Kisah Pedang Di Sungai Es 10

Eps 10 Kisah Pedang Di Sungai Es - Liang Ie Shen

Baca online Kisah Pedang Di Sungai Es - Liang Ie Shen

Cersil Kisah Pedang Di Sungai Es - Liang Ie Shen.

Saat itu ia lihat Kang Hay-thian juga sudah menyusul dan jalan berendeng dengan Kok Tiong-lian.

Sambil berjalan berendeng, sampai sekian lamanya kedua muda-mudi itu diam saja.

Akhirnya Kok Tiong-lian tak tahan, ia membuka suara.

"Hay-ko, aku tidak ingin kau dimaki orang. Lebih baik kau pergilah mencari nona Hoa".

"Aku akan mencarinya, tapi bukan sekarang,"

Sahut Haythian.

"Tadi aku sudah sedih, tapi sesudah mendengar pesan Suhu, kini aku sudah merasa lega dan hatipun tidak perlu susah."

"Apakah kau benar-benar tidak kenal kebaikan orang seperti kata Tiong-pangcu tadi?"

Tanya Tiong-lian.

"Aku merasa tidak berbuat kesalahan apa-apa, jika orang lain tidak dapat memahami aku, ya, apa mau dfkata lagi? Bukanlah aku tidak merasa susah, tapi aku tidak ingin kaupun ikut sedih. Pahamkah kau?"

"Ya, paham aku,"

Sahut Tiong-lian sambil menghela napas pe-lahan.

Sementara itu Danu Cu-mu sudah selesai mengatur urusan Kim-eng-kiong yang telah dikuasai itu dan menyusul tiba.

Demi mengetahui Hoa In-pik sudah terbang pergi, tapi tidak tahu tentang hubungan Hay-thian dengan nona itu, maka ia menjadi girang ketika melihat adiknya berjalan bersama dengan pemuda itu.

Tapi ia menjadi terkejut pula ketika melihat mereka diam-diam saja.

bahkan pipi adiknya tampak ada bekas air mata.

Segera ia tanya.

"Apakah yang terjadi?"

"Ah, tidak apa-apa,"

Sahut Tiong-lian.

"Mengapa kau menangis?"

Tanya pula Cu-mu.

"Aku merasa berat ditinggal pergi Hoa-clci yang baru kukenal itu, makanya aku merasa sedih,"

Kata sinema. Karena, tidak tahu seluk-beluknya, dengan tertawa Cu-mu berkata pula.

"O, kiraaya demikian. Tadi kukira kal!an telah bertengkar. Nona Hoa itu datang kemari untuk menghadiri pertemuan di Kim-eng-kiong, sekarang pertemuan sudah bubar, dengan sendirinya ia harus pulang. Jika kau terkenang padanya, kelak kalau urusan disini sudah selesai, masakah kau tidak bisa pergi menyambangi dia dan mengapa mesti menangis? Didunia ini mana ada sahabat yang tdak pernah berpisah?"

Hati Tiong-lian tergetar mendengar ucapan terakhir sang kakak itu, tiba-tiba ia merasa pilu pula, pikirnya.

"Ya, memang benar. Didunia ini biar sahabat yang paling karib juga pada suatu ketika harus berpisah, kecuali suatu pasang suami-isteri yang dapat berkumpul untuk selamanya. Aku dan Hay-thian juga cuma berkumpul untuk sementara saja, pada suatu hari nanti juga mesti berpisah. Kiranya Tiong-lian sudah memutuskan akan merangkap perjodoan Hay-thian dengan In-pik dan akan menganggap Hay-thian sahabat saja. Namun iapun tidak dapat menguasainya perasaannya lagi, dikala ia merasa sedih dan susah dilupakan, barulah ia merasa bahwa cintanya kepada Kang Hay-thisn ternyata sudah berakar mendalam. Maka dengan senyuman yang dipaksakan ia menjawab Cumu.

"Koko, dan sekarang ketahuilah bahwa adikmu ini justeru sebodoh ini."

Ucapannya ini berbareng sengadia diperdengarkan kepada Kang Hay-thian. Dan pemuda itu cuma diam saja.

"Ya, sudahlah, sekarang kita harus menyelesaikan urusan penting lebih dulu,"

Kata Cu-mu kemudan.

"Kan-ong itu tidak sembunyi disini, sekarang kita harus cepat memeriksa seluruh keraton dengan lebih teliti. Dan dimanakah Suhu, Kangsuheng?"

"Suhu ada urusan lain dan telah pergi dulu, biarlah aku ikut kalian kesana,"

Sahut Hay-thian.

Ketika Cu-mu memimpin sisa pasukannya kembali dikeraton, sementara itu sudah dekat magrib.

Keraton sudah dikuasai seluruhnya oleh pasukannya, begundal Kan-ong ada, yang terbunuh, banyak pula yang tertawan dan sebagian juga menyerah dan selunihnya boleh dikata sudah ditumpas.

Tapi meski sudah dicari seharian masih terap Kan-ong belum diketemukan.

Selagi Cu-mu bertiga merasa masgul, mendadak Kang Haythian melonjak kaget, aerufiya.

"Hei dengarkan! Suara apakah ini?"

Waktu Cu-mu mendengarkan dengan cermat, kemudian iapun berkata.

"Eh, seperti suara suitan orang dan berkumandang dari bahwa tanah, kedengarannya tercampur pula suara benturan senjata. Rasanya terjadi didalam jalan rahasia dibawah tanah, entah terletak dimana tempat itu?"

"Dari suaranya kutaksir terletak tiga li disebelah timur-laut sana,"

Ujar Hay-thian.

"Kukira pasti Toako yang telah kembali,"

Kata Cu-mu.

"Baiklah, lekas kita mencarinya menurut arah suaranya!" ---ooo0dw0ooo---

Jilid 15 Setiba ditempat suara itu, ternyata disitu-ada sebuah gunung-gunungan palsu, tapi tiada sesuatu gua.

"Suara Ini timbul dari bawah tanah, dibawah gunungan ini tentu ada jalan rahasia,"

Ujar Kang Hay-thian.

"Jalan rahasia ini adalah buatan Kan-ong sendiri, didalam peta yang kupegang ini tidak diketemukan,"

Kata Cu-mu. Tengah bicara, suara nyaring beradunya senjata dibawah tanah itu semakin jelas kedengaran.

"Apakah disitu Yap-toako? Kami sudah datang!"

Seru Kang Hay-thian dengan ilmu mengirimkan gelombang suara sambil mendekam diatas tanah.

Sejenak kemudian terdengar dari bawah tanah berkumandang suara suitan panjang satu kali.

Cu-mu terkejut, katanya.

"Memang betul adalah suaranya Toako, kedengarannya dia seperti ter-luka."

Tapi meski mereka sudah cari ubek-ubekan, tetap jalan masuk ke-jalan dibawah tanah itu tidak diketemukan.

Tidak lama kemudian, suara benturan senjata tadi sudah berhenti.

Waktu Cu-mu mendekam diatas tanah untu"k mendengarkan, sayup-sayup terdengar ada suara orang merintih yang terputus-putus, cuma susah dibedakan suara siapakah itu.

Cepat Cu-mu melompat bangun dan berseru.

"Terpaksa Biar kukerahkan pasukan pengawal untuk menggali jalan masuknya!"

Namun tiba-tiba lantas terdengar suara keriat-keriut, ditengah-ditengah gunung-gunungan palsu itu mendadak terbelah menjadi dua dan memisah ke kanan-kiri, maka tertampaknya sebuah gua ditempat itu.

Tanpa pikir lagi mereka bertiga terus menerobos kedalara gua itu.

Didalam gua keadaan gelap gulita dan entah betapa dalamnya.

"Segera Cu-mu menyalakan obor, maka kelihatan ada undak-undakan batu yang menurun kebawah, tapi tetap tiada nampak seorangpun. Diam-Diam Cu-mu agak lepa, tapi tetap kuatir juga, katanya dengan muram.

"Boleh jadi Toako telah membukakan pintu rahasia ini agar kita dapat masiik kesini. Tapi sampai, sekarang dia masih tidak kelihatan, kukira dia tentu terluka parah."

"Marilah kita cepat mencarinya,"

Ajak Hay-thian.

Be-rama-ramai mereka lantas menuruni undak-undakan batu itu.

Sesudah ratusan tindak, didepan mereka adalah sebuah pintu besi, dari dalam pintu sana lantas terdengar beberapa kali orang berbatuk-batuk.

"Tidak hanya satu orang saja yang berada didalam,"

Ujar Kang Hay-thian.

"Tapi suara batuk-batuk itu kedengaran agak aneh."

"Toako, kami sudah datang!"

Seru Cu-mu sambil menggembrong pintu besi litu. Selang sejenak, terdengarlah suara seorang yang serak telah menjawab.

"Masuklah semual"

Pintu besi itu rupanya tidak pakai pesawat rahasia, maka harus dibuka oleh orang yang berada dsebelah dalam.

Cu-mu bertiga dapat mendengar suara napas Yap Tiong-siau yang terengah-engah.

selang tak lama, akhirnya pintu itu dapat dibuka juga dengan pelahan-lahan.

Dan begitu pintu besi itu terpentang, seketika pandangan semua orang menjadi silau.

Kiranya didalam situ penuh tertimbun barang mestika yang gemerlapan menyalankan mata.

Dan diantara cahaya gemerlapannya benda mestika itu remang-remang ada kabut asap pula dengan bau yang tidak enak.

Benda-Benda mescika itu tidak terlalu mengejutkan mereka, yang paling aneh adalah keadaan dan orang-orang yang berada disitu.

Kelihatan Yap Tiong-siau memayang seorang wanita dan mendekati mereka katanya dengan suara parau.

"Kedatangan kalian sangat kebetulan Kan-ong itu sudah mati disini! Dendam keluarga Kita sudah terbalas Ji-te, urusan se"lanjutnya adalah bagianmu!"

Cu-mu tiada sempat menyelami apa arti ucapan sang Toako itu, lebih dulu ia memandang kearah yang ditunjuk itu, maka terlihatlah Kan-ong atau siraja lalim, Kayun, sudah menggeletak ditanah, disampingnya ada dua mayat pula, yaitu kedua pengawal bersaudara yang paling dipercaya Kayun itu.

Kalau Cu-mu lebih dulu memperhatikan keadaan Kayun, sebaliknya Kang Hay-thian dan Kok TiongYian lebih tertarik kepada wanita yang dipayang Yap Tiong-siau itu.

Kiranya wanita itu bukan lain adalah Auyang Wan.

Tiong-lian hanya terasa heran saja melihat Auyang Wan juga berada disitu.

Sebaliknya hati Kang Hay-thian lantas tergetar, ia terkejut dan bergirang pula.

Semalam ia terjerumus kedalam liang perangkap dibawah tanah di suatu tempat yang lain bersama Auyang Wan dan sama-sama menderita luka, kemudian Thian-mo-kaucu telah memisahkannya pula dengan nona itu, waktu itu diketahuinya juga bahwa Auyang Wan sudah tak sadarkan diri.

Tapi toh tidak dapat menolongnya.

Dan sesudah Hay-thian lolos keluar dari perangkap dan ketemu Hoa In-pik, sebaliknya Auyang Wan masih tetap ketinggalan dijalan bawah tanah itu serta tidak diketahui lagi bagaimana nasib selanjutnya.

Siapa tahu sekarang nona itu sudah berada bersama Yap Tiong-siau didalam gudang harta itu.

Kiranya semalam sesudah Yap Tiong-siau ditinggalkan sendirian, kembali ia mencari Kang Hay-thian lagi keseluruh pelosok keraton.

Ia cukup kenal tempat-tempat rahasia didalam keraton dan akhirnya dapat menemukan jalan dibawah tanah dimana Kang Hay-thian kejeblos itu dan menemukan Thian-mo-kaucu serta Auyang Wan.

Saat mana tenaga Thian-mo-kaucu belum lagi pulih daa tidak berani bergebrak dengan Yap Tiong-siau, terpaksa ia menggunakan granat asap sebagai tameng untuk melarikan diri sehingga Auyang Wan dapat diselamatkan Yap Tiong-siau.

Keadaan Auyang Wan agak payah, syukur Tiong-siau telah menolongnya dengan tenaga dalam sendiri dan akhirnya nona itu dapatlah bergerak.

Tatkala mana dikeraton sedang terjadi pertempuran sengit dan sayup-sayup dapat terdengar dibawah tanah situ.

Tiong-siau kenal ketamakan Kayun, bahwa sebelum melarikan diri tentu akan mendatangi gudang harta pusaka itu untuk menggondol sedikit benda-benda mestika yang bernilai.

Karena itu ia lantas mendatangi dulu gudang harta itu dan sembunyi disitu untuk menantikan kedatangan Kan-ong.

Keadaan Auyang Wan belum sehat benar-benar, terpaksa juga ikut bersama Tiong-siau dan sembunyi didalam gudang pusaka itu.

Benar saja, akhirnya Kan-ong telah datang.

Tapi ada sesuatu yang diluar dugaan Tiong-siau, yaitu datangnya Kanong telah membawa serta kedua saudara Loh.

kedua pengawal setia Kayun itu.

Kalau jago-jago pengawal lain mungkin dengan gampang akan dapat dibereskan Yap Tiongsiau.

tapi kedua saudara Loh itu tidak dapat dipandang enteng, biarpun Tiong-siau belum mengorbankan tenaga dalamnya untuk menolong Auyang Wan mungkia juga bukan tandingan mereka berdua.

Setelah terjadi pertarungan sengit, kedua saudara Loh kena pukulan Tay-seng-pan-yak-kang, sebaliknya Tiong-siau juga kena pukulan lawan.

Dalam keadaan berbahaya, dengan matimatian Auyang Wan telah membantunya dengan menghamburkah granat berasap berbisa dengan jarum hingga kedua saudara Loh terluka parah dan dapatlah Tiong-siau memperoleh kemenangan ter-akhir.

Kedua saudara Loh terluka parah dan binasa, raja lalim Kayun juga keracunan asap Yang ditaburkan Auyang Wan itu dan mati sebelum dibunuh Tiong-siau.

Begitulah maka pertemuan Danu Cu-mu bertiga dengan Yap Tiong-siau berdua telah sangat menggembirakan mereka.

Cu-mu bergembira karena balas dendamnya sudah terkabul.

Sedangkan.

Kang Hay-thian juga bergirang demi melihat Auyang Wan masih hidup walaupun dalam keadaan agak payah.

Sementara asap berbisa didalam gudang pusaka itu masih belum buyar semua, segera Cumu berkata.

"Toako, marilah kita bicara diluar saja."

Segera ia mendekati dan memayang Yap Tiong-siau, Kok Tiong-lian lantas memayang Auyang Wan dan berkata padanya dengan pelahan.

"Nona Auyang, tempo dulu kau telah menolong Hay-thian, sekarang berkat bantuanmu pula barulah kami dapat membalas sakit hati, sungguh aku tidak tahu cara bagaimana harus berterima kasih padamu."

Auyang Wan tersenyum ewa, sahutnya.

"Lian-moay, apakah kejadian ini ada harganya untuk dikatakan terima kasih? Aku sendiripun banyak menerima kebaikan kalian. Maka yang kuharap asalkan kau tidak dendam pada kesalahanku yang dulu, hal mana aku sudah merasa lega". Melihat keramahan Auyang Wan yang berbeda sekali dengan waktu hendak menusuknya dengan jarum berbisa dulu, diam-diam Tiong-lian sangat senang, tapi juga agak heran, sebab, biarpun, sekarang mereka sudah menjadi kawan dan bukan lawan lagi, tapi hubungan mereka toh belum begitu rapat mengapa Auyang Wan lantas menyebutnya "Lian-moay" (adik Lian) dengan nada. yang begitu mesra? Tidak lama kemudian mereka sudah berada diluar gudang pusaka itu, setelah Yap Tiong-siau menghirup hawa dalamdalam, kemudian katanya dengan tertawa sambil memegangi tangan Auyang Wan.

"Lian-moay, selanjutnya kita adalah orang sekeluarga, maka diantara kalian tidak perlu lagi main sungkan-sungkan."

Tiong-lian melengak, tapi segera sadar duduknya perkara, se-runya.

"Ha, Toako, jika demikian, jadi nona Auyang adalah. Enso-ku, bukan?"

Tiong-siau mengangguk, sahutnya.

"Benar, nona Auyang sudah terima lamaranku! Dulu aku banyak berbuat kesalahan dan nona Auyang juga banyak berbuat salah, tapi aku tahu kalian tentu sudi memaafkan kami. Ha, Wan-moay, aku tidak salah toh, bukankah mereka semua akan memanggil Enso (kakak ipar) padamu."

Kiranya Yap Tiong-siau sangat menyesali kesalahannya kepada Tacinya Auyang Wan.

Sedangkan Auyang Wan juga sudah-tahu orang yang dicintai benar-benar oleh Kang Haythian adalah Kok Tiong-lian.

Jadi kedua orang senasib setanggungan, maka waktu Tiong-siau mengajukan lamaran padanya, dengan serta-merta lantas diterima Auyang Wan.

Bagi Yap Tiong-siau hal mana berarti menebus dosanya kepada encinya Auyang Wan, berbareng sebagai balas budi kepada Auyang Wan yang pernah menolong-jiwanya dahulu.

Sebaliknya Auyang Wan menerima lamaran Tiong-siau demi untuk kebahagiaan Kang Hay-thian dan Kok Tiong-lian, ia tidak ingin menyelip diantara perjodohan mereka sebagai penghalang, hal ini sesungguhnya juga atas cintanya kepada Kang Hay-thian.

Walaupun perjodohan Yap Tiong-siau dan Auyang Wan itu terdapat banyak unsur-unsur yang ruwet dan terjadinya terasa sangat mendadak pula, namun sebeaarnya juga ada persamaan diantara mereka, yaitu mereka sama-sama bercimpung dikalangan orang "Sia"

Dan mempunyai watak yang sama pula.

maka mereka boleh dikata cocok sekali satusama-iain.

Pada waktu menerima lamaran Yap Tiong-siau, pernah juga Auyang Wan membandingkan Kang Hay-thian dengan Tiong-siau dan akhirnya ia merasa Tiong-siau sesungguhnya lebih sesuai baginya.

Begitulah maka Danu Cu-mu, Kok Tiong-lian lantas memberi selamat kepada Tiong-siau dan Auyang Wan, begitu pula Kang Hay-thian juga ikut member.

selamat.

Tiba-Tiba Auyang Wan menjawab sambil mengerling sekejap kearah Hay-thian.

"Dan akupun menantikan arak bahagia dari kau dan Lan-moay!"

Sebenamya suaranya agak gemetar, sorot matanya juga mengandung macam-macam perasa yang ruwet.

Tapi karena dia terluka, suaranya gemetar juga tidak diherankan.

Hanya Kang Hay-thian saja yang paham akan sorot mata dan perasaan gadis itu.

Sekilas Hay-thian juga tergetar hatinya, dalam lubuk hatinya ia benar-benar sangat berterima kasih kepada Auyang Wan.

Sebaliknya Tcng-Iian menja \di merah jengah mendengar ucapan Auyang Wan tadi.

Pikimya.

"Apa yang pernah dikatakan Hay-ko memang benar, nona Auyang benar-benar seorang baik."

Lalu Tiong-lian memegang sebelah tangan Auyang Wan ber-sama Yap Tiong-siau. Tiba-Tiba ia merasa tangan Auyang Wan itu sangat dingin, denyut nadinya juga sangat lemah, ia terkejut dan berseru.

"He, kenapakah kau, Auyang-cici?"

"Aku......... aku sangat senang, kau......... kau sangat baik padaku, aku hendak............ hendak berangkat........."

Sahut Auyang Wan dengan sangat lirih dan hanya didengar Tiongsiau dan Tiong-lian saja. Sinar mata Auyang Wan juga buram dan pelahan-lahan kelopak matanya terkatup.

"Wan-moay. jangan ......jangan kau tanggalkan aku!"

Seru Tiong-siau, tapi mendadak ia muntahkan sekumur darah segar terus mendahului jatuh pingsan.

Setelah tinggal bersama Hoa Thian-hoag dan In-pik, sedikit banyak Kang Hay-thian juga sudah belajar ilmu pertabiban.

Cepat ia pegang urat nadi Tiong-siau dan Auyang Wan, katanya kemudian.

"Keadaan Yap-toako tidak berhalangan, soalnya ia terlalu letih dan mendadak terperandjat pula, makanya jatuh pingsan, biar kan dia mengaso sebentar, tentu segera akan siuman kembali. Keadaan luka nona Ayang agak lebih parah, bahkan keracunan sedikit. Untung aku masih membawa sebutir Siau-hoan-tan."

Siau-hoan-tan itu semalam mestinya sudah akan diminumkannya kepada Auyang Wan ketika terkurung dijalan bawah tanah semalam, tapi karena mereka lantas dipisahkan oleh Thian-mo-kau-cu hingga maksud Hay-thiaa itu belum terlaksana.

Kini Sau-hoan-tan itu akan digunakannya pula kepada orang yang sama, hanya lewat semalam saja keadaan sudah banyak berubah, bahkan pi-kirpnnya sekarang jugi sudah berbeda sama sekali.

Ia pandang sekejap pada Auyang Wan, lalu ia serahkan Siau-hoan-tan kepada Kok Tiong-lian dan.

katanya dengan pelahan.

"Boleh kau pentang mulutnya dan minumkan obat ini,"

Kemudian ia mengurut dan memijatnya di tempat-tempat yang perlu.

Diam-Diam Tiong-lian geli.

ia tahu sang kekasih itu agak rikuh ter-hadapnya jika pengobatan itu mesti dilakukannya sendiri.

Sesudah minum Siau-hoan-tan dan diurut pula oleh Kok Tiong-lian, lambat-laun air muka Auyang Wan bercahaya lagi dan pelahan-lahan siuman kembali, la menjadi terkejut juga ketika melihat Tiong-siau juga menggeletak disebelahnya.

"Segera Toako juga akan siuman, kau tidak perlu kuatir,"

Kata Tiong-lian.

Sekilas Auyang Wan melihat sorot mata Kang Hay-thian baru saja mengerling kearahnya.

ia kenal bekerjanya Siauhoan-tan, sesudah siuman segera ia merasakan kasiat obat itu.

maka ia lantas berkata.

"Hay-thian, terima kasih atas pemberian obatmu."

"Kenapa mesti terima Kasih segala,"

Sahut Hay-thian.

"bukankah dahulu kaupun pernah menghantarkan obat padaku ketika aku dan Gihu tinggal di Cui In ceng?"

"Ha, jadi kau sudah tahu akan perbuatanku itu?"

Tanya Auyang Wan.

"Sudah tentu tahu,"

Kata Hay-thian dengan tersenyum. Hati Auyang Wan menjadi terhibur. P"kirnya.

"Kiranya dia sudah lama mengetahui perbuatanku itu. Meski dia sudah mempunyai, kekasih, tapi toh dia masih ingat padaku. ia. diantaranya priya dan wanita sebenarnya tidak mesti terikat menjadi suami-isteri dan tetap akan menjadi sobat yang sangat baik. Mulai harini barulah aku tahu bahwa tiap orang mempunyai jodohnya sendiri-sendiri, asal tidak mencari susah sendiri, akhirnya tentu akan memperoleh kebahagiaan."

Berpikir sampai disini.

perasaan Auyang Wan seketika terbuka, rasa kesalnya lantas lenyap seluruhnya.

Tidak lama kemudian, benar juga Yap Tiong-siau telah siuman kembali.

Mestinya ia mempunyai tempat tinggal sendiri didalam keraton, semalam ada sebagian terbakar, tapi Danu Cu-mu sudah suruh orang membetulkannya kembali.

Segera Cu-mu menghantar T"ong-siau pulang keistananya, agar bisa merawatnya dengan baik, Auyang Wan lantas ikut tinggal diistana situ.

Setelah keadaan sudah aman, banyak urusan besar lagi yang harus diselesaikan.

Maka Cu-mu telah berkata kepada Tiong-siau.

"Toako, hendaklah kau mengaso saja, besok pagi engkau masih perlu berhadapan dengan para pembesar."

Tiong-siau melengak, tanya.

"Apa? Kau............... kau maksudkan............?"

"Negeri tidak boleh tiada pemimpin, engkau adalah putera sulung ayah baginda, sudah tentu engkau yang harus menggantikan beliau nak tahta,"

Ujar Cu-mu dengan tertawa. Kebetulan waktu itu Tiong-lian sedang membawakan semangkok wedang Jimsom untuk Tiong-siau, maka iapun ikut berkata dengan tertawa.

"Toako, kita telah lama di permainkan raja jahanam itu hingga sesama saudara sekandung tidak saling kenal, dahulu aku banyak berlaku kasar padamu, besok jika kau naik tahta, biarlah aku akan menyembah paling dulu kepadamu, kemudian aku minta anugrah pula padamu."

Dalam sekejap itu pikiran Tiong-siau benar-benar maha kusut, tenggorokaanya seperti tersumbat dan susah membuka suara.

Mestinya iapun pernah mempunyai ambsi akan menjadi raja.

waktu itu ia belum tahu asal-usulnya sendiri dan masih menjadi pangeran.

tepi diam-diam ia sudah bersekongkol dengan para pembesar yang berkuasa agar kelak dia dapat merebut tahta ayah bagindanya bila wafat Sekarang secara resmi ia akan menjadi raja tanpa berebut segala, menurut akal dia harus gembira karena cita-citanya akan terkabul.

Namun aneh, setelah mendengar ucapan saudara-saudaranya itu, menjadi malu dan menyesal serta bingung pula.

daa air matanya lantas berlinang .

Sudah tentu iapun sangat gembira, tapi bukan gembira karena akan menjadi raja, melainkan gembira karena kebalkan saudara-saudaranya itu.

"Toako, kita harus merayakan urusan ini dengan gembira, mengapa kau malah menangis"

Tanya T"ong-lian dengan tertawa. Tiong-siau menyambut wedang Jinsom yang diberikan dan dihirupnya seteguk, lalu ia mengusap air matanya sendiri dan menya-hut.

"Kalian sudi mengakui seorang Toako sebagai aku. Saking gembiranya aku menjadi menangis."

"Dahulu kau telah dibodohi Kan-ong, kini Kan-ong sudah binasa, habis gelap terbitlah terang, urusan yang sudah lalu itu buat apa diangkat lagi?"

Demikian Tiong-lian.

"Sudah banyak aku berdosa, untung kalian telah datang hingga aku dapat menjadi manusia baru lagi,"

Kata Tiong-siau.

"Sekarang aku tidak inginkan apa-apa lagi, sebaliknya kalian jauh lebih menderita daripadaku, apalagi aku sudah memalsukan namanya Cu-mu, masakah perlu aku memalsukan kau naik tahta lagi?"

"Toako, tahta ini memang adalah hakmu, kau cuma dikembalikan kepada kedudukanmu yang sebenamya dan bukan memalsukan siapa-siapa,"

Ujar Cu-mu dengan tertawa.

"Bicara tentang menderita, derita sengsara yang kau rasakan tentu jauh lebih hebat daripada kami."

"Tentang urusan tahta, biarlah kita bicarakan besok saja,"

Kata Tiong-siau akhirnya.

"Ia, memang Toako perlu mengaso dengan baik-baik,"

Kata Cu-mu.

"Adapun konsep amanatmu kepada rakyat tentang kebangkitan negeri kita itu nanti akan kusiapkan, besok tinggal dibubuhi setempe! saja."

Dan selagi ia hendak undurkan diri, tiba-tiba Tiong-siau berkata pula.

"Dan masih ada sesuatu yang perlu kupesan padamu, didalam gudang pusaka terdapat se

Jilid kitab pelajaran ilmu silat yang disebut "Liong-lik-pit-cong", ada pula beberapa benda yang dapat digunakan oleh orang yang mempelajari ilmu silat, tadi aku tidak sempat mencarinya, besok hendaklah kau mencarinya dengan teliti"

"Urusan kecil ini tidak perlu Toako pikirkan, asal kesehatan Toako sudah putih, kita masih dapat mencarinya lagi bersamasama,"

Ujar Cu-mu.

Semalam ini Cu-mu boleh dikata tidak tidur, ia sibuk menyiap-kan amanat kebangkitan negerinya yang akan dibacakan oleh sang Toako kepada rakyat.

Dan baru saja subuh tiba, cepat-cepat ia sudah mendatangi kamarnya Tiongsiau untuk mengundangnya keistana agar penerima penghormatan para pembesar.

Siapa duga kamarnya Tiong-siau sudah kosong melompong, Auyang Wan juga ikut menghilang.

Didalam kamar hanya ditinggalkan sepucuk surat oleh Tiong-siau yang ditujukan kepadanya.

Surat itu menyatakan bahwa Tiong-siau malu untuk tinggal didalam negeri, maka minta sang adik suka memaafkan serta menggantikannya memikul tugas sebagai pemimpin rakyat.

Tiong-siau dan Auyang.

Wan diam-diam telah pergi melalui jalan dibawah tanah tanpa diketahui oleh penjaga, dengan sendirinya susah untuk dicari kembali.

Terpaksa Cu-mu menurut pesan sang Toako dan menerima pengangkatan para pembesar dan naik tahta sebagai raja baru negeri Masar.

Meski Masar adalah sebuah negeri pegunungan yang kecil, tapi sesudah mengalami geger kerusuhan, urusan yang perlu diselesaikan juga sangat banyak sehingga Cu-mu sangat sibuk, untung ia dibantu oleh beberapa pembesar setia yang berpengalaman.

Sementara itu Kang Lam dan Kok Ct-hoa pindah tinggal didalam keraton, sedangkan Ki Hiau-hong lebih suka kehidupan bebas, ia gemar pesiar, maka ia telah ikut sicopet sakti dari India itu mengembara ketanah Hindu untuk mengembangkan kepandaiiannya.

"Hong-ek-nio", bekas permaisuri yang bersekongkol dengan Kayun itu, pada hari kedua sesudah Cu-mu naik tahta wanita itu lantas menggantung diri. Tapi mengingat wanita itu adalah bekas permaisuri ayah bagindanya, maka Cu-mu tetap menguburnya dengan segala kehormatan secara resmi. Sesudah segala urusan agak lancar, suatu hari, Cu-mu teringat kepada pesan sang Toako serta apa yang pernah didengarnya dalam percakapan rahasia antara Hong-ek-nio itu dengan Thian-mo-kaucu tentang benda mestika dunia persilatan yag terdapat di dalam gudang pusaka kerajaan. Waktu itu Hong-ek-nio berjanji hendak memberikan kunci gudang pusaka pada Thian-mo-kautiu mau membunuh Yap Tiong-siau. Kini sesudah wanita itu meninggal, kunci yang dimaksudkan itu entah berada dimana. Segera Cu-mu mengajak Tiong-lian menuju kegudang pusaka melalui jalan rahasia yang telah dikenalinya .tu. Tempo hari waktu mereka keluar dari gudang itu, pintu besi gudang itu hanya dirapatkan saja tanpa terkunci, maka dengan gampang dapat mereka buka kembali.

"Kunci gudang ini sudah hilang, sebaiknya Koko minta tukang kunci membuatkan kunci baru dengan pesawat rahasia yang baru pula,"

Kata Tiong-lian.

"Selanjutnya gudang ini takkan dipakai lagi, buat apa mesti susah-susah membuatkan pesawat rahasia segala,"

Sahut Cumu dengan tertawa. Tiong-lian melengak.

"Gudang ini takkan dipakai lagi? Aku tidak paham maksudmu,"

Tania Tiong-lizri heran.

"Harta pusaka ini ada sebagian adalah warisan leluhur kita. ada sebagian pula adalah hasil pengurasan Kan-ong dalam tahtanya selama belasan tahun ini, pendek kata harta karun ini berasal milik rakyat,"

Kata TVu-mu.

"O. apa barangkali kau berniat mengembalikannya juga kepada rakyat?"

"Ya, apa gunanya harta sebanyak ini bagi kita? Masakah kita takut mati kelaparan? Asal milik rakyat, maka harus dikembalikan kepada rakyat. Aku rela dikutuk sebagai anak durhaka, tapi aku sudah bertekad akan mengoreksi perbuatan leluhur kita!"

Cu-mu berhenti sejenak, sinar matanya berkilatan, lalu menyambung lagi.

"Aku akan mengirim orang yang dapat dipercaya untuk menjual harta pusaka ini kenegeri Persi. India atau Tiongkok, hasilnya akan kita gunakan sebagai biaya pembangunan negeri demi kesejahteraan rakyat kita. Ya, aku akan mengundang pula kaum cerdik pandai dari negeri-negeri tetangga agar memberi pendidikan kepada rakyat untuk menaikkan tarap pengetahuan kita, pendek kata masih banyak urusan yang harus kita kerjakan."

"Wah, engkau benar-benar seorang raja yang bijaksana dan adalah Engkohku yang baik,"

Seru Tiong-lian dengan gemb"ra.

"Kukira bila Toako yang menjadi raja juga beliau pasti akan berbuat demikian,"

Kata Cu-mu.

"Mulai besok berturut-turut harta karun ini akan kukeluarkan dan dijual untuk mulai membangun negara kita, berbareng aku akan mengangkat beberapa pembesar setia yang jujur dan bijaksana, nanti bila urusan sudah selesai, segera juga aku akan pergi mencari Toako".

"Harta ini kita memang tidak perlukan, tapi beberapa mestika yang berguna bagi kaum persilatan seperti apa yang dikatakan Toako iru akan bermanfaat bagi kita."

Ujar Tionglian.

"Ya. makanya sekarang aku mau datang kesini,"

Sahut Cumu. Sementara itu mereka sudah berada didalam gudang pusaka itu, kata Tiong-lian tiba-tiba.

"Eh, Koko. apakah kau mencium semacam bau wangi yang aneh?"

"Mungkin sisa bau granat berbisa yang diledakan Enso tempo har! itu."

Ujar Cu-mu.

"Tapi rasanya bukan,"

Kata Tiong-lian sesudah mengendusendus pula. Cu-mu agak curiga juga. tapi berkata.

"Tempat ini hanya diketahui oleh Toako sedia."

"Kau lupa kepada Thian-mo-kaucu?"

Ujar T"ong-iian.

"Thian-mo-kaucu belum memperoleh kunci pintunya, Kayun dan Hong-ek-nio juga sudah mati, tidak mungkin ia mengetahui jalan rahasia yang menuju kesini."

"Habis, darimanakah datangnya bau wangi ini?"

"Mungkin disini memang tersimpan wewangan, ketika Toako "bertempur dengan kedua saudara Loh, mungkin mereka telah menumpahkan wadah wewangian itu. Tapi tak perlu kita menerka se-cara ngawur, marilah kita mencari apaapa yang penting saja."

Mereka tidak tahu benda mestika apa yang mesti dicari, yang terlihat oleh mereka disitu hanya emas-intan dan batu permata yang gemilapan belaka, sudah setengah harian toh tiada menemukan sesuatu benda yang ada sangkut-pautnya dengan ilmu Silat.

"Jangan-Jangan yang dimaksudkan adalah obat mujarab sebangsa Thian-sim-ciok apa segala?"

Ujar Tiong-lian.

"Masakah ada obat mustajab sebanyak itu?"

Sahut Cu-mu dengan tertawa.

"Malam itu aku mendengar percakapan mereka dan jelas menyebut beberapa benda mestika."

"Apakah dia mengatakan bentuk benda itu?"

"Diapun tidak tahu,"

Tutur Cu-mu.

"Cuma ayah baginda pernah menyinggung rahasia ini dan dari nada uraian Hongek-nio itu, agaknya benda itu adalah sebangsa golok dan pedang mestika."

"Jika cuma berwujut senjata-senjata semacam itu tentu takkan banyak berguna bagi kita,"

Ujar Tiong-lian.

"Ya, biarpun "Liong-lik-pit-cong"

Itu juga tiada banyak manfaat-nya,"

Ujar Cu-mu.

"Ilmu silat Suhuku maha sakti dan pasti jauh lebih tinggi daripada apa yang tertera didalam kitab pusaka itu."

"Betapapun harus disesalkan juga jika kitab itu tidak kita ketemukan, mengingat adalah tinggalan ayah baginda,"

Ujar Tiong-lian.

"Boleh jadi ayah sudah menurun kitab itu, lalu aslinya telah dimusnakan,"

Kata Cu-mu.

"Mengenai benda-benda mestika lain Toako cuma mendengar pembicaraan musuh saja, tapi barang apa sebenarnya tak diketahuinya, jadi sungguhsungguh atau palsu tiada orang tahu."

Demikianlah mereka berusaha merendahkan nilai bendabenda pusaka yang tak diketahui itu, bahkan "Long-lik-pitcong"

Itu juga dianggap sepele, padahal dalam hati mereka merasa sayang juga, sebab mereka sadar benda-benda mestika itu tentu telah dicuri orang.

"Aku merasa agak aneh,"

Tiba-tiba Tiong-lian berkata pula.

"Apa kau meragukan ada orang pernah masuk kesini?"

Tanya Cu-mu.

"Bukan soal ini. Kalau ada yang mencuri, maka sudah terang adalah Thian-mo-kaucu. Tapi yang kupikirkan ada sesuatu urusan lain."

"Urusan apa lagi?"

"Bahwasanya leluhur kita adalah keluarga raja dan tidak mengherankan kalau memiliki harta pusaka sebanyak ini. Tapi mengapa juga memiliki benda mestika orang persilatan sebanyak ini?"

"Leluhur kita memangnya juga orang persilatan.

"Liong-llkpit-cong"

Itu adalah pemberian seorang kosen kepada leluhur kita, bukankah kau sudah pernah dengar cerita tentang ini?"

"Tapi sesudah turun-temurun sekian angkatan, sebenarnya juga sudah lama bukan orang persilatan lagi,"

Ujar Tiong-lian.

"Ke-uali Liong-lik-pit-cong itu, habis barang-barang seperti Thian-sym-ciok dan lain-lain yang belum kita ketemukan itu berasal darimana lagi? Makanya aku tetap merasa keturunan keluarga kita ini rada-rada penuh rahasia."

"Haha, jadi leluhur kita juga kau curigai?"

Ujar Cu-mu dengan tertawa.

"Sayang ayah bag"nda sudah bada lagi hingga urusan leluhur kita susah diketahui. Kukira tidak perlu pikir yang tidak-tidak, marilah kita pergi saja."

"He, kotak apakah ini?"

Tiba-tiba Tiong-lian menemukan sesuatu.

Waktu Cu-mu memperhatikan, kiranya adaalh sebuah kotak berbentuk lonjong dan wama hitam pekat.

Ia coba ketok-ketok dan ternyata menimbulkan suara nyaring, terang buatan dari besi dan bukan emas yang bernilai.

Maka katanya.

"Ini hanya sebuah kotak wadah perhiasan yang biasa saja, apa yang mengherankan?"

"Jusreru karena kotak biasa, makanya aneh."

Sahut Tionglian.

"Kalau barang berharga, tentu aku tidak menaruh perhatian."

Apa yang dikatakan Tiong-lian itu memang beralasan. ditengah-tengah harta pusaka yang tiada ternilai itu terdapat sebuah kotak besi yang tak berharga, hal ini benar-benar luar biasa dan aneh.

"Jangan-Jangan didalam kotak ini tersimpan benda-benda yang aneh,"

Kata Cu-mu akhirnya sesudah memikir sejenak.

Dan waktu kotak itu dibukanya, ternyata isinya cuma sebuah sisir, sebuah cermin kecil.

Sisir adalah buatan dari kayu dan cermin buatan dari perunggu, mungkin saking tua cermin itu sudah guram.

Sisir dan cermin serrracam itu adalah milik kaum wanita umum-nya.

sedikitpun tidak mengherankan.

Tapi dibawah barang-barang itu terdapat pula beberapa helai kertas surat yang sudah menguning.

Waktu Tiong-lian membentang sehelai kertas surat itu.

lalu di-berikannya kepada Cu-mu dan berkata.

"Koko. aku tidak kenal hurufnya, boleh kau membacakannya untukku."

Kiranya surat itu ditulis daalm huruf Masar kertas surat itu sudah hampir hancur. tulisannya juga samar-samar. Sesudah diperiksa dengan teliti, aclrrnya Cu-mu berseru pelahan.

"Aneh!".

"Bagaimana bunyinya?"

Tanya Tiong-lian.

"Seperti surat seorang gadis kepada kekasihnya dan melukiskan betapa rasa rindunya kepada sang kekasih,"

Kata Cu-mu.

"O!"

Wajah Tiong-lian menjadi merah. Diam-Diam iapun heran mengapa leluhurnya telah menyimpan surat cinta orang lain didalam gudang pusaka kerajaan? "Tapi bagian terakhir dari surat ini agak menarik,"

Kata Curau pula.

"Gadis itu entah kemana akhirnya, tapi disini telah dikatakan bahwa untuk selanjutnya dia takkan kembali lagi, maka sang kekasih diminta jangan memikirkan dia. tapi lebih baik lapangkan hati dan tekun mengatur negerinya saja"

"Aneh,"

Kata Tonglian.

"Jika begitu, bukankah kekasih yang dimaksudkan itu adalah leluhur kita? Dan sebagai raja. setiap gadis yang disukainya dapat diboyong kedalam keraton, siapa lagi yang dapat merintangi kehendaknya? Tapi mengapa mereka terpaksa mesti berpisah?"

Cu-mu coba membuka pula surat kedua.

Surat ini agaknya ditulis kemudian, keadaannya lebih bersih dan terang daripada surat pertama.

Isinya ternyata sangat sederhana, Cu-mu menuturkannya kepada Tiong-lian.

"Gadis itu telah menikah kepada seorang lain dan melahirkan seorang putera. Dia minta bekas kekasihnya itu cinta kepada puteranya itu seperti cinta kepada dia, semoga dihari kemudian jangan sekali-sekali bertemu dimedan perang dengan puteranya itu."

"Aneh, mengapa wanita itu membayangkan kemungkinan bekas kekasihnya akan bertemu dengan puteranya di medan perang? Dan sesudah anak itu dewasa entah bagaimana jadinya dengan mereka,"

Ujar Tiong-lian terheran-heran.

"Siapa bisa tahu?"

Sahut Cu-mu tertawa.

"Coba lihat betapa tua surat ini, paling sedikit adalah tinggalkan ratusan tahun yang lalu dan "anak"

Itu mungkin juga sudah lama mati."

"Dan masih ada sehelai lagi, coba baca apa bunyinya? Eh, seperti sepucuk surat dinas?"

Kata Tiong-lian.

Surat ketiga itu memang lain daripada kedua surat pertama tadi.

Kertas surat ketiga ini sangat baik, malahan diatasnya masih jelas tertera tanda setempel besar warna merah.

Sesudah membacanya lagi, lalu Cu-mu bercerita.

"Memang benar terkaanmu, ini bukan surat pribadi, tapi adalah surat negara dari negeri Kunbran."

"Surat Negara? Wah, tentu jauh lebih penting daripada surat dinas biasa. Dan mengapa disimpan bersama dengan surat cinta pribadi?""

Tanya Tiong-lian.

"Sebenarnya surat inipun urusan dinas biasa tiada sesuatu yang istimewa,"

Kata Cu-mu.

"Urusan apakah isi surat itu?"

"Tentang raja Kunbran yang baru naik tahta dan kita diundang mengirim utusan menghadiri upacara penobatan raja baru itu."

"Terletak dimanakah negeri Kunbran itu?"

"Kunbran benar-benar adalah negeri tetangga kita. Kalau negeri kita terletak di selatan kaki gunung Altai, adalah negeri tetangga itu terletak diutara gunung, jadi diantara kedua negeri hanya dipisahkan oleh sebuah gunung saja. tapi untuk bisa sampai di-sana juga diperlukan waktu sepuluh hari sampai setengah bulan,"

Lalu ia memperhatikan tanggal surat itu dan berkata pula.

"Dan peristiwa ini ternyata sudah terjadi 70 tahun yang lalu."

Begitulah mereka tidak habis paham mengapa surat undangan beg.tu saja juga mesti disimpan dengan begini rapi.

Lapat-Lapat Tiong-Iian merasa surat-surat itu tentu ada hubungannya satu sama lain.

cuma bagaimana duduk perkara yang sebenarnya susahlah diketahui "Sudahlah, toh orang-orang yang bersangkutan sudah tiada lagi, tidak perlu kita memeras otak memikirkannya,"

Kata Cumu akhirnya dan menyimpan kotak rias itu.

Kemudian mereka keluar dari gudang pusaka itu.

Hasil yang mereka cari tidak ada.

sebaliknya malah tambah soal-soal yang mencurigakan dan menguatir-kan.

Curiga terhadap bunyi surat-surat kuno itu dan kuatir karena lenyapnya benda-benda mestika yang hendak mereka cari.

Sesudah kembali ketempat tinggal masing-masing.

Tionglian sangat kesal, ia ingin mencari Kang Hay-thian untuk menghilangkan rasa masgulnya.

Tapi sesudah dipikir, ia ganti haluan, yang dicari adalah gurunya.

Kok Ci-hoa.

Saat itu Ci-hoa bersandarkan Iangkan dan sedang memandang jauh kesana seperti sedang merenungkan sesuatu.

Ketika Tiong-lian datang dan menyapanya, pelahanlahan Ci-hoa membelai rambut nona itu dan berkata dengan suara halus.

"Lian-ji, selama beberapa harini tampaknya kau agak kurus."

"Hanya agak sibuk mengenai pekerjaan, tapi semangatku cu-kup segar."

Sahut Tiong-lian.

"Suhu, apakah engkau cocok tinggal didalam keraton sini?"

"Terlalu enak menjadi terasa kikuk malah,"

Sahut Ci-hoa dengan tertawa.

"Maka aku pikir akan mohon diri saja."

"Bukankah Suhu hendak menunggu kembalinya Kimtayhiap?"

Kata Tiong-lian.

"Tanpa merasa lima hari sudah lalu. toh Suhu tiada urusan lain, mengapa tidak tinggal beberapa hari lagi?"

"Justeru ada suatu urusan, tadi Tiong-pangcu telah datang kesini,"

Kata Ci-hoa.

"O, mengapa pengemis tua itu tidak menemui Koko?"

"Mungkin karena persoalan nona Hoa, maka pengemis tua itu kurang puas kepada kalian. Ia tidak masuk kesini, hanya melalui penjaga minta aku menemuinya diluar keraton. Tabiat pengemis tua itu memang agak aneh, kalian tidak perlu salahkan dia. Tapi kedatangannya ini bukanlah untuk persoalan kalian, tapi dia mem bawakan berita tentang Eksupek. Dia sendiri adalah Pangcu sekte utara dan Ek-supek kalian adalah Pangcu sekte selatan, untuk urusan penggabungan kedua sekte mereka itu bulan yang lalu mereka telah mengadakan perundingan. Ek-suheng belum tahu jejakku, maka minta Tiong-pangcu mencari kabar tentang diriku. Kabarnya pemerintah ada usaha yang tidak menguntungkan Bin-san-pay kita dan Kay-pang, sebab itulah Pek-suheng dan Loh-suheng yang menjaga rumah itu sagat kuatir dan minta aku lekas pulang."

"Jika begitu, maka akupun tidak berani menahan Suhu lag.."

Kata Tiong-lian.

"Suhu......... Suhu............"

Ia pandang sekejap pada sang guru seperti hendak mengatakan apa-apa, tapi tidak jadi.

"Apakah kau merasa berat berpisah dengan aku?"

Tanya Cihoa.

"Kebetulan juga, aku memang hendak bicara sesuatu dengan kau."

"Silakan Suhu memberi petua,"

Ujar Tiong-lian.

"Aku ingin tanya kau lebih dulu, apa kau bersedia melepaskan hakmu sebagai puteri kerajaan dengan kehidupannya yang mewah bahagia?"

Tanya Ci-hoa.

"Aku tidak ingin menjadi puteri segala, tapi ingin ikut bersama Suhu saja". Ci-hoa sangat terhibur atas jawaban itu. Katanya.

"Akupun menduga akan jawabanmu ini. Aku sudah menjabat sebagai Ciang bunjin selama belasan tahun, sudah lama aku ingin meletakan beban kewajiban ini, sekarang kau sudah dewasa, sekembalinnya di Bin-san segera aku hendak menurunkan jabatan Ciangbunjin tni kepadamu."

Tiong-lian terkejut, sahutnya "Tecu.........

Tecu cuma ingin selalu berada didamping Suhu dan tidak ingin menjadi Ciangbunjin segala.

Tecu masih terlalu muda dan kurang berpengalaman, mana Tecu sanggup memikul tanggungjawab seberat itu?"

"Dahulu waktu aku diangkat menjadi Ciangbunjin usiaku juga tidak lebih tua daripada umurmu sekarang, segala apa itu juga mesti belajar dari mula. Ehm, agaknya kaupun mempunyai sesuatu kandungan pikiran, boleh kau ceritakan pada gurumu?"

"Aku pikir akan senantiasa mendampingi Suhu, tapi.................. tapi aku merasa takut pula...............".

"Takut apa?"

Ci-hoa menegas.

"Terkadang aku suka pikir ada lebih baik tinggal ditempat pegunungan yang jauh dari Tionggoan ini, agar.. agar agar terhindar dari banyak kesukaran. Tetapi ai, Tecu merasa berat juga berpisah dengan Suhu."

Sebagai seorang tua, tanpa dijelaskan juga Ci-hoa paham akan perasaan sang murid.

Pada suatu ketika Kang Hay-thian harus kembali ke Tionggoan, sekarang Tiong-lian bilang hendak tinggal dinegeri pegunungan ini, itu berarti akan berpisah dengan Hay-thian dan bermaksud menghindarkan pertemuan kembali dengan pemuda itu.

Perasaan kaum gadis seperti ini dahulu juga pernah dialami Kok Ci-hoa, maka diamdiam ia tertawa geli.

"Kau merasa berat berpisah dengan aku, padahal kau lebih-lebih berat kalau berpisah dengan Kang Hay-thian."

"Lian-ji, bagaimanakah urusanmu dengan Hay-thian. tanyanya kemudian. Muka Tiong-lian menjadi merah, sahutnya dengan menunduk.

"Berhubung kepergian nona Hoa secara mendadak, maka dia merasa sagat masgul."

"Hal itu sudah kuduga, yang kutanya ialah bagaimana dia terhadap kau?"

"Aku............ aku tidak tahu........."

"Masakah tidak tahu? Selama ini aku anggap kau sebagai puteri-ku sendiri, dlhadapanku apakah kau perlu merasa malumalu segala?"

Maka berkatalah Tiong-lian dengan masih kikuk-kikuk.

"Dia tak menyatakan apa-apa padaku, tapi kutahu dia............ dia suka padaku."

"Apakah dia tidak pernah menyatakan sesuatu permintaan maaf padamu?"

"Tidak, dia toh tidak pernah berbuat salah apa-apa, mengapa mesti minta maaf?"

"Baiklah jika begitu,"

Kata Ci-hoa dengan lega.

"Baik apa?"

"Sebab hubungannya dengan nona Hoa itu melulu hubungan persaudaraan saja."

Rupariya Ci-hoa telah hubung-hubungkan urusan Tiong-lian ini dengan dirinya sendiri.

Nasib mereka memang hampir sama, tapi kalau dibandingkan secara teliti ada banyak terdapat perbedaan.

Dahulu sesudah Le Seng-lam meningggal, Kim Sih-ih telah mendekati pembaringannya dan memohon maaf padanya, hal itu disebabkan Kim Si-ih memang mempunyai perasaan yang tidak dapat melupakan hubungannya dengan Le Seng-lam, lantaran menyesal telah mengecewakan harapan Le Seng-lam.

makanya ia minta dimaafkan.

Sebaliknya sekarang Kang Hay-thian dengan setulus hati mencintai Kok Tiong-lian, hal ini menandakan perasaannya kepada Hoa In-pik adalah tidak sama seperti Kim Si-ih terhadap Le Seng-lam, sebab itulah iapun tidak perlu minta maaf kepada Tiong-lian.

Tentang perasaan cinta yang halus dan meresap itu sudah lama dipahami Kok Ci-hoa, sebaliknya Kok Tiong-lian belum lagi me-rasakannya.

"Suhu, akupun ingin tanya sesuatu padamu", kata Tionglian kemudian.

"Tentang apa?"

"Dahulu waktu Kim-tayhiap meninggalkan engkau, apakah engkau merasa sedih?"

"Semula memang merasa sedih, tapi kemudianpun tidak."

"Sebab apa?"

"Persahabatan diantara sesama kita paling-utama ialah saling mengarti. Aku cukup memahami perasaannya bhw bila dia tidak berbuat begitu, untuk selamanya tentu dia takkan hidup tenteram, sebab itulah maka akupun tidak ingin menambah kesukarannya. Dan bila kedua pihak dapat bertemu lagi dengan saling memahami perasaan masingmasing, maka segala rasa masgul itupun akan lenyap dan tidak perlu sedih lagi."

Tiong-lian seperti menyadari sesuatu, katanya.

"Sebab itulah sekarang kaupun tidak perlu mesti menunggu kembalinya Kim-tay-hiap, bukan?"

"Benar, bila tiba waktunya tentu dia akan datang sendiri,"

Sahut Ci-hoa. Ia membelai-belai rambut sang murid dan berkata pula dengan terharu.

"Lian-ji, jangan kuatir, jalan yang pernah kutempuh tidak nanti kau ulangi lagi. Pergilah mengaso saja, besok kau masih harus bebenah seperlunya."

Waktu itu sang dewi malam sedang menongol dari balik segumpal awan tebal, suasana tetap suram kelam.

Meski sang guru menyuruh dia pergi mengaso, tapi Tionglian tidak menuruti pesan sang guru, sebaliknya ia masih berjalan-jalan se orang diri ditengah taman, pelahan-lahan, tanpa terasa ia telah menuju ketempat tinggalnya Kang Haythian.

Tiba-Tiba dilihatnya dari depan sana ada seorang sedang mendatangi dengan menyisir tumbuh-tumbuhan, ketika diperhatikan, bukankah itulah Kang Hay-thian adanya?

"Hay-ko, mengapa kau belum tidur, hendak kemana kau malam-malam?"

Tiong-lian menyapa.

"Justeru hendak datang ketempatmu, tak tersangka kau sudah datang kemari.""

Kedua orang lantas berhenti ditepi empang, air empang jemih menghijau, dibawah sinar bulan daun teratai mengambang tenang dipermuaan air hingga suasana bertambah sunyi rasanya.

Hay-thian bermaksud memetik setangkai bunga teratai, dibawah daun teratai yang lebar itu bersembunyi sepasang Wan-yang (merpati air), kedua ekor binatang itu agaknya terkejut waktu daun teratai disentuh Kang Hay-thian hingga mereka merenang keluar dengan terpencar.

Hay-thian seperti teringat sesuatu, ia urung memetik bunga dan berkata dengan suara pelahan.

"Lian-moay, apa barangkali ada sesuatu yang hendak kau katakan padaku?"

Tiong-lian juga termenung-menung mengingat apa-apa, selang sejenak baru menjawab.

"Sesudah bertemu kau aku menjadi tidak tahu cara bagaimana harus mulai bicara. Maka lebih baik kau saja yang bicara lebih dulu."

Hay-thian menunjuk bunga teratai, katanya.

"Teratai ini sangat indah."

Tiong-lian tertawa, katanya.

"Sesudah merenung sekian lamanya opa cuma satu kalimat ini saja yang hendak kau katakan padaku?"

"Air empang ini setenang kaca, sebab tiada gelombang apa, maka sepasang Wan-yang itu dapat berenang kian kemari dengan bebas, sungguh aku merasa iri sekali kepada mereka. Sayang besok aku takkan dapat melihat mereka lagi."

"Apa begitu buru-buru kau akan berangkat?"

"Ayahku sudah sekian lamanya meninggalkan rumah, ibu tentu sangat mengharapkan pulangnya. Aku sendiripun sudah sangat kangen kepada ibu, maka besok aku bermaksud berangkat pulang bersama ayah."

"Orang hidup dirantau tentu rindu kepada kampung halaman, hal ini adalah perasaan umum setiap orang,"

Ujar Tiong-lian.

"Tapi kecuall kau merindukan ibumu, apakah kau masih terkenang kepada seseorang lain?"

"Lian-moay,"

Sahut Hay-thian.

"kau cukup kenal perasaanku, maka akupun tidak perlu mendustai kau. Pada sebelum pulang ke-rumah aku memang perlu berkunjung lagi ke Cud-in-ceng untuk menjenguk nona Hoa disana. Apa kau........."

"Aku justeru hendak minta kau suka pergi menjenguknya, kalau kau tidak mau, aku malah akan mendamperat kau."

Tiba-Tiba Hay-thain berkata.

"Hatiku merasa tidak enak, aku selalu merasa telah berbuat salah............"

Perasaan Tiong-lian mendebur keras, teringat olehnya ucapan sang Suhu tadi, maka cepat ia memotong.

"Kau merasa berbuat salah? Salah kepada.................."

Belum lagi "siapa"

Diucapkannya, namun Hay-thian sudah meneruskan.

"Nona Hoa tinggal pergi begitu saja, maka aku merasa agak berdosa padanya". Tiong-lian menghela napas lega atas keterangan itu, katanya kemudian.

"Nona Hoa jelas sangat kesemsem padamu, maka kau harus pergi menyambangi dia, bahkan............... bahkan...............pendek kata, apapun aku takkan menyalahkan kau."

"Iian-moay,"

Ujar Hay-thian.

"aku mempunyai suatu pikiran yang aneh, hendaklah kau jangan mentertawakan diriku. Kupikir..............."

"Aku takkan mentertawa, kau, apa yang kau pikir, katakanlah,"

Sambung Tiong-lian.

"Kupikir mengenai guru kita berdua,"

Sahut Hay-thian.

"Bukankah kaupun sependapat bahwa mereka adalah dua sejoli sahabat yang paling karib?"

"Ya, didunia ini mungkin tiada pasangan sahabat yang demikian, persahabatan kekal selama lebih 20 tahun tanpa goyah sedikitpun."

"Hal -ini sebenarnya susah dilakukan oleh setiap orang."

Tiba-Tiba Tiong-lian memandang Hay-thian lekat-lekat dan menjawab.

"Hay-ko, berangkatlah kau, aku akan dapat melakukannya."

"Tidak, bukan maksudku agar kau sendiri berbuat demikian,"

Ujar Hay-thain.

"Ya, aku paham pikiranmu,"

Kata Tiong-lian dengan tertawa.

"Pabila semua orang hidup bersama disuatu tempat seperti saudara sendiri, tanpa cemburu. tiada curiga dan bebas dari rasa kesal, bukankah segalanya akan sangat baik? Tapi pikiranmu itu tidaklah aneh, sebab akupun pernah berpikir begitu. Namun, orang lain belum tentu sama pikiran dengan kita."

"Urusan manusia memang susah diduga,"

Kata Hay-thian.

"Misalnya nona Auyang bisa mendadak kawin dengan Toako, sebelum kejadian itu siapa yang pernah menduganya?"

"O, apakah kaupun berharap nona Hoa juga mengalami kejadian seperti itu?"

Kata Tiong-lian. Tapi ia lantas goyang kepala dan menyambung pula.

"Di dunia ini tiada sesuatu yang bisa sama bulat, pikiranmu itu agak terlalu seenaknya saja. Meski aku baru kenal nona Hoa-tapi lapat-lapat aku merasa wataknya jauh berbeda daripada nona Auyang."

Memang pendapat Tiong-lian itu tepat.

Watak Auyang Wan itu terlalu menuruti keinginannya, keras dalam menghadapi segala apa, baik cinta maupun dendam, tapi iapun seorang wanita yang berpikiran panjang, mau menerima dan suka memberi pula.

Sebaliknya Hoa In-pik lebih kukuh dalam segala sesuatu dan lebih mudah patah arang.

"Nah, apa yang kupikir sudah kukatakan semua padamu, jika nona Hoa sudah selesai urusannya atau dia dapat memaafkan aku, maka aku akan kembali......kembali........."

"Untuk apa?"

Sela Tiong-lian.

"Untuk mendampingi kau setiap hari dan menyaksikan kebebasan sepasang Wan-yang yang berenang ditengah kolam itu,"

Sahut Hay-thian.

"Wah, akan membosankan saja,"

Kata Tiong-lian dengan tertawa.

"Dan kalau dia tidak mau?"

"Aku tidak ingin dia menderita,"

Sahut Hay-thian.

"maka akupun akan meniru Suhuku, selama hidup ini aku akan mengembara kesegenap penjuru. Dan bila demikian halnya. akupun berharap kau akan sama seperti dia. anggaplah aku seperti kakak sendiri."

Maksud Kang Hay-thian itu cukup jelas.

Yang dicintai sebenarnya adalah Kok Tiong-lian tapi ia ingin minta pengartian dahulu dari Hoa In-pik baru kemudian akan memperisterikan Tiong-lian.

Jika In-pik tidak mau mengarti, maka mereka bertiga terpaksa harus mempertahankan persahabatan yang suci murni saja.

Hal ini berarti mengulangi sejarah percintaan Kim Si-ih.

Dahulu Si-ih mencintai Kok Ci-hoa, sebaliknya Le Seng-Iam tergila-gila kepada Kim Si-ih, akhirnya Ci-hoa mengasingkan diri dan Le Seng-lam juga tewas pada saat Si-ih sadar akan cinta Le Seng-lam itu, namun sudah terlambat.

Pabila seorang gadis yang berpikiran sempit, demi mendengar ucapan Kang Hay-thian itu tentu akan tidak senang.

Tapi Kok Tiong-lian adalah seorang nona yang tulus hati, seorang gadis yang berjiwa bersih, demi mendengar itu, ia tidak mengunju-kan rasa kecewa, tapi juga tidak menutupnutupi perasaannya sendiri, sahutnya dengan tertawa.

"Aku senang untuk berdampingan selamanya dengan kau, tapi akupun tidak ingin ada orang menjadi korban dan menderita lantaran kita. Sebab itu, asal kau merasa tindakanmu akan menjadikan nona Hoa bisa hidup bahagia, maka aku takkan punya ganjclan hati apa-apa?. Hay-thian memandang bunga ditengah kolam, lalu pandang pula gadis didepannya, pikirnya didalam hati.

"Adik Lian benar-benar sesuai dengan namanya. sama suci bersihnya seperti bunga teratai ini (Lian = teratai)."

Tiba-Tiba Tiong-lian memetik setangkai bunga teratai itu, katanya.

"Jika kau suka pada bunga ini, boleh kau membawanya setangkai. Besok aku tidak menghantar lagi."

"Engkohmu sangat sibuk, besok akupun tidak mohon diri lagi padanya, harap kau suka menyampaikan salamku padanya."

Kata Hay-thian. Mereka lalu berjabatan tangan dan saling pandang dengan termenung dan mengebeng a"r mata. Selang sejenak, akhirnya Tiong-lian berkata dengan pelahan.

"Baiklah, boleh kau pergilah"

Ia tetap tidak mau mengatakan bahwa iapun hendak pergi bersama gurunya.

segala sesuatu itu dilakukannya demi Kang Hay-thian" .......

Tiong-lian menyaksikan bayangan Kang Hay-thian menghilang dibalik semak-semak pepohonan sana, waktu ia berpaling kembali dan memandang bayangan sendiri yang tersorot cahaya rembulan didalam kolam, tertampak air kolam sedikit membuai, sepasang merpati air tadi telah berenang kembali ketempatnya semula hingga bayangan Tiong-lian dikacaukan.

Dengan rasa kesal Tiong-lian membatin.

"Sepasang merpati ini sedikitpun tidak kuatir diganggu pihak ketiga dan boleh sela-manya tidak berpisah. Tapi aku tidak-dapat-tidak berpisah untuk sementara dengan Hay-ko. Namun itu adalah kerelaanku sendiri. Aku tidak boleh jalan bersama dia agar tidak mempengaruhi perasaannya. Ya, benar, harus begini, keberangkatanku dengan Suhu biarlah ditunda satu hari lagi."

Seorang diri Tiong-lian termenung-menung ditepi kolam, sementara itu rembulan sudah menggeser jauh diufuk barat, sinar bintang sudah suram, tanpa merasa subuh sudah tiba, dengan rasa hampa barulah Tong-lian kembali kekamarnya.

Sebelum tidur ia menulis pula secarik surat suruh pelayan menyampaikan kepada gurunya untuk memberitahu maksudnya agar keberangkatan mereka ditunda sehari.

Waktu ia bangun tidur, sementara itu sudah dekat lohor.

Sehabis makan siang, pergilah ia menemui engkohnya.

Cu-mu juga sudah mengetahui kepergian Kang Hay-thian, segera ia menanya.

"Mengapa Kang-suheng begitu buru-buru berangkat tanpa pamit dulu padaku, apakah kau tahu sebabnya?"

"Dia kuatir bikin repot padamu, maka minta aku menaympaikan maaf padamu,"

Sahut Tiong-lian.

"Bagaimanakah urusan kal"ian, mengapa kau rela membiarkan dia pergi?"

Tanya Cu-mu dengan heran.

"Kenapa aku tidak rela, segala apa yang dia ingin katakan toh sudah dikatakannya,"

Sahut Tiong-lian.

"O, jadi kalian sudah saling berjanji sehidup-semati? Apakah kalian sudah menetapkan soal pernikahan pula?"

Tanya Cu-mu dengan tertawa.

"Koko. mengapa kau memikirkan sebegitu jauh, apakah hubungan antara lelaki dan wanita itu hanya terjadi dalam hubungan suami-isteri?"

Ujar Tiong-lian dengan wajah merah jengah.

"Boleh jadi selama ini kami tidak akan pernah menikah."

"He, mengapa kau berpikir demikian? Masakah kau akan men-conteh Suhu kita? Adapun mereka itu adalah karena terpaksa, tapi kalian kan tidak terjadi apa-apa? Apa mungkin Kang-suheng juga sudah mempunyai kekasih lain seperti Suhu kita dengan mendiang Le Seng-lrm itu?"

"Agak mirip, tapi juga tidak sama,"

Sahut Tiong-lian.

"Koko, biarlah kuceriterakan saja padamu."

Lalu iapun menuturkan pcmbycaraannya dengan Kang Hay-thian semalam tentang Hoa In-pik. Untuk sejenak Cu-mu termangu-mangu, kemudian ia berkata.

"Kang suheng adalah seorang yang baik dan jujur, tidak mungkin dia mengecewakan kau. Kau percaya padanya, akupun dapat mempercayainya."

"Besok aku dan Suhu juga akan berangkat pergi,"

Kata Tiong-lian pula.

.Ya, aku tahu lambat atau cepat kalian tentu akan meninggalkan sini, kakak beradik kita ini tidak selalu dapat berkumpul seperti sekarang, mengapa kau tidak tinggal sedikit hari lagi?

Apa kah didalam hatimu melulu terdapat seorang engkoh Hay-thiao saja?

Aku hanya bergurau saja dengan-kau, memang sudah sc-pantasnya kaupun ikut menyusulnya agar kalian tidak terpisah terlalu jauh."

"Akupun bukan karena ingin menyusul dia, tapi adalah karena Suhu mempunyai urusan penting yang harus buru-buru pulang."

Kata Tiong-lian.

"Ya, sudah, lebih baik kau berangkat saja daripada mendapat kesulitan lagi."

"Aneh, apa maksudmu? Kau kuatir aku menimbulkan kesulitan-mu disini?"

"Benar, kesulitan ini memang ditimbulkan kau, hal itupun aku tidak pernah duga sebelumnya."

"Kesulitan tentang apakah itu?"

"Sekarang kau adalah Puteri. semua orang mengetahui pula sang Puteri sangat cantik dan pintar, pandai ilmu silat pula........."

"Koko, mengapa kau menggoda aku saja,"

Omel Tiong-lian.

"Aku bicara dengan sungguh-sungguh,"

Sahut Cu-mu.

"Justeru karena namamu sudah terkenal merata dipadang rumput hingga para kelompok suku bangsa d sekitar sini sudah kenal semua. Maka tadi sudah ada seorang tamu yang sengaja datang dari jauh untuk meminang dirimu."

"O, bisa terjadi begitu?"

"Ya, orang itu adalah utusan dari.suku Bursin yang melamar kau bagi putera pangeran mereka. Mereka membawakan hadiah yang berharga, bahkan memerahkan pula sehelai surat pernyataan persekutuan dengan kita dan mohon aku menjodohkan Puteri kita dengan Pangeran mereka."

"Habis bagaimana jawabmu?"

"Meningat kesanggupan mereka untuk bersekutu dengan kita. ma ka aku telah menerima baik permintaan mereka."

"Ha, apa betul?"

Seru Tiong-lian melondiak kaget. Tapi demi melihat sikap Cu-mu agak mencurigakan, akhirnya ia tertawa dan berkata pula.

"Koko, kau sengaja menggoda aku lagi. Aku tidak percaya kau telah terima permintaan mereka."

"Sudah tentu aku tidak mungkin menerima permintaan mereka,"

Sahut Cu-mu akhirnya.

"Dengan sendirinya aku telah menolak lama ran mereka dengan secara halus. Dengan kurang senang utusan mereka lantas membawa kembali hadiah-hadiah itu dan tentang persekutuan dengan suku Bursin menjadi gagal juga".

"Sungguh tidak nyana akan timbul kesulitan seperti ini,"

Ujar Tiong-lian.

"Lantaran diriku hingga kau mesti bermusuhan dengan negeri tetangga."

"Bermusuhan sih tidak, cuma saling kurang senang saja,"

Sahut Cu-mu.

"Kesulitan demikian masih akan timbul lagi, maka aku-pun berharap kau bisa lekas menikah, dengan demikian aku akan punya alasan yang kuat untuk menolak setiap lamaran orang."

"Untung besok juga aku akan berangkat pergi dan kesulitan-kesulitan yang akan timbul takkan menimpa atas diriku."

Sahut Tiong-lian dengan tertawa.

"Apakah dalam sidang pagi tadi ada kejadian-kejadian yang menarik?"

Cu-mu berpikir sejenak. lalu berkata.

"Ada beberapa utusan dari kelompok suku-suku kecil dan negeri tetangga telah datang me-nyampaikan selamat padaku. Diantaranya terdapat juga utusan dari negeri Kunbran, inilah yang agak aneh."

"Apanya yang aneh?"

Tanya Tiong-lian.

"Negeri tetangga me-nyampaikan selamat padamu, bukankah ini urusan biasa saja?"

"Kunbran terletak dibalik gunung saja, meski jaraknya tidak sejauh suku Bursin disebelah sana, tapi jalannya lebih susah ditempuh. Bursin terpisah jauh dipadang rumput sana, tapi dengan kuda yang cepat dalam waktu tiga-empat hari saja sudah bisa sampai disini. Sebaliknya negeri Kunbran kesini takdapat ditempuh dengan menunggang kuda. maka sedikitnya harus makan waktu sepuluh hari atau setengah bulan. Padahal aku baru genap sepuluh hari diangkat menjadi raja, mengapa mereka dapat memperoleh berita secepat ini?"

Tiong-lian menjadi heran juga oleh keterangan itu. Katanya.

"Jangan-Jangan utusan mereka itu bisa terbang?"

"Tapi siapa pula yang mengirim berita pada mereka dan begitu cepat sampainya?"

"Jika kau sangsi, kenapa kau tidak tanya utusan mereka itu?"

"Kau kira seorang raja boleh bicara dengan bebas diwaktu menerima duta setiap negeri asing? Pada waktu bertemu, semua-nya sudah diatur bagian protokol. Ketika dia menyerahkan surat ucapan selamat rajanya, seorang pembesarku menerima surat itu dan diserahkan padaku, lalu aku berbangku menanyakan keselamatan raja mereka. Sesudah membalas hormat dan bicara sedikit tentang ucapan selamat, kemudian ia harus mohon diri. Mana boleh aku bertanya sesukanya, sebab ini akan melanggar kesopanan diplomatik."

"Pantas kau sebenarnya tidak suka menjadi raja. kiranya raja juga terikat oleh macam-macam peraturan, setiap tuturkata, setiap gerak-gerik selalu harus hati-hati."

"Tapi terhadap utusan itu aku toh ajukan sedikit pertanyaan juga,"

Kata Cu-mu.

"Bukankah tempo hari kita pernah membaca surat dinas dari Kunbran? Yaitu pada 70 tahun yang lalu dikala raja baru mereka dinobatkan. Waktu aku bicara tentang ini, maka utusan itu telah memberitahukan padaku bahwa raja tua itu sampai sekarang masih hidup."

"Wah, tentu sudah sangat tua, bukan? Apakah masih dapat mengatur pemerintahan?"

"Usia raja tua itu sekarang sudah 89 tahun dan sudah mengundurkan diri pada 10 tahun yang lalu, adapun raja baru, raja yang sekarang adalah cucunya yang tertua, usianya baru lebih 40 tahun."

"Leluhur kita menyimpan surat dinas itu dengan begitu hatihati, entah apa gunanya?"

"Aku sendiri juga merasa aneh, dan sekali ini tentang penobatan diriku, mereka juga mendapat kabar sedemikian cepat dan lekas-lekas menyampaikan ucapan selamat seakanakan untuk menandakan bahwa hubungan diantara kedua negeri lain dar pada yang lain. Sesudah selesai sidang pagi tadi. diam-diam aku telah tanya beberapa pembesar tua kita dan dari keterangan mereka itu ter-nyata berlawanan dengan apa yang kupikir ini. Kiranya waktu raja tua Kunbran itu naik tahta dan mengundurkan diri telah dua kali mengirim pemberitahuan kepada kita, selain itu mereka tidak pernah mengadakan hubungan apa-apa dengan kita. Tapi sewaktu Kayun merebut kekuasaan, mereka justeru menggunakan alasan hubungan baik turun-temurun dengan keluarga Danu kita, maka tidak mengakui kedudukan Kayun."

"Tindakan demikian kan sangat tepat!"

"Tapi dengan alasan itu pula mereka telah menyerang pemerintahan Kayun serta merebut suatu bagian wilayah kita disebelah utara."

"Dan sekarang kau sudah menjadi raja, kau boleh secara resmi minta kembali tanah wilayah kekuasaan kita itu."

"Benar, akupun sudah siapkan nota dinas untuk minta kembali tanah wilayah kekuasaan kita itu dan akan kubawakan duta mereka itu jika akan pulang nanti."

Setelah berhenti sebentar, kemudian Cu-mu berkata pula.

"Sudahlah, kita tidak bicara tentang politik lagi. Besok kau sudah akan berangkat, maka aku ingin minta kau melakukan sesuatu."

"Urusan apa?"

Tanya Tiong-lian.

"Aku merencanakan penjualan harta pusaka dalam beberapa partai, aku sudah suruh beberapa orang kepercayaanku memba-wanya sebagian untuk dijual dlpasar Persi dan Hindu. Sekarang kau akan pulang ke Tiongkok bersama Suhumu, kebetulan kaupun dapat membantu aku membawanya sebagian."

"Tapi aku tidak biasa menjadi makelar harta mestika begitu."

Kata Tiong-lian dengan tertawa.

"Sudah tentu kau tidak perlu jual-beli sendiri. Bin-san-pay dan Kay-pang banyak terdapat orang-orang cerdik pandai, kau boleh minta bantuan mereka untuk menyelesaikan urusan ini."

"Baik, tapi aku tidak mau mcmbawa terlalu banyak."

"Sudah tentu aku akan memilihkan beberapa buah yang paling berharga saja agar kau mudah membawanya. Dan jika kau suka, boleh juga kau memilihnya beberapa buah. Kelak waktu kau menikah belum tentu aku bisa hadir, maka anggaplah sebagai hadiah dariku."

"Bukankah kau sendiri menyatakan bahwa harta pusaka itu tak-bisa dianggap sebagai milik kita. tapi adalah mil"ik rakyat, kenapa kau boleh menggunakannya untuk kepentingan pribadi?"

Demikian Tiong-lian pura-pura menegur. Cu-mu terbahak-bahak, katanya.

"Tajam benar mulutmu ini, kalau kau tidak pergi dari sini, tentu aku akan angkat kau sebagai menteri wanita untuk bidang khusus penasihat dan kritik!"

"Sudahlah, jangan membuang waktu lagi, kalau mau kesana, marilah lekas,"

Ujar Tiong-lian.

Begitulah mereka lantas mcnuju ketempat rahasia yang terletak dibawah gunung-gunungan palsu .tu.

untuk masuk kesitu harus membuka sepotong batu penutup dengan tiara tepat.

Dan baru Cu-mu hendak memutar tombol untuk menggeserkan baru penutup itu, tiba-tiba ia tertegun.

"Apa ada sesuatu yang tidak betul?"

Tr.nia Tiong-lian dengan heran.

"Ya, seperti ada orang telah datang kes"ni."

Sahut Cu-mu. Tiong-lian terkejut.

"Darimana kau tahu?"

Tanyanya.

"Batu ini mestinya penuh lumut, waktu kita datang kesini tempo hari telah tergosok sebagian lumut ini, tapi sekarang coba lihat, ada sebagian besar lumur itu sudah mengelotok, dari tanda ini membuktikan bahwa orang yang datang kemudian ini tentu berperawakan kekar, tangannya jauh lebih besar daripada aku."

Demikian tutur Cu-mu.

"Wah, celaka, jika benar gudang pusaka ini telah kemasukan maling, pasti kerugian kita akan sangat besar,"

Kata Tiong-lian. Begitulah mereka menjadi kuatir. Setelah memasuki jalan dibawah tanah itu. ketika sudah dekat dengan gudang pusaka tempat tujuan, tiba-tiba Tiong-lian berbisik-bisik.

"Kembali aku mengendus bau harum yang aneh."

Lwekang Cu-mu sangat tinggi, panca inderanya juga lebih tajam, maka iapun membisiki saudaranya itu.

"Malingnya belum lagi pergi, aku dapat mendengar suaranya didalam. Kita harus tutup Hiat to dan menahan napas untuk menjaga kalau diserang dan keracunan itu aneh itu "

Sungguh mereka sangat girang dan kejut pula.

Girang karena malingnya belum lari dari situ, sebentar lagi, dapat membekuknya.

Terkejut karena toh ada orang lain yang tahu tempat rahasia itu.

Dengan berjinjit-jinjit mereka lantas mendekati pintu gudang pusaka itu.

Mendadak mereka mendorong pintu terus menyerbu kedalam.

Ketika maling yang berada didalam itu merasa dirinya kepergok.

maka reaksinya juga sangat sebat Belum lagi Cu-mu dapat melihat jelas atau tiba-tiba sudah terdengar sambaran angin tajam dari samping.

Tapi sekali Cu-mu ayun tangannya, dengan tepat lengan orang itu sudah kena ditangkapnya.

Namun mendadak terasa licin sekali lengan orang, bahkan timbul suatu tenaga maha kuat hingga, pegangannya tergetar lepas.

Dalam pada itu dengan cepat luar biasa orang itu sudah memutar kembali goloknya dan sekali ini dipakai menikam kedada Danu Cu-mu.

Keruan Cu-mu terperanjat.

Pikirnya.

"Ilmu silat orang ini boleh juga, agaknya tidak dibawahnya Bun Ting-bik". Senjata orang itu adalah sebatang golok pendek yang bersinar gemerlapan, gaya serangannya sangat ganas. Meski didalam gudang pusaka itu tiada penerangann, tapi dari cahaya replek batu-batu permata disitu keadaan menjadi terlihat cukup terang. Cu-mu telah mengeluarkan ilmu selentikan dengan dari yang hebat untuk men-jentik golok orang hingga terpental balik, waktu ia perhatikan lawan itu, ia lihat apa yang diduganya memang benar, yaitu seorang lelaki berperawakan tegap, cuma mukanya berkedok kain hitam hingga Kdak bisa dikenal. Sungguh Cu-mu sangat heran, sebab meski wajah orang itu tidak terlihat jelas, tapi dari perawaikan-nya itu ia merasa seperti pernah melihatnya entah dimana. Kebetulan maling yang masuk didalam gudang pusaka itu juga dua orang, semuanya berkedok, maka diwaktu Cu-mu bertempur dengan lelaki tegap itu, Kok Tiong-tian juga sudah melabrak seorang maling yang lain. Seperti halnya Cu-mu, Tiong-lian juga sangat terperanjat. Kiranya Tiong-lian juga merasa lawannya itu seperti sudah di-kenalnya, cuma entah dimana dan siapa sebenarnya. Lawan itu memakai senjata dua potong Leng-pay (papan perintah) yang berwarna hitam mulus, bukan emas bukan besi, entah terbuat dari apa. Tapi bila kebentur pedangnya Tiong-lian lantas mengeluarkan suara nyaring mendengung seperti logam. Walaupun gudang itu cukup luas, tapi disitu penuh tertimbun emas-intan dan batu permata yang berserakan disana-sini sehingga tempat yang dapat dipakai bergerak sesungguhnya juga tidak banyak lagi. Dibandingkan lawannya Tiong-lian menang lebih gesit dan lin-cah. Ia telah mainkan Hian-li-kiam-hoat yang indah, biarpun ditem-pat sempit juga pedangnya dapat diputar dengan kencang, maka dalam waktu singkat saja ia sudah berada diatas angin, lawan itu terdesak mundur terus. Sebaliknya lawan Danu Cu-mu itu lebih kuat daripada kawan nya. Semula Cu-mu hanya mclayani dengan Kira-kongciang-hoat, berturut-turut ia melontarkan 18 kali pukulan, tapi laki-laki itu masih dapat bertahan, hanya sedikit terengahengah saja napasnya. Cu-mu menjadi ragu-ragu. Tadi sebelum dia menyerbu kedalam situ, dalam hati ia menaksir maling itu tentu adalah sekomplotan dengan Thian-mo-kau-cu, siapa tahu dugaannya ternyata meleset. Laki-Laki berkedok ini berbadan tnggi besar, jauh lebih besar daripada Bun Ting-bik. Sedangkan lawan Kok Tiong-lian itu perawakannya memang sebaya dengan Thianmo-kaucu, tapi dari gerak-geriknya dapat dipastikan bukan samaran kaum wanita. Cu-mu menjadi lega sekilas melihat Tiong-lian sudah pasti akan menang. Segera ia membentak.

"Sebenarnya siapa kalian ini? Jika tidak mau bicara, kalian sendirilah yang akan celaka!"

Namun kedua orang itu sama sekali tidak mau bersuara, mereka tetap bertempur dengan mati-matian. Cu-mu menjadi gusar, katanya.

"Jadi kalian yang minta mampus sendiri, jangan salahkan aku tidak kenal ampun lagi pada kalian!"

Mendadak ilmu pukulannya berubah dan mengeluarkan suara gemuruh, dimana angin pukulannya menyambar tiba, batu permata yang berserakan itupun ikut gemerasak mengeluarkan suara.

Itulah ilmu pukulan Tay-seng-pan-yakciang yang lihay, siapa yang terkena pukulan ini tentu jiwanya akan melayang.

Keruan orang itu tidak sanggup bertahan lagi, hanya sebentar saja tampak ia sudah mandi keringat dan ubun-ubun kepalanya seolah-olah menguap.

"Kau ingin hidup tidak? Lekas mengaku terus terang!"

Bentak Cu-mu.

Tapi maling berkedok itu malahan mendengus dan tetap tidak mau bicara.

Kalau lawan Cu-mu ini masih bertahan mati-matian, sebaliknya lawan Tiong-lian itu sudah t"dak tahan lagi.

Tatkala itu Tiong-lian lagi menyerang tiga kali secara berantai bagaikan gelombang ombak yang mendampar dengan semakin dahsyat.

karena tidak sanggup menangkis, orang itu terpaksa main mundur terus, dan kebetulan kakinya terpeleset menginjak batu permata yang berserakan dilantai itu, tanpa ampun lagi ia jatuh terjengkang.

"Kau takluk tidak? Lekas mengaku!"

Bentak Tiong-lian sambil ancam tenggorokan orang itu dengan ujung pedang.

Tapi orang itu diuga sangat lihay, mendadak tubuhnya melejit.

kedua kakinya menendang keatas dengan maksud mengadu jiwa dengan Tiong-lian, biar dibunuh juga tidak mau mengaku kalah.

Sudah tentu Tiong-lian tidak gampang diserang, sedikit ia mengegos, berbareng ujung pedangnya mencungkit.

"crit", kedok orang itu sudah tersingkap. Tiong-lian tercengang demi mengenali orang itu. Kiranya dia adalah puteranya Kayun, Kaso namanya. Dulu waktu Tiong-lian ditawan, ia telah dibujuk untuk menjadi isterinya Kaso, makanya ia kenal. Ketika Kayun terbunuh, namun Kaso keburu menghilang entah kemana, Danu Cu-mu mengira dia sudah tewas dimedan perang yang kacau "itu, siapa duga dia justeru sembunyi dibawah tanah dilingkungan keraton itu. Kini kedua sateru berhadapan pula, sudah tentu menimbulkan den dam kesumat, pada saat Tiong-lian sedang tercengang itu, mendadak Kaso melompat bangun dan berbareng kedua potong Leng-pay lantas ditumpukan kearah Kok Tiong-lian.

"Masih ingin lari, bangsat!"

Damperat Tiong-lian dengan gusar, berbareng pedangnya lantas menyampok hingga kedua potong Leng-pay lawan itu dihantam terpental balik dan jatuh kelantai.

Timpukan tu telah dilakukan sekuatnya oleh Kaso, meski Tiong-lian dapat menyampoknya hingga terpental balik, tapi tidak urung tangannya juga terasa pagal kesemutan karena benturan itu.

Dan hanya sedikit ayal itu saja Kaso sudah keburu mundur sampai ditepi dinding sana.

Cepat Tiong-lian memburu maju dan tampaknya sekali tusuk pedangnya akan pantek badan Kaso diatas d"nding.

siapa duga, mendadak dinding itu lantas melekah hingga berwujut sebuah gua dan Kaso lantas menyusup kedalamnya.

Lubang gua itu sangat sempit, hanya tiba cukup untuk diterobos badan satu orang saja.

Waktu Tiong-ran mendekati dan melongok kedalaim, ternyata didalam situ gelap gulita dan susah diketahui betapa dalamnya.

Ia tidak membawa senjata rahasia, maka seandainya ia jemput dua potong emas terus d timpukan kedalam gua itu dengan tenaga kuat.

Kontan saja terdengar jeritan Kaso, menyu-sul dari dalam gua lantas mengepul keluar asap hitam.

Dengan segera Tiong-lian menghindarkan diri.

"Musuh yang sudah lari tidak perlu dikejar, biar dia pergi saja!"

Seru Cu-mu.

Karena tidak tahu betapa dalamnya gua dan entah terpasang perangkap atau tidak, maka terpaksa Tiong-lian tidak mengejar.

Kiranya gua itu merupakah suatu jalan rahasia yang d buat sendiri oleh Kayun, jalan ini hanya diketahui oleh mereka ayah dan anak.

Hari itu kalau Kayun tidak keracunan oleh kabut berbisa Auyang Wan, tentu dia akan dapat meloloskan diri melalui jalan gua itu.

Kuatir kalau laki-laki tegap berkedok itu juga akan lolos mengikuti jejak Kaso, mendadak Cu-mu menggertak keras sekali, Tay-seng-pan-yak-ciang dihantamkan tanpa segansegan lagi, kontan orang itu bersuara tertahan satu kali dan tubuhnya lantas terhuyung-huyung.

Cu-mu tambahi lagi dengan gerakan "Ciiaag-kun-toat-in"

Atau panglima merebut setempe!, cepat lengan orang itu telah kena dipegangnya dan baru hendak merampas goloknia itu, mendadak orang itu memutar baliknya ujung golok dan "bles", tahu-tahu ditikamkan kedadanya sendiri hingga hampir ambles semua.

Sama sekali Danu Cu-mu tidak menyangka akan perbuatan lawan itu.

Ia terkejut.

Pikirnya.

"Orang ini lebih suka mati daripada tertawan, sungguh seorang laki-laki sejati."

Cepat ia menutuk tiga tempat Hiat-to ditubuh orang itu agar dapat hidup lebih lama untuk diminta keterangan.

Namun diwaktu membunuh diri tadi laki-laki berkedok itu sudah menggunakan tenaga dalam untuk memutuskan urat nadi sendiri hingga usaha Cu-mu itu sia-sia belaka.

Cu-mu merasa sayang takdapat memperoleh pengakuan dari pe-cundangnya itu.

Segera ia singkap kedok orang untuk dilihat siapakah gerangan yang sebenarnya.

Tapi ia menjadi terkejut melebihi Tiong-lian tadi waktu mengenali Kaso.

Keruan Tiong-lian ikut terperanjat, cepat ia tanya.

"Kenapakah, Koko? Siapakah dia?"

Setelah Cu-mu tenangkan diri, kemudian jawabnya dengan pelahan.

"Dia. dia bukan lain adalah utusan negeri Kunbran itu!"

Keterangan inipun membikin Tiong-lian ter-heran.

Sungguh susah untuk dimengarti, masakah seorang duta terhormat dari negeri tetangga bisa menjadi maling pencuri harta pusaka tuan rumahnya?

"Salah dia sendiri berani sembarangan menggerayangi milik kita, dosanya itu pantas ditebus dengan kematiam, engkau toh tidak salah membunuhnya,"

Ujar Tiong-lian.

"Soalnya bukan dia salah atau tidak, tapi yang kupikirkan ialah cara baga.mana harus bicara pada raja mereka,"

Kata Cu-mu dengan tersenyum getir.

"Dia adalah wakil rajanya untuk menyampaikan selamat padaku, tapi sekarang aku telah membunuhnya, kalau kejad"ian ini tersiar, mungkin akan terjadi huru-hara!"

"Apa kau tidak dapat menjelaskan duduknya perkara kepada raja Kunbran?"

"Kejadian ini sangat memaluan kehormatan negeri Kunbran, mana boleh kubicarakan secara terbuka? Apakah aku dapat mengatakan terus terang pada rajanya bahwa utusannya ini telah menjadi maling dan telah kubunuh? Coba pikirkan bagaimana reaksi mereka jika mendapat jawabanku ini?"

"Ya, percaya atau tidak akan keterangan ini, Iahirnya tentu mereka akan menyangka!!"

"Tidak cuma Itu saja, bahkan dari malu dia akan menjadi gusar dan menuduh kita telah mengh"na kehormatan negara mereka serta membunuh utusannya dengan maksud tertentu. Dan akibatnya tentu kedua negara akan terjadi perang."

"Wah, kan serba sulit "ini? Sudah terang mereka yang salah, mengapa kita yang kuatir dituduh malah? Bukankah terlalu penasaran bagi kita? Habis, bagaimana pendapatmu, Koko?"

"Aku justeru lagi memikirkan tindakan apa yang harus kulakukan,"

Sahut Cu-mu dengan tersenyum getir.

"Koko,"

Tiba-tiba Tiong-lian berkata pula.

"menurut pandanganmu, apa tidak mungkin Kaso telah bersekongkol dengan raja Kunbran dan sebabnya utusan ini berani masuk kegudang pusaka negara kita ini untuk mencuri. mungkin juga atas perintah alasan saja?"

Cu-mu mengerut kening, sahutnya.

"Yang kuharap justeru mudah-mudahan perbuatan utusan ini adalah tingkah-laku pribadinya saja dan tiada sangkut-paut apa-apa yang raja mereka, kalau sebaiiknye, wah. tentu urusan bisa runyam. Bukanlah aku jeri kepada negeri Kunbran, tap. peperangan yang disebabkan oleh kejadian yang tak keruan jenterungannya ini benar-benar akan merugikan rakyat dan harus disayangkan."

Tiong-lian terdiam, iapun merasa serba sulit. Sesudah Cu-mu mondar-mandir sejenak sambil memikir, tiba-tiba ia berkata.

"Jalan lain tidak ada kecuali mesti ditempuh cara ini."

"Cara bagaimana?"

Tanya Tiong-lian cepat.

"Tentang duduk perkara ini harus kita jelaskan dengan terus terang,"

Tutur Cu-mu.

"tapi hal ini takkan dilakukan melalui surat-surat dinas antara kedua negara, juga tidak diumumkan secara terbuka diantara kedua pemerintah. Tapi aku pikir harus segera mengirim seorang utusan kenegeri Kunbran sana untuk bertemu sendiri dengan raja mereka."

Boleh juga cara ini,"

Ujar Tiong-lian.

"Tapi masih ada persoalannya,"

Kata Cu-mu.

"Persoalan apa lagi?"

Cu-mu menghela napas, sahutnya.

"Pabila Toako masih berada disini tentu kita tidak perlu merasa susah lagi."

"O. apa kau hendak memilih seorang yang cerdas tangkas untuk diutus kesana?"

Tanya Tiong-lian.

"Benar. Tapi calon orang inilah yang susah dipilih. Diantara pembesar juga banyak yang cerdas dan setia, tapi sayang mereka tidak paham ilmu silat,"

Cu-mu menggosok-gosok kedua tangannya seperti sedang memikirkan apa-apa, selang sejenak baru menyambung lagi .

"Dari tanda-tanda yang telah diketahui tampaknya hubungan negeri Kunbran dengan kita sangat luar biasa, bahkan agak aneh dan penuh rahasia. Apakah Kaso bersekongkol dengan raja Kunbran atau tidak biarpun bagaimana kita juga harus waspada. Andaikan kita kirim utusan kesana apakah raja Kunbran mau menerimanya sendiri atau akan sengaja mempersulit, hal inipun susah diramalkan. Pendek kata dalam hal-hal ini kita harus menjaga sekali kemungkinan."

"Jika demkian. memang kita memerlukan seorang cerdas tangkas sebagai Toako untuk memikul tugas berat ini."

Kata Tiong-lian.

"Sebab dengan kepandaiannya yang tinggi itu, andaikan terja-di apa-apa juga ia sanggup melepaskan diri dari kepungan musuh, sebaliknya kalau perindia dapat bertindak menurut gelagat untuk menyelidiki kedua soal yang mencurigakan seperti uraianmu tadi"

"Memangnya, sebab tugas rahasia seperti ini sudah tentu susah dipercayakan kepada orang luar biar pembesar yang paling setia sekalipun."

Ujar Cu-mu.

"Cuma sayang sekarang aku adalah seorang kepala negara, tidak bebas untuk menyam sebagai duta segala".

"Eh, Koko, kalau aku Yang pergi, bagaimana?"

Tiba-tiba Tiong-lian mengajukan diri. Cu-mu menjadi heran.

"Kau, tapi kau adalah seorang Puteri............"

"Aku toh bisa menyamar sebagal lelaki, pula aku mempunyai Ih-yong-tan (pil mengubah muka. obat rias) dari Suhu."

Sahut Ttong-lian dengan tertawa.

"Tapi urusan ini bukan permainan."

Ujar Cu-mu dengan tersenyum.

sebagai seorang duta.

sudah tentu akan menarik perhatian setiap orang, dan bila sampai rahasiamu diketahui orang tentu urusan bisa runyam.

Pula untuk bertemu dengan raja Kunbran guna menerangkan duduknya perkara juga diperlukan seorang yang berpengalaman.

Apalagi dengan usiamu yang masih muda ini biarpun sudah menyamar juga susah bersikap sebagai seorang duta yang sudah berumur."

"Habis bagaimana baiknya. Toako yang kita harapkan tiada berada disini lagi."

Kata Tiong-lian dengan masgul. Ia mondarmandir untuk memikir. Sejenak kemudian, mendadak ia berseru.

"Ha. aku mendapat suatu akal""

"Akal apa?"

Tanya Cu-mu.

"Begini."

Tutur Tiong-lian.

"Tetap aku yang pergi kesana. Cuma aku bukan sebagai duta. tapi cuma sebagai pengiring duta saja. Duta yang kau kirim nanti biar membawa pengiring banyakan sedikit dan aku mencampurkan diri diantara mereka tentu takkan menarik perhatian orang. Apalagi sebagai pengiring saja tentu aku dapat bertindak lebih leluasa dan tidak banyak terikat oleh macam-macam protokol. Diam-Diam aku dapat menyelidiki pula keadaan disana."

Karena tiada jalan lain. Cu-mu menjadi agak tertarik oleh usul Tiong-lian itu. Katanyo kemudian.

"Tapi. bukankah besok kau akan berangkat bersama Suhu kembali ke Tionggoan? Pula. jika kau ikut pergi ke Kunbran. tentu akan memperlambat hari pertemuanmu dengan Hay-thian. Pula. pula kalau terjadi apa-apa yang diluar dugaan, kau adalah seorang gadis, betapapun aku akan merasa kuatir."

"Sudahlah. Koko tidak perlu pikirkan hal-hal yang takkan terjadi. sahut Tiong-lian.

"Kita adalah saudara sekandung, kau mempunyai kesulitan, sudah seharusnya aku ikut memikul kewajiban bagimu-Pula. jelek-jelek aku pun warganegara Masar. sekali aku sudah berangkat ke Tiongooan bersama Suhu. untuk seterusnya boleh jadi takkan pernah pulang seabu lagi Mumpung ada kesempatan, biar lab akn dapat mencurahkan sedikit tenagaku ini bagi tanah tumpah darahku yang kuciarai mi agar kelak bila diauri dirantau negeri erang aku akan dapat hidup dengan tenteram."

Diwaktu bicara selalu Tiong-lan bersenyum. tapi nadanya cukup tegas dan pasti. Cu-mu sangat terharu, katanya.

"Baiklah, kau benar? seorang adikku yang baik. Jika demik.an. bolehlah kau bersiap untuk berangkat besok . Karena usulnya diterima, Tiong-lian sangat girang. Tapi? ia teringat sesuatu pula, ia tanya. .Dan kotak itu apakah kau membawanya sekarang?"

"Apa kau maksudkan kolak perhiasan Yang terisi surat-surat dari negeri Kunbran itu"

Tanya Cu-mu.

"Benar, aku ingin membawanya serta, boleh jadi kelak akan berguna,"

Sahut Tiong Lian.

"Baiklah, nanti kita ambil. sekarang kita harus menyumbat rapat dulu jalan rahasia yang baru kita ketahui ini."

Lalu ia keluar untuk mengumpulkan beberapa potong batu besar dan menutup rapat-rapat lubang gua Yang dipakai melarikan diri oleh Kaso itu.

Lubang gua itu sangat sempit dan hanya tiba cukup menerobos badan seorang saja.

betapapun pandai ilmu silat seseorang juga tidak leluasa bergerak didalam.

Andaikan nanti Kaso sembuh luka-nya dan datang lagi juga susah membersihkan batu penyumbat itu.

Sesudah mereka berdua kembali kedalam istana, waktu Cumu memindahkan bantal diatas tempat tidumya hendak mengambil kotak perhiasan yang diminta Tiong-lian itu, tibatiba ia terkejut, kata-nya.

"Nyali maling ini benar-benar tidak kecil, tempatku inipun dia berani menggerayang!"

"Darimana kau tahu, Koko?"

Tanya Tiong-lian.

"Aku telah membikin sebuah kotak perhiasan yang serupa dan kusimpan dibawah bantal ini, tapi sekarang barangnya sudah hilang,"

Tutur Cu-mu.

"Mendingan, yang tulen tidak sampai hilang,"

Ujar T onglian. Waktu Cu-mu mengeluarkan kotak yang tulen, ia lihat isi kotak masih baik-baik tanpa kurang sesuatu apapun, maka legalah hatinya, ia serahkan kotak itu kepada Tiong-lian dan berkata.

"Untung aku cukup hati-hati, sebelumnya aku pikir kotak ini agak luar biasa, mungkin merupakan sesuatu benda yang juga diincar oleh sipencuri. maka aku telah menyuruh membuatkan sebuah kotak yang sama. Benar juga tempatku ini lantas digerayangi orang. Maka untuk selanjut-nya hendaklah kau juga berlaku hati-hati."

Meski kepandaian mereka cukup tinggi dan nyali cukup besar, tapi, demi mengetahui tindak-tanduk musuh yang susah diraba itu.

mau-tldak-mau mereka merasa was-was juga.

Setelah menerima kotak perhiasan itu, lalu Tiong-liaan pergi menemui Suhunya dan memberi lapor tentang maksud kepergiannya ke Kunbran.

Untuk sejenak Ci-hoa seperti teringat sesuatu.

"Kunbran?"

Ia menegas.

"Apakah negeri terletak dibalik gunung sana?"

"Benar, apakah Suhu pernah kesana?"

Tanya Tiong-lian.

"Tidak pernah. Tapi Si-ih pernah,"

Sahut Ci-hoa. Ia memikir sejenak, tiba-tiba berkata pula.

"Lian-ji. biarlah akupun ikut kau kesana."

Tiong-lian terkejut dan bergirang, serunya.

"Apa betul. Suhu? Bukankah kau buru-buru hendak pulang ke Bin-san?"

"Tentang penggabungan Kay-pang utara dan selatan sudah diselesaikan oleh Tiong-pangcu, Ek-suheng dan lain-lain, kukira urusan nya dapat berjalan dengan lancar, maka perjalananku Ini ditunda lagi sedikit hari kukira tiada berhalangan,"

Demikian sahut Ci-hoa.

"Cuma aku tdak hendak pergi bersama kau, sebaliknya aku akan berangkat harini juga, aku akan tunggu kau disana. Tapi nanti kaupun tidak perlu mencari aku, sampai waktunya aku tentu akan menemui kau."

Tiong-lian agak heran karena perubahan rencana perjalanan sang guru yang mendadak itu.

Tapi iapun tdak berani banyak ber-tanya.

Hanya dalam batin ia merasa sangat senang, sebab dengan adanya perlindungan sang guru di Kunbran nanr.

segala apa dia menjad mantap dan tidak perlu takut-takut lagi.

Besok paginya, Cu-mu memilih seorang pembesar setia yang agak tua.

cerdik dan pandai untuk diangkat menjadi duta dengan membawa 24 orang pengiring menuju kenegeri Kunbran.

Dan Tiong-lian telah menyamar sebagai salah seorang diantara 24 orang pengiring.

Waktu menghantar kepergian adiknya itu, diam-diam Cumu telah beritahukan Tiong-lian.

"Moaymoay, bolehlah kau pergi dengan hati lega, kepada Kang-suheng aku akan menyampaikan kabar tentang dirimu ini."

Tiong-lian agak heran mendengar ucapan saudaranya ini, ia tidak tahu mengapa timbul maksud demkian dari kakaknya dan cara bagaimana pula akan menyampaikan kabar kepada Kang Kay-thian, padahal Hay-thian sudah berangkat lebih dulu beberapa hari yang lalu.

Maka dengan kikuk iapun bertanya.

"Apakah kau maksudkan akan mengirim orang untuk menyusul Hay-ko dan memberikan tentang kepergianku ini? Kukira lebih baik jangan memberitahu pada-nya hingga membikin dia merasa kuatir begiku. Aku, akupun tidak ingin membikin kacau urusan negara hanya karena urusan pribadiku yang tak berarti."

"Moaymoay, aku paham perasaanmu, kau merindukan Hayko, akupun terkenang kepada Kang-suhengku,"

Kata Cu-mu dengan ter senyum.

"Cuma, tentu aku takkan membikin dia merasa susah, urus an negara dan kepentingan pribadi tentu akan kupikirkan semua."

Oleh karena dihadapan pengiring-pengiring yang lain (yang tidak tahu penyamaran Tiong-lian, kecuall pembesar yang diangkat menjadi duta), maka Cu-mu tidak enak kelihatan banyak bicara dengan Tiong-Iian, sesudah bicara sekadarnya pula kepada yang lain-lain, la lu iapun tinggal kembali keistana Walaupun begitu Tiong-lian berkata, tapi tidak urung dalam hal nya sangat terkenang kepada Kang Hay-thian.

Bila ingat bhw arah yang dituju Kang Hay-thian dan dirinya sekarang justreru berlawanan, yang satu kearah timur dan yang lain kejurusan barat, jarak keduanya makin menjauh.

Sesudah sampai dinegeri Kunbran entah apa yang akan terjadi pula dan entah kelak akan dapat bertemu tidak dengan Kang Hay-thian, bagaimana dan apa yang akan terjadi pula setiba Kang Haythian di Cui-in-ceng untuk men-jenguk Hoa In-pik?

Begitulah pikiran Tiong-lian menjadi bergolak, semuanya itu sangat makan hati, ia benar-benar dalam keadaan kusut pikiran, akhirnya sedapat mungkin ia takmau pikirkan apa-apa lagi.

ia berusaha melupakan semuanya....................................

Dalam pada itu marilah kita mengikuti perjalanan Kang Haythian bersama ayahnya.

yaitu Kang Lam.

"Setelah meninggalkan negeri Masar. siang-malam mereka melan jutnya perjalanan kearah timur. Suatu hari, sampailah mereka dikabupaten Thian-cui-koan didalam wilayah Kamsiok. daerah ini sudah termasuk pegunungan Tiong-tem-san. Hay-thian teringat pada peristiwa pertemuannya dengan Ih Siau-cun, yaitu Suhengnya Auyang Wan, pada hari Itu kebetulan adalah hari pernikahan Auyang Wan dengan Bun To-ceng, tapi Ih Siau-kun telah mendustainya hingga ia dipancing kerumah Auyang Tiong-ho, disana lantas terjadi pertarungan sengit dan mengakibat kan gugurnya Ih Siau-kun, sebelum mati ia tidak tahu kalau Auyang Jing yang telah mewakil. adiknya menikah dengan Bun To-ceng, 6ebaliknya Auyang Wan sedikitpun tidak tahu bahwa sedemikian mendalam sang Suheng itu cinta padanya. Begitulah Hay-thian terbayang-bayang akan kejadiankejadian yang telah lalu itu, prkirnya.

"Soal cinta memang benar-benar sulit dipecahkan, perubahan-prrubahannya juga sering-sering diluar dugaan orang. Ih Siau-kun sedemi-kian mencintai Auyang Wan, tapi hasilnya cuma menghela napas saja oleh nona pujaannya itu. Seballknya Yap Tiong-siau cuma pura-pura mencintai Auyang Wan, tak tersangka sesudah Auyang Jing mati, Tiong-siau dapat sadar dan kembali kejalan yang besar, dari pura-pura menjadi sungguhan, cintanya itu lantas dia katakan kepada Auyang Wan."

Teringat kepada Yap Tiong-siau dan Auyang Wan, diamdiam Hay-thian menjadl ragu-ragu, la tidak tahu apakah Auyang Wan bersama Yap Tiang-siau sudah pulang kerumahnya atau belum?

Sekarang dirtnya sudah berada disekitar rumah keluarga Auyang, apakah mesti mampir kesana untuk menjenguk mereka?

Tiba-Tiba Kang Lam menoleh dan menegur dgn tertawa.

"Hay-ji. biesanya kau berjalan lebih cepat daripadaku, mengapa sekarang ketinggalan dibelakang, apakah kau sedang memikirkan sesuatu?"

"Tidak, aku cuma teringat kepada seorang sahabat saja."

Sahut Hay-thian sambil mempercepat langkahnya untuk menyusul sang ayah.

"O. apa kau terkenang kepada adik Lian-mu?"

Kata Kang Lam dengan tertawa.

"Sekarang dia adalah Tuan Puteri yang mulia, kita memangnya tidak setimpal dengan mereka, apa yang sudah lalu anggaplah tidak pernah terjadi!"

"Tidak, Lian-moay bukan manusia yang berpikiran secupet itu,"

Ujar Hay-thian.

"Juga engkohnya takkan dumeh sudah menjadi raja lalu bersikap dingin padaku."

Mendadak Kang Lam ketawa terbahak-bahak.

"Apa yang kau tertawakan, ayah?"

Tanya Hay-thian.

"Aku bergembira atas dirimu,"

Sahut Kang Lam.

"Selamanya aku anggap rejekiku ini sudah sangat baik, siapa tahu rejekimu jauh lebih besar daripadaku. Dahulu............"

Diam-Diam Hay-thian merasa geli entah ayahnya akan barceritera kejadian-kejadian apa lagi yang menyenangkannya dahulu.

Padahal segala pengalaman sang ayah sudah sering diceritakan dan bagi Hay-thian boleh dikata sudah apa!

diluar kepala, tapi penyakit Kang Lam memang suka omong, sedlkitsedlkit lantas "dahulu"

Aku pernah ini dan "dahulu"

Aku pernah itu dan tidak habis-habis......... Tak terduga cerita Kang Lam sekali ini adalah pengalamannya yang belum pernah didengar oleh Hay-thian. Maka Kang Lam telah berkata dengan tertawa.

"Dahulu aku hanya seorang kacung saja, sebaliknya ibumu adalah Gwasunli (cucu luar) dari Tiat-ciang-kim-to Nyo Tiong-ing. itu ketua perserikatan jago-jago silat kelima propinsi daerah utara. Entah sudah berapa banyak kesatria-kesatria muda yang telah mengajukan lamaran kepada ibumu, tapi ibumu tidak mau, sebaliknya hanya aku yang disukai. Biar kaupun mengetahui bahwd nenekmu itu dahulu malah enggan juga menjodohkan puterinya padaku. Kemudian karena kewalahan menghadapi maksud ibumu yang kukuh, akhirnya beliau-pun terima dengan baik. Nah, coba katakan, rejekiku bukankah sangat besar". Sifat Kang Lam memang suka berkelakar, terhadap puteranya juga begitu, apa yang ingin dikatakan lantas mencerocos, sedikitpun tidak berlagak sebagai ayah yang keren. Maka Hay-thian telah menjawab dengan menahan tawa.

"Ya, rejeki ayah memang tidak jelek."

"Hm.tapi rejeki kau bocah ini malah jauh lebih bagus daripadaku,"

Jengek Kang Lam.

"Ha, selamanya aku tidak pernah mengaku kalah kepada siapapun, tapi sekali ini aku harus mengaku kalah kepada puteraku sendiri. Ibumu adalah cucu luar Bu-lim-bengcu (ketua perserikatan jago-jago silat), dia suka padaku, hal ini sudah diuar dugaan siapapun. Tapi sekarang, haha, sungguh tidak nyana seorang Puteri kerajaan juga menyukai kau, bukankah rejekimu jauh lebih besar daripadaku?"

Mau-tak-mau Hay-thian tertawa geli juga atas banyolan ayahnya itu.

Tapi ia pikir apakah hubungannya dengan Tiongl"an itu dapat dikatakan karena rejekinya yang besar?

Mereka adalah kawan memain sejak kecil, jadi sudah suka sama suka sejak dahulu.

Tapi soal asmara kaum muda sebagai mereka itu sudah tentu tidak enak untuk dibicarakannya dengan ayahnya.

Tiba-Tiba Kang Lam bikin kereng sikapnya dan berkata pula sambil tunjuk Hay-thian.

"Kau dengarkan baik-baik, dahulu, aku tahu ibumu telah menyukai aku, maka akupun lantas balas cintanya dengan hati yang bulat, selama hidupku ini tidak pernah main gila lagi dengan wanita kedua di dunia ini, bahkan dalam benakku juga tidak pernah timbul pikiran yang menyeleweng. Dalam segala hal aku kalah daripada puteraku, hanya keteguhan imanku inilah harus kau tiru, kau masih harus belajar dari aku."

Hay-thian menjadi serba runyam tanpa sebab diberi ceramah Itu, terpaksa ia hanya mengiakan belaka. Tiba-Tiba Kang Lam tertawa pula dan berkata.

"Tapi Tuan Pu-teri orang memang benar-benar suka padamu, maka kau juga harus suka padanya dengan hati yang bulat dan jangan sekali-sekali pikirkan nona lain supaya tidak menimbulkan kesukaran-kesukaran. Nah, de-ngar tidak kau?"

"Haaa!"

Hay-thian terkesiap mendadak, sebab saat itu ia memang sedang teringat kepada kejadian dahulu mengenai Au-yang Wan itu. Ia pikir.

"Apa Yang dikatakan ayah juga ada betulnya. Meski aku tidak punya pikiran apa-apa terhadap nona Auyang, tapi bila bertemu dengan dia toh takkan terhindar dari kenangan kejadian-kejadian yang lalu. Sekarang dia sudah mendapat jodoh yang setimpal dengan Yap Tiongsiau, buat apa aku mesti mengacaukan pikirannya lagi. Ya, lebih baik janganlah aku pergi menjenguk mereka."

Setelah ambil keputusan itu, ia tidak ragu-ragu lagi, segera ia mengayun langkah dan sebentar saja sudah mendahului didepan sang ayah.

Pada saat itu juga, tiba-tiba tertampak dua penunggang kuda sedang mendatangi dengan cepat, kedua penunggang kuda itu membawa senjata semua, sekali pandang saja segera dapat diketahui mereka adalah orang-orang gagah dari Kangouw.

Ketika kedua penunggang kuda itu lalu disamping Kang Lam berdua, kedua penunggang itu mengamat-amati sekejap pada mereka dengan agak heran, tapi dengan cepat merekapun sudah lewat.

"Ssssst, kedua orang ini aku kenal, mungkin mereka tidak ingat lagi padaku,"

Demikian Kang Lam membisiki puteranya.

"Siapakah mereka?"

Tanya Hay-thian.

"Yang lebih tua adalah Sutenya Beng Sin-thong, namanya Yang Jik-hu, dan yang lebih muda adalah seorang begal besar dan terkenal di Kangouw, namanya So Sim berjuluk "Say Jin kui" (si Sik Jin Kui), terhitung juga begundalnya Beng Sinthong. Dahulu mereka juga ikut dalam pertandingan dengan berbagai jago silat di Jian-ciang-peng diatas Ko-san. Tatkala itu aku-pun hadir disana, tapi mungkin aku cuma seorang "Bubeng-siau-cut" (perajurit tak terkenal), makanya tak diperhatikan mereka."

"Jika begitu, mereka adalah dua tokoh yang tidak sembarangan"

Ujar Hay-thian.

"Memang betul, terutama Yang Jik-hu itu, sejak Beng Sinthong mati, selama belasan tahun ini jejaknya tak diketahui, siapa duga harini telah muncul kembali disini". Tidak jauh mereka meneruskan perjalanan, berturut-turut ada tujuh atau delapan penunggang kuda lain yang melampaui mereka lagi, daridandanan orang-orang itu dapat tertampak dengan jelas bahwa semuanya itu adalah jago-jago dari berbagai golongan dan aliran, ada juga yang dikenal Kang Lam dan saling menyapa dengan dia, tapi perjalanan mereka rupanya tergesa-gesa, maka tanpa bicara terus melarikan kuda mereka kedepan.

"Aneh, di sekitar Cong-lam-san ini biasanya jarang didatangi orang, mengapa harini kita ketemukan tokoh-tokoh Kangouw sebanyak "ini?"

Demikian kata Kang Lam dengan heran.

"Siapakah orang yang menyapa ayah tadi?"

Tanya Haythian.

"Kim Jit-sian,"

Sahut Kang Lam. Hay-thian terkesiap mendengar nama itu. Katanya.

"Suhu pernah menyebut nama orang ini. katanya dia mempunyai bakat yang sangat bagus, boleh dikata seorang kosen di dunia persilatan."

"Ya, dalam pertandingan di Jian-ciang-peng dahulu pamanmu Thian-ih pernah telan kekalahan dari dia,"

Tutur Kang Lam.

"Tapi kemudian Suhumu diam-diam telah membantu aku hingga dia kubanting terjungkal, sebab itulah dia kenal padaku. Tampak-nya dia dapat berpikir dengan lapang, apa yang sudah lalu mungkin dianggapnya sudah selesai dan tidak dendam lagi padaku. Orang ini bokh dikata seorang tokoh yang berdiri diantara Sia-pay (golongan jahat) dan Cing-pay (golongan baik)."

Begitulah .sambil bicara sambil berjalan, kedua ayah dan anak itu merasa sangat heran akan tokoh-tokoh yang dilihatnya itu.

Tidak lama kemudian sampailah mereka di suatu jalan simpang tiga.

Inilah tempat Kang Hay-thian bertemu dengan Ih Siau-kun dahulu.

Tiba-Tiba datang pula dua penunggang kuda secepat terbang, sesudah dekat, mendadak mereka berhenti didepan Hay-thian dan berseru.

"He, bukankah kau ini Kang-siauhiap?"

Penegur itu adalah seorang tua dengan kawannya wanita tua, Hay-thian lantas balas menyapa.

"Kiranya Han-locianpwe adanya, tak terduga harini dapat bertemu disini!"

Kiranya penegur itu adalah bekas Congpiauthau (pemimpin umum) dari Tin-wan Piaukiok di Pakkhia (Peking), Han Soan.

Dan wanita tua itu adalah isterinya, Tiat-wan-yang Han-toanio.

Sebagai diketahui, di Cui-in-ceng, ditempat kediaman In Ciau dahulu Hay-thian telah kenal mereka.

Maka Hay-thian lantas perkenalkan ayahnya.

"Inilah Han-locian-Mengetahui kawan Hay-thian itu adalah ayahnya, segera Han Soan menyapa pula dan memberi hormat. Lalu ia tanya.

"Mengapa kalian juga sudah mendapat kabar? Apakah Km-tayhiap juga sudah datang?"

Meski Han Soan belum pernah kenal Kang Lam, tapi ia sudah dengar Kang Lam mempunyai hubungan baik dengan Kim Si-ih. Sebaliknya Kang Lam menjadi bingung, ia balas tanya.

"Kabar tentang apa?"

"Bukankah kalian akan pergi ketempat keluarga Auyang?"

Han Soan menegas.

"Bukan, kami hendak ke Cui-in-ceng untuk menyambangi In-cengcu,"

Sahut Kang Lam.

"Sebab ayah angkat puteraku ini, yaitu Hao-san-ih-un kini sedang tetirah d rumah In-cengcu sana."

"O, kiranya kalian masih belum tahu akan kabar ini, tapi kebetulan juga. kalian menjadi tidak perlu kesana lagi, harini juga kalian akan dapat bertemu dengan In-cengcu, diapun sudah datang kemari!"

Demikian tutur Han Soan. Sudah tentu Kang Lam tidak tahu duduknya perkara, -ia tanya pula.

"Beramai-ramai kalian datang kesini sebenarnya ada urusan apa, dapatkah memberitahu?"

Han Soan tertawa, sahutnya.

"Urusan ini boleh kau tanya saja kepada puteramu."

Hay-thian tersadar akan duduknya perkara, hatinya tergetar, cepat ia tanya.

"Apakah kedatangan In-cengcu ini adalah untuk berurusan dengan Auyang Tiong-ho?"

"Sasaran utama sebenarnya adalah bangsat cilik she Yap itu, cuma Auyang Tiong-ho sekeluarga sudah tentu takdapat kita ampuni pula,"

Sahut Han Soan.

"Harini yang menjagoi mereka justeru adalah Auyang Pek-ho dan Kui-ho bertiga saudara. Sebaliknya dipihak kita adalah In-cengcu dan aku. Haha. sangat kebetulan kedatangan kalian ini, rasanya aku tidak perlu minta bantuan kalian lagi, bukan?"

Kiranya kedatangan In C"au ke Cong-lam-san ini adalah hendak membalas dendam putera-puterinya.

Seperti diketahui, tempo hari ln Bik telah dilukai Yap Tiong-siau dengan Tay-seng-pan-yak-ciang dan jiwa mereka hampir melayang, untung Hoa Thian-hong telah memberi obat pada mereka dan berkat bantuan Hay-thian yang memberikan darah bagi mereka barulah jiwa mereka dapat diselamatkan.

Sekarang kesehatan In Khing dan In Bik sudah pulih kembali, In Ciau juga mengetahui bahwa dahulu Yap Tiongsiau berada bersama puterinya Auyang Tong-ho, yaitu Auyang Wan, tapi asal-usul Tiong-siau belum diketahui, maka yang dituju lebih dulu adalah tempat kediaman Auyang Tiong-ho.

Adapun mengenai Han Soan adalah karena barang kawalannya telah dirampok sehingga Tin-wan Piaukiok telah bangkrut, lantaran itu ia sengaja datang kewilayah barat itu untuk membalas dendam.

Seperti diketahui juga didaerah ini Han Soan berdua telah kebantrok dengan Yap Tiong-siau, akibatnya Han-toanio dilukai pula oleh Tiong-siau.

Walaupun Tiong-siau bukan biangkeladi da ri perampokan barang kawalan Tin-wan Piau-kiok itu, tapi Han Soan anggap Tiongsiau adalah sekomplotan dengan bandit wanita yang merampas Piau itu.

pula isterinya telah dilukai pula, maka sekarang merekapun ikut-ikutan hendak balas dendam kepada Tiong-siau.

Namun bagaimanapun juga baik In Ciau.

Han Soan maupun Auyang Tiong-ho, semuanya adalah tokoh-tokoh Kangouw yang terkenal, mereka tidak mau bertarung secara sembarangan, maka kedua pihak telah berjanji dan menetapkan hari tertentu, kedua pihak juga mengundang bala bantuan untuk menghadap.

pertandingan yang akan dilakukan itu.

Dan harini adalah hari yang ditetapkan itu.

Tentang kejadian-kejadian itu cukup diketahui oleh Kang Hay-thian.

keruan ia menjadi kuatir.

Dasar watak Hay-thian memang jujur, meski iapun pernah telan pil pahit dari Yap Tiong-siau, tapi sejak Tiong-siau dari lawan berubah menjadi kawan, semua urusan yang tidak menyenangkan dahulu itu sudah dilupakannya.

Siapa tahu sekarang Han Soan justeru mengungkat kejadian-kejadian dahulu itu dan orang yang hendak diajak bikin perhitungan adalah Yap Tiong-siau, tentu saja Hay-thian kuatir dan terkejut.

Sebaliknya Han Soan menjadi senang, katanya pula.

"Kami sedang kuatir kurang bala bantuan, kebetulan Kang-siauhiap keburu datang, sekali ini kita sudah pasti akan menang."

Diam-Diam Hay-thian menjadi ragu-ragu.

"Yap-toako sekarang sudah kembali kejalan yang benar, harini dia ada kesulitan, jika aku tidak berdaya untuk menyelesaikan persengketaan ini. kelak cara bagaimana aku harus bicara dengan Lian-moay?"

Han Soan menjadi hrran melihat Hay-thian agak ragu-ragu, ia menegas.

"Kang-siauhiap, apakah kau tidak sudi membantu kami? Bukankah tempo dulu engkau sendiri juga menyaksikan kedua kakak-beradik she In itu dilukai bangsat she Yap itu?"

"Ya tetapi menurut pendapat Wanpwe, permusuhan sebaiknya ditiadakan daripada dipertajam, maka, maka..........................."

Demikian sahut Hay-thian dengan ragu-ragu Belum habis ucapannya, mendadak Han Soan sudah gusar, dengan suara keras ia memotong.

"Untuk meredakan permusuhan ini juga tidak sulit asalkan dia mengganti sebuah Tin-wan Piaukiok padaku dan mengganti belasan jiwa kawanku............"

"Ditambah pula sepasang kaki dan, hehe, juga nama baik kita suami-isteri selama ini............"

Demikian mendadak Hantoanio menyela sambil mendekati dengan kaki pincang.

Kedua kakinya itu justeru adalah Yap Tiong-siau yang melukainya.

Muka Hay-thian menjadi sebentar pucat dan sebentar merah, ia menjadi bungkam pula atas serangan-serangan kata-kata Han Soan berdua.

Diam-Diam iapun mengakui perbuatan Yap Tiong-siau dahulu itu memang agak terlalu kejam, sudah membunuh beberapa puluh orang Piaukiok, bahkan melukai pula Han-toanio dan putera-puterinya In Ciau, terang permusuhan iai sudah sangat mendalam.

Apalagi orang Bu-lim sangat mengutamakan nama dan kehormatan, lebihlebih tokoh seperti Han Soan dan ln C"au, mana mereka mau terima hinaan mentah-mentah?

Begitulah Kang Lam lantas menimbrung demi melihat puteranya tidak berani menjawab ucapan-ucapan Han Soan katanya.

"Bocah ini masih hijau dan sembarangan omong, hendaklah Han-congpiau-thau jangan marah. Tentang bangsat she Yap itu, jika memang perbuatannya begitu jahat, sudah sepantasnya kalau dia harus mem pertanggungyawabkan perbuatannya sendiri itu. Hay-thian, kau pernah terima budi kebaikan dari In-cengcu, sudah seharusnya kau mesti pergi untuk membantunya. Jika kau tidak pergi, pasti aku yang akan pergi!"

Sudah tentu Kang Lam tidak tahu siapakah bangsat cilik she Yap yang dimaksudkan itu, sebab sebegitu jauh Hay-thian tidak pernah menceritakan tentang Yap Tiong-s.au, yaitu mengingat sifat sang ayah yang suka omong itu, jadi maksud Hay-thain tdak ingin perbuatan-perbuatan Yap Tiong-siau yang salah dimasa lalu itu tidak tersiar.

Maka air muka Han Soan kel"batan tenang kembali, iapun merasa ucapannya tadi agak terlalu pedas, maka berbalik ia mendekati Kang Hay-thian, katanya dengan tersenyum.

"Kang-siauhiap, kalau orang lain yang bicara seperti kau tadi tentu akan kutuduh sebagai begundal bangsat she Yap itu. Tapi engkau sendiri sudah pernah bertempur dengan bangsat cilik itu, pula kakak beradik she In itu juga kau yang menolong mereka, maka aku tidak kuaur kau akan membela pihak bangsat she Yap itu. Ya, kutahu kau cuma bermaksud baik saja, mungkin kau kuatir kami takkan sanggup melawan pihak musuh, maka ingin mendamaikan persengketaan ini. Tapi boleh kau jangan kuatir, biarpun pihak lawan terdapat banyak jago-jago pilihan, sebaliknya pihak kita juga tidak kurang tokoh-tokoh terkemuka, untuk bicara terus terang, kita sudah sedia payung sebelum hujan dan siap menghadapi segala tantangan. Dari itu, jika Kang-siauhiap sudi membantu bolehlah ikut serta, sebaliknya kalau tidak, maka akupun tidak ingin memaksa."

Sebagai seorang Kangouw yang ulung, omongan Han Soan itu sesungguhnya berduri dan sangat tajam.

Sebab pada umumnya orang Bu-lim tentu mempunyai pergaulan yang sangat luas dan mempunyai persahabatan dengan segala lapisan.

Diketahuinya ilmu silat Yap Tiong-s.au sangat tinggi, dengan sendirinya gurunya dan sahabat-sahabatnya tentu juga bukan kaum sembarangan.

Maka Han Soan men jadi kuatir jangan-jangan Kang Hay-thian telah dihubungi oleh orang-orang tertentu dan sekarang hendak mendamaikan perkara Yap Ticng-s"au itu.

Karenanya iapun mendahului mengeluarkan ucapan yang menusuk untuk membikin buntu kemungkinan usaha Kang Hay-thian itu.

Meski dimulut ia menyatakan terserah kepada Kang Hay-thian akan membantu dia atau tidak, tapi sesungguhnya ia hendak membikin Haythian terpaksa harus berdiri dipihaknya.

Sebaliknya Hay-thian juga kenal watak Han Soan suami ysterl itu sangat keras, sangat berangasan, biasanya dirinya juga tiada hubungan baik apa-apa dengan mereka, untuk menasihati mereka tentunya juga susah.

Tapi In-cengcu mempunyai hubungan sangat baik dengan dirinya, In-cengcu telah merawat penyakit ayah angkat-nya dan ayah angkat dan dirinya juga telah menyembuhkan putera-puternya In-cengcu.

Jadi masing-masing sama-sama utang budi.

Biasanya Incengcu juga sangat sayang padanya.

maka lebih baik nanti bicara sendiri saja dengan jago tua itu.

Setelah ambil keputusan demikian, lalu ia berkata dengan tertawa.

"Memangnia akupun akan pergi menemui In-cengcu dan Gi-huku, sekarang kita sudah bertemu disini, masakah aku tidak jadi kesana malah? Bicara tentang membantu pertandingan itu, jikalau para Locianpwe sudah ikut tampil kemuka, masakah masih perlu tenagaku yang tiada artinya ini?"

"Hahahaha! Kang-siauhiap terlalu rendah hati saja,"

Kata Han Soan dengan terbahak.

"Kabarnya Gihumu juga pernah diselomoti siluman cilik dari keluarga Auyang itu, entah harini Gihumu akan ikut hadir atau tidak? Jika tidak datang, bila kau mesti mewakili Gihumu, mustahil jika kau hanya akan berpeluk tangan saja tanpa ikut campur?"

Hay-thian menjadi kesal pula mendengar Auyang Wan juga disinggung-singgung. Tapi iapun tidak leluasa buat membela nona itu. Ia sangat terkenang kepada ayah angkatnya, maka ia lantas tanya.

"Apakah kesehatan Gihuku belum pulih seluruhnya? Mengapa Han-locianpwe mengatakan beliau belum pasti akan ikut hadir?"

"Kesehatan Hoa-Io-enghiong sih sudah Iama pulih kembali,"

Sahut Han Soan.

"Cuma dia sangat kuatirkan kebun obatobatannya, maka pada bulan yang lalu sesudah menghantar keberangkatan puteri-nya, besoknya beliau lantas pulang juga ke Hoa-san. Eh, ya! Bukankah nona Hoa pergi menghadiri pertemuan di Kim-eng-kiong sana, masakah kalian tidak bertemu dengan dia?"

Hati Hay-thian terguncang, lekas-lekas ia menjawab dengan samar-samar.

"Ya, memang sudah ketemu, tapi sesudah selesai pertemuan Kim eng-kiong itu nona. Hoa lantas berangkat pergi pula secara tergesa-gesa sehingga aku tidak sempat adiak bicara dengan dia."

"Ya, nona Hoa itu memang seorang anak berbakti, karena kuatir ayahnya kesepian dan memikirkan dia, maka Iekas-Iekas ia menyusu pulang ke Hoa-san,"

Demikian kata Han Soan.

"Tapi dia memiliki elang raksasa sebagai alat kendaraan yang jauh lebih cepat daripada kuda lari. Pabila Hoaloenghiong tahu kan pertandingan harini dan bila nona Hoa sudah pulang sampai di rumah, tentu mereka ayah dan anak akan memburu kemari dengan menumpang elang raksasa mereka."

Perasaan Hay-thian menjadi tambah kusut, sebenarnya ia memang ingin bertemu dengan Hoa In-pik, tapi jika nona itu datang kesini, ia justeru tidak ingin menemuinya ditempat demikian ini, sebab kalau mereka bertemu di Cui-in-ceng tanpa diganggu orang luar, tentu mereka dapat bicara lebih asyik dari hati ke hati dan segala urusan akan jauh lebih gampang dikemukakan dan memperoleh pengartian masingmasing Sebaliknya kalau mereka bertemu di medan pertandingan dirumah keluarga Auyang itu, tentu akan susah baglnya untuk bicara secara mendalam.

Apalagi kalau In-pik salah paham lagi dan kembali tinggal pergi seperti apa yang sudah terjadi di Kim-eng-kiong itu, tentu urusan akan tambah runyam lagi.

Tapi dalam keadaan demikian terpaksa ia harus pergi kesana juga, ia benar-benar kusut pikiran menghadapi urusanurusan Yap Tiong-siau, Auyang Wan dan Hoa In-pik yang ruwet bagai benang bundel itu.

Perjalanan yang tidak jauh lagi itu dalam waktu singkat seja sudah sampai.

Hay-thian merasa terharu mendatangi tempat lama ini, keadaan tempat tetap, tapi urusan dan orangnya sudah banyak berubah.

"He, bukankah ini Kang-siauhiap?"

Demikian tiba-tiba ada orang berseru.

Lalu tertampak In Khing dan In Bik berdua saudara telah memapak keluar.

Menurut peraturan Bu-lim, meski tempat ini adalah rumahnya Auyang Tong-ho, tapi diantara dua pihak yang bertanding terhitung tuan rumah semua, maka In Ciau juga mengatur orang nya didepan rumah untuk terima kawan pihaknya sendiri yang datang membantu.

Begitulah In Khing berdua sangat girang atas kedatangan Kang Hay-thian.

Segera In Bik menyapa.

"Apa kau baru datang dari Kim-eng-kiong? Tentu kau telah unjukan kepandaianmu yang hebat itu. Kabarnya ilmu silat Po-siang Hontsu itu maha sakti, siapakah yang telah mengalahkan dia?"

"Hay-thian sudah mengempurnya satu babak dan tiada yang menang dan kalah."

Timbrung Kang Lam dengan berseriseri.

"Kemudian Kim-tayhiap datang dan sekali turun tangan lantas tundukkan lawan."

In Bik ikut girang, serunya.

"Ayahku memang sudah menduga kau pasti akan segera terkenal dengan kepandaianmu yang hebat ini, dan benar saja kau tidak mengecewakan harapan ayahku."

Tiba-Tiba In Khing juga bertanya dengan wajah kemerahmerahan.

"Apakah kau sudah melihatnya?"

"Yang dimaksudkan engkohku ialah nona Kok,"

Demikian In Bik menambahkan dengan tertawa.

Hati Hay-thian mendebur dan melengak sekejap.

ia tahu apa yang dimaksudkan In Khing itu.

Ia tahu In Khing diam?

mencin-tai Kok Tiong-lian.

untuk ini ia benar-benar serba sulit memberi pen-jelasan.

Terpaksa ia menjawab dengan samarsamar.

"Ya. sudah ketemu dan telah kusampaikan salammu padanya!"

Dalam pada itu dengan berseri-seri Kang Lam lantas mencerocos pula.

"Wah, mereka malah pernah tinggal bersama-sama selama setengah bulan di suatu pulau kecil. Nona Kok itu sekarang adalah puteri kerajaan Masar. Ha, kejadian-kejadian aneh itu sungguh susah untuk diduga orang sebelumnya......"

"Ayah, kita sudah sampai ditempat pertemuan,"

Demikian Hay-thian menyela.

"Ya. sekarang tiada waktu, nanti bila urusan sudah selesai tentu akan kuceritakan pengalaman? disana,"

Ujar Kang Lam dengan tertawa.

"Sungguh aneh sekali pengalaman anakku ini, rejekinya juga sangat besar."

Melihat cara bicara Kang Lam yang kegirangan itu.

dikatakan pula bahwa Kang Hay-thian telah tinggal bersama dengan Kok Tiong-lian selama setengah bulan, mau-tidak-mau In Khing menjadi sangsi, lapat-lapat iapun dapat menduga beberapa bagian apa yang sudah terjadi.

Tapi dasar sifatnya pemalu, sedang Kang Lam tergolong angkatan tua pula.

maka ia tidak berani banyak menania meski dalam hati penuh tanda tanya.

Adapun kalangan pertandingan itu ternyata diadakan dilapa-ngan latihan keluarga Auyang, tempatnya sangat luas, kedua sis"

Lapangan itu ada panggung beratap.

Pihak In Ciau menduduki panggung sebelah timur dan pihak Auyang Tiongho berada disisi barat, kedua panggung itu sudah penuh orang.

Walaupun pertandingan ini tidak sebesar Kim-eng-kiong, tapi tokoh-tokoh yang ikut hadir juga tidak sedikit.

Bahkan kalau bicara tentang jago-jago dari Tionggoan boleh dikata lebih banyak dari pada yang hadir di Kim-eng-kiong.

Sebab letak Kim-eng-kiong itu terlalu jauh, meski penuh juga dihadiri tokoh-tokoh persilatan, tapi.

yang berasal dari Tionggoan paling-paling cuma beberapa puluh orang saja.

Sebaliknya yang hadir sekarang sedikitnya masing-masing pihak ada ratusan orang.

Hay-thian memandang sekytarnya, lalu bertanya dengan pelahan.

"Dimanakah nona Hoa?"

In Bik melengak sekejap, lalu menyahut.

"Aku justeru ingin tanya kau, sekarang malah kau tanya aku. Nah, itu Gihumu sudah datang, boleh kau tanya beliau saja."

Maka tertampaklah Hoa Thian-hong sedang keluar dari panggung sebelah timur sana.

Cukup banyak diantara hadirin yang kenal Kang Lam, maka sebelumnya sudah ada orang memberitahukan Thian-hong tentang diri Kang Lam.

dairi itu Thian-hong lantas bersalaman dulu dengan Kang Lam dan kemudian baru tanya Hay-thian.

"Mengapa cuma kau sendiri yang kembali? Di manakah Pik-ji?"

Hay thian terkejut, sahutnya.

"Kusangka Pik-moay sudah pulang malah?"

Thian-hong menjadi heran, tanyanya pula.

"Mengapa kalian tidak-berada bersama?"

"Ketika pertemuan di Kim-eng-kiong selesai, Pik-moay lantas... lantas terbang pergi menumpang Sin-eng (elang sakti) dan aku pun belum tahu sebab apa dia buru-buru berangkat,"

Sahut Hay-thian dengan bingung. Thian-hong mengerut kening, katanya kemudian.

"Inilah aneh. Padahal sudah kupesan agar dia pulang bersama kau. Ah, barangkali dia melihat kau masih sibuk, maka pulang dulu sendirian. Tapi seharusnya iapun sudah sampai disini dengan menumpang elang."

Hay-thian terkejut pula.

ia kuatirkan keselamatan Hoa Inpik dan susah juga untuk memberi penjelasan kepada Hoa Thian-hong.

Sebaliknya Thian-hong juga merasa urusan agak ganjil.

Tapi belum lagi sempat ia tanya lebih jauh, sementara itu tertampak In Ciau sudah-berdiri dan mulai bicara dengan Auyang Pek-ho.

Suasana kalangan pertandingan itu seketika menjadi sunyi senyap.

Dengan suara lantang sebagai bunyi genta In Ciau berkata sambil tunjuk putera-puterinya.

"Ini adalah puteraku In Khing dan yang itu adalah puteriku In Bik, bulan tiga tahun ini ketika berburu dilereng Ki-lian-san mereka telah bertemu dengan seorang bernama Yap Tiong-siau dan tanpa sebab mereka telah dilukai hingga sangat parah. Tatkala itu orang she Yap itu berada bersama keponakan perempuan Auyang-cengcu. Sebab itu, maksud Lohu sekarang ialah ingin belajar kenal dengan kesatria muda she Yap itu."

"Dan akupun ingin mencari orang she Yap itu,"

Segera Han Soan menyambung.

"Aku tidak pandai bicara, maka biar kukatakan terus terang. Bangsat cilik she Yap itu telah merampok barang kawalan Tin-wan Piaukiok kami dan membunuh 32 jiwa orang kami sehingga terpaksa Piaukiok kami gulung tikar. Maka sekarang akupun ingin bikin perhitungan dengan bangsat itu. Nah, Auyang-cengcu, sebaiknya lekas-lekas kau suruh bangsat she Yap itu tampil kemuka saja!"

Keterangan Han Soan itu membuat para hadirin menjadi geger, mereka saling bertanya asal-usulnya Yap Tiong-siau itu?

Mengapa berani melukai putera-puterinya In Ciau dan merampas barang kawalan Tin-wan Piaukiok pula?

Selesai Han Soan bicara.

selagi jawaban Auyang Pek-ho dinantikan.

tiba-tiba tampil ketengah seorang laki-laki setengah umur dan berseru.

"Nanti dulu, akupun ingin bicara sedikit. Tentang asal-usul orang she Yap itu aku mengetahuinya!"

Han Soan kenal pembicara ini adalah jago silat terkenal di daerah Kanglam, namanya Nyo Lin. Maka terdengar No Lin lagi meneruskan.

"Yap Tiong-siau itu adalah putera pungut guruku, Yap Kun-san, dan aku adalah Ciangbun Suhengnya!"

Diam-Diam In Ciau mengerut kening, para hadirin juga merasa Nyo Lin ini terlalu tidak kenal gelagat.

Orang lagi hendak saling gebrak urusan Yap Tiong-siau, tapi dalam saat demikian orang she Nyo ini telah tampil kemuka untuk memikul tanggung-jawab yang dimintakan dari Auyang Pek-ho itu.

Maka dengan nada dingin Han Soan berkata.

"Jika demikian, jadi Nyo-heng secara sukarela hendak memikul kewajiban membersihkan perguruanmu? Itulah lebih bagus lagi, nah, silakan kau panggil keluar Sutemu itu dan beri hukuman setimpal menurut perguruan kalian. Nyo-heng adalah seorang kesatria cemerlang, rasa.nya"

Tidak nanti membela Sute sendiri yang membikin malu perguruanmu itu."

Dengan ucapan"

Yang tajam ini tegas-tegas Han Soan minta Nyo Lin menghukum mati Sutenya itu. kalau tidak, maka urusan ini terang tidak bisa diselesaikan. Tak terduga Nyo Lin lantas menjawab.

"Selama belasan tanun ini aku sendiri justeru ingin mencari jejak Suteku itu. Dia menghilang pada umur lima tahun, pada malam hilangnya itu guruku juga tewas ditangan musuh. Sungguh aku sangat sedih, tentu Suteku yang diculik penjahat itu akhirnya telah tersesat sehingga melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak pantas itu."

Tentang kematian Yap Kun-san itu sebegitu jauh tetap merupakan teka-teki dan pernah juga menggemparkan Bu-lim.

Tapi sesudah belasan tahun lamanya, lambat-laun peristiwa itu sudah d lupakan orang.

Kini mendengar Nyo Lin menyebut peristiwa itu, seketika hadirin merasa tertarik oleh tokoh Yap Tiong-siau yang baru mereka kenal namanya itu.

Scmuanya memikir asalkan Yap Tiong-siau itu dapat disuruh tampil kenuika, maka urusan ini tenlu akan bisa.

dibikin terang.

Dalam pada itu Nyo Lin telah menyambung pula.

"Bahwasanya Yap-sute telah melakukan kejahatan-kejahatan sebanyak itu, sudah tentu aku tidak dapat membelanya hanya karena dia adalah Suteku, aku hanya mohon kalian suka memberi sedikit kesempatan padaku, b"fa nanti Yap-sute sudah keluar, harap kal"an membiarkan aku tanya dia dahulu, aku ingin tahu siapakah gerangan orang yang membunuh Suhuku dahulu itu dan orang yang menculik dia itu apakah terdiri, dari seorang yang sama?"

In Ciau memanggut, katanya.

"Ya, sudah seharusnya kau tanya dia. Gurumu Yap-tocianpwe adalah sahabatku juga, dia terbunuh secara penasaran, betapapun aku ikut tidak tenteram, bila mesti menuntut balas bagi gurumu itu, maka akulah orang pertama yang akan tampil kemuka."

Lalu Nyo Lin bicara pula.

"Yap-sute menghilang ketika baru berumur lima tahun, mungkin ia tidak tahu seluk-beluk orang hidup, maka mengaku musuh sebagai ayah. Padahal guruku tidak punya keturunan, maka dimasa hidupnya beliau memandang Yap-sute sebagai anak kandungnya sendiri. Dari itu ingin kuminta agar In-cengcu dan Han-congpauthau suka mengingat d!ri Suhuku dan bolehkah mengampuni kematiannya agar dia dapat menjadi manusia baru?"

In Ciau menjadi terharu, Han Soan juga merasa sulit untuk menjawab. Tapi Han-toanio lantas berkata dengan nada d"ngin.

"Tentang membalas dendam bagi gurumu dan mengampuni Sutemu adalah dua soal yang harus dipisahpisahkan. Kami menghormat juga gurumu, tapi Sutemu telah utang darah pada kami, jikalau kami tidak minta bayar kembali padanya tentu kawan-kawan kami yang menjadi korbannya itu akan merasa penasaran."

Han Soan ikut terbakar juga mendengar ucapan isterinya itu. iapun berkata.

"Sebentar bila dapat diketahui siapakah sebenarnya pembunuh gurumu itu, maka aku orang she Han siap menghadapi-nya, demi kawan, biarpun dadaku akan tertancap belati juga tidak nanti aku mengerut kening. Adapun permusuhan Yap Tiong-siau dengan kami itu terang tidak gampang disudahi, kecuali kalau d.a memb.arkan aku menikam 32 kali diatas tubuhnya!"

"Dan aku harus menyerampang patah dulu kedua kaki anjing-nya,"

Sambung Han-toanio.

Karena ke-32 kawan dari Piaukiok terbunuh, maka Han Soan mengutarakan ketekadannya itu.

Begitu pula Han-toanio hendak membalas karena terlukanya kedua kakinya.

Hay-thian merasa ngeri mendengar itu, Nyo Lin yang cukup berpengalaman dapat mendengar dibnlik kata-kata suamiyster"!

she Han itu mengandung arti ada kesempatan untuk berunding lebih jauh.

Sebab tubuh seorang bila ditikam diangankan 32 kali, biarpun satu kali saja jika mengenai tempat berbahaia juga jiwanya akan melayang.

Tapi kalau yang ditikam adalah tempat-tempat yang tak berbahaya seperti dibagian anggota badan luar maka paling-paling cuma terluka luar saja.

untuk menicmbnhkannya telaklah terlalu sulit.

Sebab itulah Nyo Lin lalu diam saja tidak bersuara laqi.

Lalu In Ciau membuka suara.

"Baiklah, mengenai Yap Tiong-siau itu telah kita putuskan dengan cam demikian N.~h, Auyang-cengcu. sekarang juga harap kau serahkan d"a!"

"Ya, sedangkan Ciangbun Suheng orang she Yap itu diduga sudah berada disini, mau menunggu kapan lagi jika kau tidak serahkan demikian Han Soan menambahkan. Segera Nyo Lin diuga berkata pula.

"Harap Auyang-tiengcu suka memerahkan Suteku itu biar aku menanyai dia, jikalau pembunuh Suhuku dapat diketahui, budi kebaikan Auyang -cengcu ini tentu tidak kami lupakan."

Begitulah, sorot mata In Tiiau.

Han Soan dan Nyo Lin bert.ga lantas tercurah aras diri Auyang Pek-ho, begitu pula para hadirin dari kedua pihak, semuanya ingin tabu cara bagaimana tuan rumah itu akan menjawab.

Dalam perkara ini hanya Kang Hay-thian saja seoranq yang tahu jelas persoalannya.

Ia tahu pembunuh Yap Kun-san adalah raja Masar yang jahat itu, yaitu Kayun.

Iapun tahu orang yang melukai putera-puterinya In Cau adalah Danu Ciang-hong yang menyaru sebagai Yap Tiong-siau.

padahal Yap Tiong-siau yang tulen adalah Danu Cu-mu.

Jadi Yap Tiong-siau palsu pada hakikatnya bukanlah anak pungutnya Yap Ku-san, bahkan mukanya Yap Kun-san juga tidak pernah dilihatnya.

Mestinya Kang Hay-thian hendak menceritakan duduknya perkara itu, tap karena disitu tidak kelihatan bayangannia Yap Tiong-siau dan Auyang Wan, maka Hay-thian berpikir.

"Selukbeluk urusan ini sangat berliku-liku dan susah diterangkan dalam waktu singkat, kalau kukatakan juga belum d"percaya oleh mereka. Ce-lakanya Yap-toako justeru tiada berada disini sehingga orang menyangka dia sengaja bersembunyi karena takut pada dosa per-buatannya itu."

Kemudian p.kirnya pula.

"Kalau kutieritakan urusan ini, paling-paling juga cuma dapat membuktikan bahwa Yap-toako bukanlah anak pungutnya Yap Kun-san, tapi toh tidak dapat menyelesaikan permusuhannya dengan keluarga In dan Han. Padahal ke-32 orang dari Tin-wan Piaukiok itu dbunuh oleh seorang begal wanita lain dan tiada sangkut-pautnya dengan Yap-toako. Namun orang yang melukai In Khing dan In Bik serta melukai kaki Han-toanio memang benar adalah perbuatan Yap-toako, tapi cara bagaimana aku dapat membelanya? Sayang Suhu tidak berada disini, bila beliau berada disini. tentu Yap-toako dapat tampil kemuka dan aku akan minta dia minta maaf kepada keluarga In dan Han, lalu Suhuku yang menjadi pendamai mereka, dengan wibawa beliau mungkin urusan akan dapat diredakan, tapi sekarang keadaannya juga susah diselesaikan."

Tengah Hay-thian merasa serba susah dan bingung, disebelah sana Han Soan suami-isteri sudah tidak sabar lagi, serentak mereka mencecar Auyang Pek-ho, kata mereka.

"Auyang-Ioji, kau sendiri tergolong tokoh Bu-lim yang ternama, mengapa kau sedikit-pun tidak tahu aturan? Kau sudah tahu maksud tujuan kami, masakah kau masih ingin membela bangsat she Yap itu? Andaikan demikian, mengapa kau tidak tegas-tegas berkata terus terang saja?"

Semua orang memang sedang menantikan jawaban Auyang Pek-ho, tapi dia justeru bersikap tenang-tenang saja seperti tidak terjadi apa, seakan-akan urusan tiada sangkut-paut dengan dia.

Dan sesudah ia didesak berulang-ulang oleh Han Soan suami-isteri barulah dia menjawab dengan seenaknya.

"Han-congpiauthau, setelah mendengarkan uraian kalian sejak tadi, baru sekarang aku tahu orang yang bersengketa dengan kalian itu adalah Yap Tiong-saiu. Jika demikian, seharusnya kau mentiari dia, mengapa aku yang kalian cari malah? Apa sih sangkut-pautnya diriku dengan urusannya?"

Han Soan menjadi gusar, teriaknya.

"Bangsat she Yap itu berada bersama dengan gadis keluargamu, mengapa kau bilang tiada sangkut-paut?"

Auyang Pek-ho mendeliki matanya, sahutnya dengan dingin-dingin saja.

"Ucapanmu ini sungguh aneh. Siapa diantara kita ini yang tiada punya kawan Kangouw? Apalagi orang muda, sudah tentu banyak sobat andainya didalam pergaulan, hal ini adalah terlalu jamak. Biarpun anaknya membunuh orang juga orang tua tidak perlu ganti nyawa, apalagi kawananya?"

Merah padam muka Han Soan saking gusarnya, ia mendengus se kali dan berseru.

"Aku tidak minta kau ganti nyawa, tapi aku minta kau serahkan orangnya! Baik, mungkin kau anggap Yap Tiong-siau adalah orang luar dan tiada sangkut-pautnya dengan kau. Tapi Auyang Wan terang adalah anggota keluargamu, kejahatan yang diperbuat Yap Tiong-siau juga ada andilnya, nah, coba kau suruh gadismu itu keluar sini!"

"O, apakah dia telah berbuat sesuatu kejahatan?"

Tanya Auyang Pek-ho.

"Dia merencanakan pembunuhan pada Kang Hay-thian, menye-rang Hoa Thian-hong secara gelap, kedua hal ini sudah pasti adalah perbuatannya,"

Kata In C"au.

"Mengenai dia berada bersama dengan bangsat she Yap itu, maka bukan mustahil iapun mempunyai andil dalam segala perbuatan bangsat itu."

"Tuduhanmu ini hanya menduga-duga saja tanpa bukti"

Nyata,"

Sahut Auyang Pek-ho dengan tertawa.

"Mengenai urusannya Hoa Thian-hong, sepanjang-tahuku ia hanya bermusuhan dengan adik ku Tiong-ho, tapi tiada sangkutpautnya dengan keponakanku, apalagi permusuhan mereka sudah d selesaikan. Hoa-loenghiong sekarang juga hadir disini, aku percaya dia tentu akan bicara dengan sejujurnya."

Thian-hong berdiri dan berkata.

"Urusan ini betapapun aku harus bicara secara adil. Semuda nona Auyang memang telah mencuri kantong-obatku, tapi kemudian dia juga menghantarkan obat penawar padaku, jadi dendam permusuhan ini sekarang sudah kuhapus dan selesai."

"Hoa-loenghiong memang cukup bijaksana dan sangat jujur, sungguh kagum, kagum sekali!"

Kata Auyang Pok-ho sambil klong chiu. Tapi Thian-hong menyahut dengan nada dingin.

"Aku hanya bicara apa adania saja, tentang permusuhan nona dengan aku sudah kuhapus, tapi anak juga tidak bisa dibebani utang orang tua, nah, Auyang Tiong-ho, kalian suami-isteri telah menipu obatku, membalas kebaikan dengan kejahatan, tentang perhitungan ini belum lagi kuselesaikan dengan kalian."

"Hal itu adalah urusa lain lagi dan boleh ditunda sampai nanti,"

Kata Pek-ho.

"Dan kau bagaimana Kang-siauhiap, apa urusanmu juga dianggap selesai secara begini saja?"

Tiba-tiba Han Soan menegur Kang Hay-thian.

Sebenarnya sejak tadi Hay-thian sudah ingin bicara, cuma Hoa Thian-hong adalah ayah angkatnya, ia tidak pantas mendahuluinya.

Sekarang Thian-hong sudah selesai bcara, tanpa didesak Han Soan juga dia sudah siap akan berdiri.

Maka segera ia berseru dengan suara lantang.

"Ya, memang benar nona Auyang Wan pernah hendak meracuni aku, tapi waktu itu dia hanya menurut perintah gurunya saja dan takdapat menialahkan dia. Apalagi kemudian iapun sudah menolong jiwaku, jadi aku takdapet menyalahkan dia, bahkan mesti berterima kasih padanya."

Nada ucapan Kang Hay-thian lebih terang lagi membela Auyang Wan, keruan hal ini sangat diluar dugaan Han Soan dan lain-lain hingga seketika mereka tidak dapat bersuara.

Auyang Pek-ho sangat senang, dengan berseri-seri ia berkata.

"Nah, bagaimana? Sekarang tuduhan Hancongpiauthau kepada keponakanku itu dapat ditarik kembali, bukan?"

Namun In Ciau lantas berseru.

"Seorang laki-laki sejati memang sudah seharusnya dapat membedakan antara budi dan sakit hati. Baik, sekarangpun dapat dikatakan bahwa nona Auyang tiada sangkut-paut dengan urusan ini dan kita takkan mengusutnya lebih jauh. Tapi tentang Yap Tiong-siau itu, paling tidak Au-yang-cengcu ada hubungan dengan dia, setahu kami, orang she Yap itu justeru berada ditempatmu ini, rasanya kau takkan membuat kedatangan kami ini sia-sia, bukan?"

"Siapa bilang dia berada ditempatku ini?"

Tanya Pek-ho.

"Kau berani menyangkal? Apa kau berani membiarkan rumahmu digeledah kami?"

Timbrung Han Soan. Pek-ho menjengek sekali sambil menengadah dan tidak menggubris. Sebaliknya Auyang-jinio lantas ikut bicara dengan mendengus.

"Hm, kau ingin menggeledah rumah kami? Boleh juga, merangkaklah melalui bawah selakangankut"

Sungguh gusar Han Soan tak terkatakan, dadanya hampirhampir meledak. Dan baru dia hendak berteriak. tiba-tiba terdengar seorang telah berkata.

"Jangan ribut dulu, biarkan aku ikut bicara secara adil. In-cengcu. tadi kau mengatakan nona Auyang tiada sangkut-pautnya dengan urusan ini, kokira mungkin tidak betul, sebab ada sesuatu yang agaknya belum kau ketahui."

Pembicara itu adalah Coan Co-tek, wakil Pangcu dari Kaypang utara.

Pangcu dari Kay-pang utara, yaitu Tiong Tiang-thong, adalah sahabat baik dengan Hoa Thian-hong dan In Ciau.

tapi karena dia ada urusan penting yang harus mengadakan pertemuan dengan Ek Tiong-bo dari Kay-pang selatan, maka wakilnya yang dikirim untuk membantu kawan-kawan itu.

Anggota Kay-pang tersebar sangat luas di segenap pelosok, setiap kabar-berita sangat cepat diterima.

Maka In Ciau tampak melengak atas pertanyaan Coan Co-tek itu, segera ia balas menanya.

"Entah kabar apa yang telah diterima Coanheng?"

"Tadi Auyang-cengcu menyatakan orang she Yap itu adalah orang luar, hal ini benar-benar terlalu mengecilkan arti pamili sendiri. Yap Tiong-siau sudah menjadi suami-isteri dengan Auyang Wan, itu berarti dia adalah anggota keluarga pilihanmu, mengapa dinyatakan sebagai orang luar?"

Tentang perjodohan Yap Tiong-siau dan Auyang Wan, selain Kang Hay-thian boleh dikata orang-orang lain yang hadir disitu belum ada yang tahu.

Keruan semua orang menjadi gempar mendengar kabar itu.

Maka terdengar Coan Co-tek telah menyambung pula.

"Meski menurut peraturan umum, kesalahan yang diperbuat anak menantu tiada sangkut-pautnya dengan keluarga mertua. Tapi Kita adalah orang Kangouw, cara kerja kita juga menurut aturan Kangouw. Sekarang dikalangan kita terdapat kaum sampah masyarakat Kangouw, maka sudah seharusnya kita beramai-ramai membasminya, masakah untuk ini masih perlu dimintakan idzin kepada pemerintah segala? Nah, Auyang-cengcu, engkau sendiri adalah seorang tokoh terkemuka, urusan sudah begini, sebaliknya kau mengingat kepentingan umum dan kesampingkan hubungan pamili sendiri, lekas kau serahkan menantu keponakanmu itu. Kalau tidak, kukuatir urusan ini akan melibatkan dirimu dan tentu takkan menguntungkan kau!" ---ooo0dw0ooo---

Jilid 16 Atas pembicaraan Coan Co-tek itu, para kesatria menganggapnya beralasan juga, maka beramai-ramai mereka mendesak agar Auyang Pek Ho menyerahkan Yap Tiong-siau.

Ada pula yang mencaci-maki dan mengejek Yap Tiong-siau, katanya pemuda itu pe-ngecut, berani berbuat, tapi tidak berani bertanggung-jawab, main sembunyi seperti kura-kura, sedikitpun tidak punya watak kesatria.

Begitulah ditengah kalangan menjadi gaduh dan riuh ramai, Kang Hay-thian juga merasa tidak enak bagi Yap Tiong-siau.

Sebaliknya Auyang Pek-ho masih tetap acuh-tak-acuh, hanya Auyang Tiong-ho yang merah padam mukanya.

Mendadak ia ber diri dan berseru.

"Coan-hupangcu, kau hanya tahu satu saja. tapi tidak tahu dua. Benar, memang Auyang Wan adalah puteriku dan dia juga sudah menjadi isterinya Yap Tiong-siau. Tapi aku sendiri tidak setuju atas pejodohan ini dan aku telah mengusir mereka pergi dari sini. Hubunganku dengan Yap Tiong-siau sebagai mertua dan menantu sudah putus, segala urusannya tiada sangkut-paut apa-apa dengan aku."

Ucapan Auyang Tiong-ho ini dapat dipercaya beberapa bagian oleh Kang Hay-thian.

Tidak demikian dengan para kesatria, sudah tentu mereka tidak mau percaya.

Keluarga Auyang biasanya memang terkenal garang, suka main menang-menangan dan menindas kaum lemah, d-dunia Kangouw sudah ba-nyak mengikat permusuhan dengan berbagai aliran, dan yang hadir harini justeru tidak sedikit adalah musuhnya.

Karena itu, seketika ramailah tawa ejek orang banyak.

"Hm, bukankah kau ini sengaja main akal bulus? Ya, sudah terang hendak membela menantunya, tapi kuatir tersangkut pula dalam urusan ini dan tidak berani ikut bertanggung jawab! Haha, baru harini kita tahu betapa hebatnya orang she Auyang!"

Demikian ejek sindir yang saling susul dilontarkan kealamat keluarga Auyang.

Auyang Pek-ho menjadi gusar, mendadak ia bersuit panjang sekali sehingga suara ribut-ribut itu kalah kerasnya.

Lalu katanya dengan dingin.

"Apa yang dikatakan adikku adalah sesungguhmu, tapi kalian justeru tidak mau percaya. Baiklah, agar tidak dikatakan, se-bagai pengecut, ini, siapa-siapa yang ingin mencari Yap Tiong-siau, bolehlah maju lebih dulu menghadapi aku."

Yang Jik-hu juga lantas ketawa terbahak-bahak, iapun benbangkit dan berseru.

"Benar! Didalam Kangouw berlaku undang-undang Yang menang adalah yang benar, memangnya kalian juga tidak mau bicara tentang aturan lagi. Nah, baiklah, kalian anggap semuanya kesatria, pahlawan, hm, tapi dalam mataku kalian tidak lebih hanya kaum keroco yang pintarnya cuma main keroyok saja. Dahulu kalian pernah mengerubuti Suhengku, harini kalian hendak menge-royok Auyang-cengcu pula. Ini, akulah orang pertama-tama Yang tidak bisa tinggal diam, aku justeru ingin belajar kenal dengan kalian yang sok kesatria ini."

Kiranya Yang Jik-hu sudah berhasil meyakinkan tingkatan kesembilan dari Siu-lo-im-sat-kang.

yaitu tingkatan yang paling tinggi dari ilmu jahat itu.

Sekarang dia sengadia muncul dikangouw, mak-sudnya memang sengaja cari-cari, kalau bisa akan merajai dunia persilatan seperti tujuan Suhengnya dahulu, yaitu Beng Sin-thong.

Dan kalau para kesatria yang hadir ini sudah dibikin keok, kemudian iapun akan mencari Teng Hiau-lan untuk bikin perhitungan.

Kata-Kata Yang Jik-hu yang galak dan kasar itu tentu tidak dapat diterima oleh In Ciau sebagai salah sepihak yang berkepentingan dalam pertarungan ini.

Segera iapun berdiri dan angkat bicara.

"Dipihak kalian yang hadir harus juga tidak sedikit, kenapa kau dapat mengatakan kami akan main keroyok? Dahulu Suhengmu telah kumpulkan begundalnia dan bikin rusuh dunia persilatan, akhir-nya nama busuk dan orangnya mati, hal itu adalah hasil perbuatan-nya sendiri, emangnya kau hendak salahkan siapa? Dahulu aku tiada sempat ikut hadir di Jian-tiiang-peng untuk menyaksikan ilmu sakti Suhengmu, hal itu sampai sekarang aku masih merasa gegetun. Untung dia punya Siu-lo-im-sat-kang masih berhasil diyakinkan oleh Sutenya, kebetulan aku dapat minta belajar saja kepada Yang-siansing". Ternyata In Ciau juga tadak mau kalah garangnya, secara terang-terangan ia malah menantang langsung kepada Yang Jik-hu.

"Jika In-loenghiong sudi belajar kenal, itulah paling baik,"

Sahut Jik-hu. Tap sebelum ia maju kekalangan, tiba-tiba seorang laki-laki telah mendahuluinya maju dan berseru.

"Tua bangka ini berani omong besar, biar aku yang menghadapinya dahulu. Yang-siansing, kau dan Auyang-cengcu adalah pimpinan pertandingan ini, masakah ada pimpinan yang maju lebih dulu? Hendaklah kau memberi kesempatan kepada kawankawan yang ikut hadir ini untuk mencurahkan se-dikit tenaga."

Sambil berkata ia terus maju ketengah.

Segera semua hadirin mengenali orang ini adalah seorang begal besar dikalangan Kan-gouw, namanya So Ciam, berjuluk Say-Jin Kui, si Sih Jin-kui.

Celakanya, majunya So Ciam ternyata tidak disambut, apalagi digubris oleh In Ciau, bahkan meliriknya saja tidak.

Sudah tentu So Ciatn serta runyam dan malu karena di biarkan berdiri ditengah-tengah gelanggang seorang diri.

Selagi dia hendak mengumbar rasa gusarnya itu, tiba-tiba In Khing sudah tampil kemuka.

Kata pemuda itu dengan nada mengejek.

"Huh, kau ini kutu busuk apa, berani kau menantang ayahku? Tapi supaya kau tidak malu, biarlah tuan kecil memberi hajaran sedikit padamu agar matamu bisa melek!"

Keruan So Ciam menjadi murka, bentaknya.

"Kurangajar, anak ingusan juga berani umbar kata-kata sombong? Ini, lihat senjata!"

Ia memakai sebatang Kik, yaitu senjata berbentuk tumbak de-ngan tambahan mata pisau melengkung dibagian ujungnya. Segera ia menusuk. Tapi terdengar "trang"

Sekali, In Khing telah menangkis dengan golok-emasnya yang tebal.

So Ciam berjuluk Say Jin Kui.

dengan sendirinya permainan senjata kik itu cukup lihay (Kik adalah senjata terkenal yang dipakai Sih Jin-kui, itu panglima besar dijaman Tong), maka sekali gebrak saja segera ia tahu tenaga In Khing jauh lebih kuat daripada dirinya.

Ia terkesiap dan cepat berganti jurus se-rangan lagi, mendadak tumbaknya itu memutar kesamping.

menda-dak dengan gerakan "Li Kong Sia-ciok" (Li Kong memanah ba-tu), cepat sekali ia menusuk pula dari samping.

Ketika In Khing hendak menangkis kebawah dengan goloknya, mendadak So Ciam turunkan tumbaknya terus menyabat.

Namun ln Khing sempat melompat keatas, berbareng goloknya membacok keatas batang tumbak musuh.

Permainan golok In Khing sebenarnya juga sesuatu ilmu tunggal dari dunia persilatan, tapi pertama ia masih terlalu muda, pengalaman kurang Kedua, sejak kecil ia lebih giat melatih Tay-lik-kim-kong-clang (ilmu pukulan dgn telapak tangan, bertenaga raksasa), dalam hal ilmu golok tidak terlalu diperhatikan sebagai ilmu pukulannya itu.

Sebab itulah dalam pertandingan bersenjata, kalau ketemukan lawan sebagai So Ciam yang banyak pengalaman nya, mau-tak-mau ia mesti bertahan saja dan terdesak dibawah angin.

Sampai Suatu ketika, mendadak So Ciam membentak sekak.

"Lepas senjata!"

Tatkala itu In Khing sedang membacok dengan goloknya, tapi mendadak tumbak So Ciam membalik keatas juga, ujung tum-bak itu mengarah pergelangan tangan In Khing yang memegang go-lok itu.

Dalam keadaan demikian mau-tidakmau In Khing memang terpaksa harus lepas tangan.

Maka terdengarlah suara "trang-trang", golok itu tercongkel tumbak lawan dan terpental pergi.

Sudah tentu Auyang Pek-ho dan kawan-kawannya menjadi senang demi melihat babak pertama jago mereka sudah menang lebih dulu, serentak mereka bersorak memuji.

Tak terduga baru saja mereka bersuara, mendadak terdengar In Khing juga menggertak sekali, tangannya membalik dan men-cengkeram kedepan, tahu-tahu tumbak Kik yang belum sempat ditarik kembali oleh So Ciam itu telah kena dipegang olehnya dengan kencang.

Jadi tumbak So Ciam itu luput menusuk tangan In Khing, se-baliknya malah kena dipegang.

Keduanya menjadi saling betot dan seketika susah terlepas.

Sungguh gusar So Ciam tak terkata, dengan wajah merah pa-dam ia berteriak.

"Kau ini apa-apaan? Sudah terang kalah, masih main belut dan mau rampas senjata orang?"

"Huh, siapa yang kalah?"

Sahut In Khing dengan menjengek.

"Lihatlah aku mengalahkan kau dengan bertangan kosong, dan ini-lah baru dapat dinamakan kepandaian sejati. Bertanding silat harus merobohkan pihak lawan baru dapat dianggap menang, apa kau sangka aku tidak tahu aturan?"

So Ciam menjadi bungkam oleh-debatan itu.

Tapi iapun tidak ingin senjatanya direbut lawan, maka sedapat mungkin ia-bertahan mati-matian Ketika In Khing mengerahkan tenaga sepenuhnya, mendadak ia membentak lagi.

"Lepas tangan!"

Benar juga, dibawah tekanan tenaga kedua orang yang hebat.

"krak" , mendadak tumbak So Ciam itu patah, menyusul In Khing terus menghantam pula dengan Tay-liklim-kong-ciang dari keluarga In yang terkenal di Bu-lim itu, keruan So CTam tidak sanggup menangkis, ia kena dihantam sehingga mencelat pergi. Lekas-Lekas kawan-kawan dipihaknya, yaitu "Jing-hay Sam Be" (tiga saudara Be dari Jinghay) berlari maju untuk menyambuti tubuh So-Ciam yang jatuh dari udara itu dan dengan demikian terhindarlah dia dari mati terbanting. Namun begitu iapun sudah terluka parah dan wajahnya pucat sebagai mayat.

"Jing-ha Sam Be"

Atau tiga kuda dari Jinghay ini adalah tiga saudara sekandung.

Toako bernama Be Liang, Jiko bernama Be Cun dan adik ketiga bernama Be Ya, umur ketiganya ma6ing-ma6ing cuma terpaut satu tahun.

Sejak kecil mereka melatih silat bersa-ma sehingga jadi sejurus ilmu pedang yang disebut "Sam-cay-kiam-hoat" (ilmu pedang tri daya), setiap kali berhadapan de-ngan musuh, tidak peduli jumlah berapa orang musuh tentu mereka bertiga maju bersama.

Maka sesudah mereka selamat-kan So Ciam, segera mereka menantang pihak In Ciau.

In Ciau kenal peraturan bertanding ketiga saudara Be itu, diam-diam ia memikir.

"Sam-cay-kiam-hoat dari ketiga saudara Be ini tidak boleh dipandang enteng, walaupun pihak sini banyak terdapat orang pandai, tapi kalau mesti memilih tiga orang yang sekiranya bisa bekerja sama seperti mereka, untuk inilah rasanya akan susah."

Tengah In Ciau ragu-ragu, tiba-tiba terdengar Han Soan telah ber-seru kepada isterinya.

"Teman tua, hayolah maju, tunggu apa lagi! Orang selamanya bersaudara, dan kita juga dapat bersuami-isteri, bukan?"

"Cis, dikala mau berkelahi baru kau ingat pada isteri!"

Omel Han-toanio dengan tersenyum. Diam-Diam In Ciau merasa geli, pikirnya.

"Ya, aku benarbenar sudah pikun, mengapa aku tidak ingat kepada mereka suami-isteri ini?"

Dalam pada itu Han Soan dan isterinya sudah lantas maju ketengah kalangan.

Han Soan adalah Congpiauthau, pemimpin umum perusahaan pengawalan Tin-wan-piaukiok di kotaraja, namanya cukup ter-kenal.

Sedang isterinya juga tersohor di kangouw dengan ju-lukan "Tiat-wan-yang", yaitu bentuk senjata rahasianya yang menyerupai merpati terbuat dari besi.

Melihat pihak lawan yang maju adalah Han Soan bersama isterinya, mau-tak-mau Jing-hay Sam Be agak keder juga.

Tapi mereka biasanya sangat congkak dan tidak gampang mengalah, apalagi merekapun mendengar bahwa Han Soan bersama isterinya pernah dilukai Yap Tiong-siau, maka mereka menduga kepandai-an Han Soan berdua mungkin cuma omong kosong dan terlalu dibesar-besarkan orang Kangouw saja.

Segera Be Liang mendahului angkat pedangnya dan memberi hormat, lalu berkata.

"Kalau Han-congpiauthau suami-isteri sudi memberi petunjuk sungguh kami merasa beruntung sekali!"

"Hm, Tin-wan-piaukiok kami sudah lama bangkrut dan tutup pintu, hendaklah kau jangan menyindir temanku yang tua bangka ini,"

Jengek Han-toanio.

"Pendek kata, jika mau berkelahi, hayolah lekas mulai dan tidak perlu banyak b-cara".

"Ah, hendaklah nyonya Han jangan salah paham,"

Sahut Be Liang dengan tertawa. Tapi adiknya, Be Ya, yang berwatak berangasan sudah tidak sabaran lagi, segera ia memaki.

"Huh, Tin-wan-piaukiok kalian sudah bangkrut, apakah kalian lantas hendak lampiaskan den-dammu pada kami? Ini, lihat senjata!"

Dan terus saja ia menusuk lebih dulu kearah Han-toanio "Ya, memang betul harus salahkan kami sendiri yang tidak becus, tapi meski kami tidak mampu menaklukkan harimau, pa-ling sedikit masih mampu menyembelih sapi dan membantai kuda!"

Sahut Han-toanio dengan tidak kurang getasnya. Dengan "kuda"

Ia henak mengejek ketiga saudara she Be itu (Be = kuda).

Sambil menjawab, dengan tidak kurang sigapnya segera Han-toanio lantas menangkis juga dengan tongkatnya, menyusul ia terus menggeser kesamping Be Ya, golok disebelah tangannya kon-tan balas membabat, dengan gerak tipu "Sin-liong-tiau-siu" (naga sakti berpaling kepala), segera iga Be Ya diarahnya.

Tapi lantas terdengar suara senjata mendering, dua batang pedangnya Be Liang dan Be Cun berbareng lantas menyerang dari kedua sisi.

"Awas, teman tua!"

Seru Han Soan, berbareng goloknya terus menangkis serangan Be Liang. Sedangkan Han-toanio juga lantas memutar goloknya kebela-kang.

"trang". serangan Be Cun kena ditangkisnia juga. Mala-han dikala goloknya itu diputar kebelakang, sekalian ia telah sabat kearah Be Ya sehingga lengan bajunya tersayat sepotong. Untung bagi Be Ya. kalau tidak keburu dibantu saudaranya, bukan mustahil golok Han-toanio sudah bersarang dilambungan-nya. Keruan Be Ya terkejut sampai berkeringat dingin. Baru sekarang dia kenal nama Han Soan suami-isteri itu memang bukan omong-kosong orang Kangouw saja, maka merekapun tidak berani memandang enteng pula, segera mereka pasang kembali barisan pedang mereka dengan rapat. Kalau mereka bertempur dengan satu-lawan-satu sebenarnya kepandaian mereka tidak terlalu tinggi. Tapi kalau mereka ber-tiga maju sekaligus dan memainkan barisan pedang "Sam-tiay-kiam-hoat", maka lihaynya berlipat ganda. Maka tertampaklah mereka telah bekerja sama dengan sangat rapat, serang serentak, mundur berbareng, ganti tempat dengan teratur, bukan saja menyerang dengan sangat hebat, bahkan bertahan juga sangat kuat. Tapi dengan berdiri mungkur, punggung menghadap punggung. Han Soan suami-isteri juga dapat mainkan golok mereka yang panjang dan pendek itu dengan sama kuatnya. Sesudah beberapa puluh jurus, kedua pihak masih tetap sama kuat dan susah menentukan unggul dan asor. Dipihak Han Soan mestinya menang angin dalam hal menyerang, tapi Han-toanio pincang sebelah kakinya sehingga gerak-geriknya kurang lincah, ia harus mengandalkan bantuan tongkat, untuk menye-rang menjadi kurang lepas, sebab itulah meski menang serang-an, tapi susah memperoleh kemenangan. Sebaliknya dipihak "Jing-hay Sam Be"

Itu, Be Liang, sikakak tertua, ilmu silatnya paling tinggi, orangnya juga paling sabar dan pandai berakal.

Ketika melihat sesuatu kelemahan musuh, mendadak ia bersuit sekali untuk memberi tanda kepada saudara-saudaranya, serentak Be Cun dan Be Ya lantas merangsang dari kedua sisi, sedang Be Liang sendiri terus menerjang bagian te-ngah dan pedangnya lantas membacok.

Disamping itu Be Cun telah tangkis goloknya Han Soan dan Be Ya tangkis goloknya Han-toanio.

Meski kalau satu-lawan-satu kedua saudara Be itu tentu bukan tandingan Han Soan suami-isteri.

tapi kalau untuk menangkis satu kali saja tentu mereka masih jauh dari sanggup.

Dan Be Liang justeru inginkan kesempatan baik ini, segera ia menerjang bagian tengah, dengan demikian paling tidak ia akan dapat mengacaukan benteng pertahanan kedua suami-isteri itu sehingga mereka terpaksa akan terpisah untuk bertahan sendiri-sendiri.

Benar juga, dengan bacokan Be Liang Yang mengarah garis tengah pertahanan Han Soan berdua itu, karena tidak sempat menangkis, terpaksa Han Soan berdua harus melompat pergi untuk menghindar.

Dengan cara punggung menghadap punggung itu, sebenarnya Han-toannya mesti mengandalkan lindungan sang suami agar dapat melancarkan serangan-serangannya.

Tapi kini sekali terpisah, seketika punggungnya menjadi tempat kelemahannya, apalagi gerak-gerik-nya tidak leluasa sehingga hal ini memberi kesempatan bagi musuh untuk menyerang.

Benar juga, dengan cepat luar biasa mendadak Be Liang menggertak lagi sekali, serentak keliga saudara Be itu terus menerjang semua kearah Han-toanio.

Pedang Be Cun dan Bc Ya menusuk kedua belah iga Han-toanio, sedang Be Liang segera menusuk punggung nyonya tua itu.

Justeru pada detik menentukan itu, mendadak tongkat Hantoanio memutar dan dilepaskan secepat kilat sehingga pedang Be Cun dan Be Ya terbentur menceng.

Tapi karena kehilangan sandaran, nyonya tua itupun lantas jatuh tersungkur.

Be Liang sangat girang, kesempatan itu tak disia-siakan olehnya segera tusukannya itu diteruskan kepunggung nyonya itu.

Diam-Diam para penonton berkuatir bagi jiwa Han-toanio yang tampaknya segera akan melayang.

Tak terduga dalam sekejap itulah, tiba-tiba terdengar suara jeritan yang mengerikan, tahu-tahu "Jing-hay Sim Be"

Telah roboh terkulai semua ditanah dengan mandi darah.

Kiranya disaat melemparkan tongkatnya tadi, berbareng Han-toanio hamburkan juga Am-gi (senjata gelap) andalannya yang terkenal, yaitu "Tiat-wan-yang".

Sebenarnya Jing-hay Sam Be juga tahu kelihayan senjata rahasia nyonya tua itu.

Tapi mereka melihat nyonya itu sebelah tangan memegang golok dan tangan lain memegang tongkat, untuk menyerang dengan Am-gi terang tidak sempat, pula mereka pun terlalu mengagulkan barisan pedang mereka Yang Iihay, lebih-lebih disaat Han-toanio kelihatan sudah roboh, dengan sendirinya me-reka tidak pikir panjang tentang kemungkinan-kemungkinan lain.

Siapa tahu gerak tagan Han-toanio itu secepat kilat, ia sengaja jatuhkan diri justeru hendak memancing musuh, ia melempar tongkat, menghindar tusukan dan balas menyerang, beberapa gerakan itu sekaligus telah dilakukannya dalam waktu beberapa detik saja.

Dan tahu-tahu tiga buah Tiat-wanyang telah ditimpukan kearah musuh dari jurusan yang tidak sama, setiap senjata rahasia itu tepat mengenai sasarannya sehingga sebelah tulang dengkul ketiga saudara Be tu masingmasing terpapas.

Serangan kilat itu sedemikian cepatnya sehingga penonton yang mengikuti pertempuran itupun belum sempat melihat jelas, sungguh imu menyambit Am-gi yang luar bisa dan gemparlah seketika suasana dikalangan penonton itu.

Kemudian Han-toanio merangkak bangun dengan pelahan.

ia kebas-kebas bajunya yang agak kotor itu, lalu menjemput kembali tongkatnya dan berkata dengan dingin.

"Hm. kalian kira nenekmu ini pincang, lalu berani main gila? Sekarang aku juga suruh kalian tahu rasa bagaimana kalau kaki pincang, coba kalian masih berani menghina orang cacat tidak dikemudian hari?"

Semula sebenarnya Han-toanio tiada maksud turun tangan sekeji itu.

Tapi demi nampak ketiga musuh itu tidak kenal ampun padanya, bahkan anggap dia orang cacat dan gampang diincar jiwanya.

makanya ia menjadi gemas dan mengeluarkan senjata rahasianya yang ampuh itu untuk membalas kekejaman lawan-lawan itu sehingga tulang dengkul ketiga saudara Be menjadi cacat untuk selamanya.

Melihat betapa lihaynya Am-gi milik Han-toanio itu, diamdiam para kesatria yang hadir itu sama terkesiap dan memikir.

"Demikian lihaynya nyonya ini, tapi bersama suaminya toh mereka masih dikalahkan Yap Tiong-siau, maka dapat dibayangkan betapa lihay kepandaian orang she Yap itu. Tapi mengapa dia tidak berani perlihatkan dirinya?"

Tengah para penonton saling mcmbicarakan keheranan meraka itu, tiba-tiba terdengar seruan seorang.

"Nanti dulu, Han-cong-p.authau. tunggulah aku!"

Suara itu tidak terlalu keras, tapi mendengung menggetarkan anak telinga setiap orang.

Han Soan terkejut, cepat ia berpaling, ia lihat pendatang itu adalah seorang suku Hwe yang kepalanya memakai kain ubelubel putih, tangannya panjang dan kakinya jangkung, ke lua matanya bersinar, senjatanya yang berwujud sebatang toya yang aneh juga mengkilap, sekali pandang Saja orang akan lantas tahu tentu orang Hwe itu memiliki Lwekang yang t"nggi.

"Saudara ada petunjuk apa?"

Segera Han Soan menanya.

"Aku adalah kawannya Yap Tiong-siau."

Kata orang Hwe itu dengan acuh-tak-acuh.

"Hari ini dia absen, maka aku sengaja. hendak mewakili dia, nah. silakan Han-congpiauthau suamiisteri memberi petunjuk lebih dulu."

Diam-Diam para kesatria menjadi heran, orang ini mengaku mewakili Yap Tiong-siau yau"g tidak muncul itu, habis siapakah orang ini? Maka terdengar Han Soan telah bertanya.

"Jikalau saudara mgin mewakili bocah she Yap itu, sudah tentu kami suami-Isteri akan menghadapi dengan hormat. Numpang tanya siapakah nama saudara yang terhormat?"

Orang Hwe itu tersenyum, sahutnya.

"Akh, Cayhe orang tak ternama, Kim Jit-tan adanya."

Mendengar nama Kim Jit-tan, seketika terkejutlah kesatriakesatria yang pernah mendengar asal-usulnya itu Kiranya Kim Jit-tan adalah jago nomor satu diantara suku Hwe, biasanya terkenal sebagai "Tay-boh-ki-jin" (orang kosen.

dipadang pasir), dahulu waktu pertandingan di Jian-ciangpeng iapun diundang oleh Beng Sin-thong agar ikut hadir.

Tapi ditengah jalan ia telah kebentrok dulu dengan Teng kengthian, dalam pertarungan.

Itu Teng Keng-thian tidak dapat menangkan dia, belakangan atas bantuan Kim Si-ih secara diam-diam, Kang Lam lantas telah berhasil membanting dia jatuh tersungkur, karena itulah ia telah lari ketakutan dan pertandingan Jian-ciang-peng itupun tidak jadi dihadirinya.

Sebab itu pula, maka tidak banyak orang yang kenal dia, cuma saja namanya memang terkenal, sebagian besar diantara hadirin sekarang tentu pernah mendengar namanya.

Begitulah jawaban Kim Jit-tan itu kedengarannya merendah, tapi sebenarnya sangat angkuh, la menyatakan mewakili Yap Tiong-siau, katanya hendak miinta petunjuk dulu kepada Hoan Soan suami-isteri, dibalik maksudnya itu seakanakan hendak melibatkan dirinya dalam urusannya Yap Tiongsiau dan suruh semua musuh Yap Tiong-siau membikin perhitungan padanya saja.

Apalagi ia menyatakan hendak mintapetunjuk dulu kepada Han Soen suami-isteri, kata-kata "dulu"

Ini menandakan betapa sombongnya, bahwasarya ada yang dulu tentu ada yang belakangan, jadi terang Han Soan berdua akan dirobohkan dulu oleh nya, maka nanti ada iang dilayaninya lebih belakangan.

Keruan Han Soan suami-isteri menjadi naik darah, serentak mereka menjawab.

"Wah, kiranya adalah Kim-siansing, sudah lama kami mendengar namamu yang besar, beruntung hanra dapat berjumpa, kami suami-isteri justeru ingin, belajar kenal dengan ilmu sakti dari seorang kosen. Nah, silakan saja mulai"

Dengan kedudukan Han Soan suami-isteri sebenarnya tidak pantas maju bersama dengan dua-lawan-satu, tapi sekarang mereka tidak sayang mengorbankan nama baik mereka, hal ini menandakan mereka sangat menghargai Kim Jit-tan, disamping sangat jeri juga padanya.

Maka Kim Jin-tan menjawab.

"Aku tidak tahu seluk-beluk tentang perselishan kalian dengan Yap Tiong-siau, tapi dari uraian Han-congpiauthau tadi, agaknya Yap Tiong-siau yang telah berbuat salah lebih dulu kepada kalian. Tapi sekali aku sudah mewakili kawan, terpaksa aku harus memikul segala akibatnya, namun begitu akupun harus mewakili kawan untuk menyatakan permintaan maafnya kepada kalian, untuk ini, baiklah lebih dulu aku akan mengalah tiga jurus kepada kalian tanpa balas menyerang!"

Ucapan Kim Jit-tan ini sangat merendah diri kedengarannya, tapi sebenarnya sangat menyinggung perasaan Han Soan berdua. Han-toanio yang tidak tahan lagi, segera ia membentak.

"Ba-gus, jika kau ingin mengalah, nah, cobalah mengalah saja. Lihat senjata!"

Berbareng itu goloknya terus bergerak, dengan tipu "Honghong-tian-ih"

Atau burung cenderawasih pentang sayap, segera ia membabat kedepan.

Oleh karena Kim Jit-tan terang-terangan menyatakan mewakili Yap Tiong-siau, dibandingkan pertandingan dengan Jing-hay Sam Be tadi sudah tentu jauh berbeda, maka sekali menyerang Han-toanio juga tidak sungkan-sungkan lagi, ia menyerang de-ngan tipu mematikan dan sekaligus lengan Kim Jit-tan hendak ditabasnya.

Sudah terang ia berdiri didepan.

Han-toanio, tapi dimana golok nyonya tua itu menyambar, tahu-tahu jejak musuh sudah menghilang, malahan mendadak terdengar suaranya Kim Jit-tan sudah berada dibelakangnya.

Han Soan adalah Congpiauthau dari suatu perusahaan, pengawalan yang terkenal dan disegani, dengan kedudukannya ia harus merasa malu mengeroyok seorang bersama isterinya.

Apalagi lawan, menyatakan hendak mengalah tiga jurus padanya, sudah tentu hai ini merupakan suatu hinaan besar baginya.

Sebab itulah ia sengaja membiarkan isterinya bergebrak lebih dulu, maksudnya jika sang isteri benar-benar kewalahan barulah dia akan, maju membantu.

Tak terduga gerakan Kim Jit-tan itu teramat cepat, serangan Han-toanio yang cepat itu sampai ujung bajunya saja tidak tersenggol atau berbalik Kim Jit-tan tahu-tahu sudah memutar kebelakangnya.

Keruan Han Soan terkejut.

Meski Kim Jit-tan telah menyatakan akan mengalah tiga jurus, tapi mau-tidak-mau ia harus menjaga kemungkinan segala perubahan musuh iang mendadak, siapa tahu kalau isterinya lantas dicelakai begitu saja tanpa menghiraukan janji segala.

Karena itulah, tanpa pikir lagi segera Han Soan lantas melompat maju juga terus menabas.

Ilmu golok Han Soan sudah tentu lebih hebat daripada isterinya, apalagi dia tidak cacat sesuatu, dengan sendirinya gerak geriknya menjadi lebih gesit dan cepat.

Tabasannya itu sangat cepat lagi ganas dan mengincar bagian iga yang mematikan pula.

"Wah, celaka!"

Demikian Kim Jit-tan telah berteriak dan mendadak tubuhnya mendak terus berputar pergi dan, tabasan Han Soan itu persis menyambar lewat diatas kepalanya sehingga mengenai tempat kosong.

Setelah menghindarkan serangan itu, lalu Jit-tan berdiri tegak kembali sambil menghela napas lega dan berkata.

"Untung, tidak kena!" , Melihat lawan sengaja hendak menggoda mereka, keruan Han Soan suami-isteri menjadi murka, serentak mereka merangsang maju, sepasang golok mereka membacok bersama. Tipu serangan ini disebut "Siang-to-hap-bik" (golok dwi-tungga", li-haynya tidak kepalang). Maka tertampaklah dua sinar putih gemerlapan dan mendadak bergabung menjadi satu terus menyambar keatas kepala Kim Jit-tan, dari berbagai penjuru seakan-akan Kim Jittan sudah terkurung rapat, kemanapun dia menghindar pasti akan terkena bacokan itu. Para penonton menjadi tegang juga sehingga menahan napas. Tapi mendadak terdengar suara "trang-tring"

Dua kali, sudah terang kedua batang golok Han, Soan suami-isteri itu sudah mengenai sasarannya, namun entah mengapa, tahutahu Kim Jit-tan mengebaskan lengan bajunya dan orangnya sudah lolos keluar dari garis kepungan dengan tidak terluka sedikitpun Kiranya kedua tangan Kim Jit-tan itu diselubungkan didalam lengan baju, diam-diam ia kerahkan Lwekangnya dan mengebas keatas dengan lengan baju itu untuk mementalkan tenaga serangan Han Soan berdua, suara nyaring itu adalah kedua golok Han Soan suami-isteri yang saling bentur sendiri.

Serangan ini tak dihindari oleh Kim Jit-tan, ia hanya me-ngelakkan tenaga serangan itu sehingga bacokan Han Soan berdua luput, tapi iapun tidak balas menyerang sehingga tidak melanggar janjinya dan tetap telah mengalah tiga jurus dengan tepat Waktu Kim Jit-tan periksa lengan baju sendiri, ia lihat diatasnya terdapat bekas goresan golok yang samar-samar, diam-diam iapun terperanjat, coba kalau mula-mula mereka sudah menggunakan serangan, bergabung seperti barusan, maka dalam tiga jurus ini tentu dirinya susah menyelamatkan diri, demikian pikirnya.

Sebaliknya Han Soan suami-isteri juga tidak kurang kagetnya.

Mereka adalah tokoh-tokoh yang sudah ternama, sesudah dalam tiga diurus tidak dapat mengapa-apakan lawan, sepantasnya mereka harus mengaku kalah.

Tapi Han-toanio berwatak sangat keras, lawan juga ialah menyatakan mewakili Yap Tiong-siau dengan segala akibatnya.

sudah tentu nyonya tua inipun tidak mau kalah pamor, segera ia berseru dengan penuh dendam.

"Teman tua, hayolah kita pasrah nasib kita!" , Dan sekali tongkatnya melangkah kedepan, segera tubuhnya terapung keatas dan golok dilain tangan lantas membacok. Sudah tentu Han Soan tidak dapat membiarkan sang isteri maju sendirian, terpaksa iapun membarengi dengan serangan yang sama. Cuma saja berlawanan"

Jika isterinya membacok dari atas, adalah dia membabat bagian bawah musuh. Sarangan atas dan bawah ini sudah terang hebat sekali.

"Kalau terima tanpa membalas adalah kurang sopan, sekarang harap maafkan aku tidak sungkan-sungkan lagi!"

Seru Kim Jittan.

Segera ia putar toyanya, tangannya memegang bagian tengah toya dan ditegakkan dengan gaya "Ki-thian,-hoa-te" (tunjuk langit dan berdiri dibumi), ujung toya bagian atas membentur golok-nya Han-toanio, sedang ujung toya bagian, bawah buat menelati serangan golok Han Soan.

Dan aneh juga, pada saat itulah, berbareng Han Soan suami-isteri merasakan suatu arus tenaga yang maha kuat seakan-akan sedang membetot golok mereka, tahu-tahu kedua batang golok mereka telah tersedot diatas toya aneh milik Kim Jit-tan itu, meski bobot kedua golok itu cukup berat, tapi sekali terlengket diatas toya lantas tidak jatuh lagi.

Karena kehilangan golok, segera Han-toanio mengeluarkan ilmu simpananannya lagi, sekali ia tegakkan tongkatnya, tubuhnya terus berjumpalitan kebelakang, dan sebelum kakinya menyentuh tanah kembali, dua pasang Tiat-wan-yang sudah lantas disambitkan kedepan.

Sekali ini senjata rahasianya melulu incar seorang musuh saja, maka caranya menjadi lebih aneh dan bagus, dua pasang Tiat-wan-yang terbagi dari empat jurusan, sepasang yang mengarah bagian atas mengincar Pi-peh-kut dikanan-kiri pundak musuh, sedang sepasang Tiat-wan-yang yang menyambar kebawah masing-masing mengincar tulang dengkul.

Dengar, serangan Am-gi yang hebat ini, biarpun orang yang paling mahir menangkap senjata rahasia juga susah sekaligus menyambut serangan dari empat jurusan itu, kecuali.

kalau dia mempunyai empat tangan.

Tapi sungguh aneh, Kim Jit-tan hanya putar sekali toyanya yang aneh itu, seketika toya itu seperti mengeluarkan daya sedotan yang kuat sehingga kedua pasang Tiat-wan-yang yang disambit Han-toanio itu berganti arah dan menyambar keatas toya aneh tu dan tersedot semua diatasnya, jadi nasibnya mirip kedua batang golok tadi Kim Jit-tan terbahak-bahak, ia lepaskan kedua batang golok dan kedua pasang Tiat-wan-yang itu, lalu diserahkan kembali kepada Han Soan suami-steri, katanya.

"Terima kasih atas kesudian mengalah kalian."

Mestinya Han-toanio hendak menolak, tapi gagang golok sendiri sudah disodorkan sampai ditangannya, kalau ia menolak lagi, tentu akan kurang sedap dipandang orang.

Maka terpaksa ia menerimanya kembali dengan rasa bimbang.

Segera Coan Co-tek tampil kemuka dan menyeret mundur Han Soan berdua, katanya menghibur.

"Kalah atau menang adalah soal biasa dalam pertempuran, buat apa mesti dipikirkan? Kalian suami-isteri juga sudah menang satu babak, kalau sekarang kalah juga boleh dikata seri!"

Kiranya Coan Co-tek kuatir Han Soan suami-isteri menjadi putus asa karena kekalahan mereka itu dan mungkin, lantas berpikir cupet dengan membunuh diri dan sebagainya, maka ia sengaja hendak membesarkan hati mereka.

Han-toanio diam saja atas bujukan kawan itu, sebaliknya Han Soan tampak lebih tenang, sahutnya dengan tawar.

"Ini tidak menjadi soal, kedatangan kami harini memangnya juga tidak pernah pikirkan akan pulang lagi dengan hidup."

Co-tek terkejut oleh jawaban itu, ia kuatir kedua orang nya akan maju lagi untuk mengadu jiwa, tapi dilihatnya mereka toh ikut mundur bersama dia, maka iapun merasa lega.

la sangka ucapan Han Soan itu hanya terdorong oleh rasa menyesalnya karena mengalami kekalahan, ia tidak tahu bahwa diam-diam didalam hati Han Soan sudah mengambil suatu keputusan yang tertentu.

Sementara itu Kim Jit-tan masih tetap berdiri ditengah ka-langan dan belum mau mengundurkan diri.

Diam-Diam In Ciau memikir.

"Meski kawan yang datang membantu aku sangat banyak, tapi mungkin tiada lagi yang dapat rnelawannya boleh jadi terpaksa aku sendiri yang harus maju untuk menghadapinya."

Dan baru dia hendak berbangku dari tempat duduknya, tiba-tiba terdengar Kim Jit-tan sedang berseru lantang.

"Perkataan Coanpangcu memang tepat, kalah atau menang adalah soal biasa dalam setiap pertempuran, kenapa mesti dipikirkan secara mendalam? Kang-layhiap, dahulu orang she Kim ini telah pernah mendapat petunjukmu, sungguh beruntung harini dapat berjumpa pula disini, apakah Kangtayhiap masih sudi memberi petunjuk-petunjuk lagi?"

Sehabis mengalahkan Han Soan suami-isteri, sebenarnya Kim Jit-tan hendak langsung menantang In Ciau, tapi demi mendengar perkataan Coan Co-tek tadi, ia sangka orang she Coan itu sengaja hendak menyindir kejadian dia dikalahkan Kang Lam dahulu, dengan mendongkol maka ia lantas menantang Kang Lam dan menunda maksudnya menantang In Ciau.

Keruan Kang Lam garuk-garuk kepala, sahutnya kemudian.

"Ah, apakah kau maksudkan diriku?"

Maklum, selamanya ia tidak pernah dipanggil sebagai "Tay-hiap" (pendekar besar) oleh siapapun juga.

maka sesudah selesai Kim Jit-tan bicara barulah dia paham yang dimaksudkan adalah dirinya.

Maka Kim Jit-tan telah berkata pula.

"Ya, Kang-tayhiap. apakah kau tidak sudi memberi petunjuk lagi?"

"Ai, ai! Tayhiap apa segala? Aku ini hanya Tayhiap gadungan kau tahu tidak?"

Sahut Kang Lam dengan tersenyum getir.

"tapi kalau kau berkeras ingin mengajak main-main padaku, ya, terpaksa........."

Belum lagi lanjut ucapannya, mendadak Kang Hay-thian telah berdiri dan menyela. ,Tia, biarlah anak mewakili kau saja"

Maka cepat Kang Lam ganti haluan dan meneruskan ucapannya.

"Ya, terpaksa aku suruh puteraku untuk belajar kenal dengan kepandaianmu yang lihay. Aku sendiri sudah tua, badanku ini sudah keropos dan sudah tentu tidak kuat berkelahi lagi. Semua kepandaianku sudah kuajarkan kepada puteraku ini, jika kau dapat mengalahkan dia, maka akupun akan mengaku kalah dengan rela". In Ciau cukup kenal ilmu silat Kang Hay-thian jauh lebih tinggi daripada bapaknya. Tapi ia belum tahu bahwa Hay-thian pernah minum Thian-sim-ciok, maka betapapun ia masih kuatir, ia memberi pesan kepada Kang Hay-thian sebelum pemuda itu melangkah maju.

"Hendaklah hati-hati kepada toyanya yang aneh itu, toyanya itu ada sesuatu yang tidak "beres!"

"Jangan kuatir,"

Tiba-tiba Kang Lam menyela dengan tertawa.

"Senjata yang digunakan Hay-thian adalah Cay-inpokiam pemberian Kim-tayhiap, dalam hal senjata tentu dia tidak kalah hebatnya."

Sebaliknya Kim Jit-tan menjadi mendongkol melihat Kang Lam cuma menyuruh puteranya yang maju untuk menandingi dirinya, ia anggap Kang Lam sengaja menghina padanya.

Tapi iapun cukup cerdik, segera terpikir olehnya bahwa setiap ayah didunia ini tentunya juga cinta pada puteranya, kalau tidak yakin akan dapat melawan, tidak mungkin Kang Lam suruh puteranya menghantarkan, nyawa padaku?

Sebenarnya ia tidak memandang sebelah mata kepada Kang Hay-thian, tapi demi terpikir demikian, seketika ia tidak berani memandang enteng lagi Ketika sudah berhadapan, ia lihat Kang Hay-thian gagah perkasa, kedua matanya bersinar.

diam-diam iapun terkesiap, pkirnya.

"Usia bocah ini masih sangat muda. darimana bisa memperoleh didikan Lwekang setinggi ini?"

Waktu ia melihat pedang yang tergantung dipinggang Haythian samar-samar mengeluarkan cahaya, segera Jit-tan mengenali senjata itu adalah Cay-in-pokiam yang dahulu pernah dipakai Kim Si-ih, keruan ia tambah kaget.

Segera ia tanya Hay-lhian.

"Kau pernah apanya Kim Si-ih? Mengapa pedangnya bisa berada padamu?"

Lebih dulu Kang Hay-thian memberi hormat, lalu menjawab.

"Kim-tayhiap bukan lain adalah guruku sendiri!""

Diam-Diam Kim Jit-tan menjadi ragu-ragu.

"Kiranya adalah muridnya Kim Si-ih, pantas Kang Lam berani menyuruh dia maju kegelanggang. Rupanya hari ini toyaku "Kip-sing-pang"

Akan ketemukan "batunya."

"Kim-sing-pang"

Atau toya penyedot bintang milik Kim Jittan itu adalah buatan dari besi semberani yang dapat menyedot segala macam logam.

tapi Cay-in-pokiam yang digunakan Kang Hay-thian itu bukan buatan dari logam, tapi adalah gemblengan dari kemala dingin yang diketemukan didasar lautan, tipisnya seperti kertas, tapi tajamnya tidak kepalang, Kip-sing-pang boleh dikata tidak berkutik bila ketemukan pedang mestika Cay-in-pokiam i!u.

Begitulah meski Kim Jit-tan agak jeri, tapi sebagai kaum angkatan tua, betapapun ia harus menjaga kehormatannya, maka katanya kemudian.

"Wah, kiranya adalah muridnya Kimtay-hiap. Sudah lama aku mengagumi pedang pusakanya ini adalah benda mestika yang uyaiang ada bandingannya didunia ini, harini beruntung dapat berkenalan, harap Kang-siauhiap lantas keluarkan pedangmu agar aku dapat melihatnya."

Tapi Kang Hay-thian tetap menjawab dengan penuh homat, katanya.

"Wanpwe justru ingin minta belajar kepada Cianpwe, mana Wanpwe berani main senjsita dihadapanmu?"

Lalu iapun berdiri dengan tenang dalam sikap sebagai kaum muda yang menghormati angkatan tua.

Kiranya maksud tujuan Kang Hay-thian maju kekalangan ini selain hendak menaikkan nama baik ayahnya, disamping itu ia mempunyai maksud lain pula.

la pernah mendengar cerita Suhunya bahwa Kim Jit-tan ini adalah seorang aneh didunia persilatan, dalam hal Lwekang.

mempunyai peyakinan yang lain da-ripada yang lain, tindak-tanduknya juga tidak menentu diantara kaum jahat dan kaum kesatria, tapi adalah seorang laki-laki yang tulus.

Kemudian didengarnya pula Kim Jit-tan mengaku sebegai kawannya Yap Tiong-siiiu, hal ini menimbulkan lebih banyak lagi simpatiknya Kang Hay-thian, sebab itulah ia sudah ambil putusan akan berlaku sungkan, padanya.

kalau ln Ciau yang bergebrak dengan Kim Jit-tan tentu akan terjadi banjir darah, makanya ia lantas mendahului maju.

Begitulah maka Kim Jit-tan telah terkejut, pikirnya.

"Wah, benar-benar satu bocah yang tidak kenal tingginya langit, masakah berani melawan toyaku dengan bertangan kosong?"

Tapi hal inipun cocok pula dengan harapannya, segera ia ketawa terbahak-bahak dan, berkata.

"Hahaha! Benar-Benar anak murid pendekar besar yang ternama, nyatanya memang punya perbawa yang lain daripada yang lain. Bagus, bagus! Maka biarlah akupun coba-coba beberapa jurus dengan bertangan kosong padamu."

Segera iapun selipkan toyanya yang aneh itu diikat pinggang belakang, lalu pasang kuda-kuda dan menantikan serangan Kang Hay-thian.

Tak terduga Kang Hay-thian juga diam saja, malahan katanya dengan tersenyum.

"Ah, mana Wanpwe berani berlaku kurangajar, silakan Cianpwe saja menyerang dulu tiga kali"

"Apa katamu? Kau juga akan mengalah tiga jurus padaku?"

Tanya Kim Jit-tan dengan tercengang.

"Hahaha! Bukankah tadi kau sendiri yang memberi contoh Pada anakku, maka kaupun tidak perlu sungkan-sungkan"

Demikian Kang Lam menyambungnya dengan tertawa.

"Ehm, bagus, bagus!"

Puji Kim Jit-tan.

"Memang ayah harimau tidak nanti melahirkan anak anjing. Guru pandai tentu juga mengeluarkan murid didik yang lihay! Biarlah aku akan memenuhi keinginanmu saja."

Lalu tangan kirinya terangkat kesamping, menyusul lantas menolak pelahan-lahan kearah Kang Hay-thian.

Waktu itu Kang Lam lagi merasa senang karena dipuji oleh Kim Jit-tan sebagai "ayah harimau", tak terduga mendadak tertampak Kang Hay-thian lantas tergeliat dan hampir roboh.

Keruan ia kaget.

Kiranya serangan Kim Jit-tan itu kelihatannya sangat lambat, tapi sebenarnya membawa tenaga sedotan yang maha kuat.

Sama sekali Kang Hay-thian tidak menduga akan tenaga pukulan lawan yang aneh itu dan sebelumnya tidak siap-siaga, maka hampir-hampir terseret oleh tenaga sedotan itu, untung ia sempat menarik diri, walaupun terlepas, tapi tidak urung juga tergeser satu langkah.

Sebaliknya Kim Jit-tan juga terkejut.

katanya didalam hati.

"Aneh benar, usianya masih sangat muda, mengapa memiliki tenaga dalam sekuatnya ini?"

Sebelumnya meski dia sudah dapat melihat Kang Hay-thian pasti memiliki Lwekang yang tinggi, tapi betapapun ia anggap usia Hay-thian masih terlalu muda, betapapun tingginya juga takkan melebihi dinnya.

Pertama ia merasa sayang kepada pemuda itu, kedua tidak ingin mengikat permusuhan dengan Kim Si-ih, makanya pukulannya tadi hanya digunakan tujuh bagian tenaganya saja.

malahan ia masih kuatir kalau Kang Hay-thian takkan tahan.

Siapa duga sesudah kehilangan imbangan badan, kemudian Kang Hay-thian masih dapat melepaskan diri dari tenaga tarikanmu.

Dan baru sekarang Kim Jit-tan tahu bahwa Lwekang Hay-thian bahkan masih diatasnya dan tidak dibawahnya.

Setelah dapat menjajal kekuatan Kang Hay-thian, maka untuk serangan kedua dan ketiga Kim Jit-tan sudah lantas mengerahkan segenap tenaganya, beruntun-runtun ia melontarkan pukulan dahsyat dengan cepat.

Namun sekarang Kang Haythian juga sudah siap sedia, ia kerahkan ilmu pelindung badan dan menggunakan langkah Thian-lo-poh-hoat, tampaknya pukulan Kim Jit-tan hampirhampir kena sasarannya.

tapi tahu-tahu Hay-thian sedikit berkelit atau menggeser dan orangnya sudah terluput dari serangan.

"Bagus, memang guru pandai tidak punya murid bodoh!"

Puji Kim Jit-tan.

"Nyata didikan Kim-tayhiap memang tidak mengecewakan. Lwekang dan Ginkang serba komplit. Seharusnya aku akan mengaku kalah, tapi kesempatan baik ini susah dicari, aku masih ingin belajar kenal dengan ilmu sakti ajaran Kim-tay-hiap yang lain."

"Ah, Cianpwe terlalu merendah diri,"

Sahut Hay-thian.

Sedang dalam hati ia sudah ambil keputusan akan memberi tabrakan yang lebih hebat agar lawan mau mundur dengan sukarela.

Maka mendadak iapun melontarkan pukulannya untuk menyambut serangan Kim Jit-tan yang telah dilacarkan lagi.

"Plak,"

Kedua orang sama-sama terkejut demi kedua tangan saling beradu.

Kang Hay-thian merasa tangan lawan panas sebagai api, tenaga dalamnya serasa susah ditahan dan hampir-hampir disedot lawan.

Pantas Suhu mengatakan Lwekang orang Hwe ini sangat aneh, nyata memang lain daripada yang lain, demikian pikirnya.

Sebaliknya Kim Jit-tan juga terkesiap dan ragu-ragu, ia telah kerahkan tenaganya dengan semakin kuat.

tapi pemuda itu tetap dapat bertahan dengan tangkas.

Ilmu pukulan "Kipsing-ciang" (pukulan penyedot bintang) yang telah diyakinkan itu seperti kehilangan daya guna diatas tubuh Kang Haythian, malahan pemuda itupun tidak kelihatan balas menyerang dengan sepenuh tenaga sehingga susah untuk menjajaki sampai dimana ke-kuatan Hay-thian yang sebenarnya.

Kiranya sesudah Kang Hay-thian tekun melatih diri selama sebulan, oleh karena kekuatan yang diperoleh dari Thian-simciok itu telah bersatu dengan tenaga dasar yang memang sudah dimilikinya itu, maka ia sudah dapat menggunakan dengan leluasa.

Memangnya iapun tidak bermaksud melukai Kim Jit-tan, maka ia lantas mengikuti perubahan tenaga lawan, baik kuat maupun lemah, ia hanya mengikuti saja asal lawan tidak mampu menyerangnya, tapi juga tidak balas menyerang.

Dengan keadaan saling tahan demikian, air muka Kim Jitfati tampak dari pucat berubah merah, dari merah berubah guram sehingga otot-otot dijidatnya sama menonjol, nyata keadaannya sudah serba susah.

Sebaliknya Kang Hay-thian masih tetap tenang-tenang saja dan sedikitpun tidak bergerak.

Bagi kaum ahli yang menyaksikan pertarungan ini segera dapat melihat bahwa kekuatan Kang Hay-thian sudah terang setingkat lebih tinggi daripada Kim Jit-tan.

"Kip-sing-cing"

Yang diyakinkan Kim Jit-tan sebenarnya sangat aneh, asal menyentuh tubuh lawan, seketika tenaga pukulannya akan terus bekerja dan mengisap tenaga lawan untuk memupuk kekuatannya sendiri.

Betapa lihay nya "Kipsing-ciang"

Hampir dapat dikatakan tidak kalah daripada "Siulo-im-sat-kang"nya Beng Sin-thong.

Kim Jit-tan sudah tekun meyakinkan selama 20 tahun dan belum lama Ini baru saja mencapai fngkatan tertinggi.

Harini dia sengaja ikut hadlir maksud tujuannya justeru ingin mencari beberapa tokoh terkuat seperti In Ciau, Hoa Thian-hong dan lain-lain untuk mengetes sampai dimana kelihayan ilmu pukulan yang baru selesai diyakinkan itu.

Terhadap Kang Hay-thian semula ia tidak ingin menggunakan Kip-sing-ciang, tapi kemudian melihat kepandaian Kang Hay-thian tidak boleh dipandang enteng, terpaksa barulah ia mengeluarkan-nya.

Siapa duga meski ia sudah mencoba dan mencoba lagi, bukan saja tenaga dalam Kang Hay-thian tak dapat disedot olehnya, sebaliknya tenaga dalamnya sendiri malah seperti, terhalang dan susah dimainkan, ketika dikerahkan berbalik terasa akan disedot oleh lawan malah.

Keruan kejut Jit-tan tak terhingga, pikirnya.

"Apakah barang-kali bocah inipun sudah meyakinkan Kip-sing-ciang? Tapi untuk melatih ilmu ini sedikitnya harus makan waktu puluhan tahun, sedangkan usia bocah ini paling-paling juga belum lebih dari 20 tahun, masakah sudah memiliki kepandaian setinggi ini?"

Dalam pada itu semakin kuat Kim Jit-tan mengerahkan tenaga-nya, semakin besar pula kerugiannya.

Tenaga yang dicurahkan itu seperti air sungai yang mengalir kelaut saja, sekali sudah keluar lantas lenyap tanpa bekas.

Tapi anehnya sama sekali ia tidak merasakan tenaga serangan kembali dari lawan.

Begitulah Kim Jit-tan bertambah gugup, ia hendak menarik kembali tangannya, tapi tangannya terlengket kencangkencang dengan tangan Kang Hay-thian dan susah dibetot, semakin keras ia meronta, maka daya lengket itu semakin kencang.

Keruan Jit-tan kelabakan dan serba susah.

Untung Kim Jit-tan juga seorang tokoh ahli, sesudah gugup sebentar saja, kemudian iapun dapat memahami sebabmusabab kekalahannya itu.

Kiranya Kang Hay-thian bukan telah berhasl meyakinkan Kip-sing-ciang, juga pemuda Ini tiada maksud hendak menyedot tenaga dalam lawan.

Soalnya karena Lwekang Haythian lebih kuat dari-pada Kim Jit-tan, tenaga yang digunakan Kang Hay-thian hanya tergantung dan mengikuti kuat dan lemahnya tenaga yang dikeluarkan Kim Jit-tan itu.

Semakin kuat Kim Jit-tan menyerang.

semakin kuat pula tenaga reaksi Kang Hay-thian, sebab itulah semakin Jit-tan meronta semakin susah melepaskan diri.

Setelah dapat memahami sebab-musabab itu, pelahanlahan Kim Jit-tan lantas melemahkan tenaga dalamnya dari sedikit-sedikit sehingga akhir nya sama sekali tiada tenaga yang dikerahkan lagi.

Dan benar juga.

ketika dengan enteng ia tarik kembali tangannya, dengan gampang saja sudah lantas terlepas.

Namun demikian, tidak urung tenaga dalamnya juga .sudah berkorban sebagian.

Dengan semangat lesu kemudian Kim Jit-tan berkata sambil tersenyum getir.

"Banyak terima kasih atas kemurahan hati Kang-siau hiap, sungguh orang she Kim ini menyerah lahir batin. Tentang urusan disini aku orang she Kim tiada muka buat ikut campur lagi."

Habis berkata, segera iapun tinggal pergi tanpa menoleh lagi.

Diam-Diam Kang Hay-thian agak menyesal telah merusak sebagian tenaga dalam orang she Kim itu, tapi ditengah orang banyak jika terang-terangan ia menyusul Km Jit-tan dan menyatakan maaf, hal ini tentu akan membikin orang she Kim itu lebih-lebih kehilangan muka, maka terpaksa iapun tidak mencegah kepergian orang.

Cuma saja maksudnya hendak tanya berita keadaannya Yap Tiong-siau menjadi gagal juga dengan perginya Kim Jit-tan itu.

Dengan terkalahkannya Kim Jit-tan dipihak Auyang Pek-ho.

keruan pihak mereka menjadi tambah panik.

Munculnya Yang Jik-hu sekali ini sebenarnya ada maksud tujuan hendak menjagoi Bu-lim kembali.

Kim Jit-tan itu dianggapnya sebagai tangan kanan-kirinya bagi usahanya ini.

Siapa tahu sekarang Kim Jit-tan telah dikalahkan Kang Haythian dan lantas tinggal pergi tanpa pamid, keruan Yang Jik-hu terkejut dan kecewa pula.

Pikirnia.

"Ilmu silat Kim Jit-tan kirakira sama tingkatan dengan aku, jikalau bocah ini mampu mengalahkan Kim Jit-tan, maka mungkin juga aku bukan tandingannya, apalagi orang-orang lain. Sekarang apa dayaku untuk menghadap babak selanjutnya?"

Sudah tentu ia tidak mau menyerah mentah-mentah. setelah memikir se-jenak, segera iapun mendapat akal. segera ia tampil kemuka dan berseru.

"Waktu sudah berlarut, pertemuan kita harini memangnya adalah lantaran persengketaan antara Auyang-cengcu dengan In-cengcu dan bukan pertandingan secara terbuka, kalau pertandingan dilanjutkan dengan sebabak demi sebabak tentu tak ada habis-habisnya dan tiada artinya pula. Maka ada lebih baik biarlah pemimpin utama dari pihak masing-masing yang segera keluar untuk menentukan keunggulan masing-masing, cara demikian akan lebih cepat diselesaikan. Aku orang she Yang agak tidak tahu diri, maka ingin mohon In-cengcu suka tampil kemuka untuk memberi pengajaran?"

Nyata Yang Jik-hu sengaja hendak mengesampingkan Kang Hay-thian, makanya langsung menantang kepada In Ciau.

Memang, dengan kebesaran namanya dan ilmu silatnya Yang Jin-hu.

diantara para hadirin itu memang hanya In Ciau saja yang sesuai untuk menandinginya.

Dan karena ini, bagi orang lain menjadi tidak pernah menyangka bahwa dia sengaja hendak menghindari pertarungan dengan Kang Haythian, tapi semuanya mengang gap dia yang merasa tidak sudi bergebrak dengan kaum muda seperti Kang Hay-thian.

Hay-thian sendiri juga tidak ingin terlalu menonjolkan diri.

jikalau pihak lawan sudah "tunjuk hidung"

Minta In Ciau yang maju, dengan sendirinya ia tidak pantas untuk maju lagi. Dan sudah tentu In Ciau juga tidak mau unjuk kelemahan, segera ia menjawab dengan lantang.

"Bagus, memangnya aku lagi ingin belajar kenal dengan Siu-lo-im-sat-kang dari Yangsiansing yang terkenal didunia persilatan ini!". Sesudah berdiri, tiba-tiba ia merandek sejenak, lalu berpaling dan memberi pesan kepada puterinya, yaitu In Bik, katanya "Bik-ji, co-ba kau keluar sana untuk membantu Ibunsuheng menerima tamu yang datang terlambat."

Nyata ia sudah menduga pertarungan ini nanti tentu sangat dahsyat dan tidak kenal ampun, kalau bukan kau yang mampus, tentu aku yang gugur.

Ia kuatir puterinya kurang kuat menahan perasaannya bila melihat dia terluka nanti, makanya sengaja menyuruhnya keluar dengan alasan itu.

Meski In Bik ogah-ogahan atas perintah ayahnya itu, tapi iapun tidak berani membantah dan terpaksa keluar dengan kurang senang.

Sesudah puterinya disuruh menyingkir, habis ini barulah In Ciau tampil ketengah kalangan, lebih dulu ia angkat tangan memberi hormat dan berkata.

"Silakan memberi petunjuk. Yang-siansing!"

Yang Jik-hu terbahak-bahak, sahutnya dengan sikapnya yang angkuh.

"Kau adalah pemimpin Bu-lim yang terkenal, sedangkan aku jelek-jelek juga pernah malang melintang didunia Kangouw. Maka kita siapapun tidak usah mengalah dan merasa sungkan. Nah. kita boleh menyerang berbareng saja!"

"Baiklah!"

Sahut In Ciau.

Habis itu, kedua orang sama-sama memutar sekali, lalu mendadak membentak berbareng dan tangan masing-masing sama-sama dihantamkan kedepan.

Nyata kedua orang memang saling menyerang berbareng dan tiada seorangpun yang mengalah.

"Siu-lo-im-sat-kang"

Yang diyakinkan Yang Jik-hu itu sudah mencapai tingkatan yang terakhir, maka sekal pukulannya dilontarkan, seketika hawa dingin berjangkit, biarpun penonton-penonton itu duduk cukup jauh dipinggir kalangan juga merasakan hawa dingin yang menusuk tulang, bagi orang yang Lwekangnya kurang kuat, seketika menggigil kedinginan seperti orang demam.

In Ciau yang menjadi sasaran serangan itu seketika antero tubuhnya seperti dibungkus oleh hawa maha dingin itu sehingga darah seakan-akan membeku juga.

Tapi yang dia yakinkan justeru ada-lah Lwekang yang positip.

jadi bagaimanapun ia masih sanggup tahan.

"Tay-lik-"kim-kong-ciang"

In Ciau boleh dikata tiada bandingan nya didunia ini, kalau melulu bicara tentang dahsiatnya tenaga pukulan, biarpun Beng Sin-thong hidup lagi juga belum tentu dapat melebihi dia.

Meski Yang Jik-hu juga sudah menyelesaikan Siu-lo-im-sat-kang sehingga tingkatan tertinggi, namun kalau dibandingkan mendiang Suhengnya itu betapapun tetap kalah.

Maka begitu kedua tenaga pukulan kebentur.

"biang". In Ciau tidak tergoyah sedikitpun, sebaliknya Yang Jik-hu tergetar mundur sampai tiga tindak. Seketika bergemuruhlah suara sorak-sorai diantara para ksatra, lebih-lebih Kang Lam, ia sampai berjingkrak-jingkrak dan berseru.

"Haha! Betapapun jahe tua memang lebih pedas!"

Keruan muka Yang Jik-hu abang-hijau, dengan menahan perasaannya kembali ia melontarkan sekali pukulan lagi.

Segera In Ciau menangkis pula hantaman itu, dan sekali ini Yang Jik-hu hanya tergetar mundur dua tindak saja.

Begitulah kedua orang telah mengerahkan segenap kemampuan masing-masing, setiap kaki tangan mereka beradu, kontan lantas mengeluar kan suara gemuruh sebagai angin menderu.

Hanya dalam sekejap saja kedua pihak sudah saling gebrak belasan diurus.

Beberapa meter disekitar mereka lantas terselubung selapis kabut putih, hal itu tentunya akibat hawa dingin dari pukulan Siu-lo-im-sat-kang yang lihay itu.

Melihat betapa lihaynya Yang Diik-hu.

diam-diam para kesatria menjadi kuatir bagi In Ciau, akhirnya mereka terlongong-longong dan lupa bersorak lagi.

Sesudah bergerak beberapa kali pula, tertampaklah In Ciau mulai basah keringat.

meski belum kelihatan ia akan lantas kalah, tapi setiap kali mengadu tangan lagi Yang Diik-hu sudah tidak terdesak mundur seperti tadi.

Kiranya dalam hal tenaga dalam, betapapun In Ciau memang lebih tinggi setingkat daripada Yang Jik-hu, tapi disampinq itu ia harus mengerahkan tenaga untuk menahan serangan hawa dingin dari tenaga pukulan lawan, lama kelamaan dengan sendirinya tenaganya sudah terbuang, scbaliknya pihak lawan tidak menjadi berkurang tenaga pukulannya, lantaran ini.

maka keadaan menjadi berubah sehingga sekarang Yang Jik-hu yang telah menguasai lapangan.

Diantara pada penonton yang ahli sekarang sudah dapat melihat bahwa kemenangan sudah pasti akan diperoleh Yang Jik-hu.

soal-nya hanya waktunya saja, cepat atau lambat.

Maka Auyang Pek-ho telah terbahak-bahak.

katanya denqan sengadia.

"Hahaha! Siu-lo-im-sat-kang Yang-siangsinp memang benar-benar tiada bandingannya di Bu-lim, benarbenar luar biasa!"

Mendengar itu. sudah tentu para kesatria sangat mendongkol, terutama Kang Lam yang tidak tahan, segera in berkata.

"Hay-thian. coba kau maju untuk menggantikan Incengcu saja, biar iblis tua itu kenal akan kelihayan kita."

Akan tetapi ia tidak memperoleh jawaban sang putera.

Waktu diperiksa, teniata Kang Hay-thiaan sudah tidak disampingnya lagi.

pemuda itu entah sejak kapan sudah menyisir ketepi kalangan dan sedang menonton dengan asyiknya bersama orang lain.

Dan ditengah sorak-sorai Auyanp Pek-ho tadi rernyata Yang Jik-hu juga sengaja hendak jual aksi, ia telah kerahkan Siu-loim-sat-kang tingkatan tertinggi, kedua tangannya sekaligus terus dihantamkan.

Seketika berjangkitlah angin lesus yang dingin me-nusuk tulang disertai kabut tipis dan debu pasir yang bertebalan sehingga bayangan tubuh kedua orang yang sedang bertempur itu hampir-hampir tidak kelihatan, penonton menjadi susah membedakan sia-pa adanya Yang Jik-hu dan siapa In Ciau, In Ciau sendiri terasa sesak juga napasnya karena tekanan angin pukulan itu dengan hawa yang dingin luar biasa.

Pikirnya.

"Celaka, tidak nyana harini aku akan binasa dibawah tangannya Yang Jik-hu!"

Dalam putus asanya segera ia menjadi nekat juga.

ia pikir daripada mati konyol lebih baik gugur bersama musuh.

Maka iapun mengerahkan segenap tenaganya untuk melawan dengan mati-matian.

Tapi belum lagi pukulannya itu beradu denqan tangan Yang Jiik hu.

mendadak terdengar orang she Yang itu sudah menjerit sekali, tubuhnya lantas terlempar pergi sebagai bola sehingga belasan meter jauhnya.

menyusul dari mulutnya lantas meniemburkan darah seoar, namun demikian, sesudah merangkak bangun, cepat iapun melarikan diri tanpa menoleh lagi.

Kejadian ini benar-benar diluar dugaan siapapun juga.

Seketika orang-orang dipihak Auyang Pek-ho termangu-mangu sebagai patung.

Sebaliknya orang-orang dipihak In Ciau juga terkesima sejenak.

tapi serentak mereka lantas bersorak gembira atas kemenangan pihak mereka.

Hasil pertandingan ini tak saja diluar dugaan siapapun juga.

bahkan In Ciau sendiri juga merasa bingung.

Tadi meski dia sudah bertekad akan gugur bersama musuh, makanya melontarkan Tay-lik-kim-kong-ciang dengan segenap tenaganya namun demikian ia sendiri sebenarnya tidak yakin akan dapat merobohkan lawanya yang tangguh itu.

sebab ia cukup sadar pada saat itu tenaga dalamnya sudah berkurang sangat banyak dan jauh lebih lemah daripada lawannya.

Apalagi iapun tahu pukulannya itu hakikatnya belum lagi mengenai sasarannya.

maka ia benar-benar tidak percaya bahwa Yang Jik-hu itu terpental oleh karena pukulannya.

Habis, sebab apakah mendadak Yang Jik-hu terjungkal dan muntahkan darah, lalu ngacir?

Kiranya ini adalah "karya"

Kang Hay-thian.

diam-diam pemuda ini telah membantu In Ciau dengan tenaga tutukannya yang lihay.

Pada saat kedua orang itu diselubungi kabut dan debu yang ber-tebaran, diam-diam Hay-thian telah gunakan "Keh-khong-kiam-hiat" (ilmu menutuk dari jauh) yang sakti serta menutuk Yang Jik-bu dari jauh.

Kang Hay-thian sudah berhasil meyakinkan "Bu-heng-cinggi" (hawa murni tanpa wujud) yang kuat, maka sekarang dapat digunakannya dengan baik, sekali ia tutuk, satu jalur hawa yang tak berwujud.

tapi maha kuat, terus menyambar ke "Lo-kiong-hiat"

Ditelapak tangan Yang Jik-hu sehingga Im-satkang yang telah di kerahkan ditengah telapakannya itu seketika buyar dan punah, sedikitpun tak bisa bekerja lagi.

Cuma saja terpentalnya Yang Jik-hu itu memang betul-betul disebabkan tenaga pukulan Tay-lik-kim-kong-ciang yang dihantamkan In Ciau itu sehingga terluka parah dan muntah darah, yaitu pada saat dimana Siu-lo-im-sat-kangnya kebetulan telah punah kena tutukan Kang Hay-thian itu, dengan sendirinya ia tidak kuat menahan hantaman In Ciau yang maha dahsyat itu.

Pada waktu itu semua orang sedang mencurahkan seluruh perhatian mereka untuk mengikuti pertarungan sengit ditengah kalangan, maka tiada seorangpun yang mengetahui perbuatan Kang Hay-thian itu, andaikan ada yang melihatnya juga takkan menyangka bahwa hanya sekali tuding dari jauh saja pemuda itu mampu melontarkan tenaga tutukan selihay itu?

Karena itu, diantara orang-orang yang hadir disitu itu hanya In Ciau sendiri yang merasa ragu-ragu, lapat-lapat ia merasa, kemenangannya itu terlalu mustahil dan dibalik itu pasti ada seorang kosen yang telah membantunya.

Dengan d"ikalahkannya Yang Jik-hu, keruan suasana gelanggang pertempuran itu lantas berubah.

Yang Jik-hu dan Kim Jit-tan adalah tulang punggung dari jago-jago yang diundang oleh pihak Auyang Pek-ho, sekarang mereka sudah ngacir, tentu saja semua-nya menjadi jeri dan tiada seorangpun yang berani maju lagi.

Sesudah suasana tenang kembali, lalu Hupangcu dari Kaypang, yaitu Coan Co-tek lantas membuka suara lagh "Nah, Auyang-cengcu, urusan sudah mendekati akhirnya, sekarang apakah kau masih tetap hendak mengeloni bangsat cilik she Yap itu?"

Segera In Ciau juga lantas menambahi.

"Auyang-cengcu, asalkan kau menyerahkan bangsat cilrk she Yap itu, maka urusan ini akan mudah diselesaikan."

Namun dengan muka merah padam Auyang Pek-ho lantas tam-pil kemuka, katanya.

"In-ceng-cu, banyak terima kasih atas maksud baikmu. Akan tetapi tentang orang yang kau kehendaki sudah terang tidak ada, nah, apa mau dikata lagi, silakan mulai bergebrak saja!"

"Toako."

Tiba-tiba Auyang Tiong-ho menyela.

"Tiong-siau adalah anak menantuku, keonaran yang dia lakukan seharusnya akulah yang ikut bertanggung-jawab. Dari itu, In Ciau, biarlah kami suami-isteri tua bangka ini belajar kenal dengan kepandaianmu."

Tapi Pek-ho tidak mau mengalah, segera sahutnya.

"Jite. hendaklah kau mundur bersama Tehu (adik ipar, isteri saudara), aku adalah kepala keluarga kita, segala apa adalah tanggungjawabku."

Demikian kedua saudara Auyang itu berebut ingin maju kekalangan pertempuran, maksudnya ialah untuk menyelamatkan saudara sendiri.

Padahal dengan kepandaian Yang Jik-hu saja juga dikalahkan oleh pukulan In Ciau yang lihay, mereka bersaudara cukup tahu, biarpun mereka bertiga maju sekaligus juga susah menyelamatkan jiwa mereka dibawah tangannya In Ciau, sebab itulah mereka sengaja hendak memikul sendiri tanggung-jawab persoalan ini supaya saudara-saudara yang lain tidak ikut menjadi kor-ban.

Tengah kedua saudara Auyang itu ribut sendiri, tiba-tiba Hoa Thian hong maju ketengah dan berkata.

"Auyang-loji, bukankah kita juga masih ada perhitungan yang belum lagi dibereskan?"

Kiranya demi menyaksikan keadaan demikian, diam-diam Hoa Thian-hong telah berpikir.

"Meski keluarga Auyang mereka tergolong Sia-pay yang dicerca sesama orang Bu-lim, tapi diantara sesama saudara mereka ternyata mempunyai budi pekerti yang luhur. Sudahlah, mengingat kebaikan mereka, biarlah aku akan berdaya untuk menyelamatkan mereka."

Demikian Hoa Thian-hong telah ambil keputusan, apabila nanti ia mesti bergebrak dengan saudara-saudara Auyang itu, maka tentu akan berlaku sungkan dan takkan mencelakai jiwa mereka.

Sebaliknya Auyang Tiong-ho dan isterinya tidak tahu maksud baik Hoa Thian-hong itu.

Mereka adalah bekas jago yang sudah keok dibawah tangannya Hoa Thian-hong, maka mereka tahu tak-kan menang jika mesti menghadapi tokoh Hba-san-pay itu.

Namun Hoa Thian-hong sudah terangterangan "tunjuk hidung"

Dan menantang mereka, terpaksa merekapun tidak dapat mengelakkan diri lagi. Maka dengan tersenyum sedih terpaksa Auyang Tiong-ho berkata.

"Toako, biarlah adikmu mendahului kau. Nah, Hoa Thian-hong, marilah maju sini, boleh kita bertempur dulu satu babak."

Selagi keadaan sudah tegang dan kedua pihak sudah pasang kuda-kuda dan siap bergebrak, sekonyong-konyong terdengarlah suara suitan orang yang panjang sekali sebagai ringkikan naga, sesosok tubuh manusia tertampak melayang tiba dengan cepat luar biasa dan tahu-tahu lantas berhenti ditengah-tengah antara Hoa Thian-hong dan Auyang Tiongho.

Lalu terdengar suaranya yang lantang.

"Tunggu dulu. aku Yap Tiong-siau sudah datang sekarang!"

Keruan saja suasana menjadi gempar lagi, riuh ramai suara para hadlirin yang saling bisik dan membicarakan pendatang yang mengaku sebagai Yap Tiong-siau itu.

Waktu Han Soan suami-isteri mengamat-amati dengan cermat, benar juga pendatang ini memang Yap Tiong-siau adanya.

Serentak mereka suami-isteri terus melompat maju dan memotong jalan mundur musuh, teriak mereka.

"Bagus, memang harus dipuji akan keberanianmu, akhirnya kau berani muncul juga. Nah, biarlah kita bikin perhitungan dulu utangpiutang Tin-wan-piaukiok dengan kau."

Diam-Diam Kang Hay-thian ikut tidak tenteram, ia menjadi bingung cara bagaimana agar dapat mengatasi suasana itu.

Iapun heran mengapa Auyang Wan tidak nampak ikut serta muncul?

Dalam pada itu Auyang Ji-nio mendadak menjadi marah, damperatnya.

"Yap Tiong-siau, kau kenal malu tidak? Kami sudah mengusir kau, buat apalagi kau kembali kesini? Hayo, lekas enyah, lekas minggat!"

Dengan tertawa Yap Tiong-siau telah menjawab.

"Aku memang sudah menduga a"kan terjadi seperti harini. Sebabnya kau tidak mau mengaku aku sebagai anak menantu bukankah juga lantaran urusan harini? Tapi seorang laki-laki, seorang kesatria sejati, berani berbuat berani bertanggungjawab, mana boleh aku membikin susah orang lain atas perbuatanku dahulu. Nah, harap kau mundur saja, bu!"

"Bagus! Ucapanmu cukup gagah berani,"

Kata In Ciau.

"Nah, biarlah kusempurnakan keinginanmu, marilah maju, asal kau mampu lolos dibawah tiga kali pukulanku, maka tentang utangmu yang telah melukai putera-puteriku akan kuhapus sampai disini dan tidak kuusut lebih lanjut."

Kiranya In Ciau kuatir kalau Han Soan suami-isteri bukan tandingan Yap Tiong-siau, maka sengaja mendahului menantang pemuda itu. Diam-Diam Kang Hay-tlriai sedang memikir.

"In-locianpwe punya Tay-lik-kim-kong-ciang tiada bandingannya didunia ini, tapi untuk menahan tiga kali serangannya rasanya Yap-toako masih lebih dari pada sanggup. Ehm, tahulah aku, mungkin_ In-loenghiong sengaja hendak melukainya sedikit sekadar untuk melampiaskan dendamnya saja."

Dengan kedudukan dan nama In Ciau, biasanya siapapun suka tunduk kepada perintahnya. Siapa duga sekali ini Han Soan suami-isteri telah ngotot takmau kalah, lebih dulu Hantoanio membuka suara.

"In-cengcu, dalam urusan lain kami rela menurut maksud-mu, tapi sekali ini hendaklah kau mengalah pada kami. Kedua kakiku ini telah pincang akibat perbuatan bangsat cilik ini, biarlah siku serahkan jiwaku ini bila perlu, tapi paling tidak aku harus melabraknya dahulu sebisa mungkin."

Han Soan juga berkata.

"Ya, In-toako, 36 jiwa dari Tin-wanpiaukiok kami, dendam ini sedalam lautan dan jauh lebih besar daripada sakit-hatimu, maka sukalah kau membiarkan kami maju dahulu."

Diam-Diam Kang Hay-thian terkejut. Pikirnya pula.

"Tampaknya Han Soan berdua sudah bertekad akan mengadu jiwa dengan Yap Tiong-siau, lantas baga mana aku harus bertindak?"

Hendaklah maklum bahwa "ilmu silat Han Soan suami-isteri meski lebih lemah daripada Yap Tiong-siau, tapi mereka masih memiliki senjata rahasia Tiat-wan-yang yang lihay, apalagi kalau bicara tentang kebenaran memang Yap Tiong-siau yang telah berbuat salah atas diri suami-isteri she Han itu.

maka tida"k mungkin Kang Hay-thian dapat membantu Yap Tiongsiau secara diam-diam Begitulah, selagi In Ciau tampak ragu-ragu belum menjawab dan Kang Hay-thian juga sedang kebat-kebit dan serba susah, tiba-tiba Yap Tiong-siau sudah lantas maju ketengah, katanya segera.

"Sudahlah, kalian tidak perlu berebut hak dahulu, yang sudah pasti ialah aku takkan bergebrak dengan kalian."

In Ciau tercengang sejenak, lalu tanyanya.

"Kau takkan bergebrak dengan kami? Habis buat apa kau datang kesini? Emangnya kau kira datang buat pelesir srja?"

Mendadak Yap Tiong-siau membusungkan dada, ia menengadah dan terbahak-bahak, tertawa yang lantang lepas, tapi membawa rasa yang duka serta angkuh pula. Kemudian baru ia berkata dengan pelahan-lahan.

"Siapa yang utang jiwa harus bayar jiwa, utang uang hayar uang. Aku telah berdosa, maka sudah seharusnya aku yang terima akibatnya. Kedatanganku harini kesini justeru bermaksud membayar semua utangku dahulu, untuk ini aku serahkan kepada keinginan kalian, cara bagaimana kalian hendak melunaskan utangku ini boleh terserah, pendek kata, biar dicincang maupun dikorek aku Yap Tiong-siau pasti takkan melawan."

Pernyataan Yap Tiong-siau ini seketika membikin suasana gelanggang pertempuran itu menjadi sunyi senyap.

Semula semua orang mengira dengan munculnya Yap Tiong-siau, maka pertarungan tentu akan tambah dahsyat, siapa tahu orang she Yap Ini justeru datang untuk menyerahkan diri dan rela di-hukum menurut mana suka dari pihak-pihak yang memusuhinya.

Keruan semua orang melongo heran.

Segera Tay-pi Siansu, kepala dari Cap-pek-lo-han di Slaulim-si lantas bersabda dalam Budha.

"Siaucay! Siancay! Letakkan golok jagalmu, segera kamu akan kembali kepada Budha!" .Sebaliknya In Ciau tampak bersengut dan mundur beberapa tindak. Sedangkan Han Soan suami-isteri malah terus melompat maju, dari kedua sisi mereka terus pegang kedua lengan Yap Tiong-siau, Han Soan mendorong pemuda itu lebih maju dan menghadapi para kesatria, lalu teriaknya keras-keras.

"Wahai, para sobat! Yap Tiong-siau, kau memang tidak malu sebagai seorang kesatria sejati, harini aku orang she Han telah mengikat seorang sobat sebagai kau!"

Selagi Hay-thian merasa girang karena disangkanya Han Soan sudah mau menjadikan bekas lawan itu sebagai kawan, siapa duga Han Soan lantas bersera lagi.

"Akan tetapi dendamku kepadamu sedalam lautan, 36 jiwa dari Tin-wanpiaukiok kalau tidak kutagih. kembali, rasanya akupun tiada muka untuk bertemu dengan saudara-saudara kami yang telah mangkat lebih dulu itu. Maka dari itu, so-bat she Yap, silakan mangkat lebih dulu dan segera orang she Han ini akan menyusul kau, dengan demikian rasanya akan dapat kau terima bukan? Nah, teman tua, bagaimana pendapatmu?"

"Tepat, memang beginilah keinginanku."

Sahut Han-toanio dengan dingin-dingin saja.

"Setelah membalas dendam, segala urusan sudah selesai, buat apalagi kita hidup didunia fana ini? Nah, sobat Yap, aku dan temanku yang tua bangka ini telah siap untuk menyusul kau, tentunya matipun kau takkan menyesal bukan?"

Kiranya Han Soan suami-isteri telah bertekad setelah membunuh Yap Tiong-siau, lalu mereka juga akan membunuh diri untuk menyusulnya.

Sebab kalau Yap Tiong-siau siap untuk mati dengan sukarela, maka mereka suami-isteri juga takmau kehilangan pamor sebagai kesatria sejati.

Maka segera sebatang golok panjang dan sebatang golok lain yang lebih pendek lantas mereka angkat keatas.

"Tahan dulu, Han-toako!"

Teriak In Ciau mendadak.

Karena itu golok Han Soan yang panjang itu telah merandek diatas, sebaliknya golok Han-toanio yang pendek itu tetap ditubles-kan tepat kearah dadanya Yap Tiong-siau, biarpun In Ciau hendak mencegah rasanya juga tidak keburu lagi.

Dan justeru pada saat senjata-Han-toanio itu sudah hampir menempel dada sasarannya, sekonyong-konyong terdengar suara seruan se-orang yang tergesa-gesa dari jauh.

"Tahan dulu! Dia bukan Yap Tiong-siau! Tapi aku inilah Yap Tiong-siau yang tulen!"

Mendengar seruan yang aneh itu, tanpa merasa golok Hantoanio yang sudah ditubleskan itu lantas tertahan mentahmentah ditengah jalan, Waktu Han Soan berdua mendongak kesan, terlihatlah seorang pemuda sedang berlari datang secepat terbang.

Anehnya wajah pemuda ini sangat mirip dengan Yap Tiong-siau, kalau baju mereka tidak berlainan, tentu orang akan susah membeda-bedakan mereka.

Melihat pemuda itu, maka Kang Hay-thian telah menghela napas lega.

Kiranya dia sebenarnya sudah bersiap-siap dikala golok Han-toa nio itu sudah ditubleskan, ia hendak menolong Yap Tiong-siau dengan menutuk Hiat-to ditangannya Hantoanio dengan tutukannya yang tak kelihatan itu, andaikan nyonya tua itu terpaksa mesti dilukai sedikit juga takbisa dipikirkannya lagi.

Tapi kini dengan da-angnya sipemuda yang bukan lain adalah Danu Cu-mu, maka tindakannya yang sudah disiapkan itu menjadi tidak perlu lagi.

Munculnya Danu Cu-mu sudah tentu membuat semua orang terkejut dan heran, tapi masih ada yang membikin semua orang ter-lebih heran ialah d belakang Danu Cu-mu ternyata masih ikut pula tiga orang lain.

Seorang adalah puterinya In Ciau sendiri.

In Bik, baju In Bik tampak kumal dan mukanya ada noda darah, agaknya baru saja berkelahi dengan orang.

Dan seorang lagi adalah muridnya In Ciau, yaitu Ibun Long.

Ia menyeret seorang wanita berusia antara 30-an tahun dengan muka yang cantik genit, tapi keadaannya seperti lemas lunglai dan mandah diseret oleh Ibun Long, agaknya Hiat-to ditubuhnya telah di tutuk orang.

In Ciau terperanjat dan cepat tanya.

"Bik-ji, ada apakah, apakah kau telah dilukai dia?"

Katanya sambil menunjuk Danu Cu-mu.

"Bukan,"

Sahut In Bik.

"tapi bangsat wanita itu yang hendak mencelakai aku dan dia yang telah menyelamatkan anak."

Ketika mula-mula ketemu Danu Cu-mu, sebenarnya In Bik juga menyangka dia adalah Yap Tiong-siau, tapi sekarang demi melihat ditengah kalangan situ sudah ada pula seorang Yap Tiong-siau lagi, ia menjadi heran dan ragu-ragu, namun Danu Cu-mu telah menolong nya, hal ini adalah nyata, maka.

tetap dituturkannya juga dengan sungguhnya.

Segera Ibun Long menutur lebih jauh.

"Tecu bersama Somoay sedang menyambut tamu diluar dan bangsat wanita ini mendadak menyerbu tiba, sekali gebrak Sumoay lantas tertawan olehnya dan Tecu juga tertutuk kaku. Syukurlah Enghiong ini keburu datang dan secepat kilat bangsat wanita itu dapat dtrobohkannya sehingga kami berdua dapat selamat. Bangsat wanita yang ditawan Enghiong ini lalu diserahkan kepadaku."

Dahulu, ketika barang kawalan Tin-wan-piaukiok dirampok habis-habisan diwilayah Orsim dipropinsi Jinghay.

kepala rampok itu adalah seorang wanita.

Diantara orang-orang Piaukiok yang ditawan itu hanya ada dua orang yang berhasil lolos dengan selamat, yaitu berkat bantuan Yap Tiong-siau yang telah mintakan ampun bagi mereka, sedang 36 orang lainnya telah dibunuh semua.

Dan kedua Piausu yang beruntung masih hidup itu sekarang juga ikut sang Congpiau-thau hadir dlsini, segera mereka berlari maju demi mengenali wanita yang ditawan Danu Cumu itu, seru mereka.

"Han-cong-piauthau, dahulu biangkeladi yang membunuh saudara-saudara kita itu tak-lain-tak-bukan adalah bangsat wanita ini!"

Han Soan masih ragu-ragu, ia lantas berseru.

"Para hadirin yang terhormat, apakah diantara para sobat yang hadir ini ada yang kenal bangsat wanita ini?"

Segera Pangcu dari.

"Hay-yang-pang"

Yang bernama Yan Goan berteriak.

"Aku kenal dia. Dia adalah salah satu Hiangcu yang terkenal didalam Thian-mo-kau, namanya Bok Kiu-nio dan berjuluk Kiu-bwe-hou-li (si rase berekor sembilan)!"

Hay-yang-pang terhitung suatu perkumpulan rahasia yang cukup besar, usahanya ialah semokel dan menjual garam gelap, sebab itulah banyak sekali golongan-golongan Sia-pay dan kalangan penjahat yang dikena!

mereka.

Seketika Han Soan merasa bingung demi mendengar keterangan itu.

Sebelumnya ia telah anggap Yap Tiong-siau sebagai komplotan bangsat wanita itu, sebab itulah utang jiwa ke-36 orang Tin-wan-piaukiok itu iapun tumplekan atas dirinya Yap Tiong-siau.

Siapa tahu sekarang mendadak muncul seorang Yap Tiong-siau yang lain, bahkan Yap Tiong-siau kedua inilah yang telah menawan bangsat wanita yang justeru merupakan biangkeladi dari semua gara-gara ini, bahkan telah menyelamatkan In Bik pula.

Setelah tertegun sejenak, akhimya Han Soan berteriak pula dengan mata mendelik.

"Sebenarnya siapakah diantara kalian yang betul-betul adalah Yap Tiong-siau?"

"Aku!"

Sahut Yap Tiong-siau.

"Aku!"

Demikian Danu Cu-mu juga menjawab.

Wajah mereka hampir serupa, tapi toh ada sedikit perbedaannya.

yaitu suaranya dan sikapnya ada berlainan.

Han-toanio pernah dilukai Yap Tiong-siau sehingga kakinya pin-cang, dendam kesumat itu selalu diingat-ingat didalam hati, makanya terhadap ciri-ciri Yap Tiong-siau itu cukup berkesan, sekarang iapun dapat melihat perbedaan-perbedaan diantara Cu-mu dan Tiong-siau itu, maka diam-diam bisiknya kepada sang suami.

"Kulihat yang betul adalah orang yang datang lebih dulu tadi?"

Namun begitu iapun tidak berani memastikan, sebab itulah ia ingin minta pendapat sang suami. Belum lagi Han Soan menjawab, tiba-tiba terdengar seruan seorang yagi.

"Nanti dulu, biar aku memeriksanya!"

Kiranya orang ini adalah Nyo Lin, muridnya Yap Kun-san yang sekarang menggantikan sang guru sebagai Ciangbunjin.

Han Soan berdua sangat girang, mereka pikir Nyo Lin adalah Su-hengnya Yap Tiong-siau, jika dia yang memeriksa sendiri, tentu akan dapat dibedakan yang mana adalah Yap Tiong-siau tulen.

Danu Cu-mu sendiri sejak berumur lima tahun sudah diculik jago-jago suruhan Kayun.

Waktu kecilnya boleh dikata setiap hari ia dimongmong oleh Nyo Lin, maka lapat-lapat ia masih mengenalnya.

Baca Juga: Laron Pengisap Darah 6

Baca Juga: Darah Ksatria Harkat Pendekar 5

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger