Eps 14 Tiga Dara Pendekar - Liang Ie Shen
Baca online Tiga Dara Pendekar - Liang Ie Shen
Cersil Tiga Dara Pendekar - Liang Ie Shen.
Pada saat itu juga sekonyong-konyong Pang Ing berteriak, waktu Li Ti mendongak, ia lihat matahari persis berada di atas kepala mereka atau di tengah langit, menyusul terdengar pula suara keras bergemuruh, suara ini adalah 'Ngo-bau' atau bunyi meriam siang di Tiangleng (makam kaisar Beng Seng Co) yang dibunyikan tiap hari pada waktu lohor tepat, suara meriam berkumandang jauh sampai di Se-san.
"Sudah sampai, sudah sampai!"
Li Ti berkata. Akan tetapi muka Pang Ing sebaliknya pucat lesi, ia tidak berkata, hanya semakin memperkencang langkahnya, dalam hati ia berkata.
"Apa gunanya biarpun sudah sampai! Toh sudah terlambat!"
Begitulah dengan hati berdebar dan jantung memukul keras, sekejap saja mereka sudah sampai di depan kuil, kebetulan mereka lihat Ling-sian Hwesio sedang memandang jauh di depan kuil.
"Bagaimana keadaan Teng-sioksiok?"
Inilah pertanyaan Pang Ing yang pertama.
"Dia ada di dalam,"
Sahut Ling-sian dengan suara lemah, pada matanya kelihatan mengembeng air.
Melihat air muka padri ini, segera Pang Ing mengerti gelagat tidak menyenangkan, hatinya seketika dingin sebagian dan keringat mengucur bagaikan hujan, tubuh pun gemetar menggigil seperti kedinginan.
"Jangan kuatir, Ing-moay, napasnya masih belum putus, masih bisa ditolong,"
Demikian Li Ti coba menguatkan hati si nona. Pang Ing tidak buka suara, hanya dengan cepat ia membawa Li Ti masuk ke dalam, segera pula kelihatan Kam Hong-ti memapaknya.
"Sudah terlambat kedatanganmu, tak usahlah kau masuk!"
Tiba-tiba Kam Hong-ti berkata pada Pang Ing.
Karena kata-kata orang yang mendadak ini, seketika Pang Ing merasa seperti disambar geledek, hancur-luluh hatinya, ia ingin menangis, tetapi tak bersuara, dengan sempoyongan ia menerjang masuk ke dalam kamar dimana Teng Hiau-lan rebah.
Kuatir anak dara ini akan berduka, sebenarnya Kam Hong-ti hendak mencegah, tapi demi nampak keadaan yang mengharukan itu terpaksa ia hanya menarik napas panjang dan memberi jalan pada Pang Ing.
Setelah menerobos masuk ke dalam kamar, Pang Ing lihat di depan ranjang Teng Hiau-lan dirubung oleh Hi Kak, Pek Thaykoan, Hi Yang, Loh Bin-ciam dan lain-lain, mereka sama berdiam tanpa sepatah kata pun, demi nampak datangnya Pang Ing, tanpa disuruh mereka lantas minggir memberi jalan pada anak dara ini.
"O, Teng-sioksiok, aku telah datang, dengarkah kau?"
Teriak Pang Ing sambil menjerit, baru sekarang ia dapat mengeluarkan suara tangis.
Mendadak Teng Hiau-lan sedikit membuka matanya di atas pembaringannya, badannya sedikit bergerak seperti kejang, tapi sama sekali tidak berkata.
Sementara itu Li Ti telah menyusul masuk, ia dengar perkataan Pek Thay-koan yang diucapkan perlahan.
"Kalian datang terlambat, ia baru saja menghembuskan napasnya yang penghabisan!"
Pada saat begini mau tak mau Li Ti sangat terperanjat juga.
"Tidak mungkin, tidak mungkin!"
Teriaknya tidak percaya.
Berbareng ia lantas maju ke depan, ia lihat Pang Ing menangis dengan sedih sekali, Hi Yang dan Li Beng-cu berdua sedang menahan supaya anak dara ini tidak menubruk ke atas tubuh Teng Hiau-lan.
Lekas Li Ti pegang nadi Teng Hiau-lan, ia rasa denyutan nadi orang memang sangat lemah sekali, waktu ia mendengarkan pula dengan menempelkan kuping ke atas dada Hiau-lan, ia merasa dada orang masih hangat dan jantung pun masih berdenyut perlahan.
Ketika ia mendengarkan denyutan nadi secara lebih teliti, jalan nadi orang sedikitpun ternyata tidak ada tanda-tanda menderita sakit, hanya denyutnya sangat perlahan, napasnya pun sedemikian lemahnya sampai hampir tidak terdengar, sungguh semacam penyakit yang sukar dimengerti.
Sesaat itu, tiba-tiba Li Ti ingat pada cerita Pang Ing tentang cara bagaimana Boat-wan Lojin menentukan penyakit orang, pula teringat pada alasan menggunakan bahan obat daun waru, jangkrik jantan-betina, obat penenteram pikiran dan lainnya lagi, sekonyong-konyong Li Ti melonjak.
"Jangan kau menangis, lekas susut air matamu, jika kau menangis segera ia tak bisa tertolong lagi!"
Demikian mendadak ia berseru pada Pang Ing.
"Apa ia masih bisa tertolong?"
Tanya Pang Ing cepat dengan sangsi.
Li Ti mengangguk, suatu tanda yakin bisa menyembuhkan orang.
Kafena itu seketika Pang Ing berhenti menangis, orang lain pun terheran-heran, sudah jelas si penderita telah putus napasnya,' tapi kenapa dibilang masih bisa tertolong?
Lagi pula dalam keadaan demikian, darimana bisa didapatkan obat penyembuh?
Dalam pada itu kelihatan Li Ti telah menarik Pang Ing menyingkir ke samping, dengan suara perlahan ia memberi petunjuk yang perlu.
"Dengan jarimu kau tusuk 'Jin-tiong' (tempatnya tepat di atas bibir dan di bawah hidung), lalu kau berteriak di tepi telinganya bahwa aku telah memberikan obat mujizat baginya!"
Sudah tentu Pang Ing merasa bingung dan ragu-ragu.
"Darimana datangnya obat mujizat?"
Tanyanya tidak mengerti.
"Pendeknya, urusan hari ini semuanya harus turut perkataanku, ditanggung akan berhasil,"
Sahut Li Ti dengan pasti.
Pang Ing masih setengah percaya setengah tidak, tetapi ia turuti juga perintah Li Ti, sementara itu ia lihat pemuda ini telah menuang secangkir air masak dan sekenanya ia mencomot sedikit abu dupa dari hiolo yang terdapat di situ dan dicemplungkan ke dalam cangkir.
"Nah, minumkan ini!"
Katanya sambil menyodorkan cangkir.
Muka Pang Ing berubah hebat demi nampak perbuatan Li Ti yang mencampurkan air dengan abu dupa tapi dikatakan sebagai 'obat mujizat' tadi, selagi ia hendak mendamprat.
"Kenapa kau menipu aku!"
Tetapi ia urung membuka suara karena sinar mata Li Ti yang memandang tajam.
"Lekas kau minumkan, inilah obat mujizatnya!"
Katanya dengan muka kereng, cara mengatakannya sungguh-sungguh. Karenanya Pang Ing lantas menerima cangkir itu.
"Lekas cekoki dia dan bilang pula padanya bahwa inilah obat mujizat sudah datang!"
Desak Li Ti lagi. Pang Ing menurut, ia bisiki telinga Teng Hiau-lan.
"Inilah obat mujizatnya!"
Mendengar bisikan ini, kelihatan tubuh Teng Hiau-lan kembali bergerak sedikit.
"Segera kau akan sembuh dengan obat ini!"
Dengan cepat Li Ti menyambung bisikan Pang Ing tadi.
Lalu dengan air masak yang dicampur dengan secomot abu dupa tadi Pang Ing mencekoki Teng Hiau-lan pula.
Aneh bin ajaib, selang tak lama, napas Teng Hiau-lan kelihatan mulai kuat, mukanya pun mulai bersemu merah.
"He, apa aku habis mimpi?"
Tanya Hiau-lan setelah membuka matanya dengan perlahan.
"Dengan jelas sekali aku melihat dua setan pencabut nyawa telah menyeret aku pergi, kenapa sekarang aku kembali di sini?"
Sudah tentu semua orang terheran-heran melihat kejadian ini.
"Teng-toako, apa kau masih ingat padaku?"
Dengan tersenyum Li Ti lantas menyapa.
"Ah, Li-hiante, kau berada di sini juga!"
Seru Hiau-lan dengan girang setelah mengamat-amati orang sejenak. Hanya suaranya masih agak lemah.
"Nah, sekarang para hadirin disilakan mendengarkan ceritaku,"
Tiba-tiba Li Ti berkata lagi. Dengan sendirinya semua orang tambah heran, dalam girangnya Pang Ing pun tidak habis mengerti mengapa kawannya ini masih begitu iseng hendak mendongeng segala.
"Di zaman dahulu ada seorang jenderal,"
Demikian Li Ti mulai bercerita.
"sudah banyak sekali jenderal ini berjasa bagi negaranya, pemerintah menganggapnya sebagai miang punggung negara dan raja sendiri memandangnya sebagai saudara sendiri. Aku tak ingat ini terjadi pada dinasti yang mana dan juga tidak ingat lagi nama jenderal itu dan rajanya, pendeknya cerita ini betul-betul terjadi, bahkan tercatat jelas pada salah satu kitab kuno. Kepandaian jenderal itu tinggi sekali dan tenaganya besar, tapi dia punya satu kelemahan, yaitu takut bini!"
Loh Bin-ciam dan Pek Thay-koan menjadi tertawa geli mendengar Li Ti bercerita tentang orang takut bini segala. Diam-diam Pang Ing pun membatin.
"Selamanya Li Ti bersikap sungguh-sungguh dan jarang berkelakar, tapi kenapa hari ini tiba-tiba mengobrol tentang orang takut bini? Apakah memang dia sengaja hendak menyindir Teng-sioksiok takut pada Nyo Liu-jing? Akan tetapi hal inipun tidak mungkin, dia adalah seorang yang baik hati, tidak nanti ia menertawai orang dengan cara demikian,"
Sementara itu ia dengar Li Ti sedang melanjutkan ceritanya.
"Usia jenderal tadi sudah mendekati setengah abad, namun seorang putra saja belum punya, raja menasehati dia mengambil gundik, tetapi jenderal ini takut bini, sudah tentu pikiran semacam ini tidak berani dikemukakannya."
"Takut bini atau tidak, punya keturunan atau tidak, pendek kata tak seharusnya lelaki punya gundik,"
Tiba-tiba Hi Yang menyela.
"Dia hanya mendongeng saja, jangan kau mengganggu, sebab cerita ini banyak hubungannya dengan Teng-heng,"
Ujar Pek Thay-koan tertawa. Pek Thay-koan sendiri banyak membaca kitab kuno, maka ia pun tahu cerita ini.
"Pada suatu hari,"
Demikian Li Ti menyambung lagi.
"raja telah memanggil istri jenderal itu menghadap ke dalam istana, di depan wanita itu diletakkan secangkir arak dan raja berkata padanya, 'Ini adalah secangkir arak beracun, jika diminum, dalam dua belas jam, tujuh lubang orang (tujuh lubang dimasudkan mata, kuping, hidung dan mulut) akan mengalirkan darah terus mati dan tiada obat penolongnya lagi. Jik£ kau bersedia mengizinkan suami mengambil gundik, aku akan segera menghadiahkan seorang Kiongli (dayang) padanya dan kau sendirilah yang membawanya pulang, tetapi kalau kau tidak mengizinkan suamimu mengambil gundik, maka sekarang juga kuhadiahkan arak beracun ini padamu agar bunuh diri!' "
Mendengar ucapan raja ini, bukannya istri jenderal itu ketakutan atau menurut, sebaliknya ia malah bergelak tertawa dan berkata dengan tegas, 'Sekalipun harus mati tidak nanti aku mau dima-du!' "
Habis berkata ia mengangkat cangkir arak terus dihirup habis.
Sungguhpun demikian, tidak urung ia kuatir juga, waktu minum arak beracun itu lantaran terdorong oleh marahnya, setelah pulang di rumah dan teringat dirinya akan mati begitu saja secara penasaran, ia menjadi sangat sedih.
Karena itu sembari merebah di ranjang menantikan ajalnya, ia mengharuskan suaminya berkabung untuknya dan memanggil padri untuk membaca kitab baginya.
"Siapa duga setelah dua belas jam berlalu sedikitpun tiada tanda apa-apa pada wanita itu, bukan saja tidak mati, bahkan kesehatannya sama sekali tidak terganggu. Besok paginya ketika jenderal itu menghadiri sidang pagi di istana, dengan tertawa raja berkata padanya, 'Istrimu begitu teguh hatinya, aku pun tidak berdaya, urusan gundik terpaksa jangan disebut lagi.' Walaupun demikian, jenderal itu masih merasa tak tenteram, ia bertanya, 'Bukankah Hongsiang telah menghadiahkan kematian pada istri hamba?' Pertanyaan ini membikin raja tertawa terbahak-bahak, katanya kemudian, 'Bagaimanapun aku berbuat sewenang-wenang, mana mungkin tanpa alasan aku membunuh istri jenderal yang paling berjasa? Apa yang diminumnya kemarin tidak lebih hanya cuka belaka!'."
Setelah Li Ti mengakhiri ceritanya, semua orang ikut bergelak tertawa. Pada saat itu juga mendadak Teng Hiau-lan bangun berduduk.
"Jangan-jangan apa yang aku minum dari Yong Ceng itu juga bukan arak beracun segala?"
Tanyanya cepat.
"Memang tadinya aku belum berani memastikan, tapi kini setelah dicoba, aku berani mengatakan apa yang kau minum sekali-kali bukanlah arak beracun!"
Sahut Li Ti.
"Dan apa yang aku minumkan padamu tadipun bukannya obat mujarab segala!"
"Cara bagaimana kau bisa memastikannya?"
Pang Ing bertanya dengan heran.
"Memang Yong Ceng si kaisar anjing ini adalah seorang Siau-jin (manusia rendah) yang paling keji,"
Sahut Li Ti.
"Dahulu ia kuatir kalian berdua akan membocorkan rahasianya cara merebut takhta dengan segala tipu muslihatnya, maka ia telah menggunakan akal licik ini untuk mempedayai kalian. Coba pikir saja, sungguhpun di dalam istana terdapat obat aneh semacam ini, apa mungkin selalu dibawa olehnya?"
"Tetapi kenapa beberapa hari paling akhir ini aku betul-betul merasakan begitu berat sakitku?"
Tanya Hiau-lan.
"Tentu saja."
Sahut Li Ti.
"Coba kau pikir, istri jenderal tadi yang kena gertak tidak lebih hanya sehari saja, setelah dia pulang di rumah toh ketakutan dan pecah nyalinya untuk menantikan ajalnya, apalagi kau yang dalam satu tahun ini setiap saat setiap detik tersiksa, cara bagaimana jiwamu tidak tertekan? Dalam hati terang kau tidak menyangsikan apa yang kau minum bukanlah arak beracun, dengan sendirinya kau percaya penuh gertakannya. Walaupun kau tidak gentar mati, tapi dalam hati sudah timbul pikiran putus asa, oleh sebab itulah setelah tiba batas waktunya, perasaanmu lantas terpengaruh, daya hidupmu pun mogok seketika, dalam keadaan demikian, mana bisa kau tidak merasakan seperti sakit payah? Masih untung kau bukannya orang biasa, kalau tidak, mungkin sebelum tiba batas waktunya, sudah lama kau mati ketakutan!"
"Sungguh memalukan saja!"
Diam-diam Hiau-lan berkata dalam hati. Ia mendongkol pula telah kena dipermainkan oleh Yong Ceng yang keji itu.
"Sebenarnya mengharapkan hidup dan takut mati adalah sifat manusia yang jamak,"
Terdengar Kam Hong-ti membuka suara setelah mengikuti perkataan Li Ti tadi, ia sudah sejak tadi masuk kamar.
"Buat kaum kita, sebabnya tak gentar mati adalah karena merasa kewajiban besar yang kita pikul, oleh karenanya senantiasa bersedia mengorbankan diri dan dalam hati tentunya kita sudah mempunyai suatu pokok tujuan. Tentang istri jenderal yang tak takut mati karena cemburu itu tak bisa dibandingkan dengan kaum kita."
Dalam pada itu terdengar Li Ti menutur lagi.
"Semula aku tak tahu cara bagaimana harus berbuat, setelah aku mempelajari bahan obat yang dipakai oleh Boat-wan Lojin yang terdiri dari obat-obat penenang pikiran saja dan bukannya obat pemunah racun, karena itu aku lantas sangsi dan kemudian menyelaminya secara teliti. Oleh karena Boat-wan Lojin sendiri tidak memeriksa nadi si penderita sendiri, maka ia tak berani menentukan penyakit apa yang dideritanya, sebaliknya aku menaksir penyakit Teng-heng dari teori seperti apa yang dikatakan orang kuno bahwa penyakit pikiran harus diobati juga dengan pikiran. Sedang Pang Ing adalah orang yang paling dekat dengan kau, kalau dia mengatakan air abu itu adalah obat mujarab, dengan sendirinya kau percaya penuh akan perkataannya."
"Haha, pantas adakalanya banyak dukun menggunakan air abu untuk menipu orang,"
Terdengar Pek Thay-koan berkata dengan ber-gelak tertawa sehabis Li Ti bercerita.
"Tentunya ada orang yang menderita sakit enteng, sebenarnya tanpa obat juga bisa sembuh, tapi kebetulan maka^ air abunya, karena percaya akan bisa menyembuhkan penyakit, dengan sendirinya sakitnya menjadi lebih cepat sembuhnya. Dan karena itu pula lantas banyak pujian pada sang dukun. Cuma kasihan bagi yang menderita sakit berat, sehabis minum air abu, bukannya menjadi baik, sebaliknya malah terus mampus, dan untuk itu orang lantas menganggap sudah ditakdirkan harus mati dan tidak menyalahkan si dukun lagi."
Jika semua orang bergelak tertawa karena cerita Pek Thay-koan, adalah Teng Hiau-lan sedang tekun berpikir di antara suara tertawaan orang.
"Yong Ceng si kaisar anjing ini memang sangat keji,"
Katanya tiba-tiba sesudah suara tertawa mereda, kini aku pun dapat menerka apa tujuannya.
Dia telah memberi batas waktu setahun padaku, setelah tiba saat aku diharuskan datang ke istana untuk mohon obat padanya, sedang dalam waktu setahun ini dia bisa mengatur rencananya mempreteli begundal pengeran lainnya yang menjadi saingannya yang kuat.
Jika kedudukannya sudah kukuh, ia tidak perlu takut lagi aku akan membongkar rahasianya, maka dengan leluasa aku akan dibunuhnya.
Tetapi kalau singgasananya masih belum kuat, ia lantas sembarang memberi 'obat pemunah* padaku, berbareng ia menggunakan macam-macam tipu-muslihat lagi untuk mempe-dayai aku dan mungkin menunda 'hari ajalku' selama setahun lagi, dengan demikian aku akan selamanya tergenggam dalam tangannya.
Pula dengan alasan ini ia bisa menipu Ing-moay masuk istana pula, sungguh suatu tipu keji.
Sekali tembak kena dua burung!"
Pang Ing jadi teringat dirinya tempo hari pernah masuk istana dan bersedia mengorbankan diri untuk menolong Teng Hiau-lan, kini kalau dipikir kembali sungguh tindakan itu terlalu bodoh sekali, ia bersyukur dirinya tidak sampai terjebak.
Meski keadaan Teng Hiau-lan sudah selamat, tapi selama tujuh hari paling akhir ini ia selalu dalam keadaan tersiksa, pikiran kusut, tidur tak nyenyak, makan pun tak enak, dengan sendirinya badannya masih sangat lemah.
Karena itu Li Ti lantas gunakan obat menurut resep dari Boat-wan Lojin itu, ia suruh orang membelinya ke kota kecil di sekitarnya dan diseduhnya untuk diminum Teng Hiau-lan.
Sesudah yakin betul bahwa Teng Hiau-lan selamat tanpa kurang sesuatu, baru kini Pang Ing merasakan kepala pusing dan mata berkunang-kunang, badannya letih seperti orang hendak mati.
Sedang ia berpikir hendak pergi tidur, tiba-tiba teringat sesuatu olehnya, waktu ia memandang sekitarnya, ia lihat ada seseorang yang tak hadir.
Kiranya Pang Ing teringat pada diri Lu Si-nio.
Seperti diketahui, empat hari yang lalu dia pernah saling berjanji, baik berhasil mendapatkan tabib ataupun tidak, mereka akan kembali berkumpul pula di Se-san.
Ginkang Lu Si-nio jauh lebih tinggi daripada dirinya, sepantasnya sudah lama kembali, tapi sekarang masih belum kelihatan berada di antara kawan-kawannya ini, keruan Pang Ing menjadi kuatir, jangan-jangan terjadi apa-apa lagi di luar dugaan?
"Dimanakah Lu-cici?"
Akhirnya ia bertanya.
"Aneh, justru aku ingin tanya padamu!"
Sahut Kam Hong-ti.
"Betul dia masih belum kembali?"
Pang Ing menegas.
"Justru aku sedang heran kenapa perginya kau bersama Si-nio, sebaliknya pulang membawa Toako ini,"
Kata Kam Hong-ti pula.
Mendengar dirinya disinggung, baru kini Li Ti .berkenalan dengan semua orang, sudah tentu begitu ia memperkenalkan namanya, ternyata sudah lama sama mendengar.
Kemudian Pang Ing menceritakan juga bagaimana dia berpisah dengan Lu Si-nio yang membagi dua jurusan untuk mencari tabib.
Kam Hong-ti merasa heran sekali oleh penuturan itu, ia pikir.
"Dengan hubungan antara Pat-moay dengan Hiau-lan, sekalipun di tengah jalan dia terganggu oleh sesuatu, tentu pula ia akan melepaskan diri dan buru-buru kembali, tetapi sekarang tidak terlampak ia pulang, apakah dia sendiri menemukan hal-hal yang jauh lebih penting? Atau karena kepergok musuh yang terlalu tangguh hingga tidak mampu melepaskan diri? Tetapi Pat-moay punya Ginkang sudah tiada taranya, ilmu pedangnya juga tiada bandingannya, sepantasnya tidak nanti ia mendapatkan kesukaran."
Demikianlah Kam Hong-ti terus berpikir.
"Selama ini Lu-cici selalu kian-kemari untuk kepentingan diriku, selama ini pula belum pernah aku menghaturkan terima kasih padanya,"
Kata Hiau-lan.
"Jika hari ini ia masih belum kembali, besok juga aku pergi mencarinya bersama kau!"
Begitulah, sesudah mengaso semalam, besoknya baru Pang Ing menceritakan pada Hiau-lan tentang pertemuannya dengan ibu dan adiknya di Pat-tat-nia secara kebetulan, tentu saja Hiau-lan ikut bergirang dan bersyukur keluarga yang tadinya berantakan akhirnya bisa berkumpul kembali.
"Sungguh aneh, dicari-cari tidak ketemu, tapi akhirnya diperoleh tanpa buang tenaga sedikitpun, hari ini rasa hatiku yang tertekan selama belasan tahun ini benar-benar terbebas seluruhnya,"
Ujarnya kemudian dengan muka berseri-seri. Dan bila ingat pada Su-so atau ipar seperguruannya, ia menjadi kangen sekali ingin bisa lekas berjumpa.
"Ibu pun sangat terkenang pada dirimu, ia sangat suka padamu!"
Kata Pang Ing sambil tersenyum malu-malu.
"Tempat yang dituju Lu Si-nio itu apakah berjarak jauh dari Pat-tat-nia?"
Kemudian Teng Hiau-lan bertanya.
"Tempat yang dia cari adalah kampung kediaman pelukis she Tan, kawan Boat-wan Lojin, yang terletak di sebelah timur Pat-tat-nia,"
Pang Ing menerangkan.
"Sedang kelenteng dimana ibu tinggal terletak di bukit utara Pat-tat-nia. Lam-kau yang aku tuju itu sebaliknya terletak di barat Pat-tat-nia, jaraknya tidak jauh antara satu dan yang lain."
"Kalau begitu setelah aku dan Kam-tayhiap menemukan Si-nio, barulah pergi menyambangi kalian,"
Kata Hiau-lan akhirnya.
Tetapi bila pemuda ini ingat di masa kecilnya sang Su-so raemanggilnya sebagai adik cilik, tanpa terasa mukanya menjadi merah jengah.
Agaknya Pang Ing dapat meraba perasaan orang, maka ia pun tersenyum.
"Baiklah, aku dan Li-koko kembali dulu ke kelenteng itu untuk memberitahukan pada ibu, agar beliau bersiap menyambut kedatanganmu,"
Katag;adis ini akhirnya.
Kembali pada Pang Lin yang tinggal di kelenteng bersama ibunya.
Setelah anak dara ini pulih ingatannya, perasaannya yang selama ini diliputi awan gelap seketika menjadi terang, ia menjadi lebih lincah dan lebih segar daripada dulunya.
Terhadap ilmu tabib Li Ti, ia dan ibunya cukup yakin dan menaruh kepercayaan penuh pada kepandaian pemuda itu, maka ia pun tidak begitu menguatirkan penyakit Teng Hiau-lan seperti Pang Ing.
Sebaliknya yang merasa masgul dan diliputi kekuatiran adalah Khong Liang dan Thio Thian-ti, belasan orang mereka berjubel tinggal di dalam kelenteng itu, di antaranya lebih separah belum sembuh dari lukanya, maka mereka sangat kuatir kalau kena digerebek pasukan pemerintah.
Karena itu Pang Lin sering disuruh meronda ke sekitar bukit.
Setelah dua hari berlalu dengan selamat, pada hari ketiga ketika mereka sedang sarapan pagi, Thio Thian-ti yang tulang pundaknya mulai pulih dari lukanya dan sudah bisa bergerak, sekonyong-konyong membuang sumpit dan mangkoknya terus mendekam ke atas tanah.
"He, apa yang kau lakukan?"
Cepat Pang Lin bertanya dengan heran.
Dalam hati anak dara ini menjadi geli, diam-diam ia menertawai kelakuan Thio Thian-ti yang waktu itu seperti kura-kura yang sedang tengkurap di atas tanah.
Tetapi Thian-ti tidak menjawab pertanyaan tadi, ia terus mendekam dengan menempelkan telinga ke tanah, setelah agak lama baru kelihatan ia berbangkit.
"Ada beberapa kelompok orang yang melarikan kuda mereka dengan cepat lewat di sebelah timur bukit, syukur mereka tidak menuju ke atas gunung, tapi kita harus berjaga-jaga,"
Katanya kemudian.
"Nona Lin, terpaksa harus membikin repot kau lagi, coba kau periksa kaki gunung sebelah timur untuk melihat apa ada terjadi sesuatu dan siapa pula kelompok orang itu."
Thio Thian-ti adalah begal besar kalangan Kangouw, kepandaian cara mendengarkan suara dengan mendekam di atas tanah biasanya sangat jitu.
Karena itu, ketika Pang Lin mnengintai ke sebelah timur bukit, betul juga ia lihat di kaki gunung sana beberapa kelompok orang yang terdiri dari tiga sampai lima orang sedang melarikan kuda mereka dengan cepat, tampaknya orang-orang itu seperti petugas atau kaum opas.
Tak lama kemudian, rupanya kawanan opas itu sudah lewat seluruhnya dan selagi Pang Lin hendak kembali, tiba-tiba ia lihat ada beberapa penunggang kuda sedang mendatangi pula secepat terbang, waktu ia tegasi, penunggang kuda yang paling depan ternyata seorang wanita, kudanya putih tetapi pakaiannya merah, hingga kelihatannya sangat menyolok.
Di belakang wanita itu menyusul tiga opas sedang mengejar dengan kencang, kepandaian menunggang kuda si wanita ternyata sangat tinggi, tapi ketiga pengejarnya juga tak lemah, setelah meng-udak sampai di bawah gunung, mendadak si wanita baju merah me-ngeprak kudanya terus melompat ke lembah gunung, tapi binatang tunggangannya mendadak meringkik ngeri, empat kakinya bertekuk lutut hingga si wanita terjerembab ke depan.
Syukur ia tidak sampai jatuh terguling, melainkan terus berjumpalitan, habis itu segera ia pasang gendewa terus membidikkan pelurunya bagaikan hujan, ketiga opas tadipun melompat turun dari kuda mereka, dengan senjata mereka menyampuk datangnya peluru yang diarahkan padanya, dalam sekejap saja, si wanita tadi sudah terkepung rapat oleh kawanan prajurit yang sudah menyusul tiba.
Pang Lin tertawa geli ketika ia mengenali siapa adanya wanita itu.
"Kiranya perempuan ini lagi, dahulu aku memergoki dia lagi berkelahi dengan opas di penginapan, kini kembali mereka berhantam di sini,"
Demikian ia membatin.
"Ha, memangnya aku sedang hendak mencari dia, tahu-tahu kini. muncul sendiri, sungguh sangat kebetulan! Eh, kepandaiannya tampaknya sudah jauh lebih maju daripada dahulu. Tetapi ketiga opas lawannya agaknya bukan sembarang opas dan tidak boleh dipandang enteng!"
Lambat-laun wanita yang seorang diri melawan tiga orang itu kelihatan mulai kewalahan dan kececar.
"Hai, sungguh besar sekali nyali kalian,"
Demikian terdengar wanita itu membentak.
"Apa kalian belum pernah mendengar nama Thi-cio-sin-tan Nyo Tiong-eng? Aku inilah putrinya!"
Kiranya wanita ini bukan lain daripada Nyo Liu-jing.
Ayahnya, Nyo Tiong-eng, adalah pemimpin kalangan persilatan lima propinsi utara, baik kalangan atas maupun lapisan bawah, semuanya segan pada namanya, namanya disegani di daerah utara seperti nama Kam Hong-ti yang disegani di daerah selatan.
Tak terduga, demi mendengar orang menggertak dengan nama Nyo Tiong-eng, ketiga orang itu berbalik tertawa terbahak-bahak.
"Haha, apa kau maksudkan si tua bangka she Nyo itu,"
Demikian seorang di antaranya menyahut.
"kebetulan sekali, kami justru sedang ingin berbesanan dengan dia. He, nyonya muda, sepanjang jalan kau kelihatan menangis, tentu kau kematian lakimu dan belum mendapatkan gantinya. Nah, sekarang kau boleh pilih sendiri, kami bertiga ini boleh kau ambil satu yang kau suka!"
Sungguh tidak kepalang gusar Nyo Liu-jing oleh godaan itu, begitu ia ayun pedangnya, secepat angin ia menyerang dengan hebat, tapi ketiga lawannya hanya melayani dia dengan cengar-cengir sambil menggoda pula dengan perkataan yang rendah, keruan semakin menjadikan kalapnya Nyo Liu-jing, ia merangsek lebih kencang, hingga pertarungan berlangsung seru sekali.
Kiranya belasan hari yang lalu, karena permintaan Teng Hiau-lan, oleh Kam Hong-ti telah dikirim surat kepada Nyo Tiong-eng untuk memberitahukan tentang keadaan Hiau-lan.
Dalam surat pemuda itu telah diterangkan bahwa dirinya merasa berhutang budi pada orang tua itu, tapi tak bisa membalas, sebaliknya kini harus mengalami nasib malang dan jelas pasti akan mati, maka dalam suratnya ia meminta maaf pada Nyo Tiong-eng ayah dan anak serta mohon membatalkan ikatan perjodohannya, dengan demikian agar masa remaja Nyo Liu-jing tidak ikut menjadi korban.
Tentu saja tidak kepalang terkejut Nyo Tiong-eng demi menerima surat pesan Teng Hiau-lan itu."
Tetapi ia sendiri sudah cacat dan tidak bisa bergerak, terpaksa ia mengirim putrinya secepat kilat berangkat ke kotaraja untuk mencari kabar lebih lanjut, pada putrinya ini Nyo Tiong-eng berpesan pula agar mencari tabib terpandai di kotaraja apabila Hiau-lan masih belum tewas.
Tetapi kalau keburu meninggal, harus membawa kembali miang abunya ke rumah.
Nyo Tiong-eng memberi sangu putrinya beberapa biji emas untuk persediaan ongkos tabib, bahkan ia menulis pula beberapa pucuk surat untuk berkenalan dengan tokoh-tokoh Bu-lim di kotaraja.
Kuda keluaran Soatang pada umumnya memang bagus, dengan sendirinya binatang tunggangan Nyo Liu-jing adalah kuda pilihan pula, maka tidak sukar untuk menempuh dua-tiga ratus li dalam sehari.
Begitulah maka tanpa kenal lelah Nyo Liu-jing melarikan kudanya seperti terbang menuju kotaraja, tetapi karena surat Hiau-lan datangnya terlambat, maka ketika sampai di daerah Hoay-yu, waktunya sudah lewat tiga hari dari batas tempo hidup Teng Hiau-lan, bila teringat oleh Nyo Liu-jing kalau dirinya nanti sampai di tempatnya, mungkin waktu itu pula Hiau-lan sudah dimasukkan peti mati dan selamanya tak akan bisa berjumpa lagi, ia menjadi sangat berduka, ia keprak kudanya secepat terbang sambil mengucurkan air mata pula.
Wanita muda seorang diri seperti Nyo Liu-jing melarikan kudanya secepat terbang, dengan sendirinya sangat menarik perhatian orang, apalagi ia menangis pula di atas kudanya, kelakuannya yang luar biasa ini sudah tentu menimbulkan macam-macam dugaan.
Pada hari itu, kebetulan ada sekawanan Hiat-ti-cu bersama beberapa bintara Kim-wi-kun (pengawal istana) sedang melakukan tugas di sekitar Lam-kau, yang hendak mereka tangkap adalah seorang buronan yang sangat penting, sebenarnya tidak sempat untuk mengurus orang lain.
Akan tetapi ada tiga orang di antara mereka berasal dari kaum penjahat, biasanya suka merusak kaum wanita, ketika mereka nampak muka Nyo Liu-jing cukup cantik dan menggiurkan, benda yang termuat di atas kuda pun dapat dikenali adalah barang berharga sebangsa emas-perak, dengan sendirinya timbul pikiran jahat mereka untuk merampas harta dan memperkosa kehormatan si gadis.
Oleh karena itulah, ketiga orang ini telah meninggalkan induk pasukan mereka, dengan kencang mereka menguntit jejak Nyo Liu-jing, setelah tersusul lebih dulu mereka robohkan kuda si nona dengan senjata rahasia dan menyusul beramai mereka mengembut.
Saat itu Nyo Liu-jing lagi merasa payah karena keroyokan itu, ketika mendadak terdengar suara tertawa orang, bagaikan burung tahu-tahu Pang Lin sudah melayang turun dari atas bukit secepat terbang, begitu tangan gadis ini bergerak, segera tiga Hui-to 'Toat-beng-sin-to', pisau sakti penjabut nyawa, telah menyambar ke arah ketiga orang tadi.
Ketiga anggota Hiat-ti-cu itu meski bukan lawan lemah, mana bisa mereka menahan sambaran pisau beracun yang mendadak ini, begitu kuat dan cepat datangnya Hui-to itu, seorang di antara tiga orang yang kepandaiannya paling rendah seketika lehernya tembus oleh pisau terbang itu dan melayang jiwanya.
Seorang lagi berniat memukul jatuh Hui-to dengan goloknya, tetapi tidak urung pisau terbang Pang Lin menyerempet lewat ke samping melukai lengannya, tanpa ampun ia pun menggeletak roboh juga.
Tinggal seorang lagi ternyata ilmu silatnya lebih tinggi, begitu ia sampuk pisau terbang dengan goloknya, berbareng ia jatuhkan diri ke samping dengan gerakan berjumpalitan, lalu ia menggelinding beberapa kali di tanah, dengan demikian baru sempat menghindarkan diri dari Hui-to, namun ini sudah cukup membikin ia ketakutan, tanpa pikir lagi segera ia lari terbirit-birit.
Tentu saja kejadian ini membikin Nyo Liu-jing heran sekali, waktu ia mendongak, ia lihat Pang Lin sudah berdiri di depannya dengan tertawa, dari kerlingan mata dan gerak alis anak dara ini, tampak sekali sikap yang memandang rendah padanya.
Dapat diduga bahwa Pang Lin tentu disangka sebagai Pang Ing oleh Nyo Liu-jing.
Sebagaimana telah diketahui, setahun yang lalu ia pernah ditempeleng sekali oleh Pang Ing di rumahnya sendiri, sakit hati ini sampai sekarang masih belum lenyap, kini meski orang telah menolong jiwanya, namun nampak sikap si anak dara yang menghina padanya ini, sudah marah ia menjadi tambah gemas, akan tetapi tak enak juga ia hendak mengumbar amarahnya.
"Kenapa kau tergesa-gesa dalam perjalanan, Bibi?"
Demikian Pang Lin bertanya setelah melirik Nyo Liu-jing lagi.
"Apa keadaan Kongkong (maksudnya Nyo Tiong-eng) sudah baikan? Wah, kepan-daianmu dalam ilmu membidik peluru sudah jauh lebih maju, Bibi!"
Pang Lin sengaja memuji, tapi sebenarnya mengolok-olok dan menusuk perasaan orang.
Dua hari yang lalu, dari Tacinya, Pang Ing, ia sudah mengetahui hubungan antara Nyo Liu-jing dengan Pang Ing dan Teng Hiau-lan, maka sebelum Nyo Liu-jing membuka suara, ia sengaja mengajak bicara pada orang dengan berlagak sebagai Tacinya.
Keruan saja kata-kata yang bersifat olok-olok tadi membikin Nyo Liu-jing semakin naik darah.
"Hm", demikian ia menjengek.
"Sudah mengerti, pura-pura tidak tahu? Bukankah selama setahun ini kau selalu berdampingan dengan Encekmu?"
"Ya, ya, memang siang dan malam kami selalu berada berdampingan, wah, betul-betul menyenangkan sekali!"
Sahut Pang Lin dengan sengaja berlaku genit.
Dapat dibayangkan jawaban ini semakin membikin Nyo Liu-jing berjingkrak, rasa cemburunya jadi memuncak, tanpa tertahan ia membalas dengan beberapa kali tertawa sindiran.
Tetapi ketika Pang Lin melotot padanya, ia rada mengkeret dan tak berani garang lagi, karena ia pun ingin sekali mendapat kabar Teng Hiau-lan, maka dengan menahan rasa gusar ia lantas bertanya lagi.
"Dan bagaimana keadaan Hiau-lan? Katanya kau begitu baik dengan dia, tapi pada saat ia sakit payah mendekati ajal, kau berba-lik sempat keluyuran ke sini?"
Mendengar teguran ini, tidak kepalang rasa geli Pang-Lin, ia sengaja tertawa cekikikan.
"Darimana kau mendengar kabar itu? Hakikatnya Teng-sioksiok sama sekali tidak menderita sakit apa-apa,"
Sahutnya kemudian.
Dalam hati Pang Lin memang sudah menyiapkan serentetan kata-kata untuk mempermainkan sang bibi ini, tak tahunya apa yang ia katakan ini berbalik kena benar benar di hatinya.
Memang betul pada hakikatnya Teng Hiau-lan sama sekali tidak menderita sakit apapun.
Tetapi karena jawaban ini, bukan main kaget dan heran Nyo Liu-jing.
"Apa kau bilang?"
Ia menegas.
"Hakikatnya Hiau-lan tidak sakit?"
"Ya, memang!"
Sahut Pang Lin.
"Tetapi kenapa ia menulis surat pada ayahku dan bilang kemarin dulu adalah hari ajalnya, malahan aku mengira ia telah meninggal?"
Ujar Liu-jing. Mendengar penuturan ini, Pang Lin pura-pura mengunjuk rasa terkejut.
"Ha, begitukah dia memberi kabar?"
Demikian katanya dengan lagak heran.
"Padahal kemarin malam dia masih makan manisan Tho yang aku bikinkan untuknya, mana mungkin dia bisa mati. Eh, memang aneh, sebab apakah dia menulis surat itu padamu?"
Habis berkata lalu ia pura-pura berlagak berpikir, selang tak lama baru ia bertepuk tangan dan berkata pula dengan tertawa.
"Ah, mengertilah aku, sungguh busuk Hiau-lan ini, kenapa aku sama sekali tidak diberitahu olehnya!"
Mendengar cara berkata anak dara ini begitu wajar dan begitu mesra, panggilan Encek atau paman yang tadinya masih dipakai kini bahkan sudah berubah langsung memanggil nama Hiau-lan, pula lagu suaranya begitu wajar, seperti segala sesuatu selalu Teng Hiau-lan berunding dulu dengan anak dara ini, keruan air muka Nyo Liu-jing berubah hebat, hatinya tidak kepalang panasnya, rasa cemburu membakar.
* Akan tetapi karena ingin mengetahui sebab apa Teng Hiau-lan menulis surat itu kepadanya, maka terpaksa ia mengertak gigi dan bersabar.
"Kau bilang mengerti, apa yang kau ketahui?"
Akhirnya ia bertanya lagi sesudah menenangkan diri.
"Bukankah dalam suratnya ia mengemukakan hendak membatalkan pertunangannya dengan kau?"
Demikian tiba-tiba Pang Lin bertanya.
"Memang sudah lama ia mengatakan padaku, ia minta aku bantu mencarikan akal supaya ada sesuatu alasan untuk menghindari pernikahan dengan kau!"
Belum selesai Pang Lin mengucapkan kata-katanya, saking gusarnya Nyo Liu-jing sudah berteriak dan berjingkrak.
"Kurangajar, betul-betul binatang yang tidak kenal kebaikan dan melupakan budi orang!"
Tanpa pikir lagi ia lantas mencaci-maki.
"He, jangan kau sembarang memaki Encekku, jika kau berani memaki lagi, jangan kau salahkan aku ambil tindakan tegas!"
Sahut Pang Lin melihat akalnya sudah mulai jalan.
Waktu itu saking kalapnya Nyo Liu-jing sudah lupa daratan, ia tidak memikirkan kepandaiannya yang jauh di bawah orang (ia menyangka Pang Lin sebagai Pang Ing yang dulu pernah menghajar dia), tanpa berkata lagi segera ia memukul ke muka Pang Lin.
Tetapi dengan sekali lompat Pang Lin hindarkan tempelengan itu.
"Kau terhitung Encimku, aku mengalah kau sekali pukulan tadi!"
Demikian sambutnya kemudian.
Kelakuannya ini mirip sekali seperti sikap Pang Ing dahulu waktu mengalah juga pada Liu-jing.
Pang Lin memang sengaja menirukan, sampai sikap dan watak Tacinya ia tiru secara mirip sekali.
Tentu saja Nyo Liu-jing semakin murka.
"Baiklah aku mengadu jiwa dengan kau, kalau berani, lebih baik kau bunuh aku saja!"
Demikian teriak Liu-jing. Berbareng sekuat tenaga ia menyeruduk ke depan dengan kepalanya. Namun dengan sekali lompat Pang Lin dapat menghindarkan diri.
"Aku tak pernah bermusuhan dengan kau, kenapa aku harus membunuh kau!"
Seru Pang Lin.
Dalam pada itu, karena serudukannya mengenai tempat kosong, saking bernapsunya sampai Nyo Liu-jing menyelonong ke depan, hampir ia jatuh terjerembab.
Setelah berdiri tegak lagi, segera ia ambil busur dan pelurunya terus membidik.
"Sundel cilik yang tak tahu malu, tidak kurang orang lelaki di jagat ini, kenapa kau hanya penujui Encekmu?"
Demikian Nyo Liujing mencaci-maki lagi. Berbareng peluru dibidikkan seperti hujan.
"Hm, dengan permainan pelurumu ini kau hendak menakuti orang?"
Dengan tertawa Pang Lin mengejek.
"Dua kali di waktu dahulu belum pernah kau membidik kena diriku, sekarang kau masih berani coba lagi!"
Sambil berkata ia berkelit, tangan pun bekerja, ia meraup sini dan menyambut sana, dengan kepandaian menangkap senjata rahasia ajaran Han Tiong-san, dengan gampang saja Pang Lin menangkap semua peluru Nyo Liu-jing dan satu per satu dia lemparkan pula ke tanah hingga berserakan, selang tak lama, akhirnya peluru Nyo Liu-jing pun habis dan tetap tidak kena membidik orang.
Akhirnya Pang Lin gusar juga, segera ia memaki.
"Menurut pendapatku, kau sendiri perempuan hina-dina yang tak punya muka, tidak kurang lelaki di jagat ini, tapi kau justru pe-nujui Hiau-lan, dia tak suka padamu, sebaliknya kau masih terus menginginkan dia, kau yang betul-betul tak punya muka!"
Saking gemasnya, muka Nyo Liu-jing menjadi pucat, dalam kalapnya ia tarik pedangnya terus menusuk serabutan tak teratur.
"Baiklah, hari ini kalau bukan kau yang mati biar aku yang binasa!"
Teriaknya.
Tetapi dalam hati ia yakin 'Pang Ing' pasti tak berani membunuh dirinya, maka sengaja ia berlagak garang.
Sebaliknya kelakuannya ini disambut dengan ganda tertawa oleh Pang Lin, anak dara ini mendadak meloncat ke atas, ia keluarkan kepandaian menubruk dari atas cara elang kucing dari jurusan yang sama sekali tak disangka orang, tahu-tahu ia dapat merebut pedang dari tangan Nyo Liu-jing, lalu dengan tenaga dalam yang kuat ia patahkan senjata itu jadi dua terus dilemparkan ke jurang.
"Hai, dengarkan yang jelas,"
Dengan suara lantang ia memperingatkan.
"hanya dengan kepandaianmu ini kau hendak membunuh aku, hm, jangan kau mimpi di siang bolong aku pun tidak ingin membunuh kau, kalau kau masih berlaku garang, jangan kau salahkan kalau kulit mukamu teriris oleh pisauku, kau akan menjadi wanita muka siluman. Berani berkata tentu aku berani berbuat, kalau kau tak percaya, ini biar aku berikan contoh. Awas! Pisau pertama ini akan menabas putus tali gendewamu!"
Betul saja ketika tangannya mengayun, seketika tali gendewa Nyo Liu-jing terputus.
"Dan pisau yang kedua ini, aku akan memapas rambutmu!"
Terdengar Pang Lin berseru pula.
Berbareng itu sinar mengkilap menyambar, lekas Nyo Liu-jing berkelit dalam gugupnya, namun angin tajam telah menyambar tiba secepat kilat, tahu-tahu dirasakan kepalanya menjadi dingin, ketika ia meraba, ternyata sebagian rambut sudah terpapas bersih hingga kulit kepalanya kelihatan, di pinggir kepala jarang-jarang, sebaliknya botak di tengah kepala, tentu saja sangat lucu kelihatannya.
"Kau mau angkat kaki tidak, kalau tidak, pisauku yang ketiga ini segera membikin cacat mukamu!"
Gertak Pang Lin.
Dalam keadaan sengit tadi, meski Nyo Liu-jing seketika tak takut mati, tapi ia menjadi takut kalau betul Pang Lin merusak kulit mukanya, karena itu, tanpa berpaling lagi segera ia lari sipal-kuping.
Sesudah Pang Lin berhasil menggoda dan menggertak lari Nyo Liu-jing, saking gembiranya anak dara ini bergelak tertawa, ia menuju ke pinggir kali pegunungan itu dan bercermin pada air sungai.
"Kami Taci dan Adik dilahirkan dengan rupa begini mirip, meski banyak mengalami kesukaran, tapi banyak pula faedahnya!"
Demikian ia menggumam sendiri.
Watak Pang Lin suka bersih, setelah perkelahian tadi, mukanya kotor kena tanah debu, rambutnya pun sedikit kusut, karena itu ia lantas mencuci muka dengan air kali yang jernih dan membetulkan rambutnya yang kusut, tiba-tiba ia teringat pada Nyo Liu-jing yang lari sipat-kuping dengan kepala botak tadi, tanpa tertahan ia tertawa geli lagi.
Selagi tertawa cekikikan, tiba-tiba ia dengar ada orang sedang menegur di belakangnya.
"Ha, aku kira siapa, tak tahunya kau! Apakah yang sedang kau tertawakan, manis benar tampangmu. Hayo pulang ke istana dan tertawalah di sana untuk Hongsiang!"
Demikian kata orang itu.
Tentu saja Pang Lin terperanjat, ia angkat kepalanya memandang, maka tertampaklah seorang Lamma baju merah dengan muka cengar-cengir sedang berdiri di sampingnya.
Hendaklah diketahui bahwa ilmu silat Pang Lin sekarang sudah terlatih cukup matang, sebaliknya secara diam-diam tanpa menerbitkan suara, Lamma jubah merah ini bisa berada di sampingnya secara mendadak, maka dapat dibayangkan orang ini pasti memiliki kepandaian sangat tinggi.
Tetapi dasar Pang Lin memang setan cerdik, ia insaf telah menemukan lawan kuat, maka sengaja ia berlaku tenang.
"Eh, apakah kau ini Tay-hoat-su (imam besar) dari istana?"
Dengan tertawa ia balas bertanya.
"Hm, betul-betul Kuijin yang pelupa,"
Demikian sahut Lamma itu dengan mata mendelik yang aneh.
"Untung aku masih memiliki sedikit kemampuan, kalau tidak, bukankah aku sudah mampus oleh pukulan Thian-san-ciang-hoat?"
Mendengar jawaban ini, sejenak Pang Lin menjadi bingung, tetapi segera ia mengerti kalau orang telah keliru sangka.
"Sudah sering aku membikin gara-gara untuk Cici, tetapi sekali ini Cici yang telah membikin gara-gara untuk aku!"
Demikian pikir anak dara ini. Dalam pada itu, Lamma jubah merah tadi segera mengulur tangannya hendak mencekal tangan Pang Lin, tapi dengan cepat Pang Lin melompat pergi.
"Kurangajar,"
Ia lantas mendamprat.
"Aku memang sedang ingin pulang istana untuk bertemu dengan Hongsiang, tidak perlu kau ikut mengurus diriku, kau berani pegang aku? Baik, nanti aku laporkan Hongsiang bahwa kau telah menggoda diriku."
Sebenarnya Lamma tadi sudah mengulur tangan hendak menjambret lagi, tapi karena dampratan ini menjadi urung, ia tarik kembali tangannya.
"Bagus, Lin-kuijin, kau belum disayang, tapi sudah hendak memfitnah aku?"
Katanya kemudian.
"Tetapi sekali ini betapapun kau berlaku licin, jangan harap bisa lolos dari genggamanku. Jika kau memang mau bertemu Hongsiang, nah, sekarang juga marilah berangkat!"
"Kenapa terburu-buru, tidakkah kau lihat rambutku masih kusut?"
Sahut Pang Lin.
Habis itu ia berjongkok pula ke tepi sungai, dengan air ia mencuci rambutnya.
Karena kebandelan orang, Lamma itu menjadi serba salah, ia berdiri di belakang anak dara ini dan menjadi ragu-ragu apakah perlu menggunakan kekerasan untuk menawan orang atau tidak?
Sementara itu Pang Lin sudah selesai mencuci rambutnya, lalu ia bikin rapi pakaiannya pula.
"Baiklah, mari sekarang kita berangkat!"
Katanya kemudian.
Akan ictapi tiba-tiba ia geraki tangannya, secepat kilat tiga buah pisau sakti pencabut nyawa yang lihai menyambar ke depan, karena jaraknya dekat, ditambah pula serangan ini sama sekali di luar dugaan, betapapun tinggi kepandaian Lamma jubah mer.ah itu, paling banyak ia hanya bisa menghindarkan sebuah pisau berbisa itu, tetapi dua pisau lainnya dengan tepat mengenai dadanya di tempat yang berbahaya.
"Roboh, hayo, roboh!"
Senang sekali Pang Lin melihat serangannya berhasil, maka ia tertawa sambil bertepuk tangan.
Di luar dugaan, begitu kedua pisau membentur tubuh orang, sekonyong-konyong terdengar suara keras laksana menumbuk pada batu atau baja saja, kemudian pisau itupun jatuh ke tanah.
Tidak kepalang kejut Pang Lin, tanpa ayal lagi kedua tangannya mengayun berbareng, -sekaligus ia timpukkan pula enam buah Hui-to, tetapi Lamma jubah merah itu ternyata tidak menjadi gugup, ia lindungi kedua matanya dengan menangkap dua belati yang mengarah ke mukanya, tetapi membiarkan tubuhnya dihantam oleh belati lainnya, begitu menyentuh badannya, tahu-tahu keempat Hui-to itu jatuh sendiri ke tanah.
"Haha, tubuh kakek sudah kebal, mana bisa takut pada kau punya besi tua ini!"
Demikian dengan bergelak tertawa Lamma itu mengejek.
Habis itu segera ia melompat maju, bagaikan elang menyambar kelinci, dengan telapak tangannya yang lebar, dari atas ia hendak mencengkeram kepala Pang Lin.
Lamma jubah merah ini bukan lain ialah Emopu, ia pun ditugaskan menangkap buronan yang penting itu, di tengah jalan ia temukan Hiat-ti-cu yang berhasil lolos dari Hui-to Pang Lin dan melaporkan bahwa di lembah pegunungan telah dijumpai seorang nona cilik berkepandaian sangat lihai, karena itu dengan cepat Emopu lantas menyusul ke sini.
Ia pikir bila berhasil menangkap Lin-kuijin, tentu akan membikin Hongsiang jauh lebih senang daripada menangkap buronan yang penting.
Karenanya ia menyusul datang dengan cepat dan betul saja ia dapatkan Pang Lin masih berada di tempatnya.
Begitulah, atas cengkeramannya tadi berulang-kali Pang Lin menghindarkan diri dengan gerakan cara elang kucing, ketika untuk ketiga kalinya Emopu hendak menjambret, mendadak Pang Lin membal ke atas, dari atas ia tekuk tubuhnya, terus memutar pedang dan menusuk dengan cepat mengarah kedua mata lawan.
Karena serangan ini, lekas Emopu menundukkan kepala sambil kedua telapak tangan diulur ke samping untuk membetot tangan si gadis.
"Pergi!"
Tiba-tiba Pang Lin membentak, pedangnya membalik ke samping.
Selama setahun terakhir ini secara giat Pang Lin telah memperdalam Lwekang dari Bu-kek-pay, tipu serangannya bertenaga sangat besar pula.
Dalam keadaan demikian, sungguhpun Emopu memiliki ilmu 'Kim-ciong-cu' dan 'Tiat-poh-san', yakni ilmu kekebalan rubuh yang tak mempan senjata, juga tak berani membiarkan urat nadinya kena ditusuk pedang, maka lekas ia tarik tangannya yang menyerang tadi dan melangkah ke samping, dari sini tiba-tiba ia baliki sebelah tangan terus menyampuk dengan keras.
"Lepas senjata?"
Bentaknya.
Pukulan ini ternyata membawa angin yang keras hingga Pang Lin merasa tangannya sakit kesemutan, hampir saja pedangnya jatuh ke tanah, cepat ia melompat ke samping dan melarikan diri.
Melihat pukulannya yang keras ini tetap tak mampu membikin senjata si anak dara mencelat dari tangannya, mau tak mau Emopu terheran-heran juga.
"Hm, budak liar betul-betul ada sedikit kemampuan, tapi hendak lolos dari tanganku, itulah lebih susah bagimu daripada hendak terbang ke langit!"
Demikian ia mendengus.
Habis itu, tiba-tiba ia melayang maju terus memburu, begitu kedua telapak tangannya didorong ke depan, sekali ini tenaganya jauh lebih besar dari tadi, angin pukulannya pun lebih keras, sesaat Pang Lin merasa dirinya seperti kena ditumbuk suatu kekuatan yang maha besar, lekas ia mendoyong ke depan mengikuti angin pukulan orang, dengan demikian ia terbawa pergi sejauh beberapa tombak terus jatuh terguling.
"Hahaha, luka tidak, manisku? Ke sinilah biar aku obati kau!"
Dengan bergelak tertawa Emopu mendekati si nona.
Akan tetapi dengan cepat Pang Lin meloncat bangun, begitu ia mengayun tangan, lagi-lagi dua buah pisau menyambar ke arah mata orang.
Emopu menjadi gusar, sekali gablok ia hantam jatuh kedua pisau itu ke tanah, selagi ia hendak memukul pula, tiba-tiba terdengar ada suara teriakan orang dari jauh.
"He, siapa berani kurangajar pada adikku?"
Waktu Emopu berpaling, ia lihat dari lereng bukit sana segu-lung bayangan putih sedang melayang datang secepat terbang, hanya sekejap saja, bayangan ini sudah berubah menjadi seorang gadis jelita.
Gadis yang datang tepat pada waktunya ini ternyata adalah Pang Ing.
Ketika nampak rupa kedua anak dara yang mirip seperti pinang dibelah dua ini, seketika Emopu menjadi ternganga terpesona.
Datangnya Pang Ing ternyata sedemikian cepat, suaranya baru terdengar, orangnya menyusul sudah tiba di tempat, tanpa bertanya lagi, secepat kilat pedangnya menusuk ke tenggorokan Emopu.
Emopu sempat mengegos, ia baliki tangannya terus hendak mencekal pergelangan tangan Pang Ing.
Tetapi Kiam-hoat anak dara ini terlalu hebat, sedikit putar, ujung pedangnya sudah berganti arah menusuk ke 'Sam-goan-hiat' di paha musuh.
Gusar sekali Emopu, ia mengandalkan tubuhnya yang kebal, ia tidak menghindari tusukan Pang Ing ini, sebaliknya ia malah me-rangsek maju, begitu tangannya mengulur segera ia mencengkeram ke pundak Pang Ing.
Tubuh Emopu memang tidak gentar terhadap senjata biasa, tetapi ia tidak tahu bahwa pedang 'Toan-giok-kiam* yang dipakai Pang Ing adalah pedang pusaka yang digembleng oleh Hui-bing Siansu, cikal-bakal Thian-san-pay yang lihai, ketajaman senjata ini bisa memotong besi seperti merajang sayur, sama sekali berlainan dengan senjata biasa, maka begitu kena tusuk, segera masuk beberapa senti ke dalam daging.
Tentu saja Emopu kesakitan, lekas ia kumpulkan Lwekang untuk membikin dagingnya ambles ke dalam, ia paksa ujung senjata orang keluar dari dalam daging pahanya.
Tetapi karena ia mengumpul tenaga untuk kakinya, tenaga pukulan tangannya dengan sendirinya jadi berkurang, karena itu Pang Ing sempat melepaskan diri dari cengkeraman orang, tetapi pundaknya sudah panas pedas.
Masih beruntung baginya karena Emopu menjadi ragu siapa di antara kedua anak dara di hadapannya ini yang diinginkan Hongsiang, oleh karenanya tenaga yang dia keluarkan tidak sepenuhnya, kalau tidak, dapat dipastikan 'Pi-pe-kut' di pundak Pang Ing akan remuk diremas.
Sebaliknya 'Sam-goan-hiat' yang diarah Pang Ing adalah satu urat nadi yang mematikan di tubuh orang, meski tempat ini tepat kena ditusuk, namun Lamma jubah merah ini ternyata masih bisa bergerak leluasa dan melompat gesit, mau tak mau hal ini sangat mengejutkan Pang Ing.
Setelah mengumpul tenaga dalam untuk menutup jalan darahnya, tapi toh sakitnya tidak menjadi hilang, akhirnya Emopu menjadi kalap.
"Kurangajar, sekarang biar kau Kuijin atau bukan, pasti akan kukirim kau ke surga!"
Demikian ia berteriak murka sambil kedua telapak tangannya menolak ke depan dengan membawa angin yang keras.
"Awas Cici!"
Seru Pang Lin.
"Bagus!"
Bentak Pang Ing juga.
Berbareng ia melambung ke udara setinggi lebih tiga tombak, angin pukulan yang keras tadi menyambar lewat di bawah kakinya, sedikitpun tidak melukainya.
Setelah terapung di udara, Pang Ing masih sempat mengeluarkan tipu serangan lihai Thian-san-kiam-hoat yang disebut 'Peng-ho-to-koa' atau sungai es balik terapung, sinar pedang gemerlapan menyambar ke bawah.
Nampak ketangkasan anak dara ini, Emopu terkejut, kini ia tak berani melawan orang dengan tangan kosong lagi, lekas ia keluarkan semacam kebutan yang biasa digunakan kaum padri, segera ia menangkis ke atas.
Tipu serangan Pang Ing tadi sebenarnya sangat lihai, tak terduga mendadak pedangnya bisa kena dibelit oleh kebutan orang hingga sama sekali ia tak mampu mengeluarkan tenaganya lagi, tentu saja ia kaget, sementara itu ia lihat Emopu sedang bergelak tertawa pula, berbareng dengan jari sebelah tangannya terus hendak menutuk 'Koh-cing-hiat'.
Melihat sang Taci terancam bahaya, tanpa diminta Pang Lin menubruk maju, begitu pedangnya bergerak, kontan ia tusuk punggung Emopu.
Meski kedua anak dara kakak-beradik ini bisa bekerja sama dengan rapat, tetapi bila Emopu menyerang maju secara berani, mereka selalu terancam bahaya.
Syukur tak lama kemudian, ketika tubuh kedua anak dara ini berputar cepat dan bertukar tempat, Emopu menjadi bingung, ia tak dapat membedakan yang mana Pang Ing dan yang mana Pang Lin, dengan sendirinya pula ia tak bisa mengenal pedang siapa yang pedang pusaka, karena sangsi, akhirnya ia pun tak berani sembarangan merangsek maju.
Ia hanya menggunakan senjata kebutnya untuk mendesak senjata orang sambil menantikan kesempatan baik untuk memberi pukulan mematikan.
Setelah pertempuran berlangsung lagi, tiba-tiba dari atas gunung datang pula seorang, yang datang ini bukan lain adalah Li Ti.
Semula pemuda ini mengira, ikut turun tangannya Pang Ing betapa tangguhnya musuh pasti akan kewalahan juga, siapa tahu setelah menonton sekian lama, ia lihat Emopu tetap memainkan kebutnya dengan lihai sekali, dengan Thian-san-kiam-hoat dari Pang Ing dan Bu-kek-kiam-hoat yang bagus dari Pang Lin, kedua gadis ini berbalik kewalahan dan hanya bisa menangkis saja.
Maka tanpa ayal lagi ia lantas ikut menerjang turun.
Kedatangan pemuda ini ternyata dapat diketahui oleh Emopu yang memiliki panca-indera yang tajam.
"Hayo, kalian boleh maju beberapa orang lagi, tidak nanti aku gentar padamu!"
Demikian serunya dengan jumawa.
Habis itu, dengan sekali sabet, ia paksa pedang kedua anak dara ditarik pergi, sedang gagang kebutnya diarahkan pada Li Ti yang baru saja sampai, tiba-tiba 'Soan-ki-hiat' di dadanya disodok.
Tak terduga Kiam-hoat Li Ti luar biasa anehnya, itulah Kiam-hoat ciptaan Pek-hoat Mo-li yang boleh dikata tiada bandingannya, jelas kelihatan gaya pedangnya menuju ke kiri bagian tengah kelihatan luang, tak tersangka mendadak ujung senjatanya telah menikam ke sebelah kanan, gaya pedang berubah, cara melangkah pemuda itupun berganti, dari gaya pancingan berbalik menjadi sungguhan dan yang tadinya kelihatan menyerang sungguh-sungguh, berubah menjadi pancingan.
Bukan saja Emopu tak mampu menutuk urat nadi orang, sebaliknya ia sendiri yang hampir kena tusukan..Beruntung ilmu silat Emopu sudah sangat tinggi, begitu serangannya mengenai tempat kosong, segera pula ia bergeser ke samping, dengan demikian ia bisa menghindarkan serangan maut Li Ti.
Dengan datangnya Li Ti, kedudukan masing-masing pihak lantas berubah lagi.
Di satu pihak Li Ti bersama si kembar Pang Ing dan Pang Lin, tiga orang, tiga macam Kiam-hoat, semuanya adalah Kiam-hoat paling terkemuka di zaman ini, mau tak mau Emopu kerepotan, kalau melayani sini, yang sebelah sana menyerang, karena itu ia tidak segarang tadi, kedua belah pihak kini bisa menyerang dan bertahan, dengan demikian pertarungan seru ini kembali berlangsung lebih seratusan jurus.
Tapi dengan ikut sertanya Li Ti ke dalam kalangan pertempuran, meski dibilang ada untungnya, namun ada lemahnya juga.
Untungnya karena dengan gabungan Kiam-hoat tiga serangkai, tidak antara lama mereka sudah berada di atas angin.
Kelemahannya karena pertarungan sudah berlangsung lama, akhirnya Emopu dapat mengetahui senjata yang Li Ti gunakan bukan pedang pusaka, maka secara berani ia gunakan 'Kim-kong-ci-lik' (tenaga jari sakti), secara paksa ia hendak merebut senjata Li Ti.
Begitulah dengan senjata kebut di tangan kanannya, Emopu melayani kedua pedang tajam si kembar, sebaliknya dengan tangan kosong sebelah kiri ia merangsek Li Ti.
Dengan demikian sungguhpun Kiam-hoat Li Ti sangat aneh, tidak urung ia berada di bawah cecaran lawan, kalau bukan si kembar segera melakukan serangan balasan secara kilat, hampir Li Ti mengalami celaka.
Karena pertarungan sengit ini, masing-masing pihak sering menghadapi saat bahaya.
Akhirnya Pang Ing jadi tak sabar, tiba-tiba ia teringat pada In Gi yang diketemukan dalam penjara istana tempo hari.
Pernah In Gi mengatakan padanya bahwa tempat lemah yang menjadi ciri'Emopu adalah 'Him-ho-li-sui-ci-hiat', yaitu nama dua tempat Hiat-to.
Akan tetapi ia tidak mengetahui dimanakah letak 'Him-ho-li-sui-ci-hiat' itu di tubuh orang..Selagi ia berpikir, tiba-tiba teringat pula olehnya bahwa adik yang berada di sampingnya ini banyak mempelajari macam-macam ilmu silat, ia lantas bertanya mendadak.
"Moaymoay, tahukah kau dimana letak Him-ho-li-sui-ci-hiat?"
"O, Him-ho-ci-hiat berada tiga senti di bawah Liong-bwe-kut, sedang Li-sui-ci-hiat, ah, yaitu tempat yang menjadi pangkal jiwanya!"
Sahut Pang Lin.
Kiranya apa yang disebut Li-sui-ci-hiat itu terletak di bawah kantong kemaluan lelaki, dengan sendirinya tidak leluasa bagi Pang Lin untuk menerangkannya.
Di lain pihak demi mendengar percakapan mereka ini, Emopu menjadi terkejut, ia heran cara bagaimana kedua anak dara ini bisa tahu istilah Hiat-to yang biasa dipakai oleh kaum Lamma agama Merah, lebih-lebih ia tak mengerti kenapa mereka bisa tahu tempat lemah yang berbahaya bagi jiwanya?
Waktu itu sebenarnya Pang Ing masih belum mengetahui dimana letak tempat yang diterangkan Pang Lin tadi, tapi ia sengaja berlagak seperti sudah paham, maka ia lantas berteriak.
"Nah, bagus, marilah beramai kita incar tempat yang menjadi pangkal nyawanya itu!"
Keruan Emopu menjadi ketakutan.
Sebenarnya kalau hanya satu lawan satu, biarpun lawan adalah jago nomor wahid dari Bu-iim dan mengetahui tempat yang menjadi cirinya, toh sedikitnya ia masih sanggup menjaga diri dengan rapat dan tidak perlu merasa takut.
Tetapi keadaan sekarang berlainan, kini ia harus satu lawan tiga, sedang Kiam-hoat ketiga lawan luar biasa lihainya, ia kuatir, pada suatu saat bila meleng tentu dirinya akan kecundang dan mungkin jiwanya bisa melayang.
Dalam pada itu Pang Ing telah memutar pedangnya begitu rupa terus menusuk secepat kilat, sekuat tenaga Emopu balas merangsek dua kali, ia pura-pura seperti hendak menubruk maju, tetapi tahu-tahu berlari ke jurusan lain.
Memang Pang Ing juga sengaja membiarkan orang lari, lalu ia melompat ke samping, dengan demikian secara leluasa Emopu bisa angkat kaki, kemudian Pang Ing menghela napas lega, sambil menghunus pedangnya ia tidak mengejar.
"Cici, kenapa kau pun kenal ilmu silat dari golongan mereka itu?"
Tanya Pang Lin dengan tertawa setelah musuh lari. Maka dengan terus-terang Pang Ing menceritakan pengalamannya dan apa yang ia dengar dari In Gi.
"Ya, memang sewaktu In Ceng masih menjadi Pangeran, ia suka bergaul dengan Lamma agama Merah dari Tibet,"
Tutur Pang Lin kemudian.
"Karena itulah sekarang ia telah merombak istana yang dia tinggali dulu dan dijadikan Yong-ho-kiong untuk markas besar Lamma agama Merah. Tentang pengetahuanku atas istilah Hiat-to dari Lamma agama Merah terjadinya pada waktu aku masih tinggal di istana pangeran juga. Ilmu Tiam-hiat mereka sangat berlainan dengan ilmu Tiam-hiat kita, cara mereka sangat keji dan tak kenal kasihan, kelak kalau kita berhadapan dengan mereka perlu berlaku hati-hati. Tetapi Emopu sendiri masih belum terhitung jago Tiam-hiat dari agama mereka, aku pun pernah mendengar namanya saja, katanya Lwekang dan Gwakangnya di kalangan agama Merah terhitung jago nomor dua."
"Dan kalau begitu, siapakah yang menjadi jago utama mereka?"
Tanya Li Ti.
"Ialah Ciangkau (pemimpin agama) mereka, Kun-tian Sian-jin!"
Sahut Pang Lin. Habis itu ia berbisik pada Pang Ing untuk menerangkan di-mana letak Him-ho-li-sui-ci-hiat. Kemudian mereka bertiga lantas duduk di lembah pegunungan ini untuk mengaso.
"Bagaimanakah keadaan Teng-sioksiok?"
Tiba-tiba Pang Lin bertanya pada Encinya.
"Ia sudah sembuh berkat pertolongan Li-koko,"
Sahut Pang Ing tertawa.
"Ha, Cici. kau pintar adu mulut juga,"
Goda Pang Lin dengan tertawa. Teringat pada Nyo Liu-jing yang telah dia permainkan itu, tanpa tertahan Pang Lin tertawa cekikikan geli.
"He, kenapa kau jadi suka tertawa,"
Tegur Pang Ing.
"Cici,"
Sahut Pang Lin.
"di tengah jalan kalian temukan seorang wanita gundul tidak? Ia bukan Nikoh, melainkan botak tengah kepalanya."
Sudah tentu Pang Ing tidak mengerti apa yang dimaksud adiknya ini, ia menjadi bingung.
"Tidak, tadi lebih dulu aku dan Li Ti naik ke atas gunung untuk menemui ibu, kami dengar kau lagi mengintai di sini, maka kami lantas mencari kemari. Darimana aku bisa temukan wanita yang kau maksudkan itu?"
"Ah, kiranya kalian sudah menjumpai ibu, tentu kalian naik dari jurusan sana, pantas tidak menemukan wanita aneh itu,"
Ujar Pang Lin.
"Sebenarnya apa yang kau maksudkan, selalu kau sebut wanita aneh, siapakah dia?"
Tanya Pang Ing.
"Cici,"
Kata Pang Lin dengan tertawa.
"aku telah bantu menyelesaikan satu urusanmu, cara bagaimana kau akan berterima kasih padaku?"
"Coba terangkan dahulu, urusan apa telah kau bantu aku,"
Sahut Pang Ing.
Maka berceritalah Pang Lin cara bagaimana ia mempermainkan dan menggertak lari Nyo Liu-jing, sembari bercerita sambil tertawa pula.
Tetapi mendadak ia lihat air muka sang Taci berubah hebat karena penuturannya itu, Pang Lin menjadi kaget, maka ia tak berani tertawa lagi.
"Apakah aku telah melakukan sesuatu perbuatan yang keliru?"
Tanyanya kemudian. Pang Ing menghela napas sebelum menjawab pertanyaan adiknya.
"Moaymoay,"
Sahutnya kemudian.
"sesungguhnya kau kele-wat nakal, dengan perbuatanmu ini, maka urusan menjadi makin runyam!"
Tentu saja Pang Lin bingung oleh jawaban Pang Ing, sama sekali ia tidak mengerti apa yang menyebabkan kesalahannya.
"A Lin,"
Akhirnya Li Ti ikut berbicara.
"perbuatanmu itu hanya terdorong oleh karena ingin kepuasan seketika saja, tetapi kau lupa bahwa ayah Nyo Liu-jing itu pernah menjadi guru Teng-toako. Kau telah memapas rambut orang, peristiwa ini apakah tidak semakin menjadi sulit untuk diselesaikan?"
"Apanya yang sulit? Aku yang menerbitkan onar, biar aku nanti yang menyelesaikannya!"
Kata Pang Lin dengan sengit.
"Sudahlah Moaymoay, asal jangan kau bikin gara-gara lagi,"
Lekas Pang Ing menengahi. Karena itu Pang Lin tidak buka suara lagi, tetapi dalam hati ia telah memikirkan suatu akal pula.
"Marilah kita pulang dahulu,"
Ajak Pang Ing akhirnya sambil menghela napas.
Namun sebelum mereka melangkah pergi, tiba-tiba tertampak di udara sebelah barat-laut sana menjulang tinggi sebuah kembang api, menyusul ada pula beberapa buah.
"He, ini adalah senjata rahasia 'Coa-yam-ci' (panah berapi) milik Han Tiong-san, gerangan siapakah yang sedang bertarung dengan dia?"
Kata Pang Lin dengan heran.
Belum selesai ia berkata, tiba-tiba terdengar pula beberapa kali suara mengaungnya anak panah yang sayup-sayup berkumandang terbawa angin, suara anak panah itu yang satu panjang dan yang dua pendek, susul-menyusul berbunyi dua kali.
"Celaka, ini adalah tanda bahaya Kam-tayhiap yang sedang minta bantuan, panah bersuara ini pernah kudengar di Hangciu dahulu,"
Kata Li Ti sesudah dengan penuh perhatian mendengarkan suara anak panah tadi.
"Ya, kelihatannya di puncak bukit sebelah sana, rupanya tidak jauh dari sini,"
Ujar Pang Lin. Akan tetapi Li Ti berpandangan lain, pemuda ini dibesarkan di pegunungan Thian-san, terhadap jalan dan keadaan pegunungan tentu ia lebih paham.
"Tampaknya saja dekat, tetapi kalau ditempuh sedikitnya perlu setengah hari,"
Katanya kemudian dengan tertawa.
"Tetapi kalau itu adalah tanda bahaya Kam-tayhiap yang minta bantuan, sepatutnya kita lekas menuju ke sana,"
Ajak Pang Ing.
Sekarang mari kita tengok Lu Si-nio, sesudah berpisah dengan Pang Ing, ia tiba di kampung Kongceng sebelah timur Pat-tat-nia, di sini ia mohon berjumpa dengan pelukis she Tan yang menjadi sahabat karib Boat-wan Lojin.
Tentang pelukis ini hidupnya ternyata lain daripada yang lain, rumahnya sederhana, pintu rumahnya dari bambu setengah tertutup dan setengah terpentang, ia sendiri lagi melukis di bawah pohon bambu sambil minum arak.
Dengan sopan Lu Si-nio mengetuk pintu, akan tetapi sampai lama sekali orang tidak berpaling, pelukis ini masih terus melukis sambil sekali dua kali menenggak araknya, rupanya ia sedang memusatkan seluruh pikirannya pada lukisan yang lagi dia selesaikan dan sama sekali tidak mengetahui ada tamu sedang mengetuk pintu.
Karena tak sabar lagi, dengan perlahan Lu Si-nio masuk sendiri ke dalam halaman, sesudah rada dekat, ketika Si-nio memandang, tanpa terasa ia sendiri menjadi terpaku.
Ternyata obyek yang sedang dilukis oleh pelukis Tan ini bukan lain adalah potret Engkong Lu Si-nio, Lu Liu-liang, pada gambar yang dilukis ini Lu Liu-liang sedang berduduk sambil memegang kitab 'Chun-chiu', kedua matanya terlukis hidup sekali hingga sangat bersemangat, di sampingnya berdiri dua orang, yang seorang adalah Giam Hong-kui dan lainnya Sim Cay-khoan.
Hanya Sim Cay-khoan masih belum selesai dilukis seluruhnya, cuma dari goresan penanya sudah dapat kelihatan nyata siapa adanya.
Melihat orang masih tidak sadar ada kedatangan tamu, Si-nio sengaja berdehem sekali, akan tetapi pelukis ini masih tetap membuta dan bertali, masih tetap memusatkan seluruh perhatiannya untuk menyelesaikan lukisannya.
Keruan Si-nio sangat mendongkol.
Tiba-tiba ia mendapatkan satu akal.
"Hai, apa yang kau lukis ini tidak mirip dengan orangnya!"
Demikian ia berseru. Karena suara Si-nio inilah pelukis Tan ini seperti mendadak kena dijotos sekali, dengan cepat ia melonjak bangun.
"Kau ini siapa? Pada tempat mana lukisan ini tidak mirip?"
Demikian ia menegur dengan mata terbelalak lebar. Si-nio tersenyum oleh pertanyaan orang.
"Harap engkau suka memberitahukan dahulu, dimana kini Boat-wan Lojin berada? Habis itu baru aku akan memberitahu tempat mana yang tidak mirip lukis-anmu ini!"
Sahut Si-nio.
Sebagai seorang nona terpelajar dan cerdik, Si-nio sudah dapat meraba watak aneh dari kaum seniman, maka ia pun tidak perlu mengajak orang bicara dengan cara yang terlalu ramah-tamah.
Melihat orang sengaja jual mahal, pelukis itu melototi Si-nio sekali lagi.
"Aku sendiri pun lagi hendak mencari Boat-wan Lojin, untuk keperluan apa kau mencari dia?"
Tanyanya kemudian.
"Apalagi? Sudah tentu minta dia mengobati penyakit orang!"
Sahut Si-nio dengan tertawa.
"Untuk mengobati orang sakit saja apa begitu penting? Pula ia tidak sembarangan mau mengobati orang,"
Kata pelukis itu.
"Tetapi dia adalah tabib yang termashur di zaman ini, kalau menemukan sesuatu penyakit yang aneh, sama saja seperti kau menemukan pemandangan alam yang indah, mana mungkin ia tinggal berpeluk tangan tanpa unjuk kepandaian?"
Ujar Si-nio. Karena debatan ini, pelukis itu bergelak tertawa.
"Ya, ya, apa yang kau katakan memang benar,"
Katanya kemudian.
"Kalau menemukan sesuatu penyakit yang aneh dan jarang terdapat, memang betul, memang betul, meski tidak diundang, pasti Boat-wan Lojin akan pergi sendiri juga. Dan penyakit apakah yang kau maksudkan? Apa penyakit Tayko (kusta)?"
Pertanyaan yang mendadak ini membikin Si-nio rada tercengang.
"Apa? Tayko?"
Berbalik ia bertanya.
"Ya, sebab sudah lama dan lama sekali Boat-wan Lojin memikirkan sesuatu resep pengobatan penyakit Tayko, sering ia berkata bahwa manusia selalu bilang Tayko tidak bisa disembuhkan, tetapi aku justru hendak mendapatkan satu resep penyembuhan yang ces-pleng untuk penyakit itu."
"Dan telah didapatkan belum?"
Tanya Si-nio lagi dengan tertawa.
"Belum!"
Sahut pelukis itu.
"Oleh karena itu juga maka kemarin aku telah mengirim orang mengundang dia ke sini."
Kata-kata orang yang terakhir ini sangat menarik bagi Lu Si-nio, karenanya ia jadi ingin mengetahui lebih lanjut.
"Apakah kau yang telah mendapatkan resepnya?"
Cepat ia bertanya.
"Tidak, tidak,"
Sahut pelukis itu sambil geleng-geleng kepala.
"terhadap ilmu ketabiban sedikitpun aku tidak becus, cuma sekarang aku sudah mengetahui bahwa penyakit Tayko bukanlah penyakit yang sama sekali tak dapat disembuhkan."
Rupanya urusan ini sangat menyenangkan bagi pelukis ini, maka ia meletakkan penanya dan meneruskan pula ceritanya.
"Beberapa hari yang lalu di tempat kami sini telah kedatangan seorang aneh, ia telah menculik beberapa orang penderita kusta di kampung kami, orang sekampung ada yang mengejar, siapa tahu orang aneh itu ternyata bertenaga luar biasa besarnya, dengan tangannya ia sanggup menghantam roboh beberapa batang pohon, keruan pengejarnya menjadi ketakutan dan mundur teratur."
Hati Lu *Si-nio tergerak oleh penuturan ini.
"Orang ini tentunya Tok-liong Cuncia,"
Demikian pikirnya.
"Coba kau terka untuk keperluan apakah orang aneh itu menculik para penderita kusta itu?"
Terdengar pelukis itu menyambung lagi.
"Aku yakin kau pasti tak bisa menerkanya."
"Kenapa tak bisa terka? Tentu dia hendak menyembuhkan penderita kusta yang dia culik itu!"
Sahut Si-nio dengan tertawa.
"He, jitu sekali terkaanmu, sebaliknya waktu itu aku sendiri tidak bisa menerkanya,"
Kata si pelukis lagi.
"Dengan aman beberapa penderita kusta itu telah dia taruh di dalam sebuah gua batu pegunungan, yaitu gua besar pada bukit di sebelah barat-laut Pat-tat-nia itu, pernahkah kau ke sana?"
Si-nio menggoyang kepala sebagai jawaban pada orang. Dalam hati ia berpikir pula.
"Beradanya Tok-liong Cuncia di sini, tak boleh tidak aku harus pergi menjumpainya."
"Ah, ceritaku jadi menyimpang ke jurusan lain,"
Sementara pelukis itu telah menyambung lagi.
"coba dengarkan, orang aneh itu bermuka sangat bengis, siapa tahu hatinya ternyata sangat baik dan bajik. Hanya dalam dua hari ia telah bisa menyembuhkan tiga orang penderita kusta yang agak ringan dan mengirim mereka pulang ke rumah, penderita ini kini kulitnya sudah licin dan dagingnya bersih, sama sekali sudah pulih kembali seperti orang biasa. Kini hanya tinggal seorang penderita yang agak berat yang masih dia tahan dalam gua batu itu."
Setelah berhenti sejenak, lalu ia berkata lagi.
"Yap-lothauji (si kakek Yap, maksudnya Boat-wan Lojin) sebenarnya hendak tinggal di sini, tetapi ia telah diundang oleh muridnya she Nyo untuk tinggal di Lamkau. Kalau dia tidak lekas datang kemari, tentu ia akan kehilangan kesempatan baik ini,"
Demikian ia mengakhiri ceritanya.
Sudah tentu tidak diduga olehnya bahwa pada saat ia sedang bercakap-cakap dengan Lu Si-nio, saat itu pula adalah saat terakhir hidup Boat-wan Lojin.
Setelah selesai dengan ceritanya, ketika melihat Si-nio mengunjuk muka tersenyum, tiba-tiba ia membuka suara lagi sambil menepuk paha.
"Ah, aku terus omong tentang penyakit Tayko sampai lupa bertanya, penyakit apakah yang ingin disembuhkannya."
"Sekarang tidak perlu lagi, harap maaf telah membikin ribut padamu, kini aku mohon diri saja!"
Tiba-tiba Si-nio menyahut dengan tertawa. Dalam hati nona ini berpikir.
"Kalau Boat-wan Lojin sudah terang berada di Lamkau pada keluarga Nyo, maka Pang Ing pasti sudah dapat menemukan dia. Orang yang dikirim pelukis ini baru berangkat kemarin, sekali-kali tidak mungkin bisa tiba lebih cepat daripada Pang Ing."
Begitulah saking senangnya Si-nio lantas mengeluarkan kata-kata mohon diri, tak terduga dengan cepat pelukis itu lantas memegang tangannya dengan kencang.
"Hai, apa kau bicara asal buka mulut saja? Sekarang kau harus katakan, dimana lukisanku ini yang tidak mirip?"
Tanyanya tiba-tiba dengan penasaran.
"Baiklah akan kuterangkan padamu, lukisanmu ini terdapat sesuatu kesalahan besar,"
Sahut Si-nio kemudian sambil mengambil pena lukis orang.
"Giam Hong-kui adalah murid kesayangan Lu Liu-liang Sianseng, kau lukiskan dia berdiri di samping gurunya, itu memang boleh. Tetapi Sim Cay-khoan adalah murid Lu Po-tiong, sedang Lu Po-tiong adalah putra Lu Liu-liang, bagi Sim Gay-koan, muka Lu Liu-liang saja belum pernah dia lihat, cara bagaimana dia bisa berdiri di samping orang?"
Mendengar ini tiba-tiba pelukis itu tertawa terbahak-bahak.
"Haha, kau ini mengerti apa! Betul-betul pandangan cupat kaum wanita dan anak-anak saja!"
Ujarnya. Selama hidup Lu Si-nio paling benci kalau ada orang memandang enteng kaum wanita, oleh karenanya kontan ia balas dengan menjengek.
"Bukan saja lukisanmu terdapat kesalahan tadi, bahkan apa yang kau lukis pun tidak mirip!"
Katanya lagi.
-Tidak kepalang marah si pelukis demi mendengar lukisannya tidak mirip dengan sasaran yang dia gambar, justru nama pelukis she Tan ini terkenal di seluruh negeri, mana ia mau diolok-olok.
"Hm, berapakah umurmu?"
Demikian ia balas dengan tertawa menyindir.
"Sedang kau sendiri juga belum pernah melihat Wan-jun (nama alias Lu Liu-liang) Cianpwe, darimana kau bisa tahu lukisanku ini tidak mirip dengan orangnya?"
"Lu-losianseng yang kau lukiskan ini, rupanya boleh dikata sudah mirip sekali, hanya sikapnya yang tidak mirip kau lukiskan,"
Sahut Si-nio dengan tertawa.
"Kau melukiskan dia dengan wajah yang kereng, air mukanya penuh mengandung napsu membunuh, tetapi sebenarnya ia pemurah dan gampang didekati, wajahnya senantiasa mengunjuk senyuman. Aku tahu, tentu kau ingin melukiskan dia dengan jiwa yang luhur, tetapi sebaliknya sikap dan wajah senyumannya kau tidak bisa melukiskannya."
Pada waktu mudanya, pelukis she Tan ini pernah mendengarkan kuliah Lu Liu-liang bersama orang tuanya, ia sendiri sudah pernah melihat muka pujangga itu, maka demi mendengar uraian Lu Si-nio, ia menjadi kaget, sebab memang betul begitulah lukisannya.
"Lu-losianseng yang kau lukiskan rupanya mirip dan sikapnya lain, sebaliknya Sim Cay-khoan dan orang yang berdiri di sampingnya, keduanya sama sekali tidak mirip kau gambarkan,"
Tiba-tiba Si-nio menyambung lagi.
"Mana mungkin mukanya tak mirip?"
Teriak pelukis itu marah.
"Ya, raut muka Sim Cay-khoan tidak demikian, apa yang kau lukiskan paling hanya dua-tiga bagian saja yang mirip. Ini, jika kau ingin kenal orangnya yang benar, biar kulukiskan bagimu,"
Kata Si-nio. Habis berkata ia angkat pena gambar orang, hanya beberapa goresan saja ia sudah menyelesaikan lukisannya. Setelah melihat lukisan Si-nio, sekonyong-konyong si pelukis bergelak tertawa.
"Haha, siapakah itu yang kau lukiskan?"
Tanyanya kemudian.
"Siapa lagi? Sudah tentu Sim Cay-khoan!"
Sahut Si-nio.
"Dan kau sendiri siapa?"
Tanya si pelukis pula.
"Lu Liu-liang dalam lukisanmu itu adalah Engkongku, sedang Sim Cay-khoan dibesarkan di rumahku,"
Sahut Si-nio lagi "Hm, kau dustai siapa? Yang kau lukis hakikatnya bukan Sim Cay-khoan,"
Kata pelukis itu. Si-nio tertawa oleh kata-kata orang.
"Ha, kalau lukisanku ini tidak mirip, maka di bumi ini tidak nanti ada orang kedua lagi yang bisa melukiskannya dengan lebih mirip!"
Ujarnya kemudian. Namun si pelukis she Tan itu tiba-tiba menjengek.
"Hm, kalau kau betul-betul adalah cucu perempuan Lu Liu-liang dan sahabat baik Sim Cay-khoan, hari ini tidak nanti begitu iseng kau berdebat tentang seni lukis dengan aku!"
Katanya. Habis itu tiba-tiba ia keluarkan sebuah gulungan kertas, di atasnya ternyata penuh tertulis huruf yang kecil-kecil.
"Lihat, apakah ini?"
Tanya pelukis itu dengan menarik muka sambil menyodorkan gulungan kertas tadi.
Waktu Si-nio menyambut gulungan kertas itu dan diperiksa, ternyata adalah sebuah turunan surat perintah Baginda Raja dengan judul.
"Maklumat berhubung dengan perkara Lu Liu-liang" . Si-nio menjadi kaget demi membaca judul surat perintah itu. Ia coba membaca isinya, sambil membaca tubuhnya gemetar. Kiranya maklumat itu lebih dulu menguraikan tentang kebijaksanaan pemerintah kerajaan, lalu menguraikan tentang kitab karangan Lu Liu-liang yang didakwa menghasut rakyat dan mengacau ketertiban umum, kemudian dengan panjang lebar menyanggah teori ajaran Lu Liu-liang. Namun Si-nio sudah tidak bisa membacanya dengan teliti, ia lihat bagian akhir maklumat itu tertulis.
"... Sidang memutuskan Lu Liu-liang dan Lu Po-tiong harus dicincang mayatnya dan dipertontonkan di depan umum. Giam Hong-kui dan Sim Cay-khoan semuanya dihukum mati, begitu pula sanak keluarga terhukum, sedang tingkatan cucu diasingkan ke Ling-ko-tah sebagai budak..."
Lu Si-nio seperti disambar geledek di siang hari bolong setelah selesai membaca tulisan itu.
"Apa Sim Cay-koan telah terbunuh?"
Akhirnya ia bertanya dengan suara gemetar.
"Ya, kemarin dulu waktu Giam dan Sim berdua patriot dihukum mati, justru aku berada di kota dan berada di antara penonton lain di lapangan hukuman, beruntung aku sempat melihat wajahnya yang asli. Hm, tet&pi kau masih tega berani mengatakan aku tidak mirip menggambarnya!"
Muka Si-nio menjadi pucat lesi, ia sempoyongan hendak roboh. Tetapi pelukis itu sudah melanjutkan lagi.
"Masakah aku tidak tahu bahwa Sim Cay-khoan adalah murid Lu Po-tiong dan bukan ajaran Wan-jun Cianpwe sendiri? Tetapi dia ikut berkorban karena peristiwa ini, pula yang paling luas menyebarkan teori ajaran Wan-jun, karena ini, kalau aku melukiskan dia berdiri di samping Wan-jun Sianseng, alasan apakah yang melarangnya?"
Selesai pelukis ini menerocos, mendadak Lu Si-nio menarik tangannya sambil bertanya.
"Apa kau betul-betul melihatnya dengan jelas? Rupa Sim Cay-khoan adalah sebagaimana yang kau lukiskan itu?"
"Dalam hal lain aku mungkin tak berani buka mulut besar, tetapi soal goresan pena lukisan ini, tak mungkin lukisanku tidak sama?"
Demikian jawab si pelukis.
"Malahan kepala dari kedua patriot Giam dan Sim sampai sekarang masih tergantung di atas pintu gerbang benteng, kalau kau tak percaya, boleh kau pergi melihatnya sendiri!"
Belum selesai ia berkata sekonyong-konyong Si-nio mendorong pelukis itu terus melompat keluar pintu rumah.
"Terlalu, sungguh terlalu!"
Seru pelukis itu berulang-ulang dengan penasaran setelah merangkak bangun oleh dorongan Si-nio tadi.
"Sudah memalsu sebagai cucu perempuan Wan-jun Sianseng. Masih berani sembarangan mengkritik lukisanku, betul-betul terlalu dan asal buka mulut saja!"
Sebenarnya tabiat Lu Si-nio lemah-lembut, menghadapi perkara betapa besarpun selalu ia berlaku tenang dan tak pernah gugup.
Tetapi sekali ini ketika mendadak mendapat kabar buruk, dalam keadaan pikiran kusut ia menjadi gugup, hal ini boleh dikata baru untuk pertama kali terjadi selama hidupnya.
Oleh karena itu setelah berlari sampai di luar pintu, mendadak ia sadar kembali, ia merasa menyesal.
"Bagaimanapun memang kepandaianku belum terlatih sempurna, maka belum bisa mengendalikan tabiat sendiri,"
Demikian ia berpikir.
Tetapi ia pun kuatir terhadap tabiat aneh seniman itu, kalau dirintangi terus mungkin tak bisa melepaskan diri.
maka ia tidak kembali lagi untuk meminta maaf.
Selang tidak lama, lambat-laun Si-nio dapat mengatasi perasaannya yang bergolak tadi, waktu ia berpikir secara tenang, ia menjadi ragu-ragu atas keterangan si pelukis tadi.
Sim Cay-khoan sudah tinggal di Sian-he-nia selama tujuh delapan tahun dan belum pernah menginjakkan kaki sampai di bawah gunung, darimana orang luar bisa mengetahui jejak kekasihnya ini?
Tetapi bila teringat lukisan si pelukis tadi yang rada mirip, ia pun tidak habis mengerti dan sangsi lagi.
Katanya dalam hati.
"Lebih baik kalau sekarang juga aku pergi ke kotaraja mencari tahu! Sementara ini Pang Ing tentu sudah dapat mengundang Boat-wan Lojin, tentang diri Teng Hiau-lan untuk sementara bolehlah tak perlu aku ikut kuatir."
Karena itulah segera ia mempercepat langkah menuju kotaraja.
Kepandaian Lu Si-nio berjalan cepat sudah tinggi sekali, maka pada waktu magrib ia sudah sampai di luar benteng kota.
Kota Pakkhia terdapat sembilan pintu gerbang, bila ada orang hukuman besar yang dihukum mati dan dipenggal kepalanya, tiap hari secara bergiliran kepala akan digantung pada pintu gerbang benteng kota itu.
Setelah Si-nio mengitar dan memeriksa beberapa pintu gerbang, akhirnya betul saja ia lihat di atas pintu gerbang Se-hoa-bun di sebelah barat tegak berdiri dua tiang kayu, pada tiap tiang ini tergantung sebuah kepala manusia.
Dalam keadaan cuaca remang-remang karena sudah petang, Si-nio tak dapat melihat jelas rupa kepala manusia itu, hanya jantungnya memukul keras, rasanya tak tenteram.
Setelah ia pandang sejenak, ia lihat di atas pintu gerbang hanya dijaga empat prajurit biasa, hal ini sudah tentu lebih-lebih menimbulkan rasa curiga Si-nio.
Beberapa prajurit penjaga ini dengan sendirinya tidak dipandang sebelah mata oleh Lu Si-nio, maka sesudah memandang sebentar, ia tunggu kesempatan baik, tiba-tiba ia enjot kakinya terus menahan ke tembok benteng dengan sebelah tangannya, secepat burung terbang mendadak ia melayang ke atas.
Ketika tiba-tiba nampak ada orang, keempat prajurit penjaga tadi berteriak, namun sebelum mereka bisa melihat jelas, tahu-tahu mereka sudah kena ditutuk satu per satu oleh Lu Si-nio.
Sejenak kemudian Si-nio sudah merambat sampai di atas tiang kayu sebelah kanan sana, waktu ia ambil buah kepala manusia yang tergantung itu dan diperiksa, ia lihat meski kepala manusia ini sudah ditabas beberapa hari berselang, namun masih cukup jelas dikenali adalah Giam Hong-kui.
Sesaat itu Lu Si-nio merasa seperti disambar petir, hatinya hancur, hampir saja ia terjungkal jatuh ke bawah.
Syukur ia bisa tenangkan diri, dengan Ginkangnya yang tinggi, begitu ia ayun tubuh dari tiang sebelah kanan, dengan enteng sekali ia melayang ke tiang sebelah kiri pula, begitu di atas tiang, segera ia ulur tangan mengambil kepala yang tergantung.
Tak terduga, justru pada saat ia memegang kepala yang tergantung, sekonyong-konyong tiang kayu ini patah menjadi dua, keruan Lu Si-nio terjungkal ke bawah.
Ternyata tiang kayu itu tengahnya kosong, di dalamnya malah tersembunyi alat rahasia yang bisa menjeplak mendadak, begitu tiangnya patah, segera pula dari bagian tengah yang patah itu menyemburkan anak panah yang tak terhitung banyaknya.
Waktu itu dengan kedua tangannya Lu Si-nio sedang memegangi kedua buah kepala manusia itu, sebenarnya susah baginya untuk menghindarkan diri dari hujan anak panah, namun pada saat tiang kayu tadi patah dan panah menghambur, mendadak ujung kakinya menutul ke bawah, dengan enteng dan tepat ia menginjak pada ujung tiang yang patah dan sedang jatuh ke bawah, dengan menggunakan tenaga tutulan kakinya inilah, tubuhnya tiba-tiba melayang ke samping seperti burung, habis itu mendadak pula ia mencelat ke udara pula.
Pada saat itu terdengar suara mengaung keras, sebuah senjata rahasia yang bentuknya aneh mengitar di bawahnya terus menyambar ke atas.
Lu Si-nio mengerti itu adalah senjata rahasia 'Hwe-goan-kau' milik Han Tiong-san, cepat ia memutar tubuh selagi masih terapung di udara, dua buah kepala itu ia pegang dengan satu tangan, sedang tangan yang lain segera melolos Siang-hoa-kiam, ia menerjang ke bawah memapak datangnya 'Hwe-goan-kau'.
Senjata 'Hwe-goan-kau' jalannya menikung seperti huruf 'S', ketika Si-nio menerjang ke bawah dan dengan ujung pedang mencongkel perlahan, Hwe-goan-kau itu kena disampuk pergi, namun di luar dugaan tiba-tiba senjata rahasia itu bisa menikung terus menyambar kembali dari jurusan lain.
Syukur Si-nio terjun ke bawah dengan cepat, begitu ia menginjakkan kaki di atas tembok benteng, senjata rahasia tadi masih berputar di angkasa dan tidak keburu menyusulnya.
Dalam segala kerepotannya Si-nio masih sempat melirik pada kepala manusia satunya yang terpegang di tangannya, betul juga ia lihat rupa kepala ini rada mirip Sim Cay-khoan, tetapi karena sudah beberapa hari yang lalu kepala ini ditabas, buah kepala manusia ini mulai kering dan kusut kulit dagingnya, corak mukanya sudah banyak berubah, dalam sekejap masih belum bisa terlihat dengan terang.
Ketika Si-nio hendak menegasi lagi, tiba-tiba ia dengar suara gelak tertawa orang di bawah, mendadak dari tempat cekung pada tembok benteng sebelah selatan sana muncul tiga orang dan segera mengambil kedudukan di jurusan timur, barat dan utara.
Ketiga orang ini bukan lain daripada Thian-yap Sanjin, Han Tiong-san dan Haptoh.
Sebenarnya dengan tingkat kepandaian Lu Si-nio sekarang ini, ia sudah lebih tinggi sedikit daripada ketiga orang itu, tetapi apapun juga masih belum sanggup sendirian melawan tiga orang itu.
Namun aneh, setelah muncul, ketiga orang itu hanya mengambil posisi dan tidak lantas mengepung maju serta mengeroyok.
Hal ini tidak sempat dipikirkan Si-nio, segera ia bermaksud kabur melalui jurusan selatan yang tidak terjaga, begitu ia enjot tubuh, segera ia melompat turun ke bawah.
Di luar dugaan, baru saja tubuh Si-nio terapung di udara, mendadak ia dipapaki dengan satu kekuatan maha besar yang mendorong dari depan.
Lekas Si-nio menghindarkan diri dengan sekali jumpalitan di udara, sementara itu dari belakang telah menyambar pula Hwe-goan-kau yang membawa suara mengaung aneh mengarah punggungnya.
Berbareng itu ia lihat ada segulungan bayangan merah secepat kilat mengurung dari atas kepalanya.
Dalam keadaan demikian inilah kelihatan kemahiran Lu Si-nio, ia berputar dengan cepat, lebih dulu ia hindarkan diri dari serangan orang, kemudian baru ia layani senjata rahasia musuh.
Tetapi mendadak pula ia merasa ada angin pukulan keras menyerempet lewat di depan dadanya, seketika pula cekalan tangannya menjadi kendur, tahu-tahu kedua kepala manusia yang dipegangnya tadi jatuh ke bawah tembok benteng oleh sambaran angin pukulan itu.
Pada saat itu juga suara mengarang Hwe-goan-kau yang aneh pun berhenti mendadak.
Tatkala Si-nio menancapkan kaki di atas tanah, dengan cepat ia berpaling ke belakang, dan saat itu juga ia mendengar ada orang membuka suara.
"Ha, anak dara ini sungguh cantik, sayang jika sampai terluka, biar aku menawannya hidup-hidup untuk diserahkan Hongsiang!"
Keruan Si-nio jadi gusar. Tertampak olehnya seorang Lamma berjubah merah sedang tertawa padanya. Lamma ini ternyata mirip Emopu yang sudah Si-nio kenal.
"Serahkan kembali kepala tadi!"
Teriak Si-nio.
Berbareng pedangnya menusuk dengan cepat menuju dada orang.
Tetapi Lamma itu mengulur kedua telapak tangannya, dengan gerakan menarik ke samping.
Tusukan Si-nio tadi sebenarnya secepat kilat, tetapi karena daya tarikan orang, meski tidak sampai menempel senjatanya, namun Si-nio merasakan pedangnya seperti terisap oleh semacam kekuatan dan tertarik ke samping hingga tusukannya melenceng.
Tidak kepalang kejut Si-nio, tenaga dalam Lamma ini ternyata jauh di atas Emopu dan dirinya.
"Aku tidak ada tempo buat berdoa untuk manusia yang telah mati itu, kepala penjahat itu sudah hancur oleh pukulan tadi, dengan mendapatkan tangan suciku, boleh dibilang mereka telah mendapat berkah, kenapa kau tidak menghaturkan terima kasih padaku?"
Demikian terdengar Lamma itu berkata dengan tertawa.
Namun Si-nio semakin menjadi sengit hingga alisnya menegak, dengan mengumpulkan tenaga dalam tanpa bicara lagi segera ia menusuk lagi.
Karena serangan ini, kembali Lamma itu hendak menarik ke samping lagi, dengan demikian Si-nio merasa ujung senjatanya tak mampu menembus tenaga tolakan orang.
Akan tetapi sekali ini Si-nio sudah waspada, pedangnya tidak sampai tertarik lagi oleh tenaga dalam orang, kini kedudukan menjadi saling bertahan.
Dalam pada itu, tiba-tiba terdengar Lamma itu tertawa aneh, habis itu kedua telapak tangannya sekonyong-konyong dikendurkan, keruan imbangan badan Lu Si-nio menjadi pincang, ia menyelonong hendak terjerembao ke depan, secepat kilat Lamma itu mengangkat sebelah tangannya terus menggablok ke punggung Si-nio di 'Ci-tong-hiat' yang mematikan.
Ilmu 'Tan-ciang-an-hiat' Lamma ini sebenarnya luar biasa lihainya, ditambah pula waktu itu tubuh Lu Si-nio lagi mendoyong ke depan, ia menduga bagaimanapun juga gablokan itu pasti akan kena sasaran.
Tak tahunya Ginkang Lu Si-nio sudah tinggi sekali, di kalangan Kangouw, kecuali le Lan-cu seorang, boleh dikata tiada tandingan lagi.
Karenanya tadi waktu tenaga Lamma itu mendadak ditarik, Si-nio telah menggunakan kesempatan itu menubruk ke depan dan dengan cepat berganti tempat kedudukan, berbareng tangannya terus membalik, dengan cepat pedangnya menusuk ke dada musuh di 'Soan-ki-hiat' yang tidak kalah pentingnya.
Tentu saja Lamma itu terkejut, lekas ia mendorong ke samping pedang orang dengan tenaga pukulannya tadi, tapi sudah terlambat, terpaksa buru-buru ia menyedot perut dan mendekukkan dada, kakinya tidak menggeser, tapi tubuh mendoyong sedikit ke belakang.
Di lain pihak karena tusukannya luput, segera pula Si-nio melompat pergi.
"Ah, kembali dia lolos lagi!"
Terdengar Haptoh berseru. Namun segera terdengar suara tertawa Lamma itu.
"Haha, biarkan dia lari akan lebih baik!"
Demikian katanya.
"Hm, memangnya kau mampu merintangi aku, tidak nanti kau bisa menyusul aku!"
Demikian Si-nio menjengek dalam hati.
Tak terduga tiba-tiba angin menyambar dari belakang, kiranya Lamma tadipun sudah melompat turun ke bawah benteng, belum ia menancapkan kaki di atas tanah, tenaga pukulannya sudah menyambar mengarah Lu Si-nio.
Tatkala itu Lu Si-nio baru saja menginjak tanah, lekas ia meminjam kekuatan angin yang menyambar itu untuk melayang ke depan, hampir saja ia jatuh tersungkur oleh karena menyambarnya angin pukulan tadi.
Pada saat lain susul-menyusul Thian Yap Sanjin, Haptoh dan Han Tiong-san bertiga pun sudah melompat turun.
Keruan Si-nio terperanjat.
"Darimanakah mendadak datang seorang musuh yang begini tangguh?"
Ia tidak tahu bahwa Lamma ini justru adalah jago nomor satu Lamma agama Merah, ialah Suheng Emopu yang bernama Kun-tian Siangjin.
Lwekang dan Gwakang Kun-tian Siangjin sudah terlatih hingga puncak kesempurnaan, sebenarnya ia menjabat Ciangkau (ketua agama Lamma Merah) dan bercokol di istana Yong-ho-kiong.
Tetapi sesudah istana Kaisar Yong Ceng diobrak-abrik oleh Lu Si-nio dan Pang Ing tempo hari, kaisar ini menjadi sangat jeri terhadap Lu Si-nio, maka sengaja Kun-tian Siangjin diundang keluar untuk menjaga, kepala Giam Hong-kui dan Sim Cay-khoan lantas dipakai sebagai umpan untuk memancing kedatangan Lu Si-nio.
Kalau bukan Kun-tian Siangjin terlalu tinggi hati dan tidak ingin bantuan Haptoh dan lain-lain buat mengeroyok seorang gadis, tentu sejak tadi Lu Si-nio sudah ditawan mereka.
Begitulah, maka Kun-tian Siangjin segera memimpin Haptoh bertiga mengudak dengan cepat.
Karena itu, Si-nio menjadi heran, pikirannya tergerak.
"Aneh, kepandaian Lamma ini terang di atasku, kalau tadi ia menyerang aku dengan tenaga pukulannya, sekali-kali tidak nanti aku bisa kabur,"
Demikian ia berpikir.
"Tadi-ia bilang kebetulan kalau aku melarikan diri, jangan-jangan memang dia sengaja mengalah dan membiarkan aku kabur? Tetapi kenapa sekarang ia mengudak pula dengan kawan-kawannya?"
Seketika Lu Si-nio tidak dapat memahami apa maksud tujuan orang membiarkan dirinya kabur.
Kiranya tadi Kun-tian Siangjin sendiri tidak mengetahui Lu Si-nio memiliki Ginkang yang tinggi, ketika dengan tenaga pukulannya tidak berhasil merampas senjata orang, ia lantas menggunakan ilmu kepandaian menepuk jalan darah yang khas, ia menyangka sekaligus pasti dapat menawan orang hidup-hidup, siapa tahu Lu Si-nio masih bisa lolos, segera ia mendapatkan tipu muslihat lagi, ialah hendak menggunakan kesempatan ini untuk menguntit jejak Lu Si-nio sampai di 'sarangnya', dengan demikian sekaligus ia bisa membasmi Kam Hong-ti dan kawan-kawan.
Sungguhpun ilmu silat Kun-tian Siangjin tinggi luar biasa, namun dalam hal Ginkang, ia hartya setingkat dengan Thian-yap San-jin dan Han Tiong-san saja.
Karena itu, meski mereka sudah mengu-dak sekian lama.
mereka selalu berjarak sekian jauhnya dengan Lu Si-nio, keruan Kun-tian Siangjin terperanjat, sama sekali ia tidak menduga Ginkang Lu Si-nio bisa begitu tinggi.
"Lihat aku punya ini!"
Tiba-tiba Han Tiong-san berseru dengan bergelak tertawa.
Begitu tangannya bergerak, segera tertampak se-gulung api berwarna biru menjulang ke angkasa dan menyambar lewat di atas kepala Si-nio.
Sudah tentu gadis ini sangat heran, kenapa senjata rahasia Han Tiong-san sekali ini meleset begitu jauh dari sasarannya?
Di luar dugaan, sekonyong-konyong api biru tadi memutar balik terus mengarah ke mukanya, setelah dekat, mendadak terdengar suara letusan dibarengi dengan pasir besi yang tak terhitung banyaknya berhamburan laksana hujan.
Lekas Si-nio menghindarkan diri dengan melompat ke samping sejauh beberapa tombak, tetapi dalam sekejap saja tiba-tiba Kun-tian Siangjin sudah mengejar sampai di belakangnya lagi.
Kiranya sejak Han Tiong-san kecundang di bawah tangan Lu Si-nio, dengan giat ia lantas melatih diri, teristimewa menciptakan sendiata gelap yang lihai, ia menggunakan teori dasar pemakaian Hwe-guan-kau yang dilepaskan dan bisa berputar kembali, ia bungkus pasir baja yang tak terhitung banyaknya dalam senjata rahasia 'Coa-yam-ci', anak panah berapi, bila anak panah ini dilepaskan dan setelah berputar balik, segera alat peledaknya meletus dan pasir baja pun berhamburan menyerang musuh.
Karena itulah meski Ginkang Lu Si-nio sangat tinggi, tapi karena harus menghindari Coa-yam-ci yang meledak dan menyerang dari depan, maka Kun-tian Siangjin dan lain-lain sempat menyusul tiba.
Begitulah berulang kali, bila mereka kewalahan tak bisa me-nyandak Si-nio, mereka lantas menggunakan senjata rahasia untuk memaksa Lu Si-nio merandek dan berbelok ke samping, dengan demikian Si-nio selalu berada di bawah ancaman mereka dan tak bisa melepaskan diri.
Sementara itu anak panah 'Coa-yam-ci' yang membawa sinar api biru dan asap yang panjang itu bisa bertahan lama di udara, ini justru bisa dipakai pula sebagai tanda untuk memberi petunjuk kepada para jago pengawal istana kemana mereka harus mengejar.
Namun Lu Si-nio bukannya bodoh, tak lama setelah berlari, ia pun mengetahui akal bulus musuh.
Ia pikir.
"Kalau aku berlari kembali ke Se-san, mereka tentu akan menyusul ke sana juga, keempat pengejar ini bukan lawan enteng, lebih-lebih Lamma jubah merah ini tiada yang sanggup menandinginya, apalagi di belakang mereka masih terdapat bala bantuan pula, meski di Se-san ada Kam Hong-ti dan lain-lain yang berkepandaian tinggi, tetapi agaknya susah buat melawan musuh. Lalu bagaimanakah baiknya?"
Demikianlah ketika ia gelisah, sekonyong-konyong teringat olehnya tentang 'orang aneh' yang pernah disinggung oleh si pelukis she Tan itu.
Si-nio jadi teringat pada Tok-liong Cuncia, tiba-tiba ia mendapat akal, ia ambil keputusan memancing para pengejarnya ini menuju ke tempat persembunyian Tok-liong Cuncia, Si-nio yakin dengan ilmu silat Tok-liong Cuncia, cukup kuat untuk menandingi si Lamma berjubah merah itu.
Begitulah maka Si-nio berlari terus dengan dikejar Kun-tian Siangjin berempat dari belakang, udak-udakan ini makin lama makin cepat hingga pada waktu sebelum fajar tiba, mereka sudah berlari sejauh dua ratusan li dan sampai di bukit Cik-ciok-san di barat Pat-tat-nia.
Kala itu Han Tiong-san sudah kehabisan anak panah berapi-nya, sebaliknya Si-nio sendiri telah mandi keringat.
"Ha, kiranya sarang begundal mereka berada di sini!"
Seru Kun-tian Siangjin ketika nampak Lu Si-nio menerobos masuk ke dalam hutan di atas bukit itu.
Segera bersama Haptoh dan lain-lain.
mereka menyerbu masuk ke dalam hutan, tiba-tiba mereka lihat Lu Si-nio mengenjot tubuh melayang ke atas, secepat kera nona ini memanjat ke atas sebatang pohon besai yang tingginya belasan tombak, lalu duduk seenaknya di pucuk pohon terus makan rangsum kering.
Dengan sendirinya Kun-tian Siangjin dan lain-lain tak berani sembarangan naik ke atas pohon.
Han Tiong-san coba membidikkan beberapa buah senjata rahasia 'Kim-ci-piau', senjata rahasia berupa mata uang, namun semuanya kena diselentik jatuh oleh Lu Si-nio.
Akhirnya Kun-tian Siangjin menjadi gusar, ia pun mengeluarkan Ginkang dan memanjat ke atas pohon.
"Awas, Siangjin!"
Haptoh memperingatkan kawannya.
Nampak orang berani memanjat pohon, Si-nio menekuk dua tangkai pohon, dengan senjata ini secepat kilat dia timpuk kedua mata Kun-tian Siangjin.
Sungguhpun Kun-tian Siangjin memiliki kepandaian 'Kim-cong-co' dan 'Tiat-poh-san', yakni ilmu kebal tak mempan senjata, tetapi kedua mata adalah tempat lemah yang harus dia jaga baik-baik, maka lekas ia pejamkan mata dan menundukkan kepala.
Karena itu, menyambarlah kedua tangkai kayu itu, namun tak urung kedua daun kuping Kun-tian Siangjin terserempet dan terluka lecet.
Karena sakit, Kun-tian Siangjin berteriak sekali, tangan pun kendur dan melompat turun ke bawah lagi.
Ketika ia mendongak memandang Lu Si-nio, ia lihat nona ini masih seenaknya saja duduk di atas pucuk pohon sambil mengge-ragoti rangsumnya.
Dalam keadaan begini, meski ilmu silat Kun-tian Siangjin sangat tinggi, tetapi Lu Si-nio berada di bagian atas.
dengan sendirinya kedudukannya lebih menguntungkan untuk menyerang ke bawah.
Pula ilmu entengi tubuh Kun-tian Siangjin masih kalah setingkat, sesudah mengalami kejadian tadi, ia menjadi kapok dan tak berani memanjat ke atas pula.
Pada saat lain, sesudah Lu Si-nio kenyang mengisi perut, tiba-tiba ia bersuit panjang.
Meski suaranya tak begitu keras, namun cukup nyaring dan tajam sekali.
"Hm, aku justru ingin tahu bagaimana macamnya begundalmu! Hayo, coba panggil lagi yang lebih keras!"
Demikian Kun-tian Siangjin menjengek dan mengolok-olok.
Habis itu ia pun duduk di bawah pohon untuk makan rangsumnya, ia pun mengisi perut dulu dan bersiap menghadapi musuh lagi.
Sementara itu, meski Lu Si-nio sudah bersuit beberapa kali, sampai agak lama, namun di rimba sunyi itu masih tetap sepi, se-dikitpun tidak terdengar suara jawaban orang.
"Tok-liong Cuncia! Tok-liong Cun-cia!"
Akhirnya Lu Si-nio berteriak. Kun-tian Siangjin menjadi geli mendengar teriakan orang, ia tertawa menyindir.
"Apa, Cuncia? Tok-liong? Haha! Seumpama betul-betul muncul seekor Tok-liong (naga berbisa), Siangjin juga punya kepandaian untuk To-liong (menjagal naga),"
Demikian ia berolok-olok. Dalam pada itu meski Si-nio sudah berteriak memanggil beberapa kali, namun tetap tiada suara sahutan. Mau tak mau ia menjadi gugup juga, pikirnya.
"Jangan-jangan si pelukis itu yang salah atau Tok-liong Cuncia sudah meninggalkan tempat ini?"
Di lain pihak sesudah Kun-tian Siangjin dan lain-lain kenyang makan rangsumnya, setelah menunggu agak lama dan masih belum kelihatan bala bantuan Lu Si-nio muncul, mereka lantas tertawa.
"Haha, kiranya kau memakai tipu gertakan bekka,"
Demikian Kun-tian Siangjin berolok-olok lagi. Tetapi Si-nio tidak menggubris, ia masih tetap duduk di atas pohon sambil memejamkan mata untuk mengumpulkan tenaga.
"Hm, apa kau kira dengan begini lantas tuanmu tak mampu menjungkalkan kau?"
Akhirnya Kun-tian Siangjin naik darah.
Habis berkata, tiba-tiba ia copot jubahnya, ia kumpulkan tenaga pada kedua tangannya, sekonyong-konyong ia membentak sekali, kedua telapak tangannya dipukulkan pada batang pohon, seketika pohon besar ini seperti dikemplang dengan keras dan seperti dikampak orang beramai hingga tergoncang-goncang.
Keruan Lu Si-io yang duduk di atas lantas seperti sebuah perahu yang terombang-ambing di tengah samudera oleh serangan gelombang .ombak dan angin topan, lekas ia pegang dahan pohon di dekatnya.
Sementaia itu, beruntun Kun-tian Siangjin menggenjot batang pohon itu beberapa kali hingga akar pohon menjadi kendur di dalam tanah, habis itu tiba-tiba ia menghentak sekali dengan keras, kedua tangannya mendorong sepenuh tenaga pada batang itu.
"Roboh!"
Bentaknya pula.
Maka terdengarlah suara gemuruh, pohon besar itu bagaikan ditebang oleh kampak raksasa saja dan roboh seketika.
Pada saat itu debu tanah berhamburan dan daun pohon bertebaran, tiba-tiba sesosok bayangan orang secepat terbang melayang di udara menuju pohon yang lebih tinggi di sebelahnya.
"Hahaha, keledai goblok! Betapa besar tenagamu, apa kau bisa menebang antero pohon besar yang memenuhi gunung ini?"
Terdengar gelak tertawa nyaring dibarengi dengan kata olok-olok Lu Si-nio.
Dengan menghantam roboh pohon besar itu, sebenarnya tujuan Kun-tian Siangjin hanya untuk melampiaskan hawa amarahnya, siapa tahu rasa gusarnya belum terlampiaskan, sudah diolok-olok dan disindir, keruan ia semakin menjadi gusar, tetapi apa daya?
Sementara itu cuaca sudah terang benderang, susul-menyusul jagoan istana sudah tiba, beberapa puluh orang secara beramai melepaskan anak panah ke atas pohon, tetapi pohon besar itu tingginya belasan tombak, bagi orang yang tenaganya agak lemah hakikatnya tidak mampu mencapai sasaran, seandainya bisa sampai pun kena disampuk jatuh oleh Lu Si-nio.
Tentu saja bukan main gusar Kun-tian Siangjin.
"Baik, biar kau terus bercokol di pucuk pohon, aku ingin tahu berapa lama kau mampu bertahan?"
Katanya dengan sengit.
Selang tak lama, Emopu menyusul datang juga, dengan kekuatan lima jago kelas satu dan beberapa puluh jagoan pengawal istana, ternyata tetap tak mampu berbuat apa-apa pada Lu Si-nio, mereka hanya bisa garuk-garuk kepala saja sambil mendongak memandang si nona di pucuk pohon, dalam keadaan demikian, kecuali adu sabar atau saling bertahan, daya-upaya lain sudah tidak ada lagi.
Segera Kun-tian Siangjin perintahkan para pengawal mengepung rapat sekitar rimba itu untuk menjaga kalau ada musuh lain menyerbu dari luar.
Sedang ia sendiri tetap menjaga di bawah pohon, malahan ia sengaja membikin kelinci panggang dan makan di bawah hidung Lu Si-nio.
Tatkala itu rangsum kering yang dibekal Lu Si-nio sudah habis termakan, ia sudah mulai lapar juga, kini melihat Kun-tian Siangjin sedang makan kelinci panggang dengan nikmatnya, seleranya menjadi timbul dan mengiler.
Di lain saat ia ingat lagi pada Tok-liong Cuncia, maka kembali ia bersuit panjang beberapa kali.
Setelah saling bertahan agak lama, lambat-laun sang surya sudah menggeser ke barat, hari sudah lewat lohor.
Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar suara bentakan menggeledek di luar rimba, menyusul berbunyi pula dua kali anak panah bersuara, lalu kelihatan ada dua orang menyerbu ke dalam hutan, orang yang di depan berperawakan sedang tetapi kekar, tenaganya sangat mengejutkan, hanya sekali jambret, seperti melempar orang-orangan saja, dua jagoan pengawal telah dia banting hingga mampus.
"Yang datang ialah Kam Hong-ti dan Teng Hiau-lan, kedua orang ini adalah buronan kerajaan semua!"
Segera Han Tiong-san memperingatkan kawan-kawannya.
"Kalian jangan bergerak, biar aku lihat kepandaian apa yang dimiliki kedua orang ini!"
Ujar Kun-tian Siangjin.
Sebagaimana masih ingat, Kam Hong-ti dan Teng Hiau-lan berangkat buat mencari Lu Si-nio, lebih dulu mereka datang ke Kongceng di timur Pat-tat-nia untuk mencari si pelukis she Tan itu.
Pelukis itu pernah juga mendengar nama 'Kanglam-tayhiap' yang maha tersohor, maka dengan marah-marah ia ceritakan pada Kam Hong-ti tentang kelakuan Lu Si-nio tempo hari yang kurang sopan.
Sebaliknya Kam Hong-ti dan Teng Hiau-lan jadi terkejut oleh penuturan si pelukis, barulah mereka tahu sebab-musababnya kenapa Lu Si-nio tidak kembali ke Se-san.
Lekas mereka mohon diri pada pelukis itu, sebenarnya mereka hendak masuk kotaraja lagi untuk mencari kabar, tetapi di tengah jalan mereka melihat jago pengawal istana berbondong menuju ke jurusan barat, Kain Hong-ti cukup cerdik, segera ia menduga tentu ada sebabnya kaum bayangkara itu muncul secara besar-besaran, bersama Teng Hiau-lan diam-diam mereka lantas menguntit, betul juga di atas bukit Cik-ciok-san di barat Pat-tat-nia, mereka mendengar suara suitan Lu Si-nio.
Karena itu segera ia sambut suitan itu dengan panah bersuara dan terus menyerbu masuk ke dalam hutan.
Demikianlah maka dua pengawal yang menjaga di luar hutan itu segera kena dia banting mampus.
Dalam pada itu tiba-tiba ia lihat seorang Lamma yang berperawakan tinggi besar telah menerjang keluar.
Dengan sekali bentak kembali Kam Hong-ti gunakan cara membanting kedua pengawal tadi, yakni gerak tipu 'Tay-lik-kim-kong-jiu' (tangan emas bertenaga raksasa), dengan tangan kanan ia hendak mendekap leher orang.
Tak terduga tangannya ternyata menangkap tempat kosong, sebaliknya tiba-tiba satu tenaga maha besar berbalik mendorong padanya.
Keruan Hong-ti kaget, lekas ia ganti gerak tipunya dan angkat tangan buat menolak tenaga dorongan tadi, maka terdengarlah suara "plak"
Yang keras, Hong-ti tergetar mundur beberapa tindak, telapak tangan pun kesakitan. Kun-tian Siangjin tergetar juga oleh tenaga pukulan Kam Hong-ti hingga sempoyongan.
"Kau mampu menyambut sekali pukulanku, tidak malu kau bergelar Kanglam-tayhiap!"
Segera terdengar Kun-tian Siangjin berseru.
Berbareng ia melompat maju, tangannya bergerak, segera ia menyerang pula dari samping.
Tetapi pada saat itu juga tertampak berkelebatnya sinar putih, tahu-tahu ujung senjata telah menusuk dari jurusan lain dengan cepat luar biasa.
"Awas, Suheng, ini adalah Yu-liong-pokiam!"
Emopu berseru untuk memperingatkan Kun-tian Siangjin.
Nama Yu-liong-pokiam dari Thian-san boleh dibilang terkenal di seluruh jagat, tadinya Kun-tian Siangjin berniat merebut pedang Teng Hiau-lan, tetapi demi mendengar seman Emopu, perasaannya tiba-tiba tergoncang, maka cepat ia berkelit.
Tui-hong-kiam-hoat yang dimainkan Hiau-lan cepat tiada bandingannya di kolong langit ini, makanya dinamakan 'Tui-hong-kiam-hoat' yang berarti ilmu pedang pemburu angin.
Begitu ujung senjatanya berputar, sinar senjata sekonyong-konyong seperti bertambah panjang beberapa senti, mendadak membabat pula ke arah Kun-tian Siangjin, ia melompat mundur menghindar, di antara sinar pedang yang melingkar-lingkar, terasa oleh Kun-tian Siangjin di atas kepalanya seperti menjadi dingin, ternyata kopiah padrinya yang berhentak lancip seperti tanduk kambing telah kena ditabas menjadi dua oleh pedang Teng Hiau-lan.
Di samping sana Kam Hong-ti tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, ia melompat maju, kedua telapak tangannya lantas meng-gablok dengan keras.
Kun-tian Siangjin menjadi murka, sekali kebut, ia gunakan lengan bajunya buat membelit pedang Teng Hiau-lan, sedang tangan kiri menangkis hingga Kam Hong-ti dipaksa mundur kembali.
Sungguhpun Kiam-hoat Hiau-lan sangat bagus, namun dalam keuletan, bagaimanapun juga ia masih selisih jauh dibanding Kun-tian Siangjin, karena pedangnya terbelit oleh lengan baju orang, ia menjadi kelabakan.
Kun-tian Siangjin mendengus demi nampak lav an tak dapat berkutik, lengan bajunya dia tarik lebih kencang dan lebih dekat, habis itu, mendadak sebelah tangan yang lain menyerang dengan kedua jari, dengan tipu 'Yu-liong-tam-jiau' atau naga nyasar mengulur cakar, ia menjepit pergelangan tangan Teng Hiau-lan dengan maksud hendak merebut pedang pusakanya, Yu-liong-pokiam.
Melihat kawannya terancam bahaya, Kam Hong-ti terkejut, tanpa ayal lagi sekuat tenaga ia menghantam musuh dengan kedua tangan berbareng, karena serangan ini terpaksa Kun-tian Siangjin harus menarik kembali tangannya yang memegang Teng Hiau-lan buat menghalau hantaman Kam Hong-ti, namun tenaga Kam Hong-ti luar biasa kuatnya, hantaman kedua tangannya ini membawa tenaga tidak kurang dari ribuan kati, meski Kun-tian Siangjin sangat lihai, tapi dia hanya satu tangan menahan serangan dua orang, betapapun ia tak tahan, karenanya begitu tangan kedua belah pihak beradu, Kun-iian Siangjin sempoyongan dan tergetar mundur.
Di pihak lain, tiba-tiba Teng Hiau-lan merasakan daya tekanan musuh tadi tahu-tahu telah kendur, ia tidak membuang kesempatan baik ini, dengan sedikit menggeraki pedangnya, terdengarlah suara robeknya kain, ternyata lengan baju Kun-tian Siangjin yang panjang telah kena terpapas sebagian.
Tidak kepalang gusar Kun-tian Siangjin, dengan merangkap kedua tangannya, sekuat tenaga dia mendorong ke depan.
Namun Kam Hong-ti tidak gampang kecundang, ia sudah banyak berpengalaman menghadapi musuh tangguh, sesudah saling gebrak tadi, segera ia bisa mengukur kepandaian diri sendiri dan lawan, ia mengerti kalau harus bertanding Lwekang, ia sendiri masih bukan tandingan musuh, maka begitu ia hantamkan kedua tangannya tadi, ia sudah memperhitungkan kemungkinan serangan musuh ini, baru saja Kun-tian Siangjin ganti pukulannya, lebih dulu Kam Hong-ti sudah menggeser langkah terus berputar ke samping, dengan sendirinya tenaga pukulan Kun-tian Siangjin mengenai tempat kosong, saking keras angin pukulannya sampai debu dan daun kering beterbangan, tenaga pukulannya ternyata keras dan lihai luar biasa, cuma sayang tidak mengenai sasaran.
Dalam pada itu sebelum angin pukulan mereda, tiba-tiba bayangan pedang berkelebat dari samping, kiranya Teng Hiau-lan telah menggunakan kesempatan pada waktu musuh belum sempat ganti serangan, sekonyong-konyong ia mendahului menyabet, sedang Kam Hong-ti pun memberi serangan balasan dengan cepat.
Namun di sinilah tertampak betapa tinggi ilmu silat Kun-tian Siangjin, meski dikeroyok dua jago kelas satu, tiba-tiba tubuhnya berputar pergi dengan cepat, dia keluarkan 'Mi-cong-cio-hoat', ilmu pukulan yang berlari kian-kemari seperti main kucing-kucingan, dengan gesit ia menerobos pergi di bawah ancaman senjata dan kepalan kedua lawan.
Setelah Kun-tian Siangjin berputar beberapa kali, mendadak terdengar dia menggertak keras, kedua telapak tangannya membagi ke kanan dan ke kiri, sekaligus ia menghantam kedua lawannya.
Begitu besar tenaga pukulannya hingga ketika Kam Hong-ti mengangkat tangannya buat menangkis, ia merasa tak tahan dan lekas melompat mundur, sedang Teng Hiau-lan harus menyambut pukulan menggeledek itu, hampir saja ia jatuh oleh goncangan angin pukulan musuh, syukur ia bisa berlaku cepat pula, begitu tubuhnya bergoyang, segera ia menggeser ke samping.
Melihat tipu pukulannya membawa hasil, Kun-tian Siangjin tidak mau berhenti begitu saja, segera ia lakukan rangsekan yang berbahaya.
Diam-diam Kam Hong-ti mengakui ketangkasan musuh.
"Kepandaian orang ini betul-betul tidak di bawah Tok-liong Cuncia,"
Demikian ia berpikir.
Tapi sesudah memberi tanda pada Teng Hiau-lan, segera mereka menggempur musuh lagi dengan kerja sama yang lebih rapat.
Kini Kam Hong-ti sendiri yang menahan tenaga pukulan orang dan membiarkan Teng Hiau-lan balas menyerang dengan Kiam-hoatnya yang cepat dan lihai.
Dengan perubahan ini, Kun-tian Siangjin tak bisa menggunakan seluruh tenaganya lagi untuk mendesak Kam Hong-ti, pula tak mampu merebut pedang Teng Hiau-lan, pertempuran berlangsung sampai ratusan jurus, tetapi keadaan masih sama kuat.
Apapun juga Lwekang Kun-tian Siangjin memang lebih tinggi setingkat, meski pertarungan sengit ini sudah ratusan jurus, namun ia masih' tetap tenang.
Sebaliknya tak demikian dengan Teng Hiau-lan, pemuda ini sudah letih dan mandi keringat.
Syukur selama setahun ini ia telah berlatih dengan giat Lwekang golongan Thian-san-pay dan telah jauh mendapat kemajuan, kalau dibanding setahun yang lalu ketika ia bertempur melawan Tok-liong Cuncia, terang sekarang jauh lebih tinggi, kalau tidak, tentu sejak tadi ia tak tahan.
Begitulah maka sesudah beberapa puluh jurus, tiba-tiba Kun-tian Siangjin bersuit aneh beberapa kali, telapak tangan kirinya bergerak berulang-ulang, karena angin pukulannya ini, pedang Teng Hiau-lan terguncang pergi dan tak mampu mendekati musuh, berbareng itu Kun-tian Siangjin mengulur tangan kanan dan menutul dengan jarinya, ia mengincar ke-36 jalan darah di tubuh Kam Hong-ti dengan ilmu Tiam-hiat yang mematikan.
Ilmu menutuk jalan darah umumnya mengerahkan tenaga pada ujung jari dan menyerang"
Secara mendadak.
Tetapi kekuatan jari tangan terbatas juga, kalau bertemu jago lihai seperti Kam Hong-ti yang sanggup menolak tutukan, mesti tepat kena ditutuk juga tidak akan terluka.
Pula Kam Hong-ti bertenaga pukulan sangat keras, kalau sampai jari tangan si penutuk kena dipotong oleh telapak tangannya, sedikitnya akan patah jari atau pecah telapak tangannya, oleh karena itu, di saat berhadapan dengan musuh, selamanya Kam Hong-ti tidak gentar pada Tiam-hiat.
Tak terduga ilmu menutuk Kun-tian Siangjin ternyata lain dari yang lain, kalau orang lain 'Tiam-hiat', maka dia "Bok-hiat', bukan menutuk, tapi 'bok' atau menabok.
Ia sanggup mengarah Hiat-to dengan guncangan tenaga pukulannya, menghadapi ilmu musuh yang aneh ini, Kam Hong-ti menjadi bingung juga, ia tidak tahu cara bagaimana harus menghalau serangan musuh.
Dalam pertarungan seru ini, suatu kali Kun-tian Siangjin mendadak mengulur tangan hendak mencengkeram paha Kam Hong-ti, namun secepat kilat Hong-ti memotong dari samping dengan kedua telapak tangannya dan sebelah kaki berbareng melayang untuk menendang pinggang orang.
Kedua gerak serangan ini adalah tipu serangan yang lihai dari Kam Hong-ti yang disebut 'Pi-san-sau-loh' atau memotong gunung membuka jalan.
Tak diduga, mendadak Kun-tian Siangjin mendaki tubuhnya dan tangan menarik ke bawah, dengan demikian kedua telapak tangan Kam Hong-ti menyerempet sikunya, tetapi karena tenaga tarikan tadi, daya pukulan yang kuat lantas dipatahkan juga, sedang kaki kanan Hong-ti yang menendang tadi dengan tepat kena disanggah ke atas oleh gerak tangan Kun-tian Siangjin tadi, berbareng malah tenaga dalamnya menggetarkan tunggak kaki Hong-ti di 'Yong-coan-hiat* hingga seketika ia merasakan sebelah kakinya kaku kesemutan, ketika Kun-tian Siangjin mengayun tangannya pula, maka Hong-ti tertolak pergi hingga jatuh beberapa tombak jauhnya.
Teng Hiau-lan tidak tinggal diam, segera ia cecar musuh dengan beberapa kali tusukan hingga Kun-tian Siangjin dipaksa harus mundur bila tidak mau merasakan ujung senjata pemuda ini.
Selagi Hiau-lan hendak meninggalkan musuh untuk menolong Kam Hong-ti yang jatuh itu, tiba-tiba ia lihat Thian-yap Sanjin dan Haptoh berdua telah melayang ke sana, begitu cepat gerak tubuh Thian-yap Sanjin, tampaknya dengan segera akan sampai di depan Kam Hong-ti, tapi mendadak ia hentikan langkahnya sendiri sambil bergelak tertawa.
"Aha, Lin-kuijin, kiranya kau datang ke sini juga!"
Demikian terdengar ia menyapa seseorang.
Ketika Hiau-lan melirik ke sana, ia lihat secepat terbang Pang Ing sedang mendatangi.
Kiranya Pang Ing oleh Thian-yap Sanjin telah disangka sebagai Pang Lin.
Begitu cepat datangnya anak dara ini, pada waktu Thian-yap Sanjin masih tertawa, tahu-tahu ia sudah berada di hadapannya.
"Ing-moay, Lu-cici berada di dalam sana!"
Cepat Teng Hiau-lan berseru.
Dalam pada itu, Kun-tian Siangjin mendorong ke depan pula, saking kuat tenaga dorongan ini hingga Teng Hiau-lan tak sanggup berdiri tegak dan jatuh terduduk.
Nampak lawannya terdorong jatuh dengan lucu, Kun-tian Siangjin tertawa terbahak-bahak, berbareng ia bermaksud mencengkeram pemuda ini.
Tapi pada saat itu juga tiba-tiba tertampak berkelebatnya sinar pedang, tahu-tahu pemuda lain telah menerjang maju, namun Kun-tian Siangjin masih terus mencengkeram ke depan, hanya dengan sebelah tangan lain ia papaki datangnya orang buat memuntir tangan musuh.
Pemuda yang datang belakangan ini adalah Li Ti, Kiam-hoat dia adalah ciptaan Pek-hoat Mo-li yang aneh luar biasa dan tiada bandingannya di kolong langit, ketika ujung senjata sedikit bergerak, mendadak memotong ke tangan kanan Kun-tian Siangjin yang lagi hendak mencengkeram tubuh Teng Hiau-lan.
Keruan Kun-tian Siangjin terperanjat, lekas ia mengerutkan tangan, karena merandek inilah memberi kesempatan pada Teng Hiau-lan untuk melompat bangun, kemudian bersama Li Ti mereka merangsek musuh bersama.
Dalam pada itu, di sebelah sana sesudah Thian-yap Sanjin menangkis beberapa kali serangan Pang Ing, diam-diam ia terkejut dan terheran-heran, ia pikir.
"Sungguh tidak nyana Kiam-hoat budak liar ini bisa maju sedemikian pesatnya!"
Ia menyangka anak dara ini adalah Pang Lin yang dikehendaki Hongsiang, maka ia tidak berani mengeluarkan tipu serangan yang mematikan, sebaliknya ia sendiri yang dicecar terus oleh Pang Ing hingga ia terpaksa harus mundur.
Lekas Haptoh melompat maju hendak membantu, ia pikir hendak tangkap hidup-hidup 'Pang Lin'.
Di luar dugaan pada saat itulah mendadak dari luar rimba sana menerobos masuk seorang gadis lain, Haptoh jadi melongo heran, betapa tidak karena kedua anak dara yang berada di hadapannya ini ternyata sama rupa seperti pinang dibelah dua.
Kalau ia ternganga, maka demikian pula dengan Thian-yap Sanjin setelah dia mengetahui juga ada dua gadis yang sedemikian mirip, saking bingungnya sampai mereka berdua hanya saling pandang saja, mereka tidak mengetahui yang manakah Lin-kuijin yang hendak mereka tawan.
Kiranya pada waktu Pang Ing dan Pang Lin si kembar bersama Li Ti melihat tanda panah Kam Hong-ti yang bersuara, mereka segera memburu datang, Pang Ing memiliki Ginkang yang hebat, maka tiba paling dulu, dan telah bergebrak dengan Thian-yap Sanjin.
Menyusul lantas datang Li Ti yang tepat juga-pada waktunya dan berhasil melepaskan Teng Hiau-lan dari ancaman bahaya.
Sedang Pang Lin berada paling belakang, tetapi ia sangat cerdik dan licin, begitu sampai ia lantas lihat Kam Hong-ti menggeletak di tanah.
"Kau bertahan sebentar, Cici, segera bersama Kam-tayhiap kami datang membantu kau!"
Demikian segera ia berseru sambil mendekati Kam Hong-ti.
Pang Lin paham ilmu Bok-hiat dari Lamma agama Merah di Tibet, maka hanya dua kali ia tepuk tubuh Kam Hong-ti, seketika jalan darah Kam Hong-ti lancar kembali, segera pendekar ini melompat bangun, dengan sekali menggeram ia lantas menubruk maju terus menghantam Kun-tian Siangjin.
Waktu itu memang Li Ti dan Teng Hiau-lan sedang kewalahan, dengan masuknya Kam Hong-ti, dengan tiga lawan satu, kedudukan mereka lantas berubah berada di atas angin.
"Haha, kiranya kaulah Lin-kuijin!"
Haptoh bergelak tertawa sesudah mengenali Pang Lin yang bisa menepuk jalan darah Kam Hong-ti, maka yang dia tuju dengan sendirinya anak dara ini.
Thian-yap Sanjin kinipun sudah mengetahui mana Pang Lin dan mana yang bukan, karena kesangsiannya hilang, seketika ia melakukan rangsekan balasan, ia menempur Pang Ing dengan sengit.
Ilmu silat Haptoh sendiri dahulu disebut 'dua jago' dengan Liau-in, dengan sendirinya Pang Lin sekali-kali bukan tandingannya, ketika Haptoh memutar gembolannya sedemikian hebat, terpaksa Pang Lin terdesak lari kian-kemari.
Sementara itu di dalam hutan terdengar suara suitan Lu Si-nio menggema pula, kiranya ia telah mendengar juga suara pertarungan yang terjadi dengan serunya di luar rimba ini, cuma ia tidak tahu siapakah yang datang ini.
Cepat Kam Hong-ti balas bersuit.
"Kenapa aku tidak masuk ke dalam hutan dulu bergabung dengan Lu-cici?"
Demikian Pang Lin berpikir ketika mendengar suara suitan Lu Si-nio.
Segera ia keluarkan kepandaian cara menggempur dan mencakar seperti elang kucing, hanya tiga kali naik turun ia sudah berhasil lari masuk ke dalam hutan.
Kiranya pada waktu Kun-tian Siangjin menempur Kam Hong-ti dan Teng Hiau-lan secara sengit.
Thian-yap Sanjin dan Haptoh telah keluar buat menonton, sedang Lu Si-nio yang terkurung di atas pohon masih terus duduk bersemedi, diam-diam ia kumpulkan tenaga dalamnya dan sesudah pulih seluruh rasa letihnya, kala mana di bawah pohon hanya tinggal Emopu dan Han Tiong-san berdua yang menjaga, ketika Si-nio mendengar suara suitan Kam Hong-ti, mendadak ia melompat turun, begitu pedangnya berputar, segera ia menikam Han Tiong-san dari atas.
Dalam kagetnya Han Tiong-san masih sempat angkat senjata garuknya buat menangkis sambil menyerampang.
Meski tubuhnya terapung di udara, namun Lu Si-nio dengan cepat sudah ganti tipu serangan, mendadak ujung senjatanya miring ke samping terus menusuk pergelangan tangan musuh.
Untuk tidak terkutung tangannya, lekas Han Tiong-san menarik kembali senjatanya, tetapi sekonyong-konyong ia rasakan pundaknya kesakitan, kiranya pundaknya dengan tepat kena didepak oleh Lu Si-nio dan dengan meminjam kekuatan depakan ini, Lu Si-nio sendiri lantas mencelat pergi beberapa tombak jauhnya.
"Di luar telah datang musuh baru, kau keluar saja melihatnya, biar aku yang melayani penjahat wanita ini!"
Seru Emopu pada kawannya, berbareng pula kebutnya beruntun menyerang tiga kali, sama sekali ia tidak memberi kesempatan pada Si-nio untuk lari.
Ilmu silat Emopu memang hanya sedikit di bawah Suhengnya, yaitu Kun-tian Siangjin, dan kalau dibanding Lu Si-nio boleh dikata seimbang, karena itu, di bawah rintangan Lamma ini.
sekejap itu Si-nio tak mampu menerjang keluar.
Kembali Pang Lin tadi, ketika ia berlari masuk ke dalam hutan, mendadak ia memergoki Han Tiong-san yang lagi berlari keluar, dalam terkejutnya ia melompat ke samping untuk menghindari.
Akan tetapi dari belakang Haptoh sudah mengudak tiba pula.
"Hayo, budak liar, apa kau masih ingin kabur!"
Demikian Haptoh membentak.
Dalam pada itu Han Tiong-san tidak tinggal diam.
sekaligus ia timpukkan tiga anak panahnya, dengan senjata ini ia paksa Pang Lin mundur ke tempat yang luang di dalam hutan itu.
dengan jalan ini ia menghindarkan kelicinan Pang Lin yang mungkin mengajak main kucing-kucingan di dalam hutan yang lebat itu.
Dari belakang Haptoh sudah memburu maju, namun ia telah dipapaki Pang Lin dengan tiga buah pisau berbisa.
"Hahaha, sedikit permainanmu ini saja berani kau penunjuk-, kan di depanku?"
Haptoh bergelak tertawa melihat serangan orang.
Habis itu dengan tangan kiri ia meraup, bermaksud menangkap ketiga pisau itu.
Siapa duga selama setahun lebih ini Pang Lin sudah giat melatih Lwekang yang lihai dari Bu-kek-pay dan sudah tidak dapat dipersamakan dengan Pang Lin dulu lagi, meski Lwe-kangnya masih berselisih dibanding Haptoh dan Han Tiong-san, tapi ?
selisihnya sudah tidak jauh lagi.
Begitulah maka waktu Haptoh mengangkat tangan hendak meraup, tiba-tiba melihat datangnya Hui-to membawa desiran angin yang keras, datangnya ternyata cepat dan kuat, mau tak mau ia jadi terkejut, lekas ia tarik tangannya sambil berkelit, maka lewatlah ketiga Hui-to itu, yang sebuah menyambar lewat di atas kepalanya dan yang dua menerobos di samping kedua telinganya dengan membawa angin tajam.
Melihat lawannya kelabakan menghadapi pisau terbangnya, Pang Lin tertawa ngikik, habis itu tanpa berpaling lagi kembali ia berlari pula.
Haptoh menjadi murka, secepat kilat gembolannya yang bertali dia timpukkan, senjata ini menyambar mendahului di depan Pang Lin hingga tepat mengenai sebuah batu besar hingga batu ini pecah berantakan.
Maksud Haptoh menghantam remuk batu itu tidak lebih adalah supaya Pang Lin ketakutan dan tak berani berlari ke depan lagi, dengan demikian tiada jalan lain kecuali harus balik untuk menyerahkan diri dan ditawan.
Di luar dugaannya, hantaman gembolannya memang tepat dan batu itu berantakan, tetapi sesuatu yang di luar perhitungannya telah terjadi juga.
Di belakang batu besar itu ternyata ada sebuah gua yang dalam sekali, sesudah batu pecah remuk, segera mulut gua yang gelap-gulita kelihatan, bahkan terdengar pula ada suara rintihan orang di dalam gua.
Pang Lin sendiri sudah kepepet dikejar Haptoh, ia tidak ingin mundur kembali dan ditawan, maka pada waktu remukan batu kerikil berhamburan, ia keluarkan gerak tipu 'Pat-hong-hong-uh " (hujan angin dari delapan penjuru), satu gerakan dari Bu-kek-kiam yang hebat, begitu pedangnya diputar, di bawah menghamburnya batu kerikil yang kesampuk oleh pedangnya, tubuhnya terus melompat ke depan masuk ke dalam gua tadi.
Hawa di dalam gua ternyata sangat seram, saking gelapnya, sampai jari tangan sendiri tidak kelihatan, tak tertahan Pang Lin mengkirik.
Daiam pada itu ia mendengar Haptoh lagi keheranan di luar gua.
"Ha, meski kau lari masuk sarang macan atau gua ular, pasti juga akan kurogoh kau keluar,"
Lalu ia dengar Haptoh membentak lagi di luar sesudah lewat sejenak.
Selamanya Pang Lin paling jeri pada ular, kini demi mendengar Haptoh menyebut "gua ular", ia menjadi ketakutan.
Akan tetapi waktu itu Haptoh sudah menggeremet masuk ke dalam, terpaksa ia tak bisa berpikir banyak lagi, ia harus menyelamatkan diri paling perlu dan terus mundur ke belakang, makin masuk makin dalam.
Gua itu ternyata sangat dalam sekali, sesudah Pang Lin berjalan agak lama, dengan jelas kembali ia mendengar lagi dua kali suara rintihan orang yang menderita, disusul oleh suara aneh yang mendesis.
Pang Lin mengkirik hingga bulu roma tengkuknya berdiri.
"Jangan-jangan gua ini memang benar-benar gua ular, suara rintihan tadi adalah suara merintihnya orang yang sedang ditelan ular?"
Demikian Pang Lin membatin.
Kemudian ketika ia mengangkat kepala memandang ke dalam, tiba-tiba di dalam kegelapan ada dua titik sinar yang berkelap-kelip menghijau, sedang suara mendesis tadi bukan lain justru datang dari sinar hijau ini.
Apalagi?
Sudah terang ini adalah mata ular berbisa!
Dalam kagetnya, Pang Lin menjerit sekali, berbareng pedangnya membabat ke depan, akan tetapi sebelum senjatanya mengenai sasaran, mendadak ia merasakan pergelangan tangannya kesakitan, pedangnya pun jatuh ke tanah hingga menerbitkan suara nyaring.
"Kenapa kau hendak membunuh ularku yang lagi menolong orang?"
Tiba-tiba Pang Lin mendengar suara bentakan orang.
Pang Lin berusaha melepaskan diri, tetapi ia tak berdaya karena seluruh badan dirasakan lemas, sedikitpun tak bisa mengeluarkan tenaga, pada saat itu pula tiba-tiba ia merasakan ada sesuatu yang merayap di atas tubuhnya dengan kelogat-keloget, barang ini lunak lagi licin, keruan tidak kepalang kaget Pang Lin, saking takutnya sampai semangatnya hampir terbang dari raganya!
Syukur dalam kegelapan itu sekonyong-konyong Pang Lin mendengar lagi orang itu bersuara heran.
"Eh. kukira siapa, tak tahunya tuan penolongku yang telah datang,"
Demikian terdengar orang itu berkata.
"In-jin (tuan berbudi) tak usah kuatir. ularku ini sekali-kali tidak digunakan untuk mencelakai orang lagi. Kim-ji, hayo, kembali!"
Dengan suara bentakan yang perlahan ini, maka ular kecil yang tadinya merayap di tubuh Pang Lin, lantas merambat turun.
"Nona Pang, darimanakah kau mengetahui aku di sini?"
Terdengar orang tadi bertanya pula.
Pang Lin masuk ke dalam gua yang gelap itu dari tempat yang bercahaya terang, dengan sendirinya ia masih belum bisa melihat jelas keadaan dalam gua itu, lebih-lebih ia tidak kenal siapa orang yang menyapa padanya ini, karena rasa kagetnya belum hilang, maka ia tidak menjawab pertanyaan orang.
"Eh, kembali ada seorang lagi yang masuk. Apa dia kawanmu, nona Pang?"
Terdengar orang itu menyambung lagi. Pang Lin coba menenangkan diri dari kagetnya tadi, ia pikir.
"Kalau dia sudah memanggil aku sebagai In-jin, pula ia memiliki kepandaian begini tinggi, bukankah sangat baik kalau aku minta dia memberi pertolongan?"
Sementara itu suara tindakan Haptoh dari luar semakin mendekat. Bahkan gembong Hiat-ti-cu ini masih bersuara mengancam dan menakut-nakuti pula.
"Hayo, budak liar, tidak lekas kau keluar? Sebentar lagi segera aku hantam pecah kepalamu dengan gembol-anku!"
Mendengar gertakan ini, orang itu menjadi heran.
"Eh, kiranya dia adalah musuhmu!"
"Ya, ya, dia memang musuhku, dia jahat sekali!"
Demikian Pang Lin membenarkan.
"In-jin jangan kuatir, justru aku ini tukang pukul orang jahat!"
Terdengar orang itu menyahut dengan tertawa dingin.
Di lain pihak sesudah Haptoh memasuki gua yang seram ini, bahkan mendengar pula suara mendesisnya ular, mau tak mau ia rada keder juga, tetapi mengandalkan ilmu silatnya yang tinggi, nyalinya bertambah besar juga, ia putar 'Liu-seng-tui' untuk melindungi tubuhnya sambil berpikir.
"Biarpun ada ular yang mendadak menubruk maju pasti akan mati oleh angin senjata gembolanku!"
Karena itu sambil mengayun senjatanya ia terus menggeremct masuk, sampai akhirnya tanpa terasa ia sudah masuk jauh ke dalam gua itu, di sini tiba-tiba ia dengar Pang Lin lagi berbicara dengan orang, tentu saja ia terheran-heran.
"Hai, siluman macam apakah yang bersembunyi di sini untuk menakut-nakuti orang?"
Segera ia membentak sambil memutar senjata. Tetapi dari dalam gua yang gelap-gelita itu ia dengar ada suara tertawa dingin orang sambil menjawab.
"Hm, aku jauh lebih baik daripada kalian yang melakukan macam-macam kejahatan di tempat terbuka dan terang-terangan!"
"Siapa kau?"
Bentak Haptoh sambil mengayun gembolannya ke depan.
"O, pantas kau berani menghina tuan penolongku, kiranya kau memang memiliki sedikit kemampuan, tetapi sayang kau punya 'Hwe-hwe-tui-hoat' (ilmu permainan gembolan) masih belum matang terlatih!"
Demikian terdengar orang itu berkata. Haptoh terkejut, batinnya.
"Kurangajar, hanya sekali lihat saja di tempat gelap ia sudah tahu aku punya ilmu kepandaian, tampaknya bukan lawan yang enteng!"
Karena itu dengan mengumpul tenaga dalamnya, mendadak gembolannya diayun ke depan.
"Kau berani membikin celaka pasienku?"
Sekonyong-konyong orang itu membentak dengan sengit.
Pada saat itu juga tahu-tahu Haptoh merasakan ujung gembolannya menjadi macet, tiba-tiba seperti dicekal orang, sedikitpun tak bisa bergerak lagi.
Harus diketahui, dengan kepandaian Haptoh yang sudah sedemikian tinggi, dengan sabetan senjatanya tadi, kekuatannya tidak hanya terbatas ribuan kati saja, tetapi kini mendadak bisa dipegang orang tanpa bisa ditarik kembali, keruan terkejutnya bukan buatan, tanpa pikir lagi, segera ia lepaskan senjatanya terus hendak lari.
Tetapi untuk lari ternyata tidak gampang, tahu-tahu orang di dalam gua itu tertawa dingin, berbareng orangnya sudah memburu tiba, dengan sekali pegang, tengkuk Haptoh kena dicekal terus dibuang keluar sambil membentak.
"Pergi!"
Sungguh hebat sekali, dengan ilmu silat Haptoh yang sudah begitu tinggi, tetapi sedikitpun tidak berdaya dan telah dilempar orang keluar gua sedemikian rupa, sudah tentu yang paling girang adalah Pang Lin.
'"Siapakah kau?"
Demikian ia lantas bertanya dengan girang bercampur heran.
"Apa kau belum melihat jelas?"
Sahut orang itu.
"Masa kau tidak mengenali aku, meski tidak jelas melihat mukaku, mendengar suaraku saja kau harus kenal juga. Kau tentu tidak menduga aku bisa berada di sini, bukan?"
Sudah tentu Pang Lin menjadi bingung.
"Dan dimanakah kau punya Lu-cici?"
Sementara terdengar orang itu bertanya pula.
"O, ya, dia ada di luar dan sedang dikerubut orang jahat,"
Lekas Pang Lin menerangkan.
"Baiknya lekas kau menolong dia!"
"Ah, pantas aku seperti mendengar suara suitannya sejak tadi,"
Ujar orang itu.
"Siapakah yang memiliki kepandaian begitu tinggi hingga bisa mengurung dia, aku harus pergi melihatnya!"
Dalam pada itu tiba-tiba terdengar suara rintihan dua kali, orang itu mengulur tangan meraba, habis itu lantas terdengar ;a buka suara lagi.
"Kalian Sudah sembuh semua, rebah lagi setengah hari dan lantas akan kuantar kalian pulang ke rumah!"
Kiranya orang aneh ini ialah Tok-liong Cuncia.
Sebagaimana pernah dia bersumpah di hadapan Lu Si-nio bahwa dia pasti akan melakukan amal untuk menyembuhkan penderita penyakit kusta, oleh karena itu ia telah melawat kian-kemari untuk menunaikan janjinya itu dan pada sepuluh hari yang lalu, kebetulan ia sampai di tempat ini.
Oleh sebab ia kuatir perbuatannya itu akan membikin kaget orang dan menggegerkan penduduk saja, maka sengaja ia culik penderita kusta untuk disembunyikan di dalam gua ini, lalu dengan batu besar ia menyumbat mulut gua supaya tidak ketahuan orang, dan di dalam gua inilah dia melakukan pengobatannya pada para penderita kusta yang dia culik itu.
Seluruhnya ia telah menculik empat orang, dua penderita yang ringan sudah disembuhkan dan telah diantar pulang, tinggal dua penderita lagi yang agak parah.
Kedua orang ini ternyata lemah juga tubuhnya, ketika Tok-liong Cuncia mengobatinya dengan darah ular dan obat-obatan lainnya, penyakit kustanya sudah mulai baik, tetapi sebaliknya karena tak tahan akan hawa dingin dalam gua itu, kedua orang ini malah sakit demam hingga beberapa kali jatuh pingsan.
Tok-liong Cuncia sendiri hanya paham menyembuhkan kusta, terhadap penyakit lain sedikitpun tak becus, pula tidak gampang untuk memperoleh obatnya.
Sebab itu terpaksa ia harus menggunakan hawa murni sendiri yang kuat dan disemburkan ke mulut si sakit untuk memperkuat daya lahannya, dasar ini sama seperti tambah darah zaman sekarang.
Karena selama sehari semalam ini Tok-liong Cuncia terus mengobati pasiennya dengan penuh perhatian, maka terhadap suara suitan Lu Si-nio tidak didengarnya, dan waktu Pang Lin datang, kedua pasiennya sudah mulai bisa merintih dan sudah terhindar dari bahaya, karena tak ada sesuatu yang dia kuatirkan lagi, segera ia keluar gua bersama Pang Lin.
Kembali tadi, waktu Haptoh dilempar keluar gua, kala itu Han Tiong-san lagi menunggu di mulut gua, maka persis kedua tangannya bisa menyambut tubuh Haptoh seperti kiper menangkap bola.
"Siapakah yang bersembunyi dalam gua?"
Segera Han Tiong-san bertanya dengan heran ketika melihat tengkuk kawannya babak-belur bekas jari tangan, mukanya pucat seperti kertas, bahkan senjatanya 'Liu-seng-tui' tak tampak pula.
Pertanyaan orang ternyata tidak dijawab oleh Haptoh, ia hanya meraba-raba kuduknya dengan napas terengah-engah.
"Siluman, siluman! Lekas panggil Kun-tian Siangjin!"
Demikian akhirnya ia berkata.
Mengertilah Han Tiong-san, tentu kawannya telah dikibuli orang, keruan tidak kepalang terkejutnya, karena ia cukup kenal kepandaian Haptoh, tanpa ayal lagi segera ia bersuit memanggil bala-bantuannya, Kun-tian Siangjin.
Dalam pada itu, dari dalam mendadak melompat keluar seorang berambut kusut terurai, rupanya aneh luar biasa.
Han Tiong-san memang sudah berjaga-jaga kalau musuh bakal keluar gua, maka demi nampak munculnya orang, tanpa buka suara lagi segera garuknya mengepruk, sekaligus ia arah kepala orang yang mematikan.
"Hm, tak malu, membokong!"
Tok-liong Cuncia mendamprat, berbareng lengan bajunya dari kain kasar dia kebutkan.
Pacul garuk Han Tiong-san sampai hampir terlepas dari tangannya karena kebutan lengan baju orang, tentu saja bukan main kagetnya, pikirnya.
"Pantas Haptoh kecundang olehnya, kepandaiannya ternyata jauh di atas tingkatan kita."
Di lain pihak Tok-liong Cuncia rada heran juga karena kebutan lengan bajunya tadi tidak mampu membikin terpental senjata garuk 'Pi-hun-tuh' orang.
"Darimanakah Lu Si-nio memperoleh musuh tangguh begitu banyak? Pantas kalau dia sendiri terkurung!"
Demikian pikirnya.
Sebenarnya kepandaian Haptoh dan Han Tiong-san adalah setingkat, tetapi kenapa sekali gebrak Haptoh kena dicekal terus dilempar keluar gua, sebaliknya meski Han Tiong-san juga kecundang tapi tidak sampai terjungkal?
Soalnya karena tadi Haptoh masuk ke dalam gua yang gelap-gulita, ini berarti Tok-liong Cuncia berada di tempat yang terang sebaliknya ia sendiri di tempat yang gelap, pula Haptoh sama sekali belum kenal ilmu kepandaian Tok-liong Cuncia, penjagaannya dengan sendirinya tidak cukup kuat, sedang ilmu silat Tok-liong Cuncia memang jauh lebih tinggi dari Haptoh, oleh karena itu, dalam keadaan tak tersangka, hanya dengan sekali mencekal Haptoh kena dilempar pergi.
Sebaliknya Han Tiong-san sudah menunggu di mulut gua untuk melakukan pembokongan, ini berarti dia yang terang dan Tok-liong Cuncia yang gelap, pula Han Tiong-san sudah menyaksikan Haptoh yang digusur keluar gua dengan sangat mengenaskan, maka ia sudah mengetahui musuh luar biasa tinggi kepandaiannya, maka begitu garuknya mengepruk tadi, berbareng ia melangkah mundur, dengan demikiar maka ia tidak sampai kecundang seperti Haptoh.
Tapi sesudah saling gebrak sekali, siapa yang lebih kuat dan siapa yang lemah sudah lantas kentara, Han Tiong-san tak berani melawan lebih jauh, dengan menyeret pacul garuknya, ia lantas mundur teratur.
Tok-liong Cuncia bergelak tertawa karena kaburnya orang.
"Lu-lihiap! Dimana kau, Lu-lihiap!"
Segera ia berseru memanggil Lu Si-nio.
Waktu itu Lu Si-nio sedang menempur Emopu di dalam hutan, mereka ternyata sama kuat dan seketika sukar dipisahkan.
Tetapi demi mendengar suitan Tok-liong Cuncia tadi, seketika semangat Lu Si-nio terbangun, beruntun ia menusuk beberapa kali ke tempat yang berbahaya di tubuh Emopu, Lamma ini terpaksa harus berkelit, maka kesempatan ini segera digunakan Si-nio untuk menerjang keluar secepat terbang.
Sudah tentu Emopu tidak melepaskan orang begitu saja, segera ia mengudak, tapi sesampainya di luar, ia lihat Suhengnya, Kun-tian Siangjin, sudah berhadapan dengan Tok-liong Cuncia, kedua orang sedang bersiap untuk bergebrak.
Kiranya Kun-tian Siangjin dikeroyok Kam Hong-ti, Teng Hiau-lan dan Li Ti bertiga sudah berlangsung sekian lama dan masih belum berakhir, waktu itu Haptoh dan Han Tiong-san berdua berlari datang mewakili dia menghadapi ketiga lawan ini, sedang dia diminta pergi menghalau musuh yang lebih kuat.
Segera juga Kun-tian Siangjin melepaskan diri dari kalangan pertempuran untuk mencegat musuh yang dimaksudkan, sementara ia nampak Tok-liong Cuncia dengan rambut yang terurai kusut, rupanya lebih mirip orang hutan, Kun-tian Siangjin rada heran, batinnya.
"Darimanakah munculnya orang hutan ini hingga membikin Haptoh serta Han Tiong-san ketakutan sedemikian rupa?"
Di lain pihak, ketika melihat datangnya Lu. Si-nio, Tok-liong Cuncia menyambut gadis ini dengan seruan girang. Sebaliknya di sebelah sana, Kam Hong-ti dan Lu Si-nio pun bersorak gembira.
"Tok-liong Cuncia!"
Demikian mereka menyapa girang.
Mendengar nama orang, baru Pang Lin mengerti persoalannya, ia sudah pernah mendengar cerita dari sang Enci tentang kejadian di sekitar Coa-to atau pulau ular, tentunya Tok-liong Cuncia telah menyangka dia adalah Pang Ing, oleh karena itulah ia turun tangan buat menolongnya.
Di pihak lain, demi mendengar nama Tok-liong Cuncia, Emopu yang sudah memburu datang menjadi kaget.
Ia datang di istana lebih dulu daripada Suhengnya, maka dalam percakapan ia pernah mendengar Kaisar Yong Ceng pernah, mengutus Siang-mo untuk mengundang Tok-liong Cuncia, tetapi yang diundang tidak pernah datang, karena itu segera ia membentak.
"Hm, Hongsiang mengundang kau, tapi kau berlagak dan tidak mau datang, kini kau berbalik datang membantu para buronan ini?"
Masih mendingan kalau Emopu tidak menegurnya, tapi karena dampratan ini telah membikin Tok-liong Cuncia menjadi murka, selama setahun ia menginjak daratan, dimana-mana ia mendengar cerita tentang keganasan Kaisar Yong Ceng, oleh karena itu ia cukup mengetahui mana yang benar dan mana yang salah.
"Aha, kiranya kalian ini adalah anjing dan alap-alap keraja-an!"
Demikian segera ia membentak dengan gusar.
Ia mengulur tangan memetik sekenanya, satu tangkai kayu kecil tiba-tiba dia selentikan menuju Emopu.
Tetapi Kun-tian Siangjin sudah melompat dari samping, begitu tangannya meraup, ia tangkap tangkai kayu itu.
"Eh, kiranya kau inilah yang bernama Tok-liong Cuncia, geiak tanganmu barusan ini ternyata tidak jelek, marilah maju sini, boleh kita coba siapa yang lebih kuat!"
Segera ia menantang dengan berge-lak tertawa.
Habis berkata, tiba-tiba ia merangkap kedua telapak tangan, dengan gaya 'Thay-san-ap-teng' atau gunung besar menindih kepala, segera ia mendorong ke depan dengan sepenuh tenaga.
Lekas Tok-liong Cuncia memapak dengan kedua tangan, maka terasalah satu kekuatan maha besar mendesak ke pihak masing-masing, seketika ia pun tak berani menarik tangan dan ganti serangan, keempat tangan masih saling tempel dan terpaku di tengah kalangan, mata mereka saling pandang dengan melotot, seperti dua ekor ayam jago lagi bertarung, kedua belah pihak sama kuat.
Pada waktu itu Kam Hong-ti dan kawan-kawan sudah berhenti bertempur dan sedang menyaksikan pertarungan hebat antara Tok-liong Cuncia melawan Kun-tian Siangjin.
Teng Hiau-lan sendiri diam-diam mendekati Lu Si-nio dan dengan suara perlahan ia menghaturkan terima kasihnya.
Dengan sendirinya Lu Si-nio sangat girang melihat pemuda ini sehat-walafiat.
"Kau sudah sembuh, maka legalah hatiku,"
Demikian ia berkata.
Pang Ing pun tak mau ketinggalan, ia mendatangi Teng Hiau-lan sambil mengucapkan terima kasih juga pada Si-nio.
Melihat sepasang muda-mudi yang begini kasih-sayang, tiba-tiba Lu Si-nio teringat pada Sim Cay-khoan yang belum diketahui mati-hidupnya, karena itu ia menjadi pilu.
"Persahabatan kita atas dasar suci-murni, kenapa perlu pakai terima kasih segala?"
Katanya kemudian.
"Marilah kita menyaksikan pertarungan Tok-liong Cuncia dengan orang itu."
Tatkala itu para bayangkara yang menjaga di luar rimba bera-mai sudah merubung datang, mereka berdiri di belakang Kun-tian Siangjin.
Sementara di tengah kalangan Tok-liong Cuncia dan Kun-tian Siangjin masih terus adu tenaga, keringat mereka sudah seperti hujan, tetapi orangnya sedikitpun tidak bergerak.
Para jago silat yang menyaksikan ini tiada yang tak berdebar, mereka mengerti, mengadu tenaga dalam secara mati-matian ini adalah luar biasa, siapa sedikit lengah bisa segera binasa atau sedikitnya luka parah, jauh lebih sengit daripada pertarungan memakai senjata, saking tegangnya sampai mereka menahan napas sambil memandang ke tengah kalangan dengan penuh perhatian.
Sesudah kedua orang bertahan lagi kira-kira setengah jam, lambat-laun Kun-tian Siangjin merasakan tenaga lawan semakin bertambah, tekanan semakin kuat, ia sadar kalau terus beradu tenaga tentu tidak menguntungkan baginya.
Oleh sebab itulah ia harus mencari jalan lain, Kun-tian Siangjin memang lebih banyak berpengalaman dalam pertarungan besar, pikirannya pun lebih cerdik, ia mengerti tidak mungkin mendadak menarik tangan dan segera ganti serangan, maka ia mendapat satu akal, secara mendadak ia meludah, air liur yang kental ini tiba-tiba diarahkan ke mata Tok-liong Cuncia secepat kilat.
Tipu licik ini sama sekali di luar dugaan Tok-liong Cuncia, maka tanpa terasa ia berkelit sambil menunduk.
Dengan sendirinya kesempatan ini digunakan Kun-tian Siangjin dengan baik, mendadak kedua telapak tangannya mendorong ke depan, segera terdengarlah suara "plak"
Yang keras, pundak Tok-liong Cuncia digebuk sekali.
Tidak kepalang gusar Tok-liong Cuncia atas kelicikan orang, tenaga pukulan sendiri menjadi mengenai tempat kosong namun ia sempat membaliki sebelah tangannya terus menggenjot perut Kun-tian Siangjin.
Maka terdengarlah jeritan kedua orang berbareng, masing-masing melompat mundur setombak lebih, di antara suara teriakan dan jeritan itu, berbareng tertampak rebahnya sebatang pohon besar hingga kawanan bayangkara yang berdiri di sekitar pohon itu lari serabutan menyelamatkan diri.
Kiranya robohnya pohon itu disebabkan Kun-tian Siangjin menghindarkan diri secara licik dari pukulan Tok-liong Cuncia, maka tenaga pukulan yang sudah telanjur dihantamkan itu telah mematahkan pohon besar di depannya.
Begitulah maka kedua orang tadi telah merasakan sekali hantaman masing-masing, tetapi keduanya sudah terlatih hingga boleh dikata otot kawat tulang besi, meski terasa rada kesakitan namun tidak mengganggu bagian dalam tubuh mereka.
Tok-liong Cuncia menjadi murka, dengan sekali melompat maju, segera ia hendak memegang kepala lawan.
Namun Kun-tian Siangjin sekarang sudah kenal lihainya sang lawan, ia tak mau adu kekuatan lagi, ia mengegos pergi, habis itu mendadak ia lari berputar mengitari Tok-liong Cuncia.
Hanya dalam sekejap saja, seluruh kalangan pertempuran hanya tertampak bayangan Kun-tian Siangjin belaka.
Tok-liong Cuncia belum pernah melihat siasat pertempuran semacam musunnya ini, karena itu ia menjadi bingung hingga akhirnya pandangannya menjadi kabur dan kepala pusing karena orang terus berputar.
Dengan ilmu semacam ini sebenarnya kalau ketemu orang yang memiliki Ginkang yang tinggi seperti Lu Si-nio, tentu Kun-tian Siangjin akan mati-kutu, tetapi justru musuhnya kini adalah Tok-liong Cuncia yang tidak memiliki kepandaian khusus dalam hal Ginkang, ditambah lagi ia telah lama tinggal terasing di Coa-to, pengalaman dalam pertarungan besar kurang banyak, maka terpaksa ia hanya mengandalkan keuletannya untuk bertahan.
Karena inilah ia lantas masuk perangkap Kun-tian Siangjin, akhirnya Tok-liong Cuncia kena dipancing ikut berputar beberapa kali hingga ia merasa kepala pusing dan mata berkunang-kunang, ia kena digablok dua kali lagi oleh telapak tangan Kun-tian Siangjin, maski gablokan ini tidak sampai melukainya, namun tidak urung ia merasa kesakitan hingga ia berjingkrak dan berteriak.
Melihat musuh digebuk sampai berteriak kesakitan, Emopu dan lain-lain tertawa sambil bersorak-sorai untuk menambah semangat kawannya.
Sebaliknya Lu Si-nio mengerut dahi melihat Tok-liong Cuncia kena digebuk mentah-mentah oleh musuh.
"Dengan tenang patahkan gerakan lawan,"
Ia berseru sesudah menyaksikan lagi. Waktu itu sebenarnya Tok-liong Cuncia sedang pusing kepala karena gebukan Kun-tian Siangjin tadi, ketika tiba-tiba mendengar seruan Lu Si-nio, ia menjadi sadar.
"Ya, memang betul, kenapa aku begitu goblok terus berputar mengikuti kemauannya?"
Demikian ia membatin.
Ia lantas mengubah cara bertempur, ia menjaga diri rapat dan tidak bergerak pula, ia tunggu asal Kun-tian Siangjin berani mendekat, kontan ia persen orang dengan sekali genjotan tenaga dalam yang kuat.
Ilmu silat Tok-liong Cuncia memang sudah berada di puncak yang tiada taranya, betapapun cara Kun-tian Siangjin memutar ke sana sini, namun Tok-liong Cuncia sanggup mengincar setiap gerakan musuh, tiap ada kesempatan ia lantas mengirim serangan.
Tenaga dalam Kun-tian Siangjin memang tidak bisa memadai Tok-liong Cuncia, kini setelah ilmu pukulan 'Mi-cong-cio-hoat' tidak membawa hasil, ia sendiri kerepotan dan payah, sebaliknya makin lama pukulan Tok-liong Cuncia semakin cepat, tiap pukulannya membawa daya tekanan yang sangat kuat.
Kun-tian Siangjin sendiri sudah tak mampu merangsek maju, kini berbalik terdesak tenaga pukulan orang, lambat-laun napasnya menjadi sesak, diam-diam ia mengeluh, ia mengerti kalau keadaan demikian berlangsung terus, maka musuh belum kecundang, dirinya sudah pasti akan kalah lebih dulu.
Orang kalau kepepet, dengan sendirinya memeras otak, maka begitu Kun-tian Siangjin berkerut kening, kembali ia mendapat akal pula, segera ilmu pukulannya berubah lagi, kini dengan tangan kiri ia memakai Kim-na-jiu-hoat, sedang tangan kanan tetap ilmu memukul jalan darah, tubuhnya masih terus berputar mengincar cepat, tetapi memutarnya ini ia menanti kesempatan luang.
Kun-tian Siangjin adalah jago nomor satu di antara Lamma agama Merah di Tibet, ia memang memiliki beberapa ilmu kepandaian, meski Lwekang dan Gwakang Tok-liong Cuncia sudah di puncak kesempurnaan, tetapi untuk memakai tipu licik dan berpikir secara cepat buat mengalahkan musuh, dalam hal ini ia tidak bisa memadai Kun-tian Siangjin.
Teng Hiau-lan mengikuti pertarungan sengit ini dan berkuatir juga.
Ia telah mempersoalkan kekuatan kedua belah pihak dengan Lu Si-nio.
"Kepandaian Tok-liong Cuncia sebenarnya bisa mengalahkan padri ini, tetapi kini ia berbalik kena dirangsek, sungguh membikin orang merasa bingung,"
Demikian ujarnya.
"Tetapi padri siluman itu juga lihai sekali dengan ilmu menepuk jalan darah,"
Tiba-tiba Pang Lin menimbrung.
"Sudah bagus kalau Tok-liong Cuncia bisa menandinginya sama kuat, bila diingat sama sekali ia tidak mengetahui cara bagaimana harus melayani kepandaian lawan."
Namun Teng Hiau-lan agaknya tidak sependapat, ia menggeleng kepala.
"Tidakkah kau lihat tenaga pukulannya sudah mulai lemah?"
Katanya kemudian.
"Kalau lebih lama lagi, mungkin ia bisa celaka!"
"Itupun belum tentu,"
Lu Si-nio ikut bicara.
"Soalnya karena Tok-liong Cuncia harus membagi perhatian untuk melayani musuh hingga tenaga pukulannya menjadi lemah; tetapi padri siluman itupun harus mengeluarkan tiga macam kepandaian, dia punya Mi-cong-cio-hoat juga tidak secepat tadi. Kedua belah pihak sudah berkurang kekuatannya, belum tentu Cuncia bisa kalah."
Walau suara percakapan Lu-Si-nio tidak keras, tetapi Tok-liong Cuncia dapat mendengar cukup jelas.
Segera ia ubah lagi ilmu pukulannya, ia melangkah menurut perhitungan Pat-kwa dan mendadak membuka serangan total.
Kun-tian Siangjin sebenarnya telah menggunakan tiga macam kepandaiannya, yakni 'Kim-na-jiu', 'Bok-hiat-hoat' ditambah dengan 'Mi-cong-cio-hoat' yang berlari pergi-datang secara cepat, dengan tiga macam ilmu kepandaiannya sekaligus ia menggempur Tok-liong Cuncia.
Akan tetapi keuletan dan Lwekang Tok-liong Cuncia memang lebih tinggi, 'Bok-hiat-hoat' atau ilmu menepuk jalan darah hanya bisa sekedar buat mengancam musuh saja, tetapi tidak sanggup menghantam musuhnya hingga binasa, sedang 'Kim-na-jiu' melulu buat melayani Tok-liong Cuncia punya ilmu pukulan 'Hui-liong-cio-hoat', maka juga tak bisa menentukan kemenangannya, kini 'Mi-cong-cio-hoat' kena dipecahkan pula oleh Tok-liong Cuncia, keruan ia berbalik mulai kewalahan.
Tok-liong Cuncia kini sudah tidak perlu menjaga rapat dirinya lagi, pula tidak menyerang serabutan, tapi ia melangkah setindak menurut aturan Pat-kwa, gerak tangan dan pikirannya sama sekali tidak bingung lagi.
Suatu kali telapak tangannya memukul ke samping hingga Kun-tian Siangjin sempoyongan karena pukulan itu, lekas Kun-tian setengah memutar, berbareng tangannya membalik terus menepuk jalan darah Tok-liong Cuncia di 'Ki-bun-hiat'.
Lekas Tok-liong Cuncia tukar tempat lagi dengan sekali lompatan, habis itu dengan merangkap kedua tangan, dari kanan dan kiri, kontan ia memukul pula sambil menggertak.
"Kena!"
Tipu serangan ini adalah tipu paling lihai dan mematikan dari Tok-liong Cuncia yang disebut 'Siang-liong-jip-hay' atau sepasang naga masuk ke laut.
Maka tanpa ampun lagi, di antara menyambarnya angin pukulan dan berkelebatnya tangan, terdengarlah suara jeritan Kun-tian Siangjin.
Teng Hiau-lan sangat girang karena pihaknya bakal menang, maka ia lantas hendak bersorak memuji.
Di luar dugaan, pada detik itu juga menyusul terdengar suara "plak"
Yang keras, lalu kelihatan Tok-liong Cuncia memegang perut sambil berjongkok dan sempoyongan hendak roboh.
"Celaka!"
Seru Lu Si-nio demi nampak gelagat jelek.
"Ular, ular! ada ular!"
Demikian Pang Lin berteriak kaget.
Mendadak terdengar jeritan Kun-tian Siangjin lagi dan secepat kilat Tok-liong Cuncia menubruk maju, ia mengirim sekali pukulan lagi hingga lawan dibikin jatuh tersungkur.
Kiranya tadi waktu diserang, Kun-tian Siangjin insaf dirinya tidak bisa menghindarkan genjotan kedua telapak tangan orang, namun ia tidak mau dihantam mentah-mentah, akhirnya ia menjadi nekat, biar dirinya dipukul asal hanya terluka dan tidak mati, maka ia memutar tubuh dan menyambut pukulan Tok-liong Cuncia dengan pundak belakangnya, sebaliknya ia pun mengayun tangan dan dengan tepat mengenai 'Tang-bun-hiat' di dada Tong-liong Cuncia.
'Tang-bun-hiat' di dada juga merupakan salah satu urat nadi yang mematikan di tubuh orang, maka Kun-tian Siangjin menaksir lawannya kalau tidak mati, sedikitnya akan terluka parah juga.
Di luar perhitungannya di baju Tok-liong Cuncia ternyata menggembol satu bumbung besi, di dalam bumbung ini terpelihara dua ular berbisa yang sangat jahat, yakni ular yang Tok-liong Cuncia gunakan untuk mengobati penderita kusta.
Ketika Kun-tian Siangjin dengan tepai menghantam dada orang, bumbung besi itupun dihantam pecah hingga seketika kedua ular tadi mencelat keluar dan secara kebetulan mampir di muka Kun-tian Siangjin terus memagut ujung alisnya, seketika Kun-tian Siangjin meremas dengan tangannya hingga kedua ular berbisa itu mati semua, namun sesudah ia kena digenjot dan terluka dalam oleh pukulan Tok-liong Cuncia, kini dipagut ular berbisa lagi, dalam keadaan luka bertambah luka ini, sekalipun tubuh Kun-tian Siangjin tergembleng dari baja juga susah menahannya, maka terasa olehnya seketika mata berkunang-kunang hingga tak bisa membedakan jurusan lagi.
Sebaliknya Tok-liong Cuncia meski kena dihantam dadanya, tetapi lebih dulu ia sempat mengumpul tenaga untuk melindungi diri, ditambah pula dialing-alingi bumbung besi di depan dadanya, maka ia tidak sampai terluka parah.
Nampak Kun-tian Siangjin kena dipagut ularnya, sekuat tenaga ia melompat maju terus menambahi pula dengan sekali pukulan, maka tidak ampun lagi Kun-tian Siangjin kena dibinasakan seketika dengan batok kepala remuk.
Begitu Tok-liong Cuncia mengetahui kedua ularnya mati, ia jadi semakin kalap, mendadak ia cabut sebatang pohon terus menyabet, ia amuk Han Tiong-san dan kawanan bayangkara habis-habisan.
Sebaliknya begitu nampak Kun-tian Siangjin kena dibinasakan orang, bukan main takutnya Han Tiong-san dan kawan-kawan, dengan suara jeritan lekas mereka lari tunggang-langgang menyelamatkan diri.
Yang kasihan ialah kawanan bayangkara yang berkepandaian rendah, karena tak keburu lari, mereka kena diserampang oleh batang pohon Tok-liong Cuncia hingga bergelimpangan terjerumus masuk ke jurang, jerit tangis mereka sampai menggetarkan lembah pegunungan.
"Boleh ampuni mereka, Cuncia!"
Lu Si-nio mencegah.
Selama hidup Tok-liong Cuncia paling hormat pada Lu Si-nio, maka segera ia berhentikan 'sapu jagatnya', ia buang batang pohon itu dan kemudian memberi hormat pada Si-nio.
Dalam terharunya bisa bertemu lagi dengan orang-orang yang paling dia hormati, Tok-liong Cuncia mengucurkan air mata.
"Teringat dahulu aku seorang diri terasing di Coa-to dan membenci semua manusia, kalau bukan kau dan Kam-tayhiap yang menyadarkan aku, entah akan berapa banyak lagi dosa yang aku perbuat hingga sekarang,"
Demikian katanya kemudian.
"Yang menghidupkan aku, ayah-bundaku, yang memahami diriku, sahabatkulah yang paling baik. Terhadap budi kalian entah cara bagaimana aku membalasnya."
"Tadi kau sudah membinasakan padri siluman itu, inipun kami tidak habis berterima kasih padamu,"
Dengan tertawa Pang Ing ikut bicara.
Mendengar suara anak dara ini, baru kini Tok-liong Cuncia dapati kakak-beradik kembar ini berdiri sejajar, keruan Tok-liong Cuncia terheran-heran dan menjadi bingung karena tak bisa membedakan yang mana Pang Ing dan yang mana lagi Pang Lin.
"Dia adalah adikku!"
Dengan tertawa Pang Ing menerangkan. ' "Cuncia, kedua ularmu begitu lihai, kenapa tidak sejak tadi kau lepaskan mereka, dengan begitu bukankah banyak menghemat tenagamu?"
Saking herannya Pang Lin ikut buka suara. Air muka Tok-liong Cuncia berubah ketika mendengar orang menyebut binatang piaraannya itu. Tiba-tiba ia menghela napas.
"Sesudah aku mendapatkan petunjuk Lu-lihiap, aku sudah bersumpah tidak menggunakan ular yang aku piara untuk membikin celaka orang, sebaliknya aku berjanji menggunakan binatang ini untuk melakukan amal pada manusia, siapa tahu padri keparat itu telah menghantam pecah bumbung besinya hingga mereka mengamuk, dia yang cari mampus sendiri,"
Katanya pula.
"Mampusnya padri keparat itu tidak perlu dibuat gegetun, tetapi sayang kedua pembantuku yang paling baik ini ternyata harus mati juga, sungguh sayang!"
"Bagaimana, ular itu bisa merupakan pembantumu yang paling baik?"
Demikian Pang Lin bertanya lagi.
"Ya, semenjak aku mendapatkan pengajaran Lu-lihiap, selama setahun ini tidak sedikit penderita kusta yang telah kutolong,"
Sambung Tok-liong Cuncia.
"Semula aku pikir akan membawa para penderita kusta itu kembali ke Coa-to, belakangan aku pikir pula cara ini terlalu membuang tempo dan tenaga, oleh karena itu aku selalu membawa kedua pembantuku ini, tiap aku mengobati si sakit, aku lantas sedot darah mereka untuk dipakai, habis itu aku lantas lolohi mereka dengan obat-obatan hingga dalam beberapa hari saja mereka sudah bisa pulih kembali."
Mendengar cerita orang, dalam hati Pang Ing tanpa terasa timbul perasaan terharu.
Teringat olehnya dahulu waktu kesasar di Coa-to, di pulau ular itu Lu Si-nio telah menggunakan 'Chian-lian-ci-chau', rumput mujizat yang berumur ribuan tahun untuk menolong jiwa Tok-liong Cuncia, padahal rumput mujizat itu sedianya hendak digunakan untuk menolong jiwa Teng Hiau-lan waktu ia mengetahui maksud Lu Si-nio, dalam hati pernah juga merasa kurang senang.
Tetapi tampaknya kini perbuatan Lu Si-nio dahulu itu sangat tepat, dengan menolong seorang Tok-liong Cuncia, ini berarti telah menolong penderita kusta yang tak terhitung banyaknya.
Sejak inilah maka terhadap arti dan nilai 'Hiap-gi' (suka menolong sesama) gadis ini jadi bertambah banyak pengertiannya.
"Sungguhpun penderita kusta di jagat ini tidak sedikit, tetapi juga tidak terlalu banyak,"
Tok-liong Cuncia berkata lagi.
"Kira-kira tiap kabupaten tidak lebih delapan atau sepuluh orang saja. Dengan membawa kedua pembantuku tadi, sebenarnya sudah cukup untuk menunaikan tugasku, cuma sayang kini mereka harus mati penasaran gara-gara padri keparat tadi."
"Apa ular berbisa biasa tidak bisa dipakai? Kecuali darah ular, masih harus menggunakan.bahan obat apalagi dan cara bagaimana makannya?"
Akhirnya Li Ti ikut bertanya karena tertarik oleh ilmu pengobatan kusta ini.
"Ular biasa juga dapat digunakan, tetapi hasilnya tidak secepat kedua ularku yang berbisa jahat itu, pula aku tidak telaten mencari ular berbisa,"
Sahut Tok-liong Cuncia. Habis itu ia lantas menjelaskan pula bahan-bahan obat lain yang dipakai dan caranya makan, satu demi satu oleh Li Ti diingat baik-baik dalam hati.
"Pembantuku sudah mati, terpaksa aku harus kembali dulu ke Coa-to, aku akan membawa pembantu dan bahan obat yang lebih banyak lagi,"
Kata Tok-liong Cuncia pula.
"Perbuatan Cuncia yang luhur ini betul-betul tidak kecil manfaatnya bagi manusia,"
Ujar Si-nio.
"Semua itu berkat petunjukmu,"
Sahut Tok-liong Cuncia. Dan waktu teringat olehnya masih harus mengantar kedua penderita yang ketinggalan dalam gua, segera ia minta diri pada Lu Si-nio.
"Aku tidak pandai bicara, aku hanya bisa membalas budi kalian dengan menyembuhkan penderita kusta sebanyak mungkin."
"Bisa begitu, tentu paling baik,"
Sahut Si-nio mengangguk.
Begitulah semua orang terharu ketika mereka menyaksikan Tok-liong Cuncia menggendong dua pasiennya turun gunung.
Kemudian Kam Hong-ti bertanya pada Lu Si-nio kenapa sampai dikepung oleh musuh.
"Justru ada sesuatu urusan perlu mohon Chit-ko mengambil keputusan untuk aku,"
Ujar Si-nio.
"Pat-moay sendiri sangat pintar, entah urusan apakah yang membikin Pat-moay merasa ragu-ragu untuk mengambil keputusan?"
Kam Hong-ti bertanya lagi. Maka berceritalah Lu Si-nio pengalamannya beberapa hari ini.
"Aku hanya tak tahu pasti apakah buah kepala Cay-khoan itu tulen atau palsu? Menurut pendapatmu, apakah perlu segera aku menilik kembali ke Sian-he-nia?"
Tanyanya lebih lanjut.
Dalam persoalan yang bersangkutan dengan kekasihnya ini, meski Lu Si-nio dikenal sebagai gadis yang paling tenang dan bisa berpikir panjang, tidak urung ia bingung oleh urusan ini.
"Jika Pat-moay sendiri tak bisa mengambil kepastian, apalagi diriku ini?"
Sahut Hong-ti sesudah berpikir sejenak.
"Selama beberapa hari ini kita hanya ribut hendak menolong jiwa Hiau-lan saja. maka tidak menduga bahwa di kotaraja bisa terjadi peristiwa sebesar ini. Tetapi urusan ini sudah menggemparkan, tidakkah lebih baik kita kembali di Se-san baru kita selidiki lagi. Kini meski kau pulang ke Sian-he-nia juga tak berguna."
Si-nio pikir memang betul juga kata Suhengnya ini, meski ia pulang ke Sian-he-nia, tetapi kalau Cay-khoan memang betul sudah tewas, lantas apa manfaatnya?
Bukankah malah menambah kedukaan belaka?
Dan kalau masih selamat, seumpama terlambat beberapa hari pulangnya, tidak akan menjadi soal juga, karena itu ia lantas terima baik aj'akan Suhengnya.
"Setelah pertempuran ini, Pat-tat-nia tentu di bawah pengawasan pemerintah, mungkin kita bisa dicurigai berkumpul di sini, ibu dan engkongmu yang masih tinggal di atas bukit sana, lebih baik diboyong sekalian ke Se-san,"
Demikian kata Kam Hong-ti pada si kembar Pang Ing dan Pang Lin.
Teng Hiau-lan sendiri sudah sangat kangen pada Su-so atau ipar seperguruannya, yakni ibu si kembar, Khong Lian-he, maka ia minta berangkat bersama kakak-beradik ini.
"Ya, kita masih bisa mampir ke Lamkau untuk mengambil buku catatan tinggalan Boat-wan Lojin,"
Kata Pang Ing pula.
"Kini sesudah kita ketahui Lin-moay adalah ahli waris tunggal Pho Jing-cu, maka kitab itu tiada yang berhak lagi kecuali dia."
"Nah, engkoh bodoh, sekarang kau tak perlu merasa tak tenteram karena membaca kitab tinggalan Pho Jing-cu, Pho-suco itu?"
Kata Pang Lin sambil peleroki Li Ti.
"Biarlah sekalian buku catatan Boat-wan Lojin itu kuberikan padamu, tetapi dengan apa kau akan balas berterima kasih padaku?"
"Haha, kalau begitu kitab itu akan bertambah lagi dengan catatan resep menyembuhkan penyakit kusta,"
Dengan tertawa Li Ti menyahut.
"Aku pasti akan melakukan seperti Tok-liong Cuncia, yakni menyembuhkan penderita kusta yang lebih banyak sebagai tanda terima kasihku padamu."
Tetapi sehabis ucapannya ini, dia menjadi kaget karena mendadak nampak perubahan air muka Kam Hong-ti.
Si-nio juga mendengarkan dengan penuh perhatian, kemudian mendadak ia melompat ke tempat yang tinggi untuk mengintai.
Semua orang ikut terkejut.
"Di tempat jauh ada pasukan besar, apakah mungkin keparat Yong Ceng telah mengerahkan tentaranya?"
Demikian Kam Hong-ti ragu-ragu.
Mereka naik ke atas bukit dan memandang jauh ke sana, mereka lihat jalan besar di bawah gunung, pasukan berkuda terbagi menjadi dua baris, begitu panjang pasukan tentara ini hingga tak kelihatan buntatnya.
Panji tentara berkibar, tampaknya sangat teratur.
"Ini adalah pasukan besar, agaknya bukan ditujukan pada kita,"
Ujar Kam Hong-ti.
"Mari kita mengambil jalan kecil saja supaya tidak kepergok pasukan besar ini,"
Ajak Si-nio. Lalu ia memberi pesan pula pada Pang Ing supaya hati-hati.
"Tampaknya pasukan besar ini berjumlah ratusan ribu banyaknya, dimana mereka lewat, pembesar setempat tentu akan dibikin kaget dan repot,"
Ujar Hong-ti lagi.
"Tetapi dengan demikian, pembesar yang bersangkutan pasti akan pergi menyambut pasukan tentara ini, dengan mengambil jalan kecil di pegunungan, kalian tentu tidak bakal diperhatikan orang."
Begitulah sesudah Si-nio bersama Hong-ti berpisah dengan Teng Hiau-lan dan si kembar, mereka lantas buru-buru kembali ke Se-san.
Waktu mereka sampai di kelenteng kediaman Ling-sian, tertampak Kau Sam-pian dan Hi Kak sedang menantikan mereka dengan tegang dan kuatir.
"Apakah kalian kepergok pasukan besar Lian Keng-hiau?"
Demikian Kau Sam-pian segera bertanya begitu berhadapan dengan Kam Hong-ti.
"Dan dimanakah si kembar Pang Ing dan Pang Lin? Apakah mereka tertawan oleh Lian Keng-hiau?"
Hi Kak bertanya juga dengan cepat. Kiranya Hi Kak sangat sayang pada Pang Ing, maka ia menjadi kuatir karena tidak nampak Pang Ing ikut kembali.
"Tidak, mereka hanya pergi menyambut ibunda mereka,"
Si-nio menerangkan Di lain pihak demi mengetahui pasukan itu adalah tentara Lian Keng-hiau, Hong-ti menjadi heran.
"Kenapa bisa dia? Untuk apakah dia kembali ke sini dengan membawa tentara begitu besar?"
Demikian katanya tak mengerti. Hanya Kau Sam-pian yang merupakan bayangkara tua dari kaisar yang dulu, maka ia bisa mendapatkan berita yang dapat dipercaya, dialah yang lantas menjelaskan.
"Lian Keng-hiau si anak keparat ini betul-betul bintangnya sedang terang, hanya setahun saja ternyata kerusuhan di Jinghai telah dia amankan. Karena jasanya itu, Hongte (kaisar) telah menganugerahi dia gelar Tt-teng-kong' (kira-kira setingkat menteri negara), kecuali keturunan lurus kerajaan, keluarga luar tiada yang bisa mendapatkan gelar 'Ong' (raja muda), maka buat bangsa Han, gelar Tt-teng-kong' ini boleh dikata paling agung dan terhormat. Malah Hongte telah menghadiahkan dia sebuah gedung pula dan menyuruh dia kembali ke kotaraja untuk menerima pengangkatan itu. Kabarnya semula Lian Keng-hiau tidak begitu suka kembali, sebaliknya ia hanya minta diangkat menjadi Siam-kam Congtok (gubernur Siamsay dan Kamsiok) saja. Sudah tentu pangkat Siam-kam Congtok tidak bisa menandingi keagungannya gelar Tt-teng-kong', tapi entah Lian Keng-hiau ada muslihat apa sehingga menolak pengangkatan itu?"
"Justru itu adalah kepintaran Lian Keng-hiau!"
Ujar Kam Hong-ti sambil mengangguk-angguk.
"Jelas karena dia tidak ingin melepaskan kekuasaan militernya!"
"Tetapi toh tidak pernah terdengar Hongsiang hendak memapas kekuasaannya?"
Ujar Kau Sam-pian. Mendengar ucapan ini, diam-diam Kam Hong-ti menertawai bekas bayangkara ini, katanya dalam hati.
"Percuma saja kau jadi bayangkara selama berpuluh tahun, tetapi kekejian kaisar saja masih belum paham, kini Lian Keng-hiau memegang kekuasaan penuh, mana bisa secara mendadak kekuasaan militernya dirampas begitu saja?"
Meski ia berpikir demikian, namun Kau Sam-pian adalah orang tua, maka ia tak enak mendebatnya.
"Kabarnya Hongsiang malah meluluskan permintaannya dan diangkat merangkap menjadi Siam-kam Congtok,"
Tutur Kau Sam-pian lebih lanjut.
"pula ayah Keng-hiau, Lian Toan-ling diberi gelar Tt-teng-kong' juga di samping tambahan gelar 'Thay-hu'. Malta Lian Keng-hiau diperintahkan pulang ke kotaraja dahulu dengan pasukannya untuk kemudian baru pergi memangku jabatan gubernur Siamsay dan Kamsiok. Sedang si tua bangka Lian Toan-ling tanpa keluar keringat diangkat jadi 'Thay-hu' (guru besar), sudah tentu tidak kepalang senangnya, tanpa diperintah kedua kalinya ia lantas boyongan dan tinggal di gedung baru. Oleh sebab itu juga, terpaksa Lian Keng-hiau harus pulang dulu dengan pasukan tentaranya."
Lu Si-nio sendiri menguatirkan keselamatan Sim Cay-khoan, maka terhadap Lian Keng-hiau ia sangat benci.
"Lian Keng-hiau si manusia berhati srigala ini terlalu banyak melakukan kejahatan, akhirnya dia pasti akan mampus juga, biarlah sementara kita tak perlu mengurus dia,"
Demikian katanya.
"Kau-locianpwe apakah mengetahui soal dibunuhnya Giam Hong-kui dan Sim Cay-khoan?"
"Itupun ada hubungannya dengan Lian Keng-hiau,"
Sahut Kau Sam-pian. Tentu saja Si-nio merasa heran.
"Aneh,"
Katanya.
"Lian Keng-hiau jauh memimpin tentaranya di daerah perbatasan, bagaimana bisa ada sangkut-paut dengan dia?"
"Tentunya Lihiap tidak mengetahui bahwa urusan ini disebabkan oleh Can Ceng,"
Kata Kau Sam-pian lagi.
"Can Ceng?"
Sahut Si-nio dengan heran.
"Apakah orang tua itupun ikut terbunuh?"
Memang selama hidup Can Ceng paling kagum pada Lu Liu-liang, meski pada masa hidupnya pujangga itu belum sempat dia jumpai, tetapi sesudah Lu Liu-liang meninggal, ia masih datang ke rumah keluarga Lu untuk mencari kitab peninggalan pujangga itu dan anggap dirinya sebagai murid Lu Liu-liang hingga namanya cukup terkenal juga, ia pun cukup kenal dengan Giam Hong-kui serta Sim Cay-khoan.
"Can-losianseng sudah tertangkap, tetapi belum dibunuh, sekarang ia justru ada di antara pasukan Lian Keng-hiau,"
Demikian sahut Kau Sam-pian kemudian.
"He, kenapa bisa demikian?"
Tanya Si-nio pula dengan heran.
"Ya, sebab tiba-tiba Can-losianseng timbul suatu pikiran yang lucu,"
Kau Sam-pian menerangkan.
"dia telah mengirim muridnya yang bernama Thio Hi pergi menghasut pembantu utama Lian Keng-hiau, yakni Gak Ciong-ki, bahkan dia sengaja membumbui, katanya Gak Ciong-ki betul-betul adalah keturunan Gak Hui."
Mendengar cerita ini, Kam Hong-ti tertawa terbahak.
"Oleh sebab itulah Can Ceng telah menulis surat pribadi dan dibawa Thio Hi untuk diserahkan pada Gak Ciong-ki, dikatakannya bahwa keluarga Gak adalah musuh lama bangsa Kim, maka anak cucu keluarga Gak seharusnya jangan menjadi panglima bangsa asing, dengan berani dan terang-terangan orang tua itu menasehati Gak Ciong-ki yang suka berhubungan secara rahasia dengan dia untuk gerakan pembangunan negara. Di luar dugaan, Gak Ciong-ki hanya pura-pura menerima ajakannya, Can Ceng dipancing datang menghadap padanya, tetapi ia ditawan dan didesak supaya mengaku orang-orang sekomplotannya!"
"Lalu dia mengaku tidak?"
Tanya Si-nio.
"Kabar itupun aku dengar dari orang lain, tentang dia mengaku atau tidak, aku tidak tahu,"
Sahut Kau Sam-pian.
"Aku hanya tahu sesudah Gak Ciong-ki menangkap Can Ceng, segera ia laporkan ke kotaraja dengan kilat, oleh sebab itu lantas terjadilah gelombang hebat, semua pengikut ajaran Lu-losianseng telah ditangkap dimana saja berada, bahkan sebelum Can Ceng digiring ke kotaraja, lebih dulu Giam Hong-kui dan Sim Cay-khoan yang dianggap sebagai orang penting komplotannya telah dihukum mati lebih dulu di kotaraja."
Karena penuturan terakhir ini, hati Lu Si-nio jadi terguncang.
"Kalau begini, jadi Cay-khoan benar-benar telah tewas?"
Tanyanya menegas.
"Kenapa tidak benar, bukankah maklumat raja sudah disebarkan dan kepala mereka pun digantung di atas pintu benteng?"
Sahut Kau Sam-pian.
Karena jawaban ini, Si-nio jadi sedikit lega, sebab apa yang diketahui Kau Sam-pian ternyata serupa saja dengan dirinya, padahal kepala yang digantung itu betul-betul kepala Sim Cay-khoan atau bukan, hal ini masih belum diketahui dengan pasti.
"Maklumat raja itupun aku sudah melihatnya, tetapi di dalamnya Can Ceng tidak disebut-sebut,"
Katanya kemudian.
"Mungkin karena harus menunggu Lian Keng-hiau yang menggusurnya ke kotaraja baru kemudian akan diambil keputusan,"
Kata Kau Sam-pian.
"Biar aku menyelidik ke pasukan Lian Keng-hiau,"
Tiba-tiba Kam Hong-ti menyela.
"Chit-ko tidak perlu mengambil resiko ini,"
Ujar Lu Si-nio.
"Tetapi apa kau tega melihat anak murid Engkongmu dibunuh seluruhnya?"
Kata Kam Hong-ti.
"Can-losianseng sudah dikenal seluruh negeri, aku kira dia tidak sampai bertekuk lutut dan mengaku sebagaimana disiarkan itu,"
Ujar Si-nio.
"Walaupun demikian, tidak boleh tidak kita harus berjaga-jaga,"
Sahut Hong-ti.
"justru aku tidak bisa mempercayai Can Ceng, maka aku ingin pergi menyelidiki apakah betul dia telah mengaku seluruhnya dan daftar nama itu apakah telah dfa serahkan pada In Ceng? Dahulu waktu aku bertemu dengan dia, memang betul dia berpendirian agar menggunakan tipu menghasut panglima bangsa Han di dalam tentara Boan agar memberontak. Orang yang berpendirian demikian inilah, menurut aku sebagian besar tidak punya jiwa yang teguh."
Mendengar kata-kata "
Sang Suheng ini, sesaat Lu Si-nio tergetar hatinya, ia pikir dirinya dibesarkan dalam keluarga terpelajar, terhadap orang sekolah mungkin menilainya terlalu tinggi, sebaliknya melupakan titik kelemahan mereka.
Dalam hal ini nyata Suhengnya ini lebih kuat pengertiannya daripada dirinya.
Akan tetapi ia masih tetap tidak percaya orang semacam Can Ceng ini bisa bertekuk-lutut di bawah gertakan musuh yang sewenang-wenang itu.
"Jika begitu, boleh juga Suheng pergi, melihatnya,"
Demikian sahutnya kemudian.
"Cuma saja disiplin pasukan Lian Keng-hiau sangat keras dan penjagaan biasanya rapat, cara bagaimana Suheng dapat masuk ke sana?"
"Tentu aku punya akal,"
Ujar Kam Hong-ti dengan tertawa.
"Hanya saja aku perlu pembantu, biarlah malam ini kalau Teng Hiau-lan sudah kembali boleh kita bicarakan lagi."
Habis berkata ia lantas pergi untuk mengatur keperluannya.
Si-nio mengerti sang Suheng mempunyai kenalan dimana-mana, sekaii dia bilang bisa, tentulah tak usah disangsikan lagi.
Pada malamnya, betul juga Teng Hiau-lan bersama si kembar Pang Ing dan Pang Lin sudah kembali dengan Khong Lian-he dan lain-lain.
Sesudah Ling-sian mengatur tempat untuk mereka, Si-nio menyuruh Teng Hiau-lan pergi berunding dengan Kam Hong-ti.
"Pasukan tentara yang kita lihat di Pat-tat-nia siang tadi ternyata adalah pasukan Lian Keng-hiau,"
Demikian kata Kam Hong-ti.
"Kini sudah dapat kita ketahui dengan jelas bahwa pasukan tentara yang ikut kembali bersama Lian Keng-hiau ini ternyata berjumlah dua ratusan ribu! Perjalanan pasukan yang demikian besarnya biasanya agak lambat, setiap hari paling banyak menempuh 60 li. Maka menurut perhitungan kita, untuk sampai di kotaraja mereka masih perlu empat hari lagi. Hiau-lan, beranikah kau ikut aku pergi menyelidik ke dalam pasukan musuh?"
"Kenapa tidak berani,"
Sahut Hiau-lan pasti.
"Aku sudah pernah hidup di dalam pasukan In Te, terhadap keadaan pasukan tentara cukup kenal juga."
"Justru itulah maka aku minta kau ikut pergi,"
Kata Hong-ti pula.
"Sudah kuperhitungkan dengan baik, besok tentu mereka akan sampai ke Pangsan, di sim pembesar setempat tentu akan menyambut mereka dengan daharan, tentu dengan memotong kerbau dan menyembelih kambing, maka kita dapat menyamar sebagai pekerja, kalau bisa menyelusup ke dalam pasukannya, pasti aku punya kesempatan baik."
Sudah tentu Teng Hiau-lan menurut saja, ia minta obat menyamar pada Kam Hong-ti, mereka menyamar sebagai kuli pocokan, besoknya mereka sudah menyelusup ke dalam pasukan musuh, dan betul saja Kam Hong-ti mendapatkan salah seorang pemimpin kecil suatu perkumpulan rahasia di daerah Kanglam dahulu, namanya Tan Chit, kini Tan Chit memegang jabatan sebagai kepala bagian dapur, di bawahnya tidak kurang belasan tukang masak lainnya.
Dalam pasukan sebesar itu memang terdapat ratusan kepala bagian dapur untuk mengatur rangsum.
Dan justru Tan Chit termasuk tukang masak yang melayani prajurit pengawal Lian Keng-hiau, tempat tinggalnya kebetulan berada di markas Lian Keng-hiau.
Setelah Kam Hong-ti mengemukakan maksud tujuannya, meski sangat berbahaya, tetapi karena permintaan Kam Hong-ti yang dianggap sebagai pemimpin perkumpulan pergerakan bawah tanah daerah selatan, maka Tan Chit mau melakukan juga.
Oleh karenanya ia lantas menyuruh Hong-ti dan Hiau-lan menyamar sebagai tukang masak, lalu mereka diselundupkan ke dalam markas.
Cara Lian Keng-hiau mengatur tentaranya memang berdisiplin sangat keras, meski Hong-ti berdua sudah berada dalam markas, tetapi untuk menyelusup ke "kemah macan' yang didiami Lian Keng-hiau ternyata tidak gampang.
Malam itu selewatnya tengah malam, keadaan perkemahan pasukan tentara yang begitu besar dan luas sunyi-senyap tanpa suara sedikitpun.
"Sebenarnya Lian Keng-hiau terhitung jenderal yang jenius dan jempolan, cuma sayang dia sudi diperalat oleh In Ceng,"
Ujar Kam Hong-ti pada kawannya dengan menghela napas.
"Apakah kalian tahu siapakah orang yang jaga malam di luar kemah Lian Keng-hiau?"
Tiba-tiba Tan Chit bertanya.
"Mungkinkah penjaga malam dan tukang rondanya terdiri dari jagoan tinggi?"
Ujar Kam Hong-ti.
"Meski orangnya tidak lihai ilmu silatnya, tetapi dia adalah seorang pembesar,"
Ujar Tan Chit.
"Pembesar apakah dia?"
Tanya Hiau-lan.
"Dia bukan lain adalah Tetok Hu San,"
Sahut Tan Chit.
"Sekali ini Lian Keng-Hiau pulang dengan membawa bini, sepanjang jalan dia sengaja berlagak dan pamer kekuasaannya, seakan agar dilihat bininya. Umpamanya saja tukang ronda dan penjaga malamnya semula dipakai perwira rendahan, belakangan dipakai perwira te-ngahan, tetapi malam ini sesudah dekat dengan kotaraja, yang dinas jaga ternyata pembesar tingkat Tetok (kira-kira setingkat kolonel)."
Cerita ini membikin Teng Hiau-lan melelet lidah.
"Pangkat Tetok setingkat dengan Sunbu (kepala daerah tingkat propinsi), kaisar sendiri pun tidak pernah menugaskannya berjaga malam, tetapi Lian Keng-hiau ternyata berani menggunakan kekuasaan secara sewenang-wenang, apa dia tidak takut ditegur kaisar?"
Tanya Hiau-lan.
"Kini Lian-tayswe jasanya mengguncangkan seluruh negeri, siapa yang berani mengadu biru pada raja?"
Sahut Tan Chit dengan tertawa.
"Mungkin kau tidak percaya bahwa Tetok tukang ronda ini bahkan seorang Boan!"
"Sejak kapankah Lian Keng-hiau punya bini?"
Tanya Hiau-lan pula.
"Pada waktu dia menggempur daerah Sehling,"
Sahut Tan Chit.
"Sebab Lian Keng-hiau punya suatu kesukaan yang buruk, tiap kali sampai di suatu tempat, bukan saja pembesar negeri setempat harus keluar menyambut, bahkan sanak keluarga pembesarnya, baik istri, saudara laki perempuan dan anak gadisnya harus keluar menyambut semua. Justru di daerah Sehling sana ada seorang raja Mongol bernama Khangkuh Khisin, raja Mongol ini punya putri bernama Ciat-keke yang secantik bunga, ketika raja Mongol ini membawa putrinya menyambut, karena suka, Lian Keng-hiau lantas menahan sang putri buat menemaninya. Dalam keadaan tak berdaya, terpaksa raja Mongol itu sekalian menghadiahkan putrinya itu buat jadi bini orang. Menurut peraturan kerajaan, sebenarnya tiada seorang panglima perang yang diperbolehkan membawa anak istri, tetapi dalam hal ini ternyata Lian Keng-hiau tidak peduli. Malahan dua bulan yang lalu di dalam pasukannya, dia telah mendapatkan seorang anak."
Meski orang mengobrol terus, tapi Kam Hong-ti tidak sabar mendengarkan, setelah bicara sebentar, lantas bersama Teng Hiau-lan mereka berangkat menyelidiki perkemahan Lian Keng-hiau dengan menyamar sebagai peronda malam.
"Hendaklah Kam-tayhiap suka berhati-hati,"
Pesan Tari Chit.
"Pasti tidak bakal merembet kalian,"
Sahut Hong-ti dengan tertawa.
Kiranya perkemahan dimana Liari Keng-hiau tinggal bersusun tiga lapis, tiap lapis dijaga dengan kuat, Kam Hong-ti bersama Teng Hiau-lan mendekati perkemahan lapisan paling luar itu dengan pura-pura meronda kian-kemari.
Menurut kebiasaan, disiplin tentara Lian Keng-hiau keras sekali, orang-orang bawahannya jarang yang berani sembarang bergerak, karena itu penjaga malam di luar perkemahan pertama itu ketika mendadak nampak bertambah dua orang baru, meski mereka sangat curiga dan heran, tetapi mengingat daripada banyak urusan, lebih baik tidak ikut campur, maka mereka tak berani bersuara, ditambah Teng Hiau-lan sudah hapal peraturan kehidupan dalam tentara, ia sengaja berbohong bahwa Tiongkun (staf) yang mengirim mereka untuk memperkuat penjagaan karena sudah dekat dengan kotaraja.
Dengan alasan itu, betul juga para penjaga menjadi mengkeret, sebab biasanya macam apakah staf Lian Keng-hiau tidak pernah mereka jumpai, apalagi mereka mengetahui tabiat Lian Keng-hiau luar biasa aneh, sampai Tetok saja disuruh dinas jaga malam, mungkin pula dua orang baru inipun perwiranya, maka mereka tak berani bertanya.
Setelah berputar dua kali, pada suatu kesempatan, segera Kam Hong-ti berpesan pada Hiau-lan.
"Kau pasang mata di sini, biar aku pergi melihat perkemahan Lian Keng-hiau."
Habis itu, sekali lompat ia melayang ke atas layar perkemahan.
Meski ilmu entengi tubuh Kam Hong-ti tidak setinggi Lu Si-nio, tetapi tergolong kelas tinggi juga, dengan sekali melayang itu, seperti daun saja entengnya, dengan perlahan ia berdiri di atas kemah tanpa membikin layar perkemahan bergerak sedikitpun.
Dengan merangkak, tidak antara lama Kam Hong-ti telah sampai di kemah yang ditinggali Lian Keng-hiau.
Di dalam kemah itu ternyata sepi, selagi Kam Hong-ti berpikir cara untuk bisa menyelidiki Can Ceng, pernah dia pikir hendak melompat turun ke bawah untuk menawan Lian Keng-hiau, tetapi bila teringat olehnya bahwa ilmu silat Lian Keng-hiau juga tidak lemah, kalau usahanya gagal, tentu tugasnya menjadi runyam malah.
Begitulah tengah ia berpikir, tiba-tiba terdengar di bawah kemah ada suara bisik-bisik, lalu terdengar suara kaum wanita yang halus lagi bertanya.
"Jam berapa sekarang?"
Demikian tanya suara itu.
"Jam dua!"
Terang ini suara jawaban Lian Keng-hiau. Dalam pada itu, di luar perkemahan kebetulan terdengar suara tiupan "tut-tut".
"Malam ini siapakah yang meronda?"
Terdengar suara halus tadi bertanya lagi.
"Kekasihku, kalau aku terangkan nanti, tentu kau akan terkejut,"
Sahut Lian Keng-hiau.
"Malam ini yang dinas jaga malam adalah Hu San Tetok! Coba katakanlah, bahagia tidak, untuk menjaga kau saja pakai perwira tinggi Tetok!"
Agaknya Ciat-keke ragu-ragu oleh keterangan sang suami.
"Aku yang memberi perintah, mana bisa dia tak menurut?"
Sahut Keng-hiau dengan tertawa.
"Justru aku tak percaya, betul kau begitu berani?" ' "Baik, kau tak percaya, sekarang juga aku panggil dia menghadap ke sini!"
Lalu dalam kemah kelihatan lampu dinyalakan, lekas Kam Hong-ti mengkeret di pojok layar kemah yang melingkar naik untuk mengaling-alingi dirinya.
Selang tak lama, terdengar prajurit tadi membawa masuk seorang, tiba-tiba putri Ciat tertawa ngikik.
Karena itu, segera terdengar Lian Keng-hiau membentak.
"Siapa kau?"
Kam Hong-ti jadi terkejut, ia menduga orang yang dibawa masuk ini pasti bukan Hu San Tetok. Betul saja, lantas terdengar orang tadi menjawab dengan suara gemetar.
"Hamba adalah Lauw Camciang (pangkat camciang kirakira setingkat letnan) di bawah Hu San Tetok!"
"Dan kemana Hu San pergi?"
Bentak Keng-hiau pula. Melihat gelagat jelek, lekas orang itu berlutut sambil menjura.
"Karena Hu Tetok ada keperluan harus kembali ke perkemahannya-, maka hamba untuk sementara disuruh mewakilinya,"
Lapornya.
Apa yang dikatakan ini sebenarnya tidak benar, yang betul ialah Hu San menganggap dirinya berpangkat Tetok, kalau harus ronda dan dinas jaga malam, jika dilihat bawahannya tentu dia akan kehilangan pamor, oleh karenanya ia telah perintahkan seorang Camciang mewakili dirinya, ia mengira Lian Keng-hiau pasti tidak bakal menginspeksi sendiri.
Di luar perhitungan, justru malam ini Lian Keng-hiau memeriksa penjaga malam, keruan ia menjadi murka demi mendengar laporan perwira tadi.
"Hm, besar sekali nyali Hu San, berani dia membangkang disiplin,"
Demikian ia menjengek.
"Hayo, keduanya, semua diseret pergi dan penggal kepalanya!"
Baru saja perintah dikeluarkan, maka masuklah algojo yang sudah bersiap dan menyeret pergi Camciang ini, selang tak lama dua buah kepala manusia yang masih berlumuran darah segar telah diantar masuk, yang satu terang adalah Camciang tadi dan yang lain ternyata kepala Hu San.
"Keke, kau sudah lihat jelas tidak, ini Hu San Tetok atau bukan?"
Demikian dengan tertawa kemudian Keng-hiau berkata pada istrinya. Tetapi sang Keke lantas menutupi mukanya dengan kedua tangan karena merasa ngeri.
"Ai, menakutkan orang saja, aku tidak mau melihat, lekas bawa pergi!"
Karena itu, Lian Keng-hiau lantas memberi tanda, kedua kepala manusia itu segera dibawa pergi untuk digantung sebagai peringatan.
Melihat kekejaman Lian Keng-hiau, gusar sekali Kam Hong-ti.
Dalam pada itu di luar kemah ada yang melapor.
"Liok-ciang-kun mohon menghadap!"
"Suruh masuk!"
Sahut Keng-hiau. Kiranya orang yang datang menghadap itu bernama Liok Hou-sin, salah seorang panglima kepercayaan Lian Keng-hiau sendiri, pangkatnya pun Tetok seperti Hu San.
"Dimanakah Hu Tetok?"
Demikian Liok Hou-sin bertanya sesudah menjalankan penghormatannya.
"Sudah kubunuh!"
Sahut Keng-hiau dingin saja. Keruan Liok Hou-sin sangat terkejut.
"Lapor Tayswe,"
Tiba-tiba ia berlutut ke hadapan atasannya ini.
"dalam peperangan, yang harus kita andalkan adalah semangat prajurit kita, jika semangat runtuh, tentu sangat berbahaya, kini Tayswe telah membunuh Hu Tetok yang tak berdosa dan Lauw Camciang, apakah ini tidak membikin dingin hati para prajurit. Apalagi kalau diketahui Hongsiang, rasanya akan kurang enak juga."
Dengan kata-katanya ini sebenarnya Liok Hou-sin bermaksud baik mengingatkan, siapa tahu justru malah membikin Lian Keng-hiau lebih murka.
"Aku telah mengamankan seluruh negeri bagi Hongsiang, sekalipun Hongsiang sendiri juga akan mengalah padaku, kau manusia macam apa, berani kau menghasut bawahan untuk melawan aku? Mana algojo, gusur sekalian dan penggal kepalanya!"
Tidak kepalang terkejut Liok Hou-sin demi mendengar kepu-tusan ini, ia berteriak minta ampun.
Dan agaknya memang dia belum ditakdirkan mati, ketika Gak Ciong-ki mendengar Hu Tetok dibunuh, ia pun memburu datang dan kebetulan memergoki Liok Hou-sin lagi digusur keluar hendak dihukum mati, tetapi sesudah dia bertanya sebab-musababnya, segera ia menahan algojo dan masuk ke dalam kemah untuk memintakan ampun pada Lian Keng-hiau.
Kam Hong-ti sendiri mendekam di atas kemah, ia hanya mendengar mereka berbicara bisik-bisik, apa yang dibicarakan tak jelas.
Selang tak lama, tiba-tiba terdengar Lian Keng-hiau memberi perintah lagi.
"Melihat muka Gak-ciangkun boleh ampuni kematiannya, tetapi hukum mati bebas, hukum hidup tidak bisa diampuni, perintarikan dirangket lima puluh kali dan hukum dia pula menggantikan Hu San berjaga malam selama tiga malam!"
Begitu perintah diberikan, menyusul terdengarlah suara "plak-plok"
Rangketan dilakukan, saking kesakitan hingga Liok Hou-sin berteriak, tetapi kemudian ia masih harus mengucapkan terima kasih atas pengampunan kematiannya.
Setelah terjadi ribut-ribut ini, sementara sudah dekat fajar.
"Apa Can Ceng masih tinggal di perkemahanmu?"
Tiba-tiba Keng-hiau bertanya pada Gak Ciong-ki ketika mengantar keluar.
"Ya, masih, Tayswe,"
Sahut Gak Ciong-ki.
"Ehm, sekali ini bagus sekali kerjamu, tentu Hongsiang akan banyak ingat padamu,"
Ujar Keng-hiau dengan tertawa. Mendengar kata-kata yang lain daripada yang lain ini, tanpa terasa Gak Ciong-ki mengkirik sendiri.
"Semua itu berkat bantuan Tayswe,"
Lekas ia menyahut.
"Besok boleh kau antar dia ke tempatku ini,"
Terdengar Keng-hiau berpesan lagi.
"Ya, Tayswe,"
Sahut Ciong-ki.
Sesudah Gak Ciong-ki pergi, Keng-hiau masuk perkemahan untuk meneruskan tidurnya.
Kam Hong-ti melihat fajar sudah hampir menyingsing, ia pun lekas meninggalkan tempat berbahaya ini.
Semalam ini, meski tiada sesuatu hasil yang diperoleh Kam Hong-ti, tetapi ia telah mengetahui dimana beradanya Can Ceng.
Siang harinya karena penjagaan dalam pasukan tentara sangat keras, maka tiada yang bisa diselidiki Hong-ti.
Setelah pasukan besar ini melanjutkan perjalanan lagi, petangnya telah sampai di Lukaukhiau (suatu jembatan terkenal dalam sejarah pecahnya perang Tiongkok-Jepang) di luar kota Pakkhia (Peking), besok paginya tentu sudah bisa masuk kotaraja.
Sampai di sini pasukan besar itupun berkemah lagi.
Malamnya, masih tetap Kam Hong-ti dan Teng Hiau-lan menyamar sebagai peronda, malam, diam-diam ia melayang ke atas perkemahan Lian Keng-hiau pula.
Keadaan malam ini ternyata berlainan dengan malam kemarin, malam ini hanya kedapatan Liok Hou-sin yang jaga malam, di luar perkemahan seorang pun tidak terdapat.
Hanya di antara perkemahan luar yang bersambungan dengan kemah tengah dimana Keng-hiau tinggal, masih terdapat pengawal yang lagi meronda.
Dalam kemah kelihatan terang benderang, dengan mendekam di atas kemah luar, Kam Hong-ti bisa melihat bayangan Lian Keng-hiau yang lagi mondar-mandir dalam kemahnya, dalam perkemahan rupanya hanya dia sendirian, istrinya tidak kelihatan di dalam.
Tak lama seorang prajurit pengawal pribadi Keng-hiau datang dengan membawa satu orang yang bukan lain dari Can Ceng.
"Perintahkan, siapa pun dilarang masuk kemari,"
Terdengar Keng-hiau memberi perintah.
Prajurit itu mengiakan sekali, lalu dengan cepat mengundurkan diri.
Setelah Keng-hiau mengambil tempat duduk di atas kursi kebesarannya yang berlapis kulit macan, terdengar ia tertawa dingin.
"Hm, Can-lothauji, apakah kau sudah tahu Giam Hong-kui dan Sim Cay-khoan telah dihukum penggal kepala dan sanak keluarganya dihukum mati pula?"
Mendengar berita itu, rupanya Cap Ceng tercengang hingga tak sanggup bersuara. Diam-diam Kam Hong-ti menggerutu.
"Sungguh tak berguna, jauh sekali kalau dibandingkan Sim Cay-khoan, kalau Lu Liu-liang mengetahui di alam baka, pasti akan mencaci-maki dia yang berani mengaku sebagai muridnya!"
"Menurut peraturan, kau seharusnya dihukum mati berikut semua sanak keluargamu!"
Gertaknya dengan tertawa dingin. Dalam pada itu, dengan sinar mata yang tajam Lian Keng-hiau memandang Can Ceng.
"Mengharap diampuni Tayswe,"
Terdengar Can Ceng berkata tergagap.
"Itu semua tergantung kau sendiri!"
Kata Keng-hiau.
"Mohon Tayswe suka memberi petunjuk,"
Sahut Can Ceng. Tiba-tiba Lian Keng-hiau menarik muka.
"Hongsiang ingin kau berbuat jasa untuk menebus dosamu!"
Katanya kemudian.
"Bukankah telah kulakukan, aku sudah mengaku tentang Giam Hong-kui dan Sim Cay-khoan?"
Sahut Can Ceng.
"Dua orang ini adalah ahli waris Lu Liu-liang yang terkenal di seluruh negeri, apa perlu kau mengatakan lagi?"
"Tetapi tentang Sim Cay-khoan bersembunyi di bukit Sian-he-nia justru tiada orang lain yang mengetahui,"
Can Ceng coba membela diri.
Mendengar pengakuan ini, seketika Kam Hong-ti terkejut bercampur gusar, dalam hati ia mencaci-maki orang, ia terkejut karena dengan demikian kepala Sim Cay-khoan terang bukan palsu lagi, ia pun gusar karena manusia she Can ini ternyata percuma saja mempunyai nama baik, tak tahunya ternyata berjiwa pengkhianat.
"Ya, itupun boleh terhitung jasamu, tetapi hanya sedikit jasa ini masih belum cukup untuk menebus dosamu,"
Ujar Keng-hiau tertawa.
"Hongsiang menghendaki kau mengaku terus terang siapa lagi orang-orang lainnya."
"Penganut ajaran Lu Liu-liang terlalu banyak, aku pun tidak seluruhnya mengetahui,"
Sahut Can Ceng.
"Asal kau sebutkan pemimpin terpenting di masing-masing tempat sudah cukup,"
Kata Lian Keng-hiau.
"Antara lain seperti Ki Teng-hong di Hangciu, Sun Kek-yong di Unciu, Ciu Keng-hin di Chingciu dan Ui Po-am di Yangsia, semua punya peranan penting,"
Akhirnya Can Ceng mengaku.
"Dan siapa lagi?"
Desak Keng-hiau.
Lalu Can Ceng menyebut beberapa nama lagi.
Pengakuan ini diingat baik-baik dalam hati Lian Keng-hiau, ia memiliki otak cerdas luar biasa, tanpa dicatat ia pun bisa hapal di luar kepala.
Kemudian Lian Keng-hiau bergelak tertawa sehabis Can Ceng mengaku terus terang.
"Bagus sekali, Can-lothauji, sekarang katakanlah, pangkat apa yang kau inginkan?"
Tiba-tiba Keng-hiau bertanya lagi. Karena pertanyaan ini, seketika muka Can Ceng kelihatan pucat pasi. Berulang-ulang ia menjura.
"Mohon kemurahan Tayswe, sekali-kali jangan memaksa aku menjadi pembesar negeri!"
Pintanya.
"Sebab apa?"
Tanya Keng-hiau heran.
"Ya, kalau aku menjabat sesuatu pangkat, dengan sendirinya semua orang di seluruh negeri mengetahui aku telah menjual kawan untuk kedudukan sendiri,"
Tutur Can Ceng.
"Maka mohon Tayswe suka kasihani nama baik yang sudah aku pupuk selama puluhan tahun ini, supaya jangan sampai terhanyut begitu saja."
Mendengar jiwa orang yang rendah ini. kembali Kam Hong-ti sangat gusar dan menggerutu pula.
"Baik, aku pasti menyampaikan maksud hatimu pada Hongsiang,"
Ujar Lian Keng-hiau.
"Kau tak mau pangkat, itu lebih baik!"
Mendengar kata-kata ini, Can Ceng coba melirik wajah Keng-hiau. Tetapi tiba-tiba ia dengar Keng-hiau tertawa terbahak-bahak.
"Memang Can-losianseng bukan orang biasa, silakan terima penghormatanku ini!"
Katanya mendadak sambil melakukan penghormatan. Keruan berbalik Can Ceng terkejut.
"Mana aku berani terima penghormatan Tayswe!"
Demikian ia merendah dan hendak menyingkir ke samping. Akan tetapi Lian Keng-hiau sudah keburu mendudukkan dia di atas kursi secara paksa terus menjura tiga kali.
"Can-losianseng,"
Kata Keng-hiau pula.
"penghormatanku ini kulakukan untuk anakku sebagai hormat pengangkatan guru padamu. Hongsiang pasti akan mengampuni kau, maka kau boleh melewatkan hari tua dengan tenteram, cuma aku minta kau pun membawa pergi sekalian putraku."
Karena keterangan ini, rupanya Can Ceng hendak buka suara lagi, tetapi Lian Keng-hiau telah menyela dahulu.
"Sebagai laki-laki sejati, sekali omong tidak bakal ingkar janji, aku bisa memutuskan atas nama Hongsiang, besok segera aku kirim orang membawa putraku ikut pergi bersama kau,"
Demikian katanya lagi.
"Tetapi ingat, sekali-kali tidak boleh kau katakan pada orang lain anak ini adalah putraku, jika sebaliknya, awas pasti ada orang akan mengambil kapalamu!"
Atas gertakan ini Can Ceng jadi ketakutan hingga mandi keringat dingin.
"Atas kemuruhan Tayswe, mana berani aku membocorkan,"
Sahutnya kemudian.
Kiranya Keng-hiau bisa berpikir panjang dan berpandangan jauh, ia cukup kenal betapa keji Kaisar Yong Ceng, meski ia tahu dalam keadaan sekarang dimana kekuasaan militer tergenggam seluruhnya dalam tangannya, tidak mungkin maharajanya berani coba mencelakai dirinya, tetapi tidak boleh tidak ia harus berjaga-jaga segala kemungkinan.
Karena itu, sejak anak laki-lakinya lahir, ia berdaya-upaya dengan segala macam jalan mengatur hari kemudian bagi putranya itu, akan tetapi selama itu juga ia masih belum mendapatkan pilihan orang yang tepat untuk dipasrahi anak-bininya.
Sampai malam ini, melihat kelakuan Can Ceng, diam-diam ia menjadi suka.
Ia pikir.
"Jika anakku diserahkan padanya, inilah pilihan yang paling tepat. Tentu Hongsiang tidak akan curiga anakku diserahkan padanya, sebaliknya para tokoh kalangan Kangouw yang bermusuhan dengan aku tentu menyangka Can Ceng adalah segolongan dengan mereka, sudah tentu lebih-lebih tak menyangka aku bisa menitipkan putraku padanya. Dan lagi orang she Can ini takut mati, kalau aku mengirim orang kepercayaanku menguntit di belakangnya, pasti ia tak berani berbuat sesuatu yang tidak menguntungkan putraku. Sungguh ini adalah pilihan orang yang tepat."
Di lain pihak Kam Hong-ti lagi berpikir juga, tetapi ia tidak bisa menyelami maksud tujuan Lian Keng-hiau, maka ia merasa sangat heran.
Ketika ia heran, tiba-tiba dilihatnya bayangan orang berkelebat di perkemahan lapisan luar, waktu Hong-ti tegasi, ia kenali orang yang datang adalah Tang Ki-joan.
Kiranya Tang Ki-joan mendapat perintah mengikuti pasukan Lian Keng-hiau ke barat, ia pun mendapat perintah .
ahasia mengawasi gerak-gerik Lian Keng-hiau.
Maka sewaktu mendengar malam ini Keng-hiau memeriksa Can Ceng di dalam kemahnya, ia menjadi curiga, tetapi ia tak berani seperti Kam Hong-ti yang menyelidiki dengan mendekam di atas kemah Lian Keng-hiau, ia hanya longak-longok dari jauh di luar perkemahan sana.
Di luar dugaan, selagi ia mengincar ke sana dan ke sini, di bawah cahaya rembulan yang remang-remang, tertampak olehnya di atas perkemahan mendekam satu orang.
Melihat keadaan demikian, Tang Ki-joan yang licin dan banyak tipu-akalnya, dalam hati telah mengambil keputusan.
"Tidak peduli dia musuh atau bukan, biar aku mendekati dengan alasan menangkap pembunuh gelap, dengan demikian aku bisa sekalian mengetahui keadaan di dalam perkemahan."
Begitulah, maka segera ia keluarkan ilmu entengi tubuh, diam-diam melayang datang dengan enteng.
Di luar perhitungannya, Kam Hong-ti ternyata lebih cerdik darinya, ia justru sengaja mendekam terus di pojok kemah itu, bergerak sedikitpun tidak, ia pura-pura tidak tahu kedatangan orang.
Tetapi di saat Tang Ki-joan sudah dekat dan lagi melayang naik ke atas, mendadak Kam Hong-ti menyingkap ujung layar kemah itu sambil berteriak.
"Ada pembunuh gelap!"
Berbareng itu, sekonyong-konyong ia memukul dengan kedua telapak tangannya.
Karena tidak menyangka dan mendadak, Tang Ki-joan jadi terkejut, ditambah lagi layar kemah menggulung dengan tiba-tiba, keruan ia tidak mampu menancapkan kakinya, angin pukulan Kam Hong-ti telah mendesak dia jatuh ke bawah.
Sementara itu para pengawal Lian Keng-hiau beramai telah memburu datang demi mendengar ada ribut-ribut, Lian Keng-hiau pun berjalan keluar, sedang Kam Hong-ti sudah melayang pergi melewati dua lapis perkemahan lainnya, bersama Teng Hiau-lan diam-diam mereka kembali ke pondok.
Ketika Lian Keng-hiau mengetahui orang yang jatuh mendadak dari atas kemahnya bukan lain adalah Tang Ki-joan, seketika juga muka Keng-hiau berubah hebat.
"Hamba bermaksud menangkap pembunuh,"
Tutur Tang Ki-joan berusaha menghilangkan kecurigaan orang.
"Dan, dimana pembunuhnya?"
Tanya Keng-hiau "Sudah kabur!"
Sahut Tang Ki-joan.
"Kenapa kau tidak berseru memanggil?"
Tanya Keng-hiau lagi.
"Penjahatnya berteriak lebih dahulu!"
Tutur Tang Ki-joan pula.
"Hm, di dalam pasukan ini seluruhnya orang kepercayaanku, darimana datangnya pembunuh?"
Kata Lian Keng-hiau lagi dengan tertawa dingin.
"Di jagat inipun tiada pembunuh yang bernyali begitu besar, tidak berhasil membunuh orang malah berani berteriak dulu. Terang ini disebabkan pengawalku yang memergoki kau, karena rasa setia mereka padaku, maka ada yang berteriak."
Karena kata-kata terakhir ini, ada beberapa pengawal yang suka berebut jasa lantas menimbrung.
"Ya, ya, memang kami sama sekali tidak menduga akan Tang-toaya,"
Kata mereka beramai-ramai. Muka Tang Ki-joan jadi pucat menghijau, ia hendak membela diri lagi. Akan tetapi Lian Keng-hiau sudah menjengek.
"Hm, aku tidak menyuruh kau meronda, kenapa tengah malam kau keluar meronda,"
Katanya dengan tertawa dingin.
"Kalau melihat pakaianmu yang berdandan rapi, sekali-kali bukan mengetahui ada penjahat, baru mendadak melompat bangun dari tempat tidur, apakah memang sebelumnya kau telah menduga bakal ada pembunuh?"
Karena terburu-buru tadi, Tang Ki-joan ingin menggunakan alasan meronda, sama sekali tidak terduga berbalik akan ditanya demikian, keruan ia menjadi gelagapan dan tidak mampu menjawab, berulang-ulang ia hanya berseru tidak berdosa.
"Ya, seumpama kau bukan pembunuhnya, tetapi datang ke perkemahan tanpa perintah, ini sudah menandakan kau bermaksud jahat,"
Dengan tertawa dingin Lian Keng-hiau berkata lagi.
"Algojo, seret dia dan penggal kepalanya sekalian!"
Demikianlah, karena tak bisa mendebat dan tak mampu melawan, meski Tang Ki-joan biasanya terkenal paling licin, tidak urung ia harus mati juga di bawah golok Lian Keng-hiau.
Ketika mengetahui Tang Ki-joan mampus, Kam Hong-ti tertawa senang bersama Teng Hiau-lan.
"Ya, dahulu Tang Ki-joan secara keji telah membikin cacat Sim Cay-khoan, kini ia harus menebus dosa dengan jiwanya, kalau Lu-cici tahu, pasti ia akan bersorak dan bersyukur,"
Ujar Hiau-lan.
Begitulah karena adanya ribut-ribut itu, maka lewatlah satu malam lagi.
Karena tiada jalan buat keluar, terpaksa Kam Hong-ti dan Teng Hiau-lan ikut pasukan besar itu masuk kotaraja.
Tetapi baru sampai luar kota, mendadak terdengar tiga kali suara dentuman meriam yang menggelegar.
"Hongsiang sendiri telah keluar!"
Demikian ada orang melapor pada Lian Keng-hiau.
Kala itu baru lohor, sang surya memancarkan sinar yang panas terik, tetapi Kaisar Yong Ceng sendiri telah naik kereta kebesarannya menyambut sendiri keluar kota, sudah tentu di dalam keretanya ia pun basah-kuyup oleh keringat.
Sekeluarnya dari pintu benteng, kemudian kaisar berganti kereta dengan menunggang kuda.
karena itu rasa panas terik semakin menjadi makin hebat.
Akan tetapi Kaisar Yong Ceng adalah seorang jago silat, tubuhnya kuat dan sehat, meski di bawah sorotan sinar matahari yang begitu terik, namun tidak begitu terasa olehnya, sebaliknya para Thaykam yang ikut serta hampir jatuh semaput semua di bawah sinar matahari yang sedemikian panasnya.
Masih mendingan di luar kota Pakkhia terdapat hutan yang cukup luas, ketika Yong Ceng berpaling dan melihat para hamba punggawanya kepayahan, ia bergelak tertawa.
"Di bawah sinar matahari yang begini terik, kalian tentu sangat menderita, baiklah boleh pasang kemah di sini untuk menantikan datangnya Lian-tayciangkun,"
Katanya kemudian.
"Semangat Hongsiang yang menyala-nyala di atas kuda, sungguh tidak mungkin diikuti oleh hamba sekalian,"
Kata menteri Thio Ting-giok.
"Ya, Hongsiang tanpa kenal panas teriknya matahari, tetapi jauh-jauh datang menghibur pasukannya, ini boleh dikata sepanjang zaman belum pernah terjadi, pantas jika para perwira dan prajurit bertempur mati-matian untuk Hongsiang dengan segala keikhlasan,"
Segera Kok-kiu (kakak permaisuri) Longetoh menyambung.
Yong Ceng tertawa oleh sanjung-puji kedua pembesarnya ini, dengan kedatangannya sendiri untuk menghibur tentara memang tujuannya ialah untuk menarik simpati pasukannya, kesempatan ini telah digunakan oleh Longetoh untuk menjilat, sudah tentu cocok benar dengan maksud hatinya.
Tidak antara lama, di dalam hutan itu sudah dipasang kemah darurat dari sutera kuning, di tengah kemah tersedia tempat duduk sang Kaisar, maka turunlah Yong Ceng dari kudanya menuju tempat duduk yang telah disediakan ini, segera pula para Thaykam melayani di sekitarnya, ada yang mengipas, ada yang menyodorkan handuk basah, ada lagi yang mengantar minuman segar.
Sesudah ribut-ribut sejenak, kemudian dari jauh terdengar suara tiupan terompet disusul dengan suara gemuruhnya meriam yang menggelegar tiga kali.
"Lian-tayciangkun telah tiba dengan pasukannya!"
Demikian segera dilaporkan pembesar yang menyambut di depan.
Sesudah Yong Ceng membetulkan pakaiannya, ia lantas keluar perkemahan, ia lihat di depan sana bendera pertanda berkibar rapat, dengan pasukan besar yang berjumlah dua ratus ribu prajurit bersenjata lengkap, saking panjang pasukan besar ini hingga tak kelihatan buntutnya.
Setelah barisan perintis tiba di depan Yong Ceng dan sehabis menjalankan penghormatan secara militer, kemudian barisan membagi ke kanan dan kiri, habis itu terdengar tiga kali suara meriam, di tengah muncul sebuah bendera besar yang bertuliskan sebuah huruf raksasa "Lian" , maka tertampak Lian Keng-hiau yang memakai topi perang lengkap dengan pakaiannya, dengan menunggang kuda putih mulus berdiri di bawah bendera pertandanya, sedang Gak Ciong-ki menahan kudanya berdiri di samping kanan Lian Keng-hiau, kedua orang ini sama gagah dan semangat menyala-nyala, sedikitpun tidak kelihatan letih dalam perjalanan jauh.
Begitu nampak Yong Ceng, segera Lian Keng-hiau melompat turun dari kudanya.
"Kau sudah letih dalam perjalanan jauh, tak perlu menjalankan penghormatan, biasa saja!"
Yong Ceng mencegah dengan mengangkat tangannya ketika orang akan menjalankan penghormatan.
Memang dengan melompat turun dari kudanya, seharusnya Lian Keng-hiau menyembah di hadapan sang maharaja, tetapi demi mendengar kata-kata Yong Ceng, betul saja ia hanya tersenyum dan sedikit membungkuk, tidak menjalankan pay-kui, melainkan berkata.
"Atas sambutan Sri Baginda ke tempat jauh ini, sungguh membikin hamba tidak mengerti cara bagaimana harus membalas budi!"
Gak Ciong-ki juga disuruh Yong Ceng tak usah pay-kui, tetapi ia masih berlutut dan menjalankan penghormatan sebagaimana mestinya.
Sebenarnya meski di mulut Yong Ceng bilang tak usah, padahal hanya kata-kata saja, tak terduga Lian Keng-hiau anggap dirinya sudah berjasa besar, betul juga ia tidak menjalankan penghormatan.
Sudah tentu Yong Ceng menjadi kurang senang dalam hati, tapi di luar sedikitpun tidak mengunjuk perasaannya ini, ia malahan sengaja mengomeli Gak Ciong-ki yang tidak mau turut perintahnya tadi sambil tertawa terbahak.
Maka berulang kali Gak Ciong-ki memohon ampun, tapi dalam hati ia sangat bergirang.
Katanya dalam hati.
"Hm, sekali ini tidak takut lagi pada kau, Lian Keng-hiau, akhirnya aku pasti mengalahkan kepintaranmu dengan kebodohanku!"
Begitulah maka sesudah Lian Keng-hiau dan Gak Ciong-ki selesai menjalankan penghormatan, menyusul dengan sendirinya semua perwira dari yang tinggi sampai rendah.
Yong Ceng lantas memberi perintah menghadiahi pahlawannya ini dengan perjamuan, Lian Keng-hiau ikut Yong Ceng masuk ke dalam 'istana daruratnya', dan duduk dalam perjamuan dengan didampingi para pembesar kerajaan yang bertingkat menteri.
Sedang Gak Ciong-ki dan perwiranya dikawani oleh menteri peperangan dan Kiu-bun Tetok (kira-kira seperti komando militer kota sekarang) serta pembesar militer lain di meja yang disediakan di luar kemah.
Di tengah perjamuan, Yong Ceng bertanya keadaan ekspedisi ke barat ini, tentu saja Lian Keng-hiau menerocos memuji hasilnya yang gilang-gemilang ini setinggi langit.
Di luar dugaan, karena penuturan ini, semakin membikin Yong Ceng kurang senang.
"Tetok Hu San tidak patuh disiplin dan bayangkara Tang Ki-joan kurang sopan terhadap hamba, kedua orang ini sudah dihukum mati,"
Demikian Lian Keng-hiau melapor. Keruan Yong Ceng terkejut oleh laporan ini, tetapi pada wajarinya sedikitpun tidak mengunjuk tanda apa-apa, sebaliknya ia malah mengunjuk senyuman.
"Dalam tentara soal disiplin harus dipatuhi, sebagai panglima, sudah tentu kau boleh menggunakan kekuasaanmu, soal kecil ini tidaklah perlu kau laporkan,"
Katanya seperti anggap soal kecil saja. Lekas Lian Keng-hiau menyatakan terima kasihnya.
"Jika demikian, lima orang yang dikirim ikut padamu seperti Liau-in, Sat Thian-ji dan Thian-toh, Tang Ki-joan dan Kam Thian-liong, kini seluruhnya sudah mati?"
Kata Yong Ceng lebih lanjut.
"Ya,"
Sahut Keng-hiau.
"Begitupun baik,"
Ujar Yong Ceng.
"Mereka itu berwatak liar, mampus semua lebih baik."
Tiba-tiba Lian Keng-hiau teringat pada waktu berangkat, pernah Yong Ceng memberi pesan seperti kata-kata tadi, khusus mengenai Tang Ki-joan dikatakan lebih kenal adat, maka menyuruh dia melayani secara lain.
Kini Yong Ceng bertanya urusan itu lagi, Keng-hiau merasa kikuk, tetapi waktu ia lirik wajah sang maharaja, tidak terdapat sedikitpun tanda aneh.
"Tang Ki-joan kau kirim sebagai mata-mata untuk mengawasi gerak-gerikku, apa kau kira aku tidak tahu? Asal kekuasaan militer selalu berada di tanganku, pasti tak berani kau membunuh diriku,"
Demikian diam-diam Lian Keng-hiau berpikir pula.
Cara penyambutan dan perjamuan yang diadakan di luar kota ini berlainan dengan perayaan dalam istana, maka sehabis minum tiga keliling, kemudian perjamuan lantas ditutup.
Dengan diikuti Lian Keng-hiau, Yong Ceng berjalan keluar untuk memeriksa pasukan yang baru kembali dari medan perang ini.
Waktu itu hari tepat lohor, panas sinar matahari semakin hebat, di luar hutan sana dua ratus ribu prajurit masih berbaris dengan rajin sekali dan berdiri tegak di bawah terik matahari dengan persenjataan lengkap, sedikitpun mereka tak berani sembarang bergerak.
"Hari begini panas, boleh Tayciangkun memerintahkan para prajurit meletakkan senjata dan menanggalkan pakaian perang!"
Demikian Yong Ceng memerintahkan Lian Keng-hiau.
Dengan sekali sahutan perlahan Keng-hiau berjalan ke depan, setelah berada berhadapan dengan barisan tentaranya, dari bajunya ia mengeluarkan sebuah bendera merah kecil.
Lalu dengan enteng ia mengibas, maka terdengarlah suara ramai, dimulai dari barisan paling belakang, prajurit sebanyak dua ratus ribu itu pada saat yang sama serentak meletakkan senjata dan menanggalkan pakaian perang.
Nampak kejadian ini, hati Yong Ceng jadi terguncang.
"Luar biasa?"
Demikian pikirnya.
"Dalam keadaan demikian jika Lian Keng-hiau berubah pikiran, apakah nyawaku tidak tergenggam dalam tangannya?"
Sebaliknya Lian Keng-hiau melihat tentaranya begitu keras disiplinnya, ia sangat senang, dengan muka berseri ia kembali.
"Liah-tayciangkun bisa memimpin pasukan begini besar dengan disiplin begini keras, sungguh adalah panglima nomor satu sejak dahulu kala, berkat kemurahan Thian telah memberikan pembantu padaku untuk melindungi tanah air kita, sungguh aku yang lagi mujur!"
Kata Yong Ceng kemudian dengan bergelak tertawa.
Di antara suara tertawanya lapat-lapat membawa pikiran yang jahat, pembesar yang ikut hadir tidak mengetahui maksud sesungguhnya dari Hongsiang mereka, beramai mereka malah menghaturkan selamat pada Yong Ceng dan Lian Keng-hiau, bahkan Kok-kiu Longetoh menarik tangan Lian Keng-hiau dan banyak memberikan pujian yang sifatnya lebih mirip menjilat, sudah tentu hal ini dapat dilihat semua oleh Yong Ceng sendiri, tetapi ia diam saja.
Setelah ribut-ribut sejenak, kemudian Yong Ceng menyuruh Lian Keng-hiau memerintahkrn agar tiap prajurit diberi hadiah sepuluh tahil perak, sedang para perwira yang berjasa dinaikkan setingkat pangkatnya, seluruh pasukan diberi cuti lagi sepuluh hari.
Dan setelah Lian Keng-hiau memimpin pasukannya bersorak-sorai menyatakan terima kasih dan kegembiraan mereka, maka berakhirlah upacara pemeriksaan pasukan ini.
Sudah tentu peristiwa tadi dapat dilihat Kam Hong-ti dan Teng Hiau-lan dengan jelas, karena semua prajurit diberi cuti, maka mereka pun mengambil kesempatan itu lari keluar markas.
Mereka sudah tiga hari berpisah dengan para kawan, karena kuatir Lu Si-nio menantikannya, maka lekas mereka kembali ke Se-san.
Dalam tiga hari ini kelenteng di Se-san ternyata sudah banyak bertambah orang.
Pang Ing dan Pang Lin telah membawa datang ibu mereka, Khong Lian-he, Engkong luarnya, Khong Liang dan Thio Thian-ti serta kawan-kawan, setelah dirawat sekian lamanya, Khong Liang dan Thio Thian-ti sudah sembuh dari luka mereka dan sudah bisa bergerak dengan leluasa.
Baca Juga: Bu Kek Kang Sinkang 1
Baca Juga: Hadiah Membawa Bencana Khu Lung