamar dan berteriak memanggil orang.

Karena itu para pengawal di luar beramai berkerumun, dan demi mengetahui Pangeran mereka sudah tak bernyawa lagi, seketika mereka pun menjadi ribut.

"Ongya sudah wafat, tentang penyamun wanita itu biarlah boleh dibebaskan saja,"

Kata Onghui pelahan.

"Hendaklah Onghui istirahat dahulu,"

Sahut ajudan To Tok cepat.

Segera juga para pelayan maju hendak memayang, siapa duga terdengar Onghui menjerit ngeri dan orangnya kembali pingsan.

Para pengawal bawahan To Tok mengira pikiran Onghui sudah kacau, maka perintahnya 'membebaskan' pembunuh wanita tadi dengan sendirinya mereka anggap tak sehat.

Kemudian setelah datang pula panglima lain yang mendapat kabar terbunuhnya To Tok, tak ampun lagi le Lan-cu digusur ke dalam penjara kerajaan yang dijaga rapat.

Tentu saja peristiwa terbunuhnya To Tok itu membuat kota-raja menjadi gempar.

Akan tetapi herannya, sudah lewat setengah bulan perkara itu belum juga diperiksa.

Menurut biasanya, peristiwa hebat itu seharusnya Kaisar sudah memberi titah memeriksa pesakitannya, tapi tiada seorang pembesar pun yang menerima perintah.

Keruan saja hal itu menimbulkan berbagai pertanyaan dan dugaan di antara pembesar-pembesar negeri itu.

Nyata mereka tak tahu bahwa Kaisar Khong-hi sesungguhnya sangat tak senang karena peristiwa itu.

Nilanonghui sendiri yang telah memohon dengan perantara ibu-suri untuk minta kelonggaran Kaisar agar pemeriksaan penyamun wanita itu ditunda setelah ia sembuh dari sakitnya.

Karena alasan sakit, Khong-hi menyangka Onghui terlalu berduka dan terpukul batinnya oleh kematian sang suami, pula menduga Onghui akan memeriksa si pembunuh sendiri bila telah sembuh, maka Khong-hi telah meluluskan permohonan itu.

Akan tetapi sudah setengah bulan dan kesehatan Nilanonghui masih belum pulih kembali, sungguhpun tabib-tabib kerajaan ikut memeriksanya, namun tiada diketahui juga dimana letak sebab-sebab penyakit Onghui, dugaan hanya karena hati Onghui sedih hingga menjadi sakit.

Dan karena waktunya sudah berlarut-larut, Khong-hi mulai tak sabar, namun Ok-jin-ong besar sekali pahalanya terhadap negara, permaisurinya adalah bibi Nilan Yong-yo pula, meski mendongkol, sungkan juga diutarakannya.

Dan selama setengah bulan itu siang-malam Nilan-onghui benar-benar tenggelam dalam kancah derita, la menutup diri dalam kamar, selain tabib kerajaan yang terpaksa harus dilayaninya, orang lain tiada lagi yang ditemuinya.

Pernah ia berpikir hendak bunuh diri saja, tapi masih ada cita-citanya yang belum terkabul.

ia masih ingin bertemu dengan puterinya.

Namun cara bagaimanakah bisa bertemu?

Kecuali kalau ia membebaskannya dari penjara.

Atau sebaliknya, apabila sehari lebih cepat ia bertemu dengan putrinya, itu berarti sehari lebih dekat pula mengirim putrinya itu ke gerbang kematian.

la tahu Kaisar menyangka ia hendak memeriksa sendiri penyamun wanita itu, dan sesudah itu segera juga orangnya akan dihukum mati.

Akan tetapi dapatkah ia membebaskan puterinya itu?

la tak berkuasa.

Ya, bahkan tiada seorang pun, dari Kaisar sampai perwira-perwira bawahan To Tok, tiada yang rela panglima mereka terbunuh begitu saja.

Dan karena itulah, tiada jalan lain ia hanya mengulur waktu saja.

Keadaan ganjil itu tidak saja mengherankan para pembesar, bahkan para pahlawan di rumah Ciok Cin-hui juga diliputi berbagai tanda tanya.

Hari itu sesudah berhasil lolos kembali, tiada henti Thongbing Hwesio menggerutu, katanya.

"Permaisuri To Tok betulbetul wanita siluman. Anak dara itu sudah bisa mampuskan To Tok dan sebenarnya dengan mudah bisa menerjang keluar, bila mau Onghui bisa juga sekalian dibereskannya waktu berhadapan sebab orang hanya bertangan kosong. Tapi aneh bin ajaib, anak dara itu seperti kena guna-guna, ia berdiri tegak tanpa berkutik dan membiarkan dirinya diringkus begitu saja!"

Begitu pula para pahlawan lainpun penasaran, hanya Boh Wan-lian yang dapat menerka beberapa bagian, cuma tak berani dikatakannya.

Kemudian para pahlawan itupun berdaya hendak menolong Ie Lan-cu, tapi sejak peristiwa itu penjagaan di kota-raja telah diperkeras dan dilakukan penggeledahan rumah-rumah penduduk.

Baiknya Ciok Cin-hui menyembunyikan mereka di kamar rahasia di bawah tanah dan berkat hubungannya yang luas dan baik dengan kalangan polisi dan pejabat negeri, maka semuanya dapat dilalui dengan aman.

Sebaliknya karena tak bisa keluar untuk menolong kawan, para pahlawan menjadi tambah kuatir.

Berbagai pendapat telah dikemukakan, tapi tiada yang bisa diterima.

"Aku ada suatu usul yang bodoh,"

Demikian kata Wan-lian akhirnya.

"Cuma harus ada seorang yang bernyali besar dan bisa berlaku hati-hati yang dapat melakukannya. Tiong-bing cukup tinggi ilmu silatnya, tapi kurang kecerdikannya. Maka paling baik kalau Leng Bwe-hong atau Pho Jing-cu bisa datang di sini."

"Dari sini ke Sucwan pulang pergi harus makan waktu berbulan-bulan, mana bisa kita menunggu begitu lama,"

Ujar Thio Jing-guan.

"Coba katakan usulmu itu,"

Kata Thong-bing Hwesio.

"Ah, susah dijalankan, nanti hanya akan membikin kusut pikiran orang banyak saja,"

Sahut Wan-lian.

"Anak dara itu sangat menyenangkan, masakah kita harus menyaksikan dia menuju gerbang kematian begitu saja?"

Ujar Thong-bing gegetun.

Di sebelah sana wajah Thio Hua-ciau kelihatan pucat muram dan membisu.

Lekas Ciok Cin-hui mengedipi Thongbing agar jangan banyak omong lagi.

Di pihak lain sana, sehabis To Tok terbunuh, pernah Nilan Yong-yo pergi menghibur sang bibi, meski Onghui menolak bertemu dengan orang, namun Yong-yo ternyata ditemuinya.

Cuma hatinya masih sedih dan batin tertekan, maka ia tidak banyak bicara.

Waktu Yong-yo mengetahui bahwa si pembunuh adalah si gadis yang dahulu dikenalnya di Jing-liang-si di atas Ngo-taisan itu, ia terkejut luar biasa.

"Ya, masih ingat aku pada sorot matanya yang tajam dingin,"

Katanya pada sang bibi.

"Cuma aneh, sebab apakah ia harus membunuh Kohtio (paman), dendam dan sakit hati apakah yang membikin dia berlaku nekad?"

Onghui tak menyawab, sejenak kemudian dikatakannya sambil menghela napas.

"Tapi ia pun sangat harus dikasihani!"

Tiba-tiba Yong-yo ingat akan wajah dan perawakan gadis pembunuh itu sangat mirip sang bibi, tanpa merasa ia ikut ngeri, lekas ia mohon diri pulang.

Pada suatu malam yang sunyi, seorang diri Yong-yo duduk termenung di kamarnya di atas Thian-hong-lau, pikirannya bergolak, la adalah bangsawan Boanciu, tapi jiwanya mulia, ia memandang rendah bangsawan-bangsawan lain yang kotor, hanya terhadap To Tok ia masih mempunyai rasa hormat dan kagum, karena itu atas tewasnya To Tok ia pun ikut berdukacita, namun begitu ia pun menaruh simpati pada si gadis pembunuh itu.

"Ya, seorang gadis jelita rela menghadapi bahaya untuk membunuh seorang saja, pasti di dalamnya tersangkut urusan sakit hati yang maha besar yang harus dilakukannya,"

Demikian pikir Yong-yo.

"Cuma aneh, mengapa Kokoh (bibi) sebaliknya tak menjadi benci pada gadis pembunuh suaminya itu?"

Begitulah ia berpikir sendiri pergi-datang, namun tak dapat pula ia menarik sesuatu kesimpulan atas peristiwa itu.

"Apa terlahir dalam keluarga kerajaan memang merupakan semacam dosa?"

Demikian ia bergumam sendiri.

Tengah Nilan Yong-yo termenung seorang diri dalam kesepiannya, tiba-tiba sinar lilin terlihat bergoyang, tahu-tahu daun jendela terpentang lalu melompat masuk dua orang.

Seorang dikenalinya adalah Thio Hua-ciau dan yang lain seorang gadis remaja, parasnya juga sudah dikenalnya cuma tak ingat seketika.

Dan selagi ia hendak menegur, tiba-tiba si gadis itu telah mendahului menyapa dengan gaya menarik.

"Kongcu, apakah masih ingat pada si penjaga taman?"

Karena itu barulah Nilan Yong-yo teringat, lalu ia tertawa.

"Ia bernama Boh Wan-lian, puteri Boh Pi-kiang Siansing,"

Segera Hua-ciau memperkenalkan mereka.

"Aku sangat mengagumi ilmu sastra Boh-siansing, pantas nona Boh juga pandai bersajak dan mahir seni suara,"

Ujar Yong-yo.

"Dan sebab apakah tempo hari harus menyamar untuk menghamba di rumah kami?"

"Soal itu biarlah kelak kita bicarakan,"

Sahut Wan-lian tersenyum.

"Kedatangan kami sekarang ini justru ada urusan penting yang perlu bantuan Kongcu."

"Silakan menerangkan,"

Kata Yong-yo.

"Kami minta bantuan agar bisa menemui Sam-kiongcu,"

Kata Wan-lian.

"Keadaan sekarang sudah berubah, sejak geger tempo hari, Kiongcu dilarang keluar kerajaan lagi,"

Sahut Yong-yo.

"Jika begitu, kaubawa kami masuk ke kerajaan menemuinya,"

Pinta Wan-lian. Berubah wajah Yong-yo karena permintaan itu, ia terdiam.

"Apakah berlebihan permintaan kami ini?"

Tanya Wan-lian.

"Untuk apa kalian ingin bertemu Sam-kiongcu?"

Tanya Yong-yo tiba-tiba.

"Kami hendak menolong seseorang,"

Kata Wan-lian.

"Kau maksudkan si gadis pembunuh Ok-jin-ong itu?"

"Benar, dialah yang ingin kami tolong,"

Sahut Hua-ciau.

"Ok-jin-ong adalah pamanku, apakah kalian tak tahu?"

Tanya Nilan Yong-yo kurang senang.

"Banyak sekali orang-orang tak berdosa yang dibunuh pamanmu itu apakah kau pun tidak tahu?"

Balas Wan-lian bertanya.

"Ia adalah panglima kerajaan, tempat dimana pasukan lewat tentulah meninggalkan noda, tetapi semua itu tak bisa juga menyalahkan dia seorang saja,"

Sahut Yong-yo.

"Jika begitu, apakah rakyat jelata yang salah?"

Debat Wanlian tertawa dingin.

"Juga bukan begitu,"

Sahut Yong-yo.

"Lalu? Apa dia boleh sembarang membunuh orang, dan orang lain tak boleh membunuh dia?"

Kata Wan-lian pula.

"Balas membalas cara begitu, darah dibayar darah, sampai kapankah baru berakhir?"

Sahut Yong-yo menghela napas.

"Sebenarnya kami tidak dendam pada bangsa Boanciu umumnya, tapi orang seperti To Tok yang memimpin bangsamu membunuh bangsa kami, sudah tentu tak bisa kami diamkan begitu saja,"

Ujar Boh Wan-lian. Yong-yo membisu, ia tak menyawab.

"Dan bila gadis tak berdosa itu hendak kalian bunuh pula, itu berarti darah disiram lagi dengan darah,"

Kata Wan-lian lebih lanjut dengan bersemangat. Nilan Yong-yo masih tetap bungkam. Tiba-tiba Wan-lian bergelak tertawa, dengan suara lantang kemudian ia berkata lagi.

"Kami tadinya menyangka Kongcu adalah seorang yang berjiwa besar, tampaknya kami telah salah lihat. Maka biarlah terus terang saja, kami adalah komplotan si gadis pembunuh. Jika Kongcu tak menahan kami, sekarang juga biarlah kami mohon diri!"

Mendadak Yong-yo mengebas lengan bajunya terus bangkit berdiri.

"Baik, besok juga kau boleh ikut aku masuk istana,"

Katanya kemudian sambil menunjuk Boh Wan-lian. Tentu saja Wan-lian sangat girang.

"Dan bagaimana dengan dia?"

Tanyanya menuding Hua-ciau.

"Istana begitu keras penjagaannya, lelaki asing tidak nanti diperbolehkan masuk,"

Sahut Yong-yo.

"Kalau begitu, biarlah kupinjam alat tulismu saja,"

Kata Hua-ciau.

Dan setelah alat tulis yang diperlukan disediakan, segera Hua-ciau bekerja cepat, ia menulis sepucuk surat dan diserahkannya pada Boh Wan-lian dalam sampul tertutup.

Habis itu, ia memberi hormat pada Nilan Yong-yo, lalu ia pun melesat pergi.

Nilan Yong-yo sangat suka bergaul dengan kaum cerdikpandai, lebih-lebih seorang nona manis seperti Boh Wan-lian yang mahir ilmu silat dan surat.

Ketika dilihatnya Boh Wan-lian dengan bersenyum simpul lagi memandang padanya, hatinya tergoncang.

Tiba-tiba ia pun teringat pada 'si penjaga taman' lainnya yang kasar itu.

"Mana kawanmu yang lain itu?"

Tanyanya segera.

"Ia menunggu Ciau-long di luar sana,"

Sahut Wan-lian.

"Ia tak kuatir lagi kau masuk istana seorang diri?"

Tanya Yong-yo.

"Meski ia kasar, tapi orangnya tulus jujur,"

Sahut Wan-lian tertawa.

"Aku sering memuji Kongcu di hadapannya, kelak tentu ia akan berterima kasih juga padamu."

"Kalian sama-sama gagah perkasa, sungguh pasangan yang setimpal,"

Yong-yo memuji.

Sungguhpun berkata demikian, namun dalam hati ia berpikir lain, ia gegetun nona cantik seperti Boh Wan-lian bagai burung Hong mendapat jodoh burung gagak, tapi ia pun tahu cinta Wan-lian amat mendalam pada 'si penjaga taman' yang kasar itu.

"Apa kalian sudah menikah?"

Tanyanya kemudian.

"Belum,"

Jawab Wan-lian.

"Bila kelak menikah, pasti aku tak sempat memberi selamat pada kalian, maka biarlah sekarang juga aku, memberikan sedikit tanda-mata yang tak berarti padamu,"

Kata Yong-yo tertawa. Habis itu, dari dinding ditanggalkannya sebatang pedang pendek dan diangsurkan pada Boh Wan-lian.

"Pedang ini bernama 'Thian-hong-kiam' yang didapat ayahku dari hadiah seorang gubernur, katanya adalah pedang pusaka buatan di zaman Cin, sukalah kau menerimanya untuk dipergunakan,"

Demikian katanya.

Waktu Wan-lian coba melolos pedang itu, ia lihat sinar tajam menyilaukan mata, dengan girang ia pun menghaturkan terima kasih.

Kembali mengenai peristiwa terbunuhnya To Tok.

Berita itu dengan cepat tersiar ke dalam kerajaan.

To Tok adalah orang yang dikenal baik oleh Sam-kiongcu, meski berita kematian To Tok itu menggetarkan hatinya juga, namun saat itu hatinya justru sedang penuh pikiran, yang dia pikir sekarang ini malahan bukan To Tok, tapi bayangan Thio Hua-ciau yang telah bersarang dalam hati sanubarinya.

Rasa kagum dan serba baru serta rasa ingin mencari kepuasan belaka yang dipikirnya, mula-mula waktu bertemu dengan pemuda itu, kini lambat-laun sudah berubah, kini setiap gerak-gerik, suara dan tertawa Hua-ciau sudah terukir dalam lubuk hatinya, bayangan pemuda ini sudah melengket rapat dalam jiwanya.

Suatu hari di waktu pagi, Sam-kiongcu merasa kesepian, ia menyingkap kerai kamarnya dan memandang jauh, ia lihat suasana taman sunyi-senyap hanya beberapa Thaykam lagi membersihkan taman di kejauhan.

Dalam kesalnya, Sam-kiongcu merasa iseng, ia coba mengambil secarik surat yang berisikan sajak dan dibacanya pelahan.

Sajak ini adalah gubahan Nilan Yong-yo yang seakanakan melukiskan isi hatinya yang berkeluh-kesah tapi penuh harapan.

Dan selagi ia tenggelam oleh isi sajak itu, tiba-tiba datang dayang memberitahu bahwa Nilan-kongcu telah datang.

Nyata karena terpesona oleh isi sajak itu sampai penciptanya sudah berada di depan kamarnya ia masih belum tahu.

"Sam-mcayrnoay, kau giat sekali,"

Sapa Yong-yo tertawa segera sesudah masuk.

Waktu Sam-kiongcu menegasi, ia lihat di belakang Yong-yo masih ada seorang gadis jelita yang parasnya seperti sudah dikenalnya.

Dan sesudah ia mengingat, tak tahan lagi hatinya berdebar.

Ya, gadis itu adalah Boh Wan-lian yang dulu pernah dijumpainya di Thian-hong-lau dalam samarannya sebagai jejaka.

Dan karena dalam kamar masih ada dayang, lekas Kiongcu mengedipi Nilan Yong-yo.

"Aku diminta Hongsiang (Sri Baginda) menemani membaca, malam ini aku tak pulang, maka pelayanku ini biarlah kutitipkan padamu di sini,"

Kata Nilan Yong-yo kemudian dengan berpura-pura. Dan setelah Yong-yo berlalu, segera Sam-kiongcu menyuruh pelayan lain membawa Boh Wan-lian ke kamar tidurnya.

"Boh-cici, sungguh aku sangat merindukan dikau,"

Katanya cepat sambil merangkul Wan-lian.

"Ah, kukira bukanlah merindukanku,"

Goda Wan-lian tertawa.

Habis itu, ia pun mengeluarkan sampul surat Huaciau.

Girang luar biasa Sam-kiongcu melihat surat itu, tanpa pikir lagi ia menyambar surat itu dari tangan orang terus dibukanya.

Nyata surat Hua-ciau itu memang ditujukan pada Sam-kiongcu.

Mula-mula Wan-lian melihat Sam-kiongcu membaca surat itu sambil tersenyum, tetapi lambat-laun mukanya kelihatan berubah, tangan yang memegang surat itupun mulai gemetar hingga surat yang dipegangnya tergoncang bagai tertiup angin.

Kiranya surat Hua-ciau itu mula-mula menyatakan betapa terima kasihnya karena pemberian obat Sam-kiongcu hingga lukanya telah sembuh kembali.

Kemudian pemuda itu menyatakan syukurnya bisa berkenalan dengan Kiongcu dengan karib dan menyesalkan tak bisa membalas budi kebaikan orang.

Hangat dan manis sekali rasa Sam-kiongcu oleh rayuan surat itu, maka ia berpikir apa saja yang diminta si pemuda itu pasti akan dipenuhinya.

Siapa duga, surat itu kemudian menceritakan tentang diri si gadis pembunuh To Tok dan antara lain dikatakannya, meski gadis itu musuh besar keluarga kerajaan, tapi adalah teman akrab Hua-ciau.

Kerajaan menginginkan kematiannya, Huaciau justru mengharap akan hidupnya.

Kalau ia (si gadis) celaka, Hua-ciau pasti tak bisa hidup sendiri.

Maka bila Kiongcu suka mengulurkan tangan menolong, selama hidup Hua-ciau pasti tak akan melupakan budi yang maha mulia itu.

