Eps 12 Tiga Dara Pendekar - Liang Ie Shen
Baca online Tiga Dara Pendekar - Liang Ie Shen
Cersil Tiga Dara Pendekar - Liang Ie Shen.
"Ah, celaka, siluman laut raksasa datang!"
Tiba-tiba Pang Ing berseru kaget.
Waktu Hi Kak berpaling, kiranya yang disangka siluman laut itu adalah seekor ikan paus yang laksana sebuah bukit kecil sedang terapung di laut, pada kepalanya menyembur pula tiang air yang tinggi dan sedang berenang menuju ke jurusan kapal mereka.
"Lekas putar haluan,"
Teriak Hi Kak cepat sambil memutar kemudi, dalam seribu kerepotannya ini ia masih menghibur Pang Ing pula.
"Ini bukan siluman laut, melainkan ikan paus. Watak ikan paus cukup halus, tidak biasa memakan manusia."
Padahal meski ikan paus tidak makan orang, tapi kalau kapalnya sampai ditumbuk, sembilan dari sepuluh bagian pasti akan hancur tenggelam, jika terjadi demikian, tentu akan lebih menakutkan daripada menghadapi ikan hiu yang suka makan manusia.
Dalam pada itu mendadak terdengar suara gemuruh yang keras, gelombang besar mendampar dari atas, kapal mereka terlempar ke atas terus menumbuk ekor ikan paus tadi, karena disengkelit oleh ekor paus itu, walaupun semua orang dalam kapal berilmu silat tinggi, tidak urung terguncang hingga jatuh roboh semua.
Syukur benturan tadi bukan kena pada kepala dan perut ikan paus, kalau tidak pasti kapal akan tenggelam.
Sungguhpun demikian, badan kapal pun tertumbuk hingga berlubang, tiang layar pun patah.
"Lekas sumbat lubang yang pecah itu,"
Seru Hi Kak cepat.
Tanpa ayal lagi Kam Hong-ti dan kawan-kawan dengan menggunakan selimut dan kasur menutup lubang itu dan ditahan dengan badan mereka, rasanya tak enak sekali air laut masuk ke hidung, sedang lubang itu meski disumbat, tapi air laut masih terus merembes masuk.
"Selama hidup merajai lautan, apa mungkin akhirnya aku harus mati di lautan juga?"
Ujar Hi Kak menarik napas panjang.
Sementara itu badai datang lagi, meski kapal mereka sudah menurunkan layar, tetapi masih terus melaju ke depan secepat anak panah terbawa angin, dalam keadaan demikian betapapun kekuatan manusia susah juga untuk menahan kemudinya.
"Kapal ini tak bisa ditolong lagi, Kam-tayhiap, sebelum mati terimalah sekali penghormatanku,"
Kata Hi Kak terus hendak men-jura pada orang.
"Jangan,"
Tiba-tiba Kam Hong-ti berseru.
"Selama masih bisa bernapas, sekali-kali kita jangan putus asa, kita harus menyelamatkan diri dari elmaut."
Habis itu sembari memimpin kawan lain menyumbat tempat yang bocor tadi, ia sendiri menggunakan tenaga dalam untuk menahan imbangan kapal, dengan demikian meski badan kapal terus oleng, tetapi sudah agak baikan daripada tadi.
Diam-diam Hi Kak jadi malu diri oleh ketangkasan orang, ia pikir.
"Kam Hong-ti walaupun tidak pandai berenang, tapi di waktu bergulat menentukan mati-hidup ini ternyata jauh lebih tenang daripada diriku."
Dengan penuh tenaga, setiap orang mengerahkan semua kemampuan mereka untuk bertahan, dalam kegelapan entah sudah lewat berapa lama, sampai pada suatu saat mendadak terdengar suara keras, rupanya badan kapal tiba-tiba membentur karang.
Keruan Kam Hong-ti terkejut, pikirnya.
"Celaka sekali ini, walau sudah berusaha sedapat mungkin dan akhirnya tetap tidak bisa terhindar dari bencana, lalu apa daya pula?"
Berlainan dengan pikiran Kam Hong-ti, sebaliknya Hi Kak menjadi girang sekali.
"Selamat, selamatlah kita!"
Demikian ia berseru girang.
"Di lautan Puthay sini tiada batu karang yang besar, kini kapal kita berhenti di tempat dangkal, rupanya kita terdampar sampai di salah satu pulau."
Segera pula Hi Kak melompat ke dalam laut, air laut ternyata hanya setinggi leher saja, waktu ia menegasi, benar juga dilihatnya ada satu pulau kecil di situ.
"Kita akan terkurung di pulau ini, barang apa yang masih ada dalam kapal, jangan kita buang,"
Kata Hi Kak kemudian.
"Selanjutnya mungkin kita akan hidup seperti orang hutan."
Lalu bersama Kam Hong-ti dan lain-lain menyeret kapal yang terdampar ke daratan, tatkala itu angin badai telah berhenti, di ufuk timur remang-remang tertampak cahaya putih, fajar telah menyingsing, ternyata mereka sudah sehari semalam terombang-ambing di lautan.
Di pesisir pantai itu mereka mengaso sejenak, mereka makan rangsum buat memulihkan tenaga.
Di antara tiupan angin laut itu, mereka mencium bau harum yang aneh, bau harum yang mengandung bau amis.
Waktu mereka memandang jauh ke sana tertampaklah rindang pepohonan yang luas, bunga mekar di atas pohon-pohon itu beraneka warnanya.
"Bunga apakah ini? Aku sudah menjelajah setiap pulau, tetapi belum pernah melihatnya, kenapa bau wanginya begini aneh?"
Demikian diam-diam Hi Kak membatin.
Kemudian sesudah sang surya menyinari permukaan laut, tenaga mereka pun sudah pulih kembali.
Dengan menggendong kantung obat, segera Hi Kak memimpin kawan-kawannya ke daratan.
"Lihat itu, bukankah itu pohon palem, kenapa akarnya tumbuh begitu aneh?"
Kata salah satu pengiring Hi Kak tiba-tiba. Pohon yang dimaksud kelihatan bengkak-bengkok melingkar seperti ular, tiba-tiba salah seorang pengiring mengulur tangan memegang akar pohon.
"Lekas lari,"
Mendadak Hi Kak berseru kaget.
Akan tetapi sudah terlambat, pengiring itu mendadak menjerit ngeri terus roboh terguling, dari atas pohon sekonyong-konyong melayang turun seekor ular panjang, syukur Teng Hiau-lan keburu mengayun pedang hingga ular itu dibabat kutung menjadi dua.
Berbareng ada dua orang lagi yang berteriak, kiranya kaki mereka kena menginjak ular besar yang melingkar di jalanan, syukur mereka tidak sampai dipagut.
"Lekas mundur ke pesisir sana,"
Seru Hi Kak pula.
Dalam pada itu di dalam hutan terdengar suara riuh mendesir, tiada terhitung banyaknya ular serentak menyusur keluar.
Lekas Hi Kak menyuruh Teng Hiau-lan dan Kam Hong-ti berjaga di belakang, dengan batu mereka berdua berhasil menimpuk mati beberapa ular yang mengudak keluar, waktu mereka mundur sampai di pesisir, beberapa kawan yang tergigit ular kelihatan seluruh badannya matang biru, terang tidak bisa ditolong lagi.
Keruan tidak kepalang terkejut mereka, segera Hi Kak mengeluarkan sepotong warangan kuning, ia berikan masing-masing sepotong kecil dan menyuruh kawan-kawan itu menyimpan di badan.
"Celakalah kita sekarang, kita berada di pulau si iblis nomor satu di jagat ini!"
Katanya kemudian dengan wajah sedih. Kata-kata ini membuat Kam Hong-ti terkejut juga.
"Pulau apakah ini? Apa mungkin di pulau ini ada iblisnya?"
Tanyanya.
"Agaknya Kam-tayhiap belum tahu,"
Hi Kak menutur.
"di luar pantai Li-sun ada sebuah pulau yang disebut Coa-to (pulau ular), di pulau ini penuh hidup ular-ular berbisa yang tak terhitung banyaknya, melihat gelagatnya, tentu pulau ini Coa-to adanya. Ular berbisa di sini bisa menyembuhkan penyakit kusta (lepra, ta-ko) di pulau ini tumbuh semacam pohon dan disebut pohon kusta, bunga pohon ini meski ada hujan salju juga tidak layu, maka bunga ini disebut Pi-siang-hoa (bunga penolak salju). Tadi kita mencium bau wangi bunga pohon kusta itu, cuma seketika aku tidak ingat, jika tidak, pasti aku tak berani gegabah menuju ke sana. Kawanan ular suka berada di tempat lembab di dalam hutan, kecuali keluar mencari sinar matahari, biasanya jarang kawanan ular itu datang ke tempat kering di pesisir, maka untuk sementara kita akan aman di sini."
Mendengar nama Coa-to disebut, tiba-tiba Teng Hiau-lan teringat sesuatu.
"Di dekat Coa-to ini bukankah ada sebuah pulau yang disebut Niau-eng-to?"
Ia bertanya.
"Ya, betul, asalnya bernama Hay-niau-to (pulau kucing laut), sebab elang yang hidup di pulau ita kalau terbang suka bersuara setengah mirip bunyi kucing, maka orang menamakannya Hay-niau (kucing laut), padahal sama sekali burungnya tidak mirip kucing. Kedua pulau ini sejak dulu tiada manusia yang berani menginjakkan kaki di sini, sebelumnya mereka sudah ketakutan,"
Tutur Hi Kak.
"Bukankah Siang-mo, kedua saudara she Sat itu berasal dari Niau-eng-to?"
Tanya Hiau-lan lagi.
"Ya, ya, malah aku ingat, bukankah waktu bertemu di Thian-hing-to dulu, Siang-mo ingin menerima kau sebagai murid?"
Kata Hi Kak. Berkata tentang pertemuan dulu itu, tiba-tiba Hi Kak teringat peristiwa diri yang seakan menjadi raja di Thian-hing-to. tanpa terasa ia menjadi murung.
"Kedua pulau ini sudah sejak dulu tak dihuni manusia, tetapi dalam beberapa puluh tahun belakangan ini ternyata telah diduduki oleh ketiga makhluk aneh itu,"
Cerita Hi Kak lagi setelah berhenti sejenak.
"Yang tinggal di Niau-eng-to memang adalah iblis she Sat itu, ilmu silat mereka meski tinggi, tapi masih belum mengagumkan orang, sebaliknya orang yang bercokol di Coa-to ini katanya berilmu yang tidak bisa diukur tingginya, meski tiada orang pernah menyaksikan sendiri, tapi kalau melihat ular-ular di pulau ini dapat dijinakkannya, melulu hal ini saja sudah cukup membikin orang jeri dan heran."
"Menurut cerita kaum Cianpwe dunia Kangouw, orang kosen yang tinggal di Coa-to ini bernama Tok-liong Cuncia, apakah betul ada orangnya?"
Tanya Kam Hong-ti.
"Kenapa tidak betul?"
Sahut Hi Kak.
"Malahan konon sudah beberapa kali In Ceng mengundang dia dan selalu ditolak, aku pun pernah minta perantaraan Siang-mo untuk berjumpa dia, namun ia pun tidak mau. Menurut cerita Siang-mo, katanya orang ini tadinya adalah seorang penderita penyakit kusta, karena penyakitnya ini, terpaksa ia terasing dari pergaulan umum, dengan mengandalkan ilmu silatnya yang tinggi, ia pikir kenapa tidak coba-coba keberuntungan ke pulau ular, di sana dapat mencari bisa ular dan bunga pohon kusta untuk mengobati penyakitnya. Kemudian ia lantas tinggal beberapa tahun di Coa-to, betul juga penyakit kustanya sembuh dan dengan ular-ular ini ia pun sudah berkawan, ia lantas ingat tatkala masih berpenyakit kusta, betapa dingin dan ejekan yang dilimpahkan umum pada dirinya, karenanya ia tidak ingin keluar lagi dari pulau ini. Tabiatnya semakin lama pun semakin berubah menjadi aneh dan benci pada sesamanya, sampai kedua manusia iblis seperti Siang-mo, meski ada hubungan juga dengan dia, namun tidak urung mereka juga sangat takut padanya."
Tengah bicara, kembali suara ular mendesis berbunyi lagi di daratan pulau itu.
"Tok-liong Cuncia datang!"
Tiba-tiba Wei Yang-wi berseru kaget.
Waktu Kam Hong-ti memandang, ia lihat seorang keluar dari hutan dengan rambut terurai, di belakangnya mengikut segerombol ular, pada waktu sampai di pesisir, tiba-tiba orang itu membentak menghentikan barisan ular, habis itu ia sendiri dengan langkah lebar maju ke depan.
Segera Hi Kak tampil ke depan menyambut kedatangan orang.
"Hi Kak dari Honghay dan Kam Hong-ti dari Kanglam karena terserang angin badai, tanpa sengaja membikin ribut pulau ini, mohon Cuncia suka memaafkan,"
Dengan hormat segera ia menyapa. Akan tetapi Tok-liong Cuncia tidak menjawab, sepasang matanya mengerling, ia anggap sepi saja pembicaraan orang tadi.
"Aku dahulu pernah mengirim salam pada Cuncia dengan perantaraan kedua saudara Sat, tentunya Cuncia sudah menerimanya,"
Kata Hi Kak pula. Tetapi lagi-lagi Tok-liong Cuncia tidak menggubris, sebaliknya mendadak ia bertanya.
"Apa di antara kalian ada yang berpe-nyakit kusta?"
"Tidak ada,"
Sahut Hi Kak. Mendengar jawaban ini, seketika terlihat Tok-liong Cuncia tertawa terkekeh aneh.
"Hm, jika tiada yang berpenyakit kusta, untuk apa kalian datang ke pulau ini?"
Segera ia membentak.
"Hayo, semua enyah ke dalam laut sana!"
Keruan Hi Kak terkejut.
"Tetapi kapal kami terdampar rusak oleh angin badai tadi, setelah kami memperbaikinya, dengan sendirinya kami akan meninggalkan pulau ini,"
Sahutnya lekas. Rupanya jawaban ini menggusarkan Tok-liong Cuncia, matanya tampak mendelik.
"Peduli apa dengan urusanmu,"
Mendadak ia mendamprat dengan suara melengking.
"Pulau ini tidak boleh kalian singgahi, kalian harus lekas enyah ke laut sana!"
Akhirnya Hi Kak mendongkol juga, ia sudah biasa berkuasa di lautan, terhadap kaisar saja belum tentu ia mau merendah seperti sekarang ini.
"Kenapa kau begini tak berperi-kemanusiaan? Tanpa kapal, cara bagaimana kami bisa menyeberang lautan ini?"
Sahutnya dengan gemas. Sekonyong-konyong Tok-liong Cuncia tertawa sambil menengadah.
"Haha, apakah arti peri-kemanusiaan?"
Teriaknya.
"Ular berbisa yang aku piara mungkin jauh lebih baik daripada manusia semacam kau ini!"
Kiranya dahulu waktu Tok-liong Cuncia menderita penyakit kusta, ia telah kenyang mendapat hinaan dan ejekan dari umum, bahkan sanak saudaranya mengancam akan membuangnya ke laut buat umpan ikan, kalau dia tidak memiliki ilmu silat, tentu dia sudah tewas waktu itu.
Belakangan gurunya sendiri pun tidak menganggap dia sebagai murid, ayah pun tak mengakui dia sebagai anak, sanak-kadang dan sobat-handai taulan menghindari bertemu dengan dia, juga saudara seperguruan hendak mengubur dia hidup-hidup, siksaan batin segala macam waktu itu sudah dia rasakan semuanya.
Hendaklah diketahui, beberapa abad yang lalu, penyakit kusta belum ada obat yang bisa menyembuhkannya, pada umumnya menyangka kusta gampang menular (padahal kusta tak gampang menular), kalau bertemu dengan penderita kusta tentu ketakutan melebihi bertemu dengan setan iblis, oleh sebab itulah pernah kejadian penderita kusta dipendam hidup-hidup, dijebloskan ke dalam laut atau dibakar hidup-hidup, sering terjadi dan bukan kejadian aneh.
Tok-liong Cuncia telah merasakan semua siksaan batin tadi, ia terima hinaan kejam itu terlalu hebat, hal itu selalu teringat olehnya dan tidak pernah lenyap dari benaknya.
Oleh sebab itu juga ia sengaja datang ke pulau ular, sesudah dapat menyembuhkan penyakitnya, ia pun memutuskan hubungan dengan khalayak ramai dan tidak ingin pergi pula dari pulau ini untuk selamanya.
Kini mendadak ia mendengar Hi Kak menyebut tentang perikemanusiaan, seketika pengalaman yang dialami dahulu terbayang pula dan segera menimbulkan amarahnya.
Hi Kak dan Kam Hong-ti mana bisa memahami perasaan Tok-liong Cuncia, mereka heran mengapa orang ini bertabiat begini aneh hingga tidak bisa diajak bicara pakai akal sehat.
Karena itu segera Hi Kak mengedipi Kam Hong-ti, habis itu dengan suara lantang ia buka suara.
"Pulau ini bukan milikmu, siapa saja boleh tinggal di sini, berdasarkan apa kau mengusir kami ke laut?"
"Hm, dan kenapa pula kalian hendak membuang diriku ke laut, apa tempat begitu luas di daratan sana masih kurang cukup? Tetapi pulau kecil inipun jangan kalian harap!"
Tiba-tiba Tok-liong Cuncia menjawab dengan tertawa dingin.
"Apa kau gila?"
Sahut Hi Kak dengan terheran-heran.
"Siapa yang hendak membuang kau ke laut. Paling banyak kami hanya menumpang tinggal buat beberapa hari saja di sini."
Ternyata ia tidak tahu bahwa dalam pandangan Tok-liong Cuncia, semua orang luar telah dianggapnya sebagai orang yang dahulu pernah menghina dan menyiksa dia.
Karena itu, demi melihat Hi Kak tetap mendebat dan melawan, ia menjadi tambah gusar.
"Bagus, kalau kalian tidak mau enyah dari sini, biar aku lempar kalian ke laut satu per satu!"
Mendadak ia membentak.
Menyusul ia terus melompat maju, dengan tangannya yang panjang segera ia mencengkeram kepala Hi Kak.
Di sebelah sana Kam Hong-ti sudah siap sedia, diam-diam ia kumpulkan tenaga dalam, cepat ia menutul kakinya ke atas buat menangkis, begitu tangan beradu, mendadak Kam Hong-ti merasakan panas pedas dan sakit kesemutan seperti didorong oleh suatu tenaga raksasa, dari udara ia tertolak jatuh ke bawah.
"Ha, kiranya kau pun mengerti ilmu silat, pantas berani bandel,"
Seru Tok-liong Cuncia heran oleh ketangkasan Kam Hong-ti tadi.
Menyusul ia pun tidak ganti tipu serangan lagi, cengkeraman tangannya dengan cepat masih terus mengarah kepala Hi Kak.
Sementara itu Teng Hiau-lan dan Pang Ing juga terkejut demi nampak serangan orang yang hebat ini, pedang pusaka mereka dicabut segera, begitu bergerak, dua sinar tajam lantas menyambar.
Tui-hong-kiam-hoat mereka luar biasa cepatnya, segera terdengar Tok-liong Cuncia berseru aneh, begitu ia kebut lengan bajunya, dengan angin pukulannya ia paksa ujung senjata orang melenceng ke samping, secara licin Tok-liong Cuncia medapat loloskan diri di bawah ancaman kedua pedang lawan, ia melompat pergi dengan cepat, sedang tangan kiri masih mengulur pula hendak merebut Yu-liong-po-kiam Teng Hiau-lan, berbareng tangan kanan ia pukulkan ke arah Pang Ing.
Lekas Pang Ing mengegos, sekalipun demikian, angin pukulannya begitu keras hingga dada terasa seperti kena tertindih benda berat, napas pun terasa sesak.
Di lain pihak, tenaga dalam Kam Hong-ti memang terlatih tinggi sekali, meski ia terjatuh ke bawah, segera dengan sekali gerakan 'Le-hi-pak-ting' atau ikan lele meletik, dengan cepat ia sudah berdiri lagi, menyusul kedua telapak tangannya dengan tipu 'Pi-san-toan-liu' atau membelah gunung memotong sungai, segera ia so-dokkan ke depan dengan kuat.
Serangan ini dengan tepat saling bentur dengan pukulan yang Tok-liong Cuncia arahkan pada Teng Hiau-lan, karena itu secara kebetulan dapat menahannya.
Karena benturan ini, kembali Tok-liong Cuncia bersuara heran, cepat ia berputar terus menghantam dengan tangan kanan, lekas Kam Hong-ti menarik kembali tangannya, sedang sepasang pedang Teng Hiau-lan dan Pang Ing segera menyambar pula.
Karena kerubutan ini, Tok-liong Cuncia menjadi gusar hingga berteriak, ia mengegos sambil kedua tangannya menyerang kedua lawannya lagi.
Namun Hi Kak pun tidak tinggal diam, begitu kakinya melayang, dengan gerak serangan lihai ia menendang pantat orang, Tok-liong Cuncia sama sekali tidak menghindarkan diri atas tendangan ini, keruan segera terdengar suara gedebuk yang keras, tempat dimana ujung kaki 11 i Kak menyentuh, ternyata sekeras besi sampai kakinya membal kembali, kalau Hi Kak tidak tergolong jago pilihan, tendangannya yang tidak melukai musuh itu berbalik akan membuat kakinya patah.
Tentu saja Hi Kak terkejut, lekas ia mencabut golok pusakanya untuk melindungi diri lebih jauh.
Kam Hong-ti pun terperanjat oleh ketangkasan orang, secepat terbang ia menubruk maju lagi, dengan gerakan Kim-na-jiu ia coba memotong pergelangan tangan Tok-liong Cuncia, tetapi serangan ini disambut Tok-liong Cuncia dengan sodokan sikut, syukur meleset, tetapi pukulan Kam Hong-ti pun mengenai tempat kosong.
Pada saat itu juga Pang Ing telah meloncat ke atas, dengan pedang segera ia menikam ke pundak orang, sedang Teng Hiau-lan pun merangsek dari samping, ia menusuk pundak kanan musuh.
Dalam keadaan demikian, terpaksa Tok-liong Cuncia harus melepaskan Kam Hong-ti untuk kemudian susul-menyusul kedua tangannya memukul pula, ia guncang melenceng senjata orang, begitulah seorang lawan empat, mereka bertempur dengan seru sekali.
Dengan Lwekang Kam Hong-ti yang tinggi, Thian-san-kiam-hoat yang dimainkan Teng Hiau-lan dan Pang Ing pun luar biasa, berkat ajaran le Lan-cu, hanya Hi Kak yang sedikit lebih rendah kepandaiannya, tetapi tidak di bawah Peh Thay-koan juga.
Mereka berempat bergabung boleh dikata jauh lebih kuat daripada kekuatan Kanglam-chit-hiap.
Akan tetapi kepandaian Tok-liong Cuncia entah berapa banyak lebih tinggi daripada Liau-in Hwesio, karena itu Kam Hong-ti merasa jauh lebih payah daripada waktu menempur Liau-in di atas Bin-san dahulu.
Sebaliknya semakin lama Tok-liong Cuncia semakin gagah dan semakin kuat, meski sudah satu jam mereka bergebrak, namun ia masih terus merangsek pihak lawan, dimana angin pukulannya tiba, sukar untuk ditahan lawan.
Lwekang Kam Hong-ti sudah sampai puncak kesempurnaan, meski rada payah, namun masih belum begitu terasa olehnya, Pang Ing mempunyai ilmu entengi tubuh yang tinggi, ia bisa berkelit kian-kemari secara gesit dan cepat, maka ia pun belum apa-apa.
Namun Teng Hiau-lan sudah agak memburu napasnya, lebih-lebih Hi Kak, ia merasa napasnya sesak, mulutnya haus, lambat-laun ia tak tahan.
"Teng-sioksiok, kau gunakan Si-mi-kiam-hoat dan aku pakai Tui-hong-kiam-hoat, kita gempur bersama orang liar ini!"
Tiba-tiba Pang Ing berseru.
Si-mi-kiam-hoat lebih banyak bertahan daripada menyerang, begitu dimainkan, seluruh tubuhnya dilindungi rapat oleh sinar pedang, ditambah lagi Teng Hiau-lan punya Yu-liong-pokiam yang tajamnya bisa memotong logam seperti mengiris sayur, maka Tok-liong Cuncia tidak berani memasuki jaring sinar pedangnya.
Di lain pihak Pang Ing punya Tui-hong-kiam-hoat dimainkan secara cepat dan jitu, dengan dua macam ilmu pedang Thian-san ini, mereka bekerja sama dengan rapat merangsek Tok-liong Cuncia, seketika daya tekanan mereka bertambah sekali lipat, ditambah lagi tenaga pukulan Kam Hong-ti yang hebat dan ilmu permainan golok Hi Kak yang cukup lihai pula, maka keadaan mulai berubah, dari terserang kini mereka berbalik menyerang, mereka berempat sudah tidak sepayah tadi, mereka bisa melayani Tok-liong Cuncia dengan sama kuatnya.
Setelah pertarungan sengit berlangsung lagi, kelihatan akhirnya daya tekanan Thian-san-kiam-hoat, lambat-laun Tok-liong Cuncia terdesak di bawah angin, namun sungguh hebat sekali, orang kosen ini masih tetap tidak tampak letih.
Sampai pada saat lain, mendadak Tok-liong Cuncia bersuit aneh dua kali, menyusul barisan ular yang sudah menanti di belakangnya sekonyong-konyong menerjang maju seperti banjir.
"Lekas duduki semua sudut, jangan gugup!"
Lekas Hi Kak bersuara pada kawan-kawannya.
Maka belasan orang di pesisir itu, di bawah pimpinan Wei Yang-wi, Bing Bu-kong, Loh Bin-ciam dan Li Bing-cu berempat yang berilmu silat lebih tinggi, segera menduduki keempat sudut, dengan .senjata mereka sambut datangnya barisan ular, keruan dalam sekejap saja sudah ada ratusan ular yang mati terbunuh, barisan ular itu menjadi rada jeri, binatang ini mengeluarkan suara mendesir dan berhenti di luar lingkaran untuk menantikan kesempatan menyerang lagi, keadaan masih sangat berbahaya.
Meski demikian, belasan orang ini hanya melayani barisan ular, tidak begitu berabe seperti Kam Hong-ti berempat.
Kam Hong-ti berempat harus mengerubuti Tok-liong Cuncia, kini mereka harus berjaga pula dengan datangnya barisan ular yang sewaktu-waktu bisa menyerang, mereka betul-betul seperti telur di ujung tanduk, sedikit lengah saja pasti jiwa melayang.
Beruntung pula ada dua pedang pusaka, Yu-liong dan Toan-giok-pokiam, di waktu genting begitu sinar pedang berkelebat, segera belasan ular berbisa terkurung mampus.
Melihat pihak lawan mengerahkan seluruh tenaga perlawanan, segera Tok-liong Cuncia memperkencang tenaga pukulannya, ia paksa keempat lawannya terus bertahan, ia cecar Teng Hiau-lan dan Pang Ing, tujuannya supaya kedua muda-mudi ini tidak sempat mengayun senjata mereka buat membunuh ular.
"Hm, pakai bantuan ular berbisa, terhitung orang gagah macam apa?"
Demikian tiba-tiba Kam Hong-ti menyindir. Tok-liong Cuncia mengerut dahi, namun segera ia tertawa dingin.
"Hm, memangnya aku bukan orang gagah, siapa yang bilang aku gagah,"
Sahutnya kemudian.
"Hm, jika kalian memandang aku sebagai orang gagah, tidak nanti aku dipaksa datang ke pulau sunyi ini."
Sebenarnya maksud Kam Hong-ti ingin memancing supaya orang menjadi malu diri oleh kata-katanya tadi, siapa duga Tok-liong Cuncia berlainan dengan tokoh-tokoh kalangan Kangouw yang biasa, bahkan ia seperti hidup dalam dunia yang lain, maka akal Kam Hong-ti sama sekali tidak berhasil.
Begitulah, sesudah bertahan sebentar lagi, keadaan semakin menjadi berbahaya, ular-ular berbisa di dalam rimba demi mendengar suara kawan-kawannya lantas membanjir datang.
Nampak begitu banyak jumlah ular berbisa ini, bila ingat dalam sekejap saja bakal tergigit mati, tanpa tertahan semua orang menjadi ngeri.
Dalam pada itu di angkasa lautan jauh sana sayup-sayup terdengar suara binatang yang keras serak, mendadak barisan ular mundur ke belakang dengan cepat, habis itu dengan berbaris mereka melingkar menjadi satu barisan bundar.
Waktu Tok-liong Cuncia memandang, mendadak ia pun melompat keluar dari kalangan, ia tinggalkan barisan ular itu jauh-jauh dan mendekam di atas sepotong batu padas.
Nampak perubahan mendadak ini, semua orang menjadi heran, ketika mereka menengadah, yang terlihat hanya udara bersih tanpa mega, tiada nampak sesuatu tanda-tanda aneh.
Selang tak lama, suara serak tadi menjadi makin keras, di atas kini riuh ramai dengan suara "sak-sak-sak"
Yang gaduh, kini sudah terdengar jelas suara itu adalah bunyi semacam burung.
"Haya, lihat itu!"
Seru Pang Ing. Ternyata di sudut langit sana sedang terbang mendatangi dengan cepat segerombolan burung aneh laksana segumpal awan hitam di permukaan laut.
"Celaka, itulah burung elang kucing, lekas sembunyi, lekas sembunyi!"
Seru Hi Kak pada kawan-kawannya.
Akan tetapi kemana mereka harus bersembunyi?
Di pesisir itu tandus tiada sesuatu tempat yang bisa dibuat sembunyi, terpaksa semua orang berkumpul di suatu tempat, mereka siap-sedia dengan senjata untuk menjaga diri, hati mereka kebat-kebit, mereka insaf apabila kawanan elang kucing itu sampai menyerang dari atas, maka pasti akan jauh lebih susah dilawan daripada barisan ular berbisa.
Waktu itu gerombolan ular tadi sudah melingkar menjadi satu bundaran, leher binatang itu tegak ke atas, badan mereka berdiri melengkung, tampak bersiap sewaktu-waktu menghadapi musuh.
Tak lama kemudian, gerombolan elang itupun sudah sampai di atas pulau itu, setelah mengitar beberapa kali, kemudian mendadak menubruk ke bawah, tetapi kawanan ular tadipun segera memapaki musuh dengan melonjak, maka terjadilah seketika pemandangan yang aneh, tidak sedikit elang kucing yang dipagut oleh ular berbisa itu dan terjungkal jatuh ke bawah, sebaliknya banyak pula ular berbisa itu dipatuk elang kucing di bagian leher, terus digondol ke udara untuk kemudian dibanting ke bawah hingga mati kelelap di laut.
Begitulah seketika terjadilah hujan ular, keruan semua orang menjadi kuatir, mereka takut kalau ular itu dilempar ke atas kepala mereka, tetapi syukur cara lemparan elang kucing itu ternyata sangat jitu, tiada satu pun yang jatuh ke tanah, semua ular dilemparkan ke laut.
Kiranya sudah sering elang kucing semacam ini bertarung sengit dengan kawanan ular berbisa di pulau ini, apalagi sesudah terjadi angin badai, sudah beberapa hari mengaso, dan baru sekarang bergerak, barisan mereka menjadi lebih besar, sekali ini boleh dikata adalah pertempuran terbesar yang belum pernah terjadi selama belasan tahun paling belakang ini, secara kebetulan semua orang bisa menyaksikan pertarungan sengit itu.
Rupanya elang itupun tahu bila ular itu dilemparkan ke laut pasti akan mampus, maka bila leher ular dipatuk, tentu digondol ke udara untuk kemudian dicemplungkan ke laut.
Pertarungan antara elang kucing lawan ular berbisa ini setelah berjalan sekira setengah jam, akhirnya sudah nyata pihak yang menang atau bakal kalah, meski tidak sedikit elang kucing yang menjadi korban, tetapi mereka bisa terbang ke udara, bagaimanapun mereka lebih untung, karena itu sesudah barisan ular ini hampir separah dipatuk mati, ular lain di dalam rimba sudah tak berani datang membantu lagi.
Sebaliknya elang kucing makin lama semakin banyak yang menyusul datang.
Akhirnya saat lohor, barisan ular sudah bobol, mereka mengalami kekalahan besar-besaran, ular itu berdesiran riuh dan beramai melarikan diri ke dalam hutan yang rimbun dan bersembunyi ke dalam sela-sela batu.
Dengan kemenangan besar ini, gerombolan elang kucing itu terbang mengitar beberapa kali lagi dengan rendah, kembali mereka berbunyi "srak-srak-srak" , agaknya seperti bersorak-sorai atas kemenangan mereka, habis itu mereka lantas terbang tinggi lagi menyeberangi lautan, sungguhpun demikian, ada pula elang kucing yang rupanya sudah terlalu payah oleh pertempuran tadi, sesudah terbang setengah jalan akhirnya jatuh terjungkal juga ke laut.
Tok-liong Cuncia tampak putih pucat, ia remas beberapa genggam batu kerikil dan disiapkan di tangan, tetapi ia tidak berani sembarangan menyerang elang kucing itu, sebab kalau ada orang berani menggeraki tangan, tentu gerombolan elang kucing ini akan mengalihkan sasaran yang mereka arah dan menyerang orangnya, bila sampai terjadi demikian maka sekalipun orang itu memiliki ilmu silat betapa tinggi, tidak mungkin bisa terhindar dari bencana.
Karena itu sesudah gerombolan elang kucing itu lenyap dari pandangan, tanpa berkata lagi segera Tok-liong Cuncia berjalan pergi masuk ke hutan.
"Benar-benar satu makhluk mengatasi makhluk lain sesuai hukum alam, tidak nyana burung tadi malah bisa menolong jiwa kita,"
Ujar Kam Hong-ti tertawa sesudah musuh berlalu.
"Ya, tetapi sesudah menempur ular berbisa ini, paling sedikit kawanan elang akan mengaso lagi setengah bulan, jika ular berbisa itu membanjir datang lagi, kita harus berdaya upaya buat membendungnya,"
Kata Hi Kak.
Tetapi cara bagaimana harus membendung, inilah dia sendiri tak mempunyai akal.
Jika Hi Kak memeras otak mencari daya-upaya buat menyelamatkan diri, adalah waktu itu sesudah terhindar dari bencana, kembali Pang Ing pergi bermain ke pesisir, di pesisir itu terdapat banyak sekali keong yang indah, tentu saja gadis ini sangat senang, ia mengambil yang bagus-bagus hingga memenuhi pangkuan bajunya.
Tetapi semakin memilih semakin gadis ini tertarik, ada semacam keong yang warnanya belang seperti belang harimau, Pang Ing sendiri tidak kenal namanya, tetapi ia sangat menyukai, karena ingin mencari keong semacam ini, akhirnya ia berjalan semakin jauh meninggalkan rombongan kawannya.
"Kembali, A Ing, awas kau digulung arus ombak,"
Seru Hiau-lan. Tetapi Pang Ing hanya menoleh sambil mencibir, tapi ketika ia memandang ke depan lagi, tiba-tiba ia berlari kembali.
"Hi-kongkong, lekas lihat itu, besar sekali kura-kura laut itu!"
Lapornya pada Fi Kak dengan suara perlahan. Mendengar ada kura-kura, Hi Kak jadi tergerak hatinya.
"Ssst, jangan bikin kaget dia,"
Sahut Hi Kak mendesis. Selang tak lama, perlahan-lahan kura laut raksasa itu merembet sampai di pesisir, punggungnya besar laksana sebuah payung.
"Kura-kura laut sebesar itu paling gampang ditangkap, asal kau bikin terbalik dia hingga telentang, pasti dia akan tertangkap tanpa bisa berkutik,"
Ujar Hi Kak dengan tertawa.
"Cuma saja kura-kura sebesar ini, jika orang biasa sedikitnya perlu tenaga empat atau lima orang baru bisa membikin dia terjungkir."
Kam Hong-ti sendiri belum pernah melihat kura-kura laut sebesar itu, mendengar cerita Hi Kak tadi, ia jadi tertarik juga, segera ia berlari mendekati, sekali angkat segera ia bikin kura-kura itu telentang "Coba seret ke sini,"
Seru Hi Kak. Hong-ti menurut, ia tangkap kura-kura itu.
"Coba kau kili-kili tengkuk lehernya,"
Kata Hi Kak pula.
"Kenapa harus menggoda dia?"
Ujar Kam Hong-ti.
"Tidak apa, coba kau kili-kili dia, supaya malam ini kita tidak usah banyak mendapat gangguan,"
Sahut Hi Kak dengan tertawa.
Kam Hong-ti tahu Hi Kak berpengalaman luas mengenai hal di lautan, maka ia menurut pula dan mengkili-kili leher kura-kura itu, selang tak lama, mendadak Hi Kak menendang pergi kura-kura itu, menyusul terciumlah bau pesing, kiranya kura-kura itu telah kencing hingga berwujud satu lingkaran kuning.
"Ular takut pada kencing kura-kura, air kencing kura-kura sebesar ini akan lebih mustajab,"
Ujar Hi Kak.
"Maka malam ini kita boleh berjubel dalam lingkaran kencing kura-kura ini dan tidak perlu takut diganggu ular lagi!"
"Tetapi aku yang tidak sanggup."
Sahut Pang Ing tertawa.
"Ya, mungkin kau tak tahan bau pesing, boleh juga kau tidak usah dalam lingkaran ini, cuma jangan tinggal lebih jauh tiga tombak, lebih dari tiga tombak, kalau ular tidak mencium bau pesing, tentu akan mengganggu dirimu,"
Pesan Hi Kak.
"Dan malam ini kita bisa makan kenyang pula."
"Ya, kura-kura sebesar ini, dimakan tiga hari pun tidak akan habis,"
Sahut Kam Hong-ti.
Rasa daging kura-kura hampir sama dengan daging sapi, maka mereka sangat suka dan makan dengan bemapsu.
Malam itu, betul saja tidak ada seekor ular pun yang datang mengganggu, Tok-liong Cuncia pun tidak muncul.
Besok paginya cuaca cerah, hari terang benderang.
"1 lari ini kita lekas membikin betul kapal kita dan cepat tinggalkan tempat ini,"
Ujar Hi Kak pada kawan-kawannya.
Akan tetapi kerusakan yang menimpa kapal mereka ternyata cukup berat, meski sehari suntuk mereka menambal masih belum bisa pulih.
Malamnya, Kam Hong-ti, Hi Kak, Wei Yang-wi dan lain-lain bergiliran berjaga.
Tengah malam, tiba-tiba terdengar di pesisir ada suara gedubrakan kayu retak, lekas Kam Hong-ti membangunkan kawannya, mereka menyalakan api dan memburu ke pesisir dimana kapal mereka berlabuh, tetapi sesampainya di sana mereka dapatkan Tok-liong Cuncia dengan sebatang tongkat besinya sedang menghantam dan mengemplang serabutan pada badan kapal mereka, begitu tongkatnya menyentuh badan kapal, segera pecahan kayu papan beterbangan, dan waktu semua orang memburu tiba, kapal mereka sudah retak dan pecah tak keruan, untuk membetulkannya sudah tidak mungkin lagi.
Keruan Kam Hong-ti menjadi gusar.
"Kau tidak mengizinkan kami tinggal di pulau ini. maka kami akan berangkat pergi, tetapi kenapa kau merusak kapal kami,"
Bentaknya sengit "Hm, biar kalian hendak pergi sekarang pun tak bisa lagi,"
Sahut Tok-liong Cuncia dengan tertawa dingin.
"Aku masih belum puas bermain dengan kalian, marilah kita kendurkan otot lagi!"
Kiranya selama beberapa puluh tahun Tok-liong Cuncia tinggal di pulau ular, sering kali ia saksikan tiga jenis binatang, ular, elang kucing dan tikus raksasa saling bertarung, dari gerak-gerik binatang itu ia telah banyak menciptakan berbagai gerak tipu silat yang aneh, tetapi selama beberapa puluh tahun itu pula ia tidak pernah menginjakkan kaki keluar pulau, sampai dimana tingkat ilmu silatnya ia sendiri tidak tahu.
Malahan belasan tahun yang lalu ketika Siang-mo tinggal di Niau-eng-to, kedua saudara Sat ini telah menyambangi dia, dengan merendah mereka mengajak bersahabat.
Siang-mo mengatakan bahwa ilmu silatnya sudah tiada tandingan di kolong langit ini, tetapi ia sendiri hanya setengah percaya dan setengah sangsi.
Kali ini secara kebetulan ia kebentur Kam Hong-ti dan kawan-kawan yang berilmu silat tinggi, setelah setengah hari saling labrak, ia menjadi sangat senang.
Setelah ia kembali, mendadak ia berubah pikiran, jika tadinya ia hendak membunuh habis atau mengusir semua orang masuk ke laut, sekarang ia berpikir.
"Kenapa aku harus membinasakan mereka, kebetulan sekali mereka paham ilmu silat, lebih baik aku biarkan mereka ke sini untuk mencoba ilmu silatku, nanti kalau aku sudah cukup puas, masih belum terlambat aku lemparkan mereka ke laut satu per satu atau membiarkan mereka mampus digigit ular."
Begitulah, maka demi mendengar kata-katanya tadi, Kam Hong-ti menjadi murka.
"Manusia siluman yang tak tahu adat, mari kawan-kawan, kita beramai membinasakan dia!"
Bentaknya segera. Namun segera pula Tok-liong Cuncia tertawa terbahak-bahak.
"Haha, aku belum mau membunuh kalian, tapi kalian berbalik hendak membunuh aku? Hah, apakah ini peri-kemanusiaan yang kalian maksudkan itu?"
Sahutnya kemudian.
Berbareng tongkatnya menyerampang.
Kam Hong-ti tak berani sembarangan menyambut dengan tangan kosong, segera ia cabut goloknya yang tebal, ia membabat miring, terdengarlah suara "trang"
Yang keras, kedua senjata saling bentur hingga tangan Kam Hong-ti terasa pegal kesemutan.
Sementara itu Pang Ing dan Teng Hiau-lan pun tidak tinggal diam, kedua pedang mereka bekerja berbareng.
Mendadak Tok-liong Cuncia menutul tongkatnya pada Teng Hiau-lan, pemuda ini kenal serangan orang yang lihai, lekas ia mundur selangkah, ia lintangkan pedangnya buat menangkis.
Tak terduga ilmu silat Tok-liong Cuncia ternyata hebat dan aneh sekali, begitu ia menekuk pergelangan tangan, tongkatnya yang terbuat dari baja itu mendadak melengkung seperti sabuk, dengan cepat tahu-tahu mengarah tubuh Pang Ing.
Sudah tentu sama sekali Pang Ing tidak menduga senjata orang bisa melengkung, maka hampir saja ia kena tersabet, syukur anak dara ini memiliki Ginkang yang bagus, di bawah ancaman maut itu ia tutulkan ujung pedangnya pada tongkat musuh, dengan tenaga pinjaman ini mendadak tubuhnya mencelat ke belakang.
Tentu saja Teng Hian-lan dan Kam Hong-ti terkejut hingga keluar keringat dingin, lekas mereka mengeroyok dari kanan-kiri untuk melepas tekanan musuh pada Pang Ing.
Sekali ini Tok-liong Cuncia bertempur memakai senjata, keruan seperti macan tumbuh sayap, meski Kam Hong-ti, Teng Hiau-lan, Pang Ing dan Hi Kak berempat sudah mengeluarkan sepenuh tenaga dan seluruh kepandaian mereka, toh tidak urung masih ber-• ada di pihak terserang.
Segera Hi Kak bersuit sekali, Wei Yang-wi dan Bing Bu-kong lantas ikut masuk pula ke dalam kalangan pertarungan, kepandaian kedua orang ini sepadan dengan Hi Kak, dengan enam lawan satu dan bekerja sama mati-matian, dengan demikian lambat-laun baru bisa berubah kedudukan mereka.
Pertarungan hebat ini berlangsung sampai fajar, kedua belah pihak sudah megap-megap, tapi dalam keadaan demikian terdengar Tok-liong Cuncia bergelak tertawa lagi, habis itu ia lantas berlari pula masuk hutan.
Tentu saja Kam Hong-ti sangat mendongkol.
"Kurangajar, kalau kita tidak binasakan dia dan tiap hari harus menerima gangguannya, lantas bagaimana kita bisa kembali ke daratan dan siapa lagi yang dapat menolong pangkalan Hi-locian-pwe?"
Kata Kam Hong-ti dengan sedih.
"Mengenai pangkalanku itu biarkanlah, kalian yang terpaksa ikut bersusah-payah,"
Sahut Hi Kak menarik napas.
"Agaknya kita harus tetap berusaha membuat kapal, dengan begitu baru ada jalan hidup,"
Ujarnya.
"Ya, tetapi sebelum kapalmu jadi, orang biadab itu akan datang lagi menghancurkannya, lalu apa gunanya?"
Sahut Hi Kak.
"Sebenarnya dengan kekuatan kita meski tidak bisa membinasakan dia, namun untuk mengalahkan dia juga bukan soal lagi,"
Ujar Kam Hong-ti.
"Kita bisa membikin kapal di siang hari dan malamnya berjaga secara bergiliran, tempat pembuatan kapal kita bikin di sekitar sini, begitu mendengar sesuatu suara, segera kita keroyok dia dan rintangi dia merusak, dengan demikian akhirnya pasti akan jadi juga kapal kita. Cuma barisan ular itu yang tak berdaya dilawan."
"Jangan kuatir, ular-ular di pulau ini setelah mengalami kekalahan tempo hari, agaknya tak berani keluar ke pesisir secara besar-besaran,"
Kata Hi Kak.
"Padahal ular berbisa itu kebanyakan takut pada manusia, makin berbisa ularnya makin kecil nyalinya. Mereka selain takut pada bau kencing kura-kura dan warangan, juga takut pada suara keras, di kapal rusak kita masih terdapat beberapa nampan, kita bisa ambil dan ditabuh untuk menakuti ular, asal mereka tidak bergerombol datangnya, kita pasti dapat membikin takut mereka hingga ngacir."
Setelah dipikir, walaupun kapal belum tentu jadi, tapi adalah lebih baik berusaha daripada menanti datangnya ajal saja.
Oleh karena itu semua orang lantas menurut usul Kam Hong-ti tadi, pada siang hari mereka menebang kayu buat membikin kapal sedang malam hari berjaga secara bergilir, dengan demikian tiga hari telah mereka lalui dengan selamat, sedikit ular berbisa yang coba datang mengganggu segera dibinasakan, Tok-liong Cuncia sendiri ternyata tidak nampak batang hidungnya.
Malam ini bergilir Teng Hiau-lan dan Pang Ing yang dinas jaga, kedua orang ini sejak berjumpa kembali di gubernuran Soatang, meski dalam perjalanan bersama, tapi selama ini belum pernah muka berhadapan muka untuk bercakap-cakap.
Malam ini mereka dinas jaga, sementara itu sudah dekat fajar, namun sedikit suara pun tidak ada yang mencurigakan.
"Rupanya orang hutan itu tidak bakal datang malam ini,"
Dengan tertawa Pang Ing berkata.
"Teng-sioksiok coba terangkan padaku, kau pergi secara diam-diam, apa bibi tidak akan marah?"
Hiau-lan menjadi jengah oleh pertanyaan ini.
"Aku tidak pergi secara diam-diam,"
Sahutnya kemudian.
"Dan kalau begitu, apa bibi yang mengizinkan kau pergi? Ah, aku tidak percaya!"
Kata Pang Ing lagi dengan tertawa.
"Suhu yang menyuruh aku keluar buat mencari kau,"
Hiau-lan menerangkan.
"Ehm, memang Nyo-kongkong sangat baik, sebaliknya kenapa bibi begitu galak?"
Kata si nona pula. Tentu saja Hiau-lan tambah jengah dan serba sulit, ia alihkan pandangan matanya dan menghindari jawaban itu.
"Tempo hari aku telah menempeleng bibi, kau tidak marah padaku bukan?"
Demikian Pang Ing bertanya lagi.
"Tetapi pukulan itu memang tepat,"
Sahut Hiau-lan.
"Ya, Sioksiok, sungguh kau harus dikasihani Pang Ing masih menerocos terus, ketika mendadak nampak wajah Hiau-lan berubah serba salah, lekas ia urungkan kata-katanya lebih lanjut.
Sebaliknya Hiau-lan menjadi terharu, tiba-tiba ia pegang kencang tangan anak dara itu.
"A Ing, nasibku yang jelek agaknya sudah ditakdirkan,"
Katanya kemudian.
"Hendaklah kelak kau jangan seperti aku, karena ingin membalas budi lantas menyerahkan diri pada orarg lain."
Sekali ini berganti Pang Ing yang merah jengah mukanya.
"Paman jangan melantur,"
Katanya.
"aku sendiri sama sekali belum memikirkan hal itu. Ehm, sebenarnya kalau orang lain menanam budi padamu, berarti orang itu memperhatikan dirimu, asal bukan bertujuan membalas budi, kenapa keduanya tidak boleh merangkap perjodohan?"
Pang Ing masih bersifat anak-anak, apa yang ingin dia katakan segera diutarakan, karena itu hati Hiau-lan jadi terguncang.
"He,'semuda ini usiamu sudah suka bicara hal demikian!"
Dengan tertawa ia menggoda.
"Sioksiok, jangan kau mungkir, kan kau sendiri yang bicara dulu tentang urusan ini?"
Sahut Pang Ing.
Tengah mereka asyik bicara, tiba-tiba terdengar suara tertawa aneh, entah darimana munculnya, tahu-tahu Tok-liong Cuncia sudah berada di samping situ.
Keruan Hiau-lan dan Pang Ing sangat terkejut.
Saat itu tiba-tiba Tok-liong Cuncia angkat tongkat bajanya terus mengemplang, lekas Teng Hiau-lan dan Pang Ing meloncat ke kanan dan ke kiri, berbareng kedua pedang mereka menangkis senjata musuh, jarak kedua belah pihak terlalu dekat, untuk menghindarkan diri saja sulit, maka terdengar suara "trang-trang"
Dua kali, kedua pedang tepat memotong tongkat orang hingga lelatu api bercipratan, Hiau-lan dan Pang Ing berdua hampir saja jatuh tersungkur oleh getaran itu, sebaliknya tongkat Tok-liong Cuncia terpotong dua dekukan.
"Manusia siluman datang!"
Teriak Hiau-lan untuk mengundang bala bantuan.
Sementara itu Tok-liong Cuncia lagi tertawa terkekeh aneh, mendadak ia pentang telapak tangannya yang lebar terus menjambret pergelangan tangan Teng Hiau-lan.
"Ha, pedangmu ini ternyata barang bagus, pinjam lihat sebentar!"
Katanya dengan tertawa.
Di luar dugaan, Teng Hiau-lan lantas mengangkat tangan dan membaliki pedangnya, Tok-liong Cuncia sama sekali tidak pandang sebelah mata atas kepandaian Hiau-lan, tak terpikir bahwa Thian-san-kiam-hoat yang hebat itu dalam keadaan terancam bisa mendadak balas menyerang, maka ketika sekonyong-konyong Hiau-lan menggeraki senjatanya, seketika pula lengan Tok-liong Cuncia tergores luka.
Keruan Tok-liong Cuncia menjadi gusar, begitu kelima jarinya menyambar, ia cengkeram kencang urat nadi pergelangan tangan Hiau-lan hingga seketika pemuda ini lemas lunglai tak bisa berkutik.
Setelah berhasil membekuk pemuda ini, segera pula Tok-liong Cuncia membawanya dan dilarikan secepat terbang.
"Pedangmu aku tidak ingin lagi, tapi aku akan melemparkan kau ke laut sebagai umpan ikan!"
Teriaknya sengit sambil menyeret Teng Hiau-lan.
Tetapi Pang Ing juga tidak ayal, segera ia mengudak dengan cepat.
Di lain pihak, ketika mendengar suara teriakan itu, Kam Hong-ti dan lain-lain sudah menyusul tiba.
Ilmu entengi tubuh Pang Ing paling tinggi di antara kawan-kawannya, tiga kali naik turun ia sudah menyusul sampai di belakang Tok-liong Cuncia, begitu pedangnya dia angkat, segera menusuk.
Namun dengan membaliki tongkatnya Tok-liong Cuncia paksa nona ini meloncat mundur kembali, begitulah seterusnya, bila Pang Ing menerjang dan menusuk dari belakang, segera ia didesak mundur lagi oleh sambaran tongkat orang, sekalipun demikian, Pang Ing tidak putus asa, ia masih terus memburu dengan kencang.
"Nona Ing, jangan gegabah,"
Seru Kam Hong-ti.
Tetapi mana Pang Ing mau menurut dan membiarkan sang 'paman' dilempar ke laut mentah-mentah oleh musuh.
Setelah mengudak sampai di tepi laut, ia lihat Tok-liong Cuncia mengayunkan tangan dan melempar jauh tubuh Teng Hiau-lan berikut pedangnya ke tengah laut.
"Siluman, baiklah aku mengadu jiwa dengan kau."
Damprat Pang Ing sambil menangis.
Menyusul ia mainkan pedangnya secepat angin, beruntun ia kirim tiga kali tusukan pada musuh dengan tipu serangan yang ganas, tetapi Tok-liong Cuncia memapaki gadis ini, tongkatnya menyabet dari samping, sungguhpun tahu datangnya serangan ini, namun Pang Ing masih terus menerjang maju tanpa gentar.
Nampak Pang Ing tak gentar mati, diam-diam Tok-liong Cuncia berpikir.
"Anak dara ini mempunyai Kiam-hoat yang bagus, jangan aku binasakan dia!"
Karena itu, tenaga serangan tongkatnya mendadak ia tarik kembali sebagian, walaupun demikian.
Pang Ing masih tidak bisa menahannya, tubuhnya mencelat ke udara untuk kemudian kecem-plung pula ke tengah laut.
"Sayang, sayang,"
Berulang-ulang Tok-liong Cuncia berkata dengan menggoyang kepala tanda gegetun.
Tatkala itu air pasang lagi naik hingga ombak menrJampar dengan hebat, meski Pang Ing paham berenang, tapi belum terlalu pintar, ketika datang satu pusaran air yang bergulung-gulung, segera anak -lara ini terhanyut sampai ke tengah laut.
Sementara itu Pang Ing lihat Hiau-lan lagi terapung terbawa arus dan tidak jauh di depannya.
Segera ia selipkan pedang di pinggang dan sekuat tenaga ia berenang ke dekatnya.
Waktu itu ada ombak yang tinggi mendampar pula dari samping, seketika tubuh kedua muda-mudi itu laksana melayang di awang-awang dan terlempar ke atas setinggi belasan ombak, waktu turun kembali bersama alun, jarak mereka dengan pantai sudah semakin jauh.
Menyaksikan kedua kawannya terlempar ke laut.
Kam Hong-ti terkejut dan gusar pula, waktu ia memburu sampai tepi laut, bayangan kedua kawannya sudah menghilang ditelan ombak yang mendampar dengan hebatnya.
"Apa kau ingin masuk ke laut juga buat umpan ikan?"
Segera Tok-liong Cuncia membentak Kam Hong-ti.
Keruan Kam Hong-ti menjadi murka, ia angkat goloknya dan segera membacok, ketika kedua senjata saling bentur, Kam Hong-ti tergetar mundur, terpaksa ia melayani musuh dengan 'Pat-kwa-yu-sin-to-hoat', ilmu permainan golok yang bergerak menurut gambar Pat-kwa.
Tak lama kemudian, Hi Kak dan lain-lain pun sudah menyusul datang, dengan tenaga gabungan belasan orang, mereka mengepung Tok-liong Cuncia di tengah, mereka menempur orang liar ini mulai dari pagi hingga lohor, mungkin sudah ribuan jurus berlalu, tetapi masih tetap sama kuat dan belum ada yang mampu menangkan pihak lain.
"Hahaha, sudah waktunya aku tidur siang, selamat tinggal, sampai bertemu besok,"
Demikian dengan gelak tertawa Tok-liong Cuncia berseru.
Habis itu ia lantas menerjang keluar dari kepungan terus berlari pulang dengan cepat.
Kam Hong-ti dan kawan-kawan betul-betul mati kutu, tapi apa daya, untuk mengejar tidak bisa, mereka menyaksikan Tok-liong Cuncia berlari sampai di tepi kapal yang belum selesai mereka bikin, di sini ia kerjakan tongkatnya lagi dengan hebat, dalam sekejap saja badan kapal telah dihancurkan pula.
Gemas sekali Kam Hong-ti dan lain-lain, mereka hanya bisa saling pandang saja menyaksikan Tok-liong Cuncia lari masuk ke dalam hutan dengan sambutan hangat dari ular-ularnya.
"Cara tewasnya Hiau-lan dan Pang Ing begini mengenaskan, bagaimana hatiku bisa tenteram atas nasib mereka?"
Kata Kam Hong-ti dengan perasaan sedih.
"Sudahlah, daripada disiksa begini lebih baik kita mati saja,"
Ujar Hi Kak sambil mengangkat golok terus hendak menggorok leher sendiri.
Syukur dengan cepat Kam Hong-ti keburu mencegah sembari menahan air mata.
Dalam pada itu saking letihnya, sudah ada beberapa orang di antara kawan mereka yang menjatuhkan diri terus tidur menggeros.
Sebenarnya Hi Kak tidak sengaja hendak bunuh diri, hanya karena mendengar kata-kata Kam Hong-ti yang mengharukan, ia menjadi pedih sekali dan timbul pikirannya yang cupet, tetapi kini sesudah melihat keadaan anak-buahnya, saking terharunya ia pun mengucurkan air mata.
Sementara itu dengan terhanyutnya Teng Hiau-lan dan Pang Ing oleh ombak, diam-diam Kam Hong-ti berpikir.
"Setelah berkurang kedua kawan, kekuatan pihak kita menjadi lemah, selanjurnya sekali-kali jangan sampai ada korban lagi meski hanya seorang. Kerja sama di antara belasan orang kita ini masih belum sempurna betul, untuk melawan musuh masih harus dicari jalan lain yang lebih tepat. Ai, sunguh sayang seribu sayang, kematian kedua kawan itu betul-betul harus disesalkan."
Jika Kam Hong-ti dan Hi Kak menyangka Teng Hiau-lan dan Pang Ing telah mati tenggelam ke dasar laut, padahal waktu itu kedua orang ini sedang terombang-ambing di permukaan laut luas.
Walaupun Lwekang kedua orang ini belum terhitung sempurna betul, tapi sedikitnya sudah cukup matang juga, karena itu, ketika terdampar oleh ombak yang bergulung-gulung, mereka lantas tahan pernapasan, dengan demikian mereka bisa bertahan cukup lama, akhirnya Pang Ing dapat menyusul ke dekat Teng Hiau-lan terus menarik pemuda ini ke permukaan air.
"Kau terluka tidak, paman?"
Tanya Pang Ing.
"Tidak,"
Sahat Hiau-lan cepat.
Tengah bicara, mereka dipapaki lagi oleh gelombang ombak yang tinggi, lekas mereka menyelam ke bawah air, mereka membiarkan dihanyutkan pusaran arus, selang tak lama, setelah ombak itu lewat baru mereka menongol keluar buat berganti napas.
Saat itu mereka sudah berada di tengah samudera luas, sekeliling mereka hanya air belaka dan tidak tertampak adanya daratan, letak pulau ular yang mereka datangi tadipun sudah tidak ketahuan lagi.
Setelah terombang-ambing setengah harian, angin dan ombak lambat-laun tenang kembali, tetapi mereka sudah kehabisan tenaga, terpaksa harus membiarkan diri mereka terhanyut dengan menyelam ke bawah seperti tadi.
Karena ombak di atas air sudah tenang maka daya tekanan tubuh mereka menjadi ringan, perasaan mereka pun tidak tegang lagi, baru mereka mengetahui di dasar air ternyata merupakan satu dunia lain yang aneh dengan warna air laut yang biru muda, mereka lihat di dasar lautan penuh tumbuh bunga karang yang beraneka macam ragamnya, ada yang berbentuk kembang, ada pula yang berhentak tanduk menjangan, balikan ada yang mirip pepohonan yang lebat dengan ranting dan daun beraneka warna yang indah sekali.
Keruan Pang Ing sangat senang, segala kemungkinan bahaya sudah dia lupakan.
"Sioksiok, aku akan memetik bunga karang,"
Ia berkata pada Teng Hiau-lan.
Akan tetapi berbicara di bawah air terang tidak bisa terdengar, Hiau-lan hanya nampak bibir anak dara ini bergerak tapi apa yang dikatakan sama sekali tak terdengar, waktu nampak gadis ini menyelam terus ke bawah, terpaksa ia menyusul.
Di dasar laut letak bunga karang tampaknya dekat, padahal masih sangat jauh, karenanya meski Pang Ing telah menyelam ke bawah sampai cahaya matahari tak tertampak lagi dan sebagai gantinya hanya warna gelap butek, apapun tidak kelihatan, jangankan bunga karang segala.
Pang Ing mengerti makin menyelam akan semakin dalam dan sebaliknya malah tidak menarik keadaan di bawah air situ, selagi ia hendak mumbul kembali ke atas, tiba-tiba tertampak.
olehnya ada sinar yang berkelap-kelip seperti kunang-kunang.
Kiranya banyak pula makhluk di bawah laut yang badannya bisa mengeluarkan sinar seperti cahaya kunang-kunang hingga dari jauh kelihatan seperti banyak sekali bola lampu yang bersinar kelap-kelip.
Sebangsa ikan bersinar ini sama sekali belum pernah dilihat Pang Ing, tentu saja ia lantas lupa daratan lagi, lupa untuk mengapung ke atas, dalam pada itu tiba-tiba ia merasakan betisnya seperti kena terlilit oleh sesuatu, Pang Ing menjadi kesakitan dan melonjak, hal ini telah dapat dilihat Hiau-lan, kiranya kaki gadis ini dibelit oleh jari-jari seekor cumi-cumi raksasa, lekas Hiau-lan mencabut pedangnya menabas kutung tangan cumi-cumi yang melilit tadi terus menarik gadis ini ke permukaan air.
Setelah mengalami pelajaran ini, barulah Pang Ing merasa kapok, ia tak berani sembarangan menyelam ke dasar laut lagi.
Sesudah terapung hampir seharian, tenaga kedua orang sudah terlalu banyak terbuang, mereka merasa letih sekali, untuk menahan napas saja rada payah.
Keruan diam-diam Hiau-lan mengeluh, ia pikir jika terus-menerus terapung begini, akhirnya meski tidak ditelan ikan laut tentu pula akan mati kelaparan dan kehausan (air laut tidak bisa diminum untuk menahan dahaga).
Tengah mereka kehabisan akal dan kuatir, tiba-tiba terlihat di tempat tidak terlalu jauh, di permukaan air sana menyembur keluar sebuah tiang air, seekor makhluk raksasa sebesar bukit kecil kemudian menongol keluar di permukaan air.
Pang Ing sudah kenal makhluk aneh ini adalah ikan paus, tibatiba ia mendapat akal.
"Mari kita menunggang di atas punggungnya,"
Segera ia mengajak.
Teng Hiau-lan pikir akalnya ini bisa ditempuh juga sebagai satu harapan untuk mencari hidup, dengan sepenuh tenaga mereka lantas menyelam ke samping ikan paus itu dengan menahan dam-paran ombak yang terjangkit karena semburan ikan paus itu, kemudian mereka merambat naik ke punggung binatang itu.
Ikan paus ini laksana sebuah bukit kecil saja, kalau hanya ditumpangi dua orang, sama sekali tidak berasa.
Sesudah ikan paus ini berenang kian kemari, akhirnya Teng Hiau-lan melihat sebuah pulau kecil, lekas ia beritahukan Pang Ing, mereka menunggu, begitu ikan paus mendekati pulau itu, segera mereka terjun ke dalam laut lagi dan berenang ke daratan itu.
Mereka sudah berpengalaman tentang kejadian di pulau ular, maka sekali ini mereka berlaku sangat hati-hati.
Mereka lihat di atas pulau ini pepohonan lebat menghijau, banyak sekali burung, yang paling menggembirakan ialah tidak seekor ular pun yang terlihat.
Kiranya pulau ini berasal dari batu karang yang tertimbun oleh tahi burung yang sudah kering, lama-kelamaan timbunan kotoran burung itu menjadi lapuk seperti tanah, karena suburnya tanah oleh kotoran burung ini, maka di atas pulau tumbuh dengan lebatnya pepohonan dan bunga yang beraneka warna.
Pang Ing menjadi lega setelah mendarat di pulau ini, waktu ia lihat bajunya sendiri yang basah kuyup, ia menjadi geli.
"Lalu bagaimana baiknya sekarang?"
Katanya dengan tertawa. Mereka lantas memeriksa keadaan sekeliling pulau itu, mereka dapatkan sebuah kolam di barat pulau ini, Pang Ing mencoba cicipi air ini, ia merasakan air ini segar sekali.
"Ha, ini adalah air tawar,"
Serunya girang.
"Sioksiok, aku akan mandi dulu di sini, nanti kalau pakaian sudah kering baru keluar kembali."
Karena itu Hiau-lan lantas bertindak pergi, ia menyingkir ke tepi laut menikmati pemandangan.
Agak lama, sesudah Pang Ing memakai bajunya yang kini sudah kering, ia lantas memanggil Hiau-lan bergilir mandi.
Malam itu, sebagai santapan mereka berhasil membidik beberapa ekor burung laut, dengan api yang mereka buat, mereka makan panggang burung itu dengan nikmat.
Begitulah mereka tinggal di atas pulau itu dan siang-malam mengharap bisa bertemu sesuatu kapal yang'lewat di situ, akan tetapi harapan mereka ternyata kosong belaka, sedang hawa lambat-laun berubah menjadi dingin, musim rontok sudah berganti dengan musim dingin.
Untuk menahan dingin Pang Ing menggunakan serat rami yang tumbuh liar di pulau itu dan dirajut menjadi baju.
Mereka menjadi semakin tak sabar bila melihat iklim berganti, siang hari pendek dan malam hari menjadi panjang (di daerah yang mempunyai empat iklim, kalau musim dingin malam hari lebih panjang daripada siang hari).
Mereka tidak tahu pula dimana letak Coa-to atau pulau ular, andaikan mereka berani mengambil resiko juga tak dapat menemukan pulau itu.
Sungguhpun mereka melewatkan hari-hari itu dengan tak sabar, tapi mereka pun tidak pernah lupa berlatih Lwekang maupun Kiam-hoat.
Sang tempo berlalu dengan cepat, sekejap saja pohon-pohon di pulau itu sudah berbunga lagi, tampaknya musim semi sudah tiba.
Dengan mata kepala sendiri Pang Ing menyaksikan Teng Hiau-lau bersedih setiap hari, dalam hati ia pikir.
"Waktu setahun gampang dilewatkan, bulan lima sudah akan tiba, waktunya racun di tubuhnya akan mulai bekerja, walaupun kini tidak diketahui dengan pasti, namun musim semi kiranya sudah tiba juga."
Karena pikiran itu, Pang Ing jadi sedih juga.
"Marilah kita membikin kapal buat meninggalkan tempat ini,"
Pada suatu hari ia berkata kepada Teng Hiau-lan.
"Susah,"
Sahut Hiau-lan dengan menggoyang kepala.
"Kau dan aku tidak bisa mengemudikan kapal, pula tidak terlalu paham dalam air, cara bagaimana bisa berlayar di samudera raya? Apa kau masih berpikir bertemu dengan seekor ikan paus lagi yang akan membawa kau kembali ke daratan?"
Karena sahutan ini Pang Ing menjadi bungkam dan mukanya suram.
"Teng-sioksiok, kau punya Lwekang sudah maju sangat pesat, bagaimana rasa dadamu belakangan ini bila kau lagi mengatur pernapasan?"
Tiba-tiba ia bertanya. Mendengar pertanyaan ini, Hiau-lan mengerti menuju kemana maksud orang.
"Sudahlah, kau jangan kuatirkan diriku, soal mati-hidup serahkan saja pada takdir!"
Sahutnya kemudian dengan menyeringai.
"Apa kita harus menanti ajal di pulau ini tanpa berdaya atau harus berani mengpmbil resiko menyeberangi lautan ini?"
Kata Pang Ing.
"Biar aku terkubur di sini, tak akan kubiarkan kau menghadapi bahaya lagi,"
Sahut Hiau-lan tegas.
"Kita dapat menunggu lagi setahun atau dua tahun, akhirnya kita tentu akan mendapatkan kapal yang berlalu di sini, di pulau ini tidak kekurangan makanan, kenapa kau takut?"
Karena jawaban ini, seketika Pang Ing terharu, matanya merah basah.
"Bukannya aku takut, tetapi aku kuatirkan kau .... O, Teng-sioksiok, kenapa kau selalu berpikir untuk diriku? Akulah yang membikin susah kau minum arak beracun dari kaisar anjing itu, dan sekarang kau akan menemui ajal di pulau karang ini,"
Demikian ia meratap, akhirnya ia malah menangis dan merangkul leher Teng Hiau-lan. Pemuda ini diam saja, lama dan lama sekali baru ia lepaskan kedua tangan si nona yang merangkul padanya.
"Anak bodoh, kenapa harus menangis,"
Ia coba menghibur.
"Seandainya aku bakal mati, bukankah kita harus bersenang-senang dahulu, kenapa menantikan kematian dengan menangis, sungguh tak berharga!"
Karena bujukan ini segera Pang Ing berhenti menangis, malah terus melonjak bangun.
"Ya, betul, Sioksiok, kita harus bersenang-senang dahulu!"
Ujarnya.
"Sioksiok, coba katakan, adakah sesuatu yang mengecewakan hidupmu, marilah kita berusaha memenuhinya."
Karena kata-kata anak dara ini, Hiau-lan jadi teringat pada tragedi kehidupannya dengan urusan perjodohannya yang rumit itu, ia menjadi sedih sekali, namun ia coba menahan perasaan hatinya.
"Tidak ada!"
Sahutnya kemudian dengan tersenyum paksa.
"Melihat wajahmu, aku tahu kau berdusta padaku,"
Kata Pang Ing. Sejenak kemudian tiba-tiba ia menyambung lagi.
"Sioksiok, hatimu welas-asih dan pemurah, kau selalu memikirkan diri orang lain, sebaliknya kenapa bibi selalu marah-marah padamu?"
"Darimana aku tahu?"
Sahut Hiau-lan.
"Sudahlah jangan menyebut dia lagi, kalau menyebut dia aku lantas merasa jemu!"
Pang Ing menunduk, ia bungkam, selang tak lama tiba-tiba dengan bertepuk tangan ia buka suara lagi dengan tertawa.
"Sioksiok, dahulu semasih kecil, bukankah kau mengajar aku agar jangan berbohong?"
Tiba-tiba ia bertanya.
"Kenapa?"
Sahut Hiau-lan.
"Dan jika betul, seharusnya kau sendiri jangan berbohong,"
Kata Pang Ing lagi.
"Tadi baru saja kau bilang tiada sesuatu yang membikin hatimu kesal, tapi sekarang kau bilang kalau menyebut bibi lantas jemu, bukankah memang ada sesuatu yang mengecewakan hatimu?"
Hati Hiau-lan terguncang oleh serentetan kata-kata si nona, terbayang olehnya bayangan Lu Si-nio, katanya dalam hati.
"Selalu memikirkan orang lain, inilah Lu Si-nio yang mengajarkan padaku. Kini aku hanya menganggap dia sebagai guru, pikiran bodoh yang dulu-dulu sudah berlalu."
Kemudian timbul juga bayangan Nyo Liu-jing yang segera lenyap pula, waktu ia pentang lebar matanya, yang tertampak adalah 'keponakan' yang lincah dengan tertawa riang di hadapannya, tapi kata-kata anak dara ini laksana sebutir pelor yang tepat mengenai lubuk hatinya, karena itu mendadak mukanya menjadi merah, ia tak berani berpikir lagi.
"Haha, lihatlah muka paman menjadi merah!"
Dengan bertepuk tangan Pang Ing menggoda dengan tertawa.
"Dan kenapa dahulu kau mau bertunangan dengan bibi?"
Tiba-tiba ia bertanya lagi.
"Ya, karena ayahnya terlalu baik padaku,"
Sahut Hiau-lan dengan kepala menunduk.
"Kalau begitu soalnya karena kau terpaksa,"
Kata Pang Ing.
"Seandainya kau tak mati, kau tinggal untuk selamanya di pulau karang-ini, dan dia tidak mengikuti kau, apa dalam hatimu masih kau anggap dia sebagai istrimu dan terus menantikan dia?"
Hati Hiau-lan terguncang pula.
"Sudahlah, jangan kau sebut urusan ini lagi, kalau kau sebut urusan ini, aku menjadi kurang senang!"
Sahutnya kemudian.
"Baik, aku takkan sebut lagi,"
Kata Pang Ing tertawa.
"Sioksiok, aku tentu akan berdaya membikin kau senang."
Hendaklah diketahui, kini Pang Ing berupa gadis remaja yang berusia tujuh-delapan belas tahun, dalam beberapa' bulan ini siang malam ia berdampingan dengan Teng Hiau-lan, dalam hati ia berterima kasih karena budi pertolongan pemuda ini, karena itu tanpa terasa dan tanpa sadar ia telah jatuh cinta padanya.
Sebenarnya ia pun tidak pernah berpikir hendak menjadi istri pemuda ini, ia hanya merasa kalau sang 'paman "
Menikah dengan 'bibi' itu, sungguh tidak setimpal.
Pang Ing dibesarkan di Thian-san, wataknya polos dan suka terus terang, ia tak mempunyai pandangan sebagaimana anak gadis umumnya, maka terhadap 'paman' yang berlainan she itu, pada hakikatnya ia tidak memikirkan soal panggilan segala.
Sejak hari itulah, pada diri mereka lantas tumbuh semacam perasaan yang aneh.
Hiau-lan anggap bermain dengan kawan setingkat, soal hubungan 'paman' dan 'keponakan' antara mereka sudah lenyap perlahan-lahan.
Mereka bermain bersama, memetik bunga, menangkap burung atau mengail ikan di laut.
Kalau pagi menikmati pemandangan matahari terbit, jika malam melihat bintang-bintang di langit, hari-hari itu mereka lewatkan dengan penuh gembira.
Tiap hari mereka pun berharap ada kapal yang berlalu di situ.
Tetapi kadang-kadang timbul semacam pikiran aneh juga dalam hati Teng Hiau-lan, ia pikir jika seumpama betul-betul ada kapal yang bisa menolong dan membawanya kembali ke daratan, lantas bagaimana baiknya?
Jika ingat akan ini, tiba-tiba ia merasa bermain dengan Pang Ing di atas pulau kecil ini akan jauh lebih berarti.
Pada satu hari, seperti biasa mereka memandang jauh di tepi laut, hari itu udara mendung dan hawa rada dingin, mereka pikir tentu tidak akan ada kapal yang lewat.
Siapa duga, selang tak lama, tiba-tiba mereka melihat di udara ada belasan ekor burung sedang terbang mendatangi.
"He, aneh, hari ini bukan hari yang bercuaca baik, kenapa burung elang bisa keluar mencari makan?"
Ujar Pang Ing heran. Tidak lama, di permukaan laut lapat-lapat tertampak menongol pucuk tiang kapal, keruan mereka menjadi girang.
"Ha, siang dan malam kita berharap, akhirnya datang juga kapal yang kita nantikan!"
Seru Pang Ing berjingkrak gembira.
"Jangan kau gembira dulu, lihatlah burung-burung yang terbang di depan kapal itu, kenal tidak kau pada binatang itu?"
Kata Hiau-lan. Pang Ing coba mengamat-amati, kemudian ia menjadi heran.
"Ehm, ini adalah elang kucing!"
Katanya.
"Ya, betul, dan kenapa elang kucing ini terbang menuju ke sini?"
Kata Hiau-lan.
"Mungkin Niau-eng-to dan Coa-to jaraknya tidak jauh dengan pulau yang kita tinggali ini,"
Ujar Pang Ing.
"Biasanya kalau bergerak, elang kucing suka bergerombolan,"
Kata Hiau-lan lagi.
"Sedang elang kucing ini hanya serombongan kecil saja dan mengikuti kapal yang datang ini, seperti sedang menunjukkan jalan bagi kapal itu, aku justru kuatir kalau elang itu adalah binatang piaraan orang di atas kapal itu."
"Lalu kenapa?"
Tanya Pang Ing.
"Kau pikir saja, ada berapa orang yang mampu piara elang kucing ini hingga jinak?"
Sahut Hiau-lan.
"Kecuali Siang-mo, tentunya hanya Tok-liong Cuncia saja. Jarak antara Coa-to dan Niau-eng-to sangat dekat, kalau dia sanggup menjinakkan ular dengan sendirinya bisa piara elang kucing juga! Sementara kita tahu Siang-mo berada di tempat Lian Keng-hiau, maka orang di atas kapal ini menurut dugaanku ialah Tok-liong Cuncia, jika dia yang datang, apa kita bisa hidup lagi?"
Tetapi Pang Ing punya lain pendapat, ia teringat pada sikap Tok-liong Cuncia tempo hari yang begitu benci terhadap kawanan elang kucing yang banyak membinasakan ularnya, maka dalam hati ia berpikir.
"Kalau dia benci pada elang kucing, orang di atas kapal ini seharusnya bukan dia?"
Walaupun dalam hati ia berpikir demikian, tapi ia tetap merasa tak tenteram, ia lihat kapal itu makin dekat.
Ia menjadi kuatir bila teringat kebuasan Tok-liong Cuncia.
Sementara itu sebuah perahu layar kecil secepat anak panah, makin lama sudah makin dekat.
Kini telah dapat tertampak dengan jelas pada ujang perahu berdiri dua kakek bermuka kuning kurus, memakai baju dari kain kasar, mereka ternyata Siang-mo adanya.
Keruan Pang Ing melonjak demi mengenali siapa yang datang.
"He, kenapa bisa kedua iblis ini,"
Katanya heran.
"Teng-sioksiok, pada kuku mereka ada racunnya, nanti kau harus hati-hati."
"Apa kau kenal mereka?"
Tanya Hiau-lan.
"Dahulu waktu berada di sekitar rumah Lian Keng-hiau mereka pernah berkelahi dengan aku dan akhirnya aku kewalahan, tapi sekarang kita berdua, asal kita tidak dijambret saja, terang kita berada di pihak yang bakal menang,"
Ujar Pang Ing.
Dalam pada itu tiba-tiba pikiran Hiau-lan tergerak, selagi ia hendak bertanya pada Pang Ing apakah pernah mendengar apa-apa tidak dari Siang-mo, sementara itu perahu tadi sudah berlabuh, menyusul Siang-mo lantas melompat ke daratan.
"Ha, jangan kuatir budak Lin, aku akan menolong kau,"
Segera terdengar Pat-pi-sin-mo Sat Thian-ji berseru sesudah mengenali siapa yang berada di hadapannya.
"Kau ini siapa, kenapa aku perlu pertolonganmu?"
Sahut Pang Ing.
"He, kau juga di sini,"
Seru Sat Thian-ji demi nampak Teng Hiau-lan ada di situ.
"Sudahlah, lautan begini luas, tidak nanti kalian bisa menyeberang, lebih baik ikut aku kembali ke Niau-eng-to saja dan menjadi muridku sekalian!"
Di luar dugaan mendadak Teng Hiau-lan berseru.
"Pang Ing, mereka inilah musuhmu. Thian memang bermurah hati, pada sebelum ajalku mereka diantar ke pulau ini, lekas cegat jalan lari mereka, A Ing, jangan sampai mereka lolos!"
Kiranya Hiau-lan menaksir hari kematian dirinya sudah tidak lebih lama lagi dari seratusan hari, sudah lama ia bermaksud menceritakan asal-usul Pang Ing sebelum tiba ajalnya, kini tiba-tiba memergoki musuh lama itu, tanpa penjelasan lebih dulu, segera ia lolos pedangnya terus maju memapaki orang.
"Nah, bagaimana Koko,"
Terdengar Tay-lik Sin-mo Sat Thian-toh berteriak juga.
"sudah kukatakan, jangan cari budak liar ini lagi, tapi kau tidak mau menurut, kini boleh lihat, maksud baik kita malah dibalas dengan tuduhan jahat!"
Sementara itu Sat Thian-ji pun buka suara.
"Sudahlah Teng Hiau-lan, kejadian belasan tahun yang lalu kenapa harus diungkit lagi? Pula yang membunuh sanak keluarganya juga bukan kami!"
Mendengar percakapan ini, seketika Pang Ing terkesima seperti mendengar bunyi guntur di siang hari bolong.
"Teng-sioksiok, apa sanak keluargaku mati dengan sangat mengenaskan?"
Serunya kemudian.
"Ya,"
Sahut Hiau-lan cepat.
"Engkong dan ayahmu dibunuh oleh kaum Hiat-ti-cu, tapi mereka inilah yang menawan ibumu. Kau pun pernah digondol ke sarang mereka selama beberapa tahun!"
Karena jawaban ini, tanpa ragu-ragu lagi, dengan sekali seruan nyaring, segera Pang Ing melompat ke depan, begitu pedangnya bergerak, ia mendahului membabat.
Namun dengan cepat Sat Thian-ji mengegos ke samping.
"Budak Lin, apapun juga aku pernah memelihara kau selama beberapa tahun,"
Seru Sat Thian-ji.
"Mengenai ibumu walaupun benar kami yang menawan, tapi kemudian Ong Ling yang menyebabkan kematiannya dan tiada sangkut-pautnya dengan kami!"
Apa yang dia katakan sebenarnya tidak betul, padahal ibu Pang Ing, Khong Lian-he belum mati, sesampainya di Pakkhia berhasil lolos dari cengkeraman Ong Ling.
Karena pangkat Ong Ling terlalu, rendah, maka ia tak bisa tinggal bersama satu tempat dengan Siang-mo, sedangkan ia memaksa ingin menikah dengannya.
Tak terduga, di tengah jalan Khong Lian-he tak berani melarikan diri, sebab ia jeri terhadap Siang-mo, tapi setelah sampai di Pakkhia, Siang-mo tidak berada bersama lagi dengan mereka, hanya Ong Ling sendirian, sudah tentu bukan tandingannya, maka setelah dia menghajar Ong Ling habis-habisan, kemudian ia baru melarikan diri.
Tapi Ong Ling adalah seorang Siau-jin (manusia bermartabat rendah), demi untuk mendapat kepercayaan atasannya agar bisa mendapat kedudukan lebih baik, tentu saja ia tak berani menceritakan tentang dirinya dihajar seorang wanita, sebab hal ini pasti akan menjadi buah tertawaan saja.
Karenanya meski dia babak be-lur, terpaksa hanya, tutup mulut saja, terhadap orang luar ia mengatakan bahwa wanita yang dibawanya sudah meninggal karena tak cocok dengan iklim setempat.
Siang-mo sendiri tidak tahu juga tentang larinya Khong Lian-he, mereka mengira dia betul-betul telah mati oleh perbuatan Ong Ling.
Dalam pada itu, hati Pang Ing sangat berduka, menghadapi musuh sekarang ia tak bertanya lagi siapakah Ong Ling itu, dengan pedangnya segera ia menusuk Sat Thian-ji.
Lekas Sat Than-ji keluarkan kepandaiannya meniru cara menubruk elang kucing, mendadak ia meloncat setinggi tiga tombak.
Pang Ing tidak tinggal diam ia menyusul meloncat juga, akan tetapi dengan sekali memutar, Sat Thian-ji bisa menghindarkan diri dari serangannya.
"Budak Lin, bukankah kau bilang ingin menjadi anak perempuanku?"
Seru Sat Thian-ji pula ketika Pang Ing menusuk lagi.
Kiranya Sat Thian-ji masih menyangka Pang Ing sebagai Pang Lin, ia menegur tentang apa yang pernah Pang Lin bujuk padanya ketika di rumah Lian Keng-hiau dahulu.
Sudah tentu Pang Ing tidak mengerti dan menjadi gusar malah.
"Siapa ingin jadi anakmu?"
Bentaknya mendamprat.
"Aku adalah anak murid Thian-san, mana mungkin mengaku musuh sebagai bapak?"
Keruan Sat Thian-ji kaget oleh jawaban ini.
"Apa kau bilang? Kau anak murid Thian-san?"
Teriaknya menegas, tidak nanti ia mau percaya kata si nona.
Sementara itu Kiam-hoat Pang Ing yang amat cepat beruntun sudah menyerang dua kali, ia memberondongi musuh dengan tipu serangan yang hebat dan gencar, sudah tentu Sat Thian-ji terkejut, pikirnya diam-diam,
'Kiam-hoat budak liar nampaknya sudah makin lihai saja."
Di samping sana Sat Thian-toh menjadi gusar juga, mendadak ia menggertak sekali, di antara batu padas yang aneh ia sambar sebatang bambu muda, bambu ini ia putar sebagai senjata, ia meloncat terus menyabet ke pinggang orang.
Tetapi dengan pedangnya Pang Ing menyampuk, bambu orang hanya sedikit membentur ujung pedangnya, namun Pang Ing sudah merasakan tangannya kesemutan, syukur senjatanya tidak sampai terlepas.
"Koko, kau tak mau membunuh dia, tentu dia yang akan membunuh kau, keadaan sudah sedemikian rupa, apa kau masih sayang padanya?"
Seru Sat Thian-toh pada saudara tuanya.
Setelah Pang Ing dan Sat Thian-toh saling gebrak sekali, segera gadis ini tahu tenaga lawannya terlalu besar dan tidak boleh keras lawan keras, segera ia ganti siasat, begitu ilmu pedangnya berubah, mendadak ia menubruk ke tempat luang musuh, ketika galah bambu Sat Thian-toh menyabet, Pang Ing sudah berganti tempat lagi, senjatanya mengarah ke tempat lain pula.
Dalam pada itu Sat Thian-toh telah membaliki tangannya terus menggablok, kembali Pang Ing berputar ke sebelah kanan, sinar pedangnya berkelebat, segera mengarah urat nadi yang berbahaya di iga kanan musuh.
Walaupun Sat Thian-toh mempunyai tenaga raksasa, tapi Gin-kangnya masih jauh di bawah Pang Ing, setelah beruntun tiga kali diserang, ia terdesak hingga kerepotan.
Nampak saudaranya terdesak, Sat Thian-ji menghela napas panjang, mau tak mau ia harus lapangkan hati, begitu ia mengulur kesepuluh kuku jarinya, segera ia keluarkan kepandaian menubruk dan menggempur cara elang kucing, ia menyambar dari atas laksana elang berkitar di angkasa, ia berputar kian-kemari dengan cepat, ia banjiri Pang Ing dengan berbagai tipu serangan dengan mencakar dan menjambret, dengan demikian ia berhasil membebaskan saudaranya dari tekanan musuh.
Sebab apa kiranya Siang-mo mendadak bisa muncul di pulau karang ini?
Kiranya sejak Liau-in tewas, Yong Ceng menjadi kehilangan jago yang gagah perkasa, ia ingin bisa lekas mendapatkan pula seorang kosen sebagai pengganti Liau-in.
Kali ini Yong Ceng perintahkan Lian Keng-hiau memimpin pasukan angkatan lau.nya ke Laut Kuning menggempur sarang Hi Kak di Thian-hing-to, tiba-tiba ia teringat pada apa yang dikatakan Siang-mo dahulu, yakni di antara muara Laut Kuning dan Put-hay terdapat pulau hantu (maksudnya Coa-to).
Di atas Coa-to bersemayam seorang yang paling aneh di jagat ini, yaituTok-liong Cuncia.
Karena itu, Yong-ceng berpikir ilmu silat Siang-mo toh tidak bisa dikata rendah, orang yang mereka puja tentunya bukan orang yang sembarangan, kepandaian orang kosen itu sedikitnya tidak akan di bawah Liau-in.
Sebenarnya pada belasan tahun yaug lalu, ketika Yong Ceng masih 'Si-hongcu', pernah juga ia minta Siang-mo pergi ke Coa-to mengundang Tok-liong Cuncia, tapi waktu itu Tok-liong Cuncia menolak undangan itu.
Kini Yong-ceng mengerahkan tentaranya ke pantai Laut Kuning, kembali ia teringat pada orang kosen itu.
Ia pikir, kini aku sudah naik takhta, dengan keagungan diriku sebagai raja aku mengundang dia, mungkin dia akan menerima dan datang membantu aku.
Karena itulah ia perintahkan lagi Siang-mo melakukan tugas itu.
Tak terduga, karena sudah lama Siang-mo mendapat pelayanan dingin, pula mereka tidak sudi berkedudukan di bawah orang, tiba-tiba timbul juga semacam pikiran dalam hati mereka.
Mereka tahu Tok-liong Cuncia tidak nanti mau menerima undangan itu, tapi mereka tetap menjalankan tugas dan berangkat, mereka ingin meninggalkan Yong-ceng untuk kembali ke Niau-eng-to.
Lebih dulu mereka mendatangi Coa-to, di sana Tok-liong Cuncia sedang perang tanding dengan Kam Hong-ti dan kawankawan, saking senangnya Tok-liong Cuncia oleh perang tanding itu, tentu saja ia tidak mau keluar dari pulaunya.
Dari Siang-mo kemudian Tok-liong Cuncia mendapat tahu bahwa orang ini adalah salah seorang dari Kanglam-chit-hiap yang paling tersohor, namanya Kam Hong-ti.
"Ha, peduli apa dia Chit-hiap atau Pat-hiap,"
Kata Tok-liong Cuncia dengan tertawa.
"aku sendiri sudah terasing tinggal di pulau ini selama beberapa puluh tahun, jarang aku jumpai orang yang pandai ilmu silat, dengan adanya mereka justru aku ingin main-main dengan mereka untuk setahun atau dua tahun, nanti kalau aku sudah bosan, aku lantas giring ular-ularku menggigit mati mereka!"
Lebih jauh Tok-liong Cuncia menceritakan pula bahwa dia pernah melemparkan seorang gadis jelita ke laut.
"Sayang kalian tidak melihatnya, anak dara itu sungguh sangat menyenangkan, sebenarnya aku tidak berniat membunuh dia, hanya sayang, dia yang tidak tahu gelagat,"
Demikian Tok-liong Cuncia bercerita.
Waktu Sat Thian-ci bertanya lebih jelas rupa anak dara itu, maka ia menduga gadis ini tentu Pang Lin adanya.
Meski Sat Thian-ji adalah iblis yang suka membunuh orang tanpa berkedip, tapi terhadap Pang Lin rupanya dia ada jodoh, ditambah umurnya sudah lanjut, ia tak punya putra, tak punya putri, karena itu terhadap Pang Lin ia menjadi semakin rindu.
Maka ia terkejut demi mendengar cerita Tok-liong Cuncia itu, segera mereka mohon diri dan berlayar pulang ke sarang mereka di Niau-eng-to, dari sana kemudian mereka berlayar pula mencari ke berbagai pulau karang kecil di sekitarnya dengan harapan menemukan Pang Lin.
Siapa duga mereka kebentur Pang Ing yang disangkpnya Pang Lin dan malah terjadi pertarungan sengit!
Sementara itu Pang Ing masih terus menyerang dengan kencang, satu tusukan makin cepat dari serangan yang lain.
Thian-san-kiam-hoat memang luar biasa lihainya, tiap serangan selalu mengincar tempat yang berbahaya di tubuh Siang-mo.
"Sudahlah, kalau permusuhan ini tidak bisa didamaikan, aku tidak membunuh dia, tentu dia yang akan membunuh aku,"
Demikian pikir Sat Thian-ji.
Memang dia adalah iblis yang membunuh orang tanpa berkedip, kini dirangsek oleh Pang Ing terus-terusan, keruan lama-kelamaan timbul juga rasa gusarnya, pikiran jahatnya segera tinibul pula, tanpa ayal lagi ia lantas melawan Pang Ing dengan sepenuh tenaga, ia mencakar, mematuk, menutuk dan membeset, ia bergerak dengan cepat, seketika semua jurusan seakan-akan terdapat bayangan tubuhnyp.
Dalam keadaan demikian meski Kiam-hoat Pang Ing sangat bagus, tidak urung ia kewalahan menghadapi keroyokan Siang-mo.
Di samping sana ketika Teng Hiau-lan mendengar cerita Sat Thian-ji bahwa Khong Lian-he sudah mati, ia menjadi kememek, tapi ia pun sangsi pula, sebab dari Ong Ling yang dia bunuh itu didapat pengakuan bahwa Khong Lian-he telah kabur dengan selamat.
Ia lihat kedudukan Pang Ing berbahaya, tanpa pikir lagi segera ia lolos pedang dan maju membantu.
Sementara ini Teng Hiau-lan berlatih dengan baik Thian-san-kiam-hoatnya, kepandaiannya sudah tidak bisa dipersamakan lagi dengan masa dulu.
Dengan gabungan kedua pedang pusaka mereka, maka terlihatlah dua sinar perak gemerlapan menari dan melingkar di angkasa, kedua sinar ini bekerja sama dengan rapat sekali, tempo-tempo bergabung dan kadang-karang berpisah untuk kemudian kembali merapat pula.
Setelah pertarungan seru ini berlangsung ratusan jurus, mendadak terdengar Sat Thian-toh mengerang, sekonyong-konyong ia meloncat setinggi beberapa tombak, darah muncrat membasahi bajunya, ia bersuit mengeluarkan suara yang aneh.
Suaranya begitu keras dan sangat seram.
Kiranya ia berdarah karena pundaknya terkena pedang Pang Ing.
Suara suitan yang keras dan aneh itu belum pernah didengar Pang Ing, karena itu tanpa terasa ia mengkirik.
Dalam pada itu, mendadak di atas kepala mereka riuh ramai dengan suara aiieh, belasan burung elang kucing bercuitan saling sahut karena suara panggilan Sat Thian-toh tadi, burung-burung ini menyambar dan menubruk ke bawah, cakar elang tajam laksana kaitan, Pang Ing sendiri pernah menyaksikan pertarungan elang lawan ular berbisa, karena itu ia rada keder menghadapi burung buas ini.
Syukur ada pedang pusaka Pang Ing dan Teng Hiau-lan, yakni Yu-liong dan Toan-giok-pokiam buatan Hui-bing Siansu yang digembleng dari sari baja itu, begitu kedua pedang ini berputar, segera terpancar sinar mengkilap berkilauan, laksana selapis jaringan sinar di atas kepala lawan.
Elang-elang itu rupanya jeri terhadap sinar pedang mereka, binatang ini tak berani menyambar dekat melainkan terus berputar di udara, agaknya mereka hendak menunggu kesempatan baik baru menubruk turun buat mencakar, tetapi Pang Ing dan Teng Hiau-lan memutar pedang sedemikian rupa cepatnya bagaikan kitiran yang tak tertembus angin atau hujan, walaupun elang kucing ini sangat lihai, terpaksa tak mampu menyenggol mereka..Masih beruntung bagi Pang Ing dan Hiau-lan, Siang-mo sudah belasan tahun meninggalkan Niau-eng-to, elang kucing yang mereka latih baik, kini hanya tinggal belasan ekor saja, kalau tidak, pasti mereka sukar melawannya.
Sesudah bertahan sejenak, perlahan-lahan Pang Ing menjadi tenang.
Sebaliknya karena elang piaraannya tak mampu menyerang orang, Sat Thian-toh menjadi gelisah, kembali ia bersuit aneh, agaknya ia lagi memberi komando pada elang itu untuk menyerang lebih gencar.
Betul juga, karena tanda suara tadi, elang itu lantas terbang semakin rendah, cakarnya yang lancip tajam hampir terbentur dengan sinar pedang.
Sekonyong-konyong Pang Ing melompat dan sinar pedangnya pun menyambar ke atas memanjang seperti ular naga, secepat kilat ia berhasil menabas kutung cakar dua ekor elang.
Keruan kawanan elang kucing itu menjadi ribut, mereka bersuara mencicil dengan ramai terus terbang ke atas lagi.
Sat Thian-toh menjadi gusar, ia mengamuk, begitu berteriak, ia putar galah bambunya terus merangsek maju dengan hebat bersama Sat Thian-ji, elang kucing itu meski sudah ketakutan, demi mendengar panggilan majikannya, kembali mereka menubruk ke bawah lagi buat membantu.
Dalam keadaan begitu, mau tak mau Pang Ing dan Teng Hiau-lan mengeluh, untuk melayani belasan elang saja sudah payah, apalagi ditambah dengan kedua gembong iblis ini.
Tapi setelah mereka saling memberi tanda, berbareng memainkan 'Si-mi-kiam-hoat' dari Thian-san yang lihai, mereka bertahan dengan rapat sekali, dengan sinar pedang yrng mengurung rapat diri mereka, untuk sementara mereka tidak berpikir buat balas menyerang.
Keadaan demikian kembali lewat sekian lama, syukur kawanan elang itu karena kuatir salah menyerang majikan mereka, maka pada waktu menubruk ke bawah tidak berani mengeluarkan sepenuh tenaga, karena itu, meski Pang Ing dan Hiau-lan terdesak di bawah angin, namun mereka masih sanggup bertahan.
Pertempuran sengit ini berlangsung hinggga beberapa ratus jurus, Sat Thian-toh berteriak dan membentak, berulang kali ia menubruk dan menerjang, tapi Pang Ing dan Hiau-lan tetap menjaga diri dengan rapat sekali, meski Siang-mo dan elang mereka mengerahkan seluruh tenaga buat menyerbu laksana datangnya gelombang ombak, namun tetap tak mampu membobol benteng pertahanan Si-mi-kiam-hoat pihak lawan.
Lama-kelamaan Sat Thian-toh menjadi lemas, tenaga sudah habis, tiba-tiba pundaknya kena tertusuk sekali, kegesitannya menjadi banyak berkurang.
Teng Hiau-lan mengincar dengan baik, ia tunggu begitu musuh mendekat, mendadak melangkah maju terus menambahi pula sekali tusukan, keruan terdengar Sat Thian-toh berteriak pula, kiranya lengan kirinya ditusuk tembus oleh Yu-liong-kiam Teng Hiau-lan, lukanya menjadi lebih parah.
Nampak gelagat tidak menguntungkan, lekas Sat Thian-ji me-mayang adiknya mundur dengan cepat bersama gerombolan elang kucing mereka, menyingkir ke timur pulau itu buat merawat luka, sedang elang itu masih terus berkitaran di atas seperti bertugas mengawal mereka.
Hiau-lan merasa lega setelah musuh mundur, tapi tiba-tiba ia lihat mata Pang Ing basah berkaca dan sedang memasukkan kembali pedang ke sarungnya.
"Sioksiok, tidak seharusnya kau mendustai aku,"
Katanya dengan nada sedih.
"Ya, Ing-moay, janganlah salahkan aku, ketahuilah bahwa aku sendiri pun cukup tersiksa selama setahun ini,"
Sahut Hiau-lan.
Dalam beberapa bulan ini, karena siang malam berhadapan di pulau karang ini, lebih-lebih setelah Pang Ing mengutarakan rasa cintanya, tanpa terasa Hiau-lan telah melepaskan batas-batas tata-krama antara 'paman dan keponakan', entah sejak kapan ia sudah memanggilnya.
"Ing-moay"
Atau adik Ing. Hanya Pang Ing yang sudah telanjur dan biasa, maka ia masih memanggil "paman"
Padanya.
Agak lucu juga kedengarannya panggilan mereka yang berlainan itu, tapi di pulau karang yang sunyi itu tiada pihak ketiga, karena itu mereka pun tidak mengurus soal ini.
Begitulah sehabis pertarungan sengit tadi, hari pun sudah petang.
"Marilah kita mencari sesuatu untuk isi perut dulu, malam ini hendaklah kita jangan tidur,"
Kata Hiau-lan.
"Kejadian selama belasan tahun, hanya semalam entah bisa habis diceritakan tidak?"
Pang Ing lantas pergi menangkap dua ekor ikan laut, mereka makan panggang ikan seadanya, selesai makan hari pun gelap, angin laut meniup silir terasa juga agak dingin.
"Ah, cuaca telah berubah lagi, melihat keadaan ini, agaknya di lautan sedang berjangkit angin badai,"
Kata Hiau-lan. Mereka berdua sudah tinggal beberapa bulan di pulau ini, maka terhadap perubahan cuaca mereka pun agak paham.
"Agaknya akan datang angin keras, cuma malam ini masih belum tiba, kita masih belum perlu berteduh ke dalam gua,"
Ujar Pang Ing setelah mendengarkan suara menderunya angin yang menyambar lewat di permukaan laut hingga menerbitkan ombak yang men-dampar ke pantai.
"Ai, perubahan cuaca seperti hidup manusia yang tiada ketentuan,"
Kata Hiau-lan dengan menghela napas.
"Siapa duga, beberapa bulan yang lalu kita masih tinggal di daratan, tapi sekarang kita terkurang di pulau karang. Yang lebih tak tersangka ialah kita bisa berhadapan di sini untuk mendengarkan suara menderanya ombak samudera di malam hari ini."
Di antara kata-katanya itu seperti mengandung arti yang dalam, entah merasa senang atau lagi berduka.
Pang Ing sendiri seperti paham dan seperti tidak, perlahan-lahan ia menggeser dirinya lebih mendekat ke Hiau-lan.
"Paman katakanlah, bukankah kau sudah kenal aku sejak aku masih kecil?"
Tanyam a kemudian sambil menarik tangan orang.
"Cara bagaimanakah ayah-bundaku tewas, apa mereka pun kenal baik dengan kau?"
"Ehm, sebelum kau berumur setahun, boleh dikatakan hampir tiap hari aku membopong kau,"
Sahut Hiau-lan.
"Ayah-bundamu adalah Suko dan Suso .... Ai, jangan kau cemas, jangan gemetar, tenangkanlah dirimu, dengarkanlah ceritaku! Ya. Engkongmu dan Ayahmu semuanya tewas dengan sangat mengenaskan, sedang ibumu, mati-hidupnya sampai saat ini masih belum terang. Ai. anak bodoh, kenapa kau menangis? Bukankah kau masih harus membalas sakit hatimu? Ah, baiklah, kalau kau mau menangis boleh menangislah, sesudah menangis kau tentu akan lebih segar. Selama beberapa tahun ini bila teringat pada nasib sanak keluargamu dan diriku sendiri, kadang-kadang aku sendiri pun suka menangis."
Ia bercerita, sampai akhirnya Hiau-lan sendiri pun mengucurkan air mata.
"O, paman, kau bilang ... kau bilang, ah, apa yang kau katakan tadi aku kurang terang,"
Kata Pang Ing dengan sesenggukan.
"Baiklah, mengasolah sebentar, janganlah kita menangis lagi. Ceritakanlah padaku. Aku akan menurut kata-katamu. Suhu pun pernah mengajarkan padaku supaya bersikap ksatria, lebih baik mengalirkan darah, daripada mengalirkan air mata, dan kini aku tidak menangis lagi, nah paman, ceritakanlah lagi!"
Di malam gelap itu, kedua mata Pang Ing yang basah bersinar laksana batu permata yang berkelap-kelip, dengan mendelong ia menatap orang yang dipanggilnya sebagai 'paman' ini.
Demi bentrok dengan sinar mata si nona, lekas Hiau-lan menghindarinya, dalam hati ia memuji.
"Ai, sungguh seorang nona teladan, nona yang bernasib jelek tapi keras hati pula!"
Sesudah mendengar kata-kata Pang Ing dengan suara terputus-putus tadi, Teng Hiau-lan menggenggam tangan anak dara ini terlebih kencang.
"Baiklah, dengarlah ceritaku,"
Katanya kemudian dengan perlahan.
"Pada suatu malam pada tujuh belas tahun yang lampau, malam pada tiga hari sebelum Tiongchiu. Hari itu tepat hari setahun umur kalian kakak-beradik ...."
"Hm, jadi aku masih punya adik, apakah orang yang rupanya sangat mirip dengan aku itu?"
Seru Pang Ing memotong.
"Ya, jangan kau simpangkan ceritaku, dengarkan dulu,"
Sahut Hiau-lan.
"Hari itu adalah ulang-tahun kalian kakak-beradik, Engkong dan ayah-bundamu tentu saja sangat gembira, tetapi tiba-tiba rumahmu kedatangan tamu yang aneh ...."
Angin menderu, ombak mendampar, cakrawala penuh dengan bintang yang berkelap-kelip, dengan penuh perhatian Pang Ing mendengarkan cerita Hiau-lan.
Kadang-kadang Hiau-lan bercerita dengan suara perlahan, tapi tempo-tempo ia bicara dengan cepat, la bercerita tentang drama keluarga Pang, ia pun menceritakan asal-usul dirinya sendiri.
Pada bagian yang mengharukan, Hiau-lan lantas berhenti dan tidak sanggup meneruskan, perlahan ia mengusap air matanya, habis itu baru ia menyambung lagi ceritanya.
Ia bercerita dan bercerita terus entah sudah berapa lama telah berlalu, akhirnya habis juga ceritanya.
"O, Engkong dan ayah-ibu yang malang! Ai, paman, nasibmu pun jelek sekali!"
Demikian Pang Ing meratap sambil bersandar di pangkuan Teng Hiau-lan.
"Makanya aku selalu merasa engkau adalah orang yang sangat dekat dengan aku, lahirnya kita memang punya hubungan begitu erat."
Dengan perlahan Hiau-lan mengusap air mata dara ini dengan lengan bajunya.
"Aku harus mencari ibuku, aku harus mencari pula adikku,"
Kembali Pang Ing berteriak.
"Ya, memang sudah waktunya kau mencari mereka,"
Ujar Hiau-lan.
"Meski pulau ini terpencil, tapi akhirnya pasti ada kapal yang lewat sini, kau tentu dapat kembali ke daratan sana dan mendapatkan mereka. Ing-moay, watakmu rada keras, kelak kalau kau berkelana di Kangouw sendirian, kau harus menjaga diri baik-baik."
"Kau tidak kembali ke daratan sana bersama aku, paman?"
Tanya Pang Ing heran. Teng Hiau-lan terawa getir.
"Mana aku bisa kembali lagi ke sana?"
Sahutnya kemudian.
Pang Ing jadi teringat bahwa ajal Hiau-lan sudah tidak lama lagi, lantaran racun yang mengendap di badannya, seketika ia menjadi sedih, tak tertahan lagi mendadak ia menangis tersedu-sedu, ia memegang pundak Hiau-lan dan mendekap di tubuhnya.
Hiau-lan menjadi bingung, ia merasakan badan si nona yang empuk dan bau yang harum, dengan perasaan suka-duka bercampur-aduk ia tidak tahu apa yang harus diperbuatnya, mendorong pergi si • gadis terasa keliru, tidak mendorongnya salah juga, karena itu mukanya menjadi merah dan tubuh gemetar, jantungnya memukul keras.
"O, Sioksiok,"
Kata Pang Ing lagi dengan tersenggak-sengguk.
"selama belasan tahun ini kau selalu berusaha dan kian-kemari untuk keperluanku, di antara lautan manusia yang tidak dikenal ujung pangkalnya kau terus mencari kami kakak-adik berdua, bahkan kau tak memikirkan jiwamu buat menolong diriku, budi ini cara bagaimanakah aku dapat membalasnya?"
"Anak bodoh, di antara kau dan aku masakah masih perlu pakai kata-kata 'balas budi' segala?"
Sahut Hiau-lan sambil perlahan-lahan mendorong pergi tubuh si nona. Pang Ing mendongak, dengan terkesima ia memandang Hiau-lan.
"Sioksiok, kau menyukai aku tidak?"
Tiba-tiba ia bertanya.
Hati Hiau-lan terguncang, seketika ia tak mampu menjawab.
Ya, walaupun di antara mereka sudah ada bibit cinta, tapi hal itu boleh dikata hanya dalam hati saja, masing-masing hanya tahu sama tahu tanpa mengutarakannya terus terang, lebih-lebih Teng Hiau-lan selalu menghindarkan diri agar tidak sampai mengatakan terus terang, hal ini kecuali disebabkan ikatan adat-istiadat umum yang mempengaruhi jiwanya, ia pun tidak ingin menanam bayangan gelap di dalam sanubari seorang gadis jelita pada sebelum ajal yang segera akan tiba.
"Sioksiok, apa kau tidak suka padaku?"
Kembali Pang Ing menegas dengan muka mendongak.
"Ah, masakah kau sendiri tidak mengetahuinya?"
Sahut Hiau-lan akhirnya dengan perlahan.
"Sioksiok, aku ingin berdampingan dengan kau untuk selamanya,"
Kata-Pang Ing lagi.
"Ah, cuma omongan yang kekanak-kanakan saja,"
Sahut Hiau-lan.
"Siapa bilang omongan yang kekanak-kanakan?"
Kata Pang Ing cepat.
"Meski lautan dapat kering dan batu bisa membusuk juga aku takkan mengubah kata-kataku, apalagi perpisahan mati-hidup saja mana bisa merintangi aku?"
Kembali Hiau-lan terguncang hatinya, terharu sekali dia oleh kata-kata anak dara yang tegas ini, tanpa terasa mereka saling rangkul dengan kencang.
Begitulah mereka saling rangkul dengan perasaan seperti mabuk dan lupa daratan, keadaan demikian entah sudah lewat berapa lama, sampai akhirnya tiba-tiba terdengar di udara ada suara "srak-srak"
Dan "cuat-cuit"
Yang ramai.
"Sungguh menjemukan, kawanan elang itu kembali datang lagi,"
Kata Pang Ing. Waktu Hiau-lan mendongak, tiba-tiba ia menjadi kaget.
"Celaka, kebakaran, ada kebakaran!"
Serunya. -ooo0dw0ooo-Bersambung ke
Jilid IV Seri Thiansan Jiang Hu San Nu Xia/Kang Ouw Sam Lie Hiap Karya . Liang Ie Shen Saduran . Gan KL DJVU . TAH dimhader Ebook oleh . Dewi KZ
http.//kangzusi.com atau
http.//dewi.0fees.net
Jilid 4 Saat itu sebenarnya Pang Ing sedang menunduk dengan mata meram ia sedang tenggelam di dalam pelukan Teng Hiau lan dan sedang jatuh cinta pertama seorang gadis remaja, ketika mendadak ia didorong pergi, ia menjadi kaget dan membuka mata, ia lihat di empat penjuru hutan di atas pulau telah terbakar oleh api yang besar.
"Tentu ini perbuatan Siang-mo,"
Ujar Hiau-lan.
"Lekas kita cegat mereka dan rebut perahunya!"
Segera mereka menerobos ke rimba di sebelah timur dengan pedang terhunus, di sana mereka mendengar suara gelak tertawa Sat Thian toh yang menggema di angkasa.
Kiranya setelah dilukai Pang Ing, Sat Thian-toh tidak kepalang gusarnya, napsu membunuhnya seketika timbul, waktu ia lihat ada angin laut yang santar, ia lantas mendapat akal, yakni membakar hutan, mereka bersaudara pandai berenang, maka sesudah api berkobar segera mereka memasang layar perahu buat angkat kaki.
Dengan demikian Pang Ing dan Hiau-lan tentu akan terkubur di antara lautan api atau kecemplung ke laut tanpa bisa berenang.
Akal keji ini sebenarnya tidak disetujui Sat Thian-ji, tapi demi nampak permusuhan ini sudah terang tidak bisa didamaikan, terpaksa ia menuruti kemauan saudaranya.
Begitulah, maka mereka telah mengobarkan api di empat penjuru hutan, tapi sebelum mereka angkat kaki, tiba-tiba Hiau-lan dan Pang Ing sudah memburu datang.
Di antara sinar api yang menjilat dengan hebat itu kelihatanlah muka Pang Ing yang merah molek, karena itu Sat Thian-ji menjadi lemah hati lagi.
"Budak Lin, marilah kau ikut kami pergi saja!"
Ia coba membujuk pula. Tetapi Pang Ing sudah terlalu gemas, tanpa memberi jawaban lantas ia menikam. Lekas Sat Thian-ji mengegos, namun Pang Ing masih terus mencecar dengan tusukan bertubi-tubi.
"Lekas berangkat, Koko!"
Terdengar Sat Thian-toh meneriaki saudaranya.
Akan tetapi tidak gampang bagi Sat Thian-ji untuk melepaskan diri dari rangsekan Pang Ing, Ginkang Pang Ing tidak di bawah Sat Thian-ji, Kiam-hoatnya dimainkan sedemikian cepat, seketika Sat Thian-ji jadi kewalahan dan sukar buat kabur.
Di lain pihak Sat Thian-toh menjadi tak sabar, sekonyong-konyong ia membentak sekali, ia patahkan sebatang dahan pohon yang terbakar, dengan ini segera ia timpukkan ke arah Pang Ing..
Namun Teng Hiau-lan tidak tinggal diam, cepat ia melompat maju, sekali sampuk dengan pedangnya, ia bikin dahan pohon berapi itu menjurus ke tempat lain, habis itu, pedangnya berputar, segera ia menusuk musuh pula.
Sat Thian-toh dijuluki orang sebagai Tay-lik Sin-mo atau Si iblis sakti bertenaga raksasa, pula ia mempunyai tulang kulit yang kuat bagaikan tulang baja dan kulit tembaga, meski ia sudah terluka tadi, namun ia masih perkasa sekali dan bertempur dengan tangkas.
Teng Hiau-lan juga tangkas, dengan sedikit menggeser, ia melangkah ke samping menghindarkan serangan orang, berbareng senjatanya bergerak lagi, sinar pedang seketika memanjang, beruntun ia menyerang dengan tipu 'Tiam-bun-ko-long' (mengetuk pintu menjangkitkan ombak), menyusul 'Pek-hong-koan-jit' (pelangi putih menembus matahari), dan akhirnya 'Hui-to-im-san' (terbang kembali ke gunung Im).
Sat Thian-ji jeri terhadap pedang pusaka Teng Hiau-lan, Yu-liong-pokiam, maka ia tak berani menyambut tipu serangan orang, sedang gerak-geriknya juga tidak segesit lawan, hanya kekuatan luar saja yang terlatih sempurna, tapi tidak urung ia terdesak mundur terus.
Sementara itu api berkobar lebih hebat lagi, pulau kecil yang luasnya hanya beberapa li persegi ini, karena tiupan angin laut yang santar, dalam sekejap saja sudah berwujud pulau berapi.
Pepohonan dan tumbuhan lainnya terjilat api hingga mengeluarkan suara petas-an yang keras, asap bergulung-gulung menyesatkan pandangan hingga mata pun sukar melek.
Nampak gelagat jelek, segera Hiau-lan memberi tanda pada Pang Ing, mereka berlari menuju ke tepi laut.
Namun Sat Thian-toh tidak membiarkan musuhnya kabur, ia bersuit nyaring, menyusul terdengar suara burung yang riuh ramai, kawanan elang kucing kembali menerjang turun lagi.
Dalam keadaan demikian, jika Teng Hiau-lan dan Pang Ing harus menghindari serangan elang itu, terang mereka tak sempat lagi berlari.
Meski mereka bisa berenang, tapi tidak terlalu pandai, maka kalau tidak berhasil merampas perahu orang, tentu mereka akan mati terbakar.
Dalam pada itu terdengar Sat Thian-toh sedang tergelak tertawa, di samping memberi komando kepada elang untuk mengembut musuh, berbareng pula ia mendahului mencegat jalan lari lawan.
Pang Ing menjadi murka, mendadak ia membentak nyaring, sekali melayang, orang berikut pedangnya segera menerobos lewat di samping sebatang pohon yang sudah terjilat api.
Karena takut pada api yang berkobar itu, kawanan elang tak berani menubruk terlalu ke bawah.
Kesempatan ini segera digunakan Pang Ing dengan baik, begitu cepat gerakannya, sekejap saja ia sudah menyusul sampai di belakang Sat Thian-toh, sinar pedangnya berkelebat secepat kilat, maka terdengarlah Sat Thian-toh menjerit, tepat punggungnya tertusuk.
"Budak Lin, keji sekali kau!"
Teriak Sat Thian-ji demi nampak Pang Ing yang dia sayangi melukai saudaranya.
Ia menjadi gusar akhirnya, tiba-tiba meloncat setinggi tiga tombak lebih, ia keluarkan cara elang kucing menubruk dari udara dengan hebat, begitu kesepuluh jarinya diulur, segera ia mencengkeram kepala orang.
Tetapi ia lantas dipapaki Pang Ing yang juga meloncat ke atas, gadis ini segera membabat selagi terapung di udara, tak terduga, meski tubuh Sat Thian-ji terapung di udara tapi ia masih sanggup bergerak sesuka hatinya, dengan sekali putar, menyusul kesepuluh kuku jarinya lantas mencakar pula, karena tak menyangka akan kemahiran orang, akhirnya pundak Pang Ing kena tersentuh oleh kukunya, untung Pang Ing memiliki ilmu entengi tubuh yang tinggi, sebisanya ia berkelit hingga terhindar dari ancaman maut.
Habis itu baru ia tancapkan kakinya ke bawah, tetapi segera ia dirubung pula oleh kawanan elang tadi.
Di samping sana, Sat Thian-toh yang ditusuk punggungnya oleh Pang Ing, kalau orang lain mungkin sudah mampus, akan tetapi Sat Thian-toh mempunyai kulit yang tebal bagaikan tembaga dan tulang kuat laksana baja, walaupun dirinya sudah terluka oleh pedang orang, ia hanya berteriak beberapa kali sambil berjingkrak, habis itu ia melompat bangun lagi buat menghadapi musuh.
Nampak ketangkasan orang yang luar biasa ini, mau tak mau Hiau-lan merasa keder juga.
Sementara itu api yang berkobar makin lama semakin besar.
"Jangan berhantam teras, Thian-toh! Keluarlah ikut aku!"
Tiba-tiba Thian-ji meneriaki saudaranya.
Habis itu segera ia menerjang keluar memilih jurusan yang apinya tidak begitu besar, di bawah lindungan kawanan elang kucingnya, akhirnya ia berhasil menerjang keluar sampai sejauh beberapa puluh tombak dan dari jauh sudah kelihatan tepi laut.
Waktu itu angin masih meniup santar dengan suara menderu, gelombang ombak mendampar setinggi bukit, sekonyong-konyong terdengar suara gemuruh yang keras, perahu yang berlabuh di pantai laut itu, tali tambalannya ternyata putus, perahu ini terdampar oleh ombak besar dan terlempar ke daratan teras menumbuk pada batu karang hingga seketika hancur berantakan!
Melihat perahu yang hendak mereka rebut sudah musnah, hati Hiau-lan menjadi cemas dan putus harapan, kalau hanya mengandalkan kepandaian berenang mereka terang tidak mampu menyeberangi lautan luas ini tanpa sesuatu alat bantu.
"Teng-sioksiok, meski kita tak bisa hidup berdampingan, biarlah kita mati bersama, walaupun kita harus mati, jangan pula kita biarkan kedua bangsat tua ini tinggal hidup!"
Seru Pang Ing.
Habis itu, tanpa menghiraukan sambaran elang kucing yang mengganas, ia putar pedang sedemikian rupa hingga berwujud satu lingkaran putih perak, secepat kilat ia menguber sampai di tepi laut terus mengadang di depan musuh buat menggempurnya lagi.
Sementara itu Teng Hiau-lan pun sudah mengejar sampai di belakang Siang-mo, mereka lantas menyerang dari muka dan belakang.
Sementara itu api sudah menjilat lebih hebat lagi, semua pepohonan di pulau kecil ini sudah terjilat api, ada beberapa pohon kecil setelah terbakar, kemudian terbawa oleh pusaran angin hingga terangkat seluruhnya ke rdara, ditambah pula suara deru angin dan ombak yang mendampar, petasan kayu yang terbakar bercampur-aduk laksana nyanyian kematian saja.
Burung-burung laut yang bersarang di pulau kecil itupun terbang bertebaran ketakutan oleh api yang terbakar hebat ini.
Dalam pada itu, kawanan elang kucing yang ganas itu, setelah api berkobar dengan hebat, akhirnya menjadi jeri juga dan tak berani menubruk ke bawah, mereka hanya bercuit riuh dan terbang scrabutan, di atas pulau hanya mereka berempat saja yang lagi saling labrak mati-matian.
Dengan kemahiran berenang mereka, sebenarnya Siang-mo masih bermaksud mencari jalan buat kabur, tetapi dengan mati-matian Hiau-lan dan Pang Ing merintangi mereka, senjata mereka mencecar secara ganas dan tidak membiarkan orang kabur begitu saja.
Saking gopohnya, Sat Thian-ji menjadi kalap, matanya merah berapi, ia keluarkan seluruh kepandaiannya mencakar, menjambret, menutuk dan menghantam dengan hebat, ia menyerang dengan sengit, kadang-kadang ia menggempur dari atas, tempo-tempo ia mencengkeram orang dari depan, dalam keadaan mati atau hidup ini, masing-masing pihak hanya berpikir cara bagaimana merobohkan lawan untuk mencari hidup sendiri, segala suka-duka, budi dan benci sudah tak mereka pikir lagi.
Kini rasa sayang Sat Thian-ji terhadap Pang Ing pun sudah lenyap sama sekali.
Begitulah kedua belah pihak bertarung mati-matian di bawah sinar api yang berkobar hebat itu, daun-daun kering yang terbakar pun berhamburan.
Sementara itu Sat Thian-toh berulang-ulang terkena tiga luka pedang, gerak-geriknya sudah tidak setangkas tadi.
Sedang Pang Ing sendiri pun merasa pundaknya rada sakit kesemutan, ia menduga tentu karena racun cakaran Sat Thian-ji tadi telah mulai bekerja, daripada mati konyol, nona ini segera menyerang lebih ganas lagi, ia mengamuk dengan kalap.
Sat Thian-toh berteriak dan membentak, tangannya menghantam dan kakinya menendang, ia desak hembusan asap yang tebal itu menjurus ke arah Pang Ing.
Akan tetapi dengan menahan rasa pedas pada matanya yang terkena asap, mendadak Pang Ing melompat maju, secepat kilat pedangnya menusuk pula, tanpa ampun lagi kembali dada Sat Thian-toh terluka.
Nampak saudaranya terancam bahaya, secepat kilat Sat Thian-ji melayang maju hendak menolong, tapi mendadak Pang Ing putar balik senjata terus membentak.
"Kena!"
Saat itu mata Sat Thian-ji lagi merasa pedas karena dihembus asap, ketika mendadak nampak sinar pedang berkelebat, lekas ia berusaha menghindarkan diri, namun sudah terlambat, kesepuluh kuku jarinya tertabas putus.
Saking gusarnya Sat Thian-ji berteriak kalap.
Dalam pada itu mendadak terdengar suara guntur menggelegar di angkasa.
Di antara suara guntur itu, tiba-tiba sinar kilat berkelebat, petir menyambar mendadak, seketika sebatang pohon besar terbelah putus.
Sat Thian-toh sendiri waktu itu sedang melonjak ke atas, akan tetapi malang baginya, pohon besar yang disambar petir itu dengan tepat menindih ke atas badannya, di antara geraman Sat Thian-toh, ia masih sempat mengangkat kedua tangannya untuk membuang tindihan pohon itu ke samping, walaupun demikian tidak urung kain baju serta rambutnya terjilat api hingga berkobar.
Kesempatan itu tidak disia-siakan Teng Hiau-lan, dengan cepat ia membabatkan senjatanya, maka terdengarlah suara "kraak", sebelah lengan Sat Thian-toh mulai bahu tertabas mentah-mentah.
"Dalam keadaan kesakitan Sat Thian-toh menjerit terus mengerang kalap, seluruh tubuhnya mandi darah, namun ia masih belum roboh, dengan membawa api yang menjilat tubuhnya mendadak ia melompat maju teras menumbuk Hiau-lan dengan kepalanya. Syukur Hiau-lan masih keburu mengegos dengan cepat, maka terdengarlah suara gemuruh yang keras disusul dengan berhambur-nya lelatu api dan retaknya kayu, kiranya tumbukan Sat Thian-toh dengan tepat menerjang pada sebatang pohon besar, pohonnya ambruk dan ora.ignya binasa, api yang bergulung-gulung segera menjilat lagi, sekejap saja tubuh orang sudah menjadi hangus. 'Thian-toh! Thian-toh!"
Seru Thian-ji.
Akan tetapi ia tidak memperoleh sahutan, ia menjadi kaget, matanya membelalak lebar, di antara kabut asap yang tebal ia lihat keadaan saudaranya yang mengerikan itu, dalam keadaan sedih ia berteriak, berbareng kesepuluh jarinya menyambar, ia menjambret dan mencakar kalang-kabut ke arah Hiau-lan.
Hendaklah diketahui bahwa Siang-mo adalah saudara kembar, jiwa-raga mereka laksana dwi-tungggal, selama hidup mereka jarang berpisah, kini saudara mudanya terbinasa, tentu saja hatinya sedih sekali, tanpa menghiraukan jiwa sendiri ia merangsek Hiau-lan.
Karena mengamuknya orang, hampir saja Hiau-lan dicakar, terpaksa ia main mundur terus.
Dalam pada itu Pang Ing segera maju membantu.
Meski pihak lawan dua orang dan ia hanya sendirian, terang tak mampu menang, tetapi Sat Thian-ji masih terus menghantam dan menggempur dengan kalap.
"Bayar kembali jiwa adikku!"
Demikian ia berteriak sambil menerjang maju. Tetapi ia telah dipapaki Pang Ing dengan pedang pendeknya, dalam sekejap saja gadis ini membalas dengan beberapa serangan kilat.
"Hm, bayar kembali jiwa adikmu?"
Sahut Pang Ing dengan tertawa dingin.
"Lalu jiwa keluargaku harus kutagih pada siapa? Sudah berapa banyak orang yang dibunuh kalian bersaudara dan arwah yang tak berdosa itu harus menagih hutang kepada siapa?"
Sat Thian-ji terkejut oleh dampratan ini, kata-kata Pang Ing itu seperti bunyi geledek yang menggetarkan hatinya.
Karena itu, ia tertegun sejenak dan gerak-geriknya menjadi agak lambat, di lain pihak pedang Pang Ing dimainkan sedemikian cepatnya, ia tidak membuang kesempatan itu, dengan cepat pedang menusuk menembus hulu hati Sat Thian-ji.
Maka terdengar Thian-ji menjerit sekali, kedua matanya mendelik, tubuhnya lantas kaku tak bergerak, tapi ia tidak roboh, wajahnya mengerikan laksana mayat hidup.
Nampak muka orang yang menakutkan ini, Pang Ing bergidik, lekas ia tarik kembali pedangnya.
"Baiklah, aku tidak menyalahkan kau!"
Terdengar Thian-ji berseru sekali, akan tetapi sudah terguling.
"Ampuni dia Ing-moay!"
Terdengar Hiau-lan berseru sambil mendekati, akan tetapi sudah terlambat.
"Sayang, orang ini agaknya ada keinsafan, tetapi sayang!"
Ujar Hiau-lan pula demi nampak orang sudah tak tertolong lagi.
Sementara itu sinar kilat sedang menyambar di angkasa, petir menggelegar, hujan turun dengan lebatnya.
Hiau-lan mendekati Sat Thian-ji untuk memeriksanya.
"Dimana budak Lin, suruh dia kemari, ada yang hendak aku katakan,"
Demikian terdengar Sat Thian-ji bersuara dengan napas lemah sekali. Karena permohonan itu, segera Hiau-lan menggapai Pang Ing.
"Manusia yang akan mati, omongannya juga bajik! Kemarilah Ing-moay, coba dengarkan apa yang hendak dia katakan!"
Serunya. Akan tetapi Pang Ing masih ngeri pada wajah Thian-ji yang menakutkan, dengan perlahan ia mendekati, tapi dengan kepala berpaling ke jurusan lain. Terdengar Thian-ji berkata perlahan.
"Budak Lin, memang benar katamu, aku ... aku sampai di sini suaranya terputus-putus dan sangat lemah, akhirnya menjadi tidak jelas lagi.
"Marilah kita kubur dia dengan baik,"
Ujar Hiau-lan sambil menghela napas panjang. Akan tetapi sebelum mereka bertindak, sekonyong-konyong Sat Thian-ji membaliki tubuhnya, sekuat tenaga dan napas penghabisan ia berkata lagi.
"Aku mempunyai satu bola obat, kau boleh ambil, dengan bola ini boleh kau gelindingkan di atas luka yang kena cakaranku dan segera akan menjadi baik. Bola obat ini masih besar pula gunanya, masih berguna untuk ...."
Ia tak bisa meneruskan lagi, suaranya sudah pelan dan tenaga lemah hingga akhirnya berhenti sama sekali.
Mau tak mau hati Pang Ing menjadi pilu, sama sekali tidak diduganya bahwa makhluk tua aneh yang dijuluki iblis ini, pada sebelum ajalnya ternyata masih mempunyai hati bajik seperti ini.
Karena pikiran ini, tanpa terasa ia berpaling memandang padanya.
Sungguh aneh bin ajaib, jika muka Sat Thian-ji sebelum ajal ladi kelihatan sangat beringas dan menakutkan, namun sekarang di dalam pandangan Pang Ing sebaliknya telah berubah menjadi seorang tua yang welas-asih.
"Kau adalah musuh keluargaku, tetapi aku hutang budi atas perawatanmu selama beberapa tahun dahulu,"
Demikian Pang Ing berkata.
"Baiklah, benci dan budi ini aku hapus sama sekali dan aku tidak akan menyalahkan kau lagi."
Karena kata-kata Pang Ing ini, terkulum senyuman pada mulut Thian-ji. Kemudian Teng Hiau-lan meraba dadanya, ternyata denyut jantungnya sudah berhenti, napasnya sudah putus.
"Orang ini sungguh aneh sekali,"
Ujar Pang Ing kemudian.
"Ya, tetapi dibanding Lian Keng-hiau dan lain-lain, ia masih jauh lebih baik,"
Sahut Hiau-lan.
Waktu ia merogoh ke baju Sat Thian-ji, betul saja ia dapatkan sebuah Yok-kiu atau bola obat yang berwarna hitam.
Bola obat atau lebih tepat pil obat raksasa ini kira-kira sebesar cangkir dan mengeluarkan semacam bau busuk yang aneh dan keras.
Tanpa ayal Hiau-lan menyingkap lengan baju Pang Ing, ia gelindingkan bola obat ini di atas lukanya dua kali, terasa oleh Pang Ing lengannya seperti sedang digosok setrika yang hangat, ia merasakan hawa hangat menyelusup menembus ke hulu hatinya, sejenak kemudian lengannya sudah bisa bergerak bebas seperti biasa, rasa gatal pegalnya pun lenyap semua.
"Sungguh tidak nyana bola obat ini begini mustajab, tentu obat ini adalah obat khas bikinan Siang-mo sendiri,"
Ujar Hiau-lan.
"Dia bilang obat ini masih banyak gunanya, maka boleh disimpan."
"Tidak, aku tak mau,"
Sahut Pang Ing sambil mendekap hidung karena bau obat itu.
Hiau-lan tertawa geli oleh kelakuan anak dara itu, ia mengerti Pang Ing takut bau busuk, maka ia tak memaksanya, ia memasukkan bola obat itu ke kantung sendiri.
Angin dan hujan badai tadi datangnya sangat cepat, berhentinya juga sangat cepat, kini meski suara angin belum berhenti, tapi hujan sudah reda, api yang berkobar di pulau ini karena siraman air hujan tadi sudah hampir padam, rumput dan bunga hutan sudah terbakar habis, yang tertinggal hanya pohon yang gundul hangus.
"Setelah kebakaran ini, tempat ini sudah tidak indah lagi,"
Ujar Pang Ing tertawa.
"Ya, tetapi perahu Siang-mo yang kita incar sudah hancur, mau tak mau kita harus terkurang pula di sini,"
Sahut Hiau-lan.
Bila teringat hari ajalnya yang sudah makin mendekat, tanpa terasa mukanya menjadi guram.
Dengan tidak banyak bicara lagi, mereka lantas menggali liang dengan pedang mereka untuk mengubur mayat Siang-mo.
Setelah hujan lebat, menyusul membanjir arus dingin, angin laut bertiup menusuk tulang hingga menggigil, dengan bersandar di tubuh Hiau-lan tanpa merasa akhirnya Pang Ing terpulas.
Dengan penuh rasa kasih-sayang Teng Hiau-lan melepaskan baju luarnya sendiri, dan diselimutkan di tubuh Pang Ing, dalam hati ia berpikir.
"Biarlah anak ini tidur nyenyak."
Meski Hiau-lan sendiri merasa letih sekali, tapi kejadian dalam dua hari ini terlalu memukul perasaan, sekilas ia membayangkan hari ajalnya, lain saat teringat olehnya rasa cinta Pang Ing terhadap dirinya, sebentar lagi teringat pemandangan sebelum ajal Sat Thian-ji, semua itu laksana gelombang ombak yang membanjir dan mendampar hatinya, meski ia coba memejamkan mata, namun tetap tak bisa tertidur.
Suara menderunya angin lambat-laun berhenti, tiba-tiba dari permukaan laut sana terdengar suara seruan berkumandang.
Hiau-lan coba mendengarkan lebih cermat, mendadak ia mendorong pergi Pang Ing teras meloncat bangun.
"Ing-moay, rupanya seperti ada kapal yang datang!"
Serunya. Dalam keadaan masih sepat matanya, Pang Ing terjaga dari tidurnya sambil kucek-kucek mata.
"Ha, bagus, kita segera bisa terhindar dari bahaya!"
Sahutnya dengan girang.
"Ya, tetapi kau jangan girang dahulu, toh kita masih belum tahu siapakah gera. gan yang datang ini?"
Ujar Hiau-lan.
"Harap saja bukan Tok-liong Cuncia,"
Kata Pang Ing.
Habis itu mereka berdua lantas berlari menuju ke tepi laut, tetapi malam gelap-gulita, hanya ombak laut mendampar yang menyorotkan cahaya yang berkelap-kelip, kecuali ini tidak tertampak bayangan kapal apapun.
"Apa kau tidak sedang mimpi?"
Kata Pang Ing kemudian.
"He, memang aneh, padahal terang sekali aku mendengar suara orang,"
Ujar Hiau-lan terheran-heran juga.
Selang tak lama, tiba-tiba terdengar berkumandang suara suitan panjang dari jauh, suaranya lembut tetapi terang, sayup-sayup menggema dari tempat jauh di lautan sana.
Keruan Hiau-lan dan Pang Ing terkejut.
"He, ini adalah ilmu mengirim gelombang suara ke tempat jauh!"
Ujar Pang Ing.
Segera ia pusatkan perhatian memandang jauh ke sana, setelah ditegasi sejenak, akhirnya tertampak olehnya di tempat yang jauh sekali terdapat satu titik hitam yang lagi bergerak terapung.
"Ya, memang tidak salah katamu tadi, itu dia ada kapal kecil yang sedang mendatangi!"
Katanya kemudian.
"Di tempat yang masih sejauh itu, suara suitan dan seruannya ternyata bisa berkumandang sampai di sini, maka dapat dipastikan Lwekang orang yang bersuara ini sudah sampai tingkat yang tak dapat diukur,"
Ujar Hiau-lan.
"Dan kalau yang datang ini adalah musuh, terang kita berdua sekali-kali bukan tandingannya!"
"Kalau begitu, kita tak usah gubris padanya!"
Sahut Pang Ing.
Dalam pada itu di antara gelombang ombak, titik hitam tadi makin lama semakin menjadi besar, kini jelas kelihatan adalah sebuah kapal kecil, melihat kapal kecil yang terombang-ambing di antara gelombang ombak itu, Pang Ing teringat pada penderitaannya sendiri yang pernah mengalami serangan ombak dan angin.
"Tidak peduli siapa dia, kita harus menolongnya!"
Katanya kemudian dengan ikhlas.
"Ya, apa yang kau pikirkan ternyata sama dengan aku,"
Sahut Hiau-lan dengan tertawa.
"Tadi mereka tentu melihat sinar api di tempat kita, karena ingin lekas mendapatkan daratan, maka kapalnya diarahkan kemari. Kini api tersirap oleh hujan lebat, mereka kehilangan pedoman, oleh karenanya berseru memanggil, baiklah lekas kita nyalakan api lagi."
Maka dengan cepat Pang Ing mengumpulkan segundukan daun kering dan tangkai kayu terus menyalakan api unggun.
Lewat sebentar, betul saja kapal kecil tadi meluncur datang laksana anak panah.
Segera Hiau-lan berseru menyapa, karena itu tiba-tiba dari kapal itu berkumandang suara sahutan yang nyaring kaum wanita.
"Apakah Hiau-lan adanya?"
Hampir Hiau-lan tidak percaya atas pendengarannya sendiri, suara ini telah dia kenal benar, suara ini begitu lembut dan hangat, ini adalah suara yang pernah memberi tenaga baru padanya dahulu, hingga membikin dirinya bersemangat kembali dalam keadaan lesu dan putus harapan, dan kini dalam keadaan menghadapi persoalan sulit yang kedua selama hidupnya, tidak terduga kembali ia mendengar suara ini lagi.
Pang Ing menjadi heran melihat Hiau-lan terkesima, dari mata pemuda ini kelihatan mengunjuk sinar girang dan haru.
"Apa wanita di atas kapal itu sudah kau kenal?"
Tanpa tertahan Pang Ing bertanya.
"Ya, kenal!"
Sahut Hiau-lan. Sementara itu terdengar suara wanita tadi sedang berseru memanggil nama Teng Hiau-lan lagi.
"Ya, betul aku di sini, Lu-cici!"
Sahut Hiau-lan dengan keras.
Selang tak lama, akhirnya perahu itu mendekat dan berlabuh.
Dari atas perahu segera melompat turun tiga orang, seorang lelaki dan dua orang perempuan, yang lelaki ternyata Pek Thay-koan adanya, dan perempuannya adalah Lu Si-nio bersama Hi Yang.
Wajah Pek Thay-koan dan Hi Yang tertampak letih, baju mereka basah kuyup, terang sekali mereka bergulat melawan serangan ombak dan angin badai.
Sedang Lu Si-nio sendiri meski kelihatan letih juga, tapi sikapnya tenang-tenang saja.
"Apa aku bukan lagi mimpi, angin apakah yang meniup kalian datang ke pula.' kecil ini?"
Segera Hiau-lan menyapa kegirangan.
"Angin apalagi kalau bukan angin taufan tadi!"
Sahut Lu Si-nio dengan tertawa.
"Kalau kami tidak nampak sinar api di sini mungkin kami akan ditelan oleh ikan paus."
"Di antara kami bertiga, Lu-cici kurang pandai berenang, tapi justru dia yang paling tenang menghadapi serangan angin ombak ladi,"
Kata Hi Yang.
"Dan kenapa kalian bisa sampai di pulau ini? Eh, nona cilik ini bukankah nona yang dahulu pernah bersama dengan Liau-in itu?"
Dahulu waktu pesiar di Se-ouw, Hangciu, Pek Thay-koan dan Hi Yang pernah kesamplok dengan Pang Lin, karenanya demi nampak Pang Ing, muka mereka lantas berubah.
"Bukan, nona itu adalah adik perempuannya,"
Lekas Hiau-lan menerangkan dengan tertawa. Habis itu ia undang Pang Ing ke dekatnya dan mengatakan padanya.
"Inilah enci Lu Si-nio yang selalu ingin kau jumpai."
Mendengar ini, Pang Ing mengamat-amati Lu Si-nio hingga lama.
"la betul-betul Lu-cici adanya?"
Tiba-tiba ia bertanya.
Akan tetapi Pang Ing masih sangsi, sebab dari gurunya ia pernah diberitahu bahwa nama Lu Si-nio sudah lama terkenal, dari Teng Hiau-lan ia dengar pula bahwa Lu Si-nio lebih tua dua tahun dari pemuda itu, maka dalam bayangan pikiran Pang Ing tentu Lu Si-nio adalah wanita setengah umur, akan tetapi kini jelas kelihatan orang di hadapannya ini adalah seorang nona yang cantik jelita, umurnya tidak seberapa banyak selisih dengan dirinya, keruan seketika ia menjadi ternganga.
"Adik cilik, memang akulah Lu Si-nio adanya,"
Akhirnya Lu Si-nio meyakinkan Pang Ing sambil menarik tangannya.
"Dari gurumu pernah aku mendapatkan pelajaran 'Lian-cin-lwe-si', latihan Lwekang supaya awet muda, karenanya aku terhitung pula setengah kakak-gurumu."
"Kelihatannya engkau masih sangat muda sekali, Lu-cici,"
Sahut Pang Ing.
"Betulkah katamu? Kalau begitu aku harus berterima kasih pada Suhumu,"
Ujar Si-nio dengan tertawa.
Sebagaimana diketahui.
Lu Si-nio pernah mendapat pelajaran Lwekang dari Ie'Lan-cu yang disebut 'Lian-cin-lwe-si' tadi, yakni semacam ilmu memusatkan kekuatan dalam untuk memupuk jasmani sendiri, ilmu kepandaian ini hanya bisa dilatih orang yang sudah memiliki dasar Lwekang yang kuat, oleh karena itu Ie Lan-cu sendiri belum menurunkannya kepada Pang Ing.
Cuma Pang Ing pernah juga mendengar cerita gurunya tentang ilmu ini, maka setelah mendengar kata-kata Si-nio tadi, ia percaya sepenuhnya.
"Bukankah Pek-heng berdua kembali ke Thian-hing-to buat melawan pasukan musuh? Kenapa bisa sampai di sini sekarang dan kenapa bisa berkumpul dengan Lu-cici lagi?"
Tanya Teng Hiau-lan.
"Ah, pangkalan mertuaku yang dipupuk selama beberapa puluh tahun itu sudah musnah,"
Sahut Pek Thay-koan dengan muka muram.
"Sanak keluargaku telah ditangkap dan dibunuh kerajaan, yang beruntung bisa lolos hanya seorang keponakanku saja,"
Demikian Lu Si-nio bercerita.
"Setengah tahun yang lalu aku telah antar dia pada Hian-hong Totiang untuk menjadi muridnya, aku baru saja kembali dari Liautang-poan-to (semenanjung Liautang) dan secara kebetulan bertemu dengan suami-istri Pek-heng, dialah yang mengundang aku ikut pergi ke Thian-hing-to. Tetapi sayang kedatangan kami di sana agak terlambat, angkatan laut musuh sudah mengepung pantai sekitar pulau dan sudah menggempur pangkalan kita, dengan susah payah akhirnya kami bisa menyelundup ke dalam, namun saudara-saudara kita di sana sudah sebagian besar menjadi korban keganasan musuh, meski kami melawan sekuat mungkin, tapi sudah tak berguna lagi. Hanya saja, pasukan musuh sedikitnya kena kami hancurkan beberapa puluh ribu orang, di pulau sekecil Thian-hing-to itu kami masih bertahan terus selama hampir tiga bulan, setelah pertahanan bobol, kami merebut kapal dan berkat bantuan Go-so (kakak ipar perempuan kelima, maksudnya Hi Yang) yang paham keadaan laut di sana, setelah kami berputar satu lingkaran, akhirnya bisa menghindarkan pasukan musuh dan lari sampai di sini."
"Teng-heng, darimana kau tahu kami kembali ke Thian-hing-to?"
Tanya Hi Yang.
"Aku tahu dari Kam-toako yang bertemu denganku di Celam,"
Sahut Hiau-lan.
"Kalau begitu, kau bertemu dengan ayahku tidak?"
Segera Hi Yang bertanya lagi dengan cepat.
"Sudah, malah beberapa bulan kami tinggal bersama,"
Tutur Hiau-lan.
"Lalu dimana dia sekarang?"
Pek Thay-koan ikut bertanya.
"Mungkin masih di Coa-to,"
Sahut Hiau-lan.
"Apa katamu? Coa-to?"
Seru Hi Yang melonjak kaget.
"Cara bagaimana ayah bisa terdampar sampai pulau hantu itu?"
Karena kuatir atas keselamatan ayahnya, muka Hi Yang menjadi pucat.
"Lalu bagaimana lagi dengan Hong-ti?"
Tanya Pek Thay-koan.
"Kam-toako juga berada di Coa-to,"
Hiau-lan menerangkan.
"Malahan tidak dia saja, bahkan Bing-cecu dan Wei-tocu juga berada di sana."
Mendengar ayahnya masih didampingi kawan yang begitu banyak, hati Hi Yang menjadi rada lega.
"Dan cara bagimana kalian bisa berpisah dengan rombongan dan tiba sampai di sini?"
Ia ber-bertanya lagi.
"Ceritanya terlalu panjang, baiknya kalian tukar pakaian dan makan sesuatu dahulu, setelah mengaso nanti aku ceriterakan lagi,"
Ujar Hiau-lan. Dalam pada itu Lu Si-nio menjadi geli nampak pakaian Hiau-lan dan Pang Ing yang terbuat dari serat rami kasar itu.
"Tentunya kalian sudah terkurung lama di sini bukan?"
Dengan tertawa ia bertanya. Muka Hiau-lan menjadi merah jengah.
"Baju kalian pun perlu tukar juga,"
Sambung Lu Si-nio lagi.
"Ya, memang aku tak bisa menjahit, baju kami ini aku bikin karena terpaksa, aku jahit sekenanya dengan duri tulang ikan dan pakai benang rami, sungguh lebih susah daripada memainkan senjata,"
Dengan tertawa Pang Ing berkata.
"Tidak, kau menjahit dengan baik sekali, sungguh pintar,"
Ujar Si-nio.
Sebenarnya baju rami yang dibikin Pang Ing memang tidak keruan, keadaannya kotor pula dengan noda darah dan berlepotan lumpur, waktu nampak bayangannya sendiri di dalam air, ia pun merasa geli.
Begitulah maka Si-nio lantas mengambil baju bersih dari perahunya dan memasak makanan.
Hiau-lan menukar dengan pakaian Pek Thay-koan dan Pang Ing salin dengan pakaian milik Hi Yang.
Setelah tukar pakaian dan selesai bersantap, kemudian Teng Hiau-lan menceritakan pengalamannya selama beberapa bulan ini.
Mendengar bahwa ayahnya sekarang sudah insaf dan suka kembali ke jalan yang baik, Hi Yang menjadi senang sekali, tetapi ketika mengetahui mereka terkurung di pulau hantu, Coa-to, dan tiap hari disiksa oleh Tok-liong Cuncia, ia jadi sangat kuatir lagi.
"Go-so, marilah besok kita lantas berangkat ke Coa-to untuk menempur Tok-liong Cuncia,"
Ujar Lu Si-nio.
"Menurut Hiau-lan, orang ini asalnya adalah seorang penderita kusta, pantas kalau dia menjadi benci pada dunia dan dendam pada sesama. Menurut pandanganku, meski di luar ia sangat bengis dan buas, mungkin dia tidak sejahat Siang-mo."
"Siang-mo pun bukan orang yang terlalu jahat,"
Sahut Hiau-lan.
Habis itu ia lantas ceritakan tentang pemberian obat pada Pang Ing sebelum ajal Sat Thian-ji.
Semua orang menjadi terharu oleh cerita itu.
Malam ini Pang Ing sempat tidur bersama Lu Si-nio, nona cilik ini sangat menyukai Si-nio, maka ia bertanya terus-menerus.
"Enci, sudah lama kau kenal pada Teng-sioksiok, bukart?"
Demikian ia mulai bertanya.
"Ya, pada waktu kau berumur antara setahun, aku sudah kenal dia,"
Sahut Si-nio.
"Ah, kalau begitu patutnya aku panggil kau bibi,"
Ujar Pang Ing.
"Tidak, itu tidak perlu, guru kita bertingkatan sama, maka tak perlu kau merasa sungkan padaku,"
Sahut Si-nio dengan tertawa.
"Dan, apa kau juga kenal baik dengan bibiku?"
Tiba-tiba Pang Ing bertanya "Apa maksudmu putri Nyo Tiong-eng? Ya, aku kenal, cuma sepintas saja,"
Sahut Si-nio. Kemudian Pang Ing tidak bertanya lagi, ia diam seperti sedang berpikir sesuatu.
"Ehm, jika aku punya bibi seperti kau, tentu aku akan senang sekali,"
Katanya tiba-tiba.
"Apa kau tidak menyukai bibimu itu?"
Tanya Si-nio dengan tertawa.
"Ya, aku tidak suka,"
Sahut Pang Ing mengangguk.
"Aku merasa dia tidak sesuai beijodohkan Teng-sioksiok!"
Pada waktu Pang Ing mengucapkan kata-kata ini, suaranya penuh mengandung rasa kasih, matanya bersinar, seperti sedang menantikan persetujuan Lu Si-nio. Karena itu pikiran Lu Si-nio jadi tergerak.
"Ya, aku pun tidak suka padanya,"
Sahutnya kemudian. Keruan Pang Ing menjadi girang.
"Kau tidak suka pada bibimu itu, apa hal ini sudah kau katakan pada Teng-sioksiok?"
Tiba-tiba Lu Si-nio bertanya. Pipi Pang Ing yang kecil mungil itu tiba-tiba bersemu merah.
"Pernah aku katakan,"
Sahutnya kemudian dengan malu-malu.
"Tapi aku tidak tahu pantas tidak aku mengatakannya."
Si-nio tertawa, habis itu ia lantas simpangkan pembicaraan ke jurusan lain, ia mempersoalkan ilmu pedang dengan Pang Ing, tentu saja gadis ini jadi lebih gembira, mereka bercakap-cakap sampai jauh malam baru tidur.
Besok paginya, ketika Pang Ing mendusin, namun ia tidak melihat Lu Si-nio lagi.
Kiranya waktu itu Lu Si-nio sedang duduk di atas batu karang dan memandangi matahari terbit bersama Teng Hiau-lan.
Mereka menikmati pemandangan alam yang indah itu dengan terpesona.
"Lu-cici, apa masih ingat beberapa tahun yang lalu kita memandang matahari terbit di atas Sian-he-nia?"
Terdengar Hiau-lan bertanya.
"Ya, aku masih ingat waktu itu kau sedang masgul karena urusan asal-usul dirimu, jauh-jauh kau menyambangi aku dan kita bercakap sampai lama sekali,"
Sahut Si-nio dengan tertawa.
"Dan tentunya sekarang kau sudah baik-baik saja bukan?"
"Terima kasih atas petunjukmu dahulu itu, sudah lama aku bebas dari kemasgulanku, akan tetapi sekarang berbalik timbul lagi urusan lain yang membikin aku kesal,"
Kata Hiau-lan. Mendengar kata-kata terakhir ini, Lu Si-nio telah bisa menebak beberapa bagian.
"Ada urusan apakah yang membikin kau kesal?"
Dengan tertawa ia pura-pura bertanya. Muka Hiau-lan menjadi merah, dengan malu-malu ia tak sanggup mengutarakannya.
"Adakah sesuatu yang tak dapat kau katakan padaku?"
Ujar Si-nio lagi dengan tertawa.
"Ah, baiklah biar aku coba menebaknya. Ehm, tentunya kau ribut dengan Nyo Liu-jing, bukan?"
Dalam keadaan kikuk akhirnya Teng Hiau-lan mengangguk.
"Sudahlah, perselisihan paham di antara tunangan sendiri adalah soal biasa, kenapa harus kau pikirkan dalam hati?"
Demikian Si-nio menghibur. Hiau-lan bungkam dan menunduk.
"Tetapi aku selalu merasa watakku tidak cocok dengan dia,"
Katanya kemudian dengan suara rendah. Lu Si-nio tersenyum lagi oleh kata-kata ini.
"Eeeeh ... kau punya keponakanmu itu, aku maksudkan si nona cilik Pang Ing, ia pun tidak suka pada Nyo Liu-jing, bukan?"
Ia bertanya. Jantung Hiau-lan memukul keras, hatinya terguncang.
"Ya!"
Jawabnya kemudian dengan manggut-manggut.
"Itulah, jika aku tidak salah terka, di sinilah letak kemasgulan-mu, bukan?"
Desak Lu Si-nio. Kembali Hiau-lan bungkam.
"Sesuatu yang dilakukan seorang, cukuplah asalkan perasaan sendiri merasa tenteram. Adakah sesuatu kesalahan yang kau lakukan terhadap nona Nyo?"
Tanya Si-nio lagi.
"Aku hutang budi kepada ayahnya,"
Sahut Hiau-lan.
"Itu lain persoalannya,"
Kata Si-nio sambil tertawa.
"Jika memang kalian berdua tidak cocok, kelak kedua belah pihak akan menderita, mungkin Nyo-locianpwe sendiri tidak akan tenteram juga."
"Tepat apa yang Enci katakan, tetapi kami sudah bertunangan sekian tahun,"
Sahut Hiau-lan dengan hati berdebar.
"Baru bertunangan tidak bisa disamakan dengan perkawinan,"
Kata Si-nio.
"Setelah menikah, kalau sang istri tidak melanggar tujuh larangan tidak akan bisa dicerai. Tetapi pembatalan sewaktu masih bertunangan, meski adat kuno sekalipun, tidak melarangnya. Ai, aku jadi melantur tentang peradatan kuno segala. Padahal cinta kasih antara muda-mudi, asal timbul dari cinta murni dan tahu akan batas diri, seharusnya siapa pun tidak bisa melarangnya."
"Ya, Enci sungguh seorang yang bijaksana,"
Sahut Hiau-lan dengan girang.
Ia girang sekali karena persoalan yang selama beberapa bulan tidak bisa ditembus pikirannya kini telah dipecahkan oleh kata-kata Lu Si-nio tadi, ia merasa dadanya lapang dan pikiran lega.
"Jika memang kau merasa tidak cocok dengan nona Nyo, seharusnya kau jangan menahannya hingga berlarut-larut,"
Kata Si-nio lagi. Karena kata-kata ini, Hiau-lan mengerut kening, teringat olehnya cara bagaimana hal ini harus dikemukakan kepada Nyo Tiong-eng, karenanya ia jadi masgul lagi.
"Hendaklah kau bersabar saja, nanti kalau kita sudah kembali dari Coa-to dan sesudah kita kembali ke daratan, aku coba menjadi perantaramu,"
Dengan tersenyum Si-nio menyambung pula. Keruan tidak kepalang girang Hiau-lan, dengan terharu ia mengucapkan terima kasih. Akan tetapi bila teringat lagi sesuatu, kembali ia mengerut kening.
"Ada apalagi yang kau anggap sulit?"
Tanya Si-nio.
Tengah mereka bercakap, sekonyong-konyong di atas udara terdengar suara bunyi elang kucing yang riuh ramai, belasan elang setelah terbang mengitar rendah beberapa kali di atas pulau, kemudian terbang pergi dengan cepat.
"Ini adalah elang kucing yang dibawa Siang-mo, mungkin mereka sedang mencari majikannya,"
Tutur Teng Hiau-lan. Dan sesudah berhenti sejenak, tiba-tiba dengan suara perlahan ia bertanya.
"Tetapi urusan umur dan tentang derajat, apa diperbolehkan juga dalam peradatan kuno?"
Pertanyaan ini membikin Lu Si-nio bergelak tertawa.
"Haha, kau baru bersekolah beberapa tahun lantas ingin menjadi murid setia Khong-loji (maksudnya Khong Hu-cu),"
Sahutnya kemudian.
"Tetapi Khong-loji tak pernah berkata bahwa antara paman dan keponakan yang berlainan she dilarang kawin. Menurut adat yang umumnya berlaku sekarang ialah tidak kawin dengan orang yang sama she, sedang kau dan dia toh bukan paman dan keponakan yang sungguh-sungguh, kenapa tidak boleh? Sedang soal umur, itu lebih-lebih bukan soal lagi. Berapakah selisih umurmu dengan dia? Ehm, agaknya lima belas tahun, bukan? Kata orang kuno, lelaki menikah pada usia tiga puluh dan perempuan kawin pada umur dua puluh. Suatu tanda selisih sepuluh tahun adalah kejadian yang biasa saja, kalau begitu, sekalipun lebih banyak lima tahun, kenapa tidak boleh? Pernah disebutkan dalam kitab ketabiban kita di zaman dahulu bahwa pada usia tujuh kali tujuh bagi kaum wanita janganlah kawin dan kalau lelaki umur delapan kali delapan jangan nikah. Teori ini berdasarkan keadaan badan masing-masing. Tujuh kali tujuh berjumlah 49 tahun, dan delapan kali delapan sama dengan 64 tahun, selisihnya persis lima belas tahun."
Dengan penjelasan Lu Si-nio ini, seketika semua kesulitan yang meliputi perasaan Teng Hiau-lan menjadi lenyap seluruhnya, akan tetapi 'teoritis' sudah boleh dikata tiada halangan, tetapi bagaimana dengan 'praktek' yakni di mata umum, dapatkah hal ini diterima?
Inilah yang masih diragukan Hiau-lan, maka hatinya tetap kesal.
"Ya, asal menurut aturan sudah boleh dan apa yang aku perbuat bukan suatu kesalahan, meski tiba hari ajalku, hatiku akan merasa tenteram juga!"
Katanya tiba-tiba sambil menghela napas. Mendengar pemuda itu menyebut hari ajal, Si-nio jadi tercengang.
"Apa katamu? Kau sedang dalam masa muda dan kuat, kenapa kau bilang ajal segala?"
Saat itu juga, di samping batu karang yang mereka duduki itu tiba-tiba berkelebat keluar satu bayangan orang, tahu-tahu Pang Ing telah muncul, kiranya dia bersembunyi di sana dan sudah lama mencuri dengar percpkapan mereka.
Sebenarnya sudah sejak tadi Lu Si-nio mengetahuinya, tapi ia sengaja pura-pura tidak tahu.
"Mari sini!"
Segera Lu Si-nio memanggil dengan tertawa demi orang sudah unjukkan diri.
"Bagus sekali pemandangan laut di sini! Lihat, begitu indah permai alam semesta ini, tetapi pamanmu malah berbicara tentang hari ajalnya dengan aku!"
Muka Pang Ing yang bulat telur bersemu merah, matanya basah berkaca, katanya kemudian dengan menggenggam kencang tangan Lu Si-nio.
"O, Enci, kau sungguh baik sekali!"
"Aneh, anak dara ini mengalirkan air mata kegirangan atau ada sesuatu hal lain yang memilukan dia?"
Demikian Lu Si-nio berpikir sambil memandang orang dengan heran. Sementara itu ia dengar Pang Ing membuka suara lagi dengan rada gemetar.
"Cici, pengalamanmu luas dan pengetahuanmu banyak, tahukah kau barang apa yang bisa menolong Teng-sioksiok? Ia telah dipedayai kaisar anjing itu dan telah minum araknya yang beracun, hari ajalnya tinggal tiada seratus hari lagi!"
"Apa kau bilang? Betul terjadi begini?"
Seru Si-nio kaget. Maka Teng Hiau-lan lantas menceritakan pengalamannya. Mendengar penuturan ini, diam-diam Lu Si-nio berpikir, kemudian ia menggumam sendiri.
"Memang pernah kudengar cerita bahwa di daerah selatan yang masih liar sana ada cara pemberian racun berjangka waktu, siapa yang minum racunnya, kalau tiba waktunya lantas terbinasa, jangka waktunya pun tidak tentu, pada umumnya mulai ratusan hari sampai beberapa tahun lamanya. Akan tetapi ini hanya menurut cerita saja, betul atau tidak masih belum diketahui dengan pasti, apa mungkin seorang kaisar juga bisa menaruh racun seperti cara itu? Hal ini sungguh susah dipercaya. Tetapi kalau ingat kekejian In Ceng, hal inipun bukan mustahil."
Karena itu kemudian ia lantas bertanya.
"Di antara pernapasanmu sehari-hari apakah terdapat tanda-tanda yang aneh?"
"Tanda-tanda aneh tidak aku rasakan,"
Sahut Hiau-lan.
"Sudahlah, mati-hidup adalah takdir, yang aku harap hanya tidak berbuat sesuatu yang memalukan, kalau hanya mati saja, apa yang harus kutakuti!"
"Jangan kau kuatir, dalam seratus hari ini kita pasti akan tiba di kotaraja, tatkala itu aku pasti dapat berdaya,"
Kata-Si-nio menghibur.
Ia berkata dengan tegas dan penuh keyakinan.
Meski Pang Ing tidak mengerti apakah daya-upaya orang nanti, tetapi ia bergirang juga-Selang tak lama, suami-istri Pek Thay-koan datang mengundang mereka pergi sarapan pagi untuk kemudian berlayar mencari Coa-to atau pulau ular.
Dalam percakapan mereka kemudian disinggung tentang kegagahan Tok-liong Cuncia yang susah dilawan.
Dengan teliti Lu Si-nio bertanya ilmu kepandaian orang kosen itu, lalu ia termenung.
"Ing-moay, coba kau perlihatkan permainan Thian-san-kiam-hoat padaku!"
Kemudian tiba-tiba ia berkata. Pang Ing menurut, segera ia unjukkan semua gerak tipu Thian-san-kiam-hoat yang dia pelajari, dengan penuh perhatian Lu Si-nio menyaksikan permainan ilmu pedang si nona..
"Bagus, jangan kuatir lagi, kita boleh berangkat sekarang!"
Serunya kemudian dengan tertawa sesudah Pang Ing selesai permainan pedangnya.
Sementara itu Kam Hong-ti dan rombongan yang terkepung di pulau ular, tanpa terasa beberapa bulan sudah berlalu.
Dalam beberapa bulan ini, tiap pagi kalau air pasang sudah surut, seperti 'kerja dinas' saja, dalam waktu tertentu Tok-liong Cuncia datang main tempur dengan mereka, ia anggap pertempuran ini seperti 'latihan' saja.
Melihat berlalunya musim rontok dan disusul dengan datangnya musim dingin, kemudian tertampak pula salju berhenti berganti dengan bunga mekar semerbak, Hi Kak jadi teringat pada pangkalan lautnya yang dikepung dan digempur pasukan kerajaan Boan, entah bagaimana keadaannya sekarang?
Lebih-lebih bila ia ingat nasib putri dan anak menantunya yang belum diketahui, sedang hari-hari dilaluinya seperti lambat sekali rasanya, sehari seakan setahun, keruan ia menjadi gelisah.
Di samping itu yang menggirangkan ialah setelah mengalami 'latihan' pertempuran dengan Tok-liong Cuncia selama beberapa bulan ini, ilmu kepandaian dirinya dan para kawan sudah banyak maju.
Tiap hari bila sudah habis bertempur, tentu Kam Hong-ti mengadakan 'koreksi diri', membicarakan kekurangan dan keunggulan pertempuran tadi, ia membantu kawan-kawannya mempertinggi ilmu masing-masing, ia ajarkan pula cara bekerja sama menyerang dan bertahan dengan rapat untuk menghadapi musuh, hal ini mereka latih dengan giat tiap hari.
Di antara belasan orang ini, sebenarnya hanya Kam Hong-ti sendiri yang sanggup menghadapi tenaga pukulan Tok-liong Cuncia, Hi Kak, Wei Yang-wi dan Bing Bu-kong bertiga hanya sanggup menyambut dua-tiga kali serangan musuh dengan senjata mereka.
Akan tetapi sesudah beberapa bulan ini, mereka sudah bertambah kuat dan bisa bertahan lebih lama.
Ditambah pula mereka bisa bekerja sama dengan rapat, baik menyerang maupun menjaga, maka lambat-laun mereka berbalik berada di atas angin pada tiap kali terjadi pertarungan.
Walaupun demikian toh masih tetap belum mampu membinasakan Tok-liong Cuncia, tiap kali kalau orang hutan ini unjuk tanda akan kalah, akhirnya bobol juga garis kepungan mereka oleh terjangannya.
Pernah juga mereka membagi sebagian kawan untuk membikin kapal dan sebagian bertugas meronda untuk menjaga serbuan Tok-liong Cuncia, tetapi karena terbaginya tenaga mereka, kembali mereka tak sanggup melawan musuh, akibatnya kapal yang baru mereka bikin setengah jadi lagi-lagi dihancurkan oleh orang hutan itu tanpa mereka bisa berbuat apa-apa.
Pagi hari itu, setelah air pasang, kembali Tok-liong Cuncia 'dinas' lagi menantang perang tanding, setelah kedua belah pihak bertempur sengit tiga ratusan jurus, namun orang hutan ini sama sekali belum tampak letih.
Dalam pada itu tiba-tiba di udara berkumandang suara "srak-srak-srak"
Yang aneh, sekejap kemudian, ada belasan ekor elang kucing terbang mendatangi dari ujung laut sana, keruan Kam Hong-ti rada heran, ia pikir.
"Apa mungkin elang ini datang buat bertarung melawan kawanan ular lagi? Biasanya kalau bergerak selamanya elang kucing bergerombol dalam jumlah besar, kenapa sekali ini yang datang hanya belasan saja?"
Sesudah berada di atas pulau ular ini, kawanan elang itu berputar mengitari atas pulau kemudian tertampak dua ekor elang yang paling besar, sebagai pemimpin, tiba-tiba terbang rendah sambil ber-cuit seperti berduka, mengitar di atas kepala orang.
Menyusul tiba-tiba Tok-liong Cuncia membentak sekali, ia putar tongkatnya dengan cepat beberapa kali, ia bikin terguncang pergi senjata semua orang terus menerjang keluar dengan cepat.
Ketika Tok-liong Cuncia menggapai tangannya, kedua ekor elang kucing tadi lantas hinggap di atas pundaknya, di antara cakar mereka agaknya seperti membawa sesuatu benda.
Belasan elang kucing ini memang betul adalah binatang piaraan Siang-mo, dua ekor yang paling besar itu justru adalah teman kawakan Sat Thian-ji.
Dahulu sering Sat Thian-ji membawanya bertamu ke pulau ular ini mencari Tok-liong Cuncia, oleh sebab itulah begitu melihat Tok-liong Cuncia, elang itupun lantas mengenali.
Dari cakar kedua binatang ini Tok-liong Cuncia melihat tergenggam secomot kuku jari dan yang lain mencengkeram sepotong kain baju yang masih berlepotan darah.
Keruan Tok-liong Cuncia menjadi kaget demi nampak barang ini, air mukanya berubah dengan cepat.
"Apa majikanmu telah dicelakai orang?"
Ia bertanya dengan cepat. Akan tetapi sudah tentu elang itu tidak bisa menyahut, mereka hanya "cuat-cuit"
Dengan riuh.
Selagi Tok-liong Cuncia bertanya pada elang itu di tepi laut, dari jauh Kam Hong-ti dan lain-lain memandangnya untuk menyaksikan apa yang sedang dilakukan musuh, tetapi mereka tidak jelas melihat benda apa yang dibawa kedua binatang itu.
Mereka hanya melihat Tok-liong Cuncia berucap beberapa patah kata, begitu melepas tangannya, kedua ekor elang kucing besar itu lantas memimpin kawannya terbang meninggalkan pulau ini.
Sedang Tok-liong Cuncia menjadi murka, begitu tongkatnya menyabet, ia bikin sebuah batu cadas retak separoh.
"Baik, biar kanan hidup lebih lama satu hari lagi, besok kalau aku tidak membunuh habis kalian tidak puas rasa hatiku,"
Demikian ia berteriak pula.
Habis itu ia lantas kembali ke dalam hutan sambil mengayun tongkatnya, menghantam sekenanya hingga menerbitkan suara keras dari pepohonan yang digenjot senjatanya.
Nampak keganasan orang, semua menjadi jeri dan mengkirik.
"Sungguh aneh."
Ujar Wei Yang-wi sehabis musuh pergi.
"ada sangkut paut apakah kawanan elang kucing tadi dengan kita? Kenapa setelah menemui elang kucing itu, ia menjadi marah pada kita?"
"Tok-liong Cuncia memang bukan manusia lagi, ia sudah mirip ular berbisa, siapa saja yang ditemuinya lantas dipagut, kita tidak perlu memikirkan tindak-tanduknya tadi. yang paling penting sekarang ialah mencari jalan cara bagaimana mengatasi dia?"
Kata.Bing Bu-kong.
Sementara itu Kam Hong-ti sedang menunduk berpikir, ia berpendapat kalau hendak menangkan orang dengan kepandaian silat, terang tidak mungkin.
Jika Tok-liong Cuncia betul-betul mau turun tangan dengan kejam, di antara belasan kawannya ini sukar dijamin takkan tewas atau dilukai.
Lebih-lebih jika orang memakai bantuan ular yang dikerahkan secara besar-besaran, maka untuk menyelamatkan diri saja susah.
Berpikir demikian.
Kam Hong-ti sendiri mati kutu.
ia tak berdaya sama sekali dan hanya garuk-garuk kepala saja.
Sementara itu tiba-tiba dilihatnya Hi Kak seorang diri sedang mondar-mandir di pesisir laut, orang tua ini sedang termangu memandangi air laut.
"Apa Hi-locianpwe mempunyai sesuatu akal?"
Kam Hong-ti coba bertanya.
"Ya, menurut pendapatku, Tok-liong Cuncia sangat mengandalkan ilmu silatnya yang tinggi, kalau dia belum bertempur sampai dia sendiri merasa payah dan kewalahan, belum tentu dia sudi mengerahkan barisan ularnya,"
Sahut Hi Kak.
"Kita sudah terkurung di pulau ini, meski tumbuh sayap pun sukar buat kabur, setiap saat dia mengerahkan ularnya, kita pasti akan terbinasa, sedang melulu dia seorang diri saja kita sudah kewalahan,"
Ujar Kam Hong-ti.
"Bukan begitu maksudku,"
Sahut Hi Kak.
"Jika umpama kita bisa merobohkan dia sebelum mengerahkan ularnya, kemudian kita hanya menghadapi barisan ularnya tentu akan menjadi gampang."
"Tetapi kepandaian Tok-liong Cuncia begini kosen, siapa yang sanggup mengalahkan dia, kecuali salah seorang di antara Ie Lan-cu atau Bu Ging-yao, kedua Locianpwe dari Thian-san ini yang mampu membereskan dia,"
Ujar Hong-ti lagi.
"Jika bukan kedua Locianpwe ini, siapakah gerangan orangnya yang bisa menandingi Tok-liong Cuncia?"
"Coba kau dengarkan suara ombak yang mendampar keras, bukankah tenaga air laut jauh lebih besar daripada tenaga Tok-liong Cuncia?"
Tiba-tiba Hi Kak berkata pula. Hong-ti jadi tergerak hatinya.
"Cara bagaimana kita dapat menggunakan tenaga air, sudilah Hi-locianpwe menerangkan,"
Sahutnya kemudian.
"Bukankah sebelum siang hari ia takkan muncul?"
Tanya Hi Kak.
"Dan kita boleh menggunakan tempo luang ini untuk membikin suatu jebakan."
"Jebakan apakah itu?"
Tanya Hong-ti.
"Itu gampang!"
Ujar Hi Kak.
"Di atas pulau ini banyak terdapat bambu besar, kita bisa menebang belasan batang dan kita bikin tembus semua mata bambunya, kita bikin sumbat yang bisa menutup dan membuka serta diisi penuh dengan air laut!"
"Haha, apa ini tidak lantas mirip bedil air mainan anak-anak?"
Ujar Kam Hong-ti dengan tertawa.
"Betul,"
Sahut Hi Kak.
"Aku pikir dengan bedil air sebesar ini. kalau secara mendadak air di dalamnya disemburkan, sekalipun orang kuat pasti akan tersemprot roboh juga. Apalagi sekaligus kita gunakan belasan bedil air bambu dan menyemprot berbareng, tentu Tok-liong Cuncia akan terjungkal seketika. Begini, kita isi penuh bambu-bambu raksasa itu dengan air laut dan diuruk dengan pasir di atasnya, keadaan pesisir sini rada miring, kita pancing dia menuju ke tempat yang dekuk, di situ mendadak kita menggempurnya berbareng, setelah air menyembur dan dia jatuh terjungkal, menyusul kita hantam dia dengan pukulan berat."
"Tetapi Lwekang dan Gwakang Tok-liong Cuncia boleh dibilang sudah sampai puncak kesempurnaan, bisa berhasil atau tidak, sama sekali belum berani dipastikan,"
Ujar Kam Hong-ti.
"Cuma keadaan sudah kepepet, tiada jalan lain, boleh dicoba."
Besok paginya, begitu air pasang surut, kembali Tok-liong Cuncia muncul dari dalam hutan, di belakangnya diikuti rombongan ular yang tidak terhitung banyaknya, mungkin berpuluh ribu jumlahnya.
"Celaka, sekali ini kita pasti tidak bisa hidup lagi,"
Demikian diam-diam Kam Hong-ti mengeluh.
Sementara itu terdengar Tok-liong Cuncia telah bersuit aneh, setelah dekat pesisir, rombongan ularnya tiba-tiba berhenti, kawanan ular ini sambung-menyambung berbaris membundar, sama keadaannya seperti dilihat mereka pada hari pertamanya.
"Haha, hari ini kita boleh bertempur untuk penghabisan kalinya, aku akan membikin kalian mati dengan perasaan takluk,"
Demikian terdengar Tok-liong Cuncia membuka suara dengan tertawa.
"Hai, ular, ular! Nanti kalau aku sudah selesai berhantam, baru silakan kalian sarapan pagi!"
Habis berkata pada ularnya, ia lantas mengayun tongkatnya, lebih dulu ia mengemplang Kam Hong-ti.
Tetapi Hong-ti tidak melawan, ia pura-pura menangkis sekali, segera ia berlari cepat mundur ke tepi laut.
"He, kenapa kau menjadi jeri padaku?"
Terdengar Tok-liong Cuncia berkata, agaknya ia heran oleh kelakuan orang yang tidak biasa ini.
"Hayo, layani aku bertempur lagi yang seru sekali ini. nanti kubikin kalian mati dengan sedikit enak!"
Namun Kam Hong-ti tidak menggubris teriakannya, bahkan ia mengayun tangan, seketika tiga bilah belati terbangnya menyambar padanya.
"Haha, besi karatan begini bisa apa terhadap diriku?"
Sambut Tok-liong Cuncia dengan bergelak tertawa atas serangan itu.
Berbareng ia putar tongkatnya hingga tiga belati itu disampuk patah menjadi enam potong, menyusul sebelah tangannya mendadak menggablok pada Hi Kak yang berdiri di sebelah samping.
Akan tetapi seperti Kam Hong-ti, Hi Kak pun tidak melayani serangan orang, ia putar tubuh terus berlari menuju ke sebelah barat Kam Hong-ti dalam jarak yang agak jauh.
"He, kalian jangan berpisah, kalau berpisah lebih-lebih tak bisa melawan aku,"
Tok-liong Cuncia memperingatkan.
"Hm, hm, apa kalian memang tidak sudi melayani pertempuran yang penghabisan ini? Hm, sungguh kalian ini busuk sekali, biar satu per satu aku beset kalian untuk umpan ular!"
Begitu selesai bicara, segera ia jinjing tongkatnya terus menguber kian-kemari, akan tetapi Hi Kak dan lain-lain yang banyaknya belasan orang seperti sengaja menggoda, mereka berlari pergi datang serabutan, setelah mereka berhasil memancing Tok-liong Cuncia sampai di tanah yang legok, terdengar aba-aba sekali, seketika belasan naga air menyemprot Tok-liong Cuncia dengan keras.
Kejadian yang sama sekali tak diduga Tok-liong Cuncia ini, sudah tentu ia tidak berjaga, ia jadi kelabakan karena matanya tak bisa melek, kepalanya pun menjadi puyeng, hingga ia terhuyung-huyung hendak jatuh.
Kam Hong-ti tidak menyia-nyiakan kesempatan bagus ini, ia melompat maju dengan cepat, begitu ia geraki tangannya, dengan sepenuh tenaga ia menghantam kepala orang.
Namun Tok-liong Cuncia sempat mendak ke bawah hingga pukulan Kam Hong-ti meleset, sebaliknya mengenai bagian punggung di tempat yang berbahaya.
Tanpa ampun lagi terdengar Tok-liong Cuncia menjerit keras, segera pula ia roboh terjungkal!
Tenaga pukulan Kam Hong-ti sebenarnya luar biasa kerasnya, pukulannya pun susul-menyusul dengan cepat, begitu pukulan sebelah kanan berhasil, segera disusul dengan tangan kiri, dalam keadaan sangat cepat itu, Hi Kak dan Wei Yang-wi pun tidak tinggal diam, berbondong mereka pun merubung datang, begitu mengayun tangan, segera golok Hi Kak membacok pula.
Di luar dugaan, ketangkasan Tok-liong Cuncia memang hebat, mendadak ia menggerung keras, ia melonjak bangun terus menumbuk dengan pundak, belum sampai pukulan tangan kiri Kam Hong-ti digablokkan, mendadak ia sendiri sudah terlempar ke atas.
Keruan yang lain lari menyingkir, sedang bacokan Hi Kak tadi mengenai telapak kaki musuh, namun hanya terdengar suara "kle-tak" , mata golok sendiri berbalik bengkok, orangnya pun jatuh oleh getaran tenaga Tok-liong Cuncia yang membalik itu.
Setelah meloncat bangun, segera Tok-liong Cuncia membentak.
"Hayo, kawanan tikus, kalian berani mempedayai aku!"
Menyusul ia bersuit pula, kawanan ular yang dia bawa mendadak menyerbu maju, Tok-liong Cuncia sendiri dengan terhuyung-huyung lantas mundur pergi, lalu ia duduk bersila di atas sebuah batu, rupanya ia sedang mengatur pernapasan sambil kadang-kadang mengeluarkan suara mendesis.
Di pihak lain, setelah Kam Hong-ti dilempar ke udara, lekas ia berjumpalitan di atas untuk menghilangkan gaya lemparan yang hebat itu, walaupun demikian, sesudah ia menancap kaki kembali di atas tanah, tak urung ia merasa kepala pusing dan mata berkunang-kunang, napasnya hampir putus, syukur ia sudah terlatih dengan baik, ia hanya terlempar saja oleh Tok-liong Cuncia tadi dan tidak sampai terluka dalam oleh serudukannya.
Dalam pada itu kawanan ular sudah merubung datang, lekas mereka mundur ke garis pertahanan yang sudah direncanakan, di sini mereka menjaga diri dengan rapat.
Di sebelah sana Tok-liong Cuncia lagi duduk diam sambil menjalankan napas, ia merasa dadanya sesak, mau tak mau orang liar ini kaget juga.
Setelah beberapa kali mengatur pernapasan, kemudian waktu ia membuka mata, dilihatnya rombongan ular sudah membanjir maju seperti arus, akan tetapi pihak musuh semuanya tergolong jagoan, mereka berbaris satu lingkaran, senjata mereka bekerja berbareng, golok memotong, tongkat menghantam atau pedang menabas dan tangan membeset, dalam sekejap saja sudah tidak terhitung banyaknya ular berbisa yang terbunuh, bahkan ada sebagian ular kecil yang menjadi ketakutan terus mundur dan kabur.
Tok-liong Cuncia menjadi murka, mendadak ia berdiri, lalu bersuit aneh, ia putar tongkatnya lagi terus ikut menyerbu ke dalam barisan ularnya.
Karena dorongan ini.
mau tak mau kawanan ular itu menyerang pula beramai-ramai.
Keruan saja Kam Hong-ti terperanjat, sama sekali tidak terduga bahwa setelah kena gebukan telapak tangannya tadi, Tok-liong Cuncia ternyata masih begini tangkas dan perkasa.
Sudah tentu keadaan menjadi berubah, sudah harus berjaga terhadap serangan ular berbisa, semua orang harus melayani lawan tangguh pula, dengan sendirinya kedudukan mereka menjadi kacau.
Saat keadaan berbahaya bagi rombongan Kam Hong-ti, tiba-tiba dari lautan luas sana terdengar berkumandang suara suitan yang nyaring.
Waktu Kam Hong-ti mendengarkan lebih cermat, tiba-tiba ia menjadi girang, segera ia pun bersuit menyambut suara tadi.
"Hm, apa yang kau lakukan?"
Damprat Tok-liong Cuncia. Berbareng tongkatnya lantas mengemplang. Lekas Hong-ti ayun golok pusakanya menangkis, sedang Hi Kak pun lantas menubruk maju, ia geraki goloknya terus membabat dengan cepat.
"Kurangajar kau tua bangka!"
Tok-liong Cuncia menjadi gusar. Tongkatnya menghantam lagi, ia desak Kam Hong-ti mundur, menyusul telapak tangan kirinya juga menyerang.
"Celaka!"
Seru Hi Kak karena ancaman serangan musuh ini.
Lekas ia berusaha menghindarkan diri, namun tangannya terasa kesakitan, goloknya terpental terbang ke angkasa, syukur Wei Yang-wi dan Bing Bu-kong berdua keburu merangsek maju menolong, tapi cepat Tok-liong Cuncia menggeraki tongkatnya lagi, ia mencegat jalan mundur lawan, menyusul terdengar ia bersuit, dengan kecepatan luar biasa, dua ekor ular besar sekonyong-konyong mencelat ke atas terus menggubet tubuh Hi Kak dengan kencang Dengan mati-matian Kam Hong-ti memutar goloknya hendak memotong ular itu, tapi tongkat Tok-liong Cun-cia telah memapaknya, bahkan ia sendiri akhirnya kena .terkurung dalam rangsekan tongkat musuh dan tak mampu menerjang keluar.
Sementara itu Hi Kak dengan kedua tangannya berhasil mencekik leher kedua ular yang melilit badannya, mati-matian dan sekuatnya ia menarik binatang ini, keadaannya sangat berbahaya dan mendebarkan.
"Nah, hari ini biar kalian mati tanpa kubur di sini!"
Terdengar Tok-liong Cuncia membentak sambil tertawa cekikikan aneh dan memperkencang senjatanya.
Di antara sambaran angin senjatanya kemudian terdengar suara benturan yang keras, golok dan kedua gaetan Bing Bu-kong dan Wei Yang-wi ternyata sudah dibikin terbang oleh tongkat lawan, menyusul kembali Tok-liong Cuncia mengayun senjata menghantam ke arah Kam Hong-ti.
Saat itulah terdengar suara suitan di lautan tadi berbunyi lagi, Kam Hong-ti menangkis tiga kali serangan orang sekuat tenaga, habis itu mendadak ia dengar Tok-liong Cuncia berseru.
"Hai, siapa yang tak kenal mati-hidup berani terobosan di pulauku ini?"
Tertampak sebuah perahu kecil meluncur datang, belum sampai perahu ini berlabuh, dengan cepat dari atas perahu sudah melompat turun lima bayangan orang.
Melihat kesehatan bayangan ini, Tok-liong Cuncia bersuara heran, tampak seorang perempuan muda dari kelima orang tadi memimpin di depan, sekejap saja mereka sudah tiba di hadapannya.
Lekas Tok-liong Cuncia tinggalkan Kam Hong-ti terus memapak orang itu, tongkatnya segera pula menghantam, akan tetapi di luar dugaan mendadak ia rasakan sambaran angin menuju mukanya, serangan yang datangnya cepat luar biasa membikin Tok-liong Cuncia tak sempat menangkis, terpaksa tangannya mendorong ke depan, sedang ia sendiri berbareng mundur ke belakang, walaupun demikian, tidak urung rambutnya yang semrawut tak terpelihara terpapas oleh sinar pedang lawan hingga terbang bertebaran.
"Tepat sekali kedatanganmu, Pat-moay, hayo, lebih dulu kita bunuh manusia iblis ini!"
Demikian Kam Hong-ti berseru.
Menyusul terdengar suara mendesisnya kawanan ular yang riuh ramai sambil berlari serabutan tak teratur.
Kelima orang yang datang ini adalah Lu Si-nio, Pek Thay-koan, Hi Yang, Teng Hiau-lan dan Pang Ing.
Lu Si-nio berada paling depan dan paling cepat sampainya, maka begitu bertemu dengan Tok-liong Cuncia, seketika ia berhasil melepaskan Kam Hong-ti dari tekanan musuh.
Di samping sana Pek Thay-koan dan Hi Yang juga lantas pergi menolong Hi Kak, sementara itu Hi Kak memang lagi terancam, ketika mendadak ia merasakan daya belitan ular tadi menjadi kendur, segera terdengar pula suara putrinya sedang berseru di samping telinganya.
"Ayah, ular sudah terbacok mati!"
"Ha, Yang-ji, kaulah yang datang!"
Demikian seru Hi Kak girang, segera pula ia merangkul putrinya dengan kencang.
"Awas, masih ada ular lagi!"
Terdengar Pek Thay-koan berseru memperingatkan, pemuda ini mengayun goloknya dan memotong putus dua ekor ular.
Setelah Hi Kak pulih semangatnya, lekas ia lepaskan rangkul-annya dengan maksud melawan serangan ular lagi, akan tetapi mendadak ia lihat barisan ular itu kacau-balau sambil lari serabutan ke belakang dengan mengeluarkan suara aneh.
Sebab apakah mendadak barisan ular ini lari sipat kuping?
Kiranya pada waktu suami-istri Pek Thay-koan pergi menolong Hi Kak tadi, Teng Hiau-lan dan Pang Ing pun pergi membantu Wei Yang-wi dan lain-lain yang sedang dikurung oleh kawanan ular.
Ketika melihat datangnya orang baru, beruntun kawanan ular jtu menubruk maju hendak memagut, tetapi baru saja binatang ini mendekati tubuh Teng Hiau-lan, sekonyong-konyong kawanan ular seperti ketemu sesuatu makhluk yang sangat menakutkan dan terus putar haluan melarikan diri.
Teng Hiau-lan sendiri menjadi bingung demi nampak kejadian aneh ini.
Sudah tentu ia tidak tahu bahwa pada badannya menggembol semacam barang anti ular, yakni bola obat pemberian Pat-pi Sin-mo kepada Pang Ing sebelum Sat Thian-ji menghembus napasnya yang penghabisan.
Bola obat ini terbuat dari air liur elang kucing yang dicampur dengan bubuk kelabang serta warangan.
Hanya ludah elang kucing saja sudah merupakan obat anti ular berbisa yang paling mujarab, apalagi ditambah dengan campuran bubuk kelabang serta warangan, keruan luar biasa lihainya, asal ular mencium bau busuk itu, sek ;tika binatang ini akan kehilangan semangat bertempur terus menyingkir pergi jauh-jauh.
Dahulu sebabnya Siang-mo berani menyambangi Tok-liong Cuncia di pulau ular ini, jimatnya bukan lain adalah obat mujarab anti ular berbisa ini.
Sementara itu ketika Tok-liong Cuncia melihat barisan ularnya menjadi kocar-kacir, binatang piaraannya ini lari simpang-siur, sesaat itu ia sendiri menjadi bingung, ia pun tidak mengerti apa sebabnya, ia masih coba membentak dan bersuit, akan tetapi komandonya sekali ini tidak digubris lagi oleh kawanan ular.
Keruan hati Tok-liong terguncang, ia tak berani lagi melayani Lu Si-nio lebih lama, segera ia tarik kembali tongkatnya terus menerjang keluar kepungan.
Akan tetapi dengan cepat Teng Hiau-lan lantas mengudak, waktu itu Tok-liong Cuncia berdiri pada arah di bawah angin, segera tercium olehnya bau obat yang busuk itu, sudah tentu Tok-liong terkejut, pikirnya.
"Mana boleh obat mestika anti ular ini jatuh di tangan orang luar."
Dalam keadaan gusar dan terkejut tadi, segera Tok-liong ayun tongkatnya mengemplang.
Tetapi ia lantas dipapaki lagi oleh Pang Ing, gadis ini melompat ke atas, mendadak pedangnya menikam ke bawah, dengan Thian-san-siang-kiam, dua pedang pusaka Thian-san, bersama Teng Hiau-lan mereka lantas mengeroyok orang dengan rapat.
Dengan demikian Tok-liong Cuncia tak mampu berbuat sesukanya lagi.
"Tok-liong Locianpwe, rupanya kau sudah letih, bolehlah kau mengaso dahulu, habis itu nanti boleh kau datang bertempur lagi!"
Demikian Lu Si-nio meneriaki Tok-liong Cuncia.
Saat itu juga tiba-tiba terdengar seruan Tok-liong Cuncia yang aneh, mendadak ia mengayun tongkatnya membikin kedua pedang lawan terpental pergi, lalu berlari menuju suatu bukit kecil di pojok pesisir sana, mendadak ia sambar seekor ular berbisa yang lagi melarikan diri, ia beset dan robek perut ular itu terus menyedot darahnya dengan mulut.
Tengah Tok-liong Cuncia menghirup darah ular, rambutnya yang sudah terpapas menjadi pendek kelihatan seperti tegak berdiri kaku, rupanya yang bengis laksana malaikat maut yang menakutkan, sungguh membikin orang yang melihatnya mengkirik.
Serangan Lu Si-nio yang mendadak tadi sebenarnya dilakukan pada waktu lawan tidak menduga, dengan ilmu entengi tubuhnya yang hebat ditambah ilmu pedangnya yang bagus, dengan demikian baru orang kena diselomoti.
Akan tetapi Si-nio sendiri juga terkena dorongan tenaga telapak tangan orang, ia pun merasa terkena tindihan barang berat, segera ia tahu bahwa tenaga orang masih jauh lebih tinggi dari dirinya.
"Pat-moay, beruntung dengan kedatanganmu, kalau tidak, hari ini kami pasti akan ditelan ular,"
Ujar Kam Hong-ti setelah keadaan tenang kembali.
"Dan barisan ular itupun aneh, begitu nampak kedatangan kalian, lantas lari terbirit-birit, entah apakah sebabnya? Jangan-jangan memang sudah ditakdirkan ajal manusia siluman ini sudah tiba, maka Thian sengaja melindungi kita? Marilah, pada waktu dia masih letih dan payah, kita bunuh saja dia sekalian!"
"Chit-ko, kau adalah pemimpin dunia persilatan daerah Kang-lam, apa kau tidak ingat bahwa menyerang di waktu musuh tak berdaya, biarpun menang juga tidak menjadi gagah?"
Ujar Lu Si-nio dengan tertawa. Hong-ti menjadi bingung sejenak oleh kata-kata Sumoaynya ini yang berbicara tentang peraturan Kangouw dengan Tok-liong Cuncia.
"Ya, tetapi orang ini sudah putus hubungan dengan masyarakat umum, buat apalagi berbicara tentang peraturan Bu-lim dengan dia?"
Sahutnya kemudian.
"Aku tidak setuju dengan pendapatmu, Suheng, mana ada manusia yang mau terasing dari pergaulan manusia di jagat ini, kita harus mengalahkan dia hingga mau menyerah dengan sendirinya,"
Kata Si-nio lagi dengan tertawa.
Terhadap Sumoaynya ini, biasanya Kam Hong-ti sangat hormat dan percaya penuh, meski kata-katanya tadi tidak disetujui seluruhnya, namun ia pun tidak mendebat pula.
Dalam pada itu sesudah beruntun Tok-lion Tuncia membeset perut tiga ekor ilar dan kenyang menghirup darahnya, kemudian ia duduk bersila di atas batu padas, agaknya dia sedang mengumpul icnaga dan menghimpun kekuatan Lwekangnya.
"Marilah, kalau sekarang kita tidak membereskan dia, sebentar lagi kita tentu akan susah sendiri,"
Ujar Kam Hong-ti demi nampak orang sedang bersemadi.
Tetapi Si-nio tidak menjawab, sebaliknya ia tarik Pang Ing ke ?iamping dan mengajak bicara anak dara ini dengan suara perlahan.
Sedang orang lain menahan napas sambil memperhatikan gerak-uerik Tok-liong Cuncia.
Selang tak lama, tiba-tiba terdengar orang hutan itu bersuara lertawa cekikikan aneh, lalu ia jinjing tongkatnya terus melompat bangun menuju ke pesisir lagi.
"Hayo, mengaku saja, siapa yang membunuh Siang-mo dan merebut barang mestikanya?"
Terdengar ia berseru bertanya.
"Kamilah yang membunuh mereka,"
Pang Ing dan Hiau-lan menjawab berbareng.
"Tetapi mengenai apa yang menjadi barang mestikanya, sama sekali kami tidak mengetahuinya!"
Karena jawaban ini, mendadak tertampak Tok-liong Cuncia menarik napas panjang, berulang-ulang pula tongkatnya dipukulkan ke tanah hingga menerbitkan suara.
"Hm, melihat usiamu yang masih begini muda dan wajahmu cantik bagaikan bunga, tapi hatimu ternyata begini kejam melebihi ular berbisa!"
Sekonyong-konyong ia mencaci maki pada Pang Ing.
' H m, sungguh manusia yang tak berbudi, Siang-mo kuatir kau ditelan ikan, mereka telah berlayar mencari kau, tapi kau berbalik malah membunuhnya!
Hm, kalian yang dinamakan manusia ini sungguh lebih kejam daripada ularku yang paling berbisa.
Ini, rasakan tongkatku!"
Akan tetapi sebelum tongkatnya diayunkan, tiba-tiba terdengar Lu Si-nio berteriak.
"Hai, apa kau berani satu lawan satu dengan nona cilik ini?"
"Hm, jangankan hanya satu, majulah kalian semuanya, tidak usah dengan bantuan ularku, aku pun sanggup membunuh habis kalian!"
Teriak Tok-liong Cuncia murka. Tetapi tantangan ini dibalas dengan tertawa saja oleh Lu Si-nio.
"Ya, memang nona cilik ini adalah adik perempuanku, sudah tentu tidak nanti aku membiarkan dia dihina kau. Baiklah, aku akan mengiringi dia menerima beberapa gebrakan dari kau!"
Katanya kemudian.
"Hati-hati Pat-moay!"
Seru Kam hong-ti memperingatkan.
"Ya, Ing-moay, nanti jika kau terdesak, hendaklah jangan memaksakan diri bertahan terus!"
Hiau-lan juga berpesan pada Pang Ing.
"Mengertilah kami,"
Sahut Si-nio dan Pang Ing berbareng.
Habis itu mereka lantas melolos pedang masing-masing, berdiri sejajar dan mengambil kedudukan yang kuat, mereka menantikan serangan Tok-liong Cuncia yang pasti sangat hebat.
Tetapi Tok-liong Cuncia ternyata tidak lantas menyerang, sebaliknya ia memandang dulu pada kedua nona ini.
"Yang besar ini berkepandaian paling tinggi, jika aku bunuh dia lebih dulu, yang kecil tentu tak akan lolos,"
Demikian ia berpikir.
Karena itu segera ia ayun tongkatnya, dengan gerak tipu 'Tay-peng-tian-sit' atau burung garuda pentang sayap, tongkatnya membawa sambaran angin menderu segera menyerampang ke pinggang Lu Si-nio.
"Bagus!"
Seru Lu Si-nio, sekonyong-konyong ia meloncat ke atas, tongkat musuh menyambar lewat di bawah kakinya.
Dalam pada itu Pang Ing juga tidak tinggal diam, secepat kilat ia bergerak dengan gerak tipu 'Pek-hong-koan-jit' atau pelangi putih menembus sinar matahari, pedangnya secepat kilat menikam perut musuh.
Waktu itu Lu Si-nio masih terapung di udara, ia pun menggunakan tipu serangan dengan cepat, dengan tipu 'Peng-bok-kiu-siau' atau burung garuda menyambar dari angkasa, mendadak ia menusuk juga dari atas.
Serangan yang berbareng datangnya dari atas dan bawah ini, sungguh tidak terbilang lihainya.
Akan tetapi Tok-liong Cuncia tidak gentar meski dikeroyok dengan tipu serangan hebat ini, tiba-tiba ia mengerang sekali, tongkatnya yam; menyerampang tadi tidak ia tarik kembali, tapi mendadak ia sendai hingga seketika senjatanya berdiri menegak, tongkatnya sekarang menyodok ke atas, ujung tongkat mengarah ke perut Si-nio, sedang batang tongkat memotong datangnya pedang Pang Ing, sekali bergerak dua macam serangan dan sekaligus melayani dua musuh berbareng, karena itulah, mau tak mau Lu Si-nio dan Pang Ing harus meloncat pergi buat menghindarkan diri.
Tetapi begitu mundur, segera mereka maju merapat kembali, dari samping Lu Si-nio menyerang lagi dan Pang Ing menggempur dari jurusan tengah dengan bersilang, kedua pedang mereka kembali menggunting dengan lihai.
Namun lagi-lagi terdengar suara geraman Tok-liong Cuncia, tongkatnya menyabet ke bawah, sekaligus ia menghantam tangan Pang Ing dan menyerampang kaki Lu Si-nio.
Beruntung tubuh Pang Ing kecil ringan, begitu ia menarik diri, seperti ikan saja licinnya ia menggeser pergi, sedang Lu Si-nio memutar badan, begitu menghindarkan serangan lawan, menyusul pedangnya menusuk 'Poh-cing-hiat' di bahu Tok-liong Cuncia.
"Kena!"
Tiba-tiba Tok-liong Cuncia membentak.
Mendadak ia menggeser, tongkatnya ditarik ke atas terus menyabet ke depan secepat kilat, batang tongkatnya dia gunakan untuk menahan pedang Lu Si-nio, sedang ujung tongkat masih terus mengarah ke muka lawan.
Keruan serangan ini membikin penonton menjadi berdebar.
Tak tahunya, gerak Tok-liong Cuncia yang begitu cepat, ternyata Lu Si-nio terlebih cepat, begitu tongkat Tok-liong Cuncia disabetkan, maka terdengarlah suara "trang"
Yang nyaring keras, pedang Si-nio menahan tongkatnya, berbareng tubuh nona ini lantas membal ke atas, pada saat itu juga dengan cepat serangan pedang Pang Ing juga sudah menusuk lagi dari samping, dengan gerakan 'Pek-ho-ki-ling' atau bangau putih menyisik bulu, ia memotong miring.
Sudah tentu serangan ini tak keburu ditangkis oleh Tok-liong Cuncia dengan senjata, sebagai gantinya ia lantas pukulkan telapak tangannya ke depan, dengan angin pukulan yang dahsyat ia patahkan serangan Pang Ing tadi.
Begitulah setelah bertempur lagi, sedikitpun Tok-liong Cuncia tak bisa memperoleh keuntungan, keruan ia menjadi murka.
Ia lantas mengamuk, ia kumpulkan tenaga dalamnya, ditambah ilmu permainan tongkatnya, segera terdengar suara menderu keras, yang tertampak hanya bayangan tongkat diselingi sinar pedang Lu Si-nio dan Pang Ing yang memutih perak.
Begitu cepat dan hebat pertarungan hingga mereka terus berputar kian-kemari berganti tempat seperti kitiran, di sebelah sana para pahlawan yang menonton merasakan sinar pedang dan bayangan tongkat membikin pandangan mereka menjadi silau, suara nyaring beradunya senjata pun memekak telinga, sungguh suara pertempuran yang maha dahsyat dan jarang terjadi.
Sekalipun Kam Hong-ti biasanya sangat tenang, sekarang tidak urung tangannya berkeringat juga saking kencangnya mengepal.
Di antara para penonton, kepandaian Kam Hong-ti dan Teng Hiau-lan terhitung yang paling tinggi, ketika mereka memandang dengan cermat, mereka masih bisa membedakan bayangan orang yang sedang bertarung itu, sedang yang lain sudah tak mampu melihat dengan jelas lagi.
"Kam-tayhiap. agaknya mereka keteter, mari kita lekas turun tangan!"
Demikian kata Hiau-lan setelah menyaksikan sejenak.
"Tunggu sebentar lagi!"
Sahut Hong-ti.
Betul saja, mendadak keadaan berubah, gerak tongkat Tok-liong Cuncia kelihatan sudah mulai lambat, sebaliknya pedang Lu Si-nio menyambar bagaikan cahaya pelangi yang beraneka warna, berulang-kali ia balas menyerang.
Pang Ing pun tidak mau ketinggalan, dia keluarkan Kiam-hoat yang hebat, Si-mi-kiam-hoat, ia putar pedangnya hingga berwujud satu lingkaran sinar yang melindungi dirinya, bagaikan sebuah bola Mnar saja bergulung-gulung kian-kemari di dekat Tok-liong Cuncia.
Menyaksikan cara pertarungan kawannya ini, Kam Hong-ti menarik napas lega.
"Ha. Pat-moay punya Kiam-hoat ternyata sudah banyak maju, sekalipun Suhu hidup kembali juga hanya sekian saja kepandaiannya!"
Demikian katanya saking kagum terhadap Lu Si-nio. Di samping sana Teng Hiau-lan pun berulang-kali menghela napas gegetun.
"Ya, Pang Ing si budak cilik ini hanya dalam beberapa hari sa-ia Kiam-hoatnya ternyata sudah maju begini banyak! Sudahlah, kita lidak perlu ikut maju lagi!"
Demikian ia berkata. Kiranya beberapa hari yang lalu sesudah Lu Si-nio minta keterangan tentang kepandaian Tok-liong Cuncia dari Pang Ing, dalam liati ia sudah mendapat akal buat melawannya, ia pikir.
"Thian-san-kiam-hoat yang hebat dan susah diraba, ditambah dengan Hian-li-kiam-hoat yang sangat lihai, dengan gabungan kedua cabang ilmu pedang yang tiada lawannya di dunia persilatan ini, tentu daya tekannya akan luar biasa, mustahil musuh tidak bisa dikalahkan. Meski kepandaian Tok-liong Cuncia sangat tinggi, belum tentu ia sanggup menahan serangan dua macam ilmu pedang ini sekaligus."
Oleh sebab itulah, tiap hari Lu Si-nio terus memberi petunjuk kepada Pang Ing cara bagaimana harus melayani musuhnya, mereka mencari jalan kerja sama yang rapat.
Pang Ing memang gadis yang cerdik, sudah tentu segera ia memahaminya dengan baik.
Akan tetapi sungguhpun Kiam-hoat Pang Ing sangat bagus, namun pengalamannya masih cetek.
Ditambah lagi Lu Si-nio hanya mengajarkan secara lisan saja dan belum pernah saling latih, sebab itulah pada waktu mulai menghadapi musuh, walaupun kedua pedang mereka menyerang bersama, toh masih belum begitu lancar kerja sama mereka, maka hampir saja mereka kena dikalahkan Tok-liong Cuncia., syukur setelah saling gebrak beberapa ratus jurus, perlahan-lahan Pang Ing bisa berlaku lebih tenang, perasaannya sudah bisa bersatu dengan gerakan senjatanya, dengan penuh semangat ia mainkan pedangnya, dengan demikian betul juga akhirnya mereka berhasil memutar balik kedudukan yang terdesak tadi.
Di lain pihak Tok-liong Cuncia menyerang secara hebat, tapi tetap tidak membawa hasil, akhirnya ia sendiri yang terdesak di bawah angin, ia tak berani memandang enteng lawannya lagi, kembali ia ubah permainan tongkatnya, gerakannya menjadi lebih lambat daripada tadi, akan tetapi tenaga serangannya malah bertambah kuat sampai ke ujung senjatanya, sambaran angin tongkatnya pun menggoncang keras, namun Lu Si-nio dan Pang Ing terus melawan dengan gagah, setelah ratusan jurus berlalu, belum juga mereka bisa menembus pertahanan orang.
Di antara mereka sudah tentu keuletan Pang Ing lebih rendah, setelah bertempur hampir setengah hari, ia sudah mandi keringat, karena goncangan angin tongkat musuh, ia merasa dadanya seperti tertekan batu seberat ribuan kati, tidak enak rasanya.
Lu Si-nio sendiri tak berdaya lagi.
ia lihai kawannya sudah sangat payah, selagi ia berpikir buat mundur dan lebih dulu ia memberi beberapa tusukan dengan cepat, ia hendak mendesak mundur Tok-liong Cuncia supaya Pang Ing bisa mundur lebih dulu.
Di luar dugaan, kejadian kadang-kadang sama sekali di luar perhitungan, ketika Lu Si-nio merangsek dengan beberapa serangannya, ia merasakan tenaga tongkat Tok-liong Cuncia sudah tidak sekuat tadi, agaknya Pang Ing pun telah merasakan keadaan musuh ini, tiba-tiba semangatnya terbangun lagi.
segera mereka menggempur musuh pula dengan cepat.
Maka dalam sekejap saja, tertampak di dahi Tok-liong Cuncia otot-otot hijau menonjol keluar, keringat pun bercucuran, mukanya menjadi pucat pula, beberapa kali ia menyerang secara ngawur!
Keruan saja Si-nio dan Pang Ing sangat girang, mereka mencecar lebih cepat dari kiri, dari kanan, dari depan atau dari belakang, tusukan mereka makin lama makin gencar, sudah tentu akhirnya permainan tongkat Tok-liong Cuncia kena dibikin kocar-kacir.
Sebab apakah mendadak Tok-liong Cuncia bisa berubah menjadi kewalahan?
Kiranya tadi ia telah digebuk sekali oleh tenaga pukulan Kam Hong-ti, isi perutnya boleh dikata sudah terluka, tatkala itu kalau dia lekas mundur kembali buat bersemadi beberapa hari, tentu akan sembuh.
Tetapi sayang, justru karena wataknya terlalu keras dan suka menang, dengan Lwekangnya yang hebat ia masih memaksakan diri menjalankan darah dan mengatur pernapasan untuk melancarkan kembali, pula sesudah menghirup darah ular, ia lantas bersemangat lagi buat maju menggempur musuh.
Dari luar memang tidak kentara, tetapi sebenarnya kesehatannya sudah terganggu, setelah bergebrak mati-matian sampai ribuan jurus dengan Lu-si-nio dan Pang Ing, akhirnya luka dalamnya kambuh, jantungnya dirasakan sakit tidak kepalang seperti dipuntir.
Tentu saja Kam Hong-ti dan Teng Hiau-lan ikut bergirang melihat musuh sudah akan terjungkal, tanpa berjanji mereka menghela napas lega berbareng.
Dalam pada itu mereka lihat Lu Si-nio masih terus memutar pedangnya dengan gencar.
"Tok-liong Cianpwe, apa kau masih ingin bertanding terus?"
Terdengar Si-nio membentak.
"Ai, coba, Pat-moay kita ini betul-betul berbudi luhur, terhadap manusia iblis semacam ini saja ia masih ingin menaklukkan secara damai,"
Ujar Kam Hong-ti dengan tertawa.
Akan tetapi belum hilang suara perkataannya, mendadak terdengar jeritan Pang Ing, tahu-tahu anak dara ini terguling kena pukulan Tok-liong Cuncia.
Kejadian ini sungguh cepat dan sama sekali di luar dugaan, bukan saja semua orang yang menonton tidak menduga, bahkan Lu Si-nio sendiri pun tidak menyangka kawannya bisa kena dihantam musuh, keruan ia sangat terkejut.
Kiranya watak Tok-liong Cuncia aneh sekali, ia sudah teramat benci pada pergaulan umum, segala orang ia pandang sama rata bagai binatang yang jahat, karena itu ia pikir kalau sampai dirinya kena ditawan Lu Si-nio dan kawan-kawan, ia telah membayangkan entah siksaan apa yang bakal ia rasakan.
Oleh sebab itu dia lebih suka mengadu jiwa, ia gunakan senjata ampuh yang selama ini belum pernah ia gunakan dan belum pernah dilihat orang pula, yakni 'Kim-kak-sin-coa', sejenis ular berbisa piaraannya yang istimewa.
Jadi Pang Ing bukan roboh karena dipukul, melainkan dipagut 'Kim-kak-sin-coa' (ular sakti bertanduk emas) yang luar biasa ber-bisanya.
Kim-kak-sin-coa ini adalah sejenis ular yang khusus terdapat di pulau ular saja, kepalanya rada dekuk menonjol seperti tanduk, bisanya pun luar biasa jahatnya.
Tok-liong Cuncia memilih pula ular jenis lain yang paling jahat dan dikawinkan, dengan demikian turun-temurun dia telah piara beberapa keturunan ular campuran ini hingga akhirnya dapat dipiaranya seekor di antaranya yang berwarna merah Jingga dan kepalanya menonjol lancip seperti bertanduk, ular jenis lain sekali digigit ular piaraannya ini, seketika akan mati.
Karena itu pula Tok-liong Cuncia sangat sayang dan menganggap ularnya ini sebagai senjata rahasia dan memberi nama 'Kim-kak-sin-coa' padanya.
Cara Tok-liong Cuncia memelihara ular berbisa sama seperti orang biasa memelihara kucing atau anjing, tujuannya hanya buat main-main saja, sama sekali tidak pernah ia pikir akan digunakan menghalau musuh untuk memperoleh kemenangan yang terakhir.
Baru setelah dia kepepet hingga tak berdaya tadi, mendadak ia teringat pada ularnya yang berbisa ini.
segera ia menggunakannya dan ternyata sekaligus telah berhasil, Pang Ing kena dipagut ularnya dan ditambah kena pukulannya, keruan anak dara ini roboh terguling tak sadarkan diri, dari mulutnya tampak menetes busa warna hitam.
Begitulah maka Lu-Si-nio terkejut, waktu ia memandang apa sebenarnya yang membikin kawannya terjungkal, tiba-tiba Tok-liong Cuncia mengayun tongkatnya mengemplang lagi, lekas lu Si-nio sambut serangan ini, sekilas itu tiba-tiba terlihat pula olehnya di atas tanah ada seekor ular kecil berwarna kuning emas sedang merayap, sedang Pang Ing yang menggeletak me.
intih-rintih, dengan suara terputus-putus sedang berkata sekuat tenaga.
"Ular, ular berbisa!"
Karena itu dengan cepat Lu Si-nio meloncat pergi, dalam sekejap itu Kam Hong-ti dan Teng Hiau-lan pun menubruk maju berbareng, waktu Hiau-lan hendak menolong Pang Ing, tiba-tiba ular kecil berwarna emas itu menegakkan leher dan menggoyang kepalanya, kiranya ular semakin berbisa, semakin takut pada bola obat bikinan Siang-mo di badan Teng Hiau-lan itu, karenanya ular kecil itu lidak sempat buat lari lagi, binatang ini menjadi lumpuh karena pengaruh bau busuk bola itu dan hanya sanggup mengesot saja di tanah tanpa bisa berkutik.
Sudah tentu Hiau-lan tidak tinggal diam, begitu ia ayun pedangnya, segera ular kecil itu terkutung menjadi dua.
Di sebelah sana setelah Lu Si-nio menangkis sekuatnya dua kali serangan lawan, Kam Hong-ti sudah memburu datang buat membantunya, segera mereka mengeroyok dari muka dan belakang, kini Tok4iong Cuncia sudah seperti pelita yang kehabisan minyak, linggal sirapnya saja, ia sudah tak sanggup bertempur lebih lama lagi, tiba-tiba ia menarik napas dan mengumpulkan seluruh tenaganya yang masih ada, ia mengerang keras, menyusul dia timpukkan tongkatnya ke arah Lu Si-nio, sedang telapak tangan kiri membalik terus menghantam hingga berpapasan dengan pukulan Kam Hong-ti yang waktu itu lagi dilontarkan juga.
Ginkang Lu Si-nio sudah luar biasa tingginya, tidak nanti ia bisa ditimpuk oleh tongkat orang, hanya sedikit mengegos miring ke samping, ia sudah menghindari tongkat itu.
Sedang Kam Hong-ti mengumpulkan seluruh tenaga pada kedua tangannya memapak pukulan Tok-liong Cuncia, namun tenaga Tok-liong sudah habis, demi kena didesak oleh kekuatan Kam Hong-ti, segera ia berteriak keras sekali, ia muntahkan darah segar terus menggeletak di tanah tanpa bergerak lagi.
"Bagaimana keadaanmu, Pat-moay?"
Cepat Hong-ti bertanya keselamatan sang Sumoay. Ia lihat rambut Si-nio rada kusut, jidat pun berkeringat, jelas kelihatan pertarungan tadi lebih berat daripada waktu ia menempur Liau-in dahulu.
"Aku tidak apa-apa, lekas kau periksa dulu adik Ing!"
Sahut Si-nio dengan napas rada tersengal.
"Baiklah, kau boleh mengaso dan kumpulkan tenaga dulu, biar aku memeriksa adik she Pang!"
Kata Hong-ti. Segera pula Lu Si-nio duduk bersila di tanah untuk mengatur jalannya tenaga dalam dan melancarkan darah. Dalam pada itu ia dengar suara tangis Teng Hiau-lan.
"Ai, sungguh siluman yang keji, begitu pula ular berbisa itu!"
Demikian terdengar Kam Hong-ti berteriak.
"Kakek Hi coba kau periksa dia sudah binasa belum? Tidak peduli orang hutan itu masih hidup atau sudah binasa, aTm pasti akan hancur leburkan dia hingga menjadi abu!"
"Nanti dulu!"
Tiba-tiba terdengar seman Lu Si-nio, berbareng ia lantas melompat bangun.
Sementara itu Hi Kak telah menendang tubuh Tok-liong Cuncia dua kali, ia lihat orang hutan ini sedikitpun tidak berkutik, waktu ia meraba dadanya, ternyata masih hangat.
"Pat-moay ada pendapat apalagi?"
Hong-ti bertanya.
"Untuk sementara jangan kita menyentuh dia,"
Ujar Si-nio.
"Hiau-lan, bagaimana dengan keadaan Ing-moay?"
"Ia tak bisa ditolong lagi!"
Sela Kam Hong-ti.
Di sebelah sana Hiau-lan tengah merangkul tubuh Pang Ing dan sedang menangis tersedu-sedu dengan sangat sedih.
Waktu Si-nio mendekati dan memeriksa, ia lihat wajah anak dara ini hitam gelap, mulutnya mengeluarkan busa berbau amis, baju di dadanya robek, Si-nio coba tempelkan kuping ke dada orang dan mendengarkan denyut j antungnya.
"la masih bernapas,"
Katanya kemudian.
"Tetapi dia telah terkena dua macam luka parah,"
Ujar Hong-ti.
"dipagut ular berbisa itu, begitu jahat racun ular itu belum pernah aku lihat selama hidup ini, luka yang lain adalah karena pukulan siluman Tok-liong itu, sekalipun Hoa To (tabib sakti di zaman Sam Kok) hidup kembali juga tidak akan mampu menolongnya."
Waktu itu Hi Kak dan lain-lain sama membung buat melihat juga.
Hi Kak sendiri waktu terkurung di gedung gubemuran Soa-tang, Pang Ing-lah yang telah mengambil resiko menolong mereka, oleh sebab itu Hi Kak sangat sayang pada nona ini.
Sekarang mendengar Hong-ti memastikan anak dara ini tidak mungkin bisa ditolong pula, tanpa tertahan ia mencucurkan air mata.
"Hiau-lan, apa obat pemberian Pat-pi Sin-mo ada padamu?" 11 ba-tiba Lu Si-nio bertanya. Karena pertanyaan ini, sekonyong-konyong Hiau-lan sadar liiga.
"Ya, ada,"
Sahutnya cepat.
"Obat ini khusus menyembuhkan • mitan ular, tadi barisan ular telah lari serabutan, jangan-jangan disebabkan obat ini."
"Aku kira pasti disebabkan obat ini,"
Ujar Si-nio. Segera pula Hiau-lan mengeluarkan obat pil raksasa itu, setelah digelindingkan beberapa kali di atas luka Pang Ing yang terpagut ular tadi, betul juga, hawa racunnya perlahan-lahan surut.
"Memang mujarab sekali obat ini, cuma racun ular ini terlalu l.ihat. lekas kerik sebagian obat ini dan cekokkan padanya!"
Kata Si-1110 lagi.
Segera Hiau-lan menuruti petunjuk itu, ia kerik sebagian bola obat itu dan dijejalkan ke mulut Pang Ing.
Betul saja, tidak antara lama.
terdengar perut anak dara itu berbunyi keruyukan, warna hi-lam yang tadinya tertampak di mukanya lambat-laun pun lenyap.
I lanya orangnya saja yang masih belum sadarkan diri, denyut nadinya masih lemah dan napasnya lambat.
"Anak Yang!"
Tiba-tiba Hi Kak memanggil setelah dia menenangkan diri.
"Ya. ayah, anak ada di sini!"
Sahut Hi Yang.
"Barang mestika simpananku kau bawa keluar tidak?"
Hi Kak bertanya pula. Kam Hong-ti kurang senang mendengar kata-kata orang, balurnya dalam hati.
"Kenapa tabiat tamak Hi Kak masih belum berubah! Jiwa orang lain sedang terancam dan belum tahu mati hidupnya, sebaliknya sibuk mengurusi harta mestikanya sendiri!"
Ternyata Kam Hong-ti tidak tahu bahwa pertanyaan Hi Kak ladi justru mengandung maksud baik.
"Ada, ayah, telah kubawa sedikit,"
Demikian Hi Yang menyahut.
"Setelah pangkalan kita dibobol musuh malam-malam, dalam keadaan gugup karena harus menyelamatkan diri, yang terbawa hanya belasan butir Ya-beng-cu (mutiara bercahaya di waktu malam), sebelah tanduk badak, sebuah Hiolo berkaki tiga dari zaman Siang dan sebatang Chian-lian-ci-chau (Ling-ci-chau, sejenis rumput yang berumur ribuan tahun). Selain ini tidak keburu dibawa, terpaksa dipendam di puncak bukit Thian-hing-to, harap saja tak sampai ditemukan musuh."
"Baiklah, lekas keluarkan Chian-lian-ci-chau,"
Kata Hi Kak girang. Memang Hi Yang sendiri sedang hendak mengusulkan pada ayahnya agar menggunakan rumput obat itu buat menyembuhkan luka, tak terduga ayahnya sudah mendahului berkata.
"Rumput ini mempunyai khasiat bisa menghidupkan kembali orang yang sudah mati, boleh dicoba,"
Kata Hi Kak kemudian setelah menerima rumput mujizat itu dari putrinya.
Setelah ia periksa keadaan luka Pang Ing, lantas minta Hiau-lan menggiling hancur setengah batang rumput itu terus dilolohkan ke mulut Pang Ing, selang tidak lama, lambat-laun kelihatanlah muka anak dara itu mulai bersemu merah, tiba-tiba pula memuntahkan darah hitam yang cukup banyak.
Lekas Hi Kak suruh Hi Yang pasang kemah, Pang Ing lantas digotong masuk ke dalam kemah untuk dirawat lebih jauh.
"Masih ada setengah batang rumput ini, boleh kau simpan saja,"
Hi Kak berkata pada Teng Hiau-lan.
"Nona Ing pernah minta padaku, katanya ia perlu memakainya."
"Yang setengah batang itu berikan aku saja!"
Mendadak Lu Si-nio menyela.
"Untuk apa kau memintanya?"
Tanya Hong-ti heran.
"Buat menolong Tok-liong Cuncia!"
Sahut Si-nio. Keruan Kam Hong-ti dan lain-lain menjadi kaget dan heran.
"Apa kau ... kau ...."
Sebenarnya Kam Hong-ti hendak bilang.
"Apa kau sudah gila" , akan tetapi urung mengucapkannya sebab biasanya terhadap Sumoaynya ini dia paling hormat.
"Cici boleh ambil saja!"
Sahut Hiau-lan dengan rela.
Ya.
pemuda ini memang paling kagum terhadap Lu Si-nio, apa saja asal dia yang mengatakan, jangankan hanya Ci-chau ini, sekalipun Hiau-lan disuruh terjun ke lautan api atau air mendidih tidak nanti ia tolak.
"Tetapi Teng-heng, apa kau sudah tak memerlukannya lagi?"
Tanya Hi Kak, Hiau-lan hanya menggeleng kepala saja sesudah ia angsurkan Ci-chau itu kepada Lu Si-nio.
"Untuk apa aku memerlukannya?"
Sahutnya kemudian dengan tertawa. Dalam pada itu Lu Si-nio telah melirik juga pada pemuda ini, agaknya ia hendak berkata sesuatu, tetapi diurungkan.
"Apa Pat-moay sungguh-sungguh hendak menolong jiwa manusia iblis itu? Tetapi setelah dia sembuh, siapa lagi yang mampu menaklukkan dia?"
Tiba-tiba Hong-ti bertanya lagi.
"Kau dan aku, kita semua pasti dapat menaklukkan dia!"
Sahut i-iuo tegas.
"Urusan jangan terlambat lagi, Chit-ko, harap kau pentang mulutnya!"
"Tetapi sesungguhnya aku tidak sabar lagi,"
Kata Hong-ti dengan tertawa getir, ia merasa serba susah karena permintaan sang Sumoay.
"Chit-ko adalah pemimpin kalangan Bu-lim, apa tak tahu bahwa untuk menaklukkan orang hendaklah pakai budi yang luhur?"
Lanya Si-nio.
"Betul."
Sahut Hong-ti.
"Tetapi orang ini adalah iblis yang tak kenal kebajikan lagi, mana dia mau tahu akan kemauan baik kita?"
Sahut Hong-ti.
"Coba. Chit-ko katakan, bagaimana dia kalau dibandingkan I lan Keng-hiau?"
Tiba-tiba Si-nio bertanya lagi.
"Lian Keng-hiau adalah manusia yang berhati binatang, mana lusa dibandingkan?"
Sahut Hong-ti.
"Dan pernah tidak Tok-liong Cuncia keluar dari pulau ini dan membikin celaka orang lain?"
Tanya Si-nio pula.
"Belum pernah kudengar,"
Jawab Hong-ti.
"Nah, itulah, bukankah setelah kalian datang ke Coa-to sini baru dia bergebrak dengan kalian,"
Ujar Si-nio.
"Ya. tetapi kita mengalami serangan topan hingga terdampar ke pulau karang ini, bagi orang yang sedikit mempunyai perikemanusiaan, seharusnya dia menolong, tetapi dia berbalik menggiring barisan ularnya untuk menggigit kita, apakah ini tidak cukup alasan untuk mampuskan dia?"
Debat Hong-ti.
"Tepat, apa yang Suheng katakan ini justru menjadi alasan untuk pembelaannya,"
Kata Si-nio. Keruan Hong-ti menjadi heran.
"Apa yang kau maksudkan?"
Tanyanya kemudian.
"Coba kalian pikir, dahulu ketika ia berpenyakit kusta, ketika itu ia boleh dikata sama seperti kalian mengalami serangan badai, jadi dia mengalami bencana yang bukan akibat perbuatannya sendiri, bukan?"
Tutur Si-nio.
"Akan tetapi orang-orang di sekitarnya bukannya turun tangan membantu dan menolong dia., sebaliknya malah hendak mengusir dia, hendak mengubur dia secara hidup-hidup dan dibuang ke laut, bukankah ini sangat kejam? Dan dengan sendirinya semua ini tidak bisa tidak membikin dia menjadi gemas dan dendam? Oleh sebab itulah siapa yang dia temukan lantas dihantam, sama saja seperti kalian, karena terdesak oleh keganasannya, maka kalian hendak menghancur-leburkan dia menjadi abu!"
Sebenarnya Kam Hong-ti adalah seorang yang berhati mulia dan berbudi luhur, setelah mendengar penuturan Sumoaynya yang panjang-lebar ini, segera berubahlah pandangannya tadi.
"Ya, bagaimanapun memang Pat-moay orang terpelajar yang lebih paham segalanya daripada kaum kita, kalau kau tidak memberi petunjuk, hampir saja aku melakukan sesuatu perbuatan yang salah besar,"
Katanya kemudian sesudah berpikir sejenak.
Karena itu, rasa cemasnya pada Tok-liong Cuncia segera menjadi lenyap, bahkan ia malu diri, ia lantas maju ke dekat Tok-liong Cuncia dan mementang mulutnya, lalu ia cekokkan bubuk Ci-chau.
Akan tetapi karena waktunya sudah terlalu lama, meski Ci-chau cukup mujarab untuk memulihkan denyut jantung orang seperti biasa lagi, namun jalan napasnya masih tetap lemah.
Karena itu lantas Kam Hong-ti pijat mulut orang dan dipenta.ig lebar, tanpa menghiraukan bau mulut orang yang amis busuk, ia memberi tambahan hawa padanya, dengan demikian, perlahan-lahan Tok-liong Cuncia sadar kembali, matanya tertampak menyorot sinar aneh.
"Sekarang kau masih lemah, kau perlu mengaso dulu dua hari!"
Kata Hong-ti padanya.
Habis itu ia terus memberi hembusan hawa segar padanya.
Kemudian Lu Si-nio lantas mengatur, ia membagi beberapa orang untuk merawat Pang Ing dan sebagian merawat Tok-liong t 'uncia.
Setelah lewat tiga hari, Pang Ing sudah bisa bangkit dari pembaringan dan Tok-liong Cuncia pun sudah bisa berbicara lagi.
"Sebenarnya aku sudah hampir mati, kenapa kalian malah menolong diriku? Apa kalian ini bukan manusia?"
Demikian Tok-liong ( uncia bertanya dengan sangsi dan penuh tanda tanya.
"Memang manusia pun banyak macamnya!"
Sahut Lu Si-nio lertawa.
"Ada manusia yang senang dan merasa beruntung jika orang lain tertimpa malang atau mengalami bencana, bahkan bila mungkin ikut menjebloskannya sekalian. Tetapi ada pula manusia \ ang menganggap menolong sesamanya sebagai tugas dirinya, mana boleh semua manusia disama-ratakan dan dianggap serupa?"
Karena penuturan ini, Tok-liong Cuncia merasa paham dan merasa bingung pula, selama rebah di pembaringan beberapa hari mi.
mau tak mau ia terkenang juga kepada kejadian yang telah lampau, teringat olehnya pada waktu dirinya masih muda belia, waktu masih belum berpenyakit kusta, memang betul dia mengetahui banyak orang yang baik dan ada pula orang yang busuk, akan tetapi sejak dirinya kena penyakit kusta, orang di sekitarnya lantas mulai bersikap dingin dan balikan memusuhinya.
"Di luaran sana apa masih ada orang yang berpenyakit kusta?"
Pada suatu hari tiba-tiba Tok-liong Cuncia bertanya.
"Ada,"
Sahut Si-nio.
"Dan apa sudah ada obat buat menyembuhkannya?"
Tanya I ok-liong lagi.
"Belum ada,"
Kata Lu Si-nio. Tok-liong terdiam, ia termenung.
"Jika seumpama aku masih menderita penyakit kusta, apa kalian akan tetap begini baik mela-\ ani aku seperti sekarang ini?"
Tiba-tiba ia bertanya pula.
"Sudah tentu, mengapa tidak?"
Sahut Si-nio pasti. Akan tetapi Tok-liong Cuncia menggeleng-gelengkan kepala, suatu tanda ia tidak percaya.
"Ya, tentu kau kurang percaya, tetapi coba kau pikir,"
Ujar Sinio dengan tertawa.
"Kau pernah menggiring ularmu buat menggigit kami, dengan ilmu silatmu yang tinggi kau pun berusaha membunuh kami, dalam pandangan kami waktu itu kau tidak lebih menakutkan daripada penyakit kusta? Sebab penyakit kusta belum tentu bisa membikin orang mati seketika, sedangkan kau dan ularmu yang berbisa seketika bisa membikin kami mampus. Kalau kami mau menolong kau seperti sekarang ini, mengapa kami harus benci pada kau waktu berpenyakit kusta?"
Karena penuturan ini, Tok-liong Cuncia menunduk berpikir, habis itu mendadak ia menangis dengan pilu sekali.
Si-nio tidak urus orang menangis, ia dan Kam Hong-ti lantas keluar dari perkemahan, mereka membiarkan orang menangis sepuasnya.
Keadaan demikian itu dilalui beberapa hari, kadangkala Tok-liong Cuncia suka bertanya juga keadaan umum di luaran, perlahan-lahan ia pun bisa membedakan antara kebajikan dan kejahatan, tabiatnya yang liar mulai hilang dan sebagai gantinya sifat kemanusiaannya mulai tumbuh kembali.
Selang beberapa hari pula, Pang Ing telah sembuh lebih dulu, maka bersama Teng Hiau-lan mereka datang menyambangi Tok-liong Cuncia, tak tahunya, begitu nampak mereka, air muka Tok-liong segera berubah.
"Menurut pendapatmu Siang-mo itu orang baik atau orang jahat?"
Cepat Lu Si-nio bertanya Tok-liong, sebelum orang berbuat sesuatu.
"Ya, menurut ceritamu, mereka pernah membantu kaisar yang sekarang, sedang kaisar adalah orang busuk, agaknya mereka pun bukan orang baik-baik, akan tetapi terhadap nona cilik ini, mereka tidak bisa dikata kurang baik."
"Dan tahukah kau berapa banyak orang tak berdosa yang dibunuh mereka selama bekerja untuk kaisar?"
Tanya Si-nio.
Habis itu ia lantas menceritakan kejadian dulu, dimana Siang-mo telah banyak membunuh patriot yang melawan kerajaan Jing dan memakai perjamuan kepala manusia di atas Thay-hing-san.
Tok-liong Cuncia telah mulai pulih rasa peri-kemanusiaannya, demi mendengar cerita ini, ia merasa mengkirik juga.
"Ya, segala soal, kalau cuma sesuatu kejelekan kecil tidak boleh merusak bagian besar lainnya yang baik, sebaliknya kalau hanya sedikit kebaikan saja tidak boleh pula dipakai untuk menutupi segala kebusukannya,"
Kata Lu Si-nio. Kata-kata ini walaupun tidak semuanya dipahami Tok-liong Cuncia, akan tetapi ia bisa menangkap arti sekadarnya dan dirasakan ada benarnya juga.
"Dan masih adi sesuatu pula yang belum kau ketahui,"
Tutur Si-nio lagi.
"Sanak keluarga nona cilik ini adalah Siang-mo berdua yang membunuhnya, ibu nona cilik ini adalah Siang-mo pula yang menggondolnya pergi."
Karena cerita ini, berulang-ulang Tok-liong Cuncia lantas mengutuk Siang-mo.
"Sebenarnya sedikitpun aku tidak mengetahui bahwa Pat-pi Sin-mo masih mempunyai rasa welas-asih, kalau tahu, aku pun tidak nanti membunuh dia,"
Pang Ing ikut berkata juga.
"Dan masih ada lagi satu hal yang belum kau ketahui pula!"
Tiba-tiba Si-nio menambahi.
"Hal apa?"
Tanya Tok-liong.
"Ci-chau yang menolong jiwamu itu, sebenarnya oleh Hi Kak diberikan kepada nona cilik ini,"
Tutur Si-nio.
"Dan oleh nona cilik ini hendak digunakannya menolong seorang sanaknya yang terdekat yang jiwanya sedang terancam karena dipedayai kaisar hingga telah minum araknya yang sangat berbisa dan tiada obat yang bisa menyembuhkannya, maka ia menaruh harapan atas Ci-chau ini agar bisa menolongnya. Saudaranya itu bukan lain adalah dia inilah!"
Lalu ia menunjuk Teng Hiau-lan, sambil menyambung lagi.
"Dan dialah yang rela memberikan rumput sakti itu untuk kepentinganmu, meski nona ini mengetahui, toh dia tidak menyesal sedikitpun."
Dengan penuturan ini, Lu Si-nio sengaja membocorkan sedikit rahasia bahwa keputusan untuk menolong jiwanya tadi adalah nona cilik inilah yang mengusulkan.
Tok-liong Cuncia tertegun sejenak, habis itu ia menutupi mukanya dan mengucurkan air mata lagi.
Selama belasan hari ini, Hi Kak memimpin kawan-kawannya membuat sebuah kapal besar, setelah Tok-liong Cuncia sembuh, mereka lantas mohon diri padanya.
Sudah tentu Tok-liong Cuncia merasa berat berpisah, tiba-tiba ia berlutut dan menjura pada Lu Si-nio, Kam Hong-ti; Teng Hiau-lan dan Pang Ing berempat.
Lekas mereka membangunkannya.
"Aku sudah biasa tinggal di sini, untuk keluar lagi dalam pergaulan ramai terang aku tak ingin,"
Demikian kata Tok-liong Cuncia sambil angkat sumpah.
"Tetapi aku bersumpah pada tiap tahun pasti akan menolong sepuluh orang penderita kusta, tiap tahun aku keluar pulau ini selama tiga bulan dan membawa penderita kusta itu ke pulau ini. Sesudah aku menyembuhkan mereka di sini, lalu aku antar mereka pulang lagi ke tempat asalnya. Jangan kalian kira ularku yang berbisa ini sangat jahat, mereka sebaliknya adalah alat penyembuh yang paling mujarab."
Si-nio merangkap tangan dan mengucap syukur.
"Jika Cuncia mempunyai cita-cita luhur ini, tidak perlu terbatas hanya sepuluh orang, bolehlah berbuat sepenuh tenaga."
Begitulah kemudian mereka lantas meninggalkan Coa-to dan berlayar menuju ke daratan luas, di kapal mereka berbicara lagi tentang Tok-liong Cuncia, maka semua orang memuji kebijaksanaan Lu Si-nio yang bisa berpandangan jauh.
Setelah mereka berlayar dua hari, mereka melewati juga pulau karang dimana Teng Hiau-lan dan Pang Ing pernah tinggal tempo hari.
Di atas pulau tertampak hangus dengan pepohonan gundul, hanya rumput saja yang baru tumbuh menghijau.
Dengan bersandar pada dek kapal Teng Hiau-lan memandang keadaan pulau itu dari jauh, tanpa terasa ia berduka bila terkenang kejadian yang lalu, teringat olehnya selama beberapa bulan berada di atas pulau ini, boleh dikata hari-hari yang paling babagia dan paling menggembirakan selama hidupnya, akan tetapi sekarang harus kembali ke daratan, rasa sedihnya timbul lagi hingga pikirannya menjadi kusut.
Melihat pemuda ini lagi termenung sendirian, Lu Si-nio lantas mendekatinya.
"Ya, biar ada surga di dunia lain, tidak lebih toh hanya khayalan belaka, sekalipun kembali lagi ke dunia fana, namun jelek-jelek adalah kampung halaman sendiri, kenapa kau merasa berat untuk berpisah?"
Demikian dengan tertawa Lu Si-nio berkata padanya.
Tapi Hiau-lan tak menjawab, ia tertawa juga, perasaan sedihnya masih tetap belum hilang.
Sedangkan Pang Ing masih anak-anak yang belum punya perasaan apa-apa, ia hanya merasa bila sang 'Sioksiok' bisa selalu berdampingan dengan dirinya, ia sudah puas dan cukup, peduli apa uengan surga atau dunia segala.
Setelah berlayar beberapa hari, mereka tiba di lautan Honghay, dari jauh lapat-lapat Hi Kak dapat melihat beberapa pulau taklukannya dahulu dengan susah-payah, tetapi kini pulau-pulau itu tak bisa didekati lagi, bila teringat dahulu ia merajai lautan luas sini, semua itu kini sudah berlalu seperti impian saja, tanpa tertahan air mata orang tua ini bercucuran.
Kini hubungannya dengan Pek Thay-koan, antara bapak mertua dan anak menantu, sudah sangat baik.
Maka Pek Thay-koan lantas maju menghiburnya demi nampak Hi Kak berduka.
"Ya, usiaku sudah lanjut, kini aku dapat berdampingan dengan anak baik dan menantu bagus, rasanya jauh lebih senang daripada merajai lautan dahulu, apalagi yang perlu aku sedihkan?"
Demikian kata Hi Kak kemudian dengan tertawa.
"Tadi hanya kebetulan nampak bekas pangkalanku dahulu, maka aku berduka bagi saudara-saudaraku yang telah berkorban, pula aku menyesal atas diriku sendiri yang terlambat sadar dari kekeliruan."
Akhirnya setelah menyeberang Honghay, sepanjang jalan mereka dapat angin buritan, kemudian mendarat.
Mereka menyamar dan secara diam-diam memasuki kotaraja.
Setiba di kotaraja, waktu itu sudah lewat Toan-yang-ceh atau hari perayaan Peh-cun, yakni tanggal lima bulan lima.
Kam Hong-ti membawa kawan-kawannya mondok pada salah seorang pemimpin perkumpulan rahasianya.
Waktu mereka bertanya apa yang terjadi paling akhir ini, mereka mendapat kabar bahwa sesudah Lian Keng-hiau kembali dari Soatang dengan kemenangannya yang gilang-gemilang, kemudian melakukan ekspedisi lagi jauh ke Jinghay.
Sedang para pangeran yang berada di kotaraja, ada yang dibunuh dan ada pula yang dipecat dari kedudukan sebagai pangeran atau dipreteli pula begundal dan pengikutnya, sampai kini pangeran-pangeran itu sudah tidak mampu berkutik lagi terhadap In Ceng atau Kaisar Yong Ceng sekarang.
Dengan hasil itu, Yong Ceng lantas mencari jago baru secara meluas, ia perbaharui pula istananya dan memilih wanita-wanita cantik, ia sengaja membikin suasana di bawah pemerintahannya seperti dalam keadaan damai dan aman sentosa.
Setelah mereka tiba di kotaraja, besok paginya Lu Si-nio lantas pergi mencari seorang tabib ternama.
Tabib pandai ini she Yap, ia adalah kawan karib Lu Liu-liang, Engkong Lu Si-nio* ilmu ketabibannya sangat tinggi dan tiada tandingannya, hanya tabiatnya saja yang sangat aneh, sehari-hari hanya membaca saja kesenangannya, tidak gampang dia mau mengobati penyakit orang.
Dahulu waktu Lu Si-nio menghibur Hiau-lan dan bilang mempunyai daya-upaya, yang dia harap ialah pertolongan tabib pandai ini.
Tak terduga, setelah dicari ke tempatnya, ternyata orangnya sudah tidak di situ lagi, kabarnya lantaran tabib she Yap ini tidak sudi mengobati seorang bangsawan, karena itu hampir saja ia dipenjarakan, untung ada seorang bekas pasiennya yang memberi kabar padanya, hingga tabib ini malam-malam melarikan diri dan sekarang tidak diketahui berada dimana?
Karena harapan mereka yang buyar ini, yang merasa paling masgul dan sedih adalah Pang Ing.
"Bagaimana kalau aku menyelidiki ke dalam istana?"
Kata Lu Si-nio akhirnya. Akan tetapi Teng Hiau-lan mencegahnya supaya jangan mengambil resiko itu.
"Keparat In Ceng ini adalah musuh keluargaku yang terbesar, kepergianku sekali ini bukan melulu untuk urusanmu saja, kalau ada kesempatan segera-aku bunuh dia sekalian,"
Kata Si-nio pula Kam Hong-ti menasihati Sumoaynya juga agar suka berlaku hati-hati.
Namun Lu Si-nio anggap dirinya berkewajiban menunaikan tugas negara dan sakit hati keluarganya, berbareng pula untuk mencari obat bagi kawan karibnya, ia berkepandaian tinggi dan bernyali besar pula, maka ia tetap bertekad akan pergi.
Di samping sana Pang Ing seperti banteng yang baru lahir dan tidak kenal apa artinya takut, ia pun ingin mencoba dan minta ikut pergi bersama Lu Si-nio.
Lu Si-nio tahu Ginkang Pang Ing sangat tinggi, maka ia lantas memperkenankan anak dara ini ikut serta.
Kam Hong-ti lantas minta bantuan orang ualam pula, dan berjanji bila kedua nona ini tidak kembali pada jam tiga malam, segera Kam Hong-ti akan memimpin para pahlawan mengaduk istana.
Malam itu Kam Hong-ti dan lain-lain menunggu di rumah dengan hati tak sabar.
Sekira lewat tengah malam, tiba-tiba seperti jatuhnya daun saja yang enteng.
Lu Si-nio dan Pang Ing telah kembali dengan selamat, akan tetapi di bawah sinar bulan remang-remang kelihatan di atas tubuh mereka penuh dengan noda darah.
Lekas Kam Hong-ti menanyakan pengalaman mereka.
"Penjagaan kaisar anjing ini sungguh terlalu ketat,"
Tutur Si-nio dengan menghela napas.
"Dimana-mana terdapat penjaga, dibandingkan tahun lalu waktu ia merebut takhta, sungguh jauh berbeda. Tadi, tidak lama setelah kami masuk ke sana, segera kami ketahuan mereka. Kalau bukan ilmu perguruan sendiri yang hebat, hampir saja kami tidak mampu meloloskan diri."
"Ya, nyali Lu-cici sungguh besar sekali, terang kami sudah terkepung musuh, berkat Lu-cici yang membuka jalan, ia membunuh tiga jagoan istana, aku pun berhasil membunuh dua musuh, hingga badan kami kotor berlepotan darah,"
Demikian Pang Ing pun ikut menutur dengan bersemangat.
"Wah, istananya sungguh besar sekali, aku baru pertama kali tadi melihat istana seperti itu!"
"Dan bagaimana, apa kalian ketemu In Ceng?"
Tanya Hong-ti. Karena pertanyaan ini, Lu Si-nio membisu, tetapi wajahnya mengunjuk rasa gemas sekali.
"Apa kau maksudkan kaisar anjing itu?"
Pang Ing menyahut.
"Kalau dia, tadi kami sudah ketemu. Aku pernah berhadapan dengan dia di rumah Lian Keng-hiau dahulu, maka aku kenal dia, dari jauh ia malah meneriaki kami, katanya ia sudah menduga kami akan datang ke sana. Katanya pula bahwa Teng-sioksiok masih ada waktu tujuh hari lagi baru akan tiba ajalnya. Ia bilang jangan kita mengharap bisa mencuri obat pemunah racunnya, sebaliknya ia suruh aku dan Teng-sioksiok lekas masuk istana buat minta ampun padanya."
"Tujuh hari, katanya? Betul hanya tujuh hari?"
Demikian Kam Hong-ti menggumam sendiri.
"Ya, hanya tujuh hari saja, lantas bagaimana baiknya?"
Kata Pang Ing lagi dengan suara terputus-putus karena tangisnya. Waktu Pang Ing berbicara, tiba-tiba Teng Hiau-lan muncul-dari kamar belakang.
"Eng-ci (nama asli Lu Si-nio adalah Lu Eng) dan Ing-moay, kalian tak perlu buang tenaga lagi buat diriku,"
Demikian ia berkata dengan tertawa pahit.
"Kam-tayhiap, aku hanya memohon sesuatu padamu."
"Katakan saja, Teng-heng,"
Sahut Hong-ti.
"Aku ada sepucuk surat pesan terakhir, harap Kam-tayhiap suka menyampaikan pada guruku Nyo Tiong-eng,"
Kata Hiau-lan lagi.
"Ah, toh masih ada waktu tujuh hari, hendaklah Teng-heng berlaku tenang dan jangan, berpikir yang tidak-tidak,"
Sahut Hong-ti.
"Mati hidup sudah ditakdirkan, tenaga manusia tidak bisa berbuat apa-apa, maka lebih baik aku mengatur segala sesuatu, supaya orang lain tak ikut menderita,"
Sahut Hiau-lan dengan tertawa getir. Memang Kam Hong-ti belum tahu bahwa di antara Hiau-lan dan Nyo Liu-jing sudah cekcok sampai tingkat yang sukar diakurkan, maka ia masih terus menghibur.
"Kau dan Nyo-loenghiong adalah mertua dan menantu, waktu tujuh hari mungkin terlalu mendesak, agaknya dia tidak keburu lagi diundang ke sini,"
Katanya kemudian. Ternyata Kam Hong-ti masih menyangka Hiau-lan ingin berjumpa sekali lagi dengan Nyo Tiong-eng dan putrinya pada sebelum ajalnya.
"Nyo-insu (guru berbudi) sudah cacat karena kena Am-gi keluarga Tong, tidak perlu lagi mengundang dia kemari,"
Tutur Hiau-lan.
"Aku hanya ingin pada sebelum ajalku, aku bisa membatalkan ikatan perjodohanku ini, supaya putri orang tidak ikut berkorban."
Hendaklah diketahui bahwa pada zaman feodal, jika ikatan perjodohan belum dibatalkan, walaupun belum menikah dan bakal suami telanjur mati, maka tetap bakal istri tidak boleh menikah lagi, oleh sebab itulah Teng Hiau-lan mengutarakan pendapatnya tadi.
Akan tetapi Kam Hong-ti masih coba menghiburnya.
"Sudahlah, biarkan ia menulis suratnya itu,"
Kata Si-nio akhirnya.
"Kalau dia memang berpikir begitu, jika dia tidak menulisnya, tentu hatinya tidak ak^n tenteram."
Karena kata-kata Sumoaynya ini, Kam Hong-ti tidak mencegah lagi.
Begitulah Teng Hiau-lan lantas mengundurkan diri, ia kembali ke kamarnya buat menulis surat pesan terakhir.
Waktu Lu Si-nio memandang sekitarnya, ia lihat Pang Ing bermuka muram, matanya berkaca hendak mengucurkan air mata.
Dengan perlahan ia lantas menggandeng tangan gadis ini dan diajak jalan ke pelataran sana.
"Kalau demi membalas budi sengaja mengorbankan diri, terhitung hina tidak?"
Tiba-tiba Pang Ing tanya Si-nio. Seketika Lu Si-nio tercengang.
"Tidak terhitung hina! Tapi perlu apa harus berbuat begitu?"
Sahutnya kemudian.
"Ya, apa daya, tiada sesuatu harapan lagi "Tetapi siapa tahu kalau tiba-tiba timbul sinar terang?"
Sahut Si-nio memotong.
"Hai, siapa itu?"
Tiba-tiba ia membentak. Belum lenyap suara Lu Si-nio, mendadak terdengar suara gelak tertawa yang keras di atas wuwungan rumah, tahu-tahu Haptoh bersama seorang Lamma berjubah merah telah muncul.
"Atas titah Hongsiang, Teng-hiapsu dan Lin-kuijin diminta lekas masuk istana!"
Terdengar Haptoh berseru.
Habis itu keduanya lantas melompat turun ke pelataran dengan mata mengerling tajam.
Lamma berjubah merah ini bernama Emopu, seorang Lamma besar dari agama Lamma Merah, Kaisar Yong Ceng telah mengangkat agama Lamma sebagai agama negara, sejak Liau-in tewas, Yong Ceng ingin lekas mendapatkan seorang penggantinya, justru ilmu silat Emopu ini terhitung kelas wahid di kalangan Lamma Merah (Lamma ada dua golongan, merah dan kuning), Yong Ceng sendiri adalah seorang ahli, maka begitu ia mengundang orang dan dijajal, segera ia tahu bahwa ilmu silat Emopu tidak di bawah Liau-in, bahkan Ginkangnya masih di atas Liau-in.
Karena itu segera ia mengangkatnya menjadi Tay-koksu atau imam besar negara, ia rombak pula istana pangerannya yang lama menjadi Yong-ho-kiong, istana yang khusus untuk markas kaum Lamma.
Baca Juga: Hong Lui Bun 10
Baca Juga: Golok Halilintar 8