Eps 2 Kisah Pedang Di Sungai Es - Liang Ie Shen
Baca online Kisah Pedang Di Sungai Es - Liang Ie Shen
Cersil Kisah Pedang Di Sungai Es - Liang Ie Shen.
Dengan demikian, tentu saja keadaan berubah, Ki Hiau-hong menjadi terdesak malah.
Dalam pertarungan sengit itu, Ki Hiau-hong terkena sekali serangan "In-ciang"
Yang bertenaga lemas, biarpun Ki Hiauhong telah gunakan Iwekangnya untuk melawan juga, cuma 6-7 bagian tenaga pukulan itu kena dipatahkan. Maka isi perutnya terguncang.
"Huak!"
Arak yang tadi diminumnya telah tersembur semua.
Memangnya arak yang dia minun sangat banyak, maka sekali sembur, mirip air mancur saja hingga kasa yang bagus itu basah lepek.
Karuan Cufayu marah, ia memaki-maki.
"Bangsat kurang ajar. Kasa tuanmu dibikin bau dan lepek"
"ABIS, memangnya kau harum?"
Ki Hiau-hong mengolokolok dengan tertawa.
"Huh! bau bacin dari badanmu itu jauh lebih busuk lagi!"
Saking geli, Kang Lam sampai tertawa terpingkal-pingkal.
Tapi hanya sekejap saja ia tertawa, habis itu ia tak bisa tertawa lagi.
Sebab setelah Ki Hiau-hong bisa lepaskan diri dari serangan musuh berkat semburan arak tadi, hal mana telah makin bikin murka Cufayu, ia merangsang lebih dekat lagi dengan kasanya, hingga Ki Hiau-hong yang lagi berkutatan dengan Cufayan beberapa kali hampir-hampir kena diserang karena menghindari jaringan kasa Cufayu.
Melihat keadaan itu, Kang Lam menjadi kuatir, untuk menang terang Ki Hiau-hong tiada harapan, bahkan kini hendak laripun susah.
Segera Kang Lam jemput peberapa potong batu dengan cepat ia timpukan kepunggung Cufalan secara beruntun sambil berseru.
"Kau lekas lari, Toako!"
Memangnya ilmu Tah-hiat atau memukul Hiat-to Kang Lam sangat lihay, cuma sayang tenaga dalamnya masih kurang sempurna, terdengar suara "plok"
Sekali, punggung Cufalan kena tertimpuk batu, namun orangnya hanya terhuyung sedikit dan tidak roboh.
Dalam keadaan itu secepat kilat kasa Cufayu sudah bekerja.
Sekali sapu, semua batu timpukan Kang Lam telah kena digulung olehnya.
Sebenarnya dengan kepandaian Cufalan, tidak seharusnya ia kena ditimpuk oleh Kang Lam cuma dia memang pandang enteng jago bekas kacung itu, sedikit lengah, dia lantas telan pil pahit.
Untungnya Hiat-to yang tertimpuk itu adalah Hinyang-hiat yang mengakibatkan gatal geli saja, maka tidak terluka.
Namun hal itu sudah membuatnya murka, ia membentak .
"Siau cat (bajingan cilik) marilah kaupun maju sekalian. Kau saling sebut saudara tua dengan bangsat tua ini. Kalau memang jiwa setia kawan, hayo maju"
Tapi lekas-lekas Ki Hiau-hong membisiki Kang Lam lagi dengan ilmu mengirim gelombang suara "Adik cilik, jangan sembronono, lekas kau lari, lekas!"
Jago silat yang sedang saling gebrak, mana boleh berlaku lengah?
Sedikit Ki Hiau-hong meleng, tahu-tahu kasa Cufaya telah dipentang.
Batu-batu yang digulungnya tadi terus dihamburkan.
Selagi Ki Hiau-hong terpaksa berlompatan menghindar, kesempatan itu telah digunakan Cufalan untuk menghantam.
"Biang"!"
Baju Ki Hiau-hong robek beberapa potong, punggungnya tampak membekas darah.
"Toako, kita ada rejeki dikenyam bersama dan ada bahaya ditanggung berbareng, tak perlu kau suruh aku lari. Aku sudah pasti akan maju membantu kau!"
Demikian teriak Kang Lam. Habis berkata, secepat panah, terus saja ia menubruk ketengah kalangan. Karuan Ki Hiau-hong kelabakan kuatir, namun tak bisa mencegah lagi.
"Hahahaha, bangsat cilik ternyata setia kawan juga,"
Cufayu terbahak-bahak, sekali kasanya memutar, kontan terus ditutup keatas kepala Kang Lam.
Cepat Kang Lam papak kedua tangannya keatas, kasa itu dipegangnya, terus hendak disobeknya.
Namun sama sekali tidak bergeming dan tampaknya segera akan dikerudung oleh kasa itu.
Syukur Ki Hiau-hong keburu menolong, dengan, membentak.
"Lepas!"
Secepat kilat kedua jari Ki Hiau-hong mencolok kedua mata Cufayu. Ilmu yang digunakan Ki Hiau-hong yalah "Hian-im-ci"
Yang lihay, suatu ilmu yang sama hebatnya seperti Siu-lo-im-satkang.
Ilmu yang keji dan lihay ini sebenarnya tak hendak digunakan Ki Hiau-hong, tapi dalam keadaan kepepet untuk menolong Kang Lam, terpaksa ia keluarkan juga.
Ketika mendadak merasa angin tajam menusuk matanya, Cufayu terkejut, lekas-lekas ia tarik kembali kasanya untuk menutup mukanya sendiri.
Namun begitu kedua matanya sudah merah pedas hingga mengucurkan air mata.
"Haa... haa... keledai tua ini menangis. Toako, baiklah kita ampuni saja dia"
Seru Kang Lam.
Segera Ki Hiau-hong tangan Kang Lam terus hendak melompat lari.
Cufayu gusar, kasa diputar sekuatnya sehingga Kang Lam tak tahan oleh guncangan tenaga putaran itu.
Dalam kejutnya, Ki Hiau-hong lekas-lekas putar balik untuk menyeretnya lagi.
Tapi pada saat itu juga, pukulan Cufalan sudah menuju kemukanya, begitu juga Cufayu mengebut kasanya ketengah hingga seketika Ki Hiau-hong dipisahkan dan Kang Lam.
Berhubung keadaan kepepet, Ki Hiau-hong tidak hiraukan pukulan Cufalan yang sementara itu telah menghantam pula, lebih dulu.
Ia baliki tangan menggaplok kebelakang.
Saat itu, Cufayu sudah hampir memcengkeram Kang Lam, tapi gaplokan Ki Hiau-hong itu sudah mentalkan kasa yang melintang ditengah-tengah mereka, Cufayu merasakan pula semacam hawa dingin merembes keatas melalui urat nadinya, kontan ia sangat terkejut.
Rupanya itulah Siu-lo-sat-kang yang dilatih Ki Hiau-hong dan sudah mencapai tingkatan ketujuh, sudah dapat Keh-buttoan-keng atau ilmu menyerang dari balik benda.
Tapi karena hendak menolong Kang Lam, Ki Hiau-hong sendiri harus terima satu pukulan Cufalan.
Karena itu, ia tidak sempat mengerahkan lweekang sendiri untuk menolak serangan itu.
Saking kesakitan, matanya berkunang-kunang dan hampir-hampir terjungkal.
Sebaliknya karena terserang oleh Siu-lo-im sat-kang, Cufayu tergetar tidak urung mencengkeram Kang Lam, kesempatan itu dengan cepat digunakan Kang Lam untuk menyelinap ke samping.
"Adik cilik, lekas kau lari saja!"
Seru Ki Hiau-hong.
"Tidak, melarikan diri disaat bahaya bukan perbuatan seorang laki-laki sejati!"
Sahut Kang Lam.
"Biarlah hari ini aku adu jiwa dengan keledai gundul ini!"
"Hm, hanya kau bocah ingusan begini ingin adu jiwa dengan aku?"
Ejek Cufayu sembari mainkan jubahnya dengan tangan kanannya untuk membantu Cufalan menempur Ki Hiau-hong sdangkan tangan kiri dipakai menghadapi Kang Lam.
Meski ilmu silat Kang Lam tidak lemah, kalau dibanding Cufayu masih selisih jauh.
Setelah belasan jurus, ia mulai kewalahan.
Ki Hiau-hong sendiri sudah terkena dua kali pukulan.
Siu-luim-sat-kang yang dilatihnya juga belum mencapai tingkatan yang bisa digunakan sesuka hatinya, karena itu keadaannya semakin bertambah buruk.
Untuk menjaga diri saja sudah terasa susah, apalagi hendak membela Kang Lam.
Hal ini sebenarnya, karena salah perhitungannya, apabila begitu maju tadi segera ia keluarkan Siu-lo-im-sat-kang, sekalipun tidak menang, paling tidak juga takkan kalah.
Tapi kini sudah terlambat.
Berulang kali Kang Lam menggunakan tutukan berat untuk menyerang tapi selalu luput mengenai sasaran.
"Eh, apa kau hendak pamer ilmu tutukanmu? Baik, biar kau coba-coba!"
Tiba-tiba Cufayu tertawa. Menyusul mana, mendadak ia membentak.
"Kena!"
Ia merangsang kedepan Kang Lam sekali pegang, tangan kanan Kang Lam lantas kena dicengkeram.
Berbareng itu, Kang Lam menyambut juga dengan sekali tutukan, tapi dia merasa jaring kesakitan sendiri seakan-akan mengenai batu.
Kiranya Cufayu telah kerahkan tenaga saktinya untuk menutup jalan darahnya.
"Sekarang kau masih berani mengadu jiwa denganku lagi?"
Segera Cufayu berolok dan tertawa.
Meski tangan kanan Kang Lam kena dicengkeram musuh, tapi tangan kirinya masih bisa bergerak.
Walaupun ia sudah tahu ilmu totokannya toh takkan mempan merobohkan musuh tapi setiap orang disaat kepepet tentu akan berusaha sebisanya.
Begitu pula Kang Lam.
Otomatis jari kirinya menutuk pula dengan ilmu Tiam-hiat andalannya itu.
Diluar dugaan, tutukan ini telah menimbulkan kejadian aneh.
Mendadak Cufayu menjerit keras bagai orang kena arus listrik yang hebat, dengan tersipu-sipu ia melompat mundur sambil lepaskan Kang Lam.
"Kenapakah kau?!"
Tanya Cufalan heran.
Dalam pada itu, Kang Lam yang terlepas dari cengkeraman musuh itu tepat jatuh dikipatkan samping Cufalan, baru paderi itu angkat kaki hendak mendepak, tanpa pikir Kang Lam angkat jarinya terus menutuk hingga tepat mengenai "Yongcoan-hiat".
dibawah telapak kaki musuh.
Seketika Cufalan merasa telapak kaki itu seperti kena ditusuk oleh jarum yang tajam, kontan ia menjerit dengan mengucurkan air mata.
Padahal sebelumnya Cufalan juga tahu ilmu tutukan Kang Lam sangat lihay, ketika ia angkat kaki mendepak, lebih dulu ia sudah tertutup jalan darahnya.
Sungguh mimpipun tak tersangka olehnya bahwa Kang Lam memiliki tenaga dalam sehebat itu, sekali tutuk dapat menembus jalan darah yang telah ditutup itu, bahkan urat nadinya ikut terluka.
Masih untung "Yong-coan-hiat"
Itu bukan Kiat-to yang memamatikan, melainkan membikin orang linu pegal dan mengucurkan air mata saja.
Dan betapa cekatannya Ki Hiau-hong, di saat Cufalan lagi angkat kaki hendak mendepak Kang Lam tadi, berbareng iapun lontarkan pukulan kepunggung paderi itu.
Begitu bebat hantaman itu hingga Cufalan berkaok-kaok kesukuan sambil terguling-guling ditanah.
Setelah telan kekalahan itu, mana berani paderi itu bertempur lagi, apalagi Cufalan sudah lebih dulu angkat kaki.
Tanpa pikir lagi, begitu merangkak bangun, segera angkat langkah seribu alias kabur.
Melihar musuh melarikan diri dengan ketakutan, Kang Lam jadi geli hingga melupakan kesakitan diri sendiri.
Ia mendekati Ki Hiau-hong sambil menggandeng tangannya sambil terbahak bersama.
"Adik cilik.
"sungguh terima kasih bantuanmu"
Kata Ki Hiau-hong kemudian.
"Apabila kau tidak menutuk Yong-coanhiat nya, pasti aku tak mampu mengalahkan dia". Biarpun Ki Hiau-hong juga ahli tian-hiat, tetapi kepandaian.
"Pit-hiat"
Atau menutup jalan darah, susah diketahui dari luar.
Sebab itulah ia hanya tahu Yong-coan-hiat lawan kena ditutuk Klng Lam, tapi tidak tahu bahwa sebelumnya Cufalan sebenarnya sudah menutup jalan darahnya, namun toh tetap mempan oleh tutukan Kang Lam itu.
Maka dengan tertawa, Kang Lam menjawab"
"Aah, itu hanya secara kebetulan saja disebabkan dia terlalu enteng menilai diriku. Hahahaha, rupanya dia tidak tahu bahwa ilmu Tiam-hiat-ku ini adalah ajaran Kim-tayhiap, makanya tidak pandang sebelah mata, dan sekarang dia baru tahu rasa!"
Ternyata Kang Lam sendiripun tidak sadar bahwa sebenarnya Cufalan sudah menutup Hiat-tonya lebih dulu.
"Ya. bukan saja dia bahkan akupun tidak mengira bahwa kepandaian itu ternyata sudah sedemikian hebatnya"
"Soal Cufalan hendak mendepak kau hingga keca ditutuk olehnya, itulah dapat dimengerti. Tapi cufayu itu kepandaiannya lebih tinggi dari kawannya. tadi ia sudah kena mencengkeram lenganmu, mengapa mendadak kena dilukai olehmu?".
"Hal itupun salahnya dia sendiri", sahut Kang Lam berseriseri.
"Dia bilang ingin mencoba aku punya Tiam-hiat-hoat, aku dicengkeramnya begitu saja, ia tidak gunakan ilmu Huh kincho-kut-hoat (ilmu membikin otot tulang keseleo), tidak tutuk pula Hiat-toku. Dengan sendirinya aku tidak mau main sungkan-sungkan padanya. Haha, sekali tutuk segera Soan-kihiat didadanya kena dengan tepat!"
Kang Lam memang suka membual kejadian-kejadian yang meninggikan pamornya.
Tentang Soan-ki-hiat Cufalan ditutuknya itu adalah serangan kedua kalinya.
Serangan pertama, jarinya sendiri sampai kesakitan hampir patah, dengan sendirinya tak diceritakan olehnya.
Walaupun Hiau-hong heran cara Kang Lam kalahkan Cufayu agak terlalu mudah dan dirasakan aneh, namun setelah penjelasan Kang Lam itu, ia merasa masuk di akal juga dan mau percaya.
Ia menjadi tertawa oleh cara cerita Kang Lam yang lucu, katanya kemudian.
"Adik cilik benar-benar seorang Hok-ciang (panglima berejeki), dimana terdapat kau, dari bahaya berubah menjadi selamat. Mestinya kalah menjadi menang. Ai, semula aku masih kuatir bikin susah kau, siapa duga kau yang telah menolong jiwa kakakmu ini malah. Haha... sungguh tak tersangka juga bahwa Cufayu itu begitu sembrono memandang enteng padamu hingga akhirnya terjungkal ditanganmu... Adik cilik, terimalah hormatku ini!"
"Toako..."
Lekas-lekas Kang Lam membalas hormat.
"tidak benarlah jika demikian ujarmu. Apabila mengangkat saudara cuma memandang kepentingan diri sendiri, kalau, menguntungkan baru datang, jika ada kesukaran lari lebih dulu. Apa macamnya mengangkat saudara demikian itu? Apalagi cuma urusan kecil, berulang kali kau membilang terima kasih padaku, sebaliknya kau sudi menghadapi bahaya Thian Mo-kaucu untuk menolong putraku. Bagaimana pula aku menyatakan terima kasihku padamu".
"Hahaha, kau benar-benar seorang yang suka terus terang, adik cilik!"
Kata Ki Hiau-hong.
Namun aku adalah seorang yang biasa makan doyan minum, kepergianku ke Ci-lay-san ini masih diperlukan lindungan rejekimu agar keponakanku itu dapat ditolong kembali, habis itu, aku ingin minum sepuaspuasnya pula dengan engkau!"
"Sudah tentu", sahut Kang Lam sungguh-sungguh.
"Tapi kau harus menjadi tamuku dan aku takkan merintangi betapa banyak kau akan minum!"
Habis berkata, iapun terbahakbahak.
"Baiklah, sekarang biarlah kita, berpisah di sini, ingat 10 hari kemudian, kau menunggu kabarku di Boan-liong-ting dikaki gunung Bin-san"
Pesan Hiau-hong.
"Apakah Toako masih ada pesaan lain"
Tanya Kang Lam dengan perasaan berat. Ki Hiau-hong memikir sejenak, lalu katanya pula.
"Adik cilik, bila kau bertemu dengan Kok Ci-hoa Ci Hoa, sampaikan salamku kepadanya". Tapi segera dia geleng-geleng kepala dan menambahkan.
"Tapi, lebih baik jangan. Tak usah sebut-sebut namaku dihadapannya"
"Aku dapat memahami perasaanmu, Toako. Tapi akupun kenal jiwa Koh-lihiap"
Kata Kang Lam.
"Pasti akan kuceritakan padanya tentang cita-cita dan perubahan kelakuanmu dan aku percaya, demi mengetahui dia mempunyai seorang Suheng demikian, pasti dia takkan merasa malu, sebaliknya akan bangga!"
"Baiklah", sahut Hiau-hong tertawa.
"kutahu untuk melarang kau bicara, jauh lebih sukar daripada melarang aku minum arak. Terserahlah cara bagaimana kau hendak katakan padanya". Begitulah mereka berdua lantas berpisah. Ditengah jalan, bila Kang Lam mengingat-ingat Kembali peristiwa tadi, dari kalah tiba-tiba bisa berubah menjadi menang hingga kedua Hoanceng kena dibikin ngacir, dia menjadi sangat senang, mirip anak kecil habis melakukan sesuatu yang menarik. Seorang diri ia menggumam.
"Bagaimana Ki-Toako? Biarpun adik angkatan yang baru kenal ini tidak kepandaiannya, tapi masih ada gunanya juga bagimu!"
Demikian dia mengguman sendiri sebentar ketika tiba-tiba dia terkesiap mendadak "He...! tidak betul... tidak betul"
Apanya yang dikatakan tidak betul oleh Kang Lam itu?
Kiranya meski ia suka bicara, gemar omong besar, tapi ia juga cukup kenal akan diri sendiri.
Sehabis lupa daratan saking senang tadi, mendadak ia teringat akan sikap Ki Hiau-hong yang ragu-ragu ketika bicara padanya tadi.
terutama kata-kata sang Gi-heng.
"Sungguh tidak nyana Cufayu demikian semberono memandang enteng padamu hingga kena dikalahkan olehmu"
Maka diam-diam Kang Lam bertanya pada diri sendiri.
"Sebabnya aku bisa menang apa benar karena musuh terlalu memandang enteng padaku?". Dalam ilmu silat, Kang Lam sudah mempunyai dasar yang cukup kuat. maka begitu dia bisa berpikir dengan kepala dingin, segera dapat dirasakan banyak hal-hal yang menyangsikan. Teringat olehnya ketika lengan sendiri lena dicengkeram Cufayu, ia merasa separoh tubuhnya lemas pegal, tenaga yang mampu dikerahkan hanya tinggal setengahnya saja. teringat pula olehnya waktu hiat-to Cuyafu kena ditutuk olehnya dua kali. Tutukan Pertama sangat berbeda daripada tutukan kedua. Yang pertama jarinya serasa menutuk batu hingga jari sendiri kesakitan, tapi tutukan kedua seperti mengenai daging yang empuk saja. Kemudian teringat pula olehnya ketika Yong-coan-hiat ditelapak kaki Cufalan kena ditutuknya, sudah terang ia merasa musuh tutup jalan darahnya, karena itu diam-diam ia bertanya pada diri sendiri.
"Kekuatan Cufalan itu sepadan dengan Ki Toako, kenapa sesudah Hiat-to ditutupnya, toh masih bisa dirobohkan olehku? Aiaa, aku hanya suka menyombongkan diri sendiri, tapi lupa memberitahukan hal itu pada Ki Toako tadi. Cufalan menutup jalan darahnya, sebagai orang ketika dengan sendirinya Ki Toako tidak tahu, tapi aku dapat merasakannya!"
Setelah memperoleh tanda-tanda yang meragukan itu, segera Kang Lam teringat juga pada, suatu peristiwa dtmasa 10 tahun yang lampau.
Tatkala mana dia masih belum bertunangan dengan Ce Siang-he dalam perjalanannya, ia lewat dirumah isterinya itu.
Kebetulan waktu itu banyak jagojago lihay dari Sia-pay yang hendak menuntut balas pada ibunya Ce Siang-he, Nyo-liu-jing.
Karena membela ketidakadilan, ia lantas ikut membantu dan menang beberapa babak pertandingan hingga melepaskan Nyo-liu-jing dari kesukaran.
Semula Nyo-liu-jing memandang hina Kang Lam tapi karena peristiwa itu, barulah berubah penilaiannya dan suka menjodohkan puterinya kepada Kang Lam.
Tatkala itu Kang Lam sendiri dibikin bingung oleh kemenangankemenangannya itu, kemudian baru ia tahu duduknya perkara, yaitu atas bantuan Kim Si-ih Biarpun Kang Lam terkadang suka ketolol-tololan, tapi orangnya tidaklah dungu.
Memikir akan pengalamannya itu, seketika ia sadar, saking kegirangan, terus saja ia berteriakteriak.
"Kim-tayhiap, Kim-layhiap! Wah, betapa susah aku Kang Lam mencari engkau, siapa duga kau sudah berada disini. Marilah, jangan engkau bergurau lagi dengan aku, lekaslah keluar!"
Padahal disekitarnya hanya ladang sunyi belaka yang ada melulu suara kumandang Kang Lam sendiri.
Namun ia masih belum putus asa, berulang kali ia menggembor lagi dan tetap tidak tampak bayangan Kim Si-ih.
Karuan Kang Lam gugup, cepat teriaknya lagi.
"Hai! Kimtayhiap, bukan hanya aku, Hiau-hong juga lagi mencari engkau. Maukah kau mendengar cerita tentang dia?"
Tetapi tetap tidak ada sesuatu sahutan orang. Diam-Diam Kang Lam membatin.
"Jangan-Jangan orang yang telah membantu aku itu bukan Kim-tayhiap? Tapi, lantas siapa? Ah, mustahil bukan dia. Kecuali dia, dijagat ini siapa lagi yang mempunyai kepandaian sehebat itu?"
Kang Lam cukup kenal watak Kim Si-ie yang aneh, maka. pikirnya pula.
"Ya, mungkin ada alasannya, maka Kim Tayhiap tidak ingin menemui aku sekarang. Sesudah sampai di Binsan, pasti aku bisa ketemu dia. Ai, cuma sayang Ki-toako sudah pergi jauh!"
Meski rada sayang bagi Ki Hiau-hong, namun bila mengingat tidak lama lagi dirinya bakal bertemu dengan Kim Si-ie, hati Kang Lam senang tak terkatakan.
Segera ia percepat langkahnya menuju ke Bin-san.
Besoknya diwaktu lohor, Kang Lam sudah sampai dikaki gunung Bin-san.
Disitu terdapat sebuah gardu mengaso yang dikelilingi pohon-pohon rindang.
Di gardu itu ada seorang tua penjual minuman.
Melihat Kang Lam berkeringat, kakek tua lantas menyapa.
"Mampirlah dulu, tuan tamu, mengaso sebentar melepaskan lelah!"
Memang Kang Lam lagi merasa lapar dan haus. Segera dia masuk gardu.
"Apakah kau menjual arak dan daharan sekadarnya?"
"Di pegunungan sunyi demikian, mana bisa aku menjual makanan begitu?"
Ujar orang tua itu.
"Sebenarnya Siauloji (orang tua) juga tidak berdagang, cuma beberapa hari sudah dekat perayaan kelenting Yok-ong-bio diatas gunung ini. Tetamu yang naik keatas gunung rada banyak. Daripada menganggur dirumah, Siauloji lantas masak teh disini sekedar membantu tetamu yang lewat melepaskan dahaga, tentang pembayaran, aku tidak minta, terserah tuan tamu berapa mau kasih."
Melihat orang tua itu sangat ramah-tamah Kang Lam lantas duduk dan ajak mengobrol padanya. Tanyanya.
"Kutahu diatas gunung ini ada sebuah kelenting Hian-li-bio, tapi kau bilang ada lagi sebuah Yok-ong-bio, malah tidak pernah kudengar"
"Yok-ong-bio itu sebenarnya hanya kelenting bobrok saja yang diperbaiki oleh para petani-petani penanam obat dan pemburu sekitar sini, sudah tentu tak bisa dibandingkan Hianli-koan", sahut kakek itu.
"Cuma saja Hian-li-koan itu juga ada sedikit hubungannya dengan Yok Ong-bio"
"Hubungan apa?"
Tanya Kang Lam "Nikoh yang tinggal di dalam Yok-Ong-bio itu memangnya berasal dari Hian-li-koan"
Demikian tutur si kakek.
"Obat luka dari Hian-li-koan terkenal sangat manjur. Dahulu penduduk disekitar sini kalau ada yang luka digigit binatang, sering minta obat kesanal Tapi kelenting itu terletak diatas puncak gunung, orang turun naik tidak mudah, maka Hian-li-koan telah kirim dua orang Nikoh untuk tinggal di Yok-ong bio dan kamipun serentak menganggap mereka sebagai pengurus kelenting itu."
"Ha.. ha.. ha.. Yok-ong-yaya (Tuhan Raja Obat) adalah pria, mana boleh diurus oleh kaum Nikoh?"
Ujar Kang Lam tertawa.
"Ah, toh bukannya kelenting yang keramat segala, yang kami pentingkan ialah obatnya yang mujarab, peduli apa dia pria atau wanita"
Sahut kakek itu ikut tertawa. Setelah Kang Lam minum habis semangkok teh dan selagi hendak membuka kantong ransum, mendadak kakek itu berkata.
"Aku ada sedia cap-bu-pui (gorengan intip nasi), tidak perlu bayar. Nih.. makanlah, jangan sungkan-sungkan engkoh cilik". Kang Lam tercengang sejenak, tapi segera tahu maksud orang tua itu. Nyata karena ter buru-buru menempuh perjalanan dandanan Kang Lam menjadi koyak-koyak dan robek setelah bertempur kedua Hoanceng itu, dia disangkanya seorang yang miskin, maka ditawari makanan sederhana yang tidak perlu uang. Kang Lam tidak ingin menolak maksud baik orang tua itu tanpa penjelasan lagi dia terima pemberian Cabi-pui itu terus dimakan.
"Kau sangat baik, Lo kongkong, bukan saja memberi amal teh padaku, bahkan memberi pula Ca-bi-pui yang enak ini!"
Demikian kata Kang Lam.
Tengah bicara, tiba-tiba tampak sebuah joli kecil mendekati gardu itu.
Joli kecil itu cuma digotong dua orang, tapi masih baru dengan ukiran-ukiran yang diberi warna emas, indah nan agung.
Kang Lam dan kakek tadi jadi heran.
Setelah berhenti, dari dalam joli tampak melangkah keluar seorang nyonya yang berdandan mewah.
Saking kesima, orang tua penunggu gardu sampai membelalakkan mata hingga lupa menyapa.
Kalau melihat perbawa nyonya itu, tentulah keluarga kaum pembesar.
Dan di kaki gunung Bin-san yang sunyi itu bisa mendapat kunjungan seorang nyonya, itulah selama ini tidak pernah terjadi, makanya sikakek itu sampai ternganga, pikirnya.
"Apa barangkali dia hendak bersembahyang? Tapi mustahil, Kelenting bobrok Yok-ong-bio itu bisa mendapatkan kunjungan nyonya besar begini. Apalagi tidak lazimnya orang datang kesini dengan menumpang joli?". Memangnya selama hidupnya orang tua itu belum pernah melihat joli sebagus itu, apalagi sorang nyonya besar yang berdandan begitu mewah, penuh hiasan mutiara dan batu permata, pantas kalau dia terpesona terlongong-longong. Setelah kedua penggotong joli meletakkan kendaraan mereka, segeia mereka membentak.
"Hai tua bangka, apa kau sudah gila, kenapa mematung disitu? Hujin datang, kenapa tidak lekas! menyambut?"
"Ya, ya!"
Sahut sikakek itu tersipu-sipu dan cepat pergi menuangkan minuman.
Dengan perlahan-lahan Koanthaythay (nyonya besar) itu masuk ke gardu itu.
Karena heran, dengan sendirinya Kang lam coba memperhatikan nyonya itu.
Tetapi sekali lihat, seketika ia terperanjat.
Bukanlah Kang Lam kaget karena melihat batu permata yang dikenakan nyonya pembesar itu, tetapi terkejut karena melihat di tengah-tengah kedua alis nyonya itu samar-samar bersemu warna hitam.
Ia pernah mendengar cerita Kim Si-ie bahwa orang yang tengah alisnya bersemu warna hitam, tentu orang itu pernah melatih semacam ilmu silat yang keji dan lihay dari aliran Sia pay.
Semakin tinggi ilmu yang diyakinkan itu, semakin tipis warna hitam iiu, bila sudah mencapai puncaknya kesempurnaan, maka warna hitam itu susah dilihat lagi, kecuali kaum ahli.
Kini melihat hawa hitam yang samar itu, Kang Lam menduga ilmu yang diyakinkan nyonya besar itu paling sedikit sudah mencapai tujuh-delapan bagian.
Diam-diam Kang Lam sangat heran dan ragu-ragu, pikirnya.
"Jangan-jangan Kothay-thay ini adalah satu tokoh dari golongan Sia-pay? Tapi ini benar-benar susah dipercaya orang! Ah, boleh jadi dia mempunyai penyakit dalam? Kabarnya orang yang punya penyakit dalam, terkadang di tengah alis timbul hawa warna hitam?"
Tengah Kang Lam termangu, mendadak terdengar bentakan orang.
"Anak busuk, lekas enyah!"
Kiranya kedua penggotong joli tadi telah mendekati Kang Lam dan mengusirnya. Karuan Kang Lam gusar, sahutnya.
"Aku lagi minum sendiri, apa aku telah mengganggu kalian?"
"Banyak mulut, tempiling cecongormu!"
Bentak salah seorang penggotong joli itu, benar juga, tangannya terus memukul Kang Lam.
"Sungguh aku tidak pernah melihat orang sewenangwenang seperti kalian ini!"
Teriak Kang Lam gusar. Tapi ia tidak suka berkelahi dengan orang hanya karena urusan sepele, maka cepat-cepat ia menghindar dengan langkah Thian-lo-poh-hoat.
"Biang!"
Tahu-Tahu pukulan penggotong joli itu mengenai dengklik batu yang diduduki oleh kang Lam sehingga remukan batu muncrat berhamburan.
Terang ilmu yang dipakai itu adalah sebangsa "Hun-guciang" (pukulan mematikan kerbau) atau "Boh-pi-jiu" (pukulan penghancur pilar).
Kang Lam terkesiap.
Bukanlah dia jeri pada penggotong joli, biarpun pukulan itu sangat hebat, rasanya belum bisa menangkan dia.
Cuma kalau seorang penggotong joli saja sudah selihay itu, maka betapa tinggi ilmu si nyonya besar itu dapatlah dibayangkan.
Ilmu pukulan penggotong joli itu telah dapat membuktikan dugaan Kang Lam, nyonya pembesar itu pasti bukan sembarangan Koan thaythay, tapi adalah seorang tokoh lihay dari Sia-pay.
Dalam pada itu karena pukulannya mengenai dingklik batu, tangan penggotong joli tadi berkaok-kaok kesakitan, hampir psrgelangan tangannya patah.
Melihat itu, kawannya naik pitam juga, ia ayun kepalan, segera Kang Lam hendak dijotos.
Dibawah keroyokan kedua orang, sekonyong konyong Kang Lam menyusup kesamping sambil membentak.
"Jika kalian masih menyerang terus, akupun tidak mau sungkan-sungkan lagi".
"Berhenti!"
Tiba-tiba Koan-thaythay berseru Kedua penggotong joli itu tertegun, tidak berani membangkang, dengan rasa di luar dugaan, mereka memandang sang nyonya besar.
"Sama-Sama orang dalam perjalanan, biarkan dia minum disini!"
Ujar nyonya tersenyum. Maka dengan ogah-ogahan, kedua penggotong ioli itu terpaksa meninggalkan Kang Lam, kata mereka.
"Untung bagimu, anak busuk! Kenapa kau tidak lekas menghaturkan terima kasih atas kemurahan hati Thay-thay!"
Namun Kang Lam tidak sudi terima kebaikan itu.
Jika benarbenar bermaksud baik, kenapa sejak mula tidak mencegah bawahannya berbuat sewenang-wenang, terang kau sengaja hendak menjajal kepandaianku.
Untung aku masih punya sejurus dua, kalau tidak mustahil kalian mau sudahi begini saja?
Demikian pikirnya.
Walaupun masih penasaran, namun Kang Lam juga tidak ingin banyak urusan dengan orang-orang demikian.
"Sudahlah kalian tak perlu bikin gara-gara lagi, biarkan dia pergi saja!"
Demikian kata Koan thay-thay tadi. Tapi Kang Lam justeru menjengek, ia kebut-kebut baju sendiri, lalu dengan lagak tuan besar ia sengaja duduk kembali ketempatnya.
"Kau ingin aku pergi, justru aku tidak mau pergi, kau bisa apa?"
Si kakek tadi sebenarnya sedang menuang teh bagi nyonya besar, karena ribut-ribut itu, ia menjadi gugup dan baru sekarang menghatrkan semangkok air teh yang masih hangathangat.
Penggotong joli yang tangannya kesakitan itu rupanya masih mendongkol.
Segera ia gunakan kakek itu sebagai alat pelampiasnya.
Mendadak lengan bajunya mengebut sambil membentak.
"Siapa sudi minum air teh ini? Teh demikian hanya cocok untuk diminum orang udik!"
Berbareng itu, terdengarlah suara kelonangan, mangkok air teh itu jatuh keiantai dan pecah berantakan.
Teh panas bercipratan membasahi badan orang tua itu.
Kang Lam menjadi gusar, segera ia melonjak bangun sambil memaki.
"Apa kalian hendak menganiaya orang tua?"
"He, apa kau masih cari gebuk, ya?"
Bentak kedua penggotong joli itu, lalu hendak merangsang maju lagi. Namun nyonya pembesar itu keburu mencegah, serunya.
"Sudahlah! Orang tua itu tidak tahu kalau kita membawa daun teh sendiri, tak bisa salahkan dia. Eh lohan (orang tua), harap kau tuangkan sepoci air panas saja. kami ada bawa daun teh Pek-lo-jun dari tong-ting".
"Baiklah,"
Sahut sikakek cepat dan menuangkan air panas yang diminta. Habis itu dia dekati Kang Lam, ia mengedipi mata lalu berkata .
"Engkoh cilik, bukankah kau masih harus mendaki keatas gunung? Hari sudah larut sekarang!"
Kang Lam tercengang sejenak, tapi segera ia paham maksud orang tua itu. Pikirnya.
"Ya, tentu dia kuatir aku dipukul mereka, maka suruh aku lekas pergi dari sini. Walaupun sebenarnya aku tidak gentar, tapi tidak enak juga kalau bikin dia ikut ketakutan."
Watak Kang Lam ialah suka pada kehalusan dan tidak doyan kekerasan.
Meski perangainya ramah namun tidak rela juga kalau dihina orang.
Sebenarnya ia sengaja tidak mau pergi dari situ, tapi demi melihat sorot mata orang tua itu menyinarkan rasa memohon, ia menjadi tak tega, ia pikir toh dirinya memang buru-buru ingin menemui Kok-lihiap, buat apa cari gara-gara disini lagi.
Berpikir demikian, hati Kang Lam menjadi dingin kembali, segera ia berbangkit dengan berkata.
"Terima kasih atas peringatan Lotiang, hampir-hampir aku lupakan tempo yang berharga, terimakasih juga atas pemberian makananmu tadi. Sedikit uang ini bukan sebagai ganti makanan itu, tapi sekedar tanda rasa penghargaan harap kau suka terima."
Sembari berkata, ia terus merogoh serenceng uang perak dan diserahkan pada kakek itu.
"Engkoh cilik, kau hanya minum semangkok teh saja, mana berani aku terima pembayaranmu sebanyak ini"
Seru siorang tua dengan heran.
"Aku sudah katakan bukan uang minum tapi sekedar tanda terima kasihku, kalau kau tidak terima, itu berarti memandang hina pada ku", sahut Kang Lam memaksa. Dan tanpa menunggu jawaban lagi, segera ia gendong rangsalnya terus melangkah keluar gaidu itu. Ketika ia berpaling, ia lihat kedua penggotong joli tadi sedang memandangi dirinya dengan mata terbelalak. Terdengar seorang lagi berkata.
"Tadi kita memaki dia sebagai kera, siapa duga uangnya begitu banyak!"
"Ah...! paling-paling hanya seorang maling kecil-kecilan, berhasil mencuri beberapa tahil perak, lantas pamer kepada orang desa,"
Sahut kawannya. Diam-diam Kang Lam mendongkol, ia menjengeknya sambil memaki didalam hati.
"Dasar anjing!"
Segera ia menuju ke atas gunung dengan langkah lebar.
Ketika lewat kelenting Yok-ong-bio ditengah gunung, Kang Lam melihat beberapa orang laki-laki yang berpakaian compang camping sedang bicara merubungi seorang Nikoh tua.
Laki-laki itu banyak yang pundaknya berdarah dan sebagainya.
Kang Lam menjadi ketarik pula oleh pemandangan itu, pikirnya.
"Kenapa begini kebetulan, apakah mereka kena digigit harimau hingga pundaknya terluka semua?"
Ia lihat, Nikoh tua itu lagi membagi-bagikan bungkusanbungkusan kecil obat kepada mereka.
Kang Lam mengenali Nikoh tua itu adalah anak murid Bin-san-pay satu angkatan dengan Co Kim-ji.
Tapi nikoh tua itu lagi pusatkan perhatiannya memberi amal kepada laki-laki yang terluka itu.
Pakaian Kang Lam terlebih kumal pula dari orang?
itu, maka ia sangka Kang Lam hanya seorang pemburu biasa yang lewat disitu.
Bermula Kang Lam bermaksud masuk kelenteng itu untuk melihatnya, tapi melihat hari lewat lohor, kalau turuti watak sendiri yang suka ngobrol, sekali masuk kelenting dan mulai pentang mulut, bukan mustahil banyak tempo yang akan terbuang lagi.
Maka katanya dalam hati.
"Biarlah kutemui Koklihiap terlebih dahulu. kemudian akan kutanya keterangan padanya."
Kang Lam meneruskan keatas gunung.
Kira-Kira Setengah jam kemudian, jalanan makin terjal sementara itu sekitarnya sudah sunyi senyap.
Tiba-Tiba ia dengar ada suara tindakan orang dan belakang, menyusul suara seorang sedangmemaki.
"Kurang ajar. kembali ketemu anak keparat ini!"
Waktu Kang Lam menoleh, kiranya nyonya pembesar yang numpang joli tadi sudah menyusul datang.
Jalan pegunungan terlalu sempit dan terjal, orang biasa mendaki dengan bertangan kosong juga merasa capek, tapi kedua penggotong joli itu ternyata bisa berlari secepat terbang, hanya sekejab saja sudah berada dibelakang Kang Lam.
Dengan menahan rasa dongkol, Kang Lam menyingkir kepinggir untuk memberi jalan.
Melihat itu, kedua penggotong jeli itu terbahak-bahak.
Kata yang seorang.
"Haa... haa... mungkin siaucu ini sudah kenal lihat, maka sudah kapok"
Tapi seorang lagi menyahut.
"Siaucu itu sudah merasa pernah melihatnya. Eh ya... ingatlah aku! Kejadian di kota Sinan malam ini, Siaucu itu seperti juga berada disana"
Kang Lam tergerak mendengar itu, pikirnya.
"Jangan-Jangan malam kemarin dulu mereka juga mendatangi hotel dimana aku menginap itu dengan maksud hendak merebut harta pusaka yang di bawa pemuda she Bun? Mungkin orang yang datang malam itu terlalu banyak, maka mereka belum ikut turun tangan, tapi mereka kenal aku dan aku tidak kenal mereka."
Ia coba percepat sedikit langkahnya hingga selalu berjarak belasan tombak dibelakang joli itu. Ia menjadi heran pula demi nampak joli itu digotong terus keatas gunung. Semula ia sangka "koanthaythay"
Ini hendak sembahyang ke Yok-ong-bio, tetapi sekarang sudah terang dugaannya salah. Semakin dipikir Kang Lam semakin heran. Pertama.
"koanthaythay"
Itu sudah terang seorang berkepandaian tinggi, kenapa dia mendaki keatas gunung dengan naik joli?
kalau bilang hendak pamer keagungannya, di Bin-san yang sunyi ini, hendak dipamerkan kepada siapa.
Kedua, penggotong-penggotong joli itu bicara dengan bebasnya, sama sekali tidak takut, tampaknya hubungan dengan "koanthaythay"
Itu bukan antara majikan dengan hambanya.
Jika begitu, ilmu silat mereka toh cukup hebat, kalau dibanding orang kangouw umumnya boleh dikata jauh lebih tinggi, lalu mengapa sudi menggotong joli bagi seorang wanita?.
Ketiga dan yang paling penting apa tujuan mereka ke Bin-san ini?.
Sebab Kang Lam sekali-sekali tidak percaya kedatangan mereka hanya untuk pesiar saja.
Tiba-Tiba Kang Lam teringat pada obrolan pelayan dihotel Sin-an tempo hari.
Pelayan itu mengatakan bahwa kamar yang dipakainya itu pernah ditinggali seorang nyonya besar yang berdandan mewah, sedangkan kamar itu dimasa dulu pernah juga ditinggali Kim Si-ie dan Le Seng-lam.
Jangan-Jangan nyonya besar, yang dimaksudkan itu adalah Koanthaythay yang ini?
demikian pikirnya.
Tapi kalau dia hubungkan kedua persoalan itu, ia merasa toh tiada sesuai alasan apapun juga.
Begitulah joli itu terus mendaki keatas gunung diikuti Kang Lain dalam jarak tertentu.
Tidak lama kemudian,mendadak joli itu berhenti, kedua penggotong menoleh serta memaki kepada Kang Lam dengan sengit.
"Anak keparat kenapa kau selalu mengintil "koanthaythay"
Kami?"
Berulang kali dimaki dan didamperat, betapapun sabarnya Kang lam, Kontan dia balas memaki.
"Persetan dengan koanthay-thaymu segala! Emangnya apakah jalan ini milikmu? Jika mau bicara siapa yang mengintil?. Baik, bukankah kau aku tadi jalan lebih dulu, kenapa kalian menyusui kemari? Aku tidak tuduh kalian, sebaliknya aku yang dituduh! Sungguh dunia terbalik!"
"Anak keparat, kau pinta putar lidah, ya? Apa barang kali kau sudah bosan hidup?"
Maki kedua penggotong joli dengan gusar.
"Kalian hendak apa? Apakah ingin membunuh aku?"
Sahut Kang Lam dengan gusar. Tiba-Tiba penggotong joli yang depan tertawa iblis sekali, katanya dengan seram.
"Disini sepi senyap, bereskan saja bocah itu!"
Nadanya seperti lagi tukar pikiran dengan kawannya mirip pula sedang mohon persetujuan majukannya.
Dan baru selesai ucapannya, terdngarlah suara mendenging.
Dua panah kecil secepat kilat menyambar ke arah kang Lam.
"Menyerang secara gelap. terhitung orang gagah macam apa?"
Bentak Kang Lam.
"Huh, juga belum tentu mampu melukai aku!"
Berbareng ia mainkan ilmu "Tiat-ci-sian-kang"
Atau ilmu sakti jentikan jari ajaran Kim Si-ie yang lihay, ia menyentil cepat hingga kedua panah kecil kena diselentik terpental ke samping.
Tapi pada saat hampir sama, tiba-tiba jidatnya terasa nyes dingin, menyusul terdengar suara nyaring sekali.
Waktu ditegasi, ia lihat sebuah paku baja sudah menancap dibatang pohon dibelukangnya.
Tak usah ditanya lagi, terang jidatnya barusan telah terserempet oleh jarum baja itu.
Sungguh kejut Kang Lam bukan kepalang, sudah terang dilihatnya cuma kedua batang panah tadi yang menyambar kearahnya, kenapa mendadak bisa bertambah sebuah paku baja yang entah datang dari mana?.
Dan pada saat itulah terdengar suara Koan thay-thay didalam joli itu berkata.
"Sudahlah, kalian jangan bikin onar lagi. Hayo berangkatlah"
Baru sekarang Kang Lam sadar akan duduknya semua perkara.
Bahwa pembidik paku baja itu adalah si nyonya besar itu?
Dan kalau benar, caranya melepaskah am-gi atau senjata gelap dari dalam joli.
Senjata gelap itu sudah menyamber sampai didepannya masih belum terasa, maka dapat dibayangkan ilmu kepandaian si nyonya besar itu benar-benar lihay dan aneh.
Belum selesai Kang Lam merenung, tiba-tiba telinganya seolah-olah dibisiki orang.
"Hayo berangkat!"
Saat itu kebetulan Koan thay-thay tadi habis mengatakan "Hayo, berangkatlah"
Maka kalimat itu seakan-akan kumandang suara dari nyonya itu.
Seketika Kang Lam menjadi bingung apakah suara yang didengarnya itu memang benar kumandang suara sinyonya atau suara seorang yang lain.
Kata Kang Lam di dalam hati.
"Ya, memang tak perlu juga cekcok dengan mereka, jiwaku ini masih perlu dipertahankan untuk menemui Kok-lihiap. Paling penting sekarang harus menjumpai Kok-lihiap dulu!"
Dengan keputusan seperti itu, ia keluarkan gingkangnya yang tinggi.
untuk manjat ke atas gunung melalui tebingtebing dijurusan lain, jadi tidak menguntit lagi dibelakang joli Koan thay-thay tadi.
Sayup-Sayup ia masih dengar suara omel maki kedua penggotong joli tadi.
Kembali hati Kang Lam tergerak.
"He, apakah Yauhu (perempuan siluman ) itu hanya sengaja hendak menggertak aku? Atau dia sebenarnya ingin mengambil nyawaku, tapi diam-diam jiwaku dapat ditolong oleh Kim-tayhiap"
Segera Kang Lam percepat langkahnya panjat keatas melalui jalanan kecil yang lebih dekat, sekaligus tanpa mengaso, ia sudah berlari sampai didepan Hian-li-koan.
Ketika menoleh kebelakang, joli si nyonya besar tadi masih belum kelihatan.
Setelah tenangkan diri, Kang Lam berpikir pula.
"Dengan pakaianku yang sudah compang camping begini, tidaklah enak untuk menjumpai Kok-lihiap."
Sebenarnya dia membawa beberapa pasang pakaian serep, cuma buru-buru menempuh perjalanan hingga selama itu belum pernah salin.
Kini tiian-li-koan sudah didepan mata, dengan sendirinya ia merasa lega.
Maka segera ia menyasup ke dalam semak-semak rumput untuk tukar pakaian.
Belum lagi Kang Lam selesai mengenakan pakaiannya yang baru, ia menjadi kaget ketika sekonyong-konyong terdengan suara seruan seorang bocah.
"He!, kokoh, lihatlah ini. Hi.. hi.. ada seorang telanjang pinggulnya bersembunyi di sini"
Menyusul mana segera terdengar pula bentakan seorang laki-laki yang keras.
"Siapa yang sembunyi disitu? Lekas menggelinding keluar!"
Buru-buru Kang Lam kencangkan celananya dan menyusup keluar dari semak-semak itu.
Ia lihat seorang laki-laki sudah berdiri dihadapannya dengan mata melotot gusar.
Disampingnya ada pula seorang wanita yang berdiri membelakangi dirinya.
Kecuali itu ada lagi seorang anak perempuan berusia antara enam-tujuh tahun sedang goresgores pipinya didepan Kang Lam untuk memalu-maluinya.
Tapi waktu mengenali Kang Lam, segera laki-laki tadi berseru lagi.
"Jadi kau bu... bukankah kau adalah Kang Lam?"
Waktu Kang Lam menegasi, kiranya memang laki-laki itu sudah dikenalnya, yaitu suhengnya Kok Ci-hoa, Lo Eng-ho. Kang Lam menjadi jengah hingga merah mukanya, maka cepat dia memberi penjelasan.
"Ooo, kedatanganku yalah ingin menjumpai Ciangbunjin kalian. Sampai diatas gunung baru ingat bajuku sudah tak karuan, maka sedang salin pakaian. Sungguh kurang sopan sekali". Lo Eng-ho terbahak-bahak, serunya segera.
"Sumoay, marilah sini. Dia bukan orang asing, tapi adalah sobatku, Kang Lam."
Baru sekarang wanita tadi berpaling serta memberi hormat kepada Kang Lam. Pikirnya dldalam hati.
"Kang Lam ini benarbenar seperti apa yang dikatakan orang. Sudah sebesar ini, kelakuannya masih dogol begini. Bertamu ke rumah orang, tapi baru salin pakaian sesudah sampai didepan pintu rumah orang!"
Dan wajahnya yang mengunjuk rasa geli tertahan itu membikin Kang Lam semakin kikuk.
"Kang Lam", demikian Lo Eng-ho berkata.
"Angin apakah yang meniup engkau kesini? Hayolah, mari kuhantar kau kedalam!"
Tapi bocah perempuan tadi terus berseru.
"Tidak. aku tidak mau bersama-sama dengan lelaki yang pinggulnya telanjang. Aku ingin petik buah bersama Kokoh ke sana"
Eng-ho tertawa geli lagi, katanya pula.
"Anak kecil sembarangan omong, harap Kang-heng jangan gusar!"
Tapi anak itu masih uring-uringan, katanya pula.
"Mana bisa aku sembarangan omong, tadi aku saksikan sendiri pinggulnya telanjang di situ!". Kang Lam sendiri menjadi geli juga, pikirnya dalam hati.
"Masih untung setan cilik ini yang melihat keadaan tadi. Apabila sampai di lihat juga oleh wanita itu, tentu aku lebih malu pula". Begitulah Kang Lam lantas diajak masuk ke dalam Hian-likoan. Ketika diberitahu kedatangan Kang Lam, Kok Ci-hoa segera ia menemuinya dikamar baca.
"Aia... Kok-lihiap", demikian seru Kang Lam ketika melihat Kok Ci-hoa.
"Ternyata kau serupa seperti dahulu, sedikitpun tidak berubah. Sungguh aku sangat girang"
Rupanya semula Kang Lam mengira Kok Ci-hoa sudah cukur rambut menjadi nikoh, yaitu berhubung patah hati hubungan cintanya dengan Kam Si-Ie.
Tapi kini melihat ia masih pelihara rambut, Kang Lam menjadi girang sekail.
Sebab Kang Lam masih sangat mengharapkan supaya Kok Ci-hoa dan Kim Si-ie bisa dipersatukan kembali dan kalau Kok Ci-hoa belum cukur tambulnya, itu berarti lebih besar pula harapannya itu.
Sebaliknya Kok Ci-hoa tidak tahu maksud pikiran Kang Lam itu, sebab cakal-bakal Bin-san-pay Tok-pi-sin-ni, adalah seorang Nikoh (paderi wanita, biksnm).
Beliau mendirikan Hian li-koan pula diatas Bin-san, maka diantara anak murid Bin-sanpay banyak juga yang menjadi Nikoh didalam kuil itu, tapi Binsan-pay terhitung suatu cabang persilatan yang besar.
Anak muridnya yang terdiri dari orang preman juga sangat banyak dan tersebar dimana-mana tempat.
Ada pula suatu bagian ikut tinggal disekitar kuil situ, disamping menjaga makam Cosu mereka, berbareng menghindari penguberan pemerintah Boanjing.
Sebab iiulah penghuni Hian-li-koan tidak semuanya terdiri dari Nikoh.
Kok Ci-hoa sendiri memang tidak suka menjadi Nikoh.
Tapi bukan sebab peristiwa dengan Kim Si-ie itulah maka ia menjadi geli mendengar ucapan Kang Lam yang tak karuan arahnya itu.
Katanya tertawa.
"Kang Lam, sedikitpun kau juga tidak berubah. Kau masih tetap seperti dulu, suka membanyol. Eh ya. kabarnya kau sudah menjadi ayah. Sudah berapa besarnya anakmu? Kenapa tidak kau bawa bermain kemari?"
"Justeru oleh karena urusan kanak-kanak, makanya aku datang kesini", kata Kang Lam sambil menghela napas. Kok Ci-hoa melengak, tanyanya heran.
"Jadi apakah engkau ini?"
Karena terlalu terburu-buru, Kang Lam tidak sempat menuturkan dari awal dulu. Lebih dulu ia lantas bertanya.
"Kim-tayhiap pernah datang kesini tidak?"
Cara bicaranya tidak karuan susunannya, belum lagi menjawab pertanyaan Kok Ci-hoa tahu-tahu malah tanya.
Tentu saja hal ini membuat Kok Ci-hoa melengak lagi, hatinya berdebar juga demi mendengar Kim Si-ie disinggung.
Ia paksakan tertawa dan berkata "Kang Lam apakah kamu sudah gendeng?.
Kenapa bicaramu tak karuan begitu?"
Tapi dengan serius Kang Lam berkata pula.
"Jikalau Tayhiap belum kemari, boleh jadi aku benar-benar sudah gendeng! Tapi, Kok-lihiap apa benar-benar kau belum bertemu dengan beliau?".
"Tidak,"
Sahut Ci-hoa.
"Sejak dia menghantar obat penawar padaku dahulu, sampat kini aku belum pernah melihatnya."
"Inilah aneh!"
Seru Kang Lam sambil garuk-garuk kepala.
"jika begitu, orang yang diam-diam membantu aku itu apa bukan beliau? Dan kalau dia, kenapa tidak kemari?. Dia boleh bergurau dengan aku, tetapi terhadap engkau, selamanya dia tidak pernah bergurau"
"Kang Lam,"
Kata Ci-hoa dengan muka jengah.
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi, coba ceritakanlah yang jelas."
"Sungguh panjang kalau diceritakan,"
Sahut Kang Lam tertawa getir.
"Tapi, terpaksa harus kututurkan dari awal mula, supaya kau bisa terang duduknya perkara. Puteraku telah di culik orang, berhubung ingin mencari bantuan Kimtayhiap, maka aku datang kemari hendak tanya padamu tentang keadaan beliau"
Lalu ia menceritakan semua apa yang sudah terjadi, tentang puteranya diculik kedelapan wanita berkedok yang mengacau kerumahnya sampai berjumpa dengan Ki Hiau-hong ditengah jalan.
Meski ia buru-buru ingin menghabiskan ceritanya itu, tapi ia pun tidak lupa memberikan pujian pada Ki Hiau hong yang telah merampas harta pusaka untuk membantu kaum miskin, mengembalikan kitab-kitab pusaka kepada para pemiliknya serta angkat saudara dengan dirinya.
Semuanya dia ceritakan, lalu dia tanya Kok Ci-hoa.
"Ki Toako tidak berani bertemu dengan engkau kesini, tapi entah kau sudi mengaku dia sebagai Suheng tidak?"
Sebenarnya Kok Ci-hoa sudah anggap segala kejadian yang lalu sebagai impian beiaka dan tidak ingin mengungkit orangorang yang ada sangkut paut dengan ayahnya.
Tapi kini setelah mendengar Ki Hiau-hong sadah mengubah kelakuannya, suka menuju kejalan yang benar, diam-diam ia ikut bergirang, katanya kemudian.
"Ki Hiau-hong bukanlah anak murid Bin-san-pay, darimana aku mempunyai seorang Suheng begitu, cuma karena dia adalah Gihengmu, memandang atas dirimu, kalau bertemu dengan dia, aku akan memanggil dia sebagai Ki-toako". Segera Kang Lam menceritakan lagi Pertarungan Ki Hiauhong dengan kedua hoanceng ikut-ikut terseret dalam pertempuran dan diam-diam ada orang membantunya dari samping hingga kedua hoanceng dapat dikalahkan. Kok Ci-hoa merasa heran juga oleh kejadian itu.
"Janganjangan Kim Si-ie benar-benar telah muncul kembali!"
Demikian pikirnya. Menyusul Kang Lam hendak menceritakan pula tentang seorang nyonya besar yang dijumpainya itu, tapi pada saat. itulah tiba-tiba datang seorang murid wanita memberitahu.
"Lapor Ciangbun, ada seorang tamu ingin bertemu"
"Tamu macam apa? Kau undang Pek-suheng mewakili aku melayaninya dulu,"
Kata Ci-hoa.
"Ah, toh aku tidak buru-buru hendak pergi, silahkan kau menemui tamu dulu, nanti kita bicara pula,"
Ujar Kang Lam tertawa.
"Tamu itu rada luar biasa,"
Tutur murid wanita tadi.
"Dia datang menumpang joli dan menyatakan minta bertemu sendiri dengan Ciangbun Suci".
"He, bukankah dia seorang nyonya besar yang berdandan sangat mewah?"
Seru Kang Lam. Murid wanita itu terheran-heran, sahutnya.
"Entahlah dari keluarga apa? tapi tampaknya memang seperti seorang nyonya pembesar. Apakah engkau kenal dia?"
"Tidak", sahut Kang Lam.
"Kecuali Gi-heng ku tiada keluarga bangsawan lagi yang kukenal. Wanita itu dapat kujumpai ditengah jalan. Kok-lihiap, bila kau menemui dia, hendaklah waspada, mungkin asal usulnya tidak benar, agak mencurigakan."
"Darimana kau tahu?"
Tanya Cie-hoa.
"Boleh kau perhatikan dia. Lihatlah di tengah-tengah alisnya itu bukankah samar-samar bersemu hawa hitam?"
Sahut Kang Lam. Heran juga Kok Ci-hoa. Pikirnya.
"Biasanya pihak pemerintah suka memusuhi golongan ku. Kenapa hari ini ada seorang nyonya pembesar minta bertemu dengan aku?"
Karena tertarik, iapun tidak sempat tanya Kang Lam lebih jauh, segera katanya.
"Baiklah. tak perduli dia orang Sia-pay atau Cing-pay, keluarga pembesar atau rakyat jelata biarlah kutanya dulu maksud kedatangannya!"
Setelah sampai diruangan tamu, dia lihat ditengah pelataran sudah ada sebuah joli.
Dua kuli penggotongnya dengan bertolak pinggang tampak mengunjuk rasa tidak sabar.
Kok Ci-hoa menyuruh seorang murid wanita menyambut nyonya besar itu keluar dari joli, sedang kedua penggotong joli diterima oleh Loh Eng-ho dan Pek Eng-kiat ke ruangan lain.
Kedua penggotong joli itu rupanya kenal kedudukan Loh Engho dan Pek Eng-kiat.
Semula mereka agak mendongkol karena Kok Ci-hoa lambat menyambut kedatangan mereka, tapi kini mereka sendiri dilayani sebagai tamu oleh dua murid Bin-san-pay yang terkenal, mau tak mau mereka menjadi senang juga.
Ketika Kok Ci-hoa memperhatikan tamunya, benar juga ia lihat nyonya yang gemerlapan dandanannya dengan macammacam intan permata, di tengah-tengah alisnya lapat-lapat bersemu warna hitam.
Kok Ci-hoa adalah tokoh aliran Cing-pay, sebenarnya tidak paham tentang tanda-tanda begitu.
Lagi orang yang meyakinkan semacam ilmu jahat.
Untung sebelumnya Kang Lam telah memperingatkan dia, maka dia bisa berjaga-jaga sebelumnya.
Walaupun kedatangan wanita itu rada mencurigakan, namun Kok Ci-hoa menyambut secara sopan.
Setelah ambil tempat duduk masing-masing, segera ia bertanya.
"Entah siapa nama hujin yang mulia? Ada keperluan apakah hingga sudi berkunjung kemari?"
Waktu itu ada seorang murid waniia Bin-san-pay lagi menyuguhkan teh kehadapan Koan thaythay itu. Maka nyonya itu memandang sekejap kepada pelayan itu, lalu berkata.
"Kok-lihiap, urusanku ini ingin kubicarakan dengan engkau berdua saja!"
Kok Ci-hoa rneogkerut kening, pikirnya heran.
"Ada urusan apakah dia ini? Jangan-Jangan kisah Le Seng-lam akan terulang kembali?"
Tapi segera ia memberi tanda juga dan menyuruhmu murid wanita tadi keluar, kalau tidak dipanggil, di larang masuk begitu pula orang lain.
Setelah murid wanita itu menyingkir serta pintu ruangan ditutup, lalu Kok Ci-hoa bertanya lagi.
"Hujin, ada urusan apa, sekarang bolehlah engkau bicarakan."
Lebih dulu Koanthaythay itu memberi hormat, lalu tuturnya.
"Aku berasal dari keluarga she-Kui. Suamiku Mo Lam-ting, kini menjabat Holam Thetok"
Thetok adalah gubernur militer. Letak Bin-san itu didalam wilayah Holam. Mendengar itu, wajah Kok Ci-hoa rada berobah. segera sahutnya sambil balas hormat.
"Ah, maafkan kiranya adalah Mo-hujin. Aku adalah rakyat kecil diwilayah kekuasaanmu, sungguh aku merasa gugup dan dan takut atas kesudian Hujin berkunjung kemari!"
Kata-Kata Kok Ci-hoa ini mengandung nada sindiran.
Tapi berbareng rasa curiganya makin bertambah pula.
Apabila apa yang dikatakan nyonya besar itu sesungguhnya, maka susahlah dimengerti bahwa seorang nyonya pembesar kerajaan yang dimuliakan ternyata adalah seorang iblis dari Sia-pay.
Malahan sekarang nyonya besar itu sudi datang ke Bin-san dengan menumpang joli untuk menemuinya, padahal dirinya adalah ketua Bin-san-pay yang biasanya dimusuhi pemerintah kerajaan, bukankah hal ini sangat luar biasa dan susah dipahami.
Rupanya Mo-hujin itu dapat menerka pikiran Kok Ci-hoa, dengan tersenyum dia berkata?.
"Kok-Ciangbun tak usah sangsi-sangsi. Kedatanganku ini tiada ada maksud jahat terhadap golonganmu. Cuma ada satu urusan yang perlu minta bantuan Kok-ciangbun".
"Ah... hujin sukar berkelakar saja". sahut Kok Ci-hoa.
"Padahal suamimu berkuasa, pangkatnya tinggi, urusan apa yang tak bisa diselesaikan, masakan sampai minta bantuanku?"
"Dengan terus terang, urusanku ini sama sekali diluar tahu suamiku,"
Demikian kata Mo hujin.
"Maka bila Kok-ciangbun tidak sudi membantu, aku pasti menyesal selama hidup!"
Melihat orang bicara secara begitu sungguh-sungguh terpaksa Kok Ci-hoa menjawab.
"Baiklah, jika begitu, silahkan Hujin bicara. Asal tidak mengingkari kebenaran, dimana aku mampu membantu, pasti akan kulakukan sepenuh tenaga". Mo-hujin tersenyum likat, katanya pula dengan lirih.
"Boleh jadi urusanku ini justeru jauh berlawanan dengan kebenaran, cuma Kok-ciangbun adalah seorang bijaksana, sebaliknya urusanku ini teramat penting pula, maka aku percaya Kokciangbun takkan mentertawanku dan terpaksa akan bicara secara terus terang padamu!"
Setelah menghirup teh yang disuguhkan, dengan wajah bersemu merah, Mo hujin menyambung pula dengan bisikbisik "Terus terang kuceritakan, pada sebelum aku menikah, aku telah mempunyai hubungan gelap dengan seorang pelajar sesama kampungku dan melahirkan sepasang anak kembar, satu laki-laki dan yang lain perempuan.
Sehabis melahirkan, kuserahkan bayi-bayi itu untuk disembunyikan kepada mak inang.
Tidak lama, atas perintah orang tua, aku terpaksa menikah, dan kedua anak itu dengan sendirinya tak bisa kubawa serta, bahkan orang tua juga tidak mengetahui.
Terpaksa aku terima usul mak inang untuk menitipkan kedua anak kepada seorang puteranya yang bertani dan tinggal didusun lain.
Sang tempo sungguh lewat teramat cepat, sekejap saja sudah tujuh tahun lalu.
Kasih sayang seorang ibu, tentu Kok-ciangbun dapat menyelami.
Bila kuingat darah dagingku yang berpisahan sampai sekarang ini, sungguh pedih sekali hatiku."
Kok Ci-hoa masih perawan suci, karuan ia menjadi jengah juga mendengar cerita itu.
Pikirnya "Pantas dia minta aku singkirkan orang lain.
Kiranya dia punya rahasia pribadi demikian.
Tapi rahasianya yang bisa dipuji itu, kepada orang tua saja tidak mau bercerita, kenapa sekarang aku yang diberitahu?"
Belum lenyap pikirannya itu, ia dengar Mo-hujin sedang bertanya padanya.
"Kabarnya Kok-lihiap telah memiara satu anak perempuan piatu, entah hal itu benar tidak?"
Kok Ci-hoa tergetar perasaannya oleh pertanyaan itu telah menyinggung suatu yang meragukan dirinya selama tiga tahun ini.
Kiranya Kok Ci-hoa memang benar memungut satu anak perempuan yatim Piatu.
Anak piatu ini asal-usulnya sangat aneh, sampai kini, hal mana masih tetap menjadi teka-teki baginya.
Peristiwa itu terjadi tiga tahun yang lalu.
Suatu hari.
Suhengnya Kok Ci-hoa, yaitu ketua Kay-pang, Ek Tiong-bo, datang berkunjung padanya dengan membawa seorang anak perempuan serta minta Kok Ci-hoa memiaranya, bahkan menceritakan padanya suatu kisah yang mengherankan.
Ek Tiong-bo mempunyai seorang sobat yang tak begitu karib, namanya Khu Giam.
Orang ini adalah tuan tanah kecil di daerah ini Tiong-bo-koan.
Paham ilmu silat dan orang baikbaik.
Malahan dimasa mudanya pernah menjalin karangan Lu Liuliang yang mengkritik keganasan kerajaan Boan-jin serta luas disebarkan kepada kawan-kawan sepaham.
Dari situlan Ek Tiong-bo berkenalan dengan dia.
Kemudian karena pemerintah menguber-nguber sisa pengikut Lu Liu-liang, terpaksa Khu Giam pulang kandang dan menjadi hartawan dikampungnya.
EkTiong-bo suka berkelana, pula dalam kedudukannya sebagai pengemis, dengan sendirinya tidak leluasa berhubungan dengan Khu Giam.
Maka sudah hampir sepuluh tahun mereka tidak saling berjumpa.
Suatu waktu, tiba tiba Khu Giam minta perantara anak murid Kay-pang menyampaikan sepucuk surat penting kepada Ek Tiong-bo dan mengundangnya ketempat tinggalnya untuk merundingkan sesuatu.
Ek Tiong-bo adalah seorang setia kawan, seterimanya surat itu meski merasa heran, ia penuhi juga undangan itu.
Dan begitu sampai, segera Khu Giam mengundangnya kedalam kamar kontan terus menyatakan permohonannya.
"Aku mempunyai seorang putri angkat, ayahnya adalah bekas buruhku, meninggal karena sakit, tinggal seorang putri piatu ini yang sangat kasihan, kebetulan aku tidak punya anak, maka telah mengambilnya sebagai anak angkat. Tapi kini aku sudah tua dan berpenyakitan, mungkin hidupku tidak takkan lama lagi! Demi hari anak itu, sudikah kau menerima anak piatu ini?"
Ek Tiong-bo merasa serba sulit, terus terang ia menyatakan "Selamanya Kay-pang tidak menerima murid wanita, aku adalah pengemis tua seorang diri pula, sekalipun aku ingin menganggapnya sebagai anak, untuk membawanya juga, susah.
Untuk bergurau, masakah nanti kalau dia sudah dewasa juga mesti ikut aku menjadi pengemis wanita?
Maka menurut pendapatku diantara sanak keluarga saudara mungkin masih ada yang lebih cocok untuk menerimanya, dengan demikian bukanlah akan jauh lebih baik dari pada pasrahkan seorang pengemis tua macamku?
Apalagi kesehatan saudara tampaknya masih gagah kuat, kenapa mengucapkan kata yang alamat tidak baik?"
Melihat Ek Tiong-bo tidak mau terima, Khu Giam menghela napas, agaknya ada sesuatu yang susah diucapkan.
Tapi iapun tidak memohon pula.
Sebelumnya ia sudah siapkan perjamuan didalam kamar, maka katanya kemudian.
"Jika Ekpangcu merasa sukar menerima, biarlah urusan ini kita kesampingkan dulu. Sudah lama kita tidak bertemu, marilah kita makan minum dulu sekedarnya."
Setelah minum beberapa cawan, lalu Khu Beng berkata pula.
"Meski Ek-pangcu tidak sudi menerima puteri angkatku itu, namun biarlah dia keluar memberi hormat padamu, tentunya bolehkan?"
Ek Tiong-bo terbahak-bahak, sahutnya.
"Kuatirnya pengemis tua tidak bisa memberi oleh-oleh perkenalan, jangan-jangan bikin Lengjiankim (puteri tersayang) kurang senang!"
Mendengar orang tidak keberatan, segera Khu Giam memanggil keluar puterinya.
Kiranya bocah itu baru berumur 3-4 tahun, wajahnya yang sangat cakap dan bersih, tapi pakaiannya agak aneh, yaitu memakai sebuah baju kapas kain sutera merah yang kecil sempit yang cocok untuk dipakai anak umur dua tahunan saja.
Meski anak perempuan itu dasarnya kurus kecil, namun baginya baju itupun terasa sempit.
Pula waktu itu baru permulaan musim rontok, belum-belum sudah memakai baju kapas, hal inipun tidak menurut jaman.
Selagi Ek Tiong-bo termenung heran, sementara itu Khu Giam sudah menuangi cawannya dan berkata pula.
"Setelah pertemuan kita ini, mungkin susah untuk berjumpa lagi. Harap keringkan secawan ini, ada sesuatu isi hatiku ingin kututurkan pada Ek-pang-cu"
Dengan ragu-ragu Ek Tiong-bo menjawab sambil angkat cawan.
"Persahabatan kita didasarkan atas keluhuran jiwa, pabila Khu-heng benar-benar ada kesulitan, sudah tentu siaute tak bisa tinggal diam! Silahkan bicaralah!"
Seketika Khu Giam menjadi senang, dia terbahak-bahak dan tenggak habis araknya, katanya kemudian.
"Memang demikianlah, aku ingin mendengar dari Ek-pangcu. Seperti ucapan Pangcu tadi, meski kita bukan sababat karib, tapi aku cukul kenal Pangcu sebagai seorang yang luhur budi dan pendekar yang bisa pegang janji! Biarpun banyak sanak keluargaku yang lain, namun yang bisa dipercaya hanyalah Pangcu seorang! Puteriku bukan saja asal usulnya harus dikasihani, mungkin dihari depan masih banyak pula malapetaka yang akan menimpa dirinya. Kini aku tidak mampu menjaganya lagi, sebab itu, walaupun tahu permintaanku ini tidak pantas, namun masih mengharap penimbangan Pangcu atas persahabatan kita, sudilah menerima anak ini. Bila dia dapat memperoleh perlindunganmu, dialam baqa juga aku bisalah tenteram". Makin lama makin lemah suara Khu Giam hawa hitam dimukanya semakin tebal, Ek Liong-bo terkejut, ketika melihat kawan sempoyongan, dia menayangnya dan katanya.
"Khu Beng, kenapakah kau?"
Ek Tiong-bo pahan ilmu pertabiban. ia merasa tubuh orang sangat panas. Ketika memandang air mukanya, terang kawan itu terkena racun yang sangat jahat.
"Khu-beng. ada apa, katakanlah, kenapa mesti begini?"
Seru Ek Tiong-bo.
"Dimana obat penawarnya? Lekas katakan!"
Tapi Khu Giam hanya tuding-tuding anak perempuan itu, lalu tuding diri sendiri sebagai tanda pesannya yang terakhir, yalah mohon Ek Tiong-bo suka menjaga baik-baik bocah itu.
Ketika Tiong-bo membanting poci arak, terdengarlah suara bunyi poci itu pecah remuk serta mencipratkan api, nyata isi poci itu adalah arak beracun.
Kiranya Khu Giam menuang arak untuk dirinya sendiri dengan poci yang berisi arak beracun, sebaliknya untuk Ek Tiong-bo diberikan arak biasa dari poci yang lain.
Dengan mengorbanan jiwa untuk memasrahkan anak piatu, dengan sendirinya Ek Tiong-bo sangat terharu.
Saat itu napas Khu Beng sudah hampir putus.
Suhu badannya dari panas berubah dingin, sekalipun sekarang diberi obat penawar juga takkan tertolong lagi.
Terpaksa Ek Tiong-bo bisik-bisik ditelinga Khu-heng.
"Aku pasti akan rawat baik-baik anak ini. Adakah pesanmu yang lain, lekas katakan!"
Khu Giam meronta-ronta sekuatnya dan berkata dengan terputus-putus.
"Baju... baju kapas bocah itu adalah.... adalah pemberian ibunya. Dia masih punya seorang kakak yang dilahirkan berbareng, kini dipiara oleh.... oleh Yap Kun-san di Tan-liu-koan, dia juga punya sebuah baju kapas serupa. Cuma......cuma kainnya dari sutera hijau, bawalah bocah ini pergi mencari kakaknya. Kedua......kedua baju kapas itu teramat penting sekali, kau......kau harus..."
"Aku harus apa?"
Tanya Ek Tiong-bo keras-keras.
Namun bicara sampai disitu, Khu Giam sudah putus napasnya dan tidak bisa menjawab pertanyaan itu lagi.
Selama hidup Ek Tiong-bo sudah menjelajah Kangouw, sudah banyak hal-hal luar biasa yang dialaminya.
Tetapi tiada sesuatupun yang lebih aneh daripada kejadian ini.
Hal pertama yang membuat Ek Tiong-bo tidak mengerti adalah sebab apa Khu Giam rela mati.
Kalau bilang dipaksa musuh, kenapa waktu bertemu tidak minta bantuan.
Pula tidak sedikitpun tidak mengatakan pada saat ajalnya.
Kedua asal usul bocah itu menurut Khu Giam adalah puteri seorang buruhnya.
Tapi dari baju kapas yang dipakai anak perempuan itu, meski kain sutera baju itu bukan pakaian yang mahal, tapi jarang terbeli oleh kaum petani.
Sebaliknya Khu Giam memberi pesan, katanya penting sekali baju kapas itu.
Bukankah ini terlalu mengherankan?"
Ek Tiong-bo adalah kawakan Kangouw, dengan sendirinya dapat menduga anak perempuan itu pasti bukan bocah sembarangan, Boleh jadi dia yang mengakibatkan Khu Giam direcoki musuh.
Tetapi kalau demikian halnya, mengapa Khu Giam mengarang ceritanya yang tidak betul itu untuk menutupi asal-usul bocah itu?
Keluarga Khu Giam hanya mempunyai seorang hamba tua.
Ketika Ek Tiong-bo tanya padanya, hamba itu menjawab tidak tahu mengapa sang majikan bisa meninggal, cuma beberapa hari yang lalu pernah terjadi kemalingan.
Sejak itu sang majikan tampak masgul.
Dan pagi harinya sang majikan menyerahkan sepucuk surat padanya dengan pesan boleh dibuka kalau tuan tamu sudah pergi.
"Jika begitu, lekas kau buka surat itu. Tentu ada pesan yang dia tinggalkan padamu"
Kata Ek Tiong-bo cepat.
Waktu hamba itu membuka surat itu, benar juga memang surat wasiat, tapi isinya hanya pesan hamba tua itu cara bagaimana membagi harta warisannya, sedang mengenai sebab kematiannya dan diri anak perempuan itu, sedikitpun tidak disinggung.
Waktu ditanya lagi, hamba itu hanya bisa menjelaskan bahwa bocah itu dibawa pulang sendiri oleh Khu Giam pada tiga tahun yang lalu, tentang asal usulnya, sang majikan sama sekali tidak pernah bercerita.
Ditanya lagi tentang kedatangan maling, hamba itu menyatakan ketika mendusin, sang maling sudah lari.
Karena tidak memperoleh sesuatu keterangan memuaskan, terpaksa Ek Tiong-bo berangkat membawa anak perempuan itu dengan penuh tanda tanya!
Akan tetapi, kejadian-kejadian yang aneh masih belum berakhir.
Ketika Tiong-bo mendatangi rumah Yap Kun-san di Tan-liu-koan menurut apa yang dipesan Khu Giam, yaitu untuk mencari kakak kandung anak perempuan itu, ternyata semalam sebelum Tiong-bo datang, Yap Kun-san mendadak meninggal dan anak laki-laki piaraannya itupun lenyap.
Yap Kun-san juga tokoh Bulim yang terkenal.
Dia adalah anak murid tokoh terkemuka Jing-sia-pay, Nyo Cheng.
Oleh karena merasa, tidak baik membiarkan seorang anak perempuan ikut berkecimpung di tengah kawanan pengemis, maka Tiong-bo telah bawa anak perempuan itu ke Bin-san dan suruh Kok Ci-hoa merawatnya.
Ci-hoa sangat suka pada anak perempuan itu, berbareng teringat nasib anak perempuan itu yang serupa dirinya juga yatim piatu yang di piara oleh orang lain.
Sebab itulah, tanpa pikir ia suka sekali menerima bocah itu.
Waktu bocah itu ditanya bernama siapa, jawaban anak itupun sangat aneh, katanya.
"Aku tidak punya nama. Khuyaya hanya panggil aku Lian-ji. Yaya bilang aku hanya sementara tinggal dirumahnya. Ia tidak ingin aku ganti nama, maka akupun tidak she Khu."
"TIDAK punya nama, kan susah memanggil kau,"
Ujar Kok Ci-hoa... Bolehlah kau ikut aku she Kok, maukah menjadi anakku?"
Rupanya bocah ada jodoh juga dengan Kok Ci-hoa, baru sekali omong, terus saja dia berlutut menyembah dan mengakunya sebagai ibu.
Kok Ci-hoa memberi nama Kok Tiong-lian padanya, maksudnya bunga teratai ditengah lembah, yaitu karena dahulu Kim Si-ie pernah memperumpamakan dirinya dengan bunga teratai yang toh putih bersih walaupun tumbuhnya ditengah-tengah lumpur yang kotor.
Ia merasa nasib bocah itu rada mirip dengan dirinya, maka telah diberinya bernama demikian.
Tapi diam-diam ia berdoa, semoga ayah bunda kandung anak perempuan yang tak dikenal itu berasal keluarga baik-baik, semoga nasib bocah itu takkan serupa dirinya.
Disamping itu sebenarnya iapun menaruh sesuatu cita-cita atas diri bocah itu, yaitu ingin membalas budi ayah angkatnya -Kok Cing-peng-yang telah membesarkannya itu.
Kok Cing-peng tidak punya keturunan, sebaliknya dirinya sudah mengambil putusan selama hidup ini takkan kawin, sebab itulah ia ingin piara anak perempuan ini agar bila kelak sudah dewasa dan dinikahkan, tentu dapatlah sekedar menyambung keturunan bagi keluarga Kok.
Den selama beberapa tahun ini, senantiasa ia berkuatir bagi asal-usul puterinya yang penuh rahasia itu.
Sungguh tak tersangka bahwa hal mana akhirnya muncul juga.
Kini ia sudah berhadapan dengan seorang nyonya gubernur militer yang agung, sedang Mo-hujin itu habis menceritakan rahasia pribadinya, serta menanya tentang anak yang dipungutnya itu.
Karuan Kok Ci-hoa tergetar perasaannya, terpaksa ia menjawab.
"Memang benar aku memiara seorang anak piatu, entah dan mana Hu-jin mendapat tahu?"
Mo Hujin tampak senang oleh jawaban itu. Dengan suara pelahan ia berkata.
"Berhubung rinduku kepada kedua anak itu, tempo hari aku pernah kirim orang kepercayaan ke Tiongbo-koan dengan maksud mengambil kembali kedua anak itu untuk ditaruh ditempat yang lebih baik agar anak-anak itu tidak terlalu menderita di keluarga miskin. Siapa duga putera mak inang yang kutitipi anak itu sudah mati, orang suruhanku telah menyelidiki sebisanya, akhirnya dapat diketahui bahwa sebelum putera mak inang itu mati, lebih dulu kedua anakku sudah diserahkan pada orang lain lagi. Kepada siapa puteraku itu diberikan? Sampai sekarang aku masih belum mendapat kabar. Cuma puteriku dapat diketahui berada dirumahnya Khu Giam di Tiong-bo-koan, sedang Khu Giam itu telah meninggal juga pada tiga tahun yang lalu. Menurut keterangan hamba tua keluarga Khu, pada sebelum meninggal majikannya, anak perempuanku itu telah dibawa pergi oleh seorang pengemis tua. Pengemis tua itu adalah Pangcu dari Kaypang selatan Ek Tiong-bo. Sebagai suatu klik Kangouw yang suka bermusuhan dengan pemerintah, dengan sendirinya kami suami isteri suka bicara juga tentang urusan Kaypang, sebab itu sedikit banyak akupun kenal peraturan kaypang yang selamanya tidak menerima murid wanita. Apalagi Ek-pangcu adalah seorang pengemis tua, hidupnya selalu seorang diri. kalau kian kemari selalu membawa seorang anak perempuan itu tentu tidak leluasa. Mengingat Ek-pangcu adalah Suhengnya Kokciangbun, makanya aku menduga boleh jadi anak perempuanku itu oleh Ek Pangcu telah diserahkan padamu. Harap Kok-ciangbun jangan kuatir, aku tidak urusan tentang kalian bermusuhan dengan pemerintah segala, yang kumohon adalah mendapatkan kembali anakku. Dan kini, karena Kokciangbun sudah mengaku memiara seorang anak perempuan pastilah bocah itu adalah darah dagingku sendiri!. Aku pasti akan membalas budi kebaikan Kok-ciang bun yang telah merawat anakku itu, dan kini sudilah Kok-ciangbun menyerahkan kembali anak perempuan itu padaku!"
Apa yang diuraikan Mo-hujin itu satu dan lain ternyata cocok seperti apa yang diketahui Ek Tiong-bo dari ceritanya Khu Giam. Diam-Diam Kok Ci-hoa berdingin hati, pikirnya.
"Biarpun pribadi Mo-hujin ini mungkin tidak benar seperti apa yang diceritakan, tapi tentang diri anak itu, terang tidak perlu diragukan lagi. Ai, apakah nasib bocah ini memang sudah ditakdirkan akan serupa dengan diriku?"
Ketika ia pandang sekejap lagi pada Mo-hujin, ia lihat hawa hitam dhengah alis nyonya itu makin jelas kelihatan kini. Aneh juga timbul rasa jemunya terhadap tamunya itu, tak terasa pikirnya pula.
"Wanita ini tampaknya tidak beres, tentu bukannya manusia baik-baik, mana boleh aku membiarkan Lian-ji dibawa pergi olehnya?"
Agaknya Mo-hujin itu dapat menerka pikiran Kok Ci-hoa, dengan tersenyum ia berkata.
"Apa barang kali Kok-ciangbun merasa berat ditinggalkan anak itu? Asal sudi diserahkan kembali hingga berkumpul dengan keluarga sendiri, kami ibu dan anak pasti akan merasa berterima kasih tak terhingga dan se kali-kali takkan melupakan budi kebaikanmu. Kelak kalau anak itu sudah besar, aku tentu suruh dia sering-sering menyambangi kau."
Hati Kok Ci-hoa menjadi terharu oleh kata-kata orang yang bersungguh-sungguh itu, pikirnya.
"Walaupun dia orang golongan Sia-pay, kelakuannya tidak benar, tapi apapun ia adalah ibu kandungnya Lian-ji, mana boleh aku merintangi pertemuan kembali mereka?"
Maka katanya.
"Anak ini pintar dan cerdik. Aku menjadi benar-benar rada berat ditinggalkan olehnya. Tapi kalau dia bisa ketemu kembali dengan ibu kandungnya, aku tetap bergirang baginya. Hujin silakan kau menunggu sebentar"
"Baiklah, silahkan lantas bawa keluar bocah itu". sahut Mohujin. Dan karena senangnya itu, diantara mata alisnya itu lantas mengunjuk rasa girangnya yang rada aneh. Entah mengapa, wajah yang berseri-seri girang itu memberi perasaan lain dalam hati Kok Ci-hoa. Ia merasa senang tercampur haru nyonya itu bukan timbul dari lubuk hatinya yang murni, tapi lebih mirip seorang yang licik penuh muslihat. Dikala orang demikian hampir mencapai maksud tujuannya, tanpa merasa akan tertampaklah sikapnya yang lupa daratan itu. Seketika hati Ci-hoa tergerak. Tiba-Tiba ia menanya.
"Tapi apakah Hujin mempunyai tanda pengenal apa-apa atas diri anak itu?"
Mo-hujin mengejek, segera ia menjawab.
"Tanda pengenal apa. Ketika anak itu kulahirkan lantas kuserahkan pada mak inang. Mengenai apakah ada tanda-tanda spesial di badan mereka, sesungguhnya aku tidak pernah memeriksanya".
"Jika begitu, pantasnya kau ada meninggalkan sesuatu benda untuk kedua bocah itu agar kelak dipakai sebagai bukti saling mengenall kembali?"
Tanya Cie-hoa lagi.
"Kok-ciangbun, kau benar-benar sangat cermat kuatir kalau aku menipu bocah itu", sahut Mo hujin tertawa.
"Tapi untung juga kau memperingatkan aku, maka aku menjadi ingatlah. Aku pernah memberi dua baju kapas yang ku jahit sendiri kepada kedua bocah itu. Baju kapas itu dibuat dari kain satin (sutera Sociu) pilihan. Aku pernah pesan wanti-wanti kepada mak inang agar baju-baju kapas itu harus disimpan baik-baik bagi kedua itu. Dan entah dikala anak itu kau terima apa baju kapas itu masih ada padanya?"
Perasaan Kok Ci-hoa menjadi berat lagi pikirnya.
"Jika begitu, bocah itu memang benar anaknya!". Tapi segera ia tanya pula.
"Jika demikian, tentunya Hujin masih ingat juga warna apakah kedua baju kapas itu?". Mo-hujin memikir sejenak, lalu menjawab.
"Yang dipakai, anak laki-laki seperti warna merah dan yang perempuan seperti warna hijau. Cuma Waktunya sudah terlalu lama, sudah tidak ingat lagi. Mungkin juga salah omong"
Apa yang dikatakan Mo-hujin itu ternyata terbalik. Hal ini seketika bikin Kok Ci-hoa menaruh curiga, pikirnya.
"Tadi dia bilang memberi pesan wanti-wanti agar menggunakan kedua baju kapas sebagai bukti pengenal, mengapa dia sendiri malah tidak jelas?"
Karena itu, segera dia menanya lebih pelik lagi.
'"Soal kecil saja jika tidak ingat lagi warnanya.
Tetapi diatas baju kapas itu agaknya masih ada apa-apa yang istimewa lagi, entah Hujin masih ingat tidak?".
Tanpa merasa Mo-hujin mengunjuk sikap gugup jawabnya kemudian.
"Baju kapas tetap kapas, cuma bahannya yang bagus, ada apanya yang istimewa?"
"Jika benar Hujin sendiri yang menjahit baju-baju itu, seharusnya Hujin dapat mengingatnya,"
Ujar Ci-hoa dengan tawar.
Misal tentang bentuknya, pakai berapa biji kancing, dan bahan apa biji kancing itu dan sebagainya.
Coba Hujin ingatingat kembali, mungkin ada sedikit 10 perbedaannya daripada baju kapas biasa"
Wajah Mo-hujin yang putih itu rada merah-jengah, sahutnya kurang senang.
"Urusan tetek-bengek itu, mana bisa teringat semua? Berapa biji kancingnya juga Kok-ciangbun tanyakan, bukankah Kok-ciangbun ini sengaja berkelakar dengan aku?"
Kok Ci-hoa tersenyum, katanya pula dengan dingin.
"Berapa biji kancing itu adalah benda mestika yang tak ternilai, menurut orang ahli, biarpun di keraton kaisar juga belum tentu ada!"
Kiranya diatas baju kapas itu ada tujuh biji kancing, kalau dilihat sepintas lalu memang tiada sesuatu yang istimewa, hanya mirip kancing, perunggu biasa saja.
Suatu hari, Kok Cihoa kuatir baju yang disimpan didalam peti itu lama-lama akan jamur, maka dikeluarkannya untuk dijemur.
Tiba-Tiba ia lihat kancing-kancing itu memancarkan sinar gemilapan ketika kena sinar matahari.
Waktu diteliti, kancing itu entah terbuat dari logam apa, bukan besi bukan emas.
bahkan masih ada sesuatu yang istimewa.
yaitu kalau barang logam umumnya bila dijemur akhirnya tentu panas, tapibiji-biji kancing itu ketika dipegang ternyata dingin saja bahkan lebih dingin rasanya waktu sebelum dijemur.
Karena itulah Kok Ci-hoa tertarik dan heran.
Dan sebab itu pula, asal-usul bocah itu dirasakan penuh rahasia.
Diam-Diam Ci-hoa pernah mengunjukkan baju kapas itu kepada kaum cianpwee yang banyak pengalamannya, akhirnya ketika diperlihatkan kepada Kang Lam Ih Un Yap Yaek, barulah, diketahui asal-usul benda itu.
kiranya biji-biji kancing itu bukan buatan sesuatu logam, tapi adalah "Thiam-sim-ciok"
Atau batu pusat bumi, yang khusus terdapat di pencak tertinggi Kun-lun-san.
Biji batu yang sangat aneh ini jarang sekali terdapat, pula tercampur diantara batu kerikil biasa, maka sulit sekali ditemukan.
Menurut catatan yang terdapat diatas kitab pusaka pertabiban Yap Ya-ek, katanya Thiam-sim-ciok itu kalau digilas menjadi bubuk dan diminum dengan arak khasiatnya akan melebihi segala macam obat kuat.
Akan tetapi Thiam-sim-ciok adalah obat yang paling gerah pula diseluruh jagat.
Minum sedikit saja bisa membikin orang panas seperti dibakar.
Sebab itulah batu itu merupakah obat yang sangat besar khasiatnya, tapi juga racun yang sangat jahat.
Orang blasa se kali-kali tidak boleh minum.
Hanya orang yang dasar lweekangnya sudah tinggi, barulah boleh menggunakan obat demikian untuk memupuk ilmu silat sendiri hingga mencapai tingkat paling sempurna atau orang yang lwekangnya belum cukup kuat, tapi kalau bisa mendapatkan semacam obat lain khasiatnya dapat menahan racun panas dan Thian-sim-ciok itu serta diminum berbareng, untuk mana khasiatnya sedikitnya akan menambah kekuatan latihan selama 20 tahun.
Kalau tujuh biji diminum seluruhnya, jadilah orang itu tak mempan segala serangan dari luar.
Dari itu, Kok Ci-hoa biji-biji kancing itu adalah benda mestika yang tak ternilai, sesungguhnya sedikitpun tidak terlalu dibesar-besarkan.
Cuma penilaian itu baru ada harganya bagi orang-orang Bulim, hal ini dengan sendirinya tak dijelaskan oleh Kok Ci-hoa.
Dan demi mendengar jawaban Ci-hoa tadi, seketika Mohujin itu tergetar, wajahnya berubah hebat, terus berbangkit.
Katanya dengan marah.
"Kok-ciangbun, aku kau pandang rendah. Apa aku kau kira mengincar benda mestika itu, maka datang pura-pura mengaku anak itu. Hmm... jika demikian kau mencurigai aku. Boleh silakan kau tanggalkan kancing baju itu dan biar aku membawa pulang anak itu melulu"
"Tidak tepatlah ucapan Hujin ini!"
Sahut Ci-hoa dingin.
"Hujin adalah nyonya pembesar yang diagungkan dan kaya raya, mana berani aku memandang rendah Hujin dan menuduh engkau mengincar benda mestika? Lagi pula, bila bocah itu adalah anakmu, dengan sendirinya biji kancing diatas baju kapas itu pun milik keluargamu, mana boleh aku menanggalkannya disini? Bukankah ucapan Hujin itu memandang rendah padaku, dan bukan aku yang memandang rendah pada Hujin!"
Nyonya itu tahu salah omong, maka cepat berkata pula.
"Bukan begitu maksudnya. Aku persilahkan Kok-ciangbun menanggalkan kancing-kancing itu. hanya sekedar sebagai balas budi kebaikanmu yang telah merawat anak itu sekian lamanya. Untuk bicara sejujurnya, tatkala itu aku sekenanya menyuruh tukang pasang beberapa batu permata tinggalan ayahku diatas kancing itu, bahwa Sebenarnya akupun tidak tahu bahwa batu permata itu mempunyai nilai sedemikian tingginya."
Karena nyonya itu mendengar Kok Ci-hoa bilang kancingkancing adalah benda yang tak ternilai, sudah tentu tidak pernah terpikir, olehnya bahwa benda itu adalah Thian-simciok yang hanya terdapat dipuncak Sing-siok-hay di atas Kunlun-san.
Ia sangka kalau bukan mutiara mestika, tentu ada batu permata, tapi mutiara tidak bisa dibingkai menjadi kancing, maka menduga pastilah batu permata.
Kok Ci-hoa tersenyum dan menjawab pula dengen tawar.
"Sebanyak aku kemukakan biji kancing diatas baju kapas itu, justeru demi kewaspadaan agar Hujin tidak salah menerima anak orang lain. Dan kini mungkin harus bikin kecewa harapan Hujin, sebab bocah itu, aku sudah dapat memastikan bukan lagi anakmu!"
"Hah! berdasarkan apa kau berani memastikan?", teriak Mahujin dengan mendelik "Berdasarkan beberapa biji kancing itu,"
Sahut Ci-hoa tenang.
"Biji kancing itu bukannya batu permata hiasan biasa, juga bukan di bingkai, tapi adalah semacam batu yang sangat aneh, harus kaum ahli, baru bisa kenal akan manfaatnya serta tahu tak ternilai harganya". Seketika Mo-hujin dibikin terlongong-longong oleh keterangan itu. pikirnya dalam hati.
"Kusangka rahasianya terdapat didalam baju kapasnya, siapa duga berada pada biji kancingnya?"
Tengah dia memeras otak hendak mencari kata-kata tepat untuk menutupi kesalahannya, kembali Kok Ci-hoa menyambung lagi.
"Apa barangkali Hujin masih sangsi? Jika begitu, silahkan kau mengatakan, seumpama tidak tahu di mana letak kasiat batu macam begitu, sedikitnya ingat juga apa warnanya serta apa-apa yang menjadi keistimewaannya". Kuatir kalau makin omong makin salah, Mo-hujin tidak berani sembarangan menjawab lagi. segera debat sebisanya.
"Tapi dia diterima oleh Khu Giam dari seorang buruh taninya, bukan? Hal ini sudah jitu kukatakan, dengan sendirinya dia adalah anakku. Sedang mengenai beberapa biji kancing baju itu. boleh jadi Khu Giam menukarnya kemudian, darimana aku bisa tahu?"
"Buruh tani Khu Giam juga tidak cuma seorang saja dan bukan mustahil pula anak itu diterima dari petani lain"
Sahut Ci-hoa.
"Pendek kata bukti tidak ada, mana boleh aku serahkan bocah itu kepadamu. Dan kaupun tidak perlu inginkan anak keluarga lain"
Dari malu, Mo-hujin menjadi gusar dia menggebrak meja dan mendamprat.
"Hujin", sahut Ci-hoa menarik muka juga.
"Disini bukan kantor pemerintah, kau mau marah-marah, silahkan kau pulang dulu marah-marah ditempatmu". Habis berkata, dia berbangkit sambll angkat cangkir teh, ini tandanya sang tetamu dipersilahkan pergi. Saking gusar, sampai leher Mo-hujin tampak merah, hawa hitam ditengah alisnya semakin tebal. Dengan suara keras ia berkata pula.
"Jadi kau mengusir aku, Kok-ciangbun?"
"Aku tidak berani", sahut Ci-hoa. Tapi urusan sudah Jelas, anakmu tidak berada disini dengan sendirinya kelenting kecil dipegunungan sunyi ini tidak berani lama-lama melayani tamu agung"
"Siapa bilang urusan sudah jelas?", kata Mo-hujin dengan gusar.
"Hmm...! biarpun aku datang seorang diri, hendak mengusir aku rasanya tidaklah begitu gampang?"
"Bukti tidak cocok, apanya lagi yang kurang jelas perkaranya?"
Kata Ci-hoa.
"Jika kau sengaja hendak bikin rusuh dikelenting Hian-li-koan ini, hal ini bukan lagi aku mempersulit engkau, tapi engkau yang mempersulit aku".
"Hian-li-koan lantas mau apa? Hm!"
Jengek Mo-hujin. Sampai disini, betapapun sabarnya Kok Ci-hoa juga naik darah. Katanya dengan gusar.
"Segala apa tidak meninggalkan kebenaran. Sudah tentu Hian-li-koan tak bisa dibandingkan kantor gubernuran, tapi kalau kau tidak pakai peraturan, Hianli-koan juga tidak gentar!"
Air muka Mo-hujin menjadi pucat, lalu berubah merah lagi, agaknya saking gusar terus akan mengamuk, tapi mendadak menunduk pula, katanya dengan nada yang lain.
"Kokciangbun, kepadamulah aku menaruh kepercayaan maka telah kuceritakan urusan pribadiku, kau tentu tahu, seumpama aku bisa mengerahkan pasukan suamiku, juga pasti tidak berani terang-terangan minta anak itu padamu. Sebab itu janganlah kau salah sangka aku mengandalkan pengaruh untuk memaksa kau. Seperti juga apa yang Kok-ciangbun katakan tadi, segala hal tak terlepas dari kebenaran, maka aku hendak aku bicara secara menurut aturan dengan engkau"
"Aturan apa yang hendak Hujin katakan aku bersedia mendengarnya", sahut Kok Ci-hoa.
"Yang kita cekcokan adalah anak itu. Maka sepantasnya kau memperlihatkannya padaku"
Demikian kata Mo-hujin.
"Kudengar dari mak inang, katanya dia sangat mirip diriku. Apabila kulihat anak pungutmu itu tidak mirip aku tentunya akupun tidak perlu banyak pikiran lagi". Kata-Kata nyonya itu membuat Kok Ci-hoa tergetar pula, dia merasa perkara ini menjadi lebih jelas lagi, lebih dapat dipastikan bahwa Lian-ji yang-dipungutnya itu bukanlah darah daging wanita ini sebab, wajah Lian-ji yang putih cantik itu sedikilpun tidak mirip dengan dia. Sebenarnya sejak mula Kok Ci-hoa sudah curiga wajah anak itu tidak mirip nyonya yang mengaku sebagai ibunya ini. Kini mendengar orang minta dibandingkan sendiri, tentu saja kebetulan baginya segera ia menjawab.
"Baiklah jika Hujin ingin melihat bocah itu, pasti akan kululuskan permintaanmu. Cuma, kau harus hati-hati memeriksanya dulu, jangan begitu bertemu lantas mengaku sebagai ibunya."
"Hal ini tidak perlu kau pesan, akupun tidak nanti mengakuaku anak orang lain"
Sahut Mo-hujin. Cuma ada sesuatu yang ingin kumohon pada Kok-ciangbun". Melihat sikap orang telah berubah sopan, Kok Ci-hoa menjawabnya dengan ramah pula.
"Baiklah, silahkan omong, bila dapat kulaksanakan, tentu menurut".
"Baju kapas bocah itu adalah buah tanganku sendiri, tapi menurut Kok-ciangbun, biji kancingnya sudah berlainan, maka bolehkah akupun diberi melihatnya?"
Pinta Mo-hujin. Kok Ci-hoa menjadi kurang senang, sahutnya.
"Sudah tentu baju itupun akan kukeluarkan, agar Hujin tidak tuduh aku sembarangan mengoceh, memalsukan bukti."
"Ah. Kok-ciangbun jangan berkata demikian"
Ujar Mo-hujin.
"Aku hanya memohon sekedar pencocokan saja."
Melihat cecongor wanita itu, makin memuakkan, Kok Ci-hoa semakin curiga kedatangannya pasti mempunyai tujuan tertentu, tapi pikirnya pula.
"Dihadapanku, rasanya diapun takkan mampu sembarangan berbuat."
Segeia ia memanggil seorang pelayan dan memberi pesan.
"Kau undang jisuso agar membawa Lian-ji kemari, pula baju kapasnya supaya dibawa keluar sekalian. Baju itu tersimpan di dalam koperku yang paling bawah itu"
Jisuso atau ipar perguruan kedua, yang dimaksudkan Kok Ci-hoa adalah isteri ketua Kaypang yang lalu, Tiat Koay-sian, yaitu Cia In-cin.
Sejak sang suami meninggal, Cia In-cin terus berdiam di Hian-li-koan.
Maka tidak lama, terdengarlah suara seruan seorang anak.
"Mak, tadi aku meiihat seorang telanjang, katanya orang itu akan menjumpai kau, apakah dia sudah datang kemari?"
Kiranya bocah ini adalah anak perempuan yang dipergoki Kang Lam.
Belum lagi masuk ruangan, bocah itu sudah lantas ingin ceritakan kejadian yaag menarik itu kepada Kok Ci-hoa.
Segera Ci-hoa menjawabnya.
"Jangan sembarangan omong, lekas menemui tamu, sini !"
"Benar-Benar terjadi mak, kalau tidak percaya boleh tanya Loh-susiok, diapun melihatnya."
Seru Kok Tiong-lian pula.
Sambil bicara, baru sekarang ia melangkah masuk kepekarangan tamu itu.
Tapi begitu pandangannya bertemu dengan sinar muka Mohujin, seketika si bocah terkesima saking kaget.
Cia In-cin menggandeng tangan bocah itu, ketika mendadak ia merasa tangan anak itu gemetar, segera ia tahu ada sesuatu yang aneh, katanya cepat.
"Lian-ji, ada apakah engkau? Lekas memberi hormat dan panggil bibi!"
Dan pada saat itulah Mo-hujin telah melangkah maju kehadapan Kok Tiong-lian, lalu katanya dengan suara lembut.
"O, anakku, tahukan kau siapa aku?"
Mendadak Kok Tiong-lian berteriak.
"Ya! aku tahu engkau siapa! Aku kenal kau sebagai maling wanita yang datang malam itu!"
Kiranya beberapa hari sebelum Khu Giam membunuh diri, rumahnya pernah kedatangan maling.
Tengah malam itu, Khu Giam mendadak terjaga oleh suara aneh dalam kamarnya.
Waktu itu Kok Tiong-lian baru berumur tiga tahun, karena sangat sayang pada bocah itu.
Khu Giam tidur sekamar dengan dia dan disediakan suatu ranjang kecil tersendiri.
Ketika terjaga bangun, segera ia melihat suatu bayangan orang berdiri didepan ranjang anak tersebut.
Tangan Orang itu baru saja diulur seperti akan mencengkeram Kok Tionglian.
Dalam keadaan kejut, tanpa pikir lagi, Khu Giam terus menghantam dengan pukulan "Kun Goan Pi Lik Ciang"
Yang lihay kepunggung maling itu.
Pukulan itu kena dengan telak, terdengar maling itu bersuara tertahan sekali, lalu melarikan diri keluar jendela.
Waktu Khu Giam mengudak keluar, namun musuh sudah menghilang.
Cuma dari suara tertahan maling yang kecil melengking itu, agaknya bukan kaum laki-laki.
Dan besoknya Khu Giam lantas merasa isi perutnya kesakitan, baru ia insaf telah terluka dalam yang parah.
Tentang kejadian didatangi maling, hamba tua Khu Giam menceritakan pada Ek Tiong-bo.
maka Kok Ci-hoa mengetahui juga.
Cuma tidak jelas duduknya perkara, tapi kejadian itu-pun sangat mencurigakan, sebab sampai ajalnya Khu Giam, tetap ia tidak mau menceritakan peristiwa itu kepada Ek Tiong-bo.
Kini mendadak rahasia itu terbongkar oleh anak perempuan itu, katanya Mo Hujin adalah maling yang mendatangi rumah Khu Giam malam itu, karuan Kok Ci-hoa sangat terkejut.
Baru saja dia ingat pada kejadian itu, dalam sekejap itu pula tibatiba terdengar Mo-hujin telah berseru dengan suaranya yang melengking tajam.
"Anak baik, jika kau sudah kena aku, marilah ikut pergi bersama aku saja"
Berbareng itu, orangnya terus menubruk maju, kontan tangannya mencengkeram ke atas ubun-ubun bocah itu. Namun Cia In-cin yang berjuluk "Loa-jiu sian-nio"
Atau Dewi Bertangan Panas, betapa linaynya dia.
Baru saja Mo-hujin geraki tangannya, sekonyong-konyong sinar putih berkelebat, pedangnya sudah dilolos untuk menyerang musuh, beberapa gerakan sekaligus dilontarkan untuk mencecar musuh.
Saat itu Mo-hujin lagi menubruk maju, maka tusukan pedang Cia In-cin tampaknya kontan akan menembus dadanya, tapi mendadak terdengar suara jeritan ngeri, belum lagi Kok Ci-hoa melihat jelas apa yang terjadi, bukannya dada Mo-hujin tertembus pedang, sebaliknya Loa jiu sian-nio Cia Incin yang telah menggeletak lebih dulu!.
Sebaliknya Kok Ci-hoa mengundang keluar sang Suso sebenarnya maksudnya agar menambah seorang pembantu bila terjadi hal-hal diluar dugaan atas diri si bocah.
Siapa duga baru sekali gebrak, Cia In-cin sudah dirobohkan musuh.
Dalam kuatir bercampur gusarnya, segera Kok Ci-hoa menubruk maju.
Dalam pada itu, sesudah merobohkan Cia In-cin, saat itu telah jatuh dilantai.
Sekilas entah mengapa mendadak Mohujin merandek.
Baju kapas sianak tadi dipegang oleh Cia Incia hujin dapat melihatnya, terus saja ulur tangan hendak menyambarnya.
Namun saat itu Siang hoa-kiam yang ditusukkan Kok Ci-hoa sudah memancarkan sinarnya yang kemilauan dan tahu tahu telah mengancam mukanya.
Selama beberapa tahun ini Kok Ci-hoa giat melatih Hian-likiam-hoat, kepandaiannya jauh lebih lihay kalau dibanding Cia In-cin.
Maka tusukan itu sangat cepat lagi kuat, susah sekali untuk menghindar.
Namun Mo-hujin itu benar-benar sangat hebat, hanya dengan gerakan Hong-thiam-thau, atau Burung Hong memanggut, ia tunduk kepala sedikit, badan tidak menggeser sedikitpun, tapi jarinya terus menjentik keatas "Trang!"
Tepat batang pedang Kok Ci-hoa kena disentilnya.
Seketika Kok Ci-hoa merasa terguncang suatu tenaga kuat, hingga tangannya panas pedas.
Ia terkesiap dan heran, ilmu apakah yang dilatih wanita itu.
Dalam pada itu, begitu pedang Kok Ci-hoa dijentik pergi, secepat kilat Mo-hujin itu mencakarnya pula.
Hanya sekejap saja ia sudah menyerang tiga kali beruntun.
Kilau gerak serangan Mo-hujin itu sangat aneh, sudahlah jelas, yang lebih mengejutkan ialah kedua tangannya yang tadi halus bersemu merah itu, kini berubah hitam seakan-akan dipoles tinta.
Bahkan sayup-sayup angin pukulannya membawa bau anyirnya darah yang memuakkan.
Untung Lweekang yang dilatih Kok Ci-hoa sudah mencapai tingkatan tiada taranya rasa muak itu cepat sudah dapat dilenyapkan, bahkan dalam sekejap juga kontan iapun balas menyerang tiga kali hingga Mo-hujin tidak berani mendekat lagi.
Kok Tiong-lian menjadi ketakutan, ia menangis sambil ber teriak-teriak.
"Mak, maling wanita ini hendak mencelakai aku, lekas kau usir dia!. aku.... aku takut!".
"Aku adalah ibu kandungmu, jangan kau takut"
Seru Mo hujin Dan sekali memutar, segera anak itu hendak dicengkeram pula.
Mana bisa Kok Ci-hoa tinggal diam?
Begitu pedangnya berputar, belum wanita itu mendekati sibocah, sinar pedangnya sudah mengurung rapat jalannya.
Sementara itu Kok Tiong-lian masih menangis, sambil memaki ngaco belo.
"Ibu kandung ku masih lama dibunuh orang, kau adalah maling yang akan membunuh aku pula. kau bukan ibuku!"
Tergerak hati Kok Ci-hoa dalam herannya ia terhibur juga.
Inilah untuk pertama kalinya bocah itu mengatakan ibu kandungnya sudah dibunuh orang.
Berbareng ucapannya itu juga telah menyadarkan Kok Ci-hoa hingga dia lebih yakin lagi tentang diri Mo-hujin itu sebab seorang ibu kandung betapapun tidak mungkin mencengkeram anak sendiri sedemikian rupa.
Segera Ci-hoa tertawa dingin, ejeknya.
"Huh! betapa pun tidak kenal malunya perempuan iblis yang berhati binatang, apa kini kau masih berani memalsukan sebagai ibu bocah ini". Gusar sekali Mo-hujin itu dampratnya.
"Kok Ci-hoa secara baik-baik aku datang minta padamu tapi kau berani memaki aku dengan kata-kata yang kotor. Sekali kau tidak sopan, jangan salahkan kalau aku tidak sungkan-sungkan lagi! Hah! Kau berani bermusuhan dengan aku, kau sendirinya yang bakal sialan!"
"Hmm. biarpun kau adalah nyonya besar, sekarang juga kau harus enyah"
Sahut Ci-hoa gusar. Belum lenyap suaranya, hujin itu bersuit aneh, dengan melengking seram ia berseru.
"'Wahai Kok Ci-hoa, bicara baikbaik kau tidak menurut, kini Giam-lo-ong (raja akhirat) mengirim surat panggilan padamu!". Begitu seram suaranya hingga mirip tukang tenung jahat yang lagi memanggil roh setan, sekalipun Lwekang Kok Ci-hoa sudah sangat tinggi, mendengar suara seram Itu, tanpa terasa agak merinding juga. Selesai bersuit aneh, segera Mo-hujin kerjakan kedua tangannya, sepuluh jarinya terpentang dengan membawa bau amis, bagai anak panah saja jarinya menusuk bergantian kearah Kok Ci-hoa. Tapi diam-diam Ci-hoa sudah kerahkan tenaga murni, ia mainkan Hian-li-kiam-hoat. Orang bersama pedang bagai berubah menjadi suatu gulungan sinar, badannya tertutup dengan rapat, namun hawa dingin dari jentikan lawan yang tajam tetap terasa Dalam sekejab saja, kedua orang sudah saling gebrak beberapa jurus. Kok Ci-hoa menang dalam hal lwekang dan ilmu pedang, tapi ilmu jahat yang diyakinkan Mo-hujin itu aneh luar biasa. Karena itu, sesaat itu menang kalah tak bisa ditentukan. Sedang Kok Ci-hoa mencurahkan seluruh perhatian untuk melayani serangan lawan, tiba tiba terdeunar pelayan berseru diluar.
"Lapor Ciangbun, para Susiok menunggu diluar menanti panggilan!"
Kiranya tadi, berhubung memenuhi permintaan Mo-hujin, Kok Ci-hoa telah perintahkan siapapun dilarang masuk.
Kini beberapa anak murid tertua Bin-san-pay sudah tidak sabar lagi menunggu diluar ketika mereka mendengar didalam ruangan sudah terjadi suara-suara pertempuran, tapi tidak berani sembarangan masuk.
"Larangan dicabut, biarkan mereka masuk!"
Sahut Ci-hoa segera.
Dan karena sedikit meleng, kesempatan itu digunakan Mohujin untuk bersuit pula, mendadak sejalur api hijau mengosos keluar dari lengan bajunya terus menyambar kemuka Kok Cihoa.
Tapi sekali menyebul, Ci-hoa dapat bikin sinar api itu terpencar ke berbagai penjuru Mo-hujin rupanya tidak menduga bahwa "Lwe-keh-cing-gi"
Atau hawa murni ahli Lwekang yang dilatih Ci-hoa sudah sedemikian lihaynya.
Ia bersuara heran sekali sambil mundur dua langkah.
Namun bau busuk yang terbawa oleh lelatu api tadi terang terdiri dari sesuatu obat jahat.
Maka ketika menyebul tadi, betapapun Kok Ci-hoa telah mengisap sedikit hawa busuk itu hingga kepala terasa pening dan mata berkunang-kunang, hampir tumpahtumpah pula.
Kini karena larangan sudah dicabut, beramai-ramai anak murid Bin-san-pay terus berlari masuk.
Kontan mereka terus dicekoki oleh bau bacin tadi, keruan mereka megap-megap.
Diantara anak murid Bin-san-pay itu, Lo To-lin berwatak paling keras, terus saja ia memaki.
"Wanita siluman darimanakah, berani main racun disini?"
Dia adalah murid Co Jin-hu dari Kanglam chit-hiap yang terkenal itu. Senjata yang dia pakai adalah sebuah Thi-pi-pe (alat petik mirip gitar), ditengah Thi-pi-pe terpasang "Tau-kuiting"
Atau paku penembus tulang yang khusus digunakan mengincar Hiat-to musuh. Maka begitu Thi-pi-pe bergerak, kontan tiga buah Tau-kut-ting terus dibidikan.
"Huh, mutiara sebesar beras juga coba-coba mau bersinar?"
Dengan dingin Mo-hujin mengejek.
Dan dibawah kurungan sinar pedang Kok Ci-hoa, tanpa berpaling, tahu-tahu terdengar suara gemerincing tiga kali, ketiga paku itu tepat mengenai tubuhnya semua.
Namun aneh, mirip mengenai benda logam saja, begitu menyentuh tubuhnya, paku itu lantas jatuh semua.
"Kok Ci-hoa,"
Mo-hujin menyindir pula.
"boleh sekalian kau memberi perintah agar semua begundalmu maju semua, agar aku tidak lagi membereskan mereka satu persatu nanti!"
Ci-hoa menjadi gusar, dampratnya.
"Emangnya Bin-san-pay kami dianggap seperti kantor gubernuran. Kami se kali-kali takkan mengandalkan orang banyak, tapi kau telah melukai orang kami. Sebagai Ciangbunjin, tidak bisa kuampuni kau demikian saja!"
Segera ia memberi perintah.
"Lo dan Lim berdua Suheng, silahkan kalian menolong Cia-suso lebih dulu, periksalah bagaimana lukanya? Dan kau, Sun-suci, lekas kau bawa Lian-ji keluar!"
Dengan pesannya itu, terang dia akan melayani Mo-hujin sendirian. Belum lenyap suaranya, mendadak Mo-hujin telah mencekeram ke mukanya sambil mengejek.
"Hmm... kau tidak bisa mengampuni aku?. Lalu mau apa?" ---oo0dw0ooo---
Jilid 3 Kok Ci-hoa angkat pedangnya menangkis sambil menjawab.
"Aku tidak perduli, kau apakah nyonya besar atau nyonya kecil, kau telah melukai orang Bin-san-pay, kau harus berlutut menyembah minta maaf padaku dan berjanji takkan lagi menginjak sejengkal pun kesini!"
"Huh besar amat suaramu!"
Jengek Mo-hujin.
"Hm, kau telah rampas anakku, berani pula main kurang ajar padaku? Baiklah, kau adalah ketua Bin-san-pay, sekarang aku pakai peraturan Bulim untuk mengukur kepandaianmu!. Aku tidak gentar kau memakai Pokiam jika kau menangkan aku, aku tidak inginkan anak lagi dan segera pergi dan sini. Tapi bila aku yang menang, kau harus serahkan kembali kepadaku anakku!"
Terhadap wanita itu, Kok Ci-hoa sudah terlalu muak, kalau bisa ia ingin cepat-cepat mengenyahkannya, maka terus menjawabnya.
"Baik, kuterima usulmu"
Belum habis ucapannya, mendadak ia mundur.
Belum lagi sinar pedang Kok Ci-hoa berputar lagi, kedua tangan Mo-hujin sudah mengayun berbareng.
Tiga buah cinvin baja menyambar dari tangan kirinya mengarah ke Hiat-to Kok Cihoa, sedang tangan kanan menimpukkan tiga panah beracun yang bersinar hijau.
Kok Ci-hoa sangat gusar, ia putar pedangnya dengan rapat, berbareng sebelah tangannya terus menghantam dengan tenaga Siau-yan-sia-kang ajaran Lu Si-nio.
Seketika ketiga panah tadi ditolak kembali oleh tenaga pukulannya hingga meledak menjadi berkeping-keping kecil, sedang dimana sinar pedangnya menyambar ketiga cincin baja tadipun seketika terbabat menjadi enam potong besi rongsokan.
"Lihay benar!"
Seru Mo-hujin.
"Tapi hendak melukai aku, mungkin masih jauh dari mampu!"
Sambil bicara, cepat ia melompat mundur hingga dua kali tusukan Ci-hoa yang sedang dilontarkan mengenai tempat kosong.
Meski panah beracun tadi sudah hancur, namun sinar hijau tadi bertebaran kesekeliling situ hingga salah satu dari enam murid tertua Bin-san-pay, yaitu Lim Sing, tanpa menduga bajunya kecipratan sinar hijau itu, seketika bajunya terbakar.
Dalam kagetnya cepat Lim Sing merobek bajunya untuk menghindari kebakaran.
Namun begitu, sebagian badannya sudah terbakar gosong juga, ia menjadi sempoyongan dan hampir roboh.
Kiranya sinar hijau itu adalah api pospor yacg beracun, makanya begitu lihay.
Diam-Diam Ci-hoa berkuatir melihat tiada habis-habis senjata keji lawannya itu, cepat ia berseru "Para suheng, silahkan keluar saja, jagalah dengan penuh waspada kalau ada begundalnya yang yang datang pula".
Dan diam-diam ia bersyukur juga dirinya telah giat melatih Siau-yang-sin-kang selama beberapa tahun ini.
Kalau tidak, mungkin dirinya sudah celaka dibawah tangan keji wanita itu Segera Lo To-lin dan Thia Go memondong keluar Cia In-cin.
Tampak wajah sang Suso itu pucat pasi bersemu kehijauan.
Kaki dan tangannya sedingin es, untung pernapasannya masih bekerja.
Segera Lo To-lin berseru.
"Hati-Hatilah Ciangbun, sekali-kali jangan kena tersentuh oleh tangan Yauhu (perempuan siluman) yang berbisa itu!".
"Lekas Ciangbun hajar saja Yauhu itu dan paksa ia menyerahkan obat penawar untuk Su so,"
Thia Go ikut berteriak.
"Hahaha!", Mo-hujin itu terbahak-bahak.
"Apa kalian inginkan obat penawaranku untuk menolong kawanmu? Baiklah, boleh lekas kalian mengaku kalah dulu, agar tidak membuang tempo lagi!"
"Bagaimana denyut nadinya?"
Seru Ci-hoa menanya.
"Lemah sekali, tapi belum berhenti!"
Sahut Lo To-lin. Ci-hoa lega olah jawaban, serunya pula.
"Didalam kotak kemala dikamarku itu masih ada tiga butir Pek-ling-tan, suruh pelayan ambilkan dan lekas minumkan Suso dahulu". Mendengar itu, kembali Mo-hujin terbahak bahak.
"Yauhu!"
Damperat Kok Ci-hoa gemas sambil menusuk dengan pedangnya.
"Sudah melukai orang, senang, ya?..."
"Kok Ci-hoa", sahut Mo-hujin sembari kebas lengannya untuk menyampok serangan Ci-hoa.
"Aku ketawa karena rupanya kau sudah kapalan hingga tidak berasa sakit lagi. Apa kau sudah lupa betapa rasanya waktu kau dilolohi oleh Le Seng-lam dahulu?". Ci-hoa terkesiap karena uusannya dahulu di ejek orang Terdengar Mo-hujin mengikik tawa dan melanjutkan perkataannya.
"Biar kukatakan terus terang, racun yang terpoles ditanganku tak lain tak bukan adalah racun yang pernah kau rasakan dari Le Seng-lam dahulu itu. Dan kau tentu sudah tahu apakah racun dapat ditolong oleh Thian-sanswat-lian". Sudah tentu Ci-hoa bertambah kejut oleh ucapan orang itu. Tapi toh tidak sebingung seperti yang disangka Mo-hujin. Tentang betapa lihaynya racun yang dimaksudkan itu memang tidak perlu disangsikan lagi. Dahulu Kok Ci-hoa pernah terkena racun itu ketika saling gebrak dengan Le Senglam, tapi berkat pil ramuan dari atau teratai saju dan Thiansan, yaitu obat pemberian dari Lim-jim-bwe. Biarpun payah, dapat ia bertahan selama tiga tahun lamanya. Kini kepandaian Cia In-cin boleh dikata tidak lebih rendah daripada Kok Ci-hoa, diwaktu dulu itu. Maka setelah terkesiap, Kok Ci-hoa lega malah. Pikirnya.
"Jikalau cuma racun yang sama saja, sesudah diberi minum Pek-ling-tan yang terbuat dari Thian-san-swat-lian, maka keselamatan Cia Suso dalam waktu singkat bolehlah tidak usah dikuatirkan". Hanya saja yang membikin Ci-hoa terkejut tidak melulu karena racun yang digunakan musuh itu, tapi adalah kecurigaannya darimana musuh mahir menggunakan racun itu? Dan darimana mengetahui pula bahwa racun itu pernah digunakan mendiang Le Seng-Lam?. Sebab setahu Kok Ci-hoa, dahulu waktu Le Seng-lam meninggal, ia telah serahkan Bakang-pit tinggalan Kiauw Pak-beng kepada Kim Si-ie, tapi ada se
Jilid Pek-tok-cin-keng atau kitab asli dari beratus resep racun, yakni kitab yang berasal dari Chit-im-kau, setelah meninggalnya Le Seng-lam, lantas tak diketahui kemana perginya kitab itu.
Kini mendengar Mo hujin ini mengangkat tentang Le Senglam, dengan sendirinya timbul keraguan Kok Ci-hoa, janganjangan perempuan siluman ini ada sangkut pautnya dengan Le Seng-lam?
Dan jangan-jangan Pek tok cin-keng itu telah terjatuh ditangan perempuan ini?
Selama hidup Kok Ci-hoa sudah kenyang menelan pil pahit dari Le Seng-lam, maka begitu mengingat Mo hujin ini mungkin ada sangkut pautnya dengan Le Seng-lam, seketika ia menjadi gusar, segera ia mainkan Hian-li-kiam-hoat disertai Siau-yang-sin-kang sepenuh tenaga ia cecar Mo hujin terlebih kencang.
Meski kepandaian Mo-hujin ini cukup lihay, tapi kalau dibanding mendiang Le Seng-lam selisihnya masih jauh.
Maka sesudah 30 jurus, Kok Ci-hoa sudah mulai diatas angin.
Pikirnya.
"Asal aku waspada terhadap pukulan serta senjata gelapnya yang baracun, tentu aku akan dapat memaksa dia menyerahkan obat penawar racunnya."
Sementara itu para murid Bin-san-pay sudah undurkan diri keluar, hanya Kang Lam yang tetap berdiri diambang pintu sambil melongok-longok mengikuti pertempuran didalam ruangan itu.
Diam-Diam ia ikut terkejut ketika melihat kepandaian Mo-hujin yang lihay itu, pikirnya.
"Wah, hampir saja aku celaka. Coba tadi ditengah jalan kalau diam-diam tiada orang menolong aku, tentu aku sudah mampus dibawah senjata gelap perempuan siluman ini. Tapi, orang yang diamdiam menolong aku itu, kalau bukan Kim-tayhiap, lalu siapakah gerangannya?". Sembari memikir ia terus mengikuti juga pertarungan di dalam ruangan dan ketika nampak Kok Ci-hoa berada di atas angin, saking senangnya ia gembar-gembor lagi.
"Itu dia... ternyata tidak luput dari dugaanku, yauhu ini memang benar berasal dari aliran jahat. Kok-lihiap, kau harus berikan rasa sedikit padanya, jangan sembarangan mengampun dia". Begitulah sesudah bergembar-gembor sejenak, tiba-tiba ia teringat pula pada satu tokoh yang maha gaib, seketika perasaannya terkesiap lagi! Kiranya tokoh yang maha gaib yang tiba-tiba teringat oleh Kang Lam itu tak lain tak bukan adalah Thian-mo-kaucu yang sangat lihay itu. Ia lihat ilmu silat yang dimainkan Mo-hujin ini sangat aneh dan jahat, bahkan diantara berbagai senjata gelap yang beracun, ada semacam panah berbisa yang dapat meletuskan asap dan api, yaitu serupa seperti apa yang pernah Ki Hiau-hong alami dari Thian-mo-kaucu. Maka timbul seketika suatu pikiran dalam benak Kang Lam.
"Jangan-Jangan Mo-hujin ini adalah Thian-mo-kaucu?"
Namun pikirannya lantas berubah pula.
"Aaah, tidak, tidak benar! Menurut cerita Ki-toako, katanya Thian-mo-kaucu itu meski memakai kedok, tapi tubuhnya tampak langsing menggiurkan. Berdasarkan pengalamannya, tampaknya usia kaucu itu baru berusia 20 tahun lebih. Sedangkan Mo-hujin yang berdandan perlente dengan batu permatanya ini, biarpun dia bersolek, namun pinggangnya kelihatan rada gemuk. Ujung matanya juga nampak mulai keriput"
Kang Lam percaya penuh pada pandangan Ki Hiau-hong.
Namun apa yang dilukiskan Ki Hiau-hong atas diri Thian-mokau-cu itu juga cuma dugaan saja.
Betapapun wajah asli tokoh aneh itu toh belum pernah dilihatnya.
Sebaliknya Mo-hujin yang sudah setengah umur serta mulai gemuk ini justeru ada beberapa persamaan dengan Thian-mo-kaucu yang diceritakan Ki Hiau-hong.
Sebab itulah meski Kang Lam merasa ada hal-hal yang tidak cocok, namun rasa curiganya tetap tidak hilang.
Selagi Kang Lam belum hilang dari rasa curiganya tiba-tiba dari luar berlari datang dua orang.
Dan baru saja Kang Lam mengenali orang yang didepan itu adalah Loh Eng-ho, segera terdengar suara murid Bin-san-pay yang keras berteriak.
"Lapor Ciangbun, asal-usul Yauhu ini sudah dapat kita ketahui sekarang!"
Sembari tangkis sekali serangan Mo-hujin yang sedang dilontarkan, segera Ci-hoa menanya.
"Macam apakah asalusul Yauhu ini?".
"Dia adalah salah seorang tokoh penting dari Thian-mo-kau, bukan mustahil dia Thian-mo-kaucu sendiri!"
Segera Pek Eng Kiat yang berada dibelakang Loh Eng-ho mendahului menjawab.
Dari manakah kedua anak murid Bin-san-pay itu dapat menyelidiki asal usul Mo-hujin?
Kiranya diantara anak murid Bin-san-pay, Pek Eng-kiat terhitung paling cerdik dan pintar.
Maka tadi Ci-hoa telah suruh dia bersama Loh Eng-ho pergi melayani kedua ponggotong joli.
Lebih dulu Eng Kiat dan Eng-ho sudah berunding baik-baik serta mengatur tipu daya seperlunya, lalu mengundang kedua penggotong joli itu mengobrol tentang ilmu silat, sengaja mengumpak dan memuji ilmu silat mereka yang dikatakan luar biasa.
Kedudukan Eng-kiat dan Eng-ho dalam Bin san-pay hanya dibawahnya Kok Ci-hoa, Ek Tiong-bo dan Thia Go bertiga, rupanya kedua penggotong-joli itu sudah tahu juga bagaimana kedudukan kedua tuan rumah yang melayani mereka itu, tentu saja mereka senang karena mendapat penghormatan yang pantas, ditambah lagi umpakan-umpakan dan puja puji setinggi langit dari Eng ho dan Eng-kiat, karuan mereka menjadi lupa daratan.
Dan sesudah beberapa cawan arak masuk perut mereka, kemudian Eng-kiat coba menanyakan nam mereka.
Semula kedua penggotong joli itu rada ragu-ragu, tapi akhirnya dikatakan juga.
Kiranya kedua penggotong joli itu adalah dua Thocu atau pemimpin dari dua perkumpulan kecil kalangan Bulim didaerah Kanglam.
Segera Eng-kiat dan Eng-bo menyatakan sudah lama kagum terhadap nama mereka.
Dalam hal minum arak, Engkiat berdua sangat kuat, maka terus menerus mereka melolohi kedua penggotong joli itu.
Ketika melihat mereka sudah hampir mabuk tiba-tiba Engkiat gabrukan cawan araknya keatas meja, lalu katanya.
"Ada sedikit pendapatku, entah harus kukatakan atau tidak? Tapi kalau tak kukatakan, rasaku tidak tahan pula!"
Keadaan kedua penggotong joli itu sudah setengah mabuk, mendengar ucapan Eng-kiat itu terus saja mereka berteriak.
"Pek tayhiap, meski kita baru berkenalan hari ini, tapi seakanakan adalah sobat lama. Engkau punya perkataan apa, silakan bicara terus terang. Jikalau tidak dikatakan itu malah kelihatan engkau anggap kami sebagai orang luar saja"
Eng-kiat pura-pura merasa serba sulit untuk bicara akhirnya katanya.
"Kedua Hengtay (saudara terhormat) adalah orangorang suka terus-terang, aku orang she Pek juga tidak suka main simpan-simpan bila ada sesuatu yang meragukan, rasanya seperti duri ditenggorokan, kalau tak dimuntahkan belum puas rasanya. Maka baiklah kukatakan, cuma kalau ada kesalahan omong harap kedua Hengtay suka memaafkan."
Dengan diumpak dan disebut "Hengtay"
Terus menerus, kedua orang itu sudah lupa daratan, tapi betapapun pikiran sehat mereka belum sama sekali hilang, segera merekapun menegaskan lagi"
"Apa yang diragukan Pek-tayhiap? Jikalau kami mengetahui, tentu akan kami beritahu."
Agaknya merekapun memperhitungkan boleh jadi Eng-kiat akan bertanya tentang rahasianya Mo-hujin, maka mereka atur jalan mundur dahulu, bila benar-benar ditanya, mereka bisa menolak dan mengatakan tidak tahu.
Tak tersangka, Pek Eng-kiat justeru tidak lantas menanyakan tentang Mo-hujin, tapi ia menghela napas gegetun, lalu pandang merekaa engan sinar mata tajam, katanya.
"Yang aku merasa tidak mengerti ialah dengan kedudukan dan dengan kepandaiannya, Hengtay berdua, rasanya juga sudah lebih dan cukup untuk disegani orang Kangouw, tapi mengapa dengan keagungan kedudukan sebagai Thocu kini terima menghamba pada orang lain. Apakah disebabkan majikanmu itu adalah seorang nyonya gubernur, lantas kalian rela menghamba pada kaum ningrat? Tapi dari nada percakapan Hengtay berdua, rasanya toh bukan sebangsa manusia-manusia yang suka menjilat dan mengekor?"
Memangnya kedua penggotong joli itu tidak rela diperbudak oleh Mo-hujin, kini kena ditusuk lagi oleh ucapan Eag-kiat itu, seketika muka mereka menjadi merah, dengan gelagapan mereka menjawab.
"Meski.... meski kami tidak tersohor seperti Pek-tayiiap, namun juga bukan kaum kerucuk dikalangan Kang-ouw. Jangankan hanya seorang gubernur, biarpun lebih tinggi pangkatnya juga kami tidak sudi diperbudak olehnya, soalnya karena... karena..."
"Sudahlah, kalau sulit untuk diceritakan, tak usah dikatakan,"
Demikian Eng-kiat sengaja memancing.
"Sudah tentu aku tidak akan memandang rendah kedua hengtay berdua, tapi entahlah bila orang lain..."
Kedua penggotong joli itu tidak tahan lagi, akhirnya mereka berteriak juga.
"Sebabnya kami sudi menjadi kuli bukanlah karena dia adalah nyonya gubernur. Tapi disebabkan ia telah memerintah kami dengan tanda Kim-pay (medali emas) dari Thian-mo-kau, kami baru saja masuk menjadi anggota Thianmo-kau maka tidak mungkin kami membangkang terhadap Kim-pay dari agama sendiri."
Pengalaman Eng-kiat cukup luas, dia tahu Thian-mo-kau meski sangat rahasia tindak tandknya, tapi paling akhir ini sudah mulai bergerak dikalangan kangouw. Segera ia purapura terkejut dan berkata.
"He, kiranya demikian, maafkan aku tak tahu. Tapi kabarnya anggota Thian mo-kau adalah wanita semua. mengapa kini menerima juga anggota lelaki?"
"Memang Thian-mo-kaucu adalah seorarg wanita, tahun lalu kabarnya bertambah pula seorang Hukaucu (wakil ketua) lelaki, sebab itulah banyak tokoh-tokoh Kangouw telah masuk juga menjadi anggota. Oleh karena kami adalah perkumpulan Kangouw yang kecil, maksud kami menjadi anggota adalah supaya punya sandaran siapa duga masih, tetap dipandang hina orang."
Eng-kiat membiarkan mereka ber sungut-sungut dulu, kemudian menanya.
"Apakah Mo-hujin ini adalah Kaucu kalian?"
"Ah... kami hanya Bu-beng-siau-cut (perajurit tak bernama, kerucuk) didalam Thian-mo-kau. Sampai sekarang, masih belum pernah melihat muka Kaucu dan Hukaucu", demikian sahut penggotong-penggotong joli itu.
"Kali ini kami diperintahkan menghamba kepada Mo-hujin itu. Iapun tidak diperkenalkan kedudukan dirinya pada kami, maka kamipun tidak tahu apakah sebenarnya dia adalah Kaucu kami atau memang nyonya gubernur segala?"
Karena tak berhasil memancing keterangan lebih banyak, pikir Eng-kiat kemudian.
"Kedua orang ini, memang cuma golongan kerucuk dari Thian-mo-kau tampaknya apa yang mereka ketahui juga terbatas". Maka segera ia cekoki kedua penggotong joli itu terus menerus hingga mabuk, lalu cepat datang ketempat Kok Cihoa untuk melapor. Terkejut juga Kok Ci-hoa ketika mendengar bahwa Mo-hujin itu mungkin adalah Thian-mo kaucu sendiri, tapi segera katanya gusar.
"Selama ini kami tiada Permusuhan dan sangkut paut apa-apa dengan agama jahat kalian. Mengapa kau datang mengacau ke Bin-san sini?". Mo-hujin itu ter-bahak?. Ia tidak menyangkal dan juga tidak membenarkan terhadap tuduhan Pek Eng-kiat bahwa dirinya mungkin adalah Thian-mo-kaucu. Setelah tergelak-gelak aneh sebentar, mendadak ia melancarkan serangan gencar pula kepada Kok Ci-hoa sambil mendamprat .
"Kau berani memaki agama suci kami sebagai agama jahat? Cukup dengan alasan ini saja permusuhan dengan Bin-san-pay kalian sudah terang jadi kini, apalagi kau telah mengangkangi puteriku!"
Suara tertawa Mo-hujin itu seram melengking, Lwekang Pek Eng-kiat lebih tinggi, maka tidak terpengaruh, tapi bagi pendengaran Loh Eng-ho, seketika merasa telinganya seolaholah ditusuk benda tajam.
Dasar wataknya memang berangasan, dalam gusarnya segera ia lolos senjata hendak mengembut maju.
Syukur pelayan Kok Ci-hoa keburu mencegah.
"Jangan, Loh Susiok, lekas mundur!"
Dalam Pada itu, dengan cepat luar biasa "Seerrr"
Tahu-tahu Mo-hujin telah lolos keluar seutas pecut panjang.
"Taar!"
Sekali, dengan tepat punggung tangan Loh Eng-ho kena tersabet.
Saking kesakitan.
Loh Eng-ho sampai menjerit.
Ternyata pecut Mo-hujin itu penuh ditaburi bubuk racun sengat kalajengking, ujung pecut dipasangi pula dengan duri-duri baja berkait yang halus, sekali tangan Loh Eng-ho tersabet seketika terasa panas seperti dibakar, kulit daging bagian tangan itupun terbeset sepotong.
Akan tetapi karena Kok Ci-hoa telah melarang orang lain maju membantunya, terpaksa Loh Eng-ho-mengundur diri dengan menahan sakit dan penasaran.
"Hm, apakah Bin-san-pay kalian hendak main keroyokan?"
Demikian Mo-hujin mengejek.
"Jika begitu, terpaksa aku gunakan senjata untuk melayani kalian!"
Padahal Loh Eng-ho tadi belum lagi bertindak dan menyerang, sudah lebih dulu dilukai olehnya.
Sebenarnya tak bisa dikatakan orang Bin-san-pay hendak mengeroyok.
Soalnya karena Mo-hujin sendiri sudah terdesak dibawah angin, maka, dengan alasan itulah sekarang dia akan menempur Kok Ci-hoa dengan senjata.
Dengan pecut berbisa yang dimainkan dengan kencang itu, Karuan Mo hujin bertambah iihay mirip harimau tumbuh sayap, ia menyerang lebih gencar hingga kedudukannya yane terdesak tadi bisa diperkuat kembali.
Sementara itu Kang Lam yang, sedang diliputi rasa raguragu dan curiga itu, ketika mendadak mendengar Pek Eng-kiat bilang Mo-hujin itu mungkin adalah Thian-mo-kaucu sendiri, hati Kang Lam terguncang.
Ia adalah seorang yang jujur mulus dan tidak pakui perhitungan untung-rugi, biarpun tahu kepandaian Mo-hujin itu entah berapa kali lebih lihay dari dirinya, toh ia Tetap merangsang maju tak peduli.
Melihat Kang Lam sekonyong-konyong ikut menerjang kekalangan, cepat Ci-hoa berseru.
"Kang Lam, aku tidak perlu bantuanmu, lekas mundur!"
Tapi Kang Lam menjawab.
"Dia telah menculik puteraku, aku harus mengadu jiwa dengan dia! Aku bukan anak murid Bin-san-pay kalian, aku boleh tidak tunduk pada perintahmu!"
Tercengang juga Mo-hujin itu, segera ia mendamprat.
"Bocah dogol, mengaco-belo belaka! Siapa yang pingin pada anakmu? Baiklah, jika kau sudah bosan hidup, biar akupun memberikan kartu undangan Giam-lo-ong (raja akhirat) padamu!"
Pecut Mo-hujin yang lemas itu, bagaikan ular menjulurkan lidahnya yang bisa diulur dan mengkeret dengan leluasa, sekali sabet, jaraknya mencapai setombak lebih.
Maka sebelum Kang Lam dapat menubruk kehadapannya, mendadak "Tarrr!"
Sekali Pecut panjang itu sudah menyambar kearahnya.
Lekas Kok Ci-hoa membarengi menusuk dengan pedangnya, dia utara berkelebatnya sinar pedang dandayangan pecut, tertampak Kang Lam mendadak berjumpalitan maju keatas hingga pecut Mo-hujin itu menyerempet lewat di bawah punggung Kang Lam.
Kiranya cara berjumpalitan Kang Lam yang aneh itu adalah ajaran Kim Si-ie, biarpun pengalaman Mo-hujin itu sangat luas, luput juga serangannya itu.
Dalam pada itu sudah terdengar Kang Lam membentak sekali, secepat kilat ia telah membalik turun terus menutuk ke "Giok-coan hiat"
Dibawah dada Mo-hujin.
Pecut Mo-hujin saat itu lagi dipakai menangkis tusukan Kok Ci-hoa tadi.
Untuk menarik kembali buat menyambut serangan Kang Lam sudah tidak sempat lagi, terpaksa ia berkelit sebisanya.
Namun ilmu Thian-hiat Kang Lam itu sudah mencapai tingkatan kelas satu.
Justru pada saat lawan menggeser tubuh itulah, kedua jarinya masih sempat mengait hingga.
"Bret". Baju di bagian dada Mo-hujin telah sobek sepotong. Menyusul juga suara gedebukan. Kiranya pada saat baju Mo-hujin sobek dikait jarinya, berbareng iapun kena disikut oleh nonya itu hingga tepat kena "Ih-gi-hiat"
Di bagian iga Walaupun Mo-hujin tidak kena tertutuk tapi bajunya robek menjadi malu, dalam murkanya.
"Sret"
Pecutnya kembali menyabet pula kearah Kang Lam sambil mendamperat.
"Bocah kurang ajar! Nih, rasakan pecutnya ini. lekaslah menuju ke akhirat!"
Ih-gi hiat dibagian iga iiu adalah salah satu, hiat-to yang mematikan dibadan manusia.
Setelah kena disikut.
Mo-hujin menduga Kang Lam sekalipun tidak lantas mampus, paling tidak juga takkan mampu berkutik, maka ia sengaja hendak menambahi sabetan pecutnya lagi.
Tak terduga Kang Lam memiliki kepandaian "Tian-to-hiapto"
Yang ajaib, hingga tutukan nyonya itu tidak mempan. Sekali ini Kang Lam tidak ingin menunggu pecut lawan itu menyambar lagi, cepat-cepat ia mendahului melejit bangun dengan gerakan "Le-hi-bah-ting"
Atau ikan lele melonjak, berbareng ia membentak.
"Kau telah menculik puteraku, masih Kau berani bicara tentang sopan santun dengan aku? Hm... aku justru ingin adu jiwa dengan kau!"
Sungguhpun kepandaian Kang Lam bukan tandingan Mohujin.
tapi iapun cukup cekatan begitu melejit bangun berbareng pedang sudah dilolosnya, kontan dengan tipu Junhong-kay-tong atau Angin Semilir Mencairkan Es, ia tusuk musuh.
Serangan Kang Lam ini adalah salah satu jurus yang hebat dari Peng-coan-kiam-hoat, biarpun ilmu pedang kelas wahid, walaupun cuma sekelumit diantaranya sudah cukup untuk menggertak lawan.
Karuan Mo-hujin terperanjat.
Sudah terang Kang Lam kena ditutuk ih-gi-hiat olehnya kenapa tidak terjadi apa-apa?
Bahkan masih bisa melontarkan ilmu pedang sebagus itu?
Diam-Diam ia berpikir.
"Jangan-Jangan aku telah salah lihat? Apa bocah ini juga sudah berhasil melatih ilmu sakti yang tak mempan serangan?"
Maka dia tidak berani pandang enteng Kang Lam lagi.
Sekarang ia hadapi Kang Lam seperti dia melayani Kok Cihoa.
Separuh tenaganya kini kusus untuk dipakai menempur Kang Lam.
Padahal kepandaian Kang Lam yang sejati selisih sangat jauh daripada Mo-hujin.
Dengan perubahan itu, maka tiada balasan gebrakan.
Kang Lam mulai kewalahan dan kerepotan.
Untung dia sudah mahir "Thian-Loh-po-hoat", dibantu pula dengan "Hian-li-kiam-hoat"
Kok Ci-hoa yang lihay, hingga Mohujin tidak terlalu berani mencecar kang Lam.
Sebab itulah beberapa kali Kang Lam mulai terancam bahaya, namun dapatlah ia selamatkan diri.
Sebaliknya karena harus melindungi Kang Lam, pertarungan Kok Ci-hoa menjadi terganggu.
Namun ilmu silat Kang Lam sekarang sudah bukan golongan kerucuk, pula ia bertempur dengan kalap, mau tak mau Mo-hujin rada jeri juga, hal ini pun banyak membantu bagi Kok Ci-hoa.
Kalau bicara tentang kepandaian sejati, sebenarnya Kok Cihoa masih lebih tinggi setingkat daripada Mo-hujin, coba kalau bukan ingin lindungi Kang Lam, mungkin sejak tadi musuh sudah bisa dilukainya.
Rupanya Mo-hujin itupun dapat melihat titik kelemahan Kang Lam itu.
Dalam pertarungan sengit itu, mendadak dia mainkan ilmu pecut "Hwee-hong-sau-liu atau Angin puyuh merobohkan pohon Liu.
Beruntun-runtun tiga kali memberondongi Kok Ci-hoa sebagai pancingan.
Benar juga melihat ada kesempatan, segera Kang Lam merangsang maju.
Mo-hujin sengaja membiarkan Kang Lam berhasil mendekatinya sekonyong-konyong dia menyebul dengan hawa dingin hingga tidak tertahan Kang Lam bergidik.
Pada detik itulah secepat kilat Mo-hujin ayun kakinya menendang.
Melihat itu, Kok Ci-hoa sangat terkejut cepat pedangnya menusuk.
Dan pada saat itulah terdengar Kang Lam menjerit sekali sambil berjumpalitan mundur ketepi tembok.
Menyusul mana, hampir berbareng terdengar Mo-hujin itu pun menjerit tajam sekali, lalu orangnya terhuyung huyung.
Karena itu tusukan Kok Ci-hoa tadi tak bisa dihindarinya.
"Cret", sebagian daging diatas lengannya kena dipapas oleh pedang Kok Cihoa. Kiranya Kang Lam yang ketolol-tololan itu sama sekali tidak kenal sungkan-sungkan segala. Pada saat ia kena ditendang Mo-hujin berbareng iapun pentang mulut terus menggigit sekeras-kerasnya ke betis nyonya itu. Sebab itulah tusukan Kok Ci-hoa dapat melukai musuh dengan mudah. Berturut-turut Mo-hujin terluka pedang dan tergigit, tak bisa tahan lagi, sekali berteriak, terus ia berlari kearah pintu. Kok Ci-hoa tak sempat mengejar, ia tanya Kang Lam lebih dulu.
"Bagaimanakah keadaanmu?"
"Tidak apa-apa!"
Sahut Kang Lam.
"Lekas kejar siluman itu.!"
Namun untuk bangun, terpaksa ia harus berpegangan dinding, suatu tanda tendangan tadi sesungguhnya tidak ringan.
Kepandaian Mo-hujin itu benar-benar luar biasa, waiaupun terluka dan sebelah kaki agak pincang, namun larinya masih sangat cepat.
Diluar memang ada beberapa anak murid Binsan-pay, maka begitu dia lari keluar, kontan dia sebarkan segulung asap tebal dan api, diantara asap api itu terseling pula suara mencicit.
Pek Eng-kiat kenal itu adalah "Tok-bu-kim ciam-liat-yamtan"
Yang dahulu sering digunakan Le-Seng-lam, maka cepat ia bersama Thia Go memukul ke depan.
Mereka adalah muridmurid tertua dari Bin-san-pay, kepandaian mereka terhitung paling tinggi.
Dengan pukulan Pi-khong-cio"
Mereka bisa tolak samberan asap yang tebal itu hingga menebar keatas, tapi toh masih ada beberapa kawan yang terluka oleh jarum beracun.
Anak-Anak murid Bin-san-pay itu menjadi murka, sambil membentak-bentak, beramai-ramai mereka menghujani Mohujin dengan am-gi atau senjata rahasia.
Mo-hujin menjengek sambil putar pecutnya yang lemas itu, hingga mirip seekor naga menari-nari diangkasa sambil pentang mulut dan cakarnya.
Seketika hujan am-gi tadi tersapu bersih, ada sebagian yang sengaja tidak digubris oleh Mo-hujin hingga, mengenai badannya, tapi senjata-senjata rahasia itupun jatuh sendiri ketanah begitu menempel bajunya.
Hanya sekejap saja nyonya itu sudah berlari keluar pintu kedua, yang menjaga pintu ketiga adalah Kam Jin-liong dan Lim-sing dari Lak-toa-tecu atau enam murid tertua.
Kam Jin-liong adalah keponakan mendiang Kang-lam-tayhiap, Kam Leng-ti yang tersohor itu.
Ia telah mewarisi ilmu pukulan sakti sang paman, maka begitu nampak musuh berlari tiba, kontan ia menghantam kedepan.
"Awas, jangan menyenggol tangannya yang berbisa"
Cepat Pak eng-kiat memperingatkan sambil menyusul tiba. Namun sudah terlambat.
"Blaang!"
Sekali.
Lontaran telapak tangan Mo-hujin sudah saling beradu dengan kepala Kam Jinliong mampu menembus perut kerbau.
Mo-hujin rasa sempoyongan juga terbentur oleh pukulan hebat itu.
Tapi ia mendengus sekali, serangan kedua segera ia gaplokan keatas kepala Kam Jin-liong.
"Perempuan siluman jangan main garang!"
Bentak Lim Sing. senjata yang dia gunakan adalah sebatang seruling, begitu bergerak, segera ia tutuk urat nadi musuh. Ilmu "Giok-tik-tiam-hiat"
Atau menutuk dengan seruling, merupakan salah satu kepandaian tunggal juga dari Lim Sing.
Seruling adalah senjata pendek, maka pertarungannya itu boleh dikata merupakan pergulatan dari dekat.
Karena tak sempat memutar kembali pecutnya, Mo-hujin terkesiap, cepat ia menggeser ke samping.
Dan pada saat itulah terdengar Kam Jin-liong menjerit sekali ngeri terus jatuh terguling.
Terpaksa Lim Sing dan Pek Eng-hiat membiarkan Mo-hujin lari pergi dan sibuk menolong Kam Jing-liong lebih dulu.
Ternyata wajah Jin-liong sudah matang blru, orangnya sudah tak sadar, keadaannya serupa dengan Cia In-cin.
Sementara itu ketika Kok Ci-hoa mengetahui Kang Lam tidak terluka, lalu memburu keluar, namun sudah terlambat sedikit.
Waktu itu Mo-hujin sudah menerjang keluar ketiga pintu kelenting dan sampat dipelataran luar.
Kedua penggotong joli yang sudah mabuk itu menjadi kaget dan sadar ketika mendengar suara ramai-ramai.
Dengan gugup mereka berlari ke luar.
Waktu mendongak, mereka melihat orang yang lagi berlari kearah mereka itu tak lain tak bukan adalah Mo-hujin yang harus mereka mengabdikan diri itu.
Mereka tidak tahu kalau di dalam kelenting sudah terjadi geger?.
Dengan masih dipengaruhi alkohol, kedua penggotong joli itu menanya.
"Apakah Hujin akan turun gunung sekarang? Silahkan tunggu sebentar, katai ambilkan joli."
Tiba-Tiba Mo-hujin menjengek dan mendamprat "Hai, garagara kalian yang tolol ini hingga rahasiaku terbongkar, apakah aku masih perlu kalian menggotong joli lagi?
Boleh kalian enyah kerumah kakek moyangmu saja".
Dalam keadaan masih belum sadar seluruhnya kedua penggotong joli itu masih menyangka sang nyonva besar itu benar-benar telah bebaskan kewajiban mereka.
Untuk sedetik mereka tertegun dan belum lagi sempat menyatakan terima kasih sekonyong-konyong terdengar suara mendesis dua kali.
Mo-hujin sudah bidikan dua batang panah kecil hingga menembus tenggorokan mereka, kontan kedua penggotong joli itu melayang jiwanya.
Tindakan Mo hujin itu cepat sekali, disamping membidikkan panah membinasakan kedua penggotong joli, tanpa melihat lagi pecut ditangan lain terus menyabet keatas.
"Tarr!"
Ujung cambuk semampir di atas pagar tembok, menyusul tubuhnya ikut mumbul keatas, sekali berjumpalitan, orangnya sudah melintasi pagar tembok dengan gayanya yang indah.
Malahan berbareng dengan lompatan itu, melepaskan pula sebutir peluru berasap dan berjarum berbisa untuk menahan pengejarnya.
Tapi Kok Ci-hoa lantas melontarkan pukulan kosong 'Pikhong-cio untuk membuyarkan asap dan serangan jarum.
Waktu Pek Eng-kiat melompat ke atas tembok, bayangan Mohujin sudah tak tampak lagi.
"Dia kena digigit sekali oleh Kang Lam terluka oleh pedangku pula, tadi waktu melintasi tembok diperlukan bantuan tenaga cambuknya agaknya lukanya juga tidak ringan, biarlah dia pergi saja!"
Demikian kata Kok Ci-hoa.
Peristiwa ini ternyata banyak melukai anak murid Bin-sanpay.
Kecuali Cia In-cin dan Kam Jin-liong yang terluka parah, ada pula 5-6 anak murid terkena jarum beracun.
Kok Ci-hoa rasa kesal oleh kejadian itu, bersama Kang Lam, mereka pergi memeriksa keadaannya Cia In-cin.
Sesudah minum Pek-ling-tan, pernapasan Cia In-cin sudah mulai rada teratur, cuma masih tetap tak sadar.
Kok Ci-hoa agak lega, bersama Kang Lam mereka pergi melibat anak pungutnya.
Begitu melihat Kang Lam segera Kok Tiong-lian berteriakteriak "Siok-siok.
andaikata lain kali pinggulmu telanjang lagi, tentu aku takkan mentertawai kau, sebab kau adalah orang baik!"
Kang Lam tertawa kikuk, sahutnya.
"Setan cilik, dari mana kau tahu aku adalah orang baik?"
"Tadi aku diberi tahu bahwa paman telah membantu ibu mengusir maling wanita"
Sahut Tiong-lian.
"Sungguh aku tadi sangat takut, apabila kena diculik oleh dia, entah bagaimana nasibku ini?"
"Aai, tapi putraku sudah diculik olehnya", kata Kang Lam dengan menghela napas.
"Maling wanita itu sungguh jahat", ujar Tiong-lian.
"Sioksiok, jangan kau kuatir, kali ini kau telah bantu ibu, maka akupun minta ibu membantu engkau untuk mencari kembali puteramu itu. Sudah berapa besarnya dia? Tahun ini aku berumur tujuh tahun, aku ingin tahu, aku harus panggil dia kakak atau adik?".
"Seperti kau, kebetulan iapun tujuh tahun"
Sahut Kang Lam.
"Bagus!"
Seru Tiong-lian bertepuk tangan.
"lekaslah engkau membantu paman ini mencari kembali puteranya agar aku mempunyai teman cilik. Eh, Sioksiok maukah engkau juga tinggal disini?"
Sebenarnya Kok Ci-hoa lagi masgul, tapi demi sampak anak yang lincah menarik itu, tak tertahan lagi ia tertawa, katanya.
"Baiklah, apabila Kang Sioksiok sudi padamu, nanti kalau Kang-koko sudah ditemukan, aku lantas berikan kau untuk menjadi bininya". Sudah tentu Kok Tiong-lian masih belum paham tentang "laki-bini"
Segala, dengan moncongkan mulutnya yang kecil mungil itu ia berkata pula.
"Aku hanya ingin dia untuk menjadi temanku, tapi aku tidak mau meninggalkan engkau, Ah. baju kapasku ini telah sobek dicakar maling wanita iiu, harap ibu sukalah menjahitkannya"
Waktu Kok Ci-hoa menyambut baju kapas yang diangsurkan itu, seketika hatinya tergerak.
Terbayang olehnya adegan tadi, dimana ketika Mo-hujin mohon bertemu dengan bocah itu, ia telah minta pula agar anak itu memakai baju kapasnya sekalian.
Hal mana dapat diikutinya dengan jelas bahwa cara turun tangan Mo-hujin itu sangat kejam.
Hakikatnya tidak peduli apakah cengkeraman itu akan melukai sibocah atau tidak.
Karena itu dapatlah dipastikan, Bukan saja anak itu bukan anak kandungnya, bahkan maksud tujuannya bukan bocah itu, tapi adalah baju kapasnya.
Biji kancing diatas baju kapas itu adalah benda mestika yang menjadi idam-idaman setiap orang Bu-lim, hal ini sudah lama diketahui Kok Ci-hoa.
Tapi Mo-hujin tidak tahu.
Maka dapat diduga bahwa baju kapas yang ingin dlarahnya ini bukan disebabkan rahasia biji-biji kancing itu telah diketahuinva.
Jika demikian, tentu di dalam baju kapas itu masih mempunyai suatu rahasia besar lain yang belum terbongkar?
Begitu Kok Ci-hoa menjadi ragu-ragu.
Ia coba periksa baju itu dengan teliti.
Baju itu sudah sobek suatu bagian oleh cakaran Mo-hujin.
Waktu Ci-hoa menarik garis sobekan itu, tiba-tiba dilihatnya didalam baju itu seperti ada sepotong barang apa.
Waktu ditarik keluar, kiranya adalah secarik kertas kulit kambing yang sangat halus dan tipis buatannya.
Yang lebih mengherankan adalah diatas kertas kulit itu penuh tertulis huruf-huruf yang tak dikenal oleh Kok Ci-hoa.
DARI samping Kang Lam juga pentang mata lebar-lebar untuk melihat huruf diatas kertas kulit itu, tiba-tiba Ci-hoa menanya.
"Kang Lam, kau pernah tinggal sepuluh tahun di Tibet, apakah kau paham tulisan Tibet?".
"Paham sedikit saja,"
Sahut Kang Lam. Tapi sesudah kertas itu diterimanya dan di baca, kemudian ia menggelengi kepala dan berkata.
"Ini bukan tulisan Tibet,"
Dan sesudah memikir sejenak, ia menyambung pula.
"Dahulu, ketika aku berada di Saka, terkadang aku suka menyampaikan surat dinas bagi orang yang datang menghadap Loya kami. Maka itu tulisan demikian aku seperti pernah melihatnya, cuma tidak paham. Gihengku Tan Thian-ih kenal beberapa bahasa daerah barat itu, biarlah kelak akan aku ajak kesini dan boleh kau minta dia bacakan tulisan ini"
Karena tiada jalan lain, terpaksa Kok Ci-hoa menerima usul Kang Lam dan masukkan kembali kertas kulit itu ke dalam baju kapas, lalu dijahitnya dengan baik.
Dengan sorot mata yang terheran-heran Kok Tiong-lian menyaksikan ibu angkatnya itu menjahitkan bajunya.
Maka berkatalah Kok Ci-hoa dengan suara halus.
"Lian-ji, apa kau masih ingat kejadian dimasa kecilmu?"
Biji mata Kok Tiong-lian yang kecil ini tampak mengerling kesana-kesini, tampaknya merasa serba salah untuk bicara. Karena itu Kok Ci-hoa berkata pula.
"Lian-ji, jika kau tidak ingin katakan, aku tidak ingin tahu lagi."
"Khu Ya-ya yang pesan padaku agar jangan sembarangan ceritakan pada orang urusan diwaktu kecilku", sahut Tionglian.
"Tapi engkau adalah ibuku, kalau kuberitahukan rasanya Khu Ya-ya tidak takkan salahkan aku. Cuma akupun tidak begitu ingat"
Dara cilik itu mengingat-ingat sebentar, lalu menutur.
"Aku masih ingat diwaktu kecil tinggal di tenda yang sangat besar. Didalamnya banyak terdapat kamar-kamar lagi. Di luar tenda adalah tanah rumput yang sangat luas dan banyak lembu dan domba."
Termangu-mangu Kok Ci-hoa oleh cerita itu, pikirnya.
"Ia tinggal didalam tenda sehebat itu apa bukan keluarga bangsawan Mongol atau puteri kepala suku dan sebagainya di daerah Sin-kiang?"
Segera Kok Tiong-lian menyambung lagi.
"Dan aku mempunyai banyak budak. Aku masih ingat orang yang sering membopong aku adalah seorang wanita tua yang sudah ubanan. Suatu kali aku bermain ditanah rumput dan mendengar satu anak lain memanggil ayah dan ibunya, dan itu baru aku mengetahui bahwa tiap orang seharusnya mempunyai ayah-ibu. Aku pulang dan menanya nenek tua itu apakah dia ibuku? Tapi dia bilang bukan, ia mengaku adalah budak yang mengemban aku saja. Ia beritahu padaku bahwa semua orang didalam tenda itu adalah budakku, tapi tidak menerangkan padaku dimana beradanya ayah bundaku. Tatkala itu aku masih bodoh, maka tak bisa banyak bertanya, aku menyangka diriku dikecualikan memiliki ayah dan ibu. Cuma tidak lama kemudian lantas tahu juga bahwa akupun mempunyai seorang ibu."
"Dari mana kau tahu?"
Tanya Ci-hoa tak sabar.
"Suatu malam", demikian Tiong-han melanjutkan.
"ada seorang wanita datang kedalam tenda, jenguk aku. Apa yang dia katakan aku sudah lupa, aku hanya ingat beliau adalah seorang wanita cantik. Sesudah dia pergi, nenek itu baru memberitahu padaku bahwa wanita itulah ibu kandungku"
"Ah... kiranya ibu kandungmu masih hidup didunia ini?"
Kata Ci-hoa.
"Tidak beliau sudah meninggal,"
Sahut Tiong-lian.'"Hal ini adalah Khu-yaya yang katakan padaku kemudian.
Suatu hari, entah apa yang terjadi dipadang rumput, sekonyong-konyong semua orang berlari kacau balau, aku dibopong Khu-yaya dan dibawa lari dengan menunggang kuda selama beberapa hari.
Akhirnya aku lantas tinggal bersama Khu-yaya.
Tidak, semula masih belum tinggal bersama dia, tapi tinggal disebuah gubug reyot.
Kira-Kira beberapa bulan kemudian baru Khu-yaya membawa diriku ke rumahnya yang besar itu."
"Siapa lagi yang berada dirumahnya itu?"
Tanya Ci-hoa.
"Aia seorang paman she Sin, kemudian aku tahu dia adalah buruh tani Khu-yaya,"
Sahut Tiong-lian.
"Sio-sioksiok itu mengajar dalam bahasa yang serupa dengan anak-anaknya"
"Lalu sebelumnya bahasa apa yang kau ucapkan?"
Tanya pula Ci-hoa.
"Entahlah, aku sudah lupa sama sekali", sahut Tiong-lian mengkerut kening. Hendaklah diketahui bahwa ketika Kok Tiong-lian dibawa kerumah Khu Giam, usianya baru tiga tahun. Seorang bocah tiga tahun dapat mengingat hal-hal sebanyak itu sebenarnya sudah terlalu bebat. Namun setelah mendengar cerita itu, meski sudah terbuka jalan-jalan untuk menyelidikinya, Kok Cihoa merasa teka-teki pribadi anak itu masih belum tersingkap, bahkan bertambah aneh dan penuh rahasia. Dalam teka-teki mengenai diri bocah itu ada terdapat dua titik persoalan yang sangat susah dipahami dan dipecahkan. Pertama, mengapa ayah bundanya tidak tinggal bersama dia? Bahkan untuk menjenguknya, ibunya perlu datang secara diam-diam dimalam hari? Semula Kok Ci-hoa menduga anak ini mungkin adalah keturunan bangsawan Mongol atau puteri kepala suku daerah Sinkiang, tapi juga teringat olehnya cerita buatan yang diceritakan Mo-hujin, yaitu boleh jadi anak ini adalah hasil hubungan tak sah. Tapi bila benar demikian, soalnya lebih rumit lagi. Sebab harus diketahui bahwa adat istiadat suku bangsa di daerah barat laut itu sangat berbeda dengan bangsa Han. Mereka hidup secara berkelompok-kelompok tergantung keadaan setempat, dimana rumput subur bagi peternakan mereka. Jumlah mereka juga tak bisa terlalu banyak, tapi selamanya mereka hidup berkumpul hingga satu sama lain sangat kenal. Setiap peristiwa pribadi, susah sekali untuk ditutup. Kedua, pabila bocah ini adalah anak tak sah dari pihak lelaki, padahal umumnya kepala suku dari Sinkiang atau bangsawan Mongol memiliki kekuasaan sangat besar, tidak perlu main sembunyi-sembunyi hanya karena seorang anak haram. Sebaliknya kalau anak tak sah dari pihak wanita, mana dia berani menaruh anaknya di dalam tenda yang begitu besar dan megah? Bahkan diemban oleh kawan-hamba sebanyak yang diceritakan itu? Pula, katanya tenda itu berada disuatu tempat yang tetap dan tidak di pindah-pindah. Begitu juga apa dia tidak kuatir diketahui oleh suaminya yang besar pengaruhnya itu kalau menaruh anaknya disuatu tempat yang penduduknya tidak terlalu banyak. Ketiga, Khu Giam adalah seorang hartawan kecil dikota Tiong-bo-koan didaerah Ho-lam. Pergaulannya juga tidak luas, mengapa dia bisa pergi kepadang rumput sejauh itu untuk membawa lari anak perempuan ini, bahkan rela mengorbankan jiwa sendiri demi rahasia pribadi bocah ini?. TENGAH Kok Ci-hoa termenung-menung bingung, tiba-tiba pelayan datang melapor bahwa Pek Eng-kiat mohon bertemu.
"Eh, ya, Pek Toako banyak tipu-akalnya, kenapa tidak coba berunding dengan dia,'' ujar Kang Lam girang. Tapi Ci-hoa ragu-ragu, katanya sesudah memikir sejenak.
"Sampai matipun Khu Giam tidak mau bocorkan rahasia ini, pula pernah pesan bocah itu jangan sembarangan ceritakan pada orang lain. Maka dapat dipastikan rahasia ini sangat penting sekali. Meski Pek-toako cukup bisa dipercaya, tapi aku pikir lebih sedikit yang mengetahui ada lebih baik. Kali ini kalau bukan disebabkan perempuan siluman tadi hendak menipu, tentu akupun tidak suka menanyakan asal-usulnya."
Habis berkata, ia pandang sekali pada Kang Lam seakanakan ada apa-apa yang tidak enak diucapkan.
Biarpun dogol Kang Lam bukan orang tolol.
Mendengar kata-kata Ci-hoa itu, segera dia paham segera katanya.
"Koklihiap tak perlu kuatir. Aku hanya secara kebetulan saja hingga ikut mendengar urusan ini. tapi aku pasti takkan sembarangan menceritakan lagi pada orang lain. Aku berani bersumpah, pabila aku membocorkan rahasia ini, biarlah lidahku tumbuh suatu bisu besar."
Kok Ci-hoa mengikik geli, katanya.
"Aku percaya padamu Kang Lam, tak usah kau sumpah segala."
Lalu ia suruh pelayan menyilahkan Pek Eng-kiat masuk. Setelah berhadapan, segera Pek Eng-kiat memberi laporan.
"Beberapa saudara kita yang terkena jarum beracun itu sudah disedot keluar jarumnya, racun yang mengenai mereka tidak seberapa lihaynya, sesudah minum obat penawar racun buat kita sendiri, mereka tidak perlu dikuatirkan lagi. Hanya Kamsute yang saling adu tangan dengan perempuan siluman itu, keadaannya yang rada payah!"
"Payah bagaimana....?"
Tanya Kok Ci-hoa terkejut.
"Sesudah minum Pek-ling-tan, Kam-sute masih tetap tak sadar, barusan malah muntahkan darah mati beberapa gumpal,"
Tutur Pek Eng-kiat.
"Hal ini adalah karena Lweekang yang masih dibawah Ciasuso, maka keadaannya tampaknya lebih payah", ujar Ci-hoa.
"Tapi sesudah muntahkan darah mati, itu malah lebih baik, racun yang menyesap dibadannya itu malah bisa berkurang."
Kok Ci-hoa sendiri dahulu sudah pernah mengalami keracunan demikian, maka ia cukup kenal betapa lihaynya.
Pek-ling tan hanya bisa untuk mencegah, tapi tak bisa menyembuhkan sama sekali.
Maka ia menjadi masgul bila mengingat obat penawar racun itu susah diperoleh.
"Masih ada sesuatu yang istimewa dari perempuan siluman itu, entah Ciangbun memperhatikannya atau tidak?"
Kata Engkiat pula.
"Tentang apa?"
Tanya Ci-hoa.
"Rambutnya!"
Sahut Eng kiat.
"Diantara rambutnya itu banyak yang berwarna keemas-emasan, tampaknya bukan bangsa Han totok"
"He ya, betul!"
Teriak Kang Lam.
"Aku melihatnya, bahkan biji matanya juga berwarna biru, besar kemungkinan adalah peranakan campuran Han dan orang asing!"
Kok Tiong-lian tidak paham, tentang totok dan peranakan, apa segala tapi demi mendengar percakapan itu tiba-tiba iapun menimbrung.
"He, ibu rambutku juga ada beberapa utas yang berwarna kuning emas. Lihat inil"
Setiap hari Kok Ci-hoa tentu menyisir rambut bocah itu, maka sudah iama ia mengetahui tentang rambutnya.
Kini bila dia perhatikan pula biji matanya, baru dia tahu kalau warnanya juga rada berbeda, meski tidak sebiru matanya Mo-hujin, tapi rada bersemu coklat.
Kok Ci-hoa menjadi lebih ragu-ragu lagi, pikirnya.
"Meski benar mereka rada mirip, tapi berdasarkan kejadian tadi serta apa yang diceritakan Lian-ji, tidak mungkin perempuan siluman itu adalah ibunya. Namun suatu hal dapatlah dipastikan ialah Lian-ji mungkin adalah peranakan dari ayah ibu yang berlainan bangsa. Segera iapun berkata pula.
"Wajah setiap orang tiada yang sama, rambutpun tak bisa serupa seluruhnya. Kalau rambutmu ada yang bewarna kuning emas, bukankah lebih manis tampaknya, Lian-ji. Sekarang sudah waktunya tidur siang. Nah! pergilah tidur". Setelah bocah itu dibawa pergi pelayan dan Pek Eng-kiat juga sudah keluar, lalu Kok Ci-hoa menanya Kang Lam lagi.
"Sebelum perempuan siluman itu datang tadi, kau sedang cerita bertempur dengan kedua Hoanceng dan diam-diam ada orang membantu kau. Lalu bagaimana lanjutannya?".
"Lalu, lalu ketemulah aku dengan perempuan itu,"
Sahut Kang Lam.
"Semula penggotong jolinya itu yang bergebrak dengan aku, kemudian ia sendiri pun hendak mencelakai aku, tapi hahaha, aku Kang Lam memang punya rejeki gede, di mana-mana selalu dibantu orang kosen". Begitulah Kang Lam lantas menceritakan Sejelas-jelasnya apa yang telah dialaminya itu. Kok Ci-hoa bertambah kesal mendengar itu, pikirnya diam-diam.
"Jika demikian, nyata Si-ie diam-diam sudah mengintai gerak-gerik perempuan siluman itu. Tapi kalau begitu kenapa tadi waktu perempuan itu mengacau disini dia tidak mau unjukkan diri? Apakah dia belum ingin menemui aku?"
Dan bila teringat pula kejadian!
dimasa yang lalu, tak tertahan lagi ia menjadi masgul pula.
Sehabis makan malam, Kok Ci-hoa memberi ajaran membaca pada Kok Tiong-lian.
Kang Lam ikut duduk omongomong disamping.
Selagi mereka asyik bicara, sekonyong-konyong terdengar suara genta bertalu-talu.
Kok Ci-hoa terkejut.
Dan pada saat itu juga, tiba-tiba terdengar suara tertawa orang yang nyaring di luar.
Suara tertawa itu mula-mula kedengaran masih di luar pintu kelenting, tapi hanya sekejap saja sudah terdengar mendenging-denging di tepi telinga hingga Kang Lam merasa bising oleh suara itu.
Seketika ia melonjak bangun sambil berteriak.
"Kurang ajar! Masakah perempuan siluman itu datang kembali?"
Kok Ci-hoa juga terkejut, ia pikir.
"Perempuan siluman itu terluka tidak ringan, siang tadi waktu melarikan diri juga diperlukan bantuan tenaga cambuknya baru bisa melintasi pagar tembok. Kenapa lukanya bisa sembuh begitu cepat dan tahu-tahu sudah pula selekas ini?"
Dalam pada itu, suara tertawa tadi mendadak berhenti, sebaliknya orang itu sudah buka suara di luar pintu ruangan situ.
"Thian Mo-kaucu mohon bertemu dengan ketua Bin-san". Dan baru saja Kok Ci-hoa berdiri, tiba-tiba didalam ruangan situ sudah berdiri tiga wanita berkedok. Yang menjadi kepala mereka itu malah sedang memberi hormat padanya. Ci-hoa dan Kang Lam tercengang seketika sebab bukan saja suara ketawa Thian Mo-kaucu ini mirip Mo-hujin itu, bahkan perawakannya juga sama. Cuma kalau diperhatikan barulah di ketahui Thian Mo-kaucu ini lebih langsing, jalannya lebih luwes gemulai. Cepat Ci-hoa membalas hormat orang dan belum lagi sempat menanya, tiba-tiba terdengar suara tindakan dan bentakan orang yang ramai Lo To-lin, Pek Eng-kiat, Thia Go dan lain tampak memburu dalang! "Lapor Ciangbun, perempuan siluman ini sengaja bikin onar kesini dan sudah banyak mencelakai anak murid kita,"
Seru Thia Go. Kok Ci-hoa coba bersabar, ia tetap menurut peraturan Bulim dan membalas hormat orang, lalu menanya.
"Ah, kiranya Thian Mo-kaucu yang datang, maafkan, maafkan aku tak keluar menyambut! Selamanya kami tiada sangkut paut apaapa dengan Kui-kau (agamamu). Entah ada keperluan apa atas kunjungan Kaucu dan mengapa datang-datang Kaucu lantas turun tangan mencelakai orang kami?". Thian Mo-kaucu itu mukanya tertutup sebatas mata dengan kain kedok dan sutera tipis, tampak biji matanya berputar, sikapnya tenang wajar, sahutnya dengan tersenyum.
"Aah, Thia Siansing suka berlebih-lebihan kalau bicara. Masakah aku dikatakan mencelakai anak murid golonganmu, soalnya karena aku dirintangi masuk, sedang aku tidak sabar menunggu terlalu lama, maka terpaksa menutuk Hiat-to mereka, selang satu jam nanti mereka akan pulih kembali dengan sendirinya, maka kau tidak perlu kuatir. Hahaha, sekian banyak jago-jago golonganmu, masakan hanya urusan begini saja tidak tahu?"
SeKetika Thia Go, Pek Eng-kiat dan lain-lain menjadi jengah.
Kiranya belasan orang yang ditutuk roboh oleh Thian Mokaucu itu semuanya kaku tak bernafas mirip orang mati.
Padahal umumnya orang yang kena tertutuk tidak begitu tanda-tandanya, paling tidak pasti bernafas.
Sebab itulah Thiago dan lain-lain menyangka kawan-kawannya itu terkena racun jahat.
Hakikatnya tidak terpikir kalau tertutuk.
Kini meski sudah diberitahu, toh mereka masih ragu-ragu akan kebenarannya.
Bin-san-pay adalah suatu aliran terkemuka di Bu-lim.
Kini kena diterjang Thian Mo-kaucu secara tidak semena-mena, bahkan baru diketahui sesudah banyak anak muridnya kena dirobohkan.
Dengan sendirinya Thia Go dan lain-lain merasa malu dan dongkol.
Tapi kini musuh sudah berhadapan dengan ketua mereka, untuk main kerubut terang akan lebih memalukan lagi.
Maka sehabis diolok-olok, Thia Go dan lainlain menjadi diam malah, mereka sama-sama menunggu tindakan apa yang akan diambil Kok Ci-hoa.
Maka terdengar Ci-hoa berkata dengan dingin.
"Jika anak murid kami kurang sopan menyambut, aku sendiri bisa menghukum mereka, tidak perlu Kaucu capekan diri!"
"Oo, kiranya Kok-ciangbun juga suka bicara tentang peraturan dengan orang?"
Sahut Thian Mo-kaucu terbahakbahak.
"Baiklah, aku mengaku salah telah menutuk roboh anak murid kalian, syukurlah mereka tidak terluka apa-apa, maka Kok-ciangbun boleh tak usah marah. Masih ada suatu urusan lain, aku justeru ingin minta keadilan pada Kokciangbun."
"Urusan apa? Silahkan berkata,"
Sahut Ci-hoa. Thian Mo-kaucu melangkah maju setindak dengan sinar mata tajam ia pandang Kok Tiong-lian dan berkata.
"Urusan ini enciku sudah bicara dengan Kok-ciangbun, yalah mengenai..."
"Jadi Mo-hujin itu adalah enci-mu?"
Sela Ci-hoa dengan terkesiap sambil melangkah maju untuk mengaling-aling didepan Kok Liong-lian serta memberi tanda agar pelayan membawanya pergi.
"Hemmm, meski kedatanganku ini adalah untuk keponakanku itu, tapi sekali-kali tidak sampai main rebut pakai kekerasan. Harap Kok-ciangbun jangan kuatir,'' demikian Thian Mo-kaucu mengejek. Tapi Kok Ci-hoa sudah dapat melihat bahwa Thian Mokaucu ini meski mengaku sebagai adiknya Mo-hujin, tapi ilmu silatnya terang jauh lebih lihay, ia menjadi kuatirkan kalau prang mendadak main kasar, maka iapun tidak berdebat dengan sindiran orarig tadi tapi lantas menyahut.
"Jika Kaucu sudi bicara secara beraturan, itulah paling baik. Lian-ji, pergilah kau belajar, ibu akan melayani tamu dahulu."
Dan baru saja thian Mo-kaucu dipersilahkan duduk, belum lagi mulai bicara dengan Kok Ci-hoa, tiba-tiba Kang Lam sudah berseru.
"He!, jadi kau suka bicara menurut aturan. Bagus, biarlah aku yang bicara dahulu! Kau bilang takkan main rebut anak orang, namun kenapa kau telah merampas puteraku?"
Saking bernafsu bicaranya hingga tangannya ikut acung kekanan dan kekiri terus maju mendekati Thian Mo-kaucu itu.
"Hem, bocah dogol, berani kau kasar padaku!"
Jengek kaucu itu.
Dan belum selesai ucapannya, mendadak kedua dayang Thian Mo-kaucu sudah menghadang dihadapan Kang Lam.
Sudah tentu Kang Lam mengenal mereka adalah dua diantara wanita-wanita berkedok yang bikin kacau rumahnya dahulu, bahkan yang memakai baju hitam ini adalah yang menggondol lari puteranya itu.
Seketika Kang Lam naik darah sekali ulur tangan, terus ia cengkeram dayang baju hitam itu sambil membentak.
"kembalikan anakku!". Namun dengan lemah gemulai, dayang baju hitam itu mengegos, berbareng jari tengahnya terus menutuk ke "Ingie-hiat"
Diperut Kang Lam, sedang dayang satunya lagi purapura memukul dengan tangan kanan, sebaliknya tangan kiri terus-pegang urat nadi Kang Lam.
Karuan Thia Go dan Eng-kiat terkejut, serentak merekapun menubruk maju hendak membantu.
Tapi Kang Lam dapat menggunakan gerakan "Kim Sian Toat Kak"
Atau "Tonggeret Emas mengganti kulit"
Tarik sikut dan pendekan tubuh, segera ia dapat melepaskan diri dari cengkeraman musuh, tapi perut dan pergelangan tangan sudah terasa panas sakit.
Dan pada saat itulah Thian Mokaucu telah membentak kedua dayangnya supaya berhenti.
Melihat itu, Thai Go dan Eng-kiat juga maju.
Untung Kang Lam mahir ilmu "Thian To Hiat To"
Atau memutar balikkan Hiat-to, meski kecundang, namun tiada halangan, tapi ia menjadi kaget juga.
Sebab dapat dikenalnya bahwa ilmu silat yang dilontarkan kedua dayang tadi hakekatnya adalah kepandaiannya sendiri yang diperoleh dari Kim Si-ie.
Dulu ketika delapan dayang Thian Mo-li itu bergilir mengukur tenaga dengan Kang Lam untuk menipu silat ajaran Kim Si-ie kini ternyata sudah dapat mereka yakinkan lebih hebat daripada Kang Lam sendiri hingga hampir-hampir senjata makan tuan malah.
Setelah Thian Mo-kaucu berhentika dayangnya, segera dia arahkan sinar matanya kepada Kang Lam dan mengejek.
"Anak dogol kalau harus bergebrak, kau sendirilah yang cari gebukan. Jika kau ingin bicara aturan, aku justeru ingin tanya aturan padamu!"
"Huh, kau masih tahu aturan!. Baiklah coba aku ingin mendengar"
Sahut Kang Lam marah.
"Bukankah tempo hari dayangku sudah pesan padamu agar kau jangan sembarangan minta bantuan orang untuk mengusut asal-usul kami"
Tanya Thian Mo-kaucu. Tapi kau sudah memberitahukan pada Ki Hiau-hong, kini datang ke Binsan untuk minta bala bantuan pula. Sekali kau sudah ingkar janji, terpaksa sementara ku tahan dulu anakmu."
Kejut dan gusar sekali Kang Lam.
Terkejut karena apa yang dirinya dibicarakan dengan Ki Hiau-hong mengapa dapat diketahui oleh Thian Mo-kaucu ini?
Dan gusarnya karena orang menyatakan hendak menahan puteranya.
Segera ia berseru mendebat.
"Dulu itu adalah dayangmu sendiri yang mengoceh, aku sendiri tidak pernah memberi janji apa-apa!"
"Tapi kau tidak turut pesan dayangku itu, berarti berbuat salah", ujar Thian Mo-kaucu dengan tersenyum.
"Hehe, pabila kau tidak terima, silahkan kau ajak begundalmu sebangsa sebangsa maling keju itu ke Ci Lay San dan mengukur kepandaian dengan aku menurut aturan Kang-ouw. Beginilah aturan yang kutetapkan. Sekarang aku masih ada urusan penting akan berunding dengan Kok-ciangbun jangan kau mengacau lagi".
"Jangan kuatir, Kang Lam!"
Seru Ci-hoa.
"Se kali-kali aku takkan membiarkan kau diganggu orang. Biarlah dia bicara tentang kebenaran dari keonaran yang dia kerjakan barusan, pabila tiada sesuatu alasan yang benar, kedua urusan kita segera kita bereskan sekaligus."
"Baik, aku justru ingin tahu dengan alasan apa kau telah mengangkangi keponakan itu?"
Jengek Thian Mo-kaucu.
"Lian-ji hakikatnya bukan anak Encimu. Hal ini sudah terang gamblang kukatakan padanya, masakah engkau belum tahu dan perlu aku mengulangi menerangkan?"
Sahut Ci-hoa.
"Aku hanya percaya pada Enciku, dia mempunyai bukti nyata, pasti tidak palsu!"
Ujar Thian Mo-kaucu "Hmm, caramu percaya pada suatu pihak melulu, terang tidak beralasan,"
Jengek Ci-hoa "Baik, biarlah kuberi pula suatu bukti lain"
Kata Thian Mokaucu.
"Kau menuduh Enciku tidak tahu rahasia kancing dibaju kapas itu, Ya, memang, rahasia ini memang tidak diketahui olehnya, sebab biji kancing itu adalah aku yang memasangkannya. Biji kancing-kancing itu adalah Thian-simciok yang hanya terdapat dipuncak Sing-siok-hay!"
Kok Ci-hoa terkesiap, tapi segera ia mendebat pula.
"Alasanmu inipun susah diterima. Kau adalah adiknya, biji kancing dari barang apa yang kau pasangkan, mengapa dia tidak tahu? Seumpama mulai tidak tahu, sesudahnya seharusnya kaupun beritahu padanya!"
"Beritahu atau tidak, itulah adalah urusanku", sahut Thian Mo-kaucu.
"Alasanmu ini tiada sangkut pautnya dengan soal pokok kita. Maka aku tidak perlu menjawab. Yang terang, aku sudah bisa katakan rahasia kancing, itulah bukti nyata yang paling kuat."
"Baik, seumpama apa yang kau katakan ini sudah cocok, tapi apa kau tahu didalam baju kapas masih ada rahasia lainnya?"
"Masih ada rahasia lain apa?. Coba kau katakan. Aku bilang tidak ada. Kalau kau katakan ada, silahkan kau keluarkan dan aku pasti akan mengaku kalah"
Terkesiap Ci-hoa oleh jawaban pokrol orang, pikirnya.
"Terang dia hendak menipu rahasiaku. Kertas kulit putih itu pasti sangat penting, mana boleh kuperlihatkan padanya?"
Maka segera ia berkata pula.
"Jika engkau tidak tahu ada rahasia lain, itu tandanya bocah ini bukan keponakanmu!"
"Tapi kaupun tak bisa mengunjukkan buktinya! siapa tahu kalau kau hanya omong kosong belaka!"
Jengek Thian Mokaucu.
Perdebatan demikian dengan sendirinya tidak mendatangkan hasil konkrit.
Mendadak Thian Mo-kaucu hanya tertawa dingin, ia gabrukan cangkir teh didepannya keatas meja sambil berkata pula.
"Jika masing-masing sama kukuh pada alasannya sendiri-sendiri dan susah diputuskan, terpaksa kita selesaikan menurut peraturan Kangouw. Aku tidak tahu diri. sudah lama mendengar lweekang dan kiam-hoat Kokciangbun sangat lihay, maka aku ingin belajar kenal lebih jauh, lalu minta petunjuk beberapa jurus kiamhoat lagi!" (SEDIKIT KETERANGAN. Untuk mempermudah tat letak nama, selanjutnya setiap nama akan ditulis dalam tiga suku kata. Sebagai contoh seperti Kok Ci-Hoa menjadi Kok Ci Hoa Begitu juga dengan Thian Mo-kaucu menjadi Thian Mo Kaucu. Harap para pembaca menjadi maklum) Cangkir teh itu adalah pelayan Kok Ci Hoa yang barusan saja menyuguhkan wedang padanya, cangkir itu adalah buatan porselin yang terkenal dari Kangsay tapi hanya sekali digabrukkan olehnya, seketika cangkir itu ambles ke dalam meja dan hampir rata dengan permukaan meja. Sebaliknya isinya sedikitpun tidak muncrat keluar. Kepandaian demikian seketika membikin anak murid Bin San Pay yang menyaksikan itu ternganga semua. Diam-diam Kok Ci Hoa pun terperanjat. Meja itu terbuat dari kayu cendana yang keras, sekalipun memiliki ilmu Tian Sah Ciang yang hebat juga tidak gampang untuk meremukkan meja itu, apa lagi yang dipakai Thian Mo Kaucu ini adalah sebuah cangkir yang lemah dan mudah pecah. Sekalipun Lweekang Kok Ci Hoa sudah mencapai tingkat tertinggi, namun ia percaya dirinya masih belum sanggup berbuat seperti lawannya itu. Tengah serba sulit, tiba-tiba dari sudut ruangan sana seseorang berseru.
"Ciangbunjin kami masakah boleh sembarangan bertanding dengan orang. Kalau kau ingin menjajal lwekang dan Kiamhoat, marilah kulayani. Bila dapat menangkan aku, barulah kau ada harganya untuk menantang Ciangbun kami". Ketika pandangan semua orang diarahkan ke tempat datangnya suara itu, maka tertampak seorang laki-laki berbadan sedang, wajahnya dingin tanpa emosi, sepintas pandang mukanya seakan-akan bukan manusia hidup, tapi lebih mirip mayat yang keluar dari kuburan! Tiada seorangpun yang kenal laki-laki ini, maka dengan dingin Thian Mo Kaucu menjawab.
"Siapakah engkau?"
"Aku?"
Orang itu menegas.
"Ah. aku cuma seorang murid Bin San Pay yang baru saja mulai belajar". Thia Go dan lain-lain menjadi heran dan curiga oleh pengakuan laki-laki itu, pikir mereka.
"Darimanakah mendadak bisa muncul seorang saudara seperguruan macam begini?"
Tapi dari suara orang tampaknya sengaja membuat-buat suaranya sedemikian rupa, supaya tidak dikenal.
Semula Kok Ci Hoa juga heran, tapi segera hatinya tergerak, teringat seorang olehnya hatinya menjadi berdebardebar, girang dan kejut sedapat mungkin ia berusaha menahan perasaan yang bergolak itu, maka katanya dengan tawar.
"Boleh juga kalau kau ingin maju untuk minta pengajaran pada Kaucu untuk menambah pengalaman, cuma kau harus hati-hati sedikit".
"Kok Ciangbun, bukankah kau terlalu memandang rendah padaku, masakan aku cuma sesuai untuk belajar kenal dengan seorang anak muridmu yang belum berpengalaman?"
Ejek Thian Mo Kaucu. Tapi laki-laki itu tidak menunggu Kok Ci Hoa menjawab, terus saja ia balas tertawa dingin dan berkata.
"Kaucu, engkau datang kesini karena membela Encimu, sedang aku ingin berbakti pada Ciangbunjin kami. Apakah cara demikian melanggar peraturan Bu Lim? Biarpun aku belum pengalaman, tapi engkau sendiri, Kaucu, agaknya kaupun tiada punya nama apa apa dikalangan Kangouw, mana bisa dikatakan memandang rendah padamu?"
Sebenarnya ilmu silat Thian Mo Kaucu ini sangat tinggi, tapi memang benar dia belum pernah muncul di Kangouw.
Yang dia kenal masih sedikit.
Karena itu ia menjadi gusar oleh sindiran laki-laki itu, katanya dengan dingin.
"Baguslah, jika engkau ingin mewakili ciangbun kalian turun kalangan. Silahkan, barusan aku sudah unjuk sedikit kepandaian tak berarti. Sekarang giliranmu untuk pamerkan kemahiranmu"
Ucapan ini sama dengan memberi suatu soal yang sulit. Kecuali Kok Ci-hoa, anak murid Bin San Pay sama-sama berkuatir bagi laki-laki itu, pikir mereka.
"Thian Mo Kaucu ini mampu ketok cangkir ambles kedalam meja, masakan masih ada kepandaian lain yang bisa mengungguli dia?"
Namun sikap laki-laki itu tenang wajar saja. katanya.
"Aku yang baru mulai belajar ini mana bisa mempunyai kepandaian yang berarti? Biarlah aku menyuguh engkau minum secangkir teh dulu. Jauh-jauh kau bertamu kemari, teh juga tidak mau minum, engkau rada keterlaluan juga"
"Sayang cangkir ini sudah tak bisa dikeluarkan. Bolehlah kau menuang secangkir lagi lainnya."
Sahut Thian Mo Kaucu tertawa dingin.
Ucapannya ini bermaksud mengolok-olok orang Bin San Pay pasti tiada yang mampu mengeluarkan cangkir yang terjepit meja itu, dan kedua ingin membikin malu laki-laki itu, yaitu dikala dia menuangkan air teh nanti, ia akan pamerkan ilmu saktinya lagi.
Tak terduga laki-laki itu menyambutnya dengan tersenyum saja, lalu berkata pula.
"Secangkir teh enak itu agak sayang kalau dibuang begitu saja. Maka aku ingin menyuguh Kaucu tetap dengan cangkir teh itu. Belum selesai perkataannya, tertampaklah tangannya terangkat dan memukul sekali ke arah meja itu dari jauh.
"Pletak". Sekonyong-konyong, meja yang tebal dan kuat itu merekah pecah dan cangkir teh yang masih hangat-hangat itu terus mencelat keatas. Menyusul laki-laki itu menggunakan gerakan yang luar biasa cepatnya menjentik sekali diatas cangkir hingga cangkir itu melayang lurus kencang kearah Thian Mo Kauwcu. Seketika semua orang ternganga kesima saking takjubnya. Gunakan Pi-khong-cio atau pukulan kosong dari jauh, untuk membelah meja. Kepandaian itu sudah cukup mengguncangkan, apa lagi sesudah meja pecah, tapi cangkir tidak remuk, bahkan bisa mencelat keatas tanpa muncratkan isinya setetespun, kepandaian ini sunggah susah dibayangkan! Ilmu sakti demikian ini entah berapa kali lebih tinggi dan bagus daripada cara Thian Mo Kaucu mengetok meja cangkir mengamambles ke meja tadi. Diantara anak murid Bin San Pay, seperti Pek Eng Kiai, Thia Go dan lain-lain, mereka sudah banyak pengalamannya seperti ketika Teng Hiau Lan menempur Beng Sin Thong dalam pertemuan di Jian Ciang Peng dulu, merekapun hadir disana. Tapi kalau melihat ilmu sakti laki-laki ini, mereka menjadi kaget dan ragu. Sekalipun umpamanya Teng tayhiap juga belum tentu mampu berbuat demikian!. Tapi orang kosen ini mengapa sudi mengaku-aku sebagai murid Bin San Pay? Ditengah kejut dan sangsi mereka itulah, sementara cangkir teh tadi sudah melayang sampai didepan Thian Mo Kaucu. Tampak tangan Kaucu itu menolak sekali kedepan hingga meluncurnya cangkir itu tertahan sedikit, lalu tangannya mengulur untuk menyambuti cangkir itu sambil berkata.
"Terima kasih atas suguhanmu!"
Dan sekali teguk, ia habiskan isi cangkir itu.
Namun begitu, tidak urung ia terhuyung-huyung mundur dua tindak sesudah cangkir itu dipegangnya, suatu tanda betapa hebat daya luncur cangkir itu.
Karuan, seketika perbawa kaucu yang congkak itu mengkeret banyak.
Cangkir itu terus dilemparkan Kaucu ke lantai, tapi dengan sebat Kang Lam dapat menyambarnya serta mengolok-olok.
"Wah kalau kalah, kenapa marah pada cangkirnya". Namun Thian Mo Kaucu itu tidak sempat gubris Kang Lam lagi, begitu cangkir dilemparkan, segera pedang sudah dilolosnya, katanya sambil menuding laki-laki tadi.
"Lwekangmu ternyata benar sangat hebat, maka tidak perlu bertanding lebih lanjut. Sekarang apakah kau masih ingin mewakili Ciangbun kalian agar aku bisa belajar kenal dengan ilmu pedang dari Bin San Pay kalian?"
Laki-Laki itu masih tetap kaku tanpa menunjuk perasaan apa-apa sahutnya dengan tawar.
"Kaucu sudah memberi petunjuk pada diriku yang Bu Beng Siau Cut (kerucuk yang tak terkenal) ini, sudah tentu aku sangat mengharapkan. Marilah silahkan mulai!"
Namun kedua tangan laki-laki itu tampak kosong, tiada sesuatu senjata pula yang dia bawa. Segera Pek Eng-kiat mengangsurkan sebatang pedang dan katanya.
"Sute, terimalah pedang ini!"
Diam-diam Eng Kiat telah dapat membade siapakah lakilaki ini, cuma untuk menghilangkan kecurigaan musuh sengaja dia membahasakan "sute". Tapi laki-laki itu tetap menolak, katanya.
"Tenagaku kecil, tak sanggup menggunakan senjata seberat ini. Aku sendiri bisa memilih senjata yang cocok. Pek suheng tak perlu kuatir bagiku". Habis itu, tiba-tiba ia beekata pada Thian Mo Kaucu.
"Aku ingin pinjam sesuatu barang darimu!". Thian Mo Kaucu itu terkesiap, kontan pedangnya terus menyabet, namun sudah terdengar angin berseliweran. Sesosok bayangan berkelebat, laki-laki itu sudah menyambar lewat samping Thian Mo Kaucu. Ketika Pek Eng-kiat menegas, ternyata tangan orang itu sudah bertambah sesuatu benda mengkilap. Dan pada saat itu juga, Thian Mo Kaucu itu lantas membentak gujar.
"Kurangajar, kau terlalu menghina padaku". Menyusul pedangnya bekerja cepat. Beruntun-runtun ia melontarkan serangan-serangan mematikan kepada laki-laki itu. Baru sekarang semua orang melihat jelas bahwa diantara dua jari laki-laki itu telah menjepit sebuah tusuk konde kemala yang panjangnya kira-kira belasan sentimeter.
"Jangan kuatir, aku takkan merusakkan barangmu, hanya pinjam sebentar saja"
Demikian kata laki-laki itu sambil tunjukkan konde itu pada lawan.
Nyata tusuk konde itu bolehnya dia sambar dari atas kepala Thian Mo Kaucu.
Karuan Kaucu itu menjadi murka, tanpa bicara lagi ia menghujani laki-laki itu dengan serangan pedang.
Setiap serangan selalu mengincar tempat-tempat yang mematikan.
Tapi aneh juga, tidak kelihatan cara bagaimana laki-laki itu berkelit, namun seujung rambutpun tidak terganggu.
Dibawah hujan serangan pedang itulah, sekonyongkonyong laki-laki itu bersuara.
"Eh"
Sekali seakan-akan penuh keheranan. Dan pada lain detik, tiba-tiba Thian Mo Kaucu itupun mengejek sekali seperti sudah dapat mengenali siapa laki laki itu, mendadak serunya.
"Bagus! Jadi kau..."
Ia tarik panjang kata-kata "kau"
Itu hingga mendengingdenging diudara.
Mendadak ilmu pedangnya berubah dengan cepat hingga tubuh laki-laki itu terkurung rapat oleh sinar pedangnya.
Heran sekali Pek Eng-kiat menyaksikan pertarungan itu.
Dahulu, waktu Ciong Tian, murid Teng Hiau Lan, kawin dengan Li Jim Bwe, yaitu putri Li Ti dan Pang Lin (kisah masa muda kedua tokoh ini dapat dibaca dalam "kang Ouw Sam Lihiap-Tiga Dara Pendekar).
Pek Eng Kin hadir upacara pernikahan itu mewakili Bin San Pay, tatkala mana mendadak Le Seng Lam datang mengacau hingga bertanding kiamhoat dengan Teng Hiau Lan yang menjabat ketua Thian San Pay.
Meski Eng Kiat bukan jago pedang, tapi terhadap ilmu pedang yang dimainkan Le Seng Lam waktu itu mempunyai kesan sangat dalam.
Kini melihat Lian Hoan Cit Kiam atau tujuh kali serangan secara berantai dari ilmu pedang Thian Mo Kaucu ini, seketika hatinya tergerak.
Ia merasa ilmu pedang itu sudah pernah dilihatnya.
Ketika kemudian nampak orang mengeluarkan jurus "Sin Kong Li Hap"
Atau sinar sakti melibat badan, ia menjadi lebih yakin bahwa ilmu pedang itu adalah dulu yang pernah dimainkan Le Seng Lam.
Ia masih ingat dahulu waktu Le Seng Lam melontarkan jurus ini.
Teng Hiau Lan juga berseru memuji!
Tapi kini laki-laki itu tidak memuji, hanya berseru heran sekali, seakan-akan mendadak tertegun.
Betapa lihaynya jurus Sin Kong Li Hap dari Thian Mo Kaucu itu.
Dalam sekejap itulah sinar pedangnya sudah mengurung ke atas kepala lawan.
Melihat itu, beberapa arak murid Bin San Pay sampai menjerit kuatir.
Tapi di kala mereta menjerit itulah, tertampak laki-laki itu mengacungkan tusuk konde kemala ke depan.
Selarik sinar kemilauan tiba-tiba menembus cahaya pedang yang mengurung dirinya itu, terus menusuk ke mata Thian Mo Kaucu.
Serentak suara jeritan tadi berhenti.
Kini bukan saja anak murid Bin San Pay yang terkesima kaget, bahkan Kok Ci Hoa sendiri juga terpesona.
Sebabnya bukan karena Kiamhoat yang dimainkan laki-laki itu dengan tusuk kondenya yang hebat itu, tapi disebabkan jurus serangan yang dilontarkan itu tak lain tak bukan adalah ciptaan cakal-bakal Bin San Pay sendiri, yaitu Tok Pi Sin Ni, sipaderi sakti berlengan satu, yang bernama "Giek Li Coan Ciam"
Atau si gadis ayu menyusup jarum.
Hian Li Kiam Hoat diciptakan Tok Pi Sin Ni berdasarkan ajaran kuno yang disesuaikan dengan gaya wanita, sebab pada umumnya tenaga kaum wanita lebih lemah.
Maka Hian Li Kiam Hoat tidak mengutamakan kekerasan, tapi luwes dan lemas gemulai, namun gesit.
Anak murid Bin San Pay yang belajar Hian Li Kiam Hoat boleh dikata sembilan pulu persen adalah wanita dan diantara mereka Kok Ci Hoa yang paling tinggi memahaminya.
Namun jurus Hian Li Kim Hoat yang dimainkan laki-laki itu dengan tusuk konde barusan sangat cocok dengan gaya aslinya.
Indah dan luwes, persis wanita lagi menyulam dan lagi menisikkan jarumnya.
Betapa indah dan tepatnya jurus serangan itu, jangankan anak murid lelaki Bin San Pay, sekalipun murid wanitanya juga mesti mengaku tak mampu sebagus itu.
Bahkan mereka menduga sekalipun Kok Ciang Bun mereka juga paling-paling sedemikian saja.
Dilain pihak, perasaan Kok Ci Hoa terguncang juga, katanya dalam hati.
"Ya, pasti dia, pastilah dia!"
Belum lenyap renungannya itu.
"Bret", tahu-tahu kain kedok Thian Mo Kaucu itu sudah disingkap oleh tusuk konde laki-laki tadi. Seketika pandangan semua orang terbeliak. Ternyata wajah Thian Mo Kaucu itu putih bersih, cantik molek tiada taranya. Walaupun raut mukanya memang rada mirip Mohujin, tapi cantiknya entah beratus kali lebih menggiurkan dari pada nyonya itu. Dalam pada itu Thian Mo Kaucu terus berseru murka.
"Bagus, Kim Si-ih!! Kau hendak membela buah hatimu, ya? Marilah kau membunuh aku saja"
Laki-Laki itu tercengang juga mendadak, sahutnya "Kau... kau pernah apanya nona Le?"
"Nona Le apa? Jadi isterimu sendiri sudah tidak kau akui lagi?. Oh Le-cosu, betapa penasarannya kematianmu itu!"
Demikian Thian Mo Kaucu itu berteriak dengan gusar sambil menangis.
"He, he, aku ingin bicara padamu lagi!"
Seru laki-laki itu.
Namun Thian Mo Kaucu sudah melayang keluar pintu sembari tutupi mukanya yang berlinang-linang air mata itu.
Mendengar bahwa laki-laki itu adalah Kim Si-ih, seketika perhatian semua orang terpusatkah pada orang itu hingga tiada seorangpun yang merintangi larinya Thian Mo Kaucu.
Hanya sekejap mata saja sudah terdengar suara seruan Thian Mo Kaucu yang diucapkan diluar pintu.
"Jika berani, bunuhlah aku, aku tidak sudi bicara dengan laki-laki berhati palsu macam kau!"
Untuk sejenak laki-laki ini menjadi ragu-ragu. Ia pandang Kok Ci Hoa sekejap, tampak seperti serba salah. Tapi sekonyong-konyong ia berteriak sekali terus mengudak keluar, malahan terus berseru.
"Hai... hai...! kau telah salah dendam pada orang, salah wesel. Inilah kukembalikan tusuk kondemu! Dengar dulu penbicaraanku!"
Sungguh pedih sekali hati Kok Ci Hoa ternyata Kim Si-ih meninggalkannya begitu saja.
Tampaknya dia pandang Le Seng Lam yang sudah mati itu jauh lebih penting dari pada dirinya, sebab Le Seng Lam diangkat sebagai Cosu atau cakal-bakal oleh Thian Mo Kaucu itu lantas dia menyusulnya hendak minta maaf padanya!.
Serentak semua murid Bin Sen Pay ikut merasa penasaran sekali, maka tiada seorangpun yang mau menyusul laki-laki itu, hanya Kang Lam yang terus berteriak-teriak.
"Kim Tayhiap, Kim Tayhiap, kembalilah engkau!"
Pada saat itulah, sekonyong-konyong suara seorang yang nyaring jelas telah menjawabnya dengan tertawa.
"Kang Lam, bukankah aku sudah berada disini?"
Menyusul mana segera terdengar suara "Blang"
Sekali, lakilaki yang menguber keluar tadi telah terpental masuk kembali, hampir berbareng dengan itu, ada lagi seorang lain yang ikut melayang masuk!
Karuan Kang Lam terbelalak kesima, Kim Si-ih kini sudah berada dihadapkannya.
Tapi ia jadi ternganga, sebab lelaki yang pertama tadi bukanlah Kam Si Ie yang sebenarnya.
Sebaliknya yang masuk belakangan adalah Kim Si-ih tulen.
Hal inipun diiuar dugaan semua orang.
Sebelum itu, mereka menyangka lelaki pertama itulah Kim Si-ih adanya, siapa tahu telah salah sangka!
Maka terdengarlah laki-laki yang tadi telah berkata dengan tertawa.
"Ha ha ha, Kim Si-ih, baru sekarang kau muncul, kenapa kau merintangi kepergianku?"
Namun Kim Si-ih tetap merintangi jalan pergi orang dan menegurnya.
"Sungguh penasaran, segala apa boieh kau lakukan, tapi kenapa kau memalsukan namaku dan secara diam-diam menggerayang ke Bin San sini?"
"Hmm.. sungguh menggelikan, emangnya namamu Kim Siih ini merupakan jimat, hingga aku orang she Bun perlu memalsukan namamu?"
Sahut laki-laki itu dengan gusar.
"Kenapa tak kau tanya mereka, apakah aku telah memalsukan namamu? Aku telah membantu kesukaran sobat baikmu, sudah tidak menghaturkan terima kasih, bahkan datangdatang engkau lantas mendamprat padaku!"
"Kim Tayhiap, apa yang dia ucapkan itu ada benarnya juga!"
Tiba-tiba Kang Lam menyela.
"Kalau tiada dia, kami semua takkan mampu menangkan Thian Mo Kaucu. Begitu pula dia memang tidak pernah mengatakan siapakah dirinya."
Namun Kim Si-ih meng goyang-goyang kan tangannya dan berkata.
"Kang Lam, kau belum kenal betapa licik akal bulusnya. Hm apakah kau sangka aku tidak tahu maksud tujuanmu? Awas pedang!"
Ucapan yang belakangan itu ditujukan kepada lelaki itu, dan belum lenyap suaranya, tiba-tiba sinar pedang berkelebat kontan tenggorokan lelaki itu ditusuknya.
Tapi laki-laki itu berganda ketawa saja, serunya.
"Haha, Kim Si-ih, kau tak mampu menangkan aku hingga sekarang perlu dibantu dengan Pokiam, ya? Baiklah, jika kau tidak malu ditertawai para kesatria dijagat ini, teruskanlah tusukanmu ini!"
Lelaki itu memang bertangan kosong belaka, sebaliknya Kim Sin Ie menusukannya dengan pedang pusaka "Cat Hun Pokiam"
Tinggalan Le Seng Lam almarhum. Karena itu, bagi penglihatan kaum kesatria seperti Thia Go, Pek Eng Kiat dan lain-lain, mereka juga merasakan ketidak-adilan, pikir mereka.
"Dengan kedudukan dan nama mereka yang cukup agung besarnya Kim Si-ih, kenapa dia tidak menghiraukan harga diri dan menggunakan pedang untuk melawan seorang yang bertangan kosong?"
Belum lagi selesai pikiran mereka, sekonyong-konyong terdengar suara "Breet"
Robeknya sebangsa kain tebal atau kulit, menyusul tampak Kim Si-ih telah masukkan pedangnya sambil terbahak-bahak, katanya;
"Nah, sebab kulit mukamu terlalu tebal, aku sengaja ingin robek kulitmu kamu itu, supaya semua orang disini dapat menyaksikan wajahmu yang sebenarnya dan supaya waspada dikemudian hari"
Kiranya serangan pedang Kim Si-ih tadi sedikitpun tidak melukai laki-laki itu, melainkan mengiris sobek kedoknya saja.
Kang Lam terkesiap demi nampak wajah asli lelaki itu.
Ia merasa sudah pernah kenal wajah demikian ini.
Ketika diingat lebih jauh, akhirnya ia ingat pada si pemuda Bun-kongcu yang mengawal harta pusaka bagi Ho Kun, tapi dirampas di tengah jalan tempo hari.
Bedanya cuma laki-laki ini berusia lebih tua, di bawah dagunya memiara sedikit jenggot.
Rupanya lelaki itu cukup kenal watak Kim Si-ih yang suka pegang derajat diri, maka ia berani menghadapi dengan menggunakan tangan kosong.
Tak terduga Kim Si-ih tidak bermaksud melukainya dengan pedang melainkan hanya penyingkap topengnya saja hingga wajah aslinya dikenal semua orang.
Apa yang terjadi benar-benar senjata makan tuan.
Tadi lakilaki itu menggunakan tusuk konde untuk membuka kedok Thian Mo Kaucu, kini ia sendiripun disingkap topengnya oleh pedangnya Kim Si-ih.
Paras lelaki itu ternyata putih tampan mirip seorang sekolahan yang ramah tamah, maka semuanya menjadi heran, terutama Kang Lam, mengapa orang yang tiada tandatanda sesuatu yang mencurigakan, Kim Tayhiap menganggapnya sebagai orang jahat?
Sedang Kang Lam merasa sangsi, tiba-tiba dilihatnya mata orang itu mulai mendelik dengan gusar, seketika wajahnya yang sopan santun tadi berubah beringas.
Air muka yang putih halus itu lantas bersemu hijau, sorot maianya penuh mengunjukkan rasa benci dan dendam tak terkatakan.
"Kim Si-ih"
Segera orang itu berkata dengan tertawa dingin.
"Dahulu ketika kau datang ke Bwe Beng To, aku telah melayani kau sebagai tamu terhormat. Kini aku datang di Bin San sini. sebenarnya kaupun terhitung setengah tuan rumah, mengapa kau malah memperlakukanku secara kasar begini?".
"Hm. memang engkau telah memperlakukan aku terlalu baik. Bun Tocu, mana aku berani melupakan budi kebaikanmu itu, sekarang aku justru ingin membalas budimu itu, marilah kita mulai"
Demikian sahut Kim Si-ih mengejek.
Mendengar tanya jawab yang membingungkan itu, semua orang menjadi heran pula, katanya mereka pernah bersahabat dengan baik, mengapa sekarang Kim Si Ih mendadak mengajaknya berkelahi pula?
Maka terdengar laki-laki itu telah menjawab.
"Jika engkau sudi mengajak, mana berani aku menolak?. Aku justru ingin tahu sampai dimana kemajuanmu selama tiga tahun ini?"
Habis berkata, sekonyong-konyong ia mendahului menubruk kearah Kim Si-ih.
Seketika pandangan semua kabur, sekeliling ruangan itu seakan-akan penuh bayangan orang itu yang menghambur kearah Kim Si-ih berbagai jurusan.
Umumnya, orang yang mahir ilmu ginkang bila sudah mencapai tingkatan maha tinggi, maka setiap gerak-geriknya jika dilakukan dengan cepat, makin lama akan makin menyilaukan mirip kitiran, tapi laki-laki itu hanya sekali bergerak saja sudah lantas begitu cepat hingga muncul bayangannya yang tak terhitung banyaknya, hal ini sungguh susah dipahami orang.
Ditengah bayangan yang mengaburkan pandangan mata itu, tiba-tiba terdengar Kim Si-ih bersuit panjang sekali, serunya.
"Biarpun kau punya Pat Kwa Ki Bum Sin Hoat memang hebat tapi aku masih ingin tahu lebih jauh sampai dimana kepandaianmu yang sejati!"
Sekonyong-konyong kedua tangannya menyodok kedepan ditengah serangan laki-laki yang gencar itu, lalu bayangan orang yang tadinya berterbangan membingungkan itu mendadak hilang sirna.
Terdengar laki-laki itu bersuara tertahan sekali, tahu-tahu sudah melompat mundur setombak lebih jauhnya dari Kim Si-ih dan berdiri terpaku tanpa bergerak.
Begitu pula Kim Si-ih juga sudah pusatkan perhatiannya sedang memandang laki-laki itu.
Ternyata dipunggung laki-laki itu sudah terdapat sebuah cap tangan, sebaliknya baju Kim Si-ih terobek beberapa jalur.
Selang sejenak, lelaki itu membuka suara.
"Kau memiliki ilmu Kim Kong Put Sin Kang tapi akupun mempunyai kepandaian Sam Siang Kui Goan. Marilah kita coba-coba lagi". Sembari berkata, Pelahan-lahan ia angkat tangannya dan memukul pula kearah Kim Si-ih. Anak murid Bin San Pay yang lain tidak paham tentang ilmu Sam Siang Kui Goan (Tiga Menjadi Satu) yang dikatakan lakilaki itu, tapi bagi KoK Ci Hoa, ia menjadi terkejut sekali.
"Sam Siang Kui Goan"
Yang dimaksud adalah semacam ilmu silat yang paling sempurna, yaitu sudah dapat melebur menjadi satu diantaranya tenaga, perasaan dan semangat.
Setahu Kok Ci Hoa, mendiang gurunya, Lu Si Nio pernah mencapai ke tingkatan itu.
Tapi pada jaman ini, mungkin hanya tinggal Teng Hiau Lan saja yang memiliki kepandaian setinggi itu.
Dan dikala laki-laki itu berbicara tadi bekas telapak tangan dipunggungnya itu lantas lenyap.
Karuan Kok Ci Hoa tambah terkejut.
Orang lain mungkin tidak tahu cara bagaimana Kim Si-ih menyerang laki-laki itu, tapi Kok Ci Hoa dapat mendengar bahwa serangan Kim Si-ih yang mengenai punggung laki-laki itu adalah menggunakan pukulan berat "Kim Kong Ciang yang lihay.
terang laki-laki itu sudah terluka dalam, tapi hanya sebentar saja bekas pukulan itu sudah hilang.
Suatu tanda dengan cepat luka dalam itu telah disembuhkan oleh Lweekangnya yang tinggi.
Untuk menahan serangan Kim Si-ih itu saja jarang ada yang mampu?
Apalagi bisa menyembuhkan luka dengan sistim kilat, terang kalau kepandaiannva tidak salisih jauh dari Kim Si-ih.
Sementara itu pukulan lelaki yang dilontarkan dengan pelahan-lahan sekali itu, tampaknya sedikitpun tidak membawa tenaga, tapi justeru pada saat itulah, semua orang yang berdiri disekitar situ merasa ditekan oleh arus hawa yang kuat hingga tanpa marasa semua terdesak mundur, bahkan ada beberapa yang lebih rendah kepandaiannya sudah lantas jatuh kelantai.
Hanya sekejap saja, dalam jarak lingkaran kirakira dua meter, tiada seorangpun yang mampu berdiri tegak disitu.
Walaupun demikian hebat daya tekanan pukulan laki-laki itu, namun Kim Si-ih tetap berdiri dengan tenang ditempatnya tanpa bergoyang sedikitpun.
Melihat itu, barulah Ci Hoa dan Kang Lam merasa lega.
Menunggu pukulan orang itu sudah dilontarkan sepenuhnya, barulah Kim Si-ih berkata dengan tertawa.
"Kalau menerima tanpa membalas, itulah kurang hormat. Ini biar akupun menjajal kepandaianmu Sam Siang Kui Goan sudah mencapai tingkatan seberapa tingginya?"
Berbareng tangannya sedikit memutar, lalu dipukulkan pelahan juga kedepan.
Tampaknya laki-laki itupun tidak bergeming sedikitpun, tapi bajunya ternyata berkerut-kerut seperti air telaga ditiup angin, hingga menimbulkan gelombang-gelombang halus.
Biarpun setiap orang tidak tahu dimana letak kelihayan serangan Kim Si-ih itu, tapi dibandingkan tadi, mereka paham juga bahwa Lwekang Kim Si Ih ternyata lebih menang setingkat.
Wajah lelaki itu berubah seketika, tiba-tiba ia melesat pergi secepat terbang, sambil berseru.
"Selama gunung tetap menghijau, kelak tentu akan berjumpa pula. Asal aku orang she Bun masih bernapas, suatu waktu pasti aku akan minta petunjuk pula padamu!"
Baru selesai ucapannya, segera orangnya lenyap.
"Setiap waktu kau boleh datang, dan setiap saat aku siap sedia"
Seru Kim Si Ih menjawabnya. Habis ia betulkan bajunya yang rada kusut itu, lalu saling memberi hormat dengan Kok Ci Hoa, katanya dengan menyesal.
"Maafkan kedatanganku agak terlambat hingga bikin susah kalian."
"Siapakah orang she Bun itu. Sungguh lihay benar!"
Kata Kang Lam.
"Mungkin kau sudah pernah melihat keponakannya, dia adalah paman sipemuda yang pernah mengawalkan harta pusaka milik Ho Kun itu,"
Tutur Si Ie.
"Dia adalah Tocu (kepala pulau) dari Bwe Beng To (Pulau Tak Bernama) di Lamhay (laut selatan). Tiga tahun yang lalu pernah juga aku menelan kekalahan dari dia"
Kang Lam menjadi heran, tanyanya cepat.
"Kim Tayhiap, dengan kepandaianmu yang sudah tiada taranya ini, mengapa juga bisa dikalahkan olehnya?"
"Hati manusia terlalu keji, melulu mengandalkan ilmu silat masih belum cukup."
Sahut Si Ie.
"Terutama orang berhati bajik seperti kau Kang Lam, lebih mudah lagi tertipu. Maka sekarang juga biarlah kuceritakan pengalamanku itu, agar bisa menambah kewaspadaanmu. Kelak kalau menghadapi sesuatu urusan harus berhati-hati, terhadap setiap orang mesti selalu waspada."
Kiranya dahulu, sesudah patah hati karena tragedi percintaannya yang gagal itu, Kim Si-ih menjadi putus asa.
Dengan perasaan hampa ia lantas berkelana menuruti kemana perginya sang kaki.
Tiga tahun yang lalu, timbul hasratnya pesiar keluar lautan.
Seorang diri ia lantas mendayung sampan menjelajahi Pulau-Pulau di sekitar pantai selatan.
Suatu hari, tiba-tiba dilihatnya diatas suatu pulau kecil ada mengepul asap, ia tahu disana tentu ada penghuninya.
Segera ia mendarat ke pulau itu untuk berkenalan dengan kepala pulau kecil itu.
Kiranya Tocu atau kepala pulau she-Bun.
Ia sambut kedatangan Kim Si Ih dengan sangat hormat.
Ia mengaku berasal keturunan pembesar dijaman kerajaan Beng.
Setelah dinasti Beng runtuh, leluhurnya tidak sudi menjadi rakyat jajahan, maka bersama-sama sanak keluarganya lantas hijrah kepulau kecil itu.
Mendengar orang adalah keturunan keluarga patriot, Kim Si-ih sangat kagum.
Pula melihat tutur kata orang sangat sopan, Kim Si-ih menjadi suka juga akan pribadi orang she Bun itu.
Sebagai seorang ahli, segera Si Ie dapat melihat bahwa orang she Bun Tocu itu seorang jago silat juga.
Tanpa merasa mereka akhirnya berbicara pula tentang ilmu silat.
Bun Tocu menerangkan bahwa ilmu silatnya diperoleh dari warisan leluhur.
Menurut cerita, katanya banyak diilhami dari intisari kitab I Keng ditambah lagi turun temurun leluhurnya memperdalam ilmu silat warisannya di pulau sunyi itu.
Maka sampai ditangan Bun Tocu sudah mengalami banyak kemajuan, cuma tidak diketahui sampai dimana tingkatannya kalau dibandingkan ilmu silat didaerah Tionggoan sekarang?
Ilmu silat yang dipelajari Kim Si-ih boleh dikata mencakup dari segala jenis aliran Cing dan Sia, tapi dari isi kitab I Keng bisa diciptakan ilmu silat, hal ini benar-benar belum pernah di dengar olehnya.
Sesudah diadakan tukar pikiran benar juga ia merasa aliran silat Bun Tocu itu sangat bagus dan lihay, lebihlebih dalam hal Lweekang boleh dikata lain dari yang lain.
Kim Si-ih tidak tahu, aliran silat Bun Tocu itu harus digolongkan dalam aliran Cing atau Sia.
Sebaliknya Bun Tocu juga sudah dapat melihat Kim Si-ih tentu seorang kosen, sorenya ia lantas mengadakan perjamuan besar, disaat perjamuan sedang asyiknya, ia lantas mengusulkan saling coba-coba kepandaian masing-masing.
Watak Kim Si-ih memang juga gila silat, selama hidupnya justru sangat suka menjajal ilmu silat orang.
Malahan dimasa mudanya entah berapa banyak tokoh persilatan yang terjungkal ditangannya.
Kini meski usianya sudah menginjak setengah umur, tabiatnya yang suka ugal-ugalan sudah berkurang, tapi dalam hal ilmu silat, tidak pernah berhenti diselaminya lebih mendalam.
Kini orang sendiri mengajaknya coba-coba kepandaian masing-masing, tentu saja ia terima dengan senang hati.
Dan sekali gebrak, nyata memang lain dari yang lain, sesudah hampir dua jam, barulah Si Ie dapat menangkan sejurus.
Habis pertandingan itu, persahabatan Si Ie dengan Bun Tocu menjadi lebih erat.
Bun Tocu memberi pelayan lebih hormat dan lengkap.
Sebaliknya Si Ie juga berat untuk mohon diri maka lantas tinggal bertamu lebih lama dipulau itu.
Dengan begitu, selama beberapa hari mereka terus menerus tukar pikiran membicarakan ilmu silat.
Bun Tocu sangat tertarik dan menanya berbagai aliran dan siapa-siapa tokoh terkemuka kalangan persilatan didaratan.
Sebab itu, tanpa sengaja iapun mengunjukkan sedikit tanda-tanda bahwa sebenarnya keadaan dunia persilatan didaratan sebenarnya tidak sama sekali asing baginya.
Dari itulah, diam-diam Kim Siih mulai timbul curiga.
Rupanya Bun Tocu juga dapat menerka Kim Si-ih sudah mulai curiga, maka tanpa ditanya ia lantas mendahului memberitakan seluk beluk dipulaunya itu.
Kiranya setiap dua tiga tahun sekali, dari pulau itu pasti dikirim orang kekota-kota sekitar pantai untuk belanja barangbarang keperluan sehari-hari.
Karena itu, hubungan dan kabar berita pulau itu sebenarnya tidak terputus sama sekali dengan dunia luar.
Benar juga, lewat beberapa hari kemudian, ada sebuah kapal telah pulang dari pelayarannya itu, orang yang pulang itu adalah keponakan Bun Tocu sendiri, namanya Bun To Cheng.
Malamnya, dipulau itu lantas diadakan perjamuan untuk memberi selamat pada Bun To Cheng yang baru pulang itu, dengan sendirinya Kim Si-ih diundang serta hadir.
Ditengah perjamuan, tiba-tiba Bun To Cheng kasai sesuatu, ia menyatakan bahwa perdana menteri Ho Kun sedang mencari jago-jago silai pilihan, maka ia bermaksud pergi ke Pakkhia untuk menambah pengalaman, maksudnya itu dimintakan persetujuan sang paman.
Mendengar itu, Kim Si-ih memberitahukan padanya bahwa Ho Kun adalah Perdana Menteri yang korup, dikutuki rakyat.
Kalau cuma sekadar menambah pengalaman saja tidak mengapa, tapi jangan sekali-kali sudi mengabdikan diri kepada Ho Kun itu, demikian saran Si Ie.
Agaknya Bun To Cheng rada heran oleh ucapan Si Ie itu, terbahak-bahak ia berkata.
"Keluarga kami justeru karena tidak sudi bekerja sama pada pemerintah Boan, maka lari kepulau ini, masakah sekarang aku sudi mengabdi untuk mereka? tujuanku melulu hendak gunakan kesempatan itu untuk menyelami ilmu silat dari aliran terkemuka didaratan sana". Mendengar kata-kata yang terus terang itu, segera Si Ih berjanji akan mengajaknya kembali kedaratan untuk memperkenalkannya kepada semua para tokoh-tokoh persilatan, ia menyatakan pendapatnya pula bahwa Ho Kun takkan mampu mendapatkan jago-jago yang bernilai Sebenarnya Kim Si-ih biasanya tidak sudi orang mengetahui asal usul dirinya meski selama beberapa hari itu dalam pembicaraan ia merasa sangat cocok dengan Bun Tocu itu, namun sampai saat itu iapun belum perkenalkan nama sendiri yang sebenarnya. Tapi dalam perjamuan itu ia telah meneguk beberapa cawan arak hingga tanpa merasa, tutur katanya itu meyakinkan kesimpulan orang bahwa pengalamannya ternyata sangat luar biasa dan lain dari yang lain. Dalam percakapan selanjutnya Bun To Cheng menceritakan pula apa yang dia lihat dan dengar dalam perjalanan paling akhir itu. Akhirnya ceritanya menyinggung juga atas diri Kim Si-ih. Kiranya dia mengetahui tentang kejadian-kejadian atas diri Kim Si-ih, Le Seng Lam, Teng Hiau Lan, Beng Sin Thong dan lain-lain. Setelah dia ceritakan peristiwa pertandingan Le Seng Lam melawan Teng Hiau Lan, kemudian katanya. Kini Le Seng Lam dan Seng Sin Thong sudah meninggal, kitab-kitab ilmu silat dari mereka jatuh ditangannya Kim Si-ih itu, maka kini mungkin Teng Hiau Lan juga mesti mengaku kalah setingkat daripada Kim Si-ih. Buat jaman sekarang, bicara tentang ilmu silat, tentunya Kim Si-ih yang harus menduduki kursi utama. Dengan sendirinya, Kim Si-ih tidak enak ikut bicara hal-hal yang bersangkutan dengan dirinya Tapi demi mendengar kisah roman dirinya dengan Le Seng Lam dibuat cerita orang, betapapun ia merasa berduka, maka berulang kali ia meneguk arak. Untuk mana, seperti tidak sengaja berulang kali Bun Tocu telah memandangnya, beberapa kejap.
"Cuma kabarnya kini Le Seng Lam juga sudah mempunyai ahli-waris, ia dipuja sebagai cakal-bakal dari apa yang dinamakan Thian Mo Kaucu. Agama itu banyak menarik jagojago silat dari kalangan jahat, kabarnya tidak sedikit juga orangnya."
Demikian cerita Bun To Cheng lebih lanjut. Kabar itu ternyata juga baru pertama kali itu didengar Kim Si-ih, tentu saja sangat menarik perhatiannya, cepat ia tanya.
"Dari masa engkau dapat dengar kabar itu?"
"Bukannya aku dengar dari orang lain tapi aku sendiri malah sudah bertemu dengan Thian Mo Kaucu pribadi."
Sahut To Cheng.
"Bagaimana macam Thian Mo kaucu?"
Tanya Si Ie "Ia memakai kedok, maka tak jelas parasnya tapi terang seorang wanita muda"
Tutur To Cheng.
"Suatu hari, setelah kujual mutiara dan barang-barang dagangan lain dikota Coanciu serta membeli barang-barang keperluanku, aku lamtas ke luar kota akan kembali kekapal. Rupanya harta benda yang kubawa dapat diincar beberapa penjahat kecil. Ditengah jalan aku telah dicegat hendak dibegal, sudah tentu aku tidak gentar, bahkan aku telah permainkan mereka dengan menutuk urat ketawa mereka hingga mereka tertawa keras terus menerus sampai berguling-guling di tanah, lalu kutinggal pergi. Sejam kemudian baru mereka itu bisa berhenti sendiri dari ketawanya". Kejadian itupun tidak kupikirkan, siapa duga ilmu silat serupa dengan harta benda yang tidak boleh menyolok mata orang. Sekali aku unjukkan kepandaianku, ternyata lantas menarik perhatian Thian Mo Kaucu itu. Malam itu aku menginap disebuah kelenting. Tengah malam, tiba-tiba ada orang mengetok pintu dan minta aku keluar".
"Aku menjadi heran ketika diluar kulihat orang itu adalah wanita berkedok, segera dia menegur aku.
"Apakah engkau ini yang siang tadi menutuk orang-orang dari Jing Yang Pang itu?. Semula aku sangka dia adalah pemimpin wanita dari Jing Yang Pang, dengan maksud menyelesaikan peristiwa itu. Aku lantas maaf padanya serta menjelaskan bahwa aku tidak tahu asal-usul penjahat itu. Siapa duga ia tidak mau tahu apa yang ku katakan itu. sahutnya dengan tertawa dingin. Aku tidak urus percekcokanmu dengan orang-orang Jing Yang Pang itu. Yang kuinginkan ialah karena melihat kepandaianmu masih boleh juga, maka bermaksud menerima kau sebagai anak murid dalam agama kami! Aku menjadi ketarik oleh keterangan itu. Segera kutanya apakah nama agamanya, bagaimana asas tujuannya serta apa yang telah dilakukannya."
"Dan dari jawabannya baru aku mengetahui bahwa agama mereka bernama Thian Mo Kau. Wanita itu adalah Kaucunya. Cakal bakal yang mereka puji adalah iblis wanita Le Seng Lam yang meninggal belum lama berselang. Dengan mendirikan agama itu, tujuannya ialah ingin menempur orang Bu Lim dari golongan Cing Pay. Konon tidak lama sasaran pertama yang akan ditangani adalah Bin San. Ketua Bin San Pay yang akan dicobanya lebih dulu. Setelah mendapat penjelasan itu. aku segera berkata.
"Terima kasih atas Perhatianmu tapi aku mempunyai tempat tujuan sendiri. Tidak ingin masuk menjadi anggota agama kalian"
"Wanita berkedok itu menjadi marah katanya dengan dingin.
"Kau tidak mau masuk agama kami, akupun tidak perlu memaksa cuma menurut aturan agama kami, setiap orang luar yang mengetahui rahasia agama kami, dia harus menyerahkan jiwanya!"
Dengan sendirinya aku naik darah juga, sahutku.
"Asal kau mampu ambil jiwaku yang tidak laku lima sen ini boleh kau ambil"
Sekali pembicaraan sudah buntu, segera terjadilah saling gebrak.
Ternyata Thian Mo Kaucu itu memang sangat lihay, tiada sepuluh jurus aku sudah terluka parah, untung aku paham ilmu menutup napas dengan Lwekang aku pura-pura mati menggeletak ditanah dan berhasil mengelabuinya.
Untung juga dia tidak membekal senjata tajam, hanya badanku didepaknya dua kali dan melihat aku sudah tak bernapas, lalu tinggal pergi.
Lukaku ini sampai dua bulan lamanya baru bisa sembuh.
Sebab itulah, paman makanya aku pulang sangat terlambat"
H3bis mendengar cerita itu, diam-diam Kim Si-ih sangat kuatir, tapi juga timbul curiganya.
Kuatir karena mendengar Thian Mo Kaucu sangat lihay dan akan mencari onar ke Bin San.
Jangan-Jangan Kok Ci Hoa tidak sanggup melawannya.
Dan curiga sebab apakah Thian Mo Kaucu itu sudi mengatakan tentang maksudnya bikin rusuh ke Bin San itu kepada Bun To Cheng?
Memang apa yang dicurigai Kim Si-ih itu cukup beralasan.
Dari cerita Bun To Cheng tentang Bin San Pay akan menjadi sasaran pertama dalam gerakan Thian Mo Kau itu sebenarnya memang karangan belaka, sekedar untuk memancing diri Kim Si-ih.
Tapi kemudian ternyata apa yang terjadi cocok juga dengan karangannya itu.
Begitulah, dengan rasa kuatir atas diri Kok Ci Hoa, pula ingin tahu sangkut paut apakah diantara Thian Mo Kaucu itu dangan Le Seng Lam, Kim Si-ih menjadi gugup, seketika timbul keinginannya segera pulang kedaratan.
Segera ia mengemukakan maksudnya kepada Bun Tocu bahwa besoknya ia ingin mohon diri.
Apabila bun To Cheng ada minat mencari pengalaman dan berkenalan dengan tokoh-tokoh persilatan, boleh juga ikut bersama dia.
Bun Tocu pura-pura merasa heran dan ia tanya sebab apa tiba-tiba Si ie hendak pulang.
Terpaksa Si Ih juga pura-pura mengatakan timbul rasa rindunya kepada kampung halaman yang sudah lama ditinggalkan itu.
Karena tak bisa menahan lagi, kemudian Bun Tocu berkata.
"Sungguh terasa sangat berat kalau mesti berpisah dengan saudara. Padahal kita baru saja merasakan kecocokan satu sama lain. Jika Jinheng (saudara) sudi membawa serta keponakanku itu kedaratan untuk menambah pengalamannya, sungguh aku merasa sangat berterima kasih. Marilah keringkan secawan sebagai tanda ucapan selamat jalan padamu dan rasa terima kasihku atas perhatianmu terhadap keponakanku."
Si Ie merasa berat juga untuk berpisah, maka tanpa pikir ia terima suguhan orang dan meneguknya habis.
Tak tersangka, baru saja arak itu masuk perut, segera ia merasa minuman itu tidak beres dan baru saja Kim Si-ih sadar ketidak wajaran itu, dalam pada itu arak dalam perut sudah bekerja, seketika kepala terasa pening, mata berkunangkunang, akhirnya lantas tak sadarkan diri.
Dalam keadaan remang-remang entah sudah lewat berapa lamanya, tiba-tiba Si Ie mendengar ada berapa orang memanggilnya.
Cepat ia melompat bangun, tapi sekitarnya ternyata gelap gulita.
Ketika diraba sekeliling adalah dinding batu saja.
Tengah Si Ie merasa bingung, tiba-tiba terdengar suara terbahaknya Tocu dan sedang berkata.
"Kim Si-ih, sekarang tidak mungkin lagi kau tidak mengaku siapa sebenarnya engkau, Hahaha. selama ini kupandang engkau sebagai teman, tapi kau sengaja menutupi rahasia dirimu. Coba katakan, apa hukumanmu itu?"
"Seumpama aku tersalah dalam hal itu, kelakarmu ini sesungguhnya juga keterlaluan, Bun Tocu!"
Seru Si Ie.
"Siapa berkelakar dengan kau? Hmm, aku paling benci pada manusia yang tidak setia kawan. Aku mesti memberi hajaran setimpal padamu!"
Demikian mendadak Bun Tocu mendamprat dengan bengis.
Sementara itu ia sudah membuka pintu kamar itu.
Melihat sikap Tocu yang tadinya ramah tamah itu kini telah berubah menjadi beringas, Kim Si-ih terkejut.
Baru sekarang ia tahu orang bermaksud jahat pada dirinya.
Ia menjadi gusar juga, segera damperatnya "Jangan kau putar lidah, namaku sendiri belum kuberitahu, darimana bisa dikatakan aku tak setia?
Sebaliknya perbuatanmu yang bagus inilah lebih sesuai kalau dikatakan tidak setia kawan dan tak berbudi.
Ya hitung-hitung mataku yang buta telah berkenalan denganmu"
"Hahaha"
Bun Tocu terbahak-bahak.
"Memang tidak salah katamu itu, dan sekarang sudah menjadi tawananku. Apabila engkau tidak turut pada kemauaku, jangan harap selama hidupmu dapat kembali lagi kedaratan sana"
"Apakah keinginanmu?"
Dengan menahan perasaannya Si Ie menanya.
"Kitab ilmu silat tinggalan Kiau Pak Beng berada padamu, Nah, hanya itulah yang kuinginkan!"
Sahut Bun Tocu. Si Ie bergilir mentertawakan lawannya, katanya.
"Hahaha, tentunya kau sudah menggeledah badanku serta buntalanku bukan? Dan sudahkah kau menemukan kitab ilmu silat itu? Buat bicara terus terang, biarlah kukatakan bahwa kitab itu memang benar tadi ia berada padaku, tapi sudah lama telah kubakar. Ha ha, untung juga kalian tahu bahwa kitab itu jadi abu. Aku sudah mengetahui kemungkinan akibatnya kalau kusimpan sampai sekarang, tentu akan membikin geger orang-orang dari kalangan hitam seperti kau ini"
Bun Tocu menarik muka, katanya pula.
"Tapi kulihat engkau sudah berhaail melatih ilmu silat dari kitab pusaka itu, biarpun kitabnya sudab kau bakar, kau harus menulisnya kembali".
"Hahaha, berdasarkan apa kau berani memberi perintah padaku?"
"Dan kau sendiri, berdasarkan apa kau berani kepala batu? Hm, apa kau sangka ilmu silatmu lebih tinggi dari aku? Haha, engkau salah besar, Kim Si Ih! Kemarin dulu aku sengaja mengalah padamu, kalau kau tidak percaya, marilah boleh kau coba-coba lagi, aku justeru akan menaklukkan kau berdasarkan ilmu silatku."
SUDAH tentu Kim Si-ih tidak sudi terima mentah-mentah hinaan itu, terus dia terima tantangan itu dan bertanding pula dengan Bun Tocu didalam kamar batu itu.
Pertandingan kali ini bagi Kim Si-ih bukan lagi tukar kepandaian, tapi merupakan pertarungan mati atau hidup.
Sebaliknya Bun Tocu itu ternyata berlaku tenang sekali, seperti sedang latihan dengan sobat baik saja.
Dan sungguh aneh juga, setiap kali Kim Si-ih melihat ilmu silat orang toh masih setingkat lebih rendah dari dirinya, tapi disaat menentukan, senantiasa Si Ie merasakan keinginan ada tenaga kurang.
Biarpun tipu serangannya sangat bagus, tapi karena kurang tenaga sedikit, dengan mudah lantas dapat dihindarkan musuh.
Berpuluh jurus permulaan Kim Si-ih masih belum merasakan kepincangan itu, sampai akhirnya terasalah olehnya bahwa kekuatannya sudah jauh menurun dan pada dulu.
Nyata Kim Si-ih sudah keracunan arak suguhan Bun Tocu semalam itu, telah dicampur deraan obat bubuk pembius otot tulang "Moa Kin Hoa Kut San"
Untung tatkala itu Kim Si-ih sudah hampir mencapai tingkatan kebal, kalau tidak, tentu ia bisa celaka karena minum arak beracun itu.
Bekerjanya racun itu berjangkit dengan perlahan-lahan saja, karena tenaga dalam Kim Si-ih sudah sangat mendalam, akibat dari racun itu menjadi enteng, maka seketika ia belum lagi berasa.
Tapi setelah hampir dua ratus jurus, akhirnya ia kena dipukul roboh oleh Bun Tocu.
"Nah, sekarang kau takluk padaku tidak?"
Tanya Bun Tocu dengan terbahak-bahak. Dalam bingungnya karena kekalahan itu, Si Ie menjadi gusar pula, sahutnya ketus.
"Jika kau mau bunuh aku, silahkan lekas lakukan. Tapi aku ingin takluk padamu, jangan harap. Hanya kepandaianmu ini saja huh...."
"Kenapa kepandaianku ini...?"
Bun Tocu menegas Sebenarnya Si Ie ingin berkata ilmu silat orang juga tiada sesuatu yang luar biasa, tapi buktinya dirinya toh sudah dirobohkan pun dalam hati tidak rela, terpaksa ia tahan dongkolnya itu.
Bun Tocu itu pintas melihat sikap orang sebera ia berkata pula dengan tertawa.
"Buat apa aku membunuh engkau? Aku justru ingin menahan kau disini untuk hiburanku, tampaknya kau masih penasaran oleh kekalahanmu tadi bukan? Baiklah lewat dua hari lagi aku akan datang pula untuk menempur engkau". Habis berkata, ia lantas keluar dari kamar batu itu serta menutup pintu besinya. Seperginya Bun Tocu, Si Ie duduk semadi menjalankan, pula tenaga dalamnya. Baru sekarang ia merasa bahwa hawa murni dalam dalam badan ada gangguan-gangguan dikala mengeluarkan lewat perut, seringkali terhalang, tahulah dia telah dipedayai Bun Tocu. Lewat dua hari kemudian kembali Bun Tocu datang lagi mengajak bertanding. Kontan Kim Si-ih mencaci maki terus melabrak orang, tapi akhirnya lagi Kim Si lh menderita kekalahan. Dengar sampai disini, tiba-tiba Kang Lam menyela.
"Wah! celaka. Kim Tayhiap, bukankah engkau berulang kali telah masuk perangkapnya orang she Bun itu? Justeru karena engkau tidak mau tuliskan ilmu silat ajaran Kiau Pak Beng kepadanya, maka dia sengaja mengatur muslihatnya untuk menipu ilmu silatmu".
"Pintar juga kau, adik cilik."
Sahut Si Ie tertawa.
"Tapi hm, masakah aku tidak tahu maksud tujuannya? Cuma tatkala itu aku sedang naik darah, maka aku tidak ambil peduli. Namun harus diakui juga, walaupun benar dia berhasil mencuri sedikit kepandaianku, sebaliknya akupun dapat menyelami sedikit ilmu silatnya yang hebat itu."
"Tapi toh tetap engkau yang rugi", ujar Kang Lam.
"Memang benar,"
Sahut Si Ie.
"tapi itu hanya dipandang dari keadaan pada saat itu. Kalau sekarang, aku yang beruntung malah."
"Kenapa bisa begitu?", tanya Kang Lam heran.
"Sebab setelah beberapa kali bertanding, terhadap inti ilmu silatnya aku telah dapat memahami 6-7 bagian diantaranya. Sebaliknya dia, menurut dugaanku, paling-paling hanya 2-3 bagian dari kepandaianku yang dipahaminya"
"Namun begitu, dengan sedikit kepandaianmu yang dia peroleh itu tentu akan menambah modal kejahatannya".
"Tapi pada garis besarnya, yang kumaksudkan lebih beruntung itu tidak hanya keuntungan ilmu silat yang aku peroleh dari dia itu"
Ujar Si Ie.
"Memang apa yang engkau pikir sekarang juga sudah kupikirkan waktu itu. Pintu besi dari kamar batu itu dapat ditutup dari luar dan dalam, maka sesudah aku diakali dalam beberapa pertandingan, aku lantas kancing pintu itu dari dalam, dengan tekad mati kelaparan, aku tidak sudi membuka pintu lagi biar pun dia mencaci maki dari luar. Tapi rupanya Bun Tocu itu mengharap bisa memperoleh lebih banyak kepandaianku, kuatir kalau aku mati kelaparan, ia telah membobok sebuah lubang diatas kamar batu itu sebagai jalan untuk memberi makanan padaku setiap hari."
"Bukankah engkau mempunyai Cat Hun Pokiam dan bisa menggunakannya membobok lubang batu itu?"
Ujar Kang Lam.
"Tentu saja Bun Tocu itu tidak sebodoh itu. Mungkin yang kau sangka, dikala aku tak sadarkan diri, semua barang, bekalku sudah dirampas semua, termasuk pedang pusaka itu"
Sahut Si Ie.
"Jika begitu, kemudian siapa yang menolong engkau keluar dari kamar itu?"
Tanya Kang Lam "Aku sendiri!", sahut Si Ie Kiranya sejak Kim Si-ih memperoleh rahasia tinggallan Kiau Pak Beng, ia lantas bertekad hendak melebur semua aliran silat yang dipahaminya untuk menciptakan suatu aliran silat terendiri yang gilang gemilang.
Dan sesudah beberapa tahun diyakinkan lambat laun sudah ada kemajuan, cuma masih ada beberapa kesulitan diantara ilmu-ilmu silat itu belum dapat dipecahkannya.
Sebab itulah, ia lantas gunakan kesempatan dikamar batu itu untuk menyelami lebih tekun daripada apa-apa yang belum dapat dipecahkannya itu.
Setiap hari ia tenggelam dalam dalam pemikirannya itu, ditambah lagi sedikit paham yang diperolehnya dari ilmu silat Bun Tocu yang ternyata satu sama lain ada titik-titik persamaannya, maka lewat tiga bulan kemudian, pada su tu malam, mendadak semua kesukaran dalam itlmu silat dapat dipecahkannya dengan sempurna juga telah menciptakan ilmu silat alirannya tersendiri yang didasarkan pada lweekang aliran Thian San dan ilmu silat ajaran Kiau Pak Beng sebagai saka guru, ditambah pula berbagai ilmu silat dari aliran Cing dan Sia lainnya sebagai atap dan genting, maka terbangunlah ilmu silatnya itu yang berbeda dari aliran manapun juga.
tapi adalah asli ciptaan Kim Si-ih tulen.
Setelah berhasil melatih badan yang sempurna, dengan sendirinya racun yang diminumnya itu dapat dilebur oleh hawa murni dalam tubuhnya.
Bukan saja tenaga dalamnya pulih semua, bahkan lebih hebat daripada semula dan pada malam itulah, ia gunakan ilmu saktinya itu untuk membobok lubang batu selebar badan, lalu menerobos keluar.
"Bagus!", seru Kang Lam girang.
"Dan kau harus beri hajaran setimpal pada Bun Tocu itu, kenapa engkau tidak punahkan ilmu silatnya sekalian?".
"Bukankah aku sudah mengatakan lebih banyak untungnya dari dia? Kalau dia tidak menyekap aku dikamar batu itu, tentu aku tak secepat itu bisa meyakinkan kepandaianku. Pada waktu itu, ia hanya marajai partai situ saja, kejahatannya belum nyata, buat apa aku bermusuhan dengan dia?. Sesudah keluar, segera aku bertempur dengan dia. Tentu saja ia menjadi kaget ketika melihat aku bisa lolos dari kamar batu itu. Tapi ilmu silatnya benar-benar hebat juga. Lebih dari 50 jurus kemudian dia baru terjungkal oleh seranganku. Aku paksa dia serahkan kembali pedang dan barangku yang lain, minta disediakan sebuah kapal dengan perbekalan lengkap, lalu berlayar kembali ke daratan."
"Sayang. Sayang... Terlalu enteng hukuman yang kau jatuhkan padanya,"
Ujar Kang Lam gegetun.
"Ya, sebab waktu itu aku tidak menyangka bahwa mereka -paman dan keponakan-bisa masuk komplotannya perdana mentari dorna Ho Kun serta bermusuhan dengan tokoh Bu Lim di Tionggoan,"
Ujar Si Ie.
"Sayang dikala aku belayar palang itu, ditengah jalan telah mengalami damparan badai hingga baru permulaan tahun ini aku tiba didaratan. Sementara itu Ban To Cheng sudah lebih dulu sampai di Pakkhia. Tentang dia mengawalkan harta karun-nya Ho Kun, aku dapat kabar. Dan tidak lama kemudian aku mendapat berita pula pamannya juga sampai di daratan, maka aku selalu mengawasi gerakgerik mereka berdua"
"Jika begitu, tentang keinginan Ki Hiau Hong menemui engkau, apakah engkau juga tahu", tanya Kang Lam.
"Justeru Ki Hiau Hong sendirilah yang telah merampas harta kawalan Bun To Cheng itu dan kemudian akupun mengangkat saudara dengan dia serta....."
"Tak usah kau ceritakan lagi, semuanya aku sudah tahu,"
Potong Si Ie dengan tertawa.
"Oleh karena waktu itu aku mengetahui taci-beradik Thian Mo Kaucu dan Bun Tocu itu ada maksud mengacau ke Bin San sini, maka aku tidak sempat menemui Ki Hiau Hong. Biarlah nanti kalau dia sudah pulang dari Ci Lay San, tentu aku akan pergi mencarinya untuk memenuhi harapannya."
Oleh karena berkuatir atas puteranya yang berada dibawah cengkeraman Thian Mo Kau, Kang Lam menjadi ingin sekali bisa mengetahui hal-hal yang bersangkutan dengan agama jahat itu, maka ia lantas kesampingkan diri Bun Tocu dan menanya.
"Jika engkau sudah tahu Thian Mo Kaucu itu bakal merecoki Kok Lihiap, tentu sebelum datang kemari, engkau sudah menyelidiki dahulu kesarang mereka? Dan darimanakah asal-usui Thian Mo Kaucu itu, begitu pula tentang diri Mohujin?"
"Hal mana aku kurang terang, hanya mengetahui sedikit,"
Sahut Si Ie.
"Kalau dibicarakan kepandaian Thian Mo Kaucu itu sekali-kali bukan ajaran Le Seng Lam, bahkan leluhur mereka saling bermusuhan".
"Aneh, jika begitu mengapa Thian Mo Kaucu itu sudi mengangkat Le Seng Lam sebagai cakal bakal Thian Mo Kau mereka"
Tanya Kang Lam heran.
"Ceritanya begini"
Tutur Si Ie.
"Dahulu, di jamannya Kiauw Pak Seng dan Ho Thian Toh, ada pula seorang gembong wanita yaag sangat lihay, dia boleh dikata berdiri diantara golongan Cing dan Sia, malahan juga pernah mendirikan agama apa yang dinamakan Chit Im Kau. Chit Im Kau itu mempunyai seorang puteri, namanya Im Siu Lan. Dahulu Kiau Pak Beng pernah melamar Im Siu Lan untuk isteri puteranya, tapi ditolak oleh Im Siu Lan. Karena itu puteranya Kiau Pak Beng telah menggunakan kekerasan untuk menculik Im Siu Lan. Belakangan suami isteri Ho Thian Toh yang telah menolongnya kembali. Dan dikala itu, leluhur Le Seng Lam yaitu Le Kong Thian adalah budak setianya Kiau Pak Beng. Peristiwa menculik Im Siu Lan diapun ikut serta, maka keluarga Im sebenarnya adalah musuh"
"Kemudian Im Siu Lan telah menikah dengan seorang Kesatria gagah she Ciu. Ayah pemuda she Ciu itu adalah pemimpin Lok-lim di kala itu. Karena diuber-uber oleh pasukan pemerintah, Im Siu Lan dan suaminya telah melarikan diri kesuatu negeri diluar perbatasan wilayah barat dan menetap di sana. Thian Mo Kaucu itu adalah keturunan dari keluarga Im Siu Lan itu. Karena sejak itu menetap dinegeri barat sana, dengan sendirinya terjadi juga asimilasi diantara mereka dengan penduduk setempat, maka tidaklah heran kalau banyak terjadi percampuran darah diantara keturunan mereka".
"Kira-Kira sepuluh tahun yang lalu, waktu itu Le Seng Lam telah cekcok dengan aku, pernah untuk beberapa waktu ia berkelana diluar perbatasan didaerah barat itu dan kira-kira tatkala itu juga, Le Seng Lam telah bertemu keluarga dari orang yang kini menjadi Thian Mo Kaucu itu. Le Seng Lam cukup bijaksana. Mungkin untuk menebus kesalahan leluhurnya, dia telah kembalikan se
Jilid kitab Pek Tok Cin Keng (Kitab Tulen Beratus Resep Racun) yang aslinya memang milik keluarga Im"
Baca Juga: Rahasia Iblis Cantik 3
Baca Juga: Tangan Berbisa 4