Eps 13 Tiga Dara Pendekar - Liang Ie Shen
Baca online Tiga Dara Pendekar - Liang Ie Shen
Cersil Tiga Dara Pendekar - Liang Ie Shen.
Malam ini Lu Si-nio dan Pang Ing telah mengaduk istana, ketika Emopu memburu datang, mereka sudah keburu menerjang keluar istana, lekas Emopu dan Haptoh mengejar, walaupun mereka tak bisa menyandak Lu Si-nio berdua, tapi selisihnya tidak terlalu jauh, tatkala bayangan Si-nio menghilang pada sebuah gang di antara deretan rumah tinggal penduduk, kejadian ini dilihat oleh mereka, karena itu mereka lantas mencari dari satu ramali ke lain ramah hingga akhirnya dapat mereka pergoki.
Sementara itu Teng Hiau-lan sebenarnya lagi menulis surat pesan terakhirnya, waktu mendadak mendengar teriakan Haptoh yang meminta dia menerima titah dan menghadap kaisar, seketika ia menjadi gusar, segera pula ia melompat keluar.
"Hm, sekalipun mati tidak nanti aku mau dihina, kau ingin aku masuk istana buat minta ampun, hm, jangan kalian harap, lekas enyah dari sini!"
Dengan suara nyaring ia lantas mendamprat.
"Suruh mereka enyah, itulah terlalu murah bagi mereka,"
Tiba-tiba Si-nio menyela.
"Justru Hap-congkoan sendiri telah sudi datang ke sini, kita harus persilakan mereka tinggal sementara dulu!"
Mendengar kata-kata Si-nio ini, segera Kam Hong-ti tahu maksud sang Sumoay, yakni ingin menawan Haptoh dahulu untuk menukar obat pemunah bagi Hiau-lan.
Karena itu tanpa berkata lagi segera ia turun tangan paling dulu, begitu bergerak; susul-menyusul ia lantas memukul.
Haptoh pun tidak mandah dihantam orang, ia sambut serangan lawan, karena saling adu tangan, mereka tergetar mundur.
"Hm, orang yang tak kenal mati-hidup, berdasarkan apa kalian berani menahan orang?"
Terdengar Emopu menjawab dengan tertawa dingin. Tetapi pada saat itu juga, mendadak Lu Si-nio melompat maju, secepat kilat pedangnya menyambar mengarah tenggorokan musuh.
"Dengan pedang inilah dapat menahan kau!"
Bentaknya pula.
Di luar dugaannya, Emopu mempunyai ilmu silat yang lain daripada yang lain, baru saja ujung senjata Lu Si-nio mendekat, tiba-tiba terasa seperti ujung pedangnya melenceng ke samping, menyusul tertampak Emopu mengayun kebutannya, sekali menyabet terus membelit, ia keluarkan kepandaian yang luar biasa, yakni meminjam tenaga lawan buat memukul balik lawan, kebutannya membelit pada pedang Lu Si-nio.
Mau tak mau Lu Si-nio rada terkejut, lekas ia menggeser pergi berbareng menarik senjatanya, menyusul pedangnya menyambar lagi secepat angin, dalam sekejap saja beruntun ia sudah menyerang tiga kali.
Akan tetapi Emopu hanya berdiri saja di tempatnya tanpa bergerak, hanya kebutnya yang menyambar ke kanan dan ke kiri, beruntun ia pun sambut tiga kali serangan orang.
Begitulah mereka berdua saling melabrak dengan kepandaian mereka yang sangat tinggi dan setapak pun tidak saling mengalah.
Kalau Emopu ingin merebut pedang dari tangan Lu Si-nio terang tidak mungkin, sebaliknya jika Lu Si-nio ingin melukai lawannya juga tidak mampu.
Di sebelah sana, Haptoh yang menandingi Kam Hong-ti pun sedang saling hantam dengan ramainya, kekuatan mereka pun seimbang, dalam sekejap saja mereka sudah saling gebrak belasan jurus.
Waktu itu Teng Hiau-lan sudah melolos pedang pusakanya dan hendak maju membantu.
"Haha, racun dalam tubuhmu sudah mulai bekerja, apa kau ingin mampus lebih cepat sedikit?"
Dengan bergelak tertawa Haptoh memperingatkan. Di samping sana lekas Pang Ing menarik baju Hiau-lan.
"Siok-siok, hendaklah kau mundur saja, aku ada jalan lain,"
Katanya. Di luar dugaan ternyata Hiau-lan tidak mau menurut.
"Jika kau tidak mau menurut, biarlah aku mati dulu di hadapanmu, lekaslah kau menyingkir!"
Pang Ing mengancam.
Hiau-lan menghela napas, tiba-tiba pula ia merasakan perutnya rada kesakitan, terpaksa ia mundur kembali ke kamarnya.
Sementara itu Emopu dan Lu Si-nio masih saling labrak dengan ilmu silat mereka yang tinggi, beberapa puluh jurus sudah berlalu, namun masih belum kelihatan siapa yang bakal kecundang.
Nampak gelagat kurang enak, segera Pang Ing mencabut pedang pendeknya, tetapi selagi ia hendak melompat maju membantu, mendadak terdengar Emopu bersuit panjang, menyusul dari atas dinding pagar sana muncul lagi empat orang Lamma, jubah mereka seragam merah, kepala memakai kopiah berujung lancip seperti tanduk kambing hingga sangat menyolok pandangan orang.
"Ha, apa kalian tidak mau terima arak suguhan dan sebaliknya ingin minum arak paksaan?"
Tiba-tiba terdengar Haptoh membentak lagi.
"Lin-kuijin, kau mau tunduk pada perintah Hongsiang tidak?"
Pang Ing tidak menjawab, akan tetapi ia lantas menyimpan pedangnya, ia papaki keempat Lamma tadi yang sudah melompat turun semua.
"Kalian jangan kurangajar! Hayo, aku ikut kalian pergi menemui Hongsiang!"
Mendadak Pang Ing berseru. Keruan Kam Hong-ti menjadi kaget.
"Apa maksudmu, mana bisa kau pergi begitu saja, nona Ing!"
Ia teriaki Pang Ing. Sementara itu Haptoh sudah menghentikan pertempurannya.
"Dan mana Teng Hiau-lan?"
Katanya.
"Hongsiang ingin kalian berdua masuk istana bersama."
"Aku sendiri nanti bisa bicara dengan Hongsiang, kau ini manusia macam apa? Berani kau banyak bacot!"
Segera Pang Ing mendamprat, waktu itu ia sudah berada di tengah rombongan kawanan Lamma tadi.
"Hayo, kalau kalian banyak cerewet lagi, biar aku tak jadi berangkat."
Karena ancaman ini, Haptoh jadi mengkeret.
"Ya, ya, biarlah hamba iringi Lin-kuijin pulang ke istana,"
Demikian katanya kemudian.
4 Dalam pada itu sebenarnya Kam Hong-ti dan Lu Si-nio masih ingin mencegah lagi, namun musuh terlalu kuat, mereka telah dirintangi, sementara Pang Ing sudah melintasi pagar tembok ikut pergi bersama empat Lamma tadi.
Percakapan tadi dengan jelas sekali didengar oleh Teng Hiau-lan di dalam kamar, sudah tentu pedih sekali rasa hatinya, segera ia berlari keluar lagi sambil berteriak.
"Ing-moay! Ing-moay!"
"Teng-sioksiok, lekas kau masuk kembali, biar aku ambilkan obat pemunahnya!"
Ia dengar sahutan Pang Ing di luar pagar. Habis itu, suaranya bersama tindakannya makin menjauh dan akhirnya lenyap. Dengan menahan sakit, cepat Hiau-lan melompat ke atas tembok.
"Kebetulan sekali kedatanganmu, hayo ikut pergi sekalian!"
Mendadak terdengar bentakan Emopu, berbareng ia pun meloncat ke atas, kebutnya lantas menyabet.
Lekas Hiau-lan angkat pedang memotong ke samping, menyerang sambil menangkis, akan tetapi segera ia merasakan sambaran angin yang kuat menghantam tangannya, hampir saja pedang pusakanya terpental dari tangannya.
Dalam pada itu Emopu telah mengayun sebelah tangannya, dengan lima jari mencengkeram ke bawah.
Karena tak sanggup menahan datangnya serangan ini, Hiau-lan menjatuhkan diri ke bawah, dengan gerakan 'Beng-eng-bok-tho' atau elang buas menyambar kelinci, Emopu segera memburu ke bawah dan masih terus menghantam.
Syukur segera ia dipapaki Lu Si-nio, dalam sekejap saja mereka kembali saling gebrak belasan jurus lagi.
"Lin-kuijin sudah kembali ke istana, buat apa kita terlibat terus dengan mereka?"
Haptoh berseru pada kawannya.
Habis itu, begitu ia menarik kembali Liu-sing-tui, dua gembolan bertali, segera ia melayang keluar pagar.
Melihat kawannya sudah kabur lebih dulu, Emopu pikir kalau bertarung terus belum tentu bisa unggul, pula para jagoan istana belum datang semuanya, yang datang tadi tidak lebih hanya empat muridnya, kepandaian mereka pun terbatas, karena itu ia pun menggunakan kesempatan itu buat melompat keluar pagar.
"Kenapa nona Ing berbuat seperti anak kecil saja? Aku justru tidak percaya kaisar anjing itu akan memberi obat apa padanya!"
Teriak Kam Hong-ti marah-marah sesudah musuh angkat kaki.
"Ya, memangnya dia masih anak-anak, ini namanya penyakit sudah payah memanggil tabib sekenanya, karena dia sudah tak berdaya, terpaksa ia melakukan tindakan tadi,"
Ujar Lu Si-nio sambil menghela napas.
"Tindakannya itu timbul dari hatinya yang bersih dan budinya yang luhur, hendaklah kita jangan salahkan dia lagi."
"Ya, sungguhpun begitu, kepergiannya ini ibarat mengantar kambing ke mulut macan, tidak berguna bagi urusan ini, bahkan ia sendiri akan celaka!"
Kata Hong-ti lagi. • Sudah tentu yang merasa paling menderita adalah Teng Hiau-lan.
"Toh aku sudah terang akan mati, biarlah aku pun ikut masuk istana sekalian,"
Akhirnya ia berkata.
"Apa masih belum cukup satu orang mengantar kematian?"
Ujar Kam Hong-ti mendongkol.
"Ya, kalau dia berkorban untukku, apa aku masih bisa hidup sendirian?"
Sahut Hiau-lan sedih. Mendengar jawaban ini, seketika Kam Hong-ti bingung, akan tetapi segera ia mengetahui di dalam hal ini tentu masih ada persoalan lainnya.
"Sudahlah, Hiau-lan, jangan kau berpikir yang tidak-tidak,"
Terdengar Si-nio membuka suara dengan tersenyum.
"Chit-ko, biar kita mencari jalan keluar lain. Tempat ini terang tak bisa kita tinggali lebih lama pula!"
Begitulah, kemudian Lu Si-nio merundingkan tipu-daya lain bersama Kam Hong-ti.
Kembali pada Haptoh dan kawan-kawan, bersama Emopu mereka membawa Pang Ing kembali ke istana, waktu itu fajar sudah menyingsing, Kaisar Yong Ceng masih belum kembali dari sidang paginya (zaman feodal di Tiongkok, tiap hari antara pukul lima pagi semua pembesar negeri harus menghadap kaisar pada sidang sambil mengucapkan selamat pagi).
Karenanya Haptoh lantas menyerahkan Pang Ing pada kaum dayang untuk dirias, sedang ia sendiri menjaganya di luar kamar.
Sedapat mungkin Pang Ing menahan amarah, ia biarkan dirinya dirias Kionggo atau dayang istana, ia dikasih bedak dan diberi yanci (gincu), alisnya digambar pula dan disisir rambutnya, lebih jauh ditukar pula pakaiannya secara istana, karenanya ia menjadi lebih molek tampaknya.
Pang Ing diam saja, sepatah kata pun tidak buka suara, ia an-tepi dirinya didandani, hanya pedang pusakanya tetap ia pertahankan, disimpanny a rapat-rapat di bajunya.
Hari itu rupanya pekerjaan dinas Yong Ceng terlalu banyak, ia lebih repot daripada biasanya, setelah ia selesaikan semua pekerjaannya, ia mengundang menghadap pula dua pembesarnya yang bertugas luar, habis itu ia baru kembali ke istana, waktu itu hari sudah dekat lohor.
Waktu ia mendapat laporan dari Emopu dan Haptoh bahwa Lin-kuijin sudah berhasil diajak pulang ke istana, tentu saja Yong Ceng sangat girang, seketika ia panggil menghadap di istana Yi-kun-kiong.
Maka tidak antara lama, datanglah Pang Ing diiringi empat dayang.
Nampak gadis ini, Yong Ceng tertawa terkekeh.
"Haha, setahun tidak berjumpa, kau ternyata semakin molek!"
Demikian ia menegur. Sebenarnya gemas sekali hati Pang Ing, tapi sedapat mungkin ia menahan amarahnya.
"Eh, si cantik kenapa kau diam saja?"
Dengan tertawa Yong Ceng menyapa lagi. Lalu ia berpaling kepada dayang di sampingnya dan berkata.
"Coba gulung lengan bajunya, akan kuperiksa dia punya Siu-kiong-seh masih ada tidak?"
Segera kedua dayang tadi maju hendak melakukan tugas mereka, akan tetapi baru saja mereka hendak mencekal tangan Pang Ing, mendadak si nona kipatkan tangannya, keruan terdengar jeritan kedua Kionggo itu, orangnya terpental sejauh setombak lebih.
"Apa yang hendak kau lakukan?"
Pang Ing membentak dengan gusar.
"Sabarlah jantung hatiku, kalau sudah diperiksa, segera aku akan angkat kau menjadi Kui-hui!"
Sahut Yong Ceng dengan me-nyengir.
"Hm, jangan kau harap aku akan menurut sebelum kau memberikan obat padaku!"
Kata Pang Ing.
"O, ya, mana kau punya Teng-sioksiok itu? Kenapa dia tidak datang buat memohon sendiri padaku?"
Ujar Yong Ceng.
"Hm, dia adalah seorang jantan sejati, tidak nanti ia sudi memohon belas kasihanmu!"
Sahut Pang Ing mengejek.
"Katakan saja, kau mau memberikan obatnya tidak, kalau tidak, terserah padamu."
"Kalau aku berikan lalu bagaimana?"
Tanya Yong Ceng.
"Kalau kasih, aku bersedia jadi budakmu di istana ini,"
Sahut si nona. Yong Ceng tertawa gembira oleh jawaban ini.
"Mana bisa aku merendahkan kau jadi budak, tentu saja kau akan jadi orang pertama sesudah Hong-hou (permaisuri),"
Katanya kemudian. Habis itu mendadak mukanya berubah lalu bertanya pula.
"Dan bagaimana kalau aku tidak kasih?"
"Hm, kalau tidak kasih, segera aku mengadu jiwa dengan kau, meski darahku harus bercecaran di lantai istana ini, tidak nanti aku terima dihina kau!"
Sahut Pang Ing tegas. Mendengar jawaban ini, mata Yong Ceng mengerling, lalu dengan terbahak-bahak ia tertawa lagi.
"Baik, baik, melihat dirimu yang cantik ini, mana bisa obat tidak kuberikan?"
Katanya kemudian, habis itu ia lantas memanggil.
"Haptoh!"
Waktu itu Haptoh dan Emopu masih menunggu di luar, ketika mendengar panggilan, segera mereka menyahut.
"Kau tidak perlu masuk kemari,"
Yong Ceng berseni memberi perintah.
"lekas kau antar obat pemunah racun kepada Teng Hiau-lan dan suruh dia lekas keluar kotaraja, tidak boleh lagi mengganggu padanya."
"Hamba terima perintah!"
Demikian Haptoh menyahut. Lalu terdengar suara tindakannya pergi keluar, Haptoh sengaja membikin keras suara tindakan kakinya supaya didengar dari dalam.
"Nah, sudah beres bukan? Sebagai kaisar tidak nanti aku berbohong, dan kau sendiri hendaknya juga jangan berdusta!" ' demikian dengan cengar-cengir Yong Ceng berkata lagi. Berbareng ia ulur tangan hendak menarik Pang Ing ke dalam pelukannya. Tentu saja Pang Ing menjadi gusar hingga alisnya menegak, ia ayun lengan bajunya mengebut, maka terdengar suara "plok"
Yang keras, lengan bajunya dengan tepat kena di dada Yong Ceng.
Karena hantaman ini, sekalipun ilmu silat Yong Ceng sangat tinggi, tidak urung ia merasa dadanya sakit pedas, lekas ia berkelit agar tidak disusul dengan serangan lain.
"Hai, apa kau akan ingkar janji?"
Ia membentak.
"Haptoh masih belum sampai di luar istana, jika kau hendak ingkar janji rasanya terlalu cepat, apa perlu aku kirim orang memanggilnya kembali."
"Justru karena janji itulah, tidak boleh kau permainkan diriku!"
Sahut Pang Ing.
"O, jadi kau tidak percaya?"
Kata Yong Ceng menyengir.
"Ya, aku memang tidak percaya,"
Ujar Pang Ing.
"Siapa tahu obat yang kau kirim itu obat tulen? Aku masih harus menunggu surat tulisan tangan Teng-sioksiok sendiri yang menyatakan bahwa ia betul-betul telah sembuh dan sehat kembali, baru setelah itu aku mau menyerah padamu. Jika sekarang kau mau menipu aku, hm, jangan kau harap! Apa kau anggap aku hanya anak kecil saja?"
Yong Ceng jeri kepada ilmu silat si dara yang lihai, maka ia tak berani sembarangan memakai tangan besi, ia mengerut kening, segera ia pakai tipu muslihat lagi.
"Jika kau berkeras menghendaki surat tulisan Teng Hiau-lan, baik, aku segera suruh memintanya,"
Katanya kemudian sambil tertawa.
"Kalau begitu, kenapa kau masih berada di sini?"
Sahut Pang Ing.
"Enyah segera, setelah mendapatkan suratnya baru bertemu lagi dengan aku."
"Ha, besar sekali lagakmu!"
Kata Yong Ceng mendongkol. Akan tetapi muka Pang Ing bersungut, matanya bersinar tajam membawa semacam wibawa yang tidak bisa dibantah, membikin Yong Ceng mengkeret.
"Baik, baik, aku turuti kau, tidak nanti kau bisa kabur dari genggamanku,"
Kata Yong Ceng kemudian sambil berjalan pergi dengan penasaran.
Meski Pang Ing belum banyak pengalaman, tetapi dalam hal menghadapi kaisar keji ini ia cukup waspada dan berhati-hati.
Segala makanan atau minuman yang diantar untuknya, selalu ia minta orang lain mencicipi dahulu, setelah itu baru ia berani makan.
Namun Yong Ceng mempunyai perhitungan sendiri, maka dalam barang makanan sama sekali tidak ditaruh sesuatu.
Sekejap saja tanpa terasa malam hari sudah tiba, di dalam istana terang-benderang dengan sinar lilin, bau wewangian memenuhi ruangan, waktu itulah Yong Ceng datang lagi pada Pang Ing.
"Kau sudah kirim obat pada tempatnya belum? Dan mana surat dari Teng-sioksiok?"
Demikian dengan menarik muka Pang Ing lantas bertanya.
"Suratnya sudah aku dapatkan,"
Sahut Yong Ceng dengan tertawa. Mendengar ada surat dari Teng Hiau-lan, hati Pang Ing menjadi berdebar, ia merasa girang bercampur pedih.
"Mana, coba kulihat!"
Katanya cepat.
"Mana orangnya, bawa sini surat itu!"
Segera Yong Ceng ber-seru Maka terdengar suara sahutan dari luar, menyusul mana telah masuk, betul juga di tangannya membawa sepucuk surat.
Hati Pang Ing terguncang demi nampak betul-betul ada surat yang dibawa.
"Sudahlah! Setelah aku membaca suratnya, segera tibalah saatnya aku menghamburkan darahku!"
Demikian ia pikir. Kiranya ia sudah siap berkorban untuk Teng Hiau-lan dengan membunuh diri, begitu ia selesai membaca surat, segera ia akan melolos pedang menghabisi jiwa sendiri.
"Serahkan surat itu biar dibaca Lin-kuijin sendiri,"
Demikian Yong Ceng memberi perintah lagi.
Maka dengan perlahan Emopu lantas mendekati, menghadapi surat yang bakal dibacanya ini, seluruh tubuh Pang Ing menjadi gemetar, ia ulur tangan hendak menyambut surat yang diangsurkan itu.
Di luar dugaan tiba-tiba ia dengar suara bentakan Yong Ceng yang keras.
"Musnahkan ilmu silatnya!"
Berbareng itu, secepat kilat tangan Emopu yang mengangsurkan surat tiba-tiba membalik, dua jarinya menjepit, kiranya di dalam sampul surat tersembunyi sebatang jarum perak, jarum itu menusuk keluar dari dalam hingga mengeluarkan sinar mengkilap dan menusuk tubuh Pang Ing dengan cepat.
Perubahan yang terlalu mendadak ini sama sekali tidak diduga dan di luar penjagaan Pang Ing, akan tetapi gadis ini tidak tinggal diam, berbareng kedua telapak tangannya memukul dengan cepat, susul-menyusul dua gab lokan tepat mengenai Emopu, akan tetapi ia sendiri pun kena ditusuk beberapa kali oleh jarum orang.
Kiranya kejadian yang mendadak ini memang jebakan yang direncanakan oleh Kaisar Yong Ceng.
Emopu sendiri memiliki semacam ilmu kepandaian yang khas, yakni bisa menusuk jalan darah orang meski teraling oleh pakaian, ia bisa membikin buyar semua tenaga dalam di tubuh orang, dengan demikian betapa bagus ilmu silat orang itu seketika akan termusnah atau sedikitnya harus berlatih lagi tiga sampai lima tahun baru bisa pulih kembali.
Akan tetapi ilmu kepandaian ini sukar digunakan pada waktu bertanding dengan musuh, hanya bisa dipakai untuk membokong saja atau dipakai sebagai alat penyiksa bagi tawanan.
Yong Ceng sendiri mengetahui juga bahwa Pang Ing (yang dianggapnya Pang Lin) tidak nanti sudi menuruti kemauannya, oleh sebab itu ia sengaja menggunakan tipu keji ini.
Begitulah, ketika mendadak Emopu menyerang, meski membawa hasil dengan jarumnya mengenai tubuh orang, namun ia sendiri harus merasakan juga dua kali pukulan Pang Ing.
Thian-san-ciang-hoat dengan sendirinya luar biasa lihainya, ditambah jaraknya terlalu dekat, kedua pukulan Pang Ing semuanya mengenai tempat yang berbahaya, karenanya meski ilmu silat Emopu sangat tinggi dan kuat, tidak urung ia merasa dadanya kesakitan, lekas ia kumpulkan tenaga dalam buat melindungi diri sendiri supaya tidak tumpah darah.
"Bagus, sekarang kau boleh ambil cuti tiga hari, kau boleh pergi merawat dirimu!"
Terdengar Yong Ceng berkata. Di lain pihak setelah Pang Ing kena ditusuk beberapa kali oleh jarum orang, ia merasa seperti kena digigit semut dan tidak merasa terlalu sakit.
"Haha, budak Lin, selanjutnya kau boleh hidup senang bahagia di dalam istana, tidak perlu lagi kau main silat,"
Dengan bergelak tertawa Yong Ceng buka suara lagi.
"Marilah sini, kita berdekatan sedikit!"
Akan tetapi ajakan ini membikin Pang Ing semakin sengit.
"Hm, ilmu silatmu kini sudah musnah semua, memangnya kau masih berlagak apa ini?"
Demikian Yong Ceng menyindir dengan tertawa.
"Marilah sini, coba aku periksa kau punya Siu-kiong-seh masih ada tidak?"
Habis berkata ia lantas hendak meraba lengan Pang Ing. Ketika mendengar orang berkata bahwa ilmu silatnya telah musnah seluruhnya, sesaat Pang Ing terperanjat juga.
"Apakah dengan tusukan jarum beberapa kali tadi lantas ilmu silatku bisa lenyap semuanya?"
Demikian ia bertanya dalam hati.
Akan tetapi watak gadis yang keras ini, sekali ia sudah ambil keputusan nekat, maka sewaktu tangan Yong Ceng menghampiri tubuhnya, mendadak ia angkat tangannya terus menampar balik.
Kejadian secepat kilat dan di luar dugaan Yong Ceng, keruan segera terdengar kaisar ini menjerit sekali, ia tak sempat berkelit, ia merasakan tamparan anak dara ini sangat kuat, karena tempelengan ini, seketika dua giginya copot, sebelah pipinya pun segera merah bengkak.
Sungguh tidak kepalang kaget Yong Ceng, mana ada tanda-tanda gadis ini kehilangan ilmu silatnya?
Dalam pada itu, secepat kilat pula Pang Ing sudah melolos pedang pendeknya dan menusuk.
Lekas Yong Ceng kebut lengan bajunya buat menahan, maka terdengar suara membrebetnya kain, lengan bajunya terkupas sebagian, lekas Yong Ceng mencabut pedang juga buat menangkis, dengan menerbitkan suara nyaring karena beradunya kedua senjata, mereka tergetar mundur beberapa tindak, kedua pedang tergumpil pula.
Dalam kagetnya, Yong Ceng menjadi gusar juga, ilmu silat Pang Ing ternyata sedikitpun tidak berkurang lemahnya.
"Kurangajar si Emopu ini, cara bagaimanakah kau bekerja?"
Demikian diam-diam Yong-Ceng mencaci-maki Emopu yang tak becus melakukan tugasnya.
Sementara itu Pang Ing semakin kencang memutar senjatanya dengan Thian-san-kiam-hoat yang hebat, dalam keadaan gugup Yong Ceng menjadi kelabakan oleh rangsekan anak dara ini.
"Mana orangnya, lekas datang!"
Akhirnya ia berteriak minta tolong pengawalnya.
Kiranya bukan Emopu tidak becus dengan ilmu kepandaiannya tadi, soalnya karena pada tubuh Pang Ing memakai kaos kutang pemberian Ciong Ban-tong dahulu, kaos ini adalah pusaka tinggalan Pho Jing-cu yang kebal terhadap senjata, apalagi hanya jarum perak Emopu tadi.
Ditambah Lwekang Pang Ing, begitu diserang, otomatis daging tubuhnya lantas mendekuk.
sedang waktu Emopu menusuk dengan jarumnya tadi ia tak berani terlalu menggunakan tenaga karena kuatir melukai Pang Ing, ia hanya berharap bisa memusnahkan ilmu silat si gadis sudahlah cukup, oleh sebab itu tenaga yang menggetar tubuh Pang Ing pun tidak terlalu keras, boleh dikata sedikitpun tidak sakit.
Begitulah, tatkala Yong Ceng berteriak memanggil beberapa kali, akhirnya terdengar dua pengawal yang dinas jaga di luar menyahut dari tempat jauh, karenanya barulah Yong Ceng ingat bahwa Emopu sudah kembali ke pondoknya buat merawat diri, sedang Haptoh lagi bertugas keluar dan belum kembali, sudah tentu pengawal yang dinas jaga di luar sekali-kali bukan tandingan "Pang Lin", keruan ia jadi semakin gugup.
Jika Yong Ceng gugup, maka Pang Ing sendiri pun rada kuatir.
Setelah ia mencecar orang belasan kali serangan dan masih belum membawa hasil, dalam hati ia berpikir.
"Jika Teng-sioksiok masih belum memperoleh obatnya, percuma saja aku mati di sini tanpa arti, aku harus menjumpainya sekali lagi sebelum ajalnya."
Karena pikiran ini, segera ia mencari kesempatan buat angkat kaki, sementara itu ia dengar suara tindakan di luar sudah semakin mendekat, tanpa ayal lagi, mendadak ia serang dengan tipu 'King-lui-siam-tian' atau petir menyambar kilat berkelebat, ia paksa Yong Ceng melompat mundur, segera ia melayang keluar melalui jendela.
Sementara itu kedua pengawal baru saja sampai, tapi mereka segera dipapaki Pang Ing, hanya sekali-dua gebrakan saja seorang di antara kedua pengawal itu sudah dia lukai, habis itu ia terus lari keluar secepat terbang.
"Lekas bunyikan tanda bahaya, tangkap kembali budak Lin itu!"
Demikian Yong Ceng berteriak dari dalam.
Dalam pada itu Pang Ing sudah berlari sampai di taman raja, ia dengar di empat penjuru ramai dengan suara suitan, bayangan orang pun merubung datang, ia tak paham jalanan di dalam istana, terpaksa ia pilih jalan yang paling sepi dan rindang.
Selang tak lama mendadak pandangannya jadi terbeliak, tiba-tiba tertampak sebuah kolam teratai, di samping sana dilingkungi pagar tembok setinggi beberapa tombak, di pagar tembok itu terdapat sebuah pintu besi dan di atas pintu ada sebuah jendela kecil, terlihat seorang Thaykam sedang menjejalkan makanan melalui jendela kecil itu sambil membentak.
"Akina, ayo, lekas isi perutmu, bapakmu ini tidak sabar lagi menunggu lama!"
Terdengar Thaykam itu berteriak. Pang Ing menjadi heran melihat kejadian ini, pikirnya.
"Orang yang dikerangkeng di dalam itu tentu adalah tawanan. Apakah artinya 'Akina'? Apa nama orang tawanan di dalamnya?"
Dalam pada itu ia dengar suara tindakan orang di belakangnya makin lama semakin dekat, agaknya pengawal yang mencari dan menguber dirinya sudah menyusul tiba. Dalam keadaan kepepet."
Tiba-tiba timbul suatu pikiran pada Pang Ing, cepat ia melompat keluar dari tempat persembunyiannya, begitu mengayun pedang, seketika Thaykam tadi ditusuk hingga tembus, segera pula ia lempar mayat Thaykam itu ke dalam kolam teratai, menyusul ia rusak pula rantai dan gembok pintu besi itu, ia dorong pintunya terus masuk ke dalam.
"Kemari sini! Kau adalah Kiongli dari istana yang mana?"
Mendadak Pang Ing disambut dengan suara bentakan orang yang bengis di dalam penjara yang gelap-gulita itu.
Tawanan itu sudah lama disekap dalam penjara yang gelap, dengan sendirinya matanya sudah biasa memandang di tempat gelap, apalagi ia memandang dari dalam, maka ia lihat jelas wajah Pang Ing, sebaliknya anak dara ini tak bisa melihat jelas siapa orang yang berada di dalam.
Tetapi ia pikir orang yang ditawan oleh kaisar dan dikurung di penjara berpagar tembok yang tinggi ini tentunya bukan orang jahat.
Karena itu dengan suara keras ia lantas menjawab.
"Kau jangan kuatir, segera aku menolong kau!"
