Tiga Dara Pendekar 16

Eps 16 Tiga Dara Pendekar - Liang Ie Shen

Baca online Tiga Dara Pendekar - Liang Ie Shen

Cersil Tiga Dara Pendekar - Liang Ie Shen.

"Tinggal di istana tidak susah, cuma di sini mungkin tak bisa lama kau tinggal,"

Kata seorang lagi.

Habis itu dengan sekali depak, orang itu membikin jebol pintu kelenteng yang memangnya sudah rusak itu, dan waktu mendadak mengetahui di dalam ada orang, pembicaraan mereka seketika berhenti.

Waktu Hiau-lan, Pang Ing dan Tong Kim-hong dan lain-lain memandang keluar, mereka lihat yang masuk adalah dua orang laki-laki dengan pakaian biru seragam, golok menyelip di pinggang mereka dan berdandan sebagai jago silat, di samping mereka membawa seorang anak kecil yang berumur antara empat lima tahun dengan pakaian perlente, wajah bocah ini putih bersih dan cakap, rupanya sangat menarik.

Hanya mulutnya terkancing rapat, seperti orang yang mengalami hal-hal yang penasaran.

"Siapa kalian?"

Datang-datang kedua lelaki baju biru ini lantas membentak.

"Tamu yang lewat di perjalanan sini,"

Sahut Teng Hiau-lan. Akan tetapi Tong Kim-hong tidak sama dengan Hiau-lan, ia menjawab dengan dingin.

"Kelenteng bobrok di pegunungan sunyi, siapa saja boleh mempergunakannya buat tempat tinggal, kau boleh tinggal dan kami juga boleh tinggal, kau peduli apa padaku?!"

Ketika kedua Bu-su atau jago silat ini melototi dia, Tong Kim-hong membalas dengan tertawa dingin yang angkuh dan balas mendelik matanya.

Melihat Tong Kim-hong meski sudah tua, tapi mukanya masih merah dan semangatnya kuat, kedua matanya pun bersinar tajam, terang sekali Lwekangnya terlatih dalam sekali, karena im, kedua Bu-su ini hanya saling pandang sekejap, habis itu mereka mengomel perlahan, tetapi tak berani menerbitkan onar.

Karena ribui-ribut ini, 'orang sakit' tadi telah menguap sambil mengangkat setengah tubuhnya, ia tongolkan kepala memandang sekejap kedua Bu-su yang baru datang ini, lalu rebah kembali.

"Beri tempat sedikit, Loya (tuan besar) hendak duduk dekat api juga!"

Kata Bu-su baju biru yang di depan itu, ia mendesak agar 'orang sakit' im minggir ke sana.

"Ini adalah api yang dia nyalakan!"

Kata Hiau-lan, ia mendongkol melihat lagak orang.

"Peduli apa kau ikut campur!"

Sahut Bu-su tadi.

Lalu ia mengulur tangannya bermaksud mendorong 'orang sakit' im, akan tetapi sebelum menyenggol tubuh orang, sekonyong-konyong ia jatuh terjungkal, bahkan hampir jatuh ke atas gundukan api.

"Kurangajar, barang apakah yang telah menyandung kakiku?"

Dengan gusar Bu-su itu mencaci-maki. Melihat orang jatuh dengan lucu, Tong Say-hoa tertawa ngikik geli.

"Kalau suka sewenang-wenang pasti dapat hukuman yang setimpal, ini namanya pembalasan, Tuhan Allah memang adil,"

Demikian Tong Kim-hong menyindir. Bu-su itu menjadi gusar, segera ia pegang goloknya.

"Hm, aku omong sendiri, toh bukan bilang kau, apa kau ingin main kekerasan? Hayo, meski tua masih sanggup juga aku melayani kau!"

Kembali Tong Kim-hong mengejek.

Di lain pihak Teng Hiau-lan dan Pang Ing ikut berdiri juga.

Melihat Tong Kim-hong dan putrinya membawa kantong senjata semua, pinggang Teng Hiau-lan juga ada pedang, mau tak mau kedua Bu-su itu rada mengkeret.

"Keempat orang ini adalah ahli semua, tampaknya tidak gampang dihina."

"Ya, sesama orang dalam perjalanan harus berlaku murah hati, buat apa marah karena urusan kecil?"

Kata salah seorang Bu-su itu.

Lalu mereka menggelar selembar selimut di dekat gundukan api unggun itu, mereka tiduran bersama anak kecil tadi.

Ketika menyaksikan Tong Kim-hong dan putrinya dengan berani menyindir dan adu mulut dengan kedua Bu-su, rupanya bocah itu sangat senang, sesudah merebah sebentar, mendadak ia melompat bangun, seperti kera saja ia melompat ke dekat Tong Say-hoa dan mengajak bicara padanya.

"Kau juga bisa pakai gendewa, bibi?"

Ia bertanya dengan menunjuk gendewa yang dipegang Tong Say-hoa.

"Dua bulan yang lalu baru saja mereka mengajarkan padaku, tetapi belakangan mereka tidak mau mengajarkan lagi. Maukah kau ajarkan padaku Bibi?"

"Tidak boleh cerewet, lekas kembali sini dan tidur!"

Mendadak kedua Bu-su membentak berbareng..Ternyata Tong Say-hoa sangat suka pada anak ini, ia lantas membelanya.

"Lumrahnya anak kecil suka bicara, toh tidak merugikan sesuatu padamu, kenapa begitu bengis?"

Dampratnya pada mereka.

"Aku urus anak ini, peduli apa dengan kau?"

Sahut Bu-su itu.

"Hm, hayo, tidak lekas kau kembali?"

Bentaknya lagi pada bocah tadi.

"Eh, anak baik, coba beritahu pada Kongkong, pernah apakah kedua orang itu dengan kau?"

Tiba-tiba Tong Kim-hong bertanya pada anak kecil itu. Dalam pada itu kedua Bu-su itu mendeliki mata mereka pada anak itu dengan bengis, karena itu, baru saja si bocah buka mulut mengatakan.

"Mereka ... mereka lantas tak berani meneruskan lagi.

"Baiklah, kau kembali ke sana saja!"

Ujar Tong Kim-hong kemudian dengan menghela napas. Tetapi Tong Say-hoa masih memegang tangan anak itu, ia merasa sayang untuk melepaskannya.

"Sudahlah, biarkan dia kembali ke sana, jangan* sampai dia nanti didamprat orang,"

Ujar Tong Kim-hong pada putrinya.

Tadinya anak itu masih lincah, tetapi kini menjadi lesu dan tak bersemangat, dengan kepala menunduk ia kembali ke samping kedua Bu-su.

Nampak sikap anak dan kedua orang itu, diam-diam Tong Kim-hong merasa heran, pikirnya dalam hati.

"Terang sekali kedua Bu-su ini bukan orang tua anak ini. Kalau melihat dandanan anak ini yang perlente, malah lebih mirip keturunan keluarga bangsawan, jangan-jangan kedua Bu-su ini adalah jago pengawal atau penjaga rumahnya dan mereka hendak mengantar anak ini kepada ayahnya? Namun demikian, kenapa anak ini seperti sangat takut terhadap mereka, juga kedua orang ini tidak seharusnya begitu bengis terhadap anak ini."

Sungguhpun Tong Kim-hong sudah berpengalaman, namun ia tidak habis mengerti hubungan apa di antara mereka itu.

Pantas juga Tong Kim-hong tak dapat menerka siapa mereka itu, sebab anak ini adalah putra Lian Keng-hiau, namanya Lian Siu, Siu berarti umur panjang, karena Keng-hiau kuatir anaknya tak bisa hidup lama, maka sengaja memberi nama istimewa sebagai kiasan.

Ketika Keng-hiau memasrahkan putranya pada Can Ceng, ia telah mengirim dua jago kepercayaannya untuk mengawasi dan melindunginya, tujuannya ialah menjaga bila suatu ketika kedudukannya terancam, mungkin orang Kangouw akan mencelakai anaknya, tak terduga yang hendak mencelakai anaknya bukan orang kalangan Kangouw, sebaliknya justru kedua jago kepercayaannya sendiri.

Lian Siu memang telah dipelihara oleh Can Ceng, tetapi sesudah Can Ceng didamprat habis-habisan oleh Lu Si-nio, hati nuraninya merasa berdosa, karena siksaan .batin ini, setiba di rumah ia lantas jatuh sakit.

Kemudian setelah mendengar kabar dipecatnya Lian Keng-hiau, kedua jago pengawal im timbul hati jahatnya, mereka pikir kenapa tidak membawa anak ini ke kotaraja untuk minta hadiah, tapi kuatir Can Ceng tidak menurut, mereka lantas main gertak dan menakut-nakuti, Can Ceng memang bernyali kecil, ditambah pula sakit-sakitan, setelah digertak, akhirnya ia mati ketakutan.

Demikianlah kedua Bu-su itu lantas membawa anak Lian Keng-hiau menuju ke kotaraja.

Akan tetapi mereka keder terhadap para gembong kalangan Lok-lim, lebih takut pula mereka pada jago bayangkara istana yang mungkin bisa mencegat mereka di tengah jalan untuk merebut anak Keng-hiau, jika terjadi demikian mungkin mereka malah akan dihukum sebagai komplotan Lian Keng-hiau.

Oleh sebab itulah dengan hati-hati mereka selalu memilih jalan kecil, mereka mengharap sesudah tiba di kotaraja, lalu secara rahasia melaporkan hasil ini.

Tidak terduga waktu bermalam di kelenteng tua ini telah bertemu Tong Kim-hong dan putrinya.

Tong Say-hoa masih muda sudah ditinggal sang suami tanpa memperoleh seorang anak pun, maka demi nampak Lian Siu ini rupanya ada jodoh, ia sangat suka padanya.

Karena itu, sehabis anak itu dibentak kembali ke dekat Bu-su tadi, segera ia kisiki ayahnya, ia mengadu agar ayahnya merebut bocah itu.

Alasan yang dipakai gampang saja, dia bilang anak ini jelas bukan sanak-kadang kedua Bu-su itu, maka jangan sampai bocah ini disiksa mereka.

Akhirnya Tong Kim-hong tergerak juga oleh hasutan putrinya, segera ia mencari jalan untuk bikin geger dengan kedua Bu-su itu.

Dalam pada itu, tidak lama Lian Siu tidur, tiba-tiba ia terjaga dan menangis dalam mimpinya.

"Jangan pukul aku, jangan pukul aku!"

Demikian ia berteriak. Bu-su yang tidur sejajar dengan Lian Siu kontan memberi sekali gablokan ke bokongnya.

"Monyet, tidur saja tak genah, siapa yang memukul kau!"

Bentaknya sambil mencaci-maki. Melihat ada kesempatan baik, segera Tong Kim-hong melompat bangun.

"Hm, manusia tak punya muka, beraninya sama anak kecil,"

Demikian segera ia mendamprat orang.

"Kau masih tanya siapa yang memukul dia, bukankah kau sendiri yang memukulnya?"

Karena tantangan yang dicari-cari ini, Bu-su itu menjadi gusar juga.

"Bagus, karena kau lebih tua, maka selalu aku mengalah padamu, kini berbalik kau ikut campur urusan Locu (bapakmu) ini?"

Segera ia balas memaki.

"Hm, memang aku paling suka ikut campur urusan orang lain, kau mau apa?"

Sahut Tong Kim-hong dengan tertawa dingin.

"Sini, nak, Kongkong sayang padamu!"

Ia memanggil Lian Siu.

Keruan Bu-su tadi menjadi murka, tiba-tiba ia mengulur sebelah tangannya terus menyodok, tetapi sejak awal Tong Kim-hong sudah bersiap, begitu tangan orang bergerak, segera ia mendahului mengibas lengan bajunya hingga kena menyabet muka Bu-su itu.

Saking sakit pedas mukanya, Bu-su itu sampai berjingkrak.

"Tua bangka, berani mati kau? Rasakan golokku ini!"

Teriaknya sengit.

Berbareng goloknya dia cabut terus membacok ke atas kepala lawan.

Namun susul-menyusul kedua telapak tangan Tong Kim-hong sudah dipukulkan, ia paksa kedua Bu-su itu mundur menyingkir.

Dan selagi ia hendak merangsek maju buat merampas anak itu, mendadak di luar kelenteng terdengar suara anak panah berseliweran riuh-ramai, menyusul di udara berkelebat beberapa sinar api biru.

Karena kejadian ini, Tong Kim-hong dan kedua Bu-su lantas berhenti bergebrak.

Sesudah bunyi anak panah tadi, lantas terdengar suara orang yang gaduh.

"Celaka, kita telah terkepung oleh kawanan berandal!"

Teriak Bu-su tadi, rupanya ia menjadi jeri.

"Betul inilah tempatnya!"

Tiba-tiba terdengar suara teriakan orang di luar.

Lalu terdengar pula suara gedubrakan yang keras, seketika pintu kelenteng im didobrak terpentang, maka tertampaklah di luar sudah penuh berdiri manusia.

Teng Hiau-lan dan Pang Ing menjadi kaget, sebab mereka kenal orang yang memimpin gerombolan di luar im bukan lain adalah jago nomor satu dalam istana dan jago nomor dua dari Lamma agama Merah dari Tibet, Emopu.

Sebaliknya ketika kedua Bu-su mengetahui rombongan orang di luar itu adalah petugas kerajaan, mereka menjadi girang.

"Hai, kita orang sendiri!"

Demikian mereka lantas berteriak.

"Apa, orang sendiri? Laporkan namamu!"

Bentak Emopu.

Sementara im di antara bawahan Emopu rupanya ada yang kenal kedua Bk\-su itu adalah pengikut Lian Keng-hiau, maka mereka lantas berbisik pada Emopu.

Karena itu tampak mata Emopu mendelik memandang keadaan ruangan kelenteng itu, tiba-tiba ia tertawa dingin pula.

"Bagus, apa kalian hendak berontak, kalian telah bersekongkol dengan kawanan buronan ini, apa kalian ingin membalas dendam bekas majikanmu?"

Demikian ia bertanya. Didakwa hendak berontak, kedua Bu-su itu menjadi gugup.

"Tidak, tidak!"

Jawab mereka terputus-putus.

"Kami membawa anak Lian belum sempat ia menyambung dengan kata-kata "

Keng-hiau " , mendadak mereka sudah dicengkeram oleh Emopu seperti anak ayam saja terus dilemparkan kepada begundalnya untuk diringkus.

Bocah tadi menjadi takut dan menangis, segera Tong Kim-hong menariknya ke samping dan dirangkulnya.

Sementara itu dengan sekali lompat Emopu sudah menerobos masuk ke dalam kelenteng.

"Kau tua bangka ini siapa?"

Ia membentak. Tong Kim-hong tidak menjawab melainkan lebih dulu ia baliki kantong senjata yang bergambar sulaman singa sebagai tanda keluarga Tong mereka.

"Nampaknya tidak biasa juga kepandaianmu, apa tanda penge-nalku ini saja tak kau ketahui?"

Sahutnya kemudian.

Kiranya Tong Kim-hong anggap menantunya dahulu adalah petugas pemerintah, ia sendiri mempunyai kedudukan tinggi di kalangan pembesar negeri.

Tak ia duga Emopu ini datang dari Tibet, nama keluarga Tong saja tidak dia kenal.

Oleh sebab itulah, demi mendengar kata-kata Tong Kim-hong yang congkak tadi, Emopu menjengek sekali, berbareng sebelah tangannya lantas menjambret, ia serang Tong Kim-hong dengan tipu yang lihai.

Waktu itu tangan kiri Tong Kim-hong menggendong anak kecil itu, maka dengan tangan kanan ia menangkis, terdengarlah suara beradunya tangan, Tong Kim-hong terhuyung-huyung hendak jatuh, dalam pada itu sedikit memutar tangan, dengan tipu 'Wan-kiong-sia-tiau' (menarik busur memanah burung), tangan kiri Emopu mengarah tenggorokan orang lagi, sedang tangan kanan terus mengetok batok kepala Tong Kim-hong pula.

Kedua gerak tipu serangan yang mematikan ini adalah tipu paling lihai dari Lamma Merah, kepandaian Tong Kim-hong memang lebih rendah dari Emopu, ditambah pula sebelah tangannya menggendong anak kecil, ia mundur setindak buat menghindarkan ancaman serangan musuh yang hendak meremas tenggorokannya, tetapi sebaliknya batok kepalanya menjadi terbuka bagi musuh, tampaknya segera kepalanya akan bolong oleh jari Emopu!

Nampak ayahnya terancam bahaya, dengan sekali teriak Tong Say-hoa lantas menubruk maju, akan tetapi tiba-tiba terdengar suara mendesirnya angin keras, dua bayangan orang sudah menyerobot lewat di samping lebih dulu, belum sampai ia melihat jelas sudah terdengar suara "ngek"

Emopu yang tertahan, sedang Tong Kim-hong sempoyongan terus jatuh telentang.

Kiranya bintang penolong yang datang tiba-tiba ini adalah Teng Hiau-lan dan Pang Ing.

Ketika mereka melihat kelima jari musuh sudah tinggal menusuk masuk ke batok kepala Tong Kim-hong tadi, mereka menjadi kaget, tanpa pikir lagi senjata mereka dilolos dan berbareng pula melayang maju, gerak tubuh mereka berdua memang cepat luar biasa, meski bergerak belakangan, mereka bisa mendahului di depan Tong Say-hoa untuk menolong ayah orang, mereka menyerang dari kanan-kiri, Teng Hiau-lan menusuk 'Ki-bun-hiat' sebelah kiri dan Pang Ing menusuk 'Cing-ciok-hiat' di iga sebelah kanan.

Kedua tempat yang diserang berbareng ini adalah tempat paling berbahaya di tubuh manusia, karena itu juga Emopu dipaksa harus memutar tubuhnya, ia batalkan serangan kepada Tong Kim-hong untuk menjaga diri, ia menyerang beruntun pula dua kali buat menghindarkan tusukan Hiau-lan dan Pang Ing tadi.

Dalam sekejap im Tong Kim-hong berhasil meloloskan diri dari ancaman maut, akan tetapi saking keras goncangan tenaga pukulan orang, tidak urung ia terjatuh duduk lagi.

Dalam pada itu Tong Say-hoa baru saja sampai di dekat sang ayah.

"Tia, apa kau terluka?"

Ia bertanya dengan kuatir.

"Tidak apa-apa,"

Sahut Tong Kim-hong gugup, ia duduk lebih baik dan menyerahkan anak kecil itu pada Say-hoa.

"Lekas kau bopong anak ini, dekat saja dengan aku di sini, sekali-kali jangan sembarang bergerak."

Habis itu ia duduk dengan mata memandang tajam mengincar pihak musuh. Sementara Emopu kena didesak mundur oleh Teng Hiau-lan dan Pang Ing, diam-diam ia terkejut.

"Kiam-hoat kedua orang ini sudah jauh lebih maju!"

Demikian ia membatin.

Maka ia tak berani menghadapi dua musuh dengan tangan kosong lagi, lekas ia keluarkan senjata kebutnya, begitu ia mengayun kebut seketika kedua pedang lawan kena dililit hingga tak mampu maju.

Emopu menjadi girang, ia tertawa terbahak-bahak, di luar dugaan, belum lenyap suara tertawanya, mendadak ia dengar suara peletak yang keras, ekor kebutnya ternyata putus sebagian, seketika pula sinar mengkilap menyambar, dua senjata tajam yang berkilauan berbareng menyelonong sampai di mukanya.

Kebut Emopu itu sebenarnya juga benda mestika yang jarang ditemukan, senjata ini terbuat dari bulu ekor sejenis kerbau Tibet (Bison) dipuntir dengan benang emas putih, maka keras dan uletnya luar biasa, kalau hanya senjata biasa saja sekali-kali tak bisa menahasnya, ditambah Lwekang Emopu sangat tinggi, ia bisa mengerahkan tenaga ke ujung kebut itu, biasanya ia gunakan senjata ini untuk merampas senjata musuh dan selalu berhasil.

Tetapi pedang yang digunakan Hiau-lan dan Pang Ing, yakni Yu-liong dan Toan-giok-pokiam juga pedang pusaka yang tajamnya bisa merajang besi seperti memotong sayur, walaupun seketika kena dibelit dan tertahan oleh tenaga dalam Emopu hingga tak bisa bergerak, tapi mereka lantas gunakan kelemasan Thian-san-kiam-hoat, sedikit ujung senjata mereka digetarkan, ujung kebut musuh dibikin kendur terus ditabas putus.

Emopu juga tahu senjata yang digunakan lawan adalah pedang pusaka, tetapi sama sekali tak ia duga bisa begitu tajam, karena itu dalam kagetnya kedua pedang lawan sudah menyambar sampai di depan mukanya, untung ilmu silatnya sudah sampai puncak kesempurnaan, sedikit ia mengegos, tangan kiri menghantam pula, Hiau-lan dan Pang Ing dipaksa berkelit hingga serangan mereka melenceng ke samping dan menyambar lewat di atas pundaknya.

