Eps 3 Kisah Pedang Di Sungai Es - Liang Ie Shen
Baca online Kisah Pedang Di Sungai Es - Liang Ie Shen
Cersil Kisah Pedang Di Sungai Es - Liang Ie Shen.
"Pantas senjata gelapnya yang berbisa itu tiada habis digunakan olehnya, kiranya kitab Pek Tok Cin Keng itu sudah jatuh ditangan mereka", seru Kang-Lam.
"Eh. sudah banyak yang kau ceritakan, tapi kau belum terangkan siapakah nama mereka?"
"Turun temurun mereka tinggal dinegeri asing, maka mereka termasuk dalam kelompok suku Masar, adat kehidupan mereka sudah hampir seluruhnya membaurkan diri dengan perduduk setempat. Tentang nama mereka aku telah mendapat tahu dan suku bangsa mereka. Yang tua yaitu kakak, namanya Karani, dan adiknya bernama Ipicuma. Kabarnya masing-masing mempunyai juga nama dalam bahasa Han, tapi orang mereka tak bisa mengucapkannya."
"Jika demikian, jadi mereka memang benar benar taci beradik,"
Kata Kang Lam.
"Dan itu Karani, apakah juga benarbenar isteri gubernur segala?"
"Hal ini dia memang tidak berdusta. Suaminya bernama Mo Lam Ting. Dahulu pernah menjabat panglima besar dikota Holam. Tahun mereka menikah, adalah bertepatan juga dengan tahun dimana Le Seng Lam berkenalan dengan mereka diwilayah barat itu."
"Cuma bagaimana tentang perhubungan Le Seng Lam dengan mereka, aku sendiri kurang terang", tutur Si Ie lebih jauh.
"Tapi kalau Le Seng Lam sudah sedia mengembalikan kitab Pek Tok Cin Keng kepada mereka, dapat diduga mereka pasti sudah berubah menjadi kawan dari pada lawan. Ilmu silat dalam kitab tinggalan Kiau Pak Beng tentu tak diajarkan oleh Le Seng Lam, namun mereka mungkin dapat pula mengetahui. Sebab itulah, belakangan Ipicumi telah menggunakan namanya Le Seng Lam untuk mendirikan Thian Mo Kau. Ia kumpulkan semua bekas dayangnya Le Seng Lam dan mendapat tambahan sedikit kepandaian berasal dari kitab Kiau Pak Beng, yaitu diselami dari ilmu silat yang dimiliki kawanan dayang itu, dengan sendirinya mereka bertambah lihay. Kakak beradik dari suatu sumber tapi ilmu silat si adik ternyata berlipat kali lebih tinggi dari sang kakak, apa sebabnya sampai sekarangpun aku belum mengetahui."
Tiba-Tiba Kok Ci Hoa tergerak hatinya, segera ia tanya.
"Ek Suhengku, mempunyai seorang kawan, adalah seorang tuan tanah kecil di Tiong Bo Koan, namanya Khu Giam, apakah kau kenal orang ini?. Aku ingin tahu apakah Khu Giam pernah datang kewilayah barat dan apakah kenal dengan taci beradik yang hebat itu?"
Ujar Ci Hoa.
"Hal ini aku tidak tahu. Apakah ada terjadi sesuatu?"
Tanya Si Ie.
"Justru ada sesuatu urusan yang menyangkut diri Khu Giam itu, hal ini biarlah nanti kuceritakan. Kini aku ingin tanya lebih dulu obat penawar yang pernah Le Seng Lam berikan padamu dahulu, apakah engkau bawa sekarang? Cia Suso dan Kang Suheng telah kena pukulan berbisa perempuan iblis itu, tandatanda lukanya yang keracunan itu sama seperti apa yang kualami dahulu."
"Ya, apabila kau datang siangan sedikit, tentu kami takkan kecundang oleh perempuan iblis itu,"
Demikian Kang Lam menggerundel.
"Sungguh aku tidak mengerti, apakah orang yang diam-diam pernah menolong aku dan membikin jeri Mo Hujin itu dijalan pegunungan itu adalah kau?. Jika engkau, mengapa kedatanganmu terbelakang?"
Si Ie ierkesiap oieh cerita itu, tanyanya cepat.
"Bisa terjadi begitu? Orang yang membantu kau mengalahkan kedua Hoanceng tempoo hari memang aku adanya, tapi kau mengalami bahaya lagi dipegunungan ini, aku sama sekali tidak tahu. Aku hanya seorang diri, tidak punya ilmu membagi diri. Aku tahu betapa lihaynya kedua wanita taci dan adik itu, tapi menduga Ci Hoa masih sanggup melawannya. Yang paling lihay adalah Bun Tocu itu. Maka sejak naik ke Bin San, diam-diam aku lantas mengawasi setiap gerak-geriknya. Aku bersama dia masuk kesini disaat Thian Mo Kaucu lagi pamerkan kepandaiannya mengetok cawan terjepit ke dalam meja itu. Kalian tidak mengetahui Bun Tocu, sebaliknya Bun Tocu itu juga tidak merasa kalau aku lagi menguntitnya".
"He sungguh aneh sekali!"
Seru Kang Lam. Jika menurut ceritamu, jadi orang yang diam-diam membantu aku itu bukanlah engkau dan juga bukan orang she Bun itu?"
"Cara bagaimana kau dibantu orang?"
Tanya Si Ie. Maka bercerita Kang Lam apa yang dialami. Si Ie terperanjat, pikirnya.
"Orang itu memiliki kepandaian membisikkan gelombang suara segala, ini sungguh mengherankan. Siapakah gerangan orang itu?. Jangan-Jangan ada pula tokoh lihay macam Bun Tocu lagi?"
"Kim Tayhiap. menurut dugaanmu siapakah gerangannya orang itu?"
Tanya Kang Lam.
"Entah, akupun tak bisa menebaknya"
Sahut Si Ie.
"tampaknya sobat itu datang ingin menjumpai aku, kelak urusan ini pasti akan menjadi terang. Sementara ini tak perlu kita pikirkan. Ci Hoa, harap bawalah beberapa pil ini untuk diminumkan dulu kepada Cia Suso dan Kam Suheng. Untung aku selalu membawanya. Ai.. tidak nyana hari ini kebetulan membutuhkannya." 5egera Kok Ci Hoa terima botol obat penawar itu dan suruh Pek Eng Kiat membawa ke belakang untuk Cia In Cin berdua. Melihat botol obat itu, Ci Hoa dan Si Ie menjadi terkenang pada peristiwanya Le Seng Lam dahulu. Perasaan kedua orang berbeda, yang satu suka yang lain duka, tapi sama-sama berdiam saja.
"Kim Tayhiap", tiba-tiba Kang Lam menanya pula.
"tadi engkau bicara tentang Thian Mo Kaucu itu, apakah kau itu pernah mengobrak-abrik sarangnya di Ci Lay san?"
"Tentang puteramu diculik, hal ini sudah kuketahui", sahut Si Ie.
"Akupun pernah mendatangi Ci Lay San. Cuma kejadian itu sudah setengah tahun yang lalu. Maka tidak melihat puteramu disana."
"Ya, sudah tentu, sebab anakku baru diculik sebulan yang lalu,"
Kata Kang Lam dengan kecewa.
"Untung Ki Toako sudah pergi kesana dan menolong anakku. Meski dia mempunyai ilmu sakti mencuri, tapi mungkin bukan tandingan Thian Mo Kaucu itu".
"Kecepatan berlari Ki Hiau Hong tiada bandingannya. Jika dia sampai di Ci Lay San mungkin Thian Mo Kaucu masih belum pulang dari sini dan dia kebetulan bisa bekerja dengan leluasa,"
Ujar Si Ie.
"Cuma saja Kang Lam, kau jangan kuatir, aku sudah berjanji akan menerima anakmu sebagai muridku, tentu aku tidak berpeluk tangan membiarkan muridku diculik Thian Mo Kaucu. Sekalipun Ki Hiau Hong berhasil menolongnya, hal itu pasti aku yang menanggung keselamatannya". Mendengar janji Kim Si-ih ini, barulah Kang Lam merasa lega. Katanya dengan tertawa.
"Jika kau campur tangan, biarpun kepandaian musuh lebih lihay dari pada Thian Mo Kaucu, aku tidak perlu takut lagi".
"Dan masih ada sesuatu yang kurang jelas", kata Ci Hoa.
"Jikalau betul Betul Bun Tocu seorang culas keji, buat apa lagi dia membantu aku menempur Thian Mo kaucu itu?"
"Maksud tujuannya aku tidak berani mengatakan secara pasti, tapi menurut dugaanku ada dua pokok tujuan", sahut Si Ie.
"Pertama ia sengaja hendak menjajal sampai berapa banyak ilmu silat dalam kitab rahasia Kiau Pak Beng yang telah dipahami Thian Mo Kaucu itu. Kedua dia sengaja membantu engkau sebagai jalan untuk menipu kepandaianmu Siau Yang Sin Kang. Sebab waktu dipulau sana, dia pernah mendengar ceritaku tentang berbagai persilatan di Tionggoan. Bahwa pelajaran Lweekang dari Thian San Pay serta Siauw Yang Kang tinggalan gurumu tergolong ilmu Lwekang aliran suci yang paling bagus, tadi bila aku tidak membongkar rahasianya, boleh jadi dia akan memalsukan diriku".
"Ya, tatkala itu aku benar-benar menyangka dia sebagai dirimu,"
Kata Ci Hoa dengan tertawa.
"Cuma, bila dia memang ingin menipu diri aku, buat apa dikala Thian Mo Kaucu melarikan diri, segera ia terus mengudak keluar? Ehm, waktu itu aku malah menyangka engkau sudah tidak gubris padaku lagi."
Si Ie terguncang perasaannya mendengar suara Ci Hoa yang penuh kasih mesra itu, pikirnya.
"Aah... sudah sekian tahun lamanya ternyata dia masih belum melupakan daku."
Ketika berpaling sekilas terlihat Kang Lam lagi memandangi dirinya dengan tersenyum penuh arti. Cepat Si Ie tenangkan diri, lalu berkata.
"Waktu itu mungkin dia sudah mengetahui diriku, bisa juga dia merasa tidak gampang hendak menipu engkau, maka sasarannya dialihkan kepada diri Thian Mo Kaucu itu."
Bicara sampai disini, Pek Eng Kiat telah kembali dan melapor pada Kok Ci Hoa.
"Obat penawar itu ternyata sangat mujarab, habis minum obat itu, Cia Suso dan Kam Sute lantas siuman, bahkan Kam Sute menggembor katanya perutnya sangat lapar dan minta diberi makanan. Melihat gelagatnya, besok pagi mereka sudah dapat sembuh semua, dengan perantaraanku mereka ingin menyampaikan terima kasih kepada Kim Tayhiap."
"Pek heng,"
Tiba-tiba Kang Lam berbangkit.
"Harap kau membawa aku pergi menjenguk mereka. Kam suheng telah bantu aku sekali serangan musuh, itu semua dengan dia mewakili aku terluka. Aku sangat tidak enak hati"
Segera Kim Si-ih juga menyatakan akan ikut, tapi Kang Lam lantas mencegah, katanya.
"Menilik orang sakit tidak boleh terlalu ramai. Silahkan Kim Tayhiap duduk dulu disini sebentar, maafkan aku tidak mengawani lagi disini". Si Ie lantas tahu maksud bekas kacung itu, ia tertawa dan tidak bicara lagi. Setelah Kang Lam dan lain-lain sudah keluar, didalam kamar hanya tinggal Si Ie dan Ci Hoa berdua. Untuk sejenak mereka hanya saling pandang termangu, perasaan mereka yang bergolak tapi penuh seribu kata itu entah cara bagaimana harus saling mengutarakan. Selang agak lama, Ci Hoa mendehem sekali lalu menanya perlahan.
"Si Ie, baik-baikkah selama beberapa tahun ini?' "Baik-Baik saja,"
Sahut Si Ie.
"Selama beberapa tahun ini aku berkelana kesegala penjuru hidupku sudah terasa biasa juga. Apa engkau meiihat ada sesuatu perubahanku".
"Tampaknya engkau jauh lebih sabar dan tenang lagi dari ada dulu, mungkin juga tidak suka main ugal-ugalan lagi seperti dulu bukan?"
Tanya Ci Hoa tertawa.
"Hanya kadang-kadang saja aku masih mempermainkan orang, cuma rasa dendamku kepada kehidupan manusia ini sudah hilang", sahut Si Ie tertawa.
"Dan bagaimana dengan engkau, selama ini apakah juga baik-baik saja?"
"Mula-Mula waktu menjabat Ciangbun. aku merasa kikuk, tapi kinipun sudah biasa,"
Sahut Ci Hoa.
"Dan menurut kau, apakah aku juga ada sesuatu perubahan?"
"Agaknya kau lebih pendiam lagi daripada dulu, seakanakan segala sesuatu sudah terpikir masak-masak sebelumnya hingga orang menaruh penuh kepercayaan padamu,"
Ujar Si Ie.
"Dahulu aku terlalu banyak memikirkan urusan pribadiku, dikala aku dihadapkan kepada siksaan batin atas nasibku, aku menjadi lebih pendiam,"
Kata Ci Hoa.
"Tapi kini aku gunakan guruku sebagai teladan, pikiranku melulu kucurahkan pada usaha perkembangan Bin San Pay saja. Memupuk angkatan muda, mendidik calon-calon ksatria agar kelak bisa menghadapi musuh penjajah dengan penuh tenaga. Aku tidak berani yakin usahaku akan berhasil. Tapi pada suatu hari, citacitaku itu pasti akan terkabul, yaitu mengenyahkan penjajah, memulihkan tanah air. Karena jiwaku mendapat tempat yang benar, itu berarti aku telah dapat menemukan hidupku."
Ucapannya itu secara tidak terang menyatakan perasaannya yang tangguh bahwa dia sudah bertekad akan menjadi ketua Bin San Pay hingga hari tua.
Terhadap sengketa asmara di masa lalu, ia pandang sebagai impian belaka yang telah lenyap sirna.
Sebenarnya perasaan Si Ie rada pedih berhadapan dengan bekas kekasihnya itu, tapi demi mendengar pernyataan Ci Hoa itu, pikirannya menjadi lapang, tanpa merasa ia pegang kencang-kencang tangan nona itu dengan mesra.
Itulah persepakatannya cinta murni, persepakatan perasaan yang suci, mereka berjabatan tangan dengan kencang dan lama sekali, tiada perasaan lain dalam sanubari mereka kecuali rasa bahagia.
"Ci Hoa aku harus berterima kasih padamu,"
Kata Si Ie kemudian.
"Terima kasih apa?"
Tanya Ci Hoa.
"Seorang diri aku terombang-ambing di lautan lepas sana, terkadang aku menjadi berduka dan putus asa, seakan-akan hidup di dunia sudah tiada arti apa-apa lagi. Dalam keadaan demikian, aku lantas teringat padamu. Dan pikiranku lantas kuat dan teguh kembali. Ketika aku dikurung di dalam kamar batu oleh Bun Tocu itu, daripada disebut dia memaksa diri melatih ilmu silatku yang sudah berhasil sekarang ini, lebih tepat dikatakan adalah berkat dorongan dirimu. Sebab aku teringat pada harapan yang pernah kau percayakan padaku, maka aku telah bertekad meyakinkan ilmu silatku dan meloloskan diri dari kurungan musuh aku merasa masih perlu hidup didunia ini untuk berbuat sesuatu yang berarti bagi nusa dan bangsa. Maka dari itu, selama beberapa tahun ini. biarpun rasaku sangat jauh berpisah darimu, tapi sesungguhnya kita berada sangat dekat, jauh dimata dekat dihati."
"Akupun demikian, akupun terkenang padamu setiap hari", sahut Ci Hoa.
"Sering aku kuatirkan dirimu, kuatir karena perasaanmu yang terguncang itu takkan bisa menguasai dirimu sendiri, sekali kebentur pada peristiwa yang memukul perasaan, mungkin bisa meletus bagai letusan gunung berapi hingga akhirnya membakar diri sendiri, tapi kini telah merasa lega, karena diibaratkan seseorang anak kecil, sekarang engkau sudah dewasa. Sifatmu sudah lebih tenang dan pendiam. Aku percaya engkau takkan berbuat apa-apa yang ugal-ugalan lagi. Si Ie, aku mengucapkan selamat atas berhasilnya engkau melatih ilmu silat yang tiada taranya itu, nyata engkau tidak mengecewakan harapan mendiang guruku yang dipercayakan padamu."
Setelah saling mengutarakan isi hati masing-masing, saling mengerti, kedua orang terasa bertambah lebih mendalam, Persepakatan perasaan mereka telah terpupuk lebih tinggi.
Sudah tentu persepakatan perasaan demikian adalah apa yang dibayangkan Kang Lam.
Dalam harapan Kang Lam ialah mengharapkan mereka berdua bisa rujuk kembali sebagai sepasang kekasih teladan, namun kini persepakatan perasaan mereka sudah jauh lebih murni, lebih tinggi dari pada hubungan cinta kasih umumnya.
Kesudahan demikian mungkin akan mengecewakan Kang Kam tapi apabiia dia dapat memahami perasaan mereka, tentu dia akan merasa bahagia juga bagi mereka.
Begitulah kedua orang saling pandang dengan bungkam, sampai Ih teringat dengan segala sesuatu dan menanya pula.
"Ci Hoa, tadi Kau menanyakan tentang Khu Giam yang tinggal di Tiong Bo Koan itu. Katamu ada sesuatu yang ingin tanya padaku. urusan apakah itu? coba terangkan sekarang"
"Si Ie, biarlah kau kenalan dulu dengan puteriku?! ujar Ci Hoa.
"Puterimu?"
Si Ie menegas dengan mata terbelalak.
"Sejak kapan dan darimana engkau mempunyai puteri?"
"Ia adalah anak piatu yang dibawa kemari oleh Ek Suheng dari rumahnya Khu Giam,"
Tutur Ci Hoa.
"O, kiranya adalah anak pungutmu,"
Baru sekarang Si Ie Paham. Dalam pada itu anak perempuan itu sudah di suruh keluar oleh Kok Ci Hoa.
"Lianji, lekas memberi hormat kepada Kim Pepeh,"
Kata Ci Hoa segera. Bocah itu memandang Si Ie dengan mata membelalak lebar, katanya tiba-tiba.
"Apakah engkau itulah Kim Pepeh? sering ibu, dan para bibi membicarakan dirimu, katanya engkau ada orang yang paling pandai dldunia, betul tidak?"
"Di luar langit masih ada langit, di atas orang pandai masih ada orang pandai. Hanya berdasarkan sesuatu kepintaran, tiada seorangpun berani mengatakan paling pandai didunia ini"
Ujar Si Ie dengan tertawa sambil tanpa berkedip memandanginya terus bocah itu, tiba-tiba sinar matanya mengunjukkan rasa heran, hingga Kok Ci Hoa merasa aneh.
"Lian-ji, coba kau mainkan sejurus Hian Li Ciang dihadapan Kim Pepeh", kata Ci Hoa Tapi belum bocah itu melakukan perintah itu, Si Ie telah berkata.
"Anak ini mempunyai bakat melatih silat pembawaan, biarlah kuberikan semacam hadiah perkenalan padanya!"
Habis berkata, ia lantas mengeluarkan se
Jilid buku yang sangat tipis.
"Apakah itu?"
Tanya Ci Hoa.
"Ilmu silatku yang telah berhasil kuyakinkan, aku belum sempat menyusunnya secata teratur, maka akupun belum sempat menulisnya didalam buku ini". demikian Si Ie menerangkan.
"Namun tentang latihan-latihan dasar sudah selesai kutulis dua pasal. Ini adalah pembauran dan ilmu silat rahasia Kiau Pak Beng yang bagus itu dengan intisari Lwekang dari Thian San Pay sebenarnya Siau Yang Sin Kang dari gurumu itu adalah Lwekang tulen dari aliran suci. Cuma bagi orang yang mulai belajar silat sebelum mencapai tingkatan tertentu selama beberapa tahun, susah melatihnya. Sebaliknya ilmu silat ciptaanku ini dapat dibandingkan dengan ilmu ajaranmu itu boleh dikata lain jalan tapi satu tujuan. Bagi orang yang mulai belajar akan lebih mudah diikuti dan waktunya juga lebih cepat. Ci Hoa, kalau dibicarakan, kitab ini sebenarnya adalah milik keluargamu, kini biarlah aku menyerahkan kembali padamu sebagai hadiah perkenalanku untuk puterimu ini."
Apa yang dikatakan milik Keluargamu oleh Kim Si-ih itu memang beralasan.
Sebab kitab tinggalan Kiau Pak Beng dahulu ada sebagian jatuh ditangan ayahnya Kok Ci Hoa, yaitu Beng Sin Thong.
Kemudian Beng Sin Thong memberikan kitab itu kepada Ci Hoa dan oleh Ci Hoa diserahkan pula kepada Kim Si-ih.
Dan kini diantara hasil karya ilmu silat Kim Si-ih itu ada sebagian besar adalah bersumber pada Bi Kang Pit Kip atau kitab rahasia ilmu silat tinggalan Kiau Pak Beng itu.
Mendengar itu, dengan sendirinya perasaan Kok Ci Hoa tersinggung juga, tapi karena pemberian itu adalah hadiah perkenalan uutuk puterinya, maka iapun menerimanya dengan baik.
"Kim Pepeh, kau sungguh baik sekali,"
Kata Kok Tiong Lian.
"Menurut Peh Supeh, katanya engkau tidak mempunyai rumah, selamanya berkelana kemana-mana. Kenapa engkau tidak mau tinggal saja disini?". Si Ie tertawa, sahutnya.
"Aku adalah sobat baik ibumu, biarpun tidak tinggal disini, selanjutnya aku tentu akan seringsering kemari"
Sementara itu Kang Lam masih belum nampak kembali, maka Ci Hoa berkata.
"Lian-ji, pergilah kau ketempat Kam Susiok, panggil Kang Sioksiok kesini, sudah hampir waktunya makan."
Dan sesudah Kok Tiong Lian pergi, Ci Hoa berkata pula.
"Si Ie, tadi kau pandang Lian-ji dengan keheran-heranan, apakah kau melihat sesuatu yang aneh pada dirinya?"
"Dia tentunya bukan puterinya Khu Giam sendiri. Sebab kelihatannya dia tidak mirip anak bangsa Han kita,"
Ujar Si Ie.
"Pandanganmu memang tak salah, sekali lihat kau sudah bisa menerkanya,"
Kata Ci Hoa.
"Dia adalah anak piatu yang tidak diketahui asal-usulnya hingga sekarang dan Khu Giam membawanya kembali dari luar perbatasan barat."
Si Ie bersuara heran sekali, lalu termangu tidak bicara seakan-akan makin tenggelam dalam rasa herannya.
Ci Hoa menjadi heran juga, tapi herannya disebabkan sikap Kim Si-ih itu.
Sebab, kalau cuma membedakan warna rambut yang kemerah-merahan dan biji matanya yang agak hijau membiru, tidaklah sukar untuk mengetahui bahwa Kok Tiong Lian bukan anak bangsa Han.
Jika begitu, apa yang diherankan Kim Si-ih itu tentunya tidak melulu urusan sianak itu tapi masih ada sebab-sebab lain.
Lantas sebab apa?
Maka Kira Si Ie kemudian berkata.
"Coba kau ceritakan dahulu bagaimana caranya Khu Giam membawa pulang anak ini,"
Dibalik kata-katanya ini seakan-akan iapun mempunyai sesuatu hal yang erat sangkut pautnya dengan urusan bocah itu dan akan diceritakan pada Kok Ci Hoa nanti.
Segera Kok Ci Hoa menceritakan sebagaimana Ek Tiong Bo telah diundang oleh Khu Giam, lalu orang she Khu itu memahon suka menerima anak piatu itu, tapi Ek Tiong Bo merasa tidak leluasa memiaranya, maka kemudian anak itu diserahkan pada dirinya sebagai anak pungut.
Tapi karena Ci Hoa sendiri ingin lekas tahu apa yang akan Si Ie ceritakan padanya, maka penuturannya tentang Khu Giam itu hanya diuraikan secara garis besar saja kejadian-kejadian yang bersangkutan masih banyak yang belum diceritakan.
Habis mendengar, tiba-tiba Si Ie bertanya.
"Apakah anak perempuan masih mempunyai seorang saudara sekandung?"
Tentu saja Ci Hoa terperanjat, sebab antara lain hal ni belum lagi dia ceritakan tadi, maka cepat ia menjawab.
"Ya betul aku lupa memberitahukan padamu tadi. Dia memang mempunyai seorang saudara kembar yang dipiara oleh Yap Kun San di Tan Liu Koan. Eh dari mana engkau mengetahui?"
"Coba katakan dulu. dimana Yap Kun San itu sekarang?"
Tanya Si Ie.
"Sudah dibunuh orang, yaitu dalam waktu hampir bersamaan dengan meninggalnya Khu Giam", sahut Ci Hoa.
"Siapa pembunuhnya tiada seorangpun yang tahu. Kemana perginya anak pungutnya juga tiada yang tahu. He. ada apakah? tentunya ada sesuatu yang kau ketahui mengenai diri bocah itu?"
Namun Si Ie geleng-geleng kepala katanya.
"Terhadap urusan Khu Giam dan Yap Kun San serta diri kedua anak ini, sedikitpun aku tidak tahu. Tapi demi mendengar ceritamu tadi aku menjadi ingat pada sesuatu yang pernah dengar. Pada waktu itu karena aku ingin mencari tahu asal-usul Thian Mo Kaucu, aku pernah berdiam buat sementara waktu di suatu negeri kecil di lereng gunung Algu"
Demikian tutur Si Ie lebih jauh.
"Negeri itu adalah sesama suku Masar dengan Thian Mo Kaucu. Disana aku mendengar cerita penduduk setempat bahwa raja mereka sedang menguber-uber jejak dua putara puteri dari raja yang lebih dulu. Kiranya raja mereka yang sekarang adalah bekas perdana menteri dari raja sebelumnya itu. Empat tahun yang lalu raja baru ini telah melakukan kudeta. Raja lama dan permaisurinya dibunuh, lalu naik tahta sendiri untuk keselamatannya, dia pikir babat rumput harus sampai akar-akarnya maka putera puteri raja lama sedang diselidiki kemana perginya. Dari percakapan rakyat negezi itu aku dapat menarik kesimpulan bahwa raja lama rasanya lebih mendapat simpatik rakyas jelata dari pada raja baru itu."
"Jika demikian, masakah Lian-ji adalah puteri raja negeri Masar?"
Ujar Ci Hoa.
"Tetapi menurut cerita bocah itu, lapatlapat ia masih ingat sewaktu kecilnya bukan tinggal bersama dengan keluarganya. Diam-Diam ibunya hanya pernah datang menjenguknya sekali, bahkan datang di waktu malam ke kemah yang dia tinggal itu, malahan tidak berani mengatakan siapa dirinya kepada bocah itu. Apakah sebabnya bisa begitu? Bukankan tatkala itu ayahnya masih menjadi raja dan belum digulingkan oleh perdana menterinya"
"Ya, sudah tentu anak ini belum pasti adalah puteri raja negeri Masar yang dulu itu. Mungkin kejadian itu hanya suatu kebetulan saja. Raja itu mempunyai sepasang putera-puteri kembar."
Sahut Si Ie.
"Tadi kau bilang bahwa raja itu dibinasakan pada empat tahun yang lalu?"
Tanya Ci Hoa.
"Benar,"
Sahut Si Ie. Ci Hoa memikir sejenak, lalu berkata pula.
"Dan ini kembali suatu kebetulan lagi. Menurut kisah yang diceritakan Lian-ji, ia bilang pada empat tahun yang lalu, dipadang rumput sana seperti pernah juga terjadi sesuatu malapetaka yang menimpa tempat tinggalnya, justeru pada waktu itulah dia dibawa pulang oleh Khu Giam dari padang rumput sana."
"Di antara berbagai suku bangsa didaerah perbatasan barat sana, suku Masar lebih mirip bangsa Han daripada suku-suku lainnya. Umumnya anak perempuan mereka cantik-cantik dan puteri pungutmu memang lebih mirip anak seorang Masar", ujar Si Ie.
"Jika demikian urusannya menjadi lebih mendekati lagi", kata Ci Hoa dengan tertawa.
"Apabila Lian-ji memang benar putri raja, aku tentu tidak berani menerimanya sebagai anak. Hmm, mengenai raja Masar yang dulu itu, apakah kau masih tahu lebih banyak? Dia paham ilmu silat atau tidak?"
"Tentang hal itu, aku tidak tahu", sahut Si Ie.
"Cuma suku bangsa dipadang rumput sana memang mahir menunggang kuda dan pandai memanah, terutama sebagai pemimpin, misalnya kepala suku atau kepala negara, tentu harus lebih pandai dan pada orang lain. Biasanya raja atau kepala suku disana kalau berburu mereka selalu mendahului didepan daripada pengiringnya. Tidak seperti raja di Tiongkok sini yang selalu mengeram didalam istana. Maka tentang kepandaian menunggang kuda dan memanah raja Masar yang dulu itu, kukira juga tidak rendah".
"Yang kumaksudkan bukanlah kepandaian-kepandaian yang tiada artinya itu, tapi adalah ilmu silat seperti dilatih oleh Kalanngan Bu-lim kita disini."
Kata Ci Hoa.
"Untuk apa engkau ingin mengetahui soal itu?"
Tanya Si Ie. Maka Ci Hoa lantas memberitahu tentang biji kancing dari baju kapas yang dipakai Kok Tiong Lian. Bahwasanya kancing itu adalah "Thian Sim Ciok"
Atau batu inti bumi yang mempunyai kasiat sangat mustajab untuk melatih lweekang. Segera Kim Si-ih paham apa vang dimaksudkan pertanyaan Kok Ci Hoa tadi, katanya.
"Yah, memang benar, kalau tiada mempunyai alas dasar yang kuat ilmu silatnya dengan pengalaman dan pengetahuan yang luas, pasti takkan mengetahui bahwa "Thian Sim Ciok"
Itu adalah semacam benda mestika, pula takkan paham cara bagaimana menggunakannya.
Tapi menurut dugaanku, raja Masar yang lama itu rasanya tidak mungkin adalah seorang guru besar dalam ilmu silat?".
Nyata dari pembicaraan mereka, terang ada beberapa titik perbedaan yang mencurigakan, tapi banyak juga tempattempat yang cocok satu sama lain.
Namun Kok Tiong Lian itu sebenarnya puteri raja Masar yang dulu atau bukan, mereka belum berani menarik kesimpulan yang pasti.
"Apabila dia adalah seorang puteri raja, meski kedudukannya agung, tapi kesulitan yang bakal menimpa dirinya tentu juga akan banyak", demkian kata Kok Ci Hoa kemudian dengan tersenyum getir.
"Ya, harap saja semoga nasibnya tidak seperti diriku."
"Sayang, aku hanya sekedar paham bahasa percakapan negeri-negeri barat sana, tapi tak paham tulisannya,"
Kata Si Ie.
"Jika kau ingin tahu dengan pasti asal usul Lianji itu, mungkin harus menunggu kedatangan Tan Thian Ih. Biar dia membacakan tulisan diatas kulit kambing itu. Untuk mana, aku akan pergi mencarikan dulu puteranya Kang Lam, habis itu aku akan pergi mengundang Thian Ih kemari". Bicara tentang Kang Lam, Kok Ci Hoa memandang keluar, ternyata cuaca sudah larut. Katanya dengan tertawa.
"Kenapa sibocah tolol itu belum kemari?"
"Jangan kau salahkan dia"
Ujar Si Ie "Maksudnya adalah baik, mungkin dia mengira banyak kata-kata hati kita yang perlu dipecahkan"
Baru berkata sampai disini, tiba-tiba suara Kang Lam sudah terdengar di luar "Kim Tayhiap, kembali ada kejadian yang aneh lagi"
Menyusul mana segera terdengar juga suara seruan Kok Tiong Lian.
"Mak, bibi Ceng Yan datang menjenguk engkau"
"Kang Lam, ada urusan apa? selalu kau suka gembargembor"
Kata Si Ie dengan tertawa.
Tengah berkata, tampak Kok Tiong Liari sudah berlarian masuk dengan lincahnya, menyusul di belakangnya seorang Nikoh tua yang dikenal Kim Si-ih sebagai Sucinya Kok Ci Hoa, namanya Ceng Yan.
Ceng Yan mengetuai kelenting Yok Ong Bio dikaki gunung itu, melihat kedatangan sang suci, Ci Hoa rada heran, tanyanya "Bukankah hari ini adalah hari perayaan hari lahir Yok Ong?
Di kelentingmu tentu cukup sibuk, kenapa kau malah sempat datang kemari malam ini?
Ha Kang Lam, ucapanmu tadi memang benar juga, kedatangan suci memang rada luar biasa."
"Sudah lebih setengah jam aku datang disini,"
Tutur Ceng Yan.
"Lebih dulu aku telah pergi menjenguk keadaan Cia Suso dan Kam Sute, Aai, sungguh tidak nyana disini juga sudah terjadi sesuatu yang diluar dugaan".
"He, ada terjadi apa di Yok Ong Bio?"
Tanya Ci Hoa terkejut.
"Itu dia. aku tidak gembar-gembor tanpa alasan toh, Kim Tayhiap?"
Kata Kang Lam yang sudah berada disitu juga. Maka Ceng Yan menjawab.
"Di Yok Ong Bio sih tidak terjadi apa-apa, cuma beberapa pemburu yang telah diketemukan hal-hal yang luar biasa, ada beberapa pemburu telah dilukai oleh orang hutan raksasa".
"Aneh, sekitar Bin San sini, dari mana terdapat orang hutan raksasa?"
Ujar Kok Ci Hoa heran.
"Memang betul, selamanya dipegunungan Bin San tidak pernah diketemukan orang hutan raksasa. Kedua ekor orang hutan yang melukai mereka itu adalah bawaan orang lain."
Tutur Ceng Yan.
Lalu iapun menceritakan sesuatu kejadian yang sangat aneh dan jarang terdengar.
Kiranya disekitar Yok Ong Bio itu terdapat belasan keluarga pemburu.
Kemarin malam tiba-tiba mereka mendengar suara auman binatang-binatang buas.
Dipegunungan Bin San memang ada harimau, maka tidak perlu diherankan.
Yang aneh adalah suara auman harimau itu seakan-akan memenuhi seluruh gunung, kedengarannya ada beratus-ratus jumlahnya.
Padahal hidup harimau biasanya tidak suka bergerombol, bahkan paling akhir ini jumlahnya makin berkurang.
PemburuPemburu yang mencari jejak harimau sudah mengalami kesukaran.
Tapi kini dari suaranya, sudah muncul beratusratus banyaknya.
Pemburu-Pemburu di Bin San itu adalah ahli-ahli turun temurun.
Serentak mereka mengumpulkan 40-50 laki-laki yang kuat daan siapkan panah berbisa yang lihay serta lembing tajam sebagainya, lalu beramai-ramai naik keatas gunung untuk buru harimau.
"Maka terjadilah hal-hal yang luar biasa dan aneh"
Demikian tutur Ceng Yan.
"Baru mereka masuk kehutan, segera nampak harimau berlari serabutan dalam kelompok-kelompok kecil. Dengan cekatan segera pemburu-pemburu itu mencegat harimau yang terpencil dari kawan-kawannya terus mulai mengerjakan senjata-senjata mereka dipanah dan ditombak, hingga beberapa ekor diantaranya lantas menggeletak roboh. Dan selagi pemburu-pemburu itu hendak menyeret palang hasil buruannya itu, tiba-tiba terdengan auman sejenis binatang yang aneh, begitu keras gerungan suara itu hingga mirip guntur di siang bolong yang memekakkan telinga dan mendebarkan jantung, jauh lebih menakutkan dari pada auman harimau. Dan pada saat itu juga tahu-tahu muncul dua ekor binatang aneh yang berdiri dengan kaki belakang mirip manusia raksasa, berbulu kuning emas, sekali dia menggerung dengan keras, semua harimau yang berlarian itu lantas mendekam semua ditanah dengan jinak. Melihat itu, para pemburu menjadi ketakutan, mereka menghujani kedua binatang aneh itu dengan panah berbisa dan tumbak yang mereka bawa, tapi binatang-binatang aneh itu ternyata berkulit sekuat baja, tidak mempan oleh senjata-senjata dan panah-panah yang mengenai tubuh mereka semua terpental jatuh."
"Binatang aneh itu bukan orang hutan tapi namanya Kim Mo Soan", kata Si Ie tiba-tiba.
"Apakah Kim Tayhiap pernah melihat binatang aneh itu?"
Tanya Ceng Yan.
"Kira-kita sepuluh tahun yang lalu, aku pernah melihat dua ekor Kim Mo Soan disuatu pulau. Binatang itu suka makan otak dan sumsum dari harimau dan singa. Sebab itulah, harimau kalau melihat Kim Mo Soan, seperti tikus ketemu kucing. Ehm, sungguh aneh, di Bin San bisa muncul dua ekor Kim Mo Soan. Benar-benar kejadian yang terlalu aneh"
"Malahan kejadian selanjutnya jauh lebih aneh lagi", kata Ceng Yan.
"Ketika para pemburu melihat senjata-senjata mereka tidak mempan melukai binatang-binatang aneh itu, mereka menjadi ketakutan. Sekali berteriak, beramai-ramai mereka lantas melarikan diri. Tapi kedua ekor binatang-aneh itu ternyata cepat luar biasa, rupanya mereka menjadi murka karena dipanah dan di tumbaK, segera mereka menggerunggerung gusar terus mengudak dan mencakar orang. Dasar hati Kok Ci Hoa sangat welas asih, dengan kuatir ia lantas tanya .
"Adakah diantara pemburu itu terbinasa?"
"Syukur belum ada", sahut Ceng Yan.
"Sebab disaat kedua binatang aneh itu mulai mengganas, sekonyong-konyong terdengar suara suitan panjang sekali, lalu ada orang membentak.
"Hanya boleh membunuh harimau, tidak boleh membunuh begitu saja pada manusia. Aneh bin heran, seketika kedua binatang aneh itu mirip binatang piaraan dirumah, dengan jinak mereka menurut apa kata-kata majikan mereka itu tidak mengamuk lagi."
"Orang macam apakah itu?"
Sanya Si Ie.
"Para pemburu hanya mendengar suaranya, tapi tidak melihat orangnya,"
Sahut Ceng Yan.
"Pula waktu itu mereka sedang menyelamatkan jiwa masing-masing, mana sempat untuk mencari tahu siapakah yang membentak itu. Untung juga orang itu keburu mencegah tepat pada waktunya hingga tidak jatuh korban jiwa manusia. Namun begitu, toh sudah ada belasan orang yang terluka oleh cakaran!"
"Lalu kemana kedua ekor binatang aneh itu?"
Tanya Ci Hoa pula.
"Setelah berhenti mengudak para pemburu, segera binatang aneh itu melanjutkan buruannya kepada kawanan harimau,"
Tutur Ceng Yan.
"Mereka menggiring kelompokkelompok harimau yang lari serabutan dipegunungan itu untuk berkumpul disuatu tempat, sungguh hebat sekali, mirip bocah angon bebek yang menggiring binatang Piaraannya, lalu menggiring pergi melintasi lereng-lereng gunung."
Semua orang terkesiap oleh cerita luar biasa itu, segera Pek Eng Kiat bertanya.
"Orang itu entah orang baik-baik atau jahat, kalau kedua binatang aneh itu masih bercokol dipegunungan kita ini, keamanan tentu akan selalu terganggu, Ciangbun, bagaimana pendapatmu dalam hal ini?"
"Pemburu-Pemburu itu harus ditolong dulu kemudian kita akan mencari jejak orang kosen dan kedua binatang aneh ini. Kita tanya maksud kedatangannya, lalu ambil keputusan"
Demikian Ci Hoa mengatur.
"Ceng Yan Suci, apakah luka pemburu-pemburu ltu parah?"
"Luka mereka serupa semua, yaitu tulang pundak dicakar remuk,"
Sahut Ceng Yan.
"Aku sudah membubuhkan obat diluka mereka, mungkin tidak membahayakan jiwa mereka, cuma aku kekurangan obat penyambung tulang, makanya malam ini aku datang kemari, harap Ciangbun suka kirim beberapa saudara lain untuk membantu memberi pertolongan."
Kok Ci Hoa tahu kalau tulang pundak yang remuk itu tidak lekas ditolong, lewat sehari malam, tentu tidak bisa disambung kembali. Segera ia berkata.
"Baiklah, pertolongan tidak bisa ditundatunda, sekarang juga harap Pek Suheng, membawa serta beberapa Sute lain yang paham ilmu menyambung otot dan tulang ikut Ceng Yan Suci kesana, para pemburu itu hidup dari kesehatan mereka, kalau cacad celakalah mereka!"
"Sudah banyak juga peristiwa-peristiwa aneh yang pernah kulihat, tapi selamanya belum pernah, mendengar bahwa ada binatang yang suka mencakar tulang pundak manusia!"
Demikian Kang Lam menggerundel sendiri.
"Jika benar-benar begitu terang kedua binatang itu mirip tokoh lihay dalam Bu Lim. Wah, lebih celaka lagi bahwa mereka kebal terhadap senjata, bisa ilmu silat juga, untuk melawannya pastilah sangat susah."
Dengan menggerundel sendiri, maksud Kang Lam yalah ingin memancing Si Ie supaya bicara, tapi ternyata Kim Si-ih sedang tenggelam dalam lamunannya sambil memandang keluar jendela dengan termangu-mangu.
Terhadap gerundelan Kang Lam seakan-akan tak didengarnya.
Kiranya Kim Si-ih menjadi teringat pada peristiwa sepuluh tahun yang lalu, tatkala itu ia bersama Le Seng Lam keluar lautan untuk mencari kitab tinggalan Kiau Pak Beng, justeru di pulau gunung api yang pernah ditinggali Kiau Pak Beng itulah mereka telah bertemu dengan pamannya Le Seng Lam, yaitu Le Hun Kui.
Disana untuk pertama kalinya juga mereka melihat binatang Kim Mo Soan adalah piaraan Le Hun Kui lihaynya bukan kepalang, bahkan salah seorang dari pada empat gembong iblis dari Tibet, yaitu Siang Cing Nip yang datang kepulau berapi itu berbarengan dengan Kim Si-ih, telah binasa dicakar salah seekor Kim Mo Soan yang jantan itu.
---ooo0dw0ooo---
Jilid 4 Maka timbul suatu pikiran dalam benak Kim Si-ih.
"Kim Mo Soan itu adalah binatang aneh yang jarang terdapat. Pada umumnya cuma hidup dihutan daerah tropik. Ditanah Tionggoan pasti takkan ada Kim Mo Soan biasa saja jarang ada, apa lagi Kim Mo Soan yang bisa ilmu silat terang lebih susah dicari di dunia ini. Jangan-Jangan dua ekor Kim Mo Soan ini adalah kedua binatang yang dipiara pamannya Le Seng Lam dahulu itu? Tapi siapa pula gerangannya yang begitu lihay hingga mampu menaklukkan binatang-binaiang itu?"
Melihat Kim Si-ih tidak gubris pada ocehannya tadi, terus saja Kang Lam menggembor.
"Hai! Kim Tayhiap, apakah engkau menjadi takut pada kedua binatang itu?"
Kim Si-ih menjadi sadar dari renungannya, sahutnya dongan tersenyum.
"Mana bisa aku takut pada mereka, boleh jadi mereka adalah bekas kenalanku malah". Sejak tadi Kok Ci Hoa juga sudah melihat sikap Si Ie itu agak aneh, mendengar itu segera iapun tanya.
"Si Ie, apakah engkau tahu asal usul orang itu bersama kedua ekor binatang itu?". Kim Si-ih tidak ingin banyak menyinggung urusan Le Seng Lam di masa lalu, maka katanya dengan tertawa.
"Kim Mo Soan itu adalah binatang yang sangat jarang. Dahulu diluar lautan aku pernah melihat dua ekor. Maka tadi telah timbul perasaanku yang aneh, semoga kedua ekor Kim Mo Soan itu adalah binatang-binatang yang pernah kulihat dahulu itu"
"Di dunia ini mana mungkin terjadi hal-hal secara begitu kebetulan"
Ujar Ci Hoa tertawa.
"Ci Hoa, jangan engkau kuatir.
"Tak peduli apakah Kim Mo Soan itu adalah kenalanku atau bukan, pendeknya aku harus mencari mereka dan takkan membiarkan binatang-binatang itu mengganas di atas Bin San ini"
Mendengar dlatas gunung ada binatang aneh yang mengganas, para murid Bin San Pay menjadi waswas dan siap siaga.
Sebagai ketua, dengan sendirinya Ci Hoa harus mengatur tugas-tugas mereka, maka setelah makan malam, ia tiada tempo untuk bicara lagi dengan Kim Si-ih.
Malam itur Kang Lam tidur sekamar dengan Kim Si-ih.
Oleh karena siangnya teiah melakukan dua kali pertempuran hebat, Kang Lam sudah sangat lelah.
Meski mula-mula masih terus mengoceh mengajak obrol pada Si ie, tapi akhirnya ia sendiri mulai menguap dan mengantuk.
Tidak lama pula, tak tertahan lagi, ia terpulas bagai babi mati.
Sebaliknya Si Ie gulang-guling di atas ranjang tak bisa pulas.
Perasaannya timbul tenggelam dengan macam-macam pikiran.
Karena muncul Kim Mo Soan, ia menjadi teringat pada Le Seng Lam.
Terkenang olehnya kisah roman tatkala berada diatas pulau berapi itu dan pengalaman suka duka sesudah itu.
Kesemuanya itu sebenarnya sudah mulai terlupa olehnya lambat laun mengikuti silamnya sang waktu, tapi karena munculnya kedua ekor Kim Mo Soan, mendadak apa yang terjadi dahulu itu terbayang pula dalam benaknya.
Sudah jauh malam, cahaya sang dewi malam yang terang menyorot masuk menembus tirai jendela yang tipis.
Kini Si Ie masih termenung-menung tak bisa tidur.
Akhirnya ia menghela napas sekali, ia bangun dan mengenakan baju luar terus mondar-mandir berjalan di pelataran luar.
Dibawah pohon waru tampaklah bayangan Kim Si-ih disinari cahaya bulan.
Bayangan itu menimbulkan khayalan bayangannya Le Seng Lam pula.
Si Ie termanggu-mangu memandangi bayangannya sendiri, sesaat itu entah mengapa ia merasa merasakan Le Seng Lam, seperti sudah kembali berada di sampingnya.
Meski gadis itu sudah meninggal dunia, namun bayangannya seakan-akan senantiasa masih mengikutinya.
Dan pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara teriakan yang melengking aneh yang menyeramkan, itulah dia suara Kim Mo Soan yang sangat dikenal oleh Kim Si-ih.
Untuk sejenak Kim Si-ih terkejut, tapi segera ia bisa tenangkan diri.
Cepat ia keluarkan Ginkang yang tinggi dan berlari keluar Hian Li Koan, terus menuju ketengah rimba dari mana datangnya suara itu.
Pada saat lain, sekonyong-konyong terdengar lagi sekali suara suitan, suara itu mirip gerungan binatang buas, tapi toh tidak sama seperti suara gerungan Kim Mo Soan tadi.
Si Ie terkesiap.
Sebagai seorang ahli silat terkemuka, segera ia dapat mengenali suara itu adalah semacam ilmu Lwekang yang sangat tinggi, yaitu Thoan Im Jip Bit atau mengirimkan gelombang suara.
Sebenarnya orang mahir ilmu sakti seperti itu, Lweekangnya pasti terlatih sempurna benar-benar dan sudah mencapai puncak yang paling tertinggi dan suara yang dikeluarkan itu tentu juga sangat halus lembut.
Tapi suara tadi kedegarannya justeru sangat seram dan mengerikan, suatu tanda bahwa orang yang mengeluarkan suara itu pasti bukan dari golongan Cing-pay atau orang baik-baik, tapi adalah orang yang telah melatih Lweekang yang lihay dari Sia-pay atau golongan jahat.
Kim Si-ih sendiri sudah berhasil melebur ilmu-ilmu silat dan golongan Cian dan Sia menjadi suatu ilmu tunggal tersendiri maka dia paham apakah Lwekang seseorang itu berasal dari golongan yang mana.
Namun dari suara gerungan tadi ternyata ia tidak mampu membedakan Lwekang yang dilatih orang itu, dari aliran Sia-pay yang mana?
Dan belum lagi suara gerungan terakhir tadi lenyap tertampaklah cahaya emas kemilauan disertai angin puyuh yang keras dan depan.
Nyata kedua ekor Kim Mo Soan yang ditunggu itu telah muncul.
Segera Si Ie mengerti duduknya perkara, kiranya suara suitan orang tadi adalah tanda perintah kepada kedua ekor Kim Mo Soan itu agar menyerang padanya.
Dalam pada itu, dengan cepat luar biasa binatang-binatang aneh itu sudah merangsang sampai didepannya, lengan Kim Mo Soan yang panjang dengan bulunya yang lebat itu terus mencakar kearah Si Ie.
Sudah tentu Kim Si-ih tidak manda diserang.
Secepat kilat kedua ekor Kim Mo Soan itu menubruk tiga kali sambil mencakar, tapi Si Ie selalu dapat berkelit dengan sama cepatnya dengan langkah "Thian Lo Poh Hoat"
Dan justeru daiam waktu sesingkat itulah Kim Si-ih telah dapat mengenali kedua Kim Mo Soan itu memang benar adalah binatang bekas piaraan pamannya Le Seng Lam. Cepat Si Ie menegur.
"Hai, Apakah kaitan sudah lupa pada kawan lama?"
Waktu itu kedua ekor Kim Mo Soan sedang menubruk pula hendak mencakar untuk keempat kalinya, tapi demi mendengar suara Kim Si-ih seketika lengan mereka melambai kebawah, lalu kepalanya miring kekanan dan kekiri sambil mengeluarkan suara "uh-uh"
Seperti orang.
mengajak bicara pada seorang teman lama.
Kedua Kim MO Soan itu memang sangat cerdik melebihi manusia.
Soalnya karena telah berpisah belasan tahun, pula dalam gelap, seketika mereka belum mengenali Si Ie.
Tapi demi mendengar suara Si Ie tadi, segera mereka dapat mengendus bau sobat lama yang sudah mereka kenal itu, terus saja lenyap sifat buas mereka dan beramah tamah dengan Kim Si-ih.
Lebih-Lebih Kim Mo Soan yang betina, karena dahulu ia pernah dilukai oleh Beng Sin Thong dan lukanya itu dapat disembuhkan oleh Kim Si-ih, maka terhadap Si Ie ia lebih-lebih akrab, terus saja ia mendekam dibawah kaki Si Ie sambil menggosok-gosokkan tubuhnya.
Pada saat lain, sekonyong-konyong suara suitan aneh tadi berjangkit lagi, Kim Mo Soan yang betina itu seperti terkejut, terus melompat bangun, sedang Kim Mo Soan yang jantan lantas berputar-putar disekitar Kim Si-ih sambil mengeluarkan suara gerungan.
Si Ie mengerti bahwa suara suitan itu adalah perintah agar kedua ekor Kim Mo Soan lekas menyerang pula padanya, namun kedua binatang itu sudah kenal Kim Si-ih sebagai sobat lama, mereka tidak mau menyerang lagi.
"Ha.. ha.. rasanya engkau tidak usah mencapekkan diri lagi sobat!"
Demikian Si Ie sambil tertawa.
"Perkenalanku dengan dengan mereka mungkin jauh sebelum engkau berhubung dengan mereka!"
Dan baru selesai ucapannya itu, tiba-tiba sesosok bayangan hitam melayang keluar dari dalam rimba yang lebat itu.
Melihat itu, hati Si Ie terguncang hebat sekali, tanpa merasa badannya menjadi gemetar untuk sejenak, ia menjadi terkesima saking kagetnya.
Sskilas itu hampir-hampir disangkanya arwah halus Le Seng Lam telah muncul dihadapannya, sebab orang yang melayang keluar itu memakai baju hitam, rambut panjang terurai sampai diatas pundak, dipandang dari jauh, rupanya memper sekali dengan keadaan Le Seng Lam dahulu.
Hanya sekejap saja orang itu sudah melayang sampai di depan Kim Si-ih.
Setelah tenangkan diri, barulah Si Ie dapat melihat jelas bahwa orang itu masih muda dan bukanlah wanita, tapi mukanya memang ada bebrapa bagian mirip Le Seng Lam, pula memiara rambut panjang.
Dandanannya sangat aneh, pria bukan wanita pun tidak, Apabila Kim Si-ih tidak mendengar nada suaranya, iapun mungkin akan menyangka Le Seng lam yang menyamar sebagai lelaki.
Setelah berhadapan dengan Si Ie, orang itu memberi tanda dengan lambaikan tangannya.
Kedua ekor Kim Mo Soan itu seperti mendapat pengampunan, cepat mereka mengundurkan diri jauh-jauh.
"Jadi engkau inilah Kim Si-ih"
Kata orang itu dengan dingin.
Mendengar suara orang, kembali Kim Si-ih terkejut.
Suara orang itu ternyata melengking aneh mirip dua pelat besi yang digosok dan mengeluarkan suara yang mengerikan.
Betapapun Si Ie tidak menduga bahwa orang yang mukanya putih cantik bagai waniia ini bisa mengeluarkan suara yang begitu menusuk telinga.
Dengan mata tak berkedip, Si Ie memandangi orang itu dengan penuh rasa curiga.
Ia coba tenangkan diri sebisanya dan menjawab.
"Benar, memang aku inilah Kim Si-ih. Dan engkau sendiri siapa?"
Semakin dipandang.
Si Ie semakin merasa orang itu mirip Le Seng Lam.
Cuma semakin dipandang iapun tambah yakin bahwa orang itu mempunyai pula biji leher, bahkan bibirnya tampak tumbuh beberapa lembar kumis yang jarang, kesemuanya ini hanya terdapat pada kaum laki-laki.
Pula kedua kakinya yang besar itu terang berbeda daripada kaki wanita yang umumnya kecil-kecil itu.
"Usia orang itu tampaknya baru 24 -25 tahun saja. Sebegitu jauh orang itu pun terus memandangi Kim Si-ih dengan mata tak berkedip dan tidak menjawab pertanyaan kembali Si Ie tadi. Sekonyong-konyong hati Si Ie tergerak, pikirnya.
"Jangan-Jangan orang ini adalah saudaranya Le Seng Lam?"
Akan tetapi dugaan itu lantas dibantahnya sendiri, sebab Le Seng Lam sendiri, semua anggota keluarganya telah dibunuh habis oleh Beng Sin Thong, dari mana bisa muncul lagi seorang familinya Le Seng Lam?
Selang sejenak, tiba-tiba pemuda baju hitam itu tertawa aneh sekali, lalu katanya dengan dingin.
"Hm, masakan engkau tidak tahu siapakah aku? Aku adalah majikan daripada kedua ekor Kim Mo Soan ini".
"Apa betul?"
Sahut Si Ie dengan tertawa.
"Menurut pendapatku, ucapanmu itu ada sedikit lubangnya, paling tidak masih harus ditambah dengan satu kata lagi".
"Kata apa?"
Tanya orang itu sambil melirik hian.
"Harus ditambah satu kata "baru""
Sahut Si Ie.
"Paling banyak engkau cuma boleh mengatakan sebagai majikan baru dari kedua ekor Kim Mo Soan ini. Sudahlah, paling baik marilah bicara secara blak-blakan, sapakah nama dan she saudara yang terhormat, dimana kediamanmu dan mulai kapan engkau datang ke pulau bergunung api itu untuk menaklukkan ke dua ekor Kim Mo Soan? Dapatkah engkau memberi penjelasan?"
"Hm, apakah sekarang juga engkau hendak menyelidiki asal-usulku, Kim Si-ih?"
Sahut orang itu dengan tertawa dingin.
"Huh, masih agak terburu-buru Kim Si-ih? Apa kau tidak kenal peraturan Kangouw lagi?"
"Betul, kau adalah tamu, aku adalah tuan rumah. Lebih dulu aku harus menanya maksud kedatanganmu"
Ujar Si Ie.
"Nah! sekarang numpang tanya, mengapa baru ketemu engkau lantas perintahkan Kim Mo Soan menyerang padaku? Ha.. ha.. untung mereka tidak turut perintahmu dan untung pula aku dapat menaklukkan mereka. Kalau tidak, Wah... bila kepalaku ini kena dicakar mereka mungkin sekarang aku tak bisa bicara lagi tentang peraturan Kangouw dengan engkau."
"Apabila aku tidak suruh kedua Kim Mo Soan ini untuk menguji engkau dulu, darimana aku dapat mengetahui engkau adalah Kim Si-ih?"
Kata orang berbaju hitam itu dengan tertawa.
"Jadi sekarang engkau sudah tahu pasti aku adalah Kim Siih, lalu apa kehendakmu?"
Sibaju hitam itu mendadak hentikan ketawanya, lalu katanya dengan sungguh-sungguh.
"Kim Si-ih, kita tidak perlu omong yang tidak-tidak, pendek kata kau ingin tahu maksud tujuan kedatangan ku, maka segera kukatakan dua jalan dan boleh kau pilih sendiri"
"Hahaha."
Si Ie terbahak.
"Sudah berpuluh tahun aku berkelana di Kangouw dan baru pertama kali ini aku mendengar orang berkata padaku dengan nada demikian. Tapi baiklah, cobalah katakan, ingin kutahu dua jalan bagaimana, silahkan menerangkan!"
"Pertama."
Kata sibaju hitam itu dengan kalem.
"kau ikut aku ke Ci Lay San, biar aku akan menerima engkau sebagai anak murid Thiana Mo Kau. Aku sendiri yang akan mengambil sumpahmu dan mengangkat engkau sebagai Hong Hoat Hiangcu (hulubalang pembela agama) dari agama kita"
Tak tertahan lagi Kim Si-ih tertawa terbahak-babak.
"Apa yang kau tertawakan?"
Semprot orang itu.
"Aku ingin tanya hal lebih dulu."
Sahut Si Ie.
"Orang macam apakah engkau didalam Thian Mo Kau? Wah. kalau mendengar nada suaranya yang besar ini. seakan-akan engkau inilah Thian Mo Kaucu sendiri?"
"Kau peduli siapa aku,"
Kata orang itu dengan menarik muka.
"Asal kau sudah masuk Thian Mo Kau, dengan sendirinya kau akan tahu siapa aku."
"Ya sudahlah, meski aku tidak tahu siapa engkau, tapi paling tidak engkau sudah kenal siapa aku"
Ujar Si Ie tertawa.
"Dan oleh karena engkau adalah tokoh pimpinan dalam Thian Mo Kau, dengan sendirinya engkanpun tahu siapa cakal-bakal dari agama kalian itu."
"Sudah tentu aku tahu, untuk apa engkau bertanya?"
Sabun orang itu mendongkol.
"Bagus, jika engkau sudah tahu,"
Kata Kim Si-ih tertawa.
"Jikalau Thian Mo Kau kalian sudah pula menonjolkan Le Kohnio serta mengangkatnya sebagai cakal-bakal, masakan engkau tidak tahu cakal-bakal kalian itu pernah apanya Kim Siih ini? Mengapa engkau berani bilang hendak menerima aku sebagai anak murid? Hahahaha, tidakkah ucapanmu itu terlalu sombong membual?"
"Hmmm."
Jengek orang itu tiba-tiba lalu katanya dengan gusar.
"Kim Si-ih, perkataanmu inilah yang benar-benar sombong dan memutar balikkan persoalan"
"Aneh, sungguh aneh, mengapa malah aku yang disalahkan?"
Sahut Si Ie tercengang.
"Aku ingin tanya padamu lebih dulu"
Kata pemuda baju hitam itu.
"Kau anggap Le Kohnio sebagai apamu? Coba terangkan!".
"Hmm, pakal "anggap' apa segala! Le Kohnio adalah isteriku, tahu!"
Sahut Si Ie.
"Ya, tentang kisah roman kalian, setiap orang dijagat ini cukup tahu dan siapa tak tahu pala bahwa cinta Le Kohnio padamu sangat mendalam? Tetapi engkau sendiri justru berhati palsu dan menipunya! sebabnya engkau mau memperistrikannya tiada lain maksud tujuanmu adalah ingin menolong jantung hatimu yang lain. Hmm... Kau telah meracuni dia hingga mati, tapi kau masih ada muka untuk mengaku-aku dia sebagai isteri!"
Ucapan orang itu setiap katanya sebagai pisau yang menikam perasaan Si Ie.
Harus diketahui bahwa sejak terjadinya tragedi dalam cinta kasih antara Kim Si-ih dan Le Seng Lam, meski semua kawannya Si Ie hampir semua dapat memahami perasaannya dan tidak simpatik pada Le Seng Lam, tapi Kim Si-ih sendiri justeru merasa pedih karena merasa berdosa pada Le Seng Lam.
(Tentang kisah cinta Kim Si-ih dengan Le Seng Lam yang berakhir dengan mengenaskan akan di ceritakan secara ringkas dalam buku tersendiri) Kini pemuda baju hitam itu mutlak berdiri dibelakangnya Le Seng Lam dan menuduh kesalahannya, sedangkan katakatanya begitu tajam dan menusuk perasaannya, karuan ia terguncang dan sedih sekali.
Dengan sorot mata yang tajam pemuda baju hitam itu terus menatap Kim Si-ih.
Lewat sebentar barulah perasaan Si Ie dapat tenang kembali, lalu katanya dengan suara parau "tentang hubunganku dengan Le Seng Lam orang luar susah untuk memahaminya, lebih-lebih mengenai perasaanku padanya takkan mungkin diketahui orang luar.
Pendek kata di masa hidupnya dia adalah isteriku, sesudah meninggal dia tetap isteriku!"
"Baiklah, sementara aku anggap dapat mempercayai keteranganmu", ujar pemuda baju hitam itu dengan ketawa dingin.
"Tapi jikalau engkau sudah mengaku beliau sebagai isteri sedangkan kami telah mendirikan Thian Mo Kau sesuai cita-cita yang ditinggalkan olehnya, sebaliknya mengapa engkau memandang hina malah pada kami? Umpama kalau engkau masuk menjadi anak murid Thian Mo Kau, apakah itu berarti merendahkan derajatmu? Hm, sebabnya kami bersedia menerima kau menjadi anggota itu justeru memberi kesempatan padamu untuk memperbaiki kesalahanmu dan sekedar menebus dosamu. Selanjutnya engkau harus berjasa bagi agama dan barulah engkau dapat mempertanggung jawabkan apa yang kau utarakan tadi kepada Le Cocu! Tapi sekarang aku sendiri hendak menyadarkan kau, namun malah dianggap sebagai lelucon oleh kau, bukankah itu keterlaluan?"
Apabila Kim Si-ih masih muda, mungkin kata-kata itu akan mempengaruhi perasaannya.
Tapi kini, Kim Si-ih sudah bukan Kim Si-ih yang dulu lagi.
Dia telah dapat mengatasi guncangan perasaannya sendiri, dan sesudah didamprat dan dimaki oleh pemuda baju hitam itu pikirannya menjadi sadar malah.
Mendadak ia berseru.
"Diantara kalian tiada seorangpun yang lebih kenal Le Kohnio daripada aku. Jika dia masih hidup, tidak... tidak nanti dia mendirikan aliran Thian Mo Kau apa segala! Soal kalian mengangkat dia sebagai cakal bakal, itu adalah urusan kalian sendiri dan aku tidak ambil pusing. Bila ingin aku juga mengekor sepak terjang kalian itulah jangan harap!"
Wajah pemuda baju hitam berubah segera, katanya dengan dingin "Jika begitu, terpaksa aku memberikan jalan lain padamu."
"Baiklah, jalan apa? silahkan bicara,"
Sahut Si-ih.
"Hahaha, masa kau masih perlu tanya?"
Kata pemuda itu dengan suara ketawanya yang melengking aneh "Jalan itu tak lain tak bukan adalah jalan kematian"
Si-ih menjadi gusar, namun ia masih bisa sabarkan diri, sahutnya.
"Biarpun jalan kematian juga akan kuterobos"
Dan belum lenyap suaranya, sekonyong-konyong dua titik cahaya hijau gilap terus menyambar ke arahnya secepat kilat.
Ternyata pemuda baju hitam itu sudah melolos keluar sepasang Giok Jio (penggaris kemala), dan segera menutuk ke Hiat To berbahaya di tubuh Kim Si-ih.
Cepat Si-ih gunakan gerakan Hong sau Lok Hoa (Angin Puyuh Menyapu Bunga), ia berkelit ke samping.
Tak tersangka serangan pemuda baju hitam ternyata cepat luar biasa, sekali menusuk tidak kena, menyusul serangan kedua dan ketiga terus memberondong pula tanpa berhenti sedikitpunTerpaksa berulang-ulang Kim Si-ih menggunakan beberapa gerakan untuk menghindar.
Walaupun tidak kena diserang musuh, tapi untuk sesaat itu iapun tak bisa melepaskan diri dari rangsakan orang.
Yang mengherankan ialah Thian Lo Poh Hoat yang sangat bagus itu tampaknya juga dipahami oleh pihak lawan-Langkah-langkah pemuda baju hitam juga menurutkan perhitungan Pat Kwa dan selalu berebutan tempat dengan Kim Si-ih.
Maka sejak mulai, ke dua batang Giok Jio itu seakan-akan selalu membayangi punggungnya Si-ih.
sebenarnya Si-ih tiada pikiran untuk bermusuhan dengan pemuda itu, tapi karena didesak terlalu kencang, betapapun ia naik darah juga.
Tiba-tiba ia bersuit panjang sekali, lalu serunya.
"Aku sudah cukup mengalah 10 jurus padamu, dan karena engkau masih belum tahu diri, biarlah giliranku sekarang balas menjajal kepandaianmu". Habis berkata, sekonyong-konyong ia menjentik ke samping, ia telah keluarkan semacam ilmu silat tinggi ajaran Budha, It Ci Sian Kang. It Ci sian Kang (Tenaga sakti Jari Tunggal), yang diutamakan adalah tenaga murni dari Lwekang bergabung dengan kekuatan jari. sekalipun batu, asal kena diselentik, tentu juga akan remuk. Namun Si-ih tiada maksud buat mencelakai jiwa pemuda itu, makanya dia hanya menggunakan tiga bagian tenaganya saja. Dalam perhitungan Kim Si-ih, oleh karena sepasang Giok Jio lawan itu tentunya tidak berat, asal kena selentikannya itu, paling tidak senjata lawan itu juga akan terpental dari cekalan Siapa duga begitu jarinya menempel senjata lawan, sekonyong-konyong dari Penggaris Kemala orang itu terasa ada suatu arus tenaga yang maha kuat terus mendesak ke arahnya. Maka terdengarlah suara creng sekali. Pemuda baju hitam itu tergetar mundur tiga langkah, sebaliknya tangan Kim Si-ih juga terasa pegal kesemutan. Dalam kejutnya segera Kim Si-ih menjadi sadar juga, Ah, kiranya senjatanya itu adalah Hay Te Han Giok. Dahulu Kiau Pak-beng telah mewariskan tiga macam benda pusaka, satu di antaranya adalah sebuah Giok Kiong (Busur Kemala). Busur itu adalah buatan dari Hay Te Han Giok (Batu Kemala Dingin Dasar Lautan). Kadar Han Giok yang diperoleh dari dasar lautan itu sangat keras dan antap. Mungkin ratusan kali lebih berat daripada bobot kemala biasa dari ukuran yang sama besarnya. sebab itu, dahulu sebelum Kim Si-ih melatih ilmu silat dalam kitab pusaka warisan Kiau Pak-beng, ketika berjalan memanggul Busur Kemala, ia menjadi kewalahan dan megap-megap napasnya. Tapi kini Kim Si-ih sudah berhasil meyakinkan ilmu silat tunggal yang tiada tandingannya, cuma tenaga yang dikerahkannya tadi hanya sebagian kecil saja, maka tangannya ikut terasa pegal. Sebaliknya pemuda baju hitam itupun bersuara heran, rupanya ia telah kenal betapa lihaynya Kim Si-ih. Tapi dia masih belum kapok, bahkan semakin ganas. secepat angin kembali ia merangsang maju. Penggaris Kemala diangkat, segera kemala Kim Si-ih hendak diketoknya. Diam-diam Si-ih menjadi ragu-ragu, pikirnya.
"Pemuda ini terang berasal dari Hwe san TO. Hal ini tidak perlu diragukan lagi. Cuma entah apa sangkut-pautnya dengan keluarga Le?"
Sebabnya Si-ih berpendapat begitu, kiranya selain pemuda itu memiliki sepasang Giok Jio, ilmu silatnya juga agak mirip dengan ajaran Le Hun-kui, itu pamannya Le seng-lam yang pernah hidup merana di pulau gunung berapi itu.
Maka Si-ih tidak berani memandang rendah lagi lawannya itu, tapi iapun tidak ingin melukainya.
ia sudah menjajal lwekang pemuda itu.
Meski tidak rendah kepandaiannya, namun kalau dibandingkan dirinya masih jauh untuk bisa melawan-Maka ia menggunakan It ci sian Kang lagi, tapi tenaganya jauh lebih kuat daripada tadi.
Sekali selentikannya ini telah mengeluarkan suara mendengung yang mengilukan.
Pemuda itu tampak menggeliat mundur dua tindak.
sekonyong-konyong ke dua Giok Jio-nya bergerak, tahu-tahu iapun menggunakan Thian Lo Poh Hoat untuk merangsak maju.
Ke dua Giok Jio tampak gemerlapan dan terus menutuk ke 13 Hiat To penting di tubuh Kim Si-ih.
Si-ih sudah mahir ilmu-ilmu silat tertinggi baik dari aliran sia maupun aliran Cing.
Lebih-lebih dalam hal ilmu Tiam Hiat, boleh dikata merupakan kepandaiannya yang paling sempurna, tiada seorangpun di dunia ini yang dapat menandinginya.
Tapi kini demi nampak pemuda itu mengeluarkan ilmu tutukan Hui Jio Keng sin (Penggaris Terbang Kejutkan Malaikat), mau tak mau ia menjadi terkesiap.
Hui Jio Keng sin itu adalah semacam ilmu Tiam Hiat dari sia Pay yang paling aneh dan lihay.
Dahulu waktu Si-ih menghadiri perjamuan yang diadakan Congkoan (Kepala Pengurus Istana), Go Hong-ko, di sana ia pernah kebentrok dengan ke dua saudara Ni yang jaman itu terkenal sebagai jago nomor satu ahli Tiam Hoat.
Dengan dua pasang potlot baja ke dua saudara Ni itu mereka telah tempur Kim Si-ih hingga ratusan jurus.
Dengan susah payah akhirnya Si-ih dapat mengalahkan mereka, tapi tidak urung ia sendiripun terluka sedikit.
Kini dilihatnya gerak tipu Tiam Hiat pemuda baju hitam ini persis sangat mirip dengan ilmu Tiam Hiat dari ke dua saudara Ni.
Meski dia cuma dua tangan, tidak seperti ke dua saudara Ni yang mempunyai dua pasang tangan dan sekaligus bisa menutuk delapan Hiat To penting, namun Lwekang pemuda baju hitam terang lebih tinggi dibandingkan dengan gabungan ke dua saudara Ni itu Bahkan sepasang Giok Jio itupun sekaligus dapat menutuk 13 tempat Hiat To.Jadi kalau dibandingkan ke dua saudara Ni itu malah kalah setingkat daripada pemuda ini.
Karuan Si-ih bertambah sangsi, pikirnya lebih jauh.
"Usia orang ini masih begini muda, mengapa ilmu silat yang dipelajarinya sudah begitu tinggi dan macam-macam pula. sampai ilmu Tiam Hiat dari keluarga Ni yang tidak pernah diajarkan kepada orang luar itu juga telah dipahaminya dengan baik. Bahkan banyak pula tambahan tipu-tipu serangan baru.apa mungkin pemuda inipun sudah memperoleh inti dasar melatih ilmu silat yang paling tinggi hingga sebala apa kalau dilihatnya lantas bisa?"
Dalam pada itu si pemuda baju hitam masih terus merangsang dengan cepat, tampaknya ke 13 Hiat To penting di badan Kim Si-ih sudah terancam di bawah Giok Jio-nya.
paling tidak satu-dua Hiat To di antaranya pasti akan kena ditutuk olehnya.
Tak tersangka, justru pada saat berbahaya itu, tiba-tiba Kim Si-ih bergerak, tahu-tahu dari berbagai penjuru penuh bayangan Tok Jiu Hong Kay dan serentak balas menyerang dari berbagai jurusan.
Sebenarnya sebelumnya pemuda itu sudah tahu Kim Si-ih, si pengemis gila bertangan keji itu sangat lihay.
cuma sebelum bergebrak.
belum terasa jeri dibenaknya.
Baru sekarang sesudah dihadapi dengan bayangan-bayangan Kim Si-ih sekian banyaknya hingga kabur pandangannya, ia merasa kaget dan bingung kemana harus menangkis serangan yang sesungguhnya?
Kepandaian Kim Si-ih sekarang berpuluh kali lebih tinggi dari dulu.
Kalau di mau mematahkan ilmu Tiam Hiat pemuda itu, boleh dikata terlalu mudah baginya.
Cuma aneh, entah mengapa, sesudah melihat pemuda baju hitam ini, ia menjadi seperti tidak tenteram perasaannya.
Ia ragu-ragu pemuda ini boleh jadi ada hubungan apa-apa dengan Le seng-lam.
sebab itulah, di kala turun tangan tanpa merasa ia menjadi tidak sungguh-sungguh menyerang.
Dari seluruh tenaganya cuma tujuh bagian saja yang dikeluarkan Creng, tiba-tiba terdengar suara mendering sekali bagai gesekan biola yang cepat.
sekonyong-konyong pemuda itu melompat ke atas dan berjumpalitan sekali di udara.
Dari atas terus saja ia menukik ke bawah.
Ginkang pemuda itu ternyata sangat lihay, belum lagi menurun, ke dua Giok Jio terus diputar.
ia menggunakan tipu serangan baru yang sama sekali berlainan dengan tadi.
Giok Jio sebelah kiri mendadak berubah seperti serangan pedang dan menusuk ke tulang pundaknya Kim Si-ih.
sedangkan Giok Jio sebelah kanan tetap dipakai sebagai Boan Koan Pit untuk menutuk tujuh Hiat To penting.
oleh karena ia menubruk dari atas, maka daya tekanannya menjadi lebih kuat.
Kim Si-ih sudah menggunakan tujuh bagian dari tenaganya untuk menjentik Giok Jio pemuda itu dengan it ci sian Kang dan melihat pemuda itu masih sanggup menahan, bahkan sekali jumpalitan di atas udara terus menubruk pula ke arahnya, tentu saja Kim Si-ih terkejut dan heran, pikirnya.
"Dengan usia semuda ini, tapi Lwekang-nya sudah sekian tingginya, tampaknya tidak di bawahnya Bun-tocu itu."
Dan pada saat itu juga, tiba-tiba terdengar suara Kang Lam sedang berseru dari kejauhan.
"Kim-tayhiap. di manakah engkau? Apa engkau pergoki ke dua ekor binatang itu?"
Kiranya orang-orang di dalam Hian Li Koan menjadi kaget terjaga dari tidur mereka oleh gerungan-gerungan Kim Mo soan tadi.
Beramai-ramai Kang Lam dan lain-lain lantas memburu keluar.
Dalam pada itu ke dua Giok Jio pemuda baju hitam sudah di atas kepala Kim Si-ih.
kalau kena diserang, terutama Giok Jio yang mengarah ke tulang pundak itu, paling tidak pasti akan cacat untuk selamanya.
Dan ketika melihat Kim Si-ih sama sekali tidak menghindar dan tidak balas menyerang pula, pemuda itu menjadi heran dan tercengang.
Namun ia hanya ragu-ragu sejenak.
habis itu terus ia membentak lagi.
"Kena"
Serangannya tetap diteruskan.
Tak tersangka bahwa Kim Si-ih memang sengaja membiarkan tubuhnya diserang, karena ia sudah berhasil meyakinkan ilmu weduk Kim Kong Put Hoay sin Kang Jangankan cuma pemuda baju hitam ini, sekalipun Le senglam hidup kembali juga belum tentu dapat melukainya.
Dalam pada sekejap itulah, plak, pundak Kim Si-ih telah kena dijejoh oleh Giok Jio pemuda baju hitam.
Namun Kim Siih dapat merasakan bahwa tenaga yang digunakan pemuda itu juga tidak seluruhnya dilontarkan.
pikirnya.
"Kiranya dia tiada maksud mematikan aku, hanya omongannya saja yang bengis."
Sebaliknya karena serangannya tak mempan melukai Kim Si-ih, barulah sekarang pemuda itu tahu gelagat jelek. Dan sedang dia terkejut, dengan cepat luar biasa tahu-tahu Kim Siih telah membentak.
"Lepas tangan"
Secepat kilat ke dua Giok Jio pemuda baju hitam telah direbutnya.
Pemuda itu terkesima sejenak, habis itu ia lantas putar tubuh hendak lari.
Namun belum berapa langkah jauhnya, Kim Si-ih sudah menyusul sampai di belakangnya dan menepuk pelahan di pundaknya.
"Bagus, Kim Si-ih. Biarlah kuserahkan jiwaku ini"
Teriak pemuda baju hitam itu dengan gusar.
Berbareng ia terus membalik tangannya dan menghantam.
Ia menyangka Kim Siih tidak mau melepaskannya, maka ia telah nekad hendak mengadu jiwa.
Tak terduga baru saja tangannya dipukulkan, tahu-tahu terasa sesuatu benda dingin telah dijejalkan ke dalam genggamannya.
Kiranya Kim Si-ih telah kembalikan ke dua Giok Jio ke dalam tangannya.
Kembali pemuda itu tercengang, ia dengar Kim Si-ih sedang berkata.
"Nah, pergilah sekarang selanjutnya jangan engkau bikin onar lagi ke Bin-san sini. Bila ketemu aku lagi, tentu aku tidak sungkan-sungkan lagi padamu."
Pemuda itu melotot gusar sekejap pada Kim Si-ih, mendadak ia bersuit keras sekali, ke dua ekor Kim Mo soan tadi lantas lari mendekati.
sekali memberi tanda, pemuda itu lantas menunggang ke atas cunggung seekor Kim Mo soan di antaranya sebagai kuda.
Lalu dilarikan secepatnya ke depan dan menghilang dalam sekejap saja.
Sedang Kim Si-ih termangu-mangu menyaksikan kepergian pemuda itu, tiba-tiba telinganya seperti dibisiki orang.
"Kim Siih, engkau tipis budi dan berhati palsu tapi berani berlagak manusia baik-baik. Hm, tidak kenal malu. sejak kini, permusuhan kita sudahlah terjadi dengan pasti."
Itulah suaranya pemuda baju hitam itu dengan ilmu mengirimkan gelombang suara.
Dari kata-katanya itu, agaknya pemuda itu sebabnya dendam pada Kim Si-ih adalah karena penasaran bagi kematiannya Le seng-lam.
Karena itulah, meski Si-ih tidak mau melukainya, namun dia tetap memandang Si-ih sebagai musuh.
Si-ih menjadi muram, pikirnya.
"Demi seng-lam, selama hidup aku tidak menikah lagi. siapa duga di mata orang luar aku masih tetap dipandang sebagai seorang yang tidak kenal kebajikan."
Ia menjadi heran pula mengapa pemuda baju hitam ini sedemikian dendam padanya.
Apa benar-benar dia ada hubungan rapat dengan Le seng-lam?
Tapi yang sudah jelas adalah seluruh anggota keluarganya Le seng-lam sudah mati semua.
darimana mendadak bisa muncul seorang sanak keluarganya lagi?
Dalam pada itu suara seruan Kang Lam terdengar pula dan baru sekarang Si-ih sempat menyahutnya.
Tidak lama, Kang Lam, Kok Ci hoa, Lok Eng-ho dan lain-lain tampak berlari mendatangi.
Melihat Kok ci-hoa, dalam benak Kim Si-ih tiba-tiba terbayang pula wajahnya Le seng-lam yang seakan-akan sedang mengejek padanya.
Entah mengapa, Si-ih merasa malu diri, seakan-akan dirinya memang berdosa terhadap gadis itu.
"Kim-tayhiap. apakah engkau ketemukan ke dua binatang aneh itu?"
Terdengar Eng-ho lantas menanya.
"Dari jauh kami seperti mendengar suara pertempuran di sini?"
"Ya, ke dua Kim Mo soan itu ternyata memang benar kenalanku yang dulu. Bahkan aku sudah bertemu dengan majikan mereka."
Sahut Si-ih sesudah tenangkan diri "siapakah orang itu?"
Tanya Ci-hoa cepat. Si-ih menggelengkan kepala mengunjuk rasa tidak mengerti, katanya.
"orang itu adalah tokoh Thian Mo Kau. Dia kenal padaku, tapi aku tidak kenal dia. Tapi dia sudah kukalahkan, selanjutnya dia tak akan datang ke sini lagi."
Mendengar keterangan itu, Eng-ho, Eng-kiat dan lain-lain menjadi lega. Hanya Kok Ci-hoa yang merasa sikap Kim Si-ih tadi agak aneh, diam-diam ia merasa sedih.
"Biarlah besok juga aku bersama Kang Lam pergi ke Ci Lay san mereka,"
Kata Kim Si-ih kemudian-"Mengapa tergesa-gesa? sungguh aku ingin kalian bisa tinggal beberapa hari lagi di sini,"
Ujar ci-hoa. Tapi ia segera berkata pula dengan tertawa.
"Tapi, ya, Kang Lam yang kehilangan puteranya tentu kelabakan setengah mati, maka akupun tidak berani menahan kalian-Biarlah kelak kalau kalian sudah berhasil menyelamatkan anak itu, kita masih bisa bicara lagi lebih jauh."
Kemudian Eng-kiat lantas memberi-tahu.
"Thia-suheng baru saja kembali dari pemeriksaannya ke sekitar Yok ong Bio sana. Banyak bangkai harimau yang mereka temukan, tapi tengkorak harimau-harimau itu sudah kosong, otak dan jerohannya sudah hilang semua. Menurut dugaan, tidak mungkin ke dua ekor Kim Mo soan itu dapat makan sekian banyaknya. pula rumput beracun untuk menjebak binatang yang biasa ditanam para pemburu di pegunungan ini ternyata juga sudah diambil orang semua. maka bukan mustahil bahwa orang itu sengaja hendak mengambil rumput obat itu beserta otak harimau dan sebagainya untuk ramuan obat racun apaapa."
Dan kini Kim-tayhiap mengetahui bahwa orang itu adalah tokoh Thian Mo Kau, maka dugaan tadi menjadi lebih dekat lagi.
"Thian Mo Kau memang biasa mencelakai orang dengan racun-"
Ujar Lok Eng-ho.
"Kim-tayhiap. kepergianmu ke Ci Lay san nanti, mumpung kekuatan mereka masih belum seberapa, hendaklah engkau sapu bersih saja seluruhnya."
Si-ih memikir sejenak. lalu katanya.
"Biarlah nanti aku akan melihat gelagatnya dulu sesudah sampai di Ci Lay san."
Namun Kok ci-hoa lantas berkata.
"Benar, meski Thian Mo Kau tergolong kaum hitam, tapi betapapun juga belum kentara berbuat kejahatan yang menyolok dan belum waktunya untuk dibasmi. Biarlah kita melihat dulu bagaimana tindak-tanduk mereka selanjutnya."
Mendengar sang ketua sudah bicara begitu, terpaksa Lok Eng-ho tidak enak untuk buka suara pula.
Diam-diam Kim Si-ih memuji juga atas kebijaksanaan Kok ci-hoa yang bisa berpikir panjang itu.
Meski Kim Si-ih tidak suka kepada Thian Mo Kau, tapi juga tiada rasa benci yang istimewa.
Meski dia tidak percaya pendirian Thian Mo Kau itu adalah cita-cita tinggalan Le seng-lam, tapi ia tidak dapat meragukan hubungan apa-apa di antara tokoh-tokoh Thian Mo Kau itu dengan Le seng-lam.
Maka esok paginya Kim Si ih dan Kang Lam lantas mohon diri untuk berangkat.
Kok Ci-hoa sendiri menghantar mereka keluar kuil.
Kata Kim Si-ih.
"Perjalananku ini kalau lancar hasilnya dan dapat mencari kembali anaknya Kang Lam, tentu aku akan mengirim kabar padamu dengan perantaraan anggota Kay Pang. Habis itu kami beramai aka datang kemari untuk membantu engkau memecahkan rahasia asal-usul Tiong-lian. Cuma mungkin akan makan tempo agak lama. Boleh jadi setengah tahun lagi baru kita bisa berjumpa pula."
"Biarpunjauh di mata, asal dekat di hati. Perpisahan cuma setengah tahun saja, buat apa mesti kita sesalkan?"
Demikian sahut Ci-hoa.
"Si-ih, setelah bertemu lagi kali ini, aku merasa engkau sudah banyak lebih masak daripada dulu. Maka aku sangat lega. Cuma aku masih ada beberapa kata yang ingin kubicarakan padamu."
"Aku justru inginkan nasihatmu dalam perpisahan ini,"
Sahut si-h dengan tertawa.
"Si-ih, apa yang sedang engkau pikirkan saat ini?"
Tiba-tiba Ci-hoa bertanya. Karuan Si-ih tertegun, tapi segera jawabnya.
"Kuharap semoga engkau melupakan apa yang telah lalu dan lebih banyak memikirkan apa yang akan datang."
"Bagus jika begitu,"
Ujar ci-hoa tertawa.
"Kuharap semoga engkau melupakan ialah cara bagaimana nanti harus menolong anaknya Kang Lam?"
Wajah Si-ih menjadi merah.
Baru sekarang ia paham apa maksud Ci-hoa sebenarnya.
semalam ia tak bisa pulas justru karena memikirkan Le seng-lam di masa lalu.
Maka apa yang dikatakan Kok ci-hoa barusan, boleh dikata tepat sekali telah membongkar rahasia hatinya.
Ci-hoa menengadah, lalu katanya pula.
"Lihatlah gumpalan awan di langit itu Tadi sang surya tertutup oleh awan dan cuaca mendung. Tapi kini awan mendung itu sudah berlalu. Cuaca sudah terang kembali. sekalipun awan mendung dapat menghalangi sinar matahari, namun itu cuma untuk sementara saja, toh akhirnya tentu terbit terang. maka semoga hatimu pun demikian halnya."
"Hai, hai Apa yang kalian bicarakan selalu seperti main cangkeriman saja, sama sekali aku tidak paham"
Demikian Kang Lam menggembor. Namun Si-ih seperti tersadar oleh apa yang diucapkan Kok Ci-hoa tadi, sahutnya.
"Kata-kata emasmu ini akan kuingat selamanya. Terima kasih"
Tapi apakah bayangan gelap dalam hati yang mirip awan mendung itu dapat lenyap begitu saja, ia send iripun sama sekali tidak tahu.
Begitulah dengan perasaan masgul Kim Si-ih turun dari Binsan bersama Kang Lam.
Tiga hari kemudian, tibalah mereka di kota Boan Liong Tin yang terletak di sebelah barat Ci Lay San-Di situlah Ki Hau-hong berjanji akan bertemu dengan Kang Lam.
"Kim-tayhiap, kita telah datang sehari lebih siangan,"
Kata Kang Lam dengan tertawa.
"Waktu berpisah dengan aku, Kitoako berjanji untuk bertemu disini 10 hari lagi. Dan kini baru hari kesembilan-Tahu begitu, kita lebih baik tinggal sehari lagi diBin-san saja. Karena urusanku, pertemuanmu dengan Koklihiap dalam waktu singkat harus berpisah lagi."
"Ah, lambat atau cepat toh kita harus datang ke sini dan datang lebih cepat lebih baik daripada datang terlambat,"
Ujar Si-ih.
"Bukan mustahil Ki-toako mu itu kini sudah kembali dari Ci Lay San-"
Boan Liong Tin itu tidak besar, sesudah mengelilingi kota itu, cuaca sudah mulai gelap. Maka berkatalah Kim Si-ih.
"Apabila Ki Hau-hong berada di kota ini, tentu dia akan datang mencari kita. Tampaknya dia belum lagi kembali. Biarlah kita sementara menginap semalam di sini. Apabila besok pagi dia belum muncul, kita lantas pergi ke Ci Lay San"
Begitulah mereka lantas menginap di hotel satu-satunya di kota itu.
oleh karena terlalu lelah, sehabis makan terus saja Kang Lam tertidur.
sebaliknya Kim Si-ih yang masih masgul itu tidak dapat pulas.
sampai tengah malam, mendadak ada suara orang mengetuk pintu.
Cepat Kang Lam terjaga bangun dan berseru.
"He, Ki-toako yang telah datang"
Diam-diam Si-ih merasa heran, sebab dari suara tindakan orang di luar itu, kedengarannya tidak terdiri dari seorang saja.
segera Kang Lam melompat turun untuk membukakan pintu.
Maka tertampaklah dua orang memayang Ki Hau-hong sudah berada di depan pintu situ.
sedang Kang Lam terperanjat, terdengar Ki Hau-hong sudah berseru dengan suara parau.
"Kim-tayhiap. kiranya memang benar engkau sudah datang. Aku menjadi lega atas kedatanganmu ini dan bolehlah kalian pergi saja"
Ucapan terakhir itu ditujukan kepada dua orang yang memayangnya itu.
Pada badan Ki Hau-hong tiada noda darah juga tiada tandatanda terluka.
Tapi dari suaranya yang parau dan berat itu, terang tenaga ia lemah dan terluka parah.
Waktu Kang Lam memperhatikan lebih lanjut, kiranya ke dua orang yang memayang Ki Hau-hong itu adalah murid-muridnya, yaitu orang-orang yang pernah menyamar sebagai prajurit di kota sin-an ketika Ki Hau-hong menggunakan tipu sebagai perwira untuk merampas harta pusaka yang dibawa Bun-kongcu.
Dalam pada itu, ke dua orang itu lantas bertindak pergi dengan tergesa-gesa.
Melihat keadaan Ki Hau-hong itu, mau tak mau Kim Si-ih menjadi ragu-ragu, pikirnya.
"Musuh lihay macam apakah yang telah dia temukan?"
Harus diketahui bahwa sebabnya Ki Hau-hong lekas-lekas suruh ke dua muridnya pergi, terang adalah kuatir kalau musuh menguntit ke situ dan Kim Si-ih akan repot melindungi orang banyak.
sebagai seorang kawakan Kang-ouw, dengan sendirinya Si-ih paham akan maksud Ki Hau-hong itu.
Dalam pada itu, tubuh Ki Hau-hong sudah agak sempoyongan.
Belum lagi dia bisa ajak bicara pada Kang Lam, hampir-hampir ia jatuh terduduk.
Lekas-lekas Kang Lam dan Kim Si-ih memeganginya dan merebahkannya ke atas ranjang.
Ketika Si-ih memeriksa nadi Ki Hau-hong dan terasa denyutnya lemah, Kim Si-ih menjadi kuatir.
"Di manakah letak luka sebenarnya?"
Tanya Kang Lam cepat.
Kim Si-ih tidak menjawab, tapi ia baliki tubuh Ki Hau-hong dan cepat merobek bajunya, maka tampaklah dengan jelas di tengah punggung Ki Hau-hong terdapat suatu bekas tapak tangan yang terang.
Kang Lam terkejut, sebaliknya Kim Si-ih menjadi gusar, teriaknya.
"Kiranya adalah perbuatan keparat itu lagi"
"siapa?"
Tanya Kang Lam.
"siapa lagi yang mampu melukai Ki-toako hingga sedemikian rupa?"
Sahut Kim Si-ih.
"Ialah Bun-tocu itu Kitoako telah terkena HiatJin In, semacam ilmu tunggalnya yang lihay."
Segera Kim Si-ih menggunakan ke dua tangannya menahan kencang di atas cunggung Ki Hau-hong.
ia gunakan Lwekang sendiri yang tinggi untuk membantu menyembuhkan luka kawan itu.
Betapa tingginya Lwekang Kim Si-ih saat itu boleh dikata selisih tidak jauh dengan Teng Hiau-lan dari Thian-san.
Maka terasalah oleh Ki Hau-hong ada semacam hawa hangat mengalir ke seluruh tubuhnya dengan nyaman sekali.
Tidak terlalu lama, darah yang tadinya membeku itu lantas dicairkan.
Meski badannya masih sakit, namun sudah jauh lebih segar.
Ki Hau-hong sendiri membawa juga siau Hoan Tan, semacam pil mujijat buatan siau Lim si yang dulu dia curi bersama-sama dengan kitab cusaka berbagai golongan itu.
setelah semangatnya agak pulih, segera ia suruh Kang Lam mengambilkan obat itu dalam bajunya dan memakannya tiga butir.
Khasiat siau Hoan Tan itu adalah memulihkan semangat dan menambah tenaga.
Ditambah lagi Ki Hau-hong mendapat bantuan Lwekang dari Kim Si-ih, maka tiada satu jam kesehatannya sudah pulih seperti sedia kala.
Maka iapun dapat menceritakan pengalamannya ketika mengunjungi ci Lay san-"Baru malam kemarin dulu aku datang ke Ci Lay san sana,"
Demikian tutur Ki Hau-hong.
"Dahulu aku pernah diundang Thian Mo Kaucu. sudah pernah satu kali aku mengunjungi pegunungan itu cuma waktu itu ke dua mataku ditutup dengan kain. Namun bagiku yang sudah biasa melakukan pekerjaan di waktu malam, maka jalanan di situ diam-diam sudah kuingat dengan baik. Namun demikian aku juga mesti mencari kian kemari dan dengan susah payah akhirnya dapat juga aku mencapai sarang mereka. Tatkala itu sudah lewat tengah malam. Sarang Thian Mo Kau itu tidak terhitung besar, tapi juga ada ratusan rumah. Aku mengelilingi sarang mereka itu hingga fajar menyingsing, tapi hasilnya nihil. Keponakanku yang kucari tidak ketemu, bahkan bayangan Thian Mo Kaucu itupun tidak kelihatan-Cuma, menurut kebiasaan pencuri, lebih dulu harus menghapalkan jalan dulu sebelum menggerayangi sasaran yang dituju. Maka waktu semalam itu juga tidak terbuang percuma, paling tidak aku sudah hapal benar tempatnya. siangnya aku bersembunyi di lereng gunung, malamnya kau pergi ke sana lagi. Dan sekali ini usahaku ternyata tidak sia-sia"
"siapa yang engkau temukan?"
Tanya Kang Lam tidak sabar lagi.
"Ketemu Thian Mo Kaucu sendiri,"
Sahut Ki Hau-hong.
"Rupanya ia baru pulang dari kepergiannya. Aku bersembunyi di atas pohon di luar jendelanya dan mendengar dia sedang menanya seorang pelayannya. selama beberapa hari ini, apakah bocah itu tidak nakal? Pelayan itu menjawab. Bocah itu terhitung alim juga, selama ini tidak rewel dan tidak nakal. Malahan terus melatih ilmu yang engkau ajarkan padanya. Dengan tertawa Thian Mo Kaucu itu berbicara lagi. Hm, anak itu memang mengenangkan jauh berbeda dengan ayahnya yang ceriwis, malahan anak ini sangat pendiam. Waktu datang mula-mula masih ribut-ribut mencari ayah-bundanya. Tapi lambat-laun menjadi biasa juga tinggal di sini. cuma sayang aku tak bisa menahan dia di sini selamanya. Lambat atau cepat tentu juga akan dikembalikan kepada ayahnya. Hahaha, adik cilik, tampaknya iblis wanita itu ternyata sangat suka pada puteramu"
Kang Lam tertawa senang, sahutnya.
"Emangnya, bukanlah aku memuji anak sendiri, tapi bocah itu memang sangat pintar. siapapun tentu senang bila melihatnya. Dan juga dia cukup cerdik, Ketika dia tahu tiada gunanya ribut-ribut, ia menjadi pendiam dan tinggal di sana. Hm, lalu bagaimana? Apa benar-benar iblis wanita itu rela mengembalikan anak itu padaku? Hal ini aku menjadi agak ragu-ragu."
"Aku sendiri waktu itupun tidak percaya,"
Kata Hiau-hong.
"Maka terdengar dayang itu lagi menanya pula Jikalau Kaucu suka pada anak itu, mengapa tidak tahan dia disini saja. Masa Kaucu mesti takut kepada Kang Lam si dogol itu? Tapi Thian Mo Kaucu itu menjawab. Kau tidak tahu bahwa Kang Lam itu mempunyai sandaran di belakangnya."
"Ya, yang kau maksudkan itu tentulah Kim Si-ih bukan? Katanya sudah lama dia menghilang. Ada yang bilang dia sudah mati di luar lautan? Tapi Thian Mo Kaucu itu berkata. Tidak, dia tidak mati tapi sudah kembali kini. Kepergianku keBin-san kali ini justru dikalahkan olehnya. Lalu dayang itu berkata pula. Kemarin dulu waktu Lehukaucu kembali, demi mendengar Kaucu sudah berangkat keBin-san, tanpa mengaso buru-buru beliau lantas berangkat lagi. Boleh jadi beliau juga menyusul keBin-san sana. Aku belum bertemu dengan dia, sahut Thian Mo Kaucu. Cuma menurut pendapatku, biarpun Le-hukaucu dibantu oleh ke dua ekor Kim Mo san juga belum tentu sanggup melawan Kim Siih. sebab itulah menurut pendapatku, aku ingin menyelesaikan urusan ini dengan baik, Aku menaksir Kim Si-ih pasti akan datang kemari bersama Kang Lam dan nanti aku akan kembalikan anak itu kepada mereka, tapi dengan syarat Kim Si-ih harus bersumpah bahwa selanjutnya dia tak akan ikut campur urusan Thian Mo Kau kita, andaikan dia tidak mau membantu usaha kita. Maka dayang itu menanya. Darimana Kaucu akan tahu Kim Si-ih bakal menerima syaratmu ini? Jawab Thian Mo Kaucu itu. Hubungannya dengan Kang Lam bagai saudara saja. Anak itu adalah bakal muridnya pula, tentu dia akan menurut. Apalagi ada hubungannya dengan Le-cosu kita."
Mendengar kata-kata terakhir itu, hati Kim si ih tergoncang, pikirnya diam-diam.
"Ternyata pemuda baju hitam itu memang benar she Le. Bahkan adalah Hu kaucu dalam Thian Mo Kau. Aneh juga, bukankah seluruh anggota keluarga Le sudah lama mati semua. Darimana mendadak bisa muncul pemuda she Le itu?"
Berbeda dengan Kim Si-ih, sebaliknya Kang Lam bergirang.
"katanya. Ah, kiranya begitu .Jadi dia jeri pada Kim-tayhiap makanya bersedia mengembalikan anakku. Hal ini lebih baik. Memangnya aku tiada punya dendam apa-apa dengan mereka baik dulu maupun sekarang. Peduli apa tentang Thian Mo Kau segala, asal dia kembalikan putera ku, persoalan inipun akan kuanggap selesai "
"Engkau jangan buru-buru senang dulu, cerita ini masih ada lanjutannya lagi,"
Kata Hiau-hong.
"He, ada perubahan apa lagi?"
Tanya Kang Lam.
"sesudah Thian Mo Kaucu itu menceritakan sekedarnya pengalamannya dari Bin-san, lalu ia perintahkan dayangnya pergi melihat keponakanku itu Kalau sudah tidur, supaya jangan dibangunkan tapi perlahan-lahan membawanya keluar. katanya pula. sebabnya dahulu aku suruh kalian menculik anak itu justru karena sudah menduga bakal terjadi seperti hari ini, maka aku sudah siapkan tindakan ini lebih dahulu. Dan selagi aku bermaksud menguntit dayang itu untuk kemudian menggondol lari keponakanku, pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar Thian Mo Kaucu telah berteriak. Aha, Kim Si-ih. selamat datang Aku justru sedang menantikan kunjunganmu ini"
"Apa katanya? Kim-tayhiap datang ke sana? Ah, barangkali dia melihat momok"
Seru Kang Lam bingung, sebab sudah terang selama itu Kim Si-ih selalu berdampingan dengan dirinya.
"Ya, waktu itu akupun sangat terkejut dan mengira benarbenar Kim-tayhiap sudah tiba,"
Sahut Hiau-hong.
"Tapi syukurlah sebelum aku menampakkan diri, kulihat orang yang dipanggil sebagai Kim Si-ih oleh Thian Mo Kaucu itu telah melompat masuk ke situ melalui jendela. orang itu memakai kedok kulit manusia, tapi sekali lihat aku lantas tahu pasti bukan Kim-tayhiap sendiri"
"Aha, tahulah aku siapa orang itu Dia pasti adalah Buntocu"
Seru Kang Lam tiba-tiba.
"Tempo hari waktu mula-mula ia muncul di Bin-san dan menempur Thian Mo Kaucu itu, sampai akupun menyangkanya sebagai Kim-tayhiap."
Kemudian Ki Hau-hong melanjutkan ceritanya pula.
"Mendengar Thian Mo Kaucu memanggilnya sebagai Kimtayhiap. orang itu tidak menyahut juga tidak menyangkal, tapi cuma tersenyum saja dan berkata. Aku tahu kau sedang menantikan aku, makanya aku lantas datang. Tanya Thian Mo Kaucu. Dan apa maksud kedatanganmu? orang itu tertawa, berbalik ia menanya malah. Dan engkau sangka apa maksud kedatanganku? Thian Mo Kaucu menjadi kurang senang, katanya sambil berbangkit. Tak perlu kau main teka-teki, marilah kita bicara blak-blakan. Apabila kau suka jalan damai, aku boleh kembalikan anaknya Kang Lam padamu, selanjutnya engkau jangan campur urusanku dan aku tak akanpeduli urusanmu. Tapi kalau engkau tetap memusuhi kami, terpaksa aku lawan engkau mati-matian dan anak itupun jangan kau harap bisa hidup. Orang itu terbahak-bahak, katanya. Kaucu, ucapanmu ini ternyata salah alamat. Aku justru tidak peduli, apakah anaknya Kang Lam bakal hidup atau mampus Peduli apa dia dengan aku? Thian Mo Kaucu melengak, katanya. He, kedatanganmu ini bukan untuk anaknya Kang Lam? Lalu untuk apa? Dengan tertawa penuh arti orang itu menjawab. Aku ingin berkenalan dengan engkau sudah tentu Thian Mo Kaucu menjadi heran. Namun orang itu telah berkata pula dengan tertawa. Engkau adalah wanita paling cantik yang pernah kulihat selama hidup, pula seorang pahlawan wanita yang gagah berani. sungguh aku menyesal tempo hari telah bergebrak dengan kau, maka sekarang sengaja datang buat minta maaf padamu. Pada umumnya, manusia yang manapun paling suka kalau dipuji dan disanjung. Meski datangnya pujian orang itu jauh di luar dugaan Thian Mo Kaucu, namun sikapnya menjadi banyak lebih ramah. Maka orang itu lantas berkata lagi. Bukan saja aku ingin minta maaf padamu, bahkan aku mohon engkau suka menerima aku sebagai anggota. Karuan kejut Thian Mo Kaucu itu susah dilukiskan, tiba-tiba ia menggeleng kepala dan berkata. Kim Si-ih, apakah kau sengaja datang hendak mempermainkan aku? Mengapa engkau berkata demikian? Engkau tahu tidak Cosu yang kupuja itu siapa? Sampai di sini barulah orang itu memperlihatkan siapa dirinya. Dengan sungguh-sungguh ia menanya. Engkau mengira aku ini siapa? sudah tentu Thian Mo Kaucu semakin bingung, menyusul iapun menanya. siapa engkau? mendadak orang itu melepaskan kedoknya dan berkata. Mungkin engkau belum pernah melihat Kim Si-ih, tapi sedikitnya engkau tentu sudah pernah mendengar orang membicarakan tentang wajahnya . Maka berteriaklah Thian Mo Kaucu. He, engkau bukan Kim Si-ih? Habis sia, siapa engkau? Dengan tertawa orang itu menyahut. Aku sheBun bernama Ting-bik, adalah Tocu pulau tak bernama di lautan selatan. Kim Si-ih bermusuhan dengan aku, engkau percaya tidak? Sudah tentu Thian Mo Kaucu itu masih ragu-ragu, katanya kemudian. Berdasarkan ilmu silatmu yang tinggi ini, mengapa engkau sudi menjadi anak murid agama kami? Dengan sendirinya aku masih sangsi orang itu menghela napas, katanya. Ai, belum juga engkau paham akan maksud kedatanganku. sebabnya ialah aku kesengsem kepadamu Biarpun aku mesti menjadi hambamu, akupun rela Baiklah, jika engkau masih tetap tidak percaya, biarlah sekarang juga aku menghaturkan dulu sesuatu sumbangan perkenalan-saat itu aku sendiri mendekam di atas pohon dan mengikuti percakapan itu dengan terheran-heran-Dan mendadak juga orang itu terus melontarkan sekali pukulan keluar jendela"
"Ai ya, kenapa engkau tidak berjaga-jaga sebelumnya?"
Seru Kang Lam. Nyata ia sudah menduga bahwa Bun-tocu itu mendadak lantas menyerang Ki Hau-hong.
"Tempatku sembunyi itu adalah pohon yang tinggi dan lebat. Aku tidak menduga bahwa begitu datang dia sudah mengetahui jejakku dan lebih-lebih tidak menyangka bahwa ilmu pukulannya itu begitu hebat, demikian kata Hiau-hong. Dan sesudah minum seceguk. kemudian sambungnya. Pukulannya itu memang sangat lihay dan membawa suara gemuruh. seketika daun pohon bertebaran, sampai dahan pohon ikut tergoncang. Dan barulah Thian Mo Kaucu itu mengetahui adanya diriku. Katanya dengan tertawa dingini Hm, Ki Hau-hong, sungguh tidak kecil nyalimu Ternyata kau telah lupa pada peringatanku dan sengaja menghantar kematian ke sini Tapi Bun-tocu itu lantas berkata. Cuma seorang keroco begini, tidak perlu Kaucu turun tangan sendiri, serahkan saja padaku"
"Hm, keparat itu benar-benar terlalu memandang enteng padaku. Meski aku bukan tandingannya, tapi juga tidak nanti tertangkap olehnya. Beruntun ia melontarkan tiga kali Bik Khong ciang baru dapat mendesak aku ke tanah. Tenaga pukulannya itu makin lama makin kuat, namun akupun melawannya dengan sepenuh tenaga. Ketika pukulan ketiga dia lontarkan, aku lantas pinjam daya serangannya itu untuk melompat turun, terus melayang keluar dari pagar tembok rumah itu."
Kang Lam menjadi senang, pujinya.
"Ki-toako, sungguh hebat engkau ini. sudah sambut tiga kali serangannya toh masih sanggup mengeluarkan Ginkang-mu yang hebat."
"soalnya aku terpaksa, maka aku harus berusaha sekuatnya, padahal waktu itu tenaga murniku sudah terganggu, tutur Hiau-hong. Keparat itu sungguh lihai, mungkin iapun sudah melihat aku terluka, maka cepat ia terus mengudak. Aku menaksir kalau lari terus pasti akhirnya akan disusul olehnya. Terpaksa, sekali lagi aku mengadu jiwa dengan dia. Mendadak aku adu sekali pukulan lagi dengan dia. Aku terkena dia punya Hiat Jiu ln, sebaliknya iapun kena gempuran siu Lo Im sat Kang sekali"
"Kau punya siu Lo Im sat Kang sudah terlatih sampai tingkatan ketujuh, meski tidak dapat merobohkan dia, tapi hantaman itu sudah cukup dirasakan olehnya,"
Ujar Si-ih dengan tertawa.
"Agaknya sesudah terkena pukulanmu itu, ia perlu mengatur napas dan mengumpulkan tenaga dulu, makanya tidak mengudak padamu lagi."
"Memang tepat dugaanmu,"
Sahut Hiau-hong tertawa "Apa bila keparat itu tidak hiraukan sedikit lukanya itu dan tetap menguber, tentu celakalah aku.
Agaknya dia sayang membuang tenaga terlalu banyak, terpaksa menyaksikan aku lolos begitu saja.
Untung juga sebelumnya aku sudah atur dua muridku untuk menunggu di kota ini.
Bahkan malam ini juga mereka telah melihat kalian.
Apabila kedatangan kalian terlambat, sekalipun aku mempunyai siau Hoan Tan juga mungkin tidak tahan sampai sekarang."
"Aha, untung juga kami tiba di sini sehari lebih siangan. Kalau tidak tentu akan menyusahkan Ki-toako,"
Ujar Kang Lam sambil melelet lidah.
Kim Si-ih memikir seenak.
kemudian iapun berkata.
Dengan tidak malu-malu Bun Ting-bik itu suka menghamba kepada Thian Mo Kaucu, dibalik itu pasti ada muslihatnya.
Marilah besok malam juga kita pergi Ci Lay san lagi.
sekarang silahkan Ki-toako mengaso saja dahulu."
Sesudah minum siau Hoan Tan dan menjalankan ilmu sakti penyembuhan diri setelah tetirah sehari-semalam, sampai malam hari ke dua, tenaga Ki Hau-hong sudah pulih kembali seluruhnya.
Maka dia sebagai penunjuk jalan lantas membawa serta Kim Si-ih dan Kang Lam berangkat ke Ci Lay san.
sebelum tengah malam mereka sudah sampai di pusat sarang Thian Mo kau.
Segera Kim Si-ih mengatur seperlunya, ia suruh Ki Hauhong menjaga Kang Lam dan bersembunyi dulu di suatu tempat yang aman.
Bila ada bahaya supaya lantas bersuara memanggil Si-ih sendiri lantas merayap sampai di luar jendela kamarnya Thian Mo Kaucu.
Malam itu bulan baru sabit, bintang-bintang jarang-jarang, tapi mata Kim Si-ih sangat jeli.
Ia mengumpat di belakang sebuah batu di dekat jendela.
Dari ke dua bayangan yang tersorot di gorden jendela itu, segera dapat dikenalnya sebagai Bun-tocu dan Thian Mo Kaucu.
Terdengar Thian Mo Kaucu sedang menanya dengan suara lembut.
"Ting-bik, apakah lukamu sudah baik?"
"Ah, cuma siu Lo Im sat Kang si pencuri itu masa mampu mencelakai aku? sudah lama baik"
Demikian sahut Bun-tocu itu dengan tertawa "Jangankan cuma pencuri keroco itu, biarpun empat ketua dari empat golongan besar Bu-lim maju sekaligus juga akan tidak gentar.
cuma kita harus mencari suatu jalan untuk melayani Kim Si-ih.
Asal kita dapat merobohkan dia, kita tidak ada tandingannya lagi di dunia ini."
"Bukankah kau pernah mengatakan Kim Si-ih juga agak jeri padamu?"
Tanya Thian Mo Kaucu.
"Benar, kekuatanku dengan dia kira-kira setali tiga uang, masing-masing saling jeri."
Sahut Bun-tocu.
"Jika begitu, engkau sendiri juga jeri padanya?"
"sudah tentu"
Bun-tocu tahu kata-kata itu bernada mengolok-olok, namun dia masih menjawab dengan angkuh.
"Memang, meski aku tidak sampai kalah, tapi untuk mematikan dia juga tidak dapat. sebab itulah kita harus bersatu-padu. Hm, sebab apakah dia tidak suka tukar pikiran ilmu silat dengan aku?"
Dia yang dikatakan itu terang maksudnya bukan Kim Si-ih, karuan Si-ih terkesiap. sedang dipikir siapa si dia yang dimaksudkan itu, terdengar Thian Mo Kaucu sudah berkata lagi.
"Wataknya memang sangat aneh, segala apa dia hanya suka menurut padaku, tapi dalam hal inipun ia tidak mau menurut."
Bun-tocu tampak kurang senang, katanya.
"Kita mempunyai tujuan dan kepentingan bersama, seharusnya tidak boleh saling mencurigai. Lagi pula aku mempunyai ilmu tunggal sendiri, kalau tukar pikiran dengan dia juga ada faedahnya baginya."
"Akupun pernah menasihatkan dia, tapi dia tetap tidak mau, apa dayaku?"
Ujar Thian Mo Kaucu.
"Aha, tahulah aku,"
Tiba-tiba Bun-tocu tertawa dingin-"Rupanya dia sirik karena aku berdekatan dengan engkau. Dia, hahaha, dia suka padamu"
"Ngaco-belo"
Sela Thian Mo Kaucu.
"Aku pandang dia sebagai adik kecil saja."
"Kau anggap dia sebagai adik, tapi kulihat dia justru tidak mau anggap engkau sebagai enci-nya,"
Kata Bun-tocu dengan tertawa.
Sampai di sini, tahulah Kim Si-ih duduk perkaranya.
Apa yang dimaksudkan dia itu kiranya adalah si pemuda baju hitam.
Diam-diam Kim Si-ih geli pula bahwa anak perempuan memang suka menjadi Enci orang.
Kok Ci-hoa juga menganggap dirinya sebagai adik.
Padahal umur Thian Mo Kaucu itu rasanya juga tidak lebih tua daripada si pemuda baju hitam itu.
Mungkin karena melihat Thian Mo Kaucu mulai aseran, cepat Bun-tocu membelokkan pembicaraannya, katanya.
"Baiklah, umpama dia tidak suka tukar pikiran dengan aku, tentu engkau sendiri dapat menerima permintaanku ini. aku cuma ingin tahu sekedarnya isi Pit Kip (kitab rahasia) itu, lalu bersama engkau melatih Tok Hiat Ciang (Pukulan Darah Berbisa) dengan sumber racun dari Pek Tok Cin Keng-mu itu sesudahnya aku lantas mencari Kim Si-ih untuk suatu pertarungan menentukan. Bicara tentang ilmu silat sebenarnya, aku harus mengangkat guru padamu,"
Kata Thian Mo Kaucu.
"Tapi Pek Tok Cin Keng adalah benda pusaka yang kuperoleh kembali dengan susah payah. Menurut aturan tidaklah boleh diperlihatkan kepada orang luar."
"orang luar tidak boleh, kalau orang dalam tentunya boleh bukan?"
Kata Bun-tocu tiba-tiba dengan cengar-cengir.
"Apa maksudmu ini?"
Tanya Thian Mo Kaucu.
"Cumah,"
Tiba-tiba Bun-tocu memanggil nama kecil Thian Mo Kaucu dengan nada yang mesra.
"Engkau adalah seorang cerdik, tentu kau cukup paham maksudku ini."
Thian Mo Kaucu mengikik tertawa, sahutnya.
"Cobalah katakan,aku justru terlalu bodoh untuk memahami maksudmu."
"Cumah, untuk bicara terus terang, kedatanganku ini adalah karena aku kesengsem kepada kecantikan dan kepandaianmu, demikian kata Bun-tocu. Yang lebih penting lagi adalah kita sama-sama bermusuhan dengan Kim Si-ih. oleh karena kita mempunyai tujuan yang sama, seharusnya kita bergabung menjadi satu. Cumah, apabila engkau menerima maksudku ini, aku rela menjadi hambamu yang paling setia dan akan melakukan segala perintahmu."
Kembali Thian Mo Kaucu terkikik-kikik, katanya "Jadi engkau ini sedang meminang diriku? Akan tetapi, aku belum lagi dapat mempercayai engkau."
"Lalu cara bagaimanakah baru engkau dapat mempercayai aku?"
Tanya Bun-tocu.
"Kata pribahasa, jalanjauh barulah betapa berharganya tenaga kuda, sesudah lama barulah dapat kenal hati manusia. Dan engkau baru saja dua hari berada di sini, darimana aku bisa lantas mempercayai engkau begitu saja?"
Demikian sahut Thian Mo Kaucu.
"Apalagi urusan ini adalah soal pribadiku selama hidup, betapapun aku harus diberi sedikit waktu untuk memikirkannya."
"Jika begitu, berapa lama engkau akan pikir dulu? Harap engkau memberi suatu batas waktu padaku,"
Pinta Bun-tocu.
"Mana dapat aku menentukan batas waktunya?"
Sahut suatu.
"Aku harus menguji dulu dirimu ini. apabila dalam segala hal engkau benar-benar menurut keinginanku, mungkin tidak terlalu lama aku sudah dapat menerima permintaanmu. Tetapi bila tindak-tandukmu ternyata tidak sesuai dengan ucapanmu, sudah tentu seratus tahun lagi juga tak akan berhasil."
Sebagai seorang yang sudah kencang asam-garamnya percintaan, diam-diam Kim Si-ih menjadi geli mendengar jawaban Thian Mo Kaucu itu, pikirnya.
"orang ini benar-benar ketemu batunya sekali ini. rupanya dia ingin menipu orangnya beserta kekayaannya, tapi Thian Mo Kaucu ini telah menjawabnya dengan suatu akal mengulur waktu. Hahaha, ini benar-benar suatu lelucon akal-mengakal, entah kelak siapa yang akan tertipu?"
Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar suara tindakan orang yang cepat. Dengan marah-marah si pemuda baju hitam tampak melangkah masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu. Diam-diam Kim Si-ih geli pula.
"Ah a, pertunjukan selanjutnya tentu akan lebih menarik"
Benar juga, segera terdengarlah suara pertengkaran mulut di dalam situ. Lebih dulu terdengar suara si pemuda baju hitam sedang berteriak.
"Tengah malam buta untuk apa engkau datang ke kamar enci-ku ini?"
"Kalau kau boleh datang, mengapa aku tidak boleh?"
Terdengar Bun-tocu menjawab dengan tertawa dingin"
Engkau ini macam apa, berani sama ratakan dengan aku?"
Damprat si pemuda. Maka terdengar Thian Mo Kaucu menyela.
"Hok-sing, jangan kurang sopan-Kedatangan Bun-siansing ini adalah untuk berunding urusan besar dengan aku."
"Hm, dia bisa mempunyai urusan besar apa?"
Jengek si pemuda.
"Cumah, boleh juga katakan padanya, biar dia tahu,"
Ujar Bun-tocu dengan berseri-seri.
Ia menyangka Thian Mo Kaucu tentu akan menerangkan pada pemuda baju hitam itu tentang lamarannya kepada Thian Mo Kaucu tadi.
Di luar dugaan Thian Mo Kaucu justru berkata "Hok-sing, kedatangan Bun-siansing ini adalah untuk berunding dengan aku tentang cara bagaimana harus menghadapi Kim Si-ih."
"Huh, dia tidak berhasil menipu ilmu silatku, sekarang hendak coba-coba menipu engkau juga?"
Kata si pemuda dengan menjengek. Biarpun Bun-tocu itu sifatnya culas dan banyak tipu muslihatnya, kini tak tertahan juga menjadi marah, katanya.
"Kau si bocah goblok dan sombong ini, aku sengaja saling tukar kepandaian dengan kau. Hal ini malah lebih menguntungkan engkau, masa kau sangka ilmu silatku malah lebih rendah darimu?"
"Jika begitu, marilah kita coba"
Bentak sipemuda dengan gusar.
Berbareng terus saja ia melompat maju.
Plak.
agaknya tangannya sudah beradu dengan tangan Bun-tocu.
Kim Si-ih pikir ke tiga tokoh lawan yang paling kuat itu kebetulan sedang berkumpul di sini, dua di antaranya sedang saling labrak pula.
Kesempatan bagus ini jangan disia-siakan.
Maka cepat ia menggunakan ilmu mengirim gelombang suara untuk membisiki Ki Hau-hong.
"Ki-toako, kesempatan baik ini jangan disia-siakan, lekas engkau pergi menolong si Haythian"
Tapi karena sipemuda baju hitam itupun mahir ilmu mengirim gelombang suara, maka iapun dapat mendengar bisikan Kim Si-ih itu, ia menjadi kaget, mendadak ia bersuit panjang lalu berteriak.
"Awas, Kim Si-ih sudah datang"
Dan baru saja Ki Hau-hong dan Kang Lam berlari keluar dari tempat sembunyi mereka, segera mereka kepergok dengan ke dua ekor Kim Mo soan yang mendatangi karena mendengar suitan panggilan majikan mereka.
Namun ketika mencium baunya Kim Si-ih yang sudah dikenalnya itu, binatangbinatang itu menjadi jinak.
segera ia berlari ke tempat Kim Siih.
"Mereka adalah kawanku, jangan kalian mengganggu mereka"
Demikian pesan Si-ih kepada ke dua ekor Kim Mo soan itu.
Menurut juga ke dua binatang itu, sama sekali mereka tidak merintangi Ki Hau-hong dan Kang Lam yang sedang lewat di samping mereka.
Lalu berserulah Kim Si-ih dengan terbahak-bahak.
"Hahaha, memang benarlah aku sudah datang Nah, kalian berdua teruskan saja jangan berhenti, biar aku yang menjadi wasit. Aku paling adil, tanggung tidak memihak siapapun"
Dalam pada itu si pemuda baju hitam sedang melontarkan pula pukulan yang lain-Tapi kena ditangkis lagi oleh ilmu Hiat Jiu In (Tapak Tangan Berdarah), yang menjadi kemahiran Bun-tocu.
Kontan pemuda itu tergentak mundur dengan bahunya terasa pegal linu.
Ia menjadi murka dan berteriak hendak merangsang maju lagi.
"Hai, sesudah menangkap Kim Si-ih nanti, aku pasti akan bikin perhitungan lagi padamu,"
Seru si pemuda baju hitam.
"Wah, celaka, kenapa wasit yang hendak kalian labrak malah?"
Seru Kim Si-ih dengan tertawa.
sementara itu Buntocu dan si pemuda baju hitam yang bernama Le Hok-sing itu sudah menubruk maju.
Meski mulutnya berkelakar dengan mereka, tapi dalam hati Kim Si-ih tidak berani memandang enteng ke dua lawan itu.
Dalam pada itu Bun-tocu sedang melontarkan pukulan Hiat Jiu In ke arahnya.
Cepat Si-ih acungkan jari tengahnya memapak tapak tangan orang.
Di lain pihak sipemuda baju hitam juga sudah keluarkan sepasang Giok Jio dan beruntun menutuk ketujuh Hiat To penting di tubuh Kim Si-ih .Betapapun pemuda itu benci pada Bun-tocu, tapi menghadapi musuh dari luar seperti Kim Si-ih, ia menjadi benar-benar bahu-membahu dengan dia mengeroyok musuh.
Thian Mo Kaucu menaksir ke dua kawannya itu cukup kuat untuk menempur Kim Si-ih, segera ia memutar tubuh hendak pergi memburu Ki Hau-hong.
Di luar dugaan, mendadak Kim Si-ih menggeserkan ke samping, dengan cepat luar biasa ia telah merintangi jalan lari orang, menyusul lengan bajunya mengebas, seketika Thian Mo Kaucu dipaksa kembali ke tempatnya semula.
Melihat itu, dengan gagah berani sipemuda baju hitam terus menerjang maju sambil membentak "Jangan melukai Enci-ku"
Ke dua Giok Jio-nya bekerja untuk menutuk pula.
"Maafkan, aku akan menggunakan Po Kiam sekarang"
Seru Si-ih kemudian-Dan dengan cepat Cay In Po Kiam (Pedang Pemotong Awan), lantas dilolos.
ering, ketika pedangnya membentur sepasang Giok Jio lawan, terbitlah suara nyaring menjerikan.
Ke dua macam senjata itu sama-sama benda mestika yang jarang terdapat, maka terlihatlah letikan api, tapi keduaduanya sama-sama tidak rusak.
Melihat Giok Jio sipemuda sanggup menangkis pedang pusaka Kim Si-ih, seketika semangat Bun-tocu bertambah, serunya.
"Bagus, marilah kita membagi tugas, engkau menahannya dari dekat aku menyerangnya dari jauh dengan serangan mematikan. Asal Kim si ih sudah kita jungkalkan, maka kita tiada tandingannya lagi di dunia ini"
"Hm, enak benar mesin-hitung mu bekerja?"
Jengek Si-ih mendongkol.
"Marilah boleh coba-coba dulu"
Mendadak ia gunakan Thian Lo Poh Hoat, ia tinggalkan si pemuda baju hitam, segera pedangnya menusuk ke arah Bun-tocu.
Pemuda itupun cepat luar biasa, segera ia menyusul maju, namun tetap ia kalah cepat selangkah daripada Thian LoPoh Hiat yang hebat itu.Bret, lengan baju Bun-tocu sudah terkupas sepotong oleh pedangnya Kim Si-ih.
Tapi ilmu silat Bun-tocu juga sangat lihay, biarpun terancam pedang, tetap ia sempat melompat ke atas dengan gerakan In Li^ TO Hoan (Berjungkir Balik Di Udara), meski harus korbankan sepotong lengan bajunya, namun dapatlah ia menyelamatkan diri dengan melayang pergi sejauh lebih dua tombak.
Tapi juga berkat bantuan si pemuda yang keburu merintangi pedang Kim Si-ih dengan sepasang Giok Jio-nya hingga Si-ih tidak sempat menyerangnya lebih jauh.
Dan begitu tancap kaki kembali di tanah, ser, segera Buntocu melolos ke luar seutas cambuk panjang.
cambuk itu kecil lembut sebesar sumpit, ujung cambuk penuh terdapat kaitan baja yang lembut.
Biasanya selalu terlibat dipinggangnya sebagai ikat pinggang.
Di waktu kepepet barulah dia lepaskan sebagai senjata yang ampuh.
Terutama kaitan-kaitan halus yang terdapat di ujung cambuk itu adalah beracun-Asal terbeset sedikit kulit daging saja, begitu masuk ke darah racunnya, segera orangnya akan mati.
Si-ih insyaf betapa lihaynya Tok Liong Pian (cambuk Naga Berbisa) milik Bun-tocu itu.
Meski dia sudah berhasil melatih ilmu weduk yang tidak mempan terhadap racun apapun, namun bila keracunan, tentu juga akan mengganggu tenaganya.
Maka ia mesti hati-hati untuk menjaga diri.
Panjang cambuk Bun-tocu itu ada lebih dari setombak dengan senjatanya itu.
Bun-tocu dapat memainkannya dalam jarak lingkaran dua-tiga tombak jauhnya untuk menyerang musuh.
Asal sedikit tubuhnya mendoyong, segera cambuknya bisa mencapai tubuhnya Kim Si-ih.
sebaliknya pedang pusaka Si-ih meski tajam, namun panjangnya cuma satu meter kurang-lebih, terang kurang menguntungkan.
Diam-diam Si-ih berpikir.
"Keparat ini benar-benar licik, kiranya dengan cara demikian mereka mengeroyok aku dari jauh dan dekat. Ia sendiri sudah terang berada dalam posisi yang paling selamat dan suruh si pemuda ini yang menjadi tamengnya"
Memikir begitu, ia menjadi gemas pada Bun-tocu dan bermaksud akan menghajarnya biar tahu rasa.
Tapi di bawah pimpinan Thian Mo Kaucu, pemuda baju hitam itu telah bertempur mati-matian tanpa menghiraukan bahaya.
Ia rela menjadi tamengnya Bun-tocu.
Sebaliknya Kim Si-ih merasa sayang dan tidak tega untuk mencelakainya.
Dengan demikian Kim Si-ih menjadi susah melepaskan diri dari rangsakan si pemuda itu untuk menggempur Bun-tocu.
Bun-tocu dan Le Hok-sing itu masing-masing mempunyai ilmu silat tunggalnya sendiri-sendiri dan terhitung jago kelas satu di kalangan Bu-lim.
Apabila Kim Si-ih menempur mereka satu lawan satu, tiada seorangpun di antara mereka yang mampu menahan sampai 50 jurus.
Tapi kini mereka berdua telah main keroyok hingga mau tak mau Kim Si-ih menjadi terdesak.
Apalagi Bun-tocu itu sangat licik, ia hanya mengayun cambuknya yang panjang itu dari jauh.
Kalau tidak kena, segera ia tarik kembali dan menunggu kesempatan untuk menyerang lagi, sama sekali ia tidak membiarkan cambuknya membentur pedangnya Kim Si-ih.
"Hm, sungguh kau tidak kenal malu, Bun Ting-bik"
Sindir Kim Si-ih dengan mendongkol. Namun Bun-tocu itu malah terbahak-bahak. sahutnya.
"orang berpikiran sempit bukan laki-laki, siapa tidak keji bukan jantan sejati Kim Si-ih, percumalah engkau berkeliaran dalam Kang-ouw selama berpuluh tahun, tapi mengapa ke dua kalimat umum itu tidak engkau ketahui?"
Sembari menyindir, cambuknya tetap tidak kendor, ia menyabet ke bagian kaki Kim Si-ih berbareng menambahi pula sekali Bik Khong Ciang.
Kim Si-ih menjadi gusar, kontan ia balas menghantam dari jauh sekali.
Tenaga dalamnya jauh lebih kuat daripada Buntocu, maka sodokan tenaga itu telah membuat Bun-tocu agak tergoncang.
Cuma sayang jaraknya agak jauh hingga tak dapat merobohkannya.
Dan karena sedikit ayal itu, tahu-tahu pundak Kim si ih kena diketok sekali oleh Giok Jio si pemuda she Le hingga terasa sakit juga meski Kim Si-ih sudah kebal.
"Kim Si-ih,"
Tiba-tiba Bun-tocu berseru dengan tertawa.
"Hendaklah kau hemat tenaga sedikit, jangan kau habiskan dulu. sebentar masih ada yang lebih enak bagimu. Cumah, persen dia saja beberapa macam Am Gi yang berbisa"
"Tidak perlu buru-buru,"
Sahut Thian Mo Kaucu.
"Biar kupergi membereskan dulu itu Ki Hiau-hong."
Habis berkata, terus saja ia hendak melangkah pergi.
Di luar dugaan, mendadak terasa suatu tenaga maha kuat telah menariknya kembali.
Kiranya Kim Si-ih telah menggunakan tenaga dalam yang maha sakti menariknya dari jauh hingga suatu tenaga tidak kelihatan seakan-akan dapat mencengkramnya dari dekat.
Thian Mo Kaucu menjadi murka, serunya.
"Kim Si-ih, apa barangkali kau sudah bosan hidup?"
Terus saja ia putar balik ikut mengerubut.
sekali tangannya mengayun, serangkum asap beracun lantas menyembur ke arah Kim Si-ih.
Namun sekali menyebut, segera Kim Si-ih meniup asap beracun itu ke jurusan Bun-tocu.
Tapi sebelumnya Bun-tocu sudah mengulum obat penawar dalam mulutnya, maka ia tidak halangan apa-apa terkena asap itu.
sebaliknya Kim Si-ih telah menyedot sedikit asap itu hingga kepalanya rada pening, tapi sekali ia kerahkan tenaga dalamnya, hawa murni dalam tubuh terus berputar, hanya sekejap saja rasa pening dan sesak itu lantas hilang sirna.
Thian Mo Kaucu cukup kenal Lwekang Kim Si-ih yang lihay, sebenarnya ia ingin menunggu bila Kim Si-ih sudah lelah dikeroyok ke dua kawannya, barulah dia maju untuk merobohkannya.
Tapi karena Bun-tocu terburu naps u ingin menang, pula ia sendiri dirintangi kepergiannya tadi, terpaksa ia ganti haluan dan mengeluarkan asap beracun untuk menyerang Kim Si-ih.
Memangnya Am Gi Thian Mo Kaucu itu macam-macam jenisnya, ada Tok Yan (Asap Beracun), Tok Bu (Kabut Beracun), Tok Ciam (Jarum Berbisa), Tok Cian (Panah Berbisa) dan lain-lain lagi.
Tapi berkat ilmu sakti pelindung badannya, ditambah lagiBik Khong Ciang yang lihay, maka Kim Si-ih masih dapat melayani lawan itu sekuatnya.
Namun di bawah keroyokan tiga jago kuat, betapapun Kim si ih merasa kewalahan juga akhirnya.
"Awas serangan"
Bentak Si-ih mendadak.
Sekonyongkonyong pedangnya bergerak cepat, sinar pedang yang melingkar kemilauan itu mendadak meluas ke luar.
si pemuda baju hitam menjadi kaget, kalau sebelumnya Kim Si-ih tidak memperingatkan, hampir-hampir saja ia kena dikurung oleh sinar pedang itu.
Kiranya itu adalah semacam ilmu pedang ciptaan Kim Si-ih sendiri yang bernama Tay Ciau Thian Kiam Hoat.
Lihaynya boleh dikata tidak kalah daripada Tay si Mi Kiam Hoat dari Thian san Kiam Hoat.
sekali sudah dimainkan, sekeliling tubuh terlindung rapat di dalam sinar pedang yang tak tertembus angin.
Dalam jarak lingkaran setombak jauhnya musuh juga susah untuk menancap kaki.
Melihat betapa lihaynya Kim Si-ih, mau tak mau Bun-tocu atau Bun Ting-bik itu menjadi jeri, pikirnya.
"Waktu dia mengunjungi pulauku dulu, meski tatkala itu ilmu silatnya sudah sangat hebat, tapi toh belum seperti sekarang ini. kenapa dalam jangka waktu singkat selama tiga tahun saja kemajuannya sudah begini pesat dan seakan-akan satu kali lipat lebih lihay dari dulu?"
Nyata Bun Ting-bik masih belum insyaf bahwa justru karena dikurung olehnya di dalam gua batu dipulaunya dahulu itu, Kim Si-ih telah berhasil menemukan ilham dari rahasia-rahasia ilmu silat yang paling lihay.
Dahulu dalam beberapa kali pertarungan yang pernah dilakukan, Kim Si-ih tidak mengeluarkan seantero kepandaiannya untuk melabraknya.
Tapi kini Kim Si-ih telah kerahkan sembilan bagian kemahirannya hingga Thian Mo Kaucu, Bun-tocu dan LHS bertiga hanya mampu menempurnya dari jarak jauh, dan begitupun mereka masih merasakan betapa tajamnya sambaran angin pedang pusaka Kim Si-ih yang dingin itu Untung mereka juga tokoh-tokoh kelas wah id, biarpun Thian Mo Kaucu lebih lemah dibanding ke dua kawannya, tapi ia dapat menggunakan Am Gi beracun untuk menambal kekurangannya itu.
Dari itu, untuk segera mengalahkan lawan-lawan tangguh itu, bagi Kim Si-ih juga tidaklah mudah.
Maka sebegitu jauh keadaan masih tetap saling bertahan saja.
Sedang memuncak pertarungan mereka, sekonyongkonyong terdengar suara suitan panjang sekali, Ki Hiau-hong telah muncul dengan menggendong seorang anak.
menyusul tampak Kang lam mengikuti dari belakangnya.
Dengan gembira Kang lam lantas berteriak.
"Kim-tayhiap. lihatlah, muridmu sudah tertolong keluar. sekarang kita lantas pulang saja atau labrak mereka lebih dulu?"
"Sudahlah, jangan membikin anak itu terkejut nanti, marilah pulang saja"
Sahut Kim Si-ih, berbareng iapun putar pedangnya mendesak mundur si pemuda baju hitam. Kebetulan saat itu cambuk Bun Ting-bik sedang menyabet ke arahnya, dengan tertawa dingin Kim Si-ih berkata.
"Memangnya aku ingin memberi rasa sedikit padamu"
Berbareng itu, dengan cepat luar biasa tahu-tahu orangnya sudah menubruk Bun-tocu itu danjari tengahnya terus menjentik ke depan hingga serangkum angin tajam menyambar ke arah musuh.
Dalam keadaan kepepet, cambuk Bun-tocu itu menjadi ngawur permainannya.
Tanpa ayal lagi pedang Kim Si-ih terus menabas, sret, Tok Liong Pian yang panjang itu terkutung menjadi dua.
Menyusul Kim Si-ih lantas baliki tangannya untuk menampar muka Bun-tocu.
Untung si pemuda baju hitam keburu menolongnya dengan menutuk Hong Hu Hiat di punggung Siih dengan Giok Jio-nya hingga Bun-tocu terhindar dari tempilingan itu.
"Ha, dia menghina engkau, tapi kau masih sudi membelanya mati-matian?"
Seru Si-ih dengan tertawa, berbareng pedangnya terus menangkis sepasang Giok Jio si pemuda. Dan kesempatan itu telah digunakan Bun-tocu untuk melompat ke samping.
"Hm, aku tidak berkelahi untuk orang ini, tapi aku berjuang demi Enci Cumah. Emangnya kau sangka akupun seperti kau yang tidak kenal budi kebaikan orang?"
Demikian si pemuda baju hitam telah menjengek.
Kata-katanya ini daripada dianggap jawaban untuk Kim Si-ih, lebih tepat dikatakan sengaja diperdengarkan untuk Thian Mo Kaucu itu.
Kim Si-ih menjadi tersinggung dan merasa geli pula, pikirnya.
"Eh, jadi bocah dogol yang masih hijau ini ternyata kesengsem kepada Thian Mo Kaucu."
Dalam pada itu Kang Hay-thian menjadi senang menyaksikan pertempuran itu, ia berseru gendongannya Ki Hiau-hong.
"Engkau hebat benar, suhu Aku sangat senang melihat engkau hajar mereka, sedikitpun aku tidak takut"
"Wah, masa orang berkelahi kau sangka orang main sunglap saja?"
Ujar Kang Lam dengan tertawa. Dan karena dia asyik mengoceh, ia menjadi tidak merasa bahwa beberapa dayangnya Thian Mo Kaucu sudah menguber sampai di sekitarnya.
"Nah, Hay-ji, sekarang kau juga saksikan permainan ayahmu ini"
Seru Kang Lam.
Dalam pada itu dua di antara dayang-dayang itu sudah lantas menubruk maju hendak mencengkram Kang Lam.
Mendadak Kang Lam tekap kepalanya dengan ke dua tangan sambil berlari-lari kian kemari dan berteriak-teriak.
"Wah, celakai pria dan wanita harus ada pembatasannya jangan kau pegang aku,jangan pegang-pegang"
Maka terdengar suara bret sekali, dayang sebelah kiri telah merobek sepotong baju dayang sisi kanan.
Menyusul lantas terdengar pula suara jeritan, dayang sebelah kanan juga telah betot secomot rambut dayang sebelah kiri Kiranya Kang Lam telah menggunakan Thian Lo Poh Hoat yang baru saja dipelajarinya dari Kim Si-ih untuk mempermainkan ke dua dayang itu hingga saling baku-hantam sendiri Karuan yang paling senang adalah Kang Hay-thian, ia tertawa cekakakan geli.
"Sudahlah, Kang Lam, marilah pergi"
Seru Si-ih tiba-tiba.
Dan sekali tarik, segera ia membawa serta Kang Lam melompat keluar pagar tembok.
segera Ki Hiau-hongpun melayang keluar menyusul sang kawan.
Melihat Kim Si-ih sudah bergabung dengan Ki Hiau-hong, sudah tentu Thian Mo Kaucu bertiga tidak berani mengejar lagi.
Sesudah turun sampai di kaki gunung ci Lay san, sementara itu hari sudah terang.
Si-ih dan rombongannya lantas mengaso sekedarnya di rimba rindang tepi jalan.
"Hay-ji,"
Seru Kang Lam kepada puteranya.
"Ketika di rumah setiap hari kau ribut ingin ayah carikan gurumu. sekarang sang suhu sudah di sini, mengapa kau tidak lekas menjura?"
Bocah itu benar-benar pintar juga, terus saja ia berlutut dan berkata.
"Banyak terima kasih atas pertolongan suhu yang telah menyelamatkan aku dari sarang musuh. Biarlah Tecu menjura tiga kali lebih banyak kepadamu"
Ia tahu kalau upacara mengangkat guru harus menjura sembilan kali, maka seluruhnya ia telah menjura 12 kali sampai batok kepalanya merah benjut.
"Baiklah, karena timbul dari hatimu yang murni, akupun tidak mencegah engkau, cuma ayahmu yang mungkin merasa menyesal,"
Ujar Si-ih dengan tertawa.
"Hahaha, Kang Lam ikut tertawa. Anak ini jauh lebih beruntung dari padaku. Kalau aku dapat mengangkat seorang guru baik seperti ini, aku bersedia menjura 100 kali"
Si-ih sangat sayang kepada Kang Hay-thian, segera ia menarik bangun bocah itu. Tapi mendadak ia tercengang sejenak seakan-akan melihat sesuatu apa atas diri anak itu. Tanyanya tiba-tiba.
"Apakah Thian Mo Kaucu itu pernah mengajarkan kepandaian apa-apa kepadamu?"
Maka Hay-thian menjawab.
"setiap malam wanita itu mengajarkan aku duduk bersila dan suruh aku melapangkan dada untuk mengambil napas perlahan-lahan. Entah apakah itu termasuk sesuatu kepandaian atau tidak?"
"Dan bagaimana rasanya sesudah kau lakukan?"
Tanya Si-ih pula.
"sehabis duduk bersila begitu, semula perutku terasa panas bagai dibakar dan aku mandi keringat,"
Demikian Hay-thian menjelaskan.
"cuma sesudah berkeringat, aku menjadi segar rasanya. Aku merasa tenagaku jauh bertambah. Benda yang semula aku tidak kuat mengangkat, kini sudah dapat kuangkat dengan mudah."
Kini Kang Lam sudah dapat melihat juga bahwa di antara ke dua alis anaknya itu lapat-lapat bersemu warna hijau. Ia terkejut, cepat tanyanya.
"Kim-tayhiap. iblis wanita itu telah mengajarkan dasar melatih Lwekang dari kalangan sia Pay. Apakah akan membahayakan diri anakku ini?"
"Tidak berhalangan,"
Sahut Si-ih.
"Cuma cara aku mengajarkannya nanti terpaksa harus ganti rencana. semula aku berharap dalam 10 tahun akan dapat memupuk dasar Lwekang-nya. Tapi kini mungkin cuma diperlukan tujuh tahun saja."
"Aneh, jika begitu, bukankah bermanfaat malah?"
Kata Kang Lam heran "Boleh juga dikatakan demikian,"
Sahut Kim Si-ih samarsamar.
"Yang sudah terang, Thian Mo Kaucu itu sangat sayang kepada anakmu ini."
Oleh karena tidak paham rahasia apa yang terkandung di dalamnya, namun dari jawaban Si-ih itu, Kang Lam menjadi lega.
Padahal Kim Si-ih justru merasa gegetun sekali.
Kiranya maksud Si-ih semula ialah ingin memulai ajarannya kepada Kang Hay-thian dengan Lwekang dari aliran cing Pay.
Apabila pondamen sang murid sudah kuat, barulah kemudian akan diberi ajaran ilmu silat yang paling bagus.
Tapi kini sekali mulai Hay-thian lantas dicekoki dengan Lwekang kalangan sia Pay, kalau mesti suruh dia belajar kembali dari awal, untuk mana bocah itu harus cuci otak dan ganti otot untuk melenyapkan kepandaian sia Pay yang sudah dipelajarinya itu.
Tapi karena usianya masih kecil.
daya tahan badannya tentu tidak seperti orang dewasa, kalau dipaksakan, mungkin akan merusak kesehatan bocah itu.
Maka terpaksa Kim Si-ih membiarkan apa adanya saja.
Sebab untuk belajar silat, dapat juga dimulai dengan melatih Lwekang dari Sia-pay.
bahayanya, bila sudah mencapai puncaknya.
besar kemungkinan akan "Cau-hwe-jip-mo"
Atau sesat napas dan salah urat hingga melumpuhkan diri sendiri.
Hal itu dahulu pernah dialami Kim Si-ih sendiri Beiknya sekarang Si-ih sudah berhasil meyakinkan puncak ilmu silat dari golongan Sia dan Cing.
terhadap bahaya "Cau-hwe-jip-mo"
Sudah bukan soal sulit baginya untuk mencegahnya.
Dan oleh karena alas dasar latihan Kang Hay-thian ini semula sudah salah, maka dikemudian hari terpaksa harus mengalami banyak rintangan yang berliku-liku dan pengalaman aneh.
namun akirnya toh jadi juga seorang mahaguru silat yang terkemuka.
Begitulah maka Kim Si-ih dan rombongannya lantas meneruskan perjalanan.
Sesuai dengan rentiana semula, mereka akan menuju ke Sohciu untuk mentiari Tan Thian-ih.
Sepandiang dialap Kang Lam terus mengotieh dengan riang gembira.
Sebaliknya Kim Si-ih tampak lesu seperti menanggung pikiran apa-apa.
Sesudah dialan setengah hari.
selagi Kang Lam hendak menanya.
namun tiba-tiba Si-ih sudah membuka suara.
"Tempat ini sangat dekat dengan Pek-hoa-kok (lembah beratus bunga), aku menjadi ingin berziarah kemakamnya Le Seng-lam. Bolehlah kalian jalan lebih dulu, segera tentu aku akan menyusul."
Meski dimasa hidupnya Le Seng-lam. gadis itu tidak disukai oleh Kang Lam. Tapi demi Kira Si-ih, mau juga ia berserobahayang kemakam gadis itu. Maka iapun menyalakan maksudnya itu.
"Baik juga."
Sahut Si-ih pelahan.
"Orangnya sudah meninggal, apa yang terjadl dahulu, baik suka maupun duka. biarlah dibuang jauh-jauh. Lebih banyak kawan yang berkunjung kemakamnya. kalau dia tahu dialam baka, tentu diapun akan senang."
Waktu magrib, sampailah mereka di Pek-hoa-kok.
Dari jauh sudah kelihatan tempat kuburan Le Seng-lam.
Kim Si-ih menjadi pedih terkenang pada kejadian dahulu Sesudah dekat.
tiba-tiba Ki Hiau-hong terkejut.
Si-ih terus berteriak juga.
"Hai. perbuatan siapa itu?' -cepat ia berlari kekuburan Le Seng-lam dan tertampak batu nisan yang didirikannya dahulu itu sudah roboh. Bahkan tulisan diatas Bongpay atau batu nisan itupun sudah tak karuan macamnya. Dahulu Kim Si-ih telah mengukir tulisan "kuburan isteri tercinta Le Seng-lam"
Diatas Bongpay itu. dan dipinggirnya terukir pula.
"persembahan Kim Si-ih". Kini keempat huruf terukir itu sudah hilang sama sekali, bahkan kata-kata "isteri tercinta"
Pada ukiran-ukiran tengah itupun sudah diratakan orang hingga tak terbaca.
Yang paling mengejutkan adalah diujung kuburan yang menggunung itu.
ternyata sudah terbuka satu celah-celah dan peti mati di-dalamnya sudah terbuka tutupnya.
isi peti matipun sudah kosong.
Kang Lam dan Ki Hiau-hong tidak berani bicara menghadapi kejadian luar biasa itu.
sedang wajah Kim Si-ih menjadi gelap dan beringas, ia termangu-mangu sedienak.
kemudian mendadak berteriak sambil menangis.
"O. Seng-lam. perasaanku kepadamu, hanya engkau yang mengetahui nada detik sebelum engkau menghembuskan napas pengabisan. Tapi sayang engkau sekarang tak-dapat bicara lagi bagiku dan cara bagaimana aku harus membela diri terhadap orang luar?"
Kang Lam menjadi bingung, ingin membujuk Si-ih meninggalkan kuburan, kuatir orang semakin berduka.
Terpaksa ia biarkan menangis sepunsnya.
lewat sebentar, sesudah tangis Kim Si-ih agak reda.
barulah Kang Lam dapat menghiburnya.
"Kim-tay-hiap. urusanmu dengan nona Le. para kawan tentu cukup paham duduknya perkara, pasti takkan ada orang yang akan mencela kesalahanmu."
"Tidak, kau tidak tahu. kau tidak tahu!"
Seru Si-ih tiba-tiba dengan pedih.
"Biarlah aku akan menjelaskan padanya". Kang Lam kaget, pikirnya.
"He. apakah pikiran Kim-layhiap menjadi gelap mendadak?' -Kiranya disangkanya maksud Kira Si-ih hendak menjelaskan isi ha tinya kepada Le Senglam. hal mana berarti Si-ih akan membunuh diri untuk men y usul kekasihnya itu dialam baka. Maka cepat Kang Lam menarik lengan baju Si-ih sambil berseru.
"Jangan. Kim-tayhiap. jangan"
"Kenapa jangan?"
"Aku harus pergi kesana untuk bicara yang lebih jelas padanya barulah hatiku bisa merasa tenteram. Kalian boleh meneruskan perjalanan dahulu, aku akan pergi ke Ci-lay-san lagi. dalam waktu satu-dua hari aku pasti akan dapat menyusul kalian."
Demikian kata Si-ih sambil mengipatkan pelahan lengan bajunya dan tinggal pergi.
Kang Lam tergentak jatuh oleh kebasan baju Si-ih itu.
Dan baru sekarang ia paham maksud Kim Si-ih itu bukan hendak menemui Le Seng-lam diakirat, tapi yg dimaksudkan ialah sipemuda baju hitam di Ci-lay-san itu.
Cepat ia merangkak bangun dan berseru pula.
"Kim-tayhiap. kenapa engkau mesti men-cari susah sendiri?"
"Sudahlah. Kang Lam."
Ujar Ki Hiau-hong.
"Selamanya kau tidak pernah mengalami hal-hal yang raenyedihkan. kau tidak paham perasaan seorang yang sedang dirundung rasa menyesal dan dendam. Pemuda baju hitam itu she Le. mukanya rada mirip Le Seng-lam pula. maka Kim-tayhiap telah menyangsikan dia adalah sanak keluarganya Le-kohnio."
"Sekalipun benar adalah sanak keularganya. lantas mau apa?"
Kata Kang Lam menggeleng kepala.
"Apakah kau belum dapat mengikuti krjadian ini?"
Tanya Hiau-hong.
"Menurut pendapatku. tulisan diatas batu nisan ini tentu pemuda she Le itu yang menghilangkannya dan tulang je-nazah nona Le tentu juga dia yang memindahkan. Meski kita menganggap Kim-tayhiap sudah memenuhi kewajiban dan setia kepada nona Le. tapi Kim-tayhiap sendiri justeru merasa berdosa padanya. ditambah lagi pemuda she Le itupun tidak bisa memaafkan padanya. sudah tentu ia sangat sedih. dan ingin sekali membela diri dalam peristiwa yang mengenaskan itu."
"Kepandaian Suhu begitu tinggi, mengapa tadi telah menangis?"
Tiba-tiba Kang Hay-thian bertanya. Kang Lam menjadi tertawa oleh kepolosan bocah itu. Sahutnya.
"Kau masih kecil kujelaskan persoalannya juga kau takkan paham."
Tabiat Hay-thian ternyata sangat berbeda dengan sang ayah.
biasanya jarang bicara.
tapi teguh keinginannya.
apa yang dia ingin tahu, ia harus bertanya sampai ada suatu jawaban memuaskari barulah mau sudah.
Maka ia terus menanya lagi.
Terpaksa Kang Lam menyahuti.
"Suhumu disebabkan oleh seorang wanita, wanita itu telah bikin susah padanya hingga dia berduka."
"Wah, kiranya wanita begitu menakutkan, kelak aku tidak berani dekat-dekat dengan kaum wanita,"
Demikian kata Haythian.
"Tak boleh juga disamaratakan, seperti aku dan ibumu, bukankah semuanya berjalan dengan baik?"
Ujar Kang Lam dengan tertawa.
"Ya. itu adalah rejekimu. Kang Lam."
Kata Hiau-hong dengan tertawa juga.
"Baik sekarang kita berangkat saja. ditengah suasana remang-remang begini, aku menjadi rada merinding berada ku-buran bobrok seperti ini."
"Haha. kusangka hanya aku yang merasa jeri. kiranya Kitoako juga takut pada arwah halusnya nona Le!"
Seru Kang Lam dengan tertawa.
Sembari berkata.
Haythian digendongnya lagi dan buru-buru meninggalkan Pek-hoa-kok itu.
Agar nanti Kim Si-ih mudah mencari dan menyusul mereka, maka Ki Hiau-hong dan Kang Lam menaruh kode-kode disepanjang jalan, pula mereka memperlambat kakinya.
sehari cuma puluhan li mereka tempuh.
Tiga hari kemudian.
Kim Siih masih belum nampak menyusul.
Sampai hari keempat.
Kang Lam menjadi kuatir.
sambil jalan berulang-ulang ia menoleh mengharapkan munculnya Kim Si-ih.
.Kang Lam."
Kata Hiau-hong.
"tak perlu kau gopoh. Mungkin Kim-tayhiap terhalang oleh urusan lain, tidak nanti dia meninggalkan kita."
"Aku justeru kuatir terjadi urusan lainnya."
Sahut Kang Lam.
"Dia menyalakan dalam satu-dua hari tentu akan menyusul kita. tapi kini sudah hari keempat. Didepan sudah kelihatan kota Yam-sia. kesana lagi sudah masuk wilayah Kangroh. tapi dia masih belum kelihatan. Dapatkah disebabkan dia terluka apa-apa?"
"Pasti tidak."
Ujar Hiau-hong.
"Biarpun dikeroyok Tbian-mokancu bertiga, paling tidak juga Kim-tayhiap akan sama kuatnya menempur mereka. Aku justeru tidak kuatir badannya terluka. tapi kuatir kalau hatinya yang terluka. Diharap saja dia dapat bertemu dengan pemuda shc Le itu untuk menghilangkan rasa dendam orang itu kepada Kim-tayhiap."
Bicara sampai disini. mendadak Kang Lam melonj.H sambil berseru.
"Itu dia, Kim-tayhiap sudah kembali. Hai. apakah engkau bertemu dengan orang itu?"
Benar juga, sekejap kemudian Kim Si-ih sudah tiba sampai didepan mereka. Tapi wajahnya tampak muram durja.
"Apakah orang-orang Thian-mo-kau itu sudah angkat kaki semua dari sarang mereka?"
Tanya Ki Hiau-hong. Nyata. sebagai seorang kawakan Kangouw, tebakan Ki Hiau-hong itu tepat dengan apa yang sudah terjadi. Sahut Kim Si-ih.
"Benar, bahkan rumah-rumah disanapun sudah dibakar semua. Ai. rupanya mereka sudah menduga aku akan datang kembali ke-sana. dan tidak sudi bertemu lagi dengan aku."
"Bukan mereka tidak sudi bertemu dengan kau, tapi mereka takut menemui kau, makanya mereka menghindari kau", ujar Ki Hiau-hong.
"Tapi kembaliku kesana kali ini toh tiada punya maksud jahat,"
Kata Si-ih.
"Memang, tapi darimana mereka dapat mengetahui maksudmu itu?"
Sahut Hiau-hong."
Kemarin dulu kita sudah bikin rusuh di-sana. bahkan engkau telah menghajar Bun-tocu itu. Mereka insaf tak mampu melawan engkau, maka takut kalau kau datang kembali mengobrak-abrik sarang mereka."
Sebagai seorang kawakan Kangouw. sudah tentu Kim Si-ih paham hal itu. namun hatinya tetap merasa masgul.
"Sayang Kok-lihiap tidak berada disini."
Tiba-tiba Kang Lam menimbrung.
"dan aku terlalu goblok pula. maka tidak tahu bagaimana harus menghibur engkau. Eh. aneh. waktu Koklihiap menghantar kita turun gunung tempo hari, dilangit ada segumpal awan menutupi sang surya, dan sekarang ada pula segumpal awan seperti itu. Ah. baiklah sekarang, awan itu sudah lewat. Aha, aku menjadi ingat syair apa-apa yang pernah diuraikan Kok-lihiap itu tentang awan mendung segala, aku tidak paham maksud syairnya, tapi terang dia telah menasihatkan engkau harus besarkan hati dan melapangkan dada. Aku tidak pintar bicara. terpaksa gunakan ucapan Koklihiap itu untuk menghibur engkau."
Karena kata-kata Kang Lam ini, Si-ih menjadi teringat pada suasana diwaktu Kok Ci-hoa menghantar keberangkatannya tempo hari.
sesaat itu telinganya seakan-akan berkumandang pula pesan Kok Ci-hoa yang penuh berisi filsafat orang hidup itu.
Berpikir sampai disini, sinar mata Kim Si-ih yang tadinya buram itu kembali bercahaya lagi.
katanya dengan mengangguk.
.aa.
benar, syukur kau telah menyadarkan aku.
Orang hidup kalau ada seorang yang dapat memahami perasaanmu, tidak perlu peduli oce han orang lain lagi."
Sejak itu Si-ih tidak pernah meniebut lagi tentang kejadian Le Seng-Lam dahulu, bahkan tentang Thian-mo-kaucu dan lain-lain yang ada sangkut-pautnya dengan Le Seng-lam juga dihindarinya untuk dibuat bicara.
Begitulah mereka lantas melanjutkan perjalanan.
Suatu hari.
tibalah mereka sampai dikampung halamannya Tan Thian-ih.
Yaitu sebuah dusun bernama "Bok-tok"
Yang indah per mai pemandangannya kira 50 li ditimur kota Sohciu.
Kang Lam pernah tinggal beberapa tahun didusun itu.
kini dapat mengunjungi lagi.
ia menjadi sangat senang.
Sepanjang jalan ia berjingkrak dan melompat-lompat kesini kesana sambil menuding kian kemari untuk bercerita kepada anaknya tentang dimana dahulu ia suka mencari jangkrik.
dimana ia suka menangkap kupu-kupu dan ditepi empang sana ia suka mancing ikan".
"Haha. sama sekali engkau tidak mirip lagi sebagai seorang ayah. tapi lebih mirip anak kecil yang nakal."
Kata Ki Hiauhong dgn tertawa. .Memang. Toako. sahut Kang Lam tertawa.
"Waktu kecil. aku memang jauh lebih nakal dari dia. Setiap penduduk didusun ini tiada seorangpun yang tidak kenal aku."
Namun rasa gembira Kang Lam itu tidak tahan lama, ketika sam pai didepan rumah tinggalnya Tan Thian-ih, ia menjadi kaget, rasa riang gembiranya tadi seketika lenyap semua, sebaliknya perasaannya penuh diliputi tanda tanya?
Ternyata pintu gerbang rumah keluarga Tan itu tertutup rapat, bahkan daun pintu ada beberapa jalur celah bekas bacokan sen jata tajam.
Di bawah emper penuh sarang labahlabah.
Ketika Kang Lam ketok-ketok pintu itu.
segera tangannya penuh debu dan dengan sen dirinya tiada suara sahutan juga dari dalam.
Melihat gelagatnya, pintu itu entah sudah berapa lamnya tertutup rapat.
Kang Lam saling pandang dengan Si-ih dan Hiau-hong.
mereka heran dan curiga apa yang terjadi atas keluarga Tan itu?
Tiba-Tiba terdengar ada suara orang berseru.
"Hai. bukankah engkau ini adalah engkoh cilik Kang Lam?"
Waktu Kang Lam menoleh, segera dikenalnya orang itu adalah kebayan kampung itu Ong-lauthau atau sikakek Ong. Cepat ia me nyahut.
"Benar, aku adalah Kang Lam, aku sudah pulang sekarang!"
"Apakah Tan-kongcu yang suruh kau pulang kesini? Baguslah jika begitu!"
Kata sikakek Ong.
"Kalau kau tidak lagi kembali, mungkin genting dan bala rumah inipun bakal diangkut pergi orang."
Kang Lam semakin curiga. tanyanya cepat.
"Dimanakah Giheng-!m' Dia sudah tidak tinggal disini?"
Sudah tentu Ong-lauthau terkejut juga. tanyanya.
"Jadi bukan Tan-kongcu yang suruh engkau pulang kesini? Dan kedua tuan ini"
"Mereka adalah kawanku, dan ini adalah anakku,"
Kata Kang "Hai, Nyo-losam! Masih kenal tidak pedaku? Aku Kang Lam yang ceriwis itu, ingat tidak?"
Demikian Kang Lam menerocos menegur sikakek itu.
"O. anakmu?"
Sikakek menegas.
"Ya. sang waktu memang sangat cepat lalunya. tahu-tahu anakmu sudah sekian besarnya. Baiklah kalau kau kembali tingggal disini saja, rumah ini sudah lama tiada yang mengurus."
Usia kakek Ong itu sudah lanjut.
bicaranya suka berteletele, omong kesana-kesini belum juga mengenai soal pokoknya.
Kalau diwaktu biasa, tentu Kang Lam akan suka obrol dengan dia, tapi sekarang ia sudah tak sabar lagi.
Setelah memikir scjenak, segera katanya.
"Marilah kita bicara didalam saja, akupun ingin lihat rumah ini sudah berubah seperti apa macamnya?"
Terus saja ia merusak gembok pintu dan membukanya.
Maka terciumlah bau apek yang menusuk hidung, keadaan dalam rumah itu sudah bobrok, jauh lebih rusak daripada sangkaan Kang Lam.
Dipelataran samping sana rumput tumbuh tak terawat, lukisan dan barang-barang antik hiasan ruangan tamu sudah tidak kelihatan lagi.
almari dalam kamarpun sudah terbuka, isinya hampir kosong semuanya.
hanya ketinggalan beberapa buah perabot rusak dan di pojok ruangan terdapat setumpuk sampah.
Ia menjadi heran melihat suasana rumah itu tiada sesuatu tanda yang mencurigakan Tanyanya kepada sikakek Ong.
"Sebenarnya sejak kapankah Cibengku pindah dari sini? Apakah sama sekali dia tidak meninggalkan pesan apa-apa kepada sanak paraili dan para tetangga? Pula kedua pelayannya yang tua itu kemana lagi pergi nya?"
"Kapan Tan-kongcu pindah rumah, hari yang pasi tiada seorangpun yang tahu."
Demikian tutur sikakek.
"Tiuma kira-kira dalam bulan sembilan tahun yang lalu. selama beberapa hari berturut-turut. pintu keluarga Tan ini selalu tertutu. karena itu orang luar lantas mulai curiga dan ribut membicarakannya. Namun keluarga Tan adalah bekas pembesar negeri, maka siapapun tiada yang berani sembarangan masuk. Akirnya seorang pamilinya iang menjadi pembesar dikotapun mendengar kabar, lalu dilaporkan kepada ti-koan (bupati), segera Tikoan datang sendiri kemari dan barulah pintu rumah ini berani dibuka untuk diperiksa."
"Apa yang terlihat waktu itu?"
Tanya Kam Lam cepat.
"Seorang pelayan tua sudah mati kaku diatas pembaringannya, mayatnya sudah hampir membusuk. Sesudah Tikoan memeriksa jenazah pelayan. tapi tiada sesuatu tanda mencurigakan dikete-mukan. Kecuali pelayan tua yang mati itu. tiada seorang lain pula."
Demikian tutur sikakek.
"Terpaksa Tikoan suruh mayat pelayan itu dikubur dan melarang siapapun membuka rumah ini tanpa ada perintah, hanya boleh dibuka kalau ada anggota keluarga Tan yang pulang." -Sampai disini. ia merandek. lalu katanya pula dengan tertawa kepada Kang Lam.
"Aku tahu dimasa hidupnya Tan-loya telah menerima engkau sebagai anak angkatnya. maka kau dapat dianggap sebagai anggota keluarga Tan, dari itulah aku berani masuk kesini bersama engkau."
Menyusul sikakek bercenta pula.
"Malahan waktu itu dipintu luar sana ditempel kertas segel Tikoan, tapi sesudah sekian lamanya. kehujanan dan kepanasan, kertas segel itu sudah hilang."
"Tadi kau bilang selain pelayan yang mati itu tiada orang lain lagi. lalu pelayan tua yang satu lagi kemana?"
Tanya Kang Lam kemudian.
"O, itulah Nyo-losam,"
Sahut sikakek Ong.
"Ya, dimana dia sekarang?"
Tanya Kang Lam tak sabar.
"Dia menjaga kuburan keluarga Tan ini."
Tutur Ong-lauthau "Ai. nasibnya pun sangat menyedihkan. meski kau ketemu dia ju ga percuma. Apakah engkau ingin tahu keadaannya?"
Sampai disini Kang Lnm sudah sangat gopoh, kuatir kalau ce-rita kakek itu lebih tele-tele lagi, segera ia berkata.
"Onglaupek. terima kasihlah atas semua keteranganmu ini. Tentang Nyo-losam, biarlah aku akan menemuinya sendiri untuk tanya lebih jetas. Maafkan sekarang juga kami akan kesana!"
Habis berkata, buru-buru ia gendong pula anaknya dan berlari keluar dengan diikuti Kim Si-ih dan Ki Hiau-hong menuju ketanah pekuburan keluarga Tan.
Dari jauh mereka masih mendengar Sua ra menghela napas gegetun sikakek Ong.
Saking tergesa-gesa, sepanjang jalan kalau ketemu kenalan lama Kang Lam hanya menyapa sekedamya saja terus dilalui dengan ce pat hingga menimbulkan rasa heran orang.
Tidak lama.
tibalah mereka ditanah pekuburan keluarga Tan.
Tan Ting-ki.
ayahnya Thian-ih.
sudah meninggal tahun dulu.
maka Thian-ih telah mempersatukan kuburan ayahnya itu dengan sang ibu.
Disamping sana masih ada pula sebuah kuburan lama.
yaitu kuburannya Sangpii.
puteri, Tusi dari sekte casa di Tibet.
Dahulu waktu Tan Ting-ki ditugaskan menjadi Duta yang berkedudukan disekte casa didaerah Tibet.
Tusi kepala suku disanaa telah memaksa Thian-ih memperisterikan puterinya itu.
tapi Thian-ih tidak sudi dan setelah timbul berbagai kesulitan, akirnya ia melarikan diri.
Kemudian Sangoii telah menyusul sampai dirumah-nya Thian-ih dan melukai isterinya.
yaitu Yu Ping.
lalu membunuh diri dengan panah beracun.
Sebab itulah Thian-ih telah mengubur gadis malang itu dengan kehormatan sebagai isterinya.
Begitu menginjak tanah pekuburan itu.
Kim Si-ih lantas heran juga.
katanya "He, disini pernah kedatangan tamu dari jauh!"
"Darimana engkau tahu. Kim-tayhiap?"
Tanya Kang Lam.
"Lihatlah!"
Sahut Si-ih sambil menuding kedepan.
"bukankah itu adalah bunga Kinkulai yang cuma terdapat diwilayah Tibet dan benua barat?"
Bunga Kinkulai yang dikatakan itu bila mekar besarnya sebagai mangkok.
berwarna kuning emas.
Mungkin karena tumbuhnya dipindah kedataran Sohciu situ.
maka sekarang cuma sebesar cangkir.
warnanya juga agak muda Tapi dari bau harumnya yang punya ciri kas.
Dengan mudah lantas dapat dikenal.
Maka kata Kang Lam.
"Ya, benarlah, aku menjadi teringat Sangpil itu paling suka pada bunga ini. Apa barangkali kejadian dirumah Giheng itu disebabkan Tusi dari sekte casa itu telah mengirim orangnya untuk membalaskan sakit hati puterinya ini?"
"Ilmu silat Thian-ih dan isterinya bukan sembarangan orang dapat mengalahkannya. kalau cuma seorang Tusi kecil sekte casa saja rasanya takkan mampu mengundang jago kosen untuk mengalahkannya."
Demikian kata Si-ih.
"Tapi urusan ini memang Agak aneh!"
"Baiknya Nyo-losam tinggal disini. kita dapat menanya padanya."
Ujar Kang Lam. Dibelakang kuburan Sangpii itu adalah sebuah gubuk. Sedang mereka bicara. dari gubuk itu telah muncul seorang tua. Itulah dia Nyo-losam adanya. Kang Lam menjadi girang, segera serunya.
"Hai. Lau Nyo. aku sudah kembali! He. kenapakah kau? Apa sudah tidak kenal padaku lagi?"
Ternyata sepasang mata Nyo-losam itu tampak mendelik melulu, sikapnya tiada ubahnya seperti seorang gendeng.
Lewat agak lama.
agaknya dia seperti ingat pernah kenal Kang Lam.
maka kedenga ran mulutnya bersuara "ah-uh-ah-uh", namun tiada seorang pun yang paham apa yang sedang dia ucapkan?
Pada saat itulah.
tiba-tiba ada seorang anak tanggung berusia belasan tahun ikut berlari keluar dari gubuk itu.
Segera bocah itu berseru.
"Hai. engkoh Kang Lam. jadi engkau sudah kembali! Apakah engkau tahu dirumah keluarga Tan sudah terjadi sesuatu?"
"Eh, kiranya kau. Siau-nyo-cu."
Sapa Kang Lam.
ia kenal bocah itu adalah keponakan jauh si Nyo-losam "Tentang keluarga Tan aku sudah mendengar tadi.
Aku justeru lagi ingin tanya Em-pekmu.
tapi mengapa Empekmu telah berubah seperti ini?"
"Empek disuruh menjaga pekuburan ini sejak tahun yang lalu."
Sahut anak itu.
"Dan sesudah terjadi apa-apa atas keluarga Tan, ia lantas berubah menjadi begini. Dan oleh karena itu juga. makanya aku tinggal mengawani dia disini. Pekerjaan sehari-hari masih dapat dilakukan Empek. cuma pikirannya yang agak kurang beres, tuli dan bisu pula. Aku pernah juga mengundang tabib untuk mengobati dia, tapi tiada seoracgpun tahu penyakit apa yang dia derita?"
Tiba-Tiba Kim Si-ih ulur jari tengahnya dan menjentik sekali di "Yau-im-hiat"
Dibelakang telinga Nio-losam.
Kakek itu terus saja menjerit sekali, tiba-tiba ia dapat merangkul Kang Lam dan meag gerung menangis Kberapa kali.
suaranya begitu menyeramkan hingga mirip gerungan binatang buas dimalam sunyi yang mengerikan.
Saking terharu Kang Lam meneteskan air mata.
tanyanya.
"Lau Nyo. siapakah yang telah menganiaya engkau, coba ceritakanlah. tentu aku akan membalaskan sakit hatimu. Aku adalah Kang Lam, kau sudah ingat belum? Jika kau tak bisa bicara. silahkan menulis saja." -Ia masih ingat Nyo-losam itu melek huruf, maka disuruhnya menulis untuk menceritakan apa yang sudah terjadi. Namun pikiran Nyo-losam itu seakan-akan cuma sadar sekejap saja, lalu sorot matanya buram lagi dan mendorong pergi Kang Lam dengan pandangan yang kaku. suaranya juga tidak jelas lagi seperti tadi.
"Dia telah kena ditutuk Nay-hay-hiat secara keji oleh orang, untuk menyembuhkan dia terang tiada mungkin lagi."
Ujar Silh dengan menghela napas gegetun.
"Habislah sudah harapan kita satu-satunya."
Kata Kang Lam dengan putus asa.
"Nio-losam iang merupakan satu-satunya orang yang dapat menerangkan, kini sudah cacat untuk selamanya, lalu nasib Gi-hengku itu siapa lagi mengetahuinya?"
"Habis urusan sudah begini, apa daya lagi?"
Sahut Si-ih.
"Rasa nya juga percuma kita tinggal disini, lebih baik marilah kembali ke Bin-san saja."
Sejak kecil Kang Lam sangat diperhatikan oleh Nyo-losam.
maka ia menjadi terharu melihat nasib orang tua itu.
Ia tinggalkan belasan tahil perak kepada keponakan Nyo-losam sekedar balas jasanya.
Lalu bersama anaknya mereka menjura didepan kuburan Tan Ting-ki.
kemudian barulah tinggal pergi.
Sepanjang jalan sekarang bergilir Kang Lam yang merasa masgul.
ia tiada semangat untuk berkelakar lagi seperti waktu datang.
"Kim-tayhiap, menurut pendapatmu. apakah mungkin adalah perbuatan Thian-mo-kaucu itu?"
Tiba-tiba Ki Hian-hong menanya.
"Berdasarkan apa engkau mentafsirkan begitu?"
Tanya Si-ih.
"Ilmu menutuk Nau-hay-hiat hingga sang korban menjadi gendeng kalau tidak salah cuma terdapat dalam kitab silat tinggalan Kiau Pak-beng itu. dijaman ini orang yang mahir ilmu Tiam-hiat hu rasanya tidak banyak."
Ujar Hiau-hong.
"Ya. semula akupun menduga begitu,"
Kata Si-ih.
"Tapi sesudah kupikir lagi. perbuatan ini belum tentu dilakukan Thian-mo-kaucu itu."
"Atau mungkin juga sipemuda baju hitam she Le itu?"
Kata Hiau-hong.
"Lebih-Lebih tidak mungkin."
Sahut Si-ih."
"Jika begitu, siapakah gcrangannya menurut pendapatrau?"
Tanya Kang Lam tak sabar.
"Pada saat ini aku memang mempunyai suatu dugaan."
Sahut Si-ih.
"Tapi urusan yang belum ada bukti nyata. aku tidak ingin membicarakannya lebih dulu. Pendek kata dalam urusan Thian-ih ini sudah pasti aku tidak berpeluk tangan."
"Aku hanya kuatirkan keselamatan mereka saja."
Kata Kang Lam.
"Kukira tak sampai terjadi apa-apa. boleh jadi mereka telah menghindari kesulitan itu ketempat jauh."
Ujar Si-ih.
Biasanya Kang Lam paling percaya terhadap apa yang dikatakan Kim Si-ih.
meski apa yang dia duga tidak lantas diberi pen-jelasan.
tapi Kang Lam sudah merasa lega, hanya tinggal sedikit keraguan saja.
yaitu bila Thian-ih suami-isteri benar-benar terancam oleh musuh tangguh, mengapa tidak minta bantuan kepada Siau-lim-pay atau Bin-san-pay yang berdekatan, sebaliknya malah menyingkir jauh ketempat yang belum diketahui?
Seumpama pergi dengan tergesa-gesa.
namun sampai kini sudah hampir setahun, seharusnya dia dapat mengirim sesuatu kabar padaku.
Sudah tentu keraguan Kang Lam itu kecuali Thian-ih tiada seorangpun lagi yang dapat memberi jawaban.
Terpaksa Kang Lam ikut Si-ih dan Hiau-hong kembali ke Bin-san dengan tanda-tanda tanya tersebut.
Sampai di Bin-san.
Kok Ci-hoa ikut heran juga mendengar ceritanya Si-ih itu.
Katanya.
"Ini benar-benar aneh. diantara kawan-kawan kita cuma Thian-ih yang mungkin dapat membnca tulisan diatas kulit itu. kini dia telah menghilang, maka rahasia pribadi Lian-ji menjadi susah pula untuk disingkap."
"Akirnya aku pasti dapat menemukan kembali Thian-ih,"
Ujar Si-ih.
' Baiknya sekarang Thian-mo-kau juga tak kedengaran lagi.
sesudah mengalami kejadian-kejadian itu.
rasanya merek"pun tidak berani mengacau lagi kesini.
Engkau dapat mendidik Lian-ji dengan tenang, bocah itu mempunyai bakat yang bagus, kelak pasti dapat mengembangkan perguruanmu ini."
Begitulah untuk sementara Kira Si-ih lantas tinggal di Binsan.
Ia sudah berjanji pada Ki Hiau-hong untuk tukar pikiran dari berbagai ilmu silat Cing dan Sia yang yang mereka yakinkan.
Diantara ilmu-ilmu silat yang pernah dicuri Ki Hiauhong dari berbagai golongan itu.
memang ada juga sebagian yang tidak dikenal Kim Si-ih.
maka ilmu silat ciptaannya kini menjadi lebih lengkap dan sempurna.
Sebaliknya manfaat yang diperoleh Ki Hiau-hong dalam pertukaran pikiran itu jauh lebih banyak pula.
Cuma sayang usianya lebih tua.
banyak ilmu-ilmu tertinggi diantaranya sudah tidak dapat dilatihnya lagi.
Dari itu.
biarpun cita-cita tinggalan gurunya -Beng Sinthong -agar melebur ilmu-ilmu silat Cing dan Sia menjadi satu tercapai.
namun kepandaiannya selama hidup toh takdapat mencapai tingkatan seperti Kim Si-ih.
Selang tiga bulan.
Si-ih dan Hiau-hong sudah saling tukar pikiran dari semua yang mereka pelajari.
Kang Lam juga buruburu ingin pulang, ia mengundang Si-ih kerumahnya untuk mengajar anaknya.
Si-ih terima undangan itu dan mohon diri kepada Kok Ci-hoa dan Ki Hiau-hong.
perpisahan kembali ini sudah tentu menimbulkan pula rasa haru yang susah dikatakan "
Sejak itu Kim Si-ih lantas tinggal dirumahnya Kang Lam dan mentiurahkan perhatiannya untuk mengajar muridnya -Kang Hay-thian.
Oleh karena Hay-thian sudah ketelanjur dipupuk dengan dasar Lwekang dari Sia.-pay.
yaitu ajaran Thian-mo-kaucu.
terpaksa Si-ih mengambil jalan lain dan mengajar muridnya itu dengan sari Lwekang Cing dan Sia.
agar sesudah alas dasar bocah itu sudah kuat.
barulah akan diberi pelajaran ilmu pukulan dan pedang.
Dengan tanpa terasa, dua tahun sudah lalu dengan cepat.
Kini kepandaian Kang Haythian sudah sanggup menandingi ayahnya dengan sama kuat.
Sampai tahun ketiga, pada suatu malam.
tiba-tiba Kim Si-ih berkata kepada Kang Lam.
"Sudah tiba saatnya kini aku harus berangkat. Alas dasar Hay-thian sudah terpupuk kuat. Selama dua tahun ni aku sudah tulis sebanyak 13 helai dari rencana pela-jaranku kepadanya. selanjutnya dia dapat melatihnya sendiri menurut urut-urutan rencanaku itu. Akupun sudah minta bantuan Ki-toako agar setiap tahun suka mengunjungi rumahmu sekali. Dan kalau Hay-thian ada yang kurang paham, bolehlah minta petun-juk pada Ki-toako."
"Apakah engkau hendak pergi menyelidiki jejaknya Gihcngku suami-istery?"
Tanya Kang Lam.
"Ya. itupun merupakan salah satu tujuan dari sebabnya aku tinggalkan sini."
Sahut Si-ih.
"Kecuali itu. aku masih ada pula urusan lain. Aku sudah tinggal selama dua tahun disini. entah diluar sana sudah terjadi apa lagi yang tak kita ketahui?" -Setelah berkata, kembali ia menghela napas. Kang Lam tidak mengarti mengapa orang merasa masgul. tapi mendengar Si-ih hendak pergi mencari jejaknya Thian-ih dan isterinya. betapapun ia sangat girang juga. Maka katanya.
"Ya. memang seharusnya sudah dulu-dulu kita mencari mereka. Tapi karena anakku hingga telah membuang tempomu selama dua tahun. Harap saja tidak lama lagi engkau sudah dapat kembali bersama mereka."
"Jangan engkau terlalu memandang enteng terhadap urusan ini."
Ujar Si-ih.
"Kepergianku ini masih belum dapat dipastikan kapan baru dapat pulang lagi."
"Kalau tak tahun ini, biar kutunggu lagi sampai tahun depan, beberapa hari yang lalu Siang-he baru saja mengolah seguci Kui-hoa-ciu (arak bunga cempaka), kebetulan dapat menunggu kembalimu kelak untuk dim/inum."
Nyata Kang Lam sangat mempercayai Kim Si-ih.
ia yakin tidak sampai dua tahun tokoh itu pasti akan datang lagi.
Melihat kesungguhan Kang Lam itu, Si-ih menjadi tidak tega ynengucapkan lagi kata-kata yang mengecewakan, cuma diam-diam ia menghela napas pula.
"Apakah sekarang juga engkau hendak berangkat? Mengapa tidak menanti sampai terang tanah agar Hay-thian sempat menghantar kepergianmu ini."
Ujar Kang Lam.
"Aku justeru tidak ingin diketahui olehnya. kuatir kalau dia tidak mau melepaskan kepergianku."
Sahut Si-ih. Kiranya Kang Hay-thian sangat cinta pada gurunya itu. Selama dua tahun boleh dikata setiap saat senantiasa berada didamping sang guru..Kemudian Si-ih berkata pula.
"Kecuali ke-13 helai tulisanku tentang pelajaran melatih ilmu silat tadi. aku masih ada pula dua macam barang hendak ditinggalkan untuk Hay-thian." -Sembari berkata ia lantas menanggalkan Cay-in-pokiam yang di-pakainya itu. lalu mengeluarkan pula Pek-giok-kah (jaket kemala putih) dan diserahkan kepada Kang Lam. Karuan Kang Lam menjadi gugup, katanya cepat.
"He. mana boleh jadi begini, seorang anak kecil. mana boleh menerima dua benda mestika yang tiada taranya ini?"
Dengan tertawa kata Kim Si-ih.
"Ini adalah dua diantara ketiga benda pusaka tinggalan Kiau Pak-beng. Semula sebenarnya aku tidak ingin ambil barang tinggalannya ini. Cuma secara kebetulan benda-benda ini jatuh ditanganku. Apalagi untuk seterusnya aku sudah tidak perlu memakai Pokiam lagi. kalau aku tidak berakan kepada muridku, lantas berikan kepada siapa? Cuma. tidak se-luruhnya juga kuberikan kepadanya, Pek-giok-kah ini kuminta dia menyerahkan kepada seorang lain lagi".
"Memangnya sebuah benda mestika Ini sudah beruntung bagi-nya."
Sahut Kang Lam. Lalu tanyanya.
"Dan Giok-kah Ini akan diberikan kepada siapa?"
"Bila Hay-thian kelak sudah dewasa, suruhlah dia menghantar Ciok-kah ini ke Bin-san dan serahkan kepada Kok Tiong-Iian, harus menyerahkannya dengan tangan sendiri."
Kang Lam mendjadi heran. tanyanya pula.
"Jika engkau sudah ada matan hendak memberikan benda ini kepadanya. mengapa waktu engkau di Bin-san dulu tidak kau berikan kepadanya sebagai hadiah perkenalan?"
"Hadiah ini kalau diterimakan melalui tangan anakmu barulah tinggi nilainya."
Kata Si-ih dengan tertawa.
"Lagipula jangan buru-buru dihantarkan, tapi tunggu kalau puteramu sudah dewasa nanti. Sekarang kau paham tidak?"
Baru sekarang Kang Lam mengarti apa maksud Kim Si-ih itu. Ia terbahak-bahak.
"Hahaaa! Kiranya sang guru hendak menjadi com-blang bagi si murid. Cuma anakku entah punya rejeki sebesar itu tidak?"
Begitulah sesudah selesai Kim Si-ih memberi pesan seperlunya.
kemudian ia lantas berangkat.
Besok paginya, ketika Kang Hay-thyan diberitahu tentang ke-pergian gurunya itu, bocah itu lantas menangis sedih .
Kalau semula Kang Lam mengira selekasnya Kim Si-ih dapat kembali lagi kerumahnya situ.
namun tunggu punya tunggu, dengan cepat tiga tahun sudah lalu.
dan bayangan Kim Si-ih tetap belum kelihatan, bahkan setitikpun tiada kabar beritanya.
Selama tiga tahun itu, meski Hay-thian ditinggalkan gurunya.
namun latihannya sama sekali tidak pernah kendor.
Terkadang Ki Hian-hong suka mengunjunginya juga dan memberi prtunjuk bilamana ada yang kurang dipahami Kang Hay-thian.
Ke-13 helai Lian-kang-pit-keat atau kunci melatih ilmu silat yang ditulis Kim Si-ih itu memang sengaja ditujukan untuk Kang Hay-thian.
Oleh karena dasar Lwekang yang dilatih bocah itu di peroleh dari aliran Sia, terpaksa langkah-langkah selanjutnya yang diajarkan Si-ih kepadanya itu harus disesuaikan juga menurut alas dasarnya itu.
Sudah tentu Ki Hian-hong tahu hal itu.
maka ia dapat memberi petunjuk kepada Hay-thian.
Dan tiga tahun sesudah perginya Kim Si-ih.
kemajuan Hay-thian sangat pesat, kini Kang Lam sendiri tak sanggup lagi melawan puteranya itu.
Tentu saja Kang Lam sangat girang oleh kemajuan sang putera.
Tapi karena tetap belum nampak kembalinya Kim Siih.
rasa girang itu tidak dapat menghilangkan rasa kuatirnya pula.
Suatu bari.
setelah menyaksikan latihan puteranya, berkatalah Kang Lam kepada Ce Siang-he.
yaitu isterinya.
"Aku menghutang budi kepada keluarga Tan. sedangkan sampai harini Kim-tayhiap masih belum dapat mencari jejaknya Gihengku, maka aku ingin sekali pergi mendiri untuk mencarinya Baiknya Hay-ji sekarang sudah meningkat besar, bahkan kepandaiannya sudah melebihi aku. maka dapatlah dia menjaga rumah, biarpun ada orang sebangsa kawanan Thianmo-kau dan sebagainya, tentu ia sudah cukup kuat untuk membantu kalian ibu dan anak (maksudnya Nyo Liu-jing dan Ce Siang-he) untuk mengenyahkan musuh'.' Melihat sang suami sudah membulatkan tekad maksudnya itu. apalagi orang Bu-lim paling mengutamakan budi sedia kawan, dengan sendirinya Siang-he tidak enak merintanginya. Namun aneh juga. sekali Kang Lam sudah berangkat, seperti juga Kim Si-ih. iapun tiada kabar beritanya sama sekali. ---oo0dw0ooo---Sang waktu lewat dengan cepat, tahu-tahu tiga tahun sudah lalu puta. Kini Kang Hay-thian sudah berusia 16 tahun. Karena se-jak kecil sudah melatih silat, maka perawakannya kekar dan tegap mirip orang dewasa saja. Bicara tentang kepandaiannya. se-jak dia angkat guru pada Kim Si-ih. sudah cukup delapan tahun ia melatih silat, dan ke-13 helai iktisar ilmu silat ajaran Kim Si-ih itupun sudah dilatihnya hingga matang betul-betul. terutama mengenai Lwekang, oleh karena sistim yang digunakan Kim Si-ih ada lah sistim cepat, maka latihannya selama delapan tahun itu sudah sama kuatnya seperti orang lain melatih 30 tahun. Bahkan dikala Ki Hiauhong menjajal-jajal keponakannya itu, terkadang iapun me rasa kewalahan. Karena sudah tamat belajar. timbul juga pikiran Kang Haythian untuk mencari guru dan ayahnya yang sudah lama pergi. tanpa kabar itu. Ia lantas berunding dengan sang ibu dan neneknya.
"Aku sendiripun sangat menguatirkan ayahmu yang tiada sesuatu kabar sejak perginya itu."
Demikian kata Siang-he.
"maka cita-cita mu ingin mencari ayah ini patut dipuji. Dengan ilmu silatmu sekarang untuk berkelana, betapapun aku dapat merasa lega. Cuma aku kuatir pengalamanmu yang masih tietek, bukan mustahil kau akan banyak menghadapi kesulitankesulitan dalam perjalanan, maka dalam berbagai hal kau perlu berlaku hati-hati."
Nyo Liu-jing ternyata lebih bijaksana daripada puterinya itu. katanya dengan tertawa.
"Segala pengalaman Kangouw adalah ke-luar dari gemblengan, orang muda kalau menderita sedikit juga tidak mengapa. Engkongmu dulu menjagoi Bu-lim dan namanya sangat tersohor, puteramu terhitung juga keturunan keluarga Nyo. maka tepatlah jika suruh dia pergi cary pengalaman untuk mengembangkan kembali nama kebesaran leluhur itu!"
"Aku tidak ingin mencari nama, tapi tujuanku ialah mencari ayah dan Suhu agar dapat menambah pula sedikit kepandaianku."
Ujar Hay-thian."
Cuma dunia ini terlalu lebar, entah kemana aku harus mencari mereka, maka mohon Popo suka memberi petunjuk."
Nyo Liu-jing memikir sejenak. kemudian katanya.
"Hubungan Tan Thian-ih dengan Teng Keng-thian sangat rapat, tentu ayahmu akan mencari kabar kesana. Dari itu. lebih dulu kau boleh menu-ju kepegunungan Tengra sana u-.tuk nenjumpai ayahnya Keng-thian. yaitu tokoh utama dalam Bu-lim dijaman ini. Teng Hiau lan. Tahu kalau kau adalah cucu-Iuarku. tentu dia akan melayani kau dengan baik dan membantu dimana perlu". Setelah menerima petua itu. segera Hay-thian bebenah seperlu-nya. membawa serta Pokiam dan Pek-giok-kah titipan Kim Si-ih dahulu. Lalu berangkat. ---ooo0dw0oo---Tatkala itu sudah akir musim semi. dipegunungan Bin-san tampak seorang pemuda sedang mendaki kepuncak diatas gunung itu. Meski pemandangan disekitamya indah permai, namun pemuda itu kelihatan tergesa-gesa seakan-akan tidak menghiraukan keindahan alam yang susah dicari itu. Pemuda itu Kang Hay-thian adanya! Bukanlah ia tidak suka menikmati keindahan alam yang permai itu. tapi saat itu ia justeru lagi terbayang oleh seorang gadis jelita yang telah lama dirin-dukannya. Gadis jelita yang dirindukannya itu adalah Kok Tiong-Iian. itu muridnya Kok Ci-hoa. Kedatangannya ini adalah untuk memenuhi pesannya Kim Si-ih untuk menyampaikan Pek-giokkah kepada gadis itu. Hay-thian pernah tinggal tiga bulan di Bin-san. tatkala itu ia baru berumur delapan. Sesudah lewat delapan tahun pula, ia sudah berupa satu pemuda remaja 16 tahun. Selama tiga bulan dahulu, hampir setiap hari ia memain dengan Kok Tiong-Iian. Maka timbul pikiran Hay-thian.
"Kini tentu dia juga sudah besar, entah apakah masih nakal seperti dulu atau tidak? Aku ingin coba-coba ber tanding lagi dengan dia, dulu aku pernah dibanting terjungkal oleh nya."
Memang waktu itu Kang Hay-thian baru mulai belajar Lwekang dari Kim Si-ih.
ilmu silatnya jauh dibawahnya Kok Tiong-lian.
maka ia selalu dihajar oleh gadis cilik itu.
Iapun sering mendengar cerita Tiong-lian tentang Kang Lam yang bokongnya telanjang dipergoki gadis itu hingga selalu dibuat olok-olok olehnya.
Teringat pada kejadian-kejadian yang menarik dahulu itu.
rasa Hay-thian menjadi ingin lekas-lekas bisa berjumpa dengan kawan memain diwaktu kecil itu.
Begitulah dengan cepat tanpa berhenti akirnya ia sampai dide-pan Hian-li-koan.
Tiba-Tiba ia dikejutkan oleh suara pertengkaran yang ribut.
Ia lihat didepan kuil itu ada seorang laki-laki yang dandanannya aneh.
memakai jaket kulit domba, memakai tepi dengan daun penutup telinga, padahal waktu itu sudah dekat musim panas.
Pada kedua telinganya tampak memakai anting-anting pula.
Begitu melihat dandanannya itu.
segera orang akan tahu laki-laki itu pasti bukan bangsa Han.
Orang itu sedang menganyung dan menuding sambil mengoceh tak karuan, sedang dihadapannya berkerumun segerombol orang yang agaknya melarang orang aneh itu masuk kedalam kuil.
Diantara gerombolan orang itu dapat dikenalnya terdapat Thia Go.
Pek Eng-kiat.
Loh Eng-ho.
Kam Jin-liong dan murid-murid Bin-san yang terkemuka.
Setelah Hay-thian maju lebih dekat, ia dengar orang aneh itu sedang berseru.
,.Jauh-Jauh aku datang kemari, mengapa Kok-ciangbun kalian sengaja menghindari tak mau menemui aku?"
"Bukankah sejak tadi sudah kukatakan pada tuan bahwa Kok-ciangbun kami sedang bepergian,"
Demikian sahut Tiia Go.
"Aku tidak percaya."
Kata orang itu.
"masakan bisa begitu kebetulan?"
"Untuk apa kami mendustai kau?"
Sahut Thia Go ".Kalau engkau ada urusan, dapatkah kau katakan? Nanti kalau Ciangbun kami sudah pulang, tentu aku sampaikan padanya.".
"Siapa kau?"
Tanya orang itu dengan mata melotot.
"Mungkin urusanku ini tak kan mampu kau terima!"
"Ciangbun tidak ada akulah yang mewakilnya."
Sahut Thia Go dengan menahan rasa gusarnya.
"Maka urusan apapun mengenai Bin-san-pay. akulah yang bertanggung-jawab."
"O. kiranya kau adalah wakil ketua Bin-san-pay."
Kata orang itu dengan tawar.
"Tapi urusanku ini meski takbisa dikatakan tiada sangkut-pautnya dengan Bin-san-pay kalian, tapi bukan hendak ditujukan kepada kalian, maka orang yang ingin kutemui cuma Kok Ci-hoa seorang!"
"Jikalau ada sangkut-paut dengan Bin-san-pay kami, dapatkah engkau menerangkan persoalannya?"
Kata Thia Go.
"Sebab Kok-ciangbun benar-benar tidak ada dirumah. cara bagaimana bisa menemui engkau?"
"Hm. boleh juga. jika kau berkeras hendak menerima aku."
Jengek orang itu "kunjunganku mengundang Kok Ci-hoa dan muridnya untuk mengunjungi perjamuan di Kim-eng-kiong (istana garuda emas) dari Masarmin dikaki gunung Altai yang akan kami adakan pada hari Tiongkiu nanti.
Hendaklah Kok Cihoa hadir tepat pada waktunya.
kalau tidak, pasti akan celakalah dia!"
Para murid Bin-san-pay itu menjadi terperanjat mendengar itu.
Pegunungan Altai itu letaknya didaerah barat, jaraknya dengan Bin-san berlaksa li jauhnya.
sekalipun hari Tiongkiu itu masih ada lima bulan lagi, tapi siapa berani menjamin takkan terjadi halangan dan akan hadir disana tepat waktunya?
Apalagi nama tempat "Masarmin"
Itu hakikatnya belum mereka kenal, tentang majikan dari Kim-eng-kiong itupun tidak -pernah mereka dengar, dengan sendirinya Thia Go tidak berani srmbarangan mewakili Kok Ci-hoa menerima undangan itu.
Dan yang paling mendongkolkan.
anak murid Bin-san-pay itu adalah nada orang itu yang kasar dan sombong.
seakanakan Bin-san-pay tak dipandang sebelah mata oleh-nya.
Karena itu.
seketika ada beberapa anak murid Bin-san-pay yang berwatak keras memberi reaksi.
"Kurangajar masakan ada orang mengundang tamu secara begitu?" -"Hm, dikiranya Bin-san-pay mudah digertak orang? Kalau erang sudah tidak kenal aturan, buat apa kita sungkan-sungkan lagi padanya? Labrak saja!"
Namun orang itu sedikitpun tidak gentar, ia melirik sekeliling, lalu berkata dengan ketawa ejek.
"Kenapa"
Aku cuma menyampaikan pesan majikanku.
apa kalian hendak berkelahi dengan aku?".
Dalam Bin-san-pay kedudukan Thia Go adalah nomor tiga.
Sesudah Co Kim-ji meninggal dan Ek Tiong-bo tidak ada.
ia adalah Suheng tertua, maka Kok Ci-hoa pergian.
ia yang mewakili sebagai ketua Ia cukup sabar dan berpengalaman, maka cepat mencegah para Sute yang sudah tidak sabar lagi.
katanya.
"Harap jangan keburu napsu dulu. biarlah kutanya dia lagi" -Segera iapun tanya orang tadi.
"Mengundang tamu paling tidak harus diketahui dulu siapa pengundangnya? Maka tolong tanya siapakah gerangan majikanmu itu dan ada urusan apa mesti mengundang tamu segala Dan kalau tidak hadir, mengapa bakal celaka?"
Sahut orang itu dengan mendelik.
"Asal Kok Ci-hoa sampai di Masarmin dan menananya majikan dari Kim-eng-kiong, biarpun anak umur tiga disana juga tahu. Kini tidak perlu tanya dulu. Sedang mengenai bakal celaka apa. itu cuma majikanku yang dapat menentukan. Boleh jadi cuma Kok Cihoa sendiri yang akan tanggung akibat itu, mungkin juga menyangkut orang-orang Bin-san-pay kalian. Dan kalau kau. mewakilinya menerima kartu undangan ini tentu juga tak terhindar dari akibatnya. Nah, omongan sudah berakir sampai disini. kartu undangannya berada disini, kau akan menerimanya atau tidak?"
Betapapun sabarnya Thi Go. kini ia menjadi naik darah juga, sahutnya keras-keras.
"Kok-ciangbun tidak dirumah. andaikan dirumah juga tidak Sudi kepada undanganmu segala? Maka boleh kau ba wa pulang saja, bakal ada bahaya apa. biarlah kami menanti-kannya!"
Wajah orang itu berubah seketika, ia terkekeh-kekeh beberapa kali.
Thia Go menyangka orang segera akan turun tangan, maka ia sudah bersiap-siap.
Tak terduga sehabis tertawa, kembali orang itu berkata dengan sopan.
"Ya. akupun menaksir engkau takkan berani menerima. Cuma, masih dapat pula dirundingkan. Kok Ci-hoa tidak dirumah, diantara kalian ini masih ada pula seorang yang boleh menerima kartu undangan ini."
Thia Go tertegun sejenak, lalu katanya dengan marah.
"Bukankah kartu undanganmu itu ditujukan untuk Kokciangbun kami? Kalau aku sudah bilang tidak menerima, tetap takkan terima! Sekarang kau hendak serahkan kepada siapa lagi? Kau kenal peraturan Bu-lim atau tidak?"
Harus diketahui bahwa menurut peraturan dunia persilatan, biar pun golongan atau aliran apapun juga.
semuanya diwakili oleh seorang Cianbunjin.
Kini Thia Go sudah kemukakan kedudukan nya sebagai pejabat ketua Bin-san-pay.
tapi orang itu sengaja mengesampingkan dia, sebaliknya ingin orang lain untuk menerima kartu undangannya itu.
sudah tentu Thia Go anggap itu sel agai Suatu hinaan kepada pribadinya.
Siapa duga erang itu tetap mendelik, sahutnya dengan tertawa dingin.
"Aku justeru bilang engkau sendiri iang tidak kenal aturan. Yeng diundang majikanku adalah Kok Ci-hoa. toh bukan Kok-ciangbun dari Bin-san-pay! Jika Bin-sanpay. kalian suka mengikut sertakan urusan pribadi Ciangbunjin. itu adalah urusan dalam kalian, aku peduli apa? Cuma kartu undanganku ini tetap harus kusampaikan kepada orang iang wajib menerima. Kok Ci-hoa tidak dirumah. maka bolehlah kau suruh muridnya keluar, aku ingin berjumpa dengan dia!"
Meski kata-kata orang itu kasar, tapi ada benarnya juga. Karena debatan itu. Thia Go mendiadi bungkam. Tiba-Tiba hatinya tergerak, pikirnya.
"Asal-usul Kok Tiong-Iian agak aneh dan sampai sekarang belum diketahui dengan jelas. Jangan-Jangan kedatangan orang ini ada hubungannya dengan bocah itu?"
Maka dengan menahan gusar ia coba tanya pula.
"Memang benar Kok-ciangbun kami mempunyai seorang murid perempuan, apa engkau kenal dia?"
"Tidak kenal."
Sahut orang itu.
"Jika begitu, apakah ada hubungan pamili?"
"Juga tidak!"
Thia Go menjadi gusar, serunya.
"Jikalau bukan sanak kadang, lalu untuk apa engkau hendak menemui dia?"
"Sebab kartu undangan ini ada bagiannya!"
Sahut orang itu.
"Ucapanmu ini menjadi janggal sekali."
Kata Thia Go.
"Kau tahu tidak bahwa dia adalah seorang anak yang belum dewasa, se kalipun majikanmu ada hubungan pamili dengan dia dan mengirim kartu undangan padanya. paling-paling ia cuma dapat pergi bersama Suhunya, masakah kau akan membawa seorang anak gadis kecil menempuh perjalanan sejauh itu untuk menghadiri perjamuan majikanmu itu?"
"Hahaha, kau benar-benar sudah pikun."
Orang itu terbahak-bahak.
"Aku mengundangnya kesini. masakah membiarkan dia berangkat begitu saja tanpa urus? Sudah tentu aku yang akan mengiringi perjala nannya itu! Dengan kawalanku, masakan kau kuatir dia akan di terkam harimau?"
"Ha, jadi engkau yang akan membawa pergi dia?"
"Benar."
Sahut orang itu.
"Kalau Kok Ci-hoa berada disini. dengan sendirinya Kok Ci-hoa yang akan membawanya. Tapi kini Kok Ci-hoa tidak ada, biarlah aku yang mengawalnya. Beginilah keputusanku".
"Engkau sungguh pintar mengundang tamu. pantas majikanmu memberi tugas ini kepadamu,"
Ujar Thia Go dengan tawar.
"Akan tetapi, sayang murid keponakanku itupun tidak dirumah."
"Dimana dia?"
Seru orang itu.
"Ia telah pergi bersama Suhunya,"
Sahut Thio Go "Tentang kemana. itulah kami tidak tahu."
"Huh. aku tidak percaya bisa sedemikian kebetulan,"
Jengek erang itu.
"Kenapa tidak lebih tidak kurang, begitu aku datang, mereka lantas pergi semua? Kau bilang mereka tidak dirumah, aku justeru ingin memeriksanya sendiri kedalam."
Karuan Thia Go menjadi qusar, bentaknya.
"Kenapa engkau begini kasar? Apa kau sangka Hian-li-koan dari Bin-san-pay boleh sembarangan dibuat terobosan?"
Belum selesai ucapannya.
segera orang itu sudah melangkah maju.
Para murid Bin-san-pay serentak maju hendak merintanginya, tapi begitu melihat ketanah.
seketika mereka terkejut.
Jalan masuk ke Hian-li-koan itu terbuat dari ubin batu hijau.
ternyata bekas tapak kaki iang ditinggalkan orang itu tampak je-las mendekuk.
karuan para murid Bin-san-pay itu terkesiap, pikir mereka.
"Sungguh hebat benar Lwekang orang ini! Pabila orang kena ditendang olehnya, mustahil takkan tulang remuk dan badan hancur?"
Sebagai anak murid tertua dari Bin-san-pay yang lebih banyak penglamannya. Thio Go. Eng-kiat, Eng-ho dan Jinliong dapat menghadapi musuh dengan tenang. Namun mereka menjadi ragu-ragu juga.
"Tiat-tui-sin-kang (ilmu sakti kaki baja) orang ini cukup kuat untuk menandingi Kim-kongtiiang (pukulan tenrga raksasa) dari Siau-!im-pay, bahkan Taypi Siansu juga tidak setinggi ini kepandaiannya. Sekarang Koksumoay justeru tidak dirumah. kalau kami berempat maju bersama mungkin masih dapat melawan nya. Tapi dia cuma seorang pesuruh saja. bila empat murid tertua dari Bin-sanpay mesti mengeroyok seorang pesuruh yang rendah, kalau diketahui umum. apakah takkan dibuat tertawa orang?"
Sedang Thia Go dan lain-lain masih ragu-ragu.
sementara itu orang tadi sudah melangkah maju beberapa tindak lagi dan tampaknya se gera akan masuk kedalam kuil.
Syukurlah Kang Hay-thian keburu bertindak Ia menjadi gusar juga ketika melihat orang aneh itu berani masuk ke Hian-li-koan secara paksa, apalagi menyatakan akan membawa pergi Kok Tiong-lian.
Hay-thian takbisa tinggal diam lagi.
cepat ia raenierobot maju sambil membentak.
"Hai, penjahat darimanakah berani kurangajaran disini. lekas berhenti ditempatmu!". Karena suara bentakan Hay-thian itu, telinga orang itu terasa mendenging-denging. waktu ia menoleh, ia menjadi kaget. Kiranya gaya jalan Kang Hay-thian tampak sempoyongan dan aneh. langkah-nya kelihatan berat setengah diseret, tapi dimana kakinya lalu. seperti sapu saja bekas tapak kaki orang tadi lantas disapu rata olehnya. Melihat Kang Hay-thian cuma seorang pemuda tanggung saja. meski kejut, namun orang itu tidak menjadi gugup. Segera ia putar tubuh dan menanya.
"Siapa kau? Urusan majikanku apa disangka boleh sembarangan dicampuri seorang anak ingusan macam kau?"
Sebelum berangkat. Kang Hay-thian telah banyak mendapat pelajaran tata-tertib serta ungkapan-ungkapan yang sering digunakan orang Kangouw, maka sekarang lantas digunakan olehnya. Sahutnya.
"Urusan manusia sudah tentu diurus oleh manusia, kebenaran tidak kenal umur. biarpun anak umur tiga juga boleh ikut campur urusan orang tua asal benar. Mengundang tamu juga harus timbul dari suka-sama-suka, apalagi orang yang kau undang tidak dirumah. mengapa tanpa idzin tuan rumah kau lantas akan terobosan sesukanya? Hm, hm, sekalipun majikanmu itu adalah setan jenderal. sudah pasti urusan ini aku akan ikut campur! Nah. sekarang kau mau lekas enyah tidak atau minta kuberi hajaran dahulu?"' "Bagus, bagus!"
Seru orang itu tertawa dingin.
"jika kau suka ikut campur urusan ini. Nah bolehlah kau menerima kartu undangan ini."
Kang Lam menjadi melengak malah, katanya kemudian.
"Aneh. apakah perjamuan majikanmu itu kuatir takada yang hadir, makanya mesti main mengundang tamu secara paksa?"
"Tidak perlu banyak bicara."
Sahut orang itu.
"Aku tidak sudi berkelahi dengan anak kecil Pendek kata. jika mau. kau boleh terima kartu undangan ini agar aku dapat kembali memberi laporan kepada majikanku. Kelak kalau Kok Ci-hoa tidak dapat hadir, boleh juga engkau mewakilinya sekalian."
Diam-Diam Hay-thian membatin.
"jangan-jangan memang beginilah pesan majikannya harus berhasil mengundang seseorang. jika demikian, aku tidak boleh mengecewakan harapannya itu." -Maka katanya segera.
"Aku bukan orang Bin-san-pay, namun nona kecil yang hendak kau undang itu adalah kawan karibku. Demi sahabat, biarpun korbankan jiwaraga juga tidak gentar, apalagi cuma secarik kartu undangan saja. Bolehlah kau serahkan kepadaku!"
Orang itu mengamat-amati Hay-thian sejenak. lalu katanya.
"Jadi engkau adalah kawan karib nona cilik itu? Itulah lebih bagus lagi! Baiklah, terimalah kartu ini!'' -Berbareng terus saja ia angsurkan sebuah kotak kaiu merah kedepan. Ketika Hay-thian ulur tangannya hendak menerima. sekonyong-konyong terasa satu arus tenaga sangat besar bagai ombak bergolak menerjang kearahnya. Melihat itu. kejut dan gusarlah keempat murid tertua Bin san-pay, Pak Eng kiat paling cepat. segera ia mendahului menubruk maju sambil membentak.
"Berhenti, bangsat! Jangan kau main membokong! Kalau ingin mencoba. hayolah terjang kepada Bin-san-pay kami!"
Namun belum lagi Eng-kiat sempat mengadang ketengah.
sekonyong-konyong tangan Hay-thian yang diulur tadi sudah menyambuti kotak kayu merah yang diangsurkan orang itu.
Berbareng itu mendadak terdengarlah suara "bluk"
Sekali, kontan orang itu ter-jungkal kebelakang terus menggelinding turun kebawah lereng gunung.
Kiranya Kang Hay-thian sudah berhasil meyakinkan Hou-tesin-kang atau ilmu sakti pelindung badan, meski datangnya serangan musuh itu tak diduga sebelumnya, namun begitu tenaga lawan mengenai tubuhnya.
otomatis timbul tenaga tolakan dari badannya, semakin kuat tenaga yang dikerahkan orang itu.
semakin keras daya pental yang membalik itu.
maka tanpa ampun lagi orang itu jatuh terpental.
Hanya sekejap saja orang itu sudah menggelinding kebawah gunung, tapi dari jauh terdengar pula suara teriakannya.
"Anak keparat, kalau berani, datanglah ke Kimeng-kiong sana! Hm. pabila kau tidak berani datang, maka antero anggota Bin-san-pay kalian dimulai dari Kok Ci-hoa. bahkan termasuk pula engkau anak keparat ini, semuanya jangan harap terhindar dari kematian!"
Hay-thian menjadi gusar, iapun gunakan ilmu mengirimkan suara dan balas menggembor.
,.Huh.
apa yang mesti kami takuti?
Kau boleh pulang dan suruh majikanmu itu menunggu saja, sekalipun tiada kartu undangan, pasti juga aku akan mengunjungi tempat kalian untuk melihat manusia-manusia macam apakah hingga berani berbuat tidak semena-mena begini?"
Habis Hay-thian berkata, bayangan orang itupun tidak kelihatan lagi.
Sesudah terpental oleh tolakan Hou-te-sinkangnya Hay-thian dan orang itu masih mampu melarikan diri dengan Ginkangnya yang tinggi, suatu tanda bahwa kepandaian orang itu sesungguhnya luar biasa.
Maka merubung majulah para murid Bin-san-pay mengelilingi Hay-thian.
Dengan kedudukannya selaku wakil Ciangbundiin.
segera Thia Go memberi hormat kepada pemuda itu.
"Terima kasih atas bantuan Enghiong tadi. dapatkah kami mengetahui namamu yang mulia". Lekas-Lekas Hay-thian membalas hormat sambil tertawa, serunya.
"Hai. Thia-pepeh. mengapa engkau sudah pangling padaku? Aku adalah Kang Hay-thian! Ingat tidak sekarang. Pepeh?"
Mata. Pek Eng-kiat lebih tajam. lebih dulu ia mengenali Hay-thian. segera teriaknya.
"Astagafirullah! jadi engkau inilah Kang-hiantit. Hahaha, adik Kang Lam mempunyai seorang putera kesatria seperti kau. tentu saja ia bangga setengah mati! He. Kang-hiantit. kabarnya ayahmu bepergian kedaerah barat, apakah dia sudah pulang?"
"Ayah sudah tiga tahun meninggalkan rumah dan sampai sekarang masih belum pulang, kedatanganku ini justeru ingin mencari beliau,"
Demikian sahut Hay-thian.
"Sebelum perjalananku lebih jaiih. aku ingin menghadap Kok-lihiap. disamping itu ada sesuatu barang yang hendak kuberikan kepada Tiong-Iian. Apakah betul-betul mereka memang tidak dirumah?"
"Betul-Betul mereka memang bepergian dan bukan alasan untuk mendustai bangsat itu."
Sahut Thia Go. Hay-thian merasa kecewa oleh jawaban itu. tanyanya kemudian.
"Sejak kapan mereka pergi?"
"Kira-Kira sudah dua bulan lamanya. yaitu disebabkan oleh sesuatu urusan diluar dugaan,"
Tutur Thia Go.
"Kang-hiantit, jauh-jauh engkau sudah datang kesini. marilah duduk didalam saja untuk bicara lebih jauh." ---ooo0dw0ooo---
Jilid 5 Segera Kang Hay-thian ikut kedalam kuil itu.
Sewaktu kecil Ia pernah tinggal beberapa bulan di Hian-li-koan itu, masa itu boleh dikata masa paling senang baginya diwaktu masih kanak-kanak.
Ia lihat suasana disekitar kuil itu masih tetap seperti dahulu saja, yang kurang cuma Kok Tiong-lian saja yang tak dilihatnya.
hal ini membuat hatinya rada masgul.
Setelah mengambil tempat duduk diruangan tamu, lalu Thia Go menceritakan kepergian Kok Ci-hoa bersama Kok Tionglian itu.
Tatkala itu adalah hari kedua sesudah Capgomeh, di Binsan kedatangan seorang tamu bernama Nyo Lin, yaitu anak muridnya Yap Kun-san di Tanliu.
Tutur Thia Go.
"Yap Kun-san adalah anak murid Jing-siapay, dimasa hidupnya lumayan juga namanya dikalangan persilat an. Tapi sesudah hari tua Ia telah mengasingkan diri, tiada banyak pula hubungannya dengan Bin-san-pay. Sudah ada belasan tahun meninggalnya Yap Kun-san. konon meninggalnya itu sangat aneh, tanpa sakit apa-apa. tahu-tahu meninggal mendadak. Tiada seorangpun yang tahu sebabnya. Satu hal yang lebih aneh ialah dia mempunyai seorang anak berumur 4-5 tahun, begitu ayahnya meninggal, anak itupun lantas hilang."
Padahal anaknya Yap Kun-san itu hanya anak pungut saja.
hal ini cuma Kok Ci-hoa dan Ek Tiong-bo yang mengetahui sedikit rahasia yang meliputi bocah itu, yaitu karena ada hubungannya dengan diri Kok Tiong-lian.
Sedangkan Thia Go tidak banyak mengetahui asal-usul Kok Tiong-lian, apalagi anak pungut Yap Kun-san itu.
Lalu Thia Go menyambung.
"Waktu Yap Kun-san meninggal, Nyo Lin sendiri berada ditempat lain. Ketika mendengar sang guru meninggal mendadak dan sang Sute menghilang, segera ia pulang Tanliu untuk menyelidiki duduknya perkara. Namun sudah sekian tahun tetap merupakan suatu teka-teki. Ia tahu gurunya tidak punya musuh, ketika menanya tetangga yang waktu itu mengurusi layon gurunya, tetangga itupun tidak dapat mengatakan ada sesuatu tanda mencurigakan dijenazah gurunya. Karena itulah kejadian itu tetap merupakan suatu teka-teki. Namun Nyo Lin selalu masih berusaha mencari jejak Sutenya yang hilang itu. Dan setelah belasan tahun, sampai tahun yang lalu barulah dapat diperolehnya sesuatu kabar, yaitu dari dua sanak Yap Kun-san sekampung itu juga orang kalangan Bu-lim dan membuka Piaukiok (perusahaan pengawalan) di Pakkhia. Tahun yana, lalu mereka telah mengawal suatu barang hantaran kedaerah Jinghay. Pemilik barangnya ada lah seorang kepala suku dikeresidenan Orsim. propinsi Jinghay. Karena wilayah itu paling sulit mencari hahan obat-obatan, maka dari Pakkhia telah diborong satu partai besar obatobatan serta diserahkan Piaukiok untuk menghantarnya.
"Umumnya golongan Lok-lim paling suka membegal harta benda yang berupa emas intan dan lain-lain barang yang ringkas tapi berni Iai. mengenai bahan obat-obatan, biarpun ada juga yang berharga, tapi pertama kaum pembegal mengutamakan cepat mendapatkan hasilnya. sudah tentu sungkan membuang waktu untuk memilih bahan obat mana yang berharga. kedua, orang Lok-lim juga ada pantangan, yaitu dilarang membegal obat-obatan, karena obat-obatan itu adalah untuk menolong manusia. ketiga, andaikan sudah dapat merampasnya, untuk menjualnya juga repot. Oleh karena itu, pengawalan obat-obatan boleh dikata tugas yang paling enak dan mudah dilaksanakan, apalagi pemilik barang juga sudah berjanji begitu barang memasuki wilayah Jinghay. segera akan dikirim orang-nya untuk memapak. Tapi karena perjalanan ini sangat jauh, pemilik barangnya juga bukan sembarangan orang. maka. pihak Piaukiok tetap menugaskan dua Piausu atau jago kawal yang paling kuat.
"Siapa duga kawalan yang dianggap paling gampang itu sebelum memasuki wilayah Orsim atau ditengah jalan sudah terjadilah kerusuhan. Hari itu, kira-kira setengah hari lagi sudah dapat memasuki wilayah Orsim. dari kepala suku suefah datang memapak pula sepasukan tentaranya, bersama orangorang Piaukiok rombongan mereka seluruhnya sudah lebih ratusan orang. Dan sedang ramai-ramai mereka melanjutkan perjalanan, mendadak dipadang rumput sana telah dicegat segerombolan pembegal, jumlah pembegal itu tidak terlalu banyak, hanya 30-40 orang saja dan dibawah pimpinan seorang wanita, akan tetapi semuanya sangat perkasa. Dalam suatu pertempuran yang sengit itulah, pasukan yang dikirim kepala suku dan rombongan orang Piaukiok telah dibinasakan serta ditawan seluruhnya. Kedua Piausu pilihan dari Piaukiok itupun termasuk diantara tawanan itu dan dipaksa oleh kawanan pembegal itu untuk mengangkut bahanbahan obatan yang dirampok itu kesuatu kota yang jauh terpencil sesudah melalui tanah-pegunungan yang tandus, dan sesudah barang-barang rampokan itu dikumpulkan. tawanan-tawanan itupun disekap disuatu rumah besar. Jumlah tawanan waktu itu sudah tinggal 30-an orang saja.
"Kedua Piausu itu kebetulan dikurung menjadi suatu kamar. Tengah mereka putus asa dan pasrah nasib. tiba-tiba datanglah seorang pemuda berbaju kulit bersama kepala begal wanita dan beberapa begundalnya. Pemuda itu rupanya seorang putera bangsawan, kawanan begal itu sangat menghormat padanya. Pemuda itu telah minta kedua Piausu dikeluarkan dari kamar tutupan untuk ditanya.
"Dari logat suara kalian, agaknya kalian orang asal Tanliukoan didaerah Holam bukan?" -Sungguh aneh. logat bicara pemuda itu ternyata juga logat orang Tanliukoan.
"Sudah tentu kedua Piausu itu menyatakan benar. Lalu pemuda itu tanya mereka apakah kenal Yap Kun-san. Yaployacu? Kedua Piausu itu menjadi ragu-ragu, tapi tidak berani balas menanya sipemuda pernah apakah dengan Yap Kun-san, terpaksa mereka mengaku terus terang nama sendiri serta menyatakan hubungan Piaukiok mereka dengan Yap Kun-san yang sudah meninggal belasan tahun yang lalu itu.
"Kedua Piausu itu coba memperhatikan sikap sipemuda. tampak wajahnya sekilas pernah mengunjuk muram, kemudian berkata kepada si begal wanita.
"Kedua orang ini haraplah engkau mengampuni dan bebaskan mereka." -Kepala begal wanita itu menjawab dengan sangat hormat.
"Bila Kongcu yang minta sudah tentu kuturut saja.' -Habis itu. benar juga kedua Piausu itu lantas dibebaskan.
"Kedua Piausu itu menghaturkan terima kasih kepada sipemuda dan selagi hendak menanyakan namanya, pemuda itu seperti tidak suka banyak bicara dengan mereka disitu. tapi katanya. 'Kalian telah selamat, kenapa tidak lekas pergi? Dan untuk selanjutnya jangan lagi membuat perjalanan kesini!" -Sudah tentu kedua Piausu itu cepatan saja meninggalkan tempat itu, dan baru mereka melangkah keluar rumah tutupan itu, segera terdengarlah perintah kepala bagal wanita itu sambil membentak.
"Bunuh semua!" -maka terdengarlah suara bekerjanya senjata tajam dan jeritan ngeri sang korban; Keruan kedua Piausu itu ketakutan dan berlari terbirit-birit pulang ke Tionggoan". 'Dasar watak Kang Hay-tbian adalah welas-asih. ia merinding juga mendengar cerita yang seram itu, katanya.
"Mengapa begitu kejam. jiwa manusia dianggap saja seperti jiwa semut. Dan entah pemuda itu apakah juga begundal kawanan begal itu atau bukan?"
"Hiantit,"
Kata Pek Eng-kiat.
"selamanya engkau belum pernah berkelana, maka tidak tahu pantangan apa bagi orang Kangouw. Diantara pembegal-pembegal terdapat juga golongan yang baik dan yang jahat, yang baik suka merampas milik orang kaya untuk membantu yang miskin, yang jahat membunuh orang tanpa pandang bulu. Tapi kawanan begal itu berani merampok barang milik kepala suku Orsim. terang mereka bukan sembarangan begal. Namun mereka pasti kuatir juga pembalasan pemilik barang, maka menurut kebiasaan kalangan Hek-to. supaya perbuatan mereka tidak diketahui semua tawanan tentu dibinasakan.
"Mengenai pemuda yang menyelamatkan kalian itu. memang kedudukannya agak meragukan orang, tampaknya dia bukan sekomplotan dengan kawanan begal itu. makanya dia telah mintakan ampun bagi kalian kepada kepala begal wanita . Sebaliknya kawanan begal itu lantas memenuhi permintaannya dan melanggar pantangan, yaitu membebaskan kalian dengan hidup tanpa kuatir perbuatan mereka tersiar. Maka dapatlah diduga pemuda itu pasti mempunyai pengaruh atas kawanan begal itu dan bukan sembarangan orang."
"Tentang kedudukan pemuda itu memang kurang jelas, tapi suatu hal sudah dapat dipastikan, yaitu dia adalah putera pungut nya Yap Kun-san yang sudah menghilang belasan tahun itu,"
Demikian Thia Go menyambung "Pihak Piaukiok sendiri setelah kehilangan barang kawalannya itu, tentu saja nama baik mereka tidak mendapat kepercayaan lagi, pula telah kehilangan banyak tenaga, akhirnya Piaukiok itu gulungtikar.
Pemilik Piaukiok itu bernama Han-samya berjuluk Tiatwan-yang' (simerpati besi), ia telah berusaha meeyelidiki siapa kawanan begal yang merampas barang kawalan mereka itu.
tapi tiada sesuatu berita yang diperoleh, yang diketahui cuma diwilayah Orsim telah berjangkit penyakit menular dan karena kekurangan obat-obatan.
banyak rakyat dan perajaritnya yang jatuh sakit dan meninggal, akhirnya daerah itu kena ditelan oleh kepala-kepala suku tetangganya.
Setelah menutup Piaukiok nya, lalu Han-samya menghilang dari Pakkhia, ada yang mengatakan dia telah pergi Jinghay hendak menuntut balas, namun siapapun tiada yang berani memastikan kabar itu.
"Karena Piaukiok ditutup, kedua Piausu yang beruntung jiwa nya selamat itu pulang juga kekampung halamannya di Tanliu dan bertemu dengan muridnya Yap Kun-san. yaitu Nyo Lin. mereka bercerita tentang apa yang telah dialaminya. Mendengar kejadian itu. Nyo Lin yakin sipemuda dipadang rumput itu pasti adalah Sutenya yang hilang sejak kecil itu. Ia menjadi kuatir sang Sute akan tersesat kejalan yang tidak benar, pula ingin menyelidiki sebab-musabab keroatian gurunya, namun seorang diri ia tidak berani menempuh bahaya, kedua Piausu itupun tidak berani menunjukkan jalannya. Terpaksa Nyo Lin dalang ke Bin-san sim untuk minta bantuan pada Ciangbun Sumoay kami itu. Bin-san-pay kami tidak banyak bersahabat dengan Yap Kun-san, sebenarnya kita boleh menolak ikut campur urusan ini, andaikan mau, cukup juga menugaskan satu-dua murid kita untuk membantunya. Diluar dugaan Kok-ciangbun justeru sangat tertarik oleh cerita Nyo Lin itu, tanpa ragu-ragu terus menyanggupi untuk membantu menyelidiki perkara itu."
"Jika demikian, jadi Tiong-lian telah ikut gurunya ke Jinghay?"
Tanya Hay-thian.
"Ya, Kok-sumoay hanya membawa serta bocah itu ke Jinghay", sahut Eng-kiat.
"Mengapa cuma Tiong-lian saja yang diajaknya?"
Tanya Hay thian pula.
"Kami juga tidak tahu maksudnya,"
Sahut Eng-kiat.
"Mungkin Kok-ciangbun bermaksud menggemblengnya dalam dunia Kangouw Sebenarnya keterangan Pek Eng-kiat ini tidak masuk diakal. Bahwasenya Ciangbunjin mereka sampai keluar sendiri, bahkan menempuh bahaya ketempat jauh, hal ini pasti adalah sesuatu yang penting dan luar biasa, seharusnya mengajak serta pembantu yang kuat. Akan tetapi sekarang justeru membawa serta seorang anak perempuan yang masih hijau, sekalipun untuk menambah pengalamannya juga tidak semestinya mengikut sertakan dia dalam urusan besar itu. Walaupun masih cetek pengetahuan, namun Kang Haythian dapat memikirkan juga hal itu. Cuma urusan itu adalah urusan dalam Bin-san-pay, ia tidak enak menanya lebih jauh, maka iapun tidak mendesak lagi. melainkan perasaannya semakin kesal.
"Asal-usul Tiong-lian memang agak aneh,"
Kata Thia Go kerau dian "dahulu pernah datang seorang Mo-hujin yang pura-pura mengaku sebagal ibunya.
kini ada lagi seorang pemilik King-eng-kong mengirim kartu undangan padanya, semua kejadian-kejadian aneh selalu berpangkal atas diri bocah itu." -la merandek sejenak.
Lalu menanya pada Kang Hay-thian.
"Bicara tentang kartu undangan, sekarang Hiantit sendiri yang telah menerima kartu itu, apakah benar-benar engkau hendak hadir dalam perjamuan di Kim-eng-kiong itu?"
"Sekali sudah berjanji. betapapun harus ditepati."
Sahut Hay-thian.
"'Walaupun mereka bukan orang baik-baik. tapi aku sudah menyanggupi, sudah tentu harus pergi kesana."
Segera Haythian bermaksud membuka kotak merah itu untuk melihat kartu undangan didalamnya.
Namun Engkiat keburu mencegahnya, ia suruh Haythian menaruh kotak itu diatas meja dan minta semua orang mundur belasan langkah dari meja itu.
Habis itu ia terus timpukan sebilah pisau.
"sret". pisau itu tepat memotong ditengah kotak hingga terbelah menjadi dua. Kiranya Pek Eng-kiat adalah seorang kawakan Kangouw, ia kuatir didalam kotak itu terdapat alat rahasia atau racun. maka melarang Kang Hay-thian membuka kotak itu. Namun kotak itu ternyata tiada sesuatu yang aneh, hanya kartu undangannya memang rada luar biasa. Waktu Kang Hay-thian mengambilnya dan dibaca, diatas kartu itu terlukis seekor Kim-eng atau elang emas yang ganas dengan cakarnya terpentang sedang mencengkeram seekor naga hitam. Oiatas kartu itu terdapat dua baris tulisan, yang sebelah adalah tulisan Han dan baris lain tulisan melingkar-lingkar bagai cacing dan tak dikenal. Tulisan Han itu maksudnya.
"Dengan membawa kartu ini dapat menghadiri perjamuan dalam istana pada tanggal 15 bulan delapan"
Maka dapat diduga makna dari tulisan asing itupun searti daripada tulisan Han itu.
Waktu itu Cia In-cin juga berada disitu.
Dahulu waktu Mohujin mengaku sebagai ibunya Kok Tiong-lian dan berkeras hendak minta kembali bocah itu dari Kok Ci-hoa serta minta diperlihatkan baju kulit milik Kok Tiong-lian, tatkala itu Cia Incin juga ikut melihat bagaimana wujut baju kulit itu.
Kini iapun berseru heran demi melihat tulisan asing diatas kartu itu.
Kiranya gaya tulisan-tulisan aneh itu mirip sekali dengan huruf-huruf yang terdapat dibaju kulitnya Kok Tiong-lian.
Cepat Pek Eng-kiat menanya.
"Suso. apakah ada sesuatu yang mencurigakan diatas kartu ini?"
"Entah, aku tidak tahu."
Sahut Cia In-cin. ."Yang terang, tulisan diatas kartu ini dapat kepastian adalah tulisan yang sejenis seperti tulisan dibaju kulitnya Lian-ji itu."
Thia Go menjadi heran, tanyanya.
"Baju kulit? Mengapa aku tidak pernah mendengar?"
In-cin menjadi sadar telah ketelanjur omong, teringat olehnya pesan Kok Ci-boa agar jangan membocorkan rahasia tentang baju kulit milik Kok Tiong-lian itu.
Tapi kini sudah ketelanjur dikatakan, terpaksa iapun menceritakan apa yang diketahui nya itu.
"Pantas, makanya Ciangbun Sumoy cuma membawa serta Lian-ji dalam perdu Yanan yang jauh ini, mungkin maksudnya sekalian mencari tahu asal-usulnya Lian-ji."
Ujar Eng-kiat.
"Tapi sayang kartu undangan ini datangnya agak terlambat, bila tidak, tentu ini berarti suatu titik terang bagi usahanya itu. Menurut pendapatku, boleh jadi asal-usul Lian-ji ada hubungannya dengan tuan rumah Kim-eng-kiong itu."
Setiap tindak-tanduk Thia Go biasanya lebih hati-hati dari saudara-saudara perguruannya, setelah memikir sejenak, kemudian katanya.
"Orang yang menghantar kartu ini cuma seorang hamba saja. tapi kepandaiannya sudah begitu lihay. maka betapa hebat ilmu silat tuan rumah Kim-eng-kiong itu susahlah dibayangkan. Kang-hiantit. meski ilmu silatmu telah cukup sempurna, namun mengingat engkau cuma seorang diri, betapapun agak berbahaya, maka kupikir lebih baik kita mengundang Ek-suheng kemari untuk mengawani engkau kesana, bagaimana pendapatmu?"
Ek-suheng yang dimaksudkan itu adalah Ek Tiong-bo.
Pangcu dari Kay-pang.
Sesudah Co Kim-ji wafat, dalam Bin-san-pay kedudukan Ek Tiong-bo terhitung paling tua.
maka segala apa Kok Ci-hoa juga sering minta petunjuk padanya.
Apalagi hubungannya sangat luas, dimana-mana terdapat anak murid Kay-pang.
kabar beritanya cepat.
bila Ek Tiong-bo ikut pergi bersama Hay-thian.
segala apa akan lebih leluasa dan banyak kenalannya dimana-mana yang dapat dimintai bantuan.
Akan tetapi pertama Kang Hay-thian buru-buru ingin mencari ayah nya, kedua iapun ingin lekas bisa mengetahui teka-teki yang meliputi asal-usul Kok Tiong-lian, maka katanya segera.
"Menurut karta undangan ini. hari perjamuan adalah hari Tiongkhiu walaupun temponya masih ada lima bulan, tapi perjalanan terlalu jauh, susah untuk memastikan takkan terjadi halangan ditengah jalan, maka kupikir harus segera berangkat kesana. Pula Tit-ji baru pertama kali ini dikenal orang, aku harus menepati janji dengan tepat, maka biarlah maksud baik Thia-pepek kuterima dalam hati saja. Bahkan perjalananku ini sedianya ingin menuju kepegunungan Tengra dahulu untuk menemu empek Teng Keng-thian, habis itu akan pergi ke Thian-san sekalian menyambangl ayah beliau, yaitu Teng Hiau-Ian. Teng-lociangwe. Konon pegunungan Al-tai itu terletak diutara Sinkiang dan berbatasan dengan Mongol, dikaki gunung Altai itulah berada suku Masarmin. Maka sehabis mengunjungi Thian-san. aku lantas menuju kesana."
"Baiklah jika begitu,' ujar Eng-kiat.
"Teng-locianpwe sangat apal terhadap suku-suku bangsa dan tempat-tempat wilayah Sinkiang. Se-cong (Tibet) dan Mongol. engkau boleh sekalian tanya pada beliau tentang tuan rumah dari Kim-eng-kiong itu. Pabila Teng-tay hiap suka membantu engkau, tentu saja jauh lebih baik daripada ikut sertanya Ek-suheng kami."
"Ya. jika engkau ingin tepat waktunya datang kesana. akupun tidak enak memaksa engkau menunggu Ek-suheng disini,"
Kata Thia Go "Sungguh aku merasa malu.
aku sendiri tidak tahu dimanakah letak Masarmin dikaki pegunungan Altai yang menyusur sepanjang ribuan li itu.
Maka engkau rasanya memerlukan juga petunjuk seseorang.
Bila Teng-tayhiap sendiri tidak enak diganggu, boleh juga engkau minta bantuan suami isteri Teng Keng-thian, jika mereka bersedia pergi bersama engkau, rasanya sudah lebih dari cukup untuk menghadapi tuan rumah dari Kim-eng-kiong itu."
Malam itu Kang Hay-thian lantas menginap di Hian-Ii-koan. Sebelum berpisah kembali Thia Go berkata kepadanya.
"Hiantit, banyak terima kasih atas bantuanmu yang kau berikan pada kami hingga Hian-li-koan terhindar dari hinaan orang. Tapi peristiwa ini adalah urusan Bin-san-pay kami, kami pasti tidak dapat tinggal diam. Silahkan Hiantit berangkat lebih dulu. menyusul tentu akan ada orang kami berangkat kesana."
Kiranya semalam juga Thia Go sudah lantas mengirim anak mu ridnya yang dapat dipercaya untuk memberi laporan kepada Ek Tlong-bo agar beliau lekas datang mengadakan perembukan yang sempurna, dan minta pula agar ketua Kaypang itu suka mengirim kan kabar kilat kepada anak murid Kay-pang disepanjang jalan untuk membantu Kang Hay-thian secara diam-diam.
Cuma Thia Go juga tahu tabiat orang muda yang suka unggul walaupun sebenar nya masih hijau, tapi tob tidak suka kalau orang menyalakan hen dak membantunya.
Karena itulah apa yang telah diatur Thia Go itu tidak dijelaskan kepada Kang Hay-thian.
Begitulah dengan rasa kesal dan khayalan pada apa yang bakal terjadi kelak, Hay-thian lantas meninggalkan Bin-san menuju ketempat perjanjian yang penuh rahasia dan jauh itu.
Apakah disana ia akan berjumpa dengan Kok Tiong-lian dan dapat membongkar rahasia yang menyelubungi asal-usul diri gadis itu?
Dengan macam-macam pikiran dan tanda tanya, dengan penuh harapan serta penuh semangat inilah Kang Hay-thian terus menuju kearah barat.
Setelah turun dari Bin-san.
ia membeli seekor kuda dikota Sin-an dikaki gunung Bin itu.
Tidak lebih sebulan, akhirnya ia telah sampai diwilayah Soasay Hari itu karena dia salah hitung hingga melampaui pos penginapan, sementara itu hari sudah remang-remang, tapi masih belum mendapatkan sesuatu pondokan.
Tengah ia melarikan kudanya dipa-dang rumput yang sunyi itu.
tiba-tiba didengarnya suara jeritan tajam yang memecah kesunyian angkasa raya padang rumput.
Waktu Hay-thian menoleh, dilihatnya seorang gadis dengan rambut kusut masai sedang berlari dari belakang dengan ketakutan.
Pakaian gadis itu tampak perlente, rupanya anak gadis keluarga hartawan.
Tapi disana-sini sudah terobek, agaknya karena berlari menyelamatkan diri, maka tidak sadar telah sobek tersangkut duri belukar disepanjang dialan.
Ketika melihat ada orang didepannya, segera gadis itu berteriak pula.
"Tolong! Tolong!"
Hay-tbian terkejut cepat ia melompat turun dari kudanya dan menanya.
"Ada apakah, nona? Siapa yang bikin engkau ketakutan?"
Belum lenyap suararya. tiba-tiba terdengar suara derapan kuda yang cepat mendatangi. Kembali gadis itu berteriak ketakutan.
"Rampok. ada rampok! Tolong, tolonglah aku!"
Dan selang sejenak kemudian, tertampak tiga penunggang kuda sudah muncul dari balik lembah sana. seorang diantaranya terus membentak.
"Hahaaa. kemana lagi kau mampu melarikan diri?"
"Oo, dara manis, kenapa kau takut? Marilah ikut aku pulang untuk menikmati kebahagiaan!"
Seorang yang lain ikut berkata dengan cengar-cengir. Sedang orang ketiga telah menjengek "Hm. berlari-lari kesini untuk menjumpai gendakmu, ya?"
Hay-thian melihat ketiga orang itu beralis tebal dan bermata besar, mukanya bengis, terang bukan orang baik-baik. Dengan gusar segera iapun membentak.
"Rampok anjing! Siang hari bolong berani kalian menggangou orang?" -Segera ia jemput tiga potong batu sekenanya dan menimpukannya sekaligus. Kontan dua laki-laki ynng paling depan terus terjungkal dari kuda mereka, sedang orang ketiga karena jaraknya lebih jauh hingga timpukan itu masih dapat ditahannya. ia hanya tergeliat sedikit diatas kudanya. cepat ia memutar kudanya dan kabur sipat kuping! Selagi Kang Hay-thian bermaksud memburu maju untuk me-bekuk kedua orang itu. tiba-tiba terdengar pula suara jeritan sekali, suara tajam mengerikan bagai orang ditikam. Waktu Hay-thian menoleh, ia melihat sadis itu sudah terguling ditanah dengan berlumuran darah. Keruan ia terkejut. ia pikir menolong orang lebih penting, terpaksa membiarkan kedua begal itu melarikan diri dan memutar kembali untuk memayang sigadis dan menanya.
"Engkau kenapa, nona?"
Gadis itu meronta-ronta untuk kemudian membiarkan dirinya dipayang Kang Hay-thian, selang sejenak barulah ia berkata dengan napas terengah-engah.
"Aku""""""
Aku jatuh tersandung batu! Terima kasih."
Untuk pertama kalinya Kang Hay-thian bersentuhan dengan kaum wanita, ia menjadi agak kikuk.
Dan baru sekarang ia dapat melihat jelas raut muka sigadis yang berbentuk daun sirih, alis-nya lentik dan mulutnya mungil, sungguh seorang gadis yang cantik.
Tapi badannya ternyata tidak terluka.
hanya dari lengan baju nya kelihatan berlepotan darah, makanya tadi disangkanya gadis itu berlumuran darah.
Rupanya cuma sedikit lecet karena jatuh kesandung batu itu.
Hay-thian merasa lega karena gadis itu tidak apa-apa.
tapi rada menyesal juga karena kedua penjahatnya sempat lolos.
Walaupun cuma luka lecet saja, namun gadis itu toh menggereng-gereng kesakitan.
Diam-Diam Hay-thian mengkerut kening oleh sifat manja sigadis.
Terpaksa ia mengeluarkan obat luka dan katanya.
"Nona jangan kuatir. biarlah kububuhi obat diatas lukamu, dalam waktu singkat tentu akan sembuh."
Sambil membiarkan luka tangannya dibalut, gadis itu mendiamkan tubuhnya diatas dada Kang Hay-thian.
Maka terasalah Hay-thian oleh denyutan jantung sigadis yang berdetak-detak, dengan risih Hay-thian miringkan sedikit tubuhnya.
Pikirnya.
"Tak dapat menyalahkan dia. Karena dikejar penjahat, walaupun selamat akhirnya, tentu tadi juga ketakutan setengah pasti". Selesai Hay-thian membalut lukanya, gadis itu lalu memberi hormat kepadanya dan berkata.
"Terima kasih banyak. untunglah aku ketemu tuan. kalau tidak tentu celakalah diriku. Sungguh tidak nyana kepandaian tuan begini tinggi hingga dua penjahat itu dapat engkau hajar dan lari terbirit-birit."
"Siapakah she nona. bertempat tinggal dimana. mengapa seorang diri dikejar penjahat dipadang rumput yang sunyi ini?"
Tanya Hay-thian.
"Aku she Auyang. bernama Wan,"
Sahut sigadis.
"Ayahku tahun yang lalu baru saja diangkat menjadi Tihu dikota Thaygoan. Kami berasal dari Poting dipropinsi Hopak. bulan yang lalu ayah menyuruh orang memapak kami ibu dan anak pergi ketempat tugasnya. tidak sangka ditengah jalan telah ketemu begal, centing yang kami bawa terbunuh, kami ibu dan anak ditawan disuatu rumah gubuk diatas gunung sana. Malam-Malam kami mendengar kawanan begal itu berunding katanya aku akan dipersembahkan kepada pemimpin mereka untuk dijadikan""""""". jadikan gundik ke tujuh. besok juga aku akan digiring kesarang pemimpin mereka. Untuk menyelamatkan diri. aku berusaha melarikan diri. malam itu kawanan pembegal itu lagi makan-minum besar karena berhasil merampas harta benda kami yang besar jumlahnya, sesudah mereka mabuk, kesempatan itu kugunakan untuk melarikan diri bersama ibuku. Sayang ibuku akhirnya dapat mereka tawan kembali, aku telah jatuhkan diri kebawah parit dan sembunyi didalam semak-semak rumput, namun kawanan begal itu masih terus mencari jejakku dan beruntung akhirnya kepergok tuan yang budiman ini."
Cerita gadis itu sebenarnya banyak lubang-lubangnya yang tidak masuk diakal namun Kang Hay-thian masih hijau.
belum berpengalaman dalam Kangouw.
maka ia percaya saja apa yang dicerita-kan itu.
malahan ia menjadi kagum terhadap keberanian sigadis meloloskan diri dari sarang bandit itu.
Tapi kemudian Hay-thian menjadi bingung pula cara bagaimana harus menempatkan diri sigadis itu.
Apa mungkin ditinggal begitu saja?
Sementara itu hari sudah magrib, Hay-thian menjadi serba sulit berada dipadang rumput yang sepi itu.
Tiba-Tiba gadis itu berlutut dan menangis dihadapan Kang Hay-thian.
Lekas-Lekas Hay-thian mem bangunkannya dan menanya.
"Ada kesulitan apakah, silahkan nona bicara terus terang saja."
"Aku takut""""""". takut"""""""."
Sahut sigadis yang bernama Auyang Wan itu dengan tak Iancar.
"Takut apa? Toh penjahatnya sudah lari."
Ujar Hay-thian.
"Begundal pembegal itu sangat banyak, bukan mustahil mereka akan datang kembali."
Demikian kata Auyang Wan.
"Berkat pertolongan tuan. jiwaku telah diselamatkan, maka sebenarnya aku tidak berani bikin susah pada tuan lagi. Namun aku kini sudah sebatangkara. cara bagaimana aku harus berbuat untuk bisa sampai di Thaygoan?"
Hay-thian menjadi ruwet pikirannya. tanyanya kemudian.
"Habis, apakah maksudmu minta bantuanku untuk menghantar kau ke Thaygoan?"
"Begitulah, pabila tuan tidak keberatan, sungguh kami akan sangat berterima kasih", sahut gadis itu.
"Kira-Kira berapa jauhnya dari sini ke Thaygoan?"
Tanya Hay-thian.
"Entah, aku sendiri tidak tahu,"
Sahut Auyang Wan.
"tapi kemarin tempat dimana aku ketemukan begal jaraknya dengan Thaygoan kira-kira tiga hari perjalanan. sesudah aku melarikan diri tanpa membedakan arah. jika jurusan yang kulari tepat, mungkin besok lusa juga sudah bisa sampai disana. Thaygoan berada diarah barat."
Waktu itu rembulan muda kebetulan mulai muncul dari balik gunung. Kang Hay-thian tepat menghadap rembulan, maka kata-nya.
"Jurusannya tcrnyata tepat. Tapi aku tidak sanggup menghantar engkau kekantor kebesaran ayahmu. biarlah malam ini kita mencari rumah seorang penduduk untuk menginap semalam. besok aku menyewa sebuah kereta keledai untuk menghantar engkau ketepi kota Thaygoan, disana aku terpaksa tidak dapat menghantar lebih jauh lagi."
Auyang Wan menjadi girang, sahutnya.
"Jika tuan suka menghantar aku sampai ditepi kota, hal ini sudah lebih dari cukup. Cuma tidak sempat membalas budi kebaikan tuan. sungguh rasaku tidak enak sekali."
"Perbuatan demikian sudah menjadi kewajibanku, tidak perlu engkau berterima kasih dan akupun tidak mengharapkan sesuatu balas jasamu."
Sahut Hay-thian.
"Marilah, silahkan naik keatas kuda!"
"Tapi aku tidak"""". tidak dapat menaik kuda, tuan""""""tuan?"
Kata sigadis.
"Aku she Kang,"
Sahut Hay-thian dengan serba sulit menghadapi sigadis yang serba aleman itu.
"O. Kang-siangkong (tuan Kang),"
Kata sigadis pula.
"Dan untuk berjalan akupun tidak kuat lagi."
Karena berpikir menolong orang lebih utama, tentang pantangan pria dan wanita untuk sementara terpaksa dikesampingkan, maka kata Hay-thian kemudian.
"Jika begitu, boleh engkau menung gang dibelakangku. peganglah badanku yang kencang."
Lalu iapun membopong sigadis keatas kudanya.
Dengan demikian maka Auyang Wan jadi membonceng dibelakangnya Kang Hay-thian.
Agaknya sigadis takut kalau jatuh.
maka kedua tangannya menyikap pinggang Hay-thian sekencang-kencangnya, karena badan menempel badan, maka dapatlah Hay-thian merasanya dada sigadis yang naik turun itu dan napasnya yang harum membikin lehernya terasa risih.
Untuk pertama kali inilah Kang Hay-thian berdekatan dan mengendus bau seorang gadis, keruan hatinyapun berdebardebar, betapa nikmat perasaannya waktu itu susahlah untuk dilukiskan.
Kuda tunggangan Hay-thian sudah berlari sepanjang hari, kini bertambah beban seorang pula.
keruan keadaannya lebih payah.
Dengan berjalan incang-incuk kuda itu meneruskan perjalanan dalam kegelapan, karena jalannya dilereng bukit yang tidak rata.
sigadis yang berada diatas kuda menjadi terguncang hebat.
Sekonyong-konyong kuda itu melangkah kesuatu tempat yang dekuk hingga sigadis terguncang membal keatas.
entah disengaja atau tidak, seperti orang gugup, kesepuluh jarinya terus mencengkeram sekuatnya kepinggang Kang Hay-tham.
Tangan kiri tepat mencengkeram di Ih-gi-hiat dan tangan kanan persis memegang di Ong-siau-hiat.
Ih-gi-hiat itu adalah salah satu Hiat-to mematikan diatas tubuh manusia, dan Ong-siau-hiat adalah salah satu Hiat-to yang melumpuhkan.
Untunglah Kang Hay-thian sudah berhasil meyakinkan Hou-teh-sin-kang atau ilmu sakti pelindung badan, kalau orang lain kena dicengkeram kedua tempat Hiatto seperti itu, bila tidak binasa segera juga ilmu silatnya akan punah seketika.
Apalagi se-ak kecil Hay-thian sudah memperoleh didikan sang ayah, yaitu Kang Lam.
dalam Lal Tian-to-hiat-to atau ilmu memutar balikan jalan darah.
Namun mimpipun dia tidak menduga bahwa diam-diam sigadis itu telah membokong padanya, oleh sebab itulah sama sekali ia tidak berjaga-jaga sebelumnya, hanya berkat reaksi yang otomatis dari ilmu pelindung badannya itulah hingga tidak sampai terbinasa, namun begitu karena Ong-siau-hiat (Hiat-to tertawa) kena dicengkeram.
tidak urung ia terbahak-bahak juga.
Dan berbareng dengan suara tertawa Hay-thian itulah, terdengar Auyang Wan juga menjerlt sekali dan badannya merosot miring kesamping hampir-hampir jatuh kebawah kuda.
Kiranya ia juga tergetar oleh reaksi ilmu pelindung badan Kang Hay-thian.
untung pemuda itu tidak sengaja hendak menyerangnya.
kalau tidak, tentu ia sudah terpental pergi oleh ilmu sakti itu.
Dengan adanya kejadian itu.
kalau orang lain yang sedikit berpengalaman tentu akan lantas curiga atas kelakuan Auyang Wan itu.
Tapi dasar Kang Hay-thian memang seorang pemuda yang jujur dan berhati polos, sedikitpun ia tidak paham kekejian manusia umumnya.
Maka ketika didengarnya suara kaget sigadis tadi, ia menjadi tidak enak perasaannya.
lekaslekas ia memeganginya sambil berkata.
"Jangan takut, duduklah yang anteng, sudah dekat tanah datar, jangan kuatir. Apakah tanganmu merasa kesakitan?"
Karena dipegangi, Auyang Wan terus bersandar diatas bahu Kang Hay-thian, rambutnya yang panjang kusut itu melambai ke-leher pemuda itu hingga membuatnya geli. Dengan suaranya yang genit ia berkata.
"Wah. aku hampir mati kaget terbanting kebawah. Huh, kenapa malah engkau mentertawai aku?"
Hay-thian merasa badan sigadis sangat halus lunak, sedikitpun tiada tenaga, tentu saja ia tidak mencurigai gadis itu.
disangka-nya Hiat-to yang dicengkeram itu cuma kebetulan saja.
Kini badan sigadis menyandar pada bahunya, ia menjadi berdebar-debar dan rada kabur semangatnya.
Lekas-Lekas ia betulkan duduk sigadis.
ia sendiripun menggeser sedikit, lalu katanya.
"Aku tidak mentertawai engkau, tapi merasa geli karena tanganmu persis menggelitik d.pinggangku. Sekarang sudah sampai ditanah datar, engkau tidak perlu memegang terlalu kencang lagi."
Auyang Wan seperti menyesal oleh kejadian tadi, katanya.
"Aku selamanya tidak pernah menunggang kuda, karena kaget terguncang tadi. tanpa sengaja telah mencengkeram badanmu yang menimbulkan geli. Harap engkau suka memaafkan."
Baca Juga: Tujuh Pembunuh 3
Baca Juga: Golok Yanci Pedang Pelangi 5