Eps 4 Kisah Pedang Di Sungai Es - Liang Ie Shen
Baca online Kisah Pedang Di Sungai Es - Liang Ie Shen
Cersil Kisah Pedang Di Sungai Es - Liang Ie Shen.
Benar juga, seterusnya ia tidak berani menyikap terlalu kencang lagi.
Hal ini bukan karena hasil pesan Kang Hay-thian tadi, tapi Auyang Wan kini sudah kenal betapa lihaynya pemuda itu.
Tidak jauh kemudian.
tiba-tiba Auyang Wan berseru.
"Lihatlah, bukankah disana ada rumah penduduk?"
Waktu Hay-thian memandang kearah yang ditunjuk. benar juga dilihatnya ada sebuah rumah, katanya.
"Ha. benar! Matamu ternyata lebih tajam daripadaku. Tampaknya rumah kaum petani, kebetulan kita dapat minta mondok barang semalam."
"Kang-siangkong."
Tiba-tiba Auyang Wan membisikinya.
"kuharap engkau suka mengaku aku sebagai adikmu."
Hay-thian melengak, tapi segera sahutnya. ,Ya, benar, mungkin engkau kuatir dicurigai orang yang tidak-tidak. baiklah kita mengaku sebagai kakak beradik."
Tengah bicara.
rampailah mereka didepan rumah itu.
Setelah Hay-thian menurunkan Auyang Wan dari kudanya, lalu mengetok pintu.
Rumah petani itu ternyata terpencil sendirian, disekitarnya tiada terdapat sesuatu bangunan lain lagi.
Kang Hay-thian merasa hal itu agak luar biasa, tapi tak sempat baginya untuk banyak memikir, ia terus mengetok pintu.
Sejenak kemudian, terdengarlah pintu dibuka, seorang lakilaki tua melon yok keluar dan berseru menanya "Siapakah?"
Meski rambut dan alis orang tua itu sudah ubanan semua, namun sorot matanya bersinar tajam. Kena dipelototi sekali dan dibentak. Kang Hay-thian menjadi kaget juga.
"Kami kaka-beradik telah ketemukan begal ditengah jalan. har ta benda kami dirampok semua, untung kami sempat melarikan diri. haraplah Loyacu suka kasihan pada kami dan perkenankan kami mondok semalam disini."
Kang Hay-thian merasa tidak enak mengganggu orang dengan percuma, segera iapun berkata.
"Loyacu. jika engkau suka menerima kami. aku masih bekal beberapa tahil perak, kami akan, memberi sekedar ganti kerugianmu."
Tiba-Tiba sorot mata sikakek berubah welas-asih. segera iapun tertawa. katanya.
"Ah. kalian sudah tertimpa malang, hatiku masakan tega untuk menerima uang kalian? Seseorang wajib berbuat bajik bagi sesamanya. kalau cuma menginap semalam dan daharan sea-danya. bagiku masih dapat menyumbang sekedarnya. Marilah lekas masuk, segera aku menyuruh kawan hidupku yang tua itu untuk memasak air dan menanak nasi bagi kalian."
Dan setelah berhenti sebentar, kemudian ia menggerundel sendiri.
"Wah. semula ketika mendengar suara ketokan pintu, aku menyangka telah kedatangan orang jahat Tapi karena aku tidak mempunyai harta apa-apa. aku juga tidak kuatir kedatangan perampok. Siapa duga kalian justeru telah menjadi korban pembegal". Masuk kedalam rumah itu. Hay-thian melihat disekitar dinding penuh tergantung kulit harimau dan binatang lain. bahkan masih ada sepotong daging binatang yang segar Diam-Diam Hay-thian memikir.
"Kiranya bukan petani, tapi kaum pemburu. Pantas tampak nya sudah tua. tapi tua-tua keladi, masih kuat dan tangkas."
Segera sikakek memanggil keluar isterinya untuk bertemu dengan Hay-thian berdua. Nenek itu sangat bermurah hati. katanya berulang-ulang .
"Sungguh kasihan! Baju nyonya muda inipun sampai robek dan penuh darah lagi."
"Mereka adalah kaka-beradik."
Kata sikakek.
"O, maaf. maafkan!"
Seru sinenek tersipu-sipu.
"Kulihat muka kalian tidak memper. maka menyangka kalian adalah suami-isteri. Ya. tentu kalian bukan terlahir dari ibu kandung yang sama."
Dengan samar-samar Kang Hay-thian mengiakan sekenanya. Lalu sinenek mencorocos lagi.
"Kebetulan kemarin aku baru menyelesaikan sehelai baju tambalan. Siocia. jika engkau tidak menolak, biarlah sementara dipakai sebagai ganti bajumu yang kotor itu. nanti kucuci dan menambal tempat yang sobek itu. Ku-yakin besok pagi juga bajumu akan kering kembali"
"Sudahlah, lebih penting lekas engkau pergi memasak air dan nasi. tentang salin baju masih boleh ditunda sebentar lagi."
Ujar sikakek dengan tertawa.
Tidak terlalu lama, sinenek telah datang kembali membawakan senampan nasi yang masih hangat-hangat.
bahkan ada pula semangkok besar masak daging binatang yang berbau sedap.
Kata sinenek.
.Maafkan jika kami tidak dapat menyuguhkan makanan enak, maka sudilah dahar seadanya ini.
Untung juga kemarin kawanku yang tua ini dapat memburu seekor kijang.
maka kalau nasinya kurang, makanlah sedikit baryak daging kijang ini."
"O. ya. kami punya sebotol arak sisa lama, lekaslah engkau menghangatkannya dan bawa kemari untuk tuan tamu ini,"
Kata sikakek kepada sinenek Hay-thian menjadi tidak enak perasaannya. katanya.
"Ah, asal kami dapat menyelamatkan diri disini. harapan kami sudah puas, mana berani kami mengganggu lebih banyak lagi?"
"Tuan tamu tidak perlu sungkan-sungkan. angin pegunungan disini sangat keras, minumlah sedikit untuk menghangatkan badan."
Bujuk sikakek.
Sebenarnya Kang Hay-thian tidak biasa minum arak.
tapi ia merasa tidak enak menolak maksud baik tuan rumah, terpaksa ia mengeringkan juga dua-tiga cawan.
Sambil mengiringi minum, sikakek menanya pula pengalaman Kang Hay-thian berdua waktu dibegal.
Karena tidak biasa berdusta.
Hay-thian menjadi gelagapan.
Untunglah Auyang Wan dapat mengarang jalannya cerita hingga sekedar dapat memenuhi pertanyaan kakek itu.
Diam-Diam Hay-thian menjadi kagum pada gadis itu.
ia pikir betapapun memang anak keluarga bangsawan yang kenyang sekolahan lebih pandai, sampai dalam hal berdusta juga tidak kekurangan akal.
Sudah tentu tak tersangka olehnya bahwa cerita Auyang Wan pada siang harinya tentang ketemu begal segala hakekatnya juga dusta belaka yang sengaja dikarangnya.
Habis makan, sigadis ikut sinenek keruangan dalam, ketika keluar pula.
ia sudah ganti pakaian yang bersih, walaupun baju itu bukan buatan dari kain halus, namun cukup pantas dan sopan utk dipakai Auyang Wan hingga menambah potongan badannya yang menggiurkan.
"Harap tuan tamu memaafkan, karena tempat kami ini tidak terlalu luang, terpaksa mesti menyusahkan kalian mondok semalam dikamar gudang kayu. Untungnya kalian adalah kaka-beradik. maka tiada halangannya tidur sekamar."
Demikian kata sinenek kemudian sambil menunjukan tempatnya.
Keruan Hay-thian merasa kikuk, tapi terpaksa memanggut juga.
Setelah membersihkan gudang kayu dan membawakan sehelai tikar dan sehelai selimut, kemudian sinenek berkata lagi.
"Sungguh memalukan, keluarga miskin seperti kami ini cuma mempunyai perlengkapan-perlengkapan jelek seperti ini. harap nona sukalah memakainya. Dan bagi engkau. Siangkong. jika merasa dingin, silahkan membakar api unggun dengan kayu-kayu bakar ini. Dan ceret wedang inipun kutinggalkan disini bila kalian merasa haus". Setelah sinenek pergi. Kang Hay-thian dan Auyang Wan saling pandang dengan perasaan tidak enak. Baiknya Auyang Wan tidak malu-malu kucing seperti gadis umumnya. maka lambat-laun Kang Hay-thian tidak sekikuk tadi lagi.
"Kang"""""""""
Kang-toako,"
Tiba-tiba Auyang Wan berkata dengan tersenyum.
"berkat pertolonganmu, maka jiwaku dapat di selamatkan. Tapi sampai sekarang aku masih belum mengetahui asal-usulmu. Engkau berasal darimanakah dan siapa-siapa saja dian-tara anggota keluargamu?"
"Keluarga kami terdiri dari ayah dan ibu, ditambah Gwapo (nenek luar) dan aku sendiri, seluruhnya menjadi empat orang,"
Sahut Hay-thian.
"Karena nenek mempunyai sedikit harta benda, maka kami tinggal bersama dengan beliau."
"Apakah tiada orang lain lagi?"
Sigadis menegas.
"Jika begitu, jadi engkau belum menikah?"
Muka Hay-thian menjadi merah, sahutnya.
"Tahun ini aku harus berumur enambelas. agak terlalu pagi untuk bicara tentang menikah."
"Kalau menurut kebiasaan dikampung, umur enambelas tahun sudah terhitung dewasa,"
Ujar sigadis dengan tersenyum.
"Ehm. sungguh kebetulan, tahun inipun aku berumur enambelas. tapi keluarga kami lebih kecil daripada keluargamu, dirumah kami cuma aku dan ayah-bunda. lain tiada lagi."
Perasaan Hay-thian bertambah kikuk oleh cerita Auyang Wan itu. Pada saat itulah tiba-tiba ia merasa lidahnya menjadi kaku. jantungnya berdenyut, sangat keras, ia mengkerut kening dengan curiga.
"Ada apakah, Kang-toako, apakah badanmu tidak enak?"
Tanya Auyang Wan.
"Entahlah, mungkin karena aku tidak biasa minum arak. tadi aku telah banyak meminumnya."
Sabut Hay-thian. Segera si gadis mengambil ceret wedang dan menuangkannya semangkok. lebih dulu ia mencium wedang itu dan berkata.
"Wah. air teh ini sungguh harum benar, harap minumlah, mungkin akan meredakan pengaruh arak didalam perutmu"
Sambil berkata, ia terus sedorkan air teh itu kebibirnya Hay-thian untuk meladeninya minum.
pelayanannya yang penuh kasih sayangnya seorang kekasih membuat pemuda itu merasa gugup dan rikuh.
Namun segera diminumnya juga wedang itu.
Memang benarlah rasa air teh itu harum dan sedap, ketika masuk keperut.
rasanya segar tak terkatakan.
Kemudian Auyang Wan tampak menguap ngantuk.
katanya pe-lahan.
"Kang-toako, aku menjadi ngantuk sekarang. Dan engkau tidur dimana?"
"Aku takkan tidur, aku menjaga malam bagimu,"
Sahut Haythian.
Habis berkata, ia terus memutar tubuh dan duduk bersila menghadap pintu.
Sejenak kemudian Hay-thian mendengar suara keresakkeresek orang membuka baju.
ia dengar Auyang Wan lagi menggumam sendiri.
"Keluarga kurang mampu umumnya sangat sayang pada setiap benda miliknya, maka baju pinjaman ini janganlah aku membuatnya kusut dan kotor." -Nyata sigadis sedang membuka baju luar yang dipinjamkan oleh sinenek itu. Membayangkan sigadis membuka baju. muka Hay-thian menjadi merah lagi dan jantungnya berdebar-debar. Cepat ia tenangkan diri. mata memandang hidung dan hidung menatap hati. segera ia menjalankan ilmu semadinya. Tapi aneh, bukannya pikirannya menjadi tenang, sebaliknya semakin berdebar-debar dan gopoh rasanya. betapapun tenaga murninya susah dipusatkan, bahkan pelan-pelan darahnya bergolak menaik keatas. Selang sejenak. keadaan semakin tak beres, perut Haythian mulai terasa sakit, pandangannyapun mulai kabur dan buram. Karuan ia sangat terkejut. ia berseru sekali terus melompat bangun sambil melolos pedangnya. Waktu menoleh. Hay-thian melihat Auyang Wan juga sedang melompat bangun sambil berseru.
"Ada apakah Kangtoako?"
Sebenarnya kalau Hay-thian sedikit teliti saja segera dapat dilihatnya gerakan melompat Auyang Wan barusan itu sangat enteng dan gesit, bahkan sorot matanya juga penuh memancarkan napsu membunuh.
Tapi saat itu Hay-thian sedang kusut pikirannya dan sangat murka oleb kejadian }ang diluar dugaannya itu.
maka sikap sigadis itu sama sekali tak diperhatikennya.
Melihat Hay-thian telah melolos pedang, rupanya Auyang Wan menjadi gugup juga, diam-diam ia memikir.
"Wah. celaka. Lwekangnya ternyata jauh lebih hebat daripada apa yang kusangka semula."
Dan sedang Auyang Wan bingung apa yang harus ditindaknya. Sekonyong-konyong terdengar Hay-thian berteriak dengan gusar.
"Kedua orang tua itu bukan orang baik-baik, aku telah terpedaya oleh mereka! Didalam arak itu ditaruh racun. aku harus menangkap kembali mereka untuk memaksa mereka memberikan obat penawarnya"
Ternyata pemuda itu cuma menyangka didalam arak saja terdapat racun.
tak tahunya wedang yang dituangkannya oleh Auyang Wan itulah sebenarnya jauh lebih jahat lagi racunnya.
Sekilas pandang Hay-thian melihat Auyang Wan cuma memakai baju dalam warna jambon.
meski dalam keadaan gusar ia masih kenal rikuh juga, cepat ia berpaling dan katanya.
"Engkau jangan takut, selama aku masih disini, mereka takkan mampu mencelakai engkau!" -Habis berkata, terus saja ia berlari keluar meninggalkan sigadis. Auyang Wan menjadi ragu-ragu dan tidak tenteram, hendak lari. kuatir gagal usahanya. kalau tidak lari. kuatir pula rahasianya diketahui Kang Hay-thian. Setelah bersangsi sejenak. diam-diam ia memikir.
"Agaknya sitolol ini masih belum mencurigai diriku, biarlah aku menunggu lagi sebentar, toh racun sudah bekerja didalam tubuhnya. betapapun dia takkan dapat bertahan lebih lama lagi."
Tidak antara lama. terlihat Kang Hay-thian berlari kembali lagi. sekali pedangnya mengayun. sebatang kayu bakar kena ditabas kutung olehnya. Katanya dengan gemas.
"Sepasang suami-isteri itu benar-benar bukan orang-orang baik. mereka sudah menghilang! Hm. kalau tidak merasa berdosa, buat apa mesti melarikan diri?"
Auyang Wan mengkirik sendiri dan bersyukur dirinya barusan tidak sembarangan melarikan diri, kalau lari, tentu akan terkejar oleh pemuda itu.
Walaupun sinar pelita tidak terlalu terang, tapi dapat juga kelihatan wajah sigadis yang penuh rasa takut itu.
Lekas-Lekas Hay-thian memasukan kembali pedang kesarungnya.
lalu katanya dengan tersenyum.
"Maafkan, mungkin sikapku barusan terlalu bengis hingga telah menakutkan engkau? Aku cuma gemas pada tuan rumah ini. selamanya tidak kenal dengan kita. tanpa permusuhan apa-apa. entah sebab apa hendak meracuni kita. Sungguh tidak masuk diakali"
Mendengar dirinya tak dicurigai, barulah hati Auyang Wan merasa lega. Tapi wajahnya sengaja masih mengunjuk rasa kuatir dan sedih, katanya.
"Engkau sangat baik padaku, betapapun bengisnya sikapmu juga aku tidak takut. Aku cuma kuatir bagimu, ai. racun mereka itu tentu sangat lihay bukan? Bagaimana rasanya? Kalau tiada obat penawar, lantas apa daya? Eh. mukamu"""".mukamu sudah mulai bersemu hitam!"
Namun Kang Hay-thian malah menghiburnya.
"Tak perlu engkau kuatir, biarpun racun mereka cukup lihay. rasanya masih belum dapat melenyapkan jiwaku."
Auyang Wan coba mengikuti apa yang dilakukan sipemuda, ia lihat Hay-thian terus duduk bersila dan perlahan-lahan mengabungkan jari tengah kanan, mendadak ujung jarinya memancurkan seutas benang air berbau arak yang memabukkan.
Sungguh kejut Auyang Wan tak terkatakan.
pikirnya.
"Biarpun Suhuku juga tidak sehebat ini Lwekangnya Untung aku tadi tidak sembarangan bertindak."
Kiranya Hay-thian telah kerahkan ilmu saktinya untuk menguras keluar arak beracun yang telah diminumnya itu melalui ujung jarinya.
Dan sedang Auyang Wan merasa tidak tenteram.
tiba-tiba dilihat-nya wajah pemuda itu mengunjuk rasa menyesal.
Tiba-Tiba Hay-thian berdiri dan berkata kepadanya.
"Jiwaku telah dapatlah diselamatkan, tetapi terpaksa aku mesti minta maaf padamu."
Keruan Auyang Wan sangat heran, tanyanya.
"Apakah maksud perkataanmu ini?"
"Oleh karena kepandaianku terbatas, maka racun itu hanya dapat kupaksa keluar, sebaliknya sisa racun yang mengeram didalam badan tak dapat aku mengeluarkannya,"
Demikian kata Hay-thian.
"Untuk bisa membersihkan sisa racun itu. aku perlu duduk semadi barang dua hari lagi. Sebenarnya aku telah berjanji akan menghantar engkau pulang ke Thaygoan. tapi sekarang aku tidak berdaya lagi untuk menghantar engkau. Kalau sisa racun dalam badanku ini tidak segera kuperas keluar, mungkin badanku akan menjadi cacat selamanya. Apalagi tenaga dalamku sekarang terbuang banyak. dalam waktu sehari-dua juga susah pulih kembali. Maka akupun tiada mampu melindungi engkau selama tenagaku belum pulih. Sungguh aku menyesal telah menyalani janjiku padamu tapi hal ini terjadi diluar dugaanku, hendaklah engkau suka memaafkan."
Auyang Wan semakin ragu-ragu dan heran, pikirnya. .Dia benar-benar seorang jujur dan polos, rasanya apa yang dikatakannya ini tidaklah dusta."
Dalam pada itu tampak Hay-thian mengeluarkan beberapa renceng uang perak dan disodorkan kepada sigadis.
"Apakah maksudmu ini?"
Tanya Auyang Wan dengan heran.
"Kau telah dirampok, tentu engkau sudah kehabisan sangu."
Sahut Hay-thian.
"Maka sedikit uang ini bolehlah engkau ambil sekedar bekal ditengah jalan bila perlu. Syukurlah dandananmu sekarang sudah menyerupai wanita desa, maka boleh sewa sebuah kereta keledai untuk menghantar engkau ke Thaygoan". Seketika hati nurani Auyang Wan terketuk. Pikirnya dalam bati.
"Aku sedang mempedayai dia. sebaliknya dia sangat memperhatikan diriku."
Melihat sigadis tidak lantas terima uangnya. Hay-thian mengira orang merasa rikuh, maka katanya pula.
"Yang penting bagimu ialah lekas menyelamatkan diri. kenapa mesti pikirkan sedikit urusan yang tak berarti ini? Masih ada pula semacam barangku, tapi ini cuma kupinjamkan padamu saja."
Sambil berkata.
Hay-thian terus melepaskan pedang pusakanya yang tergantung dipinggangnya itu serta diangsurkan kehadapan sigadis.
Kembali Auyang Wan terkesiap.
Tapi terdengar Kang Haythian telah berkata pula.
"Menurut kata Suhuku, pedang ini adalah senjata paling tajam dari semua pedang yang terdapat di-dunia ini. maka bolehlah engkau membawanya untuk menjaga diri. Pedang ini sangat enteng bobotnya. tentu engkau kuat memegang-nya."
Sebelumnya Auyang Wan memang sudah tahu Cay-inpokiam milik Hay-thian itu adalah sebatang pedang pusaka yang tiada bandingan nilainya.
Sebabnya dia mengatur perangkap hendak mencelakai Kang Hay-thian sekali ini.
walaupun masih terdapat sebab-sebab pokok lain, tapi pedang pusaka inipun merupakan salah satu maksud mereka untuk merebutnya.
Tapi mimpipun tak terpikir olehnya bahwa pemuda itu secara begitu mudah terus mempersembahkan pedang pusaka yang tiada taranya itu kepadanya.
terhadap seorang gadis yang baru saja dikenalnya ternyata tiada sedikitpun merasa curiga.
Dalam keadaan begitu, asal Auyang Wan sudah menerima pedang itu terus mengayunkannya sekali, dengan mudah Kang Hay-thian dapat ditabasnya menjadi dua.
Tapi aneh.
entah mengapa, tangannya serasa ribuan kati beratnya.
betapapun tidak sanggup mengangkat pedang yang bobotnya sebenarnya sangat enteng itu.
Ketika mendongak, dilihatnya sorot mata Hay-thian memancarkan sinar yang penuh perasaan, perasaan yang menyegarkan bagai tiupan angin silir-silir dimusim semi dan membuat hati sigadis merasa terhibur, tapi sinar mata itu tajam pula bagai panah yang menusuk hatinya hingga ia merasa malu pada diri sendiri yang telah membayar air susu dengan air tuba.
Sudah tentu Kang Hay-thian tidak dapat menyelami pertentangan batin sigadis itu.
Melihat Auyang Wan menjadi termangu-mangu.
ia menjadi tertegun juga.
Setelah memikir, segera iapun berkata.
,.Nona Auyang.
aku tahu engkau adalah puteri keluarga bangsawan, tidak bisa ilmu silat, boleh jadi selamanya juga tidak pernah menyentuh senjata.
Tapi engkau berani melarikan diri dari sarang penyamun, itu menandakan engkau adalah seorang wanita yang bernyali.
Pabila ditengah jalan nanti engkau kelentukan orang jahat lagi.
asal engkau pegang teguh pada pendirian bahwa jika engkau tidak mencelakai mereka, engkau sendirilah yang akan menjadi korban, dengan demikian tentu engkau akan berani menggunakan pedang ini.
Meski engkau tidak paham ilmu silat, namun pedang ini sangat tajam.
asal engkau pegang senjata ini dengan kenceng dan sekenanya mengayun sekali, rasanya kalau cuma beberapa orang penyamun seperti siang hari kemarin, tak mungkin mereka mampu mendekati engkau.
Haraplah engkau selamat dalam perjalanan nanti hingga pedang ini tidak perlu di gunakan.
Paling lambat lima hari atau bila cepat tiga hari lagi tentu aku akan datang kekediamanmu di Thaygoan untuk mengambil kembali pedang ini."
Begitulah sedang Kang Hay-thian mencerocos dengan "kuliah-nya"
Bagi sigadis yang disangkanya seorang Siocia lemah dari keluarga bangsawan, sekonyong-konyong dilihatnya dua butir air mata menetes dari kelopak mata Auyang Wan.
Keruan ia bingung dan melengak.
tanyanya cepat.
"Hai. nona Auyang. kenapa engkau menangis?"
Tapi Auyang Wan tidak menjawab. sebaliknya balas menanya.
"Bila sisa racun dalam tubuhmu itu telah lenyap. apakah tenagamu dapat seketika pulih?"
Kang Hay-thian tidak paham guna apa sigadis bertanya hal itu kepadanya. tapi toh dijawabnya sejujumya.
"Aku belum lagi mencapai ilmu kebal yang sempurna, seumpama minum obat penawarnya juga kira-kira perlu sejam-dua baru dapat mengerahkan tenaga dalamku lagi. Tapi sepasang suami-isteri tua itu sudah lari semua, kemana mencari obat penawarnya? Sudahlah engkau tak perlu memikirkan diriku, lekaslah engkau terima uangku dan pedang ini untuk menyelamatkan diri. biarkan aku sendiri tinggal disini untuk memulihkan tenagaku."
Dan selagi Hay-thian ragu-ragu apakah barangkali sigadis itu merasa berat mesti berpisah dengan dirinya. makanya timbul keyakinnya tentang obat penawar segala. tiba-tiba terdengar suara "bluk"
Sekali, Auyang Wan telah lemparkan sebungkus apa-apa kedepannya sambil berkata.
"Ini adalah obat penawarnya, lekas engkau meminumnya. kalau terlambat mungkin tidak keburu lagi!"
Tengah Kang Hay-thian terperanjat, sementara itu dengan cepat sekali Auyang Wan sudah membuka pintu dan berlari pergi.
Melihat gerak tubuhnya yang gesit dan enteng itu, teranglah seorang yang memiliki Ginkang yang t.nggi.
Untuk sejenak Hay-thian tertegun, segera ia mengejar keluar sambil berseru.
"Nona Auyang, apa.. apakah artinya ini sebenarnya?"
Dari jauh didengbrnya suara Auyang Wan sedang menjawabnya.
"Kang-toako, jangan engkau mengejar, aku tiada muka lagi untuk bertemu dengan engkau. Obat penawar itu lekaslah engkau minum, lekas!"
Dan karena bingung pikirannya, seketika racun menerjang keatas kepala hingga Hay-thian merasa matanya menjadi gelap, hampir-hampir ia roboh terjungkal.
Bila kemudian ia dapat tenangkan diri pula.
namun bayangan Anyang Wan sudah tidak kelihatan lagi.
"Apakah artinya ini?"
Hay-thian menjadi bingung sendiri.
"Mengapa dia menipu aku? Sebenarnya dia orang jahatkah atau orang baik-baik? Apakah dia bermaksud mencelakai aku? Tapi kenapa memberi pula obat penawarnya padaku?"
Bekerjanya racun semakin menghebat dan kepala Hay-thian se rasa akan pecah.
maka ia tidak sanggup memikir pula, terpaksa ia kembali kedalam gudang kayu tadi, ia jemput bungkusan yang ditinggalkan Auyang Wan dan membukanya, ia lihat didalam bung kusan kecil itu terdapat tiga butir obat pil yang berwarna jambon Pikimya.
"Sekali ini apakah dia akan menipu aku lagi? Biarlah, sekalipun ini adalah racun, memangnya aku sudah keracunan, kalau ditambah tiga pil racun inipun aku tidak gentar, aku justeru ingin mencoba apa yang dikatakannya ini benar-benar obat penawar atau bukan?"
Ketiga butir pil itu menguarkan bau busuk, tapi Hay-thian tidak ambil pusing, ia lekap hidung sendiri dan telan mentahmentah ketiga butir pil itu sekaligus.
Setelah pil itu masuk perut.
Hay-thian merasa seluruh tubuhnya sangat panas.
Darahnya bergolak dan isi perutnya seakan-akan diaduk-aduk.
Keruan ia terkejut, lekas-lekas ia duduk bersila dan menjalan kan tenaga murntnya.
Aneh juga, dimana tempat yang sesak buntu waktu tadi ia menjaiankan tenaganya, tempat-tempat itu sekarang sudah tembus dan berjalan dengan sangat lancar dan menyegarkan rasanya.
Kiranya obat penawar yang diminum Kang Hay-thian itu sifatnya maha panas, kalau diminum orang biasa, seketika akan merasa panas bagai dibakar.
Tapi karena racun yang mengeram ditubuh pemuda itu sifatnya sangat dingin, untuk bisa menyembuhkannya justru diperlukan racun yang maha panas, jadi menyerang racun dengan racun.
Dari itulah waktu minum obat itu mula-mula rasanya sangat menderita, tapi kemudian menjadi segar dan sembuh.
"Ha. ternyata dia tidak menipu aku lagi."
Pikir Hay-thian dalam hati.
Maka dengan tenang dapatlah pemuda itu duduk semadi untuk memulihkan tenaga dalamnya.
Dan sedang saat terakhir hampir diselesaikannya.
tiba-tiba terdengar dari luar ada suara keresekan yang sangat pelahan dan cepat sekali datangnya.
Namun sekali mendengar, segera.
Hay-thian mengetahui telah kedatangan tokoh persilatan yang Ginkangnya sangat tinggi.
Ia menjadi heran.
"Apakah nona itu telah datang kembali? Eh. suara tindakannya seperti lebih dari satu orang."
Selang sejenak.
tiba-tiba dilihatnya ada dua orang melongok kedalam kamarnya.
Segera Hay-thian dapat mengenali mereka, yaitu kedua orang tua yang menghilang itu.
Hay-thian menjadi gusar, karena itu, tenaga murnlnya yang sedang mencapai titik paling genting itu hampir-hampir saja sesat.
Lekas-Lekas Hay-thian menarik kembali tenaga murni itu dan pusatkan pikiran, ia pejamkan mata sekali, kedua pendatang itu tak digubrisnya lagi.
tapi tekun menjalankan tenaganya.
Ia dengar si "pemburu"
Tua itu telah bersuara heran sekali, menyusul suara seorang wanita muda berkata.
"Mengapa bisa jadi begini? Kemanakah perginya Wan-sumoayku itu?"
Mendengar ada seorang mengaku sebagai Sucinya Auyang Wan.
tak tertahan lagi Hay-thian membuka matanya.
ia lihat orang-orang itu sudah masuk kedalam kamar situ.
Kecuali sepasang suami-isteri orang tua itu, terdapat pula seorang Tojin dan seorang gadis ber umur 20-an.
Keempat orang itu tampak lagi saling pandang dengan terheran-heran.
"Be-lotoa "
Terdengar Tojin berjubah kasar itu berkata.
"bukankah engkau suka mengagulkan obat racun buatanmu adalah 'kartu undangan' Giam-lo-ong, tapi mengapa bocah ini masih segar bugar disini?"
"Ya. Aku..aku sendiripun tidak mengarti."
Sahut sikakek dengan gelagapan.
"Setan, sebab apakah ini? Kenapa dia masih mampu bertahan sampai sekarang tanpa pingsan?"
"Jangan-Jangan sibudak Wan telah main gila?"
Ujar sigadis tadi dengan mengkerut kening. Sedangkan sinenek lantas membuka ceret wedang dan memeriksanya, katanya kemudian.
"Nona Jing. jangan engkau salah menuduh Sumoaymu. Air teh ini adalah buatan dari bunga Siulo. isinyapun sudah dimirum setengah ceret oleh bocah ini."
Bunga Siulo yang dikatakan itu khusus cuma tumbuh di Tayswat-san diperbatasan Tibet, orang biasa kalau mencium baunya yang harum saja seketika lemas lunglai, apalagi dipakai untuk membikin air teh.
keruan jauh lebih lihay daripada arak beracun.
Karena itulah, semua orang menjadi terperanjat mendengar isi ceret sudah terminum separoh.
tapi Kang Hay-thian masih tidak apa-apa.
Saat itu Hay-thian sedang mengerahkan seluruh tenaga dalamnya dan sudah mencapal titik yang paling genting.
ubunubunnya tampak menguap hingga berwujut kabut tipis.
Keempat orang itu tidak tahu kalau Hay-thian sudah minum obat penawar, mereka hanya menyangka.
"Bocah ini sudah minum arak beracun. pula sudah minum teh berbisa, tapi ternyata masih dapat mengerahkan Lwekang setinggi ini. sudah tentu sekali-sekali kami bukan tandingannya."
Mereka tidak tahu bahwa saat itu Kang Hay-thian justeru lagi himpun tenaga murni untuk melancarkan semua urat nadi yang penting, tenaganya saat itu belum cukup untuk dipakai bertempur, dalam keadaan begitu, seorang biasa saja sudah cukup untuk membinasakannya dengan mudah.
Moa-ih-tojin atau imam berjubah kain bagor.
diantara keempat orang itu paling tinggi ilmu silatnya, pengalamannya juga paling luas.
maka sekarang iapun dapat berpikir mengenai keadaan Hay-thian itu.
Tapi dasarnya memang dia sangat licik dan culas.
segera pikirnya pula.
"Pabila tenaganya belum pulih, sekali serangan sudah tentu akan berhasil, tapi kalau dia masih mempunyai sisa tenaga untuk melayani kami dan aku sembarangnn maju, tentu aku akan celaka lebih dulu". Memikir sejenak. segera ia mendapat satu akal, tiba? katanya kepada sikakek.
"Be-lotoa. ini adalah rumah tinggalmu, kalau pintu jendela kurang bersih, seharusnya engkau sendiri lekas membetulkannya. Kenapa engkau juga tidak lekas mengganti sumbu pelita itu supaya lebih terang sedikit."
Kiranya apa yang diucapkan itu adalah kata-kata kiasan orang Kangouw.
maksudnya mengatakan kepada Be-lotoa bahwa pekerjaanmu ini kurang sempurna.
terpaksa engkau harus mencoba-coba keadaan bocah itu apakah dia masih bertenaga atau tidak.
Sudah tentu Hay-thian tidak paham perkataan itu.
ia menjadi heran malah mengapa dalam keadaan begitu mereka masih ada waktu iseng untuk membersihkan rumah dan mengganti sumbu pelita segala.
Segera terpikir pula olehnya.
"Ah. buat apa aku ikut sibukan ocehan mereka hingga mengacaukan pemusatan pikiranku." -Segera ia pejamkan mata pula, ia tidak ambil pusing lagi terhadap apa yang bakal terjadi. Melihat pemuda itu sedemikian tenang dan anggap sepi mereka. sikakek yang dipanggil sebagal Be-lotoa tadi menjadi gugup, ia memandangi Hay-thian sampai lama dengan raguragu. Tapi dibawah sinar mata si Tojin yang tajain mengancam itu. terpaksa ia harus nekat dan mencoba Kang Hay-thian. Ia ambil sebatang pikulan dipojok ruangan sana. dengan tabahkan hati. tapi badan gemetar, setindak demi setindak ia mendekati pemuda itu. Ia lihat Hay-thian masih pejamkan mata dan duduk dengan tenang, badannya tidak bergerak sedikitpun. Ia kertak gigi terus saja angkat pi-kulannya dan mengemplang keatas kepala Kang Hay-thian sambil membentak keras?. Maka terdengarlah suara "krak"
Dibarengi sinar pedang yang ke milauan menyilaukan mata Kontan Be-lotoa terjungkal roboh ke-belakang, pikulan kayunya itupun patah menjadi dua, dan Kang Hay-thian masih tetap duduk ditempatnya.
matanya juga tetap terpenjamkan.
Hanya tangannya bertambah sebatang pedang.
Sinenek menjadi kaget dan buru-buru membangunkan sang suami sambil berseru.
"Wah. domba itu kurang jinak. biji mangga susah ditelan. Lebih baik tarik panjang saja dan mencari jagal lain!" -maksudnya berkata. musuh terlalu lihay. jalan paling selamat ialah kabur saja. Nanti kita datang lagi sesudah mendapat kan bala bantuan. Namun Moa-ih-tojin itu lantas berseru juga.
"Be-toaso, engkau telah salah mata! Coba engkau boleh tanya Be-toako apakah bukan dia terjatuh sendiri?"
"Benar!"
Teriak sikakek itu sebelum sang isteri memayangnya, tapi terus melompat bangun.
"Tenaga bocah itu memang belum pulih, hayolah kita maju mengerubutnya!"
Kiranya sebabnya Kang Hay-thian dapat menahas putus pikulan Be-lotoa itu sebenarnya adalah berkat ketajaman pedangnya Cay-in-pokiam.
disertai kepandaian "meminjam tenaga lawan untuk menghantamnya kembali".
Pabila Be-lotoa tadi tidak terlalu keras mengeluarkan tenaga, tentu pikulannya tidak sampai ter kutung.
Tapi justeru ia mengemplang dengan sepenuh tenaga, maka begitu membentur pedang yang tajam itu, terus saja ter-kutung.
Tapi si Tojin adalah jago kelas pilihan juga, sekali lihat segera dapat diketahuinya bahwa terjungkalnya Be-lotoa itu adalah akibat tenaga sendiri yang membalik dan sekali-sekali bukan terpental oleh karena tenaga dalam Kang Hay-thian yang hebat.
Dapat mengetahui keadaan Hay-thian yang lemah itu.
segera imam itu menjadi berani, serunya.
.Ya.
marilah kita maju.
asal kita jangan membentur pedangnya, tentu takkan apa-apa.
Mari kita menangkapnya hidup-hidup!"
Habis berkata, terus saja ia mendahului merangsang maju, sekali pedangnya bekerja. segera "Nui-moa-hiat"
Di bagian iga Kang Hay-thian ditusuknya.
Ia menyangka Kang Hay-thian sudah tidak mampu menangkis sama sekali, maka yakin serangannya akan berhasil dengan mudah.
Siapa duga pada saat itu juga Hay-thian sudah dapat melancar-kan jalan darahnya.
hawa murni sudah merata diseluruh tubuh, tenaganya sudah pulih kembali.
Ketika ujung pedang imam itu sudah dekat sasarannya.
Sekonyong-konyong Kang Hay-thian menggertak sekail, kedua jarinya menyelentik cepat beruntun-runtun.
Tepat sekali selentikan itu mengenai punggung pedang lawan, biarpun imam itu sangat hebat ilmu silatnya, betapapun tidak tahan juga oleh ilmu sakti tunggal ajaran Kim Si-ih yang lihay itu.
Terdengarlah suara "trang"
Sekali, hampir-hampir pedang imam itu terpental ke udara bagai kena disampok dengan tja besi.
Pada saat lain.
dengan cepat luar biasa Sucinya Auyang Wan juga sudah merangsang maju, senjata yang dia gunakan adalah cambuk yang lemas, sekali cambuk, segera ia mencambuk ke pergelangan tangan Kang Hay-thian.
Nyata ia jeri terhadap pedang pusaka pemuda itu, maka maksudnya akan merampas dulu senjata itu dari tangan Kang Hay-thian.
Diam-Diam Hay-thian memikir.
"Mengingat engkau adalah Sucinya nona Auyang, biarlah aku tidak membunuh engkau." -Tiba-Tiba ia masukan pedang kesarungnya dan berseru.
"Kalau cuma kepandaian kalian saja tidak perlu aku mesti memakai senjata."
Namun Pian-hoat atau ilmu permainan cambuk sigadis itu sangat hebat, sedikit Hay-thian ayal, yaitu memasukan pedang ke sarungnya dan tertegun sejenak. segera cambuknya bekerja lagi.
"ser". cambuknya menyambar lagi dan tepat melilit d pergelangan tangan Kang Hay-thian, menyusul gadis itupun mendesak maju dua tindak untuk menarik cambuknya dengan kencang hingga pergelangan tangan Kang Hay-thian seakan-akan terbelenggu oleh-nya. Si Tojin tadi menjadi girang, serunya.
"Bagus! Anak keparat, apa kau masih bisa berkutik lagi!" -Berbareng pedangnya menusuk pula. serangan ini jauh lebih ilhay dari tadi. yang di incar adalah leher Kang Hay-thian. Tapi sebelum pedangnya mencapai sasarannya. tiba-tiba terdengar suara peletak-peletok bagai gorengan kacang didalam wa-jan, tertampak cambuk sigadis tadi telah rontok terputus-putus menjadi potongan kecil-kecil. Nyata cambuknya telah tergetar hancur oleh ilmu sakti Hou-teh-sin-kang Haythian. Keruan kejut Tojin itu tak terkatakan, dan selagi dia terkesiap. dengari cepat luar biasa tahu-tahu Kang Hay-thian sudah menubruk kearahnya memapak ujung pedangnya tadi sambil membentak.
"Hidung kerbau, marilah ingin kulihat engkau masih mempunyai kepandaian apa lagi?" -Berbareng jarinya men-jentik pula.
"creng". kembali pedang Tojin itu kena diselen-tik sekali. Jentikan Kang Hay-thian sekali ini memakai hampir sepenuh tenaganya. bahkan disertai ilmu Lwekang "Keh-but-thoankang"
Atau ilmu pukulan dari balik benda lain, yang sangat lihay.
Kontan saja lengan Tojin itu seakan-akan disodok oleh sesuatu benda yang keras, seketika genggaman tangannya pecah dan mengulirkan darah.
Namun kepandaian Tojin itu memang bukan kaum lemah, dalam keadaan begitu ia masih tidak tergetar roboh, bahkan terus timpukan sekalian pedangnya kedepan dan menyambar ketenggorokan Kang Hay-thian.
Sudah tentu tidak sembarangan Kang Hay-thian dapat diserang, sedikit ia menggeser kesamping.
serangan musuh sudah lu put.
Tapi kesempatan itupun telah digunakan oleh Tojin ita untuk melarikan diri keluar ruangan.
"Selamanya aku tidak kenal kalian, mengapa kalian hendak mencelakai aku? Hayo. kalian harus tinggalkan pengakuan yang terang!"
Demikian bentak Hay-thian sambil memburu keluar. Saat itu sigadis juga baru lari sampai didepan pintu, segera Kang Hay-thian ulur tangan hendak membekuk bahunya.
"Engkau tahu kesopanan tidak?"
Damperat sigadis mendadak sambil mendakan tubuhnya dan cepat membalik tubuh, menyusul dada Kang Hav-thian terus dihantamnya.
Cengkeram Hay-thian tadi kalau diteruskan, dengan tepat pasti akan memegang dada sigadis yang telah memutar tubuh itu.
Akan tetapi karena damperatan sigadis itu.
ia menjadi melengak dan sadar bahwa tindakannya itu memang tidak pantas.
Ilmu silat gadis itu tidak dibawah Tojin tadi.
maka sedikit Kang Hay-thian ayal.
pukulan sigadis sudah tepat mengenai da-danya.
Namun bukan Kang Hay-thian yang roboh, sebaliknya gadis itu lantas menjerit dan terpental keluar oleh Hou-teh-sin-kang pemuda itu.
Tanpa menoleh lagi gadis itu cepat merangkak bangun dan melarikan diri dengan terbiritbirit.
Betapapun Hay-thian merasa dadanya kesakitan juga.
Walau pun tidak terluka.
tapi toh tergetar mundur setindak.
Saat itu kedua suami-isteri yang tua dan lebih rendah kepandaian mereka, belum seberapa jauh mereka sempat lari.
tiba-tiba Kang Hay-thian sudah mengudak sampai dibelakang mereka sambil membentak.
"Hai, mengapa kalian meracuni aku. jangan kalian coba lari sebelum ada pengakuan yang jelas!"-Berbareng tangannya meraup kedepan dan sikakek yang bernama Be-lotoa itu kena dicengkeramnya. Keruan kakek itu kesakitan sambil menjerit bagai babi disembelih. biji matanya melotot hampir mencotot keluar bagai mata ikan emas. Meski Kang Hay-thian tidak ceriwis seperti ayahnya, tapi mewarisi sifat sang ayah yang jujur dan berbudi. Melihat kakek itu kesakitan begitu rupa. ia menjadi tidak tega hingga tanpa merasa cengkeramnya lantas dikendorkan. Diluar dugaan kakek itu terus meronta sekuatnya hingga terlepas dari pegangan Kang Hap-thian. menyusul kelima jarinya terus menjojoh kedada pemuda itu ditempat "Soan-kihiat yang berbahaya. Namun Kang Hay-thian memiliki ilmu Tian-to-biat-to, sudah tentu ia takkan terbinasa dengan begitu saja. Maka terdengarlah suara "bluk"
Sekali.
Be-lotoa terpental hingga jauh oleh Hou-teh-sin-kang yang hebat dari pemuda itu Sebaliknya karena sebelumnya Hay-thian sama sekali tidak ber-jaga.
serangan musuh juga dilakukan sepenuh tenaga, mesti tidak sampai terluka.
namun ia menjadi kesemutan dan untuk sejenak agak sempoyongan.
Melihat sang suami terpental jatuh hingga kepala puieng tujuh keliling, sinenek tidak sempat lagi untuk menyerang Kang Hay-thian lagi, tapi cepat membangunkan sang suami terus digendong untuk melarikan diri.
Bila kemudian Kang Hay-thian telah tenang kembali, sementara itu suami-isteri Belotoa itu sudah kabur jauh.
Hay-thian melancarkan pula jalan darah serta mengatur pernapasannya hingga merasa tiada sesuatu halangan, kemudian ia masuk kembali kegudang kayu itu.
ia ambil rangsalnya dan keluar lagi.
Ia lihat fajar sudah menyingsing.
cuaca mulai terang.
Namun kudanya sudah tak kelihatan lagi.
mungkin semalam telah di bawa oleh Be-lotoa dan tidak dikembalikan lagi.
Terpaksa ia me-lanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Dipadang yang luas itu sunyi senyap tiada bayangan seorang manusiapun, ditanah rumput hanya tertinggal banyak bekas tapak kaki orang yang tak teratur.
Sambil mengikuti bekas tapak kaki orang itu.
Kang Hay-thian merasa mimpi saja oleh kejadian-kejadian aneh semalam itu.
Sungguh ia tidak mengarti mengapa jadi berkelahi dengan orang-orang itu dan untuk apa mereka hendak membokong dirinya Ia goyang-goyang kepala dan gegeran oleh kejadian yang masih merupakan teka-teki baginya itu Ia menggumam sendiri.
"Apa yang di katakan nenek (maksudnya Nyo Liu-jing) memang tidak salah, hati manusia umumnya culas dan keji, nyatanya memang betul!"
Tapi segera ia geleng-geleng kepala lagi sambil menggumam pula.
"Tapi apa yang dikatakan ayah juga tidak salah. Ia bilang 'Jin-ci-jeh. seng-pun-sian' (watak manusia sejak dilahirkan sebenarnya sudah bajik), setiap orang sebenarnya orang baik semua. Asal engkau menghadapi orang dengan hati nurani yang baik, maka orang lain juga akan membalas engkau dengan cara yang sama baiknya. Seperti nona Auyang itu, bukankah semula ia bermaksud mencelakai aku? Tapi akhirnya ia yang telah memberikan obat penawarnya kepadaku hingga jiwaku tertolong". Baru pertama kali berkelana dikangouw Kang Hay-thian sudah kebentur kejadian-kejadian aneh itu, bahkan hampir jiwanya melayang secara tidak berharga dan tidak tahu apa sebabnya, ia menjadi ragu-ragu apakah ucapan ayahnya itu lebih tepatkah atau apa yang dikatakan neneknya itu yang benar? Atau ucapan kedua orang itu semuanya benar atau boleh jadi juga salah semua? Semakin dipikir semakin ruwet, ia merasa sesuatu didunia ini yang paling susah diraba ialah hati manusia. Ia menjadi teringat kepada Auyang Wan. seorang nona jelita justeru telah tersesat kejalan yang salah, ia merasa kasihan baginya dan. merasa sayang pula. Memangnya pemuda berumur 16-17 tahun seperti Kang Hay-thian itu mudah terpengaruh. Watak Hay-thian menurunkan watak jujur dan berbudi dari sang ayah. tapi juga terpengaruh sebagian sifat Suhunya. yaitu Kim Si-ih. sifat yang suka ugal-ugalan Belum habis ia bersemenanjung. tiba-tiba dari arah samping sana satu penunggang kuda tampak mendatangi dengan cepat. Penunggangnya seperti seorang Su-seng atau pemuda pelajar. sampai di depan Kang Hay-thian, mendadak pemuda itu menahan kudanya dan menegur dengan Kiongkhiu.
"Numpang tanya. apakah saudara bernama' Kang Hay-thian?"
Hay-thian terperanjat. pikirnya.
"Jangan-Jangan datang seorang yang hendak menjebak diriku lagi?" -Segera ia waspada dan balas menanya.
"Siapakah saudara, darimana dapat mengetahui namaku? Sikap pemuda itu ternyata sangat angkuh, tanpa meninggalkan pelana kudanya ia berkata pula dengan dingin.
"Engkau tidak perlu urus siapa diriku. Aku hanya ingin tanya padamu, engkau apa benar-benar seorang laki-laki sejati yang punya keberanian dan bertanggung-jawab."
Hay-thian menjadi bingung, sahutnya dengan mengkerut kening.
"Aku tidak paham ucapanmu ini Apakah aku telah berbuat sesuatu yang memalukan hingga aku tidak berani bertanggung jawab?"
"O, jadi engkau masih belum tahu?"
Ujar pemuda itu dengan tertawa dingin.
"Ada seseorang hampir mati oleh karena perbuatanmu, tapi engkau malah enak-enak bersenandung disini?"
"Ngaco-belo""
Semprot Hay-thian dengan gusar.
"Siapa orang nya yang hampir mati karena perbuatanku? Hm!" -Dalam hati ia menjengek. justeru akulah yang hampir-hampir mati menjadi korban kelicikan orang. Rupanya pemuda itu seperti tahu apa yang terpikir oleh Kang Hay-thian. segera katanya pula.
"Apakah engkau sudah lupa kepada si nona yang semalam tinggal sekamar dengan engkau itu ? Engkau hampir mati diracunnya bukan? Tapi berkat obat penawar pemberian nona itu hingga jiwamu tertolong, betul tidak? Dan sesudah kau selamat, sekarang dia yang mesti menanggung akibatnya Gurunya telah mengetahui kejadian semalam, dan sekarang juga telah menyekap nona itu untuk dihukum mati bersama engkau jika sebentar lagi engkau tertawan."
"Bagus, tidak perlu mereka menawan aku. sekarang juga aku pergi kepadanya!"
Demikian seru Hay-thian dengan gusar.
"Nah. dimana dia sekarang? Tunjukan tempatnya!"
"Mereka tinggal disuatu rumah berbentuk bundar di lembah pegunungan sana,"
Sahut pemuda itu sambil menunjuk dengan cambuknya.
"Jika engkau benar-benar berani datang kesana. lekaslah berangkat sekarang juga supaya nona Auyang tidak banyak menderita siksaan."
Kang Hay-thian menjadi naik darah, teriaknya.
"Baik. sekarang juga aku berangkat kesana, masakah aku takut?"
Tapi baru saja beberapa langkah ia bertindak. tiba-tiba pemuda itu menteriakinya lagi.
"Hai, masih ada lagi sesuatu, pabila engkau benar-benar seorang laki-laki sejati yang berani berbuat berani bertanggung jawab. sekali-sekali jangan engkau katakan siapa yang tunjukan engkau kesana."
"Baiklah, kenapa engkau ceriwis begini, memangnya aku tiada punya permusuhan apa-apa dengan engkau, buat apa mesti menyeret sangkutkan dirimu?"
Sahut Hay-thian mendongkol.
"Hm. mungkin kau jeri kepada mereka, tapi aku tidak!"
Belum selesai ucapan Hay-thian itu, pemuda itu sudah lantas ayun cambuknya dan melarikan kudanya kejurusan lain dengan cepat.
Angin pagi yang meniup sepoi-sepoi basa membikin kepala Hay-thian yang rada panas karena naik pitam tadi menjadi dingin kembali.
Tiba-Tiba ia tersadar.
"Aneh. darimana pemuda ini mengetahui pengalamanku semalam ? Jangan-Jangan suatu perangkap lagi?"
Setiap peristiwa menambah pengalaman Kang Hay-thian.
sekali ini boleh dikata terkaannya telah tepat separoh.
Pemuda itu sebenarnya adalah sekomplotan dengan orang-orang semalam itu.
termasuk pula sigadis bernama Auyang Wan itu.
Tapi setengah lainnya Hay-thian telah salah terka, sebabnya pemuda itu datang minta Hay-thian pergi menolong Auyang Wan itu bukanlah perangkap, tapi ada alasan lainnya.
Walaupun sudah timbul rasa curiga Kang Hay-thian.
tapi toh timbul pikirannya yang bertentangan.
"Lebih baik aku percaya kemungkinannya daripada tidak percaya. Paling-Paling aku akan tertipu sekali lagi. sebaliknya Auwyang-kohnio itu benar-benar akan dihukum mati gurunya lantaran telah menolong jiwaku. bagaimana hati nuraniku dapat merasa tenteram oleh pengorbanannya itu ?"
Berpikir begitu, terus saja Kang Hay-thian berlari kedepan secepat terbang menuju kelembah pegunungan yang ditunjuk itu.
Sesudah dekat, benar juga dilihatnya ada sebuah rumah kuno yang besar dengan bentuknya yang istimewa, atapnya yang lonjong bulat miring kebawah itu lebih mirip sebuah kuburan raksasa.
Ditengah lembah pegunungan yang sunyi senyap ditambah bangunan yang aneh itu.
suasana waktu itu menjadi lebih seram dan menimbulkan macam tafsiran yang penuh rahasia.
Meski hatinya rada was-was juga.
namun Kang Hay-thian ibarat anak banteng yang tidak kenal apa artinya takut, ia pikir.
"Sekali aku sudah datang, masakah aku mundur ketakutan. Biarpun sarang harimau juga akan terjangnya!" -Maka dengan penuh semangat segera ia mendekati pula rumah aneh itu. Kira-kira ratusan tindak didepan rumah itu. tiba-tiba terdengar ada suara seruan orang.
"He. Suheng yang mana yang telah kembali ?" -itulah suara seorang wanita. Segera terdengar pula suara seorang lelaki menjawabnya.
"Eh. tidak benar, ia seorang asing yang tak kita kenal!"
Hay-thian merandek.
ia coba memperhatikan ketempat datang-nya suara itu.
ia lihat kedua orang itu kiranya bersembunyi dibalik sebuah batu besar, waktu itu sedang melongok untuk menantikan kedatangannya.
Diam-Diam Kang Hay-thian meragukan cerita sipemuda tadi entah benar atau tidak, ia pikir boleh coba tanya kedua orang ini.
Maka segera ia menggunakan ilmu "Thoan-im-jip-bit".
ilmu mengirimkan gelombang suara dari jauh.
untuk bertanya.
"Hai. numpang tanya. apakah diternpat kalian sini ada seorang nona Auyang ? Aku bernama Kang Hay-thian. aku ingin mencari nona Auyang!"
Sebabnya Hay-thian menggunakan ilmu Thoan-im-jip-bit itu tujuannya ialah supaya kalau Auyang Wan benar-benar dikurung didalam rumah bundar itu.
tentu akan ikut mendengar ucapannya itu.
Sebaliknya demi mendengar pertanyaan Hay-thian itu.
silelaki dibalik batu itu lantas mengomel.
"Bocah tolol ini berani benar!" -Kontan saja "creng-cring"
Dua kali. dua butir peluru besi terus disambitkannya kearah Kang Hay-thian. Diam-diam Hay-thian mendongkol, serunya.
"Kenapa engkau begini kasar ? Belum kenal sudah menyerang orang sekeji ini ?"-Sambil berkata. tahu-tahu kedua butir peluru besi itu sudah tertangkap oleh tangannya. Menyusul. diam-diam Hay-thian mengerahkan tenaga saktinya. tangannya masing-masing meaggenggan sebutir peluru besi itu dan mendadak dilemparkan keudara. maka terdengarlah suara benturan yang nyaring, kedua butir peluru itu saling bentur hingga pecah berkeping-keping kecil dan meletikan lelatu api. Dan pada saat itu pula, dua bilah Hui-to atau pisau terbang siwanita juga sudah menyambar tiba. Hay-thian sengaja hendak pamerkan kepandaiannya untuk menakutkan lawan-lawan itu. Pada badannya memakai Pekgik-kaho. yaitu satu diantara tiga pusaka tinggalan Kiau Pakbeng dan tidak mempan senjata itu. Maka ia membiarkan kedua bilah pisau musuh mengenai tubuhnya. terdengarlah suara "crang-creng"
Dua kali, kedua pisau terbang itu terpental dan patah menjadi empat potong oleh tenaga saktinya Haythian.
"Kalau ada apa-apa marilah bicara secara baik-baik. mengapa baru ketemu sudah roenye.ang orang?"
Demikian kata Hay-thian kemudian dengan tertawa. Tapi tak terdengar orang menjawab. Waktu ia menegasi, ternyata kedua orang itu sudah lenyap. Hay-thian menjadi boran, pikirnya.
"Kepandaian kedua orang ini hanya biasa saja, masakan Ginkang mereka sedemikian lihay. hanya sekejap saja sudah menghilang?"
Sudah tentu Hay-t'iian tidak tahu bahwa batu besar itu sebenar nya kosong tengahnya, didalamnya terpasang alat rahasia.
Ketika kedua orang itu melihat Kang Hay-thian sebegitu lihaynya, cepat mereka menyusup kecalam lorong dan kembali melaporkan kepada pemimpin mereka.
Hay-thian masih ingat petunjuk neneknya tentang peraturan-peraturan Kangouw, pikirnya.
"Betapapun aku harus minta bertemu dengan pemimpin mereka secara terangterangan dan menurut aturan sebagai kaum lebih muda."
Karena itu.
segera ia mendekati rumah aneh itu.
maksudnya hendak mengetok pintu, tapi ternyata tiada pintunya meski sudah di-cari sekelilingnya.
Hay-thian mencoba meraba dinding rumah bundar itu.
ternyata dinding itu terdiri dari batu Hoa-kang-ciok yang besar lagi tebal, biarpun membobol dinding itu dengan pedang pusakanya yang tajam itu juga diperlukan waktu yang lama.
Hay-thian ragu-ragu sampai agak lama, akhirnya ia ketokketok juga dinding rumah itu can berseru.
"Wanpwe bernama Kang Hay-thian, mohon bertemu dengan tuan rumah disini, haraplah membuka pintu!"
Tiba-Tiba terdengar suara sahutan seorang sedingin es dari dalam rumah aneh itu.
"Kenapa engkau sendiri tidak masuk saja, me-mangnya apa aku yang harus keluar menyambut kedatanganmu?"
Suara orang itu melengking keras dan menusuk telinga bagai gesekan benda logan hingga anak telinga Hay-thian ikut mendenging.
Bahkan perasaannya tergetar juga seperti terbetot.
Keruan ia kaget.
Ia pernah mendengar dari Suhunya.
yaitu Kim Si-ih, bahwa dalam kalangan Sia-pay ada semacam ilmu "Hou-hun-tayhoat"
Atau ilmu membetot sukma, ilmu itu dapat mengganggu ketenteraman pikiran seseorang dengan suaranya yang aneh. akibatnya sang korban akan pening dan pingsan. Maka diam-diam Hay-thian berpikir.
"Kiranya tuan rumah aneh ini benar adalah tokoh kelas lihay dari Sia-pay. entah apakah dia inilah gurunya nona Auyang atau bukan?"
Oleh karena ilmu Lwekang yang dilatih Hay-thian itu berasal ajaran Kim Si-ih yang merupakan kombinasi dari intisari Lwekang aliran Cing dan Sia.
maka begitu ia himpun tenaga murninya.
segera semangatnya yang rada kabur sudah pulih kembali.
Tiba-Tiba dilihatnya dinding didepannya merekah dan menggeser ke-kanan dan kiri hingga berwujut sebuah pintu.
Kiranya adalah sebuah pintu hidup yang dapat membuka dan menutup secara otomatis.
Terus saja Hay-thian bertindak kedalam dengan langkah lebar.
Ia mendengar suara seorang berkata, dengan sangat lirih.
"Besar juga nyali anak ini!" -Namun cuma suaranya yang terdengar, tapi orangnya tidak kelihatan. Didalam situ adalah sebuah jalan loreng yang gelap dan hening, sekitarnya tiada bayangan seorangpun. Waktu sampai dipo-jok sana, Hay-thian terhalang pula oleh sebuah pintu besi. Tapi orang didalam itu seperti bermata sakti yang dapat menembus dinding, terhadap setiap gerak-gerik Kang Haythian seakan-akan dapat .melihat dengan sangat terang. Baru saja Hay-thian sampai didepan pintu itu dan selagi pemuda itu hendak mengetok, tahu-tahu pintu itu terpentang pula dengan sendirinya. Begitulah seterusnya Kang Hay-thian telah melalui tiga buah pintu, sesudah melampaui pintu ketiga. tiba-tiba pandangannya Hay-thian menjadi terang1 Ternyata didalam situ adalah sebuah ruangan yang menyerupal keraton. Empat pojek ruangan masing-masing terdapat sebuah meja sembayangan. diatas meja masingmasing tersulut sebatang lilin raksasa hingga ruangan itu terang-benderang oleh cahaya lilin. Cuma sinar lilin itupun sangat aneh. ber&emu hijau seram bagai api setan, maka suasana ruang an itu menjadi lebih seram rasanya.
"Ditengah ruangan itu tampak berduduk seorang wanita tua, rambutnya yang putih bagai perak itu terurai kebawah hingga mencapai pundaknya. Hidung wanita itu besar membetot dan matania melotot bengis, batok kepalanya nonong dan menonjol. mukanya sangat jelek mirip perempuan tenung yang jahat. Disebelah kiri wanita tua yang jelek rupanya itu berdiri dua pemuda, dan disisi kanannya berdiri pula dua wanita muda. Segera Kang Hay-thian dapat mengenali seorang diantaranya sebagai Sucinya Auyang Wan yang pernah bergebrak dengan dirinya semalam itu. Diam-diam Hay-thian memikir.
"Barangkali wanita tua inilah gurunya Auyang Wan. Pemuda itu mengatakan padaku bahwa gurunya hendak menawan dan membunuh diriku, agaknya belum tentu dapat dipercaya. Biarlah aku tetap menghadapinya dengan sopan, akan kutanya dia lebih dulu."
Segera Hay-thian melangkah maju. dengan sedikit menekuk lutut ia memberi hormat, lalu katanya .
"Wanpwe Kang Haythian memberi salam honnat kepada Locianpwe".
"Engkau adalah muridnya Kim Si-ih. penghormatan ini terlalu berat untuk kuterima", sahut wanita tua itu dengan dingin. Pada saat yang sama itulah tiba-tiba Kang Hay-thian merasa lutut-nya seakan-akan kena ditepuk orang sekali hingga lututnya yang sedikit tertekuk itu tegak kembali. Tapi sebelumnya Hay-thian sudah ber-jaga-jaga kalau diserang orang secara menggelap, maka ia telah gunakan kepandaian "Jian-kin-tui"
Yang membikin bobot tubuhnya seberat ribuan kati.
penghormatannya itu tetap dilakukanniya sebagaimana lazimnya.
Mendadak kedua mata wanita itu memancarkan sinar tajam.
wajahnya mengunjuk rasa heran, namun ia terus menanya pula dengan suaranya yang seram dingin.
"Untuk apa engkau ingin mencari Auyang Wan ?' "Nona Auyang ada budi padaku, aku kemari untuk menghaturkan terima kasih kepadanya."
Sahut Hay-thian tenang. Tiba-tiba wanita tua itu tertawa hingga tertampak giginya yang tidak rata dan kedua siungnya yang kuning menyeramkan itu. Katanya kemudian.
"Hm. tidak nyana engkau juga punya perasaan. Baiklah, biarkan engkau melihatnya sekali legi." -Berbareng iapun memberi tanda dengan tangannya kebelakang. Maka terdengarlah suara gemerantang yang nyaring. itulah suara rantai besi yang terseret ditanah. Tertampak Auyang Wan digiring keluar dengan tangan terbelenggu. Hati Hay-thian tergetar, hanya berpisah sehari saja. wajah Auyang Wan yang cantik molek itu kini telah menjadi lesu dan lebih kurus bagai sekuntum bunga yang telah layu. Dengan muka-nya yang pucat dan sepasang matanya yang mencelos gadis itu sedang memandangi Kang Hay-thian dengan rasa kuatir. Namun dari sorot matanya yang sayu itu dapatlah dirasakan adanya sifat malu-malu dan kuatir. tapi ada pula rasa yang menimbulkan simpatik orang. Tak tertahan timbul rasa kasih-sayang Kang Haythian. pikirnya.
"Aku mengira setiap orang Suhu didunia ini pasti juga akan sayang kepada muridnya bagai ayah-ibu sendiri, tapi mengapa gurunya nona Anyang mi sedemikian kejam kepadanya ?"
Dalam pada itu terdengar nenek itu sedang tertawa dingin, dengan mendelik ia telah tanya Auyang Wan.
"Nah. masih ada apa lagi yang hendak kau katakan ? Apakah sekarang kau masih berani menyangkal bahwa obat penawar itu bukan engkau yang memberikan pada bocah ini ?"
Suara wanita tua itu begitu dingin dan seram hingga mendirikan bulu roma bagi yang mendengarnya.
Maka terdengarlah suara gedebuk.
Anyang Wan telah jauh kelantai dengan badan menggigil ketakutan.
Tak tahan lagi Kang Hay-thian lantas berseru.
"Dosa apakah yang telah dibuat oleh nona Auyang? Apakah disebabkan karena dia telah memberi obat penawar padaku? Jika benar itu sebabnya. perbuatannya yang mulia demi menyelamatkan jiwa sesarna-nya. hal ini sepantasnya dipuji. kenapa malah terbalik engkau hendak menghukumnya ? Engkau memutar-balikkan antara kebaikan dan kejahatan. engkau kena! aturan atau tidak ?' "Hahahaha!"
Nenek itu terbahak-bahak geli.
"Dengarlah kalian, bocah ini malah hendak memberi kuliah padaku, seakan-akan orang tua bangka seperti aku ini masih harus belajar padanya tentang caranya menjadi guru orang. Nah. Wan-ji. ingin kulanya padamu sekarang.. pasal pertama dari larangan perguruan kita itu bagaimana bunyinya ?' "Barang siapa berani mendurhakai guru dan leluhur, dihukum mati!"
Sahut Auyang Wan dengan suara gemetar.
"Bagus, jika kau toh masih ingat, kenapa sengaja engkau melanggarnya?"
Tanya nenek itu dengan dingin.
"Aku suruh kau meracuni bocah ini dan menawannya. Kenapa engkau malah memberikan obat penawar kepadanya ?'"
Mendengar itu barulah sekarang Kang Hay-thian mengetahui duduk perkara yara sebenarnya.
Kiranya diantara orang-orang yang hendak mencelakainya.
termasuk Auyang Wan, semuanya adalah atas perintah wanita tua ini.
Keruan ia terperanjat dan gusar pula.
kanyanya dengan mendongkol.
Locianpwe, selamanya aku tidak kenal padamu, mengapa engkau hendak membikin susah aku ?
Silahkan engkau menerangkan alasannya!"
"Hahaha! Alasan ? Hahaha!"
Nenek itu tergelak-gelak mencemohkan Hay-thian.
"Hanya jiwa seorang saja masakah diperlukan alasan apa segala? Hahaha, usiaku sudah seianjut ini, tapi selamanya aku belum pernah ketemukan orang yang ajak bicara tentang alasan apa padaku."
Hay-thian menjadi murka, teriaknya.
"Baik, sekarang engkau tidak perlu susah-susah mencari aku lagi, aku sendiri sudah datang kemari, lalu engkau hendak apakan diriku? Hendak sembelih atau hendak dikorek?"
"Huh. apa yang engkau sibukan, belum lagi datang giliranmu?"
Sahut nenek itu dengan tawar.
"Wan-ji, majulah kau kesini!"
Auyang Wan masih gemetar, tapi tidak berani membangkang, ia mengesot kehadapan sang guru dengan takut-takut.
"Wan-ji,"
Kata s nenek pula dengan tertawa dingin.
"engkau menyukai bocah ini bukan?"
Wajah Auyang Wan menjadi merah dan malu hingga tidak tahu cara bagaimana harus menjawab. Kang Hay-thian menjadi gusar.
"Jangan engkau peduli dia lagi. nona Auyang, guru yang berhati keji seperti itu jangan kau pusingkan lagi. biar aku memberi hajaran setimpal padanya!"
Demikian Hay-thian membentak dan berbareng menghantamkan telapak tangannya kearah sinenek.
Pukulan Hay-thian itu sangat hebat, pukulan Pik-khongciang (pukulan dari jauh dengan bertangan kosong) itu memakai sepenuh tenaganya, begitu hebat hingga membawa serba suara gemuruh.
Sekalipun ilmu silat nenek itu sangat lihay, menghadapi serangan Kang Hay-thian yang luar biasa itu, mau-tak-mau membuatnya kaget juga.
Cepat kedua tangannya dihantamkan serentak, iapun balas memapak dengan Pik-khong-ciang yang hebat.
Maka terdengarlah suara "plak-plak".
tahu-tahu nenek itu sempoyongan dan mundur tiga tindak.
Kesempatan itu tidak disia-siakan Hay-thian.
dengan cepat sekali ia pegang belenggu ditangannya Auyang Wan sinar tajam berkelebat, juga sekali pedangnya bekerja, kontan saja belenggu itu terkurung.
Segera iapun berseru.
"Nona Auyang. lekas engkau melarikan diri! Suhu semacam ini jangan kau sudi mengakui lagi!"
Betapapun cepat gerakan Kang Hay-thian itu untuk menabas belenggunya Auyang Wan.
namun nenek itupun ternyata juga tidak kalah cepatnya.
Pada saat itu juga.
belum lagi selesai ucapan Hay-thian.
Tahu-tahu wanita tua itupun sudah menubruk kearah-nya, sekali bergerak dengan gaya tipu "Yu-liong-tam-jiau"
Atau naga hidup hendak mencakar.
sepuluh jarinya dengan kuku-kukunya yang panjang terus mencakar kemukanya Hay-thian.
Kuku jari nenek itu ternyata merupakan suatu senjata yang istimewa.
Panjangnya luar biasa.
rata-rata belasan senti panjangnya.
Diwaktu tidak digunakan dapat digulung, bila hendak dipakai, mendadak bisa menjulur panjang.
bahkan berbunyi gemerincing mirip sepuluh bilah belati tajamnya Kiranya "kuku"
Nenek itu sebenarnya buatan dari semacam emas murni yang lemas, kuku palsu ia pasang diujung jari dan sesudah terlatih masak dapa; digunakannya dengan hidup sekali dan merupakan semacam senjatanya yang istimewa.
Tapi Kang Hay-thian dapat ganti serangannya dgn lebih cepat, pedangnya ia puter.
dengan tipu "Pek-hong-koan-jit"
Atau pelangi putih menembus sinar matahari, mendadak ia menusuk kedepan.
Gerakan kedua orang sama-sama seecepat kilat, tampaknya serangan kedua belah pihak akan sama-sama mengenai sasarannya.
Tiba-Tiba Kang Hay-thian tergerak pikirannya.
"Meski dia jahat. tapi tidak seharusnya aku membinasakan dia". Karena pikiran itulah. pedangnya sebenarnya menusuk ke "Soan-ki-hiat"
Didada musuh, mendadak ia geser hingga berganti arah memotong etangan sinenek itu.
Pertarungan diantara tokoh-tokoh kelas wahid sebenarnya tidak boleh ragu-ragu atau ayal sedetikpun.
dengan kepandaian sinenek yang hebat itu, biarpun Hay-thian mengeluarkan tipu serangannya yg paling lihay juga belum tentu mampu membinasakannya hanya datam satu jurus saja.
Tapi kini ia ayal sejenak, ditengah jalan serangannya berganti haluan lagi.
kesempatan inilah telah dipergunakan musuh dengan baik.
maka terdengarlah suara "cring"
Sekali, kuku nenek itu menjentik dan tepat menyocok lebih dulu ditangan Kang Hay-thian hingga seketika pedangnya terjentik lepas dari cekalan.
Menyusul kedua tangan sinenek bekerja dengan cepat.
tangan kiri mencengkeram Kang Hay-thian dan tangan kanan menjamberet Auyang Wan.
Tapi meski Hay-th'an sendiri terancam bahaya.
ia masih tidak lupa melindungi sinona.
cepat ia berkelit sambil memutar kesamping.
telapak tangannya yang tajam bagai golok itu memotong Sedengkul sinenek.
berbareng tangan yang lain mendorong pelahan-lahan.
dengan cara yang sangat tepat ia dapat mendorong Auyang Wan kepojok ruangan sana.
Serangan Hay-thian itu sangat lihay dan memaksa musuh mesti menyelamatkan diri lebih dulu.
betapapun ganasnya nenek itu.
terpaksa ia mesti berkelit juga.
Akan tetapi karena Hay-thian mesti mengerjakan dua tgas sekaligus, disaat Auyang Wan sedang didorong pergi hingya langkahnya sedikit ayal.
betapa tajam matanya sinenek.
segera kesempatan itu digunakannya dengan baik.
secepat kilat ia menubruk maju lagi.
sekali tangannya memukul lagi, seketika lingkungan tubuh Kang Hay-thain sudah terkurung dibawah daya serangannya.
Mendadak Hay-thian mengendus bau amis yang memuakan, itu lah bau amis yang teruar dari angin pukulan nenek itu Dalam kejutnya Hay-thian tidak berani menangkisnya dari depan, dengan mengandalkan Hon-teb-sinkang.
cepat ia membalik tubuh.
Maka terdengarlah suara ' blang"
Sekali, punggung Haythian sengaja dipapakan kepada pukulan sinenek.
Sebaliknya karena getaran tenaga sakti pelindung badan Kang Hay-thian, nenek itupun terhuyung-huyung hampir jatuh.
Tapi sesudah kena pukulan itu, segera Hay-thian juga merasakan punggungnya rada pegal dan gatal, rasanya sangat tidak enak.
Kiranya kuku-kuku palsu sinenek itupun telah dicelup kedaiam racun.
oleh karena kulit Kang Hay-thian menjadi lecet oleh tutukan kukunya, racuiinya sudah menyusup kedaiam daging.
Untung racun dikuku wanita tua itu tidak selihay racun dalam arak yang pernah diminum Kang Hay-thian itu.
maka segera pemuda itu menutup Hiat-to "Ciong-hiat"
Dipunggungnya untuk menahan menjalarnya racun hingga untuk sementara tiada halangan apa-apa.
Sungguh tak tersangka oleh Kang Hay-thian bahwa garagara maksud baiknya tidak tega membinasakan wanita tua itu.
sekarang ia sendiri yang mesti telan pil pahit.
Ia menjadi gusar dan mendam perat.
"Sungguh tidak kenal adat manusia engkau ini. Selamanya kita tidak punya permusuhan apa-apa. kenapa engkau begini keji dan ingin membinasakan aku? Terpaksa sekaranga akupun tidak sungkan-sungkan lagi!"
"Hm, memangnya siapa yang main sungkan-sungkan dengan engkau?"
Sahut nenek itu dengan tertawa dingin Berbareng ia mengisar dan memukul pula, bau amis yang memuakan itu lebih keras lagi daripada tadi.
Kini Kang Hay-thian sudah dapat mengenal betapa lihaynya "Sin-coa-ciang"
Akan pukulan ular sakti dari sinenek.
Sudah tentu ia tidak membiarkan dirinya digebuk mentah-mentah lagi.
segera ia mengeluarkan langkah Thian-lo-poh-hoat yang cepat.
untuk mengatasi musuh lebih dulu dengan jentikan keras "It-ci-sian-kang"
Segera ia tutuk urat nadi pergelangan tangan sinenek.
Namun jari tangan wanita tua itu keburu dimekarkan hingga kukunya yang panjang tajam bagai pisau itu dipakai memapak selentikan Kang Hay-thian.
Hay-thian menyelentik dengan jarinya yang lebih pendek daripada kuku sinenek yang panjang.
terpaksa ia urungkan serangannya itu sambil menggeser kesamping untuk menghindari cakaran lawan yang telah menubruk maju lagi.
Kalau Hay-thian memegang pedang, sekalipun tidak dapat lantas menang misalnya, tapi paling tidak juga takkan terkalahkan.
Kini kedua pihak sama-sama bergebrak dengan bertangan kosong, sedangkan nenek itu telah melatih Sin-coaciang yang berlumuran racun jahat, pada jarinya terdapat pula kuku palsu yang me-nyerupai senjata tajam, maka Kang Haythian menjadi kewalahan dan tidak berani sembarangan mendesak maju, dengan demikian ia menjadi terdesak.
Makin lama pertarungan mereka makin sengit.
Dalam sekejap saja wanita tua itu sudah menyerang tujuh kali dengan tipu-tipu keji, suatu ketika kuku nenek itu telah mencakar kemuka Kang Hay-thian.
untunglah dengan Thian-Io-poh-hoat dapatlah pemuda itu menghindar.
Tiba-tiba terdengar suara jeritan kaget, sekilas Hay-thian melihat wajah Auyang Wan pucat lesi dan terhuyung-huyung akan roboh, rupanya saking tegangnya menyaksikan pertempuran itu.
ia menyangka barusan Hay-thian telah kena dilukai oleh gurunya.
makanya menjerit kuatir.
Saat itu Sucinya Auyang Wan juga berada dipinggir ruangan Itu untuk mengawasi sang Sumoay, ketika melihat gadis itu terhuyung-huyung.
bukannya ia menayangnya, sebaliknya ia memberi persen sekali tamparan kepipi Auyang Wan sambil mendamperat.
"Budak hina dina yang tidak tahu malu! Yang engkau ingat cuma orang luar saja dan tidak pikir pada Suhu sendiri lagi ya?"
Kiranya sang Suci itu biasanya sangat iri kepada Auyang Wan karana gadis ini paling disayang oleh gurunya.
Kini ada kesempatan baik, terus saja ia mengumbar dendamnya, ia menambahi dua kali tamparan pula dipipi Auyang Wan.
lalu mengambil sebuah belenggu baru untuk membelenggu pula sang Sumoay itu.
Melihat itu.
pikiran Hay-thian menjadi rada kacau, tiba-tiba pandangannya terasa kabur dan gelap, kepala pusing dan telinga mendenging.
Kiranya racun dalam tubuhnya sudah mulai menjalar.
Meski dia memiliki Hou-teh-sin-kang yang hebat, tapi karena hampir seluruh tenaganya telah digunakan untuk melawan sinenek.
tenaga murni yang dipakai melindungi badan sendiri itu menjadi sangat berkurang.
Hiatto sendiri kurang rapat tertutup, racunnya lantas menjalar masuk pelahan-lahan.
Diam-Diam Hay-thian mengeluh bisa celaka.
Betapa lihaynya nenek Itu, sekilas saja keadaan Kang Hay-thian itu sudah diketahuinya, sedikit kesempatan itu segera digunakan olehnya.
Cepat tangan kirinya menangkis hingga serangan Kang Hay-thian yang sedang dilontarkan dikesampingkan, menyusul mana sebelah tangannya te rus menyodok kedepan dada pemuda itu sambil menggertak.
"Kena!"
Hay-thian terkesiap oleh serangan musuh yang cepat itu. tapi merasa gusar juga, pikirnya.
"Engkau begini keji, terpaksa aku-pun tidak peduli mati hidupku lagi, biarlah aku mengadu jiwa dengan engkau!" -segera la kerahkan sepenuh tenaganya dan memapak juga dengan tangannya. Sebenarnya tenaga dalam Kang Hay-thian sudah terlatih sampai tingkatan yang dapat dilontarkan atau ditarik kembali sesuka hatinya. Siapa duga sekali ini telah meleset sama sekali, maksud ada tenaga kurang, baru saja tangannya memukul kedepan dan tenaga hendak dikerahkan, mendadak "Sam-sing-hiat"
Didekat sikut tangan terasa kaku pegal seakan-akan tertusuk oleh sebatang ja rum yang lembut tajam hingga seketika lengannya lumpuh, tenaga yang dilontarkan itu ternyata tergetar kembali, dan untuk selanjut nya sama sekali la tidak bertenaga pula dan takbisa berkutik, tangan yang memukul kedepan itupun menjadi kaku dan terangkat lurus takdapat ditarik kembali.
Keadaan Kang Hay-thian menjadi seperti patung dengan wajah murka.
Kiranya Hay-thian telah kena didahului satu tindak oleh wanita tua itu.
telah kena tertutuk Hiat-tonya.
Ilmu Tiam-hiat wanita tua itu ternyata lain daripada yang lain.
ia dapat menggunakan kukunya yang panj-uig itu untuk menutuk.
Hiatto lawan.
"To-hiat"
Atau mencomot jalan darah, ilmu sakti ini jauh lebih li-hay daripada ilmu Tiam-hiat biasa.
Oleh karena kedua orang saling gebrak dengan kepandaian tung gal masing-masing.
soal waktu sedetik saja sudah akan mengubah imbangan kekuatan mereka.
Meski nenek itu berhasil mencomot Hiat-to disiku tangannya Kang Hay-thian.
tapi karena tenaga dalam pemuda itu tadi juga sedang dilontarkan, maka nenek itu tersentak juga oleh tenaga itu hingga tubuhnya yang kurus itu mence-lat keatas sampai berjumpalitan dua kali.
Sesudah nenek itu mengindiak tanah kembali dan dapat menenangkan diri.
ia lihat Kang Hay-thian sudah takbisa berkutik bagai patung, ia terbahak-bahak senang, katanya.
"Hayolah unjukan pula kepandaianmu yang lain. betapapun ganasnya kau juga tidak terlepas dari genggamanku!"
Sungguh gusar Kay-thian tak terkatakan.
diam-diam la mengeluh pula dan menyesal mengapa sampai kena diselomoti orang.
Kalau bicara tentang kepandaian sejati.
sebenarnya tidak mung kin Hay-thian dikalahkan nenek itu.
tapi sekarang toh ia sudah kalah!
Setelah bergelak ketawa, kemudian sinar mata sinenek mengalih kearah Auyang Wan dengan tajam.
Katanya dengan dingin.
"Hm. kau telah durhaka karena membela orang luar, sebenarnya aku tak bisa mengampuni kau. Tapi mengingat ibumu, biarlah aku memberi kesempatan satu kali lagi padamu." -Ia merandek sejenak. tiba-tiba dengan wajah senyum tidak senyum berkata pula.
"Ya. tentu engkau ingin dijodohkan kepada bocah ini bukan?"
Auyang Wan menjadi malu dan gugup hingga mukanya merah, seketika ia menjadi gagu.
"Setelah kau jadi isterinya. segera akupun menerimanya sebagai murid."
Demikian sinenek menyambung lagi.
"Dengan demikian keinginanmu bukankah tercapai dan sama-sama baiknya? Tapi engkau tentu tidak melupakan peraturanperaturan perguruan kita. Sebelum aku menerima murid berasa! dari perguruan orang lain. lebih dulu dia harus minum dua butir pil ini barulah aku merasa lega" -sam-bil berkata ia terus Mengeluarkan dua butir obat pil dan meneruskan lagi.
"Wah, Wan-ji. kedua pil ini sekarang juga kuserahkan padamu, apakah dia akan mati atau hidup, akan beruntung atau celaka. semuanya tergantung ditanganmu!' Sungguh bingung Auyang Wan tidak terhingga, jeritnya dgn suara tajam.
"Suhu. Aku..aku tidak dapat mencelakai dia!" -Dan dengan sendirinya tangan yang semula diulurkan kehadapan sang guru terus ditarik kembali seperti takut dipagut ular. Maka kedua butir obat pil itu lantas jatuh kelantai. Kiranya kedua pil itu adalah semacam racun yang dapat menghilangkan pikiran sehat orang, barang siapg minum pil itu seketika akan menjadi orang gendeng dan tidak ingat apaapa lagi. yg dikenal cuma perintah sang majikan saja. Dalam hal ini dengan sendirinya adalah perintah wanita tua bagai nenek tenung itu. Melihat kelakuan Auyang Wan. nenek itu menarik muka. katanya pula dengan tertawa "dingin.
"Bagus, jadi kau tidak mau menurut kesempatan yang kuberikan ini. Baiklah, terpaksa aku menjalankan peraturan rumah tangga perguruan kita untuk menghukum engkau. Sekarang biar kupunahkan dulu ilmu silat bocah ini, akan kutembus Pi-pe-kut (tulang lemas) dipundaknya. kemudian akan menjadi giliranmu untuk mencicipi rasanya siksaan Sin-coa-ciang!"
Habis berkata. Pelahan-lahan ia lantas berjalan mendekati Kang Hay-thian. Pada saat itu juga tiba-tiba terdengar suara orang melapor.
"Hu-kaucu dari Thian-mo-kau mohon bertemu!"
Tampak nenek itu tercengang sejenak, katanya.
"Sudah lama aku tiada hubungan kekeluargaan dengan mereka, buat apa Le Hok-sing itu datang kemari?"
Mendengar ucapan sang guru itu menyimpang dari laporannya, kembali murid wanita yang memberi lapor itu bertanya pula;
"Apa kah Suhu akan menemui atau tidak?"
Wanita tua itu memikir sejenak, lalu sahutnya.
"Baiklah, jika tidak menemui dia malah akan menimbulkan curiga. Suruh dia masuklah!"
Maka masuklah kemudian seorang laki-laki berbaju hitam dengan dandanan yang aneh Rambutnya panjang menjulur sampai di-pundak, wajahnya cakap seperti wanita, dibelakangnya mengikuti dua ekor binatang aneh berbulu emas.
Kang Hay-thian pernah mendengar cerita dari Suhunya tentang laki-laki berbaju hitam itu.
Maka segera ia menduga.
"Tentu inilah Le Hok-sing yanq pernah mengacau ke Bin-san dan dikalahkan Suhu itu. kini dia telah menjabat sebagai Hukaucu (wakil ketua) dari Thian-mo-kau."
Ketika melihat kedua ekor Kim-mo-soan itu sangat galak dan menakutkan, murid wanita sinenek yang membukakan pintu rada jeri. Namun dengai tertawa Le Hok-sing telah berkata.
"Tidak perlu kuatir, kalau aku tidak memberi perintah, mereka takkan sembarangan mengganggu orang."
Ketika ia bersuit pelahan.
benar juga kedua ekor Kim-mosoan yang dengan jinak lantas berdiri didekat pintu tanpa bergerak lagi.
Le Hok-sing memar dang sekejap kearah Kang Hay-thian yang takbisa berkutik itu.
lalu ia memberi hormat kepada siwanita tua dan berkata.
"Im-kohpo (nenek Im). harini cucumu ini sengaja datang memberi selamat kepadamu."
"Le-hukau-cu tidak perlu banyak adat."
Nenek itu sedikit membungkuk tubuh membalas hormat orang.
"Numpang tanya, hal apa yang membuat engkau memberi selamat padaku?"
"Ada beberapa komplotan yang mengincar diri bocah ini. tapi kini dia telah jatuh dibawah tanganmu, bukankah hasil usahamu ini pantas diberi selamat?"
Sahut Le Hok-sing sambil menuding Kang Hay-thian.
"Hm. berita kalian sungguh cepat dan tajam juga."
Jengek sinenek dengan sikap dingin.
"Untuk bicara terus terang, sebenarnya kami telah diperintahkan oleh Kaucu untuk mengikuti bocah ini sepanjang jalan."
Sahut La Hok-sing.
"Baiknya sekarang dia bukan jatuh dalam tangan orang luar, tapi dibawah tangan Kohpo sendiri. Maka sudilah angkaa orang tua suka memberi muka kepadaku, serahkanlah bocah ini kepadaku untuk membawanya kembali sebagai prrtanggungan-jawabku kepada Kaucu."
"Enak saja kau bicara. sinenek mendengus.
"Kau akan membawanya untuk menunaikan tugasmu kepada Kaucu kalian, lalu dengan apa aku harus mempertanggung-jawabkan kepada pemilik Kim-eng-kiong?"
Hay-thian tergerak mendengar ucapan sinenek. pikirnya.
"Eh. kiranya nenek she Im ini ada hubungannya dengan Kimeng-kiong yang kutuju. Menurut orang she Le itu. katanya masih ada beberapa komplotan lain yang mengincar diriku, entah siapa-siapa saja mereka itu?"
"Hal ini memang Kaucu sudah tahu dan telah mengatur jalan sebaik-baiknya."
Sahut Le Hok-sing "Kata beliau, memang tela'i di-ketahuinya juga bahwa pemilik Kim-engkiong itu juga inginkan bocah ini.
tapi kenap beliau sendiri tentu akan pergi ke Kim-eng-kiong untuk memberi penjelasan."
Nenek itu tidak menjawab. ia berdehem sekali dan bertindak kembali ketempat duduknya tadi. Maka Le Hok-sing membuka suara pula.
"Pada diri bocah ini ada dua macam benda mestika yang asalnya adalah pusaka tinggalan Kiau-cosu kami. barang-barang itupun harap engkau orang tua suka mengembalikan semua". Habis berkata, sekilas ia melirik kearah sigadis yang berdiri di belakang nenek she Im itu. Kiranya Cay-in-pokiam yang terlepas dari cekalan Kang Hay-thian tadi telah dijemput oleh Sucinya Auyang Wan dan saat itu dijinjing olehnya sambil berdiri di-sisi gurunya. Namun dengan sikapnya yang tetap senyum-tak-senyum itu. sinenek berkata pula.
"Wah. banyak amat permintaanmu ya. Ingin orangnya minta barangnya pula. Sungguh harapan kalian muluk-muluk benar."
"Pabila Im-kohpo sudi meluluskan, sungguh Kaucu kami akan berterima kasih dan bersedia memberi balas jasa pula."
Kata Le Hok-sing. Habis berkata. Le Hok-sing terus mengeluarkan satu bungkusan sutera merah, ia membuka bungkusan itu hingga akhirnya tertampaklah se
Jilid buku. Lalu katanya pula.
"Ini adalah salinan kitab Pek-tok-cin-keng. dengan ini kami akan balas jasa Im-kohpo. tentunya engkau takkan merasa dirugikan."
Tiba-Tiba sorot mata nenek itu memancarkan sinar yang berkilauan, sekali raup terus saja ia sambar kitab itu dari tangan Le Hok-sing.
Le Hok-sinq bergirang malah oleh perbuatan sinenek itu.
tanya-nya segera.
"Jadi engkau orang tua telah menerima siarat kami? Baiklah, silahkan menyerahkan pedang itu. lalu dimana Pek-giokkah itu? Harap serahkan sekalian. Waktunya sudah mendesak, aku tidak dapat menunggu terlalu lama disini. biarlah aku lantas mohon diri dengan membawa serta bocah itu."
Namun dengan dingin nenek she Im itu telah menjawab.
"Engkau boleh pulang saja dan beritahukan kepada Cumah bahwa turunan Pek-tok-cin-keng ini telah kutahan disini. Karena dia sudah berdiri sendiri, sudah seharusnya kitab pusaka dari Cit-im-kau ini harus dikembalikan padaku. Pabila ada yang hendak dia bicarakan. suruh dia datang ke Kim-engkiong pada hari Tiong-khiu tahun ini. disana aku akan bicarakan berhadapan dengan dia." -Habis ini ia lantas berkata juga kepada seorang murid wanitanya.
"Bawa bocah itu kedaiam dan geledah badannya!"
Le Hok-sing menjadi gusar, serunya. ,He. engkau kenal aturan tidak? Sudah terima barang kami, tapi tidak menyerahkan orang-nya dan mengembalikan mestikanya."
"Hm. kau ini orang macam apa?"
Jengek sinenek "Kau adalah orang luar.
maka kau tidak tahu hubunganku dengan Cumah.
Hal ini adalah utang-piutang bersejarah ratusan tahun lamanya.
biar kujelaskan juga engkau takkan paham.
Maka bolehlah engkau pulang untuk tanya Kaucu kalian saja".
Seperti diketahui.
"Cumah"
Yang disebut nenek itu adalah nama kecilnya Thian-mo-kaucu. Karena itu. hati Le Hok-sing tergerak, pikirnya.
"Kaucu memanggil orang tua ini sebagai Kohpo (nenek, saudara dari kakek), maka selamanya aku mengikuti pang gilan Kaucu. Tapi diantara mereka toh berlainan she. lalu hubungan kekeluargaan manakah sebenarnya diantara mereka? Jangan-Jangan keluarga mereka dimasa silam memang ada hubungan istimewa yang susah diketahui orang luar?"
Akan tetapi Le Hok-sing ini paling setia kepada Thian-mokau cu, setiap tugas yang diberikan kepadanya oleh Thian-mokaucu pasti akan ditunaikannya dengan baik.
Karena itu ia tidak peduli lagi latar belakang apa diantara hubungan nenek she Im itu dengan sang Kaucu.
secera iapun unjuk gigi dan menjawab.
"Yang kuketahui cuma perintah Kaucu kami. hal ini hendak engkau orang tua suka makli m Maka ingin aku ulangi sekali lagi pertanya anku. Engkau mau serahkan bocah itu dan benda mestikanya tidak?"
"Tidak, tidak sama sekali, dan engkau mau apa?"
Sahut sinenek menjadi murka.
"Hai, apakah kau berani coba-coba main kekerasan padaku?"
"Mana aku berani menantang engkau orang tua?"
Sahut Le Hok-sing dengan dingin.
"Tapi kalau engkau tidak mau kasih, terpaksa aku mengambilnya sendiri."
Habis berkata, terus saja ia bersuit panjang sekali.
Dan begitu suara suitan terdengar serentak kedua ekor Kim-mosoan tadi melompat maju.
yang seekor menubruk kearah Sucinya Auyang Wan dan yang lain menubruk kearah Kang Hay-thian.
Kaka-guru Auyang Wan adalah sigadis yang menjinjing pedang rampasan dari Kang Hay-thian itu.
Ketika mendadak melihat seekor Kim-mo-soan menubruk kearahnya.
saking kagetnya hampir-hampir semangatnya terbang meninggalkan raganya.
Dalam gugupnya selagi dia hendak mencabut pedang untuk melawan.
tahu-tahu cakaran Klm-mo-soan itu sudah menyelonong tiba, sekali pegang, terus saja Pokiam ditangannya itu kena direbut binatang itu.
Untung Kim-mosoan itu tujuannya cuma merebut pedang saja hingga dia tidak terluka.
Sedang Kim-mo-soan yang menubruk kearah Kang Haythian itu hampir-hampir saja celaka kena diserang oleh nenek she Im.
Tadi ketika mendengar suitan Le Hok-sing.
segera nenek itu tahu Hukau-cu itu sedang memberi komando kepada kedua ekor Kim-mo-soan untuk menyerang.
Maka sekali melesat, cepat sekali ia sudah men dahului melompat kesamping Kang Hay-thian.
begitu Kim-mo-soan itu menubruk tiba.
kontan ia papak dengan sekali pukulan.
Melihat kehendaknya dirintangi.
Kim-mo-soan itu menggerung sekali terus berdiri tegak bagaikan manusia, iapun ulur kedua cakarnya untuk mencengkeram kemuka sinenek.
Tapi binatang itu cuma tenaganya saja teramat besar dan gerak-geriknya cepat.
tapi apapun juga tidak bisa melebihi seorang jago silat pilihan seperti sinenek yang mahir berkelit atau menghindar.
Maka dengan mudah saja sinenek mendakan tubuh dan menggeser kesamping, luputlah"
Cakaran Kim-mo-soan itu. Sebaliknya karena terlalu keras tubrukannya itu dan tidak dapat menahan diri. binatang itu terus menubruk lewat disisi sinenek.
"Binatang kurangajar!"
Damperat sinenek. berbareng tangannya terus membalik.
"plak". bokong Kim-mo-soan itu tepat kena di-gablok dengan keras. Sekalipun kulit daging binatang itu sangat tebal dan keras, tapi kena pukulan dengan Lwekang itu. ia menjadi kesakitan juga. seketika binatang itu terguling-guling ditanah sambil mengeluarkan suara gerangan yang mengeramkan. Sebaliknya karena kuku sinenek tidak mempan melukai kulit Kim-mo-soan. saking keras pukulannya hingga akar kukunya juga mengeluarkan darah. Dan selagi hendak maju pula untuk menghantam Kim-mo-soan yang lain, tiba-tiba sinar dingin berkelebat didepannya. Le Hok-sing telah mengeluarkan Giokjio atau mistar kemalanya sambil merintangi didepan sinenek.
"Memukul anjing juga mesti memandang majikannya. kau telah menyerang Kim-mo-soan piaraanku, maka jangan kau salahkan akupun berlaku kurang sopan."
Demikian kata Le Hok-sing dengan gusar.
Nenek itu tahu Le Hok-sing adalah keturunan keluarga Le yang pasti lihay ilmu silatnya.
tapi melihat usianya masih muda.
betapa pun ia tidak pandang berat, maka jawabnya dengan tertawa di-ng'in.
"Hm. kalau sudah hajar Kim-mosoanmu. lantas kau mau apa-Enyahlah dari sini!" -berbareng tangannya terus menjulur kedepan. sepuluh kuku jarinya yang tajam bagai pisau itu lantas mencakar kearah Le Hok-sing. Meski usia Le Hok-sing masih muda. tapi dalam hal ilmu silat sesungguhnya sudah tergolong kelas satu. Dahulu waktu bertempur melawan Kim Si-ih di Bin-san. untuk mengalahkannya juga Kim Si-ih harus bergebrak sampai lebih 30 jurus. Kini ia menjadi gusar oleh lagak sinenek itu. segera iapun balas men-damperat.
"Bagus, jadi engkau anggap lebih tua. lantas hendak berlagak padaku ya? Hm. aku justeru tidak mau pergi, ingin kulihat cara bagaimana engkau mengenyahkan aku?"
Belum habis ucapannya. secepat kilat sepuluh kuku jari sinenek sudah mencakar tiba. namun sedikit menggeliat dan menggeser, dengan "Thian-lo-poh-hoat"
Yang lincah Le Hoksing telah dapat menghindarkan, serangan itu, bahkan mistar kemalanya berbareng menghantam balik untuk mengetok tangan sinenek. Gusar nenek itu tak terkatakan.
"Lepas tangan!"
Bentaknya sengit, berbareng iapun mengisar dan jarinya menjentik. Seka"
Ini serangannya ternyata sangat tepat, sasarannya sedikitpun tidak meleset.
Giok-jio lawan tepat dipapak oleh jentikannya itu.
Dengan mengandalkan tenaga dalamnya yang sempurna, nenek itu menyangka sekali jentik tentu akan membuat lawannya tak berkutik atau paling tidak tentu dapat mementalkan senjata lawan dari cekalannya Tak tersangka olehnya bahwa Kong-lik atau keuletan Lwekang si Le Hok-sing itu memangnya setarap dengan dia.
apalagi Giok-jio yang digunakan itu adalah pusaka tinggalan Kiau Pak-beng.
meski panjangnya cuma 20-30 senti, namun kadarnya sangat antap.
ketika kuku sinenek yang terbuat dari logam itu membentur Gick-cio itu.
bukan saja mistar itu tidak bergeming sedikitpun.
sebaliknya kuku sinenek menggehnting balik malah hingga pangkal kukunya ikut kesangkitan luar biasa, sampai orang tua itu menjerit saking tak tahan.
Dalam pada itu Kim-mo-soan yang dirobohkan oleh sienek tadi sudah berbangkit kembali dan sedang mengincar orang tua itu dengan beringas.
Dari sikapnya yang buas dan menakutkan itu.
tampaknya setiap saat akan menubruk pula kearah sinenek dan membcsetnya menjadi dua potong.
Untung sebelumnya Le Hok-sing telah memberi tunda dan membentak.
"Soan-ji. aku tidak perlu bantuanmu, lekas kau hantar pulang orang itu lebih dulu!"
Karena perintah sang majikan itu.
dengan agak ogahogahan Kim-mo-soan itu lalu memutar kesana terus angkat Kang Hay-thian yang tak bisa berkutik itu untuk selanjutnya dikempit dibawa lari keluar.
Karena tidak dapat bergerak apaapa.
terpaksa Kang Hay-thian menyerah kepada nasib dan membiarkan dirinya diperbuat sesukanya oleh binatang itu.
Sudah tentu sinenek tidak membiarkan tawanannya digondol lari Kim-mo-soan itu.
sekali ayun tangannya.
segenggam jarum berbisa terus dihamburkan kearah binatang itu dengan tujuan membutakan matanya.
Namun dari samping Le Hok-sing keburu melontarkan sekali hantaman Pik-khongciang hingga hujan jarum beracun itu kena dibuyarkan kejurusan lain.
"Hm. apa engkau ingin kedua ekor Kim-mo-soan itu tinggal di sini saja. kau kira akan lebih menguntungkan kau? Haha. bukan mustahil engkau akan lebih cepat keok malah?"
Demikian Le Hok-sing mengolok-olok dengan tertawa.
"Sudahlah, mari kita satu-lawan-satu saja. biarlah aku sendiri belajar kenal lebih jauh dengan kukumu yang beracun itu!"
Dalam murkanya sinenek pikir ada benarnya juga ucapan Le Hok-sing itu.
Pabila kedua ekor Kim-mo-soan itu tetap tinggal disitu.
betapapun dirinya menanggung risiko akan dikeroyok.
Karena itu.
biarpun hatinya tidak rela.
terpaksa ia menyaksikan begitu saja kedua ekor Kim-mo-soan itu menggondol lari Po-kiam dan orang tawanannya.
Segera kedua orang kembali bergebrak pula.
Kini sinenek sudah waspada dan tidak berani membentur Giok-jio lawannya lagi.
Sebaliknya Le Hok-sing cukup tahu betapa lihnynya Sincoa-ciang (pukulan ular sakti), dan kukunya yang berbisa, maka iapun tidak berani keras-lawan-keras hingga kena tercakar oleh kuku sinenek.
Begitulah dengan cepat sekali kedua orang itu saling gebrak dan saling menghindarkan benturan jarak dekat.
masingmasing sama menunggu kesempatan baik untuk menyerang Begitu sengit pertem puran mereka hingga angin pukulan mereka men deru-deru keras dan para murid sinenek terpaksa menyingkir jauh-jauh.
Dalam pada itu Kim-mo-soan yang menggondol lari Kang Hay-thian tanpa ada sesuatu rintangan karena anak murid sinenek sudah ketakutan kepadi binatang yang buas itu.
dengan leluasa Kim-me-soan itu berlari keluar dengan cepat bersama dengan kawannya yang menggondol pedang pusaka.
Meski keadaan Kang Hay-thian takbisa berkutik, tapi pikiran-nya masih sangat jernih.
Dengan jelas dapat didengarnya suara jeritan kuatlr Auyang Wan tadi.
lalu dirinya dikempit dan dilarikan Kim-mo-soan itu dengan secepat terbang.
Hanya sekejap saja tahu-tahu sudah keluar dari lembah pegunungan itu.
Kang Hay-ihian sudah tidak pusingkan mati-hidupnya lagi.
pikirnya.
"Sungguh tidak nyana kembali aku jatuh kedaiam ceng-keraman Thian-mo-kau-kaucu pula. Diwaktu aku masih kecil. ia sangat baik kepadaku, tapi sekali ini entah mengapa dia telah kirim pemuda baju hitam itu tersama kedua ekor Kim-mo-soan untuk menangkap diriku? Aku tidak kuatir diriku tertangkap olehnya. cuma sinenek tukang tenung itu pasti akan lebih murka dan entah siksaan keji apa yang bakal diderita pula oleh nona Auyang?"
Tengah Hay-thian liengelamun.
tiba-tiba dari depan terdengar ada suara berdetaknya kuda.
seorang penunggang kuda tampak mendatangi.
Sesudah dekat segera Hay-thian dapat mengenali penunggangnya itu tak-lain-tak-bukan adalah sipemuda yang memberi kabar kepadanya untuk menolong Auyang Wan itu.
Ketika mendadak melihat Kang Hay-thian digondol lari oleh seekor orang utan.
pemuda itu menjadi kaget dan berteriak.
"Hai. Kang-siangkong. kenapakah engkau? Dimanakah Sumoayku. dapatlah dia menyelamatkan diri?" -Belum selesai perkataannya. mendadak Kim-mo-soan itu menggerung keras-keras. saking kagetnya kuda pemuda itu sampai berdongkrak ketakutan dan meloncat kesamping. lalu roboh takdapat bangun kembali, keruan pemuda itu ikut terbanting hingga kepala pusing tujuh keliling Kiranya saking takutnya kuda itu menjadi pecah nyalinya oleh suara auman Kim-mo-soan hingga roboh terbinasa. Tapi kedua ekor Kim-mo-soan d perintah oleh majikannya tidak boleh semba rangan mencelakai jiwa manusia, maka mereka hanya berlari lewat disamping sipemuda yang terjungkal jatuh itu tanpa mengganggunya. Dalam kuatirnya tadi pemuda itu telah kelepasan mulut hingga mengaku siapa dirinya. diam-diam Kang Hay-thian menjadi sadar duduknya perkara dan membatin.
"Pantas, kiranya dia adalah Su-hengnya nona Auyang. makanya dia pesan wanti-wanti padaku agar jangan mengaku mendapat petunjuk dari dia untuk menolong sinona. Tampaknya dia sengaja hendak meminjam tenagaku untuk menyelamatkan Sumoaynya. Padahal gurunya sangat kejam. tapi dia toh berani menanggung risiko ini. Ehm. baik hati juga dia ter hadap Sumoaynya!"
Begitulah kedua ekor Kim-mo-soan itu berlari terus secepat terbang mendaki sebuah gunung ypng tinggi.
Kim-mo-soan yang mengempit Kang Hay-lh bn itu agaknya merasa kurang leluasa, segera ia berganti cara.
Hay-thian digendongnya dipunggungnya.
rupa nya iapun tahu keadaan Hay-thian tak bisa bergerak, tangannya tidak dapat dipakai memegang, maka ekornya yang panjang lantas digantolkan keatas hingga mirip seutas tambang yang mengikat kenceng dipinggang Hay-thian.
Dengan demikian.
Kim-mo-soan itu dapat berlari lebih cepat dengan keempat kakinya.
Setelah melintasi sebuah lereng gunung, tiba-tiba tertampak jauh d.depan sana ada dua titik hitam sedang bergerak dengan cepat kearah sini Segera terdengar suara seorang wanita sedang berkata.
"Eh. mak. lihatlah kedua ekor binatang aneh itu!"
Menyusul suara seorang wanita yang lebih tua telah menjawab. .Ya, aneh, bukankah binatang-binatang ini adalah Kim-mo-soan piaraan Hukaucu dari Thian-mo-kau?"
"He. dipunggung seekor Kim-mo-soan itu tergendong pula seorang!"
Seru suara wanita yang muda tadi.
"Ha, yang seekor lebih lucu pula. mulutnya menggigit sebatang pedang tampaknya!"
Tengah bicara.
jarak kedua pihak sudah dekat.
Waktu Haythian memandang kedepan.
ia melihat seorang wanita muda belia bersama seorang wanita tua kira-kira berusia 50-an dan rambutnya sudah mulai ubanan, sudah berada didepan situ.
Dari percakapan mereka tadi.
terang mereka adalah ibu dan anak.
Wanita tua ttu agak bungkuk dan membawa tongkat.
Sekali tongkatnya menutul tanah.
tahu-tahu orangnya terus melesat kedepan beberapa meter jauhnya dengan cepat luar biasa, bahkan tepat memapak kehadapan kedua ekor Kim-mo-soan Diam-Diam Kang Hay-thian merasa heran, pikirnya.
"Berani sekali kedua wanita ibu dan anak ini, ternyata tidak jeri kepada Kim-mo-soan ini!' Tiba-Tiba didengarnyi wanita tua itu bersuara heran pula. lalu katanya kepada sigadis.
"Eh, pedang yang digigit Kim-mosaon itu adalah sebatang Pokiam. bocah yang digendong Ini besar kemungkinan adalah murid Kim Si-ih yang she Kang itu."
"Tapi mengapa bisa berada digendongan binatang ini?"
Ujar sigadis.
"Bukankah semalam Moa-ih-tojin melaporkan kepada kita bahwa bocah ini sudah dapat ditawan Wan-moay". .Ya. tentu, ada apa-apa yang mencurigakan."
Kata siwanita tua.
"Sudahlah, terpaksa aku tak dapat pikirkan apakah akan bermusuhan dengan Thian-mo-kau atau tidak?"
Tengah berkata, jarak kedua pihak sudah tinggal beberapa meter saja.
Kim-mo-soan yang didepan lantas menggerung pula ketika melihat ada orang merintangi jalan mereka, berbareng terus menubruk kedepan dengan buas.
"Binatang buta. biar kucolok matamu supaya kenal siapa nenekmu ini!"
Bentak wanita tua itu dengan gusar.
Sekonyong-konyong terdengar suara menderingnya benda keras menyam-bar di udara.
Hay-thian tidak tahu apakah Kimmo-soan yang menggendongnya itu kena tertimpuk oleh senjata rahasia lawan atau tidak, yang terang tubuhnya sendiri terasa terkena sebutir sebangsa Thi-lian-ci atau biji teratai besi.
Menyusul siwanita tua lantas berseru.
"Awas. Pik-ji!"
Dan aneh juga.
Entah mengapa, pada saat itu juga Haythian merasakan badannya seperti dapat bergerak kembali.
Ia coba menahan punggung Kim-mo-soan itu dengan sikunya serta men-dongakan kepalanya.
Dan pada saat itu juga tibatiba terdengar berkeslurnya angin, tongkat siwanita tua sedang mengepruk ke-atas kepala Kim-mo-soan yang menggendongnya itu.
---ooo0dw0ooo---
Jilid 6 Walaupun Kim Mo Soan itu sangat cekatan, tapi serangan wanita tua itu sangat cepat, binatang itu keburu mengegos sedikit, namun tidak urung bahunya juga keserempet oleh hantaman tongkat.
Saking kesakitan binatang itu sampai berkuik dan mendadak melompat ke atas setinggi dua-tiga meter untuk menubruk ke depan-Melihat kebuasan binatang itu, wanita tua itu tidak berani memapaklnya, cepat ia mengisar ke samping, berbareng tongkatnya hendak disabetkan pula, namun Kim Mo Soan yang lain sudah ikut menubruk juga ke arahnya.
"Binatang, apa kau juga cari mampus"
Bentak si wanita tua sambil acungkan tongkatnya dengan gaya Ki Hwe Liau Thian (Angkat obor Menerangi Langit), ujung tongkat tepat mengincar kepala Kim Mo Soan itu.
Apabila binatang itu berani menubruk maju, pasti kepalanya akan berlubang oleh tutukan tongkatnya.
Sekonyong-konyong sinar pedang tampak berkelebat.
Kiranya Kim Mo Soan itupun sangat cerdik, melihat sang kawan terancam dan insaf dirinya bukan tandingan wanita tua itu.
maka ia telah menirukan gerakan jagoan silat kelas wah id, mendadak ia berdiri tegak bagaikan manusia dan pedang pusaka rampasannya telah dilolos keluar olehnya.
Sekali pedangnya bergerak, krak, tahu-tahu tongkat si wanita tua sudah terkutung sebagian-Dalam kejutnya wanita itu masih memuji.
Bagus Cay Im Pokiam benar-benar tiada bandingannya di dunia ini Berbareng tongkatnya ia tarik kembali untuk segera akan menj erang pula dengan tipu lain.
Tapi pada saat, itulah tiba-tiba terdengar jeritan ketakutan anak gadisnya.
Kiranya Kim Mo soan yang menggendong Kang Hay-thian dengan melompat setinggi dua-tiga meter itu tadi tidak terus menubruk ke atas kepala wanita tua itu, tapi melayang lewat kesana dan tidak membalik untuk membantu kawannya mengerubut si wanita tua, sebaliknya lantas berganti haluan dan menubruk ke arah si gadis.
Karuan si gadis menjerit kaget dan baru saja pedangnya dilolos, tahu-tahu sudah kena dirampas oleh Kim Mo soan.
Ketika binatang itu mencakar pula, untung gadis itu sempat berkelit namun bajunya terobek sebagian juga.
Cepat gadis itu enjot tubuhnya sekuat-kuatnya untuk memanyat ke atas sebatang pohon-Tapi Kim Mo soan itupun ikut meloncat, jaraknya cuma kacek beberapa senti saja hampir-hampir tumit kakinya kena disambar oleh cakar binatang itu.
Coba kalau Kim Mo soan itu tidak menggendong orang di punggungnya, pastilah gadis itu akan dipegang olehnya.
Karuan saja gadis itu ketakutan setengah mati dan menjerit pula minta tolong sang ibu.
Dalam keadaan begitu, wanita tua itu tidak sempat memikir untuk menyarang lagi Kim Mo soan tadi, terpaksa ia memburu kesana menolong puterinya sambil membentak.
Binatang kurang ajar Berbareng iapun menimpukkan senyata rahasianya pula untuk mengusir Kim Mo soan itu.
Namun secepat anak panah kedua ekor Kim Mo Soan sudah lantas melesat ke depan.
Bila kemudian wanita tua itu dapat menolong puterinya turun dari atas pohon, sementara itu kedua ekor binatang itu sudah melintasi beberapa lereng bukit.
Betapa tinggi wanita tua itupun tidak keburu mencandaknya.
Diam-diam Kang Hay-thian merasa geli di atas gendongan Kim Mo soan itu.
pikirnya.
Kedua binatang ini benar-benar sangat cerdik, Ternyata dapat memakai taktik akal licik.
Purapura menyerang sebelah sana, tapi terus lari melalui sini.
ilmu silat wanita tua itupun sangat lihay.
Tampaknya tidak di bawah suhu-nya nona Auwyang.
Terdengar si gadis tadi menyebut nona Auwyang sebagai Wan-moay (adik Wan) Jangan-jangan Auwyang Wan juga puteri wanita tua ini?
dengan ilmu silatnya yang tinggi ini, mengapa mesti mengirim puterinya sendiri untuk menjadi murid orang lain?
Teringat kepada Auwyang Wan, hati Hay-thian menjadi hampa seakan-akan kehilangan sesuatu.
Ia menarik napas sekali, tiba-tiba terasa hawa murninya berjalan dengan sangat lancar.
Ketika dicobanya pula, benar juga tubuhnya sudah dapat bergerak dengan merdeka.
Kiranya Kang Hay-thian dasarnya memang memiliki ilmu Tiau To Hiat To yang aneh.
sebabnya dia tak bisa bergerak adalah karena kena sabetan kuku si nenek yang aneh hingga tenaga dalam orang tua itu meresap ke dalam tubuhnya dan mengganggu kelancaran jalan darah di urat nadi tempat Hiat To yang terserempet, makanya menjadi kaku seketika.
Tapi tadi secara kebetulan tubuhnya kena tertumpuk sebiji Thi Lian ci dari si wanita tua bersama gadisnya itu hingga Hiat To-nya yang terganggu itu lambat-laun lancar kembali.
Ditambah lagi Hay-thian memang memiliki ilmu sakti pelindung badan HouTeh sinkang, maka tidak antara lama dapatlah ia bergerak seperti sediakala.
setelah berlari sejenak pula, tiba-tiba Kim Mo soan itu berhenti dan mengeluarkan uara untuk memanggil kawannya, kemudian saling mengusap dan menggesekkan badan dengan mesra sambil merangkul leher Kim Mo soan yang menggendongnya itu, Kang Hay-thian coba melongok ke depan.
ia lihat ujung mata Kim Mo soan itu meneteskan darah, agaknya terluka oleh Am Gi (senyata rahasia) si wanita itu.
Untung tidak mengenai biji matanya.
Hay-thian memang selalu membawa obat luka, kini ia sudah bisa bergerak.
maka ia lantas mengeluarkan obat untuk dibubuhkan di ujung mata Kim Mo soan yang terluka itu.
Merasa matanya menjadi segar dan tidak kesakitan lagi, binatang itu berjingkrak-jingkrak senang.
Ekornya perlahanlahan digosok-gosokkan ke tubuh Kang Hay-thian sebagai tanda suka-cita.
"sekarang kita sudah menjadi teman baik bukan? Nah, ekormu boleh lepaskan badanku sekarang,"
Ujar Hay-thian dengan tertawa.
Padahal tenaga Hay-thian sebenarnya sudah hampir pulih semua.
Kalau mau, sekali ia meronta tentu dapat melepaskan diri dari gendongan Kim Mo soan itu.
Tapi ia tidak ingin menyakiti binatang itu, maka sengaja omong secara baik-baik dengan dia.
Ternyata Kim Mo soan itu juga sangat cerdik dan seperti paham maksud Kang Hay-thian.
Ekornya yang mirip tambang melilit di pinggang Kang Hay-thian itu lantas dikendorkan.
Maka dapatlah Kang Hay-thian menarik napas lega.
Ia coba lemaskan otot kaki tangan.
Kemudian ia melompat turun dari punggung Kim Mo soan, sekali sambar, segera Pokiam yang digigit Kim Mo soan yang lain itu direbutnya kembali.
Lalu katanya dengan tertawa.
sekarang kalian bolehlah pulang sendiri Maafkan aku tak dapat berjalan bersama kalian lagi.
Habis berkata, segera la angkat kaki melarikan diri Tapi tahu-tahu sesosok bayangan melesat lewat di atas kepalanya.
seekor Kim Mo soan telah melampaui di depannya dan Kim Mo soan yang lain juga ikut menyusulnya.
Ia menjadi tergencet di tengah dan diserang dari muka dan belakang.
Dengan lengan mereka yang panjang itu, kedua Kim Mo soan itu lantas menubruk ke arah Kang Hay-thian-He, apakah kalian sudah melupakan persahabatan kita?
seru Hay-thian sambil tertawa dan berkelit.
Mendadak Kim Mo soan yang berada di depannya itu berdiri tegak seperti manusia sedang menghormat padanya sambil mulutnya bercuat-cuit beberapa kali.
Hay-thian dapat menangkap maksudnya, tentu binatang itu ingin mengatakan dia terpaksa mesti menangkap kembali pemuda itu sebab mereka harus tunduk kepada perintah majikan, maka Hay-thian diharap maklum.
Namun Kang Hay-thian menggeleng-gelengkan kepala, katanya.
Aku sendiri masih ada urusan yang harus diselesaikan, hendaklah kalian memberi jala n padaku.
Kedua ekor Kim Mo soan itu tampak garuk-garuk pinggang mereka, sekonyong-konyong mereka mengaum tertahan dan berbareng terus menubruk ke arah Kang Hay-thian.
Tapi dengan Thian Lo Poh Hoat yang cepat dan gesit, Kang Hay-thian lantas menyusup lewat di bawah bahu Kim Mo soan yang menubruk dari depan itu.
Tak tersangka Kim Mo soan yang menyerang dari belakang itu sangat cekatan gerak-geriknya, terus saja ia memburu maju dan menyambret pundak Hay-thian.
Dalam kagetnya Kang Hay-thian sampai menjerit.
Padahal Kim Mo soan itu cuma ingin menangkapnya hidup-hidup dan tiada maksud hendak mencelakainya.
Maka begitu mendengar teriakan pemuda itu, segera la kendorkan cakarnya, sebaliknya ekornya lantas melingkar ke atas hendak melilit badan Kang Hay-thian.
Namun dengan cepat pemuda itu lantas meloloskan diri seperti belut licinnya.
Tapi kedua ekor Kim Mo soan itu masih terus menguber.
Tampaknya mereka bertekad mesti menangkap kembali Kang Hay-thian.
Mau tak mau Kang Hay-thian menjadi mendongkol, bentaknya tiba-tiba Jika kalian masih menguber terus, terpaksa aku akan berlaku kasar Berbareng cay in Pokiam terus saja dilolosnya.
Krak, pedangnya membacok ke samping hingga sepotong batu terbelah menjadi dua.
Menyusul ia putar kencang pedangnya hingga sinar putih berkilauan.
Kedua ekor Kim Mo soan itu dapat memahami betapa lihaynya Pokiam, tapi mereka hanya menghindar saja agak jauh ke pinggir dan masih tetap tak mau meninggalkan Kang Hay-thian.
Tapi dengan memutar pedang pusakanya, dapatlah Haythian menerjang pergi belasan tindak jauhnya.
Dari belakang ia masih mendengar suara gedebak-gedebuk.
tanpa menoleh juga ia tahu pasti kedua ekor Kim Mo soan itu masih membututi dirinya.
Sekonyong-konyong Hay-thian membalik dan pura-pura membacok.
bentaknya dengan lagak sangat gusar.
Apa kalian ingin mampus?
Hayo, lekas pergi danjangan merecoki aku lagi Untuk sesaat kedua Kim Mo soan itu terpaksa melompat ke samping untuk menghindar, tapi begitu Hay-thian berjalan kembali mereka memburu pula dengan suara ribut.
Kang Hay-thian sudah sehari semalam tidak makan-makan apa-apa, setelah berlari tak lama, ia merasa kepala pusing dan mata berkunang-kunang, punggung juga mulai terasa gatalgatal pegal.
Rupanya tempat yang lecet tercakar oleh kuku gurunya Auwyang Wan itu.
Berkat Lwekang yang tinggi semula Hay-thian masih dapat menahan menyalarnya racun dari luka lecet itu.
Tapi kini setelah badan lemas, racun dalam badan mulai bekerja dan merangsang dengan hebat.
Diam-diam Hay-thian menjadi gopoh, pikirnya.
"Betapapun aku tak akan mampu meninggalkan kedua ekor Kim Mo soan ini, kalau aku tidak membunuh mereka, sebentar bila keadaanku sudah payah, tentu akan ditawan mereka. pula kalau tidak lekas-lekas mencari suatu tempat sepi untuk mengaso, bila racun sudah menyalar, pasti jiwaku juga akan melayang sendiri"
Sebenarnya dengan ilmu silat Kang Hay-thian, ditambah Pokiam yang berada padanya itu, kalau dia hendak membunuh kedua ekor Kim Mo soan itu sebetulnya tidak susah.
Tapi mengingat binatang-binatang itu adalah kenalan lama gurunya pula tiada bermaksud jahat pada dirinya, maka Hay-thian tetap ragu-ragu dan tidak mau menggunakan pedang untuk membunuh.
sebaliknya kalau Hay-thian cuma main gertak saja, kedua ekor Kim Mo soan itupun tetap tak dapat dienyahkan Tengah Hay-thian merasa kewalahan karena recokan kedua ekor Kim Mo soan itu, tiba-tiba terdengar suara burung berkaok nyaring di udara.
Hay-thian terkesiap.
ia heran burung jenis apakah itu sedemikian keras suaranya?
Dalam pada itu tiba-tiba segumpal awan hitam tampak melayang turun dari udara, makin lama makin rendah.
sesudah dekat, kiranya bukan awan bukan mega, tapi seekor rajawali raksasa.
Lebar kedua sayapnya yang terpentang itu sedikitnya dua-tiga meter luasnya.
Sambil berkaok-kaok beberapa kali, mendadak burung itu menubruk ke bawah.
Begitu hebat sambaran rajawali itu hingga Kang Hay-thian tergeliat oleh sampokan angin sayap binatang itu.
selagi ia hendak membela diri dengan pedangnya, tahu-tahu sasaran yang disambar oleh rajawali itu kiranya adalah kedua Kim Mo soan Berbareng kedua ekor Kim Mo soan itu meloncat ke atas untuk memapak sambaran rajawali itu dengan lengan mereka yang panjang.
Brak, bulu rajawali itu tercabut secomot.
Mendadak kedua sayapnya bergerak.
sekali pentang dan sekali sabet, biarpun kedua ekor Kim Mo soan itu adalah binatang yang kuat juga, tetap tidak tahan oleh tenaga sampokan sayap rajawali.
Baru saja mereka meloncat atau mendadak sudah tersampokjatuh lagi.
Tanpa ayal lagi rajawali itu lantas menyambar ke bawah hingga kedua ekor Kim Mo soan itu kena dicengkraman oleh kedua cakarnya yang tajam dan kuat itu, terus dibawa ke udara.
Kemudian kedua ekor Kim Mo soan itu dilemparkan ke dalamjurang dari atas udara.
Hay-thian terkejut dan menyangka kedua ekor Kim Mo soan itu pasti akan binasa .tak terduga, sejenak kemudian, terdengarlah suara gerungan kedua ekor Kim Mo soan itu di bawah jurang sana.
Nyata binatang-binatang itu sang at perkasa, dibanting dari udara setinggi itu toh masih belum mati.
Bila manusia dijatuhkan dari udara setinggi itu, boleh jadi sudah hancur lebur menjadi bakso.
Kejut dan girang rasa Kang Hay-thian.
Kejut karena rajawali raksasa itu ternyata dapat mengalahkan kedua ekor Kim Mo soan dengan mudah dan entah cara bagaimana akan berbuat terhadap dirinya.
Girangnya karena kini telah bebas dari recokan kedua ekor Kim Mo soan itu.
Tapi aneh juga, rajawali itu ternyata sangat jinak padanya.
Binatang itu cuma terbang mengitar di atas kepalanya sambil berkaok beberapa kali, lalu terbang pergi kemudian putar balik.
sayapnya bertepuk perlahan, habis itu terbang lagi dengan lambat.
Begitulah berulang kali, rajawali itu pergi datang sambil mengitar di atas kepala Kang Hay-thian Sudah tentu Hay-thian terheran-heran Akhirnya ia berkata pada binatang itu.
"Apakah kau maksudkan supaya aku ikut pergi denganmu?"
Dengan sendirinya rajawali itu tidak dapat menyawab, tapi terdengar ia bersuara nyaring sekali sambil mengitar satu kali di atas kepala Kang Hay-thian.
Begitu rendah terbang burung itu hingga sayapnya hampir menepuk di atas kepala pemuda itu, kemudian mendahului terbang ke depan seakan-akan sedang menunjukkan jalan.
Karena heran dan tertarik, tanpa pikir lagi Hay-thian lantas ikut di belakang rajawali itu.
Pikirnya.
"Apakah rajawali ini adalah binatang piaraan orang dan sengaja datang buat menolong diriku?"
Setelah berlari-lari mengikuti arah terbang rajawali itu, akhirnya hari sudah dekat magrib.
Kang Hay-thian mendapatkan dirinya sudah berada di atas sebuah puncak gunung yang terjal dan curam.
Angin pegunungan meniup dengan kencang.
Hay-thian sudah lapar dan kedinginan pula.
ia benar-benar sudah payah dan kehabisan tenaga.
Sekonyong-konyong rajawali itu bersuara panjang sekali, lalu terang tinggi ke angkasa.
Hanya sekejap saja sudah menghilang dibalik awan.
Diam-diam Kang Hay-thian mengeluh, baru sekarang ia merasa menyesal telah mengikuti rajawali itu secara serampangan hingga kesasar ke atas puncak gunung yang curam.
Kini tenaga sudah habis, untuk turun dari puncak gunung itu terang susah.
Kalau paksakan diri, boleh jadi bisa mati tergelincir ke bawah jurang.
Keadaannya sekarang menjadi serba susah, maju tak bisa mundur pun salah.
Lebih celaka lagi ialah bekerjanya racun di dalam badannya semakin hebat hingga kepalanya semakin pening rasanya.
Sekuatnya Hay-thian melangkah ke depan lagi, tiba-tiba ia melihat di depan ada berkelipnya sinar api.
Hampir Hay-thian tidak percay akepada matanya sendiri Ia coba kucek-kucek matanya dan menegas pula.
Ya, memang tidak salah, itulah berkelipnya sinar pelita.
Remang-remang tampak pula ada sebuah rumah menyelip di antar pohon-pohon yang rindang di depan sana.
Sementara itu pandangan Hay-thian sudah mulai kabur dan kepala puyeng.
sama sekali tak dapat berpikir lagi rumah siapakah yang tinggal di puncak gunung setinggi itu dan mengapa memasang Teng long (pelita lampion) di depan rumahnya.
Yang terpikir olehnya ialah tentang keadaan dirinya yang sudah payah itu kini telah dapat diketemukan rumah tinggal manusia yang dapat dimintai bantuan makanan dan sekedar pondokan.
Maka pelita itu baginya seakan-akan mercu suar di tengah samudera raja bagi sebuah sampan yang terombang-ambing di antara ombak samudera.
Hampir dengan seantero tenaganya, dengan susah payah akhirnya dapatlah Kang Hay-thian mengesot sampai di depan rumah itu.
Tapi untuk mengetuk pintu ia sudah tidak sanggup.
Bruk.
terjungkal dia tak kuat berdiri lagi.
samar-samar didengarnya suara merdu seorang gadis lagi berkata di dalam rumah .
"Eh, ayah Benar-benar ada orang datang". Menyusul pintu terdengar dibuka dan muncul seorang gadis jelita. Namun Hay-thian sudah tak kuat bicara lagi. Ia cuma merintih sambil memegangi perutnya. Dengan susah payah akhirnya tercetus suara dari mulutnya.
"La". Lapar"
Begitu lirih suaranya sampai telinga sendiripun hampir-hampir tidak mendengarnya.
"o, kasihan"
Seru gadis itu. Lalu dalam keadaan sadar tak sadar Hay-thian merasa gadis itu telah memayangnya ke dalam rumah dan diletakkan di atas pembaringan. Menyusul seperti suara seorang tua telah berkata.
"Paling penting tolong jiwa orang. Kenapa mesti malu? Hayolah suapi dia"
Sejenak kemudian, Hay-thian merasa mulutnya disuapi sesuatu yang cair.
Setelah kemasukan makanan, perlahan-lahan dapatlah Kang Hay-thian memulihkan semangatnya.
Waktu ia membuka mata, ia lihat seorang tua dengan wayah merah bercahaya sedang berduduk di depannya.
Di tengah situ adalah sebuah meja bundar, di atas meja terletak sekuali bubur yang masih hangat dan mengepul.
Di samping itu ada pula beberapa mang kok sayur-mayur sebangsa tahu, abon, telur dan sebagainya yang mudah ditelan.
Di sebelahnya terdapat seorang gadis dan sedang menyuapi dirinya dengan senduk.
Diam-diam Hay-thian menjadi heran, pikirnya.
"Keluarga orang macam apakah ini? Mengapa mereka seakan-akan sudah tahu akan kedatanganku. pula di pegunungan sunyi seperti ini sudah tersedia daharan yang cocok bagi orang yang perlu perawatan?"
Dalam pada itu terdengar si gadis telah berseru girang.
"Ah, sudahlah mendusin sekarang"
Hay-thian meronta untuk duduk lebih tegak. lalu katanya.
"Terima kasih, nona Biarlah aku makan sendiri saja"
Habis berkata, terus saja ia terima senduk dan mang kok dari tangan si gadis.
Hanya sekejap saja seluruh bubur di dalam kuali dan sayur-mayur di atas meja sudah disapu bersih olehnya ke dalam perut.
Melihat betapa lahapnya cara makan pemuda itu, diamdiam si gadis jelita itu tertawa geli.
Hay-thian menjadi jengah, katanya kemudian dengan kikuk.
"Banyak terima kasih atas pertolongan Lotiang (bapak) dan nona. sungguh aku memang sedang kelaparan sekali. Numpang tanya, siapakah nama Totiang yang mulia? Mengapa seakan-akan sudah tahu sebelumnya Cayhe bakal bikin repot kesini?"
"Aku bernama Hoa Thian-hong dan ini adalah puteriku, Inpik,"
Sahut kakek itu "sudah biasa orang kesasar jalan di pegunungan ini, maka setiap malam aku memasang pelita kerudung di depan rumah agar yang kesasar dapat mencari jalan kemari untuk menginap.
Dengan demikian sekedar dapatlah kami berbuat sedikit kebajikan untuk sesamanya."
Jawaban yang kurang lengkap membuat Kang Hay-thian setengah percaya setengah ragu-ragu. Dan selagi ia hendak menanya lebih jauh, namun si kakek sudah lantas mendekati dan berkata kepadanya.
"siang kong (tuan muda) tentu terlalu lelah, silahkan mengaso sajalah. Ada apa-apa dapat kita bicarakan lagi besok."
Ia anggap Kang Hay-thian seperti anak kecil saja, maka sembari berkata sambil tepuk-tepuk pundak pemuda itu dengan ramah-tamah.
Kena ditepuk dan diraba dengan perlahan, aneh juga, Kang Hay-thian merasa badannya menjadi segar dan hilang rasa curiganya, tanpa merasa akhirnya ia terpulas.
Entah sudah berapa lamanya Hay-thian tertidur.
Ketika tibatiba ia terjaga oleh suara berisik suara burung dan membuka matanya, ternyata cahaya sang surya yang gilang gemilang sudah menyinari angkasa raya.
Di depan sana ada sebuah pohon besar dan rajawali raksasa yang dilihatnya kemarin itu tampak hinggap di atas pohon sedan menjulurkan lehernya yang panjang itu untuk melongak-longok seakan-akan sedang mengintai dirinya.
Hay-thian merasa dirinya habis mimpi, ia pikir burung raksasa itu mungkin adalah peliharaan si kakek she Hoa itu.
Pada saat itulah tiba-tiba didengar nya suara seseorang yang sedang bicara dengan lantangnya.
"Tampaknya ilmu silat bocah ini memang sangat tinggi tapi pengalamannya yang kurang, masih sangat hijau dalam pengembaraan."
Hay-thian menjadi kaget, jangan-jangan dirinya terjebak dalam perangkap musuh lagi. Tapi segera pikirnya lagi.
"Ah, tidak mungkin. Kalau mereka bermaksud mencelakai aku, buat apa semalam mesti menolong aku? Ia coba jalankan napas dan lemaskan otot, terasa semuanya berjalan lancar tak kurang apa-apa. Racun dalam tubuhnya juga terasa sudah hilang bersih."
Lalu terdengar suara tadi berkata pula.
Hoa-locianpwe, beruntung engkau piara burung rajawali ini hingga bocah ini dapat diselamatkan.
Namun akibatnya engkau menjadi bermusuhan dengan beberapa orang.
Ai, semuanya ini adalah gara-garaku saja."
Hay-thian coba berduduk dan memandang ke arah luar jendela.
Ternyata mereka yang sedang bercakap-cakap itu berada di luar pelataran.
Yang bicara adalah seorang laki-laki setengah umur, bajunya berwarna-warni buatan dari berpuluh-puluh potong kain kecil-kecil yang disambung satu sama lain.
Melihat dandanannya itu agaknya adalah seorang pengemis.
Ia menjadi heran, pikirnya.
"Darimanakah pengemis ini? selamanya kau tidak kenal padanya. Tapi dari nada perkataannya tadi kedengarannya dialah yang minta si kakek Hoa agar supaya menolong diriku. Teka-teki apakah dibalik kejadian ini?"
Tengah Hay-thian tidak habis mengerti, didengarnya si kakek Hoa itu sudah berkata.
"Cong-laute, untuk bicara terus terang, sebenarnya akupun sudah ada maksud bertemu dengan majikan Kim Eng Kiong itu Toh, akhirnya aku pasti bermusuhan dengan dia, soal cuma waktunya saja. Dan bagaimana pendapatmu, apakah kaupun ingin ikut melihat ramai-ramai kesana?"
"Aku sudah berjanji untuk bertemu dengan Ek pangcu di Pek Ling Bio pada pertengahan bulan tujuh nanti,"
Terdengar pengemis setengah umur itu menyawab.
"Maka tentang perjamuan pada hari Tiongciu yang diadakan majikan Kim Eng Kiong itu, entahlah apakah aku masih sempat ikut hadir atau tidak?"
Diam-diam Hay-thian ragu-ragu, ia tidak tahu tokoh macam apakah Cukong atau majikan dari Kim Eng Kiong itu Dari lagu ucapan kakek Hoa itu, kedengarannya orang tua itu kenal asal-usulnya.
Pikirnya pula.
"Ek-pangcu yang dimaksudkan pengemis ini tentu adalah Ek Tiong-bo, itu ketua Kay Pang sekte selatan jika demikian, orang she Tiong inipun kambrat dari Kay Pang."
Benar juga, segera terdengar si kakek Hoa berkata pula.
"Tiong-laute, lebih dahulu aku memujikan perundingan kalian dari Utara dan selatan bisa dipersatukan kembali. selanjutnya Thian Mo Kau pasti tidak berani sembarangan berbuat sewenang-wenang lagi. Dan semua golongan dan aliran di Kang-ouw juga pasti akan mengindahkan Kay Pang kalian."
Hay-thian terkejut mendengar sampai disini, tiba-tiba ia sadar.
"Ha, apakah barangkali pengemis setengah umur ini adalah Tiong Tiang-thong, itu Pangcu dari Kay Pang Utara?"
Dahulu Hay-thian pernah mendengar cerita suhu-nya bahwa Tiong Tiang-thong itu adalah tokoh pilihan di dalam Kay Pang.
Belum ada 30 tahun usianya sudah diangkat menjadi Pangcu dari Kay Pang Utara.
Hanya dalam beberapa tahun saja, semua organisasi pengemis itu telah disusun dengan baik sekali.
sebenarnya Kay Pang sekte utara itu sudah banyak mundur, tapi sesudah Tiong Tiang-thong menjadi ketua, segera dapatlah ditegakkan kembali kekuatannya.
Bicara tentang umur, Tiong Tiang-thong jauh lebih muda daripada Ek Tiong-bo, tapi dalam hal ilmu silat mungkin Ek Tiong-bo tiada setengah tingginya daripada ketua Kay Pang utara ini.
Kang Hay-thian jarang mendengar gurunya memuji orang lain, sebab itulah nama Tiong Tiang-thong yang pernah disinggung Kim si-ih itu sangat berkesan dalam benaknya.
Pikirnya kemudian "Hoa-locianpwe ini menyebut dia Tionglaute, sedangkan dia mengatakan akan berunding tentang peleburan antara Kay Pang Utara dan selatan dengan Ek Tiong-bo, maka tidak usah disangsikan lagi pengemis setengah tua ini memang Tiong Tiang-thong adanya Dalam girangnya segera Hay-thian bermaksud keluar untuk berkenalan dengan tokoh Kay Pang itu Tapi segera terpikir olehnya bahwa orang sedang berunding urusan penting, mungkin akan tidak senang kalau terganggu.
pula bila orang itu bukan Tiong Tiang-thong, tentu dirinya akan merasa malu.
Karena itu ia mengurungkan niatnya untuk keluar.
Dalam pada itu terdengar si kakek sedang berkata.
"Kalau dibicarakan, aku masih utang kebaikan kepada E k Tiong-bo. Maka bila engkau bertemu dengan dia, sampaikan terima kasihku kepadanya."
"Hutangmu kepadanya itu sudah kau bayar lunas, masa engkau masih belum tahu?"
Demikian sahut si pengemis she Tiong itu dengan tertawa.
"Bahkan dia yang harus berterima kasih kepadamu."
"Mengapa bisa begitu?"
Tanya si kakek she Hoa dengan heran.
"Kang-siauhiap ini adalah muridnya Kim si-ih, kepergiannya ke utara ini adalah untuk kepentingan Bin-san Pay. Ek Tiongbo sendiri adalah suheng-nya Kok Ci-hoa, pejabat ketua Binsan Pay sekarang. Dari itu, sewaktu Kang-siauhiap ini berangkat menuju ke utara, Ek-pangcu sudah lantas mengirimkan kabar burung merpati kepadaku agar Kay Pang utara membantunya bilamana perlu. Kini engkau telah menolong dia, kebaikanmu ini sudah jauh lebih dari cukup untuk membayar hutangmu itu."
"Hahaha, kiranya demikian, pantas kabar beritamu begitu cepat,"
Ujar si kakek Hoa dengan terbahak-bahak. Dan baru sekarang Kang Hay-thian sadar juga, pikirnya.
"Ah, kiranya demikian Makanya selamanya aku toh tidak kenal mereka, tapi diam-diam mereka telah melindungi diriku. Kiranya adalah pesan Kok-lihiap dan Ek-pangcu yang telah dikirim kepada mereka."
"Tiong-sioksiok,"
Tiba-tiba Hoa In-pik muncul dan memanggil.
"engkau tidak main catur dengan ayah? Aku sudah sediakan satu teko In Bu Teh, engkau tentu akan puas meminumnya, sebentar akan kubuatkan pula beberapa macam daharan enak."
"Aku bukan tandingan ayahmu, maka aku tidak berani menantang catur lagi padanya,"
Sahut Tiong Tiang-thong.
"Tapi daharan masakan itulah yang benar-benar membikin aku mengiler. Keponakan baik, setiap kali aku datang memang mesti bikin repot padamu. Habis, pengemis seperti aku pintarnya cuma minta-minta belaka. Terang tidak dapat membalas kebaikanmu dengan oleh-oleh apa-apa. sungguh aku merasa tidak enak."
"Apa engkau benar-benar hendak memberikan apa-apa padaku. Tiong-siok-siok ?"
Tanya In-pik.
"Jika benar, baiklah tidak usah lain, ajarkan saja kepadaku engkau punya Kungoan-it-ki-kang itu."
Pengemis itu tertawa, sahutnya.
"Ilmu silat ayahmu sendiri tiada bandingannya dijaman im, untuk apa engkau incar sedikit permainan pengemis seperti aku ini ? Ehm, aku menjadi ingat, biarlah kuhadiahkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada Kun-goan-jt-ki-kang."
Mendengar ucapan sipengemis yang sungguh-sungguh itu, cepat In-pik menama.
"Hadiah apakah itu, tentu semacam ilmu silat yang hebat bukan."
"Bukan, tapi aku akan memilihkan seorang suami yang baik untukmu, bukankah ini jauh lebih berharga daripada segala macam ilmu silat?"
Sahut Tiang-thong. In-pik menjadi merah jengah mukanya dan menjemprot.
"Ah, orang bicara benar-benar dengan engkau, tapi engkau sengaja menggoda padaku. Sudahlah, aku takkan buatkan daharan untukmu lagi"
Walaupun begitu katanya, namun teko teh wangi In-bu-teh tadi ditaruh juga diatas meja. Setelah menghirup seceguk air teh itu, segera sipengemis me-muji.
"Wah. sungguh teh pilihan. Dan apakah cuma satu teko ini saja?"
"Habis, masakah satu teko masih kurang?"
Sahut In-pik tertawa.
"Teh enak harus dinikmati dengn pelahan-pelahan, masakah satu teko diteguk begitu saja, itu kan namanya minum secara kerbau".
"Bagus, jadi kau memaki aku sebagai kerbau ja?"
Ujar sipengemis.
"Tapi aku ingin berkata dengan sungguh-sungguh. Semestinya engkau sediakan satu teko teh untuk tamu itu, sekarang mungkin diapun sudah mendusin."
Wayah In-pik kembali merah, tapi ia tidak menjemprot lagi.
"Betul juga. In-ji, coba pergilah kau menengok Kang-siangkong,"
Kata Hoa Thian-hong sesudah berdehem sekali. In-pik menjadi kikuk, katanya.
"Tunggulah sebentar lagi. biarkan dia tidur lebih kenyang sedikit."
"Bagus, betapapun memang anak perempuan lebih cermat merawat orang,"
Ujar sipengemis dengan ketawa-ketawa.
"Baik juga. dan bolehlah kau menjeduh dua teko teh pula,"
Kata Hoa Thian-hong.
In-pik menyangka sang ayah juga lagi bergurau padanya seperti kelakuan sipengemis tadi.
maka sambil melotot sekali, ia moncong kan mulutnya yang mungil, tapi tidak bertindak pergi.
"Mungkin sebentar lagi akan datang tamu yang tak kita undang."
Demikian Thian-hong menyambung Dan baru sekarang In-pik tahu sang ayah bukan lagi berkelakar, maka sahutnya.
"Baiklah jika begitu, sebentar tentu bisa menyaksikan ramai-ramai". Setelah In-pik pergi, pengemis tadi merenung sejenak, kemudian ia tanya.
"Apa mereka tahu tempat tinggalmu Ini?"
"Mungkin masih belum tahu,"
Sahut Thian-hong.
"Tapi kedua ekor Kim-mo-soan itu adalah binatang yang maha cerdik, sesudah pergi, tentu akan mengundang majikan mereka kesini. Nah, dengarlah, bukankah sudah ada orang datang?" ,.Hm, cepat amat datangnya, ha?"
Jengek sipengemis.
Benar juga, ketika Kang Hay-thian ikut mendengarkan, dari jauh memang benar ada suara tindakan orang, tapi hanya dalam sekejap saja kedengaran sudah sampai didepan rumah dan suara tindakan-tindakan itu lantas berhenti.
Menjusul terdengarlah suara gerangan tertahan dari kedua ekor Kimmo-soan itu.
Sejenak kemudian, terdengarlah suara sinenek she Im itu sedang berkata.
"Bocah bau tentu sembunji didalam rumah ini."
"Lalu tunggu apa lagi?"
Terdengar Le Hok-sing berseru dengan suara kasar.
"Jika tempat sembunjinya sudah kita ketemukan, masakah masih kuatir dia terbang kelangit?"
Sahut Im-lothaypo.
"Biarlah kita bicara dulu dimuka. sebentar engkau boleh bawa orangnya. tapi pedang adalah bagianku dan Giok-kah adalah bagiannya Auyang-jl nio". Tengah Hay-thian heran siapakah gerangan "Auyang-jinio"
Yang dimaksudkan itu, sementara itu terdengarlah suara seorang wanita lain telah berkata.
"Aku tidak pingin pada benda mestika apa segala, tapi Wan-ji telah melanggar peraturan perguruanmu, biarlah aku membantu cuma-cuma pada kalian dan hitung-hitung sebagai tebus dosa bagi Wan-ji, nah. bagaimana?"
Terdengar ucapan Anyang-jinio itu mengandung nada menjindir. Diam-Diam Hay-thian memikir.
"Ha, jadi mereka berkomplot hendak mengerubut diriku."
Dalam pada itu Im-lothaypo telah menyawab.
"Aku kuatir Wan-ji masih terlalu muda dan tertipu orang, makanya sengaja hendak menakuti dia, jangan kau ambil marah. Pula atas bantuan mu nanti, tentu juga engkau akan mendapat bagian yang pantas".
"Hm, caramu ini bukankah mengorbankan milik orang lain untuk keuntunganmu?"
Jengek Le Hok-sing tiba-tiba.
"Habis, apakah engkau tidak suka?"
Ujar Im-lothaypo dengan dingin.
"Jika begitu, baiklah kami takkan ikut campur dan coba lab cara bagaimana engkau "akan mempertanggungjawabkan di-hadapan Kaucu kalian". Agaknya ancaman ini kena dihati Le Hok-sing hingga dia bungkam seketika. Adalah Hay-thian yang diam-diam mendongkol, damperatnya didalam hati.
"Bagus, enak sekali cara kalian menketik Suipoa (alat hitung Tionghoa) untuk membagi barang-barangku." -Saking tak tahan, terus saja ia berlari keluar sambil menjinjing pedang.
"He, apakah engkau sudah sembuh, Kang-siauhiap?"
Sapa Hoa Thian-hong sambil memapak.
"Banyak terima kasih. Lobang (bapak), aku sudah pulih kembali,"
Sahut Hay-thian.
"Kawanan perusuh ini sengaja hendak mencari aku. Aku tidak ingin bikin susah kalian, biarkanlah aku sendiri yang melabrak mereka".
"Bagaimana Kang-siauhiap boleh berkata demikian,"
Ujar Hoa Thian-hong dengan tertawa.
"Engkau adalah tetamuku, masakah tuan rumahnya boleh membiarkan tamunya pergi mengadu jiwa dengan orang?"
Sipengemis segera mendekati Hay-thian dan menahannya juga. katanya.
"Kang-laute, marilah engkau menyaksikan ramai-ramai saja. Pabila aku dan Hoa-lobang juga tak ungkulan melawan mereka, barulah silakan engkau maju.
"Maafkan Wanpwe kurang pandai bicara, memangnya dengan kedua Locianpwe, sudah tentu jauh daripada mudah untuk membereskan beberapa cecunguk itu. Yang kupikir tadi cuma tujuan mereka hendak mencari aku, maka biarlah aku yang bertanggung jawab,"
Demikian sahut Hay-thiau.
"Beberapa iblis ini adalah tokoh yang bukan sembarangan. pabila tiada Tiong-pangcu ikut berada disini. sungguh aku tidak berani yakin akan dapat melawan mereka", ujar Hoa Thian-hong dengan tertawa. Mendengar ucapan kakek she Hoa ini. Kang Hay-thian menjadi tidak ragu-ragu lagi bahwa sipengemis itu memang benar adalah Tiong Tiang-thong itu Pangcu dari Kay-pang sekte utara. Belum lenyap ucapan Hoa Thian-hong. terdengarlah suara "biang"
Sekali, pintu telah didobrak orang hingga terpentang, berbareng terdengar teriakan Le Hok-sing.
"Hai. didalam rumah ada manusianya atau tidak? Kalau tidak lekas keluar, biarlah kami yang terjang sendiri kedalam!"
Waktu Hay-thian memandang keluar, dilihatnya ada lima orang berdiri diluar pintu.
Kecuali Le Hok-sing, keempat orang lainnya masing-masing adalah Im-lothaypo dan siwanita yang dijumpainya di-tengah jalan kemarin, serta Auyang Wan taci beradik.
Dalam pada itu sirajawali yang menghinggap diatas pohon tadi mendadak berkaok sambil terbang keluar.
Karena sudah pernah merasakan kelihayan burung raksasa itu.
kedua ekor Kim-mo-soan itu menjadi ketakutan dan melarikan diri sambil mengempit buntut.
"Besar amat burung ini, biarlah aku menaklukannya!"
Seru ibunya Auyang Wan dengan tertawa.
Saat itu rajawali itu sedang menubruk kebawah.
mendadak Auyang-jinio angkat tongkatnya menjodok keatas, tapi tepat kena dicengkeram oleh cakar rajawali itu.
Tengah Kang Hay-thian berpikir Auyang-jinio pasti susah melawan tenaga sirajawali yang maha kuat itu.
tapi enah.
tahu-tahu kelihatan sajap burung ita cuma berkelepak beberapa kati.
tapi tidak mampu menyambar kebawah.
sebaliknya untuk terbang keatas juga bdak sanggup, jadi terkarung di tengah-tengah udara seakan-akan melengket diatas tongkat.
Karena kedua sajap rajawali itu berkelepakan sekeraskeras-nya hingga menerbitkan angin dan debu pasir bertebaran, rambut Auyang-jinio juga sampai kusut.
Tapi wanita itu tetap tenang saja.
bahkan setapakpun dia bdak menggeser.
Selang sejenak, sekalian ia terus berduduk bersila di tanah sambil bersandarkan sebuah pohon besar.
Tangannya memegangi tongkatnya bagian tengah, sedang ujung tongkat yang lain ditaruh diatas pundak.
"Hebat benar cara perempuan ini meminyam tenaga putaran lawan!"
Puji Tiong Tiang-thong.
Belum lenyap suaranya.
tertampaklah pohon besar itu telah terguncang oleh semacam tenaga yang tak kelihatan hingga bersuara keresekan dan daun rotok bertebaran, bahkan dahan pohon ikut tergetar.
Kang Hay-thian juga terkejut.
iapun menjadi paham duduknya perkara.
Kiranya wanita itu menaruh tongkat diatas pundaknya dengan sebelah ujungnya dicengkeram oleh rajawali raksasa itu.
tapi ujung tongkat yang lain tertahan diatas batang pohon, karena itu, tenaga besar sirajawali itu telah dialihkan nya keatas pohon itu.
Kang Hay-thian sendiri pernah mempelajari ilmu seperti itu dari gurunya, cuma apa yang dipelajarinya terlalu banyak.
maka kepandaian seperti wanita ini tidak diutamakan tersendiri oleh-nya.
"Kalau bisa mencapai setingkatan ini juga sudah hebat", ujar Hoa Thian-hong dengan tertawa seakan-akan kepandaian wanita itu masih belua-sempurna betul-betul.
"Dijaman ini orang yang dapat menangkan dia dalam ilmu seperti ini mungkin juga terbatas dua tiga orang saja."
Waktu Hay-thian memperhatikan pula.
ia lihat ubun-ubun kepala Auyang-jinio mula.
menguap seperti asap kuali, la menjadi teringat pada apa yang pernah diceritakan o!eh gurunya bahwa orang yang mempelajari Lwekang dari golongan Cing-Cong atau sekte asli, bila sudah mencapai tingkatan tertinggi, untuk meminyam tenaga lawan serta disalurkan kepada segala macam benda, maka dengan tanpa susah-susah hal itu dapat dilakukan.
Tapi kalau Lwekang yang dipelajarinya adalah dari golongan Sia-pay atau kaum jabat.
biarpun ungkatannya sudah mencapai paling tinggi, di kala menyalankan memutarkan tenaga lawan seperi/ itu juga akan sangat merugikan tenaga murni awak sendiri, jaitu sebagaimana kelihatan menguap diatas kepala orang yang melakukan itu seperti Auyang-jinio sekarang.
"Walapun demikian, kalau membiarkan rajawali sakti itu bertahan terus, mungkin burung itu sendiri akan payah akhirnya, pakng tidak juga diperlukan jerih-payahmu untuk mengembalikan tenaganya dalam waktu belasan hari lamanya. Maka kulihat sudah waktunya kita tampil kemuka", demikian kata Tiong Tiang-thong menanggapi ucapan kawannya tadi. Belum selesai ucapannya. mendadak terdengarlah suara gemuruh, bagian atas pohon itu tahu-tahu roboh, berbareng dengan itu Auyangnjinio berikut tongkatnya ternyata kena diangkat oleh rajawali itu hingga belasan senti dari atas permukaan tanah. Dalam kejutnya Auyang Wan sampai menjerit, sedangkan Im-lothaypo lantas berkata dengan dingin.
"Jinio tidak perlu membuang tenaga lagi, biarlah aku yang membereskan binatang ini saja!" -dan ketika tangannya bergerak, tiga Bintik sinar ungu lantas menyambar kearah sirajawali. Kiranya sejak tadi nenek she Im itu sudah siapkan tiga bilah pisau terbang "Hoa-hiat-sin-to"
Atau pisau sakti peluluh darah.
Jaitu pisau yang direndam dengan obat racun yang maha jahat, asal masuk darah, seketika putus nyawa sasarannya.
Tampaknya ketiga bilah pisau itu pasti akan membikin rajawali itu terjungkal dari udara.
Tapi aneh juga, sambaran pisaupisau terbang itu makin jauh makin lambat se-akan terbendung oleh sesuatu tenaga yang tak kelihatan hingga hampir-hampir berhencl di tengah jalan.
Sedetik kemudian, mendadak pisau-pisau terbang itu seakan-akan terombangambing diatas udara dan akhirnya menurun kebawah dengan pelahan-lahan.
Kini semua orang dapatlah melihat jelas bahwa diatas tiap-tiap pisau itu terdapat sekuntum bunga merah.
Keruan Im-lothaypo dan Auyang-jinio terkejut sekali.
Mereka adalah tokoh-tokoh silat terkemuka, dengan sendirinya mereka kenal ilmu sakti "Hui-hoa-ti-yap"
Atau menimpukan bunga me-rontokan daun itu.
Pisau terbang yang disambitkan Im-lothaypo itu telah memakan seluruh tenaga dalamnya.
makanya waktu pisau itu dihinggapi bunga merah diatasnya, dalam sekejap itu pisau terbang itu tertahan sejenak karena beradunya kedua arus tenaga dalam.
Tapi akhirnya pisau itu menurun kebawah.
itu menerangkan bahwa tenaga dalam slnenek Im masih kalah kuat daripada orang yang menimpukan bunga merah itu, apalagi kalau diingat bobot bunga itu jauh lebih enteng daripada pisau, tapi toh pisau terbang itu dapat ditahan kebawah.
maka dapatlah dibayangkan sampai dimana lihaynya Lwekang orang itu.
Diam-Diam Auyang-jinio membatin.
"Pada jaman ini orang yang mahir menggunakan ilmu Hui-hoa-ti-yap"
Seperti ini adalah Pang Lin dari Thian-san-pay, sedangkan wanita itu paling terkenal suka campur urusan orang lain. Jangan-Jangan apakah beliau yang telah datang?"
Namun segera terdengar suara seorang tua telah berkata.
"Harap memandang muka Lohu (aku yang tua) sukalah ampuni binatang ini!"
Waktu semua orang memandang kearah datangnya suara, maka tertampaklah seorang tua yang berjenggot cabang tiga muka merah bercahaja dan berperawakan tinggi besar tahutahu sudah berada disitu sambil menyandar dibatang pohon.
Tak perlu ditanya lagi pasti adalah orang tua ini yang telah mengalahkan pisau terbang Im-lothaypo tadi.
Hal ini benar-benar diluar dugaan Auyang-jinio, berbareng ia merasa beruntung juga karena orang tua ini bukan Pang Lin seperti sangkanya semula.
Ia jerl kepada Pang Lin karena di belakang Pang Lin berdiri Thian-san-pay yang berpengaruh, sedangkan orang tua ini biarpun ilmu silatnya lebih tinggi dari Pang Lin misalnya.
namun hanya seorang diri tanpa dukungan siapa-siapa, maka Auyang-jinio menaksir dengan tenaga gabungan dirinya bersama Im-lothaypo dan Le Hok-sing.
paling tidak pasti akan dapat menempur siorang tua asing ini dengan sama kuatnya.
Namun demikian toh ia masih kebat-kebit kurang tenteram.
Dan karena sedikit lengah itulah kembali ia kena diseret kedepan beberapa tindak oleh cengkeram sirajawali atas tongkatnya itu.
Dan baru sekarang orang tua itu tampil kedepan dengan pelahan-lahan.
bentaknya dengan suara tertahan.
"Binatang, jangan kurangajar!" -berbareng lengan bajunya lantas mengebas, walaupun jaraknya masih jauh. namun Auyangjinio sudah merasakan suatu kekuatan yang tak kelihatan telah menahan tongkatnya keatas. Karena dapat bantuan tenaga memisah dari orang tua itu, segera rajawali itu dapat melepaskan diri dan terbang keatas sambil berkaok-kaok. Diam-Diam Auyang-jinio terkesiap dan merasa beruntung pula, sebab kalau tidak dipisah oleh orang tua itu, mungkin dirinya harus mengorbankan tenaganya lebih banyak hingga akhirnya pasti akan sama-sama payah bersama rajawali itu. Dalam pada itu karena pisau terbangnya dikalahkan orang tua yang bukan lain dari pada Hoa Thion-hong itu, ImIothaypo masih merasa penasaran, segera ia melangkah maju dan menegur dengan garang.
"Siapakah engkau? Apakah binatang setan ini adalah piaraanmu?"
Sekonyong-konyong terdengar suara orang bergolak ketawa, menjusul muncul seorang pengemis. Melihat pengemis jtu, kening Im-Iothaypo terkerut rapat dan mendengus dengan dingin.
"O, kiranya Tiong-pangcu juga berada disini!"
"Aha. kiranya kalian ini masih belum saling mengenal,"
Ujar Tiong-thong dengan tertawa.
"marilah biar aku memperkenalkan kalian. Yang mi adalah Hoa-san-ih-un (tabib sakti dari Hoa-san) Hoa Thian-hong, Hoa-locianpwe. Beliau adalah tuan rumah disini. Dan yang itu adalah Im Sengkoh. Im-locianpwe dari Khit-im-kau. Yang itu adalah Auyang-jinio dari Cong-lam-san. sedangkan yang ini adalah Le-hukancu dari Thian-mo-kau."
Nama Hoa Thian-hong belum dikenal oleh Le Hok-sing.
walaupun ia cukup tahu ilmu silat kakek itu sangat tinggi, namun dirinya belum jeri padanya.
Sebaliknya Auyang-jinio yang merasa terkejut didalam hati.
Kiranya dahulu pernah suami Auyang-jinio.
jaitu Auyang Tiong-ho.
mencari ramuan obat di pegunungan Hoa-san, tanpa sengaja telah memasuki kebun obat-obatan yang ditanam Hoa Thian-hong serta melihat banyak bibit-bibit obatobatan bernilai yang ditanam Hoa Thian-hong itu.
Segera timbul keinginannya hendak mencuri.
tapi sial hagrnya.
perbuatannya kena dipergoki Hoa Thian-hong hingga terjadilah pertempuran.
Tapi tiada seratus jurus Auyang Tiong-ho telah dikalahkan Hoa Thian-hong.
Keluarga Auyang adalah keluarga persilatan ternama dipegu-nungan Cong-lam-san.
Diantara tiga saudara, ilmu silat Auyang Tiong-ho terhitung paling tinggi, sedangkan ilmu silat Auyang-jinio sebagian besar diperoleh dari ajaran sang suami.
Maka demi mendengar sikakek itu adalah Hoa Thian-hong yang pernah mengalahkan suaminya, diam-diam ia menjadi ragu-ragu apakah mampu melawan kakek she Hoa itu.
sekalipun dibantu dengan Im-lothaypo dan Le Hok-sing berdua Belum lagi terhitung Tiong Tiang-thong yang sudah terang berdiri dipihak lawan.
Karena itulah, diam-diam sudah timbul niat mengundurkan diri dalam hatinya.
Dalam pada itu Hoa Thian-hong sudah lantas bicara.
"Aha,, kiranya tempatku yang sepi ini telah kedatangan tiga tokoh Kang ouw yang kenamaan, memang aku sudah lama kagum atas nama kalian, maafkan aku tidak mengadakan penyambutan sebagaimana mestinya. Terutama burung piaraanku yang tidak kenal aturan itu haraplah dimaafkan. Dan numpang tanya, entah ada keperluan apakah atas kunjungan kalian ini?"
Le Hok-sing paling tidak sabar, segera ia mendahului menyawab.
"Sungguh menyesal kami mesti mengganggu ketenteraman Hoa-losiansing. Soalnya karena aku mendapat perintah Kaucu kami untuk membawa pulang seorang pemuda she Kang. Entah pemuda yang dimaksudkan ini adakah berada dirumah Hoa-losiansing?"
"Dan kalian berdua ini, apakah juga datang dengan tujuan yang sama?"
Tanya Hoa Thian-hong.
"Benar."
Sahut Im Seng-koh.
"Bocah she Kang itu telah bersalah kepada majikan Kim-eng-kiong. sebagai orang yang mendapat ca-tu dari Kim-eng-kiong, terpaksa aku harus ikut campur urusannya."
Segera Auyang-jinio juga berkata.
"Dan Kang-siauhiap itu juga ada sedikit urusan dengan aku. Jika dia berada disini. sudilah suruh dia keluar untuk bertemu."
"Didalam rumahku memang benar ada seorang pemuda she Kang", sahut Hoa Thian-hong dengan tenang dan tegas.
"Tapi orang yang tinggal dirumahku, betapapun adalah tetamuku. Maka harap maafkan, terpaksa Lofau juga akan ikut-ikut campur urusan ini."
"He, jadi engkau akan membelanya. ja?"
Seru Im Seng-koh dengan dingin. Berbareng kesepuluh d jari nya mendadak menjulur kedepan terus mencakar kearah Hoa Thian-hong.
"Eh, hati-hati. jalanan licin!"
Sekonyong-sekonyong Tiong Tiang-thong ikut berseru sambil sedikit membungkuk.
Belum lenyap suaranya, mendadak kaki Im Seng-koh terasa pegal hingga langkahnya hampa.
hampir-hampir ia terpeleset jatuh.
Maka ter dengarlah "crat"
Sekali, kukunya yang panjang itu menancap di-batang pohon, dengan demikian terhindarlah dia dari sempojongan.
"Ja, ja. memang benar, aku sendiri yang sudah pikun rupanya."
Seru Hoa Thian-hong kemudian.
"Masakan pasang omong dengan tetamu d.liiar rumah, sjukurlah ada Tiong-laute yang telah memperingatkan aku." -dan setelah merandek sejenak. lalu sam-bungnya pula dengan tertawa.
"Atas kunjungan tamu-tamu dari jauh ani, silakan duduklah didalam, kalau ada urusan, dapatlah kita bicarakan lebih terang. Cara bagaimana Kang-siauhiap telah bersalah pada kalian, urusannya aku masih belum jelas. Pabila kalian dapat mempercajai diriku, biarlah aku bersedia menjadi hakim bagi kalian. Kalian adalah tamuku semua, aku pasti tak-kan mengeloni salah satu pihak. Jika Kang-siauhiap benar-benar bersalah, tidak nanti aku membelanya. Ai. dua hari ini hujan rincik-rincik, jalanan penuh lumut pula, harap kalian berjalan dengan hati-hati dan jangan terpeleset."
Begitulah dengan tanya-jawab mereka, serangan Im Sengkoh kepada Hoa Thian-hong tadi dikatakan mereka sebagai terpeleset. Bahkan Tiong Tiang-thong pakai berpura-berpura membungkuk maju dan berkata.
"Im-locianpwe. apakah sekiranya perlu aku memayang engkau?"
Keruan Im Seng-koh serba konjol.
sudah dibokong.
masih digoda dan diejek pula, tapi terpaksa ia telan mentah-mentah.
Sebab kalau dia menggembor, itu berarti dia mengakui telah terjungkal dihada-pan orang banyak Diam-Diam ia pikir.
"Kudengar katanya pengemis ini telah berhasil meyakinkan Kun-goan-it-ki-kang. untuk mana aku belum mau percaja. siapa duga ia benar-benar sudah dapat mengerahkan tenaga murninya untuk menutuk dari jarak jauh."
Ketika melihat Tiong Tiang-thong berlagak hendak memayangnya, ia kuatir kena diselomoti pula, maka cepat ia tutup antero Hiat-to diatas badannya, lalu menyahut dengan dingin.
,Aku masih sanggup berjalan sendiri, tidak perlu kau pura-pura rajin".
Lalu iapun cabut kukunya yang menancap dibatang pohon itu.
Hanya dalam sekejap saja ternyata daun bunga pohon itu sudah sama laju dan rontok jatuh berhamburan.
Mau-tak-mau Tiong Tiang-thong terkesiap juga.
pikimja.
"Khit-im-kau terkenal lihay menggunakan racun, dan niata memang bukan omong kosong belaka. Pabila aku kena dicakar sekali olehnya, andaikan tidak mati juga pasti akan sakit keras". Sementara itu Hoa In-pik sudah selesai mengatur ruangan dalam, diatas dua meja batu tersedia minuman dan panganan. Kang Hay-thian juga membantu mengatur seperlunya. Ketika sudah mengundang tetamunya masuk. Hoa Thianhong lantas berkata.
"Sudah sekian jauhnya kalian menempuh perjalanan. tentu sudah sangat lelah. Silakan minum-minum dulu. ini adalah In-bu-teh. oleh-oleh kawan yang membawanya dari Lo-san. dan ini adalah sekadar panganan buatan puteriku sendiri. Lohu tiada sediakan makanan enak, harap jangan dibuat tertawa."
Sekonyong-konyong Le Hok-sing melesat maju, tahu-tahu ia sudah berada dihadapan Kang Hay-thain dan seninya.
"Dengan maksud baik aku suruh Kim-mo-soan menghantar pulang kau. mengapa ditengah jalan engkau malah melarikan diri. bahkan melukai binatang piaraanku itu? Kaucu ingin melihat kau. nah. sekarang juga marilah ikut pergi padaku!" -berbareng tangannya mengulur, segera ia gunakan Kim-na-jiuhoat untuk menangkap Kang Hay-thian.
"Plak . mendadak Hay-lbian memapak juga dengan tangannya hingga kedua telapak tangan masing-masing lantas melengket menjadi satu. Dengan muka merah padam dan otot bijau menonjol, diam-diam Le Hok-sing membatin.
"Wah, tidak terduga Lwekang bocah ini ternyata begini tinggi. Sebenarnya aku tidak ingin melukai dia, tapi kini terpaksa aku mesti berbuat sebisanya untuk menawannya kem ban untuk memenuhi tugas kewajibanku kepada Kaucu Boleh jadi terpaksa aku harus menggunakan Siu-Io-im-sat-kang". Maka mendadak Kang Hay-thian merasa satu arus hawa dingin telah menyerang kedalam badannya melalui tangan lawan, meski dia memiliki ilmu pelindung badan, tapi dalam sekejap itu iapun merasa kedinginan sekali. Diam-Diam iapun memikir.
"Sebenarnya aku tiada bermaksud melukainya. tapi dia telah keluarkan Siu-Io-im-sat-kang yang keji ini. terpaksa aku harus balas menyerangnya dengan Siau-yang-hian-kang."
Siau-yang-hian-kang itu adalah ilmu warisan Lu Si-nio.
Kisu yang diciptakan Lu Si-nio ini dahulu sengaja diyakinkan untuk melawan Siu-lo-im-sat-kang yang menjadi kemah-ran Beng Sm-thong.
Gurunya Hay-thian, jaitu Kim Si-ih telah memperoleh juga kunci pelajaran Siau-yang-hian-kang itu dari Kok Ci-hoa jaug merupakan murid tunggal Lu Si-nio.
setelah dikombinasikan pula dengan berbagai ilmu suat lain.
Kim Si-ih banyak mendapat manfaat dari ilmu Siau-yang-hian-kang itu hingga lebih sempurna, bukan saja sudah cukup untuk melawan Siu-Io-im-sat-kang.
bahkan sudah dapat menghancurkan ilmu lawan itu".
Karena itulah, segera Le Hok-sing merasakan suatu arus hawa hangat mendesek keluar dari telapak tangan Kang Haythian.
ha-nya sekejap saja.
rasanya nyaman memabukan seperti dipagi hari dimusim semi.
Keruan ia terkejut dan cepatcepat mengerahkan tenaga murninya lebih hebat.
Siu-lo-imsat-kang yang dilatihnya itu sudah mencapai tingkatan kedelapan dan hampir-hampir mencapai tingkat an kesembilan yang merupakan tingkatan terakhir.
maka dapatlah dibayangkan betapa hebat tenaganya setelah dia kerahkan dengan sepenuhnya.
Kang Hay-thian sendiri meski sudah mcmpelajari Siau-yanghian-kang.
namun kekuatannya masih kurang, kalau dipakai untuk melawan Le Hok-sing.
paling-paling cuma diatas angin sedikit, maka hanya sebentar saja Kang Hay-thian sudah mandi keringat dingin, sebaliknya Le Hok-sing basah kujup dengan keringat gerah.
Kedua orang sama-sama terkesiap dan insaf bila saling bertahan lebih lama.
tentu keduanya akan sama-sama rugi.
Maka tertawalah Tiong Tiang-thong.
katanya.
"Rupanya kalian berdua adalah sobat lama. pantasan sekali ketemu lantas berjabatan tangan begini sampai tidak mau terlepas. Eh. lebih baik duduklah untuk bicara lebih jauh!" -habis itu, pelahan-lahan ia kebas lengan bajunya. dan aneh juga. lengan bajunya yang pan-yang itu mirip sebilah pisau yang tajam dan tepat memotong ditengah-tengah kedua orang itu. seketika kedua tangan mereka itu terpisah dan sama-sama tergentak mundur. Kiranya Tiong Tiang-thong telah menggunakan Kun-goan-itki-itang. dengan tenaga murni yang tanpa wujut ia pisahkan tenaga dalam kedua orang yang melengket itu. Dalam hal demikian sebe-oarnya bukanlah Kun-goan-it-ki-kang ketua Kay-pang itu lebih hebat daripada Siu-lo-im-sat-kang Le Hoksing atau lebih kuat daripada Siau-yang-hian-kang Kang Haythian, tapi disebabkan tenaga kedua orang tersebut belakangan ini seimbang, ditambah pan-dainya Tiong Tiangthong memisah makanya sekali kebas lantas jadi.
"Kang-siau-hiap,"
Kata Hoa Thian-hong kemudian.
"Lehukau-cu bermaksud mengundang engkau pergi menemui Kaucu mereka, apa kau mau?"
"Maksud kebaikan Le-hukaucu biarlah kuterima didalam hati saja."
Sahut Hay-thian.
"sementara ini aku masih akan mencari dulu ayah dan guruku, bila kelak ada kesempatan, tentu aku akan pergi menemui Kaucu kalian."
"Akan tetapi Kaucu telah pesan padaku, betapapun harus mem bawa pulang engkau,"
Ujar Le Hok-sing.
"Aneh juga, sebenarnya ada permusuhan apakah antara Kang-siauhiap dengan Thian-mo-kau kalian?"
Tanya Hoa Thian-hong. Le Hok-sing menjadi melengak. terpaksa ia nenyawab.
"Tidak ada!"
"Jika begitu, apa Kaucu kalian sungguh-sungguh hendak mengundang tamu?"
Thian-hong menegas.
"Benar,"
Sahut Hok-sing.
"Diwaktu kecilnya. Kaucu kami pernah "memeliharanya, walaupun waktunya tidak lama. tapi Kaucu sesungguhnya sangat sayang padanya. Dan sesudah sekian lamanya tidak berjumpa, agaknya beliau merasa kangen juga".
"Kejadian itu adalah diwaktu aku berusia delapan tahun."
Kata Hay-thianThan "Thian-mo-kaucu telah kirim bawahannya memancing ilmu silat ayahku, karena kuatir ayah membocorkan rahasia mereka, makanya aku diculik mereka sebagai sandera.
Tapi apapun juga Thian-mo,-kaucu memang cukup baik terhadap diriku......"
"Jika engkau sendiri sudah mengaku demikian, sepantasnya kau ikut padaku untuk menemuinya."
Sela Hok-sing dengan girang.
"Ja. sebab itulah maka akupun tidak dendam padanya", demikian Hay-thian melanjutkan.
"bahkan aku berterima kasih kepada maksud baiknya. Cuma sayang aku sekarang ada urusan penting yang takdapat ditunda. Maka biarlah kelak kalau urusan ku sudah selesai, ayah dan Suhu sudah kuketemukan. tatkala mana tanpa diundang juga aku akan pergi menjenguk beliau bersama guruku. Setahuku, bukan saja guruku ingin bertemu dengan Thian-mo-kaucu, bahkan iapun sangat ingin menemui engkau, Le-hu-kaucu."
Mendengar Kang Hay-thian menjinggung gurunya, jaitu Kim Si-ih. kembali Le Hok-sing melengak dan terkilas semacam mimik wa jahnya yang aneh. Maka berkatakan Hoa Thian-hong dengan tertawa.
"Jikalau bocah ini toh tiada permusuhan apa-apa dengan Kuikau (agama tuan) dan Kaucu kalian juga mengundangnya dengan maksud baik. urus an ini menjadi mudah dibicarakan. Mengundang tamu harus ter-jadi atas suka-sama-suka, jika yang diundang tidak mau. rasanya toh tidak mungkin menjeretnya kesana secara paksa! Le-hukaucu. menurut aturan pantas, betul tidak kataku ini?"
Le Hok-sing menjadi gelagapan dan susah mendebat lagi, sahut-nya dengan tergagap-gagap.
"Menurut aturan, pantasnya memang begitu. Tapi...............
"Ha ha ha,"
Tiang-thong bergelak ketawa.
"rupanya engkau kuatir bertanggung jawab kepada Kaucumu bukan? Baiklah begini saja, engkau boleh tumplek urusan ini atas diriku. Pulanglah kau dan katakan bahwa Kang-siauhiap ini adalah sobat baikku Tiong-Tiang-thong dari Kay-pang utara, kami berada bersama, engkau tak dapat mengundangnya, jika Kaucu kalian marah, suruh dia marah padaku saja."
Le Hok-sing sudah menyaksikan Kun-goan-it-ki-kang ketua Kay-pang itu, ia pikir kalau mesti pakai kekerasan, memang tidak salah kalau susah mengundangnya begini saja.
Bahkan tidak perlu penge mis ini ikut turun tangan, menempur pemuda itu saja akupun tidak sanggup menangkapnya.
Karenanya ia menjadi bungkam takbisa bicara lagi.
"Le-hukautiu."
Tiba-tiba Im Seng-koh buka suara.
"engkau tidak jadi incar orangnya, tapi apakah barang? mestikanya juga kau lepaskan? Bukankah kau bilang kedua benda mestika itu sebenar nya adalah milik keluarga Le kalian?"
Hay-thian menjadi gusar, katanya dengan dingin.
"Pedang dan baju pusakaku ini adalah pemberian guruku, aku sendiri tidak tahu benda-benda berasal milik siapa. Untuk diberikan padamu tiada su-sahnya, tapi harus minta idin dulu kepada guruku. Bila Suhu bilang boleh kasih, tak usah diminta, kelak pasti akan kuhantar sendiri kerumahmu."
Berulang kali Kang Hay-thian menjebut gurunya, dan setiap kali hati Le Hok-sing seakan-akan tertusuk jarum. Mendadak ia me-lonyat bangun dan berseru.
"Sudahlah, tidak perlu banyak omong lagi. Terus terang kukatakan, yang mengincar barangmu adalah mereka dan bukan aku. Nah, aku takkan ikut campur lagi, terserah lah pada kalian!" -Habis bicara. terus saja ia bertindak keluar dengan cepat, hanya sekejap saja auman Kim-mo-soan sudah terdengar sangat jauh untuk kemudian lantas lenyap.
"Nah, urusan pertama sudah selesai."
Ujar Hoa Thian-hong dengan tertawa.
"Dan kalian ini ada percecokan apa dengan Kang-siauhiap? Coba katakanlah!"
"Aku ada urusan sedikit, biarlah aku bicara lebih dulu,"
Seru Auyang-jinio. Segera iapun berbangkit dan berkata dengan ter-senyum.
"Wan-ji, apakah kau bicara sendiri atau aku yang menga takan?"
Wajab Auyang Wan tampak merah jengah dan menunduk. Auyang-jinio tertawa, katanya.
"Bocah ini menjadi malumalu didepan orang asing, biarlah aku saja yang mewakili bicara. Kang-siangkong. Wan-ji ikut datang kesini maksudnya pertama jalah ingin minta maaf padamu. kedua kalinya jalah hendak menghaturkan terima kasih padamu. Kemarin dulu ia telah pasang perangkap hendak meracuni engkau, tindakannya itu adalah atas perintah gurunya dan terpaksa dilakukannya". Ucapan Auyang-jinio ini benar-benar diluar dugaan orang dan mengherankan. Semula orang menyangka datangnya itu juga akan cari perkara, siapa tahu justeru datang untuk minta maaf. Maka jawablah Hay-thian.
"Memangnya aku juga tidak menyalahkan dia."
Keruan yang paling konjol adalah Im Seng-koh, saking gusarnya sampai wayahnya merah padam serta ketawaketawa mengejek. Namun Auyang-jinio tidak menggubrisnya. ia menyambung lagi.
"Dan kemarin engkau seorang diri telah sudi pergi menolong Wan-ji. Menurut aturan Bu-lim. ia telah melanggar pantangan perguruan dan seharusnya mendapat hukuman, tiada sangkut-paut dengan orang luar dan orang luarpun tidak pantas ikut campur. Namun apapun juga tindakanmu itu timbul dari maksud baikmu untuk menolongnya. maka kami tetap ingin mengucapkan terima kasih padamu."
"Tidak perlu pakai terima kasih segala,"
Sahut Hay-thian.
"Malahan aku yang harus minta maaf pada kalian karena aku tidak paham peraturan kalian hingga hampir-hampir bikin susah pada Auyang-kohnio. Karena yang kuketahui biasanya jalah guruku sangat baik dan amat sayang padaku, maka akupun mengira setiap guru didunia Ini juga pasti sayang pada muridnya. Dari itu. waktu aku melihat Im-locianpwe hendak menghukum muridnya dengan cara keji, tak tertahan aku lantas tampil kemuka untuk membelanya."
Saking marahnya Im Seng-koh menengadah sambil terbahak, se-runya kemudian.
"Harta, sungguh saudaraku yang sangat baik. tak tersangka bahwa harini engkau telah putar haluan dan membantu orang luar malah. Hm, mungkin dalam pandanganmu bocah itu sudah bukan orang luar lagi. Hahaha. daripada cuma bicara saja, mengapa tidak kau berikan sekalian Peh-ji (tanggal dan waktu lahir seseorang) sinona............" .am-toaci,"
Sela Auyang-jinio tiba-tiba dengan tertawa dingin.
"ketentuan waktu tiga tahun hanya tinggal beberapa hari lagi sudah akan habis, maka aku ingin mengambil kembali Wan-ji terlebih dulu. Sebelum aku tinggalkan rumah, puteramu cuma tinggal mempelajari Cay-meh-ciang-hoat" (ilmu pukulan memotong urat nadi) lebih lengkap, untuk itu aku sudah minta ayahnya Wan-ji suka mengajarkan padanya, selesai itu. puteramu pun boleh lantas pulang, rasanya dalam beberapa harini juga tentu iapun sudah sampai dirumah. Apa yang kau suruh dia belajar sudah selesai di-perolehnya. kalau kau tidak percaja. boleh coba kau mengujinya. Nah. sampai disini. urusan kedua keluarga kita sudah kutunaikan sebagaimana mestinya. Wan-ji. lekas kau menghaturkan terima kasih kepada budi gurumu selama tiga tahun mengajar padamu ini."
Kiranya diantara mereka ada pertukaran putera-puteri untuk belajar silat pada keluarga masing-masing.
Auyang-jinio suruh puterinya mempelajari kepandaian menggunakan racun dari Im Seng-koh.
sebaliknya Im Seng-koh suruh puteranya mempelajari ilmu-ilmu tunggal dari keluarga Auyang, keduanya mupakat dengan batas waktu selama tiga tahun.
Kini mendadak Auyang-jinio menjebut puteranya.
mau-takmau Im Seng-koh menjadi kualir kalau-kalau Auyang-jinio berbuat sesua tu yang tidak menguntungkan puteranya itu.
maka kata-kata ejekan yang sebenarnya hendak dilontarkan pula itu tidak berani diucap-kan lagi.
Tapi karena mendongkolnya masih belum terlampias.
maka ketika Auyang Wan menjura padanya.
ia sengaja tidak sudi menerima sambil melengos, katanya dengan dingin.
"Jikalau hubungan guru dan murid sudah putus, kelak juga tidak perlu lagi menjebut guru padaku, dan penghormatan sebesar ini aku tidak be rani menerima."
"Baik juga,"
Seru Anyang-jinio.
"Jika begitu, anggaplah kita telah mengadakan suatu jual-beli yang adil. masing-masing tiada yang utang budi kepada siapapun. Engkau tak mengaku murid lagi pada Wan-ji. maka akupun tidak berani mengaku sebagai guru putera-mu. Baiklah, urusan selesai sampai disini saja, marilah Wan-ji. luta pergi!" ,.Nah, kembali suatu urusan diselesaikan pula."
Ujar Hoa Thian-hong dengan tertawa.
"Hakikatnya kami tiada permusuhan apa-apa dengan Kangsiang-kong, maka takbisa dikatakan penjelesaian segala,"
Kata Auyang-jinio dengan tertawa.
"Baiklah, jika begitu, bila Jinio ada urusan, Lohu tidak menahan lebih lama lagi,"
Ujar Hoa Thian-hong.
"Dan harap Jinio suka sampaikan salamku kepada suamimu, katakanlah dahulu Lohu tidak tahu. maka telah berlaku semberono padanya............."
"Hahaha,"
Sela Auyang-jinio sebelum ucapan orang selesai.
"kejadian lama itu buat apa diungkat-ungkat lagi? Pabila Hoalocian-pwe ada waktu luang, silakan jalan-jalan ke Cong-lamsan. Diatas gunung sana kamipun ada menanam beberapa jenis rumput obat. untuk mana masih diharapkan Hoalocinpwe suka memberi penilaian seperlunya."
"Ah. Jinio suka merendah saja."
Sahut Thian-hong.
"Lewat tahun kalau sempat Lohu tentu akan bcrkunjung ketempatmu. se karang maafkan Lohu tidak menghantar lebih jauh lagi."
Segera Auyang-jinio membawa kedua puterinya bertindak keluar, sampai diambang pintu, mendadak ia merandek dan berpaling, katanya pula dengan tertawa.
"Dan bila Kangsiangkong ada tempo, harap juga suka berkunjung ke Conglam-san kami."
Sekilas Kang Hay-thiau melihat sinar mata Auyang Wan juga lagi mengerling kearahnya, wayah Hay-thian menjadi merah dan lekas-lekas menunduk, sahutnya dengan samarsamar.
"Terima kasih, cuma.................. cuma urusanku masih banyak. entah...............entah kapan baru ada kesempatan."
Dalam pada itu Im Seng-koh mengikuti kejadian itu dengan ketawa-tawa dingin.
Keruan wayah Kang Hay-thian semakin merah.
Namun Auyang-jinio tidak ambil pusing kepada sikap Im Seng-koh itu.
ia ajak kedua puterinya dan berangkat pergi.
"Sekarang datanglah giliranmu, Im-locianpwe"
Kata Hoa Thian-hong kemudian.
"Engkau ada permusuhan apa dengan Kang-siauhiap hingga berapa kali engkau akan mematikan dia?"
"Sekarang aku toh sudah tinggal sendirian, apa yang dapat kukatakan lagi?"
Sahut Im Seng-koh dengan tertawa dingin. Thian-hong menjadi kurang senang, katanya.
"Tiongpangcu dan aku yang tua bangka ini buknnlah manusia yang suka menang dengan jumlah lebih banyak. Asal engkau dapat bicara masuk diakal menurut aturan, segera aku akan suruh Kang-siauhiap minta maaf padamu."
"Selamanya aku tidak pernah bicara tentang aturan dengan orang."
Sahut Im Seng-koh dengan dingin.
"Iebih-Iebih dalam urusan ini. untuk bicara juga sulit Jika kalian hendak tanya soal aturan, silakan tanya saja kepada pemilik Kim-eng-kiong". Thian-hong melengak, segera ia tanya Hay-thian.
"Kangsiauhiap. apakah engkau juga ada perselisihan apa-apa dengan tuan rumah Kim-eng-kiong?"
"Hakikatnya aku tidak kenal siapakah gerangan tuan rumah Kim-eng-kiong."
Sahut Hay-thian.
"Cuma aku memang pernah mewakili Kok-ciangbun dari Bin-san-pay menerima kartu undangannya".
"Jika begitu, urusannya menjadi mudah."
Ujar Thian-hong.
"Aku juga telah menerima undangan Cujin (majikan) dari Kimeng-kiong itu. Hari Tiongkhiu tahun ini. aku dan Kang-siauhiap-pasti akan hadir dalam perjamuannya. Tatkala itu biarlah kami akan tanya berhadapan padanya. Sekarang silahkanlah Im-locianpwe!"
Tiba-Tiba Im Seng-koh mendelik, katanya dengan dingin.
"Hm. biar pun Lopocu (nenek rejot) tahu bukan tandingan kalian, tapi sekali sudah datang kesini. betapapun tidak boleh pulang begini saja. paling tidak juga aku ingin belajar kenal sedikit kepandaian tuan rumahnya."
"Bagus!"
Seru Tiong Tiang-thong dengan gusar.
"Marilah aku saja yang belajar kenal dengan ilmu menggunakan racun dari Khit-iin-kau kalian."
"Tiong-pangcu,"
Sabut Im Seng-koh.
"jika engkau bermaksud memberi pelajaran. kita boleh berjanji pada lain waktu, harini yang ingin kukenal adalah ilmu kepandaian yang paling diagulkan Hoa-san-ih-un!"
"Jika begitu, engkau adalah tamu dan aku adalah tuan rumah, silakan pihak tamu mengatakan cara-caranya."
Kata Hoa Thian-hong.
"Apakah engkau pasti akan turut cara apapun yang kuajukan?"
Im Seng-koh menegas dengan dingin.
"Sudah tentu, orang she Hoa bukan manusia yang suka ingkar janji."
Sahut Thian-hong dengan tawar.
"Nah. ilmu apa yang engkau hendak uji. asal engkau katakan, pasti akan kuterima dengan baik."
"Bukankah barusan sudah kukatakan akan menguji ilmu kepandaian yang paling engkau agulkan."
Kata Im Seng-koh.
"Hoa Thian-hong. tentang ilmu silatmu yang tinggi itu, memang harus diakui aku bukan tandinganmu. Tapi maafkan ucapanku yang kurang pantas ini. bahwasanya apapun juga ilmu silatmu juga belum terhitung nomor satu didunia ini. Sebab itu. Lopocu bilang ingin belajar kenal dengan kepandaian yang paling engkau agulkan, dengan sendirinya bukan untuk belajar kenal dengan ilmu silatmu, tapi adalah ingin menguji ilmu pertabibanmu .
"Ilmu pertabibanku juga tidak berani dikatakan nomor satu di jagat ini,"
Sahut Thian-hong dengan tersenyum.
"tapi sesungguh nya menguji ilmu pertabiban akan lebih halus daripada bertanding ilmu silat. Nah. cara pertandingan bagaimana yang engkau inginkan."
"Lopocu tidak mahir ilmu pertabiban. .tapi apa yang kupelajari justeru berlawanan dengan kau."
Kata Im Seng-koh.
"Engkau me nolong orang dengan ilmu tabib, sedangkan aku membunuh orang dengan Tacun. Makanya aku juga bukan hendak bertanding ilmu tabib dengan kau. kata-kata "bertanding"
Itu lebih baik dihilangkan, tapi lebih tepat dikatakan aku ingin menguji ilmu tabibmu.
Lebih tegas lagi dapat kukatakan ingin menguji ilmu kepandaianmu dalam memunahkan racun.
cobalah apakah kepandaian menggunakan racun diriku lebih Iihay ataukah kepandaianmu memunahkan racun lebih tinggi?"
"Baiklah, jika begitu biarlah kuterima."
Sahut Thian-hong.
"Engkau boleh gunakan racunmu dan aku akan meminumnya di-h ada panmu. Pabila kepandaianku memunahkan racun kurang tinggi biarpun mati aku tidak menyesal. Nah, jadi tidak cara demikian"
Namun Im Seng-koh menggeleng kepala, katanya.
"Engkau sendiri telah berkata aku yang mengemukakan caranya. Jika menurut ucapanmu ini. bukankah aku yang menuruti cara yang kau usulkan?"
"Aku pikir caraku ini adalah cara yang paling berbahaya. makanya ingin kucoba dihadapanmu. tapi kalau engkau ada cara lain. silakan bicara, tetap akan kuturut."
Sahut Hoa Thianhong dengan menahan gusar.
"Baiklah, akan kukatakan sekarang caranya."
Ujar Im Sengkoh.
"Kedua tangan Lopocu ini pernah direndam dalam air racun dari berbagai jenis racun ular yang paling jahat. dan dapat digunakan sesuka hati. siapa yang terkena, kalau enteng akan jatuh sakit payah. bila berat seketika hancur lebur tubuhnya Nah. Hoa Thian-hong. bila Lopocu melukai seseorang dengan tangan berbisa ini, dapatkah engkau menjembuhkannya didalam waktu satu jam?"
Diwaktu bicara, sinar mata Im Seng-koh mengincar kearah Kang Hay-thian dengan penuh kebencian.
Tak usah diragukan lagi, pasti dia bermaksud menggunakan pemuda itu sebagai sasaran untuk menguji pukulannya yang beracun.
Tiong Tiang-thong menjadi gusar, segera ia bermaksud men-damperat kekuranganyaran nenek keji itu.
Tapi tiba-tiba tampak Hoa Thian-hong telah bergelak ketawa.
orang tua itu lantas berbangku dan berkata.
,.lm Seng-koh.
kira-kira sudah ada satu diam belum kedatangan kalian disini?"
Im Seng-koh bingung oleh pertanyaan itu. ia coba memandang ba jangan sinar matahari, lalu menyawab.
"Ja. belum ada satu jam kimanya tapi apa sangkut-pautnya dengan urusan menguji kepandaianmu?"
"Sudah tentu besar sangkut-pautnya?"
Kata Thian-hong dengan tertawa.
"Sebab apa yang hendak kau uji. sejak tadi sudah ku-kerjakan dengan baik. Nah. boleh coba kau ikut padaku untuk memeriksanya!"
Ajakan Hoa Thian-hong ini bukan saja membikin bingung Im Seng-kok.
bahkan Tiong-Tiang-thong dan Kang Hay-thian juga merasa tidak mengarti.
Sejak datang tadi Im Seng-koh toh tidak pernah melukai siapa-siapa, mengapa Hoa Thianhong mengatakan sudah melakukan ujian itu.
Sembari berkata Hoa Thian-hong mendahului bertindak keluar, dengan rasa sangsi terpaksa Im Seng-koh mengikutnya keluar.
Ia lihat Hoa Thian-hong menunjuk pada pohon didepan rumah itu dan berkata.
"Im Seng-koh. lihatlah, bukankah ini adalah pohon yang engkau bikin mati tadi?"
Tapi aku yang tak becus ini sudah dapat menjehatkannya dan hidup segar kembali."
Memang benar.
Pohon itu tadi sudah kering dan laju.
tapi kini daun tampak segar bugar dan tetap hidup subur.
Pabila tiada bekas tusukan kuku Im Seng-koh tadi, sungguh tiada seorangpun yang mau percaja bahwa pohon itu tadi sudah pernah kering dan laju.
Keruan Im Seng-koh ternganga dan takbisa bicara lagi.
Sebaliknya Tiong Tiang-thong lantas terbahak-bahak, serunya.
"Bagus, bagus! Sungguh ilmu tabib yang sakti! Tadi aku cuma melihat engkau mengusapi sebentar dibatang pohon itu, siapa tahu diam-diam engkau telah gunakan ilmu andalanmu untuk menjehatkan pohon itu. Nah. Im Seng-koh. apa yang dapat kau katakan lagi? Menjembuh-kan pohon berpuluh kali lebih sulit daripada menjembuhkan manusia. Sebagai sama-sama kaum ahli. apakah masih perlu lagi dijelas-kan?"
Dalam keadaan demikian. Im Seng-koh benar-benar mati kutu dan takbisa buka suara lagi. Pertama, soal ujian yang dia usulkan cuma minta Hoa Thian-hong menjembuhkan dalam waktu satu jam dari"
Apa-apa yang kena dilukai oleh tangannya yang beracun itu, walaupun maksudnya tentu manusia yang dilukai, tapi waktu bicara tadi tidak secara tegas-tegas dinyatakan "manusia"
Yang dia maksudkan, dengan sendu-jija Hoa Thian-hong sudah boleh di-kata telah memenuhi sjaratnya walaupun pohon yang dapat disembuhkan olehnya; Kedua, menjembuhkan pohon luka memang benar jauh lebih sulit daripada menjembuhkan manusia, sebab, daja hidup manusia lebih kuat daripada pohon.
Lebih-Lebih orang yang tinggi Lwekangnya akan lebih kuat melawan keracunan.
Misalnya Kang Hay-thian, Im Seng-koh sendiri tidak jak n dapat membina sakan dengan pukulan berbiasa, harapannya juga cuma membikin pemuda itu menderita saja, paling banyak juga cuma menjadi cacat.
Dasarnya Im Seng-koh memang cuma andalkan kelihayan ilmu racunnya, tapi kini pukulan berbisa yang diagulkannya itu telah kena dipecahkan orang, itu berarti dihadapan Hoa Thianhong tiada sesuatu kepandaiannya yang dapat dipakai lagi, bila dia berani rewel terus, tentu akhirnya akan makan getahnya sendiri.
Berpikir demikian, hilanglah kegarangan nenek itu, terpaksa katanya.
"Ja, ilmu tabibmu memang benar-benar sakti, sungguh aku sangat kagum. Nah. sampai berjumpa dalam perjamuan di Kim-eng-kiong".
"Sampai berjumpa dan maafkan Lohu tidak menghantar lebih jauh,"
Sahut"
Thing-hong dengan tertawa. Sekembalinya kedalam rumah, dengan terbahak-bahak Tiong Tiang-thong berkata.
"Haha, minuman dan panganan lezat ini tiada terganggu sedikitpun oleh mereka, ini benarbenar rejekiku yang besar, biarlah aku mengganyangnya habis-habisan".
"Tia (ayah). tadi aku benar-benar kuatir bagi kalian."
Kata In-pik tiba-tiba.
"kukatir engkau tak sanggup melawan nenek galak itu. Pabila dia menggunakan Kang-siangkong untuk menguji pukulannya yang berbisa, wah. benar-benar runyam!"
"Aba, Tith yang baik. orang baru kenal sudah kau kualirkan, kenapa kau tidak kualir bagi pengemis yang sudah kau kenal lama Ini, ha?"
Kata Tiang-thong dengan tertawa sambil menjejalkan panganan kedalam mulutnya.
"Malahan tadi aku sudah ambil risiko keracunan untuk menerima serangan Siulo-im-sat-kang dari Le-kukaucu itu, tapi kau toh tidak kuatir bagi keselamatanku!"
"Semua orang tahu ilmu silatmu sangat tinggi, kenapa aku mesti kuatir bagimu?"
Sahut In-pik.
"Oho, padahal orang Kang-siangkong adalah murid tunggal Kim-tayhiap. kau berani mengatakan ilmu silatnya rendah? Dan kau toh berkuatir baginya?"
Ujar Tiang-thong dengan tertawa.
Sebagai pemuda yang polos dan masih hijau.
Hay-thian tidak tahu kalau ucapan pengemis itu ada udang dibalikbatu, ia lantas berkata.
-Ah mana aku dapat dibandingkan dengan Tiong-pangcu.
Harini aku dapat terhindar dari kesulitan, semuanya berkat bantuan Hoa-locianpwe dan Tiong-pangcu berdua."
Dengan ucapan Kang Hay-thian yang sungguh-sungguh ini. Tiong Tiang-thong menjadi tidak enak untuk bergurau lagi. Maka katanya.
"Bicara sesungguhnya, tadi akupun rada kuatir. Dengan sekaligus gembong? iblis itu telah datang serentak, pikirku pasti akan terjadi pertempuran sengit, siapa duga satu persatu iblis-iblis itu dapat dienyahkan dengan mudah. lebihlebih caramu mengenyahkan Im-Iothaypo itu benar-benar diluar dugaan siapapun juga dan sangat bagus!"
Tapi mendadak Hoa Thian-hong mengkerut kening, katanya.
"Tidak, lagak Lopocu itu cuma garang diluar saja. tapi jeri didalam, sejak mula aku sudah menduga dia pasti akan mundur teratur. Sebaliknya yang paling mengherankan aku adalah sikap Auyang-jinio itu. Mereka suami-isteri adalah orang-orang yang keji dan culas, bicara tentang kelihayan, sesungguhnya dia masih diatas Im-lopocu itu, Tapi hari ini dia mau bicara dengan begitu baik. benar? sangat diluar dugaanku."
"Suaminya pernah dikalahkan olehmu, dengan sendirinya dia cukup kenal gelagat."
Ujar Tiang-thong. Namun Hoa Thian-hong cuma menggeleng tanpa Berkata lagi.
"Kulihat mereka ihu dan anak benar-benar sangat berterima kasih kepada Kang-siangkong". sela Hoa In-pik tiba-tiba.
"Kang-siangkong. nona Auyang itu sesungguhnya sangat baik padamu Tapi kenapa engkau begitu sungkan bicara tadi. orang mengundang engkau ke-rumabnya. mengapa engkau lantas menolaknya begitu saja?"
Sekali ini Kang Hay-thian yang merasa jengah, dan In-pik tertawa.
Dalam pada itu Hoa Thian-hong masih tetap diam saja seperti lagi merenungkan sesuatu.
Sejak mula ia sudah dapat melihat sigadis Auyang Wan "lu jatuh hati kepada Kang Haythian.
tapi dari sesama orang Kangouw sudah lama didengarnya tentang tindak-tanduk Auyang-jinio yang keji itu.
lahirnya saja ramah-tamah, tapi batinnya kejam.
Sekalipun demi puterinya ia tidak ingin mempersulit Kang Hay-thian.
tapi toh tidak seharusnya merendah diri sebegitu rupa.
Lebih-Lebih diriku pernah bercekcok dengan suaminya, terhadap diriku tidak mungkin mereka lupakan kejadian itu seperti dikatakannia tadi.
sebab suami-isteri mereka itu sekali-sekali bukanlah manusia yang berjiwa sebesar itu".
Karena pikiran itulah Hoa Thian-hong pikir untuk selanjutnya harus lebih hati-hati menghadapi orang dari keluarga Auyang itu.
Melihat Hoa Thian-hong termenung tanpa berkata.
Tiong Tiang-thong salah sangka kakek she Hoa itu lagi memikirkan masa depan puterinya.
Maka la coba membilukan pokok petnbicaraan.
katanya.
"Kang-siauhiap, apakah engkau juga akan pergi ke Kim-eng-kiong sana? Jika begitu, kebetulan dapat berangkat bersama-sama Hoa-locianpwe. In pik, kau juga dapat menggunakan kesempatan ini untuk ikut ayahmu keluar untuk menambah pengalaman."
Ucapan Tiong Tiang-thong itu maksudnya tidak bergurau lagi.
tapi dengan sungguh-sungguh ia ingin menjodohkan Kang Hay-thian dan Hoa-In-pik, dengan ikut sertanya gadis itu, dengan sendirinya kesempatan mereka untuk berkenalan lebih rapat menjadi lebih banyak.
Maka berkatalah Kang Hay-thian.
"Aku justeru lagi ingin tanya Hoa-locianpwe sebenarnya tokoh macam apakah Cukong dari Kim-eng-kiong itu?"
"Untuk itu, harap engkau dengarkan suatu ceritaku dulu,"
Kata Hoa Thian-hong."
"Dibawah kaki gunung Altai terdapat suatu negeri kecil yang bernama Masar. Raja daripada negeri kefjil ini telah digulingkan oleh panglima-panglima bawahannya pada 12 tahun yang lampau, raja dan permaisuri terbinasa semua, tapi raja itu mem-punyai seorang putera dan seorang puteri, dalam perebutan kekuasaan itu. kedua bocah itu telah hilang tak ketahuan kemana perginya .................."
Mendengar sampai disini.
tak tertahan lagi hati Hay-thian tergetar.
Ia sudah pernah mendengar cerita tentang negeri Masar itu dari Kim Si-ih.
bahkan pernah menyangsikan Kok Tiong-lian adalah puteri raja Masar yang menghilang itu.
Sebab itulah, ia lebih cermat pula mengikuti penuturan Hoa Thian-hong ini.
Maka terdengar Hoa Thian-hong sedang melanjutkan.
"Mendiang raja Masar itu sebenarnya adalah seseorang tokoh pilihan, konon dalam hal ilmu silat juga mempunyai peyakinan yang sangat tinggi dan sangat suka bergaul dengan orangorang Bu-lim. bahkan beberapa tokoh persilatan dari Tionggoan pernah menjadi tamu un-dangannya. Cuma kemudian karena usianya agak lanjut dan penyagaan agak lengah, maka raja itu kena dibunuh oleh seorang panglima kepercajaannya sendiri serta dapat merebut tahtanya. Dan kemana perginya kedua putera-puterinya itu tiada seorangpun yang tahu.
"Sesudah raja baru naik tahta, demi kepentingannya. ia telah mengadakan pembersihan secara besar-besaran. banyak orangnya disuruh pergi mencari jejak kedua bocah itu Akhirnya dapat diperoleh kabar olehnya bahwa kedua anak piatu itu berhasil dibawa lari oleh seorang tamu raja yang sudah terbunuh itu dan menuju ke Tionggoan.
"Raja baru yang merebut tahta itu ternyata seorang yang angkara murka, begitu pegang kekuasaan, segera ia menrjari jago-jago kepercajaan.
"lari negeri Thian-tiok telah dapat diundang seorang paderi bernama Po-siang. konon Po-siang Taysu ini adalah jago nomor satu di negeri Thian-tiok, katanya adalah murid terpandai daripada mahaguru ilmu silat yang terkenal di seluruh jagat Liong-su Siansu. Raja Masar yang baru itu telah mengangkat Po-siang menjadi Kok-su (imam negara) dengan gelar "Hoat-ong" (raja agama), bahkan kusus dibangunkan sebuah istana untuk paderi itu, istana itu dibori bernama Kim-eng-kiong. Dari itu, Po-siang Hoat-ong itulah yang menjadi Cukong dari pada Kim-eng-kiong".
"Dan bagaimana pula seluk-beluknya perjamuan dalam Kim-eng-kiong pada hari raja Tiongkhiu nanti?"
Tanya Haythian pula.
"Po-siang Hoat-ong itu toh tiada hubungan apa-apa dengan Kok-Iihiap dari Bin-san-pay, mengapa beliau diundang hadir juga dalam perjamuan itu?"
"Tentang sebab-musnbabnya aku sendiripun kurang jelas", sahut Hoa Thian-hong.
"Yang terang, setelah raja Masar itu mendapat jago pilihan seperti imam negaranya itu, ia menjadi seperti harimau tumbuh sajap. banyak kelompok suku bangsa di sekitarnya telah kena dimakan olehnya. selama belasan tahun ini. luas negerinya telah bertambah hampir sepuluh kali besarnya. Wi-layah negeri Masar"berada di utara Sinkkiang, jaitu suatu negeri kecil dikaki gunung Altai (Thay-san). tapi kini wilayahnya sudah meluas sampai di utara propinsi Kansiok. bahkan kekuasaan-nya juga sudah merembes masuk kedalam sebagian propinsi Jinghay."
Mendengar sampai disini.
kembali hati Hay-thian tergerak, ia menjadi ingat pada cerita Pek Eng-kiat dan Thia Go bahwa ketika Piausu dari Tin-wan Piaukiok di Pakkhia waktu mengawal satu partai bahan obat-obatan kepada kepala suku di wilayah Jinghay.
ketika hampir sampai ditempat tujuannya, tahu-tahu barang kawalan itu telah dirampok orang.
Kemudian kelompok suku diwilayah Jinghay itu berjangkit penyakit menular yang jahat hingga hampir mati semua kelompok suku itu, akhirnya daerahnya telah dimakan bersama oleh dua kelompok tetangganya yang lebih kuat.
Ketika Hay-thian menanya Hoa Thian-hong.
ternyata negeri Masar itu adalah salah satu negeri tetangga yang ikut membagi wilayah kepala suku di Jinghay itu.
Kemudian Thian-hong melandiutkan ceritanya.
"Disamping itu. Po-siang Hoat-ong telah baniak mengirim jago-jago bawahannya ke-wilayah Tionggoan untuk menjelidiki jejak kedua putera-puteri raja yang dahulu, dan kabarnya beberapa tokoh Bu-lim yang dahulu pernah menjadi tetamu raja Masar yang lama itu tahu-tahu telah dibunuh orang. Sedang mengenai kedua anak yang dicari-nya itu apakah diketemukan mereka atau tidak, bal itu tidak diketahui."
"Menurut dugaanku, kedua anak piatu itu mungkin belum diketemukan mereka", ujar Tiang-thong. Ia merandek sejenak, lalu menyambung lagi.
"Setahuku, Po-siang Hoat-ong itu adalah seorang yang suka bergerak, besar napsunya hendak menyagoi dunia persilatan Tionggoan. Sebabnya dia mengadakan perjamuan dalam Kim-eng-kiong nanti, menurut pendapatku. dia mempu-nyai dua tujuan. Pertama, dihadapan tokoh-tokoh silat yang hadir itu ia hendak pamerkan Jlmu silatnya. Kedua.tsekalian ia ingin men-cari tahu dimana beradanya kedua anak yang hilang itu. Dari orang-orang yang diundang olehnya. sampai seorang pengemis seperti ?ku juga mendapat kartu undangannya. apalagi Kok-Iihiap sebagai salah seorang ketua cabang persilatan yang terkenal, tentu saja termasuk dalam daftar undangannya."
"Pandanganmu memang cukup masuk diakal."
Kata Hoa Thian-hong.
"Terus terang kukatakan, sebabnya aku bersedia menghadiri pertemuan dalam Kim-eng-kiong itu. tujuanku juga ingin melihat betapa hebat ilmu silat daripada aliran negeri Thian-tiok seperti Po-siang Hoat-ong itu."
Dalam pada itu Kang Hay-thian sedang memikir sendiri.
"Jika demikian, jadi Kok Tiong-lian itu benar-benar adalah puteri raja Masar. Maksud Po-siang Hoat-ong jtu mengundang Kok-Lihiap suka hadir dalam perjamuannya itu mungkin tidak melulu karena Kok-Lihiap adalah Ciangbunjin dari Bin-san-pay. tapi disebabkan karena sudah mendapat tahu asal-usul murid beliau ,itu."
"Sungguh sayang. karena aku harus pergi memenuhi janjinya Ek-pangcu di Prk-kng-bio, maka tak dapat berangkat bersama kalian."
Kata Tiang-thong kemudian.
"Dan aku sendiri sebelum pergi ke Kira-eng-kjong juga ingin menuju kepegunungan Tangra.dulu untuk menyambangi sobat haik guruku, jaitu Teng Keng-thian suami-isteri."
Kata Haythian.
Maklum.
Kang Hay-thian meski cuma seorang pemuda rema-ja yang baru berumur 17 tahun dan belum pernah memahami apa artinya "cinta".
Tapi karena Kok Tiong-lian adalah kawan memainnya sedari kecil, maka kesannya kepada gadis itu sangat mendalam, dalam benaknya bayangan Kok Tiong-lian telah memperoleh suatu tempat yang penting, hal ini mungkin Hay-thian sendiripun tidak sadar bahwa pada dirinya sebenarnya sudah timbul semacam cinta yang samarsamar.
"Cinta pertama", perasaan ini pasti timbul dalam lubuk hati setiap pemuda remaja bila pada suatu saat mendadak bayangan si orang gadis bersarang dalam benaknya. Cuma saja Kang Hay-thian sendiri tidak sadar akan perasaan cintanya itu. tapi dalam tindak-tanduknya tanpa merasa, sengaja atau tidak, ia ingin menghindari hubungan dengan gadis kedua demi sigadis pertama Yang sudah mengisi hatinya itu, kecuali kalau gadis kedua ini dapat memberi kesan yang lebih mendalam atau sesuatu yang dapat mempengaruhi pikirannya. barulah dapat mentawarkan cintanya yang belum masak kepada gadis pertama itu. Begitu pula halnya sekarang dengan Kang Hay-thian, dia menyalakan hendak pergi mencari Teng Keng-thi"an. sebenarnya cuma alasan yang timbul dari lubuk hatinya. jaitu berusaha menghindari menempuh perjalanan dengan Hoa Thian-hong serta menyauhi Hoa In-pik. Tak tersangka Hoa Thian-hong lantas berkata dengan tertawa malah.
"Kiranya kau hendak pergi kepegunungan Tengra dahulu, itulah lebih kebetulan lagi. Aku justeru sudah lama ingin pergi ke sana untuk berkenalan dengan pemilik "istana es"
Itu.
Aku sudah pernah bertemu sekali dengan Tengtayhiap.
Teng Hiau-lan.
tapi dengan putera dan menantunya tidak pernah kenal.
Kabamja di dalam istana es itu banyak tertanam rumput dan bunga?
yang bernilai, kebetulan aku dapat ikut kau kesana untuk menikmatinya.
toh waktunya dengan pertemuan di Kim-eng-kiong masih cukup longgar untuk kita pergi kesana".
Terhadap seorang Locianpwe atau angkatan tua.
pula orang yang telah menolong jiwanya, betapapun Hay-thian tidak enak untuk menolak maksud orang.
Terpaksa ia menyahut.
"Jika Wanpwe dapat menempuh perjalanan bersama Locianpwe, sudah tentu akan lebih baik".
"Tiong-laute."
Kata Thian-hong, kemudian kepada ketua Kay-pang itu.
"maka akupun tidak menahan kau lebih lama lagi di sini. harini juga kita masing-masing lantas berangkat".
"Ucapan ayah ini bukankah mirip lagi mengusir tamu?"
Ujar In-pik dengan tertawa.
"Baiknya Tiong-sioksiok mirip anggota keluarga kita sendiri, beliau tentu takkan menyesali perkataan ayah."
"Wah. wah. sekarang keponakan baik ini ingin mengambil hatiku malah", kata Tiong Tiang-thong dengan tertawa.
"Hahaha. kulihat engkau sendirilah yang benar-benar ingin lekas-lekas berangkat, kalau ayahmu tidak buka suara, mungkin kau sudah mengusir aku". Sebagai gadis yang tidak pernah mengembara, memang Inpik sangat ingin lekas-lekas berangkat pergi menambah pengalaman, maka kata-kata Cong Tiang-thong itu tepat kena dihatinya. Namun gadis itu cuma tersenyum saja tanpa menyawab lagi, dengan berseri-seri terus saja ia pergi bebenah seperlunya untuk berangkat. Setelah Hoa Thian-hong periksa barang buntalan yang telah disiapkan puterinya. dengan tertawa katanya.
"Kau telah bawa juga kitab-kitab pertabibanku ini."
"Kitab-Kitab ini adalah mestika kesajangan ayah. anak kuatir kalau ditengah jalan mendadak ayah teringat pada persoalan pertabiban dan perlu membuka kitab untuk mempelajari, makanya kubawa sekalian kitab-kitab ini."
Sahut In-pik.
"Baiklah, memang tidak percuma mempunyai anak gadis sebesar kau ini. sudah dapat kenal tabiat ayahmu sehari-hari. kitab-kitab ini kalau dibawa serta juga akan lebih melegakan hati daripada ditaruh dalam rumah."
Ujar Thian-hong tertawa. Dan baru saja mereka berempat hendak berangkat, kebetulan sirajawali raksasa yang habis mencari makan itu telah terbang pulang.
"Tia. apakah kita akan membawa serta Eng-ji?"
Tanya Inpik.
"Tidak perlu."
Sahut Thian-hong.
"Biarkan binatang ini membantu kedua kacung kebun untuk menyaga tanaman obat kalau-kalau ada penyahat hendak mencuri obat-obatan kesini."
Begitulah mereka lantas berangkat.
Setiba dikaki gunung, masing-masing lantas menuju kearahnya sendiri?.
Tiong Tiang-thong pergi ke Pik-ling-bio untuk memenuhi janjinya dengan Ek Tiong-bo, sedangkan Kang Hay-thian sejurusan dengan Hoa Thian-hong dan puterinya.
Sebagai seorang yang banyak berpengalaman dan hias penge-tahuannya.
sepanjang jalan Hoa Thian-hong suka raenceritakan kejadian?
aneh dikangouw kepada Kang Haythian hingga besar manfaarnya bagi pemuda itu.
Hanya dalam beberapa hari saja hubungan Hay-thian dengan In-pik juga mulai rapat, kesempatan bicara mudamudi itupun bertambah banyak.
Tapi.
sering pemuda itu masjih teringat pada Kok Tiong-lian.
Sudah delapan tahun lamanya ia berpisah dengan Tiong-lian.
tapi sifat lincah dan nakal gadis cilik dalam benaknya itu dengan jelas masih selalu terbayang.
"Bila kepergok Tiong-lian dan dia melihat aku berada bersama dengan In-pik. entah dia akan mentertawai aku atau tidak?"
Bila terpikir demikian, tanpa merasa sikapnya menjadi agak dingin terhadap Hoa In-pik.
Terkadang iapun suka ingat kepada Auyang Wan.
teringat olehnya ayah-ibu dan guru sigadis itu adalah tokoh-tokoh dari kalangan Sia-pay.
ia merasa gegetun, bahkan tanpa sebab timbul semacam rasa hampa dalam hatinya.
Setelah belasan hari mereka menempuh perjalanan.
sementara itu mereka sudah memasuki pegunungan Ki-liansan diperbatasan antara propinsi Jinghay dan Kamsiok.
Hari itu mereka sambil berjalan sembari bercakap.
Tiba-Tiba Hoa Thian-hong bersuara heran dan berhenti.
Waktu Kang Haythian memandang kearah yang diperhatikan orang tua itu, ia lihat diatas sebuah batu padas terdapat satu bekas tapak tangan.
Tapak tangan ini jauh lebih besar daripada tangan orang umumnya.
Hay-thian menjadi heran dan menanya.
"Hoa-locianpwe. siapakah orang nya ini?"
Dengan wayah muram Thian-hong menyahut.
"Marilah kita cari suatu tempat mengaso dulu. nanti akan kuceritakan dengan jelas."
"Hari masih sore. kenapa ayah tidak sembari berjalan sambil bercerita saja,"
Ujar In-pik.
"Paling sedikit kita masih dapat menempuh ratusan li hingga petang nanti."
"Tapak tangan ini adalah tanda pengenal daripada seorang sobat-lamaku". kata Thian-hong.
"Dia minta bertemu dengan aku pada malam nanti, kalau aku tidak berhenti disini. tentu dia akan mengira aku sengaja menghindarinya."
"Tia, aku toh tidak pernah mendengar engkau mempunyai seorang kawan yang punya tangan sebesar itu?"
Tanya In-pik.
Thian-hong hanya tersenyum getir saja tanpa menyawab.
Ia lantas mencari tempat yang dapat dibuat bermalam.
Akhirnya dapatlah diketemukan sebuah gua yang cukup luas.
didalam gua kebetulan ada seloncjor batu yang melintang di tengah hingga gua itu terbagi menjadi dua sisi hingga mirip dua kamar buatan alam.
"Inilah kebetulan."
Ujar In-pik dengan tertawa.
"Engkoh Hay-thian. silahkan engkau tinggal disisi sana."
Dan menunggu sesudah gua itu dibersihkan seperlunya kemudian Hoa Thian-hong suruh kedua muda-mudi itu berduduk, lalu mulailah ia bercerita dengan sungguh-sungguh.
"Pik-ji. apakah kau tahu sebab apa makanya ayah belajar menjadi tabib?"
"Ayah tidak pernah menyertakan, dengan sendirinya anak tidak tahu."
Sahut sigadis.
"Kira-Kira delapanbelas tahun yang lalu. waktu itu ibumu sedang mengandung dirimu kira-kira sudah dapat delapan bulan.""
Demikian Thian-hong memulai-"Suatu hari.
ketika kami dalam perjalanan telah kebentrok dengan seorang gembong penyahat iblis itu adalah orang yang meninggalkan bekas tapak tangan diatas batu ini.
Dia bergelar Tok-jiu-thiancun (sidewa bertangan ra-cun), nama aslinya jalah Po Lohou."
"Wah. besar amat suaranya. berani nienjuluki diri sendiri sebagai Tok-jiu-thian-cun."
Ujar In-pik dengan tertawa.
"Apa barangkali tangannya yang berbisa itu lebih lihay daripada ilmu Sin-coa-ciang yang beracun dari Im-Iopocu itu?"
"Ja. memang jauh lebih lihay."
Sahut Thian-hong sungguhsungguh.
"Kalau Sin-coa-ciang nenek she Im itu adalah rendaman racun dari berbagai jenis ular berbisa, adalah pukulan berbisa Po Lo-hu ini adalah gemblengan dari tujuh macam racun yang paling jahat. jaitu masing-masing adalah. Khong-jiok-tan (empedu merak). Ho-ting-ang (jengger bangau). Kim-jan-diong (ulat sutera emas), Hok-coa-yan (iler ular senduk). Toan-jong-hoa (bunga perantas usus). Hu-kutjau (rumput pembusuk tulang) dan Hek-sim-lian (teratai sumbu hitam). Tujuh macam racun maha jahat ini dicairkannya didalam arak sublimat lalu dengan Lwekangnya yang lain daripada yang lain itu ia masukan kedua telapak tangannya untuk direndam selama 49 hari. akhirnya jadilah tapak tangannya yang berbisa sangat lihay itu".
"Ai. begitu lihay. lantas bagaimana ketika ayah mempergoki dia?"
Seru In-pik dengan kuatir.
"Memangnya sudah lama aku dan ibumu ingin membasmi penyahat durjana seperti dia itu. maka begitu kepergok ditengah jalan. terus saja terjadi pertarungan sengit", tutur Thian-hong.
"Aku telah berhasil menahas putus sebelah lengannya dengan Liu-hun-kiam-hoat yang baru saja kuyakinkan. tapi sedikit lengah ibumu telah lecet keserempet oleh pukulannya. Dengan cepat Po Lo-hou lantas melarikan diri. akupun tidak berani mengejar-nya ketika melihat ibumu terluka juga."
"Kemudian bagaimana?"
Tanya In-pik tak sabar. Thian-hong menghela napas dulu, kemudian melanjutkan.
"Lwekang ibumu sebenarnya sangat tinggi, bahkan lebih tinggi dariku. Cuma dia sedang hamil hingga tidak dapat mengerahkan sepenuh tenaga untuk melawan serangan musuh itu. Akibat-nya belum cukup bulan kau sudah lahir dan ibumu karena pendarahan, tiga hari kemudian setelah melahirkan dirimu lantas meninggal."
Semula In-pik mendengar cerita ayahnya dengan berseriseri. kini mau-tak-mau ia menjadi sedih, air matapun berlinang-linang. katanya.
"Jika demikan. jadi ibu telah tewas oleh karena serangan iblis laknat ini? Mengapa tidak sejak dulu-dulu engkau mengatakan padaku?"
"Oleh karena kau dilahirkan sebelum waktunya, maka sejak kecil badanmu sangat lemah."
Tutur Thian-hong.
"Demi untuk membesarkan kau serta ingin membalas sakit hati ibumu, makanya aku mengasingkan diri di Hoa-san untuk meyakinkan ilmu pertabiban guna menghadapi pukulan berbisa Po Lo-hou itu. Musuh itu sangat lihay. sebelum kepandaianku berhasil kulatih, percuma-lah aku menuntut balas padanya."
"Dan kini ayah sudah yakin akan dapat mengalahkan pukulan jahatnya itu bukan?"
Tanya In-pik dengan masih berduka.
"Paling tidak aku sudah punya pegangan yang meyakinkansahut Thian-hong.
"Dari itu kali ini aku berani membawa serta kau ke Kim-eng-kiong. sebab kuduga akan bertemu dengan dia disana, siapa tahu ditengah dialan dia sudah datang menghadang sendiri. Tampaknya karena sebelah lengannya tertabas oleh pedangku, maka dendamnya padaku juga tidak pernah terlupa. Cuma entah darimana dia mendapat kabar bahwa kita bakal melalui jalan ini hingga lebih dulu dia meninggalkan tanda tapak tangannya diatas batu itu?"
"Peduli apa darimana dia mendapat tahu."
Ujar In-pik dengan penuh dendam.
"Tia. jika engkau sudah yakin pasti menang, begi tu iblis laknat itu tiba, sekali tusuk bereskan saja nyawanya."
Ia tidak tahu bahwa yang dikuatirkan ayahnya bukanlah cuma Po Lo-hou melulu, tapi dalam perhitungan Thian-hong.
jikalau lebih dulu Po Lo-hou dapat mengetahui jejaknya serta meninggalkan tanda peringatan sebagai tantangan pertempuran yang menentukan, maka sudah tentu sebelumnya iblis-iblis itu sudah mengada kan persiapan.
Kalau satu lawan satu Hoa Thian-hong cukup yakin akan dapat menang, tapi bila musuh itu datang bersama satu-dua orang kawannya yang berkepandaian setingkat, maka susahlah Thian-hong menghadapinya Namun kuatir kalau puterinya ikut gelisah, maka ia hanya men-jawab.
"Benar juga ucapanmu. Tapi Po Lo-hou itu sesungguhnya teramat lihay dan ganas, sampai waktunia nanti, sekali-sekali kau jangan ikut maju."
"Baiklah, aku akan berdiri disamp.ng menyaksikan ajab mengha-jar iblis itu."
Ajar In-pik.
"Menonton juga tidak boleh."
Kata Thian-hong dengan kereng.
"Kau harus mendengarkan perintah ayah."
"Ja. baiklah, habis makan malam, aku lantas tidur saja."
Sahut In-pik dengan kurang senang.
Kemudian Kang Hay-thian keluar dari gua itu untuk berburu, ia membawa kembali dua ekor kelinci.
Tapi karena gelisah.
In-pik tiada semangat untuk memasak hingga kelinci yang dipang-gangnya itu sampai hangus.
Maka makan malam itu mereka selesaikan dengan seadanya."
Habis itu.
benarbenar juga In-pik lantas meng gelar tikar dan tidur.
Kang Haythian sendiri mengiringi Hoa Thian-hong menantikan kedatangan Po Lo-hou dengan berdebar-debar.
Tunggu punya tunggu, sampai sang dewi malam sudah berada ditengah-tengah cakrawala, hari sudah lewat tengah malam, tapi musuh masih belum kelihatan.
Diam-Diam Haythian heran.
"Aneh, mengapa malam sudah larut, bayangan musuh masih belum nampak?"
"Kang-hiantit, pergilah kau tidur dulu,"
Kata Thian-hong kemudian.
"Pabila aku perlu bantuanmu, tentu aku akan bersuara memanggil kau.". Bergaul selama belasan hari, hubungan mereka sudah mulai rapat, semula ia memanggil pemuda itu sebagai "Kangsiauhiap". tapi kini atas permintaan Hay-thian. ia telah memanggilnya sebagai "Hian-tit"
Atau keponakan baik.
Dan demi nampak Hay-thian ragu-ragu, dengan tertawa Thian-hong lantas berkata lagi.
.Mungkin kau masih belum paham pera turan dalam kalangan Hek-to.
Sekali dia sudah meninggalkan tanda tantangan, pasti dia takkan melakukan serangan pembokongan.
Bila dia datang, tentu dia akan bersuara ditempat yang dia tinggalkan tanda peringatan itu untuk mengundang aku.
Maka engkau boleh tidur dengan tenteram, aku sendiripun ingin bersemadi sebentar untuk bersiap menghadapi musuh nanti".
"Jika demikian, maafkan Siautit tidak mengiringi Laupek lagi."
Kata Hay-thian kemudian.
"Bila nanti iblis itu sudah datang, harap Laupek memanggil aku. Walaupun Siantit tak dapat memberi bantuan yang berarti, tapi Siautitpun ingin menambah pengala-laman." -Habis berkata, ia lantas memutar kesisi gua yang lain untuk tidur. Namun demikian, betapapun pemuda itu tak bisa pulas. Kira-kira sejam kemudian, selagi Kang Hay-thian ragu-ragu apakah musuh bakal datang malam ini, tiba-tiba didengarnya suara teriakan yang ta-jam mengerikan dari jauh Namun aneh, suara teriakan itu bukan suara kaum lelaki, tapi adalah suara kaum wanita, yang lebih mengherankan ialah suara itu seperti sudah dikenalnya. Seketika Kang Hay-thian meloncat bangun, sebab suara itu seperti dapat dikenalnya sebagai suaranya Auyang Wan. Dari suara jeritan tajam dan mengerikan itu. agaknya gadis ini seperti mendadak ketemukan sesuatu hal yang menakutkan dan jiwanya terancam bahaya. Tanpa pikir lagi Hay-thian terus berlari keluar gua dan menuju kearah datangnya suara itu. Hoa Thian-hong waktu itu sedang bersemadi memusatkan pikiran, ketika mendadak melihat Hay-thian. berlari pergi, cepat ia menggembor "Kang-hiantit. apa............ apa yang kau lakukan? Awas............" -Namun gerakan Kang Hay-thian itu terlalu cepat. diantara mereka teraling-aling pula sebuah balok batu, hendak menahannya juga Thian-hong tidak keburu lagi. Sudah tentu Hay-thian mendengar suara teriakan Hoa Thian-hong. tapi dalam hatinya malah berpendapat.
"Hoalocianpwe se-sungguhnya juga terlalu berhati-hati. awas tentang apakah? Auyang-kohnio sedang terancam bahaya, masakan aku berpeluk tangan tidak menolongnya? Masakan ini adalah tipu muslihatnya pula?"
Belum selesai ia berpikir.
tiba-tiba dilhatnya dua sosok bayangan orang berlari keluar dari rimba sana.
dibawah sinar bulan yang agak remang-remang.
namun dari perawakan yang langsing itu jelas kelihatan yang berlari didepan adalah seorang gadis, dan orang yang mengejar dibagian belakang adalah seorang laki-laki bertubuh aneh, tingginya tiada lima kaki.
tapi kepalanya sangat besar.
lengan nya cuma satu.
tapi panjang lagi lebar tampaknya telapak tangan nya yang terpentang dan hendak menijengkeram gadis didepannya itu.
Hati Hay-thian tergetar, ia pikir apakah orang ini yang dikatakan sebagai Tok-jiu-thian-cun itu?
Oalam pada itu, dengan cepat luar biasa tertampak telapak tangan yang lebar bagai daun pisang itu sedang diulur kepunggung sigadis yang memang tidak salah adalah Auyang Wan itu.
Hay-thian tidak sempat lagi bertanya.
segera ia melompat maju sambil membentak.
"Lepaskan tanganmu! Menganiaja seorang gadis, terhitung orang gagah macam apa?" -Berbareng itu. secepat anak panah ia terus menerjang kedepan. Tampaknya tinggal beberapa lompatan lagi pasti dia akan dapat tiba sampai ditempat tujuan. tapi mendadak tanah yang dipijak-nya tahu-tahu terasa mengapung, dan selagi Hay-thian merasa tiunga, sekonyong-konyong tubuhnia sudah dikerudung rapat oleh sebuah jaring besar. Kiranya jaring itu digelar dipermukaan tanah, pula warna jaring itu hitam, sekalipun Kang Hay-thian tidak lagi buru-buru hendak menolong orang, namun dimalam hari begitu juga susah mengetahuinya. Sekilas itu Kang Hav-thian terkejut dan mendiadi gusar nula. Justeru karena dia sudah pernah sekali ditipu oleh Auyang Wan. kemudian dengan tindakannya yang niata gadis itu menistakan pe-njesalannya. maka sekali ini Hay-thian men yangka gadis itu benar-benar lagi terancam bahaya dan bukan tipu muslihat, siapa tahu kembali untuk sekali lagi ia masuk perangkap. -Selagi Kang Hay-thian hendak berlari maju untuk memapak Auyang Wan, tiba-tiba kakinya terasa menginjak ditempat kosong, tahu-tahu rubuhnya terangkat keatas oleh sebuah jaring.-Sementara itu jaring itu telah terangkat keatas. makin lama makin kencang hingga Hay-thian terbungkus rapat seperti "Bak-cang".
"Bagus kau. Auyang Wan. kau...... kau......... ja. Anggaplah aku telah salah kenal siapa kau!"
Saking gemasnya Hay-thian berseru dengan tak lampias.
Segera iapun meronta-ronta dan membetot benang-benang jaring itu sekuatnya Tapi benang jaring itu ternyata sangat ulet.
makin dibetot, makin kencang.
Kiranya jaring itu ada lah buatan dari sutera keluaran Kun-lunsan yang sangat kuat hingga untuk seketika Kang Hay-thian menjadi tak berdaja.
Dan pada saat itu juga mendadak orang aneh itu telah berhenti, katanya sambil terbahak-bahak.
"Hahaha. Auyangjinio, mengingat jasamu ini baiklah bocah ini takkan kucampur urusannya."
Hampir berbareng dengan itu, tiba-tiba terdengar juga suara seruan Auyang Wan yang tajam.
"Wah, kiranya engkau ju............... juga berada disini! Bagaimana uru......... urusan ini?"
Waktu Hay-thian mendongak, benar juga dilihatnya diatas dahan pohon situ lagi berduduk seorang wanita, siapa lagi dia kalau bukan Auyang-jinio yang saat itu sedang menarik jaring yang mengurung Hay-thian itu keatas pohon.
Dalam pada itu dengan cepat Auyang Wan sudah memburu tiba sambil berseru.
"Mak. siluman ini hendak menyerang aku dan Kang-siangkong yang telah menolong aku. maka jangan engkau membikin susah padanya!"
Segera Auyang-jinio menarik jaringnya lebih tinggi keatas, lalu ujung jaring itu diikat-pati dan digantung didahan hingga Kang Hay-thian terkatung-katung diudara.
Lalu nyonya itu melompat ke-bawah pohon, sekali cengkeram ia pegang puterinya itu sambil membentak.
"Kau tahu apa? Aku justeru hendak menolong dia. siapa bilang aku membikin susah padanya?"
Karena merasa terjebak, rasa gemas Hay-thian tak tertahan, segera ia mendamperat.
"Auyang-kohnio. bagus benar sandiwara kalian ibu-beranak ini. tapi aku orang she Kang bukan lagi anak kecil umur tiga. tidak nanti aku dapat kalian tipu lagi!"
Belum selesai ucapannya.
sekonyong-konyong terdengar suara "bret", kiranya Auyang Wan telah meronta sekuatnya hingga lengan bajunya terobek oleh pegangan ibundanya.
Dan ketika mendadak di-dengarnya damperatan Kang Hay-thian tadi.
seketika Auyang Wan menjadi terpaku ditempatnya sebagai patung.
Dan pada saat itu juga kembali tertampak sesosok bayangan orang sedang mendatangi dengan kecepatan yang susah dilukiskan.
Maka tertawalah siorang aneh tadi sambil menyapa.
"Aha, Auyang-jiko, kebetulan sekali kedatanganmu ini. puterimu ini. lho. ia hendak membebaskan orang!"
Hanya sekejap saja bayangan itu sudah sampai didepan Auyang Wan. lalu mendamperat dengan bengis.
"Budak tolol, lekas enyah sana. bila berani main gila lagi. apa minta diberi persen tamparan?"
Dibawah sinar bulan yang remang-remang itu Kang Haythian coba memandang melalui selah-selah jaring.
meski mimik wajab Auyang Wan tidak jelas kelihatan, tapi dapat dilihatnya tubuh sigadis rada gemetar hingga mirip tangkai bunga tergetar tertimpa air hujan.
terang gadis itu sangat terperandiat hingga seketika terkesima ditempatnya.
Sejenak kemudian, mendadak ia putar tubuh terus lari pergi dengan cepat.
dan sesudah berlari puluhan langkah, barulah terdengar jerit tangisnya dengan pilu dan mengharukan hingga perasaan Kang Hay-thian ikut seakan-akan disajat-sajat.
dibandingkan suara jeritan sigadis waktu diudak siorang aneh tadi.
jerit tangis sekarang jauh lebih mengguncangkan perasaan orang lain.
Baiknya Auyang Wan berlari dengan cepat hingga tidak antara lama.
bayangannya dan suara tangisannya sudah lenyap semua.
Tiba-Tiba Hay-thian menyesal.
pikirnya.
"Jangan-Jangan perbuatannya tadi itu dipaksa dan aku telah salah sangka jelek padanya?" -Tapi segera terpikir pula olehnya.
"Ah. tidak, terang teriakannya tadi memang sengaja memancing aku keluar, dia memang berkomplotan dengan orang aneh itu untuk menjebak diriku. Ting-kah-lakunya dengan orang tuanya itu hanya sandiwara belaka, masakan aku mesti percaja padanya? Tetapi, suara tangisannya ternyata begitu sedih, kedengarannya toh bukan pura-pura?"
Begitulah Kang Hay-thian berpikir dengan ragu-ragu dan tetap diliputi tanda-tanda tanya yang tak terjawab. Orang yang dipanggil sebagai "Auyang-jiko"
Oleh siorang aneh tadi. sekilas telah melirik kearah Kang Hay-thian. habis itu. tiba-tiba ia memaki sang isteri.
"Kenapa kau begitu semberono. apakah kau lupa dia adalah muridnya Kim Si-ih dan senyata apa yang selalu dia bawa? Tapi kau cuma mengurungnya didalam jaring dan digantung disitu saja?" -sambil berkata, berbareng tangan nya lantas diangkat dua jarinya menjentik sekali, maka terdengarlah suara mendesisdesis dua kali. tahu-tahu "Tan-tiong-biat"
Di dada Kang Haytljian terasa linu pegal. Kiranya "Auyang-jiko"
Itu telah menggunakan "Keh-khongtiam-hiat"
Atau menutuk jalan darah dari jarak jauh dengan Lwekangnya yang tinggi, maka Hiat-to didada Kang Hay-thian telah kena ditutuk oleh tenaga murninya yang tak berwujut itu.
Agaknya Auyang-jinio jeri terhadap sang suami, dengan tertawa ia menyahut.
"Ya. memang aku rada lengah, tapi ada Po-siansing disini. masakah bocah ini mampu melarikan diri?"
"Ah, Ji-nio terlalu memuji."
Sabut siorang aneh.
"Malahan malam ini aku masih harus minta bantuan Auyang jiko!". Dari percakapan dan sebutan mereka itu. dapatlah Kang Hay-thian mengetahui bahwa siorang aneh bertangan satu itu memang benar adalah "Tok-jiu-thian-cun"
Po Lo-hou. dan siorang ber-baju hitam yang datang kemudian itu adalah Auyang Tiong-ho. suaminya Auyang-jinio.
"Dan kini sudah tiba waktunya."
Kata Auyang Tiong-ho kemudian.
Tampak ia saling pandang dengan tertawa bersama Po Lohou.
lalu kedua orang sama-sama bersuit keras-keras.
Suitan Auyang Tiong-ho kedengaran keras dan nyaring mirip gembreng.
sebaliknya suara suitan Po Lo-hou kedengarannya seperti orang menangis karena kematian anggota keluarganya.
rasanya menjebalkan bagi yang mendengarnya.
Untung Kang Hay-thian sangat kuat Lwekangnya.
pabila sedikit rendah kepandaiannya dan mendengar suara suitan mereka yang aneh itu.
mungkin seketika dia bisa dibikin kacau pikiran dan menjadi gila.
Diam-Diam iapun memikir.
"Lwekang jahat dari kedua orang ini benar-benar sudah mencapai tingkatan yang tertinggi, cuma masih belum sempurna betulbetul, sayang aku tidak dapat berkutik hingga tidak bisa membantu pada Hoa-locianpwe". Tengah Hay-thian berpikir disertai suara suitan kedua musuh yang masih menggema di angkasa itu, tiba-tiba tertampak Po Lo-hou melesat maju kesana, terdengar dia berkata sambil soja.
"Hoa-losiansing benar-benar seorang yang pegang janji. aku orang she Po sudah menanti disini!"
Waktu Hay-thian mengincar keluar, kiranya memang benar Hoa Thian-hong yang sudah datang. Maka terdengar orang tua itu telah menyahut dengan dingin.
"Eh. kiranya masih ada pula Auyang-siansing!"
"Ja. dahulu aku pernah mendapat pengajaranrau. beberapa hari yang lalu isteriku yang tak berjus itupun telah mendapat pe-tuamu. dari itu kesempatan malam ini sengadia kugunakan untuk menyambut kedatanganmu; pertama agar sekadar dapat membalas kebaikan Hoa-losiansing. kedua, sekalian ingin minta petunjuk pula sejurus-dua padamu."
Ia berhenti sejenak, kemudian sambungnya dengan senyuman yang licik.
"Dan baru tad aku dapat mengetahui bahwa Po-siansing sudah ada janji lebih dulu dengan Hoalosiansing, sungguh sangat tidak kebetulan bagiku. Tapi harap Hoa-losiansing jangan kuatir, sekali-sekali aku pasti takkan menyerang orang jajig sedang kesusahan, jikalau tenaga Hoalosiansing pada malam ini kurang cukup, bolehlah lain hari menjadi giliranku untuk minta petunjuk padamu. Cuma aku kuatir pertarungan diantara dua harimau, akhirnya pasti ada satu yang celaka, sekalipun aku ada niat minta petunjuk pada Hoa-losiansing, agaknya susahlah berkabut harapanku ini."
Hoa Thian-hong menjadi sadar juga demi melihat Auyang Tiong-ho suami-isteri berada bersama dengan Po Lo-hou.
Tentu Po Lo-hou diberitahu oleh Auyang-jinio, makanya dapat menga-dang ditempat yang pasti akan dilaluinya sekarang ini.
Tapi iapun tidak mau bongkar komplotan mereka itu, dengan suara tenang ia menyahut.
"Jika kalian sudah sudi menanti disini. masakan aku orang she Hoa mesti bikin kecewa kawan, bolehlah silakan kalian memberi petunjuk semua. Tiuma sobatku yang kecil ini tiada sangkutpaut dengan urusan kita ini. diapun bukan bala bantuan yang kuajak kesini, maka harap kalian mentaati peraturan Bu-lim dan membebaskan dia."
Tapi Auyang Tiong-bo hanya tertawa dingin saja tanpa men-jawab.
"Kenapa?"
Thian-hong menegas.
"Apakah ucapanku salah? "Ucapanmu tidak salah."
Sahut Auyang Tiong-ho dengan dingin.
"botiah she Kang ini memang benar tiada sangkutpautnya dengan urusan kalian, tapi ada sangkut-pautnya dengan keluarga Auyang kami. Dia telah menggoda puteriku dan merusak nama baik keluargaku, maka aku harus menawannya untuk diberi hukuman yang setimpal."
Sungguh gusar Kang Hay-thian tak terkatakan oleh nista yang tak beralasan itu. namun karena Hiat-to tertutuk, susah baginya untuk buka suara.
"Tapi bukan begitulah menurut apa yang kudengar dari njonya-mu."
Ujar Thian-hong.
"Tempo hari nionyamu dan puterimu pernah datang ketempatku. dengan telinga sendiri aku mendengar dia menghaturkan terima kasih kepada Kangsiangkong, katanya bila Kang-siangkong tidak menolong, tentu puterimu telah dianiaja oleh gurunya yang kejam itu."
"Hoa-losiansing."
Sahut Tiong-ho dengan menjengek.
"engkau sudah berpengalaman, masakan urusan sekecil ini juga tidak paham. Sekarang adalah urusan sekarang, tempo hari urusan tempo hari. Waktu itu kau berada bersama pengemis she Tiong itu. mereka merasa kewalahan kalau melawan, terpaksa omong begitu."
"Baik. anggaplah kau beralasan, tapi aku juga tidak dapat melulu mempercaiai keterangan kalian sepihak, kau harus membebaskan dia aoar iapun dapat memberi keterangan."
Ujar Thian-hong. Tiba-Tiba Auyang Tiong-ho menarik muka. katanya.
"Hoalosian-slng sejak tadi kau bicara tentang peraturan Kangouw segala, dan peraturan ini tentunya kau juga paham? Bahwa urusan Kangouw ditentukan oleh pihak yang lebih kuat. Jika kau mampu, kau sendiri boleh coba membebaskannya."
Sungguh gusar Hoa Thian-hong bukan kepalang.
"sret", segera pedang dilolosnya dan berseru.
"Auyang Tiong-ho. hajolah menyerang dulu!"
Sekonyong-konyong terdengar Po Lo-hou bergelak ketawa. katanya.
"Bagus! Memangnya sejak tadi sudah harus bergebrak, kenapa mesti banyak cincong pula! Hoa Thianhong. jika mampu hajolah tebas pula sebelah lenganku toi--Auyang-jiko. biarkan aku menun tut balas sakit hatiku dulu!"
Habis bicara.
segera ia memburu maju terus menghantam.
Hoa Thian-hong terkesiap ketika mengendus sambaran angin pukulan lawan itu berbau amis.
Sebagai seorang yang berpengalaman, biarpun sudah tahu pukulan berbisa musuh itu jauh lebih lihay daripada dulu, namun iapun tidak jeri.
Segera ia menggeser, pedangnya bergerak, dengan tipu "Heng-in-toan-hong"
Atau melayang diatas awan menabas bukit, cepat ia mengisar kesamping Po Lo-hou terus menusuk pergelangan tangan musuh itu.
Mendadak Auyang Tiong-ho mengertak sekali, dari samping iapun lantas menghantam.
"Bagus, kalian boleh maju sekaligus saja!"
Seru Thian-hong dengan tertawa dingin.
Sekali memukul, raenjusul tangan Tiong-ho yang lain ikut men-jojoh dengan jarinya Waktu itu pedang Hoa Thian-hong masih tetap mengancam kearah Po Lo-hou.
maka lengan baju kiri sege ia dipakai mengebas.
begitu hebat kebasan itu hingga mirip tabasan pedang yang memotong Auyang Tiong-ho.
Kenal kelihayan lawan, cepat Tiongho mengisar pergi, hantamannya tadi urung dilontarkan, sebaliknya jarinya lantas menu-tuk pula.
Sebab itu kebasan lengan baju Hoa Thianhong juga mengenai tempat kosong, malahan lantas terdengar "bret"
Sekali, bajunya sobek oleh tutukan jari lawan, hal ini sama sekali diluar perhitungan Hoa Thian-hong bahwa tenaga jari Auyang Tiong-ho ternyata cukup lihay.
Ketiga orang itu sama-sama bergerak setiepat kilat, dengan bantuan Auyang Tiong-ho.
Po Lo-hou juga telah dapat menghindarkan pedang Hoa Thian-hong tadi, bahkan terdengar suara "cring"
Sekali, pedang itu kena diselentik oleh Po Lo-hou.
Baca Juga: Wanita Gagah Perkasa 8
Baca Juga: Panji Wulung 1