Eps 9 Kisah Pedang Di Sungai Es - Liang Ie Shen
Baca online Kisah Pedang Di Sungai Es - Liang Ie Shen
Cersil Kisah Pedang Di Sungai Es - Liang Ie Shen.
Tapi sekonyong-konyong jubah paderi Tay-pi Siansu terus melembung dan berkibar sebagai layar, maka terdengarlah suara "bang"
Sekali, pukulan Hwesio India itu seperti mengenai kulit tambur, bahkan tangannya terus terbungkus oleh jubah Tay-pi, keruan ia malu hingga mukanya merah padam, cepat ia membetot se-kuatnya dan dapatlah terlepas tangannya, namun tubuhnya toh sampai tergelak hingga berputar sekali.
Tidak sedikit ahli silat yang hadir disitu, diam-diam mereka sama kagum, pikir mereka.
"Ilmu Cam-ih-cap-pek-tiat (jatuh 18 kali bila menyenggol baju) Siau-lim-pay benar-benar sangat hebat, tidak malu Tay-pi Siansu selaku kepala dari Cap-pek-lohan."
Namun sebaliknya paderi India itu juga tidak tergentak jatuh, hal ini menandakan Lwekangnya juga mencapai tingkatan yang tertinggi.
Dan dalam keadaan menguntungkan itu, kalau Tay-pi Siansu mau memberi serangan susulan, seketika Hwesio India itu pasti akan dirobohkan.
Tapi Tay-pi masih tetap merangkap tangannya didepan dada sambil berkata.
"Silakan Suheng memberi petunjuk yang lebih hebat lagi!"
Kejut dan gusar pula paderi India itu. Mendadak ia menghantam sambil membentak.
"Coba kau sambut Kimkong-ciang-Iik ini!"
Ruangan Kim-eng-kiong itu dapat memuat ribuan orang, dengan sendirinya sangat luas tempatnya.
Tapi ketika pukulan paderi India itu dilontarkan, sampai hadirin yang berdiri paling pojok sana juga merasakan sambaran angin yang keras, maka dapat dibayangkan betapa dahsyatnya pukulan paderi itu.
Namun Tay-pi juga telah memapaknya dengan pukulan yang sama, tapi sedikitpun tidak membawa suara atau sambaran angin, tampaknya seperti tak bertenaga.
Siapa duga air muka paderi India itu lantas berubah hebat, ubun-ubun kepalanya tampak menguapkan hawa putih.
Kiranya pukulan Kim-kong-ciang-lik itu meski merupakan ilmu pukulan dahsyat, tapi kalau sudah terlatih hingga sempurna, maka diantara kedahsyatan itu membawa tenaga yang lunak pula hingga lawan dikurung dibawah tenaga pukulan.
Kim-kong-ciang itu mestinya adalah ajaran Tat-mo Cosu, tapi dicabang India ilmu pukulan itu hanya dikembangkan tentang dahsyatnya pukulan saja, sebaliknya cabang ajarannya di Tiongkok telah dibaurkan dengan ilmu silat Tiongkok asli yang mengutamakan kelemasan hingga Kimkong-ciang yang disempurnakan oleh Siau-lim-pay itu lebih hebat dari ajaran asli Tat-mo Cosu, dan sudah tentu m mpipun paderi India itu tak terduga akan hal itu.
Begitulah maka tenaga pukulan Tay-pi tadi bagaikan ombak yang mendampar-dampar susul menyusul, makin lama makin hebat dan makin dahsyat.
Sebaliknya tenaga pukulan paderi India itu seakan-akan ditelan dan terlebur kedalam tenaga pukuian Tay-pi yang kuat tapi lunak itu.
Sampai disini, d"samping terkejut, mau-tidak-mau paderi India itu merasa kagum juga.
Pikirnya.
"Sudah terang yang digunakannya juga Kim-kong-ciang-lik, tapi ternyata sama sekali berbeda daripada apa yang kupelajari ini, memang aku masih kalah jauh."
Meski ia sudah kerahkan sepenuh tenaga, tapi masih tidak sanggup bertahan, tampaknya segera ia bisa terdorong roboh oleh tenaga pukulan Tay-pi itu, untungnya mendadak Tay-pi Siansu lantas menarik kembali tangannya, kembali Tay-pi merangkap kedua tangannya didepan dada dan berkata.
"Kita berasal dari suatu sumber yang sama, masing-masing mempunyai keunggularmya sendiri-sendiri dan dimana letaknya sudah dapat kita ketahui bersama, maka tidak perlu kita bertanding lagi."
Seketika paderi India, itu seperti terhindar dari beban yang berat.
sudah tentu ia terima maksud ba!k Tay-pi itu.
Tapi karena tekanan tenaga Tay-pi yang hebat tadi, biar sudah terlepas dari serangan toh badannya masih sempoyongan kebelakang.
Dibelakang Po-siang Hoatsu saat itu terdiri tujuh orang Hwesio, satu diantaranya tiba-tiba tampil kemuka untuk memayang paderi yang sedang sempoyongan itu dan berkata.
"Sute, mundurlah kau, biar kubelajar kenal dengan Taysu ini."
Para jago silat dari Se-ek (benua barat) cukup kenal Hwesio yang maju belakangan ini, mereka saling bisik-bisik membicarakan nya.
"Kabamya tujuh orang Hou-hoat-tecu dari Kim-eng-kong semuanya memiliki ilmu silat yang hebat, Keroco Taysu ini terhitung nomor tiga diantara ketujuh Houhoat-tecu itu, jika d"a sudah maju kegelanggang, maka pasti akan ramailah pertandingan ini."
Sebagai seorang ahli silat, begitu sihwesio yang bernama Keroco itu bertindak memayang Sutenya tadi segera Tay-pi tahu bahwa kepandaian Keroco itu jauh lebih tinggi daripada sang Sute, tapi untuk dapat mematahkan Kim-kong-clangliknya tadi belum tentu mampu, sebagai seorang ahli silat masakan si Keroco tidak tahu dan masih ingin bertanding dengan aku?
Namun sudah terdengar Keroco mulai berkata.
"Ilmu silat ajaran Tat-mo Cosu terlalu luas dan meliputi segala macam, kedua golongan kita sama-sama memperoleh warisnya dan beruntung harini dapat berjumpa, biarlah aku belajar kenal lagi dalam hal permainan senjata dengan Taysu."
Dengan tantangan itu, nyata ia.
maksudkan pertandngan Lwekang tadi sudah dilakukan dengan Sutenya, maka sekarang boleh ganti bertanding senjata saja.
Tay-pi Siausu sendiri sudah sempurna Lwekangnya, tapi dalam hal permainan senjata ia jarang berlatih dan selamanya juga tidak pernah membawa senjata.
Dengan sendirinya a menjadi ragu-ragu.
Syukurlah waktu itu tokoh angkatan tua dari Jingsia-pay.
yaitu Siau Jing-hong sudah lantas tampil kemuka, katanya dengan suara lantang.
"Pertemuan harini adalah perkenalan dengan ilmu silat, kalau sekarang pertandingan dilakukan terus diantara sama golongan dan sama sumber seperti kalian ini, lantas bagaimana hadirin yang lain, apakah mereka disuruh datang melulu menjadi penonton saja? Pula Tay-pi Siansu barusan sudah bertanding satu babak, sudah sepantasnya dia undurkan dir mengaso dulu."
Lalu ia berpaling dan berkata pula kepada Keroco itu.
"Aku adalah orang dari Jing-sia-pay di Tiongkok, ilmu silat golongan kami ini tiada sesuatu hubungan apa-apa dengan sumber ilmu silat kalian, nah, marilah kita boleh coba-coba bertanding."
Kiranya Siau Jing-hong rada dongkol kepada kedua paderi India yang suka menonjolkan namanya Tat-mo Cosu untuk meninggikan harga diri mereka, sebaliknya memandang rendah ilmu silat Tiongkok.
Maka sengaja ia membalas dengan kata-kata tajam serta "neaantangnya secera terang-terangan.
Karena tiada jalan lain, terpaksa Keroco bilang.
"Bagus, boleh juga aku lebih banyak belajar kenal dengan ilmu silat berbagai golongan dinegeri kalian."
Segera ia angkat tongkat bambu hijau yang dipegangnya dengan tangan kanan dan sebuah kobokan emas ditangan kiri dan berkata pula.
"Nah, senjataku adalah kedua mestika ini, silakan mulai memberi petunjukl"
Siau Jing-hong lantas melolos Hud-tim (kebut) yang terselip dibelakang ikat pinggang, lalu ikat pinggang itu dilepas pula.
"creng", mendadak ikat pinggang itu menyendal hingga melurus. Kiranya ikat pinggang itu adalah sebatang pedang yang lemas. Jing-hong terbahak-bahak, katanya.
"Dislni adalah wilayah Tiongkok, engkau terhitung tamu kami, orang Tionghoa selamanya menghormati tamunya, maka aku akan mengalah tiga jurus padamu."
Sebagai Hou-hoat atau pembela agama dari Kim-eng-kiong, Keroco sudah biasa berlagak dan sombong, maka ia menjadi dongkol atas sikap Siau Jing-hong itu, pikirnya.
"Kau berani memandang enteng padaku dan sengaja mengalah tiga jurus segala, hm, boleh coba kau rasakan betapa kelihayanku!"
Maka iapun tidak mau banyak bicara lagi, sekali tongkat bambu diangkat, terus saja ia tutuk Hiat-to ditubuh Siau Jinghong.
Tongkat bambu itu menyambar sambil membawa sambaran angin hingga mirip seekor ular hijau hendak ieinagui.
Diantara hadirin itu banyak terdapat ahli Tiam-hiat, semuanya terkesiap demi nampak kepandaian Keroco itu, mereka merasa tidak dapat membandinginya.
Sebaliknya Tay-pi Siansu telah berpikir.
"Dia telah gunakan tongkat bambu sebagai gantinya potlot peranti menutuk, ternyata memang lebih banyak variasinya dan sudah mencapai inti pelajaran Tat-mo Cosu yang paling mendalam, meski belum tentu dapat lebih hebat daripada Siau-lim-si. tapi tampaknya juga tidak dibawah kami lagi."
Sementara itu segenap Hiat-to ditubuh Siau Jing-hong seolah-olah terkurung semua dibawah bayangan tongkat si Keroco, tidak peduli berkelit kearah mana tentu akan kena tertutuk.
Tapi mendadak Siau Jing-hong melangkah maju malah, jadi tidak berkelit kesampmg atau mundur, bahkan mendekati Keroco hingga mirip sengaja menyerahkan diri untuk ditutuk lawan itu.
Tapi aneh, ilmu Tiam-hiat si Keroco basanya tidak pernah meleset, entah mengapa, sekali ini sudah terang musuh menyerahkan diri untuk ditutuk, tapi tutukannya itu justeru luput malah hingga Keroco sendiri merasa bingung.
Dalam pada itu tahu-tahu Siau Jing-hong sudah berada d depan hidungnya hingga hampir-hampir saling cium dengan dia, keruan Keroco terkejut.
Walaupun Jing-hong sudah menyatakan akan mengalah tiga jurus padanya.
tapi musuh mendadak berada didepan-nya, mau-tidak-mau ia harus berjaga-jaga kemungkinan diserang.
Tanpa pikir lagi kobokan emas ditangan kiri terus menengkurap keatas kepala Jinghong.
Namun secepat angin Jing-hong telah menyelinap lewat disisinya.
Sambil menggereng murka, Keroco terus meloncat keatas, tongkat bambu menyabat dan kobokan emas mengepruk, sekaligus kedua senjata yang berlainan itu dipakai menyerang, sungguh harus diakui betapa lihaynya sebagai seorang Hou-hoat-tecu.
Sebaliknya sekarang Siau Jing-hong lebih aneh lagi, ia tidak menghindar atau berkelit, tapi dengan tungkak kanan dipakai sebagai poros, terus saja ia berputar ditempatnya itu mirip kitiran, maka terdengarlah "trang"
Sekali, tanpa merasa Keroco telah ikut berputar dan tongkat bambu memukul diatas kobokan sendiri hingga mengeluarkan suara.
"Hahahaha, tiga jurus sudah cukup. sekarang akan kubalas kebaikanmu itu,"
Seru Jing-hong sambil tertawa.
Mendadak pedangnya disendai hingga lempeng, kontan ia terus balas menusuk sekali.
Kiranya kepandaian yang digunakan Siau Jing-hong tadi adalah Thian-lo-poh-hoat yang hebat.
Thian-lo-poh-hoat itu asalnya adalah milik Jing-sia-pay, tapi kemudian telah dicuri oleh Kiau Pak-beng serta ditambah dan digembleng lebih luas hingga Thian-lo-poh-hoat ajaran Kiau Pak-beng menjadi lebih hebat daripada Jing-sia-pay.
Pada jaman ini orang yang paling mahir menggunakan Thian-lo-poh-hoat ialah Ki Hiau-hong.
Tapi meski Siau Jing-hong tidak selihay Ki Hiau-hong, kalau Thian-lo-poh-hoatnya digunakan untuk menghadapi Keroco sudah tentu lebih daripada cukup.
Sebagaimana diketahui, Siau Jing-hong adalah guru Tan Thian-ih yang pertama, dengan latihannya yang sudah berpuluh tahun lamanya, kepandaiannya sesungguhnya tidak dibawahnya Tay-pi Siansu.
Maka tusukan pedang tadi membawa tenaga yang dah-syat dan ujung senjata itu mengeluarkan suara mendesis.
Ketika Keroco menangkis dengan kobokan.
"trang", seketika tangan Keroco terasa kesemutan, namun tusukan Siau Jing-hong itu menjadi tertangkis juga. Sampai disini Keroco tidak berani memandang ringan musuh-nya lagi, ia gunakan kobokan emas sebagai tameng, ia ambil ke-putusan buat bertahan dengan rapat saja, maka tetap berdiri ditempatnya untuk menangkis dan bertahan, ia tidak berani sem-barangan menggeser, sebab kuatir terjebak. Kedua macam senjata Keroco itu memang sudah terlatih sempurna, kepandaian yang sebenarnya juga tidak dibawah Jing-hong, maka sekali ia sudah bertahan dengan rapat, dalam waktu singkat Siau Jing-hong menjadi tak berdaya juga. Dengan langkah tertentu menurut Pat-kwa, Siau Jing-hong telah putar pedangnya dengan kencang, ia mengitari Keroco satu putaran sambil menyerang keatas enam kali, kebawah enam kali, kekiry enam kali, kekanan enam kali, kedepan enam kali dan kebelakang enam kali. Sekaligus ia menyerang 6 X 6 = 36 kali. Maka terdengarlah suara mendering nyaring berulang-ulang, setiap serangan Jing-hong selalu kena ditangkis oleh kobokan emas Keroco. Bahkan kalau Jing-hong terlalu mendekat, segera tongkat bambu hijau Keroco itu balas menutuk dengan cepat dan tepat, untung Thian-lo-poh-hoat yang dimainkan Jing-hong sudah sedemikian cepatnya hingga tidak sampai terserang. Setelah melakukan serangan berantai itu, kini Jing-hong sudah dapat menjajaki tenaga lawan masih sedikit lebih lemah daripada dirinya sendiri. Tapi lawan memakai kobokan sebagai tameng, ditambah tongkat bambu yang dapat menutuk dengan cepat. kerja sama kedua senjata itu sangat rapat hingga dapat menutupi sedikit kelemahannya itu. Maka setelah sekian lamanya saling gebrak, keadaan masih belum kelihatan nyata siapa akan menang atau kalah. Segera murid pertama Hou-hoat-tecu berseru.
"Kalian berdua sama kuatnya, boleh silakan berhenti saja!"
"Nanti dulu, silakan Toahwesio terima pula seranganku ini!"
Kata Jing-hong tiba-tiba.
Mendadak ia mengebas kebutnya hingga bulu kebut kena membelit tongkat bambu Keroco.
Cepat Keroco menyendal sekali hingga ujung kebut itu seakanakan terlepas, dan bukan mustahil tongkat ilu terus ditutukan kedepan.
untuk mana Siau Jing-hong pasti susah menghindar.
Tak terduga lantas terdengar suara "trang"
Yang keras, kobokan emas Keroco telah kena ditusuk tembus oleh pedang Siau Jing-hong.
Sambil terbahak-bahak Jing-hong terus melompat keatas, sekali berjumpalitan.
kemudian tubuhnya turun kebawah sejauh tiga meter disebelah sana.
Kiranya pengalaman Siau Jing-hong sangat luas, cerdiknya juga melebihi orang lain.
Ia sudah tahu paderi India itu merasa gentar dan tidak berani sembarangan menggeser langkah untuk menyerangnya, maka dia telah mendapat suatu akal baik untuk membobolkan pertahanan musuh walaupun caranya Ini agak ber-bahaya, yaitu dengan pura-pura mengebut sebagai pancingan, sedangkan pedang lantas menusuk dengan sungguh-sungguh.
Kalau Keroco tahu akan tipu Siau Jing-hong itu dan bila dia lantas mendesak maju untuk menutuk ketika tongkat bambunya terlilit oleh bulu kebut, maka kedua belah pihak pasti akan sama-sama terluka.
Tapi kini Siau Jing-hong sedikitpun tidak dirugikan, sedangkan kobokan emas Keroco telah petiah tertusuk pedang, untuk mana sudah terang takbisa dipakai bertempur pula, dan dengan sendirinya ia harus mengaku kalah.
Seorang kalah, dengan sendirinya Hou-hoat-tecu yang lain juga ikut merosot pamornya, dan selagi mereka hendak mengajukan jago lain lagi, sekonyong-konyong terdengar suara ribut-ribut diluar istana.
Seorang penjaga lantas kelihatan masuk melapor.
"Diluar ada empat orang tamu tanpa membawa kartu undangan, mereka menyatakan kartu undangan entah hilang dimana, tapi mereka berkeras ingin masuk, boleh atau tidak, mohon petunjuk Kok-su?"
Kiranya kartu undangan keempat orang yang bikin ribut itulah yang telah digerayangi Ki Hiau-hong.
Mereka baru mengetahui kehilangan ketika sudah sampai didepan Kim-engkiong hingga mereka sendiri bingung dimanakah hilangnya kartu undangan.
Dan sesudah Hou-hoat-tecu pertama menandakan nama keempat tamu itu kepada penjaga, lalu diteruskannya laporan itu kepada Po-siang Hoatsu.
Po-siang terbahak-bahak mendengar itu.
Kiranya keempat orang tamu itu dikenal baik oleh Po-siang, bahkan empat kartu undangan untuk mereka juga ditulis sendiri olehnya.
Maka dengan tertawa ia ta-nya Hou-hoat-tecu itu.
"Apakah kau tidak kenal siapa mereka?"
"Mohon Suhu suka memberi keterangan,"
Sahut muridnya itu.
"Tiga diantara mereka adalah tokoh terkemuka dari agama Po-lobun (Hindu) dan seorang lagi adalah copet sakti yang tiada bandingannya dinegeri Thian-tiok, sungguh tidak nyana begitu dia melangkah keluar negeri lantas kepergok sekaumnya sendiri dari negeri lain serta kena dikalahkan."
Demikian tutur Po-siang dengan tertawa. Anak muridnya menjadi kuatir, dengan suara berbisik mereka menanya.
"Apakah kita perlu mengusut pencuri kartu undangan itu?"
"Tidak, kalau sengaja mengundang saja belum tentu kita mampu mengundangnya kemari,"
Sahut Po-siang. Lalu dengan suara keras ia berkata kepada para hadlirin.
"Entah karya tuan tamu yang manakah, apakah sekiranya sudi keluar untuk berkenalan?"
Waktu itu Ki Hiau-hong berduduk d bagian belakang, selagi ia hendak membuka suara, tiba-tiba didahului suara teriakan orang.
"Pemilik Kim-eng-kiong telah sudi mengampuni maling keparat itu, tapi kami bersaudara tidak nanti mau mengumpni dia! Hayo, Ki Hiau-hong, lekas menggelinding keluar!"
Kiranya kedua orang itu adalah Cufalan dan Cufayu, kedua Hoan-ceng (paderi asing) bersaudara yang pernah dipermainan Ki Hiau-hong dahulu itu.
Mereka adalah saudara kembar, maka lagak-lagu mereka serupa.
Segera Ki Hiau-hong bergelak tertawa, ia maju kedepan, lebih dulu ia memberi hormat kepada Po-siang Hoatsu dan berkata.
"Maaf, maafkan!"
Hou-hoat-tecu yang disuruh keluar menyambut keempat tamu tanpa kartu undangan itu saat mana lewat disamping Ki Hiau-hong, tanpa merasa ia mengamat-amati Ki Hiau-hong sambil meng gumam sendiri.
"Menilai arang menang tidak dapat dipandang dari mukanya, kakek royot seperti ini ternyata memiliki kepandaian setinggi itu, sungguh susah untuk dipercaya siapapun."
Dia menggerundel dalam basa Hindi, sudah tentu Ki Hiauhong tidak paham, maka ia hanya menyengir sekali kepada Hou-hot-tecu itu. Tak tersangka mendadak Po-siang Hoatsu berseru dalam bahasa Han.
"Ki-siansing, memang aku yang bersalah karena tidak mengirim kartu undangan padamu, tentang perbuatanmu mencuri kartu undangan itu aku tidak meyalahkan kau. Tapi tasbih itu adalah benda hadiahku kepada muridku itu, harap kau suka mengembalikan!"
Belum lenyap suaranya, mendadak Ki Hiau-hong merasa tangan-nya kesakitan seperti ditusuk jarum, semula tangannya mengepal, kini terpaksa harus membuka kepalannya.
Maka terdengarlah suara gemerasak, segandeng biji tasbih telah jatuh kelantai.
Kiranya Hou-hoat-tecu yang dihadapi Ki Hiau-hong dengan me-nyengir tadi, tanpa merasa telah kena diselomoti tangan panjang sicopet sakti itu hingga kalung tasbih yang tergantung dilehernya tercuri, ditengah orang banyak itu temyata tiada seorangpun yang tahu kejadian itu kecuali Po-siang Hoatsu.
Keruan Hou-hoat-tecu tadi dan Ki Hiau-hong sama-sama terkejut.
Hou-hoat-tecu terkejut oleh ilmu copet Ki Hiau-hong yang sakti itu, cepatan saja ia jemput kalung tasbih itu dan melangkah pergi, betapapun ia tidak berani dekat-dekat lagi dengan copet sakti itu.
Sebaliknya Ki Hiau-hong terperanjat oleh ilmu sakti Po-siang Hoatsu, dari jarak sejauh itu dapat mengincar Hiat-to ditangan-nya dengan jitu.
keruan Hiau-hong menjadi kuatir.
"Tampaknya kepandaian raja agama ini tidak dibawahnya Kimtayhiap, pabila Kim-tayhiang tidak datang, terang tiada seorangpun yang dapat menandinginya". Dalam pada itu Cufalan dan Cufayu sudah lantas membentak.
"Ki Hiau-hong, dasar maling, dimana-mana tanganmu suka gerayangan! ini rasakan kepalan kami!"
"Ala, setali-tiga-uang, apa bedanya antara kita?"
Demikian sahut Hiau-hong.
"Cuma saja kalian baru masuk menjadi anggota golongan kita, maka kalian harus banyak belajar lagi daripada-ku,"
Tengah berkata, berbareng iapun hindarkan serangan kedua paderi itu. Namun seorang juri yang ikut mengatur pertandingan lantas menyela.
"Nanti dulu, kalian berdua saudara maju bersama, apakah Ki-siansing perlu seorang pembantu?"
Hiau-hong tertawa, sahubvya.
"Memangnya aku dengan mereka adalah sekomplotan, kami hanya saling gebrak secara main-main saja, tidak perlu sungguh-sungguh, biarlah aku simaling tua ini melayani sendiri kedua maling kecil mereka ini."
Seperti pernah diceritakan, Cufalan dan Cufayu dahulu pernah berkomplotan dengan Ki Hiau-hong dan menyelundup ke Siau-lim-si untuk mencuri kitab.
Menurut janji, kedua paderi itu disuruh pasang mata diluar gedung penyimpan kitab, jika berhasil, mereka bertiga akan membagi hasilnya dengan sama rata.
Diuar dugaan, begitu Ki Hiau-hong masuk kedalam gereja itu, segera ya kepergok Hwesio-Hwesio penjaga dan akhirnya d.a herba sil meloloskan diri, sebaliknya Cufalan dan Cufayu yang tertawan malah.
Untung ketua Siau-lim-si, Thong-sian Siangjin dengan bijaksana telah membebaskan kedua paderi asing itu, sedang Ki Hiau-hong sendiri waktu melarikan diri"
Masih sempat menggondol tiga
Jilid kitab dan kemudian dikembalikan pula kepada Tay-pi Siansu dari Siau-lim-si, hal mana dirasakan oleh Cufalan dan Cufaya seolah-olah dihianati dan diapusi.
Maka mereka dendam kepada Ki Hiau-hong, setiap kali ketemu tentu memandangnya sebagai musuh, dan sudah dua kali Hiau-hong lolos dibawah keroyokan mereka.
Tentang kejadian mencuri serta tertawan itu bagi kedua paderi asing itu dirasakan sebagai sesuatu yang memalukan, tapi Ki Hiau-hong justeru tidak punya pikiran, begitu, ia malah berteriak-teriak tentang "maling tua dan maling kecil"
Apa segala. Keruan Cufalan dan Cufayu menjadi gusar, tanpa hiraukan ucapan juri tadi, terus saja mereka merangsak lagi dari kanan kiri.
"Ai, ai! Lihay juga, ya?"
Seru Hiau-hong dengan tertawa ketika pukulan Cufalan tiba lebih dulu Ia mengegos kesamping.
Tak terduga ia menjadi kesasar kedalam lingkungan tenaga pukulan.
Cufayu.
Ia terguncang sempoyongan dan terpental mundur, sedangkan waktu itu pukulan Cufalan masih terus mendesak dari depan.
Kiranya kedua paderi asing itu cukup kenal Thian-lo-pohhoat yang lihay dari Ki Hiau-hong, sesudah dua kali pengalaman dulu, yaitu pertama kali Ki Hiau-bong berhasil lolos dengan Ginkang yang tinggi dan kedua kalinya berkat bantuan Kim Si-ih disamping menggunakan Thian-lo-poh-hoat yang licin, maka sekarang mereka sudah pintar, mereka telah berhasil meyakinkan satu jurus "Im yang-pat-kwa-ciang", dikala ketemu musuh, keduanya bisa kerja sama dengan rapat dengan tenaga pukulan yang berlawanan hingga musuh susah melepaskan diri dari kepungan mereka.
Begitulah maka waktu Ki Hiau-hong merasa ditumbuk oleh suatu arus tenaga yang kuat, terpaksa iapun memapak dengan tenaga pukulannya.
Ia baru saja berhasil meyakinkan "Kim-kong-ciang-lik", meski tidak sehebat Tay-pi.
Siansu, tapi juga tidak dibawah Keroco.
Tak tersangka tenaga lawan mendadak seperti hilang, sebaliknya tenaga pukulan sendiri toh takdapat diteruskan kedepan, tapi seperti tertumbuk pada segumpal kapuk yang lunak dan susah pula ditarik kembali.
Dalam pada itu dengan cepat sekali Cufayu sudah menyerang juga, tenaga pukulannya sudah menyambar sampai dibelakang Ki Hiau-hong.
Ternyata tenaga pukuln mereka satu sama lain berlawanan dan dapat berubah sewaktu-waktu, asal salah seorang diantara mereka dapat melengket lawannya, maka yang lain segera menghantam dengan tenaga dahsyat.
Untung Ki Hiau-hong.
sudah memiliki Hou-te-sin-kang, tapi punggungnya yang kena digenjot Cufayu itu juga terasa kesakitan.
Ia menjadi gusar, pikirnya.
"Tega benar kalian ini! Meski aku pernah meninggalkan kalian dahulu, tapi kejadian itu adalah karena terpaksa dan bukan maksudku hendak mengangkangi sendiri hasilnya."
Dalam gusarnya Hiau-hong tidak pikir panjang lagi, segera iapun mengeluarkan dua macam tenaga pukulan yang berbeda, telapak tangan kanan menghantam kedepan dengan Siu-lo-im-sat-kang tingkat kedelapan, sedang tangan kiri memukul kebelakang dengan Tay-seng-pan-yak-ciang-lik.
Kedua macam pukulan itu adalah ilmu kelas satu dalam pelajaran ilmu silat tinggalan Kau Pak-beng.
Keruan seketika Cufalan tergetar dan menggigil, sedang Cufayu juga kena didesak mundur.
Dulu Cufalan juga sudah pernah merasakan Siu-lo-im-satkangnya Ki Hiau-hong, tapi saat itu Hiau-hong baru mencapai tingkatan ketujuh, belum selihay seperti sekarang.
Biasanya orang sulit mencapai tingkatan kedelapan, tapi kalau tingkatan ini dapat dilalui, maka tenaganya akan bertambah sekali lipat daripada t ngkatan ketujuh.
Dalam pertarungan dulu selalu Cufalan lebih unggul , tapi sekarang ia lantas merasa menggigil dan kaku kena tenaga pukulan Ki Hiau-hong, karuan ia terkejut.
Pikirnya.
"Hanya beberapa tahun tidak ketemu dan tenaga Locat ini sudah maju sehebat ini, sungguh aneh!"
La tidak tahu bahwa Ki Hiau-hong telah mendapat petunjuknya Kim Si-ih hingga telah dapat melebur semua al"iran ilmu silat yang pernah dicuri dan dipelajarinya itu hingga Lwekangnya sekarang merupakan perpaduan dari Cing-pay dan Sia-pay, dengan sendirinya Ki Hiau-hong kini bukan lagi Ki Hiau-hong yang dulu.
Adapun keadaan Cufayu lebih mendingan, sebab Ki Hiauhong harus mengerahkan Lwekang buat mengeluarkan Siu-loim-sat-kang, maka tenaga pukulan Tay-seng-pak-yak-kang menjadi tidak dapat dilontarkan sepenuh tenaga, maka Cufayu masih sanggup bertahan dengan sama kuatnya.
Sebaliknya Ki Hiau-hong menjadi tidak tega, jelek-jelek dulu mereka bertiga pernah sekomplotan.
Hiau-hong sendirimerasa kurang pantas juga telah meninggalkan mereka ketika tertawan.
Maka mendadak ia kendurkan Siu-lo-Im-sat-kang, Diluar dugaan Cufalan terus mendesak malah hingga kedua arus tenaga menjadi berlibat kembali, keadaan berubah menjadi mengadu Lwekang dan siapapun tak dapat berhenti.
Dengan demikian kedua belah pihak menjadi sama susahnya dan diam-diam sama mengeluh.
Syukur Tay-pi Siansu dapat menyaksikan keadaan itu, tibatiba ia tampil kemuka, katanya.
"Tuan rumah sudah menyalakan bahwa harini adalah perkenalan belaka dengan ilmu silat dan tidak perlu mengadu jiwa, kulihat babak ini boleh dianggap seri saja, kedua pihak sama-sama kuat."
Juri yang mengikuti pertandingan itu menganggut tanda setuju, tapi tidak berani maju memisah.
Dalam pada itu Tay-pi Siansu masih terus maju kedepan, kira-kira jaraknya sudah sama diauhnya dengan ketiga orang yang sedang terlibat dalam mengadu lwekang itu, mendadak ia kebas kedua lengan bajunya, maka terdengarlah suara angin menyambar, kedua paderi dan Ki Hiau-hong sama-sama melompat mundur satu tindak hingga tenaga lengketan mereka terpisah.
Walaupun begitu, Cufalan berdua masih merasa penasaran.
Tapi Tay-pi lantas berkata sambil memberi hormat "Kita dapat bertemu pula dengan kenalan lama disini, sungguh menyenangkan sekali.
Guruku Thong-sian Siangjin ada pesan agar memberikan sedikit oleh-oleh kepada Taysu berdua untuk menghapus permusuhan dahulu yang berarti pula benda ini kembali kepada pemiliknya, untuk mana harap Taysu berdua suka menerima dengan baik."
Mendengar, ucapan "benda kembali kepada pemiliknya", hati Cufalan berdua berdebar hebat, hampir-hampir mereka tidak percaya kepada telinganya sendiri.
Tapi Tay-pi sudah lantas mengeluarkan suatu bungkusan dengan kain kuning, diatasnya tertulis titel tiga
Jilid kitab yang bersangkutan, yaitu kitab Siau-lim-si yang dulu pernah dicuri Ki Hiau-hong serta sangat diimpi-impikan oleh Cufalan berdua itu.
Sungguh girang Cufalan berdua tak terhingga, tanpa membuka juga mereka percaya isinya pasti tulen, segera mereka menerima nya dengan baik sambil mengucapkan terima kasih.
"Ah, kita adalah sekaum, kenapa mesti sungkan-sungkan,"
Kata Tay-pi dengan tertawa.
"Kalau mau terima kasih, maka berterima-kasih kepada Ki-sicu saja."
"Ai, mengapa Taysu mengolok-olok diriku,"
Ujar Hiau-hong dengan tertawa.
"Benar aku pernah pinjam baca ketiga
Jilid kitab gereja kalian itu.
Tapi sudah lama kukembalikan dan itu berarti sudah tiada sangkut-pautnya lagi dengan aku.
Adapun dengan senang hati Taysu telah menghadiahkan kitab-kitab itu kepada mereka, itulah aku tidak berani ikut-ikut menerima jasanya."
"Tapi Ki-sicu telah banyak memberi catatan berguna didalam kitab hingga banyak manfaatnya bagi perkembangan beberapa macam ilmu silat itu, hal ini guruku mengatakan Kisicu tidak saja telah mengembalikan pokoknya, bahkan membayar rente, kalau dihitung, kamilah yang telah terima kebaikanmu,"
Demikian kata Tay-pi dengan sungguh-sungguh.
"Guruku mengetahui kau berselisih paham dengan kedua Taysu ini dan beliau merasa tidak tenteram, maka maksudnya memberi oleh-oleh ini adalah juga untuk menyelesai kan percecokan kalian ini sekadar membalas kebaikan Ki-sicu itu."
Cufalan berdua senang sekali mendapat kitab-kitab yang diharapkan itu, rasa dendam mereka kepada Ki Hiau-hong lantas hilang sirna, segera merekapun menghaturkan terima kasih kepada Hiau-hong dan permusuhan mereka selama ini harus selesai ditengah gelak tawa mereka Dan sesudah Tay-pi dan kedua paderi Thian-tiok itu kembali ke tempat duduk masing-masing, saat itulah Hou-hoat-tecu yang keluar tadi telah membawa masuk tiga paderi Hindu dan seorang laki-laki bermata siwer (biru) dan berambut pirang Keempat orang itu adalah korban copet Ki Hiau-hong hingga mereka dilarang masuk ke Kim-eng-kiong, sudah tentu mereka merasa dibikin malu dan penuh mendongkol.
Dengan mata melotot ketiga paderi itu memandangi Ki Hiau-hong, cuma mereka cukup tahu peraturan, maka tidak mau sembarangan bertindak.
Sebaliknya laki-laki berambut pirang itu tidak peduli peraturan apa segala, sekali melompat, segera ia menghadapi Ki Hiau-hong sambil berkomat-kamit beberapa kalimat dalam bahasa India.
Melihat gerakan orang cukup gesit, diam-diam Ki Hiau-hong me-muji, pikirnya.
"Sayang dia orang India, kalau tidak, cocok juga untuk menjadi pembantuku,"
Segera iapun bertanya.
"Apa yang dia katakan?"
Hou-hoat-tecu tadi memberi penjelasan.
"Ini adalah copet sakti nomor satu dinegeri kami, dia sangat kagum kepada kepandaian Ki-siansing, maka ingin berkenalan dengan kau!"
"Bagus, bagus! Usaha kita sejenis, kepandaian kita sama golongan, marilah kita berkenalan!"
Sahut Hiau-hong dengan tertawa. Dan sekali kedua orang berjabatan tangan, tiba-tiba terdengar Sicopet India itu menjerit tertahan sambil meringis.
"Tanganmu kesasar, bukan disini, tapi dompetku tersimpan di-saku sebelah sana,"
Kata Hiau-hong dengan tertawa.
Waktu semua orang memperhatikan, tertampak tangan kiri copet India sudah menyelonong kedalam baju Ki Hiau-hong, tapi seperti terjepit oleh sesuatu hingga susah untuk ditarik kembali.
Sebaliknya tangan kanan Ki Hau-hong masih berjabatan tangan dengan orang, sedang tangan kiri lurus bebas tidak memegang sesuatu Semua orang menjadi bingung, mereka tidak tahu sebab apa tangan copet India itu takbisa ditarik kembali, melihat sikap nya yang lucu itu hingga semua orang merasa geli.
Kiranya copet sakti dari India itu merasa penasaran dan sengaja hendak mengukur kepandaiannya Ki Hiau-hong, maka disaat mereka berjabatan tangan, sebelah tangannya lantas hendak merogoh saku Ki Hian-hong.
Tapi sial baginya, copet ketemu copet, tahu-tahu Ki Hiau-hong menggunakan Lwekang yang hebat hingga perutnya dapat menyedot kencang tangan sicopet India itu.
Dengan wajah merah jengah copet India itu berkata apaapa dengan suara pelahan, lalu seorang juru bahasa disamping berkata.
"Dia mengatakan kepandaian Ki-siansing memang maha hebat, sepuluh kali lebih lihay dari dia, maka dia merasa kagum dan takluk!"
Sesudah menang, Ki Hiau-bong juga tidak mau terlalu membikin malu orang, dengan terbahak-bahak ia lantas pelembungkan perutnya hingga tangan sicopet India itu terpental lepas. Katanya.
"Ke-pandaianmu juga sangat hebat, marilah kita bersahabat, barang-barang ini kukembalikan padamu saja!"
Dan ketika ia kebas-kebas lengan bajunya, tahu-tahu dari lengan baju itu terjatuh macam-macam barang, ada pisau kecil, ada geraji kecil, obeng kecil dan macam-macam peralatan yang biasa dibawa seorang pencuri, disamping itu ada pula beberapa keping mata uang.
Kiranya semua barang itu adalah milik sicopet India yang telah kena dicopet oleh Ki Hiau-hong tanpa diketahuinya.
Keruan saja copet India itu termangu-mangu kesima, saking kagumnya ia menggumam sendiri.
"Hebat, bagaikan sulapan saja, benar-benar sulapan!"
Disini sicopet India kagum tiada taranya kepada Ki Hiauhong, disana ketiga paderi Polobun tadi juga terkesiap terhadap Lwekang Hiau-hong yang hebat itu.
Diam-Diam mereka menaksir kalau mesti bergebrak, rasanya satu-lawansatu tiada seorangpun diantara mereka yang sanggup menangkan copet sakti itu.
Dari itu, mereka pun tidak berani bertingkah lagi.
Sementara itu terdengar suara musik penyambutan tamu bergema pula.
Hou-hoat-tecu Kim-eng-kiong telah membawa masuk lagi dua orang tamu.
Tetamu yang disambut dengan musik sudah tentu lain daripada yang lain.
Waktu semua orang memperhatikan, tertampaklah masuk seorang lelaki dan seorang wanita.
Yang lelaki adalah ketua Bu-tong-pay, Lui-cin-cu, dan yang wanita adalah ketua Bin-san pay Kok Ci-hoa.
Po-siang Hoatsu cukup kenal keadaan Bu-lim di Tiongkok.
Bu-tong-pay, Siau-lim-pay, Bin-san-pay dan Go bi pay adalah empat aliran persilatan terkemuka di Tionggoan, sekarang ketua dari Bu-tong-pay dan Bin-san-pay telah hadir bersama, sudah seharusnya menyambutnya dengan segala kehormatan.
Melihat kenalan lama, senang sekali Kang Lam.
Tapi ia agak kecewa juga, pikirnya.
"Mengapa Kim-tayhiap tidak kelihatan ikut datang? Seharusnya dia hadir bersama dengan Kok Cihoa."
Dan belum lagi lenyap suara musik tadi, ditengah para hadirin sudah terjadi kegemparan.
Kiranya tiga bulan yang lalu ketika untuk pertama kalinya Kok Ci-hoa menginjak negeri Masar, pernah ia diserang oleh delapan orang Bu-su dan dua paderi asing.
Pada kejadian itulah Kok Tiong-lan telah digondol lari penyerang-penyerang itu Dan kedelapan Bu-su dan kedua paderi asing itu kini justeru dilihatnya ikut hadir dalam Kim-eng-kiong ini.
"Selamat bertemu, selamat bertemu!"
Demikian Kok Ci-hoa lantas menyapa para musuh dengan sorot mata yang tajam.
"Sebentar lagi boleh kita belajar kenal lagi!"
Lekas-Lekas Po-siang Hoatsu memberi hormat dan berkata.
"Hendaklah Kok-lihiap jangan marah, tempo hari mereka hanya melaksanakan perintah raja saja, murdmu itu sekarang juga baik-baik dalam pelayanan baginda raja, janganlah kuatir."
"Pertemuan yang kau adakan harini adalah mencari kenalan dengan ilmu silat, bukan?"
Tiba-tiba Ci-hoa menanya.
"Benar, adakah sesuatu petunjuk Kok-lihiap?"
Sahut Posiang.
"Baik, maka aku ingin kesepuluh jago lihay itu maju semua, biar aku belajar kenal lagi dengan kepandaian mereka,"
Sahut Ci-hoa. Po-siang menjadi kurang senang, katanya.
"Mencari kenalan dengan ilmu silat betapapun lebih pantas kalau dilakukan dengan satu melawan satu............"
Belum habis ucapannya, sekonyong-konyong Im Seng-koh dari Cit-im-kau berbangkit dan berseru.
"Kok-ciangbun adalah tokoh wanita terkemuka, bagaimana kalau aku yang reyot ini belajar kenal dulu dengan kau?"
Dan baru Kok Ci-hoa hendak menjawab, tiba-tiba seorang telah menimbrung dengan suaranya yang dibikin-bikin.
"Ai ai! Kayu baik tidak dibakar untuk tungku yang bobrok, kaki bersih tidak sudi menginjak tanah pencomberan! Nenek siluman rendah seperti kau ini hanya cocok bergumul dengan pengemis kotor seperti aku ini. Kok-lihiap, tidak perlu kau gubris padanya, biarlah aku nanti belajar kenal dengan cakarnya yang berbisa itu pada babak berikutnyo."
Pembicara itu adalah Tiong Tiang-thong, itu ketua dari Kaypang utara.
Dahulu Im-Seng-koh pernah telan pil pahit dari pengemis tua itu, kini urusannya diganggu pula, ia menjadi murka dan segera menyemprot.
"Bagus, pengemis busuk, aku justeru lagi hendak membikin perhitungan dengan kau. Nah. boleh keluar sini, sekarang juga kita bikin penyelesaian."
"Hm. kenapa kau tergesa-gesa masuk liang kubur?"
Jengek Tong Tiang-thong dengan tertawa.
"Pendek kata aku sudah siap pentang kantong pengemisku ini untuk menantikan sedekah mu, kau sendiri sediakan dulu apa-apa yang hendak kau berikan nanti."
Ucapannya itu tetap mengandung maksud untuk bertanding pada babak berikutnya saja, bahkan bernada sindiran tajam bahwa toh nanti sudah pasti Im Song-koh akan digulingkan oleh-nya.
"Harap kedua Locianpwe jangan bertengkar dulu, rasanya takkan terlalu lama untuk menunggu babak berikutnya nanti."
Demikian kata Kok Ci-hoa dengan tertawa. Dan mendadak dengan wajah kereng ia berkata kepada Po-siang.
"Aku pernah dikerubut kesepuluh jago lihay ini, waktu itu mereka toh tidak kuatir ditertawai orang karena main keroyok, kenapa sekarang malah merasa malu? Baiklah, jika mereka jeri dan kuatir aku menuntut balas hingga tidak berani bergebrak dengan aku, nah, boleh suruh mereka satu. persatu maju kesini untuk menjura dan minta maaf padaku."
Sudah tentu kedelapan Bu-su itu tidak tahan dihina mentahmentah. berbareng mereka lantas melompat maju dan berseru.
"Baiklah kau sendiri yang ingin bertempur dengan kami dan bukan kami yang sengaja main keroyok. Kau adalah buronan yang hendak ditangkap baginda raja, rasanya kamipun tidak perlu bicara tentang peraturan Bu-lim dengan kau."
"Dan bukankah masih ada dua orang Toa-hwe-sio, kenapa tidak maju sekalian?"
Kata Ci-hoa sambil melirik pada hadirin dengan sinar matanya yang tajam. Po-siang menjadi serba salah, segera katanya.
"Kokciangbun, sesudah kau menangkan babak ini. dengan sendirinya aku akan suruh muridku yang tak beryus itu untuk minta petunjuk padamu"
Kiranya kedua Hwesio yang ikut mengeroyok Kok Ci-hoa dahulu itu adalah muridnya Po-siang.
Sebagai raja agama, dengan sendirinya ia harus menjaga nama baik dan mengingat kedudukan nya, dahulu ia terpaksa meluluskan kepergian kedua muridnya itu atau permintaan raja, tapi sekarang ia tidak ingin namanya tercemar lagi.
Kok Ci-hoa tidak mendesak lebih jauh, katanya.
"Baiklah, jika begitu, biar kuselesaikan urusan ini dahulu."
Lalu ia berpaling kepada kedelapan Bu-su tadi dan berkata pula.
"Nah. katanya kalian hendaK menangkap aku. kenapa tidak lekas maju saja!"
Melihat sikap Kok Ci-hoa yang keliwat garang itu, diamdiam kedelapan Bu-su itu menjadi keder.
Tapi demi melihat pihak lawan hanya seorang diri, sedangkan mereka berdelapan, dahulu mereka bersepuluh juga berhasil mengeroyok dan menculik Kok Tiong-lian, kenapa sekarang mereka mesti jeri?
Karena pikiran begitu, kedelapan Bu-su itu menjadi tabah, segera mereka pasang barisan hingga Kok Ci-hoa terkepung dite-ngah .Mereka tidak tahu bahwa sejak Kok Ci-hoa diselomoti mereka dahulu, tidak lama kemudian lantas bertemu dengan Kim Si-ih dsn kini sudah berhasil meyakinkan sejurus ilmu pedang yang jauh lebih cukup untuk mengalahkan mereka.
Dan selagi kedua pihak akan mulai bertempur, tiba-tiba terdengar seruan yang nyaring.
"Nanti dulu. Suhu! menyembelih ayam tidak perlu pakai golok, biar Tecu mewakilkan kau saja!"
Waktu semua orang mendongak, tertampaklah seorang gadis berbaju putih sedang melayang masuk melalui pagar tembok sana, dengan sekali jumpahtan, dengan gaya yang manis sambil memukul kebelakang sekali, gadis itu lalu menurun kebawah.
Kiranya dia bukan lain adalah Kok Tionglian.
Menyusul terdengarlah suara gedebukan jatuhnya benda berat disertai jeritan orang kesakitan.
Kiranya diluar pagar tembok itu ada penjaganya dan bermaksud menangkap Kok Tiong-lian ketika melihat gadis itu hendak melompati pagar tembok, tapi dua diantaranya baru meloncat keatas atau lebih dulu sudah dihantam dari jauh oleh pukulan Kok Tiong-lian tadi hingga jatuh terjungkal.
Kedatangan Kok Tiong-lian secara mendadak itu telah menggegerkan suasana, sebab tentang peristiwa Kok Tionglian bersama Kang Hay-thian dan kakaknya mengobrak-abrik keraton semalam, berita ini sudah disampaikan ke Kim-engkiong.
tiada seorangpun yang menduga gadis itu sedemikian berani mendatangi Kim-eng-kiong sesudah mengacau dikeraton.
Kedelapan Bu-su itu semalam tidak dinas didalam keraton, maka mereka tidak tahu Kok Tiong-l.an sekarang sudah bukan Kok Tiong-lian beberapa bulan yang lalu.
Mereka anggap kebetulan malah dengan datangnya Kok Tiong-lian, sebab gadis ini adalah buronan yang diinginkan baginda raja, jauh lebih penting daripada Kok Ci-hoa.
Maka tanpa bicara lagi segera garis kepungan mereka berganti diarahkan kepada Kok Tiong-lian.
Kejut dan girang pula Kok Ci-hoa demi nampak sinar mata muridnya itu tajam bercahaya Sebagai seorang ahli silat segera ia tahu Lwekang Kok Tiong-lian sudah mencapai tingkatan tertinggi dan segera pula dapat menduga bocah ini tentu sudah ketemu dengan kakaknya dan minum Thian-simciok bersama-sama.
Maka dengan rasa lega ia berkata dengan tersenyum.
"Baik juga, boleh kau maju untuk mencari pengalaman!"
Lalu mereka berganti tempat.
Kok Tiong-lian berdiri ditempai gurunya dan Kok Ci-hoa mengundurkan diri keluar kalangan.
Melihat itu, kedelapan Bu-su tadi menjadi lebih berani lagi, sekali pemimpin mereka yang bernama Mufli memberi komando, serentak mereka menyerang dari delapan jurusan.
Siang-hoa-kiam milik Kok Tiong-lian yang dirampas musuh itu kini justeru dipakai oleh Mufli.
Tapi kini Tiong-lian telah punya pedang pinjaman yang lihay, yaitu Cay-in-pokiam milik Kang Hay-thian, sudah tentu pedang pusaka ini jauh lebih bagus daripada Siang-hoa-kiam.
"Haha, pedangku itu sudah waktunya mesti kau kembalikan padaku!"
Kata Tiong-lian dengan tertawa.
Ia kuatir merusak pedangnya sendiri, maka tidak berani memakai Cay-in-pokiam untuk memotong Siang-hoa-kiam yang digunakan Mufli untuk menyerang dirinya itu.
Tapi dengan lengan bajunya ia membelit pedang itu .
Mufli terhitung jago kelas satu didalam keraton.
Tapi ia terkejut ketika Siang-hoa-kiam hampir-hampir terlepas dari cekalannya.
Cepat ia kerahkan tenaga untuk membikin antap tubuhnya hingga libatan lengan baju Kok Tiong-lian itu gagal merampas kembali senjatanya.
Dalam pada itu serangan-serangan lain juga sudar tiba, terpaksa Tiong-lian putar Cay-in-pokiam dengan kencang.
"Krak, pletak!"
Tiba-tiba terdengar suara beradunya benda keras.
tahu-tahu dua batang tumbak musuh yang mengenai punggung Kok Tiong-lian telah patah.
Para jago silat dari Tionggoan menjadi terkajut, bahkan Kang Lam sampai menjerit tertahan demi nampak Tiong-lian kena serangan musuh.
Namun kedua Bu-su yang tumbaknya patah itu mendadak kelihatan tergentak jatuh hingga hampir-hampir kelengar.
Sedangkan Kok Tiong-lian masih tetap tenang-tenang saja tanpa kurang apa-apa.
Kiranya Tiong-lian telah memakai baju kutang pinjaman dari Kang Hay-thian yang tidak mempan ditembus senjata tajam itu.
Apalagi ia habis minum Thian-sim-ciok, Hou-te-sin-kang telah berhasil diyakinkan dengan baik, dengan sendirinya tombak kedua Bu-su itu takdapat melukainya, sebaliknya kedua Bu-su itu tergetar hingga terbanting setengah mati.
Keruan orang-orang d pihak Po-siang menjadi terkejut.
Mereka tidak tahu Toing-lian memakai baju wasiat, mereka mengira sigadis sudah berhasil melatih diri sedemikian rupa hingga sudah kebal dari serangan senjata tajam.
Dan pada saat itulah, tiba-tiba terdengar jeritan ngeri Mufli, mata-hidung-telinganya kelihatan mengeluarkan darah, tubuhnya yang besar sebagai kerbau itu mendadak lemas meringkuk dilantai dan dengan sendirinya Siang-hoa-kiam yang dipakainya itu dapat direbut kembali Kok Tiong-lian.
Kiranya kebentur oleh Lwekang sigadis yang hebat tadi, sekuat mungkin Mufli bertahan, tapi tidak mungkin ia dapat melawan tenaga dalam sigadis yang terus-menerus menggempur itu, maka akhirnya isi perutnya tergetar hancur, pembuluh darahnya pecah, jiwanya melayang.
Dengan tambahan Siang-hoa-kian, Kok Tiong-lian menjadi seperti harimau tumbuh sayap, dalam waktu singkat saja, dimana Sinar pedangnya berkisar, dengan mudah keenam pedang musuh telah kena ditabas kutung semua.
Untung bagi sisa keenam Bu-su itu karena Tiong-lian tidak ingin banyak membunuh orang, maka sesudah mengutungi senjata mereka, lalu iapun berhenti.
Jago-Jago silat yang diundang raja Masar dan banyak sekali yang hadir sekarang, diantaranya ada juga yang bermaksud maju menangkap Kok Tiong-lian, tapi sekarang mereka menjadi ketakutan.
Diam-Diam Po-siang membisiki murid tertua yang berdiri disamping-nya.
"Anak dara ini memang hebat, tapi juga tidak susah untuk menangkapnya. Cuma jago lihay dipihak sana juga sangat banyak serta belum ada yang maju, sebentar jika beberapa jago pihak sana telah dirobohkan, tidak mungkin anak dara itu mampu kabur kelangit."
Segera muridnya meneruskan gagasan Po-siang itu kepada para Bu-su hingga mereka dapat ditenangkan sementara.
Waktu Kok Tiong-lian kembali kesamping gurunya, ia agak kecewa ketika tidak melihat Kang Hay-thian.
"Bagaimana Kokomu? Kalian belum bertemu?"
Dengan suara pelahan Ci-hoa bertanya. Yang dia maksudnya adalah Danu Cu-mu yang menjadi muridnya Kim Si-ih.
"Kedua Kokoku sudah kuketemukan semua,"
Sahut Tionglian.
"Cuma mereka masing-masing ada urusan penting, sementara ini belum dapat hadir kesini."
"Kau masih ada seorang Koko lagi?"
Ci-hoa menegas dengan heran.
"Ya, sungguh akupun tidak menduga,"
Kata Tiong-lian.
Lalu iapun bisik-bisik secara ringkas ditepi telinga sang guru dan Cihoa tampak sangat girang.
Kiranya mendadak Danu Cu-mu telah mengganti rencananya, pada saat jago-jago pilihan berkumpul di Kimeng-kiong, ia lantas pergi menghubungi para pembesar yang setia kepada ayah baginda-nya dahulu untuk mempersiapkan serangan kepada Kan-ong.
Tengah Tiong-lian bisik-bisik dengan sang guru, disebelah sana Im Seng-koh sudah tidak tahan lagi, terus saja ia melompat maju dan menantang Tiong Tiang-thong.
"E-eh, kau benar-benar seorang budiman, memangnya pengemis tua juga sudah menantikan sedekahmu, apa yang kau miliki, silakan keluarkan semua!"
Demikian Tiang-thong mengolok-olok sambil ber-jalan ketengah kalangan.
"Pengemis busuk, tidak perlu membual, ini, sambutlah!"
Jengek Im Seng-koh.
Dan sekali tangannya bergerak, sepuluh buah cincin yang dipa kainya terus menyambar kedepan dengan membawa suara mendesing, ada yang menyambar lurus, ada yang memutar dari samping, ada yang melayang lewat diatas kepala, tapi mendadak membiluk kembali dan menghantam dari belakang.
Jadi hanya sekali bergerak saja telah digunakan macam-macam cara menyambitkan senjata rahasia yang aneh dan lihay, apalagi kesepuluh buah cin-cin itu berbisa pula.
Tapi Tiang-thong hanya bergelak tertawa saja, serunya.
"Ha-haha, kukira barang apa, hanya beberapa cincin tembaga begini apa gunanya, ditukarkan dua kati beras juga tidak cukup, ai, ai, kau terlalu pelit, pengemis tua tidak sudi terima!"
Maka terdengarlah suara "crang-cring"
Yang ramai, berulangulang ia menyelentik, kesepuluh cincin berbisa itu telah kena dijentik jatuh semua.
Tiba-Tiba Tiang-thong mengendus bau amis yang memuakan, tahu-tahu kedua tangan Im Seng-koh sudah menyerang, rupanya timpukan cincin-cincin tadi hanya sebagai tipu saja, tapi menyusul lantas menyerang dengan Sin-coaciang yang lihay.
Tapi Tiang-thong cukup kenal kepandaian nenek itu, mendadak ia meniup hawa kedepan hingga dada In Seng-kok tiba-tiba merasa seperti kena dipukul sekali dan tergentak mundur setindak.
Sungguh kejut Im Seng-koh tak terkira, pikirnya.
"Kiranya Kun-goan-khi-kang pengemis ini sudah terlatih sampai sedemikian hebat hingga tiupan hawanya saja selihay ini, tampaknya harini kedua pihak pasti akan sama-sama terluka parah."
Dalam pada itu Tiang-thong sudah lantas menghantam pula lebih hebat daripada tenaga tiupannya tadi, Im Seng-koh tidak berani menghadapinya dari depan, terpaksa ia mengegos.
Menyusul Tiang-thong menghantam pula kekanan-kiri dan muka-belakang, beruntun-runtun empat kali serangan bagaikan gugur gunung dahsyat-nya hingga Im Seng-koh tidak berani sembarangan mendekat.
"Hm, dengan Lwekangmu yang tinggi itu apa kau kira aku tak-dapat mengapa-apakan kau?"
Jengek Im Seng-koh.
Habis berkata, sekonyong-konyong dari lengan bajunya melejit keluar seekor ular hijau, tenaga pukulan Tiong Tiang-thong ternyata tidak dapat menahan meluncurnya ular itu, kiranya ular itu sangat licin lagi cer-dik, besaraya kira-kira sebulatan rotan kecil, tapi tenaganya ternyata sangat kuat, dengan badannya yang panjang itu biar singa atau harimau jika terlilit juga susah untuk melepaskan diri.
Lebih hebat lagi ular hijau ini selalu menyusup kemana saja asal ketemukan lubang hingga mirip semacam senjata rahasia hidup yang lihay.
Karena ular hijau itu masih terus menyambar kemukanya, terpaksa Tiang-thong menjulurkan jarinya kedepan sambi berkata.
"Selama hidup pengemis kerjanya menangkap ular, tapi untuk pertama kalinya sekarang aku telah digigit ular!"
Benar juga terlihat ular Hijau itu telah menggigit jari Tiangthong yang dijulurkan itu, tapi mendadak ular itu jatuh ketanah dan takbisa berkutik lagi, sekali Tiang-thong menggecek dengan kakinya, maka hancurlah badan ular itu.
Kiranya Tiang-thong kenal betapa lihaynya ular itu.
Kalau leher kena dipagut atau lubang hidung diselusupi oleh ular itu.
maka sudah pasti akan binasa betapapun Lwekang sasarannya itu.
Tapi jari Tiang-thong tadi sengaja dijulurkan agar digigit, sekali ia kerahkan tenaga saktinya, jari itu menjadi keras sebagai besi hingga ular itu tidak mempan menggigitnya, bahkan kepalanya lantas tembus ditusuk oleh jari itu serta jatuh kelan-tai dan takbisa berkutik lag Waktu Tiang-thong periksa jari sendiri, ia lihat jarlnya meski tidak terluka, tapi juga terdapat sejalur bekas gigitan, untung tidak melecet.
Namun karena sedikit ayal disaat melayani pagutan ular itu, tenaga pukulan Tiong Tiang-thong menjadi terbagi, kesempatan itu telah d!gunakan Im Seng-koh untuk menye-rang sekuat tenaga hingga lingkaran tenaga pukulan Tiang-thong bobol.
Mendadak Im Seng-koh membentak.
"Kena!"
Dan kesepuluh kuku jarinya sekonyong-konyong bisa mulur beberapa senti pan-jangnya hingga mirip sepuluh belati tajam.
Saat itu mestinya Tiang-thong hendak menggeser untuk kemudian balas menyerang pula.
Siapa duga kuku jari musuh bisa mulur mendadak hingga tanpa terduga lengannya telah kena digaruk lecet oleh kuku musuh itu.
Tenaga dalam Im Seng-koh telah dikerahkan keujung kuku hingga jauh lebih lihay daripada pagutan gigi berbisa dari ular hijau tadi, sekali lengan Tiong Tiang-thong tercakar luka, aneh juga, bukannya terasa sakit, bahkan terasa lega seperti tempat gatal yang habis dikukur-kukur.
Sebagai seorang ahli, segera Tiang-thong tahu semakin jahat bisa yang digunakan semakin enak rasanya bag"
Sipenderita. Ia menjadi gusar, pikirnya.
"Kejam amat perempuan siluman ini. aku dipaksa harus mencabut nyawanya sekarang!"
Dan dimana rangannya bergerak, kelima jarinya sekeras kaitan kontan dapat mencengkeram tangan kanan berbisa Im Seng-koh.
Bahkan Tiang-thong lantas kerahkan tenaganya ketangan, ia tolak keluar bisa yang meresap kebadannya tadi dan dicurahkan ke-da!am tubuh Im Seng-koh sendiri Dibawah tekanan Lwekangnya yang lihay itu, tertampaklah sejalur hitam mulai merembes naik keatas lengan diawali dari jari tengah Im Seng-koh.
Keruan kejut Im Seng-koh tidak kepalang.
Meski dia sudah berhasil meyakinkan sepasang cakar berbisa, tapi badannya bersih seperti orang biasa dan tidak boleh keracunan.
Pabila sekarang hawa berbisa itu merembes hingga mencapai jantungnya, maka ia sendiri yang akan menjadi korban racunnya sendiri itu.
Padahal saat itu hawa berbisa itu tampak masih terus merembes naik kelengan kanan, untuk melepaskan dir.
dari cengkeram Tiang-thong terang tidak mungkin, maka terpaksa ia bertahan sekuatnya.
Namun Khun-goan-khi-kang sudah dilatih sempurna oleh Tiong Tiang-thong, jangankan cuma seorang Im Seng-koh, sekalipun dua-tiga orang Im Seng-koh juga tidak mampu melawan.
Maka hanya sekejap saja jalur hawa hitam itu sudah mendekati ketiak.
Mata Im Seng-koh melotot seakan-akan mencotot keluar dan merah membara.
Tiba-Tiba ia mengertak gigi, ia angkat tangan kiri dan mendadak menabas kelengan kanan sendiri "Cret", tabasan itu ternyata sama tajamnya seperti ditabas dengan golok hingga sebelah lengan itu terpotong mentahmentah, seketika darah menyembur keluar dari luka itu bagaikan air mancur hingga antero muka dan kepala Tiong Tiang-thong basah kuyup terciprat darah.
Cepat Tiang-thong pejamkan mata, tapi tidak urung lubang hidung dan luka dilengan tersemprot juga oleh darah berbisa Seng-koh itu.
Seketika Tiang-thong merasa muak, kepala pening dan mata pedas.
Kiranya serangan darah itu termasuk salah satu kepandaian Im Seng-koh yang lihay dan disebut sebagai "Tok-hiat-cian" (panah darah berbisa), setelah membikin cacat badan sendiri, darah berbisa itu dapat disemprotkan untuk mencelakai musuh.
Saat itu Tiang-thong masih menutup matanya, segera ia menghantam sekali kedepan, maka terdengarlah suara gedebukan, Im Seng-koh roboh ketanah.
Tiang-thong sendiri masih dapat bertahan untuk mundur kepinggir kalangan, tapi keadaannya juga sudah payah, langkahnya sempoyongan dan hampir-hampir jatuh terjung-kal.
"Wah, sayang! Mestinya aku ingin menjajal Khun-goan-itkhi-kang sipengemis tua itu tapi lebih dulu ia sudah dilukai oleh panah darah berbisa Im Seng-koh,"
Demikian tlba-tlba terdengar orang mengomel.
"Ha, tidak perlu kau mengoceh seenaknya sendiri, lekasan kau membantu menolongi Koh-po saja,"
Kata seorang wanita.
Kiranya kedua pembicara itu adalah Bun Ting-bik dan Thian-mo-kaucu.
Disamping mereka terdapat pula Le Hoksing.
Mereka datang diwaktu pertarungan sengit sedang berlangsung, maka tiada menarik perhatian orang lain.
Bun Ting-bik rada heran oleh ucapan Thian-mo-kaucu tadi, pikirnya.
"Kalau nenek celaka ini mampus, bukankah kebetulan bagimu, mengapa malah mau menolong dia?"
Hendaklah diketahui bahwa didunia ini terdapat dua ahli pemakai racun, yaitu Thian-mo-kaucu dan Im Seng-koh.
Mengingat hubungan leluhur, maka Thian-mo-kautiu memanggil Im Seng-koh sebagai "Koh-po" (bibi tua), padahal tiada hubungan darah diantara mereka, bahkan masingmasing saling iri dan sirik.
Sebab itulah maka Bun Ting-bik merasa heran.
Tapi karena perintah Thian-mo-kaucu, terpaksa ia harus menurut Sesudah Thian-mo-kaucu memayang bangun Im Seng-koh, segera Bun Ting-bik menggunakan tenaga sakti "Sam-syangkui-goan"
Yang hebat untuk menutup urat nadi bagian lengan, tapi karena lukanya terlalu besar, mengalimya darah susah dibikin mampet, namun kini tidak menyembur lagi seperti tadi, hanya menetes-netes saja.
Cepat Thian-mo-kaucu membubuhi obat luka pula dan merobek kain baju Im Seng-koh untuk membalut lukanya.
Disebelah sana diam-diam Kok Tiong-lian sedang membatin.
"Kedua iblis itu semalam juga terluka, tapi kini mereka sudah segar-bugar kembali, betapa hebat Lwekang mereka sungguh tidak boleh dipandang enteng."
Obat luka yang dipakai Thian-mo-kaucu itu adalah khusus untuk menolong orang yang mahir menggunakan racun, maka dalam waktu singkat saja sudah kelihatan manfaatnya, Pelahan-lahan Im Seng-koh membuka matanya, ia tersenyum sedih dan berkata.
"Cu-mah, boleh juga kau. Koh-po sudah tidak berguna lagi, selanjut-nya takkan dapat menentang kau lagi. Itu Pek-tok-cin-keng boleh kau ambil kembali saja, anak murid Cit-im-kau selanjutnya juga tunduk pada perintahmu. Nah, Cu-mah, apa yang kumilikl telah kuserahkan padamu, hendaklah kau melaksanakannya dengan baik"
Hendaklah maklum bahwa sekalipun jiwa Im Seng-koh dapat diselamatkan, tapi kepandaiannya sudah terang tidak dapat pulih, selanjutnya terpaksa ia harus minta perlindungan Thian-mo-kaucu, karena terpaksa, mau-tidak-mau ia harus menyerahkan segala "milik"nya itu dan sebabnya Thian-mokaucu mau menolongnya juga memang begitulah tujuannya.
Dilain pihak anak murid Kay-pang juga sedang menolong Tiong Tiang-thong, mereka membersihkan darah yang menyiram diatas badan ketua Kay-pang itu.
Tapi darah yang menyusup masuk melalui luka dilengan dan lubang hidung tidak mungkin dikeluarkan lagi, sementara itu darah berbisa itu sudah terbaur dengan darah Tiong Tiang-thong sendiri meski ia coba kerahkan Lwekangnya untuk melawan serangan racun, tap.
tetap tidak tahan, ia menggigil dan air mukanya makin lama makin gelap.
Tay-pi Siansu, Siau Jing-hong, Lui Cin-cu dan lain-lain adalah sahabat baiknya Tiong Tiang-thong, ada maksud mereka hendak menolong, tapi Lwekang mereka hanya setingkat dengan yang terluka, terpaksa mereka takbisa berbuat apa?
Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar suara angin menderuderu, dlangkasa ada suara burung yang aneh.
Lalu para penjaga diluar istana sama berteriak.
"He, burung aneh! Burung aneh!"
Maka tertampaklah seekor elang raksasa sedang mengitar dan menurun dari udara.
Diatas punggung elang terdapat sepasang muda-mudi.
Karena tidak kenal asal-usul kedua orang yang.
menunggang burung aneh ini, maka para Bu-su penjaga Kim-eng-kiong menjadi ketakutan.
Segera seorang diantara para Bu-su yang terkenal sebagai jago panah membidikan sebatang panah, tapi sekali sayap elang itu menyampuk, kontan panah itu terpental balik dan menancap ditanah hingga hampir ambles semua kebawah tanah.
Kiranya kedua muda-mudi diatas punggung elang raksasa itu adalah Hay-thian dan Hoa In-pik.
Setelah elang itu terbang agak rendah, segera mereka melompat turun.
Tapi terus saja mereka dipapak oleh kawanan Bu-su dengan berbagai serangan senjata tajam.
Cepat Hay-thian mengadang didepan Hoa In-pik, sekali kedua tangannya terpentang sambil tubuh berputar, kontan terdengar suara mendering yang nyaring, senjata-senjata kawanan Bu-su itu saling bentur sendiri dan mencelat keatas angkasa.
Seketika suasana menjadi katiau balau, kawanan Busu itu lar tunggang langgang, takut kalau ketiban senjatasenjata yang jatuh dari atas itu.
"Siluman dari mana. berani main gila disini!"
Segera Houhoat-tecu pertama dari Klm-eng-kiong membentak.
"Kedatangan kami diundang secara resmi, mengapa kalian malah menyambut kami dengan kasar?"
Sahut Hay-thian dengan tertawa.
Segera merekacun mengunjukan kartu undangan yang dibawa, yaitu kartu undangan yang Kang Hay-thian terima sebagai wakil Kok Ci-hoa dan Hoa In-pik sebagai wakil ayahnya.
Hou-hoat-tecu itu kenal tulisan tangan Po-siang Hoatsu, ia menjadi kaget dan lekas-lekas ganti sikapnya, katanya sambil memberi hormat.
"Maafkan kecerobohan kami! Silakan masuk!"
"Rajawali yang baik, jangan kuatlr, boleh kau mengaso saja diatas sana,"
Kata In-pik kepada binatang piaraannya itu.
Rajawali itu seperti paham maksudnya, segera ia terbang keatas dan hinggap dipuncak pagoda istana.
Sementara itu suasana sidang menjadi gempar, semua orang ingin tahu siapakah gerangan sepasang muda-mudi yang datang dengan menunggang burung itu.
Sudah tentu yang paling girang adalah Kang Lam, terus saja ia berteriakteriak.
"Hay-ji! Hay-ji!"
Hay-thian mengiakan sekaii.
Waktu ia pandang sebelah ayahnya, ia lihat Ki Hiau-bong, Teng Keng-thiari dan lain-lain juga berada disitu, akhimya dapat dilihat juga Kok Tiong-lian.
Ia menjadi girang dan berpikir.
"Tapi mengapa Suhu dan Danu Cu-mu tidak kelihatan, adakah terjadi sesuatu atas diri mereka?"
Sebaliknya Tiong-lian juga girang dan heran pula, pikirnya.
"Darimanakah datangnya nona itu, mengapa dia datang bersama Sementara itu Bun Ting-bik dan Thian-mo-kaucu yang kenal asal-usul Kang Hay-thian, mereka sudah memberitahukan kepada Po-siang Hoatsu hingga mau-takmau raja agama itu terkesiap. Pikirnya.
"Cara bocah ini membikin terpental hamburan senjata para Bu-su tadi benarbenar luar biasa, tampaknya yang hadir disini kecuali aku sendiri dan Pantung, terang tiada seorangpun yang mampu melawannya. Murid Kim Si-ih saja sehebat ini, dan kalau Kim Si-ih muncul sendiri, terang lebih susah lagi dilawan."
Maka a sendiri lantas membuka suara.
"Kiranya Kangsiauhiap adanya, dan dimanakah gurumu, Kim-tayhiap?"
"Guruku apakah akan hadir atau tidak, beliau tidak memberi pesan apa-apa padaku dan akupun tidak tahu bagaimana keputusan-nya,"
Sahut Hay-thian.
"Cuma kalau tuan rumah ada petunjuk apa-apa. maka dapatlah Wan-pwe mewakilkan guruku untuk meneri-manya."
Dengan ucapannya itu Hay-thian maksudkan kalau Po-siang Hoatsu ingin bertanding dengan gurunya, maka ia siap sedia untuk mewakilkan gurunya.
Meski Po-siang sudah dapat menilai ilmu silat Kang Hay-thian memang sangat tinggi, tapi iapun tidak sudi merosotkan pamornya sendiri untuk bertanding dengan seorang anak muda.
Pikirnya.
"Aku hanya sesuai bertanding melawan Teng Hiau-lan dan Kim Si-ih, terhadap anak muda seperti ini aku tidak pantas melawannya, andaikan menang juga kurang gemilang". Maka ia lantas mengerut kening pura-pura tidak paham, katanya.
"Pinceng sangat kagum kepada ilmu silat gurumu dan ingin sekali belajar kenal, maksud lain tidak ada. Kini Kang-siauhiap datang dari tempat jauh. silakan mengaso sementara dulu, sebentar lagi tentu akan dapat belajar kenal dengan para jago yang hadir disini."
Dibalik ucapannya itu ia maksudkan dirinya akan mengajukan jago lain untuk bertanding dengan Kang Haythian.
Sudah tentu Hay-thian menjadi kurang senang, tapi iapun tidak dapat menantang Po-siang secara terangterangan.
Dalam pada itu Hoa In-pik telah mendekati Tiong Tiangthong, tokoh Kay-pang itu sedang kerahkan Lwekangnla untuk menolak serangan racun, tapi badannya toh masih menggigil terus.
Sedangkan Tay-pi Siansu, Lui-cin-cu, Siau Jing-hong dan lain-lain berdiri disampingnya tanpa berdaya.
"Tiong-sioksiok, mengapakah kau?"
Tanya In-pik segera.
"Eh, mana ayahmu?"
Sahut Tiang-thong dengan tersenyum getir.
"O. ayahmu tidak ikut datang, jika begitu untuk selanjutnya Lo-kiauho (pengemis tua) mungkin takkan dapat menikmati daharan lezat masakanmu."
"Tiong-sioksiok, kau suka mengajarkan Khun-goan-it-khikang padaku atau tidak?"
Tiba-tiba In-pik bertanya dengan tertawa.
"Kalau kau suka mengajarkan padaku, maka untuk waktu yang cukup lama selanjutnya kau tentu akan kenyang merasakan daharan paing lezat didunia ini."
"Ha, bukankah kau ini memeras namanya?"
Seru Tiangthong dengan semangat terbangkit, ia tahu apa artinya ucapan sigadis tadi.
"Ia, sudah, hitung-hitung pengemis tua masih pingin hidup lebih lama lagi, cukup asal dapat berjumpa lagi dengan ayahmu."
Segera In-pik mengeluarkan tiga batang jarum perak, terus saja ditusuk "Tay-cui-hiat".
"Thian-ki-hiat". Ketiga tempat itu adalah Hiat-to mematikan ditubuh manusia, keruan para penonton menjadi kaget. Tapi aneh bin ajaib, begitu tempat-tempat itu ditusuk jarum, seketika rasa Tiang-thong bertambah segar dan tidak menggigil lagi. Selang tak lama, ketika In-pik mencabut jarumjarum itu, tabung jarum yang mestinya kosong itu telah penuh terisi darah berbisa warna hitam. Lalu In-pik mengeluarkan dua bungkus obat bubuk, yang sebungkus diminum dan bungkus lain dibubuhkan diluar. Selesai makan obat, air muka Tiang-thong yang tadinya gelap itu kini telah berubah terang.
"Kiranya kepandaian ayahmu sudah diwariskan semua padamul Wah, Kionghi, Kionghi! Didunia ini sekarang telah bertambah lagi seorang tabib sakti wanita."
Demkian kata Tiang-thong dengan tertawa.
"Padahal sebagian besar dari kesembuhanmu ini adalah berkat Lwekangmu sendiri yang hebat,"
Ujar In-pik. Melihat obat sinona yang "ces-pleng"
Itu, semua orang merasa kagum sekali dan tidak habis memuji.
Dan demi mendengar ucapan Tiong Tiang-thong tadi.
barulah mereka tahu nona itu adalah puterinya Hoa-san-ih-un Hoa Thian-hong.
Kemudian Kang Hay-thian memperkenalkan In-pik kepada ayah-nya serta duduk disebelah sang ayah.
Kang Lam sudah mengetahui dahulu In-pik pernah menolong puteranya itu, ia menjadi girang serta menghaturkan terima kasih kepada Inpik dengan pujian-pujian yang tinggi.
Kok Tiong-lian juga sangat suka kepada Hoa In-pik, kedua orang dapat bicara dengan cocok satu-sama lain hingga Kang Hay-thian dilupakan mereka malah.
Hay-thian sendiri juga sangat girang, tapi ditengah rasa girang itu lapat-lapat merasa tidak enak pula, lubuk hatinya seperti ter-selimut oleh selapis bayangan gelap.
Dalam pada itu seorang jago Arab yang berhidung mancung dan berambut kriting telah tampil kemuka sambil berkata beberapa kalimat yang tak diketahui apa maksudnya.
Maka Po-siang lantas berdiri dan berseru.
"Ini adalah jago nomor satu dari negeri Arab, tuan Pantung namanya. Dia mengatakan kagum sekali kepada Teng Hiau-lan dan Kim Si-ih yang merupakan dua sarja-na ilmu silat dari Tiongkok, maka maksudnya ingin belajar kenal dengan mereka berdua. Cuma sangat disayangkan bahwa kedua tokoh besar itu tidak hadir disini."
Kiranya Pantung adalah Sutenya Timotato, itu ahli silat dari negeri Arab yang pernah dikalahkan Teng Hiau-lan dan Kim Siih dahulu, kemudian mereka telah berlomba mendaki puncak Cumu-langma dipegunungan Himalaya yang paling tinggi didunia itu, di-sanalah Timotato telah menemui ajalnya karena tertimpa badai salju yang lebat.
Tapi anak muridnya menjadi dendam kepada Teng Hiau-lan dan Kim Si-ih.
mereka pulang kenegeri Arab dan sengaja mengadu-biru kepada Susiok mereka bahwa Timotato telah di tewaskan jago silat Tiongkok.
Sebab itulah, maka begitu maju Pantung lantas menunjuk Teng Hiau-lan dan Kim Si-ih, maksud tujuannya alah ingin membalas sakit hati sang Suheng.
Karena tadi Kang Hay-thian sudah menyalakan siap mewakilkan gurunya menerima setiap tantangan, maka segera ia tampil kemuka.
Dan baru ia hendak membuka suara, tibatiba Teng Keng-thian juga sudah maju ketengah dan berkata.
"Ayahku sudah lama mengasingkan diri, beliau sudah bertekad takkan menjelajah Kangouw lagi, lebih-lebih tidak nanti bertarung dengan siapapun. Kalau tuan Pantung suka memberi petunjuk, biarlah Wanpwe yang mewakilkan ayahku untuk menerimanya."
"Teng-sioksok, biar Siautit saja yang maju lebih dulu", ujar Hay-thian.
"Kang-hiantit, apakah kau kuatir tiada kesempatan buat maju lagi? Boleh kau mengaso saja dahulu,"
Sahut Keng-thian dengan tertawa.
Rupanya ia kenal asal-usul Pantung, ia kurang mantap kalau Kang Hay-thian yang maju menghadap nya.
Padahal Kang Hay-thian sekarang sudah bukan Kang Hay-thian yang dulu lagi.
Lalu Po-siang Hoatsu telah terjemahan pembicaraan Teng Keng-thian berdua kedalam bahasa Arab, berbareng ia.
terangkan pula kedudukan Teng Keng-thian didalam dunia persilatan Tiongkok kepada Pantung.
Maka kata Pantung.
"Jika begitu .biarlah aku belajar kenal dulu dengan Teng-siauciangbun dari Thian-san-pay yang hebat, bila beruntung aku tidak kalah, nanti aku akan minta petunjuk lagi kepada Kang-siauhiap."
Kalau bicara tentang kedudukan, sudah tentu Teng Kengthian lebih tinggi daripada Kang Hay-thian, maka Pantung anggap lebih gemilang jika dapat mengalahkan Teng Kengthian lebih dulu.
Sebaliknya Po-siang agak kecewa, maksudnya sebenarnya ingin me-minjam tangan Pantung untuk mengalahkan Kang Hay-thian, tapi kini Pantung ingin menempur Teng Keng-thian lebih dulu, andai kan bisa menang juga pasti akan banyak membuang tenaga, hal mana berarti kurang menguntungkan bila mesti menempur Kang Hay-thian lagi.
Tapi teringat Teng Keng-thian juga seorang lawan tangguh, jika Pantung dapat merobohkannya, kemudian mengurangi pula sedikit tenaga Kang Hay-thian, hal inipun akan berguna baginya.
Dari itu, iapun tidak enak untuk bicara lagi.
Segera Keng-thian melolos Yu-liong-pokiam, sebagai angkatan iebih muda, ia memberi hormat lebih dulu, lalu mendahului menyerang.
Senjata yang dipakai Pantung agak aneh bentuknya, tampaknya mirip toya, tapi warnanya hitam mulus, bukan emas bukan besi entah terbuat dari benda apa.
Segera ia mencukit toyanya ke-atas.
"trang", seketika lelatu meletik. Teng Keng-thian melompat selangkah kesamping, sebaliknya Pantung juga tergentak mundur. Lwekang kedua orang kirakira sama kuat, senjata kedua pihak juga sama-sama tiada terusak. Kiranya "toya aneh"
Yang dipakai Pantung itu memang bukan emas dan besi, tapi terbuat dari sejenis batu besi yang lebih keras dari segala jenis logam, sebab itulah Yu-liongpokiam yang tajam itu sama sekali tidak dapat merusaknya.
Tapi diam-diam Pantung juga terkesiap, pikirnya.
"Pantas dahulu Suhengku dikalahkan Teng Hiau-lan, ternyata anaknya saja sedemikian lihay. Ilmu silat orang Tionghoa benar-benar tidak boleh dipandang ringan."
Namun ia tidak gentar juga, segera ia menyerang pula hingga dalam sekejap saja mereka sudah saling gebrak lebih 30 kali.
Kini Keng-thinn telah menggunakan "ilmu pedang pemburu angin", maka cepatnya luar biasa, belum lagi serangan pertama lenyap atau serangan lain sudah menyusul.
Rupanya Teng Keng-thian sudah dapat menjajal bahwa toya lawan yang aneh itu adalah benda mestika, ia tidak ingin pedang sendiri sampai terusak, maka kini telah digunakan Tuihong-kiam-hoat yang serba cepat, andaikan kedua senjata saling bentur juga cuma menyerempet saja dan takkan merusak.
Apalagi kekuatan kedua orang seimbang, maka pertarungan mereka susah ditentukan menang atau kalah dalam waktu singkat.
Sekonyong-konyong terdengar "trang"
Sekali disertai meletiknya lelatu api.
Teng Keng-thian tergeliat kesamping dan Pantung tergentak mundur, mendadak orangnya jatuh tersungkur, segera para jago dari Tionggoan bersorak.
Sebaliknya Teng Keng-thian sendiri melengak malah.
Sebab ia tahu bahwa tusukannya itu toh tidak mengenai Pantung, mengapa orangnya lantas roboh?
Benar juga.
tiba-tiba tertampak Pantung menahan tubuhnya dengan sebelah tangan, lalu tubuhnya memutar secepat kitiran, sedang toya aneh yang dipegangnya itu seketika berubah seperti berpuluh banyaknya, dimana-mana penuh bayangan toya dan seakan-akan menghambur kearah Teng Keng-thian.
Keng-thian tidak pernah menyaksikan cara berkelahi seaneh itu.
Tapi ia sudah mengambil keputusan untuk menghadapi dengan tenang, tidak buru-buru dan tidak tergesa-gesa, hanya bertahan dengan rapat dengan "Si-mi-kiam-hoat"
Yang hebat.
Cara berkelahi Pantung makin lama makin aneh, tiba-tiba orangnya berjumpalitan, lain saat duduk ditanah sambil memutar, terkadang bahkan merebah ditanah.
Tapi baik berdiri, berduduk atau tiduran, selalu senjatanya yang aneh itu dapat mengikuti gerak tubuhnya yang aneh itu.
bahkan didalam permainan toya itu diseling pula dengan pukulan, tendangan dan macam-macam tipu gerakan yang aneh, tampaknya kacau tak teratur, tapi sebenarnya sangat lihay.
Syukurlah Teng Keng-thian juga bukan anak kemarin, ia mainkan Si-mi-kiam-hoat yang paling tepat untuk bertahan itu dan tidak balas menyerang, sekeliling tubuhnya seperti tertutup selapis dinding baja, betapapun Pantung menyerang dengan cara-cara aneh, tetap tak dapat menembus pertahanannya.
Namun Si-mi-kiam-hoat itu sangat memakan tenaga, tidak lama kemudian para penonton yang duduk ditepi kalangan itu sudah mendengar suara napas Teng Keng-thian yang terengah-engah hingga mereka ikut berkuatir bagi ahliwaris Thian-san-pay itu.
Mendadak Pantung membentak sekali sambil melompat bangun, tahu kedua orang berdiri berhadapan dengan diam hingga mirip patung.
Semua orang merasa heran, waktu mereka perhatikan, kiranya ujung Yu-liong-pokiam yang dipegang Teng Kengthian itu tepat menahan diujung tongkat Pantung yang aneh itu, kedua orang sama-sama gayanya dan tampaknya juga sama kuatnya hingga masing-masing tidak dapat mendesak maju.
Kiranya Pantung insaf susah untuk menangkan lawannya melulu dengan tipu gerakannya yang aneh itu, maka sengaja digunakan cara yang aneh itu untuk menguras dulu tenaga Teng Keng-thian.
dan sesudah napas lawan itu terdengar memburu, ia menyangka waktunya sudah tiba untuk merebut kemenangan, maka segera ia ganti siasat dengan memaksa Teng Keng-thian untuk mengadu Lwekang.
Toya aneh yang dipakai Pantung itu mengandung daya sembera-ni yang ringan, maka sekali ujung pedang Teng Keng-thian terlengket oleh toyanya, seketika susahlah dilepaskan lagi.
Pantung mengira dirinya sudah pasti akan menang.
Tak terduga meski tenaga dalamnya sudah tambah kuat, bahkan sudah dikeluarkan sepenuhnya, beberapa kali ia menggempur dengan kuat, tapi toh Teng Keng-thian tak tergentak selangkahpun, keruan kejut Pantung tak terkatakan.
Rupanya napas Teng Keng-thian yang tersengal-sengal tadi hanya tipu pancingan belaka.
Memang ia sudah memperhitungkan kemungkinan kehabisan tenaga dalam dan hal ini tentu akan menguntungkan pihak musuh.
Maka dikala tenaga dalamnya belum terbuang seberapa banyak, ia ingin menentukan kalah menang secepatnya dengan musuh.
Kebetulan Pantung juga kuatir kalau tipu serangannya yang aneh itu dapat dijajaki lawan dan buru-buru ganti siasat, maka akhirnya terjadilah adegan menguatir-kan seperti sekarang ini.
Teng Keng-thian merasa tenaga dalam orang bagaikan gugur gunung dahsyatnya dan terus-menerus membanjir tiba, biarpun ia masih mampu bertahan, tapi mau-tidak-mau merasa kuatir juga.
Sebaliknya sesudah gempuran-gempuran tenaga dalamnya takdapat mendesak pihak lawan, bahkan tenaga lawan masih luar biasa kuatnya, baru sekarang Pantung merasa kecelik dan diam-diam mengeluh.
Keadaan begitu kalau diteruskan, bukan mustahil kedua senjata mestika masing-masing dan kedua tokoh terkemuka itu akan gugur bersama.
Tiba-Tiba sesosok bayangan orang secepat terbang melayang ketengah kalangan.
Beberapa muridnya Pantung menjadi terkejut dan beramai-ramai membentak.
Dan ditengah suara bentakan mereka itulah tertampak sinar putih berkelebat sekali, tahu-tahu Teng Keng-thian dan Pantung sudah terpisah mundur.
"Terima kasih, Kang-hiantit,"
Kata Teng Keng-thian sambil menyimpan kembali pedangnya.
Begitu pula Pantung lantas menarik kembali toyanya serta mengucapkan terima kasih kepada orang itu dalam bahasa Arab.
Lalu ia lantas membentak murid-muridnya tadi agar tutup mulut.
Kiranya orang yang memisah itu bukan lain adalah Kang Hay-thian.
Dia telah mencukit sekali diujung senjata kedua orang yang sedang mengadu tenaga itu.
Oleh karena Lwekangnya memang lebih kuat setingkat daripada Teng Keng-thian maupun Pantung, cara memisahnya juga sangat pintar, maka dengan mudah saja ia telah dapat memotong tenaga dalam kedua belah pihak.
Ia memisah dengan adil tanpa membantu salah satu pihak sebab itulah Keng-thian dan Pantung telah mengucapkan terima kasih padanya.
"Kagum!"
Kata Keng-thian kemudian sambil kiongchiu kepada Pantung, lalu kembali ketempat duduknya tadi.
Padahal semua orang dapat mengetahui bahwa pertandingan mereka berakhir dengan sama kuat, maka ucapan Keng-thian itu hanya menunjukan kerendahan hatinya saja.
Teng Kengthian sudah kembali ketempat duduknya, tapi Pantung tidak dapat, mengingat janjinya tadi, maka ia menjadi serba berabe berdiri ditengah kalangan menghadapi Kang Hay-thian.
Padahal dengan cara memisahnya Hay-thian barusan, diam-diam Pantung telah dapat menilai bahwa kekuatan pemuda ini pasti diatasnya Teng Keng-thian.
Namun sebagai seorang tokoh, ia harus menjaga nama dan tidak nanti menjilat kembali ludah sendiri, terpaksa ia berkata.
"Sudah lama aku kagum kepada ilmu silat Kim-tayhiap yang maha hebat, dibawah guru pandai tiada murid yang bodoh, harini beruntung dapat berhadapan dengan Kang-siauhiap, harap sudi memberi petunjuk."
Ia sengaja mengangkat tinggi derajat Kim Si-ih dengan maksud menutupi rasa malu sendiri jika sebentar ia dikalahkan Kang Hay-thian.
Juru bahasa lantas menyalin ucapan Pantung itu kepada Kang Hay-thian.
Pemuda itu hanya tersenyum saja, katanya.
"Boleh kau katakan padanya bahwa aku tidak mau menarik keuntungan dari dia, barusan dia sudah bertempur, boleh suruh dia mengaso dulu, sebentar jika akupun sudah bertempur satu babak, nanti aku akan belajar kenal lagi dengan dia."
Setelah mengetahui jawaban Kang Hay-thian itu, Pantung tertegun, katanya kemudian.
"Bagus, Kang-siauhiap benarbenar seorang kesatria sejati, kagum, benar-benar aku sargat kagum! Dan jika memang begitulah kehendak Kang-siauhiap, terpaksa aku menurut saja.". Lalu iapun kembali ketempat duduknya semula. Segera Hay-thian menatap Po-siang Hoatsu, katanya.
"Wanpwe bernama Kang Hay-thian, dengan tulus ingin mohon petunyuk kepada para Cianpwe, silakan siapa saja yang sudi maju ke sini!"
Sudah tentu Po-siang ingin menjaga harga diri dan tidak sudi bergebrak dengan seorang anak muda, tapi iapun raguragu dan mengerut kening karena tiada pantas diajukan untuk melawan Kang Hay-thian.
Untung lantas terdengar seorang membuka suara dengan dingin.
"Biarlah aku belajar kenal sekali lagi dengan murid pilihan Kim Si-ih yang lihay, sekali ini kita tentu dapat menentukan kalah dan menang."
Maka tertampaklah seorang Lama yang bertubuh tinggi besar, berwajah merah bercahaya, maju ketengah kalangan. Po-siang sangat girang, katanya didalam hati.
"Ya, mengapa barusan aku telah melupakan dia?"
Kiranya Lama itu tak-lain-tak-bukan adalah Sutenya Pekkau-hoat-ong, raja agama Lama putih dari istana Orsim di Jinghay, Khong-jiok Beng-lun-ong, siraja merak.
Dahulu Pek-kau-hoat-ong pernah bertempur sama kuatnya melawan Kim Si-ih.
hal ini cukup diketahui Po-siang Hoatsu.
Maka ia menaksir biarpun Khong-jiok Beng-lun-ong ini tidak selihay sang Suheng, rasanya juga selisih tidak banyak dan terang iebih kuat daripada Pantung, untuk mengalahkan muridnya Kim-Si-ih tentu tidaklah susah.
Ia tidak tahu bahwa ilmu silat Kim Si-ih sekarang kalau dibanding dahulu waktu melawan Pek-kau-hoat-ong entah sudah bertambah betapa banyak lebih tinggi, sedangkan ilmu silat Kang Hay-thian sekarang juga hampir mencapai tingkatan sang guru itu.
Dua bulan yang lalu Khong-jiok Beng-lun-ong pernah bergebrak beberapa jurus dengan Kang Hay-thian didalam istana Orsim, tapi lantas keburu didatang Teng Keng-thian suami-isteri hingga pertarungan mereka terhenti tanpa berakhir.
Tapi dalam beberapa kali gebrak itu Khong-jiok Beng-lun-ong agak diatas angin atau lebih kuat, maka ia pikir selama dua bulan ini betapapun pesat kemajuan Lwekangnya Kang Hay-thian tidak mungkin dapat melebihi dia sendiri.
Sebab itulah ia tidak pandang sebelah mata kepada pemuda itu.
Saat itu Hay-thian berdiri disebelah samping, kedua tangannya lurus kebawah, gayanya merendah diri sebagai kaum muda yang minta petunjuk kepada orang tua.
"Tidak perlu sungkan-sungkan, silakan lolos pedangmu,"
Kata Beng-lun-ong dengan nada dingin.
"Tidak, Cianpwe sendiri tidak bersenjata, mana Wanpwe berani memakai senjata?"
Sahut Hay-thain.
Siapa yang kenal asal-usul Khong-jiok Beng-lun-ong itu menjadi terkejut demi mendengar jawaban Kang Hay-thian itu.
Dalam pandangan mereka Kang Hay-thian hanya seorang bocah ingusan, meski dikatakan muridnya Kim Si-ih, tapi berapa ulet kekuatannya tetap mereka sangsikan, apalagi kalau dibandingkan Khong-jiok Beng-lun-ong.
Sebab itulah semua orang berpendapat bila Kang Hay-thian menempur Beng-lun-ong dengan pedang pusakanya, boleh jadi pemuda itu masih mampu menjaga keselamatannya sendiri dan tidak dikalahkan secara mengenaskan.
Tapi kini pemuda itu akan melawan Beng-lun-ong dengan bertangan kosong, apakah jiwanya takkan melayang percuma.
Namun senjata Beng-lun-ong, yaitu tongkat raja agama, tempo hari telah dirampas kembali oleh Suhengnya, sesudah dia meninggalkan istana Orsim, dalam gusarnya sampai tongkat bergelang sembilan yang biasa dipakainya itu juga di buangnya, ia bertekad sesudah pulang ke Nepal, setelah mendirikan sekte agama sendiri, lalu akan digemblengnya sebatang tongkat raja agama yang cocok baginya.
Dan karena Kang Hay-thian menyebut tentang senjata, hal ini telah menyinggung perasaannya lagi hingga menambah rasa dongkolnya, segera ia mendengus dan katanya didalam hati.
"Bocah ingusan saja secongkak ini, kalau aku tidak membikin malu kau dihadapan orang banyak. tentu kau belum kenal betapa lihaynya diriku."
Maka tanpa bicara lagi, dengan muka merengut ia lantas angkat jari telunjuknya dan menuding sekali kearah Kang Haythian dari jauh.
Jarak mereka waktu itu ada lebih dua meter jauhnya, sekali jari Beng-lun-ong menunjuk, seketika terdengar suara mendesis bagaikan anak panah menyambar kerasnya, scrangkum angin tajam terus menusuk "Soan-ki-hiat"
Didada Kang Hay-thian.
Khong-jiok Beng-lun-ong sudah berhasil meyakinkan "Buheng-cing-gi" (hawa murni tak berwujut) yang lihay dan dapat membunuh orang dari jarak jauh, kalau dipakai menutuk Hiatto menjadi sebacam ilmu tutukan dari jarak jauh yang sangat lihay.
Tapi Kang Hay-thian temyata tenang-tenang saja.
diamdiam ia merasa geli malah, tapi lahirnya ia pura-pura tidak tahu apa-apa, dengan penuh hormat ia masih berkata.
"Wanpwe tidak berani lancang. harap Canpwe suka mulai lebih dulu!"
Melihat pemuda itu tidak tergoyah sedikitpun, keruan kejut Beng-lun-ong tak terkatakan.
Berulang-ulang ia menutuk lagi hingga belasan kali, boleh dikata seluruh Hiat-to yang penting ditubuh Kang Hay-thian telah diincarnya semua, namun hasilnya tetap nihil.
Kiranya diam-diam Kang Hay-thian sudah mengerahkan Lwekangnya yang maha hebat itu hingga tenaga tutukan lawan itu tidak mempan menyusup kedalam tubuhnya Menyaksikan itu, semua orang menjadi heran dan terkejut.
Bahkan Kang Lam lantas tertawa gembira, katanya.
"Hai, bukankah puteraku telah minta petunjuk padamu, mengapa kau begitu sungkan-sungkan dan benar-benar hanya main tunjuk dan tuding belaka?"
"Ya kukira engkau tidak perlu banyak aksi segala, lebih baik minta petunjuk saja dari keponakanku yang baik itu,"
Demikian Ki Hiau-hong ikut mengolok-olok.
Tentu saja Beng-lun-ong merasa malu, ia menjadi murka pula, mendadak ia menggerung sekali sambil melompat maju terus memotong dengan telapak tangannya.
Ketika Hay-thian memapak-nya dengan telapak tangan pula.
"plak", ia merasa tangan sendiri agak panas pedas sedikit. Dengan menghimpun tenaga murni ditelapak tangannya, sebenar-nya daya serangan Beng-lun-ong itu jauh lebih hebat dari pada Pi-lik-ciang dan Lui-sin-ci milik Auyang Tiong-ho. Dahulu Kang Hay-tban sudah pernah mengadu tangan dengan Beng-lun-ong, tatkala itu Hay-thian merasa tangannya seperti menempel besi yang habis dibakar, tapi kini hanya terasa panas sedikit saja, hal ini disebabkan kasiat Thian-sim-ciok yang telah diminumnya itu. Sebaliknya Khong-jiok Beng-lun-ong merasa tenaga dalam lawan bagaikan damparan ombak dahsyatnya hingga tenaga murni-nya yang terhimpun ditelapak tangan itu kini diterjang balik kembali, keruan saja kejutnya tak terhingga. Dapatkah Kang Hay-thian merobohkan Khong-jiok Benglun-ong? Apakah Hay-thian akan menantang Po-siang Hoat-su pula dan siapa yang lebih unggul? Apa yang diperbuat Danu Cu-mu dan Yap Tiong-siau sementara itu dan dimanakah beradanya Kim Si-ih? ---ooo0dw0ooo---
Jilid 14 Padahal Bu-heng-cing itu baru jadi diyakinkan sesudah Khong-jiok Beng-lun-ong tekun melatihnya selama sepuluh tahun.
Biasanya ia suka menyesal karena ilmu itu kurang sempurna dilatihnya, tapi sekarang ia berbalik pikiran, kuatur kalau membikin celaka diri sendiri, maka ia berharap tenaga Bu-heng-cing-gi sendiri itu ada lebih baik lemah saja.
Tapi dibawah desakan tenaga dalam Kang Hay-thian, hawa murni Beng-lun-ong itu menjadi mirip pasang surut cepatnya.
se-dikitpun ia tidak berkuasa lagi.
Maka hanya sekejap saja Beng-lun-ong merasakan dadanya sesak.
seakan-akan setiap saat bisa meledak.
Dengan muka merah padam dan mata merah membara, Khong-jiok Beng-lun-ong masih terus bertahan sebisanya dengan me-ngertak gigi hingga berbunyi berkeriutan.
Sekonyong-konyong ia berteriak satu kali.
ia menggigit sekerasnya hingga ujung lidah sendiri tergigit putus, menyusul ia terus menyemburkan sekumur darah segar.
Kiranya Khong-jiok Beng-lun-ong masih sayang kepada jiwa-nya sendiri, demi hidupnya, terpaksa ia harus memunahkan tenaga dalam sendiri.
Sekali dia menggigit ujung lidah sendiri hingga hawa muminya buyar seluruhnya, maka peyakinannya selama berpuluh tahun menjadi hancur.
Namun demikian, dapatlah ia menyelamatkan isi perutnya dari kehancuran serangan hawa murni sendiri yang ditolak kembali itu.
Dipihak lain Kang Hay-thian lantas menghindar kesamping, menyusul terus melompat maju, ia pegang Khong-jiok Benglun-ong yang tampak sempoyongan itu.
Ia keluarkan sebutir pil dan dijejelkan kemulut Beng-lun-ong, sedangkan telapak tangan kiri mendempel didadanya, maka suatu arus hawa murni terus merembes masuk melalui "soanki-hiat"
Untuk membuyarkan darah mati didalam tubuh Beng-lun-ong, berbareng untuk menahan muntah darah lebih lanjut.
Kiranya tiada maksud Hay-thian buat membunuh Beng-lunong, ia hanya benci kepada lagak perbuatannya, maka sengaja memecahkan hawa murni orang dan memaksa Benglun-ong memunahkan Lwekang sendiri.
Obat pil itu adalah Pikling-tan sisa pemberian Kim Si-ih dahulu dan kini telah diberikannya kepada Beng-lun-ong agar lukanya tidak terlalu parah.
Setelah Beng-lun-ong gagal mengadu jiwa dengan Kang Hay-thian.
ia insaf dirinya pasti celaka, tak terduga pemuda itu bukan saja tidak membinasakan dia, sebaliknya malah menolongnya.
Terhadap pemuda itu Beng-lun-ong merasa dendam, jeri dan kini berterima kasih pula, terpaksa ia tidak bisa buka suara lagi dan mengundurkan diri dengan muka pucet dan jalan sempoyongan.
Dengan mudah saja Kang Hay-thian telah mengalahkan Khong-jiok Beng-lun-ong.
keruan hal ini mengguncangkan setiap tokoh persilatan yang hadir disitu, begitu pula Po-siang mau-tidak-mau menjadi terperanjat.
Segera Pantung maju ketengah gelanggang, ia membungkuk tubuh memberi hormat kepada Kang Hay-thian dari jauh, kata-nya.
"Ilmu sakti Kang-siauhiap benar-benar tiada bandingannya, sungguh kagum, kagum sekali!"
Hay-thian juga balas menghormat sambil menyahut.
"Ah, hanya sedikit kepandaian tak berarti, harap Pantung-taysu banyak memberi petunjuk lagi."
Sesudah kedua orang ialing memberi hormat, mendadak baju Hay-thian berkebas-kebas dan rambutnya kusut masai, tapi berdirinya tegak, sedikitpun tidak berderak.
Sebaliknya Pantung seperti mendadak mengkeret lebih pendek belasan senti.
Kiranya barusan Pantung telah mengadu Lwekang dengan Kang Hay-thian, ketika tenaga dalam kedua orang saling bentur.
Pantung sendiri tidak tahan dan terpaksa menggunakan ilmu sebangsa "Jian-kin-tui".
Ilmu silat membikin badan menjadi antap, se-kuatnya ia berdiri ditempatnya sehingga lantai yang diinjaknya itu ambles belasan senti kebawah.
Karena itu tampaknia menjadi seperti tubuh Pantang mendadak berubah lebih pendek.
Lwekang Pantung sebenarnya sangat hebat dan jarang terdapat didunia ini, tapi kalau dibandingkan Kang Hay-thian terang masih kalah.
Dengan menghela nanas panjang lalu Pantung berkata dengan muram.
"Baru sekarang aku tahu diluar langit masih ada langit. Murid saja sehebat ini, apalagi gurunya. Sedikit kepandaianku ini bermimpi hendak bertanding dengan Kimtayhiap, ini sama seperti laron menubruk api saja". Sekali ini ia berkata dengan takluk benar-benar, lahir dan batin. Lalu iapun mengundurkan diri dari gelanggang. Berturut-turut Kang Hay-thian mengalahkan dua lawan tangguh, keruan hal ini sangat mengejutkan jago-jago silat yang diundang Po-siang. Meski Kang Hay-thian sudah mengundurkan diri ketempat duduknya, tetapi mereka tidak berani tampil kemu-ka untuk menantang jago silat Tionggoan, seorang pemuda saja sudah sedemikian lihaynya maka betapa hebat ilmu silat di Tiongkok benar-benar susah dijajaki dan susah dilawan. Disudut sana tampak jago-jago Nepal sama berkumpul dan sedang berunding, sejenak kemudian, majulah dua orang d antara mereka. Yang satu adalah paderi dan yang lain orang preman. Paderi berkasa putih mulus dan berbadan tinggi kurus itu adalah jago undangan raja Nepal dari Persi, bergelar Kenggoat Siangjin. Dan jago orang preman itu adalah tokoh nomor satu dinegeri Nepal, namanya Minhaji. Setiba ditengah kalangan, kedua orang tu memberi hormat kearah Peng-choan Thian-li dan berkata.
"Harap Kongcu tampil kegelanggang, kami ingin memberi lapor sesuatu."
Segera Peng-choan Thian-li berbangkit dari tempat duduknya, sahutnya dengan dingin.
"Harini kita berada didalam gelanggang pertandingan, apakah kalian ingin bertanding dengan aku? Katakan saja terus terang dan tidak perlu banyak adat!"
"Mana kami berani,"
Sahut Minhaji.
"Tapi kami mendapat perintah dari baginda raja agar mengundang Kongcu pulang ketanah air."
Peng-choan Thian-li berjalan ketengah kalangan, ia melirik sekejap kepada mereka Lalu berkata dengan tak acuh.
"Ha, jadi kalian adalah utusan raja, Tapi raja yang mana?"
"Dilangit tiada dua matahari, rakyat kita juga tiada dua junjungan, negeri kita cuma ada seorang raja, ialah Sri baginda yang sekarang,"
Sahut Minhaji "Siapa sebenarnya, mengapa kau tidak menjelaskan pertanyaan ku?"
Thian-li menegas.
"Siapa lagi, bukankah beliau adalah kakak misan Kongcu sendiri, sudah tahu mengapa Kongcu sengaja tanya?"
Sahut Mu-baji terpaksa.
"Ha, kukira ini tidak betul,"
Kata Thian-li dengan tertawa dingin.
"Biar aku jauh berada dinegeri lain, tapi apa yang terjadi ditanah air tetap aku mengetahui. Sri baginda yang kau katakan itu sudah digulingkan dan raja baru sudah naik tahta, masakah kalian masih menyebut raja lama sebagai Sri. baginda yang sekarang?"
"Salah pendapat Kongcu itu,"
Ujar Minhaji.
"Meski didalam negeri terjadi pemberontakan, tapi Sri Baginda masih berkuasa mana boleh pemimpin pemberontak menyebut dirinya sebagai raja baru? Untuk bicara terus terang, justeru karena urusan inilah maka kami diperintahkan Kok-ong (Sri baginda raja) untuk mengundang Kongcu supaya suka pulang dan membantu mengamankan kekacauan itu."
"Aku sudah lama tidak ikut campur urusan politik, Sri Baginda harus mendapat dokungan rakyat, maka siapa yang didukung rakyat biarlah dia yang menjadi raja,"
Sahut Thian-li. Tapi Minhaji masih terus menyanggah dan berdebat. Akhirnya Peng-choan Thian-li berkata.
"Baiklah, sementara aku tidak perlu berdebat dengan kau. Coba katakan dulu, cara bagaimana rajamu hendak suruh aku membantu mengamankan kekacauan didalam negeri?"
"Tadi Kongcu mengatakan tidak ikut campur politik lagi, tapi numpang tanya. Ka-gwan Moncu itu kelahiran Kongcu atau bukan?"
Tanya Minhaji.
"Benar, Teng Ka-gwan adalah puteraku, dia telah diculik oleh raja kalian, untuk ini aku belum lagi membikin perhitungan dengan dia,"
Kata Thian-li.
"Rupanya Kongcu telah salah paham,"
Ujar Minhaji.
"Kagwan Moncu hanya diundang pulang ketanah air oleh Sri baginda, selama ini dalam pelayanan yang baik, siapa duga dia telah membantu kaum pemberontak, merebut keraton dan kekuasaan. Dari itu Sri baginda minta Kongcu suka pulang untuk memberi ajaran-ajaran seperlunya kepada Ka-gwan Moncu."
"O, kiranya begitu,"
Kata Thian-li.
"Dan sekarang kalian datang berapa orang? Coba keluarlah semua."
"Apakah maksud Kongcu........."
"Pendek kata keluarlah kesini, aku ingin bicara dengan kalian,"
Seia Thian-li.
"Jika demikian perintah Kongcu, maka bolehlah kalian maju kesini", seru Minhaji ketempat duduk para Bu-su Nepal tadi. Maka berturut-turut majulah jago-jago Nepal itu dan seluruhnya ada 36 orang, mereka berbaris menjadi dua barisan.
"Jika memang raja kalian hendak mengundang aku pulang, cukup mengirim Minhaji saja kesini, tapi sekarang mengirimkan jumlah sebanyak ini. sebenarnya apa maksudnya?"
Tanya Thian-li dengan dingin.
"O. apa barangkali maksudnya jika aku membangkang, lalu aku akan dibekuk secara paksa?"
Wajah Minhaji menjadi merah dan tidak bisa menjawab.
Keng-goat Siangjin anggap dirinya bukan orang Nepal dan tidak terikat oleh peraturan mereka, ia tidak perlu sungkansungkan kepada Peng-choan Thian-li, maka segera ia berkata.
"Harap Kongcu berpikir secara bijaksana, kukira paling baik terimalah undangan Sri baginda dan segera ikut kami pulang kesana."
Ucapannya ini secara tidak langsung menegaskan bahwa kalau Peng-choan Thian-li membangkang peritah raja, maka segera mereka hendak main tangkap. Tapi dengan tenang Thian-li menjawab.
"Baiklah, maka aku-pun hendak mengemukakan keputusanku kepada kalian. Raja kalian tidak disukai rakyat. maka raja baru sudah menggantikan tahtanya. Sekarang aku cuma mengakui raja baru dan pandang raja kalian sebagai pihak pemberontak. Adapun tindakan puteraku itu sangat tepat, kukira yang harus diberi ajaran bukanlah dia."
Seketika berubahlah air muka Keng-goat Siangjin dan Minhaji, mereka bertanya.
"Jadi Kongcu tegas-tegas menolak untuk pulang?"
"Kukatakan lekas kalian enyah dan jangan mengacau disini,"
Sahut Peng-choan Thian-li sambil menuding para Bu-su Nepal itu.
"Jika begitu, terpaksa kami mesti bertindak, harap Kongcu maafkan kami,"
Kata Minhaji.
Dan tidak menunggu perintah lagi, segera ke-36 Bu-su tadi sudah terus mengitari Peng-choan Thian-li ditengah-tengah.
Minhaji juga tidak lantas turun tangan, lebih dulu ia berkata kepada Po-siang.
"Ini adalah urusan negeri kami dan tiada sama dengan pertandingan silat secara umum, maka harap Kok-su memaafkan kami mengganggu gelanggang pertandingan ini."
Menurut peraturan umum, pertandingan harus dilakukan dengan satu lawan satu, maka sebelumnya Minhaji sengaja mengemukakan alasannya. Segera Peng-choan Thian-li menjawab.
"Bagus, urusan ini memang tiada sangkut-paut dengan para hadirin, harap para hadirin suka menyaksikan saja."
"Hahaha!"
Po-siang tertawa.
"Sudah lama kudengar Pengtan (peluru es) dan Giok-kiam (pedang pualam) Peng-choan Thian-li tiada bandingannya didunia ini. Walaupun pertandingan ini tidak resmi, tapi sudah cukup menambah pengalaman kami yang berharga."
"Nah, jika memang kalian diperintahkan untuk mengundang aku. maka silakan majulah", segera Thian-li berkata lagi. Minhaji dan Keng-goat Siangjin memberi hormat lebih dulu, lalu berkata berbareng.
"Biarlah kami berdua yang madiu dulu, bila kami tidak sanggup, barulah nanti mereka (maksudnya para Bu-su Nepal) bergilir meminta petunjuk pada Kongcu."
Dan baru selesai berkata, terus saja tangan Keng-goat Siangjin yang lebar itu mencengkeram kearah Peng-choan Thian-li.
""Keledai gundul kurangajar!"
Damperat Thian-li sambil berkelit sehingga Keng-goat Siangjin menubruk tempat kosong.
Dalam pada itu dengan cepat luar biasa dua butir Peng-poksin-tan sudah ditimpukan Peng-choan Thian-li kedua arah, yaitu mengincar kedua lawannya.
Tapi sekali tangkap, Keng-goat Siangjin terus remas sebutir peluru es itu hingga berubah menjadi air es.
Ternyata ia tahan hawa dingin senjata rahasia itu, bahkan menggigil sedikit saja tidak.
Lalu ia terbahak-bahak dan mengejek.
"Hahaha, Pengpok-Sin-tan kiranya cuma begini saja!"
Dan sebutir peluru es yang menyambar kearah Minhaji itu juga telah kena disampuk senjata jago Nepal yang benujut toya itu.
"blung", mendadak ujung toya itu menyemburkan api hingga peluru es itu menguap menjadi hawa. Sesudah api padam, Minihaji merasa badannya agak segar, tapi juga tidak terpengaruh oleh hawa dingin. Rupanya mereka sudah kenal betapa lihaynya Peng-poksin-tan yang biasa digunakan Peng-choan Thian-H, maka sebelumnya mereka sudah siap sedia. Keng-goat Siangjin telah meyakinkan "Hwe-liong-kang" (ilmu naga api), dengan tenaga Yang ia pusatkan ditelapak tangan hingga tidak takut dinginnya peluru es itu dan berani meremasnya. Sebaliknya tenaga dalam Minhaji lebih rendah, ia harus menggunakan toyanya yang dibuat secara istimewa, toyanya berwujut pipa, tengabnya kosong dan disimpan obat pasang yang mudah terbakar, begitu tergesek dengan keras, maka lantas menyemburkan api. Maka peluru es tadi lantas menguap dan dia tidak kedinginan. Begitulah, ditengah gelak tertawa Keng-goan Siangjin tadi, terus saja Peny-choan Thian-li memutar pedangnya, dengan gerak tipu "Peng-ho-kay-teng"
Atau sungai es mencair, segera sinar gemerdep memburu hingga 13 Hiat-to ditubuh Kenggoat Siangjin terancam.
Pedang yang digunakan Peng-choan Thian-li itu adalah buatan dari Han-giok (pualam dingin) berumur ribuan yang terdapat di-gunung es.
Sedikit diputar saja lantas hawa dingin memancar kesekelilingnya untuk menyerang Hiat-to musuh, lihaynya melebihi Peng-pok-sin-tan.
Tapi Keng-goat Siangjin telah menutup seluruh Hiat-to sambil mengebas kedua lengan bajunya yang lebar itu hingga ber-jangkit angin keras untuk menyampuk sambaran pedang Peng-choan Thian-li.
Tak tersangka ilmu pedang Thian-li itu teramat hebat, dengan mengikuti arah kebasan Keng-goat Siangjin, tubuhnya juga ikut terputar.
"siut", tahu-tahu pedangnya menyusup lewat dibawah lengan baju lawan. Untung pedang es yang dipakai Peng-choan Thian-li itu tidak mengutamakan ketajaman, maka meski badan Keng-goat Siangjin kena tersentuh, berkat Lwekangnya yang tinggi tidaklah sampai terluka, dan hawa dingin yang sedikit memantul dari ujung pedang itu juga buyar terkena "Hwe-liong-kang"
Didalam tubuhnya. Melihat Keng-goat Siang-jin kuat menahan pedang es Pengchoan Thian-li itu, Minhaji menjadi tabah juga. Ia pikir.
"Meski tenaga dalamku lebih lemah daripada Kenggoat Siangjin, tapi aku lebih gesit, gerak perubahanku juga lebih cepat dari dia. Asal aku tidak sampai tertusuk pedang lawan tentu takkan berhalangan. Apalagi orang yang akan ditangkap ini adalah puteri negeriku, kalau Keng-goat Siangjin yang lebih dulu menangkapnya, tentu aku yang akan kehilangan pamor."
Begitulah karena pikirannia yang ingin merebut jasa, segera Minhaji menubruk maju hendak menawan Peng-choan Thianli.
Tapi mengingat Thian-li adalah tuan puterinya, iapun tidak berani terlalu kurangajar, maka lebih dulu ia berkata pula.
"Kongcu, harap kau menurut kepada perintah Sri baginda saja agar tidak mempersulit tugasku."
"Hm, apa kepandaianmu. boleh lekas kau keluarkan saja,"
Sahut Peng-choan Thian-li.
Berbareng pedangnya terus menusuk.
Sama sekali Minhaji tidak menduga akan serangan kilat itu, dengan tergopoh-gopoh ia berkelit dan hampir-hampir terbanting jatuh.
Untung Keng-goat Siangjin lantas mengebaskan lengan baju-nya hingga serangan Peng-choan Thian-li itu dapat ditahannya.
"Jika Kongcu tidak mau menurut perintah, terpaksa aku harus bertindaklah."
Kata Minhaji.
Dan segera ia mengitar kebelakang Peng-choan Thian-li, sekali ia tekan toyanya, tibatiba sejalur api menyambar keluar.
Tapi mendadak Peng-choan Thian-li mengayunkan tangannya kebelakang, dua butir peluru es ditimpukan dan kontan api itu dipadamkan.
Bahkan dalam lingkaran seluas empat-lima meter lantas berkabutkan hawa dingin hingga mirip kabut dipagi hari.
"Nah, biar kalian kenal lihaynya!"
Seru Thian-li sambil tertawa.
Mendadak terdengar suara berkertukan gigi Keng-goat Siangjin, bahkan Minhaji, lebih celaka lagi, ia menggigil hebat hingga mirip orang sakit demam.
Kiranya berkat kabut itu, dengan cara yang istimewa Pengchoan Thian-li berhasil menimpukan peluru es kelubang hidung Keng-goat Siangjin dan peluru es lain masuk dilubang telinga Minhaji, peluru es itu mencair dan hawa dingin segera menyerang kedalam badan sasarannya.
Keng-goat Siangjin melatih "Hwe-liong-kang", maka keadaan-nya masih mendingan, ia hanya kedinginan sedikit, namun hawa dingin yang menyusup kedalam tubuh itu juga susah dilenyapkan dalam waktu singkat.
Scbaliknya Lwekang Minhaji lebih lemah daripada kawar-nya, maka keadaannya menjadi lebih runyam, ia merasa darahnya seakan-akan membeku, ia menggigil tiada berhenti-henti.
Melihat itu.
Kang Lam yang ceriwis itu terus berseru dengan tertawa.
"Hihi, katanya kalian anggap Peng-pok-sin-tan tidak lebih hanya begini saja, dan sekarang kalian sudah tahu rasanya, mengapa malah diam-diam saja?"
Karena giginya masih berkertukan, Keng-goat Siangjin menjadi susah untuk balas memaki.
Ia kuatir peluru es lawan akan ditimpukan kemukanya lagi, maka cepat ia mengayun lengan bajunya dengan kencang hngga kabut tebal didepannya tersapu buyar.
Tapi Thian-li tidak memberi kesempatan bernapas pada lawan, segera pedangnya menyerang pula.
Karena disamping mengerahkan tenaga dalam untuk melawan hawa dingin, pula harus menangkis serangan pedang Thian-li.
maka keadaan Keng-goat menjadi agak repot, hanya beberapa jurus saja ia sudah terdesak dan terancam bahaya.
Lekas-Lekas Minhaji memberi isyarat, serentak ke-36 Bu-su tadi merubung maju dan melancarkan serangan kepada Pengchoan Thian-li.
Karena tiada sempat menimpukan peluru es lagi, terpaksa ia mesti melawan dengan pedang melulu.
Namun hawa yang dipancarkan dari ujung pedangnya itu juga tidak kurang lihay nya.
Tapi para Bu-sa dari Nepal itu memakai baju buatan dari asbes hingga tahan hawa dingin, meski Pengchoan Thian-li sudah terjang kesana dan kesini, lambat-laun ia menjadi kewalahan juga.
Tiba-Tiba terdengar Teng Keng-thian bersuit panjang, bagaikan burung raksasa ia terus melayang ketengah kalangan pertempuran.
Serunya keras-keras.
"Teng Ka-gwan adalah puteraku, dengan sendirinya urusan ini menyangkut juga diriku. Sedangkan radia kalian hendak menangkap komplotan pemberontak dan sanak keluarganya, sekarang biarlah aku sengaja melaporkan diri saja."
Sementara itu Keng-goat Siangjin sudah hampir dapat memulihkan seluruh tenaganya karena rangsangan hawa dingin tadi. segera ia papak Teng Keng-thian sambil membentak.
"Bagus, kau suka melaporkan diri, maka akupun tidak perlu sungkan-sungkan lagi padamu."
Berbareng kedua lengan bajunya mengebas, bagaikan dua ekor ular terus memagut kearah Teng Keng-thian.
"Emangnya siapa ingin main sungkan-sungkan dengan kau?"
Ujar Keng-thian dengan tertawa. Maka terdengarlah suara "brek"
Sekali, lengan baju Kenggoat yang lebar itu telah berhasil membelit sasarannya.
Tapi bukannya Teng Keng-thian, melainkan seorang Bu-su Nepal yang kena didorong Keng-thian kearah Keng-goat Siangjin dengan cepat luar biasa.
Bahkan dikala mendorongkan Bu-su itu, Keng-thian gunakan ilmu "Keh-san-pak-gu" (memukul kerbau dan balik gunung) yang lihay hingga Keng-goat Siangjin tergentak oleh tenaga dalam Teng Keng-thian secara tidak langsung itu, dadanya serasa digodam sekali, ia tergetar mundur beberapa tindak sambil melepaskan Bu-su dalam lilitan lengan bajunya itu.
Bahkan beberapa Bu-su disampingnya kena ditabrak hingga terjungkal pula.
Dengan demikian, maka barisan kepungan yang tadi nya sangat rapat itu sekarang menjadi bobol, keadaannya lantas kacau.
Melihat gelagat jelek, cepat Minhaji memimpin empat Bu-su lain untuk menutup tempat yang bobol itu.
Keempat Bu-su ini adalah muridnya, setaip orang juga membawa toya yang sama dan sekaligus lima toya itu lantas menyemburkan lima jalur api kearah Teng Keng-thian.
"Bagus!"
Teriak Keng-thian, berbareng kedua telapak tangan-nya terus mendorong kedepan.
dengan tenaga pukulan dahsyat "Pik-khong-c"ang" (pukulan dari jauh).
kontan saja terdengar Minhaji menjerit sekali terus muntahkan darah segar.
Keempat muridnya lebih celaka lagi, semuanya roboh takbisa berkutik.
Bahkan kelima jalur api tadi juga kena ditolak kembali oleh tenaga pukulan Teng Keng-thian itu.
Walaupun para Bu-su itu memakai baju buatan dari asbes yang tahan api, tapi muka mereka sudah tentu tidak terlindung, maka demi disambar api, mereka menjadi kelabakan dan lari serabutan sambil menutupi muka masing-masing dengar lengan baju.
Dengan gusar Keng-goat Siangjin terus menghantam, dan telah disambut Keng-thian dengan pukulan yang sama.
Tapi mendadak Keng-goat ketawa terbahak-bahak.
Keruan semua penonton terheran-heran.
Mereka menyaksikan sesudah adu pukulan itu.
Keng-goat kelihatan terhuyung-huyung hendak roboh, mengapa malah bisa ketawa terbahak-bahak?
Tapi segera terdengar suara tertawa Keng-goan Siang-jin agak tidak beres, suara tawanya bagaikan orang menangs tanpa air mata, badannya kaku, balikan biji matanya juga kelihatan tak bergerak.
Kiranya dikala mengadu pukulan tadi Teng Keng-thian telah menggunakan "Si-mi-ciang"
Disertai tenaga tutukan "Kimkong-ci"
Yang hebat untuk memecahkan tenaga pelindung tubuh Keng-goat yang lihay itu, menyusu! terus menuruk pula "Siau-yau-hiat"
Dipinggangnya, sebab itulah Keng-goat bisa tertawa tapi tak bisa berkutik lagi.
Melihat sang suami sudah berhasil, segera Peng-choan Thian-li juga masukan pedang kesarungnya, menyusul dengan sistim kilat ia hamburkan peluru-peluru es.
Memangnya kepandaian para Bu-su itu jauh lebih rendah daripada Kenggoat Siangjin, sedangkan peluru es Thian-li itu selalu mengintiar Hiat-to dan lubang-lubang bagian muka, maka dalam waktu sekejap saja sisa kawanan Bu-su itu juga sudah dirobohkan semua dengan kedinginan.
"Yu Peng,"
Segera Thian-li berseru kepada dayangnya.
"bantulah aku meringkus mereka dan giring pulang ke Nepal."
"Nanti dulu!"
Tiba-tiba Po-siang membuka suara.
"Aku ingin bicara sedikit!"
Lalu ia mendekati Keng-goat Siangjin, pelahan-lahan ia tepuk punggung paderi itu, seketika suara tertawa Keng-goat terhenti, air mu-kanya juga kembali merah lagi.
Menyusul Posiang menghampiri pula para Bu-su itu dan satu persatu ditepuk sekali dengan pelahan.
Dimana dia sampai lantas buyarlah kabut dingin tadi, dan setiap Bu-su yang kena disentuhnya segera dapat bergerak lagi.
Kepandaian Po-siang ini membuat semua oraag terkesiap juga.
Begitu pula Keng-thian suami-isteri juga tergetar.
Harus diketahui bahwa pada umumnya untuk menahan serangan hawa dingin peluru es Itu saja sangat sulit, apalagi sekarang Po-siang dalam waktu sekejap telah menggunakan tenaga dalam sendiri untuk menghapus hawa dingin yang bersarang didalam tubuh kawanan Bu-su itu, bahkan telah membuka Hiat-to serta membantu memulihkan tenaga murni Keng-goat Siang-jin, sudah tentu kepandaian yang luar biasa ini sangat mengejutkan.
Maka diam-diam Teng Keng-thian membatin.
"Kepandaian setingkat ini dapat pula dikerjakan oleh ayahku, tapi juga belum tentu semudah dan. secepat dia."
Begitulah, lalu Peng-choan Thian-li menjawab utiapan Posiang tadi.
"Ada apa, silakan bicara?"
"Begini, selaku tuan rumah pertemuan ini, Pinceng ingin minta kemurahan, hati pada Kongcu."
Kata Po-sang.
"Tentang apa?"
Tanya Thian-li.
"Para hadirin sekarang ini adalah tamu undangan Pinceng semua, kini Kongcu hendak membawa pergi mereka, bukankah hai ini akan membikin Pinceng menjadi serba sulit?"
Kata Po-siang.
"Bukankah tadi Minhaji sudah menyatakan kepada Hoatsu bahwa urusan ini adalah persoalan negeri kami sendiri dan bukan pertandingan silat biasa?"
Sahut Thian-li.
"Tadi Hoatsu juga menyatakan akan menonton saja dan tidak ikut campur, mengapa sekarang berpendapat lain lagi?"
Pertarungan kalian tadi memang Pinceng tidak mau ikut campur,"
Kata Po-siang.
"Tapi sekarang Kongcu hendak membawa pergi mereka, hal ini akan membikin Pinceng merasa tidak enak terhadap sobat. Maka aku minta sudilah Kongcu memberi muka padaku, nanti kalau pertemuan ini sudah bubar, maka terserahlah kepada apa yang akan kalian lakukan."
"Aku ingin tanya dulu, entah tetamu Hoatsu ini terbagi dalam berapa kelas?"
Demkian jawab Thian-li dengan dingin.
"Apakah mereka dibedakan berdasarkan hubungan baik masing-masing dengan Hoatsu?"
Air muka Po-siang agak berubah, sahutuya.
"Semua hadirin harini adalah sobat baik Pinceng, maka kupandang sama tinggi dan sama derajat. Entah apakah maksud Kongcu dengan pertanyaanmu ini?"
"Habis, tadi mereka yang berjumlah tidak sedikit ini hendak "mengundang"
Aku pulang kenegeri kami, apa maksudnya kata-kata "mengundang"
Itu tentu Hoatsu cukup tahu,"
Demikian sahut Thian-li.
"Dan sekarang mereka sudah kukalahkan habis-habisan dan menjadi giliranku untuk "mengundang"
Mereka pulang negeri asal, tiba-tiba Hoatsu tampil kemuka untuk merintangi aku.
Sebab apakah Hoatsu mengadakan perbedaan?
Hanya sebentar saja sudah berubah pendirianmu?
Karena itulah, maaf, terpaksa aku mesti minta penjelasan kepada Hoatsu!"
Keruan Po-siang serba salah, terpaksa ia menjawab dengan tertawa.
"Wah, rupanya ada salah paham Kongcu, justeru tadi aku tidak merintangi perbuatan mereka adalah karena timbul dari rasa hormatku kepada Kongcu sendiri. Coba pikir, dengan Giok-kiam dan Peng-tan yang menjagoi Bu-lim itu, masakah mereka sanggup melawan Kongcu? Dan aku tidak melarang mereka justeru biar Kongcu dapat memberi hajaran setimpal kepada mereka, berbareng kamipun akan menambah pengalaman tentang kelihayan Kongcu."
Alasan Po-siang ini sangat kaku, maka dengan tertawa dingin Thian-li berkata.
"Dan mengapa sekarang kau melarang aku memberi hajaran kepada mereka?"
"Sekarang kalah atau menang sudah nyata, keadaan tidak sama lagi,"
Sahut Po-siang.
"Dan sebelum pertemuan ini bubar, dengan sendirinya aku berkewajiban melindungi tamu undanganku."
Kiranya orang-orang yang dikirim raja Nepal yang telah digulingkan itu kenegeri Masar ini mempunyai dua tujuan, pertama untuk menangkap Peng-choan Thian-li dan kedua hendak minta bantuan kepada kerajaan Masar untuk melawan pemberontakan didalam negerinya.
Po-siang adalah segolongan dengan raja Masar, dengan sendirinya tidak membiarkan orang-orang Nepal itu menjadi tawanan Pengchoan Thian-li malah.
Begitulah tampaknya keadaan sudah mulai tegang dan kedua pihak bisa saling labrak, tiba-tiba dari jauh terdengar suara genta bertalu-talu.
Disaat suara genta agak reda dan Po-siang coba mendengarkan dengan cermat, sayup-sayup didengarnya ada suara genderang peperangan pula.
Keruan kejut Po-siang tak terkatakan, dan baru dia hendak mengirim anak muridnya untuk menyelidiki apa yang sudah terjadi, mendadak genta besar dipuncak menara Kim-eng-kiong inipun berbunyi.
Dari suara genta ini dapat di-ketahuinya bahwa telah terjadi sesuatu yang genting.
Lalu tertampaklah seorang Lama telah berlari masuk keruangan pertemuan, itulah Lama penjaga menara genta, dengan tergopoh-gopoh Lama ini terus memberi lapor kepada Po-siang.
"Istana kebakaran, genta peringatan sudah ditabuh sambung-menyambung, meiihat gelaratnya seperti istana raja telah diserbu oleh pasukan pemberontak!"
Jarak antara istana raja dengan Kim-eng-kiong kira-kira ada 30 li, ditengah jarak itu terdapat tiga buah menara lonceng ala-rerri, bila ada terjadi sesuatu peristiwa genting, maka suara genta lantas dibunyikan untuk memberi tanda dan minta bantuan kepada Kim-eng-kiong.
Mendengar laporan itu, murid-murid Kim-eng-kong menjadi panik, tapi Po-siang coba berlaku tenang saja, bentaknya.
"Jangan ribut masakah mungkin terjadi urusan besar? Coba, Yasaro dan Fayanga, kalian pimpin paderi bawahanmu segera pergi kekeraton. Pertemuan disini akan berlangsung terus menurut acara."
Kedua orang yang ditunjuk itu adalah dua murid kepercayaannya.
Apalagi Kim-Eng-kong memiliki kekuatan lebih seribu orang paderi, dan semuanya terlatih dengan ilmu silat yang cu-kup baik.
Po-siang menaksir paling tidak pasukan paderi yang dikirim itu akan dapat bertahan, pula dikeraton terdapat pasukan pengawal raja yang kuat dan setia kepada raja.
Bala Bantuan datang, tentu keamanan keraton bisa dipulihkan.
Malahan yang dikuatirkan Po-siang adalah keadaan pertemuan yang dihadapinya sekarang ini.
Dalam pada itu suara tambur peperangan terdengar semakin dekat, suasana didalam ruangan sidang menjadi panik.
Ba-nyak diantara tetamu yang tidak paham bahasa daerah Masar sama menanya pula apakah yang sudah terjadi.
Segera Po-siang berkata.
"Harap para hadirin jangan kaget, rupanya dikeraton ada terjadi sedikit kerusuhan dan kini sudah dapat diamankan kembali."
Belum lenyap suaranya, sekonyong-konyong terdengar suara riuh ramai diluar sana, suara orang bercampurkan suara benturan senjata serta derapan kuda lari bagaikan hujan badai gemuruhnya.
Baru sekarang air muka Po-siang berubah, bentaknya.
"Kurangajar! Sudah mengacau dikeraton, masih berani juga kawanan pemberontak itu mendatangi Kim-eng-kiong sini?"
"Biar Tecu keluar menyelidiki, diluar penjagaan cukup kuat, rasanya tak berhalangan,"
Kata Hou-hont-tocu pertama, lalu ia bertindak keluar.
Tapi baru saja sampai didekat pintu.
sekonyong-konyong daun pintu didepak orang hingga menerbitkan suara keras, para penjaga diluar membanjir masuk sambil berteriak-teriak.
"Wah, celaka, pasukan pemberontak sudah menyerbu kemari""
Waktu Hou-hoat-tecu tadi memandang keluar, ia tidak melihat pasukan pemberontak segala, yang ada cuma seorang perwira muda sedang mendatangi dengan langkah lebar, kedua tangan-nya masing-masing mengempit satu orang.
Walaupun yang datang cuma seorang perwira muda saja.
namun hal ini sudah membuat suasana sidang menjadi gempar, bahkan orang-orang Kim-eng-kiong sama berseru kaget.
Kiranya perwira muda itu bukan lain adalah Danu Cu-mu, dan kedua orang yang dikempitnya itu tak-lain-tak-bukan adalah kedua mirid kepercayaan Po-siang Hoatsu tadi, yaitu Yasaro dan fuyanga.
Serentak Kang Hay-thian dan Kok Tionglian bercorak gembira, sebaliknya anak murid Kim-eng-kiong berteriak kuatir.
Hou-hoat-tecu pertama tadi menjadi kejut dan gusar, segera ia membentak.
"Lepaskan kedua Suteku itu?"
Berbareng ia ayun tongkatnya terus menutuk ke "Hoan-kuhiat"
Dilutut Danu Cu-mu. Tapi sekali Cu-mu angkat sebelah kakinya dan menginjak kedepan, tepat sekali ujung tongkat Hou-hoat-tecu itu kena diinjak ditanah, meski ia membetot sekuatnya tetap tak terlepas.
"Kedua orang ini berani melanggar peraturan dan sembarangan bergerak, makanya aku telah seret mereka dari atas kuda dan menawan mereka kesini,"
Kata Cu-mu dengan dingin.
"Dan kalau mereka adalah Sutemu, nah, boleh terima kembali dan berilah hajaran supaya kenal aturan."
Lalu ia lemparkan kedua tawanannya dan segera mengangkat kakinya pula.
Tenaga injakan yang digunakan Danu Cu-mu itu agak istimewa, kalau Yasaro dan Fuyanga yang dilemparkan itu terus berjumpalitan dan dapat jatuh ketanah tanpa terluka, adalah Hou-hoat-tecu yang tongkatnya terinjak itu lagi membetot dengan sepenuh tenaga, ketika mendadak Cu-mu angkat kakinya, keruan dia kelabakan, ia kehilangan imbangan badan, maka ia terbanting jatuh dengan keras.
Segera anak murid Kim-eng-kiong mengepung rapat Danu Cu-mu ditengah-tengah.
Po-siang sendiri sudah dapat melihat bahwa ilmu silat Danu Cu-mu sangat hebat, ia tahu muridmuridnya pasti bukan tandingan pemuda itu.
Segera ia membentak.
"Kalian mundur semua, biar kutanya dia!"
Lalu ia berkata kepada Cu-mu.
"Apakah kau ini pemimpin pasukan pemberontak? Apa tujuan-mu sembarangan menerjang ke Kim-eng-kiong sini?"
"Apakah kau ini Po-siang Hoatsu?"
Tanya Cu-mu.
"Ya, aku juga Kok-su dari negeri Masar kalian,"
Sahut Posiang dengan angkuh. Dibalik kata-katanya ini agaknya ia merasa kurang senang kepada Danu Cu-mu yang tidak memberi hormat padanya.
"Bagus, aku justeru ingin bicara dengan kau."
Demikian kata Cu-mu.
"Pertama aku hendak memberitahukan padamu bahwa mulai saat ini kau bukan lagi Kok-su dari negeri Masar!"
"Hahaha!"
Po-siang bergelak tertawa.
"Kau anggap dirimu ini apa hingga memiliki kekuasaan sebesar Itu? Apakah kau adalah raja baru negeri Masar ini?"
"Apa yang mengherankan kedudukan raja saja?"
Sahut Cumu.
"Keluarga kami turun temurun justeru memang raja negeri Masar ini. Sekarang aku minta orang yang mengangkat kau sebagai Kok-su, yaitu Kayun, dia adalah seorang penghianat bawahan ayah bagindaku, dia berani mendurhakai junjungannya sendiri dan mengangkat dirinya sendiri sebagai raja, dosanya itu tiada berampun. Kedatanganku ini bukan bermaksud menjadi raja, tapi aku harus membasminya dari negeri kami ini. Kau adalah Kok-su yang dia undang, aku takkan menyalahkan kesalahanmu yang telah membantu kejahatannya, hal ini aku sudah memberi kelonggaran padamu, apa barangkali kau masih mengharap kami akan menjunjung kau setinggi langit dan memberi sembah padamu?"
Mendengar pengakuan Danu Cu-mu tentang asal-usulnya itu, seketika orang-orang Kim-eng-kiong itu sangat terkejut. Segera para Bu-su kepercayaan Kayun sama bentak.
"Kok-su jangan percaya kepada ocehannya. Sudah terang dia memalsukan putera raja yang dulu untuk mengelabui pendapat umum. Lekas kita tangkap dia dan menjatuhkan hukuman setimpal padanya."
Tapi Po-siang telah memberi tanda agar semua orang tenang, dengan menahan gusar ia bergelak tertawa pula, lalu berkata.
"Sementara ini aku tidak urus siapakah kau sebenarnya. Kau sudah mengatakan soal pertama, dan bagaimana soal yang kedua?"
"Kedua, kau harus menyerahkan Kayun padaku!"
Kata Cumu. Po-siang melengak sejenak, tapi ia lantas bergirang, sahutnya.
"Haha, begini hebat lagakmu, semula kukira pemberontakanmu sudah berhasil, kiranya Sri baginda belum jatuh dibawah ceng-keramanmu. Jika begitu untuk apa kau datang kesini? Lekas kau pergi mencarinya kelain tempat!"
"Ha, Kau justeru berada didalam Kim-eng-kiong kalau ini, kau ingin menyangkal?"
Kata Cu-mu dengan tertawa dingin.
"Hm, bocah kurangajar,"
Jengek Po-siang.
"Baiklah, jika kau berkeras mengatakan raja berada ditempatku ini, nah, anggaplah memang betul, habis kau mau apa?"
"Serahkan dia dan aku akan mengizinkan kau pulang ke negerimu dengan membawa anak muridmu,"
Sahut Cu-mu.
"Pabila aku tidak terima, lalu bagaimana?"
Tanya Po-siang dengan tertawa dingin.
"Jika kau membantu kejahatan mereka, maka terpaksa akupun tidak sungkan-sungkan lagi padamu,"
Sahut Cu-mu dengan tegas.
Sementara itu pintu gerbang Kim-eng-kiong sudah terpentang lebar-lebar, memandang keluar, jelas terlihat panji berkibar-kibar dan dimana-mana penuh perajurit belaka.
Kiranya perajurit-perajurit ada sebagian besar adalah pengikut-pengikut pembesar setia dari ayah baginda-nya dahulu yang telah dihubungi dengan baik sebelumnya, dan ada sebagian adalah pasukan pengawal Kayun.
Sesudah Danu Cu-mu menyerbu kedalam keraton dsn pasukan Kayun itu mengetahui siapa dirinya Cu-mu yang sebenarnya, pula keadaan Kayun sudah kalah kuat, maka ada sebagian besar pasukan Kayun itu yang berontak menggabungkan diri dengan pasukan Cu-mu.
Pasukan paderi yang dipimpin Yasaro dan Fuyanga belum lagi jauh meninggalkan Kim-eng-kiong atau mereka sudah kebentrok dengan pasukan yang dipimpin Danu Cu-mu ini hingga diterjang kacau-balau dan kedua paderi itupun tertawan.
Maka diam-diam Po-siang agak gugup juga melihat kekuatan Cu-mu yang hebat itu, pikirnya.
"Jika aku mengaku kalah begini saja, kelak pasti tiada harapan buat datang kembali. Meski mereka berjumlah tidak sedikit, tapi jago-jago dipihak kamipun cukup banyak, kenapa aku mesti takut?"
Maka dengan menyengir iblis iapun berkata.
"Bocah hebat, andaikan kau sudah menjadi raja. tapi kau berani sembarangan terobosan didalam Kim-eng-kiongku ini aku ada hak untuk minta pertanggung-jawabanmu!"
Dan begitu selesai berkata, terus saja sebelah tangannya mencengkeram kearah Danu Cu-mu.
Jarak Po-siang dengan Cu-mu sebenarnya masih lebih dua meter jauhnya, tapi sekali tangannya bergerak, seketika terdengarlah suara bersiut yang keras.
Meski cuma suara gerakan tangannya yang timbul dari Lwekangnya.
tapi begitu menyentuh badan Cu-mu, mau-tak-mau pemuda itu juga merasakan suatu tolakan tenaga maha hebat hingga dia terhuyung sekali dan hampir-hampir terpental.
Diam-Diam Cu-mu terkesiap, pikirnya.
"Untung aku sudah minum Thian-sim-ciok, kalau tidak, mungkin cuma sekali gebrakan ini saja aku sudah terjungkal dibawah tangannya."
Syukurlah ia hanya terhuyung sedikit lalu dapat berdiri tegak kuat.
Po-siang Hoatsu adalah murid pertama dari paderi agung negeri Thian-tiok, Liong-yap Siangdiyn.
Paderi agung itu memiliki tiga macam ilmu sakti yang disebut "Hud-bun-tin-mosam-coat-ki" (tiga jenis ilmu budha pembasmi iblis).
Dan apa yang digunakan Po-siang sekarang adalah salah satu oicniarany-a yang disebut "Na-in-jiu" (tangan penggaet mega).
Siapa duga cengkeramannya tadi ternyata tidak dapat mengenai Danu Cu-mu, keruan iapun terkesiap sendiri.
Dalam pada itu, dengan cepat sekali Danu Cu-mu sudah balas menyerang, ia kuatir kalau Po-siang mencengkeram lagi hingga susah ditahan, maka segera ia mendahului menghantam.
Rupanya Po-siang sengaja hendak mengukur tenaga Cumu, maka segera iapun memapak dengan tangan mengadu tangan.
Dan sekali kedua telapak tangan membentur, sekali ini Cu-mu ter-gentak mundur hingga tiga tindak.
Sebaliknya Posiang juga bersuara heran sekali.
Kiranya kedua orang tanpa berjanji telah bersama-sama menggunakan ilmu Tay-seng-pan-yak-kang.
Selain "Na-in-jiu"
Yang tersebut tadi.
kedua jenis ilmu sakti Liong-yap Siangyin yang lain adalah "Liong-siang-kang" (ilmu naga dan gajah) dan Tay-seng-pan-yak-kang itu.
Sejak Po-siang datang dinegeri Masar.
banyak sekali murid yang telah diterimanya.
Tapi diantaranya cuma Yap Tiong-siau saja yang mendapat pelajaran Tay-seng-pan-yak-kang dari dia.
Po-siang mengira orang Tionghoa tiada yang kenal ketiga jenis ilmu saktinya.
itu.
siapa kira sekarang Danu Cu-mu justeru mahir menggunakan "Tay-seng-pan-yak-kang", bahkan lihaynya tidak kalah daripada ajaran asli dari Liong-yap Siangjin, malahan jauh lebih lihay daripada muridnya, yaitu Yap Tiong-siau.
Keruan Po-slang menjadi sangsi.
Pukulannya yang lain menjadi tertunda, la membentak.
"Darimana kau mendapatkan ajaran Tay-seng-pan-yak-kang?"
"Apanya yang mengherankan Tay-seng-pan-yak-kang ini?"
Sahut Cu-mu dengan tertawa dingin.
"Guruku serba mahir, segala ilmu silat dikenalnya, beliau mengatakan bakatku terlalu bodoh, tidak cocok untuk mempelajari ilmu silat lain yang bagus, maka hanya diberi sedikit kepandaian penjaga diri saja, yakni Tay-seng-pan-yak-kang yang diajarkan padaku ini."
Po-siang sangat terkejut, pikirnya.
"Ilmu sakti perguruan kami ini dianggap sebagai kepandaian sepele oleh gurunya, kalau bukan omong kosong belaka, maka gurunya bukankah seorang tokoh yang tiada tandingannya didunia ini?"
Maka ia lantas menanya.
"Siapakah gurumu?"
"Kalau kukatakan tentu kau akan kaget."
Sahut Cu-mu.
"Guruku tak-lain tak bukan adalah Kim............"
"Kim Si-ih?"
Teriak Po-siang.
"Benar, memang beliau adanya,"
Kata Cu-mu.
"Haha, lucu, sungguh lucu!"
"Lucu apa?"
Tanya Po-siang dengan mendongkol.
"Habis, kabamya selama belasan tahun ini kau sangat ingin bertemu dengan guruku,"
Kata Ciu-mu.
"Semula kukira kau memiliki ilmu silat setinggi langit, eh, tak tahunya cuma sekian saja! Sedangkan aku saja belum tentu kau mampu menang, sebaliknya kau ingin melawan guruku, bukankah ha] ini terlalu lucu, terlalu menggelikan?"
"Hm,"
Jengek Po-siang.
"lebih baik kau suruh gurumu lekas kemari saja, kau tidak mampu menahan tiga kali Beranganku. Kalau tidak percaya boleh segera kau coba?"
Tay-seng-pan-yak-kang yang dipelajari Danu Cu-mu dari Kim Si-ih itu bersumbar dari Bu-kang-pit-kip (kitab rahasia ilmu silat) kumpulan Kiau Pak-beng.
Dalam hal ilmu silat boleh dikata Kiau Pak-beng serba tahu, serba pintar.
Dahulu ia telah menggunakan Siu-lo-im-sat-kang untuk melawan Tay-sengpan-yak-kang"
Yang digunakan oleh kedua jago silat Thiantiok, yaitu dua saudara kembar Oh-pek Moko, si Moko hitam dan Moko putih, dan per-tandingan itu berkesudahan seri alias sama kuat.
Sesudah mengalami pertarungan itu, tanpa guru ternyata Kiau Pok-Beng telah dapat memecahkan dimana letak intisari "Tay-seng-pan-yak-kang"
Itu.
Cuma Lwekang Kiau Pakbeng itu lebih cunderung kearah golongan Sia-pay, maka sesudah Tay-seng-pan-yak-kang dapat diyakinkan, keadaannya menjadi agak berbeda juga daripada Tay-sengpan-yak-kang asli dari kalangan budha di Thian-tiok.
Jika dipakai menyerang, tenaga pukulan Kiau Pak-beng itu selalu merusak urat nadi musuh dan memang sangat lihay, tapi bicara tentang kemurnian tenaga, terang kalah bagus daripada ilmu pukulan asli dari Thian-tiok itu.
Ajaran Kiau Pak-beng itu setibanya ditangan Kim Si-ih, keadaannya kembali berubah lagi.
Kira Si-ih mempunyai alas dasar Lwekang dari golongan Cing-pay yang kuat, maka terhadap setiap ilmu silat dalam kitab kumpulan Kiau Pak-beng itu banyak memberi perbaikan.
Namun begitu Tay-seng-panyak-kang ini adalah semacam ilmu silat teramat hebat, meski ada perbaikan toh belum bisa seluruhnya meninggalkan gaya Kiau Pak-beng itu sehingga tetap ada perbedaan dengan Panyak-kang dari Thian-tiok asli itu.
Tapi juga dapat dikatakan masing-masing mempunyai keunggulan nya sendiri-sendiri dan susah dikatakan mana yang lebih unggul.
Jikalau Kim Si-ih sendiri yang mengadu tangan dengan Posiang sekarang, tentu Po-siang bukan tandingannya.
Tapi Lwekang Danu Cu-mu sendiri terbatas, kalau berturut-turut mesti mengadu tangan sampai beberapa kali, tentu akhirnya akan kelihatan kelemahannya.
Dan rupanya Po-siang justeru mengetahui kelemahan lawan ini, maka ia berani omong besar akan mengalahkan Cu-mu dalam tiga kali pukulan saja.
Benar juga, habis omong, segera pukulan Po-siang dilontarkan lagi sebagai gugur gunung dahsyatnya.
Cepat Cu-mu juga menghimpun tenaga murni ditelapak tangan dan kembali mengadu tangan sekali lagi.
Sekah.
ini meski Danu Cu-mu tetap tergentak hingga terhuyung-huyung.
tapi Po-siang juga tampak berkeringat.
Diam-Diam Cu-mu memikir.
"Hanya tinggal sekali lagi, masakah aku dapat kau kalahkan?"
Dan baru ia berpikir, dalam pada itu pukulan Po-siang yang ketiga kalinya sudah dilontarkan lagi. Segera Cu-mu menangkis lagi, maka terdengarlah suara "blung"
Sekali, tenaga pukulan Cu-mu telah ditolak kembali oleh tenaga pukulan lawan, seketika ia merasa dadanya sesak, darah bergolak didalam rongga dada, berulang-ulang ia tergentak mundur beberapa tindak lag..
Sudah tentu Cu-mu sangat terkejut.
Tapi Po-siang juga tidak kurang heran dan kagetnya.
Harus diketahui bahwa Tay-seng-pan-yak-kang itu khusus merusak urat nadi sasarannya Sekarang Po-s.png telah menolak kembali tenaga pukulan Danu Cu-mu itu, menurut logika, seharusnya Cu-mu akan terluka parah andaikan tidak terbinasa.
Tapi sekacang meski Cu-mu tidak kuat bertahan, namun toh tidak roboh, ampuhlah malah sanggup melawannya lagi, keruan hal ini benar-benar dliluar dugaan Po-siang.
Sudah tentu Po-siang tidak tahu bahwa Kim Si-ih sudah banyak memperbaiki cara mengerahkan tenaga pukulan Tayseng-pan-yak-kang itu dengan memberi tambahan Lwekang dari aliran Cing-pay, maka begitu Danu Cu-mu merasa gelagat jelek, segera ia menyalurkan tenaga sendiri yang ditolak kembali itu kepusatnya.
Ia sudah makan Thian-cim-ciok.
dan Lwekangnya sudah banyak bertambah, sebab itulah urat nadinya tidak mengalami cidera apa-apa, melainkan cuma terganggu sedikit hawa murninya saja.
Dalam kejutnya seketika timbul napsu jahat Po-siang.
Selagi Danu Cu-mu belum berdiri tegak benar-benar, kembali pukulan keempat maha dahsyat telah dilontarkan pula secepat kilat.
"He. ini sudah pukulan keempat, apa yang kau katakan tadi dapat dipercaya tidak? Atau mulutmu memang suka menclamencle?"
Teriak Kang Hay-thian mendadak, segera iapun melompat maju dan mewakilkan Danu Cu-mu memapak pukulan Po-siang itu.
Kang Hay-thian tidak pernah belajar Tay-seng-pan-yakkang, tapi ia mahir Siau-yang-sin-kang yang dapat mengatasi Tay-seng-pan-yak-kang itu.
Maka begitu kedua tangan beradu, seketika Po-siang merasa tenaga lawan teramat lunak, namun sangat kuat, jadi mirip samudera raya yang tenang, tapi biarpun diuruk dengan berapa banyak batu juga akan tenggelam kedasar lautan, paling-paling hanya menimbulkan sedikit buih dan cipratan air saja.
Begitu pula dengan Posiang, begitu merasa tenaga lawan yang lunak dan hangat itu, seketika tenaga pukulannya yang maha dahsyat itu hilang sirna seperti ditelan air laut tanpa bekas.
Sama sekali Po-siang tidak menduga bahwa Lwekang yang dilatih Kang Hay-thian sudah mencapai setinggi ini, keruan ia terkejut.
Lekas-Lekas tangan kirinya ikut menolak keluar, dengan tenaga tolakan dan tarikan kedua tangannya itulah, segera ia meronta sekuatnya hingga menjangkitkan sambaran angin dan golakan tenaga yang tak kelihatan.
Betapapun Kang Hay-thtan belum seberapa lama habis minum Thian-sim-ciok Siau-yang-sin-kang belum dapat dikerahkan dgn leluasa dan sehebat-hebatnya, maka ketika terpuntir oleh dua arus tenaga lawan yang berlawanan itu, seketika iapun takbisa menahan-nya dengan baik hingga Posiang sempat menarik kembali tenaga pukulannya.
Diantara para hadirin itu tidak sedikit jago-jago terkenal, mereka dapat melihat meski Po-siang dapat mematahkan gebrakan tadi, tapi terang sudah kecundang lebih dulu.
Keruan semuanya terperanjat.
Sebaliknya Danu Cu-mu lantas terbahak-bahak, katanya mengejeknya "Hahahahal Lagakmu ingin melawan guruku, sedangkan Suhengku saja kau belum tentu bisa menang, apa kau masih berani omong besar lagi?"
Dari malu Po-siang menjadi gusar, pikirnya.
"Urusan sudah kadung begini, terpaksa pertarungan serentak harus dilakukan!"
Maka segera ia membentak.
"Bocah ini berani memberontak kepada kerajaan, tidak perlu lagi bicara tentang peraturan pertandingan lagi dengan dia, lekas maju dan tangkap dia!"
Segera empat anak muridnya meng akan dan berbareng menerjang maju hingga Danu Cu-mu terkepung ditengahtengah.
Cu-mu sendiri sudah banyak membuang tenaga ketika menangkis tiga kali pukulan Po-siang yang dahsyat tadi, memang sulit keempat Hou-hoat-tecu itu hendak menangkapnya, sebaliknya ia hendak mengalahkan mereka seketika menjadi susah juga.
"Kalau diberi tanpa bayar kembali adalah kurang sopan! Ini. kau pun terima sekali pukulanku!"
Demikian seru Hay-thian sembari menghantam.
Mendadak Po-siang menggerung sekali, kedua tangannya memapak kedepan berbareng, sehingga Kang Hay-thlian tidak kuat menahannya, keruan pemuda itu terkejut, katanya didalam hati.
"Aneh, mengapa mendadak tenaganya seperti bertambah lebh kuat satu kali lipat?"
Kiranya apa yang digunakan Po-siang sekali ini adalah "Liong-siang-kang"
Yang paling lihay dikalangan budha dinegeri Thian-tiok, ia gunakan ilmu pukulan naga dan gajah yang hebat itu sekaligus dengan kedua tangan, ditambah pula suara gerungannya yang disebut Say-cu-ho atau gerungan singa yang perkasa itu.
dengan sendirinya tenaga pukulannya bukan olah-olah hebatnya.
Cuma "Liong-siang-kang"
Itu juga sangat merusak tenaga murninya, sebab itulah ia tidak mau sembarangan menggunakannya jika tidak kepepet.
Maka terdengarlah suara gedebak-gedebuk beberapa kali, beberapa orang yang lebih lemah Lwekangnya telah terguncang jatuh dari tempat duduk mereka oleh karena suara gerungan Po-siang yang gemuruh itu.
Ada lagi yang merasa tidak tahan oleh suara keras itu, beramai-ramai sama merobek kain baju send"ri untuk menyumbat telinga masing-masing.
Karena itu, suasana disitu menjadi tambah kacau.
Po-siang sudah mengeluarkan ilmu "Liong-siang-kang"
Dan Kang Hay-thian masih belum dapat dirobohkan, terpaksa ia mesti lebih banyak mengorbankan tenaga murninya untuk memukul sekali lagi. Tapi dengan menggunakan "Thian-lo-poh-hoat"
Yang lincah dan gesit, cepat Hay-thian menghindarkan diri dan tahu-tahu sudah memutar kebelakang Po-siang, sekali tutuk, tepat "Taycong-hiat"
Dipunggung Po-siang kena tertutuk. Tak tersangka bahwa dikala "Liong-siang-kang"
Sedang dikerahkan, maka dalam jarak lingkar seluas beberapa meter telah penuh terkurung oleh tenaga pukulan Po-siang itu, bahkan cepat sekali reaksinya, begitu tutukan Hay-thian itu mengenai punggung-nya, seketika tenaga pukulannya itu juga terus menggencet dari delapan penjuru kearah berdirinya Kang Hay-thian.
Dalam sekejap itu Hay-thian merasa seperti terombangambing ditengah gelombang badai yang bergolak hebat, biarpun ia memiliki Lwekang yang kuat terpaksa juga tdak dapat berdiri tegak lagi, maka terdengarlah suara sambaran angin yang dahsyat, tahu-tahu tubuhnya membal keatas seperti bola saja.
Keruan Kok Tiong-lian dan Hoa In-pik sama-sama terkejut, berbareng mereka terlari semua kearah Kang Hay-thian.
Tapi meski pukulan Po-siang sudah dihentikan, namun tenaga yang dijangkitkan oleh "Liong-siang-kang"
Itu masih sangat kuat didalam jarak beberapa meter.
Untuk mana Kok Tiong-lian tidak menjadi soal, tapi Hoa In-pik yang tidak tahan, begitu mencapai jarak golakan tenaga Liong-siang-kang itu, kontan ia tertolak mundur kembali.
Kok Tiong-lian juga terhuyung-huyung karena pergolakan angin dan tenaga pukulan lawan itu.
Saat itu Kang Hay-thian telah berjumpalitan satu kali di udara, waktu turun kembali, tepat ia tancap-kan kakinya disamping Tiong-Lian dan berkata.
"Jangan kuatir, Lianmoay, meski aku tidak gampang menangkan dia, tapi juga tidak nanti dikalahkan dengan begini saja. Boleh kau pergi membantu kakakmu saja."
Kiranya dengan kekuatan Kang Hay-thian sekarang sebenarnya sudah setaraf dengan Po-siang Hoatsu. Cuma saja Po-siang tidak sayang mengorbankan tenaga murni sendiri untuk mengeluarkan "Liong-siang-kang"
Yang lihay, dengan demkian barulah ia lebih kuat setingkat daripada Hay-thian.
Walaupun begitu toh tetap pemuda itu takbisa dirobohkan.
Sebabnya Kang Hay-thian tadi sampai mencelat adalah disebabkan tenaga Liong-siang-kang itu memang sangat hebat, sebab lain adalah karena Kang Hay-thian terlalu dekat dengan musuh dan jarinya sedang menutuk Hiat-to lawan itu.
Meski Hay-thian juga telah menggunakan Lwekang yang tinggi, tapi tenaga tutukan itu sudah tentu tidak sanggup menahan kekuatan yang dipantulkan oleh Liong-siang-kang yang dahsyat itu.
Jadi mencelatnya Kang Hay-thian itu sebenarnya juga disebabkan dia ingin menghindar gencetan tenaga pukulan lawan, maka nya sengaja meloncat sekalian, jadi bukan karena sama sekali tidak sanggup bertahan akan Liong-siangkang musuh.
Dan sekarang Kok Tiong-lian juga mengetahui bahwa Kang Hay-thian tidak terhalang apa-apa, ia menjadi lega, tapi tidak lantas menylngkir, melainkan terus mengangsurkan Cay-inpokiam kepada Hay-thian dan berkata.
"Pedangmu ini kukembalikan saja, di sini cuma keledai gundul ini yang paling lihay, aku sendiri sudah memakai Pek-giok-kiam, musuh lain rasanya tidak nanti mampu melukai aku."
Hay-thian insaf lawannya teramat tangguh.
Tadi.
dia berjumpalitan diudara dua kali.
Po-siang juga berputar beberapa kali ditanah, hal ini disebabkan Po-siang terkena tutukan Hay-thian, yaitu ilmu Tiam-hiat tunggal ajaran Tokliong Cun-cia, itu gurunya Kim Si-ih yang sakti ilmu Tiam-hiat itu boleh dikata tiada tandingannya didunia ini, ditambah lagi tenaga sakti yang kini telah dimiliki Kang Hay-thian dan sudah tentu tutukan itu bukan main lihaynya, meski Po-siang tidak sampai terluka, tapi juga terganggu sedikit tenaga murninya.
Dan disaat Tiong-lian menyerahkan Pokiam kepada Kang Hay-thian iitulah, semangat Po-siang sudah pulih, segera ia menggerung pula terus merangsang maju, kembali pukulannia tertuju lagi kepada Kang Hay-thian.
Karena t.dak sempat bicara lagi, terpaksa Hay-thian terima pedang mestika itu sambil mendorong mundur Kok Tiong-lian, dengan tenaga dorongan itu Kok Tiong-lian terus berjumpalitan dengan gaya Yau-cu-hoan-sin atau burung merpati membaik tubuh, dengan enteng gadis itu dapat menyingkir keluar dari lingkaran tenaga pukulan Po-siang yang dahsyat itu.
Betapapun Kang Hay-thian tetap kuatir kalau Tiong-lian ikut terembet oleh pukulan Po-siang itu, maka dalam seribu kerepotan-nia menghadapi pukulan lawan itu ia masih perlukan melirik kearah sigadis, dan demi melihat Tiong-lian sudah melayang keluar dari kalangan pertempuran mereka dengan selamat, barulah ia merasa lega.
Nyata, betapa kasih sayangnya Kang Hay-thian terhadap Kok Tiong-lian telah kentara sekali tercurah pada sekali lirikannya itu.
Saat itu Hoa In-pik masih berdiri disamping sita, sudah tentu setiap gerak-gerik Kang Hay-thian dan Kok Tfong-Iian telah dilihatnya dengan jelas.
Seketika perasaannya terguncang dan cemas, pikirnya.
"Selamanya......... selamanya ia tidak pernah memandang aku dengan sorot mata seperti ini!"
Seketika itu iapun pahamlah semuanya.
Sebabnya Kang Hay-thian melalaikan pesan In Khing agar menyampaikan salam mesra-nya kepada Kok Tiong-lian.
Sebabnya Hay-thian menghindarkan pandangannya yang penuh arti yang menunjukkan rasa girang dan bahagia ketika tadi mereka bertemu diluar dugaan.
Semuanya .tu sekarang lelah diketemukan jawabannya, yaitu.
Karena gadis yang bersemayam didalam lubuk hati Kang Hay-thian bukanlah dia (In-pik), tapi adalah Kok Tiong-lian!
In-pik pernah sirik dan cemburu kepada Auyang Wan, selalu ia berusaha mencegah nona Auyang itu mendekati Kang Haythian.
Dan baru sekarang ia tahu bahwa musuh asmara yang sebenarnya bukanlah Auyang Wan, tapi adalah Kok Tiong-lian.
Auyang Wan tergolong nona dari golongan Sia-pay, In-pik boleh benci padanya, boleh anggap dia sebagai musuh, tapi keadaan Kok Tiong-lian tidak dapat dipandang sama seperti Auyang Wan.
Tiong-lian adalah kawan mema n Kang Haythian sejak kecil, diantara perguruan merekapun ada hubungan yang sangat rapat, Tiong-lian adalah ahliwaris Binsan-pay dan adalah puteri kerajaan Masar pula, ya, pendek kata In-pik tidak dapat memandang Tiong-lian sebagai musuh, juga tiada hak untuk iri dan cemburu kepada percintaan mereka.
Tapi justeru karena itu pula.
"ancaman"
Kok Tionglian terhadap kepentingannya menjadi jauh lebih hebat dibandingkan Auyang Wan.
Begitulah, ditengah pertarungan sengit dgn suara gemuruh ramai itu, tapi didalam pandangan Hoa In-pik hanya tertampak Kang Hay-thian dan Kok Tiong-lian saja, bahkan lambat laun bayangan kedua muda-mudi itupun tidak kelihatan lagi, ia merasa benaknya kosong, pandangannya kabur hingga termangu-mangu.
"Awas, Hoa-cici!"
Mendadak terdengar Tiong-lian menjerit.
Kiranya saat itu ada beberapa oraag Chit-im-kau sedang menyerang padanya, senjata mereka sudah menyambar dari belakang, tapi In-pik masih tidak berasa.
Dan karena teriakan Kok Tiong lian itu, barulah In-pik tersadar dari lamunannya, cepat ia melangkah kedepan setindak.
dan untunglah tindakannya itu tepat pada waktunya, sebab saat itu-juga ia merasa punggungnya terasa dinginnya senjata.
coba terlambat sedikit saja tentu tidak cuma bajunya saja yang tersobek oleh senjata musuh, bahkan mungkin badannya sudah tertembus.
"Tring", disebelah sana segera Kok Tiong-lian cabut sebuah tusuk kundainya terus ditimpukan hingga senjata lawan yang mengancam punggung In-pik itu dihantam jatuh, menyusul ia terus meragsang maju, kedua langannia bekerja cepat, dalam waktu sekejap dua orang Chiam-kau telah dibikin terjungkal. Dengan berkeringat dingin karena terkejut, barulah sekarang In-pik benar-benar sadar kembali, katanya dengan jengah.
"Terima kasih, Kok-cici!" -dan segera iapun melolos pedang menempur musuh bersama Kok Tiong-lian. Sudah tentu sama sekali Kang Hay-thian tidak tahu bahwa Hoa In-pik sedang masgul dan berduka gara-garanya, bahkan bagaimana dengan Kok Tiong-lian juga tidak sempat dipikirkan lagi, tapi saat itu ia sedang menempur Po-siang dengan matimatian, pertarungan yang paling sengit. Hay-thian sekarang sudah memegang pedang mestika sudah tentu kekuatannya banyak bertambah. Tapi "Liongsiang-kang"
Yang dikerahkan Po-siang Hoatsu juga tidak kurang hebatnya, tenaga pukulan sakti itu masih tetap bergelombang-gelombang datangnya dengan lebih kuat dan membawa sambaran angin keras sebagai angin pu-yuh.
Untunglah lawannya adalah Kang Hay-thian, kalau orang lain, jangankan hendak menahan tenaga pukulannya, asal terkurung di-tengah sambaran angin keras itu saja pasti akan remuk isi perut-nya.
Kini Kang Hay-thian memiliki Cay-in-pokiam, ia telah keluarkan "Tui-hong-kiam-hoat"
Yang cepat, ditambah tenaga dalamnya yang kuat, dimana pedangnya menuju, selalu terdengar suara mencicit.
Dengan demikian, Liong-siang-kang yang hebat itu juga cu-ma dapat mengguncang menceng pedang Hay-thian itu dan tak-dapat menahannya, hal itu membuat Po-siang mau-tidak-mau harus berhati-hati.
Jadi yang satu lebih kuat dalam hal tenaga dan yang lain memperoleh keuntungan dalam hal senjata, untuk sementara kekuatan kedua pihak menjadi seimbang.
Sebaliknya beberapa orang murid Chit-im-kau itu bukanlah tandingan Kok Tiong-lian dan Hoa.
In-pik, mereka telah dihajar hingga pontang-panting, ada yang terluka oleh pedangnya In-pik, ada yang terjungkal dihantam pukulan Kok Tiong-lian, sisanya yang beruntung tidak terluka menjadi jeri, lekasan saja mereka melarikan diri.
Dan selagi Tiong-lian hendak pindah tempat untuk membantu Danu Cu-mu, tiba-tiba terdengar suara seruan seorang yang tajam melengking.
"He, boleh juga ilmu silat kedua anak dara ini, muka-nya cantik-cantik lagi, haha, lebih baik kalian ikut aku pulang saja!"
Maka tertampaklah seorang laki-laki berewok dengan muka yang aneh telah tampil kemuka.
Perawakan laki-laki itu tergolong pendek, tapi kedua lengannya jauh lebih panjang daripada orang biasa.
Dan begitu maju, terus saja sebelah tanganna menncengkeram keatas kepala Kok Tiong-lian.
Tiong-lian menjadi gusar tangannya memapak dengan hampir seluruh tenaganya.
Maka terdengarlah suatu "blang"
Sekali, orang aneh itu sedikitpun tidak bergeming, sebaliknya Kok Tiong-lian yang tergentak sempoyongan.
Kiranya orang aneh ini adalah Tocu (pemilik pulau) dari Toliong-to (pulau jagal naga) dilautan timur, namanya Hu Liciam.
Dia adalah sobat baik Beng Sin-thong, bahkan dahulu pernah membantu Beng Sin-thong waktu mengadakan pertandingan secara terbuka dengan para tokoh Bu-lim di Tionggoan dan sejak itu tidak pulang lagi ke To-liong-to.
Bun Ting-bik kenal baik pada Hu Li-ciam, sebab itulah kali ini ia telah mewakilkan Po-siang mengundangnya hadir dalam pertemuan di Kim-eng-kiong.
Hu Li-ciam mempunyai kesukaan pada konde licin atau paras cantik.
Meski tadi Kok Tiong-lian sudah mengalahkan orang-orang Chit-im-kau, tapi Hu Li-ciam tetap pandang enteng kepada kepandaian gadis itu, bahkan karena paras Tiong-lian lebih cantik daripada Hoa In-pik, maka sekali maju segera Tiong-lian yang dicengkeram lebih dulu.
Tak terduga ketika kedua tangan beradu, kontan ia sendiri tergentak mundur, untung ia sempat menguasai tubuhnya, namun begitu juga darah terasa bergolak didalam rongga dada, napas terasa sesak.
Dan baru sekarang ia kenal luhaynya Kok Tionglian yang sebenarnya.
Tapi sudah tentu Hu Li-ciam tidak mau kapok, sekali menggerung, kembali ia mencengkeram lagi, cuma yang diarah sekarang adalah Hoa In-pik.
Ia sangka In-pik juga sama lihaynya seperti Kok Tiong-lian, maka daya serangannya itu dikerahkan sepenuh tenaga.
Keruan In-pik tidak sanggup melawan, dalam sekejap saja ia sudah kena dipegang Hu Liciam.
Tiong-lian menjadi kuatir, segera ia menyerang lebih gencar, memangnya ia mahir Ginkang, baru-baru ini belajar pula Thian-lo-poh-hoat dari Kang Hay-thian, maka gerak tubuhnya sangat cepat, apalagi Hu Li-ciam memegang seorang tawanannya, gerakannya menjadi agak lambat, sama sekali ia tidak menduga sedemikian cepat serangan Kok Tionglian, maka tahu-tahu "Kiok-ti-hiat"
Dibagian lengan kena ditutuk sekali.
Karena tangan kesemutan dan kaku, dengan sendirinya Hoa In-pik lantas terlepas dari cengkeremannya, namun begitu pundak sinona yang dicengkeram Hu Li-ciam itupun terluka hingga berdarah.
Dan ketika Hu Li-ciam baliki tangan kirlnya.
"plak", kembali ia mengadu tangan lagi dengan Kok Tiong-lian. Sekali ini Tiong-lian merasakan tangan lawan menjadi dingin laksana es. Sama sekali tidak mirip sebagai badan manusia, ia terkejut dan cepat mundur dua tindak. Kiranya Hu Li-ciam pernah mendapat bantuan Beng Sinthong dan berhasil meyakinkan semacam ilmu "Hian-im-ngoheng-gi-kang"
Yang lihay, jika ilmu ini sudah terlatih sampai tingkatan tertinggi boleh dikata sama hebatnya dengan Siu-loim-sat-kang.
Cuma tadi ia telah kena ditutuk sekali oleh Kok Tiong-lian, tenaganya sedikit terganggu hingga meski gadis itu terkejut oleh karena serangannya itu, namun juga tidak tertuka apa-apa.
Disebelah sana Hoa In-pik sudah membubuhkan obat luka untuk membikin mampet darah, lalu minum pula sebutir Siauhoan-tan hingga tenaganya dapat pulih kembali.
Habis ini, segera ia putar pedang menerjang maju pula untuk membantu Tiong-lian.
Ayah In-pik, yaitu Hoa.
Thian-hong, adalah tokoh kelas satu didunia persilatan, sudah tentu ilmu silatnya juga tidak lemah, cuma sekarang dia mesti bertempur diantara Hu Li-ciam dan Kok Tiong-lian yang jauh lebih lihay dari dia, makanya kepandaiannya menjadi kelihatan selisih banyak.
Tapi setelah Tionglian menghadapi musuh dari depan, lalu In-pik membantunya dari samping, hal ini banyak juga membawa keuntungan bagi Tiong-lian.
Hu Li-ciam sudah dapat mengetahui bahwa kepandaian Inpik jauh lebih lemah, sebenarnya ia hendak mengincar nona itu untuk menawannya lagi.
Tapi gerakan Tiong-lian teramat cepat, tak peduli kemana ia memutar, selalu Tiong-lian mendahului men-cegatnya serta menyambut hampir seluruh serangannya, karena itu, tidaklah mudah jika ia hendak menawan In-pik lagi.
Melihat Tiong-lian begitu perkasa dan dengan sepenuh tenaga melindungi dia dari serangan musuh tangguh itu.
mau tidak mau In-pik merasa kagum dan terima kasih pula.
Pikirnya.
"Dia dan Hay-ko memang suatu pasangan yang sangat setimpal, buat apa aku mesti menyelip diantara mereka?"
Karena pikiran demikian, sudah tentu hatinya agak pilu, tapi pikiran sehatnya menjadi jemih pula seluruhnya, perasaannya tidak tertekan legi seperti tadi, maka ia dapat memainkan ilmu pedangnya dengan lebih lancar dan gencar.
Bermula Kok Tiong-Lian merasakan pukulan-pukulan Hu Liciam itu sangat kuat dan hampir-hampir susah ditahan, tapi lambat-laun ia merasa tenaga lawan itu mulai berkurang, dikala mengadu tangan juga tidak merasakan lagi sedingin es seperti tadi.
Kiranya Tiong-lian makan Thian-sim-ciok belum lama berselang, tenaga yang mendadak bertambah itu belum leluasa dikerahkan semaunya.
Sekarang menghadapi pertarungan sengit, dengan sendirinya tenaga dalam yang tersekam itu bekerja dengan sen-dirinya dan makin lancar cara mengerahkannya.
Apalagi dasar Lwekangnya.
yaitu "Siauyang-hian-kang", adalah ciptaan Lu Si-nio yang khusus hendak digunakan untuk melawan Beng Sin-thong punya "Siu-lo-imsat-kang".
Sedangkan Hian-im-ngo-heng-gi-kang yang diyakinkan Hu Li-ciam itu adalah sejenis Siu-lo-im-sat-kang, malahan dasar kekuatan Li-ciam masih jauh dibawah mendiang Beng Sin-thong dahulu, sebab itulah, dikala Kok Tiong-lian sudah dapat mengerahkan Siau-yang-hian-kang sampai puncaknya, maka sedikitpun Hu Li-ciam tidak bisa menarik keuntungan lagi.
Sementara itu diruangan sidang itu sudah terjadi pertempuran kacau.
Danu Cu-mu telah melukai seorang Houhoat-tecu dari Kim-eng-kiong dengan Tay-seng-pan-yak-kang yang lihay dan ketiga orang lainnya terdesak mundur terus.
Tiba-Tiba Bun Ting-bik menerobos keluar diantara orang banyak, ia papak Cu-mu sambil berseru.
"Haha, lakon semalam rasanya masih belum memuaskan, marilah kita cobacoba lagi""
Habis berkata, kontan ia mengadang didepan ketiga Hou-hoat-tecu itu terus menghantam hingga pukulan Dari Cu mu yang sedang dilontarkan itu disambut olehnya.
Lwekang Bun Ting-bik sudah mencapai tingkatan "Samsiang-kui-goan", bicara tentang kekuatan sebenarnya hanya dbawah Po-siang Hoatsu dan masih diatasnya Hu Li-ciam.
Sesudah Cu-mu makan Than-sin-ciok, mestinya kekuatannya dapat melawan Bun Ting-bik dengan sama kuatnya, tapi lebih dulu ia sudah bertempur sekian lamanya, kepandaian ketiga Hou-hoat-tecu itu juga tidak lemah, maka dengan satu-lawan-empat sekarang, betapapun ia merasa kewalahan.
Sebaliknya serangan Bun Ting-bik semakin gencar hingga Danu Cu-mu terkurung rapat ditengah.
Melihat Danu Cu-mu terkepung musuh.
Peng-choan Thian-li hendak membantunya, segera ia, timpukan empat butir Pekpok-sin-tan kearah rombongan Bun Ting-bik itu.
Lwekang Bun Tng-bik sudah niencapai tingkatan "Samsiang-ki-goan".
meski tertimpuk peluru es itu juga seperti tidak merasakan sesuatu.
Sebaliknya ketiga orang Hou-hoat-tecu lantas menggigil kedinginan.
Diam-Diam Peng thoan Thian-li memikir.
"Jika aku membasmi dulu begundalnya ini hingga tinggal Bun Ting-bik seorang tentu akan gampang dilawan oleh Danu Cu-mu."
Maka segera la mengayun tangannya lagi, sembilan butir Peng-pok-sin-tan menghambur lagi, tapi sekali ini tidak mengarah Bun Ting-bik, sebaliknya menyerang ketiga Houhoat-tecu, masing-masing tiga biji dan mengarah tiga tempat atas-tengah-bawah yang berlainan.
Tapi mendadak ada tiga orang Hwesio berhidung besar dan ber mata cekung menerjang maju.
mereka mengangkat tiga buah mangkok emas keatas, sekali bergerak, tahu-tahu kesembilan biji PEng-pok-sin-tan telah jatuh didalam mangkokmangkok itu dan segera mencair menjadi air.
"Terima kasih atas pemberian Lisicu akan minuman, yang segar ini,"
Kata ketiga paderi itu dalam gerak-gerik yang sama, habe itu terus saja mereka minum habis air es didalam mangkok masing-masing.
Keng-thian terkejut, cepat ia sambitkan tiga biji Thian-sanain-bong.
Tenaganya sangat kuat, maka tertampaklah tiga jalur sinar mengkilap menyambar kedepan dengan membawa suara menderu.
"Terima kasih atas sedekah Sicu!"
Seru pula ketiga Hwesio itu.
Berbareng lagi mereka mengangkat mangkok masingmasing keatas, maka lelatu api lantas bercipratan, ketiga biji Thlan-ean-sin-bong telah jatuh juga dalam mangkok paderipaderi itu.
Keng-thian menjadi gusar, Yu-liong-pokiam berkelebat, dgn gerak tipu "Hian-hong-hoa-soa"
Atau angin puyuh menyambar di-gurun pasir, segera pedangnya menyabat kesamping sembari menyendal hingga meski cuma satu jurus.
tapi dengan cepat luar biasa sekaligus dapat mengarah tiga musuh tangguh.
Ketiga Hwesio itu lantas mengangkat tongkat bambu hijau di-tangan kanan masing-masing dan dengan gerakan serentak menangkis ke-depan meski Yu-liang-pokiam dapat memotong besi sebagai memotong kayu, tapi ternyata tidak mampu menabas putus tongkat bambu mereka itu.
Hanya terdengar suara "tring-tring-tring"
Tiga kali, pedang pusaka Teng Kengthian itu malah terpental balik oleh tangkisan mereka.
Kiranya ketiga Hwesio itu adalah tiga jago terkemuka dari Po-lo-bun (agama Hindu) di India.
Kalau bicara mengenai kepandaian sejati, tiada seorangpun diantara mereka yang mampu menandingi Teng Keng-thian.
Tapi mereka bertiga justeru telah meyakinkan semacam ilmu yang aneh.
tga orang bagaikan seorang perawan masing seakan-akan bersatu, gerak-gerik masing-masing serupa (ilmu telepati), untuk mengalahkan mereka secara sendiri-sendiri adalah tidak mungkin, kecuali kalau mengalahkan mereka seluruh-nya sekaligus.
Meski kepandaian Theng Keng thian sangat tinggi tapi menghadapi persatuan ketiga lawan, tangguh yang aneh itu.
ia menjadi kehabisan akal.
Pedang pusakanya yang tajam itu tidak mempan menghadapi gabungan tenaga mereka bertiga.
Segera Peng-choan Thian-li memutar pedangnya maju membantu.
Peng-pok-han-kony-kiam yang dia pakai itu mempunyai.
ka-siat yang berbzda, bukan saja ilmu pedangnya memang hebat, bahkan hawa dingin yang memancar dari pedang mestika itu cukup untuk melukai orang.
Lama kelamaan, hawa dingin dari pedang itu akan jauh lebih lihgy daripada Peng-pok-sin-tan yang cuma dapat d"gunakan secara sepintas lalu saja.
Biarpun ketiga paderi itu tidak takut hawa dingin, tapi lama-lama terpaksa mereka harus mengerahkan tenaga dalam untuk menjaga diri.
Dengan demikian, partai mereka ini menjadi sama kuatnya untuk sementara.
Dipihak sana demi melihat ada kesempatan, segera Kenggoat siangjin dan kawanan Bu-su Nepal itu ada maksud menerjang maju untuk mengeroyok Peng-choan Thian-li.
Tapi Yu Peng sudah lantas mengadangnyai "Bagus, atas perintah Kongcu, aku justeru hendak menangkap kalian!"
Keng-goat Siangjin menjadi gusar, damperatnya.
"Kurangajar, Kau hanya seorang pesuruh saja dan berani main gila padaku? Lihat pukulan!"
Dan kontan ia terus menghantam.
Yu Peng juga mahir menggunakan Peng-pok-sin-tan.
Cuma kekuatannya jauh dibawah Peng-choan Thian-li, maka ada sebagian besar peluru es itu kena ditangkap Keng-goat Siangjin, sedang peluru lain yang mengenai kawanan Bu-su Nepal itu juga tidak terlalu parah, mereka hanya menggigil sedikit saja.
Dalam pada itu Keng-goat Siangjin telah melancarkan pukulan-pukulan yang lebih gencar.
Tapi mendadak "siut-siut"
Dua kali, sebatang pedang seKonyong-Konyong menyelenong tiba menusuk kekanan dan kekiri dengan cepat sekali.
Meski Keng-goat Siangjin sangat gesit ternyata tidak sanggup menghindarkan diri hingga terkena sekali tusukan itu, untung tidak terluka parah, melainkan terluka lecet saja.
Kiranya orang yang melukai Keng-goat itu adalah suaminya Yu Peng sendiri.
Tan Thian-ih.
Dahulu Thian-ih pernah makan buah ajaib diistana es, badannya enteng seperti burung, ilmu pedangnya adalah kombinasi dari berbagai aliran pula, paling akhir iapun mencapai kemaju-an pesat dan sudah tergolong tokoh kelas satu.
Disebelah sana lekas-lekas Minhaji juga menerjang maju untuk mewakilkan Keng-goat menghadapi Thian-ih.
Minhaji adalah jago nomor satu dinegeri Nepal, dengan sendirinya kepandaiannya selisih tidak jauh dengan Keng-Goat Siangjin Maka dengan satu-lawan-satu ia dapat menempur Thian-ih dengan gagah, meski juga terdesak dibawah angin, tapi dalam waktu singkat juga Thian-ih susah hendak merobohkan dia.
Kawanan Bu-su dari Nepal yang dibawa datang Minhji itu selain beberapa orang diantaranya sudah dilukai Teng Kengthian tadi, selebihnya kira-kira masih adalah 30-an orang.
Walaupun para Bu"Su itu bukan jago silat kelas wahid, tapi mereka dapat bertempur dengan rapat, barisan mereka kukuh kuat hingga susah d uga untuk ditawan.
Dengan sendirinya pasangan Tan Thian-ih dan Yu Pcng takbisa dibandingkan dengan pasangan Teng Keng-ihian dan Peng-choan Thiah-ri, maka sesudah mereka terkepung ditengah kawanan Bu-su itu, keadaan mereka menjadi terancam bahaya.
"Hai, mengapa kalian main keroyok, kalian kenal malu atau tidak!"
Demikian Kang Lam terus berteriak.
Dia pernah mendapat pelajaran beberapa gerakan aneh dari Kim Si-ih, meski barisan kepungan para Bu-su itu sangat rapat, tapi entah cara bagaimana, tahu-tahu dengan sekali berjumpalitan saja Kang Lam sudah dapat melompat ketengah kalangan.
Segera dua orang Bu-su mengayun kaki hendak menendangnya, kontan Kang Lam memaki.
"Kurangajar! Kau berani menendang bokongku, ha? Ini biar kugebuk pantatmu dulu!"
Dan benar saja, dengan sekali jumpalitan pula, tahu-tahu ia sudah memutar sampai d.belakang kedua Bu-su itu dan "plakplak", bokong kedua Bu-su itu benar-benar kena dihantamnya.
Kang Lain bukan terhitung jago kelas satu, tapi ilmu Tiamhiatnya adalah kepandaian kelas satu.
Maka diwaktu ia menghantam bebokong kedua Bu-su itu, sekalian ia telah tutuk "Bu-lu-hiat"
Dibagian "berutu"
Kedua Bu-su hingga robohlah seketika dan menjadi batu penghalang malah bagi para Bu-su yang lain, bahkan barisan kepungan mereka menjadi terganggu juga.
Keng-goat Siangjin menjadi gusar, ia sambar badan kedua Bu-su yang roboh itu.
tapi ia tidak mampu membuka Hiat-to yang ditutuk Kang Lam itu, terpaksa ia melemparkan saja kedua Bu-su itu keluar kalangan, menyusul kedua tangannya terus menghantam kearah Kang Lam.
Gerakannya mencengkerain kedua Bu-su, melemparkan terus menghantam dilakukannya dengan sekaligus secepat kilat, sungguh luar biasa tangkasnya.
Tapi Kang Lam juga sama cepatnya, malah terdengar siceriwis ini lagi tertawa.
"Hihi, tidak kena! Sekarang menjadi giliranku untuk menggebuk pantatmu!"
Dan sekali putar, tahutahu ia sudah berada dibelakang Keng-goat Siangjin untuk menghantam bokongnya Tak terduga antero tubuh Keng-goat Siangjin itu sudah terlatih sedemikian rupa hingga setiap anggota badannya seperti hidup semua.
Maka Kang Lam tidak berhasil menutuk Hiat-to dibagian berutu itu, sebaliknya ketika Keng-goat Siangjin sedikit menggoyang kibul, tutukan Kang Lam itu menjadi seperti mengenai sebuah bola hingga terpental balik.
Kang Lam kenal lihaynya lawan sekarang, ia tidak berani meng-incar Keng-goat lagi, tapi terus berlari kian kemari menyelinap diantara kawanan Bu-su itu, asal ada kesempatan, ia lantas keluarkan ilmu Tiam-hiat lagi hingga ada beberapa orang kena dirobohkan.
Tapi lingkaran kepungan itu makin lama makin sempit hingga l"idak lama kemudian sudah tiada tempat luang lagi bagi Kang Lam bergerak.
Karena kepandaian sejati Kang Lam memang tidak hebat, maka berulang-berulang ia harus menghadapi serangan lawan yang berbahaya.
Tiba-Tiba garis kepungan musuh itu bobol, seorang kakek ber-enggot telah menerjang masuk dengan memutar kencang pedangnya dan para Bu-su Nepal itu tiak sanggup merintanginya.
Tatkala itu Minhaji sedang ayun toyanya hendak mengemplang keatas kepala Kang Lam, cepat kakek itu membentak.
"Lihat pedang!"
Dan tahu-tahu orangnya telah melesat sampai dibelakang Minhaji dengan tusukan pedangnya.
Kiranya sikakek berjenggot adalah Siau Jing-hong, itu tokoh terkemuka dari Jing-sia-pay.
Dia adalah guru Thian-ih yang pertama, diwaktu kecilnya Kang Lam.
ketika menjadi kacungnya Thian-ih.
pernah juga Kang Lam mencuri belajar ilmu silat Jing-sia pay itu.
Sekarang suami-isteri Thian-ih dan Kang Lam terancam bahaya, sudah tentu Siau Jing-hong tidak bisa tinggal diam.
Tapi dia tergolong angkatan tua.
ia harus menjaga harga diri dan tidak sudi main sergap dari belakang, maka pada sebelum menyerang tadi ia lantas mendahului membentak untuk memperingatkan musuh agar siap menerima seri.ngannya itu.
Minhaji tahu Siau Jing-hong adalah lawan tangguh, ia tidak bisa pikirkan Kang Lam lagi, terpaksa putar toyanya untuk menangkis kebelakang.
Tapi dengan gaya ,,Sun-cui-tui-ciu" (mendorong sampan mengikuti arus), pedang Jing-hong terus dipotongkan keatas toya musuh.
Gerakan "Sun-cui-tui-ciu"
Itu sebenarnya adalah suatu jurus yang sangat umum didalam ilmu pedang, tapi dalam penggunaan Siau Jing-hong tipu serangan itu menjadi Iihay luar biasa.
Tenaga Miuhaji kalah kuat, maka ketika toyanya terpotong pedang-ia tidak dapat menarik kembali, terpaksa ia mesti melepaskan senjatanya.
Maka terdengarlah suara "krak"
Sekali, biarpun dia keburu menarik tangannya, tidak urung sebuah jarinya juga ter-papas putus.
Demikianlah dengan ikut sertanya Siau Jing-hong didalam pertempuran, Thian-ih bersama isterinya dan Kang Lam menjadi bebas dari ancaman bahaya, bahkan Kang Lam dapat bergerak dengan leluasa lagi.
Dengan demikian maka pertarungan mereka berempat melawan Keng-goat Siangjin bersama kawanan Bu-su itu kini menjadi setanding.
Disebelah sana Kok Tiong-lian dan Hoa In-pik berdua juga mulai unggul melawan Hu Li-ciam, itu Tocu dari To-liong-to.
Suatu ketika, mendadak Kok Tiong-lian menggunakan tipu "Giok-Ii-tau-soh" (gadis ayu melempar tali), dari samping ia merangsang maju terus menyerang dengan berani.
Melihat nona itu berani mendekat, Hu Li-ciam diam-diam bergirang, pikirnya.
"Betapapun memang bocah masih hijau, hanya pikir menyerang, tapi tidak ingat menjaga diri."
Sebenarnya ia sudah tiada harapan buat menang, kini ada kesempatan bagus, terus saja ia melancarkan serangan mematikan dengan tujuan lekas merobohkan lawan dulu.
Dengan lima jarinya yang tajam sebagai kait itu terus saja mencengkeram dan tepat sekali Pi-pe-kut, yaitu tulang pundak Kok Tiong-lian tepat kena dipegangnya.
Pi-pe-kut adalah tempat berbahaya ditubuh manusia, kalau tulang pundak itu remuk, biar setinggi langit ilmu silatnya juga percuma, karena orangnya akan menjadi cacat.
Diluar dugaan, Kok Tiong-lian memakai baju pusaka "Pekgiok-kah"
Yang tidak mempan senjata.
Karena itu kuku jari Hu Li-ciam menjadi tidak berhasil menembusnya.
Sebaliknya tenaga Siau-yang-hian-kang ditubuh Kok Tiong-lian terus bekerja hingga Hu Li-ciam tergetar, daya tahan Thian-imciang-lik yang diandalkan Li-ciam itu tergempur.
Pada saat demikian itulah, secepat kilat pukulan Tiong Lian telah mengenai "Hun-bua-hiat"
Dibawah iga Hu Li-ciam.
Kontan Li-ciam menjerit sekali dan orangnya terus mencelat pergi sebagai bola.
Tanpa ampun lagi In-pik lantas memburu maju dan menambahi sekali tusukan hingga darah memancur keluar bagaikan sumber air, dengan cepat Hu Li-ciam lantas melarikan diri dengan menderita luka parah.
Kiranya Kok Tiong-lian menjadi buru-buru ingin membantu Danu Cu-mu ketika melihat sang kakak terdesak, sebab itulah ia sengaja memberi lubang serangan untuk memancing Hu Li Ciam.
Setelah mengalahkan Hu Li-ciam, segera Tiong-lian melayang maju kesana, kontan ia menghantam Bun Ting-bik.
Cepat Ting-bik membaliki tangannya untuk menangkis.
"Bluk", kedua tangan beradu. Betapapun Tiong lian memang kalah kuat hingga tergentak kesamping dengan sempoyongan. Melihat ada kesempatan, Hou-hoat-tecu pertama dari Kimeng-kiong itu terus ayun Kiu-goan-sik-tiang (tongkat timah bergelang sembilan) untuk megetok "Goan-tiau-hiat"
Didengkul Tiong-lian.
Ia tahu sigadis adalah puteri raja Masar yang dahulu, maka masudnya cuma hendak menawannya dan tongkatnya dipakai mengetok Hiat-to dengan separoh tenaganya saja.
Siapa sangka kekuatan Tiong-lian meski tidak bisa menandingi Bun Ting-bik, kalau dibandingkan Hou-hoat-tecu itu sudah terang jauh lebih unggul.
Maka hanya dengan sekali menyelentik saja.
"trang", tongkat lawan telah kena dipentalkan kesamping, bahkan genggaman Hou-hoat-tecu itu terasa sakit pedas dan hampir-hampir tidak kuat memegangi senjatanya sendiri. Keruan Hou-hoat-tecu pertama itu sangat terkejut, baru sekarang ia kenal lihaynya Kok Tiong-lian. Lekas-Lekas ia mengerahkan sepenuh tenaga dan kembali menyerang lagi. Begitu pula. dua orang Sutenya sekaligus juga ayun tongkat mereka menyerang dari kanan-kiri untuk membantu. Dilain pihak, karena Bun Ting-lck terpaksa membagi separoh tenaganya untuk menangkir pukulan Kok Tiong-lian tadi, maka kesempatan itu telah digunakan Danu Cu-mu untuk menghantam. Untung Ting-bik cukup berpengalaman, sebelumnya ia sudah memperhitungkan kemungkinan itu, maka waktu ia tangkis serangan Tiong-lian, berbareng ia menggeser pergi untuk menghindarkan serangan Cu-mu yang hebat itu. Walaupun begitu, tidak urung ia juga tergentak mundur beberapa tindak oleh karena samberan tenaga pukulan pemuda itu. Dengan demikian ia lantas dipisahkan dari ketiga Hou-hoat-tecu tadi dan terbagi menjadi dua partai, yaitu Cu-mu melawan Ting-bik dan Tiong-lian melawan ketiga Hou-hoat-tecu. Dengan semangat menyala-nyala Cu-mu terus membentak "Orang she Bun, sekarang bolehlah kita coba-coba mengukur tenaga sesungguhnya!"
Dan susul menyusul Tay-seng-panyak-ciang terus dihantamkan bagaikan gelombang ombak membadai dahsyatnya, hingga Cun Ting-bik hanya mampu menangkis saja, tapi tidak sanggup balas menyerang.
Cuma Ting-bik sudah sempurna melatih ilmu sakti "Samsiang-kui-goan", kalau melulu untuk menjaga diri saja masih jauh daripada cukup kuat.
Maka serangan Cu-mu yang membadai itu juga tidak dapat mencelakainya dengan gampang.
Dalam pada itu ketiga Hou-hoat-tecu yang mengeroyok Kok Tiong-lian juga lantas mengembut dengan hebat.
Tiong-lian tidak berani ayal, segera iapun lolos pedang, dengan Hian-likiam-hoat ia lawan tiga batang tongkat musuh.
Pedang yang dipakainya itu adalah Siang-hoa-pokiam yang pernah dipakai Lu Si-nio (tentang Lu Si-nio, bacalah "Tiga Dara Pendekar"
Yang tak lama akan diterbitkan lagi).
Meski kasiatnya tidak selihay Cay-in-pokram yang dipakai Kang Haythtan itu, tapi tajamnya juga luar biasa.
H an-h-kiam-hoat mengutamakan kecepatan dan kelincahan.
Paling akhir ini Tiong-lian telah meyakinkan pula Thian-lo-poh-hoat, maka setelah Imu pedang itu dimainkan, gaya permainannya mendiadi lebih menarik dan kecepatan nya bertambah hebat.
Ketiga Hou-hoat-tecu itu sudah jeri kepada pedang pusakanar, takut pula kepada gerakan Tiong-lian yeng cepat laksana terbang itu, maka mereka akhirnya menjadi terdesak, hanya bisa bertahan saja tanpa bisa menyerang.
Dalam pada itu seluruh ruangan sudah terjadi pertarungan sengit dan terbagi dalam beberapa kelompok dan seketika susah juga ditentukan pihak mana yang akan menang atau kalah.
Diantaranya sudah tentu partai dimana Kang Hay-thian melawan Po-siang Hoat-su adalah paling seru.
Tapi kedudukan Kang Hay-thian juga paling berbahaya pada waktu itu.
Orang lain mungkin belum tahu, tapi Hay-thian sendiri sudah merasakan keadaan yang tidak menguntungkan itu.
Sebenarnya Lwekang Kang Hay-thian sudah sangat tinggi, tapi hal itu berkat bekerjanya obat secara serentak, sedangkan dasar Lwekangnya semula telah sesat dulu karena yang dilatih adalah Lwekang dari Sia-pay ajaran Thian-mo-kaucu.
Walaupun sekarang tingkat kepandaiannya sudah mencapai "pembauran antara Cing dan Sia", tapi keadaan toh tetap tidak seperti Kok Tiong-lian.
Sejak mula Lwekang yang dilatih Tiong-lian adalah aliran Cing-pay yang murni, maka ienaga yang timbul dari kasiat Thian-sim-ciok itu dengan cepat dapat terbaur dengan kekuatan yang sudah ada dalam tuouhnya itu dan dapat dikerahkan dengan leluasa dan mana suka.
Untuk ini Kang Hay-thian memerlukan waktu tertentu baru bisa mencapainya.
Sebab itulah dalam pertarungan itu makin lama Kok Tiong-lian makin perkasa, sebaliknya Hay-thian yang melawan Po-siang menjodi makin lama makin lemah, makin berkurang tenagatnya.
Sedangkan "Liong-siang-kang", ilmu naga dan gajah, yang dimiliki Po-siang itu adalah ilmu sakti golongan Budha yang lihay, untuk meyakinkannya perlu gemblengan selama berpuluh tahun-lamanya.
Ketika pukulan-pukulannya susul menyusul dilontarkan dan tenaga yang dipakai makin tambah kuat, sesudah lebih 50 jurus, akhirnya Kang Hay-thian merasakan kewalahan, ia merasa tekanan tenaga penghalang dari sekitarnya bertambah besar bagaikan dinding baja yang kukuh hingga Tui-hong-kiam-hoat yang dimain-kannya itu menjadi kurang lancar.
Namun begitu, diam-diam Po-siang juga mengeluh.
Kiranya Liong siang-kang itu meski sangat lihay, tapi ia belum melatihnia hingga tingkatan yang paling sempurna, sekarang iapun mainkan kepandaiannya itu dengan mengorbankan segenap tenaga dalamnya yang ada.
Jadi kalau terlalu lama, hal ini akan membawa akibat jelek juga bag dia sendiri.
Semula ia mengira dengan Liong-siang-kang yang hebat itu dalam sepuluh atau belasan jurus saja pasti akan dapat merobohkan Kang Hay-thian, siapa duga kini sudah lebih 50 jurus dan pemuda itu masih kuat menahannya, bahkan belum kelihatan akan lantas kalah.
Diam-Diam Po-siang menaksir bila nanti toh pemuda itu dapat dibinasakan, pasti dia sendiri juga akan jatuh sakit payah dan umurnya akan susut 10 tahun paling sedikit.
Begitulah, ditengah pertarungan sengit itu, orang yang paling senang terang adalah Ki Hiau-hong.
Sebagai copet, dia memcunyai suatu kebiasaan aneh, yaitu suka mencuri milik orang untuk dijadikan barang kenangan, terutama barang milik orang yang jarang dijumpainya atau bangsa asing.
Barang yang diincarnya itu tidak perlu barang yang berharga, cukup asal dapat mewakili tanda pengenal sipemilik barang itu, makin jarang terdapat barang itu makin baik.
Dan sekarang ditengah kalangan pertempuran itu terdapat bangsabangsa India, Persi.
Nepal, Arab dan orang-orang dari benua barat.
Kesempatan bagus ini sungguh susah d.ketemukan selama hidupnya, sudah tentu ia tidak mau sia-siakan ketika baik itu.
Pelahan-lahan ia mendekati sicopet dari India itu, ia menjawilnya dan memberi tanda "rogoh saku"
Dan berkata dengan bisik-bisik.
"Apa kau ingin belajar ilmu tangan panjang"
Dari Tiongkok? Kalau mau, mari ikut aku. lihatlah caraku ini!"
Sudah tentu copet India itu tidak paham bahasa Tionghoa, tapi tahu maksud isyarat yang diberikan Ki Hiau-hong itu, mula-mula ia me-lengak, tapi segera berseru dalam bahasa asalnya.
"Bagus! Kau suka menerima aku sebagai muridmu?"
Dan belum lenyap suaranya, disana Ki Hiau-hong sudah menyelinap ketengah-tengah orang banyak untuk memainkan "tangan-saktinya"
Menggerayangi saku orang.
Ditengah kalangan pertempuran ada juga jago yang ilmu silat-nya lebih tinggi dari dia, tapi didalam pertarungan sengit itu setiap orangnya lagi pikirnya nyawa sendiri, mana ada yang memperhatikan tentang "awas copet".
Maka dengan bebas Ki Hiau-hong dapat beraksi, ia comot sini dan sambar sana, raba situ dan gerayang sono, boleh ditata tidak pernah melesat dan seperti merogor saku sendiri.
Cuma barang milik Po-siang Hoatsu saja yang takdapat dico-pet Ki Hiau"hong, sebabnya beberapa meter disekeliling Po-siang itu tertutup rapat oleh tenaga pukulannya dan Hauhong tidak sanggup menembusnya.
Bukan main senangnya Ki Hiau-hong sedang beraksi.
Posiang Hoatsu dan Hay-thian lagi sama-sama merasa gopoh dan mengeluh.
Tiba-Tiba dari jauh terdengar suara suitan panjang, suara, suitan laksana berkumandang dari langit.
Semula kedengarannya sangat jauh, tapi dalam sekejap saja suara itu sudah mendekat hingga anak telinga semua orang serasa pekak.
Po-siang terkesiap juga, pikirnya.
"Siapakah gerangan orang, ini, sedemikian hebat Lwekangnya?"
Dan disebelah sang terlihat Ki Hiau-hong sedang kegirangan, ia telah berj-ingkrak dan menari sambil berseru.
"Haha, Kim-tayhiap telah datang!"
Saking hebatnya suara itu hingga hampir semua orang yang sedang bertempur itu ikut terpengaruh dan tanpa berjanji sudah sama berhenti sambil memandang keluar pintu.
Maka tertampaklah dua orang laki-laki setengah umur dengan dandanan yang sederhana telah melangkah masuk keruangan yang penuh dengan gemilapnya senjata itu.
Dan memang benar orang yang berjalan didepan itu tak-lain-tak-bukan adalah Kim Si-ih.
Munculnya Kim Si-iih secara mendadak ini walaupun Posiang dan Iain-Iain terkesiap juga oleh karena suara suitannya yang tajam itu, namun mereka masih tetap tinggal ditempatnya.
Sebaliknya Bun Ting-bik pernah musuh Si-ih, karuan kagetnya bukan buatan, ia pikir.
"Muridnya saja aku tidak mampu menang, dari suara suitannya yang hebat barusan ini, terang kekuatannya entah berapa kali lebih kuat daripada muridnya. Sungguh tidak nyana hanya dalam beberapa tahun saja Lwekangnya sudah maju sepesat ini. selama hidupku ini terang tiada harapan lagi untuk bisa menangkan dia."
Berpikir demikian, Bun Ting-bik benar-benar sudah putus asa ia menghela napas panjang sekali, segera ia pura-pura menghantam sekali kepada Danu Cu-mu lalu melepaskan diri dan lari keluar melalui pintu samping.
Ia kuatir dicegat Kim Siih, maka larinya terbirit-birit hingga beberapa Bu-su penjaga pintu kena diterjang jatuh.
Padahal Kim Si-ih tiada waktu senggang untuk menggubrisnya Sebaliknya begitu masuk keruangan Kim-engkiong itu, segera ia berseru dengan tertawa.
"Katanya pertandingan ini hanya untuk mencari perkenalan saja, maka sebaiknya bila sudah menyentuh lawan boleh lantas berhenti. Sekarang rasanya para hadirin sudah perlu mengaso dahulu."
Diantara semua orang itu, ketiga paderi Hindu itu tidak kenal siapakah Kim Si-ih itu. Maka dengan nada dingin mereka berkata.
"Ha, apakah tuan, ini anggap jago nomor satu didunia ini hingga berani sembarangan ngoceh? Berdasarkan apa kau berani memberi perinlah kepada kami? Baiklah, jika tuan bertekad hendak tampil kemuka, biarlah lebih dulu kami minta sedekah kepadamu. Kami tidak ingin sedekah harta benda darimu, cukup sukalah memberi sedekah sedikit ilmu perkenalan saja". Karena pikiran mereka bertiga sudah bersatu, maka serentak tiga buah mangkok emas mereka terus ditimpakan bersama. Dengan tenaga gabungan mereka bertiga, dimana ketiga mangkok emas itu menyambar lantas terdengar suara menderu yang keras dengan cahaya emas yang menyilaukan, mata. Namun Kim Si-ih tenang-tenang saja menghadapi serangan itu.
"Omi-tohud!"
Ia. bersabda dengan merangkap kedua tangannya dan berkata.
"Harta benda dan kepandaian yang kalian katakan aku tidak punya semua, maka terpaksa aku yang harus minta sedekah kepada kalian!"
Ia tunggu sesudah cahaia emas itu sudah menyambar dekat barulah mendadak tangannia meraup kedepan.
Aneh juga, betapa hebat sambaran cahaya emas itu, tahu-tahu lantas lenyap dan ditangan Kim Si-ih telah bertambah dengan tiga mangkok emas.
"Ki-toako, ketiga buah mangkok ini tampaknya laku juga beberapa duit, aku sekarang tidak membawa oleh-oleh untukmu, maka biarlah kuberikan padamu sedekah yang kuperoleh dari pemberian ketiga Taysu itu,"
Demikian kata Siih kemudian, lalu ia sodorkan tangannia kedepan, tiba-tiba ketiga mangkok emas itu lantas melayang kearah Ki Hiauhong dan jatuh ditangan sicopet sakti itu.
"Kim-tayhiap,"
Kata Hiau-hong dengan tertawa.
"hadiahmu ini tidak cocok kupakai, pula aku tidak ingin menjadi Hwesio, membawa ketiga buah mangkok ini juga terlalu berat, maka aku hendak menghadiahkannya kepada lain orang lagi, apakah kau setuju?"
"Sekali aku memberikannya kepadamu, itu berarti sudah menjadi milikmu, cara bagaimana kau hendak menggunakan barang-barang itu boleh terserah sesukamu,"
Sahut Si-ih. Hiau-hong lantas tumpuk ketiga mangkok emas itu terus disodor kan kepada copet Ind"a yang masih mengintil dibelakangnya itu dan berkata.
"Harini rupanya kau belum dapat pasaran yang baik, biarlah beberapa kati emas ini kuberikan padamu untuk sangu."
Sudah tentu copet India itu tidak berani menerima, pemberian itu, segera ia kembalikan ketiga mangkok emas itu kepada ketiga jago Hindu.
Saking kesima mengalami kekalahan tadi, sesudah menerima mangkok mereka masingmasing, ketiga paderi Hindu itupun tidak berani bersuara lagi.
Dalam pada itu.
dibawah kungkungan tenaga pukulan Posiang yang hebat itu, Kang Hay-thian menjadi susah melepaskan diri Sebaliknya Liong-siang-kang yang dikerahkan Po-siang itu juga sudah mencapai titik terakhir hingga susah dihentikan.
Tiba-Tiba laki-laki yang datang bersama Kim Si-ih itu melangkah maju dan berkata.
"Po-siang Hoatsu, gurumu Liong-yap Siangjin ada perintah agar kau lekas pulang kesana!"
Kiranya laki-laki ini adalah Liong Leng-kiau yang dahulu pernah melawat ke India dan bertemu dengan Liong-yap Siangjin.
Tapi Po-siang seperti tidak mendengar dan melihat terhadap keadaan disekitarnya rupanya ia bertekad harus mengalahkan Kang Hay-thian untuk kemudian akan mengukur tenaga pula dengan Kim Si-ih.
Maka begitu Si-ih masuk kesitu, segera ia kerahkan segenap tenaganya dan saat itu sudah mencapai saat yang gawat dan menentukan, sedikitpun perhatiannya tidak boleh terpencar, maka sesungguhnya ia tidak mendengar apa yang dikatakan Liong Leng-kiau itu.
Saat itu Leng-kiau sudah melangkah masuk kedalam lingkaran tenaga pukulan Po-siang.
Pandangan Po-siang tetap terpusat kepada Hay-thian, ketika merasa ada orang mendekati, tanpa melihat lagi segera ia kerahkan Liong-siangkang lebih hebat hingga Liong Leng-kiau ikut terlibat didalam pengaruh tenaga pukulannya itu.
Leng-kiau tidak tahu seluk-beluknya, ia sangka Po-sang memandang enteng padanya.
dalam gusarnya segera ia bermaksud ikut turun tangan.
Tapi meski usianya belum terlalu tua, bicara tentang derajat ia adalah satu angkatan dengan Teng Hiau-lan.
Ji"ka Kang Hay-thian belum mengundurkan diri, mana boleh ia merendahkan harga diri untuk mengeroyok Po-siang?
Dengan Lwekangnya yang tinggi, meski Leng-kiau tidak sampai terluka dan tergencet ditengah tenaga pukulan dua jago kelas satu itu, tapi dadanya juga terasa sesak dan susah untuk bernapas.
Keruan ia terkejut, pikiraya.
"Sebagai murid utama Liong-yap Sangjin. tidaklah mengherankan jika Po-siang memiliki Lwe-kang selihay ini. Tapi muridnya Si-ih yang masih muda belia ini mengapa juga memiliki kekuatan sehebat ini?"
Kini iapun sudah dapat melihat keadaan pertarungan yang susah dilerai itu.
Semula iapun bermaksud memisahkan kedua orang itu, tapi kini sesudah masuk ditengah lingkaran tenaga pukulan mereka, barulah ia tahu bahwa kekuatan Po-siang terang lebih tinggi dari dia, bahkan tenaga Kang Hay-thian juga tidak dibawahnya.
Maka untuk memisahkan pertarungan kedua jago kelas wahid ini terang tidak mampu.
Rupanya Km Si-ih juga dapat melihat keadaan itu, dengan tersenyum ia lantas berkata.
"Silakan Liong-siansing menunggu sementara ini, biarlah aku bicara dengan dia."
Habis itu, dengan leluasa dan seenaknya ia melangkah kepinggir Po-siang dan Kang Hay-thian.
Ketika mendadak lengan bajunya mengebas, terus saja ia potong ketengahtengah kedua orang itu.
Dengan tenaga yang tak kelihatan yang dikebaskan lengan bajunya itu, seketika tenaga pukulan kedua orang yang dahsyat itu seperti dipotong oleh sebatang pedang yang tak berwujut dan segera terputus.
Melihat Gurunya yang berada disitu, cepat Hay-thian lantas mengundurkan diri, tapi karena pengaruh tenaga pukulan lawan yang belum lagi lenyap seluruhnya, tanpa kuasa iapun terhuyung-huyung sedikit kebelakang.
Sebaliknya "Liong-siang-kang"
Yang dikerahkan Po-siang itu sudah mencapai puncaknya hingga susah direm lagi, maka terdengarlah suara "blang", seluruh tenaga pukulan sakti itu lantas mengenai tubuh Kim Si-ih yang memisah itu.
Tapi Si-ih seperti tidak merasakan apa-apa, pelahan-lahan ia tepuk pundak Po-siang dan berkata dengan tertawa.
"Po-siang Hoatsu, rasanya kaupun perlu mengaso dahulu!"
Po-siang tergetar hebat, ia menjadi bingung sendiri.
Kiranya begitu kedua tangan Po-siang mengenai tubuh Kim Si-ih, seketika menjadi seperti lengket dan takbisa ditarik kembali.
Padahal "Liona-siang-kang"
Adalah ilmu sakti kalangan budha, betapa lihaynya ilmu itu, kini telah dikerahkan pula dengan sepenuh tenaga bagaikan gugur gunung dahsyatnya, menurut akal, sekalipun tubuh lawan adalah gemblengan dari baja juga tentu akan lemas terkena pukulannya, tapi aneh bin ajaib, biarpun tenaga dalamnya telah dikerahkan terusmenerus, hasilnya tetap nihil, tenaga itu seperti hilir kelaut tanpa bekas lagi.
Bahkan lebih dari itu tangannya menjadi seperti mendempel besi sem-berani, susah untuk ditarik kembali, sebaliknya tenaganya mengalir keluar terus dan disedot lawan.
Kiranya Liong-siang-kang yang sakti itu belum terlatih sampai puncaknya oleh Po-siang, kini kebentur kepada Kim Siih yang memiliki Lwekang lebih tinggi dari dia, dengan sendirinya ya tidak mampu melukainya.
sebaliknya tenaganya telah kena disedot oleh Lwekang Kim Si-ih yang Iihay itu.
Cuma pada saat yang sama itu, Po-siang juga merasa ada suatu arus hawa hangat mengalir masuk kedalam tubuhnya melalui tangan dan hanya dalam sejap saja sudah mengelilingi urat nadi disekalian tubuhnya dan akhir-nya mencurah kepusat.
Jadi pada saat tenaga dalamnya tersedot, berbareng iapun merasa badannya sangat segar.
Sebagai seorang ahli, segera Po-siang paham maksud tujuan Kim Si-ih.
Kiranya disamping memusnakan "Liong-siang-kang"
Posiang itu, berbareng pula Kim Si-ih menggunakan hawa murni sendiri untuk membantu menyembuhkan luka dalam Po-siang agar ke-sehatannya tidak terganggu karena punahnya Liongsiang-kang itu.
Memangnya sesudah bertempur melawan Kang Hay-thian tadi.
akibatnya paling sedikit Po-siang akan jatuh sakit keras dan susut umurnya paling sedikit sepuluh tahun, tapi berkat bantuan Si-ih sekarang, biarpun Liong-siang-kang jadi punah, tapi segala akibat yang mungkin merusak tubuhnya dapatlah terhindar.
Dengan tertawa panjang sekali, lalu tangan Si-ih pelahanlahan meninggalkan pundak Po-siang, katanya.
"Po-siang Hoatsu, sekarang bolehkah kita bicara sedikit?"
Dan baru sekarang juga Po-siang dapat menarik kembali kedua tangannya.
Ia terhindar dari bencana, tapi Liong-siangkang yang dilatihnya selama berpuluh tahun juga punah.
Sungguh ia tidak tahu harus berterima kasih atau dendam kepada Kim Si-ih.
Dengan kikuk akhirnya Po-siang menjawab.
"Kim Si-ih, kekuatanku yang kupupuk selama berpuluh tahun ini telah kau punahkan, sekarang apa yang bisa kubicarakan lagi? Aku sudah merupakan daging diatas tatakan, terserah kepadamu cara bagaimana akan kau cacah."
"Hoatsu adalah paderi saleh, tentunya juga cukup bijaksana untuk memandang sesuatu persoalan,"
Kata Si-ih dengan tertawa.
"Benar aku telah memunahkan Liong-siang-kangmu, tapi apakah aku bermaksud menghina kau dan menyembelih kau? Justeru sebaliknya aku hendak membantu kau mencapai kesempurnaanmu, apakah kau tahu!"
Po-siang tidak berani mengumbar amarahnya, pula dilihatnya ucapan Si-ih itu agak sungguh-sungguh, mau-tak mau iapun bertanya.
"Maafkan kebodohanku yang tidak paham maksudmu, harap kau coba memberi penjelasan lebih jauh."
"Liong-siansing, boleh kau yang bicara padanya,"
Kata Si-ih. Dan sesudah Liong Leng-kiau menyampaikan titah Liongyap Sangjin yang menghendaki pulangnya Po-siang itu, lalu Kim Si-ih mengambung pembifiaraannya.
"Jika Liong siangkang belum lagi punah, mungkin kau masih kemaruk kepada kemewahan dan kedudukanmu dinegeri Masar ini hingga akan banyak menimbulkan huru-hara lain lagi. Sekarang Liongsiang-kangmu sudah punah, terpaksa kau mesti insaf dan pulang kandang sesuai perintah gurumu. Gurumu adalah paderi saleh nomor satu dijaman ini, kelak bila kau dapat mencapai ajaran Budha yang paling sempurna, bukankah akan jauh lebih berguna daripada jabatan sebagai Kok-su apa segala seperti sekarang ini? Nah, baiklah, nasibmu sekarang tergantung kepada pikiranmu sendiri, apakah kau sudah paham?"
Po-siang menjadi putus asa, urusan sudah sedemikian rupa, kecuali mesti pulang kandang dan hidup alim, sesungguhnya tiada pilihan lain baginya lagi. Terpaksa ia berkata.
"Banyak terima kasih atas petunjuk Kim-tayhiap, selanjutnya Pinceng tidak ingin berkecimpung didunia ramai lagi."
Tadi waktu datangnya Kim Si-ih, sudah ada sebagian besar jago-jago yang sedang bertarung itu berhenti, sekarang Posiang sudah mengaku kalah, pertempuran lain serentak lantas ikut berakhir juga.
Sesudah menghela napas panjang, Po-siang lantas memberi tanda kepada keempat Hou-hoat-tecu, katanya.
"Kalian juga ikut pulang bersama aku!"
"Nanti dulu!"
Tiba-tiba terdengar seorang berseru. Kiranya adalah Danu Cu-mu. Ia melangkah maju dan bertanya pula.
"Dimana raja jahanam Kayun itu bersembunyi, serahkan dulu jika kau hendak pergi."
Tapi Po-siang membuka kedua tangannya dan menjawab dengan tersenyum getir.
"Pinceng sekarang mesti pikirkan keselamatan sendiri, masakah masih bisa melindungi Kayun? Dia memang tiada pernah datang kesini, darimana aku dapat menyerahkannya padamu?"
"Apa benar?"
Cu-mu menegas dengan ragu-ragu.
"Meski ilmu silatku tak becus, sedikitnya aku harus menjaga nama baik sebagai murid Budha."
Sahut Po-siang agak aseran.
"Jikalau Siauongya tetap tidak percaya. ya. apa boleh buat, terserahlah cara bagaimana kau hendak perbuat."
"Jika Hoatsu menyatakan raja lalim itu tidak berada disini, maka pasti demikian adanya. Muridku, hendaklah kau percaya kepada Hoatsu,"
Demikian kata Si-ih. Terpaksa Danu Cu-mu tunduk kepada perintah sang Suhu. Sekarang iapun agak percaya bahwa Kan-ong yang dicari itu memang tiada terdapat di Kim-eng-kiong. Diam-Diam ia menjadi heran.
"Seluruh keraton sudah kugeledah semua, kalau dia tidak sembunyi disini, lalu dimana?"
Dalam pada itu Tiong-lian membisikinya juga.
"Mungkin didalam keraton masih ada sesuatu tempat rahasia lain yang belum kita ketemukan. Boleh jadi saat ini Toako juga sudah kembali didalam keraton, lebih baik kita lantas pulang kesana menggabungkan diri dengan Toako, lalu mengadakan pemeriksaan yang lebih teliti lagi."
"Benar juga usulmu,"
Sahut Cu-mu.
"Tapi urusan disini juga perlu diatur untuk penyelesaiannya."
Segera ia keluar Kim-eng-kiong dan memberi perintah kepada komendan tenteranya agar memimpin seribu perajurit untuk men-jaga Kim-eng-kiong, berbareng senjata segenap paderi penghuni istana elang emas itu juga dilucuti serta diawasi gerak-geriknya.
Sedang para tamu yang hadir disitu disilakan untuk meninggalkan tempat.
Dan sesudah Po-siang pergi dengan membawa anak muridnya, para jagoan dari berbagai negeri yang dia undang itu juga menggeloyor pergi semua dengan lesu.
Hanya kawanan Bu-su Nepal dan Keng-goat Siangjin itu sekali lagi telah kena ditawan Peng-choan Thyan-li.
Tapi ini adalah urusan dalam negeri Nepal, dengan sendirinya Danu Cu-mu tidak dapat ikut campur.
Sesudah suasana ruangan Kim-eng-kiong menjadi sepi, lalu Peng-choan Thian-li mendekati Kim Si-ih, katanya dengan tertawa..
"Sang tempo lewat dengan cepat sekali, sampai sekarang kita sudah berpisah selama belasan tahun. Apakah kau masih suka mengembara seorang diri seperti dahulu?" ,,Benar, selama belasan tahun ini aku masih tetap seperti dahulu,"
Sahut Si-ih.
"Dahulu kau adalah Tok-jiu-hong-kay (sipengemis gila bertangan keji) yang dibenci setiap orang, tapi sekarang kau adalah Kim-tayhiap yang dikagumi dan dihormati setiap orang,"
Ujar Thian-ii.
"Orang hidup memang susah menghindarkan kejadian-kejadian yang menyedihkan. tapi juga tidak boleh berduka untuk selama hidup. Sang waktu sudah lalu, manusia juga berubah, maka perasaan setiap orang mestinya juga harus berubah mengikuti ja-man. Kita adalah sobat lama, harap maafkan ucapanku yang terus terang ini."
Diwaktu bicara, sinar mata Peng-choan Thian-li selalu diarahkan kepada Kok Ci-hoa Dan sudah tentu Kim Si-ih paham maksud"
Ucapan Thian-li itu.
Perkenalan Kim Si-ih dan Peng-choan Thian-li dimasa muda mereka jauh lebih dulu daripada perkenalannya dengan Kok Ci-hoa dan Le Seng-lam.
Usia Peng-choan Thian-li lebih muda sedikit daripada Si-ih, tapi selamanya Thian-li sangat memperhatikan keadaan Si-ih hingga mirip seorang kakak terhadap adik-nya.
Sebab itulah, meski kedua orang jarang bertemu, tapi rasa persahabatan itu tetap kekal abadi.
Begitulah sesudah Si-ih mendengar ucapan Thian-li, yang mengharukan itu, ia menghela napas, katanya.
"Dahulu, dikala sebagai "Tok-jiu-hong-kay"
Aku dibenci oleh setiap orang, orang pertama yang menganggap aku sebagai kawan adalah kau.
Ehm.
hal ini adalah kejadian belasan tahun yeng lalu.
Sang tempo benar-benar lalu dengan cepat, tapi kau masih tetap muda sebagai dahulu, seballknya aku sudah mulai beruban."
Ia tidak langsung menjawab ucapan Peng-thyoan Thian-li tadi, tapi dibalik kata-katanya itu ia hendak menyatakan bahwa dia sudah tua, perasaannya sebagai orang muda sudah tiada lagi.
Padahal usianya sekarang baru lebih 40 tahun, sebenarnya masih terhitung laki-laki setengah umur yang justeru menginjak tarap kemasakan dalam segala hal.
Peng-choan Thian-li ingin merangkap perjodoannya dengan Kok Ci-hoa, tapi segera ia akan mengadakan perjalanan jauh ke Nepal, temponya agak sempit, sedangkan urusan perjodoan itu agak rumit, cara bicaranya juga cuma bisa samar-samar saja dan tidak berani dikatakan terus terang dihadapan orang banyak.
Tapi demi mendengar jawaban Si-ih itu, Thian-li menghela napas jugai katanya dengan gegetuni "Si-ih.
rupanya kau masih tetap suka menyiksa dirinya sendiri?
Tapi entah kau sadar atau tidak bahwa kecuali kau menyiksa dirinya sendiri, secara langsung kau-pun telah menyiksa orang lain.
Sayang aku segera akan berangkat, maka apa yang kuucapkan ini hendaklah kau pikirkan lebih jauh dan aku tidak dapat bicara lebih banyak lagi."
Hati Si-ih tergetar, pikirnya.
"Ya, Ci-hoa adalah seorang yang paling memahami perasaanku, segala apa dia memaklumi diriku. Ai, apa benar aku menyiksa diriku sendiri dan berbareng juga telah menyiksa dia?"
Kim Si-ih sebenarnya adalah seorang yang mudah bergolak perasaannya, tapi kini usianya sudah bertambah, guncangan perasaannya itu tidak gampang kelihatan lagi dilahirnya.
Maka setelah tenangkan diri, lalu ia berkata pula keperscalan lain.
"Apa segera kau akan lantas berangkat? Kita kebetulan dapat berkumpul disini dengan para sobat, mengapa tidak tinggal beberapa hari lagi?"
"Aku harus cepat pulang ke Nepal, dinegeriku itu telah terjadi kerusuhan, mereka sedang menantikan kedatanganku,"
Sahut Thian-li. Segera Kang Lam menyela.
"Kim-tayhiap, kau belum tahu barangkali? Puteranya Teng-tayhiap sekarang telah memimpin suatu pergerakan hebat di Nepal, apa yang terjadi hampir sama dengan kejadian disini. Mereka telah menggulingkan raja lalim yang lama dan kerusuhan dalam negeri belum pulih, Teng-siauhiap adalah panglima besar dari raja baru. Kini puteranya itu ada kesulitan, dengan sendirinya kedua orang tuanya ingin pergi mem-bantunya."
"O, kiranya begitu,"
Kata Si-ih.
"Sang waktu benar-benar lalu sece-pat kilat, dalam sekejap saja puteramu kini sudah menjadi panglima besar. Berapakah usianya tahun ini?"
"Sembilanbelas,"
Sahut Thian-li.
"Kim-tayhiap,"
Sela Kang Lam lagi.
"kau cuma tahu sang waktu lalu dengan cepat, tapi lupa memikirkan dirimu sendiri. Sang waktu memang tidak suka tunggu orang, lewat beberapa tahun lagi mungkin akupun akan membopong cucu."
"Baiklah,"
Ujar Thian-li dengan tertawa.
"semoga sekembalinya kesini nanti aku keburu minum arak perkawinan puteramu. Kepergianku ini paling lama setahun dan kalau bisa setengah tahun tentu sudah dapat kembali kesini. Si-ih. kau suka mengembara kemana-mana, untuk mencari kau tidaklah mudah, maka sebaiknya kadangkala kau suka berkunjung ketempat kami. Selama ini kau tidak pernah menyambangi kami, apa barangkali kau masih marah kepada Keng-thian?"
Dahulu diwaktu Peng-choan Thian-li belum menikah dengan Teng Keng-thian, diam-diam sebenarnya Kim Si-ih juga mencintai Thian-li.
Dan diantara Keng-thian dan Si-ih juga pernah saling gebrak, pernah juga Keng-thian memaki Si-ih sebagai "Tok-jiu-hong-kay"
Sebab itulah Peng-choan Thian-li mengucapkan kata-kata tadi. Tapi Si-ih tertawa, sahutnya.
"Kenapa kau berkata demikian, kejadian dimasa dahulu itu memangnya adalah salahku."
Maka tertawalah Teng Keng-thian dengan terbahak-bahak dan melangkah maju untuk memegang tangan Kim Si-ih.
"Teng-heng,"
Kata Si-ih dengan tertawa.
"diantara sobatsobat yang kukenal, hanya rejekimu terhitung paling besar. Dahulu aku pernah iri padamu dan sekarang aku tetap iri padamu. Cuma saja, kau tidak perlu kuatir lagi, aku takkan cari perkara dan ajak berkelahi lagi dengan kau."
Keng-thian terkekeh-kekeh, katanya.
"Jika sekarang kau ajak berkelahi padaku, pasti aku akan menyerah saja."
Melihat kedua orang sudah tidak punya ganjelan hati apaapa lagi, Peng-choan Thian-li sangat senang, katanya.
"Si-ih, sebenarnya kau dapat hidup lebih gembira dan lebih bahagia daripada kami, maka tidak perlu kau kagum pada penghidupan orang lain. Baiklah, waktunya sudah larut, kami mesti berangkat sekarang."
Dan sesudah Keng-thian dan Thian-li serta Thian-ih suamiisteri menggiring pergi kawanan Busu Nepal dihantar Kang Lam, Kim Si-ih tetap termangu-mangu ditempatnya.
Kemudian ia mendekati Kiok Ci-hoa dan berkata padanya.
"Ci-hoa, aku ingin tanya padamu, apakah selama ini kau baik-baik dan senang hidupmu."
Ci-hoa melengak sekejap, tapi lantas menjawab dengan tertawa.
"Pertanyaanmu ini agaknya sudah lama kujawab, asalkan kau dapat hidup senang, maka akupun akan merasa senang. Ehm, hari ini juga aku menjadi lebih senang".
"Sebab apa?"
Tanya Si-ih.
"Apa kau masih ingat ucapanku dahulu bahwa guruku menaruh harapan sangat besar padamu?"
Kata Ci-hoa.
"Beliau sudah sejak dulu mengetahui kau akan jadi seorang tokoh maha besar dan sekarang ilmu silatmu benar-benar sudah terhitung nomor satu dijagat ini. Untuk ini, bukankah aku harus merasa sangat senang?"
"Semuanya ini adalah berkat dorongan kalian juga,"
Sahut Si-ih.
"Padahal meski sekarang memang ada juga kemajuankemajuan pada diriku, tapi untuk disebut sebagai "nomor satu dijagat ini"
Sesungguhnya masih selisih sangat jauh".
"Baiklah, asalkan kau dapat selalu mengontrol dirimu dan tidak pernah merasa puas atas kemajuanmu,"
Kata Ci-hoa.
"Siih, kini menjadi giliranku untuk tanya padamu. Apakah hidupmu selama ini juga senang?"
Kim Si-ih termenung-menung seperti sedang memikirkan sesuatu hingga lama sekali tidak menjawab pertanyaan Kok Ci-hoa itu. Kiranya ucapannya "atas dorongan kalian"
Tadi.
"kalian"
Yang dimaksudkannya itu termasuk pula Le Seng-Iam yang lantas terkenang olehnya.
Saat itu terbayang pula kejadian yang menyayatkan hatinya dahulu, yaitu pada upacara pernikahan nya dengan Le Senglam dahulu, pada sebelum ajalnya, ditengah suasana pengantin yang ternyata sangat memilukan itu Le Seng-lam telah berkata kepadanya tentang tiga harapannya.
Satu diantara pesan yang ditinggalkan itu ada lah serupa dengan harapan Kok Ci-hoa.
yaitu berharap agar Kim Si-ih berhasil menjadi seorang sarjana ilmu silat maha besar, supaya nanti dimanapun dan bilamana juga akan menjadi kebanggaannya.
Dan sekarang bayangan Le Seng-lam itu telah muncul dalam kenangan Kim Si-ih cuma sayang kini Le Seng-lam sudah tidak bisa lagi menyaksikan kemajuan yang telah dicapainya ini.
Sesudah termenung sebentar, kemudian ia berkata.
"Cihoa, sudah tentu harinipun aku merasa sangat gembira."
"Tidak Si ih, kau berdusta"
Kata Ci hoa dengan pandangan yang melekat.
"Aku tidak mendusta. kau,"
Sahut Si-i-h pasti.
"Hari ini aku benar-benar gembira bagi kebahagiaan orang lain. Dan tahukah kau apa yang sedang kupikirkan?"
Ketika Ci-hoa memandang kearah yang ditatap Si-ih, ia lihat Kang Hay-thian sedang berada bersama dengan Kok Tionglian dan tampaknya lagi berbicara dengan asyiknya.
"Lihatlah, murid kita sekarang sudah dewasa semua,"
Kata Si-ih pula.
"Mereka sekarang serupa seperti bayangan kita dimasa dahulu. Cuma rasanya mereka pasti jauh lebih beruntung daripada kita. Coba lihat, bukanlah mereka merasa sangat gembira?"
Padahal Km Si-ih tidak tahu bahwa Hay-thian dan Kok Tiong-lian sekarang juga sedang diliputi awan mendung, keduanya sama-sama tidak merasakan sesuatu gembira apaapa.
"Ya, mereka seharusnya akan jauh merasa lebih gembira daripada kita,"
Ujar Ci-hoa kemudian.
"Kulihat urusan mereka tidak perlu lagi campur tangan kita. Eh, apakah yang kau pandang? Kenapakah kau?"
Kiranya saat itu Kim Si-ih lagi terkesima memandang kedepan sana, karena teguran itu, ia tergetar seperti baru sadar dari impian buruk, tapi lantas sahutnya.
"Ci-hoa, lihatlah, lihatlah, itulah dia!"
Waktu Ci-hoa menokh kearah yang dimaksudkan, ia lihat suatu bayangan seorang dengan berambut panjang menjulur sampai di pundak sedang ikut berjalan pergi bersama orang banyak diluar Kim-eng-kiong sana.
Dilihat dari bayangan orang itu, tampaknya memang mirip Le Seng-lnm.
Pabila sebelumnya Kok Ci-hoa tidak tahu akan adanya seorang seperti itu tentu akan disangkanya Le Seng-lam telah hidup kembali.
Padahal Si-ih juga tahu siapakah orang yang dikatakan tadi, selama beberapa tahun ini dalam kesibukannya mengajar murid juga selalu terpikir olehnya akan mencari tahu asal-usul orang itu.
Dan meski dia sudah tahu siapakah orang itu, toh dikala ia terkenang pada Le Seng-lam, perawakan orang itu bila dilihatnya lantas dianggapnya sebagai Le Seng-lam sendiri.
Orang berambut panjang yang dimaksudkan itu adalah Le Hok-sing.
Mestinya dia tidak rela pergi begitu saja.
tapi Thianmo-kau-cu tidak ingin dipergoki Kim Si-ih, ia berkeras agar Le Hok-sing harus ikut pergi bersama dia Karena Le Hok-sing sangat penurut kepada Thian-mo-kaucu, maka terpaksa ia mengubah pendirian sendiri dan ikut sang Kaucu meninggalkan Kim-eng-kiong.
Dan sesudah Kim Si-ih tenangkan diri, lalu katanya.
"Ci-hoa, ada sesuatu kandungan hatiku yang harus kumintakan penjelasan pada orang itu."
Diam-Diam Ci-hoa menjadi gegetun, ternyata Kim Si-ih selamanya tidak pernah melupakan Le Seng-lam. Maka dengan suara halus iapun menjawab.
"Baiklah, boleh kau menyusulnya."
Namun demikian toh suaranya juga terdengar agak gemetar suatu tanda getaran hatinya. Tapi mendadak Si-ih berhenti lagi, air mukanya tampak agak aneh, katanya.
"Ci-hoa, apakah kau dapat tinggal lagi beberapa hari disini? Sesudah kutanya jeles sesuatu urusan segera aku akan kembali kesini untuk menemui kau."
Ci-hoa ragu-ragu sejenak, sahutnya kemudian.
"Asal-usul Lian-ji sekarang sudah terang, aku tidak tahu apakah dia suka menjadi puteri raja atau ingin tetap ikut padaku. Tapi aku tentu akan mendampinginya selama beberapa hari d"sini. Cuma, aku sendiri jemu kepada kehidupan yang mewah, pabila Lian-ji lebih suka menjadi Puteri, maka aku sendri tidak ingin terlalu lama tinggal dikeratonnya."
"Hal ini tidak menjadi soal,"
Kata Si-ih.
"Pendek kata, bila urusanku ini sudah selesai, tak peduli kau berada dimana pasti aku akan menyusul kesana untuk menemui kau."
Ucapan Kim Si-ih ini membuat Kok Ci-hoa merasa heran dan curiga.
Sebenarnya perasaannya boleh dikata sejiwa dengan Kim Si-ih, setiap pikiran Kim Si-ih, tanpa dikatakan juga pasti akan dapat diselaminya.
Tapi sekali ini ia telah dibuat bingung oleh Si-ih.
ia tidak tahu kandungan hati apa yang dimaksudkan Si-ih itu.
Tanpa merasa Si-ih mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Ci-hoa.
Mereka sudah menginjak setengah umur, maka tidak periu merasa rikuh lagi.
Pelahan-lahan Cihoa genggam tangan Si-ih, katanya.
"Baiklah, berangkatlah kau. Setiap saat bila kau ingin menemui aku, bolehlah kau datang kepadaku setiap waktu."
Meski lahirnya mereka tidak malu seperti muda-mudi umumnya, tapi karena jabatan tangan itu, mau-tak-mau hati masing-masing juga terguncang.
Sementara itu diruangan Kim-eng-kiong itu riuh ramai dengan orang yang keluar masuk, yaitu bubarnya para tamu dan datangnya seribu perajurit penjaga istana itu.
Meski Si-ih buru-buru mau mencari Le Hok-sing, tapi ia menjadi tidak leluasa menggunakan Gin-kang dan berdesak-desakan dengan orang banyak.
Dan belum ada belasan langkah ia memburu keluar, tibatiba datanglah seorang pengemis tua menegur padanya.
"Kimtayhiap, pengemis tua ingin minta sedikit arak bahagia padamu, entah kau sudi memberi atau tidak?"
Si-ih kenal pengemis tua itu adalah Tiong Tiang-thong, ketua Kay-pang sekte utara.
Ia hanya pernah berjumpa satudua kali dengan pengemis tua itu dan cuma kenalan biasa saja, mengapa Tiong Tiang-thong sekarang dihadapan orang banyak hendak minta arak segala, keruan Si-ih merasa bingung dan heran.
Pikirnya,.
"Urusanku dengan Kok Ci-hoa mengapa kau perlu ikut campur?"
Maka dengan nada dingin iapun menjawab.
"Tiongpangtyu, kau henlak minta arak, rasanya kau telah salah alamat, darimana aku bisa memberi arak bahagia segala?"
Tiang-thong terbahak-bahak, katanya.
"Jadi kau belum tahu, Kim-tayhiap?"
"Tahu apa?"
Tanya Si-ih.
"Hoa-san-ih-un Hoa Thian-hong, apa kau kenal? Dia adalah sobat baikku."
Kata sipengemis tua.
"Ilmu pertabiban Hoa-locianpwe maha sakti dan adalah tabib nomor satu dijaman ini, sudah tentu aku sangat kagum padanya sejak lama,"
Sahut Si-ih. Tapi dalam hati iapun membatin.
"Hoa Thian-hong adalah sobat-baikmu ada sangkut-pautnya apa lagi dengan aku?"
Tapi dengan gembira Tiong Tiang-thong lantas bicara terus.
,Kim-tayhiap, tahukah kau bahwa Thian-hong mempunyai seorang puteri?
Nona cilik ini, wah, benar-benar pintar dan cerdik, seluruh ke pandaian ayahnya boleh d kata telah dipahaminya semua.".
Si-ih tambah heran, ia tidak tahu apa maksud cerita Tiangthong itu.
Sahutnya dengan tawar saja.
"O, ya? Hal ini aku belum lagi tahu. Cuma angkatan muda sudah seharusnya lebih unggul daripada yang muda. Aku juga mengharap agar muridku kelak akan lebih hebat daripadaku."
"Tepat,"
Kata Tiang-thong dengan tertawa.
"Pabila muridmu tidak hebat, tentu juga aku takkan minta arak bahagia padamu."
"O, bicara sekian lamanya baru sekarang aku agak paham,"
Kata Si-ih.
"Apa barangkali kau hendak menjadi perantara bagi muridku itu?"
"Benarlah terkaanmu,"
Kata T ang-thcng.
,,Ai.
mengapa Kim-siauhiap juga begitu pemalu, kiranya dia belum pernah beritahu-kan padamu.
Dia dan puterinya Thian-hong itu boleh dikata sudah suka sama suka.
Waktu mereka baru kenal dahulu, tatkala mana akupun berada d sana.
Kalau dibicarakan, nona cilik itu malah pernah menolong jiwa muridmu."
Lalu iapun menceriterakan secara ringkas kejadian dahulu dima-na Kang Hay-thian terluka kena racun dan kebetulan bertemu dengan Hoa Thian-hong dan puterinya.
"Dan kebetulan sekarang kau berada disini, mungkin orang muda merasa malu untuk bicara terus terang, maka kita kaum tua ada baiknya lekas menetapkan urusan mereka itu,"
Demikian kata Tiang-thong lapi.
"Adapun pihak wanita memang sudah lama Hoa Thian-hong menyetujui perjodohan ini dan aku dapat menetapkan nya sekarang juga."
Sudah tentu hal ini sangat diluar dugaan Kim Si-ih, ia agak senang, tapi juga agak kecewa. Diam-Diam ia membatin.
"Sebenarnya aku ingin Hay-ji menjadi pasangan Tiong-lian, tak tahunya dia sudah mempunyai pilihannya sendiri. Tapi, ai, kepada siapa dia telah pilih sudah tentu harus terserah kepadanya sendiri, dalam urusan demikian orang lain tidak dapat memaksanya."
Maka dengan tersenyum. iapun menjawab.
"Jikalau mereka berdua sudah cocok satu sama lain. sudah tentu akupun suka menjadi walinya dalam perjodoan ini."
"Bagus,"
Seru Tiang-thong.
"He, Pik-titli, lekas kemari memberi hormat kepada Kim tayhiap"
Tapi mesk. ia sudah mengulangi lagi seruannya itu, tetap tidak terdengar suara jawaban Hoa In-pik. Sipengemis tua menggaruk-garuk kepala, ia menggerundel sendiri .
"Eh, mengapa anak dara itu telah menghilang? Dasar! Mungkin dia telah menduga peiribicaraanku dengan Kimtayhiap ni adalah urusan perjodohannya, karena malu, maka main sembunyi?"
Tapi pada saat itu juga tiba-tiba terdengar suara ingin menderu, diudara terdengar suara burung tang menusuk telinga. Para perajurit diluar sana lagi ramai berteriak-teriak.
"Wah, besar amat elang itu! Haha, malah ada penumpangnya, seorang nona!"
Segera orang banyak memburu keluar untuk melihat, dan Kang Hay-thian dan Kok Tiong-lian juga berada diantara orang banyak itu.
Maka tertampaklah seekor elang raksasa sedang mengitar di puncak menara sana, dialas punggung elang terdapat seorang nona jelita yang jelas kelihatan kain bajunya berkibar-kibar tertiup angin.
"Pik, moay. mengapa kau buru-buru lantas pergi?"
Terak Hay-thian segera. Juga Tiong-lian ikut berseru.
"Hoa-cici, kembalilah!"
Namun elang rakasasa tu telah melayang semakin tinggi dan hanya sekejap saja hanya kelihatan satu titik hitam diatas langit, lalu menghilang dikejauhan sana.
Hay-thian termangu-mangu sambil menengadah kelangit.
Meski benar asmaranya sudah lama terikat atas diri Kok Tionglian, tapi budi kebaikan dan cinta kasih In-pk sudah tentu takbisa dilupakan.
Lebih-Lebih dalam keadaan demikian ini Inpik telah pergi tanpa pamit, hal ini membuatnya merasa sangat pedih.
Diam-Diam ia menyesal dirinya sendiri.
"Kedatangan adik Pik adalah untuk diriku, tapi aku telah mengecewakan maksud baiknya, alamatnya ia takkan dapat memaafkan aku lagi."
Juga Tiong-lian merasa sangat menyesal In-pik tidak mendengar perkataan Tiong Tiang-thong dengan Kim Si-ih, sebalikhla Tiong-lian telah mendengar.
Sekejap itu iapun merasa bimbang, urusan-urusan yang dahulu tidak pernah terpii r olehnia, sekarang telah timbul semua.
Sebelum ini tak pernah terpikir olehnya tentang hubungannya dengan Kang Hay-thian.
Setiap kali bila ia berada bersama dengan pemuda itu, maka kedua orang menjadi sangat gembira.
Tapi tidak pernah terpikir olehnya bahwa inilah yang dinamakan cinta.
Kini mendadak Hoa In-pik meninggalkan mereka dan baru sekarang ia merasa bahwa dalam pandangan In-pik, dia dan Hay-thian sudah merupakan suatu pasangan kekasih yang tak bisa dipasahkan.
Ia paham bahwa kepergiannya In-pik itu adalah karena dia.
"Nona Hoa sangat baik kepada Hay-ko, mestinya mereka adalah satu pasangan yang sangat setimpal. Jka dia t"dak sangat terluka hatinya tentu tidak pergi secara mendadak. Harini aku baru berkenalan dengan dia, sungguh tidak terduga aku lantas melukai pe-rasaarmya. Tiong-pangcu mengatakan Hay-ko sudah sangat cocok dengan dia, cuma sayang aku terlambat mengetahui hal ni,"
Berpikir demikian, ia menjadi pilu juga.
Baru sekarang iapun merasa dirinya ternyata juga mencintai Kang Hay-thian.
Dalam pergaulan selama ini Hay-thian tidak pernah menyalakan perasaan cinta padanya, apakah dia boleh menyatahkan pemuda itu?
Tidak, tapi sekarang ia cuma meniesal dirinya sendiri dan merasa susah bagi Hoa In-pik.
Tanpa merasa air matanya bercuryuran dan menetes dibaha Kang Hay-thian yang berdiri didepannya itu.
Waktu Hay-thian menoleh, namun Tiong-lian sudah membalik tubuh dan melangkah pergi.
Cepat ia menyusulnya, tapi ia tidak tahu apa yang harus dikatakan kepada nona Itu, ia merasa pedih seperti disayat-sayat.
Dan belum lagi ia sempat menghentikan Tiong-lian untuk di ajak bicara, dari samping tiba-tiba seorang telah mena-riknya.
Kiranya adalah Tonq Tiang-thong.
"Kang-siahiap. apa-apaan ini, mengapa mendadak nona Pik lantas pergi begitu saja?"
Demikian dengan marah-marah Tiang-thong menegur. Dengan lesu Hay-thian hanya geleng-geleng kepala saja tanpa menjawab.
"Kau tidak tahu? Hra, tentu kau telah berbuat sesuatu kesalahan hingga dia teiah marah terus tinggal pergi ujar Targ-rhong.
"Apa kesalahan nona Pik, kenapa kau telah melupakan kebaikan-nya?"
Tapi Hay-thian sendiri lagi sed.h hingga sama sekali tidak sanggup bicara. Dan baru Tiang-thong hendak menghardik pula. tiba-tiba seorang telah menariknya dari samping dan membisikinya.
"Tiong-pangcu, ini adalah urusan kaum muda mereka dan kita tidak perlu ikut marah bagi mereka."
Kiranya orang yang menarik Tiong Tang-thong itu adalah Kim Si-ih.
"Kim-tayhiap. muridmu ini lupa budi kebaikan orang, apakah kau masih membelanya?"
Ujar Tiang-thong kemudian.
"Tiong-pangcu,"
Sahut Si-ih sambil mengerut kening.
"aku adalah orang berpengalaman, urusan kaum pria dan wanita demikian kau tidak paham. Nah, baiklah, jika kau mau damperat bolehlah kau mendamperat padaku saja. Marilah aku mengundang kau minum arak."
Memangnya hati Tiang-thong sudah lemas ketika melihat sikap Kang Hay-thian yang serba susah itu, kemudian ia menggerutu.
"Selama hiduo pengemis tua tidak pernah mainmain dengan wanita, mungkin aku memang tidak paham urusan demikian. Tapi setiap orang hendaklah berpegang kepada perasaan nuraninya. Sudahlah, akupun tidak mau minum arak segala, aku hendak menyusul keponakan perempuanku itu saja."
"Baklah. Tiong-pangcu, kau tidak mau minum arak bersama aku, maka akupun akan pergi juga,"
Sahut Si-ih. Lalu iapun memberi pesan kepada Hay-thian.
"Hay-ji. asal kau dapat bertanggung-jawab kepada"
Ketenteraman hatimu, maka terserahlah kepada apa yang akan kau perbuat. Dalam urusan demikian ini memang susah mendapat pengartian baik orang lain."
Habis berkata, dengan Isngkah lebar iapun pergi meniusul Le Hok-sing.
Sambil menyaksikan kepergian Kim Si-ih itu, diam-diam Kok Ci-hoa.
membayangkan apakah dua angkatan dari guru dan murid mereka itu akan mempunyai nasib yang sama?
Baca Juga: Hati Budha Tangan Berbisa 5
Baca Juga: Kemelut Di Ujung Ruyung Emas 5