Eps 6 Kisah Pedang Di Sungai Es - Liang Ie Shen
Baca online Kisah Pedang Di Sungai Es - Liang Ie Shen
Cersil Kisah Pedang Di Sungai Es - Liang Ie Shen.
Untung juga bahwa Bun Ting-bik dapat ambil tindakan tepat pada waktunya hingga terhindarlah dia dari terluka parah.
Sebaliknya kalau mengadu Lwekang itu diteruskan, sesudah hawa murni banyak terbuang, Hay-thian sendiri pasti pula akan sakit keras.
Dalam pada itu sesudah Siau-yang-keng-meh, yaitu urat nadi di telapak tangan Kang Hay-thian kena didientik tenaga jari lawan, badan pemuda itu tergetar mundur tiga tindak.
Oleh karena jalan darahnya terhalang hingga urat nadinya penuh darah berhenti, seketika kedua mata Kang Hay-thian menjadi merah berapi.
Bun Ting-bik menjadi ragu-ragu dan kuatir, ia tidak berani menyerang lebih jauh, ia hanya bersiap siaga saja, dengan penuh perhatian mengikuti perubahan pihak lawan.
Maka sejenak itu kedua orang menjadi saling melotot bagai ayam sabungan, keduanya sama-sama tidak berani sembarangan bergerak.
Tiba-Tiba diantara rombongan tetamu melompat keluar seorang Hwe sio tinggi besar dan gemuk, dengan tongkat paderinya yang diketok-ketok kelantai.
Hwesio itu lantas membentak.
"Orang she Bun. kedatanganku ini adalah untuk memberi selamat atas undangan Auyang-jiko, tapi mengapa engkau berani melukai muridku?"
Habis itu, segera tongkatnya mengemplang kepunggung Bun Ting-bik.
Kiranya Hwesio gendut itu adalah guru daripada Hwesio muda yang babak-belur terguncang roboh oleh tenaga pukulan Bun Ting-bik tadi.
Ia adalah ketua dari gereja Liongjiu-si di Gan-theng-san, namanya Liong-un Taysu.
Kemahirannya ialah dalam ilmu Gwa kang, ilmu yang mengutamakan tenaga badani, tenaga jarinya cukup kuat untuk menembus perut kerbau, sekali pukul dengan telapak tangan dapat mampuskan harimau.
Biarpun dia seorang paderi, tapi wataknya sangat berangasan.
Kedatangannya untuk memenuhi undangan Auyang Tiong-ho itu ternyata telah membikin celaka muridnya.
Karena merasa nama baiknya tersinggung, seketika ia naik darah, tanpa pikir ia terus menerjang maju untuk melabrak Bun Ting-bik.
Dengan tenaganya yang maha kuat, kemplangnya itu cukup untuk menghancurkan sepotong batu besar Tapi Bun Ting-bik ternyata anggap sepi saja terhadap serangannya itu, hakikatnya ia tidak gubris kepada perkataan dan kemplangan tongkat itu.
Maka terdengarlah suara "bluk"
Yang langit keras, kemplangan itu tepat mengenai sasarannya.
Tapi bukannya Bun Ting-bik roboh, sebaliknya LiOng-un Taysu yang mencelat keatas.
Bahkan tongkatnya berubah melengkung pula.
Cepat Auyang Pek-ho memburu maju, ia sambutI jatuhnya Liong-un Taysu hingga paderi itu tidak sampai terjungkal ke tanah.
"Liong-un Taysu, betapapun sudilah memandang diriku dan jangan tarik panjang urusan ini. Bun-siansing tiada punya maksud melukai muridmu, tapi terjadi tanpa sengaja, harap engkau suka maklum, kelak aku dan Bun-siansing tentu akan minta maaf kepadamu."
Melihat ketangkasan Bun Ting-bik. barulah Liong-un Taysu insaf masih jauh untuk dapat menandingi orang. Dengan menghela napas la berkata.
"Sudahlah, salah kami sendiri yang tidak punya kepandaian apa-apa hingga terjungkal didepan orang banyak. Terima kasih atas pelayananmu. biarlah kami segera mohon diri saja. Seng-khong, hayolah kita pulang!"
Habis berkata, dengan masih marah ia membawa muridnya dan tinggal pergi.
Dan selagi Auyang Pek-ho hendak mencegah, tiba-tiba didengarnya teriakan Bun Ting-bik, pada saat hampir berbareng, serangkum angin keras yang membawa hawa panas terus menyambar ke arahnya.
Kiranya sesudah tenaga dalam Kang Hay-thian bertambah lipat ganda, sebaliknya jalan keluarnya mendadak buntu, keadaan demikian menjadi seperti air bah yang airnya terus meluap.
Dan karena hawa murni dalam tubuh yang dia kerahkan itu sudah terlalu penuh, untuk ditahan juga tidak mungkin lagi, terpaksa Kang Hay-thian membiarkan hawa itu memancar keluar melalui ujung jari tengahnya.
Keruan Bun Ting-bik terkejut.
cepat ia menghindar, namun tidak urung jubahnya juga sudah terlubang.
Untung tenaga dalam "Sam-siang-kui-goan"
Dari Bun Ting-bik itu sudah mencapai tingkatan yang cukup sempurna, sedangkan Kang Hay-thian belum mahir menggunakan hawa murninya itu untuk melukai orang, makanya Ting-bik tidak sampai terluka, hanya jubahnya berlubang dan dimana kulit daging yang keserempet hawa murni itu menjadi gosong seperti terbakar.
Di sebelah sana Auyang Pek-ho terpaksa juga mesti berkelit, menyusul ia balas hantarn dengan tangannya.
Karena jaraknya lebih jauh dengan Kang Tlay-thian, maka tenaga serangan pemuda itu tadi sudah lebih lemah.
Namun begitu Auyang Pek-ho sendiri tidak menjadi soal.
sebaliknya anak muridnya yang tidak tahan, ada seorang diantaranya tepat kena disambar oleh bawa murni itu.
seketika orangnya menjerit bagaikan mendadak disayat-sayat dengan pisau, kulit dagingnya di beberapa tempat telah terluka dan mengucurkan darah.
Sungguh kejut Auyang Pek-ho tidak kepalang.
Semula ia sangka Bun Ting-bik sendiri sudah jauh lebih dari cukup untuk menghadapi satu bocah seperti Kang Hay-thian itu.
Siapa duga makin lama gelagatnya makin jelek, kini anak muridnya terluka, bahkan terdengar jeritan Bun Ting-bik lagi, ia mengira Bun Ting-bik juga terluka, hal ini tentu saja membuatnya semakin cemas.
Kalau berdasarkan kedudukan Auyang Pek-ho dan Bun Ting-bik, sudah tentu tidak mungkin mereka berdua sudi mengeroyok seorang lawan muda.
Akan tetapi kini mereka tidak sempat memikirkan soal pamor lagi, segera mereka membentak bersama, sekaligus lantas mengerubut Kang Haythian dari kanan dan kiri dengan ilmu sakti Pi-lik-ciang dan Luisin-ci (pukulan geledek dan jari malaikat guntur).
Tempo hari Kang Hiay-thian sudah kecundang di bawah tangan Auyang Tiong-ho, maka ia cukup kenal betapa lihainya ilmu silat lawan.
Apalagi lawannya, itu adalah saudara tua Auyang Tiong-ho, sudah tentu kepandaiannya lebih tinggi pula.
Maka ia tidak berani ayal, ia pun mengeluarkan ilmu silatnya yang hebat It-ci-sian-kang.
Maka terdengarlah suara pletak-pletok, dua arus tenaga hawa yang tak kelihatan saling bentur di udara hingga mirip letusan sesuatu.
Dalam sekejap itu Auyang Pek-ho merasa dadanya tertekan, seakan-akan dijepit oleh tanggam yang maha kuat.
Keruan ia terkejut dan cepat melangkah mundur.
Diam-diam ia kerahkan Lwekangnya yang murni untuk melenyapkan tenaga tekanan itu.
Sebaliknya diam-diam Kang Hay-thian juga sedang mengeluh, sebab sebegitu jauh tenaga murninya sudah terkuras separoh, mendadak ia merasa kepala pening, ia insaf itulah tandanya hawa murni dalam tubuhnya telah banyak terbuang.
Tapi sisa tenaga dalam yang timbul dari Thian-mokay-te-tay-hoat masih cukup kuat untuk bertahan.
Maka sambil menahan kembali tenaganya yang merembes keluar itu, berbareng ia balas menghantam Auyang Pek-ho lagi untuk menjaga agar tidak didahului serangan lawan.
Cuma tenaga dalamnya sudah berkurang, dengan mengadu pukulan ini meski Auyang Pek-ho sudah kewalahan hingga tergetar mundur beberapa tindak, namun Hay-thian sendiri pun terhuyung-huyung juga.
Sebagai seorang ahli silat sudah tentu penglihatan Bun Ting-bik sangat tajam, ia sudah dapat melihat tenaga dalam pemuda itu sudah berkurang, untuk melukai orang sudah tidak mampu lagi.
Seketika semangatnya terbangkit, serunya dengan terbahak-bahak.
"Hahaha, Auyang-jinkeh, bocah ini tampaknya kuat di luar tapi keropos di dalam. Ilmu yang digunakan adalah sebangsa ilmu hitam yang tak berarti, padahal tenaga dalamnya yang sesungguhnya jauh di bawah kita!"
Tapi Auyang Pek-ho masih sangsi, namun ia pun tidak mau kehilangan pamor di depan umum, segera ia pun terbahakbahak dan menyahut.
"Masakah bocah ini kupandang berat, tadi aku cuma sedikit menjajal kepandaiannya saja!"
"Baiklah, boleh kau jajal lagi!"
Bentak Hay-thian dengan gusar.
Mendadak ia keluarkan Thian-lo-poh-hoat, cepat ia menggeser ke hadapan Auyang Pek-ho terus menghantam ke dada lawan.
Ia tahu di antara kedua lawan itu Auyang Pek-ho lebih lemah daripada Bun Ting-bik, maka sebelum ia sendiri kewalahan, lebih dulu ia hendak merobohkan lawan yang lebih lemah itu.
Tak terduga Bun Ting-bik sudah mengincarnya pula dari samping, begitu Kang Hay-thian bergerak, segera ia pun menubruk maju untuk menggantikan Auyang Pek-ho menangkis serangan Hay-thian.
Adu pukulan ini meski tidak dapat merobohkan Kang Hay-thian, tapi kekuatan masingmasing sudah sama kuatnya, suatu tanda bahwa Lwekang yang timbul dari Thian-mo-kay-te-tay-hoat di tubuh Kang Haythian sudah mulai berkurang pula.
Melihat ada kesempatan baik, sekali membentak, Auyang Pek-ho lantas menghantam juga.
Terpaksa Kang Hay-thian menangkis dan karena kekuatannya sudah banyak berkurang adu tangan ini membuat Hay-thian tergentak mundur setindak.
Auyang Pek-ho tertawa girang, bentaknya pula.
"Biar kau bangsat kecil ini kenal kelihaianku!"
Menyusul ia keluarkan Luisin-ci dan menutuk ke muka Kang Hay-thian. Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara ramai orang berteriak.
"Maling! Maling!"
"Celaka, kebakaran! Kebakaran!"
Keruan Auyang Pek-ho terkejut dan gusar pula, pikirnya.
"Siapakah begitu berani mencuri dan membakar rumah kami ini?"
Dan karena terganggu oleh suasana panik itu, serangannya menjadi meleset. Pada saat lain, tiba-tiba terdengar seruan Auyang-jinio.
"Cegat dia, lekas cegat! Ki-locat, terlalu kurangajar kau berani menggerayangi rumah kami!"
Menyusul tertampak dua orang menerjang keluar dari ruang belakang, yang di depan berlari dengan sangat cepat hingga wajahnya tidak jelas kelihatan, hanya lapat-lapat dapat dipastikan adalah seorang laki-laki.
Sedang di belakangnya mengejar Auyang-jinio, nyonya rumah ini sudah salin pakaian, mungkin dalam keadaan terburu-terburu, maka tampak beberapa kancing bajunya masih belum sempat dipasang.
"Tiong-ho, dia mencuri ... mencuri"
Demikian Auyang-jinio berteriak-teriak dan pada saat itulah mendadak laki-laki itu sudah melayang lewat di sisi Auyang Tiong-ho.
"Kurangajar, Ki Hiau-hong, jadi kau berani main gila di rumahku, ya?"
Bentak Auyang Tiong-ho dengan gusar, segera ia angkat tongkatnya untuk menghantam, meski dia masih terluka, namun putaran tongkatnya itu menimbulkan angin yang cukup keras.
Laki-laki itu memang benar Ki Hiau-hong adanya.
Sudah tentu ia tidak tahu apakah Auyang Tiong-ho masih sakit atau tidak, pula tidak sengaja hendak menyerangnya, la hanya cepat menyusup lewat di bawah tongkat orang, mendadak ia membalik serta mengayun tangannya ke depan sambil membentak.
"Perempuan jahanam, terimalah senjataku ini!"
Gerak tubuh Auyang-jinio tidak segesit Ki Hiau-hong, saat itu ia sudah memburu tiba, ketika mendadak Ki Hiau-hong membalik tubuh dan mengangsurkan tangan, maka terjadi seperti Ki Hiau-hong sengaja menyodorkan sesuatu benda ke mukanya.
Tanpa pikir segera Auyang-jinio menggablok dengan kedua tangannya.
Tapi segera tangannya terasa licin penuh minyak, barang yang disodorkan Ki Hiau-hong bukan senjata apa segala, tapi adalah sepotong ayam panggang.
Dengan terbahak-bahak Ki Hiau-hong sudah berlari menyingkir, tertampak ia menyebret sepotong paha ayam dan dijejalkan ke mulut sendiri, katanya dengan tertawa.
"Biarlah aku pura-pura menjadi kakek-moyang keluarga Auyang kalian. Haha, panggang ayam ini boleh juga rasanya!"
Kiranya tadi waktu dia melayang lewat di sisi Auyang Tiongho, sekaligus ia telah menyambar sesajen ayam di antara Sam-seng (tiga hewan barang sesajen) yang tertaruh di meja sembahyang.
"Auyang Pek-ho, kau berani ikut mencicipi makanan kakekmoyangmu atau tidak? Ini paha yang lain untukmu!"
Seru Ki Hiau-hong dengan tertawa.
Berbareng ia lemparkan sepotong ayam panggang itu ke arah orang.
Sudah tentu Auyang Pekho sangat gemas, sekali selentik, ia bikin paha ayam itu terpental.
Dan karena itulah serangannya kepada Kang Haythian menjadi luput.
"Ki Hiau-hong,"
Bentak Bun Ting-bik.
"untunglah tempo dulu kau sempat menyelamatkan diri di Ci-lay-san, apakah hari ini kau sengaja mengantarkan nyawamu?"
Berbareng ia putar tubuh sedikit.
"crit", serangkum angin keras menyambar ke depan, ia telah mengeluarkan ilmu Tiam-hiat dari jarak jauh yang luar biasa lihainya. Ki Hiau-hong cukup tahu gelagat, sekali mengegos, terhindarlah dia dari serangan hebat itu. Namun tutukan Bun Ting-bik benar-benar sakti, walaupun tidak tepat kena sasarannya, Ki Hiau-hong merasa panas pedas juga betisnya oleh sambaran angin tutukan itu. Biarpun Lwekang Ki Hiau-hong lebih lemah dari lawan, tapi gerak tubuhnya yang gesit dan cepat tiada tandingannya, hanya sekejap saja ia sudah rata menyerang kedua lawan tangguh itu hingga Kang Hay-thian ada kesempatan bernapas. Segera pemuda itu melolos Pokiamnya sambil membentak.
"Kurangajar, kalian berani menyerang Ki-pepek, lihat pedangkul"
Sekali sinar pelangi menyambar, kontan ia membabat pinggang Bun Ting-bik.
Cay-in-pokiam daya serangannya sudah tentu tiada taranya.
Betapapun tinggi kepandaian Bun Ting-bik juga tak berani menangkis pedang pusaka itu.
Dengan terkejut cepat ia berkelit ke samping, habis itu dengan sepenuh tenaga ia balas menghantam dari jauh, dengan tenaga pukulannya itu ia buyarkan sinar pedang yang berkilauan.
Sebaliknya Auyang Pek-ho tidak selihai Bun Ting-bik, meski berbareng ia pun menghantam dengan Pi-lik-ciang, tapi ia cuma mampu mengguncang miring pedang Kang Hay-thian, dimana sinar pedang menyambar, secomot rambutnya tampak terpapas.
Begitulah Kang Hay-thian telah mainkan Si-mi-kiam-hoat yang hebat, dalam lingkaran dua meter melulu sinar pedang belaka yang tak tertembus air sekalipun hingga Ki Hiau-hong juga terlindung di dalam lingkaran sinar pedang.
"Haha, Hiantit yang baik, terima kasih atas perlindunganmu, ini kuberikan makanan enak sedikit,"
Seru Ki Hiau-hong dengan terbahak. Diam-diam Hay-thian membatin.
"Ki-pepek memang suka bergurau, sampai tua masih tetap demikian tabiatnya. Dalam keadaan demikian masakah masih merasa iseng untuk makan segala."
Tapi lantas sahutnya.
"Tidak, aku tidak lapar, silakan kau makan sendiri saja."
"Tidak boleh, kau harus terima makananku ini, masakah pemberian orang tua kau tolak? Kau harus makan!"
Demikian kata Ki Hiau-hong.
Sembari bicara, terus saja ia sodorkan semacam barang ke mulut Kang Hay-thian.
Semula Hay-thian mengira makanan itu tentu adalah paha ayam pula.
Tak terduga hidungnya lantas mengendus bau harum semerbak.
Semula karena dia mesti mengerahkan ilmu Thian-mo-kay-te-tay-hoat untuk melawan beberapa kali serangan Bun Ting-bik, ia merasa dadanya agak sesak dan tenaga mulai lemah.
Tapi demi mengendus bau harum itu, seketika semangat terbangkit, rasa sesak juga hilang segera.
Rupanya bau harum itu dapat diendus juga oleh Auyangjinio, segera wanita itupun berteriak.
"Wah, celaka, dia telah mencuri kita punya Jian-lian-leng-ci, Tiong-hol"
"Kurangajar, keparat Ki Hiau-hong, kenapa engkau berani mencuri Jian-lian-leng-ci?"
Auyang Tiong-ho menggerung murka.
Karena gerak-geriknya tidak leluasa, dalam gusarnya ia terus menimpukkan tongkatnya.
Tongkat itu buatan dari kaju besi yang sangat keras, tapi mana dapat menahan tajamnya Cay-in-pokiam?
Hanya sekali tebas saja tongkat itu sudah terkutung menjadi dua.
Auyang Tiong-ho sendiri masih belum sembuh, saking keras menggunakan tenaga, ia kehilangan imbangan badan.
"bluk", ia jatuh sendiri ke lantai.
"Hahaha, Auyang-loji, rupanya kau sedang sakit payah dan Jian-lian-leng-ci ini hendak kau gunakan sebagai obat bukan?"
Seru Hiau-hong dengan tertawa.
"Maafkan, aku tidak tahu hingga aku telah mencurinya. Tetapi kulihat toh usiamu sudah tua bangka, paling-paling juga tinggal hidup setahun dua tahun lagi. Maka apa halangannya kalau sekarang juga engkau melapor diri pada Giam-lo-ong?"
Sungguh Auyang Tiong-ho gemas setengah mati.
Sudah kecurian, diolok-olok pula.
Kalau bisa ia ingin membeset kulit Ki Hiau-hong.
Jian-lian-leng-ci atau rumput Leng-ci yang berumur ribuan tahun itu dengan susah payah diperolehnya dan maksudnya akan diminum untuk memulihkan tenaga dalamnya, siapa duga sebelum terpakai sudah dicuri Ki Hiauhong.
Sementara itu anak murid Auyang Tiong-ho sudah lantas memayang bangun tuan rumah.
Auyang-jinio juga menghiburnya.
"Tiong-ho, tidak perlu kau kuatir, ada Bunjinkeh di sini, rasanya kedua bangsat itu takkan mampu merat. Boleh kau masuk untuk mengaso saja."
Sekilas pandang Auyang Tiongho lihat Bun Ting-bik sedang berkelit ke sana dan menghindar ke sini dan balas menghantam dari jauh, agaknya rada jeri terhadap pedang pusaka Kang Hay-thian.
Rupanya Bun Ting-bik memakai siasat sekadar bertahan saja.
Keruan Auyang Tiong-ho mendongkol, ia mendengus sekali dan amarahnya dilampiaskan pada anak muridnya, dengan gemas ia mendamprat.
"Kalian ini semua orang mati, matamu buta semua, kalian sebanyak ini, tapi digerayangi maling tidak tahu!"
"Tiong-ho, hari ini adalah hari bahagia, jangan omong yang tidak-tidak,"
Ujar Auyang-jinio.
"Sudah geger seperti ini, masih ada bahagia apa lagi?"
Sahut Tiong-ho marah-marah.
"Menantu terluka, putri sendiri lari, sampai obat penolong jiwaku juga dicuri orang, hm, muka keluarga Auyang kita benar-benar ludes sekarang!"
Memang benar, suasana riang gembira di dalam ruang perayaan tadi kini sudah berubah tak keruan macamnya.
Tibatiba terdengar suara "fung", api lilin yang menganga di meja sembahyang mendadak sirap, menyusul "biang"
Sekali, meja sembahyang itupun jungkir balik kena pukulan nyasar.
Para tamu sudah banyak yang lari pontang-panting.
Agar sang suami tidak kena serangan nyasar, segera Auyang-jinio perintahkan anak muridnya membawa Auyang Tiong-ho ke belakang.
Dengan penasaran sepanjang jalan Auyang Tiong-ho terus mencaci maki.
Dalam pada itu Kang Hay-thian telah membagi Leng-ci yang diterimanya dari Ki Hiau-hong menjadi dua potong.
Sepotong ia makan sendiri, sepotong yang lain ia kembalikan kepada Ki Hiau-hong, katanya.
"Setengah bagian ini harap Ki-pepek simpan saja, aku sendiri tidak perlu sebanyak ini."
"Boleh juga rasanya, bukan?"
Tanya Ki Hiau-hong dengan tertawa.
"Ya, memang sedap,"
Sahut Hay-thian.
"Terima kasih Kipepek."
"Bukan padaku, tapi kepada tuan rumah,"
Ujar Hiau-hong dengan tertawa.
"Begitu pula ayam panggangku ini memang sangat lezat."
Habis berkata, karena ayam panggang itu sudah dilalapnya habis, maka sekali tangannya saling gosok, mendadak ia gunakan gerakan 'Tong-cu-pay-kwan-im' atau anak kecil menyembah dewi Kwan Im, terus saja ia hantam Auyang Pekho.
Sama sekali Auyang Pek-ho tak menduga Ki Hiau-hong bisa mendadak menyelinap keluar dari sinar pedang dan menyerang padanya.
Dalam sibuknya cepat ia menggeliat dan membungkuk untuk menghindar, kemudian ia balas menghantam juga.
Sekali serangan tidak kena, segera Ki Hiau-hong sudah mundur kembali, serunya dengan tertawa.
"Banyak terima kasih pada suguhanmu, engkau tidak perlu balas menghormat segala."
Orang menghindarkan serangan dengan membungkuk diolok-olok sebagai balas memberi hormat, keruan setengah mati gemas Auyang Pek-ho.
Auyang-jinio yang kehilangan Leng-ci menjadi menyesal dan gusar.
Ia sedang menunggu kesempatan untuk melabrak si pencuri sakti itu, tiba-tiba ia merasa kakinya tersandung sesuatu benda, waktu ia periksa, kiranya adalah kain sutera penutup jubah pengantin laki-laki yang jatuh tadi.
Tanpa pikir ia terus jemput kain sutera itu, ia kebas kain itu hingga mirip seutas tali, ujung yang satu ia sabetkan ke arah Ki Hiau-hong, ujung lain ia sabetkan ke arah Kang Hay-thian.
"Hai, hai, kau salah mata!"
Teriak Hiau-hong menggoda.
"Aku toh bukan pengantin prianya, kenapa engkau hendak memasang kain merah itu padaku."
Berbareng ia terus menyusur kian kemari menurut tarian selendang sutera orang, sudah beberapa kali Auyang-jinio mengganti serangan, tapi tetap tak dapat menyenggol lawan.
Sebaliknya Kang Hay-thian memegang Pokiam, bila selendang sutera orang menyabet tiba, kontan ia papas dengan pedangnya.
Di luar dugaan kain merah itu ternyata sangat enteng hingga tidak dapat dipapas, sebaliknya pedangnya malah tergubat.
"Lepas tangan!"
Bentak Auyang-jinio mendadak, berbareng ia menarik sekuatnya untuk merampas pedang orang.
Untunglah tenaga dalam yang timbul dari Thian-mo-kay-tetay-hoat di dalam tubuh Kang Hay-thian belum lagi hilang seluruhnya, dibandingkan Lwekang Auyang-jinio ia masih jauh lebih kuat.
Maka sekali wanita itu mengerahkan tenaga, selendang sutera itu menjadi kaku, seketika kena dipapas pedang pusaka Cay-in-pokiam hingga putus sebagian.
Dan dengan cepat luar biasa, pada saat hampir berbarengan, dari sebelah sana Bun Ting-bik sudah lantas menghantam juga.
Terpaksa Hay-thian mesti mengadu tangan pula dengan lawan tangguh itu.
"Plak", Kang Hay-thian tergentak mundur tiga tindak, dan selagi Bun Ting-bik bermaksud mendesak lebih jauh untuk menambahi serangan yang lain, tahu-tahu pedang pusaka Kang Hay-thian sudah terlepas dari gubatan kain sutera tadi, dengan tipu 'Heng-intoan-hong' atau awan mengapung memutus puncak, senjata itu sudah menahan rangsekan Bun Ting-bik. Diam-diam Auyang-jinio gegetun, serangan Bun Ting-bik yang lain urung dilontarkan. Tapi sesudah dapat menjajal tenaga dalam Kang Hay-thian, segera ia pun ganti siasat, ia tidak mengincar senjata lawan lagi, tapi menggunakan tenaga lunak untuk mengatasi kekuatan lawan. Di bawah keroyokan tiga lawan, akhirnya Kang Hay-thian terdesak sampai di suatu sudut, keadaannya agak berbahaya.
"Bocah, sekarang kau takluk tidak? Selain ada lubang di tanah yang dapat kau masuki, punya sayap juga takkan mungkin engkau dapat kabur,"
Ejek Bun Ting-bik.
"Tapi mengingat kau pernah diasuh beberapa lama oleh Kaucu kami, bolehlah aku memberi jalan hidup padamu, asalkan letakkan pedangmu sebagai ganti kerugian Leng-ci milik Auyang-jinkeh yang kalian curi itu, lalu kau memberi hormat dan minta maaf, atau boleh juga aku mintakan ampun bagimu."
Saat itu Ki Hiau-hong terlindung di tengah lingkaran sinar pedang Kang Hay-thian dan sedang memeras otak mencari jalan lari.
Demi mendengar olok-olok Bun Ting-bik itu, tiba-tiba tergerak pikirannya, serunya kepada Hay-thian.
"Hiantit, aku ada akal, kita tak bisa masuk ke tanah, tapi dapat naik ke langit!"
Hay-thian cukup cerdas juga, segera ia paham maksud Ki Hiauhong itu.
Mendadak ia menggertak keras, berbareng pedangnya menyerang ke kanan dan ke kiri hingga Bun Tingbik terdesak mundur, sebab kuatir pemuda itu menjadi nekat dan akan mengadu jiwa setelah kepepet.
Tak tersangka tindakan Kang Hay-thian hanya siasat belaka, begitu Bun Ting-bik terdesak mundur, mendadak ia meloncat ke atas, sekali pedangnya menusuk, tertembuslah atap rumah, menyusul ia hantamkan tangannya hingga lubang atap itu pecah melebar.
Genting hancur dan jatuh bertebaran.
"Celaka, bangsat kecil itu hendak lari!"
Cepat Auyang Pek-ho berseru pada kawan-kawannya.
Namun sudah kasip, Haythian sudah keburu menerobos ke atas.
Segera Auyang-jinio menyabetkan selendang suteranya dengan tujuan menggubat tubuh Ki Hiau-bong yang belum sempat ikut menerobos keluar.
Namun gerakan Ki Hiau-hong sangat gesit, ia ikut di belakang Kang Hay-thian, dengan sendirinya tidak dapat menerobos keluar bersama.
Dan begitu Kang Hay-thian sudah menyusup keluar, segera ia pun menerjang ke atas.
Namun baru setengah badan menongol di atas atap rumah, tahu-tahu kedua kakinya terasa digubat oleh selendang Auyang-jinio.
Keruan Auyang-jinio sangat girang, selagi dia hendak menarik sekuatnya untuk menyeret kembali Ki Hiau-hong, sekonyong-konyong selendang itu berubah menjadi kaku dan sedingin es, satu arus hawa maha dingin merasuk ke dalam tulangnya.
Tentu saja kejut Auyang-jinio lak terkatakan, cepat ia melepaskan selendang sutera itu.
"Hahaha!"
Demikian Ki Hiau-hong terbahak-bahak di luar rumah kain sutera itu apa hendak kau hadiahkan kepadaku untuk lap kaki"
Dan sekejap kemudian suara tertawanya sudah menjauh untuk kemudian lantas lenyap Kiranya Siu-lo-im-sat-kang yang dilatih Ki Hiau-hong sudah mencapai tingkatan ketujuh, dan sudah dapat menyalurkan tenaga serangannya melalui sesuatu benda.
Cuma ilmu dari kalangan hitam itu ingat mengganggu tenaga dalam bila digunakan, maka bila tidak perlu Ki Hiau-hong tidak mau sembarangan mengeluarkan kepandaiannya itu Maka Auyang-jinio telah menggigil kedinginan sejenak, syukur Bun Ting-bik lantas memegang tangannya serta mengelusnya beberapa kali "Apa yang kau perbuat, Bun-jinkeh?"
Teriak Auyang Pek-ho dengan kurang senang melihat kelakuan besannya itu.
Auyang-jinio juga berubah merah mukanya.
Selagi dia hendak mengipatkan tangan orang, tiba-tiba terasa satu arus hawa hangat mengalir dari telapak tangan Bun Ting-bik.
Baru sekarang ia tahu sang besan telah menolong menghilangkan rasa dinginnya dengan tenaga dalamnya yang tinggi.
Dan demi melihat Auyang-jinio sebentar menggigil dan lain saat telah gagah kembali, sebagai seorang ahli silat segera Auyang Pek-ho lantas insaf juga dirinya tadi telah salah paham.
Lekas ia bersama sang ipar menghaturkan terima kasih kepada Bun Ting-bik.
"Kita, jangan ayal lagi, hayo lekas kejar!"
Ujar Ting-bik.
"Ginkang Ki Hiau-hong tiada bandingannya di jagat ini, mungkin susah kita akan mengejarnya,"
Sahut Auyang Pek-ho.
"Jinkeh tidak perlu kuatir, aku tanggung pasti dapat menyusul-nya,-"
Kata Ting-bik dengan tertawa.
Melihat orang berkata dengan penuh keyakinan, meski masih ragu, akhirnya Auyang Pek-ho dan sang ipar ikut memburu keluar.
Dalam pada itu, sekeluarnya dari rumah keluarga Auyang, segera Ki Hiau-hong mengajak lari Kang Hay-thian secepat terbang.
Meski Hay-thian sudah mengeluarkan sepenuh tenaga serta menyusul sekencang mungkin, mula-mula ia masih sanggup bertahan, tapi akhirnya mulai ketinggalan.
Sebentar lagi, lambat-laun ia dapat menyusulnya pula, akhirnya dapatlah berlari sejajar.
Hay-thian mengira sang paman sengaja menunggunya, tapi kemudian ketika mendengar napas Ki Hiau-hong tersengal-sengal hebat, barulah ia tahu keadaan sang paman rada tidak benar.
Sementara itu mereka berlari ke dalam rimba di lereng Cinnia.
"Ki-pepek,"
Kata Hay-thian.
"Mereka tidak mungkin dapat menyusul kita lagi, marilah kita mengaso saja."
Di luar dugaan, baru selesai ia bicara, sekonvong-konyong terdengar suara teriakan Bun Ting-bik.
"Ki Hiau-hong masakah kau mampu lari kemana? Lekaslah berhenti jika kau ingin selamat, tinggalkan sedikit sisa tenagamu, supaya tidak susah sendiri. Ha, masih kau lari terus? Hayo berhenti!"
Kang Hay-thian sampai kaget mendengar suara yang sangat dekat itu, tapi ketika dia celingukan kian kemari, toh tidak nampak sesuatu bayangan orang.
Sebaliknya Ki Hiau-hong malah tertawa geli, katanya kemudian.
"Kau telah tertipu, Hiantit. Dia sengaja menggunakan ilmu mengirim gelombang suara untuk membingungkan pikiran kita. Jangan kau masuk perangkapnya."
Sebenarnya Kang Hay-thian juga pernah mempelajari ilmu mengirimkan suara jarak jauh demikian, cuma dalam keadaan gugup, seketika ia tertipu.
"Dari suaranya itu, jarak mereka dengan kita paling sedikit masih tiga li jauhnya dari sini,"
Ujar Hiau-hong.
"Hiantit, bagaimana maksudmu? Hendak melabrak mereka lagi atau lari terus?"
"Pepek, engkau sendiri terluka bukan?"
Tanya Hay-thian.
"Tidak, hanya terganggu sedikit kelancaran hawa murni lantaran tutukan musuh dari jauh tadi,"
Sahut Hiau-hong.
"Hiantit, untuk lari, akhirnya kuduga akan tersusul juga. Maka biarlah kita labrak mereka mati-matian saja. Aku akan menggunakan Siu-lo-im-sat-kang, biarpun tak dapat merobohkan Bun Ting-bik, paling tidak akan dapat mampuskan Auyang-jinio, begitu pula Auyang Pek-ho sedikitnya juga akan terluka parah. Dengan demikian tidak susah bagimu untuk menangkan Bun Ting-bik dengan pedang pusakamu itu."
Sungguh Hay-thian sangat terharu dan berterima kasih atas keikhlasan sang paman yang sudi mengorbankan diri demi keselamatannya.
"Terima kasih atas maksud baikmu, Kipepek, tapi kita tak dapat berlaku demikian, betapapun aku tak bisa membiarkan paman menerima resiko itu,"
Katanya.
"Habis, apakah kita mesti mandah dibinasakan musuh?"
Ujar Ki Hiau-hong.
"Paling baik kita mencari suatu tempat sembunyi untuk sementara, cukup satu atau setengah jam kita sudah dapat memulihkan semangat dan tenaga,"
Kata Hay-thian.
"Dalam keadaan terburu-buru, kemana harus mencari tempat sembunyi? Jika sembarangan tempat, akhirnya tentu akan ketahuan musuh."
Kang Hay-thian sendiri pun tak berdaya.
Tiba-tiba ia ingat peta pemberian In Ciau, di dalam peta itu katanya terlukis tempat-tempat di wilayah Sepak serta nama-nama tokoh persilatan.
Cepat Hay-thian mengeluarkan peta itu, begitu lihat, tiba-tiba ia berseru heran.
"He, benar juga ada seorang Ih Tay-peng, rupanya Ih Siau-kun tidak mendustai aku. Ih Tay-peng ini tentu benar adalah ayahnya."
"Ih Tay-peng adalah anak murid Siau-lim-pay dari keluarga biasa (bukan paderi), masakah engkau tidak tahu?"
Kata Hiauhong.
"Ada apa tentang dia, kenapa tiba-tiba kau sebut dia?"
"Tentang ini biarlah akan kuceritakan nanti, sekarang kita lekas pergi mencari Ih Tay-peng, ia tinggal tak jauh dari sini,"
Kata Hay-thian.
"He, jadi Ih Tay-peng tinggal di pegunungan ini? Terletak dimana?"
Tanya Hiau-hong cepat.
"Di tepi Bin-khim-kan di puncak Sin-li-hong,"
Sahut Haythian sesudah memeriksa peta.
"Darimana kita tahu dia mau menerima kita?"
Hian-hong menjadi ragu-ragu.
"Aku membawa Kim-say-leng milik In Ciau,"
Kata Hay-thian. Tapi Ki Hiau-hong masih ragu-ragu. Akhirnya katanya dengan tersenyum getir.
"Baiklah, keadaan terpaksa, apa boleh buat!"
Dari nada ucapan itu Kang Hay-thian merasa sang paman seakan-akan tidak suka bertemu dengan Ih Tay-peng, tapi ia pun tidak sempat bertanya lagi.
Tiba-tiba dilihatnya Ki Hiauhong melompat ke depan, kedua tangannya terpentang menyampuk daun pepohonan yang rindang, maka berhamburanlah hujan daun kering.
"Ki-pepek, salah jalan engkau, bukan jurusan sana!"
Buruburu Hay-thian mengingatkan. Sejenak kemudian, tahu-tahu Ki Hiau-hong sudah memutar balik, katanya dengan tertawa.
"Daerah Cin-nia sini aku sudah menjelajahi beberapa kali, tanpa melihat peta juga aku dapat membawa kau ke Bin-khim-kan sana. Perbuatanku tadi hanya untuk menyesatkan musuh saja."
Dan baru sekarang Kang Hay-thian paham, ia pikir sang paman benar-benar seorang Kangouw ulung, cerdik dan cekatan, hal ini dirinya masih perlu belajar banyak.
"Marilah kita berangkat, gunakanlah Ginkang 'Tah-swat-buhin' (menginjak salju tanpa bekas), supaya tidak meninggalkan jejak bagi musuh,"
Ujar Hiau-hong.
Begitulah segera Kang Hay-thian mengikut di belakang Ki Hiau-hong dengan cepat, tiada setengah jam, tibalah mereka di tepi Bin-khim-kan atau empang harpa berbunyi.
Kiranya adalah sebuah air terjun, air yang menggerujuk dari atas karang menghambur ke tengah empang hingga menimbulkan suara nyaring mirip bunyi piano, makanya diberi nama Bin-khim-kan.
Ketika Ki Hiau-hong memandang sekeliling situ, ia tidak melihat sesuatu rumah penduduk.
"Itu dia, di atas karang sana memang ada lima pohon Siong,"
Seru Hay-thian sambil menunjuk ke atas.
Segera mereka menggunakan Ginkang untuk merayap ke atas karang, namun begitu, baju mereka juga banyak terciprat butiran air terjun.
Setiba di atas karang, kata Ki Hiau-hong dengan tertawa.
"Sampailah sekarang, tidak sia-sia jerih-payah kita."
Maka tertampak di antara kelima pohon Siong yang rindang itu menongol sebagian tembok rumah, nyata di situlah kediaman orang yang dicari.
"Untung In-cengcu telah memberi catatan secara jelas di dalam petanya, kalau tidak, tentu susah untuk mencari tempat demikian ini,"
Kata Hay-thian.
"Kita justru perlu suatu tempat yang susah dicari seperti ini,"
Ujar Hiau-hong, segera ia pun mendekati rumah di tengah pohon-pohon Siong itu.
Tengah Hay-thian bersangsi apakah nanti harus memberitahukan tentang kematian Ih Siau-kun atau tidak, sementara itu Ki Hiau-Hong sudah berjalan sampai di depan rumah.
Tiba-tiba ia merandek dan membisiki Hay-thian.
"Di dalam rumah ada orang!"
"Orang macam apa?"
Tanya Hay-thian.
"Seorang wanita,"
Sahut Hiau-hong.
"Padahal kawan hidup Ih Tay-peng sudah lama meninggal, aku cuma tahu dia mempunyai dua putra dan tiada putri, darimana datangnya seorang wanita?"
Sebagai pencuri sakti, dalam hal ketajaman indera pendengaran dan penglihatan sudah tentu Ki Hiau-hong jauh lebih lihai daripada orang biasa.
Maka sebelum Kang Hay-thian mengetahui, lebih dulu ia sudah mendengar.
Segera Kang Hay-thian mengetok pintu.
Sayup-sayup Ki Hiau-hong mendengar lagi suara seorang tua berbisik di dalam rumah dengan nada gugup.
"Lekas sembunyi, lekas!"
Dan selagi Hiau-hong merasa heran, tiba-tiba daun pintu sudah dibuka. Dari dalam muncul seorang tua dengan air muka terkesiap, segera orang tua itu membentak Kang Haythian.
"Siapa kau? Ada keperluan apa datang ke sini?"
"Lau Ih, masih kenal padaku tidak?"
Mendadak Hiau-hong tampil ke muka dengan tertawa. Orang tua itu memang benar Ih Tay-peng, ia terkejut.
"Bagus, Ki Hiau-hong, berani kau datang kemari!"
Bentaknya dengan gusar. Sudah banyak engkau membikin susah padaku dulu, sekarang hendak menggerayangi rumahku lagi, ya?"
Dan tanpa bertanya lebih jauh terus saja ia menghantam dengan Tiat-sah-ciang (pukulan pasir besi) yang lihai dari Siau-lim-pay.
Sudah tentu Ki Hiau-hong tidak mudah terkena serangan, sedikit menggeser, dengan enteng ia sudah menghindarkan serangan itu.
Katanya dengan tertawa.
"Lau Ih, kedatanganku ini bukan untuk menjadi maling lagi. Coba pikir, bila aku hendak mencuri barangmu, buat apa aku mesti permisi dari pintu depan?"
Benar juga pikir Ih Tay-peng. Tapi ia masih was-was menghadapi Ki Hiau-hong yang banyak tipu akalnya itu, dengan masih marah-marah ia melotot pada Hiau-hong.
"Lau Ih, mungkin sudah lama engkau tidak tilik ke Siau-limsi,"
Kata Hiau-hong kemudian.
"Tentang kedua
Jilid kitab pusaka kuil kalian yang kupinjam itu sudah lama kukembalikan kepada Tay-pi Siansu.
Untuk urusan itu malahan Kim-tayhiap sengaja berkunjung ke kuil kalian untuk memintakan maaf bagiku, syukur ketua kalian, Thong-sian Siangjin telah memaafkan perbuatanku itu karena kitab pusaka juga sudah pulang kandang.
Nah, Lau Ih, engkau sendiri selalu mengurung diri di dalam rumah, kenapa sampai sekarang masih memandang aku sebagai musuh?"
Kiranya dahulu waktu Ki Hiau-hong mencuri kilab di Siau-lim si, tatkala itu Ih Tay-peng baru tamat belajar dan sedang menjalankan tugas 'wajib bhakti', yaitu menurut aturan Siaulim-si setiap murid dari keluarga biasa (bukan paderi) yang tamat belajar, harus menjalankan tugas kerja kasar selama tiga tahun di dalam kuil.
Waktu itu Ih Tay-peng malahan adalah satu di antara ke-12 penjaga ruang perpustakaan yang digerayangi Ki Hiau-hong.
Untuk itu ia telah menerima hukuman juga dari ketua Siau-lim-si berhubung kitab pusaka dicuri orang.
Makanya demi bertemu dengan Ki Hiau-hong, ia lantas marah-marah dan menganggap Ki Hiau-hong telah membikin susah padanya.
Begitulah, meski sudah ada penjelasan dari Ki Hiau-hong, namun Ih Tay-peng masih ragu-ragu.
"Andaikan kau tidak percaya padaku, rasanya terhadap seorang lain lagi engkau tentu dapat mempercayainya?"
Ujar Hiau-hong dengan tertawa.
"In-cengcu, In Ciau dari Cui-inhiang itu adalah sobat baikmu, bukan?"
"Apa maksudmu?"
Tanya Tay-peng sesudah tertegun sejenak. Sebelum Ki Hiau-hong menyahut. Kang Hay-thian lantas maju memberi hormat, katanya.
"Ini adalah Kim-say-leng tanda pengenal In-locianpwe, silakan Ih-pepek periksa. In-Iocianpwe memberikan tanda pengenal ini kepadaku untuk menemui Ih-pepek."
"Siapakah kau?"
Tanya Tay-peng terkejut.
"Kenapa In Ciau percaya dan menyerahkan Kim-say-leng padamu?"
"Nama dan asal-usul Wanpwe mungkin putramu sudah pernah mengatakan kepada Ih-pepek, Wanpwe adalah..."
"Ah, kiranya engkau inilah putra Kang Lam dan murid Kim Si-ih, ksatria muda yang bernama Kang Hay-thian?"
Demikian Tay-peng menegas. Kang Hay-thian hanya mengiakan saja. Lalu Ih Tay-peng merenung sejenak, katanya kemudian.
"Sayang putraku tiada di rumah .... Eh, kau mengaku sebagai Kang Hay-thian, apa buktinya?"
Rupanya ia menjadi sangsi lagi, biarpun Kim-say-leng milik In Ciau itu memang tulen, tapi siapa berani menjamin bahwa barang itu bukan curian Ki Hiau hong?
Sudah tentu Kang Hay-thian melengak oleh pertanyaan itu, cara bagaimana ia harus memberikan bukti pengenal diri?
Dengan sendirinya di zaman dulu tiada kartu penduduk segala.
Mendadak Ki Hiau-hong melolos Cay-in-pokiam yang tergantung di pinggang Kang Hay-thian.
Dalam kagetnya sampai Ih Tay-peng melompat mundur.
Tapi Ki Hiau-hong sudah lantas berkata.
"Lau Ih, pertemuan di Jian-ciang-peng di atas Ko-san dahulu engkau juga ikut hadir, tentu kau masih kenal pedang pusaka milik Kim-tayhiap ini, bukan?"
Dan ketika ia tebaskan pedang itu ke atas batu, kontan batu itu terbelah menjadi dua bagai memotong tahu. Lalu sambungnya pula.
"Nah, katakanlah bila dia bukan ahli waris Kim-tayhiap, masakah pedang pusaka Cay-in-pokiam ini berada padanya?"
Tay-peng pikir Ki Hiau-hong mungkin masih berani mencuri Kim-say-leng milik In Ciau, tapi pedang pusaka Kim Si-ih biarpun dia sudah menelan hati singa atau empedu harimau juga tidak nanti berani menggerayanginya.
Dalam pada itu Hay-thian juga teringat suatu benda lain lagi, cepat ia unjukkan peta yang diterima dari In Ciau, katanya.
"Silakan Ih-pepek periksa peta ini, malahan nama Ihpepek juga dicatat di sini oleh In-Iocianpwe."
Tay-peng kenal tulisan tangan In Ciau, bukti Kim-say-leng ditambah peta plus pedang pusaka, kesemuanya ini sudah cukup membuktikan siapa diri Kang Hay-thian yang sebenarnya.
Maka tanpa ragu-ragu lagi Tay-peng berkata.
"Maaf, Kangsiauhiap, soalnya karena ..."
"Karena melihat aku si maling ini berada di sini, bukan?"
Sela Hiau-hong dengan tertawa. Karena tepat kena dikatai, Tay-peng menjadi kikuk, katanya kemudian.
"Ki Hiau-hong, hari ini engkau telah membonceng Kang-siauhiap, terpaksa aku mesti percaya padamu. Marilah silakan masuk semua."
"Dan sekali sudah menjadi kawan, kau tidak perlu kuatir lagi kalau aku akan mencuri barangmu?"
Kata Hiau-hong dengan tertawa. Dan begitu masuk ke dalam rumah, segera ia membuka suara lagi.
"Kita tidak perlu main sungkan lagi, aku masih perlu pinjam sebuah kamarmu yang sunyi untuk menenangkan diri."
Baru sekarang Ih Tay-peng dapat melihat air muka maling sakti itu agak kurang benar, itulah tanda kehilangan tenaga dalam terlalu banyak sesudah mengalami pertarungan sengit.
Kembali ia menjadi curiga lagi.
"Biarlah sebentar dijelaskan Kang-siauhiap saja, aku sudah tidak dapat menunggu lama-lama lagi,"
Ujar Hiau-hong ketika melihat tuan rumah ragu-ragu.
"Baiklah, jika demikian boleh Ki-siansing mengaso di kamar bacaku,"
Sahut Tay-peng.
"Eh, di sebelah sana kamar bacaku!"
Kata-kata terakhir itu diserukan ketika dilihatnya Hiau-hong lagi celingukan dan longak-Iongok ke kamar sebelah.
Oleh karena tidak tahu sebab-musababnya, diam-diam Kang Hay-thian merasa risih, pikirnya.
"Dasar maling, watak Ki-pepek ini memang susah diubah. Berada di rumah orang masakah bersikap seperti di pasar saja. Kalau di dalam kamar sana ada tinggal keluarga tuan rumah kan merikuhkan."
Sudah tentu ia tidak tahu bahwa Ki Hiau-hong justru telah mengetahui di dalam kamar yang diincarnya itu ada orang bersembunyi.
Sebagai seorang Kangouw ulung, segera ia dapat mengetahui dari suara napas orang yang bersembunyi itu pasti seorang persilatan pula.
Dan yang paling kebat-kebit dengan sendirinya adalah Ih Tay-peng, diam-diam ia pikir.
"Maling ini benar-benar cerdik, jangan-jangan dia sudah tahu rahasiaku?"
Tapi mengingat datangnya Kang Hay-thian toh tiada maksud jahat, ia menjadi ragu-ragu apakah mesti memberitahukan rahasianya itu atau tidak?
Sesudah mengantar Ki Hiau-hong ke dalam kamar bacanya, dengan penuh ragu-ragu Ih Tay-peng lantas bertanya pada Hay-thian.
"Kang-siauhiap, sebenarnya ada keperluan apakah kedatangan kalian ini? Kenapa Ki-siansing perlu memulihkan tenaga untuk merawat diri?"
"Waktu In-cengcu memberikan Kim-say-leng kepadaku, beliau telah berpesan bila ada kesulitan mendadak bolehlah minta bantuan kepada Ih-pepek, maka dari itu secara sembrono aku datang kemari,"
Sahut Hay-thian. Tay-peng terkesiap, tanyanya.
"Kalian menemui kesulitan apa?"
"Aku telah bertemu dengan putramu,"
Sahut Hay-thian.
"Ya, betul, anakku juga pernah mengatakan padaku."
"Tapi maksudku bukan pertemuan di Hian-im-kok tempat gurunya itu, tapi hari ini aku telah ketemu dia lagi."
Hati Tay-peng tergetar "Apa katamu? Hari ini kau bertemu dengan dia? Dimana?"
Tanyanya cepat. Dan belum lagi Hay-thian menjawab, sekonyong-konyong dari kamar sebelah yang diincar Ki Hiau-hong tadi telah berlari keluar seorang wanita muda sambil berseru.
"Kang-siangkong, ternyata benar engkau adanya! Kenapa engkau juga datang ke sini?"
Kejut Kang Hay-thian tak terkatakan demi melihat gadis itu tak lain tak bukan adalah Auyang Wan.
Bukankah nona itu tadi sedang menjalankan upacara nikah, kenapa tahu-tahu sekarang sudah berada di rumah Ih Tay-peng?
"Eh, kenapa engkau terlongong?"
Tegur Auyang Wan dengan tertawa.
"Ai, tentu engkau masih marah padaku karena aku telah mencuri kantong obat Gihumu itu bukan? Biarlah kukatakan terus terang sekarang. Orang yang mencuri kantong obat serta mengiringi Yap-kongcu merecoki rumah In Ciau itu bukanlah diriku, tapi adalah Enciku. Orang yang kemudian mengantar obat penawar itulah diriku yang sebenarnya."
Baru sekarang pertanyaan-pertanyaan yang sudah sekian lamanya itu terjawab, namun rasa sangsi Hay-thian masih belum lenyap, tanpa pikir ia lantas bertanya.
"Baiklah! Peristiwa-peristiwa itu dapat kuketahui sekarang. Tapi tadi pengantin wanita yang kulihat itu apakah juga bukan engkau?"
Auyang Wan melengak sekejap.
"Jadi... jadi engkau telah pergi ke rumahku?"
Tanyanya kemudian dengan rasa manisnya madu.
Ia pikir pemuda itu ternyata masih ingat padanya hingga rela menghadapi bahaya melabrak kedua orang tuanya dengan datang ke rumahnya Maka jawabnya dengan tertawa.
"Pengantin wanita itu adalah Taciku Wajah kami memang sangat mirip, pula pengantin mesti memakai kerudung, pantas engkau salah mengenali orang."
"Aneh juga, habis Suhengmu itu ..."
Demikian Hay-thian menjadi heran, jika Auyang Wan melarikan diri ke rumah keluarga Ih, kenapa sebaliknya Ih Siau-kun malah mencarinya ke rumah Auyang Wan dan telah menyerang si pengantin lakilaki serta mengira pengantin wanita itu benar-benar adalah Auyang Wan.
Tapi Auyang Wan rupanya salah paham, sahutnya.
"Kenapa mesti heran? Aku tidak sudi kawin dengan orang she Bun itu dan melarikan diri ke rumah Ih-suheng. Kami adalah putraputri Kangouw masakah memakai peraturan kuno dan pantangan apa segala?"
Hay-thian tahu gadis itu telah salah wesel, tapi ia tidak pandai bicara, terpaksa ia cuma menunduk saja dengan muka merah.
"Di antara saudara-saudara seperguruan kami,"
Auyang Wan menyambung lagi.
"hanya Ih-suheng saja paling jujur orangnya. Dia pernah menganjurkan aku jangan mau dinikahkan dengan orang she Bun itu. Padahal biarpun orang she Bun betapa baiknya juga aku tidak sudi. Adapun sebabnya, tanpa kukatakan juga engkau tentu sudah tahu."
Hati Hay-thian berdebar, ia kuatir gadis itu makin berteletele bicaranya, cepat ia bertanya.
"Sebelumnya apakah engkau belum bertemu Suhengmu lagi?"
"Baru semalam aku melarikan diri dan minta Enci memalsukan diriku, darimana aku sempat bertemu dengan Suheng?"
"Kalian sudah tahu orang she Bun itu bukan manusia baikbaik, kenapa Encimu mau menggantikan kau?"
Tanya Haythian.
"Tentang itu, ai, aku tidak dapat menceritakan terus terang padamu,"
Sahut si gadis.
"Pendek kata Enciku sedang patah hati, sifatnya berbeda pula daripadaku. Pertama, demi kebaikan diriku, kedua, setelah patah hati, ia sengaja hendak menikah kepada siapa pun juga. Kata Enci, biarpun orang she Bun itu bukan manusia baik-baik, tapi ilmu silatnya sebenarnya boleh juga."
Sebenarnya Hay-thian hendak menceritakan kejadian tentang Ih Siau-kun, tapi kuatir Ih Tay-peng berduka, maka ia menjadi ragu-ragu. Sebaliknya Auyang Wan lantas berkata pula.
"Kukira lewat besok, urusanku tentu takkan menjadi soal lagi. Sayang Ih-suheng tidak berada di rumah, entah pergi kemana.'"
"Eh, benar, tadi Kang-siauhiap bilang telah bertemu dengan putraku itu, dimanakah kalian bertemu?"
Tanya Tay-peng tibatiba. Sekarang terpaksa Hay-thian mesti memberitahu.
"Kami bertemu di tengah jalan, tapi Ih-heng lantas mengundang aku menghadiri pernikahan nona Auyang."
"Aneh, padahal Ih-suheng sendiri menganjurkan aku jangan menikah dengan orang she Bun itu, kenapa dia sudi hadir dalam upacara?"
Ujar Auyang Wan agak heran. Berbareng ia pun kecewa sebab diketahui kedatangan Kang Hay-thian ke rumahnya bukan atas kemauan sendiri, tapi adalah ajakan Ih Siau-kun.
"Siau-kun benar-benar sembrono, sejak pagi sudah pergi tanpa memberitahu tempat tujuannya, dan begitu dia berangkat, tidak lama nona Auyang lantas datang,"
Tay-peng ikut berkata dengan mengerut kening. Segera Kang Hay-thian menceritakan pengalamannya waktu bertemu dengan Ih Siau-kun di tengah jalan, lalu bertanya.
"Apakah Ih-pepek benar telah bertemu dengan ayahku?"
"Tidak, aku tidak tahu kenapa anak itu mendustai engkau,"
Sahut Tay-peng menggeleng kepala.
"Memang, dahulu pernah beberapa kali kulihat ayahmu, cuma sejak pertarungan di Jianciang-peng, kemudian tidak pernah bertemu lagi."
"Sama sekali Ih-pepek tidak tahu kabar berita ayahku?"
Hay-thian bertanya. Ih Tay-peng berpikir sejenak, lalu jawabnya.
"Teringatlah aku sekarang. Tahun yang lalu ada seorang sobat datang dari Jinghay dan mengatakan pernah bertemu dengan ayahmu dalam istana Orsim dari raja agama Lama Putih, tatkala itu ayahmu sedang bertamu di dalam istana raja agama itu. Sobatku itu hanya membawakan bahan-bahan obat untuk Kau-ong (raja agama), ia bukan tamu agung segala. Eh, ya, lalu bagaimana Kang-siauhiap? Sesudah kalian menghadiri perayaan pernikahan itu, lantas terjadi apa lagi?"
Diam-diam Kang Hay-thian merasa serba salah, sejak tadi ia sengaja mengulur-ulur dengan tujuan tidak hendak mengatakan berita kematian Ih Siau-kun.
Tapi kini tak bisa ditutupi lagi rahasia itu, terpaksa ia berkata dengan samarsamar.
"Sesudah kami sampai di rumah nona Auyang, ketika itu nona Auyang, eh ... tidak, Enci nona Auyang sedang melakukan upacara pernikahan, mendadak Ih-toako menimpukkan Liat-yam-tan (granat berapi) hingga pengantin laki-laki terluka parah!"
Memangnya Ih Tay-peng sedang berkuatir bagi putranya, keruan ia menjadi kaget mendengar kejadian itu, serunya.
"Ha, binatang itu benar-benar telah membikin onar, pantas dia meninggalkan surat seperti itu untukku!"
"O, Ih-suheng meninggalkan surat di rumah?"
Auyang Wan menegas.
"Ah, pantas, makanya waktu aku datang, Ih-pepek tampak muram, kiranya disebabkan..."
"Ya, dalam surat itu ia minta aku segera pergi ke kotaraja untuk mencari Tin-wan Piaukiok. Kiranya dia sudah merencanakan hendak membikin onar,"
Tutur Tay-peng.
"Tin-wan Piaukiok? Bukankah Piaukiok yang diusahakan Tiat-wan-yang?"
Tanya Hay-thian.
"Benar, putraku yang lain menjadi Piausu pada perusahaan itu, aku pun sudah berpuluh tahun bersahabat dengan suamiistri Tiat-wan-yang,"
Sahut Tay-peng.
Tapi rupanya ia belum tahu bahwa Piaukiok itu sudah lama bangkrut.
Dan baru sekarang juga Kang Hay-thian teringat sesudah Ih Siau-kun melukai pengantin laki-laki, tidak mungkin Auyangjinio mau menyudahi peristiwa itu, tentu ayah Siau-kun yang akan dimintai pertanggungan jawab.
Lambat atau cepat tentu akan datang membikin perhitungan dengan Ih Tay-peng.
Maka cepat katanya.
"Jika demikian, urusan sudah mendesak, kita harus lekas menyingkir. Ai, aku belum lahu apakah tenaga Ki-pepek sudah pulih kembali atau belum, biarlah kupergi melihatnya!"
"Nanti dulu, Kang-siauhiap, tentang anakku itu sebenarnya bagaimana jadinya kemudian? Harap engkau menjelaskan dahulu?"
Tanya Tay-peng pula dengan tak sabar.
"Kemudian ... kemudian ... ai, ceritanya terlalu panjang, biarlah kita lari lebih dulu,"
Sahut Hay-thian dengan gelagapan.
"Cukup engkau mengatakan saru kalimat saja, mati atau hidup?"
Tanya Tay-peng dengan suara gemetar.
"Dia ... dia ... telah ...."
Belum lagi kata-kata "mati"
Diucapkan Keng Hay-thian, sekonyong-konyong terdengarlah suara anjing menggonggong beberapa kali.
Selagi Tay-peng dan Hay-thian merasa darimana datangnya anjing itu, tiba-tiba terdengar seruan Bun Ting-bik.
"Tentu Ki Hiau-hong dan bangsat kecil she Kang itu berada di sekitar sini. Eh, toh di sini tiada tempat sembunyi apa-apa?"
Kiranya Auyang Pek-ho memelihara dua ekor anjing pemburu yang sangat bagus jenis negeri Turfan, dengan bantuan anjing-anjing itu, akhirnya mereka dapat menyusul jejak Kang Hay-thian dan Ki Hiau-hong sehingga sampai di air terjun itu.
Karena terhalang tebing air terjun yang tinggi, lalu kedua ekor anjing itu menggonggong tiada hentinya.
"Ah benar, di atas situ ada rumah tinggal orang, yaitu kediaman Ih Tay-peng,"
Kata Auyang-jinio.
"Ih Tey-peng siapa?"
Tanya Bun Ting-bik.
"Yaitu ayah dari bangsat kecil yang melukai keponakanmu tadi,"
Sahut Jinio.
"Hm, pasti sebelumnya mereka sudah bersekongkol, dan kini mereka tentu bersembunyi di rumah orang she Ih itu. Hayolah kita mencari ke sana, aku tahu jalannya."
Diam-diam Tay-peng menjadi kuatir, bisiknya kepada Haythian.
"Lekas kalian bersembunyi dulu, biarlah aku yang melayani mereka, kalau dapat dibohongi adalah lebih baik, kalau tak bisa dan sudah terpaksa, bolehlah nanti Kangsiauhiap keluar untuk membantu."
Datangnya Bun Ting-bik dan lain-lain juga sangat cepat, hanya sebentar saja sudah terdengar suara "blang"
Yang keras, daun pintu telah didobrak orang dari luar hingga terpentang. Dengan marah-marah Auyang-jinio tampak mendahului menerjang masuk terus membentak Ih Tay-peng.
"Putramu main gila di rumahku, kau tahu tidak?"
Namun Auyang Pek-ho keburu mencegah sang ipar, lalu katanya.
"Lau Ih, paling tidak kita terhitung kenalan lama. Tentang putramu itu biarlah sementara ini aku takkan mengusutnya. Aku cuma ingin bertanya, Ki Hiau-hong tentu kau kenal, masih ada pula saru bocah she Kang, mereka berdua bersembunyi di rumahmu atau tidak, lekas kau serahkan mereka dan urusan putramu mungkin dapat kuampuni."
"Auyang-lotoa,"
Seru Ih Tay-peng dengan mata berapi-api.
"putraku itu bagaimana? lekas kau pulangkan dia dan aku bersedia minta maaf padamu."
"Hm, putramu sudah membikin onar sebesar itu, masih kau mengharapkan pulangnya dengan hidup?"
Jengek Auyangjinio.
"Apa katamu?"
Teriak Tay-peng mendadak dengan mata mendelik dan berjingkrak gusar.
"Jadi kalian telah membunuhnya?"
"Jika sudah kubunuh, lantas mau apa?"
Jengek Auyangjinio.
Saking gemasnya karena Siau-kun telah mengacaukan pernikahan putrinya, maka nyonya itu sengaja hendak melampiaskan rasa dongkolnya terhadap Ih Tay-peng meski kematian Ih Siau-kun sebenarnya membunuh diri.
"Perempuan bejat, biarlah aku mengadu jiwa denganmu!"
Bentak Tay-peng dengan murka. Terus saja ia menghantam. Sebagai murid Siau-lim-pay, dengan sendirinya ilmu pukulannya sangat hebat.
"Huh, betapa tinggi harga jiwamu, hingga mesti disayangkan pula,"
Ejek Jinio.
Ia yakin kepandaian sendiri masih di atas Ih Tay-peng, maka ia tidak memandang sebelah mata kepada lawan.
Tak terduga pukulan Tay-peng telah menggunakan antero tenaga yang ada padanya, tenaga tangkisan Auyang-jinio ternyata tidak cukup untuk menahannya hingga nyonya itu tergentak terjungkal oleh tenaga maha hebat Ih Tay-peng itu.
"Buat apa kita bicara persahabatan segala dengan dia,"
Ujar Bun Ting-bik dengan tak sabar.
"Mampuskan dia saja dan kita sendiri segera menggeledah rumahnya."
"Jika demikian, silakan Jin-keh bereskan dia saja,"
Ujar Auyang pek-ho. Tanpa bicara lagi Bun Ting-bik terus melangkah maju, dengan Iwekang maha sakti 'Sam-siang-kui-goan', ia lantas memukul. Maka terdengarlah "blak"
Sekali, telapak tangan beradu dengan kepalan.
Ih Tay-peng tak kuat berdiri lagi, ia terhuyung-huyung sampai belasan kali bagai pelita tertiup angin.
Namun betapapun serangan Bun Ting-bik itu ternyata belum dapat membinasakannya dengan segera.
"Ih-locat, rasakan pula kelihaianku!"
Bentak Auyang-jinio. Pada kesempatan lawan sedang sempoyongan, ia terus menubruk maju, sekali pegang lengan lawannya.
"krak", secepat kilat lengan Ih Tay-peng dipuntirnya hingga terlepas dari ruasnya. Dan tampaknya jiwa Tay-peng pasti akan melayang dengan segera, mendadak terdengar jeritan Auyang Wan sambil berlari keluar.
"Berhenti dulu, bu, kalau tidak, biar kumati di hadapanmu!"
Ternyata rambut gadis itu kusut masai, air mata berlinang-linang dan tangannya memegang sebilah belati yang mengancam hulu hati sendiri.
Keruan yang paling heran dan terkejut adalah Bun Ting-bik.
Ia bersuara heran sekali, dengan membelalak ia pandang Auyang Wan, lalu memandang pula Auyang-jinio.
Sudah tentu Auyang-jinio serba susah dan runyam.
Putri kedua itu yang dipinang oleh keluarga Bun, tapi di luar tahu pihak laki-laki, secara darurat putri kedua itu terpaksa ditukar dengan putri sulung.
Siapa duga upacara gagal setengah jalan, kini putri kedua yang menghilang itu muncul pula di depan sang besan.
Namun putri kedua itu memang paling dicintainya, meski serba susah dan gusar pula, terpaksa ia mesti meninggalkan Ih Tay-peng dulu untuk mendekati sang putri dan mengomelinya.
"Budak goblok, lekas buang belatimu dan kemari memberi hormat kepada Bun-pepek!"
"Kalian keluar dulu dari sini dan segera aku akan ikut kalian pulang,"
Sahut Auyang Wan.
"Sampai di rumah terserahlah kepada keputusanmu, tapi sebelum pulang, belati ini tidak nanti kulepaskan!"
"Che-em, sebenarnya apa-apaan urusan ini?"
Tanya Bun Ting-bik "Ah, sudahlah, anggaplah aku sudah tidak punya anak seperti ini, putri beginipun aku tidak mau lagi, terserahlah kepada kehendakmu,"
Sahut Auyang-jinio dengan gegetun.
"Engkau tidak perlu kuatir, Che-em,"
Ujar Ting-bik.
"Putrimu tetap akan kau bawa pulang, kemudian kita dapat bicara secara baik-baik pula. Cuma terpaksa aku mesti berlaku kurang sopan sedikit!"
Mendengar ucapan orang yang terakhir itu, hati Auyang Wan tergetar, tanpa pikir lagi belati terus ditikamkan ke hulu hati sendiri.
Namun gerakan Bun Ting-bik lebih cepat dari dia, hanya terdengar "crit"
Sekali, pergelangan tangan si gadis serasa tertusuk jarum sekali.
"trang", belati itu jatuh ke lantai, tubuhnya menjadi kaku dan tak berkutik. Nyata telah kena ditutuk oleh Bun Ting-bik dari jauh, walaupun hulu hati Auyang Wan tidak jadi tertikam, tapi dimana belati yang tajam itu menyerempet, lecet juga kulit dagingnya dan mengeluarkan darah. Dengan kuatir, cepat Auyang-jinio memburu maju untuk mendukung sang putri, demi diketahui hanya terluka ringan saja, barulah ia merasa lega. Mendadak Kang Hay-thian juga menerjang keluar sambil membentak.
"Masakah kau sesuai untuk mengaku sebagai ibunya pula?"
Segera pedangnya berputar, sebelah tangan lain terus hendak dipakai menarik Auyang Wan.
Karena jeri pada pedang pusaka orang, terpaksa Auyangjinio meninggalkan putrinya dan melompat mundur.
Sebaliknya Auyang Pek-ho menjadi gusar.
"Bangsat cilik kau berani menyenggol badan keponakan perempuanku?"
Maksud Hay-thian sebenarnya hendak membuka Hiat-to Auyang Wan, tapi karena teguran Auyang Pek-ho itu, ia menjadi malu dan gusar pula.
Dalam pada itu dengan cepat sekali Auyang Pek-ho juga sudah menubruk maju, ia menghantam dan menutuk dengan Pi-Iik-ciang serta Lui-sin-ci sekaligus.
Namun dengan pedang pusakanya Kang Hay-thian dapat menangkis serangan lawan, teriaknya.
"Lekas lari, Ihlopek!"
Namun sekali hantam, pukulan Auyang Pek-ho telah menyampuk pedang Kang Hay-thian ke samping.
Dalam pada itu Auyang-jinio juga sudah melepaskan ikat pinggangnya untuk digunakan sebagai senjata myung lemas buat menggubat pedang lawan.
Tapi sekali menggertak, Hay-thian putar pedangnya dengan kencang laksana selapis jaringan sinar, ia telah mainkan 'Tui-hong-kiam-hoat' (ilmu pedang pengejar angin) dari Thian-san-pay yang lihai.
"Bret", tahutahu ikat pinggang .utera Auyang-jinio terpapas putus sebagian, cepat Auyang-jinio dan Auyang Pek-ho menyingkir mundur.
"Bocah keparat, rasakan pukulanku!"
Jengek Bun Ting-bik, mendadak ia menggeser ke belakang Kang Hay-thian terus menghantam.
Betapapun tinggi kepandaian Kang Hay-thian sebenarnya juga sama kuat dengan Auyang Pek-ho, belum lagi dia mesti dikerubut Auyang-jinio.
Sebabnya dia dapat bertahan, sebagian besar adalah berkat pedang pusakanya yang lihai.
Tapi kini ditambah pengeroyok ketiga yang terus menyerangnya dari belakang, jika dia menangkis, tentu akan memberi kesempatan kepada Auyang Pek-ho untuk menyerang.
Dalam kedudukan digencet dari tiga jurusan, kedudukan Kang Hay-thian benar-benar sangat berbahaya.
Ia tak dapat berpikir panjang lagi, terpaksa ia mesti menerima resiko kena tutukan Lui-sin-ci dari Auyang Pek-ho, dengan cepat ia putar tubuh untuk menangkis hantaman Bun Ting-bik.
Di luar dugaan mendadak terdengar Ih Tay-peng menggerung sekali.
"Kalian telah membunuh putraku, maka aku pun tidak ingin hidup lagi,"
Bentaknya sambil menubruk ke arah Bun Ting-bik.
Sama sekali Ting-bik tidak menduga akan tindakan Ih Taypeng itu, terpaksa ia tarik kembali pukulannya pada Kang Haythian untuk membela diri.
Maka terdengarlah "bluk"
Sekali, kedua orang saling tumbuk, pukulan Bun Ting-bik yang dikerahkan sepenuh tenaga telah membikin tulang iga dan dada Ih Tay-peng merentas alias patah semua.
Sebaliknya karena tabrakan itu, Bun Ting-bik juga kena diseruduk hingga jatuh terjengkang.
Tanpa ayal lagi Kang Hay-thian putar balik pedangnya terus menusuk ke bawah.
Tapi Bun Ting-bik sempat menggulingkan diri ke samping.
"Blang", daun pintu kamar dimana Ki Hiauhong bersemadi telah jebol, Dan pada saat yang sama Haythian merasa punggungnya juga kena ditutuk sekali oleh Auyang Pek-ho. Untunglah ia memakai jaket pusaka yang kebal senjata hingga tidak sampai terluka. Dalam pada itu Auyang-jinio sudah merangsek maju pula hingga kembali Haythian dikerubut dari dua jurusan, terpaksa ia tidak dapat mencecar Bun Ting-bik yang sudah terguling.
"Kang-siauhiap!"
Tiba-tiba Ih Tay-peng berseru dengan suara parau.
"Maafkan aku tak dapat membantu engkau lagi. Tolong sukalah engkau membawa kabar kepada Siau-lim-si Makin lama makin lemah suaranya hingga kata-kata "agar membalaskan sakit hatiku"
Tidak terang lagi diucapkan. Waktu Hay-thian memandang, ia lihat lantai sudah banjir darah. Ih Tay-peng sudah tak berkutik lagi bermandikan darah.
"Oh, Ih-lopek, aku telah menyusahkan engkau!"
Seru Hay-thian dengan pedih.
Mendadak ia menggerung keras sekali, pedangnya menyabet dan menebas berulang-ulang dengan tipu serangan mematikan, ia mengamuk bagai banteng ketaton.
Semula Auyang Pek-ho dan Auyang-jinio sudah di atas angin, tapi karena kenekatan Kang Hay-thian, mereka menjadi terdesak malah.
Dalam pertarungan mati-matian itu, tiba-tiba "nyes", Auyang-jinio merasa kulit kepalanya menjadi dingin, secomot rambutnya terpapas oleh pedang lawan.
"Blang", mendadak dinding kamar dimana Ki Hiau-hong berada ambrol menjadi satu lubang, tampak Hiau-hong terus menerobos keluar dari lubang itu. Menyusul terdengar Bun Ting-bik berteriak dan ikut mengudak keluar. Baju Hiau-hong tampak compang-camping dan kotor, sebaliknya Bun Ting-bik tampak basah-kuyup, kepala dan mukanya penuh ludah dan riak. Kiranya waktu Bun Ting-bik tanpa sengaja menjebol pintu kamar dan terguling ke dalam tadi, kebetulan Ki Hiau-hong sudah hampir pulih seluruh tenaganya. Tanpa pikir lagi terus saja ia gunakan Yu-sin-pat-kwa-ciang untuk menyerang lawan sambil menghujani Bun Ting-bik dengan air ludah. Cara demikian adalah ajaran Kim Si-ih. Meski air ludah tidak sampai melukai jago silat kelas satu, paling tidak akan memancing kegusaran musuh hingga sudah memusatkan pikiran dan bertempur dengan tenang. Dan bila kedua mata yang kena diludahi, mungkin dapat membuat matanya buta. Tadi karena ditubruk Ih Tay-peng dengan mati-matian hingga terjungkal, maka Bun Ting-bik kena dihujani ludah. Tapi segera ia pun tahu maksud Ki Kiau-hong adalah untuk membikin marah padanya, lalu akan melarikan diri. Dengan menahan hinaan itu, Bun Ting-bik lantas mencegat dulu jalan lari Ki Hiau-hong, lalu ia merangkak bangun sambil menghadapi lawan dengan Pik-khong-ciang dari jauh. Suatu kali ia sedang memaki kalang kabut pada Ki Hiau-hong, tapi baru mulutnya menganga, mendadak sekumur riak kental mencolok di atas jenggotnya. Untung dia cukup cepat mengatupkan kembali mulutnya, kalau tidak, tentu riak itu sudah masuk ke dalam perutnya. Bun Ting-bik menjadi murka, segera ia keluarkan 'Samsiang-kui-joan' yang lihai dan menerjang maju, sekali hantam tampak Ki Hiau-hong yang sudah terdesak sampai di pojok dinding takkan dapat lolos lagi. Siapa duga Ginkang si pencuri sakti itu memang terlalu sakti, tahu-tahu orangnya memberosot ke samping bagai belut licinnya, karena itu pukulan Bun Ting-bik telah menghantam dinding hingga jebol menjadi satu lubang dan segera digunakan sebagai jalan lari malah oleh Ki Hiau-hong. Begitulah maka Kang Hay-thian merasa lega ketika melihat Ki Hiau-hong dalam keadaan tak kurang apa-apa. Sebaliknya Bun Ting-bik agak terkejut demi nampak Auyang Pek-ho dan Auyang-jinio masih tak dapat mengalahkan Kang Hay-thian, bahkan kedua kawan itu terdesak oleh pemuda itu. Maka kedua pihak kembali saling bergabung lagi, Ki Hiauhong membantu Kang Hay-thian dan Bun Ting-bik juga cepat membantu Auyang Pek-ho. Lebih dulu Ki Hiau-hong menjentik sekali ke belakang kepala Auyang-jinio, kuatir kena serangan Siu-lo-im-sat-kang yang lihai, dengan jeri nyonya itu melompat mundur. Kesempatan itu segera digunakan Kang Hay-thian untuk menerjang keluar dan mendekati Auyang Wan pula, segera ia membuka Hiat-to si gadis yang tertutuk.
"Nona Auyang, lekas kau melarikan diri! Orang tua semacam itu lebih baik jangan kau bertemu dengan mereka!"
Demikian seru Hay-thian.
"Kurangajar, kau berani memecah belah ibu dan anak?"
Bentak Auyang-jinio dengan gusar.
Ia menubruk maju terus menghantam.
Tapi sekali Kang Hay-thian putar pedangnya, seketika terjadilah selapis sinar pedang yang rapat untuk menahan majunya Auyang-jinio.
Dari sebelah lain segera Bun Ting-bik memaksa Ki Hiauhong melompat mundur dengan sekali pukulannya, menyusul ia menggeser ke samping, tangan kiri menghantam dari jauh dengan Pik-khong-ciang untuk mengguncang ke samping pedang Kang Hay-thian agar Auyang-jinio sempat menerjang ke depan.
Berbareng jari kanan terus menutuk pula, dengan cara yang sama ia hendak menutuk Hiat-to di tubuh Auyang Wan dari jauh.
---ooo0dw0ooo---
Jilid 9 Namun Kang Hay-thian sudah menduga kemungkinan Itu, belum lagi serangan Bun Tan-bik tiba, lebih dulu ia sudah menggeser kesamping untuk mengaling-aling didepannya Auyang Wan, berbareng jarinya menjentik, iapun keluarkan Itci-sian-kang.
Maka terdengarlah suara mencicit saling benturnya dua tenaga, maka tutukan Bun Ting-bik dari jauh itu kena dipatahkan.
Dalam pada itu mendadak Bun Ting-bik telah menubruk maju.
Segera Hay-thian putar pedangnya secepat angin untuk menahan rangsakan musuh, berbareng iapun berteriak-teriak.
"Nona Auyang, lekas lari, apakah kau ingin ditangkap mereka lagi untuk memaksa kau menikah?"
Mendadak Auyang Wan menangis keras-keras, ia berlari keluar sambil menutupi mukanya.
Karena Auyang-jinio tak dapat menembus jaringan sinar pedang Kang Hay-thian, pula Auyang Pek-ho tertahan oleh Ki Hiau-hong.
terpaksa mereka hanya menyaksikan gadis itu melarikan diri.
Sudah tentu Auyang Pek-ho bertiga semakin murka, mereka bertempur dengan sengit hingga akhirnya Kang Hay-thian berdua terdesak dan terkepung dltengah-tengah pula.
"Ki-pepek, pesan Ih-locianpwe agar memberitahukan kematiannya itu kepada Siau-lim-si, tugas itu terpaksa kubebankan atas diri Ki-pepek saja, Siautit masih banyak tugas lain, terpaksa tak dapat melaksanakan pesan itu,"
Seru Hay-thian tiba-tiba.
Berbareng ia mainkan Tui-hong-kiam-hoat dengan kencang sekali hingga Bun Ting-bik dipantek ditempatnya dan tidak dapat sembarangan menggeser.
Dalam keadaan begtu bila Ki Hiau-hong mau sebenarnya dapat la melarikan diri.
Tapi sekejapan itu ia menjadi raguragu.
Kalau tidak lari, akhirnya mereka berdua mungkin akan mati semua.
Bila melarikan diri, itu berarti mempercepat kematian Kang Hay-thian pula.
Melihat Ki Hiau-hong ragu-ragu, dengan kuatir Kang Haythian berseru padanya.
"Ki-pepek, apakah kau tega menyaksikan kematian Ih-locianpwe secara penasaran dan tidak mau menyampaikan berita dukanya ini seperti apa yang dia pesan?"
Namun Ki Hiau-hong sudah bertekad akan bertempur sampai titik darah penghabisan, teriaknya.
"Pikirkan yang hidup lebih dulu baru urus yang sudah mati! Kang-hiantit, apakah kau lupa hubunganku dengan ayahmu? Masakah aku boleh meninggalkan kau dengan begitu saja, bagaimana aku harus berkata kepada ayahmu kelak?"
Maka bukannya dia lari, sebaliknya ia menerjang ma-ju lagi, sekali jarinya menjentik, kembali ia serang Auyang-jinio pula dengan "Hian-im-ci".
"Bagus, biar aku yang belajar kenal dengan kau punya Siulo-im-sat-kangl"
Seru Anyang Pek-ho dengan gusar.
"Lui-sio-ci"
Yang diyakinkan Auyang Pek-iio itu adalah tenaga murni Yang, jadi kebetulan adalah lawan keras dari "Hian-im-ci"
Yang bertenaga Im. Maka begitu kedua arus tenaga saling beradu, segera terdengarlah suara mencicit disertai kepulan uap putih. Kontan Ki Hiau-hong terdesak mundur dua tindak oleh hawa panas lawan itu.
"Hahaha!"
Auyang Pek-ho terbahak-bahak mengejek.
"Kukira betapa hebatnya Siu-lo-im-sat-kan, siapa tahu hanya sebegitu saja macamnya!"
Belum lenyap suaranya, sekonyong-konyong serangkum angin keras me-nyambar kearahnya dibarengi jengekan Ki Hiau-hong.
"Hm, tua hangka, kau terlalu picik, lihatlah Siu-loim-sat kang yang ingin kau rasakan ini!"
Kiiranya "Hian-im-ci"
Itu hanya suatu bagian daripada Siulo-im-sat-kang, dengan sendirinya daya serangannya tidak selihay pukulan Im-sat-kang yang sudah mencapai tingkatan ketujuh seperti apa yang telah dilatih Ki Hiau-hong itu.
Maka dengan cepat sekali pukulan kedua orang sudah saling bentur.
"blang". Auyang Pek-ho tampak terhuyunghuyung hingga mepet dinding, giginya sampai berkerurukan kedinginan mirip orang sakit demam. Sebaliknya Ki Hiau-hong juga baru saja memulihkan tenaga murninya, kini mesti menggunakan Siu-lo-im-sat-kang yang banyak mengorbankan tenaga murni itu, ia merasa agak payah juga dengan napas tersengal dan mengucurkan keringin dingin. Disebelah sana terang Bun Ting-bik lebih ulet daripada Kang Hay-thian. Maka sesudah Kang Hay-thian melancarkan serangan ranpa hasil, ketika Ting-bik menggunakan lwekang dari "Sam-goan kui-ciang", pedang Kang Hay-thian terguncang miring, kesempatan itu segera digunakan Bun Ting-bik untuk melepaskan diri dari cecaran pedang Hay-thian itu. Dan begitu keluar dari lingkaran pedang pemuda itu, dengan tertawa dingin Bun Ting-bik lantas berkata.
"Ki Hiau-hong, sayang kau punya Siu-lo-im-sat-kang itu baru mencapai tingkatan ketujuh!"
Dengan gemas Ki Hiau-hong menghimpun antero tenaga pada tangannya dengan maksud hendak menyerang pula, namun Kang Hay-thian sudah mencegat didepannya sambil berseru.
"Ki-pepek, tidak perlu engkau banyak mencapekan diri!"
Tapi Bun Ting-bik juga telah menjentik sekali.
"cring", pedang Kang Hay-thian terjentik kesamping. Bahkan Ting-bik terus merangsang maju, tangannya lantas menampar bagai gugur gunung dahsyatnya. Terpaksa Kang Hay-thian memapaknya pula dengan pukulan, begitu kedua tangan beradu, kontan Kang Hay-thian terpental kebelakang hingga berjumpalitan, sebaliknya Bun Ting-bik ju-ga tergetar hingga berputaran bagai gasingan cepatnya. Nyata gebrakan ini telah dimenangkan oleh Bun Yan-bik, ia terbahak-bahak. lalu mendesak maju pula. Sementara itu Auyang Pek-ho dan Ki Hiau-hong juga sudah mulai bergebrak lagi Auyang Pek-ho sudah terluka oleh tenaga Siu-lo-im-sat-kang, sebaliknya keadaan Ki Hiau-hong juga sangat payah, kekuatan kedua orang menjadi seimbang. Dalam pada itu Auyang-jinio juga tidak tinggal diam, ia sudah terlalu benci kepada Kang Hay-thian, segera ia menerjang maju untuk membantu Bun Ting-bik. Melawan seorang Bun Ting-bik saja Kang Hay-thian sudah kewalahan, apalagi sekarang ditambah Auyang-jinio, sudah tentu ia lebih payah Maka tidak terlalu lama, serangan Bun Ting-bik semakin gencar dan akhirnya Kang Hay-thian serta Ki Hiau-hong telah terkurung didalam tenaga pukulannya. Dalam keadaan demikian, biarpun Ki Hiau-hong hendak lari juga tidak dapat lagi. Dalam pertarungan sengit itu terpaksa Kang Hay-thian mesti mengadu pukulan sekali lagi dengan Bun Ting-bik, sekali ini pemuda itu menggunakan "Si-mi-ciang-hoat"
Yang paling bagus diantara ilmu pukulan untuk membela diri, ilmu pukulan yang lemas ini dapat menahan serangan lawan yang lebih kuat.
Maka Bun Ting-bik menjadi kaget ketika Kang Hay-thian sedi-kitpun tidak bergerak waktu menangkis serangannia itu, sebaliknya mendadak terdengar jeritan Ki Hiau-hong disusul dengan menyemburnya darah segar dari mulut copet sakti itu.
Kiranya Kang Hay-thian dapat menyelamatkan diri sendiri dengan "Si-mi-ciang"
Yang hebat itu, tapi ia menjadi tidak dapat pikirkan kawannya lagi, terdesak oleh tenaga pukulan Bun Ting-bik itu, Ki Hiau-hong yang memang sudah payah itu segera terluka pula.
Sungguh malu dan menyesal sekali Kang Hay-thain.
Pikirnya "Mengapa aku begini semberono, hanya pikirkan diri sendiri hingga melupakan keselamatan Ki-pepek?"
Sebagai seorang ahli silat terkemuka, segera Bun Ting-bik dapat melihat ilmu pukulan Kang Hay-thian yang bagus itu hanya tiba cukup untuk bertahan dan tidak mampu buat balas menyerang.
Maka sambil terbahak-bahak segera ia mendesak lebih kencang lagi.
Ditengah tertawa Bun Ting-bik yang senang itu, tiba-tiba terseling pula oleh suara tertawa seorang yang tak dikenal.
Suara tertawa orang itu sangat menusuk telinga hingga Bun Ting-bik terperanjat, cepat ia membentak.
"Siapa?"
Maka tertampaklah seorang pemuda berbaju putih telah melangkah masuk sambil tertawa dan berkata.
"Lwekang dari Sam-siang-kui-goan"
Benar-benar jarang terdapat didunia ini, Si-mi-ciang-hoat juga luar basa, haring barulah aku dapat menyaksikan dua macam ilmu sakti itu, benar-benar sangat beruntung!"
"Hai, kiranya Yap-kongcu, angin apakah yang telah meniup engkau kesini?"
Demikian seru Auyang-jinio dengan girang.
"Sungguh kedatanganmu, ini sangat kebetulan."
Jka Auyang-jinio kegirangan atas kedatangan pemuda baju putih itu, adalah sebaliknya Kang Hay-thian menjadi kaget. Pemuda baju putih itu tak-lain-tak-bukan adalah "Yapkongcu"
Yang telah bergebrak sengit dengan dia dilereng gunung Ki lian-san itu. Maka terdengar pemuda baju putih itu menjawab.
"Ya, benar, memang sangat kebetulan, ada sesuatu urusanku yang perlu kuminta penjelasan padamu."
"Ada urusan apa, bolehkah kita bicarakan nanti saja?"
Ujar Auyang-jinio.
"Sekarang marilah kita bereskan bocah ini dulu. Bocah ini juga musuhmu, bukan?"
"Tidak, sebelum aku mengetahui dengan jelas teka-teki yang menyelubungi hatiku ini, aku tiada semangat buat berkelahi,"
Kata pemuda itu sambil menggeleng. Terpaksa Auyang-jinio menanya.
"Habis, urusan apakah Kong-cu ingin minta penjelasan padaku?"
"Tadi aku telah datang kerumahmu."
Kata pemuda baju putih.
"maksudku ingin menemui nona Cing, tapi entah sebab apa dia tidak mau menemui aku? Engkau adalah ibunya, tentu kau tahu duduknya perkara."
Hati Auyang-jinio berdebur keras, pikirnya.
"Ai. celaka! Jangan-Jangan dia benar-benar penujui budak Cing kami itu dan sekarang dia hendak menegur padaku? Pantas dalam mimpi juga budak Cing suka mengigau namanya."
Kiranya nona Cing yang dimaksudkan itu adalah puteri sulung Auyang-jinio, lengkapnya Auyang Cing. Sejak gadis itu kenal dengan "Yap-kongcu"
Ini, maka tanpa syarat ia telah jatuh cinta padanya Sebaliknya pemuda itu pura-pura tidak tahu, bahkan sengaja bersikap dingin pada Auyang Cing.
Keruan gadis itu sangat mendongkol.
Sebenarnya Auyang-jinio juga tahu maksud puterinya itu .dan bermaksud setelah melangsungkan pernikahan Auyang Wan, lalu akan mencari orang perantara untuk menjodohkan mereka.
Siapa sangka pada malam sebelum upacara, diamdiam Auyang Wan telah minggat, untung Auyang Cing rela menggantikan adiknya.
Karena kuatir dicelah Bun Ting-bik dan keponakannya, pula waktunya sudah sangat mendesak, terpaksa Auyan-jinio menjalankan tipu akal "langsat menggantikan duku", ia tukar Auyang Wan dengan Auyang Cing.
Begitulah, karena melayani pembicaraan "Yap-kongcu"
Itu. dengan sendirinya Auyang-jinio tidak dapat menyerang sepenuh tenaga, dan Kang Hay-thian menjadi dapat bertahan dengan baik. Mendadak Ki Hiau-hong tergelak-gelak, katanya.
"Haha, sungguh menggelikan Orang she Yap, sebenarnya kau purapura pikun atau sengaja datang kemari untuk berebut kasih dengan orang?"
"Tutup bacotmu!"
Bentak Auyang-jinio dgn murka. Ia kuatir rahasianya menukar puteri itu terbongkar. Namun Ki Hiau-hong sudah melanjutkan dengan tertawa.
"Ha-haha, harini kau telah mengawinkan puterimu, mengapa takut diketahui orang? Haha, orang she Yap, biarlah kukatakan padamu saja, kau punya nona Cing itu sedari pagi sudah menjalankan upacara pernikahan dengan orang. Nah, orang she Bun itulah paman dari pengantin laki-lakinya. Hahaha, dihadapan orang tua kedua pihak kau sengaja menanyakan pengantin perempuannya, apa kau tidak kuatir didamperat orang?"
"Ki-locat!"
Bentak Auyang Pek-ho dengan gusar.
"kau. berani mengaco-belo tak keruan dan mengadu-dombakan kami, ini, rasakan dulu pukulanku!"
Tapi karena keadaan lukanya cukup parah, maka begitu ditangkis Ki Hiau-hong, Auyang Pek-ho sendiri tergentak mundur malah. Lalu terdengar "Yap-kongcu"
Itu telah berkata.
"O, kiranya begitulah urusannya, jika begitu sudilah maafkan kedatanganku yang semberono ini."
Namun diam-diam Auyang-jinio menjadi sangsi.
Pemuda baju putih itu menyatakan sudah datang kerumahnya, dengan sendirinya telah mengetahui keadaan rumahnya yang moratmarit itu, masakah sekarang mengatakan tidak tahu apa yang terjadi itu.
Karena tidak tahu apa maksud kedatangan pemuda she Yap itu, diam-diam Auyang-jinio tidak tenteram, ia coba melirik sikap pemuda itu, maka terdengar pemuda itu telah berkat;, lagi.
"Apa yang dikatakan orang she Ki ini biarlah dianggap kentut saja dan jangan digubris. Tapi, Ji-nio, aku tetap akan menyalahkan kau""""""". Ya, betapapun juga aku toh pernah membantu sedikit urusanmu tempo hari, tapi harini kau menikahkan puterimu. mengapa dilakukan secara diam-diam tanpa mengundang aku minum secawan arak?"
"Hahaha! Orang she Yap, mukamu benar-benar tebal juga,"
Tiba-tiba Ki Hiau-hong menyela dengan terbahak-bahak "Andaikan kau sudi minum arak nikah kekasihmu itu, namun sang ibu mertua masakah leluasa mengundang laki-laki gendak dari puterinya sendiri dalam upacara nikahnya?"
"Tutup bacotmu jika tidak ingin kurobek-robek mulutmu?"
Bentak Bun Ting-bik dengan gusar.
Berbareng ia terus menggablok.
namun sedikit menggeser, serangan itu dapat dihindarkan Ki Hiau-hong, sebaliknya Kang Hay-thian yang terus menangkiskan pukulan itu.
Dan Auyang-jinio ternyata tetap menjawab dengan ranah.
"Hari nikah puteriku ini diadakan secara tergesa-gesa, maka tidak sempat mengirimkan undangan kepada Kongcu, untuk ini hendak lah Kongcu suka memaafkan. Tentang bantuan Kongcu kepada kami itu sudah barang tentu kami sangat berterima kasih. Biarlah sebentar kalau kami sudah bereskan kedua bangsat ini, asal Kongcu sudi mampir, pasti kami akan mengundang Kongcu sekedar menyatakan terima kasih kami. Dan untuk sekarang masih diharapkan Kongcu suka memberi bantuan lagi."
Tiba-Tiba "Yap-kongcu"
Itu tertawa, sahutnya.
"Ji-nio. sekali ini justeru aku yang ingin minta bantuanmu!"
"Urusan apapun pasti kami siap sedia menerima perintah Kongcu,"
Sahut Anyang-jinio.
"Tapi sekarang ini kedua bangsat ini harus dibereskan lebih dulu."
"Tidak, apa yang aku mintakan bantuan kalian justeru adalah""""""""""."
"Justeru adalah apa?"
Tanya Auyang-jinio dengan tak sabar.
"Justeru adalah kalian suka melepaskan mereka ini,"
Sahut si-pemuda dengan tenang. Keruan ucapan ini tidak saja mengherankan Kang Haythian, bahkan juga diluar dugaan Auyang-jinio. Cepat nyonia itu menegas.
"Apa katamu, Yap-kongcu? Melepaskan mereka? Engkau tidak bergurau bukan? Dia kan musuhmu juga, pula adalah orang yang hendak ditangkap oleh Kim-eng-kiong?"
"Ya, selamanya aku tidak suka bergurau,"
Sahut sipemuda baju putih.
"Tentang perintah Kim-eng-kiong akupun tidak peduli, kepada siapa aku suka membantu, segera akan kubantu tanpa syarat."
"Tapi"""". tapi urusan ini terpaksa tak dapat kami terima, harap suka dimaafkan,"
Sahut Auyang-jinio.
"Baru sekali ini aku minta bantuan padamu dan sudah kau tolak mentah-mentah,"
Jengek pemuda itu. Baiklah, hubungan kita yang sudah lalu sekaligus kuhapuskan sekarang juga, untuk selanjutnya aku ingin""""""""""
"Yap-kongcu,"
Cepat Auyang-jinio memotong, ia cukup kenal kepandaian sipemuda yang lihay itu, maka sedapat mungkin ia menghindarkan permusuhan dengan pemuda itu.
"bukanlah aku berani melawan kehendakmu, tapi urusan harini sesungguhnya Bun-sian-sing yang memegang peranan, maka silakan engkau bitiara sendiri dengan Bun-siansing Eh, kalian belum pernah kenal bukan? Nah. ini adalah Bun Hukaucu dari Thian-mo-kau dan ini adalah pangeran dari negeri Masar, Yap Tiong-siau."
Sungguh Kang Hay-thian menjadi bingung ketika mendengar Auyang-jinio menyebut "Yap-kongcu"
Sebagai pangeran dari Masar.
Diikalau pemuda itu benar adalah saudarania Kok Tiong-llan, itu berarti dia adalah putera mahkota radia Masar yang telah digulingkan itu.
Sedangkan raja yang sekarang justeru yang meng gulingkan raja yang dulu itu, sesudah naik tahta, konon raja baru sih?
lantas banyak mengumpulkan orang pandai dan menyebar-kan begundalnya untuk mentiari .jejak kedua putera-puteri raja lama.
Dan kalau pemuda she Yap ini benar adalah putera raja lama, mengapa ia berani perlihatkan asal-usulnya yang sebenarnya?
Jika tidak, gelar "pangeran"
Itu diperoleh darimana lagi?
Dan....
dan sesudah dia kembali kepada asalusulnya sebagai putera raja Masar.
mengapa masih menggunakan nama bangsa Han dan orang luar juga menyebutnya "Yap-kongcu"?
Tengah Kang Hay-thian merasa heran, sementara itu Bun Ting-bik juga tak kuranq curiganya.
Tiba-Tiba ia terbahakbahak dan berkata.
"Jika demikian, kita Ini sebenarnya adalah orang sendiri Aku adalah sahabat Koksu (imam negara) kalian. Po-siang Hoat-ong. malahan rencanaku setelah mengawinkan keponakanku ini, kami lantas akan berangkat bersama kepertemuan Kim-eng-kiong yang diadakan oleh Hoat-ong itu."
"Sudah lama aku mengagumi Buu-siansing adalah seorang yang serba pandai."
Ujar Yap Tiong-siau dengan tawar sadia sambil melangkah maju.
"dalam pertemuan di Kim-eng-kiong nanti dlika mendapat kunjungan Bun-siansing, pasti suasana akan bertambah semarak. Tapi entah Bun-slangsing akan membantu pihak mana?"
"Sudah tentu aku akan membantu pihak Po-siang Hoat-ong kalian, masalah perlu ditanya lagi?"
Udiar Bun Ting-bik.
"Jika begitu, mungkin aku tiada kesempatan untuk minta pe-tunjuk kepada Bun-siansing dalam pertemuan itu nanti, mumpung kita sudah bertemu disini, maka..."
Keruan Bun Ting-bik melotot, ia memotong dengan tertawa diingin.
"Hm, jadi Tianhe (yang mulia pangeran) sengaja datang buat meniguji kepandaianku, ya?"
"Mana aku berani,"
Sahut Yap Tiong-siau.
"Cuma aku ingin tahu sebenarnya sampai dimanakah tingginya ilmu silat 'tokoh nomor satu dalam Bu-lim' yang katanya susah dijajaki. Dan kalau Bun-siansing sudi memberi petuhjuk barang sejurus-dua guna menambah pengalamanku, sungguh akan bahagialah aku ini."
Sebagai seorang yang tinggi hati, sudah tentu Bun Ting-bik sangat mendongkol oleh tantangan Yap Tiong-siau yang terang-terangan itu. Diam-Diam ia pikir.
"Dengan persahabatanku dengan Fb-siang Hoat-ong dan kedudukanku didunia persilatan, jika aku berkun-jung kenegeri Masar, betapapun juga aku akan dihormati oleh rajanya, jangankan kau bukan putera kandung raja, andaikan putera mahkota yang tulen, dihadapanku juga mesti berlaku menghormat sebagay kaum muda."
Kiranya perkenalan Bun Ting-bik dengan Po-siang Hoat-ong itu memangnya sengaja dilakukan atas perintah Thian-mokaucu, pu la disebabkan ilmu silat Hoat-ong itu berasal dari Thian-tiok yaiyg agak berbeda daripada ilmu silat Tionggoan, dengan persahabatan itu masing-masing akan mendapat manfaat yang sama bagi kemajuan ilmu silat kedua pihak.
Po-siang Hoat-ong itu jangkat menjadi Kok-su atau imam neqara oleh raja Masar serta diberikan suatu istana baru yang disebut Kim-eng-kiong, istana garuda emas Paling akhir ini paderi agung itu banyak menerima murid dan pengikut hingga pengaruh nya semakin besar, sebaliknya raja sendiri malah banyak bersandar padanya, segala usul dan akalnya selalu dituruti.
Dari itu kedudukan Po-siang Hoat-ong didalam negeri-Masar boleh dikata hanv pir melebihi kekuasaan raja.
Dan Bun Ting-bik toh tiada maksud mencari pangkat dan kedudukan dinegeri Masar itu, pula mengandalkan persahabatannya dengan Hoat-ong, maka iapun tidak perlu rikuh-rikuh lagi kepada pangeran pungut negeri Masar itu.
Keruan yang kuatrr adalah Auyang-jinio demi nampak kedua orang yang dihormatinya itu akan saling gebrak.
Tapi belum lagi ia sempat mencegah, disaiia Bun Ting-bik sudah berkata.
"Ji-nio, silakan kau dan Toapek mengawasi Ki-locat, jangan sampai dia meloloskan diri. Nah, marilah, Yap-kongcu, kau ingin men jajal diriku, boleh silakan sekarang!"
Nyata, dengan ucapanhya itu ia sudah sedia hendak satu lawan dua orang, yaitu Yap Tiong-siau dan Kang Hay-thian yang masih dihadapinya itu.
Namun Yap Tiong-siau lantas berkata."Kang-heng, harap eng kau suka mundur sementara, biarlah kubelajar kenai dulu dengan kepandaian Bun-siansing, bila aku sudah mendapatkan petunjuk nya, kemudian boleh silakan Kang-heng maju untuk membantu."'' Kang Hay-thian memang tidak sudi menygeroyok, maka setelah ragu-ragu sejenak, segera katanya.
"Baiklah, terima kasih!"
Melihat Hay-thian sudah undurkan diri, Bun; Ting-bik merasa lebih ringan menghadapi seorang lawan, dengan tertawa ia lantas berkata.
"Yap-Kdngcu benar-benar berjiwa kesatria sejati dan tidak sudi mendapat keuntungan sedikitpun dari orang lain. Nah, silakah unjuk senjata!"
"Dan kau sendiri memakai senjata apa, Bun-siansing?"
Tanya Yap Tiong-siau.
"Sejak aku menginjak tanah daratan ini, selamanya aku tidak pernah memakai senjata untuk bergebrak dengan siapapun juga,"
Sahut Ting-bik.
"Kabarnya 'Sam-siang-kui-goan' yang dilatih Bun-siansing itu sudah mencapai tingkatan yang paling sakti, jika Bunsiansing tidak mamakai senjata, boleh silakan mulailah menghantam!"
Ujar ss-pemuda. Bun Ting-bik menjadi gusar. Katanya didalam bati.
"Bocah ini benar-benar tidak kenal tingginya langit "dan tebalnya bumi, berani dia tunjuk agar aku menggunakan 'Sem-siangkui-goan' yang sakti!"
Tanpa bicara lagi sebelah tangannya terus menyurung kedepan, gerakannya sangat lambat, dan kira-kira setengah meter didepan dada Yap Tiong-siau, telapak tangannya lantas berhenti, lalu katanya dengan pelahan.
"Yap-kongcu, hati-hatilah, bila perlu setiap' waktu kau boleh berseru dan setiap saat aku akan hentikan serangan!"
Yap Tiong-siau tertawa dingin oleh ucapan yang memanciang rendah padanya itu, sahutnya.
"Terima kasih atas maksud baikmu! Tapi ucapanmu ini agaknya terlalu buruburu kau katakan.". Selesai bicara, kontan iapun memapak dengan telapak tangannya ke-depan. Pukulan pemuda itu tampaknya sangat enteng, sedikitpun tidak bertenaga. Bun Ting-bik juga mengira orang sengaja memandang rendah padanya. Tak tersangka begitu kedua tangan beradu, seketika terasa tenaga pukulan yang dilontarkan pemuda itu kerasnya luar biasa, bahkan sayupsayup membawa suara gemuruh bagai guntur melempem. Seketika Bun Ting-bik terhuyung setindak kebelakang, wajahnya berubah hebat. Sungguh $ak terkira olehnya pukulan sakti apakah dari pihak lawan itu? Diam-Diam Kang Hay-thian geli dan mentertawai Bun Tingbik yang menganggap dirinya sebagai jago nomor satu di dunia, tapi ter-nyata tidak kenal "Tay-seng-pan-yyak-kang"
Yang lihay itu. Padahal "Tay-seng-pan-yak-kang"
Itupun termasuk salah satu ilmu sakti warisan Beng Sin-thong.
tempo hari In Khing kakak-beradik justeru hampir tewas dibawah pukulan hebat itu.
Sebenarnya Bun Ting-bik jauh lebih ulet dan lebih tinggi setingkat daripada Yap Tiong-siau, tapi karena dia sudah bertempur sejak tadi, telah ditumbuk mati-matian oleh Ih Taypeng dan saling gebrak dengan Kang Hay-th4an secara keraslawan-keras, banyak tenaga dalamnya telah terbuang, maka jadinya sekarang m malah terdesak oleh Yap Tiong-siau.
"Bagus, kepandaian hebat"
Seru Ting-bik dengan tertawa ewa.
Berbareng ia menghantam sekuat-kuatnya pula dengan mata mendelik.
Maka terdengar pula suara gemuruh yang hebat, kedua pukulan saling bentur lagi.
Yap Tiong-siau sekali ini tergentak hingga mencelat, sebaliknya Bun-Ting-bik terdesak mundur kebelakang dengan air darah merembes keluar dari ujung mulutnya, jidatpun penuh keringat dingin.
Temyata sesudah gebrakan pertama tadi, oleh karena Bun Ting-bik memandang enteng lawannya hingga tidak menyerang sepenuh tenaga, maka urat nadinya sudah ter-guncang dan terluka, meski pukulan kedua dikerahkan anteto tenaganya.
namun sudah jauh lebih lemah daripada mestinya, maka keadaan tetap tak menguntungkan pihaknya.
Dan sesudah Yap Tiong-siau berjumpalitan diatas udara, kemudian ia dapat turun kebawah lagi, katanya dengan dingin.
"Jikalau Bun-siansing merasa tenaga kurang kuat. tiada halangan-nya buat pulang mengaso dulu. kelak boleh kita sambung pula pertarungan ini"
Waktu itu memang Bun Ting-bik merasa badan lemas dan tenaga susah diatur lagi urat nadi terasa kaku. diam-diam ia terkejut. Tapi iapun menjawab dengan dingin.
"Bagus, memang pukulan yang keji. Tapi caramu berlagak gagah inipun tiada paedahnya bagimu, kau sendiripun perlu mengaso. Pertengahan bulan depan akan tiba pertemuan di Kim-eng-kiong, jikalau nanti Kongcu tetap sehat walafiat, disanalah nanti kuminta petunjuk padamu lagi."
Setelah Bun Ting-bik angkat kaki, berturut-turut Auyangjinio dan Auyang Pek-ho terpaksa mengikuti jejak jago yang mereka andalkan itu.
Sebelum pergi, Auyang-jinio tampak melirik sekejap kearah Yap Tiong-siau, agaknya ingin omong apa-apa, tapi urung.
Melihat muka Yap Tiong-siau pucat pasi, segera Kang Haythian bertanya.
"Yap-heng, engkau tak apa-apa bukan?"
Namun Yap Tiong-siau tak tahan lagi darah segar terus menyembur keluar dari mulutnya. Lalu katanya dengan tertawa.
"Iblis itu benar-benar sangat lihay, tapi juga tak dapat mencabut nya-waku."
Sebenarnya ada maksud Kang Hay-thian hendak membantu untuk menyembuhkan luka dalam itu, tapi sebelum ia membuka suara, mendadak Yap Tiong siau ter bahak-bahak dan mendahului berkata.
"Kang-siauhiap, apakah sekarang kau masih dendam padaku berhubung aku telah melukai In Khing berdua hingga engkau yang telah korbankan darah untuk menolong mereka? Untuk mana sungguh aku merasa menyesal, biarlah disini aku minta maaf padamu. Dan, jika engkau sudi berkawan, boleh aku tinggal lebih lama disini untuk bicara lagi, jika tidak, biarlah sekarang juga aku mohon diri saja!"
Dasar hati Kang Hay-thian memang terbuka, memangnya ia merasa terima kasih pada pemuda yang telah mengenyahkan Bun Ting-bik itu, rasa bencinya tempo hari sudah dikesampingkan olehnya.
Kini mendengar Yap Tiong-siau mengungkat sendiri ke-jadian tempo hari, mau-tak-mau Haythian terkenang kembali perbuatan pemuda she Yap yang keji itu, sudah melukai In Khing dan In Bik, memalsukan dirinya pula.
Tapi sebagai seorang polos, tanpa tedeng aling-aling lagi ia lantas berkata.
"Yap-kongcu, atas bantuanmu harini, persoalan diantara kita yang lalu biarlah kuhapus sekarang juga dan tidak perlu disinggung pula. Tapi apakah keluarga Hoa dan In akan bikin perhitungan padamu atau tidak, itulah aku tidak dapat menjamin dan terserah mereka."
"Hahaha, Kang-siauhiap ternyata seorang yang suka terus terang, apa yang kau katakan cukup beralasan, masingmasing mengurusi urusan diri sendiri dan akupun takkan memaksakan kesulitan kepada orang lain,"
Kata Yap Tiongsiau dengan terbahak. Dalam pada itu dengan tertawa Ki Hiau-hong juga maju menimbrung.
"Yap-kongcu, tadi kau memaki ucapanku seperti kentut, hal inipun aku takkan marah padamu. Aku tidak biasa bicara tentang kebaikan apa-apa dengan orang, tapi aku sekarang, ada setengah tangkai Leng-ci, marilah kita bagi menjadi dua untuk dimakan. Eh, ada apa, mengapa kau melotot doang?"
"He, bukankah itu milik Auyang Pek-ho, mengapa kau telah mencurinya?"
Tanya Yap Tiong-siau.
"Benar, aku sengaja pinjam uang orang untuk bayar utang."
Ujar Hiau-hong dengan tertawa. Tapi jangan kau kuatir, sekarang kau adalah sobat keponakanku ini, pasti aku takkan men-curi barangmu."
Segera Ki Hiau-hong memotong Leng-ci itu menjadi dua. Setelah menerima sebagian Leng-ci itu, dengan tertawa Yap Tiong-siau berkata.
"Baiklah. maka untuk selanjutnya perhitungan kitapun kubikin beres sampai disini, jangan kau dendam padaku, akupun takkan marah padamu pula."
Sesudah Yap Tiong-siau makan sepotong Leng-ci itu, kasiat rumput obat itu ternyata sangat hebat, semangat pemuda itu seketika pulih kembali.
"Ehm, memang benda baik!"
Kata Yap Tiong-siau.
"Dan, kepandaianku tidak melulu dalam hal mencuri saja, aku masih pintar menjalankan tugas kurir pula bagi yang memerlukan tenagaku, dalam hal ind apakah kau inginkan jasaku?"
Tanya Ki Hiau-hong dengan cengar-cangir.
"Banyak terima kasih, sementara ini belum perlu, kelak bila perlu pasti akan kuminta bantuanmu,"
Sahut pemuda she Yap itu.
"Eh, katanya engkau suka kepada Toasiocia keluarga Auyang itu, masakah kau benar-benar rela membiarkan dia menikah dengan orang lain?"
Tanya Hiau-hong pula. Mendadak Yap Tiong-siau bergelak tertawa, sahutnya.
"Jika aku inginkan puterinya orang she Auyang itu, masakan aku tak bisa merampasnya dari laki-laki yang penujui dia itu? Tapi Auyang Cing dapat menikah dengan pemuda she Bun Itu justeru cocok dengan hatiku."
"Sungguh aneh,"
Ujar Hiau-hong.
"bukankan orang she Bun itu terkenal jahat, mengapa kau malah senang nona Auyang itu memperoleh seorang suami jahat?"
"Kau sudah berumur, mengapa masih hijau dalam hal ini?"
Kata Yap Tiong-siau, ia tidak tahu bahwa sampai kini Ki Hiauhong masih membujang.
"Jika dia menikah dengan orang yang sebenarnya tak disukai olehnya, barulah setiap saat dia akan terkenang padaku. Sebaliknya aku menjadi bebaslah sekarang dari recokannya yang menyebalkan."
"Benar-Benar pikiran aneh,"
Kata Ki Hiau-hong sambil geleng kepala.
"Perasaan orang muda seperti kau ini aku benar-benar tidak paham!"
Sebaliknya diam-diam Kang Hay-thian telah membatin.
"Ternyata orang she Yap ini tidak hanya hatinya culas dan tangannya ganas, bahkan akhlaknya juga tidak baik."
"Ki-siansing."
Kata Yap Tiong-siau kemudian.
"kau adalah seorang simpatik, segala maksud baikmu telah kuterima didalam hati, mungkin kelak aku benar-benar akan minta bantuanmu. Tapi sekarang aku ingin mohon engkau suka minta Kang-heng membantu sesuatu urusanku."
"Silakan berkata, asal tidak mengingkari kebenaran, pasti akan kuterima dengan senang hati,"
Kata Hay-thian.
"Urusan ini bukan saja tidak melanggar kebenaran, bahkan engkau sendiri akan menyesal jika tidak menyelesaikan urusan ini,"
Ujar Yap Tiong-siau dengan tertawa.
"Marilah silakan ikut padaku!"
Melihat sikap orang yang aneh dan tertawanya penuh rahasia. Kang Hay-thian menjadi ragu-ragu.
"Jangan kuatir. sekali-sekali aku tiada maksud jahat,"
Kata Yap Tiong-siau.
"Aku hanya ingin berunding urusan penting dengan kau. Adapun Ki-siansing diharap suka membuang sedikit tenaga untuk mengubur jenazah Ih Tay-peng ini. sebentar boleh menyu-sul kami dibalik bukit sana."
"Baiklah, memangnya aku juga belum menghaturkan terima kasih kepada sobat lama ini,"
Sahut Ki Hiau-hong. Lalu ia memberi hormat kepada jenazahnya Ih Tay-peng dan berkata.
"Lau Ih, kebaikanmu padaku pasti takkan kulupakan. Tentang pesanmu juga pasti akan kulaksanakan dengan baik. Bolehkah kau tidur dengan tenang untuk selamanya.". Meski sifat Ki Hiau-hong biasanya suka melucu, tapi kata-katanya itu cukup sungguhi, bahkan hampir-hampir meneteskan air mata. Teringat kepada kematian Ih Tay-peng dan puteranya itu, Kang Hay-thian menjadi terharu juga, iapun maju memberi hormat. Diam-Diam ia memikir.
"Kematian Ih Tay-peng ini boleh dikata penasaran, tewasnya puteranya juga memilukan. Meski Ih Siau-kun itu bukan berasal dari aliran yang baik, tapi orangnya cukup prihatin dan berbudi, agaknya jauh lebih bermoral daripada Yap-kongcu ini."
Dalam pada itu Yap Tiong-siau sudah tak sabar lagi, segera ia tarik Kang Hay-thian dan berkata padanya.
"Orang toh sudah mati, buat apa mesti main hormat apa segala tanpa habis-habis". Kang Hay-thian tidak enak buat mendebat, terpaksa ia ikut berangkat bersama pemuda she Yap itu. Sedang Ki Hiau-hong lantas mencari sebuah pacul, ia menggali sebuah liang dibelakang rumah untuk mengubur Ih Tay-peng. Ditengah perjalanan tiu Yap Tiong-siau telah berkata.
"Sebabnya aku buru-buru mengajak kau berangkat adalah supaya orang tidak menunggu terlalu lama pada kita."
"Siapa yang menunggu? Dimana?"
Tanya Hay-thian dengan ter-heran-heran.
"Sebentar tentu kau akan tahu sendiri,"
Kata Tiong-siau dengan mempercepat langkahnya.
Mau-tak-mau Hay-thian kagum juga melihat ketangkasan pemuda she Yap itu, meski habis bertempur dan terluka, tapi jalannya masih secepat terbang.
Karena Hay-thian sendiri juga ingin tahu rahasia asal-usul pemuda she Yap itu, maka cepat iapun menyadarinya dan bertanya.
"Dari logat Yap-heng, agaknya berasal dani Tanliu di propinsi Holam, entah betul atau tidak?"
"Benar, sejak kecil aku sudah meninggalkan kampung halaman, tapi logat suaraku tidak berubah,"
Sahut Yap Tiongsiau.
"Di Tanliu ada seorang tokoh bernama Yap Kun-san Locianpwe, entah Yap-heng kenal tidak dengan beliau?"
Tanya Haythian pula.
"O, beliau justeru adalah ayahku,"
Sahut Tiong-siau. Tergetar hati Hay-thain, ini dia, mungkin memang benar adalah saudaranya Lian-moay, demikian pikirnya. Maka kembali ia tanya.
"Tapi mengapa tadi kudengar mereka memanggil Yap-heng sebagai Tianhe"""""""
"Hahaha!"
Tiba-tiba Yap Tiong-siau menyela dengan gelak ketawa-nya.
"Kalau diceritakan, sungguh suatu pengalaman yang aneh. Oleh karena sejak kecil ayah sudah wafat hingga aku bergelandangan ditapal perbatasan, akhimya aku dipungut oleh raja Masar dan diaku sebagai anak angkat. Sekarang jabatanku dinegeri Masar adalah 'Ci-kim-ngo Ciangkun'. Sebenarnya raja menganu-grahi aku dengan she kerajaan, tapi aku lebih suka orang memanggil aku sebagai Yap Tiongsiau."
Hay-thian bertambah sangsi, dan belum ia menanya lagi, tiba-tiba Yap Tiong-siau berseru dengan tertawa.
"Nah, sudah sampai di tempatnya. Lihatlah siapa itu?"
Maka terlihatlah dari balik semak pohon sana muncul seorang yang sedang memandang kearah sini. Sungguh girang dan kejut Hay-thian, cepat serunya.
"Nona Auyang, kiranya kau berada di sini dan belum pergi?"
"Justeru dialah yang mengundang aku kesini, sebelum tahu bagaimana keadaanmu, sudah tentu dia belum lega untuk pergi,"
Kata Yap Tiong-siau. Gadis itu ternyata Auyang Wan adanya. Sesudah dekat dan mengamat-amati Kang Hay-thian, lalu katanya dengan lega.
"Baiklah, ternyata kau tidak cidera apa-apa."
"Dan sekarang aku sudah memenuhi permintaanmu untuk mem-bawanya kemari, boleh kau merasa lega bukan?"
Ujar Yap Tiong-siau dengan tertawa.
"Dan dimanakah ibuku?"
Tanya Auyang Wan.
"Ibumu juga tidak cidera apa-apa,"
Sahut Tiong-siau.
"Sesudah kuhantam lari orang she Bun itu, ibumu dan pamanmu lantas pulang juga."
"Terima kasih kepada kalian berdua; tadi aku benar-benar sangat kuatir,"
Kata sigadis.
"Tapi sayang sekarang kau tak bisa pulang kerumah,"
Kata Tiong-siau. Auyang Wan menunduk, sahutnya.
"Ya, memang aku lagi bingung sekarang."
"Hahaha, bukankah telah kudatangkan seorang, yang akan men-jaga kau?"
Kata Tiong-siau dengan terbahak.
"Kangheng, ba-gaimana akan kau atur nona Auyang ini?"
Hay-thian melengak sejenak, seketika mukanya merah jengah, katanya dengan tergagap-gagap.
"Urusan ini nona"""". nona Auyang lebih pintar, masakah tidak tahu cara bagaimana harus menempatkan dirinya."
"Ai, kenapa Kang-heng berkata demikian,"
Ujar Yap Tiongsiau.
"Sebagai kaum persilatan, sekali menolong orang harus menolong sampai akhirnya. Apalagi nona Auyang justeru membela kepentinganmu hingga telah cecok dengan keluarga sendiri."
Dengan muka merah dan menunduk, Auyang Wan berkata dengan sedih dan lirih.
"Kang-siankong, beberapa kali ayahbun-daku bermaksud membikin susah padamu, sungguh aku merasa menyesal dan malu pula. Maka aku telah menuruti nasihatmu untuk seianjutnya akan meninggalkan mereka, sejak kini aku tidak mau-pulang kesana lagi. Cuma dunia seluas ini, kemanakah aku harus pergi?"
Segera Kang Hay-thian ingat apa yang telah dikatakannya sendiri waktu menolong Auyang Wan, yaitu waktu mendesak gadis itu melarikan diri dan tidak perlu mempunyai orang tua yang jahat itu.
Kini demi dipikir pula, ia merasa ucapannya sesungguhnya terlalu semberono, gegabah dan dapat menimbulkan salah paham orang.
Dasarnya memang dia tidak pandai bicara, kini ia menjadi makin kikuk dan bingung cara bagaimana harus menyelesaikan hal ini.
Celakanya Yap Tiong-siau lantas mendesaknya pula.
"Nah, memang dia sudah menurut nasihatmu dan meninggalkan orang tua, sekarang dia sudah sebatangkara, masakah kau tega membiarkan dia terluntang lantang dikangouw tanpa mengurusnya?"
Dengan wajah merah terpaksa Hay-thian menyahut.
"Habis, aku sendiri juga terlunta-lunta kemana-mana dan sedang mencari ayah dan guru, bagaimana aku dapat mengurus orang lain lagi?"
"Eh, aku ada satu usul,"
Ujar Tiong-siau tiba-tiba.
"Konon engkau akan datang kenegeri kami, apa betul?"
Mendengar orang telah membilukan pokok bicara, cepat Haythian menjawab.
"Benar, aku pernah mewakilkan Kok khiap, itu Ciangbunjin dari Bin-san-pay, menerima kartu undangan dari pemilik Kim-eng-kiong dinegeri kalian itu."
"Jika begitu, urusan menjadi kebetulan,"
Kata Tiong-siau.
"Aku masih ada urusan lain yang harus kuselesaikan dilain tempat, boleh jadi aku tidak keburu menghadiri pertemuan di Kim-eng-kiong nanti. Maka Kang-heng boleh membawanya kenegeri kami dan menemui ayah-baginda, tinggallah didalam istana sebagai tetamu beliau. Pabila kelak engkau akan meninggalkan negeri kami, apakah kau akan membawa serta nona Auyang atau tidak aku tidak tahu, tapi yang terang dia sudah ada tempat tinggal yang terang dan dapat ditanggungjawabkan, andaikata ayah-bundanya tahu juga tidak berani sembarang masuk kekeraton untuk menawannya kembali. Baik tidak usul ini?"
"Usul bagus,"
Segera Auyang Wan menyatakan setuju.
Watak Kang-Hay-thian jujur dan polos, tapi tidak berarti dia bodoh, sesudah banyak mengalami berbagai peristiwa, pengetahuan sudah banyak bertambah pula, maka setiap urusan .selalu dipikirkan sebelum bertindak.
Ia pikir.
"Jangan-Jangan ini memang rencana mereka agar aku masuk kedalam keraton raja Masar?"
Padahal dari tindak-tanduk Yap Tiongsiau yang tidak beres ini, jangan-jangan mereka sudah mengatur perangkap apa-apa atas diriku?"
"Nona Auyang sendiri sudah setuju, masakah kau masih perlu kuatir apa?"
Desak Yap Tiong-siau dengan tertawa.
"Aku justeru masih kuatir,"
Sahut Hay-thian "Silakan berkata terus terang,"
Pinta Tiong-siau.
"Aku tidak tahu ada perselisihan apa dengan Kok-su dari negeri kalian,"
Tutur Hay-thian.
"Yang terang aku telah mewakili Kok-Lihiap menerima kartu undangannya dan menyatakan akan hadir dalam perjamuannya nanti. Hal ini dengan sendirinya telah dilaporkan oleh utusannya. Dan sebagai bakal tetamunya, sepantasnya dia harus melayani aku secp.ra hormat. Tapi entah sebab apa, belum aku sampai dinegeri kalian, tahu-tahu ia sudah kirim orang hendak menangkap aku."
"He, bisa terjadi begitu?"
Demikian kata Tiong-siau dengan unjuk rasa heran.
"Nona Auyang itu dapat menjadi saksi, gurunya yang menyatakan telah diperintahkan oleh majikan Kim-eng-kiong untuk menawan aku. Tapi, hm, agaknya Yap-heng tidak perlu berlaga-pilon. Juteru tadi Auyang-jinio juga pernah nyatakan padamu bahwa aku inilah orang yang hendak ditangkap oleh Kim-eng-kiong dan kau diharapkan membantunya. Tentu kau belum lupa bukan?"
Air muka Yap Tiong-siau tampak rikuh, tapi. lantas berkata dengan tertawa.
"Haha, memang didalam urusan ini ada kesalahpahaman. Setahuku antara Po-siang Hoat-ong ada sedikit percek-cokan dengan gurumu. Padahal biasanya Hoatong sangat kagumi gurumu, sebaliknya gurumu tidak sudi menerima maksud baik-nya itu. Pernah Hoat-ong berkata padaku bahwa sekali-sekali dia tiada rasa bermusuhan dengan gurumu, soalnya gurumu yang salah paham, maka alangkah baiknya jika terdapat seorang kepercayaan gurumu yang suka menjelaskan hal itu kepadanya. Dari itu, menurut dugaanku, mungkin Im Seng-koh diperintahkannya agar .menyambut' kedatanganmu, boleh jadi Im Seng-koh salah terima dan berbalik akan menangkap kau. Mengenai Auyang-jinio, karena dia cuma mendengar perintah itu dari Im Seng-koh, dengan sendirinya ikut salah melaksanakan perintah itu."
"Ya, rekaan Yap-kongcu itu memang beralasan, watak guruku itu memang suka .gerusah-gerusuh,"
Sela Auyang Wan cepat. Diam-Diam Hay-thian geli kedua orang itu telah anggap dirinya sebagai anak kecil saja. Tapi ia tahan perasaannya itu, sebaliknya menanya lagi.
"Diantara guruku dan Po-siang Hoatong ada percecokan apa?"
"Akupun kurang jelas, hanya Po-siang Hoat-ong pernah berkata begitu padaku,"
Sahut Tiong-siau.
"Baiklah kelak gurumu juga akan hadir disana, sebagai perantara yang sangat dibutuhkan tenagamu, tentu Hoat-ong akan menjelaskan duduknya perkara padamu. Pula sesudah bertemu dengan gurumu, tentu juga gurumu akan ceritakan padamu."
Sungguh girang Hay-thian tak terkatakan, sejak tinggalkan rumah, baru sekarang untuk pertama kalinya ia mendengar berita tentang gurunya yang ternyata akan menghadiri juga dalam pertemuan di Kim-eng-kiong nanti.
Ia pandang Auyang Wan seke-jap, ia menjadi serba salah dan kesal.
Kalau berangkat bersama gadis itu.
tentu akan dibuat cerita orang.
Lantas bagaimana caranya agar gadis itu dapat dilepaskan?
Sebagai pemuda yang cerdik, melihat air muka Kang Haythian yang sebentar girang dan sebentar kesal, segera ia dapat meraba pikirannya.
Dengan terbahak kembali ia berkata.
"Kang-heng, jika kau masih sangsi, disini sudah kusediakan dua pucuk surat."
Karena otak Hay-thian tidak secepat Yap Tiong-siau cara ber-pikirnya, maka ia malah tanya.
"Surat untuk siapa?"
"Sepucuk untuk Po-siang Hoat-ong dan sepucuk untuk Huong (ayah baginda raja),"
Sahut Tiong-siau.
"Terus terang kukatakan, biarpun cuma anak angkat, tapi Hu-ong sangat sayang padaku, segala apa yang kukatakan selalu diturutnya. Po-siang Hoat-ong juga termasuk guruku secara tidak resmi. Dengan membawa suratku, pasti dia akan melayani kau dengan segala hormat. Apalagi Hu-ong paling suka pada pemuda yang kosen. haha, jika Kang-heng sudi tinggal dinegeri kami demi usaha besar, kujamin hari depanmu pasti akan gilang-gemilang."
"Gilang-gemilang bagaimana dan usaha apa?"
Tanya Haythian dengan menahan rasa dongkol.
"Meski Hu-ong adalah raja dari suatu negeri kecil, tapi beliau mempunyai cita-cita setinggi langit, sudah lama terkandung mak-sudnya menjajah dunia ini, biarpun tidak berani menyentuh tanah Tionggoan, tapi paling sedikit juga dapat merajai benua barat. Bukankah ini merupakan suatu usaha besar? Seorang laki-laki harus mempunyai cita-cita setinggi bintang dilangit, entah Kang-heng ada maksud merajai benua barat atau tidak?"
"Aku tidak mempunyai kepandaian apa-apa, juga tidak punya re-jeki sebesar itu,"
Ujar Hay-thian. Melihat orang tidak tertarik oleh bujukannya. segera Tiongsiau berkata.
"Jika begitu, urusan ini boleh kita bicarakan lagi kelak. Sekarang silakan Kang-heng terimalah dua pucuk suratku ini."
Namun Hay-thian bersedakap dan diam saja takmau terima surat orang, katanya dengan dingin.
"Yap-heng, maafkan kesemberonoanku, aku ingin tanya sesuatu pula padamu."
Mau-tak-mau Yap Tiog-siau mendongkol juga, tapi tetap ia menanya dengan ramah.
"Tentang apa? Silakan berkata!"
"Tentang asal-usul Yap-heng sendiri, apakah kau tahu?"
Kata Hay-thian.
"Rupanya Kang-heng sedikit-banyak juga sudah tahu asalusul diriku, maka tiada halangannya kukatakan terus terang,"
Sahut Tiong-siau.
"Aku justeru lagi kesal urusan ini, maka ingin minta bantuan Kang-neng."
Diam-diam Hay-thain bersyukur orang masih tahu akan kesal segala, segera katanya.
"Asal tenagaku sanggup melakukan, pasti kuterima."
"Begini soalnya,"
Kata Tiong-siau.
"aku tahu gurumu dan Kok-lihiap dari Bin-san-pay itu adalah bekas kekasih, Kok-lihiap itu adalah sobat baik ayahmu pula. Maka tentang murid Koklihiap yang bernama Kok Tiong-lian, tentu Kang-heng mengenalnya sejak kecil?"
"Benar, kami terhitung teman memain sejak kecil!"
"Kabarnya waktu kecil dia dipelihara oleh Khu Giam di Tiong-bo-koan, apakah Kang-heng tahu dengan pasti?"
"Sed-kitpun tidak salah,"
Sahut Hay-thian.
"Sebelum Khu Giam wafat, dia telah menyerahkan Tiong-lian kepada Ekpangcu dari Kay-pang. Ek-pangcu adalah Suhengnya Koklihiap. maka akhirnya Tiong-lian diterima Kok-lihiap sebagai anak angkat."
"Tepatlah jika begitu,"
Kata Tiong-siau.
"Untuk bicara terus terang, aku memang saudara sekandung dengan dia, bahkan ber asal dari negeri Masar. Dahulu lantaran terjadi gegergeger di negeri Masar, aku dipelihara oleh Yap Kun-san di Tanliu dan adikku dipelihara oleh Khu Giam. Hanya aku tidak tahu apakah dia sudah mengetahui asal-usulnya sendiri atau belum?"
"Setahuku, Kok-lihiap sudah tentu mengetahui, dan entahlah apakah beliau pernah memberitahu kepada Tionglian atau tidak."
Kata Hay-thian. Tiba-Tiba Yap Tiong-siau menghela napas, katanya.
"Namun aku sudah dapat menemukan dia, tapi dia tidak sudi mengakui diriku."
"He, jadi kalian kakak-beradik sudah bertemu?"
Tanya Haythian dengan kejut dan girang.
"Ya, aku ingin mengakui dia sebagai, adikku, tapi dia tak sudi mengaku aku sebagai kakaknya,"
Sahut Tiong-siau.
"Maklumlah, mungkin kau sendiri belum cukup memberi penjelasan padanya sebab apa kau telah menjadi putera pangeran raja Masar,"
Ujar Hay-thian tanpa pikir.
Sebagai seorang jujur, ia sangka setelah Yap Tiong-siau mengetahui asal-usul diri sendiri, tentu sudah tahu juga bahwa raja Masar sekarang adalah pembunuh ayahnya serta diam-diam sedang menunggu kesempatan baik untuk menuntut balas.
Diluar dugaan Yap Tiong-siau telah menjawab.
"Raja telah mengaku aku sebagai anak, budi kebaikan itu sudah tentu kuberitahukan kepada adik sendiri. Bahkan aku memberitahu pula bahwa raja mengandung maksud hendak meminangnya untuk isteri putera mahkota. Siapa duga. demi mendengar ucapanku itu. tanpa menjawab terus saja aku diusir. Nah, urusan yang ingin kuminta bantuan pada Kang-heng adalah sukalah kau menasihatkan dia,."
Seketika Kang Hay-thian tertegun, hampir-hampir ia tidak percaya pada teknganya sendiri, sekejap itu ia menjadi gusar dan berduka bagi Kok Tiong-lian.
Sebaliknya Yap Tiong-siau menjadi heran melihat sikap Kang Hay-thian itu, serunya.
"He, Kang-heng, mengapa kau?"
Auyang Wan juga bingung, diam-diam ia merasa urusan pasti menyangkut hubungan baik antara Kang Hay-thian dengan Kok Tiong-lian. Segera ia coba memancing.
"Sebenarnya permintaan Yap-kongcu itupun bukan pekerjaan jelek. mengapa Kang-siang-kong merasa ragu-ragu? Ah, cpa barangkali engkau sungkan buat menjadi perantara? Jika demikian, boleh kau perkenalkan aku dengan nona Kok itu, sesama kaum wanita, tentu aku akan lebih leluasa untuk bicara padanya."
"Tutup mulut!"
Bentak Hay-thian mendadak.
"Kalian anggap aku ini manusia macam apa? Masakan aku bisa sekomplotan dengan kau untuk membantu berbuat hal-hal yang durhaka itu!"
Yap Tiong-siau menjadi gusar juga,, dengan merah padam iapun membentak.
"Orang she Kang, katakanlah perbuatanku apa yang kau anggap durhaka?"
"Kau tidak peduli negara dikacau oleh pembesar dorna, itulah tidak setia! Kau mengaku musuh sebagai ayah, itu namanya tidak berbakti! Kau malah berani mengorbankan adik perempuan sendiri, itu namanya tidak bermoral! Kau ingin menjebloskan kawan agar membantu perbuatanmu yang tak baik, itu namanya tidak berbudi! Nah, dosa-dosa itu bukan perbuatan durhaka?"
Demikian Kang Hay-thian mencercanya habis-habisan. Yap Tiong-siau menjadi gusar, sahutnya.
"Kurangajar, kau berani mencerca juga kepada ayah-bagindaku? Kau sengaja hendak memecah-belah kami ayah dan anak, sungguh aku menjadi menyesal tadi telah menolong jiwamu."
"Benar, memang kau pernah menyelamatkan aku,"
Kata Hay-thian.
"Maka kelak aku akan bayar kembali berganda padamu, pa-bila jiwamu terancam, betapapun juga aku pasti akan menolong kau dua kali. Nah, pembicaraan kita sudah selesai, jika kau tetap ingin mengaku musuh sebagai ayah, itulah urusanmu sendiri. Sekarang juga kita berpisah disini."
"Haha, masakah aku perlu kau menolong jiwaku?"
Kata Tiong-siau dengan mengejek.
"Kukira jiwamu sendiri yang harus di-jaga. Jika aku dapat menyelamatkan jiwamu, tentu juga sanggup melenyapkan nyawamu!"
Habis berkata, mendadak ia menggertak terus menghantam.
Saat itu kebetulan Kang-Hay-tbian sedang putar tubuh hendak pergi, maka pukulan Yap Tiong-siau itu menjadi diluar penjagaan Kang Hay-thian hingga tepat mengenai punggungnya.
Auyang Wan menjerit kaget, maka terdengarlah suara "bluk"
Sekali. Kang Hay-thian terdorong kedepan beberapa tindak, tapi pemuda itu lantas menoleh, katanya dengan tertawa dingin.
"Hm, hebat benar kepandaianmu hebat pula caramu ini! Mengingat tadi kau telah menolong aku, maka aku tidak akan balas menyerang padamu. Tapi kesabaranku juga ada batasnya, jika kau berani maju lagi, terpaksa akupun tidak sungkan-sungkan pula."
Kiranya Kang Hay-thian memakai baju pusaka tinggalan Kiau Pak-beng, pula sebelumnya ia sudah berjaga-jaga segala kemungkinan, maka serangan Yap Tiong-siau sama sekali tidak membuatnya cidera.
Sebaliknya Yap Tiong-siau tidak tahu duduknya perkara itu, ia menjadi kaget, pikirnya.
"Sungguh tidak nyana ke-pandaiannya sudah setinggi ini, pantas Bun Ting-bik ditambah dengan Auyang Pek-ho dan Auyang-jinio juga tidak mampu mengalahkan dia."
Sebab itu, walaupun masih mendongkol, namun Tiong-siau tidak berani mengejar pula. Keruan Auyang Wan yang sibuk, teriaknya.
"Hai, hai! Baru saja kalian masih berkawan, mengapa mendadak cecok? Kang-siangkong, apa kau tidak gubris padaku lagi?"
"Mengapa kau kuatir tiada oraang akan gubris padamu?"
Sahut Hay-thian dengan tertawa dingin.
"Mulai sekarang kau boleh bertindak menurut keinginanmu dan aku akan pergi menurut arahku, jangan kau merecoki aku lagi."
Habis berkata, terus saja ia berlari pergi dengan Gingkang yang tinggi, dengan sendirinya tidak mungkin dapat disusul oleh Auyang Wan.
Apalagi gadis itupun terpaku ditempatnya demi mendengar omelan Kang Hay-thian, ia merasa malu, dongkol dan berduka pula.
"Sudahlah, dia toh tidak sudi padamu lagi, lebih baik kau ikut padaku saja,"
Ujar Yap Tiong-siau.
"Rasanya kau juga tidak perlu sedih, biarlah aku akan berdaya untuk membalas sakit hatimu ini."
Dalam pada itu Kang Hay-thian hanya sekejap saja, sudah menghilang dari pemandangan, dan barulah Auyang Wan men-jerit tangis".
---ooo0dw0ooo---Sesudah meninggalkan recokan Auyang Wan, sedang Kang Hay-thian berlari dengan, marah, tiba-tiba dari belakang terdengar berkesiurnya angin, dengan gusar ia terus mencengkeram kebelakang sambil membentak.
"Apakah benar-benar kau masih ingin merecoki aku? Terpaksa aku tidak mau sungkan-sungkan lagi padamu". Ai Ki-pepek, kiranya kau!"
"Kau sedang marah-marah pada siapa, Kang-hiantit?"
Tanya Ki Hiau-hong dengan heran.
"Hampir saja tulangku remuk kena kau remas!"
"Maaf, kusangka bangsat she. Yap itu yang telah mengejar kemari,"
Sahut Hay-thian. Hiau-hong tambah heran, tanyanya.
"Jadi kau telah cecok dengan Yap Tiong-siau? Memangnya akupun tidak suka pada manusia she Yap itu, jelas dia bukan seorang pemuda baikbaik. Cuma, apapun juga harini dia telah membantu kita."
"Memangnya masakah dia manusia baik-baik, bahkan durhaka,"
Sahut Hay-thian dengan menahan gusar.
"Cobalah kau timbang, masakah didunia ada manusia durhaka seperti dia itu?"
Lalu iapun menceritakan apa yang dikatakan. Yap Tiong-siau tadi. Ki Hiau-hong mengkerut kening habis mendengar cerita itu, katanya.
"Jika begitu, memang orang she Yap itu boleh dikata adalah binatang. Curna, aku agak sangsi juga."
"Sangsi? Apa yang perlu disangsikan lagi?"
Ujar Hay-thian.
"Sedangkan dia sudah cukup jelas asal-usulnya sendiri, tapi toh masih berbuat hal-hal yang durhaka itu?"
"Aku bersangsi apakah dia tidak tertipu oleh raja Masar itu?"
Kata Hiau-hong.
"Tertipu? Mungkin juga bila dia tidak tahu asal-usulnya sendiri, tapi terang gamblang ia sudah tahu dengan jelas!"
"Tapi. apakah dia menyatakan telah mengetahui juga bahwa dia adalah putera raja Masar yang lama?"
"Itu tidak dikatakannya,"
Sahut Hay-thian.
"Tapi seluk beluk yang lain sudah diketahui semua olehnya. Boleh jadi dia mengira aku telah mengetahui kisah hidupnya. maka tidak perlu menying-gung lagi."
"Kukira tidak betul."
Kata Hiau-hong dengan menggeleng.
"Justeru itulah titik yang penting, mengapa malah tak disinggung nya? Pula, andaikan dia tahu diri, ketika kau memaki dia. tidak nanti dia murka dan merasa terhina."
Benar juga pikir Hay-thian, tadi Yap Tiong-siau memang tampak sangat penasaran karena dicerca olehnya.
"Habis kalau menurut pendapat Ki-pepek, bagaimana?"
Tanyanya kemudian.
"Aku juga cuma menerka saja,"
Sahut Hiau-hong.
"Kuduga raja Masar itu tentu telah menutupi sedikit sejarah hidupnya, atau mungkin sebagian dituturkan apa mestinya. tapi sebagian pula karangan belaka, jadi campur-aduk hingga Yap Tiongsiau menjadi bingung, tapi menganggap telah tahu asalusulnya sendiri."
"Pabila begitu halnya, itu berarti aku telah salah sangka,"
Kata Hay-thian.
"Tapi untuk apa raja Masar itu berbuat demikian, sesudah tahu pemuda she Yap itu adalah putera musuh, mengapa tidak membunuhnya saja. sebaliknya memungutnya sebagai anak?"
"Tentang itu akupun tidak tahu,"
Sahut Hiau-hong.
"Baiknya tak lama lagi kau akan dapat bertemu dengan gurumu, dari beliau tentu akan bisa diperoleh sedikit keterangan."
"Sayang aku lupa tanya padanya tentang tempat beradanya Kok-khiap berdua?"
Ujar Hay-thian.
"Ehm, katanya Lian-moay tidak sudi mengakui dia sebagai kakak, agaknya seperti aku, sama-sama berprasangka padanya."
"Sementara ini tak perlu kita urus orang she Yap itu,"
Kata Hiau-hong.
"Sekarang apakah kau hendak buru-buru hadir dalam pertemuan di Kim-eng-kiong?"
"Benar, hari yang ditetapkan adalah tanggal 15 bulan depan, hanya tinggal sebulan lebih dua hari lagi,"
Sahut Haythian.
"Ki-pepek, apakah enkau juga mendapat kartu undangannya?"
"Aku adalah seorang pencuri, mana orang sudi mengundang aku?"
Kata Hiau-hong dengan tertawa.
"Cuma, sebagai pencuri, tanpa diundang juga mungkin aku akan menggerayangi tempatnya"
"Jika begitu, marilah kita berangkat bersama saja,"
Kata Hay-thian.
"Tokoh-Tokoh yang diundang kali ini sangat banyak dan pi lihan semua, barang yang berharga untuk digerayangi kau pasti .tidak sedikit."
"Ya, tentu aku akan hadir disana kelak,"
Sahut Hiau-hong.
"Tapi lebih dulu aku hendak pergi kesuatu tempat lain, pertemuan kita disini boleh di kata sudah ditakdirkan, apa kau tahu sebab apa aku berada disini?"
"Siautit justeru ingin tanya Ki-pepek,"
Kata Hay-thian.
"Coba jawabiah lebih dulu, apakah kau sudah memperoleh kabar tentang ayahmu?"
Tanya Hiau-hong tiba-tiba.
"Sedikitpun belum ada kabarnya,"
Sahut Hay-thian.
"kipepek jangan-jangan kau sudah""""."
"Ya, belum lama berselang aku sudah bertemu dengan ayahmu, kepergianku inipun untuk menemuinya lagi"
Tutur Hiau-hong. Keruan girang Hay-thian tidak kepalang.
"Ki-pepek, mengapa tidak sejak tadi-tadi kau katakan padaku. Dimanakah ayahku sekarang?"
Tanyanya dengan tak sabar.
"Sedangkan nyawa kita tadi entah dapat dipertahankan atau tidak, darimana aku ada tempo untuk bercerita?"
Sahut Hiau-hong dengan tertawa.
"Tapi sekarang dapatlah kuceritakan dengan jelas. Untuk ini, hendaklah kau bersabar, cerita ini sangat panjang dan perlu dimulai dari awalnya, yaitu mulai cerita ten-tang menghilangnya Tan Thian-ih, kemudian barulah mengenai ayahmu."
Sungguh mendongkol Hay-thian oleh watak sipencuri sakti yang suka putar kayun dalam ceritanya itu.
Tapi untuk tidak bikin urusan menjadi runyam, terpaksa ia mesti kekang perasaannya dan bersabar sedapat mungkin.
"Cobalah kau terka sebab apa mendadak Tan Thian-ih telah menghilang?"
Demikian Hiau-hong membuka ceritanya dengan kalem.
"Kiranya disebabkan isterinya telah diculik orang. Suatu malam, rumahnya kedatangan dua orang dan telah menidurkan mereka dengan semacam asap pembius yang aneh. Untung Lwekang Tan Thian-ih cukup kuat, tatkala itu ia cuma pusing kepala dan belum kehilangan pikiran sehatnya sama sekali. Tapi iapun tidak berdaya menyaksikan isterinya digondol lari kedua penjahat itu. syukur ia cukup cerdik, dalam keadaan terpaksa, tiba-ia mendapat akal. sekuatnya ia gigit ujung lidah sendiri."
"Apa gunanya menggigit lidah? Apakah dia juga paham THan-no-kay-teh-tay-hoat?"
Tanya Hay-thian dengan heran.
"Maksudnya melukai lidah sendiri ialah agar kesakitan itu akan membuat semangatnya terbangkit, paling tidak pikiran sehatnya dapat dipertahankan meski badan tak bisa berkutik, maksud tujuanya ialah sedapat mungkin akan mengingat baikbaik air muka kedua penjahat itu. Sebab kalau pikirannya remang-remang tentu susah melakukan hal itu.
"Sebenarnya kekuatan asap tidur itu dapat bertahan sampai sehari-semalam. dan bila pingsan selama dua-tiga jam tanpa nendapat pertolongan, sesudah sadar nanti orangnya juga akan berubah menjadi gendeng; untung Lwekang Tan Th.anih sudah cukup kuat, waktu itu ia menggigit ujung lidah sendiri pula hingga kesadarannya tetap dipertahankan. Setelah musuh pergi, sekuatnya ia meronta bangun ia buka daun pintu dan jendela agar udara segar, lalu duduk semadi. setelah setengah jam. Pelahan-lahan tenaganya pulih kembali. Waktu mudanya ia pernah makan buah aneh didalam istana. es, maka tubuhnya enteng seperti burung, bicara tentang Ginkang, pada jaman ini mungkin jarang ada yang melebihi dia kecuali Suhumu, Peng-khoan Thian-li dan aku. Maka waktu itu ia masih mengharap dapat menguber penjahat-jahat itu untuk merebut kembali isterinya. Tapi sudah terlambat setengah jam lamanya, tanpa tidur dan tidak makan ia terus mengejar selama sehari-semalam, tapi jejak musuh tetap tidak ketemu. Hal ini menandakan kedua penjahat itupun bukan sem-barangan orang dan tidak melulu mengandalkan obat tidurnya itu. Dan kejadian selanjutnya engkau sendiripun sudah tahu. sejak itu Thian ih tidak pernah pulang kerumah, bagi orang lain, le-nyapnya itu lantas menimbulkan macammacam dugaan. Kedua budaknya yang tua. yang satu telah mati keracunan obat tidur itu, yang lain juga sudah berubah menjadi gendeng, yaitu Nyo-lotoa yang dulu telah kita ketemukan ditanah pekuburan keluarga Tan itu."
"Bilakah Ki-pepek bertemu dengan Tan-pepek?"
Tanya Haythian.
"Berturut-turut ayahmu dan aku telah pergi mencarinya, sampai sekarang ayahmu masih belum bertemu dengan Thian-ih, tapi aku beruntung sudah bertemu."
Sahut Hiauhong.
"Itu terjadi tiga tahun yang lalu ketika aku mendatangi sebuah kuil Lama dengan maksud mencuri sebuah patung Budha dari kayu wangi. Tak terduga kupergoki Thian-ih sedang sembahyang Budha disana. Haha-ha! Rupanya Budha dikuil itu sengaja bergurau dengan aku. pa-tungnya akan kucuri, sebaliknya Thian-ih sedang menyembah patung itu, dengan sendirinya aku tidak jadi mencurinya."
"Aneh, padahal ayahku dan Tan-pepek biasanya tidak memeluk agama, mengapa Tan-pepek telah sembahyang Budha?"
Ujar Hay-thian "Tentu ada sebab-musababnya,"
Kata Hiau-hong dengan terpaksa.
"Bukankah tadi kukatakan Thian-ih telah ingat baikbaik muka kedua penjahat yang menculik isterinya itu? Dan dia ternyata sangat pandai, wajah kedua penjahat itu telah dilukisnya menjadi sebuah gambar dengan mirip sekali seperti hidup."
"Darimana kau tahu?"
Tanya Hay-thian.
"Sudah tentu aku tahu, sebab berdasarkan petunjuk gambar itu kemudian aku telah dapat menemukan kedua penjahat itu? Ha. ini benar-benar sangat aneh!"
"Aneh apa? Dan orang macam apakah penjahat-penjahat itu?"
"Adalah dua orang barat yang berdandan sebagai paderi Lama"
"Aneh jika mereka adalah paderi bangsa-barat, mengapa jauh-jauh datang ke Tionggoan untuk menculik seorang wanita"
Ujar Hay-thian dengan heran "Justera aku dan Thiari-ih juga tidak habis mengarti"
Maksud mereka,"
Sahut Hiau-hong.
"Jika soalnya disebabkan Thian ih bermusuhan dengan mereka, mestinya malam itu juga dalam keradaan lemah, dengan mudah Thian-ih dapat mereka bunuh. Tapi hal ini toh tidak mereka lakukan. Bilang mereka mengincar kecantikan, hal inipun tidak benar; Isterinya Thian-ih, memang can-tik waktu mudanya. tapi wanita yang jauh lebih cantik daripadanya masih sangat banyak,. apalagi isterinya Thlan ih juga sudah setengah umur. Buat apa jauh-jauh mereka datang ke Tionggoan hanya untuk menculik seorang' wanita setengah umur?"
"Namun begitu, karena persoalannya. sudah, jelas. Thian-ih yakin penjahat-penjahat itu pasti kaum Lama dari Baratsegera ia menyelidiki ke tempat-tempat kaum paderi itu,"
Tutur Hiau-hong lebih jauh.
"Iapun dapat mengenali asap penidur yang diendusnya malam itu membawa bau harum bunga Astulo yang khusus cuma terdapat di puncak gunung Himalaya. siapa yang mengendus bau bunga aneh itu, segera orangnya sinting seperti kebanyakan minum arak. Dari itu orang dari kalangan jahat didaerah Tibet banyak yang menggunakan bunga itu sebagai obat bius. Karena Thian-ih mengenali asap wangi penidur itu. maka terhadap Lama daerah Tibet itu lebih-lebih diperhatikan pula. Tapi agama Lama tersebar luas di Tibet dan daerah barat sekitarnya, Mongol, Jinghay (Kokonor) serta daerah Asia Tengah adalah pusat agama Lama. di Tibet sendiri jumlah kuil Lama tidak kurang dari puluhan ribu buah. dengan sendirinya tidaklah gampang hendak mencari dua Lama dari kuil sebanyak itu? "Maka waktu Thian-ih mengunjukan gambamya padaku, lantas aku diminta membantu pula. Dengan sendirinya kuterima syarat dan segera melaksanakan tugas itu dengan mengambil arah lain. Aku sudah biasa menjadi pencuri, menggerayangi tempat orang adalah kegemaranku. Tapi meski kuil-kuil di Tibet itu sudah merata kudatangi, selama setahun toh aku masih belum mendapatkan sesuatu jejak yang mencurigakan."
"Terpaksa aku meninggalkan Tibet dan menyelidik kelain tempat. Musim semi tahun yang lampau aku telah sampai di Jinghay, dengan tujuan coba-coba saja, pada suatu malam aku telah menyu-sup kedalam istana Oksim dari Pek-kau Hoatong (raja agama Lama putih) untuk menyelidiki muka setiap Lama yang berada di situ."
"Wah. engkau berani betul, Ki-pepek?"
Seru Hay-thian terke-jut.
"Padahal menurut cerita guruku, katanya Pek-kau Hoat-ong itu memiliki ilmu silat maha sakti, dahulu Suhu pernah bertanding sekali dengan dia dan kekuatan kedua orang sama-sama kuatnya."
"Apa yang kau katakan memang tidak salah,"
Sahut Hiauhong dengan berseri-seri.
"Memang aku agak gegabah juga berani meng-gerayangi istana raja agama Putih itu, malam itu benar-benar sangat bahaya bagiku. Tapi diluar dugaan, ternyata disitulah aku telah menemukan kedua Lama menurut gambar yang dilukis Tan Thian-ih itu. Cuma, dikala aku menemukan mereka, merekapun lantas mempergoki aku dan segera membunyikan alarm, serentak aku diuber-uber oleh seluruh Lama penghuni istana'.
"Dan Hoat-ong sendiri apakah muncul?"
Tanya Hay-thian.
"Jika Hoat-ong muncul, masakah aku masih dapat bicara dengan kau seperti sekarang?"
Sahut Hiau-hong dengan tertawa.
"Namun begitu, empat muridnya yang tertua telah mengerubuti aku. Lihatlah ini"
Lalu ia singkap bajunya bagian iga, maka tertampaklah sebuah belang panjang dan mendekuk.
Ia suruh Hay-thian memijit tempat mendekuk itu, ternyata daging ditempat itu halus lunak, tulang iga yang mestinya terdapat disitu sudah hilang.
"Inilah akibatnya,"
Kata Hiau-hong lebih jauh.
"untung aku dapat lari cepat, tapi toh masih kena digebuk sekali oleh tongkat murid tertua dari Hoat-ong itu dan tulang iga ini telah patah kena serangannya. Untung aku masih mempunyai sisa obat 'Poh-thian-koh' yang dulu kucuri dari Ce-lothaucu, itu tokoh Khong-tongpay yang ilhay. maka aku tidak sampai cacat selama hidup. Aku sangat heran atas pengalaman dan penemuanku didalam istana itu, sungguh tak kusangka kedua Lama yang kucari itu ternyata adalah Lama istana Oksim, jika aku tidak melihatnya sendiri, tentu aku tidak dapat mempercayai kenyataan itu."
"Sebab apa?"
Tanya Hay-thian heran.
"Masakah kau tidak tahu bahwa agama Lama sekarang ini terbagi menjadi tiga sekte, Ang-kau, Ui-kau dan Pek-kau (agama-agama merah, kuning dan putih). Pengaruh Pek-kau itu paling ke-cil, tapi paling tertib dan prihatin pengikutpengikutnya. Pek-kau Hoat-ong itupun suatu tokoh pilihan yang jarang terdapat, alim dan tinggi ilmu silatnya terhitung nomor satu diantara ketiga sekte agama itu. Kawanan Lama yang berada di istana Oksim itu setiap waktu akan diperiksa oleh Hoat-ong, tanpa titahnya tidak mungkin berani keluar istana. Sebaliknya untuk pergi kedaerah Kanglam buat menculik isterinya Thian-ih, waktu yang diperlukan sedikitnya ada setengah tahun, cara bagaimana kedua Lama itu dapat mengelabui matanya Hoat-ong? Bukankah hal ini sangat aneh?"
"Jika Ki-pepek sangsi, mengapa tidak terang-terangan minta bertemu dengan Hoat-ong untuk membongkar rahasia itu, sekalian minta Hoat-ong membersihkan istananya dari noda?"
Ujar Hay-thian.
"Seharusnya begitu, tapi aku takdapat berbuat demikian,"
Kata Hiau-hong.
"Harus kau ketahui bahwa pamanmu ini adalah seorang pencuri, sampai sekarang asal melihat sesuatu benda yang disukai, tentu tangannya gatal lagi dan ingin menggerayangi. Pendek kata nama jelekku sudah tersiar luas. dengan kedudukan Hoat-ong yang agung itu mana dia mau menerima seorang pencuri? Andaikan aku dapat menemuinya dengan diam-diam secara menggelap, tapi apakah dia dapat mempercayai apa yang kukatakan? Maka demi urusan bisa berjalan lancar. kupikir harus mengundang seorang yang punya hubungan baik dengan Hoat-ong serta berkedudukan lebih terhormat daripadaku untuk menemuinya. Dalam pandanganku ada dua calon, yaitu Peng-khoan Thian-li dan Gurumu. Peng-khoan Thian-li adalah puteri kerajaan Nepal, pula memiliki benda pusaka kaum Budha serta dianugerahi sebagai 'Li-hou-hoat' (wanta pelindung agama) oleh gereja Lui-im-si di Thian-tiok' ada hubungan baik pula dengan Pekkau Hoat-ong, dengan sendirinya dia adalah pilihan yang tepat. Sedangkan Suhumu juga kenal Pek-kau Hoat-ong sesudah mengalami suatu pertarungan sengit dimasa dahulu, kesudahannya sama-sama kagum atas ilmu silat masingmasing dan saling menghargai."
"Tapi jejak Suhuku tiada menentu, sifatnya aneh pula, jika dia ingin bertemu dengan kau, tanpa di undang juga beliau akan datang, tapi kalau sengaja dicari, sampai' pusing tujuh keliling juga susah menemukannya,"
Ujar Hay-thian.
"Sebaliknya Peng-khoan Thian-li mempunyai tempat tinggal yang tetap, meski jauh dipuncak pegunungan Tengra, namun Ki-pepek tentu akan pergi mengundangnya."
"Dahulu aku pernah bertempur dengan suaminya Pengkhoan Thian-li, yaitu Teng Keng-thian, meski kesudahan aku yang kalah, tapi Teng Keng-thian juga cidera sedikit, peristiwa itu terjadi didepan umum dan sampai sekarang belum, diakurkan, maka aku tidak enak pergi mencari mereka."
"Sebagai seorang pendekar besar, rasanya Teng Keng-thian tidak berjiwa sempit seperti itu, pula iapun bersahabat baik dengan Tan-pepek,"
Ujar Hay-thian.
"Ya, maka aku merasa lebih baik Thian-ih yang pergi mengundang mereka, dan aku boleh coba-coba kelain tempat dengan harapan dapat bertemu dengan Suhumu,"
Kata Hiauhong.
"Dan oleh karena Teng Keng-thian suami-isteri sedang pergi ke Thian-san untuk menghadiri pertemuan diantara anak murid Thian-san-pay yang diadakan oleh ayahnya tiap-tiap 10 tahun satu kali, terpaksa Thian-ih mesti pergi ke Thian-san dan berjanji akan menemui aku setahun kemudian dipegunungan Kelun, tempat beradanya istana Oksim dari Pek-kau Hoat-ong itu. Selama setahun itu aku telah mencari kemana-mana, tapi gurumu tidak kuketemukan, sebaliknya ayahmu telah kupergoki ditengah jalan."
"Hei, dimana?"
Seru Hay-thian kegirangan.
"Di Saka, Tibet", sahut Hiau-hong.
"Aku kenal watak ayahmu yang suka ingat pada apa-apa yang telah lampau. Ia pernah tinggal 10 tahun di Saka, disana banyak kenalan lama, aku menduga dia pasti akan berkunjung pula kesana, maka lebih dulu aku menung-gunya di Saka dan benar juga telah kuketemukan. Ayahmu juga mempunyai sedikit pengalaman luar biasa di Saka, tapi tiada sangkut-paut dengan pokok urusan kita ini, pula tidak terlalu penting, maka lebih dulu kita bicara tentang keadaan ayahmu paling akhir ini. Begitu ayahmu tahu jejak Gihengnya itu, dengan penuh perhatian ia lantas tampil kemuka dan pergi bertemu dengan Pek-kau Hoat-ong. Dahulu ayahmu pernah ikut Sukumu bertemu dengan Hoat-ong, maka ada sedikit hubungan baik."
"O, kiranya begitu, pantas tadi Ih-locianpwe bilang tahun yang lalu ada orang pernah melihat ayahku berada di istana Oksim. Lolu bagaimana sesudah ayah menemui Hoat-ong?"
"Karena sudah lama tak berjumpa, sudah tentu pertemuan kembali mereka itu sangat menggirangkan,"
Tutur Hiauhong.
"Hoat-ong melayani ayahmu dengan penuh hormat. Tapi kemudian waktu ayahmu menyinggung maksud kedatangannya dan mengatakan didalam istananya bersembunyi dua orang jahat, sikap Hoat-ong lantas berubah."
"Hal itupun tidak mengherankan, sebab urusan ini banyak me-nyagkut nama baiknya, sudah tentu ia kurang senang,"
Kata Hay-thian.
"Dan kedua Lama itu tentu akan dihukum berat olehnya."
"Tidak, menurut ayahmu, tatkala itu sikap Hoat-ong tampak agak kikuk, setelah termangu dengan lesu, sampai sekian lamanya tetap diam saja. Ayahmu mengira paderi agung itu lagi bersedih anak buahnya berbuat jahat dan sedang ingin menghiburnya, sekonyong-konyong Hoat-ong mengunjuk sikap tidak percaya dan menanya ayahmu adakah bukti-bukti tentang perbuatan anak buahnya itu? "Memang sebelumnya aku sudah menaksir akan kemungkinan itu, maka aku sudah persiapkan apa yang perlu untuk ayahmu, gambar dari Tan Thian-ih itu berada padaku, maka aku telah membawakan gambar itu kepada ayahmu. Tapi demi melihat gambar itu, coba kau terka, apa yang dikatakan Hoat-ong?"
"Dengan kedudukannya yang agung, sesudah mengenali gambar itu adalah Lama didalam istananya, tentu ia akan mengaku terus terang,"
Ujar Hay-thian.
"Ha, dia justeru telah menyangkal. Bahkan ia bertanya malah siapakah kedua Lama didalam gambar itu? Ia menyatakan didalam istananya tidak terdapat kedua Lama seperti gambar itu. Padahal dengan mata-kepalaku sendiri aku melihat kedua Lama itu berada didalam istananya. Tapi sesudah Hoat-ong menyatakan begitu, ayahmu menjadi tak berdaya lagi. Sudah tentu ia tidak dapat minta Hoat-ong mengumpulkan anak buahnya untuk dicocokan menurut gambar.
"Kemudian Hoat-ong bertanya pula darimana sumber berita yang diperoleh ayahmu itu. Ayahmu adalah orang jujur, selamanya tidak suka berdusta, karena kepepet, terus saja ia mengaku terus terang bahwa sipencuri sakti Ki Hiau-hong yang telah melihat sendiri didalam istana. Seketika Hoat-cng menarik muka, katanya. 'Memang aku telah mendapat laporan bahwa Ki Hiau-hong pernah menyelundup kedalam istanaku ini dan bermaksud mencuri, tapi telah dipergoki anak muridku serta kena digebuk sekali dengan tongkat. Mungkin dendam karena usahanya gagal, maka sengaja menyiarkan kabar yang tidak benar itu. Boleh kau katakan pada Ki Hiau-hong bahwa selanjutnya seluas seratus li disekitar istanaku ini dilarang Ki Hiau-hong menginjaknya, kalau sampai kepergok, jiwanya tak kujamin!' Coba, dia malah menggertak aku dan menuduh aku yang mempitenah dia. Haha, masakah aku orang she Ki dapat digertak?. Biarpun Pek-kau Hoat-ong memiliki ilmu silat 'tiada bandingannya. tapi aku justeru tidak gentar padanya.!!"
"Mungkin dia telah dibodohi oleh murid-muridnya' ujar Haythian.
"Dia adalah paderi yang sangat dipuja ayahku, rasanya tidak serendah itu martabatnya? Tapi, ya, maafkan aku berkata terus terang, Ki-pepek, engkau adalah pencuri sakti yang terkenal, pabila diantara. anak murid Hoat-ong itu sudah bersepakat dan membohongi Hoat-ong bahwa engkau telah menggerayangi istananya dengan maksud mencuri, karena Hoat-ong tidak kenal pribadimu, pantas juga kalau dia penyaya laporan anak inuridnya itu."
"Benar, kebencian Hoat-ong padaku mungkin disebabkan hasutan anak muridnya."
Sahut Hiau-hong.
"Tapi kedua penjahat itu sudah terang adalah Lama didalam gerejanya, menurut peraturan yang dia adakan sendiri, semua Lama setiap tiga bulan sekali mesti diadakan inspeksi, masakah dia tidak kenal Lama anak buahnya sendiri? Tapi dia berani menyangka! bahwa didalam istananya tidak terdapat kedua Lama menurut gambar itu. Bukankah hal ini sangat janggal, dapatkah hal ini dikelabui oleh anak muridnya?"
"Ya, peristiwa ini memang membingungkan orang, syukurlah sekarang Tan-pcpek sudah pergi ke Thian-san untuk mengundang Teng Keng-thian suami-isteri, akhirnya urusan ini pasti akan dibikin jelas,"
Kata Hay-thian.
"Adapun mengenai ayahmu,"
Tutur Hiau-hong lebih lanjut.
"Semula Pek-kau Hoat-ong melayani dia sebagai tamu terhormat, tapi sesudah sikap Hoat-ong berubah, pembicaraan menjadi kaku, maka ayahmu lantas mohon diri. Hoat-ong juga tidak me-nahannya, tapi waktu keluar istana. tiba-tiba Hoatong mengatakan sesuatu yang menarik. Ia kata.
"Lain kali sebaiknya kau datang kesini bersama Kim-tayhiap. tak perlu melalui anak muridku. Kim-tayhiap sendiri tahu cara bagaimana untuk menemui aku. Ke-cuali Kim-tayhiap, orang lain jangan sembarangan kau bawa-bawa kesini."
"Ya. memang ucapannya itu agak aneh. agaknya Hoat-ong sangat ingin bertemu dengan Suhuku, bahkan secara diluar tahu anak muridnya,"
Ujar Hay-thian heran.
"Cuma sayang, sampai sekarang Suhumu belum diketemukan. kalau ketemu, tentu teka-teki ini akan dipecahkan dengan cepat."
Kata Hiaurhong.
"Menurut Yap Tiong-siau tadi. katanya Suhu juga akan hadir dalam pertemuan di Kim-eng-kiong itu,"
Kata Hay-thian.
"H.ari pertemuan Itu jatuh tanggal 15 bulan depan, tapi aku sudah berjanji untuk bertemu dengan ayahmu pada akhir bulan Ini,"
Sahut Hiau-hong.
"Tapi waktu Tan Thian-ih berangkat ke Thian-san, dia telah janji padaku untuk bertemu dipegunungan Kelun didekat istana Oksim dan waktunya juga jatuh pada akhir bulan ini. Sebab ayahmu juga ingin bertemu dengan Thiaa-ih, maka aku telah beri tahukan tempat pertemuan kami disana dan ayahmu menyatakan akan menunggu kami lebih dulu. Karena ayahmu cuma seorang diri, aku menjadi kuatir kalau terjadi apa-apa atas dirinya."
"Jika begitu, bolehlah kita menemui ayah dahulu,' kata Haythian.
"Dengan kecepatan lari kita, kukira waktunya masih keburu."
Setelah ambil keputusan tetap, kedua orang lantas berangkat menuju Jinghay.
Di utara pegunungan Kelun, kira-kira ratusan li dari istana Oksim itu adalah sebuah gurun tandus yang disebut gurun Fuhansia, luas gurun itu kira-kira 300 kilometer pesegi, dan merupakan gurun ketiga yang 'Terkenal', di Jinghay.
Suatu hari, Ki Hiau-hong dan Kang Hay-thian telah masuk lingkungan gurun Fuhansia itu.
Dan baru pertama kali Ini Kang Hay-thian menginjak padang pasir seluas itu.
Dari jauh gurun itu seakan-akan bersambung dengan ujung langit.
Terkadang kaki-nya menginjak pasir lunak, sekali kejeblos, perlu banyak membuang tenaga untuk dapat menarik kembali kaki sendiri.
Diam-Diam Hay-thian menjadi was-was.
"Karena kau belum pernah menjelajahi gurun, tentu kau merasa susah."
Ujar Hiau-hong dengan tertawa.
"Padahal gurun Pu-hansia ini terhitung gurun kecilan saja. Dahulu aku pernah melintasi gurun Gobi yang teramat luas itu, untuk mana aku telah ber-jalan tiga-hari-tiga-malam baru dapat keluar dari gurun itu; Di-gurun seluas itu, entah betapa banyak orang yang kesasar dan terpendam hidup-hidup didalam pasir setiap tahun. Waktu itu untung aku tidak ketemukan angin badai, pula aku membawa unta."
"Ki-pepek, pengalamanmu banyak, kepandaianmu tinggi pula. dengan sendirinya kau tidak sulit melintasi gurun yang luas,"
Kata Hay-thian.
"Tapi Siautit belum pernah menginjak padang pasir, setiap langkah aku harus hati-hati, mau-tak-mau aku menjadi jeri."
"Hiantit, mengapa kau sekarang pandai mengumpak orang tua?"
Ujar Hiau-hong dengan tertawa.
"Bicara tentang kepandaian, sekarang kau sudah lebih tinggi dariku. Bicara tentang pengalaman, itu memang perlu gemblengan, tapi juga bukan sesuatu yang takhisa dipelajari, sekarang juga aku dapat mengajarkan sedikit pengalamanku yang penting padamu."
Lalu iapun ceritakan apa-apa yang penting untuk diketahui kalau berjalan dipadang pasir, seperti.
bila ada tanda-tanda pasir bergerak, itu berarti pasir terapung dan sekali-sekali jangan didekati; Kalau melihat tempat yang menonjol keatas, tentu dibawahma kosong dan sekali-sekali jangan diinjak; dan macam-macam lagi.
Akhimya Hia,u-hong menambahkan.
"Sebenarnya dengan kepandaianmu yang tinggi, kau dapat menggunakan Ginkang untuk berlari lebih cepat kira-kira 40-50 li lagi tentu kau akan mencapai padang rumput di-kaki gunung Kelun Jika kau mau, sekarang juga boleh kau coba."
Tengah bicara, mendadak cuaca berubah, kata Ki Hiauhong.
"Cilaka, ini adalah tanda-tanda akan datangnya angin badai."
Benar juga, hanya sebentar saja angin sudah menderuderu, pasir bertebaran bagai selapis kabut tebal, pemandangan menjadi gelap gelita.
"Awas, Kang-hiantit, marilah ikut padaku!"
Seru Hiau-hong.
Angin meniup semakin keras menderu-deru bagai langit ambruk, sekalipun Ki Hiau-hong dan Kang Hay-thian memiliki Ginkang yang tinggi juga tertiup hingga sempoyongan kian kemari.
Maksud Hay-thian hendak menyusul Ki Hiau-hong untuk bergandengan tahgan dan sama-sama melawan angin badai itu, tapi belum menca-pat sangat paman, mendadak didepannya menegak serangkum tyang pasir yang menjulang tinggi keangkasa.
"Lekas lari membelakangi angin, ini adalah Liong-kwi-hong (angin lesus naga)!"
Seru Ki Hiau-hong.
Belum lenyap suaranya, mendadak tiang pasir itu menyambar ke-samping.
Karena tidak kuat berdiri tegak, cepat Hay-thian men-jatuhkan diri membelakangi angin dan dengan ilmu lompatan "Yan Cing Cap-pck-hoan"
Atau delapanbelas lompatan ajaran Yan Cing (tokoh dalam cerita pahlawan Lyang-san), segera ia menggelundung pergi sejauh mungkin.
Dan pasir lantas seperti hujan menuang keatas tubuhnya.
Sekejapan itu napas Kang Hay-thian hampir-hampir berhenti, untung angin lesus naga itu datang cepat perginya juga cepat, pula ia membelakangi arah angin, maka pasir yang mencurah keatas tubuhnya iiu tepat rata menutupi tubuhnya saja, lalu angin lesus itupun lewatlah.
Dan begitu angin sedikit reda, segera Hay-thian merangkak bangun.
Waktu ia pandang sekitarnya, gurun itu masih diselubungi kabut pasir yang tebal, pandangan mata masih terhalang, meski ia sudah celingukan kian kemari, tetapi bayangan Ki Hiau-hong tidak kelihatan.
Ia menjadi kuatir, cepat ia berteriak-teriak.
"Ki-pepek! Dimana kau, Ki-pepek!"
Selang tak lama, tiba-tiba terdengar suara gelak tertawa Ki Hiau-hong.
"Hahaha! Hampir-Hampir saja aku terkubur hiduphidup!"
Waktu Hay-thian memandang kearah suara itu, ia lihat Ki Hiau-hong lagi merangkak keluar dari gundukan pasir, ternyata pencuri sakti itupun senasib dengan Kang Hay-thian, bahkan keadaannya lebih runyam pula.
Meski angin lesus itu sudah hilang, tapi angin badai masih meniup dengan keras.
Pasir yang bertebaran itu mirip tirai kuning yang berlapis-lapis tebalnya dan menyelubungi angkasa raya.
Benda-Benda dalam jarak dua-tiga meter hanya kelihatan remang-remang, napaspun susah waktu berjalan.
Sudah banyak pengalaman Ki Hiau-hong, tapi angin badai seperti barusan ini belum pernah diketemukannya, apalagi angin badai digurun luas.
Diam-Diam ia mencela dirinya sendiri yang sem-berono.
"Semuanya salahku sendiri, mestinya aku harus menyewa dua ekor unta, tapi aku telah memandang enteng gurun kecil ini, kusangka dalam waktu dua-tiga jam sudah dapat melintasinya, siapa duga mendadak berjangkit angin lesus. Digurun Gobi aku dapat lewat dengan aman, digurun kecil ini malah ketemu batu-nya. Untung tidak terjadi apa-apa, kalau sampai Kang-hiantit terkubur ditengah gurun, bagaimana aku harus katakan pada Kang hiante?"
Tengah pikirannya bekerja, tiba-tiba terdengar suara kelinengan unta yang terbawa angin dari jauh, makin lama makin mendekat. Hiau-hong menjadi girang, serunya.
"Ha, Thian memang tidak membikin buntu jalan manusia Kang-hiantit, marilah lekas!"
Dan d antara kabut pasir yang remang-remang itu dari jauh tampak dua sosok batangan unta sedang mendatangi. Dengan cepat segera Ki Hiau-hong memburu kearah itu sambil berteriak.
"Tolong! Tolong!"
Sesudah dekat, perawakan kedua orang penunggang unta itu tampak tinggi besar, tapi wajah mereka tak jelas kelihatan, agaknya tidak mirip bangsa Han.
Karena kuatir mereka tidak paham bahasanya, selagi Ki Hiau-hong hendak memberi isyarat dengan tangan, mendadak kedua laki-laki penunggang unta itu masing-masing mengangkat sebuah godam besar, tanpa bicara lagi terus menghantam keatas kepala Ki Hiau-hong.
Sudah tentu perbuatan itu sekali-sekali tak diduga oleh Ki Hiau-hong, dalam kagetnya cepat Hiau-hong mengegos kesamping, tapi sempat menghindarkan hantaman palu sebelah kanan, mestinya ia melompat mundur untuk menghindar serangan kanan-kiri itu, dalam gugupnia ia lupa serangan palu dari sebelah lain, maka kembali ia terhantam oleh palu raksasa orang sebelah kiri itu.
Untung lantas terdengar suara "trang"
Yang nyaring disertai mencipratnya lelatu api.
Paiu besar itu tidak mengenai Ki Hiauhong, sebaliknya ujung palu tampak terkutung dan mencelat pergi hingga jauh.
Kiranya Kang Hay-thian telah memburu tiba dan jiwa Ki Hiau-hong tertolong.
Sama sekali kedua laki-laki itu tidak mengira Pokiam atau pedang pusaka Kang Hay-thian itu sedemikian tajamnya, saking kejut-nya mereka tidak berani bergebrak lagi.
Sekali onta ditepuk, secepat terbang mereka melarikan binatangbinatang itu.
Meski unta termasuk binatang yang berbadan besar, tapi larinya dipadang pasir ternyata jauh lebih cepat dari kuda, hanya sekejap saja lantas menghilang digurun yang berlapiskan kabut pasir itu.
"Sungguh kurangajar!"
Omel Hiau-hong dengan gusar.
"Sudah tidak menolong, bahkan hendak mencelakai aku. Jika kalian kejam, maka aku pun tidak kenal ampun!"
Terus saja ia keluarkan Ginkangnia yang hebat untuk mengudak kedua ekor unta itu.
Sebagai seorang yang tahu harga diri serta terhitung tokoh terkemuka dalam persilatan, selamanya ia tidak pernah sem-barangan memohon sesuatu pada orang.
Kini demi untuk menyelamatkan Kang Hay-thian, terpaksa ia minta tolong, siapa duga tuan penolong yang diharapkan itu berbalik hampir melayangkan nyawanya.
keruan makin dipikir makin naik darahlah dia.
Segera ia bermaksud menguber kedua orang itu untuk merampas unta mereka serta meninggalkan kedua lakilaki itu dipadang pasir.
Adapun hati Kang Hay-thian lebih tulus, segera ca mencegah-nya.
"Ki-pepek, jika orang toh tidak sudi menolong, buat apa kita memaksa? Marilah kembali saja dan kita masih dapat mencari jalan lain."
Namun Ki Hiau-hong sudah kadung gemas, ia mengejar semakin kencang.
Karena kuatir sang paman kecundang, pula bukan mustahil saking marahnya Ki Hiau-hong akan membunuh kedua laki-laki tadi, terpaksa Hay-thian mengeluarkan juga Ginkang-nya yang hebat untuk menyusul.
Pada saat lain, sekonyong-konyong serangkum angin keras menyambar tiba.
karena belum berpengalaman.
Kang Haythian tidak pandai membedakan arah angin, maka tepat ia tersedot kedalam pusaran angin lesus.
Begitu hebat angin itu hingga Hay-thian tidak berkuasa pula, sebaliknya berputarputar terbawa angin keras itu hingga kepala pusing dan mata berkunang-kunang.
Diam-Diam ia mengeluh bisa celaka, sesaat itu ia tidak sempat banyak memikir lagi, cepat ia mengeluarkan "Jian-kin-tui", ilmu mengantapkan badan, sekuatnya ia tahan tubuhnya disitu, tapi sekali tubuhnya tertahan dengan kuat, seketika badannya menjadi makin ambles malah kedalam pasir yang bergolak itu.
Semakin ia meronta, semakin Salam mengambles kebawah.
Untung Haythian cukup cerdik, begitu merasa gelagat jelek, segera ia pentang tangan untuk menahan didinding pasir itu hingga amblesnya banyak berkurang.
Sementara itu Ki Hiau-hong yang mengejar kedua ekor unta itu tidak mengalami nasib seperti Kang Hay-thian, sebab pencuri sakti itu lebih berpengalaman, ia dapat membedakan arah angin, maka dengan Ginkang yang tinggi, tidak lama kemudian jarak-nya dengan kedua ekor unta itu sudah makin mendekat.
Mendadak kedua laki-laki itu menggertak sekali sambil menggeraki, tangan mereka, seketika segenggam Am gi atau senjata rahasia telah mereka sebarkan.
"Huh, permainan begini juga berani main kayu dihadapanku!"
Jengek Ki Hiau-hong terhadap senjata gelap lawan yang tidak pandai itu, dengan mudah saja dapat dihindarkannya.
Tapi di-tengah kabut pasir yang remangremang, iapun tidak jelas Am-gi jenis apakah yang disebarkan lawan-lawan itu.
Namun tokoh macam Ki Hiau-hong sudah tentu tidak pandang sebelah mata terhadap serangan Am-gi begitu, ia masih terus mengejar sekencangnya.
Diluar dugaan, mendadak kakinya terasa kesakitan sekali.
Ternyata Am-gi yang disebarkan kedua laki-laki itu adalah jenis paku yang tajam kedua ujungnya.
Jumlahnya beratus-ratus pula.
Sebenarnya kalau bicara tentang ketajaman mata dan kecepatan gerakan, tidak mungkin Ki Hiau-hong kena diserang.
Tapi di tengah padang pasir yang remang-remang itu, sekali ia pandang ringan pihak musuh, akibatnya ia telah telan pil pahit.
Karena kakinya tertancap paku tajam itu, sakitnya tidak kepalang, hampir saja Ki Hiau-hong terjungkal, kontan saja ia memaki kalang-kabut.
Sebaliknya kedua Iaki-Iaki itu membalasnya dengan terbahak-bahak yang dibuat-buat hingga kedengarannya sangat seram dan menusuk telinga.
Dan ditengah tertawa mereka itulah, tlba-tlba dua buah cakar besi menyambar kearah Ki Hiau-hong lagi.
Dalam pada itu, dengan menahan sakit Ki Hiau-hong telah cabut paku yang menancap dikakinya itu, darah lantas mengucur juga dari luka itu.
Dan karena kaki terluka, larinya menjadi jauh berkurang.
Sementara itu kedua buah cakar besi telah menyambarnya dari kanan dan kiri bagaikan cakar naga.
baru saja Ki Hiau-hong hendak menghindar, tahu-tahu sudah terdengar suara beberapa kali,, kedua belah lengan bajunya telah sobek kena cakar besi musuh.
Dan dilain saat cakar besi itu sudah merangsang ketulang pundak nya 'itu, tiba-tiba terdengar suara suitan panjang sekali, ditengah kabut pasir itu tiba-tiba menyamber tiba selarik senar putih.
Waktu ditegaskan, kiranya adalah sebilah pisau terbang.
"Krak-krak"
Dua kali, tepat tali cakar besi telah terpapas putus bagian tengah.
Berbareng Ki Hiau-hong telah berjumpaktan juga hingga cakar besi yang lainpun mengenai tempat kosong dan segera ditarik kembali oleh pemiliknya.
Habis itu, tertampaklah seekor unta lain sedang berlari mendatangi, penunggangnya adalah seorang laki-laki berbaju hitam, datang-datang lantas membentak dalam bahasa Tibet.
"Siapa berani berbuat sewenang-wenang disini? Kerupahongkeynaruci!"
Ki Hiau-hong sudah mendieiajah kemana-mana, banyak bahasa daerah yang dipahaminya, begitu pula bahasa Tibet.
Ucapan laki-laki itu-pun diketahui olehnya, tapi kalimat terakhir itulah sama sekali ia tidak paham apa artinya?
Kedua laki-laki yang duluan agaknya agak jeri, tanpa bicara lagi mereka melarikan unta mereka dan hanya sebentar saja sudah menghilang dibalik kabut pasir.
Dan unta yang belakangan itu tidak lama lantas mendekat.
"Dapatkah kau naik kesini?"
Tanya laki-laki baju hitam itu kepada Ki Hiau-hong.
Hiau-hong pikir mungkin orang ini tiada maksud jahat lagi pa-danya.
Maka dengan menahan rasa sakit ia terus melompat naik keatas gigir unta.
Tapi untuk menjaga segala kemungkinan, ia duduk dibelakang orang itu.
Dengan demikian ia tidak kuatir disergap orang lagi.
Sebaliknya laki-laki itu sama sekali tidak ambil pusing, ia tdak me-nanya juga tidak menoleh, tapi terus putar untanya dan berjalan kedepan.
"Eh, aku masih mempunyai seorang kawan"
Belum habis ucapan Ki Hiau-hong itu, tiba-tiba terdengar suaranya Kang Hay-thian sedang memanggil padania.
"Peganglah'"
Seru laki-laki baju hitam itu sembari melemparkan seutas tali.
Waktu itu Hay-thian sudah hampir ambles seluruhnya kedalam pasir, hanya bagian kepala saja masih menongol diluar.
Maka ketika tali itu terlempar sampai dimukania, terpaksa ia hanya dapat menggigitnya dengan gigi "Naik!"
Bentak laki-laki baju hitam itu sambil menarik sekuatnya.
Sekali kebas tali itu, tubuh Kang Hay-thian terus saja mencelat keatas udara, sekali berjumpalitan.
dengan enteng sekali ia turun keatas unta.
Sungguh girang dan kagum juga Ki Hiauhong menyaksikan kepandaian kedua orang itu, yang satu menarik dengan cekatan, yang lain main akrobat dengan indah.
Ia menjadi ragu-ragu orang macam apakah laki-laki yang berkepandaian tinggi itu?
Tapi kalau dia sudah sudi menolong, rasanya takkan bermaksud jahat.
Ia pikir biar nanti kalau sudah jauh dari gurun bahaya ini baru akan menanyakan nama orang.
Segera iapun membubuhi lukanya sendiri dikaki itu dengan "Pohthian-fcoh" (salep) yang dibawanya.
Unta adaiah binatang raksasa yang tangkas, biarpun memuat tiga orang, jalannya masih tetap secepat terbang dipadang pasir yang luas itu (lihat gambar omslag).
Kira-Kira satu jam kemudian, angin sudah tenang, pasir yang bertebaran tadipun sudah hilang, cuaca telah cerah kembali.
Selang tak lama lagi, tertampaklah didepan sana sebuah padang rumput yang luas kehijau-hijauan, jujung padang rumput sana adalah kaki gunung Kelun.
Segera unta dihentikan.
Iakl-Iaki baju hitam itu menoleh kebelakang dan berkata.
"Angin sudah reda, melihat tiuaca sebaik ini, sampai besokpun takkan terjadi apa-apa lagi. Apa kalian datang kemari untuk mentiari teman? Dan kalau sudah bertemu, sebaiknya besok lantas kembali saja dan jangan melintasi pegunungan itu!"
Ki Hiau-hong terkejut mendadak ketika tanpa sengaja dilihat nya dibawah jubah hitam laki-laki itu menonjol keluar ujung jubah kaum Lama yang putih.
Cepat ia menarik Kang Hay-thian untuk melompat turun dari unta itu, lalu menegur.
"Apakah kau adalah Lama dari istana Oksim? Darimana kau tahu kedatangan kami yang ingin cari teman ini?"
"Aku kenal kau adalah Sin-thau (pencuri sakti) Ki Hiauhong", sahut Lama itu denigan tertawa.
"Sayang kau tidak datang bersama Kim-tayhiap, maka terpaksa kau dipersilakan kembali saja".
"Apakah maksudmu ini adalah atas perintah Hoat-ong?"
Tanya Hiau-hong.
"Benar."
Sahut Lama itu.
"Aku bersama beberapa saudara perguruan kami telah diperintahkan guru kami untuk meronda disini untuk menjaga kemungkinan kau akan menieludup ketempat kami lagi tanpa menghiraukan pesan guruku dahulu melalui Kang Lam, masakah dia tidak sampaikan pesan itu padamu?"
Ki Hiau-hong menjadi curiga, setelah memikir, segera ia berkata.
"Banyak terima kasih atas pertolonganmu tadi."
"Tak perlu berterima, kasih padaku, tapi harus kepada guruku,"
Sela Lama itu "Kalau beliau tidak perintahkan kami meronda disini. tentu aku takkan ketemu dengan kau dan menolong jiwamu."
"Baiklah, jika begitu, harap sampaikan terima kasihku kepada gurumu, berbareng silakan memberi lapor bahwa aku tdak melupakan pesannya itu yang melarang aku menginjak tanah seratus li disekitar istananya, kalau melintasi pegunungan Kelun berarti melanggar larangannya itu."
"Benar, jika kau sudah tahu, maka sebaiknya jangan kau meneruskan perjalanan lagi,"
Kata Lama itu.
"Aku.benar-benar tidak paham apa maksud Hoat-ong itu,"
Ujar Hiau-hong.
"Jika beliau pandang aku sebagai orang jahat, harini mestinya kau tidak perlu menolong aku; Dan bila ada sebab-sebab lain, untuk mana betapapun aku harus minta penjelasan padanya."
"Sebagai orang luar, hendaklah Ki-siansing jangan banyak tanya urusan dalam kami."
Sahut Lama itu.
"Pula guruku juga takkan menerima kau. Sedangkan kedepan lagi adalah tempat larangan bagimu, disana mungkin kawan-kawanku akan berlaku kurang sopan padamu. Inilah nasihatku padamu, masa-bodoh jika kau tetap kepala batu."
Sungguh rasa Ki Hiau-hong sangat penasaran, katanya urusan dalam, tapi dirinya dilarang datang dan dijadikan kambing hitam, bukankah ini tidak adil?
Tapi melihat sikap Lama itu agak marah, betapapun orang adalah tuan penolongnya.
terpaksa Hiau-hong bersabar.
Dan selagi Lama itu hendak meninggalkan Ki Hiau-hong dan Kang Hay-thian, tiba-tiba tertampak beberapa penunggang kuda sedang mendatangi dengan cepat.
Melihat itu, air muka Lama itu-pun berubah hebat.
Waktu Hiau-hong perhatikan, terniata penunggangpenunggang kuda itu memakai jubah putih kaum Lama.
Segera iapun dapat mengenali satu diantaranya adalah murid utama Hoat-ong yang pernah me-nempurnya dahulu.
Sedang Hiau-hong heran Lama yang pertama mengapa ketakutan demi nampak kedatangan kawan sendiri, sementara itu penunggang-penunggang kuda itu sudah tiba dan Lama yang pertama tadi telah dikepung ditengah.
Dengan muka kaku segera Hou-hoat-tetiu (murid pembela agama) dari Pek-kau Hoat-ong yang dikenal Ki Hiau-hong itu menegur pada Lama pertama tadi.
"Affandi, apa Yang sedang kau lakukan disini?"
"Aku sedang mencari obat-obatan dipegunungan, kebetulan tertimpa angin badai dan mendengar dipadang pasir ada suara orang minta tolong, maka aku memburu kesini,"
Sahut Lama itu. Hiau-hong menjadi heran mengapa Lama itu membohong pada kawannya sendiri, padahal beradanya disitu adalah atas perintah Hoat-ong.
"Kedua orang inikah yang telah kau tolong?"
Tanya Houhoat-tecu itu sambil melirik sekejap kearah Ki Hiau-hong. Mendadak Hou-hoat-tecu itu menjadi gusar, bentaknya.
"Affandi, bagus sekali perbuatanmu ini, sekarang juga aku hukum kau tampar muka sendiri 40 kali, lalu lepaskan Kasa dan ikut aku pulang untuk menerima hukuman lebih lanjut."
Kasa adalah jubah kaum Lama yang suci, Hou-hoat-tetiu itu suruh dia melepaskan kasanya, itu berarti memecat dia dari agama Lama dan menganggap dia sebagai murid murtad agama sendiri.
"Suheng,"
Kata Lama tadi dengan suara gemetar dan muka merah padam.
"aku berdosa apa hingga mesti menerima hukuman seberat itu?"
"Sudah tahu, masih pura-pura tanya?"
Sahut Hou-hoat-tecu dengan tertawa dingin.
"Siapakah orang ini, masakah kau tidak tahu? Kau telah bersekongkol dengan musuh, apa hukumannya?"
"Budha maha welas-asih, harini aku menolong jiwa orang, itu sesuai dengan ajaran agama kita,"
Demikian bantah Lama pertama itu.
"Pula Kaucu hanya melarang orang ini masuk kewilayah istana kita, toh tiada perintah agar kita membunuhnya diluar ja-rak tempat yang ditentukan itu. Disini kebetulan lebih seratus li dari istana kita, ia mengalami bahaya seperti orang umumnya, mengapa aku dilarang menolong dia?"
"Diluar jarak seratus li dia tetap musuh kita juga,"
Sahut Hou-hoat-tecu.
"Tidak perlu kau membantah, lekas kau mengaku salah, mungkin hukuman dapat dibikin ringan."
"Sang Budha memotong daging sendiri untuk makan elang, tanpa hiraukan jiwa sendiri telah menolong harimau, padahal elang dan harimau bukankah musuh manusia juga? Sedangkan sang Budha toh masih menolong mereka, apalagi sekarang yang kutolong adalah sesama manusia Tidak, aku tidak mengaku salah!"
Sahut Lama itu dengan tegas.
"Banyak omong tidak berguna, aku tidak sudi berdebat dengan kau, baik mengaku salah atau tidak, pendek kata kau takkan terhindar dari hukuman,"
Kata Hou-hoat-tecu dengan gusar. Dan mendadak ia membentak.
"Tanggalkan kasanya dan ringkus dia!"
Sekali perintah, segera dua Lama yang lain berlari maju, Affandi, yaitu lama yang menolong Ki Hiau-hong berdua, segera diseret turun dari unta serta kedua tangannya ditelikung dan diikat, menyu-sul kasanya lantas hendak dibelejeti pula.
Terdorong oleh rasa keadilan, dengan gusar Kang Hay-thian lantas membentak.
"lMana boleh kalian berlaku sewenangwenang?"
Diluar dugaan, mendadak Hou-hoat-tecu itu lantas memberi perintah pula.
"Tawan sekalian kedua orang ini!"
Tapi belum lagi orang turun tangan. Kang Hay-thian sudah lantas mendahului menerjang maju.
"Ini adalah urusan dalam kami, jangan tuan-tuan ikut campur, lebih baik kalian pikirkan diri sendiri saja!"
Seru Affandi cepat.
Hay-thian tertegun oleh seruan itu, dari ucapan Affandi itu, terang mengandung arti tertentu dan minta dia jangan bicara apa yang sebenarnya telah terjadi tadi.
Dalam pada itu kedua Lama yang meringkus Affandi itu mendadak telah angkat keatas tawanannya itu sebelum Kang Hay-thian menerjang tiba, sekali diputar, segera tubuh Affandi dilemparkan kearah Hou-hoat-tecu, menyusul mereka lantas memutar untuk menempur Hay-thian.
Segera dengan sebelah tangan Hou-hoat-totiu memegang Affandi, menyusul tangan lain terus menghujani tamparan kepada Affandi sambil mendamperat;
"Kau berani membangkang perintahku, sekarang hukumanmu ditambah sekali lipat, harus kutampar kau 80 kali!"
Tapi baru saja belasan kali ia memukul, tiba-tiba terasa angin pukulan menyambar dari depan Kiranya Ki Hiau-hong yang telah menerjang kearahnya.
Hou-hoat-tecu itu terhitung jago nomor lima dalam istana Oksim.
Begitu merasa diserang, segera iapun memapak dengan pukulan.
Dengan tenaga memukul dan menarik yang disebut Im-yang-ciang-lik, tenaga positip dan negatip, maksud Ki Hiau-hong hendak membanting lawannia.
Tak terduga tenaga pukulan lawan ternyata keras luar biasa hingga tenaga pukulan Ki Hiau-hong ber-balik dipatahkan, bahkan Hiau-hong sendiri hampir-hampir tergentak ja-tuh.
Untung Ginkang Ki Hiau-hong sangat tinggi, begitu merasa gelagat jelek, segera ia melompat keatas, menyusul dengan "Hian-im-ci", jarinya lantas menutuk kebawah.
"Bagus, Affandi, benar-benar kau telah sekongkal dengan musuh,"
Seru Hou-hoat-tecu itu dengan tertawa.
Ia pegang punggung Affandi terus diputar keatas Maka tutukan Ki Hiauhong itu tidak mengenai musuh, sebaliknya mengenai Affandi.
Karena tamparan-tamparan tadi memangnya Affandi sudah kesakitan, kini kena ditutuk pula oleh Hian-im-ci, seketika satu arus hawa dingin menyusup kedalam tubuhnya, kontan saja la menggigil dan keringat dingin merembes keluar.
"Kau berani bersekongkel dengan musuh, maka biar kau rasakan dulu serangan musuh itu,"
Hou-hoat-tecu dengan menyindir. Hiau-hong sangat gusar, bentaknya.
"Engkau benar-benar satu Su-heng yang kejam!"
Terus saja ia keluarkan Thian-lopoh-hoat.
sekali menyelinap, tahu-tahu ia sudah menyusup kebelakang kawan, kedua tangan terus hantam berbareng.
Tapi sedikit menggeser, Hou-hoat-tecu itu tetap menggunakan Affandi sebagai tameng.
"plak", tangan kiri Ki Hau-hong tepat me ngenai Affandi, sedang tangan kanan tepat pula beradu dengan tangan Hou-hoat-tecu. Namun Ki Hiau-hong sebelumnya sudah menduga lawan pasti akan menggunakan Affandi sebagai tameng pula, maka sebelumnya ia juga sudah merencanakan siasatnya Kiranya ilmu silat Ki Hiau-hong sebenarnya sangat tinggi, cuma sayang, diwaktu muda pemupukan dasarnya kurang kuat, maka selamanya Lwekangnya tidak berhasil diyakinkan hingga tingkatan tertinggi. Tapi bicara tentang luasnya pengetahuan ilmu silat, didu-nia ini boleh dikata tiada bandingannya, kecuali Kim Si-ih. Selama hidup Ki Hiau-hong entah sudah berapa banyak mencuri kitab-kitab pusaka berbagai mazhab atau aliran persilatan, maka setiap cabang ilmu silat terkemuka sedikit banyak tentu dipahaminya. Pukulan yang kena diatas badan Affandi tadi adalah semacam ilmu pukulan yang sangat bagus, namarfa "Hwe-jun-ciang", pukulan yang menghidupkan, yaitu ilmu pukulan ciptaan Pho Jing-cu, tokoh angkatan keenam dari Cong-lang-pay pada jaman permulaan dinasti Boan Khing Ilmu pukulan itu bukan digunakan untuk melukai orang, sebaliknya malah dipakai untuk pengobatan. Dari itu, rangsangan hawa dingin yang diderita Affandi tadi seketika le-nyap. Dan pukulan Ki Hiau-hong yang beradu dengan Hou-Hoattecu itulah benar-benar pukulan yang berbahaya, yaitu Siu-loim-sat-kang yang keji. Cuma sekaligus ia mesti menolong Affandi, maka tenaga pukulan yang dilontarkan itu tidak dapat sepenuhnya. Namun begitu. Hou-hoat-tecu itu toh tidak tahan juga, ia menggigil kedinginan dan gemeteran. Dengan gusar Hou-hoat-tecu melemparkan Affandi kepada kawannya yang lain sambil berseru.
"Bawa pulang dulu kepada Cit-hoat Suheng, aku bertekad akan membereskan kawanan iblis ini!"
Habis itu, segera ia melancarkan serangan membadai kearah Ki Hiau-hong.
Setelah gebrakan tadi, tenaga murni Ki Hiau-hong juga banyak terbuang, sedangkan Siu-lo-im-sat-kang yang dilatihnya itupun belum mencapai tingkatan yang tertinggi hingga tidak mampu digunakan secara terus-menerus.
Sebaliknya Lwekang lawan lebih kuat dari dia, maka serangan gencar itu dalam waktu singkat Ki Hiau-hong sudah terkurung di tengah-tengah tenaga pukulannya.
Dipihak sana, kedua Lama yang meringkus Affandi tadi ternyata bukan tandingan Kang Hay-thian.
Sebenarnya dalam beberapa jurus saja Hay-thian mampu mengalahkan mereka, tapi pemuda itu tidak mau sembarangan melukai orang, maka kedua Lama itu dapat bertahan sampai lebih 30 gebrakan.
Tapi karena timbulnya rasa kasihan Kang Hay-thian itu.
ia menjadi kehilangan kesempatan untuk menolong Affandi.
Ketika kedua Lama digempur mundur, sementara itu Affandi sudah digondol lari orang.
"Sudahlah, Ki-pepek, biar kelak kita menegur pada Hoatong saja, meski pertempuran ini diteruskan juga tiada artinya lagi,"
Seru Kang-Hay-thian.
"Tapi orang lain justeru tidak mau berhenti"
Sahut Hiauhong dengan tertawa.
Karena itu, barulah Hay-thian mengetahui Ki Hiau-hong sedang terkurung ditengah tenaga pukulan lawan, betapapun dia telab menghindar dengan lincah juga susah melepaskan diri.
"Baiklah, akan kupisahkan kalian!"
Seru Hay-thian terus menerjang maju.
Sudah tentu Hou-hoat-tecu itu tidak pandang sebelah mata pada Kang Hay-thian, segera sebelah tangannya menghantam menyambut serangan pemuda itu.
Dibiar dugaannya, meski usia Hay-thian masih muda belia, tapi ilmu silatnya masih lebih kuat daripada Ki Hiau-hong.
Maka terdengarlah suara "plak"
Yang keras, Hou-hoat-tecu itu sampai sempoyongan tergentak oleh tenaga pukulan Kang Hay-thian. Ternyata ilmu pukulan yang digunakan pemuda itu adalah "Si-mi-ciang-hoat"
Yang hebat, sudah tentu Hou-hoat-tecu itu tidak tahan.
Maka beruntun-runtun Hou-hoat-tecu itu berputar sampai belasan kali baru dapat menegakan tubuhnya.
Keruan kagetnya tak terkata.
Tanpa bicara lagi terus saja ia mencemplak kudanya dan melarikan diri.
Cepat beberapa Lama kawannya lantas ikut kabur.
"Mereka toh sama-sama anak murid Pek-kau-Lama, mengapa Affandi itu menghadapi kita dengan ramah-tamah dan bersahabat, sebaliknya Lama-Lama yang belakangan ini sedemikian jahatnya pada kita?"
Ujar Hay-thian denlgan heran.
"Ya, urusan ini memang agak ganjil,"
Sahut Hiau-hong sambil memikir.
"Kulihat mereka tidak mirip sebagai sesama agama."
"Benar, aku juga sedang heran,"
Kata Hay-thian.
"Mengapa Affandi itu tidak mengatakan apa yang diperintahkan Hoatong, sebaliknya sengaja membohong dengan lain alasan'"
"Menurut dugaanku, boleh jadi paderi-paderi didalam istana Oksim itu sudah terpecah belah menjadi dua golongan,"
Ujar Hiau-fcong.
"Maka sikap mereka terhadap kiia menjadi berbeda. Maksud Hoat-ong sesungguhnya mungkin tidak ingin membikin celaka kita, bukan mustahil iapun bermaksud baik dengan mengirim Affandi untuk mencegah kedatangan kita kesana. Sebaliknya Lama-Lama yang datang belakangan itu terang telah pandang kita sebagai musuh." ' "Jika begitu, bukankah Hoat-ong sudah takdapat menguasai anak muridnya lagi?"
Kata Hay-thian dengan kuatir.
"Bahkan terhadap anak buahnya yang membangkang itu tampaknya ia malah jeri. Sungguh hal ini susah untuk dimengarti."
"Memang urusan ini sangat aneh, dengan perbawa Hoatong, mengapa anak buahnya berani membangkang padanya?"
Kata Hiau-hong.
"Tapi apa yang terjadi tadi toh bukti nyata memang demikian halnya. Ya. terpaksa mesti mencari ayahmu dulu untuk dirundingkan lebih jauh."
"Dan bagaimana dengan larangan Hoat-ong itu? Kita menurut atau tidak?"
"Malahan sekarang aku menyangsikan jangan-jangan larangan Hoat-ong itupun ada maksud lain"
"Ah, mungkin disebabkan dia kuatir anak muridnya yang berlawanan dengan dia itu akan bikin susah padamu?"
"Tapi biarpun bagaimana juga aku takkan peduli,"
Ujar Hiau-hong dengan tertawa.
"Apalagi sekarang aku sudah sangsi, maka duduknya perkara lebih-lebih harus kuselidiki hingga jelas." ."Baiklah, jika Ki-pepek sudah bertekad begitu, kitapun tidak perlu gubris pada perintah larangannya itu."
Maka kedua orang lantas melanjutkan perjalanan kedepan.
Tidak lama mereka sudah memasuki lereng gunung Kelun.
Tiba-Tiba terdengar diatas sana ada suara orang ribut-ribut.
Ketika Ki Hiau-hong mendengarkan dengan cermat, mendadak ia berseru.
"He, agaknya ayahmu seperti sedang ribut mulut dengan orang! Pihak lawan kedengaran ada beberapa orang banyaknya."
Girang dan kuatir demi mendengar ayahnya berada diatas situ, cepatan saja Kang Hay-thian mengeluarkan Ginkang yang tinggi untuk merayap keatas gunung.
Sesudah mencapai diatas pun-cak, benar juga dilihatnya ada lima Lama sedang mengitari ayahnya.
Ada diantaranya sedang memberi hormat pada ayahnya, sedang Lama yang lain ada yang tarik-menarik dengan ayahnya.
Keruan Hay-thian terheran-heran menyaksikan itu.
"Coba dengar, mereka seperti sedang mengundang ayahmu agar sudi menjadi tamu mereka,"
Demikian Ki Hiau-hong telah membisiki Hay-thian. Belum lenyap suaranya, benar juga terdengar salah seorang Lama telah berseru.
"Kang-sicu, engkau adalah sobat baik Kaucu kami. sesudah berada disini, mengapa tidak mampir dulu? Jika engkau tidak sudi mampir, tentu kami nanti akan didamperat oleh Kaucu."
Tapi terdengar Kang Lam telah berseru.
"Ai, ai, janganlah kalian main tarik-tarik segala, aku tidak tahan geli.
"kalian telah pegang .tempatku yang menggelikan, he, he, hahaha, geli aku, lekas lepaskan!"
Hampir-Hampir Ki Hiau-hong ikut tertawa menyaksikan itu. Bisiknya pula.
"Coba dengarkan, ayahmu masih tetap bersifat suka berkelakar seperti dahulu. Kau adalah puteranya, tapi malah lebih prihatin."
Dalam pada itu Lama yang lain telah berkata.
"Baiklah, kami takkan main tarik-tarik lagi, asal Kang-sicu sudi mampir ketecypat kami."
"Apakah Kaucu kalian yang suruh kalian mengundang padaku?"
Tanya Kang Lam.
"Ya, masakah kami berani membohong?"
Kata Lama yang duluan tadi "Kaucu mendengar engkau akan datang kemari dalam waktu beberapa harini, maka kami telah diperintahkan menunggu disini."
"Ai, jika begitu, aku takmau kesana,"
Kata Kang Lam.
"Sebab apa?"
Tanya Lama itu.
"Habis, disana tentu aku kurang merdeka,"
Sahut Kang Lam dengan ketawa-ketawa.
"Kalian tidak tahu bahwa aku paling takut segala ikatan adat, Kaucu kalian telah mengundang aku secara begini menghormat, tentu aku akan dilayani sebagai tamu agung, dan sebagai tamu agung, aku tentu takkan bebas bergerak. Ai, ai, aku takmau terima undangan begitu."
Keruan beberapa Lama itu saling pandang dengan bingung dan heran. Sejenak kemudian barulah mereka berkata.
"Ah, Kang-sicu suka berkelakar saja!"
"Tidak, terkadang aku memang suka omong besar, tapi tidak pernah berkelakar,"
Sahut Kang Lam. Dalam pada itu Ki Hiau-hong telah membisiki Kang Haythian agar unjuk diri. Segera mereka berlari ketempat Kang Lam itu. Tentu saja Kang Lam kegirangan, sambutnya dengan berseru.
"Hai, Toako, kau telah datang? Eh, Hay-ji, kau juga ikut kemari?"
Beberapa Lama itu kenal Ki Hiau-hong, mereka menjadi terkejut.
Segera dua orang diantaranya memapak maju dengan menjinjing tongkat "Kiu-goan-sik-theng" (tongkat timah bergelang sembilan) seakan-akan hendak melabrak Ki Hiauhong.
Tapi demi nampak Kang Lam telah menyongsong kedatangan pencuri sakti itu, mereka menjadi ragu-ragu, sebentar mereka pandang Kang Lam dan lain saat mereka pandang Ki Hiau-hong.
Tiba-Tiba Kang Lam berkata kepada mereka dengan tertawa.
,Ini dia, aku mendapatkan wakil sekarang.
Saudaraku ini paling rakus, suka gegares, didalam kuil kalian tentu banyak tersedia barang-barang enak, maka lebih baik mengundang dia saja kesana."
Lama yang mengepalai itu menjadi marah, katanya.
"Janganlah Kang-sicu bergurau, Ki-siansing ini memang akan kami undang juga, cuma takdapat disama ratakan dengan kau. Untuk bicara terus terang, dia justeru adalah penjahat yang hendak kami tangkap."
Dan begitu selesai Lama kepala itu bicara, segera kedua Lama yang sudah siapkan tongkat mereka tadi terus menghantam kearah Ki Hiau-hong.
"Hai, mengapa kalian sembarahgan menyerang orang? Kalian berani menangkap Toakoku, aku lebih-lebih tidak sudi menjadi tamu kalian,"
Seru Kang Lam.
"Betapapun kau harus kami undang kesana,"
Seru Lama kepala tadi terus menarik.
Sementara itu Kang Hay-thian sudah menyaksikan gerakgerik kedua Lama bertongkat yang hendak mengerubut Ki Hiau-hong itu, ia menaksir Ki Hiau-hong lebih dari cukup untuk melawan mereka, maka ia tidak perlu membantunya.
Segera ia menerjang kearah sang ayah, sekali gentak, ia dorong Lama kepala yang hendak menarik Kang Lam itu.
Hanya sebagian saja Hay-thian menggunakan tenaganya hingga Lama itu didorong mundur kebelakang, katanya dengan dingin "Hm, masakah ada cara mengundang tamu demikian?
Ayahku adalah orang ramah, sebaliknya kalian lantas hendak mamaksanya."
"Hay-ji, jangan kau kurang sopan,"
Ujar Kang Lam dengan tertawa.
"Betapapun juga sikap mereka toh timbul dari maksud baik mereka ingin mengundang aku sebagai tamu. Lekas kau minta maaf pada Taysu ini."
Sebenarnya Lama itu sangat gusar karena hampir jatuh kena didorong oieh Kang Hay-thian, tapi ia paksakan diri merendah dan berkata dengan tertawa.
"Ai, kiranya adalah puteranya Kang-sicu, pantas sedemikian lihaynya! Marilah kita berkenalan!"
Habis berkata, dengan mengandalkan Kim-kong-ci-lik (tenaga jari baja) yang kuat, segera ia menjajal Kang Haythian dengan pura-pura mengajak salaman.
"Ya, perkenalkan,"
Sahut Hay-thian.
Berbareng ia sodorkan tangannya.
Siapa duga, sekali tangan menggenggam tangan, seketika Lama itu seperti kena aliran listrik, badarnya tergetar, cepat ia kipatkan tangannya, dengan meringis menahan rasa sakit ia mendelik kepada Kang Hay-thian.
"Maaf."
Kata Hay-thian dengan tertawa.
"Dan masih ada lagi kedua Taysu itu, marilah perkenalkan aku yang rendah ini."
Keruan kedua Lama itu menjadi jeri, mereka mengkeret dan mundur-mundur kebelakang. Dalam pada itu, tiba-tiba terdengar Ki Hiau-hong bergelak ketawa dan berkata.
"Haha, tongkatmu ini berikan padaku untuk cagak pagar. Haha, dan tongkat yang ini boleh juga dipakai pentung penggebuk anjing!"
Kiranya saat itu Ki Hiau-hong juga sudah dapat mengalahkan kedua Lama itu dan telah merampas tongkat mereka.
Keruan kedua Lama itu berjingkrak-jingkrak dengan gusar, dengan bertangan kosong segera mereka bermaksud menempur Ki Hiau-hong lagi.
"Menurut aturan, main keroyok sebenarnya tidaklah pantas,"
Ujar Kang Lam.
"Sebagai sobat baik Hoat-ong, jika diantara kalian ada yang berani mengeroyok lagi, terpaksa aku akan mewakilkan Hoat-ong untuk memberi hajaran kepada muridnya."
"Nah, kalian dengar tidak?"
Seru Hay-thian segera.
"Maksud aryahku, paling banyak kalian hanya boleh dua lawan satu, jika ada yaug ingin maju lagi, boleh arahkan padaku saja. Begini bukan, maksudmu, Yah?"
"Hahaha, anak baik, sekarang kau sudah tahu urusan, dapat meorekmu hati orang tua,"
Sahut Kang Lam.
Dan sudah tentu ketiga Lama yang lain tiada yang berani maju lagi.
Dalam pada itu, seperti kucing memainkan tikus saja, Ki Hiau-hong sedang kocok kedua Lama yang mengeroyoknya itu.
Ia putar kedua tongkat rampasannya yang bergelang itu hingga menerbitkan suara gemerincing yang nyaring.
Serunya dengaa tertawa.
"Hahaha, ketemu anjing galak juga tidak perlu menggebug lagi dengan tongkat ini, cukup suara gemerincing ini saja pasti akan bikin anjing galak lari terbiritbirit ketakutan. Bagus, bagus! Silahkan kalian mendengarkan juga!"
Habis berkata, sekali melesat, tiba-tiba ia melompat kesamping kedua Lain-, itu sambi!
kocok tongkat rampasan yang bergelang itu ditepi telinga mereka.
Ketika salah satu tongkat menyambar, seketika kopiah paderi seorang Lama itu disamplok jatuh.
Menyusul ia menjambret pula, kembali kasa Lama yang lain dibetotnya hingga copot.
Lama kepala tadi menjadi merah padam, malu tercampur marah.
Bentaknya keras-keras.
"Sudahlah, pulang saja, jangan membikin malu lagi disini!"
Maka hanya sekejap saja kelima Lama itu sudah berlari pergi dan tidak dikejar oleh Ki Hiau-hong.
"Kang-hiante, ternyata kau masih tetap suka melucu seperti dulu!"
Seru Hiau-hong kemudian.
"Dan engkau sendiri juga masih jenaka seperti dulu, Kitoako,"
Sahut Kang Lam. Lalu kedua saudara angkat itu lantas saling peluk dengan tertawa terbahak-bahak. Mendadak Ki Hiau-hong mengincar keatas sambil menengadah. Kang Lam menjadi heran, tanyanya.
"Ki-toako, ada apakah diatas pohon itu hingga kau tertarik?"
"Aku merasa diatas pohon seperti ada orangnya,"
Sahut Hiau-hong. Baru selesai ia bicara. benar juga lantas terdengar suara gebk tertawa seorang diatas pohon. Kata orang itu.
"Tajam benar pandanganmu. Ki-toako, kagum sekali aku!" -Menyusul orang itu lantas melompat turun. Waktu diperhatikan, ternyata dia bukan rain adalah Tan Thian-ih. Keruan Kang Lara kegirangan, serunya.
"Hai. Ih-ko, mengapa kau sembunyi disini? Sudah payah aku mencari kau selama beberapa tahun ini!"
"Aku telah menyaksikan kau mempermainkan kawanan Lama tadi. sungguh geliku setengah mati,"
Sahut Thian-Di dengan tertawa.
"Eh, Tit-ji juga sudah sekian besarnya. Dua jurus yang dia unjukan tadi benar-benar sangat hebat". Segera Kang Lam ajak Hay-thian memberi hormat kepada Thian-ih dan menanya.
"Apakah Teng-tayhiap suami-isteri belum pernah datang kemari?"
"Tahun yang lalu waktu aku sampai di Thian-san, kebetulan pertemuan Thian-san-pay mereka sudah bubar."
Tutur Thianih.
"Aku telah menemui Teng-locianpwe (Teng Hiau-Ian) dan baru mengetahui Teng Keng-thian suami-isteri telah pergi kelain tempat, jejak mereka tiada pasti, pula tidak menistakan kapan pulangnya Terpaksa aku menceritakan tentang kejadian diculiknya iparmu yang aneh itu kepada Teng-locianpwe, syukur beliau lantas mengirim anak muridnya pergi mencari Teng Keng-thian. Tapi aku sendiry ada dianji dengan kalian dan dengan sendirinya tak-dapat menunggu Iama-Iama di Thian-san. maka buru-buru aku mohon diri dulu dari Tenglocianpwe. Lohor tadi aku baru sampai disini. begitu masuk pegunungrn ini, ditengah rimba sana tiba-tiba kupergoki serombongan Lama yang sedang berunding disana dan sayupsayup aku mendengar nama kita bertiga telah disinggungnya.
"Tatkala itu kebetulan berjangkit angin badai, angin menderu-deru dan pohon berguncang, namun begitu, karena teraling-aling pepohonan lebat, maka bahayanya tidak besar. Cuma suasana menjadi gelap-gelita juga dan menyeramkan. Untung juga adanya angin badai itu hingga aku yang menguntit dibelakang Lama-Lama itu tidak sampai diketahui. Kudengar seorang diantaranya sedang pesan pada Sutenya. 'Ingat, jika ketemu Kang Lam, kita harus menghadapinya dengan hormat dan pura-pura menyatakan atas perintah Suhu dan mengundangnya kekuil kita. Dan kalau ketemu Ki Hiauhong. kita tidak perlu sungkan-sungkan lagi, terus saja kerubut dia, sesudah tertangkap, hajar dia dahulu biar dia tahu rasa. Dan bila ketemukan Tan Thian-ih. hanya boleh kita menawannya hidup-hidup tapi jangan bikin susah padanya-'Lalu kudengar Sutenya menanya.
"Tapi bagaimana kalau kita pergoki mereka berada bersama, atau Kang Lam berada bersama salah satu diantara kedua yang lain?' Jawab Lama yang pertama. Jika begitu, ikutilah petunjukku nanti menurut gelagat!" -Dan Lama itu bukan lain adalah Lama yang dikacirkan oleh Kang-hiantit tadi "Hahaha. kiranya aku yang paling dibenci mereka,"
Seru Ki Hiau-hong dengan terbahak.
"Sayang tadi aku tidak hajar mereka biar mereka kapok."
"Sebabnya mereka benci padamu adalah karena mereka merasa kehilangan muka waktu kami menggerayangi istana Oksim mereka dan meski kau sudah dikepung dan digerebeg toh kau masih dapat lolos."
Ujar Thian-ih.
"Sebaliknya entah apa muslihat mereka, akan menipu Kang-hiante dan ingin menawan aku hidup-hidup pula? Begitulah aku terus menguntit mereka dan tidak lama lantas aku ketemu dengan Kang-hiante hingga terjadi mengundang tamu setiara paksa tadi. Aku tahu takkan terjadi apa-apa atas diri Kang-hiante, maka aku sengaja bersembunyi terus diatas pohon."
"Memangnya aku sudah tahu Lama-Lama itu sedang membohongi aku,"' ujar Kang Lam dengan tertawa.
"Darimana kau tahu?"
Tanya Thian-ih-"Sebab waktu aku berpisah dengan Hoat-ong tempo dulu.
pernah raja agama itu berkata padaku bila datang lagi kesana.
paling baik supaya menganjak serta Kim-tayhiap, kalau tidak, lebih baik jangan datang kesana; Apa yang dikatakan Hoatong waktu itu tidak didengar oleh siapapun juga.
cara berkatanya juga sungguh-sungguh dan kereng, malahan seperti kuatir aku salah paham padanya Sebab apa dia pesan begitu padaku, sampai kini akupun belum mengarti.
Cuma aku sudah ingat baik-baik pesannya itu.
Maka cara para Lama tadi mengundang padaku itu bukankah bertentangan dan terang bohong?"
"Ya. biasanya peraturan Pek-kau Hoat-ong sangat keras, mengapa anak muridnya sekarang berani memalsukan nama guru mereka, sungguh ini suatu hal yang susah dimengarti."
Ujar Thian-ih.
"Kedua peristiwa ini tidak susah dipecahkan. cuma aku masih belum dapat memahami sebab musababnya", kata Ki Hinu-hong sesudah memikir.
"Menurut pendapatmu bagaimana? Cobalah katakan."
Pinta Thian-ih. Lebih dulu Ki Hiau-hong lantas menceritakan apa yang dialami Kang Hay-thian. Thian-ih termenung mendengar kejadian itu. Tiba-Tiba ia tepuk tangan dan berseru.
"Ya. benarlah!"
"Benar tentang apa?"
Tanya Kang Lam heran.
"Aku menduga Ki-toako menyangsikan Pek-kau Lama telah ter-pecah-belah menjadi dua golongan, bukan?"
Kata Thian-ih.
"Betul,"
Sahut Hiau-hong.
"Bahkan golongan yang diamdiam memusuhi Hoat-ong itu mungkin didukung pula oleh seorang tokoh tertentu. Sebabnya Hoat-ong minta Kanghiante mengajak Kim-tay-hiap kesana, mungkin ia kuatir golongan yang memusuhinya itu akan berbuat tidak menguntungkan Kang-hiante, tapi kalau didampingi Kimtayhaip tentu tidak perlu kuatr lagi. Malahan mungkin sekali Hoat-ong sedang sangat mengharapkan bantuannya Kimtayhiap."
Kang Lam menjadi kuatir serunya.
"Jika begitu, keadaan Hoat-ong bukankah sangat berbahaya? Kukira kite jangan ayal lagi, marilah malam ini juga kita menyusup kedalam istana Oksim untuk menyelidiki."
"Akupun ingin lekas-lekas dapat menyelidiki urusan diculiknya isteriku,"
Kata Thian-ih.
"Tapi kita harus mencari suatu akal agar dapat menemui Hoat-ong dibawah empat mata, kalau tidak, apa gunanya jika mesti bertempur dengan kawanan Lama disana?"
"Dengan Ginkang Ki-toako yang hebat saja tempo hari juga dipergoki mereka,"
Kata Kang Lam.
"Apalagi sekarang kita berempat, hendak masuk kesana secara diam-diam mungkin sangat sulit. Kukira terpaksa mesti masuk secara paksa."
"Aku sudah mempunyai suatu akal,"
Tiba-tiba Ki Hiau-hong menyela dengan tertawa.
"Ai. mengapa sejak tadi tidak Ki-toako katakan,"
Seru Kang Lam dengan girang.
"Sekarang kita masih kurang beberapa macam alat keperluan, maka teka-teki yang belum lengkap ini belum dapat dibuka,"
Ujar Hiau-hong dengan tertawa "Kang-hiante, apa kau boleh membiarkan Hay-thian ikut aku pergi?"
"Pergi kemana dan untuk keperluan apa?"
Tanya Kang Lam.
"Sekarang takdapat kukatakan padamu,"
Sahut Hiau-hong dengan tertawa.
"Tapi jangan kau kuatir, urusan ini mudah dilaksanakan. Asal Hay-thrau yang ikut sudahlah cukup."
"Baiklah, tapi jangan kau mengcjarkan dia menjadi pencurt, lhol"
Kata Kang Lam dengan tertawa.
"Hahaha! Aku justeru hendak mengajarkan dia cara bagaimana harus mencuri!"
Sahut Ky Hiau-hong dengan terbahak-bahak. Dan dftengah tertawanya itu, segera Kang Hay-thian ditariknya dan di-ajyak lari pergi.
"Ki-toako ini benar-benar seorang cerdik dan simpatik pula, asal dia cocok padamu, segala kesulitan apa tentu akan dibantunya dengan penuh tenaga,"
Demikian kata Thian-ih.
"Dan sekali ini boleh kira lihat teka-teki apa yang dia mainkan."
Ujar Kang Lam dengan tertawa.
Segera mereka berduduk dan saling menceritakan pengalaman masing-masing selama ihi.
Tapi tidak terlalu lama, tertampak Ki Hiau-hong dan Kang Hay-thian sudah kembali.
Mereka membawa dua perangkat Kasa, malah mereka memakai kopiah Lama pula, sambil ketawa-ketawa mereka mendekati Kang Lam.
"Ai, kiranya Ki-toako benar-benar mengajar Hay-ji menjadi pencuri,"
Seru Kang Lam dengan tertawa.
"ajarkan dia merampas milik orang ditengah jalan, hakikatnya belum terhitung kepandaian mencun segala." .Belum seberapa jauh kami sudah menyusul rombongan Lama tadi,"
Demikian Hay-thian menyambung.
"Mereka mengira kami akan membunuh mereka, maka mereka takut setengah mati. Memangnya Ki-pepek akan hajar mereka, tap. aku telah mence-gahnya."
"Habis, siapa suruh mereka membual katanya kalau aku ditangkap akan dihajar lebih dulu?"
Ujar Hiau-hong dengan tertawa.
"Tapi rasa dongkolku juga terlampias, aku telah tutuk mereka dengan ilmu Tiam-un-hiat' warisan Kiau-cosu yang lihay, aku taruh mereka disuatu gua, harus 12 jam lagi baru mereka bisa bergerak bebas."
"Apakah maksud Ki-toako agar kita menyaru sebagai Lama?"
Tanya Thian-ih.
"Akal ini memang baik, tapi .ada suatu kekurangan."
"Tentang apa?"
Tanya Ki Hiau-hong.
"Lama dari agama Putih itu sembilan bagian adalah orangorang barat, bangun muka kita jauh berbeda daripada mereka,"
Ujar Hiau-hong.
"Itu sudah kupikirkan sebelumnya,"
Kata Hiau-hong. Lalu ia mengeluarkan empat helai topeng kulit manusia dan menyambung.
"Ditengah rimba raya Anta daerah Tibet terdapat suatu kelompok suku pemburu kepala manusia, setiap manusia yang mereka bunuh tentu dibeset kulit kepalanya untuk dibuat topeng. Orang Tibet paling hormat pada kaum Lama, hanya suku pemburu kepala manusia itu yang berani membunuh Lama. Dan beberapa helai topeng kulit manusia ini adalah hasil curianku dari tempat tinggal suku-suku liar itu. Coba kalian pakai dulu, mengenai pakaian, nanti kuajarxan kalian menyamar."
Segera Thiaii-iti dan Kang Lam mengenakah Kasa yang dibawakan itu dan memakai topeng, mereka coba bercermrn di air kali, benar juga mirip sekali dengan Lama tulen. Lalu Ki Hiau-hong "Ini saja belum,"
Sahut Ia mengajarkan gerak-gerik dan tutur-kata kaum Lama dalam basa daerah Jinghay.
Sesudah latihan sebentar, walaupun masih banyak kekurangannya, tapi sepintas lalu sudah susah diketahui orang lagi.
Sesudah makan rangsum kering yang dibawa Thian-ih, menunggu setelah malam tiba, mereka lantas berangkat keistana Oksim.
Dengan Ginkang mereka yang tinggi, kira-kira pukul U mereka sudah sampai diluar lingkungan istana yang terlarang.
Thian-ih dan Kang Lam sangat was-was, tapi aneh, sepanjang jalan tiada seorang jagopun yang diketemukan.
Beberapa Lama peronda yanq diketemukan ditengah jalan boleh dikata tiada artinya bagi mereka, mereka lalu didekat Lama-Lama itu juga tidak diketahui.
Dekat dengan pintu kuil yang megah itu, tiba-tiba terdengar genta dibunyikan dengan bertalu-bertalu.
Diam-Diam Ki Hiauhong menghitung, ternyata genta itu dipukul 21 kali banyaknya.
Ia terkejut.
Ia kenal peraturan Pek-kau itu, biasanya untuk berkumpul, genta itu cuma dibunyikan tujuh kali, kalau ada urusan penting, genta dipukul dua kali lipat, jadi 14 kali.
Kini genta itu dipukul 21 kali, itu berarti ada urusan maha penting yang menyangkut mati-hidup agama mereka dan antero penghuni istana itu diharuskan berkumpul.
Padahal seorang Lama agama Putih itu selama hidupnya belum tentu mendengar suara genta dipukul sebanyak 21 kali.
Meski istana Oksim tidak semegah istana Potala di Lhasa, Ti-bet tapi kompleks bangunan disekitarnya ada ratusan juga banyaknya.
Maka sekali genta itu dipukul, segera berbondongbondong kawanan Lama mendatangi istana terbesar ditengahtengah kompleks bangunan itu.
Maka sekarang Ki Hiau-hong tahu Lama agama Putih itu lagi akan rapat, pantas penjagapenjaga diluar hanya Lama rendahan saja, sebab jago-jagonya sedang menghadiri rapat.
Segera rombongan Ki Hiau-hong mencampurkan diri diantara kawanan Lama dan tiada yang memperhatikan mereka.
Sesudah genta dipukul lagi 21 kali.
sementara itu merekapun sudah masuk didalam istana itu bersama Lama-Lama yang lain.
Ditengah istana itu ada sebuah altar tempat arca Budha.
Di bawah altar ada sebuah kursi bercat emas.
Mungkin itulah singgasananya Pek-kau Hoat-ong.
Dan kedua samping terdapat empat kursi lagi, yaitu tempat duduk keempat Houhoat-tecu.
Semua kursi itu masih kosong dan belum diduduki.
Diam-Diam Ki Hiau-hong membatin.
"Kiranya tokoh-tokoh utamanya belum muncul."
Sementara itu ada orang telah mengeluarkan sebuah kursi dan ditaruh dihadapan kursi Hoat-ong.
Tampaknya orang yang akan menduduki kursi itu lebih terhormat daripada keempat Hou-hoattecu.
Tapi entah siapakah gerangannya?
Lama-Lama yang lain tidak disediakan tempat duduk, hanya menurut tinggi rendah kedudukan masing-masing dan berdiri berbaris disitu, yang berkedudukan lebih tinggi berdiri didepan dan yang lebih rendah berdiri dibelakang.
Ki Hiau-hong dan kawan-kawannya men-campurkan diri dibarisan bagian tengah.
Sejenak kemudian, terdengarlah sorak-sorai orang banyak, di bawah iringan pengawal-pengawal muncullah satu Lama yang berperawakan tinggi besar.
Dibelakangnya menyusul ketiga Hou-hoat-tecu yang bersikap sangat menghormat pada Lama besar itu.
Ki Hiau-hong terkesiap menyaksikan itu, pikirnya.
"Selamanya kalau Hoat-ong sendiri muncul, barulah keempat Hou-hoat-tecu mengikut dibelakangnya. Tapi siapakah Lama ini, mengapa berani melampaui peraturan itu? Dan mengapa ketiga Hou-hoat-tecu ini mau melayani dia? Pula masih ada seorang lagi, mengapa tidak muncul?"
Ia coba memperhatikan Lama besar itu.
ia lihat kedua Thay-yang-hiat (bagian pelipis) Lama itu agak menonjol, sinar matanya berkilat-kilat Sebagai seorang ahli.
segera Ki Hiauhong tahu Lwekang Lama itu sangat tinggi Dijaman ini mungkin cuma Teng Hiau-lan, Kim Si-ih, Thong-sian Siangjin, Pek-kau Hoat-ong, Kim-kong Taysu dan beberapa tokoh tertentu saja yang mampu menandingi Lama ini.
Begitu juga berdiam saja tanpa reaksi apa-apa.
Dari soraksorai para Lama itu.
Hain-hong mendengar gelar Lama besar itu disebut sebagai "Khong-jiok Beng-lun-ong".
"Khong-jlok"
Atau merak adalah burung suci dalam agama Budha. Dan diantara gelar agamanya "Beng-lun"
Terdapat pula sebutan "Ong"
Atau raja, maka dapat diketahui kedudukan Lama itu tentu sangat tinggi dan lain daripada yang lain. ---ooo0dw0ooo---
Jilid 10 Maka terdengarlah seorang Lama dibelakang Ki Hiau-hong sedang berkata.
"Sute, apa kau belum kena Susiok kita ini? Beliau sudah balasan tahun berkelana dan belum beberapa hari yang lalu baru pulang. Kini untuk pertama kalinya beliau tampil didepan umum."
"Kabarnya Susiok telah bercekcok tentang sesuatu urusan penting dengan Suhu, makanya diadakan rapat ini,"
Demikian seorang Lama disebelahnya menjawab.
"Dari kawan-kawan lain kudengar juga adanya percekeokan, ada yang pro Suhu, ada yang mendukung Susiok, sebenarnya pihak manakah yang benar, apakah Suheng tahu?"
Maka dengan suara tertahan Lama pertama telah menjawab.
"Urusan ini tidak boleh kita bicarakan sendiri, sebentar lagi boleh kita dengarkan pengumuman Suhu."
Baru sekarang Ki Hiau-hong mengetahui bahwa "Khong-jiok Beng-lun-ong"
Itu adalah Sutenya Hoat-ong.
Tanpa diberitahu iapun dapat meraba sedikit duduknya persoalan.
Kemudian iapun mengenali diantara pengiring Khong-jiok Beng-lun-ong itu terdapat pula kedua laki-laki yang telah menyerangnya digurun pasir tempo hari, cuma dandanan mereka kini sudah berganti menjadi Lama.
Sementara itu Khong-jiok Beng-lun-ong sudah berjalan sampai didekat kursi yang terletak dihadapan tempat duduk Hoat-ong, tapi ia tidak lantas berduduk.
Oleh karena itu, ketiga Hou-hoat Tecu itupun tidak berani mengambil tempat duduk, tapi masih tetap mengiring dibelakang Beng-lun-ong itu.
Sedang para Lama saling bisik-bisik menantikan persidangan itu, tiba-tiba terdengar suara gemerenceng getaran tongkat bergelang sembilan, seketika suasana menjadi hening, maka tertampaklah Pek-kai Hoat-ong telah muncul diiringi oleh 16 paderi.
tepat dibelakangnya menyusul seorang Hou-haot Tecu yaitu Hou-hoat Tecu yang pertama.
Segera Hou-hoat Tecu pertama itu menyulut dupa didepan pemujaan Kauco (cakalbakal agama) mereka, Pek-kau Hoatong tampak merangkap tangannya sambil berdoa.
Dengan ketajaman telinga Ki Hiau-hong, ia dapat mendengar ra-ja agama itu sedang berdoa agar Kauco memberkati ketenangan dan kekuatan kepadanya dalam keadaan menghadapi persoalan maha besar yang menentukan itu.
Diwaktu Hoat-ong berdoa, Sutenya, yaitu Beng-lun-ong tampak mengulum senyum ejekan.
Selesai berdoa, segera Hoat-ong memberi tanda kepada Beng-lun-ong dan pengikutnya sambil berkata.
"Silakan kalian duduklah."
"Biar urusan diselesaikan dulu, kenapa mesti buru-buru duduk,"
Ujar Beng-lun-ong dengan dingin.
Dibalik sahutannya itu seakan-akan menyindir bahwa bila urusan ini tak diselesaikan dengan baik, bahkan tahta raja agamamu juga takbisa diduduki lagi.
Sudah tentu golongan yang pro Hoat-ong merasa sangat gusar, tapi sebelum Hoat-ong bicara, mereka tiada yang berani membuka suara.
Dan Hoat-ong sedikitpun tidak mengunjuk gusar, dengan tenang ia berkata kepada para paderi.
"Agama kita kini sedang menghadapi suatu urusan besar yang menyangkut jaya atau suram-nya agama kita. Beng-lun-ong adalah orang yang giat berjuang dalam usaha ini, maka sekarang silakan beliau saja menceritakan dulu awalmula urusan ini."
"Urusan ini sudah berjalan selama beberapa tahun, kiranya se-lama ini kau tidak pernah diberitahukan kepada mereka dan baru sekarang suruh aku mengumumkannya?"
Tanya Benglun-ong dengan dingin. Dengan tenang dan prihatin Hoat-ong menjawab.
"Sebagai ketua dari agama kita, aku ada hak untuk menentukan sesuatu urusan, jika kebijaksanaanku ini tidak benar, sebentar boleh dikemukakan dihadapan orang banyak untuk dipertimbangkan mereka."
Wajah Beng-lun-ong berubah masam oleh jawaban Hoatong yang tegas itu. Selang sejenak barulah ia membuka suara pula.
"Baiklah, boleh juga aku mengumumkan kepada mereka untuk ditimbang dan diputuskan bersama."
Dengan penuh perhatian para Lama lantas mengikuti penuturan Khong-jiok Beng-lun-ong itu. Katanya.
"Cerita ini agak panjang, tapi juga sangat sederhana. Soalnya berkisar pada keputusan raja Nepal yang ingin mengangkat Pek-kau (agama Putih) kita sebagai agama negara mereka dan mengundang seluruh paderi Orsim ini supaya berpindah keibukota Nepal, Katmandu."
Sebenarnya soal ini banyak diketahui oleh paderi-paderi agak tua atau yang berkedudukan agak tinggi, tapi juga banyak Lama muda dan rendahan yang belum tahu, maka mereka menjadi geger demi mendengar cerita Beng-lun-ong itu.
Menunggu sesudah suasana agak tenang kembali, lalu Beng-lun-ong melanjutkan pula;
"Dalam soal ini akulah yang telah bertindak sebagai wakil dari agama kita untuk berunding dengan raja Nepal. Kejadian itu dimulai pada kira-kira tujuh tahun yang lalu ketika aku diundang pula untuk tinggal dikeratonnya selama beberapa hari. Ru-panya Baginda Raja sangat kenal keadaan agama kita, beliau sa-ngat simpatik kepada agama kita yang terpencil"didaerah Jinghay yang sempit ini, terhadap keluhuran budi dan ilmu silat Kaucu Suheng juga beliau menyataknn kekaguman yang tak terhingga. Sesudah pembicaraan itu, beliau lantas mengatakan ingin mengundang Kaucu Suheng datang ke Katmandu untuk bertemu serta meneruskan perundingan lebih mendalam. Tahun itu juga baginda raja Nepal lantas mengirim utusan serta membawa suratku untuk menghadap kepada Kaucu Suheng disini. Tapi selama ini Suheng selalu mengulur waktu dan tidak mau memberi jawaban yang memuaskan, pula tidak pernah balas berkunjung kepada baginda raja di Katmandu.
"Selama beberapa tahun ini, setahuku raja Nepal sudah tiga kali mengirim utusan kemari, syarat-syarat yang diajukan juga semakin bagus. Tapi Suheng masih tetap tidak memberi jawaban yang tegas, sebab itulah terpaksa aku mesti pulang kemari untuk menyampaikan maksud baginda raja Nepal itu serta meminta pertimbangan para paderi penghuni istana ini. Bahkan baginda raja telah menambahkan suatu usul pula yang khusus di-tujukan untuk Suheng. yaitu bila Pek-kau kita jadi pindah ke negeri sana. maka beliau bersedia mengangkat Kaucu Suheng sebagai "Budha hidup"
Dengan kedudukan yang sejajar dengan Dalai Lama di Tibet.
Nepal adalah negeri pemeluk agama Budha |ang bersejarah, bahkan adalah tanah suci, tempat kelahiran budha Sakyawuni.
Jika Pek-kau kita dapat dijadikan agama negara di Nepal, itu benar-benar suatu kesempatan baik yang susah dicari.
"Nah, sekianlah laporanku. Pendek kata. baginda raja Nepal menaruh hormat dan menjunjung tinggi Pek-kau dan Kaucu kita. Sedang mengenai maksud baiknya itu akan kalian terima atau tidak, silakan sekarang juga diadakan perundingan dan keputusan."
Selesai laporan Khong-jiok Beng-lun-ong itu, maka gemparlah suasana persidangan, riuh ramai para paderi itu saling berunding.
Tapi meski sekian lamanya toh masih tiada seorangpun yang berani tampil kemuka untuk bicara.
Sesudah mengawasi ruangan sidang, segera Hou-hoat-tecu yang pertama berbangkit dan berkata.
"Urusan ini agaknya terlalu penting, maka lebih baik minta Kaucu sendiri memberikan keputusannya yang bijaksana."
"Benar, benar!"
Segera belasan paderi yang lain memberi sokongan.
"Kaucu adalah pucuk pimpinan kita yang berpandangan jauh, beliau pasti dapat mengambil keputusan yang bijaksana, kami bersedia menurut pada Keputusan Kaucu."
Sebenarnya Beng-lun-ong juga sudah berkomplot dengan banyak orang yang hadir itu, demi dilihatnya pengikut sang Suheng juga masih cukup banyak, tentu saja ia kurang senang, tapi apa boleh buat, terpaksa ia berkata dengan dingin.
"Suheng, bagaimana keputusanmu?"
Tapi Hoat-ong menjawab.
"Sute, aku ingin mendengar dulu bagaimana pendapatmu?"
"Sudah tentu aku setuju menerima maksud baik baginda raja Nepal itu,"
Sahut Beng-lun-ong.
"Urusan ini lebih banyak paedah-nya bagi kita dan sedikit ruginya, kenapa mesti raguragu?"
Tiba-Tiba salah satu Hou-hoat-tecu yang lain -Kabiro, telah berbangku dan membuka suara.
"Agama kita sebenarnya diberdlri-kan di Tibet dan merupakan tiga sekte utama bersama Ang-kau dan Wi-kau. Belakangan Wi-kau (agama kuning) berkembang pesat dan tambah pengaruh, Pek-kau kita lantas diusir keluar Tibet. Selama ratusan tahun kita terpencil di suatu wilayah kecil di Jinghay sini dengan perasaan tertekan. Kini kebetulan ada kesempatan baik untuk mengembangkan agama kita, mana boleh kita kesampingkan begini saja?"
Segera Yap To, salah satu Hou-hoat-tecu yang lain juga berdiri dan angkat b"icara.
"Pendirian Khong-jiok-ong dan Suheng Kabiro memang benar. Coba pikirkan keadaan kita sekarang ini, sampai kapan baru kita dapat mengembalikan kejayaan agama kita? Wi-kau boleh dikata sudah berakar kuat di Tibet, mereka disokong pula oleh pemerintah Born dan mengadakan suatu peraturan "inkarnasi budha hidup", kesemuanya itu terang tiada memberi tempat berpijak lagi bagi kita Dan kalau kita takdapat kembali ketanah leluhur, mengapa tidak cari tempat lain untuk mengembangkan masa depan yang jaya?"
Pembicaraan kedua Hou-hoat-tecu yang beralasan ini ternyata banyak juga pengaruhi perasaan paderi-paderi yang hadir disitu, suasana sidang seketika berubah banyak menguntungkan bagi pihak Khong-jiok Beng-lun-ong.
Tapi Hou-hoat-tecu yang pertama lantas berdiri dan bicara lagi.
"Menurut Susiok tadi, katanya urusan ini akan menguntungkan kita, tapi menurut pendapatku, banyAk halhal yapg masih harus disangsikan!"
Beng-lun-ong menjadi gusar, dengan mata membelalak ia menanya.
"Apa yang kau sangsikan? Baginda raja Nepal sudah membangunkan sebuah istana bagi kita dikotarajanya, bahkan aku sendiri yang mengawasi pembangunan istana itu disana, masakah, kau masih menyangsikan maksud baiknya yang tulus itu?"
Dengan tenang Siuco (tempat utama) Hou-hoat-tecu itu menjawab.
"Aku bukan menyangsikan raja Nepal tidak bisa dipercaya, tapi aku pikir mengapa dia bersedia berbuat demikian baiknya pada kita! Apa benar disebabkan dia menghormati agama kita? Ha, kukira belum tentu, aku justeru menyangsikan dia mempunyai maksud tujuan lain."
"Ha, itu kan kau mengukur diri orang lain atas badanmu sendiri?"
Ujar Beng-lun-ong.
"Sute, hendaklah jangan kau mencela dia dulu, urusan ini kalau memang akan diserahkan pada sidang terbuka ini, maka setiap orang harus diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya"
Demikian kata Hoat-ong. Maka Siuco Hou-hoat-tecu lantas menyambung.
"Yang kusangsikan ialah raja Nepal bermaksud mengadu-dombakan antara kita dengan Wi-kau dan dia yang akan mengeduk keuntungannya dari pertengkaran kita itu. Diantara para Tianglo yang hadir sekarang ini tentu belum lupa pada kejadian 20-an tahun yang lalu, waktu itu raja Nepal pernah mengerahkan pasukan tentaranya menyerbu ke Tibet hingga terjadi peperangan yang mengerikan, syukur kemudian pasukai Tong keburu tiba, ditambah Teng Keng-thian suamiisteri ikut campur tangan untuk mendamaikan persengketaan bersenjata itu hingga perdamaian dapat dipulihkan kembali. Tatkala itu raja Nepal juga pernah memancing dengan macam-macam janji yang muluk-muluk katanya kita akan dibantu untuk kembali ke Tibet, syu-kurlah Sucun (guru) tidak terperangkap oleh pancingannya itu hingga terhindar daripada malapetapa. Dengan bercermin kepada pengalaman dahulu itu, masakah sekarang kita malah mengulangi kesalahan itu lagi."
"Kejadian itu sudah lalu, tapi sekarang kita diminta berpindah kenegerinya serta akan diangkat sebagai agama negara mereka, hal ini toh tidak berarti kita diminta membantu dia mengagresi ke Tibet, kenapa kau mesti banyak sangsi segala?"
Demikian sahut Beng-lun-ong.
"Bukanlah Tecu banyak bersangsi,"
Sahut Siuco Hou-hoattecu.
"tapi raja Nepal yang sekarang ini tak-lain-tak-bukan adalah raja Nepal yang dulu menyerbu Tibet itu. Ketika itu karena posisinya terdesak, terpaksa ia menarik kembali pasukannya, dan kini siapa berani menjamin bahwa dia tiada maksud buat menyerbu ke Tibet lagi? Ada pula suatu alasan, kita turun-temurun dilahirkan dan dibesarnya disini, sejelekjeleknya tempat ini juga tetap tanah air kita; tetapi bila kita jauh datang kenegeri asing, hidup dibawah naungan orang lain, sekalipun dapat hidup mewah dan berkeduduk an tinggi, tapi apa artinya jika misa!kan pohon yang tumbuh rindang tanpa akar?"
"Ha, kalau menurut logikamu itu, apa para nabi dan guru agama dari jaman dulu yang telah menjelajahi negeri-negeri asing, apakah itupun tiada harganya buat ditiru?"
Demikian debat Beng-lun-ong.
"Kita kenal nama-nama Hoat-hian dan Hiancong dari negeri kita sendiri yang jauh pergi kenegeri Thian-tiok dibarat, kitapun kenal Tat-mo Cosu dan lain-lain yang jauh dari barat datang kemari. Jika menurut pendapatmu yang cupet itu, mana mungkin mereka meninggalkan nama harum yang abadi?"
Sebagai seorang terpelajar, pula contoh-contoh yang dikemukakan itupun paderi-paderi saleh yang terkenal bagi setiap anak murid Budha, maka Siuco Hou-hoat-tecu menjadi kewalahan oleh jawaban Khong-jiok Beng-lun-ong itu, hatinya sebenarnya masih penasaran, tapi susah untuk mendebat.
Tiba-Tiba Hoat-ong berbangkit dan berkata dengan pelahan-lahan.
"Su-te, paderi-paderi saleh yang kau sebut itu memang harus dipuji dan dikagumi. Tapi contoh yang kau kemukakan itu tidak boleh disamaratakan dengan urusan harini Hoat-hian dan lain-lain yang kau sebut itu mengadakan perjalanan muhibah dalam kedudukan sebagai diri pribadi mereka, tujuan mereka adalah menyebarkan agama dan mengambil kitab. Sebaliknya raja Nepal sekarang menghendaki kita seluruhnya hijrah kenegaranya untuk mend"rikan sekte agama tersendiri disana, bukankah ini cukup jelas ingin kita berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan Wi-kau dari Tibet? Maka menurut pendapatku, apa yang dikatakan Sipoti (nama Siuco Hou-hoat-tecu) ada harganya untuk direnungkan. Hendaklah kita ja-ngan mau diperalat orang lain. Kiia bersama Wi-kau sama-sama mengabdi pada tanah iar sendiri, biarpun ada ketidak cocokan, paling banyak itu cuma perselisihan paham diantara saudara sendiri. Tapi kalau kita mengabdi pada suatu negeri secara tersendiri-sendiri dan terpecah-belah, kedudukan masingmasing sama-sama "Budha Hidup"
Yang di agungkan, maka perpecahan kita akan mudah dipergunakan oleh kaum ambisi untuk mengacaukan suasana.
Pula menurut dugaanku, raja Nepal hakikatnya tidak mengutamakan ajaran agama kita, tapi ia penujui ilmu silat dari aliran kita, ia berharap dengan, penggabungan kita kenegerinya, tentu kekuatannya akan banyak bertambah.
Eh, Sute, kabarnya selama beberapa tahun kau tinggal di Nepal sama sekali engkau tidak pernah mengadakan khotbah, sebaliknya engkau telah melatih 300 orang Busu bagi raja Nepal, betul tidak kabar ini?"
Beng-lun-ong tampak merah jengah, sahutnya.
"Raja Nepal menghormati aku sebagai Kok-su (imam negara) dan apa yang kukerjakan baginya adalah sekadar balas jasa saja. mengapa soal kecil inipun Suheng perlu tegur padaku?"
"Bukan aku sengaja menegur kau,"
Sahut Hoat-ong.
"aku hanya kemukakan sebagai contoh saja untuk menjaga segala kemungkinan dikemudian hari. Coba pikirkan, jikalau kita jadi hijrah ke Katmandu dan mendirikan sekte agama serta mengabdi pada raja Nepal, pabila pada suatu ketika dia akan menyerbu Tibet, lantas bagaimana kita harus berbuat? Jika kita tinggal diam-diam, itu"
Berarti tidak tahu budi, sebaliknya kalau membantu dia yang terang-terangan adalah agresor, itu berarti Pek-kau kita akan saling gempur sendiri dengan Wikau, hal ini lebih-lebih tidak boleh jadi.
Sebab itulah, carippada dihadapkan pada kesulitan-kesulitan dilain hari.
adalah lebih baik kita hidup aman tenteram sebagai sekarang ini".
Dan sesudah berhenti sebentar, lalu Hoat-ong melanjutkan.
Baca Juga: Elang Terbang Di Dataran Luas 6
Baca Juga: Pedang Pusaka Dewi Khayangan 7