Namun baru selesai ia berkata, dalam kegelapan itu mendadak ia dengar suara tetawa orang yang aneh, berbareng itu ia merasakan sambaran angin, segera terasa pula pundaknya kesakitan, ternyata pundaknya telah kena dicengkeram orang itu.
Akan tetapi Pang Ing tidak gampang ditangkap, sejak kecil dia sudah berlatih Lwekang, begitu kebentur musuh otomatis ia melakukan perlawanan, oleh karenanya, segera ia tarik pundak dan mengkeret ke bawah, menyusul ia mundur beberapa tindak.
"He, kau bukan Kiongli?"
Kata orang itu kaget karena gerakan Pang Ing yang luar biasa.
Berbareng itu terdengar suara gemerincingnya rantai besi yang saling bentur, kiranya orang itu terbelenggu di pojok kamar sana dan tidak bisa bergerak dengan leluasa.
Pang Ing menjadi heran mengapa tawanan ini bisa begini ganas dan bengis.
"Tadi kau bilang hendak menolong ak'u, kenapa sekarang kau tidak mendekat ke sini,"
Terdengar orang itu membentak lagi.
Namun Pang Ing tidak lantas mendekat, ia geraki pedangnya lebih dulu, dengan sinar pedang yang mengkilap terang, ia coba menegasi rupa orang, maka tertampak olehnya orang itu berambut kusut tak teratur, kedua matanya melotot seperti mata ikan mas, kalau bukan Pang Ing sudah beberapa tahun mengembara di Kangouw, mungkin ia bisa mati kaget melihat rupa orang yang luar biasa ini.
"Eh, pedang yang kau pegang itu pedang mestika bukan?"
Demikian orang itu berteriak lagi.
"Nah, lekas, lekas putuskan belenggu dan rantai di tubuhku ini!"
Tetapi Pang Ing agak ragu-ragu, sedang di luar penjara terdengar pula suara tindakan kaki orang.
"Kau mau mendekat ke sini tidak? Kalau tidak segera aku binasakan kau!"
Orang itu menjadi gusar karena sikap Pang Ing yang sangsi.
"Jangan kau kira aku tak bisa bergerak, hm, lihat ini Berbareng itu tertampak kedua jarinya mengorek keluar dua batu remukan, ketika kedua jarinya menyentil, maka terdengarlah suara gemerincing nyaring, dua butir batu itu ternyata mengenai pintu besi hingga mencipratkan lelatu api.
"Hm, coba kau berani lari? Bila berani lari segera aku lubangi punggungmu seperti contoh tadi!"
Demikian orang aneh itu mengancam dengan tertawa seram. Sudah tentu kelakuan orang ini membikin Pang Ing dongkol.
"Aku menolong kau bukan aku takut padamu, tapi mengingat kau adalah orang yang dikurung oleh kaisar anjing itu, makanya aku mau menolong kau, tahu?"
Sahut Pang Ing dengan suara lantang. Karena jawaban yang ketus ini, kembali orang itu bersuara heran lagi.
"Baik, baik, kalau begitu lekaslah tolong aku!"
Demikian ia berkata dengan lagu suara yang lunak.
Segera Pang Ing melompat maju, ia ayun pedangnya beberapa kali, sekejap saja semua rantai besi yang membelenggu kaki tangan orang itu telah ditabas putus semua.
"Sungguh pedang yang bagus,"
Terdengar orang itu memuji. Sementara itu suara tindakan kaki orang yang riuh kini sudah sampai di depan penjara.
"Eh, apa kau tahu Emopu ada di dalam istana tidak?"
Tiba-tiba orang itu bertanya pada Pang Ing.
"Ada di sana!"
Sahut si nona.
"Melihat macammu, agaknya ilmu silatmu tidak lemah,"
Kata orang itu pula.
"Coba kau ingat dengan baik, tempat kelemahan yang menjadi titik kematian Emopu adalah bagian 'Him-ho-li-cui-hiat', kau boleh gunakan pedangmu buat menusuk dia!"
Pang Ing tidak paham tempat yang disebut itu, selagi ia hendak bertanya dimana letak 'Him-ho-li-cui-hiat', namun waktu itu sudah terdengar suara ribut-ribut di luar sana.
"He, siapa yang membuka pintu penjara?"
Demikian terdengar suara teriakan kaget di luar, menyusul ada orang berseru cepat lagi.
"He, lihat itu, ada mayat yang terapung di kolam teratai! Eh, ha ... bukankah itu mayat si Thaykam yang biasa mengantar makanan ke sini?"
Jika di luai orang lagi ribut-ribut karena peristiwa luar biasa yang mereka pergoki, adalah orang yang dibebaskan Pang Ing di dalam penjara itu ternyata sama sekali tidak ambil peduli, ia sedang mengulur dan menekuk kaki tangannya buat melemaskan otot yang terbelenggu.
Pang Ing mendengar juga dari buku tulang orang yang diulur dan ditekuk itu bersuara kertakan, ia mengerti Lwekang orang sudah terlatih sampai puncak kesempurnaan, dalam keadaan demikian, meski dalam hati ia masih benci pada lagaknya tadi, namun mengingat senasib, ia bergirang juga bisa mendapat bantuan seorang ko-sen dan lebih banyak harapan akan bisa meloloskan diri.
Kemudian saat ia hendak berkata, tiba-tiba ia didahului orang itu.
"Lekas kau buka jalan di depan dengan pedangmu, kau mau menurut atau tidak?"
Kata orang itu dengan suara tertahan sambil mendorong. Keruan Pang Ing menjadi gusar, segera ia ingin mendamprat, tetapi sebelum ia buka suara, tiba-tiba terdengar ada seruan di luar.
"Pat-pwelek, Pat-pwelek! He, kenapa tidak ada di sini, apa sudah kabur?"
Demikian seruan itu. Menyusul ada orang berteriak lebih keras lagi.
"Pat-pwelek, Pat-pwelek!"
Mendengar kata-kata panggilan ini, seketika Pang Ing terperanjat, namun ia bisa bertindak cepat, begitu ia menggeraki badan, ia menyingkir menyembunyikan diri ke sudut lain.
"Sekarang kau sudah mengetahui kedudukan diriku,"
Terdengar orang tadi berkata dengan suara tertahan.
"baiknya kau bantu aku menyelamatkan diri saja, kelak kalau aku bisa naik takhta, tentu aku akan angkat kau menjadi permaisuri!"
Kiranya orang ini adalah adik Kaisar Yong Ceng, yakni putra kedelapan dari Kaisar Khong-hi yang bernama In Gi.
Di antara para pangeran yang saling berebut kekuasaan dan berebut hak sebagai putra mahkota itu, Pat-hongcu atau pangeran kedelapan In Gi termasuk salah seorang pangeran yang paling aktip.
Meski tidak seperti Capsi-hongcu In Te yang memegang kekuasaan militer yang besar, tapi sejak kecil ia sudah belajar ilmu silat pada Lamma Merah dari Tibet, ditambah pula ia punya tenaga raksasa pembawaan, oleh karenanya Yong Ceng pun rada jeri padanya.
Setelah Yong Ceng naik takhta setahun, sesudah fondamennya terpupuk kuat, kemudian ia baru berani turun tangan terhadap saudaranya yang terhitung lawan berat ini.
Sebenarnya In Gi terhitung seperguruan dengan kaum Lamma agama Merah, ketika ia masih menjadi pangeran, Emopu sendiri adalah salah seorang kepercayaannya.
Kemudian setelah Yong Ceng berhasil merebut takhta, secara diam-diam ia menyeret Emopu ke pihaknya, dan dengan menggunakan tenaga Emopu pula, secara tiba-tiba dan di luar penjagaan baru bisa menawan In Gi.
Waktu itu Yong Ceng belum berhasil mencukur bersih semua begundal para pangeran, kalau In Gi dibunuh, ia kuatir akan menimbulkan huru-hara, maka ia hanya memecat saudaranya ini dari gelar pangeran dan dikurung di dalam penjara yang dipagari tembok tinggi, ia beri nama pula kepada saudaranya ini sebagai 'Akina', artinya 'anjing' dalam bahasa Boan, tiap hari ia memberi makan padanya dengan cara seperti anjing pula, dengan cara demikian In Gi telah dihina dan disiksa habis-habisan.
Kembali tadi, karena In Gi mengancam dan memancing dengan kedudukannya buat memaksa Pang Ing agar mau menolong dia, tak tahunya anak dara ini berbalik menjadi gusar sekali.
"Hm, kalian seperti anjing yang berebut miang, sangkut-paut apa dengan aku, kau boleh pergi menurut arahmu dan aku pergi menurut jurusanku sendiri!"
Demikian ia menjengek.
"Hm, kaisar yang sekarang saja tidak kupandang sebelah mata, siapa yang ingin menjadi permaisurimu?"
"Kurangajar, sungguh budak hina yang tak kenal kebaikan?"
In Gi mencaci-maki.
Dalam pada itu tiba-tiba terdengar suara tindakan orang di luar makin lama makin banyak, agaknya orang-orang di luar itu jeri terhadap ketangkasan In Gi, maka tak berani sembarang menerobos masuk, karena itu yang datang bertambah banyak dan menunggu di luar.
"Baiklah, biar kita terjang keluar bersama, kita bahu-membahu saling banta, sesudah lolos, kita boleh pergi menurut arah sendiri!"
Tiba-tiba In Gi berkata pula.
"Kalau begini masih pantas!"
Sahut Pang Ing mendongkol.
Saat itu juga, mendadak tertampak berkelebatnya sinar api, agaknya ada orang mulai memasuki penjara itu.
Seketika mata In Gi menyorotkan sinar bengis, mendadak ia menubruk pada Pang Ing sambil membentak.
"Pinjamkan pedangmu padaku!"
Akan tetagi mana bisa Pang Ing dipegang begitu saja, Ginkang nona ini sangat tinggi, dan ia sudah berjaga-jaga, ketika orang menubruk datang, dengan cepat ia melompat mundur ke belakang, tapi kembali In Gi menubruk secepat angin.
Sekali ini Pang Ing hanya menggeser dengan enteng, berbareng ia gunakan gaya 'meminjam tenaga lawan untuk memukul kembali lawan', mendadak ia gunakan tenaga tubrukan In Gi terus melemparkannya pergi hingga keluar pintu penjara.
Perubahan gerakan Pang Ing ini sama sekali tidak diduga In Gi, meski ln Gi berilmu silat tinggi, namun ia tidak menyangka bahwa dengan usia semuda Pang Ing ternyata bisa menggunakan kepandaian yang luar biasa ini, keruan seketika ia terlempar pergi dengan kepala di bawah dan kaki di atas, lalu terkapar di lantai.
"Hm, aku berniat menolong kau, tapi kau berbalik hanya mementingkan diri sendiri,"
Demikian diam-diam Pang Ing menggerutu dalam hati.
Segera pula ia melolos pedang, bersiap menghadapi musuh dengan bersembunyi di pojok kamar penjara itu.
Sementara itu terdengar suara riuh ramai di luar, kiranya In Gi mempunyai kepandaian Kim-kong-jiu-hoat, semacam ilmu pukulan tenaga raksasa dan ilmu Tiat-poh-san, semacam ilmu kebal, waktu dia jatuh terjungkal, para jago pengawal berbondong maju hendak membekuknya, di luar dugaan In Gi mendadak membalik tubuh dan melompat bangun, sekali ia mencengkeram, segera dua lawan kena dicekal terus dilemparkan ke dalam kolam.
Sudah tentu keadaan menjadi panik dan kacau-balau.
"Akina, berani sekali kau!"
Terdengar suara Haptoh membentak.
"Budi luhur Hongsiang mengampuni jiwamu, tapi kau malah hendak melarikan diri?"
"Kau sendirilah Akina, ini rasakan pukulanku!"
In Gi balas memaki sambil menghantam.
Maka terdengarlah oleh Pang Ing suara gedebukan yang ramai di luar disusul suara tindakan kaki yang kejar-mengejar, rupanya In Gi berhasil membobol kepungan dan Haptoh sedang mengudak bersama begundalnya.
Selang tidak lama suara orang perlahan-lahan menjauh, Pang Ing baru merasa lega.
"Kalau mereka saling bunuh-membunuh, inilah kesempatanku yang baik untuk meloloskan diri,"
Demikian pikirnya.
Karena itu ia lantas berjalan keluar perlahan, ia melongok keluar memeriksa keadaan.
Tetapi pada saat itu juga, sekonyong-konyong ada bayangan orang berkelebat, tahu-tahu seorang menerobos masuk pula ke dalam penjara itu, tanpa pikir lagi pedang Pang Ing lantas menikam, serangan Pang Ing ini cepat lagi ganas, tak terduga tikamannya ini mengenai tempat kosong, bahkan menerbitkan suara "erat"
Yang keras, kiranya ujung senjatanya telah menancap ke dalam dinding batu dan tak sempat dicabut kembali dengan segera.
Keruan tidak kepalang terkejut Pang Ing, bila musuh balas menyerang, pasti dia akan celaka.
Tak terduga orang itu tidak balas serangannya, sebaliknya terdengar orang itu berkata dengan suara rendah.
"Nona Ing, jangan kau kuatir, mari lekas ikut aku keluar dari sini!"
Sementara itu Pang Ing telah bisa mencabut pedangnya dari dinding, waktu ia tegasi, ia lihat pihak lain adalah seorang tua yang rambutnya sudah putih seluruhnya, tangan membawa tongkat, kelihatan sekali usianya sudah tua, tapi tubuhnya mengenakan pakaian seragam bayangkara istana.
Oleh karena itu Pang Ing merasa belum aman, ia siapkan pedang di tangan untuk menjaga segala kemungkinan.
"Sayang usiamu begini lanjut, apa kau masih ingin menjual jiwa untuk kaisar anjing itu?"
Segera ia membentak. Pang Ing menyangka pengawal tua ini hendak menggusur dirinya menghadap kaisar Yong Ceng. Di luar dugaan, orang tua itu ternyata hanya tersenyum saja.
"Betul hebat, umurmu sekecil ini, tetapi kau sudah sangat hati-hati sekali,"
Demikian ia memuji.
"Tetapi siapakah yang bilang aku hendak menjual nyawa untuk kaisar anjing itu?"
Mendengar orang pun mencaci-maki kaisar anjing, tentu saja Pang Ing heran dan bingung.
"Siapakah kau?"
Tanyanya kemudian.
"Aku ditugaskan oleh Kam-tayhiap untuk membawa kau keluar dari sini,"
Sahut orang tua itu. Akan tetapi Pang Ing masih belum mau percaya, ia masih siap siaga. Melihat sikap si gadis yang sangat waspada ini, kembali orang tua itu tertawa.
"Pernahkah kau mendengar nama Kau Sam-pian? Nah, dia itulah aku sendiri!"
Akhirnya orang tua ini menerangkan.
Sebagaimana diketahui, Kau Sam-pian adalah jago pengawal istana yang dahulu pernah menolong Teng Hiau-lan, belakangan ia kabur keluar istana dan mengasingkan diri bersama Ling-sian Hwe-sio, bekas kekasih ibu Hiau-lan.
Cerita ini sudah lama Pang Ing dengar dari Teng Hiau-lan, karenanya ia menjadi girang bercampur terkejut demi mengetahui siapa yang di hadapinya ini.
"Ah. kiranya kaulah Kau-lopepek!"
Katanya kemudian dengan girang.
Habis itu ia lantas memasukkan kembali pedang ke sarungnya, ia melangkah maju buat memberi hormat.
Di luar dugaan, sekonyong-konyong orang tua itu mengayun sebelah tangannya ke mukanya dan mengusap perlahan, seketika terasa dingin-dingin basah bercampur semacam bau busuk, sedang mata hampir tak bisa dipentang.
Pukulan orang ini ternyata ringan dan enteng saja, sedikitpun Pang Ing tidak merasakan sakit pada mukanya, gadis ini hanya terkaget saja.
"Nona Pang, jangan kau marah, kalau mukamu tidak dipoles sedikit lumpur, cara bagaimana kau bisa keluar dari taman ini,"
Sebelum Pang Ing mencabut lagi pedangnya, ia dengar orang tua ini sudah buka suara.
"Harap kau tahan sedikit, lumpur dari kolam itu memang sedikit berbau busuk!"
Pang Ing pikir ilmu silat orang tua ini sangat tinggi, kalau benar-benar hantamannya ditujukan pada dirinya, maka dapat dipastikan kepalanya sejak tadi sudah remuk.
Karenanya ia mau percaya bahwa orang tidak bermaksud jahat padanya.
Sementara itu sesudah orang tua itu membersihkan lumpur yang melekat di tangannya, lalu ia lemparkan lagi kepada Pang Ing satu buntalan kecil.
"Ini, lekas tukar pakaianmu!"
Katanya pula. Habis itu ia lantas membaliki tubuh ke jurusan lain. Waktu Pang Ing membuka buntalan itu, kiranya isinya adalah sepasang pakaian Thaykam, pakaian dayang istana.
"Sungguh lengkap cara kau berpikir,"
Dengan tertawa si nona memuji atas ketelitian penolongnya ini.
Sembari berganti pakaian ia pun mengajak bicara pada orang.
Maka tahulah akhirnya Pang Ing bahwa sesudah dirinya masuk istana, Kam Hong-ti dan Lu Si-nio menjadi kuatir dan kelabak-an, setelah berdaya, akhirnya anereka teringat pada diri Kau Sam-pian yang mengasingkan diri di Se-san (pegunungan barat di pinggir kotaraja) bersama Ling-sian, baik Kau Sam-pian maupun Ling-sian Hwesio cukup banyak mempunyai hubungan dengan orang dalam istana, mungkin kedua orang ini bisa berdaya.
Selain itu, tempat tinggal mereka pun sudah diketahui musuh, karenanya Kam Hong-ti dan kawan-kawannya malam itu juga lantas boyongan ke Se-san, di sana mereka bertemu dengan Kau Sam-pian dan Ling-sian untuk mencari jalan buat menolong Pang Ing.
Meski usia Kau Sam-pian sudah lanjut, tapi semangatnya masih menyala dan sangat simpatik, padahal ia sudah kabur dari istana, kalau sampai ia tertangkap, terang tidak bakal ada ampun lagi jiwanya.
Namun ia tidak pikirkan diri sendiri, dengan mengandalkan keadaan istana yang sudah dipahami, pula masih ada beberapa jagoan pengawal tua di dalam istana yang menjadi kawan karibnya, begitu diminta oleh Kam Hong-ti, tanpa pikir segera ia menyelundup masuk istana pada '-ari kedua.
Akan tetapi jago pengawal angkatan tua yang masih ada di situ tinggal tidak seberapa, pengaruh mereka pun kecil, hakikatnya tidak berguna sama sekali, maka sukar untuk mendekati kaisar buat mencari kabar Pang Ing, kalau tidak kebetulan terjadi peristiwa In Gi membikin ribut penjara, maka sekali-kali jangan harap Kau Sam-pian bisa menemukan Pang Ing.
Kembali tadi, setelah Pang Ing selesai bertukar pakaian dan selagi hendak keluar ikut Kau Sam-pian, tiba-tiba terdengar di luar penjara ada suara orang, dengan cepat Pang Ing menghunus pedang dan hendak menerjang keluar, akan tetapi ia keburu dicegah oleh Kau Sam-pian.
"Ha, Kau-loji, sungguh besar sekali nyalimu!"
Tiba-tiba terdengar suara teguran di luar.
Mendengar kata-kata orang, Pang Ing terkejut hingga keringat dingin membasahi tubuhnya, tetapi tampak Kau Sam-pian menyambut kata-kata orang tadi dengan gelak tertawa.
"Haha, masuklah, Lui-loji, bagaimana keadaan di luar sana?"
Sejenak kemudian, masuklah dari luar seorang bayangkara tua dengan membawa obor. waktu melihat Pang Ing, ia kelihatan kaget dan heran.
"Aku harus melindungi saudara cilik ini keluar dari sini, apa kau punya akal?"
Segera Kau Sam-pian minta pendapat orang. Kiranya pengawal tua she Lui ini bukan lain adalah sobat lama yang menerima kunjungan Kau Sam-pian secara rahasia.
"Apakah kau masuk istana dengan menghadapi bahaya hanya karena dia saja?"
Orang she Lui itu bertanya.
Agaknya ia heran kenapa Kau Sam-pian mau menghadapi bahaya hanya untuk satu Thaykam cilik, lalu ia mendekati Pang Ing terus hendak menarik tangan gadis ini, namun dengan sekali geser Pang Ing hindarkan cekalan orang.
Tetapi pengawal tua ini ternyata sangat jeli matanya, hanya sekilas saja ia sudah bisa melihat lumpur di muka orang yang masih basah itu.
"Ha, kiranya adalah seorang nona,"
Dengan tertawa ia berkata.
"Ya, meski di luar sudah gelap, namun mukamu masih perlu dipoles sedikit rata lagi supaya tidak kelihatan. Eh, Kau tua siapakah dia'?"
"Dia adalah Kui-hui yang baru diangkat Hongsiang sekarang ini!"
Sahut Kau Sam-pian. Pengawal tua itu bersuara kaget hingga mulutnya ternganga.
"Kau ... kau ... membikin onar saja,"
Katanya tak lancar.
"Tetapi apa kau pun tahu bahwa bukan saja dia ini adalah Kui-hui yang bara diangkat Hongsiang, bahkan ia adalah satu-satunya ahli-waris Thian-san-pay, anak murid Ie-locianpwe!"
Kau Sam-pian menjelaskan lebih jauh. Karena tambahan keterangan ini, semula pengawal tua ini tercengang, tapi segera berubah menjadi girang.
"Ah, pantas kau mau banting-tulang, kiranya kau hendak menolong anak murid Thian-san,"
Ujarnya kemudian seperti mengerti persoalannya.
"Ya, Thian-san-kiam-hoat selama ini menjadi pujaanku, kini ada kesempatan, bagaimanapun juga aku harus keluarkan sedikit tenaga untuk Ie-lihiap dari Thian-san!"
Hendaklah diketahui bahwa keagungan tingkatan le Lan-cu di kalangan Bu-lim boleh dikata sudah tiada bandingannya, betapa hebat dia punya Thian-san-kiam-hoat, seluruh jagat pun cukup mengetahui, orang Bu-lim menjunjung tinggi dan menghormatinya sebagai dewi pedang, bila ada kesempatan mengeluarkan tenaga buat orang tua ini dianggap sebagai suatu kehormatan bagi yang melakukan.
"Lui-loji, apa kau pun hendak angkat kaki dari sini?"
Begitulah Kau Sam-pian bertanya setelah mendengar ucapan orang tadi.
"Kenapa tidak, apa artinya hanya makan tidur di dalam istana menanti kematian, kan lebih baik angkat kaki saja ikut kau?"
Sahut pengawal tua itu tanpa ragu-ragu.
"Dan bagaimanakah kesudahan [n Gi tadi?"
Kau Sam-pian bertanya.
"Ia masih menempur Haptoh dan lain-lain dengan sengit di luar sana,"
Sahut pengawal tua itu.
"di luar Se-hoa-bun paling jarang penjaganya, kalau mau melarikan diri sekaranglah waktunya yang baik. Eh, kenapa begini tajam hidungmu, darimana kau tahu dia bersembunyi di dalam penjara ini?"
"Kau tentu tahu ilmu silat yang dilatih In Gi itu dari agama merah kaum Lamma,"
Sahut Kau Sam-pian.
"sedang mayat yang terapung di kolam teratai itu terdapat bekas jari di lehernya, sebaliknya miang leher sedikitpun tidak remuk, terang sekali bukan In Gi yang membunuhnya, lalu siapa lagi kalau bukan dia (maksudnya Pang Ing)?"
Memang Pang Ing sendiri lagi heran, setelah mendengar penjelasan ini, rasa curiganya seketika lenyap.
Maka dengan tidak sangsi lagi ia lantas ikut Kau Sam-pian kabur dari penjara rahasia itu.
Istana berderet dan sangat luas, waktu itu semua penjaga tertarik oleh peristiwa lolosnya In Gi, maka terhadap urusan Pang Ing berbalik menjadi kendur, dengan memilih jalan sepi Kau Sam-pian membawa Pang Ing keluar dari Se-hoa-bun atau pintu gerbang istana sebelah barat, dalam keadaan gelap ditambah pakaian mereka adalah pakaian seragam pengawal dan Thaykam, pula ada pengawal tua she Lui yang mencarikan jalan di depan, akhirnya tanpa rintangan mereka sampai di Se-hoa-bun, pintu gerbang benteng perbatasan istana sebelah barat.
Pengawal yang dinas menjaga pintu gerbang ini bernama Lui Hay-im, salah satu pemimpin besar kawanan Hiat-ti-cu.
Dari jauh Lui Hay-im telah dapat melihat Kau Sam-pian bertiga lagi mendatangi, ia menyangka orang adalah bayangkara istana, maka segera ia menegur.
"Hm, katanya In Gi sudah tertangkap kembali oleh Haptoh, di dalam sana sedang ribut tidak kepalang, kenapa kalian tidak ikut menonton?"
"Justru kami diperintahkan pergi menangkap begundal In Gi, lekas kau bukakan pintu,"
Sahut Kau Sam-pian.
"Adakah surat dinas?"
Tanya Lui Hay-im.
"Perlihatkan padanya!"
Sahut Kau Sam-pian pula.
Berbareng mendadak Pang Ing melompat maju, secepat kilat pedangnya lantas menusuk.
Lui Hay-im adalah orang yang dahulu menguber hendak menangkap Ciu Jing, dengan sendirinya ilmu silatnya tidak rendah, ketika Pang Ing mengirim tusukannya, ternyata dapat dihindarkan.
"Lekas tangkap penjahat!"
Segera Lui Hay-im berteriak minta bantuan.
Namun dengan cepat dan susul-menyusul Pang Ing menyerang tiga kali pula, sekalipun Lui Hay-im telah mengeluarkan seluruh kemampuannya, tapi ia hanya sanggup menghindar dua kali, serangan Pang Ing yang ketiga kali membikin dia terjungkal.
Tipu serangan Pang Ing itu adalah gerakan 'Beng-toh-chian-li' atau onta bagus menempuh ribuan li, satu di antara tipu serangan Thian-san-kiam-hoat yang hebat, mendadak ujung pedang memutar di tengah jalan, tiba-tiba menusuk ke bawah selagi Lui Hay-im melompat ke atas, keruan tungkak kakinya dengan tepat kena tertusuk ujung senjata, seketika ia terjungkal roboh.
Kau Sam-pian tidak membuang kesempatan itu, dengan cepat ia lantas membuka gembok pintu gerbang, tetapi sebelum mereka berhasil kabur, mendadak dari atas tembok benteng melompat turun dua orang, belum tiba orangnya, pedangnya sudah menyambar, dua batang senjata seketika menusuk leher Kau Sam-pian berbareng.
Kedua orang ini ternyata bukan lain daripada Hay-hun Hwesio dan muridnya, kepala suku Le dari pulau Haylam, Hwe-hun Tongcu Liong Bok-kong.
Sebenarnya Hay-hun Hwesio adalah jago pedang yang terkemuka di Haylam, cuma sayang nasibnya jelek, sejak ia menerima undangan Yong Ceng yang dahulu masih jadi Pangeran In Ceng, baru ia unjuk diri di Kangouw, beberapa kali ia mengalami kekalahan dalam pertempuran, sampai akhirnya pangkatnya terus merosot hingga menjadi Thongling (pemimpin regu) pasukan pengawal saja.
Sudah tentu Hay-hun Hwesio merasa penasaran sekali, sudah lama ia hendak unjuk ketangkasan untuk memulihkan pamornya.
Serangannya tadi merupakan seluruh tumpahan kemahirannya yang dia pelajari.
maka luar biasa lihainya, ia menyangka sekaligus pasti akan berhasil membinasakan musuh.
Di luar dugaan, Kau Sam-pian ternyata bukan lawan empuk, begitu melihat tipu serangan orang yang cukup ganas dan hebat itu, ia tidak lantas menangkis atau menghindarkan diri, tetapi ia malah mendahului menyerang musuh, sedikit mendakkan tubuh, kepalan kanan mendadak menggenjot perut lawan, berbareng kaki kiri menendang ke selangkangan, kedua tipu serangan yang lihai ini mengharuskan pihak lawan menolong diri sendiri lebih dahulu.
Oleh karenanya terpaksa Hay-hun Hwesio harus berkelit sehingga tusukannya tadi menjadi melenceng lewat di samping leher Kau Sam-pian, walaupun sedikit saja selisihnya, tapi telah memberi kesempatan pada Kau Sam-pian untuk menyelamatkan diri.
Pada saat yang sama, serangan Liong Bok-kong datangnya lebih lambat, karena itu tatkala pedangnya menusuk turun, hanya mengenai tempat kosong.
Dan selagi ia hendak ganti tipu serangan, dari samping Pang Ing telah menubruk maju dengan pedangnya yang menari seperti ular naga.
di antara berkelebatnya sinar pedang, sekejap saja ia sudah mengirim beberapa tipu serangan mematikan, sungguhpun Liong Bok-kong bukan lawan lemah, tetapi mana ia mampu menahan Thian-san-kiam-hoat yang tiada tandingannya di kolong langit ini, tak sampai lima gebrakan, tahu-tahu pergelangan tangannya sudah luka tertusuk hingga pedangnya jatuh ke tanah.
Sementara itu, di samping sana Kau Sam-pian pun sedang ramai bertarung melawan Hay-hun Hwesio, kepandaian mereka setan-ding dan tenaga sama kuat.
Tetapi menghadapi pedang Pang Ing yang berkelebat secepat angin, Hay-hun Hwesio menjadi jeri, ia bisa melihat gelagat jelek, lanpa pikir lagi segera ia angkat langkah seribu alias kabur.
Karena itu dengan leluasa Kau Sam-pian dan Pang Ing lantas membuka pintu gerbang benteng, mereka melarikan diri melalui Keng-san di belakang istana.
Ketika kawanan bayangkara memburu I iba, mereka sudah melintasi Keng-san dan menghilang tanpa bekas.
Kembali bercerita tentang Kam Hong-ti bersama Teng Hiaulan dan lain-lain sedang menanti di Se-san dengan tidak sabar, mereka menjadi kuatir ketika sudah jauh malam kawan yang ditunggu masih belum kembali.
Sampai fajar menyingsing, akhirnya terlihat Kau Sam-pian kembali bersama Pang Ing.
Waktu mendengar kejadian semalam, tanpa terasa Teng Hian-lan terkejut hingga mandi keringat dingin.
"Selanjutnya hendaklah kau jangan sembarang bertindak lagi,"
Ujar Lu Si-nio dengan tersenyum.
"apa yang hendak kau lakukan, paling baik kalau dirunding dahulu antara orang banyak?"
Dengan sendirinya Pang Ing merasa malu.
"Ya, aku telah membikin kalian ikut kuatir,"
Katanya kemudian dengan menunduk.
Lu Si-nio tertawa, ia tarik Pang Ing ke dekatnya dan membetulkan rambutnya yang kusut, sedang lumpur yang membikin kotor mukanya, di tengah jalan tadi telah dia kesut bersih.
Pang Ing hanya tinggal sehari semalam saja dalam istana, dalam waktu sesingkat itu ia bisa terluput dari bahaya, hal ini sebenarnya sangat beruntung baginya.
Akan tetapi karena itu pula, umur Teng Hiau-lan yang tadinya masih tujuh hari, kini hanya tingal lima hari saja.
Bila hal ini teringat oleh Pang Ing, ia menjadi kelabakan.
"Bagaimana rasamu sekarang?"
Berulang-ulang ia bertanya pada Hiau-lan.
"Tidak terasa ada sesuatu yang aneh, hanya tenagaku rasanya semakin lemah,"
Sahut Hiau-lan. Pang Ing menjadi bingung, matanya berkaca, air mata hendak menetes. Nampak sikap anak dara ini, Teng Hiau-lan coba tenangkan diri dan tertawa.
"Sudahlah, jangan kau kuatir, kalau bisa mati secara begini, sebenarnya baik juga,"
Katanya menghibur Pang Ing.
"Haha, coba pikir, di jagat ini ada berapa orang yang bisa mengetahui ajalnya sendiri sebelumnya? Apalagi kini aku didampingi para sobat-handai dan berpisah dalam keadaan tenteram."
Teng Hiau-lan sengaja berkata seperti tiada sesuatu yang dia pikirkan, adalah sebaliknya dalam pendengaran Pang Ing terasa tidak enak.
"Ing-moay,"
Tiba-tiba Lu Si-nio membuka suara.
"urusan ini masih belum putus harapan, marilah kita mengadakan perjalanan sekali lagi."
Sudah tentu ajakan ini diterima serentak oleh Pang Ing.
"Hayo, berangkat, sekalipun terjun ke lautan api atau ke dalam air mendidih, sekali-kali tidak nanti aku tolak,"
Serunya penuh semangat. Nampak sambutan spontan anak dara ini, Lu Si-nio tertawa.
"Tidak usah kau begini tegang, aku hanya mengajak kau pergi mengundang tabib,"
Katanya kemudian. Pang Ing tercengang sejenak oleh keterangan ini.
"Mengundang tabib?"
Ia menegas dengan heran.
"Apa kau maksudkan tabib she Yap? Bukankah kau bilang dia telah meninggalkan rumahnya dan menghilang ke tempat jauh?"
"Memang betul dia meninggalkan rumahnya, tetapi menghilang ke tempat jauh itulah belum,"
Sahut Si-nio.
"Chit-ko (maksudnya Kam Hong-ti) telah mendapat sedikit kabarnya. Baiknya kau mengaso dulu, sebentar lagi kita berangkat."
Kiranya tabib yang disebut itu bernama Yap Siau-siang, alias Boat-wan atau si taman bejat, usianya sekarang sudah mendekati delapan puluh tahun.
Dia bukan lain adalah Gwe-seng (anak saudara perempuan) Ciok Cin-hui, seorang pendekar pedang kenamaan di kotaraja pada masa enam-tujuh puluh tahun yang lalu.
Ciok Cin-hui dan Pho Jing-cu, tokoh Bu-kek-pay angkatan dulu, adalah sahabat karib (tentang lelakon Ciok Cin-hui dan Pho Jing-cu baca Thian-san-chit-kiam).
Semasa Yap Siau-siang berumur dua puluhan, waktu itu Pho Jing-cu masih belum wafat.
Yap Siau-siang sangat tertarik dan suka ilmu ketabiban, ia pernah mendapat petunjuk dari Pho Jing-cu dalam hal ini, oleh karenanya kemudian ia menjadi tabib kenamaan yang tiada tandingannya di zamannya.
Waktu mudanya Yap Siau-siang boleh dikata 'Bun-bu-cwan-cay' atau berkepandaian komplit dalam ilmu silat dan ilmu surat, sebenarnya semula ia mempunyai cita-cita mencari pangkat, tapi kemudian setelah mendapat petunjuk dari Pho Jing-cu, pula bisa membedakan situasi negara pada waktu itu, ia terima hidup sederhana dan mengabdi untuk sesamanya, ia menamakan dirinya sendiri 'Boat-wan' atau taman bejat.
Kemudian sesudah menginjak umur lebih enam puluh, orang-orang pun menyebutnya dengan 'Boat-wan Lojin' atau si kakek taman bejat tanpa namanya yang asli lagi.
Kira-kira sebulan yang lalu ia dipaksa salah seorang Pwe-lek (pangggilan putra bangsawan kerajaan Boan) untuk mengobati sakitnya, tetapi ia menolak, akibat tindakannya ini malam itu juga ia lantas meninggalkan kediamannya dan menghilang, di luaran ia mengeluarkan kabar bahwa dia pergi ke Kanglam buat menyambangi famili, dengan demikian ia menghindarkan incaran putra bangsawan itu.
Padahal sebenarnya ia hanya bersembunyi di rumah seorang sahabatnya di kabupaten Hway-yu-koan.
Hal ini berhasil diselidiki oleh Kam Hong-ti dengan bantuan seorang pemimpin perkumpulan rahasia di kotaraja, dapat diketahui pula kawan yang ditumpangi itu adalah seorang hartawan kecil di Hway-yu-koan, namanya Liok Khong, hidup Liok Khong ini hanya membuka sekolah saja, banyak membaca kitab dan pikirannya maju, ia tidak mengejar kedudukan, namun suka menabuh khim, tiap tahun Boat-wan Lojin sekali atau dua kali pergi mengunjunginya buat mendengarkan seni menabuh khim.
"Berapa jauh Hway-yu dari sini?"
Pang Ing bertanya dengan tak sabar.
"Kira-kira perjalanan dua hari,"
Sahut Si-nio.
"Tetapi dengan kecepatan kita berjalan, sehari saja sudah bisa sampai, dua atau tiga hari mungkin kita sudah bisa pulang-pergi, pasti tidak akan melampaui batas waktu."
Keruan Pang Ing sangat girang, ia merasa lega, maka ia bisa tidur dengan tenang, setelah bersantap lohor, bersama Lu Si-nio mereka lantas berangkat.
Menjelang petang mereka sudah sampai di Jiang-peng, dari sini hanya berjarak antara lima-enam puluh li saja dari Hway-yu.
Kalau menuruti kemauan Pang Ing, malam itu juga mereka akan melanjutkan perjalanan, Si-nio menjadi geli melihat ketidak-sabaran anak dara ini.
"Mereka itu tinggal di suatu pedusunan di daerah Hway-yu,"
Demikian dengan tertawa Si-nio menerangkan.
"Orang desa biasanya tidur lebih dini, pula kita tidak tahu yang mana rumahnya, tengah malam buta mencari orang buat bertanya pun kurang leluasa, apalagi kakek itu sudah berumur dekat delapan puluh, seandainya dapat menemukan dia, tidak enak juga minta dia berangkat di tengah malam, betapapun kau tak sabar toh hanya semalam ini saja. besok sajalah kita berangkat ke sana!"
Setelah Pang Ing pikir, beralasan juga kata-kata Si-nio tadi.
mereka lantas bermalam di Jiang-peng.
Besoknya pagi-pagi sekali, fajar baru menyingsing, Lu Si-nio dan Pang Ing sudah berangkat dengan ilmu entengi tubuh, sekaligus mereka berlari sejauh lebih tiga puluh li, sementara itu cuaca terang-benderang, mereka sudah memasuki daerah kabupaten Hway-yu-koan.
Angin bertiup sepoi-sepoi basah, hawa sejuk nyaman, Pang Ing merasa semangatnya penuh dan perasaannya lapang.
Mereka merasa tidak enak berlari dengan ilmu entengi tubuh di jalan raya, maka jalanan yang mereka pilih adalah jalanan kecil melalui bukit-bukit.
"Itu, di ujung tanah datar sana, bukankah ada sebuah bukit, di kaki bukjt itulah terdapat dusun kecil, dusun itulah kampung kediaman mereka yang bernama Ui-tiok-jun,"
Demikian Si-nio menerangkan sambil menunjuk pada tempat datar di sebelah bukit sana.
"Mungkin kita perlu menempuh tiga puluhan li lagi, tetapi dengan kecepatan berjalan kita, setibanya di sana, mungkin mereka masih belum sarapan pagi."
Sebaliknya demi tahu sudah hampir sampai tempatnya, Pang Ing malah merasa kuatir dan ragu-ragu.
"Bukankah kau bilang tabiat Boat-wan Lojin itu sangat aneh?"
Demikian ia bertanya.
"Dan bagaimana baiknya kalau dia tak mau mengobati Teng-sioksiok?"
"Jangan kuatir,"
Sahut Si-nio menghibur.
"Dia adalah sahabat pena Engkongku yang kental. Kalau kita terangkan asal-usul diri kita, tidak nanti dia menolak permohonan kita."
Tengah mereka bicara, tiba-tiba tertampak di antara gili-gili sawah di bawah bukit sana, lapat-lapat ada bayangan orang sedang kejar-mengejar, suasana pagi yang sunyi itu, dari jauh bisa mendengar dengan jelas suara bentakan orang yang sedang bertempur.
Tentu saja Lu Si-nio sangat heran, ia tidak mengerti mengapa pagi-pagi ada orang bertempur di tanah pegunungan ini.
Ketika ia mendaki ke tempat yang lebih tinggi dan memandang, sekonyong-konyong ia kaget dan bingung.
Waktu Pang Ing memandang mengikuti petunjuk Si-nio, maka terlihatlah olehnya di tempat jauh di bawah bukit, di antara gerombolan orang yang saling mengudak itu ada seorang gadis, meski wajah gadis itu tidak jelas kelihatan, tetapi perawakannya terang sudah dia kenal.
Perasaan Pang Ing seketika terguncang keras.
"Kelihatannya dia sangat mirip dengan kau bukan?"
Tanya Si-nio.
"Ya, tentu dia adalah adik perempuanku yang hilang itu!"
Seru Pang Ing kemudian.
"Hayo, marilah kita lekas menyusulnya!"
Akan tetapi jarak di antara sawah dan bukit dimana mereka berada itu terlalu jauh, rombongan orang yang saling kejar itu, setelah bertarung kian-kemari, kemudian dengan cepat tersebar di antara lembah pegunungan dan menghilang.
Pang Ing merasa sayang telah kehilangan kesempatan ini, ia coba tenangkan dirinya, pikirnya pula.
"Kini lebih penting menolong Teng-sioksiok, tidak boleh membuang waktu lagi untuk mencari jejak gadis itu."
Karena pikiran ini, ia hanya menghela napas.
"Ai, kembali harus melewatkan kesempatan baik lagi,"
Ia bergumam sendiri.
"Jangan kualir,"
Lu Si-nio coba menghibur.
"Asal kita sudah mengetahui dia berada di sekitar sini, sesudah kita berhasil mengundang tabibnya dan setelah Hiau-lan tertolong, kita lantas mencarinya ke sini lagi."
Begitulah mereka lantas turun dari bukit itu, ketika sampai di Ui-tiok-jun, waktu itu belum lagi lohor.
Dengan gampang saja rumah orang she Liok itu mereka dapatkan dari petunjuk seorang penduduk kampung.
Rumah keluarga Liok yang mereka cari itu ternyata berada di sebelah barat kampung, di depan pintu terdapat sebuah sungai kecil yang mengalirkan air jernih, di belakang rumah ada hutan bambu yang luas, pemandangan sekitarnya sangat indah dan hawa nyaman.
Ketika mereka sampai di depan pintu, mereka lihat pintu gerbang terpentang lebar dan di dalam riuh-ramai dengan suara orang.
Menurut adat sebagai orang muda yang minta bertemu dengan orang tua, Lu Si-nio mengeruk daun pintu beberapa kali, akan tetapi sudah ditunggu ternyata tiada seorang pun yang keluar, sebaliknya terdengar suara orang ribut seperti sedang bertengkar.
"Secara baik-baik kami undang kau, sebenarnya kau mau pergi atau tidak?"
Demikian terdengar seman seorang.
"Kalau tidak mau pergi, paksa saja,"
Sambut suara yang lain.
"Mengingat hubunganmu dengan Bu-kek-pay, kalau kau tidak pergi, apa kau tidak menyesal?"
Teriak yang lain lagi.
Begitulah suara ribut-ribut itu bercampur-aduk, di antaranya bercampur pula suara seorang tua, akan tetapi suaranya tenggelam di antara suara orang lain yang lebih banyak hingga tidak jelas terdengar.
"Celaka, tentu ada orang hendak memaksa si kakek she Yap pergi mengobati orang yang dia sendiri tidak sudi mengobatinya,"
Kata Si-nio.
"Lekas kita masuk dan mengusir kawanan penyatron itu,"
Ajak Pang Ing. Sementara itu dari dalam terdengar pula suara teriakan.
"Kalau bukan kau, lalu siapa lagi? Jangan kau coba mendustai kami, sudah lama kami tahu kau bersembunyi di sini. Putra bangsawan boleh kau tolak mengobatinya, tetapi untuk kami sekali-kali kau tidak boleh menolak!"
Lalu terdengar yang lain mengimbangi.
"Ya, sebagai tabib seharusnya kau berhati welas-asih, apa kau tega membiarkan saudaraku cacat begitu saja?"
Pang Ing menjadi marah mendengar suara orang itu, ia pun titi a k sabar menunggu lagi.
"Mana ada orang mengundang tabib secara paksa, kawanan penyatron ini betul-betul keterlaluan!"
Seru Pang Ing.
Habis itu tanpa pikir lagi, ia mencabut pedang terus menerjang ke dalam.
Maka tertampaklah olehnya di tengah ruangan tamu di dalam itu terdapat empat orang merubungi seorang tua.
Karena datangnya Pang Ing yang mendadak ini, keempat orang itu terus meninggalkan si orang tua dan memapak anak dara ini.
Di antara empat orang ini, yang tiga adalah lelaki tegap yang kelihatan sangat kasar, sedang seorang lagi juga orang tua, wajahnya tampak alim dan welas-asih, sama sekali tak mirip orang jahat.
"Kau bandit wanita telah melukai saudara kami, apa kau masih kurang terima?"
Sekonyong-konyong ketiga lelaki tegap tadi membentak Pang Ing.
Sudah tentu anak dara ini tercengang, ia bingung kenapa orang datang-datang lantas membentak padanya.
Dalam pada itu ketiga lelaki itu sudah melolos senjata terus merubung maju.
"Nanti dulu,"
Mendadak si kakek berseru, lalu ia bertanya.
"Kau pernah apanya Lian Keng-hiau?"
Akan tetapi seruannya ternyata terlambat, serbuan ketiga lelaki tadi terlalu cepat, sebaliknya Pang Ing sendiri juga mendongkol, maka gebrakan kedua belah pihak tidak keburu dicegah lagi.
Maka terdengar serentetan suara nyaring beradunya senjata, ketika Pang Ing mengayunkan pedang ke kanan dan ke kiri, ternyata senjata ketiga lawannya kena ditabas kutung semua, bahkan saking cepatnya ia menggeraki senjata, seorang di antara ketiga lelaki itu kena ditusuk tulang iganya.
Orang tua tadi menjadi gusar demi melihat kawannya dilukai.
"Masih semuda ini, kenapa kau begini keji?"
Dampratnya gusar.
Berbareng itu ia angkat senjatanya yang berupa sebatang Hun-cwe atau pipa tembakau yang panjang (pipa cangklong), mendadak memukul kepala Pang Ing, sedang sebelah tangannya dengan cepat menutuk 'Koh-cing-hiat' di bagian iga.
"Wajah orang tua ini tampaknya welas-asih, tak tahunya sama jahatnya seperti yang lain,"
Demikian diam-diam Pang Ing membatin, segera pedangnya berputar, ia lantas balas menyerang, kontan ia balas menusuk tempat berbahaya di tubuh orang.
Namun cepat orang tua itu telah putar tubuh dan menggeser langkah, menyusul Huncwe yang terbuat dari besi itu menangkis ke atas sambil membentur ke kanan dan ke kiri dengan gerakan 'Hun-mo-sam-bu' atau bendera berkibar tiga kali, sekali gerakan tiga macam serangan, ilmu silatnya ternyata luar biasa.
Pang Ing tak berani memandang enteng lawan, ia mainkan pedangnya dengan tipu serangan lihai dari Tui-hong-kiam-hoat, beruntun 'Liu sing-hui-say' atau bintang meluncur terbang, lalu 'Ya-ma-cau-thian' atau kuda liar merusak sawah, pedangnya menusuk ke atas dan ke bawah dua kali, ke atas mengarah kedua mata musuh dan ke bawah menusuk perut, gaya serangannya sangat lihai.
Terpaksa orang tua itu menarik kembali Huncwenya untuk menangkis, dari menyerang terpaksa ia menjaga diri.
Sebaliknya karena pedangnya berbentur dengan Huncwe orang, Pang Ing merasakan juga tangannya pegal kesemutan.
"Tobat, sungguh tidak punya aturan, tempatku ini bukan medan perang, kenapa kalian sembarangan berkeliaran di sini dan saling labrak!"
Demikian ia berteriak.
Sama sekali tidak disadari Pang Ing, bahwa orang tua yang lagi bergebrak dengan dirinya ini justru adalah dia punya Gwa-kong atau engkong luar yang bernama Khong Liang.
Sewaktu Pang Ing dan Pang Lin merayakan hari ulang tahun yang pertama, Khong Liang sebagai Gwa-kong dari kedua dara ini telah bertamu ke rumahnya, tetapi kebetulan malam itu kawanan Hiat-ti-cu datang menguber dan hendak menangkap Ciu Jing, dalam pertarungan sengit melawan kawanan Hiat-ti-cu, Engkong dan ayah kedua dara itu ikut menjadi korban keganasan Hiat-ti-cu.
Ciong Ban-tong yang juga hadir pada malam itu untuk memenuhi janji Ciu Jing, akhirnya dapat melarikan diri bersama Khong Liang dengan membawa Pang Lin.
Ciong Ban-tong sendiri menjadi guru sekolah keluarga Lian demi menghindari pencarian musuh, maka ia tidak leluasa tinggal bersama Khong Liang, Ciong Ban-tong lalu perantarakan orang tua itu ke Thian-tay-san, tempat Thio Ling-hong Cecu.
Tingkatan Thio Ling-hong masih lebih tua setingkat daripada Ciong Ban-tong, ia menciptakan sendiri ilmu silat golongan Thian-tay-pay, ia adalah bandit terkenal di kalangan Lok-lim.
Khong Liang sendiri adalah seorang guru silat pedusunan yang sederhana, sebenarnya ia tidak ingin ikut menjadi bandit, akan tetapi keadaan memaksa, ia kepepet dan terjun juga ke dalam kalangan Lok-lim.
Thio Ling-hong sangat polos dan suka berterus-terang, ia suka pula pada kejujuran dan kesederhanaan Khong Liang, maka kedatangan Khong Liang telah dia sambut dengan baik, tabiat mereka pun agaknya cocok.
Bila ada waktu senggang malahan Thio Ling-hong suka memberi petunjuk tentang ilmu silat, belakangan malah Khong Liang diangkat menjadi Hu-cecu atau wakil Cecu (Cecu adalah pemimpin sesuatu perkampungan atau pangkalan kaum bandit di pegunungan).
Umur Khong Liang dan Thio Ling-hong sebenarnya hanya selisih tujuh atau delapan tahun saja, sebenarnya tidak enak buat Thio Ling-hong menerima orang sebagai murid, akan tetapi Khong Liang merasa hutang budi, ia berkeras hendak mengangkat guru padanya, akhirnya pada saat sebelum wafatnya Thio Ling-hong, terkabullah keinginannya dan diterima sebagai murid.
Sesudah Thio Ling-hong wafat, putranya Thio Thian-ti, telah menggantikannya sebagai Cecu, Khong Liang pun tetap tinggal di Thian-tay-san untuk membantunya.
Cuma sayang kecakapan Thio Thian-ti jauh dibanding ayahnya, beberapa kali digempur pasukan pemerintah kekuatannya makin hari semakin merosot dan lemah.
Kala itu Ciong Ban-tong sudah tewas, ketika mendapat kabar itu, sudah tentu Khong Liang sangat berduka.
Ia mengirim orang buat mencari kabar dimana adanya Pang Lin, akan tetap' hasilnya nihil, anak dara ini telah hilang tanpa bekas.
Pada suatu hari, dalam pasang omongnya dengan Thio Thian-ti, Khong Liang bicara tentang tewasnya Ciong Ban-tong, ilmu silat Bu-kek-pay pun menjadi putus tiada turunan lagi dan entah Kiam-boh dan Ih-su, yakni kitab ajaran ilmu pedang dan kitab pelajaran ilmu ketabiban tinggalan Pho Jing-cu entah jatuh di tangan siapa.
Mendengar cerita ini, tiba-tiba timbul rasa serakah pada diri Thio Thian-ti, diam-diam ia mengirim dua muridnya ke rumah keluarga Lian untuk mencari kitab pusaka itu, tak terduga kedua muridnya itu hanya mengantar kematian saja, seperti diketahui mereka telah dibunuh oleh Pang Lin yang waktu itu berada di kamar Ciong Ban-tong.
Kejadian ini baru setengah tahun kemudian diketahui oleh Thio Thian-ti, maka ia tak berani lagi mengirim orang pergi ke sana.
Lewat beberapa tahun pula, Thio Thian-ti telah digempur dengan hebat oleh pasukan pemerintah, benteng kena dibakar, terpaksa ia melarikan diri bersama belasan anak buahnya dan Khong Liang.
Sejak itulah mereka lantas bergelandangan di Kangouw tanpa tempat tinggal yang tetap.
Beruntung meski ia sudah kehilangan pangkalannya di Thian-tay-san, akan tetapi jelek-jelk ia terhitung ketua Thian-tay-pay, kawan-kawan kalangan Bu-lim masih cukup hormat padanya.
Seringkah kalau ada pasukan pemerintah hendak menawan dia, lebih dulu ada kawan Kangouw yang mengirim berita padanya, dengan cara begitu mereka melewatkan kehidupan Kangouw.
Tahun ini kembali Thian-ti ingat pada kitab pusaka tinggalan Pho Jing-cu, ia telah mendatangi Tanliu di Soatang buat mencarinya lagi, kebetulan waktu itu Li Ti dan Pang Lin sedang lari keluar dari rumah orang she Lian.
Sementara itu Thian-ti sudah lama mendapat tahu wajah Pang Lin yang menjadi pembunuh kedua muridnya, karena itulah sepanjang jalan ia mengirim orangnya menguntit jejak anak dara itu hingga akhirnya mengejar sampai di sekitar Pakkhia.
Pada hari itu Khong Liang berjalan di depan bersama beberapa anak murid Thio Thian-ti, tiba-tiba mereka bertemu dengan Li Ti dan Pang Lin di tanah datar dekat Hway-yu, segera anak murid Fhian-ti maju mengeroyok, tapi mereka berbalik kena dilukai tiga orang oleh pisau Pang Lin yang beracun, syukur mereka keburu dilindungi Khong Liang dari belakang dan tidak sampai ada yang terbunuh.
Di lain pihak Pang Lin dan Li Ti menjadi kuatir juga.
pertama mereka tidak kenal asal-usul orang-orang ini, mereka takut pula kalau sampai terjadi ribut-ribut tentu akan menarik perhatian kawanan bayangkara istana, maka sesudah melabrak orang, secara tergesa-gesa mereka lantas kabur dan menyembunyikan diri di atas bukit di sekitarnya.
Cara turun tangan Pang Lin memang sangat keji, tiga orang yang dia lukai itu bukan saja jatuh semaput, bahkan tulang kakinya patah remuk, besar kemungkinan akan menjadi cacat selamanya.
Sudah tentu Thio Thian-ti gusar ketika kemudian mengetahui tiga anak muridnya terluka.
Akan tetapi lebih dulu ia harus berusaha menolong yang terluka, ia tidak sempat mencari musuh.
Thian-ti dan kawan-kawan sudah berkeliaran kian-kemari di Kangouw, tapi mereka selalu taat pada peraturan Kangouw dan Lok-lim umumnya, dimana mereka berada, tentu mereka mencari tahu tokoh ternama setempat, yakni meliputi guru silat, hartawan terkemuka dan orang kosen lainnya.
Oleh karena obat luka yang Thian-ti bawa tidak cocok untuk menyembuhkan luka muridnya, ia teringat kepada tabib ternama Boat-wan Lojin yang kebetulan bersembunyi di tempat keluarga Liok di Ui-tiok-jun, maka ia lantas minta Khong Liang membawa pengikutnya pergi mengundang orang.
Sebab ia cukup tahu bahwa Boat-wan Lojin mempunyai hubungan yang baik dengan Bu-kek-pay, sedang Khong Liang adalah sobat baik Ciong Ban-tong, Ciang-bun Bu-kek-pay yang lalu, oleh karena itu, kalau Khong Liang yang mengundangnya mungkin orang tidak akan menolak mengingat tali persahabatan tadi.
Tidak terduga, justru di rumah keluarga Liok itulah, sebelum Khong Liang dapat mengundang Boat-wan Lojin, sebaliknya ia ketemu cucu luarnya, Pang Ing, yang dia tidak kenali lagi.
Sementara itu Khong Liang sudah belajar silat dari golongan Thian-tay-pay, ditambah gemblengan selama delapan belas tahun ini, dengan sendirinya ia tidak bisa lagi dipandang enteng.
Begitulah, maka setelah Pang Ing merangsek belasan jurus dan masih belum bisa mengalahkan orang, segera Kiam-hoatnya dia ubah, susul-menyusul ia keluarkan Tui-hong-kiam-hoat yang hebat ditambah dengan Ginkang yang tinggi, ia mengincar tempat luang musuh, pedangnya menyambar kian-kemari laksana sinar kilat yang menari mengelilingi Khong Liang.
Usia Khong Liang sudah lanjut, dengan sendirinya kalah gesit dibanding Pang Ing, keruan ia tercecar oleh Tui-hong-kiam-hoat si gadis hingga kalang-kabut kerepotan.
Sebaliknya makin lama Pang Ing makin gencar menyerang, maka tampaknya sebentar lagi Khong Liang pasti akan terluka oleh senjata Pang Ing.
Nampak itu, Lu Si-nio mendadak menyela di tengah dua orang yang lagi saling labrak itu, dengan tangan kiri ia menarik mundur Pang Ing, sedang tangan kanan merebut Huncwe besi Khong Liang, tapi segera ia mengangsurkannya kembali kepada pemiliknya.
"Kau orang tua ini harap mengaso dahulu."
Demikian ia berkata.
"Mengundang tabib perlu juga kerelaan kedua belah pihak dan tidak boleh main paksa. Adik perempuanku ini memang keras wataknya, lekas kau pergi saja!"
Dengan mengunjuk kepandaian merebut Huncwe orang tadi, Lu Si-nio telah membikin Khong Liang ternganga, kesima oleh kesehatan dan kelihaian luar biasa yang boleh dikata belum pernah dilihat selama hidupnya.
Keruan Khong Liang tak berani melawan lagi, segera ia putar tubuh terus pergi.
Anak buahnya menggendong kawan-kawan yang menderita luka dan segera pula menyusul pergi.
Lalu Lu Si-nio maju memberi hormat pada orang tua yang dirubung kawanan penyatron tadi.
"Kalian sudah cukup membikin ribut di sini belum?"
Tiba-tiba orang tua itu membalas hormat orang dengan suara teriakan. Sudah tentu Lu Si-nio tercengang sejenak.
"Yap-kongkong ...."
Selagi ia hendak memperkenalkan diri, tiba-tiba mata orang tua itu mendelik terus berdiri sambil menggebrak meja.
"Sudah sejak tadi aku bilang tidak paham pertabiban, pula aku bukan Yap-kongkong apa segala yang hendak kau cari, apalagi yang hendak kalian ributkan?"
Dampratnya dengan gusar.
"Sudahlah, lebih baik kalian bunuh aku, supaya aku bisa lebih enak dan tenang."
"Kau bukan Yap-kongkong?"
Tanya Lu Si-r.io terperanjat.
"Kalau aku bilang bukan, ya tetap bukan,"
Orang tua itu berteriak lagi dengan gemas.
"Kalau kau mau tahu, aku ini duduk tidak ganti nama, jalan tidak tukar she, diriku yang benar she Liok bernama Khong, hidupku hanya menabuh Khim (kecapi), tapi tabuhanku juga tidak diperdengarkan kepada kalian! Nah, sudah terang belum, sekarang kau mau bunuh aku, boleh lekas bunuh, kalau tidak, aku akan tidur!"
Habis berkata, dengan masih marah-marah orang tua itu lantas kebut lengan bajunya hendak masuk ke ruangan belakang.
Keruan Lu Si-nio dan Pang Ing yang datangnya dengan hati mantap, setelah mendengar keterangan orang tadi, seketika merasa sangat kecewa, dengan penuh keyakinan mereka menyangka orang tua itu tentu adalah Roat-wan Lojin, siapa tahu ternyata bukan orang yang hendak mereka cari.
"Kalau begitu, numpang tanya dimanakah Yap-kongkong?"
Dengan cepat Pang Ing melompat mengadang di depan orang dan bertanya lagi.
"Tidak tahu,"
Sahut orang tua itu membentak dengan mata melotot.
"Tahu juga takkan kukatakan padamu! Aku sudah cukup dibikin ribut oleh kalian, apa suruh kalian pergi dan jangan ribut lagi?"
Nampak gelagat bisa runyam, lalu Lu Si-nio tampil ke depan.
"Cucu perempuan Lu Liu-liang dari Ciatkang menghaturkan hormat kepada kau orang tua,"
Dengan cepat ia memperkenalkan diri. Karena kata-kata Si-nio ini, tertampak Liok Khong agak terkejut, ia berpaling.
"Apa kau bilang?"
Ia menegas.
"Kau ini cucu perempuan Lu Liu-liang?"
"Ya, mendiang engkongku sering menyebut Yap-kongkong dan engkau berdua orang tua, aku dipesan kalau kebetulan datang ke kotaraja, harus datang memberi hormat pada kalian,"
Kata Si-nio lebih lanjut. Karena penuturan Si-nio yang merendah dan sopan ini, seketika muka Liok Khong berubah lain.
"Apa betul? Kiranya engkongmu juga tahu di jagal ini ada manusia seperti aku ini?"
Tanyanya kemudian.
"Tentu saja, seni tabuhan Khim engkau tiada bandingannya di kolong langit ini, siapa yang tidak kenal!"
Si-nio mengumpak.
"Tinggi gunung air mengalir, apakah maksud tujuan yang sebenarnya?"
Tiba-tiba Liok Khong berkata memakai syair kuno.
"Kecuali terharu mendapatkan orang yang kenal dirinya. Ciong Cu-ki masih menggunakan kesempatan itu untuk menghibur Pek Ga,"
Sahut Lu Si-nio dengan syair juga.
"Menghibur apa?"
Tanya Liok Khong.
"Ya, menghiburnya agar melepaskan kedudukan dan kembali ke keindahan alam abadi. Cuma kampung halaman dengan alam semesta yang indah permai barulah dapat menggemakan suara Khim,"
Sahut Si-nio. Liok Khong bersuara tanda setuju, habis itu ia lantas mengambil sebuah Khim kuno, ia letakkan di atas meja dan mulai menabuh.
"Kau masih ada harganya buat mendengarkan suara Khim yang kutabuh,"
Ujarnya kemudian, lalu ia duduk tenang dengan mata meram.
"Adakah sesuatu yang kau dengar?"
Tiba-tiba orang tua itu bertanya setelah menabuh sejenak.
"Ya, terima kasih pada duka cita Lotiang, juga terima kasih pada dorongan semangatmu,"
Sahut Si-nio dengan mengucurkan air mata.
Kiranya lagu yang dipetik Liok Khong tadi, yang pertama menyatakan ikut berduka cita atas nasib keluarganya yang malang, kemudian lagu yang lain memuja jiwa kaum patriot dengan maksud menganjurkan Lu Si-nio agar maju terus tanpa gentar.
Dengan lagu-lagu ini, agaknya nama Lu Si-nio yang berbudi luhur dan berjiwa pahlawan sudah pernah dia dengar, juga Lu Si-nio sendiri paham tentang seni tetabuhan, maka jawaban itu tepat benar sesuai makna lagunya.
"Ehm, kau tidak berdusta, kau memang cucu perempuan Lu Liu-liang,"
Kata Liok Khong kemudian.
"Ada seorang kawan karibku, jiwanya terancam tinggal satu-dua hari ini saja, maka perlu mengundang Boat-wan Lojin buat mengobatinya,"
Tutur Si-nio.
"Tetapi setengah bulan yang lalu dia sudah meninggalkan tempatku ini,"
Sahut Liok Khong.
"Kemanakah dia? Dapatkah Lotiang memberitahu?"
Tanya Si-nio tak sabar.
"Baiklah, mengingat engkongmu, biarlah kau pergi meributi Yap-lothau,"
Kata Liok Khong dengan tersenyum.
"Yap-lothau (kakek she Yap) punya sobat lain she Tan yang tinggal di kampung Kong-ceng sebelah timur Pat-tat-nia (bukit Pa-ta-ling yang tersohor di luar kota Peking), kecuali itu ia masih punya murid she Nyo yang tinggal di Lam-kau, sebelah barat Pat-tat-nia. Kedua orang ini telah mengundang dia ke sana secara bergilir. Aku sendiri pun tidak tahu sekarang dia tinggal dimana. Pendeknya pasti berada pada salah satu alamat tadi. Kong-ceng atau Lam-kau jaraknya dari sini lebih seratus li, kalian boleh mengaso semalam dulu di sini, besok saja baru berangkat."
"Terima kasih, setelah kami temukan Yap-kongkong, kelak tentu akan kembali lagi buat mendengarkan suara Khim,"
Sahut Si-nio dengan hormat.
"Baik juga,"
Ujar Liok Khong. Habis itu ia menghela napas dan menyambung lagi.
"Orang yang paham mendengarkan suara Khim tabuhanku, agaknya sudah tidak banyak lagi sekarang!"
Maka Lu Si-nio dan Pang Ing mohon diri. Tatkala itu hari sudah petang.
"Ai, sungguh tidak terduga kejadian bisa begini berliku-liku, baiknya membagi dua jalan saja,"
Demikian Si-nio berunding dengan Pang Ing.
"Biarlah aku menuju ke Kong-ceng untuk mencari pelukis she Tan, ingat, kau ke Lam-kau ke rumah muridnya she Nyo itu, kau harus berlaku hormat kepada kaum Cianpwe, apapun yang terjadi kau harus sabar."
Atas pesan itu, muka Pang Ing menjadi merah jengah.
"Sudah tentu,"
Sahutnya kemudian.
Maka berangkatlah mereka pergi mencari Yap Siau-siang dengan membagi dua jurusan.
Pang Ing menuju ke Lam-kau, menurut rekaannya, jika menemukan tabib itu nanti segera ia akan menyewa kereta dan mengundangnya berangkat, ia taksir empat hari pasti dapat sampai di rumah.
Akan tetapi itu berarti tepat dengan hari ajalnya Hiau-lan.
Oleh karena itu, hatinya sangat gelisah dan cemas, ia percepat langkahnya.
Tetapi justru karena ketidak sabarannya inilah ia kesa-sar, syukur ia lantas tahu setelah bertanya orang di tepi jalan, dengan demikian setelah tengah malam baru ia sampai di Lam-kau.
Pang Ing ingat baik-baik pesan Lu Si-nio, maka ia tak berani mengganggu orang tua di tengah malam, akan tetapi ia pun merasa tak sabar.
Ia pikir.
"Biarlah aku menyelidiki dulu ke rumah orang she Nyo itu, setelah tahu Boat-wan Lojin betul ada di situ baru hatiku bisa tenteram."
Karena itu, ia lantas mengetuk pintu rumah seorang penduduk, ia bertanya dimana letak rumah keluarga Nyo.
Penduduk pedusunan pada umumnya sangat simpatik, atas pertanyaan si nona segera ditunjukkan dimana tempat orang she Nyo itu.
Pang Ing segera menuju ke jurusan yang ditunjuk-setelah menghaturkan terima kasihnya.
Setiba di rumah yang dicari, Pang Ing melompat ke atas rumah, ia lihat dalam rumah masih terang dengan sinar lampu.
"Sungguh hebat sekali semangat orang tua ini, hari sudah larut malam masih belum tidur,"
Demikian Pang Ing membatin.
Sebenarnya dia hendak turun untuk minta bertemu, akan tetapi ia kuatir kalau membikin terkejut orang, maka ia lantas mendekam di atas genting untuk mengintai lebih jauh.
Ia lihat di dalam rumah itu menyala dua lampu minyak dari gelas, di atas meja terdapat sebuah Hiolo yang lagi mengepulkan asap wangi.
Terlihat seorang tua dengan tegak duduk di atas kursi, sedang kakek lain melayani berdiri di sampingnya.
Pang Ing pikir tentu si kakek yang duduk inilah Boat-wan Lojin adanya.
Sementara itu tertampak Boat-wan Lojin dengan mata terpejam dan menggeleng kepada sedang menguraikan teori ketabiban kepada si kakek yang berdiri.
Lalu terdengar si kakek yang berdiri berulang-kali mengiakan.
"Waktu sudah terlalu sempit, kini aku akan mengajarkan kau rahasia cara memegang nadi yang lebih dalam,"
Terdengar Boat-wan Lojin berkata lagi.
Habis itu ia lantas angkat pensil yang besar, mulut menguraikan dan tangan menulis.
Pang Ing sendiri sama sekali tidak paham tentang ilmu keta-biban, maka ia merasa kesal oleh uraian orang yang ia sendiri tidak tahu artinya, ia pikir hendak angkat kaki saja.
Tapi mendadak Boat-wan Lojin mendongak dan berteriak padanya.
"Hai. sudah sejak tadi kau mengintip, kenapa tidak turun?"
Keruan tak kepalang kejut Pang Ing.
"Celaka, sekali ini urusan tentu bisa runyam!"
Demikian ia berpikir. Akan tetapi tiada jalan lain, terpaksa ia melayang turun dan memberi hormat.
"Harap Locianpwe suka memaafkan, aku sebenarnya hendak datang besok saja, tetapi ...
tetapi Sebenarnya ia hendak menutupi kesalahannya dengan berbagai alasan, tapi sebelum habis bicara, tiba-tiba Boat-wan Lojin memotongnya.
"Coba tanganmu sini, akan kuperiksa nadimu,"
Demikian kata orang tua ini.
Dalam keadaan masih bingung, Pang Ing ternyata tidak membangkang, ia ulurkan tangannya, maka dengan tiga jari tangan Boat-wan Lojin memijat urat nadinya, keadaan menjadi sunyi-senyap.
"Aneh, aneh,"
Tiba-tiba orang tua itu buka suara setelah agak lama.
"Penyakit familimu kalau bukan setahun, sedikitnya sudah ada setengah tahun lamanya tetapi kenapa kau tidak mencari tabib?"
"Ya, darimana engkau mendapat tahu, Yap-kongkong?"
Sahut Pang Ing heran.
"Kau punya dasar Lwekang sangat kuat, sedikitnya bisa menandingi orang lain yang berlatih dua-tiga puluh tahun, siapakah gerangan gurumu?"
Kata Boat-wan Lojin lagi. Pang Ing tak berani berbohong, maka ia menjawab terus terang.
"Suhuku ialah le Lan-cu dari Thian-san,"
Sahutnya.
"Ah, pantas, kiranya kau murid le Lan-cu,"
Ujar orang tua itu. Lalu ia pejamkan mata lagi, sejenak kemudian baru ia melanjutkan pula.
"Pada dadamu tertimbun semacam hawa yang sudah sangat lama, pula jantungmu berguncang keras, pasti kau mempunyai sesuatu soal yang lama tak bisa dipecahkan, kalau kau mengunjungi aku malam begini, tentunya kau bermaksud mengundang aku buat mengobatinya, kalau bukan familimu, tentu kau tidak akan begini kuatir, pula kalau bukan penyakit aneh dan berat, tentu tidak akan mengganjal hatimu. Coba sekarang kau katakan, penyakit apakah yang diderita oleh familimu?"
"Ah, Yap-kongkong, sungguh ilmu ketabibanmu sangat tinggi dan cara menganalisanya jelas sekali,"
Sahut Pang Ing dengan girang.
"Aku memang betul hendak mengundang kau pergi memeriksa penyakit searang familiku Tapi belum selesai ia mengucapkan kata-katanya, tiba-tiba si kakek yang berdiri tadi memotong.
"Suhu, kenapa kau akan menca-paikan diri lagi?"
"Tapi aku ke sini atas suruhan Lu-cici,"
Demikian lekas Pang Ing menambahkan.
"Dia bilang engkongnya ada pesan agar disampaikan salam pada engkau orang tua."
Mendengar anak dara ini sekonyong-konyong menambahkan kata-kata demikian, Boat-wan Lojin menjadi heran.
"Cicimu yang manakah? Siapakah Engkongnya?"
Tanyanya.
"Ciciku bernama Lu Si-nio, dia punya Engkong ialah Lu Liu-liang?"
Sahut Pang Ing. Tiba-tiba Boat-wan Lojin bergelak tertawa demi mendengar nama Lu Liu-liang, tetapi segera pula tertampak mukanya mengunjuk rasa kurang senang.
"Cucu perempuan Lu Liu-liang kenapa juga begini cupet pandangannya, dia harus tahu bahwa pada umumnya bila menemukan penyakit aneh, kalau tidak terpaksa sekali, pasti si tabib akan pergi mengobatinya,"
Katanya kemudian.
"Maka untuk apa dia menonjolkan nama Engkongnya."
Pang Ing menjadi girang oleh ucapan orang tua ini, berulang-ulang ia mengiakan. Akan tetapi di luar dugaan, kembali terdengar Boat-wan Lojin menyambung dengan mata mengerling aneh.
"Cuma sayang, aku tak bisa pergi!"
"Apa? Bukankah engkau bilang kalau tidak terpaksa, tentu akan pergi?"
Tanya Pang Ing.
"Ya, justru aku merasa sangat terpaksa!"
Sahut Boat-wan. Karena jawaban ini, saking cemasnya sampai Pang Ing mencucurkan air mata.
"Lalu bagaimana baiknya, ia hanya bisa tahan tiga hari lebih setengah hari lagi, kalau engkau tidak menolongnya, terang tiada orang lain yang bisa menolong dia!"
Demikian anak dara ini meratap pilu. Boat-wan Lojin menjadi tercengang oleh ratapan si nona.
"Aneh, masakah orang mengetahui hari ajalnya sendiri?"
Tanyanya kemudian dengan heran.
"Bukannya dia tahu sendiri, tetapi orang lainlah yang memaksa dia harus tahu,"
Sahut Pang Ing. Boat-wan Lojin lebih-lebih heran karena jawaban ini.
"He, ada peristiwa aneh macam ini? Sungguh belum pernah aku dengar, coba terangkan, siapakah orang yang memaksa dia?"
Tanya si orang tua.
"Hongte (kaisar),"
Sahut Pang Ing singkat.
"O, kalau begitu pasti akan kusembuhkan dia,"
Ujar Boat-wan.
"Baiklah, aku akan gendong kau buat berangkat, nanti kalau sudah terang tanah baru kita sewa kereta di tengah jalan,"
Kata Pang Ing lagi. Di luar dugaan, undangan ini hanya diterima Boat-wan Lojin dengan menggoyang kepala.
"Tidak, aku tidak bisa pergi,"
Katanya kemudian.
"Coba kau ceritakan saja asal-usul penyakitnya itu dan bagaimana keadaannya paling akhir dan sekarang ini."
"Suhu kau sudah melakukan tugasmu selama enam puluh tahun, malam ini sekali-kali jangan kau capaikan diri lagi,"
Kembali si kakek yang berdiri tadi menyela.
"Ngaco, justru kalau aku mendengar ada penyakit yang aneh dan sukar disembuhkan, jika aku tidak berdaya buat menyembuhkannya, mati pun aku tidak bisa tenteram,"
Omel Boat-wan Lojin. Melihat kebandelan sang guru, si kakek yang berdiri ini hanya geleng-geleng kepala saja.
"Baiklah, kalau begitu aku akan menuliskan resepnya, Suhu,"
Katanya kemudian.
Maka Pang Ing lantas menuturkan semua kejadian, dimulai dari Teng Hiau-lan ditipu meminum arak beracun oleh Yong Ceng dan keadaan kesehatannya paling akhir, bahwa tubuhnya lemas, tenaga berkurang, pandangan mulai remang-remang dan sebagainya diuraikan seluruhnya.
"Aneh, kenapa ada arak beracun yang begitu jahat?"
Ujar Boat-wan Lojin.
"Belum pernah ada resep bagi penyakit seperti itu sejak dahulu kala. Arak beracun macam apakah itu?"
Ia lantas pejamkan mata dan berpikir, selang beberapa lama, belum juga ia dapat mengingat.
"Sayang, sungguh sayang aku tak dapat pergi sendiri buat melihatnya, mendengar dan menanyai sendiri,"
Katanya kemudian dengan menghela napas. Pang Ing menjadi kuatir.
"Lantas, apa tiada daya-upaya lain,"
Tanyanya dengan suara gemetar.
"Jangan gelisah dulu, biar aku berpikir lagi,"
Sahut si orang tua itu.
Habis itu, kembali ia duduk tenang dan mata meram, sedikit-pun tidak bergerak, rupanya ia sedang memeras otak.
Sudah tentu Pang Ing sangat gelisah, begitu pula si kakek yang berdiri, mereka terus berdiri di samping sambil mendengarkan suara ayam jago berkokok sekali demi sekali, ternyata orang tua itu tetap duduk tenang selama sejam lebih, kemudian baru terdengar ia berdehem sekali dan membuka matanya.
"Nyo-laute, coba kau racik obatnya,"
Tiba-tiba ia berkata.
"Gunakan saja aku punya Liok-hap-ling-sin-wan (semacam obat pil), digilas menjadi bubuk, lalu ditambah dengan tujuh macam obat lainnya, gunakan pula daun waru di musim rontok dan sepasang jangkrik jantan-betina sebagai obat pengantar."
Si kakek she Nyo yang berdiri di sampingnya itu adalah muridnya yang terpandai, di rumahnya banyak menyimpan bahan obat, ia melakukan perintah sang guru dan meracik menurut resep yang diberikan itu, lalu dibungkus rapi.
"Hampir saja, dua macam dari tujuh jenis obat campuran ini hanya tinggal ini saja,"
Katanya kemudian setelah selesai membungkus obatnya.
"Daun waru musim rontok hanya tinggal selembar ini, jangkrik jantan-betina juga hanya tinggal sepasang ini, persis untuk melengkapi resep, untuk meraciknya lagi sudah tiada bahannya."
"Tetapi resep ini hanya bisa dicoba sekali saja,"
Ujar Boat-wan Lojin. Habis itu ia angkat alat tulisnya terus membuka satu resep lain dan dan katanya pula.
"Sesudah makan obat itu dan bila kelihatan ada kemajuan, resep yang lain ini boleh diminum pula tiga kali. Bahan obat dari resep ini hanya obat yang membikin tenteram pikiran dan enak tidur, obat biasa saja dan gampang dicari."
Pang Ing menjadi kegirangan, ia terima bungkusan obat dan resep obat itu, ketika ia ingin mohon diri, tiba-tiba ia dengar Boat-wan Lojin berkata padanya lagi.
"He, sudah kuperiksa penyakit familimu, kenapa kau tidak membayar ongkosnya?"
Demikian tegur orang tua itu. Keruan Pang Ing kaget dan jengah, sama sekali tidak ia duga bahwa orang mendadak bisa minta uang periksa.
"Tetapi ... tetapi aku tidak membawa uang, aku ... aku berikan perhiasan ini saja,"
Sahutnya kemudian sambil mencopot sebuah anting-antingnya.
"Umurku sudah begini lanjut, untuk apa aku terima barangmu ini,"
Sahut Boat-wan Lojin.
"Nah, aku hanya ingin kau kerjakan sesuatu untukku sebagai ongkos periksa tadi." 'Tentu akan kulakukan, Kongkong, silakan bicara,"
Kata Pang Ing dengan cepat.
"Hendaklah diketahui, ilmu ketabiban ini kuperoleh dari ajaran Pho Jing-cu,"
Demikian orang tua itu mulai menutur.
"Selama beberapa puluh tahun ini, boleh dikata aku tidak sampai mengecewakan harapannya, aku sudah banyak menyembuhkan orang sakit dan tidak sedikit mengumpulkan catatan penyakit yang telah kusembuhkan, cuma sayang semua ini sudah tak bisa diunjukkan pada beliau lagi. Ai, sungguh sayang!"
"Harap jangan berduka, Suhu, kalau Pho-cosu di alam baka mengetahui bahwa kita sudah menyambung dan mewarisi tugasnya, tentu beliau akan merasa senang sekali,"
Tiba-tiba si kakek yang berdiri berkata. Namun Boat-wan Lojin malah tertawa dingin oleh kata-kata muridnya itu.
"Apa? Berani kau bilang kita sudah mewarisi semua kepintaran Pho-cosu?"
Katanya kemudian.
"Ya, Tecu terlalu bodoh, pula tiada pengalaman, kalau dibandingkan kau, sudah tentu selisih sangat jauh,"
Sahut si kakek yang berdiri dengan gugup.
"Tetapi bagi Suhu yang telah bekerja selama hidup, dalam hal ketabiban boleh dikata lebih maju daripada yang lama, tentunya boieh juga dibandingkan dengan Pho-suco."
"Jauh, masih jauh,"
Ujar Boat-wan Lojin dengan menggoyang kepala.
"Dalam teori masih banyak sekali yang belum kupahami, aku menyesal tak bisa menanyakan pada Pho-cosu di alam baka."
Ia merandek sejenak, lalu bertanya pada Pang Ing.
"Apa kau tahu ilmu silat dan kepandaian ketabiban Pho Jing-cu itu, kepada siapakah kepandaiannya itu diturunkan?"
"Kabarnya cucu muridnya, Ciong Ban-tong, baik ilmu silat maupun ilmu ketabiban sudah memperoleh semua warisannya,"
Sahut Pang Ing.
"Sedang Ciong Ban-tong telah menurunkan ilmu silatnya kepada Lian Keng-hiau, tentang ilmu ketabiban apakah diturunkan juga padanya, itulah aku kurang tahu."
Mendengar Lian Keng-hiau adalah murid Ciong Ban-tong, tertampak Boat-wan Lojin menghela napas gegetun.
"Salah turun pada orangnya, salah besar!"
Demikian ia berkata berulang-ulang, lalu ia berkata lagi.
"Kau adalah murid Ie Lan-cu, dengan kedudukan Ie Lan-cu dan hubungannya dengan Pho-cosu dahulu, dia boleh mewakilkan Bu-kek-pay mencari ahli warisnya."
"Ya, hal ini aku pun pernah mendengar cerita dari Suhu. beliau memang punya pikiran semacam ini,"
Ujar Pang Ing.
Dalam hati anak dara ini rada heran, tadi Boat-wan Lojin bilang ada sesuatu yang ia minta dirinya mengerjakannya, tetapi kenapa terus menerocos bicara kejadian Bu-lim saja.
Namun ia lantas dengar orang tua itu berdehem, mukanya berubah menjadi kereng, kemudian dengan suara berat ia berkata lagi.
"Pho-cosu mempunyai sebuah kitab yang bernama 'Kim-ciam-toh-seh' yang merupakan pusaka dalam ilmu ketabiban. Kelak kalau gurumu mewakilkan Bu-kek-pay menetapkan ahli-warisnya atau ada orang lain yang mendapatkan kitab tadi, asal orangnya berkelakuan baik dan dari golongan kita, kau boleh bawa dia ke sini untuk menerima buku catatan ketabibanku."
"Dahulu Pho-cosu selalu kian-kemari untuk urusan negara dan berkelana di Kangouw, maka resep catatannya tidaklah banyak. Kalau bisa mendapatkan kitab tinggalannya itu ditambah pula mempelajari catatan menurut pengalamanku, pasti bisa mengembangkan ilmu pertabiban lebih luas. Hidupku sudah berakhir sampai di sini saja, aku harap ada orang yang bisa melampaui kepandaian angkatan dahulu. Hal ini sangat penting, tahukah kau?"
"Ya, tahu,"
Sahut Pang Ing dengan membungkuk.
"Mengingat kau adalah dara pendekar Bu-lim, maka aku telah pasrahkan urusan besar ini ke pundakmu,"
Kata Boat-wan Lojin pula.
"Pada sebelum ajalku tiba, aku bisa menyelesaikan cita-citaku yang terkandung selama ini, sungguh satu hal yang sangat memuaskan dalam hidupku ini."
Pang Ing rada bingung mendengar kata-kata orang tentang ajal segala.
"Tentu akan Wanpwe laksanakan,"
Ia menyahut lagi.
Namun tiba-tiba Boat-wan Lojin pejamkan mata lagi dan tidak bergerak, perlahan-lahan kepalanya menunduk menempel dada.
Nampak keadaan orang tua ini, si kakek yang berdiri tadi telah maju memegang urat nadi gurunya, mendadak ia berlutut sambil menjura tiga kali dengan sangat hormat.
"Pesan mendiang guruku, sebagai muridnya tentu akan kulak-sanakan,"
Demikian ia berkata pada Pang Ing.
"Tentang buku catatannya akan aku simpan baik-baik untuk kau, tinggal tunggu saja orangnya yang berhak, kau tak usah kuatir dan berangkatlah sekarang!"
Keruan Pang Ing terperanjat.
"Kenapa Yap-kongkong?"
Tanyanya cepat.
"Ia sudah wafat!"
Sahut kakek itu.
"O, apakah aku yang membuat dia terlalu letih?"
Tanyanya dengan air mata mengucur.
"Tiada sangkut-pautnya dengan nona,"
Ujar si kakek.
"Mendiang guruku sangat paham memegang nadi, sudah lama ia tahu umur sendiri hanya sampai malam ini saja. Oleh sebab itulah sepanjang malam ia turunkan kepandaiannya kepadaku. Cuma saja sebelum ajal tadi, ia masih bisa membuka resep untuk mengobati familimu, inilah yang sama sekali tak terduga."
Karena penuturan ini, Pang Ing menjadi terharu dan merasa sangat berterima kasih, segera ia pun berlutut menjura tiga kali.
"Bungkusan obat ini sekali-kali jangan kau hilangkan, kalau hilang tidak dapat diracik lagi,"
Demikian dengan wanti orang tua itu memberi pesan ketika ia mengantar Pang Ing keluar pintu "Harap saja penyakit familimu itu segera sembuh sesudah minum obat ini."
Pang Ing menghaturkan terima kasih atas budi orang.
Sementara itu ia lihat fajar sudah menyingsing, maka lekas ia mohon diri dan berangkat.
Dalam hati anak dara ini menghitung, dengan Ginkangnya yang tinggi ia taksir bisa setengah hari lebih cepat daripada batas waktunya, oleh sebab itulah ia merasa sangat senang.
Sepanjang jalan ia terus meraba bungkusan obat, kuatir kalau jatah dan hilang.
Kembali bercerita mengenai Khong Liang dan lain-lain setelah dipukul mundur oleh Lu Si-nio dan Pang Ing dari rumah keluarga Liok, dalam hati ia merasa gusar.
"Anak dara ini sungguh keji sekali, marilah kita undang Cecu kemari, sekali-kali jangan kita lepaskan dia,"
Demikian beberapa Thaubak kawan Khong Liang berkata. Tetapi orang tua ini sendiri hanya bungkam saja, ia pikir.
"Waktu anak dara itu bertempur dengan kita di sawah, cara turun-tangannya jauh lebih kejam, bahkan tanpa berkata lantas melukai tiga orang dengan Hui-tonya. Belakangan waktu berada di rumah keluarga Liok tadi, meski tetap keji juga, tapi dibanding kejadian dulu sudah lebih murah hati, ia hanya menebas kutung senjata kita dan melukai seorang kawan dengan enteng. Ai, entah kenapa berubah begini? Melihat usianya yang masih muda belia, mungkin hanya tujuh atau delapan belas tahun saja, tetapi ilmu silatnya sudah begini tinggi, kalau dua cucu perempuanku masih hidup, umur mereka tentu sepadan dengan anak dara tadi."
Waktu itu Thio Thian-ti dan begundalnya sedang menantikan kembalinya mereka di sebuah bukit sekitar Pat-tat-nia, tetapi Khong Liang tidak berhasil mengundang tabibnya, malahan kawannya kena dilukai musuh, ia merasa malu diri, sepanjang jalan ia pikir apa harus membiarkan Thio Thian-ti membawa begundalnya pergi membalas sakit hati itu atau tidak?
Ilmu silat Thio Thian-ti lebih tinggi dari Khong Liang, tetapi dalam hal pengalaman Khong Liang lebih banyak dari Thian-ti.
Dalam hati orang tua ini tahu juga watak Thian-ti yang berangasan, kalau mengetahui bawahannya sekaligus telah terluka empat orang, pasti ia akan pergi mencari anak dara itu buat mengadu jiwa.
Akan tetapi kepandaian anak dara itu terlalu tinggi, pula gadis satunya lagi yang bersama dia itu lebih hebat ilmu silatnya dan susah diukur.
Terang sekali-kali Thio Thian-ti bukan tandingan mereka.
Karena itulah Khong Liang berpikir pula.
"Kedudukan kita makin hari sudah semakin lemah, mana boleh kita mencari musuh baru yang lebih kuat? Aku sudah menerima budi Thio Ling-hong, mana boleh aku membiarkan putranya mengantar jiwa secara tak sadar."
Demikianlah ia menjadi ragu-ragu dan bingung, ia tidak tahu cara bagaimana harus mencegahnya.
Sementara itu hari sudah petang, dari jauh kelihatan Pat-tat-nia terbentang di depan, bukit dimana Thio Thian-ti bercokol sudah dekat.
Karena itu, mereka lantas mempercepat langkah.
Tengah mereka berjalan, mendadak dari lereng bukit sana menerobos keluar seseorang sambil menggertak.
"Hai, siapa kalian? Berhenti!"
Khong Liang terperanjat, ketika berpaling, ia lihat orang yang tiba-tiba muncul ini bermulut lebar, hidung besar membetet, mukanya sangat bengis.
Ternyata orang ini bukan lain daripada Liong Bok-kong, salah seorang yang pernah menggeropyok Ciu Jing dan membunuh besan Khong Liang, yaitu Pang Kong-tiau.
pada tujuh belas tahun lalu.
Liong Bok-kong adalah kepala suku Le di pulau Haylam, baik rupanya maupun cara dandanannya rada aneh, maka begitu melihat segera dikenali Khong Liang.
Orang tua ini menjadi gusar seketika, segera ia bergelak tertawa menyambut munculnya orang.
"Haha, sungguh kebetulan, susah-susah dicari, malah sekarang bertemu tanpa buang tenaga! Haha, Liong-taywisu (tuan besar bayangkara), selamat bertemu, selamat berjumpa!"
Demikian Khong Liang menyapa orang.
Mengapa mendadak Liong Bok-kong bisa muncul di tempat ini?
Kiranya sesudah Kau Sam-pian membawa kabur Pang Ing dari istana, seluruh istana menjadi geger, mereka takut kalau Kau Sam-pian yang paham sekali keadaan dalam istana membawa kawan lain mengacau ke sana atau bersekongkol dengan orang dalam, tentu hal ini bisa berabe bagi kedudukan Yong Ceng.
Oleh karena itulah segera diadakan 'pembersihan* di antara bayangkara istana.
Syukur beberapa bayangkara angkatan tua sudah ikut kabur bersama Kau Sam-pian, di samping itu Haptoh telah mengirim orang-orang kepercayaannya untuk mencari dan menyelidiki Kau Sam-pian bersama Pang Ing, daerah sekitar kotaraja telah dilakukan penggeledahan keras di bawah pimpinan Haptoh sendiri, sedang tempat-tempat di luar kota yang berdekatan ditugaskan pada Hay-hun Hwesio bersama muridnya, Liong Bok-kong.
Hari ini saat mereka melintasi Pat-tat-nia, lebih dulu Hay-hun Hwesio mendaki bukit untuk pasang mata, sebaliknya Liong Bok-kong ditinggal di bawah bukit untuk membantu bila perlu.
Akhirnya ia berjumpa Khong Liang yang hendak naik ke atas bukit itu.
Semula Liong Bok-kong mengira Khong Liang hanya orang tak terkenal di kalangan Hek-to, maka ia tidak pandang sebelah mata dan mengira tidak sukar untuk membereskannya.
Tak terduga, belum lagi ia turun tangan, lebih dulu orang sudah mengenali dia, keruan seketika ia tercengang.
Tetapi waktu ia tegasi dan ingat-ingat, lapat-lapat ia merasa kenal juga pada Khong I iang.
"Hai, kenapa kau hanya memandang saja, apa mata anjingmu belum bisa melihat jelas?"
Sementara itu Khong Liang membentak pula.
"Sekeluarga Pang-busu (guru silat) dari Haylam telah berantakan kau bunuh dan hilang tak keruan tempatnya, hutang darah ini apa kau sudah lupa?"
Mendengar teguran ini, Liong Bok-kong lantas ingat kejadian itu, matanya mengerling aneh.
"Ha, kukira siapa? Tak tahunya adalah kau si tua bangka yang lolos dahulu itu,"
Demikian ia balas membentak.
"Selama hidup ini entah sudah membunuh orang betapa banyak, mana bisa aku lupa pada manusia semacam kau ini! Hayo, kemampuan apa yang kau miliki hingga berani bilang hendak membalas sakit hati segala?"
Habis berkata, begitu senjatanya bergerak, segera ia menerjang lebih dahulu.
Dahulu, tujuh belas tahun yang lalu, Khong Liang telah dilabrak oleh Liong Bok-kong hingga terpaksa harus menyelamatkan diri secara mengenaskan, ilmu silat mereka pada waktu itu boleh dikata selisih jauh sekali, oleh karenanya Liong Bok-kong tetap tidak pandang sebelah mata pada Khong Liang sekarang.
Tak tersangka, selama tujuh belas tahun ini ternyata sudah banyak mengalami perubahan, Khong Liang yang sekarang bukan lagi Khong Liang yang dulu, begitu Thi-hun-cwe (pipa tembakau besi) Khong Liang bergerak, dengan tipu 'Ki-hwe-liau-thian' atau mengangkat obor menerangi langit, sekali tangkis pedang Liong Bok-kong lantas dipukul pergi.
Keruan Liong Bok-kong terkejut, sementara itu gerak serangan Khong Liang tak berhenti di sini, Huncwenya masih terus menghantam ke bawah, dengan cepat ia menutuk 'Thian-ki-hiat' orang, karenanya Liong Bok-kong terpaksa harus melompat mundur.
"Tolong, Suhu!"
Dengan kuatir ia berteriak.
"Haha, sekalipun kau minta tetek ibumu pun tak berguna!"
Dengan bergelak tertawa Khong Liang mengejek.
Berbareng ia menerjang maju, begitu Huncwenya menyambar, kembali mengarah ke pinggang orang, terpaksa Liong Bok-kong membaliki senjatanya buat menangkis sambil memutar tubuh, menyusul ia balas menerjang juga dari jurusan lain.
Tiba-tiba pipa tembakau Khong Liang menindih ke bawah, karena itu pedang Liong Bok-kong kena ditahan, berbareng Khong Liang membentak pula.
"Pergi!" . Menyusul pipa tembakaunya dipuntir dan diangkat ke atas, segera Liong Bok-kong tergetar pergi sejauh setombak lebih. Akan tetapi Liong Bok-kong memang bukan tandingan lemah, sungguhpun ia terhuyung-huyung ke belakang, tetapi ia tidak sampai jatuh tersungkur.
"Lekas datang, Suhu!"
Kembali ia berteriak minta tolong.
Tapi begini ganti gerak tipunya, segera Khong Liang merang-sek maju lagi.
Dalam keadaan terpaksa Liong Bok-kong harus menangkis sekuatnya, namun ia hanya bisa menahan saja, untuk balas menyerang sudah tidak mampu pula.
Sebaliknya makin lama rang-sekan Khong Liang semakin hebat, sampai tiga-lima puluh jurus lagi, tiba-tiba terdengar orang-orang di samping berseru.
"Hu-cecu, itu datang lagi seorang Hwesio!"
"Bagus, biarkan gurunya melayat muridnya ini,"
Sahut Khong Liang.
Sebaliknya demi mendengar kedatangan si Hwesio, semangat Liong Bok-kong terbangkit, mendadak ia menikam sekuat tenaga, ia mengincar pinggang Khong Liang.
Namun orang tua ini sudah menduga sebelumnya bahwa musuh akan melakukan serangan ini, ketika ia menarik diri dan bergeser pergi, tikaman Liong Bok-kong menjadi luput, ia kehilangan imbangan badan dan menyelonong ke depan.
Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Khong Liang, dengan mengeluarkan suitan panjang, dengan tipu gerakan 'To-pak-kim-ceng' atau membalik memukul genta emas, begitu pipa tembakau besinya menyambar, maka terdengarlah suara "plok"
Yang keras, tanpa ampun lagi batok kepala Liong Bok-kong remuk terpukul.
"Haha, Pang-cinkeh, hari ini Siaute telah membalaskan sakit hatimu!"
Demikian Khong Liang berseru sambil tertawa panjang. Sesaat itu juga, di jurusan sana Hay-hun Hwesio sedang mendatangi secepat terbang.
"Siapa yang berani mencelakai muridku?"
Ia membentak gusar demi melihat Liong Bok-kong telah menggeletak di tanah tanpa berkutik.
Sementara itu keempat pengikut Khong Liang (yang seorang luka ringan) yang tidak kenal lihainya orang, beramai memapaki Hay-hun Hwesio dengan garang.
Setelah membinasakan Liong Bok-kong, sebenarnya Khong Liang sendiri lantas hendak menyambut kedatangan Hay-hun Hwesio, di luar dugaan keempat kawannya sudah merangsek maju lebih dulu, hendak mencegah pun sudah terlambat, keruan hanya dalam sekejap saja segera terdengar suara ngeri saling susul, di antara sambaran sinar pedang si Hwesio yang memutih perak dan bercipratnya darah, hanya sebentar saja keempat pengikut Khong Liang sudah terbinasa di bawah senjata Hay-hun Hwesio.
Tidak kepalang gusar Khong Liang, dengan cepat Huncwenya menutuk, akan tetapi Hay-hun sudah menerjang maju secepat kilat, pedangnya menabas pergelangan tangan lawan, lekas Khong Liang menangkis.
Namun Hay-hun Hwesio ternyata sangat gesit dan cepat, pedangnya menyambar dengan hebat dan mendadak menusuk ke depan, syukur sedikit mengerutkan pundak, Khong Liang telah menghindarkan tusukan ini, berbareng ia balas menghantam 'Pwe-liang-hiat' di punggung Hay-hun.
Terpaksa Hay-hun melangkah pergi, pedangnya yang menusuk tadipun menjadi melenceng, hanya menyambar lewat di samping bahu Khong Liang.
Diam-diam Khong Liang bersyukur bisa menghindarkan dari bahaya serangan musuh ini, maka lekas ia melompat mundur dahulu untuk kemudian berputar balik buat menggempur musuh lagi.
Tetapi meski Khong Liang sudah melatih diri selama 17-18 tahun, namun kalau dibandingkan Hay-hun Hwesio, apapun juga kepandaiannya masih kalah setingkat, untung ilmu silat Thian-tay-pay banyak tipu serangan yang baru dan aneh, pula senjata Huncwe besi bisa dibuat menutuk Hiat-to musuh, dapat pula dipakai sebagai pedang; bila ada kesempatan ia segera balas menyerang, dengan cara demikian ternyata ia sanggup melawan musuh sampai ratusan jurus.
Waktu itu hari sudah mulai gelap, suasana tambah seram, suara burung gagak riuh-ramai di dalam hutan, angin meniup santar, lama-kelamaan Khong Liang mulai kewalahan.
Tetapi ia tidak menyerah mentah-mentah, dengan nekat ia balas merangsek.
Waktu itu Hay-hun sedang menggunakan tipu serangan 'Sian-jin-hoan-eng* atau sang dewa mengganti bayangan, sekali gerakan dua macam serangan, pura-pura mengarah ke muka orang, tetapi tahu-tahu menusuk ke jurusan dada.
Dengan tipu serangan ini ia mengira Khong Liang akan menangkis dan segera ia bisa melancarkan serangan mendadak lagi, dengan demikian musuh pasti tak mampu menghindarkan diri.
Di luar dugaan, Khong Liang ternyata sudah bertekad mengadu jiwa, mend.
dak orang tua ini menubruk maju terus menghantam sepenuh tenaga, maka terdengarlah suara "krak"
Yang keras, kiranya dua tulang dada Khong Liang telah ditusuk patah oleh ujung pedang Hay-hun Hwesio, sebaliknya dada padri itupun tidak terluput disodok sekali oleh Huncwe besi dengan keras sekali!
Lwekang Hay-hun Hwesio sangat tinggi, meski kena disodok sekali, ia masih bisa bertahan, cuma dadanya terasa sakit, ia menjadi murka, sekonyong-konyong sebelah kakinya melayang, sekali tendang ia bikin Khong Liang terjungkal, luka tusukan pedang yang diderita Khong Liang sangat berat, apalagi ditambahi dengan tendangan ini, tentu saja seketika ia kelengar tak ingat diri lagi.
Hay-hun Hwesio tertawa demi nampak musuh sudah dirobohkan, dengan tangan memegangi dada karena masih kesakitan, segera ia hendak mendekati untuk memenggal kepala musuh.
Akan tetapi sebelum ia melangkah, mendadak terdengar dari atas bukit ada suara bentakan orang yang keras.
"Hayo, bangsat gundul Hay-hun, jangan kau coba lari lagi!"
Tidak kepalang kejut Hay-hun demi mengenali suara bentakan orang ini, saking kaget dan takutnya sampai semangat seakan melayang meninggalkan raganya.
"Tampaknya musuh yang menggeletak ini tak bakal hidup lagi, sebaliknya lawan yang datang ini terlalu kuat, lebih penting selamatkan diri dulu,"
Demikian Hay-hun berpikir.
Maka dengan menahan rasa sakit di dadanya, segera ia angkat langkah seribu.
Siapakah orangnya yang membentak tadi hingga membikin Hay-hun Hwesio lari ketakutan, ia bukan lain adalah Li Ti.
Malam itu sesudah Li Ti bersama Pang Lin melarikan diri keluar rumah keluarga Lian, Li Ti lantas tahu bahwa si nona bukan Pang Ing yang selama ini dia sangka, akan tetapi mereka sudah berkumpul sekian lama, benih-benih asmara dalam hati mereka sudah mulai tumbuh, meski Li Ti tahu orang bukan Pang Ing, akan tetapi baik dia Pang Ing atau bukan, kini ia merasa berat buat berpisah.
Pada waktu Pang Lin lari keluar dari rumah orang she Lian, pada saat itu juga ia kepergok Pang Ing yang memasuki rumah keluarga tersebut, meski gadis ini hanya melihat sekilas saja, tapi hal ini tidak bisa dia lupakan.
Baru sekaranglah Pang Lin mau percaya bahwa di bumi ini memang betul-betul ada seorang yang rupanya mirip dengan dirinya!
Sungguhpun demikian, ia masih belum tahu bahwa gadis yang serupa dengan dirinya itu adalah kakak perempuannya sendiri.
Mengenai kejadian di masa kecilnya, hakikatnya tiada yang bisa diingat oleh Pang Lin.
Walaupun Li Ti berusaha sebisa mungkin memancing daya ingat orang, namun sia-sia belaka.
Yang masih bisa teringat oleh Pang Lin hanya kejadian sesudah ia berada di istana pangeran saja.
Meski Li Ti sendiri tidak tahu bahwa Pang Ing adalah Taci si gadis yang sekarang berdampingan dengan dirinya, tapi pada waktu kecilnya pernah ia dengar dari ibunya bahwa Pang Ing diperoleh le Lan-cu dari istana pangeran, karenanya ia membatin.
"Mana mungkin di dunia ini ada hal yang begini kebetulan? Rupa kedua orang sangat mirip, pula pernah melewati masa anak-anak dalam istana Pangeran keempat? Urusan yang begini aneh ini tidak boleh tidak harus kuselidiki hingga sejelas-jelasnya!"
Sifat Li Ti memang sederhana dan jujur, ia paling mengutamakan persahabatan.
Dengan Pang Ing mereka adalah kav an bermain sejak anak-anak, meski masih kecil waktu itu dan tidak mengerti urusan lelaki dan perempuan, tetapi dalam hati mereka sudah saling menganggap pihak lain sebagai kawan baik.
Kini meski Li Ti jatuh cinta pada Pang Lin, tapi terhadap Pang Ing, ia pun belum lupa.
Dalam hati ia berpikir.
"Kalau adik Ing sudah turun gunung, bagaimanapun juga aku harus menjumpainya, pertama aku ingin menceritakan pengalamanku dan akan aku perkenalkan dia pada adik Lin, agar diketahui olehnya bahwa di dunia ini masih ada seorang lain yang sangat mirip dengan dia. Sesungguhnya mereka berdua ini harus terikat sebagai saudara angkat."
Begitulah karena pikiran itu, keinginannya hendak menjumpai Pang Ing menjadi semakin kuat, seperti juga pikiran Pang Lin, mereka menyangka Pang Ing tentu telah ditangkap ke dalam istana.
Pang Lin mengira Pang Ing tentu tersiksa, maka hatinya merasa tak enak sekali, karena itu juga ia bersedia menghadapi bahaya untuk secara diam-diam memasuki kotaraja dengan harapan bisa memperoleh sedikit kabar tentang Pang Ing.
Akan tetapi Pang Lin sendiri adalah buronan yang hendak ditangkap kaisar, maka mereka berdua tak berani secara terang-terangan unjuk diri di jalan besar, mereka mengambil jalan kecil melalui dusun-dusun pegunungan yang melingkar dan berliku-liku, setelah lebih setahun mereka dalam perjalanan, akhirnya mereka sampai di luar kota Pakkhia, di sekitar Hoay-yang.
Selama setahun dalam perjalanan ini, bila ada waktu senggang Li Ti lantas membaca dan memahami kitab ilmu ketabiban tinggalan Pho Jing-cu hingga semua isi kitab itu boleh dikata sudah dia hapalkan huruf demi huruf.
Terhadap konsep untuk menyembuhkan penyakit 'Li-hun-cin', penyakit hilang ingatan, ia lebih giat mempelajarinya, cuma saja sebelum merasa yakin betul ia masih belum berani sembarangan membikin percobaan atas diri Pang Lin.
Di lain pihak selama setahun ini Pang Lin pun sudah membaca beberapa kali dan mempelajari kitab ilmu silat dan ilmu pedang tinggalan Pho Jing-cu.
Gadis ini sudah paham ilmu silat dari beberapa cabang, kini setelah memperoleh pelajaran dari aliran baik, apa yang dahulu ia kurang paham, kini sekaligus telah dia pecahkan, dengan sendirinya kepandaian silatnya kini tidak bisa dibandingkan dulu lagi.
Pada hari itu mereka tengah melanjutkan perjalanan di antara sawah ladang pedusunan sekitar Hoay-yu-koan, di sini mereka bertemu dengan Khong Liang yang mencegat Pang Lin dan hendak meminta kitab tinggalan Pho Jing-cu.
Tapi begitu turun tangan Pang Lin lantas melukai tiga anak buah Khong Liang, lalu bersama Li Ti menyingkir ke atas bukit.
"Celaka!"
Kata Li Ti tiba-tiba ketika teringat sesuatu.
"Engkoh bodoh, kita menang bertempur, kenapa bilang celaka?"
Ujar Pang Lin dengan tertawa geli. Akan tetapi ia lihat Li Ti mengerut kening dan buka suara lagi.
"Kini aku ingat, kiranya kau bukan ahli waris Bu-kek-pay!"
"Memang aku sengaja mendustai kau, seharusnya kau mengetahuinya dulu-dulu, kenapa sekarang kau baru ingat?"
Sahut Pang Lin.
"Soalnya aku asyik mempelajari ilmu ketabiban hingga lupa daratan, apa yang kau katakan dahulu pun terlalu banyak, maka tiada tempo buat aku pikirkan kata-katamu yang mana dusta dan yang mana tidak berdusta,"
Kata Li Ti dengan tertawa getir.
"Sebenarnya kitab tinggalan Pho Jing-cu, kecuali ahli waris Bu-kek-pay yang tulen, orang lain seharusnya tidak boleh mencuri belajar."
Mendengar kata-kata ini, Pang Lin rada tercengang.
"Kalau begitu apa kau hendak menyerahkan kembali kitab ini kepada Lian Keng-hiau?"
Tanyanya kemudian.
"Sudah tentu tidak,"
Sahut Li Ti.
"Lian Keng-hiau tidak ada harganya buat memiliki kitab pusaka ini, namun kita pun tidak pantas mengangkanginya menjadi milik sendiri."
"Sudahlah, toh benda ini sudah tak bertuan lagi, apa halangannya kalau kita yang memilikinya?"
Ujar Pang Lin.
"Bukan milik sendiri, janganlah mengambil,"
Demikian kata Li Ti lagi. Keruan Pang Lin menjadi dongkol, katanya.
"Ya, tapi apa yang tertulis dalam kitab tabib itu sudah kau hapalkan, pula aku sudah mempelajari semua ilmu silatnya, apa perlu kita mengorek keluar semua isinya dari hati kita?"
"Ya, kalau tahu sebelumnya tidak pantas aku membacanya,"
Ujar Li Ti lagi dengan menyesal.
"Tetapi bukankah kau bilang punya le-pekbo yang berhak mengangkat ahli waris bagi Bu-kek-pay?"
Tanya Pang Lin.
"Nah, suruh dia angkat aku saja, tidakkah menjadi beres semuanya!"
"Huh, ada hubungan apa dirimu dengan Bu-kek-pay, kau toh bukan anak murid Ciong Ban-tong?"
Sahut Li Ti mengolok.
"He,"
Kata Pang Lin cepat demi mendengar orang menyebut nama Ciong Ban-tong.
"entah mengapa, pada waktu pertama kali aku mendengar orang menyebut nama Ciong Ban-tong, aku lantas merasa seperti sudah kenal nama itu, apakah sebabnya? Siapa tahu aku dengan Bu-kek-pay memang mempunyai hubungan yang erat?"
"Haha, kembali kau mendustai aku lagi!"
Ujar Li Ti dengan tertawa.
Meski Pang Lin menghiburnya dengan macam-macam daya, namun Li Ti masih tetap merasa tak enak, sampai akhirnya Pang Lin jadi mendongkol dan tidak bicara lagi.
Dekat petang hari, mereka berdua telah sampai di Pat-tat-nia.
Tiba-tiba mereka mendengar suara genta kelenteng yang ditabuh di tengah hutan di atas bukit sana.
"Hayo, kita numpang menginap di sana,"
Li Ti mengajak.
"Ya, sekalian kita bersembahyang untuk minta berkah."
Kata Pang Lin.
Mereka lantas menuju ke tempat datangnya suara genta tadi, akhirnya mereka dapatkan sebuah kelenteng kuno yang terpencil di atas bukit, suara genta tadi berkumandang keluar dari kelenteng ini.
Segera Li Ti mengetuk pintu, maka suara orang membaca kitab di dalam kelenteng mendadak berhenti, sejenak kemudian pintu dibuka dan tertampaklah seorang Nikoh (padri wanita) menongol keluar.
"Tidak jauh di bawah bukit sana ada keluarga petani, aku adalah Nikoh yang tinggal seorang diri, maka tidak leluasa buat terima tamu,"
Demikian padri itu berkata sambil memegang biji tasbihnya.
Di antara sela-sela pintu yang dibuka itu menembus keluar sinar pelita, waktu Pang Lin mengerling ke sana, tiba-tiba ia merasa muka Nikoh ini seperti sudah pernah dilihatnya, tetapi entah dimana lak teringat lagi, karena itu seketika hatinya terguncang, pandangan matanya pun terpaku pada tubuh orang.
Sebaliknya ketika mendadak nampak wajah Pang Lin, air mu-!.a padri itupun berubah, bahkan tubuhnya kelihatan rada gemetar.
"Ah, kiranya masih ada seorang Likisu (wanita budiman), marilah masuk, silakan masuk!"
Tiba-tiba ia ganti nada penolakannya tadi.
Li Ti menjadi heran mengapa sikap orang bisa berubah sedemikian cepatnya, dalam pada itu ia lihat Pang Lin sudah ikut di belakang padri itu dan bertindak ke dalam, karenanya sambil mengucapkan terima kasih ia pun ikut masuk Meski kelenteng ini berada di tempat terpencil, tetapi keadaan dalam rumah berhala ini terawat bersih.
"Kedua tuan tamu ini apakah sudi memberitahukan nama kalian?"
Sekonyong-konyong Nikoh itu bertanya sambil menarik napas panjang.
Sepanjang jalan Li Ti dan Pang Lin selalu memakai nama sa-maran, maka atas pertanyaan Nikoh ini, mereka pun memberitahukan nama mereka yang palsu.
Setelah mendengar nama orang, wajah Nikoh itu kelihatan mengunjuk rasa kecewa.
Li Ti menjadi heran oleh sikap orang, sedang Pang Lin merasa dirinya seperti dalam mimpi saja, apa yang dirasakan persis dahulu waktu ia mengunjungi rumah Lian Keng-hiau, selalu seperti ada sesuatu yang ada hubungan dengan dirinya, padahal ia sendiri tidak mengerti dalam mimpi yang manakah pernah melihat Nikoh ini.
"Numpang tanya, Likisu kini berusia berapa?"
Tiba-tiba Nikoh itu bertanya lagi setelah menyilakan kedua orang duduk.
"Delapan belas tahun!"
Sahut Pang Lin. Kembali Li Ti heran dan mendongkol, ia pikir.
"Kenapa Nikoh ini begini tak sopan, baru ketemu sudah tanya umur orang, apa ia ingin meminang?"
Akan tetapi aneh juga, Pang Lin yang biasanya suka nakal, menghadapi Nikoh ini ternyata sangat penurut dan tunduk, apa yang orang tanya ia lantas jawab, sedikitpun tidak gusar dan tak berani sembarang berkelakar.
Sebaliknya Li Ti kuatir kalau anak dara ini menceritakan rahasia keadaan istana dimana waktu kecilnya nona ini pernah tinggal, sebab hal ini akan menjelaskan bahwa mereka adalah buronan, maka kadang ia sengaja menyela percakapan orang.
Tetapi meski selang beberapa lama, masih terus saja Nikoh itu mengajak Pang Lin berbicara tiada hentinya.
Keruan Li Ti menjadi dongkol.
"Kami dalam perjalanan sehari, perut kami sudah lapar dan haus, dapatkah kami mohon sedikit daharan?'"
Tanpa sungkan lagi ia lantas menyela pula. Karena kata-kata ini, barulah mendadak Nikoh itu tersadar.
"Ya, ya, harap maafkan, sampai aku lupa,"
Katanya. Lalu ia menuju ke dapur mengambil makanan.
"Hendaklah kau jangan sembarang omong!"
Dengan berbisik Li Ti berpesan pada Pang Lin.
"Ingat, sekali-kali jangan ceritakan pengalaman di istana pangeran. Di sini dekat kotaraja, siapa tahu orang macam apakah Nikoh ini?"
"Nikoh ini sangat alim, orangnya sampatik dan welas-asih lagi seperti familiku sendiri saja,"
Demikian anak dara itu menjawab. Tetapi demi nampak air muka Li Ti tidak senang, terpaksa dengan tertawa ia menambahkan lagi.
"Baiklah, jangan kau kuatir, tentu aku tidak sembarang omong."
Sejenak kemudian nampak Nikoh itu keluar, tangannya membawa satu bakul nasi yang isinya tinggal sedikit.
"Sungguh sangat kebetulan, hanya tinggal sedikit ini saja,"
Demikian kata Nikoh itu dengan tertawa sambil unjuk bakul yang dibawanya.
"Sedang persediaan beras dan sayur-mayur pun habis, mumpung hari masih belum gelap, sekiranya tuan ini suka mewakilkan aku turun gunung buat mintakan sedikit sedekah?"
Permintaan ini betul-betul kurang sopan dan tidak semestinya, tapi karena Li Ti memang orang polos seketika ia pun tidak punya alasan untuk menolak, maka ia tertegun. '"Ya, ya, lekas kau berangkat,"
Pang Lin ikut menyokong permintaan si Nikoh tadi.
"tetapi kau bukan Hwesio, maka tidak perlu minta sedekah, beli saja dengan uang."
"Tetapi bukankah lebih baik kita cari pondokan di bawah gunung saja, supaya tidak bikin repot Suthay (panggilan pada padri wanita),"
Ujar Li Ti.
"Tidak apa, tidak apa, justru aku suka kalau kalian mau bermalam di sini,"
Sahut Nikoh itu.
"Ya, aku pun senang tinggal di sini, lekaslah kau berangkat saja!"
Kata Pang Lin pula..Terpaksa Li Ti menurut, ia bawa sebuah wadah dan meninggalkan kelenteng itu.
Waktu sampai di tengah bukit, cuaca sudah remang-remang, mau tidak mau Li Ti menggerundel, mana ada di jagat ini orang seperti si Nikoh tadi yang tak kenal sopan-santun, baru saja kenal sudah minta orang cari sedekah untuknya.
Demikian pikirnya.
Selagi ia bingung karena tidak tahu kemana harus mencari beras, sekonyong-konyong ia dengar di bawah bukit sana, berkumandang suara ribut orang yang sedang bertempur, bahkan satu suara di antaranya dikenalinya adalah suara Hay-hun Hwesio.
Tanpa pikir lagi dengan sekali menggertak segera Li Ti berlari menerjang turun ke bawah gunung.
Tetapi sesudah sampai di bawah, Hay-hun Hwesio lebih dulu sudah melarikan diri, ia lihat mayat menggeletak bergelimpangan, hanya seorang saja yang masih bergerak meronta-ronta.
Lekas Li Ti mendekati dan membalik tubuhnya, ia lihat muka orang ini kotor berlepotan darah, tapi pada saat itu juga orang ini mendadak mementang lebar kedua matanya sambil berteriak.
"Haya, kiranya kau! Nah, baiknya lekas kau berikan sekali tusukan padaku saja!"
Karena kata-kata ini, semula Li Ti bingung, sesudah diingat-ingat, kemudian baru ia kenal bahwa orang ini adalah orang yang siang tadi hendak merebut kitabnya itu.
"Kita tidak pernah bermusuhan, untuk apa aku harus membunuh kau!"
Sahutnya kemudian.
"Kau tidak bunuh aku, toh aku tak akan hidup juga, tidakkah lebih baik kau tambahi aku sekali tusukan, aku malah berterima kasih padamu,"
Kata Khong Liang.
"Jangan kuatir, aku nanti sembuhkan kau,"
Ujar Li Ti setelah memegang orang perlahan-lahan. Tangan Li Ti meraba tubuhnya, segera Khong Liang merasa rada enakan.
"Tetapi aku punya Sute hendak merebut kitabmu, harap kalian jangan bermusuhan dengan dia, kalau ketemu, lebih baik hindari dia saja!"
Kata Khong Liang kemudian. Hati Li Ti memang tidak tenteram karena urusan kitab Pho Jing-cu, maka ia jadi tertarik oleh kata-kata orang tua ini.
"Siapakah gerangan Sutemu itu?"
Ia bertanya.
"Ciangbun dari Thian-tay-pay, namanya Thio Thian-ti,"
Sahut Khong Liang.
Tetapi karena terlalu banyak bicara, tenaganya kurang kuat, napasnya lantas memburu dan suaranya lemah.
Segera Li Ti membuat api dengan bani api, ia memeriksa keadaan Khong Liang, ia lihat luka orang cukup berat, tetapi ia taksir dirinya masih sanggup menyembuhkannya.
"Jangan kau bicara lagi, biar aku gendong kau ke tempat yang berdekatan, ke sebuah kelenteng untuk mengobati kau,"
Demikian ia berkata.
"Mengenai kitab itu, kami memang tidak seharusnya memilikinya, biarlah kami berdamai saja dengan Sutemu."
"Tak usahlah kau menghibur aku,"sahut Khong Liang sambil menarik napas panjang.
"Tulang dadaku patah dan terluka dalam pula, sekalipun mendapatkan tabib paling pandai pun sukar disembuhkan. Kau telah membalas dendam dengan budi, sungguh kau seorang ksatria sejati. Maka pada sebelum ajalku, aku ingin memohon dua hal padamu."
"Kau tidak akan meninggal!"
Sahut Li Ti untuk membikin besar hati orang. Akan tetapi Khong Liang tetap yakin bahwa dirinya pasti akan mati.
"Jika kau tidak mau menyanggupi permintaanku, mati pun aku tidak bisa tenteram,"
Katanya lagi.
Li Ti sangat paham ilmu pertabiban, ia mengerti kalau orang sakit mempunyai sesuatu yang tersimpan dalam hati, maka sedapat mungkin biarkan dia mengeluarkan isi hatinya itu.
Karenanya ia lantas menyahut.
"Baiklah boleh kau katakan."
"Setelah aku meninggal, harap kau serahkan jenazahku kepada Suteku,"
Demikian Khong Liang mulai menutur.
"Malam ini kalau dia tahu aku tak kembali, besok pagi tentu ia akan mencari aku dan melalui bawah gunung ini, kalau kau berjumpa dengan dia, suruhlah dia lekas membubarkan pengikutnya dan mengasingkan diri saja."
"Tetapi tadi kau bilang aku harus menghindari dia,"
Kata Li Ti.
"Baiklah, kalau begitu biar aku tinggalkan surat untukmu,"
Kata Khong Liang. Lalu dengan jari tangannya ia tutul darah sendiri untuk menulis surat deng "
N sobekan kain bajunya, surat itu berisi beberapa puluh huruf, habis menulis, tenaganya sudah habis; ia hanya sempat berkata pula.
"Aku masih punya dua cucu perempuan luar ...."
Tetapi sebelum selesai mengucapkan perkataannya, ia sudah jatuh pingsan.
Lekas Li Ti memeriksa nadi orang, ia lihat meski denyutan nadinya sangat lemah, tetapi tidak menunjukkan tanda kematian.
Karenanya ia lantas mengasah sebilah kayu kecil hingga lancip sebagai jarum, ia tusuk jalan darah di tubuh orang, dengan demikian ia bikin darah orang tua ini mengalir lebih lancar, lalu ia keluarkan obat penyembuh luka untuk menghentikan perdarahan orang.
"Luka terang sangat berat dan tidak bisa bergerak,"
Demikian Li Ti pikir.
"Tetapi orang yang terluka dalam, cara penyembuhan yang paling baik ialah beristirahat, kalau dia bisa tidur tenang, hal ini akan banyak bermanfaat bagi keadaan sakitnya."
Maka ia lantas jongkok memijat tubuh orang tua ini, ia bikin Khong Liang bisa tidur dengan nyenyak.
Selang sejenak setelah selesai Li Ti mengurut orang, akhirnya ia merasa diri sendiri sangat kelaparan, syukur pada Khong Liang masih bisa didapatkan kantong rangsum, maka ia lantas makan se-adanya untuk tangsal perut.
Sesudah makan, ia pun bersandar pada sebatang pohon untuk mengaso, tanpa terasa akhirnya ia pun tertidur juga.
Begitulah ia tertidur entah berapa lama, sampai akhirnya ia merasa ada orang membangunkan dengan mendadak, waktu ia pentang mata, ia dengar Pang Lin sedang mengomel padanya.
"He, kenapa kau tidur bersama orang mati?"
Demikian Pang Lin mengomel. Li Ti melompat bangun sambil bertanya.
"Waktu apa sekarang ini?"
"Waktu apa? Sudah hampir pagi!"
Sahut Pang Lin.
"Bikin kuatir saja, aku kira kau mengalami sesuatu kejadian. Suthay itu juga sangat kuatir, sebenarnya ia akan menemani aku kemari buat mencari kau, tetapi mengingat dia tak bisa ilmu silat, maka aku cegah dia dan seorang diri aku lantas turun gunung mencari kau."
"Sesudah aku berangkat, apalagi yang kau percakapkan dengan dia?"
Tanya Li Ti tiba-tiba.
"Ia bertanya keadaan waktu kecilku, tapi aku sudah lupa, apa yang bisa kntuturkan padanya?"
Sahut Pang Lin.
"Namun, aku telah beritahu dia bahwa aku pandai ilmu silat, hal ini rupanya membikin dia sangat senang."
"Apa gunanya kau beritahukan hal ini?"
Ujar Li Ti.
"Kau pun terlalu, ini tak boleh, itupun tak boleh dikata, toh Nikoh itu bukan orang jahat!"
Sahut Pang Lin dengan mulut men-jengkit.
Li Ti tidak suka ribut mulut lebih jauh dengan anak dara ini, ia lantas bangkit untuk memeriksa keadaan Khong Liang, ia lihat denyut nadi orang tua ini rada baikan dan dapat digendong ke kelenteng itu untuk diobati.
Akan tetapi ketika teringat sesuatu olehnya, ia ragu-ragu sejenak.
"Harap, kau wakilkan aku menyelesaikan sesuatu urusan di sini,"
Katanya kemudian pada Pang Lin.
"Siapakah dia ini?"
Tanya Pang Lim "Ialah orang yang siang tadi hendak merampas kitab kita itu,"
Sahut Li Ti.
"Jika begitu, mengapa kau malah mengobati dia?"
Ujar Pang Lin.
"Sudahlah, biar nanti kuterangkan padamu, sekarang hendaklah kau menurut perkataanku,"
Kata Li Ti.
"Baik, baik, lekas katakan!"
Jawab si nona dengan dongkol.
"Tetapi kau tak boleh bikin onar, kau harus lakukan menurut kata-kataku!"
"Baik, pendeknya aku menurut saja,"
Sahut Pang Lin.
"Sekalipun kau mengharuskan aku membawa pulang begal ini untuk dirawat sebagai Engkohku, aku pun akan menurut juga!"
"Tapi kau masih ngambek,"
Ujar Li Ti dengan tertawa.
"Begini, aku ingin kau menantikan seorang penjahat besar di sini."
"Tunggu ya tunggu, aku memang dibesarkan di sarang penjahat, masakah aku takut dimakan mentah-mentah olehnya,"
Sahut Pang Lin.
"Begini,"
Kata Li Ti lagi.
"penjahat itu bernama Thio Thian-ti, ia adalah Sute kakek ini, kalau kau ketemu dia, serahkan saja surat darah ini padanya dan suruh dia menemui aku di kelenteng sana, Ada lagi, jika umpamanya dia bergebrak dengan kau sekali-kali jangan kau lukai dia. Tetapi lekas kau terangkan semua kejadian ini."
"Baiklah, tentu inilah filsafatmu, mengubah musuh menjadi kawan,"
Sahut Pang Lin.
"Apakah Thio Thian-ti itu orang baik-baik atau bukan, aku sendiri belum tahu. Jika kau ingin akur dengan mereka, aku akan bantu dia sebisanya."
Karena jawaban ini, Li Ti tertawa, ia gendong Khong Liang ke atas gunung lagi, sementara itu hari sudah terang benderang.
Kembali bercerita mengenai Pang Ing.
Setelah gadis ini mendapatkan bungkusan obat dari Boat-wan Lojin, sepanjang jalan ia merasa tegang sekali dan ingin bisa lekas tiba di hadapan Teng Hiau-lan.
Ia genggam kencang bungkusan obat itu, kuatir kalau hilang di tengah jalan.
Pada esok harinya, ia melalui bawah bukit Pat-tat-nia, tiba-tiba dari depan menerjang datang belasan penunggang kuda dengan cepat, di antaranya ada yang berteriak.
"Nah, inilah orangnya! Yang melukai saudara-saudara kita bukan lain adalah budak liar ini!"
Kawanan pendatang ini bukan lain adalah Thio Thian-ti bersama begundalnya.
Ketika Thio Thian-ti tidak nampak Khong Liang kembali, ia menduga tentu terjadi sesuatu, sedang ketiga orangnya yang terluka sudah semakin payah mendekati pintu kematian, karena itu terpaksa ia angkat anak buah yang terluka itu ke atas kuda dan keluar mencari Khong Liang.
Akan tetapi baru saja sampai di kaki gunung, segera memergoki Pang Ing.
Demi mendengar gadis inilah orang yang melukai bawahannya, tentu saja Thio Thian-ti menjadi gusar, begitu ia angkat senjatanya, Boan-koan-pit, senjata berbentuk potlot, segera ia papaki orang, tanpa bicara ia lantas merangsek dengan tipu serangan yang mematikan.
Keruan kejadian ini sama sekali di luar dugaan Pang Ing, sebelum ia sempat minta keterangan tahu-tahu musuh sudah menerjang datang, lekas ia angkat pedangnya buat menangkis.
Ilmu silat Thio Thian-ti ternyata sangat tinggi, begitu kedua senjata potlotnya bergerak, yang kiri segera menutuk 'Kiok-ti-hiat' dan potlot yang lain mengarah 'Hian-ki-hiat'.
Di bawah serangan yang lihai ini, Pang Ing terpaksa melawan dengan penuh perhatian, karena itu juga ia menjadi lupa pada bungkusan obat yang dia genggam di tangan kiri, ketika tangan kanan dengan pedang menangkis senjata musuh, tangan kiri diulur, dengan jarinya balas menutuk jalan darah orang.
Thian-ti hampir saja kena tertutuk, ia dipaksa melompat mundur ke belakang.
Akan tetapi pada saat itu juga, sekonyong-konyong terdengar jeritan kaget Pang Ing, kiranya bungkusan obat yang tadinya digenggamnya telah jatuh, dalam keadaan gugup lekas ia hendak menjemputnya kembali.
Namun pertandingan di antara dua jago, soal kalah-menang hanya terjadi dalam sekejap saja, sudah tentu tidak mungkin lagi Pang Ing menggunakan kesempatan itu.
Waktu itu Thian-ti merasa kececar dan sedang kuatir, tiba-tiba ia dengar jeritan Pang Ing, ia malah mengira gadis ini terkena senjata rahasia yang dilepaskan bawahannya, maka ia tidak membuang kesempatan baik ini, segera ia putar potlot buat menikam punggung Pang Ing yang waktu itu sedang berjongkok hendak mengambil bungkusan obat.
Dalam keadaan terancam, Pang Ing harus memilih, tetap menjemput obat atau membiarkan dirinya tertikam.
Ia coba baliki senjatanya buat menangkis, berbareng ia potong pundak kanan orang.
"Kita selamanya tidak pernah bermusuhan, kenapa kau desak aku sedemikian rupa, biarkan aku jemput obatku ini dan pergi, aku lidak akan mencelakai kau!"
Dalam keadaan kehabisan akal Pang I ng berseru.
"Ha, kau masih ingin kabur?"
Jengek Thio Thian-ti yang sudah tentu tidak mau melepaskan orang.
Sebaliknya senjatanya dimainkan semakin kencang, ia paksa Pang Ing tidak sempat meraih bungkusan obatnya.
Sementara itu demi mendengar jeritan Pang Ing tadi, di antara anak buah Thian-ti lantas ada yang menyambar obat itu dan diperiksa.
"Haha, obat apakah ini sehingga kau sangat sayang?"
Demikian terdengar ada yang berkata dengan tertawa. Sambil berkata orang itu lantas merobek bungkusan obat itu, beberapa macam racikan obat itu lantas terserak di tangan orang itu.
"Haha, sungguh lucu, sampai daun pohon dan jangkrik saja dibuat obat, yang minum obat ini tentunya adalah siluman!"
Orang itu berkata lagi.
Habis berkata bungkusan obat itu terus dia lemparkan seke-nanya ke jurang, bungkusan obat yang diperoleh Pang Ing dengan susah-payah itu akhirnya dilemparkan begitu saja dan lenyap terhanyut air kali di bawah jurang.
Keruan tidak kepalang rasa sakit hati Pang Ing, lebih-lebih kalau dia ingat bahwa jiwa Teng Hiau-lan hanya tinggal tiga hari saja, bungkusan obat tadi terang tidak bisa diperoleh lagi, Boat-wan Lojin sudah meninggal dunia pula, lalu kemana harus berdaya?
Sungguh hancur-luluh hatinya, ia menjadi putus-asa!
Seketika ia merasakan pandangannya menjadi gelap, hampir saja ia kena dilukai potlot baja Thio Thian-ti.
"Haha, gadis siluman ini terang bukan tandingan Cecu kita, sebentar lagi kita suruh semua orang membacok dia satu kali untuk membalas sakit hati ketiga kawan kita!"
Kembali terdengar suara gelak tertawa begundal Thio Thian-ti. Saking pedih hatinya, akhirnya Pang Ing menjadi murka dan kalap.
"Kalau hari ini aku tidak membunuh kau, aku bersumpah tidak menjadi manusia!"
Teriaknya sengit.
Habis itu ilmu pedangnya berubah dengan cepat luar biasa, meski ilmu silat Thio Thian-ti sangat tinggi, mana dia mampu menandingi Thian-san-kiam-hoat yang tiada bandingannya di kolong langit, apalagi sekali ini Pang Ing menyerang tanpa menghiraukan jiwa sendiri, tipu serangannya yang dilontarkan adalah tipu yang mematikan dan sangat lihai.
Di lain pihak demi nampak sinar pedang gemerlapan menyambar kian-kemari sampai bayangan orang pun sukar dibedakan, mana ada begundal Thio Thian-ti yang berani ikut maju?
Sama sekali tidak diduga Thio Thian-ti bahwa Pang Ing bisa begitu lihai, ia menjadi kerepotan dan kalang-kabut oleh rangsekan anak dara yang sudah kalap ini, hatinya menjadi dingin dan nyalinya mengkeret.
"He, ada seorang gadis siluman datang lagi. Ha! Barangkali ada setan di siang hari bolong, lekas lari! Lekas lari!"
Tiba-tiba terdengar anak buah Thio Thian-ti berteriak kaget dan ketakutan.
Sementara itu Thio Thian-ti sendiri sedang menahan serangan Pang Ing sekuat tenaga, dengan sendirinya ia tidak sempat memandang ke jurusan lain, ia hanya mendengar suara orang berteriak padanya.
"Hai, apa kau ini Ciangbun dari Thian-tay-pay yang bernama Thio Thian-ti, Thio-cecu?"
Tanya suara itu.
"Ya, betul, tentunya Lihiap adalah kawan dari gadis yang sama bukan?"
Cepat Thian-ti menyahut.
"Jangan kuatir, aku akan membantu kau!"
Kata suara itu pula.
Cepat sekali datangnya suara itu, menyusul orangnya pun sudah tiba, maka kelihatanlah sinar putih kehijauan telah menyambar datang secepat kilat.
Gemas rasa hati Pang Ing, sekonyong-konyong ia putar senjatanya, dengan sengit ia menyerang dengan tipu mematikan, tanpa ampun lagi miang pundak Thio Thian-ti kena tertusuk tembus, habis itu Pang Ing masih sempat menarik kembali senjatanya untuk menangkis serangan orang, akan tetapi begitu pedang beradu pedang dan muka berhadapan muka, seketika ia ternganga.
"Siapa kau?" 'tegurnya kemudian.
"Dan kau sendiri siapa?"
Sahut Pang Lin.
Di lain pihak Thio Thian-ti merasa kesakitan, lengan sebelah kanan lumpuh karena pundaknya tertusuk tadi, ia tak kuat mengangkat tangannya lagi, ketika mendongak, ia menjadi tercengang juga, ia lihat kedua anak dara ini ternyata mirip sekali seperti pinang di-belah dua, kedua pedang mereka sedang beradu dan saling memandang dengan terkesima.
Keruan tidak kepalang rasa kaget Thio Thian-ti, tanpa tertahan ia berseru.
"Ada setan, betul-betul ada setan!"
Gadis yang datang belakangan ini memang Pang Lin adanya.
Ia pun tidak menduga bahwa tanpa sengaja bisa bertemu dengan orang yang dia sedang cari dengan susah-payah selama ini.
Kalau Pang Lin tidak tahu bahwa Pang Ing adalah kakak perempuannya, sebaliknya Pang Ing sudah tahu Pang Lin adalah adiknya, maka sebenarnya ia hendak menyapa dan mengakui adiknya ini, namun terpaksa ia tunda lagi ketika mendadak dilihatnya 'Iriio Thian-ti telah kabur dengan ketakutan, Pang Ing sudah kadung gemas karena hilangnya obat yang dicari untuk Teng Hiau-lan itu, maka ia jadi tambah murka melihat orang hendak merat, ia ingin membunuh dulu orang ini, segera ia mengejar, bagaikan elang menyambar kelinci, begitu pedangnya berputar, dari belakang segera ia menikam punggung Thio Thian-ti.
"Tahan dulu!"
Mendadak terdengar Pang Lin berseru.
Pang Ing menjadi heran, ia merandek sejenak, saat itulah ia lihat Pang Lin telah melayang datang dan menggempurnya dari atas, waktu itu ujung senjata Pang Ing baru disodorkan, karena tangkisan Pang Lin yang menahan ke bawah, maka terdengarlah suara nyaring beradunya senjata, kedua kakak-beradik ini melompat ke samping, sedang Thio Thian-ti kembali lari ke depan lagi.
Pang Lin tadi harus melakukan tugas yang diberikan oleh Li Ti, yakni agar dia menolong Thio Thian-ti, tapi waktu nampak gerak tubuh Pang Ing terlalu cepat, tiada jalan lain, tiba-tiba ia keluarkan gerak menubruk dari atas ajaran Pat-pi Sin-mo Sat Thian-ji, dengan tipu serangan ini ia berhasil menolong Thio Thian-ti terhindar dari kematian, tetapi sebaliknya telah menimbulkan rasa curiga Pang Ing.
Pang Ing pernah bergebrak dengan Pat-pi Sin-mo di pulau karang tempo hari, maka terhadap tipu serangannya yang menirukan elang itu ia cukup mempunyai kesan yang mendalam.
Kini nampak gerak tubuh Pang Lin justru sama seperti cara Pat-pi Sin-mo, tanpa terasa ia menjadi terkesima.
"Ia telah membantu bangsat ini dan tipu gerakan yang dipakai adalah tipu keji Pat-pi Sin-mo, apa mungkin dia pun komplotan orang-orang jahat ini?"
Demikian Pang Ing bertanya dalam hati.
Karena pikirannya ini, tanpa terasa ia menjadi pedih sekali, hatinya seperti teriris-iris, ia memandang Pang Lin dengan mata terbelalak.
Perlu diketahui bahwa sejak kecil Pang Ing banyak mendapat pelajaran dari Ie Lan-cu, ia sangat teliti membedakan antara yang baik dan yang jahat, kini mendadak mengetahui adik sendiri yang dia cari dengan susah-payah selama ini ternyata adalah orang busuk, seketika itu, rasa menyesal, berduka dan gusar bercampur-aduk, ia terpaku melenggong dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Justru Pang Lin memang anak nakal, ketika melihat Pang Ing dengan mata terbelalak memandang padanya, ia sengaja menertawai orang.
Pikirnya.
"Mukanya begini mirip dengan mukaku, tapi entah sampai dimana kepandaian silatnya?"
Karena pikiran ini, segera timbul keinginannya hendak menjajal kepandaian orang.
"He, kau ini anak liar darimana, kenapa kau melongo saja,"
Dengan tertawa ia menegur, pedang lantas menusuk cepat, sebelah kakinya melayang pula menendang lutut orang.
Kedua tipu serangan ini, yang satu adalah Lam-thian-kiam-hoat ajaran Hay-hun Hwesio, dan yang lain adalah tipu Ling-san-pay dari Tang Ki-joan, cara menggunakannya sangat keji pula.
' Sudah tentu Pang Ing tidak tahu bahwa Pang Lin hanya bertujuan menjajal padanya, terpaksa ia harus menjaga diri, dengan gerak tipu 'Koay-bong-hoan-sin' (ular sawah membalik tubuh) yang lihai, susul-menyusul dengan dua kali menggerakkan pedangnya ia patahkan serangan Pang Lin.
"Kiam-hoat yang bagus,"
Seru Pang Lin dengan tertawa. Habis itu dengan tipu 'Jay-hong-soan-ho' atau burung hong kembali ke sarang, menyusul 'Hun-liong-tiau-siu' atau naga di awan membalik kepala, segera ia menyerang pula.
"Kenapa kau terima menjadi begundal orang jahat, apa kau tidak takut menodai nama baik orang tuamu?"
Demikian Pang Ing mendamprat.
Lalu ia balas menghantam serangan tadi, ia pikir memukul jatuh senjata Pang Lin, kemudian baru akan memberi hajaran yang setimpal.
Tak terduga, gerak tipu Pang Lin ternyata sangat licin, setelah beberapa jurus, sementara itu Thio Thian-ti sudah kabur pergi sejauh lebih setengah li.
Sebab itulah Pang Ing akhirnya naik darah juga.
"Kalau kau merintangi aku lagi, segera aku tampar kau!"
Ia mengancam.
"Kalau kau mampu, boleh coba!"
Demikian Pang Lin malah menggoda dengan tertawa. Tentu saja Pang Ing semakin sengit, begitu bergerak, tertampaklah sinar perak gemerlapan menyilaukan mata.
"Celaka!"
Seru Pang Lin.
Dalam pada itu di antara menyambarnya sinar pedang, bayangan orang pun menerobos maju, tahu-tahu tamparan Pang Ing sudah tiba, akan tetapi demi melihat Pang Lin berkelit dengan gugup dan berseru kaget, tiba-tiba Pang Ing jadi tak tega memukul adiknya sendiri, ia miringkan tangannya sehingga menyerempet lewat di pipi orang.
Karena itu, dengan gerak 'Boan-liong-jiau-poh' atau naga melilit memutar langkah, Pang Lin sempat mengegos pergi.
"Nah, apa kataku, sudah kubilang kau tidak bisa pukul aku, dan luput bukan tamparanmu tadi?"
Demikian dengan tertawa Pang Lin masih menggoda.
Tentu saja dongkol sekali Pang Ing, dengan muka dingin ia menjengek, habis itu tubuhnya bagaikan anak panah terlepas dari busurnya, dengan cepat ia mengudak ke jurusan Thio Thian-ti.
"Dia sudah luka terkena pedangmu, kenapa kau masih terus menguber dia?"
Demikian dari belakang Pang Lin berseru.
"Apa kau tidak mau tahu tentang peraturan Kangouw lagi?"
Habis itu kembali ia keluarkan kepandaian meloncat dan menubruk seperti elang kucing, ia menghantam pula dari atas terus menghalangi majunya Pang Ing, berbareng ia berseru pada Thio Thian-ti.
"Thio-cecu, lekas kau lari ke atas bukit, di atas sana ada kelenteng kecil, di dalam kelenteng itu ada orang yang akan menolong kau!"
Karena seruan ini, rasa takut Thio Thian-ti rada hilang, semangatnya pun sedikit tenang.
"Terima kasih!"
Demikian ia menoleh sambil berlari c^pat ke atas bukit dengan menahan rasa sakit lukanya.
"Budak liar, memang kau harus dihajar adat sedikit!"
Pang Ing mendamprat dengan gusar.
Ia mainkan Thian-san-kiam-hoat, susul-menyusul ia menyerang dengan cepat, ia incar pcrgelangan tangan Pang Lin dengan maksud memaksa anak dara ini membuang senjatanya dan minta ampun.
Karena itu Pang Lin menjadi terdesak, ia melompat kian-kemari buat menghindar, beruntun ia gunakan tipu gerakan dari berbagai cabang silat, namun tetap hanya bisa bertahan saja dan tak mampu balas menyerang.
"Lepas senjata!"
Tiba-tiba Pang Ing membentak, begitu ujung pedangnya bergerak, dengan cepat dan jitu sekali ia menutul tangan orang.
"Belum tenUi bisa!"
Tiba-tiba Pang Lin menyahut dengan tertawa.
Berbareng ia menangkis ke samping dengan pedangnya, gerakannya sangat lambat, akan tetapi Pang Ing merasa ada satu tenaga yang besar mendorong balik, tanpa tertahan ia bersuara heran.
Dalam pada itu ia lihat Kiam-hoat Pang Lin sudah berubah lagi, kelihatan tubuhnya terguncang seperti bergoyangnya tangkai bunga, gerak pedangnya yang lambat ternyata membawa kekuatan yang besar.
Kiranya sesudah Pang Lin belajar Bu-kek-kiam-hoat tinggalan Pho Jing-cu, untuk pertama kalinya dia gunakan untuk menghalau serangan Pang Ing tadi.
Meski Bu-kek-kiam-hoat tidak sebagus dan selihai Thian-san-kiam-hoat, tetapi Bu-kek-kiam-hoat mempunyai cara tersendiri yang mengutamakan lemas melawan keras, oleh karena itulah, seketika Pang Ing tak mampu menyenggol lawannya.
Lewat beberapa puluh jurus, akhirnya Pang Ing menjadi naik darah, ia keluarkan Si-mi-kiam-hoat yang lihai dari Thian-san-pay, maka tertampaklah gulungan sinar putih tiba-tiba mengurung dan menindih ke atas kepala Pang Lin, apapun juga memang keuletan Pang Lin masih di bawah Pang Ing, oleh karenanya gerak pedangnya lambat-laun tidak leluasa lagi.
Nampak lawannya mulai tidak berdaya, diam-diam Pang Ing kumpulkan tenaganya lebih kuat.
"Tidak kau lepaskan senjatamu?"
Kembali ia membentak.
Berbareng ujung senjatanya terus menusuk.
Di luar perhitungannya mendadak Pang Lin dapat mundur dengan cepat, maka terdengarlah suara nyaring beradunya pedang, sedang tubuh Pang Lin lantas mencelat ke belakang.
"Hampir saja!"
Demikian seru anak dara itu.
Secara Jenaka dia masih menoleh memberi muka badut dengan mencibir, lalu secepat terbang ia berlari mendaki bukit.
Gerakan Pang Lin tadi sebenarnya adalah suatu tipu hebat dari Bu-kek-kiam-hoat, cuma ilmu pedang Pang Ing memang luar biasa, Pang Lin mengerti bila pertandingan ini diteruskan, dirinya pasti akan kecundang, maka ia tidak melancarkan serangan balasan, melainkan terus menarik diri dan mundur dengan cepat, karena gerakan itu lebih gampang baginya untuk melepaskan diri dari kurungan sinar pedang Pang Ing.
Di lain pihak, Pang Ing pun terkejut ketika nampak Si-mi-kiam-hoat yang dia keluarkan tetap tidak mampu merebut senjata orang, diam-diam ia pun berpikir.
"Kepandaiannya ternyata begini hebat, betapapun dia tak boleh tersesat lebih jauh sehingga sempat membantu yang jahat bertambah lebih jahat."
Oleh karena itu, dengan pedang terhunus segera ia mengudak.
Meski Ginkang Pang Lin tidak setinggi Pang Ing, tapi tiap kali Pang Ing mengejar dekat, tiba-tiba ia lantas putar balik pedangnya dan menusuk, ia gunakan tipu serangan yang paling lihai dari Bu-kek-kiam-hoat untuk membela diri, kalau hanya beberapa gebrakan saja jelas Pang Ing belum sanggup mengalahkan Pang Lin, terpaksa ia hanya mengudak terus dari belakang.
Tak lama kelenteng di atas gunung itu sudah kelihatan berada di depan mereka, suara genta sayup-sayup terdengar juga, tiba-tiba Pang Lin bersuit, tujuannya ialah hendak memancing supaya Li Ti lekas keluar, dengan demikian pemuda ini tentu akan kaget dan girang karena Pang Ing asli yang dia cari kini betul-betul sudah datang.
Sebaliknya karena perbuatan Pang Lin ini, Pang Ing mengira lawan sedang memanggil bala bantuan, maka ia mengejar semakin kencang.
Bercerita tentang Li Ti, setelah dia gendong Khong Liang kembali ke kelenteng, waktu itu hari sudah terang, ia lihat si Nikoh setengah umur itu bersemadi di ruang sembahyang.
Oleh karena kejadian semalam, maka perasaan Li Ti masih mendongkol terhadap Nikoh itu.
"Menolong jiwa orang adalah perbuatan yang mulia, Suthay, maafkan aku harus membikin repot kau lagi!"
Demikian ia menyapa.
"Menolong jiwa orang memang seharusnya,"
Sahut Nikoh itu sambil berbangkit.
"Dan dimanakah nona cilik itu?"
"Dia masih menunggu seorang sobat, pulangnya akan sedikit terlambat,"
Sahut Li Ti. Sementara itu Khong Liang sudah sadar dari pingsannya, ketika mendengar suara orang, tiba-tiba ia bertanya.
"Siapakah yang bicara? Apakah Lian-he adanya?"
Walau suara Khong Liang sangat perlahan dan lemah, akan tetapi dalam pendengaran si Nikoh itu seperti bunyi guntur di siang hari bolong, dengan cepat ia memburu maju, ia memayang Khong I iang yang masih menggemblok di atas punggung Li Ti, air matanya tanpa tertahan bercucuran..
"Ah, Tiatia. betul-betul engkau yang datang!"
Lama sekali baru terdengar Nikoh itu buka suara.
Li Ti sendiri menjadi bingung demi nampak kedua orang ini saling menyapa, ia letakkan Khong Liang dan baru hendak tanya, namun sudah terlihat kedua orang itu saling rangkul, tubuh Khong I iang berguncang karena gemetar, tiba-tiba terdengar orang tua itu menjerit sekali, lalu jatuh pingsan lagi.
"O, ayah, jangan kau tinggalkan aku!"
Nikoh itu meratap dengan menangis. Segera Li Ti memeriksa nadi orang tua itu.
"Jangan kuatir, ia hanya kegirangan hingga seketika jatuh pingsan, tapi tidak berbahaya."
Demikian ia menghibur. Akan tetapi waktu melihat baju Khong Liang kotor berlepotan darah, mukanya pucat seperti kertas, Nikoh itu masih merasa kuatir.
"Meski dia terluka parah, tapi tidak membahayakan jiwanya,"
Li Ti menghibur lagi.
"Aku tanggung tiga hari lagi dia bisa bangun dan sebulan kemudian dia akan pulih seluruhnya!"
Karena itu si Nikoh mengesut air mata dan berhenti menangis, ia bantu Li Ti menggotong Khong Liang ke kamar.
"Biarlah aku pijat dia untuk menjalankan darahnya, supaya dia bisa tidur nyenyak lagi barang satu jam,"
Kata Li Ti. Tetapi sambil menunggu di samping, Nikoh itu masih tersedu-sedan. Lewat tak lama, betul juga terdengar suara mengoroknya Khong Liang, rupanya orang tua ini telah tidur nyenyak.
"Marilah kita keluar saja!"
Ajak Li Ti kemudian.
Nikoh itu menurut, dengan mata masih mengembeng air, ia menuju ke ruang sembahyang, tiba-tiba ia menyulut dupa dan sembahyang di hadapan patung Buddha sambil berdoa.
Dengan berdiri di samping, lapat-lapal Li Ti mendengar Nikoh itu berkata.
"Aku Khong Lian-he, dengan ini menyatakan banyak terima kasih kepada Po-sat (Buddha) yang memberkati pertemuan kembali kami ayah dan anak. Maka diharap pula-atas kemurahan Po-sat yang sakti suka melindungi anak Ing dan anak Lin dalam keadaan selamat dan selekasnya bisa kembali ke sampingku."
Mendengar doa orang,, hati Li Ti tergerak.
"Apa kau masih mempunyai dua anak perempuan?"
Tanyanya cepat.
Sebelum Nikoh itu menjawab, terdengar berkumandangnya suara teriakan orang lagi bertempur di luar kelenteng, perlahan Nikoh itu berbangkit, ia tabuh beberapa kali gentanya, setindak demi setindak lalu ia melangkah keluar kuil.
Sekejap itu dalam pandangan Li Ti merasa sinar mata si Nikoh penuh mengandung rasa kasih-sayang yang tak terhingga, sikap kasih-sayang seorang ibu.
Tanpa terasa Li Ti ikut keluar di belakang orang.
Waktu itu suara kejar-mengejar pertarungan orang sudah semakin jelas berkumandang dari lembah gunung sana.
"Jangan-jangan Lin-moay menemukan musuh kuat?"
Diam-diam Li Ti berpikir.
Ketika ia memandang jauh ke bawah, tiba-tiba ia lihat ada seorang lelaki berperawakan tegap, bajunya penuh darah, semangatnya lesu, tenaga kelihatan sudah habis, dengan sempoyongan sedang berlari mendat ingi.
"Siapa kau?"
Segera Li Ti menegur.
"Thio Thian-ti. Ciangbun dari Thian-tay-pay!"
Sahut orang itu lemah.
"O. kalau begitu kau sedang ditunggu kawanmu di dalam,"
Kata Li Ti. Habis itu Li Ti lantas menyerahkan surat darah yang ditulis Khong Liang itu padanya, air muka Thio Thian-ti berubah hebat sesudah melihat surat darah itu.
"Apa Khong Liang telah mengalami nasib malang? Siapakah kau? Darimana kau mendapatkan surat darahnya ini?"
Demikian ia bertanya.
"Ya. Khong-losiansing telah mengalami sedikit luka, cuma tidak berbahaya, dia yang menyuruh aku menolong kau,"
Sahut Li Ti. '"Dan apakah kau temukan seorang nona cilik?"
"Tidak hanya satu, tetapi dua,"
Kata Thio Thian-ti cepat.
"Jika yang satu hendak membunuh aku, sebaliknya yang lain akan menolong aku.
rupa mereka mirip sekali seperti pinang dibelah dua Belum habis ia berkata, sekonyong-konyong ia roboh ke tanah.
Kiranya setelah terluka dan kemudian berlari menyelamatkan diri sekuat tenaga, kini ia tak tahan lagi, maka terus ambruk.
Sejak tadi si Nikoh setengah umur itu diam saja, tetapi sekarang tiba-tiba ia bergumam seorang diri.
"Ehm, mirip sekali seperti pinang dibelah dua, apa mungkin di dunia ini bisa terjadi hal yang begini kebetulan!"
Kembali perasaan Li Ti terguncang oleh kata-kata orang, dalam pada itu ia dengar Nikoh itu berkata pula.
"Eh, dia punya Pi-pekut (tulang pundak) tembus tertusuk orang, kau paham ilmu tabib, lekas kau tolong dia, dia adalah sahabat ayahku, tentunya bukan orang jahat!"
Lagi-lagi Li Ti tergetar hatinya, ia terkejut.
"Eh, kiranya Nikoh inipun paham ilmu silat!"
Demikian ia berpikir. Perlu diketahui bahwa Pi-pe-kut adalah ruas tulang penting, kalau sampai putus dan tidak lekas diobati, maka betapa tinggi ilmu silatnya pasti akan cacat juga.
"Kalau begitu, harap Suthay menunggu di sini, setelah kuberikan pertolongan padanya, segera aku keluar lagi,"
Sabut Li Ti.
"Aku tahu, aku pasti akan menunggu, sudah tujuh belas tahun lamanya aku menunggu,"
Kata Nikoh itu perlahan sambil menatap ke tempat jauh.
Suaranya penuh mengandung rasa pilu yang tak terhingga.
Li Ti terguncang lagi hatinya, lekas ia gendong Thio Thian-ti ke kamar dalam kelenteng, ia merasa aneh atas sikap orang, ia menduga ada peristiwa luar biasa yang segera akan terjadi.
Kembali pada kedua dara kembar itu, sepanjang jalan Pang Ing mengudak Pang Lin dengan kencang, tanpa terasa mereka sudah sampai di depan kelenteng itu.
"Berhenti!"
Sekonyong-konyong suara seorang yang kereng dan penuh kasih-sayang membentak mereka.
Suara ini seperti membawa semacam kekuatan yang tidak bisa dibantah, seketika kedua kakak-beradik kembar ini berhenti di tempat masing-masing sambil memandang dengan terkesima.
Maka tertampaklah oleh mereka di depan kelenteng itu berdiri seorang Nikoh setengah umur dengan mata kelihatan basah berkaca sedang menatap mereka.
"Ai, pertemuan darah daging sendiri ternyata tidak disadari, bahkan saling labrak-melabrak, sungguh kasihan!"
Demikian terdengar Nikoh itu berkata dengan menarik napas panjang.
Kiranya Nikoh setengah umur ini bukan lain adalah ibu kedua dara kembar itu sendiri, yakni Khong Lian-he.
Ketika ia bertemu dengan Pang Lin, ia memang sudah curiga apakah anak dara ini bukan putrinya sendiri, tetapi waktu ia mendapatkan nama orang yang berlainan, maka ia tak berani mengenalinya.
Kini demi nampak rupa kedua anak dara yang mirip bagaikan pinang dibelah dua, ia yakin di jagat ini kecuali sepasang putri kembarnya tentu tiada lagi yang bisa begini mirip.
Di lain pihak, baik Pang Ing maupun Pang Lin sama terguncang juga hatinya.
"Kau ini siapa? Darimana kau tahu dia adalah saudaraku?"
Dengan mendongak Pang Ing bertanya.
"Ya, Suthay, apa kau tahu asal-usul diriku? Kenapa tidak kau katakan semalam? Apa betul dia Taciku?"
Demikian Pang Lin pun berseru.
Dalam keadaan demikian sungguh tak keruan rasa hati Khong Liang-he, ia bergirang dan juga terharu, tiba-tiba ia berlari mendekati kedua anak dara itu, dengan tangan kiri ia tarik Pang Ing dan tangan lainnya memegang Pang Lin, dengan perasaan terharu ia mengamati kedua anak kembar ini agak lama.
"Coba kalian berdua perlihatkan padaku tertawamu, biar kulihat siapa Taci dan yang mana Adik,"
Katanya dengan tersenyum dan mengembeng air mata.
Pang Ing memandangi ibunya dengan terkesima, seketika ia tidak bisa tertawa, sedang Pang Lin telah tertawa cekikikan, bahkan si nakal ini mendadak mengulur jari mengkili-kili ketiak Pang Ing.
"Suthay minta kau tertawa, kenapa kau tidak mau tertawa?"
Demikian ia menggoda pula. Oleh karena ketiaknya dikili-kili, dengan sendirinya Pang Ing merasa geli, tanpa tertahan ia pun tertawa. Maka terdengarlah Nikoh setengah umur itu berkata lagi.
"Lin-ji, tak boleh kau nakal, kau adalah adik, selanjutnya kau harus tunduk pada Tacimu!"
Kedua dara kembar Pang Ing dan Pang Lin ini memang adalah nona yang punya pikiran tajam, setelah menyaksikan kejadian ini tanpa dijelaskan lagi mereka lantas berseru.
"O, Ibu!"
Maka tertampaklah kemudian ketiga orang saling rangkul menjadi satu, air mata kegirangan tanpa terasa bercucuran.
Ibu dan anak saling bertemu kembali, oleh Khong Lian-he dirasa seperti dalam khayalan belaka, saking girangnya ia menangis bercampur tertawa, ia merangkul kencang kedua putrinya dengan mesra.
Entah sudah berapa lama ketika mendadak mereka dikejutkan oleh suara panggilan.
"Ing-moay."
Kiranya Li Ti keluar dari dalam kelenteng, demi nampak kejadian itu, Li Ti menjadi bingung, tapi kemudian ia pun ikut girang.
"Mari sini, coba kau lihat kedua putriku ini, aku berterima kasih padamu yang telah menolong ayahku dan telah membawa pula Lin-ji padaku, hingga kami sekeluarga kini telah berkumpul kembali,"
Dengan tertawa Khong Lian-he berkata kepada Li Ti.
"Li-koko!"
Demikian kedua anak dara itu memanggil berbareng sesudah mengesut air mata masing-masing.
Lalu mereka berlari maju beberapa tindak, tapi tanpa berjanji pula lantas berhenti.
Keruan Li Ti menjadi bingung, pandangannya menjadi kacau, ia tidak bisa membedakan mana yang Taci dan yang mana Adik, ia coba ingat-ingat baju warna apa yang pagi tadi dipakai Pang Lin.
Akan tetapi sebelum ia buka suara, ia dengar Khong Lian-he berkata lagi.
"Ing-ji dan Lin-ji, coba kalian tertawa lagi!"
Sekali ini baik Pang Ing maupun Pang Lin lantas tertawa berbareng.
"Nah, lihat yang jelas itu,"
Kata Khong Lian-he sambil menunjuk kedua anak dara ini.
"pada waktu kecilnya, karena rupa mereka mirip sekali, sampai aku sendiri pun tak bisa membedakan. Hanya saja bila mereka tertawa, pada sebelah pipi mereka, masing-masing terdapat sebuah dekik, dekik si kakak di pipi kiri, sedang dekik si adik di pipi kanan, kau boleh lihat yang jelas, selanjutnya t;ntu kau tak akan keliru lagi."
Sementara Pang Lin kembali tertawa lagi sambil maju mendekati Li Ti dan menarik tangan pemuda itu.
"Bu, tak lama lagi tentu kau dapat membedakannya, bukankah aku jauh lebih nakal daripada Cici!"
Kata anak dara itu. Dalam pada itu Khong Lian-he jadi teringat pada waktu perayaan ulang tahun pertama mereka, waktu itu perbedaan watak mereka memang sudah kentara.
"Apa kalian sudah pernah bertemu? Darimana kau mengetahui watak Tacimu?"
Dengan tertawa ia bertanya. Karena itu, Pang Lin melelet lidah, ia membuat muka Jenaka lagi.
"Bu, kau tidak tahu bahwa Taci bengis sekali padaku, baru pertama kali bertemu tadi ia sudah hendak memukul aku!"
Demikian ia menutur dengan lagak lucu.
"Li-koko, lekas kau jelaskan pada Cici, bukankah itu Thio-cecu kaulah yang suruh aku menolongnya, tapi Cici marah-marah padaku, katanya aku bergaul dengan orang jahat dan dia hendak memukul aku!"
Pang Ing geli karena kenakalan adiknya ini, tapi hatinya seperti merasakan sesuatu juga ketika melihat Pang Lin berlaku begitu rapat dengan Li Ti, ia pikir.
"Melihat gelagatnya, mereka tentu adalah kekasih. Tabiat Li Ti jujur, hidup adik kelak tentu akan bahagia. Tetapi aku sendiri sebaliknya entah akan bagaimana jadinya kelak?"
Dalam pada itu ia dengar Pang Lin menyebut Thio-cecu, yaitu orang yang telah membikin hilang obat yang diperolehnya dengan susah-payah itu.
Tiba-tiba ia teringat pula pada jiwa Teng Hiau-lan yang tinggal sehari dua hari ini, ia jadi sedih hingga mengalirkan air mata.
Melihat itu hati Li Ti terguncang juga, ia pikir.
"Ing-moay dan aku adalah kawan bermain sejak anak-anak, meski tiada sumpah setia di antara kami, tetapi batin anak perempuan memang sukar diraba. Tidak sampai tiga tahun aku turun gunung aku sudah jatuh cinta pada orang lain, jangan-jangan lantaran inilah dia menyesali diriku."
Demikianlah ia berpikir dengan tak tenteram, dengan terkesima ia memandangi Pang Ing. Di sebelah sana baik Khong Lian-he maupun Pang Lin pun merasa heran dan kaget.
"O, Taci yang baik, kalau kau inginkan dia (maksudnya Li Ti), berkatalah terus-terang, kenapa harus menangis?"
Demikian Pang Lin membatin, dalam hati ia sudah mengambil keputusan apabila di antara mereka berdua memang sudah tertanam bibit percintaan, maka ia rela menyerahkan Li Ti kepada sang Taci.
Sunggguhpun begitu pikirannya, tapi berat dan pilu juga dirasakannya.
"Li-koko, siapakah Thio-cecu? Kenapa kau melindungi dia?"
Tanya Pang Ing kemudian sesudah mengusap air matanya.
"Biarkan dia keluar sini, kalau aku tidak menabas kutung kedua tangannya, rasa hatiku tidak puas!"
"Ada sakit hati apakah antara kau dan Thio Thian-ti,"
Dengan terheran-heran Li Ti bertanya.
"Kenapa kau begitu gemas padanya? Dia adalah Ciangbun Thian-tay-pay, walaupun tidak terlalu baik, tapi juga tidak terlalu busuk, apalagi dia adalah kawan baik kau punya Gwakong (kakek luar), jika ada sesuatu dendam antara kau dengan dia, hendaklah kau ingat pada Gwakong dan ampuni dia!"
Mendengar ini kembali Pang Ing tercengang.
"Memang tidak salah perkataannya, nak,"
Sela Khong Lian-he.
"Kau punya Gwakong terluka dan berada di dalam, sebentar lagi kalian boleh masuk menemuinya."
Sudah tentu sama sekali tidak diduga Khong Lian-he bahwa kedua anak kembar ini bukan saja sudah pernah berjumpa dengan Gwakong mereka, bahkan sudah pernah bergebrak dengan kakek luarnya ini.
Akan tetapi sesudah mendengar penuturan orang tadi, kembali Pang Ing mencucurkan air mata dengan sedih.
Dengan sendirinya Khong Lian-he sangat heran.
"Ing-ji, sebenarnya ada urusan apakah kau dengan dia?"
Tanyanya.
"Orang she Thio ini bukan orang baik-baik, dia telah memusnahkan obatku,"
Sahut Pang Ing.
"Obat apakah maksudmu?"
Tanya Lian-he.
"Sebenarnya obat itu akan kugunakan untuk menolong jiwa seorang kawan,"
Demikian Pang Ing menerangkan dengan suara kurang lancar.
"Tanpa sebab Thio Thian-ti datang melabrak aku dan bungkusan obat itu dilempar ke sungai di bawah jurang, untuk mencarinya sudah tiada harapan lagi."
"Siapakah kau punya kawan itu, lelaki atau perempuan?"
Sekonyong-konyong Pang Lin bertanya. Seketika muka Pang Ing menjadi merah.
"Tentang orang ini, dia kenal baik juga dengan kau, Li-koko,"
Sahutnya kemudian.
"Masih ingatkah kau pada Teng-sioksiok kita itu? Dahulu dia pun tinggal di Thian-san selama tiga tahun."
"O, kiranya Teng Hiau-lan,"
Ujar Li Ti.
Tetapi demi nampak Pang Ing begitu kuatir atas diri Teng Hiau-lan, diam-diam ia mengomeli diri sendiri atas sangkaan tadi, ia menjadi malu sendiri.
Dalam pada itu, setelah mendengar cerita Pang Ing tadi, Pang Lin tertawa geli.
"Cici, aku lagi yang bikin gara-gara hingga mereka keliru menyangka dirimu,"
Ia menjelaskan.
"Thio Thian-ti itu sebenarnya bertujuan mencari aku untuk menuntut balas, sebab anak buahnya hendak merebut sebuah kitab kami, tapi aku telah melukai tiga orang mereka dengan pisauku yang berbisa, makanya dia hendak mencari aku buat bikin perhitungan."
Tentu saja penjelasan ini membikin Pang Ing heran pula.
"Dan kenapa kau malah menolong dia?"
Tanyanya.
"Ya, perselisihan lebih baik dihindarkan,"
Ujar Li Ti.
"Padahal kitab itupun bukan milik kita, barang yang tak bertuan tak bisa disalahkan kalau mereka mengincarnya."
Sementara itu rasa marah dan gemas Pang Ing kepada Thio Thian-ti perlahan lenyap, tapi bila teringat jiwa Teng Hiau-lan sukar ditolong lagi, ia menjadi sangat berduka.
"Penyakit apakah yang diderita Teng-toako, dia terkena sesuatu Am-gi musuh yang berbisa?"
Tanya Li Ti.
"Coba kau terangkan, barangkali aku dapat mengobati dia."
Tingkatan antara Li Ti, Teng Hiau-lan dan Pang Ing sebenarnya sama, tapi karena dahulu Teng Hiau-lan pernah ikut belajar silat pada Engkongnya, maka Pang Ing memanggil Hiau-lan "Encek"
Atau paman, sebaliknya Li Ti hanya memanggil "Toako"
Atau saudara tua padanya. Dalam pada itu Pang Lin menyeletuk atas percakapan orang tadi.
"Kitab yang aku bilang tadi bukan lain adalah kitab tinggalan Pho Jing-cu, katanya kitab rahasia ilmu tabib yang paling mujizat."
Mendengar ini, Pang Ing menjadi girang, tiba-tiba ia mendapatkan sinar harapan lagi.
"Ah, kalau begitu lekaslah kau periksa kitab itu,"
Katanya cepat.
"Tetapi bagaimana dengan itu daun waru musim rontok dan sepasang jangkrik jantan-betina, kemana harus mencarinya pada musim seperti ini?"
"Kenapa harus pakai kedua macam bahan itu?"
Tanya Li Ti.
"Itulah resep yang dibuka Boat-wan Lojin,"
Sahut Pang Ing.
"Boat-wan Lojin adalah anak murid Pho Jing-cu, dia bilang harus pakai kedua bahan obat ini baru dapat menunjukkan kemujarabannya."
"Boat-wan Lojin? O, barangkali yang bernama Yap Siu-siang itu?"
Tanya Li Ti.
"Ya, di dalam kitab Pho Jing-cu pernah disebut namanya, katanya dia pakai nama alias Boat-wan dan menjadi murid tidak resmi, di dalam kitab malah terdapat pula sebuah catatan kejadian penyakit yang disembuhkan mereka bersama, agaknya kejadian ini sudah setengah abad yang lalu. Ing-moay, dalam hal mengobati orang sakit tidak boleh menyembunyikan sesuatu apapun, hendaklah kau suka menjelaskan padaku tentang pengalaman dan keadaan penyakitnya."
Maka berceritalah Pang Ing apa yang dialami Teng Hiau-lan dengan minum arak beracun Yong Ceng dan bagaimana keadaan paling akhir ini.
Habis mendengarkan penuturan ini, Li Ti mengerut dahi, ia merasa dirinya sedikitpun tak punya pegangan untuk bisa menyembuhkan orang.
Perlu diketahui bahwa meski Li Ti sudah mempelajari kitab ketabiban dan pandai teori pengobatan, tetapi dalam hal pengalaman sedikit saja belum ada, lebih-lebih penyakit aneh seperti yang diderita Teng Hiau-lan ini, bukan saja tidak pernah dia baca dalam kitab, balikan secara teori ia pun tidak mengerti.
Sungguhpun demikian, supaya bisa membesarkan hati Pang Ing, ia sengaja tersenyum.
"Baiklah, besok aku berangkat bersama kau untuk mengobati dia,"
Katanya kemudian.
"Kenapa tidak sekarang saja,"
Ajak Pang Ing tak sabar.
"Buat apa harus buru-buru?"
Ujar Li Ti. Karena jawaban ini, tanpa tertahan air mata Pang Ing bercucuran lagi.
"Tentu kau tidak tahu bahwa umurnya hanya bertahan sampai besok siang saja, bila dalam waktu sesingkat ini tidak tertolong, terang tiada harapan lagi,"
Katanya dengan tersedu-sedan.
"Berapa jauh tempat tinggalmu dari sini?"
Tanya Li Ti.
"Sebelum lohor kita tentu sudah sampai di sana. Sekarang tulang pundak Thio Thian-ti patah tertusuk, kalau tidak diobati tepat pada waktunya, dia tentu akan cacat untuk selamanya dan tak berguna lagi ilmu silatnya. Baik atau jelek, setidak-tidaknya dia masih seorang Ciangbun dari suatu cabang persilatan, kita tidak bisa membiarkan ilmu silat Thian-tay-pay termusnah begitu saja."
Pang Ing pikir luka Thio Thian-ti adalah dia sendiri yang menusuknya, teringat pula olehnya kejadian di Coa-to tempo hari cara bagaimana Lu Si-nio membalas dendam orang dengan budi pada Tok-liong Cuncia, teringat juga pada pertemuan pertama dengan ibu dan adiknya, rasanya banyak sekali hal-hal yang perlu dibicarakan, lagi pula ia harus menjenguk Engkong luarnya yang terluka.
"Baiklah, terpaksa mati-hidup Teng-sioksiok tergantung pada takdir juga, kita kan sudah berusaha sepenuh tenaga,"
Katanya kemudian dengan rela. Tengah bicara, tiba-tiba tertampak ada belasan orang naik ke atas gunung.
"Nah, Lin-moay, langgananmu telah datang lagi,"
Dengan tertawa Li Ti menggoda Pang Lin.
"Orang-orang ini terluka oleh pisaumu yang berbisa, kau harus menyembuhkan mereka."
Pang Lin lantas memapak orang, sebaliknya demi nampak anak dara ini, orang-orang itu segera putar tubuh terus lari sipat-kuping sembari menjerit ketakutan.
Keruan Pang Lin menjadi geli dan tertawa terbahak-bahak.
"Hai, Cecu kalian ada di sini, mari sini, tak perlu lari, biar aku mengobati kalian,"
Demikian ia teriaki orang-orang itu.
Anak buah Thio Thian-ti memang pernah melihat anak dara ini menolong Cecu mereka, tapi mereka menjadi bingung karena tak bisa membedakan mana nona yang menolong Cecu mereka dan mana pula nona yang melukai Cecu mereka.
Soal lawan kemudian berubah menjadi kawan dalam kalangan Kangouw adalah kejadian biasa, pula kedatangan mereka kemari tujuannya hendak mencari Cecu, oleh karenanya atas teriakan Pang Lin tadi mereka lantas berhenti lari, mereka putar balik, kawan-kawan mereka yang luka dibawa masuk ke dalam kelenteng, kepada mereka ini Pang Lin memberikan obat pemunah racunnya.
"Kelentengmu ini sudah berubah menjadi rumah sakit darurat, Ibu."
Dengan tertawa ia berkata pada ibunya.
"Marilah sekarang kita berbicara di luar."
Setelah Khong Lian-he menjenguk Khong Liang di kamar belakang dan mendapatkan keadaan sang ayah tidak berbahaya dan masih tidur nyenyak, ia lantas keluar buat bercakap-cakap dengan kedua putri kesayangannya.
Sedang Li Ti sendiri mengobati luka Thio Thian-ti.
Di luar kelenteng sana Khong Lian-he sedang menggandeng putrinya, di bawah cahaya sang surya yang terang ia mendengarkan penuturan kedua putrinya yang menerocos tiada hentinya.
Kecuali kejadian semasa kecilnya, Pang Lin sudah lupa, maka kedua dara kembar ini menceritakan pengalaman masing-masing pada sang ibu.
Lian-he girang sekali setelah mengetahui bahwa Pang Ing adalah murid le Lan-cu, 'dewi pedang' dari Thian-san.
Sedang Pang Lin meski banyak kisah deritanya dan terkurung di istana pangeran hampir tujuh tahun, namun anak dara ini telah mendapat juga pelajaran ilmu silat yang beraneka-ragam, lebih-lebih paling belakang ini telah mendapat ajaran kepandaian dari Bu-kek-pay, semuanya itu cukup menggembirakan bagi sang ibu.
Sesudah kedua putrinya menutur, kemudian berganti Khong Lian-he sendiri yang menceritakan pengalamannya.
Terhadap asal-usul diri mereka, Pang Ing sudah pernah mendengar dari Teng Hiau-lan, sebaliknya Pang Lin baru untuk pertama kalinya mengetahui, setelah mendengar, tidak kepalang rasa gemasnya kepada Kaisar Yong Ceng.
"Kiranya dia sendirilah biang keladi yang mengirim Hiat-ti-cu untuk membunuh Engkong dan ayah hingga mengakibatkan keluarga kita hancur bcrantakan dan terpisah selama ini, kalau aku tidak membunuh dia dengan tanganku sendiri, rasa gemasku tentu takkan terlampias,"
Demikian katanya sambil mengepal tangannya.
"Sudah belasan tahun sejak aku menyingkir ke tempat ini, belum pernah aku turun gunung,"
Kemudian Lian-he berkata lagi.
"berkat Thian, akhirnya aku bisa bertemu kembali dengan kalian, kelak aku tentu akan membawa kalian menyambangi kampung halaman kita."
Ia 'jerhenti sejenak, lalu menyambung pula.
"Lin-ji, anak muda yang datang bersama kau itu tidak jelek, siapakah namanya?"
"Dia bernama Li Ti, putra Bu Ging-yao dari Thian-san-chit-kiam,"
Pang Lin menerangkan. '"Pilihanmu sungguh tepat, anak Lin,"
Kata Lian-he pula dengan tersenyum.
"Tidak dinyana kedua putriku ternyata bersatu keluarga dengan dua ahli pedang wanita yang paling tinggi di zaman ini."
"Tetapi, dia masih belum meminang aku, ibu!"
Sahut Pang Lin '.rus-terang. Keruan Khong Lian-he bergelak tertawa mendengar kata-kata putrinya yang polos ini.
"Bocah yang tak malu, kenapa buru-buru?"
Ujarnya tertawa. Tunggu saja, lambat atau cepat dia toh akan mengajukan lamaran padaku."
Habis itu, ia berpaling dan bertanya pada Pang Ing.
"Dan bagaimana dengan kau, Ing-ji?"
Pang Ing ternyata lebih prihatin, ia menunduk dan bungkam. Di luar dugaan, sekonyong-konyong Pang Lin mencolek pipi lacinya ini.
"Hihi, Cici merasa malu! Bukankah kau juga punya I eng-sioksiok?"
Ia menggoda.
"O, apakah dia Teng Hiau-lan?"
Kata Lian-he dengan tertawa.
"Dahulu aku malah menyebutnya sebagai adik cilik, ketika keluarga kita mengalami bencana, dia pernah melindungi aku dan kau dengan mati-matian, belakangan baru berpencar setelah sampai di Thay-lung-san. Meski umurnya belasan tahun lebih banyak dari kau, te-lapi orangnya memang sangat baik, dia boleh dikata mempunyai |iwa patriot dan budi yang luhur. Belasan tahun ini aku pun selalu terkenang padanya. Encek berlainan she, tiada halangannya buat kalian berdua."
Pang Ing menjadi terharu oleh ujar ibunya ini, ia menjadi sedih bila ingat umur Teng Hiau-lan tinggal sehari dua hari ini saja bila tak tertolong.
"Sudahlah, jangan menyebutnya lagi, Bu!"
Katanya kemudian dengan air mata berlinang.
"Jangan kuatir, Cici, penyakit Teng-sioksiok itu asal Li Ti pergi mengobati, tentu dia akan sembuh kembali,"
Demikian Pang Lin menghiburnya.
Pang Ing berpaling ke jurusan lain dan meneteskan air mata lagi.
Melihat kelakuan putrinya ini, Khong Lian-he mengira anak dara ini menangis karena kuatir atas keselamatan Teng Hiau-lan, maka ia pun ikut menghiburnya.
"Ya, ilmu pengobatan Li Ti memang tinggi, lihat saja luka Gwakongmu yang begitu berat, dia pun dapat menyembuhkannya, aku kira dia pun pasti bisa menyembuhkan Hiau-lan,"
Ujarnya.
Di lain pihak diam-diam Pang Lin melirik Encinya, ia lihat di antara cucuran air mata Pang Ing itu, tampaknya mengandung rasa penyesalan yang tak terhingga.
Pang Lin adalah setan cerdik, ia pun pernah merasakan pahit-getirnya cinta (ia pernah mencintai Lian Keng-hiau), karenanya, melihat kelakuan Encinya ini ia menduga tentu ada hal-hal lain yang susah diutarakan, tetapi ia pun tidak bertanya lagi.
Demikianlah ibu dan anak bertiga saling menceritakan kisah masing-masing, tanpa terasa sang surya sudah menggeser ke barat, sampai perut lapar pun tidak mereka rasakan, mereka bertiga tenggelam dalam suasana bahagia yang bercampur-aduk antara suka dan duka, sedang pada diri kedua anak dara terdapat pula perasaan yang berbeda.
Keadaan ini entah sudah berlangsung berapa lama ketika mendadak terlihat Li Ti berlari mendatangi dari jauh.
"Apa kalian masih belum selesai bercakap-cakap?"
Dengan tersenyum pemuda itu menegur. Waktu Pang Lin memandang, ia lihat sebelah tangan Li Ti membawa seekor ayam alas dan tangan yang lain memegang setangkai dahan pohon liu dengan muka berseri-seri.
"Kau ini sungguh terlalu, kau tidak tinggal bersama kami, pula bukannya pergi menjadi dukun, sebaliknya kau masih sempat pergi berburu ayam alas!"
Demikian Pang Lin mengomel.
"Kau tidak tahu, justru jiwa Thio Thian-ti bergantung pada ayam alas ini,"
Sahut Li Ti.
"Suthay, maaf, terpaksa aku harus melanggar pantanganmu."
"Suthay apalagi, kenapa tidak panggil saja Pek-bo (bibi),"
Pang Lin menyela cepat.
"Pantangan, kau bilang pantangan apa?"
"Ya, bibi, terpaksa aku harus membunuh di dalam kelentengmu, untuk menyambung miang tidak boleh tanpa darah ayam yang segar,"
Kata Li Ti.
"Ibu menjadi Nikoh lantaran dukanya tetapi sekarang kami sekeluarga sudah berkumpul kembali, perlu apa menjadi Nikoh lagi?"
Kembali Pang Lin membuka suara.
"Betul tidak kataku, Bu?"
Khong Lian-he tertawa melihat gadisnya menerocos terus.
"Ya, kau si nakal ini ternyata dapat menyelami pikiranku,"
Sahutnya kemudian.
"Baiklah, ibu turuti kau, besok juga ibu kembali pada pergaulan umum lagi."
Sementara itu Li Ti lantas masuk ke dalam kelenteng dan diikuti Khong Lian-he untuk memeriksa keadaan ayahnya, sebaliknya Pang Lin tidak menyusul.
"Biarlah aku omong-omong dengan Cici, ibu, sebentar kalau (iwakong sudah mendusin, panggil saja kami,"
Demikian serunya.
Kemudian ia menarik tangan Pang Ing, kedua anak dara ini lantas pasang omong perlahan, melihat kasih-sayang antara kedua laci-adik ini, sudah tentu Khong Lian-he sangat senang.
Waktu ia masuk ke dalam didengarnya suara tertawa kakak-beradik itu.
Pang Ing mengetahui pengalaman adiknya jauh lebih menderita daripada dirinya, tadi ia pun salah sangka dan hendak menghajarnya, maka sekarang ia merasa sayang sekali pada adiknya ini.
"Cici, ada ganjalan hati apakah yang terkandung dalam pikiranmu, dapatkah kau katakan padaku?"
Demikian tanya Pang Lin selelah menarik sang Taci duduk di bawah pohon yang rindang.
"Ganjalan hatiku ialah ingin mencari kau,"
Sahut Pang Ing.
"Tidak, aku tahu masih ada soal lain lagi!"
Ujar Pang Lin. Tetapi Pang Ing bungkam, ia hanya menghela napas.
"Cici,"
Kata Pang Lin lagi.
"pada waktu aku masih kecil, aku pun mengira bahwa diriku memang tak punya bapak-ibu, tatkala tinggal dalam istana, banyak orang yang suka padaku, mereka panggil aku "
Keke " (bahasa Boanciu, panggilan terhadap putri bangsawan) tetapi ada juga yang benci padaku, mereka memaki aku sebagai "
Budak liar ", tetapi aku tidak peduli, mereka boleh suka padaku atau boleh juga benci, dalam suasana demikian itulah aku dibesarkan.
Watakku memang aneh, kalau aku tidak senang, sekalipun kaisar sendiri bersama kakek-moyangnya juga tak bisa menundukkan aku, sebaliknya apa yang aku inginkan, bagaimana pun juga pasti akan kulakukan."
Kemudian Pang Lin bertanya ganjalan hati apa yang menjadi pikiran sang Taci.
Dengan menghela napas lalu Pang Ing menuturkan pengalamannya, terutama mengenai kesalahan-pahaman Nyo Liu-jing terhadap dirinya dan keadaan Teng Hiau-lan sekarang yang sudah dekat ajalnya itu.
Pang Lin ikut terharu atas cerita kakaknya itu, tapi ia lantas menghiburnya agar tidak perlu memikirkan soal Nyo Liu-jing lagi, tentang Teng Hiau-lan tentu akan dapat disembuhkan oleh Li Ti nanti.
Begitulah kedua nona kembar itu berbicara dengan asyiknya, dalam pada itu Li Ti dan Khong Lian-he di ruangan dalam sedang mengobati luka Thio Thian-ti.
Li Ti mendapatkan sebatang ranting kayu Yang-liu, ranting kayu itu dipapasnya menjadi gepeng lurus dalam bentuk seperti tulang tangan, pada bagian tengah kayu itu dibikin tembus berlubang seperti tulang sesungguhnya, lalu ditaruh pada kedua tulang yang remuk untuk menggantikan bagian tulang yang dipotong dan diambil, pada waktu kayu ini dimasukkan, kedua ujung kayu dan kedua belah tulang yang akan disambung dipoles dengan darah ayam yang masih hangat segar, dan dibubuhi pula 'ciok-jing-san' (semacam obat bubuk) yang bisa membantu tumbuhnya daging baru, akhirnya kulit daging yang pecah itu dijahit, di luar sambungan miang yang luka ini dipoles pula salep untuk melancarkan darah, akhirnya digapit dengan papan kayu untuk mengencangkan tempat sambungan.
Cara pengobatan ini disebut Liu-ki-ciap-kut-hoat (ilmu me-nyambungan miang dengan kayu Liu), ilmu ini adalah salah satu ilmu ketabiban Tiongkok kuno yang tiada bandingannya, cara penyembuhan begini hanya memakan waktu tujuh hari saja, miang dan kayu Liu yang berada di dalam akan tersambung dan tumbuh tulang baru seperti sediakala.
Keruan Thio Thian-ti sangat berterima-kasih, berulang-ulang ia meminta maaf atas kesembronoannya tempo hari.
Sesudah menyembuhkan Thio Thian-ti, kemudian mereka pergi memeriksa Khong Liang, orang tua ini ternyata sudah sadar dan tampak segar.
Khong Liang menjadi girang sekali ketika kemudian Khong Liang-he memberitahukan kabar gembira bahwa kedua anak daranya yang kembar sudah berkumpul semua.
Senja sunyi di pegunungan dengan pemandangan yang indah, di bawah gunung kelihatan asap mengepal di antara rumah penduduk, suatu tanda kaum petani sedang menanak nasi.
Waktu itulah Pang Ing dan Pang Lin baru berjalan kembali ke kelenteng, mereka sudah ditunggu sang ibu di depan rumah berhala itu.
"Apa Gwakong sudah mendusin?"
Segera Pang Ing-bertanya.
"Sudah, beliau sedang menantikan kalian,"
Sahut sang ibu.
Maka Lian-he lantas membawa kedua putrinya masuk ke kamar, tetapi waktu melihat rupa kedua anak ini, tanpa tertahan Khong Liang berseru kaget, sebaliknya kedua dara kembar inipun tertegun seketika.
"Coba lihat, ayah, mereka sudah tumbuh begini tinggi!"
Segera Khong Lian-he membuka suara.
"Yang sebelah kanan ini adalah Ing-ji yang kiri ialah Lin-ji. Kalau aku tidak menjelaskan, pasti ayah tak bisa membedakan mereka."
"Harap Gwakong suka memaafkan,"
Segera juga Pang Ing berkata. Di lain pihak Pang Lin hanya tertawa menyengir saja.
"Untung aku belum melukai engkau dengan Hui-to berbisa,"
Katanya kemudian. Setelah Khong Liang kaget dan bingung sejenak, segera ia bergelak tertawa.
"He, apa kalian sudah pernah bergebrak dengan Gwakong?"
Dengan heran Khong Lian-he bertanya pada kedua putrinya.
"Ya, tidak apalah, yang tidak tahu tidak berdosa,"
Ujar Khong Liang.
"Kepandaian kalian berdua sungguh luar biasa, sudah jauh lebih kuat daripada orang tua semacam kami ini!"
Sesudah berhenti sebentar, lalu ia menyambung lagi.
"Memang aku ini sudah pikun, mereka itu terkena Hui-to milik Ciong Ban-tong, aku sangat heran, tapi kenapa tidak teringat padamu!"
Pikiran Pang Lin tergerak oleh penuturan terakhir ini.
"Kenapa harus teringat pada diriku?"
Cepat ia bertanya.
"Bukankah kau punya Toat-beng-sin-to itu ajaran Ciong Ban-tong?"
Tanya Khong Liang tiba-tiba.
"Ya, aku jadi teringat juga, pada waktu kau genap setahun, kau sudah lantas penujui dia punya Hui-to, waktu itu malahan kakek merasa kurang senang,"
Sela Khong Lian-he.
"He, pantas pada waktu pertama kalinya aku mendengar nama Ciong Ban-tong disebut, aku lantas merasa pernah kenal,"
Kata Pang Lin dengan heran.
"Kalau begitu, jangan-jangan aku memang betul adalah muridnya?"
"Apa katamu? Masakah kau sendiri pun tidak mengetahui?"
Tanya Khong Liang heran.
"Apa Ciong Ban-tong tidak pernah memberitahukan padamu dia punya nama yang sebenarnya?"
"Lin-ji bilang semua kejadian di masa kecilnya sudah terlupa seluruhnya,"
Kata Lian-he dengan menghela napas.
"Bagaimana bisa jadi begitu?"
Ujar Khong Liang heran.
Lalu berceritalah dia kejadian yang lampau, dimulai pada malam yang malang itu sampai akhirnya Pang Lin dibawa pulang ke rumah keluarga Lian oleh Ciong Ban-tong setelah berhasil lari keluar dari kepungan musuh.
Kisah ini Khong Lian-he sendiri belum mengetahui, sudah tentu ia pun mendengarkan dengan ternganga.
"Dan belakangan waktu aku mengkirim orang mencari tahu dirimu, barulah aku mengetahui kau sudah tidak berada di rumah keluarga Lian lagi, Ciong Ban-tong pun telah tewas tanpa diketahui sebabnya,"
Demikian Khong Liang menyambung lagi.
"Sejak itulah lantas tidak pernah diperoleh berita tentang dirimu, tidak dinyana kini bisa bertemu di sini sesudah sekian lama"
Dalam pada itu Pang Lin ternyata terkesima oleh cerita ini, semua melihat nona ir' mengawasi dinding dan termangu-mangu tanpa berkata, dengan perlahan-lahan Khong Lian-he membelai rambutnya, tetapi sedikitpun tiada sesuatu gerakan balasan dari anak dara ini, ia kaku seperti patung yang bersandar pada dinding.
Nampak keadaan anak dara ini, Khong Liang menjadi kuatir, ia berhenti tidak menutur lagi.
"Lin-ji, Lin-ji!"
Lian-he coba memanggil di tepi telinga putrinya ini. Akan tetapi Pang Lin tetap tidak bergerak, juga tidak menjawab. Karena itu segera Li Ti mendekatinya.
"Pek-bo, dia sedang mengenangkan kejadian masa dulu, jangan engkau tanya padanya, biarlah aku membawa dia keluar saja,"
Dengan perlahan pemuda ini membisiki Khong Lian-he.
Perlahan Li Ti memayang Pang Lin berjalan keluar kelenteng, dengan terkesima anak dara ini berjalan mengikutinya sampai di bawah sebatang pohon, Li Ti menarik anak dara ini berduduk, lalu ia pandang tajam mata Pang Lin, selang tak lama, kelihatan gadis ini menunduk dengan lemas.
"Marilah kubawa kau ke rumah keluarga Lian,"
Tiba-tiba Li Ti membisiki si nona.
"Tidak, tak mau, aku tak mau!"
Teriak Pang Lin mendadak.
"Ah, sudah sampai di tempatnya! Taman ini sungguh besar sekali, kenapa tiada penghuninya?"
Kata Li Ti pula.
"He, nona cilik, berapa umurmu tahun ini, enam atau tujuh? Sudah bisa membaca?"
Mendadak Pang Lin menjawab dengan lagu suara yang masih anak-anak.
"Umurku tujuh tahun, dua tahun yang lalu Ciong-lausu (guru, maksudnya Ciong Ban-tong) mulai mengajar aku membaca!"
Kiranya apa yang sedang dilakukan Li Ti ialah menggunakan ilmu 'Hoan-hun-sut' yang dia dapat belajar dari kitab pusaka Pho Jing-cu untuk menyembuhkan penyakit hilang ingatan.
Ilmu 'Hoan-hun-sut' ini adalah semacam ilmu hipnotis zaman dahulu, meski tidak begitu manjur seperti ilmu hipnotis zaman sekarang, tapi bisa juga mengatasi jiwa si penderita sakit, tetapi terhadap penderita seperti Pang Lin, harus dimulai mengingatkan asal-usul dirinya sedikit demi sedikit, supaya anak dara ini dapat kembali daya ingatannya yang sudah hilang itu.
Begitulah demi nampak usahanya mulai berhasil, setelah berhenti sejenak dan membiarkan Pang Lin pusatkan pikirannya lagi, baru Li Ti perlahan-lahan mengambil kotak yang berisi Hui-to dari pinggang anak dara itu.
"Apakah ini?"
Ia bertanya lagi.
"He, jangan kau sembarangan menyentuh aku punya Hui-to,"
Demikian Pang Lin menjawab lagi, tetap dengan lagu suara anak kecil.
"Ini adalah Toat-beng-sin-to pemberian Ciong-lausu, pada ujung pisau ada racunnya!"
"Bukankah kau sering bermain Hui-to bersama Lian Keng-hiau?"
"Ya, Lian-koko juga punya satu kotak Hui-to, kemarin ia masih memberi petunjuk cara menggunakannya padaku!"
"Baik tidak Lian Keng-hiau terhadap kau?"
"Baik, sangat baik!"
"Apa betul? ... Nah, sekarang kau sudah menjadi nona yang berumur enambelas tahun, Hong-te hendak memaksa kau menjadi selirnya, Lian Keng-hiau pun telah datang, apa dia datang untuk menolong kau?"
Apa yang Li Ti sebut ini hanya kejadian dalam dua tahun paling akhir ini, dengan sendirinya secara cepat teringat oleh Pang Lin maka mendadak ia berpekik menangis.
"Lian Keng-hiau pun bukan orang baik-baik, ia malah membantu kaisar memaksa dan menipu aku!"
Demikian ia berteriak. Suaranya sekarang sudah berubah menjadi suara anak gadis.
"Cara bagaimanakah kau bisa kenal Hongte? Hongte adalah Si-pwelek, tahukah kau?"
Kembali Li Ti bertanya lagi. Lalu tertampak Pang Lin mengangguk-angguk.
"Kenapa Ciong-lausu membiarkan kau dihina Hongte?"
Karena pertanyaan ini, tiba-tiba Pang Lin terdiam, rupanya ia lagi memeras otaknya, wajahnya kelihatan bingung.
"O, ya, pada satu hari, selagi kau berada bersama Ciong-lausu, maka datanglah menerjang seseorang bukan?"
Dengan perlahan Li Ti coba mengingatkan lagi dengan sinar mata yang menatap tajam.
Pemuda ini menduga tentu ada orang menggondol gadis ini dari rumah keluarga Lian, maka sengaja ia gunakan ilmunya ia untuk memancing lebih jauh.
Dan betul juga, sekonyong-konyong Pang Lin menangis lagi, tiba-tiba suaranya berganti pula menjadi lagu suara anak kecil.
"Ah, aku takut, aku takut! Hiii, dua orang pakai baju kasar itu, aneh sekali, menakutkan! Mereka telah memukul mati Ciong-lausu, lalu aku dibawanya pergi!"
Mendengar jawaban ini, Li Ti tahu usahanya berhasil lagi, segera ia melanjutkan.
"Eh, tempat ini bagus sekali, mereka bawa kau ke sana, kau sangat senang bukan?"
"Itulah istana pangeran. Ehm, mereka berdua itu tinggal di sini juga,"
Sahut Pang Lin.
"Siapakah mereka itu?"
"Sat-pepek! Orang lain menyebut mereka Siang-mo. Ehm, aku tidak suka mereka. Mereka tidak suka sungguh-sungguh padaku, Si-pwelek memaksa aku, mereka pun bantu dia memaksa aku."
Diam-diam Li Ti bergirang melihat kemajuan usahanya, ia yakin Pang Lin sudah ingat semua kejadian masa silam.
Maka setelah berpikir sejenak, segera ia bertanya lagi.
Karena pertanyaan ini, air muka Pang Lin kelihatan mengunjuk cahaya terang.
"Li Ti-koko! Li Ti-koko!"
Demikian serunya. Li Ti tertawa oleh sahutan ini, dengan perasaan hangat ia membisiki telinga si gadis.
"Lin-moay, coba buka matamu, lihatlah siapa yang berada di hadapanmu ini?"
Terlihat Pang Lin membuka matanya dengan perlahan seperti tersadar dari impian.
Sementara itu hari sudah sore, sinar matahari senja membikin pemandangan pegunungan makin indah, tahu-tahu Pang Lin melihat orang yang dia kenangkan berada di depannya.
"Apa aku bukan dalam mimpi?"
Katanya kemudian setelah menenangkan diri.
"Ya, kau sudah sadar dari impianmu!"
Sahut Li Ti.
"Coba sekarang kau ingat-ingat semua kejadian di masa kecilmu!"
Pang Ing menurut, ia kumpulkan semangat dan mengenangkan apa-apa yang pernah terjadi hingga semua terbayang kembali dalam benaknya, semua kejadian seperti baru saja dialaminya.
"Ya, sekarang aku sudah terang semuanya!"
Ujarnya kemudian dengan terharu.
"Kalau begitu kita kembali dulu ke kelenteng, Ibu dan Cici tentu sedang menantikan kau dengan tak sabar,"
Kata Li Ti.
Memang tidak salah mereka sedang dinantikan dengan tak sabar, lebih-lebih Pang Ing, dilihatnya senja hampir silam dan bunyi burung ramai-riuh kembali ke sarangnya, teringat olehnya besok lo-hor akan sampai detik terakhir batas hidup Teng Hiau-lan, tidak keruan rasa hancur hatinya.
Ia gegetun kenapa tak bisa segera berangkat dengan Li Ti.
Li Ti mengerti juga perasaan orang tentu sangat tidak sabar, maka sekembalinya bersama Pang Lin, ia makan sekadarnya terus pergi tidur, belum sampai tengah malam ia sudah bangun untuk berangkat bersama Pang Ing.
Sedang Pang Lin ditingggalkan di kelenteng ini untuk membantu ibunya merawat Engkong luarnya.
Dengan perasaan berat Khong Lian-he dan Pang Lin mengantar kedua muda-mudi itu turun gunung, berulang kali Khong Lian-he memberi pesan.
"Jangan lupa, begitu Hiau-lan sembuh, bawalah menemui aku!"
Pang Lin menjadi geli oleh pesan ibunya ini.
"Hal ini tentu saja tidak perlu kau pesan lagi, bu?"
Godanya dengan tertawa.
Pang Ing tersenyum juga, bersama Li Ti lantas berangkat, di bawah sinar bulan remang-remang dan bintang yang berkelap-kelip, mereka menggunakan Ginkang yang tinggi melanjutkan perjalanan, sebelum terang tanah, mereka sudah turun sampai di bawah Pat-tat-nia dan tiba sampai di benteng Ki-yong-koan.
Sampai di sini tiba-tiba Li Ti melambatkan langkahnya, dengan teliti ia bertanya cara bagaimana Boat-wan Lojin menentukan penyakit Teng Hiau-lan, maka oleh Pang Ing lantas menceritakan pengalamannya, malahan ia sodorkan sekalian resep yang diterimanya dari Boat-wan Lojin.
"Aneh,"
Demikian Li Ti membatin setelah membaca resep itu.
"Sebagai obat pengantar digunakan daun waru dan sepasang jangkrik, tentunya bertujuan membikin perasaan orang itu bisa tenang dan tenteram. Beberapa macam obat resep inipun adalah obat yang membikin tenang pikiran dan bukan obat yang bisa menyembuhkan racun, entah apakah sebabnya?"
Begitulah Li Ti berpikir dengan memeras otak, karena itu juga langkahnya makin lama semakin lambat, sebaliknya Pang Ing jadi semakin gelisah dan tidak kepalang cemasnya, tetapi ia tahu orang lagi berpikir, ia pun tidak enak buat mendesak.
Dalam pada itu, sudah lama sekali Li Ti berpikir, tapi ia masih belum memperoleh sesuatu, ketika kemudian ia mendongak, ia lihat cahaya merah remang-remang sudah kelihatan di ufuk timur di balik gunung sana.
"Sudahkah kau temukan?"
Tanya Pang Ing cepat begitu nampak orang mendongak.
"Hayo, lekaslah sedikit, kalau tidak, mungkin waktu lohor kita belum bisa sampai di sana!"
Pada saat itu juga, di atas lereng gunung sana tiba-tiba ada orang menyambung perkataannya.
"Ha, Lin-kuijin, perlu apa kau buru-buru? Hongsiang memang lagi menunggu kau!"
Habis itu terdengar pula suara seorang lain membentak.
"Ha, bocah, kau menculik Lin-kuijin dan berani pula melukai Hud-ya, syukur meski jalannya regang, tetapi tidak sampai bodol, maka sekarang kupergoki kau lagi! Nah, kemana kau hendak lari kini, tidak lekas kau lolos senjata?"
Keruan Li Ti dan Pang Ing kaget, ketika mereka berpaling, kiranya dua orang yang datang ini adalah Han Tiong-san dan Hay-hun Hwesio.
Malam itu sesudah Hay-hun Hwesio dilukai oleh Huncwe Khong Liang dan kena digertak lari oleh suara Li Ti.
Berkat Lwe-kangnya yang sudah terlatih tinggi, sesudah merawat diri, ternyata luka yang dideritanya tidak berbahaya, maka ia telah kabur pulang buat minta bala-bantuan.
Kebetulan waktu itu Lian Keng-hiau lagi mengerahkan pasukannya ke daerah Jinghay, ia mengirim Thian-yap Sanjin dan Han Tiong-san berdua kembali ke kotaraja buat melaporkan situasi militer di medan perang, ketika Kaisar Yong Ceng mendapat kabar bahwa Pang Lin yang selalu dikenang olehnya itu ditemukan jejaknya di Pat-tat-nia bersama Li Ti yang pernah dia temukan di Ko-san dahulu, segera ia memberi perintah penguberan, akan tetapi waktu itu Emopu yang kena dilukai oleh pukulan Pang Ing sedang merawat diri dan perlu dua belas jam lagi baru bisa pulih, Yong Ceng lantas memerintahkan Han Tiong-san pergi bersama Hay-hun Hwesio.
Dahulu ketika di Ko-san, pernah Hay-hun Hwesio merasakan pedang Li Ti, sakit hati ini sudah lama hendak ia balas, kini didampingi Han Tiong-san, sudah tentu ia tidak takut lagi, ia menduga kedua bocah di hadapannya ini terang seperti 'ikan di dalam jala', maka lagaknya sangat jumawa dan mengejek.
Tak terduga, saat itu hati Pang Ing lagi gelisah, terburu-buru supaya bisa segera tiba di hadapan Teng Hiau-lan, ia sedang keru-pukan seperti kebakaran jenggot, kini mendadak ada orang hendak merintanginya, keruan tanpa bicara lagi, sebelum Hay-hun Hwesio selesai berkata, secepat kilat Pang Ing sudah melolos pedang, dengan sekali bentakan nyaring, orang berikut senjatanya berwujud satu sinar kilat lantas menyambar tenggorokan Hay-hun Hwesio Di lain pihak Hay-hun Hwesio menyangka gadis ini sebagai Pang Lin, maka ia tidak begitu memandang berat padanya.
Di luar dugaan, tipu tusukan Pang Ing ternyata sangat cepat lagi jitu, ketika Hay-hun membaliki pedangnya buat menangkis, sedikitpun ternyata tak bisa menyampuk pergi senjata orang, keruan ia kaget, lekas ia mengegos, tapi sudah terlambat, pundaknya kena tertusuk, saking sakitnya sampai Hay-hun Hwesio berteriak.
Di sebelah sana, Li Ti dan Han Tiong-san pun sudah melolos senjata dan saling gebrak juga.
Hay-hun menjadi gugar, ia, merangsek orang dengan hebat, tetapi Pang Ing lagi tak sabar hendak pulang buat menolong kekasihnya, ia lebih kalap daripada lawannya, ia pun menyerang mati-matian, serangan orang ia balas dengan serangan juga, keras lawan keras, sedikitpun ia tidak mau mengalah.
Meski Lwekang Pang Ing sedikit di bawah Hay-hun Hwesio, tetapi ia punya Kiam-hoat jauh lebih bagus, serangannya membanjir tanpa berhenti, sinar peuangnya bergulung-gulung seperti naga yang menari.
Dalam dua hari ini beruntun Hay-hun Hwesio harus merasakan dua kali luka, meski tidak membahayakan jiwanya, tapi dengan sendirinya banyak berkurang tenaganya.
Sebab itu, mula-mula ia masih bisa balas menyerang tapi lambat-laun menjadi kewalahan dan hanya mampu menangkis saja.
Di pihak sana Li Ti ternyata bukan tandingan Han Tiong-san.
Kepandaian Han Tiong-san boleh dibilang setingkat dengan Liau-in, senjatanya 'Pi-hun-tuh', pacul yang berbentuk garuk, berputar dan menyambar dengan lihai.
Meski ilmu pedang ciptaan Pek-hoat Mo-li yang dimainkan Li Ti tidak kurang berbahayanya, akan tetapi ia pun mengeluh karena sama sekali tak bisa mendekati lawan.
Sebaliknya kerena melihat Kiam-hoat orang yang aneh dan hebat, Han Tiong-san tak berani memandang enteng pada Li Ti, tapi ia lebih tua, dengan sendirinya lebih sabar, ketika mengetahui dirinya pasti akan menang, ia pun tidak terburu-buru merangsek musuh, ia pikir asal pemuda ini sudah letih, dengan sendirinya akan menyerah tanpa berkutik, kala itu baru ia gunakan tipu serangan yang mematikan.
Tak tahunya, perhitungannya ternyata meleset karena di sebelah sana Hay-hun Hwesio tak unggulan melawan Pang Ing, dalam pertarungan sengit itu tiba-tiba Hay-hun kena dilukai pedang Pang Ing lagi, sekali ini lukanya lebih berat, karena dadanya tergores oleh ujung senjata hingga berupa luka panjang.
Karena itu, Hay-hun menjadi jeri, lekas ia berusaha menggeser dan mendekati Han Tiong-san.
Tentu saja Han Tiong-san marah-marah melihat kawannya yang tak becus ini.
"Kau boleh pulang dulu!"
Segera ia membentak kawannya ini.
Habis itu, senjata garuknya berputar, sekaligus ia tandingi Pang Ing bersama Li Ti berdua.
Kesempatan itu segera digunakan Hay-hun Hwesio dengan baik, memangnya ia merasa kesakitan luar biasa, dengan cepat segera ia angkat kaki alias kabur.
Keadaan pertempuran lantas berubah juga, dengan perpaduan sepasang pedang Li Ti dan Pang Ing, mereka menggempur dengan hebat, meski kepandaian Han Tiong-san sangat tinggi, tetapi untuk melawan dua musuh tangguh, melayani yang sini, yang sana me-rangsek maju, yang sana digempur, yang sini lantas menyerang, berulang kali ia sendiri malah hampir diselomoti, mau tak mau ia menjadi kuatir juga.
"Kau mau minggir tidak?"
Mendadak Pang Ing membentak.
Berbareng pedangnya menusuk dengan Thian-san-kiam-hoat yang hebat.
Tetapi Han Tiong-san bisa mengegos dengan cepat ke samping, lalu dengan tipu 'Hing-hun-toan-hong' atau mega mengapung memotong pucuk gunung, senjata garuknya menangkis terus memotong ke pinggang lawan, tak terduga Li Ti sudah menyelonong tiba juga secara di luar perhitungan, keruan hampir Han Tiong-san kena tertusuk, dalam keadaan gugup ia coba menghindarkan diri dengan cepat, namun tidak urung lengan bajunya terkupas sebagian oleh pedang Li Ti.
Menyusul Pang Ing dan Li Ti lantas menerjang maju secepat kilat, sekuat tenaga Han Tiong-san menangkis sekali, lalu dengan cepat pula ia melompat pergi, ketika mengayun tangan, maka menyambarlah dua macam Am-gi berbentuk aneh mengarah pada kedua muda-mudi itu.
Senjata rahasia ini bukan lain adalah Am-gi tunggal ciptaan Han Tiong-san yang disebut 'Hwe-goan-kau', semacam kait setengah bundar bentuknya dan bisa berputar pulang pergi serta menikung cepat seperti terbang, senjata gelap ini luar biasa lihainya.
Li Ti pernah mendengar cerita le Lan-cu tentang senjata rahasia ini, maka ia tak berani menggunakan pedangnya untuk menangkis, ia andalkan kegesitannya untuk menghindarkan diri dengan berbagai macam gerakan.
Di samping lain Pang Ing tercengang juga demi nampak ilmu silat Han Tiong-san yang tinggi ditambah mempunyai Am-gi yang lihai, diam-diam anak dara ini berpikir.
"Dengan kekuatan kami berdua memang dapat mengalahkan dia, tapi akan banyak membuang waktu, lebih baik aku membikin dia takut dan lari saja."
Setelah mengambil keputusan ini, ia menunggu ketika 'Hwe-goan-kau' mu.uih menyambar datang dari samping dengan membawa suara mengaung, tiba-tiba Pang Ing gunakan pedangnya untuk menyampuk, karena benturan ini, kaitan itu mendadak menurun ke bawah tetapi segera pula membal balik ke atas terus menyambar ke dada Pang Ing, tampak anak dara ini tidak sempat menghindari diri lagi.
Melihat itu, Han Tiong-san berbalik menjadi kaget dan berteriak.
"Celaka!"
Kiranya ia hanya bertujuan akan melukai Pang Ing saja, untuk kemudian menawannya hidup-hidup, siapa tahu tiba-tiba Pang Ing menyampuk dengan pedangnya hingga dengan tepat senjata rahasia kaitannya menyambar ke dada anak dara ini dengan tepat.
Hendaklah diketahui bahwa Pang Ing ini disangka oleh Han Tiong-san sebagai Pang Lin, sedang Pang Lin bukan orang yang dikehendaki Kaisar, karena terpaksa Han Tiong-san menggunakan senjata rahasianya yang keji, ia pikir kalau cuma melukai anak dara ini masih tidak jadi soal, tetapi kalau sampai menewaskannya, inilah suatu dosa besar dan pasti akan dihukum berat oleh Hongsiang.
Sementara senjata rahasianya menyambar dengan cepat, tanpa ampun lagi segera terdengar suara "plak"
Yang keras, kaitannya tepat mengenai dada Pang Ing, bahkan senjata ini masih menyantel di atas baju anak dara ini dan menggelantung di dada, kelihatan Pang Ing mengambil kaitan ini dengan kedua jarinya, sikapnya ternyata wajar saja, sedikitpun tidak tampak terluka.
"Hm, hanya Am-gi semacam ini bisa melukai aku?"
Demikian ia menjengek dengan tertawa dingin.
Habis berkata, Hwe-goan-kau itu dibuang ke tanah dan menggelinding ke bawah kaki Han Tiong-san.
Sudah tentu Han Tiong-san tidak tahu bahwa anak dara ini memakai benda mestika 'Kim-si-nui-ka' atau kaos kutang lemas dari benang emas pemberian Ciong Ban-tong dahulu, kaos ini tidak mempan oleh senjata biasa, apalagi hanya Am-gi yang digunakan Han Tiong-san?
Keruan tidak kepalang terkejut Han Tiong-san, belum pernah ia saksikan orang kebal oleh serangan senjatanya.
Dalam pada itu Pang Ing dan Li Ti yang satu mengejek dan yang lain mencaci-maki, segera mereka merangsek maju lagi dengan pedang mereka.
Han Tiong-san termasuk tokoh terkemuka dari sesuatu cabang persilatan tersendiri, ia pikir dengan Am-gi saja tak bisa melukai orang, sekalipun pertempuran ini diteruskan juga sukar baginya untuk menang, jika sampai dirinya roboh di bawah dua anak muda yang masih hijau ini, maka dirinya akan kehilangan pamor.
Karena pikiran inilah, segera dia pura-pura menangkis sekali dan balas menyerang, lalu menarik diri terus angkat langkah seribu.
Melihat musuh telah kabur, diam-diam Pang Ing bersyukur sambil mengesut keringat di jidatnya.
"Kita tak bisa melanjutkan perjalanan melalui jalan raya lagi,"
Demikian kata Li Ti pada Pang Ing demi nampak arah larinya Han Tiong-san.
"Sebaiknya kita mengambil jalan kecil saja."
"Jalan kecil lebih dekat atau lebih jauh?"
Tanya Pang Ing.
"Mungkin selisih tidak banyak, hanya sedikit lebih susah ditempuh saja,"
Sahut Li Ti.
"Akan tetapi pasti akan jauh lebih aman daripada nanti kepergok musuh lagi."
Pang Ing pikir memang tiada jalan lain, tanpa berkata lagi segera ia mengikuti Li Ti.
Dengan Ginkang mereka, kalau sepanjang jalan tidak terjadi apa-apa, sebenarnya setengah jam sebelum lohor mereka bisa sampai di tempat tujuan tetapi justru kena diganggu oleh Han Tiong-san tadi, kini sang surya sudah tinggi di tengah langit, tentu saja Pang.
Ing sangat gelisah, ia tidak menghiraukan jalanan pegunungan yang berliku-liku dan banyak aral-rintangnya, ia melompat dan melayang secepat terbang berpacu dengan Li Ti.
Sebenarnya Ginkang Li Ti sudah mewarisi aliran Pek-hoat Mo-li dan jarang ada bandingannya di kolong langit ini, tetapi karena Pang Ing berlari seperti kesetanan, hampir saja ia tak bisa menyusul.
Setelah agak lama, matahari perlahan-lahan sudah bergeser ke tengah cakrawala.
"Masih berapa jauh?"
Pang Ing bertanya dengan tak sabar.
"Kira-kira empat puluh li,"
Sahut Li Ti.
Mendengar masih cukup jauh, perasaan Pang Ing jadi seperti dibakar, ia serrakin gopoh, padahal sang surya kelihatan sudah lewat lohor, untuk menempuh 40 li sedikitnya akan makan waktu setengah jam.
Ia menjadi bingung dan bimbang, pada pikirannya terbayang pemandangan Teng Hiau-lan yang lagi bergulat dengan malaikat elmaut pada sebelum ajalnya, hatinya menjadi seperti diiris-iris.
"Jika dia tidak melihat aku untuk penghabisan kalinya, mungkin mati pun dia tak akan tenteram!"
Demikian terpikir olehnya.
Dalam keadaan begini ia sudah tak berani menaruh harapan bisa menolong jiwa Teng Hiau-lan, yang dia harap hanya supaya bisa melihat pemuda itu sekali lagi sebelum menghembuskan napas yang terakhir.
Karena itulah Pang Ing semakin cepat larinya hingga seperti segulungan bayangan putih yang melayang di antara sawah ladang pegunungan.
Melihat kawannya lari secara edan-edanan, Li Ti menjadi kuatir, mau tak mau ia menyusul kencang di belakangnya, sembari memberi petunjuk jalan pada Pang Ing, berbareng ia mengumpulkan tenaga dalamnya untuk menguatkan diri, perjalanan sejauh 40 li itu dalam sekejap saja sudah berlalu, saat itu mereka sudah sampai di Se-san, pegunungan sebelah barat kotaraja.
Kelenteng kediaman Ling-sian dan juga menjadi pondokan Teng Hiau-lan dari jauh sudah kelihatan.
Baca Juga: Dendam Sejagad Legenda Kematian 4
Baca Juga: Naga Merah 12