Dan setelah menyelami lebih dalam isi surat tersebut, Samkiongcu tahu cinta Thio Hua-ciau kepada si gadis pembunuh sudah mendarah-daging melebihi terhadap dirinya.

Tanpa terasa air matanya meleleh, remuk-rendam hatinya, surat itupun akhirnya terjatuh ke lantai.

Meski Wan-lian tak tahu bunyi surat itu, namun melihat gelagatnya ia telah dapat menerka.

"Kiongcu!"

Ia memanggil sembari mengusap rambut puteri itu untuk menghiburnya. Dengan perasaan hancur Kiongcu menjemput kembali surat tadi, ia duduk di atas kursi dengan lemas.

"Tidak, soal ini aku tak bisa mengurus, juga tiada jalan buat mengurusnya!"

Katanya kemudian dengan ketus.

"Apakah sudah pasti keputusan Kiongcu ini?"

Tanya Wan lian sambil memandang orang tanpa berkedip.

Tatkala itu dalam perasaan Kiongcu terbayang akan suatu gambaran, ya, tentu sesudah aku menolong si gadis pembunuh itu, lalu Thio Hua-ciau akan menggandeng tangannya dan kabur pergi bersama dengan tertawa tanpa memandang sekejap pun padaku.

Karena lamunan itu, dengan rasa gemas ia jawab pertanyaan Wan-lian tadi.

"Tidak, aku tak bisa menolong!"

"Sayang bila begitu,"

Kata Wan-lian pula menghela napas.

"Sayang apa?"

Tanya Kiongcu cepat.

"Thio Hua-ciau sudah berhutang budi pada Kiongcu, jika Kiongcu sudi memenuhi permohonannya, dapat dipastikan ia akan berterima kasih selama hidup,"

Demikian sahut Wan-lian.

"Tapi kini Kiongcu tidak mau membantu urusannya, ini berarti hubungan baikmu dengan Hua-ciau yang sudah-sudah akan hilang terhanyut, bukankah itu sangat harus disayangkan?"

Kiongcu terdiam oleh perkataan itu. Lama dan lama sekali tiba-tiba ia bertanya.

"Kau sendiri punya kekasih tidak?"

"Punya,"

Jawab Wan-lian.

"Dan bagaimana perasaanmu bila seumpama ia mencintai orang lain pula?"

Tanya Sam-kiongcu.

"Dengan rasa cinta yang sama aku tetap membantunya,"

Kata Wan-lian pasti.

"Sungguh?"

Jengek Sam-kiongcu.

"Mengapa tidak?"

Kata Wan-lian.

"Bila aku cinta padanya, pasti segalanya aku berpikir untuk kepentingannya, hanya bila ia bahagia barulah aku pun merasa bahagia. Biarlah aku ceritakan, pernah aku menghadapi bahaya tapi dengan kesabaran yang tak pernah putus aku telah menolong kekasihku lolos dari elmaut. Tatkala itu, sungguhpun setiap saat aku dapat dibunuh olehnya, namun sedikitpun tak terpikirkan olehku, apalagi gentar!"

"Betulkah begitu?"

Tanya Kiongcu ragu-ragu.

"Baiklah, malam nanti kautidur bersamaku dan ceritakanlah kisahmu itu."

Malam itu, betul saja Boh Wan-lian menceritakan kisahkasihnya dengan Kui Tiong-bing yang dengan segala kesabaran dan pengorbanan murni menyembuhkan penyakit ingatan pemuda itu.

Setelah mendengar cerita itu, Samkiongcu termenung diam sambil menghela napas panjang.

Besok paginya, tiba-tiba Kiongcu berkata pada Boh Wanlian.

"Kau tunggu di sini, sebentar segera aku kembali!"

Sekilas Wan-lian melihat sinar mata orang seperti telah mengambil suatu keputusan yang pasti untuk sesuatu tugas.

Dan setelah puteri itu pergi, Wan-lian sendiri menjadi kesepian, pelahan ia menyingkap tirai kamar menikmati keindahan taman bunga.

Dan ketika gadis ini terpesona oleh pemandangan indah itu, mendadak didengarnya ada suara tindakan orang naik ke atas loteng disusul dengan suara orang sedang bercakap.

"Begini pagi Kiongcu sudah keluar?"

Terdengar seorang bertanya.

"Ya, kami pun tak tahu kemana tuan puteri pergi, mungkin pergi menjenguk ibu-suri,"

Demikian jawab suara wanita.

"Ibu-suri sangat sayang pada tuan puterimu,"

Kata yang duluan tadi.

"Tempo hari ia datang ke sini dan melihat kamar Sam-kiongcu terlalu sederhana, kemarin ia lantas memerintahkan kami agar hari ini menghias kamar Kiongcu semewah mungkin. Kini bila Sam-kiongcu tiada di kamar, tentu kami bisa bekerja lebih leluasa."

Setelah orang itu merepek ke barat dan ke timur, kemudian terdengar suara tindakannya berhenti di depan pintu kamar, menyusul terdengar lagi tindakan beberapa orang lain ikut naik ke atas, mungkin orang-orang yang membawa barangbarang hiasannya.

Wan-lian mencoba mengintip dari lubang pintu, ia lihat di luar ada seorang Kiongli (dayang istana) dan seorang Thaykam (dayang kebiri), dan Kiongli itu sedang mengeluarkan anak kunci hendak membuka pintu kamar.

Seketika Wan-lian terkejut demi melihat muka si Thaykam seperti sudah dikenalnya.

Setelah ia mengingat-ingat, barulah ia teringat Thaykam ini dulu pernah tertangkap Pho Jing-cu di Jing-liang-si ketika malam-malam mereka menyelidiki Ngo-taisan.

Lekas Wan-lian bersembunyi di belakang kelambu sembari menggenggam beberapa gelintir pasir lembut, kemudian ia menyentil pasir itu ke arah muka si Thaykam yang telah melangkah masuk kamar.

"He, kenapa kalian begini jorok sampai debu saja tak pernah dibikin bersih!"

Segera Thaykam itu berteriak sambil tangannya mengucek matanya yang kelilipan oleh pasir Boh Wan-lian.

"Ah, mana ada debu?"

Sahut dayang wanita tadi. Tapi baru saja ia ikut masuk, tahu-tahu ia sendiri pun mengucek mata senasib dengan sang kawan.

"Eh, ya, aneh, bukankah kamar saban hari disapu, kenapa ada debu?"

Demikian ia pun mengomel.

Dan pada waktu kedua orang itu mengucek mata, dengan cepat dan gesit sekali Boh Wan-lian menyingkap tirai jendela terus melesat keluar tanpa diketahui Thaykam dan Kiongli itu.

Tapi baru saja ia menancapkan kaki di luar, sekonyongkonyong ada suara teriakan orang kaget.

"He!"

Menyusul kemudian dari semak-semak sana muncul dua orang Thaykam memburu ke jurusannya, tampaknya langkah kedua Thaykam ini enteng dan cepat, tentu berilmu silat tidak lemah.

Tahu dirinya sudah kepergok, tanpa pikir lagi segera Boh Wan-lian menyambut kedua Thaykam itu dengan segenggam pasirnya.

Karena tak menduga akan diserang, mata seorang di antaranya menjadi buta tertimpuk dan yang lain daging mukanya menjadi burik oleh hamburan pasir tersebut.

Saking sakitnya kedua Thaykam itupun berteriak-teriak.

"Ada penjahat, lekas tangkap!"

Lekas Wan-lian angkat kaki mengitari jalan kecil yang berliku-liku dalam taman kerajaan yang jauh lebih luas daripada taman istana Perdana Menteri itu.

Sementara itu para Thaykam penjaga telah mengejar datang dari berbagai jurusan, cuma bayangan Boh Wan-lian sudah tak kelihatan lagi.

Namun begitu, karena kuatir Wanlian masih berlari terus, setelah sebuah gunung-gunungan indah dilintasinya, tiba-tiba dilihatnya sebuah rumah kuno yang sudah bobrok dengan pintu tertutup dan kelihatan kotor meski gedung-gedung lain di sekitarnya terawat baik dan bersih.

Wan-lian heran, ia menduga rumah itu pasti tiada penghuninya, segera ia melompat masuk melintasi pagar tembok di samping.

Tiba-tiba tercium olehnya bau wangi semerbak, makin masuk ke dalam bau wangi itu makin tebal, ia mencari tempat datangnya bau wangi itu dan akhirnya sampai di sebuah kamar tidur.

Meski kamar itu penuh debu, namun pajangannya tertata rajin dan indah dengan perabotannya yang mewah.

Kemudian dapat diketahuinya bau wangi tadi teruar dari sebuah almari buku yang terbuat dari kayu cendana wangi.

Setelah kamar itu diperiksa, ia mendapatkan di dekat almari buku ada sebuah ranjang bagus dengan kelambu berhiaskan mutiara yang terurai rendah, di depan ranjang itu masih tergeletak sepasang sepatu wanita.

Di dekat jendela ada sebuah almari buku yang lebih besar merangkap meja baca dan di atas meja terserak beberapa

Jilid kitab.

Di dinding kanan tergantung sebuah lukisan, waktu Wanlian membersihkan debu di atasnya, ia lihat lukisan itu adalah seorang gadis jelita yang sedang tersenyum simpul padanya.

Nampak lukisan ini, seketika hati Wan-lian tergetar, ia coba ber-cermin pada sebuah kaca di situ, lalu dipandangnya lagi lukisan itu, ia merasa lukisan itu begitu mirip dengan wajah diri sendiri, ia coba memeriksanya lebih teliti, ia lihat di pojok kiri lukisan itu ada sebaris huruf-huruf kecil.

Tak tertahan lagi air mata Boh Wan-lian meleleh setelah membaca tulisan itu sambil menyebut.

"Ibu!"

Kiranya tulisan itu ialah catatan pelukisnya, Boh Pi-kiang, ayah Boh Wan-lian, sebagai kenang-kenangan setelah lima tahun menikah dengan Tang Siao-wan, ibu Wan-lian.

Ketika ibunya dirampas masuk istana, lukisan ini telah dibawa serta sebagai tanda cintanya yang tak pernah terlupakan pada Boh Pi-kiang.

Kemudian Wan-lian memeriksa kitab-kitab di atas meja, ia lihat sebuah di antaranya masih tersingkap dan ditindih sebuah Hi (kotak tinta Tionghoa).

Setelah kitab itu dibersihkan dan Wan-lian memeriksa yang lain, ternyata itupun berisi syair-syair gubahan ayahnya sebelum berpisah dengan ibunya, pantas ibundanya masih suka membacanya berulang-ulang sebagai kenang-kenangan.

Karena merasa sayang akan barang peninggalan orang tua, Wan-lian memasukkan kitab itu ke dalam bajunya.

Dan selagi ia hendak menanggalkan lukisan sang ibu di dinding itu, tiba-tiba didengarnya suara pintu luar didorong disusul dengan suara tindakan orang, ia terkejut, lekas ia bersembunyi di belakang almari buku tadi.

Tak lama, masuklah dua orang laki-laki.

Terkejut sekali Boh Wan-lian setelah mengenali orang-orang itu dari belakang almari.

Kiranya kedua orang itu seorang dikenalnya ialah Kaisar Khong-hi, dan yang lain kelihatan tulang pilingannya menonjol tinggi, matanya dekuk, sebaliknya biji matanya melotot kekuning-kuningan, terang sekali seorang jago Lwekeh yang hebat.

Tentunya ia ini adalah pengawal pribadi Kaisar Khonghi.

Wan-lian coba menenangkan diri, ia menyiapkan pedang pusaka hadiah dari Nilan Yong-yo.

Sementara pengawal itu telah membersihkan debu meja kursi, lalu Khong-hi duduk di atas sebuah kursi goyang di samping meja baca dan menghadap dinding yang terdapat lukisan tadi.

Maharaja ini tertawa dingin ketika nampak lukisan itu.

Tapi setelah melihat dan meneliti lagi, tiba-tiba ia heran.

"Aneh, kamar ini sudah ditutup hampir 20 tahun, mengapa lukisan ini masih begini bersih?"

Demikian katanya. Segera pengawal itu memandang sekeliling kamar itu. Dengan menahan napas Boh Wan-lian mengkerut di tempat persembunyiannya.

"Hongsiang,"

Kata pengawal itu kemudian.

"Hamba kuatir kamar ini pernah dimasuki orang."

"Siapa berani?"

Ujar Khong-hi tertawa.

"Sejak budak hinadina itu mati dihajar Thayhou (ibu-suri), lalu ayah baginda memantek pintu kamar ini untuk melarang orang lain memasukinya sampai sekarang ini. Sekalipun kedatanganku inipun aku harus minta perkenan Thayhou dahulu."

Habis itu, kembali ia tertawa dingin dan menjengeki lukisan itu dan lanjutnya.

"Sesungguhnya ayah Baginda juga agak terlalu sayang padanya. Menurut cerita Thayhou, ketika kamar ini dipantek, seluruh isinya tiada satupun boleh dipindah, bendabenda berharga tak satu pun boleh dikeluarkan."

Mendengar itu, diam-diam Wan-lian makin berduka dan pilu.

"Apa ada sesuatu yang hendak Hongsiang ambil dari sini?"

Terdengar pengawal tadi bertanya.

"Aku tak ingin barang-barang berharga ini ada di dalam sini,"

Sahut Khong-hi.

"Kedatanganku ini pertama-tama hanya ingin tahu apa ada benda peninggalan ayah Baginda atau tidak. Kecuali itu hanya ingin melihat almari buku yang katanya terbuat dari kayu wangi, pula coba mencari bila terdapat kitab-kitab kuno yang susah didapat."

Kiranya Kaisar Khong-hi yang terkenal kejam mempunyai hobi membaca.

Setelah menganiaya hingga ayah Bagindanya tewas (si Hwesio tua di Ngo-tai-san), karena ciri inilah sebenarnya ia tak berani masuk ke kamar bekas Tang Siaowan ini.

Tapi belakangan ia mendengar dari Thaykam tua bahwa di dalam kamar masih banyak tersimpan kitab-kitab kuno dengan almari bukunya yang berharga, ia menjadi tertarik.

Dan beberapa hari ini ia justru sedang kesal hati karena terbunuhnya To Tok, maka iseng-iseng ia hendak mencari beberapa kitab berharga untuk melewatkan tempo senggang.

Tapi di samping itu, ia pun kuatir mendiang ayah Bagindanya meninggalkan testamen atau surat wasiat dalam kamar itu, maka ia berharap bisa menemukannya.

Maka cepat ia membuka laci-laci meja dan almari serta mengobrak-abrik isinya, namun tiada sesuatu yang diperolehnya.

"Kata orang almari buku ini sangat bagus, coba aku mau tahu betul tidak kebenarannya,"

Kata Khong-hi kemudian sembari bangkit.

"Bila ia mendekat ke sini, segera akan kupersen dia sekal i tusukan,"

Diam-diam Wan-lian membatin di belakang almari buku.

Tapi baru saja Khong-hi berdiri, tiba-tiba dilihatnya lukisan Tang Siao-wan yang tergantung di dinding itu seakan-akan tersenyum mengejek dan matanya mengerling hina padanya.

Seketika ia rada mengkirik dan tak jadi melangkah maju.

"Tanggalkan lukisan itu dan sobek saja,"

Perintahnya pada sang pengawal itu.

Hati Wan-lian menjadi panas, tak nanti ia antapi lukisan ibundanya dirusak orang.

Ketika tangan pengawal itu hampir menyentuh lukisan itu, cepat sekali mendadak Wan-lian melompat keluar dari tempat persembunyiannya sambil menggertak keras dan pedang terus menusuk.

Namun jago pengawal itupun tidak lemah, ketika didengarnya angin tajam menyambar dari belakang, segera ia bergeser ke samping berbareng menyambar sebuah kursi terus menangkis ke belakang.

Maka terdengarlah suara "kraak,"

Empat kaki kursi itu terkuning semua oleh pedang Boh Wan-lian.

Mendadak kursi buntung itu ditimpukkan ke depan oleh pengawal itu sembari membentak.

Tentu saja pedang Wanlian membuat kursi buntung itu terbelah menjadi dua, dengan membalikkan pedangnya segera ia menusuk sekalian.

Karena itu lekas pengawal itu mengkeret mundur, tapi karena sedikit lambat pergelangan tangannya sudah berkenalan dengan ujung pedang Boh Wan-lian.

Keruan saja bayangkara itu menjadi gusar, Wan-lian ditubruknya dengan nekad terus dihantam kedua belah pilingannya.

Karena serangan hebat ini, mendadak Wan-lian melompat ke samping, secepat kilat tahu-tahu Khong-hi yang diincar.

Tentu saja Khong-hi menjerit kaget terus merebahkan diri ke lantai dan menyelusup ke bawah meja.

Dalam pada itu pengawal tadipun amat terperanjat, ketika mendadak dilihatnya Wan-lian melompat ke samping, segera ia tahu gelagat jelek, maka cepat ia memburu maju dan waktu mendengar Khong-hi menjerit, ia sangka maharaja itu sudah terluka.

Dalam kuatirnya, jiwa sendiri tak terpikir lagi olehnya, ia pentang kedua tangannya terus menubruk maju.

Namun sekali mengegos Wan-lian telah menyingkir ke samping.

Karena menguatirkan keselamatan junjungannya, maka pengawal itu sebelah tangannya melindungi Khong-hi dan tangan yang lain membalik menjambret musuh.

Tak ia duga jambretannya mengenai tempat kosong, sebaliknya lantas terasa sakit tidak kepalang, tahu-tahu tangannya sudah tertabas kutung oleh senjata Boh Wan-lian.

Sebenarnya jago pengawal itu tidak nanti kalah tangguh daripada Wan-lian, cuma gadis ini memakai pedang pusaka, pula ia harus menjaga keselamatan Kaisar.

Kini setelah tangannya terkutung, ia menjadi lebih payah.

Namun pengawal ini tidak menyerah mentah-mentah, ia menjadi kalap dan menyerang se-abutan.

Tapi dengan kesehatan luar biasa, sejurus kemudian Wan-lian telah berhasil menambahi sekali tikaman lagi di atas punggung pengawal itu hingga menembus dada.

Pelahan-lahan Wan-lian membersihkan pedangnya, lalu lukisan sang ibu ia gulung dengan hati-hati dan penuh rasa sayang.

"Keluar!"

Bentaknya kemudian pada Khong-hi yang masih meringkuk di kolong meja.

Maharaja itu gemetar ketakutan ketika melihat pengawalnya terbunuh, ia pikir hari ini jiwanya pasti akan melayang juga.

Dan karena pikiran ini ia menjadi lebih tenang daripada tadi, pelahan ia pun merangkak keluar.

"Berani kau menganiaya Kaisar?"

Demikian ia masih coba menggertak.

"Hm,"

Jengek Wan-lian sembari pedangnya berkelebat di muka Khong-hi.

"Membunuhmu sama saja menyembelih babi, apa susahnya?"

"Tapi kau pun jangan harap bisa keluar istana dengan selamat,"

Khong-hi masih menggertak. Tiba-tiba hati Wan-lian tergerak, teringat olehnya Ie Lan-cu yang masih meringkuk dalam penjara itu.

"Kau masih ingin hidup tidak?"

Gertaknya dengan pedang mengancam.

"Mau apa kau?"

Sahut Khong-hi.

"Harus kaubebaskan dulu 'penyamun wanita' itu, lalu aku dihantar keluar istana,"

Kata Wan-lian dengan syaratsyaratnya.

Diam-diam Khong-hi geli oleh permintaan si gadis.

Pikirnya, penjahat wanita ini benar-benar masih hijau, kalau aku menerima syaratmu, apakah kau bisa mengawasiku sungguhsungguh membebaskan gadis pembunuh itu?

Pula bila aku sudah terlepas dari genggamanmu, segera jago-jago pengawalku akan segera membereskanmu.

Namun demikian ia pura-pura berpikir sejenak.

"Baiklah, sebagai Kaisar tak nanti berdusta,"

Demikian katanya kemudian.

"Segera aku perintahkan orang membebaskan dia."

"Hm, aku tahu musiihat apa yang sedang kaupikir,"

Ujar Wan-lian menjengek.

"Tapi kalau aku mati dalam istana sini, tentu si Hwesio tua dari Jing-liang-si itu akan membacakan kitab suci untukku."

"Hwesio tua apa katamu?"

Bentak Khong-hi mendadak dan mukanya berubah hebat.

"O, ya, Hwesio tua apa ya?"

Sahut Wan-lian mengolok-olok.

"Ya, aku benar-benar sudah pikun, Hwesio tua itu siang-siang sudah mati, sudah tak bisa lagi membacakan kitab suci untukku."

Habis itu dari bajunya ia keluarkan serenceng mutiara, ia mengebas mutiara itu hingga bersinar mengkilap, lalu katanya lagi.

"Mutiara ini adalah milik bekas penghuni kamar ini. Hwesio tua itu masih terhitung baik hati, sebelum ajalnya ia telah menyerahkan kembali padaku. Ai, sungguh kematiannya itu sangat mengenaskan!"

Seperti diketahui di permulaan cerita ini, ketika malammalam Boh Wan-lian menyelidiki Ngo-tai-san, dimana tanpa sengaja ia menemukan Kaisar Sun-ti yang sudah menjadi Hwesio.

Dengan sebelah tangan menggandeng dirinya dan tangan lain menggandeng Khong-hi, Kaisar Sun-ti mengajak mereka berziarah ke makam sandang-kudung Tang Siao-wan.

Dan serenceng mutiara ini adalah pemberian Sun-ti tatkala itu.

Dalam pada itu barulah Khong-hi tahu dengan siapa ia berhadapan sekarang, keruan ia mati kutu.

"Kematian pengawal ini sungguh tak berharga, jauh sekali bila dibanding Giam Tiong-thian,"

Tiba-tiba Wan-lian berkata pula sambil menunjuk mayat jago pengawal tadi. Muka Khong-hi semakin pucat dan tubuh agak gemetar.

"Jika sedikit saja kau mencelakai aku, segera kubeberkan kejadian-kejadian itu dalam kerajaan sini,"

Ancam Wan-lian tertawa. Khong-hi menjadi semakin takut, memangnya ia sangat kuatir rahasianya diketahui orang-orang dalam kerajaan.

"Sudahlah, aku terima syaratmu dan akan kuantar kau keluar istana, kenapa kau masih tak percaya?"

Katanya kemudian, ia benar-benar tak berkutik.

"Lekas tulis kalau begitu,"

Perintah Wan-lian dengan sorot mata tajam.

"Lekas tulis surat perintah pembebasan si gadis pembunuh To Tok itu."

Terpaksa Khong-hi menggosok bak dan angkat mopit serta mulai menulis.

Tapi dalam hati ia pun terus memikirkan dayaupaya untuk bisa lolos dari cengkeraman orang.

Tiba-tiba terdengar di luar ada suara tindakan orang ramai mendatangi.

"Apakah Hongsiang berada di dalam?"

Terdengar segera seorang berteriak di luar kamar. Nyata itulah suara Coh Ciau-lam.

"Ya, aku di sini,"

Sahut Khong-hi cepat.

"Larang dia masuk!"

Bentak Wan-lian tertahan sembari pedangnya mengancam tenggorokan Khong-hi. Dalam pada itu suara tindakan Ciau-lam sudah sampai di depan pintu.

"Tunggu saja di luar, sebentar segera aku keluar!"

Seru Khong-hi terpaksa.

"Ok-onghui mohon menghadap Sri Baginda, ia menunggu di luar sana,"

Lapor Ciau-lam. Tiba-tiba Khong-hi meremas surat yang belum selesai ditulisnya itu terus dibuang ke lantai.

"Apa yang hendak kaulakukan?"

Bentak Wan-lian tertahan.

"Pikiranku tak bisa bekerja lagi,"

Sahut Khong-hi. Dan ketika Wan-lian hendak mengancam orang pula, tibatiba didengarnya seorang Thaykam melapor lagi di luar.

"Paduka yang Mulia, Thayhou (ibu-suri) datang."

"Nah, bila Thayhou datang, tak mungkin aku bisa melarangnya masuk ke sini,"

Kata Khong-hi dengan senyum getir. Wan-lian mengkerut kening, tapi segera ia pun mendapatkan akal, ia masukkan pedangnya sembari menggusur Khong-hi.

"Keluar!"

Bentaknya tertahan.

Ketika Khong-hi membuka pintu dan melangkah keluar, Coh Ciau-lam melihat di belakang sang maharaja ini mengikut seorang Kiongli (dayang) yang paras mukanya seperti sudah dikenalnya.

Namun ia tak berani mengamati lebih lama.

Sementara itu, begitu melangkah keluar, dengan cepat Boh Wan-lian merapatkan pintu kamar lagi, dan segera ia pun berbisik mengancam Khong-hi.

"Ingat si Hwesio tua itu!"

"Ada apa kalian datang ke sini? Ayo, semua ikut aku keluar!"

Khong-hi mengomel sembari memberi tanda pada Coh Ciau-lam dan bawahan lainnya.

Habis itu ia pun berjalan keluar dengan cepat diikuti Boh Wan-lian.

Dalam pada itu Coh Ciau-lam telah dapat mengenali siapa adanya Wan-lian, keruan ia amat terkejut.

Setelah keluar dari rumah itu, betul saja Thayhou sudah sampai juga di depan rumah bobrok ini.

"Kerja apa kau di sini?"

Tegurnya segera pada Khong-hi.

"Ananda coba mencari sedikit kitab-kitab kuno,"

Sahut Khong-hi.

"Itukah yang diambil dari dalam sana?"

Tanya Thayhou pula ketika dilihatnya Wan-lian membawa segulungan lukisan.

Khong-hi mengangguk.

Tapi sebelum Thayhou memberi perintah hendak melihat lukisan itu.

Tiba-tiba Ok-onghui telah datang juga hendak menghadap Khong-hi.

"Ia sudah tak sabar menunggu,"

Kata Thayhou tersenyum.

"Ia bilang sakitnya sudah baikan, maka ia bermaksud mendatangi penjara buat memeriksa pembunuh itu!"

"Baiklah, boleh dia ke sana,"

Kata Khong-hi. Segera Okonghui menghaturkan terima kasih atas firman itu.

"Aku hendak keluar bersama Ok-onghui,"

Tiba-tiba Wan-lian berbisik di telinga Khong-hi.

Nyata gadis ini berpikir akan lebih aman bila ikut pergi bersama Ok-onghui, ia kuatir akan timbul kesukaran lagi bila tinggal lebih lama dalam istana, mungkin malah akan membuat susah juga pada Nilan Yong-yo dan Sam-kiongcu.

"Sungguh aku ikut berduka atas tewasnya Ok-jin-ong secara menyedihkan itu,"

Demikian lantas Khong-hi berkata lagi.

"Di sini ada seorang Kiongli yang cerdik lagi pandai, biarlah aku hadiahkan kepada Onghui sebagai pelipur duka."

Tanpa menunggu perintah, segera Wan-lian maju menjura ke hadapan Ok-onghui dengan penuh sopan dan hormat.

Lekas Onghui menghaturkan terima kasih pula pada Sri Baginda, kemudian ia menarik bangun Wan-lian.

Dalam hati ia pun heran, mengapa mendadak hari ini Sri Baginda bisa menghadiahi seorang Kiongli padaku?

Sebenarnya Kaisar menghadiahi dayang pada kaum Pangeran dan Permaisurinya adalah hal biasa dalam kerajaan, cuma biasanya dihantar secara penuh kehormatan dan diiringi Thaykam dengan kereta agung ke kediaman Pangeran yang bersangkutan.

Kini meski agak luar biasa dan mengherankan, namun Onghui menganggap juga tidak terlalu aneh.

"He, kenapa Sam-moaymoay (adik ketiga) juga datang,"

Kata Khong-hi tiba-tiba sambil menunjuk ke depan.

Betul saja, baru beberapa langkah Wan-lian mengikut Onghui berjalan pergi, tertampak Sam-kiongcu mendatangi dari depan.

Lekas Wan-lian mengedipi memberi tanda padanya.

"Pagi-pagi Onghui sudah masuk istana?"

Terdengar Samkiongcu menyapa Ok-onghui sembari melirik Wan-lian. Onghui mengangguk pelahan.

"Apakah Sam-kiongcu mengenal dia?"

Tanyanya kemudian sambil menunjuk Wanlian.

"Hongsiang bilang dia cerdik dan pandai, tentu selanjurnya aku bakal punya teman baik."

"O, jadi Hongsiang telah menghadiahkan dia padamu?"

Tanya Sam-kiongcu terus menarik tangan Wan-lian,dan purapura menggoda.

"Marilah coba aku melihatnya. Wah, sungguh cantik! Siapa namamu? Mengapa tadinya tak pernah aku melihatmu?"

Begitulah puteri itu pura-pura mengajak bicara, tapi diamdiam sesuatu benda telah berpindah dari tangannya ke tangan Wan-lian dengan cepat.

Wan-lian cukup cerdik, ia pura-pura me-ngebas sedikit lengan bajunya dan benda itu sudah masuk ke dalam bajunya.

Di sebelah sana Thayhou rupanya tak sabar menunggu, ia memanggil Sam-kiongcu.

"Bila ada yang belum paham, tanyalah pada Ok-onghui,"

Demikian Sam-kiongcu masih berpesan dengan senyuman manis.

Wan-lian dapat menangkap maksud kata-kata orang paling akhir ini.

Ia mengikuti Onghui naik ke atas kereta kebesarannya dan secara gampang ia telah keluar dari daerah terlarang itu.

Duduk berendeng dengan Ok-onghui dalam kereta, Wanlian bisa melihat wajah orang lebih jelas, ia merasa paras Onghui tidak saja serupa dengan Ie Lan-cu, bahkan lagaklagunya di waktu bicarapun amat mirip.

Lebih-lebih bila teringat olehnya peristiwa di Ngo-tai-san dahulu, dimana le Lan-cu bermaksud membunuh To Tok, tapi kemudian malah menangkis piau yang mengarah ke dalam joli Onghui.

Maka ia pun makin mengerti ada hubungan apa di antara mereka itu.

Nampak Wan-lian memandang dirinya dengan terkesima tanpa merasa takut seperti Kiongli biasanya, mau tak mau Okonghui menjadi heran juga.

"Berapa lama sudah kau masuk istana? Di bagian mana kau ditugaskan Hongsiang?"

Tanyanya sesudah berada dalam kamar di istananya sendiri.

"Dua hari saja belum ada aku masuk istana,"

Sahut Wanlian tertawa.

"Ah, kau memang bukan Kiongli?"

Tanya Onghui kaget. Wan-lian mengangguk.

"Bila begitu, untuk apa kau masuk istana?"

Tanya Onghui pula.

"Sama tujuannya denganmu,"

Sahut Wan-lian singkat. Berubah hebat wajah Onghui seketika.

"Untuk menolong seseorang,"

Sambung Wan-lian pula.

"Si siapa kau sebenarnya?"

Bentak Onghui tak lancer dan mata melotot gusar.

"Aku adalah kawan Ie Lan-cu,"

Sahut si gadis tawar sembari maju mendekat.

"la ia telah memberi memberi tahu segalanya padamu?"

Tanya Onghui cepat dengan terputus-putus dan wajah pucat lesu. Wan-lian mengelak menjawab pertanyaan orang.

"Onghui, apa betul kau akan membunuhnya untuk membalas dendam kematian suamimu itu?"

Ia berbal ik bertanya. Remuk rendam hati Onghui.

"Janganlah kau terlalu mendesakku!"

Serunya sambil mendekap muka.

"Maafkan bila aku salah omong, Onghui,"

Kata Wan-lian pula.

"Ia dipenjarakan, tentu kau lebih kuatir daripada kami dan lebih giat berusaha menolongnya, bukan?"

"Tapi apa yang aku bisa perbuat?"

Tangis Onghui terisak.

Wan-lian mengeluarkan benda yang diterimanya dari Samkiongcu tadi, waktu bungkusan kain dibuka, ia lihat isinya berupa dua tangkup buah-buahan yang berwarna kemerahan terbuat dari batu giok bening, di atas benda itu berukir naga yang indah sekali, ia tak mengerti apakah benda ini.

Tapi mata Onghui tiba-tiba terbeliak bersinar demi nampak benda itu.

"Apakah benda ini pemberian Hongsiang?"

Tanyanya cepat. Wan-lian menggeleng.

"Aku sangka inilah maksud Hongsiang, tak tahunya kau dapat mencurinya,"

Kata Onghui agak kecewa.

"Jangan kau urus dulu darimana aku mendapatkan benda ini, tapi sukalah kau lekas menerangkan padaku benda apakah ini?"

Kata Wan-lian kemudian.

Benda itu diambil Onghui, ia periksa sekitar benda yang berbentuk buah ini, ia tekan pinggirannya, tiba-tiba benda itu terbelah menjadi dua, di dalamnya ternyata ada biji buahnya dan ketika Onghui mengetok ujung biji buah pada secarik kertas, maka tampak timbul huruf cetak yang tak dikenal Wan-lian, nyata itu huruf Boan.

Dan ketika Onghui melepaskan jarinya yang menekan buah itu, segera kedua belah buah tadi menjeplak rapat kembali.

"Ya, memang tulen,"

Kata Onghui kemudian.

"Cuma percuma saja meski bisa mendapatkan benda ini. Benda ini disebut "Cu-ko-kim-hu' (jimat pusaka berbentuk buah merah) dan adalah pusaka pujaan kerajaan, biasanya hanya dipakai bila Kaisar memberi perintah rahasia, lalu benda ini digunakan sebagai bukti tugas kepada salah seorang pembesar atau jago pengawal kepercayaannya."

Baca Juga: Elang Terbang Di Dataran Luas 2

Baca Juga: Hong Lui Bun 11

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger