Kisah Pedang Di Sungai Es 8

Eps 8 Kisah Pedang Di Sungai Es - Liang Ie Shen

Baca online Kisah Pedang Di Sungai Es - Liang Ie Shen

Cersil Kisah Pedang Di Sungai Es - Liang Ie Shen.

"bruk-brak". ternyata Bun Ting-bik tidak tahan oleh tenaga sakti yang baru saja memenuhi tubuh Kang Hay-thian itu. Bun Ting-bik menjerit sekali, tanpa ampun lagi tubuhnya mencelat pergi secepat anak panah dan terpental keluar pintu.

"Hehe, Auyang-lopek, biarlah Siautit mempersembahkan juga sekali pukulan padamu!"

Seru Kang Hay-thian pula.

Keruan Auyang Tiong-ho ketakutan, sedangkan Bun Tingbik saja mencelat pergi, apalagi dia, mustahil tidak hancur menjadi bergedel?

Maka cepatan saja ia pondong Auyang-jinio terus lari terbirit-birit.

Dengan sendirinya Cay-in-pokiam itupun tidak terpikir lagi oleh mereka Hay-thian terbahak-bahak, ia melepaskan Hiat-to Kok Tiong-lian, kemudian ia tempelkan tangannya kepunggung pemuda tadi.

Karena telah bergebrak beberapa kali secara keras lawan keras dengan Bun Ting-bik, maka tenaga murni pemuda itu banyak terganggu, semangatnya masih lesu.

Segera Kang Hay-thian menyalurkan hawa murninya melalui punggung orang, tidak lama kemudian, semangat pemuda itu tampak sudah segar kembali, serta merta iapun menghaturkan terima kasih kepada Kang Hay-thian.

"Segalanya berkat bantuan saudara hingga kami berdua dapat selamat sampai sekarang, kami yang harus berterima kasih padamu,"

Demikian kata Hay-thian.

"Sudahlah, kalian tidak perlu saling merendah diri, yang paling penting sekarang kita harus lekas-lekas tinggalkan tempat ini,"

Ujar Tiong-lian dengan tertawa.

Belum lenyap suaranya, terdengarlah suara tindakan orang yang ramai diluar sana.

Kiranya dipulau kecil ini sebenarnya terdapat cukup banyak penjaga-penjaga yang dikirim raja.

Biasanya mereka tidak pernah tampakan diri, hanya secara diam-diam menjaga agar Kok Tiong-lian tidak melarikan diri.

Kini sesudah Yap Tiong-siau lari pergi, segera ia memberi perintah regu penjaga ku menyerbu kedalam istana untuk menangkap Kok Tiong-lian.

"Kebetulan juga kedatangan mereka, biarlah sekadar buat melemaskan otot .tulangku,"

Kata Hay-thian dengan tertawa.

Dan-sebelum musuh tiba, ia sudah lantas mendahului memapak keluar.

Tatkala itu sudah tengah malam, karena dua hari lagi adalah Tiongchiu, maka rembulan terang-benderang.

Waktu Kang Hay-thian muncul didepan pintu sana, segera ia melihat ada belasan orang telah merubung datang.

"Ha, seorang bangsat kecil!"

Segera ada seorang berteriak. Seorang diantaranya membawa kapak emas, melihat lagaknya mungkin adalah pemimpinnya, segera ia berseru.

"Menuiut perintah baginda, selain jiwa nona itu dilarang mengganggunya, orang lain tidak peduli lagi, bunuh saja tanpa perkara!"

Maka dengan cepat sekali seorang Bu-su lantas menubruk maju, dengan sebatang toya baja ia mengemplang keatas kepala Kang Hay-thian.

Tapi hanya sekali tangkis saja, maka terdengar jeritan Busu itu, menyusul Bu-su itu terpental dan jatuh terlentang, mulutnya menyemburkan darah, toyanya masih terpegang kencaug ditangannya, tapi sudah bengkok.

Sama sekali Hay-thian tidak menduga bahwa tenaga dalam sendiri ternyata sedemikian lihaynya, ia sendiri sampai terkesima menyaksikan itu.

Ia rada menyesal juga, tahu begitu ia tidak mau keluarkan tenaga terlalu besar.

Keruan kawanan Bu-su yang lain menjadi kaget.

Tapi beramai-ramai mereka lantas menyerbu lagi, mereka menghujani Kang Hay-thian dengan senjata mereka, golok, tumbuk, pedang dan macam-macam sambar menyambar kearah pemuda itu.

Tapi sebelum musuh mendekat.

Kang Hay-thian terus mainkan sepasang tangannya, dengan Pik-khong-ciang, pukulan dari diauh, hanya sebagian tenaga yang dia pakai, maka terdengarlah suara gedebak-gedebuk diseling suara gemerantang saling beradunya senjata, para Bu-su itu telah terlempar pergi sungsang sumbul dan saling tumbuk dengan kawan mereka sendiri.

Kang Hay-thian tidak ingin banyak melukai orang, segera ia rampas sebatang cambuk dari lawan, sekali putar, terdengarlah suara "trang-tring"

Yang ramai, sekaligus beberapa senjata musuh telah kena disampuk jatuh oleh cambuknya itu.

Sudah tentu kawanan Bu-su itu tidak pernah menyaksikan musuh selihay itu, keruan mereka ketakutan, semangat tempur mereka patah, seketika mereka lari terpencar.

Bu-su yang memakai kapak emas tadi menjadi gusar, mendadak ia menggertak sekali terus menubruk maju.

Tapi belum lagi kapak orang membacok tiba, segera Kang Hay-thian putar cambuknya kedepan hingga kapak orang tergu-bat oleh cambuk.

"Roboh!"

Bentak Hay-thian.

Diluar dugaan Bu-su itu ternyata sangat kuat, ia masih tetap menegak sambil pegang kencang-kencang senjatanya.

Diam-Diam Hay-thian heran, ia anggap kepandaian orang tidaklah lemah.

Dan selagi ia hendak membetot dengan tenaga penuh, sekonyong-konyong dilihatnya biji mata orang itu seakan-akan mencotot keluar, urat hijau dijidatnya menonjol, suatu tanda betapa orang telah kerahkan tenaga dengan mati-matian.

Sebentar pula dari hidung, mulut dan telinga Bu-su itu tampak keluar darah.

Hay-thian terkejut, lekas-lekas ia kendurkan cambuknya.

Dan kare na itu kepala Bu-su itu lambat-laun tampak menunduk, tangannya juga lemas dan kapaknya terlepas dari cekalan.

Menyusul orang-nya lantas roboh.

Ternyata Bu-su itu sudah binasa.

Kiranya Bu-su itu adalah kepala regu pengawal raja, kapak emas itu adalah anugrah baginda rajanya, wataknya memang keras juga, betapapun ia tidak rela kapaknya dibetot lepas oleh Kang Hay-thian, maka ia mempertahankan dengan matimatian.

Tapi tenaga dalam Kang Hay-thian itu terlalu lihay baginya, melalui cambuk itu, tenaga dahsyat itu telah menghancurkan isi perut Bu-su itu hing ga akhirnya ia mati mengeluarkan darah.

Kagum terhadap semangat jantan orang, Kang Hay-thian jem-put kapak emas itu dan taruh disamping Bu-su itu dengan rasa agak menyesal.

Sementara itu Kok Tiong-lian telah menyusul keluar juga bersama sipemuda, melihat Hay-thian termangu disamping mayat musuh, Tiong-lian menegur.

"Mengapa kau menjublek disitu? Bukankah musuh sudah mati semua?"

"Tanpa sengaja aku telah membinasakan orang ini, aku merasa tidak tenteram, sungguh tidak nyana tenagaku"

Bisa bertambah se-lihay ini,"

Ujar Hay-thian.

"Dalam pertarungan demikian, kalau kau tidak membunuh tentu kau yang akan terbunuh, mengapa kau berpikir yang tidak-tidak? Hayo-lah, lekas berangkat,"

Ujar Tiong-lian.

Dengan bungkam Kang Hay-thian lantas ikut dibelakang gadis itu.

Dengan cepat Kok Tiong-lian dan pemuda tadi mendahului menuju ketepi danau, ketika pemuda itu menyingkap alang-alang yang lebat ditepi danau, maka tertampaklah disitu tersembunyi sebuah sampan.

Sampan itu persis cukup untuk muat tiga orang.

Kok Tionglian duduk dibagian tengah Kang Hay-thian dan sipemuda lantas men-dayung.

dalam sekejap saja.

sampan itu sudah meluncur pergi secepat anak panah.

Setelah jauh meninggalkan pulau kecil itu, legalah hati Kang Hay-thian, segera ia mengulangi memberi hormat kepada sipemuda penolongnya itu dan bertanya nama orang.

"Aku punya dua nama,"

Sahut pemuda itu.

"Yang satu adalah nama bangsa Han, yaitu pemberian ayah angkatku Yap Kun-san..."

"Ha, ayah angkatmu adalah Yap Kun-san?"

Teriak Hay-thian terkejut dan girang.

"Jadi kau......... kau........."

"Benar, dia adalah kakakku,"

Sela Tiong-lian.

"Nama pemberian ayah angkat padaku adalah Yap Tiongsiau,"

Tutur sipemuda lebih lanjut "Namaku ini telah dipalsukan orang jahat, maka untuk selanjutnya kupikir takkan menggunakannya lagi.

Dan namaku yang lain adalah namaku yang asli.

Eh, adikku, nama kita adalah pemberian ayahbaginda pada waktu yang sama diberikan, apakah kau tahu?"

"Didalam surat wasiat ayah baginda tertera namaku, tapi aku takdapat membacanya,"

Sahut Tiong-lian.

"Akupun tidak paham apa artinya itu, aku kuatir rahasia kita bocor, maka selama ini tidak berani tanya pada orang lain."

"Nama keluarga kita adalah Danu", tutur sipemuda lebih jauh.

"Nama kita adalah pecahan dari kata-kata Cu-mu-langma"

Yang diberikan oleh ayah baginda. Jadi nama lengkapku yang asli adalah Danu Cu-mu, dan namamu yang benar ialah Danu Lang-ma. Cu-mulangma artinya "maha agung"

Atau "maha tinggi", yaitu nama pun-cak pegunungan Himalaya yang paling tinggi didunia ini."

"Ehm, kelak kau harus menjadi raja, tapi aku tidak lagi ingin menjadi puteri,"

Kata Tiong-lian tiba-tiba "Budi Suhu kepadaku juga terlalu mendalam, maka untuk selanjutnya aku akan tetap memakai namaku yang sekarang ini Kok Tiong-lian.

Hanya dalam hubungan kita sendiri aku akan memakai nama keluarga kita.

Apakah kau akur?"

Sipemuda alias Danu Cu-mu memandang sekejap kepada Tiong-lian dan Hay-thian. ia tersenyum dan berkata.

"Sebenarnya akupun tidak ingin menjadi raja. Cuma sakit hati keluarga dan negara harus kita tuntut balas."

"Sudah tentu, aku tidak memakai namaku yang asli, ini tidak berarti aku telah melupakan sakit hati orang tua,"

Sahut Tiong-lian.

"Ya, aku tahui"

Kata Danu Cu-mu pula.

"Andaikan kelak aku menjadi raja juga aku takkan mamaksa kau pulang ketanah air sendiri untuk menjadi puteri. Pabila. selama hidupmu ini akan senang berada bersama dengan bangsa Han, memangnya kau akan lebih leluasa bila memakai nama Han saja". Merasa dibalik kata-kata saudaranya itu mengandung arti tertentu, wajah Kok Tiong-lian menjadi merah.

"Terimalah ucapan selamatku atas pertemuan kembali kalian kakak beradik,"

Segera Hay-thian membuka suara.

"Ya, dan yang masih harus digirangkan lagi ialah pertemuan untuk pertama kalinya dari sesama saudara perguruan kita berdua,"

Kata Danu Cu-mu dengan tersenyum.

"Apa katamu?"

Seru Hay-thian dengan melengak.

"Kukatakan kita adalah saudara seperguruan,"

Sahut Danu iyu-mu.

"Meski kita berusia sama, tapi engkau lebih dulu masuk perguruan, sudah sepantasnya aku memanggil kau sebagai Suheng, diharap pula untuk selanjutnya engkau suka banyak memberi petunjuk."

Sungguh girang Kang Hay-thian bukan kepalang, serunya.

"Ha, kiranya kita adalah satu guru! Dimanakah sekarang Suhu beliau?"

Baru sekarang juga Kok Tiong-Tian mengetahui asal-usul kakak-sekandungnya itu. Cepat ia ikut menanya.

"Apakah Suhuku sudah bertemu dengan Kim-tayhiap? Apakah beliau yang memberitahukan kepada kalian tentang dikurungnya diriku disini?"

"Ya, memang betul, sesudah Kok-lihiap bertemu dengan guruku, habis itu aku telah diperintahkan kemari,"

Sahut Danu Cu-mu.

"Mereka kini sudah sampai dikotaraja dan siap menghadiri pertemuan didalam Kim-eng-kiong nanti."

"Jadi kau sudah bertemu dengan guruku, tentang pengalaman ku tentu kau sudah tahu juga?"

Tanya T ong-lian.

"Ya"

Sahut Danu Cu-mu sambil mengangguk.

"Maka sekarang juga biarlah akupun menceritakan pengalamanku padamu."

Kiranya dahulu pada waktu Khu Giam pasrahkan nasib Kok Tiong-lian kepada Ek Tiong-bo yang kemudian dibawa pula ke Bin-san untuk dititipkan kepada Kok Ci-hoa, pada waktu yang sama itulah Yap Kun-san yang memungut Danu Cu-mu juga mengalami malapetaka.

Pada suatu malam yang sunyi kelam, mendadak rumahnya diserbu oleh seorang laki-laki berkedok, Yap Kun-san terbunuh dan Danu Cu-mu diculik.

"Kemudian barulah kuketahui bahwa penjahat itu adalah jagoan yang dikirim oleh raja lalim pembunuh orang tua kita itu,"

Tutur Danu Cu-mu lebih jauh.

"Dia telah mengirim dua komplotan, yang satu tujuannya membunuh Yap Kun-san, yang lain Khu Giam yang diincar serta kita kakak-beradik harus diculik pulang. Boleh jadi aku adalah ahliwaris kerajaan, maka raja Inlim sangat menaruh perhatian padaku, maka jago yang dikirim untuk membunuh Gihu (ayah angkat) adalah jago pilihan semua Sebaliknya Khu Giam tidak lantas terbunuh, beliau masih dapat melindungi kau hingga musuh tidak sempat membawa lari kau. Tapi tidak urung beliau juga terluka parah dan akhirnya tewas."

"Kedua orang tua itu benar-benar adalah tuan penolong kita, untuk mana kita takdapat membalas budi mereka, jalan satu-satunya sekarang adalah menuntut balas sakit hati beliau-beliau itu,"

Ujar Tiong-lian.

"Yang berkorban bagi kita seluruhnya ada tiga orang tua,"

Kata Danu Cu-mu.

"He, jadi masih ada seorang lagi? Siapakah beliau?"

Tnnya Tiong-lian.

"Pui-locianpwe, Pui Kin-beng yang tinggal mengasingkan diri dipegunungan Himalaya itu,"

Sahut Cu-mu.

"Apakah Pui-tayhiap yang terkenal sebagai Sin-kun-bu-tek" (ilmu pukulan tanpa tandingan, kisahnya dapat dibaca dalam "Tiga Dara Pendekar-) pada 40 tahun yang lalu itu?"

Tanya Kang Hay-thian.

"Betul, memang dia adanya,"

Sahut Cu-mu.

"Aneh, darimana kaupun kenal beliau?"

Tanya Tiong-lian.

"Aku hanya mendengar dari Suhu."

Sahut Hay-thian.

"Katanya Pui-locianpwe ini adalah tokoh seangkatan dengan Teng-locian pwe dari Thian-san-pay itu, beliau juga sahabat baik dari guru ku. Kepergianku sekali ini untuk mencari Suhu memangnya sudah kurencanakan pabila tidak dapat keterangan dari Teng-locianpwe. segera aku akan tanya kepada Pui-locianpwe dipegunungan Himalaya. Kalau sekarang Suhu sudah berada disini, maka aku tidak perlu banyak membuang tenaga lagi."

"Memang Suhu kita telah datang juga ke Himalaya untuk me-nyambangi Pui-locianpwe,"

Tutur Cu-mu.

"Cuma sayang, pada hari Suhu tiba disana, pada hari itu juga Pui-locianpwe meninggalkan duna fana ini."

"Aneh. adakah sesuatu sangkut paut Pui-locianpwe dengan urusan kita?"

Tanya Tiong-lian.

"Kalau membicarakan Pui-locianpwe itu. sungguh kita harus menaruh hormat setingginya padanya!"

Sahut Cu-mu. Lalu ia menyam-bung.

"Dimasa hidupnya Hu-ong suka bergaul dengan kaum persilatan, seperti Khu Giam dan Yap Kun-san, mereka adalah tamu undangan dari Tionggoan. Ketika terjadi huru-hara, untunglah mendapat pertolongan dari kedua tuan tamu itu hingga jiwa kita berdua diselamatkan. Adapun Puilocianpwe bukanlah tamu undangan Hu-ong, tapi nama beliau yang tenar itu sudah lama dikagumi Hu-ong. Maka pernah juga Hu-ong mengirim utusan dengan membawa oleh-oleh yang bernilai, dengan susah-payah utusan itu mengunju-ngi tempat tirakatnya itu dan mohon dia suka turun gunung. Tapi dengan alasan sudah lama meninggalkan khalayak ramai dan sudah serba asing terhadap segala keduniawan, maka beliau menolak undangan "itu serta tidak mau terima hadiah yang dibawakan untuknya itu."

"Habis, kalau beliau sudah menolak turun gunung, mengapa akhimya tersangkut didalam urusan kita ini?"

Tanya Tiong-lian.

"Untuk ini kita harus kembali dari permulaan,"

Tutur Danu Cu-mu.

"Sesudah aku digondol oleh penjahat-penjahat itu, entah sudah berapa lama aku dilarikan kejurusan barat, Suatu hari, sampailah dikaki sesungguh gunung iang sangat hebat bentuknya, dialanan kami terapit ditengah-tengah selat pegunungan yang terjal, ditengah gunung itu seakan-akan terbelah menjadi suatu jalanan yang sempit, dikaki gunung menghilir sebuah sungai dengan airnya yang jemih. Kemudian dapat kuketahui bahwa tempat itu bernama Thi-mui-koan" (benteng pintu besi), setelah melintasi "Thi-mui-koan"

Itu berarti sudah masuk diwilayah negeri kita sendri.

"Rupanya penjahat-penjahat itu sudah lelah setelah menempuh perjalanan digurun pasir yang luas "itu. kini sesudah menginjak wilayah negeri sendiri, mereka lantas berhenti mengaso ditepi sungai itu sambil melepaskan lelah kuda tunggangan mereka. Mungkin mereka sangat senang dengan hasil kerdia mereka, maka beramai-ramai mereka saling mempercakapkan cara bagaimana mereka akan lapor dan minta hadiah kepada raja.

"Dengan asyik mereka mengobrol, tiba-tiba dari selat gunung itu muncul seorang tua, begitu berhadapan segera orang tua itu berkata kepada kawanan penjahat itu.

"Nah, tinggalkan bocah itu."

Sudah tentu kawanan penjahat itu sangat gusar, mereka tanin siapakah orang tua itu. Tapi mendapat jawaban.

"Peduli apa kalian menanyakan namaku? Yang penting bocah itu harus kalian tinggalkan, habis perkara!"

Dengan sendirinya kawanan penjahat itu semakin gusar, serentak mereka mengembut maju dan terjadilah pertarungan sengit.

Dengan bertangan kosong orang tua itu telah dapat membinasakan ke-12 penjahat itu dalam waktu singkat.

Waktu itu aku masih kecil, aku menjadi ketakutan dan menangis.

Tapi orang tua itu lantas membopong diriku, ia membujuk dan menimang agar aku jangan takut dan menangis.

"Sejak itu aku lantas dibawa serta oleh orang tua itu, sepanjang jalan beliau sangat baik padaku. Waktu aku tanya beliau mengapa begitu baik padaku, beliau menjawab karena ingin membalas kebaikan ayahku. Beliau menjelaskan bahwa maksudnia bukan ayah-ku yang she Yap, tapi adalah ayahku iang lain Hal ini membuat iku menjadi bingung, aku tidak tahu mengapa aku mempunyai dua orang ayah. Dan orang tua itu lantas berkata padaku.

"Orang she Yap itu hanya ayahmu angkat, tapi ayahmu yang sesungguhnya adalah seorang raja yang telah lama dibunuh orang jahat. Akupun tidak pernah ketemu ayahmu, tapi dia sangat baik padaku, maka aku ingin membalas, kebaikannya. Malam ini juga akan kubawa km berziarah kemakamnya."

Benar juga malamnya aku telah dibawa kesuatu kuburan, katanya adalah kuburan ayahku dan aku disuruh memberi hormat.

Aku percaya saja padania, aku lantas menjura dan menangis-sedih.

Tapi orang tua itu tidak ikut menangis, ia bawa satu botol arak, ia siram habis arak itu diatas kuburan, mendadak ia menengadah dan bergelak tertawa tiga kali.

ia mengguman sendiri bahwa ayah baginda telah sangat menghargai dia.

walaupun dia tidak menerima undangan ayah, tapi maksud baik itu tak terlupakan selama hidup.

Dari itu ia berjanji akan memelihara aku hingga besar untuk memulihkan tahta kerajaannya.

"Tak usah diterangkan juga tentu kalian dapat menduga bahwa orang tua itu adalah Pui Kin-beng, Pui-locianpwe. Sungguh ke-jadian itu adalah sangat kebetulan sekali. Sudah 20 tahun beliau tidak pernah turun gunung, tapi waktu itu ia baru pulang dari me-nyambangi anak menantunya, yaitu Liong Leng-kiau. Tapi ditengah jalan beliau dapat mendengar obrolan kawanan penjahat yang men-culik aku itu hingga rahasia diriku telah diketahui olehnya dan serta-merta beliau turun tangan untuk menyelamatkan aku."

"Sungguh kau sangat mujur. Koko, hingga disaat bahaya mendapat bintang penolong,"

Ujar Tiong-lian.

"Aku mujur, tapi telah mengakibatkan Pui-locianpwe menerima ganjarannya,"

Kata Danu Tiu-mu dengan gegetun.

"Sebab setelah mengetahui begundalnya terbunuh di Thi-muikoan. Kan-ong (raja lalim) lantas mengerahkan beberapa rombongan jago-jago lain untuk mengejar kaini. Ditengah jalan beberapa kali Pui-locianpwe mesti bertempur dengan musuh, tapi selalu beliau dapat mengacirkan mereka. Namun akhirnya beliau telah disusul oleh dua orang Hwa-sio yang kemudian diketahui adalah murid pilihan Po-siang Hoat-su. Walaupun kesudahannya Pui-locianpwe dapat membinasakan mereka dengan pukulan saktinya iang tiada tandingan, tapi tidak urung beliau juga kena tertutuk Hiat-to halus tempat Tay-meh". Dengan membawa luka yang tak kelihatan itu aku lelah dibawa Pui-locianpwe pulang ketempatnya. Karena serangan tutukan musuh itu, lambat-laun badan Pui-locianpwe mati sebelah, lumpuh separoh badan. Tapi guna memelihara diriku, beliau telah membuat sebuah tongkat beroda, dengan alat pembantu itu beliau bekerja sebisa mungkin, berburu, mencari kayu dan menanak nasi, semuania masih dapat dikerjakan berkat kepandaiannya yang sudah sempurna itu. Selain itu setiap hari beliau mengajarkan ilmu silat pula padaku. Dengan demikian 3-4 tahun telah lalu, usiaku sudah menanjak menjadi 8-9 tahun, sedikit banyak aku telah dapat membantu kerja seperlunya.

"Sesudah dua tahun lagi, waktu aku sudah menginjak umur sebelas, ketika penyakit Pui-locianpwe sudah parah dan susah buat bergerak lagi. Pada suatu hari selagi aku merawat beliau didepan pembaringannya, tiba-tiba datanglah seorang tamu yang tak diundang. Itulan dia Kim-tayhiap iang kemudian telah menjadi guruku.

"Girang bukan main Pui-locianpwe atas kedatangan Kimtayhiap, segera beliau memberitahukan asal-usulku serta minta bantuan Kim-tayhiap untuk menjaga diriku. Bahkan Kimtayhiap lantas berkata. Kedatanganku ini justeru lagi ingin menyirapi bocah ni. Pendek kata, jika kau tidak keberatan, aku bersedia mengambil alih muridmu ini."

Tanpa tawar-menawar lagi segera Pui-locianpwe suruh aku menjura pada Kim-tayhiap untuk mengangkat guru padanya.

Setelah menyaksikan upacara pengangkatan guruku itu, Pui-locianpwe terbahakbahak puas dan berkata.

.Hahaha, apa lagi yang kuberatkan lagi sekarang?"

Dan didalam tertawanya itu, iapun menghembuskan napasnya yang penghabisan."

Kok Tiong-lian ikut muram oleh ccrita itu. Katanya kemudian dengan gegetun.

"Pui-locianpwe benar-benar seorang baik dan pantas dipuji. Koko, bila urusan disini sudah selesai, harap engkau membawa aku berziarah kemakamnya."

Tiba-Tiba Kang Hay-thian teringat sesuatu, segera ia tanya.

"Tadi kau bilang anak menantunya Pui-locianpwe itu bernama Liong Leng-kiau?"

"Betul, tatkala itu Pui-locianpwe justeru habis-pulang dari menjenguk menantunya itu,"

Sahut Cu-mu.

"Selama itu pernahkah Liong Leng-kiau balas menjenguk mertuanya itu?"

Tanya Hay-thian.

"Tidak, boleh jadi kematian orang tua itu belum lagi diketahui olehnya,"

Sahut Danu Cu-mu.

"Ada apakah engkau tanya soal ini?"

"Menurut cerita Teng Keng-thian, Teng-pepck, katanya beliru telah berjumpa dengan Liong Leng-kiau dibukit Tay-kiatnia di-perbatasan, tatkala itu Liong Leng-kiau suami-isteri baru pulang dari kunjungannya kepada Liong-yap Siangjin digereja Lan-to-si di India. Katanya Po-siang Hoat-su itu adalah murid Liong-yap Siangjin, maka beliau minta Liong Leng-kiau ikut mengawasi tindak-tanduk Po-siang. Cuma sayang sebelum berangkat mereka tidak menjenguk Pui-locianpwe lebih dulu hingga seluk-beluk tentang Po-siang sama sekali tak diketahui,"

Demikian Hay-thian menjawab.

"Menurut cerita Suhu, Liong Leng-kiau itu adalah seorang tokoh persilatan pilihan, ilmu silatnya mungkin lebih tinggi dari mer-tuanya, kalau dia tahu kematian sang mertua itu adalah karena serangan muridnya Po-siang, tentu dia takbisa tinggal diam."

Kata Danu Cu-mu.

"Tentang pertemuan di Kim-eng-kiong nanti sudah membikin geger kalangan Kangouw, besar kemungkinan Liong Leng-kiau juga mendengar berita itu dan akan hadir juga,"

Ujar Hay-thian.

"Apalagi dia mendapat pesan Liong-yap Siangjin untuk mengawasi anak muridnya itu. Ha, jika merekapun hadir nanti, tentu akan ramai sekali."

Bicara tentang pertemuan Kim-eng-kiong, tanpa merasa semua orang mendongak memandang rembulan yang sudah bulat dan gilang-gemilang itu.

Sementara itu sudah dekat fajar.

kata Kok Tiong-lian dengan tertawa.

"Kini adalah pagi hari tanggal 14 bulan delapan, besok adalah hari pertemuan di Kim-eng-kiong itu, kebetulan kita masih keburu tiba disana."

Tiba-Tiba Danu Cu-mu mengeluarkan empat biji Thian-simciok yang direbutnya kembali dari musuh itu, katanya dengan tertawa.

"Adikku, kita masing-masing membagi dua biji mestika ini, setelah minum ini, kukira akan banyak faedahnya bagi kehadiran kita besok di Kim-eng-kiong."

"Wah, masakah aku tahan makan Thian-sim-ciok itu, sedang Hay-ko habis makan itu lantas manggeletak tak sadarkan diri dan badannya seolah-olah terbakar,"

Ujar Tiong-Han.

"Tidak apa-apa,"

Kata Cu-mu.

"Bahkan diantara kita bertiga adalah kau sendiri yang paling tahan memakan Thian-sim-ciok ini. Engkau sejak mula sudah mendapatkan dasar Lwekang yang murni, sebaliknya aku dan Suheng tidak demikian, dasar Lwekangku adalah ajaran Pui-locianpwe, sedangkan Suheng adalah didikan Thian-mo-kaucu, maka hanya kau sendiri yang paling cocok makan Thian-sim-ciok ini tanpa menderita sesuatu apa."

"Wah, jika begitu, tekanan batinku selama sebulan ini tentu akan dapat kulampiaskan bila sudah nvnum obat mujijat ini,"

Seru Tiong-lian dengan girang.

"Maka tindakanku yang pertama nanti ialah melabrak dulu kepada Yap Tiong-siau itu. Selama ini keparat itu telah memalsu menjadi kakakku, aku telah kenyang dibikin susah olehnya."

"Kedatanganku sekali ini salah satu tujuanku ialah ingin melihat orang yang memalsukan aku ini, aku tidak tahu darimana Kan-ong dapat mencari seorang yang punya wajah mirip dengan aku,"

Kata Danu Cu-mu dengan tertawa.

"Eh, jadi sebelumnya Koko sudah tahu pemalsuan dirimu ini, darimana kau mengetahui?"

Tanya Tiong-lian.

"Cerita ini harus menyambung ceritaku yang belum selesai tadi,"

Tutur Cu-mu.

"Sesudah Pui-locianpwe wafat, aku bersama guruku yang baru, Yaitu Kim-tayhiap, lantas tinggal dirumahnya itu. Siang hari aku belajar silat dan malam hari Suhu mengajar aku membaca. Lima tahun kemudian, usiaku sudah menanjak 16 tahun, meski ilmu silatku belum jadi, tapi sudah cukup untuk membela diri. Maka berkatalah Suhu kepadaku.

"Sakit hati orang tua dan dendam bangsamu harus kau sendiri yang menuntut balas. Untuk mana harus dapat mengukur pihak lawan dan menilai diri sendiri. Maka biariah aku akan mengunjungi negeri Masar untuk mencari tahu kekuatan musuh bagimu."

Sebenarnya aku bermaksud ikut pergi bersama Suhu, tapi beliau melarang karena kepandaianku belum cukup kuat.

"Tiada dua bulan kemudian. Suhu telah kembali, beliau membawa banyak berita-berita baru bagiku. Aku telah mengetahui bahwa ambisi Kan-ong itu sangat besar, telah banyak mengumpulkan jago-jago pilihan, ingin menguasai benua barat dan menjajah Tionggoan. Dan hal yang paling menarik perhatianku ialah Kan-ong telah memungut seorang "Kian-tian-he" (putera mahkota pungut) yang air mukanya ternyata sangat mirip dengan diriku.

"Pernah dua-tiga kali Suhu masuk keistana raja untuk menyelidiki bocah yang mengaku bernama "Yap Tiong-siau"

Itu.

Suatu kali ketika bocah itu lagi berlatih ilmu silat ditaman istana, diam-diam Suhu mengikuti latihan bocah itu, tapi makin lama Suhu makin heran.

Beliau bukan heran karena ilmu silat bocah itu sangat tinggi, tapi herankan ilmu silat yang dilatih bocah itu.

Tahukah kau kepandaian apa yang paling diandalkan oleh bocah itu?"

"Tay-seng-pan-yak-ciang!"

Sahut Hay-thian.

"Benar,"

Kata Danu Cu-mu.

"Tentu Suheng tahu bahwa Tay-seng-pan-yak-ciang itu adalah ilmu sakti yang terdapat didalam kitab pusaka tinggalan Kiau Pak-beng, ilmu pukulan sakti itu hanya sedikit dibawah Siu-lo-im-sat-kang. Tentang kitab pusaka tinggalan Kiau Pak-beng itu, sejak Le Seng-lam meninggal, maka kitab itu telah jatuh ditangan Suhu kita serta sudah lama dimusnakannya. Setahu guru kita, Thian-mokaucu kakak beradik pernah memperoleh sedikit cuplikan dari kitab pusaka itu. Tapi Tay-seng-pan-yak-ciang adalah semacam ilmu sakti yang hebat, tidak mungkin Thian-mokaucu dapat mempelajarinya. Sebab itulah Suhu merasa heran mengapa bocah itu mampu melatih ilmu silat itu.

"Tay-seng pan-yak-ciang itu sebenarnya adalah semacam ilmu yang terlalu keji, tapi sepulangnya Suhu, beliau telah berubah rencana, beliau mengharuskan aku melatih ilmu itu dalam waktu setahun dan Kudu melebihi kepandaian bocah yang memalsukan diriku itu,"

Demikian tutur Cu-mu lebih lanjut.

"Bagus, bagus! Itu namanya menggunakan racun untuk menyerang racun!"

Sela Tiong-lian dengan tertawa.

"Ketika ilmu itu selesai kulatih, saat itu adalah permulaan musim semi tahun ini,"

Sambung Cu-mu.

"Tidak lama kemudian, kami mendengar berita tentang Po-siang Hoat-su akan mengadakan pertemuan besar di Kim-eng-kiong dengan mengundang segenap jago silat didunia ini. Suhu pikir sudah tiba kesempatan yang baik, maka beliau lantas membawa aku pulang kesini. Kami sudah berada disini lebih dari sepuluh hari dan selama ini bersembunyi ditempat yang tak diketahui musuh. Akupun sudah menemui beberapa pembesar setia dari Hu-ong. yaitu yang kuketahui dari surat wasiat Hu-ong. Tentang kau dikurung dipulau inipun atas berita yang diberikan oleh seorang pembesar setia Hu-ong yang kini purapura mengabdi kepada Kan-ong."

Bicara sampai disini, fajar sudah menyingsing. sang surya sudah memancarkan sinarnya yang gilang-gemilang hingga membuat air danau itu kuning keemas-emasan menyilaukan mata.

"Tinggal sehari lagi, besok adalah pertemuan Kim-eng-kiong yang diadakan Po-siang itu,"

Ujar Tiong-lian. Dan mendadak ia menanya ketika melihat sampan itu didayung oleh Cu-mu kekaki sebuah bukit yang terjal.

"He, mengapa berhenti disini, apakah dapat mendarat dengan mendaki tebing?"

"Justeru diatas tebing sana ada pintunya,"

Sahut Cu-mu dengan tertawa.

"Marilah kalian ikut padaku."

Dan sesudah menyembunyikan sampan itu, segera mereka-bertiga menggunakan Ginkang untuk manjat keatas. Setiba diatas bukit, ternyata disitu bunga hutan mekar semerbak, pemandangan indah permai.

"Sungguh indah sekali pemandangan disini"

Puji Tiong-lian.

"Tidak hanya pemandangan indah, lihatlah ini!"

Ujar Cu-mu, Lalu ia mendorong dua potong batu karang yang besar hingga tertampaklah dibalik batu-batu itu terdapat sebuah gua. Lalu katanya pula.

"Ini adalah salah satu tempat penyimpanan harta karun tinggalan Hu-ong. Karena sementara ini kita masih belum perlu, boleh tak perlu digali dahulu. Tapi tempat ini sangat cocok bagi kita untuk melatih diri, tentu takkan dikacau oleh musuh atau orang lain."

Ketika mereka masuk kedalam gua, ternyata disitu sudah teratur bersih, tersedia pula bahan makanan dan beberapa botol arak serta sebuah wadian.

"Aku mendapat tahu tempat ini dari catatan didalam Yo-bi-su dan beberapa hari yang lalu aku bersama Suhu sudah tinggal disini."

"Apakah Suhu akan kembali lagi kesini?"

Tanya Hay-thian. Ia sudah kangen kepada sang guru itu.

"Dalam beberapa harini berturut-turut telah datang kawankawan Suhu, maka beliau lantas pindah keluar untuk menemani kawan-kawannya itu seperti Lui-cin-cu dari Butong-pay, Siau Jing-hong dari Jing-sia-pay serta Kok-lihiap dari Bin-san, gurunya Lian-moay, beramai-ramai mereka tinggal ditempat seorang tokoh tertua Khong-tong-pay untuk mengatur tindakan mereka dalam pertemuan Kim-eng-kiong besok. Beliau pernah pesan jika sudah berhasil menolong Lianmoay, kita disuruh langsung hadir juga ke Kim-eng-kiong."

Lalu ia membuka sebotol arak, ia mengeluarkan pula empat bi-ji Thian-sim-ciok dan masing-masing meminum bubuk batu mestika itu dua biji bersama Kok Tiong-lian.

Kemudian mereka duduk semadi hanya sebentar saja tertampaklah ubun-ubun Danu Cu-mu telah mengeluarkan uap putih, sebaliknya Tionglian tenang-tenang saja, hanya air mukanya kemerah-merahan seperti orang terlalu banyak minum arak.

Selang agak lama, tiba-tiba Kok Tiong-lian meloncat bangun sambil berseru girang.

"Aku telah dapat memusatkan hawa murniku, seluruh urat-nadiku berjalan lancar. antero badanku terasa penuh tenrga hingga tak terlampiaskan"

Nyata lantaran Lwekang yang dilatih Kok Tiong-lian adalah berasal dari Lu Si-nio yang merupakan Lwekang kaum Cingpay, maka dengan cepat Kok Tiong-lian danat menyelesaikan semadinya dengan memusatkan tenaga murni yang timbul dari kasiat Thian-sim-ciok itu.

Segera Kang Hay-thian mendempelkan sebelah tangannya kepunggung Danu Cu-mu untuk membantu dia memusatkan tenaga murni.

Selang sejenak, uap diatas kepala Cu-mu mulai menipis dan akhirnya hilang, badannya lantas terasa segar.

Segera Cu-mu berbangklt.

katanya dengan tertawa.

"Terima kasih, Kang-suheng. Marilah sekarang kita coba-coba suatu permainan!"

"Ha, Koko ternyata masih bersifat kanak-kanak. masakah masih suka main-main apa segala?"

Kata Tiong-l"ian dengan tertawa.

"Marilah kalian ikut padaku."

Ajak Danu Cu-mu. Lalu mereka bertiga berjalan keluar gua............ ---ooo0dw0ooo---

Jilid 12 Setiba diluar gua, Cu-mu memilih sebuah pohon Siong yang cukup besar, ia menggorok sekeliling pohon itu dengan telapak tangan hingga berwujut suatu lingkaran, kemudian dorong pelahan pohon itu sambil membentak.

"Roboh!"

Kontan juga pohon itu ambruk sebatas lingkaran yang dipotong itu.

"Dengan pohon ini, marilah kita main tarik-tarikan,"

Kata Cu-mu pula.

"Kukira ini bukan permainan biasa, tapi justeru dapat membantu melancarkan tenaga dalam kita,"

Ujar Kang Haythian.

"Suheng."

Kata Cu-mu.

"marilah kita berdua coba-coba dulu!"

Segera ia dan Hay-thian masing-masing menarik ujung batang pohon itu. Hasilnya ternyata Kang Hay-thian lebih kuat, Cu-mu terbetot maju beberapa tindak.

"Cobalah kau membantu aku, Moay-moay,"

Pinta Cu-mu kepada Tiong-lran.

Dan dengan tenaga kakak beradik itu, kini Kang Hay-thian yang kewalahan, lama kelamaan ia terbetot maju beberapa tindak.

Kiranya Lwekang Kang Hay-thian mestinya seimbang dengan Da-nu Cu-mu.

Tapi Hay-thian sendiri menelan tiga biji Thian-sim-ciok, sebaliknya Cu-mu dan Tiong-ltan masingmasing minum dua biji, maka dengan tenaga gabungan mereka, dengan sendirinya Kang Hay-thian kalah kuat.

Dalam pada itu Kok Tiong-lian lagi gosok-gosok kepalan dengan girang, katanya.

"Sungguh tidak nyana tenagaku telah bertambah hebat secara mendadak. Koko, besok adalah hari pertemuan Kim-eng-kiong, malam ini kta tiada pekerjaan, marilah, kita pergi mencabut nyawa Kan-ong itu dulu. Sakit hati orang tua kita sedalam lautan, sungguh sedetikpun aku merasa tidak sabar lagi."

Sudah tentu keinginan membalas dendam dalam hati Danu Cumu sekali-kali tidak dibawah adiknya. Tapi ia lebih hati-hati, sesudah memikir sejenak. lalu katanya.

"Beralasan juga usulmu ini, malam ini Po-siang dan begundalnya tentu lagi sibuk mengatur di Kim-eng-kiong. didalam istana raja sendiri tentu Kurang penjagaan, memang ini adalah suatu kesempatan baik. Tapi kitapun tidak perlu buru-buru mencabut nyawa Kan-ong, kita lebih baik menawannya hiduphidup dan besok membawanya ke Kim-eng-kiong agar jagojago yang dia undang sendiri itu kaget dan kacau-balau. Ya, kukira jalan ini paling baik, walaupun agak berbahaya, tapi kalau berhasil, tentu akan banyak menghindarkan jatuhnya korban yang tidak sedikit. Dan untuk keberangkatan malam nanti, kau sendiri lebih dulu harus mengadakan persiapan."

"Persiapan apa lagi?"

Tanya Tiong-lian heran.

"Mempelajari kedudukan istana raja,"

Kata Cu-mu.

"Istana itu dibangun membelakang gunung. Bangunan istana itu besar-kecil seluruhnya ada ratusan buah. Jika kita ingin mencari Kan-ong, paling tidak kita harus memahami dulu keadaan didalam keraton dan peta disekitarnia. Untung sebelumnya aku sudah memahaminya dengan baik, yaitu kupelajar dari cerita guruku, maka terhadap istana raja itu boleh kukatakan sudah apal diluar kepala. Untuk jelasnya, biarlah kulukiskan sekedarnya sekarang."

Lalu ia menggunakan jari tangan untuk menggores-gores ditanah untuk menggambarkan peta istana raja itu.

Maka dalam waktu singkat saja Kok Tiong-lian sudah dapat mengapalkan, keadaan istana raja itu, begitu pula Kang Haythian.

"Malam ini biarlah kuikut kalian kesana, hitung-hitung sebagai pengawal kalian."

Ujar Hay-thian dengan tertawa.

"Bagus, dengan seorang pengawal seperti kau, biar masuk sarang harimau atau kubangan naga juga aku tidak perlu takut lagi,"

Kata Tiong-lian dengan tertawa.

"Moaymoay,"

Kata Cu-mu dengan sungguh-sungguh.

"dengan ikut sertanya Kang-suheng, sudah tentu kita tak perlu kuatir apa-apa lagi. Tetapi kitapun jangan terlalu meremehkan kekuatan musuh. Meski Po-siang tiada berada didalam istana raja, tapi jago-jago pilihan lain masih tidak sedikit."

"Aku tahu,"

Kata Tiong-lian.

"Sampai waktunya nanti, aku akan taat kepada pimpinanmu". Sementara itu sudah lewat lohor, kata Cu-mu dengan tertawa.

"Marilah kita kembali untuk mengisi perut. Kira perlu mengaso sebaik-baiknya."

Begitulah sehabis makan, lalu mereka sama bersemadi untuk memelihara tenaga. Tatkala senja sudah tiba, Cu-mu berkata kepada kedua kawannya.

"Marilah kita berangkat sekarang. Istana raja dibangun dilereng bukit Mincikapi, yaitu terletak diarah utara sini, sesudah melintasi gunung ini dan menurun kesana, tiada sampai 30 li akan kelihatanlah istana itu."

Dengan Ginkang mereka yang tinggi, maka tiada satu jam mereka sudah sampai dipuncak Mincikapi.

Waktu mereka memandang kebawah.

tertampaklah bangunan istana yang megah bermandikan cahaya dengan beratus-ratus pelita yang telah memancarkan sinarnya itu.

Dengan Cu-mu sebagay penunjuk jalan, mereka bertiga dapat melintas kebawah bukit dan pelahan-pelahan mendekati kompleks istana.

Meski jauh disekitar istana itu banyak juga terdapat penjaga.

tapi siapapun tiada mengira bahwa dari tebing bukit yang terjal itu akan datang musuh.

Apalagi Cu-mu bertiga menggunakan Ginkang yang tinggi, tanpa suara dan tanpa berisik, dengan sendirinya tiada seorang pun penjaga yang mengetahui jejak mereka.

Akhirnya Cu-mu membawa kedua kawannya melintasi pagar tembok istana yang tinggi, dibalik pagar tembok itu adalah kebun raja.

Tiba-Tiba Cu-mu berhenti disitu, ia mengeluarkan tiga batang panah kecil warna hijau.

"Untuk apakah itu?"

Tanya Tiong-lian.

"Coa-yam-clan ini berguna untuk saling memberi tanda,"

Tutur Cu-mu dengan suara pelahan.

"Kita harus membagi tugas. Aku dan kau akan terpencar untuk mencari Kan-ong itu. Kang suheng boleh menunggu diatas bukit-bukitan ditaman ini untuk mengawasi kami Pabila diantara kita ada yang perlu bala bantuan, segera kita menyalakan panah berapi ini."

Segera ia membagi-bagikan Coa-yam-cian itu kepada T mghan dan Kang Hay-thian. Lalu katanya pula.

"Keadaan didalam istana sudah kita pelajari dari peta yang kulukiskan itu. Moaymoay, sekarang kau menyelidiki kt.uah barat dan aku akan menuju ke-timur. Kau harus memperhatikan keadaan di Yan-khing-Wong. Se-lok-wan, Jing-hoa-kok. Siau-yau-tian dan istana-istana lain itu. Tidak peduli apakah dapat menawan Kan-ong atau tidak, asal sudah pukul empat, kita harus kembali kesini untuk berkumpul lagi."

Tiong-lian mengiaknn pesan saag kakak itu.

Lalu mereka terpencar melaksanakan tugas masing-masing.

---ooo0dw0ooo---Lebih dulu kita mengikuti perjalanan Kok Tiong-lian.

Tempat yang paling dekat dan didatanginya adalah Se-lokwan.

Itulah sebuah papilyun yang dibangun ditepi sebuah empang.

Setiba ditepi empang, segera Tong-Lian mendengar suara tabuhan alat musik.

Kiranya tempat itu adalah ruangan latihan menari dan menyanyi dayang-dayang istana Kan-ong juga sering datang kesitu untuk mencari hiburan.

Ginkang Kok Tiong-lian memangnya sangat tinggi, ditambah sesudah makan Thian-sim-ciok, kepandaiannya menjadi berlipat ganda.

Dengan enteng sekali ia melayang keatas atap rumah, dari situ lalu mengintai kebawah.

Ia lihat satu baris Kiongli (dayang istana) sedang menari-nari diiring suara musik yang mengalun merdu.

Tiba-Tiba didengarnya suara seorang yang mungkin adalah pelatih-nya, sedang berkata.

"Belum sempurna, ulangi lagi sekali supaya lebih baik Malam ini Hongsiang menyatakan akan berkunjung kemari."

Sungguh girang Tiong-lian tak terkatakan, tanpa sengaja ia telah dapat kabar tentang musuh, ia pikir mungkin sudah ditakdirkan Kan-ong itu akan binasa ditanganku.

Dan selagi rombongan Kiongli itu akan mulai menari, tibatiba pintu terbuka, masuklah seorang pemuda.

Itulah dia Yap Tiong-siau adanya.

Segera orang yang mirip pelatih itu maju memberi hormat, ka-tanya.

"Selamat datang Tianhe, apakah baginda sebentar juga akan tiba?"

"Tidak, malam ini Hongsiang tiada tempo senggang, beliau takkan datang,"

Kata Tiong-siau.

"Kalian tentu sudah lelah juga. silakan mengaso saja". Seorang Kiongli yang paling cantik diantaranya mungkin biasanya sangat rapat hubungannya dengan Yap Tiong-siau, dengan manja ia menarik-narik lengan baju putera pangeran itu dan berkata.

"Kalau Hongsiang tidak dapat datang, Tianhe yang datang juga sama saja. Biarlah kami mulai menari lagi untukmu!"

Tapi malam ini rupanya Tiong-siau lagi ada sesuatu yang menekan perasaannya, dengan kurang bersemangat ia menarik kembali lengan bajunya dan berkata.

"Malam ini akupun tiada tempo, biarlah besok malam saja aku akan datang lagi."

Habis itu ia lantas melangkah pergi meninggalkan Kiongli yang bersengut kurang senang dan kecewa itu.

Tapi Kok Tiong-lian lebih-lebih kecewa, karena tidak jadi menyergap Kan-ong disitu.

Mendadak terpikir olehnya.

"Untuk mencari tempat Kan-ong. kenapa aku tidak menguntit dibelakang bocah itu?"

Segera dengan Ginkangnya yang kini telah jauh lebih tinggi dari Yap Tiong-siau itu ia terus melayang turun dari atap rumah.

Tapi ketika ia memburu kesana, ternyata jejak Yap Tiong-siau sudah tak kelihatan lagi.

Ia merasa heran masakah pemuda itu dapat menghilang begitu cepat, ia menduga disekitar situ pasti ada jalanan rahasia.

Tiong-lian agak gegetun.

Terpaksa ia mencari terus menurut garis yang ditentukan saudaranya itu.

Tak lama, tiba-tiba dilihatnya dua orang Kiongli sedang mendatangi dengan membawa tenglong (pelita berkerudung).

Cepat ia ber-sembunyi dibalik batu gunung-gunungan.

Maka terdengar salah seorang Kiongli itu sedang berkata.

"Kau pernah membunuh orang tidak?"

Tiong-lian menjadi heran oleh percakapan itu. Ia coba mendengarkan terus. Maka terdengar Kiongli yang lain telah menyahut.

"Menyembelih ayam saja aku tidak pernah! Makanya hatiku menjadi tidak tenteram sekarang."

"Akupun seperti kau,"

Kata Kiongli yang duluan.

"Sungguh tidak mengira bahwa Hongsiang menugaskan kita untuk melenyapkan nyawa orang. Untung beliau menyuruhnya membunuh diri saja dan kita tidak perlu turun tangan sendiri.

"Tapi kalau dia takmau membunuh diri, terpaksa kita harus membunuhnya juga,"

Ujar Kiongli yang lain.

"Ai, semoga dia rela minum racun yang diberikan padanya dan urusan cepat selesai, kalau tidak, gorok leher sendiri juga boleh, tapi kalau gantung diri, wah. lidahnya akan menjulur keluar, hiiiih, aku menjadi ngeri,"

Demikian Kiongli pertama tadi.

"Ya. sungguh sialan, kebetulan tugas ini diserahkan pada kita,"

Kara kawannya.

"Eh, apa kau tahu siapakah gerangan wanita itu?"

Dan memang inilah yang ingin diketahui juga oleh Kok Tiong-lian. Maka terdengar Kiongli yang pertama telah menjawab.

"Aku sendiripun tidak tahu. Konon wanita itu sudah dikurung belasan tahun didalam kamar tahanan itu. Besar kemungkinan adalah bekas selir yang sudah tidak disukai lagi."

"Jika sudah terkurung belasan tahun, seharusnya toh urusan yang lalu sudah menjadi dingin, mengapa mendadak Hongsiang memerintahkan hukuman mati baginya?"

Kata kawannya.

"Akupun tidak tahu sebab-musababnya,"

Sahut yang lain.

"Perintah ini kuterima dari Cin-tek Hong-ck-nio (bibi baginda). Beliau hanya menugaskan kita memaksa wanita itu membunuh diri, katanya urusan ini adalah rahasia, tidak boleh tersiar, kalau sampai bocor, jiwa kita bakal melayang juga."

"Ya. Hong-ek-nio itu sebenarnya juga aneh, dia........."

Karena jarak merekapun makin menjauh, maka sampat dislni ucapan-nya menjadi kurang jelas.

Dari percakapan kedua Kiongli itu, diam-diam Tiong-lian menduga merekapun tidak tahu dimana beradanya Kan-ong, maka tidak perlu mempersukar mereka.

Tentang wanita yang mereka bicara-kan itu entah siapakah?

Apakah mesti diselidiki sekalian atau mencari Kan-ong dahulu?

Demikian selagi Tiong-lian ragu-ragu sejenak, tiba-tiba tampak suatu bayangan orang muncul didepan gununggunungan itu.

Ketika mendadak orang itu berpaling, segera ia membentak.

"Siapa yang berada disitu?"

Tahu dirinya sudah kepergok, tanpa bicara lagi Tiong-tian mendahului melompat maju.

segera iapun menutuk kedada orang.

Tapi dengan cepat orang itu sempat menarik diri kebelakang hingga hampir satu meter jauhnya Tiong-Lian terkesiap, ia insaf telah ketemukan tandingan berat.

Dan selagi ia hendak melontarkan serangan yang lain, tahu-tahu "gedebuk", orang itu roboh sendiri.

Tiong-Lian tertegun, semula ia heran, ia sangka ada orang lain lagi yang membantu.

Ia coba celingukan kian kemari, tapi tiada seorangpun yang kelihatan.

Waktu ia depak badan orang itu, memang betul orang itu tertutuk kaku dan takbisa berkutik.

Tiba-Tiba hatinya tergerak, ia coba menutuk pula kearah batu gunung-gnungan itu dari jauh, seketika terdengar "crit"

Sekali, batu itu menghamburkan bubuk.

Maka tahulah Tiong-Lian sekarang bahwa disebabkan minum Thian-sim-ciok, kini Lwekangnya telah bertambah lipat ganda, maka tanpa terasa ia telah berhasil meyakinkan "Bu-heng-cing-gi" (hawa murni tanpa wujut) yang lihay dan dapat merobohkan orang dari diarak jauh.

Sungguh girang Tiong-Lian tak terkatakan.

Ia pikir ilmu silat lawannya itu tidak rendah, agaknya bukan sembarangan pengawal, kebetulan aku dapat memaksa pengakuannya.

Maka cepat ia seret orang itu kebelakang gunung-gunungan taman itu, dengan sebelah tangan ia cengkeram dipunggung orang, lalu ia membuka Hiat-to orang yang tertutuk itu serta mulai tanya padanya dengan suara tertahan.

"Aku ingin tanya sesuatu padamu, kau harus mengaku terus terang, jika bohong sedikitpun saja segera kucabut nyawamu!"

Orang itu sudah tahu ilmu silat Kok Tiong-Lian sangat tinggi, ia menjadi jeri dan mengangguk.

"Nah, katakan, dimanakah raja?"

Tanya Tiong-Lian. Tapi orang itu hanya geleng-geleng kepala saja tanda tidak tahu.

"Bagus, kau berani berdusta padaku,?"

Damperat Tiong-Lian dengan gusar.

Dan sekali ia kerahkan tenaga, pelahan-pelahan ia salurkan tenaga dalamnya yang hebat hingga isi perut orang itu seakan-akan disayat-sayat.

Dengan menahan sakit terpaksa orang itu membuka suara.

"Sung.........sungguh aku tidak tahu dimana beradanya baginda raja, aku menerima perintah baginda melalui komandan pengawal."

"Tugas apa yang diserahkan padamu, lekas mengaku!"

Bentak Tiong-Lian pula dengan suara tertahan.

"Hongsiang menugaskan aku mengambil kepala seseorang,"

Sahut orang itu.

"Hm, dasar raja lalim, selalu membunuh orang,"

Jengek Tiong-Lian.

"Siapakah orang yang harus kau bunuh itu, lekas katakan?"

"Bu.........bukan membunuh, tapi aku.........aku hanya ditugaskan mengambil kepalanya saja,"

Sahut orang itu dengan tergagap-gagap.

Tiba-Tiba hati Tiong-Lian tergerak, ia tanya.

,Ya, tahulah aku, orang yang kau maksudkan itu bukankah wanita yang dikurung dalam penjara istana itu?

Bukankah tadi sudah dikirim dua orang Kiongli untuk memaksa wanita itu membunuh diri, kenapa kau ditugaskan menyusulnya kesaaa".

"Hongstang kuatir kedua Kiongli itu tak dapat melaksanakan tugasnya, maka aku diperintahkan meniusul kemari!"

"Siapakah gerangan wanita itu sebenaraya?"

Tanya Tiong-Lian.

"Tentang itu, ampun, aku......... aku tidak tahu,"

Sahut orang itu dengan gemetar.

Tapi Tiong-Lian semakin curiga.

Ia merasa wanita yang hendak bunuh itu pasti bukan sembarangan orang, kalau tidak, masakah beruntun-runtun dikirim orang untuk membinasakannya.

Segera ia menaoya.

"Dimana letak penjara istana itu?"

"Berada disebelah sana, ialah apa yang disebut Cui-gwatam ."

Belum lagi orang itu menjelaskan seluruhnya, segera Tiong-Lian memotong.

"Sudahlah, aku sudah tahu tempatnya. Sekarang boleh kau tidur dulu disini, lewat dua jam lagi tentu kau akan mendusin sendiri."

Dari petunjuk-petunjuk yang d lukiskan Danu Cu-mu itu, terhadap keadaan didalam kompleks keraton itu Tiong-Lian sudah apal Maka sekali mengetahui yang dimaksudkan penjara itu adalah Cui-gwat-am, ya"tu sebuah rumah berhala didalam istana, segera ia tahu dimana letaknya.

Segera ia tutuk pingsan tawannnnya itu.

lalu tinggal pergi dengan Ginkangnia yang tinggi.

Hanya sebentar saja.

tepat ia masih dapat menyusul kedua Kiongli tadi ketika sampai didepan Cui-gwat-am Yang merupakan sebuah hutan bambu yang rindang.

Dengan Ginkangnya yang tinggi itu, dengan sendirinya kedua Kiongli tidak tahu kalau mereka sudah didahului oleh Kok Tiong-Lian yang melesat lewat dari atas pohon bambu dan naik kearas atap rumah.

Ketika Tiong-Lian melongok kebawah, ia lihat didalam pekarangan rumah ida dua orang Bu-su (pengawal) yang menjaga disitu.

Cui-gwat-am itu terdiri dari beberapa kamar, tapi dikamar lain tiada tampak dijaga orang, hanya kamar menghadap pekarangan itulah terdapat kedua Bu-su itu.

Maka Tiong-lian yakin didalam kamar itulah pasti wanita yang hendak dibunuh raja itu disekap.

Dengan enteng sekali Tiong-lian lantas mengitar kebelakang jen dela kamar itu, dengan gaya "To-kui-cu"liam"

Atau kerai mutiara tergantung, ia gantolkan kedua kakinya diemper rumah, lalu tubuh-nya menjuntai kebawah, ia basahi kertas jendela dengan ludah hingga berlubang kecil, lalu mengintip kedalam.

Tiba-Tiba ia mendengar suara seorang wanita lagi menghela napas dan berkata sendiri didalam kamar.

"O, Cumu. Lang-ma! Cu-mu Lang-mal O, kasihan anak-anakku itu entah sekarang berada dimana?"

Seketika hati Kok Tiong-lian terguncang hebat. hampirhampir ia terperosot dari emperan rumah itu.

"Mengapa namaku disebut dan katanya adalah anaknya? Apakah dia adalah ibu kandungku?"

Demikian ia ragu-ragu.

Waktu ia perhatikan, ia lihat wanita didalam kamar itu berusia antara 40-an.

mungkin terlalu lama dikurung didalam kamar, maka rnukanya tampak pucat lesi sekali.

Dari air mukanya yang kurus dan cantik itu, lapat-lapat Tiong-lian seakan-akan melihat bayangannya sendiri.

Kalau Tiong-l;an seperti melihat bayangan sendiri dari wajah wanita itu, sebaliknya wanita itu sedang memandangi bayangan sendiri dari sebuah kaca rias diatas meja.

Sambil bercermin wanita itu membelai-belai rambutnya sendiri yang sudah mulai ubanan itu, lalu ia berkata pula seorang diri dengan menghela napas.

"Ai, aku sendiri sampai pangling pada diriku sendiri, maka lebih-lebih kedua anak itu, jika ketemu pasti takkan kenal lagi. Tahun ini mestinya mereka sudah 18 tahun, ya, sudah dewasalah mereka. Semoga Tuhan memberkahi mereka selamat bahagia!"

Mendengar sampai disini, hati Tiong-lian lebih-lebih terguncang lagi.

Sudah cocok menyehut nama mereka kakak beradik, kini cocok pula umur yang d katakan itu.

Terang sudah yang dimaksudkan itu adalah dirinya bersama Danu Cumu, Tak tertahan lagi air matanya berlinang-linang.

Jika diluar Kok Tiong-lian meneteskan air mata, maka wanita didalam rumah itupun sedang mencucurkan air mata.

Kemudian terdengar ia bicara sendiri pula.

"Cu-mu dan Langma kedua anak itu telah dibawa lari orang, tentang keselamatan mereka masih dapat kuharapkan. Sebaliknya Tuang Hong sibocah ini harus dikasihani benar-benar, entah dia masih hidup atau sudah mati. Ai, besar kemungkinan dia sudah tewas!"

Selagi Tiong-lian merasa heran siapakah gerangan Ciang Hong yang dimaksudkan wanita itu, apakah seorang saudaranya pula?

Dan pada saat itulah kedua Kiongli tadi sudah datang.

Mereka memperlihatkan surat perintah raja kepada kedua Bu-su, sesudah surat perintah itu diperiksa, kemudian kedua Bu-su itu membuka gembok pintu dan menyilakan kedua Kiongli itu masuk kedalam kamar.

Rupanya kedatangan kedua Kiongli itu sama sekali tak terduga oleh wanita tahanan itu.

Sesudah mengusap air matanya, kemudian ia tanya.

"Siapakah kalian? Ada keperluan apa datang kesini? Aku sudah dikurung selama limabelas tahun disini, selama itu tak pernah dijenguk siapapun juga."

Segera kedua Kiongli itu berlutut, tutur mereka.

"Hongsiang memerintahkan kami menyampaikan tiga macam barang ini kepada Nionio!"

Sebenarnya kedua Kiongli itu tidak kenal siapakah wanita tahanan itu, tapi mereka gentar terhadap sikapnya yang agung dan berwibawa itu hingga tanpa merasa mereka terpengaruh dan berlutut sambil memanggil "Nionio" (sebutan kepada wanita kesayangan raja).

Tapi dengan sikap dingin wanita itu menjawab.

"Aku bukan Nionio kalian. Barang apakah yang dikirim bangsat itu untukku? Boleh kalian bawa kembali saja, katakan aku tidak sudi segala barangnya, tidak perlu pura-pura menaruh belas kasihan apa segala!"

Baru sekarang kedua Kiongli itu sangat terperanjat.

Semula mereka mengira wanita itu adalah bekas selir raja yang telah kehilangan cinta, tapi mendengar wanita itu berani mendamperat raja sebagai "bangsat", maka segera mereka insaf dugaan mereka telah salah, bukan mustahil asal-usul wanita itu akan jauh lebih terhormat daripada sangkaan mereka.

Maka Kiongli yang berlutut lebih depan itu berkata.

"Lapor Nionio, ketiga macam barang dari Hongsiang in tidak dapat kami bawa kembali. Menurut perintah Hongsiang, Nionio harus memiih satu diantaranya."

Dengan tergopoh-gopoh Kiongli itu lantas mengeluarkan tiga macam barang, yaitu seutas tambang, sebilah pisau dan satu bungkusan kertas. Lalu katanya.

"Dalam bungkusan ini adalah racun. Dari tiga macam barang ini Nionio disilakan memilih semacam diantaranya!"

Dari ketiga macam barang yang disuruh memilih itu, terang berarti suruh wanita itu membunuh diri menurut mana suka. Wanita itu tertegun sejenak. kemudian katanya dengan mendengus.

"Hm, memangnya aku sudah menduga pasti akan terjadi seperti sekarang ini. Dia telah memberi kesempatan hidup selama 15 tahun kepadaku, hal ini sudah membuat aku heran. Dan sebab apakah baru sekarang dia inginkan kematianku, apakah kalian tahu sebabnya?"

"Hamba hanya melaksanakan tugas saja, selain itu tidak tahu apa-apa? sahut si Kiongli."

Wanita itu berjalan mondar-mandir didalam kamar, ia menggu mam sendir.

"Ehm, mungkin telah terjadi sesuatu apa secara mendadak yang tidak menguntungkan dia, makanya dia ingin lekas-lekas membunuh aku. Soal kematianku sih tidak menjadi soal, hanya putera-puteriku itu masih belum datang kembali, matipun aku tidak rela!"

"Hongsiang sedang menunggu laporan kami, harap Nionio memaafkan,"

Kata Kiongli tadi.

"Baiklah, boleh kau tuangkan satu cangkir teh, campurkan sekarang racunnya,"

Kata wanita itu.

Segera kedua Kiongli itu membagi tugas, yang satu memegang teh, yang lain mencampurkan bubuk racun.

Mereka merasa lega karena wanita itu mau membunuh .diri tanpa rewel-rewel.

Kemudian mereka angsurkan cangkir teh beracun itu.

Sambil memegangi racun itu, dengan kertak gigi wanita itu memaki.

"Sungguh jahanam yang maha keji. sudah membunuh suamiku dan merebut tahtanya. kami ibu dan anak menjadi tercerai-berai pula, semuanya itu dia masih belum puas dan kini hendak membinasakan aku juga. Sungguh binatang yang maha keji. Biarpun menjadi setan juga aku akan menuntut balas padanya!"

Habis berkata, segera ia angkat cangkir berisi racun itu dan hendak menenggaknya. Tapi baru saja cangkir itu mendempel bibirnya.

"prak", tahu-tahu cangkir itu pecah berantakan. Berbareng itu dari diluar jendela lantas menerobos masuk seorang. Kiranya Kok Tiong-lian segera bertindak sebelum wanita itu minum racun daiam cangkir. ia mendobrak jendela terus menyambitkan tusuk kundainya kecangkir yang dipegang wanita itu. Menyusul ia terus berseru.

"Mak, engkau jangan mati, puterimu ini telah pulang!"

Sesudah mendengar ucapan siwanita ketika hendak minum racun tadi, maka Kok Tiong-lian semakin yakin bahwa wanita itu pasti adalah ibundanya, maka tanpa ragu-ragu ia lantas turun tangan.

Keruan kedua Kiongli tadi terkejut, cepat mereka melompat bangun hendak melarikan diri.

"Mengingat kalian toh tidak jahat, biarlah jiwa kalian kuampuni, sementara ini boleh kalian tidur saja disini,"

Kata Tiong-lian, berbareng ia terus tuding kearah Kiongli-Kiongli itu Kontan saja kedua Kiongli itu merasa kesemutan kakinya dan segera roboh terjungkal.

Dan pada saat lain, kedua Bu-su yang menjaga diluar tadi sudah menyerbu kedalam, mereka membentak-bentak gusar.

"Siapa kau bangsat wanita ini berani kau masuk kesini?"

"Mak, kau inginkan mereka mati atau hidup?"

Seru Tionglian.

Namun wanita tua itu merasa seperti di alam mimpi, ia tidak percaya kepada apa yang terjadi itu adalah kenyataan.

Ia hanya pandang Tiong-lian dengan terlongong-longong dan tak sanggup membuka suara.

"Baiklah, biar kurobohkan mereka dahulu,"

Ujar Tiong-lian.

Segera iapun labrak kedua Bu-su itu.

Kepandaian Bu-su itu lumayan juga, tapi sudah tentu mereka bukan tandingan Kok Tiong-lian.

Baru beberapa gebrakan, segera seorang diantaranya kena tertutuk oleh gadis itu dan terjungkal.

Bu-su yang lain menjadi kaget dan murka, bentaknya.

"Perempuan siluman. kau main gila dengan ilmu apa?"

Berbareng goloknya terus membacok.

"Jangan membunuh puteriku,"

Demikian siwanita tua tadi berteriak kuatir.

Sudah tentu bukan Kok Tiong-lian yang terbacok, sebaliknya sebelum Bu-su itu mendekat atau dia sudah tertutuk juga dari jauh dan mengeletak tak berkutik lagi.

Melihat kepandaian Kok Tiong-lian sedemikian lihay, wanita tua itu menjadi girang dan kaget dan ragu-ragu pula.

Dalam pada itu Tiong-lian sudah lantas menubruk kepangkuan sang ibu sambil berseru.

"Mak, puterimu telah kembali!"

Wanita itu termangu-mangu, dengan ragu-ragu ia bertanya.

"Apa betul-betul kau adalah Lang-ma yang kurindukan selama ini"?"

"Lihatlah ini, mak,"

Sahut Tiong-lian sambil mengeluarkan surat kulit yang dibawanya itu.

Dan sesudah memeriksa surat kulit itu, barulah wanita itu mau percaya Seketika mereka saling rangkul dengan erat dan air mata mereka bcrcucuran.

Setelah hilang rasa haru mereka, kemudian wanita itu pelahan-lahan membelai rambut Kok Tiong-lian, katanya dengan penuh rasa rindu.

"O, anakku, siang malam aku merindukan kau, akhir nya kita dapat berjumpa juga. Maka aku takdapat berpisah lagi dengan kau."

"Jangan kuatir, mak. sedetikpun aku takkan menanggalkan kau. sekali-sekali tak boleh kau dicelaka, orang jahat,"

Sahut Tiong-lian.

Kedatangannya ini sebenarnya ialah untuk mencan Kanong, tapi karena pertemuan kembali dengan ibunya yang tidak sengaja ini, terpaksa ia tunda maksud tujuarmya itu.

Ia harus mendampingi sang ibu untuk menghilangkan rasa rindu orang tua itu.

Saking terharunya hingga mereka terekam sampai sekian Iamanya.

"Apakah mereka ini sudah mati semua?"

Tiba-tiba ibunya bertanya.

"Tidak, mereka hanya tak sadarkan diri untuk sementara saja"

Sahut Tiong-Lian.

"Ai, aku merasa takut melihat keadaan mereka ini,"

Kata ibunya.

"Ya, mereka harus disingkirkan dari sini agar tidak mengganggu pembicaraan kita,"

Kata Tiong-Lian. Lalu ia menyeret keluar tawanan-tawanannya itu, kemudian ia masuk kembal. dan tanya ibundanya.

"Apa kah ditempat ini masih ada orang jahat lain?"

"Entah, akupun tidak tahu, tapi tempat ini sengat terpencil, ra-sanya tiada orang lain lagi,"

Kata siorang tua. Kemudian Tiong-Lian lantas membuang pisau, tambang dan racun yang dibawakan Kiongli tadi, katanya kepada sang ibu.

"Mak, untuk selanjutnya engkau takkan diganggu lagi". Wajah ibu yang masih berlinang-linang air mata itu menampilkan senyuman bahagia, itulah senyuman pertama kalinya sejak 15 tahun yang lalu.

"Kau............ kau masih mempunyai seorang saudara kembar!"

Demikian katanya kemudian.

"Aku sudah tahu, mak,"

Tiong-Lian.

"Koko sekarang juga sudah berada disini."

"Ha, dimana dia, mengapa tidak kelihatan?"

Tanya ibunya cepat.

"Kami datang bersama kesini untuk mencari Kan-ong, tadi kami telah terpencar. tapi nanti akan dapat bertemu lagi."

Tutur Tiong-Lian.

"Apa? Kalian hendak mencari Kan-ong?"

Tanya ibunya dengan terkejut.

"Benar, sahut Tiong-Lian.

"Ibu tidak perlu kuatir, kepandaian Koko jauh lebih kuat daripadaku. Bahkan kami mempunyai seorang teman lagi yang berkepandaian maha tinggi, rasanya tiada seorangpun didalam keraton ini mampu menandingi dia."

Sang ibu sudah menyaksikan kepandaian Kok Tiong-Lian tadi, maka ia dapat mempercayai cerita itu. Katanya dengan penuh perhatian.

"Kiranya kalian sudah berhasil mempelajari kepandaian yang tinggi. itulah sangat baik. Sudah 15 tahun kita menderita, kiai sudah waktunya menuntut balas. Ai, hanya si Ciang Hong entah berada dimana sekarang?"

"Siapakah gerangan Ciang Hong itu? Apakah masih ada seorang saudaraku yang lain?"

Tanya Tiong-Lian.

"Benar, Ciang Hong memang betul adalah Toako (kakak tertua) kalian,"

Kata ibunya.

"Mungkin nasibnya sekarang lebih sengsara lagi daripada kita."

"Mak. cara bagaimanakah Toako itu terpsah dari kau?"

Tanya Tiong-Lian tiba-tiba.

"Apa juga. terjadi pada waktu kerusuhan itu? dan adakah orang yang melindungi keselamatannya? Mengapa dalam surat wasiat Hu-ong ini sama sekali tidak menyebutnya?"

"Toakomu itu ketika baru lahir sudah lantas diculik orang jahat, bahkan ayahmu sendiri tidak tahu apakat dia masih hidup atau sudah mati,""

Ujar ibunya. Tiong-Lian menjadi heran.

"Ayah adalah seorang raja, mengapa tidak dapat melindungi puteranya sendiri?"

Ia tanya dengan heran.

"Ayahmu adalah raja, tapi aku bukanlah permaisurinya,"

Tutur sang ibu.

"Anakku, apa kau masih ingat diwaktu kecil pernah kau tnggal dimana?"

"Ya. aku masih ingat pernah tingggal disuatu perkemahan yang besar, diluar kemah itu adalah padang rumput iang luas,"

Sahut Tiong-Lian.

"Sejak kapan kau mengetahui dirimu adalah puteri raja?"

Tanya ibunya.

"Belum lama berselang, yaitu waktu kami memasuki wilayah negeri Masar ini dan sesudah memahami tulisan didalam surat wasiat ayah itu,"

Sahut Tiong-Lian.

"Dan sesudah tahu asal-usul dirimu, apakah kau tidak heran mengapa diwaktu kecilmu kau tinggal disuatu perkemahansepi?"

Tanya siorang tua.

"Ya, memang aku merasa sangat heran, mengapa selama itu ayah baginda tidak pernah datang menjenguk kami,"

Kata Tiong-Lian.

"Mak, malahan engkau sendiri juga cuma satu kali mengunjungi kami."

Kembali wanita itu meneteskan air mata, katanya.

"O, anakku, syukurlah kau masih ingat. Tatkala itu kau baru berumur tiga, dengan menempuh bahaya aku telah datang menjenguk kau. Kemudian ada orang memberitahu padamu bahwa ibu kandungmu sudah meninggal, bukan?"

"Benar. Khu-yaya yang menyelamatkan aku itulah yang memberitahukan padaku,"

Kata Tiong-Lian.

"Tadi aku masih ragu-ragu ketika mendengar ucapan ibu, kemudian sesudah aku yakin benar-benar barulah anak berani masuk kesini untuk menemui ibu Mak. Khu-yaya itu sangat baik padaku, tapi mengapa beliau mendustai aku pula tentang keadaan ibu"

"Sebenarnya kejadian yang memilukan dimasa dahulu itu aku tidak ingin mengungkatnya lagi,"

Kata ibunya.

"Tapi malam ini kita ibu dan anak telah berjumpa kembali, mau-takmau aku harus menjelaskan padamu tentang apa-apa yang sudah terjadi dahulu."

Tiong-Lian mengeluarkan saputangannya untuk mengusap air mata sang ibu. Kemudian terdengar ibundanya menutur pelahan dengan suara yang berat.

"Sebenarnya aku bukan permaisuri ayahmu, tapi aku cuma seorang selirnya yang tidak resmi. Permaisuri sendiri adalah puterl seorang pembesar yang sangat berpengaruh, wataknya dengki dan melarang baginda mendekati selir dan wanita lain. Tapi sayang dia punya perut sendiri tidak bercus membahagiakan dia, selama itu tidak melahirkan seorang anakpun. Sedangkan usia Hongy-siang sudah lebih setengah abad. sudah tentu beliau sangat sedih menghadapi hari tua dan mahkotanya, begitu pula sebagian pembesar-pembesar serta ikut merasa sedih.

"Kemudian ada seorang pembesar setia yang tua mengusulkan suatu akar, dengan sukarela pembesar itu menyelundupkan puteri-nya sendiri kedalam keraton diluar tahu permaisuri, maksud tujuannya ialah supaya puterinya sendiri itu akan dapat memberikan keturunan bagi baginda raja. Cara demikian itu sebenarnya sangat berbahaya, bila diketahui permaisuri, bukan mustahil puterinya itu akan d bunuh oleh permaisuri, bahkan pembesar setia itu dan seluruh keluarganya juga akan ikut tersangkut. Namun demi untuk pengabdiannya, pembesar itu bersedia menerima risiko itu. Dan demi kebaktiannya, puterinya itu juga rela mengorbankan diri di-jadikan selir raja. Dan puteri pembesar itu tak laki adalah diriku sendiri".

"Sungguh bikn susah padamu, mak!"

Ujar Tiong-lian.

"Tidak, aku malah tidak merasa dibikin susah,"

Sahut ibunya.

"Ayahmu adalah seorang raja yang arif bijaksana, suka memperhatikan kesukaran rakyat jelata, dapat mengemban amanat penderitaan rakyat, beliau terhitung seorang raja baik. Demi kemakmuran negeri ini beliau telah banyak merombak susunan masyara-kat yang kolot, beliau mendirikan balai bacaan umum dan mengadakan persahabatan akrab dengan negeri tetangga, beliau banyak mengundang cendekiawan bangsa Han untuk memberi didikan kepada rakyatnya. Cuma sayang beliau masih banyak dipengaruhi oleh sebagian pembesar-pembesar jahat yang lain, komplotan permaisuri juga berlawanan dengan beliau. Namanya saja beliau itu raja, tapi sebenarnya hatinya kosong, hidupnya hampa seorang diri Meski ada juga beberapa pembesar setia angkatan tua, tapi kebanyakan mereka tidak berkuasa dalam pemerintahan. Semula aku hanya turut kepada perintah ayah dengan tekad mengorbankan diriku sendiri. Tapi lama kelamaan aku merasa ayahmu benar-benar cinta padaku, maka lambat-laun akupun menyukainya."

Dan sesudah menghela napas, kemudian sang ibu menyambung lagi.

"Cuma sayang, masa bahagia itu takbisa kekal abadi, setahun kemudian, aku telah mengandung dan melahirkan kakakmu yang tertua, ayahmu memberikan nama Luang Kong padanya. Yaitu mengambil nama puncak gunung tertinggi didalam negeri kita, Ayahmu sangat girang karena cita-citanya mendapatkan keturunan terkabul, siapa duga kegirangan itu telah mendatangkan malapetaka pula. Entah siapa yang membocorkan rahasia kami hingga dapat diketahui oleh permaisuri, segera dia mendatangi aku dengan begundalnya, dengan paksa mereka merampas puteraku dan tanpa kenal ampun aku lantas diusir keluar keraton meski aku baru saja melahirkan. Masih untung kakekmu terhitung pembesar tiga angkatan dalam kerajaan hingga permaisuri tidak berani terlalu gegabah, kalau tidak, mungkin seketika itu juga aku sudah dibunuh olehnya."

"Sungguh permaisuri yang kejam,"

Ujar Tiong-lian dengan gusar.

"Dan sesudah Toako dirampasnya, apakah tiada kabar apa-apa selanjutnya?"

"Semula kukira dia akan memiara anak itu,"

Kata ibunya.

"tapi kemudian ternyata tidak demikian halnya. Permaisuri benar-benar wanita keji yang jarang terdapat didunia in;. Dia kuatir anak itu kelak akan dapat mengetahui asal-usulnya, hal mana tentu akan tidak menguntungkan dia. Maka demi keselamatannya dia tidak segan-segan mencelakai puteraku, darah-daging keturunan raja satu-satunya itu."

"Jadi Toako telah dibunuh olehnya?"

Tanya Tiong-liang dengan suara gemetar.

"Mungkin sekali,"

Sahut ibunya.

"Banyak kabar berita yang kudengar. Ada yeng mengatakan anak itu sudah dibuang kekali, ada yang bilang telah dfcolong oleh orang yang diperintahkan membunuh anak itu. Akupun tidak tahu kabar manakah yang betul."

Sampai disini ia menangis sedih lagi. Tapi kemudian lantas menyambung pula.

"Ketika permaisuri mengganas ketempatku, kebetulan ayahmu sedang sibuk mengadakan persidangan dengan para pembesar. Sungguh kasihan, belum lagi Toako-mu bertemu muka dengan ayahmu atau dia sudah dirampas permaisuri. Ketika ayahmu buru-buru datang demi mendengar berita itu, namun sudah terlambat, puteranya dan kekasihnya sudah takdapat dijumpainya lagi.

"Sejak itulah beliau lantas putus hubungan dengan permaisuri, cuma mengingat pengaruh ayah permaisuri yang besar, ayahmu tidak berani memecat permaisuri, namun begitu ia tidak sudi lagi untuk menemui permaisuri. Beliau sangat rindu padaku, juga sangat berduka kehilangan puteranya, tanpa peduli pengawasan permaisuri, diam-diam beliau keluar istana untuk menemui aku. Karena itu, pada tahun berikutnya aku telah melahirkan pula kalian kakakberadik kembar. Walaupun ayahmu menyatakan tidak takut lagi pada permaisuri, tapi beliau juga mesti berjaga-jaga kalau permaisuri membikin susah kita".

"Mak. janganlah engkau berduka, kita seharusnya bergirang,"

Ujsr Tiong-Lian kemudian.

"Ya, kita harus gembira, aku hanya teringat dan kuatir kepada kakakmu saja,"

Kata ibunya.

"Tidak lama lagi kakak juga dapat berjumpa dengan ibu, tatkala mana ibu tentu akan makin senang,"

Kata Tiong-Lian.

"Benar, dua diantara tiga anak-anakku sudah kutemukan kembali, untuk mana sudah seharusnya aku merasa puas"

Ujar sang ibu.

Baru sekarang Tiong-Lian tahu bahwa kakak yang dimaksudkan ibunya tadi adalah kakak tertua yang tak dikenalnya itu.

Katanya nasib kakak tertua itu jauh lebih mengenaskan, mau-tak-mau Tiong-Lian ikut terharu.

Tapi dengan senyuman ia coba menghibur ibunya.

"Apa yang terjadi didunia ini seringkali diluar dugaan manusia, boleh jadi, Toako akan pulang juga dengan selamat seperti pertemuan kita ini."

"Ya, semoga begitulah harapanku,"

Kata ibunya dengan sedih.

"Tapi didunia ini masakah ada kejadian sedemikian kebetulan?"

Tiba-Tiba ia merangkul Tiong-Lian kedepan cermin, maka tertampaklah dua wajah yang sangat mirip. Dengan tertawa ibunya berkata.

"Apakah kakakmu Cu-mu itu juga memper kau?"

"Kami adalah saudara kembar, sudah tentu seperti pinang di-belah dua,"

Sahut Tiong-Lian.

"Ciang Hong lebih tua dua tahun dari kalian, tahun ini usianya mestinya sudah 20 tahun,"

Kata ibunya.

"Dasar pembawanya memang lebih kekar, perawakannya boleh jadi lebih besar sed"kit dari kalian, tapi kurasa wajahnya takkan berbeda jauh dengan kalian."

Sekonyong-konyong perasaan Tiong-Lian terkesiap oleh ucapan itu. Lapat-Lapat ia merasakan sesuatu yang ganjil. Tapi lantas terpikir oleh nya.

"Memang benar juga ucapan ibu, masakah didunia ini bisa terjadi sedemikian kebetulan? Mana mungkin dia adalah kakakku? Dan akupun tidak sudi mempunyai kakak semacam dia. Tapi, ai, celaka jika benarbenar dia adalah kakakku Bila ibu mengetahui tingkah-Iakunya, tentu beliau akan gusar tak kepalang". Kiran ya yang terpikir oleh Tiong-lian adalah dirinya Yap Tiong-siau. Meski dengan berbagai alasan ia coba menentukan bahwa Yap Tiong-siau tidak mungkin adalah kakaknya, namun tidak urung timbul juga semacam rasa kuatir dalam hatinya......... ---ooo0dw0ooo---Dalam pada itu, marilah kita mengikut keadaannya Danu Cu-mu yang mencari kejurusan lain itu. Cu-mu adalah pemuda yang cerdik dan teliti, maka segenap pelosok yang didatanginya pasti diselidikinya dengan baik. Tapi meski sudah ada belasan ruang istana yang diintai, tetap tidak kelihatan jejak musuh yang dicari itu. Sementara itu sudah dekat tengah malam, usahanya masih nihil. Selagi ia merasa gopoh, tiba-tiba dibawah sebuah loteng dide-ngarnya ada suara percakapan dua wanita yang tinggal diatas loteng, yang seorang sedang berkata.

"Jika begitu, jadi mereka kakak-beradik sudah datang semua?"

"Ya, aku tidak tahu apakah yang lelaki itu adalah kakaknya atau bukan, yang terang air muka mereka sangat mirip,"

Ujar yang lain.

Suara percakapan mereka itu sebenarnya sangat lirih, tapi dasar Lwekang Danu Cu-mu sudah kuat, apalagi setelah makan Thian-sim-ciok, kepandaiannya menjadi maju pesat.

Maka percakapan kedua wanita itu dapat didengarnya dengan cukup jelas.

Ia menjadi tergerak oleh pembicaraan itu, pikimya.

"Bukankah mereka sedang mempercakapkan kami kakak beradik?"

Segera ia menggunakan Ginkang yang tinggi, ia melompat ke-atas atap rumah dan mengitar kejendela belakang, dari situ ia dapat mengintip kedalam.

Kiranya didalam kamar loteng itu berduduk dua orang wanita, yang satu agak tua, yang lain lebih muda.

Yang agak tua itu kira-kira berumur lebih 40 tahun, berdandan sangat perlente dan memakai mantel berbulu binatang yang mahal.

Wanita yang lebih muda itu ternyata bukan lain adalah Thianmo-kaucu yang telah bergebrak dengan Danu Cu-mu semalam.

Wanita yang berdandan mentereng itu kelihatan sangat tidak tenteram, mendadak ia gebrak meja dan berkata dengan sengit.

"Memang sudah dulu-dulu aku minta Hongsiang membunuh budak perempuan itu saja, tapi beliau tidak mau menurut. Dan sekarang, coba, dapatlah dia melarikan diri dan telah datang kembali membikin rusuh!"

"Harap Hong-ek-nio tidak perlu kuatir, meski ilmu silat kedua kaka-beradik itu tidak lemah, tapi kita masih cukup kuat untuk mengalahkan mereka, rasanya mereka juga tidak berani sembarangan mendatangi istana untuk mengganggu Nionio,"

Demikian Thian-mo-kaucu berkata. Cu-mu menjadi heran. Menurut sebutan bangsawan kerajaan Masar.

"Hong-ek-nio"

Atau bibi raja itu mempunyai kedudukan yang sangat terhormat, pada umumnya gelar itu hanya diberikan kepada anggota keluarga angkatan tua dari sanak pamili raja yang terdekat dan berjasa besar.

Tapi wanita ini usianya baru lebih 40 tahun, sedangkan raja lalim sekarang usianya malah sudah lebih 50 tahun, maka Cu-mu menjadi heran dari mana datangnya seorang Hong-ek-nio yang tidak beres ini?

Dari percakapan mereka tadi, agaknya perempuan siluman ini sangat kuatir kami mencari balas pada mereka Padahal aku toh tidak pernah tahu adanya seorang wanita seperti ini?

Dalam pada itu terdengar "Hong-ek-no"

Itu sedang berkata pula.

"Dan waktu itu apakah Kian-tian-he juga hadir disana?"

"Ya, aku dan dia hadir semua disana,"

Sahut Thian-mokaucu.

"Selain itu ada pula dua muridnya Po-siang Hoatsu."

"Hm, biasanya mereka suka sombong katanya ilmu silat guru mereka tiada tandingannya dikolong langit ini, mengapa mereka toh tidak mampu menangkan anak haram itu?"

Jengek Hong-ek-nio. Sudah tentu Cu-mu tahu "Kian-tian-he" (putera mahkota pungut) yang dimaksudkan itu adalah Yap Tiong-siau, dan "anak haram"

Yang dimaksudkan itu adalah dia sendiri. Keruan Cu-mu sangat gusar, pikirnya.

"Kurangajar, ada permusuhan apakah antara kau dengan aku, berani kau mencaci-maki ayah-ibu bagindaku?"

Saking gemas hampirhampir ia menerjang kedua perempuan itu, untung ia masih dapat menguasai perasaan nya dan bersabar. Maka terdengar Thian-mo-kaucu lagi bicara pula.

"Memang Kian-tian-he agak besar sedikit omongnya, tapi ilmu silatnya sesungguhnya juga lumayan, paling tidak masih dapat menandingi kakak sibudak perempuan itu. Cuma saja budak itu membawa pedang pusaka, pula aku telah terluka dulu hingga tidak dapat banyak membantu padanya, sungguh akupun ikut merasa malu."

Tiba-Tiba Hong-ek-nio itu menarik muka dan bertanya.

"Coba katakan terus terang, apakah Kian-tian-he yang sengaja melepaskan kedua anak haram itu? Kau tidak perlu kualir, tidak nanti aku mencurigai kau."

"Ai, mengapa Hong-ek-nio terlalu banyak pikiran,"

Sahut Thian-mo-kaucu dengan tertawa.

"Betapa baiknya Hongsiang terhadap Kian-tian-he, masakah dia tega menghianati ayah-ibu angkat yang sangat mencintainya itu?"

Kedengaran Hong-ek-nio itu menghela napas, katanya kemudian.

"Bukanlah aku suka mencurigai orang, tapi sesungguhnya, ai......"

Agaknya a hendak mengutarakan sesuatu rahasia, tapi urung diucapkan, dan sejenak kemudian barulah ia menyambung.

"Selama beberapa hari terakhir ini kulihat sikap Kian-tian-he agak berubah. Ai , bahkan semalam aku bermimpi dia membawa golok dan hendak membunuh aku."

"Hanya mimpi saja kenapa Hong-ek-nio mesti dibuat pikiran?"

Ujar Thian-mo-kaucu.

"Tapi selama beberapa hari hatiku selalu tidak tenteram dan kedutan, dan harini benar-benar aku mendapat kabar buruk ini, kedua anak haram itu betul-betul sudah berhasil meyakinkan ilmu silat yang tinggi dan pulang untuk menuntut balas."

"Hendaklah Hong-ek-nio jangan takut, jika engkau merasa tidak aman, biarlah kumendampingi kau disini, cuma Hongsiang mungkin tidak mengidinkan."

Tiba-Tiba "Hong-ek-nio"

Itu berkata dengan penuh menyesal.

"Jangan lagi kau menyebut lelaki berhati palsu itu. Sungguh aku sangat menyesal, baik-baik aku menjadi permaisuri, tapi kena dipelet oleh mulutnya yang manis untuk membantu dia merebut tahta. Padahal mendiang baginda raja yang dulu meski kurang baik padaku, namun sikapnya padaku juga selalu ramah-tamah. Sebaliknya dia, hm, hanya memberikan gelar kosong ini padaku, lalu tidak pernah menggubris padaku lagi. Gelarku adalah Hong-ek-nio, tapi kenyataannya tiada berbeda daripada nasib siluman rase (maksud-nya wanita penggoda laki-laki) yang dikurung didalam kamar tahanan itu."

Sampai disini. Cu-mu merasa terperanjat, pikirnya pula.

"Wanita ini mengaku sebagai permaisuri raja yang dulu, apa bisa jadi dia adalah ibuku? Tapi masakah dia begini kejam berse-kongkal dengan orang luar untuk membunuh suami sendiri dan merebut tahtanya?"

Kiranya selama ini Cu-mu menyangka bahwa ibunya pasti permaisuri dari raja yang dulu, padahal ibu kandungnya sebenarnya bukanlah permaisuri.

Tapi ia lantas ragu-ragu juga, ia yakin tidak nanti didunia ini ada seorang ibu menganggap anaknya sendiri sebagai "anak haram".

Ia merasa dibalik urusan ini tentu ada sesuatu yang tidak beres.

Dalam pada itu terdengar Hong-ek-nio itu lagi menghela napas dan berkata pula.

"Karani, dimasa hidup ibumu, hubungannya dengan aku laksana saudara sekandung, selamanya akupun pandang kau sebagai keponakanku, dan harini yang kupercayakan juga cuma kau seorang."

"Urusan apa yang Nionio inginkan bantuanku, silakan bicara saja,"

Kata Thian-mo-kaucu.

"Sebenarnya yang lebih aku kuatirkan justeru adalah bahaya dari orang yang berada disekitar kita sendiri,"

Kata Hong-ek-nio. Thian-mo-kaucu tampak melengak sekejap, tapi seperti paham pula apa yang dimaksudkan. Segera ia tanya.

"Bahaya yang datang dari orang sendiri? Sukalah Hong-ek-nio memberi penjelasan."

"Karani, bagaimana ilmu sialtmu kalau dibandingkan Kiantian-he?"

Tanya wanita itu tiba-tiba dengan pandangan melekat.

"Kalau bicara tentang ilmu silat sejati. sesungguhnya tidaklah gampang jika aku hendak mengalahkan dia, tapi dia ingin menangkan akupun susah,"

Demikian sahut Thian-mokaucu.

"Namun aku masih mempunyai cara lain untuk menangkan dia."

"Ya, kabarnya sudah lama Le Seng-lam mengembalikan kitab "Pek-tok-cin-keng"

Kepada keluargamu, dan kepandaianmu manggunakan racun tentunya sangat hebat,"

Ujar Hong-ek-nio itu.

"Untuk menggunakan racun juga mesti melihat siapa sasarannya, jika ketemu orang Lwekangnya sudah sempurna betul-betul, tentu segala racun takkan mempan merobohkannya,"

Tutur Thian-mo-kaucu.

"Tapi kalau untuk menghadapi orang yang ilmu silat-nya setanding dengan aku seperti Kian-tian-he, rasanya tidak susah untuk merobohkan dia."

Sungguh girang Hong-ek-nio itu bukan buatan, katanya.

"Karani, engkau tentu maklum bahwa bahaya dari orang sendiri yang kumaksudkan itu justeru adalah Kian-tian-he". Thian-mo-kaucu pura-pura heran, lalu tanya.

"Sungguh tidak nyana bahwa Nionio ada permusuhan dengan Kian-tianhe, apakah maksud Nionio.........?"

"Karani, kau harus membantu aku untuk melenyapkan orang yang berbahaya itu."

Kata Hong-ek-nio.

"Masih banyak urusan yang belum kau ketahui, jika kau sudah membasmi dia, kelak tentu akan kujelaskan padamu."

Thian-mo-kaucu mengunjuk rasa ragu-ragu, kemudian katanya.

"Nionio, urusan ini bukan urusan kecil. Kian-tian-he adalah orang kesayangan Hongsiang, kini menjadi panglima yang berkuasa pula, apalagi dia adalah muridnya Po-siang Hoatsu, jika terjadi apa-apa atas diri Kian-tian-he, tentu Posiang Hoatsu dan murid-muridnya yang berjumlah tidak sedikit itu tidak akan tinggal diam".

"Jika begitu apakah segala usahaku akan sia-sia saja?"

Kata Hong-ek-nio dengan lesu.

"Kecuali jika aku sudah mendapatkan sesuatu benda mestika,"

Kata Thian-mo-kaucu.

"Barang apakah itu?"

Tanya Hong-ek-nio.

"Barang itupun tergantung atas diri Nionio,"

Sahut Thianmo-kaucu.

"Asalkan Nionio dapat mencarikan "Liong-lik-pitcong"

Hingga aku dapat meyakinkan ilmu silat yang tertulis didalam kitab pusaka itu, walaupun belum tentu mampu melawan Po-siang Hoat-su, tapi sedikitnya aku tidak takut lagi kepada anak muridnya dan maksud Nionio tentu dapat terlaksana pula."

Maka terdengar Hong-ek-nio itu menghela napas panjang. katanya.

"Karani, masakah kau tidak percaya padaku? Bukankah aku sudah pernah katakan padamu bahwa aku sudah pernah mencari "Liong-lik-pit-cong"

Itu keperpustakaan negara, tapi kitab itu sudah lenyap, mungkin sudah dibakar oleh mendiang raja yang sial itu.

Yang terang dia telah menurun dua kopi kitab itu dan dibawakan kepada kedua anak haram itu."

Mendengar itu, Cu-mu terkesiap, tapi ia menjadi sadar juga, kiranya rahasia selama belasan tahun yang tidak diketahui adiknya itu kini dapat terbongkar.

Apa yang tertulis didalam surat kulit itu tak lain adalah "Liong-lik-pit-cong"

Yang dimaksudkan itu.

Belasan tahun yang lalu ketika Tiong-Lian baru berusia tujah tahun, Thian-mo-kaucu Taci beradik tetek datang ke Binson, semula Tacinya.

yaitu Mo-hujin mengaku Tiong-Lian adalah puterinya dari hubungan tidak sah, kemudian Thianmo-kaucu datang pula hendak merebut secara paksa surat kulit itu, tatkala mana semua orang merasa heran apa maksud tujuannya.

Tapi kini Cu-mu dapat paham semua duduknya perkara.

Kiranya rahasia itu telah dibocorkan oleh "Hong-eknio"

Ini, dan "Hong-ek-nio"

Ini sebenarnya adalah permaisuri ayah bagindanya almarhum. Dari percakapan kedua wanita ini terang mereka ada hubungan kekeluargaan turun temurun. Pantas "Heng-ek-nio"

Ini anggap Thian-mo-kaucu sebagai orang kepercayaannya. Sungguh Cu-mu gusar bukan kepalang, pikirnya.

"Perempuan siluman ini benar-benar jahat sekali, betapapun aku tidak bisa mengampuni dia. Biarlah sesudah kubereskan Kan-ong, tentu akan kucabut juga nyawanya, sementara ini biar kuampuni dulu supaya tidak membikin geger musuh."

Dalam pada itu kelihatan "Hong-ek-nio"

Itu sedang memikir, sejenak kemudian baru ia menyambung.

"Tentang "Liong-likpit-cong"

Yang kau inginkan itu terang aku tidak dapat mencarikan, tetapi aku masih menyimpan sebuah kunci dari gudang kerajaan yang lain, didalam gudang kerajaan itu tentu tidak sedikit tersimpan benda-benda mestika yang tidak kalah daripada Liong-lik-pit-cong.

Aku sendiri tidak berani membuka gudang rahasia itu, tapi kau sendiri boleh coba-coba masuk kesana.

Pernah kudengar bahwa didalam gudang masih terdapat sesuatu benda yang sangat berguna bagi kaum persilatan.

Cuma sayang aku sendiri tidak paham ilmu silat, maka dahulu aku tidak tanya jelas tentang benda mestika apa yang dimaksudkan itu.

Tapi kuyakin pasti sesuatu benda mestika yang berharga."

Betapapun Thian-mo-kaucu merasa terpikat juga, pikirnya.

"Kesaktian dari kasiat Thian-sim-ciok sudah kusaksikan sendiri. jangan-jangan didalam gudang rahasia itu masih terdapat juga? Atau masih ada benda mestika lain yang lebih hebat pula?"

"Karani, jika kuberikan kunci gudang rahasia itu untuk menukar jiwa Kian-tian-he, bagaimana pendapatmu?"

Kata Hong-ek-nio itu tiba-tiba.

"Baiklah,"

Sahut Thian-mo-kaucu "Jika Nionio sudah bertekad ingin membasmi dia, biarlah kulaksanakan tugas itu, meski harus menempuh bahaya."

"Sungguh keponakanku yang baik"

Puji Hong-ek-nio.

"Dan bila kau membawakan daun telinga kirinya sebagai bukti, segera kuserahkan kunci gudang mestika itu kepadamu."

Diam-Diam Thian-mo-kaucu menggerutu karena toh orang juga tidak percaya padanya.

Tapi iapun tidak kuatir orang mengingkar janji.

bahkan bila dapat membunuh Yap Tiongsiau, tentu iapun akan kabur sejauh mungkin dan sekalian akan kuras bersih antero benda mestika isi gudang kerajaan itu.

Maka katanya kemudian.

"Baiklah, jika demikian, silahkan Nionio menunggu sementara disini."

"Ya. kupujikan kau akan berhasil dengan baik"

Kata Hongnio itu dengan senang.

Maka cepat Cu-mu menyembunyikan diri, segera dilihatnya Thiam-no kaucu melompat keluar dari jendela dan melayang pergi.

Segera Cu-mu membuka sepotong genting, ia pikir perempuan siluman itu harus diberi rasa sedikit biarpun sementara ini jiwa-nya d biarkan hidup.

Maka ketika Hong-eknio itu terkejut dan mendongak, tahu-tahu ia telah kena ditutuk oleh Cu-mu dengan ilmu Tiam-hiat dari jarak jauh.

Ilmu tutuk yang digunakan Cu-mu itu adalah kepandaian tunggal dari kakek gurunya.

yaitu Tok-liong Cun-cia.

Maka sekali "Ciang-bun-hiat"

Bagian punggung Hong-ek-nio itu tertutuk, seketika rasanya linu pegal tak keruan, tapi justeru takbisa berkutik, hendak menjeritpun takdapat.

Setelah melampiaskan rasa dongkolnya, lalu Cu-mu meninggalkan gedung itu, dibawah sinar bulan yang remangremang dilihatnya sesosok bayangan orang berkelebat dijurusan barat laut sana, jaraknya sudah agak jauh.

Diam-Diam Cu-mu harus mengakui betapa cepat gerakan Thian-mo-kaucu itu, ia pikir Yap Tiong-siau belum tentu mampu melawan iblis itu.

Tiba-Tiba timbul rasa herannya mengapa perempuan yang mengaku bekas permaisuri itu justeru ingin membunuh Yap Tiong-siau?

Jangan-Jangan dibalik itu ada sesuatu rahasia yang luar biasa?

Sebenarnya Cu-mu sangat benci kepada Yap Tiong-siau karena orang telah memalsukan dirinya.

Tapi betapapun juga ia merasa pemuda itu toh tidak terlalu keji sebagaimana Hongek-nio itu.

Entah mengapa, demi teringat Yap Tiong-siau akan dibunuh oleh perempuan kejam itu, rasa benci Cu-mu kepada Ticng-siau menjadi banyak berkurang, bahkan timbul simpatinya.

Pikirnya kemudian.

"Aku sedang susah mencari jejak Kanong itu, kenapa aku tidak menemukan Yap Tiong-siau dahulu?"

Dia adalah putera angkat Kan-ong, boleh jadi dia dapat mengetahui dimana beradanya raja jahanam itu.

Malahan aku obleh tinggal diam dulu untuk melihat cara bagaimana iblis perempuan itu akan mengincar nyawa Yap Tiong-siau, bukan mustahil dari perbuatan mereka nanti aku akan dapat memperoleh rahasia-rahasia lain lagi."

Sambil memikir segera Cu-mu menyusul kearah Thian-mokaucu tadi dengan cepat.

Setelah makan Thian-sim-ciok.

kini Gin-kangnya sudah jauh lebih tinggi daripada Thian-mo-kaucu.

Maka hanya sebentar saja jarak mereka sudah sangat dekat.

Kuatir kalau diketahui, Cu-mu tidak berani terlalu dekat lagi, ia pertahankan jarak antara puluhan meter jauhnya.

Tertampaklah Thian-mo-kaucu melompat masuk kedalam sebuah istana.

Segera Cu-mu menyusul melintas pagar tembok istana itu.

Tapi segera terendus bau harum yang aneh, bau harum itu sangat halus, kalau indera pencium tidak tajam tentu akan sasah mengendusnya.

Cu-mu tahu Thian-mo-kaucu sangat pandai menggunakan ra-cun, ia kuatir kena diselomoti, maka lebih dulu ia mengulum sepotong Swat-lian didalam mulut untuk menjaga segala kemungkinan.

Istana itu sunyi senyap tiada suatu suara apa-apa.

Semula Cu-mu agak heran, tapi segera iapun sadar.

"Ah, tahulah aku, tentu iblis perempuan ini telah menggunakan dupa penidur hingga penjaga-penjaga istana telah kena dikelabuhi semua."

Dipojok pekarangan istana itu ada sebuah pohon besar, Cumu lantas sembunyi diatas pohon yang lebat itu, dari situ dapat dilihatnya dengan jelas gerak-gerik Thian-mo-kaucu yang sedang melongak-longok didalam istana itu, agaknya Yap Tiong-siau tidak dilihat oleh Thian-mo-kaucu karena dia tidak masuk kesesuatu ruangan.

Selang tak lama, Thian-mo-kaucu tampak berhenti di luar jendela sebuah kamar untuk mengintip kedalam.

Dari atas pohon Cu-mu juga dapat melihat keadaan didalam kamar itu melalui lubang jendela.

Didalam kamar itu kelihatan kosong tiada seorangpun.

Thian-mo-kaucu tampak merasa kecewa, agaknya kamar itu adalah kamar tidur Yap Tiong-siau, hari sudah jauh malam toh pemuda itu tidak kelihatan berada di dalam kamarnya.

Setelah menunggu sejenak diluar jendela dan tidak menemukan apa-apa, Thian-mo-kaucu tampak tidak sabar lagi, dan baru dia hendak tinggal pergi, tiba-tiba terdengar suara berkeriut didalam kamar.

Th"nn-mo-kaucu menjadi heran dan coba mengintip ke dalam.

Ternyata ranjang besar yang dekat dinding itu dapat menggeser setengah meter kedepan.

Lalu dari bawah ranjang mendadak menongol keluar seorang.

Itulah dia Yap Tiong-siau.

Kiranya dibawah ranjang itu ada sebuah jalanan rahasia, ranjang itu berdinding yang tepat menutupi jalan keluar dbawah tanah itu.

Untuk bisa membuka pintu jalanan itu, ranjang itu harus digeser kedepan dulu.

Setelah muncul.

tertampak Yap Tiong-sian mengulet kemalas-malasan, terdengar ia berkata sendiri.

"Ai, aku cuma minum dua cawan arak, mengapa sudah terasa kepala pening?"

Lalu ia berjalan beberapa langkah, benar juga Thian-mokaucu melihat pemuda itu agak sempoyongan, air mukanya juga merah.

Diam-Diam Thian-mo-kaucu bergirang, jika pemuda itu benar-benar mabuk, tentu akan lebih gampang baginya untuk turun tangan.

Tiba-Tiba Yap Tiong-siau mengambil sebuah cermin diatas meja, ia mengaca dirinya sendiri, lalu menggumam.

"Aneh, memang benar, aku sangat mirip kakaknya Kok Tiong-Lian Pantas Hu-ong suruh aku memalsukan dia. Tapi Hu-ong kan tidak pernah melihat bocah itu, darimana dia tahu bila sudah dewasa aku akan mirip dia? Sejak kecil aku disuruh memakai namanya dan suruh aku berkelana di Kangouw dengan mengaku sebagai Yap Tiong-siau."

Diam-Diam hati Danu Cu-mu ikut tergetar mendengar gumaman Yap Tiong-siau itu. Pikirnya.

"Benar juga rasa sangsinya itu. Waktu kecil aku pernah d"tawan oleh begundalnya Kan-ong tapi mereka sudah dibinasakan semua oleh Pui-locianpwe. Andaikan satu-dua orang diantaranya beruntung lolos hingga memberitahukan wajahku kepada Kanong, toh juga tidak gampang untuk mencari satu anak lain yang rupanya mirip aku untuk dipiara, pula sesudah besar juga belum tentu sedemikian mirip dengan aku? Ditinjau dari ucapannya tadi, agaknya sejak kecil dia sudah diharuskan memakai namaku, jadi memang Kan-ong "itu mempunyai tipu muslihat tertentu."

Rupanya mabuk Yap Tiong-siau itu makin menjadi, ia makin sempoyongan, tiba-tiba ia berseru.

"Ya, tahulah aku, tahulah aku, tahulah aku!"

Dan mendadak kaca yang pegangnya itu jatuh pecah berantakan. Lalu ia menjerit pula sambil menekap muka sendiri .

"Ya, tahulah aku, sebabnya Hu-ong memiara aku, memungut aku sebagai Kian-tian-he dan memberi kekuasaan padaku, kiranya adalah disebabkan mukaku mirip dengan bocah itu Beliau sudah lama mengetahui akan terjadi seperti sekarang ini, maka aku disuruh menipu rahasia budak perempuan itu agar Hu-ong tidak perlu kuatir lagi akan bahaya yang mungkin mengancamnya."

Diam-Diam Thian-mo-kaucu membatin.

"Rupanya apa yang di katakan Hong-ek-nio memang tidak salah, raja hanya menggunakan Yap Tiong-siau sebagai alat saja. Kiranya Hongek-nio tidak membohongi aku."

Demi mengetahui rahasia itu, Thian-mo-kaucu tidak merasa takut-takut lagi, segera ia bermaksud turun tangan menyergap Yap Tiong-siau.

Tiba-Tiba didengarnya ada suara tindakan orang sedang mendatangi.

Cepat Thian-mo-kaucu menyelinap kebelakang gunungan di-dekat situ, ketika ia mengintip, kiranya yang datang itu adalah seorang gadis, itulah dia Auyang Wan yang semalam hampir menewaskannya dengan jarum berbisa itu.

Tertampak Auyang Wan langsung mendatangi kamar Yap Tiong-siau, tanpa permisi ia terus mendorong pintu dan masuk kedalam, terdengar ia berkata dengan nada dingin.

"Kian-tianhe, apakah sekarang kau masih marah padaku?"

Mendadak Yap Tiong-siau meloncat maju, katanya dengan gusar.

"Bocah she Kang itu sudah lama lari, bukankah kau boleh merasa lega, untuk apalagi kau datang kemari?"

"Justeru karena mereka sudah lolos dari bahaya, makanya aku suka memandang kau sebagai kawan dan sengaja datang kemari,"

Kata Auyang Wan.

"Hm, pabila kau membikin susah mereka, apakah aku bisa mengantepi kau?"

"Ya, sudahlah, kukira kau lekas pulang saja, tidaklah menguntungkan kau jika tinggal lebih lama disini."

Ujar Tiongsiau.

"Sebab apa?"

Sahut Auyang Wan "Kedatanganku kesini adalah undangmu sendiri, sekarang kau hendak mengusir aku?"

"Sekarang aku adalah Kian-tian-he, tapi nasibku selanjutnya aku sendiripun tidak tahu,"

Sahut Tiong-siau.

"Kau telah menyalahi Thian-mo-kaucu, dia adalah orang kepercayaan Hong-ek-nio, mahir menggunakan racun pula, Hu-ong sendiripun jeri padanya. Kukuatir tenagaku tidak cukup untuk melindungi kau."

"Eh, rupanya tidak jelek juga hati nuranimu, ternyata kau masih dapat memikirkan diriku, maka sebagai timbal balik akupun ingin memikirkan dirmu, ingin kutanya, mengapa kau tidak mau meninggalkan tempat ini saja?"

"Kemanakah aku harus pergi?"

Sahut Tiong-siau dengan tersenyum pahit.

"Apalagi sudah belasan tahun Hu-ong membesarkan aku, biarpun akhirnya Hu-ong tidak suka lagi padaku, tapi budi kebaikannya takbisa kulupakan begini saja. Aku mesti membalas budinya itu, dan mana boleh sekarang juga aku meninggalkan beliau?"

"O, kiranya kau masih ingin membalas budi kebaikan ayahbagindamu?"

Jengek Auyang Wan.

"Kenapa?"

Seru Tiong-siau dengan gusar.

"Apakah kau kira aku ini manusia yang tidak kenal budi kebaikan? Ya, mungkin aku ini orang busuk, tap. belumlah sebusuk sebagaimana kau sangka."

"Baiklah, urusanmu ini kita kesampingkan dulu,"

Kata Auyang Wan "Kau bilang dirimu bukan seorang manusia yang tipis budi, sekarang ingin kutanya, apakah kau masih ingat kepada Ciciku!"

"Ya. aku sangat menyesal takdapat memenuhi maksud baiknya", sahut Tiong-siau.

"Hm, jangan kau pura-pura berwelas-asih,"

Jengek sinona.

"Ketahuilah bahwa Ciciku telah mati gara-garamu."

"Hah! Cicimu sudah meninggal? Kapan meninggalnya? Mengapa kau bisa tahu?"

Seru Tfong-s"au dengan kaget.

"Ayah-ibuku sudah datang semua kesini, masakah kau tidak tahu?"

Sahut sinona.

"Ibu sudah teramat benci padamu, sebenarnya beliau melarang aku memberitahukan kabar ini padamu, tapi aku ingin tahu apakah kau sudah mempunyai perasaan atau tidak, makanya aku datang kemari."

Kiranya Tacinya Auyang Wan, yaitu Auyang Jing, telah dipaksa menikah dengan Bun To-ceng oleh kedua orang tuanya, tapi dalam waktu singkat saja perkawinan itu telah berakhir dengan matinya Auyang Jing karena menderita sakit.

Bun To-ceng sendiri masih tinggal dirumah Auyang Tiong-ho untuk merawat lukanya.

Maka tentang kematian isterinya itu juga belum diketahui oleh pamannya, yaitu Bun Ting-bik.

Walaupun Yap Tiong-siau tidak menyukai Auyang Jing, tapi bila teringat maksud baik sinona yang mencintainya dengan murni tanpa balas itu, ia menjadi terharu dan meneteskan air mata.

Dengan sikap dingin Auyang Wan mengikuti perubahan air maka Yap Tiong-siau itu, demi melihat dia mencucurkan air maka, kemudian katanya.

"Mengingat air matamu ini, biarlah akan kutolong jiwamu!"

"Apa katamu?"

Seru Tiong-siau dengan kaget.

"Ayah bagindamu sedang mengincar nyawamu. masakah kau tidak tahu?"

Sahut sinona.

"Apa? Ngaco-belo kau!"

Seru Tiong-siau sambil melonjak. Tapi baru saja ia berdiri atau kakinya sudah terasa lemas hingga hampir-hampir ia jatuh tersungkur. Untung Auyang Wan keburu menahannya. katanya.

"Nah, apakah kau masih tidak percaya? Coba pikir, kau hanya minum dua cawan arak, mengapa tenagamu telah lenyap sama sekali?"

Tiong-siau makin kaget, tanya.

"Darimana kau tahu aku cuma minum dua cawan?"

"Sesudah ayahku datang kesini, Bun Ting-bik telah membawanya menghadap raja,"

Demikian tutur Auyang Wan.

"Ketika baginda raja tanya keadaan pertarunganmu dengan Kok Tiong-lian kakak-beradik, Bun Ting-bik menceritakan bahwa kau sengaja melepaskan kedua bocah itu, maka baginda sangat gusar, seketika juga memberi perintah kepada Bun Ting-bik untuk melenyapkan jiwamu."

"Kurangajar, Bun Ting-bik itu manusia apa, berani mengadu-biru dihadapan Hu-ong, aku harus menerangkan duduknya perkara kepada Hu-ong nanti,"

Seru Tiong-s;au dengan marah-marah.

"Kau benar-benar sudah pikun,"

Ujar Auyang Wan "Coba pikirkan, pabila baginda tiada mempunyai maksud melenyapkan kau, masakah Bun Ting-bik berani sembarangan menjelekan dirimu dihadapannya.

Biarkan kukatakan terus terang padamu, kedua cawan arak yang kau minum itu adalah beracun, hal mana terjadi sebelum datangnya Bun Ting-bik".

Seketika Yap Tiong-siau terbelalak kesima, sungguh hal tu sama sekali tak terduga olehnya.

Maka terdengar Auyang Wan telah menyambung lagi.

"Baginda raja masih jeri kepada Ilmu silatmu yang tinggi, maka tidak berani membinasakan kau seketika itu, kau hanya diberi minum dua cawan arak berbisa yang akan bekerja dengan pelahan-lahan hingga kaupun tidak menaruh curiga apa-apa. Habis itu, kebetulan Bun Ting-bik datang menghadap beliau, maka baginda lantas menyerahkan tugas membunuh dirimu kepada Bun Ting-bik. Menurut perhitungan mereka, arak yang kau minum tidak lama tentu akan bekerja, maka dalam waktu singkat ini mungkin Bun Ting-bik akan datang kemari. Tentang ini aku dapat mendengar dari percakapan ayah-bundaku."

Ketika Yap Tiong-siau coba mengerahkan tenaga, benar juga ia merasa lemas lunglai, keruan ia pucat lesi. Serunya dengan lemah.

"Tolong, nona Auyang! Tolonglah aku!"

"Kalau tidak ingin menolong kau, buat apa aku datang kemari?"

Sahut Auyang Wan.

"Disini ada sebuah jalan rahasia, marilah kita melarikan diri dari situ,"

Kata Tiong-siau.

"Mana boleh kita melalui situ?"

Sahut sinona.

Tiong-siau tertegun sejenak.

kemudian iapun sadar jalan itu tidak mungkin digunakan.

Bagi orang luar mungkin jalanan rahasia itu akan merupakan jalan yang baik, tapi bagi raja tentu jalan rahasia itu bukan rahasia lagi.

Bahkan boleh jadi dijalan keluar ujung sana sudah disiapkan penjaga.

"Marilah, biar kugendong kau saja,"

Ujar Auyang Wan kemudian.

Sungguh Tiong-siau merasa malu dan kikuk, sama sekali tak terduga olehnya bahwa sedemikian buruk keadaannya hingga perlu bantuan seorang gadis yang kepandaiannya jauh dibawahnya.

Apa lagi kalau mesti digendong, betapapun ia merasa tidak enak.

"Sudahlah, jangan sungkan-sungkan lagi, lekas!"

Desak Auyang Wan "Buat apa lekas-lekas, toh sudah terlambat!"

Demikian mendadak suara seorang mengejek.

menyusul daun jendela telah didobrak orang hingga pecah.

Kiranya Thian-mo-kaucu sejak tadi sengaja mendengarkan apa yang hendak dilakukan Auyang Wan terhadap Yap Tiongsiau, setelah mengetahui bahwa raja memang benar juga ingin membunuh pemuda itu, sudah tentu hal ini sangat kebetulan baginya, maka tanpa sungkan-sungkan lagi segera ia turun tangan.

Tiong-siau terkejut demi melihat datangnya Thian-mokaucu yang tak terduga-duga itu.

"Kau mau apa?"

Tanyanya dengan gugup.

"Mau apa? Mau kepalamu atas pesanan Hong-ek-nio,"

Sahut Thian-mo-kaucu dengan mengekek tawa.

"Ha, Hong-ek-nio juga ingin membunuh aku? Toh aku tidak pernah bermusuhan apa-apa dengan dia?"

Seru Tiong-siau dengan terkejut.

"Apakah kau bermusuhan atau tidak dengan dia, aku tidak peduli,"

Ujar Thian-mo-kaucu.

"Baiklah, aku tahu keinginanmu,"

Kata Tiong-siau dengan ce-mas.

"Biarlah kuberikan kitab asli pelajaran Tay-seng-panyak-kang padamu, mau?"

"Baik, memangnya akupun tidak harus inginkan jiwamu, asalkan kau potong sebelah daun telingamu sudahlah cukup,"

Kata Thian-mo-kaucu.

"Nah, boleh kau turun tangan sendiri saja. Eh, barangkali kau tak bertenaga lagi, biarlah aku membantu kau saja. Nona Auyang, bolehkah pinjamkan pedangmu?"

Baru saja Auyang Wan mencabut pedangnya, tahu-tahu Thian-mo-kaucu sudah melompat kedepannya, tanpa bicara lagi Auyang Wan terus menusuk. Sudah tentu Thian-mo-kaucu bukan lawan empuk.

"Hm, malahan aku belum bikin perhitungan dengan utangmu tempo hari dan sekarang mau berani main kayu lagi padaku?"

Ejcknya sambil mengebas dengan lengan bajunya hingga pedang Auyang Wan tergubat.

Sekonyong-konyong terdengar suara mendesir beberapa kali, secomot jarum berbisa telah menyambar kedepan.

Kiranya batang pedang Auyang Wan itu kopong tengahnya dan terpasang alat rahasia yang dapat menjepretkan jarum halus.

"Ha, mutiara sebesar beras juga bisa berbahaya?"

Jengek Thian-mo-kaucu.

Tahu-Tahu jarum-jarum itu bersarang dan menggerombol didepan dada Thian-mo-kaucu, sebuahpun tiada yang dapat menembus bajunya.

Kiranya Thian-mo-kaucu sudah siap sedia karena kejadian tempo hari, kini ia telah memakai selapis besi semberani didepan dadanya hingga jarum-jarum halus itu tersedot semua oleh besi semberani itu.

Dan sekali Thian-mo-kaucu terkekek tawa, segera pedang Auyang Wan sudah dirampasnya dan sekaligus menutuk-nya pula.

Dengan pedang rampasan itu lalu Thian-mo-kaucu mendekati Yap Tiong-siau.

Katanya dengan tertawa nyaring.

"Kion-tian-he, harap kau tahan sakit sedikit, hanya sebelah daun telinga saja, bukan kepalamu yang kuinginkan!"

Tadinya Yap Tiong-siau mengira dapat membujuk orang dengan kitab ilmu silatnya, siapa duga orang tetap inginkan daun kupingnya.

Dalam keadaan terdesak, mau-tak-mau ia menjadi murka juga.

Sebagai seorang yang biasanya dipujapuji, sudah tentu iapun tidak sudi dipermainkan orang.

Dengan gemas ia berteriak.

"Jika mau bunuh, lekas bunuh saja, tapi jangan harap bisa menghina diriku!"

Habis berkata, tanpa pikir ia terus menyeruduk kedepan.

dengan kepalanya ia incar ujung pedang lawan.

Tapi sedikit Thian-mo-kaucu mengegos, serudukan Yap Tiong-siau itupun mengenai tempat kosong, bahkan lengannya lantas kena dipegang oleh Thian-mo-kaucu, berbareng itu pedangnya lantas memotong kepinggir kepala pemuda itu.

Syukurlah sebelum daun kuping itu lenyap, lebih dulu telah me-nyambar tiba sesuatu benda dan luar jendela.

"Cring", pedang Thian-mo-kaucu terbentur menceng. Kiranya Danu Cu-mu yang telah turun tangan menolong Yap Tiong-siau, ia telah petik sepotong ranting kayu sebagai senjata rahasia untuk menyambit pedang lawan. Keruan Than-mo-kaucu terkejut, cepat ia putar tubuh, sementara itu Cu-mu sudah melompat masuk kedalam kamar, katanya dengan dingin.

"Letakan pedangmu dari lekas enyah dari sini."

"Ai, ai, kukira siapa, tahunya adalah kau!"

Tiba-tiba Thianmo-kaucu tertawa.

"Dengan menyaru sebagai kau, beberapa kali dia hendak membikin susah kalian kakak beradik, mengapa sekarang kau malah mengeloni dia?"

"Urusanku sendiri tidak perlu kau peduli."

Sahut Cu-mu dengan ketus.

Belum selesai ucapannya, sekonyong-konyong Thian-mokaucu ayun tangannya.

serangkum hawa ungu terus menghambur keluar dari lengan bajunya.

Kiranya dia sengaja memancing Cu-mu membuka mulut, dan dengan tiba-tiba ia menaburkan asap berbisa itu.

Tak terduga kepandaian Cu-mu sekarang sudah lain dulu, selain sudah berlipat Lwekangnya, bahkan ia sudah mengulum Swat-lian dulu hingga asap beracun Thian-mo-kaucu itu tidak mempan atas dirinya.

Keruan Cu-mu sengat gusar, terus saja ia menutuk dengan ilmu Keh-khoug-tiam-hiat atau menutuk dari jarak jauh.

Kepandaian Thian-mo-kaucu sebenarnya seimbang dengan Danu Cu-mu, maka ketika melihat pemuda itu menutuk, seenaknya saja ia mengebas dengan lengan bajunya.

Tak terduga tenaga dalam Cu-mu sekarang sudah berlipat ganda lebih kuat, dimana tenaga tutukannya sampai lantas terdengar suara mencicit.

tahu-tahu Thian-mo-kaucu merasa iganya kesemutan, pedangnya terjatuh dan lengan ikut merasa lemas.

Sungguh kejut Thian-mu Kaucu tidak kepalang, katanya dida-lam hati.

"Ai, mengapa lewat semalam saja ilmu silatnya sudah maju sepesat ini? Jangan-Jangan dia juga sudah makan Thian-sim-ciok?"

Sebaliknya Cu-mu agak heran juga karena tutukannya tak dapat merobohkan lawan.

Ia tidak tahu bahwa tenaga dalamnya itu baru saja tumbuh hingga untuk digunakan masih belum lan-car.

Dan karena sedikit meradeknya itu, kembali Thian-mo-kaucu menghamburkan pula granat berapi yang mengeluarkan kabut tercampur jarum berbisa.

Tapi Cu-mu sempat memukul kedepen dengan kedua telapak tangan, begitu hebat cara pukulannya itu.

dengan sebelah tangan ia tepuk dari jauh Hiat-to Auyang Wan yang tertutuk itu.

sedangkan sebelah tangan lain memapak granat lawan hingga senjata rahasia itu mencelat keudara sebelum meletus.

Maka terdengar suara menggelegar, granat itu meledak diatap rumah, pecahan granat itu ada sebagian menyambar kedalam kamar dan mengenai kasur dan kelambu hingga api lantas berkobar.

Melihat Danu Cu-mu begitu lihay, tengah Thian-mo-kaucu merasa bingung, tiba-tiba terdengar dua kali suitan panjang, diantara sinar api itu telah melompat tiba dua orang.

Mereka adalah Bun-Ting-bik dan Auyang Tiong-ho.

Sungguh girang Thian-mo-kaucu tak terkntakan, cepat ia berseru.

"Kebetulan sekali ketanganmu, Bun-hukaucu, lekas kau ringkus bocah ini!"

Demi tahu pemuda itu bukan Kang Hay-thian, Bun Ting-bik lantas terbahak-bahak. Katanya.

"Kaucu. kiranya kau juga sudah datang? Jangan kuatir, bocah ini sudah pernah keok dibawah tanganku, tidak nanti ia bisa lolos."

"Hati-Hati, Bun-hukaucu. jangan kau pandang enteng dia,"

Pesan Thian-mo-kaucu. Belum lenyap suaranya, segera terdengarlah suara "blang"

Sekali, Sun Ting-bik sudah saling adu pukulan dengan Danu Cu-mu.

Tempo hari waktu mereka saling gebrak dipulau kecil i-u, tatkala mana Cu-mu belum lagi minum Thian-sim-ciok, dengan sendirinya ia bukan tandingan Bun Ting-bik yang sudah berhasil meyakinkan ilmu sakti "Sam-siang-kui-goan"

Yang lihay.

paling-paling ia cuma sanggup tahan dua-tiga kali gebrakan saja.

Tapi kini sekaligus kedua tangan beradu, seketika Bun Ting-bik merasa ditolak oleh suatu tenaga maha besar, keruan ia terkejut dan baru sekarang ia tahu lihaynya pemuda itu.

Dengan ilmu "Sam-siang-kui-goan"

Yang telah diyakinkan ilu Bun Ting-bik sanggup melawan Kim Si-ih hingga beberapa gebrakan.

Kini kepandaian Danu Cun-mu meski sudah bertambah hebat, tapi kalau dibandingkan gurunya sudah tentu masih selisih jauh.

Maka dengan sepenuh tenaga sakti Bun Ting-bik dengan sekedamya masih dapat bertahan.

Cuma ia merasa tenaga dalam pemuda lawannya terus membanjir bagaikan tidak habis-habis, keruan ia terkesiap dan mengeluh, jika begini naga-naganya.

pasti celaka dia nanti.

Disebelah sana Thian-mo-kaucu lantas bertindak juga.

ia lihat Bun Ting-bik dapat bertahan sementara segera ia gunakan kesempatan itu untuk mendekati Yap Tiong-siau.

Namun Auyang Wan sudah mendahului bertindak, segera ia jemput kembali pedangnya yang dirampas Thian-mo-kaucu tadi serta mengadang didepannya Yap Tiong-siau, beruntunruntun ia menusuk tiga kali stoelum musuh sempat mendekat.

Sudah tentu kepandaian Thian-mo-kaucu jauh lebih tinggi daripada Auyang Wan, tadi dengan gampang saja ia sudaii dapat merampas senjata gadis itu.

Tapi kini keadaannya agak berubah, serangan tiga kali beruntun-runtun itu telah membikin Thian-mo-kaucu agak repot juga.

Mengapa bisa begitu?

Ha!

ini disebabkan serangan berantai Auyang Wan itu dilakukan dengan nekat karena sudah kepepet, dilain pihak Thian-mo-kaucu baru saja kena ditutuk satu kali oleh Danu Cu-mu, walaupun Hiat-to yang tertutuk itu tidak buntu seketika, tapi kelancaran jalan darahnya juga terganggu hingga gerak-geriknya masih agak kaku.

Sebab lnin lagi adalah Auyang Tiong-ho juga ikut berada disitu, betapapun Thian-mo-kaucu mesti mengingat kehormatan kawannya sebagai ayah sinona.

Dalam pada itu Auyang Tiong-ho sudah lantas membentak.

"Wan-ji, lekas berhenti, jangan main gila disini! Dia bukan lagi Kian-tian-he apa segala, tapi adalah buronan yang hendak dibunuh baginda raja, buat apa kau masih membela dia?"

Sembari bicara ia terus melengkah maju juga.

Tiong-siau kenal lihaynya orang, dengan kuatir ia coba kumpulkan tenaga agar bila perlu bisa mengadu jiwa dengan musuh.

Tapi ia merasa perutnya seakan-akan kosong, sedikitpun tidak mendatangkan tenaga apa-apa.

Sebaliknya Auyang Tiong-ho juga jeri pada Tay-seng-panyak-ciang pemuda itu hingga seketika itu iapun tidak berani sembarangan bertindak.

Dan selagi ia bersiap-siap hendak menyerang, tiba-tiba Auyang Wan menjerit.

"Tiatia, harap kau mengingat diri Cici yang sudah meninggal itu dan jangan bikin susah Yapkongcu!"

Hati Auyang Tiong-ho agah lemah, ia tertegun oleh permohonan putcrinya itu. Tapi lantas katanya dengan mengkertak gigi.

"Masih kau bicara tentang Cicimu? Justeru dia inilah yang menyebabkan kematian Cicimu!"

"Tapi apakah ayah tidak memikirkan lagi pesan Cici sebelum menghembuskan napasnya yang penghabisan?"

Ujar Auyang Wan.

"Jika ayah membunuh orang yang dicintai Cici. di alam baka juga Cici takkan rela."

Karena itu, Auyang Tiong-ho benar-benar tidak tega lagi, tiba-tiba ia berpaling dan berkata.

"Baiklah, aku menurut permintaanimu. tapi hanya ini saja, aku takkan membunuh dia, sebaliknya kalau orang lain yang membunuhnya, aku takdapat menanggung!"

Mendengar ayahnya sudah luluskan pcrmohonannya, Auyang Wan menjadi lega, kini ia tinggal melawan Thian-mokaucu dengan mati-matian.

"Auyang-cianpwe jangan kuatir,"

Demikian Thian-mo-kaucu ikut menimbrung.

"Sekali-Sekali aku takkan membinasakan menantumu ini. silahkan kau pergi membantu Bun-siansing saja."

Habis berkata, segera ia merangsang maju lagi.

Kini ia tidak perlu sungkan-sungkan lagi karena Auyang Tiong-ho sudah lepas tangan atas urusan Yap Tiong-siau, sedang tenaga dalamnya juga mulai lancar kembali.

Keruan Auyang Wan kewalahan, hanya belasan jurus saja ia sudah terkurung dibawah tenaga pukulan Thian-mo-kaucu.

Sama sekali Tiong-siau tidak menyangka Auyang Wan bersedia membelanya dengan mati-matian, sungguh ia merasa sangat berterima kasih dan menyesal pula.

Ia kuatir janganjangan sigadis akan menjadi korban keganasan lawan, segera serunya.

"Nona Auyang, aku terima kebaikanmu, harap kau jangan pikirkan diriku lagi. silahkan kau menyelamatkan diri saja!"

Auyang Wan takdapat membagi perhatiannya, terpaksa ia hanya geleng-geleng kepala saja tanda keteguhan hatinya akan membela si pemuda............

Disebelah sana pertarungan Bun Ting-bik melawan Danu Cu-mu sudah meningkat sampai tarap mengadu tenaga dalam, keduanya sama-sama mencurahkan tenaga sekuatnya.

Mendadak Auyang Tiong-ho menggertak sekali, berbareng Pi-lik-ciang dan Lui-sin-ci dilontarkan sekaligus untuk menyerang Danu Cu-mu.

Dan baru pukulan Auyang Tiong-ho itu dilontarkan, tiba-tiba terdengar suara "blang"

Sekali.

Bun Ting-bik tampak terhuyung-huyung mundur.

Kiranya dia sedang mengadu tenaga dalam dengan Danu Cu-mu, pada saat yang terdesak itu kebetulan Auyang Tiongho menerjang.

tiba, terpaksa Cu-mu harus memencarkan tenaganya untuk melayani Auyang Tiong-ho dan karena itulah Bun Ting-bik sempat melepaskan diri.

Tapi celakalah sekarang Auyang Tiong-ho, ia sendiri lantas terkurung dibawah tenaga pukulan Danu Cu-mu, baru saja Lui-sin-ci ditutukan, tahu-tahu Cu-mu juga menutuk, Auyang Tiong-ho merasa lengan lawan yang tertutuk itu lunak licin hingga hasilnya nihil.

Sebaliknya tutukan Danu Cu-mu membawa tenaga dalam yang kuat dan tepat mengenai tengah telapak tangan Auyang Tiong-ho, seketika suatu arus hawa panas menyusup kedalam tangan Auyang Tiong-ho, tangan itu merah hangus seperti habis terbakar.

"Mengingat puterimu, biarlah kuampuni kau!"

Kata Cu-mu dengan dingin.

Dalam pada itu api sudah menjilat-jilat dengan hebat, dldalam kamar penuh asap tebal disertai suara gemertak yang riuh, suara terbakarnya kayu dan benda-benda lain.

Api semakin ber-kobar-kobar.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara "trang"

Sekali, kiranya pedang Auyang Wan telah kena disampuk jatuh oleh Thian-mo-kaucu.

Habis itu.

segera Thian-mo-kaucu menubruk kearah Yap Tiong-siau.

Tapi tahu-tahu serangkum angin keras menumbuk dari belakang, sudah tentu Thian-mo-kaucu tidak berani sembarangan menangkis, cepat ia berjumpalitan dan meloncat kesamping.

Pada lain saat terlihatlah sesosok bayangan orang sudah melayang kesana, Yap Tiong-siau dikempitnya terus menerobos keatas melalui lubang atap karena ledakan granat tadi.

Ternyata orang yang menyelamatkan Yap Tiong-siau itu bukan lain adalah Danu Cu-mu.

Tiong-siau menjadi kebat-kebit, ia membayangkan siksaan yang akan dideritanya dengan tertawannya itu oleh musuh.

Sementara itu Cu-mu sudah mengempitnya melayang lewat belasan atap rumah, akhirnya sampai dibelakang sebuah gunung-gunungan, disitulah Cu-mu menurunkan Yap Tiongsiau dari kempitannya.

"Aku.......aku telah memalsukan dirimu, harini aku jatuh dalam cengkeramanmu, akupun tidak pikirkan nyawaku lagi, tapi aku...... aku minta agar aku diperlakukan secara tegas dan cepat, jangan menyiksa aku lebih dulu!"

Demikian pinta Tiong-siau dengan suara terengah-engah.

"Permusuhan ada biangkeladinya. buat apa aku menyiksa kau,"

Sahut Cu-mu.

"Meski kau membantu pihak yang jahat, seharus-nya aku tidak pantas menolong kau. Tapi mengingat kau sudah mulai sadar, maka aku ingin memberi kesempatan padamu untuk memperbaiki dosamu itu. Nah, katakanlah, dimanakah beradanya Kan-ong itu sekarang?"

Tapi Tiong-siau masih ragu-ragu.

"Hm, dengan macam-macam tipu daya "Hu-ong"mu yang tercinta itu hendak mencabut jiwamu, masakah sampai sekarang kau masih sudi mengaku ayah padanya?"

Jengek Cumu "Bu......bukan aku tidak mau mengatakan, aku cuma kuatir dia.........dia sekarang tiada didalam keraton lagi,"

Sahut Tiongsiau kemudian.

"Habis kemana dia sekarang?"

Desak Cu-mu.

"Semula beliau bermaksud menikmati tari-tarian di papiliun Se-lok-waa. tapi mendadak suruh aku membatalkan rencana itu."

Tutur Tiong-siau.

"Beliau bilang besok adalah pertemuan besar di Kim-eng-kiong, maka beliau tingin menemui dulu Posiang Hoatsu. mungkin malam ini akan bicara semalam suntuk dengan Po-siang. Didalam Kim-eng-kiong tidak sedikit terkumpul tokoh-tokoh persilatan pilihan, ilmu silat guruku. Po-siang Hoatsu lebih-lebih hebat lagi, sungguh aku berharap jangan kau menempuh bahaya kesana"

Cu-mu terpaksa membiarkan Kan-ong itu hidup sehari lebih lama lagi, sebab tidak mungkin ia menemukannya jika memang Kan-ong sudah datang ke Kim-eng-kiong.

Saat itu sinar bulan terang benderang, mereka berdua duduk ditepi empang didekat gunung-gunungan itu.

Air empang itu tenang jernih bagai kaca.

tiba-tiba angin meniup sepoi-sepoi hingga bayangan mereka dipermukaan air itu buyar kacau.

Perasaan Cu-mu seperti terketok, tiba-tiba ia mendongak dan mengamat-amati Yap Tiong-siau, pikirnya.

"Sungguh aneh, wajah orang ini memang benar sangat mirip diriku. Pantas Kan-ong itu menyuruh dia memalsukan aku. Tapi darimanakah Kan-ong itu tahu bahwa wajahku akan mirip dengan dia?"

Dalam herannya Cu-mu lalu mengeluarkan satu iris Swatlian dan diberikan kepada Tiong-siau, katanya.

"Swat-lian dari Thian-san ini dapat memunahkan segala macam racun. boleh jadi aka-berguna bagimu, coba kau mengulumnya. Sebentar kalau semangatmu sudah pulih, aku masih ingin bicara sedikit dengan kau."

Sesudah mengulum Swat-lian itu, Tiong-siau merasakan peredaran darah dalam badannya mulai lancar, semangatnya tambah kuat, meski tenaganya masih belum pulih.

"Sungguh tidak nyana Hu-ong yang biasanya cinta padaku itu, justeru malam ini aku hendak dibunuhnya."

Kata Tiongsiau dengan gegetun.

"Sebaliknya kau adalah musuhku, tapi malah telah menolong aku."

"Cara bagaimanakah kau bisa menjadi penghuni istana?"

Cu-mu mulai tanya.

"Aku adalah anak piatu, ketika baginda raja dan Hong-eknio berburu, aku didapatkan sedang memain dipadang rumput. Entah mengapa baginda raja sangat suka padaku, dan Hong ek-nio diperintahkan membawa pulang aku serta mengangkat aku sebagai anak."

Padahal kejadian itu sengaja diatur oleh Kan-ong itu dan bukan mendadak Tiong-siau diketemukan dipadang rumput.

Di balik itu tentu masih ada maksud tujuan lain yang tak diketahui oleh Yap Tiong-siau.

Maka Cu-mu semakin sangsi oleh cerita Itu, katanya kemudian.

"Dan apakah kau tahu siapakah aku? Mengapa sejak ke-cil Kan-ong menyuruh kau memalsukan curiku?"

"Semula akupun heran ketika beliau memberikan suatu nama bangsa Han padaku,"

Tutur Tiong-siau.

"Kemudian barulah aku diberitahu bahwa ada seorang musuhnya mempunyai sepasang anak kembar. Kakak dari anak kembar itu entah hilang kemana, adik perempuannya masih hidup. Katanya musuh itu sebenarnya adalah bekas sahabatnya yang karib, tapi berhubung perebutan kekuasaan, terpaksa membunuh sahabat itu. Katanya dia sangat menyesal atas peristiwa itu, maka ingin sekali menemukan kembali puteri bekas sahabat itu. Untuk mana aku diminta menyaru sebagai kakak sianak perempuan, agar aku dapat membujuknya bila kelak saling bertemu. Agaknya beliau sudah menyelidiki hingga jelas keadaanmu sewaktu kecil, semuanya aku telah diberitahu den diajarkannya. Hanya aku tidak diberitahu tentang siapakah kau dan mengapa bisa terjadi pengalamanpengalamanmu Itu".

"Sungguh aneh bin ajalb bahwa kau memalsukan aku, tapi ternyata tidak tahu siapakah orang yang kau palsukan Itu."

Ujar Cu-mu dengan tertawa.

"Ya, baginda cuma menerangkan kau adalah putera sahabat yang dibunuhnya karena perebutan kekuasaan dahulu, maka aku menyangka kau adalah keturunan pembesar setia dari raja yang dulu. Baru kemarin dulu ketika aku membaca surat wasiat kulit itu, meski cuma sebagian kecil yang sempat kubaca karena sudah keburu direbut kembali olehmu, tapi aku sudah lantas terang duduknya perkara bahwa kau sendirilah adalah putera mahkota yang tulen."

Habis berkata, karena merasa orang adalah tuan penolongnya, pula adalah putera mahkota, segera Tiong-siau bermaksud memberi hormat peradatan. Tapi Cu-mu sudah mencegahnya. Katanya.

"Tidak perlu begini. Kedatanganku kembali ini bukan karena kemaruk kedudukan, tapi adalah untuk membalas dendam. Jika kau dapat membantu aku, tentu aku akan sangat berterima kasih!"

Dan karena rasa sang-sinye masih belum terjawab semua, segera ia tanya lagi.

"Habis, siapa lagi Hong-ek-nio itu?"

"Masakah kau belum tahu?"

Sahut Tiong-siau.

"Dia bukan lain adalah permaisuri raja yang dulu, ialah ibumu."

"Tidak, sekali-sekali dia bukan ibuku,"

Kata Cu-mu.

"Kau tidak perlu takut, biarpun dia hendak membunuh kau, tidak nanti kutinggal diam. Aku justeru mendengar perundingannya dengan Thian-mo-kaucu yang merencanakan hendak membunuh kau, makanya aku menguntit dibelakang Thianmo-kaucu kesini untuk menolong kau."

"Jika demikian, jadi apa yang dikatakan iblis perempuan itu memang betul?"

Tanya Tiong-siau.

"Ya, sedikitpun tidak salah,"

Kata Cu-mu.

"Sungguh aku ingin tanya padamu, sebab apakah Hong-ek-nio itu sangat benci padamu hingga bertekad mesti membinasakan kau?"

Tiong-siau kelihatan bingung, ia memikir sejenak, lalu katanya.

"Akupun merasa tidak tahu. Sejak kecil Hong-ek-nio itu seperti sangat jemu padaku, padahal aku adalah dia yang memungut. Baginda mengharuskan aku menghormati dia sebagai ihu, tapi aku takut pada kebengisannya, selamanya aku jarang mendekati dia."

"Baik, sekarang mari kita pergi menemuinya kita harus menyelidiki urusan ini hingga jelas,"

Ajak Cu-mu. Tapi Tiongsiau tampak serba susah dan ragu-ragu. Pada saat itulah, sekonyong-konyong diudara terdengar suara mendesus disertai sinar biru yang panjang.

"Wah, celaka, adikku ada kesulitan, aku harus pergi menolongnya. Marilah, kaupun ikut padaku,"

Seru Cu-mu.

Terpaksa Tiong-siau menurut.

Sementara itu tenaganya sudah, pulih sebagian besar, ia sudah dapat berlari.

Dengan Ginkang yang hebat, kedua orang segera berlari menuyu kearah panah berapi itu.

Dalam waktu singkat saja terdengarlah suara gemerincing beradunya senjata sudah sangat berdekatan.

"He, disitu adalah penjara istana,"

Kata Tiong-siau.

Cu-mu merasa heran juga mengapa adiknya bisa mendatangi penjara istana, masakah Kan-ong yang hendak mereka cari itu berada disitu?

Dan mengapa telah ketemukan musuh pula?

Cepat Cu-mu menerobos kedalam, maka tertampaklah banyak orang berkerumun diruangan dalam situ.

Kok Tionglian sedang dikerubut oleh 20-30 orang lawan.

Diantaranya seorang Hwesio asing berkasa merah dengan sebatang tongkat tampak paling tangkas.

Kok Tiong-lian sendiri mengadang didepan seorang wanita, ia putar pedangnya dengan kencang, terang sepenuh tenaga ia sedang melindungi wanita itu.

Kiranya raja sebenarnya tidak pergi ke Kim-eng-kiong, apa yang dikatakan itu hanya untuk membohongi Yap Tiong-siau saja, sebalik-baliknya diam-diam ia mengatur rencanania yang telah ditetapkan.

Tapi sesudah menunggu sampai lama kedua Kiongli yang ditugaskan membunuh pesakitannya itu masih belum tampak kembali, ia lantas tahu ada sesuatu yang tidak beres, segera ia mengirim kawanan Bu-su untuk memeriksa penjara istana.

Disitulah terja di pertarungan sengit, berulang kali Kok Tionglian tidak berhasil menerjang keluar kepungan musuh, terpaksa ia melepaskan Coa-yam-c an untuk minta bantuan.

Begitulah, sekali Cu-mu sudah menerjang kedalam, kontan dua orang Bu-su kena dicengkeram olehnya terus dilempar pergi.

Hwesio asing itu menggertak sekali, dengan gerak "Hoankang-to-hay"

Atau membalikan sungai dan menjungkirkan laut, segera tongkatnya yang besar itu menyerampang kepinggang Cu-mu.

Dari sambaran angin yang keras itu.

Cu-mu insaf ketemukan tandingan berat.

Segera ia menghantam dengan Tay-seng-pan-yak-ciang untuk menahan tongkat lawan, berbareng jarinya menutuk dari jauh.

Maka terdengarlah suara mendesis dua kali, Hoan-ceng atau Hwesio asing itu tergetar mundur dua-tiga tindak, mukanya merah dan matanya meotot, diubahnya berlubang kena tutukan itu, tapi orangnya tidak sampai roboh.

Selagi Cu-mu hendak menyusuli serangan lain lagi, tiba-tiba terdengar suara gemerantang yang keras, dua batang ruyung musuh telah menyambar tiba dari atas.

Cepat Cu-mu menggunakan gerakan "Hong-hong-tiam-thau"

Atau burung Hong manggut kepala, untuk hindarkan sabatan ruyung, menyusul iapun melontarkan pukulan-pukulan dahsyat untuk menahan senjata orang, tapi kedua batang ruyung lawan ternyata sangat lihay, baru terguncang pergi, segera merapat kembali lagi.

Cu-mu terkesiap, tak terduga olehnya bahwa didalam istana terdapat jago pilihan sebanyak itu.

Kalau satu lawan satu sebenarnya Cu-mu tidak nanti kalah, tapi karena dikerubut, mau-tak-mau ia agak repot juga.

Sebaliknya Tiong-lian menjadi longgar dengan datangnya sang kakak itu, segera ia putar Pokiam dengan kencang.

maka terdengarlah suara mendering yang nyaring.

beberapa batang senjata musuh sudah kena terkutung hingga Hcen-ceng itu terpaksa mesti menarik kembali tongkatnya untuk menahan rangsakan Tiong-lian.

Dengan tongkatnya yang besar itu, meski batang tongkat babak-belur juga kena pedang, tapi tidak sampai kutung.

"Mak. itulah dia, Koko sudah datang!"

Demikian terdengar Tiong-lian berseru kepada wanita tua yang dibelanya itu. Maka terdengar wanita itu bersuara heran tercampur kejut. Sebaliknya Danu Cu-mu juga tcrperanjat, serunya bertanya.

"Apa katamu, Moaymoay? Siapa dia?"

"Ibu kita"

Sahut Tiong-lian.

"Hayolah lekas kita hancurkan musuh, nanti kita bicarakan lagi!"

Dalam girang dan kejutnya Cu-mu menjadi sedikit ayal hingga hampir-hampir, kena kesabat ruyung musuh.

Disebelah sana siwanita tua kembali bersuara heran pula, diam-diam ia ragu-ragu apakah bukan dialam mimpi?

Hal-Hal yang susah dipercaya itu sekaligus telah dapat terjadi dalam semalam!

Tapi mengapa Lang-ma hanya memanggil Koko pada seorang saja, lalu, pemuda yang lain itu siapa lagi?"

Kiranya saat itu Yap Tiong-siau juga sudah menyusul masuk kesitu. Hoan-ceng itu belum tahu tentang keputusan bagindanya yang bermaksud membunuh Yap Tiong-siau itu, maka ia menjadi girang dan berseru.

"Kian-tian-he, sangat kebetulan kedatanganmu, lekas kau membantu aku!"

Mendengar Hwesio asing itu memanggil sipemuda sebagai "Kian-tian-he". wanita tua itu merasa seperti terpukul dadanya.

"Ah, kiranya dia bukan puteraku. Ya. aku sudah menemukan kembali kedua putera-puteri, hal ini sebenarnya sudah jauh melebihi harapan ku.""

Daipm pada itu Cu-mu lagi memikir.

"B"arkan dia, ingin kulihat pihak mana yang akan dibantunya?"

Ternyata Yap Tiong-siau kelihaian bingung, tiba-tiba ia berseru.

"Toasuheng, wah celaka! Kim Sih-ih bersama orang-orang dari empat aliran terbesar sudah membikn geger Kim-eng-kiong. Suhu memberi perintah agar kau lekas kembali kesana!"

Kiranya Hwesio itu adalah muridnya Po-siang Hoatsu yang tertua.

Mengira apa yang dikatakan Yap Tiong-siau itu adalah benar, segerl tongkatnya mengemplang kearah Danu Cu-mu untuk kemudian lantas mengundurkan diri.

Tapi Cu-mu sengaja perlihatkan ilmu saktinya, mendadak ia menghantam kearah tongkat lawan.

"trang", tahu-tahu tongkat Hwesio itu melengkung, karena mati-matian Hwesio itu memegang kencang-kencang senjatanya hingga orangnya ikut berputar oleh tenaga pukulan Cu-mu itu. Lantaran puteran itu hingga kedua ujung tongkatnya kontan mengenai dua orang Bu-su yang berdiri disekitarnya dan roboh binasa. Hoan-ceng itu sendiri rrasih sempat menggunakan tenaga benturan itu untuk mengapung keatas. Ia jeri benar-benar terhadap kesaktian Danu Cu-mu itu, tanpa blcara lagi segera ia melayang lewat diatas kawanan Bu-su dan melarikan diri. Beberapa anak muridnya segerapun ikut kabur. Diam-Diam Cu-mu terkesiap juga oleh ketangkasan Hwesio itu. meski tergetar oleh tenaga pukulannya yang hebat itu toh masih dapat melarikan diri secepat terbang, maka dapat dibayangkan betapa lihaynya Po-siang Hoatsu, mungkin dirinya takdapat menandingi paderi itu. Dalam pada itu Tiong-siau telah berseru pula.

"Loh Yu, Loh Jik, Hongsiang memberi perintah agar kalian lekas kembali istana untuk melindungi beliau, mungkin ada kawanan perusuh yang akan menyelundup kesitu! Kedua bocah ini boleh kau serahkan padaku saja "

Loh Yu dan Lok Jik adalah kedua Bu-su yang bersenjatakan ruyung itu.

Mereka adalah komandan dan wakil komandan pasukan pengawal raja, adalah jago-jago terkemuka dinegeri Masar.

Temyata kedua orang itu agak ragu-ragu terhadap seruan Yap Tiong-siau, mereka tidak lantas mengundurkan diri.

Sebal"knya Loh Yu berkata.

"Atas perintah Hongsiang, aku diharuskan menangkap hidup-hidup penjahat yang mengacaukan penjara ini, masakah Hongsiang mendadak bisa mengubah keputusannya?"

"Kian-tian-he. lebih baik kau saja yang kembali kesana untuk melindungi Hongsiang,"

Kata Lok Jik.

Sembari bicara, ruyung kedua orang itupun terus berputar, mereka masih terus menyerang.

Mereka adalah saudara kembar, permainan ruyung mereka satu-sama-lain dapat bekerja sama dengan sangat rapat hingga dalam waktu singkat Danu Cu-mu juga takdapat mengalahkan mereka.

"Baiklah, jika begitu biar kubantu kalian bekuk dulu kedua bangsat cilik ini agar kalian bisa lekas-lekas pulang keistana,"

Kata Tiong-siau.

Habis itu, terus saja ia menyelinap maju.

Dalam ke-dudukannya sebagai "Kian-tian-he", sudah tentu kawanan Bu-su itu tiada satupun yang curiga.

Dlluar dugaan, ketika sampai disamping Lok Yu, sekonyongkonyong Tiong-siau rrelontarkan pukulan kepunggung Bu-su itu Tampak-nya pukulan Tiong-siau itu pelahan saja, tapi sebenarnya memakai tenaga Tay-seng-pan-yak-ciang Yang hebat.

Cuma sayang tenaganya belum pulih seluruhnya hingga tenaga pukulan yang digunakan itu baru setengahnya saja.

Keruan Loh Yu menggereng kesakitan oleh serangan mendadak itu.

Tapi kontan iapun balas menyikut kebelakang.

Sudah tentu Tiong-siau sudah siap sedia sebelumnya, dikala memukul tadi, berbareng tangannya yang lain telah sambar seorang Bu-su disamping nya untuk dipakai sebagai tameng.

Maka sikutan Loh Yu itu tepat mengenai dada Bu-su itu, sebaliknya Yap Tiong-siau sempat berkelit kesamping.

Ilmu silat Danu Cu-mu sebenarnya lebih tinggi daripada Loh Yu bersaudara, cuma ruyung mereka bisa bekerja sama dengan sangat rapat, maka seketika susah untuk mengalahkan mereka.

Tapi kini Loh Yu kena dihantam sekali oleh Yap Tiong-siau, betapapun juga Loh Yu sempoyongan.

Maka pecahlah permainan ruyung mereka, kesempatan itu segera digunakan oleh Cu-mu dengan baik, ketika ruyung mereka menyambar tiba lagi, sekonyong-konyong Cu-mu menyambar ujung ruyung mereka yang kacau itu, dan sekali ia betot dan ayun.

kontan tubuh kedua saudara she Loh itu kena dilemparkan keluar pagar tembok.

Hoan-ceng jubah merah tadi bersama kedua saudara Loh itu adalah tiga jago tertinggi ilmu silatnya didalam keraton, sesudah mereka dikalahkan, sudah tentu kawanan Bu-su yang lain tidak berani main gila lagi.

Sekali berteriak, beramai-ramai mereka lantas kabur semua.

Kok Tiong-lian menjadi heran melihat Yap Tiong-siau membantu pihaknya.

Tapi Cu-mu lantas berkata dengan tertawa.

"Dia sekarang bukan Kian-tian-he lagi, maka kitapun tidak perlu pikirkan permusuhan yang dulu-dulu."

Dengan kemalu-maluan Tiong-siau lantas mendekati Kok Tiong-lian dan menyatakan penyesalannya.

"Kau telah memalsukan kakakku hingga benar-benar memancing datang kakakku yang tulen, hal ini ada baiknya juga bagiku, maka akupun tidak marah padamu lagi,"

Kata Tiong-lian.

Dan bila teringat olehnya centa ibunya, tiba-tiba hati Tionglian tergerak.

Ia coba melirik sang ibu, ia lihat orang tua itu tampak bimbang, entah bergirang atau bersedih.

Kaanya sang ibu juga sedang memikir.

"Dia telah memalsukan Cu-mu, itu berarti adalah orang luar. Tapi siapakah gerangan yang menyuruh dia memalsukan Cu-mu?"

Karena tidak sempat menceritakan perubahan pendirian Yap Tiong-siau, maka lebih dulu Cu-mu lantas maju menemui ibunya.

Dengan singkat Tiong-lian hanya dapat menuturkan apa yang di-deagarnya dari cerita ibunya itu.

Tentang mereka masih ada seorang Toako yang tak diketahui nasibnya.

untuk sementara iapun tidak sempat bercerita.

"Mak, tadi aku sudah ketemukan Hong-ek-nio yang jahat itu, kiranya dia adalah permaisuri yang dulu membikin susah ibu itu,"

Kata Cu-mu kemudian.

"Pantas dia sangat benci kepada kita kakak beradik, asal bicara tentang kami, tentu dia mencaci maki. Tapi sekarang dia telah kena kututuk, sebentar ibu boleh bersama kami pergi melibatnya, cara bagaimana ibu akan membereskan dia, terserah kepada keputusanmu."

Air mata sang ibu bercucuran saking terharu dan girang, katanya.

"Kini aku sudah menemukan kembali dua anakku, sebaliknya perempuan keji itu tinggal sebatangkara, segala kemewahan dan ke-jayaannya akhrinya hampa belaka. Jika demikian, terang aku lebih beruntunglah dari dia. Sudahlah, biarkan dia hidup didunia ini untuk merasakan masa-masa yang sunyi. akupun tidak pikirkan membalas dendam lagi."

Melihat mereka ibu dan anak saling bertemu kembali, sebaliknya Yap Tiong-siau sendiri merasa sebatangkara, bahkan orang tua sejak lahir tak pernah dilihatnya, mau iakmau ia menjadi muram dan berduka.

"Yap-kongcu, coba silakan kemari,"

Tiba-tiba ibunya Cu-mu menegurnya.

Kiranya waktu Itu Cu-mu sedang menuturkan apa yang didengar-nya dari Hong-ek nio tentang penemuan Yap Tiongsiau dipadang rumput waktu kecilnya dahulu, maka ibunya menjadi sangsi, dan lantas minta Yap Tiong-siau mendekatinya untuk ditanya duduknya perkara.

Segera Tiong-siau melangkah maju dan memberi hormat.

Orang tua itu tampak memandangi Tiong-siau dengan sinar mata melekat, sikapnya tampak keheran-heranan.

Sejenak kemudian, tiba-tiba ia menanya.

"Kabarnya kau adalah putera pungut Kayun (nama pribadi raja) dan kedudukanmu dalam kerajaan adalah Kian-tian-he, betul demikian?"

"Ya, dahulu, tapi sekarang tidak lagi,"

Sahut Tiong-siau dengan malu-malu.

"Mengapa tidak lagi?"

Tanya orang tua itu dengan heran. Maka Cu-mu lantas mewakilkan Tiong-siau menjawab.

"Mak, dia hendak dibunuh oleh Hu-ong yang diakunya itu, dengan sendiri-nya ia tidak dapat menganggap ayah lagi kepada orang yang hendak membunuhnya".

"O, jadi sekarang Kayun hendak membunuhnya? Sebab apa?"

Tanya ibunya.

"Mungkin disebabkan Kayun menganggap dia tidak melaksanakan, kewajibannya untuk menangkap kami kakak beradik,"

Sahut Cu-mu.

"Sejak kecil Kajun menyuruh kau memalsukan puteraku, apakah kau tidak merasa heran akan urusan itu?"

Tanya pula ibunya kepada Tiong-siau.

"Ya, aku sendiri juga merasa bingung, aku tidak tahu mengapa dia tahu bahwa sesudah dewasa air mukaku akan mirip dengan Tian-he,"

Sahut Tiong-siau.

"Lalu, sebab apakah Hong-ek-nio juga hendak membunuh kau?"

Tanya lagi ibunya Cu-mu.

"Akupun tidak tahu, yang terang, sejak kecil aku sudah dibenci olehnya,"

Sahut Tiong-siau. Tiba-Tiba air mata orang tua itu bercucuran, ia pegang tangan Tiong-siau dan berseru.

"O, Cing Hong, bukankah dibawah telapak kakimu terdapat sebuah andeng-andeng merah?"

Pertanyaan ini bagaikan halilintar disiang hari bolong hingga Yap Tiong-siau tertegun, dengan mata terbelalak ia tanya.

"Darimana............ darimana kau tahu?"

Kiranya "Ciang Hong"

Itu memang nama kecilnya, nama kecil itu hanya diketahui oleh orang tua yang memiaranya diwaktu kecilnya itu.

Sesudah dia dibawa kedalam istana, nama kecil itu sudah tidak pernah digunakan lagi hingga tiada seorangpun dalam keraton yang kenal nama kecilnya itu.

Lebih-Lebih tentang andeng-andeng merah dibawah telapak kakinya, sudah tentu hal ini hanya dia sendiri yang tahu.

Begitulah segera ibunya Cu-mu memeluk Tiong-saiu eraterat dan berseru.

"O, Allah, jadi memang betul adalah kau!"

"Mak, siapakah dia?"

Tanya Cu-mu terkejut.

"Terima kasih kepada Thian yang maha murah!"

Kara ibunya.

"Lekas kalian menemuinya lagi, dia adalah Toako kalian!"

Hal ini memang sejak tadi sudah dalam bayangan Kok Tiong-lian, maka iapun tidak terlalu heran. Katanya.

"Koko, cerita tentang Toako ini kau belum tahu, nasibnya yang menyedihkan sesungguhnya tidak kalah daripada kita. Mak, silakan kau mengulangi cerita lagi."

Maka mulai ibunya menuturkan pula apa yang terjadi dahulu.

Saking terharunya demi mengetahui rahasia.

asal-usul sendiri, tak tertahan lagi air mata Yap Tiong-siau bercucuran.

Segera ia berlutut dan menyembah dalam pangkuan ibunda.

Kiranya dahulu sesudah permaisuri yang kejam itu merampas bayi yang baru dilahirkan itu, karena kuatir juga kalau diusut oleh raja.

maka ia tidak berani membunuh bayi itu, tapi ia serahkan kepada seorang kepercayaannya untuk memiarania diluar istana.

Sebaliknya baginda raja mengira puteranya itu telah dibunuh oleh permaisuri yang kejam, maka ia telah putuskan segala hubungan suami-isteri dengan permaisuri.

Tapi karena jeri kepada komplotan permaisuri yang berpengaruh, baginda raja tidak berani mengusut lebih jauh peristiwa itu.

Dan tidak lama kemudian lantas terjadi pemberontakan Kayun dan berhasil merebut tahtanya.

Setelah mengetahui rahasia keluarga raja lama.

Kayun sengaja menggunakan Yap Tiongsiau untuk memalsukan saudara kembar nya Kok Tiong-lian dengan tujuan dapat memancing datang keturunan raja lama untuk dibasminya.

Begitulah sesudah terang seluk-beluknya riwayat itu, dengan gegetun Tiong-lian berkata.

"Tipu muslihat Kan-ong itu benar-benar sangat keji. Jika kita terjebak oleh intriknya itu, maka itu berarti kita bersaudara akan saling gasak dan saling menghianat."

"Ya, tapi untuk mana kita harus berterima kasih juga kepada Kayun, kalau tiada usahanya itu, mungkin sampai harini kita tak dapat berkumpul seperti sekarang,"

Kata ibu mereka dengan tertawa. Tapi Tiong-siau masih penasaran, katanya dengan gemas.

"Selama ini aku telah ditipu habis-habisan oleh Kan-ong tu, sungguh aku merasa berdosa kepada ibu dan berdosa kepada adik-adikku sekalian."

"Ini bukan salahmu, anakku,"

Kata ibunya.

"Syukur harini kita telah bertemu kembali dengan baik, untuk segala kejadian yang lalu tak perlu lagi kita ungkat."

Sementara itu sudah dekat subuh, tiba-tiba Tiong-lian ingat sasuatu.

"He, aneh?"

Segera Cu-mu menyambung juga.

"Ya, aneh, mengapa Kang-suheng tidak nampak datang?"

Mereka bertiga telah berjanji saling memberi tanda dengan Coa-yam-cian jika terjadi apa-apa, kini Coa-yam-can itu sudah dilepaskan oleh Tiong-lian, sudah hampir setengah jam masih tidak kelihatan bayangan Kang Hay-thian, sudah tentu hal ini.

menimbulkan rasa kuatir.

"Jangan-Jangan disana juga terjadi apa-apa, maka dia tidak sempat melepaskan Coa-yam-cian""

Kata Tiong-lian.

"Kepandaian Kang-suheng sudah jarang ada tandingannya, andaikan terjadi apa-apa juga tidak perlu dikuatirkan,"

Udiar Cu-mu.

"Siapakah Kang-suheng kalian itu?"

Tanya ibunya.

"Dia adalah Suhengku dari seperguruan, adalah teman main Moay-moay sejak kecil,"

Tutur Cu-mu.

"Orangnya gagah dan kepandaiannya tinggi, bila ibu ketemu dia tentu akan menyukainya."

Mendengar itu, sebagai orang tua, dapatlah ibunya menaksir beberapa bagian duduknya perkara Katanya dengan tertawa.

"Asal orang yang disukai Lang-ma, tentu saja akupun akan suka". Keruan muka Tiong-lian menjadi merah Katanya kemudian.

"Mesti kepandaian Hay-ko sangat t.ngg!, namun kita juga mesti mencarinya hingga ketemu."

"Sudah tentu,"

Kata Cu-mu.

"Kini hari sudah hampir pagi, pertemuan di Kim-eng-kiong akan dibuka pada sianq nanti, jika Kang-suheng tidak ada, tentu akan kurang semarak."

Seperti diketahui, sebenamya mereka berjanji akan berkumpul dibukit buatan ditaman situ pada sebelum subuh tiba.

Maka segera Kok Tiong-lian menggendong sang ibu, Cumu dan Tiong-siau berdua mengawalnya dari muka dan belakang, rombongan mereka lantas menuju ketaman sana tanpa rintangan sedikitpun karena para Bu-su penjaga sudah lari ketakutan.

Adapun Kang Hay-thian yang ditinggalkan menunggu diatas bukit itu, karena bukit itu adalah tempat paling tinggi didalam bangu nan keraton, maka ia dapat memandang sekelilingnya dengan cu-kup jelas.

Waktu itu sudah lewat tengah malam, tapi keadaan masih sunyi senyap dan tiada kelihatan tanda Coa-yam-cian.

Sudah tentu Kang Hay-thian tidak tahu pengalaman Kok Tiong-lian berdua didalam istana.

Maka ia menjadi bimbang sesudah sekian lamanya tiada kelihatan sesuatu gerak-gerik kedua kawannya itu.

Kira-Kira pukul dua, tiba-tiba dilihatnya diujung timur sana ada suatu tempat terbakar.

Tapi bukan api Coa-yam-cian.

Ia tidak tahu bahwa saat itu Danu Cu-mu sedang bertempur dengan Thian-mo-kaucu dikamarnya Yap Tiong-siau dan rumah itu telah terbakar kena granat api yang dilepaskan Thian-mo-kaucu.

Tap; Cu-mu telah dapat menyelamatkan Yap Tiong-siau hingga dia tidak perlu melepaskan Coa-yam-cian untuk minta bantuan Kang Hay-thian.

Dan karena tiada melihat tanda-tanda minta bantuan, dengan sendirinya Kang Hay-thian tidak leluasa buat tinggal pergi, dengan sabar ia menunggu terus.

Tidak lama kemudian, tiba-tiba dilihatnya beberapa bayangan orang berlari kearahnya.

Dibawah sinar bulan, dan dari tempat tinggi memandang kebawah, dengan sendirinya Kang Hay-thian dapat melihat jelas keempat orang itu ternyata adalah Bun Ting-bik.

Thian-mo-kaucu, Auyang Tiong-ho dan Auyang Wan.

Melihat Auyang Wan juga berada diantara rombongan itu, hati Hay-thian lantas berdebar-debar.

Tentang pengorbanan Auyang Wan yang telah membelanya dengan mati-matian ketika dia hendak dibunuh Thian-mo-kaucu dalam keadaan takbisa berkutik lantaran minum Thran-sim-ciok tempo hari, semuanya itu pernah diderigar-nya dari Kok Tiong-lian, maka ia merasa utang budi, sekalipun itu tidak berarti ia mencintai Auyang Wan, tapi kebaikan itu sudah terukir selamanya dalam lubuk hatinya.

Rombongan Auyang Wan makin lama makin dekat dan hati.

Kang Hay-thian juga tambah berdebar.

Lambat-laun suara perca-kapan keempat orang itupun sayup-sayup terdengar, mereka seperti sedang ribut mulut.

Terdengar Bun Ting-bik lagi berkata.

"Auyang-cinkeh, hendaklah kau mengambil tindakan yang tegas. Nona Wan sudah dua kali membiluk keluar dan merusak urusan kita. Harini membela Yap Tiong-siau pula hingga lolos, coba katakan, tiara bagaimana nanti harus kita laporkan kepada Hongsiang?"

"Ya, budak ini masih terlalu muda dan tidak tahu urusan, sesudah pulang dirumah tentu akan kuberi hajaran pantas,"

Sahut Auyang Tiong-ho.

"Bun-cinkeh, silakan kau mengingat hubungan pamili kita sukalah menutupi kejadian tadi dihadapan Hongsiang, dan segala urusan tentu akan menjadi beres."

"Tapi besok dalam pertemuan Kim-eng-kiong kalau ada orang tanya padaku mengapa seorang bocah ingusan saja takbisa membekuknya, padahal orang luar menyohorkan Kim Si-ih juga bukan tandinganku, lantas kemana mukaku ini harus kutaruh?"

Sahut Bun Ting-bik.

"Auyang-siansing,"

Thian-mo-kaucu ikut bicara dengan nada dingin.

"jarum berbisa puterimu itu untung tidak sampai membikin jiwaku amblas, utang itu aku boleh tidak pikirkan lagi. Tapi tugas yang kuterima dari Hong-ek-nio telah digagalkan oleh puterimu malam ini, kukira urusan selanjutnya terpaksa harus tergantung kepada puterimu ini."

"Kentut!"

Damperat Auyang Wan mendadak.

"Kepandaian karian sendiri yang tidak becus hingga kakak Kok Tiong-lian sempat menolong pergi Yap Tiong-siau, apa sangkut-pautnya dengan aku?"

Kejut Auyang Tiong-ho tak terhingga, cepat ia membentak.

"Budak setan, kau berani mengoceh lagi, sekali hantam segera kumampuskan kau. Kaucu, Cinkeh. maafkan, jangan kalian pikirkan kelakuan anak kecil yang tidak tahu adat ini."

"Hm, puterimu bilang kepandaianku yang tak becus, ya, itu memang betul,"

Jengek Thian-mo-kaucu "Tapi, waktu itu bocah she Yap itu sudah hampir dibekuk oleh Bun-hukaucu dan bila puterimu yang manis itu tidak merintangi mendadak, tentu sejak tadi bocah she Yap itu sudah menjadi tawanan kita."

"Ya, sudah tentu dia bersalah, harap Kaucu diangan marah, ter-malah permintaan maafku ini,"

Sahut Auyang Tiong-ho. Tapi Thian-mo-kaucu telah mengelakkan d.ri, katanya dengan dingin.

"Ah, mana aku berani terima! Auyang-siansing, kau sendiri adalah seorang tokoh persilatan terkemuka, maka lebih baik kita bicara secara blak-blakan saja. Tidaklah susah kalau aku hendak membekuk sibocah Yap Tiong-siau itu, tapi untuk melawan Kok Tiong-lian kakak beradik memang kepandaianku masih kurang becus, apa yang dikatakan puterimu tadi memang benar. Sebab itulah, karena kepandaianku kurang becus, maka aku perlu minta pinjam tenaga puterimu."

Keruan Auyang Tiong-ho terkejut, katanya.

"Kaucu, maafkan aku tidak paham apakah maksud ucapanmu itu? Anak kecil seperti dia bisa berbuat apa, mengapa kau ingin pinjam tenaganya?"

"Habis, Yap Tiong-siau sekarang sudah termasuk begundalnya Kok Tiong-lian kakak beradik,"

Sahut Thian-mokaucu.

"puterima sendiri sudah ada budi kepada Yap Tiongsiau dan pernah membela Kang Hay-thian pula, tentu saja Kok Tiong-lian juga sangat berterima kasih padanya Makanya, hehe, aku ingin menahan puterimu d;sini, dengan demikian mereka tentu dapat dipancing datang lagi. Dan dengan para kawan yang tidak sedikit jumlahnya didalam istana !ni masakah kita takdapat membekuk mereka?"

Bun Ting-bik ternyata mempunyai maksud yang sama seperti Thian-mo-kaucu itu.

Dia menaksir kalau bergabung dengan kepandaian Thian-mo-kaucu, mungkin mereka masih dapat melawan Kok Tiong-lian kakak beradik, ditambah lagi Le Hok-sing, kedua saudara Loh dan lain-lain, andaikan Kang Hay-thian ikut datang juga tidak perlu kuatir lagi.

Maka segera iapun membuka suara.

"Benar, apa yang dimaksudkan Kaucu itu memang tepat. Nah, Auyang-cinkeh. silakan kau pulang saja dan mohon pinjam dulu puterimu ini."

Seketika air muka Auyang Tiong-ho berubah hebat, katanya.

"Bun-cinkeh, sebenarnya kalian apakan puteriku ini?"

"Tiada apa-apa,"

Sahut Ting-bik dengan dingin.

"Kami akan menyerahkan dia kepada baginda raja, ya, tentu juga tak terhindar dari sedikit penderitaan."

"Bun-cinkeh,"

Teriak Auyang Tiong-ho.

"sesudah budak besar tu meninggal, sekarang kau tidak pikir lagi hubungan besanan kita?"

"Auyang-siansing,"

Tiba-tiba Thian-mo-kaucu menyela.

"puterimu yang tertua itu justeru mati karena merindukan Yap Tiong-siau. kan?"

Saking gusar hingga mata Auyang Tiong-ho mendelik, teriaknya dengan terengah-engah.

"Kau......... kau terlalu menghina orang!"

"Tia. Cici meninggal gara-gara perbuatan orang she Bun, besanan ini perlu apa kita pertahankan lagi? Keluarga Auyang kita dari Cong-lam-san masa pernah jeri kepada orang?"

Kata Auyang Wan tiba-tiba.

"Tepat ucapanmu ini, nona Wan,"

Seru Bun Ting-bik dengan terbahak-bahak.

"Dan sekali hubungan besenan kita sudah putus, janganlah kau sesalkan lagi padaku."

Habis berkata, sekonyong-konyong ia terus mencengkeram kepunggung Auyang Wan.

Auyang Wan hanya kenal Pi-lik-ciang dan Lui-sin-cy ayahnya tiada tandingan didunia.

ini, sebaliknya tidak tahu betapa lihay-nya Bun Ting-bik, maka ia sengaja berusaha agar ayahnya bertengkar sendiri dengan Bun Ting-bik, dengan demikian akan gagallah segala usaha keji rombongan Thianmo-kaucu itu.

Tapi Auyang Tiong-ho sendiri cukup kenal kepandaian Bun Ting-bik, keruan ia mengeluh.

Namun betapapun juga Auyang Tiong-ho adalah suatu gembong iblis juga, meski tahu takbisa melawan, tapi juga tidak terima dihina mentah-mentah.

Segera ia memapak dengan sekali pukulan sambil membentak.

"Wan-ji, lekas lari kau!"

Selagi Auyang Wan hendak angkat kaki, tiba-tiba terasa serangkum kekuatan raksasa mencengkeram dari belakang hingga tanpa kuasa ia tertarik mundur lagi.

Jarak Bun Ting-bik dengan Auyang Wan ada dua-tiga meter jauhnya, tapi tenaga cengkeraman dari jauh itu benar-benar mana lihay hingga Auyang Wan takbisa berkutik.

Dan pada saat itulah lantas terdengar suara "blang"

Sekali, kedua tangan Bun Ting-bik dan Auyang Tiong-ho telah beradu.

Seketika darah didalam dada Tiong-ho bergolak, isi perutnya seakan-akan jungkir balik.

Selagi Tiong-ho hendak melontarkan Lui-siu-ci, sementara itu Bun Ting-bik sudah mendahului menutuk sambil tertawa daq mengejek.

"Maaf, Auyang-cinkeh!"

Dalam pada itu karena rintangan ayahnya hingga Auyang Wan terlepas dari cengkeraman Bun Ting-bik, segera gadis itu berlari lagi kedepan. Tapi Thian-mo-kaucu sudah mengincarnya.

"Nona Wan, marilah kubelajar kenal pula dengan jarummu itu!"

Dan dengan tertawa.

tahu-tahu ia sudah melayang sampai didepan Auyang Wan.

Sudah tentu semuanya itu disaksikan dengan jelas oleh Kang Hay-thian.

Semula ia masih ragu-ragu, tapi demi nampak Auyang Wan benar-benar dalam bahaya, ia takbisa tinggal diam lagi, sekonyong-konyong ia menggertak sekali sambil berjumpalitan dan meloncat kebawah.

Datangnya Kang Hay-thian itu benar-benar diluar dugaan, keruan Auang Wan kegirangan, segera ia berseru.

"Hay-ko!"

Tapi saat itu juga pergelangan tangannya sudah kena juga dipegang Thian-mo-kaucu, menyusul Thian-mo-kaucu terus mengangkatnya keatas untuk memapak serangan Kang Haythian dari udara itu.

Saat itu bagaikan elang raksasa Kang Hay-thian sedang menyambar kebawah sambil cengkeram keatas kepala Th"anmo-kaucu, tapi dasar lawan yang sangat licin.

Auyang Wan telah dipakai sebagai tameng, padahal daya turunnya Kang Hay-thian dari atas itu sangat cepat dan hebat sekali, jika cengkeramannya kena, tentu Auyang Wan akan binasa.

Pada saat berbahaya itu, syukur Kang Hay-thian sempat bertindak, mendadak kedua kakinya menendang kosong diudara, dengan tenaga pancaran itu tubuhnya mendadak mengapung kesamping hingga dua-tiga meter jauhnya.

lalu dengan enteng la turun ketanah.

Melihat ada kesempatan, Bun Ting-bik tidak tinggal diam, pada ketika Kang Hay-thian belum tancap kaki dengan betul, segera ia menghantamnya sekali.

Kontan Kang Hay-thian membalik tangannya memapak.

Ia merasa tenaga lawan seperti ada dan seperti tak ada, sebaliknya ia sendiri sampai tergelincir hingga dua tindak.

Tengah Kang Hay-than terkesiap, sekonyong-konyong Bun Ting-bik membentak lagi, kembali pukulannya dilontarkan pula.

Kiranya Bun Ting-bik memang licik dan lfcin, ia tahu tenaga dalam Kang Hay-thian pasti bertambah hebat sesudah makan Thian-sim-ciok, maka sengaja ia memakai akal, ia menggunakan gaya "mengelak", lebih dulu ia mengelakkan sebagian tenaga lawan yang hebat itu, habis itu ia lantas balas menyerang dengan cepat.

Dan memangnya ilmu silatnya sudah tergolong sempurna, ia dapat bertindak menurut keadaan, maka semula Kang Hay-thian kena diselomoti.

Tapi Lwekang Kang Hay-thian memang sudah kuat ditambah lagi makan tiga biji Thian-sim-ciok, dalam hal tenaga benar-benar jauh diluar perhitungan Bun Ting-bik.

Waktu mendadak Kang Hay-thian mengikuti akal licik lawan dan sekaligus melontarkan serangan balasan, sekonyong-konyong Bun Ting-bik merasa tenaga lawan bagaikan gugur gunung dahsyatnya terus menerjang kearahnya.

Bahkan susul menyusul tenaga lain ikut membanjir tiada habis-habis dan susah dielakkan lagi.

Keruan Bun Ting-bik sangat tcrkejut, lekas-lekas ia tarik kembali tangannya dan melompat kebelakang, namun pandangannya menja di gelap, darah segar terus menyembur keluar dari mulutnya.

Dalam keadaan begitu kalau Kang Hay-thian hendak menghabiskan nyawa Bun Ting-bik sebenarnya sangat gampang.

tapi saat itu ia buru-buru ingin menolong Auyang Wan hingga tidak sempat mengurusi Bun Ting-bik lebih jauh.

Waktu itu dengan menggunakan Auyang Wan sebagai tameng.

Thian-mo-kaucu sudah sempat melarikan diri hingga puluhan meter jauhnya.

Auyang Tiong-ho tampak mengejarnya dari belakang, tapi selalu ketinggalan.

Cepat Hay-thian berteriak.

"Kaucu, mengingat kebaikanmu dahulu aku takkan bikin susah padamu, maka harap kau lepaskan nona Auyang, kalau tidak, jangan kau salahkan aku tidak kenal kau lagi!"

"Hay-thian, sesudah memiliki Kok Tiong-lian, buat apa kau menguber nona Wan lagi?"

Sahut Thian-mo-kaucu dengan tertawa. Hay-thian menjadi gusar, sekali meloncat, secepat anak panah terlepas dari busurnya ia terus melayang kedepan.

"Auyang-cinkeh, hendaklah kau ambil keputusan yang tegas jika kau masih pikirkan keselamatanmu!"

Tiba-tiba Bun Tingbik berseru.

Saat tu Kang Hay-thian sedang mengejar kesuatu arah yang sama dengan Auyang Tiong-he, yaitu menguber Thianmo-kaucu.

Hay-thian mengejar belakangan, tapi dapat mendahului, ketika itu ia baru saja melampaui didepan Auyang Tiong-ho, jaraknya dengan Thian-ino-kaucu hanya t.nggal beberapa meter saja Tak terduga sama sekali Auyang Tiongho tidak bersuara, tapi jarl nya terus menutuk sekeraskerasnya dan kena "Ciang-bun-hiat"

Dipunggung Kang Haythian.

Kiranya setelah mengadu pukulan dan tutukan jari dengan Bun Ting-bik tadi, Auyang Tiony-ho telah kena tertutuk Hiat-to halus nya, luka ini tidak kelihatan dan tidak lantas bekerja, tapi lambat-laun akan membahayakan jiwanya.

Sedangkan ilmu tutukan itu adalah cara tunggal Bun Ting-bik sendiri selain dia.

orang luar susah menolongnya.

Sebagai seorang ahli.

dengan sendirinya Auyang Tiong-ho kenal lihaynya lawan, ia pikir demi jiwanya sendiri, terpaksa mesti korbankan puteri kesayangannya itu.

Apalagi Bun Ting-bik sudah mengeluarkan ancaman pula, dalam keadaan kepepet terus saja ia membokong Kang Hay-thian.

Sudah tentu serangan itu sama sekali diluar dugaan Kang Hay-thian, ia sangka Auyang Tiong-ho tadi sudah bergebrak dengan Bun Ting-bik, tentu kini sudah berdiri dipihaknya.

Sungguh tak terduga bahwa mendadak Auyang Tiong-ho bisa membokongnya malah, dari itu sedikitpun ia tidak siap sedia.

Meski dia memiliki ilmu sakti pelindung badan, tapi Ciang-bunhiat itu adalah Hiat-to mematikan, tidak urung ia merasa sakit tidak kepalang hingga banyak pengaruhi tenaga murninya Masih untung dia habis minum Thian-sim-ciok, kalau tidak, andaikan tidak mati juga pasti terluka parah.

Dan dalam kaget dan gusaroya, kontan ia lantas balas menghantam kebelakang.

Auyang Tiong-ho sendiri juga sama sekali tidak menduga bahwa setelah tertutuk Ciang-bun-hiatnya, mendadak Kang Hay-thian mampu balas menyerang juga Keruan ia kaget dan tidak sempat menghindar.

seketika ia terancam dibawah pukulan Kang Hay-thian itu.

Untung sekilas Hay-thian menoleh dan dapat melihat air muka Auyang Tiong-ho yang kaget dan cemas itu.

ia menjadi tidak tega, jelek-jelek toh orang adalah ayahnya Auyang Wan yang lagi hendak ditolong olehnya.

Maka dalam saat yang menentukan mati hidupnya Auyang Tiong-ho itu, sekonyong-konyong ia sempat menarik kembali pukulannya hingga jiwa Auyang Tiong-ho tidak jadi melayang.

Tapi sebab itu juga jaraknya dengan Thian-mo-kaucu menjadi ketinggalan agak jauh.

Terpaksa ia menguber lagi sekuat-nya.

Setelah mengitari bukit, baru saja Kang Hay-thian hampir menyusul, tiba-tiba terdengar suara gerangan keras yang menusuk telinga, dua ekor binatang aneh berbulu emas tahutahu menubruk tiba.

Itulah kedua ekor Kim mo-soan Menyusul dibelakang kedua ekor binatang itu adalah seorang pemuda berambut panjang.

Kang Hay-thian kenal pemuda itu dalah Le Hok-sing yang juga menjabat sebagai Hukaucu dari Thian-mokau.

Hay-thian kenal asal-usul kedua ekor Kim-mo-soan itu adalah sobat baik gurunya, maka ia tidak ingin mencelakai mereka.

Ketika salah seekor binatang itu menubruk tiba terus hendak menggigit, terpaksa ia berkelit kesamping dengan Thian-lo-poh-hoat.

Tapi gerak-gerik kedua ekor Kim-mo-saon itu gesit luar biasa, hampir saja Hay-thian kena dicengkeram mereka.

Dalam pada itu.

dengan cepat sekali Le Hok-sing juga sudah memburu tiba dengan memutar senjata Giok-jio.

Haythian mengkerut kening.

sekonyong-konyong ia berjumpalitan sekali ketika kedua ekor Kim-mo-soan itu menubruk maju pula, mendadak Hay-thian membentak dengan keras, berbareng ia menghantam kearah gunung-gunungan disampingnya hingga pecahan batu bertebaran, walaupun batu kerikil itu tidak sampai melukai Kim-mo-soan, tapi mereka-pun bercuit kesakitan terciprat batu-batu kerikil itu.

terpaksa mereka barus melompat menyingkir.

Disana Le Hok sing segera mengayun serijatanya pula, dikala Kang Hay-thian belum sempat menegak kembali, cepat Giok-jin lantas menutuk Tapi sekali Hay-thian menyelentik.

"cring". Giok-jio Le Hok-sing itu terjentik kesamping. sebaliknya Kang Hay-th.an juga merasa tangannya panas pedas. Ia terkesiap.

"Aku sudah mengeluarkan ilmu jari sakti, tapi takdapat menjatuhkan Giok-jio yang dipegangnya, masakah kepandaiannya lebih tinggi darpada Bun Ting-bik?" , Padahal kepandaiaa Le Hok-sing sebenarnya setingkat dengan Bun Ting-bik, masing-masing mempunyai, keunggulannya sendiri-sendiri, tapi kalau bicara tentang Lwekang, betapapun Bun Ting-bik ada lebih kuat sedikit. Namun waktu itu Bun Ting-bik sudah payah karena muntah darah kena getaran pukulan Kang Hay-thian tadi. sebaliknya Le Hok-sing dapat melawan dengan cekatan, hal ini disebabkan Kang Hay-thian sendiri juga baru kena dibokong oleh Auyang Tiong-ho, pula Le Hok-sing bersenjatakan Giokjio yang merupakan salah sebuah pusaka tinggalan Kau Pakbeng, benda itu keras lagi antap. maka tenaga jentikan Kang Hay-thian tadi sebagian besar telah kena ditahan oleh Giok-jio yang hebat itu. Pernah Kang Hay-thian mendengar cer"ta dari paman angkat-nya, yaitu Ki Hiau-hong, bahwa Le Hok-sing ini besar kemungkinan adalah sanak keluarganya Le Seng-lam. Sedangkan Le Seng-lam adalah isterinya Kim Si-ih, mengingat gurunya, dengan sendiri nya Hay-thian segan mencelakai lawannya itu. Maka ketika ia menyelentik pula, ia hanya tambahi tenaganya hingga mau-tak-mau Le Hok-sing merasa lengannya pegal linu. Le Hok-sing sangat setia kepada Thian-mo-kaucu, biarpun insaf bukan tandingan Kang Hay-thian, tapi ia masih bertahan te-i rus takmau lari. Segera ia bersuit menyuruh kedua ekor Kim-mo-soan mengeroyok maju Karena itu, akhirnya Kang Hay-thian menjadi kewalahan. Untung Bun Ting-bik terluka dan dalam waktu singkat belum bisa pulih tenaganya, maka ia tidak berani maju membantu. Kalau tidak, tentu celakalah Kang Hay-thian. Dan sesudah Hay-thian melawan belasan, jurus lagi dengan sekuat tenaga, dalam pada itu Thian-mo-kaucu sudah lari semakin jauh hingga hampir lenyap dari pandangan. Keruan Kang Hay-thian sangat gelisah, pada saat itu juga kedua ekor Kim-mo-soan sedang menubruk maju pula. Sekonyong-konyong Hay-thian sedikit berjongkok kebawah, dan dengan gesit sekali, cakar kedua ekor Kim-mo-soan itu telah kena cengkeram dipundak Hay-thian. Le Hok-sing sangat girang dengan. Giok-jionya segera ia bermaksud menutuk Hiat-to lawan Tak terduga mendadak terdengar Kang Hay-thian menggertak sekali. tahu-tahu orangnya meloncat naik keatas. bukannya Kim-mo-soan berhasil mencengkeramnya, sebaliknya sebelah tangan Kang Hay-thian masing-masing telah kena cengkeram seekor Kimmo-soan terus diangkat keatas diputarnya sekali secepat angin, lalu kedua Kim-mo-soan dilemparkannya ke-udara. Kiranya Kang Hay-thian benar-benar dalam keadaan serba susah, ia tidak ingin mencelakai nyawa kedua ekor Kim-mosoan, tapi harus pula berusaha menghindarkan keroyokan mereka. Maka terpaksa ia mengambil risiko dicengkeram kedua ekor Kim-mo-soan, ia sudah perhitungkan tempat yang akan dikorbankan itu, ia kerahkan ilmu pelindung badannya, maka cakar Kim-mo-soan yang tajam itu paling-paling cuma melukai sedikit kulitnya saja. Sebaliknya pada saat lain Kang Hay-thian lantas menggunakan Kim-cia-jiu-hoat, secepat kilat ia pegang tengkuk kedua Kim-mo-som itu, dan sekali dia angkat keatas, binatang-binatang itupun tak berdaya lagi. Sesudah makan Thian-sim-ciok, tenaga Kang Hay-thian sudah luar biasa, maka bobot kedua ekor Kim-mo-son yang mendekati 300 kati itu baginya mirip kucing saja entengnya dan terus dilemparkan keudara, begitu keras lemparan itu hingga kedua ekor Kim-mo-soan Itu jatuh keatas bukit. , Tentu saja Le Hok-sing terperanjat, dalam pada itu dengan cepat luar biasa, tahu-tahu Kang Hay-thian sudah menubruk maju ke arahnya, dengan tipu "Ji-liong-jio-cu"

Atau dua ekor naga berebut mutiara, dua jarinya terus mencolok kedua matanya. Dalam keadaan gugup, dengan sendirinya Le Hok-sing angkat Giok-jio buat menangkis. Maka terdengarlah Hay-thian membentak.

"Kena"

Berbareng kedua jarinya itu memutar untuk menahan Giok-jio orang, sedangkan tangan lain lantas menepuk sekali dipundak lawan.

Kontan saja Le Hok-sing lemas pegal dan takbisa berkutik lagi.

Kiranya gerakan Kang Hay-thian hendak mencolok mata lawan itu hanya tipu pancingan belaka, serangan yang benarbenar adalah tepukannya itu.

Kalau Le Hok-sing tidak gugup mungkin takkan begitu gampang dirobohkan.

Tapi kini Kohcing-hiat dipundaknya telah kena ditepuk, untuk bisa bergerak lagi paling sedikit harus satu jam kemudian.

Beruntun-runtun Kang Hay-thian bertempur tiga babak, pertama kali melukai Bun Ting-bik, kemudian mengalahkan Auyang Tiong-ho-dan akhirnya melemparkan kedua ekor Kimmo-soan dan meroboh kan Le Hok-sing.

Kini ia tiada rintangan lpgi, namun Thian-mo-kaucu waktu itu sudah menghilang entah kemana.

"Nona Auyang, dimanakah kau?"

Teriak Hay-thian.

Dari jauh ia dengar suara jeritan tajam Auyang Wan sekali, rupanya leher nona itu lantas dicekik orang hingga suaranya berhenti mendadak.

Mungkin sudah lantas ditutuk oleh Thianmo-kaucu.

Namun dengan sedikit suara itu sudah dapat diketahui arahnya oleh Kang Hay-thian.

Segera ia menggunakan Ginkang yang tinggi untuk menguber kejurusan datangnya suara itu.

Sambil menggondol Auyang Wan, dengan sendirinya Thainmo-kaucu takbisa lari cepat dan akhirnya dapat disusul Kang Hay-thinn, jarak mereka makin lama makin dekat.

Pikir Haythian;

"Untung dia tidak menyembunyikan diri, asal dia sembarangan sembunyi disekitar taman ini, tentu aku takkan dapat menemukan dia.""

Ia tidak tahu bahwa Thian-mo-kaucu yang licin itu justeru sengaja hendak memancingnya.

Didepan sana banyak terdapat pepohonan dan tanaman bunga yang aneka macam.

Tapi Kang Hay-thian tidak perhatikan semua itu, tujuannya ialah menolong orang.

"Hay-thian, aku nasihatkan kau, lebih baik jangan mengejar terus,"

Tiba-tiba Thian-mo-kaucu menoleh dan berseru dengan tertawa.

"Kau lepaskan nona Auyang dan aku takkan membikin susah padamu,"

Sahut Hay-thian.

"Baiklah, ini, ambil dia!"

Kata Thian-mo-kaucu.

Dan tiba-tiba ia ayun tangannya, serangkum asap berbisa terus menghambur.

Namun Hay-thian sudah siap siaga, segera ia menahan napas terus menghantam dari jauh hingga asap berbisa itu tersapu bersih oleh tenaga pukulannya.

"Hm, jangan kau kira dapat memusnakan asap berbisa, lalu bisa menangkan aku,"

Kata Thian-mo-kaucu.

"Kau tentu tahu bahwa aku masih banyak mempunyai alat-alat sakti lain, maka ingin ku-nasihatkan kau lagi, lebih baik jangan mengejar lebih jauh!"

"Kau mempunyai kepandaian apa, boleh keluarkan semuanya!"

Seru Hay-thian dengan gusar.

"Ya, jika kau tidak jeri, boleh coba kau mengejar kemari kata Thian-m-kaucu dengan tartawa. Dan tahu-tahu ia menyusup kedalam semak-semak pohon sana sambil menggondol Auyang Wan. Kepandaian Kang Hay-thian tinggi nyayinya pun besar, ia masih terus mengudak dengan kencang. Tiba-Tiba angin mendesir pelahan dengan membawa bau amis busuk yang menusuk hidung. Seutas benda warna-warni mirip ular telah menyambar tiba. Kontan Hay-thian menyengkeramnya, tapi ternyata bukan ular tulen, melainkan seutas selendang sutera yang berwarnawarni mirip ular. Ketika Hay-thian membetot sekuatnya, maka terdengarlah suara gedebuk sekali, dari atas pohon terjatuh seorang wanita. Waktu Hay-thian mengamat-amati, lapatlapat ia seperti kenal wanita ini adalah "Mo-hujin"

Yang pernah mengaku sebagai ibunya Kok Tiong-lian di Bin-san dahulu.

Selendang berwarna itu sebenamya berbisa jahat.

untung Hay-thian sudah berjaga-jaga sebelumnya, ia himpun hawa murni ditela-pak tangannya hingga segala racun takdapat meresap kedalam kulitnya.

Setelah dia buang selendang berbisa itu, lalu ia mengejek.

"Hayolah, kau menyembunyikan berapa orang disini, boleh suruh mereka keluar semua!"

"Baiklah. kalian boleh turun semua!"

Seru Thian-mo-kaucu.

"Biarpun kau menyembunyikan suatu pasukan bala bantuan juga akan kubekuk kau sebelum kau melepaskan nona Auyang."

Jengek Hay-thian sembari menubruk maju terus mencengkeram pula.

Anehnya sehabis seruan Thian-mo-kaucu tadi, didalam semak-semak pohon itu keadaan sunyi senyap saja hingga Hay-thian lebih-lebih mengira orang hanya main gertak saja.

Dan tampaknya cengkeramannya itu sudah hampir mengenai sasarannya, sekonyong-konyong Thian-mo-kaucu berseru pula.

"Awas kau. Kang Hay-thian!"

Berbareng ia terus meloncat kesamping sambil lengan bajunya mengebas keraskeras.

Maka bertebaranlah seketika daun bunga rontok disertai sari bunga yang berhamburan mengenai badan Kang Haythian Yang pertama-tama dilindungi Kang Hay-thian adalah kedua mata agar tidak kelilipan bubuk sari bunga, tiba-tiba ia merasa kaki-tangan, kepala, leher, semuanya terasa gatal pegal sekali, berbareng itu hidungnya terendus pula bau yang sangat wangi.

---ooo0dw0ooo---

Jilid 13 Kiranya tumbuh-tumbuhan disekitar Kang Hay-thian itu adalah aneka macam bunga berbisa yang ditanam Thian-mokaucu, bukan saja bau harum bunga itu dapat membuat orang hilang ingatan, bahkan bila kulit orang terkena bubuk sari bunga itu.

seketika kulit daging bisa membusuk.

Meski Kang-Hay-thian memiliki ilmu pelindung badan, tapi betapapun hawa murninya tidak sempat disalurkan kcantero tubuhnya secara merata hingga dimana tenaga sakti pelindung badan itu agak lemah, disitu lantas terserang hawa berbisa itu.

Untung Kang Hay-thian sekarang bukan lagi Kang Hay-thian yang dulu, meski terkena sedikit racun juga tidak sampai roboh pingsan.

Dengan menahan napas segera Hay-than menubruk maju lagi.

Tapi karena terhalang oleh serangan racun bunga itu, jaraknya dengan Thian-mo-kaucu telah bertambah jauh hingga cengkeramannya ini luput.

Dan ketika kakinya menyentuh tanah, segera ia bermaksud meloncat kedepan untuk menyerang pula.

Tapi mendadak tanah dimana ia berpijak itu tahu-tahu melekah menjadi sebuah lubang.

Dengan tenaga sentuhan tadi Hay-thian sempat mengenjot kakinya hingga tubuhnya mengapung keatas.

Tapi Thian-mo-kaucu telah mengebas lengan bajunya menyampuk sambil membentak.

"Turunlah kesitu!"

Sekali jambret dapat Hay-thian pegang lengan baju lawan, waktu Thian-mo-kaucu menarik sekuatnya, maka terdengarlah suara "breet"

Yang panjang, lengan baju itu robek sepotong, dan karena kehilangan pegangan, kembali tubuh Kang Haythian merosot kebawah lagi.

Tenaga kebawah Thian-mo-kaucu ditambah tenaga tarikan Kang Hay-thian sendiri itu sangat keras hingga daya menurunnya menjadi lebih cepat.

Ditanah tadi sudah melekah suatu lubang besar, sekali Kang Hay-thian terperosot kedalam lubang itu, susahlah baginya untuk mengapung keatas pula.

Lekas-Lekas ia menyedot napas dalam-dalam, lalu berjumpalitan sekali untuk menahan daya merosotnya yang sangat hebat itu, dengan demikian dapatlah ia tancap kakinya kebawah dengan selamat.

Saat lain, tiba-tiba terdengar pula suara gedebuk yang keras tidak jauh disampingnya, terang ada orang lain ikut jatuh juga kedalam lubang besar itu, bahkan jatuhnya kedengaran lebih keras dari dia.

Segera Hay-thian mencengkeram ketempat suara itu, tapi kena mencengkeram secomot jarum tajam hingga jarinya terluka dan berdarah.

Selagi Kang Hay-thian hendak mengamat-amati apakah yang terjadi sebenarnya, tiba-tiba orang itu sudah lari dalam kegelapan.

Didalam lubang itu gelap gulita hingga tidak dapat melihat sesuatu.

Tapi dari suara pernapasan tadi dapat diketahui oleh Hay-thian bahwa yang menyusul jatuh kedalam lubang itu ada dua orang.

Dengan sendirinya mereka itu adalah Thian-mokaucu dan Auyang Wan.

Kiranya tenaga betotan Kang Hay-thian tadi telah menggunakan daya lekat yang keras, meski lengan baju Thian-mo-kaucu robek sebagian, tapi tenaga lekat itu toh tetap menariknya ke-depan hingga ikut terperosot kedalam lubang itu bersama Auyang Wan.

Sesudah sejenak Hay-thian mengumpulkan semangat dan curahkan pandangannya yang tajam, lambat-laun dalam kegelapan itu dapat dilihatnya suatu bayangan orang yang samar-samar.

Dengan merayap-rayap Hay-thian berjalan kedepan dan bayangan orang itu pun sedang bergerak.

"Dimana nona Auyang?"

Tiba-tiba Hay-thian bertanya.

"Ia tidak mati, jangan kuatir,"

Kata bayangan itu dengan tertawa.

"Tapi mungkin terlalu susah jika kau hendak ketemukan dia lagi. Nah, sekarang kau sudah kenal kelihayanku atau tidak?"

Habis mengucapkan kata-kata itu, lalu bayangan itu menghilang. Dari suara Thian-mo-kaucu itu Kang Hay-thian mengetahui lawan itu sudah terluka, ia menjadi kuatir.

"Jika Thian-mokaucu terluka, mungkin nona Auyang terlebih parah pula lukanya?"

Ia menaksir didalam lubang batu itu pasti ada alat-alat rahasia dan Thian-mo-kaucu dan Auyang Wan entah bersembunyi di ruang mana. Segera Hay-thian berkata pula.

"Asal kau melepaskan nona Auyang, aku bersedia memberikan Siau-hoan-tan untuk menyembuhkan lukamu."

"Terima kasih, lebih baik Siau-hoan-tan kau gunakan untuk dirimu sendiri saja,"

Sahut Thian-mo-kaucu.

"Kau terjatuh dengan keras, racun yang meresap di badanmu juga tidak enteng, mungkin Siau-hoan-tan itu tidak dapat menyelamatkan kau. Bukankah tadi aku sudah menasihatkan kau jangan mengejar, tapi kau tidak mau menurut, sekarang jangan kau salahkan aku!"

Suaranya kedengaran tidak jauh, tapi toh tidak kelihatan bayangannya.

Sementara itu Hay-thian merasa jari tangannya serasa kaku dan susah bergerak, rasa gatal anggota badan lain juga makin hebat.

Baru sekarang ia percaya gertakan Thian-mo-kaucu tadi memang bukan omong kosong.

Terpaksa ia duduk bersila disitu untuk mengerahkan hawa murni yang sakti guna menghilangkan racun............

Dalam pada itu Kok Tiong-lian yang menggendong ibundanya, bersama kedua saudaranya sudah kembali sampai dibukit tempat berkumpul mereka, saat itu Kang Hay-thian sudah kejeblos kedalam perangkap musuh, Bun Ting-bik, Auyang Tiong-ho dan lain-lain juga sudah bersembunyi.

Dengan sendirinya Kok Tiong-lian dan Danu Cu-mu tidak dapat menemukan bayangan Kang Hay-thian Dengan kuatir Tiong-lian lantas berteriak.

"Hay-thian! Hay-thian! Kau berada dimana?"

Ia habis makan Thian-sim-ciok, Lwekangnya telah tambah hebat, maka suaranya sangat keras. Tapi toh tiada terdengar suara sahutan Kang Hay-thian. Maka Cu-mu telah berkata dengan tertawa.

"Kau berteriakteriak, apakah ingin memancing musuh kesini?"

"Takut apa?"

Jawa"b Tiong-lian.

"Hay-th.an tak kita temukan, boleh juga kita lantas terjang pula kedalam keraton."

"Dengan kepandaian Kang-suheng yang tinggi itu, bilamana dia berada didalam keraton tentu dia sudah memberi suara jawaban,"

Ujar Cu-mu.

"Jadi kau maksudkan dia sudah pergi dari sini? Tapi kita sudah berjanji untuk berkumpul disini,"

Kata Tiong-lian.

"Boleh jadi karena sesuatu hal yang mendadak hingga dia mesti meninggalkan tempat ini,"

Ujar Cu-mu "Dia sudah bertekad akan membantu kita, masakah ada urusan lain yang lebih penting daripada ini?"

Kata Tiong-lian.

"Kukuatir telah terjadi apa-apa atas dirnya. Koko. apakah kita tidak perlu mencarinya dulu?"

Sementara itu fajar sudah menyingsing, sang surya sudah mengintip diufuk timur.

Dipandang dari atas bukit, tertampak kompleks keraton itu gilang-gemilang dengan genting kacanya yang mengkilat.

Dari sana sini tertampak juga menongol beberapa orang Bu-su yang mungkin terkejut oleh suara gemboran Kok Tiong-lian tadi.

Tapi mereka rupanya sudah kapok hingga tidak berani sembarangan keluar lagi.

Maka terdengar Cu-mu berkata.

"Untuk mencari Kangsuheng hingga menjelajah keraton seluas itu mungkin memakan waktu sangat lama, apalagi dia belum tentu berada didalam sana. Pula ilmu silat Kang-suheng lebih hebat dari kita, rasanya tidak nanti dia mengalami sesuatu yang membahayakan."

"Habis, apa kita mesti tinggal diam saja?"

Ujar Tiong-lian.

"Aku tidak mengatakan demikian, tapi kukira bukan jalan yang baik kalau sekarang kita menerjang lagi kesana, sedangkan kita mesti melindungi ibu,"

Kata Cu-mu. Dan baru sekarang Tiong-lian merasa dirinya telah terlalu memikirkan Kang Hay-thian hingga melupakan !bu yang berada di-gendongannya itu. Syukurlah Tiong-siau lantas berkata.

"Apa yang dikatakan Jite memang beralasan, jika kita tidak menemukan kembali Kang-siauhiap, tentu pertemuan di Kim-eng-kiong juga akan terlambat untuk menghadirinya. Lebih baik kalian tinggalkan dulu tempat ini, aturlah suatu tempat yang baik bagi ibu. Aku sendiri akan tinggal sementara lagi disini untuk mencari kabarnya Kang-siau-hiap. Ilmu silatku sekarang sudah pulih kembali, apalagi tentang maksud Kan-ong hendak membunuh aku juga tidak banyak diketahui orang-orang didalam keraton, maka aku tidak perlu kuatir."

"Apaboleh buat, tiada jalan lain, terpaksa mesti begitu, harap Toako berlaku hati-hati sedikit,"

Demikian kata Tionglian, untuk pertama-kalinya ini ia memanggil "Toako"

Kepada Yap Tiong-siau. Alangkah terharunya Tiong-siau, dengan mengembeng air mata ia berkata.

"Ya, kalian juga mesti hati-hati menyelamatkan Ibu!"

Dan kuatir kalau air matanya yang tak tertahankan lagi itu akan dilihat oleh saudara-saudaranya, maka tanpa menoleh lagi, segera ia tinggal pergi............

Kembali bercerita tentang Kang Hay-thian.

Sesudah agak lama ia mengerahkan tenaga murninya ditempat gelap itu.

akhirnya rasa gatalnya mulai berkurang, tangan dan kaknya sudah kuat kembali dan pulih daya perasanya.

Dalam pada itu Thian-mo-kaucu dan Auyang Wan rupanya belum pergi, dalam suasana yang sunyi itu sayup-sayup Haythian dapat mendengar suara pernapasan mereka.

Dari suara napas mereka yang berat dan memburu itu, agaknya luka merekapun tidak enteng.

Diam-Diam Hay-thian memikir.

"Asal ilmu silatku bisa pulih kembali lebih dulu dar pada Thian-imokautiu, maka dengan tidak susah-susah aku akan dapat menolong nona Auynng. Sebaliknya kalau Thian-mo-kaucu dapat pulih lebih dulu. maka celakalah aku."

Pada saat itulah tiba-tiba didengarnya suara Kok Tiong-l!an yang sedang berteriak tadi.

"Hay-thian! Hay-thian! Kau berada dimana!"

Dengan girang Hay-tban lantas menjawab.

"Aku berada disini, lekas kau kemari!"

Tapi dia menjadi terkejut, sebab suaranya sendiri itu seperti rintihan orang sakit parah, lemas lagi serak, sedikitpun tidak bertenaga, hampir-hampir ia tidak percaya kalau itu adalah suaranya sendiri.

Rupanya dia telah mengerahkan tenaga murni untuk menolak keluar hawa berbisa dari mulutnya hingga tenggorokannya ikut terganggu oleh jahatnya racun itu.

Dan dengan sendirinya ia tidak mampu mengeluarkan kepandaiannya dalam hal "mengirimkan gelombang suara".

Selagi Hay-thian merasa terkejut dan kuatir, tiba-tiba didengarnya ada suara bentakan-bentakan orang dibarengi suara tindakan orang banyak.

Kiranya tempat dimana dia berada itu adalah sebuah jalanan rahasia, jalan rahasia itu tembus keluar keraton dan ditempat keluar itu dijaga empat orang Bu-su.

Meski suara Kang Hay-thian itu lemah dan serak, tapi telah didengar juga dan mengejutkan keempat Bu-su itu.

Maka selang sejenak, keempat orang Bu-su itu telah memburu datang sambil membawa obor, mereka sudah menemukan tempat sembunyi Kang Hay-thian itu.

Keruan para Bu-su itu terkejut dan tidak berani sembarangan mendekat.

Segera seorang diantaranya menegur.

"Hei, siapa kau? Darimana kau dapat masuk kesini?"

"Melihat dandanan bocah ini terang bukan orang didalam keraton,"

Ujar kawannya. Sebaliknya Kang Hay-thian tinggal diam saja tak menggubris, bahkan membuka matapun tidak.

"Hai, apakah kau tuli atau bisu?"

Segera Bu-su yang pertama tadi membentak.

"Bocah ini pura-pura dungu, tentu adalah penjahat,"

Ujar ka-wannya lagi.

"Peduli dia orang baik atnu jahat, pendek kata dia berani sembarangan masuk ketempat terlarang ini, maka kita harus me-nangkapnya,"

Kata Bu-su yang lain lagi.

Karena melihat Kang Hay-thian tidak bergerak, keempat Busu itu menjadi tabah, segera yang menjadi kepala mereka itu memberi tanda, serentak mereka menerjang maju.

Hay-thian masih tetap duduk bersila tanpa mendongak atau menoleh, mendadak sebelah tangannya mencengkeram hingga pergelangan tangan salah seorang Bu-su itu terpegang, sekali ia tarik terus disengkelit, tanpa ampun lagi Bu-su itu mencelat.

"bluk", Bu-su itu menumbuk seorang kawannya hingga kedua orang sama-sama sempoyongan mundur. Diam-Diam Hay-thian terkejut, masakah dua orang Bu-su keroco saja tak mampu membanting roboh mereka, nyata tenaga murni-nya masih belum pulih. Kalam pada itu kedua Bu-su yang lain tidak berani lagi menubruk maju, mereka terus melolos senjata, yang seorang memakai "Liu-sing-tui" (bandul berantai) dan yang lain sebatang golok. Berbareng mereka terus menimpuk dan membacok. Terpaksa Kang Hay-thian mengerahkan setitik tenaganya yang ada keujung jari. sekali ia menjentik diatas bandulan musuh hingga menceng kesampmg.

"trang". tepat bandul itu menyampuk diatas golok kawannya sendiri hingga terpental dari cekalan. Segera Kang Hay-thian melompat bangun, selagi ia bermaksud menangkap salah seorang Bu-su diantaranya, sekonyong-konyong kedua Bu-su itu sudah roboh, obor merekapun terlepas dan padam seketika.

"Celaka!"

Diam-diam Hay-thian mengeluh.

Cepat ia melepaskan ikat pinggangnya terus diputar dengan kencang dengan kepandaian Thing-hong-pian-gi" (mendengarkan angin membedakan arah senjata), maka terdengarlah suara "tring"

Sekali, agaknya sebatang senjata rahasia yang lembut sebangsa jarum telah tersampuk jatuh.

Dan kedua Bu-su yang disengkelit pergi tadi baru saja hendak merangsek maju, tahu-tahu merekapun menjerit, yang satu kontan roboh terjungkal dan yang lain terhuyung-huyung hendak menumbuk dinding.

Cepat Kang Hay-thian memburu maju, sekali jambret.

ia pegang tengkuk Bu-su itu agar kepalanya tidak pecah tertumbuk dinding batu, menyusul ia lantas tutuk "Thian-ki-hiat"

Di-punggung Bu-su itu.

Untung masih ada sebatang obor yang jatuh dilantai itu belum lagi sirap, cepat Hay-thian menjemputnya, waktu ia memeriksa sekitar situ.

namun bayangan Thian-mo-kaucu sudah tidak kelihatan lagi.

Agaknya dijalanan rahasia itu masih terdapat kamar rahasia yang lain hingga sesudah Thian-mokaucu menyambitkan jarum berbisa itu, lalu orangnya sembunyi lagi ketempat lain.

Kalau Hay-thian sangat waspada kepada Thian-mo-kaucu, ternyata sebaliknya iblis wanita itu juga sangat was-was terhadap Kang Hay-thian.

Dia tidak melulu kuatirkan lolosnya pemuda itu, tapi lebih kuatir kalau tempat-tempat rahasia dibawah tanah itu akan diketahui Kang Hay-thian hingga tempat sembunyinya dapat diketemukan pemuda ini.

Thian-mo-kaucu cukup kenal Lwekang Kang Hay-thian yang amat tinggi, meski keracunan berat, tapi belum tentu dapat mem-binasakannya.

Dan lantaran dia tidak mengetahui keadaannya Kang Hay-thian, maka ditempat sembunyinya itu dia tidak berani sembarangan turun tangan untuk menyerang.

Kemudian ketika Kang Hay-thian diterjang keempat Bu-su den sekaligus pemuda itu telah dapat menyengkelit dua orang Bu-su diantaranya, maka diam-diam Thian-mo-kaucu terkejut dan kuatir, ia pikir daripada Bu-su itu akan ditawan oleh pemuda itu, lebih baik aku mendahului membunuhnya saja.

Begitulah maka mendadak ia lantas menyerang para Bu-su itu dengan jarum berbisa, berbareng itu iapun menyerang Kang Hay-thian dengan sebatang jarum agar pemuda itu tidak sempat memikirkan apa yang telah terjadi dan terpaksa mesti menangkis dulu sergapan itu.

Padahal kalau saat itu juga Thian-mo-kau-cu lantas menerjang keluar untuk menempur Kang Kay-thian, maka dengan sisa tenaga Kang Hay-thian yang masih ada itu pasti bukan tandingan iblis wanita itu.

Tapi dia tetap jeri kepada kesaktian Kang Hay-thian hingga tidak berani sembarangan bertindak.

Untunglah Kang Hay-thian dapat menawan seorang Bu-su itu dan segera ditanyai.

"Apakah didalam sini masih ada tempat rahasia la!n, lekas kau tunjukan!"

Tapi runyam juga, Bu-su itu tidak paham bahasa Han yang diucapkan Hay-thian, ia sangka pemuda itu menanyakan jalan keluarnya, maka sambil mengangguk lalu ia membawa Kang Hay-thian menuju kedepan.

Sepanjang jalan Hay-thian coba memperhatikan keadaan jalanan dibawah tanah itu.

!a lihat kedua sisi dinding halus licin, sedikitpun tidak kentara ada tanda sesuatu pintu rahasia dan lain sebagainya.

Makin jauh langkah si Bu-su tampak makin berat, air mukanya juga makin gelap, yaitu karena terkena jarum berbisa Thian-mo-kaucu tadi.

Untung saat itu sudah dekat dengan mulut lorong itu, dari luar sudah kelihatan cahaya terang.

Hay-thian tertegun, ia ingin tahu tempat sembunyi Thianmo-kaucu, tapi Bu-su itu telah meaunjukan jalan keluar baginya.

Selagi ia hendak menanya lagi, tahu-tahu Bu-su itu sudah roboh tak terkutik lagi.

Setelah memakai tenaga untuk berjalan dan menawan Busu itu.

tenaga Hay-thian menjadi terbuang lag!, ia merasa lelah.

Ia pikir kalau saat itu kedatangan musuh lagi tentu dia tidak sanggup melawan, mumpung sudah kelihatan jalan keluar lorong diba-wah tanah, lebih baik lekas melarikan diri saja.

Segera Hay-thian menelan sebutir Siau-hoan-tan pula untuk menguatkan tenaga, lalu ia berjalan keluar dari lorong itu.

Diluar temyata adalah sebuah tanah hutan yang sunyi.

Sementara itu hari sudah pagi.

Diam-Diam Hay-thian sangat masgul, Auyang Wan tak berhasil di tolongnya, malahan pertemuan di Kim-eng-Wong tampaknya juga tak sempat ikut hadir lagi.

Malahan lebih celaka lagi, belum seberapa jauh ia berjalan, tiba-tiba didengarnya suara auman kedua ekor Kim-mo-soan yang sudah dikenalnya itu.

Waktu ia berpaling, tertampaklah dua ekor binatang bersama seorang sedang memburu tiba secepat terbang.

Diam-Diam Hay-thian berkuatir dan heran mengapa Thian-mo kaucu bisa begitu cepat pulih tenaganya, padahal tadi sudah terang iblis itupun terluka tidak enteng.

Waktu ia perhatikan lagi, kiranya bukan Thian-mo-kaucu yang datang itu.

tap!

adalah encinya, yaitu Mo-hujin.

Meski ilmu silat Mo-hujin lebih rendah daripada adik perempuannya, tapi ia tidak terluka, sudah tentu menjadi lebih susah dilawan.

Dalam pada itu dengan cepat sekali kedua ekor Kim-mosoan itu sudah menubruk tiba, tapi sekali Kang Hay-thian mendelik dan berlagak hendak mencengkeram, seketika kedua ekor Kim-mo-soan itu menjadi jeri dan tidak berani menerjang maju Rupanya mereka sudah kapok karena pernah dihajar Kang Hay-thian.

"Ai, anak yang baik, janganlah kau berlagak kereng, aku tahu kau keracunan sangat berat, apakah kau sudah tidak sayang lagi pada jiwamu?"

Demikian Mo-hujin lantas berkata dengan tertawa.

"Marilah anak yang baik, lebih baik kau ikut aku pulang saja, aku a"kan memberi obat penawar padamu."

Tapi. Kang Hay-thian diam saja, la tunggu orang sudah dekat, mendada"k ia jemput segenggam batu kerikil terus dihamburkan dengan gaya "Thian-li-san-hoa"

Atau bidadari menyebar bunga.

Sama sekali Mo-hujin tidak menduga bahwa pemuda itu masih sanggup mentereng dengan senjata gelap,> bahkan timpukannya sangat jitu, kontan tiga tempat Hiat-to ditubuh Mo-hujin kena tertimpuk.

Tapi wanita itu hanya merasa linu kesemutan saja dan tidak roboh.

Timpukan Kang Hay-thian itu memang sangat j"tu, tapi sayang tenaganya lemah hingga Hiat-to yang terkena itu tidak tembus sampai diakarnya, dengan sendirinya tidak dapat merobohkannya.

Dan karena itulah lantas ketahuan kelemahan Kang Haythian, girang sekali Mo-hujin, ia tahu pemuda itu tidak perlu ditakuti lagi, segera ia lepaskan ikat pingggangnya terus menyabat kearah Kang Hay-thian, ia pikir dengan gampang pemuda itu akan dapat diringkus dengan ikat pinggang yang panjang itu.

Diluar dugaan Kang Hay-thian terus duduk bersila malah ditanah, jelek-jelek dia masih dapat menggunakan sisa tenaga Hou-te-sin-kangnya untuk bertahan.

Ia gunakan kepandaian mengelakkan tenaga serangan lawan yang dipelajarinya dari Kim Si-ih, maka setiap kali kain ikat pinggang itu menyentuh badannya, seketika kain selendang yang lemas itu melayang lewat di sisinya, berulang-ulang Mo-hujin menyerang lagi, tapi selalu gagal, badan Kang Hay-thian seperti, belut licinnya, kain ikat pinggangnya itu tidak dapat melilitnya.

"Hm, jangan kau kira tenagaku sudah habis, jika kau berani mendekat, segera kita boleh hancur bersama, apa kau tidak kenal Thian-mo kay-te-tay-hoat tinggalan Kiau Pak-beng itu?"

Demikian jengek Hay-thian.

Mo-hujin dan Thian-mo-kaucu suka anggap mereka adalah ahliwarisnya Le Seng-lam, maka agama yang mereka dirikan disebut "Thian-mo-kau", dan sudah tentu ia kenal betapa lihaynya "Thian-mo-kay-te-tay-hoat"

Yang dikatakan Kang Hay-thian.

Ia tahu dahulu Le Seng-lam justeru menggunakan ilmu sakti itu untuk mengalahkan jago nomor satu didunia ini, yaitu ketua Thian-san-pay, Teng Hiau-lan.

Sebab itulah Mo-hujin menjadi jeri, ia tidak berani sembarangan menyerang dan mendesak maju lagi.

Terpaksa ia merbentak-bentak dan memerintahkan kedua ekor Kim-mosoan itu lekas menyerang.

Walaupun agak takut-takut, terpaksa juga kedua ekor Kimmo-soan itu harus menurut perintah, dengan pentang cakar mereka terus menubruk maju sambil menggerang.

Tapi pada saat berbahaya itulah, tiba-tiba terdengar suara menderu-deru, suara angin berkesiur disertai suara burung yang aneh.

Sungguh heran, demi mendengar suara itu, seketika kedua ekor Kim-mo-soan itu ketakutan setengah mati, cepatan saja mereka mencawat ekor dan melarikan diri.

Waktu Mo-hujin mendongak, dilihatnya diatas udara tibatiba mengapung tiba segumpal awan hitam, dalam sekejab saja gumpalan awan itu sudah menurun sampai diatas kepalanya.

Kiranya itu bukan awan, tapi adalah seekor elang raksasa, itulah rajawali piaraan Hoa-san-ih-un Hoa Thian-hong.

Kedua ekor Kim-mo-soan pernah merasakan betapa lihaynya rajawali itu, pernah mereka dicengkeram keatas udara lalu dibanting ketanah, untung tidak mampus.

Sudah tentu mereka menjadi kapok dan lantas lari terbirit-birit melihat datangnya rajawali sakti itu.

Bahkan sedikit terlambat saja segera salah seekor Kim-mo-soan itu kena dicakar sekali hingga terluka.

Mo-hujin menjadi gusar, terus saja ia sambitkan segenggam jarum berbisa keatas udara.

Tapi lantas terdengar suara gemerincing yang ramai, dari atas punggung rajawali itu tibatiba menyambar segumpal sinar perak hingga jarum berbisa yang dihamburkan itu terpukul jatuh semua.

Kiranya diatas punggung rajawali itu ada penumpangnya, yaitu seorang gadis jelita.

Ketika rajawali itu mengkeplak sayapnya, terus saja menyambar kearah Mo-hujin, cepat nyonya itu putar kain selendangnya untuk membelit cakar rajawali, tapi sekali cakar binatang itu meronta, kain selendang itu terobek dan tahutahu rajawali itupun sudah melayang lewat kesana.

Begitu kuat rajawali itu hingga angin yang berjangkit oleh sayapnya itu membuat Mo-hujin tersentak mundur beberapa langkah.

Syukur saat itu gadis diatas punggung rajawali itupun sudah mengenali Kang Hay-thian.

Dengan heran ia lantas menyapa.

"He, Hay-ko, kenapakah kau?"

Cepat ia perintahkan rajawali itu terbang kembali kesamping Kang Hay-thian dan turun ketanah dengan pelarian.

Kesempatan itu segera digunakan Mo-hujin untuk ngacir.

Secara kebetulan dapat lolos dari bahaya, sungguh girang Hay-thian tak terhingga, cepat ia berseru.

"Pik-moay, kiranya kau yang datang? Mengapa kau sampai disini?"

Ia berbangkit dan bermaksud mendekati gadis itu, tapi segera kepala terasa pusing dan mata berkunang-kunang, tenaga lenyap, kaki taK berkuasa lagi.

Gadis itu adalah Hoa In-pik, puteri tabib sakti dari Hoa-san, Hoa Thian-hong.

Sebagai puteri tabib sakti, In-pik juga mahir ilmu pengobatan, sekali lihat saja segera ia tahu Kang Haythian keracunan hebat.

Cepat ia berkata.

"Jangan bergerak, lekas duduklah, biar kuperiksa keadaanmu!"

Dan sesudah memegang nadi pemuda itu, dengan terkejut In-pik membatin.

"Wah, jahat sekali racun yang mengeram didalam tubuhnya ini, tapi toh denyut nadinya tidak banyak terganggu, hanya sedikit lebih lemah daripada orang biasa. Sungguh tak tersangka baru berpisah beberapa bulan saja Lwekangnya sudah maju lagi sepesat ini. Dan berkat Lwekangnya yang maha hebat Inilah maka hawa racun tidak sampai menyerang ke bagian isi perutnya."

Melihat sigadis diam saja, segera Hay-thian bertanya.

"Apakah ada obatnya untuk menghilangkan racun dalam badanku ini ?"

"Kionghi! Kionghi!"

Demikian tiba-tiba In-pik memberi salam selamat malah.

"Aneh. Kionghi tentang apa?"

Tanya Hay-thian keheranheranan.

"Apakah racun dibadanku ini tidak berhalangan?"

"Kau justeru keracunan hebat, cuma Lwekangmu sudah maju berlipat ganda, maka betapapun jahatnya racun toh tak dapat mengganggu kau,"

Sahut In-pik.

"Namun kalau melulu mengandalkan penyembuhan dengan Lwekangmu sendiri harus memakan waktu beberapa hari."

Hay-thian menjadi kecewa. Katanya.

"Padahal harini adalah pertemuan Kim-eng-kiong, jika kesehatanku terganggu, terang aku takdapat ikut hadir."

"Jangan kuatir, aku sendiri juga memburu kesini untuk menghadiri pertemuan Kim-eng-kiong,"

Tutur In-pik.

"Dengan Lwekangmu yang hebat sekarang, ditambah bantuanku nanti, tanpa pengobatan kukira juga dapat menyembuhkan kau didalam waktu satu-dua jam saja, dan kita masih sempat pergi bersama ke Kim-eng-kiong."

"Ha. kiranya kau juga hendak hadir kesana, apakah ayahmu masih tinggal dirumah In-locianpwe? Kesehatan beliau sudahkah pulih?"

Tanya Hay-thian.

"Sudah hampir pulih seluruhnya, mestinya beliau akan datang kesini, tapi aku telah mencegah dan mewakilkan dia. Tentang ini akan kuceritakan nanti, biarlah sekarang aku menyembuhkan kau dahulu,"

Sahut In-pik.

Segera ia mengeluarkan sebatang jarum emas.

ia tubles ujung jari tengah Kang Hay-thian hingga mengeluarkan darah, lalu menusuk pula beberapa tempat Hiat-to penting agar peredaran darahnya lancar, ketika Kang Hay-thian kerahkan tenaga dalam-nya.

maka dapatlah darah berbisa didalam tubuhnya ditolak keluar melalui luka diujung jari itu.

Tidak lama kemudian, darah berbisa telah dapat diperas keluar semua hingga keadaan Kang Hay-thian banyak lebih baik.

"Apakah kau masih ada sisa Pik-leng-tan?"

Tanya In-pik.

"Masih ada dua butir."

Sahut Hay-thian.

"Nah. boleh lekas kau minum sebutir dan sisa racun dalam tubuhmu tentu akan segera lenyap,"

Kata In-pik.

"Habis itu boleh kau melancarkan jalan darahmu dengan Lwekangmu yang tinggi, selang satu jam lagi pasti kesehatanmu akan pulih seperti sediakala."

"Disini terlalu dekat dengan keraton, marilah kita mencari suatu tempat yang sunyi saja."

Ujar Hay-thian. Benar juga, sayup-sayup mereka mendengar suara derapan kaki kuda yang berada tidak jauh sedang mendatang.

"Meski kita tidak takut kepada mereka, tapi lebih baik kita menyingkir saja,"

Ujar In-pik.

Lalu ia menarik Hay-thian keatas punggung rajawali raksasa itu setelah menjemput lebih dulu beberapa potong batu.

Ketika pasukan musuh mengejar tiba, segera In-pik menghujani mereka dengan peluru batu.

Memangnya pasukan Kan-osg itu sudah ketakutan melihat elang raksasa itu.

mereka menjadi kalang-kabut pula diberondong peluru batu oleh Hoa In-pik.

Dengan memuat dua penumpang rajawali itu ternyata dapat terbang dengan anteng dan cepat.

Cuma punggung rajawali tidak terlalu luas hingga duduk Kang Hay-thian dan Hoa In-pik terpaksa mesti berdempet-dempetan.

Tidak lama kemudian, hinggaplah burung itu dipuncak gunung yang tinggi dan tidak perlu kuatir diganggu orang lagi.

"Aku akan mencarikan sedikit makanan bagimu, sekarang boleh kau menjalankan Lwekangmu untuk menyembuhkan sendiri,"

Kata In-pik.

Hay-thian menurut, ia duduk bersila dan mengerahkan Lwekangnya, tiada sampai satu jam, benar juga darah berjalan lan-car, tenaganya sudah pulih seperti semula.

Sementara itu In-pik telah berhasil memburu seekor kelinci dan sudah masak dipanggang.

Disamping itu In-pik membawa kembali pula tidak sedikit buah-buah dan sekantong kulit air jernih.

"Wah, benar-benar suatu perjamuan yang lengkap,"

Ujar Hay-thian dengan tertawa.

Memangnya ia sudah kelaparan, terus saja ia gasak makanan-makanan itu.

Pada kesempatan itulah In-pik lantas mencerltakan keadaan sesudah mereka berpisah.

Kiranya waktu Hoa Thian-hong merawat lukanya di In-kehceng, karena dia terkena pukulan berbisa dari Po Lo-hou, pula kantong obatnya telah dicuri oleh encinya Auyang Wan.

yaitu Auyang Jing, meski dia dapat juga meracik obat dirumah keluarga In, tapi tentu akan makan waktu lagi serta tidak selengkap obat-obatan simpanannya sendiri, maka In-pik lantas cepat pulang kerumah untuk mengambil obat.

Rajawali raksasa itu mestinya ditugaskan menjaga rumah, tapi untuk memburu tempo, In-pik lantas membawanya serta dan dipakai sebagai alat pengangkut yang cepat.

"Ayah sendiri juga terima undangan pihak Kim-eng-kiong, pula beliau juga terkenang padamu, maka begitu kesehatannya agak pulih, segera beliau akan berangkat, syukur In-pepek dan aku telah mencegahnya dan terpaksa beliau batalkan maksudnya,"

Demikian tutur In-pik.

Berkata sampai disini, tanpa merasa wajahnya menjadi merah, maklum, salah satu sebab dia mewakilkan ayahnya datang kemari sudah tentu juga karena dia terkenang kepada Kang Hay-thian.

Sungguh terima kasih sekali Hay-thian kepada kebaikan ayah dan anak she Hoa.

Entah mengapa, ketika sinar matanya kebentrok dengan pandangan In-pik, tanpa merasa timbul semacam perasaan gugup dan tidak tenteram, hal ini membuatnya bingung sendiri karena tidak tahu apa sebabnya.

"Nah, aku sudah menceritakan keadaan kami, sekarang giliranmu mencerltakan pengalamanmu selama ini,"

Kata Inpik.

"Pengalamanku terlalu banyak, mungkin tiga-hari-tigamalam takkan habis kuceritakan,"

Sahut Hay-thian dengan tertawa.

"Baiklah, kau boleh bercerita bagian-bagian yang penting saja, misalnya apakah Auyang Wan kembali merecoki kau atau tidak? O, ya, aku lupa katakan padamu bahwa kedua saudara In sekarang juga sudah sehat kembali, mereka sangat benci kepada dua orang, yaitu Yap Tiong-siau yang telah melukai mereka dan Auyang Wan yang berkomplot dengan orang she Yap itu. Hihi, aku tidak berani memberitahu kepada mereka bahwa kau mempunyai hubungan baik dengan perempuan siluman itu."

Terpaksa Hay-thian mesti menjelaskan.

"Pik-moay, Auyang Wan itu bukan orang jahat, kantong obat ayahmu itu bukan dia yang mencurinya. Dia tidak dapat disamakan dengan anggota keluarganya yang lain."

In-pik menjadi kurang senang, katanya.

"Darimana kau tahu? Tentu kau sudah bertemu dengan dia?"

"Ya, baru saja aku bertemu dengan dia,"

Sahut Hay-thian.

Lalu iapun menceritakan apa yang terjadi tadi serta kejadran di-pulau karang dimana Auyang Wan telah menolongnya.

Mendengar itu.

rasa benci In-pik kepada Auyang Wan menjadi berkurang, tapi rasa cemburu menjadi berkobar.

Katanya pula dengan nada.

dingin.

"Jika demikian, nona Auyang itu boleh di-kata sangat baik dan berbudi kepadamu."

"Betapa ba"iknya juga tidak nanti lebih baik dan lebih berbudi daripada kalian ayah dan anak terhadap diriku, untuk mana tidak nanti aku melupakan,"

Sahut Hay-thian. In-pik merasa lega, dan air mukanya bersemu merah lagi. Sudah tentu tak tersangka olehnya bahwa "kebaikan"

Yang dikatakan Hay-thian itu sama sekali tidak sama dengan "kebaikan"

Yang dia pikirkan. Segera In-pik menanya lagi.

"Bukankah kau hendak mencari Suhu, ayahmu dan seorang nona Kok? Apakah kau sudah ketemukan mereka?"

"Sudah, kecuali Suhu saja,"

Sahut Hay-thian.

"Baik-Baikkah ayahmu? Dan baik-baikkah nona Kok?"

Tanya sigadis. Lebih dulu ya tanyakan ayah Hay-thain, tapi nadanya lebih condong ingin tahu keadaan Kok Tiang-lian.

"Baik, semuanya baik-baik,"

Sahut Hay-thian.

"Wah, pengalaman merekapun sangat menarik, biarlah kuceritakan dengan pelahan-lahan."

"Aku tidak buru-buru ingin tahu, tapi ada seorang lain yang justeru sangat rindu kepada nona Kok itu,"

Kata In-pik dengan tertawa. Hay-thian melengak. Maka In-pik menyambung lagi.

"Bukankah In Khing minta kau sampaikan salamnya kepada nona Kok? Diam-Diam dia mencintai nona Kok itu, adik perempuannya telah beritahukan padaku."

Perasaan Hay-thian seperti digodam sekali, pikiran yang baru seja tenang itu kembali berombak lagi.

Adegan waktu In Khing menghantar keberangkatannya dahulu kembali terbayang lagi olehnya.

Ia terkesiap.

"Ya, mengapa aku melupakan pesan In Khing yang dititipkan padaku itu?"

Temyata selama dia berada bersama dengan Kok Tionglian, belum pernah ia memberitahukan perasaan cintanya In Khing kepada gadis itu. Dalam hati Hay-thian bertanya dan mencela diri-nya sendiri.

"Benarkah aku lupa? Ah, mana dapat aku melupakan hal itu? Tapi aku tidak sengaja menyembunyikan pesan In Kh ng itu, karena waktu itu perhatian kami harus dicurahkan untuk melawan musuh dipulau itu. urusan-urusan lain yang tidak penting sudah tentu tidak kami perhatikan lagi. Tapi hal itu dipandang sangat penting oleh In Khing, bahkan berulang-ulang ia pesan padaku ager jangan lupa."

Begitulah perasaan Hay-thian menjadi kusut, bukan disebabkan dia merasa malu sendiri, tapi adalah karena dia telah menemukan rahasia lubuk hatinya sendiri.

"Ah, masakah aku bisa lupa? Tapi lebih benar adalah karena aku tidak ingin Lian-moay mengetahui bahwa masih ada seorang pemuda lain yang juga jatuh cinta padanya, Ya, memang tidak salah, aku tidak sengaja menyembunyikan pesan In Khing itu, tapi dalam lubuk hatiku sesungguhnya aku memang berharap melupakan pesan itu. Kalau tidak, sudah sekian lamanya aku ketemu Lianmoay, masakah aku tidak ingat kepada pesan In Khing itu?"

Ada empat nona yang dikenal Kang Hay-thian.

Dan keempat nona itu boleh dikata semuanya jatuh hati padanya.

Dia sendiri juga tidak pernah merenung secara mendalam sebenarnya nona yang manakah yang dicintanya?

Dan baru sekarang ia mengetahui rahasia perasaannya sendiri, ternyata cintanya kepada Kok Tiong-lian jauh berbeda daripada perasaannya kepada ketiga gadis yang lain.

Tiba-Tiba ia merasa pedih pula, diantara ketiga nona yang lain itu, In Bik belum lama dikenalnya, hal ini tidak menjadi soal, tapi Hoa Inpik dan Auyang Wan benar-benar sangat baik dan banyak pengorbanan mereka kepadanya, apakah dapat ia menghapus mereka dari lubuk hatinya sendiri?

Tengah Hay-thian terombang-ambing oleh gelombang perasaannya itu, tiba-tiba dari jauh terdengar suara genta yang nyaring.

Waktu Hay-thian menengadah, ia lihat sang surya sudah lewat lohor.

Sebenarnya ia sedang termenungmenung dam pikiran kusut, tapi mendadak ia disadarkan oleh suara genta yang berkumandang dari jauh itu.

Cepat ia melompat bangun dan berkata.

"He, itu adalah suara genta Kim-eng-kiong, pertemuan disana sudah dbuka!"

"Kim-eng-kiong itu terletak dimana?"

Tanya In-pik.

"Digunung sebelah sana.?"

Sahut Hay-thian.

Puncak kedua gunung itu saling berhadapan, lapat-lapat kelihatan Kim-eng-kiong yang terletak dipuncak gunung sebelah sana, kalau berjalan mungkin harus menempuh beberapa puluh li jauh-nya, tapi In-pik lantas berkata.

"Jangan kuatir, kita dapat minta rajawali sakti menghantar kita kesana!"

Teringat akan segera berjumpa dengan sang ayah, Haythian menjadi tidak sabar lagi rasanya, kalau bisa sungguh ia ingin segera terbang sendiri kesana.

Sebaliknya Kang Lam belum tahu kalau puteranya itu sudah lolos dari bahaya.

saat itu dia bersama Teng Keng-thian, Tan Thian-ih dan Ki Hiau-hong sedang menuju ke Kim-eng-kiong, sepanjang jalan Ki Hiau-hong suka menghiburnya agar jangan kuatir, bila nanti ketemu Kim Si-ih, pasti beliau itu akan dapat menemukan Kang Hay-thian.

Terpaksa Kang Lam kesampingkan rasa kuatirnya itu dan bersama kawan-kawannya menuju kepertemuan Kim-engkiong.

Tapi tiba-tiba Thian-ih berkata.

"Ki-toako, kau sendiri dapat masuk kesana tanpa permisi, tapi kami harus minta bantuanmu untuk mencarikan jalan yang baik". Seperti diketahui, rombongan mereka terdiri dari enam orang, yaitu terdiri dari Kang Lam, Ki Hiau-hong ditambah Tan Thian-ih bersama isterinya, Yu Peng, serta Teng Keng-thian bersama Peng-choan Thian-li. Dan diantara mereka hanya Teng Keng-thian suami-isteri yang mempunyai kartu undangan. Maka dengan tertawa Ki Hiau-hong telah menjawab.

"Jangan kuatir, ini soal kecil, lihat saja kepandaianku nanti!"

Waktu itu kira-kira seperempat jam sebelum sidang pertemuan dibuka, maka arus pengunjungnya sedang membanjir kearah pintu gerbang Kim-eng-kiong.

Maka dengan mudah saja Ki Hiau-hong mengeluarkan kepandaian "tangan panjang"

Diantara orang banyak itu dan benar juga empat kartu udangan sudah dapat diperolehnya.

Maka dengan tidak susah dapatlah Thian-ih berempat masuk kedalam Kim-engkiong.

Sidang pertemuan itu diadakan diruangan pendopo Kimeng-ikiong yang sangat luas itu.

Ditengah ruangan terluang sebagian tempat, sekelilingnya teratur kursi kira-kira seribu tempat dan sementara itu sudah hampir terduduk penuh.

Hiau-hong pura-pura mencari tempat duduk, ia mengeliling ruang sidang itu, tapi tiada dilihat bayangannya Kim Si-ih.

Tapi pada kesempatan berjejal dan desak-mendesak diantara orang banyak itu dia telah berhasil mencopet barang-barang yang tidak sedikit.

Sejenak kemudian, ditengah suara genta yang nyaring, tertampak Po-siang Hoatsu tampil kemuka sambil merangkap tangannya memberi hormat, ia mengucapkon kata-kata pembukaan.

"Banyak terima kasih atas kesudian para hadirin yang terhormat, jika terdapat sesuatu kekurangan dalam penyambutan ini. lebih dulu harap dimaafkan Negeri Tiongkok adalah sumber inspirasi ilmu silat yang tersohor, ha! ini sudah lama Pinceng sangat kagum. Dan maksud tujuan pertemuan kali ini ialah berkenalan didalam ilmu silat, saling belajar antar golongan dan bangsa. Jika diantara hadirin ada yang terplih sepuluh juara terkemuka dan bila sudah tinggal disini, maka dengan suka hati raja akan mengangkatnya sebagai penasihat dengan segala kebesaran, kalau tidak sudi tinggal disini, baginda raja juga akan memberi tanda mata sepantasnya."

Demikian ia bicara dalam bahasa Han.

lalu diulangi lagi dalam basa daerah India yang paling umum dipergunakan yaitu bahasa Hin-di.

Kemudian juru bahasa menterjemahkan pidatonya itu kedalam bahasa Nepal dan Persia.

Kiranya yang ikut hadir dalam sidang pertemuan ini meliputi jago-jago silat dari Tiongkok, India, Nepal dan Persia.

Selain itu ada pula beberapa orang Arab.

tapi jumlah mereka cuma sedikit, pula sebelumnya mereka sudah diberi penjelasan oleh Po-siang, maka sekarang tidak diterjemahkan kedalam bahasa mereka.

Segera seorang Hwesio Hindu tampil ketengah kalangan, seru-nya.

"Katanya ilmu silat Tiongkok itu dikepalai Siau-limpay, tapi ilmu Siau-lim-pay itu berasal dari negeri kami. Antara kedua cabang silat tersebut mempunyai kemajuannya sendirisendiri. Maka sekarang Siauceng bermaksud belajar kenal dengan para Suheng dari Siau-lim-si sekadar sebagai tukar pikiran, boleh kita lihat dua cabang yang berasal dari satu sumber yang sama ini adakah sesuatu perbedaan yang nyata?"

Cara bicara Hwesio itu sangat ramah kedengarannya, tapi di-balik ucapannya itu Siau-lim-si seakan-akan dianggapnya sebagai cabang ilmu silat dari India, jadi diangap lebih rendah daripada mereka.

Tokoh Siau-lim-pay yang ikut hadir adalah Tay-pi Siansu yang merupakan kepala dari "Cap-pek-lo-han" (delapanbelas Budha) di Siau-lim-si.

Tay-pi seorang yang cukup sabar, segera lapun tampil kemuka dan angkat bicara.

"Berkat warisan Tat-mo Cosu, memang ge-reja kami telah memperoleh tidak sedkit budi kebaikannya, tapi selama ribuan tahun ini ajaran asli Cosu boleh dikata sudah terlebur dengan ilmu silat Tiongkok sendiri, sedikit kepandaian kami ini kalau sekarang ditunjukan mungkin sudah berubah gaya dan bentuknya, tapi untung harini dapat bertemu dengan kawan dari sumber asalnya, untuk mana diharap Taysu suka memberi pe-tunjuk seperlunya."

Ucapan Tay-pi itu cukup merendah diri, ia tunjukan pihaknya tidak berani lupa kepada sumber aslinya, tapi juga menyatakan ilmu silat Siau-lim-pay bukan melulu berasal dari India.

Melihat kedua Hwesio itu bicara dengan ramah-tamah seperti orang sedang berunding sesuatu, Kang Lam merasa geli dan penyakitnya yang ceriwis lantas kumat, segera ia berseru diantara orang banyak.

"Peduli apa sumber kali atau sumur, paling penting hantam saja untuk menentukan siapa yang unggul dan asor!"

Maka tertawalah orang disekitarnya, merekapun berseru.

"Benar, silakan kedua Toahwesio lekas mengukur tenaga saja dan jangan berlomba ceramah lagi!"

Rupanya Hwesio India itu paham bahasa Han dan kenal peraturan Bu-lim di Tiongkok pula. untuk menjaga harga diri, segera ia berkata.

"Kita berasal dari suatu sumber yang sama. maka tidak perlu sungkan-sungkan, boleh silakan Suheng lantas memberi pe-tunjuk!"

"Maaf, jika begitu!"

Kata Tay-pi sambil merangkap tangannya didepan dada, yaitu suatu gaya pembukaan dari ilmu pukulan "Tat-mo-kun"

Yang disebut "Beng-sim-le-hud"

Atau dengan hati sujut menghormat kepada Budha.

Dengan merangkap kedua tangan adalah tanda menghormat pihak lawan tetapi sebenarnya siap sedia untuk bergerak menurut reaksi lawan.

Meski Tay-pi telah bergerak dulu, tapi sebenarnya toh sipaderi India itu disilakan mulai menyerang lebih dulu.

Sudah tentu Hwesio India itu kenal akan gaya Tay-pi, ia pikir biar kuserang kau secara mendadak, tentu kau akan kelabakan.

Segera tangan kirinya pura-pura bergerak, tapi tahu-tahu kepalannya kanan terus menghantam dari bawah tangan kiri itu.

Namun kedua tangan Tay-pi tetap terangkap didepan dada, sekonyong-konyong kedua tangan yang terangkap itu memotong kedepan, kearah pukulan lawan yang mendatang itu.

Keruan Hwesio India itu kaget, pikirnya.

"Eh, kiranya gaya serangan Beng-sim-le-hud ini adalah begini caranya?"

Mendadak tangan kirinya melengkung kesamping dan tahutahu memutar kembali untuk menghantam iga kiri Tay-pi Siansu.

Padahal semua orang menyaksikan Tay-pi Siansu sudah mengurung lawannya dibawah pukulannya tadi, siapa duga mendadak Hwesio India itu lantas dapat balas menyerang, keruan mereka terheran.

Kiranya Tat-mo Cosu, itu cakal bakal Siau-lim-pay, meski adalah bangsa India, tapi ilmu silatnya yang sejati baru sempurna dilatih pada masa tua-nya.

Sebab itu, ajaran aslinya boleh dikata berada di Tiongkok dan bukan di India.

Baik tentang gaya serangan maupun Lwekang, paderi-paderi dari Siau-lim-si jauh lebih tinggi daripada ajaran Tat-mo-Cosu di India pada masa muda-nya.

Karena itu, sekali melihat gaya serangan Tay-pi tadi, segera paderi India itu insaf susah melawannya, maka diantara ilmu pukulannya telah diikut campurkan dengan ilmu gaib yang hanya terdapat di India, yaitu Yoga.

Jika ilmu Yoga sudah terlatih sempurna, maka otot daging dapat mulur mengkeret digerakan sesukanya.

Dan paderi India itu adalah ahli Yoga, meski ilmu pukulan yang dimainkan adalah Tat-mo-kun-hoat, tapi lengannya mendadak seperti mulur beberapa senti lebih panjang dan dapat memukul dengan memutar dari arah yang sama tak terduga oleh Tay-pi Siansu.

Baca Juga: Telapak Setan Khu Lung Tjan Id

Baca Juga: Dua Musuh Turunan 2

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger