Kisah Pedang Di Sungai Es 5

Eps 5 Kisah Pedang Di Sungai Es - Liang Ie Shen

Baca online Kisah Pedang Di Sungai Es - Liang Ie Shen

Cersil Kisah Pedang Di Sungai Es - Liang Ie Shen.

Namun segera Hoa Thian-hong melintangkan pedangnya untuk menyaga diri dengan rapat, ujung pedangnya tergetar cepat.

tempat-tempat terpenting ditubuh Po Lo-hou kembali terancam dibawah sinar pedang bila ia berani maju.

Dahulu Po Lo-hou sudah pernah menelan kekalahan dari Hoa Thian-hong.

Dari itu, betapapun ia masih jeri.

maka ia tidak berani sembarangan menerjang maju lagi.

Sebaliknya sehabis mundur segera Auyang Tiong-ho merangsang maju pula sambil terbahak-bahak.

"Jika Hoalocianpwe ingin men-jajal diriku, sudah tentu aku menerima dengan hormat." -Habis berkata, mendadak ia membentak sekeras-kerasnya dan menyerang pula dengan telapak tangan dan jari sekaligus. Dan sekarang baru Hoa Thian-hong dapat melihat jelas bahwa ujung jari lawan yang dipakai menutuk itu ternyata merah membara Diam-Diam ia terperanjnt. kiranya lawan itu sudah berbasil meyakinkan kedua macan ilmu sakti yang disebut "Pik-lik-ciang" (pukulan geledek) dan Lui-sin-ci (jari malaikat guntur). Kedua macam ilmu silat ini adalah ilmu golongan Sia-pay yang sangat lihay. Namun Hoa Thian-hong tetap melayani dengan tenang, dimana sinar pedangnya berkelebat, cepat dan indah sekali gaja permainan Liu-in-kiam-hoatnya. Berulang-ulang Po Lohou dan Auyang Tiong-ho menerdajng mati-matian, tapi susah lagi untuk menjenggol badan jago tua dari Hoa san itu. Dengan penuh perhatian Kang Hay-thian mengikuti pertarungan sengit itu. Tiba-Tiba dilihatnya sinar pedang Hoa Thian-hong mulai guram, mestinya pedang jago tua itu bersinar mengkilap, tapi lewat sejenak telah berubah sebagai besi tua yang tak bercahaja lagi. Kiranya batang pedang itu telah kena diselentik oleh jari berbisa Po Lo-hou hingga wamanya berubah menghitam gelap. Bahkan sesudah pedangnya berlepotan racun, hal mana setiap waktu racunnya bisa menyalar keatas tangannya. maka Hoa Thian-hong harus bertambah hati-hati. Sedang Kang Hay-thian diam-diam berkuatir. tiba-tiba terdengar pula suara "cring"

Sekali, sekali ini jari Po Lo-hou bahkan telah kena menjentik digaran pedang, jaitu didekat pegangan. Dalam pada itu Auyang-Tiong ho lantas mendekati Kang Hay-thian. Katanya dengan tertawa-tawa.

"Kang-siangkong. sekarang engkau paham tidak maksud baikku? Jika aku tidak menawan engkau di-dalam jaring, tentu kau akan membantu Hoa-loji dan akibatnya jiwamu tentu sudah melayang!"

Hay-thian mendengus sekali.

diam-diam ia mendongkol orang telab memandang rendah kepandaian Hoa Thian-hong.

masakah begitu mudah diago tua itu lantas dapat dikalahkan?

Tapi ia diam saja oleh kegirangan musuh yang lupa daratan itu.

Kiranya dengan ilmu "Tian-to-hiat-to"

Ajaran Kiai Si-ih.

diam-diam Hay-thian telah mengerahkan tenaga dalamnya untuk buka tutukan musuh tadi.

Cuma untuk sementara jalan darahnya belum lancar dengan baik.

kaki-tangannya masih rada kaku.

Maka ia tidak ingin lantas menjebol jaring.

tapi masih pura-pura tak bisa berkutik dan takbisa bicara supaja tidak diganggu Auyang-jinio.

Mendadak terdengar suara bentakan Hoa Thian-hong.

"sret". pedangnya membabat cepat. menjusul tertebar secomot benda bagai rumput kering. Kiranya adalah rambut Po-Lo-hou telah kena ter-papas oleh pedang Thian-hong hingga hampir-hampir menjadi gundul. Rupanya secara gegabah Po Lo-hou telah merangsang maju, biar pun pedang Thian-hong kena did.entik oleh diarinya, tapi jiwanya sendiri juga hampir-hampir melayang, keruan ia kaget dan cepat -cepat mundur lagi.."Diangan kuatir, Po-heng. lihatlah punyaku ini!"

Seru Auyang Tiong-ho Ia membentak sekali sambil gosok-gosok kedua tangannya.

mendadak dari tangannya itu meletikan lelatu api.

menjusul din-ana jarinya menutuk.

disitu baju Thian-hong lantas terbakar api.

"Kau ingin bajuku ini. baiklah aku lantas hadiahkan padamu!"

Bentak Thian-hong.

Tahu-Tahu bajunya telah dicopotnya.

sekali putar dan meloncat.

mendadak bajunya yang sudah terbakar itu terus mengerudung keatas kepala Auyang Tiong-ho.

Keruan Auyang Tiong-ho kaget walaupun tidak sampai kena ditutup oleh baju lawan.

Namun Hoa Thian-hong sudah lantas menyerang pula dengan pedangnya.

secara bertubi-tubi ia cecar Tiong-.

ho hingga menghindar dengan kerepotan.

"Hahahaha! Auyang-jiko. diangan kuatir. dia sudah seperti pelita yang kehabisan minyak!"

Seru Po Lo-hou sambil terbahak-bahak.

Berbareng iapun merangsang maju untuk mengeroiok lagi.

Dibawah sinar api Auyang Tiong ho dapat melihat wayah Thian-hong sudah bersemu hitam buram, ia menjadi sadar dan berseru dengan tertawa.

"Po-heng. gelaranmu sebagai Tok-jiu-thian-cun memang bukan omong kosong belaka!"

"Auyang-jiko. engkau diangan cuma memudii diriku saja."

Ujar Po Lo-hou.

"Hoa-losiansing sendiri berjuluk Hoa-san-ihun. kepandaiannya sesungguhnya juga luar biasa. Cuma sayang sekarang ia tak dapat memusatkan perhatiannya untuk menjembuhkan penyakit sendiri. Lewat satu jam lagi mungkin anggota badannya tidak mau tunduk pada perintahnya pula. Hahaa! Hoa-losiansing, kau mahir ilmu pertabiban, mengapa masih terus mengadu jiwa dengan kamu, Apakah kau tahu. semakin kalap kau bertempur, menjalarnya racun ditubuhmu juga semakin cepat?"

Begitulah dengan perkataan mereka itu. tujuannia ialah ingin mematahkan semangat tempur Hoa Thian-hong. Siapa duga jago tua itu bergelak ketawa malah, serunya.

"Baiklah jika aku masih ada waktu hidup satu jam lagi, maka ajal kalian pastilah tinggal setengah jam saja!"

Diiringi suara ketawa itu.

bayangan Hoa Thian-hong lantas melesat.

tahu-tahu ia sudah melompat sampai dibadapan Po Lo-hou.

maka terdengarlah suara "plak".

kedua tangan masing-masing tepat saling gebrak.

begitu keras Thian-hong mengerahkan tenaganya hingga Po-Lo-hou terpental beberapa meter jauhnjA.

Dan dengan cepat sekali, segera Thian-hong memutar balik pula untuk memapak Auyang Tiong-ho.

dengan gerakan "Sing-Ioh-kiu-thian"

Atau sembilan bintang menghiasi langit, ujung pedangnya tergetar hingga mengeluarkan bintikbintik sinar pedang dan sekaligus mengincar sembilan Hiat-to ditubuh Tiong-ho.

Tapi Auyang Tiong-ho cukup lihay juga.

dalam keadaan bahaya mendadak ia keluarkan kepandaian "Tiat-pan-kiau" (jembatan papan besi), kaki memaku kuat ditanah dan badan menekuk kebelakang hingga mirip papan yang lapang.

Maka pedang Hoa Thian-hong hanya menyambar lewat diatas badannya tanpa melukainya.

Sekonyong-konyong Auyang Tiong-ho menggertak sekali, selagi pedang"

Hoa Thian-hong belum ditarik kembali.

tiba-tiba ia putar tubuh dengan gerakan "Le-hi-tah-ting"" (ikan lele melejit).

berbareng kedua kakinya mendepak beruntun-runtun dan kedua tanganuja menghantam.

Kedua kaki mengarah jalan darah dilutut lawan dan tangannya memukul muka serta menutuk dada Dalam sekejap itu sekaligus empat serangan dilontarkan, lihaynya tidak kepalang.

Siapa tahu kalau Hoa Thian-hong sudah menduga akan kemungkinan serangan-serangannya itu.

pedangnya berputar, badan menguar, berba-lik kedua kaki lawan ditabasnya malah, berbareng jarinya mendadak menutuk pula kedepan.

Tatkala itu Auyang Tiong-ho sedang menyerang.

kakinya belum lagi menginyak kembali ketanah.

tapi keburu sudah terancam ta-basan Hoa Thian-hong.

terpaksa ia-membalik tubuh diudara dan membuang dirinya kesamping Walaupun dengan begitu dapatlah kedua kakinya terhindar dari tabasan.

tapi telapak tangannya juga sudah tertutuk oleh jari Thianhong.

betapapun tinggi Lwekang nia Tiong-ho juga tak tertahan oleh tutukan Thian-hong yang lihay.

untuk sesaat ia kesakitan, tenaga murninya menjadi terganggu.

Namun begitu, mau tak mau Thian-hong ikut tergentak mundur beberapa tindak.

Disebelah sana Po Lo-hou Yang tersodok dan terpental hmgga-jauh itu ternyata lantas saja memuntahkan darah, tapi dengan tangkasnya ia melompat bangun pula bentaknya dengan murka.

"Bangsat tua she Hoa, biarlah aku mengadu jiwa padamu!"

"Hm, memang harini sudah waktunya jiwamu pasti melayang!"

Jengek Hoa Thian-hong sambil memapak maju, sedikitpun ia tidak gentar kepada Tok-ciang atau telapak tangan berbisa musuh itu.

Kiranya Thian-hong sudah keracunan.

maka tidak perlu jeri lagi seperti semula.

Menurut perhitungannya, pertarungan malam ini hanya ada dua kemungkinan.

Pertama, mati dibawah tangan musuh, maka soal keracunan atau tidak, sama saja.

Kedua, musuh dapat dikalahkan, habis itu.

biarpun lebih berat keracunan juga masih dapat disembuhkan, cuma waktu pengobatannya yang tambah lama.

Karena itulah Hoa Thian-hong tidak perlu jeri pula, sebaliknya ia terang-terangan sambut setiap serangan Po Lo-hou yang berbisa itu Maka pertarungan kini menjadi lebih sengit dan menentukan mati atau hidup.

Hay-thian sampai ikut ber debar-debar menyaksikan pertempuran seru itu.

Hanya sebentar saja ia lihat Auyang Tiong-ho telah kena tusukan pedang Hoa Thian-hong.

sebaliknjk Thian-hong juga kena dijojoh sekali oleh jarinya.

Darah mengucur dibaju Auyang Tiong-ho, badan Thian-hong yang tertutuk itupun matang biru.

Melihat itu, hanya suatu pikiran yang timbul dalam benak Kang Hay-thian.

iaitu selekas mungkin melepaskan diri untuk membantu Hoa Thian-hong.

Auyang-jinio juga mempuniai pikiran yang sama hendak membantu sang suami, tapi ia cukup kenal lihaynya Hoa Thian-hong.

ia kuatir dirinya tidak mampu menjela kedalam kalangan, maka menjadi ragu-ragu.

Tiba-Tiba teringat sesuatu olehnya.

"Ha, ada pedang pusaka disini. kenapa aku tidak memakainya?"

Tapi pada saat itu diuga sekonyong-konyong jaringnya tertampak berguncang hebat. Kang Hay-thian sedang terbahak-bahak ketawa dan berseru.

"Terima kasih, Ji-nio telah sudi memberi tempat mengaso kepadaku hingga aku dapat tidur enak disini!"

Auyang-jinio terkejut, cepat ia hendak menarik jaringnya.

tapi dimana tertampak sinar pedang berkelebat.

tahu-tahu Kang Hay-thian sudah lolos keluar dengan membobol jaring.

Kiranya sesudah dapat membuka Hiat-to sendiri yang tertutuk musuh, kemudian Kang Hay-thian menjadi ingat juga kepada Pokiam yang masih dibawanya itu.

Segera ia membuat jaring yang mengurungnya itu kedekat pohon, kedua kakinya menggantol hingga dapat menahan diatas batang pohon, dengan tempat sandaran ini, tanpa susah-susah dapat ia melolos pedang pusaka Cay-in pokiam yang maha tajam itu maka sekali tebas dapatlah jaring yang terbuat dari sutera pilihan itu dibobolnya.

Habis itu, sambil memutar pedangnya, segera ia menubruk sambil menusuk Auyang-jinio dari atas Cepat njonya Auyang itu menangkis dengan tongkatnya, krak tongkatnya terkutung sebagian, namun dengan meminjam tenaga lawan, dengan enteng dapat Auyang-jinio mematahkan serangan Kang Haythian itu, sekalian ia terus menggeser kesamping.

menyusul tangan menjulur untuk merebut pedang.

Gerakan Auyang-jinio itu sangat cepat, tampaknya usahanya itu sudah akan berhasil, tapi tahu-tahu tangannya meraba tempat kosong.

Ia menjadi kaget dan bermaksud mengganti tempat untuk menyerang pula.

Namun sudah terdengar bentakan Kang Hay-thian disertai sinar pedangnya yang kemilauan.

dimana pedangnya menyambar.

sepotong lengan baju Auyang-jinio telah terpapas.

Kiranya dengan "Thian-lo-poh-hoat"

Yang aneh Kang Haythian telah menyerang dari arah yang sama sekali tak diduga Auyang-jinio.

Sebenarnya serangannya ini dapat mematikan nyonya itu, tapi dasar jiwanya memang bajik.

pula mengingat nyonya itu adalah ibunya Auyang Wan.

maka ia tidak tega membunuhnya.

Tapi Auyang-jinio itu bukanlah sembarangan tokoh persilatan, kalau bicara ilmu silat sesungguhnya tidak kalah daripada Kang Hay-thian.

Maka selagi pemuda itu hendak membentaknya agar menungku memberi jalan padanya.

sekonyong-konyong njonya itu sudah memutar kembali, ia gunakan pangkal tongkat yang melengkung untuk menggantol pedang Kang Hay-thian.

Sekuatnya Hay-thian coba dorong pedangnya kedepan dengan maksud memotong putus tongkat orang, tapi ternyata tidak bergeming, kiranya pedangnya telah lengket kencang dengan tongkat, didorong atau ditarik kembali juga tak dapat lagi.

Nyata Auyang-jinio telah menggunakan ilmu "pinjam tenaga untuk melawan tenaga"

Yang hebat dari perguruannya.

ditambah lagi dengan kepandaian menggunakan daya lengket, maka tongkat nya dapat menahan pedang lawan, maksudnya hendak mengadu tenaga dalam dengan Kang Hay-thian Ia pikir untuk bertempur tentu susah melawan Pokiam itu.

terpaksa mesti menguras dulu tenaga dalam pemuda itu.

kemudian baru merebut pedangnya Dalam perhitungan njonya itu tentu usahanya akan berhasil.

Di-luar dugaan, dia justeru salah hitung.

Lwekang justeru adalah ilmu andalan Kang Hay-thian.

Terbatas oleh umurnya yang masih muda.

dalam hal keuletan ilmu silat mungkin masih kurang, tapi tentang Lwekang.

justeru sejak kecil Hay-thian sudah mem-punyai dasar yang kuat.

Selama delapan tahun dididik Kim Si-sh.

ia sudah mendekati tingkatan "Cing-sia-hap-it"

Atau gabungan Lwekang dari golongan Ciogpay dan Sim-pay, biarpun cuma delapan tahun, tapi kekuatannya .dapat rncmbandingi 20-30 tahun latihan tokoh lain.

Keruan Auyang-jinio menjadi kaget ketika merasa tenaga dalam lawan berangsur-angsur mendesak kearahnya seakanakan tiada habis-habis nya.

Terpaksa ia bertahan sekuat mungkin.

Sebenarnya Hay-thian sendiri juga sangat gopoh.

sebab waktu itu dilihatnya pertarungan Hoa Thian-hong melawan kedua gembong iblis itu sudah incncapai puncaknya ketegangan, ia lihat ba-ju ketiga orang itu sudah sama berlumuran darah, tapi Auyang Tiong-ho dan Po Lo hou masih mem bentak-bentak dan bersuit iblis.

sebaliknya gerak-gerik Thian-hong sudah mulai kaku.

permainan pedangnya juga tidak selincah tadi.

Hay-thian menjadi menyesal tadi tidak melukai Auyang-jinio hingga sekarang dirnya susah melepaskan diri seketika Tiba-Tiba teringat petua gurunya yang terkenal dikalangan Kangouw, jaitu ,.lh-ci-jin-ci-to.

hoan-ki-jin-ci-sin".

artinya.

"gunakanlah cara prilaku orang itu untuk menghukum orang itu sendiri. Jikalau musuh adalah sebangsa manusia licik. maka jangan kau sendiri berlagak kesatria. Bila musuh kejam, kau harus lebih kejam. musuh ganas, balaslah lebih ganas!"

Karena itulah selagi Auyang-jinio mengerahkan tenaga sekuatnya, tiba-tiba terasa tenaga dalam Hay-thian mulai lemah, ia menjadi girang karena perhitungannya tidak meleset Selang sejenak pula, napas pemuda itu tampak mulai tersengal-sengal.

---oo0dw0ooo---

Jilid 7 Meski nyonya itu rada heran juga mengapa pemuda itu begitu cepat kalahnya.

tapi dalam hal bertanding lwekang.

pada umum-nya tidak mungkin pura-pura kalah, sebab bila lwekang sendiri pura-pura dibikin lemah, itu berarti membunuh diri.

Tidak lama kemudian.

tiba-tiba Auyang-jinio berkata dengan tertawa .

"Nah, mengaso saja dulu. Kang-siangkong, pedangmu boleh pinjamkan padaku!"

Berbareng tongkatnya ia tahan kebawah lebih kencang dengan tenaga dalam sepenuhnya.

Maka terdengarlah suara gedebuk, tanpa ampun lagi Kang Hay-thian terjungkal ditanah.

Tanpa ayal lagi Auyang-jinio memburu maju hendak menangkap Kang Hay-thian.

pikirnya.

"Demi pertolongannya kepada Wan-ji biarlah jiwanya tak kuganggu."

Diluar dugaan, begitu Hay-thian menggulingkan diri sampai dibawah pohon, mendadak ia melompat bangun dan menyambar jaring tadi sambil berkata dengan tertawa.

"Terima kasih atas kebaikanmu tadi. sekarang silahkan kaupun masuk jaring saja"

Berbareng dengan kecepatan luar biasa ia pentang jaringnya terus menutup keatas kepala Auyang-jinio.

Karena jarak kedua orang sudah sangat dekat, pula tidak berjaga-jaga tanpa ampun lagi nyonya itu kena ditangkap dengan jaring.

Kiranya Kang Hay-thian yang memiliki Lwekang ajaran Kim Si-ih yang lain daripada yang lain dalam mengadu Lwekang tadi telah dapat mengingini Auyang-jinio Karena berkali-kali ia tertipu, maka sekarang iapun balas mengakali nyonya itu.

Setelah dapat meringkus Auyang-jinio.

sedianya Kang Haything hendak memirinasakannya sekalian, tapi teringat olehnya tadi orangpun tidak mengemplangnya dengan tongkat, suatu tanda nyonya itupun tiada maksud jahat padanya.

Maka cepat ia terik kembali pedangnya.

menyusul dengan garan pedang ia tutuk Hiat-to Auyang-jinio sambil berkata dengan tertawa.

"Sementara ini boleh engkau mengaso saja. tutukan ini akan terbuka sendiri sesudah sejam nanti"

Habis berkata, ia putar tubuh dan berlari maju kekalangan pertempuran.

"Awas, Kang-hiantit!"

Seru Hoa Thian-hong. Dalam pada itu Po Lo-hou juga telah menampaknya sambil berseru dengar tertawa.

"Aha, bocah ingusan seperti kau ini juga ingin cari mampus?"

Namun Hay-thian tidak banyak bicara lagi, pedang bekerja.

beruntun ia menusuk dua kali dengan tipu "Siang-liong-cuthay" (sepasang naga keluar dari lautan), ia menusuk kekiri dan ke-kanan bahu musuh dengan cepat luar biasa.

Po Lo-hou sudah kehilangan sebelah lengan kirinya, maka tusu kan Kang Hay-thian yang pertama itu boleh dikata tiada artinya.

Memangnya Po Lo-hou sudah pandang enteng lawannya.

melihat serangan Hay-thian itu keliru pula, keruan ia lebih-lebih sombong, sambil terbahak-bahak pukulannya yang berbisa terus menabok keatas kepala Kang Hay-thian dengan keyakinan pasti akan membinasakan "bocah ingusan"

Itu. Tak tersangka, mendadak pedang Kang Hay-thian berganti haluan, tahu-tahu menusuk kekanan.

"krek", dua jari tangan kanan Po Lo-hou telah terpapas sebagian. Masih untung dia cukup sebat menarik tangannya hingga telapak tangannya tidak sampai buntung terkutung. Keruan Po Lo-hou berjingkrak-jingkrak saking murka, tapi iapun tidak berani menempur Kang Hay-thian lagi, cepat ia putar tubuh dan angkat langkah seribu. Auyang Tiong-ho menjadi gusar, mendadak ia mengisar kebelakang Hay-thian, ia membentak sambi! menghantam kepuaggung pemuda itu dengan pukulan geledek. Hoa Thian-hong terkejut dan kuatir, tapi ia sendiri telah kera-cunan dan kedua kakinya sudah terasa kaku, hendak menolong juga tidak mampu lagi. Maka terdengarlah suara "biang"

Sekali, punggung Hay-thian tepat kena dihantam. Pukulan geledek "Pi-lek-ciang"

Dari Auyang Tiong-ho itu sebanding dengan pukulan sakti "Kim-kong-tiiang"

Dari Siau-Limpay, sama-sama mengutamakan kekuatan tenaga.

Maka sewaktu melontarkan pukulan itu.

diam-diam Auyang Tiong-ho sudah ambil keputusan akan mampuskan Kang Hay-thian supaya tidak mengganggu pikiran anak perempuannya sendiri itu.

Siapa tahu hantaman yang tepat kena sasaranriya itu tidak membuat Kang Hay-thian ter-ungkal.

sebaliknya pemuda itu dengan cepat masih dapat memutar balik.

Keruan kejut Auyang Tiong-ho tak terkatakan, ia sangka Kang Hay-thian sudah berhasil meyakinkan ilmu weduk yang kebal, seketika ia menjadi tertegun.

Kiranya Auyang Tiong-ho salah duga.

Hay-thian belum lagi kebal, tapi kebetulan ia mengenakan Pek-giok-kah, yaitu salah satu benda pusaka tinggalan Kiau-Pak-beng, baju kutang itu se-benarnya akan diberikannya kepada Kok Tiong-lian, maka sepanjang jalan tidak pernah dipakainya hingga tempo hari mengalami cidera oleh pukulan "Sin-coa-ciang"

Dari Im Sengkoh.

Dengan pengalaman itu, malam ini ia telah mengenakan baju pusaka itu untuk membantu Hoa Thian-hong menghadapi Po Lo-hou yang terkenal lihay dengan pukulannya yang berbisa, tak tersangka baru sekali gebrak Po Lo-hou sudah ngacir, sebaliknya dalam menghadapi Auyang Tiong-ho, baju pusaka itu telah unjukan kasiatnya.

Namun begitu, betapapun Auyang Tiong-ho tergolong tokoh ahli dan lebih berpengalaman dan.

tabah daripada Po Lo-hou, meski tertegun sedetik, tapi cepat ia dapat bertindak pula, dikala Kang Hay-thian baru membalik tubuh, segera Auyang Tiong-ho menutuk dengan jarinya hingga tepat mengenai pergelangan tangan Kang Hay-thian yang sedang hendak menusuk dengan pedang nya itu Seketika Kang Hay-thian merasakan tangannya seperti terbakar.

"trang", pedangnya terjatuh dari cekalannya. Dan pada saat yang sama, cepat Auyang Tiong-ho juga putar tubuh untuk melarikan diri. Tapi pada detik lain, sekonyongkonyong ia sadar, ia merasa heran mengapa senjata pemuda itu bisa jatuh sendiri? Padahal hantamannya tadi tidak mempan, mengapa sekarang tutukannya membawa hasil? Segera timbul pula pikirannya untuk mencoba-coba lagi. ia putar balik hendak bertempur pula. Dalam pada itu dengan langkah yang kaku dan sempoyongan Hoa Thian-hong juga sedang memburu kearahnya. Namun Auyang Tiong-ho tahu keadaan Thian-hong sudah sangat payah, asal Kang Hay-thain dapat ditawannya, tentu dapat dipakai sebagai tameng untuk menghadapi Hoa Thian-hong, apalagi dalam keadaan keracunan, betapapun tinggi ilmu silatnya, asal tertunda lama, akhir-nya tentu akan roboh. Dan karena sedikit ragu-ragu itulah, sementara itu Kang Hay-thian sudah memburu maju lebih dulu. Dilain pihak Hoa Thian-hong juga merangsang maju dengan seluruh sisa tenaganya. Tanpa ayal lagi Auyang Tiongho mulai menyerang, telapak tangannya memotong kearah Hoa Thiam-hong, jarinya menutuk Kang Hay-thian. Sebenarnya kalau satu melawan satu tidaklah sulit bag; Auyang Tiong-ho untuk menangkan Hoa Thian-hong atau Kang Hay-thian, repotnya sekarang ia harus melawan dua orang. Meski pergelangan tangan Hay-thian terluka ringan, tapi gerak-geriknya masih gesit, demi melihat Auyang Tiongho begitu jahat, ia menjadi gusar juga. dengan "Thian-lopoh-hoat"

Yang hebat, mendadak ia mengitar kebelakang Auyang Tiong-ho, sekali membentak, tahu-tahu Auyang Tiongho merasa lemas lumpuh dan dilain saat telah kena ditangkap oleh Hoa Thian-hong.

Kiranya tadi waktu Hay-thian tertawan didalam jaring, diam-diam ia telah memperhatikan permainan silat Auyang Tiong-ho dan dapat menyelami kelemahan "Siau-yang-cing-gi"

Yang dilatihnya itu belum lagi sempurna benar-benar. Maka dengan sebat sekali ia telah dapat menutuk "Bwe-lu-hiat"

Dipunggung musuh itu dengan It-ci-sian-kang yang lihay.

Ketika Hay-thian periksa tangan sendiri, ia lihat jari yang dipakai menutuk dan pergelangan tangan yang keserempet tadi telah merah bengkak bagai terbakar.

Diam-Diam ia terkejut dan ber-syukur.

"Untung sebelumnya gembong iblis ini sudah mengalami pertarungan sengit dahulu, kalau tidak, mungkin aku takkan melulu terluka seringan ini. Dan syukurlah sekarang Hoa-locianpwe sudah dapat menangkapnya". Dan sesudah Kang Hay-thian menjemput kembali pedangnya, Tiba-Tiba dilihatnya langkah Hoa Thian-hong agak sempoyongan. Selagi ia hendak maju untuk membantu memegangi Auyang Tiong-ho, mendadak dilihatnya Hoa Thian-hong tertegun dan menjerit.

"Pik-ji, mengapa engkau?". berbareng itu terdengar juga suara seruan "ayah"

Yang melengking kaget menggema diangkasa untuk kemudian lantas lenyap. Sambil masih memegang "Tay-cui-hiat"

Dipunggung Auyang Tiong-ho, bagaikan orang kalap hampir-hampir Hoa Thian_-hong menerjang maju.

Dan pada saat itulah terdengar suara tertawa Auyang-jinio dengan terbahak-bahak, lalu wanita itu membentak dengan nada mengancam.

"Hoa Thian-hong, jika engkau berani melangkah maju lagi, katakanlah puterimu ini mati kau inginkan atau tidak?"

Dibawah sinar bulan Kang Hay-thian melihat Auyang-jinio berdiri dibawah pohon sana sambil memegang jaringnya tadi, ternyata Hoa In-pik sudah menggantikan tempatnya didalam jaring itu.

Kiranya Kang Hay-thian tadi hanya menutuknya dengan garac pedang dan tidak menutuk dengan ilmu Tiam-hiatnya yang paling lihay, siapa duga dalam ilmu "Siau-yang-cing-gi"

Auyang-jinro juga sudah mencapai tingkatan yang lumayan, maka tidak antara lama Hiat-to yang tertutuk itupun dapat dipunahkannya sendiri.

Pada saat itulah tiba-tiba Hoa In-pik sedang mendatangi dengan berindap-indap hendak mencari ayahnya, kesempatan itu segera dipergunakan Auyang-jinio untuk menyergapnya secara mendadak hingga gadis itu dapat ditangkap dengan mudah.

Begitulah maka terdengar sahutan Hoa Thian-hong dengan suara serak.

"Dan engkau sendiri masih menginginkan suamimu tidak?"

"Suami?"

Jengek Auyang-jinio.

"Hm, suami masih dapat dicari lagi. Tapi kalau putrimu ini, apakah masih ada gantinya pula?"

Saking gusar dan gugupnya hingga seketika Hoa Thianhong tak dapat menjawab. Sebaliknya dengan senang Auyang-jinio berkata pula.

"Bagiku tidaklah menjadi soal apakah engkau akan melepaskan dia atau tidak, masa bodoh, terserah padamu."

"Encim Auyang, ucapanmu ini bukankah salah?"

Timbrung Hay-thian tiba-tiba.

"Tidaklah menjadi soal bagimu untuk ganti satu atau tukar sepuluh suami, tapi putra-putrimu apakah takkan repot bila saban-saban mesti ganti ayah? Makanya menurut pendapatku ada lebih baik engkau tetap mempunyai seorang suami ini saja."

Kang Hay-thian tidak pandai bicara, maka terdengar sangat lucu ucapannya itu, tapi nadanya sungguh-sungguh. Maka Auyang-jinio berpikir sejenak, kemudian katanya dengan tersenyum.

"Ada benarnya juga perkataanmu tadi, Kang-siangkong. Jika begitu, Hoa-loji, apakah kira-kira kau sanggup menjadikan perdagangan adil ini?"

"Bagus, kita boleh mengadakan 'barter', aku melepaskan suamimu dan engkau membebaskan putriku,"

Sahut Thianhong.

"Tidak, cara begitu kurang adil,"

Kata Auyang-jinio dengan mengekeh tawa.

"Lalu bagaimana kehendakmu?"

Tanya Thian-hong dengan gusar.

Saking marahnya hingga kepalanya menjadi pusing dan mata berkunang-kunang.

Meski dia sendiri seorang tabib sakti, tapi mengingat keselamatan sang putri hingga tak sanggup menahan perasaannya yang meluap.

Sebaliknya Auyang-jinio sengaja pura-pura berpikir sejenak pula, kemudian katanya.

"Putrimu sedikitpun tidak terluka, sebaliknya suamiku terluka parah, seorang sehat baik-baik mesti ditukar dengan seorang terluka, mana dapat hal ini disebut adil?"

"Lantas bagaimana barulah dapat dianggap adil menurut pendapatmu?"

Tanya Hoa Thian-hong dengan mendongkol.

"Ada dua jalan,"

Ujar Auyang-jinio.

"Pertama, aku pun menghajar dulu putrimu hingga luka parah, habis itu barulah kita saling tukar tahanan."

"Mana boleh jadi! Benar-benar tidak masuk akal!"

Seru Kang Hay-thian tak tahan.

"Aku justru menganggap cara ini paling masuk akal,"

Sahut Auyang-jinio dengan tertawa.

"Habis, kalau menurut kau, cara bagamana lebih masuk akal?"

Namun Hoa Thian-hong cukup berpengalaman, ia tahu tipu licik Auyang-jinio yang sengaja mengulur tempo, maka cepat katanya.

"Benar atau salah tidak perlu dicekcokkan sekarang. Hayolah, lekas engkau katakan cara yang kedua."

Auyang-jinio sengaja berhenti sebentar, lalu katanya pula dengan perlahan-lahan.

"Baiklah, cara pertama engkau tidak setuju, bolehlah kusarankan cara yang kedua, putrimu ini tidak terluka apa-apa, sedangkan suamiku telah terluka, aku tahu engkau sangat pandai ilmu pengobatan, aku sendiri tidak sanggup mengobati dia, maka bolehlah engkau menyembuhkan suamiku dulu, lalu kita bertukar tawanan."

"Darimana aku mempunyai tempo untuk mengobati suamimu?"

Ujar Thian-hong.

"Tapi jangan kuatir, suamimu takkan mampus begini saja, boleh pulang ke rumah untuk merawat sendiri. Sebaliknya putriku tidak dapat tertahan di tanganmu."

"Haha, mumpung ada tabib pandai di depan mata, kalau tidak menggunakan kesempatan ini untuk minta obat, bukankah terlalu bodoh?"

Ujar Auyang-jinio dengan tertawa.

"Jadi engkau menginginkan obat?"

Tanya Thian-hong.

"Itulah gampang, biarlah kuberikan padamu."

"Tapi obat dan obat ada dua, obat lain aku tidak mau, yang kuinginkan adalah Siau-hoan-tan,"

Kata Auyang-jinio.

Mau tak mau Hoa Thian-hong berkerut kening oleh permintaan itu.

Kiranya Siau-hoan-tan adalah semacam pil yang dibuatnya dari racikan 13 macam bahan-bahan obat yang susah diperoleh.

Padanya sekarang cuma terdapat tujuh butir yang dibawanya dari rumah untuk persediaan kalau keracunan, tadi sebelum bertempur melawan Po Lo-hou sudah ditelannya sebutir, sesudah kena racun pukulan Po Lo-hou, ia taksir setiap hari harus minum pula sebutir, dengan demikian sesudah tujuh hari dapat diharapkan kesembuhannya dari racun itu.

Dan sekarang bila permintaan Auyang-jinio itu dipenuhi, berarti dirinya akan mengalami kesulitan sendiri.

Melihat jago Hoa-san-pay itu berkerut kening, segera Auyang-jinio menarik muka juga, katanya.

"Bagaimana, apa engkau keberatan? Jika begitu, boleh juga kita batalkan."

Dengan mendongkol terpaksa Hoa Thian-hong mengeluarkan tiga butir Siau-hoan-tan dan menyuruh Kang Hay-thian membawanya ke hadapan Auyang Tiong-ho.

Setelah menjilatnya dengan lidah pada tiap-tiap pil itu, lalu Auyang Tiong-ho berkata.

"Ya, ini Siau-hoan-tan yang tulen. Harap bantuanmu untuk membungkusnya dengan baik dan masukkan ke kantong bajuku. Tapi bungkuslah di depanku sini, jangan engkau main gila."

Hay-thian menjadi gusar, semprotnya.

"Memangnya engkau anggap aku ini manusia begitu rendah?"

"Ayah Wan-ji, engkau jangan kuatir, Kang-siangkong seorang laki-laki sejati, kalau tidak, masakah Wan-ji kita sudi memujinya setinggi langit!"

Seru Auyang-jinio dengan tertawa. Dengan mendongkol Kang Hay-thian lantas membungkus dan memasukkan ketiga butir Siau-hoan-tan itu ke saku Auyang Tiong-ho.

"Sekarang kalian hendaklah berdiri di tempat semula dan jangan sembarangan bergerak, setelah aku menghitung sampai sepuluh, kedua pihak berbareng melepaskan tawanan masing-masing,"

Kata Auyang-jinio kemudian.

Sungguh dongkol Kang Hay-thian tak terkatakan, ia gemas benar-benar terhadap kedua suami-istri yang licik itu.

Sudah tentu ia tidak tahu bahwa Auyang-jinio justru sengaja mengulur tempo agar Hoa Thian-hong tidak dapat tenang untuk mengobati keadaan sendiri yang parah itu, jika dapat mengulur tempo lebih lama, racun yang meresap di tubuh Hoa Thian-hong itu tentu akan bertambah hebat.

Maka mulailah Auyang-jinio berhitung dari satu sampai sepuluh, ia sengaja memperlambat hitungannya, dengan tak sabar ketika Hoa Thian-hong menunggu Auyang-jinio selesai mengucapkan hitungan sepuluh, perlahan-lahan ia tepuk punggung Auyang Tiong-ho dan berkata.

"Pergilah kau!"

Tanpa ayal lagi Auyang Tiong-ho terus berlari ke depan.

Meski agak sempoyongan langkahnya, tapi masih cukup cepat.

Dan baru sekarang Kang Hay-thian tahu ilmu silat iblis itu belum dapat dipunahkan, walaupun Siau-yang-cing-gi dapat dirusaknya tadi.

Rupanya Hoa Thian-hong seperti tahu perasaan pemuda itu, maka katanya dengan tersenyum.

"Kang-hiantit engkau dapat memecahkan Siau-yang-cing-ginya sudah boleh dikata hebat. Sekarang kalau dia ingin memulihkan keuletannya semula, mungkin sedikitnya ia harus melatih tiga tahun lagi."

Namun Hay-thian masih kuatir kalau-kalau Auyang-jinio main gila lagi, tapi waktu dia memandang ke sana, tertampak Auyang-jinio telah menyingkap jaringnya dan Hoa In-pik juga sedang berlari mendatangi, tampaknya sehat-sehat saja dan tiada tanda-tanda terluka sesuatu.

Hanya sekejap saja In-pik sudah berlari sampai di depan ayahnya, dengan air mata meleleh terus saja ia merangkul sang ayah, sambil memanggil.

"Nanti dulu!"

Mendadak Thian-hong berseru dengan muka murka. Dengan bingung In-pik memandangi sang ayah, namun Thian-hong sudah lantas berkata dengan tertawa dingin.

"Auyang-jinio, jangan engkau senang-senang dulu, apabila putriku menjadi cacad di dalam waktu tiga bulan, maka suamimu sudah pasti takkan mampu bertahan lebih lama dari tujuh hari. Nah, lekas katakan, engkau telah tutuk Unhiat (Hiat-to rahasia) yang mana?"

Mendengar istilah "Un-hiat", Kang Hay-thian terperanjat.

Kiranya di tubuh manusia terdapat dua macam Hiat-to, yang semacam adalah di permukaan tubuh dan dapat dicapai dengan jari, sedangkan yang lain di dalam tubuh yang tak kelihatan.

Bila Un-hiat yang tertutuk, yang terkena takkan merasakan sesuatu yang aneh, dari luar juga tidak kelihatan, setelah beberapa bulan kemudian barulah penyakitnya akan bekerja, mungkin menderita sakit aneh, boleh jadi menjadi gendeng dan penyakit-penyakit lain yang keji.

Dan karena tutukan itu tidak kelihatan dari luar, maka si penderita sendiri tidak tahu mana yang terkena, kecuali kalau si penutuk yang mengaku sendiri.

Begitulah Auyang Tiong-ho menjadi kaget juga demi mendengar ucapan Hoa Thian-hong tadi.

Cepat ia mengerahkan pernapasannya, benar juga ia merasa iganya rada kesakitan, ia menjadi gusar dan memaki.

"Bagus, Hoa Thian-hong, engkau benar-benar tidak kenal malu, apa yang telah kau lakukan di atas badanku?"

"Hm, melakukan apa?"

Jengek Thian-hong.

"Aku cuma berbuat menurut kesukaan lawan saja, perempuanmu itu berani main gila atas diri putriku, aku tidak berani hutang, makanya kontan kubayar kembali atas dirimu. Dan bila engkau ingin hidup lebih lama, hayolah suruh perempuanmu itu mengaku lebih dulu."

Kiranya pada waktu melepaskan Auyang Tiong-ho tadi, dengan perlahan-lahan Thian-hong telah menepuk punggungnya dan karena itulah diam-diam ia telah menutuk ketiga Un-hiat bagian isi perut musuh.

"Kenapa harus aku mengatakan lebih dulu,"

Ujar Auyangjinio tidak rela.

"Maklum, aku tidak dapat mempercayai engkau lagi,"

Sahut Thian-hong.

"Dan terserahlah padamu mau mengatakan atau tidak. Engkau cukup tahu siapa diriku, biarpun aku tak dapat membuka Hiat-to putriku yang tertutuk, paling tidak aku masih sanggup menolong jiwanya. Sebaliknya, ha, jiwa suamimu mungkin segera akan melayang ke akhirat."

Karena gertakan Hoa Thian-hong itu, rasa sakit iga Auyang Tiong-ho menjadi tambah terasa, berulang-ulang ia mendesak sang istri agar lekas mengatakan saja.

Maka terpaksa Auyangjinio mengaku lebih dulu.

"Aku telah menutuk Beng-ih-hiat di bagian paru-parunya."

Segera Thian-hong berkata kepada Hay-thian.

"Kanghiantit, apakah engkau masih sanggup menggunakan It-cisian-kang?"

Jari tengah Kang Hay-thian telah bengkak dan kesakitan, maka dengan muka kecut sahutnya.

"Aku masih dapat menggunakan jari kiri, cuma tenaga mungkin sudah berkurang, paling-paling hanya setengah daripada biasanya."

"Kalau ada setengahnya sudah lebih dari cukup, harap engkau menolong membukakan Hiat-tonya, yaitu melalui tulang iga ketiga dipinggangnya,"

Demikian kata Hoa Thanhong.

Ia sendiri sudah kehabisan tenaga dan tidak sanggup mengerahkan Lwekang lagi.

Keruan Kang Hay-thian ragu-ragu, sebab cara membuka Hiat-to begitu berarti jarinya harus menyentuh tubuh In-pik.

Namun demi-keselamatan gadis itu, terpaksa ia beranikan diri, pelahan-lahan ia singkap baju luar In-pik dan gunakan jari tengah kiri untuk menekan tulang iga ketiga dipinggangnya.

Selang tak lama, tenggorokan Hoa In-pik kedengaran berkeruyukan, lalu muntahkan darah hitam.

In-pik ketakutan, namun Hay-thian lantas menghiburnya.

"Ini adalah tandatanda yang mesti ada, engkau tidak perlu kuatir."

Segera iapun tarik kembali jarinya.

"Engkau sangat mahir, Kang-hiantit,"

Puji Thian-hong kemudian.

Habis itu iapun memberitahukan tempat-tempat Hiat-to rahasia yang ditutuknya ditubuh Auyang-Tiong-ho itu kepada Auyang-jinio.

Benar juga, setelah nyonya itu menurut petunjuknya, Auyang Tiong-ho juga memuntahkan darah mati seperti Hoa In-pik.

Habis itu, cepatan saja Auyang-jinio mengajak sang suami berlalu dari situ.

Melihat musuh sudah pergi, Hay-thian menarik napas lega, ka-tanya.

"Belum pernah kulihat wanita seculas ini, bahkan lebih ke-ji daripada Im-lothaypo itu".

"Pik-ji,"

Kata Thian-hong kemudian.

"aku sudah suruh kau jangan keluar, mengapa kau melanggar pesanku?"

Tapi belum lagi In-pik menjawab, tiba-tiba dilihatnya sang ayah terhuyung-huyung hendak roboh In-pik berseru kuatir.

"Engkau kenapa, ayah?"

"Tak mengapa, lekas bawa aku kembali ketempat kita", sahut Thian-hong dengan suara lemah, keringat berketesketes dari jidatnya sebesar kedelai dan parasnya juga bersemu hitam. Waktu In-pik mengusap keringat sang ayah, terasa air keringat itu sangat panas, diam-diam In-pik berkuatir. Sebagai puteri tabib sakti, la tahu sang ayah waktu itu sedang mengerahkan tenaga dalamnya untuk melawan rangsangan racun. Dan kalau melihat gelagatnya, agaknya racun sudah menyesap sangat mendalam, betapapun tinggi Lwekang sang ayah juga susah melenyapkan semua racun itu. Melihat kekuatiran sigadis itu. Kang Hay-thian menjadi gugup juga. Cepat ia membantu memayang Hoa Thian-hong kembali kegua semula. Setiba didalam gua, Thian-hong minum dulu sebutir Siauboan-tan lagi sambil menjalankan pula Lwekangnya, lambatlaun air mukanya berubah merah kembali dan tenaganya agak pulih. Ia menghela napas dan berkata dengan tersenyum.

"Haha, Po Lo-hou, percuma engkau mengaku sebagai Tok-jiuthian-cun, sekali ketemu dengan Hoa-san-ih-un, apa yang dapat kau perbuat lebih banyak? Pik-ji, ambilkan kantong obatku........."

Mendadak ucapannya terputus ketika ia tidak melihat kantong obat yang semula ditaruhnya disitu.

Temyata barang didalam gua itu sudah morat-marit, terang sudah pernah dijamah orang.

Setelah tertegun sejenak, segera Thian-hong berseru pula.

"Siapakah yang telah menggerayang kesini? Di mana kantong obatku?"

"Ampun ayah, anak pantas kalau dihukum mati, kantong obat ayah telah kena direbut orang,"

Sahut In-pik dengan suara gemetar.

"Direbut orang? Siapa yang merebut?"

Tanya Thian-hong cepat.

"Direbut perempuan siluman itu, anak telah melukainya, tapi tak dapat menangkapnya,"

Tutur In-pik. Jawabannya ini tidak ditujukan kepada sang ayah, tapi ia berkata kearah Kang Hay-thian. Pemuda itu terkesiap, cepat ia menanya.

"Perempuan siluman yang manakah?"

"Yang mana lagi, ialah sobat baikmu Auyang Wan itu."

Sahut In-pik dengan mendongkol. Seketika Kang Hay-thian seperti disambar petir rasanya hingga badannya gemetar. Ia menggumam sendiri dengan suara tak lancar "Apa............... apa benar dia?"

"Masakah aku sengaja mempitenah dia?"

Ujar In-pik.

"Mata ku belum lagi buta, aku dapat mengenali dia dengan baik."

Sungguh Kang Hay-thian sangat cemas dan terpukul perasaan nya, ia tidak menduga akan perbuatan Auyang Wan yang keji itu.

Selama beberapa bulan mengembara ini, sudah banyak kejadian-kejadian yang dialami Kang Hay-thian dan setiap peristiwa selalu ada sangkut-pautnya dengan Auyang Wan, tapi kejadian paling akhir inilah yang paling mengguncangkan perasaannya.

Ia meragukan martabat Auyang Wan apakah sudah sedemikian jahatnya?

Padahal dahulu gadis itu mestinya sekali tusuk dengan mudah dapat membunuhnya, mengapa malah memberikan obat penawar padanya, bahkan menangis dan menyatakan penyesalannya?

Apakah semuanya itu cuma purapura saja?

Dan terjebaknya diriku kedalam jaring malam ini apa betul-betul juga dia sengaja mengatur?

Tapi mengapa kemudian ia menangis dan tidak membenarkan perbuatan ayah-bundanya?

Apakah cuma pura-pura saja untuk menipu diriku?

Mendadak Hay-thian putar tubuh hendak bertindak pergi.

"Kang-hiantit, hendak kemana kau?"

Tanya Thian-hong cepat.

"Aku hendak mencari kembali kantong obatmu itu dan membekuk perempuan siluman itu ......"

Sahut Hay-thian dengan nada gemas.

"Usahamu akan sia-sia saja, Hiantit,"

Ujar Thian-hong.

"Mereka sudah mengatur sebelumnya untuk menghadapi kita, cara bagaimana engkau mampu mendapatkan dia lagi? Pula mereka bertiga, biarpun sudah ketemu juga engkau seorang diri akan repot melayani mereka."

"Tapi ... tapi perasaanku sangat cemas, sungguh aku tidak menyangka akan terjadi begini,"

Ujar Hay-thian.

"Ini toh bukan salahmu,"

Kata Thian-hong tertawa.

"Apa lagi tadi engkau sudah menolong diriku, kalau ada yang salah, itulah salahku sendiri yang tidak membawa serta kantong obat itu atau menyimpannya di tempat yang baik."

Sudah tentu orang tua itu tidak dapat meraba perasaan Kang Hay-thian.

Biarpun apa yang terjadi adalah perbuatan Auyang Wan, tapi hal itu benar-benar sangat menyakiti hati pemuda itu.

Dalam pada itu In-pik sudah tenang kembali, tanyanya.

"Apakah ayah juga tidak membawa kitab obat dan persediaan obat mujarab lain?"

"Kitab pusaka sudah tentu selalu kubawa serta, Siau-hoantan juga masih ada padaku,"

Sahut Thian-hong.

"Ehm, engkau tidak perlu gugup. Dalam beberapa hari ini janganlah engkau berpisah denganku."

Kang Hay-thian tidak dapat memahami apa arti ucapan terakhir si orang tua itu, tapi In-pik sudah dapat menangkap maksud perkataan sang ayah, serunya kuatir.

"Tia, sesudah minum Siau-hoan-tan, apakah masih susah disembuhkan?"

"Mati atau hidup sudah takdir Ilahi, sudah tentu aku ingin hidup terus,"

Sahut Thian-hong.

"Namun begitu kita harus berjaga terhadap segala kemungkinan di luar dugaan. Pada kesempatan ini aku ingin bicara sedikit dengan kalian. Pik-ji, ini adalah kitab obat dan kitab ilmu pedangku Liu-in-kiam-boh, engkau harus giat melatihnya dengan baik. Po Lo-hou sudah terluka oleh pukulanku, mungkin keadaannya lebih payah daripada diriku, andaikan tidak mati juga takkan mampu berbuat jahat lagi. Auyang Tiong-ho memperoleh Siau-hoantan dariku dan jiwanya juga dapat diselamatkan, tapi siksaan itu juga sudah cukup baginya. Maka bila terjadi apa-apa atas diriku, tidak perlu engkau membalaskan sakit hatiku kepada mereka. Yang kuharapkan ialah engkau belajar ilmu pengobatan dan ilmu pedang ini untuk menolong sesama dan bukan untuk menuntut balas. Aku sendiri percuma telah mempelajari kedua macam kepandaian ini, tapi selama ini cuma mengasingkan diri menghindari musuh, maka jarang menggunakan kepandaianku ini untuk menolong sesama. Maka dari itu kuharap engkau dapat menggantikan kewajibanku ini. Nah, pahamkah engkau? Sudahlah, jangan menangis, harap engkau dapat memahami maksudku ini."

Namun air mata In-pik sudah bercucuran, katanya dengan suara parau sambil merangkul sang ayah.

"Tia, jangan ... jangan engkau meninggalkan aku!"

Perlahan-lahan Thian-hong membelai rambut putrinya, katanya dengan suara halus penuh kasih.

"Aku pun tidak ingin meninggalkan kau, tapi aku sendiri tidak berkuasa, tergantung kepada kemurahan Ilahi. Anakku, bangunlah, dengarkanlah perkataanku, Kang-hiantit, harap engkau juga majulah kemari."

Segera Hay-thian mendekati orang tua itu, ia lihat wajah Thian-hong tersenyum simpul dan sedang berkata pula.

"Ada sesuatu ingin kuharap bantuanmu, entah sudikah Hiantit menerima?"

"Silakan bicara, apapun akan kulakukan dengan sekuat tenaga,"

Sahut Hay-thian tanpa ragu-ragu.

"Rasanya aku tidak dapat menyertai engkau ke Kim-engkiong lagi, dan sudikah engkau bersedia menjaga Pik-ji?"

Tanya Thian-hong.

Ucapan Thian-hong ini sebenarnya sudah jelas ingin menyerahkan diri putrinya itu kepada Kang Hay-thian, tapi pemuda itu terlalu polos, ia tidak paham maksudnya itu, sebaliknya dengan rasa terharu, tanpa pikir ia lantas menjawab.

"Kenapa Laupek berkata demikian. Begini baik Laupek (paman) kepadaku, sudah pasti aku akan menjaga Inpik sebisanya. Bahkan bila Laupek tidak mencela diriku, aku bersedia..."

"Anak baik, engkau bersedia apa? Katakanlah,"

Ujar Thianhong demi melihat Hay-thian merandek.

"Aku bersedia mengaku paman sebagai Gihu (ayah angkat), seterusnya aku dan In-pik menjadi seperti saudara sendiri saja,"

Sahut Hay-thian.

"Begitukah?"

Kata Thian-hong dengan napas memburu, tiba-tiba matanya tertutup terus roboh ke belakang.

Rupanya keadaan orang tua itu sebenarnya sudah sangat lemah, ia hanya ingin mendengarkan sesuatu ucapan Kang Hay-thian, dan apa yang dikatakan pemuda itu ternyata bukanlah seperti apa yang diharapkannya, dalam kecewanya ia pun tidak tahan lagi keadaan badannya yang lemah itu.

Sesaat itu In-pik menjadi termangu-mangu kaget.

Dan belum lagi sempat menangis, tiba-tiba Hay-thian telah memburu maju, ia merangkul Hoa Thian-hong, jari jempol kirinya menekan 'Thian-cu-hiat' di punggung orang tua itu, menyusul ia terus menggigit pundaknya.

Dalam bingungnya hampir In-pik menjerit pada apa yang dilakukan Kang Hay-thian itu, tapi ia seorang yang paham ilmu pengobatan, segera ia pun sadar maksud pemuda itu, serunya dengan terharu.

"O, Hay-ko, mana boleh engkau berbuat begitu? Bukankah akan membikin susah dirimu sendiri?"

Kiranya Kang Hay-thian sedang menggunakan Lwekang sendiri untuk menyedot darah beracun di tubuh Hoa Thianhong.

Maka tidak antara lama, ketika Hay-thian memuntahkan sekumur darah hitam dan berkata dengan tertawa.

"Selesailah sudah. Aku sendiri tidak akan keracunan, akupun punya Pikling-tan."

Namun begitu sebenarnya lidahnya juga sudah terasa kaku, suaranya menjadi rada samar-samar.

Meski Hay-thian tidak paham ilmu pengobatan, tapi pernah juga ia mendengar cara pertolongan pertama dari gurunya dengan Lwekang yang tinggi, maka begitu darah beracun itu dapat disedot keluar, jiwa Thian-hong tidak perlu dikuatirkan lagi.

Hay-thian sendiri sesudah mengisap darah beracun itu lantas minum sebutir Pik-ling-tan tinggalan Kang Lam yang dahulu diperolehnya dari Kim Si-ih, maka sisa-sisa racun dimulutnya itupun tidak berbahaya lagi Sejenak kemudian, pelahan-lahan Thian-hong sadar kembali, ia tercengang waktu melihat bibir Hay-thian masih berlepotan darah, segera iapun tahu duduknya perkara, katanya dengan gegetun.

,Ai, buat apa Hiantit berbuat begini.

Usiaku sudah lanjut, maupun tidak perlu disayangkan lagi, mengapa engkau mesti membuang tenaga dalam sendiri untuk menyambung umurku yang tinggal tidak seberapa lama ini."

"Perkataanmu ini tidak benar, Laupek,"

Kata Hay-thian tibatiba.

"Mengapa tidak benar,"

Tanya Thian-hong terkesiap.

"Bukankah tadi engkau menyesalkan kepandaianmu ini belum pernah digunakan untuk menolong sesamanya?"

Tanya Haythian.

"Meski enci Pik telah mendapat didikanmu. tapi untuk dapat mencapai kepandaian seperti engkau masih diperlukan waktu sangat lama, dan mengapa engkau sendiri tidak ingin hidup terus? Apa yang engkau dapat dan mampu melakukan mengapa mesti dibebankan kepundak puteri sendiri? Hal ini bukankah sengaja mengelakkan tanggung-jawab namanya?"

Thian-hong termangu-mangu oleh kata-kata Hay-thian itu. Maka segera In-pik lantas menambahi juga.

"Ya, waktu ayah mengajarkan ilmu pengobatan kepada anak, bukankah engkau pernah mengatakan, asalkan sipenderita masih ada sedikit harapan saja, maka kita harus berdaya sebisanya untuk menyembuhkan dia. Seorang tabib tidak boleh ragu-ragu, sebaliknya harus ambil tindakan tegas dan cepat. Mengapa engkau sekarang tidak berusaha mencari jalan untuk mengobati diri sendiri?"

Thian-hong termenung-menung sampai lama, air matanya tampak meleleh dlkedua sisi pipiny"a, namun rasa putus asanya tadi sudah lenyap sama sekali sekarang. Katanya dengan tertawa.

"Mendengar kata-kata kalian ini. mungkin aku terpaksa mesti memeras otak mtuk mencari akal. Bila tidak, tentu akan mengsia-siakan maksud baik Kang-hiantit."

Dan ketika sekelas dilihatnya jari Hay-thian masih merah bengkak, segera katanya pula kepada Iri-pik.

"Pik-ji, cara pendarahan dengan tusuk jarum sudah kau pahami, sekarang bolehlah kau coba mengobati jari Hay-thian itu."

Habis berkata, orang tua itu pejamkan matanya seperti sedang memikir sesuatu.

Segera In-pik mengajak Hay-thian menyingkir kesamping sana.

ia pegang jari tengah pemuda yang bengkak itu, tapi gadis itu tidak lantas mengobatenya, sebaliknya sikapnya kikuk dan muka merah.

Dengan sendirinya Hay-thian tidak berani mendesak gadis itu lekas mengobati jarinya.

Sampai agak lama barulah In-pik berkata dengan suara pelahan.

"Hay-ko, engkau sangat baik kepada kami. sungguh aku tidak tahu cara bagaimana harus membalas budimu ini. Aku tidak pandai bicara, dalam gugupku tadi aku telah omong kasar padamu, harap engkau jangan marah."

"Memangnya aku yang salah dan bukan salahmu,"

Ujar Hay-thian.

"Aku keliru bersahabat dengan orang, jahat, sungguh aku sangat menyesal. Kelak bila aku bertemu dengan perempuan siluman itu, tentu akan membalas sakit hati paman."

"Apa betul?"

In-pik menegas dengan wajah berseri-seri.

"Mung-kin sesudah bertemu engkau menjadi tidak tega lagi."

Dan selagi Kang Hay-thian hendak menjawab, namun In-pik sudah mendahului pula.

"Sudahlah, aku cuma bergurau saja, jangan Hay-ko anggap sungguh-sungguh. Orang Kangouw jarang yang dapat dipercaya. setiap pengalaman juga berarti menambah pengetahuan. Asalkan engkau sudah dapat kenal watak asli perempuan siluman itu dan selanjutnya harap saja berlaku hati-hati."

Sambil mendengarkan ucapan In-pik itu, diam-diam dalam benak Hay-thian timbul bayangan Auyang Wan, ia menjadi ragu-ragu pula apakah benar Auyang Wan sudah terperosot sebegitu jauh kealam kejahatan?

Dalam pada itu In-pik lantas mengeluarkan sebatang jarum perak dan menusuk sekali ujung jari Hay-thian, ia pencet keluar darah hitam, lalu menusuk pula tiga tempat Hiat-to dibagian siku.

Habis itu, tangan tay-thian menjadi segar rasanya dan tidak sakit lagi.

"Terima kasih."

Katanya.

"Ah, kenapa engkau masih sungkan padaku, hanya urusan sekecil. ini juga pakai terima kasih segala, sebaliknya entah cara bagaimana aku harus berterima kasih padamu?"

Ujar Inpik.

"Eh. bilakah engkau dilahirkan?"

Pertanyaan itu sangat tiba-tiba hingga Hay-thian tercengang sejenak, kemudian sahutnya.

"Tanggal 21 bulan tiga."

"Aku sendiri dilahirkan tanggal 8 bulan empat, jika demikian, engkau lebih tua dariku, aku harus memanggil engkau kakak"

Kata In-pik.

Tentang usia mereka sama-sama 16 tahun memang gadis itu sudah mengetahui.

Tiba-Tiba terdengar Thian-hong sedang batuk-batuk pelahan, waktu Hay-thian menoleh, ia lihat orang tua itu sedang membuka matanya.

sinar matanya mengarah kepada mereka dengan tanda berseri-seri seperti telah menyelesaikan sesuatu persoalan sulit.

"Tia,"

Sapa In-pik sambil mendekati sang ayah.

"Aku sudah selesai mengobati luka Hay-ko, dan engkau sendiri bagaimana?""

"Lukaku tidak dapat diobati disini,"

Sahut Thian-hong tertawa.

"Tadi aku menjadi ingat kira-kira ratusan li disekitar sini ada suatu dusun bernama Cui-in-hiang, disitu tinggal suatu keluarga In. Bolehlah kalian menghantar aku kesana dan minta pondokan padanya. Aku dapat minta bantuannya untuk membelikan obat dan merawat lukaku disana Sesudah mendekati sembuh, dapat pula aku minta mereka menghantar aku pulang."

"Siapakah orang she In itu?"

Tanya In-pik.

"Suatu keluarga persilatan turun temurun,"

Sahut Thianhong.

"Konon kakek-moyang mereka adalah pendekar besar In Tiong dijamannya Thio Tan-hong. Sesudah kerajaan Beng terguling, keluarga mereka telah mengungsi dan tinggal dikaki gunung Ki-lian-san dan mendirikan pedusunan Cui-in-hiang itu. Cengcu (kepala kampung) sekarang bernama In Ciau, ilmu pukulan keturunan Tay-lik-kim-kong-ciang mereka tiada bandinganuya didunia ini."

"Tia, apakah dia adalah sobat baikmu? Mengapa aku tidak pernah mendengar ceritamu?"

Tanya In-pik.

"Selamanya aku belum kenal dia"

Sahut Thian-hong "Jika begitu, apakah tidak terlalu gegabah kita minta mondok pada mereka?"

Tanya In-pik ragu-ragu.

"Setiap kesatria Kangouw paling mengutamakan setia kawan, asal masing-masing sudah kenal nama, mengapa mesti kenal orang dulu?"

Ujar Thian-hong tertawa.

"In Ciau itu adalah seorang yang dapat dipercaya, kita tidak perlu raguragu. hayolah hantar aku kesana."

"Ya, akupun pernah mendengar cerita Suhu tentang diri In Ciau itu, katanya dia adalah seorang laki-laki sejati,"

Kata Haythian.

"Laupek, tempatnya itu memang sangat tepat untuk menyembuhkan lukamu, marilah biar aku menggendong engkau."

"Eh, bukankah tadi engkau menyatatakan akan mengangkat ayah sebagai bapa angkat, mengapa masih memanggil demikian?"

Ujar In-pik dengan tertawa.

"Ya, tapi entah Hoa-locianpwe sudi menerima aku atau tidak?"

Sahut Hay-thian.

"Hahaha, mungkin rejekiku yang tidak sanggup menerima seorang putera angkat sebagai engkau."

Kata Thian-hong dengan terbahak.

Terus saja Kang Hay-thian berlutut dan menyembah kepada Hoa Thian-hong sambil memanggil ayah angkat padanya.

Kemudian Hay-thian saling memberi hormat kepada In-pik dan untuk selanjutnya juga saling menyebut sebagai kakak dan adik.

Walaupun hal ini tidak seluruhnya memuaskan Hoa Thianhong, namun juga sudah cukup menggemblrakannya.

In-pik sendiri masih terlalu muda, yang terpikir olehnya ialah Kang Hay-thian itu seorang kakak yang sangat menyayangkan baginya, hakikatnya dalam benaknya tidak terlintas tentang clnta segala.

"Marilah adik Pik, lekas engkau bebenah, sekarang juga kita lantas berangkat,"

Ajak Hay-thian kemudian.

Begitulah segera Kang Hay-thian menggendong Thian-hong untuk berangkat, karena tidak berani berlari cepat, pula jalan pegunungan Ki-lian-san itu berliku-liku.

setelah setengah harian barulah mereka mendekati lembah pegunungan yang lapang.

"Awas, ada orang datang, lekas sembunyi,"

Tiba-tiba Thianhong peringatkan.

Kebetulan dltepi jalan ada semak rumput alang-alang yang cukup lebat, cepat Hay-thian membawa Thian-hong ketengah semak-semak rumput itu diikuti oleh In-pik.

Selang sebentar, benar juga ada suara orang berjalan dari jauh dengan cepat sekali, diam-diam Hay-thian kagum kepada Thian-hong, biarpun dalam keadaan terluka.

namun ketajaman telinga-nya ternyata tidak berkurang.

Bahkan dari suara berjalan kedua orang pendatang Itu.

agaknya ilmu silat mereka takkan dibawah Auyang Tlong-ho atau Po Lo-hou.

Hanya sekejap saja kedua bayangan orang itu sudah melayang lewat disamping semak rumput.

Thian-hong bertiga menahan napas agar tidak sampai diketahui oleh orang-orang itu.

Dari bayangan perawakan mereka itu dapat dibedakan bahwa kedua orang itu terdiri dari seorang pria dan seorang wanita, hanya muka mereka tidak jelas tertampak.

Terdengar yang wanita sedang berkata.

"Menurut Po Lohou, katanya yang tua itu sudah terluka, kita taksir tentu mereka takkan pergi jauh dari sini, mengapa masih belum kelihatan bayangan-nya?"

"Tentang sltua itu tak perlu kita hiraukan, tapi bocah she Kang itu harus kita bekuk dulu,"

Ujar yang priya.

Diam-Diam Kang Hay-thian mendongkol, rupanya kedua orang itu bukan sekomplotan dengan Po Lo-hou, tapi justeru sengaja datang hendak membekuk dirinya.

Lalu terdengar yang pria itu sedang menyambung pula.

"Bok-toaci. engkau juga terlalu ganas, jelek-jelek Po Lo-hou juga telah memberikan kabar baik kepada kita, tapi sekali tabas engkau telah mampuskan dia."

"Ah, toh dia sudah terluka parah, tidak dibunuh juga dia takkan hidup lama, buat apa mesti banyak mengambil risiko, siapa berani menjamin dia takkan katakan pada orang lain pula jika diberi hidup?"

Sahut yang wanita dengan tertawa. Habis itu bayangan merekapun makin remang-remang dan akhirnya lenyap dalam pandangan.

"Kembali seorang wanita keji!"

Demikian Hay-thian mengomel pelahan.

"Aku toh tidak punya permusuhan apaapa dengan mereka, entah sebab apa mereka selalu mencari perkara padaku?"

Dalam pada itu Hoa Thian-hong sedang mendekam ditanah untuk mendengarkan, tiba-tiba ia berkata.

"Kedua orang itu sudah sampai dllembah gunung sana, he, dari sana juga sedang mendatangi dua orang lagi, agaknya mereka segera akan bertemu."

Belum selesai Thian-hong berkata, mendadak sudah terdengar suara siwanita tadi sedang membentak.

"Siapa kalian, berhenti, jangan bergerak!"

Maka terdengarlah suatu seorang wanita muda telah menjawab.

"Sungguh aneh. Kami berjalan sendiri, peduli apa dengan urusan kalian? Kau ini kutu macam apa, berani kau berlagak di-sini?"

Karena kata-kata kedua wanita itu diucapkan dengan keras, rupanya sama-sama tidak mau mengalah, maka dapatlah didengar Hay-thian bertiga dengan jelas. Bahkan habis itu terus terdengar suara "blang"

Sekali.

"Cepat benar gerakan wanita muda itu, ia sudah menghindarkan sekali serangan hingga pukulan lawannya mengenai batu karang."

Ujar Thian-hong dengan suara bislkbislk. Menyusul lantas terdengar pula bentakan seorang pemuda.

"Perempuan keparat, kau berani menyerang orang?"

"Orang jahat semacam ini tidak perlu sungkan-sungkan lagi padanya,"

Kata siwanita muda pertama tadi.

"Lihat serangan, perempuan jahanaml"

Habis itu lantas terdengar suara keras bagai gemuruh halilintar melempam. Diam-Diam Hay-thian merasa heran, pikirnya.

"Mengapa kedua wanita itu sama-sama memakai pukulan dengan tenaga keras yang umum-nya cuma digunakan oleh kaum laki-laki?"

Dalam pada itu Hoa Thian-hong telah berkata dengan tertawa.

"Ha, perempuan jahat itu telah mengalami kecundang sedikit, dapatkah kalian mendengarnya?"

"Benar,"

Ujar Hay-thian.

"gadis itu cuma tergentak mundur dua-tiga langkah, sebaliknya perempuan jahat itu tersentak mundur lima tindak, bahkan seperti tertumbuk benda apaapa."

"Dibawah lembah situ banyak terdapat batu karang dau pohon, tapi suara benturan itu bukan tertumbuk pada bendabenda keras itu, boleh jadi yang laki-laki telah memayangnya,"

Ujar Thian-hong. Benar saja lantas terdengar laki-laki itu sedang membentak.

"Siapa kalian, jangan salahkan kami turun tangan keji jika tidak lekas mengaku terus terang."

Sigadis yang memaki "perempuan keparat"

Tadi telah menjawab dengan tertawa dingin.

"Hm, kami justeru tidak mau bilang, kalian bisa apakan kami?"

"Jangan kau anggap ilmu silatmu hebat, lalu berkepala batu. Hm, nku masih belum sudi untuk berkelahi dengan kau. tahu?"

Kata laki-laki itu.

"Baiklah, engkau tidak mau memperkenalkan diri juga terserah. Tapi aku ingin tanya kalian, apakah kalian ada melihat tiga orang. yang seorang adalah kakek berjenggot dan terluka, kedua lainnya adalah sepasang muda-mudi belasan tahun?"

"Untuk apa kau menanyakan mereka?"

Balas tanya sigadis.

"Nona, engkau tidak perlu ikut tahu urusan orang lain."

Ujar Laki-Laki yang menanya itu.

"Cukup engkau mengatakan telah melihat mereka atau tidak, habis itu kami lantas silakan kalian lewat."

"Huh. kulihat kalian ini tentu bukan manusia baik,"

Jengek sigadis "Mungkin engkau telah melukai orang tua itu. lalu hendak merebut pula anak gadisnya, bukan? Em, biarpun aku melihat mereka juga takkan Kukatakan padamu."

Karuan laki-laki pertama tadi menjadi gusar, teriaknya.

"Ngaco-belo tak keruan, kalau engkau bukan dara ingusan tentu kutempiling kaul"

"E-eh, Yap-kongcu" ...masakah engkau masih pandai sayangi dara cantik, ha!"

Demikian seru siwanita yang dimaki tadi.

"Bangsat, kau berani menghina adikku, rasakan golokku ini!"

Mendadak suara pemuda tadi membentak-Dari suararya itu rasa-nya cumA seorang pemudi berusia 16 atau 17 tahun saja.

Tapi dari suara sambaran goloknya yang membacok itu, ternyata kerasnya bukan kepalang, jauh diatas tenaga adik perempuannya tadi.

"Kiam-hoat bagus"

To-hoat hebat!"

Puji Thian-hong dengan pelahan.

Kiranya dalam sekejap itu saja sudah terdengar serentetan suara gemerincing yang ramai, diam-diam Hay-thian juga telah menghitung bhw dalam sekejap itu senjata kedua pihak sudah saling beradu 7-8 kali.

Bahkan diantara suara nyaring beradunia Senjata tajam itu tersellng pula deru samberan angin pukulan yang dahsyat.

Karena kepandaian Kang Haythian dalam hal mendengarkan dengan mendekam ditanah masih belum sempurna, maka ia sudah takdapat membedakan lagi suara pertempuran itu Sebaliknya Hoa Thian-hong masih terus mendengarkan dengan cermat.

Tidak lama kemudian, Thian-hong telah goyang-goyang kepala dan berkata.

"Celaka, sepasang muda-mudi bersaudara itu telah terdesak dibawah angin."

Belum lenyap suaranya, sekonyong-konyong terdengar bentakan menggelagar slpemuda, menyusul siperempuan yang dipanggil sebagai "Bok-toaci tadi lantas menjerit sekali.

Menyusul pula sipemuda lantas menanya juga dengan suara kuatir.

"Bagaimana kau, Moay-moay?"

Dengan terheran-heran In-plk menanya kepada sang ayah.

"He, mengapa keadaan menjadi kacau tak keruan? Sebenarnya siapakah yang terluka?"

"Kedua wanita itu sama-sama terluka,"

Sahut Thian-hong.

"Adik perempuan pemuda itu lebih parah lukanya, makanya sampai menjeritpun tak bisa. Mungkin karena adik perempuannya terluka, makanya pemuda itu menjadi nekat dan balas melukai perempuan jahanam itu."

Benar juga lantas terdengar laki-laki pertama lagi telah membentak.

"Bocah kurangajar, kau berani melukai Boktoaciku dan sekarang hendak menggeloyor pergi begini saja?"

Menyusul mana terdengarlah suara "trang"

Sekali, berbareng terdengar pula suara gemuruh tertahan, rupanya kedua orang telah saling gebrak dengan senjata bersama pukulan sekaligus untuk mengarah jiwa masing-masing.

"Laki-Laki itu teramat lihay, pemuda itu bukan tandingannya", demikian komentar Thian-hong. Dan pada saat itu juga tiba-tiba terdengar siperempuan iang dipanggil sebagai "Bok-toaci"

Itu merintih keras-keras dan se-akan sedang berkata apa-apa, cuma samar suaranya, maka tidak terdengar jelas Tapi segera terdengar silelaki menyahut.

"Baiklah segera kudatang!" -menyusul terdengar pula "biang-biang"

Dua kali disertai bentakan laki-laki itu.

"Bocah kurangajar, biarlah kau hidup lebih lama dua hari lagi, boleh kau pulang saja untuk menunggu ajalmul"

Selang sejenak, terdengarlah suara tindakan orang berlari dengan tergesa-gesa.

"Ehm. kedua muda-mudi itu telah lari pergi,"

Kata Haythian. Sebentar kemudian, suara rintihan siperempuan jahat juga makin menjauh. Rupanya laki-laki she Yap itu juga telah membawa pergi "Bok-toaci"nya itu.

"Perempuan jahat itu biarlah mati, tapi sepasang mudamudi itu adalah orang baik,"

Ujar Hay-thian.

"Hoa-loclanpwe, dari nada ucapan orang she Yap itu, agaknya sepasang muda-mudi Itu cuma dapat bertahan hidup beberapa hari lagi, apakah betul begitu?"

"Hay-ji, kecuali engkau, Suhumu apakah pernah menerima murid lain?"

Tiba-tiba Thian-hong menanya malah. Sudah tentu Hay-thian terheran-heran.

"Tidak!"

Sahutnya.

"Mengapa ayah angkat menanyakan hal ini?"

"Jahanam she Yap itu agaknya belum banyak umurnya, tapi tenaga pukulannya ternyata serba llhay, suaranya juga sangat aneh. aku menjadi curiga jangan-jangan ilmu pukulannya itu adalah Tay-seng-pan-yak-ciang tinggalan Kiau Pak-beng itu,", ujar Thian-hong.

"Meski aku tidak pernah melihat Bu-kang-pitkip (kitab rahasia iimu silat) tinggalan Kiau Pak-beng itu, tapi aku pernah mendengar cerlta bahwa dahulu waktu di Bin-san, pernah Beng Sin-thong menggunakan kedua tangannya melawan keroyokan Thong-sian Siangjin dari Siau-limpay dan Kim-kong Taysu dari Go-bi-pay, dan ilmu pukulan yang dia gunakan waktu itu adalah Tay-seng-pan-yak-kang ini."

"Ya, memang benarlah demikian,"

Kata Hay-thian.

"Waktu aku mendengar suara pukulan itu tadi, akupun merasa heran dan tidak berani yakin itu adalah Tay-seng-pan-yak-kang. Jika begitu, wah, celaka, dan aneh sekali".

"Celaka tentang apa dan aneh bagaimana?"

Tanya In-pik.

"Celakanya, sebab Tay-seng-pan-yak-ciang itu adalah semacam pukulan yang maha hebat, dldalam kitab pelajaran Kiau Pak-beng itu terdapat tujuh macam ilmu pukulan yang lihay, dan Tay-seng-pan-yak-ciang ini cuma dibawahnya Siulo-im-sat-kang. Orang yang terkena pukulan itu, seketika akan berkeringat terus-menerus, dalam waktu tiga sampai tujuh hari badan penderita akan kurus kering dan akhirnya binasa."

"Jika begitu, kedua muda-mudi bersaudara itu pastilah akali mati. benar-benar celaka,"

Kata In-pik.

"Dan anehnya, mengapa jahanam she Yap itu dapat memahami ilmu sakti itu?"

Tutur Hay-thian lebih jauh.

"Setahuku, kitab ilmu silat warisan Kiau Pak-beng itu selain guruku dan Le Seng-lam yang pernah membacanya secara lengkap, hanya Hukau cu dari Thian-mo-kau yang juga dapat memahami sedikit secara tak teratur, tapi mereka semua tidak pernah berhasil meyakinkan Tay-seng-pan-yak-ciang dengan baik. Bahkan guruku juga kurang paham ilmu itu. tapi beliau sendiri tidak pernah melatihnya."

"Sebab apa?"

Tanya In-pik.

"Sebab menurut Suhu, ilmu silat dari aliran Sia yang terlalu kejam itu tidak membawa manfaat bagi yang meyakinkannya, bahkan dapat menyesatkan jalan pikiran orang yang bersangkutan, maka lebih baik jangan melatihnya cukup asal tahu cara bagaimana menghadapmya."

"Jika begitu, apakah engkau sudah dapat menghadapi Tayseng-pan-yak-ciang itu?"

Tanya In-pik.

"Melihat kepandaian orang she Yap itu baru mencapai duatlga bagian saja, rasanya aku masih sanggup melawannya, jika dia sudah mencapai setengah dari tingkatan paling sempurna, maka aku tidak berani menghadapinya lagi."

"Sudahlah, sekarang marilah kita berangkat,"

Ajak In-pik.

"He, apa yang sedang engkau pikirkan, ayah?"

Kiranya Hoa Thian-hong sedang termenung-menung sendiri, ketika ditegur, pelahan-lahan ia menjawab.

"Aku sedang memikirkan, pabila kedua muda-mudi itu minta pengobatan padaku, cara bagaimana aku harus mengobati mereka?"

"Habis, sudah ayah ketemukan caranya belum?"

Tanya Inpik.

"Belum,"

Sahut Thian-hong.

"Terluka oleh pukulan Tayseng-pan-yak-ciang, urat nadinya mengalami cidera semua, hal ini benar-benar susah disembuhkan."

"Sudahlah, ayah sendiri sedang sakit, janganlah banyak menggunakan otak lagi untuk mengurus orang lain,"

Ujar Inpik.

"Pula kita tidak kenal siapa mereka, andaikan ayah dapat menemukan cara pengobatannya juga takkan berguna bagi mereka."

"Akupun tahu apa yang kau katakan itu,"

Sahut Thian-hong.

"Tapi sudah menjadi watakku, asal ketemu sesuatu pengobatan, aku lantas ingin memeras otak untuk menemukan jawabannya. Sama halnya seperti orang belajar .silat, kalau melihat sesuatu -ilmu pukulan aneh, tentu ingin memikirkan suatu cara peme-cahannya untuk mengalahkan."

"Tapi ayah sendiri masih lemah, biarlah kelak boleh dipikirkan lagi,"

Ujar In-pik.

"Benar juga katamu, marilah kita berangkat. Mungkin kedua jahanam itu kini juga sudah sampai dibawah gunung,"

Kata Thian-hong.

Meski In-pik minta sang ayah jangan banyak memeras otak, tapi sebenarnya iapun sangat sayangkan nasib kedua mudamudi bersaudara itu.

Begitu pula perasaan Kang Hay-thian.

Walaupun masing-masing tidak saling mengenal, tapi bila ingat kedua muda-mudi itu beberapa hari lagi jiwanya akan melayang, betapapun mereka merasa menyesal.

Sementara itu sang surya sudah menggeser kebarat.

Dilembah pegunungan itu menjadi sunyi dan adem.

Waktu lewat ditempai terjadinya pertempuran tadi, tertampak d situ penuh batu kerikil, didinding batu karang tertampak jelas banyak bekas bacokan seajata, ditanah juga ada tltik-tltik darah, diangkasa beberapa elang sedang mengitar, mungkin karena mencium bau darah, binatang-binatang itu mengira ada bangkai Yang dapat dijadikan mangsa.

Dari pemandangan ditempai itu, dapatlah dibayangkan betapa dabsyatnya pertarungan tadi.

Melihat elang-elang itu terbang sangat rendah, In-pik pikir hendak menyambitnya dengan batu, ia coba jemput beberapa potong batu kecil.

Tapi begitu batu-batu itu terpegang, segera remuk hancur batu-batu itu menjadi bubuk.

"Batu-Batu itu telah terkena getaran pukulan Tay-seng-panyak-ciang, makanya tak dapat dipegang lagi,"

Ujar Hay-thlan. Sungguh kejut In-pik tidak kepalang, katanya.

"Jahanam itu cuma mempunyai latihan dua-tiga bagian saja sudah selihay ini. kalau sampai dia tamat meyakinkan ilmu itu, wah. betapa hebat-nya?"

Sekali ujurig kaki Hay-thian mencukit. dua potong batu kecil lantas mencelat katas dan dapat disambarnya dengan tangan. Katanya.

"Batui ini mungkin adalah pecahan kena pukulan Kim-kong-ciang tadi dan masih bisa digunakan." -menyusul ia terus sambitkan kedua batu itu kearah elang-elang yang terbang paling rendah hingga binatang-binatang itu bercuitan dengan bulu rontok berhamburan, lalu terbang meninggi melarikan diri. Ketika mendengar Kang Hay-thian menyebut tentang "Taylik-kim-kong-ciang", tiba-tiba Hoa Thian-hong membuka matanya dengan air muka tergerak. Cuma dia digendongan Hay-thian, maka pemuda itu tidak mengetahui sikap orang tua itu. Tidak jauh kemudian, tiba-tiba Thian-hong berkata.

"Hay-jl, biarlah Pik-ji menggantikan kau menggendong diriku."

"Tidak usah, toh aku belum lagi lelah,"

Sahut Hay-thian.

"Hay-ko,"

Sela In-pik.

"kau telah mengaku ayah angkat dan ayah masih juga belum kasih hadiah apa-apa padamu, tapi engkau sudah mengabdikan diri seberat ini kepadanya. Maka biarlah aku menggantikan kau sebentar menggendong beliau."

Hay-thian merasa tidak enak menolaknya lagi, terpaksa ia memindahkan gendongannya kepada gadis itu.

"Tia, apa yang engkau pikirkan lagi."

Tanya In-pik kemudian ketika sekian lamanya tiada mendengar sang ayah bicara.

"Tak pikirkan apa-apa". sahut Thian-hong.

"Disini adalah tanah lapang, kau boleh jalan sedikit cepat." -"Aha, berjalan cepat atau lambat sama saja bagi, kalian, toh kalian takkan dapat lolos dari sini!' tiba-tiba Yap-kongcu yang sudah menghilang tadi muncul kembali-Belum lenyap suaranya, tiba-tiba terdengar suara tertawa seorang.

"Berjalan pelahan atau cepat juga tiada gunanya. toh kalian takkan dapat meloloskan diri! Eh. kau Inikah Kang Haythian?"

Berbareng dengan ucapan itu. mendadak dari balik batu karang sana telah melompat keluar satu orang. Itulah dia silelaki yang dipanggil sebagai "Yap-kongcu"

Oleh wanita she Bok itu.

Kiranya setelah menaruh kawannya yang terluka itu disuatu tempat lain, lalu ia telah kembali lagi.

Tadi ketika melihat bayangan perawakan orang she Yap itu.

Kang Hay-thian menyangka orang itu pasti bermuka jahat, kini sesudah berhadapan, mau-tak-mau ia terkesiap.

Justeru di luar dugaannya, air muka orang itu tidak bengis dan jahat.

sebaliknya tampan dan halus, bahkan masih muda pula seperti pute-ra kaum bangsawan.

Bahkan lebih mengherankan lagi ialah begitu melihat, segera Kang Hay-thian merasa seperti sudah kenal wajah orang, hingga sesaat Itu tanpa merasa timbul rasa suka Hay-thian kepadanya.

Tapi demi teringat orang itu telah menggunakan pukulan kedi-untuk melukai sepasang muda-mudi itu dan sekarang hendak membikin susah pada dirinya, segera rasa suka Haythlan lenynp pula.

Dengan gusar segera iapun menjawab.

"Benar, memang aku inilah Kang Hay-thian dan Kang Haythian adalah aku sendiri, apa kehendakmu?"

"Aku tiada tempo untuk banyak blcara dengan kalian, pendek kata hanya ada dua pilihan bagi kalian, pertama, kau Kang Hay-thian ikutlah pergi bersama aku. jangan takut kau, aku akan anggap engkau sebagai tamu undanganku. Kedua, kau Hoa Thian-hong, kutahu engkau membawa Siau-hoan-tan. maka aku ingin minta, hanya sebutir saja sudah cukup, nah, lekaslah engkau berikan."

Demikian sahut Yap-kongcu itu.

Karena kuatir ayahnya yang sudah terluka Itu terancam pula.

hakikatnya In-pik tidak gubris kepada apa yang dikatakan Yap-kongcu itu.

tapi terus saja ia putar tubuh membawa lari sang ayah digendongannya sambil berseru kepada Hay-thian.

"Hay-ko, kenapa engkau masih belum lolos pedangmu?"

"Ha. rupanya kakan tidak mau halusan. tapi minta kekerasan."

Jengek Yap-kongcu itu dan sekali melesat, secepat panah ia sudah memburu kebelakang Hoa In-plk.

"Bangsat, jangan main ganas!"

Bentak Hay-thian sambil memburu terus menghantam.

"Siapa bilang aku main ganas? Aku sungguh-sungguh mengundang tamu dan benar-benar mohon diberi obat."

Sahut Yap-kongcu itu sambil membaliki tangannya untuk menangkis.

Karena kuatir orang menggunakan Tay-seng-pan-yuk-ciang pula, maka begitu menyerang, segera Kang Hay-thian menggunakan It-ci-sian-kang yang paling jitu untuk mematahkan tenaga murni lawan.

Melihat begitu, wajah Yap-kongiyu itu berubah gusar, bentaknya.

"Kang Hay-thian. Keji amat dan engkau sendirilah yang ganas!"

Mendadak Hay-thian merasa tenaga pukulan musuh itu bukan Tay-seng-pan-yak-ciang, namun cepat sekali serangan lawan sudah berganti, kedua tangannya telah menyerang pula berbareng.

Tangan pertama datangnya sangat pelahan dan tidak bersuara, menyusul pukulan yang lain membawa suara gemuruh bagai guntur mejen.

Serangan pertama itu ternyata adalah Bian-ciang dan pukulan kedua yang benar-benar Tayseng-pan-yak-clang.

Yang dikuatirkan Kang Hay-thian sebenarnya adalah pukulan Pan-yak-ciang.

diluar dugaan kena dihantam oleh Blan-ciang yang lunak, tapi dahsyatnya mampu menghancur leburkan batu.

Untung Kang Hay-thian memakai baju pusaka tinggalan Kian Pak-beng hingga tidak sampai terluka, tapi toh karena pukulan hebat itu.

tanpa tertahan tubuhnya sampai memutar sekali baru dapat mengelakkan tenaga hantaman lawan.

Sebaliknya orang she Yap itupun tidak lebih unggul, begitu ia hendak ganti serangan tadi.

It-ci-sian-kang yang dilontarkan Kang Hay-thian itu juga telah mendesak-nya hingga mundur beberapa langkah.

Dan belum lagi Hay-thian bersiap, kembali Yap-kongcu Itu sudah merangsang maju lagi sambil menjengek.

"Kang Haythian. dengan baik-baik aku mengundang kau", tapi engkau tidak mau, terpaksa aku akan membekuk kau saja."

"Hm, jika kau mampu, boleh kau coba-coba bekuk, siapa sudi menjadi tamu undanganmu segala."

Sahut Hay-thian dengan gusar.

Sekonyong-konyong pemuda she Yap itu menggeser kesamping dengan gerak langkah "Boan-Mong-jiau-poh atau naga melingkar menggeser langkah, cepat kaki kirinya menendang "Koan-tiau-hlat"

Di-lutut Kang Hay-thian. berbareng tangan kanan memotong tulang iga dan tangan"

Kiri menyikut dadanya.

Sekali bergerak tiga serangan itu dilakukan dengan sangat cepat dan lihay luar biasa.

Syukur Hay-thian dapat menghindar dengan menggunakan Thian lo-poh-hoat yang cepat pula.

Narnun begitu juga terdengarlah suara "plak", dadanya telah kena disikut sekali oleh siku lawan hingga teresa kesakitan meski dia meinpuhyai Hou-tok-sin-kang atau ilmu pelindung "badan yang sakiti.

"Kalau aku tidak keluarkan serangan mematikan, mungkin tak kan mampu melawannya,"

Demikian pikir Hay-thian.

"Sret". segera ia lolos pedangnya.

"Aku memang sudah tahu engkau mempunyai Pokiam, tapi apa yang kutakutkan padamu?"

Jengek Yap-kongcu itu. Dalam pada itu Hay-thian telah menyerang dengan tipu "Hong-in-toan-hong"

Atau awan mengepung memotong puncak.

pedang nya terus membabat.

Tapi dasar jlwanya memang berbudi, serangannya itu tidak dimaksudkan untuk mematikan lawan, melainkan digunakan untuk memotong pergelangan orang.

"Kalau diberi tidak membalas itu kurang hormat, lihat pedang ku!"

Seru Yap-kongcu, itu.

Mendadak iapun mencabut pedangnya disertai mengisar kesamping, bukan saja serangan Kang Hay-thian itu dihindarkan, bahkan ia terus putar kebelakang Hay-thian dan balas menusuk ke Hong-hu-hiat dipundak dengan tipu "Li-kong-sia-ciok"

Atau Li Kong memanah batu.

Melihat Hay-thian terancam bahaya, tanpa merasa In-pik menjerit kuatir.

Namun.

Hay-thian sudah lantas memutar balik pe-dangnya untuk menangkis.

Rupanya Yap-kongcu itu kenal pedang pusaka lawan yang llhay, cepat ia menggeser tempat pula sambil membabat kekaki lawan.

Begitulah serang-menyerang kedua orang itu dilakukan dengan sama cepatnya.

"sal salah satu pihak sedikit Yengah, pastilah akan terbinasa seketika. Hanya sekejap saja mereka sudah saling gebrak sampai belasan jurus. Sampai disini terpaksa Kang Hay-thian harus mengeluarkan antero kepandaiannya. Sayang waktu serangan pertama tadi ia tidak menyerang seganas-ganasnya hingga memberi kesempatan pada lawan untuk balas mendahului menyerang, maka untuk dapat merebut kembali posisinya sudah tentu akan sangat banyak mengeluarkan tenaga pula. Apalagi Yapkongcu itu ternyata sangat berpengalaman didalam pertempuran, sebaliknya Kang. Hay-thian baru untuk pertama kali ini bertanding pedang dengan lawan tangguh, biarpun ia memegang pedang pusaka, namun perbandingannya tetap ia dibawah angin.

"Sret". dalam pertarungan sengit itu mendadak pedang Yapkongcu itu menggesek lewat diatas batang Pokiam lawan. Kang Hay-thian tidak pernah melihat pertempuran cara demikiaa, tanpa kuasa lagi lengan bajunya tercapas. sebagian dan hampir-hampir mengenai tangannya. Segera Kang Haythian balas menghantam dengan sebelah tangannya. Namun Yap-kongcu itu seperti sudah menduga akan tindakan demikian, ia membaliki tangannya untuk memapak.

"cret", tepat sekali telapak tangan Kay-thian kena tersabet oleh tangan lawan hingga penderitaannya lebih hebat daripada serangan pertama tadi.

"Pik-moay, lekas kau lari membawa ayah,"

Seru Hay-thian kuatir. Tak terduga In-pik malah terus berhenti dan memutar balik. Pada saat lain lantas terdengar seruan Hoa Thian-hong.

"Geser ke Bu-bong, masuk ke Kui-yong!"

Kiranya apa yang diserukan Hoa Thian-hong itu adalah nama-nama tempat dalam perhitungan Pat-kwa.

Dasar otak Kang Hay-thian memang cukup tajam, begitu mendengar petunjuk itu, tanpa pikir lagi ia menurutkan lompat yang disebut itu.

Dan benar juga.

begitu pedangnya menusuk, segera pundak Yap-kongcu itu terancam.

Namun orang she Yap itu sudah banyak berpengalaman, meski terancam bahaya ia tidak menjadi gugup, cepat ia mendakan tubuh hingga tusukan Hay-thian itu luput tapi karena gebrakan itu kini Hay-thian sudah dapat mendahului menyerang pula.

"Serang bagian bawah, tusuk dia punya Yanq-pok-hiat!"

Kembali Thian-hong berseru.

Tentang Kang Hay-thian banyak mempelajari berbagai ilmu silat dari aliran terkemuka, hal ini sudah dapat dilihat Thianhong, maka sebenarnya tidaklah mungkin Kang Hay-thian kalah daripada lawannya.

soalnya cuma kurang berpengalaman dalam pertempuran.

Makanya Hoa Thian-hong tidak perlu menyebutkan tipu serangan Yang harus digunakan, sebab bicara tentang tipu serangan mungkin ia sendiripun kalah daripada Hay-thian.

maka cukup ia memberltahukan tempat mana yang harus diambil dan cara bagaimana harus menyerang Benar juga, begitu Hay-thian mengisar, segera pedangnya menyambar dengan tipu "Seng-Hong-in-hong"

Atau menumpang naga memancing burung hong, segera jidat Yapkongcu itu ditusuknya, lebih dulu ia mengurung lawan dibawah sinar pedangnya.

Mendadak Yap-kongcu itu menunduk kebawah sambil berjongkok dalam gerakan "Tiat-gu-keng-te"

Atau kerbau baja meluku sawah, segera pedangnya hendak menusuk keperut Hay-thian.

Tapi karena mendapat petunjuk dari Hoa Thianhong, begitu menyerang tidak kena.

segera Hay-thian menggeser pula dan kembali menyerang dari arah belakang, cepat ia menghantam kebagian bahwa musuh hingga tepat mengenai bokong lawan.

"plak", kontan Yap-kongcu itu terpental beberapa meter jauhnya. Namun Yap-kongcu itu benar-benar lihay, biarpun terguling seberat itu. sekali lompat ia telah bangun kembali tanpa menderita luka apa-apa. Bahkan dengan gusar ia terus mendamperat.

"Biar kubunuh dulu tua bangka yang cerewet seperti kau ini!" -Habis bekata ia terus memburu kearah Hoa Thian-hong yang digendong In-pik itu. In-pik menjadi ketakutan dan hendak lari. Tapi dengan tenang Thian-hong berkata dengan tersenyum.

"Haha. Yapkongcu, apa engkau sudah tidak sayang jiwamu sendiri lagi?"

Yap-kongcu terkesiap, segera didengamya dari belakang ada sambaran angin pukulan yang dahsyat.

Kiranya secepat itu pula Kang Hay-thian sudah menyusulnya dan menyerang.

Tanpa pikir lagi Yap-kongcu membalik!

tangannya untuk menangkis.

Namun sekali ini Kang Hay-thian sudah benci kepada maksud jahat lawan yang hendak mencelakai orang tua, maka pukulannya telah dilontarkan dengan sepenuh tenaga.

Maka terdengarlah suara "blang"

Sekali.

Hay-thian menggeliat dan Yap-kongcu itu kembali terpental jatuh lagi hingga terguling-guling, begitu melompat bangun ia terus melarikan diri.

Diam-Diam Hay-thian tercenggang menyaksikan ketangkasan lawan itu, berulang dua kali ia telah menyerang dengan pukulan "Tay-si-mi-ciang-lik"

Yang dahsyat, tapi sama sekali belum dapat melukai-nya. Kemudian Hay-thian menghaturkan terima kasih atas petun-juk Thian-hong tadi.

"Sudahlah, lebih baik kita lekas melanjutkan perjalanan, setibanya dirumah keluarga ln barulah kita dapat merasa aman,"

Ujar Thian-hong.

Sementara itu mereka sudah berada ditanah datar, mereka dapat berjalan lebih cepat.

Dibawah sinar bulan yang remangremang, mereka menempuh perjalanan terus dimalam hari.

Ditengah jalan pernah juga sekali Thian-hong pingsan, tapi segera In-pik memberi minum sebutir Siau-hoan-tan hingga orang tua itu siuman kembali.

Kira-Kira tengah malam, tiba-tiba pandangan mereka berbeliak, didepan mereka terdapat sebuah telaga yang berkilauan airnya tersorot sinar bulan Telaga itu sekelillngnya dihimpit oleh lereng bukit, di-tepi telaga penuh pohon Liuyang indah, dibalik lereng bukit lapat-lapat tertampak ada rumah tinggal orang.

"Ai, Cui-in-hiang benar-benar indah,"

Puji Hay-thian kagum. Segera mereka mendekati rumah diatas bukit, didepan sebuah gedung tertampak sepasang singa-singaan batu, pintu gerbang bercat merah, sungguh megah sekali bangunan gedung itu.

"Tentu inilah kediaman In-tayhiap,"

Kata Hay-thian dengan girang, segera ia maju untuk mengetok pintu. Tapi sampai sekian lamanya tetap tiada sesuatu suara sahutan didalam. Karena tidak sabar lagi segera Hay-thian berseru.

"Hoa Thian-hong dari Hoa-san mohon berjumpa dengan In-cengcu!"

Saking tidak sabar lagi Hay-thian terus menggedor pintu lebih keras.

"Sebenarnya engkau tidak perlu sebut namaku juga Incengcu yang berbudi akan menerima kita, dengan menyebut namaku ke-dengarannya menjadi kurang enak malah,"

Ujar Thian-hong.

Dan sesudah agak lama lagi, pelahan-lahan tampak daun pintu dibuka, maka tertampaklah 7-8 orang laki-laki bersenjata lengkap sambil membawa obor, ditengah berdiri seorang tua kira-kira berumur 50 tahun, mukanya kuning kurus, badan agak bungkuk.

Hal ini benar-benar rada diluar dugaan.

Kang Hai-thian, pikirnya.

"Masakah In Cau yang namanya tersohor ini ternyata beginilah macamnya? Danorang-orang yang bersenjata ini apakah anak murldnya? Mengapa mereka bersiap siaga seperti lagi menghadapi musuh besar?"

Walaupun ragu-ragu, namun Hay-thian melangkah maju dan mem beri hormat juga, katanya.

"Wanpe Kang Hay-thian memberi hormat kepada In-cengcu. Yang ini adalah ayah angkatku Hoa Thian-hong". Orang tua yang disangka In Ciau itu batuk sekali sambil mengamat-amati ketiga tamunya itu, lalu sahutnya dengan pelahan.

"Kang-congsu telah salah paham. Aku bukan Incengcu, tapi hanya Koau keh (kepala pengurus) dislni." -dan setelah merandek sejenak, lalu ia menanya pula.

"Numpang tanya, tengah malam kalian berkunjung kemari entah ada urusan apakah?"

"Gihuku terluka, maka ingin minta mondok ditempat kalian ini untuk merawat lukanya,"

Sahut Hay-thian. Koankeh itu tampak mengkerut kening, jawabnya "Sungguh sangat tidak kebetulan! Cengcu kami sedang pergian. kami sendiri tidak berani sembarangan menerima tamu."

Seketika Hay-thian seperti diguyur air dingin rasanya hingga ia termanggu-manggu sejenak. ia menggumam sendiri.

"Biasanya In-keh-ceng terkenal suka terima tamu, maka kami berani datang kemari minta mondok, Gihuku sedang sakit parah, biarpun Cengcu tidak dirumah, toh tiada halangannya memberikan suatu tempat meneduh."

"Apakah Losiansing inikah Hoa-san-ih-un Hoa Thian-hong?"

Tanya Koankeh itu.

"Benar, memang aku adanya,"

Sahut Thian-hong. Karena terluka parah dan, sangat letih tanpa mengaso dalam perjalanan, maka suaranya menjadi sangat lemah.

"Lihatlah betapa berat sakit Gihuku ini, maka sesungguhnya kami sangat memerlukan suatu tempat untuk merawat lukanya,"

Ujar Hay-thian.

"Maka tolonglah Koankeh suka membantu sebisanya."

Namun sikap Koankeh itu sangat dingin, ia pandang Thianhong pula sekejap, lalu katanya.

"Sudah lama kudengar ilmu pengobatan Hoa-san-ih-un sangat hebat, jlka beliau sendiri sakit, tentunya dapat mengobati diri sendiri, pasti takkan berhalangan apa-apa. Cengcu tidak dirumah kami tidak berani sembarangan menerima tamu. Disini ada sedia 50 tahil perak, jlkalau kalian kekurangan sangu dan perlu untuk membeli obat, haraplah suka menerimanya. Kira-Kira 30 li didepan sana ada sebuah kota kecil, disana ada rumah penginapan dan rumah obat, kalian akan mendapatkan apa yang diperlukan. Apa yang aku dapat membantu hanya sekian saja. harap kalian memaafkan."

Ternyata Hay-thian bertiga dianggap sebagai kaum Kangouw yang datang untuk minta bantuan ongkos perjalanan saja.

Maka tampak Koankeh itu memberi tanda pula, segera seorang laki-laki dibelakangnya tampil kedepan dengan membawa sebuah baki, di-tengah baki tertarah sepotong perak Mendadak Thian-hong berkata denqan kurang senang.

"Hay-thian. janganlah kita memaksa kehendak orang, marilah kita pergi saja".

"Hahaha,"

Tiba-tiba Hay-thian terbahak.

"Katanya orang she In paling suka menerima tamu, tak tahunya cuma begini-saja. Banyak terima kasih atas hadiahmu ini, biarlah kami terima didalam hati snja." -berbareng ia pegang lantakan perak yang berbentuk sisir itu hingga perak itu seketika kena diremas menjadi untir-untir "Trang", ia lapar kembali lantakan perak itu ketengah baki, lalu tinggal pergi bersama Thian-hong dan In-pik tanpa menoleh lagi. Setelah pintu gedung itu dltutup. lapat-lapat terdengar suara orang mencaci-maki kalang-kabut didalam, antaranya. ada seorang telah berkata.

"Pabila bukan telah dipesan Suhu, sungguh aku ingin memberi hajaran kepada bocah kurangajar itu. Hm, nama In-keh-ceng kita siapa yang tidak segan, tapi dia berani kurangajar!"

Hati Hay-thian tergerak, katanya dengan gemas.

"Yang bicara itu tentu muridnya In Ciau. Hm, In-cengcu itu kiranya ada dirumah, tapi sengaja menolak menerima tamu".

"Sudahlah, Hay-ko, didunla ini masakah tiada tempat pondokan lain kecuali keluarga In itu?"

Ujar In-pik.

"Jika mereka tidak mau terima, buat apa kita memaksa?"

"Aku cuma gemas terhadap sikap mereka,"

Kata Hay-thian dengan penasaran.

Walaupun begitu, tapi dimalam gelap, penyakit Hoa Thianhong sesungguhnya membutuhkan suatu tempat istirahat, yang lebih menguatirkan lagi ialah setiap saat mungkin akan.

muncul pula musuh ganas.

Karena itu, perasaan Kang Haythian dan In-pik sebenaraya sangat tertekan.

Sejak tadi Thian-hong cuma diam saja, kira-kira setengah jam kemudirin, setelah mereka melintasi bukit, mereka bermaksud mencarl suatu keluarga pemburu dipegunungan situ untuk minta mondok, namun seketika itu ternyata susah diketemukan.

Tiba-Tiba Thian-hong berkata.

"Urusan ini tampaknya agak mencurigakan."

"Sudah terang In Ciau itu sengaja tidak mau menerima kita. apa yang mesti disangsikan lagi?"

Ujar Hay-thian. Belum lagi lenyap suaranya. tiba-tiba tertampak sesosok bayangan orang sedang memburu datang secepat terbang sambil membentak.

"Kalian jangan lari! Hm, apakah In-kehceng begitu gampang membiarkan orang pergi-datang sesukanya?"

Hay-thian menjadi gusar juga, sahutnya lantang.

"In-kehceng tidak sudi menerima kami biarlah sudah. Tapi apakah kalian masih ingin merintangi kebebasan kami?"

Dan pada saat itu juga dengan cepat sekali seorang tua yang berbadan tinggi besar sudah berlari sampai dihadapan Kang Hay-thian, begitu melihat muka pemuda itu.

mendadak matanya merah membara sambil memaki.

"Ya, engkau bangsat cilik inilah orangnya!" -menyusul terus saja ia menghantam sekuatnya."

Cepat Hay-thian menangkis, ia merasa tenaga pukulan lawan itu luar biasa hebatnya hingga napasnya terasa sesak.

"Apakah In-tayhlap yang datang ini?"

Seru Hoa Thtnn-hcsiig sekuatnya.

"biasanya In-tayhiap terkenal berbudi, mengapa belum kenal orang lalu menyerang?"

"Apalagi yang dapat dibicarakan dengan kalian?"

Sahut orang tua tegap itu.

Menyusul ia menyerang pula dua kali beruntun, Dengan Thiaa-lo-poh-hoat cepat Hay-thian mengegos dan berkelit.

Ternyata ilmu pukulan In Ciau memang sangat lihay.

begitu serangannya luput, mendadak ia melompat keatas.

beruntun ia menghantam pula hingga beberapa meter seputar situ seakan-akan terkurung dibawah tenaga pukulannya.

Betapapun cepat gerakan Kang Hay-thian juga susah menghindarkan diri.

Terpaksa Kang Hay-thian melawan mati-matian.

"plak". ia sodokan tangan kanan untuk memapak pukulan"

La wan.

berbareng jari tangan kiri terus menutuk pergelangan tauyan orang yang lain.

Sekejap itu tertampak dua sosok bayangan orang terus terpisah.

Hay-thian tampak terhuyung-huyung mundur beberapa langkah, untung tidak sampai jatuh.

Kiranya sekaligus Kang Hay-thian telah menggunakan Taysi-mi-ciang-lik bersama It-ci-sian-kung.

Lwekangnya sebenarnya sudah cukup untuk menandingi jago kelas satu.

ditambah lagi ilmu pukulan Tay-si-mi-ciang itu adalah suatu ilmu pukulan menjaga diri yang paling kuat, biarpun musuh lebih tangguh dari dia, sesaat juga susah hendak mengalahkannya.

Tapi ilmu pukulan In Ciau yang disebut Tay-lik-kim-kongciang tiada bandingannya didunia persilatan, pengalaman Kang Hay-thian terlalu cetek pula, ketika pukulan In Ciau dilontarkan dan merasa tenaga tangkisan Hay-thian sangat kuat, mendadak In Ciau menarik kembali daya serangannyn.

Sebaliknya Kang Hay-thian masih hijau, ia tidak dapat ganti siasat disaat penting, ketika mendadak tenaga serangan musuh hilang, tanpa kuasa tubuhnya lantas mendoyong kedepan.

Dan pada saat itulah pukulan kedua kalinya dari In Ciau telah tiba, makanya Hay-thian sampai tergentak mundur beberapa tindak.

Dalam pada itu dengan cepat sekali In Ciau sudah lantas memburu maju pula.

Hay-thian menjadi gusar.

"In Ciau, aku menghormati engkau sebagai seorang pendekar angkatan tua. maka tidak ingin menempur kau mati-matian. Tapi engkau ternyata begini kasar, apa benar-benar ingin memaksa aku mengadu jlwa dengan engkau?"

"Bangsat cilik, kepandaian apa yang kau milik", keluarkanlah seluruhnya, tidak perlu banyak mulut! Yang pasti aku harus marn-puskan kau!"

Bentak In Ciau.

Setelah mengadu pukulan tadi dan dirinya cuma terhuyung mundur saja.

maka Hay-thian sudah dapat berlaku banyak lebih tenang.

Namun serangan in Ciau ternyata makin gencar hingga Hay-thian terpaksa menggunakan berbagai kepandaian Mwy aja-ran Kim Si-ih untuk menangkis.

Diam-Diam In Ciau merasa heran juga.

"Darlmanakah datangnya bocah ini? Ilmu silat yang dipelajari ternyata macam-macam dan sangat lihay pula. Orang jahat begini kalau diberi, kesempatan hidup sampai tua, entah dosa apa yang akan dibuatnya lagi."

Berpikir begitu, maksudnya membunuh Kang Hay-thian menjadi tambah bulat. Ia menyerang lebih kencang hingga Kang Hay-thian kelabakan melayani.

"Hay-ko, cabutlah pedangmu, Mengapa engkau tidak menggunakan pedang?"

Seru In-pik mengingatkan.

"Tidak,"

Sahut Hay-thian dalam segala kerepotannya itu.

"ia berbeda daripada bangsanya PO Lo-hou Itu. Apalagi dia bertangan kosong, masakah aku harus memakai senjata""

Dan karena sedikit ayal itu waktu bicara, hampir ia kena pukulan In Ciau.

"Hay-ji, lemparkan pedangmu kemari!"

Tiba-tiba Thian-hong berseru.

"Hay Thian menyangka orang tua itu hendak minta pedangnya untuk menjaga diri, maka dengan suatu gerakan indah "Toat-bau-kay-kah"

Atau melepaskan jubah menanggalkan baju, ia menglsar kesamping sambil menangkis sekali serangan In Ciau, menyusul pedang yang tergantung dipinggangnya sudah dapat di-tanggalkannya dan dilemparkan kearah Hoa Thian-hong.

Sementara itu In-pik sudah menaruh ayahnya ketanah.

segera ia tangkap pedang yang dilemparkan Hay-thian itu terus melolosnya hendak maju membantu.

"Tahan. Pik-ji, hendak apa kau?"

Seru Thian-hong mendadak.

"Dengan pedang pusaka ini, bukankah aku dapat membantu Hay-ko?"

Tanya In-pik keheranan.

"Tidak, bukan maksudku suruh kau membantu Hay-ji, tapi ingin kusuruh kau tunjukan perbawa Pokiam itu agar Incengcu melihatnya sendiri."

Ujar Thian-hong. In-pik tercengang sejenak, tapi segera ia paham maksud sang ayah.

"Ya, orang she In yang kasar ini tentu mempunyai salah paham pada Hay-ko."

Segera ia putar pedang pusaka itu dan menabas sekenanya.

"crat". dimana batu karang yang kena bacokannya, seketika terbelah hancur dengan debu kerikil berhamburan. Sungguh bukan main tajamnya pedang pusaka itu. Sebagai seorang jago terkemuka, mata telinga In Ciau sudah tentu sangat tajam. Melihat betapa lihaynya Pokiam itu. mau-tak-mau iapun terkejut. Diam-Diam ia membatin;

"Kepandaian bocah ini sangat hebat, bila dia memakai pedang, meski aku belum tentu dapat dilukai olehnya, tapi paling tidak iapun takkan kalah. Dan mengapa dia tak mau menggunakan pedang?"

Tadi ia anggap Kang Hay-thian adalah bangsa penjahat yang kejam, kini menjadi ragu terhadap pendapat sendiri itu, karena itu daya serangannya menjadi agak keudor.

Kesempatan itu segera digunakan Kang Hay-thian untuk menanya pula.

"In-cengcu, selamanya aku tidak punya permusuhan apa-apa dengan kau. bahkan kenalpun tidak, mengapa engkau menyerang sedemikian dahsyatnya kepadaku?"

Pertanyaan Hay-thian ini kembali mengobarkan amarah In Ciau, dengan mata mendelik ia membentak.

"Bangsat cilik, engkau sendiri berbuat, engkau tentu tahu sendiri, tidak perlu kau pura-pura bodoh!"

Berbareng pukulannya yang lihay dilontarkan pula hingga Kang Hay-thian terdesak mundur dan tidak sempat bicara lagi.

"He. Hay-ji, mengapa engkau tidak menggunakan Tayseng-pan-yak-ciang"

Tiba-tiba Thian-hong berseru. Sudah tentu Hay thian tercengang oleh seruan itu, sebaliknya In-pik sudah lantas mewakilkan menjawab.

"Tia, bukankah Hay-ko telah menyatakan tidak mahir ilmu itu, ia hanya paham cara memecahkan ilmu itu. Mengapa engkau lupa?"

Demikian diam-diam In-pik menjadi kuatir janganjangan luka sang ayah bertambah parah hingga pikirannya menjadi tidak waras lagi. Maka terdengar Hoa Thian-hong menggumam sendiri.

"Ehm. memang aku telah pikun rupanya. Tapi, ha, ternyata ada orang yang lebih pikun daripadaku."

"Kau berkata apa. Tin?"

Tanya In-pik dengan bingung. Maka Thian-hong telah melanjutkan.

"Sebagai seorang tokoh persilatan, seharusnya dia tahu bahwa Tay-seng-pai-yak-ciang dapat melukai urat nadi setiap lawannya. Jika terluka oleh pukulan itu. dia tidak pergi menguber sipenjahatnya, sebaliknya merecoki seorang yang tidak paham tentang ilmu pukulan itu. Hal ini bukankah jauh lebih pikun daripada pikiranku tadi?"

Mendadak In Ciau tersadar, pikirnya.

"Benar, dlbawah tekanan setanganku sehebat ini. kalau dia mahir Tay-seng-pan-yak ciang. seharusnya sejak tadi sudah dikeluarkannya!"

Karena pikiran ini, tanpa merasa ia berhentikan serangannya sambil melompat keluar kalangan dan berseru.

"Baiklah, mungkin aku memang pikun, biar aku ingin tanya lagi lebih jelas."

Sembari ganti napas, terus saja Hay-thian mendahului mencetuskan isi hatinya, segera ia menegur.

"In-cengcu, engkau tadi mengatakan aku tahu sendiri telah berbuat apaapa, tetapi aku sungguh-sungguh tidak tahu apa yang telah kulakukan? Kami minta mondok dltempatmu dan ditolak, memang aku telah mengeluarkan ucapan-ucapan yang mengandung rasa penyesalan. apakah kesalahan begitu saja mesti dihajar sampai mati?"

Dengan mata membelalak In Ciau mengamat-amati Haythian pula. lalu katanya.

"Koankeh kami telah menolak kedatangan kalian, tapi kalian juga tidak seharusnya sembarangan masuk ke-tempat kami untuk melakukan penyerangan gelap. Numpang tanya. ada permusuhan apakah antara putera-puteriku dengan kalian hingga beberapa kali kalian hendak membinasakan mereka". Hay-thian terheran-heran dan cepat menjawab.

"Waktu kami tidak diterima ditempat kalian, dengan segera kami tinggal pergi, bilakah kami pernah mendatangi kediamanmu lagi? Pula. tentang putera-puterimu, jangankan hendak membunuhnya segala, sedangkan kenal merekapun kami tidak pernah". In Ciau tampak mengkerut kening dengan ragu-ragu. tibatiba ia berkata kepada Thian-hong.

"Siapakah engkau ? Darimana engkau tahu tentang orang terluka pukulan Tayseng-pan-yak-ciang segala? Baiklah, sementara aku dapat mempercayai bahwa bocah ini bukan penjahatnya lalu siapa gerangan penjahat yang sebenarnya?"

"Aku she Hoa bernama Thian-hong. memang puteraputerimu mengalami cidera dikaki gunung Ki-Iian-san sana, kebetulan kami waktu itu juga berada didekat situ. kami sembunyi ditempat yang tidak kelihatan, walaupun tidak menyaksikan sendiri, tapi juga mendengarnya. Cuma Lohu sendiri terluka parah, sayang tak dapat memberi bantuan apaapa. Tentang asal-usul penjahatnya kamipun tak dapat menerangkan."

In Ciau terkejut.

"Engkau benar-benar Hoa-san-ih-un Hoa Thi-in-hong?"

Ia menegas.

"Hoa Thian-hong toh bukan manusia yang luar biasa, mengapa aku mesti memalsukan namanya!"

Sahut Thian-hong dengan tersenyum.

Sekonyong-konyong In Ciau terus menubruk maju kearah Hoa Thian-hong.

Keruan In-pik terkejut.

cepat ia ayun pedangnya terus menusuk.

Segera Hay-thian juga bermaksud ambil tindakan, tapi mendadak didengarnya bentakan Thian-hong.

"Tahan, Pik-ji!"

Namun sudah terlambat sedikit, dimana lengan baju In Ciau mengebas disertai gemerlapannya sinar pedang, tahu-tahu sebagian lengan baju In Ciau sudah terpapas, menyusul terdengar suara.

"trang"

Sekali, pedang In-pik juga tergetar jatuh ketanah.

Dalam pada itu pukulan In Ciau tampak sudah menuju kedada Thian-hong dengan lihay sekali.

Sungguh kejut Hay-thian bukan kepalang, untuk menolong sudah terang terlambat, segera ia hendak memaki, tapi belum lagi ia bersuara tiba-tiba tertampak In Ciau sedang memberi hormat kepada Hoa Thianhong sambil berkata.

"Harap maafkan kekasaranku. engkau memang benar-benar terluka dan memang benar pula adalah Hoa-san-ih-im Hoa Thinn-hengi"

Kiranya In Ciau memang seorang ahli silat, pula seorang tokoh Kangouw yang sudah kawakan, maka dalam pukulannya yang di lontarkan itu tadi belum lagi mengenai sasarannya.

segera ia sudah dapat mengetahui tulen atau palsunya Hoa Thian-hong.

Pertama, sebagai seorang kesatria.

Thian-hong telah mencegah puterinya menyerang dan membiarkan dirinya dijajal.

Kedua, pukulannya yang tidak ditangkis itu sudah dapat mengetahui tenaga Thian-hong memang benar-benar sudah hilang dan bukan pura-pura terluka.

Maka begitu hantamannya hampir mengenai Thian-hong cepat ia tarik kembali mentah-mentah.

Ketiga, begitu jarinya menyentuh badan Thian-hong.

segera ia merasa tangannya panas seperti dibakar, sebagai seorang ahli segera ia tahu Thian-hong terluka oleh pukulan berbisa Po Lo-hou dan dapatlah ia mempercayai orang memang benar adalah Hoa-san-ih-un Hoa Thian hong, Sebab kalau orang lain tidak mungkin sanggup menahan racun sehebat itu dan masih dapat hidup sekian lamanya.

Dan sesudah dapat mengetahui siapa diri Thian-hong, terhadap Kang Hay-thian toh In Ciau masih ragu-ragu, maka tanyanya.

"Dan kedua muda-mudi ini siapa lagi, Hoalosiansing?"

"Ini adalah puteriku, In-pik."

Sahut Thian-hong.

"Dan itu adalah anak angkatku, dia adalah murid Kim Si-ih pula, namanya Kang Hay-thian. Sejak kemarin mereka berdua tidak pernah meninggalkan aku barang selangkahpun."

"Ah. kiranya adalah muridnya Kim-tayhiap,"

Seru In Ciau begitu tahu siapa Kang Hay-thian. Ia lantas menggumam sendiri pula.

"Jika demikian, urusan ini benar-benar sangatlah aneh. Aku yakin mataku belum lagi lamur, lantas siapakah gerangan orang yang kulihat itu?"

Hay-thian menjadi heran, selagi ia hendak tanya. tiba-tiba ter dengar In Ciau telah membentak.

"Siapa itu?"

Ketika itu juga mendadak dari balik rimba sana melesat keluar suatu bayangan orang sambil membentak.

"Keparat, kiranya kau disini. biarlah aku orang she Han mengadu jiwa dengan kau"

Berbareng dua benda hitam lantas mendahului menyambar kearah Kang Hay-thian dengan cepat dan kuat.

Dari suara sambaran itu.

teranglah penyambitnya itu adalah seorang ahli Am-gi yang jempolan.

Selagi Hay-tliian hendak menghindari dengan Thian-lu-pohhoat.

namun In Ciau sudah lantas mewakilkan menangkap kedua senjata gelap itu.

Sekalipun dia punya Tay-Iik-kunkong-ciang tiada bandingannya didunia ini.

tapi untuk menangkap kedua benda itu.

mau-tak-mau badannya juga tergetar beberapa kali.

Waktu ia periksa, kiranya benda-benda itu adalah sepasang Tiat-yau-yang atau merpati besi "Apakah yang datang adalah Han-jiya?"

Seru In Ciau segera. Mengenali In Ciau, pendatang itu menjadi heran dan girang, cepat ia menjawab.

"Memang benar adalah Siaute, Han Soan adanya. In-cengcu. menempa engkau berada bersama, dengan bocah ini?"

"Nanti dulu. sabarlah,"

Sahut In Ciau.

"Ada urusan apakah kau dengan engkoh cilik ini, coba ceritakan dulu."

Tadi ia sebut Kang Hay-thian sebagai "bangsat cilik", dan sekarang telah memanggilnya sebagai Engkoh cilik, nyata rasa per musuhannya sudah lenyap.

"Kalau dlceritakan takkan selesai dalam waktu singkat,"

Sahut Han Soan.

"Biarlah kukatakan kejadian tadi saja. Beberapa waktu berselang, baru saja dia melukai teman hidupku yang tua itu."

"Hm, itu dia. bangsat wanita itupun begundalnya. Eh............... aneh..................".

"Aneh apa?"

Cepat In Ciau menegas.

"Nona ini...... nona ini........."

Sahut Han Soan geligapan.

"Nona ini tidak menyerupai bangsat wanita itu, bukan?"

Tiba-tiba ln Ciau menyambungnya.

"Benar, darimana engkau dapat tahu. In-cengcu?"

Tanya Hau Soan malah.

"Kau bilang barusan Kang-siauko ini telah bertempur dengan kalian suami-lsteri,"

Kata In Ciau.

"Cobalah katakan yang lebih jelas.

"barusan"

Yang kau maksudkan Itu sudah berselang berapa lama? Adakah setengah jam?"

"Barusan belasan jurus dia bergebrak dengan kami dan melukai temanku yang tua itu, lalu dia melarikan diri. rasanya toh belum ada setengah jam yang lalu."

Sahut Han Soan sesudah memikir sejenak.

"Jika begitu, terang kau telah salah mengenali orang."

Kata In Ciau.

"Didalam setengah jam ini Kang-siauko justeru lagi bergebrak dengan aku, tidak mungkin dia dapat bertempur dengan kalian pula."

Sedang bicara, dari rimba sana tampak muncul pula seorang lagi, yaitu seorang wanita tua, tangannya membawa Thi-pi-pe (senjata yang menyerupai rebab) dan jalannya agak sempoyongan sembari mendatangi ia terus berteriak-teriak dengan marah;

"Kembali kepergok bangsat cilik ini! Hayo, mengapa masih belum labrak dia"

"Sabarlah dulu, marilah menemui In-cengcu."

Ujar Han Soan. sang suami.

"O. kiranya In-loeng-hiong juga berada disini?"

Kata wanita tua itu.

"Hm. kebetulan, memangnya kami lagi hendak minta bantuan padamu Aku telah dilukai oleh bangsat cilik ini."

Isteri Han Soan itu biasanya dipanggil orang sebagal Hanjiso, bersama In Ciau, mereka adalah sobat lama.

"Han-jiso,"

Demikian sahut In Ciaa.

"Urusan ini agak aneh."

"Aneh tentang apa?"

Sahut Han-jiso.

"Dia telah melukai aku. biarpun dia dibakar menjadi abu juga aku masih kenal dia."

"Tadi aku sendiripun yakin mataku sendiri belum lagi lamur, tapi sekarang aku tidak berani kepala batu lagi", ujar In Ciau.

"Se-jam yang lalu, dirumahku juga direcoki seorang yang wajahnya mirip benar dengan Kang-siauko ini dan hendak menyerang anak-anak ku Khing-ji dan Bik-ji. Mungkin aku telah menguber kejurusan yang salah hingga dapat menyusul Kang-saiuko ini Bahkan didalam setengah jam ini aku sudah bergebrak dengan dia secora ngawur."

"Kenapa mesti diherankan."

Tiba-tiba Thian-hong menyela.

"ilmu menyamar Lohu sendiri juga bisa. Rupanya bangsat she Yap itu sangat cerdik, kemarin ia telah bergebrak dengan Haythian dan menduga kami pasti akan datang ke In-keh-ceng untuk minta mondok. makanya telah menyamar dan merecoki tempat In-loenghiong. Sungguh sayang............"

"Ya, memang sayang Koankeh kami itu punya mata tapi tak dapat mengenali orang baik hingga tidak menerima kalian ketempat kami."

Ujar In Ciau dengan rasa kikuk.

"Coba kalau kalian jadi menginap ditempat kami, pastilah akan terjadi lakon kembar yang menarik. Cuma, Koankeh kami itu juga tak dapat disalahkan sepenuhnya, sebab disitu masih ada alasannya. Ah, lebih baik kalian silakan datang kediaman kami untuk bicara lebih jauh. Hoa-losiansing, terimalah permintaan maafku ini, harap engkau diangan marah dan sudilah menolong menyembuhkan anak-anakku itu."

"Ah, In-cengcu terlalu merendah diri,"

Sahut Thian-hong.

"Lohu justcru ingin bantuan In-cengcu sendiri, pabila Lohu dapat men-curahkan sedikit tenagaku, sudah tentu akan kulakukan sebisa-nya."

Mendengar itu, Han Soan terkejut, ia tanya.

"In-cengcu, putera-puterimu telah dilukai siapa?" .Sampai saat ini aku masih belum tahu dengan pasti,"

Sahut In Ciau.

"Tapi hesar kemungkinan adalah jahanam yang juga melukai Han-jiso itu.."

Begitulah rombongan?

Han Soan dan Thian-hong lantas ikut ketempatnya In Ciau.

Ditengah jalan barulah In Ciau menceritakan apa yang telah terjadi dikediamannya itu.

Kiranya kemarin kedua muda-mudi yang dipergoki "Yapkongcu"

Ditengah jalan itu bukan iain adalah putera-puterinya In Ciau yang bernama In Khing dan In Bik.

Setelah mereka dilukai Tay-seng-pan-yak-ciang.

In Klhing yang lebih kuat, masih tahan untuk menggendong adik perempuannya pulang kerumah Tapi sampai di rumah iapun tidak kuat lagi, hanya bicara dua kalimat sudah lantas roboh tak sadarkan diri.

Yang sempat diurapkan itu adalah.

"Balaskan sakit hati kami ayah, musuh itu adalah seorang pemuda belasan tahun dan seorang wanita............"

Adapun bagaimana paras dan usia wanita tak sempat dikatakan lagi.

Sepenuh tenaga In Ciau telah berusaha mengobati luka putera-puterinya.

tapi tiada berhasil.

Dalam keadaan keluarga dirundung malang dan tidak tenteram, saat itulah Kang Haythian bertiga datang hendak minta pondokan.

Oleh karena diri mereka sedang menghadapi peristiwa malang, maka Koankeh yang menyambut keluar itu tidak ingin banyak mengganggu pikiran In Ciau lagi, apalagi Kang Hay-thian adalah pemuda belasan tahun, hal ini menimbulkan rasa curiga Koankeh itu, makanya ia telah mengambil keputusan sendiri untuk menolak permintaan Hay-thian habis itu baru, dilaporkan kepada majikannya.

Bahkan Koankeh itu juga tidak percaya bahwa Hon Thian-hong adalah "Hoe-san-lh-un"

Yang dikatakan itu, ia menyangka mereka sengaja pura-pura sakit dan hanya untuk menipu supaya bisa menyelundup kedalam rumah keluarga In.

Setelah mendapat laporan Koankeh itu.

In Ciau seudiri juga menyangsikan Kang Hay-thian adalah pemuda yang telah melukai puteranya itu.

Sebenarnya In Ciau terus akan mengudak keluar, tapi demi untuk menjaga keselamatan anak-anaknya, ia tidak jadi meninggalkan pergi.

Siapa duga pada saat didalam rumah sedang sibuk membicara-kan diri Kang Hay-thian itu, tiba-tiba mereka telah diserbu oleh dua orang, satu pemuda dan satu wanita.

Melihat sipemuda yang didepan itu, si Koankeh lantas menjerit kaget.

kiranya paras pemuda itu dikenalnya tak lain adalah Kang Hay-thian yang barusan saja hendak minta mondok itu.

Sedang wajah siwanita dibelakang tidak jelas dilihatnya.

Dalam pada itu In Ciau terus saja menyerang dengan "Pikkhong-ciang".

ilmu pukulan dari jauh, dengan angin pukulannya itu ia sampok jatuh beberapa Am-gi yang ditimpukkan sipemuda.

Dan karena melihat tuan rumahnya berjaga-jaga cepat pemuda penyantron itu balas sekali dengan hantaman dari jauh lalu melarikan diri bersama siwanita.

Sungguh diluar dugaan bahwa pemuda belia Itu ternyata begitu tangguh dan dapat menangkis hantaman yang keras itu.

Dan karena kesalahan penilaiannya iiu ia menjadi terlambat untuk mengudak musuh, ketika ia mengejar keluar, sementara itu kedua penyatron itu sudah menghilang.

Terpaksa ia menguber menurutkan jejak tapak kaki musuh hingga akhimya keliru bertempur dengan Kang Hay-thian.

"In loenghiong,"

Kata In-pik dengan tertawa.

"waktu engkau bergebrak dengan Hay-ko, apakah engkau sudah mengetahui bahwa aku bukanlah wanita yang kau maksudkan itu?"

"Justeru karena aku ragu-ragu, makanya aku menempur Kang-siauko sepenuh tenaga, tapi sama sokali tidak menyerang padamu."

Sahut In Ciau.

"Raut muka wanita itu bukankah berhentak daun sirih, alisnya lentik, rada genit."

Tanya In-pik pula.

"Benar, meski aku tidak jelas apakah dia genit atau tidak, Yang terang raut mukanya memang bulat telur."

Sahut In-Ciau.

"Nona, agaknya engkau seperti sudah tahu siapakah wanlta jahat itu?"

"Menurut perkiraanku, wanita itu pastilah Auyang Wan."

Ujar In-pik. Memangnya Kang Hay-thian juga sedang curiga. mendengar ucapan In-pik itu, ia menjadi lebih gelisah dan murung "Auyang Wan? Apakah orang keluarga Auyang di Cong-lamsan?"

Tanya In Ciau.

"Benar, Auyang Wan itu justeru adalah puterinya Auyang Tiong-ho,"

Kata Hoa Thian-hong.

"Pik-ji, boleh juga kau ceritakan pengalaman kita kepada In-ceng-cu."

Segera In-pik mulai menceritakan tentang penghadangan Po Lo-hou dan Auyang Tiong-ho ditengah jalan, kemudian Auyang Wan telah merebut kantong obat dan akhirnya ditengah jalan mereka bersembunyi disemak alang-alang untuk mendengarkan pertarungan In Khing dan In Bik melawan Yap-kongcu bersama wanita yang di panggil Boktoaci itu Habis itu In-pik menambahkan dugaannya.

"Mungkin kemudian Yap-kongcu itu telah bertemu dengan Auyang-jinio bersama anak gadisnya, lalu orang she Yap itu telah menyerahkan kawannya yang terluka itu kepada Auyang-jinio. sebaliknya minta Auyang Wan menyamar sebagai diriku dan dia sendiri menyaru seperti Hay-ko, mereka lantas datang kesini dengan muslihat keji untuk mempitenah kami".

"Ya, Auyang-jinio memang seorang yang culas dan keji, tentu puterinya bukan seorang baik-baik pula, tentu ini adalah perbuatan meteka,"

Ujar In Ciau.

"Tapi untung aku dapat bertemu dengan kalian hingga peristiwa ini sedikit banyak sudah dapat dibikin terang. Nanti kalau anak-anakku sudah sembuh, Lohu sendiri akan datang ke Cong-Iam-san, kepada Auyang Tiong-ho aku ingin minta pertanggungan-jawobnya tentang orang she Yap itu."

"Kawan wanita orang she Yap itu bagaimana mukanya?"

Tiba-tiba Han Soan ikut menanya.

"Apakah seorang wanita setengah umur? Bagaimana sebutan antara orang she Yap itu dengan dia?"

"Wajahnya kami tidak tahu, tapi dari suaranya serta perawakan nya kami menduga memang seorang wanita setengah umur,"

Sahut In-pik.

"Dia dipanggil laki? she Yap itu sebagai "Bok-toaci".

"Benarlah jika begitu,"

Kata Han Soan sambil bertepuk tangan "Tadi waktu kami bergebrak dengan kedua laki-laki perempuan jahanam itu memangnya aku sudah curiga, sebab usia bangsat wanita itu tidak seharusnya begitu muda, juga ilmu silatnya lebih rendah."

"Han-jiko, cara bagaimana kalian bermusuhan dengan mereka7"

Tanya In Ciau.

"Menurut ceritamu tadi. agaknya kalian toh baru pertama kali saling gebrak, lalu darimana kalian mengetahui tinggi-rendah ilmu silat bangsat wanita itu?"

"Sebenarnya kami mengusahakan Piaukiok di Pakkhia dengan merek Tin-wan-piau-kiok", tutur Han Soan.

"Tahun yang lalu perusahaan kami menghantar satu partai obatobatan kepada kepala suku didaerah Orsir dan ditengah jalan telah dibegal. Diantara orang-orang kami itu, kecuali dua Piausu yang berasal dari Tanliu. selebihnya telah menjadi korban keganasan begal-begal itu. Dan pembegalnya bukan lain adalah bangsat wanita she Bok itu Demi untuk membalas sakit hati para saudara Piaukiok kami, sudah lebih setahun kami mencari jejak bangsat wanita itu."

"Apa betul terjadl begitu? Dengan nama kebesaran Tin-wan piau-kiok, kini juga telah mengalami bencana?"

Ujar In Ciau "Tapi ada sesuatu yang aku merasa bingung, mengapa kedua Piau su berasal dari Tanliu itu bisa terhindar dari kematian?"

"Ya, aku sendiripun tidak tahu."

Sahut Han Soan.

"Sesudah mereka tertawan, wanita she Bok itu memerintahkan mereka mengangkut barang-barang obat-obatan kesuatu pangkalan mereka, pada waktu itulah telah datang bangsat she Yap itu. Ketika mendengar suara kedua Piausu itu berlogat Tanliu, orang she Yap itu lantas membebaskan mereka. Menurut cerita kedua Piausu itu, logat bicara bangsat cilik itupun seperti orang Tanliu. mungkin mengingat sama-sama suatu kampung, makanya telah membebaskan mereka."

Walaupun Han Soan sendiri merasa bingung oleh peristiwa itu.

tapi demi mendengar cerita itu perasaan Kang Hay-thian lantas tergetar.

Cerita pembegalan itu dahulu sudah pernah didengaroya dari Pek-Eng-kiat.

diam-diam ia membatin.

"Konon 12 tahun yang lalu. Yap Kun-san. itu jago silat Tanliukoan mendadak meninggal, sedangkan anak pungutnya juga tiba-tiba lenyap secara mengherankan. Menurut dugaan Pek Eng-kiat, boleh jadi pemuda she Yap itu adalah putera pungut Yap Kun-san yang bilang itu. Ai, celaka. jika begitu.

"Yap-kongcu"

Yang kutemukan kemarin itu bukankah adalah saudara kembarnya Kok Tiong-lian, pantas aku merasa mukanya seperti sudah kukenal." -Lalu pikirnya pula.

"Pantas juga begitu berjumpa dengan aku. dia lantas menyatakan tidak bermaksud jahat padaku, tapi cuma ingin menanya sesuatu padaku Tentu dia maksudkan akan menanya kabar berita tentang adik perempuannya. Sayang sikapnya terlalu kasar dan aku menganggapaya sebagai kaum penjahat pula, maka terjadilah saling gebrak."

Begitulah Hay-thian menjadi bimbang dan risau.

Tapi karena hal itu menyangkut rahasia asal-usul dirinya Kok Tionglian, hal mana Kok Ci-hoa pernah minta Kim Si-ih jangan dikatakan kepada siapapun dan Kim Si-ih telah pesan pula kepada Hay-thian sekali-sekali jangan mengatakan rahasia itu kepada orang lain.

Apalagi pemuda she Yap itu sekarang telah melukai putcra-puter"nya In Ciau dan isterinya Han Soan, dengan sendirinya Hay-thain juga tidak berani membicarakan siapa adanya pemuda itu.

Cuma ia ikut merasa cemas karena Kok Tiong-lian mempunyai seorang saudara yang demikian itu.

Begitulah dilain pihak setelah mendengar cerita Han Soan tadi.

segera In Ciau berkata.

"Jika demikian, meski bangsat cilik she Yap itu sangat ganas, namun dia toh bukan musuh Piaukiok kalian".

"Benar, maka sesudah Piaukiok kami tutup, segera kami menye-lidiki kedaerah Sepak (barat laut) sini, maksudnya juga cuma ingin menuntut balas kepada bangsat wanita itu,"

Demikian sahut Han Soan.

"Kemarin waktu kami mendapat kabar tentang mun-culnya musuh, cepat-cepat kami menyusul kemari, tak terduga musuh yang kami cari tidak ketemu, sebaliknya malah pergoki bangsat cilik she Yap itu."

Menyusul Han Soan mcnyambung pula.

"Tatkala itu sinar bulan remang-remang, karena terlalu napsu ingin membalas dendam, begitu kepergok lantas saja saling gebrak. Baru kemudian aku merasa usia kawannya yang wanita itu tidak cocok. Namun untuk berhenti sudah tidak dapat lagi."

"Apa sebegitu jauh kalian tidak bicara dengan pihak lawan?"

Tanya In Ciau.

"Malahan mereka sudah kenal kami lebih dulu."

Sahut Han Soan.

"Begitu muncul bangsat she Yap itu "lantas membentak. Kalian adalah Tiat-wan-yang bukan? Utang jiwa orang-orang Tiu-wan-pisu-kiok kalian boleh menagih padaku saja dan tiada sang-kutpautnya dengan dia. dan tanpa menunggu jawaban kami terus saja ia mendahulu menyerang. Karena dia sudah berterus terang dan mulai menyerang. terpaksa akupun mengadu jiwa dengan dia."

"Waktu itu aku sendiri tidak pikirkan apakah wanita kawannya itu orang yang kita cari atau bukan,"

Sambung isterinya Han Soan.

"maka begitu engkau menyambitkan Tiat-wanyang, segera akupun menyerangnya dengan Tiat-wan-yangl"

Tiat-wan-yang atau merpati besi yang dimaksudkan itu adalah sematiam senjatn rahasia yang sangat lihay, bentuknya seperti burung, kepala lancip.

ekor panjang.

perut kosong dan terisi ja-rum halus.

Satu benda tiga guna, kepala yang lancip itu dapat menembus badan orang bagai pusut, ekor yang panjang itu dapat terbuka dan menutup bagai gunting, sedang jaruni didalam perut burung-burungan itu dapat menyembur keluar untuk menyerang musuh.

Suami isteri Han Soan paling mahir menggunakan Am-gi itu.

maka orang Kangouw memberikan julukan kepada mereka sebagai Tiat-wan-yang.

Kang Hay-thian pernah mendengar cerita gurunya tentang macam-macam Am-gi dari berbagai aliran dan cukup mengetahui betapa lihaynya Tiat-wan-yang.

Maka dengan kuatir cepat ia menanya.

"Dan penjahat wanita itu terluka atau tidak?"

In-pik melototinya sekali, ia merasa mendongkol pemuda itu masih memperhatikan keadaan Auyang Wan. Namun Han-jisu sudah lantas menjawah.

"Tidak nyana kalau ilmu silat orang she Yap itu ternyata sangat hebat, sekali hantaman dari jauh ia telah menyapu bersih jarum-jarum yang berhambur keluar dari Tiat wan-yang, bahkan senjataku itu kena ditangkapnya terus disambitkan kembali kearahku. Dan kakiku ini justeru terluka oleh serangannya itu. Untung dia tidak pandai menggunakan Tiat-wan-yang kami itu hingga aku cuma terluka ringan saja. Hm apabila bukan laki-laki she Yap itu yang menangkiskan jangankan cuma terluka. mungkin jiwa perempuan itapun sudah melayang."

"Dan bagaimana luka penjahat wanita itu?"

In-pik ikut tanya.

"Hanya daun telinga terluka lecet sedikit dan dia lantas melarikan diri, maka yang lelaki itupun ikut ngacir,"

Uyar Han Soan "Bila tidak, mungkin kita takkan mampu menghadapi bangsat cilik itu."

Begitulah sambil bicara tanpa merasa mereka sudah sampai didepan rumah tinggal keluarga In.

Koankeh tua dan beberapa murid In Ciau sudah menunggu disitu dengan membawa obor.

Ketika melihat In Ciau pulang bersama Kang Hay-thian dan lain-lain, hamba tua itu menjadi keheran-heranan.

"Lau Kau. ada apa kau mendelik padaku. Apa tidak kenal lagi padaku?"

Tegur Han Soan ketika melihat koankeh itu terbelalak.

"Hah dia sendiri tadi tidak punya mata. maka tidak kenal lagi pada orang baik-baik seperti Hoa-losiansing dan Kangsiauhiap,"

Seru In Ciau dengan terbahak-bahak habis berkata, menyusul ia pesan pula kepada Koankeh itu agar selanjutnya biar siapapun.

juga yang datang minta pertolongan kau harus laporkan kepadaku dulu, jangan kau tolak begitu saja.

sebab orang yang sudi kemari, itu berarti mereka suka menghargai kita.

Dengan kemalu-maluan Koankeh itu lantas minta maaf kepada Han Thian-hong.

"Sebagai koankeh sudah seharusnya engkau berlaku hatihati terhadap orang asing. Dalam hal inipun takdapat menyalahkan engkau,"

Ujar Thian-hong "Eh. bagaimana keadaan Kongcu dan Siocia kalian. Apa sudah baikan?"

"Masih belum sadarkan diri dan berkeringat dingin saja."

Sahut Koankeh itu.

"Han-jiko. Kau adalah sobat lama. berada dirumahku, janganlah kalian sungkan-sungkan,"

Ujar In Ciau kemudian. Tentu kau sudah lelah, pula Jiso terluka, maka bolehlah kalian pergi mengaso dahulu. Kau Gi, engkau harus melayani Hanjiya sebaik-baiknya."

Sebenarnya Han Soan ingin ikut menyambangi puteraputeri tuan rumah yang katanya terluka itu.

tapi dirinya tidak paham ilmu pengobatan, pula memang sudah letih, maka iapun tidak memaksa dan pergilah mengaso.

"Hoa-losiansing........."

Kata In Ciau pula. Tapi sebelum lanjut Thian-hong sudah lantas menyela.

"Sudah tentu aku ingin melihat keadaan luka putera-puterimu itu, marilah kau dengan baik-baik, tapi sekarang sudah mesti bikin capek dulu padamu, sungguh aku merasa tidak enak sekali,"

Kata In Ciau.

"Mengapa In-cengcu berkata demikian, harap anggaplah kita sebagai orang sendiri,"

Sahut Thian-hong. Segera Kang Hay-thian menggendong Thian-hong mengikuti In Ciau masuk kesebuah kamar, dialas ranjang tampak merebah satu pemuda dengan keringat bercucuran, mukanya pucat bagai kertas.

"Ini adalah puteraku In Khing,"

Kata In Ciau "Puteriku In Bik berada dikamar dalam, keadaannya serupa saja. Hoa-losiansing, menurut kau. apakah mereka masih dapat ditolong?"

Segera ada seorang pelayan mengambil sebuah kursi untuk tempat duduk Thian-hong. Maka berkatalah tabib sakti itu.

"In-ceng-cu jangan kuatir, meski puteramu terluka parah, namun masih dapat disembuhkan."

Meski In Ciau bukan ahli pengobatan, tapi adalah seorang jago silat, ketika ia pegang urat nadi sang putera, mau-takmau dengan kuatir ia menanya.

"Urat nadinya ini hampir seluruhnya terhenti, apakah Ho-losiansing tidak perlu memeriksa keadaannya lebih dulu?"

"Penyakit demikian diwaktu dahulu memang susah disembuhkan, tapi tidak perlu dikuatirkan lagi,"

Kata Thanhong dengan tersenyum.

"Disini Lohu sudah sediakan dua butir pil, setiap orang minum sebutir, harap engkau minumkan kepada mereka."

Mendengar sang ayah akan memberikan sisa obat itu kepada orang lain, sedangkan orang tua itu sendiri lari menderita luka, mau-tak-mau In-pik bersuara heran.

In Ciau tertegun juga demi melihat sikap tak wajar sigadis itu.

Pikiraya.

"Menurut kabar, katanya Siau-hoan-tan buatan Hoa-san-ih-un mempunyai kasiat yang sangat tinggi, janganjangan obat yang hendak dia berikan padaku ini adalah Siauhoan-tan hingga puteri-nya merasa sayang obat itu diberikan kepada orang lain?"

Rupanya Thian-hong tahu akan isi hati puterinya, maka cepat ia bersuara.

"Pik-ji, janganlah kuatir Kerjakanlah Su-hiat-liau-siang"

Seperti apa yang sudah pernah kuajarkan kepadamu.

Suruhlah Hay-thian membantu menyumbangkan darahnya.

Cara penyaluran darah mi dapat kau menurut petunjuk gambar ke-16 dari Hoa-to-sin-pak.

lebih dulu kau tutup Beng-lun-hiat dan Siu-sit-hiat, lalu me nyombung pipa saluran dan gunakan cara pemijatan, tentu akan lancar jalannya.

Badan Hay-thian cukup sehat, cuma mengeluarkan sedikit darah takkan menjadi soal."

"Apakah "Su-hiat-liau-siang" (menyulurkan darah untuk penyembuhan, transfusi darah) itu?"

Tanya In Ciau kuatir.

"Apakah mesti dipotong."

"Tidak, jangan kuatir,"

Sahut Thian-hong tertawa.

"Dahulu Hoa To (tabib sakti dijaman Sam Kok) pernah mengobati Kwan Kong dengan cara operasi, bahkan pernah memberi saran kepada Co Kho agar otaknya dioperasi waktu yang tersebut belakangan itu menderita sakit kepala. Sebaliknya Suhiat-liau-saing ini juga menyalurkan darah segar kebadan sipenderita, cara ini dalam ilmu pertabiban Hoa To hanya termasuk satu cara pengobatan sepele saja."

Begitulah orang tua itu telah menutupi sikap tak wajar sang puteri, berbareng memberi petunjuk pula cara mengobati penderita-penderita itu.

In-pik adalah gadis cerdik, dengan segera ia dapat menangkap, maksud ayahnya, maka iapun tidak merasa kuatir lagi.

"Jika perlu bantuan darah orang, tidaklah lebih baik darahku saja?"

Ujar In Ciau.

"Minumkan dulu pil itu, nanti kita bicarakan lagi."

Sahut Thian-hong.

Tanpa ragu-ragu lagi In Ciau lantas minumkan kedua pil Itu kepada putera-puterinya.

Habis itu ia berunding pula dengan Hoa Thian-hong, ia berkeras tidak ingin Kang Hay-thian mengorbankan darah.

Namun Thian-hong telah berkata.

"In-cengcu, selanjutnya kami bernaung dltempat kalian ini, waktu yang diperlukan untuk perlindunganmu masih sangat panjang. Meski ada banyak halangan nya dengan mengeluarkan sedikit darah, tapi juga perlu mengaso barang beberapa hari, pabila dalam waktu itu kedatangan musuh, betapapun akan lebih baik kalau Incengcu sendiri dapat menghadapinya daripada pemuda itu."

Merasa dirinya memang bertanggung jawab atas keselamatan seluruh penghuni perkampungannya itu. maka In Ciau tidak banyak bicara lagi, ia memberi hormat kepada Thian-hong dan Hay-thian, katanya.

"Atas kebaikan ini, kelak bila Kang-siauhiap memerlukan tenagaku, biarpun kelautan api atau masuk air mendidih, pasti aku takkan menolak."

Cepat Hay-thian membalas hormat orang sebagai kaum yang lebih muda.

Segera In-pik menurut petunjuk sang ayah tadi, ia gunakan sebuah peralatan dari kulit untuk menghubungkan lengan kedua orang, ia membantu Hay-thian menyalurkan darahnya kepada In Khing.

Ilmu bedah dengan mengadakan transfusi pada jaman ini dengan sendirinya bukan sesuatu hal Yang luar biasa, tapi pada jaman kuno di Tiongkok ilmu itu boleh dikata sesuatu yang gaib.

Kepandaian ini diperoleh Thian-hong pada suatu penemuan yang sangat kebetulan didalam kitab pengobatan tinggalan Hoa To.

Keruan ilmu ini membuat In Ciau terlongong-longong heran.

Kira-Kira setengah jam kemudian, Thian-hong menyalakan sudah cukup dan menjadi giliran In Bik untuk diberi tambahan darah.

"Apakah tidak terlalu banyak mengeluarkan darah, perlu mengganti seorang lagi tidak?"

Tanya In Ciau karena kuatir Kang Hay-thian tidak tahan mengeluaruya banyak darah. Namun sesudah memeriksa nadi pemuda itu, Thian-hong berkata.

"Tidak, ia masih cukup kuat, jangan kuatir."

Maka In Ciau tidak menolak lagi, terpaksa untuk sekali pula ia bikin susah pada Kang Hay-thian.

Ia suruh seorang pelayan membawa In-pik dan Hay-thian kekamar dalam, ia sendiri tinggal didepan untuk mengawani Thian-hong.

Dibelakang isterinya In Ciau sudah siap menyambut mereka dengan penuh terima kasih.

Apalagi demi dilihatnya Kang Haythian gagah dan tampan, In-pik cantik molek, ia menjadi lebih suka dan diam-diam merasa bahagia pabila muda-mudi itu dapat menjadi anak menantunya.

Sesudah masuk kedalam kamar, terlihatlah diatas ranjang merebah satu gadis jelita, mirip seperti In Khing.

gadis itupun berkeringat sebagai air hujan, karena bajunya tipis hingga basah dan melengket dibadannya, maka kulit badannya yang putih halus dan montok itu samar-samar kelihatan.

Dengan rikuh cepat Hay-thian menunduk.

Tapi segera dapat dilihatnya pula pinggang In.

Bik terikat sebuah saputangan dan diatas saputangan itu tersulam setangkai bunga teratai yang indah.

Hay-thian menjadi heran, kiranya gadis itupun suka pada bunga teratai, saputangannya itupun mirip dengan saputangan Kok Tiong-liau.

Pelahan-lahan In-pik menjawil pemuda itu ketika melihatnya termangu.

Dengan muka jengah cepat Hay-thian menoleh dan mengulurkan lengannya.

Karena sudah berpengalaman sekali, maka pekerjaan In-pik menyulurkan darah ini menjadi lebih cepat dan lancar.

Karena luka In Bik lebih enteng dari sang kaka, pula sehabis terluka lantas dibawa lari kakanya Itu hingga tenaganya tidak terbuang percuma.

Maka setelah diberi transfusi darah, dengan cepat wajahnya mulai memerah kembali.

Dan baru saya In pik membalut lengan Hay-thian.

tiba-tiba terdengar suara rintihan In Bik.

"Bik-ji."

Seru In-hujin dengan girang.

"sadarlah engkau! Untunglah engkau telah ditolong Kang-siauhiap dan nona Hoa ini. sekarang jiwamu sudah selamat!"

Kedua mata In Bik tampak membuka pelahan entah ucapan ibunya itu didengar jelas atau tidak, tapi sinar matanya tampak mengarah kepada Hay-thian dengan halus.

Setelah membalut lengannya Hay-thian.

In-pik kuatirkan keadaan sang ayah, maka lantas mohon diri untuk keluar.

Sebenar-nya In-hujin hendak ajak bicara lagi dengan mereka, tapi demi mengingat Hoa Thian-hong juga terluka.

maka ia tidak enak menahan lebih lama, sambil menghaturkan terima kasih, ia menyaksikan In-pik memayang Hay-thian keluar.

Setelah keluar dari kamarnya In Bik, dengan pelahan Haythian berkata.

"Aku sudah dapat berjalan sendiri, tidak usah engkau memayang aku lagi!"

Padahal bukannya In-pik tidak tahu pemuda itu masih cukup kuat untuk berjalan sendiri, soalnya ia sengaja memayang Hay-thian dengan mesra agar dapat dilihat oleh Inhujin.

Setiba kembali dikamamya In Khing, tertampak In Ciau menjaga ditepi pembaringan dan In Khing masih belum siuman, cuma air mukanya sudah mulai semu merah dan bercahaya.

"Banyak terima kasih atas bantuan Kang-siauhiap dan nona Hoa,"

Kata In Ciau segera demi nampak kedua muda-mudi itu sudah kembali.

"Dan bagaimanakah keadaan puteriku itu?"

"Lukanya agak ringan, maka sementara ini sudah siuman."

Sahut In-pik. Sejak tadi Thian-hong memejamkan mata dan bersandar di kursinya sepeti paderi yang sedang bersemadi. Kini mendadak ia membuka mata dan terbahak-bahak.

"Haha, selanjutnya didalam kitab pengobatanku akan bertambah suatu catatan bahwa Ki-heng-pat-meh (urat nadi dalam tubuh) terluka bukanlah sesuatu penyakit mematikan!"

Mula-mula suara ketawanya sangat keras, tapi lambat-laun menjadi lemah dan akhirnya lenyap. Keruan In-pik terkejut ia menanya.

"Tia, kenapakah kau?"

Tertampak kepala sang ayah menunduk, kedua matanya terpejam rapat pula.

Cepat In-pik memeriksa nadi ayahnya, ia merasa denyutnya sangat lemah.

Kiranya selama dua harini, sesudah terluka parah, Thianhong mesti memeras otak pula dan berulang-ulang mengalami kejadian-kejadian yang mengguncangkan perasaan, ditambah lagi sekarang kegirangan yang tak tertahan, maka seketika ia telah jatuh pingsan.

Dengan sendirinya In-pik menjadi bingung hingga terpaku bagai patung.

Cepat In Ciau berkata padanya.

"Nona Hoa. harap minumkan Siau-hoan-tan kepada ayahmu!"

"Darimana, ada Siau-hoan-tan lagi, sisanya sudah terpakai tadi,"

Sahut In-pik, saking gugupnya hingga ia telah menjawab terus terang.

In Ciau terkesiap.

Sesaat itu terima kasihnya kepada Hoa Thian-hong boleh dikata tiada taranya, tapi juga merasa sangat cemas.

Dengan mengembeng air mata terharu ia tidak tahu apa yang dapat dikatakannya lagi.

Dalam pada itu Hay-thian sudah menyela.

"Bukankah racun didalam tubuh Gihu sudah banyak berkurang? Kalau cuma pingsan sementara rasanya takkan berbahaya."

"Meski racunnya berkurang, tapi tenaganya masih lemah menjadi tidak tahan,"

Sahut In-pik.

"Dapatkah kau............"

Segera teringat olehnya bahwa Kang Hay-thian baru saja memeras tenaga dan banyak mengeluarkan darah, Lwekangnya tentu sangat terganggu, maka perkataannya menjadi urung diucapkan.

Melihat sikap gadis itu, tanpa berkata lagi segera In Ciau tampil kemuka.

Katanya.

"Nona, meski tenaga Lohu terlalu kecil, tapi untuk membantu mengalirkan tenaga dalam Hoalosiansing mungkin masih sanggup."

Habis berkata ia terus tempelkan tangannya kepunggung Hoa Thian-hong dan menyalurkan tenaga murni kedalam tubuh orang tua itu untuk membantu lancarkan darahnya.

In-pik mencoba periksa nadi sang ayah, ia tahu cara melancarkan darahnya itu cuma sekedar dapat menyadarkannya, tapi tetap susah melenyapkan sisa racun didalam tubuhnya dan jiwanya masih berbahaya.

Namun ia tidak berani berkata terus terang, ia pikir biar sang ayah siuman dahulu dan kemudian dapat dieyankan jalan lain lagi.

Dalam suasana yang menyedihkan itu, tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut pula diluar.

Tidak lama, Koankeh tua itu tertampak masuk bersama seorang pemuda.

Waktu melihat In Ciau sedang berusaha menolong Thian-hong, mereka lantas berdiri tegak disamping dengan sikap yang kuatir dan tak sabar.

In Ciau juga tidak menanyakan mereka, tapi ia percepat kerjanya hingga tidak lama kemudian, jidat Hoa Thian-hong tampak berkeringat, denyut nadinya juga mulai keras, melihat itu, barulah In Ciau merasa lega, lalu ia menanya.

"Ada terjadi apa lagi? Katakanlah!"

Ia bicara sambil tangannya tetap menahan dipunggung Thian-hong.

"Lapor Suhu,"

Demikian kata pemuda itu.

"tadi kita kedatangan seorang wanita berkedok, aku sedang berjaga diatas rumah, segera kutegur maksud kedatanganoya, tapi ia terus melemparkan semacam benda kepadaku."

Kiranya pemuda itu adalah murid ketiga In Ciau, namanya Ibun Long.

Murid In Ciau yang pertama dan kedua sudah tamat belajar serta sudah pergi mengembara, hanya tinggal Ibun Long yang tinggal bersama sang guru.

"Barang apa?"

Tanya In Ciau. Segera pemuda itu mengeluarkan sebuah botol perak kecil dan berkata pula.

"Barang inilah, dia bilang supaya dihaturkan kepada Hoa-locianpwe". Mendengar itu, In-pik menjadi terheran-heran.

"Lalu apa lagi yang dia katakan?"

Tanya In Ciau pula.

"Waktu kutanya apa isi botol kecil ini, dia mengatakan tak usah tanya, Hoa-locianpwe sendiri akan tahu bila melihatnya,"

Tutur Ibun Long.

"Ia berkedok, tapi tindak-tanduknya sangat gugup tampak-nya, setelah melemparkan botol perak ini kepadaku dan habis bicara lantas dia melarikan diri."

"Lapor Cengcu,"

Koankeh tua itu ikut bicara.

"waktu dia melarikan diri, kebetulan dapat kupergoki juga, meski wajahnya tidak tampak jelas, tapi melihat perawakannya itu, terang dia seorang gadis muda."

"Apa barangkali gadis yang menyaru sebagai nona Hoa itu?"

Tanya In Ciau.

"Ya. besar kemungkinan adalah dia,"

Sahut si Koankeh.

"Kenapa kalian tidak tahan dia?"

Kata In Ciau sambil mengkerut kening.

"Gerak tubuhnya terlalu cepat, Tecu tidak dapat mencandak-nya,"

Ujar Ibun Long.

"Hamba tidak berani merintangi dia karena mengingat pesan Cengcu agar jangan sembarangan bikin marah kepada tamu. Ketika kemudian hamba merasa curiga, namun sudah tidak keburu mengcjarnya lagi,"

Sahut si Koankeh.

"Sudahlah, berikan saja botol itu kepada nona Hoa."

Kata In Ciau akhirnya. Waktu In-pik memeriksa botol perak yang diterimanya itu. ia lihat didalam botol ada isinya yang bersemu kekuningkuningan.

"He, diatas botol itu seperti ada merek apa-apa. ah, seperti sebuah cap tangan, apa artinya ini?"

Tiba-tiba Hay-thian berseru. Waktu In-pik memeriksa, benar juga ia melihat diluar botol itu terdapat lekuk yang menggambarkan sebuah tapak tangan.

"Hm, terang ini adalah barangnya Tok-jiu-thian-cun Po Lohou,"

Jengek In-pik. Hati Hay-thian tergerak, serunya.

"Mungkinkah isi botol ini adalah obat penawarnya? Kiranya wanita itu sengaja menghantarkan obat penawar ini?"

"Darimana kau tahu?"

Ujar In-pik sambil melotot. Namun dengan girang Hay-thian menjawab.

"Tidakkah engkau masih ingat percakapan antara kedua jahanam laki-laki dan perempuan itu yang mengatakan Po Lo-hou sudah dibunuh? Dan kalau wanita yang datang tadi adalah Auyang Wan. mereka adalah sekomplotan, bukankah obat ini dengan mudah telah mereka dapatkan dari Po Lo-hou?"

"Terhadap kau mungkin dia akan menghantarkan obat, tapi kepada kami masakah dia begitu baik?"

Kata In-pik dengan meng-ejek.

"Kalau sekarang dia menghantarkan obat. buat apa tempo hari ia merampas kantong obat ayah? Terang dia menghantarkan obat palsu untuk membikin celaka orang, hm, kami sudah cukup merasakan kekejiannya, hanya engkau saja yang masih percaya padanya."

Dan saking gemasnya mendadak ia lemparkan botol obat itu ketanah hingga tutupnya terlepas. Tiba-Tiba Thian-hong siuman, begitu membuka mata ia terus bertanya.

"Aneh. darimanakah bau obat ini?"

In-pik bergirang melihat sang ayah telah sadar kembali, cepat ia menyahut.

"Tak usah ayah pikirkan, mengaso dulu, sebentar nanti anak akan ceritakan."

"Tidak, sekarang juga aku ingin tahu, hayolah katakan dari mana diperoleh obat seperti ini?"

Tanya Thian-hong. Terpaksa In-pik memberitahu.

"Obat palsu ini adalah hantaran Auyang Wan dengan maksud membikin parah ayah. sayang dia sudah lari."

Thian-hong terkejut, katanya.

"Apa betul dia, kalian dapat melihatnya dengan jelas? Ah, tidak, dibalik ini tentu ada sesuatu yang tidak beres! Eh, lekas kau jemput kembali obat itu, biarkan aku memeriksanya."

Sebagai seorang tabib sakti, dengan sendirinya Thian-hong paham segala macam obat.

sekali dia mengendus bau obat itu, segera ia dapat membedakan obat apakah itu.

Maka ia tahu obat itu justeru adalah semacam rumput obat penawar yang susah dicari, bahkan baunya sangat keras, terang sudah mengalami proses pembuatan dan telah dijadikan obat.

Dan selagi In-pik hendak menjemput kembali botol obat itu, sekonyong-konyong In Ciau membentak.

"Siapa itu?"

Mendadak terdengarlah suara gedubrakan, daun jendela telah didobrak orang hingga terpentang, menyusul dari luar lantas melayang masuk satu orang.

Ibun Long berdiri didekat jendela, ketika melihat orang yang melompat masuk itu adalah seorang wanita asing, dalam gugup-nya terus saja ia menyerang dengan tipu "Suang-Iionghi-lang"

Atau sepasang naga main ombak, segera ia hendak menangkap kedua kaki wanita itu.

Namun wanita itu sangat lihay, biarpun tubuhnya terapung di udara, tapi kedua kakinya masih dapat menendang secara berantai.

Tidak berhasil menangkap kaki lawan, sebaliknya Ibun Long sendiri kena tertendang hingga terjungkal balik.

In Ciau menjadi gusar, dari jauh ia hantamkan sebelah tangannya.

Rupanya jaraknya terlalu jauh, maka wanita itu hanya tergeliat sedikit saja oleh tenaga pukulan yang hebat itu.

Dalam pada itu In-pik sudah lolos pedangnya, dengan tipu "Giok-li-coan-ciam"

Atau sigadis ayu menyusup jarum.

terus saja ia tusuk dada musuh.

Dan baru sekarang ia dapat melihat jelas bahwa wanita itu bukanlah Auyang Wan, tapi adalah seorang wanita setengah umur yang berdandan berlebihlebihan dan tak dikenalnya.

Tiba-Tiba wanita itu menggeser kesamping, yang dipakai ternyata juga "Thian-lo-poh-hoat", maka tusukan In-pik itu mengenai tempat kosong.

Menyusul lengan baju wanita itu terus mengebut kerauka In-pik.

Di sebelah sana dengan cepat sekali Ibun Long sudah melompat bangun, ia lolos golok terus membacok.

Sebenarnya kepandaian Ibun Long juga tidak rendah, soalnya kurang pengalaman hingga kena ditendang terjungkal oleh wanita itu.

Kini dalam gusarnya, ia menghujani lawan dengan goloknya hingga wanita itu tidak berani gegabah menghadapinya lagi.

Namun kepandaian wanita itu sesungguhnya terlalu tangguh ba-ginya, sudah tentu tidak mudah untuk melukainya.

Ketika wanita itu mengebas lengan bajunya pula hingga golok Ibun Long tersampok kesamping, segera ia melesat maju untuk menghindarkan tusukan In-pik pula.

"Long-ji, mundurlah!"

Seru In Ciau.

Dan pada saat itu juga wanita itu mendadak mundur tiga tindak, bagaikan punggungnya mempunyai mata saja lengan bajunya terus mengebut pula kebelakang hingga botol obat dilantai itu tepat kena digulungnya.

"Lepaskan!"

Bentak In Ciau. Ia tetap tempelkan tangan kirinya dipunggung Hoa Thian-hong, tubuhnya sedikitpun tidak bergerak, hanya jari tengah kanan terus menjentik. maka terdengarlah suara "cret"

Sekali, tangan wanita itu serasa ditusuk jarum, tidak kuat lagi lengannya hingga bobol obat itu jatuh kembali kelantai dan menerbitkan suara nyaring.

Kiranya In Ciau telah menggunakan Kim-kong-ci-lik dengan Lwe kangnya yang paling kuat, sekalipun kepandaian wanita itu sangat hebat juga tak tahan oleh tenaga jari sakti itu.

Tapi dikala botol obat itu hendak terjatuh kembali, berbareng wanita itupun menggunakan tenaga Lwekang untuk menyentak hingga botol itu pecah.

Hati In-pik terguncang, ia pikir jangan-jangan ini memang benar obat penawar untuk ayahnya.

Cepat ia melompat maju hendak menjemput pecahan botol itu.

Mendadak terdengar Kang Hay-thian berseru.

"Awas!"

"Blang", tiba-tiba terdengar suara letusan, wanita itu telah melemparkan sebuah benda bundar dan mendadak meledak diudara, seketika segumpal asap tebal dan api mengurung keatas kepala In-pik. Bahkan ditengah gumpalan asal itu tertampak berkelebatnya sinar emas yang gemilapan. Syukur Kang Hay-thian tepat ambil tindakan, sekali sikut, ia tumbuk Ibun Long kesamping, berbareng tangan yang lain dipakai menarik In-pik kepojok kamar hingga kedua orang itu terhindar dari serangan senjata rahasia itu. Karena habis mengalirkan darah, badan Kang Hay-thian masih lemah, maka napasnya menjadi tersengal-sengal setelah menarik In-pik kepojok kamar, tanpa merasa In-pik jatuh kedalam pelukannya. Dalam pada itu In Ciau telah menambahi sekali hantaman dari jauh pula, namun wanita itu sudah berhasil melarikan diri dibalik gumpalan awan, sebaliknya api semakin berkobar terkena angin pukulan In Ciau. Dengan muka jengah cepat In-pik meronta lepas dari pelukan Hay-thian, segera ia bermaksud memadamkan api itu. Namun In Ciau sudah mendahuluinya menyirapkan kobaran api itu dengan bantuan sehelai selimut.

"Aneh, siapakah wanita tadi? Mengapa dia dapat menggunakan Am-gi yang pernah dipakai mendiang Le Senglam?"

Ujar In Ciau kemudian.

"Kang-siauhiap, apakah engkau kenal Am-gi semacam ini?"

"Yauhu (perempuan siluman) ini adalah kakak Thian-mokaucu, anak buahnya memanggil dia sebagai Mo-hujin,"

Sahut Hay-thian.

Belasan tahun yang lalu ia pernah bikin rusuh di Bin-san dan pernah menggunakan Kim-ciam-liat-yam-tan (peluru bakar berjarum) ini.

Tatkala itu kebetulan aku ikut ayah menjadi tamu didalam Hian-ll-koan diatas Bin-san sana."

Waktu In Ciau menyingkirkan selimut yang dipakainya tadi, ia lihat obat didalam botol itu sudah hangus terbakar.

"Untung senjata rahasianya itu tidak mengandung kabut berbisa, agak berbeda daripada apa yang pernah digunakan Le Seng lain dahulu,"

Ujar Thian-hong.

"Pik-ji, coba kau keruk abu obat yang terbakar itu, aku ingin melihatnya."

Dengan hati-hati In-pik menggunakan secarik kertas tipis untuk mengeruk abu obat itu dan diberikan kepada sang ayah. Setelah Thian-hong mencium abu obat itu, ia berkata.

"Ya, tidak salah lagi, memang inilah obat penawar buatan sendiri Tok-jiu-thian-cun Po Lo-hou."

In-pik menjadi menyesal dan bergirang, tanpa merasa ia berseru.

"Jika begitu, wanita berkedok itu benar-benar menghantarkan obat penawar untuk ayah? Apakah............ apakah abu obat ini masih bisa dipakai?"

Pelahan-lahan terdengar Thian-hong menghela napas. Hati In-pik tertekan, ia mengira obat itu tidak berguna lagi. Tapi lantas terdengar sang ayah telah berkata.

"Gunanya sih masih ada, cuma sayang sudah terbakar, kasiatnya sudah jauh berkurang. In-cengcu, terpaksa aku mungkin harus mengganggu tempatmu ini untuk dua-tiga bulan lamanya". Mendengar ucapan orang tua itu seperti hendak mengatakan jiwanya sudah tidak berbahaya lagi, cuma perawatannya diperlukan waktu yang agak lama, In Ciau menjadi girang, segera sahutnya.

"Hoa-losiansing adalah seorang tokoh terhormat, kalau tidak kebetulan, sengaja mengundang juga mungkin susah. Jangankan cuma dua-tiga bulan bahkan aku berharap engkau sudi tinggal barang beberapa tahun disini."

Karena itu, barulah In-pik merasa lega, segera ia tanya sang ayah.

"Dan cara bagaimana obat ini mesti dipakai?"

Thian-hong minta disediakan alat tulis, ia membuka resep obat pula dan berkata.

"Gilaslah beberapa macam obat ini, lalu campur hingga rata, gunakan air tiga mangkuk dan digodok sampai menjadi satu mangkuk, kemudian minumkan padaku."

Melihat obat-obat dalam resep Thian-hong itu hanya bahan obat-obatan yang sangat umum, dalam warung obat kampungnya itu juga mudah diperoleh Maka cepat In Ciau suruhan membeli seperlunya.

Tidak lama, terdengar juga In Khing mulai siuman dan merintih.

Ketika mendadak melihat Kang Hay-thian.

ia berseru kaget sambil menahan badannya dengan siku dan bermaksud melompat bangun.

Hay-thian tercengang dan bingung.

Namun In Khing lantas merebah lagi dengan wajah serba susah, tanyanya.

"Siapakah saudara ini?"

"Dia adalah ahliwarisnya Kim Si-ih, Kim-tayhiap, namanya Kang Hay-thian.-Dan yang ini adalah Hoa-losiansing yang terkenal dengan gelar Hoa-san-ih-un, mereka adalah tuan penolong jiwamu. setelah kau sembuh, nanti kuceritakan lebih jelas padamu,"

Demi kian ln Ciau menerangkan secara singkat.

"Ah, hampir aku salah mengenali kau, Kang-siauhiap, maafkan aku takdapat berbangkit untuk menghaturkan terima kasih kepada kalian,"

Ujar In Khing dengan suara lemah. Lalu katanya kepada sang ayah.

"Tia, bangsat cilik yang mencelakai anak dan adik itu perawakannya serupa benar dengan Kang-siauhiap baiknya aku masih ingat betul pada wajahnya, kalau tidak, hampir saja aku mengira dia telah datang lagi kesini."

"Bangsat kecil itu memang sudah datang kesini, bahkan akupun salah sangka kepada Kang-slauhiap hingga saling gebrak."

Kata In Ciau dengan tertawa.

"Perawakan mereka memang sama, tapi air muka berbeda,"

Ujar In Khing dengan heran.

"Sudah tentu bangsat itu telah sengaja menyaru sebagai Kang-siauhiap,"

Kata In Ciau.

"Peristiwa yang terjadi malam ini tukup banyak. biarlah kau mengaso dulu, nanti akan kuceritakan dengan jelas."

Tidak lama kemudian Koankeh itu telah membawakan obat yang telah diseduh. Sementara itu fajar sudah menyingsing. Sesudah TKian-hong habis minum obat itu, lalu In Ciau berkata dengan tertawa.

"Nona Hoa dan Kang-siauhiap, kalian tentu sudah teramat lelah, kini dapatlah silakan kalian mengaso saja."

Kemudian Thian-hong membuka tiga resep obat pula, dua untuk putera-puteri In Crau dan resep ketiga untuk dirinya sendiri, setelah tiga hari lagi, resep obat itu akan diganti pula.

Segera In Ciau suruh Koankeh menyiapkan seperlunya menurut resep obat yang diterlmanya itu.

Gedung In Ciau itu bertingkat, kamar tamu yang disediakan untuk Hoa Thian-hong bertiga itu berada dibawah, Thian-hong bersama In-pik satu kamar dan Kang Hay-thian satu kamar tersendiri disebelahnya.

"Sungguh beruntung, habis Siau-hoan-tan disumbangkan kepada orang, tapi telah diperoleh obat penawar bagiku, ini menandakan orang berhati baik tentu mendapat ganjaran baik."

Demikian kata Thian-hong sesudah berada didalam kamar "Cuma seorang laki-laki sejati seharusnya dapat membedakan batas-batas antara budi dan dendam, dan harini aku benar-benar mendapatkan budi orang tapi tidak tahu siapa orangnya".

Rupanya meski obat penawar itu telah hangus menjadi abu.

tapi kasiatnya masih lumayan hingga jiwa Thian-hong tidak berbahaya lagi.

Cuma ia tidak tahu siapa penghantar obat itu, makanya ia merasa masgul.

---ooo0dw0ooo---

Jilid 8

"Nah, Pik-moay. apa yang kukatakan tidak salah bukan?"

Demikian kemudian Kang Hay-thian berkata dengan tertawa.

"Sudah kukatakan penghantar obat itu adalah Auyang Wan, tapi semula engkau tidak mau percaya."

"Tapi juga cuma separoh yang benar,"

Sahut In-pik dengan sikap dingin.

"Mengapa cuma benar separoh saja?"

Tanya Hay-thian heran.

"Obat penawarnya sih memang benar, tapi sipenghantar obat, yaitu wanita berkedok itu belum tentu adalah Auyang Wan,"

Sahut In-pik.

"Bukankah Koankeh itu menyatakan wanita berkedok itu adalah penyatron yang pernah datang kesini? Habis siapa lagi kalau bukan Auyang Wan?"

Ujar Hay-thian.

"Dia cuma mengatakan perawakannya mirip, sedangkan pemalsu diriku itu sebenarnya Auyang Wan atau bukan juga masih belum pasti,"

Sahut In pik ngotot.

"Engkau telah lupa pada perkataanmu sendiri, bukankah engkau juga pernah mengatakan bahwa bangsat wanita pemalsu dirimu itu tentulah Auyang Wan?"

Kata Hay-thian dengan tertawa.

"Pendek kata, aku yakin Auyang Wan tidak nanti berhati sebaik itu,"

Sahut In-pik.

"Engkau sendiri juga sudah lupa barangkali, dia pernah memancing engkau hingga tertawan didalam jaring, ia pernah merampas kantong obat ayahku, dan engkau malahan sudah pernah bersumpah, bukan?"

Begitulah serentetan pertanyaan In-pik itu membuat Kang Hay-thian menjadi bungkam tanpa bisa menjawab.

"Sudahlah, tak perlu berdebat, duduknya perkara kelak pasti akan menjadi terang,"

Tiba-tiba Thian-hong menyela.

"Aku ingin memberi nasihat kepada kalian. Pik-ji, hendaklah engkau jangan sama-ratakan setiap orang dan jangan menganggap manusia itu takkan berubah wataknya, bahwa yang baik akan selalu baik. yang jahat tetap akan jahat. Sebaliknya engkau Hay-ji, engkau juga jangan terlalu percaya kepada setiap orang hingga selalu masuk perangkap orang jahat. Nah, sudahlah, sudah waktunya engkau perlu mengaso juga."

Sejak itu In-pik selalu menghindarkan persoalan Auyang Wan itu dalam pembicaraannya dengan Kang Hay-thian.

Selang beberapa hari, badan Hay-thian sudah pulih kembali, Hoa Thian-hong dan kedua saudara In Khing dan In Bik juga sudah tampak banyak lebih baik.

Suatu hari.

Kang Hay-thian berjalan-jalan ketaman bunga dibela-kang.

Keluarga In meski bukan keluarga hartawan yang kaya-raya.

tapi taman bunga itu juga terawat sangat indah.

Dimana-mana bunga mekar semarak, empang buatan dan gunung-gunungan palsu, semuanya di atur dengan secara arsitiktis hingga mirip sebuah lukisan alam yang indah permai.

Tatkala itu adalah musim bunga teratai, setiba Kang Haythian ditepi kolam teratai, tiba-tiba dilihatnya didepan sebelah gunung-gunungan di tepi kolam itu ada seorang gadis sedang menikmati bunga padma yang cantik itu.

Waktu mendengar suara bertindak orang, tiba-tiba gadis itu menoleh, ketika dilihatnya orang itu tak dikenalnya, ia tercengang.

"In-kohnio, sudah sembuhkah engkau?"

Sapa Hay-thian. Gadis itu memang In Bik adanya. Ia bersuara kaget sekali dan menjawab.

"Ah, apakah tuan Kang-siauhiap bukan?"

"Sebutan "hiap"

Itu tak berani kuterima, namaku Hay-thian, janganlah nona sungkan-sungkan memanggil namaku saja,".

"Kukira bukan aku yang sungkan, tapi Kang-siauhiap yang berlaku sungkan,"

Sahut In Bik.

"Kang-siangkong telah banyak mengorbankan darah bagi kami bersaudara yang sebelumnya tak dikenal, sungguh aku tidak tahu cara bagaimana harus menyatakan perasaanku."

"Sebagai sesama orang Bu-lim, adalah menjadi kewajiban kita untuk saling bantu-membantu,"

Ujar Hay-thian dengan rendah hati.

"Apalagi Gihuku juga mesti minta perlindungan ditempat kalian sini, kalau mau bicara tentang terima kasih, maka akulah yang lebih dulu harus berterima kasih padamu."

"Eh, ya, kudengar Gihumu, Hoa-losiansing juga terluka, karena harini aku baru dapat bergerak, maka belum sempat pergi memberi hormat padanya."

Kata In Bik.

"Bagaimanakah kesehatan beliau? Dan katanya masih ada pula seorang nona Hoa. Kalian datang dengan bertiga, bukan?"

"Keadaan Gihuku sudah banyak lebih baik, beliau baru saja tidur, nona Hoa juga perlu menjaga ayahnya, maka aku seorang diri berjalan-jalan ketaman sini,"

Sahut Hay-thian.

Karena tidak pandai bicara, maka Kang Hay-thian agak kikuk berhadapan dengan seorang gadis, yang baru saja dikenalnya.

Sekilas ia melihat dipinggang In Bik terikat sepotong saputangan itulah saputangan yang bersulam bunga teratai yang pernah dilihatnya tempo hari.

Karena tertarik, ia telah pandang saputangan itu berulang kali.

Wajah In Bik berubah jengah, katanya kemudian.

"Kangsiangkong, apakah engkau suka kepada saputangan demikian ini."

"Saputangan yang bersulam bunga teratai Itu sangat indah,"

Ujar Hay-thian.

"Darimana engkau tahu?"

Tanya In Bik heran..

"Tempo hari waktu Cayhe mengobati penyakit nona, saputangan itu telah kulihat,"

Kata Hay-thian. In Bik melepaskan saputangannya, dengan menunduk ia berkata dengan tersenium.

"Pabila engkau suka, aku dapat menyulam sebuah untuk kau. Akan tetapi saputangan ini bukan milikku, maka tidak dapat kuberikan padamu."

Sebagai gadis remaja dikeluarga mampu yang sering membaca kisah roman tentang pertemuan sepasang kekasih ditaman, lalu saling memberi tanda mata dan sebagainya Rupanya In Bik menjadi salah paham juga ketika melihat Kang Hay-thian memperhatikan saputangannya, gadis yang baru mulai meningkat kealam dewasa itu salah sangka kalau Kang Hay-thian ada maksud meminta sesuatu tanda mata padanya.

Dari itu ia berbicara dengan hati berdebar-debar dan wajah merah.

Sudah tentu Kang Hay-thian tidak tahu isi hati sigadis, demi mendengar perkataannia tadi, tanpa pikir ia berseru.

"He, kiranya saputangan itu bukan milikmu?"

"Benar, tapi adalah pemberian seorang nona yang lain,"

Sahut In Bik.

"Ada apakah? Adakah sesuatu yang tidak benar?"

"Nona itu she Kok atau bukan, lengkapnya bernama Kok Tiong-lian?"

Tanya Hay-thian cepat.

"Ya. benar, engkau kenal dia?"

Sahut In Bik.

"Waktu aku berumur tujuh, pernah aku tinggal di Bin-san."

Kata Hay-thian "Sampai kini sudah hampir sepuluh tahun kami tidak berjumpa."

"Eh, kiranya kalian adalah kawan sejak kanak-kanak."

Ujar In Bik dengan tersenyum.

Diam-Diam iapun bergirang karena perkenalan mereka ternyata dimasa kanak-kanak, dengan sendirinya tiada hubungan asmara antara pria dan wanita seperti umumnya.

Tapi Kang Hay-thian sama sekali tidak memperhatikan sikap In Bik yang aneh itu, demi mengetahui memang benar Kok Tiong-lian adanya, cepat ia bertanya pula.

"Bilakah engkau bertemu dengan dia? Ia telah memberikan saputangannya kepadamu, suatu tanda persahabatan kalian tentu sangat baik."

"Persahabatan kami memang cukup baik, tapi persahabatannya dengan kakakku lebih-lebih baik aku diberinya saputangan sebenarnya adalah berkat persahabatannya dengan kakakku saja,"

Ujar In Bik. Hay-thian tertegun oleh jawaban itu.

"O, kiranya begitu berbelit-belit persoalan saputangan ini?"

Katanya dengan senyum ewa.

"Ya, ceritanya cukup menarik juga, jika engkau suka. dapat kututurkan kejadian itu,"

Kata In Bik "Dua bulan yang lalu, Kok-Yihiap, itu Ciangbun dari Bin-san-pay telah lewat sini bersama puterinya dan tinggal untuk beberapa hari ditempat kami ini.

Selama beberapa hari itu kakakku menjadi seperti orang linglung, selalu mendampingi nona Kok, dan dalam beberapa hari itulah persahabatan mereka sudah begitu akrab sebagai kenalan lama saja."

Sebenarnya cerita itu sengaja dibesar-besarkan oleh In Bik, tapi bagi pendengaran Hay-thian sudah tentu kecut rasanya. Setelah tenangkan diri, segera ia menanya.

"Kok-lihiap hendak kemana, apakah engkau tahu? Kok-lihiap adalah sobat baik guruku, aku justeru lagi hendak mencari kabarnya."

Melihat sikap pemuda itu agak aneh, diam-diam In Pik merasakan semacam perasaan cemburu yang tidak terkatakan. Tapi segera terpikir pula.

"Mungkin tujuannya memang benar-benar hendak mencari Suhunya dan bukan Kok Tiong-lian, dari itu ia ingin lekas-lekas mendapat kabarnya Kok-lihiap. Tetapi, ah, biarlah apakah yang dia perhatikan itu sang ibu atau puterinya, apa sangkut-pautnya dengan aku?"

Berpikir sampai disini, tanpa merasa mukanya kemerahmerahan.

Kang Hay-thian menjadi terkejut malah ketika melihat tanpa sebab muka gadis itu menjadi merah, sebagai satu pemuda yang masih hijau, sudah tentu ia tidak paham lika-liku perasaan anak gadis.

Sebaliknya ia terus bertanya.

"Nona In, engkau baru saja sembuh, badanmu masih lemah, maka lebih baik engkau banyak mengaso saja, tentu ceritamu ini bolehlah disambung lain hari."

"Gihumu adalah seorang tabib sakti, sebaliknya engkau belum mahir sedikitpun ilmu pertabibannya itu. Aku tidak apaapa, kenapa perlu mengaso apa segala?"

Sahut In Bik tertawa.

"Aku tahu engkau justeru sangat ingin sekali mengetahui berita tentang diri Kok-lihiap berdua, kalau cerita ini ditunda, boleh jadi malam nanti engkau tak bisa tidur". Diam-Diam Hay-thian merasa ucapan sigadis itu memang tidak salah, kalau berita tentang Kok Tiong-lian itu tidak segera diceritakan padanya, memang bukan mustahil nanti malam dirinya takkan dapat tidur. la heran mengapa gadis itu sebentar-sebentar merah air mukanya. Tapi sesudah tenangkan diri, lalu In Bik melanjutkan.

"Nona Kok itu ternyata sangat tulus, ia mengeluarkan saputangannya dan berkata.

"Apakah cukup indah? Ini adalah sulamanku sendiri."

Sikap kakakku waktu itu benar-benar menggelikan, dengan muka merah ia memuji dengan gelagapan."

Lalu iapun menirukan suara kakaknya waktu itu hingga Kang Hay-thian ikut tertawa. Sehabis ketawa geli, lalu In Bik melanjutkan.

"Tatkala itu aku lantas berkata.

"Nona Kok. Koko suka kepada saputanganmu ini, sudilah engkau menghadiahkan kepadanya."

Karuan kakak merasa kikuk dan muka jengah. Tapi nona Kok cuma tersenyum saja, lalu mengeluarkan dua potong saputangan seperti ini."

"Kakakmu cuma inginkan satu, tapi dia telah memberikan dua!"

Tanya Hay-thian. In Bik terkikih tawa, sahutnya.

"Pemberian sesuatu hanya sebagai lambang belaka, masakah barang pemberian itu akan digunakan hingga perlu jumlah yang banyak?"

"O, tahulah aku, jika begitu, yang sebuah adalah untukmu, bukan?"

Kata Hay-thian. In Bik mengangguk tanda benar Katanya pula dengan tertawa.

"Setelah nona Kok mengeluarnya kedua saputangannya itu, lalu katanya kepadaku.

"Hanya sehelai saputangan apa artinya? Jikalau kalian suka, silakan terimalah. Coba, bukankah pemberian sapu-tangan ini adalah berkat kakakku?"

Setelah mendengar cerita itu, perasaan Kang Hay-thain menjadi bimbang seakan-akan kehilangan sesuatu. Dan pada saat itulah tiba-tiba terdengar ibunya In Bik sedang memanggil.

"Bik-ji, dimanakah kau, makanlah obatmu dulu."

Sembari berseru, orang tua itupun menuju ketempat beradanya In Bik berdua. Waktu tiba-tiba dilihatnya Kang Haythian juga berada disitu, ia sangat senang, katanya.

"O, kiranya Kang-siauhiap berada bersama kau."

Segera Hay-thian memberi hormat, katanya.

"Nona In kini sudah sembuh, bolehlah Pekbo tidak perlu kuatir lagi."

"Untuk mana kami harus berterima kasih kepadamu,"

Ujar In-hujin dengan tertawa.

"Kang-siauhiap, silakan duduk kedalam rumah saja."

"Terima kasih, sudah cukup lama aku membuang tempo nona In yang berharga, sekarang sudah waktunya kutengok Gihu,"

Sahut Hay-thian.

"Jika begitu, selang dua hari lagi bila Khing-ji sudah sembuh, akan kusuruh dia membawa engkau pesiar ketempat sekitar sini,"

Ujar In-hujin.

Setelah ibu dan anak itu pergi, hati Kang Hay-thian masih di liputi rasa masgul.

Ia tiada minat buat menikmati pemandangan lagi, dengan rasa kesal ia putar balik.

Ketika melalui segerombol hutan bambu, tiba-tiba ia mendengar suara ketawa cekikikan anak gadis.

Sebenarnya tiada maksud Hay-thian buat mendengarkan, tepi suara percakapan mereka itu sudah otomatis masuk kedalam telinganya.

Dari percakapan mereka itu segera Kang Hay-thian dapat mengetahui terdiri dari dua dayang keluarga In yang sedang membicarakan soal perjodohan.

Siocia dan Kongcu mereka.

Walaupun tiada maksud Kang Hay-thian untuk mendengarkan percakapan orang, tapi mau-tak-mau ia merandek juga ketika ada bagian-bagian yang sangat menarik perhatiannya, terutama waktu salah satu dayang itu nienyinggung dirinya, tentang "Kang-siauhiap"

Telah dipenujui nyonya besar dan akan mengambilnya sebagai menantu.

Menurut dayang itu ada dua alasan kuat akan jadinya perjodohan itu.

Pertama karena sudah adanya percampuran darah antara Kang Haythian dan Siocia mereka, yaitu waktu Hay-thian menyalurkan darah nya untuk menyembuhkan luka In Bik.

Kedua, selalu Loya dan Hujin mereka memuji betapa hebat ilmu silat Kangsiauhiap, katanya Kang-siauhiap adalah tokoh nomor satu dalam angkatan muda dikalangan Bu-lim.

maka betapa bangganya bila mereka dapat memperoleh menantu sebaik Kang-siauhiap itu.

"Jika begitu, mengapa belum diadakan peminangan?"

Tanya dayang yang lain.

"Inipun ada dua alasan,"

Demikian jawab sidayang pertama yang rupanya mempunyai penyakit "dua alasan."

"Hihi, selalu engkau punya alasan saja,"

Goda dayang kedua.

"Tapi alasan ini bukan sengadia dibuat-buat", sahut dayang pertama tadi.

"Pertama, karena Hoa-losiansing itu masih belum sembuh, maka Loya dan Hujin sudah mengambil keputusan untuk menunggu sampai beliau sembuh nanti."

Mendengar sampai disini, Kang Hay-thian sudah menjadi paham, maka diam-diam ia tinggalkan taman dengan perasaan berdebar-debar, agak senang juga agak kesal.

Pada umumnya anak gadis lebih cepat masak daripada anak laki-laki.

Dalam usia yang sebaya, Hoa In-pik dan In Bik sudah lebih masak bagai kuntum bunga yang mulai mekar.

Sebaliknya Kang Hay-thian belum pernah memikirkan tentang perjodohan Segala, terhadap cinta asmara juga setengah paham setengah tidak.

Biar pun dia sering merindukan Kok Tiong-lian, namun hal yang disebabkan kesannya kepada gadis itu sangat mendalam karena merupakan kawan bermain sejak kanak-kanak, jikalau ada rasa cintanya kepada gadis itu, hal mana juga cuma cinta yang tak jelas pokok-pangkalnya.

Sebab itulah, demi mendengar percakapan kedua dayang mengenai dirinya hendak dipungut menantu oleh In Ciau, pikiran nya menjadi kesal dan bingung cara bagaimana harus menjawab pabila benar-benar In Ciau mengutarakan perjodohan itu kepada sang Gihu.

Begitulah dengan pikiran yang kacau tanpa merasa Kang Hay-thian sampai dikamarnya sendiri.

Ia dengar dikamar sebelah Hoa Thian-hong sedang bercakap-cakap dengan Inpik Segera ia mengetok pintu dan masuk kesitu.

"Sedari tadi engkau kemana, Hay-ko, baru saja ayah membicarakan engkau,"

Tanya In-pik dengan tertawa. Maka dengan samar-samar Hay-thian mengatakan berjalanjalan ketaman, dimana bunga padma sedang mekar dengan indahnya.

"Hay-ji, apakah engkau sudah sehat benar?"

Tanya Thianhong kemudian.

"Apakah engkau sudah coba latihan kembali?"

"Pagi tadi sudah kulakukan, pada umumnya sudah sehat kembali,"

Sahut Hay-thian.

"Dan engkau sendiri bagaimana, Gihu?"

"Kukira perlu sebulan lagi baru dapat pulih kembali,"

Sahut Thian-hong.

"Makanya aku ingin berunding dengan kau."

Selagi Hay-thian hendak bertanya berunding soal apa, tibatiba In-pik telah menyela.

"Hay-ko, baru saja kesehatanmu pulih dan engkau sudah begitu besar minat untuk menikmati keindahan bunga padma."

"Bukan maksudku hendak menikmati pemandangan bunga,"

Sahut Hay-thian dengan muka merah.

"Tapi yang kupikir ialah......"

"Aku sudah tahu apa yang kau pikirkan, Hay-ji,"

Ujar Thianhong dengan tertawa.

"Sang waktu memang lalu dengan sangat cepat. hari Tiongciu sudah tinggal sebuian dan 11 hari lagi. Bukankah engkau sedang memikirkan pertemuan di Kimeng-kiong nanti?"

"Memang benar, Gihu,"

Sahut Hay-thian dengan menghela napas.

"Aku sudah mewakilkan Kok-lihiap menerima kartu undangan orang, dengan sendirinya aku harus pegang janji untuk menghadiri pertemuan itu tepat pada waktunya. Namun Gihu sendiri.................."

"Aku sendiri tidak menjadi soal,"

Sela Thian-hong.

"Aku toh berada dibawah perlindungan In-cengcu, engkau tak perlu kuatirkan diriku. Adapun urusan yang hendak kurundingkan dengan kau tak-lain-tak-bukan juga soal ini. Jikalau toh engkau sudah sehat benar, bolehlah engkau lantas berangkat untuk memenuhi janji itu, cuma sayang aku tak dapat mendampingi engkau. Sebenarnya ada maksudku suruh Pik-ji berangkat bersama kau......"

"Gihu,"

Potong Hay-thian.

"engkau sendiri perlu seorang perawat yang selalu berada disisimu, sedangkan aku tidak dapat menjaga Gihu, apalagi kalau Pik-moay ikut pergi bersama aku, hal itu sekali-sekali tidak boleh jadi."

Sebenarnya maksud Hoa Thian-hong hanya untuk memantiing bagaimana isi hati Kang Hay-thian saja.

Sebab, betapapun perjalanan kedua muda-mudi harus ada suatu alasan yang kuat agar tidak dibuat buah tutur orang iseng.

Dari itu bila Kang Hay-thian sendiri yang suka ajak puterinya ikut berangkat, hal mana akan dapat sekalian dia kemukakan tentang perjodohan mereka.

Tapi kini demi mendengar jawaban Kang Hay-thian itu, Thian-hong agak kecewa.

Namun lantas terpikir pula olehnya.

"Toh mereka masih terlalu muda, biarlah boleh dibicarakan beberapa tahun lagi. Walaupun ia tidak paham maksud hatiku, namun apa yang dia kehendaki adalah untuk kebaikanku."

Berpikir begitu, ra menjadi terhibur, katanya pula.

"Baiklah, terpaksa engkau harus menempuh perjalanan sendirian. Namun pengalamanmu masih cetek dalam segala hal hendaklah kau berlaku hati-hati. Nah, Pik-ji, pergilah kau mengundang In-cengcu kemari, dia sangat luas hubungannya diwilayah perbatasan sini, biarlah aku akan minta pertolongannya untuk menjaga keselamatan Hay-yi."

Ketika In Ciau mengetahui bahwa Kang Hay-thian hendak menghadiri pertemuan di Kim-eng-kiong pada hari Tiongciiu. ia agak heran dan bertanya.

"Darimanakah majikan Kim-engkiong itu kenal kau?"

Dan setelah Kang Hay-thian memberitahu duduknya perkara, dengan tertawa In Ciau berkata lagi.

"Kiranya engkau telah mewakili Kok-lihiap menerima undangan mereka, pula pernah mengunjukan ilmu silatmu dihadapan pesuruh Kimeng-kiong, pantas saja."

Kiranya In Ciau sendiri juga menerima undangan Kim-engkiong itu yang diketahuinya melulu dikirim kepada tokoh-tokoh persilatan yang ternama, dari itu ia telah mengajukan pertanyaan tadi.

"Bulan yang lalu Kok-lihiap pernah lalu disini dan telah tinggal beberapa hari ditempat kami ini,"

Tutur In Ciau lebih jauh.

"Tatkala itu ia masih belum tahu tentang pertemuan di Kim-eng-kiong, lebih-lebih tidak tahu bahwa dia sendiripun akan menerima undangan. Tapi kebetulan tempat yang dia tuju itu adalah Masarmin dibawah kekuasaan majikan Kimeng-kiong itu. Sesudah engkau tiba disana, boleh jadi akan segera dapat berjumpa dengan dia. Karena keberangkatan Kang-siauhiap ini adalah untuk memenuh! janji, aku tidak enak untuk menahan engkau, cuma apakah tidak dapat tinggal beberapa hari lagi. Kenapa mesti buru-buru berangkat besok pagi"

"Terpaksa aku harus berangkat secepat mungkin, karena aku masih ingin mampir kegunung Tangra, akan mengunjungi suami-isteri Teng Keng-thian diistana es untuk mencari tahu jejak ayah dan guruku."

In Ciau memikir sejenak, lalu katanya.

"Baiklah jika begitu, besok pagi-pagi aku akan menjamu engkau sekadar tanda selamat berpisah."

Besoknya, sesudah perjamuan perpisahan, In Ciau dan In Bik berkeras untuk menghantarnya.

Setiba ditepi danau, setelah berulang-ulang Kang Hay-thian mohon tuan rumah pulang saja, barulah In Ciau membuka suara.

"Kang-siauhiap, budi pertolonganmu kepada kami, Lohu tidak dapat membalas apa-apa, hanya ada secarik kertas yang tak berarti ini, sudilah engkau menerimanya."

Waktu Hay-thian memeriksa, kiranya pemberian In Ciau itu adalah sebuah peta yang dietas tercatat jalanan yang menuju kedaerah Masarmin.

Didalam peta itu tercatat pula beberapa nama orang dalam huruf kecil.

"Orang-Orang yang kutulis itu adalah sobat-baikku semua, pabila engkau ada keperluan apa-apa, boleh engkau mencari diantara mereka yang terdekat,"

Ujar In Ciau.

"Kecuali itu masih ada pula sesuatu benda yang dapat engkau gunakan sebagai tanda pengenal."

Habis berkata, ia lantas mengeluarkan sebuah medali emas sebesar lima senti pesegi, diatas medali itu terukir seekor singa yang ber-pentang mulut dan cakar seakan-akan hidup.

"Ini. adalah Kim-sayleng (medali singa emas) dari keluarga In kami,"

Kata In Ciau lebih lanjut.

"Setiap kawanku tentu mengenal medali ini. Dengan ilmu silatmu yang tinggi sebenarnya jauh lebih dari cukup untuk malang-melintang dikangouw, tapi segala apa lebih baik berjaga-jaga sebelumnya. Maka sukalah engkau menerima nya pula."

Kiranya keluarga In adalah kaum persilatan terkemuka secara turun-temurun, pengaruhnya sangat besar diwilayah Sepak, kepala In-keh-ceng hakikatnya sama dengan Bu-lim Beng-cu atau ketua perserikatan jago silat didaerah Sepak itu Dan Kim-say-leng itu adalah benda warisan leluhur, bukan saja sobat lamanya pasti kenal, bahkan setiap orang Bu-lim yang sedikit ternama di Bu-lim boleh dikata semuanya kenal benda itu.

Setelah menerima Kim-say-leng itu, kembali Kang Hay-thian menghaturkan terima kasih dan berjanji akan mengembalikan medali itu bila kelak sudah pulang.

Selesai In Ciau menyelesaikan urusannya, ia melihat sang puteri berdiri terpaku disampingnya, segera ia berkata pula dengan tertawa.

"Bik-ji, adakah sesuatu yang hendak kau bicarakan dengan Kang-siauhiap?"

Wajah In Bik tampak merah jengah, sahutnya pelahan.

"Ya. Koko minta perantaraanku untuk menyampaikan sedikit pesan kepada Kang-siauhiap."

"Baiklah, boleh kalian bicara", ujar In Ciau, lalu sengaja kerjalan menyingkir pura-pura menikmati pemandangan dikejauhan. Ia menyangka puterinya itu cuma pura-pura menggunakan alasan pesan dari kakaknya. Padahal dugaannya cuma tepat separoh. Maka dengan suara pelahan In Bik telah berkata kepada Kang Hay-thian.

"Kang-siangiong, Koko tahu engkau adalah kawan nona Kok sejak masih kanak-kanak. Maka ia ingin titip sesuatu kepada engkau, bila kelak engkau berjumpa dengan nona Kok, jangan lupa menyampaikan salam selamat kepadanya. Sebenarnya Koko ingin bicara sendiri dengan engkau, tapi dia merasa malu, makanya aku yang diminta mewakilinya. Harap jangan engkau mentertawakan dia."

Sungguh tidak keruan rasa Kang Hay-thian menghadapi urusan itu, pikirnya.

"Kiranya rasa rindu In Khing kepada Lianmoay sudah sedemikian mendalamnya."

Tapi segera iapun menjawab.

"Baiklah, aku pasti akan menyampaikan pesan kakakmu itu kepadanya. Cuma aku tidak pintar bicara, kukuatir takkan dapat mengutarakan perasaan kakakmu sebagaimana mestinya."

Untuk sejenak In Bik kikuk-kikuk dan malu-malu kucing, tapi akhirnya ia bicara lagi.

"Akupun mempunyai sesuatu untukmu, yaitu barang yang engkau inginkan kemarin, aku telah membuatnya untukmu secara terburu-buru."

Kang Hay-thian tercengang, ia lihat gadis itu sudah mengangsurkan sebuah saputangan bersulam bunga teratai, saputangan itu mirip benar dengan milik Kok Tiong-lian itu.

Sebenarnya Hay-thian toh tidak pernah menyatakan keinginan-nya minta diberi saputangan itu, tapi ia tidak ingin mengecewakan perasaan orang, tanpa bicara lagi ia terima saputangan pemberian In Bik dan mengucapkan terima kasih.

Diam-Diam teringat olehnya apa yang diucapkan In Bik kemarin, mau-tak-mau akhirnya iapun paham juga sebenarnya ada maksud tersendiri dari gadis itu kepadanya.

"Sudahlah, Kang-siang-kong, selamat jalan, maafkan kami tidak hantar lebih jauh", kata In Bik akhirnya.

"Ayah, Kangsiangkong akan berangkat, apakah engkau masih ingin bicara lagi."

"Kalau mau bicara, biarpun beberapa hari juga takkan habis,"

Ujar In Ciau.

"Sudahlah, kita ucapkan selamat jalan dan sampai berjumpa pula kelak."

Begitulah, dengan perasaan berat In Bik berdiri disamping sang ayah menghantar keberangkatan Kang Hay-thian.

Selama dua bulan ini berturut-turut Hay-thian telah mendapatkan dua kawan nona jelita seperti Hoa In-pik dan In Bik yang setiap hari selalu berdampingan.

Tapi kini ia telah kembali seperti semula, seorang diri menempuh perjalanan jauh, betapapun terasalah kesunyiannya.

Meski dia belum paham benar-benar cinta kasih antara muda-mudi, tapi sepanjang jalan sering terkenang olehnya kedua nona itu.

Kelincahan dan kecerdikan In-pik, keluwesan dan kecantikan yang menggiurkan dari In Bik, keduanya mempunyai kelebihannya sendiri-sendiri, bayangan kedua nona itu berkesan cukup mendalam didalam lubuk hatinya.

Dan bila teringat kepada kebaikan kedua nona itu, tanpa merasa ia merasa kesal lagi.

Tapi karena berjalan seorang diri pula tiada terjadi apa-apa, maka perjalanannya menjadi lebih cepat malah.

Beberapa hari kemudian, ia tiba di Thian-cuikoan diwilayah Kamsiok.

Pegunungan Cong-Iam-san itu menyusur Siamsay barat dan berakhir didaerah Thian-cui-koan.

Jalan yang ditempuh Kang Hay-thian selama beberapa hari selalu adalah tempat-tempat yang terdapat lereng-lereng pegunungan Cong-Iam-san itu.

Tapi karena dia masih ingat Auyang-jinio pernah menyatakan rumahnya berada di Cong-Iam-san, maka selalu Hay-thian menghindarkan diri melalui kaki gunung itu.

Terkadang bila terpaksa ia lebih suka mengitar sedikit lebih jauh.

Dan setika di Thian-cui-koan, barulah perasaan tegangnya mulai hilang.

, Auyang-jinio adalah wanita paling keji yang pernah dikenalnya selama hidup.

Tapi sebabnya dia mengitar jalan, daripada dikatakan menghindari Auyang-jinio, lebih tepat kalau dikatakan dia menghindarkan bertemu pula dengan Auyang Wan.

Sebab dia sudah pernah bersumpah dihadapan Hoa In-pik bahwa dia akan membalas sakit hati Hoa Thianhong bila bertemu lagi dengan gadis itu.

Tapi ia menjadi sangsi juga mengenai kebenaran sigadis berkedok yang dikatakan adalah Auyang Wan itu.

Ia bertanya-tanya didalam hati sendiri.

"Sebenarnya dia gadis baik-baik atau jahat?"

Lalu ia jawab sendiri.

"Ah, biarlah, baik dia gadis baik atau jahat, betapapun tiada sesuatu yang menguntungkan bagiku. Sudah banyak kesulitanku yang disebabkan olehnya. Andaikan dia seorang baik-baik, Gihu dan In-pik sudah sedemikian benci kepadanya. masakan aku masih perlu bersahabat dengan dia? Umpama kalau jahat, tapi obat penawar yang dia bawa untukku itu memang obat tulen, apakah aku harus menepati janji untuk membunuhnya juga?"

Begitulah ia menjadi bingung dan kusut sendiri, ia tidak memikirkan lagi. tapi toh selalu teringat saja. Terkadang timbul pula perasaannya yang aneh.

"Entah gadis itu sekarang berada di mana? Jika obat penawar itu benar-benar dia yang mencuri untukku, apakah ayah-bundanya mau mengampuni perbuatannya itu?"

Begitulah tengah Kang Hay-thian dirundung pikiran kusut, tiba-tiba ia mendengar seruan seseorang dibelakang .

"Hai, Kang-siauhiap, selamat bertemu disini! Harap tunggu sebentar!"

Hay-thian teicengang dan menoleh, ia melihat penyapa itu adalah seorang muda yang berdandan sebagai Bu-su (jago silat), muka orang seperti sudah pernah dikenalnya.

"Aha. rupanya Kang-siauhiap sudah lupa padaku?"

Demikian pemuda Bu-su itu berkata pula.

"Siaute bernama Ih Siau-kun, adalah Suhengnya Auyung Wan. Tempo hari pernah mendapat pertolonganmu, sungguh terima kasihku tak terhingga."

"O, kiranya adalah Ih-heng. entah ada keperluan apa juga berada didaerah sini ?"

Sahut Hay-thian sambil membalas hormat.

Kiranya Ih Siau-kun ini adalah pemuda yang tempo dulu memberi kabar kepada Kang Hay-thian ketika Auyaniy Wan hendak dihukum oleh gurunya disebabkan gadis itu telah memberikan obat penawar kepada Hay-thian.

Diam-Diam Hay-thian menjadi heran berjumpa pula dengan Ih Siau-kun ditengah jalan didaerah terpencil ini.

Dalam pada itu Ih Siau-kun telah bicara pula .

"Harap Kangheng maklum, justeru lantaran kejadian dahulu itu. maka Siaute tidak berani mendampingi guru jahat lagi, maka Siaute sudah melarikan diri dari perguruan. Sungguh memalukan kalau dibicarakan, harap Kang-heng tidak mentertawai diriku."

"Mana aku berani mentertawai Ih-heng ?"

Sahut Hay-thian.

"Walaupun setiap orang harus menghormat kepada orang tua, termasuk sang guru, tapi hendaklah dapat pula membedakan antara yang jahat dan yang baik. Maka tindakan Ih-heng yang tegas melepaskan diri dari perguruan jahat itu patut dipuji."

Wajah Ih Siau-kun menjadi ber-seri-seri, ia menghormat pula kepada Kang Hay-thian dan berkata.

"Betapapun Kangheng memang seorang yang bijaksana, ucapanmu yang berharga itu telah membuka pikiranku yang pepet selama ini. Terus terang kukatakan, meski Siaute bukan asli keluarga ternama, paling tidak ayahku juga seorang persilatan dari golongan Cing-pay, soalnya adalah salahku sendiri yang terlalu keranjingan silat, maka telah tersesat keperguruan yang jahat. sungguh aku menyesal sekali. Kini walaupun Siaute sudah melepaskan diri dari kalangan gelap itu, namun tetap malu untuk bertemu dengan para kesatria Kangouw."

"Orang dapat sadar dari kesalahannya, itulah suatu perbaikan diri yang harus dipuji, apalagi Ih-heng sendiri toh tidak pernah berbuat sesuatu kejahatan apa-apa,"

Ujar Haythian. Habis memberi sedikit kata-kata hiburan itu, segera ia bermaksud mohon diri melanjutkan perjalanannya. Tiba-tiba Ih Siau-kun bertanya pula .

"Numpang tanya, ayah Kang-heng bukankah bernama Kang Lam ?"

"Benar, itulah ayahku,"

Sahut Hay-thian tercengang. Tapi segera ia pikir hubungan ayahnya sangat luas, kalau nama ayahnya dikenal orang juga tidak perlu diherankan. Diluar dugaan Ih Siau-kun lantas menyambung lagi.

"Jika demikian, Cayhe dan Kang-heng boleh dikata bukan lagi orang luar. Sebab, ayahku bernama Ih Tay-peng, asalnya adalah murid Siau-lim-si dari keluarga biasa, beliau adalah kenalan lama ayah-mu. entah ayah Kang-heng pernah menyebut namanya atau tidak?"

Sudah tentu Hay-thian tidak jelas apakah ayahnya mempunyai seorang kenalan yang bernama Ih Tay-peng.

sebab sobat-andai Kang Lam adalah terlalu banyak, termasuk anak murid dari Siau-lim-pay.

Jika orang sudah mengatakan sobat lama, biarlah ia mau percaya saja, maka sahutnya lantas.

"Jika demikian, ayah saudara terhitung pamanku, sudilah Ih-heng menyampaikan salamku. Kelak bila ada kesempatan tentu-akan berkunjung ketempat saudara untuk memberi hormat padanya".

"Rasanya Kang-heng toh tidak perlu buru-buru melanjutkan perjalanan, bukan ?"

Segera Siau-kun menyambung.

"Kebetulan kediamanku dekat dari sini, sudilah Kang-heng mampir barang sejenak saja."

Dan sedang Kang Hay-tfiian ragu-ragu cepat Siau-kun, meneruskan pula.

"Tempo hari sesudah kulari pulang kerumah. pernah kuceritakan bantuan Kang-heng itu kepada ayah. Beliau tertawa senang demi mendengar usul Kang-heng, katanya.

"Haha, kiranya adalah putera sobat lamaku". Beliau mengatakan sudah hampir 20 tahun bersahabat dengan Kang pepek. Tiga tahun yang lalu Kang-pepek juga pernah mampir ketempat kami ketika beliau lalu disini, cuma sayang waktu itu aku tidak berada di rumah. Ketika ayah mengetahui ilmu silat Kang-heng tiada bandingannya, senangnya tak terkatakan serta menyatakan ingin melihat engkau. Tidak dinyana secara kebetulan harini telah dapat berjumpa ditengah jalan. Pabila Kang-heng tidak sudi mampir sebentar, tentu ayah akan memarahi aku tidak pandai mengundang tetamu."

Tergerak hati Hay-thian.

Ia sedang mencari ayahnya juga dan selama ini belum dapat kahar beritonya.

Kini mendengar ayahnya pernah mampir kerumah keluarga Ih segera hatinya tergerak dan ingin mencari kabar kesan.

Namun betapapun juga Kang Hay-thian masih belum percaya penuh kepada Ih Siau-kun.

Teringat olehnya pengalaman yang sudah-sudah, mau-tak-mau ia menjadi ragu-ragu Akhirnya ia berkata.

"Banyak terima kasih atas maksud baik Ih heng. terus terang kukatakan, sesungguhnya aku masih ada urusan penti-ig dan perlu buru-buru menempuh perjalanan, maka dihadapan paman sudilah Ihheng menyampaikan permintaan maafku, biarlah kelak kalau aku kembali, tentu aku akan mampir sedapat mungkin."

"Hahahaha!"

Mendadak Ih Siau-kun bergelak ketawa dengan air muka berubah "Biarpun Kang-siauhiap tidak mengatakan juga aku tahu perasaanmu.

Tentu engkau anggap aku dari golongan orang yaiig tersesat, mau-tak-mau engkau toh memandang rendah padaku."

"Harap Ih-heng jangan salah paham......"

Belum habis Hay-thian memberi penjelasan, tiba-tiba Ih Siau-kun sudah memotong dengan rasa dongkol.

"Kangsiauhiap, memang salahku karena mengharap bersahabat dengan seorang kesatria muda sebagai kau. Tapi aku berani bersumpah bahwa sedikitpun aku tidak mempunyai maksud jahat padamu, kalau tidak percaya, biarlah jariku ini sebagai bukti!" -Mendadak ia lolos golokaya dan sekali tabas, tahutahu ia telah potong jari kecil kiri sendiri, lalu katanya dengan tersenyum getir.

"Sekarang dapatlah Kang-siauhiap percaya padaku?"

Karuan Hay-thian terkejut, tak diduganya orang bisa berlaku senekat itu. Dasar hatinya memang bajik, mudah dipengaruhi. Maka ia menjadi terharu dan merasa rikuh, cepat katanya.

"Ah, mengapa Ih-heng berkata demikian dan buat apa berbuat begini? Toh bukan urusan maha besar apa-apa. Bila Ih-heng berkeras ingin mengundang, baiklah, Siaute akan pergi menyambangi paman Ih. Cuma aku tak dapat tinggal lama-lama, hal ini perlu kuterangkan sebelumnya."

Mendengar itu, barulah wajah Ih Siau-kun tampak bergirang. katanya.

"Jikalau Kang-siauhiap ada urusan penting, sudah tentu kami tak berani menahan lebih lama. Baiknya tempat tinggal kami berada tidak jauh dari sini, paling-paling cuma akan mengganggu waktumu barang sejam saja."

Maka berangkatlah Kang Hay-thian ikut Ih Siau-kun menuju kesuatu pedusunan Dari jauh tertampaklah dikaki gunung sana terdapat sebuah gedung yang terpajang indah dengan lampion dan kertas warna-warni, suara tetabuhan juga ramai berbunyi.

agaknya seperti keluarga yang sedang mempunyai sesuatu hajat.

Didepan pintu tampak ramai orang berhilir mudik, agaknya adalah para tetamu yang datang memberi selamat.

Pada saat itulah mendadak Ih Siau-kun berhentikan langkahnya, ia menepuk batok kepala sendiri dan berkata.

"Ai, mengapa aku menjadi linglung, sampai melupakan Thiotoacek yang lagi ada hajat mengawinkan puterinya itu."

"Habis, ada sangkut-paut apa dengan kita?"

Tanya Haythian de-ngan tidak mengarti.

"Soalnya begini, Thio-toacek adalah sobat kental ayahku, dengan sendirinya ayah pasti juga hadir dalam perjamuannya itu,"

Ujar Siau-kun.

"Jika demikian, bolehlah kutunggu dirumahmu untuk menantikan pulangnya paman,"

Sahut Hay-thian.

"Atau........."

Sebenarnya ia bermaksud menyatakan membatalkan kunjungannya serta akan terus mohon diri, tapi kuatir menimbulkan salah paham orang, maka ia urung meneruskan ucapannya.

"Kukira lebih baik begini saja,"

Kata Siau-kun kemudian.

"Thio-toacek itu adalah seorang yang sangat suka bersahabat, pula Kang-heng sudah menempuh perjalanan sejauh ini, tentu belum lagi mengaso dan mengisi perut seperlunya. Maka dapatlah kita berkunjung kesana untuk menikmati suguhan araknya, berbareng dapat kita menemui ayah disana. Habis itu, segera engkau dapat berangkat melanjutkan perjalanan."

"Mana boleh jadi begitu,"

Ujar Hay-thian.

"Pertama, aku dengan dia bukan sanak bukan kadang, kedua, aku tiada sedia sesuatu kado apa-apa."

"Sama orang Kangouw, masakah pakai aturan sepele demikian?"

Kata Siau-kun "Apalagi menurut adat umum disini, bila tuan rumah ada hajat dan kebetulan ada tamu asing yang sudi mampir, itu justeru akan sangat menggembirakan tuan rumah dan dipandangnya sebagai kunjungan kehormatan.

Tentang engkau tiada punya kado apa-apa, bolehlah kuadakan susulan nanti."

Karena masih hijau dalam pergaulan, pula uraian Ih Siaukun itupun cukup beralasan, maka Kang Hay-thian tidak enak untuk menolak lebih jauh.

Ia pikir toh kunjungannya tiada bermaksud jahat, asal sekadar dapat bertemu dengan Ih Taypeng, lantas urusan beres dan segera ia akan mohon diri.

Maka katanya kemudian.

"Jika begitu, baiklah kuterima. Cuma sedapat mungkin jangan sampai bikin sibuk tuan rumahnya."

Setelah Ih Siau kun berjanji akan memperhatikan keinginan Kang Hay-thian itu, lalu mereka menuju kerumah gedung itu.

Semula Kang Hay-thian mengira tuan rumahnya adalah suatu penduduk biasa saja, siapa duga, sesudah dekat, gedung itu ternyata sangat megah.

Pintu gerbangnya bercat merah, didepan pintu terdapat sepasang singa-singaan batu setinggi manusia.

Melihat kemegahan gedung itu saja segera erang akan tahu tuan rumahnya bukan sembarangan penghuni.

Mau-tak-mau Kang Hay-thian menjadi curiga.

Tanyanya segera.

"Apatah tuan rumah she Thio ini keluaran pembesar?"

"Bukan pembesar segala, cuma dia terhitung hartawan terkemuka ditempat kami sini, maka gedungnya sangat mentereng,"

Sahut Siau-kun.

Tengah bicara, sementara itu mereka sudah sampai didepan pintu gedung itu Segera ada penyambut memapak kedatangan mereka.

Rupanya penyambut itu sudah kenal baik pada Ih Siau-kun, segera ia menyapa dengan tertawa.

"Siau Ih, kau terlambat datang, sekarang cuma dapat menyaksikan upacara kemanten saja."

Tertawanya ternyata. agak aneh, sikapnya juga kurang wajar. Sebaliknya Ih-Siau-kun juga menjawab dengan suara acuhtak-acuh.

"Kebetulan malah, memangnya kedatanganku cuma untuk menyaksikan kemanten."

Diam-Diam Hay-thian heran melihat percakapan mereka itu.

Katanya datang menghadiri perjamuan orang nikah, tapi mengapa air muka Ih Siau-kun itu sedikitpun tidak mengunjuk rasa ikut girang, sebaliknya bermuram durja.

sikapnya juga dingin saja, ucapannyapun kaku, seakan-akan orang ada utang padanya.

Namun begitu Hay-thian tidak enak untuk bertanya ditengah tamu-tamu yang hilir mudik dengan ramai itu.

Tanpa merasa ia telah ikut masuk kedalam gedung mengikuti orang banyak Ia dengar suara musik ditabuh, letusan mercon juga membisingkan telinga.

Ketika ia berpaling, ia menjadi heran karena Ih Siau-kun entah Sejak kapan telah meninggalkan dia.

Ia tertegun sejenak, lalu ia pandang sekelilingnya, tapi lantas dilihatnya Ih Siau-kun telah berada didepan sana berdesakan dengan orang banyak.

Biarpun usia Kang Hay-thian masih muda belia, tapi dalam hal ilmu silat ia sudah terhitung tokoh pilihan.

Pada saat ia mencari Ih Siau-kun itulah telah dilihatnya sesuatu yang mencurigakan, yaitu diantara tamu-tamu yang memenuhi ruangan itu ternyata setiap orang nya seperti mahir silat semua.

Bahkan ada diantaranya kentara sekali mempunyai dasar lwekang yang kuat.

Diam-Diam ia heran.

"Orang macam apakah keluarga she Thio ini? Ih Siau-kun mengatakan dia seorang hartawan.

"tapi mengapa sobat-andai yang diundangnya ini adalah orangorang Bu-lim semua?"

Selagi ia bermaksud mendesak maju untuk menanya Ih Siau-kun, tiba-tiba diantara tamu itu sudah ribut seruan orang.

"Itu dia, penganten laki-laki sudah muncul! Aha, benar-benar gagah, cakap benar orangnya!"

"Bukan melulu pengantin laki-laki saja yang gagah, bahkan paman nya konon adalah jago nomor satu didunia persilatan pada jaman ini."

Demikian sahut tamu yang lain.

"Kabarnya Kim Si-ih juga tidak dapat menangkan pamannya itu. Dan pengantin laki-laki katanya juga sudah mewariskan seluruh kepandaian sang paman itu."

Hay-thian terkejut oleh percakapan itu, waktu ia lihat ia merasa pengantin laki-laki itu seperti pernah dikenalnya. Sementara itu terdengar disebelahnya ada orang berseru.

"Nah, itu dia itulah paman dari pengantin laki-laki, harini ia bertindak selaku wali pengantin laki-laki". Dan baru sekarang Kang Hay-thian ingat pada wali pengantin laki-laki itu yang bukan lain daripada Bun-totiu, Bun Ting-bik. yang pernah membikin susah Suhunya itu. Dan pengantin laki-laki itu adalah keponakannya, Bun To-tieng, yaitu pemuda yang padn delapan tahun yang lampau telah mengawal harta karun bagi Ho Kun itu. Sesudah kedua orang she Bun itu datang ke Tionggoan. mereka lantas masuk menjadi anggota Thian-mo-kau. Waktu Kang Hay-thian diculik ke Ci-lay-san oleh orang-orang Thianmo-kau, disanalah ia pernah melihat kedua orang she Bun itu. Cuma waktu itu ia masih kanak-kanak, kejadiannya juga sudah lama, maka seketika ia belum lagi ingat.

"Haha, kukira siapa, tak tahunya adalah kedua iblis ini."

Demikian pikirnya kemudian.

"Orang she Bun ini benar-benar tukang membual, berani dia mengabarkan Suhuku pernah dikalahkan olehnya."

Sementara itu disampingnya ada orang sedang berbicara pula.

"Jika demikian, sebabnya pihak keluarga pengantin wanita mengikat perjodohan ini, tujuannya mungkin adalah karena pengaruh keluarga penganten laki-laki itulah, dengan sandaran besan yang tangguh itu, tentu mereka akan sanggup menghadapi setiap musuhnya."

Dari percakapan tamu-tamu itu.

Kang Hay-thian yakin pihak pengantin wanita tentu adalah keluarga tidak sembarangan.

Tengah Hay-thian bersangsi, tiba-tiba seorang tamu di sisinya berkata pula dengan tertawa.

"Biarpun pengantin lakilakinya Bun-bu-cwan-cay (pandai silat dan sastra), tapi kabarnya moralnya tidak begitu baik, bahkan katanya adalah seorang Jay-hoa-cat (maling cabul)."

"Sssssst!"

Cepat kawannya berbisik.

"Jangan kau sembarangan omong, awas kalau didengar orang she Bun itu, tentu kau akan celaka."

"Huh, takut apa? Aku justru ingin omong,"

Sahut orang pertama tadi yang rupanya ada dendam dengan pihak pengantin wanita.

"Menurut aku, ini namanya perjodohan yang setimpal dan cocok. Orang she Bun itu sudah busuk namanya, keluarga Auyang di Cong-lam-san ini juga sudah lama diludahi orang Kangouw."

Hati Hay-thian terguncang demi mendengar kata-kata "keluarga Auyang dari Cong-lam-san".

Diam-diam ia insaf telah tertipu oleh Ih Siau-kun.

Tapi beras sudah menjadi nasi.

Meski mendongkol, terpaksa ia tahan sedapat mungkin.

Untung Bun Ting-bik berdua rupanya juga belum mengetahui keberadaan Kang Hay-thian di situ.

Tengah Hay-thian gelisah, tiba-tiba telinganya mendengar sesuatu suara yang sudah sangat dikenalnya.

"Jangan kuatir, Kang-hiantit, aku pun berada di sini, sebentar bila aku sudah berhasil mencuri sesuatu, kita berdua lantas pergi bersama."

Sungguh girang Hay-thian tak terkatakan demi mengenal suara Itu, hampir-hampir saja ya berteriak saking senangnya.

Kiranya itu adalah paman angkatnya, sipencuri sakti Ki Hiauhong.

Oleh karena yang digunakan Ki Hiau-hong adalah "Thian-sun-thoan-im" (mengirimkan gelombang suara), maka selain Kang Hay-thian sendiri, orang luar tiada yang mendengar.

Hay-thian coba mencarinya diantara rombongan tetamu, tapi tiada menampak Ki Hiau-hong, sebaliknya Ih Siau-kun kelihatan sudah mendesak sampai dibaris paling depan.

Ia pikir Ki-pepek tentu telah menyamar, makanya susah dikenali.

Sebaliknya ia menjadi gemas kepada Ih Siau-kun yang telah menipunya, segera ia menggunakan Thian-Io-poh-hoat untuk menyusup kedepan, ia pikir kalau Ih Siau-kun berani bersuara, seketika akan dibinasakannya.

Ketika menoleh dan melihat Hay-thian.

Siau-kun tersenyum, bisiknya.

"Kang-heng, sebentar lagi tentu engkau akan tahu duduknya perkara. Aku memang telah menipu kau, tapi soalnya terpaksa. Untuk ini hendaklah kau percaya padaku. Betapa mohon bantuanmu sekali lagi."

Sungguh dongkol Hay-thian tak kepalang, sudah tertipu masih disuruh memberi bantuan apa segala.

Tapi ia melihat air muka Siau-kun bermuram durja bagaikan orang kematian orang tua, ucapannya tadi juga dikatakan dengan penuh ikhlas.

Mendadak hati Hay-thian tergerak, teringat olehnya tempo hari waktu Siau-kun minta bantuannya untuk menolong Auyang Wan, wajahnya juga mengunjuk sikap seperti itu.

Dan pada saat itulah, tiba-tiba suara musik berhenti, para tamu ramai-ramai berseru.

"Itu dia, pengantin wanitanya sudah muncul!"

Dengan hati berdebar-debar Kang Hay-thian ikut memandang ke sana, ia lihat serombongan dayang mengiringi sang pengantin wanita didampingi seorang nenek yang dikenalnya sebagai Auyang-jinio.

Menyusul di belakangnya adalah Auyang Tiong-ho.

Dengan bertongkat, jalan Auyang Tiong-ho tampak pincang, mukanya pucat, tampaknya sehabis menderita luka, kesehatannya belum lagi pulih.

Menurut adat umum, pengantin wanita itu memakai kerudung kain sutera yang baru dapat dibuka pengantin lakilaki sehabis upa-cara.

Meski Hay-thian tidak dapat melihat muka kemanten wanitanya, tapi dalam keadaan begitu, pengantin wanita itu terang Auyang Wan adanya.

Biarpun antara Hay-thian dan Auyang Wan itu terjadi banyak suka dan duka, sampai kini sebenarnya mereka kawan atau lawan juga masih belum jelas.

Tapi melihat gadis itu segera akan dipersunting Bun To-ceng, betapapun timbul semacam rasa menyesal padanya.

Ia merasa Bun To-ceng itu tegas-tegas seorang jahat, kalau Auyang Wan menjadi isterinya, mirip setangkai bunga mawar tertancap diatas gundukan tahi kerbau.

Disebelah sana Auyang Tiong-ho tampak berseri-seri juga, sesudah saling memberi selamat dengan Bun Ting-bik, lalu ia ber-tanya kepada seorang kakek disisinya.

"Toako, apakah Samte masih belum pulang?"

Kiranya Auyang Tiong-ho bertiga saudara, ia sendiri adalah saudara tengah, kakek yang ditanyai itu adalah Toako, namanya Auyang Pek-ho. Maka kakek itu telah menjawab.

"Sudahlah, tak usah tunggu dia, tiba saatnya, boleh lantas berlangsung upacara semestinya."

Karena itu, segera Auyang Tiong-ho memerintahkan upacara diteruskan, musik lantas berbunyi lagi, kedua mempelai lebih dulu menyembah leluhur pengantin perempuan, yaitu meja sembahyang yang telah dipajang diruangan itu.

Menyusul protokol upacara menyerahkan acara selanjutnya kedua mempelai memberi hormat kepada orang tua dan macam-macam lagi.

"Blang", sekonyong-konyong terdengar suara letusan yang mula-mula disangka oleh para tamu sebagai letusan mercon. Diluar dugaan segulung sinar api mendadak menyala dipunggung pengantin laki-laki. Sambil berteriak sekali, cepat Bun To-ceng sudah tarik jubah pengantinnya hingga terobek menjadi dua potong. Dan pada saat yang sama juga Bun Tingbik dan Auyang Pek-ho berbareng juga turun tangan. Sekali lengan baju Bun Ting-bik mengebas, gulungan api tadi telah kena disambar oleh bajunya dan api seketika sirap. Waktu ia kebut lengan bajunya itu, maka terhamburlah Bwehoa-ciam (jarum berbentuk bunga Bwe) yang tak terhitung banyaknya kelantai. Dalam pada itu Auyang Pek-ho juga sudah bertindak, jarinya menjentik, kontan seorang diantara tetamu menjerit terus terjungkal.

"Ih Siau-kun, berani kau mengacau kesini!"

Bentak Auyangji-nio. Ternyata orang yang membokong sipengantin !aki-aki itu memang benar adalah Ih Siau-kun. Tertampak pemuda itu lantas melompat bangun lagi dengan cepat sambil berteriak tajam.

"Kang-siauhiap, apa yang kuharapkan bantuanmu ialah urusan ini. Aku lebih suka dia menikah dengan kau daripada direbut orang lain, lekas engkau membawanya lari!"

Dalam pada itu Auyang-jinio sudah lantas menubruk maju. Namun sebelum dia sempat menyerang, lebih dulu Siau-kun sudah mencabut sebilah belati.

"bles", ia tikam ulu hati sendiri dengan belati itu. Kiranya selama tiga tahun Ih Siau-kun beiajar silat bersama Auyang Wan, diam-diam ia telah mencintai sang Sumoay. Cuma ilmu silat Auyang Wan lebih tinggi darinya, keluarganya juga lebih mampu, maka Siau-kun merasa rendah hati, rasa cmtanya selama itu tidak berani diutarakannya. Dan justeru karena cinta sepihak yang tak berani dikemukakan itulah, maka pikirannya menjadi kacau seolah-olah orang gendeng. Ketika diketahui orang tua Auyang Wan telah menjodohkan gadis itu kepada Bun To-ceng, sungguh rasa dendam Siau-kun tak kepalang. Ia bertekad akan merintangi perjodohan itu dengan mati sekalipun. Maka diam-diam ia telah siapkan Amgi berbisa jahat dan menghadiri perjamuan itu, iapun sudah bertekad setelah membunuh pengantin laki-laki, lalu ia akan membunuh diri. Kebetulan ditengah jalan ia telah bertemu dengim Kang Hay-thian. Ia cukup kenal betapa lihaynya Bun-keh-siok-tit atau paman dan keponakan dari keluarga Bun, yaitu Bun Tingbik dan Bun To-ceng. Pertemuannya dengan Kang Hay-thian yang tak terduga-duga itu segera menimbulkan sesuatu akal padanya. Ia sengaja membohongi Hay-thian, sengaja melibatkan diri pemuda itu kedalam perselisihan itu. Cuma tujuannya memang benar-benar adakah karena sang Sumoay, ia benar-benar lebih suka Auyang Wan menjadi isteri Kang Hay-thian daripada diperisterikan Bun To-ceng. Begitulah, maka kejadian mendadak diruang upacara itu benar-benar diluar dugaan siapapun juga. Keadaaan menjadi kacau-balau, para tamu menjadi panik. Dan selagi Hay-thian terkesima ditempatnya, sementara Itu Auyang-jinio sudah .melihatnya. Dengan murka wanita tua .tu lantas membentak.

"Bagus, kiranya bangsat kecil kau ini yang datang mengacau!"

"Ini............ ini tiada sangkut-pautnya dengan aku,"

Cepat Hay-thian memberi penjelasan.

"Sampai sekarang akupun baru tahu engkau sedang menikahkan puterimu. Cuma apa yang dikatakan Ih Siau-kun ada benarnya juga, orang she Bun itu bukan manusia baik-baik, janganlah puterimu itu dinikahkan padanya."

"Tidak dinikahkan padanya, apa mesti dinikahkan padamu?"

Bentak Auyang-jinio dengan gusar.

Berbareng ia sudah menubruk maju.

Disebelah sana pengantin perempuannya sudah lantas menjerit sekali terus berlari keruang belakang.

Sedangkan Bun To-ceng baru saja dapat merangkak bangun dari jatuhnya terkena senjata gelap tadi.

Sungguh gusarnya tidak kepalang karena hari nikahnya telah dikatfaukan orang.

Segera ia memaki kalang kabut.

Tapi baru beberapa kata, mendadak ia muntah darah, seketika ia jatuh pingsan.

Ternyata Am-gi yang disambitkan Ih Siau-kun itu berbisa sangat jahat, meski Bun To-ceng keburu ditolong oleh pamannya hingga tidak sampai terbinasa, tapi lukanya juga cukup parah.

"Jangan salah paham, aku tiada punya sesuatu pikiran apa? kepada puterimu,"

Demikian sebelah lain Kang Hay-thian sedang berseru hendak memberi penjelasan.

"Aku........."

Belum selesai ucapannya, tahu-tahu kesepuluh jari Auyangjinio sudah terpentang dan mencengkeram tiba.

Hay-thian kenal serangan itu adalah "Gia-kang-cian" (kacip kaki kelabang) yang sengat keji Kalau terkena cakaran itu, bukan mustahil dada akan pecah dan perut terobek.

Diam-Diam ia menjadi dongkol melihat serangan jahat itu.

Padahal untuk menghindar-agak repot juga sebab diruangan itu penuh berjubel para tamu.

Ia pikir terpaksa aku mesti balas labrak kau karena kau sudah tidak sungkan-sungkan lebih dulu padaku.

Segera ia menggeser sedikit ke samping, berbareng iapun balas mencengkeram keatas kepala lawan.

Dalam pertarungan jarak dekat itu sebenarnya paling mengutamakan kegesitan dan kelincahan bergerak.

Dengan latihan berpuluh tahun Auyang-jinio itu sebenarnya tidak nanti kalah daripada Kang Hay-thian, namun pemuda itu mahir tiputipu silat dari berbagai aliran, begitu Auyang-jino menyerang, segera Hay-thian dapat menduga serangan selanjutnya akan menjurus kemana.

Dan karena kelemahan inilah Auyang-jinio berbalik tak berdaya.

Dengan Thian-lo-poh-hoat yang ajaib.

Kang Hay-thian dapat melangkah dengan aneh dan susah diduga tempatnya, sedangkan ilmu silat yang dimainkan adalah "Im-yang-jiau" (cakar Im dan Yang), semacam ilmu tinggalan Kiau Pak-beng yang lihay.

Kedua telapak tangan bergerak dalam tipu yang berlawanan, yang satu Im dan yang Yang dengan tenaga yang lunak dan keras secara beigandengan.

Ilmu sakti demikian sudah tentu tak pernah dilihat Auyang-jinio.

Biarpun berulang-ulang Auyang-jinio mendahului menyerang, tapi selalu dapat dihindarkan Kang Hay-thian dengan licin, bahkan ujung bajunya juga tak bisa menyenggol.

Dan selagi ia terkesiap.

tahu-tahu Hay-thian sudah balas mencengkeramnya.

"Bret", cepat Auyang-jinio bermaksud melesat kesamping, tapi sudah terlambat sedikit, ujung baju baru yang dipakainya itu sudah robek sebagian. Baju baru itu sengaja dibuat dan baru pertama kali dipakai dalam perayaan perkawinan puterinya ini, tapi kini sekali diserang sudah terobek, keruan Auyang-jinio sangat gusar dan malu pula, dibawah pandangan orang banyak terpaksa ia berlari masuk keruangan dalam sambil memaki kalang kabut. Dan selagi Kang Hay-thian merasa risi karena telah merusak pakaian seorang wanita, disebelah sana Bun Ting-bik sudah lantas berkata.

"Che-em (nyonya besan) tidak perlu marah, biarkan aku tangkapkan bangsat kecil ini!"

Dan dengan cepat sekali ia terus menerjang maju dan menghantam.

Pukulan Bun Ting-bik ini dipandang dari luar tampaknya enteng saja tanpa tenaga, tetapi sebenarnya sudah menggunakan ilmu Lwe kang yang tiada taranya.

"Sam-siangkui-goan", yaitu gabungan dari semangat, tenaga dan hawa. Tenaga yang terbawa oleh hantaman itu menekan dari berbagai jurusan bagaikan gelombang ombak yang mendampar-dampar. Pukulan itu masih tidak menyusahkan Kang Hay-thian, sebaliknya para tetamu yang masih berkerumun diruangan itulah yang ketimpa sial. Terdengar jeritan mengaduh disanasini, banyak di antara tetamu itu yang jatuh tersungkur dan mencelat malah untuk kemudian menabrak dibadan tamu yang lain. Ada diantaranya yang berilmu Lwekang lebih kuat toh juga ikut sempoyongan. Yang paling celaka adalah satu Hwesio muda, ia telah terjungkal hingga kepala gundulnya membentur lantai, seketika kepala benjut dan keluar kecapnya. Kang Hay-thian yang menghadapi serangan itu tidak menjadi soal karena ia memiliki Hou-te-sin-l.ang, tapi dikala tangannya dipakai memapak pukulan orang, dadanya merasa tertekan juga oleh semacam tenaga yang maha dahsiat Bun Ting-bik telah menyombongkan diri katanya pernah mengalahkan Kim Si-ih, sudah tentu ceritanya itu adalah bualan belaka. Tapi orang yang kuat bergebrak melawan Kim Si-ih pada jaman itu scsungguhnya dia memang terhitung satu diantaranya. Waktu dia bergebrak dengan Kim Si-ih di Ci-laysan dahulu ia kuat bertalian hingga 50 jurus lebih, maka betapa hebat tenaganya dapat pula dibayangkan. Pada umumnya dia sudah dapat terhitung satu di antarnya lima tokoh terkemuka dikalangan persilatan pada jaman ini. Dan yang pasti dapat menangkan dia mungkin cuma Kim Si-ih dan Teng Hiau-lan berdua saja. Selebihnya, terhitung Thong-sian Siangjin dari Siau-lim-pay dan Kim-kong Taysu dari Go-bipay, boleh jadi sedikit lebih unggul dari dia, tapi tiada mungkin dapat mengalahkannya. Biarpun Kang Hay-thian adalah murid didik Kim Si-ih sendiri, antero kepandaian Kim Si-ih juga hampir semuanya diajarkan padanya. Tapi dasar usianya masih terlalu muda, dibandingkan Bun Ting-bik, dengan sendirinya kalah ulet. Begitulah hakikatnya Bun Ting-bik tidak peduli terjungkalnya tamu-tamu itu, ia masih terus melancarkan serangan yang lain. Karena sudah berhadapan dari jarak dekat, meski menghindar juga tetap terkurung dibawah tenaga pukulan lawan. Terpaksa Kang Hay-thian harus kerahkan sepenuh tenaga untuk mengadu tangan dengan lawan. Maka terdengarlah "blung"

Sekali. Kang Hay-thian tergeliat beberapa kali, keringat merembes keluar dijidatnya sebesar kedelai,"

Sebaliknya Bun Ting-bik tetap biasa saja, sedikitpun tidak goyah.

"Haha. murid Kim Si-ih ternyata hanya begini macamnya! Co-balah kau sanggup tahan berapa kali seranganku?"

Demikian Bun Ting-bik tertawa mengejek sambil melangkah maju pula. Berbareng serangan ketiga sudah dilancarkan lagi. Bahkan sekali ini dengan sendirinya tenaganya berlipat ganda.

"Tidak apalah kalau aku dikalahkan, tapi nama Suhu tidak boleh dihina orang,"

Pikir Hay-thian. Seketika ia menjadi nekat, mendadak ia gigit ujung lidah sendiri dan menyemburkan darah, lalu bentaknya.

"Kau sudah keok dibawah tangan guruku, masih kau berani omong besar? Masakah aku jeri padamu?"

Berbareng kedua rangannya juga memukul kedepan, sekali ini keempat tangan saling membentur, tapi malah tidak mengeluarkan sesuatu suara.

Sebaliknya Bun Ting-bik lantas merasakan tenaga dalam pemuda itu sekonyong-konyong luar biasa kuatnya, tangannya seakan-akan lengket di-tangan lawan dan susah dilepas, tanpa tertahan ia tergeliat sekali, jidatnya lantas menguapkan hawa putih.

Semula Bun Ting-bik menyangka Hay-Thian sudah tak tahan, makanya muntah darah.

Siapa duga dalam sekejap saja tenaga dalam pemuda itu berbalik berlipat ganda kuatnya dan mampu balas menyerangnya pula.

Sekalipun dalam ilmu silat Bun Ting-bik mempunyai pengetahuan yang sangat luas dan mendalam, mau-tak-mau ia dibuat ternganga tidak habis heran dan kejut oleh kelihayan Kang Hay-thian itu.

Sudah tentu Buh Ting-bik tidak tahu bahwa ilmu yang digunakan Kang Hay-thian itu adalah semacam ilmu paling aneh yang terdapat dalam Pit-kip tinggalan Kiau Pak-beng, namanya disebut "Thian-mo-kay-te-tay-hoat".

Dengan jalan merusak tubuh sendiri dibagian mana saja, tenaga dalamnya akan mendadak berlipat ganda lebih kuat.

Dengan ilmu maha hebat ini dahulu hampir-hampir Teng Hiau-lan terjungkal ditangan Le Seng-lam ketika mereka mengadu Lwekang dipuncak selatan Thian-san.

Cuma ilmu Thian-mo-kay-te-tay-hoat"

Itu sangat merugikan tenaga murni sendiri, maka dikala mengajarkan ilmu itu, secara wanti-wanti Kim Si-ih telah pesan pada Kang Hay-thian agar jangan sembarangan menggunakan ilmu itu kalau tidak kepepet benar-benar.

Kini disebabkan Bun Ting-bik telah menghina gurunya, datam gusarnya Hay-thian tidak pikirkan akibatnya lagi, ia sudah bertekad untuk gugur bersama dengan musuh.

Sungguh tak tersangka oleh Bun Ting-bik bahwa musuh semuda itu sudah memiliki kepandaian selihay itu.

Meski keuletan Bun Ting-bik jauh diatas Kang Hay-thian, tapi menghadapi Thian-mo-kay-te-tay-hoat yang maha hebat itu, berulang-ulang ia menjadi terdesak malah hingga berkeringat dingin tanpa mampu belas menyerang lagi.

Keruan kejut Ting-bik tak terkatakan.

pikirnya diam-diam.

"Jangan-Jangan tadi bocah ini sengaja unjuk kelemahan untuk memancing aku?"

Tapi karena kedua tangannya seakan-akan melengket dan tenaga dalamnya terasa merembes keluar terus, kalau tidak cepat-cepat melepaskan diri, sebentar lagi kedua orang pasti akan sama-sama terluka berat.

Apapun juga Bun Ting-bik memang seorang jago silat kawakan, dalam hal pengetahuan dan pengalaman ia lebih ulung.

Begitu merasa keadaan tidak menguntungkan, segera ia tenangkan diri untuk menyelami kekuatan lawan yang sebenamya.

Selang tak lama, ia merasa tenaga dalam musuh masih terus menyerang tiada henti-hentinya bagaikan gelombang, ombak yang mendampar-dampar susul menyusul, cuma gelombang tenaga itu tidak rata, melainkan sebentar kuat sebentar lemah, jadi mirip gelombang ombak pula yang habis mendampar, lalu menyurut.

Kiranya hal ini disebabkan latihan Kang Hay-thian masih belum masak benar-benar, karena tenaga dalam yang mendadak berlipat ganda itu, seketika ia tak dapat menguasai dengan teratur hingga terpaksa ia membiarkan tenaga dalam yang bergolak itu menyerang musuh secara serabutan.

Rupanya Bun Ting-bik lantas dapat menyelami titik kelemahan Hay-thian itu, segera ia himpun tenaga dalamnya diujung jari tengah, dikala "pasang surut tenaga lawan"

Kesempatan itu segera digunakan untuk menjentik dengan jarinya itu.

Tipu serangan ini telah dapat digunakannya dengan tepat hingga tenaga dalam Kang Hay-thian kena dibuyarkan sesaat dan kedua tangannya dapat dia tarik kembali dengan enteng.

Baca Juga: Rahasia 180 Patung Mas 7

Baca Juga: Kemelut Di Ujung Ruyung Emas 12

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger