Eps 15 Tiga Dara Pendekar - Liang Ie Shen
Baca online Tiga Dara Pendekar - Liang Ie Shen
Cersil Tiga Dara Pendekar - Liang Ie Shen.
Begitulah maka dalam kelenteng itu menjadi sangat ramai, mereka menantikan kabar kembalinya Kam Hong-ti dan Teng Hiau-lan.
Keruan begitu kedua orang ini kembali, segera diberondong dengan bermacam pertanyaan.
Karena itu lantas Kam Hong-ti menceritakan sekedar apa yang telah dilihatnya dalam pasukan Keng-hiau, lalu ia tuturkan pula tentang bagaimana Yong Ceng telah datang sendiri menyambut dan menghibur tentaranya.
"Si bangsat Lian Keng-hiau ini sungguh besar sekali nyalinya!"
Ujar Hi Kak setelah mendengar cerita Hong-ti.
"Bukankah ini lebih baik?"
Sela Si Nio.
"Dua musuh besar yang harus kita hadapi ialah Yong Ceng dan Lian Keng-hiau, tetapi selanjutnya kita cukup menghadapi Yong Ceng saja dengan sepenuh perhatian kita. Lian Keng-hiau si keparat ini dengan sendirinya ada orang lain yang bakal membunuh dia."
"Dia punya pasukan begini besar, siapa yang mampu membunuh dia?"
Tanya Hi Kak.
"Jasanya terlalu besar sehingga menguatirkan raja, akhirnya dia tentu akan celaka sendiri."
Ujar Pek Thay-koan dengan tertawa.
"Ingat saja Han Sin di zaman Han, dia membantu Lauw Pang mendirikan negara, jasanya jauh lebih besar daripada Lian Keng-hiau, toh akhirnya tidak urung mati dibunuh junjungannya sendiri, apalagi sekarang hanya seorang Lian Keng-hiau?"
"Ya, ya, bagaimanapun juga memang Hiansay (menantuku) adalah seorang bersekolah dan banyak berpengetahuan,"
Sahut Hi Kak.
"Untung aku bisa mendapat bantuan para saudara dan belum sampai ditipu oleh Yong Ceng si keparat ini."
Begitulah semua orang beramai mempercakapkan peristiwa ini, Kam Hong-ti sendiri menarik Lu Si-nio ke samping, ia ceritakan pada sang Sumoay bagaimana tentang Can Ceng yang takut mati telah menyerah pada musuh, serta telah mengaku semua pengikut Lu Liu-liang.
Keruan hati Si-nio seperti disayat-sayat dan air mukanya berubah hebat oleh penuturan ini.
"Tampaknya akibat peristiwa ini pasti akan membikin penuh penjara, Can Ceng sudah membongkar semua orang penting yang menjadi pemimpin, kita harus lebih dulu memberi kabar pada mereka supaya bisa menyelamatkan diri,"
Ujar Kam Hong-ti. Akan tetapi Si-nio hanya termangu-mangu saja, seketika ia tak sanggup buka suara.
"Biarlah urusan ini serahkan padaku saja, Pat-moay,"
Kata Hong-ti lagi.
"Kau memikul kewajiban atas dendam negara dan sakit hati keluarga, hendaklah kau suka kuatkan diri dan jangan terlalu berduka."
Si-nio masih diam, ia menunduk seperti terpaku.
"Pat-moay,"
Kata Hong-ti, ' "kau adalah jantan dari kaum wanita dan orang gagah dari kaum kita, apakah masih perlu aku banyak omong lagi?"
"Jika aku tidak membunuh In Ceng si kaisar anjing ini dengan tanganku sendiri, aku bersumpah tidak jadi manusia,"
Mendadak Si-nio berseru sambil mendongak dan mengepal bersemangat.
"Bagus, tidak malu kau jadi cucu perempuan Lu Liu-liang,"
Puji Hong-ti dengan bertepuk tangan.
"Cuma saja, penjagaan dalam istana sekarang sangat keras, pasukan Lian Keng-hiau ada di luar kotaraja pula, mungkin tidak leluasa untuk melakukan maksud tujuan kita, untuk membalas dendam tidak perlu buru-buru, melihat gelagatnya, pada suatu hari pasti akan terjadi perselisihan di antara In Ceng dan Lian Keng-hiau, kala itu baru tibalah saat terlaksananya tugas kita."
"Memang benar, Chit-ko,"
Sahut Si-nio. Mendengar lagu suara Si-nio sudah mulai sabar dan tenang kembali, diam-diam Hong-ti merasa lega.
"Sungguh tidak diduga Can-lothauji bisa begini rendah!"
Kata Si-nio kemudian dengan menghela napas.
"Cuma, apapun juga aku masih tidak percaya bahwa Cay-khoan sudah mati."
Karena kata-kata sang Sumoay ini, Kam Hong-ti jadi terharu. Pikirnya.
"Ai, Cay-khoan sudah terang dijual Can Ceng dan ditangkap ke kotaraja serta sudah dihukum mati, maklumat tentang ini sudah diumumkan di seluruh negeri, kepalanya digantung juga di atas pintu benteng, mana bisa soal kematiannya ini adalah palsu?"
Akan tetapi karena melihat Si-nio begitu yakin akan pendiriannya, ia tidak tega membikin sang Sumoay lebih berduka, maka pikirannya tidak sampai ia utarakan.
Di samping sana, demi nampak wajah Si-nio rada lain, Teng Hiau-lan lantas menghampiri.
"Apakah Lu-cici kurang enak badan?"
Tanyanya.
"Tidak,"
Sahut Si-nio. Tetapi ia lantas menyambung pula dengan tertawa.
"Dan kau sudah boleh pergi ke Soatang untuk berkumpul dengan Nyo Tiong-eng."
Karena kata-kata ini muka Hiau-lan menjadi merah.
"'Kenapa, apa kau tak berani bertemu dengan sang mertua lagi?"
Tanya Si-nio.
"Cici jangan bercanda,"
Sahut Hiau-lan malu. Melihat sikap pemuda ini, kemudian Si-nio berkata pada Kam Hong-ti.
"Chit-ko, aku masih ada hal lain yang ingin dirundingkan dengan kau!"
Rupanya Hiau-lan bisa menerka apa yang bakal mereka bicarakan, maka ia lantas menyingkir pergi.
"Katakanlah, Pat-moay,"
Kata Hong-ti. Maka berceritalah Lu Si-nio tentang perselisihan paham dalam urusan perjodohan Teng Hiau-lan dengan Nyo Liu-jing.
"O, kiranya demikian,"
Ujar Hong-ti kemudian.
"Memang, aku sendiri pun jemu melihat Nyo Liu-jing, cuma saja, pertunangan mereka sudah berlangsung sekian tahun lamanya, kalau dibatalkan sekarang, mungkin agak kurang pantas?"
"Jika tidak dibatalkan sekarang, maka kelak pasti akan jauh lebih ruwet lagi,"
Ujar Si-nio.
Sebenarnya dalam urusan perkawinan, Kam Hong-ti lebih kukuh pada adat-istiadat kuno, ia hanya memberatkan soal budi dan janji, ia pikir Nyo Tiong-eng ada budi pada Teng Hiau-lan, pertunangan mereka pun sudah sekian lamanya, kalau mendadak dibatalkan, ini sesungguhnya keterlaluan.
Akan tetapi ia pun tiada kata-kata lain yang bisa mendebat Lu Si-nio, maka terpaksa bungkam.
"Besok aku akan kembali ke Sian-he-nia untuk menilik Cay-khoan,"
Kata Si-nio pula.
"Hendaklah jangan kau tertawai aku, bagaimanapun juga aku tidak percaya Cay-khoan sudah mati. Sebenarnya aku berniat pergi ke Soatang untuk menemui Nyo Tiong-eng sendiri untuk membereskan urusan Hiau-lan, kini harus minta kau mewakilkan aku menyelesaikan soal ini."
Selamanya Kam Hong-ti paling menghormati sang Sumoay ini, kini Lu si-nio sendiri yang minta, tiada jalan lain ia harus terima dengan baik.
"Tetapi aku tak pintar bicara, lebih-lebih tak dapat membatalkan pertunangan orang, terpaksa aku harus bicara terus terang saja bahwa Hiau-lan tiada terdapat kecocokan tabiat dengan anaknya, dan kini sudah punya gadis lain,"
Demikian kata Kam Hong-ti kemudian.
"Dan kalau Nyo Tiong-eng marah-marah, aku segera tinggal pergi dari tempatnya."
"Boleh juga, katakanlah seperti itu,"
Ujar Si-nio tertawa. Setelah Hong-ti merenung sejenak, ia berkata lagi.
"Urusan ada yang penting dan biasa, aku masih harus berusaha memberitahu orang-orang yang disebut dalam pengakuan Can Ceng itu supaya' menyelamatkan diri, habis itu baru mengurus soal Hiau-lan."
"Memang seharusnya begitu,"
Sahut Si-nio setuju. Jika di satu pihak Si-nio berunding dengan Hong-ti, maka di sebelah sana orang-orang lain pun sedang berunding dengan ramai.
"Hayo, Kam-toako, kau sudah hancurkan tempat suciku ini, kau harus mengganti suatu tempat untuk tempat berteduh aku!"
Tiba-tiba Ling-sian berseru.
"Apa? Kelentengmu ini memang bobrok, asalnya sudah begini macamnya,"
Sahut Hong-ti dengan heran karena tahu-tahu orang minta ganti rugi padanya.
"Percuma saja kau mengaku kawakan Kangouw, masa soal ini saja kau tidak paham?"
Sahut Ling-sian dengan tertawa.
"Kalian sudah membikin onar berulang-kali di kotaraja, tempat inipun bukan tempat yang terpencil sekali, dengan berkumpulnya orang begini banyak, mana bisa menghindarkan mata-telinga dari alat pemerintah. Si keparat Yong Ceng ini Siau-lim-si saja berani dia bakar, apalagi hanya kelentengku yang bobrok ini?"
"O, kiranya demikian maksudmu,"
Kata Hong-ti tertawa.
"Memang betul, tempat ini tidak bisa ditinggali lagi, kita harus mencari tempat lain yang lebih terjamin."
"Kau punya tempat mana yang siap menerima orang sekian banyak?"
Tanya Ling-sian.
"Jangan kau kuatir, sudah lama aku mengatur seperlunya,"
Sahut Hong-ti.
"Tidak lama berselang aku menerima kabar dari Ciu-jiko, katanya dia bersama Co-siko sudah mengasingkan diri di Bin-san untuk menjaga makam Suhu. Daerah Bin-san seluas beberapa ratus li, gunungnya tinggi dan rimbanya lebat, tempatnya cukup curam dan berbahaya, tanahnya subur pula dan baik sekali untuk bercocok tanam. Bagaimana kalau kita pindah ke Bin-san saja?"
"Jika ada tempat begitu baik, kenapa kita tidak pergi ke sana?"
Sahut Thio Thian-ti pertama.
"Setengah hidupku hanya menjadi berandal sampai susah pada hari tua. Kini ada tempat sedemikian baiknya, biarlah aku dan para kawan boleh tirakat di Bin-san untuk bercocok tanam dan melewatkan kehidupan sehari-hari."
"Ya, dahulu aku pun pernah menjadi raja laut, paling-paling kini menjadi raja gunung,"
Hi Kak berkata juga dengan tertawa.
"kini terdapat para kawan yang begini gagah perkasa, biar aku dan Thio-cecu mengumpulkan pula pengikut kita yang lama, kita bisa bergerak besar-besaran di Bin-san, aku kira pemerintah pun tak berani memandang enteng pada kita."
"Itulah urusan belakang,"
Ujar Hong-ti.
"Kini tak perlu kita persoalkan membangun gunung dan buka dasar. Jadi sekarang, kita tetapkan Bin-san sebagai tempat meneduh kita yang baru!"
"Baiklah,"
Akhirnya Ling-sian berkata juga.
"Biar kita semua ikut menjaga pekuburan gurumu. Dia adalah Sin-ni dari tingkatan lebih tua, kalau kita menjaga makamnya rasanya masih berharga untuk dilakukan."
Begitulah maka besok paginya, seorang diri Lu Si-nio lantas berangkat dulu ke Sian-he-nia, tetapi tengah ia mohon diri dari para kawan, ternyata Pang Lin tidak kelihatan bayangannya.
"Moaymoay terlalu tak kenal urusan, sudah tahu Lu-cici hari ini akan berangkat ke tempat jauh, tapi sengaja pergi, entah kemana dia sekarang?"
Ujar Pang Ing. Tetapi hati Si-nio sekonyong-konyong tergerak oleh menghilangnya Pang Lin itu.
"Menurut pendapatku, bukan Lin-moay tidak kenal urusan, justru dia terlalu paham urusan,"
Katanya kemudian.
"Biarlah kalian tak usah mencari dia. Aku duga tentu diam-diam ia pergi melakukan apa yang dia ingin lakukan."
Keruan Pang Ing terkejut.
"Urusan apa yang bisa dia lakukan? Kenapa tidak dia beritahukan padaku?"
Tanyanya cepat. Tetapi Si-nio hanya tersenyum dan tidak menjawab.
"Semalam ia bertanya padaku apakah akan ikut ke Bin-san, aku bilang betul. Ia pun bilang Bin-san sangat baik, pernah dia lewat di bawah gunung itu,"
Kata Li Ti sesudah berpikir.
"Tetapi waktu itu aku pun tidak tahu apa maksud pertanyaannya itu."
"Kalau begitu, kelak pasti dia akan mencari kalian di Bin-san, tak perlu menguatirkan dia,"
Ujar Si-nio. Pang Ing mendesak lagi apa yang diketahui Si-nio tentang hal yang akan dilakukan Pang Lin, namun Si-nio hanya menjawab secara samar-samar.
"Aku pun hanya menerka asal terka saja dan belum tentu betul, baiknya kau tunggu saja, kelak kau akan mengetahui juga,"
Sahutnya kemudian.
Pang Ing cukup cerdik, setelah dia berpikir lagi, akhirnya bisa menerka juga beberapa bagian, tanpa terasa ia menjadi jengah.
Setelah Si-nio berpisah dengan kawan-kawannya, buru-buru ia menuju ke Sian-he-nia, karena cara berjalannya cepat, sebulan kemudian ia sudah lewat Soatang terus menembus Ciatkang, Kangsoh dan akhirnya sampai di utara propinsi Hokkian.
Bukit Sian-he-nia membujur di tapal batas propinsi Hokkian dan Ciatkang, pemandangannya sangat indah, baru masuk daerah utara Hokkian, bukit ini sudah kelihatan dari jauh.
Meski dalam hati Lu Si-nio yakin betul Sim Cay-khoan pasti belum mati, tetapi semakin dekat dengan tempat tujuannya, perasaannya terguncang semakin hebat, ia kuatir kalau teka-teki yang bakal terbongkar ini justru akan terbalik sebagaimana yang dia duga semula.
Pada suatu lohor, Si-nio mampir mengaso di suatu gardu penjual air minum, tiba-tiba ia lihat dari jauh debu mengepul, seorang penunggang kuda secepat terbang sedang mendatangi, sesudah dekat, kelihatan penunggangnya adalah laki-laki kekar dengan berewok pendek kaku, rupanya keren dan gagah, sesampainya di gardu ini, orang itu menahan kudanya dan memandang sekitar gardu, ia lihat pada gardu ini hanya terdapat beberapa tamu saja.
Si-nio sendiri waktu itu sudah menyamar sebagai nona pemetik daun teh pedusunan, mukanya dipoles dengan bahan rias, maka sama sekali tidak menarik perhatian orang itu, sejenak kemudian laki-laki itupun turun dari kudanya untuk mengaso dan minum.
Selang tak lama, kembali datang dua buah joli kecil, sesampai depan gardu inipun berhenti mengaso.
Si-nio terkejut sekali ketika dari joli itu keluar satu orang yang dia kenal betul adalah Can Ceng, sedang penumpang joli yang di belakang ternyata seorang pelayan yang menggendong satu anak kecil.
Lekas Si-nio, berpaling ke jurusan lain, ia pura-pura menunduk untuk minum tehnya.
Sebenarnya dalam keadaan sekarang kalau Si-nio ingin mencabut jiwa Can Ceng boleh dikata gampang seperti membaliki tangannya sendiri.
Tetapi pertama, mengingat Can Ceng sudah tua, kedua ingat orang tua ini pernah juga bersahabat dengan ayahnya, oleh karenanya, meski sangat gusar dalam hati, tapi sedapat mungkin ia menahan perasaannya..
Lewat tak lama, lagi-lagi datang seorang penunggang kuda lain dan mengaso juga di gardu teh ini, penunggang kuda ini juga seorang jago silat dengan dandanan serupa yang duluan tadi.
Can Ceng berasal dari Ouwlam, pernah dia memberi ceramah di daerah Ouwlam, Ouwpak, Kangsay dan Hokkian, maka namanya cukup terkenal, banyak pula yang tahu akan dirinya.
Karena itu, tak lama ia duduk lantas ada seorang pelajar semacam Siucay menghampiri dia dan memberi hormat.
"Tuan ini bukankah Can-losianseng?"
Ia bertanya. Can Ceng mengangguk-angguk perlahan.
"Boanseng (aku yang muda) dan kawan sekampung dulu pernah ikut mendengarkan ceramah Losianseng,"
Kata orang itu pula. Kembali Can Ceng hanya mengangguk, tetapi dari wajahnya kelihatan perasaannya tidak tenteram.
"Angin apakah yang mengantar Can-losianseng ke sini? Apakah hendak mengadakan ceramah lagi di kota?"
Kembali orang tadi bertanya pula.
"Tidak,"
Sahut Can Ceng.
"karena ada seorang kawan meninggal di daerah utara, anak piatunya tiada orang mengurus, maka aku sengaja berangkat ke utara untuk mengambilnya, kembalinya lewat di sini dan buru-buru harus pulang, tidak sempat lagi berceramah segala."
Maka berulang-kali orang tadi memberi pujian pula, hal ini dibalas Can Ceng dengan tersenyum.
Lu Si-nio pasang kuping mendengarkan, suatu kali dengan tak sengaja mendadak sinar matanya kesamplok dengan pandangan Can Ceng.
Can Ceng sudah kenal baik Lu Si-nio, meski sekarang nona ini sudah memoles mukanya sedemikian rupa, tapi lagak-lagunya lapat-lapat masih bisa dia kenali, karena itu, wajah Can Ceng yang tadinya masih tersenyum-simpul seketika lenyap, dengan cepat ia taruh cangkir tehnya terus buru-buru berangkat.
Sebelum Can Ceng pergi, laki-laki kekar berewok yang datang duluan tadi sudah mencemplak kudanya berangkat dahulu, setelah Can Ceng berangkat juga dengan jolinya, jagoan yang datang belakangan pun ikut pergi pula.
Dari awal hingga akhir tidak pernah Can Ceng mengajak bicara kedua orang tadi, ia pura-pura seperti tidak kenal saja.
Tetapi diam-diam Si-nio tertawa geli, ia mengerti kedua jagoan itu adalah pengawal yang diam-diam dikirim Lian Keng-hiau untuk melindungi Can Ceng, berbareng untuk mengawasinya.
Sementara sesudah Can Ceng berangkat, Siucay tadi masih membual pula dengan tetamu peminum lain sambil memuji bagaimana tinggi ilmu sastra Can Ceng dan macam-macam lagi, diam-diam Si-nio tertawa dingin dalam hati, ia pun-tidak ingin mendengarkan terus, lekas ia pun melanjutkan perjalanan.
Si-nio lihat arah yang ditempuh Can Ceng menuju Pohsia, jurusannya berlawanan dengan arah ke Sian-he-nia.
"Baik juga aku tidak sejurusan dengan tua bangka ini, sesungguhnya aku terlalu muak bila nampak mukanya,"
Demikian pikir nona ini.
Perjalanan Si-nio memang sangat cepat, sebelum matahari terbenam ia sudah tiba di bawah bukit Sian-he-nia yang dia tuju.
Ia lihat di tengah gunung, awan dan kabut terapung menggulung dengan aneka macam perubahannya.
Seketika perasaannya menjadi tegang, teringat olehnya dulu di kala bersama Sim Cay-khoan mereka menikmati pemandangan indah lautan mega di puncak gunung itu.
Ia coba membayangkan apakah yang sedang dilakukan Cay-khoan sekarang ini?
Apakah sedang termenung seorang diri atau lagi memandang lautan mega yang indah dari jauh?
Begitulah sambil berpikir tanpa terasa Si-nio telah sampai di tengah gunung, di depan tampak sebuah batu karang besar yang berwarna merah, ini adalah satu tempat yang indah di Sian-he-nia yang bernama 'Tan-he-ciang', dahulu waktu Si-nio masih tinggal di sini, ia paling suka jalan-jalan di sekitar batu merah ini.
Kini lewat di sini, mau tak mau ia mendongak memandangnya, tapi di luar dugaan ia menjadi kaget, karena didapatkan sesuatu yang mengejutkan.
Batu karang itu sedikitnya setinggi tujuh-delapan tombak, licin dan halus sekali, tetapi kini di dinding batu ini ada orang bisa melukis setangkai bunga cempaka, lukisan ini sangat sederhana, hanya terdiri beberapa goresan saja, tetapi luar biasa hidup dan cantiknya.
Dari lukisan di batu ini kelihatan sekali pelukisnya tidak saja memiliki Ginkang yang tinggi, memiliki seni lukis yang pandai pula.
Karenanya Si-nio terheran-heran.
Dengan melihat bunga cempaka di atas batu ini, Si-nio menduga pasti ada tokoh silat terkemuka yang pernah mendatangi tempat ini, hatinya menjadi semakin kuatir, tak sempat ia periksa lebih teliti, segera ia tinggalkan tempat ini.
Di bawah 'Tan-he-ciang' ini terdapat sebuah goa batu yang berkeraikan air terjun, selewatnya air terjun ini, kelenteng tempat tinggal It-biau Hwesio sudah bisa kelihatan dari jauh.
Dari jauh Si-nio bersuit panjang, tetapi tidak tampak It-biau keluar menyambut kedatangannya, keruan Si-nio lebih gelisah lagi, ia percepat langka'.nya terus berlari masuk kelenteng.
Namun yang ia dapatkan adalah pintu kelenteng yang sudah roboh, dinding pagar pun sudah gugur, bunga layu dan air kering, suasana sunyi senyap.
"It-biau Taysu! It-biau Taysu!"
Si-nio berseru. Akan tetapi yang ada hanya suara sahutan yang berkumandang kembali dari lembah pegunungan sana.
"Cay-khoan! Dimana kau Cay-khoan!"
Ia memanggil pula.
tetapi serupa saja, sama sekali tiada suara jawaban orang.
Menghadapi keadaan demikian ini, seketika Lu Si-nio terpaku.
Sebenarnya ia yakin Cay-khoan masih hidup, tetapi keadaan di depannya sekarang ini sama sekali di luar dugaannya.
Dulu, waktu berpisah dengan Sim Cay-khoan, meski pemuda ini sudah bisa berjalan, tapi bagaimanapun juga masih belum leluasa, apalagi ia sengaja menghindar ke bukit ini, maka apapun juga yang terjadi dia takkan turun gunung.
Tetapi, apa ...
apakah ....
Berpikir sampai di sini tanpa tertahan Si-nio jadi mengkirik, ia tak berani membayangkan lebih jauh.
Seketika hawa di sekitarnya seperti dingin luar biasa seakan-akan membeku, seperti robot saja Lu Si-nio menggeser langkahnya yang antap, ia memegangi dinding kelenteng itu dan keluar dari ruangan dalam, kemudian ia memasuki kamar yang dahulu pernah ditinggali Sim Cay-khoan.
Pintu kamar ini setengah tertutup, sedikit dorong saja sudah terpentang, maka terciumlah bau apek, saking lamanya tidak pernah dibikin bersih, perabot kamar tampak masih baik, hanya debu sudah tertimbun hingga tebal.
Malahan ada beberapa tikus tampak berlari terbirit-birit ketika mendengar suara orang.
Si-nio berusaha menenangkan semangatnya, ia sedot beberapa kali hawa segar melalui jendela, ia pikir apakah dirinya berada dalam mimpi?
Tetapi ia masih tetap yakin Cay-khoan belum mati, kembali ia menggeser langkah yang berat seperti robot, ia mengelilingi seluruh kelenteng itu, tetapi sesudah dicari sini dan cari sana, tetap tiada seorang pun yang dia temukan, akhirnya terasa olehnya keadaan yang seram, segalanya seperti kosong belaka, segalanya sunyi.
Selang tak lama kemudian Si-nio baru tersadar dari impian yang buruk, baru terasa olehnya entah sejak kapan badannya sudah basah kuyup oleh air mata, ia masih tetap berpikir.
"Terang sekali kepala itu tidak mirip muka Cay-khoan, jangan-jangan pada hari digeropyok kawanan alap-alap dan anjing pemerintah, dengan mati-matian ia telah meloloskan diri?"
Begitulah ia masih tetap menaruh harapan, maka kembali ia memeriksa lebih teliti lagi sekitar kelenteng itu, akhirnya baru ia ketahui bahwa tiada satu perkakas pun dalam kelenteng itu yang utuh, jelas dalam kelenteng ini pernah terjadi pertarungan sengit, waktu dia periksa lebih cermat lagi, ia lihat di undak-undakan batu ruangan depan sana ada noda darah yang sudah kering, tetapi masih kelihaian warna semu merah dan mendebarkan hati.
Melihat semua ini, sungguhpun Si-nio yakin seribu kali yakin, mau tak mau ia menjadi kuatir juga.
Sementara itu terdengarlah riuh-ramai suara burung yang kembali ke sarangnya di hutan, sang surya sudah terbenam.
Lu Si-nio sedapat mungkin menenangkan diri, ia berusaha menghibur diri sendiri, entah darah siapakah ini?
It-biau Hwesio tidak rendah ilmu silatnya, mungkin ini darahnya karena terluka oleh musuh!
Pada kesempatan hari belum gelap, Si-nio berjalan keluar dari kelenteng itu, ia turun gunung lagi melalui belakang kelenteng dan memeriksa keadaan sepanjang jalan.
1 Setelah berjalan sebentar, tiba-tiba pada dinding tebing di depannya ia dapatkan pula lukisan bunga teratai yang dilukis dengan jari tangan, jika dilihat goresannya, terang sekali lukisan dinding batu karang itu dilukis dengan tenaga jari tangan dan dilakukan oleh satu orang yang sama, maka pikiran Si-nio jadi tergerak.
Setelah lewat di bawah tebing itu, tidak lama kembali ia lihat lukisan bunga teratai lagi di dinding batu.
Di antara bukit Sian-he-nia ini tidak sedikit terdapat jalan yang berliku-liku diselingi sungai pegunungan yang kecil bersimpang-siur, kalau bukan orang yang sudah lama tinggal di atas gunung, sering kali bisa kesasar jalan, tampaknya bunga teratai yang digambar dengan tenaga jari tangan ini seperti tanda yang sengaja dilukis oleh kaum kelana Kangouw untuk digunakan sebagai petunjuk jalan.
Si-nio menjadi curiga, pikirnya.
"Di atas gunung ini tidak terdapat sesuatu barang mestika, orang yang menggambar bunga teratai sudah jelas adalah tokoh silat yang tinggi, kalau bukan berniat datang dengan memberi tanda supaya kelak tidak kesasar, tidak nanti ia tinggalkan tanda ini. Justru aku ingin tahu bunga teratai ini menunjuk ke juruan mana?"
Perjalanan Si-nio cukup cepat, maka setelah melewati tiga tempat yang bertandakan bunga teratai itu, akhirnya ia lihat jalanan pegunungan di depan mulai lapang dan ada tanah yang miring, pada suatu tempat yang rada miring tertampak dua gundukan tanah, bentuknya benjol panjang bulat, melihat gundukan tanah ini, seketika hati Si-nio memukul keras, sebab kelihatan kedua gundukan tanah ini adalah kuburan yang baru saja dibikin.
Waktu Si-nio mendekati dan setelah diperiksa, betul saja dua kuburan baru, di depan tiap kuburan itu terdapat sebuah batu nisan.
Pada batu nisan yang sebelah kiri itu tampak tertulis.
"Kuburan It-biau Taysu" . Demi membaca tulisan ini, seketika Si-nio merasakan pandangan matanya menjadi gelap, sungguh tidak pernah dia duga bahwa dengan ilmu silat It-biauw Taysu yang tinggi masih mengalami mala petaka juga, maka apa yang dia sangka semula nyata kini telah meleset. Si-nio tenangkan diri untuk membaca lagi apa yang tertulis di batu nisan sebelah kanan, tetapi demi membaca, seketika semangatnya seakan-akan terbang meninggalkan raganya. Kiranya nisan itu tertulis.
"Kuburan sandang Sian-he-chu-su Sim Cay-khoan" . Sejak Sim Cay-khoan tetirah di atas Sian-he-nia, ia menamakan diri 'Sian-he-chu-su' atau penghuni Sian-he-nia, dari sini dapat diduga kuburan ini pasti dibangun oleh sahabat karibnya, sedang kuburannya disebut 'kuburan sandang', tentunya karena pembuat kuburan itu sudah mengetahui Cay-khoan telah dihukum mati di kotaraja, mayatnya terang tidak mungkin bisa dipindah kembali, maka terpaksa hanya memendam sandangnya sebagai kenang-kenangan. Berdasarkan tulisan pada nisan yang cocok dengan diri Cay-khoan, pula cocok dengan keadaan tewasnya, maka dapat dibayangkan, kini Sim Cay-khoan sudah jelas telah menjadi korban keganasan kerajaan Boan. Sesaat itu Lu Si-nio merasa seluruh badannya kaku, ia hendak menangis, tetapi tak keluar air mata, ia jadi terbayang kepada semua kejadian yang lampau, sama sekali tak terduga, Sim Cay-khoan bisa terhindar dari bahaya besar dahulu, sebaliknya sekarang harus jadi korban di tangan kawan sendiri dan mati di bawah senjata musuh dengan kepala terpisah dari tubuhnya, kuburannya hanya terisi pakaiannya, lebih-lebih tak pernah diduga bahwa sesudah hampir sepuluh tahun berlatih diri dan baru saja bisa mengalahkan godaan penyakit serta terhindar dari cacat, siapa tahu tewas juga secara mengenaskan. Begitulah dengan perasaan hancur Lu Si-nio termenung sambil mendongak, dengan pedang ia membacok-bacok tanah, tetapi tiada jawaban dari langit dan tiada sahutan dari bumi. Meski hari sudah mulai gelap, namun Si-nio masih termangu-mangu duduk di depan kuburan, entah sudah berapa lama ketika kemudian ia sadar kembali dengan perlahan.
"Semua gara-gara Can Ceng si bangsat tua ini, kalau tidak, siapa yang mengetahui Cay-khoan berada di Sian-he-nia? Bangsat tua inilah yang merupakan pembunuhnya, kenapa aku harus mengampuni dia?"
Akhirnya Si-nio melonjak bangun.
Sebenarnya gadis ini tiada pikiran buat membunuh Can Ceng, tetapi dalam amarahnya, kini ia jadi gegetun kenapa siang tadi tidak menawan sendiri Can Ceng dan dibunuh untuk membalas dendam Cay-khoan.
Ia mengerti malam ini Can Ceng pasti bermalam di Pohsia, jarak antara Pohsia dengan Sian-he-nia kira-kira hanya ratusan li.
Karena dorongan hendak menuntut balas, segera juga Si-nio turun gunung, ia keluarkan ilmu entengi tubuh yang tinggi terus berangkat menuju Pohsia.
Pada waktu tengah malam ia telah sampai di tempat yang dia tuju.
Pohsia hanya satu kota kecil saja, sesudah lewat tengah malam, suasana sunyi senyap.
Mengenai Can Ceng, sebenarnya bukan maksudnya menjadi manusia pengkhianat, soalnya dia takut mati, karena kelemahan hatinya ini yang tak tahan uji, akhirnya ia menyerah di bawah ancaman musuh sehingga berakibat suatu kesalahannya yang besar.
Tetapi setelah dia tenang kembali, sesudah dipikir lagi, ia sendiri menjadi tak tenteram sekali.
Hari ini sesudah kesamplok dengan Lu Si-nio di kedai minum, hatinya semakin ketakutan.
Syukur sesudah berangkat lagi, sepanjang jalan ia tidak nampak jejak gadis itu, karenanya hatinya rada tenteram kembali.
Tetapi malam sewaktu sampai di Pohsia, suatu peristiwa yang membikin dia lebih tak tenteram lagi telah terjadi.
Baru saja ia memasuki batas kota itu, segera ada dua orang mencegat di depan joli-nya dan menanyakan apakah dia Can-losianseng?
Kedua penggotong joli itupun orang Lian Keng-hiau yang sudah terlatih, karena itu, demi nampak ada orang menyapa sambil mencegat joli, mereka lantas berhenti, sedang Can Ceng menyingkap kerai jolinya, maka kedua orang tadi lantas menyodorkan satu kartu nama.
"Can-losianseng dipersilakan bermalam ke hotel kami, kamarnya sudah disediakan,"
Kata kedua orang itu.
Waktu Can Ceng membaca kartu nama itu, kiranya adalah kartu pengenal dari sebuah hotel yang disebut 'Cang-an-khek-tiam' (hotel Aman) yang sengaja mengirim orangnya buat terima tamu.
Can Ceng heran karena dirinya disambut sedemikian rupa.
"Darimana kalian mengetahui kedatanganku hari ini?"
Demikian ia coba bertanya.
"Kawan Can-losianseng sudah sejak tadi memberitahukan kami, kamarnya sudah disediakan juga,"
Sahut pegawai hotel itu.
"Mari silakan Can-losianseng ikut kami."
"Apa, kawanku?"
Tanya Can Ceng dengan bingung.
"Dimana dia sekarang?"
"Kenalan Can-losianseng terdapat dimana-mana, kalau sudah bertemu tentu akan tahu sendiri,"
Sahut pegawai hotel lagi dengan tersenyum. Dan selagi Can Ceng hendak menolak, sementara itu kedua pengawal yang mengiringinya secara diam-diam kinipun sudah masuk kota.
"He, apa hotelmu masih ada kamar?"
Segera mereka mendahului bertanya.
"Ada, ada,"
Demikian sahut pegawai hotel dengan cepat.
"Baiklah, kalau begitu kami pun menginap di hotelmu,"
Kata kedua pengawal itu.
Dengan kata-kata terakhir mereka ini, terang mereka sengaja menegaskan pada Can Ceng agar boleh menginap di hotel itu.
Tiada jalan lain, terpaksa Can Ceng ikut di belakang pegawai hotel itu.
Hotel 'Tiang-an-khek-tiam' meski hanya sebuah hotel di suatu kota kecil, namun keadaannya ternyata cukup bersih dan terawat baik, bahkan di kamar Can Ceng terdapat meja tulis dan perabot lainnya.
"Sahabat Can-losianseng bilang engkau adalah pujangga terkenal di zaman ini, maka kamar ini suruh kami menata bagus seperti kamar baca,"
Pegawai hotel tadi menerangkan. Sebaliknya keterangan ini semakin membikin hati Can Ceng tak enak.
"Dan dimana tuan itu?"
Tanyanya.
"Kenapa dia tidak datang menyambut diriku?"
"Kami pun tak tahu,"
Sahut pegawai hotel.
"dia hanya disuruh orang untuk memesan kamar, sehabis membayar sewanya tenis pergi lagi."
"Bagaimana wajah orang yang memesan kamar,"
Tanya Can Ceng.
"Seorang bermuka bopeng!"
Can Ceng menjadi tercengang oleh keterangan ini.
"Si bopeng itu hanya seorang pesuruh saja,"
Tutur si pegawai lebih jauh.
"dia pesan kamar untukmu atas perintah majikannya. Tetapi tanpa meninggalkan nama majikannya ia lantas tinggal pergi. Rupanya engkau dipersilakan mengaso dulu semalam, besok baru akan datang buat bertemu."
Karena tidak mendapatkan keterangan yang memuaskan, Can Ceng tidak bertanya lebih lanjut.
Kedua jago pengawal Can Ceng itupun telah mengambil dua kamar di kanan dan kiri kamar Can Ceng.
Sesudah makan malam, mereka pura-pura seperti sesama perjalanan dan menjenguk ke kamar Can Ceng.
"Malam ini hendaklah kau hati-hati, Can-losianseng!"
Demikian diam-diam mereka memperingatkan.
"Ada tanda yang mencurigakan kalian?"
Tanya Can Ceng ketakutan.
"Kalian harus menolong jiwaku, aku kira, tidakkah lebih baik kita ganti hotel saja!"
Tapi kedua jago pengawal ini adalah orang kepercayaan Lian Keng-hiau, mereka memiliki ilmu silat yang tidak bisa dibilang rendah, maka demi mendengar kata-kata Can Ceng ini, mereka tertawa.
"Orang yang memesan kamar untukmu, tidak perlu ditanyakan lagi tentu adalah begundal Lu Liu-liang,"
Ujar mereka.
"Kita justru akan menunggu kedatangannya, mana boleh kita ganti hotel?"
Can Ceng tidak berani buka suara lagi, tetapi diam-diam hatinya sangat kuatir, pikirnya.
"Entah kedua orang ini bisa menandingi Lu Si-nio atau tidak? Kalau sampai Si-nio membunuh mereka, terang tidak bakal baik, sebaliknya kalau mereka yang membunuh Lu Si-nio, lebih-lebih tidak baik lagi jadinya. Ya, bagaimanapun juga keluarga Lu adalah sahabat karibku, mana aku tega melihat keluarganya dibabat sampai akar-akarnya!"
Dalam keadaan demikian Can Ceng menduga orang yang memesankan kamar untuknya pasti Lu Si-nio adanya.
Tak tahunya dugaannya ternyata meleset jauh.
Malam ini sudah tentu Can Ceng tidak bisa pulas, sesudah membaca beberapa halaman kitab 'Chun-chiu' (isi kitab ini mengutuk pembesar pengkhianat dan kaum penjahat negara), ia tak berani membacanya lebih lanjut.
Kala itu ia dengar sudah kentongan tengah malam, di dalam hotel sepi tanpa suara sedikitpun.
Dalam keadaan bingung dan tak tenteram, Can Ceng membuka daun jendela hingga angin malam yang agak dingin meniup masuk, di bawah suasana malam remang-remang ini kelihatan Sian-he-nia yang menjulang tinggi jauh di sana, tanpa terasa Can Ceng teringat pada Sim Cay-khoan, tiba-tiba ia seperti nampak leher Cay-khoan yang berlumuran darah sambil tangannya menjinjing kepalanya sendiri, biji mata mendelik seperti sedang melotot padanya.
Dalam kagetnya Can Ceng menjerit, cepat ia menutup daun jendela dan lenyaplah khayalannya tadi.
Kemudian Can Ceng menghela napas, katanya dalam hati.
"Jika tidak pernah berbuat sesuatu yang berdosa, suara ketukan pintu di tengah malam tidak akan membikin kaget, ujar ini memang tidak salah."
Ia mengusap keringat dingin yang membasahi jidatnya, lalu mondar-mandir di dalam kamar tanpa tujuan, kemudian tanpa terasa ia menyanyikan syair Go Bwe-joan di waktu ajalnya yang penuh rasa penyesalan karena pengkhianatannya pada nusa dan bangsa.
Tetapi selesai bersenandung, ia jadi tertawa geli dan menggumam, ia pikir kenapa aku begini tolol, siapakah di dunia ini yang mengetahui aku Can Ceng telah berbuat hal yang salah?
Begitulah sebentar Can Ceng sedih dan menyesal, lain saat ia hibur diri sendiri.
Sampai.kemudian tiba-tiba datang suara ketukan pintu perlahan sekali.
Can Ceng mengira adalah pengawal yang berada di kamar sebelah, maka ia bertanya.
"Siapa?"
Tetapi sebelum orang menjawab ia sudah menarik palang pintu hingga pintu kamar segera terbuka.
Alangkah kagetnya Can Ceng ketika ia lihat siapa pengetuk pintu ini, begitu kaget hingga hampir semangatnya terbang, ia berteriak.
"Kau, kau manusia atau setan? Tidak, tidak, bukan aku yang bunuh kau, kau ... kau...."
Kalau Can Ceng terkaget setengah mati demi nampak siapa orangnya, maka di lain pihak masih ada seorang lagi yang terlebih kaget.
Orang ini adalah Lu Si-nio.
Pada waktu tengah malam Si-nio juga tiba di Pohsia, kota kecil ini tidak banyak hotelnya, maka dengan gampang Lu Si-nio menemukan tempat menginap Can Ceng.
Dengan ilmu entengkan tabuhnya yang tinggi Si-nio melayang ke atas hotel, begitu enteng dan gesit bagaikan daun kering saja yang jatuh tania suara, sampai kedua pengawal Can Ceng yang tekun menantikan datangnya musuh pun tidak mengetahui datangnya gadis ini.
Mula-mula Si-nio mendengar Can Ceng sedang menyanyikan syair Go Bwe-joan yang penuh penyesalan, hati gadis ini jadi tergerak, ia pikir, kiranya tua bangka ini masih mengerti juga bahwa dirinya telah berdosa berbuat sesuatu yang salah.
Pula melihat orang sudah lanjut usianya, maka Si-nio tak tega turun tangan.
Tetapi demi melihat Can Ceng tertawa geli sendiri dan menggumam pula, api amarahnya berkobar lagi, selagi ia hendak turun tangan membereskan jiwa tua bangka ini, sekonyong-konyong tertampak olehnya pada pintu kamar hotel paling ujung sana terbuka perlahan, lalu berjalan keluar seorang yang berdandan seperti kaum sastrawan, mukanya berkedok kain biru, setelah berada di depan kamar Can Ceng, orang berkedok ini lantas mengetuk pintu perlahan, menyusul kain kedoknya lantas ditarik pula.
Orang ini meski terbakar menjadi abu juga akan dikenali oleh Lu Si-nio, ia ternyata bukan lain adalah kekasihnya yang disangkanya sudah mati, Sim Cay-khoan!
Tadi waktu Cay-khoan keluar dari kamarnya, Lu Si-nio sudah sangsi, kini setelah kain kedoknya dibuang, maka lebih nyata pula.
Seketika itu Si-nio terkejut bercampur girang, sama sekali tak terduga bahwa Sim Cay-khoan belum mati, bahkan mukanya tertampak bersemu merah licin berminyak, suatu tanda kesehatannya cukup baik, gerak-geriknya pun cepat dan gesit, terang sudah jauh lebih sehat dan kuat daripada orang biasa.
Dalam girangnya, napsu membunuh Si-nio tadi kembali lenyap, ia pikir.
"Biarlah aku melihat dulu apakah si tua bangka she Can ini masih punya muka untuk menemuinya?"
Sementara itu saking kagetnya Can Ceng bertanya dengan suara gemetar dan terputus-putus.
"Kau ... kau jangan menagih nyawa padaku?"
Akan tetapi Sim Cay-khoan tertawa.
"Aku bukan setan!"
Katanya.
"Hari itu yang ditangkap alap-alap pemerintah di atas Sian-he-nia ialah adik sepupuku, Cay-eng."
Habis itu tiba-tiba ia menarik muka, lalu dengan suara berat ia berkata lagi.
"Sungguh kasihan, baru pertama kali ia menyambangi aku sudah lantas mengalami bencana itu! Ai, bahkan telah merembet It-biau Hwesio ikut menjadi korban. Bukankah kau kenal juga pada Cay-eng?"
Mendengar lagu perkataan orang yang rupanya belum mengetahui dirinya yang mengkhianati, maka Can Ceng menjadi agak tenteram perasaannya, ia pura-pura menghela napas seperti ikut berduka cita.
"Ya, bukankah Cay-eng rupanya sangat mirip kau?"
Katanya kemudian.
"Pemuda yang masih begitu muda-belia sudah menjadi korban, sungguh sayang dan kasihan!"
"Yang sudah mati biarlah sudah, tetapi yang masih hidup hendaklah berlaku hati-hati,"
Sambung Cay-khoan dengan wajah serius.
"Can-lopek, kau sendiri berada di bawah ancaman bahaya, lekaslah ikut aku melarikan diri."
Baru saja Can Ceng merasa lega karena kata-kata orang ini, air mukanya berubah lagi.
"Dua jago pengawal di kamar sebelah menguntit kau sepanjang jalan, apakah mereka tidak kenal siapakah kau ini?"
Demikian Sim Cay-khoan berkata pula.
"Kabarnya pemerintah sedang menangkap secara besar-besaran golongan kita, Giam-sioksiok telah mengalami bencana, kau adalah pemimpin penting golongan kita, kenapa kau berani sembarang bergerak kian-kemari?"
Kiranya pada hari Lian Keng-hiau mengirim jagonya kc Sian-he-nia untuk menangkap Sim Cay-khoan, kebetulan pemuda ini merasa badan sudah mulai sehat kembali, maka pagi-pagi ia berjalan-jalan keluar di sekitar pegunungan itu, karena senangnya, makin jalan makin jauh hingga belasan li dari kelenteng tempat tinggalnya.
Meski jaraknya hanya belasan li saja, tetapi jalanan pegunungan Sian-he-nia berliku-liku, tanpa terasa sudah melintasi dua bukit lainnya, maka waktu jago-jago yang dikirim Lian Keng-hiau datang, sedikitpun Cay-khoan tidak mengetahui.
Sesudah pemuda ini puas berjalan-jalan dan kembali, barulah dia mendapatkan mayat It-biau Hwesio sudah menggeletak di dalam kelenteng, tanpa ayal lagi ia berlari turun gunung untuk bersembunyi, belakangan dapat diketahui bahwa adik sepupunya kebetulan hari itu naik ke atas gunung untuk menyambanginya hingga ikut menjadi korban.
Sudah tentu berduka dan gusar pula pemuda ini, tetapi Si-nio tidak berada didampingnya, untuk menuntut balas seorang diri terang tidak mampu, maka terpaksa ia mengubur It-biau Hwesio, ia sengaja membangun sebuah kuburan sandang pakaiannya sendiri sebagai tipu-daya untuk mengelabui mata musuh supaya kalau ada anjing alap-alap pemerintah Jing datang lagi menyelidiki, kiranya tidak memperhatikan dirinya lagi.
It-biau Hwesio banyak kenalan di Pohsia, di antaranya ada pula orang-orang dari golongannya.
Maka Sim Cay-khoan lantas tinggal di rumah seorang she Yap, justru keluarga Yap ini adalah anggota perkumpulan rahasia pula, maka ketika joli yang memuat Can Ceng masuk ke Hokkian dari Ciatkang, dengan sendirinya ada orang melapor padanya, tentang dua jago pengawal yang menguntit itu telah dilaporkan juga.
Karena itulah Sim Cay-khoan menjadi kuatir kalau Can Ceng juga kena dicelakai, maka ia sengaja memancing Can Ceng menginap ke Tiang-an-khek-tiam.
Demikianlah maka demi mendengar Cay-khoan terus-menerus mendesak agar dirinya lekas ikut lari, Can Ceng menjadi serba salah dan ragu-ragu.
Tetapi juga tidak enak untuk menerangkan apa yang sebenarnya terjadi.
Karena itu ia menjadi gelagapan dan tiada alasan buat menolak.
Pada saat itu juga, sekonyong-konyong di luar pintu terdengar suara tertawa dingin, menyusul dua jago pengawal di kamar sebelah menerjang masuk semua.
"Hm, bangsat yang bernyali besar, memangnya sudah lama aku menunggu kau!"
Demikian lelaki berewok itu mendamprat dengan tertawa sambil berdiri menghadang di ambang pintu.
Begitu ia mengulur tangan, segera ia hendak mencengkeram tulang lemas di pundak Sim Cay-khoan.
Jago pengawal ini mahir ilmu silat Eng-jiau-kang, karena melihat Sim Cay-khoan hanya seorang sekolahan yang lemah, ia sangka sekali ulur tangan pasti akan kena sasaran.
Di luar dugaan, sesudah Sim Cay-khoan mendapatkan ajaran Lwekang dari Lu Si-nio untuk menyembuhkan penyakit lumpuhnya, selama hampir sepuluh tahun ini siang dan malam telah dilatih dengan giat, dalam hal kematangan Lwekang sudah boleh dikata cukup sempurna, oleh sebab itulah penyakit lumpuhnya bisa sembuh.
Kini meski cara berkelahi sama sekali Cay-khoan tidak paham tapi dengan Lwekangnya yang sempurna, ia bisa sebanding dengan jago kelas satu dari kalangan Kangouw.
Begitulah, maka begitu cengkeraman lelaki berewok itu menyentuh pundak Cay-khoan, mendadak otot daging pemuda ini secara otomatis mengkeret ke dalam hingga tangan laki-laki berewok itu terasa memegang tempat licin seperti mencekal belut saja dan seketika terlepas dari tangannya.
Keruan ia terkejut sekali.
"Awas, musuh cukup keras!"
Demikian ia berseru pada kawannya dengan kata-kata rahasia Kangouw.
Berbareng telapak tangannya hendak menggablok lagi.
Tetapi Cay-khoan telah mengangkat telapak tangannya memapak tangan orang hingga laki-laki berewok ini berbalik kena tergetar mundur dua tindak.
Sementara itu kawan laki-laki berewok itu sudah melolos golok, begitu senjata diayun, dengan tipu 'Tiat-le-keng-tian' atau bajak besi meluku sawah, mendadak ia membabat kedua kaki Cay-khoan.
Sedang laki-laki berewok tadipun tidak tinggal diam, kembali ia menubruk maju hendak menarik pergelangan tangan sambil menendang pula ke pinggangnya.
Bagaimanapun juga memang Cay-khoan bukan seorang jago silat, karena keroyokan kedua orang ini, segera ia kerepotan.
Syukur pada saat yang berbahaya itu, tiba-tiba terdengar suara tertawa dingin di atas payon rumah, berbareng laki-laki yang menyerang dengan golok tadi sudah roboh lebih dulu.
"Si-nio!"
Seru Sim Cay-khoan kegirangan.
Dan ketika laki-laki berewok itu menoleh, gerak tangan Si-nio yang secepat kilat, begitu pedang mengayun, tanpa ampun lagi sebuah kepala manusia sudah terbang keluar rumah.
Saat itu anak kecil di dalam kamar berpekik tangis dengan keras.
"Lu-titli!"
Seru Can Ceng dengan ketakutan hingga mukanya pucat pasi. Akan tetapi segera Si-nio menarik muka.
"Siapa kau punya Titli?"
Sahutnya dingin. Sebaliknya Sim Cay-khoan menjadi bingung juga melihat sikap Si-nio ini.
"Eng-moay, kenapakah kau?"
Tanyanya heran.
"Hampir saja jiwamu melayang oleh karena perbuatannya, apa kau masih tidak tahu?"
Sahut Si-nio.
"Can Ceng, aku ingin tanya kau, Khongcu mengajarkan apa dan Bengcu bilang apa, kau selamanya membaca kitab ajaran Nabi, tetapi apa yang telah kau pela-jari? Kenapa dalam keadaan bahaya kau hanya memikir hidup sendiri, sedikitpun kau tak punya jiwa jantan?"
Oleh karena dampratan ini, muka Can Ceng menjadi merah seluruhnya, bahkan mendadak ia benturkan kepalanya ke dinding, namun Cay-khoan keburu menghadang terus dirangkulnya.
Maka menangislah Can Ceng dengan menjerit.
"Ya, usiaku sudah tua, aku tak tahan akan siksaan, manusia mana yang tak pernah berbuat salah? Ai, biarkan aku mati saja untuk menebus dosaku!"
Demikian ia sesambatan.
Mendengar kata-kata mereka tadi, baru sekarang Cay-khoan paham persoalannya, tetapi bila ia lihat rupa Can Ceng yang harus dikasihani ini, ia menjadi tak tega, tiba-tiba ia menghela napas.
"Sudahlah, Eng-moay, beruntung aku tidak mati, boleh ampuni jiwanya!"
Katanya kemudian.
, Sebenarnya amarah Si-nio masih belum reda, tapi nampak Cay-khoan sendiri yang mintakan ampun, ia pun tidak ingin berlaku keterlaluan, maka dengan menjengek ia masuk ke kamar dalam, sekali pedangnya diayun, 'pengiring' yang menggendong bocah itu ditusuk mampus, lalu ia bopong anak Lian Keng-hiau dan dimakinya sebagai 'anak haram', tetapi waktu ia tegasi, ia lihat rupa anak ini ternyata sangat mungil sehat.
"Anak siapakah ini?"
Cay-khoan bertanya.
"Dia adalah putra Lian Keng-hiau,"
Sahut Si-nio. Dari lagu suaranya nyata ia tidak segusar tadi.
"Dosa orang tua jangan sama ratakan dengan anaknya,"
Ujar Sim Cay-khoan. Karena mendengar nada suara orang sudah mengampuni dirinya, kini Can Ceng tidak ingin bunuh diri lagi.
"Lian Keng-hiau yang paksa aku memelihara anaknya, tidak ... tidak ada sangkut-pautnya dengan aku,"
Demikian katanya dengan suara terputus-putus.
"Janji seorang laki-laki harus tepat, Lian Keng-hiau berdosa, tetapi anaknya tak berdosa. Baiklah, kau boleh pelihara dia,"
Kata Si-nio kemudian. Habis itu ia pun jemu melihat cecongor Can Ceng lebih lama, maka setelah dia menulis beberapa huruf besar.
"Yang membunuh, Lu Si-nio adanya"
Di atas dinding dengan darah, lalu ia tarik Cay-khoan dan diajak keluar dari hotel itu.
"Cay-khoan, sungguh tidak pernah kusangka bisa bertemu kau lagi,"
Kata Si-nio sesudah keluar hotel.
"Tetapi sayang tak bisa bertemu lt-biau Taysu lagi,"
Sahut Cay-khoan dengan muram.
"Cay-khoan,"
Kata Si-nio tiba-tiba.
"marilah kita naik ke Sian-he-nia untuk berziarah ke kuburan lt-biau Taysu, lalu kita tinggal beberapa hari lagi di atas gunung itu. Dahulu kau tak bisa berjalan, banyak sekali pemandangan indah di gunung itu yang belum kau ketahui, marilah kita menikmatinya bersama, sekali ini mumpung ada kesempatan janganlah kita lewatkan gunung ternama dan pemandangan indah ini."
Habis berkata ia lantas tertawa riang, hatinya yang selalu berkuatir selama beberapa bulan ini dan rasa bencinya pada Can Ceng, pula kenangannya pada It-biau Taysu, semua perasaan yang tidak menyenangkan ini kini telah tersapu bersih seketika oleh tertawanya tadi.
Si-nio menginap satu malam di rumah keluarga Yap bersama Cay-khoan, besok siangnya mereka sudah berada di Sian-he-nia.
Dengan hati lapang dan gembira ria, sepanjang jalan Si-nio menikmati pemandangan sekitarnya sambil berbicara dengan Cay-khoan tentang keadaan sesudah mereka berpisah, ia pun memuji kemajuan Lwekang Cay-khoan yang sangat pesat.
"Kalau tidak ada kau, hidupku ini pasti cacat selamanya,"
Ujar Cay-khoan dengan tertawa.
"jika terjadi begitu, apakah artinya lagi tentang Lwekang segala? Eng-moay, apa kau masih ingat sanjak yang aku kumpulkan dari syair kuno itu?"
"Kenapa tidak ingat?"
Sahut Si-nio.
Lalu ia menyanyikan sanjak orang.
Sebagaimana diketahui, sanjak itu dibuat oleh Sim Cay-khoan oleh karena merasa dirinya bakal cacat dan merasa rendah diri, ia kuatir tidak setimpal mendapatkan jodoh Si-nio, maka mengumpulkan sari syair kuno itu untuk menunjukkan rasa duka hatinya.
"Dan sekarang kau tentu tidak lagi merasa rendah diri bukan?"
Kata Si-nio kemudian sesudah membawakan sanjak orang.
"Ya, sungguh tidak terduga, selama sepuluh tahun bertahan, akhirnya terkabul juga cita-cita,"
Sahut Cay-khoan dengan tersenyum.
"Eng-moay, kita orang yang sudah tak berumah dan tak berkeluarga lagi, kita sudah piatu. Bilakah kita dapat melaksanakan keinginan hati orang tua?"
Dengan kata-kata ini, ia bertanya tentang nikah mereka pada Si-nio. Karena itu muka Si-nio menjadi merah.
"Biar sesudah aku membunuh Kaisar anjing Yong Ceng, kemudian baru kita laksanakan kewajiban kita, dapatkah sekiranya kau menunggu?"
Sahutnya dengan suara lembut. Karena jawaban ini, hati Cay-khoan tergetar.
"Ya, sakit hati belum terbalas ingin berumah tangga, inilah kesalahanku,"
Katanya kemudian dengan sungguh-sungguh.
"Eng-moay, soal balas dendam adalah urusan utama, mana bisa aku tak dapat menantikannya."
Begitulah sambil bercakap-cakap, tidak antara lama mereka sudah lewat di bawah 'Tan-he-ciang'.
"Kepandaian orang ini tidak di bawahku, dapatkah kau ketahui siapa yang meninggalkan gambar ini?"
Tiba-tiba Si-nio mendongak sambil menuding pada bunga teratai yang terlukis dengan goresan tenaga jari di atas tebing batu itu. Melihat itu, Cay-khoan sendiri pun agak terkejut.
"Sejak peristiwa itu, aku lantas menyingkir ke Pohsia, maka aku tidak tahu siapakah yang pernah naik ke gunung ini lagi."
Maka dengan menggandeng tangan Sim Cay-khoan, Lu Si-nio meneruskan perjalanan pula, setelah melintasi beberapa lereng lagi, mereka mengikuti tanda yang ditunjuk bunga teratai itu, sampailah mereka di tanah kuburan lt-biau Taysu.
Tetapi mendadak mereka mendengar ada suara penggalian tanah dengan pacul, waktu Si-nio mengawasi, tiba-tiba ia lihat seorang laki-laki berusia lebih tiga puluh sedang menggali kuburan It-biau Hwesio.
Si-nio menjadi gusar, dengan sekali bentakan, pedang segera dia lolos, bagaikan burung terbang ia menubruk ke jurusan orang itu.
"Anjing alap-alap yang keji, sudah membunuh orang masih hendak menggali kuburan buat mencuri kepalanya?"
Demikian dampratnya.
Si-nio mengira orang ini kalau bukan jago bayangkara dari istana, tentu adalah jago bawahan Lian Keng-hiau, kedatangannya ini tentu hendak mencuri kepala lt-biau Hwesio untuk dibawa pergi sebagai tanda jasa.
Hian-li-kiam-hoat yang dikeluarkan Si-nio tadi luar biasa lihainya, tak ia duga, serangannya ini dapat dihindari orang itu dengan cepat, terdengar pula orang itu bersuara heran, agaknya seperti hendak buka suara, tetapi urung berkata.
Heran sekali Lu Si-nio karena tipu serangannya tadi mengenai tempat kosong, tanpa ayal beruntun ia kirim tiga kali tusukan pula, semua serangan adalah tipu lihai dari Hian-li-kiam-hoat.
Siapa tahu, orang itu tiba-tiba berputar cepat, tiga kali tusukan Si-nio itu kembali mengenai tempat kosong.
Pada saat itu juga, secepat kilat orang itupun sudah mencabut pedangnya, sekonyong-konyong ia balas merangsek maju dari jurusan yang sama sekali tidak diduga oleh Lu Si-nio.
Keruan tak kepalang kaget Si-nio, syukur ia masih bisa menggunakan Ginkang yang tinggi, dengan sedikit berkelit segera pula ia lancarkan serangan balasan.
Di luar dugaan, orang itu mendadak duduk di tanah, secepat kilat ia berputar beberapa kali, pedangnya menyambar hebat, hampir saja kedua kaki Si-nio kena dibabat, dalam gugupnya lekas gadis ini melompat naik, dengan gerak tipu 'Peng-bok-kiu-siau' (burung garuda menjulang ke langit), sinar pedangnya seketika menyebar lebar terus mengurung ke atas kepala orang itu, dalam keadaan demikian, asal sinar pedangnya merapat kembali, sekalipun jago silat paling wahid pasti juga kepalanya akan terbang dan darah muncrat!
Akan tetapi di bawah kurungan sinar pedang, mendadak bayangan orang itu memanjang, tahu-tahu orangnya sudah menerobos keluar dari lingkaran sinar pedang musuh, ketika ia membaliki senjatanya, kembali ia menyerang dari jurusan yang sama sekali tak diduga Si-nio.
Belum pernah Lu Si-nio menyaksikan Kiam-hoat yang begini aneh, keruan ia sangat terkejut.
Lekas ia menghindarkan diri dari serangan lawan tadi, ia mundur dua tindak, ketika Kiam-hoatnya diubah, ia keluarkan seluruh sari Hian-li-kiam-hoat, dengan sinar pedang ia melindungi seluruh tubuhnya sambil terus merangsek maju.
Kelihaian Hian-li-kiam-hoat dengan keruwetan dari Thian-san-kiam-hoat tergolong Kiam-hoat yang tiada bandingannya di kolong langit ini, tiap-tiap tipu serangannya pasti lihai luar biasa, setiap tusukannya selalu mengarah tempat yang berbahaya.
Akan tetapi gerak langkah pihak lawan yang sempoyongan seperti orang mabuk, kadang-kadang melompat ke atas, tempo-tempo menubruk ke bawah, beberapa kali tampaknya sudah hampir kebentur ujung pedang Si-nio, tetapi entah cara bagaimana, justru di saat yang berbahaya itu, tahu-tahu orangnya bisa menghindarkan diri.
Sedang pedangnya seperti menuding ke timur dan menyabet ke barat, kelihatan serabutan tak teratur, tetapi sebenarnya hebat sekali, di antara tipu serangannya masih membawa perubahan tipu lainnya, suatu gerakan bisa berganti gerakan lain pula, sungguh luar biasa ruwet perubahannya.
Sejak Lu Si-nio menjelajah di Kangouw belum pernah dilihatnya musuh setangguh ini.
Kalau jago ketemukan tandingan yang sembabat biasanya semakin bersemangat, karena itu, Lu Si-nio mainkan Hian-li-kiam-hoatnya semakin cepat, ditambah Ginkangnya yang tinggi, selalu ia mencari tempat luang dan mendahului menyerang lawan.
Begitulah sesudah ratusan jurus mereka saling gebrak, dalam hal Kiam-hoat ternyata sama bagusnya dan tidak bisa mengalahkan pihak lain.
Tapi Ginkang Si-nio lebih tinggi, maka boleh dibilang ia menyerang lebih banyak, maka ia sedikit berada di atas angin.
Namun demikian, masih belum bisa juga ia mengalahkan lawannya.
Setelah ratusan jurus berlangsung, kedua pedang mereka masih terus menari-nari seperti ular naga, kadang-kadang kedua senjata saling tempel dan terlibat menjadi satu, tetapi tempo-tempo berlari kian-kemari, saking cepatnya sampai pandangan Sim Cay-khoan jadi kabur hingga kepala pusing, yang manakah Lu Si-nio akhirnya tak bisa dia bedakan lagi.
Karena masih tak bisa mengalahkan lawannya, pikiran Lu Si-nio mendadak tergerak, tapi orang itu tiba-tiba melompat keluar dari ' kalangan pertempuran.
"Sudahlah, tidak usah saling gebrak lagi, kau punya Hian-li-kiam-hoat memang bagus sekali, bukankah kau Lu Si-nio?"
Teriak orang itu.
"Dan ilmu pedangmu ini tentunya adalah Tat-mo-kiam-hoat,"
Kata Si-nio.
"Apa kau dari Bu-tong-pay? Pernah apakah antara kau dengan Kui Tiong-beng Locianpwe?"
"Ialah ayahku sendiri,"
Sahut orang itu. Keruan Lu Si-nio terkejut oleh jawaban orang yang tak tersangka ini.
"Jika kau adalah keturunan pendekar ternama, kenapa kau terima menjadi anjing alap-alap pemerintah, apa ini tidak merosotkan nama baik keluarga Thian-san-chit-kiam?"
Tegurnya kemudian. Tetapi orang itu tertawa, ia tidak gusar.
"Salah besar kata-katamu ini, kenapa kau bilang aku adalah anjing alap-alap pemerintah?"
Sahutnya.
"Coba jawab dulu, kenapa kau menggali kuburan It-biau Taysu?"
Tanya Si-nio pula.
"Nyata Lu-lihiap telah salah paham,"
Sahut orang itu.
"It-biau Taysu adalah sahabat Ciangbun Suhengku Koh-in Taysu dari Bu-tong-san, ketika Suheng mengetahui dia mengalami nasib malang, ia kuatir ada orang merusak tubuh sucinya, maka sengaja aku disuruh ke sini untuk memindahkan jenazahnya ke Bu-tong-san."
Karena penjelasan inilah baru Si-nio mengetahui dirinya yang salah sangka.
"Kenapa tidak kau terangkan sejak tadi hingga hampir saja terjadi salah paham,"
Ujarnya.
"Justru karena aku melihat Kiam-hoatmu tadi, maka aku sengaja menarik beberapa jurus pelajaran, perlunya supaya tambah pengalaman,"
Kata orang itu dengan tertawa.
"Ha, jika demikian kiranya kau sengaja menjajal aku,"
Kata Si-nio dengan tertawa juga.
"Dapatkah mengetahui nama Suheng?"
"Aku she Boh bernama Jwan-seng,"
Sahut orang itu.
Mendengar ini, seketika Si-nio menjadi bingung.
Sebagaimana diketahui, orang ini memperkenalkan dirinya sebagai putra Kui Tiong-beng, tetapi kenapa sekarang bilang she Boh.
Akan tetapi orang itu lantas tertawa lagi.
"Aku ikut she ibuku,"
Demikian ia menerangkan lebih lanjut.
"Ayahku seluruhnya punya tiga putra, masing-masing mempunyai she yang berlainan."
"Sebab apakah ini?"
Tanya Si-nio heran.
"Ayahku sebenarnya she Ciok,"
Tutur Boh Jwan-seng.
"tetapi ikut ayah angkatnya menjadi she Kui. Kami tiga saudara ini, Toako kembali asal she Ciok bernama Kong-seng, sedang aku ikut she ibu untuk menyambung abu Engkong luar Boh Pi-kiang, adik ketiga baru ikut she ayah, namanya Kui Hoa-seng."
Setelah jelas, segera Si-nio minta maaf atas kecerobohannya tadi.
"Jenazah lt-biau Taysu dipindah ke Bu-tong juga baik, malah tidak usah kuatir ada orang jahat mengganggu kuburannya lagi,"
Katanya kemudian.
"Kecuali pemindahan jenazah ini, masih ada hal lain yang aku ingin minta pendapat Lihiap,"
Boh Jwan-seng berkata pula.
"Boh-heng jangan sungkan, silakan omong saja,"
Sahut Si-nio.
"Apakah kau kenal murid penutup Ie-locianpwe dari Thian-san, seorang nona yang bernama Pang Ing?"
Tanya Boh Jwan-seng.
"Tak hanya kenal, malahan karib sekali,"
Sahut Si-nio dengan tertawa.
"Baik sekali kalau begitu dan tahukah kau sekarang dia berada dimana?"
Tanya Boh Jwan-seng lagi.
"Kau hendak mencari dia?"
Berbalik Si-nio bertanya. Boh Jwan-seng manggut-manggut. Sudah tentu Si-nio menjadi heran, sebab selama ini belum pernah ia dengar dari Pang Ing bahwa pernah kenal dengan orang ini.
"Untuk keperluan apa kau cari dia?"
Ia bertanya lebih jauh.
"Adikku hendak mencari perkara padanya, aku kuatir adikku akan melukai dia, maka ingin lekas mencegahnya,"
Sahut Boh Jwan-seng.
"Aneh, sebab apa? Adikmu ada permusuhan apa dengan dia?"
Demikian Si-nio terheran-heran. Boh Jwan-seng menggeleng-geleng kepala.
"Kenal saja belum, darimana kami bersaudara bisa bermusuhan dengan dia?"
Sahutnya kemudian. Si-nio tambah heran oleh jawaban orang.
"Jika begitu, apa adikmu itu bukan sengaja cari gara-gara belaka?"
Katanya dengan tertawa.
"Agaknya Lihiap kurang mengetahui,"
Tutur Jwan-seng.
"Kami tiga saudara semuanya dibesarkan di Thian-san, waktu itu Pang Ing masih belum datang di sana, maka kami tidak saling kenal. Sesudah ayah meninggal, karena pesan yang ditinggalkan ayah, kami bertiga lantas meninggalkan Thian-san dan tersebar sendiri-sendiri untuk mengembangkan Tat-mo-kiam-hoat dan menyusun kembali Bu-tong-pay kami. Aku mendapat tugas memulihkan Bu-tong-pay cabang utara dan selalu kian-kemari merantau di antara Siamsay dan Kamsiok serta propinsi-propinsi sekitarnya, sedang Toako tinggal di Bu-tong-san untuk membantu Ciangbun kami, sebaliknya adik tinggal sendiri di Sucwan untuk menjaga kampung halaman. Adik mempunyai hubungan persahabatan yang baik sekali dengan keluarga Tong di Sucwan yang sangat terkenal karena senjata rahasianya itu."
"Ya, ya. Tong-loji Tong Kim-hong, satu dari tiga tetua keluarga Tong itu dua tahun yang lalu pernah datang ke Soatang, katanya hendak menuntut balas sakit hati anak menantunya,"
Ujar Lu Si-nio.
"Memang, dan justru karena urusan inilah,"
Kata Boh Jwan-seng.
"Tetapi menantu Tong Kim-hong bukan dibunuh Pang Ing,"
Si-nio mendahului lagi.
"melainkan adik perempuan Pang Ing yang membunuhnya. Apalagi menantu Tong Kim-hong pernah bekerja pada pemerintah sebagai opas, adalah lazim opas membunuh maling atau malingnya yang membunuh opas, hal semacam ini tidak bisa disamakan dengan permusuhan pribadi umumnya. Kejadian biasa ini jarang sekali disertai dengan menuntut balas dan saling labrak, lebih-lebih tidak nanti minta bantuan orang luar. Apakah adikmu belum mengetahui peraturan yang berlaku di dunia persilatan ini?"
"Sebenarnya Tong-jisianseng sendiri pun tidak terang yang siapakah pembunuh anak menantunya, ia hanya tahu kalau bukan Pang Ing, tentu adalah Pang Lin,"
Ujar Boh Jwan-seng.
"Tadinya ia pun belum tahu bahwa Pang Ing mempunyai seorang adik perempuan, hal ini belakangan baru dapat ia selidiki. Tetapi Tong Kim-hong paling cinta pada putri satu-satunya itu, karena direcoki anaknya agar membalaskan sakit hati menantunya hingga akhirnya ia kewalahan. Tetapi ketika dia mengeluruk ke rumah Nyo Tiong-eng dua tahun yang lalu, pernah ia kecundang secara mengenaskan, maka ia mengerti dirinya sekali-kali bukan tandingan si kembar Pang Ing, oleh sebab itulah ia lantas mendesak adikku suka membantu dan menjadi jagonya. Dia telah melukiskan Pang Ing berdua seakan sangat sombong karena Kiam-hoat mereka yang tinggi dan dibumbui pula seperti penjahat yang tidak bisa diampuni. Justru watak adikku memang suka unggul dan enteng kuping, ketika mendengar ada penjahat wanita yang memiliki Kiam-hoat begitu tinggi, ia lantas ambil keputusan ingin belajar kenal untuk adu ilmu pedang, ia tidak tahu bahwa Pang Ing adalah murid kesayangan Ie-locianpwe."
"Dan kau sendiri darimana mendapat tahu?"
Tanya Si-nio.
"Permulaan tahun ini,"
Tutur Jwan-seng pula.
"pernah aku berziarah ke makam ayahku di Thian-san, di sanalah aku mendengar dari Ie-locianpwe. Bahkan dia bilang pula kelak akan mengangkat Pang Lin sebagai ahli waris Bu-kek-pay. Jika demikian, kakak beradik she Pang itu dan kita keturunan dari Thian-san-chit-kiam mana boleh saling membunuh? Sesudah aku kembali dari Thian-san, baru aku ketahui adik telah diundang Tong Kim-hong untuk membantunya, kebetulan juga Ciangbun dari Bu-tong-san kami menugaskan aku memindahkan jenazah lt-biau Taysu, maka aku lantas menuju kemari dulu."
Sesudah Si-nio berpikir sejenak, dengan tertawa ia berkata pada Cay-khoan.
"Urusan kita di sini sudah beres, pemandangan indah biar kelak kita nikmati lagi. Baiknya kini kita pun ikut Boh-toako untuk menjadi perantara. Kita bisa mendatangi keluarga Nyo dahulu di Soatang. Besar kemungkinan Tong Kim-hong pasti akan mencari dulu Thi-cio-sin-tan Nyo Tiong-eng."
"Ha, bagus sekali kalau Lihiap suka ikut ke sana bersama,"
Sambut Boh Jwan-seng dengan girang.
Bercerita mengenai diri Pang Lin, hari itu seorang diri ia berangkat ke Soatang hendak menemui Nyo Tiong-eng.
Meski kini dia sudah cukup dewasa, tetapi pikirannya masih bersifat anak-anak, oleh karena ia pernah memapas rambut Nyo Liu-jing dan telah mendapat omelan dari sang Taci, maka timbul semacam pikiran anak-anak olehnya, ia pikir.
"Percuma saja Cici sebagai pendekar wanita, terhadap soal perkawinan sendiri ternyata tak berani secara terang-terangan diselesaikan dan diputuskan sendiri. Tielakkah lebih baik aku memalsukan dia sekalian ke rumah orang she Nyo, secara terus-terang aku nanti katakan pada orang tua she Nyo itu, dengan begitu tentu akan banyak menghemat tenaga dan menghindari banyak kesukaran lagi. Jika secara kilat aku selesaikan urusannya dan merangkap jodohnya pula, coba nanti dia masih mengomeli aku atau tidak?"
Demikianlah dengan keputusan ini Pang Lin lantas datang ke Tongpeng di Soatang.
Tentang rumah keluarga Nyo, karena sangat terkenal, maka tidak susah untuk dicari.
Kala itu adalah masa antara pergantian musim panas dan rontok, cuaca rada buruk dan sering hujan, hari itu sehabis hujan, sampailah Pang Lin di rumah Nyo Tiong-eng.
Ia lihat perkampungan keluarga Nyo yang menghadap telaga dan membelakangi bukit ini, pemandangannya indah permai, hanya air telaganya karena dibanjiri oleh air pegunungan habis hujan hingga kelihatan keruh dan mengurangi keindahan alam sekitarnya.
Rumah Nyo Tiong-eng terdiri dari beberapa buah deretan yang dibangun menyandar bukit, Pang Lin sudah tiada hasrat buat menikmati pemandangan lagi, ia naik ke atas tanah tanjakan di depan terus mengetuk pintu gerbang keluarga Nyo.
Dalam hati ia lagi berpikir cara bagaimana harus bicara apabila sudah berhadapan dengan orang tua she Nyo itu?
Tapi meski sudah lama ia mengetuk pintu, dari dalam tetap tiada sahutan orang.
Karena tak sabar, Pang Lin tidak menghiraukan lagi tentang sopan-santun segala, segera ia melayang ke dalam melalui pagar tembok, sesudah berada di pekarangan dalam, baru ia lihat ada pelayan kecil yang mungkin baru mendengar suara ketukan pintu dan sedang jalan keluar dari ruangan belakang.
Agaknya terkejut juga ketika pelayan kecil itu melihat yang datang adalah Pang Lin, seketika ia tercengang.
"Eh, kiranya adalah kau, untuk apa kau datang ke sini lagi?"
Segera ia berseru menegur.
"Dimanakah Nyo-loyacu? Tentu kakinya sudah baikan bukan?"
Segera Pang Lin bertanya. Akan tetapi pelayan itu menarik muka, seperti tak mau menggubris padanya.
"Pelayan ini tentu adalah pelayan pribadi Nyo Liu-jing, ia tentu menyangka aku adalah Cici,"
Demikian pikir Pang Lin. Oleh sebab itu dengan tertawa ia lantas menyapa lagi.
"Rambut Siociamu sudah tumbuh belum? Bawalah aku menemuinya, aku sengaja datang untuk minta maaf padanya!"
"Pergilah sendiri menemuinya! Hm, kau masih berani datang lagi ke sini,"
Sahut pelayan itu.
Habis berkata, dengan berlari ia lantas pergi.
Pang Lin menjadi marah, sebenarnya ia hendak menghajar adat padanya, tetapi bila teringat apa artinya ribut-ribut dengan seorang pelayan, maka ia urungkan maksudnya, ia lantas masuk ke belakang untuk mencari Nyo Liu-jing.
Sudah tentu Pang Lin belum hapal jalan di rumah itu yang gelap dan sepi, perabot rumah simpang-siur tak terurus.
"Nyo Tiong-eng percuma disebut sebagai pemimpin kalangan Bu-lim lima propinsi utara sini, kenapa sama sekali tak bisa mengatur rumah-tangga, jika dilihat tetamunya, apakah tidak bakal ditertawai?"
Demikianlah Pang Lin berpikir. Oleh karena masih belum menemukan orang, sesampainya di ruangan dalam ia lantas berteriak memanggil.
"Nyo-kongkong! Nyo-kongkong!"
Ia timkan lagak-lagu suara Encinya, ia pikir pasti Nyo Tiong-eng akan mendengar suaranya!
Tak terduga, sayup-sayup dari dalam ia mendengar seperti ada suara tangisan orang, waktu Pang Lin mendengarkan lebih cermat, ia menjadi heran sekali.
"Eh, bukankah ini suara tangisan Nyo Liu-jing, perempuan ini kenapa suka aleman, apakah dia sedang merecoki ayahnya agar membikin perhitungan padaku? Hm, sungguh tidak tahu malu, orang aleman toh tidak perlu pakai menangis segala!"
Begitulah ia menyangka atas diri Nyo Liu-jing, dan ketika ia memanggil beberapa kali lagi, masih tetap tiada suara sahutan Nyo Tiong-eng, yang ada hanya suara tangisan Nyo Liu-jing.
"Baiklah, biar aku menemui Nyo Liu-jing,"
Akhirnya Pang Lin mengambil keputusan.
Karena suara tangisan itu datangnya dari sebuah kamar di sebelah barat, maka ia lantas menyingkap kerai dan menerobos masuk.
Lalu tertampak olehnya Nyo Liu-jing sedang duduk di dalam kamar, matanya kelihatan bendol merah, dengan rupa lesu nona itu tidak ambil pusing ketika Pang Lin menerobos masuk, ia hanya memandangnya sekali dengan dingin saja.
Tetapi suara tangisannya lantas berhenti juga.
Memangnya sejak dulu Pang Lin sudah menduga orang pasti tidak senang terhadap dirinya, tetapi tak diduganya bahwa sikapnya bisa mirip seperti orang kematian ayah, keruan seketika Pang Lin bingung, ia tertegun sejenak untuk kemudian baru mengamat-amati Nyo Liu-jing lagi.
Ia lihat nona ini mengenakan pakaian putih seluruhnya, rambutnya yang dahulu kena dipapas kini sudah tumbuh panjang lagi, hanya karena tidak rata dengan kedua belah samping lain, maka masih jelek sekali kelihatannya.
Akhirnya Pang Lin coba menyapa dua kali, mendadak Liu-jing mengangkat kepalanya, tertampak sekali wajahnya pucat tak berdarah, kedua matanya membelalak, tetapi segera menunduk pula.
"Mana Hiau-lan?"
Dengan suara perlahan kemudian ia bertanya.
"Teng-sioksiok sudah tak ingin bertemu kau lagi,"
Sahut Pang Lin sengaja hendak membikin gusar orang.
"ada yang hendak kau katakan padanya, bolehlah kau bicarakan padaku saja."
Dengan jawaban ini, Pang Lin sudah bersiap untuk ribut dengan orang, sebab ia menduga orang pasti akan naik darah dan berjingkrak. Tidak terduga, Nyo Liu-jing ternyata hanya menghela napas saja.
"Apa betul Hiau-lan sudah tak berbudi lagi? Percuma saja selama ini ayahku sayang padanya,"
Demikian katanya penuh menyesal. Begitu memilukan suaranya hingga tanpa terasa Pang Lin meng-kirikjuga. '"Dimanakah Nyo-kongkong, aku akan menyampaikan salam Teng-sioksiok padanya,"
Kemudian ia bertanya lagi. Mendadak Nyo Liu-jing berdiri.
"Baiklah, marilah sini, boleh kau sampaikan salam padanya!"
Katanya dengan sengit.
Lantas ia membawa Pang Lin menyusur beberapa rumah hingga tiba di taman belakang, di sebelah timur taman itu ada sebuah gardu besar yang berwuwungan segi delapan, di tengah gardu itu ternyata ditaruh sebuah peti mati dari kayu merah, di ujung peti mati tertampak menempel sejalur kertas putih yang bertulis.
"Jenazah pendekar Soatang dan patriot ahala Beng yang lalu, Nyo Tiong-eng" . Sungguh tak kepalang kaget Pang Lin ketika mendadak nampak peti mati dengan tulisan itu! Sama sekali tidak dia duga bahwa Nyo Tiong-eng sudah mati, perubahan yang mendadak ini telah menghancurkan seluruh rencananya semula, dengan terkesima ia memandangi peti mati itu, lama sekali baru ia bisa buka suara bertanya.
"Cara bagaimana meninggalnya Nyo-kongkong?"
Tetapi Nyo Liu-jing tidak menjawab, sebaliknya ia lantas bertanya juga.
"Sungguhkah Hiau-lan tidak datang ke sini?"
Seketika Pang Lin tak dapat menjawab.
"Baiklah, kini ayah sudah meninggal, kalian berdua boleh merasa senang dan puas!"
Kata Nyo Liu-jing lagi dengan gusar.
"Apa artinya kata-katamu ini?"
Sahut Pang Lin, lalu ia membungkuk hendak menjura pada peti jenazah.
"Tidak perlu kau menjura,"
Tiba-tiba Nyo Liu-jing mencegah.
"kau sudah membikin gusar hingga mengakibatkan matinya ayah, apa kini kau hendak membikin aku mati gusar lagi?"
Berbareng ia mengulur tangan bermaksud menghantam Pang Lin, tetapi sama sekali Pang Lin tidak berkelit, mendadak tangan Nyo Liu-jing yang sudah diulur itu ditarik kembali lagi.
"Baiklah, lekas kau pergi! Selanjutnya tak perlu pula mendatangi rumahku lagi!"
Katanya kemudian dengan menghela napas. Meski dia berkata dengan suara yang masih sengit, tetapi sudah jauh lebih tenang daripada tadi. Keruan Pang Lin menjadi heran.
"Eh, sesudah Nyo Tiong-eng mati, watak putrinya ini lantas berubah juga!"
Demikian pikirnya.
Pang Lin tidak tahu bahwa Nyo Tiong-eng yang sudah lanjut usia, sesudah terkena senjata Tong Kim-hong, meski berkat obat yang dikirim Tong Kim-hong hingga tidak sampai jiwanya melayang, tetapi karena bekerjanya racun yang sudah telanjur meresap ke dalam, daya hidupnya perlahan-lahan menjadi banyak mundur dan lemah.
Ditambah lagi di antara bulan lima ketika menerima surat Teng Hiau-lan yang mengabarkan bahwa hari ajalnya sudah dekat dan tidak bisa tertolong lagi, kembali ia terkaget pula.
Memangnya usianya sudah tua, setelah mengalami peristiwa-peristiwa itu, badannya menjadi semakin lemah dan loyo.
Celakanya lagi, Nyo Liu-jing yang kasar itu tidak tahu kesehatan ayahnya kian hari kian mundur.
Karena itu ketika rambutnya kena dipapas oleh pisau Pang Lin, ia telah pulang ke rumah dan menangis di hadapan ayahnya, ia bermaksud menghasut ayahnya men-jagoinya, tapi sang ayah cukup kenal tabiat buruk putrinya ini, orang tua itu menduga tentu Liu-jing yang mencari gara-gara, dan karena ribut-ribut itu ia menjadi semakin berduka dan sedih, hari keduanya sesudah Nyo Liu-jing pulang ke rumah, segera Nyo Tiong-eng sakit demam-panas dan karena sakitnya inilah ia telah mangkat.
Waktu Pang Lin datang di rumahnya, kala itu Nyo Tiong-eng sudah meninggal hampir sebulan.
Nyo Tiong-eng termasuk seorang yang sudah berpengalaman dan kenyang asam-garam, maka sebelum ajal ia masih mengenangkan perbuatan selama hidupnya, ia merasa tiada sesuatu kesalahan yang menodai namanya, yang ada hanya terlalu memanjakan anak perempuan satu-satunya ini hingga menjadikan gadis ini memiliki tabiat yang congkak dan suka mengumbar watak buruk, hal inilah yang dia merasa paling menyesal.
Ketika ia pikirkan lebih dalam, ia merasa watak putrinya memang jauh berbeda dan tidak mencocoki tabiat Hiau-lan.
Terpikir juga olehnya Pang Ing yang banyak membaca dan kenal sopan-santun, walau umurnya masih kecil, tetapi tindak-tanduknya cukup tahu diri, pasti tidak nanti menghina anaknya tanpa sebab-musabab.
Apabila teringat pula olehnya di kala Pang Ing tinggal di rumahnya, cara bagaimana Nyo Liu-jing selalu mencari setori padanya bahkan menghina anak dara itu, tanpa terasa ia menghela napas panjang.
"Jika lantaran hal itulah memaksa mereka (Teng Hiau-lan dan Pang Ing) dari pura-pura menjadi sungguhan, maka itupun tak bisa menyalahkan mereka!"
Demikian ia pikir. Oleh karena itu juga, pada sebelum ajalnya, Nyo Tiong-eng telah mendamprat habis-habisan dan memberi ajaran pada sang putri.
"Anak perempuan harus lembut halus,"
Demikian pesannya.
"Tetapi watakmu keras dan suka cari gara-gara, tidak heran kalau Hiau-lan tidak sudi padamu. Kalau kau tidak bisa merubah tabiatmu ini, mati pun aku tidak tenteram."
Nyo Tiong-eng berkata dengan air mata bercucuran, karena itu Nyo Liu-jing tak berani manyahut.
Lebih jauh Nyo Tiong-eng mengorek semua perbuatan anaknya yang terlalu menuruti napsu hatinya itu, maka Liu-jing menjadi malu dan juga berduka, ia mendekam di tepi pembaringan ayahnya untuk mendengarkan pesan orang tua itu.
Sesudah Nyo Tiong-eng mengorek perbuatan anaknya yang lampau, dengan menghela napas panjang kemudian ia berkata lagi.
"Ya, aku menyesal juga kenapa dahulu tidak mengajar kau dengan baik, sekali ini mungkin adalah penghabisan kalinya. Sebagai ayah tentu mengharapkan kau menjadi baik, maka hendaklah kau ingat betul pesanku ini. Dapatkah kau akur kembali dengan Hiau-lan, itulah belum bisa diketahui. Cuma, harus kau ketahui bahwa semakin kau menuruti tabiatmu yang keras, semakin susah juga membikin dia berdekatan dengan kau. Kau harus lapangkan dadamu, layani dia dengan halus, dengan demikian mungkin urusan bisa berubah lain. Tetapi kalau kalian berdua toh tidak bisa akur kembali, maka anggaplah selesai sudah. Tapi, bagaimanapun juga watakmu harus diubah. Jing-ji, selanjutnya tiada orang lain lagi yang bisa mengajar kau, dapatkah kau mengubah tabiatmu?"
Begitulah karena pesan sang ayah itu, Nyo Liu-jing menangis sedih sekali, ia ambil keputusan akan mengubah semua tabiatnya yang buruk, maka mangkatlah Nyo Tiong-eng di bawah suara tangisan putrinya itu.
Sesudah Nyo Tiong-eng meninggal, menurut pesannya maka Nyo Liu-jing menaruh peti jenazahnya di taman belakang rumah untuk menanti kedatangan Teng Hiau-lan dan seorang lain lagi, kemudian baru akan dikebumikan.
Tidak terduga, Teng Hiau-lan yang ditunggu-tunggu belum muncul, sebaliknya Pang Lin telah datang lebih dulu.
Demikianlah karena teringat akan ajaran ayahnya, maka tidak berani Nyo Liu-jing sembarang mengumbar amarahnya, tapi apapun juga tabiat buruk seketika susah berubah begitu cepat, melihat Pang Lin, ia masih tetap merasa benci dan hampir saja mengunjuk tabiatnya yang keras.
Oleh sebab itulah mereka berdiri di hadapan peti jenazah Nyo Tiong-eng, berdiri terpaku, mereka merasa serba salah dan entah apa yang harus dibicarakan.
Memang meninggalnya Nyo Tiong-eng sama sekali di luar perhitungan Pang Lin, oleh karenanya ia menjadi bingung.
"Urusan Cici cara bagaimana harus dibicarakan sekarang? Bukankah menjadi sulit?"
Demikian katanya dalam hati. Selagi ia merasa serba susah, tiba-tiba pelayan kecil tadi berlari mendatangi dengan napas tersengal-sengal.
"Siocia, orang dari keluarga Tong kembali datang lagi!"
Segera pelayan itu melapor. Mendadak Nyo Liu-jing menjadi gusar hingga alisnya menegak.
"Meski ayahku sudah mati, tapi tidak boleh nama baik keluarga Nyo kami ternoda,"
Katanya kemudian.
"Pang Ing, sebaiknya lekas kau melarikan diri melalui pintu belakang. Biar aku wakilkan kau membereskan urusan ini!"
"Apa katamu? Ada urusan apa yang perlu kau wakilkan diriku membereskannya?"
Tanya Pang Lin heran.
"Hm, jangan kau pura-pura bodoh, orangnya sudah kau bunuh, apa kau tidak mengetahui?"
Sahut Nyo Liu-jing.
"Jangan kira dahulu kau bisa memukul lari mereka, harus kau ketahui bahwa orang dari keluarga Tong bukanlah orang yang gampang dilayani? Sekali ini kalau mereka tidak yakin pasti menang, tidak mungkin mereka berani meluruk ke sini lagi. Di masa hidup ayahku tidak membiarkan kau diambil begitu saja oleh mereka dari rumah kami, kini aku adalah tuan rumah di sini, aku tidak mau ayah mendamprat aku di alam baka bahwa aku telah merosotkan nama baik keluarga Nyo. Nah, tidak lekas kau angkat kaki?"
Di luar dugaan, Pang Lin malah menjadi gusar demi mendengar penuturan itu.
"Berani berbuat berani bertangung-jawab, siapa ingin kau melindungi aku?"
Demikian sahutnya dengan sengit.
"Dan kenapa aku harus lari?"
Segera dia menerjang keluar gardu, ketika ia memandang, ia lihat dari luar sedang mendatangi tiga orang, yang seorang sudah kakek-kakek, yang seorang lagi wanita muda dan seorang lain adalah laki-laki berumur antara tiga puluhan tahun.
Ketiga orang ini kiranya adalah Tong Kim-hong, Tong Say-hoa dan jago yang diundang Tong Kim-hong, yakni Kui Hoa-seng.
Kedatangan Tong Kim-hong sebenarnya hendak minta orang pada Nyo Tiong-eng, tak terduga baru mereka masuk rumah sudah kepergok orang yang mereka cari, sungguh kebetulan sekali.
"Haha, kau bangsat cilik ini sungguh bernyali besar juga, ternyata masih berani kau tinggal di sini dan belum kabur,"
Demikian terdengar Tong Kim-hong menegur dengan bergelak tertawa.
"Kau bangsat tua ini kenapa mencaci-maki orang semaunya, perlu apa aku kabur?"
Kontan Pang Lin balas memaki.
"Bagus, bagus kalau begitu,"
Kata Tong Kim-hong lagi.
"jika memang kau tidak ingin membikin susah keluarga Nyo, maka aku ada dua jalan dan boleh kau pilih sendiri!"
"Dua jalan apa katamu? Coba katakan,"
Sahut Pang Lin.
"Pertama, segera kau ikut berangkat dengan kami,"
Kata Tong Kim-hong menerangkan.
"Jalan lain ialah segera kau bereskan dirimu sendiri, supaya kami tidak perlu turun tangan lagi."
Keruan bukan main gusar Pang Lin. Baru saja ia mau mendamprat, tiba-tiba Tong Say-hoa sudah berteriak.
"Tia, perlu apa banyak omong dengan bangsat perempuan ini? Lekas turun tangan saja!"
Begitulah karena mengandalkan jago yang diundang, segera ia mengayun tangan, sebuah Hui-to segera menyambar ke depan.
"Ha, kau bisa main Hui-to juga!"
Seru Pang Lin sambil berkelit.
"Kau perempuan busuk ini, apa kau kira aku yang membunuh lakimu hingga kau begitu tak kenal aturan?"
Sudah tentu janggal sekali dampratan Pang Lin ini, ia tidak tahu Tong Say-hoa adalah istri Ong Go, dan Ong Go justru memang dia yang membunuhnya.
Sementara itu Tong Kim-hong naik darah juga oleh kata-kata orang tadi.
"Bangsat, sudah membunuh anak menantuku, masih berani kau mengoceh seenaknya?"
Balasnya memaki. Akan tetapi pikirannya mendadak tergerak, tiba-tiba ia bertanya.
"Hai, apakah kau masih mempunyai seorang saudara perempuan, di antara kalian siapakah sebenarnya pembunuhnya?"
Pang Lin terkejut oleh pertanyaan yang mendadak ini.
"Siapakah anak menantumu itu?"
Tanyanya juga.
"Kau-Iiam-cio Ong Go kau yang membunuhnya atau bukan?"
Tanya Tong Kim-hong.
"Fui!"
Pang Lin menjengek.
"Kiraku siapa, tak tahunya adalah Ong Go yang kau maksudkan. Menantumu itu adalah anjing alap-alap kerajaan, sedang ajijing alap-alap yang aku bunuh tidak hanya seorang, boleh jadi anak menantumu juga menjadi setan di bawah pedangku!"
Tentu saja gusar sekali Tong Kim-hong, sekali kebas lengan bajunya, segera ia hendak menubruk maju kalau tidak tiba-tiba nampak Liu-jing berlari mendatangi secepat terbang, segera ia urungkan serangannya.
"Nona Jing, suruh bapakmu keluar, bangsat perempuan ini sudah pasti akan kami bawa sekali ini,"
Teriaknya pada Nyo Liu-jing.
"Bagus, bagus sekali, baru saja ayahku mangkat, kalian sudah lantas meluruk ke sini lagi untuk menghina aku?"
Sambut Nyo Liu-jing dengan marah-marah.
"Apa katamu? Bapakmu sudah mati?"
Tanya Tong Kim-hong dengan kaget.
Meski pernah Kim-hong saling gebrak dengan Nyo Tiong-eng, tetapi kedua pihak sudah menjalin persahabatan selama dua puluh tahun, pribadi Tong Kim-hong sebenarnya sangat mengagumi Nyo Tiong-eng, maka demi mendengar kata-kata Liu-jing tadi, ia menjadi kaget sekali.
"Ya, meski ayahku sudah mati, tetapi nama keluarga Nyo masih tetap abadi, kecuali kalau kau bunuh aku, jika tidak, jangan harap kau inginkan orang di dalam rumahku!"
Sahut Nyo Liu-jing.
"Tia, jangan peduli Nyo Tiong-eng mati atau tidak, lekas kita turun tangan,"
Dari samping segera Tong Say-hoa berteriak.
"Nyo Liu-jing, dengan sedikit kepandaianmu ini kau ingin merintangi kami? Hm, sungguh sangat menggelikan!"
Habis berkata, begitu tangan kirinya diangkat, dengan mengeluarkan suara mengaung, dua buah anak panah bersuara seketika dia lepaskan, ia bermaksud membikin takut Nyo Liu-jing supaya nona ini mundur teratur.
Tak dia duga, kini Nyo Liu-jing sudah kembali pada watak kerasnya, bukannya dia mundur, sebaliknya ia memapak maju, ia ulur tangannya terus hendak menangkap anak panah orang.
Dalam hal menggunakan senjata rahasia, nyata Tong Say-hoa cukup lihai, begitu keras timpukannya hingga panahnya yang bersuara itu membawa desiran angin yang santar dan cepat.
Syukur dengan cepat Pang Lin lantas turun tangan, begitu ia menggeraki tangannya, sebuah Hui-to segera menyambar memotong dari samping, karena itu, kedua anak panah Tong Say-hoa kena terpotong putus semua.
"Nyo Liu-jing, aku tidak perlu bantuan!"
Demikian Pang Lin berteriak.
Habis itu, kembali sebuah Hui-to melayang lagi, kontan ia balas menyerang Tong Say-hoa.
Di samping sana demi melihat menyambarnya Hui-to yang membawa sinar hitam mengkilap, Kui Hoa-seng menjadi kaget, dengan cepat ia melolos pedangnya terus menyampuk pisau itu, menyusul dengan kedua jarinya dia jepit pisau ini dan diperiksanya pula.
"Betul juga penjahat cilik yang keji!"
Katanya kemudian.
Namun Pang Lih yang nakal tidak membiarkan begitu saja, dengan pedangnya segera ia menubruk maju, tetapi Kui Hoa-seng tidak menyambut serangan anak dara ini, ia hanya berputar, ia tidak pula balas menyerang, tetapi tujuannya hendak melihat Kiam-hoat orang dahulu..Sementara itu Nyo Liu-jing justru tak mau tinggal diam meski sudah diteriaki Pang Lin tadi.
"Pang Ing (ia masih menyangka demikian),"
Serunya.
"lekas kau mundur, tidak nanti aku biarkan kau ditangkap orang di rumahku, lekas mundur, biar aku yang melayani mereka dahulu."
"Bagus, dua-duanya sama berjiwa besar,"
Tertawa Tong Kim-hong sambil mengelus jenggotnya.
"Nona Jing, kau tidak malu sebagai putri Thi-cio-sin-tan!"
Habis itu mendadak ia mengulur tangannya memegang pundak Nyo Liu-jing terus ditekan ke bawah.
"Apa betul ayahmu sudah mati? Coba bawa aku pergi melihatnya!"
Katanya. Karena pundaknya dipegang dan ditekan ke bawah, Nyo Liu-jing jadi tak bisa berkutik.
"Bagus, tua menghina muda, sungguh tidak tahu malu!"
Teriak Liu-jing dengan gusar.
"Bawa aku pergi melihatnya!"
Kata Tong Kim-hong pula sambil setengah menarik dan setengah menyeret ia tarik Nyo Liu-jing menuju ke gardu di taman belakang itu.
Dalam pada itu sesudah Kui Hoa-seng berputar dua kali hingga tusukan Pang Lin mengenai tempat kosong, segera gadis ini mengubah tipu serangannya, ia keluarkan tipu yang paling lihai dari Bu-kek-kiam-hoat yang disebut 'Ku-kong-ih-san' (Ku-kong memindah gunung), gaya pedangnya sangat lambat, ia memotong begitu saja, akan tetapi tenaganya justru terkumpul seluruhnya di ujung pedang dan setiap saat bisa berubah arah pula.
"Bagus, berharga juga bergebrak dengan kau!"
Seru Kui Hoa-seng setelah kenal Kiam-hoat orang yang sangat lihai ini.
Segera ia berputar pergi dari samping Pang Lin.
Pang Lin kaget oleh kesehatan orang, segera ia pun keluarkan kepandaian cara menubruk dan menggempur elang kucing.
"Ha, kau masih punya kepandaian ini!"
Kata Kui Hoa-seng.
Menyusul ia pun menubruk maju lagi terus menusuk.
Berulang-ulang Pang Lin menangkis lima kali dengan berbagai gerak tipu Kiam-hoatnya, tetapi Tat-mo-kiam-hoat yang dimainkan Kui Hoa-seng hebat luar biasa, tiap gerak tipunya sama sekali di luar dugaan orang, meski Bu-kek-kiam-hoat yang dipelayari Pang Lin juga merupakan ilmu pedang yang hebat, tetapi karena waktu melatihnya belum begitu lama, maka sesudah menangkis lima kali, ia rasakan beratnya tekanan lawan, berulang kali ia harus menghadapi bahaya, ia mengerti juga dirinya bukan tandingan orang.
Tetapi bila teringat olehnya kata-kata Nyo Liu-jing tadi, ia telah ambil ke-putusan, meski harus mati dalam pertempuran ini, tidak nanti aku dihina orang di rumah keluarga Nyo sini.
Oleh karena itu, mendadak ia timpukkan tiga buah pisau sakti, karena serangan serentak ini, terpaksa Kui Hoa-seng harus berkelit, kesempatan ini segera digunakan Pang Lin untuk mengeluarkan ilmu lompatan seperti elang kucing, dengan sekali lompat ia mencelat keluar pagar tembok.
Namun ilmu entengi tubuh Kui Hoa-seng juga tinggi sekali, dengan cepat segera ia mengudak, sampai di tengah bukit, kembali ia dapat mencegat di depan Pang Lin.
"Hai, kau punya Bu-kek-kiam-hoat ini dapat mencuri belajar darimana?"
Demikian Kui Hoa Seng membentak pula.
"Aku dapat mencuri atau tidak, peduli apa dengan kau?"
Damprat Pang Lin.
"Justru aku ingin peduli!"
Sahut Kui Hoa-seng.
Habis itu ia berjalan dengan gaya sempoyongan terus memapak maju.
Aneh sekali, meski Pang Lin sudah menggunakan berbagai gerakan, tetapi tiap kali selalu kena dicegat olehnya di sudut mana saja!
Meski ia menggunakan cara menyerang dan menubruk seperti elang kucing pula, tetapi hanya sempat untuk menghindarkan diri sekejap saja, habis itu dengan cepat sekali orang sudah mengikuti di belakangnya lagi.
Kui Hoa-seng sejak kecil sudah meninggalkan Thian-san dan menetap di daerah Sucwan, maka ia tidak kenal asal-usul Pang Lin, ia lihat Pang Lin sekaligus pandai dalam beberapa macam cabang ilmu silat yang aneh, tetapi berbareng pula mahir Bu-kek-kiam-hoat, ia menjadi rada heran.
"Tampaknya ia bukan keturunan dari cabang silat Pho Jing-cu, cabang silat itu tidak nanti memperbolehkan anak murid keturunannya mempelajari ilmu silat liar dari cabang lain,"
Demikian katanya dalam hati.
Oleh karena pikiran itu, ia hanya memainkan Tat-mo-kiam-hoat yang lihai untuk mengurung Pang Lin di tengah, ia tidak lantas memberikan serangan mematikan dan ingin mengetahui berapa banyak ilmu silat lain yang dipahami Pang Lin.
Jalanan pegunungan sehabis disiram air hujan gerimis keadaan menjadi sangat licin, meski Ginkang Pang Lin tidak jelek, tetapi kalau harus menjaga serangan Kui Hoa-seng dengan Tat-mo-kiam-hoatnya yang lihai, pula ia harus ber-hati-hati akan kakinya supaya tidak sampai terpeleset, keruan ia semakin merasa payah oleh serangan lawan yang gencar.
Tengah ia merasa kuatir, tiba-tiba ia dengar ada suara seruan orang dari jauh.
"Moaymoay jangan kuatir!"
Mendengar suara ini, seketika Pang Lin balas berseru dengan girang.
"Ya, lekas kemari Cici!"
Kiranya yang datang adalah Pang Ing bersama Teng Hiau-lan!
Sesudah Lu Si-nio berangkat, Pang Ing lantas menduga adik perempuannya ini pasti menuju ke rumah keluarga Nyo di Soatang, karena kuatir adiknya yang nakal ini bisa menerbitkan onar hingga membikin urusan semakin runyam, maka ia pun tidak merasa kikuk lagi berunding dengan Teng Hiau-lan.
"Ya, toh akhirnya kita harus menemui Nyo-insu juga,"
Ujar Hiau-lan sesudah mendengar pendapat Pang Ing itu.
"Kini kita sudah tiada tugas lain, sepatutnya kita pergi menemui dia agar orang tua itu merasa lega. Tentang perjodohanku dengan Nyo Liu-jing adalah soal lain."
Pang Ing masih polos, terlalu putih bersih tanpa mempunyai sesuatu pikiran jelek, dengan tertawa ia berkata lagi.
"Asal kita bisa berkumpul untuk selamanya, meski kau harus menikah dengan Nyo Liu-jing, itupun bukan sesuatu halangan,"
Katanya tanpa pikir. Hiau-lan hanya tertawa getir saja oleh kata-kata yang bersifat kekanak-kanakan itu.
"Aku susah berjodohkan dia. Soal ini jangan kita gugat lagi,"
Katanya kemudian.
"Cuma, kita harus ke rumah keluarga Nyo."
Setelah mereka bicarakan dengan Kam Hong-ti.
Tentu saja pendekar ini akur, justru ia paling sungkan campur tangan dalam urusan pemuda-pemudi ini, kini melihat mereka bersedia pergi sendiri, inilah yang ia harapkan.
Maka mereka lantas saling berjanji untuk kelak bertemu di Bin-san, lalu Pang Ing dan Teng Hiau-lan berangkat ke Soatang.
Sepasang muda-mudi ini sudah hapal jalan ke rumah Nyo Tiong-eng, pula mereka bisa berjalan cepat, maka meski terlambat berangkat dua hari, setiba di tempatnya masih tepat juga pada waktu Pang Lin terancam bahaya dan nampak anak dara ini sedang bertarung sengit dengan orang di lereng gunung.
Melihat adiknya dalam bahaya, segera Pang Ing melolos senjata hendak maju membantu.
"Orang ini berani turun tangan di depan rumah guruku, inilah sangat mencurigakan,"
Ujar Hiau-lan sebelum Pang Ing turun tangan.
"Jangan-jangan rumah tangga guruku sudah terjadi sesuatu yang di luar dugaan? Ing-moay, hendaklah kau pergi menemui Nyo-kongkong dahulu, biar aku yang membantu Lin-moay."
Pang Ing mengerti Lwekang dan Kiam-hoat Teng Hiau-lan kini sudah jauh lebih maju dan boleh dikata sudah seimbang dengan dirinya, maka ia percaya atas kemampuan pemuda ini.
"Baik juga,"
Sahutnya.
"Kau harus hati-hati, nampaknya orang ini bukan orang biasa!"
Habis berkata ia lantas turun dari lereng gunung melalui jalan depan menuju ke rumah keluarga Nyo.
Justeru pada waktu anak dara ini memasuki rumah keluarga Nyo, saat itu juga kebetulan Nyo Liu-jing baru melompat keluar dari taman belakang, maka keduanya tidak kepergok.
Tong Kim-hong yang menyeret Nyo Liu-jing ke belakang, sesudah tiba di gardu taman, betul juga ia lihat ada sebuah peti mati dari kayu merah, di depannya tertulis nama Nyo Tiong-eng.
"O, Nyo-toako, betulkah kau telah meninggal?"
Kata Tong Kim-hong dengan air mata berlinang karena terharu. Sementara itu Nyo Liu-jing baru terlepas dari cekalan orang, ia merasakan pundaknya masih kaku kesemutan.
"Hm, peti matinya ada di sini, apa aku membohongi kau?"
Sahut Nyo Liu-jing dengan gusar atas kata-kata orang tadi.
"Percuma saja kau bersaudara dengan ayahku, sudah kau lukai dia, kini dia sudah mati kau masih mengeluruk kemari untuk menghina diriku!"
Karena olok olok ini, Tong Kim-hong menjadi tak enak sekali rasanya.
"Bukankah aku sudah memberi obat penawarnya pada ayahmu?"
Tanyanya dengan mata membelalak.
"Obatmu datangnya terlambat, apa gunanya?"
Sahut Nyo Liu-jing mengejek.
"Bertahun-tahun ia cacat dan kini sudah mati, baru kau datang kemari seperti kucing menangisi tikus, pura-pura kasihan segala."
"Apakah betul ayahmu mati oleh sebab luka itu?"
Tanya Tong Kim-hong dengan mengerut kening.
"Hm, apa mungkin ayahku mencari mati sendiri!"
Sahut Liu-jing-Demikianlah dengan tajam Nyo Liu-jing bermaksud mencaci-maki Tong Kim-hong agar orang ini kabur sendiri, di luar dugaan mendadak Tong Kim-hong malah tertawa terbahak-bahak.
"Ai, Nyo-toako, terimalah hormatku ini!"
Katanya sambil mendorong Nyo Liu-jing keluar dari gardu itu, lalu ia berlutut di depan peti mati itu sambil kedua telapak tangannya menggablok ke atas peti dengan keras.
Kiranya itu adalah kejadian biasa di kalangan Kangouw bahwa orang yang hendak menghindari musuh yang menuntut balas padanya, seringkah pura-pura mati.
Tong Kim-hong sudah paham segala kejadian Kangouw, sesudah olok-olok Nyo Liu-jing tadi, hatinya menjadi tergerak, diam-diam berpikir.
"Jangan-jangan Nyo Tiong-eng sudah menduga aku bakal datang kembali mencari setori padanya, maka ia pura-pura mati agar aku tidak enak hati buat bikin rusuh di sini?"
Karena rasa curiga ini, diam-diam ia kumpulkan tenaga dalamnya terus menggablok ke atas peti mati, keruan papan peti lantas pecah dan retak hingga tercium bau busuk mayat yang menusuk hidung.
Semula Tong Kim-hong menduga dalam peti itu terisi batu dan sebagainya, maka ia menjadi tergetar hatinya ketika dugaannya meleset, lekas ia geser tutup peti mati itu dengan gugup, ternyata jenazah Nyo Tiong-eng yang sudah diobati dan diberi wewangian, karena baru sebulan meninggalnya, maka wajah mukanya masih seperti hidup dan belum busuk, hanya bau busuk mayat saja yang tidak dapat ditahan.
Waktu ia tegasi lagi, ternyata di atas dada jenazah terletak satu sampul surat yang tertulis.
"Dihaturkan kepada Tong Kim-hong Hiante". Keruan Tong Kim-hong terkejut, pikirnya.
"Kiranya Nyo Tiong-eng bukan pura-pura mati, tetapi sebelumnya ia sudah menduga bakal terjadi seperti hari ini."
Segera ia ambil sampul surat itu, setelah tutup peti mati itu dia rapatkan lagi, surat itu lantas dibuka dan dibaca, ternyata di dalamnya Nyo Tiong-eng menjelaskan bahwa nona Pang adalah gadis piatu yang sangat mengenaskan kisah hidupnya, karena itu Ie-locianpwe dari Thian-san telah menerimanya sebagai murid dan Nyo Tiong-eng sendiri memandangnya seperti anak sendiri.
Ditambahkan pula kata pribahasa bahwa permusuhan lebih baik diakurkan daripada dipertajam, pula anak menantunya belum tentu dibunuh oleh anak dara ini, maka diharapkan Tong Kim-hong suka mengingat persaudaraan mereka yang lalu dan jangan mengusut lebih lanjut urusan itu.
Nyo Tiong-eng tidak terlalu pandai dalam surat-menyurat, tetapi toh cukup mengharukan juga tulisan itu, karena itu, sesudah membaca, Tong Kim-hong menjadi ragu-ragu.
"Dengan tidak gampang baru kudapatkan bantuan dari Kui Hoa-seng, mana boleh berakhir dengan demikian saja? Tetapi kalau urusan ini tetap kuteruskan, tak enak juga terhadap kebaikan Nyo Tiong-eng, apalagi orang yang hendak dicari adalah murid kesayangan Ie-locianpwe, sesungguhnya aku tak ingin menyudahi urusan ini, lantas bagaimana baiknya?"
Demikian pikir Tong Kim-hong.
Bila teringat pula olehnya bahwa Nyo Tiong-eng telah dia lukai dahulu, kematiannya kini bukan mustahil ada hubungannya dengan itu, maka perasaan Tong Kim-hong jadi semakin tak enak.
Akhirnya ia berlutut lagi sambil menangis sedih sekali.
Ketika berhenti dari tangisnya dan mengangkat kepala, ia dapatkan Nyo Liu-jing sudah pergi.
Kembali tentang Teng Hiau-lan tadi, setelah ia melolos Yu-liong-pokiam, segera ia menerjang maju membantu Pang Lin, begitu senjatanya berkelebat, segera memancarkan sinar berkilauan, Kui Hoa-seng menjadi kaget, ia putar tangannya terus menusuk dari samping.
Melihat tipu serangan musuh yang aneh ini, lekas Hiau-lan tarik pedangnya buat menangkis.
"Apa pedang yang kau gunakan ini Yu-liong-pokiam?"
Tiba-tiba Kui Hoa-seng membentak.
"Sudah kau ketahui, kenapa tidak lekas kau menyerah?"
Sahut Hiau-lan.
Akan tetapi Kui Hoa-seng menjadi gusar, tiba-tiba ia melompat, senjatanya berputar terus merangsek maju pula.
Kui Hoa-seng hanya kenal Yu-liong-pokiam dahulu oleh Leng Bwe-hong telah diberikan pada Ciu Jing, tetapi tidak mengetahui bahwa oleh Ciu Jing dimrunkan pula kepada Teng Hiau-lan.
Ketika Ciu Jing tewas dan Ie Lan-cu pernah mencari pedang pusaka ini ke Tionggoan, hal ini ia dengar juga, kini demi nampak Teng Hiau-lan menggunakan pedang ini, ia menyangka tentu orang telah merebut dari tangan Ciu Jing, maka ia pikir hendak merebut kembali pedang pusaka Thian-san ini untuk kemudian diserahkan kembali pada le Lan-cu.
Karena itulah maka ia membuka serangan secara hebat Setelah saling gebrak beberapa puluh jurus, semula Hiau-lan menggunakan Tui-hong-kiam-hoat, tetapi tidak unggulan, maka ia ganti memainkan 'Si-mi-kiam-hoat' yang paling hebat dari Thian-san, dengan menyerang untuk menjaga diri pula, dengan demikian baru ia sanggup menahan musuh.
Di lain pihak demi nampak Hiau-lan mengeluarkan permainan Thian-san-kiam-hoat, Kui Hoa-seng menjadi lebih-lebih curiga.
Teng Hiau-lan sendiri pernah tinggal tiga tahun di Thian-san, tetapi karena le Lan-cu hanya mengajarkan dia ilmu pedang dari cabang silatnya sendiri, maka ia pun hanya kenal nama Tat-mo-kiam-hoat saja, tapi sampai dimana dan betapa lihai ilmu pedang ini ia sama sekali tidak tahu, kini berhadapan dengan musuh tangguh, ia hanya merangsek dengan hebat, ditambah Pang Lin sudah terlalu gemas pada Kui Hoa-seng yang terlalu mendesak padanya, maka gadis ini lebih ganas memberikan serangannya.
"Aneh, jika dia adalah keluaran Thian-san-pay, kenapa dia tak kenal asal-usul aku punya Kiam-hoat?"
Demikian Klui Hoa-seng berpikir.
"Tetapi kalau bilang dia adalah anak murid Ciu Jing, sedang Ciu Jing hanya paham Tui-hong-kiam-hoat saja dari Thian-san, tidak mungkin bisa punya murid seperti dia ini."
Memang Teng Hiau-lan hanya tiga tahun tinggal di Thian-san, maka orang luar tidak banyak yang tahu.
Kui Hoa-seng seketika pun tidak menyangka orang bisa menjadi murid akuan le Lan-cu, ditambah di antara tiga saudaranya, ia terhitung yang paling berangasan dan suka menang, kini demi melihat Teng Hiau-lan memainkan Thian-san-kiam-hoat, diam-diam ia berpikir kenapa aku tidak menjajal dia sekalian, bukankah selama ini terdengar bahwa Thian-san, Hian-li, Tat-mo, tiga macam Kiam-hoat ini terhitung sama kuat dan sama bagusnya, meski pernah aku menyaksikan Ie-locianpwe berlatih, tetapi selamanya tiada kesempatan buat menjajal, maka kesempatan hari ini kenapa tidak aku gunakan untuk mengukur Kiam-hoat masing-masing, manakah sebenarnya yang lebih bagus?
Oleh karena pikiran inilah, segera ia percepat rangsekannya, berulang-ulang ia keluarkan serangan dengan tipu >ang aneh.
Akan tetapi Teng Hiau-lan tidak menjadi jeri, ia mainkan Si-mi-kiam-hoat sedemikian cepatnya hingga seluruh tubuhnya seperti dikitari oleh selapis sinar, sebaliknya Kui Hoa-seng ternyata sanggup menerobos kian-kemari di antara tempat luang sinar tajam itu..Sebenarnya kemujizatan Thian-san-kiam-hoat sekali-kali tidak di bawah Tat-mo-kiam-hoat, cuma Kui Hoa-seng sejak kecil sudah mendapat bimbingan dari ayahnya sendiri, dengan sendirinya keuletannya menang setingkat daripada Teng Hiau-lan.
Kiam-hoat dan gerak tubuhnya tiada satu pun yang tidak aneh, karena gugupnya, Teng Hiau-lan rada kelabakan hingga beberapa kali kena dibobol lawan, syukur Kui Hoa-seng masih rada jeri terhadap ancaman Yu-liong-pokiam yang tajam, maka ia tidak berani terlalu mendesak maju, dengan demikian maka walaupun Hiau-lan berada di bawah angin, namun untuk sementara belum sampai dikalahkan.
Sedang Pang Lin dengan ilmu pedang Bu-kek-kiam-hoatnya yang meski bagus tetapi karena belum terlatih matang, sedang Kui Hoa-seng justru mengincar dan mencecar Teng Hiau-lan terus, maka meski Pang Lin tiada hentinya membantu sang kawan dari samping dengan berbagai serangan, namun juga belum bisa menusuk musuh.
Dalam pada itu setelah Nyo Liu-jing berlari sampai di luar, ketika ia melihat Teng Hiau-lan dan Pang Lin melawan musuh berjajar, sedang Hiau-lan dengan mati-matian bertarung untuk melindungi Pang Lin, dalam hati rada timbul rasa cemburu.
Tetapi bila ia lihat lagi keadaan Teng Hiau-lan yang terdesak dan terancam bahaya, tak tertahan ia pun kebat-kebit hatinya.
Di lain pihak, demi nampak Nyo Liu-jing muncul, Tong Say-hoa kuatir kalau gadis ini ikut maju, segera ia putar senjatanya terus memapaki orang, sudah tentu Nyo Liu-jing tidak menyerah mentah-mentah, maka mereka pun bertempur di lereng gunung itu dengan serunya, ilmu silat keduanya tidak banyak berselisih, Nyo Liu-jing tak sanggup menerobos lewat, Tong Say-hoa sebaliknya tak mampu memukul mundur orang.
Selagi mereka berdua saling labrak dengan sengit, saat itu juga Tong Kim-hong telah keluar dari rumah keluarga Nyo, sementara itu Tong Say-hoa bermaksud menyerang lawan dengan senjata rahasianya, namun ia keburu dicegah sang ayah.
"Say-hoa, jangan kau lukai dia!"
Tiba-tiba Tong Kim-hong meneriakinya.
Karena itu Tong Say-hoa jadi tertegun, dengan demikian secepat angin Nyo Liu-jing menerjang lewat di sampingnya.
Kala itu Teng Hiau-lan sedang kepayahan juga, tiba-tiba terdengar Tong Kim-hong buka suara berteriak pula.
"Kui-hiante, harap berhenti dulu, Nyo-lothauji betul-betul sudah mati!"
Tidak kepalang terperanjatnya Teng Hiau-lan mendengar kabar yang mendadak ini, hampir saja Yu-liong-pokiam di tangannya terjatuh ke tanah.
Pada saat itu Kui Hoa-seng sudah telanjur mengulur pedangnya hendak menusuk, lekas ia berusaha miringkan senjatanya ke samping dan tepat dapat menyampuk senjata Pang Lin.
Dalam pada itu Nyo Liu-jing sudah berlari datang, baru saja ia menubruk tiba, karena tahu dirinya sekali-kali bukan tandingan lawan, ia taksir tidak nanti musuh berani melukai dirinya, maka begitu menubruk maju segera ia menubruk ke atas tubuh Teng Hiau-lan dengan maksud melindungi pemuda ini dari tusukan lawan.
Padahal Kui Hoa-seng telah kenali apa yang dimainkan Hiau-lan adalah Thian-san-kiam-hoat, maksudnya hanya melulu menjajal kepandaiannya saja dan tiada tujuan hendak mencelakai jiwanya.
Nyo Liu-jing tidak tahu akan maksud orang, karena terlalu bernapsu hendak menolong, ketika ia menubruk maju, ia keluarkan seluruh kekuatannya hingga datangnya cepat luar biasa.
Justru saat itu sehabis hujan, jalan pegunungan sangat licin, Teng Hiau-lan tidak pernah menduga akan perbuatan Nyo Liu-jing ini, keruan ia tertumbuk hingga keduanya jatuh tersungkur.
Menurut kebiasaan, bagi orang yang berilmu silat tinggi, bila menghadapi bahaya, otomatis berusaha membela diri.
Karena itulah ketika Teng Hiau-lan tertumbuk jatuh, segera ia gunakan ilmu 'Jian-kin-tui', yakni ilmu kepandaian membikin antap tubuh seperti benda yang punya bobot ribuan kati, dengan demikian i?
menahan tubuhnya supaya tidak bergerak lebih jauh.
Akan tetapi Nyo Liu-jing tak mampu menahan tubuhnya sendiri, ia tergelincir lewat di atas tubuh Hiau-lan terus menggelundung jatuh ke bawah jurang melalui tebing gunung itu!
"Celaka!"
Teriak Kui Hoa-seng kaget.
Cepat ia keluarkan Ngo-kim-ci-hoat ajaran keluarganya yang lihai terus menjambret, tampaknya bakal kena menjambret rambut kepala Nyo Liu-jing, siapa duga mendadak air gunung menghambur lagi dari atas hingga Nyo Liu-jing kena digerujuk masuk telaga kecil di bawah gunung, hanya kelihatan tubuh gadis ini timbul tenggelam beberapa kali, habis itu lantas hilang tertelan arus air.
Sementara itu Teng Hiau-lan yang terjatuh tadi dengan sekali meletik seperti ikan, sudah berdiri lagi, ia dengar teriakan kaget Pang Lin dan waktu ia menoleh, dengan mata sendiri ia saksikan Nyo Liu-jing terhanyut hilang di dalam telaga, seketika ia menjadi kalap, dengan sekali geraman, ia ayun pedangnya terus menubruk maju pula.
Sebenarnya Kui Hoa-seng hendak memberi penjelasan, namun Teng Hiau-lan sudah seperti banteng ketaton, ia seruduk sini dan terjang sana dengan serangan yang hebat, terpaksa Kui Hoa-seng menangkis pula semua serangan itu.
Begitulah dalam sekejap saja mereka berdua sudah bergebrak dua-tiga puluh jurus lagi.
Pang Lin pun tidak mau tinggal diam, ia ayun pedangnya ikut menyerang dari samping.
"Tia, urusan sudah sedemikian jauh, apa kau masih tinggal diam saja?"
Seru Tong Say-hoa pada ayahnya demi melihat Kui Hoa-seng kerepotan.
Dalam keadaan demikian, mau tak mau Tong Kim-hong harus ikut maju juga, ia gulung lengan bajunya lantas maju hendak menangkap ring Lin.
Kembali pada Pang Ing tadi, ketika ia memasuki rumah Nyo Tiong-eng, saat itu juga Tong Kim-hong baru saja keluar dari taman belakang.
Gadis ini menjadi kaget demi nampak barang dalam rumah kacau-balau, tetap' ia masih terus masuk ke dalam sambil memanggil.
"Nyo-kongkong, aku sudah kembali!"
Tetapi waktu ia singkap kerai kamar Nyo Tiong-eng, ia tidak nampak bayangan seorang pun, hanya terlihat olehnya di atas meja tulis ada sepucuk surat, pada sampulnya tertulis.
"Kepada menantuku, Teng Hiau-lan!"
Tentu saja Pang Ing ^oih terkejut lagi, dengan cepat ia masukan surat itu ke bajunya terus berlari keluar sambil berseru.
"Nona Pang, apa kau belum sembahyang, kenapa berteriak?"
Dengan sikap dingin pelayan Nyo Liu-jing menegur padanya.
"Kau bilang apa?"
Seru Pang Ing sambil menggenggam kencang tangan dayang itu. •Keruan pelayan itu menjadi kesakitan, ia kaget dan takut.
"Loya sudah lama meninggal, bukankah barusan kau ikut Sio-cia menjenguk jenazahnya di taman belakang?"
Katanya dengan meringis kesakitan.
Cepat Pang Ing lepaskan tangannya terus berlari ke taman, di sana sekelebatan ia masih nampak bayangan Tong Kim-hong yang baru saja melompat keluar pagar tembok, tetapi ia tak sempat memburu lagi, ia mendatangi gardu, di sini ia lihat peti mati kayu merah berada di tengah gardu, bahkan tutup peti merekah, waktu ia tegasi, jelas kelihatan baru saja dipecahkan orang'dengan tenaga pukulan.
Saat itu juga Pang Ing lantas menangis tersedu-sedu, mendadak teringat olehnya bahwa bayangan orang tadi bukan lain adalah Tong Kim-hong yang dahulu pernah mencari gara-gara ke sini, ia tidak tahu bahwa Nyo Tiong-eng mati karena sakit, ia menyangka orang tua ini tewas di bawah pukulan orang she Tong itu, maka segera ia mengudak keluar.
Waktu itu Pang Lin sedang menghadapi Tong Kim-hong, sebenarnya sekali-kali ia bukan lawannya, tetapi karena Tong Kim-hong melihat Nyo Tiong-eng ayah dan anak telah tewas semua, dalam hati ia menjadi menyesal bercampur malu, hingga semangat bertempurnya jauh berkurang, sebaliknya ilmu silat Pang Lin terlalu ruwet dan beraneka macamnya, gadis inipun sangat licin, karena itu seketika Tong Kim-hong tak dapat menangkapnya.
"Moaymoay, tinggalkan saja bangsat tua bangka ini!"
Demikian teriak Pang Ing tiba-tiba. Sebaliknya Teng Hiau-lan lantas berseru padanya.
"Ing-moay, ini saja, dialah pembunuh yang sesungguhnya. Ia telah menewaskan bibimu, lekas kau kemari membantu aku!"
Pang Ing mlihat Pang Lin masih sanggup menahan Tong Kim-hong, maka segera ia ayun senjatanya membantu Hiau-lan, begitu menyerang, ia keluarkan tipu yang paling lihai dari Thian-san-kiam-hoat, ia arah tempat mematikan di pinggang Kui Hoa-seng.
Lekas Kui Hoa-seng melompat ke atas, berbareng pedangnya balas menikam, namun Pang Ing tidak kurang gesitnya, dengan enteng ia berkelit sambil menyerang pula, kembali dari samping ia menusuk lagi.
Meski tipu silat Kui Hoa-seng sangat aneh, tetapi ia berbalik didahului beberapa kali serangan oleh Pang Ing, cuma nona ini pun tak bisa menusuk padanya.
Sekejap saja mereka telah saling rangsek beberapa jurus, Pang Ing menyerang cepat dan lebih ganas daripada serangan Teng Hiau-lan.
Sebenarnya kalau satu lawan satu, Kui Hoa-seng masih menang setingkat dibanding Teng Hiau-lan atau Pang Ing, tetapi sekarang Pang Ing dan Hiau-lan bergabung dan menyerang bersama, pula senjata yang mereka pakai adalah Pokiam (pedang pusaka) yang luar biasa tajamnya.
Terpaksa Kui Hoa-seng harus mengeluarkan seluruh kemahiran silatnya, toh tidak urung ia terdesak terus hingga hampir tak sempat berganti napas.
Sesudah ratusan jurus mereka saling gebrak, lambat-laun Kui Hoa-seng hanya bisa menangkis saja dan tak mampu balas menyerang.
Di lain pihak, semakin menyerang Pang Ing semakin bersemangat.
"Tidak perlu membunuh dia dengan pedang, kita desak saja dan biar dia pun mampus jatuh ke jurang!"
Kata Hiau-lan pada Pang Ing.
Segera ia putar pedangnya, dari sebelah kiri ia menikam Hun-tay-hiat orang dan memutar ke kanan menikam Ciang-bun-hiat pula.
Karena tusukan ini, Kui Hoa-seng dipaksa mundur dua tindak.
Teng Hiau-lan tidak tinggal diam, ia pun menusuk tenggorok-an orang, menyusul menyabet kaki musuh pula, dengan ini kembali Kui Hoa-seng didesak mundur dua tindak lagi.
Sementara itu air bah gunung yang santar dengan membawa guguran batu dan pasir bersuara gemuruh memekak telinga, hanya tinggal beberapa tindak lagi tampaknya Kui Hoa-seng bakal dipaksa terjun ke jurang, keruan tidak kepalang takutnya!
Waktu itu Teng Hiau-lan telah melangkah maju, Yu-liong-pokiam telah dia tikamkan pula, sambil mengertak gigi Kui Hoa-seng berusaha menangkis, akan tetapi dari samping Pang Ing juga mengirim serangan.
"Pergi!"
Seru gadis ini, dengan dua senjata mereka kumpulkan tenaga bersama terus mendorong, maka terasa oleh Kui Hoa-seng satu kekuatan yang maha besar mendesak datang, tanpa kuasa ia mundur dua tindak, pada saat jiwanya tinggal seujung rambut ini, sekonyong-konyong tertampak segulungan bayangan putih secepat angin melayang naik ke atas dari kaki gunung, sesudah dekat tiba-tiba terdengar suara seruan yang nyaring.
"Berhenti, Hiau-lan!"
Seru suara itu.
Begitu cepat datangnya orang ini hingga hampir bersama dengan lenyapnya suaranya.
Dalam bingungnya karena seruan ini, Pang Ing dan Hiau-lan menoleh ke belakang, tetapi kedua senjata mereka masih terus mendesak maju, justru pada detik yang berbahaya itulah, tiba-tiba bayangan putih tadi sudah berada di tengah, terdengar suara "trang"
Yang nyaring, tiga senjata yang bersilang saling sanggah itu sekaligus kena disampuk pergi oleh orang yang datang ini.
Terkejut dan girang juga Kui Hoa-seng, ketika ia tegasi, ia lihat di depannya sudah berdiri seorang nona dan dengan senyum simpul menarik pergi kedua lawannya tadi.
Menyusul ia lihat satu bayangan orang mendatangi secepat terbang.
"Sahte, tidak lekas kau haturkan terima kasih pada Lu-lihiap!"
Seru pendatang belakangan ini. Tanpa pikir lagi segera Kui Hoa-seng memberi hormat.
"Apakah yang datang ini adalah Lu Si-nio dari Kanglam-chit-hiap?"
Tanyanya.
"Kalau bukan dia, siapa lagi?"
Sahut yang datang belakangan ini yang bukan lain adalah Boh Jwan-seng.
"Sudah lama mendengar nama besar Lihiap, memang sungguh hebat!"
Ujar Kui Hoa-seng lagi.
"Kalian adalah orang sendiri, sudah saling labrak sekian lama apa masih belum mengerti?"
Dengan tertawa kemudian Si-nio buka suara. Akan tetapi dengan air mata berlinang Teng Hiau-lan lantas menutur.
"Maafkan sekali ini, aku ... aku tak bisa menuruti perkataanmu, Lu-cici,"
Katanya dengan suara keras.
"Jing-moay telah dibunuh mereka!"
Lu Si-nio kaget juga oleh kabar ini.
"Apa, Nyo Liu-jing mengalami kecelakaan?"
Ia bertanya.
"Bukan aku yang membunuhnya,"
Lekas Kui Hoa-seng berusaha membela diri.
"Ia terpeleset sendiri ke bawah dan hanyut oleh arus ke tengah telaga, aku hendak menolongnya saja sudah terlambat!"
"Kau lihat jelas tidak, Hiau-lan?"
Tanya Si-nio.
"Cara bagaimanakah tewasnya Nyo Liu-jing?"
Memang waktu Hiau-lan berdiri kembali dari jatuhnya tadi, Nyo Liu-jing sudah tergelincir ke bawah jurang, ia hanya nampak Kui Hoa-seng melompat kembali dari tebing gunung, maka ia menyangka dialah yang menyebabkan kematian Nyo Liu-jing, tetapi kini demi mendengar Kui Hoa-seng membela diri dengan suara terputus, tampaknya bukan berdusta, maka ia tak berani memastikan dakwaannya.
"Lin-moay, kejadian tadi kau tentu melihatnya dengan jelas?"
Ia coba tanya Pang Lin.
"Meski bibi bukan dibunuh mereka, tetapi karena dia hendak menolong Teng-sioksiok hingga terjerumus ke bawah jurang, kalau diusut pokok pangkalnya, bilang mereka yang membunuhnya bukanlah tidak beralasan,"
Kata Pang Lin yang terharu oleh perbuatan Nyo Liu-jing yang ingin menolong Teng Hiau-lan tadi.
"Dia dan tua bangka inilah orang yang menyebabkan matinya bibi!"
Demikian ia tambahkan pula.
"Bagus, kalian hendak mengusut pembunuh Nyo Liu-jing, lalu kepada siapa aku harus mengusut pembunuh anak menantuku?"
Sahut Tong Kim-hong yang menjadi gusar juga.
"Baiklah, mentang-mentang kalian berjumlah lebih banyak, hari ini aku Tong-loji tidak berpikir untuk kembali Sucwan lagi dengan hidup, tetapi pasti ada pula keluargaku yang bakal membalaskan sakit hati ini!"
Mendengar perdebatan mereka ini, dengan memandangi arus air telaga yang bergulung-gulung itu, Lu Si-nio menghela napas dan berduka juga.
' "Sudahlah, yang sudah mati biarlah sudah, tetapi yang masih hidup boleh selesaikan percekcokan ini saja!"
Katanya kemudian.
"Sekarang masing-masing pihak sudah tewas satu orang, masing-masing boleh tidak usah bertanya lagi siapa yaag salah dan mana yang benar! Hiau-lan, mungkin kau belum kenal asal-usul saudara ini."
Habis berkata ia lantas memperkenalkan asal-usul kedua belah pihak. Mengingat Nyo Liu-jing memang bukan dibunuh Kui Hoa-seng, maka Teng Hiau-lan hanya bisa menghela napas terharu saja.
"O, memang nasib In-su (guru berbudi, maksudnya Nyo Tiong-eng) yang jelek! O, Jing-moay yang harus dikasihani!"
Demikian ratapnya. Dengan penuh menyesal kemudian Kui Hoa-seng meminta maaf pula.
"Sudahlah tidak sengaja, lupakan saja kejadian ini!"
Ujar Teng Hiau-lan. Nampak pihak lain sudah terima akur penyelesaian itu, mau tak mau Tong Kim-hong menghibur juga anak perempuannya.
"Sudahlah, kita terima nasib juga!"
Katanya.
Habis itu dengan menarik Tong Say-hoa mereka lantas turun gunung.
Sesudah Boh Jwan-seng menyatakan penyesalannya, kemudian ia membawa saudara mudanya, dengan rasa tak enak mereka pun lekas minta diri.
Setelah Tong Kim-hong pergi, dengan terkesima dan mata basah Teng Hiau-lan masih memandang air telaga yang bergulung-gulung itu, sampai lama sekali ia tak sanggup buka suara.
Ya, meski ia tidak mencintai Nyo l.iu-jing, tetapi kematian gadis itu disebabkan hendak menolongnya, inilah yang membikin dia merasa sangat berduka.
"Nyo-locianpwe sudah wafat, sudah tiada sanak keluarganya lagi, urusan selanjutnya tiada lain harus kau yang mengurusnya dan jenazah Nyo Liu-jing kau pula yang harus mencarinya kembali,"
Kata Si-nio kemudian pada Hiau-lan. Dengan air mata bercucuran Teng Hiau-lan memanggut.
"Nyo-kongkong masih meninggalkan sepucuk surat untukmu,"
Tiba-tiba Pang Ing buka suara ketika ingat surat di bajunya.
Setelah Hiau-lan menerima surat itu dan dibaca, ternyata Nyo Tiong-eng memberi pesan bahwa mengingat hubungan mereka selama belasan tahun seperti ayah dan anak ini, sesudah dia meninggal, Nyo Liu-jing yang sejak kecil juga sudah ditinggal mangkat ibunya, maka Hiau-lan diminta kalau bisa sudilah menerima, tetapi kalau tidak bisa terima bolehlah pilih gadis lain yang lebih bijaksana dan anggaplah Liu-jing sebagai adik sendiri, dengan demikian di alam baka ia pun bisa merasa tenteram.
Dengan surat ini, tujuan Nyo Tiong-eng masih mengharapkan perubahan pikiran Teng Hiau-lan, keruan sehabis membaca, Hiau-lan menjadi lebih berduka.
Maka sesudah berpikir sejenak, ia lantas menarik tangan Pang Ing dan diajak ke tepi jurang untuk memandangi arus air yang mendampar itu.
Tng-moay, sesudah mengalami pukulan ini, selama hidupku tiada minat buat bicara soal pernikahan lagi, dapatkah kau memahami aku?"
Dengan suara lirih ia berkata.
Karena itu, perasaan Pang Ing yang tadinya terang-benderang seperti sinar matahari tiba-tiba bagaikan tertutup oleh selapis awan mendung tebal, meski selama ini belum terpikirkan olehnya tentang pernikahan, tetapi ia terharu juga oleh kata-kata Hiau-lan ini.
"Hubungan kita selalu kekal dalam hati, memangnya kita tidak perlu berpandangan seperti orang biasa tentang nikah segala,"
Sahutnya dengan sungguh-sungguh dengan menahan air mata.
"Bibi mati meninggalkan kau, selama hidupmu tidak menikah, ini sudah seharusnya, mana bisa aku menyalahkan kau. Bukan saja kau, selama hidupku inipun tidak akan menikah juga."
Melihat mata anak dara itu basah mengembeng air, Hiau-lan berpikir hendak menghibur, tetapi ia tidak tahu apa yang harus dikatakan, karena itu ia hanya menghela napas panjang saja.
Kemudian sesudah Hiau-lan kembali ke rumah keluarga Nyo bersama Lu Si-nio dan lain-lain, jenazah Nyo Tiong-eng lantas mereka kebumikan, sehabis mengubur, air hujan pegunungan itupun sudah reda, maka Teng Hiau-lan lantas pergi mencari jenazah Nyo Liu-jing di tengah telaga kecil itu, namun sudah setengah hari dicari dan diselami, tetap tidak ditemukan, ketika seorang penduduk yang pandai menyelam memeriksa ke dasar air, akhirnya diketahui bahwa pada telaga kecil itu ada sebuah gua yang menembus ke sungai di luar, menurut dugaan, besar kemungkinan mayat Nyo Liu-jing sudah terhanyut keluar sungai melalui gua itu.
Keruan Hiau-lan semakin berduka karena mayat Nyo Liu-jing saja tidak bisa diketemukan.
Setelah semuanya selesai diatur, kemudian Hiau-lan ikut Lu Si-nio dan lain-lain ke Bin-san, meski selalu di samping Pang Ing, namun pemuda ini masih tetap kurang gembira dan selalu masgul.
Ketika itu kedudukan takhta Kaisar Yong Ceng sudah kukuh, dengan kekejamannya ia memerintah negerinya, para patriot di kalangan rakyat di bawah tekanan berat itu memang tidak gampang bergerak, karena itu terpaksa bersembunyi dan tanpa bersuara, suasana seperti ketenangan sebelum tibanya angin badai saja.
Sementara itu beberapa orang yang ada sangkut-pautnya dengan peristiwa Lu Liu-liang, berkat kabar Kam Hong-ti yang disampaikan dengan cepat, sebagian masih sempat menyelamatkan diri, hanya beberapa orang saja yang tertawan dan beberapa lagi yang menyimpan kitab pelajaran pujangga itu ikut tersangkut dan dihukum mati, peristiwa ini menerbitkan kegegeran di kalangan rakyat hingga setengah tahun kemudian bani tenang kembali.
Lu Si-nio sangat gusar karena kekejaman Yong Ceng itu, suatu hari ia berunding dengan Kam Hong-ti, ia berniat berangkat ke kotaraja untuk membunuh Yong Ceng.
"Pat-moay adalah pahlawan dari kaum wanita, tentu bisa berpikir secara mendalam, kini Yong Ceng sedang mendapat angin, kita harus bersabar sedikit waktu lagi untuk menunggu kesempatan baik,"
Ujar Hong-ti.
"Aku pun mengerti hal ini, cuma melihat kekejaman keparat Yong Ceng itulah aku merasa tak tahan."
Sahut Si-nio.
"Mengenai tingkah-polah Yong Ceng, tidak sedikit kejadian yang menertawakan dan menarik,"
Tutur Kam Hong-ti lagi.
"Menurut berita yang aku terima, kini Yong Ceng telah memperluas alat utamanya, Hiat-ti-cu, untuk menjadi mata-telinganya dengan penjagaan yang rapat sekali, kalau kita hendak masuk kotaraja, mungkin tidak semudah dahulu lagi."
"Menarik ceritamu ini, rasanya kabar baik juga,"
Kata Si-nio tertawa.
"Aneh, Yong Ceng bikin penjagaan keras, kenapa bilang kabar baik?"
Tanya Hong-ti tak mengerti.
"Coba, untuk memperkuat kedudukannya, ia tidak percaya pada pembesarnya sendiri hingga perlu diperkuat penjagaan Hiat-ti-cu, satu kaisar yang sudah terpencil seperti dia ini, apalagi yang harus ditakuti?"
Ujar Si-nio.
"Ya, tidak hanya kaisarnya kejam, pembesarnya pun kotor dan korup hingga tidak sedikit pejabat secara diam-diam telah dibunuh rakyat sendiri,"
Kata Hong-ti.
"Memang pembesar kotor tidak terhitung banyaknya, hendak membunuhnya juga tak akan habis,"
Ujar Lu Si-nio "Kecuali kalau mencabut sampai akar-akar kerajaan bangsa Boan!"
"Sulit, sulit!"
Sahut Hong-ti.
"Kekuatan bangsa Boan sedang kuat-kuatnya, mungkin selama hidup kita ini tidak sempat melihat runtuhnya."
"Ya, untuk membangun kembali negeri kita, mungkin tidak bisa kita saksikan sendiri, tetapi kalau membunuh Yong Ceng saja, belum tentu tidak bisa." • "Perkataan Pat-moay tidak salah juga, tugas kita memang harus dijalankan sepenuh tenaga,"
Kata Hong-ti lagi sesudah berpikir sejenak.
"Menurut pandanganku, hendak mengusir bangsa Boan dan membangun Han kembali, tugas ini tidak bisa dicapai oleh seorang dua orang saja. Beberapa hari yang lalu Li Ti bilang akan kembali ke Sucwan, oleh karena di daerah sana masih terdapat sisa bekas pengikut ayahnya, dia telah berunding dengan aku, waktu itu aku masih belum setuju, oleh karena Sucwan adalah daerah kekuasaan Lian Keng-hiau, sedang bekas pengikut Li Jiak-sim yang masih ada jumlahnya terlalu sedikit. Maka kalau'Li Ti kembali ke daerah sana dan membikin pergerakan lagi, mungkin akan sangat berbahaya sekali. Tetapi tampaknya kini boleh juga dia pergi ke sana, meski hanya latihan tetapi bisa juga membakar padang ilalang, dengan menghadapi sedikit bahaya masih ada harganya juga. Dalam beberapa hari ini aku pun bermaksud mengunjungi Kanglam untuk menyambangi para pemimpin perkumpulan rahasia di sana, meski belum berani kukatakan menghimpun tenaga kembali untuk bergerak lagi, tapi sedikitnya bisa juga memisahkan mereka dari kerja sama dengan pihak pembesar negeri yang kotor dan korup."
Begitulah, sesudah para pahlawan di Bin-san ini mengambil keputusan, selang beberapa hari kemudian, Li Ti dan Pang Lin lantas berangkat ke Sucwan, Kam Hong-ti sendiri mengunjungi daerah Kanglam, sedang Hi Kak beserta anak dan menantunya kembali keluar lautan lagi untuk menyambangi bajak-bajak laut yang masih bercokol di pulau sekitar pantai timur.
Teng Hiau-lan masih belum hilang rasa dukanya, ia bersama Pang Ing ingin kembali ke Thian-san, Si-nio pikir baik juga kemau-an mereka ini, maka ia pun tidak merintangi mereka.
Sesudah ditinggal pergi kawan-kawannya, hanya tertinggal Lu Si-nio yang masih menjaga kuburan gurunya di atas Bin-san.
Musim semi berganti musim rontok pula, tanpa terasa dua kali musim dingin sudah berlalu, dalam dua tahun ini, siang dan malam Si-nio terus memperdalam ilmu pedangnya tidak kenal lelah, tidak saja Hian-li-kiam-hoat sudah dia latih sampai tingkatan yang tiada taranya, bahkan dia gabungkan pula ilmu pedang Thian-san-kiam-hoat dan Tat-mo-kiam-hoat, dia buang yang lemah dan menambah yang baik, dengan demikian, dibandingkan mendiang gurunya, kini ia boleh dikata sudah lebih lihai lagi.
Dua tahun lewat dengan cepat seperti sekejap mata saja, tetapi kejadian di luaran sudah banyak mengalami perubahan.
Pada suatu hari, Kam Hong-ti kembali dengan berseri-seri dan melapor pada Lu Si-nio.
"Apa yang kau duga dahulu kini sudah berbukti, kini kita cukup menghadapi Yong Ceng saja,"
Demikian kata sang Suheng.
"Apa Lian Keng-hiau sudah dibasmi oleh Yong Ceng?"
Tanya Si-nio.
"Belum sampai dibunuh, tetapi keadaannya sudah sangat menyedihkan,"
Tutur Kam Hong-ti.
"Pangkatnya dari It-teng-kong merangkap sebagai Congtok dua propinsi, kini sudah merosot dan merosot terus sampai harus menjadi tukang jaga pintu benteng Hangciu saja."
Lu Si-nio rada kaget oleh kabar ini.
Meski dia sudah menduga pasti Yong Ceng akan membasmi Lian Keng-hiau, tapi sama sekali tidak terbayang olehnya bisa dilakukan secara begitu cepat, apalagi Lian Keng-hiau dipecat hingga menjadi tukang jaga pintu benteng, inilah lebih-lebih suatu kejadian aneh yang tak pernah dia pikirkan.
"Bagi Lian Keng-hiau, dengan dipecat dan menjadi tukang jaga pintu benteng Hangciu sudah jauh lebih menderita daripada dia dihukum mati,"
Ujar Kam Hong-ti dengan tertawa.
"Akan tetapi apa yang dia bisa perbuat kini, kekuasaan militernya sudah dipreteli hingga habis sama sekali."
Habis itu Kam Hong-ti lantas menceritakan tentang kejadian pemecatan Lian Keng-hiau.
Kiranya sejak Lian Keng-hiau kembali dari ekspedisinya ke Jinghay, ia dianugerahi gelar It-teng-kong dan tetap merangkap sebagai gubernur propinsi Sucwan dan Siamsay, keagungan namanya waktu itu boleh dikata tiada duanya.
Lian Keng-hiau.
memang cukup pintar, ia insaf bahwa kekuasaan militernya sekali-kali tidak boleh dilepaskan, karena itu ia tak ingin tinggal di kotaraja, melainkan sejak penyambutan Yong Ceng pada pasukannya itu, tidak lama kemudian ia lantas membawa pasukannya kembali ke pangkalannya.
Di luar perhitungannya, Yong Ceng ternyata lebih pintar daripadanya, secara diam-diam maharaja ini telah memupuk pembantu utamanya sendiri, yakni Gak Ciong-ki.
Diam-diam Gak Ciong-ki diperintahkan menarik simpatik bawahannya, tidak lama kemudian dengan alasan ada pemberontakan di propinsi Sekhong, kaisar lantas mengutus Gak Ciong-ki membawa pasukannya mengamankan huru-hara itu, tapi kuatir Lian Keng-hiau kurang senang karena yang diutus adalah bawahannya, maka diberi penjelasan pula bahwa tidak perlu membikin susah panglimanya, kalau wakilnya sudah cukup menumpas huru-hara kecil.
Oleh karena selamanya Gak Ciong-ki sangat tunduk padanya, maka sekali-kali Lian Keng-hiau tidak menyangka pembantu ini bisa berkhianat padanya.
Ditambah pula ia sudah membangun istana di Se-an didampingi istri yang cantik molek, kini titah kaisar hanya memerintahkan Gak Ciong-ki, maka ia pun boleh merasakan kebahagiaan saja di istana barunya.
Sementara itu Gak Ciong-ki membawa sebagian kekuatan pasukannya ke Sekhong, berulang kali ternyata mengalami kekalahan, surat permintaan bantuan datang berturut-turut, maka Yong Ceng lantas mengirim pula sisa pasukan Lian Keng-hiau yang masih ada.
Sudah tentu Lian Keng-hiau tiada alasan buat menolak dan membantah titah kaisar, apalagi yang harus ditolong adalah bawahannya sendiri.
Begitulah bala-bantuan dikirim berulang-ulang, akhirnya kekuatan militer Lian Keng-hiau hilang hampir sembilan bagian, keruan Lian Keng-hiau kelabakan, ia mencaci-maki Gak Ciong-ki tak berguna, bahkan hampir ia ajukan permohonan agar dirinya sendiri yang akan maju ke medan perang.
Ia tidak tahu bahwa justru itu adalah siasat Yong Ceng dengan Gak Ciong-ki untuk menggunduli pasukan dan memreteli kekuasaannya, tentang kekalahan perang, semuanya hanya sandiwara belaka.
Ketika kekuatan militer Keng-hiau sudah hilang sembilan bagian, tiba-tiba dari kalah lantas berubah menjadi menang besar, sedang Gak Ciong-ki dengan penetapan Sri Baginda, telah diperintahkan agar tetap berkedudukan di Sekhong dan tidak perlu kembali lagi.
Yang menggelikan adalah pembesar tinggi yang berada di kotaraja, ketika kabar tentang kekalahan itu dilaporkan, banyak pula di antaranya yang mengajukan usul agar Gak Ciong-ki dipecat, katanya panglima ini kurang becus, agar dikirim saja Lian Keng-hiau.
Yong Ceng sendiri pun berulang-ulang mengirim firman mendamprat Gak Ciong-ki, dengan demikian sengaja dipertontonkan pada Lian Keng-hiau.
Ternyata tiada seorang pembesar pun yang tahu bahwa Keng-hiau sudah kehilangan pengaruhnya secara diam-diam.
Tatkala itu ada seorang pembesar yang bernama Jan Bun-kia yang kebetulan diangkat menjadi gubernur Hopak dan Soatang.
Jan Bun-kia dan pembesar kesayangan Yong Ceng yang lain seperti Ortai, Li Bin-tat, adalah sahabat karib, maka pada waktu Jan Bun-kia hendak berangkat ke posnya, Li Bin-tat telah mengangkat seorang juru tulis untuk membantu mengurus semua surat-menyurat dinasnya.
Juru tulis ini, Oh-suya, karena perantaraan Li Bin-tat, maka Jan Bun-kia sangat menghargainya.
Aneh juga, semua surat dinas kepada Sri Baginda yang ditulis olel.
Oh-suya, belum pernah ada yang ditolak Hongsiang, tetapi kalau surat dinas itu bukan ditulis Oh-suya, lantas ditolak.
Oleh karena itulah Jan Bun-kia menjadi sangat percaya sekali pada Oh-suya.
Pada suatu hari, tiba-tiba Oh-suya bertanya pada majikannya ini.
"Apakah Tuanku ingin menjadi pembesar yang tersohor!"
Tanyanya. Tentu saja pertanyaan ini membikin Jan Bun-kia sangat heran.
"Sudah tentu, siapa yang tidak ingin menjadi pembesar tersohor!"
"Jika demikian, maka hamba pun ingin menjadi juru tulis tersohor,"
Kata Oh-suya pula.
"Cara bagaimana kau akan menjadi juru tulis tersohor?"
Tanya Jan Bun-kia.
"Hamba mohon Tuanku membiarkan kulakukan sesuatu pekerjaan, tetapi sekali-kali Tuanku jangan tanya urusannya,"
Sahut Oh-suya.
"Apa yang hendak kau kerjakan?"
Tanya Jan Bun-kia.
"Aku ingin menulis sepucuk surat dinas yang mengusulkan sesuatu pada Sri Baginda, tetapi apa yang tertulis dalam surat dinas ini, satu huruf pun Tuanku tidak boleh tahu,"
Tutur Oh-suya.
"Begitu surat dinas ini sampai di hadapan Hongsiang, maka segera Tuanku akan menjadi pembesar yang tersohor!"
Melihat cara Oh-suya berkata penuh keyakinan, pula mengingat semua surat dinas yang ditulis Oh-suya belum pernah gagal dan dikembalikan Hongsiang, maka Jan Bun-kia lantas menyetujuinya.
Malam itu semalam suntuk lampu di kamar Oh-suya tidak pernah padam, sedang Jan Bun-kia sendiri pun tidak bisa tidur.
Besoknya pagi-pagi sekali Oh-suya sudah memasukkan surat dinas yang ditulisnya ke dalam sampul dan ditutup rapat dengan lak terus minta ditambahi pula dengan cap kebesaran gubernur pada Jan Bun-kia.
"Surat dinas ini aku tidak usah membaca satu huruf pun, tetapi urusan apakah yang diusulkan, dapatlah kiranya Sianseng memberitahukan sekedarnya?"
Demikian Jan Bun-kia coba berkata pada Oh-suya. Di luar dugaan, muka Oh-suya segera berubah, katanya.
"Jika Tuanku tidak percaya penuh padaku, biarlah sekarang juga hamba mohon diri!"
Tentu saja lekas Jan Bun-kia menahan.
"Sianseng, tak perlu curiga, jika memang tak bisa diterangkan, biarlah aku memberi capnya,"
Demikian katanya.
Begitulah, sesudah surat dinas itu selesai diatur, segera ditugaskan juru antar mengirimkannya secara kilat ke kotaraja Sesudah surat dinas ini dikirim, Jan Bun-kia sendiri menjadi kebat-kebit hatinya, merasa tak tenteram sekali dan agak menyesal pula telah bertaruh dengan kedudukannya yang sekarang, akan tetapi barang sudah telanjur dikirim, hendak menyusulnya kembali sudah tidak mungkin lagi.
Maka jalan lain tidak ada kecuali secara diam-diam ia perintahkan pasukan pengawalnya mengawasi gerak-gerik Oh-suya untuk menjaga orang tidak kabur begitu saja.
Namun Oh-suya ternyata tenang saja tanpa mengunjuk sesuatu yang mencurigakan.
Selang tujuh hari kemudian, ketika 'berita negara' tiba dari kotaraja dengan pengiriman kilat, sesudah Jan Bun-kia membuka dan dibacanya, seketika tidak kepalang terkejutnya, sehabis dibaca, ia menjadi girang pula, malahan ia ragu-ragu apakah dirinya bukan sedang mimpi?
Apakah kiranya isi surat dinas yang perrah ditulis Oh-suya kepada kaisar itu?
Ternyata surat itu sekaligus telah mengadukan dua pembesar tinggi yang paling berpengaruh pada waktu itu.
Pertama yang diadukan adalah Lian Keng-hiau yang dikatakan bertujuan tidak baik, nyawa orang dianggap soal kecil, korupsi dan menghukum mati pembesar Tetok secara semena-mena dan lain-lain tuduhan.
Orang kedua yang diadukan ialah Kok-kiu Longetoh yang dituduh bersekongkol dengan Lian Keng-hiau dan macam-macam dakwaan pula dan dimintakan hukuman sama seperti Lian Keng-hiau.
Surat dinas semacam ini jika sebelumnya dibaca Jan Bun-kia, sekalipun pembesar ini bernyali setinggi langit, tak berani juga ia mengajukan ke hadapan Sri Bagindanya!
Siapa tahu justru pengaduan ini cocok dengan hati kaisar, begitu datang surat aduan ini, seketika perintah diberikan untuk mencabut kembali gelar It-teng-kong yang telah diberikan pada Lian Keng-hiau dan dipecat pula kedudukannya sebagai Panglima besar merangkap Congtok propinsi Sucwan dan Siamsay, untuk yang belakangan ini Gak Ciong-ki diperintahkan menggantikannya.
Walaupun begitu, kaisar kuatir juga kalau Lian Keng-hiau masih mempunyai sisa kekuatan militer di Siamsay, maka tak berani sekaligus menghukum mati dia, perintah itu berkata pula mengingat jasanya yang sudah lalu, sedang kecakapannya masih bisa digunakan pula, maka dia dipindahkan ke Hangciu sebagai pelatih tentara.
Sedang Longetoh segera ditangkap dan diperintahkan memeriksa dosanya, semua gelar kebesarannya dicabut terus dipenjarakan.
Jan Bun-kia sebagai pendakwanya, kaisar telah memberi pujian setinggi langit, katanya dia tidak gentar terhadap pembesar yang lebih berpengaruh, suatu tanda setia pada negara, maka pangkatnya dinaikkan menjadi Congtok propinsi Kwitang dan Kwisay.
Begitulah apa yang tertulis dalam 'berita negara' yang dikirimkan kepada Jan Bun-kia itu.
Saking girangnya Jan Bun-kia sampai seperti orang senewen, sesudah itulah baru Oh-suya datang padanya dengan tertawa.
"Selamat dan bahagialah, sekarang Cukong (tuanku) sudah naik pangkat, sudah waktunya pula hamba mohon diri,"
Demikian kata Oh-suya. Sudah tentu lekas Jan Bun-kia menahan. Tetapi dengan tersenyum Oh-suya lantas berkata.
"Syukur sesudah Hongsiang membaca surat aduan ini lantas setuju dan memberi pujian pula, jika tidak, mungkin aku tak akan bisa keluar juga dari kediamanmu sini!"
Karena kata-kata yang sifatnya menyindir ini, Jan Bun-kia menjadi kaget, ia mengerti apa yang dia lakukan dengan mengatur penjagaan akhir-akhir ini telah diketahui oleh Oh-suya.
Tetapi tak enak juga ia hendak minta maaf, maka ia menjadi malu dan serba salah.
Oleh karena itu, ia lantas meluluskan kepergian orang sesudah diberikan hadiah besar.
Setelah Lian Keng-hiau dipecat, segera juga Gak Ciong-ki kembali dari Sekhong menuju ke Se-an untuk timbang-terima semua tugas yang ditinggalkan Lian Keng-hiau.
Gak Ciong-ki masih pura-pura mengunjuk rasa solider pada Keng-hiau, di samping menghiburnya ia bilang akan mengusulkan pada kaisar aga'r keputusan itu bisa dibatalkan, tetapi ia pun memberi seratus prajurit sebagai pasukan pengawal Lian Keng-hiau untuk kembali ke daerah selatan, yakni Hangciu.
Sudah tentu Lian Keng-hiau cukup mengerti akan kepalsuan orang, dengan menahan amarah ia berkata dengan bergelak tertawa.
"Laute, hendaklah kau jaga dirimu saja baik-baik, dan sekali-kali jangan meniru kejadian yang menimpa aku sekarang ini! Selama hidupku ini sudah bertempur kian-kemari di medan perang, kalau kini aku masih bisa hidup selamat, ini sudah boleh dikata beruntung! Kepergianku sekarang ini jika ada sesuatu bahaya, tidak nanti kau dapat melindunginya, kebaikanmu tadi aku terima dalam hati saja!"
Demikian katanya dengan sinar mata menyorot tajam, kewibawaannya ternyata belum lenyap sama sekali, karena itu Gak Ciong-ki tak berani banyak bicara lagi, ia lantas mengundurkan diri.
Lian Keng-hiau sudah sekian lama memimpin tentara, dengan sendirinya ada pula beberapa perwira kepercayaannya yang merasa sehidup-semati dengan bekas pimpinannya ini, mereka masih menaruh harapan kelak Lian Keng-hiau bisa bangun kemba'i, maka mereka pun minta meletakkan jabatan, dan ikut pergi dengan Lian Keng-hiau.
Oleh karena itulah, keberangkatan Lian Kenghiau ke Hangciu masih membawa belasan bekas perwira dan dua-tiga ratus prajurit.
Tetapi di tengah jalan sebelum sampai di posnya yang baru, Lian Keng-hiau masih berusaha mengajukan permohonan pada kaisar agar diperbolehkan pensiun saja dan dibebaskan dari kewajiban melatih tentara di Hang-ciu, sambil menunggu keputusan ini ia menunggu di kota Giwi daerah Kangsoh, di luar dugaan, Yong Ceng berbalik menjadi murka dan menuduhnya sengaja membangkang perintah, karena itu, pembesar yang ingin cari muka beramai lantas memperkuat dakwaan itu, dengan alasan ini pula maka Yong Ceng memecat Lian Keng-hiau dari segala pangkatnya dan disuruh pergi ke Hangciu sebagai tukang jaga pintu gerbang benteng kota.
Begitu'ah, sesudah Lu Si-nio mendengar cerita Kam Hong-ti mengenai lelakon Lian Keng-hiau ini, ia termangu-mangu.
"Lian Keng-hiau si keparat ini sudah sepantasnya mendapat ganjaran seperti hari ini dan tidak usah kita mengurusnya,"
Demikian katanya kemudian.
"Chit-ko, sudah dua tahun ini aku giat melatih ilmu pedangku, kini tentunya kau tak akan mencegah aku lagi ke kotaraja!"
Kam Hong-ti mengerti maksud Lu Si-.nio yang ingin mencari Yong Ceng untuk menuntut balas, maka dengan tertawa ia berkata.
"Ya, sudah dua tahun kau disekap di atas gunung ini, sepatutnya kau turun gunung. Cuma mengenai masuk kotaraja, mungkin harus menunggu sedikit waktu lagi."
Esoknya turunlah Kam Hong-ti bersama Lu Si-nio dan Sim Cay-khoan.
Kini Lwekang Sim Cay-khoan sudah cukup lihai, pula ia telah belajar sedikit ilmu silat dari Lu Si-nio, maka kepandaiannya sudah tak bisa dibandingkan dengan dulu lagi.
Kembali mengenai Lian Keng-hiau, sesudah dia dipecat dan dijadikan tukang jaga pintu benteng di Hangciu, kebetulan juga, yang menjadi panglima tentara di Hangciu bukan lain adalah Liok Hou-sin, Tetok bekas bawahan Lian Keng-hiau yang pernah dihukum menjadi tukang jaga malam berhubung dengan peristiwa H u San Tetok yang dihukum mati oleh Lian Keng-hiau dahulu itu.
Kini dengan sengaja Yong Ceng menjadikan Lian Keng-hiau sebagai tukang jaga pintu benteng Hangciu, sebenarnya tujuannya sengaja membiarkan Liok Hou-sin membalas dendam pada Keng-hiau.
Tahu juga Lian Keng-hiau bahwa yang menjadi panglima tentara di Hangciu adalah Liok Hou-sin, tapi ia pun tidak ambil peduli.
Pada hari ketiga, sewaktu Lian Keng-hiau sedang duduk di bawah pintu gerbang benteng dan lagi enak-enaknya berjemur sinar matahari, di luar dan di dalam pintu benteng yang dijaganya ini ternyata sepi tiada satu manusia pun yang masuk-keluar.
Kiranya penduduk Hangciu masih takut pada perbawa Lian Keng-hiau dan tiada yang berani masuk-keluar melalui pintu gerbang utara yang dijaganya.
Kala itu prajurit bekas pengikutnya sudah bubar semua, yang masih mendampinginya hanya tinggal seorang serdadu tua saja.
"Meski Ciangkun telah dihina seperti sekarang ini, syukur kewibawaan lama masih bertahan hingga pembesar dan penduduk di sini tak berani ikut menghina Ciangkun,"
Demikian kata serdadu tua itu pada Lian Keng-hiau.
"Jika demikian, Yong Ceng lebih-lebih tidak mau melepaskan aku,"
Sahut Keng-hiau dengan menghela napas. Ketika mereka pasang omong, tiba-tiba terdengar suara gem-breng yang ditabuh keras.
"Nah, inilah orang yang bakal menghina diriku telah datang!"
Ujar Lian Keng-hiau, ia pun menyuruh serdadu tua ini menyingkir pergi.
Dalam pada itu tertampaklah Liok Hou-sin dengan kuda tunggangannya yang besar gagah mendatangi dengan didampingi prajurit pengawalnya.
Keng-hiau masih tetap duduk di atas bangkunya tanpa menghiraukan kedatangan orang.
Sudah tentu Liok Hou-sin menjadi gusar melihat sikap Keng-hiau yang dianggapnya kurangajar ini, justru ia berniat menghina dan membikin malu bekas atasannya ini di hadapan umum, maka sesudah berada di depan orang, dengan tertawa dingin segera ia menyindir.
"Hm, Lian Keng-hiau, masih kenalkah kau padaku?"
Demikian tegurnya.
"O, kiranya kau,"
Sahut Keng-hiau dengan sedikit melirik.
"Menjadi panglima di Hangciu tentunya jauh lebih enak daripada menjadi tukang rondaku bukan? Pantas kau begini senang!"
Mendengar orang berani mengungkit kejadian dahulu, keruan Liok Hou-sin semakin murka.
"Lian Keng-hiau, kalau kau sudah kenal aku, kenapa kau tidak berdiri menyambut kedatanganku,"
Dampratnya segera. Keng-hiau hanya tersenyum saja.
"Liok Hou-sin,"
Sahutnya kemudian.
"Kau ingin aku berdiri itulah tidak susah, tetapi kalau berdiri, nanti kau harus berlutut!"
"Hahaha, seorang panglima seperti aku apa harus berlutut pada kau seorang penjaga pintu ini!"
Kata Liok Hou-sin dengan gelak tertawa mengejek.
"Entah sudah berapa puluh kali kau pernah berlutut padaku,"
Kata Keng-hiau lagi.
"meski sekarang aku tidak bisa menyuruh kau berlutut padaku, tetapi kalau kau melihat Hongsiang atau barang sesuatu sebagai simbol Hongsiang, tidakkah kau harus berlutut?"
"Sudah tentu,"
Sahut Liok Hou-sin dengan menjcngck pula.
"Tetapi kau toh bukan utusan kaisar segala, darimana kau mempunyai sesuatu yang mewakili Hongsiang?"
Akan tetapi dengan tenang saja Lian Keng-hiau lantas berdiri, tiba-tiba ia membuka kancing bajunya, maka tertampaknya baju di dadanya, bagian dalam terdapat kaos yang bersulam dua ekor naga emas, karena ini, Liok Hou-sin menjadi tercengang, sementara itu ia lihat Keng-hiau telah mengeluarkan pula dari sakunya sebuah medali emas yang terukir naga emas bercakar lima yang disebut 'Ban-swe-pay', dengan memegang medali kebesaran ini Keng-hiau duduk di atas bangkunya.
"Liok Hou-sin, berlutut!"
Bentaknya dengan keras.
Seketika muka Liok Hou-sin menjadi pucat menghijau, betul saja ia lantas berlutut dan menjalankan penghormatan kepada 'Ban-swe-pay' itu.
Kiranya baju dalam yang bersulam naga dan medali 'Ban-swe-pay' ini diperoleh Lian Keng-hiau dahulu ketika ia berjasa dalam ekspedisinya ke barat, barang-barang ini merupakan hadiah teragung yang diberikan Yong Ceng.
Tentang baju dalam yang bersulam naga emas itu, hanya pembesar berjasa saja yang bisa memakainya, sedang 'Ban-swe-pay' justru tanda mewakili Hongsiang, siapa yang melihat medali emas ini berarti seperti bertemu dengan Hongsiang sendiri.
Ketika Keng-hiau dipecat, semua barang yang Yong Ceng pernah berikan padanya ternyata belum diminta kembali, karenanya kini berbalik dia pergunakan untuk menghina Liok Hou-sin yang tadinya justru hendak membalas dendam.
Begitulah, maka dengan perasaan gemas Liok Hou-sin kemudian kembali ke kediamannya, malam itu juga segera ia menulis laporan tentang kejahatan yang dilakukan Keng-hiau pada Hongsiang.
Sewaktu Liok Hou-sin mengunjungi pintu gerbang utara ini, penduduk di dalam benteng memang sudah menduga bakal ada pertunjukan yang bisa ditonton, maka dari jauh beramai mereka menyaksikan kejadian itu, dan sesudah Liok Hou-siu kembali dengan mengalami hinaan dari Lian Keng-hiau, beramai-ramai para penduduk itupun bubar.
Lian Keng-hiau sendiri tidak ambil pusing oleh kerumunan rakyat banyak itu, ia hanya tersenyum saja sembari melirik, tetapi di luar dugaan sinar matanya tiba-tiba menatap bayangan seorang gadis yang dengan cepat menghilang di antara orang banyak itu, dari belakang mirip sekali dengan Pang Lin, karenanya Keng-hiau menjadi tertegun.
Sebagaimana diketahui, sebenarnya Lian Keng-hiau menaruh hati pada Pang Lin, akan tetapi apa yang dia harapkan hanya kosong belaka.
Kini demi nampak bayangan nona itu, tanpa terasa ia jadi terkenang pada masa lalu di waktu masih anak-anak.
Ia menghela napas dan agak menyesal.
Namun segera teringat olehnya seorang 'laki-laki sejati kalau tidak bisa meninggalkan nama harum sepanjang zaman, lebih baik meninggalkan bau busuk sepanjang masa'.
Sedang kini meski dia harus merasakan akibat perbuatannya sendiri, namun namanya bakal tercantum dalam sejarah.
Karena pikiran ini, ia jadi terhibur, maka dengan tersenyum kecil kembali ia duduk di bangkunya.
Akan tetapi maksudnya ingin tenang, justru hatinya tidak mau tenang.
Ia teringat pada anak istrinya.
Istrinya masih tidak mengapa, tapi Keng-hiau ingat akan anaknya yang dititipkan pada Can Ceng, ia menjadi kuatir pula.
Ia kuatir bila ia meninggal, Can Ceng belum tentu bisa dipercaya, sedang di antara bekas bawahannya mungkin susah juga untuk mencari seorang yang bisa diserahi untuk menjaga anaknya, teringat akan inilah, betapapun Keng-hiau berbesar hati, tidak urung ia berduka juga.
Pikir punya pikir, tanpa terasa sang surya sudah terbenam ke barat, sebentar kemudian malam sudah tiba.
Pintu gerbang utara benteng Hangciu ini jauh di depannya adalah sungai Ci-tong, di malam yang sunyi ini, Lian Keng-hiau duduk termenung seorang diri di atas loteng pintu benteng itu, ia dengar di luar benteng sana suara mendamparnya gelombang air sungai menderu-deru, diselingi pula sayup-sayup suara kaum padri yang lagi membaca kitab suci, mendadak ia jadi teringat bahwa dua hari lagi sudah jatuh hari Tiongchiu, karenanya perasaannya menjadi lebih sunyi dan kosong.
"Ciangkun bolehlah mengaso, biar hamba wakilkan kau menjaga,"
Demikian tiba-tiba prajurit tua yang mendampinginya datang.
Serdadu tua ini asalnya adalah centing di rumahnya, dalam keadaan seorang diri Lian Keng-hiau ditinggal pergi semua bawahan dan pengikutnya, hanya ketinggalan serdadu tua ini saja yang masih belum meninggalkan dia."
"Sudahlah, tak usah, tidak sedikit juga orang yang mendapat kebaikan dari aku, tidak nyana hari ini hanya kita berdua saja yang berkawan di sini,"
Sahut Lian Keng-hiau. Akan .tetapi baru habis perkataannya, tiba-tiba ada orang menyela dengan tertawa, dingin.
"Tak perlu kau menyesal, Lian Keng-hiau, masih ada aku yang datang menjenguk kau,"
Kata orang itu.
Waktu Keng-hiau menegasi, ia lihat satu bayangan orang tahu-tahu sudah berdiri di hadapannya, ia kenali orang ini bukan lain adalah Pui Kin-beng, salah seorang di antara dua jago pengawal pribadi In Te, bersama Ki Pi-sia.
"Hm, Lian Keng-hiau, tidak nyana kau terima ganjaranmu juga seperti hari ini,"
Demikian terdengar Pui Kin-beng buka suara dengan menyindir.
"Ingatkah kau dahulu secara kurangajar kau bersekongkol dengan In Ceng dalam usaha merebut takhta dan telah membunuh Capsi-pwelek, aku sangka sejak itu kau pasti akan menanjak ke atas dengan penuh kejayaan, maka susah buat aku mencari balas padamu, siapa duga hari ini In Ceng telah memperlakukan kau seperti apa yang kau pernah perbuat pada orang lain, ini namanya senjata makan tuan, haha ... hahaha ... hahaha!"
Kiranya Pui Kin-beng sangat setia pada In Te, hari ini ia sengaja hendak menghina dan membikin malu Lian Keng-hiau, habis ia tertawa mengejek, lalu menyambung pula dengan caci-maki, ia bongkar semua perbuatan Lian Keng-hiau yang dahulu dengan segala kejahatannya.
Di luar dugaan, meski dihina, disindir dan dicaci-maki sedemikian rupa, sedikitpun Lian Keng-hiau tidak naik darah, ia hanya diam, bahkan mendengarkan, sesudah orang habis bicara, kemudian baru ia balas dengan bergelak tertawa.
"Haha, kau si totol ini, apa kau kira Capsi-pwelek sendiri sama sekali tidak keji dan kejam?"
Ia balas menyindir.
"Dengan sedikit kemurahan hatinya Capsi-pwelek memelet kau, lantas kau membela dia hingga mati pun kau tak lupa atas budinya? Haha, sungguh tolol, haha!"
Kemudian ia pun membongkar semua kekejian In Te dahulu dengan segala tabir rahasianya tentang perebutan takhta di antara sesama saudaranya yang saling bunuh itu, semuanya ini memang tak pernah diketahui Pui Kin-beng, keruan cerita ini berbalik membuatnya terkesima.
"Ya, tetapi apapun juga dengan majikanku itu, masih jauh lebih baik daripada kau keparat ini!"
Demikian ia memaki lagi. Namun Lian Keng-hiau kembali bergelak tertawa, kemudian ia menghela napas.
"Ya, apa yang kau katakan ada betulnya juga,"
Sahutnya.
"In Te masih mempunyai seorang pahlawan seperti kau ini yang tetap setia padanya, sedang aku hanya didampingi seorang serdadu tua saja, cukup dalam hal ini saja dia sudah lebih hebat daripadaku. Nah, baiklah, boleh kau serahkan golokmu itu padaku?"
"Apa?"
Pui Kin-beng kaget oleh permintaan orang, berbareng ia malah mundur setindak.
"Kedatanganmu ini bukankah hendak membunuh aku?"
Tanya Keng-hiau.
"Tetapi aku orang she Lian sejelek-jeleknya pernah juga menjadi panglima tertinggi dari satu pasukan yang berjumlah jutaan manusia, mana boleh kepalaku dipenggal oleh seorang manusia seperti kau, tetapi mengingat jiwa setiamu pada ln Te, biarlah aku memenuhi keinginanmu dan akan kuberikan kepalaku ini padamu!"
Tetapi Pui Kin-beng mendadak tertawa dingin terus menubruk maju, dengan telapak tangannya segera ia hendak menampar pipi Lian Keng-hiau.
Meski serangan ini amat cepat ke muka Keng-hiau namun bagaimanapun juga ia adalah anak murid guru silat terkemuka dan jago keluaran Siau-lim-si, dengan sedikit menggeser ia hindari tamparan itu, selagi ia hendak balas menyerang, tiba-tiba tertampak muncul satu bayangan orang di atas tembok benteng.
"Pui Kin-beng,"
Seru orang itu tiba-tiba.
"apa kau sudah lupa akan janji kita dahulu? Kau berani mencelakai pembesar kerajaan, jangan kau salahkan senjataku ini tak kenal sahabat!"
Orang yang datang ini ternyata adalah Ki Pi-sia.
Seperti diketahui, Pui Kin-beng dan Ki Pi-sia berdua adalah dua sekawan jago pengawal In Te, hubungan mereka berdua cukup baik, belakangan sesudah ln Te ditawan Lian Keng-hiau, Pui Kin-beng masih tetap setia pada bekas junjungannya itu, sedang Ki Pi-sia lantas tukar majikan dan menyerah pada kaisar baru.
Pernah Pui Kin-beng berkata pada Ki Pi-sia.
"Asal kau tidak datang menangkap aku, selamanya aku tak akan bergebrak dengan kau."
Maka sesudah pertarungan dahulu di Swat-hun-kok, Pui Kin-beng tertolong oleh Kwantang-sihiap hingga ia bisa menyelamatkan diri.
Kejadian itu sudah berselang beberapa tahun, malam ini kembali bersua lagi dan Ki Pi-sia menyinggung lagi tentang kata-kata mereka yang dulu, tentu saja Pui Kin-beng menjadi gusar.
"Hm, kau masih punya muka buat bicara dengan aku,"
Segera Pui Kin-beng menjawab dengan tertawa dingin.
"Hubungan kita yang dulu sudah putus, jika kau berani merintangi aku lagi, jangan kau sesalkan aku tak kenal kasihan!"
Tanpa berkata lagi Ki Pi-sia lantas melolos pedangnya terus menghadang di depan Lian Keng-hiau.
Pui Kin-beng tidak tinggal diam, mendadak ia melompat maju dengan tipu 'Siang-hong-koan-ni' (dua jurusan angin menembus telinga) kedua kepalannya memukul dari kedua samping.
"Kau cari mampus!1'' bentak Ki Pi-sia. Habis itu, pedangnya berputar terus memotong kedua tangan orang. Tetapi dengan menarik tangan dan memiringkan tubuhnya, Pui Kin-beng mendak ke bawah lantas dengan gerak serangan 'Gwak-hau-ting-san"
Atau menunggang macan menanjak gunung, kaki kanannya tiba-tiba menendang pergelangan tangan musuh yang mencekal senjata, sedang tangan kiri berbareng menjotos ke dada orang pula.
Namun Ki Pi-sia cukup sebat, dengan cepat ia gunakan tipu 'Koai-bong-hoan-sin' atau ular aneh membalik tubuh, lebih dulu ia hindarkan serangan orang, habis itu pedangnya berputar, dari samping kembali ia menikam lagi.
Kedua orang ini yang satu adalah ahli Kunthau, ahli pukulan, dan yang lain adalah jago pedang, kekuatan mereka boleh dibilang sama kuat, maka sesudah dua-tiga puluh jurus lewat, keadaan masih ramai saja tiada yang kalah dan menang.
Dalam pada itu dengan tersenyum Lian Keng-hiau berpeluk tangan menonton di samping, sama sekali ia tidak maju membantu.
Mendadak Pui Kin-beng teringat maksud tujuan kedatangannya ini.
"Pi-sia, kau dengarkan lagi perkataanku!"
Teriaknya sehabis pura-pura menghantam sekali.
Ki Pi-sia menurut, ia tarik pedangnya dan disiapkan untuk saban waktu menusuk lagi, dengan demikian ia mendengarkan apa yang hendak dikatakan bekas kawannya ini.
"Kau inginkan jasa, sedang aku membela bekas majikan, kita masing-masing mempunyai cita-citanya sendiri, aku pun tidak ingin memaksa kau menuruti cita-citaku. Cuma keadaan sudah seperti hari ini, Lian Keng-hiau sudah runtuh seperti lentera yang kehabisan minyak, untuk apalagi kau melindungi dia?"
Demikian Pui Kin-beng berkata. Akan tetapi Ki Pi-sia membalas dengan tertawa dingin, dengan lagak congkak ia menjawab.
"Mana mungkin kau tahu akan cita-citaku!"
Karena itu Pui King-beng menjadi murka lagi, ketika ia hendak buka serangan pula, tiba-tiba ia dengar Lian Keng-hiau tertawa terbahak-bahak.
"Haha, Pui Kin-beng,"
Kata Keng-hiau.
"kau setia pada I n Te dan dia setia padaku, sungguh sangat kebetulan sekali. Kau tanya dia kenapa melindungi aku, tetapi jika dia berbalik tanya kau, lantas apa jawabmu?"
Pui Kin-beng tertegun sejenak, lalu dengan cepat putar tubuh terus pergi.
Nampak lawannya pergi sendiri, dengan senyum ejek Ki Pi-sia memasukkan kembali pedang ke sarungnya.
Kemudian dengan tersenyum Lian Keng-hiau mendekati dan menepuk pundak Ki Pi-sia.
"Di waktu sulit baru bisa tahu akan hati orang baik, nyata apapun juga kau masih punya perasaan!"
Katanya. Di luar dugaan, mendadak Ki Pi-sia menyentakkan pundaknya, karena tak tersangka-sangka, Keng-hiau kena ditumbuk pergi.
"Hm, kau orang berdosa ini, siapa menaruh perasaan padamu?"
Dengan tertawa dingin Ki Pi-sia menyindir pula.
"I Ini, kau kira kedatanganku ini adalah untuk menolong kau? Haha, terus terang, Hongsiang bilang kau terlalu kurangajar, maka ingin menyiksa kau dengan perlahan-lahan, maka kau telah dipecat menjadi tukang jaga pintu di sini, aku diperintahkan kemari untuk menyaksikan nasib 'panglima besar' yang menyedihkan ini. Memang Hongsiang cukup cerdik, ia sudah menduga tidak sedikit musuhmu, mungkin mereka akan datang ke sini untuk membunuh kau, dan hal ini berarti enak bagimu, maka aku dipesan agar diam-diam menjaga pula, supaya bila tiba saat yang genting lantas turun-tangan mengusir orang-orang itu. Kata Hongsiang, tiada sesuatu lagi di dunia ini yang paling menyenangkan daripada menyaksikan orang yang dibenci itu tiba pada saat yang paling naas, di waktu itu ia minta hidup tak dapat, mohon mati tak bisa, meronta-ronta tiada harapan, berteriak tolong tiada guna, penderitaan demikian inilah tentu akan lucu kelihatannya. Nah, tahulah kau sekarang, Hongsiang tak segera menghukum mati kau, apa kau kira disebabkan beliau ada sedikit rasa sayang padamu? Dan kau kira aku orang she Ki hari ini masih mau menjadi budakmu? Hahaha, kau ini sungguh tidak tahu diri!"
Keruan olok-olok ini tidak kepalang membikin gusar Lian Keng-hiau. Akan tetapi Ki Pi-sia masih terus menyindir dan mencaci bekas atasannya ini dengan sepuasnya.
"Pi-sia,"
Kata Keng-hiau kemudian dengan menahan amarah.
"tidak jelek aku menghadapi kau dahulu, tidak sampai tiga tahun kau berada di bawahku sudah lantas naik pangkat hingga pengawal kelas empat, apa sedikitpun kau tak punya rasa persahabatan?"
Namun Ki Pi-sia lantas menjengek dan mengunjuk sikap yang menghina.
"Hm, aku mendapat pangkat dan jadi pembesar Hongsiang, toh bukan menjadi pembesar untukmu, apa kau ingin aku bertekuk lutut menghaturkan terima kasih atas budi kebaikanmu?"
Ejeknya lagi.
"Kini aku sudah naik menjadi pengawal kelas tiga, sudah tentu jauh lebih tinggi daripada kau si tukang jaga pintu ini, kini aku tidak mengharuskan kau berlutut memberi hormat sudah berarti masih punya perasaan terhadapmu, apa kau masih berpikir muluk-muluk?"
Karena sindiran ini, sekonyong-konyong Lian Keng-hiau bergelak tertawa.
"Betul, betul!"
Serunya.
"Manusia harus menanjak ke atas dan air selalu mengalir ke bawah, sebagai jantan sejati harus berani mengambil langkah yang tegas dan berbuat apa yang berani diperbuat, kalau hendak menjadi orang besar, harus demikian ini. Pi-sia, sungguh tidak percuma bebeberapa tahun kau berada di bawahku, nyata segala teoriku sudah kau warisi semuanya!"
Semula Ki Pi-sia tercengang, segera ia hendak balas mendamprat lagi. tiba-tiba terdengar ada orang datang, maka cepat ia melompat pergi, ia bersembunyi di pojok tembok benteng yang gelap.
"Kawan siapa lagi yang datang itu?"
Dengan senyum dingin Lian Keng-hiau menyambut kedatangan orang.
"Aku Lian Keng-hian hanya punya satu badan, kalau mau balas dendam lekaslah turun tangan saja!"
Belum habis ia berkata, mendadak di atas tembok benteng itu sudah muncul lima orang, yang mendahului adalah In-hong Hwesio dari Siau-lim-si dan di belakangnya menyusul Kwantang Si-hiap.
Nampak yang datang adalah.
In-hong Hwesio, seketika air muka Keng-hiau berubah hebat.
"Hm, Lian Keng-hiau, akhirnya tiba juga hari seperti sekarang ini?"
Demikian segera In-hong mendamprat Keng-hiau dengan jari menuding.
"Ingatlah, Siau-lim-si begitu berbudi padamu, tetapi kau berbalik mempedayai guruku hingga menewaskannya, bahkan kau pimpin tentaramu mengepung dan membakar Siau-lim-si yang sudah bersejarah ribuan tahun itu, sungguh aku ingin tanya kau, hatimu itu terbuat dari apa?"
"Kalau hendak bunuh lekas bunuh, tidak perlu banyak bicara!"
Sahut Keng-hiau.
"Hm, bunuh? Terlalu enak bagimu,"
Damprat In-hong pula.
"Sebenarnya kalau mengingat guruku Pun-bu Taysu yang pernah mengajarkan ilmu silat padamu, tapi berbalik kau tega membunuhnya, bahkan aku pun hampir menjadi korbanmu, jika sekarang juga aku mencincang kau masih belum bisa melampiaskan benciku padamu! Akan tetapi justru aku tidak ingin kau lekas mampus, darahmu pun tidak berharga menodai senjataku, aku ingin melihat kaisar anjing yang selalu kau junjung dan setia itu yang akan menghukum mati padamu, dengan demikian biar rakyat seluruh negeri ikut bergembira."
"Jika begitu, untuk apa kedatanganmu ini?"
Tanya Keng-hiau.
"Kedatanganku, pertama ingin melihat 'keangkeran' kau Tay-ciangkun ini, kedua, aku ingin tanya kau, dahulu surat pusaka yang dibuat dasar membangkangnya In Ceng itu, palsu bukan?"
Tanya In-hong Hwesio.
"Ya, memang palsu, ada apa?"
Sahut Keng-hiau terus terang.
"Itupun perbuatanku yang menirukan tulisan tangan Pun-khong Taysu, dengan begitu supaya Siau-lim-si selamanya terdapat satu murid murtad yang tak mungkin bisa dicuci bersih pula agar dibuat buah tertawaan di kalangan Bulim."
"Bagus, baru sekarang kau mengaku,"
Teriak In-hong gemas. Akan tetapi Lian Keng-hiau telah mengunjuk senyum iblisnya.
"Biar Siau-lim-si kalian sudah tahu, bisa berbuat apalagi? Apa Siau-lim-si berani berbuat sesuatu terhadap Hongsiang yang sekarang?"
Sindirnya kemudian.
Sebab apakah baru sekarang Lian Keng-hiau mau mengaku terus terang, kiranya saat ini ia sudah terlalu dendam pada Yong Ceng, maka ia sengaja hendak mengadu domba agar padri-padri Siau-lim-si pergi membunuh Yong Ceng.
"Baik, hari ini aku tidak membunuh kau, tapi sedikitnya harus meninggalkan sesuatu tanda mata di atas tubuhmu,"
Kata In-hong.
Habis itu segera ia melompat maju, begitu dua jarinya diulur, ia hendak menutul kedua mata Lian Keng-hiau.
Namun Keng-hiau tidak mandah diam, dengan cepat ia angkat sebelah telapak tangannya terus dipalangkan ke atas memapaki datangnya dua jari orang, dengan demikian ia patahkan serangan tadi.
"Bagus, kau masih berani menggunakan tipu Siau-lim-si untuk melawan aku!"
Teriak In-hong semakin gemas. Sementara itu Tan Goan-pa yang paling berangasan di antara Kwantang-si-hiap sudah tidak sabar lagi.
"In-hong Suheng,"
Demikian teriaknya.
"menurut pendapatku, bunuh saja dia agar beres, jika kau anggap keenakan buat dia, biar aku gunakan Hun-kin-co-kut-jiu saja untuk membereskan dia!"
Habis itu tanpa pikir lagi ia lantas menerjang maju, sekali tangannya diangkat, segera ia mencengkeram pi-pe-kut, tulang lemas di atas pundak Lian Keng-hiau.
"Awas!"
Tiba-tiba Hian-hong Totiang memperingatkan saudara angkatnya itu. Maka terdengarlah suara "bang"
Yang keras, mendadak sebuah panah berapi menyambar datang dengan cepat dan tepat meledak di atas kepala Tan Goan-pa.
Lekas Tan Goan-pa menjatuhkan tubuhnya terus berguling pergi, hampir saja ia tergelincir jatuh ke bawah benteng.
"Haha, Hongsiang memang bisa menduga panjang, betul juga ada kawanan Siau-lim-si dan sisa komplatannya yang datang mengacau,"
Terdengar suara orang bergelak tertawa.
"Baiklah, kalian menuntut balas pada Lian Keng-hiau, itu berarti kalian masuk jala sendiri!"
Yang bicara ternyata adalah Han Tiong-san, sementara itu Thian-yap Sanjin tahu-tahu sudah muncul pula di belakang Hian-hong Totiang.
Sudah tentu Hian-hong menjadi gusar, dengan sekali geraman pedangnya berputar, tongkat besi di tangan yang lain segera menyerampang, dua macam senjata sekaligus menyerang berbareng.
Namun Thian-yap Sanjin telah berputar pergi dengan cepat, menyusul kedua tangannya memukul pula, begitu keras pukulannya hingga angin pukulannya menggoncangkan tubuh Hian-hong.
Pada waktu itu Long-goat Siansu sudah menyedot araknya dari buli-buli dan dengan keras disemburkan memapak angin pukulan orang, namun saking keras angin pukulan itu hingga arus araknya tergoncang terbang seperti hujan arak saja.
Han Tiong-san tidak tinggal diam, waktu ia ayun tangannya, dua macam senjata rahasia dia timpukkan juga, dengan Hwe-goan-kau ia mengarah Liu Sian-gai dan dengan Thi-lian-ci (pelor besi) ia hantam jalan darah Tan Goan-pa.
Liu Sian-gai berjuluk 'Ban-li-tui-hong' atau pengejar angin jarak ribuan li, suatu tanda betapa hebat ilmu entengi tubuhnya, dengan sendirinya tidak nanti ia bisa diserang dengan senjata rahasia itu, ia melompat kian-kemari berkelit, sudah berulang-kali ia menghindarkan diri, tetapi senjata Hwe-goan-kau yang menyambar pulang-pergi itu tak mampu juga dihancurkan olehnya.
Tan Goan-pa rada kurang dalam hal Ginkang, ia kena dihantam oleh Thi-lian-ci, untung ia memiliki kulit seperti tembaga dan tulang besi, meski tempat yang terkena itu rada kesakitan, namun tidak berhalangan baginya.
Han Tiong-san berdua terang lebih kuat daripada Kwantang-si-hiap, di antara Si-hiap ini hanya Hian-hong saja yang masih mampu menyambut sekali dua kali serangan mereka, sedang tiga kawannya tak dapat mendekati musuh lagi.
"Apa yang kita hendak tanya sudah ditanya, buat apa terlibat lebih lama lagi di sini, lebih baik angkat kaki saja!"
Seru In-hong.
Karena itu Hian-hong Totiang lantas menyerang beberapa kali dengan cepat, ia melindungi kawan-kawannya dari belakang agar bisa mundur teratur, yang pertama-tama melompat turun ke bawah tembok benteng adalah Tan Goan-pa, Long-goat Siansu setelah menyemburkan arus araknya, segera pula melompat turun mengikuti In-hong, sementara itu Hian-hong telah mengangkat pedangnya, dengan tipu 'Ki-hwe-liau-thian' (mengangkat obor menerangi langit), dibarengi pula tongkatnya menangkis senjata garuk Han Tiong-san, habis itu segera pula ia melompat turun.
Thian-yap Sanjin menjadi gusar, tiba-tiba ia melayang turun, dengan gerakan 'Ngo-eng-bok-tho' ia mengulur tangan terus hendak mencengkeram, tetapi mendadak terdengar suara sambaran angin di atas kepalanya, lekas Thian-yap Sanjin berjumpalitan, ia tarik tubuhnya yang sementara itu sudah mendoyong ke depan, berbareng ia menghantam ke atas, namun segera terdengar suara tertawa, tahu-tahu Liu Sian-gai sudah melayang lewat di atas kepalanya dan turun ke bawah benteng.
Walaupun Kwantang-si-hiap belum terhitung tokoh silat kelas wahid, tetapi mereka masing-masing memiliki ilmu silat yang berlainan, seketika itu Han Tiong-san dan Thian-yap Sanjin ternyata tak mampu mencegat lari mereka.
"Kejar!"
Mendadak Thian-yap Sanjin mengajak. Bersama Han Tiong-san mereka lantas melompat turun, sekejap saja mereka pun sudah menghilang. • Kemudian Ki Pi-sia lantas muncul dari tempat persembunyiannya.
"Hongsiang paling benci pada sisa kawanan Siau-lim, kenapa kau tidak mengambil kesempatan ini untuk mendirikan jasa?"
Kata Keng-hiau padanya.
"Aku masih harus menjaga kau!"
Sahut Ki Pi-sia dengan tertawa dingin.
"Terima kasih kalau begitu!"
Ujar Keng-hiau. Tiba-tiba ia mengunjuk sikap seperti sedang berpikir, selang sejenak kemudian baru ia buka suara pula dengan perlahan.
"Pi-sia, aku ingin berunding sesuatu urusan dengan kau!"
"Kau ingin aku membebaskan kau?"
Sahut Ki Pi-sia.
"Tetapi sayang, jagat yang begini luas sudah tiada tempat untukmu lagi. Baiknya tidak perlu kau banyak omong."
"Mana bisa aku memaksa kau,"
Ujar Keng-hiau.
"Terus terang, aku ingin memberitahukan kau, aku masih punya simpanan mestika yang jarang ditemukan dan ingin kuhadiahkan padamu."
"Hm, kau bisa begitu baik hati?"
Sambut Ki Pi-sia dengan tertawa dingin pula.
"Budi apa yang aku berikan padamu hingga kau mau menghadiahkan barang mestika padaku?"
"Sudah tentu aku tidak memberikan kau dengan cuma-cuma,"
Sahut Keng-hiau.
"Sebenarnya memang sebelumnya aku sudah menduga bakal terjadi peristiwa ini atas diriku, maka siang-siang aku sudah menitipkan anakku pada seorang sahabat, lambat atau cepat aku pasti akan mati dan harta kekayaanku pasti akan disita, kelak bila putraku sudah besar, apa yang harus dibuat ongkos penghidupan? Oleh sebab itulah aku ingin memberikan barang mestika ini padamu, boleh terserah atas hati nuranimu sendiri, kau boleh menjualnya dan serahkan kembali separahnya pada sahabatku itu, agar kelak dapat dibuat ongkos hidup putraku agar tidak kekurangan."
Bujukan ini rupanya membikin tergerak hati Ki Pi-sia, ia pikir.
"Ya, pada waktu aku berangkat dari kotaraja, Hongsiang sudah menangkap semua sanak keluarga Lian Keng-hiau, melulu tidak tertampak putra satu-satunya itu, Hongsiang bilang babat rumput harus dongkel sampai akarnya, maka ia menyuruh kami mencarinya lagi secara diam-diam. Apa yang dikatakan Lian Keng-hiau tadi ada betulnya juga. Tidakkah lebih baik aku pura-pura menerima tawarannya ini, sekaligus untuk mencari tahu dimana anaknya bersembunyi, bukankah ini akan merupakan satu jasa besar, pula bisa mendapatkan barang mestikanya."
Begitulah sesudah mengambil keputusan ini lantas ia terima baik tawaran Keng-hiau tadi.
"Baiklah, kalau hanya urusan sekecil ini, aku orang she Ki masih bisa memutuskannya sendiri,"
Katanya kemudian.
"Apa betul?"
Keng-hiau pura-pura bertanya.
"Sudah tentu,"
Sahut Ki Pi-sia.
"tiada ruginya bagi diriku sendiri dan berfaedah untuk orang lain, kenapa aku tidak melakukan? Nah, boleh kau terangkan dimana tempat tinggal sahabatmu itu."
"Jika begitu, percayalah aku padamu,"
Kata Keng-hiau lagi.
"Cuma di balik dinding mungkin ada telinga lain, barang mestika inipun tidak leluasa dipamerkan sembarangan, marilah sini kau maju yang dekat!"
Betul juga Ki Pi-sia menurut, ia mendekati Lian Keng-hiau, ia palingkan telinganya hendak mendengar apa yang akan dikatakan orang.
Di luar dugaannya, mendadak Lian Keng-hiau membaliki tangannya, ia gunakan Kim-na-jiu-hoat yang lihai dari Bu-kek-pay, sekali cekal ia pegang kencang urat nadi tangan orang, keruan seketika Ki Pi-sia menjadi lumpuh hingga tak mampu berkutik.
"Bangsat piaraan biang anjing, berani juga kau datang menghina aku!"
Demikian Keng-hiau mencaci-maki.
"Hm, apa bisa aku terima hinaanmu! Aku sudah dituduh berbagai kesalahan, ditambah lagi dosa inipun masih bukan apa-apa."
Habis berkata, ia angkat jarinya terus menutuk iga Ki Pi-sia, tepat di jalan darah yang mematikan, tanpa ampun lagi Ki Pi-sia menjerit ngeri sekali, seketika ia terbinasa.
Melihat orang sudah mampus, Lian Keng-hiau hanya tertawa dingin saja, sementara itu ia dengar kentongan sudah ditabuh pukul dua, sekitarnya sunyi sepi hingga sangat menyeramkan.
"Malam ini beruntun kedatangan-beberapa rombongan musuh, prajurit tua itu apa sudah mati ketakutan?"
Demikian pikir Keng-hiau.
"He, kenapa tidak terdengar suaranya? Ah, sungguh sial juga aku ini, hanya didampingi seorang prajurit tua yang sudah tak berguna."
Selagi ia hendak berseru memanggil, tiba-tiba ia lihat mayat Ki Pi-sia yang menggeletak itu matanya masih terbuka lebar seperti sedang mendelik.
Ia menjadi naik darah, kakinya melayang, segera ia tendang mayat itu ke bawah benteng.
Pada saat itu juga, sekonyong-konyong terdengar olehnya suara ucapan.
"O-mi-to-hud"
Yang menusuk telinga, waktu Keng-hiau menegasi, seketika bukan buatan rasa takutnya, yang datang ternyata adalah bekas Kam-si Siau-lim-si dan sekarang menjadi ketua pengurusnya, Hong-hoat Taysu adanya!
Tingkatan Hong-hoat Taysu sama dengan Siau-lim Sam-lo, wataknya keras pula, bencinya pada kejahatan seperti pada musuh saja, wataknya serupa mendiang Pun-bu Taysu.
"Berturut-mrut Siau-lim Sam-lo sudah meninggal, kini Hong-hoat yang mengetuai, dia tentu akan menggunakan tata-tertib rumah tangga Siau-lim untuk menghukum aku,"
Demikian kata Keng-hiau dalam hati.
Bila teringat olehnya cara Hun-kin-cho-kut dari Siau-lim-si, dan cara lain untuk menghukum murid yang berani berkhianat yang jauh lebih menderita daripada ditusuk senjata, mau tak mau ia jadi mengkirik!
Sementara itu dengan sinar matanya yang tajam seperti pisau, Hong-hoat Taysu sedang melototi Lian Keng-hiau.
"Ha, Lian-tayciangkun, apakah masih kenal padaku?"
Tegur Hong-hoat.
"Ya, Tecu sudah insaf akan dosa sendiri!"
Sahut Keng-hiau.
"Hm, siapa adalah gurumu? Kau kira muridnya siapa?"
Sahut Hong-hoat dengan bengis.
"Siau-lim-si tidak boleh dinodai kau, Bu-kek-pay juga tidak mengaku mempunyai murid khianat seperti kau ini."
"Kalau begitu, mohon belas kasihan Taysu, berilah padaku satu mayat yang utah!"
Pinta Keng-hiau dengan kepala menunduk.
"Kau tentu akan dihukum sendiri oleh peraturan pemerintah, perlu apa aku turun tangan?"
Kata Hong-hoat Taysu dengan suara berat, dengan wajah yang kereng.
"Kedatanganku ini disebabkan dua hal, kau boleh dengarkan. Pertama, Siau-lim Sam-lo pernah mengajarkan ilmu silat padamu, hal mana berarti membantu kejahatan secara tidak langsung, ini adalah kesalahan Siau-lim-si, aku terpaksa harus menebus dosa mendiang Cu-ji (ketua) yang lalu dan menarik kembali ilmu silat yang pernah kau pelajari im."
Berkata sampai di sini, mendadak padri tua ini mengulur sebelah tangannya terus menabok ke atas kepala Lian Keng-hiau.
Dalam keadaan demikian, betapapun tinggi ilmu silat Kenghiau sukar untuk menghindarkan diri, maka tidak ampun lagi ia kena ditabok dengan tepat, terasa olehnya matanya berkunang-kunang, bumi seperti berputar dan langit terbalik, selang agak lama baru ia bisa jernih kembali pikirannya, akan tetapi kaki tangannya kini sudah lemas tanpa tenaga lagi.
"Baru sekarang menarik kembali ilmu silatmu, sebenarnya sudah terlambat, tetapi terselesaikan juga suatu tugas umum dan memenuhi peraturan Sfau-lim yang sudah turun-temurun sekian lamanya,"
Kata Hong-hoat dengan menghela napas. Setelah berhenti sejenak, lalu Hong-hoat Taysu berkata pula.
"Kecuali aku harus menarik kembali ilmu silatmu, aku masih harus mewakili Bu-kek-pay membikin pembersihan rumah tangga. Urusan ini sebenarnya harus dilakukan Ie-locianpwe dari Thian-san, tetapi karena dia tiada tempo buat datang ke Tionggoan lagi, ia suruhan orang memberitahukan padaku agar mewakilkan melakukan tugasnya, tentu pula ini akan buang tenaga lagi,"
Berkata sampai di sini mendadak kedua alisnya menegak, dengan suara bengis ia membentak.
"Lian Keng-hiau, Ciong Ban-tong dengan bersusah-payah memupuk bakatmu, kenapa kau tidak membalas budinya, sebaliknya kau bersekongkol dengan Siang-mo dan membunuhnya? Perbuatan ini apa bisa dibiarkan begitu saja oleh kawan Bu-lim?"
Tetapi Keng-hiau tidak menjawab, ia mengerti Hong-hoat tidak mau turun tangan membunuhnya, maka ia lantas tutup mulut dan tidak menghiraukan kata-kata orang.
"Kalau diingat betapa susahnya dahulu Pho Jing-cu mendirikan Bu-kek-pay, sungguh tidak nyana bisa mengeluarkan murid durhaka seperti kau ini, sampai hampir saja Bu-kek-pay dihancurleburkan olehmu, syukur Bu-kek-pay masih ada seorang ahli waris, kalau tidak, Pho Jing-cu dan Ciong Ban-tong pasti tak akan tenteram di alam baka."
"Bu-kek-pay masih punya ahli waris siapa?"
Mendadak Keng-hiau bertanya, rupanya hal ini menarik baginya.
"Tidak perlu kau urus,"
Sahut Hong-hoat ketus.
"Aku hanya diminta oleh le Lan-cu, Ie-locianpwe untuk memberitahukan kau bahwa aku sudah mempermaklumkan kepada kawan kalangan Bulim bahwa kami telah mewakili Bu-kek-pay membersihkan pintu perguruannya dan telah memecat kau dari Bu-kek-pay!"
"Jiwaku saja tidak terjamin, untuk apa aku merecoki urusan itu?"
Sahut Keng-hiau dengan tawar. Hong-hoat Taysu menjadi gusar oleh kata-kata ini, tapi ia hanya geleng-geleng kepala.
"Binatang, sudah dekat ajal masih belum insaf!"
Katanya pula. Habis im mendadak ia mencabut golok sucinya. Keruan Keng-hiau terkejut, segera ia merasakan sinar tajam seperti mengiris mukanya, ia dengar Hong-hoat Taysu berkata di samping telinganya.
"Sama sekali tak malu, percuma sebagai lelaki, perlu diberi sedikit hukuman, untuk peringatan pengkhianat lain."
Ketika angin tajam berhenti, waktu Keng-hiau pentang matanya, Hong-hoat Taysu sudah tak kelihatan lagi.
Waktu Keng-hiau meraba muka sendiri, tiba-tiba ia merasakan mukanya licin halus, bukan saja jenggot mukanya yang tebal sudah dicukur bersih kelimis, bahkan bulu mata dan bulu alis juga dikerok hingga bersih.
Selama hidup Lian Keng-hiau mana pernah menerima hinaan sedemikian hebat, tanpa terasa ia menjadi gusar dan mengacungkan kepalan.
"Bangsat gundul Hong-hoat, terlalu kau menghina aku!"
Ia mencaci-maki, akan tetapi segera ia merasa napasnya sesak dan tak bertenaga, tanpa terasa ia menarik napas panjang, dengan lemas ia mendeprok duduk di atas tanah.
Dalam pada im malam sudah larut, sudah dekat fajar, angin meniup silir hingga sedikit terasa dingin.
"Ong-losam! Ong-losam!"
Seru Keng-hiau dengan terbatuk-batuk.
Ong-losam adalah nama prajurit tua im, tetapi sudah dua kali ia memanggil, aneh, masih belum ada sahutan.
Selagi ia merasa heran, tiba-tiba ia lihat prajurit tua im dengan langkah linglung keluar dari loteng benteng im, di bawah sorotan sinar pelita yang remang-remang tertampak mukanya pucat sekali.
"Ong-losam, kenapakah kau?"
Tanya Keng-hiau. Prajurit tua ini tidak lantas menjawab, lebih dulu ia menjura ke hadapan Keng-hiau, habis itu dengan suara penuh penyesalan baru ia buka suara.
"Maaf, aku tidak bisa melayani kau lebih lama lagi!"
Katanya. Lian Keng-hiau mengerti tentu percakapannya dengan Pui Kin-beng tadi telah didengar semua olehnya, maka lekas ia menahan orang.
"Lo-sam, janganlah kau berpikir yang tidak-tidak ...V' "Sudahlah, tak usah dikatakan lagi,"
Tiba-tiba Ong-losam memotong.
"malam ini barulah aku mengetahui seluruhnya! Percumalah aku telah menyaksikan kau sejak kecil hingga dewasa, tetapi selamanya aku tidak mengetahui bahwa kau berjiwa sedemikian rendah, satu manusia yang tak berperasaan dan tiada setia! Majikan tua hidup belum pernah melakukan sesuatu kejahatan, entah kenapa bisa mendapatkan pembalasan jelek ini hingga melahirkan anak durhaka seperti kau ini? Ai, sungguh aku ikut penasaran bagi kakek moyangmu!"
Cara bicara prajurit tua ini begitu bersemangat hingga bukan main marahnya Lian Keng-hiau sampai mukanya dari merah berubah menjadi pucat, ia ingin sekali jotos membikin mampus padanya, tetapi bila teringat olehnya setidak-tidaknya prajurit ini bisa sekali dua jurus silat juga, sedang ilmu silatnya sendiri sudah punah seluruhnya, maka meski bogemnya sudah diacungkan, akhirnya dia tarik kembali.
Dalam pada itu setelah menghela napas lagi, prajurit tua itu tiba-tiba mengucurkan air mata.
"Sudah sekian lamanya aku melayani bapakmu, pula sekian tahun aku melayani kau, malah ikut serta melakukan perjalanan jauh dan ikut berjuang mati-matian,"
Demikian katanya lagi.
"namun selama ini tidak pernah naik pangkat, juga tidak menjadi kaya, ini kiranya sudah cukuplah balas jasaku pada keluarga Lian. Dan sekarang aku mohon diri."
Habis berkata ia menjura sekali lagi pada Lian Keng-hiau, lalu setindak demi setindak ia berjalan turun undak-undakan gerbang benteng itu, tetapi tidak berapa tindak ia melangkah, tiba-tiba ia berpaling dan berkata lagi.
"Pakaianmu yang kau salin kemarin sudah kucuci bersih, boleh kau bebenah sendiri, sarapan untuk pagi pun sudah aku siapkan, dan selanjutnya kau belajar kerjalah sendiri."
Seperginya prajurit tua itu, Lian Keng-hiau masih termangu seperti patung di tempatnya, jidatnya basah keringat, sekali inilah betul-betul ia merasakan pukulan batin yang berat, ia merasakan orang yang ditinggal pergi sanak dan kawannya, ia merasa jagat selebar ini betul-betul sudah tiada tempat untuk berteduh baginya, lautan manusia yang padat ini sudah tiada seorang pun yang mendekatinya, teringat pula olehnya selanjurnya cuci pakaian dan menanak nasi harus dilakukan sendiri, ia lebih-lebih merasakan inilah nasib hari akhir seorang 'Pahlawan' yang sungguh harus dikasihani.
Waktu Keng-hiau masuk ke loteng benteng itu, betul juga ia lihat satu kuali nasi yang masih mengepul hangat, melihat daharan ini barulah ia rasakan perutnya sudah lapar, tanpa ayal lagi segera ia lahap bersih nasi im, ia coba menggerakkan kaki-tangannya, baru ia ketahui meski ilmu silatnya sudah lenyap, tetapi ia masih memiliki tenaga sebagaimana dimiliki orang biasa, apabila ia lihat pula dapurnya yang tersusun dari batu bata, ia menjadi tertawa getir.
"Masih mending, jika sampai tenaga untuk menanak nasi saja sudah hilang, itulah lebih celaka!"
Demikian ia menggumam sendiri, tetapi dari beras cara bagaimana dijadikan nasi, inilah sama sekali belum pernah dipelajari Keng-hiau, maka ia menjadi sedih juga.
Sementara itu hari sudah terang, sudah tiba pula jam dinasnya, Keng-hiau harus menjaga pintu.
Ia keluar dari pondoknya dan turun dari tembok benteng, biasanya ia masih diikuti seorang prajurit tua, tetapi pagi ini ia hanya seorang diri hingga terasa olehnya keadaan yang sunyi, semua perbuatannya selama ini sesaat itu terbayang di pikirannya, tanpa terasa semacam rasa menyesal telah timbul, akan tetapi sekejap saja sudah diganti pula oleh rasa gusar, lalu rasa benci, ia gemas dan menyesal kenapa dunia ini tidak kiamat saja.
Sesudah Keng-hiau membuka pintu gerbang benteng, di antara silirnya angin pagi yang meniup masuk karena terpentangnya pintu, terbawa pula suara tertawaan yang nyaring dan merdu, terlihat olehnya seorang gadis jelita dengan senyumnya yang manis sudah berdiri di luar pintu gerbang.
"Selamat pagi, Lian-tayciangkun!"
Demikian gadis itu menyapa begitu Lian Keng-hiau membuka pintu gerbang.
Keruan Keng-hiau terkejut, sesaat itu ia menyangsikan penglihatannya sendiri, ia ragu-ragu apa bukan dalam mimpi, ketika ia kucek-kucek matanya dan menegasi lagi, nyata memang betul ialah Pang Lin.
Nampak anak dara ini, sekilas Keng-hiau mengunjuk senyuman juga, tetapi tiba-tiba ia menjadi sengit dan menegur.
"Pang Lin, apa kau juga datang buat menghina aku?"
Dalam dua tahun ini Pang Lin dan Li Ti sudah banyak mengalami bahaya dan rintangan, tetapi berhasil juga menghimpun sedikit kekuatan di daerah Sucwan, ketika mendengar Lian Keng-hiau sudah dipecat dari jabatannya, segera mereka berdua kembali ke selatan hendak mencari Lu Si-nio, sampai di tengah jalan mereka mendapat kabar lagi bahwa sekaligus Lian Keng-hiau sudah dipe-lorotkan pangkatnya hingga dijadikan tukang jaga pintu benteng Hangciu, hal ini jadi menarik perhatian Pang Lin.
Anak dara ini kini sudah berupa nona yang berusia dua puluh tahun, tetapi sifat kekanak-kanakannya masih belum hilang, teringat olehnya di waktu kecil pernah bermain bersama Lian Keng-hiau, ia ingat pula Keng-hiau pernah mendustai dia dan membujuknya pula dengan maksud akan menyerahkannya pada kaisar Yong Ceng.
Oleh karena ingin melihat macam apa Lian Keng-hiau sesudah dipecat, ingin tahu apakah betul bekas Tayciangkun ini sedang jaga pintu.
Li Ti tak bisa merintangi maksudnya, pemuda ini lantas menjadi pengintai di luar benteng dan membiarkan Pang Lin sendirian menemui Lian Keng-hiau.
"Bukanlah aku hendak menghina atau menertawai kau, tapi kau yang menertawai diri sendiri,"
Demikian sahut Pang Lin dengan tertawa ngikik.
"Orang berbuat salah harus menyesal, kau harus terima bagianmu karena perbuatanmu sendiri, apa kini kau sama sekali tidak merasa menyesal?"
Tetapi Keng-hiau hanya bungkam dan tidak menjawab. Karena im muka Pang Lin lantas berubah, dengan sungguh-sungguh ia berkata lagi.
"Sebenarnya jika kau bisa patuh pada ajaran Ciong-insu, tidak nanti kau seperti hari ini!"
Keng-hiau kaget oleh kata-kata Pang Lin ini.
"Kejadian di masa silam kini aku sudah tahu semua, keluargamu pernah memelihara diriku, hal ini aku harus berterima kasih,"
Pang Lin menyambung lagi dengan perlahan-lahan.
"Kau sudah ingat semua?"
Tanya Keng-hiau cepat.
"Ya, sudah ingat semua,"
Sahut Pang Lin.
"Di waktu kecilmu kau sangat nakal, tapi terhadap diriku masih terhitung boleh juga."
"Memangnya, aku selalu menganggap kau seperti adikku sendiri, tidak pernah aku begitu baik kepada orang lain seperti terhadap kau, jika kau bisa tahu sendiri, itulah baik,"
Sahut Keng-hiau dengan girang.
"Terima kasih kedatanganmu ini untuk menyambangi aku, jika kelak aku Lian Keng-hiau harus dihukum mati dan dicincang, tapi masih punya sahabat yang paham atas kebaikanku, sudah bolehlah, aku tidak akan menyesal."
Tetapi mendadak Pang Lin tertawa dingin dan berkata.
"Namun semakin besar kau lantas semakin busuk hingga tidak bisa diperbaiki lagi. Hm, kau masih ingat tidak, kau hendak menyerahkan aku pada Hongsiang untuk mempertahankan gelar kebesaranmu? Tetapi aku tidak menurut, lantas diam-diam kau hendak mempeda-yai dan mencelakai jiwaku, kalau bukan Li Ti-koko yang menolong aku, nyawaku ini sudah lama melayang di tanganmu. Dan sekarang, hm, masih berani kau bilang adik sendiri segala? Apa kau tidak kuatir aku menjadi muak?"
Karena dampratan ini, muka Lian Keng-hiau kelihatan berubah, semula merah malu, lalu pucat menghijau.
"Ya, ya, aku sudah tahu akan dosaku,"
Katanya kemudian dengan menunduk.
"Kau bennaksud jahat terhadap diriku masih tak seberapa, paling celaka ialah jerih-payah Ciong-insu yang telah membesarkan kau, sudah memupuk bakatmu, tapi berbalik kau telah memasukkan srigala ke dalam rumah untuk membunuhnya!"
Damprat Pang Lin lagi.
"Hm, kalau bukan kau, hari ini aku tentu akan memberi hukuman yang setimpal pada murid pengkhianat perguruan sendiri!"
Karena kata-kata terakhir ini, rupanya Lian Keng-hiau jadi tertarik, ia angkat kepalanya.
"O, kiranya ahli waris Bu-kek-pay yang disebut Hong-hoat Taysu itu adalah kau si budak kecil ini?"
Katanya. Pang Lin menjadi marah.
"Apa, tidak sesuaikah aku?"
Dampratnya dengan alis menegak.
"Jangan kuatir,"
Ujar Keng-hiau.
"Keagungan dan kedudukanku kini aku sudah tak punya, apa mungkin aku akan berebut dengan kau mengenai kedudukan Ciangbun ini?"
"Sungguh belum pernah aku temukan manusia seperti kau ini, sudah hampir mampus masih belum sadar, masih saja buka mulut keagungan, tutup mulut bilang kedudukan. Hm, kau bilang tidak memikirkan, tetapi sebenarnya kau justru ingin sekali. Lu-cici pernah juga bicara padaku mengenai dirimu, dia bilang sebenarnya kau terhitung seorang yang berbakat tinggi, tapi kau telah menjadi korban pikiran 'gila hormat'. Dahulu aku masih tidak mengerti, tampaknya kini memang tidak salah katanya itu."
Karena percakapan ini, sementara hari sudah terang benderang, suara nyanyian pelancong di danau Se-ouw sayup-sayup terdengar berkumandang, pada saat itu juga dari jauh terdengar suara suitan Li Ti.
"Ehm, harus pergilah aku sekarang!"
Kata Pang Lin. Mendengar suara suitan itu, tiba-tiba Keng-hiau menjadi iri.
"Siapa yang datang mencari kau?"
Tanyanya sambil pasang kuping.
"Peduli apa dengan kau?"
Damprat Pang Lin.
"Apa bukan bocah yang bernama Li Ti itu?"
Tanya Keng-hiau lagi.
"Hm, dia jauh lebih baik daripada kau!"
Sahut Pang Lin. Habis itu lantas ia berseru.
"Baiklah, Li Ti-koko, segera aku datang!"
Keng-hiau menghela napas, ia berlagak seperti hendak mengatakan sesuatu tetapi tidak jadi diucapkan.
"Ada apalagi yang hendak kau katakan boleh lekas katakan, aku segera akan pergi,"
Kata Pang Lin.
"Aku hanya mengharap bisa tinggal bersama lagi dengan kau,"
Kata Keng-hiau kemudian.
"Jika diingat, aku mempelajari kitab ilmu militer sejak kecil, banyak sedikit aku paham juga mengatur pasukan, kelak jika kalian membikin pergerakan dan perlu mengerahkan tentara, aku bersedia melamarnya tanpa diminta."
Karena kata-kata ini, hati Pang Lin tergerak, pikirnya.
"Memang Lian Keng-hiau berbakat panglima, jika dia sungguh-sungguh dan timbul dari hati yang murni, boleh juga dipertimbangkan usulnya ini. Biarlah aku berunding dulu dengan Li Ti-koko?"
Selagi Pang Lin menunduk termenung, terdengar Keng-hiau berkata lagi.
"Apa kau tidak mempercayai aku?"
Pang Lin mengangkat kepalanya, sinar matanya bentrok dengan sinar mata Lian Keng-hiau, tiba-tiba Pang Lin mengkirik, ia merasa di antara sinar mata Lian Keng-hiau seperti mengandung semacam sifat kepalsuan yang tidak terbatas, sedikitpun susah dipercayai.
"Ai, kau betul-betul sudah tidak percaya padaku lagi?"
Ia dengar Keng-hiau bertanya pula dengan menghela napas.
"Jika kau bisa insaf, itulah paling baik, tetapi urusan ini aku tak bisa memutuskan sendiri, biar aku bertemu Lu-cici dahulu, nanti aku rundingkan hal ini,"
Sahut Pang Lin.
"Jika begitu, tak perlulah kau katakan padanya,"
Ujar Keng-hiau lagi. Pang Lin lantas hendak melangkah pergi, tiba-tiba Keng-hiau memanggilnya pula.
"Nona Lin, masih ada suatu urusan kecil!"
"Urusan apa? Lekas katakan!"
Desak Pang Lin.
"Bukankah kau sudah menjadi Ciangbun Bu-kek-pay?"
Kata Lian Keng-hiau.
"Maka ambillah pedang yang seharusnya diserahkan padamu, pedang ini adalah barang mendiang Pho-cosu, jika aku dipecat dari pintu perguruan, pedang ini sepatutnya tidak boleh kumiliki lagi."
Cara Lian Keng-hiau mengatakan begitu sungguh-sungguh dan penuh mengandung maksud baik, maka Pang Lin membatin.
"Ya, memang aku harus merampas kembali semua barang tinggalan perguruan, kenapa aku menjadi lupa malah?" -Karena itu, ia mendekati Lian Keng-hiau dan mengulur tangan hendak menerima penyerahan kembali pedang pusaka itu. Tak ia duga, pada waktu ia mengulurkan kedua tangannya, ketika itu dadanya menjadi luang tanpa penjagaan, maka mendadak Lian Keng-hiau mengangkat jarinya terus menjojoh, dengan tepat sekali ia kena menutuk 'Soan-ki-hiat' di dada Pang Lin. 'Soan-ki-hiat' adalah satu di antara urat nadi yang mematikan di tubuh orang, kalau sampai kena ditutuk, seketika pasti akan terbinasa. Rupanya Lian Keng-hiau sudah menduga dirinya pasti akan mati, segalanya sudah tiada harapan lagi, maka ia sudah tak punya pikiran sehat lagi, ia sudah seperti orang gila, ia gemas kalau bisa agar dunia ini kiamat bersama dia, lebih-lebih sesudah ia mendengar Pang Lin dua kali menyebut "Li Ti-koko", hal ini semakin menambah rasa iri dan bencinya. Ia pikir.
"Nona secantik bidadari ini kalau sudah tidak bisa aku miliki, aku pun tidak akan membiarkan dia dimiliki orang lain. Meski ilmu silatku sudah hilang semua, tetapi cara Tiam-hiat aku masih ingat, kenapa aku tidak membunuhnya lebih dulu, habis itu baru aku bunuh diri."
Karena pikiran jahat inilah, maka sekonyong-konyong ia memberi serangan kilat pada Pang Lin.
Di luar dugaannya, meski Hiat-to Pang Lin tepat kena dia tutuk, tapi gadis ini hanya sedikit tergetar saja dan tidak roboh binasa seperti apa yang diharapkan Keng-hiau.
Kiranya ilmu Tiam-hiat, yakni kepandaian menutuk jalan darah di badan orang, harus sekaligus dilakukan dengan tenaga jari yang kuat, jika tenaganya menembus sampai di ujung jari, barulah bisa membikin musuh mendadak terhenti aliran darahnya dan terbinasa.
Tetapi sekarang ilmu silat Lian Keng-hiau sudah terhapus semua, kini ia hanya memiliki tenaga sebagai manusia biasa saja, sebaliknya dalam hal Lwekang, Pang Lin sudah mempunyai dasar yang kuat, tatukan Keng-hiau tidak lebih hanya tenaga orang biasa yang secara kebetulan kena menjojoh Hiat-to atau jalan darahnya, meski terasa juga olehnya agak kesakitan, tetapi tidak sampai mengakibatkan luka padanya.
Dalam pada im Pang Lin rada terkesima kena dijojoh oleh Keng-hiau tadi, namun segera ia tahu apa yang terjadi, dengan gusar kontan ia angkat tangannya terus memberi persen Keng-hiau dengan dua kali tempelengan hingga Keng-hiau jatuh tersungkur.
Meski telah merasakan tamparan orang, namun Keng-hiau masih mengunjuk sinar mata bengis, waktu ia muntahkan darah, tahu-tahu dua gigi depannya rompal hingga kini ia menjadi ompong.
Pang Lin gusar sekali oleh perbuatan rendah yang hendak mempedayai dirinya tadi, saking gusarnya hingga ia tak sanggup bicara untuk sekian lamanya.
"Hm, kau ... kau sungguh manusia paling keji di jagat ini!"
Akhirnya baru bisa mencetuskan kata-kata ini dari mulutnya.
Sebenarnya Pang Lin sudah melolos pedang yang diterimanya dari Keng-hiau, tapi baru dicabut setengahnya tiba-tiba didengarnya suara suitan Li Ti lagi mendesaknya lekas berangkat.
"Tidak perlu aku bunuh kau, agaknya kau tidak bakal hidup lebih lama lagi!"
Kata Pang Lin kemudian dengan gemas.
Habis berkata ia lantas kembali ke tempat Li Ti menunggu, terus berangkat pergi bersama.
Sesudah Pang Lin berlalu, kemudian Keng-hiau baru meronta bangun dengan memegangi pipinya yang merah bengkak kena tamparan Pang Lin tadi.
Kini perasaannya sudah kosong, urat syarafnya terasa seperti sudah kaku.
Angin pagi yang silir waktu im telah meniup hingga Keng-hiau merasa menggigil, tiba-tiba dengan kedua tangannya ia pegang kencang kepalanya sendiri dan digoyang beberapa kali.
"Mungkinkah aku memang salah?"
Demikian ia menggumam sendiri. Habis im sambil meraba-raba kepala sendiri ia menengadah tertawa terbahak, ia berteriak pula.
"Ha, kepala sebagus ini kalau sampai dipenggal orang kan sayang! Cho Pa Ong bunuh diri di tepi sungai Oh dan disebut orang sebagai Enghiong! Apa aku tidak bisa menandingi dia? Hari ini terang Thian telah menghancurkan aku, buat apa hidup lebih lama lagi untuk dihina orang?"
Lalu dengan kedua tangan masih memegangi kepala, mendadak ia benturkan kepalanya ke tembok benteng.
Namun sebelum membentur, tiba-tiba ia ditarik orang hingga sedikitpun tak bisa berkutik.
Waktu Keng-hiau pentang matanya, ia lihat Han Tiong-san dan Thian-yap Sanjin telah berdiri di hadapannya.
Tetapi muka kedua orang inipun sudah berganti rupa, muka mereka sudah babak-belur dan bibir bengkak, agaknya mereka juga habis dihajar orang.
Kiranya ketika mereka mengudak In-hong Hwesio dan Kwantang-si-hiap, di tengah jalan berbalik mereka kesamplok Hong-hoat Taysu, padri tua ini telah menghajar mereka hingga lari terbirit-birit.
Ketika Han Tiong-san dan Thian-yap Sanjin melihat muka Lian Keng-hiau jauh lebih celaka daripada mereka, tentu saja mereka sangat heran.
"He, kenapa kau menjadi klimis? Siapakah yang mencukur jenggot dan alismu?"
Segera Han Tiong-san bertanya.
"Sesudah kami pergi tadi, siapakah yang datang kemari?"
"Siapa yang membunuhnya? Kau atau musuh?"
Thian-yap Sanjin ikut bertanya demi nampak mayat Ki Pi-sia menggeletak di samping. Di luar dugaan, tiba-tiba Lian Keng-hiau bergelak tertawa.
"Hahaha, biarlah mampus semuanya lebih baik!"
Teriaknya.
"Hm, namun Hongsiang tak ingin kau lekas mati!"
Sahut Han Tiong-san dengan tertawa dingin.
"Apa kalian tidak-memperkenankan aku menjadi Cho Pa Ong? O, jadi Cho Pa Ong saja aku tak bisa?"
Keng-hiau berteriak-teriak. Kata-katanya tak keman, kaki-tangannya bergerak-gerak pula.
"Lian Keng-hiau telah gila!"
Ujar Thian-yap Sanjin. Dan waktu Han Tiong-san mendorongnya dengan perlahan, sedikitpun Lian Keng-hiau ternyata tak ada tenaga perlawanan dan terhuyung-huyung hendak jatah.
"Ha, ilmu silatnya telah lenyap juga!"
Kata Han Tiong-san terkejut.
"Kalau dia sudah berubah begini, lekas kita giring dia ke kotaraja saja,"
Ujar Thian-yap Sanjin.
Han Tiong-san mengangguk setuju, maka hari itu juga telah didahului dengan mengirim berita kilat ke kotaraja dan hari keduanya Lian Keng-hiau lantas digiring berangkat, dengan dikawal dua jago silat ini meski Lian Keng-hiau ingin bunuh diri pun tidak dapat lagi.
Hanya sepanjang jalan ia masih bicara dengan tak keruan jun-trungannya, kadang ia berteriak memanggil anaknya, tempo-tempo berseru memanggil Pang Lin pula.
Pada waktu Lian Keng-hiau menjadi gila, kala itu Pang Lin sudah meninggalkan Hangciu sejauh lima-enam puluh li.
Gadis ini tidak menyangka Keng-hiau akan menjadi gila, ia hanya merasa muak bila teringat pada manusia rendah im.
Sedikitpun Li Ti ternyata tidak bertanya tentang Pang Lin bertemu dengan Lian Keng-hiau, sepanjang jalan ia berusaha membikin tertawa kekasihnya ini, maka lambat-laun Pang Lin jadi gembira.
Perjalanan Li Ti dan Pang Lin ini tujuannya ialah kembali ke Bin-san, karena cepatnya mereka berjalan, sebelum sang surya terbenam, mereka sudah sampai di kaki Thian-bok-san, ketika mereka memasuki lereng gunung, tiba-tiba terdengar di lembah sana ada suara suitan aneh bercampur suara mengaungnya senjata rahasia.
"Hiat-ti-cu!"
Seru Pang Lin. Ketika Li Ti memandang jauh di suatu tempat yang tinggi, tertampak olehnya siapa yang sedang bertempur.
"Kiranya Kwantang-si-hiap terkurung oleh musuh!"
Katanya.
"He, masih ada pula Pui Kin-beng dan Tan Tek-thay,"
Kata Pang Lin.
"Hayo cepat, lekas kita bantu mereka."
Segera mereka berlari turun ke bawah dengan senjata siap di tangan.
Kiranya sehabis Hong-hoat Taysu memberi hukuman pada Lian Keng-hiau, pada waktu kembali ia telah melabrak Han Tiong-san dan Thian-yap Sanjin.
In-hong Hwesio memang datang bersama Kwantang-si-hiap, tetapi kini urusan sudah beres, ia lantas kembali ke Siau-lim-si di Hokkian bersama ketuanya.
Sedang Kwantang-si-hiap meneruskan perjalanan ke Bin-san untuk mencari Kam Hong-ti dan Lu Si-nio.
Mengenai Pui Kin-beng dan Tan Tek-thay berdua hanya secara kebetulan saja bertemu di tengah jalan, sejak pertarungan sengit di Swat-hun-kok dahulu, Pui Kin-beng bersahabat kental dengan Tan Tek-thay, karena Pui Kin-beng ingin melampiaskan dendamnya untuk bekas majikannya pada Lian Keng-hiau, Tan Tek-thay tak bisa merintangi, terpaksa ia menyusul hendak membantunya bila perlu.
Dan ketika Pui Kin-beng kena diusir oleh Ki Pi-sia, dengan rasa masgul dan lesu malam itu juga ia meninggalkan Hangciu dan dipapak Tan Tek-thay.
"Bagaimana, apa sudah bertemu dengan Lian Keng-hiau?"
Tanya Tek-thay padanya.
"Ketemu sih sudah, cuma dendamku ini aku tidak ingin membalasnya lagi,"
Sahut Pui Kin-beng dengan menghela napas. Tan Tek-thay menyangka tentu kawannya telah mengalami kekalahan, selagi ia hendak menghibur orang, Pui Kin-beng telah buka suara lagi.
"Memang tidak salah apa yang dikatakan Keng-hiau, Capsi-pwelek tiada harganya dibela mati-matian,"
Kata Pui Kin-beng.
"Apa yang telah dikatakan Lian Keng-hiau? Kau percaya pada dia?"
Tanya Tek-thay heran.
"Lainnya aku tidak percaya, tetapi apa yang dia katakan semalam tak dapat tidak aku harus percaya,"
Sahut Kin-beng. Habis itu lantas ia tuturkan apa yang dikatakan Lian Keng-hiau yang membeberkan sekitar kekejian Capsi-hongcu atau pangeran ke-14 dahulu.
"Nah, apa!"
Kata Tek-thay dengan tertawa.
"Dahulu pernah aku nasihatkan kau, tetapi kau tak mau percaya. Tak dinyana sekarang Lian Keng-hiau malah bisa menjadi gurumu."
Pui Kin-beng menjadi bungkam, ia merasa lemas.
Memang tak bisa menyalahkan dia, karena setia pada 'majikan' selama belasan tahun ini ternyata adalah manusia yang tidak pantas disetiai, pantas dia menjadi sangat berduka.
Dan karena itulah ketika di tengah jalan mereka bertemu dengan Kwantang-si-hiap dan berbicara tentang pergi ke Bin-san, Pui Kin-beng menjadi tertarik.
"Baik, aku pun ikut ke sana!"
Demikian katanya tanpa pikir.
"Untuk apakah kau ke sana?"
Tania Tek-thay dengan tertawa.
"Untuk menuntut balas bersama kalian,"
Sahut Kin-beng.
"Tetapi tadi kau bilang dendam ini tidak akan kau balas lagi?"
Tanya Tek-thay.
"Sekali ini aku bukan menuntut balas untuk Capsi-hongcu, tetapi menuntut balas sakit hati bangsa Han kita!"
Sahut Kin-beng tegas.
"Dahulu aku benci pada si keparat Yong Ceng, kinipun aku benci padanya, hanya benci yang dulu dan yang sekarang sudah berlainan!"
"Ya, ini aku mengerti, tak perlu kau katakan lagi,"
Ujar Tek-thay dengan mengangguk-angguk.
Dengan begitu maka Pui Kin-beng lantas ikut bersama Kwantang-si-hiap menuju ke Bin-san.
Tak terduga sama sekali bahwa Yong Ceng ternyata sangat licin cara mengatur penjagaannya, kecuali ia mengirim Han Tiong-san dan Thian-yap Sanjin serta Ki Pi-sia pergi mengawasi gerak-gerik Lian Keng-hiau, ia telah mengirim juga Haptoh dengan membawa sekawanan Hiat-ti-cu meronda sepanjang jalan penting yang menuju ke Hangciu, karena im kedua belah pihak lantas kepergok dan sebab kalah banyak orangnya, Kwan-tang-si-hiap dan kawan-kawan akhirnya kena didesak mundur sampai di lembah pegunungan ini, syukur mereka bisa mengambil kedudukan yang menguntungkan untuk bertahan dengan sengit.
Haptoh adalah jago kelas satu di dalam istana, tentu saja ia sangat lihai, ditambah lagi belasan orang Hiat-ti-cu yang tergolong pilihan pula, senjata rahasia yang mereka gunakan im, yakni Hiat-ti-cu, juga sangat lihai, maka meski ilmu silat Hian-hong Totiang dan kawan-kawan cukup tinggi, tidak urung mereka terkurung di lembah gunung im dan tak mampu lolos dari keroyokan.
Selagi genting, tiba-tiba terdengar suara seman dari atas gunung, mendadak kedua senjata Li Ti dan Pang Lin menyambar tiba berbareng.
"He, kau, Lin-kuijin!"
Teriak Haptoh girang bercampur kaget.
Habis im ia jeplak alat Hiat-ti-cu dan dilemparkan untuk menyerang Hian-hong, sedang ia sendiri lantas melompat maju, memapaki Pang Lin dengan senjata gembolannya.
"Hm, kini masih berani kau menghina aku?"
Kata Pang Lin dengan tertawa.
Sekali tangannya diayun, sebuah Hui-to segera mengarah ke udara secepat kilat, maka terbenturlah Hui-to itu dengan Hiat-ti-cu yang dilepaskan Haptoh tadi hingga keduanya jatuh ke tanah semua.
Nyata lebih dulu Pang Lin melepaskan Hian-hong dari ancaman bahaya, habis itu baru ia sambut serangan Haptoh.
Pang Lin sudah mendapatkan ajaran asli dari Bu-kek-pay, ilmu silatnya sudah lain daripada dahulu, maka tanpa gugup dan gentar ia putar pedangnya, dengan gerak tipu 'Lik-hoa-hong-kau' (sekuat tenaga menggali sungai), hanya setengah berputar saja ia sudah membikin gembolan Haptoh terguncang ke samping.
Keruan Haptoh terkejut.
"Kenapa budak liar ini berani menyambut tenaga raksasaku?"
Demikian Haptoh membatin.
Kembali senjatanya menyabet pinggang orang, namun kembali Pang Lin bisa mematahkan serangan ini pula, keruan lebih-lebih Haptoh merasa heran, ia tak berani gegabah lagi, segera dengan sebelah senjatanya ia lindungi tubuhnya, dan dengan senjata lain ia serang musuh.
Waktu itu Li Ti sudah menerjang ke kalangan pertempuran, Kiam-hoatnya adalah ajaran dari aliran Pek-hoat Mo-li yang tiada bandingannya di kolong langit, maka hanya beberapa gebrakan saja dua Hiat-ti-cu sudah dia lukai, dengan sendirinya hasil ini membikin Hian-hong dan kawan-kawan, bertambah semangat, begitu berseru, beramai mereka lantas melancarkan serangan balasan serentak.
Di lain pihak Haptoh sedang terlibat pertarungan dengan Pang Lin, kawanan Hiat-ti-cu menjadi kehilangan kemudi, maka tak sanggup lagi mereka membendung serangan lawan.
Kesempatan ini dipergunakan Hian-hong dengan baik, pedang dan tongkatnya bekerja cepat, ia menusuk dan menyabet dengan hebat, satu kali pedangnya berhasil menabas batok kepala seorang Hiat-ti-cu, menyusul tongkatnya berhasil pula mematahkan tulang kaki Hiat-ti-cu lainnya, sedang Long-goat Taysu mengamuk juga, dengan arus araknya ia semprot buta mata seorang Hiat-ti-cu.
Karena kekalahan ini, seketika kawanan Hiat-ti-cu jadi kalang-kabut, mereka berteriak-teriak terus berebut lari buat kabur.
Melihat gelagat jelek, lekas Haptoh meninggalkan Pang Lin dan berseru pada kawanan Hiat-ti-cu.
"Lepas senjata rahasia!"
Sekejap saja tertampaklah bola-bola baja memenuhi udara dengan mengeluarkan suara mengaung aneh dan seram.
"Bagus!"
Sambut Pang Lin tak gentar, sekaligus ia pun menimpukkan enam buah Hui-to hingga senjata Hiat-ti-cu kena dibentur jatuh semua, ada beberapa buah lagi kena disampuk jatuh oleh Li Ti dan Hian-hong.
Oleh karena rintangan ini, kesempatan ini digunakan Haptoh dan kawanan Hiat-ti-cu untuk melarikan diri.
"Bagus sekali ilmu timpukan Hui-tomu!"
Hian-hong Totiang memuji.
"Sekedar menebus dosaku dahulu,"
Sahut Pang Lin dengan tersenyum.
Sebagaimana diketahui dahulu pernah Tan Goan-pa dilukai pisau terbang Pang Lin, maka kini anak dara ini mengatakan menebus dosanya itu.
Begimlah beramai kemudian mereka menuju ke Bin-san bersama.
"Dimanakah Encimu?"
Hian-hong bertanya lagi.
"Dua tahun yang lalu bersama Teng Hiau-lan telah kembali ke Thian-san,"
Sahut Pang Lin.
"Rupa kalian berdua mirip sekali,"
Ujar Long-goat Siansu.
"Tadi kalau bukan kau buka suara dahulu, mungkin kami tak tahu kau ini Pang Ing atau Pang Lin. Melihat kau kini, kami lantas terkenang juga pada Encimu, sayang kini ia jauh berada di Thian-san."
Mendengar nama Encinya disebut, Pang Lin menjadi muram.
"Ya, aku pun sangat kangen padanya,"
Ia berkata.
"Sayang perjalanan begini jauh, untuk mengirim surat pun tidak gampang. Jika ia mendapat tahu bahwa Lian Keng-hiau kini sudah kehilangan kekuasaan dan tinggal menunggu kematian saja, entah betapa dia akan girang!"
Sama sekali tidak Pang Lin duga bahwa pada waktu itu juga Pang Ing dan Teng Hiau-lan juga sedang dalam perjalanan menuju ke Bin-san, bedanya hanya yang satu pihak datang dari barat dan yang lain dari arah timur.
Mengenai diri Hiau-lan, sesudah tewasnya Nyo Liu-jing, hatinya selalu dirasakan masgul, meski sudah kembali ke Thian-san, namun di sana ia pun lebih banyak berdiam dan tak suka bicara, hanya dalam hal berlatih ilmu pedang ia sangat giat.
Melihat kelakuan pemuda ini, le Lan-cu rada heran, diam-diam ia pun bertanya pada Pang Ing, anak dara inipun tidak berdusta, ia ceritakan semua kepada le Lan-cu.
Mendengar penuturan Pang Ing ini, le Lan-cu menghela napas juga-"Di antara Chit-kiam kami, dahulu pun ada beberapa di antaranya yang terlibat dalam urusan asmara, bahkan pendekar besar Leng Bwe-hong, Leng-sioksiok pun tidak terkecuali,"
Demikian katanya kemudian.
"Cuma kuharap saja kelak kalian pun bisa seperti Leng-sioksiok dan Lauw Yu-hong, sesudah mengalami banyak pukulan dan kesulitan, akhirnya bisa menembus segala aral rintangan. Namun urusan demikian tidak dapat dipaksakan, kalau selalu dipikirkan, tentu diri sendiri yang tersiksa."
Ie Lan-cu sudah kenyang dengan asam garam, maka ia pun tidak perlu menghibur Teng Hiau-lan, ia hanya mencurahkan seluruh perhatiannya mengajar ilmu silat pada pemuda ini.
Lebih setahun Hiau-lan tinggal di Thian-san dan belajar ilmu silat cabangnya ini, apa yang dahulu belum dia pelajari, kini seluruhnya sudah dia yakinkan.
Pada suatu hari, Ic Lan-cu memanggil Hiau-lan menghadap padanya.
"Ilmu silat Thian-san kita telah kau kuasai seluruhnya, kini aku secara resmi menerima kau sebagai murid dan bukan murid akuan saja,"
Demikian kata le Lan-cu. Keruan Hiau-lan sangat girang, ia menjura dan menghaturkan terima kasih.
"Cabang Thian-san kita selalu mengeluarkan anak murid yang gagah, kau masih muda dan kuat, belum cocok untuk tirakat mengasingkan diri,"
Kata Ie Lan-cu pula.
"Besok kau boleh turun gunung dengan Pang Ing, pergilah membantu Lu Si-nio dan Kam Hong-ti."
Meski rasanya berat juga untuk berpisah, tetapi karena apa yang dikatakan sang guru memang tepat, maka hari kedua bersama Pang Ing mereka lantas mohon diri dan turun Thian-san lagi.
Setelah menempuh perjalanan lebih tiga bulan, sesudah melintasi gurun pasir yang luas dan menyeberangi sungai serta gunung, kemudiar sampailah mereka di daerah Holam.
Di tengah jalan mereka mendengar kabar tentang Lian Keng-hiau yang sudah kehilangan kekuasaannya, mereka tidak tahu apa kabar ini betul atau tidak, karena im perasaan mereka menjadi tak sabar, mereka ingin sekali bisa lekas berjumpa dengan Lu Si-nio.
Hari im, mereka harus melalui Ko-san, puncak bukit Ko-san yang sudah gundul hangus terbakar, hanya tumbuhan baru yang mulai bersemi lagi tampak menghijau, nampak keadaan gunung ini, Teng Hiau-lan menjadi terharu sekali.
"Hari sudah petang, lebih baik kita menginap saja di Ko-san sini, sesungguhnya aku ingin bisa melihat lagi bekas kuil bersejarah yang telah musnah terbakar im."
Ajak Pang Ing tiba-tiba.
Hiau-lan terima baik ajakan itu, mereka lantas mendaki gunung itu, sepanjang jalan yang tertampak oleh mereka hanya tumpukan puing yang hampir rata dengan tanah karena angin dan hujan.
Mereka maju terus menuju ke tempat bekas berdirinya Siau-lim-si, di atas gunung im mereka dapatkan sebuah kelenteng bobrok yang terbakar separoh.
"Marilah kita bermalam di sini saja,"
Ujar Hiau-lan.
"Jarak Ko-san dan Bin-san hanya tiga ratusan li, dua hari lagi tentu kita bisa sampai di sana."
Lalu mereka melompat masuk ke dalam kelenteng bobrok im dari pagar belakang yang sudah roboh sebagian, selagi mereka masuk ke ruangan besar kelenteng itu, mendadak mereka dikagetkan oleh suara orang.
"Siapa kalian?"
Demikian tanya suara itu tiba-tiba.
Suara ini rada gemetar dan terputus-putus, terang sekali tenaga dalam orang yang bersuara ini tidak cukup, cuma lagu suaranya membawa wibawa yang berpengaruh.
Ketika Hiau-lan mendorong pintu dan masuk ke dalam, ia lihat di lantai ada segunduk api unggun, di samping sana merebah satu orang, dari wajahnya tertampak sekali orang ini menderita sakit, tetapi kedua matanya terpentang lebar dengan sinar menyorot tajam.
"Kami adalah orang yang kebetulan berlalu di sini, siapakah tuan?"
Sahut Hiau-lan.
Sebenarnya orang itu sudah setengah bangun tadi, tetapi sesudah memandang sekejap pada Hiau-lan berdua, segera ia tiduran lagi, terhadap pertanyaan Hiau-lan ternyata ia tidak ambil peduli.
"Apa tuan sakit?"
Tanya Pang Ing dengan maksud baik.
"Rasa kantukku belum hilang, hendaklah kalian jangan bikin ribut,"
Demikian sahut orang itu sambil sedikit membuka matanya.
"Jika sakit kami ada membawa sedikit obat, mungkin cocok dipakai,"
Ujar Pang Ing lagi.
"Aku bilang kalian jangan bikin ribut, kenapa suka urus perkara orang lain?"
Jawab orang itu ketus.
"Jangan kata aku tidak sakit, meski sakit juga tak perlu kau mengobati."
Habis berkata, ia tarik selimutnya menutupi sampai kepalanya, terus tidur lagi.
Nampak orang kurang sopan, Pang Ing tidak banyak omong lagi.
Berlainan dengan Hiau-lan, ia perhatikan atas kepala orang itu sedang mengepulkan uap, ia jadi kaget.
"Lwekang orang ini sangat tinggi, mungkin ia terkena luka dalam dan kini sedang menyembuhkan sendiri dengan ilmu Lwekangnya, seharusnya jangan kita merecoki dia,"
Demikian ia membatin.
Karenanya ia menarik Pang Ing mengaso ke pojok ruangan sebelah sana.
Selang tak lama, suara menggeros orang itu berjangkit, tiba-tiba dari luar terdengar suara orang sedang berbicara, ketika Hiau-lan memandang, ia lihat ada dua orang telah melompat masuk pula, waktu mengenali siapa kedua orang yang datang ini, tanpa terasa ia bersuara kaget dan berdiri bersama Pang Ing.
Kiranya yang datang ini adalah ayah beranak, Tong Kim-hong dan putrinya, Tong Say-hoa.
Dua tahun yang lalu sesudah Tong Kim-hong dilerai oleh Lu Si-nio, ia membawa putrinya pesiar kemana-mana untuk menghilangkan rasa dukanya, paling akhir ini dia telah menggali miang jenazah anak menantunya di Cu-sian-tin dengan maksud dipindah ke Sucwan, kebetulan hari ini mereka berlalu di bawah Ko-san dan karena tidak mendapatkan tempat bermalam, mereka pun mencari ke kelenteng bobrok ini sebagai tempat berteduh.
Hiau-lan menjadi serba salah ketika berhadapan dengan Tong Kim-hong dan Tong Say-hoa.
"Baik-baikkah kau, Tong-locianpwe?"
Dengan hormat ia menyapa. Tetapi Tong Kim-hong hanya menjawab dengan suara jengek-an saja, sebaliknya Tong Say-hoa malah melototi mereka, bahkan tangan nona ini sudah siap merogoh senjata rahasianya.
"Kita sudah berjanji, mereka pun tidak bermaksud jahat, tak boleh kau cari onar lagi,"
Dengan suara perlahan Tong Kim-hong mencegah putrinya.
Meski di mulut ia berkata demikian, namun Tong Kim-hong sendiri tidak urung menarik muka juga terhadap Hiau-lan dan Pang Ing, ia tidak gubris mereka, seperti tidak sudi berbicara dengan mereka.
"Tia, di sini masih ada satu orang lagi,"
Kata Tong Say-hoa ketika melihat orang yang tidur bertutupan selimut itu.
"Tuan ini menderita sakit, ia sedang tidur, jangan membikin bangun dia,"
Kata Pang Ing.
"Siapa ajak bicara kau?"
Tiba-tiba Tong Say-hoa menjengek sambil memalingkan muka ke jurusan lain. Karena itu Pang Ing menjadi dongkol, ia pun tidak buka suara lagi.
"Budak im ada benarnya juga, di sini berlainan dengan di hotel, kalau membikin bangun orang, rasanya tak enak,"
Dengan suara tertahan Tong Kim-hong berkata pada anaknya. Waktu matanya menatap 'orang sakit' itu, seketika ia mengunjuk rasa heran, bahkan makin lama makin terkejut.
"Tia, adakah yang kau ketahui?"
Dengan perlahan Tong Say-hoa bertanya sang ayah.
"Orang ini berilmu tinggi, sekali-kali bukan manusia semba-rangan,"
Sahut Tong Kim-hong. Saat ia hendak mencari jalan untuk berkenalan dengan orang itu, tiba-tiba terdengar lagi suara tindakan orang di luar kuil.
"Aku tak mau tinggal di kelenteng bobrok ini,"
Demikian terdengar suara anak kecil Menyusul segera terdengar suara "plok"
Sekali, agaknya ada orang menggablok bokong anak itu. -"Hm, di sini kau masih berani berlagak tuan muda?"
Demikian terdengar orang itu mencaci-maki.
"Tinggal di kelenteng bobrok sudah baik bagimu, apa kau masih ingin tinggal di istana?"
Baca Juga: Kisah Pedang Bersatu Padu 2
Baca Juga: Rahasia 180 Patung Mas 11