Sementara itu kawanan bayangkara begundal Emopu telah berteriak, beramai mereka lantas merubung maju.

Ketika Emopu melirik senjata kebutnya dan tidak seberapa bulu ekornya yarg terpapas, ia tertawa dingin.

"Dua bocah ini tidak nanti bisa kabur,"

Demikian ia membentak.

"Kalian kepung kelenteng ini dan tangkap semua orang yang berada di sini, geledah yang teliti, seorang pun tak boleh lolos!"

Kawanan bayangkara itu tahu Emopu tidak memerlukan bantuan, maka mereka lantas maju buat menangkap Tong Kim-hong dan putrinya.

Namun Tong Kim-hong masih tetap duduk saja di tempatnya dengan bersila, ia anggap seperti tidak terjadi apa-apa atas majunya kawanan bayangkara itu, sedang Tong Say-hoa sambil menggendong anak Lian Keng-hiau berduduk di belakang ayahnya, ia berperawakan kecil dan lebih pendek, maka tubuhnya persis bisa dialingi tubuh sang ayah, ia pun tidak sembarang bergerak, malahan ia me-nina-bobokan anak itu supaya tidak takut.

Nampak kelakuan mereka ini, para bayangkara im berbalik tak berani maju.

"Kau tua bangka ini main gila apa?"

Yang menjadi pemimpin bayangkara im mendamprat.

Tetapi Tong Kim-hong tidak menjawab, hanya alisnya bergerak dan sinar matanya mengerling tajam, ia tertawa dingin.

Dalam pada itu Emopu sudah bergebrak beberapa jurus lagi dengan Teng Hiau-lan dan Pang Ing, ketika ia melirik sebelah sini dan melihat begundalnya ragu-ragu tak berani maju, ia jadi gusar.

"Tolol, tak berguna, apa kalian perlu menunggu aku sendiri yang turun tangan?"

Dampratnya.

Karena desakan ini, bayangkara yang menjadi pemimpin itu mengayun golok dan menubruk maju, tetapi ketika berjarak antara satu tombak jauhnya dari Tong Kim-hong, sekonyong-konyong ia menjerit terus jatuh terguling.

"Celaka, ini adalah Song-bun-ting (paku kematian) yang berbisa dari keluarga Tong!"

Segera ada yang berseru demi mengenal senjata rahasia Tong Kim-hong. Dan belum lenyap seruannya, beberapa kawannya sudah roboh pula.

"Hm, padri anjing ini tak kenal aku, apa kalian juga tidak tahu asal-usulku?"

Dengan tertawa dingin Tong Kim-hong membentak..

Di antara bayangkara yang dibawa Emopu ada separoh terdiri dari bangsa Han dan di antaranya banyak yang kenal asal-usul keluarga Tong di Sucwan, segera ada yang bertanya.

"Apa kau Tong-jisianseng?"

"Hm, jika kau sudah kenal aku, kenapa tidak segera enyah dari sini!"

Sahut Tong Kim-hong dengan angkuh. Di antara bayangkara ini terdapat dua orang murid Emopu, dengan sendirinya mereka tak kenal kelihaian Tong Kim-hong.

"Aku tak takut pada senjata rahasiamu!"

Teriak mereka.

Habis itu dengan memutar senjata lantas menubruk maju.

Kepandaian dua orang ini ternyata tidak lemah, betul juga mereka berhasil menyampuk jatuh tiga buah Song-bun-ting yang ditimpukkan Tong Kim-hong, karena itu mereka menjadi senang.

Tetapi sebelum mereka bergirang lebih lama, mendadak terasa di tengah alis mata mereka kesakitan, mereka menjerit berbareng, ternyata empat mata mereka sudah buta terkena senjata rahasia, ada dua bayangkara bangsa Boan-ciu yang ikut merangsek maju, perge-langan tangan mereka terasa sakit juga seperti kena disengat kelabang, sudah sakit, terasa linu pula, karena itu senjata mereka terjatuh ke lantai.

"Lekas mundur, ini adalah Pek-bi-ciam!"

Terdengar suara teriakan kaget bayangkara bangsa Han yang mengenali senjata yang dipakai Tong Kim-hong.

Senjata rahasia keluarga Tong di Sucwan memang tiada bandingan, di antaranya Song-bun-ting dan Pek-bi-ciam, yaitu paku tadi dan jarum alis putih.

Song-bun-ting khusus untuk menimpuk Hiatto, orang yang terkena terasa sakit tidak kepalang, hanya paku ini tidak beracun, asal dicabut pakunya, orangnya masih bisa tertolong.

Sebaliknya Pek-bi-ciam terlalu kecil dan lembut seperti bulu kerbau, kalau kena, orangnya tidak merasa kesakitan tetapi Am-gi ini mengandung racun jahat, tiga hari atau selambatnya tujuh hari, Pek-bi-ciam ini akan merembes masuk ke hulu hati mengikuti aliran darah, maka tak bisa tertolong lagi orangnya.

Begitulah maka demi melihat Kim-hong menyebar dua macam senjata rahasianya ini, bayangkara bangsa Han menjadi jeri, tanpa berjanji dahulu mereka lantas melompat mundur ke belakang.

Sementara itu sesudah mengalami terbinasa dan terluka, bayangkara bangsa Boan beruntun ikut mundur juga.

Mengetahui begundalnya mundur, Emopu jadi gusar, segera ia membentak pula.

"Ia menggunakan Am-gi, apa kalian tidak bisa pakai Am-gi? Aduh, auuh!"

Kiranya dalam pertarungan melawan Hiau-lan dan Pang Ing dengan sengit, karena sedikit meleng, pedang Pang Ing telah menyerempet lewat pundaknya hingga kulit dagingnya terkupas sepotong.

Karena Pek-bi-ciam yang enteng tak bisa mencapai jarak jauh, maka kawanan bayangkara mundur, beramai mereka segera menghujani Kim-hong dengan Am-gi.

"Hahaha, main kampak di hadapan tukang kayu,"

Ejek Tong Kim-hong dengan tertawa.

"Baiklah, saksikan aku punya!"

Ia tidak menggunakan Pek-bi-ciam lagi, ia ganti dengan senjata rahasia sebangsa Song-bun-ting dan Tok-cit-le yang mempunyai bobot berat, kembali ia paksa kawanan bayangkara itu mundur lagi ke belakang.

Sebab itu, senjata rahasia yang dihamburkan bayangkara im, setiba di depan sasarannya sudah tak berkekuatan lagi karena jaraknya makin jauh, ada yang dikelit Kim-hong dan ada pula yang dia tangkap, kalau dia tangkap segera ia timpukkan kembali, maka sekejap saja di lantai sudah penuh berserak senjata rahasia beraneka macam.

Meski di antara kawanan bayangkara ada beberapa yang terluka, tetapi mereka masih bertahan melawan Kim-hong, sehingga seketika seperti hujan senjata rahasia saja.

Dengan demikian, meski bayangkara itu lebih banyak yang terluka, tetapi Tong Kim-hong sendiri terancam bahaya juga kedudukannya, sungguhpun dalam ilmu Am-gi ia terhitung nomor satu di kolong langit ini, tetapi musuh terlalu banyak jumlahnya, senjata rahasia datangnya seperti belalang menyambar-nyambar, apabila dia sedikit meleng saja, maka dapat dibayangkan entah bagaimana akan terjadi!

Di sebelah sana Emopu yang bertempur melawan Teng Hiau-lan dan Pang Ing dengan sengit, kala itu sudah dalam keadaan tegang juga.

Kini Emopu tak berani menggunakan kebutnya untuk membelit pedang orang yang tajam, ia ganti membelit gagang pedang dan pergelangan tangan lawan.

Akan tetapi Pang Ing dan Hiau-lan bisa menjaga diri dengan rapat sekali, mereka bisa bergiliran, yang satu menjaga yang lain menyerang dan begitu seterusnya, dengan demikian tak mampu Emopu mengalahkan mereka, sebaliknya mereka pun tak berani terlalu mendekati Emopu.

Setelah pertarungan ini berlangsung ratusan jurus, akhirnya di pihak Pang Ing dan Hiau-lan mulai sedikit di atas angin, namun masih tetap belum bisa mengalahkan musuh.

Tengah pertarungan sengit berlangsung, dengan ilmu 'Thing-hong-pian-gi' (mendengarkan suara angin membedakan senjata), Pang Ing mengetahui keadaan Tong Kim-hong sangat berbahaya, karena itu segera ia menyerang dua kali, habis itu ia menarik diri ke belakang.

"Hiau-lan bertahanlah kau sementara dengan Si-mi-kiam-hoat, aku pergi membantu Tong-kongkong dahulu,"

Serunya.

"Baiklah, kau boleh pergi!"

Sahut Teng Hiau-lan.

Habis itu segera Kiam-hoatnya berubah, ia putar Yu-liong-kiam sedemikian rupa sehingga sinar putih gemerlap menyambar-nyambar di udara seperti selapis sinar mengurung seluruh tubuhnya, meski Emopu merangsek beberapa kali, namun seperti terbentur tembok baja dan pagar besi, ia tak berdaya menembus penjagaan orang.

Emopu menjadi gusar, ia kumpulkan seluruh tenaga dalamnya dan susul-menyusul menghantam beberapa kali, meski tidak kena dipukul, tetapi di dalam lapisan sinar pedangnya tidak urung Hiau-lan tergoncang juga.

Setelah Pang Ing menarik diri, begitu ia menutul kakinya, dengan gerakan 'Ci-yan-thing-khong' (burung sriti melayang di angkasa), dengan membawa sambaran .angin, sekonyong-konyong ia melompat lewat di atas kepala para bayangkara itu, Pang Ing memakai kaos mestika hadiah Ciong Ban-tong, maka senjata rahasia yang mengenai badannya lantas jatuh ke lantai tanpa melukainya, pada saat lain ia sudah sampai di samping Tong Kim-hong.

Tentu saja kawanan bayangkara itu tidak kepalang terkejutnya demi nampak Am-gi mereka tak mempan atas tubuh gadis ini, sebaliknya Tong Kim-hong telah mengangguk-angguk atas kedatangan anak dara ini sebagai tanda berterima kasih.

Sama sekali Pang Ing tak gentar atas segala macam senjata rahasia yang dihamburkan musuh im, ia putar pedangnya hingga rapat sekali seperti lingkaran sinar, ia menghadang di depan Tong Kim-hong dan menghantam jatuh semua Am-gi yang mengarah padanya.

Kesempatan ini tidak disia-siakan Tong Kim-hong, ia serang musuh juga dengan paku untuk mengarah jalan darah, dengan demikian para bayangkara im didesak mundur pula ke belakang, namun kedua belah pihak masih saling bertahan.

Di lain pihak Teng Hiau-lan yang sendirian melawan Emopu mulai kewalahan, ia menerobos lewat di bawah hujan senjata rahasia, sedang Am-gi yang berhamburan ini tergoncang j atuh semua.

Pang Ing terkejut, pedangnya segera menusuk, Kim-hong berubah juga air mukanya melihat ketangkasan orang yang luar biasa ini, ia timpukkan senjata Tok-cit-le, semacam senjata berwujud seperti duri tumbuhan yang punya bobot berat, akan tetapi tahu-tahu Emopu mengegos terus menyerobot lewat di samping mereka, berpaling saja tidak, Emopu langsung menyergap 'si orang sakit' yang masih tidur di bawah patung Buddha itu.

Kiranya tujuan Emopu bukan menangkap Tong Kim-hong berdua atau Teng Hiau-lan dan Pang Ing, melainkan hanya menerobos lewat dari samping mereka untuk menangkap 'orang sakit'.

Pada waktu itu api unggun sudah sirap, hanya asapnya yang tebal membikin mata menjadi pedas.

"Tuanku Pwelek, untuk apa kau menderita di sini, lebih baik ikut hamba kembali saja ke istana!"

Demikian terdengar Emopu menegur dengan tertawa dingin.

Berbareng ia mengulur tangan menarik selimut yang menutupi seluruh tubuh 'orang sakit' itu, tetapi sebelum jarinya menyentuh selimut, tiba-tiba terdengar suara "plak"

Yang keras, kiranya muka Emopu tepat kena digenjot sekali, pukulan ini begitu keras, sungguhpun Emopu melatih ilmu 'Kim-cong-co' dan 'Tiat-poh-san', tidak urung mukanya dirasakan sakit pedas juga.

Namun Emopu memang jagoan, begitu tangannya membalik, ia dapat mencekal tangan orang itu dan dibetot dengan kuat, karenanya mau tak mau orang itu lantas melompat bangun.

"Bagus, bagus!'"

Demikian terdengar orang itu berseru.

"memang aku sudah tahu In Ceng tidak bakal melepaskan diriku, apa kedatanganmu ini melulu karena aku?"

"Hongsiang sengaja mengundang Pwelek pulang ke kotaraja,"

Sahut Emopu.

"Jika begitu, kau boleh lepaskan ayah dan anak berdua ini!"

Sahut orang itu sambil menunjuk Tong Kim-hong dan Say-hoa.

Kejadian yang sama sekali di luar dugaan ini membikin perang senjata rahasia tadi seketika berhenti.

Ketika Hiau-lan mengamat-amati, ia lihat muka 'orang sakit' tadi pucat dan kurus, tetapi padanya ada semacam perbawa yang ke-reng dan menimbulkan hormat, mendadak ia sadar, ia kenali orang ini bukan lain adalah Kiu-hongcu In Tong, si Pangeran kesembilan yang dahulu pernah dia jumpai juga di dalam istana.

Dalam pada itu tiba-tiba terdengar suara "kletak"

Yang keras, secara kejam ternyata Emopu telah menekuk patah tulang tangan Kiu-hongcu In Tong, kedua tangan Pangeran ini lantas diikat dan di-borgol pula.

"Asal mereka tak bermusuhan dengan hamba, tentu saja hamba menurut perintah,"

Dengan lagak menghormat Emopu menjawab.

Kiranya sesudah In Ceng naik takhta dan sudah kuat kedudukannya, langkah pertamanya lantas menggunduli kaki-tangan para pangeran yang menjadi saingannya, langkah kedua dengan alasan yang dicari-cari ia bunuh saudaranya yang berani berebut takhta dengan dia, di antaranya Kiu-hongcu In Tong dan Cap-hongcu In Go yang pandai ilmu silat, sebelum tertangkap mereka sudah dapat mencium niatnya ini, maka berhasil meloloskan diri.

Sekali ini yang diuber oleh Emopu bukan lain ialah In Tong, sedang Teng Hiau-lan dan lain-lain hanya secara kebetulan saja bertemu di kelenteng bobrok ini.

Maka Emopu berpikir.

"Kiam-hoat Hiau-lan dan budak cilik im sangat lihai, Am-gi tua bangka itupun berbahaya, jika terus terlibat pertempuran dengan mereka, mungkin malah bisa terjadi hal yang di luar dugaan."

Oleh karena itulah ketika In Tong minta Emopu melepas pergi mereka, ia pun menurut dengan suka hati.

Dalam pada itu sesudah menyaksikan kejadian ini, tidak kepalang terkejutnya Tong Kim-hong, diam-diam ia berkata dalam hati.

"Kiranya Hongsiang sekarang ini begini kejam dan tak berbudi, saudara sendiri saja dibunuh, apalagi orang luar, menantuku dahulu bertugas di pemerintahan, seumpama tidak mati dibunuh orang pasti tak akan berakhir dengan baik juga."

Kemudian waktu ia memandang, ia lihat keringat In Tong telah mengucur di jidatnya sebesar kacang saking menderita sakit, akan tetapi bekas pangeran ini cukup keras kepala juga, ia hanya mengertak gigi, sedikitpun tidak merintih.

"Marilah, sekarang silakan Pwelek berangkat!"

Mendadak ln Tong bergelak tertawa seram.

"Nah, kalian sudah saksikan sendiri bukan? Harap saja turun-temurun selanjutnya kalian jangan sekali-kali terlahir di keluarga kerajaan!"

Dengan suara keras ia berkata di hadapan orang banyak.

Karena kata-kata ini, yang paling tertusuk adalah Teng Hiau-lan, ia kena betul kata-kata yang diucapkan In Tong.

Karena itu ia pegang pedangnya terus hendak menerjang maju kalau tidak keburu ditahan oleh Pang Ing.

"Sudah lama kau bukan anggota keluarga kerajaan lagi, kami tiada seorang pun yang menganggap kau sebagai putra pangeran, kedukaan asal-usul dirimu seharusnya kau buang jauh-jauh,"

Demikian anak dara itu menghiburnya.

"Dahulu orang ini telah berebut takhta dengan In Ceng, tentunya bukan manusia baik-baik juga, buat apa kau harus berkorban untuk dia?"

Teng Hiau-lan menghela napas.

"Aku bukan ingin menolong dia, tetapi aku ... aku ...."

Ia tak sanggup menerangkan lebih jauh, pikirannya sudah kusut, maka perkataannya terhenti sampai separah saja.

Sementara itu dengan menyeret In Tong, Emopu lantas melangkah pergi perlahan-lahan.

Namun baru beberapa tindak, tiba-tiba seorang bayangkara menunjuk Lian Siu yang digendong Tong Kim-hong dan melapor padanya.

"Lapor Tayjin, ini adalah anak Lian Keng-hiau, dua orang tadi adalah bekas orang kepercayaan Lian Keng-hiau."

Bukan main kejut Tong Kim-hong demi tahu anak siapa bocah yang berada di pangkuannya ini, ia pandang anak ini, maka terlihat olehnya muka anak ini pucat menghijau saking ketakutan.

"Tolong, Kongkong, aku tak mau ikut pergi dengan mereka, aku tak mau!"

Demikian bocah ini memohon. Di lain pihak karena laporan tadi, Emopu tertawa terbahak.

"Haha, betul-betul ada jodoh!"

Katanya. Lalu ia pandang Tong Kim-hong sekejap terus membentak lagi.

"Hai, kau tua bangka ini pernah apa dengan Lian Keng-hiau?"

"Tidak pernah apa-apa,"

Sahut Kim-hong ketus.

"Kalau begitu, serahkan anak itu padaku dan jiwamu kuampuni!"

Bentak Emopu pula. Dalam pada itu Lian Siu sudah menangis keras.

"Jangan serahkan pada mereka, Tia,"

Demikian Tong Say-hoa ikut membela.

Keruan Emopu naik darah, selagi ia hendak melabrak orang, tiba-tiba terdengar di luar kelenteng ada suara kelenengan berkumandang, menyusul terdengar pula suara jeritan beberapa kali.

"Ha, Bu-locianpwe datang!"

Seru Pang Ing girang.

Sebaliknya Emopu menjadi gusar, ia melompat keluar pintu kelenteng, di bawah sinar rembulan yang remang-remang ia lihat ada seorang Kangouw-long-tiong (tabib kelilingan Kangouw), dengan tangan kanan memegang galah pikulan dan tangan kiri menggoyang kelenengan sedang berjalan menuju ke arahnya, beberapa bayangkara yang bertugas jaga di luar sudah sejak tadi kena dipukul roboh.

"Siapa kau, berhenti!"

Dengan mata mendelik Emopu membentak. Yang datang ini memang Bu Sing-hua, adik lelaki Bu Ging-yao. Ia menghadapi gertakan Emopu dengan tersenyum dingin.

"Besar sekali lagakmu,"

Demikian ia menjawab.

"Kau ingin tahu siapakah aku? Aku adalah duta yang dikirim Giam-lo-ong (raja akhirat) untuk merampas arwahmu!"

Habis berkata ia angkat gentanya terus ditabuh hingga bunyi "krang-kring"

Riuh sekali.

Tentu saja Emopu menjadi murka, cepat telapak tangannya menghantam ke depan, akan tetapi sedikitpun Bu Sing-hua tak tergoncang oleh karena angin pukulannya, bahkan ia bergelak tertawa sambil mengangkat galahnya terus memukul ke atas kepala orang.

Ketika Emopu mengayun kebutnya ke atas, ekor kebut dapat melilit galah orang, tapi tidak urung ia sendiri tergetar mundur dua tindak, keruan tidak kepalang terkejutnya, lekas ia kumpulkan tenaga dalamnya dan menarik ke samping.

Bu Sing-hua terperanjat juga, meski galahnya tidak sampai terlepas dari tangan.

Begitulah kedua orang mengumpulkan tenaga dalam dan saling adu Lwekang, mereka insaf telah menemukan lawan keras, maka seketika itu siapa pun tak berdaya mengalahkan lawan.

"Bu-locianpwe, kebetulan sekali kedatanganmu!"

Sementara im Pang Ing sudah berlari keluar dan menyapa orang.

"Apa keparat ini telah menghina kau dengan mengandalkan orangnya yang lebih banyak?"

Tanya Bu Sing-hua.

"Itu dia masih belum mampu,"

Sahut Pang Ing dengan tertawa. Lalu ia berpaling dan berkata pada Emopu.

"Bagaimana, masih kau ingin bergebrak lagi?"

Karenanya Emopu segera menarik kembali kebutnya, dengan cepat melompat pergi beberapa tindak.

"Baik, berhenti, tetapi bila terbentur lagi kelak, aku tak bisa mengampuni kau lagi,"

Katanya.

"Itu boleh kau coba kelak,"

Sahut Pang Ing mengejek. Sementara itu Bu Sing-hua memandang Emopu sekejap.

"Ilmu silatnya begitu tinggi, sayang sungguh sayang!"

Katanya tiba-tiba. Emopu menjadi gusar merasa dirinya dihina.

"Sayang apa katamu?"

Dampratnya.

"Bagaimana jadinya dengan Liau-in, apa kau tidak tahu?"

Kata Bu Sing-hua lagi. Sebenarnya Emopu diundang Yong Ceng untuk menggantikan lowongan Liau-in Hwesio, karena kata-kata tadi, maka ia mengkirik juga, lekas ia angkat kebutnya.

"Apa kau masih ingin bergebrak dengan lebih puas?"

Tanya Bu Sing-hua lagi.

Tetapi tanpa menjawab Emopu lantas memberi tanda, ia bawa orang-orangnya turun gunung dengan cepat.

In Tong sudah dipuntir patah tulang tangannya, ia sudah tak tahan dan jatuh semaput, maka ia dibawa pergi dengan digendong seorang bayangkara.

"Aku dengar kalian kembali turun dari Thian-san,"

Demikian Bu Sing-hua berkata pada Pang Ing.

"Aku menduga kalian tentu akan mencari Lu Si-nio, tapi tidak terduga bisa bertemu di sini. Apa gurumu baik-baik saja?"

"Baik,"

Sahut Pang Ing.

"Marilah jangan kita bicara yang lain-lain dulu, periksalah keadaan Tong Kim-hong."

"Siapa dia Tong Kim-hong?"

Tanya Bu Sing-hua.

"Seorang Bu-lim-cianpwe (tokoh dunia persilatan tingkat tua) yang kepandaian Am-ginya tiada bandingan di kolong langit,"

Sahut Pang Ing.

"O, orang dari keluarga Tong di Sucwan,"

Ujar Bu Sing-hua.

"Cara bagaimana kau bisa kenal dia?"

Sembari bicara mereka pun masuk ke dalam kelenteng, maka terlihat Tong Kim-hong masih tetap duduk di atas lantai, mukanya pucat pasi.

Di sebelahnya tertampak Tong Say-hoa berwajah muram sambil membopong Lian Siu.

"Bagaimana keadaanmu, Tia?"

Ia bertanya pada sang ayah dengan suara perlahan.

"Beruntung jiwa anak ini bisa diselamatkan,"

Kim-hong menyahut dengan tersenyum.

"Aku sudah tak tertolong lagi. Boleh bawa pulang anak ini dan akui sebagai cucu luarku."

Tong Say-hoa menjadi sedih, air matanya bercucuran.

"Tia, apa kau terluka parah? Dalam kantong obat kita banyak terdapat obat,"

Katanya.

"Segala obat tak akan berguna,"

Sahut Kim-hong dengan tersenyum getir.

"Aku terkena goncangan pukulan keparat tadi ditambah sekian lama bertempur mati-matian, aku sudah letih dan kehabisan tenaga, seperti lentera kehabisan minyak, tidak mungkin ditolong dengan obat lagi."

"Justru aku ada obat yang bisa menolong kau,"

Tiba-tiba Pang Ing menyambung perkataannya. Tong Say-hoa menjadi girang, ia tidak pikirkan dendam dan benci yang dulu lagi, segera ia minta pertolongan orang. Tapi Kim-hong masih kurang percaya.

"Kau punya obat apa?"

Ia bertanya.

Pang Ing tidak menyahut, ia keluarkan sebuah botol perak kecil, ia mang keluar tiga butir obat pil berwarna hijau muda yang berbau wangi, siapa yang mencium bau wangi ini seketika terasa semangat menjadi segar.

"Ini adalah Pik-ling-tan yang dibikin dari Swat-lian (bunga teratai salju) yang tambuh di Thian-san,"

Demikian tutur Pang Ing sambil memberikan obat im.

"Pil ini manjur sekali untuk menambah tenaga dan menjalankan darah, bisa memunahkan racun dan menyembuhkan luka, sehabis menelan pil ini, bukan saja tidak kuatir keselamatan jiwa, bahkan ilmu silat pun tidak menjadi berkurang sedikitpun."

Kim-hong menurut, ia telan sekaligus tiga pil Pik-ling-tan im, ia merasa ada hawa segar yang mengalir masuk ke perutnya.

"Sungguh hebat sekali Thian-san-swat-lian ini, memang betul obat yang paling mujarab,"

Dengan tertawa kemudian ia memuji. Di samping lain, dengan matanya yang bundar Lian Siu sedang memandangi Tong Kim-hong.

"Jiwamu yang kecil ini telah dapat direbut kembali, nak, tahukah kau cara bagaimana kau harus berterima kasih?"

Kata Pang Ing pada bocah itu.

Lian Siu ternyata sangat cerdik, tanpa disuruh untuk kedua kalinya ia sudah lantas berlutut menjura pada Tong Say-hoa sambil memanggil "ibu" , habis itu ia menjura pula pada Tong Kim-hong dan memanggil "Engkong", tentu saja Say-hoa sangat girang dan Kim-hong merangkul bocah itu.

"Anak ini mirip bapaknya, sangat pintar,"

Ujar Teng Hiau-lan.

"Harap saja jangan seluruhnya mirip sang ayah,"

Ujar Pang Ing.

Kemudian Bu Sing-hua bercakap-cakap dengan Tong Kim-hong yang sudah saling dengar nama masing-masing sebelumnya.

Sementara sudah dekat fajar, lalu Bu Seng-hoa mohon diri buat berangkat lebih dulu, ia menyuruh Tong Kim-hong mengaso lagi untuk memulihkan tenaganya.

Di sebelah sana Tong Say-hoa berulang-ulang mengucapkan terima kasih pada Pang Ing yang telah sudi memberi obat yang mujarab, karena kejadian ini, permusuhan di antara keluarga Tong dan anak dara kembar she Pang ini menjadi terhapus sama sekali.

Di waktu fajar mulai menyingsing, maka berangkatlah Bu Sing-hua bersama Teng Hiau-lan dan Pang Ing, meninggalkan Kosan.

"Apa kalian hendak pergi ke Bin-san?"

Tanya Bu Sing-hua.

"Betul,"

Sahut Pang Ing.

"Ibuku berada di Bin-san juga, apa engkau belum tahu?"

"Haha, ibumu sudah tidak berada di Bin-san lagi, apa kau mau menemui dia?"

Demikian jawab Bu Sing-hua dengan tertawa.

"Apa, dia tidak di Bin-san? Apa telah terjadi sesuatu?"

Tanya Pang Ing kaget.

"Sebenarnya memang terjadi sesuatu, tapi kini sudah tak apaapa,"

Tutur Bu Sing-hua.

"Si keparat Yong Ceng memang sangat keji, sesudah memapas bersih kekuasaan militer Lian Keng-hiau, ia mempergiat penindasan pula terhadap para pahlawan di berbagai tempat, ia mendapat kabar bahwa di Bin-san berkumpul tidak sedikit tokoh Kangouw, segera ia mengirim pasukan besar mengepung gunung itu, syukur sebelumnya Lu Si-nio telah mendapat berita dan menyuruh aku mengantar ibu bersama Engkongmu dan Thio Thian-ti serta kawan-kawan ke Thian-san." 'TJaik sekali cara mengaturnya im, memangnya mereka sudah terlalu banyak menderita, seharusnya mereka lewatkan hari tua dengan tenteram."

Ujar Hiau-lan.

"Bu-lociaupwe, apa engkau telah bertemu dengan Lu Si-nio?"

"Ya, di sekitar kotaraja,"

Sahut Bu Sing-hua.

"Si-nio bermaksud masuk istana buat membunuh Yong Ceng, tapi penjagaan dalam kota terlalu kuat, maka belum ada kesempatan buat dia turun tangan. Sebenarnya aku sedang mencari Li Ti, setelah bertemu dengan Lu Si-nio baru aku tahu mereka telah berangkat ke Sucwan."

"Kalau begitu, dimanakah ibuku sekarang?"

Tanya Pang Ing.

"Rombongan kami terbagi menjadi beberapa kelompok, aku jadi pembuka jalan, semalam ketika melalui Ko-san, mereka bermalam di rumah penduduk di bawah gunung sana,"

Kata Bu Sing-hua.

Pang Ing menjadi girang, bersama Teng Hiau-lan lantas pergi menemui ibunya, sudah tentu pertemuan i m sangat menggirangkan mereka.

Kembali tentang Pang Lin dan Li Ti, sesudah sebulan mereka melakukan perjalanan bersama Kwantang-si-hiap, akhirnya sampai di Bin-san, tetapi mereka dapatkan gunung im sudah penuh dengan reruntuhan puing, bukan saja bangunan sudah terbakar, bahkan kelenteng yang dahulu ditinggali Tok-pi Sin-ni juga runtuh menjadi tanah, keruan mereka kaget dan melongo, mereka sangka tentu drama pembakaran Siau-lim-si di Ko-san terulang kembali di Bin-san.

Selagi mereka merasa bingung dan kuatir, tiba-tiba terdengar suara angin menderu, ketika mereka mendongak, tiba-tiba tertampak dua burung elang raksasa, seekor putih dan yang lain hitam sedang pentang sayap, mengitar di atas kepala mereka.

"Ini adalah kedua burung piaraan mendiang Tok-pi Si-ni, tidak nyana masih tetap berada di sini,"

Seru Hian-hong Totiang. Sementara itu sesudah mengitar beberapa kali, burung itu lantas terbang menuju ke lereng gunung.

"Burung-burung ini sangat cerdik seperti manusia, terhadap orang yang dikenal, mereka tidak sembarang menyerang, sesudah mengitar di atas terus terbang pergi, tentunya hendak menyampaikan kabar pada majikannya, apa di atas Bin-san ini masih terdapat orang?"

Demikian kata Liu Sian-gai.

Setelah mengikuti jurusan kemana kedua ekor burung tadi terbang, sampailah mereka di suatu tanah lapang dengan pemandangan indah dan air terjun berkilauan oleh sorot sinar matahari.

"Setelah lewat di sini akan sampai di tanah pekuburan Tok-pi Sin-ni,"

Kata Hian-hong.

"Mungkin mereka lihat tempat ini sangat curam, pula tiada sebuah rumah pun, maka pasukan pemerintah itu tidak membakar ke sini."

Tengah ia bicara, tiba-tiba terdengar suara tertawa panjang, menyusul Lui Si-nio dan Pang Ing muncul di depan mereka.

"Aku kira siapa, ternyata kalian yang datang,"

Kata Si-nio dengan tertawa. Dalam pada itu Teng Hiau-lan telah memperlihatkan diri juga, tentu saja pertemuan ini sangat menggirangkan mereka.

"Bin-san telah dibakar musuh bulan lalu,"

Si-nio menerangkan kemudian.

"karena mengira tiada penghuninya, sesudah membakar, pasukan tentara musuh lantas pergi. Masih untung kuburan guruku bisa selamat. Aku sudah menduga Pang Lin dan lain-lain tentu akan ke sini, maka aku kembali kemari dulu untuk menyambangi kuburan Suhu sambil menunggu datangnya tamu, tak terduga lebih dulu telah datang Hiau-lan dan Pang Ing dan kemudian baru kalian."

Sesudah masing-masing saling mengisahkan pengalamannya selama ini, kemudian Hian-hong bertanya pada Si-nio.

"Li-hiap baru saja kembali dari kotaraja, apa membawa sesuatu kabar baik?"

"Kabar baik memang ada, cuma kabar ini kukira sudah dalam dugaan kalian,"

Sahut Si-nio tertawa.

"Apa tentang Lian Keng-hiau yang telah dihukum mati?"

Tanya Hian-hong.

"Ya, betul,"

Kata Si-nio.

"Sesudah Keng-hiau digiring ke kotaraja, segera ia dihujani dengan berbagai pengaduan dari pembesar sejawat, Liok Hou-sin dari Hangciu pun melaporkan apa yang pernah dia alami, memang kalau pagar akan roboh tentu banyak orang yang mendorongnya sekalian, maka sekaligus Lian Keng-hiau telah dituduh sebanyak 92 perkara!"

"Aba, banyak sekali!"

Ujar Pang Lin dengan melelet lidah.

"Ya, maka tanpa ampun lagi ia lantas dihukum mati,"

Kata Si-nio pula.

"Sehabis im, karena kuatir ada golongan yang tidak puas, Yong Ceng telah memperkuat penjagaan dengan sangat rapat, pernah dua kali aku menyelidiki"

Ke dalam istana, tetapi karena begitu banyak deretan gedung, hakikatnya tak aku ketahui kaisar anjing im bersembunyi dimana, waktu kedua kalinya aku masuk istana, bahkan telah ketahuan musuh dan dikerubut jago pengawal hingga hampir saja tak bisa meloloskan diri."

"Untuk membunuh seorang kaisar yang begitu banyak penjaganya rasanya tidak gampang,"

Ujar Hian-hong.

"Menurut pendapat-ku, paling sedikit harus didampingi dua kawan lagi yang memiliki Ginkang yang tinggi baru bisa ada harapan."

"Ya, justru itulah maka aku menunggu kalian di sini,"

Sahut Si-nio tertawa.

"Belakangan ini kepandaian Pang Ing dan Pang Lin sudah maju pesat, lebih-lebih Ginkangnya, maka biarlah kami bertiga saja yang pergi."

"Bagus, kita tinggal lihat saja lakon Sam-li-hiap mengobrak-abrik istana,"

Kata Hian-hong sambil bertepuk tangan.

"Eh, dimana kedua dara nakal im?"

Betul juga, ketika semua orang berpaling, si kembar Pang Ing dan Pang Lin sudah tidak kelihatan lagi.

"Mereka tentu lagi asyik bicara tentang urusan mereka yang menarik,"

Ujar Si-nio dengan tertawa. Lalu ia berseru memanggil.

"A Ing! A Lin!"

"Ya, segera datang!"

Demikian terdengar suara sahutan Pang Ing dari jauh, Memang dugaan Lu Si-nio tidak salah, betul mereka sedang asyik bicara urusan mereka yang menarik.

Kiranya Pang Lin telah menarik Encinya ke tempat yang rindang, di sana ia bertanya Enci ini bagaimana urusannya dengan Teng Hiau-lan.

Sudah tentu Pang Ing hanya bungkam saja, ia tak sanggup menjawab karena pedih hatinya, ketika sang adik mendesak terus, akhirnya matanya basah ingin menangis.

"Aku anggap dia tetap seperti paman saja!"

Kemudian ia menjawab.

"Tampaknya tidak, tadi aku dengar kau panggil dia dengan nama dan bukan panggil paman,"

Kata Pang Lin tertawa.

"Kenapa kalau memanggil dia dengan nama?"

Sahut Pang Ing dengan menarik muka.

"Memangnya selama hidupku ini tidak akan menikah, justru aku tidak percaya bahwa hidup seorang gadis harus punya suami."

Pang Lin tertawa geli oleh jawaban ini, kemudian dengan lagak sungguh-sungguh ia berkata lagi sambil menarik sang Enci.

"Kau berkata demikian, tetapi mana ibu mau percaya,"

Ujarnya.

"Ibu ikut mereka ke Thian-san, hal ini kau sendiri sudah tahu. Beberapa hari yang lalu waktu aku bertemu beliau, ia masih menanyakan urusan kalian berdua. Dia bilang anak perempuan akhirnya harus menikah, dia bilang Teng Hiau-lan sangat baik, hanya ia kuatir kau kurang suka karena orangnya lebih tua belasan tahun dari kau, maka aku disuruh membujuk kau. Nah, bagaimana, kau mau turut kata-kata ibu tidak?"

Begitulah Pang Lin berkata dengan lagak seperti orang tua, Pang Ing sampai tertawa geli.

Tetapi bila ingat memang ibunya pernah menasihati dirinya seperti yang dikatakan sang adik tadi, namun urusan dirinya dan Hiau-lan, ibunya belum diberitahu, tanpa tertahan ia menjadi sedih Lagi.

Tengah Pang Ing merasa serba sulit karena pertanyaan adiknya tadi, syukur Lu Si-nio keburu memanggilnya.

Kemudian mereka diberitahu oleh Si-nio bahwa mereka akan diajak ke kotaraja untuk membunuh Yong Ceng, seketika semangat mereka menyala-nyala.

Setengah bulan kemudian, sesudah Lu Si-nio berhubungan dengan Kam Hong-ti, berkat pergaulan Hong-ti yang sangat luas dan kenal dengan berbagai kalangan, berturut-turut tiga dara ini lantas menyelusup masuk ke Pakkhia.

Tetapi karena penjagaan di dalam kotaraja sangat keras, pula istana raja terlalu luas, susah juga untuk mengetahui di gedung mana Yong Ceng tinggal, karena kuatir sekali pukul tidak kena, sebaliknya akan membikin urusan menjadi runyam, maka meski sudah menunggu selama setengah tahun di kotaraja, masih belum juga diperoleh kesempatan yang baik.

Mengenai diri Yong Ceng, sesudah maharaja ini dapat merampas kekuasaan dan membunuh Lian Keng-hiau, ia pun selalu kebat-kebit kalau didatangi pembunuh gelap dari pihak lawan, maka tidak saja di dalam istananya penuh tersebar jago pengawal, bahkan segala tata-tertib istana yang lama seperti membikin pertunjukan sandiwara atau pesta-pora di hari raya, semua kebiasaan ini dia larang pula, malahan kaisar ini sendiri tiap malam bertukar tempat menginap, hatinya selalu ketakutan dan merasa tidak aman.

Meski agung sebagai kaisar, tetapi kalau hidupnya selalu dalam keadaan takut, sama saja seperti menyiksa diri dan tidak enak sekali.

Keadaan demikian sudah lewat setengah tahun, karena keadaan tampak aman dan tenteram, larangan semula lambat-laun mulai kendur juga.

Hari lewat dengan cepat, setelah hari Sincia (tahun baru), sekejap saja sudah tiba hari raya Goan-siau atau lebih terkenal dengan Capgomeh.

Ibu kandung Yong Ceng sebenarnya selir kaisar Khong-hi, tetapi sesudah sang putra naik takhta, dengan sendirinya sang ibu ikut menjadi ibusuri, tak usah diterangkan pula betapa senang hidupnya.

Karena sudah sekian lama merasa sebal oleh kehidupan sunyi berhubung larangan Yong Ceng, maka ibusuri sangat merindukan keramaian lagi, pada kesempatan hari Capgomeh hampir tiba, ia lantas minta agar Yong Ceng menghapus larangannya supaya bisa merayakan hari raya im secara besar-besaran, yakni kecuali menanggap opera dan berbagai pertunjukan lainnya, diperbolehkan pula para sanak keluarga kerajaan dan para pangeran ikut meramaikan perayaan ini dengan caranya masing-masing.

Yong Ceng pikir selama ini saudara-saudar yang menjadi saingannya sebagian besar sudah dia hancurkan, pangeran yang masih ada terang tiada yang berani melawan lagi, maka ia lantas menuruti maksud ibunya dan menghapuskan larangannya.

Kabar tentang perayaan Capgomeh ini semula masih sangat dirahasiakan, baru sehari sebelumnya berita ini disampaikan pada para pangeran.

Kabar ini membikin satu orang menjadi kegirangan.

Orang ini adalah pangeran In Ing, putra ke-16 Kaisar Khong-hi, pangeran In Ing ini adalah saudara kandung Yong Ceng, usianya terhitung paling muda di antara para pangeran lainnya, oleh sebab itu waktu Khong-hi masih hidup, pangeran cilik ini tidak ikut serta dalam perebutan takhta, karena itulah ia masih bisa hidup selamat.

Karena masih muda, maka In Ing suka macam-macam permainan, ia pun gemar berlatih silat, kira-kira sebulan yang lalu orang telah memujikan seorang guru silat padanya, guru silat ini berperawakan sedang, rupanya pun tiada berbeda dengan orang biasa, maka In Ing tidak percaya orang demikian bisa memiliki ilmu silat tinggi, maka ia minta bertanding dulu, tetapi baru saja kaki tangannya menyerang tubuh guru silat itu, mendadak entah mengapa ia sendiri yang terbanting jatuh.

Guru silat itu mengaku bernama Teng Liong, bukan saja mahir ilmu silat, bahkan pandai berakrobat pula, In Ing suka sekali pada orang ini, maka Teng Liong lantas ditahan tinggal dalam istananya.

Sekali ini karena akan merayakan hari Capgomeh, In Ing lantas bertanya pada Teng Liong apa punya pertunjukan akrobat yang bagus dan menarik, berulang Teng Liong menjawab ada dan banyak, segera pula ia unjukkan berbagai kemahirannya seperti memutar mangkok berisi air, menyunggi gentong di atas kepala, tarian sutera merah dan lain-lain, semua ini jauh lebih bagus dan menarik daripada pertunjukan akrobat biasa.

Keruan In Ing sangat girang karena ia bisa memamerkan juga rombongannya di hadapan ibusuri.

Waktu Teng Liong mohon diperbolehkan membawa beberapa pembantu, permintaan ini diluluskan juga oleh In Ing.

Pada malam Capgomeh di tengah Ci-kim-sia, yakni benteng atau kota terlarang yang menjadi kediaman kaisar, telah dipajang dengan lampu teng-long yang beraneka warna, keadaan pun terbenam dalam suasana pesta-pora yang meriah.

Di tengah taman raja sudah didirikan panggung, di sekitar panggung berduduk para kaum ningrat dan sanak keluarga kaisar, dan di samping panggung itu dipasang pula satu balkon, di sinilah Yong Ceng beserta para selirnya mendampingi ibusuri menyaksikan pertunjukan di atas pangung itu.

Terhadap segala pertunjukan yang beraneka macam dan akrobatik im Ibusuri sangat tertarik dan senang sekali, sampai pada puncak kegirangannya, ia lantas memerintahkan orang memberi persen.

Ketika tiba giliran rombongan yang dibawa In Ing naik panggung, Ibusuri tampaknya merasa girang luar biasa.

"Lihatlah saudaramu yang biasanya suka macam-macam permainan, coba sekali ini apa yang dia pertunjukkan?"

Demikian kata Ibusuri dengan tertawa pada Yong Ceng. Sementara im tampak naik ke atas panggung lima orang yang mengenakan dandanan sebagai pemain sandiwara (opera) dengan muka dicorang-coreng.

"Main sandiwara apakah ini, kenapa semuanya sebangsa badut dan berjenggot?"

Tanya Ibusuri.

"Bukan main sandiwara, tapi main akrobat,"

Cepat In Ing menerangkan.

Yong Ceng tergerak hatinya oleh keterangan saudara mudanya ini, dalam pada itu ia lihat dua di antara lima orang yang naik panggung im, sudah tangan bergandeng tangan dan seorang lantas melompat ke atas, orang ini menginjak pundak kedua orang yang du-luan, menyusul seorang lagi meloncat lebih tinggi dan menumpang pula di atas pundak yang duluan.

"Bagus sekali kepandaian beberapa orang ini, apakah mereka main akrobat susun?"

Tanya Yong Ceng.

Tapi belum habis ia berkata, mendadak tertampak lelaki yang berperawakan sedang telah meloncat ke atas, kepalanya menyunggi sebuah mangkok berisi air, kedua tangannya masing-masing memegang mangkok pula, waktu ia sengaja sedikit memiringkan mang-koknya, dari ketiga mangkok itu menciprat keluar beberapa tetes air, ia membuktikan bahwa di dalam mangkoknya penuh terisi air.

Kemudian ia mengangkat kedua tangannya, dua mangkok dilemparkan ke udara, menyusul dengan cepat ia lemparkan ke atas pula dua lonjor kain sutera berwarna dan dengan tepat dapat melilit kedua mangkok tadi di udara, bukan saja air dalam mangkok tidak menciprat setetes pun, namun masih menurun ke bawah dengan anteng, bahkan mangkok yang ada di atas kepalanya juga tidak goyang dan memuncratkan air.

Maka terdengarlah suara orang bersorak memuji.

Di bawah suara sorak-sorai itu, tiba-tiba orang itu memutar cepat kain suteranya hingga kedua mangkok yang penuh terisi air itu berputar, makin berputar makin cepat.

Berulang kali Ibusuri bersorak memuji, ia berkata pada Yong Ceng bahwa jauh lebih bagus pertunjukan ini daripada permainan akrobatik yang biasa dilihatnya.

Yong Ceng menyaksikan permainan akrobat tadi dengan seluruh perhatiannya, ia tidak ikut bersorak.

"Apakah beberapa orang ini dari istanamu?"

Tiba-tiba ia bertanya pada In Ing. In Ing lagi terkesima oleh pertunjukan di atas panggung, maka tidak sempat menjawab karena makin lama makin bagus tarian kain sutera itu.

"Sungguh hebat, kasih persen!"

Seru Ibusuri pula dengan girangnya. Segera dua tenggok uang perak disebarkan ke atas panggung pertunjukan oleh dua Thaykam. Di luar dugaan semua orang, mendadak Yong Ceng membentak.

"Tangkap dan periksa beberapa orang ini!"

Di atas panggung, uang perak berhamburan seperti hujan dibarengi dengan sorak pujian penonton, keadaan sedang ramai, sudah tentu bentakan Yong Ceng sama sekali tak disangka sebelumnya, maka seketika keadaan menjadi sunyi dan tenang kembali.

Tetapi pada saat itu juga, dengan kecepatan luar biasa tampak lelaki kekar kecil telah mengayun kain suteranya, dua sinar putih secepat kilat telah melayang mengarah muka Yong Ceng.

Sungguh tidak diduga, kain sutera itu ternyata membungkus dua bilah belati kecil yang sangat tajam.

Yong Ceng sejak mula memang sudah sangsi, maka sebelumnya ia sudah berjaga-jaga, begitu ia membentak, segera pula tubuhnya menyelinap di antara selir-selirnya.

Keruan tidak ampun lagi, dua suara "erat-cret"

Terdengar, kedua belati tadi menembus tulang pundak dua selir Yong Ceng, seketika itu pula keadaan menjadi kacau-balau dibarengi suara jeritan perempuan yang ketakutan.

Ibusuri jatuh semaput di balkon, para selir dan dayang lari tunggang-langgang pula.

Dalam sekejap lelaki tadi secepat burung terbang menubruk ke atas balkon penonton, air ketiga mangkoknya disiramkan ke tubuh Yong Ceng, karena ini mata Yong Ceng menjadi basah dan megap-megap, ia tak bisa membuka matanya, sementara terasa sambaran angin tajam sudah mendekat, sebilah pedang pendek hampir menyentuh punggungnya.

Namun Yong Ceng cukup licik dan lekas mendapatkan akal, pada detik yang berbahaya itu ia pentang kedua tangannya terus menarik dua selirnya ke belakangnya, dengan demikian ia gunakan orang sebagai tameng.

Karena tak keburu menarik kembali serangannya, maka menghamburlah darah segar dari dua wanita lemah yang tak berdaya itu.

Keruan lelaki itu terkejut dan gusar pula, dengan sekali gertak, ia angkat senjatanya menubruk maju lagi, namun Yong Ceng sudah mendahului meloncat pergi naik ke atas sebuah loteng.

Lelaki ini mana bisa disamakan pengamen pengembara biasa, ia bukan lain daripada Kanglam-tayhiap Kam Hong-ti.

Sesudah berhasil menyelundupkan diri ke dalam istana pangeran In Ing, dengan susah-payah ia mendapatkan kesempatan baik malam ini, dengan sendirinya dia tidak mau melepas orang begitu saja, meski ia insaf sangat berbahaya bagi dirinya, namun ia masih terus mengudak, ia ikut melompat naik ke atas loteng menyusul Yong Ceng.

Keempat lelaki yang ikut bersama Kam Hong-ti itupun bukan pembantu biasa dari pemain akrobat, mereka adalah Teng Hiau-lan, Li Ti, Pek Thay-koan dan Hi Kak.

Karena beberapa langkah terlambat, mereka keburu dicegat dan dikeroyok oleh kawanan bayangkara yang berjaga di bawah panggung, dalam pada itu Haptoh telah menerjang maju dengan gembolannya, Han Tiong-san mengeluarkan senjata garuknya ditambah pengawal lain yang merintangi mereka, maka sesaat itu tak bisa menerjang keluar kepungan.

Hiau-lan menjadi kuatir, secepat kilat ia putar pedangnya, ia serang dengan hebat, maka terdengarlah suara "trang"

Yang nyaring dibarengi dengan muncratnya lelatu api, ternyata garuk Han Tiong-san telah terpapas kutung sebagian.

"Ha, kiranya kau, besar sekali nyalimu berani masuk ke sini!"

Demikian Han Tiong-san berteriak.

Habis itu, ia percepat senjata garuknya terus menghantam.

Karena masih kalah setingkat dalam soal keuletan, meski pedangnya tajam, Teng Hiau-lan kena didesak mundur dua tindak, dalam pada itu di belakangnya seorang pengawal yang memakai senjata 'Gun-goan-thi-pay' yakni semacam perisai, mendadak memukul ke atas kepalanya.

Untung Li Ti secepat kilat menubruk dari samping, pedangnya berhasil melukai tangan pengawal itu hingga tamengnya mencelat terlepas dari cekalan, tidak berhasil ia menyerang Hiau-lan, sebaliknya senjatanya melukai seorang kawan sendiri.

Kiam-hoat Li Ti paling aneh dan hebat, cara turun tangannya pun tidak kenal ampun, dimana sinar pedangnya menyambar, kembali dua jago pengawal kena dirobohkan.

Nampak ketangkasan pemuda ini, lekas Haptoh mengayun gembolannya memapak dari jauh, karena senjatanya panjang bertali, sebaliknya pedang Li Ti terlalu pendek, maka tak mampu ia me-rangsek maju buat membantu kawannya lagi.

Dalam pada itu Pek Thay-koan melihat sesudah Kam Hong-ti mengejar Yong Ceng ke atas loteng, hasilnya ternyata sepi seperti batu tenggelam di lautan, tidak terdengar suara pertempuran di sana, tidak tertampak pula orangnya keluar kembali, keruan ia jadi kuatir.

Sempat juga ia menghamburkan segenggam jarum 'Bwe-hoa-ciam', meski beberapa orang dapat dia lukai, tetapi kembali ia diudak oleh Thian-yap Sanjin, lekas ia angkat tangannya memukul, ia desak mundur musuh ini dengan tenaga hantamannya.

Tengah keadaan sangat berbahaya, mendadak terdengar suara teriakan keras, tahu-tahu loteng dimana Hong-ti mengudak tadi telah ambrol sebagian di pojok sana, menyusul satu orang seperti meluncurnya bintang cepatnya telah menyelonong keluar dan terjun ke dalam sungai di taman raja.

"Celaka, Chit-te mengalami bencana!"

Teriak Pek Thay-koan kaget. Dalam pada itu terdengar pula di atas loteng sana suara tertawa Yong Ceng, lalu orangnya pun muncul lagi.

"Kam Hong-ti sudah terbinasa, sekarang boleh diberi kelonggaran, bila tahu gelagat lekas para begundalnya meletakkan senjata dan menyerahkan diri, dengan demikian masih bisa diampuni,"

Dengan suara keras Yong Ceng membentak pula. Tetapi Hi Kak menjadi gusar.

"Siapa mau percaya ocehan-mu!"

Dampratnya.

Habis itu ia mengayun goloknya lagi, sekali bacok ia bikin seorang pengawal terbelah menjadi dua, waktu untuk kedua kalinya ia hendak menyerang pula, Han Tiong-san sudah keburu datang menahannya.

"Emopu keluar, tangkap kawanan pemberontak ini dan bunuh, tidak pandang bulu!"

Segera Yong Ceng berteriak lagi sambil bergelak tertawa.

Emopu terima perintah itu, dengan sekali bentak ia melayang keluar dari loteng im sambil mengayun senjata kebutnya terus menyabet, segera golok besar yang dipegang Hi Kak kena dibelit dan ditarik terbang ke angkasa.

Keruan Teng Hiau-lan kaget, lekas ia putar Yu-liong-pokiam-nya, ia keluarkan tipu 'Tay-bo-liu-soa' atau pasir bertebaran di gurun luas, satu tipu serangan sangat lihai dari Thian-san-kiam-hoat, senjatanya menyambar hingga bersinar gemerlapan naik-turun, ia menyerang secepat kilat susul-menyusul.

Emopu sudah kenal betapa lihai Kiam-hoat orang, maka kebutnya tak berani ia adu dengan Pokiam, begitu bergebrak segera ia menggeser pergi dengan cepat dan tahu-tahu sudah memutar sampai belakang Pek Thay-koan, terus menyerang dengan tipu mematikan.

Namun Thay-koan cukup sebat, ia melangkah pergi lalu putar balik dan mengayun tangannya.

"Kena!"

Ia barengi dengan bentakan.

Maka menyambarlah segenggam Bwe-hoa-ciam mengarah muka Emopu.

Dahulu karena harus bersiap melawan Liau-in Hwesio, maka Pek Thay-koan telah melatih Bwe-hoa-ciam dengan giat sekali, jarum ini bobotnya enteng dan susah dilempar, tetapi ia sanggup menimpuk sampai sejauh lima tombak, bahkan ia bisa mengincar anggota badan musuh dengan jitu, kini jaraknya dengan Emopu sangat dekat, ia duga pasti berhasil mengenai lawan.

Di luar dugaan, di antara sinar perak jarumnya ini, Emopu menarik kebutnya terus diputar, maka terdengarlah suara mencicit nyaring, jarum lembut yang begitu banyak ternyata kena dikebut jatuh hingga lebur oleh tenaga dalam Emopu yang maha kuat.

Melihat gelagat jelek, lekas Li Ti bekerja cepat, pedangnya menusuk kedua mata Emopu, dengan sendirinya Emopu mengangkat kebutnya menangkis, tak terduga serangan Li Ti ini tampaknya mengarah sebelah kiri tapi sebenarnya yang diincar sebelah kanan, begitu pedangnya berputar, segera senjata ini memotong daun kupingnya, untung Emopu masih keburu membungkuk dan bisa menghindarkan diri.

Waktu Li Ti hendak menikam, mendadak dari samping Thian-yap Sanjin sudah menerjang, secepat kilat ia memukul.

Karena itu Li Ti terpaksa harus mundur selangkah, dengan demikian Emopu sempat berdiri tegak lagi, ketika kebutnya mengayun pula, kembali ia menyabet.

Selagi keadaan genting, tiba-tiba terdengar suara suitan panjang yang nyaring menggema lama di angkasa.

'"Awas, kawan!

Kembali budak hina itu datang!"

Thian-yap Sanjin memperingatkan kawannya.

Ia mengenali suara suitan itu.

Belum lenyap suaranya, mendadak sudah terdengar suara jeritan dan teriakan ketakutan di seluruh taman, tahu-tahu dari puncak pohon lebat di tengah taman raja itu seperti burung saja telah melayang turun beberapa orang, setelah dilihat jelas, kiranya yang datang adalah tiga dara laksana bidadari turun dari kahyangan.

Tiga dara ini adalah Lu Si-nio, si kembar Pang Ing dan Pang Lin.

Sebenarnya meski Ginkang mereka sangat tinggi, tetapi hendak menerobos kian-kemari di antara gedung yang penuh jago pengawal im bukan suatu hal yang gampang, untungnya hari im adalah Capgomeh, di tengah taman lagi diadakan perayaan, oleh karena im jago pengawal telah ditarik semua ke taman untuk menjaga di sini hingga tiga dara ini bisa masuk istana secara leluasa.

"Celaka!"

Emopu tahu gelagat jelek, ia yang pertama-tama mencegat datangnya tiga dara pendekar ini.

"Kaisar anjing im ada di atas loteng!"

Hiau-lan berseru pada Si-nio.

Karena itu, baru saja Si-nio menancapkan kaki di tanah, kembali ia enjot tubuhnya, sekejap saja ia sudah melompat ke atas loteng.

Namun setelah ia menerjang masuk, keadaan sepi tanpa satu bayangan orang.

Si-nio cukup cerdik, baru ia melangkah masuk, senjatanya berbareng diputar, tetapi segera ia melompat mundur setelah tidak ada seorang pun, dengan demikian anak panah rahasia yang menyambar keluar seperti belalang terbang kena disampuk jatuh semua oleh pedangnya.

Dalam pada itu Pang Ing dan Pang Lin yang selangkah lebih lambat, dengan tepat kesamplok Emopu yang memburu maju hendak mencegat, tanpa ayal lagi Pang Ing geraki pedangnya dan secepat kilat menusuk, sekali gerakan dua macam serangan, ia tutul muka orang dan tikam dada musuh pula.

Lekas Emopu berkelit dan berputar pergi, kebutnya membalik terus menyabet.

Syukur dua tahun paling akhir ini Pang Ing telah berlatih dengan giat di Thian-san, tidak sedikit kemajuan yang telah dia peroleh, maka ia tidak menjadi gugup menghadapi lawan kuat ini, ia layani musuh dengan tenang, ketika ia mengegos, mendadak pedangnya menyambar lagi menerobos di bawah kebut orang, terus menusuk 'Ki-bun-hiat' di bawah pinggang.

Sama sekali Emopu tak menduga Kiam-hoat Pang Ing bisa maju begitu pesat, meski ia bisa cepat menarik kembali kebutnya dibarengi sebelah tangannya memukul, namun tidak urung bulu kebutnya terpapas sebagian, sebaliknya Pang Ing terhuyung-huyung juga oleh karena getaran angin pukulan musuh.

Sementara itu setelah berputar kembali, segera Emopu menyerang lagi.

Saat itu tiba-tiba tertampak Pang Lin menyerang dari samping, gaya serangannya sangat aneh, seperti ke kiri tetapi tahu-tahu ke kanan, arahnya selalu mengincar urat nadi yang menjadi kelemahan lawan.

Sebagaimana diketahui Emopu melatih diri sedemikian rupa sehingga tubuhnya seakan kebal dan hanya urat nadi 'Him-ho-li-sui', yakni tempat di selangkangnya yang menjadi ciri kematiannya, keruan ia sangat kaget oleh serangan Pang Lin tadi, lekas ia kumpulkan tenaga dalamnya, kebut ia angkat terus menyabet hendak menghancurkan tulang tangan Pang Lin.

Di luar perhitungannya, sesudah Pang Ing tenangkan diri, senjatanya kembali menyambar, Lwekang Pang Ing masih jauh lebih kuat dari adiknya, pula senjata yang dia pakai adalah Pokiam, maka Emopu tak berani menangkis, ia kumpulkan tenaga pukulannya buat memukul mundur Pang Ing, dalam hal tenaga dalam Emopu lebih tinggi dari Pang Ing, maka gadis ini tak berani keras lawan keras, lekas ia melompat ke samping.

Dan selagi Emopu hendak merangsek maju, tiba-tiba serangan Pang Lin mengarah lagi tempat cirinya itu.

Emopu menjadi gemas dan berjingkrak saking marahnya, tetapi apa daya, seorang diri ia harus menghadapi dua dara yang bisa bekerja sama dengan baik, terpaksa ia tarik kembali kebutnya yang hendak disabetkan pada Pang Ing tadi.

Sebagaimana diketahui pada waktu kecil, Pang Lin bertempat tinggal di istana pangeran, ia mahir ilmu silat dari berbagai golongan, ia tahu pula ilmu mengebut Hiat-to dari Lamma Merah Tibet, ditambah paling akhir ini ia telah mendapatkan ajaran asli Bu-kekpay, kepandaiannya sudah jauh lebih maju, oleh sebab im menjadi sangat lihai hingga mau tak mau Emopu rada jeri juga pada anak dara ini, lebih-lebih dara ini tahu rahasia tempat kelemahannya.

Mengenai Lu Si-nio, sesudah ia melompat keluar dari loteng 'Cong-im-kok' tadi, waktu melirik, ia lihat Emopu lagi menempur kedua dara kembar dengan sama kuat, maka ia tidak ambil peduli sementara padanya.

Sebaliknya ia memutar pedangnya dengan cepat terus menerjang ke arah kawanan bayangkara.

"Lekas terjang keluar, Yong Ceng kaisar anjing itu sudah kabur!"

Demikian ia meneriaki para kawannya.

"Kam-tayhiap di ... di sahut Hiau-lan dengan kuatir atas keselamatan Kam Hong-ti.

"Chit-ko sudah tak kelihatan lagi, biarlah hitung-hitung kita. telah terjungkal hari ini,"

Kata Si-nio lagi. Dalam pada itu Hi Kak menjadi murka juga, kini ia sudah berhasil merebut sebatang tombak, ia mendahului menerjang maju.

"Baiklah, kita bunuh saja kawanan anjing ini, ada satu bunuh satu, ada dua bereskan dua, kita balaskan sakit hati Kam-tayhiap,"

Teriaknya.

"Ilmu silat Chit-ko cukup tinggi, orangnya sangat cerdik pula, belum tentu ia mengalami malapetaka, kita jangan bertahan lebih lama di sini, paling perlu terjang keluar dulu,"

Ajak Si-nio.

Waktu ia bicara, tangannya tidak pernah kendur, dimana senjatanya sampai, di situ pengawal istana segera terputus kaki tangan-' nya atau kepala pecah dan darah muncrat.

Han Tiong-san menjadi gusar, ia melompat maju, senjata garuknya dengan tipu 'Thay-san-ap-teng' (gunung Thay menindih ke atas kepala), sekonyong-konyong membacok kepala Lu Si-nio.

Tetapi Si-nio menyambut serangan ini dengan tertawa dingin, waktu pedangnya menangkis, tahu-tahu garuk Han Tiong-san ditekan ke samping, Si-nio tidak ganti serangan lain, hanya sedikit memutar, pedangnya segera mengancam musuh lagi.

"Celaka!"

Teriak Haptoh ketika melihat betapa lihainya Lu Si-nio.

Lekas ia ayun gembolannya menimpuk dari jauh.

Tak terduga gerak tubuh Lu Si-nio luar biasa cepatnya, kelihatannya sepasang gembolan Haptoh sudah menyambar sampai di atas kepala nona ini, namun entah mengapa tahu-tahu dia Sudah berkelit pergi, bahkan balikkan pedangnya membabat pula, tiba-tiba terdengar suara "krak" , dua jari tangan Han Tiong-san putus ter-papas, bahkan garukannya ikut mencelat dari cekalannya dan secara kebetulan menimpuk seorang jago pengawal hingga pengawal sial ini terbabat putus menjadi dua tepat di pinggangnya.

Kaget sekali Haptoh, ia putar tubuh terus mundur paling dulu, susul-menyusul Thian-yap Sanjin menghantam dengan dua tangan, ia tangkis dua kali serangan orang, lalu dengan cepat melindungi sang Suheng buat kabur juga.

Sebenarnya kepandaian Han Tiong-san sudah tergolong kelas wahid, tetapi ia tidak tahu bahwa selama beberapa tahun ini Si-nio telah menggembleng diri dengan giat di atas Bin-san, bukan Kiam-hoat saja yang maju, soal Lwekang juga sudah di atas puncak kesempurnaan pula, dibandingkan Han Tiong-san kini tidak hanya lebih tinggi setingkat saja.

Sebaliknya Han Tiong-san mengira lawannya masih seperti dahulu, karena salah perhitungan inilah ia menjadi lengah, sebenarnya ia masih sanggup bertahan beberapa puluh jurus, kini sebaliknya hanya tiga gebrakan saja sudah kena dilukai Lu Si-nio.

Haptoh, Han Tiong-san dan Thian-yap Sanjin sudah lari, kawanan bayangkara itupun tidak berani mengejar musuh, maka dengan leluasa Pang Ing dan Pang Lin bisa menerjang keluar bersama kawan-kawannya, tinggal Emopu sendirian, ia pun tak berani sembarang mengudak, ia memberi tanda agar bawahannya menolong kawan yang terluka atau terbinasa, sedang ia sendiri cepat masuk istana untuk menghadap kaisar.

Waktu itu, Yong Ceng sudah bersembunyi di kamar rahasia dalam istananya.

Kiranya Yong Ceng telah mengadakan penjagaan yang rapat sekali, sudah lama ia atur pesawat rahasia di loteng 'Cong-im-kok', bahkan ia menggali lorong bawah tanah yang bisa menembus sampai di luar istana, sebelumnya Emopu juga sudah diperintahkan bersembunyi di dalam.

Ketika Kam Hong-ti tanpa pikir mengudak masuk, segera ia terpedaya, Yong Ceng sendiri sudah kabur melalui jalan bawah tanah.

Begitulah sesudah Emopu menghadap Yong Ceng di kamar rahasianya, ia berlutut minta ampun.

"Kau berjasa telah menolong Baginda, mana kau -ada dosa, yang harus disesalkan ialah In Ing si binatang ini, berani mempe-dayai aku,"

Demikian kata Yong Ceng.

"Pangeran kecil mungkin tidak sengaja,"

Ujar Emopu.

"Peduli dia sengaja atau tidak, dia harus dihukum yang setimpal,"

Kata Yong Ceng.

"Dan kau sekarang lekas perintahkan orang yang pandai renang agar menyelam ke dasar sungai di taman, coba periksa Kam Hong-ti mampus tidak di dalam sungai."

"Dia terluka oleh panah dan merasakan pukulan hamba pula, lalu terjungkir ke dalam sungai, hawa begini dingin dan air seakan membeku seperti es, sekalipun tidak mati, susah juga hendak menggunakan Lwekang buat menahan rasa dingin, mungkin dia akan mati beku,"

Sahut Emopu.

"Meskipun begitu, kalau belum melihat mayatnya, rasanya belum lega,"

Ujar Yong Ceng kurang mantap.

"Baiklah. Apa Hongsiang ada perintah lain?"

Tanya Emopu. Yong Ceng berpikir sejenak, habis im ia berkata.

"Tidak peduli diketemukan atau tidak, kau boleh menyebarkan berita sensasi ke seluruh kota, bilang saja Kam Hong-ti sudah kita tangkap. Rahasia ini jangan sampai bocor, jagalah baik-baik!"

Emopu menjadi bingung, ia tidak mengerti apa maksud perintah ini, namun tak berani bertanya, ia terima titah itu dan keluar dari istana.

Sesudah geger itu, besoknya Yong Ceng perintahkan seluruh kota terlarang digeledah, berbareng ia atur penjagaan lebih ketat di istana, setelah ribut-ribut sehari, tiada seorang pun yang tertangkap, kecuali beberapa rakyat jelata yang dituduh mencurigakan, sedang mayat Kam Hong-ti tidak berhasil ditemukan.

Yong Ceng merasa heran.

Petangnya tiba-tiba seorang dayang kepercayaannya melapor bahwa Kau Sam-pian mohon menghadap Hongsiang.

Kau Sam-pian adalah bekas pengawal tua yang sudah berontak keluar istana, kini dilaporkan hendak bertemu Hongsiang, Emopu yang mendampingi junjungannya menjadi kaget.

"Bawa dia masuk,"

Kata Yong Ceng.

"Mungkin di balik ini ada tipu muslihat,"

Ujar Emopu.

"Justru aku ingin mempedayai dia sekalian, aku tidak takut pada muslihatnya,"

Sahut Yong Ceng tertawa. Lalu ia bertanya pada dayangnya.

"Cara bagaimana ia datang ke sini?"

"Kedua tangannya teringkus, ia telah menemui Congkoan dan bilang ada urusan penting maha rahasia yang harus dikatakan sendiri pada Hongsiang,"

Tutur si dayang.

"Dia masih membawa pula seorang berkedok, ia bilang urusan rahasia itu berada pada orang itu. Karena Congkoan tak berani memutuskan, maka minta keputusan Hongsiang."

"Ha, bagus, bawa masuk semua!"

Seru Yong Ceng dengan tertawa. Tidak lama kemudian Kau Sam-pian dan kawannya yang memakai kedok telah dibawa masuk.

"Kau Sam-pian, masih berani kau datang menghadap padaku?"

Demikian segera Yong Ceng membentak dengan bengis.

"Ya, hamba sudah insaf akan dosa hamba, maka sengaja datang menghaturkan jasa sebagai penebusan dosaku,"

Jawab Kau Sam-pian sambil menjura.

"Bagus, bagus sekali!"

Kata Yong Ceng tertawa.

"Memang kalau kau sudah menyesal, tentu aku berikan jalan padamu untuk memperbaiki dirimu, nah, apa urusannya, katakanlah sekarang!"

"Harap Hongsiang singkirkan para penjaga dulu,"

Kata Kau Sam-pian.

"Haha, Kau Sam-pian, apa kau kira aku anak kecil?"

Sahut Yong Ceng dengan tertawa.

"Jika Hongsiang masih curiga, silakanlah Pi-pe-kut hamba dibikin patah,"

Kata Sam-pian pula.

"Hm, kau cukup gampang juga, tetapi aku tak perlu merusak tulang pundakmu, supaya kau tidak menjadi cacat,"

Sahut Yong Ceng.

"Emopu, kau musnahkan saja ilmu silat kedua orang ini!"

Dengan sekali menyahut, Emopu keluarkan sebuah jarum panjang putih mengkilap, tanpa bicara lagi mendadak ia tusuk tubuh Kau Sam-pian dan orang berkedok itu masing-masing tiga kali, menyusul dengan kedua tangan ia remas pula pinggang kedua orang ini, karena tindakan ini, saking sakitnya Kau Sam-pian terhuyung-huyung hampir jatuh, sedang orang berkedok itupun sempoyongan, dari jidat mereka berdua lantas mengeluarkan butiran keringat yang besar, suatu tanda penderitaan yang mereka rasakan.

"Nah, meski untuk sementara kalian merasa menderita, tetapi dapat terhindar juga dari cacat, selanjutnya kalian akan seperti orang biasa dan boleh hidup dengan aman, coba katakan, bukankah cukup aku bermurah hati,"

Dengan tersenyum Yong Ceng berkata lagi.

"Hamba menghaturkan terima kasih,"

Sahut Kau Sam-pian menjura pula.

"Baiklah, sekarang kau boleh keluar, Emopu,"

Lalu Yong Ceng memberi tanda pada pengawalnya ini.

Begitulah Emopu lantas mengundurkan diri keluar kamar.

Seperti diketahui Emopu memiliki kepandaian khas, yakni bisa menggunakan jarum perak menusuk urat nadi orang mesti teraling oleh baju, jika kena tusuk, tenaga Lwekang yang terlatih seketika buyar, dengan demikian betapapun tinggi ilmu silat sang korban, seketika akan termusnah seluruhnya.

Tetapi karena Emopu sudah berpengalaman dipedaya oleh Pang Ing dahulu yang memakai lapisan kaos kutang yang tebal, maka sesudah dia tusuk Kau Sam-pian dan kawannya, ia tambahi sekali remas di pinggang mereka, dengan cara ini jika orang masih memiliki ilmu silat, otomatis akan memberi reaksi, tetapi setelah dia coba, ternyata sedikitpun tiada tenaga lagi, maka dengan lega baru ia berani meninggalkan junjungannya.

"Nah, katakan sekarang, urusan rahasia apa yang hendak kau laporkan?"

Segera Yong Ceng bertanya sesudah Emopu keluar. ."Rahasia im berada pada orang ini,"

Sahut Kau Sam-pian. Berbareng ini ia tarik dan singkap kedok yang dipakai orang im.

"Apa Hongsiang masih kenal padanya?"

Sam-pian bertanya.

"Haha, aku kira siapa, tak tahunya kau, Teng Hiau-lan, haha, kita adalah sahabat lama!"

Kata Yong Ceng dengan tertawa demi mengenali siapa orang berkedok ini.

"Apa Hongsiang mengetahui asal-usul Teng Hiau-lan?"

Tiba-tiba Sam-pian bertanya lagi. Karena pertanyaan ini, kembali Yong Ceng tersenyum.

"Kenapa tidak tahu?"

Sahutnya kemudian.

"Hiau-lan, memang kita tidak terbatas sebagai sahabat lama saja, bahkan masih saudara sedarah sedaging, jika kau sudah tahu asal-usul diri sendiri, hendaklah kau tinggal dalam istana saja dan jangan bergaul lagi dengan segala orang di luar."

Mendengar orang sudah tahu asal-usulnya, seketika Hiau-lan dan Kau Sam-pian berbalik kaget, seketika mereka tak bisa bicara.

Kiranya sesudah Khong-hi wafat, dari penggeledahan yang dilakukan Yong Ceng, ia dapatkan buku catatan sang ayah waktu sakit, dia telah mencatat kejadian pertemuannya dengan Teng Hiau-lan serta menyatakan rada terkenang pada putranya yang tak resmi ini, ia anggap di antara belasan putranya, boleh dikata putra yang tak resmi inilah yang memiliki bakat dan kepribadian yang paling baik.

Karena itulah Yong Ceng dengki pada Teng Hiau-lan, kini ia pikir akan memancing pengakuan pemuda ini dengan bujukannya.

Dalam pada itu dengan mengertak gigi Teng Hiau-lan lantas mencaci-maki Kau Sam-pian!

"Bangsat tua she Kau, kau menipu aku ke dalam istana, sungguh aku penasaran tidak bisa makan daging dan mengertak tulangmu!"

"Apakah betul kau condong keluar?"

Dengan tersenyum Yong Ceng bertanya.

"Paling betul katakanlah bangsa Han yang membikin geger itu bersembunyi dimana, begitu kau mengaku, segera aku akui kau sebagai adik dan memberi gelar pangeran padamu."

Tetapi Hiau-lan hanya bungkam saja tanpa menjawab.

"Di jagat sekarang ini, siapa yang berani membantah perintahku, apa kau ingin mengetahui nasib In Tong dan In Go serta kawan-kawan? Meski mereka bisa kabur dari istana, tetapi sesudah ditangkap kembali, kini mereka sudah hancur-lebur menjadi abu,"

Kata Yong Ceng setengah menggertak.

"Dalam istana selalu siap dengan segala alat penyiksa, apa kau pun ingin merasakan seperti mereka?"

Segera ia berseru memanggil.

"Emopu, siapkan perkakasnya!"

Sesudah ini, segera pula ia lembutkan lagu suaranya, dengan tersenyum, ia menyambung lagi.

"Nah, kau boleh ambil keputusan, gelar pangeran atau disiksa oleh garangan api, boleh kau pilih!"

Karena im kelihatan Teng Hiau-lan menunduk seperti lagi berpikir, setelah lama dan lama sekali baru kemudian ia mendongak.

"Baiklah, aku mengaku saja,"

Katanya kemudian.

"di sini ada selembar daftar nama, biarlah aku serahkan padamu."

Yong Ceng menjadi girang melihat orang menyerah oleh gertakannya, ia melangkah maju hendak menerima daftar nama yang dimaksud.

"Mana!"

Katanya sambil mengulur tangan.

"Serahkan sini!"

Di luar dugaan, secepat kilat Teng Hiau-lan membaliki tangannya yang diulurkan pada orang, sekali cekal ia dapat memegang pergelangan tangan Yong Ceng.

Yong Ceng tidak malu sebagai bekas anak murid Siau-lim-si, segera sebelah kakinya menyapu, ia keluarkan tendangan Siau-lim-si yang lihai mengarah selangkangan orang, jika terkena tendangannya ini kalau tidak tewas, sedikitnya Hiau-lan akan luka parah.

Tetapi pada saat im juga Kau Sam-pian menubruk maju juga, karena itu tendangan tadi bukannya mengenai Teng Hiau-lan, sebaliknya kena kepala Kau Sam-pian hingga seketika pecah dan remuk, bekas jago bayangkara tua ini binasa di bawah tendangan Yong Ceng.

Sebaliknya karena rintangan ini, dengan cepat luar biasa Teng Hiau-lan keburu mengulur jari menutuk, baru saja Yong Ceng mengangkat sebelah kakinya hendak menendang lagi, kakinya sudah terasa lemas tanpa tenaga.

Kiranya apa yang dijalankan Kau Sam-pian bersama Teng Hiau-lan ini adalah tipu muslihat menyiksa diri untuk memperoleh kepercayaan Yong Ceng.

Sebab berita yang sengaja disiarkan Yong Ceng tentang Kam Hong-ti im, Kau Sam-pian mengira pendekar besar im benar-benar tertawan.

Sesudah berunding, karena tiada jalan lagi buat menolong, akhirnya Kau Sam-pian mengusulkan tipu muslihatnya tadi, ia masuk istana dengan segala resikonya, tetapi berusaha mempedayai Kaisar Yong Ceng.

Teng Hiau-lan sendiri sudah mengenakan kaos kutang benang emas yang dia pinjam dari Pang Ing, meski dia terkena tusukan jarum Emopu, tetapi segera ia gunakan Lwekang yang tinggi ajaran le Lan-cu untuk melindungi diri, ia sengaja menggunakan tenaga dalam pula untuk memaksa keringatnya menetes keluar.

Betul juga, Emopu dan Yong Ceng yang biasanya sangat cerdik kena dikelabui.

Sedang Kau Sam-pian sendiri betul-betul telah kehilangan ilmu silatnya karena tusukan jarum Emopu itu, dengan mati-matian ia menubruk maju dan berkorban demi Teng Hiau-lan.

Saling gebrak tadi terjadi begitu cepat dan dalam waktu singkat, maka ketika Emopu menerjang masuk kembali, ia lihat Yong Ceng sudah ditawan Hiau-lan dan tak bisa berkutik.

Keruan bukan kepalang kaget Emopu, ia lihat Pokiam Teng Hiau-lan sudah ditumpangkan di atas leher Yong Ceng, dalam keadaan terpaksa, mau tak mau ia menjadi kuatir dan keder.

Sebaliknya meski jiwanya terancam, Yong Ceng malah bisa berlaku tenang, ia tidak menjadi ketakutan, malah bergelak tertawa.

"Haha, Teng Hiau-lan, kau harus dipuji!"

Demikian katanya.

"Memang aku sudah menduga kalian menggunakan tipu muslihat, tapi sama sekali tidak menduga kau akan memakai benda mestika untuk melindungi tubuhmu. Sudahlah, aku mengaku kalah, katakan saja sekarang, apa yang kau kehendaki?"

"Serahkan Kam-tayhiap!"

Seru Hiau-lan dengan nyaring.

"Bagus, dengan jiwaku untuk menukar jiwa Kam Hong-ti, transaksi ini cukup berharga,"

Sahut Yong Ceng.

"Nah, Emopu, lepaskan Kam Hong-ti dan_serahkan dia padanya di sini."

I Emopu menyahut sekali, betul saja tidak antara lama, ia telah membawa satu orang yang kepalanya diikat rapat dengan ubel-ubel kain biru, hanya setengah mukanya yang masih kelihatan.

"Kam Hong-ti menderita luka parah kena panah, pula banyak meneguk air sungai, sebenarnya ia harus beristirahat dengan baik,"

Ujar Emopu.

"Tetapi kau ingin membawanya pergi, terserahlah, kalau ada apa-apa, jangan kau salahkan aku tidak memberitahukan padamu sebelumnya."

Waktu Hiau-lan menegasi di bawah sorot pelita yang remang-remang, ia lihat perawakan orang itu sedikit pendek, meski terluka, tetapi kedua matanya bersinar tajam, memang betul Kam Hong-ti adanya.

"Kam-toako!"

Ia coba memanggil.

"Ehm, Teng-hiante,"

Terdengar orang itu menyahut, cuma suaranya kedengaran rada serak dan lemah.

Pikir Hiau-lan tentu Kam Hong-ti menderita luka, pula banyak minum air dingin, pantas ia begitu tersiksa hingga suaranya lemah.

Sebenarnya ia ingin maju buat memeriksa luka Kam Hong-ti, tetapi ia kuatir kesempatan im akan membikin Yong Ceng kabur, maka sesudah ia berpikir sejenak, lalu ia berkata.

"Sekarang kau harus mengantar kami keluar istana, harus keluar melalui pintu gerbang Sin-bu-mui yang menghadap bukit Keng-san. Begitu kami keluar, segera pula aku bebaskan kau."

"Apa yang kau katakan ini apa akan ditaati mereka?"

Sahut Yong Ceng.

"Di luar Sin-bu-mui tentu orangmu sedang menunggu dan mereka tentu akan mendapatkan diriku, apa kau bisa mengambil keputusan buat mereka?"

Kata-kata ini membikin Hiau-lan menjadi gusar.

"Hm, tidak nanti kami berlaku rendah seperti kau yang selamanya suka menipu dan pandai berdusta, sebagai jantan sejati, tidak nanti aku ingkar janji!"

"Bagus kata-katamu,"

Sambung Yong Ceng dengan tertawa.

"Aku pun pernah berkelana di Kangouw, baiklah kita selesaikan menurut peraturan Kangouw."

"Suruh seorang dayangmu memayang Kam-tayhiap berjalan di depan, Emopu tidak boleh berada di sekitarnya,"

Kata Hiau-lan. lagi.

"Kau ini sungguh banyak curiga,"

Sahut Yong Ceng tertawa. Lalu ia kedipi matanya pada jago pengawalnya dan berkata.

"Emopu sementara kau menyingkir dulu."

"Hm, jangan sekali-kali kau coba bermain sandiwara, jika kau perintahkan Emopu menggerebek keluar pintu gerbang Sin-bu-mui dan mencelakai kawanku, jangan kau menyesal kalau pedangku tidak kenal ampun,"

Ancam Hiau-lan.

"Aku sudah berada di bawah ancamanmu, sebenarnya kau pun tidak perlu banyak curiga lagi,"

Dengan dingin Yong Ceng menjawab, ia tetap berlaku tenang tanpa gentar.

Kemudian 'Kam Hong-ti' dipayang seorang dayang dan berjalan di depan, sedang Teng Hiau-lan masih terus menumpangkan pedang di atas leher Yong Ceng, sedikitpun dia tidak kendurkan tawanannya ini, sepanjang jalan memang tiada rintangan apa-apa, maka tidak lama sampailah mereka di pintu gerbang Sin-bu-mui.

Di tengah jalan pernah juga 'Kam Hong-ti' menoleh memandang Teng Hiau-lan, dari sinar matanya tertampak penuh mengandung rasa terima kasih pada pemuda ini, tetapi ia tidak buka suara, melainkan hanya mengangguk-angguk saja.

"Kam-toako, apa kau masih sanggup jalan?"

Tanya Hiau-lan setelah sampai di Sin-bu-mui. Namun 'Kam Hong-ti"

Tidak menjawab, melainkan mengibaskan tangannya hingga dayang yang memegang lengannya itu kena disengkelit pergi hingga terjungkal.

"Sungguh hebat, meski Kam-toako terluka, tetapi tenagamu tidak menjadi berkurang,"

Demikian "Hiau-lan kegirangan melihai gerak tangan 'Kam Hong-ti' tadi.

"Marilah Toako, kau berpegangan pundakku, di sana Lu-cici sedang menunggu, setelah keluar pintu gerbang ini, tentu dia akan datang menyambut kita."

"Apa masih perlu kuantar tidak?"

Tanya Yong Ceng.

"Ya, sampai di luar pintu,"

Sahut Hiau-lan. Sementara itu "

Kam Hong-ti' sudah memutar tubuh dan dengan perlahan mendekati Teng Hiau-lan, dengan kedua tangan ia hendak berpegangan di pundak pemuda ini.

Hiau-lan terharu oleh keadaan kawan ini, ia memapakinya dan selagi ia hendak buka suara menghibur, sekonyong-konyong terasa olehnya pundaknya kesakitan, pergelangan tangan yang memegang pedang kena ditarik oleh "Kam Hong-ti".

"He, Kam-toako, apa yang kau lakukan?"

Seru Hiau-lan terkejut.

"Siapa kau punya Toako?"

Bagai guntur orang itu membentak.

Berbareng sebelah tangannya mencengkeram pundak orang dan sebelah tangan lain menekuk tangannya.

Di antara suara tertawanya, Yong Ceng sudah berhasil melepaskan diri juga, kiranya pada waktu orang itu mendekati Hiau-lan dan menyenggol Yong Ceng, dengan sikunya ia tumbuk Hiat-to Yong Ceng dan segera bisa bergerak lagi.

Mana bisa orang ini adalah Kam Hong-ti, ia bukan lain daripada jago pengawal istana saja, cuma perawakannya hampir mirip Kam Hong-ti, maka Yong Ceng menggunakan dia untuk menyamar, hal ini adalah tipu yang sudah disiapkan sebelumnya, karena tidak sempat meneliti, maka Teng Hiau-lan kena dikibuli.

Beruntung pengawal ini bukan jago kelas satu, maka walaupun Teng Hiau-lan kena dicengkeram pundak dan tangannya tanpa terduga, masih dapat juga ia meronta melepaskan diri.

"Lekas tutup pintu gerbang!"

Segera terdengar Yong Ceng berteriak setelah dirinya lolos.

Dalam pada itu Emopu, Han Tiong-san dan Haptoh lantas melompat keluar dari tempat persembunyian mereka, kiranya sudah lama mereka menunggu di sini.

Di lain pihak Teng Hiau-lan telah merangkul orang tadi terus menggelundung ke tanah, dengan tipu gerakan yang lihai akhirnya ia berhasil melepaskan diri dari gumulan orang, begitu ia mengayun Pokiamnya, segera Kam Hong-ti palsu itu kena ditabas kutung menjadi dua.

Saat lain ia lihat Haptoh telah menubruk datang dengan senjata gembolannya yang diputar, sedang Sin-bu-mui pelan-pelan telah menutup pula, pintu gerbang ini terbuat dari besi, temboknya tinggi pula, pundak Teng Hiau-lan sudah terluka oleh cengkeraman orang tadi, maka susah hendak menggunakan Ginkang seperti biasanya, karena im beberapa kali ia melompat ke atas, tapi selalu gagal.

Karena tiada harapan lagi, tampaknya Teng Hiau-lan menjadi kalap, ia tidak menghiraukan jiwanya lagi, ia berputar kembali terus memapaki musuh.

Namun segera terdengar suara jeritan, rupanya orang yang sedang menutup pintu gerbang tadi telah terkena senjata rahasia dan jatuh terguling, karena itu, lekas Emopu dan Han Tiong-san melompat ke atas tembok benteng.

Pada saat itu juga terdengar suara suitan nyaring, Lu Si-nio beserta si kembar Pang Ing dan Pang Lin telah melompat ke atas tembok benteng dari luar, sebaliknya Kwantang-si-hiap menerjang masuk melalui pintu benteng.

"Lekas turunkan pintu air,"

Seru Emopu dan kebutnya menangkis pedang Lu Si-nio yang telah menyerang.

Dengan tangan kiri memegang senjata garuk buat melindungi diri, dengan sebelah tangan yang lain Han Tiong-san menekan pintu air gerbang itu ke bawah.

Namun ICwantang-si-hiap sudah keburu menerobos masuk ke dalam, begitu pula Pang Ing dan Pang Lin sudah melayang sampai di samping Teng Hiau-lan.

Tetapi seketika juga di atas tembok benteng itu memuntahkan panah seperti hujan, pengawal yang bersembunyi di sekitar situ berduyun-duyun membanjir datang, yang paling lihai adalah bumbung yang menyemburkan'api, begitu tutup bumbung dibuka, dari dalamnya lantas menyemprot keluar api terus membakar apa saja yang terjilat.

Di bawah hujan panah dan serangan api ini, semua orang menjadi kerepotan dan berbahaya.

"Bisakah kau melompat keluar?"

Pang Ing bertanya pada Hiau-lan.

Tetapi pemuda ini menggeleng kepala.

Dalam pada itu pintu air yang ditekan Han Tiong-san dari atas lambat-laun sudah hampir menutup rapat ke bawah, di atas tembok benteng berdiri tukang panah pula, di antara Kwantang-si-hiap kecuali Hian-hong Totiang dan Liu Sian-gai, dua lainnya lebih rendah ilmu entengi tubuhnya, dapat diduga tidak akan sanggup meloloskan diri dengan melintasi tembok benteng.

Waktu Lu Si-nio mempercepat pedangnya, ia desak Emopu sedemikian rupa hingga hanya sanggup menangkis saja, sedang Pang Lin mengayun tangannya, sekaligus tiga pisau terbang mengarah Han Tiong-san.

Han Tiong-san terhitung ahli Am-gi, ia lihat tiga pisau terbang itu sangat lihai, terpaksa ia tarik tangannya buat menangkap pisau orang.

Kesempatan ini segera digunakan Tan Goan-pa untuk melompat ke bawah pintu air gerbang, ia angkat pintu besi ini dengan sepenuh tenaga, maka perlahan-lahan pintu bergerak ke atas, Tan Goan-pa bergelar 'Tan-ciang-khay-pi' atau satu tangan membelah pilar, suatu tanda betapa kuat tenaganya, maka meski pintu air itu beratnya ribuan Kati, akhirnya kena disanggah naik dengan perlahan.

Kesempatan ini tidak disia-siakan kawannya, Hian-hong To-tiang dan Pang Ing, Long-goat Siansu serta yang lain, setelah mendesak mundur lawannya, lalu beramai kabur keluar.

Pang Lin sendiri tidak pernah menghentikan tangannya hingga Han Tiong-san dibikin sibuk tidak sempat menekan pintu air ke bawah.

Namun Hui-to yang dibawa Pang Lin terbatas 24 bilah saja, ketika Hiau-lan dan Pang Ing yang jalan paling belakang sampai di pinggir pintu gerbang, Hui-to yang dibawa Pang Lin sudah habis digunakan.

Melihat musuh sudah kehabisan senjata, Han Tiong-san tertawa ngikik aneh, lalu ia ayun tangan, sekali ini gilirannya melepas senjata, dua buah 'Hwe-goan-kau' yang membawa suara mengaung berbareng menyambar.

Pada saat lain, sepenuh tenaga Han Tiong-san kembali menekan pintu air ke bawah.

"Lekas mundur keluar!"

Seru Tan Goan-pa dengan otot biru menonjol di keningnya, suatu tanda betapa ia memaksa keluarkan tenaga buat bertahan.

Segera Pang Ing dan Hiau-lan memutar pedang mereka berbareng, dua 'Hwe-goan-kau' Han Tiong-san kena digunting oleh kedua pedang ini menjadi empat keping.

Menyusul kedua muda-mudi ini lantas melayang lewat di samping Tan Goan-pa.

Sedetik kemudian terdengar jeritan ngeri, ketika Hiau-lan menoleh, ia lihat Lu Si-nio sudah berlari sampai di belakangnya dengan sebelah tangan mencangking sebuah kepala orang.

"Lekas pergi, lekas pergi!"

Seru Lu Si-nio berulang-ulang.

Begitulah maka dengan cepat mereka melintasi bukit Kengsan dan keluar kotaraja, di bawah cahaya bintang remang-remang mereka sampai di tanah tinggi di Se-san, di sini mereka berhenti mengaso, kemudian baru mereka tahu kepala orang yang dibawa Lu Si-nio tadi adalah kepala Han Tiong-san.

Di samping lain Hian-hong sedang ketok-ketok batu dengan tongkatnya, air matanya berlinang, Lu Si-nio sendiri pun kelihatan muram.

"Kasihan Si-te (adik keempat), meski keparat she Han ini terbunuh, namun rasanya aku belum rela,"

Kata Liu Sian-gai dengan menangis.

"Ya, salahku karena aku datang terlambat,"

Ujar Lu Si-nio.

"Kalau aku tidak terluka, tidak nanti Tan-toako memaksakan diri menyanggah pintu seberat ribuan kati itu,"

Hiau-lan berkata dengan penuh penyesalan.

"Kematian Si-te tidak sia-sia, namanya sebagai pendekar yang perkasa,"

Ujar Long-goat Siansu.

"Kita berjuang melawan pemerintah Boan-jing, soal korban jiwa itu tak dapat dihindari, paling penting sekarang kita harus mencari jalan buat membalaskan sakit hatinya."

Kiranya meski Tan Goan-pa dilahirkan memiliki tenaga raksasa, tetapi dengan ditekan Han Tiong-san dari atas, akhirnya ia tidak tahan, maka pada saat Hiau-lan dan Pang Ing melayang keluar, ia kena dipotong menjadi dua oleh pintu air yang anjlok ke bawah.

Meski dengan mati-matian Lu Si-nio mendesak mundur Emopu dan memburu datang buat menolong, tetapi sudah terlambat, ia hanya berhasil menabas kepala Han Tiong-san.

"Bangsat Yong Ceng ini sungguh keji dan licik, Tan-toako menjadi.korban di bawah tipunya, Kam-tayhiap tidak diketahui pula mati-hidupnya, sakit hati ini entah kapan baru bisa dibalas,"

Kata Teng Hiau-lan.

Sementara itu Lu Si-nio sudah mengusap air matanya, mendadak ia bersuit panjang ke angkasa, lalu dari kejauhan di bukit sana terdengar suara sahutan anak panah tiga kali, sekali panjang dan dua kali pendek.

Hiau-lan mengetahui itu adalah tanda rahasia untuk berhubungan di antara saudara seperguruan Lu Si-nio.

Maka ia lantas bertanya.

"Apa Pek Thay-koan ada di sekitar sini?"

"Mereka semua berada di sini,"

Sahut Si-nio.

"Petang kemarin Chit-ko sudah kembali dengan selamat, meski tidak enteng lukanya, tetapi tidak berbahaya baginya."

"Apa betul?"

Hiau-lan melonjak kegirangan dari dukanya tadi.

Ia tidak habis mengerti cara bagaimana Kam Hong-ti bisa menyelamatkan uiri, padahal dengan mata kepala sendiri ia saksikan Kam Hong-ti tercebur sungai setelah dipedaya dan dipukul Emopu dari tempat persembunyiannya.

"Lihatlah sendiri,"

Kata Si-nio kemudian sambil menunduk.

Maka tertampaklah di antara rumput alang-alang yang tinggi lebat sana, ada beberapa orang yang bersembunyi di dalamnya, siapa lagi mereka kalau bukan Kam Hong-ti, Pek Thay-koan dan lain-lain.

Kemudian setelah berkumpul dan mendengarkan percakapan mereka, barulah Teng Hiau-lan mengetahui kejadiannya.

Kiranya Kam Hong-ti banyak pengalaman, ia sangat cerdik dan berlaku hati-hati sekali, hari im begitu melompat ke atas loteng, segera ia memukul ambrol pojok tembok loteng im, meski demikian tidak urung ia kena dilukai beberapa anak panah yang telah dipasang, ditambah pula ia dihantam sekali dari belakang oleh Emopu yang bersembunyi di sim.

"Pukulan Emopu sungguh tidak enteng,"

Demikian tutur Kam Hong-ti.

"Setelah aku merasakan pukulannya, aku merasa pandanganku menjadi gelap, hampir aku jatuh semaput, setelah aku kecebur masuk sungai, karena air sungai yang dingin, berbalik pikiranku menjadi jernih. Syukur tiada orang yang mengejar. Aku hidup di daerah Kanglam yang banyak terdapat sungai, sebenarnya aku pandai berenang, tetapi miang punggungku seperti hendak retak oleh hantaman Emopu, tiada tenaga untuk berenang, rupanya jiwaku memang belum tiba ajalnya, aku membawa sepotong Jinsom pemberian Ling-sian dahulu dan kebetulan bisa dipakai, setelah mengunyah sepotong Jingsom, sekalian aku bersembunyi di semak yang cetek airnya, aku jalankan pernafasan dan mengumpulkan tenaga untuk merawat luka. Lewat satu jam, meski tenaga belum pulih seluruhnya, sudah cukup kuat untuk berenang."

"Apa sungai itu ada saluran air yang menembus keluar?"

Tanya Hiau-lan.

"Berkat pertolongan seorang dayang,"

Tutur Hong-ti.

"Sebenarnya aku bermaksud menyelam keluar, tetapi sampai di bagian luar aku melihat di dasar sungai penuh terpasang berlapis-lapis jaring kawat, aku tahu tentu di dalamnya dipasang alat rahasia, maka aku tak berani menyentuhnya. Dan selagi aku kuatir, tiba-tiba aku lihat satu mayat sedang terapung mendatangi. Aku lihat mayat seorang Kiongli yang usianya sudah tua, aku menyangka dia terpeleset dan terhanyut, maka aku lantas mengangkatnya ke atas, aku memijat dan membantu pernapasannya, akhirnya dia bisa sadar, semula ia menyangka aku adalah bayangkara dalam istana, ia ketakutan, ia malah minta ampun padaku, tetapi aku lantas menerangkan diriku padanya dan suruh dia jangan takut. Waktu aku tanya dia sebab apa jatuh ke sungai, kiranya sudah lebih dua puluh tahun berada di istana, sekali saja dia belum pernah bertemu dengan kaisar."

"Kiongli ini sudah lebih empat puluh umurnya,"

Sambung Hong-ti lagi, menurut peraturan istana, sudah lama seharusnya dia dibebaskan pulang ke rumah dan dia bisa memilih jodoh sendiri, tetapi ia tak punya uang untuk menyogok Thaykam atasannya, karena itu tiada orang yang menggubris padanya, ia tetap tersekap dalam istana, karena tidak tahan oleh siksaan di dalam istana, maka ia menceburkan diri ke sungai.

Ketika aku tanya dia apa tiada jalan lain buat keluar, tiba-tiba ia ingat pada dua puluhan tahun yang lalu di kala dia masih muda jelita, pernah ia bersahabat baik dengan seorang Thaykam cilik.

Karena Thaykam cilik ini bertugas membikin bersih saluran sungai dalam kota terlarang, maka Thaykam itu pernah memberitahu padanya bahwa pada sungai istana itu terdapat sebuah lubang peranti memasukkan air jernih dari luar, di bawah lubang ini tidak dipasang jala kawat, hanya ada pintu air yang bisa dibuka dan ditutup, karena tiap hari pintu air mesti dibuka sekali, maka diam-diam mereka pernah mengeluyur pesiar keluar istana, cuma ia tak tahu apa lubang im masih tetap begitu atau tidak.

Aku lantas coba'memeriksa pintu air yang dikatakannya itu, betul juga pintu air im dibuka dan ditutup saban hari menurut waktu yang ditentukan, maka sesudah kami bersembunyi dan menunggu waktu pintu air dibuka, kami lantas lari keluar pada pagi hari, setelah aku memberikan sedikit uang pada Kiongli itu supaya mencari hidup sendiri.

Kejadian selanjutnya Pat-moay sudah tahu semuanya."

"Ha, jika terdapat sebuah pintu air seperti yang dikatakan im, kenapa kita tidak menyelundup masuk dari situ?"

Tiba-tiba Pang Lin menyela, rupanya ia sangat tertarik oleh cerita tadi.

"Betapa lihainya Yong Ceng, mana bisa dia tinggal diam,"

Ujar Lu Si-nio.

"Setelah dia tahu Chit-ko lenyap di sungai istana itu, aneh kalau dia tidak mengaduk-aduk sungai im untuk memeriksanya, tentu lubang im sudah dia sumbat rapat. Pula seandainya bisa sampai di dalam, kita tak tahu juga Yong Ceng bersembunyi dimana. Kita tak dapat tinggal lama di istana untuk menunggu kesempatan, kalau hanya masuk keluar secara begitu saja, apa gunanya?"

"Tidak bisa tinggal lama dalam istana?"

Tiba-tiba Pang Lin mengguman sendiri, lalu kelihatan ia berpikir.

"Kau setan cerdik ini apa punya akal setan lagi?"

Ujar Si-nio.

"Ya, ini adalah rahasia besar, dari Kiongli itulah aku mendapatkan tipu bagus, coba dengarkan!"

Sahut Pang Lin. Habis itu ia lantas bisik-bisik di telinga Lu Si-nio. Semula Lu Si-nio mengomeli nona itu, tapi ia mengangguk-angguk pula.

"Hm, kau setan ini memang cerdik, tidak jelek akalmu ini,"

Katanya dengan muka berseri, tentu saja orang lain merasa bingung oleh percakapan mereka.

Bercerita tentang Yong Ceng, sesudah terjadi kekacauan im, ia menjadi ketakutan dan nyalinya pecah, ia merasa lega setelah mengetahui Lu Si-nio dan lain-lain sudah menerjang keluar banteng, tetapi di dalam istana ia masih membikin penjagaan yang kuajt.

Sang tempo lewat dengan cepat, sekejap setengah tahuiji sudah lampau, suasana selama setengah tahun ini aman tenteram saja.

Lambat-laun rasa jeri Yong Ceng mulai hilang, ia piku| mungkin musuhnya sudah kapok dan tak berani datang lagi.

Ia jnenjadi gemas ketika ingat sebagai kaisar yang maha agung ternyata tak bebas mencari kesenangan hanya oleh karena takut ada pembunuh masuk, bahkan bergerak secara bebas di istananya sendiri saja tak berani, sungguh tiada artinya menjadi kaisar yang selalu tertekan perasaannya.

Setelah tidak pernah terjadi sesuatu lagi, perlahan Yong Ceng mulai bergerak secara bebas lagi, ia mulai mendatangi tempat selirnya yang tidak terhitung banyaknya.

Menurut tata-teitib istana kerajaan Jing, tiap tiga tahun sekali Kiong-li atau dayang perempuan di istana harus diganti, yang lama dibebaskan keluar dan memasukkan yang baru terpilih, inilah sebabnya tiga tahun sekali pasti diadakan pemilihan wanita-wanita cantik.

Wanita cantik yang terpilih masuk istana, dibagi untuk melayani para selir disebut Kionggo atau Kiongli, jika kebetulan dilihat kaisar dan dipenujui baru bisa dihadiahi sebutan Kuijin, jika dari Kuijin bisa pula mendapatkan kaisar, kemudian baru naik pangkat dengan sebutan Kuihui (selir kesayangan).

Akan tetapi di dalam istana terdapat Kionggo yang tidak terhitung banyaknya, dengan sendirinya tidak mungkin semuanya dapat dilihat oleh kaisar.

Pada suatu petang, karena iseng, Yong Ceng jadi teringat tiga bulan yang lalu dari berbagai tempat telah dimasukkan serombongan dayang baiu, entah di antaranya terdapat yang cantik tidak.

Maka ia lantas perintahkan Thaykam mengambil daftar nama dan gambar para gadis cantik itu supaya dia bisa memilih.

Ketika ia balik-balik lukisan gadis itu, tiba-tiba ia lihat di antaranya ada satu yang rupanya rada mirip Pang Lin, waktu dia teliti, ia lihat lukisan itu tertulis nama lengkap beserta asal-usulnya, ternyata gadis ini bernama Lim Ci, asal anak seorang penduduk biasa dari Lamciang.

Diam-diam Yong Ceng tertawa sendiri, mana mungkin gadis ini adalah samarannya, sebab gadis pilihan ini sudah melalui berbagai saringan dan diteliti pula sesampainya di istana, pula meski wajah gadis ini memang sedikit mirip, tetapi mana bisa menimpali kecantikan Pang Lin yang tiada bandingannya.

Yong Ceng menjadi termenung menghadapi lukisan itu, terkenang olehnya wajah Pang Lin yang kekanak-kanakan dan banyak gayanya, tanpa terasa ia menghela napas terharu kenapa gadis tercantik ini bisa bermusuhan dengan dirinya.

Waktu ia periksa lukisan yang bernama Lim Ci im, ia lihat di bawahnya tercatat.

"Diberikan pada Lau-kuijin di Cui-hoa-kiong" . Setelah termangu-mangu lagi, Yong Ceng lantas melipat gambar itu. ia perintahkan memanggil Haptoh dan diajak pergi. Tempat dimana para selir kaisar tinggal disebut 'Kim-wan' atau taman terlarang, pengawal dalam istana hanya boleh menjaga di luar, kalau tidak mendapat titah kaisar tidak boleh sembarangan masuk. Karena im, Yong Ceng menyuruh Haptoh menunggu di luar Cui-hoa-kiang, sedang ia sendiri masuk ke istana im. Cui-hoa-kiong adalah bangunan baru yang dirombak setelah Yong Ceng naik takhta, jika sudah masuk tembok istana im, di dalamnya penuh dengan tetumbuhan yang indah dan terdapat pula sebuah kolam teratai. Yong Ceng berjalan ke dalam dengan perlahan, waktu itu sang dewi malam menyinarkan cahaya terang, hembusan angin sepoi-sepoi membawa bau wangi bunga teratai yang sedap menawan hati. Ketika hampir sampai di kolam teratai itu, tiba-tiba Yong Ceng dengar ada suara helaan napas yang halus, waktu dipandang, ia lihat di tepi kolam muncul bayangan orang yang langsing menggiurkan. Yong Ceng sengaja berjalan mengendap-endap, diam-diam ia mendekati orang.

"Apakah kau adalah gadis yang baru masuk istana, kenapa menghela napas?"

Kemudian ia menegur dengan suara tertahan. Tatkala im mendadak Kionggo menoleh, seketika hati Yong Ceng terguncang.

"Apa kau ini Lim Ci?"

Ia bertanya. Ia lihat wajah gadis ini jauh lebih cantik daripada lukisannya, namun tetap tidak bisa menandingi kecantikan Pang Lin, malahan di muka gadis ini terdapat tahi lalat lagi.

"Memang sangat mirip, kalau tiada tahi lalat ini, sungguh aku bisa mengira dia ini Pang Lin!"

Demikian Yong Ceng berkata dalam hati.

"Hamba betul adalah Lim Ci, banyak terima kasih atas perhatian Hongsiang,"

Sahut gadis itu dengan tersenyum dan kerlingan mata yang genit.

Waktu ia tertawa, pada pipi sebelah kiri mengunjuk dekik yang menarik.

Kembali hati Yong Ceng terguncang, sampai ia mundur dua tindak, habis itu baru ia maju lagi hendak menarik tangan gadis itu.

"Kau sungguh sangat mirip dengan seseorang,"

Dengan tertawa ia berkata.

Kiranya Yong Ceng orangnya sangat cerdik dan teliti, sejak kecil Pang Lin tinggal dalam istananya, maka ia sudah memperhatikan Pang Lin, bila tertawa pada pipi kanan selalu mengunjuk satu dekik.

Tapi dekik di pipi dayang ini adalah sebelah kiri.

"Mirip seperti siapakah?"

Dengan tertawa gadis tadi menyahut.

Sementara itu tangan Yong Ceng hendak menarik tangan si nona, di luar dugaan mendadak gadis ini membalik tangannya terus memegang kencang pergelangan tangan Yong Ceng, dengan kecepatan yang luar biasa dua jari tangan lain lantas menjojoh kedua mata Yong Ceng.

Gerak serangan si gadis ini adalah Kim-na-jiu yang dicampur dengan ilmu menutuk yang luar biasa lihainya, musuh dicekal urat nadinya kalau tidak lantas lumpuh tak berkutik, sedikitnya dua matanya akan kena dijojoh hingga buta.

Untung Yong Ceng pernah mendapat ajaran Siau-lim Sam-lo, meski sudah menjadi kaisar, ia masih selalu berlatih dengan giat, maka pada detik yang sangat berbahaya bagi jiwanya ini ia masih mampu mengeluarkan ilmu pukulan Lo-han-kun dari Siau-lim-si, ia kipatkan tangannya dengan kuat ke belakang, secepat kilat pula ia anggukkan kepala, sekaligus ia menghindarkan dua macam serangan tadi, tenaga Yong Ceng memang besar, perubahan gerakannya cepat pula, karena pegangannya kurang kuat, gadis itu malah kena terseret maju dua tindak.

Dalam pada itu terdengar Yong Ceng menggertak lagi, kepalan kiri menyusul menghantam pula secepat kilat, ilmu pukulan Siau-lim-si-kun memang hebat.

Sama sekali tak terduga, di antara sambaran angin pukulan Yong Ceng, gadis itu tahuatahu sudah menghilang.

Kiranya gadis im punya Ginkang yang hebat, pada saat angin pukulan musuh menyambar datang, orangnya segera melompat ke atas, terapung di udara, pedangnya segera pula dia lolos, tanpa ayal terus menikam dari atas.

"Haptoh lekas datang!"

Yong Ceng berteriak minta bantuan.

Lalu ia keluarkan ilmu pukulan Siau-lim-si yang hebat, sambil bertempur sambil mundur pula, dalam sekejap ia sudah hindarkan tiga kali serangan musuh.

Kiam-hoat gadis itu luar biasa lihainya, meski beberapa serangannya tak membawa hasil, tapi sinar pedangnya tiba-tiba meluas dan melingkar-lingkar, mengurung jalan mundur Yong Ceng.

Gadis cantik ini bukan lain ialah Pang Ing.

Bersama Pang Lin dan Lu Si-nio mereka menyamar sebagai gadis yang dipilih dan menyelundup masuk istana.

Sesudah membikin geger di istana tempo hari, demi mendengar cerita Kam Hong-ti tentang Kiongli yang bunuh diri menceburkan diri ke sungai im, hati Pang Lin lantas tergerak, ia usulkan satu akalnya, yakni kebetulan tahun im adalah jatuh pemilihan gadis, banyak anak gadis dari keluarga mampu-atau hartawan berdaya menghindarkan diri atau mencari menantu dan menikahkan, atau menyuap petugas yang bersangkutan.

Lu Si-nio bertiga menyediakan diri mewakili anak gadis dari keluarga melarat untuk dipilih, dengan wajah mereka yang cantik, tentu saja mereka lantas terpilih.

Dengan sendirinya mereka menyamar sedemikian rupa, setibanya dalam istana, mereka sengaja menyuap pelukis agar mereka digambar sedikit berlainan dengan wajah aslinya.

Sudah tentu hal ini sangat aneh, sebab bagi gadis lain, yang diminta justru agar bisa digambar lebih cantik supaya ada rezeki mendapat 'berkah' kaisar, kini Si-nio bertiga justru menyuap agar digambar jelek.

Waktu mereka masuk istana, kebetulan Yong Ceng masih kebat-kebit karena ketakutan akan kedatangan pembunuh gelap, maka selama tiga bulan lamanya mereka belum ada kesempatan bertemu dengan kaisar; sama sekali tak terduga, seperti didorong setan saja.

malam ini Yong Ceng sendiri yang menghampiri gebuk ke Cui-hun-kiong dan kepergok Pang Ing.

Dalam pada itu ketika Haptoh yang menjaga di luar mendengar teriakan Yong Ceng, keruan tidak kepalang terkejutnya, lekas ia melompat ke atas pagar tembok terus memburu masuk untuk menolong baginda rajanya.

Tetapi belum tiba di tempat, tiba-tiba ia lihat di antara semak-semak yang lebat satu bayangan berkelebat, seorang Kionggo muncul mendadak, gerak tubuhnya luar biasa gesitnya.

Haptoh jadi tergerak hatinya, selagi senjata gembolannya hendak dia timpukkan, mendadak terdengar suara mengaung susul-menyusul, dua titik sinar hitam-emas telah menyambar dari tangan Kionggo itu.

Ini adalah senjata tunggal Pang Lin yang lihai sekali.

Tempat dimana Pang Lin tinggal tidak jauh dari tempat Pang Ing, malam ini diam-diam ia hendak mencari sang Taci dan kebetulan memergoki Haptoh.

Namun Haptoh adalah Congkoan atau pemimpin besar dari semua bayangkara di istana, ilmu silatnya sudah tentu tidak biasa, begitu ia berkelit, gembolannya berputar, dua Hui-to yang Pang Lin timpukkan sudah kena dihantam mencelat ke angkasa.

Meskipun demikian, Haptoh lantas terhalang juga majunya.

Sedang Pang Lin bukan main cepat gerak-geriknya.

Setelah pedang dilolos, segera ia mengarah tenggorokan Haptoh.

Dengan sendirinya Haptoh tidak mandah diserang, dua gembolannya berputar cepat untuk menjepit senjata orang, namun Pang Lin terlalu licin gerakannya, tampaknya ia bergerak mengikuti arah pedangnya, tetapi tahu-tahu sudah menerobos lewat di bawah himpitan dua gembolan tadi, menyusul beruntun ia membabat dan menikam dua kali pula.

Terkejut sekali Haptoh, ia tak menduga Pang Lin bisa maju begitu pesat ilmu silatnya, lekas ia ayun gembolan kiri, dengan gerakan 'Swat-hoa-gap-teng' atau kembang salju menutup kepala, sedang gembolan sebelah lain dengan tipu 'Ko-su-boan-kin' pohon tua akarnya melingkar, senjatanya berputar berbareng buat melindungi tubuhnya.

Karena itu, meski Kiam-hoat Pang Lin sudah maju jauh sekali, namun ia masih kalah ulet dari musuh, didesak gembolan Haptoh yang diputar cepat, ia tak mampu mendekatinya.

Namun Haptoh yang dihadang menjadi tak bisa menerjang lewat, padahal ia dengar Yong Ceng berteriak minta tolong lagi.

Keruan Haptoh semakin gelisah, mendadak ia percepat putaran gembolannya, gembolan sebelah kiri dia timpukkan menghantam dada Pang Lin.

Anak dara ini tahu akan kelihaiannya senjata ini, ia berkelil dan mundur dengan cepat, kesempatan ini digunakan Haptoh untuk mencekal gembolan dengan satu tangan, sedang tangan yang lain mengeluarkan dua bola hitam bundar dan segera dilemparkan ke udara, maka terdengarlah suara mengaung aneh dan riuh.

Pang Lin kenal ini adalah suara tanda bahaya di antara kawanan Hiat-ti-cu, hatinya jadi tergerak, ia menaksir tentu Encinya sudah kebentur dengan kaisar, jika tidak, tak mungkin Haptoh begini gugup, maka tanpa menunggu Haptoh menubruk maju lagi, Pang Lin lantas melayang menuju tempat datangnya seruan Yong Ceng.

Haptoh kalah dalam hal Ginkang, maka ia tak mampu mengejar, tetapi segera ia timpukkan dua buah Hiat-ti-cu, namun tanpa menoleh sedikitpun Pang Lin menyambut Hiat-ti-cu im dengan dua pisau terbangnya hingga bola baja ini kena dihantam jatuh.

Tengah Pang Lin merasa senang, tiba-tiba terdengar suara tertawa ngakak yang aneh, satu bayangan orang yang besar mendadak melayang masuk dari pohon di sebelah, maka tertampaklah seorang padri asing dengan jubahnya yang merah membara melayang turun.

la bukan lain daripada Emopu.

Begitu cepat datangnya dan begitu ia ayun kebutnya, segera Pang Lin didesak mundur tiga tindak.

"Ini adalah orang yang dikehendaki Hongsiang, jangan sampai terlepas,"

Seru Haptoh kegirangan.

Ia tahu dengan ilmu silat Emopu, jelas Pang Lin tak bisa lolos, maka ia sendiri lantas pergi menolong Yong Ceng.

Tidak terduga walaupun ilmu silat Pang Lin jauh di bawah Emopu, tetapi gadis ini paham berbagai cabang silat yang aneh, pula ia mengetahui tempat yang menjadi ciri Emopu yang berbahaya bagi jiwanya, maka meski Emopu sudah menyerang tiga kali beruntun, namun selalu dapat dihindarkan Pang Lin dengan lompatan seperti elang kucing, pedangnya malah menusuk cepat pula berulang-ulang, selalu ia mengarah tempat mematikan di tubuh Emopu, karena jeri oleh serangan ini, seketika Emopu menjadi kehilangan akal dan tak mampu mengalahkan orang.

Tetapi apapun juga Pang Lin masih jauh di bawah musuhnya, meski ia paham cara Tiam-hiat dari agama Lamma Merah di Tibet, ia tak dapat pula mendekati orang.

Di sebelah sana, dengan Kiam-hoat yang lihai, Pang Ing lagi menguning Yong Ceng pada suatu sudut, ia serang dengan gencar hingga yang satu lebih hebat dari yang lain, tampaknya tak lama lagi Yong Ceng pasti akan terpaku di tembok oleh tusukan Pang Ing, syukur secepat terbang Haptoh memburu datang, mendadak gembolannya dia timpukkan hingga terdengar suara "trang"

Yang keras, pedang Pang Ing dibentur oleh gembolannya hingga api menciprat, ternyata gembolan Haptoh telah terbelah menjadi dua, sebaliknya Pang Ing tergetar mundur dua tindak.

Namun dengan mati-matian Haptoh lantas merangsek maju lagi dengan mengayun sebelah gembolannya.

Sebenarnya kepandaian Pang Ing sekarang sudah setanding dengan Haptoh, dalam hal Ginkang ia malah di atasnya, tetapi karena tujuannya ialah Yong Ceng, maka lidak ingin ia terlibat dengan Haptoh, begitu pedangnya dia balik, ia pura-pura menyerang sekali, lalu mendadak meloncat ke atas, ketika gembolan Haptoh dihantamkan, ia lihat anak dara ini sudah terapung di udara, bahkan ketika kakinya sedikit menutul bola gembolannya, dengan enteng sekali ia malah meminjam tenaga menbalnya terus melayang naik, habis itu secepat kilat sinar pedangnya menyambar menusuk ke atas kepala Yong Ceng.

Tetapi Yong Ceng terlalu cerdik, tiba-tiba ia jatuhkan dirinya, dengan sekali berguling ia hindarkan diri dari tusukan, namun Pang Ing masih terus melayang maju, susul-menyusul ia menyerang dua kali.

Sudah tentu Yong Ceng bukan lawan lemah, sesudah menghindarkan tusukan Pang Ing yang mengarah dari atas tadi, segera pula ia sambut orang dengan pukulannya.

Haptoh membentak juga, gembolannya diputar dan mengudak maju lagi, ia menutup jalan belakang Pang Ing.

Karena sendirian melawan dua musuh, Kiam-hoat Pang Ing yang lihai tak leluasa dimainkan lagi hingga tekanannya banyak berkurang, Yong Ceng menjadi senang, ia tertawa terbahak-bahak, sedang ia hendak mengambil kesempatan im untuk angkat langkah seribu, tiba-tiba ia mendengar Pang Ing tertawa mengejek.

"Hm, masih berani kau lari? Pentanglah mata anjingmu, lihatlah siapakah im yang datang!"

Waktu Yong Ceng pasang kuping, terdengar di luar istana itu riuh-ramai dengan suara orang yang makin mendekat, di antara suara ramai im bercampur pula suara suitan panjang, ia kenal im adalah suara Thian-yap Sanjin.

"Im pengawalku datang, lekas kau menyerah saja, mungkin aku bisa mengampuni kau, malahan boleh jadi aku akan mengangkat kau sebagai Kuijin pula,"

Kata Yong Ceng dengan tertawa.

"Hm, kau betul-betul sudah dekat ajal masih belum sadar, lihat im siapa dia, apa dia pengawalmu?"

Pang Ing balas tertawa ejek.

Habis im di antara pepohonan yang lebat mendadak terdengar suara suitan panjang disusul munculnya gadis berbaju putih dengan ikat kain yang melambai-lambai tertiup angin.

Melihat siapa orangnya, seketika muka Yong Ceng pucat-pasi bagai mayat, begitu kagetnya hampir semangatnya terbang meninggalkan raganya, ternyata yang datang adalah Lu Si-nio.

Ginkang Lu Si-nio sudah sampai di tingkat yang tiada bandingannya, di antara orang-orang di sekitarnya, kecuali Pang Ing, tiada yang mendengar suara kedatangannya.

Dalam pada im sesudah mencabut pedangnya, segera Lu Si-nio mencegat jalan lari Yong Ceng.

"O, ayah, arwahmu dapatlah menyaksikan hari ini putrimu membalaskan sakit hatimu!"

Dengan menengadah Si-nio berseru.

Begim seram suara tertawanya hingga Yong Ceng berdiri bulu ramanya dan mengkirik ketakutan, begitu pula Haptoh menjadi lemas saking jeri pada nona ini.

Dengan pedang terhunus di tangan, setindak demi setindak Sinio mendekat, Haptoh menyiapkan gembolannya juga, ia berdiri di samping Yong Ceng dengan tubuh rada gemetar, sebaliknya Yong Ceng terpaku seperti patung, ia kehilangan akal, ia tahu Ginkang Lu Si-nio jauh lebih tinggi dari dirinya, jika ia berani sembarangan lari, tentu ia akan lebih gampang diserang dan lebih cepat pula dia akan binasa.

Begitulah dengan setindak maju setindak Lu Si-nio mendesak maju, Pang Ing menyiapkan senjatanya juga dengan penuh perhatian, ia bantu Si-nio menutup jalan mundur Yong Ceng.

Dalam keadaan demikian, tampaknya satu adegan 'pembunuhan naga di taman raja' segera akan dipertontonkan, mendadak terdengar suara bentakan Emopu.

"Nanti dulu, Lu Si-nio, lihatlah siapa dia ini!"

Di antara suara jeritan Pang Ing karena kaget, maka terlihatlah Pang Lin sudah tertawan di bawah cengkeraman Emopu, dua tangan Pang Lin tertampak lurus ke bawah, kepalanya bersandar di atas pundak musuh, kedua matanya tertutup rapat, agaknya gadis ini sudah ditutuk oleh Emopu.

Perubahan mendadak ini sangat mengecewakan Lu Si-nio, ia menghela napas panjang, dengan susah-payah dan penuh derita menahan segala hina dan nista selama beberapa bulan meringkuk dalam istana seperti budak, akhirnya baru memperoleh kesempatan bagus seperti sekarang ini dan tampaknya dengan segera bisa menuntut balas sakit hati orang tua dan dendam negara, tidak tahunya masih gagal lagi dan didahului oleh Emopu yang berhasil menawan seorang kawannya sendiri sebagai barang jaminan.

Di lain pihak, dari ketakutan kini Yong Ceng menjadi garang.

"Hm, Lu Si-nio, bagaimana sekarang kau punya mau?"

Dengan tertawa dingin ia menyindir.

"Apa kau masih ingin mengukur tenaga dengan aku sampai titik darah penghabisan?"

Lu Si-nio mengacungkan pedangnya ke depan, dengan gemas ia menjawab.

"Serahkan kawanku dan aku ampuni jiwamu!"

"Baiklah, Emopu, kau antar mereka keluar istana,"

Kata Yong Ceng.

"Nah, Lu Si-nio, sampai bertemu lagi!"

Berbareng ia kedipi Haptoh, ia geraki lengan bajunya terus hendak pergi.

"Nanti dulu!"

Tiba-tiba Pang Ing mencegah.

"Kau mau apa lagi?"

Dengan tertawa Yong Ceng melirik gadis ini.

"Kini aku sudah tahu kalian berdua adalah saudara kembar, apa kau tidak menginginkan jiwa adikmu?"

"Tapi kau terlalu licik dan banyak tipu muslihat, aku tak percaya begitu saja, aku harus memeriksa dulu apakah adikku mengalami luka atau tidak,"

Sahut Pang Ing.

"Lu-cici, harap kau awasi kaisar anjing ini."

"Baiklah, kau boleh periksa sesukamu,"

Ujar Yong Ceng. Sementara itu dengan perlahan Pang Ing mendekati Emopu.

"Kau adalah anak murid pengemis tua she Ie dari Thian-san, masakah Tiam-hiat saja tak bisa kau bedakan? Bukankah kau lihat dia baik-baik saja tanpa kurang suatu apapun?"

Dengan bergelak tertawa Emopu berkata pada Pang Ing.

Habis berkata ia angkat Pang Lin dan digoyang-goyangkan ke hadapan Pang mg, di luar dugaannya, mendadak Pang Ing membentak, berbareng pedang dan pukulan menyerang ke depan.

Perbuatan Pang Ing sama sekali di luar dugaan semua orang, Lu Si-nio hendak mencegah juga tak keburu lagi, ia lihat Emopu telah mengangkat Pang Lin dan ditangkiskan ke depan, saat im pula sinar putih menghijau menyambar lewat di samping leher Pang Lin, menyusul terdengar suara "plok" , satu pukulan tepat menghantam di mbuh gadis ini, dalam kagetnya sampai Lu Si-nio menjerit, tetapi mendadak ia dengar suara geraman yang keras, mbuh Pang Lin tahu-tahu mencelat ke atas, sedang pedang Pang Ing dengan cepat menembus leher Emopu hingga darah bercipratan, badan Emopu yang besar terguling di tanah dan akhirnya kecebur ke dalam kolam.

Kiranya Pang Lin paham berbagai cara menutuk dari kaum Lamma di Tibet, karena ingin melawan Emopu, maka kedua dara kembar ini sudah lama melatih diri dengan giat, maka di kala Pang Ing melihat adiknya tertawan, ia lantas tahu dimana tempat yang kena ditutuk Emopu, untuk melepaskan tutukan im sebenarnya tidak susah, tetapi kalau harus melepaskannya dari tangan Emopu yang lihai, inilah yang tidak gampang.

Sebenarnya Pang Ing tak berani mengambil risiko itu, tetapi bila teringat olehnya tentang sakit hati pribadinya sendiri maupun negara, teringat juga olehnya usaha Lu Si-nio dan lain-lain selama ini dengan susah payah secara kebetulan baru bisa mendapatkan kesempatan bagus ini, jika karena tertawannya Pang Lin sekarang lantas menyerah mentah-mentah, apakah bukan berarti sia-sia belaka?

Dalam ilmu pedang Thian-san-kiam-hoat ada satu gerak tipu yang disebut 'Chit-seng-cip-hwe' atau tujuh bintang bertemu, yakni dalam sekejap beruntun menusuk tujuh tempat Hiat-to, itu harus memakai Lwekang yang tinggi dan tepat pada sasarannya.

Selama dua tahun paling belakang ini Pang Ing telah melatih diri dengan giat di Thian-san, pada saat yang genting, ia tak sempat berpikir lebih jauh lagi, segera ia gunakan tipu tersebut.

Dengan sendirinya Emopu tidak menduga akan serangan itu, dalam keadaan terancam ia terpaksa mengangkat tubuh Pang Lin buat menangkis, tak tahunya ia telah masuk perangkap Pang Ing, tusukan Pang Ing yang cepat seperti angin dan pada saat yang tak bisa dielakkan, senjatanya menyambar lewat di samping leher Pang Lin terus mengarah kedua mata Emopu.

Namun kepandaian Emopu memang sangat tinggi, ia masih mampu memiringkan kepala, sedang kedua jarinya menyelentik pedang Pang Ing hingga tergetar ke samping, akan tetapi karena harus melayani serangan hebat dari Pang Ing ini, pada detik itulah Pang Ing berhasil melepaskan tutukan Pang Lin, dan begitu Pang Lin terlepas dari tutukan, ilmu silatnya segera pulih pula, ia sebenarnya bersandar di pundak Emopu, kedua tangannya melambai ke bawah, dimana ujung jarinya menyentuh, di situlah kebetulan selangkangan yang menjadi ciri Emopu, dengan sendirinya ia tak rrenyia-nyiakan kesempatan baik ini, ia tutuk sekuatnya dan waktu ia melompat pergi, Pang Ing segera menambahi dengan sekali tusukan, maka tidak ampun lagi jago nomor dua dari Lamma Merah Tibet dikirim ke akherat.

Kembali tadi, ketika Yong Ceng melihat Pang Ing mendadak mengeluarkan serangan kilat, sedang Lu Si-nio menjerit kaget dan perhatiannya teralih, ia tidak menyia-nyiakan pula kesempatan ini, segera ia putar tubuh hendak angkat langkah seribu, tetapi tak terduga Pang Lin yang sudah bebas tadi, secara tepat turun di depannya, gadis ini segera mengayun kedua tangannya, dengan tipu pukulan 'JMgo-liong-bok-bian' (lima naga menyambar muka), satu pukulan lihai dari Bu-kek-ciang-hoat, secepat kilat ia menjotos muka Yong Ceng.

Syukur Yong Ceng masih keburu menarik pundak dan menggeser langkah, dengan gesit ia berkelit dan berputar ke samping Pang Lin.

Dalam hal ilmu pukulan, harus diakui Yong Ceng masih lebih tinggi dari Pang Lin, maka serangan kedua dari Pang Lin belum dikeluarkan, Yong Ceng sudah berhasil mencekal tangannya.

Ia girang dapat menawan Pang Lin sebagai sandera, tapi mendadak ia dengar suara jeritan ngeri, ia menduga tentu Haptoh sudah binasa di bawah senjata Lu Si-nio, keruan Yong Ceng semakin takut hingga badannya rada gemetar, ketika ia tertegun sejenak, tahu-tahu sinar perak sudah menyambar, Lu Si-nio telah berada di depannya, dalam keadaan terancam, terpaksa Yong Ceng lepaskan tangan Pang Lin dan selagi ia hendak membuka serangan untuk membela diri, namun sudah terlambat.

Lu Si-nio telah bergerak secepat kilat dan berhasil mencekal urat nadi tangannya hingga Yong Ceng tak bisa berkutik lagi.

Pada saat itu juga, dari luar Cui-hoa-kiong telah membanjir masuk barisan pengawal yang dipimpin Thian-yap Sanjin.

"Kaisar kejam dan angkara murka ini apa ada harganya buat kalian bela mati-matian?"

Segera Si-nio berseru pada kawanan pengawal im sambil mendorong Yong Ceng ke depan.

"Lihat ini, bagaimana nasib Lian Keng-hiau? Dan berapa pengawal kepercayaannya yang telah mati secara mengenaskan? Kesemua ini apa kalian belum mengetahui? Sekarang ia sendiri bakal terkurung lehernya dan mampus, kenapa kalian mau menjual nyawa lagi bagi dia?"

"O, Yaya (kakek), Tiatia (ayah), dan semua patriot pencinta bangsa, pencinta negeri yang menjadi korban kaisar kejam ini, hari ini aku Lu Eng akan membalaskan semua sakit hatimu!"

Demikian Lu Si-nio berseru.

• Di antara berkelebatnya sinar pedang, kepala Yong Ceng segera dia penggal dan dijambak, dengan pedang melintang kemudian Si-nio memandang dengan sikap yang keren.

Melihat maharaja mereka dibunuh, segera Thian-yap Sanjin memimpin barisan pengawal itu hendak menyerbu maju.

"Siapa berani maju dan ingin menyusul kaisar anjing ini, boleh coba tajamnya pedangku ini!"

Ancam Si-nio dengan menggerakkan senjatanya.

"Huh, Thian-yap Sanjin, kau terhitung tokoh dari suatu cabang persilatan, tapi kau terima membudak pada kaisar bejat ini, sungguh kau tidak kenal malu? Mengingat dosamu masih tidak seberapa besar, aku ampuni jiwamu, lekas kau kembali gunung saja. Tetapi jika kau ingin bergebrak, boleh tanya dulu dirimu sendiri, bagaimana ilmu silatmu kalau dibanding Emopu dan Haptoh?"

Karena dampratan ini, seketika Thian-yap Sanjin jadi rnengke-ret.

Sebaliknya ada belasan Hiat-ti-cu yang tidak kenal lihainya orang, beramai mereka lepaskan senjata gelap mereka, sekejap saja belasan bola hitam mengkilap menyambar dengan membawa suara mengaung yang aneh.

"Bagus!"

Teriak Pang Lin.

Habis itu beruntun ia lepaskan belasan Hui-to, semua Hiat-ti-cu yang menyambar datang kena dihantam jatuh oleh pisau terbangnya.

Pada tiap Hiat-ti-cu itu tersimpan dua belas bilah belati kecil, ketika Hiat-ti-cu terbentur jatuh dan menjeplak, belati tajam di dalamnya lantas berhamburan laksana hujan.

Di antara suara tertawa dingin Lu Si-nio, tahu-tahu ia melompat maju menerobos kian kemari di antara hujan belati ini, hanya sekejap saja ia telah berhasil meraup belasan belati itu dan secepat kilat dia timpukkan Kembali, dengan tepat belasan pengawal yang berani melepaskan Hiat-ti-cu tadi telah terbunuh seluruhnya.

Nampak ketangkasan orang, dengan sekali berteriak, beramai kawanan bayangkara itu berlari terbirit-birit, sedang Thian-yap Sanjin sejak tadi sudah angkat kaki lebih dulu.

Dengan tertawa kemudian Si-nio bersama Pang Ing dan Pang Lin melompat ke atas genteng, mereka keluar dari istana, sementara im fajar sudah menyingsing.

Belasan hari kemudian, di antara jalan di daerah Soatang tertampak serombongan orang yang terdiri dari tiga wanita dan empat pria.

Ketiga wanita ini adalah 'Tiga Dara Pendekar' yang namanya menggetarkan Kangouw, yaitu Lu Si-nio, Pang Ing dan Pang Lin.

Sedang empat lelaki im adalah Kam Hong-ti, Sim Cay-khoan, Teng Hiau-lan dan Li Ti.

Ketika tiga dara masuk istana untuk menuntut balas, para kawan yang lain telah berkumpul di Pat-tat-nia untuk menantikan kabar, baru sesudah Lu Si-nio bertiga kembali dengan hasil gilang-gemilang dan sesudah kepala Yong Ceng dibuat sesajen sembahyang Engkong dan Ayah si gadis itu, kemudian mereka berpisah.

Di antaranya Kwantang-sam-hiap (karena Tan Goan-pa telah tewas, kini tinggal tiga pendekar saja) meneruskan pekerjaan mereka ke daerah Kwan-gwa, Hi Kak beserta anak dan menantunya berlayar ke lautan lagi, Loh Bin-ciam beserta Li Bing-cu kembali ke kampung halaman, sedang Lu Si-nio dan Kam Hong-ti sebenarnya hendak membangun tanah pekuburan guru mereka ke Bin-san, tapi karena masih ada urusan Teng Hiau-lan yang belum diselesaikan seluruhnya, mereka diajak ikut mengunjungi kediaman Nyo Tiong-eng di Soatang, pemuda ini ingin untuk penghabisan kalinya berziarah ke makam gurunya yang berbudi im untuk kemudian baru kembali ke Thian-san.

Selama belasan tahun bersahabat, Si-nio sudah menganggap Hiau-lan sebagai saudara, ia pun merasa berat berpisah, maka ia lantas terima ajakan im.

Tatkala im adalah musim rontok, hawa segar dan cuaca terang, para pahlawan sudah menyelesaikan tugas membalas dendam, dengan gembira mereka melarikan kudanya dengan penuh bersemangat hingga lupa rasa capai.

Selagi mereka melarikan kuda ke depan dengan cepat, tiba-tiba Teng Hiau-lan dan Kam Hong-ti menoleh, mereka lihat Si-nio dan Cay-khoan tertinggal di belakang dan sedang jalan berendeng dengan perlahan sambil asyik bicara.

Nampak ini, Kam Hong-ti tersenyum, ia tarik tali kendali kudanya dan menyuruh para kawan ikut melambatkan larinya kuda.

Sebaliknya melihat betapa cinta kasih antara Si-nio dan Cay-khoan, muka Hiau-lan menjadi suram.

Kiranya Si-nio dan Cay-khoan asyik bercakap-cakap sambil bersyair dengan mesra.

Ketika mengetahui para kawan sedang menunggu, mereka keprak kuda menyusul, Si-nio lihat Pang Lin lagi asyik bicara dengan Li Ti, hanya Hiau-lan lesu dan menutup mulut sambil melarikan kudanya, begitu pula Pang Ing hanya mengikut dari belakang dengan muka muram tanpa suara.

"Adik cilik, apalagi yang sedang kau pikir?"

Tanya Si-nio sambil melarikan kudanya menjajari orang.

"Ya, sungguh aku ingin tetap jadi 'adik cilik' seperti belasan tahun yang lalu itu, tentu akan terhindar dari suka-duka seperti sekarang ini,"

Sahut Hiau-lan.

"Sudahlah yang lalu biarlah lalu, tetapi yang belum datang inilah boleh dikejar, orang mati tidak bakal hidup kembali, kenapa kau berbalik menyia-nyiakan perjodohan baik di depan mata ini?"

Kata Si-nio.

"Pikiranku dalam soal ini sudah buyar terhanyut, apa bisa aku mencari orang bani selagi masih terkenang pada orang yang lama?"

Sahut Hiau-lan.

"Meski aku tiada sesuatu perasaan cinta pada Nyo Liu-jing, tetapi ia mati karena aku, cara bagaimana aku bisa melupakan dia? Pikiran ini selama hidup tak akan terhapus lagi. Jika kau menyuruh aku mendekati Pang Ing, selagi aku masih mempunyai perasaan seperti itu, apa enak terhadap dia?"

Si-nio menghela napas oleh jawaban orang, memang susah juga ia hendak menghiburnya.

"Lihat itu,"

Tiba-tiba Kam Hong-ti berseru.

"cepat sekali perjalanan kita, tanpa terasa kini sudah sampai di depan rumah Nyo-locianpwe!"

Waktu semua orang memandang, mereka lihat sekitar bukit sana lebat dengan pohon Liu, di balik hutan Liu ini kelihatan tembok kemerah-merahan, pemandangannya malah tetap abadi, tetapi Nyo Tiong-eng ayah dan anak sudah tidak ada lagi.

Dengan perasaan pedih Teng Hiau-lan dan kawan-kawan menambat kuda mereka di kaki bukit itu, kemudian mereka mendaki ke atas, ketika lewat tepi jurang yang* terdapat telaga kecil di bawahnya, tiba-tiba Hiau-lan terkenang pada kejadian dahulu dimana Nyo Liu-jing terhanyut oleh air gunung yang menggerojok keras, semua im lebih menambah pedih perasaannya.

"He, lihat itu, pelataran di depan pintu sana kelihatan disapu bersih, apa mungkin di dalam ada penghuninya?"

Mendadak Kam Hong-ti berseru kaget. Pang Ing merasa heran juga oleh keadaan im.

"Marilah kita masuk ke sana memeriksanya, coba kita lihat siapakah yang menyapu pelataran rumah Nyo-kongkong!"

Ajaknya dengan menarik tangan Hiau-lan.

Hiau-lan menurut, tanpa berkata ia dorong pintu rumah, tetapi sebelum ia melangkah masuk, tiba-tiba ia lihat dari dalam telah keluar seorang wanita muda, nampak wanita ini, air muka pemuda ini seketika berubah hebat.

Wanita muda ini ternyata bukan lain daripada Nyo Liu-jing, ketika sekonyong-konyong ia melihat Teng Hiau-lan, tanpa terasa mukanya pun berubah, kedua orang terpaku, merasa girang bercampur kaget, lama dan lama sekali mereka tidak sanggup membuka suara sepatah kata pun.

"Ha, tiga tahun tidak bertemu, apakah baik-baik saja selama ini?"

Tiba-tiba Nyo Liu-jing buka suara dan tertawa.

"Eh, nona Ing sudah tumbuh begini tinggi!"

Habis itu ia lantas memburu maju untuk menarik tangan Pang Ing, sikapnya sangat ramah dan sambutannya hangat.

Tentu saja Hiau-lan terheran-heran, sama sekali ia tidak menyangka Nyo Liu-jing bisa berubah sedemikian rupa.

"Kokoh (bibi), hari im kau terhanyut oleh arus air, sungguh kami sedih sekali, tetapi engkau ternyata baik-baik saja, kau ... kalian..."

Dalam girangnya Pang Ing melihat Nyo Liu-jing masih hidup baik-baik, ia telah kesampingkan perasaan pribadinya, selagi ia hendak menghaturkan selamat atas pertemuan kembali dengan Teng Hiau-lan, namun sebelum diucapkan, ia menjadi bingung juga cara bagaimana harus mengatakannya, karena itu mukanya jadi merah.

"Hiau-lan, di sini masih ada seorang kawan lama yang kau kenal,"

Tiba-tiba Nyo Liu-jing berkata pula. Lalu dengan suara keras ia memanggil.

"Sek-kiu, sini keluarlah!"

Dari dalam lantas terdengar sahutan, lalu keluar seorang yang bukan lain daripada Ce Sek-kiu yang dahulu pernah meminang Nyo Liu-jing tetapi gagal itu.

Bahkan Sek-kiu membopong pula seorang anak perempuan yang berumur sekira dua tahun.

Kiranya karena ada gua di dasar telaga dimana Nyo Liu-jing kecebur itu, air telaga bisa menembus ke sungai yang berada di luar perkampungan, kebetulan sekali hari itu Ce Bin-kau bersama anaknya, Ce Sek-kiu, karena mendengar kabar tentang cacatnya Nyo Tiong-eng, mereka menumpang kapal hendak menyambangi kawan lama itu, mereka justru dapat menolong Nyo Liu-jing yang terapung di sungai.

Karena arus yang mengalir deras, meski Liu-jing sudah sadar kembali, ia masih harus merawat lukanya yang cukup berat, terpaksa ia harus berbaring di dalam kapal Ce Sek-kiu, kala itu jiwa Nyo Liu-jing sudah mengalami pukulan berat, ia tidak ingin kembali untuk bertemu Teng Hiau-lan dan Pang Ing yang sementara im sudah keburu kembali ke Thian-San.

Terhadap Nyo Liu-jing ternyata Sek-kiu masih tetap mencintainya, selama Liu-jing merawat luka, ia telah menjaganya dengan segala perhatian dan tenaganya.

Dalam beberapa tahun ini Nyo Liu-jing sendiri sudah mengetahui juga bahwa yang dicintai Teng Hiau-lan sebenarnya ialah Pang Ing, ia telah berpikir pergi-datang sewaktu merawat lukanya itu, ia pikir kalau Teng Hiau-lan tidak menaruh hati padanya, urusan perjodohan kalau dipaksakan juga tiada artinya, ditambah lagi lambat-laun tumbuh rasa cintanya pada Sek-kiu karena perawatannya selama ia berbaring, dulu pernah Hiau-lan menulis surat pada Nyo Tiong-eng mengusulkan pembatalan pertunangannya, sebelum Nyo Tiong-eng wafat, orang tua ini pernah juga setuju mereka memilih menurut keinginan sendiri, maka soal pernikahan dengan Ce Sek-kiu dengan sendirinya berlangsung dengan baik dan tidak perlu minta persetujuan Teng Hiau-lan.

Perubahan yang luar biasa ini sama sekali tak diduga oleh Teng Hiau-lan, sungguh tidak tersangka 'tali-pati' yang mengikat pikirannya selama beberapa tahun ini kini ternyata bisa terlepas seluruhnya, bahkan berakhir dengan memuaskan.

Tanpa tertahan ia menjabat tangan Ce Sek-kiu dan mengucapkan selamat, berbareng ia melirik Pang Ing dengan perasaan yang susah dilukiskan.

Sesudah beberapa hari mereka tinggal di rumah Nyo Liu-jing, kemudian mereka berpisah juga satu sama lain.

Pang Ing, Pang Lin, Teng Hiau-lan dan Li Ti berempat kembali ke Thian-san.

Lu Si-nio dan Sim Cay-khoan sesudah menikah lantas mengasingkan diri di Bin-san.

Sedang Kam Hong-ti menjadi guru besar ilmu silat yang termashur dengan tidak sedikit anak murid yang dia didik.

Demikianlah kisah "Tiga Dara Pendekar"

Pun berakhir sampai di sini. TAMAT -ooo0dw0ooo-

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com

Baca Juga: Pendekar Riang 2

Baca Juga: Hadiah Membawa Bencana 6

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger