Eps 7 Kisah Pedang Di Sungai Es - Liang Ie Shen
Baca online Kisah Pedang Di Sungai Es - Liang Ie Shen
Cersil Kisah Pedang Di Sungai Es - Liang Ie Shen.
"Malahan setahuku, raja Nepal sudah berserikat dengan raja negeri Masar, daiam pertemuan di Kim-eng-kiong pada tanggal 15 bulan ini jago-jago pilihan Nepal akan hadir juga secara besar-besaran. Raja Masar mempunyai ambisi ingin merajai benua barat sini, hal ini sudah cukup diketahui umum. Dan raja Nepal mengadakan hubungan erat dengan dia, apa maksud tujuannya rasanya tidak dapat tidak dicurigai. Sebagai anak murid Budha, kita paling pantang dalam hal gila harta dan pangkat, apalagi paedahnya belum kelihatan, sebaliknya bahayanya sudah nyata. Sebab itulah aku lebih suka ketenteraman, maksud baiknya hendak mengangkat aku sebagai "Budha Hidup"
Terpaksa aku menolaknya dengan terima kasih."
Uraian Hoat-ong ini cukup tajam, alasannya juga cukup serta masuk diakal, maka suasana sidang seketika berubah pula.
Cuma banyak juga diantara paderi-paderi itu memang kemaruk kepada kedudukan dan hidup mewah, apalagi syarat yang diajukan raja Nepal itu sangat baik, yaitu Pek-kau akan diterima sebagai agama negara dan Hoat-ong akan diangkat menjadi "Budha Hidup", sudah tertu syarat ini merupakan umpan yang paling jitu, sebab itulah penyokong Beng-lun-ong juga tidak sedikit jumlahnya.
Dengan demikikian para paderi itu telah terbagi menjadi dua aliran, suasana sidang mendiaai bergolak dan ramai saling mempertahankan pendirian masingmasing.
Dengan muka merah padam Beng-lun-ong mendadak berseru;
"Suheng, engkau adalah ketua agama, sudah seharusnya kami menghargai pendirianmu, tetapi ada sesuatu bentiana yang segera juga akan menimpa kita, dan cara bagaimana pula engkau akan menghadapinya?"
Keterangan ini seketika membikin suasana sidang menjadi sunyi kembali, sinar mata setiap orang diarahkan kepada Beng-lun-ong dengan penuh pertanyaan.
Maka berkata pula Beng-lun-ong dengan pelahan-lahan.
"Suheng, kukira urusan ini tak bisa ditutup-tutupi lagi, biarlah aku mengumumkan saja."
Dengan sikap tawar tanpa keberatan apa-apa Hoat-ong menjawab.
"Boleh juga kau katakan kepada mereka."
Lalu Beng-lun-ong melanjutkan bicaranya menghadap orang banyak.
"Kecuali sudah tiga kali raja Nepal mengirim utusannya untuk menghubungi Suheng, mereka sebenamya juga telah melakukan tugas-tugas rahasia lain. Sebenarnya urusan ini tidak pantas kukatakan, tapi kebetulan rahasia itu sebentar lagi juga akan terbongkar, maka akupun tidak perlu kuatir untuk mengatakan kepada kalian.
"Mungkin diantara kalian banyak juga yang tahu bahwa raja Nepal adalah saudara misan Peng-choan Thian-li. sesudah beliau naik tahta, telah beberapa kali beliau berusaha mengundang Peng-thyoan Thian-li pulang ketanah-airnya, tapi selalu Peng-choan Thian-li menolaknya Oleh karena itulah terpaksa baginda raja Nepal menempuh jalan lain, lebih dulu ia "mengundang"
Puteranya Peng-choan Thian-li dan seorang dayang kepercayaannya, yaitu isterinya Tan Thian-ih, ke Nepal.
Dan kedua tugas rahasia itu telah dilaksanakan dengan baik oleh utusan-utusan raja Nepal itu.
Dikala mereka melakukan tugas rahasia itu adalah tepat bersamaan waktu mereka menjadi tamu istana Orsim kita ini.
Dengan lain perkataan, gereja kita ini telah dipakai sebagai tempat perlindungan mereka."
Sesudah Beng-lun-ong membongkar rahasia itu, baru kini Thian-ih sadar.
"Kiranya isteriku telah diculik oleh utussn yang dikirim raja Nepal, pantas waktu Kang Lam menanyakan Hoatong juga raja agama itu tidak berani mengatakan terus terang. Malahan mereka juga telah menculik puteranya Teng Keng-thian. Tapi aneh, waktu aku datang ke Thian-san mengapa Tong Hiau-lan tidak mengatakan apa-apa!"
Rahasia itu juga rupanya diketahui oleh Hou-hoat-tecu dan beberapa paderi lain yang berkedudukan agak tinggi, selebihnya tiada yang tahu.
maka demi mendengar kejadian itu, mereka menjadi heran dan kuatir pula.
Menyusul Beng-lun-ong menyambung bicaranya lagi.
"Sesudah Tan Thian-ih kehilangan isteri, sudah tentu ia mencari kemana-mana. Ia mempunyai seorang sobat kental, yaitu Sin-thau Ki Hiau-hong yang terkenal, Pencuri itu memang setan cerdik, entah darimana ia mendapat kisikan hingga diam-diam menyelidiki gereja kita ini dan berhasil mernpergoki kedua utusan dari Nepal itu. Tidak lama kemudian Thian-ih dan seorang kawannya yang lain bernama Kang Lam juga datang kemari untuk tanya kepada Suheng, waktu itu Suheng sudah memberi jawaban tidak tahu-menahu akan urusan itu, sudah tentu pihak sana tidak percaya. Dan mereka itulah kembali sudah datang pula harini. Malahan begundalnya sudah tambah seorang pemuda yang telah diketahui adalah muridnya Kim Si-ih Para Lama kita sudah ada lima orang yang terluka ditangan mereka. Kabiro, coba ceritakanlah pengalamanmu itu!"
Kabrio adalah salah satu daripada ketiga Hou hoat-tecu yang pro Beng-lun-ong, yaitu Lama yang hendak menangkap Ki Hiau-hong ketika kepergok dipadarg pasir itu.
Segera ia berdiri dan mencerita kan apa yang telah dialaminya.
Baru sekarang Ki Hiau-hong tahu bahwa jejak mereka ternyata sudah dalam pengawasan Beng-lun-ong.
Ia senang dan heran pula.
Senangnya karena Beny-lun-ong itu juga kenal akan namanya, herannya mengapa berita Beng-lun-ong itu begitu cepat, padahal ia baru pulang dari Nepal.
Ki Hiau-hong tidak tahu bahwa jejaknya bersama Kang Kaythian selalu didalam pengawasan pemilik Kim-eng-kiong.
Dan sebelum Beng-lun-ong pulang keistana Orsim.
lebih dulu ia telah menemui Kok-su dari negeri Masar itu di Kim-eng-kiong dari itu ia tahu serba lengkap gerak-gerik Ki Hiau-hong dan Kang Hay-Thian.
Dalam, pada itu terdengar Kabiro sedang berkata pula.
"Murid Affandi bersekongkol dengan musuh dan dapat kupergoki, untuk mana Tecu telah menangkapnya, harap Kaucu suka memberi keputusan."
Tiba-Tiba Hoat-ong mengkerut kening, katanya.
"Ki Hiauhong juga takbisa dianggap sebagai musuh kita, sedang Affandi adalah menjalahkan perintahku agar menyuruh Ki Hiau-hong meninggalkan wilayah kita ini, maka jangan kau mengada-ada, lekas beritahukan Ciang-heng-tecu (anak murid bagian hukum) agar membebaskan Affandi!"
Kabiro menjadi kemalu-maluan dan lekas undurkan diri. Dengan suara keras Beng-lun-ong lantas berkata pula.
"Suheng, sebenarnya apa yang kau pikirkan? Kita sekarang sudah terlibat dalam persengketaan itu, tidak mungkin kita berpeluk tangan belaka. Pabila kau tidak anggap Ki Hiau-hong sebagai musuh, apakah mesti memandang raja Nepal sebagai musuh kita?"
Hoat-ong menunduk dan memikir, agaknya iapun serba sulit menghadapi urusan yang serba salah itu. Beng-lun-ong sangat senang, segera ia berkata pula.
"Tentang Ki Hiau-hong itu tidak perlu dipikirkan Sebaliknya kalau perbuatan kita tersiar tentu akan membawa bencana yang tidak kecil bagi agama kita. Bukanlah aku sengaja menakut-nakutkan kalian, tapi bencana itu mungkin sudah mendekat. Muridnya Kim Si-ih sudah muncul, lambat atau cepat Kim Si-ih tentu juga akan datang. Kiin Si-ih adalah iblis yang terkenal keji dan ganas, bila mengetahui bahwa isteri sobatnya diculik oleh anak murid kita, masakah dia mau berpeluk tangan saja? Apalagi urusan inipun menyangkut Thian-san-pay. Ciangbunjin dari Thian-san-pay, Teng Hiau-lan adalah pemimpin dunia persilatan, ia lebih susah dilawan daripada Kim Si-ih. Jika dia mengetahui cucunya diculik orang kita, bagaimana akibatnya jika dia memimpin tokoh-tokoh persilatan menuntut balas kemari?"
Mendadak Hoat-ong berbangkit dan berseru.
"Aku sudah ambil keputusan, jikalau Teng Hiau-lan dan Kim Si-ih datang kemari, aku akan minta maaf kepada mereka, andaikan mereka tidak datang, tentu juga aku akan mencari Tan Thianih untuk menjelaskan duduknya perkara kepadanya."
"Meminta maaf?"
Beng-lun-ong menegas.
"Engkau adalah Kaucu, kedudukanmu sejajar dengan Dalai Lama dan Pankhen Lama, mana boleh kau sembarangan minta maaf? Jikalau kau tidak menghargai dirimu lagi, seharusnya juga Suheng mesti menghargai agama kita sendiri."
"Ya, memangnya itupun kesalahanku, aku salah pikir waktu itu karena mengingat utusan raja Nepal itu adalah tamu yang harus dihormati, tindak-tanduk mereka tidak pantas kalau dibatasi hingga akhirnya terjadilah kesalahan besar itu. Kalau sekarang aku menutupi perbuatan mereka itu, itu berarti sudah salah ditambah salah lagi".
"Sebenarnya itupun bukan salahmu. Sucun,"
Tiba-tiba Siuco Hou-hoat-tecu ikut berkata.
"Peng-thyoan Thian-Ii adalah saudara misan raja Nepal, jika raja Nepal "mengundang"
Puteranya dan dayang-nya kembali kenegerinya, maksudnya tiada lain ialah ingin Peng-choan Thian-li pulang ketanah air asalnya.
Apakah perbuatan itu salah atau tidak itu adalah urusan negeri mereka dan kita adalah orang luar, tidak pantas ikut campur.
Soalnya cuma secara kebetulan kita terlibat dalam perbuatan mereka itu.
Maka akupun setuju pendirian Sucun tadi, kita akan umumkan duduknya perkara yang sebenarnya, dan itupun tidak berarti mengaku salah dan minta maaf."
"Sudahlah, tidak perlu kau membela diriku,"
Sahut Hoatong.
"Kedua utusan Nepal itu tinggal digereja kita sini, apa yang mereka perbuat harus menjadi tanggung-jawabku. Kalau salah ya tetap salah, kenapa tidak berani minta maaf?"
Sampai disini, lalu ia berpaling kepada sang Sute dan berkata pula.
"Sedang mengenai membela nama baik agama kita seperti kehendakmu tadi, memang ini wajib. Aku telah berbuat salah hingga membikin nama baik agama kita tercemar, sungguh aku merasa tidak tenteram, maka aku sudah ambil keputusan buat mengundurkan diri sebagai Kau-cu sangkut-paut dengan agama kita. Dengan demikian mungkin nama baik agama kita dapat dipertahankan."
Hoat-ong sangat banyak mendapat dukungan anak murid Pek-kau, dalam urusan hijrah ke Nepal ini timbul perselisihan pendapat dengan sang Sute, maka banyak juga anak muridnya condong kepada pendirian Beng-lun-ong.
Tapi kalau kedudukan Kaucu mesti dikorbankan, ini sekali-sekali bukan kehendak mereka.
Sebab itulah ucapan Hoat-ong itu telah membikin geger ruangan sidang itu.
Serentak para Lama itu menyatakan ketaatan mereka kepada Hoat-ong dan minta maksud mengundurkan diri itu dibatalkan Berulang-ulang Hoat-ong memberi tanda agar para Lama tenang, dengan demikian suasana menjadi reda kembali.
"Suheng, engkau adalah pilihan orang banyak, tentang mengundurkan diri itu jangan dikemukakan saja, biarlah kita berunding lagi secara mendalam dulu,"
Demikian kata Benglun-ong.
Ia sengaja pura-pura meminta sang Suheng tetap pada jabatannya, dengan demikian orang-orang yang pro Hoat-ong menjadi tidak terlalu sirik lagi padanya.
Lalu Beng-lun-ong berkata pula.
"Suheng, menurut pendapatku, biarpun kau berani mengaku salah dan minta maaf, mungkin urusan inipun susah diakhiri. Pertama pihak lawan sudah naik darah, belum tentu mereka mau berhenti sampai disini saja, lebih-lebih Kim Si-ih terkenal sebagai iblis yang selamanya tidak kenal apa artinya "cengli". Kedua, meski Suheng menyatakan bersedia tanggung-jawab kesalahan itu, tapi orang lain belum tentu sependapat dengan kau. Pendek kata, sekali Suheng mengaku salah, pamor agama kita pasti akan merosot, bukan mustahil tempat berpijak kita di Jing hay inipun akan sulit dteruskan jika tidak mencari jalan keluar yang lain. Ketiga, dan ini paling penting, pabila engkau membongkar rahasianya raja Nepal, itu berarti kita telah memusuhi dia Suheng boleh menolak tidak mau dijadikan "Budha Hidup", tapi hari depan agama kitapun akan berarti putus harapan sejak kini. Suheng. ini adalah kesempatan yang susah ditiari, harap sekali lagi engkau pikirkan masak-masak demi kepentingan agama kita". Hoat-ong merenung sejenak, katanya kemudian.
"Keputusanku sudah bulat, pertama aku tidak mau pergi ke Nepal, kedua aku harus mengumumkan duduknya perkara. Oleh karena urusan ini menyangkut kepentingan agama kita, maka akupun tidak ingin memaksakan kehendak kalian. Sekarang kedua pihak sudah sama-sama mengemukakan alasan masing-masing, boleh terserah kepada kalian untuk memikirkan lebih masak, pabila dupa yang kunyalakan ini padam, segera kita akan mengambil keputusan terakhir."
Seketika ruangan sidang itu hening kembali, perasaan setiap orang timbul pertentangan antara "berdiri diatas kaki sendiri demi tanah air"
Atau "mengabdi kepada negeri asing dengan janji-janji muluk-muluk.
Tapi manusia tetap manusia, paderi-paderi itu juga manusia, betapapun mereka juga mengiler kepada syarat-syarat yang diajukan raja Nepal itu yang menjanjikan akan memberi kedudukan tinggi dan hidup mewah.
Sinar mata para Lama itu sama tertuju kepada dupa yang dipakai sebagai batas waktu itu.
Satu senti demi satu senti dupa itu menyurut hingga akhirnya terbakar menjadi abu semua.
Lalu berkatalah Hoat-ong.
"Sekarang silakan yang pro pergi ke Nepal berdirilah disisi sana dan yang setuju tetap tinggal disini boleh diam saja tak usah bergerak."
Beng-lun-ong yang mulai berdiri dan menyingkir kesisi sana disusul dengan Lama-Lama yang menyetujui pendiriannya itu.
Ada beberapa Lama yang ragu-ragu, sudah menggeser sampai setengah jalan, lalu balik kembali.
Selang sebentar, pengikut kedua belah pihak sudah terang terbagi.
Segera Hoat-ong memerintahkan Siuco Hou-hoat-tecu menghitung jumlah masing-masing.
Ternyata yang setuju ikut pergi ke Nepal adalah 508 orang dan yang ingin tetap tinggal ditanah air sendiri ada 503 orang.
Jadi pihak Beng-lun-ong telah menang, jumlah pengikutnya lebih banyak lima orang Nyata lebih banyak manusia yang kemaruk kepada harta dan kedudukan daripada menjaga martabat bangsa dan tanah air.
Dengan wajah muram Hoat-ong berbangkit dan katanya.
"Sute. silakan kau naik tahta saja, aku bersedia menyerahkan kedudukan ku ini kepadamu, mulai saat ini engkau adalah Kaucu kita."
Walaupun dalam hati sangat girang, tapi lahimya Beng-lunong pura-pura menolak.
"Ai, masakan Siaute cocok untuk menerima jabatan seberat itu, harap Suheng batalkan niatanmu itu."
Dengan sungguh-sungguh Hoat-ong berkata.
"Pendirianmu telah disokong oleh jumlah yang lebih banyak, engkau juga lama berhubungan baik dengan raja Nepal, selanjutnya jika agama kita hijrah kenegerinya, jabatan Kaucu ini dengan sendirinya lebih cocok dipangku oleh kau. Sute, urusan sudah diputuskan, harap engkau jangan menolak lagi."
Tentang kemungkinan Hoat-ong akan menyerahkan tahta Kau-cu kepada sang Sute memang sudah dalam dugaan para Lama itu, maka hal itu tidak menjadikan bergolaknya suasana sidang.
Hanya ada beberapa orang diantaranya yang diamdiam berduka dan menyesal-kan kejadian itu.
Dengan lagak yang seakan-akan terpaksa, akhirnya berkatalah Khong-jiok Beng-lun-ong.
"Jikalau keputusan Suheng sudah begitu teguh, terpaksa Siaute menerimanya juga."
Habis itu, dibawah dukungan Kabiro dan Hou-hoat-tecu yang lain, Beng-lun-ong di songsong keatas tahta yang diduduki Hoat-ong tadi.
Segera Hoat-ong memimpin para Lama memberi hormat kepada Kaucu baru, lalu katanya.
"Aku telah berbuat kesalahan, silakan Kaucu memberikan hukuman."
"Sekarang tujuan agama kita sudah nyata, selanjutnya adalah agama negara Nepal,"
Demikian kata Beng-lun-ong.
"Suheng, engkau pernah membantu pelaksanaan tugas utusan yang dikirim baginda raja, jasamu justeru sangat besar, darimana engkau pernah berbuat salah? Sudahlah, urusan itu selnjutnya dianggap selesai dan jangan diungkat lagi."
Sungguh perasaan Hoat-ong sangat tertekan, ia pandang sekejap pada sang Sute, lalu katanya pula dengan pelahan.
"Terima kasih atas kemurahan hati Kaucu. Tapi harap Kaucu mengizinkan aku yang berdosa ini meninggalkan agama kita."
"Akupun tidak ingin ikut pergi ke Nepal, maka harap Kaucu suka meluluskan permintaanku untuk mendampingi Sucun,"
Demikian Siuco Hou-hoat-tecu lantas berkata juga. Beng-lun-ong tampak mengkerut kening, katanya kemudian.
"Baik lah, jika memang demikian kehendak Suheng, akupun tidak enak untuk merintangi maksudmu ini, bolehlah kau membawa pergi Si-poti, tapi yang lain-lain hendaklah tetap pada tempat masing-masing". Lalu sambungnya pula.
"Kabiro, sekarang boleh kau undang kemari para utusan raja Nepal itu untuk diperkenalkan kepada orang banyak. Eh, Suheng, apakah engkau masih ingin menemui mereka?"
Mendengar itu, baru sekarang para Lama itu tahu bahwa utusan-utusan Nepal itu masih tinggal didalam gereja mereka, bahkan jumiah-nya tidak cuma seorang saja. Maka terdengar Hoat-ong telah menjawab.
"Tidak perlulah."
"Nanti dulu, Suheng,"
Tiba-tiba Beng-lun-ong mencegahnya ketika Hoat-ong hendak pergi bersama Sipoti.
"Kaucu ada pesan apa lagi?"
Tanya Hoat-ong.
"Jumlah penghuni gereja kita ini seluruhnya ada berapa?"
Tanya Beng-lun-ong.
"Dapat diperiksa dalam buku pendaftaran,"
Sahut Hoat-ong.
"Tidak, aku ingin tahu sekarang juga, apakah Suheng ingat jumlahnya?"
Tanya Beng-lun-ong. Hoat-ong memikir sejenak, sahutnia kemudian.
"Termasuk kita berdua, seluruhnya ada 1031 orang.
"Dan yang tak hadir pada saat ini ada berapa orang?"
Tanya pula Beng-lun-ong. Segera Sipoti mewakilkan menjawab.
"Kecuali penjaga yang ditugaskan keluar serta yang jatuh sakit, yang tak hadir sekarang ada 24 orang. Dari ke-24 orang ini sudah kutanya pendirian mereka. Ternyata jumlahnya separoh-separoh yang pro dan yang tidak setuju ikut ke Nepal. Maka hadir atau tidak suara mereka takkan pengaruhi pemungutan suara tadi."
Sebagai seorang jujur, meski Sipoti mendukung sang guru yg sudah kalah suara itu, tapi tetap dikatakannya dengan terus terang. Tapi Beng-lun-ong mendadak berseru.
"Jika begitu, mengapa jumlah kita ada kelebihan empat orang?"
Keruan Siuco-tecu itu terkesiap, cepat ia tanya.
"Mengapa bisa lebih empat orang?"
"Ya, boleh coba kau menghitung sendiri,"
Ujar Beng-lunong.
"Katanya jumlah paderi gereja kita adalah 1031 orang, yang tak hadir ada 24 orang, jadi yang hadir sekarang seharusnya 1007 orang, bukan?"
Siuco-tecu mengangguk tanda membenarkan. Maka Beng-lun-ong melanjutkan pula.
"Dan tadi kau telah menghitung suara kedua belah pihak, yang setuju pergi ke Nepal ada 508 orang dan yang anti berjumlah 503 orang, jumlah seluruhnya menjadi 1011 orang. Bukankah jumlah itu ada lebih 4 orang??"
"Cari mata-mata musuh, cepat!"
Mendadak Siuco-tecu itu berteriak. Keruan Ki Hiau-hong terkesiap, baru ia pikir Beng-lun-ong itu memang seorang cerdik, mendadak Kabiro telah melompat kehadapannya sambil membentak.
"Disini adalah seorang mata-mata musuh dari Wi-kau!"
Darimanakah mendadak Kabiro dapat mengetahui jejak Ki Hiau-hong?
Kiranya itu disebabkan kedok yang dipakai Ki Hiau-hong itu adalah bekas kulit muka seorang anak murd Dalai Lama yang ditangkap oleh suku pemburu kepala manusia ditengah rimba raya itu serta telah dibeset kulit mukanya, tapi kena dicuri oleh Ki Hiau-hong dan dipakainya sekarang ini.
Lama dari Wi-kau itu pernah dikenal oleh Kabiro dalam suatu upacara adat, maka kini mendadak Ki Hiau-hong disangka sebagai murid golongan Dalai Lama itu.
Begitulah sebagai salah satu dari empat Hou-hoat-tecu, ilmu silat Kabiro dengan scndirinya tidak rendah, maka dalam kejutnya jadi hampir saja Ki Hiau-hong kena ditiengkerem olehnya.
Untung Kang Lam berdiri disisi sang Toako itu, begitu melihat gelagat berbahaya bagi Ki Hiau-hong, segera ia bertindak terus menutuk dari samping.
Ilmu tutuk yang dipakai Kang Lam itu adalah ajaran Kim Siih yang tiada bandingannya, begitu kena tertutuk, seketika tubuh Kabiro terasa kaku dan lumpuh, tangannya yang ketelanjur diulur itu tidak sempat lagi diturunkan kembali, dengan tidak berkutik, maka gayanya menjadi agak lucu tampaknya.
Dengan demikian jejak Kang Lam menjadi diketahui pula oleh musuh.
Para Lama lantas berteriak.
"Ini dia ada seorang mata-mata musuh lagi! Hayolah lekas tangkap!"
Dan beramairamai Ki Hiau-hong dan Kang Lam lantas terkepung ditengahtengah.
Tapi Hiau-hong dan Kang Lam serentak mainkan Thian-lo-poh-hoat sambil punggung menghadap punggung, mereka menggeser kekanan dan kekiri, maju dan mundur secara aneh dan cepat hingga para pengepung itu dibikin pusing dan ikut berputar-putar, akhirnya para Lama itu saling tumbuk sendiri dan menjerit kesakitan.
Sesudah mempermainkan sejenak Lama-Lama itu, selagi Ki Hiau-hong hendak menerobos keluar dari kepungan itu, tibatiba dari depan dipapak oleh suatu tenaga kuat, cepat Hiauhong menangkis dengan kedua tangannya, tapi tenaga itu teramat dahsyat, tangkisannya ternyata kalah kuat, tanpa berdaya ia tertangkap musuh dan kena di-tutuk hingga tak berkutik.
Ternyata orang yang menangkap Ki Hiau-hong itu adalah Khong-jiok Beng-lun-ong.
Sesudah Ki Hiau-hong tertangkap olehnya, se-gera ia lemparkan tawanan itu ketanah, menyusul Kang Lam di-cengkeramnya lagi.
Tatkala itu para Lama telah mundur kesamping dengan cepat, meski jarak Beng-lun-ong dengan Ki Hiau-hong cukup jauh, tapi cengkeraman dari jauh itu ternyata tidak kurang hebatnya daripada mencengkeram dari dekat.
Seketika Kang Lam merasa tersedot oleh suatu arus tenaga dan tertarik kejurusannya Beng-lun-ong.
"Hahaha! Kukira betapa hebat kepandaianmu, makanya berani mengacau kesini!"
Dengan terbahak-bahak Beng-lunong mengejek. Diluar dugaan, baru selesai ucapannya, mendadak suatu tenaga pukulan menyambar dari samping disertai bentakan seorang.
"Jangan melukai ayahku!"
Kiranya itulah Kang Haythian yang telah melontarkan pukulan Si-mi-ciang-hoat yang hebat, dimana tenaga pukulan Beng-lun-ong terbentur, seketika tenaga tarikannya itu dipatahkan.
Diam-Diam Beng-lun-ong terkejut, tapi ia lantas berseru.
"Bagus, kini mata-mata ketiga telah diketemukan lagi!"
Sekali tangannya mein balik, segera ia memotong lagi dari samping. Kang Hay-thian tidak gentar.
"plak", iapun sodorkan telapak tangannya untuk memapak, ia merasa tangannya seperti mendempel besi bakaran, tanpa merasa ia tergetar mundur dengan darah bergolak, rasanya susah ditahan. Sungguh kejut Hay-thian tak terkatakan, pikirnya.
"Pantas Suhengnya dahulu mampu bertempur sama kuatnya dengan Suhuku, kiranya iapun begini lihay. Urusan harini tampaknya tidak mudah untuk diselesaikan."
Sebaliknya Beng-lun-ong sendiri juga tergetar heran, pikirnya.
"Darimanakah Wi-kau mengundang jago selihay ini? Dari suaranya yang masih kekanak-kanakan tadi, sungguh susah untuk dipercaya tenaga pukulannya mampu menangkis seranganku. Sungguh aneh, suaranya yang kekanak-kanakan tadi tidak sesuai dengan coraknya yang sudah tua, apalagi ia memanggil orang itu sebagai ayah, benar-benar aneh!"
Dalam pada itu Hoat-ong juga telah sangka Ki Hiau-hong sebagai anak murid Dalai Lama, diam-diam ia juga heran dan kuatir pula, pikirnya.
"Wah, urusan harini benar-benar ruwet, jika kurang tepat menyelesaikannya, pasti akan terjadi pertumpahan darah diantara kedua aliran agama."
Dalam kuatirnya, ia menjadi lupa pada kedudukannya sendiri sekarang, segera ia berseru.
"Sute, berhenti dulu, berhenti!"
"Suheng, sekali engkau sudah keluar dari agama, maka urusan dalam agama harap engkau jangan ikut campur lagi!"
Sahut Beng-lun-ong dengan dingin, tapi serangan-serangannya tidak menjadi kendur, ia melangkah maju dan menghantam sekaligus dengan kedua tangannya.
Namun Kang Hay-thian sudah kerahkan tenaga dalam dan siap menangkis, ia gunakan telapak tangan kanan dengan Simi-ciang-hot dan jari tangan kiri dengan It-ci-sian-kang, maka serangan Beng-lun-ong itu dapat dipatahkan pula.
Menyaksikan pertempuran yang susah dilerai itu, diam-diam Hoat-ong menghela napas.
"Sucun, apakah kita tinggal pergi saja?"
Tiba-tiba Siutio-tecu bertanya.
Hoat-ong menggeleng kepala dan tidak menjawab.
Nyata sebagai bekas Kaucu puluhan tahun, boleh dikata ia sudah mendarah-daging bersama agama Putih yang dipimpinnya itu, apalagi dalam saat penting yang menentukan mati-hidup agama itu, sudah tentu ia tidak tega tinggal pergi begitu saja.
Akan tetapi ia sekarang sudah bukan Kaucu lagi, menurut peraturan Pek-kau, sebagai seorang bawahan sekarang ia takbisa lagi memberi perintah kepada sang Su-te yang telah menggantikannya sebagai Kaucu.
Maka ia menjadi serba salah dan kehabisan akal.
Pada saat itulah dua Hou-hoat-tecu yang lain masingmasing telah memayang Kabiro dan menggusur Ki Hiau-hong kehadapan Hoat-ong.
Kiranya kedua Hou-hoat-tecu itu tidak mampu membuka Hiat-to kedua orang yang tertutuk itu, maka mereka ingin minta pertolongan kepada Hoat-ong.
Dengan rasa heran Hoat-ong coba memegang nadi Kabiro, dengan ilmu silatnya yang tinggi, dari denyut nadi yang tertutuk itu akan dapat diketahuinya Hiat-to mana yang tertutuk.
Akan tetapi ia merasa denyut nadi Kabiro kadangkadang cepat dan kadang-kadang lambat, kacau tak teratur Keruan Hoat-ong terkejut, pikirnya.
"Aneh, ilmu Tiam-hiat dari golongan manakah ini? Mengapa aku tidak dapat menyelaminya?"
Sesudah memikir sejenak, akhirnya ia terus mengerahkan Lwe-kang sendiri, ia salurkan melalui telapak tangan untuk menggempur "Thian-ki-hiat"
Ditubuh Kabiro.
Memangnya kepandaian Kabiro sendiri juga tidak rendah, ditambah lagi bantuan Lwekang dari Hoat-ong, keruan jalan darahnya menjadi lancar seketika, Hiat-to yang tertutuk tadi menjadi terbuka dengan sendirinya.
Tiba-Tiba Hoat-ong bersuara keheran-heranan, dan ketika dilihatnya Kabiro memandang padanya dengan terlongonglongong, segera Hoat-ong berkata.
"Kau sudah tak apa-apa lagi, boleh pergilah mengaso saja."
Kiranya saat itu Hoat-ong sedang teringat kepada seseorang, pikirnya.
"Jangan-Jangan Kim Si-ih telah datang?"
Ia pernah bergebrak dengan Kim Si-ih, maka cukup mengetahui betapa hebat ilmu Tiam-hiatnya Kim Si-ih, sebab dahulu ia sendiri sudah pernah merasakan pahitnya.
Teringat kepada Kim Si-ih, Hoat-ong terkesiap dan bergirang pula, ia coba perhatikan, ia melihat kedua orang yang bertempur dengan sang Sute itu lagi terdesak mundur.
Kembali Hoat-ong melengak, pikirnya pula.
"Ah, tidak bisa jadi. Kedua orang ini terang bukan Kim-tayhiap."
Dan pada saat itulah empat utusan raja Nepal telah diundang keluar oleh murid kepercayaan Beng-lun-ong.
Dengan jelas Thian-ih dapat mengenali dua diantaranya memang benar adalah orang-orang yang malam itu menggerayangi rumahnya serta menculik Yu Peng, yaitu isterinya itu..
Melihat musuh berada didepan matanya, sudah tentu Thian-ih menjadi murka, tanpa pikir lagi ia terus tarik kedoknya serta membentak.
"Tan Thian-ih berada disini, kalian harus kembalikan isteriku!"
Kedua utusan Nepal itupun terkejut, dalam pada itu dengan cepat luar biasa Thian-ih sudah menyerang dengan tipu "Siang-liong-cut-hay" (sepasang naga keluar dari lautan), sekali tusuk berturut-turut dua orang itu diarahnya.
Sebabnya Thian-ih lantas membuka kedoknya, pertama karena ia merasa dipihak yang benar, ia ingin menghadapi mereka se-cara terang-terangan; Kedua ia sudah tahu Hoatong bersedia membantu padanya, maka tidak perlu dituduh orang sebagai mata-mata musuh.
Ia pikir kalau kedua utusan Nepal itu dapat ditangkap salah seorang saja tentu akan membikin Khong-jiok-ong merasa jeri dan tidak berani sembarang bertindak.
Diluar dugaan kedua utusan Nepal itu ternyata bukan kaum lemah, serangan kilat Tan Thian-ih itu telah dapat dihindarkan mereka.
Malahan utusan yang ketiga segera mengangkat sebuah Kim-pun (mangkok emas) untuk menangkis serangan Thian-ih yang lain, berbareng utusan yang keempat lantas menanggalkan juga kasanya, sekak kasa itu terbentang, bagaikan selapis awan merah terus saja menutup keatas kepala Thian-ih.
Ilmu silat utusan keempat itulah paling kuat, pedang Thianih tergubat oleh jubahnya itu hingga susah diputar, dengan demikian kedua utusan yang pertama tadi menjadi ada kesempatan untuk merangsang maju dari kanan-kiri.
Tampaknya segera Thian-ih akan tertawa, mendadak Toanong membentak.
"Hendaklah kalian berhenti dulu, dengarkanlah se-patah-kataku!"
Bentakan Hoat-ong itu adalah ilmu "Say-cu-hau"
Atau ilmu auman singa yang hebat, seketika anak telinga semua orang seakan-akan pekak, bahkan yang landasan Lwekangnya lemah lantas sempoyongan tergetar oleh suara gertakan itu.
Kedua utusan Nepal pertama tadi ikut tergetar juga hingga serangan mereka meleset, keruan mereka sangat terkejut dan cepat menanya.
"Hoat-ong ada petunjuk apakah?"-"Tan-sicu, apa yang Lolap katakan tadi tentu sudah kau dengar semua, maka sekarang juga lebih dulu aku minta maaf padamu,"
Kata Hoat-ong segera dengan pelahan-lahan. Cepat Thian-ih membalas hormat dan menyahut.
"Aku tidak berani menerima kerendahan hati Hoan-ong, yang kuharap hanya sudilah Hoat-ong mempertahankan keadilan urusan ini."
"Sungguh menyesal Lolap tidak dapat berbuat apa-apa,"
Sahut Hoat-ong.
"Isterimu sudah lama tidak berada di gereja ini, jika kau ingin bertemu, terpaksa kau harus pergi ke Nepal."
Kemudian Hoat-ong berkata pula kepada utusanutusan Nepal itu.
"Raja kalian bermaksud memboyong Pengchian Thian-li dan pengikut-pengikut-nya pulang kenegerimu, urusan ini sebenarnya adalah urusan dalam negeri kalian, sekali-sekali Lolap tidak berani ikut campur. Tapi Tan-sicu ini kehilangan isteri dan ingin lekas-lekas menemukannya, hal ini adalah kelaziman manusia. Dia juga bukan warga negara kalian, rajamu tiada perintah untuk menangkapnya, maka hendaklah kalian memandang diriku dan membiarkan dia pergi saja dari sini. Aku tidak membela pihak manapun, yang kuharap ialah kalian menyudahi sementara percecokan ini."
Thian-ih pikir urusan ini memang hanya dapat diselesaikan dengan raja Nepal, utusan-utusan ini hanya menerima perintah saja dari rajanya, biarpun mereka dibunuh juga tiada gunanya.
Dengan demikian rasa gemasnya kepada utusanutusan Nepal itu menjadi banyak berkurang.
Sebaliknya utusan-utusan Nepal itu tidak menunjukan perasaan apa-apa terhadap perkataan Hoat-ong tadi.
Mereka hanya memandang ke arah Khong-jiok-org seperti ingin meminta petunjuknya.
"Tan-sicu,"
Demikian Hoat-ong lantas berkata lagi.
"apakah sobat-sobat itu adalah kawanmu?"
"Benar, mereka adalah kawan-kawan yang ingin membantu padaku,"
Sahut Thian-ih. Lalu Hoat-ong berpaling kepada Khong-jiok-ong dan berkata.
"Sute, beberapa sobat ini bukanlah mata-mata musuh, harap engkau suka membiarkan mereka pergi saja dari sini."
"Tidak bisa,"
Sahut Khong-jiok-ong mendadak dengan suara menahan gusar.
"Kini aku telah diangkat menjadi Kok-su dari kerajaan Nepal, tidak peduli mereka itu mata-mata musuh atau bukan, terpaksa aku harus menawan mereka ke Nepal dan terserah kepada Keputusan baginda raja."
"Sute, cara ini bukankah agak keterlaluan?"
Ujar Hoat-ong "Hendaklah kau suka mendengar lagi sedikit nasihatku........."
Tapi Khong-jiok-ong telah memutusnya dengan tersenyum dingin dan sikap jemu, katanya.
"Urusan harini sebenarnya kau yang berkuasa atau aku?"
Hoat-ong menjadi serba salah, sahutnya.
"Sudah tentu Kaucu yang berkuasa."
"Baiklah, jika begitu hendaklah kau jangan bicara lagi,"
Kata Khong-jiok-ong dengan suara keras.
"Nah, ini Keputusanku sekarang! Kau sudah meninggalkan agama kita, bila tidak sudi menurut perintahku, boleh kau menonton saja disamping, tapi jangan sekali-sekali membantu musuh, kalau tidak, itu berarti perbuatan pendurhakaan kepada agama."
Habis itu, segera ia memberi tanda dan berseru.
"Tangkap semua mata-mata musuh yang diketahui itu, segala urusan adalah tang gung-jawabku!"
Keempat utusan Nepal itu memberi hormat kepada Hoatong, kata mereka.
"Maafkan kami terpaksa mesti menurut perintah Kaucu kalian!"
Habis berkata, serentak mereka mengembut Thian-ih lagi. Keruan gusar Hoat-ong tidak kepalang, pikirnya.
"Aku sudah berbuat salah, kalau harini membiarkan Tan Thian-ih ditawan mereka pula, bukankah itu akan menambah kesalahanku?"
Tapi iapun serba sulit, jika ia turun tangan untuk mentiegah, itu berarti membikin urusannya semakin sulit diselesaikan, bahkan Pek-kau sendiri pasti akan terpecahbelah, padahal ia sudah menyerahkan kedudukan Kaucu kepada sang Sute, mana boleh sekarang dirinya me rongrong pula kewibawaannya.
Begitulah Hoat-ong menjadi serba salah untuk bertindak.
Sementara i!u Kang Lam dan Kang Hay-thian juga sudah mencopot kedok mereka.
Segera Kang Lam berseru.
"Hoatong, engkau adalah orang baik, janganlah kau susah, sekalisekali aku tidak menyatahkan kau, kami akan merasa terima kasih asalkan engkau tidak ikut campur urusan ini". Mendengar itu, perasaan Hoat-ong semakin tidak enak.
"Hai, jangan kalian membikin susah Ki-toako!"
Mendadak Kang Lam berseru pula.
Kiranya waktu itu dilihatnya seorang Hou-hoattecu sedang hendak menggusur Ki Hiau-hong ketempat tahanan di belakang istana, cuma Hou-hoat-tecu itu belum tahu kalau tawanannya itu adalah Ki Hiau-hong.
Hati Hoat-ong tergerak, segera ia dapat menerka duduknya perkara, cepat ia keluarkan ilmu sakti "Keh-khong-kay-hiat" (membuka Hiat-to yang tertutuk dari jarak jauh).
jari telunjuknya menuding kedepan, kontan satu arus tenaga menyambar ke Thian-ki-hiat di punggung Ki Hiau-hong.
Seketika kaki-tangan Ki Hiau-hong dapat bergerak dengan bebas lagi, mendadak ia melompat keatas.
berbareng ia menyikut hingga Hou-hoat-tecu yang menjaganya itu dibikin terjungkal.
Ketika Hiau-hong menerjang maju pula.
"fui!"
Terus saja ia meludahi Khong-jiok-ong dengan riak yang kental.
Cepat Khong-jiok-ong mengebas dengan lengan bajunya hingga Hiau-hong dipaksa melompat mundur.
Tapi kin Khong-jiokong takbisa menghadapi Ki Hiau-hong dengan sepenuh tenaga lagi, kelemahan itu segera digunakan oleh Hiau-hong, ketika Kang Hay-thian melontarkan serangan, berbareng iapun merangsang maju.
Sungguh tak terduga oleh Khong-jiok-ong bahwa lawan yang sudah digebah mundur itu berani merangsang maju lagi, karena tak tersangka-sangka, maka tahu-tahu Ki Hiau-hong sudah menubruk sampai didepannya terus menghantam.
Segera Khong-jiok-ong merasakan suatu arus tenaga yang maha dingin, sedangkan tenaga pukulannya lagi dipakai melawan pukulan Kang Hay-thian, seketika itu terang susah ditarik kembali, terpasa ia gunakan pundaknya untuk menahan.
Tapi Ki Hiau-hong terlalu licin dan jahil pula, setiepat kilat ia membetot hingga secomot jenggot Khong-jiok-ong kena dibubutnya.
Ia terbahak-bahak sambil melesat keluar dari lingkaran tenaga pukulan Khong-jiok-ong yang sedang mengamuk.
Namun mau-tak-mau Khong-jiok-ong harus mengerahkan tenaga dalam untuk menolak hawa dingin dan Siu-lo-im-sat-kang yang dilontarkan Ki Hiau-hong tadi.
dan karena inilah tanpa kentara Kang Hay-thian telah dibantu untuk mempertahankan kedudukannya hingga menjadi sama kuatnya sekarang dengan Kong-jiok-ong.
"Ki-pepek, boleh kau pergi membantu Tan-pepek saja!"
Seru Hay-thian. Memang benar, disebelah sana Thian-ih lagi kewalahan menghadapi empat utusan raja Nepal tadi. Untung sesudah dibantu Ki Hiau-hong, kedudukannya lantas berubah lebih kuat.
"Baiklah, karena kalian terlalu mendesak, terpaksa akupun tidak segan-segan lagi!"
Seru Kang Hay-thian Tatkala itu Khong-jiok-ong lagi mengerahkan tenaga dalam untuk menolak hawa dingin Siu-lo-im-sat-kang yang masih menyusup didalam tubuhnya, kekuatannya menjadi tidak cukup untuk mengurung Kang Hay-thian, kesempatan ini segera digunakan oleh pemuda itu untuk mencabut pedang nya.
Dan sekali pedang berputar selincah naga.
seketika dalam lingkaran seluas dua meter sinar dingin menyambarnyambar dan para Lama yang berdekatan terpaksa menyingkir.
Waktu Khong-jiok-ong mencoba mengebas dengan lengan ba-junya.
"bret", tahu-tahu ujung lengan baju terkupas sepotong. Sekonyong-konyong Kang Hay-thian memutar tubuh, sekali pedangnya bergerak, terus saja ia menerjang kearah utusanutusan Nepal itu. Segera utusan Nepal yang paling kuat ilmu silatnya itu menangkis dengan mangkok emas yang dipegangnya. Diluar dugaannya pedang Kang Hay-thian itu adalah pedang mestika yang dapat memotong logam bagai merajang sayur, maka terdengar "trang"
Sekali, mangkok emas murni itu telah tertusuk tembus oleh pedang mestika.
Khong-jiok Beng-lun-ong menjadi gusar, ia sambar sebatang Kiu-goan-sik-tiang (tongkat timah bergelang sembilan) dari seorang Hou-hoat-tecu, dengan cepat sekali ia terus menyodok.
Tapi sekali Kang Hay-thdan menabas pedangnya, kontan ujung tongkat paderi itu terkupas sebagian, sebaliknya pedang pemuda itu juga tergentak kesamping oleh tenaga Beng-lun-ong yang besar itu.
Menyusul serangan kedua dari raja agama itu sudah tiba pula.
sekali ini tongkat itu berputar hingga Hay-thian terkurung ditengah lingkaran sinar senjata.
Sudah tentu Kang Hay-thian tidak unjuk kelemahan, iapun putar pedangnya dengan sama tangkasnya hingga terdengarlah suara gemerincing yang nyaring, dimana pedang berulang-ulang membentur tongkat lawan.
Sementara ini hawa dingin Im-sat-kang tadi sudah tertekan keluar semua dari tubuh Beng-lun-ong.
ia sudah dapat menghadapi Kang Hay-thian dengan penuh semangat.
Dalam hal senjata ia tidak berani beradu lagi, tapi ia menang ulet dalam hal tenaga, setiap kali ia dapat paksa Kang Hay-thian tergetar mundur dengan tenaga dalamnya.
Suatu ketika, mendadak Khong-jiok-ong menghantam dua kali dengan tangan kiri, ia paksa Thian-ih dan Ki Hiau-hong berkelit kesamping, dengan demikian ia berhasil memisahkan hubungan kedua orang itu dengan Kang Hay-thian.
Ia sengaja berbuat demikian karena ia pandang Hay-thian sebadai lawan yang paling tangguh, dengan sepsauh tenaga ia ingin robohkan dulu musuh terkuat ini.
Namun disebelah sana Kang Lam telah menarik diri untuk membantu Thian-ih dan Hiau-hong mengeroyok keempat utusan Nepal itu.
Dengan demikian kekuatan kedua pihak menjadi seimbang.
Tapi lambat-laun Kang Hay-thian yang kewalahan melawan Beng-lun-ong, tenaga dalamnya kalah ulet, dengar gaya "melengket"
Tongkat Beng-lun-ong dapat mengelakan tabasan pedang pusaka Kang Hay-thian itu, bahkan setiap kali mendempel, tangan Hay-thian lantas tergetar sakit pegal, makin lama tenaganya makin surut hingga permainan pedangnya menjadi kendur juga.
Tengah Hoat-Ong merasa kuatir dan tak berdaya melerai pertarungan itu, tiba-tiba dilihatnya seorang Lama berlari masuk memberi lapor dengan gugup.
"Pengchoan Thian-li minta bertemu dengan SucunI"
Keruan girang Hoat-ong tak terkatakan, cepat ia menyahut.
"Lekas silakan dia masuk!"
"Suheng, mana boleh kau sembarangan mengambil keputusan?"
Seru Beng-lun-ong dengan gusar. Namun Hoat-ong telah menjawabnya dengan tenang.
"Meski bukan Kaucu lagi, tapi untuk menerima sahabat rasanya adalah kebebasan pribadiku, bukan?"
Baru selesai ia berkata, maka tertampaklah Teng Kengthian dan Peng-choan Thian-li sudah melangkah masuk, dibelakang mereka tampak mengikut empat dayang wanita.
Bahkan salah seorang dayang itu terus memburu maju dan berseru dengan suara teiharu dan bergirang.
"Thian-ih!"
Hampir-Hampir Thian-ih tidak percaya pada telinganya sendiri, ketika ia menoleh, ya, memang tidak salah lagi, itulah isterinya yang sangat dirindukannya itu. Segera ia berteriak.
"Peng-moay, apakah kita bukan dialam mimpi?" -Segera iapun melompat keluar dari kalangan pertempuran dan memburu kearah Yu Peng, lalu kedua orang saling merangkul dengan mesra. Ketika mendadak nampak Peng-choan Thian-li muncul disitu, memangnya keempat urusan Nepal Itu menjadi terkejut. apalagi dilihatnya pula Yu Peng juga ikut serta datang, keruan mereka lebih gugup lagi, mereka menduga didalam negeri mereka tentu terjadi apa-apa, dengan sendirinya mereka sangat kuatir dan tidak berani berlagak garang lagi. Segera utusan yang menjadi kepala itu memimpin kawan-kawannya kehadapan Peng-choan Thian-li dan memberi hormat.
"Hamba tidak tahu kalau Kongcu akan datang kemari hingga tidak, menyambut sebelumnya, harap dimaafkan."
"Hm, ada apa kalian datang kesini?"
Tanya Peng-choan Thian-li dengan menjengek.
"Kami mendapat perintah dari baginda untuk menyambut Kok-su ketanah air,"
Sahut utusan itu. Segera utusan kedua menambahkan pula.
"Baginda juga mengundang Kongcu supaya pulang, mestinya sesudah Kok-su kami hantar pulang, segera akan menghadap Kongcu diistana es, tak terduga Kongcu kini telah, datang kemari, itulah kebetulan malah. Jika Kongcu tidak keberatan, marilah kita berangkat bersama dengan Kok-su."
"Negeriku sendiri, manakala aku suka, setiap waktu aku bisa pulang sendiri, buat apa kalian mesti ikut urus?"
Damperat Thian-li.
"Hayo, lekas kalian enyah saja dari sini, lekas!"
Keempat utusan Nepal itu menjadi serba runyam, mereka saling pandang, lalu berpaling kearah Beng-jin-ong, kemudian memandang pula kepada Peng-choan Thian-li dengan raguragu, jika mereka melawan sang Puteri, takut pula kalau dihajar malah.
Melihat perintahnya tak diturut, Peng-choan Thian-li menjadi gusar, bentaknya.
"Kalian berani membangkang perintahku? Baik, Yu Peng, ringkuslah mereka dan giring kembali kenegeri kita untuk minta keputusan (raja baru)."
Mendengar disebutnya "raja baru"
Seketika keempat utusan itu pucat dan ketakutan.
Tapi mereka adalah orang-orang yang punya ke-dudukan di Nepal, betapapun mereka tidak mandah diringkus begitu saja, apalagi mereka tidak kenal sampai dimana lihaynya Peng-choan Thian-li yang sejak kecil sudah meninggalkan negeri leluhur mereka itu.
Sebab itulah, serentak merekapun berbangkit hendak melawan.
"Berani kalian!"
Bentak Peng-choan Thian-li.
Berbareng tangan nya mengayun, sekaligus ia hamburkan "Peng-pok-sintan" (peluru-peluru es) yang merupakan senjata rahasia maha aneh dan sakti itu.
Keruan utusan itu menggigil kedingin tersambar peluru-peluru es yang me-nyusup kehidung dan telinga mereka, bahkan ada seorang diantaranya lagi hendak berteriak, tahu-tahu mulutnya kemasukan sebutir peluru es itu.
Tanpa ampun lagi keempat orang itu kedinginan, darah mereka seakan-akan membeku, gerak-gerik mereka menjadi kaku.
Maka dengan mudah saja Yu Peng pimpin ketiga kawannya meringkus keempat utusan Nepal itu.
Dahulu Yu Peng pernah diculik oleh mereka dan baru sekarang ia dapat melampiaskan rasa dendam itu.
Sekonyong-konyong Beng-jin-ong membentang kasanya untuk merintangi Yu Peng berempat sambil membentak.
"Kalian berani menawan orang disini? Lekas lepaskan mereka!"
"Aku menangkap orang negeriku sendiri, sangkut-paut apa dengan kau?"
Kata Peng-choan Thian-li.
"Aku tahu engkau adalah Puteri kerajaan Nepal, tapi apakah kau juga tahu bahwa aku adalah Kok-su yang telah diangkat ra-jamu itu?"
Sahut Beng-lun-ong.
"O, kiranya kau inilah Kok-su yang katanya hendak disambut pulang ke Nepal oleh mereka itu? Maaf, maafkan aku tidak tahu!"
Kata Peng-choan Thian-li.
"Tidak apa, asal kau sudah tahu saja,"
Sahut Beng-lun-ong.
"Tentang mereka itu adalah utusan rajamu sendiri, apa yang diperbuat mereka adalah atas perintah baginda raja. Sekalipun engkau ada tuan puteri mereka, betapapun kekuasaanmu apa lebih tinggi-daripada raja?"
Dan sesudah tertawa mengejek, lalu sambung nya pula.
"Pula, menurut perintah raja, engkau juga diharapkan lekas pulang kesana. Kebetulan akupun akan berangkat sekarang, maka kuharap mereka dibebaskan saja dan marilah kita berangkat bersama. Jika kau ingin kemukakan apa-apa, boleh kau bicara sendiri dengan raja."
"Jika begitu, jadi kau yang akan menangkap aku, ya?"
Tanya Thian-li.
"Mana aku berani, tapi aku mengajak padamu saja,"
Sahut Beng-lun-ong.
"Kalau aku tidak mau?"
Tanya Thian-li pula. Beng-lun-ong menjengek, katanya.
"Jika Kongcu tidak mau turut perintah raja, pula tidak sudi memenuhi permohonanku, ya, apa toleh buat, terpaksa aku mesti bikin susah pada Kongcu."
Sebab apakah mendadak Khong-jiok Beng-lun-ong begini garang terhadap Peng-Choan Thian-li?
Kiranya selama beberapa tahun ia tinggal di Nepal, maka ia cu-kup tahu maksud tujuan raja Nepal sekarang.
Raja itu sesungguhnya bukan merindukan saudara misannya ini dan ingin menyambut nya pulang ketanah air, tapi tujuannya ingin mencaplok Tibet, dan kuatir kalau Peng-choan Thian-li merintanginya, bahkan mungkin akan menjatuhkan tahtanya, maka ia sengaja berusaha memancing Peng-choan Thian-li pulang ke Nepal, disana akan dibunuhnya dgn tipu muslihat keji.
Disamping itu raja lalim itu juga kepincuk pada kecantikan saudara misannya ini, maka diam-diam ia telah mengundang seorang tabib bangsa Arab yang khusus disuruh membuatkan semaryam obat bius dari tetumbuhan dipuncak Hima-laya, yaitu disediakan untuk dipakai atas diri Peng-choan Thian-li.
Cuma iapun kenal berapa lihaynya saudara misan itu, dalam keadaan perlu, sudah tentu ia lebih pentingkan tahta daripada wanita cantik, maka Peng-choan Thianli lebih baik akan dibunuh olehnya.
Justeru karena Beng-lun-ong cukup tahu maksud tujuan raja Nepal itulah, maka ia tidak takut kepada perbawa Pengchoan Thian-li dan berani memusuhinya.
Dalam pada itu perhatian semua orang menjadi terpusat kearah Khong-jiok-ong dan Peng-choan Thian-li.
Hoat-ong adalah orang yang paling kuatir, selagi ia bermaksud maju mencegah sang Sute, tiba-tiba Peng-Choan Thian-li sudah mendahului membuka suara dengan sikap dingin kepada Khong-jiok-ong.
"Mungkin sudah hampir setengah tahun kau meninggalkan Katmandu? Ada suatu peristiwa yang mungkin belum kau ketahui, yaitu raja lama negeri kami telah digulingkan oleh rakyat dan raja baru sudah naik tahta. Kedudukanmu sebagai Kok-su juga sudah dihapus. Aku justeru mendapat perintah dari raja baru untuk meringkus keempat utusan ini serta dibawa pulang kesana."
Ucapan Peng-choan Thian-li itu kedengarannya soal sepele saja, tapi bagi Khong-jiok Beng-lun-ong rasanya bagaikan halilintar disiang bolong, seketika semangatnya rontok, begitu pula impian muluk-muluk para Lama yang mendukungnya itupun tersapu bersih oleh keterangan Thian-li itu.
Dengan ginkang Peng-choan Thian-li yang tinggi, sudah tentu ia tidak gampang kena dicengkeram lawan, sekali melesat, cepat sekali ia sudah menggeser pergi dua-tiga meter jauhnya, menyusul tangannya mengayun pula, sekaligus tujuh butir Peng-pok-sin-tan berhamburan lagi susul-menyusul.
Tapi ilmu silat Khong-jiok Beng-lun-ong memang lihay juga, kedua tangannya menghantam kedepan hingga Suatu arus hawa panas menyambar dengan keras, belum lagi pelurupeluru es itu mengenai badannya sudah lantas cair lebih dulu ditengah jalan dan berubah menjadi kabut dingin hingga orang-orang yang berada diruangan situ ikut menggigil rasanya.
Mendadak Beng-lun-ong menggerung sekali terus menerjang ke luar lingkaran kabur dingin itu.
Tapi Teng Keng-thian mendadak melompat untuk menghadangnya sambil menjengek.
"Hm, katanya kau tidak percaya, maka bolehlah kau menyaksikan sendiri ke Nepal."
Sambil berkata, dengan tipu gerakan "Wan-kiong-sia-tiau"
Atau menarik busur memanah rajawali, kedua tangannya memukul berbareng, tangan kiri memakai Kim-na-jiu-hoat (ilmu menangkap) dan tangan kanan menghantam dengan Simi-ciang-hoat.
Lwekang Teng Keng-thian boleh dikata sudah mencapai tingkatan tertinggi, tenaga pukulan Si-mi-ciang-hoat sudah dapat diguna kan sesuka hatinya; Ketika Beng-lun-ong juga memapak dengan memukul, begitu tangan mengadu tangan, tiba-tiba ia merasa tenaga pukulan Teng-Keng-thian seperti ada-tak-ada, pukulannya sendiri seperti mengenai kapas yang lunak, jadi percuma saja biarpun ia memukul sekuat mungkin.
Sebagai seorang ahli silat kelas wahid, biarpun dalam keadaan kalap juga Beng-lun-ong lantas insaf keadaan yang tidak mengun tungkan dirinya itu, cepat ia kerahkan tenaga dalam dan menarik kembali tangannya secara paksa, berbareng kakinya terus menggeser mundur.
Tapi Teng Keng-thian tidak memberi kesempatan lagi kepadanya, pada saat itu ia sudah habis melontarkan tenaga pukulan Si-mi-ciang-lik, sedang tangan kiri dengan Kim-na-diiu juga berhasil mencengkeram Pi-peh-kut (tulang lemas dipundak) musuh.
Maka terdengarlah suara "blang"
Yang keras, tubuh Benglun-ong sekonyong-konyong terbang secepat panah menubruk kedepan, padahal di-depan situ adalah suatu tiang batu, tampaknya kepalanya pasti akan hancur lebur tertumbuk tiang batu itu, tiba-tiba terdengar pula "blang"
Sekali, sebelah tangan Beng-lun-ong menahan ditiang baru itu hingga badannya terhenti, berbareng bubuk batu bertebaran terkena sodokan tangannya itu, seketika diatas pilar terjadi sebuah cap tangan.
Melihat begitu hebat kepandaian Beng-lun-ong, tulang pundak-nya sudah kena dicengkeram olehnya toh masih dapat lolos, maka mau-tak-mau Teng Keng-thian terkesiap juga.
Selagi ia hendak memburu maju pula, namun Hoat-ong sudah keburu bicara.
"Teng-tayhiap, harap ingat atas diriku, biarkan dia pergi saja!"
Semula Beng-lun-ong mengira dirinya sanggup menawan Peng-choan Thian-li, rapi kini sesudah belajar kenal dengan Peng-pok-sin-tan dan Si-mi-ciang-hoat, segera ia insaf melulu Teng Keng-thian seorang saja ia sendiri sudah tak mampu melawannya, apalagi sekarang masih ada Peng-choan Thian-li dan Kang Hay-thian.
Maka betapapun gilanya juga ia tidak berani semberono lagi.
Pada saat Hoat-ong memintakan kelonggaran baginya itu tadi segera iapun menggeloyor pergi dengan masih marah-marah.
Dengan perginya Beng-lun-ong, para Lama yang semula mendu-kungnya itu lantas menyesal dan ganti haluan, mereka serentak menyembah dan minta ampun kepada Hoat-ong disertai permohonan agar Hoat-ong naik tahta kembali.
Lebih-Lebih ketiga Hou-hoat-tecu yang mula-mula membela Benglun-ong secara mati-matian itu, kini be rubah menjadi ketakutan dan minta pengampunan atas kesesatan pikiran mereka.
Tapi Hoat-ong memang seorang raja agama yang arif bijaksana, katanya.
"Dahulu Budha rela meninggalkan gelar pangeran dan duduk semadi 7 X 7 = 49 hari dibawah pohon Pote, akhirnya berhasil menyadan ajaran Budha dan mencapai kesempurnaan hidup. Tentang napsu manusia ingin hidup mewah dan pangkat tinggi itu memang susah dielakan setiap orang. Setiap orang tentu pernah berbuat salah, asal saja mau memperbaiki kesalahan, itulah paling baik. Sudahlah, kalian bangun semua!"
Begitulah suasana menjadi tenang dan tenteram kembali, para Lama itupun sangat gembira.
Hoat-ong menerima tongkat kebesaran nya pula dan naik kembali ketahtanya.
Malamnya Hoat-ong mengadakan perjamuan untuk menghormati tamu-tamunya dan sekaligus sebagai tanda terima kasih kepada Teng Keng-thian dan Peng-choan Thian-li.
Thian-ih, Kang Lam, Hay-thian dan lain-lain juga ikut hadir dalam perjamuan itu.
Disitu pula Yu Peng baru sempat menceritakan pengalamannya di Nepal kepada sang suami, Tan Thian-ih.
Kiranya sesudah Yu Peng diculik ke Nepal, raja Nepal tetah mengurungnya disuatu kamar tahanan didalam istana.
Yu Peng terkena racun bunga hantu yang dibiuskan penculik itu, meski ilmu silatnya tidak punah, tapi tenaganya telah hilang, bahkan kaki-tangan juga terasa lemas, makan-miuum juga perlu bantuan pelayan Raja Nepal telah menitahkan empat dayang untuk melayaninya serta untuk memantiing pengakuannya tentang keadaan Peng-choan Thian-li selama tinggal di Tiongkok.
Tapi Yu Peng bungkam seribu bahasa, sedikitpun tidak mau bicara apa-apa.
Lama kelamaan keempat dayang itupun tidak menanyakan lagi.
Bahkan salah satu dayang itu telah bersahabat baik dengan dia.
Dari dayang sahabatnya itu dia mendengar bahwa dayang itu se-benarnya sedang bercinta-bercintaan ketika tiba-tiba dayang itu terpilih untuk dikirim istana, padahal mereka sudah berjanji akan menikah dlm waktu singkat.
Maka dayang itu merasa sangat kesepian dan merindukan kasih.
Yu Peng dapat memahami perasaan seorang gadis yg jatuh cinta, segera ia membantu mencari jalan agar kekasih dayang itupun dapat masuk istana untuk bertemu, umpamanya dengan melamar untuk menjadi punggawa istana.
Tapi kekasih dayang itu adalah pemuda tani, sama sekali tidak paham ilmu silat.
Tapi kemudian Yu Peng mendapat satu akal, ia coba menulis sedikit dasar-dasar ajaran ilmu silat disuatu carik kertas, lalu berikan kepada dayang itu agar berdaya mengirimkannya kepada sang kekasih.
Biar pun ajaran itu cuma sedikit dasar-dasar ilmu silat, tapi pada umumnya sudah lebih kuat daripada Bu-su biasa diistana raja Nepal itu.
Kalau ada kemauan, akhirnya cita-cita tentu terkabul.
Begitulah kekasih sidayang akhirnya berhasil melamar sebagai pengawal raja Nepal dan bertugas didalam istana.
Tatkala itu Yu Peng sudah tiga tahun ditahan disitu, lambat-laun raja Nepal sudah tidak memperhatikannya lagi.
Dayang itu juga pernah membawa kekasihnya untuk bertemu dengan Yu Peng untuk menyampaikan terima kasih-nya.
"Kekasih sidayang itu bernama Babud,"
Demikian tutur Yu Peng lebih jauh.
"meski berasal dari keluarga tani, tapi cukup cerdik dan adalah satu pemuda patriot. Sesudah aku bertemu dengan Babud, barulah aku mengetahui bahwa raja Nepal tidak disukai oleh rakyatnya, raja itupun bermaksud mencaplok Tibet untuk memperluas wilayah kekuasaannya, sudah lama ia memupuk pasukan tentara dan perbekalan yang perlu, kesemuanya itu sudah tentu sangat memberatkan beban rakyat. Maka banyak rakyat jelata sangat merindukan Tuan Puteri mereka, yaitu Peng-choan Thian-li, dengan harapan sang Puteri pada suatu hari akan pulang tanah air untuk menjadi Ratu mereka. Kira-Kira setengah tahun pula, ketika Babud bertemu dengan aku, ia telah menyampaikan suatu berita padaku, katanya Ka-goan Moncu juga telah ditawan oleh raja serta dikurung didalam istana, berita itupun sudah tersiar keluar."
"Siapakah Ka-goan Moncu itu?"
Tanya Kang Lam dengan heran.
"Yu Peng,"
Tiba-tiba Peng-choan Thian-li menyela dengan tertawa.
"sudah lama kukatakan padamu kita saling sebut sebagai saudara, tapi kau masih selalu menggunakan panggilan lama kepada kami."
Lalu ia memberi penjelasan kepada Kang Lam.
"Ka-goan adalah nama puteraku Yaitu sebagai kenang-kenangan asal-usulnya yang bersumber dari Katmandu (Ka = dimaksudnyaa Katmandu. Goan = sumber). Sedang Moncu adalah panggilan orang Nepal kepada putera seorang Puteri Raja."
"Maaf, enci Peng-go, aku hanya menirukan panggilan rakyat Nepal umumnya saja,"
Sahut Yu Peng dengan tertawa.
"Begitulah demi rakyat mendengar berita itu, mereka sangat memperhatikan keselamatan Ka-goan Hiantit, rakyat ingin menolongnya dan bermaksud mengangkatnya sebagai raja baru. Menurut cerita Babud. nasib Ka-goan Hiantit serupa dengan aku, yaitu sama-sama terkena racun bunga hantu hingga tenaga hilang dan badan lemas.
"Meski rakyat ada maksud menggulingkan raja mereka yang lalim itu, tapi pertama tiada yang memimpin, kedua penjaga raja sangat banyak, malahan tidak sedikit diundangnya jagojago pilihan dari luar negeri, maka usaha pemberontakan rakyat sesungguhnya tidaklah mudah. Dan maksud Babud bertemu lagi dengan aku itu justeru ingin berunding dengan aku tiara bagaimana harus membantu usaha pergerakan rakyat itu. Aku sendiri tiada mempunyai akal baik, sebaliknya Babud mempunyai suatu rencana yang baik, kemudian kami lantas bertindak menurutkan rencananya itu, tapi demi pelaksanaan rencananya itu, pengorbanan Babudpun tidaklah kecil.
"Dayang kekasih Babud itu sangat cantik, sudah lama raja Nepal ingin mengambilnya sebagai selir, cuma ia adalah dayang permaisuri, betapapun raja masih jeri pada permaisuri yang berasal dari keluarga bangsawan berpengaruh itu, maka sebegitu jauh maksud jahatnya belum terlaksana........."
"O, tahulah aku,"
Sela Kang Lam tiba-tiba.
"Tentu Babud telah minta kekasihnya menerima maksud raja itu untuk menjadi selir-nya, disitu dapat mencari kesempatan baik untuk membunuhnya."
"Bukan, kalau mau membunuh raja, bukankah Babud sendiri bisa mencari kesempatan?"
Sahut Yu Peng.
"Apalagi kedudukan raja sudah terpupuk kuat, untuk menggulingkan dia, kalau perlu harus dicabut sampai akar-akarnya, kalau tidak, tentu tidak sedikit akan timbul bahaya-bahaya lain. Malahan raja sendiri juga bukan jago silat lemah, banyak pula pengawalnya, untuk membunuhnya juga bukan suatu usaha yang gampang."
"Habis, bagaimana tujuan Babud?"
Tanya Kang Lam.
"Ya, memang Babud bermaksud kekasihnya menerima keinginan raja, mengorbankan diri sendiri sebagai selir raja,"
Tutur Yu Peng.
"Tapi tujuannya bukan untuk melakukan pembunuhan, tapi untuk mencuri obat pemunah bagi kami. Rencana Babud itu terbagi dalam tiga tingkat yang dijalankan setiara berbareng. Pertama kekasihnya diharapkan mencuri obat pemunah racun untuk menolong diriku dan Ka-goan Hiantit; Kedua, dia sendiri akan mengumpulkan kawan-kawan sepaham yang akan diajarkan ilmu silat pada mereka, pa-bila ada kesempatan, mereka akan dimasukan kedalam istana sebagai penjaga atau pengawal untuk menambah kekuatan pengawal-pengawal yar.g sudah mulai bekerja dibawah tanah ditengah istana itu; Ketiga akan diusahakan hubungan dengan pimpinan pergerakan rakyat diluar, jika datang saatnya yang baik, segera luar-dalam akan bergerak serentak untuk menumbangkan kekuasaan raja."
"Demi kepentingan umum Babud rela mengorbankan kekasih sendiri, sungguh hal ini harus dipuji,"
Udiar Thian-ih.
"Tapi entah kekasihnya itu mau menurut atau tidak?"
"Mereka berdua sudah berjanji akan sehidup-semati, semula dayang -itu tidak mau, tapi sesudah Babud memberi penjelasan dan bujukan, akhirnya ia mau juga melaksanakan keinginan sang ke kasih,"
Tutur Yu Peng. Semua orang ikut terharu oleh kebesaran jiwa Kiongli (dayang keraton) yang rela mengorbankan diri itu. Lalu Yu Peng menyam-bung ceritanya.
"Begitulah rencana Babud itu lantas dilaksanakan serentak. Pada pertengahan tahun ini, entah ada apa, tiba-tiba raja telah mengirim keluar sebagian besar jago-jago pilihannya Menurut penyelidikan Babud, katanya mereka dikirim untuk menghadiri pertemuan jagojago silat yang diadakan sesuatu raja dari suatu negeri kecil. Tentang negeri mana, itulah takdapat diketahui Babud."
"Tentu yang dimaksudkan itu adalah pertemuan di Kim-engkiong pada tanggal 15 bulan ini nanti,"
Ujar Ki Hian-hong.
"Pertemuan itu diadakan oleh Kok-su dari negeri Masar dan bukan oleh rajanya."
"Ya, soal itu akupun mendengar cerita dari Suteku,"
Kata Hoat-ong dengan mengangguk.
"Sebenarnya Suteku itu juga akan menghadiri pertemuan itu pada sebelum dia pulang ke Nepal bersama beberapa utusan raja itu."
"Soal pertemuan apa dan negeri mana tidaklah penting bagi kita,"
Tutur Yu Peng pula.
"Yang penting ialah waktu itu adalah suatu kesempatan yang paling bagus bagi pergerakan kita, sebab kekuatan raja telah jauh lebih lemah dengan perginya sebagian besar jago-jago andalannya itu Segera Babud mengirim berita kepada pasukan pergerakan rakyat diluar istana serta saling berjanji pada suatu hari tertentu untuk menggulingkan kekuasaan raja. Ber bareng ia mendesak pula pada kekasihnya agar sebelum tiba hari dicetuskannya pemberontakan itu sudah harus mendapatkan obat pemunah untuk menolong kami, dengan demikian akan dapat ikut membantu pemberontakan mereka, bahkan dapat memberikan suatu pemimpin yang didukung dan dicintai rakyat, yaitu Ka-goan Hiantit, inilah yang paling berarti dalam pergerakan mereka itu. Dan akhirnya obat pemunah itu memang berhasil dicurinya, tetapi, ai, sebab itulah iapun menjadi korban."
Demikian Yu Peng mengakhiri ceritanya dengan menghela napas gegetun.
"Lho, katanya kalian sempat mendapatkan obat pemunah racun, dan sesudah tenaga kalian pulih, mengapa takdapat menolongnya?"
Tanya Thian-ih dengan heran.
"Itu disebabkan dia rela korbankan jiwa sendiri dengan mengaku perbuatannya kepada raja. Ketika kami hendak menolongnya, namun sudah terlambat,"
Sahut Yu Peng.
"Aneh, mengapa dia begitu bodoh,"
Ujar Kang Lam sambil geleng kepala. Semua orang merasa gegetun juga atas pengorbanan sidayang yang suci murni itu. Kemudian Yu Peng menyambung pula.
"Sesudah raja membunuh dia, lalu ia mengirim jago-jagonya hendak menangkap kami, dengan bantuan Babud kami bersembunyi disuatu tempat rahasia, berbareng pasukan pergerakan diluar istana kami beri kabar pula, maka tengah malam itu juga pasukan pemberontak lantas menyerbu kedalam istana. Tatkala itu sudah lebih 12 jam kami meminum obat pemunah, maka tenaga dan ilmu silat kami sudah pulih kembali seperti biasa. Segera kami menggabungkan diri dengan laskar rakyat, dengan serangan dari luar dan dalam itu, pasukan kerajaan telah dapat dihancurkan, cuma sayang, akhirnya raja lalim itu berhasil lolos melalui jalan rahasia dibawah tanah.
"Sebenarnya pasukan pergerakan rakyat bermaksud mengangkat Ka-goan Hiantit sebagai raja baru, tapi Ka-goan tetap menolak-nya, maka dalam keadaan tergesa-gesa akhirnya pasukan pergerakan terpaksa mengangkat seorang cucu sanak keluarga raja yang dahulu untuk naik tahta. Biarpun sudah ngacir, tapi raja lama itu masih banyak pula begundalnya, dengan mati-matian ia bermaksud melakukan serangan balasan kedalam kota, tapi selama itu usahanya selalu gagal. Ia sengaja menyebarkan desas-desus bahwa Kagoan Hiantit adalah bangsa Han, katanya pemberontakan yang dibangkit-kan ini adalah Ka-goan Hiantit yang menjadi biangkeladinya sebab bermaksud mencaplok wilayah Nepal. Syukur Ka-goan Hiantit dapat berpikir panjang dan menolak pengangkatannya sebagai raja, kalau tidak, tentu propokasi raja lama itu akan ditelan mentah-mentah oleh rakyat Namun banyak juga diantara rakyat Nepal yang kenal asal-usul Kagoan Hiantit, mereka merindukan Kongcu dan dengan sendirinya juga sangat mencintai Ka-goan Hiantit. Apalagi rakyat sudah lama benci pada kelalimam raja lama, sebab itudah pengaruh pasukan pergerakan tetap lebih besar dan dapat menguasai suasana.
"Sesudah mengalami beberapa pertempuran sengit, dan berulang-ulang pasukan raja dikalahkan, akhirnya mereka ngacir dan mundur kedaerah pegunungan di barat-daya, sampai sekarang sisa pasukan musuh itu masih belum terbasmi, suatu hal yang masih menguatir-kan. Malahan kabarnya pasukan raja itu sudah bersekongkal dengan penguasa Kalimpung di India, bukan mustahil setiap waktu mereka akan melakukan serangan balasan. Maka Babud sangat kuatir, sesudah dipertimbangkan, aku diminta pulang kesini untuk mengundang Kongcu agar kembali ketanah air guna memenangkan semangat rakyat, dengan kedudukan Kongcu supaya secara resmi dapat mengangkat raja baru, kemudian membasmi sisa-sisa pengikut raja lama."
Demikianlah Yu Peng telah menyelesaikan ceritanya. Sungguh Thian-ih sangat terharu, katanya dengan air mata meleleh "Peng-moay, selama ini kau tentu penuh derita!"
"Ya, dia menderita, tapi juga berjasa besar,"
Ujar Hiau-hong dengan tertawa.
"Coba kalau dia tidak mengatur tipu-daya bagi Kiongli itu hingga Babud dapat dimasukan kedalam istana, tentu raja lalim itu sampai sekarang belum digulingkan. Bukankah ini suatu jasa besar baginya. Nah, makanya pantas jika sekarang kita memberi selamat kepada mereka suamiisteri yang telah berkumpul kembali."
Dan sesudah minum tanda memberi selamat, lalu Kengthian berkata.
"Thian-ih, sungguh menyesal, mungkin cuma dalam waktu singkat kalian berkumpul untuk kemudian harus berpisah lagi, sebab kami akan terus berangkat ke Nepal........."
"Kenapa mereka mesti berpisah,"
Tiba-tiba Peng-choan Thian-li me-nyela dengan tertawa.
"kita undang Thian-ih ikut pergi, bukankah-lebih baik?"
"Itulah terserah, sebab kau adalah tuan rumahnya, aku justeru mengharapkan kau mengundang dia ikut kesana,"
Kata Keng-thian dengan tertawa.
"Kenapa mesti mengundang apa segala, apa kau lupa bahwa Peng-moay sendiri juga termasuk tuan rumahnya?"
Sahut Thian-li dengan tertawa.
Lalu katanya pula dengan sungguh-sungguh.
,.Sudahlah, kita kembali membicarakan pokok persoalannya.
Ki-siansing, negeri Masar yang kau katakan tadi apakah sebuah negeri yang terletak dipegunungan Altai itu?
Kok-su mereka bukankah seorang paderi dari Thian-tiok yang bernama Po-siang Taysu?
Pertemuan di Kim-eng-klong akan diadakan kapan?"
"Benar, rupanya kau sudah tahu akan asal-usul tuan rumah Kim-eng-kiong itu,"
Sahut Hiau-hong.
"Adapun hari pertemuannya ja-tuh pada tgl. 15 bulan ini. He, malahan cuma tinggal lima hari lagi."
"Tahun yang lalu ketika kau mencari kami di Thian-san, kami justeru lagi pergi mencari puteraku yang hilang itu,"
Demikian Thian-li berkata kepada Thian-ih.
"kami pernah mencari ketem-pat tinggal Liong Leng-kiau di Tay-kiat-nia diperbatasan, kebetulan mereka suami-isteri baru pulang dari pesiarnya ke Thiaa-tiok serta menceritakan padaku tentang asal-usul Po-siang Hoatsu itu. Liong Leng-kiau berdua telah berkunjung kepada Liong-yap Siang-d)in di Lan-to-si, paderi saleh itu sudah lebih seabad usianya, tapi karena tetamunya datang dari jauh, mau juga ia menerimanya. Dari Liong-yap Siangjin itulah Liong Leng-kiau mendapat tahu bahwa paderi itu mempunyai seorang murid yang diundang kenegeri Masar dan diangkat menjadi Kok-su. menurut berita yang diterima Liong-yap Siangjin, katanya muridnya itu tidak terlalu baik kelaku annya, maka Liong Leng-kiau diminta bantuannpa ikut menyelidiki tingkah-laku muridnya itu. Dary sikap paderi tua itu, agaknya ia merasa kuatir kalau muridnya itu akan menyeleweng.
"Begitulah Liong Leng-kiau telah ceritakan hal itu kepada kami. Dan kini sesudah mendengar cerita Hoat-ong dan Kisiansing tadi. kukira jago-jago pilihan yang dikirim oleh raja lalim negeriku itu tentunya juga akan hadir didalam pertemuan di Kim-eng-kiong iiu. Urusan ini agaknya tidak sederhana. Syukurlah sekarang salah suatu persoalan sudah diselesaikan, yaitu dengan pertemuaa kembali Thian-ih dan Peng-moay bahkan kita telah memperoleh aula sedikit keterangan duduknya perkara. Dan jika benar duaaaa bahwa jago-jago yang dikirim dari Nepal itu akan hadir dalam perteamaa Kimeng-kiong, maka terpaksa kita harus berangkat dulu keaegeri Masar, pertama untuk membabat habis begundal raja lalim itu agar mereka tak dapat pulang ke Nepal untuk membantu majikan nya. Kedua, sekalian kita dapat menyelidiki kelakuan Po-siang seperti apa yang dipesan oleh Liong-yap Siangjin kepada Liong eng-kiau. Dahulu Liong-yap Siangjin telah menganugrahi aku dengan Pwc-yap-lang-hu (jimat agama Budha) dan mengangkat aku sebagai Li-hou-hoat (wanita pembela agama), jika sekarang beliau mempunyai seorang murid murtad yang merugikan nama baik nya, sudah seharusnya aku mesti memberi sedikit jasa-jasa baik kepada beliau."
"Bagus, mari kita beramai-ramai menjadi tamu yang tak diundang ke Kim-eng-kiong, wah, tentu akan ramai disana,"
Seru Kang Lam dengan girang.
"Eh, Hay-ji sekarang kaupun tidak perlu kuatir lagi, ada sekian banyak para paman dan mamak-mamak akan mengiringi kau kesana, kau tidak akan takut dikeroyok musuh lagi."
"Apakah Hiantit memang juga akan hadir dalam pertemuan Kim-eng-kiong itu?"
Tanya Yu Peng.
"Benar,"
Sahut Hay-thian.
"aku telah mewakilkan Kokciangbun dari Bin-san untuk menerima undangan mereka. Apakah kalian ada yang kabar tentang guruku?"
Lalu Kang Hay-thian lantas menceritakan juga pengalamannya selama ini yang mengherankan semua orang.
Demi mendengar bahwa selama ini Kim Si-ih masih takdapat terangkap jodonya dengan Kok Ci-hoa, mau-tak-mau Pengchoan Thian-li merasa gegetun juga...............
Besok paginya, segera Peng-choan Thian-li membawa kawan-kawannya mohon diri kepada Hoat-ong.
Kata Hoatong.
"Aku mempunyai dua ekor kuda bagus, biarlah kuhadiahkan kepada kalian. Kuda itu setiap harinya sanggup menempuh perjalanan ribuan li, cuma sayang jumlahnya cuma dua ekor."
"Dua ekor juga sudah cukup,"
Ujar Hiau-hong dengan tertawa, Kiranya jarak Kim-eng-kiong dinegeri Masar itu ada ribuan li jauhnya, padahal hari pertemuannya tinggal lima hari saja.
Hoat-ong cukup kenal kepandaian Ginkang Peng-choan Thianli dan Ki Hiau-hong, untuk mencapai Kim-eng-kiong dalam waktu lima hari itu masih dapat dilakukannya, tapi kepandaian yang lain-lain tak dikenalnya, maka ia sengaja menghadiahkan kuda bagus untuk tunggangan yang memerlukannya.
Sesudah, keluar dari istana Orsim itu, lalu Peng-choan Thian-li berkata kepada Kang Lam agar menunggang satu kuda dengan Kang Hay-thian.
Tapi Kang Lam menyahut dengan tertawa.
"Harus diakui memang Ginkangku masih ketinggalan daripada kalian, maka tanpa sungkan-sungkan aku akan menunggang kuda saja. Hay-ji sendiri masih muda dan kuat, biarpun dia jalan kaki saja, sedang kuda yang lain boleh diberikan kepada Ji-so."
"Tidak perlu, aku masih sanggup berjalan,"
Ujar Yu Peng. Thian-ih juga membujuk agar isterinya menunggang kuda saja, akhirnya Yu Peng mau menerimanya.
"Ki-sainsing,"
Kata Peng-choan Thian-li kemudian.
"sudah lama kudengar Ginkangmu maha hebat, marilah kita cobacoba berlomba."
Ki Hiau-hong menjadi ketarik juga, sahutnya segera.
"Baik, memang aku sangat ingin belajar kenal dengan Ginkangmu!"
"Ya. roemangnya kita harus buru-buru menempuh perjalanan, kita semuanya ikut berlomba, tentu akan lebih cepat sampai ditempat tujuan,"
Kata Keng-thian. Diam-Diam Ki Hiau-hong membatin pula.
"Kabarnya dahulu dilereng pegunungan Himalaya Peng-choan Thian-li pernah menggunakan Ginkangnya untuk mengalahkan jago pertama dari Arabia yang diundang raja Nepal hingga menggegerkan berpuluh ribu tentara Nepal yang ikut menyaksikan. Dan entah bagaimana kalau dibandingkan dengan Ginkangku."
Begitulah karena napsu ingin menang Ki Hiau-hong lantas mengeluarkan antero kepandaian yang dimilikinya, larinya secepat terbang hingga kuda laripun kalah cepatnya, sudah tentu Peng-coan Thian-li juga tidak mau menyerah, dengan rapat ia susul Ki Hiau-hong dan lari berjajar dengan dia.
Selang tak lama.
dapatlah Thian-li melampaui sedikit, tapi lantas disusul Ki Hiau-hong dan dilampaui juga.
Begitulah kedua orang susul menyusul secara bergantian hingga susah ditentukan siapa lebih unggul dan siapa asor.
Tan Thian-ih juga tidak lemah Ginkangnya, ia pernah makan buah ajaib diistana es hingga badannya seenteng burung, sekali lompat saja lantas sejauh beberapa meter.
Teng Keng-thian sangat tinggi Lwekangnya, semula ia agak ketinggalan, tapi lama kelamaan dapatlah Thian-ih disusulnya.
Mereka berdua juga seimbang cepatnya, meski takbisa menyusul Peng-choan Thian-li dan Ki Hiau-hong, tapi juga ketinggalan tidak jauh.
Semula Kang Hay-thian yakin biarpun dirinya takkan menjadi juara pertama dalam perlombaan itu, paling tidak juga pasti takkan ketinggalan dibelakang.
Tak terduga lama kelamaan ia lantas ketinggalan, jadinya memang juara, tapi juara dihitung dari belakang.
"Pantasan Suhu sering mengatakan padaku bahwa ilmu itu tiada batasnya,"
Demikian Hay-thian membatin.
"Aku sendiri mengira sudah memperoleh ajaran asli dari Suhu, kepandaianku tentu sudah masuk hitungan. Tak terduga dalam hal Ginkang saja para paman inipun semuanya masih lebih lihay daripadaku."
Begitulah jika Hay-thian merasa malu diri, adalah dipihak lain Teng Keng-thian dan Tan Thian-ih diam-diam heran.
Semula mereka kuatir Kang Hay-thian akan ketinggalan jauh dibelakang, siapa tahu sesudah berlari satu-dua jam lamanya, meski pemuda itu memang ketinggalan, tapi juga cuma belasan meter jauhnya.
Pikir Keng-thian.
"Kim Si-ih benarbenar hebat, entah cara bagaimana dia telah mendidik murid sebagus ini, bukan saja Ginkangnya hebat, bahkan tenaga dalamnya juga lihay. Dalam waktu tak lama lagi agaknya tokoh kelas utama dikalangan Bu-lim pasti akan terdaftar namanya."
Untung kuda-kuda yang ditunggangi Kang Lam dan Yu Peng itu memang binatang pilihan yang jarang terdapat, merekapun selalu melarikan kuda-kuda itu menyusul dari jarak dekat.
Sampai magrib, kira-kira jarak yang sudah mereka tempuh ada lebih 800 h".
Hasil dari perlombaan itu dijuarai oleh Peng-choan Thian-li, Ki Hiau-hong kewalahan dalam hal Lwekangnya, maka akhirnya ia malah ketinggalan dibelakang Teng Keng-thian hingga menduduki juara ketiga.
Kang Haythian juga hampir dapat menyusul Tan Thian-ih, selisihnya cuma beberapa meter saja.
Walaupun nomor buntut yang diperoleh Kang Hay-thian, tapi semua orang tiada habis-habis memuji padanya.
Setelah hari pertama menempuh perjalanan sejauh 800 li lebih, jarak dengan tempat tujuan sudah tidak jauh lagi.
Maka hari kedua mereka tidak perlu buru-buru pula, mereka menaksir pada hari ketiga tentu akan sampai diwilayah negeri Masar.
Maka sepanjang jalan mereka saling menceritakan keadaan masing-masing selama berpisah, terutama antara Thian-ih dan Yu Peng serta Kang Lam dan Kang Hay-thian.
Kini Yu Peng berjalan dan kuda diberikan kepada Kang Haythian.
Melihat puteranya kini sudah sekian besar dan tegap, kepandaiannya malah diatas dirinya, maka senang Kang Lam benar-benar tak terkatakan.
Mereka jalan berjajar dan tiada henti-hentinya Kang Lam menanyakan puteranya, dasar Kang Lam memang ce-riwis, maka ada-ada saja yang ditanyakannya, lebih-lebih mengenai keadaan Hoa Thian-hong dan puterinya itu, ia bertanya secara teliti.
Dan karena mereka asyik mengobrol sendiri hingga tanpa merasa kuda mereka ketinggalan jauh dengan rombongan Peng-choan Thian-li.
Tidak lama kemudian, mereka telah memasuki sebuah selat gunung yang sempit hingga kuda mereka hanya bisa dijalankan dengan pelahan-lahan.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara auman binatang buas yang keras, tertampak dua ekor binatang aneh yang berbulu kuning mengkilat sedang memburu kearah mereka dengan cepat.
Kang Hay-thian terkejut, cepat serunya.
"Awas, ayah! Itulah Kim-mo-soan yang datang!"
Belum lenyap suara Hay-thian.
kembali Kim-mo-soan itu mengaum pula hingga kedua ekor kuda mereka berjingkrak ketakutan, buru-buru Kang Lam berdua melompat turun dari atas kuda, saking ketakutan kedua ekor kuda itu lantas lari sipat-kuping.
Secepat terbang Kim-mo-soan itu berlari, hanya sekejap saja binatang buas itu sudah sampai didepan Kang Lam berdua.
Waktu mereka perhatikan, ternyata kedua Kim-mosoan itu masing-masing ditunggangi seorang, yang satu lelaki dan yang lain wanita.
Yang wanita tak-lain-tak-bukan adalah Thian-mo-kaucu, dan yang lelaki adalah sipemuda berbaju hitam dan berambut panjang, Le Hok-sing adanya.
Segera Thian-mo-kaucu melompat turun dari atas Kim-mosoan, lalu katanya dengan tertawa.
"Siau-ko-ji (engkoh cilik), wah sekarang kau sudah sekian besarnya? Apakah kau sudah pangling padaku?"
Sudah tentu Hay-thian tidak melupakan kejadian dahulu waktu dirinya diculik oleh dayang yang disuruh Thian-mokaucu serta dikurung selama tiga bulan, cuma selama disarang Thian-mo-kau itu dirinya dilayani dengan baik-baik.
maka iapun tidak ingin bermusuhan lebih jauh dengan wanita iblis itu.
segera sahutnya.
"Terimalah salamku, Kaucu!"
"Bagus, bagus! Ternyata kau masih ingat padaku!"
Seru Thian-mo-kaucu dengan tertawa.
"Dan tempo hari aku menyuruh orang mengundang kau, kenapa kau membangkang?"
"Aku ada urusan, tidak sempat mengunjungi Kaucu,"
Sahut Hay-thian.
"Ya, sudahlah, apa yang sudah lalu takkan kusalahkan kau,"
Kata Thian-mo-kaucu.
"Sekarang marilah kau ikut pergi bersama aku!"
"Sekarang akupun ada keperluan penting,"
Sahut Hay-thian.
"Urusan penting apa?"
Tanya Thian-mo-kaucu. Hay-thian menjadi dongkol, sahutnya dengan dingin.
"Urusan ku sendiri, kau tidak perlu tanya."
"Wah, wah, kok marah-marah padaku?"
Kata Thian-mokaucu "Kalau kau ingin tahu, itulah demi kebaikanmu. Coba katakan bukankah kau hendak pergi ke Kim-eng-kiong?"
"Kalau betul mau apa?"
Sahut Hay-thian dengan ketus.
"Jika betul, maka kita adalah sama-sama satu tujuan, marilah berangkat bersama,"
Kata Thian-mo-kaucu.
"Aku bisa berangkat sendiri, masing-masing boleh menuju kearahnya sendiri-sendiri, buat apa mesti berangkat bersama?"
"Sudah tentu aku tahu kau dapat berangkat sendiri kesana, tapi jika kau kesana sendirian, rasanya belum tentu kau dapat menjumpai orang yang ingin kau cari?"
Ujar Thian-mo-kaucu dengan tertawa.
"Apa katamu? Kau tahu siapa yang sedang kucari?"
Tanya Hay-thian.
"Sudah tentu aku tahu,"
Sahut Thian-mo-kaucu.
"Pertama kau ingin mencari gurumu, Kim Si-ih. Kedua kau ingin mencari muridnya Kok Ci-hoa yang bernama Kok Tiong-lian. Betul tidak?"
"Kau tahu dimana mereka berada?"
Hay-thian menegas.
"Ya, aku tahu, tapi takbisa kukatakan padamu. Jika kau ingin mencari mereka, marilah berangkat bersama aku,"
Sahut Thian-mo-kaucu.
"Jangan mau tertipu, Hay-ji!"
Tiba-tiba Kang Lam menyela.
"Jika memang betul Kim-tayhiap berada disana, tentu beliau akan menemui kita."
"Ha, juga belum tentu,"
Jengek Thian-mo-kaucu. Diam-Diam Kang Lam mendongkol juga, tapi ia lantas memberi hormat kepada Thian-mo-kaucu sambil memohon.
"Sudahlah, Kaucu yang baik, selamanya kita tidak punya permusuhan apa-apa kenapa berulang-ulang kau merecoki kami saja?"
"Eh, kau ini benar-benar suka mengoceh tak keruan, maksud baik orang kau sangka jelek, biarlah mengingat puteramu itu, aku takkan memberi hukuman, padaku,"
Kata Thian-mo-kaucu. Lalu ia berpaling kepada Kang Hay-thian.
"Dan masih ada suatu alasan lagi, jika kau berangkat sendirian kesana, keadaanmu tentu sangat berbahaya, maka lebih baik aku yang membawa kau kesana."
Mau-tak-mau Hay-thian naik darah juga, bentaknya.
"Tidak perlui Lekas kau pergi dari sini, kalau tidak, terpaksa aku tidak sungkan-sungkan lagi padamu!"
"Wah, wah! Sekarang kau sudah tumbuh sayap dan bisa terbang, ya?"
Sahut Thian-mo-kaucu dengan tertawa.
"Baiklah, aku justeru ingin tahu cara bagaimana kau akan tak sungkansungkan padaku?"
Dan sekali lengan bajunya mengebas, tahu-tahu ia telah meleset maju kehadapan Kang Hay-thian.
Gerakan Thian-mo-kaucu ini sangat aneh, tangannya terselubung didalam lengan bajunya yang gondrong, maka lawan sekali-sekali tidak tahu kemana arah serangannya hendak ditujukan.
Meski Kang Hay-thian sudah siap siaga, tapi masih cetek penga-lamannya, belum lagi ia tahu cara bagaimana harus menangkis, mendadak tangan Thian-mo-kaucu sudah menyambar kepundaknya sambil berkata.
"Anak baik, marilah ikut padaku?"
Pi-peh-kut diatas pundak itu adalah tempat yang paling susah dilatih, betapapun tinggi ilmu silat setiap orang juga akan mati kutu bila tulang pundak itu kena dipegang musuh.
Sebab itulah maka Thian-mo-kau-cu tenang-tenang saja lantas yakin pemuda itu pasti akan kena ditawarnya.
Diluar dugaan Lwekang yang dilatih Kang Hay-thian berbeda daripada jago silat umumnya.
Ketika tangan Thianmo-kaucu meremas tulang pundaknya, ia mereka seperti memegang kapas yang empuk.
"Ha. apa kau masih anggap aku sebagai anak kecil saja?"
Je-ngek Hay-thian, berbareng Hou-te-sin-kang terus saja memberi reaksi, pundak yang tadinya lunak bagai kapas itu mendadak baru-bah sekeras baja hingga diari tangan Thianmo-kaucu sampai kesakitan.
Dan dalam keadaan cepat sekali Kang Hay-thian lantas balas menghantam juga.
"bret"
Tahutahu lengan baju Thian-mo-kaucu terobek malah oleh pemuda itu.
"Bagus, ilmu silatmu ternyata sudah sempurna benar, syukurlah atas kemajuanmu ini. Tapi hendak kau main kayu dihadapanku. haha, masih jauh dari cukup!"
Demikian jengek Thian-mo-kaucu.
Dan dikala bicara itulah ia sudah lantas melontarkan beberapa kali serangan kilat, saking cepatnya scrangan-scrangan itu hingga Kang Hay-thian agak kelabakan juga.
Akhirnya Hay-thian menjadi murka, serunya.
"Baiklah, aku benar-benar tak sungkan-sungkan lagi!" -Segera ia keluarkan Si-mi-ciang-hoat untuk bertahan, begitu rapat pendiagaannya hingga serangan kilat lawan tak berdaya menembus lingkaran tenaga pertahanan pemuda itu, bahkan setiap kali menyerang, selalu Thian-mo-kaucu kebentur pada suatu tenaga rintangan yang sangat kuat.
"Ha, ternyata Lwekangmu juga maju pesat, jika demikian marilah boleh kita coba-coba Lwekang saja,"
Kata Thian-mokaucu dengan tertawa.
Tiba-Tiba kedua tangannya bergerak melingkar hingga terbendung juga suatu lingkaran tenaga dalam yang kuat, segera Hay-thian merasa tenaga pukulannya selalu terhalang, cuma ia tidak merasakan ancaman tenaga pukulan lawan lagi.
Diam-Diam ia memikir.
"Agaknya kau sudah kehabisan tenaga, hanya sanggup bertahan dan tidak kuat menyerang pula, kenapa aku mesti jeri padamu lagi?"
Diluar dugaan, tiada lama kemudian, tiba-tiba ia merasakan sema-ngatnya lesu dan badan kemalas-malasan seakan-akan ingin tidur.
Ada maksudnya buat menyerang lebih dahsyat lagi, tapi tenaga tak meng-izinkan lagi, tenaga yang dapat dilontarkan hanya 6-7 bagian saja daripada kekuatan yang sebenarnya.
Diam-Diam Hay-thian terkesiap, pikimya.
"Wah, celaka! Thian-mo-kaucu ini suka main racun, jangan-jangan aku akan masuk perangkapnya."
Ia coba menahan napas, dengan hawa murni dalam tubuh ia co-ba bertahan, dan ternyata usahanya ini telah mengubah keadaannya menjadi lebih baik.
Kiranya didalam kuku jari Thain-mo-kou-cu itu memang tersimpan semacam bubuk obat bius yang dapat dihamburkan tanpa disadari musuh, dan dalam waktu singkat saja musuh pasti akan roboh dengan tak berkutik.
Tapi kini Kang Haythian telah menahan napas, dengan sendirinya racun itu tidak banyak tersedot olehnya.
Meski berulang-ulang tiga kali Thianmo-kaucu menyelentikan bubukan obat itu, tapi selalu dapat dihindarkan Kang Hay-thian.
Tentu saja Thian-mo-kaucu terheran-heran mengapa tenaga dalam pemuda itu mendadak bisa bertambah lagi, padahal keadaannya tadi sudah mulai lemas.
Maka ia tidak berani terlalu gegabah dan terlalu mendesak, maka kedudukan kedua pihak menjadi sama kuat lagi.
Kang Lam tidak dapat membantu, maka ia cuma berteriakteriak mem beri semangat kepada puteranya.
Mendadak Thian-mo-kaucu berseru.
"Hok-sing, kau boleh tangkap bapaknya sekalian, kalau bapak-nya tertangkap, tentu anaknya akan tertangkap pula!"
"He, he! Mana boleh jadi! Masakah bapakmu akan ditangkap juga,"
Seru Kang Lam.
Le Hok-sing melengak sekejap, segera iapun sadar Kang Lam sengaja hendak mengolok-olok padanya, yaitu dengan mengaku sebagai bapaknya, ia menjadi gusar "Kurangajar, kau berani mengambil keuntungan atas diriku?"
Dasar sifat Kang Lam memang jenaka, melihat lawannya marah, ia sangat senang, selagi ia hendak menggodanya lagi, sekonyong-konyong terasa suatu tenaga yang tak kelihatan menyambar kearah "Ih-gi-hiat"
Dipinggangnya, rasanya pegalpegal gatal. Kiranya Le Hok-sing juga mahir "Keh-gong-tiamhiat", yaitu menutuk dari jauh, cuma belum sempurna. Mendadak Kang Lam menjerit sekali terus roboh terguling.
"Hm. sekarang kau masih berani memaki orang tidak?"
Jengek Le Hok-sing sambil melompat maju hendak menjambret. Tapi mendadak Kang Lam melompat bangun sambil berteriak.
"Hai, kau benar-benar hendak menangkap bapakmu?"
Berbareng kakinya terus mendepak ke "Pek-jihiat"
Dilutut lawan. Sama sekali Le Hok-sing tidak tahu bahwa Kang Lam mahir "Tian-to-hiat-to"
Atau ilmu memutar-belikan jalan darah, maka hamplr-hamplr ia kena serangan Kang Lam.
Syukur ia cukup sigap, cepat tangannya memotong kebawah hingga depakan Kang Lam itu dipatahkan.
Menyusul ia gunakan seranganserangan kilat dengan Kim-na-jiu-hoat tercampur Siau-thiansing-ciang-lik untuk mencecar Kang Lam.
Dan pada waktu Kang Lam sudah terdesak dan tampaknya akan tertawan musuh, mendadak ia berjumpalitan dan melesat pergi.
"Masih kau bisa lari?"
Bentak Le Hok-sing dengan gusar Segera ia memburu dan beruntun-runtun menghantam tiga kali lagi.
Tapi setiap kali selalu dapat dihindarkan Kang Lam dengan ber-jumpalitan.
Gerak tubuh yang aneh itu adalah ajaran Kim Si-ih, yaitu dipakai menyelamatkan diri dikala terancam bahaya.
Cuma cara jumpalitan begitu juga sangat membuang tenaga, sebalik"
Nya Le Hok-sing masih terus menyusul saja, sedikitpun tidak menjadi kendor serangannya, maka hanya sebentar saja Kang Lam benar-benar kalang-kabut.
Melihat ayahnya terdesak, Kang Hay-thian menjadi kuatir.
Tapi ia lagi dicecar oleh Thian-mo-kaucu, berulang-ulang ia coba balas menyerang, tapi selalu kena dipatahkan oleh Thiam-mo-kaucu hingga tiada sempat untuk menolong sang ayah.
Pertandingan diantara ahli silat sedikitpun tidak boleh lengah, apalagi Kang Hay-thian harus menahan napas untuk menolak serangan bubuk racun lawannya.
Tapi kini karena pikirannya terpencar, ditambah lagi menyerang sekuatnya, mau-tak-mau pernapasannya menjadi tegang tanpa merasa ia mesti membuka mulut buat bernapas.
Dan karena itu tersedot pula hawa beracun yang disebarkan oleh Thian-mo-kaucu itu.
"Hay-ji, lekas kau lari untuk meminta bantuan Tengtayhiap!"
Seru Kang Lam.
Padahal ia harus tahu bila Kang Hay-thian dapat melarikan diri, tentu lebih dulu akan menolong padanya.
Sebaliknya Kang Hay-thian bertambah kuatir mendengar seruan sang ayah, karena takbisa melarikan diri.
terpaksa ia bersuit keraskeras, dan karena itu hawa racun yang disedotnya bertambah banyak pula.
Setelah berjumpalitan pula beberapa kali, lambat-laun Kang Lam merasa payah juga dan bukan mustahil setiap waktu akan dapat ditawan musuh.
Pada saat berbahaya itulah, tibatiba terdengar suara Ki Hiau-hong.
"Jangan kuatir, Kanghiante, Engkohmu ini datang untuk membantu padamu!"
Benar juga tertampak pencuri sakti itu sedang mendatangi se-cepat terbang, dibelakangnya menyusul Teng Keng-thian dengan isterinya.
Ki Hiau-hong kenal kepandaian Kang Hay-thian, maka yang di kuatirkan hanya Kang Lam, dari itu lebih dulu ia lantas maju membantu saudara angkatnya itu.
Tapi segera Le Hok-sing mema-paknya dengan sekali hantam hingga Ki Hiau-hong tertolak mundur, habis itu, sekali putar, segera Le Hok-sing mencengkeram pula kearah Kang Lam.
"Mundurlah Ki-toako!"
Seru Teng Keng-thian, berbareng sebuah Thian-san-sin-bong lantas menyambar kedepan.
"Bagu! Benda apakah ini?"
Seru Le Hok-sing, segera ia catut Giok-jio untuk menangkis.
Maka terdengarlah suara gemerincing nyaring beradunya kedua benda mestika itu, meski Thian-san-sin-bong kena disampok ja-tuh, tapi Giok-jio itu juga tertimpuk dekik sedikit.
Thian-san-sin-bong adalah semacam Am-gi yang kuat sekali daya serangannya, keras buah duri itupun luar biasa, tapi pemuda berambut panjang itu toh dapat memukul jatuh senjata rahasianya itu, mau-tak-mau Teng Keng-thian merasa heran juga.
Ia tidak tahu bahwa Giok-jio yang digunakan Le Hok-sing itu adalah benda pusaka tinggalan Kiau Pak-beng yang susah dicari keduanya.
"Bagus! Coba terima lagi pedangku ini!"
Seru Keng-thian kemudian, segera Yu-liong-kiam berputar dengan cepat terus menahas kepinggang Le Hok-sing.
Waktu Hok-sing menangkis pula dengan Giok-jio, kembali terdengar lagi suara nyaring yang menyerikan, sekali ini Yuliong-kiam dan Giok-jio sama-sama gempil sedikit.
Sama sekali Keng-thian tidak menduga Giok-jio lawan begitu berat bobotnya hingga genggamannya tergetar dan terasa sakit.
Segera ia himpun semangat dan membentak.
"Bagus, aku ingin tahu kau mampu menangkis beberapa kali seranganku!" -terus saja ia mainkan Tui-hong-kiam-hoat yaag lihay, dalam sekejap saja ia sudah melancarkan 6 X 6 = 36 jurus ilmu pedang pemburu angin itu hingga Le Hok-sing terdesak kalang kabut. Begitulah jika disini Ki Hiau-hong dan Teng Keng-thian sedang membantu Kang Lam, adalah sebaliknya Peng-choan Thian-li melihat Kang Hay-thian yang justeru lagi menghadapi bahaya, segera iapun menimpukkan tiga butir Peng-pok-sintan. Ia tahu Lwekang Kang Hay-thian sudah cukup kuat, tentu takkan kuatir terserang hawa dingin dari peluru es yang dihamburkan-nya itu. Tapi ketika Thian-mo-kaucu meniup dengan tenaga dalamnya, sebelum peluru es itu mengenai badannya sudah pecah dulu di-tengah jalan hingga berubah kabut dingin yang tebal dan mengurung rapat kearah mereka. Thian-mo-kaucu hanya menggigil sedikit dibawah serangan hawa dingin itu, tapi masih kuat bertahan. Sebaliknya keadaan Kang Hay-thian sudah payah, tiba-tiba tertampak pemuda itu sempoyongan bagaikan orang mabuk, kepalanya menguap dan giginya berkeriutan menggigil. Sekonyong-konyong Thian-mo-kaucu tertawa panjang, serunya.
"Terima kasih atas bantuanmu!" -dan sekali tangan menjulur. tahu-tahu pungung Kang Hay-thian kena dijambret olehnya terus menerjang keluar kabut dingin itu dengan cepat. Kiranya Kang Hay-thian sudah cukup banyak mengisap bubuk racun yang disebarkan Thian-mo-kaucu tadi, sebenarnya kepalanya sudah mulai pusing dan mata berkunang-kunang, mestinya ia sudah payah dan sedang bertahan sekuat mungkin, tapi mendadak ia dirangsang pula oleh hawa dingin dari peluru es, seketika itulah ia lantas pingsan, sebab itu tanpa susah-susah lagi Thian-mo-kaucu dapat menangkapnya. Keruan kejut Peng-choan Thian-li bukan kepalang, serunya kuatir.
"Lekas tolong orang!;"
Ia tidak berani menghamburkan peluru es lagi, tapi dengan pedang Peng-pok-han-kong-kiam segera ia memburu.
Namun mendadak Thian-mo-kaucu mengayun tangannya ke-belakang, tahu-tahu seutas selendang yang berwarnawarni menyamar hingga Peng-choan Thian-li terhalang, menyusul Thian-mo-kaucu bersuit pula dan Kim-mo-soan tadi lantas memapak kearahnya.
Selendang pancawarna itu disebut "Sin-coa-soh"
Atau selendang ular sakti, semncnm selendang yang direndam dengan macam-macam obat racun dan iler ular berbisa.
Racun yang menerbitkan bau amis memuakkan itu terus saja menyambar kearah lawan.
Tapi Peng-choan Thian-li sangat hebat Ginkangnya, ilmu silatnya tinggi pula.
maka cepat ia dapat menghindar.
Sebaliknya Ki Hiau-hong kebetulan kepergok, meski iapun sempat menghindar, tapi tidak urung bau amis yang memuakan itu juga menyerang hidungnya.
tak tertahan lagi ia muntah-muntah, matanya menjadi berkunangkunang dan hampir-hampir membentur sebatang pohon didepannya.
Disebelah sana Teng Keng-thian sedang menghajar Le Hoksing hingga yang belakangan ini sedang kelabakan, ketika mendengar seruan sang isteri tadi, Keng-thian menjadi kaget.
Dan sedikit ayal itu telah digunakan Le Hok-sing untuk meloloskan diri, dengan langkah Thian-lo-poh-hoat yang lihay ia berhasil keluar dari kurungan sinar pedang Teng Keng-thian untuk kemudian melarikan diri bersama Thian-mo-kaucu dengan menunggang Kim-mo-soan.
Meski Ginkang Peng-choan Thian-li sangat tinggi, tapi untuk mengejar Kim-mo-soan ternyata tidak mampu Berulang-ulang Teng-Keng-thian menyambitkan dua buah Sin-bong", tapi yang sebuah kena dipukul jatuh oleh Giok-jio Le Hok-sing, sedang Sin-bong kedua takbisa niencapai cepatnya Kim-mo-soan dan jatuh sendiri ketanah.
Hanya dalam sekejap saja kedua ekor Kim-mo-soan itu sudah menghilang dari pandangan mata.
Kemudian Keng-thian membangunkan Ki Hiau-hong dan mem-berinya sebutir Pek-ling-tan untuk menghilangkan rasa enek.
Tidak lama Thian-ih bersama isterinya juga sudah datang dengan menunggang kuda.
Rupanya ditengah jalan mereka dapat mencegat kedua kuda yang lari ketakutan karena suara Kim-mo-soan tadi, segera Thian-ih lantas tahu juga pasti terjadi apa-apa atas kawan-kawannya, maka merekapun memburu kemari.
Begitulah Ki Hiau-hong lantas mencaci-maki kepada Thianmo-kaucu, begitu pula Peng-choan Thian-li menyesalkan diri sendiri yang takbisa menyelamatkan Kang Hay-thian.
Sebaliknya Kang Lam malah menghibur mereka.
"Sudahlah, kalian tak perlu kuatir, hidup atau mati sudah suratan nasib. Tapi dari ucapan Thian-mo-kaucu tadi agaknya dia tidak bermaksud membikin susah pada Hay-ji. Cuma aku tidak tahu maksud tujuannya menculik Hay-ji itu. Tapi biarlah, kita tetap melaksanakan rencana kita semula dan tetap pergi ke Kimeng-kiong, asal bertemu Kim-tayhiap, pasti Hay-ji akan dapat dibebaskan kembali."
Karena tiada jalan lain, terpaksa semua orang menurut............
Entah berapa lama Kang Hay-thian tak sadarkan diri, ketika tiba-tiba ia merasa angin silir-silir dengan bau harum bunga semerbak, ia menghirup hawa udara segar beberapa kali hingga semangatnya terbangkit, pelahan-lahan ia membuka mata, ia melihat rumput menghijau lebat, bunga mekar semarak, awan bergumpal-gumpal mengapung diangkasa, burung berkicau merdu, apa yang terlihat olehnya ternyata adalah suatu pemandangan alam yang indah permai.
Keruan Hay-thian terheran-heran, cepat ia melompat bangun dan berseru.
"He, tempat dimanakah ini?"
Ketika dipandang sekelilingnya, ternyata terbentang luas air melulu, baru sekarang ia tahu bahwa tempat dimana ia berada adalah sebuah pulau yang dilingkungi danau yang luas.
Ia masih merasa kepalanya agak pening, syukur diantara pepohonan yang rindang disitu banyak terdapat sumber air jernih.
ia coba mencuci muka dengan air sumber itu hingga semangatnya menjadi segar kembali.
Diam-Diam ia memikir.
"Tempat apakah yang mirip dunia luar ini? Mengapa aku bisa sampai disini? Dimanakah ayah, Ki-pepek dan lain-lain, mengapa tak kelihatan semua? Apa barangkali aku sedang mengimpi?"
La coba tenangkan diri dan mengingat-ingat apa yang ierjadi kemarin, akhirnya ia ingat telah bertempur sengit melawan Thian-ino-kaucu. Tiba-Tiba ia terkesiap.
"Ha, rupanya aku telah ditawan oleh Thian-mo-kaucu, tapi kemanakah perginya?"
Lambat laun Hay-thian dapat mengingat semua pengalamannya.
ia yakin pasti dirinya tertawan ketika mendadak pandangannya menjadi gelap dan tak sadarkan diri.
Tapi mengapa sekarang dirinya ditinggalkan begitu saja ditempat sunyi ini?
Karena susah untuk dipikir, akhirnya Hay-thian tidak mau pusing kepala lagi, segera ia menjelajahi pulau itu, ia ingin tahu apakah dipulau itu ada tempat tinggal manusia atau tidak.
Kalau melihat tetumbuhan disitu yang rajin terawat, agaknya pasti ada orang yang tinggal disitu, namun sebegitu jauh tiada seorangpun yang dijumpai olehnya.
Selagi Hay-thian bermaksud memetik beberapa buahbuahan sekadar tangsal perut, baru saja ia menyiah semaksemak rumput didepannya untuk mencapai pohon buah yang tak dikenalnya, tiba-tiba dilihatnya jauh dibalik pepohonan sana menongol sebagian pagar tembok, ia menjadi girang.
"Ha, jika disitu ada pagar tembok, tentu ada rumahnya dan ada penghuninya pula."
Dan baru ia bermaksud menuju kesana, tiba-tiba didengarnya suara bentakan orang perempuan, sekonyongkonyong seorang wanita menerobos keluar dari semak-semak pohon sana.
Tengah Hay-thian terkejut, mendadak wanita itu sudah melolos sebatang pedang, sambil menudingkan senjata itu kehidung Kang Hay-thian, wanita itu lantas men-damperat.
"Aku tidak ingin melihat tampangmu lagi, lekaslah enyah dari sini!"
Untuk menjaga segala kemungkinan, cepat Hay-thian menggeser kesamping dengan Thian-o-poh-hoat.
Sekilas tibatiba dilihatnya wanita muda itu ternyata dikenalnya.
Dan pada saat yang sama.
rupanya wanita itupun sangat heran, sekonyong-konyong ia tarik kembali pedangnya sambil berseru.
"He, siapa kau?"
Jantung Kang Hay-thian menjadi berdebar-debar, segera iapun berseru.
"He, bukankah kau ini adik Lian?"
Dan hampir pada saat yang sama gadis itupun berseru.
"He, bukankah engkau adalah engkoh Hay-thian?"
Kiranya wanita muda itu memang bukan lain adalah Kok Tiong-lian yang sedang dicari Kang Hay-thian itu.
Sudah tentu mimpipun pemuda itu tidak mengira akan dapat berjumpa dengan Kok Tiong-lian ditempat seperti ini.
Kedua muda-mudi itu adalah kenalan sejak masih kanakkanak, mereka sudah hampir sepuluh tahun berpisah, kini mendadak berjumpa pula, keruan saking girangnya sampai mereka sama berjingkrak-jingkrak dan memegang tangan masing-masing.
Dan selagi Kang Hay-thian bermaksud membuka suara untuk menanyakan Kok Tiong-lian, tiba-tiba gadis itu menarik muka terus mengipatkan tangan Hay-thian sambil membentak.
"Pergi dari sini!"
Sudah tentu Hay-thian melengak, baru saja gadis itu ketawa-ketawa girang, mengapa mendadak berubah gusar. Segera ia menanya.
"He, Lian-mooay, ada apakah? Kau tidak suka padaku?"
"Siapakah adikmu? Huh. kau......... kau............"
Sahut Tionglian dengan tetap marah-marah hingga suaranya tak lancar.
"Apakah kau tidak kenal padaku lagi?"
Tanya Hay-thian pula dengan mata terbelalak heran.
"Siapa sudi kenal pada budak hina-dina macam kau ini?"
Sahut Tiong-lian dengan ketus.
"Apa katamu?"
Teriak Hay-thian.
"Kau bilang aku adalah budak hina-dina? Mana boleh kau sembarangan memaki orang?"
Tiba-Tiba Kok Tiong-lian juga membelalakan matanya mengamat-amati Kang-Hay-thian, demi melihat dandanan sipemuda yang sederhana itu, ia menjadi ragu-ragu. Tanyanya kemudian.
"Apa kau bukan orang yang dikirim kemari oleh raja Masar?"
"Aneh ucapanmu ini? Bagaimana macamnya raja Masar itu sampai detik ini aku belum pernah mehhatnya,"
Sahut Haythian.
"Kau bukan begundal raja itu? Habis darimana kau tahu aku berada disini?"
"Memangnya aku tidak tahu bahwa kau berada disini!"
"Habis, cara bagaimana kau dapat datang kesini? Siapa yang hantar kau kemari, apa kau bisa terbang?"
"Entah, aku sendiripun lagi bingung. Aku ingat ditawan oleh Thian-mo-kaucu, ketika aku sadar kembali, tahu-tahu sudah berada dipulau ini."
Tapi Tiong-lian masih ragu-ragu, katanya.
"Ceritamu ini terlalu aneh, betapapun susah untuk dipercaya!"
"Bilakah aku pernah berdusta padamu?"
Ujar Hay-thian.
"Pa-bila aku bohong, biarlah mulutku ini nanti timbul suatu bisul besar dan selamanya takbisa bicara lagi."
Diwaktu masih kecilnya dahulu jika dia memain bersama gadis itu, setiap kali ia disalahkan Kok Tong-lian, tentu gadis itu minta Hay-thian bersumpah seperti demikian itu.
Kini dalam gugupnya, tanpa merasa Hay-thian terus mengucapkan sumpahnya dimasa kanak-kanak dahulu.
Maka tertawalah Kok Tiong-lian, rasa curiganya lenyap seketika.
"Sekarang kau percaya padaku atau tidak?"
Hay-thian mendesak.
"Ya."
Sahut Tiong-lian sambil mengangguk.
"Cara bagaimana kau ditawan kesini oleh Thian-mo-kaucu?"
Segera Hay-thian menceritakan pengalamannya kemarin.
"Aneh. mengapa mereka begitu baik hati dan mau menghantar kau kesini untuk dipertemukan padaku?"
Ujar Tiong-lian dengan heran.
"Ya, aku sendiripun bingung,"
Kata Hay-thian.
"Dan kau bagaimana? Mengapa kau bisa berada disini? Apa dipulau ini masih ada orang lain lagi?"
"Akupun kena ditawan orang kesini,"
Sahut Tiong-fcan.
Kiranya begitu Tiong-han bersama Kok Ci-hoa mengijak wilayah negeri Masar, mereka lantas dicegat oleh delapan jagoan yang dikirim raja Masar.
Karena dikerubut, akhirnya Kok Tiong-han tertawan dan Kok Ci-hoa tak sanggup memolongnya, terpaksa ia melarikan diri dari kepungan musuh.
"Mulai aku dikurung didalam istana raja mereka,"
Demikian Tiong-Iian menutur.
"Kemudian mereka memaksa............"
"Memaksa kau menikah pada putera pengeran, bukan?"
Sela Hay-thian.
"Benar! Darimanakah kau mendapat tahu?"
Sahut Tiong-Iian.
"Coba kau ceritakan dulu pengalamanmu, nanti aku akan menerangkan padamu,"
Kata Hay-thian.
"Sudah tentu aku takmau menurut kehendak mereka, bahkan aku mencaci-maki habis-habis-an raja mereka,"
Demikian Tiong-han melanjutkan penuturannya.
"Keruan saja raja itu menjadi "nirka dan aku hendak dibunuhnya. Tapi ada seorang paderi asing yang mendampingi raja itu telah mencegahnya. katanya nona can-tik seperti aku ini sayang kalau dibunuh, lebih baik dikurung dulu kepulau Pek-hoa-to yang terpencil ini, lama-kelamaan mungkin "ku akan berubah pikiran dan menurut pada kehendaknya. Raja telah menerima usul paderi asing itu, lalu aku dikirim kesini."
Sampai disini, Tiong-Iian lantas menghela napas.
"Tidak perlu kau sedih,"
Ujar Hay-thian.
"Kita tentu dapat mencari jalan untuk keluar dari sini."
"Aku tidak kuatirkan diriku yang tertawan ini."
Kata Tiong-Iian.
"Tapi aku,............ya, engkau toh bukan orang luar, biarlah kukatakan sesuatu rahasia padamu. Apakah kau tahu untuk apa Suhu membawa aku kenegeri Masar sini?"
Diam-Diam Hay-thian geli "rahasia"
Sigadis yang bukan rahasia lagi itu, tapi ia pura-pura tidak tahu dan mendengarkan cerita sigadis lebih lanjut. Maka Tiong-Iian lantas menyambung.
"Kiranya Suhu menyang-sikan aku adalah puteri raja Masar yang dahulu, makanya aku dibawa kesini dengan tujuan hendak menyelidiki duduknya perkara yang sebenarnya. Dan begitu aku sampai disini segera aku ditangkap mereka, agaknya apa yang disangsikan Suhu itu memang bukan tak beralasan. Ai, jika benar-benar aku adalah puteri raja yang duluan, maka raja yang sekarang ini adalah musuh pembunuh ayahku. Kini aku tidak mampu membalas dendam, sebaliknya malah ditawan musuh, dengan sendirinya aku menyesal. Selama aku dikurung disini, tidak sedekil raja jahat itu telah mengirim orangnya untuk memancing suaraku, rupanya ia ingin tahu sampai dimana aku kenal akan asal-usul diriku. Agaknya mereka rada takut kalau-kalau ada sesuatu rahasia mengenai raja yang dulu tersiar keluar."
"Dan kau sudah bertemu dengan kakakmu atau belum?"
Tanya Hay-thian tiba-tiba.
"Darimana aku mempunyai kakak?"
Balas Tiong-lian menanya.
"Ditengah jalan aku telah bertemu dengan kakakmu, tentang kau hendak diambil menjadi menantu raja. dialah yang mengasih tahu padaku, iapun mengatakan sudah berjumpa dengan kau."
"O, barangkali kau maksudkan Yap Tiong-siau itu? Dia bukan saudaraku!"
Sahut Tiong-lian dengan tegas. Hay-thian, menjadi heran, katanya.
"Apa barangkali disebabkan dia mengaku musuh sebagai ayah angkat, lalu kau tidak sudi mengaku saudara padanya?"
"Tidak, hakikatnya dia bukanlah saudaraku!"
"Masak bukan? Dahulu ketika terjadi pemberontakan dinegeri Mi, kau telah ditolong oleh Khu Giam dan dia diselamatkan oleh Yap Kun-san. Meski kemudian kalian memakai she sendiri-sendiri, tapi sebenarnya kaitan adalah saudara kembar sekandung, apakah seluk-beluk ini sebegitu jauh gurumu tidak pernah bercerita padamu?"
"Hal itu sudah lama kuketahui, makanya aku juga ingin mencari tahu dimana beradanya saudaraku itu. Tapi aku tidak dapat sembarangan mengaku seseorang sebagai saudaraku."
"Asal-usul Yap Tiong-siau adalah cocok sebagaimana halnya kakakmu itu, mengapa kau berkeras mengatakan dia bukan kakakmu?"."
"Apakah dia takbisa sengaja mengarang cerita yang bohong Hw?"
"Tapi masih ada suatu tanda khas yang jelas kelihatan, yaitu air mukanya memper dengan kau,"
Ujar Hay-thian.
"Hm, didunia ini tidak kurang orang yang sama mukanya, kenapa mesti heran?"
Sahut Tiong-lian dengan menjengek. Melihat pendapat gadis itu sedemikian kukuhnya, Hay-thian menjadi bingung. Tapi Tiong-lian lantas ajak pemuda itu pergi ketempat tinggal-nya, kata gadis itu.
"Dipulau kecil ini ada suatu bangunan yang merupakan istana tetirah raja, tapi kini akulah yang tinggal disitu dan sangat kesepian, kebetulan sekarang ada kau, selanjutnya aku takkan sendirian lagi. Pernah juga aku membuat suatu getek kayu dengan maksud melarikan diri, tapi belum lagi getek itu jadi, maTamnya sudah lantas dirusak orang, hal itu menandakan dipulau ini sebenarnya masih ada tinggal orang laia. Dipulau ini cukup tertimbun rangsum yang diperlukan, setiap beberapa .hari sekali tentu mereka mengirim sayur-mayur yang segar. Semula mereka memberikan dua pelayan padaku, tapi aku telah mengusir kembali mereka."
"Habis siapa yang masak bagimu?"
Tanya Hay-thian.
"Aku sendiri sanggup melakukan segala keperluanku,"
Sahut Tiong-lian.
"Dan selanjutnya aku dapat membantu kau,"
Kata Hay-thian dengan tertawa.
"Jika kita takdapat lolos dari sini, terpaksa selama hidup mesti tiggal disini".
"Disini pemandangan indah permai, tinggal selama hidup disini juga baik."
"Tapi ayahmu dan Suhuku tentu akan kelabakan mencari kita diluar sana."
"Ya, maka lebih baik kita harus berdaya meloloskan diri saja dari sini."
"Hay-thian, sudah sekian lamanya kau belajar silat pada Kim-tayhiap, kepandaianmu sekarang tentu sangat tinggi. Bagaimana kalau dibandingkan Yap Tiong-siau itu?"
"Pernah dua kali aku bertempur dengan dia, kepandaiannya memang tidak lemah."
"Dan kau menang atau kalah?"
"Untung aku lebih unggul sedikit."
"Jika begitu, ada harapan kita akan dapat lolos dari sini,"
Seru sigadis dengan girang Hay-thian menjadi heran, ia minta pen-jelasan. Maka berkatalah.Tiong-lian.
"Yap Tiong-siau yang mengaku sebagai engkohku itu setiap tiga mari sekali tentu datang kemari untuk membujuk aku, terkadang dia datang sendiri dan tempo-tempo juga membawa pengikut. Aku sangat gemas padanya, tapi apa daya, aku takbisa menangkan dia. Maka sekarang aku mempunyai akal, jika nanti dia datang lagi, boleh kau labrak dia dan aku membereskan penglkutnya, sesudah kita tawan dia. kita paksa dia menghantar. kita keluar dari pulau ini."
Hay-than meraba-raba pinggangnya, tiba-tiba ia berseru.
"Tapi sayang, sungguh sayang!"
"Sayang apa?"
Tanya Tiong-lian dengan bingung.
"Pokiamku telah hilang, tentu telah disita oleh Thian-mokaucu itu. Tanpa pedang mestika itu, susahlah hendak menangkan Yap Tiong-siau."
"Pedangmu dapat dicari kembali kelak. Untuk nanti, dapat kau sergap Yap Tiong-siau dari tempat sembunyimu,"
Ujar sigadis..
"Cara begitu bukan perbuatan seorang kesatria."
"Masih kau bicara tentang etika kesatria apa segala padanya? Bukankah kita jusieru terjebak oleh tipu muslihatnya yang keji?"
Kata Tiong-Iian dengan marah.
"Baiklah, akan kuturut permintaanmu, aku akan berusaha merobohkan dia nanti."
Tiba-Tiba Hay-thian berseru pola.
"He, untung Giokkah ini masih kupakai dan tidak dirampas oleh Thian-mo-kauryu."
Dan dengan tak sabar lagi ya terus membuka baju dan melepaskan baju pusaka tinggalan Kieu Pak-beng itu untuk diserahkan kepada sigadis.
"Ini adalah satu diantara ketiga benda pusaka tinggalan Kiau Pak-beng. kalau memakai baju ini, segala senjata tajam takkan mempan melukai kau."
Demikian kata Hay-thian kemudian.
"Pakailah untuk kau sendiri,"
Ujar Tiong-Iian.
"Suhu suruh aku serahkan padamu, katanya ini adalah barangmu,"
Sahut Hay-thian "Ditengak jalan akupun banyak mendapatkan bantuannya hingga beberapa kali terhindar dari bahaya."
Karena takbisa menolak lagi, terpaksa Tiong-Iian menerima Giok-kah itu. Katanya. kemudian.
"Sungguh sayang aku takdapat memberikan sesuatu barang apa padamu."
Dan tibatiba mukanya merah jengah seakan-akan terkenang pada sesuatu.
"Sejak kecil kita memain bersama, mengapa kau masih sungkan-sungkan padaku seperti orang lain,"
Ujar Hay-thian dengan tertawa.
"Apa kau masih ingat, diwaktu kita main bersama, kau pandai panjat pohon dan aku tidak dapat, kau lantas memetik buah-buahan. mengunduh telur burung, kemudian kau bagi bersama dengan aku. Sebenarnya sudah banyak pemberianmu padaku sedari dulu."
Begitulah Hay-thian mengira sigadis merasa rikuh, tak tahunya sebenarnya Tiong-lian lagi memikirkan sesuatu hal lain.
Setelah dipikir, akhirnya gadis itu memutuskan takkan membicarakannya.
Sambil bicara.
tidak lama kemudian sampailah mereka ditempat tinggal Kok Tiong-Iian.
Ternyata gedung itu sangat besar dan luas.
Diatas tiang didalam gedung itu Hay-thian melihat banyak terdapat bekas-bekas goresan senjata.
"Apakah ini?"
Tanya Hay-thian.
"Aku kuatir lupakan hitungan hari, maka setiap hari aku tinyau! disini aku lantas menggurat satu lajur ditiang ini,"
Sahut Tiong Lian "Entah berapa lama aku tak sadarkan diri, aku justru ingin tahu hari apakah ini hari?"
Tanya Hay-thian. Tiong-Iian coba menghitung-hitung guratan diatas tiang itu, lalu katanya.
"Waktu aku sampai dipulau ini jatuh pada tanggpl 14 kulan tujuh, guratan diatas tiang ini ada 28 lajor, jika begitu, hari ini adalah tanggal 12 bulan delapan."
"Kira-Kira berapa jauhnya tempat ini dengan ibukota negeri Masar itu?"
Tanya Hay-thian.
"Waktu mereka menggusur aku kesini, semula menumpang kereta kira-kira sejam lamanya, kemudian ada setengah jam menumpang perahu, mungkin sekali jaraknya tidak lebih dari 50 li,"
Tutur sigadis. Hay-thian menjadi terheran-heran, katanya.
"Waktu aku tak sadarkan diri dan tertawan, tempat itu kira-kira beberapa li jauhnya dari sini. tapi hanya dalam waktu beberapa jam saja aku sudah dibawa kesini, sungguh kecepatan Kim-me-soan itu susah diukur. Dan kalau harini tanggal 12 bulan delapan, itu berarti pertemuan di Kim-eng-kiong akan diadakan tiga hari lagi, tentu ayah, Ki-pepek dan lain-lain akan dapat hadir pada waktunya, cuma sayang kita tak dapat ikut menyaksikan keramaian itu."
"Boleh jadi dalam waktu singkat ini Yap Tiong-siau itu datang kemari, kesempatan itu akan dapat kita gunakan untuk meringkusnya, dan kira lantas dapat melarikan diri,"
Kata Tiong-Iian. Pelahan-lahan haripun sudah sore. Kok Tiong-Iian agak kecewa, katanya.
"Agaknya harini tiada orang datang kemari Marilah kita memasak untuk makanan malam nanti."
Segera Kang Hay-thian membantu sigadis menanak nasi dan mengolah sayur-mayur Tengah mereka asyik makan dengan bersenda-gurau, tiba-tiba Tiong-Iian berkata dengan suara tertahan.
"Ssssst, coba dengarkan, itu adalah suara air tersiah dan berkeriutnya dayung perahu, ada orang sedang mendatangi."
Waktu Hay-thian mengintai melalui jendela. benar juga tertampak sebuah perahu kecil sedang meluncur tiba. Sesudah dekat gili-gili. segera ada seorang melompat kedaratan.
"Itulah dia Yap Tiong-siau. ia tidak membawa pengikut, rencana kita akan lebih mudah dilaksanakan,"
Kata Tiong-Iian dengan girang.
"Lekas kau bersembunyi, sebentar bila mendengar aku mendehem, segera kau menyergapnya."
"Tapi aku masih ragu-ragu, aku ingin tanya dia lagi,"
Ujar Hay-thian. Tiong-Iian menjadi gusar, katanya.
"Jadi kau tidak percaya padaku? Kubilang dia bukan engkohku, mengapa kau masih mau tanya apa segala? Jika kau tanya dia, tentu gagal rencana kita. Coba lihatlah, ia sudah dekat, hayolah lekas sembunyi, lekas!"
Dan selagi Hay-thian masih ragu-ragu, namun Tiong-Iian sudah lantas mendorongnya bersembunyi dibelakang tirai sana.
Lalu sigadis lekas-lekas membersihkan meja makan agar tidak menimbulkan curiga orang.
Dan baru saja selesai kerjanya, diluar sana pintu sudah terketok dan terdengar suara Yap Tiong-siau sedang berseru.
"Lian-moay, aku datang menjenguk kau lagi."
"Pintu tak dikunci, masuklah!"
Sahut Tiong-han.
"Ha, harini engkau sangat ramah padaku, agaknya engkau sudah mau mengaku aku sebagai kakakmu, bukan?"
Demikian Yap Tiong-siau menyapa begitu melangkah masuk kedalam rumah.
"Kau mengaku sebagai engkohku, tapi mengapa kau selalu mengeloni orang lain untuk membikin susah padaku?"
Sahut Tiong-lian dengan ketus.
"Aneh, mengapa malah menuduh membikin susah padamu, aku menganjurkan kau menikah dengan Thaycu (putera mahkota) apakah itu membikin susah padamu?"
Sahut Tiongsiau.
"Huh, tidak malu, hendak memperalat diriku untuk kedudukan dan kepentinganmu!"
Semprot Tiong-lian.
"Tentang kedudukan dan kehidupanku yang agung tidak perlu lagi aku susah-susah lagi, bukankah sekarang juga aku adalah pangeran negara Masar dengan pangkat "Ci-kim-ngo"
Tayciangkun, ayah baginda juga sangat baik padaku, bahkan lebih baik daripada cintanya kepada putera mahkota,"
Demikian sahut Tiong-siau.
"Setiap orang mempunyai cita-cita sendiri, kau kemaruk pada kedudukan dan kemewahan, teruskanlah sesuka hatimu, apakah betul kau adalah saudaraku atau bukan, pendek kata aku tidak sudi membonceng padamu,"
Sahut Tiong-lian. ---ooo0dw0ooo---
Jilid 11
"Dan sebab apa kau tidak sudi menjadi isteri Thaycu (putera mahkota) ? Ah, mungkin kau sudah punya kekasih ?"
Kata Yap Tiong-siau pula dengan tersenyum-senyum.
"Jangan kau sembarangan mengoceh disini, enyahlah kau!"
Semprot Tiong-lian.
"Eh, Kim Si-ih mempunyai seorang murid, namanya Kang Hay-thian, kau kenal dengan dia sejak kecil, bukan "
Tiba-tiba Tiong-siau menanya. Tiong-lian terkesiap, ia sangka orang sudah tahu beradanya Kang Hay-thian disitu. Segera jawabnya.
"Kalau kenal, mau apa "
"Tidak apa-apa,"
Kata Tiong-siau.
"Orang itupun aku kenal. Sudah lama dia saling mengikat janji dengan puterinya Auyang Ki-ho dari Cong-lam-san, tunangannya sekarang juga sudah datang dan sedang berharap dapat bertemu dengan dia."
Wajah Tiong-lian berubah, tanyanya dengan gusar.
"Apa artinya ucapanmu ini"
"Tiada punya arti apa-apa,"
Sahut Tiong-siau.
"Cuma Kang Hay-thian itu adalah kawanmu sejak kecil, tentunya kau sangat menaruh perhatian padanya, maka aku memberitahukan urusannya ini."
"Terima kasih, dan sekarang bolehlah kau pergi,"
Ujar Tiong-lian dengan dingin.
"Dan apakah pikiranmu sudah berubah belum ? Betapapun kita adalah saudara sendiri, jika kau menjadi isteri Thaycu, kita berdua akan selalu berkumpul. Seorang anak perempuan seperti kau, apa gunanya berkelana kian-kemari sendirian didunia Kangouw "
"Aku lebih suka hidup terlunta-lunta dikangouw daripada tunduk kepada raja dari negeri Masar,"
Sahut Tiong-lian dengan tertawa dingin.
"He, aneh, mengapa kau seperti mempunyai dendam kepada raja ?"
Tanya Tiong-siau.
"Apakah kau telah menjadi anteknya raja dan sengaja hendak memancing rahasiaku ?"
Tanya Tiong-lian dengan mendongkol.
"Rahasia apakah ? Sungguh aku tidak paham maksudmu ? Apa sih rahasiamu ?"
Demikian Tiong-siau pura-pura bingung sambil menggeser tempat hingga membelakangi tempat sembunyi Kang Hay-thian.
Pada saat itulah Tiong-lian lantas berdehem sekali, maka mendadak Kang Hay-thian lantas melompat keluar sambil berseru .
"Ha. masih kau pura-pura tidak tahu ? Apa kau sudah kebelingar karena kau sudah menjadi pengcran ? Ini, biar kukatakan padamu, sebenarnya kau adalah putera mahkota, kau adalah putera raja Masar yang dahulu, raja yang sekarang adalah musuh yang membunuh ayahmu. Nah, kau jelas belum?"
Kok Tiong-lian mengira begitu melompat keluar tentu Kang Hay-thian akan terus menyergap Yap Tiong-siau, maka ketika memberi tanda tadi, ia sendiripun lantas mencabut belati dan menusuk kearah Yap Tiong-siau.
Diluar dugaan Kang Haythian masih tetap yakin Yap Tiong-siau itu adalah saudara Kok Tiong-lian, maka dengan sejujurnya ia ingin menyadarkan orang, ia tidak lantas raenyerang seperti apa yang dirundingkan dengan Tiong-lian tadi, dengan sendirinya serangan Tiong-lian yang tiada kerja-sama dengan baik itu menjadi gagal, apalagi kepandaian Tiong-siau juga lebih tinggi dari dia, maka sekali ia mengga-blok, segera belati gadis itu kena dipukul jatuh.
Tiong-lian menjadi gusar, teriaknya .
"Gimana kau. Kang Hay-thian, sebenarnya kau ingin membantu aku atau mau bantu dia ?"
Meski sudah kehilangan senjata, tapi dengan gagah berani Tiong-lian masih mencrjang maju, yang tidak menguntungkan dia adalah tenaganya kalah kuat daripada lawan, tapi ilmu pukulannya dan tusukan jarinya ajaran Lu Si-nio yang berbahaya sekali bagi musuh juga tidak berani diremehkan oleh Yap Tiong-siau.
Segera Yap Tiong-siau menangkis dan menghindar dengan cepat, iapun keluarkan Tay-seng-pan-yak-ciang-lik yang hebat hingga tubuhnya seakan-akan terbungkus oleh satu lingkaran dinding baja yang tak berwujut.
dalam jarak tertentu Kok Tiong-lian tertahan oleh tenaga pukulannya itu hingga tidak mampu maju lebih dekat.
Dengan begitu Tiong-siau dapat berpaling dan berseru kepada Kang Hay-thian dengan sikap heran dan bingung .
"He. apa betul katamu itu ? Aku...... aku adalah putera raja yang dahulu ?"
"Buat apa aku mendustai kau, kalau tidak percaya boleh tanya adikmu sendiri !"
Sahut Hay-thian.
"Apa betul katanya, Lian-moay, lekaslah katakan padaku", seru Tiong-siau. Keruan Tiong-lian sangat mendongkol, sahutnya .
"Haythian, kenapa kau begitu gampang tertipu olehnya, dia hakikatnya bukanlah saudaraku ! Hayolah lekas kau turun tangan, masih menunggu apa lagi ?"
Tiba-Tiba air mata Yap Tiong-sian bercururan, katanya dengan suara terguguk-guguk .
"Ah. pahamlah aku sekarang, pantas kau tidak sudi mengaku kakak padaku, kiranya raja sekarang ini adalah musuh pembunuh ayah kita, dan aku telah menganggap musuh sebagai kawan."
"Ya, Lian-moay, betapapun dia adalah saudaramu, orang yang mau sadar kesalahannya, hendaklah kau dapat memaafkan dia,""
Ujar Hay-thian karena tidak tega.
Tapi Tiong-lian melototinya dengan mendongkol, ia masih terus menyerang dengan sengit, sebaliknya Tiong-siau seperti tiada niat bertempur padanya lagi, berulang-ulang ia terdesak mundur dengan air mata tetap berlinang-linang.
Sebenarnya sikap mendongkol Kok Tiong-lion itu sangat jelas, tapi Kang Hay-thian telah terpengaruh oleh "air mata buaya"
Yap Tiong-siau hingga yang dipikir olehnya ialah ingin mengakukan hubungan baik kakak beradik mereka tanpa memikirkan kepalsuan lawan.
Dalam pada itu Yap Tiong-siau masih pura-pura merengekrengek minta pengertian Kok Tiong-lian, mendadak ia membiarkan diri-nya digebuk sekali sambil berkata .
"Ya, barangkali kau masih marah padaku, biarlah kau pukul sekali untuk melampiaskan rasa dongkolmu."
Menyaksikan itu. Kang Hay-thian merasa tidak tega pula, segera ia memburu maju hendak melerai sambil berseru.
"Sudahlah, lebih baik kalian bicara secara baik-baik saja."
Diluar dugaan, mendadak Yap Tiong-siau menyerang kearah Kang Hay-thian secepat kilat.
Karena sama sekali tidak menduga, keruan Kang Hay-thian kena dihantam dengan tepat, biarpun tidak sampai roboh karena terlindung oleh Houte-sin-kang, tapi matanya juga berkunang-kunang dan kepala pening.
Dan selagi Kang Hay-thian hendak menegur.
tiba-tiba Yap Tiong siau sudah berkata.
"Karena kalian tidak dapat terima maksud baikku, terpaksa aku harus melawan, maafkan Kangheng, apa boleh buat ?"
Dengan cepat Hay-thian dapat memulihkan semangatnya.
ia menjadi ragu-ragu apakah orang benar-benar terpaksa atau sengaja menyerangnya ?
Pada saat itulah tiba-tiba diluar sana terdengar suara-suara tindakan orang yang mendatangi.
Segera Yap Tiong-siau berkata kepada Kang Hay-thian.
"Kang-heng. hendaklah kau bersembunyi dulu, kedua kawanku telah datang, mereka adalah orang kepercayaan Thaycu."
Dalam pada itu lantas terdengar suara orang berseru diluar.
"Kian-tian-he, apakah kalian kakak beradik kembali bertengkar lagi ?"
Dan belum sempat Kang Hay-thian bersembunyi, sementara itu dua orang sudah muncul.
mereka adalah dua Hwesio yang berwajah bengis.
Ketika mendadak nampak didalam rumah situ telah bertambah seorang asing yang tak dikenal, kejut kedua Hwesio itu tidak kepalang, segera seorang diantaranya membentak.
"Siapa kau bocah ini ? Darimana kau bisa berada disini ?"
"Buat apa ditanya lagi, tentu adalah mata-mata musuh, lekas ringkus saja dan serahkan kepada Thaycu,"
Ujar kawannya.
"Hay-thian, harini kita sudah masuk perangkap mereka, biarpun mati tidak boleh menyerah!"
Seru Tiong-lian tiba-tiba. Dan segera ia mendahului bertindak, sekali menyerang, segera dengan tipu "Wan-kiong-sia-tiau"
Atau pentang busur memanah elang, sekaligus ia serang kedua Hwesio itu.
"Aha, tentu dia adalah gendakmu, ya ? Makanya kau mengeloni dia"
Segera Hwesio yang lebih gemuk mengolok-olok dengan tertawa yang dibikin-bikin.
Untuk sejenak Yap Tiong-siau menjadi sibuk, ia tidak tahu bagaimana harus bertindak atau memberi penjelasan.
Dalam pada itu Hwesio yang lebih kurus sudah lantas ikut turun tangan, lebih dulu ia desak mundur Kok Tiong-lian, menyusul ia membentak kepada Kang Hay-thian.
"Bangsat kecil, apakah kau tidak mau lekas menyerah saja"
Berbareng ia terus menyabat dengan cambuk yang dibawanya.
"Bukan, bukan! Nanti dulu!"
Teriak Yap Tiong-siau.
"Bukan apa?"
Kata Hwesio itu dengan heran sambil menyabat pula dengan cambuknya.
Karena tertegun oleh seruan Yap Tiong-siau itu.
Kang Haythian terserempet juga oleh cambuk musuh, ia menjadi gusar, sekali ia gigit lidah pula, segera ia himpun tenaga dan mengeluarkan Thian-mo-kay-te-tay-hoat lagi, sekonyongkonyong ia melompat maju, kontan ia hantam kearah Hwesio kurus itu.
Sebaliknya ketika cambuk Hwesio itu mengenai tubuh Kang Hay-thian tadi.
"prak,"
Tahu-tahu cambuk itu putus menjadi dua. Keruan Hwesio itu terkejut, dengan tergopoh-gopoh ia tangkis serangan Kang Hay-thian.
"Blang,"
Paderi itu terguncang mundur beberapa tindak, tapi tidak roboh.
Terkesiap juga Kang Hay-thian, sungguh tak tersangka olehnya bahwa Hwesio kurus itu mampu menahan serangannya yang hebat itu, padahal tenaga yang dikerahkan dengan Thian-mo-kay-te-tay-hoat itu sudah menyamai kekuatannya sebelum terluka tadi.
tapi lawan toh sanggup menangkis, ini menandakan paderi itupun bukan tokoh rendahan.
Pada saat itu juga kembali Yap Tiong-siau berkaok-kaok lagi.
"Berhenti dulu! Dia bukan, bukan........."
Dalam pada itu sipaderi gemuk sudah menutuk roboh Kok Tiong-lian dan sedang hendak membantu kawannya, demi mendengar seruan Yap Tiong-siau itu, rupanya ia lebih cerdas, segera ia merasa paham duduknya perkara, segera katanya.
"Dia bukan apa? Ah, barangkali kau maksudkan dia bukan gendak adik perempuanmu "
"Dia bukan musuh kita,"
Yap Tiong-siau menjelaskan.
"Aneh, bukanlah tadi kau telah bertempur dengan dia"
Ujar sipaderi kurus.
"Benar, memang dia adanya,"
Sahut Tiong-siau.
"Habis, mengapa kau bilang dia bukan musuh"
Tanya Hwesio kurus.
"Sungguh aku tidak mengarti"
"Ya, habis, siapa dia ? Asal-usulnya tentu Tianhe sudah mengetahui"
Sipaderi gemuk ikut bertanya.
"Dia adalah muridnya Kim Si-ih, dan adikku adalah murid Kok Ci-hoa, ketua dari Bin-san-pay. Hubungan mereka berdua sangat baik sekali,"
Sahut Tiong-siau.
"Hal itu sudah lama kami mengetahui, untuk terus terang, kami tahu pula bahwa Kok Ci-boa adalah kekasih Kim Si-ih, betul tidak ?"
Ujar sipaderi kurus dengan tertawa.
"Tapi kedatangan murid Kim Si-ih kesini hanya untuk menolong adikku, mungkin dia tidak tahu maksud baik ayahbaginda, dan tidak sengaja hendak bermusuhan dengan beliau", kata Tiong-siau.
"Salahlah ucapan Tianhe". ujar sipaderi kurus.
"adikmu sudah calon permaisuri Thaycu, kalau sekarang bocah ini hendak menolongnya kabur, bukankah dia merupakan musuh kita"
"Mungkin kalian juga tidak tahu duduk perkara seluruhnya,"
Sahut Tiong-siau.
"Koksu justeru lagi hendak berkawan dengan Kim Si-ih. Hu-ong juga inginkan bantuannya, jika sekarang kita membikin susah muridnya, bukankah hal mana akan memaksa Kim Si-ih benar-benar menjadi musuh kita. Dan ini berarti telah melanggar maksud tujuan Hu-ong dan Kok-su?"
Kedua paderi itu memang adalah muridnya Po-siang Hoatsu, dengan menonjolkan nama guru mereka, tentu saja mereka tidak berani membangkang lagi.
Namun mereka masih ragu-ragu.
mereka saling pandang dan belum dapat mengambil keputusan.
"Habis, apakah mesti membiarkan adikmu dibawa lari olehnya?"
Tanya sipaderi gemuk.
"Sudah tentu tidak boleh, kalau boleh, buat apa tadi aku bergebrak dengan dia "
Sahut Tiong-siau.
"Lalu bagaimana?"
Tanya sipaderi kurus.
"Menurut pendapatku, lebih baik aku akan melaporkan kepada Kok-su dan cara bagaimana orang ini akan ditindak terserahlah kepada beliau,"
Kata Tiong-siau.
"Tapi kalau kalian hendak meringkusnya, tentu urusan akan runyam, sebab dia tentu tidak mandah menyerah pada kalian. Apalagi dia dalam keadaan tor-luka, betapapun tak mungkin bisa kabur, biar kalian mengadakan penjagaan kuat. sementara ini boleh dia dikurung disini sampai lukanya sembuh."
Sudah tentu kedua paderi itu masih ragu-ragu.
"Dan kalau terjadi apa-apa, terpaksa Tianhe harus bertanggung jawab sendiri,"
Kata sipaderi gemuk akhirnya.
"Jangan kuatir, biarpun urusan setinggi langit juga takkan kubikin susah pada kalian", sahut Tiong-siau.
"Jika demikian titah Tianhe, tentu saja kami menurut saja,"
Ujar kedua Hwesio itu.
Lalu mereka memberi hormat juga kepada Kang Hay-thian sambil minta maaf, lalu tinggal pergi.
Kemudian Yap Tiong-siau mengeluarkan satu botol obat, ia taruh diatas meja, lalu katanya kepada Kang Hay-thian.
"Ini adalah obat luka yang sangat manjur, silakan kau mengobati diri sendiri."
Habis itu ia lantas membuka Hiat-to Kok Tionglian dan kata padanya.
"Biar kau tidak sudi mengaku aku sebagai kakak, tetap aku akan anggap kau sebagai adikku. Nah, boleh kau pikir lagi semalam ini, besok aku akan jenguk kau lagi kesini."
Habis berkata iapun tinggal pergi bersama paderi-paderi tadi.
Karena Hiat-to baru dibuka dan jalan darahnya belum lancar, maka untuk sejenak Tiong-lian masih susah bergerak, tapi begitu ketangkasannya sudah pulih kembali, mendadak ia menyemprot Hay-thian.
"Kau ini benar-benar sudah linglung, rencana yang sudah diatur sebaik itu telah kau rusak sendiri!"
"Ya, meski kita belum terlepas dari bahaya, tapi paling sedikit kita sudah dapat memahami sesuatu urusan bahwa kakakmu meski kemaruk kepada pangkat dan kedudukan, paling tidak ia bukanlah seorang yang terlalu jahat", ujar Haythian.
"Rupanya dia memang belum tahu rahasia asal-usulnya sendiri. Aku menjadi aneh mengapa kau tetap takaau memaafkan dia."
"Hm, aku justeru lebih heran mengapa kau tidak percaya pada omonganku,"
Sahut Kok Tiong-lian dengan mendongkol.
"Yap Tiong-siau itu entah anak liar yang ditemukan dari mana oleh rajanya, masakah kau katakan dia adalah kakakku ? Apa kau belum cukup dihajar olehnya, mengapa justeru percaya pada omongannya "
Hay-thian menjadi bingung.
Sebenarnya ia percaya penuh Yap Tiong-siau itu adalah saudara kandung Kok Tiong-lian.
Tapi mengapa gadis itu memakinya sebagai anak liar ?
Apa betul Yap Tiong-siau memang bukan saudaranya ?
Melihat pemuda itu termangu-mangu, pula setelah banyak mengeluarkan tenaga dengan ilmu Thian-mo-kay-te-tay-hoat.
sema-ngatnya tampak lesu dan dari lukanya juga mengucurkan darah.
Tiong-lian menjadi tidak tega untuk mengomelinya lagi.
segera katanya.
"Ai, lukamu masih mengeluarkan darah, marilah kubalutkan dan boleh kau mengaso dulu, sebentar akan kujelaskan urusan ini lebih jauh."
"Disini dia sudah tinggalkan obat luka bagiku, kenapa tidak memakainya?"
Ujar Hay-thian sambil menunjukkan obat yang ditinggalkan Yap Tiong-siau diatas meja itu.
"Kenapa kau percaya penuh padanya, apakah kau yakin itu bukan obat racun?"
Ujar Tiong-lian.
"Jika dia mau membunuh aku tentu tadi aku sudah dibunuh olehnya, buat apa mesti memakai racun segala?"
"Dia membiarkan kau tetap hidup, bukan mustahil ada tipu muslihat tertentu."
"Apakah dia mempunyai tujuan tertentu, hal mana mesti melihat bagaimana perkembangan seranjutnya. Pendek kata saat ini dia masih ingin mempertahankan jiwaku, tentu pula dia takkan meracuni aku."
Tiong-lian pikir beralasan juga ucapannya itu, segera ia bubuh kan sedikit obat salep dari botol itu keatas luka Haythian.
Benar juga tempat luka menjadi segar dan sakitnya banyak berkurang.
.Mungkin besok juga mereka akan datang dan menggiring kau untuk menemui Kok-su mereka, meski darah dilukamu sudah mampet, tapi tenaga dalam belum pulih, aku sendiri tidak kuat melindungi kau, lantas bagaimana baiknya besok?"
Ujar Tong-lian kemudian.
"Tentang lukaku sih tidak menjadi soal, biarpun llmu silatku sudah pulih juga susah melawan jumlah musuh yang terlalu banyak,"
Sahut Hay-thian.
"Tapi Po-siang Hoat-su itu tampaknya agak jeri terhadap guruku, belum tentu ia berani mengganggu jiwaku, yang kukuatirkan justeru adalah dirimu, jangan-jangan kau akan lebih susah meloloskan diri bila aku sudah digiring pergi."
Tiong-lian merasa terharu oleh kebaikan hati pemuda itu. selang sejenak ia berkata pula.
"Apakah kau sanggup memulihkan tenagamu dalam waktu singkat? Jika dapat, hayolah sembuhkan dulu luka dalam itu. Tapi, wah, lukamu ini tidaklah enteng!"
Waktu ia buka baju Kang Hay-thian, ia melihat dipunggung pemuda itu ada bekas tapak tangan yang matang biru.
"Tidak apa-apa, guruku pernah mengajarkan padaku cara menyembuhkan luka dalam dengan Khikang,"
Sahut Hay-thian.
Lalu ia duduk semadi, ia kerahkan Hou-te-sin-kang, sesudah napasnya teratur dan darahnya berjalan lancar, kira-kira setengah jam, benar juga semangatnya tampak pulih kembali dengan segar.
Dari samping Tiong-lian dapat menyaksikan ubun-ubun Hay-thian mengeluarkan uap, bekas tapak tangan dipunggungnya yang matang biru itu mulai memerah untuk akhirnya lantas lenyap sama sekali.
Mendadak Hay-thian melompat bangun, serunya.
"Apa yang kau katakan memang tepat, seorang laki-laki sejati lebih baik mati daripada dihina, kalau mati biarlah kita gugur bersama. Besok kalau mereka datang lagi, segera aku akan mengadu jiwa dengan mereka."
Ia coba melemaskan kaki-tangannya, sekali ia hantam, kontan batang pohon besar dipelataran itu terguncangguncang hingga daun kering jatuh bertebaran. Girang dan terkejut Kok Cong-lian, katanya.
"Tidak nyana bahwa Lwekangmu ternyata sehebat ini. Namun musuh juga sangat lihay, jika melulu memakai kekerasan mungkin bukanlah suatu jalan yang baik"
"Benar, tapi mungkin besok akan ada perubahan, siapa tahu kalau kakakmu diam-diam akan berusaha membantu kita pula,"
Ujar Hay-thian. Tiong-lian menjadi kurang senang, sahutnya.
"Sudah berulang kali kukatakan padamu bahwa Yap Tiong-siau itu bukan kakakku!"
"Oh, selama ini kuanggap dia adalah kakakmu, karena sudah biasa, seketika menjadi lupa,"
Sahut Hay-thian dengan tertawa.
"Biarlah kukatakan terus terang padamu, dia adalah orang jahat yang sengaja memalsu menjadi kakakku,"
Kata Tionglian pula.
"Darimana kau tahu dia adalah orang jahat yang memalsukan kakakmu?"
Tanya Hay-thian. Tiong-lian termenung sejenak, kemudian berkata.
"Karena kau toh bukan orang luar, biarlah kukatakan sesuatu rahasia padamu."
"Rahasia? Rahasia apa?"
Tanya Hay-thian terheran-heran.
"Tentang ayahku adalah raja Masar yang dahulu, hal ini memang benar,", ujar sigadis.
"Rahasia ini sudah lama aku tahu,"
Kata Hay-thian dengan tertawa.
"Ayah bagindamu dahulu telah digulingkan oleh pembesar pengkhianat, tapi dua putera-puterinya yang kembar telah berbasa lolos, peristiwa ini dapat diketahui oleh guruku dan kemudian mem beritahukan pula kepada gurumu"
"Bukan melulu itu saja, tapi masih ada suatu rahasia lain yang tak diketahui oleh gurumu,"
Tutur Tiong-lian.
"Dahulu gurumu cuma menduga aku adalah puteri raja yang hilang itu, hal ini sudah dapat dibuktikan akan kebenarannya. Tapi tidak lama berselang telah terbongkar pula suatu rahasia yang lain". Ia berhenti sambil memandang lekat-lekat kepada pemuda itu, akhirnya ia melanjutkan.
"Sudah lama ayah bagindaku sebenarnya sudah tahu ada komplotan yang hendak menggulingkan kekuasaannya, cuma pengaruh komplotan itu sangat besar dan susah untuk mencegahnya. Demi untuk keselamatan kami kakak beradik, ketika kerusuhan terjadi, beliau lantas minta dua orang kepercayannya membawa lari kami berdua.
"Kedua orang yang dipasrahi menyelamatkan kami berdua itu adalah Khu Giam dan Yap Kun-san yang telah kita ketahui itu. Ayah baginda memang sudah kuatir kami kakak beradik mung kin akan terpencar ditengah pertempuran kacau itu, maka kami masing-masing telah diberinya sesuatu tanda pengenal dikemudian hari. Selain itu kami masing-masing diberinya pula sehelai surat kulit kambing, tulisan didalam surat kulit itu dua-pertiga bagian adalah sama isinya, hanya satu pertiga bagian yang berbeda. Dahulu waktu Thian-moknucu bikin rusuh di Bin-san, surat kulit kambing yang terjahit didalam bajuku itu barulah diketemukan oleh guruku, tapi beliau dan Kim-tayhiap tidak kenal tulisan diatas kulit itu, maka ingin minta keterangan pada Tan Thian-ih, di-luar dugaan pada waktu itu. Tan Thian-ih juga telah menghilang entah kemana perginya.
"Guna mencari tahu rahasia asal-usulku. Suhu telah memba wa aku kenegen Masar sini. Sebelum masuk kewilayah negeri Masar, ditengah jalan beliau telah mendapat tahu bahwa tulisan diatas kulit kambing itu adalah tulisan Hwe-kut yang digunakan secara umum oleh beberapa negeri kecil diwilayah barat sini. Sudah tentu beliau tidak berani mengeluarkan surat kulit ttu untuk tanya kepada orang, tapi beliau mendapatkan akal, tulisan diatas kulit itu oleh beliau diturunkannya sebagian demi sebagian secara terpisah-pisah, lalu minta keterangan kepada orang secara terpisah-pisah pula. Sesudah beberapa bulan lamania, akhirnya dapat diketahui dengan lengkap maksud tulisan diatas kulit kambing itu.
"Kiranya surat kulit kambing itu terbagi dalam tiga bagian. Bagian pertama menceritakan perkara yang telah terjadi, termasuk pula mengenai asal-usul diri kami; Bagian kedua adalah rencana pemulihan negara, dldalamnya tercatat pembesar-pembesar mana adalah pembesar setia dan beberapa diantaranya sengaja takluk kepada raja baru untuk bekerja dibawah tanah. Selain itu tertulis jelas pula tempat dimana tersembunyi harta-benda yang dipendamnya. harta ini dapat kami gali keluar untuk biaya pemberontakan kepada raja baru yang lalim itu.
"Dan bagian ketiga adalah bagian yang paling aneh, bagian ini terdiri dari separoh kunci ilmu silat. Diatas surat kulit itu tertulis bahwa kakakku juga memiliki surat kulit seperti itu, dua bagian isi surat itu adalah sama, bagian yang terakhir berbeda, dan separoh bagian ilmu silat yang lain itu terdapat didalam surat kulit kakakku."
"Jika demikian, ayah bagindamu itu ternyata bukanlah sembarangan raja,"
Ujar Hay-thian dengan tertawa.
"Beliau selain memiliki harta benda yang tak terhitung besarnia, bahkan memiliki kitab rahasia ilmu silat. Tapi mengapa cuma setengah bagian saja yang diberikan padamu?"
"Rahasia ilmu silat itu konon adalah tinggalan seorang tokoh persilatan pada beberapa ratus tahun yang lalu, tokoh silat itu bersuaka kenegeri kami karena menghindari pencariar, musuh, dan karena berterima kasih kepada leluhur kami yang telah menyambutnya dengan baik hati. maka ilmu silat itu telah ditinggalkannya. Paja jaman itu leluhur kami itu baru seorang kepala Teelompok suku, kemudian berhasil melatih ilmu silat dan kelompok suku yang dipimpinnya menjadi kuat, akhirnya dapat mendirikan negeri Masar dan menjadi raja. Cuma sayang, raja-raja selanjutnya jarang yang berminat beladiar ilmu silat hingga kunci melatih ilmu silat itu lantas tersimpan tak terurus didalam perpustakaan negara.
"Tapi ayahku telah menurunkan kitab ilmu silat itu dan kami kakak-beradik masing-masing diberinya separoh bagian, itu berarti beliau mengharap sesudah kami berdua dapat bertemu kembali untuk bersama-sama meyakinkan ilmu silat itu serta untuk membalas sakit hatinya. Berbareng bukti kulit kambing ini dapat pula dipakai sebagai bukti pengenal kami kakakberadik. Suhuku juga telah membaca separoh bagian ilmu silat ini, menurut beliau, agak berbeda dengan ilmu silat dari Tionggoan, bahkan didalamnya ada bagian-bagian yang bagus pula. Cuma kami tiada tempo buat melatih ilmu silat diatas surat kulit ini, terpaksa menunggu pada lain waktu."
Sampai disini, Tiong-lian berhenti sejenak, lalu ia tanya kepada Kang Hay-thian dengan tersenyum.
"Nah, sekarang tentu kau dapat memahami mengapa aku dapat mengetahui rahasia Yap Tiong-siau yang telah memalsu sebagai kakakku, bukan?"
"Ya, sebab dia tidak memiliki bukti pengenal tinggalan ayahmu, yaitu surat kulit kambing itu,"
Sahut Hay-thian.
"Memang benar demikian, sebab kalau dia benar-benar adalah saudaraku, tentu yang dia tanya lebih dulu adalah bukti-bukti pengenal yang kumiliki itu,"
Kata Tionglian.
"Tapi dia justeru tidak berbuat begitu, dia malah berputar-putar hendak memancing ucapanku. tentu saja aku lantas tahu rahasia pemalsuannya. Kami kakak beradik dibesarkan oleh Khu Giam dan Yap Kun-san, hal ini memang sudah diselidiki olehnya dengan jelas, maka dia lantas mengaku sebagai kakakku, tapi mana aku mau percaya padanya?"
"Jika begitu, jadi Yap Tiong-siau itu sebenarnya seorang licik,"
Kata Hay-thian.
"Baiklah, bila besok dia datang lagi, tentu aku akan melabraknya."
"Tetapi, meski kau dapat menangkan Yap Tiong-siau. tentu kau akan susah melawan kedua Hwesio itu,"
Ujar Tiong-lian.
"Jika kau hendak melabrak mereka, paling sedikit harus mempunyai keunggulan yang meyakinkan."
"Itulah sulit, darimana kepandaianku bisa bertambah mendadak? Kecuali kalau aku menggunakan lagi Thian-mokay-te-tay-hoat?"
Sahut Hay-thian.
"Cara itu kurang baik. hal mana tentu akan membikin susah padamu sendiri, lebih baik jangan dipakai,"
Kata Tiong-lian.
"Habis, bagaimana untuk bisa menangkan musuh?"
Sahut Hay-thian dengan masgul. Tiong-lian memikir sejenak, tiba-tiba katanya.
"Hay-thian, aku ada suatu akal, meski agak berbahaya, tapi akan jauh lebih baik daripada menggunakan Thian-mo-kay-te-tay-hoat, apakah kau bersedia mencobanya?"
"Kita terkurung disini, toh sudah terang tiada jalan lain."
Ujar Hay-lhian.
"Mati saja aku tak gentar, mengapa takut menyerempet bahaya?"
"Baiklah, nah, coba kau putar balik kesana, tutup matamu,"
Pinta Tiong-lian.
"Aneh, mau apa kau? Main sulap?"
Tanya Hay-thian dengan tertawa.
"Tak perlu tanya."
Kata Tiong-lian.
"Nah. putar kesana. jika kusuruh kau membuka mata barulah kau boleh putar balik kesini lagi."
Dengan penuh tanda tanya terpaksa Kang Hay-thian menurutkan permintaan gadis itu.
Kiranya Kok Tiong-lian hendak membuka baju dan menanggalkan sehelai baju kutang dalam.
Selesai itu barulah ia suruh Kang Hay-lian membalik pula dan menyodorkan sesuatu sambil ber-tanya.
"Mungkin kau tidak kenal benda ini, bukan?"
Ternyata ditangan gadis itu terdapat tujuh biji kancing yang berwarna putih kelabu, tampaknya seperti kancing buatan dari bahan tulang.
"Aneh. kenapa kau melepaskan biji kancing bajumu? Kukira mestika apa?"
Ujar Hay-thian.
"Ini juga mestika, kau sendiri yang tidak kenal,"
Sahut Tiong-lian dengan "tertawa.
"Mestika? Apa benar?"
Hay-thian menegas.
"Sudah tentu benar, bahkan segala mestika juga takbisa menandinginya."
Sahut Tiong-lian.
"Ketahuilah bahwa ini adalah Thian-sim-ciok yang sangat diimpi-impikan oleh setiap tokoh persilatan manapun juga."
Kang Hay-thian masih ragu-ragu mendengar ucapan sigadis yang begitu sungguh-sungguh itu. Ia tanya pula.
"Habis, apa gunanya?"
"Sesudah Thian-sim-ciok ini digilas remuk, lalu diminum dengan arak, setiap biji batu ini dapat menambah sama dengan sepuluh tahun tenaga orang,"
Tutur Tiong-lian.
"Wah, begitu hebat kasiatnya? Dan darimana memperolehnya?"
Tanya Hay-thian dengan heran.
"Waktu aku dibawa lari, ayah baginda telah memberikan sehelai baju kutang padaku dan diatasnya terdapat tujuh biji kancing. dan ternyata semuanya adalah Thian-sim-ciok ini."
Tutur Tiong-lian.
"Tentang bagaimana memperolehnya, itulah aku sendiripun tidak tahu".
"Menurut cerita, dibawah sinar matahari, Thian-sim-ciok ini akan bersemu merah,"
Tiong-lian menutur lebih jauh.
"Dahulu sesudah Suhuku mengetahui tanda-tanda yang aneh itu, beliau masih tidak tahu bahwa ini adalah mestika yang jarang terdapat di dunia persilatan. Belakangan sesudah beliau minta petunjuk pada tabib sakti Yap Ik-jong dan barulah dikenalnya batu ini sebagai Thiam-sin-ciok. Menurut cerita batu mestika ini hanya terdapat di Sing-siok-hay (laut diatas dataran tinggi) dipegunungan Kun-lun-san."
"Wah, jika ada mestika seperti ini, mengapa kau tidak memakainya menurut resepnya?"
Tanya Hay-thian dengan girang.
"Katanya sebutir batu ini akan sama kekuatannya dengan latihan sepuluh tahun. Ha, kalau begitu, jika tujuh biji batu ini kau makan semua, bukankah kau akan merajai dunia persilatan, apa lagi cuma keroco sebangsa Yap Tiong-siau itu?"
"Jika aku boleh meminumnya, masakah masih menunggu sampai sekarang?"
Sahut Tiong-lian dengan tertawa.
"Justeru batu Thian -sim-ciok ini juga mengandung racun yang maha dahsyat. untuk makan batu ini orang harus memiliki Lwekang yang tinggi supaya dapat menahan serangan racunnya, dari itu kalau orang kurang kuat, bukannya mendapatkan manfaatnya, sebaliknya akan mati malah kalau makan batu mestika ini."
"Baiklah, biar aku saja yang mencobanya,"
Kata Hay-thian.
"Dahulu Tan-sioksiok (Tan Thian-ih) pernah mendapatkan buah aneh di istana es. siapa tahu kalau Thian-sim-ciok ini juga akan membawa keajaiban bagiku. Adapun Lwekangku rasanya juga lebih kuat daripada Tan-sioksiok, biarpun racun batu mestika ini jauh lebih lihay daripada buah aneh istana es itu, mungkin juga tiada halangannya bagiku."
"Justeru mengingat Lwekangmu cukup kuat, makanya aku pikir boleh kau mencobanya,"
Kata Tiong-lian.
Tempat tinggal Tiong-lian ini sebenarnya adalah istana musim panas raja, dengan sendirinya banyak tersedia arakarak bagus.
Segera ia mengambil satu botol, ia mencobanya dahulu dan ternyata tidak beracun, lalu diberikannya kepada Kang Hay-thian.
"Nah. kau boleh coba dulu satu biji,"
Kata Tiong-lian.
Segera Hay-thian menggunakan tenaga jari untuk meremas batu itu lalu diminum bersama arak.
Seketika ia merasa suatu arus hawa panas merangsang dari dalam perut, agak muak rasanya, tapi toh tidak berhalangan apa-apa.
Sebenarnya ia tidak rakus untuk memakan obat mestika itu lebih banyak, tapi maksudnya ialah ingin lekas-lekas menyelamatkan Kok Tiong-lian, untuk mana ia kuatir kekuatan satu biji batu mestika itu belum cukup hingga tak dapat mengalahkan musuh, maka ketika kemudian sigadis tanya padanya bagaimana rasanya sesudah minum bubuk Thiansim-ciok itu, ia lantas menyatakan tidak apa-apa, bahkan manis dan enak rasanya, maka minta diberi lagi.
Tiong-lian mengira Lwekang sipemuda memang sangat tinggi untuk cukup kuat menahan rangsangan racun batu mestika itu.
dengan girang segera ia memberinya dua biji lagi Katanya.
"Jika betul kasiat batu mestika ini, maka tenagamu akan berarti tela!i bertambah dua-tiga puluh tahun lebih kuat. Pada jaman ini mungkin cuma gurumu yang mampu melawan kau. Sebenarnya aku kuatir kau tak tahan oleh rangsangan obat ini, maka secara terbatas aku memberikan padamu, harap kau jangan salah paham."
"O, tidak, tidak!"
Cepat Hay-thian menyahut dengan tertawa. Maklum ia sendiri sudah merasa tenggorokan panas dan kepala puyeng.
"Sudah cukup, lebih dari cukup, sekaligus aku telah makan tiga biji batu mestikamu itu, sungguh aku merasa tidak enak hati."
Dan ketika ia nyoba menggeraki tangannya, sekali hantam kepilar.
"blang", pilar itu sampai rompal hingga batu kerikil bercipratan. Tiong-lian sangat girang, katanya.
"Kasiat Thian-sim-ciok ini benar-benar sangat hebat, untung tidak kena digeledah mereka."
Dalam pada itu Kang Hay-thian merasa badannya seolaholah dibakar. keringat bercucuran bagaikan habis mandi. Keruan Tiong-lian menjadi terkejut.
"Kenapakah kau?"
Cepat ia tanya. Supaya sigadis tidak kuatir, sengaja Hay-thian berlagak tidak apa-apa, sahutnya dengan tertawa.
"0, tidak apa-apa, hanya terasa sedikit gerah!"
Dan ia sengaja mengunjuk sikap biasa, ia tanya pula.
"Baju kutang dari ayahmu itu hanya cukup dipakai waktu kau masih kecil, mengapa mereka tidak menaruh perhatian hingga masih dapat kau pertahankan dengan baik?"
"Sudah tentu aku tak membawa baju kanak-kanak yang menarik perhatian orang itu,"
Sahut Tiong-lian.
"Sudah lama aku menanggalkan surat kulit dan ketujuh biji Thian-sim-ciok itu. Ketujuh biji Thian-sim-ciok telah kubikin menjadi biji kancing kutangku dan surat kulit kambing itu kusembunyikan didalam lapisan sepatuku."
"Ai, engkau benar-benar sangat pintar, kalau aku, tentu tidak dapat menemukan akal sebaik itu,"
Ujar Hay-thian dengan tertawa yang dibuat-buat, sampai suara sendiri yang sudah serak itu terasa sangat menusuk telinga. Keruan Tiong-lian dapat mengetahui keadaan pemuda itu, seru-nya segera.
"Hai, kenapakah kau? Ah, kau tentu menderita sakit."
Dan waktu ia coba meraba jidat Kang Haythian, ia merasa tangannya seakan-akan dibakar, panasnya bukan main. Tapi Hay-thian masih berlagak gagah, katanya dengan tertawa.
"Ah, tidak apa-apa, tidak apa-apa!"
Namun belum habis ucapannya.
"bluk"
Ia tidak tahan lagi dan jatuh tersungkur.
"Wah, celaka!"
Seru Tiong-lian dengan kuatir.
"Lekas kau mengerahkan Hou-te-sin-kang!"
Tapi menjadi lebih runyam lagi ketika Kang Hay-thiam menuruti anjuran gadis itu.
Mendadak badannya bertambah panas luar biasa.
Kiranya Thian-sim-ciok itu adalah semacam benda yang maha panas, sedangkan ilmu silat pelindung badan Kang Hay-thian itu justeru adalah tenaga "Yang", tenaga positip yang murni, keruan seperti api ditambah minyak, panasnya semakin menjadi-jadi.
Saking panasnya, dalam sekejap saja Kang Hay thian sudah megap-megap dan pikirannya menjadi tak sadar.
Selagi Kok Tiong-lian merasa bingung dan menyesal akan keja-dian itu, tahu begitu lebih baik batu mestika itu tak disuruhnya minum.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara keriutnya pintu, mendadak dinding didepan sana melekah hingga tertampaklah sebuah pintu rahasia.
Seorang wanita cantik dgn dandanan yang berlebih-lebihan melangkah keluar.
Itulah dia Thian-mokaucu adanya.
"Jangan kuatir kau, kedatanganku adalah untuk membantu kau. akan kubantu kau menolong dia,"
Kata Thian-mo-kaucu dengan tertawa nyaring.
Dahulu waktu Thian-mo-kaucu bikin rusuh diatas Bin-san, pernah Kok Tiong-lian melihatnya, kini lapat-lapat ia masih mengenalnya.
Keruan kejutnya tak terhingga, serunya.
"Hai. kau...... kau bukankah Thian-mo-kaucu? Masakah kau begitu baik dan sungguh-sungguh hendak membantu aku?"
"Eh, rupanya kau masih ingat padaku,"
Kata Thian-mokaucu dengan tertawa.
"Maksudku mengirim dia kesini adalah supaya kalian dapat saling bertemu, siapa duga kau malah anggap aku sebagai musuh dan malah salah memberi minum Thian-sim-ciok padanya."
"Kau dapat menolong dia?"
Tanya Tiong-lian.
"Ya, asalkan kau berikan surat kulit kambing dan Thian-simciok kepadaku,"
Sahut Thian-mo-kaucu.
"Apa katamu? Kau inginkan kedua macam benda itu?"
Tiong-lian menegas.
"Hahahahaha!"
Thian-mo-kaucu terbahak-bahak.
"Memang benar. Segala rahasiamu aku sudah tahu, dan kaupun tidak perlu berdusta lagi padaku. Kedua macam benda itu toh takkan berguna bagimu, bahkan akan membikin celaka seperti bocah itu. Maka lekas kau berikan padaku saja."
Kiranya orang yang menghantarkan Kang Hay-thian ketempat Kok Tiong-lian ini tak-lain-tak-bukan adalah tipu muslihatnya Thian-mo-kaucu.
Ia telah mengetahui Yap Tiongsiau tak berhasil memancing rahasia dari mulutnya Kok Tionglian, untuk mana, jalan lain tak ada lagi kecuali harus memperalat seorang yang paling dipercaya oleh gadis itu.
Didalam istana peristirahatan raja ini dimana-mana terdapat kamar rahasia dengan alat-alat rahasia yang otomatis, maka setiap gerak-gerik Kang Hay-thian dan Tiong-lian semuanya dapat diikuti dan didengar jelas oleh Thian-mo-kaucu.
Meski Kang Hay-thian dalam keadaan samar-samar, sadartak-sadar, tapi demi mendengar suaranya Thian-mo-kaut]u, seketika ia ter-jaga, mendadak ia meloncat bangun sambil berteriak.
"Kau perempuan tenung ini telah bikin susah padaku. Yal"
Dan berbareng-ia terus menghantam.
Disambar oleh angin pukulan pemuda itu.
Thian-mo-kaucu kontan sempoyongan, hampir saja ia roboh terjungkal.
Sebenarnya dia memang sengaja menunggu Kang Haythian sudah mabuk oleh racun Thian-sim-ciok, lalu ia unjukkan diri.
ia sangka pemuda itu tentu takdapat melawannya lagi.
Siapa duga mendadak Kang Hay-thian dapat melompat bangun, bahkan terus menghantam dari jauh dengan Pikkhong-ciang yang sakti, malahan tenaganyanya jauh lebih hebat daripada semula.
Dilain piKak Kok Tiong-lian menjadi girang sekali, cepat ia berseru.
"Hay-ko, lekas kau tambahi sekali pukul lagi............. kenapakah kau? Dia disebelah sana, he, apa kau tidak melihat-nya?"
Begitulah ia melihat Kang Hay-thian terhuyung-huyung seperti orang mabuk, jalannya gentayangan tak keruan arahnya.
berulang-ulang ia menghantam serabutan pula kekanan dan kekiri hingga Thian-mo-kaucu dan Kok Tiong-lian terpaksa sama menyingkir.
Maka terdengarlah suara "blang"
Sekali, pukulan Kang Haythian mengenai dinding hingga berlubang besar, batu bertebaran, gedung itupun serasa teTgunt ang.
Kok Tiong-lian berteriak-teriak pula hendak menyadarkan Hay-thian, tapi "bluk", mendadak pemuda itu roboh pula.
Kiranya Kang Hay-thian sebenarnya sudah tak sadar terbakar oleh suhu panas yang dibawa Thian-sim-ciok itu, cuma sebagai tokoh persilatan, ketika mendadak mendengar musuh datang, otomatis timbul semaUgatnya hendak melawan, tapi hal mana hanya terjadi sekejap saja, segera ia takbisa menguasai diri lagi dan roboh pula, sekali ini ia benarbenar tak sadar lagi, kehilangan daya inderanya sama sekali.
Thian-mo-kaucu menghela napas lega, pelahan-lahan la mendekati Kang Hay-thian.
ketika ia cungkit dengan ujung kakinya.
Kang Hay-thian terbalik tiarap, kedua matanya terpejam rapat, terang takbisa berkutik lagi sedikitpun.
Terkejut dan girang pula Thlan-mo-kaucu.
pikirnya.
"Sungguh tidak nyana kasiat Thian-sim-ciok itu sedemikian aneh dan sakti, tapi bekerjanya racun juga begini keras". Dalam pada itu Tiong-lian sedang berteriak-teriak pula memanggil Hay-thian, dalam bingungnya ia terus mendekati pemuda itu tanpa menghiraukan Thian-mo-kaucu.
"Sementara ini dia takkan mati, asal kau serahkan kedua macam barang itu padaku, tentu aku akan berdaya menghidupkan dia,"
Kata Thian-mo-kaucu.
"Kau menghidupkan dia lebih dulu, kemudian akan kuberikan barang yang kau inginkan,"
Sahut Kok Tiong-lian. Padahal Thian-mo-kaucu juga tidak tahu cara bagaimana harus menolong Kang Hay-thian. Maka sambil mendengus ia berkata pula.
"Kau tidak mau kasih, apa aku takbisa ambil sendiri?"
Habis berkata, secepat kilat ia terus menutuk ke "Ihgi-hiat"
Dipinggang Kok Tiong-lian, jika tertutuk, pasti gadis itu akan terkulai tanpa berkutik lagi.
Sebagai ahli waris Lu Si-nio, sudah tentu kepandaian Kok Tiong-lian juga tidak rendah, sekali menggeser, dengan cepat ia masih sempat menghindarkan tutukan orang, bahkan terus balas menghantam musuh.
Tapi dengan kedua tangannya naik-turun bagaikan orang menari, dalam sekejap saja Thian-mo-kaucu sudah melontarkan 6-7 kali serangan hingga Kok Tiong-lian kelabakan.
untung ia mainkan ilmu pukulannya menurut Hianli-kiam-hoat, ia menjaga diri dengan rapat hingga sementara ini Thian-mo-kaucu masih tak-dapat merobohkan dia.
Akhirnya Thian-mo-kaucu menjadi tidak sabar, mendadak ia meniup hawa kemuka sigadis, mulutnya mengulum bunga hantu yang berbisa, keruan seketika Tiong-lian terbius hingga lemas, akhirnya ia roboh tertutuk oleh Thian-mo-kaucu.
Segera Thian-mo-kaucu menggeledah badan Kok Tionglian, lebih dulu ia ambil sisa empat biji Thian-sim-ciok itu.
Sebagai seorang yang mahir menggunakan racun, Thian-mokaucu sudah merancang nanti sesudah pulang akan dipelajarinya Pek-tok cin-keng untuk menyelami dimana letak inti racun Thian-sim-ciok itu, dari kitab pusaka tinggalan Kiau Pak-beng itu pasti akan dapat diperoleh resep pemunah racunnya.
Kemudian bila keempat biji Thian-sim-ciok itu sudah diminum, didunia ini tentu tiada tandingannya lagi.
Lalu ia mencopot sepatunya Kok Tiong-lian, ia melolos pedang untuk membeset lapisan sepatu itu.
Pedang yang digunakannya itu adalah Cay-in-pokiam yang dirampasnya dari Kang Hay-thian.
Ketika lapisan sepatu itu sudah dipotong, benar juga didalam lapisan sepatu sebelah kanan diketemukan surat kulit kambing itu.
Setelah membaca sekadarnya surat kulit kambing itu, segera Thian-mo-kaucu merobek bagian yang terakhir itu, saking gembiranya hingga ia terbahak-bahak sendiri, ia mengumam pula seorang diri.
"Bagian "Liong-lik-pit-cong"
Ini akan kusimpan sendiri, sisa dua bagian yang lain akan kuberikan kepada Po-siang Hoat-su dan Yao Tiong-siau, yang seorang memperoleh harta karun raja yang dahulu, yang lain mendapatkan pesan rahasia tinggalan raja, tentu juga mereka akan merasa puas dengan ini."
Ia simpan baik-baik kulit kambing itu, lalu ia pandang pula kepada Kok Tiong-lian, tiba-tiba ia tertawa dan berkata.
"Ya, masih ada semacam mestika, hampir saja aku lupa."
Segera ia melepaskan pula Giok-kah yang dipakai Kok Tiong-lian itu.
Keruan kelihatanlah badan Tiong-lian yang putih bersih itu.
Meski tertutuk dan takbisa berkutik, tapi kesadaran Tiong-lian tidak hilang sama sekali, ia menjadi malu.
dan gemas pula.
"Ai, ai! Putih sebagai salju, sungguh akupun tergiur, pantas Kang Hay-thian rela sehidup-semati dengan kau,"
Demikian Thian-mo-kaucu menggoda.
"Baiklah, akupun takkan menyelakai kalian, apakah kalian akan hidup atau mati, terserah pada nasib kalian."
Ia coba menggurat Giok-kah itu dengan Cay-in-pokiam. ternyata diatas baju kemala itu hanya tertampak sejalur bekas pedang yang tipis, sedikitpun pedang pusaka itu takdapat melukai baju mestika itu.
"Hahahaha!"
Kembali Thian-mo-kaucu tertawa puas.
"Dua dari ketiga pusaka tinggalan Kiau Pak-heng itu sudah kuperoleh, kini mendapatkan pula Thian-sim-ciok dan Lionglik-pit-cong", hahahaha. biarpun Kiau Pak-beng atau Thio Tanhong hidup lagi mungkin juga bukan tandinganku sekarang!"
Begitulah selagi Thian-mo-kaucu tertawa senang hingoa lupa daratan, tiba-tiba terasa dari belakang ada berkesiurnya angin, yaitu angin yang terbawa oleh orang berjalan.
Didalam kamar rahasia itu memang tersembunyi juga beberapa dayang kepercayaan Thian-mo-kaucu, maka ia menyangka yang datang itu adalah salah seorang dayangnya, tanpa menoleh ia lantas berkata.
"Sudahlah selesai usaha kita, marilah berangkat pergi!"
Tapi baru selesai ucapannya, tahu-tahu tangannya telah kena di-cengkeram orang, bahkan sebatang jarum perak yang gemilapan telah mengancam didadanya.
Keruan Thian-mo-kaucu terperanjat, cepat ia berseru.
"He, nona Auyang, janganlah bergurau!"
Kiranya yang yang mengancam Thian-mo-kaucu dengan jarum itu memang benar adalah Auyang Wan.
Ilmu silatnya sebenarnya jauh dibawah Thian-mo-kaucu, tapi karena sedikit lengah saja iblis itu telah kena di-ingusi Auyang Wan, terutama jarum perak yang mengancam didadanya itu adalah jarum berbisa, sebagai seorang ahli tentu saja Thian-mokaucu tahu hal itu, maka ia tidak berani sembarangan berkutik.
Maka berkatalah Auyang Wan.
"Maaf, Kaucu. aku hanya ingin tanya sesuatu padamu."
"Urusan apa?"
Tanya Thian-mo-kaucu.
"Racun Thian-sim-ciok, cara bagaimana memunahkannya?"
Tanya Auyang Wan.
"Ha, kiranya kau juga ingin menolong bocah itu, ya, aku bisa, boleh kau lepaskan aku dahulu,"
Sahut Thian-mo-kaucu.
"Boleh juga, lebih dulu aku tusuk kau sekali dengan jarum ini, pabila kau benar dapat menolong dia, tentu akupun akan memberi obat penawar padamu."
Kata Auyang Wan.
"Haha, jika kau hanya omong kosong, maka jiwamu tentu juga akan melayang!"
Keruan Thian-mo-kaucu berkeringat dingin, serunya.
"Nona Auyang, keji amat kau!"
"Ah, dibandingkan kau kan seperti semut ketemu gajah?"
Sahut Auyang Wan. Sebenarnya Thian-rno-kaucu sangat jeri bila jarum berbisa Auyang Wan itu benar-benar ditusukan kedadanya. tapi ia masih berlagak tenanp sambil tertawa mengikik.
"Apa yang kau tertawakan?"
Semprot Auyang Wan dengan mendongkol.
"Aku mentertawai kau terlalu bodoh, buat apa mesti kesemsem kepada bocah tak berbudi itu?"
Kata Thian-mokaucu.
"Dia sudah mempunyai kekasih, yaitu nona Kok didepanmu ini. Jika kau menolong dia. toh dia juga takkan mengambil kau sebagai isteri."
Wajah Anyang Wan seketika pucat pasi, ia termenung tak bicara. Thian-mo-kaucu mengira perasaan nona itu mulai guncang, segera ia tambahkan pula.
"Nona Auyang, aku akan memberi pedang pusaka ini kepadamu berikut dua biji Thian-sim-ciok yang berguna sekali bagi kemajuan ilmu silatmu. Kelak kau akan merupakan tokoh wanita yang"
Jarangr terdapat didunia persilatan, untuk mencari jodoh masakah kuatir tidak mendapatkan lelaki yang berpuluh kali lebih bagus daripada Kang. Hay-thian ini?"
". Sebagai gadis cerdik, mendengar bujukan Than-nio-kaucu itu, segera Auyang Wan tahu hakikatnya orang tiada mempunyai kemampuan untuk memunahkan racun Thian-simciok,"
Dengari kertak gigi segera ia berkata dengan mengejek.
"Hm, barang-barang itu adalah rnilikku, buat. apa aku mesti minta padamu?"
Sekali ia tekan jarumnya, segera ia tusuk dada Thian-mo-kaucu"
Diam-Diam Tiong-lian menaksir mungkin gadis yang dipanggil nona.
Auyang ini adalah puterinya Auyang Tiong-ho sebagai dikatakan oleh Yap Tiong-siau itu, katanya nona Auyang ini sangat baik hubungannya dengan Hay-thian, tampaknya sekarang memang betul hal itu.
Tapi entah engkoh Hay juga cinta padanya atau tidak?
Tapi seorang gadis jelita mengapa bertangan gapah dan berhati sekeji ini?
Dilihatnya Auyang Wan telah merampas Thian-sim-ciok, dan Yo-bi-su (surat kulit kambing) dari tangan Thian-mo-kaucu, kemudian memindahkan Cay-in-pckiam kepinggang sendiri dan kalian melepas pula Giok-kah.
Ketika ia memutar tubuh, tiba-tiba sinar matanya menatap keareh Kok Tiong-lian.
Mau-tak-mau Tiong-lian terkesiap, ia pikir jangan-jangan orang hendak rnenganiaya dirinya.
Dalam pada itu Anyang Wan sudah mendekatinya dan berkata dengan tertawa dingin "Ehm.
cantik benar, pantas Kang Hay-thian kesemsem padamu!"
Tiong-lian merinding oleh sorot mata Auyang Wan yang penuh rasa benci dan keji itu, ia tidak tahu perlakuan apa yang akan dilimpahkan pada dirinya.
Memang ada juga maksud Auyang Wan hendak melenyapkan jiwa Kok Tiong-lian, tapi entah mengapa, iapun meraaa seram untuk turun tangan.
Terjadilah pertentangan batin yang hebat padanya.
Biasanya ia sangat bangga akan kecantikannya sendiri, tapi kini makin melihat ia makin merasa Kok Tiong-lian lebih cantik daripadanya, maka rasa cemburunya menjadi lebih berkobar pula.
kalau menuruti hatinya, ingin sekali gadis iang dianggap saingan besar itu akan dibinasakan dengan jarumnya yang berbisa itu.
Tapi segera ia memikir pula.
"Ah, tidak boleh kubinasakan dia. Sudah berulang kali Kang Hay-thian menasihatkan aku kembali kejalan yang benar, pabila dia tahu aku membunuh Kok Tionglian, biarpun aku dapat menolongnya keluar dari sini juga tidak mungkin ia mau mencintai aku."
Lalu terpikir lagi olehnya.
"Tapi kilau aku tidak memberitahukan dia tentang apa yang terjadi disini, darimana. dia mendapat tahu? "Kalau kuampuni dia, teniu akan merupakan bibit bencana bagiku, lebih baik aku membunuh dia saja."
Begitulah, maka pelahan-lahan ia mengangkat jarumnya kemuka Kok-Tiong-lian.
Memangnya Kok-Tiong-lian merasa dirinya pasti takkan terhindar dari kematian, kini melihat jarum orang yang mengkilap, menyeramkan itu, mau-tak-mau tertampak juga rasa jerinya.
Sekonyong-konyong hati Auyang Wan tergetar, pikirnya.
"Tapi dia-tidak sama dengan Thian mo-kancu, dia adalah seorang gadis yang baik, kalau aku membunuhnya, apa aku tidak terlalu kejam Ai, jika hal ini kulakukan, sekalipun Kang-Hay-thian tidak tahu juga aku sendiri akan menderita tekanan batin selama hidup."
Pada dasarnya memang kebajikan lebih unggul daripada kejahatan, akhirnya pertentangan batin Auyang Wan itu dimenangkan oleh pikiran yang sehat.
Sinar mata Auyang Wan yang tadinya bengis itu pelahan-lahan berubah menjadi ramah.
Tiba-Tiba tertampak Kang Hay-thian membalik tubuh sambil mengigau.
"O, kau juga datang?". Kejut dan girang Auyang Wan, cepat ia mendekati dan berbisik disamping telinga Hay-thian.
"Ya, benar, aku sudah datang! Bangunlah kau!"
Tapi Hay-thian tidak bangun, sebaliknya tidur lebih nyenyak malah.
Waktu Auyang Wan meraba jidat pemuda itu, ia merasa panasnya luar biasa.
Air matanya bercucuran, ia goyang-goyang tubuh pemuda itu dengan rasa cemas.
Sebenarnya Kang Hay-thian bukan lagi tidur, tapi pikirannya menjadi limbung karena rangsangan hawa panas Thian-simtiok itu, lapat-lapat iapun merasa didekati orang, lalu tubuh sendiri digoyang-goyangkan, sedapat mungkin ia coba membuka mata.
"Dapatkah kau mengenali aku? Aku adalah Auyang Wan!"
Seru Auyang Wan cepat.
Samar-Samar Hay-thian melihat suatu bayangan orang, daya pan-dangannya belum lagi pulih, tapi ia dapat mengenali suaranya Auyang Wan.
Sekuatnya ia coba membuka mulut, tapi susah untuk bersuara.
Melihat bibir pemuda itu bergerak-gerak, segera Auyang Wan mendempelkan telinganya.
samar-samar ia mendengar Kang Hay-thian berkata dengan terputus-putus.
"Aku.........aku takbisa hidup lagi. Aku mohon......mohon bantuanmu, sukalah kau men......menolong keluar nona Kok itu."
Habis itu, kembali matanya terpejam dan tak sadar lagi.
Seketika Auyang Wan terpaku bagai patung, hatinya pilu dan cemburu, ternyata yang dipikir oleh pemuda itu melulu Kok Tiong-lian saja.
Sejenak kemudian ia coba memeriksa napas Kang Hay-thian, ia merasa pernapasannya masih bekerja.
Setelah tenaagkan diri, Auyang Wan menggumam sendiri.
"Dia tidak boleh mati! Masih ada harapan, aku tidak boleh tinggal diam. Kalau mesti mati, biarlah kau mati dalam pangkuanku". Segera ia pondong Kang Hay-thian dan pelahan-lahan lewat disisi Kok Tiong-lian, Ia pandang gadis itu dan pandang pula pemuda dalam pelukannya itu dengan perasaan gundah. Pikwnya.
"Sedemikian wanti-wanti ia tinggalkan pesan padaku, apakah aku harus taat pada pesannya, apakah aku harus menolong nona Kok?"
Setelah memikir sejenak, akhirnya ia mengambil keputusan. Ia lampirkan baju Kok Tiong-lian dan berkata dengan suarn rendah padanya.
"Nona Kok, maafkan bahwa aku tak dapat menolong kau. Sebentar tentu ada orang datang kemari, maka terserahlah kepada nasibmu sendiri."
Tapi belum lagi ia tinggal pergi, sekonyong-konyong terdengar suara orang mengejek.
"Ha, bagus sekali kau, Auyang Wan, kerja apa kau disini?"
Itulah dia Yap Tiong-siau.
Memangnya Auyang Wan sudah men duga akan kedatangannya, tapi tidak nyana akan tiba begitu cepat.
Keruan ia terkejut.
Maka Yap Tiong-siau telah berkata pula dengan tertawa dingin.
"Ada apakah dengan bocah itu? Apa kau hendak membawanya kabur?"
Tiba-Tiba Thian-mo-kaucu menimbrung.
"Ha, masakah dia cuma ingin membawa kabur bocah itu, bahkan segala surat wasiat tinggalan raja yang dahulu dan benda mestika yang diimpi-impikan setiap orang Bu-lim juga telah digondolnya semua."
Kiranya kepandaian Thian-mo-kaucu memang tiada bandingan-nya.
Biasanya ia sudah sering makan segala malyain ouat racun, dengan sendirinya timbul semacam daya anti racun, daya kebal yang terlatih.
Maka jarum berbisa Auyang Wan itu meski lihay juga takdapat melayangkan jiwanya.
Tadi dia cuma pura-pura tak sadarkan diri saja.
Begitulah Yap Tiong-siau menjadi gusar oleh pengaduan Thian-mo-kaucu itu, damperatnya.
"Auyang Wan, aku cukup baik melayani kau, kenapa kau malah menghianati aku?"
"Ai. maksud baikku kepadamu ternyata kau salah terima,"
Sahut Auyang Wan.
"Kau hendak kabur dengan membawa lari barang dan orang, apakah itu maksud baik? Masih kau berani menyangkal?"
"Tapi kau tidak tahu, bila aku terlambat datang sedetik saja, tentu semua benda berharga ini sudah dibawa kabur lebih dulu oleh Thian-mo-kaucu,"
Sahut Auyang Wan.
"Maka sekarang aku telah merampas kembali semua barang yang direbutnya tadi dan akan kuserahkan padamu asalkan aku diperbolehkan membawa pergi dia ini."
"Yap-kongcu, jangan kau gampang percaya omongannya."
Seru Thian-mo-kaucu.
"Jika kau datang terlambat, tentu dia yang benar-benar sudah kabur."
"Sudah tentu aku takkan percaya pada omongannya,"
Sahut Tiong-siau.
"Hm, nona Auyang, coba jawablah, jika benar kau bermaksud baik, kenapa sebelumnya tidak katakan terus terang padaku, tapi mesti mencuri peta ayah-baginda teatang istana panas ini dan datang kemari secara sembunyi?"
Auyang Wan tak dapat menjawab lagi, t!ba-ba ia meletakkan Kang Hay-thian dan berkata dengan tertawa.
"Baiklah, Yap-kongcu, jangan kau marah, akari kuserahkan semuanya padamu."
Mendadak Thian-mo-kaucu berteriak.
"Awas!"
Belum lenyap suaranya, tiba-tiba Auyang Wan mengangkat tangannya, secomot jarum berbisa yang lembut telah menyambar kedepan.
Tapi Yap Tiong-siau sudah siap siaga.
Segera ia memapak dengan sekali pukul hingga jarum-jarum berbisa itu terguntiang jatuh semua.
Dalam pada itu secepat kilat Auyang Wan sudah melolos Cay-in-pokam.
dengan tipu "Pek-hongkoan-jit" (pelangi melingkungi matahari), terus saja ia tusuk Yap Tiong-siau.
"Huh, hanya sedikit kepandaianmu ini juga hendak menghianati aku?"
Jengek Yap Tiong-siau. Dan sedikit ia menggeser, berbareng tangannyn menjulur, dgn Kim-na-jiuhoat segera ia hendak merampas pedang berbareng menutuk Auyang Wan.
"Karena kau takmau terima maksud baikku, terpaksa akupun tak dapat tinggal diam lagi,"
Kata Auyang Wan.
Segera ia putar pedangnya dengan rapat sambil merangsang maju.
Sebenarnya ilmu silat Auyang Wan masih selisih jauh dibanding kan Yap Tiong-siau, tapi kini ia memakai pedang mestika Cay-in-pokiam yang luar biasa tajamnya, maka pemuda itu tidak bebani sembarangan mendekat, terpaksa ia menggunakan tenaga pukulan Tay-sen-pan-vak-ciang untuk mendesak gadis itu agar supaya tidak sempat menghamburkan jarum berbisa atau senjata beracun lain.
Keruan Auyang Wan terdesak kalang kabut, dengan murka ia berteriak.
"Yap Tiong-siau, janganlah kau terlalu garang, pabila perlu akan kubikin kau hancur bersama aku!"
Tiong-siau terkesiap, ia tahu Auyang Wan memiliki macammacam senjata keji, antaranya adalah Liat-yam-tan (geranat berapi), kalau sampai gadis itu mata gelap dan meledakan granat itu, tidak saja orang-orang disekitar situ akan hancur lebur, bahkan berarti pula Thian-sim-cioK dan Yo-bi-su yang dicari dengan susah payah itu akan ikut musna.
Maka cepat katanya.
"Haha, kau tentunya tahu hubunganku dengan Cicimu, masakah aku tega membunuh kau? Lebih baik kau menyerahkan barang-barangmu itu dan kita masih bisa bicara dengan baik-baik?"
"Huh, enak saja kau bicara", jengek Auyang Wan sambil putar pedangnya lebih kencang.
"Jika kau inginkan barangbarang ini, baiklah, kau harus terima suatu syaratku."
"Coba katakan."
Sahut Tiong-siau.
"Sediakan sebuah perahu dan lepaskan aka dan Kangsiangkong. untuk mana akan kuserahkan barang-barang yang kau minta ini,"
Kata Auyang Wah.
Tiong-siau menjadi ragu-ragu, masakah gadis itu dapat dipercaya janjinya.
Dan belum lagi ia mengambil keputusan, tiba-tiba sekilas Auyang Wan melihat Thian-mo-kaucu telah dapat bergerak, bahkan tangannya memegang jarum berbisa yang ditusukkannya ke dada Kaucu itu tadi, dan sedang mendekati Kang Hay-thian.
Keruan saja Auyang Wan terkejut, serunya tanpa terasa.
"Kau hendak apa?"
Kiranya dalam hal menggunakan racun memang Thian-mokaucu sangat lihai, malah lebih hebat daripada Im Seng-koh, guru Auyang Wan.
Cuma semula ia belum tahu jarum berbisa yang akan digunakan oleh gadis itu.
Ketika kemudian ia telah dapat menolak rangsangan racun jarum, ia lihat Auyang Wan juga sedang dibuat sibuk oleh Yap Tiong-siau, kesempatan itu segera digunakan olehnya untuk mencabut jarum yang menancap di dadanya itu serta minum obat pemunah.
Cuma karena tenaganya masih lemas, ia tidak berani bertempur, tapi sengaja Kang Hay-thian yang didekatinya.
Begitulah jika Auyang Wan terkejut, maka Thian-mo-kaucu semakin senang, ia terbahak-bahak, katanya.
"O, tidak apaapa, jarum yang kau berikan padaku ini aku tidak mau lagi, akan kusumbangkan kepada Kang-siangkongmu yang bagus ini!"
Sungguh kuatir Auyang Wan tak terhingga, ia berseru.
"Jangan! Apa yang kau kehendaki, katakanlah, akan kupenuhi!"
Memangnya ia bukan tandingan Yap Tiong-siau, karena perhatiannya sekarang terpencar, keruan kesempatan itu lantas digunakan oleh Yap Tiong-siau, sekali merangsek maju, secepat kilat Tiong-siau telah menuruk Moa-pi-hiat di pinggang Auyang Wan.
Sebenarnya Thian-mo-kaucu hanya menggertak saja, demi nampak Auyang Wan sudah tak berkutik, segera ia terbahakbahak, katanya sambil mendekati Yap Tiong-siau.
"Barangbarang itu berada dalam bajunya semua, harap kau menggeledahnya."
Sesudah Yap Tiong-siau dapat menggeledah semua barang yang dibawa Auyang Wan, tapi ia tidak kenal Thian-sim-ciok, ia coba minta petunjuk pada Thian-mo-kaucu.
Maka sambil menuding dan bicara, Thian-mo-kaucu lebih mendekati Yap Tiong-siau lagi.
Sungguh Yap Tiong-siau sangat berterima kasih, katanya.
"Sekali ini banyak mendapat bantuan Kaucu, tidak saja rahasia peninggalan dari raja yang dahulu diketemukan, bahkan diperoleh pula benda mestika Bu-lim yang tidak taranya ini, budi kebaikan Kaucu ini pasti takkan kulupakan selama hidup!"
"Hahaha!"
Than-mo-kaucu terbahak-bahak.
"Hanya omong saja apa gunanya? Mana, serahkan saja!"
Keruan Yap Tiong-siau melengak kaget.
"Serahkan apa maksudmu?"
Tanyanya dengan mendelik.
"Serahkan apa? Ha, janganlah kau berlagak pilon!"
Jengek Thian-mo-kaucu.
"O, barangkali kau menginginkan Thian-sim-ciok dan Yo-bisu ini?"
"Benar, ditambah lagi Pokiam dan Giok-kah itu!"
"Wah, besar amat seleramu, ha? Segalanya mau kau telan sendiri? Ai, kira-kira, dong! Masakah semuanya hendak kau anglap sendiri? Meski hasilnya ini kau ikut mengorbankan tenaga, tapi kalau aku tidak merobohkan Auyang Wan, jiwamu sendiri tentu telah melayang sejak tadi, betul tidak?"
"Haha, jadi maksudmu akan 'bongkar jembatan sesudah menyebrang'?"
Jengek Thian-mo-kaucu.
"Soalnya bukan begitu,"
Sahut Yap Tong-siau.
"Sebagai seorang Kangouw, kita harus dapat membedakan antara yang benar dan salah. Kau membantu aku mendapatkan mestikamestika ini, hal ini aku sangat berterima kasih. Tapi aku pun telah menyelamatkan jiwamu, kau juga harus berterima kasih padaku. Jiwa tentu lebih berharga daripada benda-benda ini, bukan? Toh urusan ini, kita masing-masing tidak hutang pada siapa pun juga"
Rupanya ia pun dapat melihat keadaan Thianmo-kaucu masih sangat payah sesudah terkena racun jarum, maka sedikitpun ia tidak gentar.
Thian-mo-kaucu sama sekali tidak naik darah, sebaliknya ia berkata pula dengan ramah tamah.
"Yap-kongcu, dalam keadaan demikian memang aku tidak sanggup berbuat apaapa kepadamu. Maka terimalah selamatku atas rezekimu yang telah mendapatkan mestika-mestika itu. Cuma aku pun merasa agak sayang bagimu!"
"Sayang apa?"
Tanya Tiong-siau dengan gusar.
"Habis, meski kau mendapatkan benda mestika sehebat itu toh tidak punya rezeki lagi untuk menikmatinya,"
Sahut Thianmo-kaucu.
Seketika Yap Tiong-siau terkesiap, ia cukup kenal kelicikan wanita iblis itu, segera ia curiga, jangan-jangan orang telah mengerjakan apa-apa atas dirinya.
Diam-diam ia coba mengerahkan tenaga dalamnya, tapi keringat dingin lantas membasahi tengkuknya.
Ternyata di bagian 'Tay-jui-hiat' di punggung terasa agak pegal-pegal sakit.
"Eh, ada apakah Yap-kongcu? Apa kau merasa tidak enak badan?"
Demikian Thian-mo-kaucu lantas mengejek. Tiong-siau menjadi gusar, dampratnya.
"Kau perempuan siluman ini telah main gila apa?"
"Yap-kongcu, hendaklah kau berlaku sopan sedikit, harus kau ketahui bahwa sekarang engkaulah yang mesti memohon padaku dan bukan aku yang memohon padamu,"
Jengek Thian-mo-kaucu.
"Bicara terus terang, jiwamu mungkin cuma tinggal satu jam saja, di dunia ini hanya ada dua orang yang mampu menolong kau, seorang adalah aku dan seorang lagi ialah Im Seng-koh. Cuma waktunya tinggal satu jam saja, rasanya Im Seng-koh tidak mungkin dapat kau undang kemari."
Yap Tiong-siau menjadi mati kutu, katanya dengan tersenyun getir.
"Baiklah, apa yang kau inginkan, semuanya akan kuberikan Nah, berikanlah obat penawarmu."
"Buat apa buru-buru. dengarkan dulu perintahku,"
Kata Thian-mo-kaucu. Tiong-siau kenal kekejian orang, kalau membangkang, bukan, mustahil urusan bisa runyam, terpaksa ia merendah.
"Baiklah, silakan Kaucu bicara."
"Nah, mundur dulu lima langkah,"
Kata Thian-mo-kaucu. Tiong-siau terpaksa menurut. Lalu Thian-mo-kaucu berkata pula.
"Sekarang taruh sobekan surat kulit dan empat biji Thian-sim-ciok itu. Nah, bagus! Tanggalkan pula Pokiam itu. Baik, dan Giok-kah itu juga taruhlah disitu."
Begitulah Yap Tiong-siau menurut segala perintah itu, kemudian katanya.
"Sekarang dapatkah kau memberi obat penawar nya?"
"Kenapa mesti kesusu saja?"
Sahut Thian-mo-kaucu.
"Sekarang kau mundur lagi tujuh langkah!"
Karena kuatir orang menyerang mendadak, maka Thianmo-kaucu minta Yap Tiong-siau mundur sejauh mungkin sambil mengulur tempo, ia berharap dalam waktu singkat tenaganya dapat pulih sebagian, dengan demikian, ia dapat menggunakan Pokiam dan tidak gentar lagi pada Yap Tiongsiau jika obat penawar kemudian diberikan padanya.
Sebaliknya Yap Tiong-siau menjadi tidak tenteram, katanya pula.
"Kaucu, segala permintaanmu sudah kulaksanakan, janganlah kau mempermainkan aku."
"Apa yang kau takutkan?"
Semprot Thian-mo-kaucu.
"Sekali kukatakan, tidak nanti aku ingkar janji, obat penawarnya tentu akan kuberikan. Akupun tidak sekeji kau, betapapun masih punya Liangsim. Lihatlah, aku hanya inginkan sobekan surat kulit itu, bagian yang masih wutuh tetap kuberikan padamu. Dengan itu kau akan dapat memperoleh harta karun raja yang dahulu serta dapat menyerahkan daftar rahasia musuh-musuh raja yang sekarang, tentu kau akan berjasa besar. Sebenarnya kau harus berterima kasih padaku, bukan?"
Tiong-siau serba runyam. ia merasa tengkuknya kesakitan bagai ditusuk-tusuk, tentu racun didalam badan sudah mulai bekerja. Terpaksa ia memohon lagi.
"Terima kasih atas maksud baik Kaucu. Nah, barang-barang yang kau minta sudah berada disitu, lekaslah kau ambil!"
Waktu Thian-mo-kaucu mengerahkan tenaga, ia merasa Lwekangnya sudah pulih separuh, maka beranilah ia berjalan mendekati benda-benda mestika itu.
Tapi baru saja ia mengulur tangan hendak menjemput, tiba-tiba terdengar suara samberan sesuatu benda emas secepat kilat.
Yang dijaga-jaga oleh Thian-mo-kaucu adalah kemungkinan diserang oleh Yap Tiong-siau dari depan, siapa duga sinar emas itu menyambarnya dari samping secara mendadak, keruan senjata gelap itu hampir menancap ditelapak tangannya.
Untung tenaga Thian-mo-kaucu sudah pulih sebagian besar, dalam saat berbahaya itu segera ia jatuhkan diri kesamping.
maka terdengarlah suatu "tang"
Sekali.
Kiranya Am-gi atau senjata gelap Itu.adalah sebuah Kim-soh (torak atau sekoci emas) yang kedua ujungnya tajam.
Meski Thiaumo-kaucu sempat menyelamatkan diri, tapi tidak urung jarinya juga terluka.
Dan pada saat lain, dengan cepat luar biasa sesosok bayangan putih tahu-tahu sudah melayang tiba.
Belum lagi Thian-mo-kaucu sempat melihat jelas, orang itu sudah lantas sambar Thian-sim-ciok dan Yo-bi-su dilantai itu.
Segera Thian-mo-kaucu menghamburkan secomot jarum lembut berbisa, tapi sekali orang itu kebaskan lengan bajunya, belasan jarum lembut itu kena digulung semua olehnya.
Mestinya orang itu hendak memegang Pokiam yang masih ketinggalan di tanah, tapi karena serangan Thiam-mo-kaucu itu, ia terhalang se-jenak.
Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Yap Tiong-siau, cepat ia menerjang maju dan sempat mendahului menginjak Pokiam itu dengan sebelah kakinya.
Dan pada saat yang sama itu pula Tiong-siau juga telah lihat jelas muka orang itu, seketika ia terperanjat!
Kiranya orang itu adalah seorang pemuda berumur likuran Sebabnya Yap Tiong-siau terperanjat bukanlah karena usia orang itu masih muda-beliau dan berilmu silat tinggi, tapi adalah disebabkan air muka pemuda itu ternyata mirip benar dengan dirinya.
"Siapa kau?"
Bentak Tiong-siau segera.
"Siapa aku? Aku adalah kau!"
Jawab pemuda itu dengan tertawa dingin.
"Hm, kau sudah sekian lamanya memalsukan diriku, masih kau tidak tahu siapa aku?"
Berbareng ia terus menghantam.
Anehnya ilmu pukulan yang di gunakannya juga Tay-seng-pan-yak-ciang, bahkan jauh lebih kuat daripada Yap Tiong-siau.
Keruan Tiong-siau tidak sanggup bertahan, ia tergetar mundur oleh serangan itu.
Sementara itu Thian-mo-kaucu telah kebutkan lengan bajunya hingga menyambarlah seutas selendang pelangi yang berwarna-warni dengan bau amis busuk yang menusuk, hidung, terang membawa, bau racun yang jahat.
Karena itu.
sipemuda tidak sempat merebut pedang lagi, tapi ia lantas mengegos kesamping dan balas menghantam Thian-mo-kaucu dari jauh Keadaan sekarang berubah menjadi saling berusaha merebut Pokiam.
siapa yang dapat mendapatkan pedang pusaka, siapa pasti akan menang Karena tidak berani gegabah terhadap selendang berbisa Thian-mo-kaucu yang lihay, pemuda itu tidak berani berjongkok untuk menjemput pedang, maka ia hanya menghantam berulang-ulang dengan Pikkhong-tiiang dari jauh untuk memaksa Thian-mo-kaucu dan Yap Tiong-siau tidak berani merangsak maju.
Tiba-Tiba Tiong-siau bersuit panjang.
Pada saat itu juga mendadak sipemuda mendapat akal, se-koniong ia mencukit dengan ujung kakinya hingga Cay-in-pokiam terkait keatas.
Segera Thian-mo-kaucu ayun selendangnya untuk melilit pedang itu, tapi sekali hantam dengan Pok-khong-ciang, pemuda itu membikin selendang itu terguncang pergi, dan tenaga pukulannya itu segera dipakai mendorong pula kearah pedang hingga pedang itu melayang cepat kearah Kok Tionglian.
Seketika Yap Tiong-siau tidak tahu apa maksud tujuan sipemuda.
tapi Thian-mo-kaucu lantas berteriak.
"Celaka!" -menyusul ia terus menubruk kearah Kok Tiong-Han. Namun gerakan pemuda itu lebih cepat dari dia, secepat kilat tahu-tahu ia sudah menghadang didepan Thian-mo-koucu. Dalam pada itu Cay-in-pokiam sudah jatuh disampngg kaki Kok Tiong-lian, waktu sepemuda menuding kebelakang.
"critcrit", dari jarak jauh ia telah menggunakan Kim-kong-ci-lik yang hebat untuk membuka Hiat-to Kok Tiong-lian yang tertutuk "itu. Segera Kok Tiong-lian jemput pedang dlsarnplngnya itu, ia tidak sempat bicara dulu dengan pemuda tak dikenal itu, tapi lantas melompat, dap menabas kearah Thian-mo-kaucu. Cepat Thian-mo-kaucu memutar selendangnya yang berbisa itu dengan maksud, menggubat pergelangan tangan Kok Tiong-lian, namun dimana sinar pedang berkelebat, tahu-tahu selendang pelangi Thian-mo-kaucu telah tertabas kutung sebagian. Dengan demikian kedudukan pihak sipemuda dan Kok Tiong-lian lantas berada diatas angin. Dalam pada itu Yap Tiong-siau merasa pandangannya mulai, ka bur dan kepala pening, tenagapun terasa lemas. Dengan gugup ia berseru.
"Kaucu, berikanlah obat penawarmu!"
Namun Kok Tiong-Han sudah kadung benci kepada Thianmo-kaucu, ia putar pedangnya dengan kencang hingga sama sekali lawan itu tidak diberi kesempatan untuk mendekati Yap Tiong-siau.
"Manusia rendah, roboh kau!"
Bentak sipemuda mendadak, berbareng ia terus cengkarem punggung Yap Tiong-siau.
Dalam keadaan kepepet, betapapun Yap Tiong-siau masih ingin melawan, sekuatnya ia meronta hingga cengkeraroan sipemuda meleset.
Dan selagi cengkeram lain akan menyusul, sekonyong-konyong pintu didobrak orang, kedua Hwesio yang datang siang tadi kembali rauncul pula.
Hwesio yang gemuk menerjang masuk lebih dulu, segera tongkatnya mengemplang keatas kepala sipemuda.
Namun pemuda itu tidak gentar, dengan gusar ia terus meraup hingga ujung tongkat lawan kena dipegang, berbareng ia membentak.
"Pergi kau!"
Dan sekali sengkelit, tanpa ampun lagi Hwesio itu kena disampuk jatuh terlentang.
Bahkan menyusul ia menghantam pula dengan Pik-khongciaog hingga tongkat si hwesio kurus yang juga lagi mengemplang itu kena disampuk pergi.
Ketika mendadak pedang Kok Tiong-lian ikut menabas, kontan tongkat itu terkutung.
Kedua Hwesio itu adalah anak murid Po-siang Hoat-su, dengan sendirinya ilmu silat mereka tidaklah lemah.
Melihat pedang lawan sangat lihay, mereka tidak berani gegabah logi, dengan hati-hati mereka lantas bergabung untuk mengerubut Kok Tiong-lain.
Dengan tongkat kutung mereka menghindarkan benturan dengan Pokiam lawan, sebaliknya mereka mencari lubang untuk menutuk.
Maka keadaan menjadi seimbang, masing-masing pihak sama-sama susah mengalahkan lawan.
Melihat Kok Tiong-lian cukup kuat untuk melawan dengan pedang pusaka, sipemuda tidak perlu kuatir lagi, segera ia curahkan perhatiannya untuk melabrak Yap T"iong Siau dan Thian-mo-kaucu.
Yap Tiong-siau sudah mulai payah karena rangsangan racun dalam tubuhnya, maka keadaannya sangat celaka.
Sebaliknya Thian-me-kaucu juga baru pulih setengah kekuatannya, sekalipun dia memiliki macam-macam senjata rahasia, tapi karena dicecar oleh pukulan-pukulan sipemuda yang hebat, untuk menangkis saja repot, apalagi hendak mengambil Am-gi?
Melihat gelagat jelek, tiba-tiba Thian-mo-kaucu mendapat akal, tiba-tiba ia berseru.
"Sementara ini biarlah jiwa bocah ini diampuni, besok boleh kita datang lagi!"
Saat itu kedua Hwesio tadi sedang menempur Kok Tionglian dengan mati-matian.
Ketika mendengar suara Thian-mokaucu, sekilas mereka dapat melihat bahwa kedua kawan itupun kewalahan menghadapi lawan mereka, bahkan keadaannya jauh lebih ber-bahaya daripada diri mereka.
Keruan mereka sangat terkejut.
Dan demi mendengar Thianmo-kaucu berseru untuk kabur saja.
hal ini cocok dengan pikiran mereka, segera merekapun berkata.
"Benar, asal gunung tetap menghijau, masakah susah mencari kayu bakar? Pergi!"
Habis itu, mereka lantas mendesak maju, kemudian melepaskan diri dari serangan Kok Tiong-lian untuk bergabung dengan Thian-mo-kaucu dan Yap Tiong-siau.
Sebenarnya Thian-mo-kaucu berdua lagi.
susah melepaskan diri, kini ditambah tenaga gabungan kedua Hwesio itu, keadaan mereka menjadi lebih baik dan ada harapan buat lari.
Tapi sipemuda telah mendengus.
"Hm, orang lain boleh kabur, tapi kau keparat ini jangan harap bisa lolos! Pula kau. Kaucu, kaupun silakan tinggal disini!" -menyusul ia sengaja kesam-pingkan kedua Hwesio tadi dan melulu melabrak Thianmo-kaucu dan Yap Tiong-siau. Diluar dugaan, kesempatan itu telah digunakan oleh Thianmo-kaucu untuk mengeluarkan sejenis senjata rahasia berbisa, terdengar suara letusan sekali, mendadak kabut asap tebal bertebaran. Itulah semacam senjata rahasia pelindung dikala melarikan diri. Dibawah asap tebal yang gelap gelita itu. dapatlah Thian-mo-kancu melarikan diri dengan selamat. Sedangkan Yap Tiong-siau sangat licin, begitu kabut tebal itu berjangkit, mendadak ia sambar sipaderi gemuk disebelahnya terus didorong kedepan untuk menumpuk sipemuda. Sudah tentu mimpipun Hwesio gemuk itu tidak menyangka akan dimakan oleh kawan sendiri, keruan kepalanya lantas hancur kena digablok oleh sipemuda. Dan kesempatan itu lantas digunakan Yap Tiong-siau untuk menyusul Thian-mo-kaucu. Tinggal sipaderi kurus "itu juga seorang geblek, ketika kabut tebal bertebaran, ia menjadi gugup dan putar tongkatnya serabutan dan mendadak menyelonong sampai disamping Kok Tiong-lian, keruan dengan mudah ia kena ditusuk mati oleh gadis itu. Selang sejenak. Pelahan-lahan kabut itu mulai hilang. Dengan penuh ragu-ragu selagi Kok Tiong-lian hendak bertanya, tiba-tiba si pemuda tadi sudah lantas mengeluarkan sehelai baju kapas, ia robek baju kapas itu dan mengeluarkan sehelai surat kulit kambing.
"Kenalkah kau akan tulisan ini?"
Tanya pemuda itu.
Ternyata tulisan diatas kulit kambing itu serupa dengan milik Kok Tiong-Yian.
Memangnya Tiong-lian sudah meragukan asal-usul pemuda itu.
Kini demi nampak barang bukti itu, hal mana lebih memperkuat kebenaran dugaannya, tak tertahan lagi ia terus berseru.
"O, Koko!"
Seketika kakak-beradik itu bercucuran air matanya, untuk sekian lamanya mereka tidak tahu cara bagaimana harus membuka suara. Akhirnya sipemuda berkata.
"Adikku, pertemuan kembali kita ini harus digirangkan, maka janganlah kau berduka. Keparat itu sudah melarikan diri, bukan mustahil dia akan datang lagi dengan membawa bala bantuan, paling baik kita lekas tinggalkan terapat ini."
Tiong-lian mengiakan, segera ia mendekati Kang Hay-thian dan hendak membangunkan.
Tapi Hay-thian masih dalam keadaan tak sadar, badannya panas luar biasa, bajunya basah-kuyup oleh keringat.
Tiong-lian menjadi kuatir dan sedih.
"Siapakah orang ini? Mengapa kau minumkan Thian-simciok padanya?"
Tanya sipemuda dengan heran. Tiong-lian menyalakan Kang-Haythian adalah kawannya dan menceritakan apa yang terjadi tadi.
"Apakah dia bernama Kang Hay-thian?"
Tiba-tiba pemuda itu tanya. Tiong-lian menjadi heran.
"Darimana kau tahu?"
Tanyanya.
"Ceritanya sangat panjang, biarlah nanti kuterangkan sesudah menyadarkan dia."
Sahut sipemuda.
"Kau dapat menyadarkan dia?"
Tanya Tiong-lian dengan girang.
"Ada sesuatu rahasia yang belum kau ketahui,"
Tutur sipemuda.
"Tujuh biji kancing diatas baju-kutangku ini juga merupakan batu mestika, namanya "Han-sing-ciok". Thiansim-ciok itu terdapat diselatan Sing-siok-hay, tapi Han-singciok ini terdapat di utara Sing-siok-hay. Thian-sim-ciok dapat dijadikan obat kuat tapi berbisa, dan Han-sing-ciok ini adalah obat penawamya. Sebenarnya maksud ayah baginda ialah Thian-sim-ciok ini akan diperuntukkan kita, tapi mungkin situasi pada waktu itu terlalu genting, musuh sudah mengurung istana, beliau tidak sempat menulis secara lengkap, maka rahasia yang tertulis didalam surat wasiatnya ini satu sama lain tidak sama".
"Jika begitu, untuk menghemat waktu, harap Koko suka minumkan obat penawamya itu,"
Pinta Tiong-lian dengan girang.
"Kau telah memberikan dia berapa biji Thian-sim-ciok?"
Tanya sipemuda.
"Tiga,"sahut Tiong-lian.
"Baiklah, coba ambilkan semangkuk air,"
Kata sipemuda.
Segera iapun mencopot tiga biji kancing diatas baju kapas yang dikeluarkannya tadi, ia remas dengan tenaga jari yang hebat hingga batu itu menjadi bubuk, lalu diaduk didalam air dan suruh Kok Tiong-lian mencekoki Kang Hay-thian.
"Baiknya Kang-siauhiap toh bukan orang luar, tidaklah siasia ketiga biji Thian-sim-ciok itu diminumkan padanya."
Ujar si pemuda dengan tertawa. Tiong-lian menjadi merah jengah, ia tahu arti perkataan engkohnya itu.
"Eh, siapa lagi nona ini?"
Tiba-tiba sipemuda berkata pula.
Ia maksudkan Auyang Wan.
Auyang Wan masih takbisa berkutik karena tertutuk, tapi apa yang dibicarakan orang dapat didengarnya dengan jelas.
Diam-Diam ia mengeluh, pikimya.
"Wah, celaka. Tadi aku tidak bereskan Kok Tiong-lian, mungkin sekarang aku yang akan konyol."
Tapi Kok Tiong-lian hanya diam saja tidak memberi keterangan. Maka pemuda itu berkata pula.
"Siapakah dia? Dia telah ditutuk orang dengan cara yang berat, kalau terlalu lama, mungkin dia akan terluka dalam."
"Dia katanya adalah puterinya Auyang Tiong-ho, dia kena ditutuk oleh keparat yaag menyaru dirimu itu."
Sahut Tionglian akhirnya.
"O, dia adalah puteri keluarga Auyang di Cong-lam-san? Apakah kawan atau lawan?"
Sipemuda menegas.
"Sudahlah, boleh Koko membuka tutukannya itu, tak perlu tanya apakah dia kawan atau lawan lagi,"
Ujar Tiong-lian. Pemuda itu merasa heran oleh jawaban adik perempuannya yang kaku itu. tapi iapun tidak tanya lebih lanjut, segera ia menurut dan membuka Hiat-to Auyang Wan.
"Tadi kau tidak membunuh aku, maka sekarang akupun membalas kau dengan cara yang sama. Nah, bolehlah kau pergi."
Kata Tiong-lian.
"Baik, kita masing-masing menjadi tiada terima kebaikan dari siapa-pun, harap kau jagalah dia yang betul, dia adalah milikmu."
Kata Auyang Wan dengan suara parau dan terus berlari pergi. Ketika kemudian Tiong-lian memandang Kang Hay-thian, ia menjadi heran, katanya sambil mengkerut kening.
"Mengapa dia masih belum sadar?"
Dan ketika ia coba meraba jidat Hay-thian, sekonyongkonyong pemuda itu berteriak sekali dan meloncat bangun.
Tiong-lian menjadi kaget dan tergentak mundur, hampirhampir ia jatuh.
Dalam pada itu Kang Hay-thian merasa badannya serasa dikeram oleh suatu arus hawa yang maha panas dan tak terlampiaskan didalam badan, rasanya panas dan seakan-akan meledak.
Saking tak tahan ia meloncat-loncat dan berputari seperti orang gila.
Sipemnda tadi merasa heran juga, ia pikir tidak seharusnya begitu sehabis minum Han-sing-ciok, ia coba menarik Kang Hay-thian, tapi tangannya merasa seperti kena aliran listrik, ia tergentak mundur oleh tenaga dalam Kang Hay-thian yang hebat.
Tiba-Tiba sipemuda sadar duduknya perkara, katanya.
"Ya, tahulah aku!"
"Tahu apa?"
Tanya Tiong-lian cepat.
"Bukankah Lwekang yang mula-mula dilatih Kang-heng adalah dari golongan Sia-pay!"
Tanya pemuda itu.
"Benar, waktu kecilnya pernah ia diculik oleh Thian-mokaucu hingga diluar kesadarannya ia pernah belajar Lwekang dari iblis itu,"
Sahut Tiong-lian.
"Pantas."
Kata pemuda itu.
"Kang-heng, hendaklah kau lantas mengerahkan tenaga mumi untuk disalurkan mulai Thian-koat-hiat dari Jin-meh, jalankan terus melalui Hiat-to sepanjang urat nadi itu untuk kemudian masuk ke Tok-meh, dari situ hawa murni dalam tubuhmu akan dapat dihimpun kedalam perut, habis itu tentu tenaga dalam yang timbul akan dapat kau kerahkan sesuka hatimu."
Cara mengerahkan hawa murni menyulur keurat-urat nadi di seluruh tubuh hingga akhirnya terhimpun kepusat itu adalah se-macam Lwekang yang sangat ruwet dan susah dilakukan, meski Kang Hay-thian mampu melakukannya, tapi kalau tiada petunjuk pemuda ini, mungkin ia akan tertimpa bahaya "Cauhwe-jip-mo"
Atau sesat jalan dan membakar diri.
Tapi dasar ilmu silat Kang Hay-thian memang sudah kuat, sekali diberitahu, segera ia mengarti.
Kiranya sesudah minum Thian-sim-ciok tadi, tenaga dalamnya mendadak telah bertambah besar hingga hawa murni dalam tubuh bergolak dan susah dipusatkan, ditambah lagi alas dasarnya terdiri dari Lwekang aliran Sia-pay yang mengutamakan kekerasan belaka, keruan seperti api disiram minyak, hawa murni melonjak-lonjak didalam badan dan susah terlampias.
Maka cepat ia menurutkan petunjuk pemuda tadi, ia duduk sila dan mengerahkan hawa murni itu menurut urat-urat nadi yang tepat, maka lambat laun rasa deritanya tadi telah banyak berkurang.
Dan untuk menunggu selesainya Kang Hay-thian memulihkan tenaga itu, dengan sendirinya mesti makan waktu pula.
Diam-Diam sipemuda tadi ikut kuatir, jangan-jangan sebelum Kang Hay-thian selesai bersemadi dan musuh yang lebih lihay sudah keburu datang.
Benar juga, baru saja ia berpikir begitu, mendadak terdengar suara pintu didobrak orang, menyusul sepasang laki-perempuan tua tampak melangkah masuk sambil berseru.
"Wan-ji! Wan-ji! Dimana kau?"
Kiranya mereka ini adalah Auyang Tiong-ho dan Auyangjinio suami-isteri. Sekilas pandang segera Auyang-jinio melihat Kang Haythian, seketika ia naik darah dan mendamperat.
"Bagus, jadi lagi-lagi gara-gara kau anak keparat ini? Dimana anakku?"
Kedatangan suami-isteri Auyang itu adalah untuk menghadiri pertemuan Kim-eng-kiong.
Tapi begitu tiba mereka lantas mendengar puteri mereka mencuri peta raja serta menyelundup ketengah pulau terlarang ini Sebab itulah buruburu mereka menyusul.
"Apakah kalian maksudkan nona Auyang? Dia baru saja berangkat pergi,"
Segera Kok Tiong-lian memberi keterangan.
"Siapakah kau ini?"
Tanya Auyang-jinio.
"Kok Tiong-lian, anak murid Bin-san-pay", sahut sigadis.
"Ha, jadi kau?"
Tiba-tiba wajah Auyang-jinio berubah.
"Lekas mengaku, kau telah apakan puteriku itu?"
Tiong-lian terkejut, ia tidak tahu mengapa orang marahmarah tentang anaknya. Jawabnya;
"Bukankah sudah kukatakan puterimu sudah pergi sejak tadi."
"Hm, apa kau kira aku dapat ditipu? Masakah watak puteriku aku tidak kenal?"
Diengak Auyang-jinio.
"Lekas katakan, dimana dia, telah kau bunuh atau kau tawan?"
Ia yakin sebagai saingan Kok Tiong-lian karena sama-sama menyukai Kang Hay-thin, tentu puterinya itu akan dicelakai oleh Kok Tiong-lian.
Dalam pada itu Auyang Tiong-ho sudah tidak sabar lagi, seru-nya.
"Buat apa banyak cincong dengan dia? Lekas pegang dia, masih banyak tempo untuk tanya dia nanti!"
"Benar, biar bagaimana nanti akan diomeli raja, lebih dulu kita harus pegang budak ini, begitu pula bocah itu,"
Sahut Auyang-ji-.
nio.
Segera mereka bergerak serentak, Auyang-jinio menubruk kearah Kok Tiong-lian dan Auyang Tiong-ho memburu kearah Kang Hay-thian.
Melihat musuh sudah bertindak, sedangkan Kang Hay-thian belum lagi pulih kembali tenaganya, terpaksa sipemuda tadi menghadang kedepan sambil membentak.
"Kalian mau apa?"
Segera iapun pasang kuda-kuda, sekali Anyang Tiong-ho menyerang, cepat ia menangkis dengan Tay-seng-pan-yakciang. Keruan kedua tangan beradu.
"blang", tanpa kuasa lagi Auyang Tiong-ho tergentak mundur, isi perutnya seolah-olah terjungkir balik, sungguh tak tersangka olehnya bahwa pemuda itu memiliki tenaga dalam selihay itu. Kejut dan gusar sekali Auyang Tiong-ho. Masakah seorang gembong kawakan Kangouw kecundang dibawah tangan seorang pemuda hijau? Segera ia menubruk maju lagi sambil membentak, sekaligus ia gunakan telapak tangan dan jari dalam ilmu Pi-Iik-ciang dan Lui-sin-ci untuk menyerang. Ketika, pemuda itu memukul pula kedepan, ia merasa suatu arus hawa panas menusuk ketelapak tangannya. Dalam pada itu pukulan Auyang Tiong-ho dengan tangan lain sudah tiba pula, .segera iapun memapak dengan telapak tangan kiri hingga kembali kedua tangan terbentur. Sekali ini kedua pihak sama kuat, Auyang Tiong-ho tertolak mundur dua tindak, sebaliknya telapak tangan sipemuda yang tertonjok oleh Luisin-ci itu juga melepuh seperti terbakar. Kedua pihak sama-sama tidak berani gegabah lagi, kembali mereka bergebrak beberapa jurus lagi, sipemuda tidak berani memapak tutukan jari Auyang Tiong-ho lagi, sebaliknya Auyang Tiong-ho juga tidak berani mengadu tangan pula Keduanya lantas saling menghindar dan berkisar, namun sipemuda menang dalam hal tenaga muda hingga dia masih berada diatas angin sedikit. Disebelah sana Auyang-jinio juga sudah bergebrak dengan Kok Tiong-lian. Berkat pedang pusaka yang dipegangnya, Tiong-lian mainkan Hian-li-kiam-hoat dengan kencang hingga cukup kuat untuk menahan rangsakan Auyang-jinio.
"Pedang bagus!"
Puji Auyang-jinio.
Telah timbul niatnya hendak merampas pedang lawan.
Mendadak ia menubruk maju, dengan lengan bajunya ia kebut pedang lawan kesamping, menyusul tangan yang lain terus menjulur kepergelangan tangan Kok Tiong lian.
"Bret", lengan baju Auyang-jinio terkupas sepotong oleh Cay-in-pokiam, meski senjata itu kena disampuk kesamping, tapi Kok Tiong-lian cukup sebat, secepat kilat ia sempat putar balik pedang-nya untuk mengantiam tangan lawan. Asal lawan berani nekat merebut pedang, maka tangannya pasti akan terpapas lebih dulu. Karena terpaksa, mendadak Auyang-jinio ganti haluan dan tarik kembali tangannya. Pikirnya.
"Sungguh tidak nyana ilmu pedang budak ini jauh lebih pandai daripada sangkaanku."
Padahal "Liu-in-siu"
Atau sampukan dengan lengan baju, adalah gerak serangan terkenal dalam dunia persilatan dari keluarga Auyang, biasanya kalau senjata lawan sampai kena tersampuk, pasti lantas akan tergubat dan terampas.
Siapa duga pedang itu sangat tajam dan gerak Kok Tiong-lian cukup sebat pula.
Sekali tidak kena, segera serangan kedua dan ketiga dilontarkan Auyang-jinio.
Ia putar lengan bajunya naik-turun dengan kencang, tapi suara "brat-bret"
Juga terdengar berulang-ulang, sobekan kain kecil-kecil lantas bertebaran pula bagaikan kupu-kupu menari diudara.
Lambat-laun Kok Tionglian merasa payah oleh daya tekanan lawan yang lebih kuat itu, pedangnya mulai tersampuk kian kemari, ia kuatir sebentar lagi mungkin akan dirampas musuh.
Disebelah lain, mendadak sipemuda membentak sekali, sekonyong-konyong ia memutar terus menghantam kearah Auyang-jinio dari jauh.
Karena tidak sangka-sangka, pula kekuatannya masih jauh dibawah sang suami, Auyang-jinio terhuyung-huyung oleh getaran angin pukulan itu.
Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Kok Tiong-lian, pedang-nya terus menusuk hingga bahu Auyang-jinio tergurat.
Untung dia sempat mengegos hingga sebelah bahunya itu tidak sampai berpisah dengan tubuhnya.
Auyang Tiong-ho terkejut dan kuatir, cepat ia memburu maju hendak menolong isterinya.
Tapi sipemuda itu bergabung dengan Kok Tiong-lian hingga terjadilah pertarungan keroyokan.
"Awas, adikku, incarlah baik-baik, dimana ada lubang, segera kau persen dia sekali tusukan!"
Seru sipemuda.
Segera ia keluarkan Tay-seng-pan-yak-ciang-lik untuk melawan Auyang Tiong-ho berdua, ia hadapi sendirinya segala serangan kedua musuh itu.
Dengan demikian Kok Tiong-lian diberi kesempatan mencari lubang untuk menusuk musuh.
Keadaan sekarang menjadi berat sebelah, Auyang Tiong-ho berdua tidak dapat mencurahkan tenaga sepenuhnya untuk mengerubut sipemuda, sebaliknya Kok Tiong-lian berulangulang memaksa Auyang Tiong-ho berdua melompat mundur dengan tusukan pedangnya.
Dalam pada itu sebenarnya Auyang Tiong-ho juga sudah mengetahui Kang Hay-thian sedang mengerahkan tenaga murninya, bahkan sudah mencapai titik yang gawat.
Cuma ia tidak tahu hal itu adalah akibat Kang Hay-thian habis makan Thin-sim-ciok, ia malah mengira akibat kena racun yang diberikan oleh puterinya, yaitu Auyang Wan, sebab ia menduga puterinya itu tentu cemburu dan patah hati.
dengan sendirinya tidak segan-segan untuk turun tangan secara keji.
Semula ia anggap sepele kepada Kang Hay-thian karena keadaannya toh tidak dapat berkutik sebelum lewat beberapa lama lagi.
Tapi lambat-laun ia menjadi terperanjat ketika ia berpaling kearah Kang Hay-thian.
Semula ia lihat air muka Kang Hay-thian pucat lesi, tapi dalam waktu singkat saja wajahnya telah merah bercahaya.
Hal ini dalam pandangan tokoh persilatan akan segera dapat diketahui adalah suatu tanda betapa kuat tenaga murninya.
Keruaan Auyang Tiong-ho terkesiap, diam-diam ia tidak paham.
"Sungguh aneh, mengapa Lwekang bocah ini sedemikian tingginya? Tampaknya dalam waktu sebentar lagi dia sudah dapat pulih kembali tenaganya dan dapat bergerak seperti biasa."
Sedangkan sekarang saja kewalahan melawan sipemuda dan Kok Tiong-lian, apalagi kalau Kang Hay-thian nanti mengerubut pula, pasti mereka akan celaka.
Berpikir demikian, mendadak Auyang Tiong-ho menggertak sekali.
"ia menyerang cepat beberapa kali, menyusul tubuhnya lantas menyurut mundur. Kiranya ia sudah ambil keputusan jalan satu-satunya yang paling selamat adalah lari saja. Maka pura-pura menyerang, tapi sebenarnya untuk jalan kabur. Auyang-jinio dapat mengetahui maksud sang suami, maka selangkah demi selangkah mereka mundur keambang pintu. Sudah tentu Kok Tiong-lian berdua juga lebih suka kalau kedua lawan itu dapat lekas-lekas enyah, dengan demikian keselamatan Kang Hay-thian tidak perlu dikuatirkan lagi. Diluar dugaan, ketika Auyang Ttong-bo sudah hampir melangkah keluar, tiba-tiba terdengarlah suara tertawa seorang.
"Hahaha, sangat kebetulan, ternyata Cinkeh dan Che-em berada disini semua!"
Sungguh girang Auyang Tiong-ho tak terkatakan demi mengenali suara orang itu. Cepat ia menyapa.
"Wah, tepat sekali kedatangan mu, Bun-cinkeh, sibocah Kang Hay-thian ini kebetulan berada disihi!"
Kiranya yang datang itu memang betul Bun Ting-bik adanya.
Maka Auyang Tiong-ho berdua sekarang tidak jadi inerat, sebaliknya mereka menyerang kembali sekuat-kuatnya.
Setelah pandang sekejap kepada sipemuda tadi.
tiba-tiba Bun Ting-bik tertawa dan berkata.
"Ehm, boleh juga ilmu silatmu ini, pantas Yap Tiong-siau terjungkal ditenganmu Siapakah gurumu, ha?"
"Kalau kau dengar nama guruku, mungkin nyalimu akan pecah dan jatuh kelengar,"
Sahut sipemuda.
"Maka lebih baik tak perlu kau tanya, jika kau mau coba-coba, silakan maju sekalian."
"Hahahaha! Benar-Benar anak domba yang tak kenal takut, betapapun tinggi kepandaianmu kau dapat berbuat apa dihadapanku? Huh, mengingat kau masih muda. hayolah. serahkan Thian-sim-ciok itu!"
Jengek Bun Ting-bik.
Habis itu, segera ia menghantam, tapi tidak kearah sipemuda, tetapi mengenai pilar batu hingga tertampaklah suatu tapak tangan mendekuk diatas pilar.
Kiranya kedatangan Bun Ting-bik ini adalah atas permintaan Thian-mo-kaucu.
Tapi ia belum kenal pemuda itu, maka lebih dulu ia sengaja pamerkan kepandaiannya agar lawan mengkeret.
"O, jadi kaupun inginkan Thian-sim-ciok?"
Demikian sipemuda menjawab.
"Eh, Lian-moay, dimanakah kau menyembunyikannya tadi?"
Sebagai gadis yang cerdik, segera Tiong-lian tahu maksud kakaknya itu ialah untuk mengulur tempo Segera ia menjawab.
"Wah, aku menjadi lupa, dimana ya aku menyimpannya? Ha, ingatlah aku sekarang. Tadi kusembunyikan dibawah batu karang ketujuh disamping gunung-gunungan palsu kedua dihitung dari sebelah barat dekat pintu samping ketiga di belakang taman sana."
"Jangan mau tertipu olehnya. Cinkeh!"
Seru Auyang Tiongho mendadak.
Sebenarnya baik kepandaian maupun kecerdikan Bun Tingbik tidaklah kalah daripada Auyang Tiong-ho.
Kini demi diperingatkan oleh kawannya itu, sekilas lantas diketahuinya keadaan Kang Hay-thian yang luar biasa itu.
dari air mukanya itu ada tanda-tanda seperti sedang melatih semacam Lwekang yang maha lihay, segera iapun dapat mengetahui pemuda itu belum dapat bergerak, tapi dalam waktu singkat semedinya itu akan selesai.
Melihat itu.
sebagai seorang kawakan Kangouw, tanpa ayal lagi Bun Ting-bik terus bertindak.
Mendadak ia menggertak sekali, segera ia menerjang kearah Kang Hay-thian.
Dalam keadaan begitu sudah tentu sipemuda tidak nanti membiarkan musuh main sesukanya.
Pada saat yang hampir sama iapun lontarkan pukulan Tay-sang-pan-yak-ciang, maka terbenturlah dengan tenaga pukulan Bun Ting-bik.
"Blang". Bun Ting-bik tergentak sempoyongan, dada sipemuda juga serasa dihantam godam, seketika darah bergolak dalam rongga dadanya, hampir-hampir saja ia terjungkal. Sementara itu dengan cepat Bun Ting-bik lantas menyerang pula, berulang-ulang sipemuda menyambut pula sampai tiga kali, namun makin lama makin payah, sampai pukulan keempat, ia merasa mata berkunang-kunang dan kepala puyeng, ruas tulang seluruh badannya seakan-akan retak, terpaksa ia bertahan sekuatnya, tapi tampaknya Bun Ting-bik pasti akan berhasil menerjang lewat. Di sebelah sana Kok Tiong-lian juga tidak dapat melawan keroyokan Auyang Tiong-ho berdua, sampai suatu saat, mendadak lengan baju Auyang-jinio mengebas dan pedang Tiong-lian tergubat, tanpa ayal lagi Auyang Tiong-ho menyambar pedang itu dari cekalan sigadis, ia serahkan pedang itu kepada sang isteri. menyusul ia menutuk pula untuk merobohkan Kok Tiong-lian. Kemudian mereka berdua ikut menerjang kearah Kang Hay-thian. Dalam pada itu Bun Ting-bik sudah tiba lebih dulu.
"blang", kontan ia menghantam kepunggung Kang Hay-thian. Tapi pemuda itu ternyata diam-diam saja, sedikitpun tidak bergerak. Sebaliknya Bun Ting-bik merasa tangannya seperti kena aliran listerik, mendadak ia merasa terpental oleh suatu tenaga tolakan yang maha dahsyat. Keruan ia terkesiap hingga terkesima sejenak. Menyusul mana Auyang Tiong-ho juga sudah tiba, ia belum tahu kalau Bun Ting-bik barusan telah kecundang, ia menggertak sekali, menyusul iapun menghantam. Serangannya ini lebih keji, yang diarah adalah ubun-ubun kepala Kang Hay-thian. Tapi Kang Hay-thian tetap tidak bergerak sedikitpun, ia tunggu sesudah telapak tangan orang sudah hampir menempel kepalanya. mendadak ia mendongak keatas sedikit, maka terdengarlah suara "brak"
Sekali.
Pi-Iik-ciang yang dilontarkan Auyang Tiong-ho itu sebenarnya adalah pukulan yang dahsyat, biarpun batu juga remuk kalau kena dihantam.
Siapa duga batok kepala Kang Hay-thian itu ternyata lebih keras dari pada baja, bukannya kepalanya remuk, sebaliknya Auyang Tiong-ho yang menjerit, telapak tangannya sebatas pergelangan telah terkilir balik keatas hingga susah diluruskan kembali.
Orang yang datang paling belakang adalah Auyang-jinio, ia telah menyaksikan sang suami meringis kesakitan oleh pukulannya sendiri.
Tapi Auyang-jinio mengandalkan pedang pusaka rampasannya dari Kok Tiong-lian itu, ia pikir sekalipun kau memiliki ilmu sakti yang kebal masakah mampu menahan pedang mestika ini?
Maka tanpa ragu-ragu lagi, dengan gerak tipu "Pok-hongkoan-jit (pelangi melingkungi matahari), segera ia menusuk ke "Thian-ki-hiat"
Dipunggung Kang Hay-thian.
Pada detik itulah, tiba-tiba Kang Hay-thian merasa jalan hawa murni dalam tubuhnya telah lancar sekali menurut urat nadi dari atas hingga terhimpun kepusat.
Dalam sekejap saja Hiat-to.
antara urat nadi Tok-meh dan Yim-meh telah terhubung semua.
Setelah hawa murni terhimpun kepusat, rasa badan menjadi segar.
Mestinya semadi Kang Hay-thian itu takkan secepat itu se-lesainya, tapi karena seranganserangan Bun Ting-bik dan Auyang Tiong-ho yang mengenai tubuhnya itu, diluar dugaan telah membantu mempercepat jalan darahnya hingga sekejap itu pulihlah semangat Kang Hay-thian.
Dan pada saat Auyang-jinio menusuk dengan pedang itu adalah saat yang sama Kang Hay-thian telah segar kembali.
Maka tertampaklah baju yang dipakai pemuda itu seakan-akan meiembung penuh terisi hawa, ketika tusukan Auyang-jinio tiba, ia merasa ujung pedang seperti tertahan oleh semacam tenaga yang kuat.
"Bruk", sekonyong-konyong hawa yang tak berwujud itu seakan-akan meletus. Auyang-jinio terpental hingga terjungkal-jungkal, pedangpun terlepas dari cekalannya. Segera Kang Hay-thian melompat bangun, bentaknya.
"Kalau terima tidak membalas adalah tidak sopan. Ini kubaiar kembali padamu!"
Berbareng ia terus menghantam kearah Bun Ting-bik. Dengan "Sam-siang-kui-goan-kang"
Yang telah berhasil diyakin-kan Bun Ting-bik itu, kini ia justeru ingin coba-coba mengukur tenaga Kang Hay-thian itu.
Maka dengan tanpa pikir iapun memapak dengan ilmu pukulannya.
Maka terdengarlah suara gemuruh yang keras.
Baca Juga: Pukulan Naga Sakti 6
Baca Juga: Pisau Kekasih 1