Perjodohan Busur Kumala 13

Eps 13 Perjodohan Busur Kumala - Liang Ie Shen

Baca online Perjodohan Busur Kumala - Liang Ie Shen

Cersil Perjodohan Busur Kumala - Liang Ie Shen.

Semua orang melengak mendapatkan suami isteri itu kena dikalahkan.

Seng Lam tertawa dingin, dia kata pula.

"Ek Tiong Bouw, aku telah membalaskan sakit hati besar dari kamu pihak Binsan Pay! Kamu lihat sendiri bagaimana aku datang dari tempat yang jauh membawa barang bingkisanku itu! Sekarang aku datang kemari, mungkinkah kau hendak membalas budi dengan cara bermusuhanmu?"

"Bukan begitu..."

Sahut Tiong Bouw, yang bingung bukan main. Baru ia berkata begitu, Seng Lam sudah menyela.

"Bukan begitu apa? Bukankah kamu lagi mau mengejar aku?"

Tiong Bouw menguasai dirinya, ia kata dengan tenang.

"Nona Le, kau telah mengantar bingkisan yang berupa kepalanya musuh kami, kami semua dari pihak Binsan Pay merasa berterima kasih sekali, akan tetapi di samping itu, ketua kami telah terkena racun..."

"Hm!"

Seng Lam menyela pula. Ia tertawa dingin. Ia menyambungi.

"Bukankah kamu telah melihatnya sendiri? Toh bukannya aku yang meracuni dia? Dialah yang sembrono, hingga dia terkena racun sendiri! Dalam hal ini, dia mesti sesalkan diri sendiri, orang lain tidak dapat dipersalahkan! Apakah sangkutannya itu dengan aku?"

"Tak dapat kita bicara menurut caramu ini, nona,"

Kata Tiong Bouw.

"Racun pada kepala orang itu toh nona sendiri yang menaruh-kannya! Sekarang baiklah kita jangan omong dulu tentang budi atau permusuhan, sekarang aku minta sukalah nona memberikan obat pemunah, guna menolongi ketua kami itu..."

"Hm!"

Seng Lam melirik. Terus dia tertawa dingin. Dia kata.

"Aku memang mempunyai obat pemunah racun, dan untuk memintanya juga tidak sukar! Hanya untuk itu kau mesti menyuruh dia mencari seorang yang bermartabat untuk memintanya padaku! Tentang rombongan kamu, aku melihatnya pun tak puas, maka itu meski kamu berlutut memohon padaku, tak nanti aku memberikannya. Cia In Cin gusar hingga tak dapat dia menguasai diri lagi.

"Kurang ajar!"

Dia menegur.

"Kau sebenarnya makhluk apa, wanita siluman? Kenapa kau begini jumawa? Bagaimana kau berani mengacau di atas gunung Binsan?"

Lantas dia menyerang dengan pedangnya. Hampir berbareng dengan itu Siauw Ceng Hong, Sin In Long dan lainnya, yang telah menjadi sangat gusar, turut maju untuk menerjang.

"Traang!"

Demikian satu suara, atau pedangnya Cia In Cin sudah kena dibikin buntung oleh Le Seng Lam, yang menggunai pedang Cay-in Kiam dengan sempurna sekali.

Nona itu tidak berhenti dengan menangkis saja, ia terus menyerang, dengan tikaman yang pertama dan kedua sebagai susulan.

Sontekan yang pertama membuat baju In Cin terbuka, lalu sontekan yang kedua membikin ikat pinggangnya putus.

Mau atau tidak, terpaksa In Cin berlompat mundur, repot memegangi pakaiannya supaya tak sampai lolos.

Ia gusar dan malu berbareng.

Seng Lam lantas mengayun sebelah tangannya, disitu lantas terlihat serupa asap lima warna menyambar rumput, lantas asap itu menyala dan membakar rumput dan pohon lainnya, hingga semuanya lantas menjadi layu dan kering kuning!

Menyaksikan liehaynya senjata rahasia itu, semua orang menjadi kaget dan melengak, tak ada yang berani maju pula.

Seng Lam membentak dengan suaranya yang bengis.

"Jikalau kamu tidak mau mundur, jangan kamu sesalkan aku tak sungkan-sungkan lagi! -Dan kau, Ek Tiong Bouw, kau jangan kuatir! Ciangbun sumoay kau itu tak bakal lantas mati! Sekarang lekas kau pergi padanya, untuk menyampaikan perkataanku ini!"

Belum lagi berhenti kata-kata terakhir itu, tubuh Seng Lam sudah mencelat pesat, hingga di lain detik ia sudah berlalu jauh, karena itu, jangan kata orang jeri untuk racunnya itu, taruh kata dikejarpun tak akan ia tercandak lagi!

Binsan serta tiga gunung lainnya, yaitu Siongsan, Butong San dan Thiansan, merupakan empat gunung besar yang menjadi semacam tanah suci untuk kaum persilatan, sekarang gunung itu kena dikacau seorang nona, itulah sangat hebat, apapula peristiwa terjadi di saat diadakan pesta pelantikan ketua yang baru.

Semua hadirin menjadi malu dan mendongkol, rata-rata mereka bergusar tanpa berdaya.

Tidak bisa lain, mereka terpaksa mengikuti Tiong Bouw kembali ke dalam kuil.

Di dalam Hianlie Koan, Yap Ya It lagi mencoba menolongi Kok Cie Hoa dengan memeriksa nadi si nona, ketika ia melihat wajah Tiong Bouw semua, ia tak menanya apa-apa, ia menduga mereka itu kena dikalahkan dan tak berhasil mendapatkan obat pemunah racun.

Ia hanya kata.

"Sekarang ini kita cuma mengandal kepada takdir saja!"

Ketika itu seorang murid wanita dari Binsan Pay telah berhasil mendapatkan soatlian yang disimpan Cie Hoa.

"Apakah soatlian dapat menolong?"

Tanya Keng Thian, yang ragu-ragu.

"Kita coba saja!"

Sahut Ya It. Ia mengambil soatlian, teratai salju itu dihancurkan, diaduk dalam arak satu cangkir, sembari bekerja, ia kata.

"Racun ini racun yang luar biasa berbisa dari kaum sesat, bahkan racun yang sebenarnya sudah lama tak ada yang menggunakannya pula!"

"Racun apakah yang begini liehay?"

Tanya Keng Thian.

"Pada kira-kira dua ratus tahun dahulu,"

Yap Ya It menjelaskan --"Itulah masanya Thio Tan Hong dan Kiauw Pak Beng,--itu waktu ada hidup sebuah perkumpulan agama kaum sesat yang diberi nama Cit Im Kauw.

Bukankah kau pernah dengar perkumpulan rahasia itu?"

"Ya, pernah aku mendengarnya,"

Sahut Keng Thian.

"Hok Couwsu kami pernah bertemu dengan kepala agama dari kumpulan agama sesat Cit Im Kauw itu, hanya ketika itu, perkumpulan agama itu sudah lantas musnah, tak bangun pula..."

"Ya, tetapi Cit lm Kauw berhasil membuat obat beracun yang dinamakan Ngotok San,"

Ya It menerangkan terlebih jauh.

"Dalam kitab warisan leluhurku ada disebut tentang obat beracun itu, cuma tak dijelaskan tentang bahan-bahannya serta cara pembuatannya, melainkan dituturkan tandatandanya kalau orang terkena racun itu. Karena itu, tak tahu aku cara pengobatannya. Menurut katanya, Cit Im Kauw memiliki sebuah kitab Pektok Cinkeng, yang kemudian kena dirampas Kiauw Pak Beng. Sekarang ini ilmu warisannya Kiauw Pak Beng itu telah diperoleh Beng Sin Thong, mungkin kitab obat racun itu juga telah muncul di dalam dunia ini dan sekarang berada di tangannya Le Seng Lam..."

Semua orang heran, mereka pada memikir.

"Kalau begitu, bukankah baru mati satu Beng Sin Thong lalu bakal muncul Beng Sin Thong lainnya?"

Mendengar keterangannya Yap Ya It itu, hati Tiong Bouw terasakan berat sekali.

Akan tetapi, meski demikian, ia sedikit bersangsi, Le Seng Lam toh telah memesan kata-kata kepadanya untuk disampaikan kepada Kok Cie Hoa.

Dari katakata itu rupanya Cie Hoa, ketuanya itu, tidak bakal lekas mati, bahkan nona ini masih dapat mendengar pesan orang.

Hanya sekarang ini keadaannya si ketua sangat gawat, dia lebih banyak menghadapi bahaya daripada keselamatan.

Mungkinkah Seng Lam memperdayainya?

Kalau benar Seng Lam meracuni Cie Hoa, apa perlunya ia diperdayakan?

Ketika itu Yap Ya It sudah mengaduki obatnya, yaitu soatlian campur arak, obat itu diserahkan pada Cia In Cin, siapa mencekoki Cie Hoa yang mulutnya dibuka dengan paksa.

Tatkala itupun napas Cie Hoa tinggal satu kali demi satu kali dan tubuhnya mulai menjadi kejang, teratai salju masuk ke dalam mulutnya tetapi ia sudah tidak dapat menggigit atau memamahnya, bahkan untuk menelanpun sangat sukar.

Yap Ya It lantas membantu pula dengan tusukan jarum perak ke pelbagai hiat, atau jalan darah serta meminumkannya arak somciu, dengan begitu barulah tanpa merasa Nona Kok dapat juga menelap soatlian itu.

Lewat sekian lama, masih Cie Hoa tak sadarkan diri, sedang ketukan nadinya belum berubah menjadi baikan.

"Sebenarnya soatlian dari Thiansan menjadi obat paling manjur buat melawan racun,"

Kata Keng Thian heran.

"kenapa sekarang khasiatnya teratai itu gagal?"

Yap Ya It menghela napas.

"Inilah bukan karena soatlian lenyap khasiatnya,"

Kata tabib ini.

"inilah disebabkan jiwa si nona sudah hampir berhenti berjalan, darah sudah tidak mengalir dan tersalurkan lagi... Maka itu, meski ada obat lainnya yang lebih mustajab, aku kuatir kemustajabannya tak akan menolong lagi. Karena ini juga tadi aku membilang untuk mencoba saja..."

"Apakah tak dapat dia dibantu dengan emposan tenaga dalam?"

Tanya Keng Thian.

"Sukar,"

Menjawab Ya It.

"kecuali apabila ayahmu yang datang membantunya. Walaupun demikian, aku tetap bersangsi. Nona ini cuma dapat disembuhkan dengan obatnya yang tepat, segala daya kita sendiri melainkan dapat memperpanjang umurnya sekian waktu."

Tabib ini lantas menoleh pada Tiong Bouw, untuk berkata.

"Ek Pangcu, maaf jikalau aku omong terus terang.

"Penyakitnya ketua kamu ini tak dapat ditolong lagi oleh tenaga manusia maka itu baiklah kamu bersiap sedia untuk nanti merawat jenazahnya..."

Wajah Ek Tiong Bouw menjadi guram, hatinya sakit bagaikan diiris-iris.

Beberapa murid wanita Binsan Pay pun sudah lantas menangis.

Saking pepat pikirannya, Tiong Bouw menumbuk-numbuk dadanya, dia menjerit.

"Di dalam tempo tiga bulan ini kedua ketua kami telah mendapatkan nasib yang sangat tidak beruntung ini, mustahilkah ini alamat dari bakal runtuhnya Binsan Pay?"

Baru ketua Kaypang ini mengeluh demikian atau dari luar terdengar suara sangat berisik dari suara orang dan tindakan kaki kacau. Mendengar demikian, dia gusar bukan main.

"Celaka betul!"

Teriaknya.

"Gelombang yang satu belum tenang sudah mendampar gelombang yang lain! Apakah benar-benar kami pihak Binsan Pay dapat diper-hina secara begini macam?"

Pangcu ini menyangka datang pula lain hantu yang menggantikan Seng Lam guna menerbitkan huru-hara, karenanya dia jadi sangat gusar hingga parasnya menjadi merah padam.

*** Tiga bulan lamanya Kim Sie Ie melewatkan sang waktu dalam kedukaan, pikirannya sangat kusut.

Beberapa kali ia ingin pergi ke Binsan tetapi senantiasa ia berhasil menguasai dirinya.

Ia anggap percuma ia pergi juga kalau ketikanya belum tiba.

Ia menyabarkan diri sampai akhirnya ia mendengar kabar kesehatannya Cie Hoa sudah pulih dan telah dikeluarkan surat undangan buat pelantikannya sebagai ketua Binsan Pay.

Baru setelah itu ia merasa sedikit lega.

"Ancaman bencana sudah lewat, mungkin sekarang hatinya Cie Hoa sudah tenang pula,"

Demikian pikirnya.

"Karena Kim Bwee dan Ciong Tian sudah pulang ke Thiansan, sudah datang waktunya aku dapat muncul di muka umum, maka baiklah sekarang aku pergi menjenguk dia."

Meskipun ia berpikir demikian, Sie Ie dapat memikir lainnya.

Ia menduga pasti kalau ia muncul, ia mungkin bakal mendatangkan kegaduhan di pihak Binsan Pay, maka tak mau ia pergi ke gunung itu di saat perayaan atau pelantikan si nona sebagai ketua yang baru dari partai itu.

Tak mau ia muncul sebagai seorang tetamu yang hendak menghadiri upacara.

Begitulah, kendati ia sudah sampai di gunung Binsan, ia tidak terus mendaki, ia hanya jalan mundar-mandir di kaki gunung.

Ia menanti sampai matahari sudah naik tinggi dan genta berbunyi, tanda dari upacara pelantikan telah selesai dilakukan, baru dengan perlahan-lahan ia berjalan naik di lereng gunung.

Tengah ia bertindak naik Sie Ie masih ragu-ragu.

Ia berpikir dan sulit mengambil keputusan.

Bagaimana caranya ia menemui Cie Hoa?

Apakah lebih baik ia menemuinya secara diam-diam dulu, baru ia muncul di muka umum?

Atau lebih baik ia muncul dulu di muka umum, yakni habis menemui Ek Tiong Bouw semua baru ia minta bertemu dengan si nona?

Di dalam kesangsian itu ia naik terus, sampai tanpa merasa ia berada di depan pekarangan kuburan Tokpie Sinnie.

Itu artinya ia sudah melakukan separuh perjalanan dari kaki gunung sampai di kelenting Hianlie Koan.

Baru saja ia sampai, atau mendadak ia menjadi terperanjat.

Dengan tiba-tiba ia melihat sesosok tubuh berlari keras keluar dari sebuah tikungan.

Ia terperanjat sampai ia tercengang.

"He, Seng Lam?"

Ia berseru.

"Kau disini?"

Memang benar, orang itu Seng Lam adanya. Nona Le memperlihatkan roman dingin. Dia mengebut tangan bajunya.

"Kim Sianseng, kau mau apa?"

Tanya nona itu, suaranya pun dingin sekali. Sie Ie sudah mengulur' tangannya guna menarik nona itu, atau ia batal sebab melihat sikap orang luar biasa itu. la mengawasi dengan melongo.

"Kenapa kau menjublak saja?"

Tanya Seng Lam tertawa dingin.

"Orang lagi menantikan, kau tahu tidak? Masih kau tidak mau lekas-lekas naik terus!"

Sie le heran.

"Seng Lam!"

Dia tanya, bersang-si, hingga suaranya menjadi tidak lancar.

"Kau... kau... kenapa kau datang kemari?..."

"Kenapa?"

Si nona membaliki.

"Memangnya aku tak dapat datang kemari?"

Sie Ie tidak menjawab, hanya dia tanya lekas. Agaknya dia gugup.

"Apakah kau telah pergi ke Hianlie Koan?"

Demikian tanyanya.

"Atau apakah kau baru saja tiba? Sebenarnya kau hendak pergi kemana?"

Seng Lam bersikap tawar sekali.

"Hubungan di antara kita sudah putus!"

Katanya.

"Kau ambil jalanmu sendiri, aku ambil jalanku! Buat apa kau ambil mumat dari mana aku datang kemana aku hendak pergi?"

Hebat kata-kata "hubungan putus"

Itu.

Pula itulah yang pertama kali muncul dari mulutnya Seng Lam.

Mendengar itu, Sie Ie merasa seperti ia disambar guntur.

Ia menjadi bingung hingga tak tahu ia mesti membilang apa.

Tengah Tokciu Hongkay berdiri diam, Seng Lam sudah bertindak turun gunung...

Lekas juga Sie Ie mendusin.

Hampir ia lompat untuk lari menyusul Nona Le atau mendadak ia ingat ia datang untuk menjenguk Cie Hoa.

Sama cepatnya ia mengambil keputusannya.

"Tak dapat! Tak dapat!"

Demikian pikirnya.

"Sekarang ini di dalam hatiku melainkan ada Cie Hoa satu orang! Seng Lam... dia telah tak sudi jadi kakak beradik dengan aku, buat apa aku menyusul dia? Dengan menyusul dia. Aku cuma-cuma mencari susah sendiri..."

Hari sudah tengah hari, hawa udara panas terik.

Pada saat itu, gunung Binsan tampak seluruhnya, indah pemandangannya.

Akan tetapi Sie Ie tak dapat menikmati itu, sebab pikirannya lagi kacau dan hatinya tawar.

Bahkan dengan melihat gunung itu ia menjadi teringat akan penghidupannya di pulau terpencil dimana buat tiga tahun lamanya ia hidup bersama Seng Lam, hidup rukun dan damai.

Di dalam bahayapun mereka sehidup semati.

Tapi hari ini, hubungan mereka terputus!

"Biarlah lewat apa yang sudah lewat!"

Katanya kemudian, tawar.

"Aku telah berbuat apa yang aku pikir baik terhadap Seng Lam, dia yang menolak aku, aku tak harusnya bersusah hati atau menyesal! Baiklah, baik aku bersikap terhadapnya seperti juga aku belum pernah mengenalnya!"

Walaupun demikian rupa pikirannya, di mata Sie Ie masih berpeta bayangan nona she Le itu.

Biar bagaimana, Seng Lam itu cantik dan manis, tertawanya dapat mendatangkan rasa suka dan mengasihani.

Hanya sekejab kemudian, tampang manis itu lalu berubah menjadi wajah yang muram, bengis dan dingin...

"Ah!"

Seru Sie Ie, tubuhnya menggigil sendirinya. Ia ingat apa-apa. Maka ia kata di dalam hatinya.

"Perlu apa Seng Lam datang ke Binsan ini? Mau apakah dia? Kenapa barusan dia bersikap demikian rupa terhadap aku? Kenapa dia seperti mengejek aku? Kenapa sinar matanya demikian jahat bercampur kepuasan?"

Memikir demikian, Sie Ie lantas mendapat firasat tidak baik.

Karena itu ia ingin segera menemui Cie Hoa, buat melihat orang sehat wala-fiat atau tidak!

Maka tanpa bersang-si pula, ia lompat naik, untuk berlari-lari ke arah kelenting!

Di depan kelenting Hianlie Koan ada orang-orang Binsan Pay yang lagi melakukan penjagaan, mereka terkejut melihat munculnya Sie le secara demikian tiba-tiba, bahkan Sie Ie berlari-lari keras.

Mereka lantas ingat peristiwa empat tahun yang lampau ketika Tokciu Hongkay mengacau gunung Binsan, sampai Co Kim Jie hampir runtuh kehormatannya.

Merekapun menjadi pecundang-pecundangnya si Pengemis Edan.

Maka juga Louw Too In, satu di antara delapan murid kepala Binsan Pay, tak berayal memberikan isyarat tanda bahaya, di lain pihak ia mengatur saudara-saudara seperguruannya berbaris guna mencegah orang nerobos masuk.

"He, hantu, kau masih belum mati?"

Too In menegur sambil dia melintangi goloknya.

"Mau apa kau datang ke sini? Pihak kami tidak mengirim surat undangan kepadamu!"

Di dalam pikiran ruwet seperti itu, Sie Ie tidak mempunyai kegembiraan untuk banyak omong atau mensia-siakan tempo. Ia menolak Too In sambil ia berkata nyaring.

"Aku datang bukan untuk bertempur! Bagaimana dengan Kok Ciangbun kamu? Aku hendak bertemu dengannya!"

"Hm! Kau masih hendak menemui ketua kami?"

Bentak sekalian murid Binsan Pay itu.

Mereka semua gusar sekali, biarpun jeri, mereka lantas maju mengurung!

Di mata mereka, Sie Ie menjadi konconya Le Seng Lam.

Pada waktu sebelum berlayar, Sie Ie dan Seng Lam bisa dilihat bersama-sama, sampai ada yang menyangka mereka satu pasangan, sekarang baru saja Seng Lam pergi, muncul pengemis ini, pastilah dia mencurigai dan disangka jelek.

Sie le tidak mau melayani, tetapi ia mesti membela diri, maka ia menggunai ilmu silat Ciam-ie Sip-pat Tiat, dari itu setiap orang Binsan Pay yang menyerang padanya, asal ia tempel dan tolak tentu lantas terpental roboh, maka di dalam tempo yang sangat singkat, pecahlah kurungan mereka itu, hingga mereka menjadi kacau sendirinya.

Selagi begitu, Pek Eng Kiat dan Lou Eng Ho sudah lantas muncul.

Mereka mendapat isyarat, mereka mendengar suara berisik dari dalam mereka lari keluar, dengan begitu mereka sudah lantas melihat dan mengenali Kim Sie Ie.

Akan tetapi Tokciu Hongkay tidak memberikan ketika mereka membuka mulut, ia sudah menyambar lengan mereka itu masing-masing sambil ia berkata nyaring.

"Saudara Lou! Saudara Pek! Lekas antar aku masuk! Aku bukannya datang untuk mengacau!"

Eng Kiat dan Eng Ho heran hingga keduanya menjublak saja.

"Eh, eh!"

Kata Sie Ie heran.

"mengapa kamu berdiam mengawasi aku? Apakah kamu sudah tidak mengenali aku? Ingatlah kamu akan kejadian di luar kota Pakkhia pada musim semi yang baru lalu itu! Akulah orang yang mengusir muridmuridnya Beng Sin Thong! Nah, kau ingat bukan? Sekarang kau toh percaya bahwa aku datang tanpa niat jahat?"

Peristiwa yang disebut Sie Ie ini ialah ketika ia dengan mengaku diri sebagai murid Siauwlim Sie, sudah menolong Eng Kiat dan Eng Ho dari tangan jahatnya Hang Hong dan Cek Ho.

Sebenarnya waktu itu Eng Kiat berdua mencurigai Sie Ie sebagai murid Siauwlim Sie, baru sekarang kecurigaannya itu buyar.

"Bagus!"

Eng Ho berseru.

"Kiranya kaulah tuan penolong kami itu! Baik, mari kami antar kau masuk! Cuma... harap kau suka ken-dorkan sedikit cekalanmu..."

Memang Sie Ie saking kesusu sudah menggunai tenaga besar hingga dua orang itu merasakan lengannya sangat sakit.

Adalah di itu waktu, dari dalam terlihat munculnya Ek Tiong Bouw beramai disebabkan suara sangat berisik itu.

Mereka heran ketika mereka melihat Sie Ie berlari-lari masuk dengan romannya yang bingung.

Tong Keng Thian sudah lantas menghunus pedangnya.

"Kim Sie Ie!"

Dia menegur.

"apa kau mau?"

Sie Ie tidak menghiraukan teguran itu.

"Mana Cie Hoa?"

Dia sebaliknya tanya.

"Kenapa aku tidak lihat dia?"

"Kau masih menanyakan dia?"

Tegur pula Keng Thian.

"Dia telah dicelakai sahabat baikmu!"

Sie Ie kaget sekali. Kekuatiran-nya terbukti. Karena kagetnya itu, ia berdiri melengak. Keng Thian tidak berdiam saja, ia terus menyerang dengan pedangnya.

"Jangan!"

Berteriak Pengcoan Thianlie, sang isteri yang lantas mengulur tangan, buat menarik lengan suaminya.

Pedang Yuliong Kiam meluncur cepat dan mencoblos bajunya Sie Ie.

Syukur Peng Go telah menarik suaminya, maka ujung pedang tidak sampai melukai kulit atau dagingnya Tokciu Hongkay.

Keng Thian penasaran.

"Mengapa kau masih bicara untuknya?"

Ia tanya isterinya.

"Dia inilah yang menolong si wanita siluman dari ujung pedangnya ibuku! Apakah kau tak tahu itu?"

Setelah Tong Siauw Lan, dan Phang Lim ketahui siapa adanya Kim Sie Ie, mereka membocorkan rahasia kepada Keng Thian dan Ciong Tian, cuma Lie Kim Bwee yang masih di dalam kegelapan.

Pengcoan Thianlie berlaku sabar.

"Kau lihatlah sikapnya,"

Katanya pada suaminya.

"Apakah kau masih menyangka dia berkonco dengan perempuan siluman itu?"

Sie Ie tak menjublak lama.

Begitu ia sadar, ia berteriak keras sekali.

Ia sudah lantas mengibaskan tangan bajunya sampai Keng Thian hampir terpelanting jatuh.

Setelah itu ia mengulur tangannya, untuk menjambak Tiong Bouw.

"Dia dimana?"

Tanyanya keras.

"Dia dimana? Lekas antar aku kepadanya!"

Tiong Bouw berpengalaman, ia sudah lantas mendapat perasaan Sie Ie memang tidak bermaksud jahat.

"Mari turut aku!"

Kata ia sabar. Iapun tidak mau berlaku ayal-ayalan.

"Dia sekarang tinggal dengan napasnya sekali tarik dan sekali tarik saja..."

Sie Ie menurut tanpa berkata apa-apa lagi.

Maka semua orang lantas bertindak masuk.

Begitu tiba di dalam kamar, hati Sie Ie mencelos.

Ia mendapatkan murid-murid wanita dari Binsan Pay lagi mengurus pakaian matinya Cie Hoa.

Dengan lantas tubuhnya menjadi bergemetar keras, dengan lantas matanya menjadi kabur dan kepalanya pusing.

Tak dapat dicegah lagi, kedua kakinya menjadi lemas.

Maka robohlah ia di depan pembaringan di atas mana tubuh Nona Kok rebah tak bergerak.

"Inilah salahku!"

Berseru Tokciu Hongkay, hatinya remuk.

"Aku terlambat!"

"Sie Ie sabar!"

Kata Tiong Bouw. Ketua Kaypang ini sependapat dengan Pengcoan Thianlie.

"Cie Hoa masih belum putus napasnya, kami telah memberikan dia obat teratai salju, kami cuma belum dapat membuat darahnya mengalir lurus hingga dia dapat bernapas pula seperti biasa..."

Sie Ie mendengar suara Tiong Bouw itu, mendadak dia berlompat bangun.

Lupa segala apa, ia lompat kepada Cie Hoa, guna menaruh kepalanya di dada si nona.

Ia memasang telinganya, hingga ia dapat mendengar jalannya napas yang lemah luar biasa.

Ia terus memasang telinganya itu, sampai kemudian ia bangkit berdiri, pada kedua matanya terlihat sinar pengharapan.

"Lekas siapkan sebuah kamar sepi,"

Kata ia pada Tiong Bouw.

"Pindahkanlah Cie Hoa ke sana!"

Tiong Bouw pun memperoleh harapan, hingga ia menjadi sangat girang.

Ia lantas memberikan perintah untuk melakukan permintaannya si Pengemis Edan.

Begitu Cie Hoa sudah dipindahkan, Sie Ie masuk ke dalam kamarnya.

Ia mengunci pintu setelah ia memberi pesan supaya jangan ada orang yang masuk mengganggunya.

Louw Too In dan beberapa saudaranya tak tenang hati.

"Inilah tidak sempurna,"

Kata mereka pada Tiong Bouw.

"Apakah kau percaya habis pada hantu itu?"

Kok Cie Hoa telah menjadi ketua Binsan Pay, iapun masih seorang nona, maka itu adalah tidak tepat untuk Ek Tiong Bouw membiarkan ia berada di dalam sebuah kamar berduaan saja dengan seorang pria, bahkan pria itu adalah Tokciu Hongkay yang harus dicurigai.

Kalau Kim Sie Ie berhasil menolong jiwa Cie Hoa masih mending, kalau gagal, bagaimana?

Tidakkah nama Binsan Pay bakal ternoda?

Tidakkah nama baik Cie Hoa pribadi turut tercemar juga?

Mendengar suara sekalian adik seperguruan itu, hati Tiong Bouw pun gentar, akan tetapi ia dapat berpikir, ia bisa menenteramkan hatinya.

Ia mengangguk, dengan sikap tenang dan wajar, ia kata kepada mereka itu.

"Tak perduli apa nanti kata orang luar, aku percaya dia!"

Kedudukan Ek Tiong Bouw di dalam Binsan Pay cuma di bawahan Co Kim Jie, sebaliknya namanya berada di atasan ketua Binsan Pay, maka itu, mendengar suaranya ini, semua orang Binsan Pay lantas menutup mulutnya.

Sie Ie sendiri di dalam kamar sudah lantas bekerja.

Paling dulu ia membikin hatinya tenang, setelah itu ia memuji.

"Semoga Thian Yang Maha Kuasa membantu hamba-Mu ini menolongi adik Cie Hoa!..."

Kemudian ia duduk bersila di samping Nona Kok, kedua tangannya diulur kepada dadanya nona itu, untuk dengan perlahan-lahan mengurut di jalan darah soankie.

Tenaga dalam Cie Hoa tak lemah, sekarang dia mendapat bantuan tenaga dalam dari luar, besar artinya bantuan itu.

Baru selang setengah jam, dari kerongkongannya sudah terdengar suara jalannya napas, yang mana disusul dengan dadanya bergerak naik dan turun, itu berarti napasnya sudah lurus, tak ada gangguan lagi.

Itu pula berarti darahnya, yang beku, sudah lumer dan buyar.

Kim Sie le memasang mata, ia melihat hasil usahanya itu, diam-diam ia menjadi sangat girang, maka dengan bersemangat, dalam pemusatan pikirannya, ia melanjuti menyalurkan tenaga dalamnya.

Lagi setengah jam maka napasnya Cie Hoa sudah hampir kembali seperti sediakala.

Sebaliknya Sie Ie, dia letih bukan main.

Pula semua racun dari dalam tubuhnya Cie Hoa sudah berkumpul di telapakan tangannya dan berbareng ia menyedotnya keluar.

Karena ini, dengan jalan menggigit jerijinya, ia membuat jeriji itu terluka, dari luka itu ia mengucurkan keluar darahnya yang penuh racun itu.

Habis itu, ia menolongi pula Cie Hoa, yang ia totok tiga puluh enam jalan darahnya.

Ia menggunai totokan Itcie Siankang.

Begitu lekas jalan darah Cie Hoa tersalurkan sempurna maka obat soatlian pun bekerja, memasuki segala bagian tubuh yang membutuhkan khasiat obat teratai gunung Thiansan itu.

Akibatnya itu ialah dengan perlahan-lahan Nona Kok mulai mendusin.

Sie Ie girang bukan main, hatinya tegang, hingga hatinya itu memukul keras.

Hampir ia tak sanggup mengendalikan diri.

Dengan erat ia mencekal kedua tangan si nona.

Dengan perlahan Cie Hoa membuka kedua matanya.

"Eh, tempat ini tempat apakah?"

Ia tanya, terperanjat saking heran, melihat dirinya di dalam kamar yang asing itu.

"Apakah aku lagi bermimpi? Kau... kau... kau..."

"Aku Sie Ie,"

Kata Sie Ie lekas.

"Kau jangan takut."

Nona itu bingung.

"Kenapa kau berada disini?"

Ia tanya. Ia memejamkan matanya, ia membukanya pula. Ia mengulanginya beberapa kali, untuk mencoba mengingat-ingat. Kemudian ia mengawasi Sie Ie, tangannyapun ditarik pulang. Kata ia keras.

"Ini tidak benar, tidak benar! Mana Nona Le? Eh mengapa kau dapat duduk berhadapan berduaan saja denganku? Nona Le'mu itu berada disini, kenapa kau tidak pergi menemani dia?"

Sie Ie mengerti nona itu bingung, ia berlaku sabar.

"Aku bukan sahabatnya nona itu,"

Kata ia.

"Sebaliknya dialah yang telah membikin celaka padamu. Aku menyesal yang datangku terlambat satu tindak! Dia sudah kabur, sejak sekarang kita berdua boleh tak usah menggubrisnya lagi!"

"Apa katamu?"

Tanya Cie Hoa perlahan.

"Jangan mengubrisnya lagi? Bukankah kau datang kemari bersamasama dia?"

"Bukan!"

Sahut Sie Ie.

"Aku tidak datang bersama dia! Sudah semenjak beberapa bulan yang lalu aku telah berpisahan dengannya! Oh sungguh aku tidak sangka hati dia demikian busuk! Tapi, inilah urusan yang sudah lewat... Cie Hoa, maukah kau selanjutnya menemani aku selama umur kita?"

Cie Hoa berdiam, tubuhnya bergemetar. Perlahan-lahan ia menggeraki tubuhnya, untuk duduk. Sie Ie mengulur kedua tangannya membantui nona itu..

"Ah, tak dapat, tak dapat!"

Mendadak kata Cie Hoa.

"Sie Ie, aku menghaturkan banyak terima kasih yang kau telah tolongi aku, tetapi paling baik kita selanjutnya jangan saling bertemu pula!..."

Agaknya Nona Kok bicara terlalu keras, napasnya sudah lantas memburu, terus dia batuk beberapa kali.

Diapun merasakan tenaganya seperti habis, hingga dia jadi duduk diam seperti membeku.

Kim Sie Ie mengucurkan air mata.

"Akulah yang membikin kau celaka..."

Katanya, berduka.

"Hampir karenanya aku membikin kau hilang jiwa! Pantaslah kalau kau menjadi tidak suka memberi ampun padaku!"

"Tidak!"

Kata Cie Hoa cepat.

"Sedikitpun aku tidak sesalkan kau! Malah bicara terus terang, dengan Seng Lam meracuni aku, aku girang bukan main!..."

Sie Ie heran hingga ia melengak. Cie Hoa melihat orang melongo, dia bersenyum.

"Anak tolol!"

Katanya.

"Mustahil kau tidak mengerti? Coba kau pikir! Kenapa dia mau membikin mati padaku? Kalau... kalau..."

La batuk-batuk sampai tak dapat ia meneruskan perkataannya.

Sebaliknya mukanya menjadi merah karena likat.

Sie Ie cerdas, segera ia mengerti.

Terang Seng Lam mencelakai Cie Hoa sebab ia mencintai Nona Kok dan bukan dianya itu, oleh karena itu, Cie Hoa suka mengalah.

Cie Hoa bersedia mengorbankan jiwanya untuk Seng Lam.

"Kau letih sekali,"

Kata Sie Ie, berbisik di telinga si nona.

"Kau rebahkan dirimu, nanti aku yang mewakilkan meneruskan apa yang kau hendak katakan dengan kalaumu berulang-ulang. Kau toh hendak mengatakan 'Kalau... kalau... kau membuatnya puas, mana dapat dia menurunkan tangan jahat atas diriku?' Benar begitu, bukan?"

Cie Hoa meletaki kepalanya pada bantal, ia berdiam saja, tetapi selagi mulutnya bungkam, mukanya yang pucat memperlihatkan senyuman.

Itulah jawabannya -jawaban tak bersuara-untuk membenarkan perkataannya Sie Ie.

"Adikku, sekarang kau toh percaya aku, bukan?"

Kata pula Sie Ie.

"Karena itu mengapa kau masih tidak mau memberikan jawaban yang mengiakan?"

"Aku telah menjadi seorang yang bercacad,"

Sahut Cie Hoa perlahan.

"Soatlian cuma dapat memperpanjang usiaku. Apakah kau tak melihat itu?"

Sie Ie mencekal pula tangan orang.

"Aku akan merawati kau seumur hidup!"

Katanya, sungguhsungguh.

Air mata Cie Hoa lantas mengembeng.

Itulah air mata kedukaan dan syukurnya hati.

Hampir ia membuka mulutnya untuk menerima baik permintaan Sie Ie untuk ia menikah Tokciu Hongkay.

Tapi ketika ia memberikan penyahutannya, penyahutan itu tetap.

"Tidak dapat!..."

"Kenapakah?"

Sie Ie tanya, mendesak.

"Aku telah memberi janji kepada Co Suci bahwa dalam hidupku ini aku tidak akan menikah,"

Sahut Cie Hoa, sebenarnya. Sie Ie penasaran.

"Kenapa kau membiarkan orang yang telah mati menyelak di antara penghidupan kita?"

Ia tanya. Cie Hoa menggigit bibirnya.

"Bukan begitu,"

Katanya.

"Aku memberikan janjiku sebelum ia meninggal. Janji itu tak dapat dirubah! Sie Ie, sampai mati, akan aku berterima kasih kepada kau, akan tetapi, tak dapat aku menjadi isterimu! Kita telah bicara, maka silahkan kau pergi, dan selanjutnya baiklah kau jangan datang pula menjenguk aku!..."

Banyak si nona bicara, akhirnya suaranya menjadi sangat perlahan, hingga hampir tak kedengaran.

Walaupun demikian, ia sesungguhnya suka sekali menerima tangannya Sie Ie.

Justeru karena cintanya kepada Sie Ie itu, tak suka ia memberikan tubuhnya yang bercacad, ia tak ingin Sie Ie berkorban untuk seumur hidup mereka.

Dia menggunai alasan janjinya kepada Co Kim Jie cuma sebagai tedeng aling saja.

Sie Ie duduk menjublak.

Ia cerdas, dapat ia menyelami hati Cie Hoa.

Maka itu ia mengerti, kalau ia ingin mendapatkan nona itu, mesti ia membikin kesehatan si nona pulih seluruhnya, sehat seperti sediakala.

Dengan begitu, dapat ia menikah dengannya, Cie Hoa tak akan membikin ia berkorban.

Bagaimana caranya ia harus memulihkan kesehatan Cie Hoa?

Inilah sulit.

Lantas Tokciu Hongkay menurunkan kelambu.

Kata ia perlahan.

"Impian buruk yang sudah lewat baiklah jangan dipikirkan pula, sebaiknya kau tidur dengan tenang, nanti aku kembali untuk mengasih bangun padamu."

Cie Hoa bersenyum.

"Sekarang ini aku tenang sekali,"

Sahutnya.

"Kau jangan buat kuatir. Sie Ie, kau biarkanlah aku dapat mimpi sampai lama, jangan kau sibuk hendak mengasih bangun padaku! Aku percaya di dalam mimpimu kau nanti dapat melihat aku, dimana kita bakal bertemu bersama! Bukankah itu terlebih baik?"

Sie Ie girang berbareng berduka.

Girang sebab lenyap sudah salah mengerti di antara Cie Hoa dengannya.

Berduka karena ia kuatir penghidupannya ini benar-benar suatu impian.

Impian itu biarnya impian buruk menjadi impian baik, tetap impian belaka.

Ek Tiong Bouw semua lagi menantikan dengan hati mereka kebat-kebit, di antara keragu-raguan dan kekuatiran, ketika mereka melihat Sie Ie muncul dengan wajah pucat sekali dan romannya sangat lesu.

Semua mereka mengawasi dengan mendelong.

"Bagaimana?"

Tanya Tiong Bouw selang sekian lama. Sie Ie menjatuhkan diri dengan lesu.

"Dia sudah mendusin,"

Sahutnya.

"tetapi sekarang dia lagi tidur."

"Asal jiwanya tidak terancam bahaya maut juga sudah bagus,"

Kata Tiong Bouw.

"Mungkin tak ada bahaya lagi untuk jiwanya,"

Kata Sie Ie.

"hanya untuk mempulihkan kesehatannya seperti sediakala, aku kuatir sulit sekali. Yap Sinshe, kau pandai, kau cobalah berdaya mengobatinya!"

Semua orang mengerti silat, melihat keletihan Sie Ie itu, orang dapat menduga bahwa dia baru saja mengorbankan tenaga dalamnya.

Keng Thian menjadi bersyukur.

Ia lantas menghampirkan, untuk memberi hormat.

"Saudara Sie Ie, aku telah menyangka keliru terhadapmu,"

Katanya, mengakui.

"Aku sendiri tidak dapat memaafkan diriku, mana dapat aku mempersalahkan kau?"

Sie Ie jawab.

"Semua-semua adalah karena salahku juga!..."

Pengcoan Thianlie dapat menduga duduknya hal enam atau tujuh bagian, ia bersenyum.

"Sie Ie, kau letih sekali, kau beristirahatlah!"

Katanya.

"Baik kau jangan banyak bicara dan berpikir."

Ketika itu Yap Ya It sudah pergi ke dalam, ia telah keluar pula.

"Aku sudah periksa nadi nona itu,"

Katanya.

"Dia dapat bebas dari bahaya dan tertolong jiwanya, tetapi untuk memulihkan seluruh kesehatannya, aku berpendapat dia mesti mendapatkan obatnya yang tepat, dengan begitu bisalah dia dicegah dari bencana cacad seumur hidupnya. Racun Ngotok San dari siluman perempuan itu sangat jahat, sekarang saja si nona sudah mulai lumpuh..."

Ek Tiong Bouw sementara itu telah menuturkan kepada Sie Ie hal sepak terjangnya Le Seng Lam yang datang mengacau, kemudian sembari menghela napas dia menambahkan.

"Peristiwa ini hebat dan sukar diterkanya. Dapatlah kita menganggap siluman itu benar-benar menghendaki jiwanya Kok Sumoay? Kalau benar, sesudah sumoay keracunan, dia dapat dengan mudah saja merampas jiwanya! Tapi dia sudah tidak berbuat demikian! Aku percaya dia sengaja membikin sumoay sakit dan menderita, supaya nanti ada orang yang pergi untuk memohon obat kepadanya..."

"Apakah waktu itu kamu sudah coba minta obatnya?"

Sie Ie tanya.

"Kenapa tidak?"

Sahut Tiong Bouw.

"Dia telah menampik dengan lagaknya yang temberang! Dia kata untuk meminta obatnya, orang yang pergi minta itu musti orang yang tepat!..."

Mendengar itu, hati Sie Ie menggetar.

Dengan lantas ia mengerti maksudnya Seng Lam.

Orang yang tepat itu pasti bukan lain daripada ia sendiri!

Terang sudah segala apa telah direncanakan nona itu.

Seng Lam telah menerka ia bakal datang ke Binsan, bahwa ia tentu bisa menolong jiwa si nona.

Bahwa guna mengobati nona itu sampai dia bebas dari bahaya bercacad, ia tentu bakal mencari Seng Lam untuk memohon obat pemunah racun.

Hanya ia tidak tahu, gangguan apa lagi Seng Lam bakal menyiapkan sebelum dia suka memberikan obatnya itu...

"Entah ada permusuhan apa di antara perempuan siluman itu dengan Thiansan Pay maka dia berulang kali menentangnya?"

Kata Tong Keng Thian heran.

"Tadipun habis mengacau dia masih membuka mulut besar, katanya pasti bakal datang satu hari yang dia nanti datang ke Thiansan guna mengadu silat dengan ayahku! Hm! Kalau benar-benar dia datang ke gunungku, itulah bagus sekali! Itu berarti tak usah kita susah-susah pergi mencarinya!"

"Ayahmu gagah, tak sukar untuk ia mengalahkan dia,"

Berkata Ek Tiong Bouw.

"hanya kalau kita menanti sampai dia pergi ke Thiansan, sampai kapankah kita harus menantinya? Meski benar bahaya jiwa untuk Sumoay sudah tidak ada tetapi aku anggap --ak'u mengharapnya-lebih baik lagi kalau lebih siang kita mendapatkan obatnya!"

La menghela napas, lalu ia menambahkan.

"Perempuan siluman itu liehay sekali, sudah dia berhasil mewariskan ilmu silat Kiauw Pak Beng seperti tertera di dalam warisan kitab silatnya jago she Kiauw itu, diapun telah mendapatkan kitab obat-obatan berbisa Pektok Cinkeng warisannya perkumpulan agama sesat Cit-im Kauw yang sekian lama telah lenyap dari peredaran. Maka itu di jaman ini, orang yang dapat menaklukkan dia mungkin cuma ayahmu seorang saja! Kalau lain orang umpama kata dia dapat dicari ketemu, tanpa kepandaian yang melebihkan mana dapat dia memaksanya menyerahkan obatnya? Buat meminta, jangan harap! Siapakah orangnya? Kepada siapa dia suka memberi muka?"

Sie Ie menyedot napas.

"Peristiwa ini terjadi gara-gara aku,"

Kata ia.

"maka itu, tidak perduli dia suka memberi muka atau tidak padaku, baiklah tugas mendapatkan obatnya itu diserahkan padaku! Menolong orang mesti menolong dengan cepat seperti orang menumpas bahaya api, dari itu harap kamu maafkan aku, tak dapat aku menemani kamu lebih lama pula!"

Ia menjura dalam pada Ek Tiong Bouw untuk memesan.

"Ek Pangcu, selanjutnya aku mengandal kepada kau untuk kau berhatihati merawat dia!"

Ia memutar tubuh, untuk menjura juga pada Pengcoan Thianlie seraya berkata.

"Aku menyesal sudah mensia-siakan pengharapan dari Tong Tayhiap, Phang Liehiap serta kau, ketika aku sudah kembali dari pelayaran, aku juga belum pernah pergi ke Thiansan guna menghaturkan maafku, di dalam hal itu ada urusan yang menyulitkan aku, hingga sukar aku mengatakannya. Enci Kui, kaulah seorang cerdas, kau tentunya mengerti, dari itu tak usahlah aku menjelaskannya..."

Habis berkata itu, Sie Ie lantas bertindak keluar. Semua orang mengawasi dengan heran, kemudian Pengcoan Thianlie kata sambil menghela napas dan perlahan.

"Ada kalanya Kim Sie le bertindak di luar garis, tetapi dia tetap seorang manusia yang sadar."

Tong Keng Thian tidak berkesan baik terhadap Kim Sie Ie, akan tetapi dialah seorang dengan dada lapang, maka itu, mendengar suara isterinya, dia tertawa.

"Agaknya dia memandang kau seperti orang sendiri,"

Katanya.

"Aku tidak jemu terhadapnya, tetapi bicara terus terang, aku tidak puas dengan sikapnya. Kau lihat, dia tak senang bicara denganku!"

Pengcoan Thianlie tertawa.

"Habis, kau mendongkol, bukan?"

Tanyanya.

"Kalau ini terjadi beberapa tahun yang lalu, mungkin,"

Sahut suami itu.

"Sekarang, tidak! Bahkan sekarang aku merasa kasihan terhadapnya. Aku harap saja dia berhasil meminta obat, supaya dia lekas kembali dan melaksanakan jodohnya yang sempurna!"

Selagi orang membicarakan dia dan ada yang heran dan kagum, Kim Sie Ie sendiri sudah berjalan cepat turun gunung.

Sang malam sudah tiba, bahkan dengan cepat menjadi jauh malam.

Tapi malam itu malam tanggal lima belas bulan delapan--malaman Pee-gwee Tiong Ciu -"

Si Puteri Malam besar dan bundar sekali, cahayanya sangat terang dan permai. Sinar rembulan itu tidak menyulitkan Sie Ie, sebaliknya, membuatnya berpikir banyak.

"Rembulan begini indah, siapa tahu, hatinya sahabatku tak sebundar si Puteri Malam..."

Pikirnya.

"Kita justeru bercerai berai! Seng Lam berubah demikian rupa, inilah sungguh di luar dugaanku... Bagaimana andaikata Seng Lam tidak sudi memberikan obatnya? Bagaimana aku mesti bersikap terhadapnya?"

Tak dapat Sie Ie menjawab pelbagai pertanyaannya itu.

Ia jadi masgul, pikirannya menjadi pepat.

Tapi ia mencari Nona Le.

Ia memutari gunung Binsan sejauh ratusan lie di sekitarnya, bahkan ia memanggil dengan ilmu suara "Thiantun Toan-im".

Ia tetap tidak memperoleh hasil.

Nama Seng Lam dipanggil berulang-ulang, tidak ada jawaban sama sekali.

"Entah dia sembunyi dimana?"

Pikir Sie Ie.

Tokciu Hongkay yang biasa mempermainkan orang, sekarang dia sendiri yang lagi diumbang-ambingkan seorang nona...

Akhirnya Sie Ie meninggalkan gunung Binsan.

Selanjutnya ia mesti merantau jauh dan lama.

Ia mencari Seng Lam ke segala tempat dimana ia menyangka Nona Le mungkin berada.

Musim semi pergi, musim semi datang, bunga mekar, bunga rontok!

Dengan lekas, kira-kira dua tahun sudah lewat.

Seng Lam tak kedapatan meski ia sudah dicari di tempattempat ramai dan di dusun-dusun.

Ia telah mencari keterangan, tidak ada orang yang tahu atau melihat nona itu...

Meski Seng Lam tak ketahuan dimana adanya tetapi peristiwa pengacauannya di gunung Binsan telah tersiar secara umum, peristiwa itu menggemparkan Rimba Persilatan, maka orang menganggap dia sebagai Beng Sin Thong nomor dua, hingga pelbagai partai besar, seperti Butong Pay, Siauwlim Pay dan Cengshia Pay, semua bersikap waspada, semua memasang mata, siap sedia untuk bekerja sama menghadapi si nona andaikata nona itu mengancam keselamatan mereka...

Juga halnya Kim Sie Ie muncul pula dalam dunia Kangouw telah menjadi bahan pembicaraan umum.

Selagi banyak orang ketahui hal lelakon Seng Lam dan Sie Ie itu, seseorang tetap gelap.

Dialah Nona Lie Kim Bwee.

Terhadapnya, segalanya dirahasiakan.

Keng Thian dan isterinya sudah pulang ke Thiansan, dia sudah mengasih laporan kepada ayahnya, tetapi Kim Bwee masih saja tak diberitahukan sesuatu.

Siauw Lan dan isteri serta Phang Lim ingin merahasiakannya terus, sedikitnya untuk suatu waktu.

Kim Bwee dianggap tak perlu ketahui Sie Ie masih hidup dan sudah kembali, bahwa Cie Hoa lagi sakit merojan.

Telah diputuskan setelah Kim Bwee menikah baru dia boleh mendengar segala apa, kalau tidak dikuatirkan nanti buruk akibatnya.

Dengan lewatnya sang waktu, keadaannya Lie Kim Bwee telah berubah sendirinya.

Nona itu bergaul dengan Ciong Tian makin lama makin erat.

Bahkan setelah beberapa tahun itu, ia menginsyafi bahwa Kim Sie Ie dan Kok Cie Hoa adalah sepasang muda-mudi yang menyinta satu dengan lain.

Kalau umpama kata ia tahu halnya Sie Ie dan Cie Hoa, mungkin baru-baru hatinya gelisah, tetapi akhirnya ia tentunya bergirang, ia tidak nanti menyintai lain orang lagi.

Demikian hampir dua tahun dari peristiwa Kok Cie Hoa itu, Tong Siauw Lan dan Phang Lim telah menetapkan dan memilih hari atau malam Chitgwee Citsek sebagai saat yang baik untuk pernikahan murid dan puteri mereka.

Gunung Thiansan berada jauh di barat, terpisahnya dengan Tionggoan jauh sekali, karena itu Tong Siauw Lan tidak melepas surat undangan yang luas, akan tetapi karena ia dipandang sebagai pemimpin kaum Rimba Persilatan, siapa yang mendengar berita girang itu, sudah lantas datang memberi selamat.

Demikian di antara para tetamu tampak Pun Khong Sianjin dari Siauwlim Sie, Ceng Siong Toojin murid dan wakil Kim Kong Taysu dari Ngobie San, Siauw Ceng Hong suami isteri dari Cengshia Pay, Ouw Thian Long dari Khongtong Pay dan lainnya lagi.

Ek Tiong Bouw dari Binsan Pay tak dapat datang sendiri, dia mengutus Pek Eng Kiat.

Eng Kiat itu cerdik, maka kepadanya Tiong Bouw memberi pesan.

Tiong Bouw ketahui dari Keng Thian lelakon Kim Bwee dengan Sie Ie, bahwa hal itu dirahasiakan, bahwa Nona Lie tak boleh mengetahui halnya Sie Ie menyintai Kok Cie Hoa, maka itu Eng Kiat dilarang sembarang omong, agar Kim Bwee tidak tahu peristiwa di Hianlie Koan.

Maka itu ketika Kim Bwee menanya kenapa Cie Hoa tidak datang, ia menerangkan Cie Hoa terlalu repot sebagai ketua baru dari Binsan Pay.

Keterangan itu dipercaya si nona.

Ketika tiba harian nikah itu, hati Siauw Lan, Phang Lim dan lainnya kebat-kebit.

Masih mereka menguatirkan nanti terbit sesuatu yang tak diingin.

Baru setelah sepasang mempelai selesai menjalankan upacara, hati mereka menjadi lega.

Ciong Tian girang bukan kepalang.

Buat banyak tahun ia meng-harap-harap menyambut tangan Kim Bwee baru sekarang maksud hatinya kesampaian.

Hanya sebagai seorang polos, ia cuma girang di hati, tak dapat ia bicara banyak atau beriang gembira seperti lain orang, bahkan waktu orang banyak memberi selamat padanya, ia menjadi mirip si tolol, karena mana banyak tetamu yang sengaja menggoda padanya.

Di antara tetamu ada terdapat Yo Liu Ceng ibu dan anak serta Kang Lam dan Tan Thian Oe suami isteri.

Kang Lam telah menikah dengan Nona Cee Ciang Hee puterinya Yo Liu Ceng, mereka menikah tahun yang lalu.

Yu Liu Ceng hadir bersama anak mantunya sebab dialah puterinya Yo Tiong Eng dan Yo Tiong Eng itu gurunya Tong Siauw Lan.

Tan Thian Oe datang lantaran Yu Peng, isterinya menjadi bekas pelayan berbareng saudara angkat dari Pengcoan Thianlie.

Karena itu, Kang Lam dihormati tetamu-tetamu lainnya.

Ciang Hee menggodai Kim Bwee, katanya.

"Sudah beberapa kali aku datang ke Thiansan ini, belum pernah aku melihat Ciong Suheng tertawa, tetapi hari ini dia tertawa tak hentinya sampai mulutnya tak pernah tertutup rapat! Maka itu aku percaya mempelai laki-laki pasti akan mendengar kata terhadapmu!"

Kim Bwee balas menggoda, katanya tertawa.

"Mungkinkah Kang Lam tak tunduk pada kata-katamu? Aku lihat dia jinak sekali mengekor di belakangmu, dia tak miripnya dengan Kang Lam yang banyak aksinya di jaman dahulu! Maka itu aku sangat kagum atas kepandaianmu mengendalikan suami! Belum lewat satu tahun, kau telah membikin suamimu jinak seperti kambing gembel!..."

"Memang!"

Kata Ciang Hee.

"memang dia tak sepolos Ciong Suheng-mu itu! Tadinyapun tak niatku mengajak dia, kemudian aku mengubah putusan sebab aku pikir baiklah dia diajak supaya dia dapat meniru kelakuannya lain-lain suami orang!"

Lantas Kim Bwee menggape pada Kang Lam...

"Kang Lam!"

Tegurnya.

"kenapa hari ini mulutmu rapat sekali seperti buli-buli bermulut gergaji? Mari bicara denganku!"

Kim Bwee tahu Kang Lam doyan bicara, ia mau membikin orang membuka mulut supaya dia dapat dijadikan sasaran berguraunya orang banyak. Kang Lam sudah lantas menghampirkan.

"Baiklah, nanti aku bicara!"

Kata dia, tertawa haha-hihi.

"Paling dulu hendak aku mengucapkan kata-kata yang baik untuk kau supaya lain tahun pada hari ini kau nanti dapat tambah seorang anak bayi yang putih meletak dan montok sekali!"

"Fui!"

Kim Bwee berludah.

"Sekali kau membuka bacot, lantas keluar kata-katamu di luar garis! Tadinya aku menyangka kau sudah mengubah tabiatmu!"

Berkata begitu, Kim Bwee mengawasi muka orang. Ia bermata tajam, maka ia melihat, meski suami Ciang Hee itu tertawa, itulah tertawa yang dipaksakan. Ia menjadi heran.

"Kang Lam,"

Ia tanya.

"apakah yang kau pikirkan?"

"Yang aku pikirkan,"

Sahut Kang Lam cepat.

"yaitu aku mengharapi siang-siang dapat memakan telur merah itu."

Telur merah ialah telur yang diperlukan setiap kelahiran anak bayi.

"Tapi di atas gunung Thiansan tak dapat orang memelihara ayam!"

Ada orang yang nyeletuk.

"Kau cuma tahu satu tetapi tidak tahu dua!"

Berkata Kang Lam pula.

"Ayam salju dari Thiansan jauh ter-lebih lezad daripada ayam lain tempat!"

"Sudahlah, jangan ngaco!"

Kim Bwee menyela.

"Kitalah orang-orang yang pernah sama mendapatkan pengalaman luar biasa, maka itu, apakah kau masih ingat pelbagai peristiwa dulu hari selama kita berada di wilayah Kanglam? Bukankah itu waktu kau bicarakan segala apa padaku? Bukankah kau ingat ketika Nona Le mendustakan aku dan kaulah orangnya yang membeber kedustaannya itu?"

Kim Bwee jujur dan polos, masih ia suka ingat Kim Sie Ie, sekalipun di depan Ciong Tian, suaminya tak ia menyembunyikannya, ia membicarakan secara terbuka.

Demikian kali ini, melihat Kang Lam, ia jadi ingat segala peristiwa dulu itu ketika ia bersama Tan Thian Oe dan lainnya mencari Kim Sie Ie.

Di luar dugaannya, disebut-sebutnya Sie Ie justeru menyinggung hati Kang Lam.

Sebab Kang Lam sangat berduka buat nasibnya sahabatnya itu.

Sekarang Kim Bwee telah bersuami, dia sudah mendapatkan tempatnya, tidak demikian dengan Sie Ie dan Cie Hoa, mereka itu berdua masih dirundung kemalangan...

Ciang Hee pernah memesan suaminya supaya si suami jangan bicara, tapi sekarang Lie Kim Bwee menimbulkan bahan omongan, tak dapat Kang Lam menahan hatinya.

"Ya, memang begitu!"

Berkata dia.

"Memang aku telah melihat dari siang-siang Nona Le itu bukan makhluk baik-baik! Bukannya baru sekarang orang membenci dia. Aku membencinya sejak dulu hari itu!"

Kim Bwee heran, ia melongo.

"Apa kau bilang?"

Ia tanya.

"Apakah Le Seng Lam telah muncul pula di muka umum?"

Begitu ditanya si mempelai, Kang Lam insyaf bahwa ia sudah terpeleset bicara, maka lekas-lekas ia memutar haluan.

"Tentang itu..."

Katanya tak lancar.

"tentang itu... aku tidak dengar apa-apa..."

"Tapi,"

Kata Kim Bwee mendesak.

"bukankah barusan kau bicara dari hal sekarang--bahwa sekarang orang membenci dia?"

"Selamanya dia bertindak licik dan busuk, sudah pasti sekali banyak orang benci padanya,"

Kang Lam masih mengulangi.

"Bukan, bukan begitu!"

Kim Bwee mendesak pula.

"Kau menyebutnya sekarang! Kau bicara dari hal sekarang, bukan dari dulu! Dia pasti telah muncul pula! Entah dia telah melakukan apa, yang membuatnya orang membencinya, karenanya kau bicara begini rupa! Kau menyebut kejadian sekarang!"

Seng Lam berlayar bersama Kim Sie Ie, kalau Seng Lam sudah kembali, mungkin Kim Sie Ie masih hidup, atau kalau tidak demikian, sedikitnya dari Seng Lam dapat diminta keterangan mengenai Sie Ie itu, perihal kepastiannya dia sudah mati atau masih hidup...

Demikianlah pikiran Kim Bwee.

Phang Lim, Tong Keng Thian dan lainnya, juga berpikir sama seperti Kim Bwee itu, maka itu, ibu itu menjadi mengerutkan alisnya.

Selagi ibu itu mau campur bicara, guna memutar jalan pembicaraan, anaknya sudah berkata pula.

"Kang Lam,"

Katanya.

"kau pasti ketahui perihal Nona Le itu! Dimana adanya dia sekarang?"

Kang Lam si tukang ngoceh sekarang berubah menjadi seorang lain.

Dia terdesak.

Dia menyesal sudah keliru bicara, sampai sukar untuk membilukannya.

Ditanya si nona pengantin, ia menjadi bungkam.

Kim Bwee melihat orang berdiam.

Ia masgul.

"Sayang hari ini enci Kok tidak datang..."

Katanya menyesal dan lesu.

Ia menarik napas.

Ada dua rupa pikiran menyandingi nona yang polos ini.

Pertama-tama ia menyesal Cie Hoa tak hadir.

Kalau Cie Hoa ada, ada orang ia dapat ajak bicara.

Kedua ia percaya Cie Hoa, seperti ianya, belum tahu halnya Seng Lam sudah kembali dari pelayaran, hal teka-teki mati hidupnya Sie Ie itu.

Maka ingin ia memberitahukan Cie Hoa hal Seng Lam sudah kembali, supaya Seng Lam dicari buat dimintai keterangannya.

Sebenarnya ketika Kim Bwee menyatakan ia suka menikah dengan Ciong Tian, ia sudah mengambil putusan.

Taruh kata benar Kim Sie Ie kembali, suka ia menyerahkan Sie Ie kepada Cie Hoa.

Bahkan tadi di waktu menjalankan upacara nikahnya, diam-diam ia telah memuji kepada Thie Kong dan mendoakan agar Cie Hoa dan Sie Ie dapat menikah satu dengan lain, supaya jodoh mereka itu terangkap dengan sempurna dan memuaskan.

Baru Kim Bwee berkata begitu, lantas telinganya mendengar suara ini.

"Kau baik sekali, bagus! Aku tadinya menyangka kau melainkan ingat saja enci Kok-mu! Kiranya kau masih ingat juga padaku. Sekarang aku ada disini!"

Kim Bwee terperanjat sampai ia berjingkrak bangun. Justeru itu terdengar suaranya Siauw Lan.

"tetamu dari mana yang datang? Maaf kami tak dapat menyambut sebagaimana selayaknya!"

Itulah suaranya Le Seng Lam yang telah bicara dengan saluran ilmu Thiantun Toan-im.

Dia bicara terhadap Kim Bwee.

Tong Siauw Lan tidak mengerti ilmu itu, akan tetapi tenaga dalamnya yang mahir membuatnya dapat mendengar juga.

Di ambang pintu sudah lantas terlihat berkelebatnya sesosok tubuh, waktu bayangan itu memperlihatkan diri tegastegas, dialah Seng Lam adanya.

Dia bertindak masuk dengan wajahnya berseri-seri, terdengar tertawanya yang sedap bagi telinga.

Murid Thiansan Pay yang ditugaskan sebagai penyambut tetamu kaget sekali.

Tak tahu ia dari mana datangnya tetamu yang tak dikenal ini, yang tahu-tahu sudah berada di antara mereka.

Karenanya ia menjadi berdiri mematung.

Ketika itu Phang Lim sudah mengebutkan tangan bajunya sedang Tong Keng Thian segera menghunus pedangnya, untuk dipakai menabas.

Berbareng dengan itu Ciang Hee dan Kim Bwee kaget sampai mereka menjerit keras.

Kang Lam tampak berjumpalitan begitu keras ke arah tembok, syukur dia dapat dipegat Siauw Ceng Hong, kalau tidak pastilah dia bakal menerjang tembok hingga dia bisa sedikitnya babak belur.

Kang Lam sangat cerdik dan gesit.

Begitu dia melihat datangnya Seng Lam, dia menduga orang akan berbuat sesuatu yang tak menguntungkan dia, maka juga guna menjaga diri, segera dia berlompat menyingkir.

Dia menggunai ilmu lompat yang aneh yang diajarkan dia oleh Kim Sie Ie.

Syukur untuknya, belum sampai dia kena disentil Seng Lam, Phang Lim dan Keng Thian juga sudah lantas turun tangan.

Meski demikian Seng Lam masih dapat menggunai Pekkhong Ciang, pukulan Udara Kosong, menolak tubuhnya hingga dia tertolak mental, membikin dia berjumpalitan lebih keras daripada biasanya.

Bagus Siauw Ceng Hong menolongnya.

Phang Lim yang mengebut itu tidak memperoleh hasil, bahkan ujung bajunya kena dibikin robek, sedang Keng Thian, yang pedangnya seperti mengenakan tubuh Seng Lam, nyata tikamannya tera-rahkan ke tempat kosong, karena mana tubuhnya menjadi terjerunuk ke depan beberapa tindak.

Karena itu, pedangnya kena menghajar meja kecil di dekat Kim Bwee, sampai air teh muncrat membasahkan pengantin perempuan itu!

"He, semua ini aturan dari mana?"tanya Seng Lam, yang mengasih dengar tertawa dingin.

"Walaupun aku tidak terima surat undangan, akan tetapi aku toh datang ke mari untuk kondangan dan memberi selamat! Bukankah itu tidak melanggar hukum hingga aku mesti mendapatkan dosa tak berampun? Kenapa kamu menghendaki jiwaku?"

"Adik Lim, tahan!"

Tong Siauw Lan berkata.

"Mari kita dengar dulu maksud kedatangannya!"

Ia lantas menoleh kepada Seng Lam, untuk bicara terus, katanya.

"Nona Le, kalau benar kau datang untuk memberi selamat kepada sepasang mempelai, akan aku si orang she Tong menyambut dan melayani kau sebagai tetamu yang dihormati, tidak nanti aku mengambil mumat segala perbuatanmu yang sudahsudah, hari ini kami tidak bakal mengganggu kau! Jikalau kau datang untuk mengacau-Hm! -kau harus mengerti Thiansan bukanlah tempat di mana kau dapat main gila!"

Seng Lam tertawa tawar.

"Oh, kiranya Thiansan adalah satu tempat demikian suci?"

Kata dia.

"Baru sekarang aku ketahui! Dengan adanya Tong Ciangbun disini, mana aku yang muda berani main gila."

Nona ini datang dengan tahu-tahu sudah berada di ruang dalam, perbuatan itu membikin-muka terang orang-orang Thiansan Pay menjadi guram, akan tetapi sebab ketua mereka tidak menunjuki kemurkaan, mereka terpaksa berdiam saja.

"Kau hendak menanyakan maksud kedatanganku?"

Berkata Seng Lam habis berhenti sejenak. Ia bersikap tenang, suaranyapun sabar.

"Bukankah barusan aku telah membilangnya? Aku datang guna menghaturkan selamat!"

Ia menoleh kepada Kim Bwee, guna meneruskan.

"Enci Kim Bwee, kita bukanlah sahahat-sahabat lawas, akan tetapi selama kita berada di rumahnya Beng Sin Thong baru-baru ini, kita toh pernah berkenalan. Ketika itu kita sama-sama dalam kurungan, maka itu enci, hari ini aku datang sebagai tetamu yang tidak diundang. Bukankah kau tidak akan menolak aku?"

"Terima kasih!"

Kata Kim Bwee, yang tetap heran dan masih bingung, hingga ia cuma mengucap sangat ringkas itu. Ia lantas mengawasi Siauw Lan dan ibunya.

"Tapi,"

Seng Lam segera menambahkan.

"aku datang bukan melulu untuk menghaturkan selamat..."

"Habis mau apakah kau?"

Phang Lim menyela membentak. Nyonya ini telah menjadi sangat tak sabaran.

"Kau memikir apa lagi?"

"Aku tidak memikir apa-apa, aku cuma tahu bahwa anak perempuanmu ingin bertemu denganku,"

Sahut Seng Lam. Lagi-lagi dia tertawa dingin.

"Aku toh telah mendapat dengar apa yang diucapkan puterimu itu! Coba aku tidak ingat perkenalan di antara anakmu denganku, tidak nanti aku memikir buat datang kemari!"

Ia kembali menoleh pada Kim Bwee, untuk meneruskan bertanya.

"Enci Kim Bwee, bukankah kau hendak menanya aku halnya seorang orang?"

Kim Bwee tertarik hati hingga mau tak mau, ia bicara juga.

"Aku dengar ketika beberapa tahun dulu kau berlayar, kau berlayar bersama-sama dia bukan?"

Demikian tanyanya. Dengan "dia"

Ia maksudkan Sie Ie.

"Sekarang kau sudah kembali dari pelayaranmu itu. Sebenarnya kau pulang sendiri atau berdua dengan dia?"

Seng Lam tertawa geli.

"Apa?"

Dia mengulangi bertanya.

"Dia? Dia? Kau telah menjadi pengantin, apakah kau masih tak enak hatimu? Apakah tak dapat kau bicara? Baiklah, nanti aku wakilkan kau! Bukankah kau hendak menanyakan hal ikhwalnya Kim Sie Ie?"

Mendengar itu, semua hadirin menjadi pucat mukanya! Seng Lam sebaliknya tertawa riang.

"Hatimu benar-benar baik,"

Katanya. Sekarang suaranya dingin sekali.

"Kau masih memikirkan dia! Sayang dia sendiri, sudah tidak memikirkan kau lagi! Kau tak lagi ditaruh di dalam hatinya! Justeru karena itu, maka aku hendak memberi selamat padamu! Sama sekali bukan aku hendak mengumpakumpak suamimu! Dengan menikah dengan suamimu ini, kau akan mendapatkan lebih banyak daripada kau menikah dengan Kim Sie Ie yang tak berbudi itu!"

"Perempuan siluman!"

Phang Lim membentak.

"Kau mengeluarkan angin busuk, apakah itu tak habisnya? Lekas kau pergi!"

"Eh, apakah aku omong salah?"

Seng Lam tegasi, tertawa mengejek.

"Apakah kau si ibu mertua masih menganggap Kim Sie Ie masih terlebih baik daripada baba mantumu yang sekarang ini?"

Mendongkolnya Phang Lim bukan kepalang. Hebat dia dikocok si nona.

"Ibu..."

Berkata Ciong Tian perlahan, membujuk mertuanya itu.

"adik Kim Bwee ingin mendengar warta halnya Kim Sie Ie, kau biarkan ini Nona Le memberitahukannya. Perihal ocehannya orang-orang jail tidak aku hiraukan!"

Seng Lam dengar suaranya Ciong Tian itu, dia tertawa.

"Nyatalah penglihatanku tidak salah barang sedikit!"

Kata dia gembira.

"Dasar ini engko pengantin yang cerdas dan luas pandangannya! Enci Kim Bwee, mari dengar, mau aku omong terus terang padamu! Sekarang ini Kim Sie Ie masih hidup, hanya apa yang sekarang berada di dalam hatinya cuma satu nona Kok Cie Hoa! Karenanya dia sudah melupakan kau!"

Mendengar itu, Lie Kim Bwee menjadi sangat girang.

"Bagus! Bagus!"

Katanya seperti pada dirinya sendiri, suaranya tak tedas.

"Hanya, apakah enci Cie Hoa ketahui ini atau tidak?"

"Kau kata bagus?"

Seng Lam tanya.

"Kau benar! Sie Ie juga mengatakannya bagus! Cuma sayang, sayang sekali!... Dikuatirkan sangat perjodohan mereka yang sempurna dan manis mungkin di luar harapan lagi..."

Kim Bwee heran, dia terkejut.

"Kenapakah?"

Dia tanya cepat, hatinya bergelisah. Seng Lam berlaku ayal-ayalan ketika ia memberikan jawabannya.

"Kok Cie Hoa sekarang ini,"

Demikian sahutnya.

"dia lebih baik mati daripada terus tinggal hidup... Dia tidak dapat menjadi isterinya Kim Sie Ie, dia juga tidak dapat datang menjenguk kau!"

Kim Bwee menjadi sangat kaget, akan tetapi sebelum ia menanya tegas, ia sudah didului Pek Eng Kiat dan Tong Keng Thian yang dua-duanya telah menjadi habis sabar.

"Adik Kim, sudah!"

Teriak Eng Kiat itu.

"Jangan tanya lagi padanya! Celakanya Kok Cie Hoa disebabkan dialah yang mencelakainya!"

Dia lantas berpaling kepada Seng Lam, untuk mendamprat.

"Siluman perempuan yang harus dieingcang! Sudah kau membikin celaka ketua kami, sekarang kau berani datang kemari mengacau."

Keng Thian pun mendamprat, hingga dia diturut beberapa orang Thiansan Pay lainnya. Seng Lam tidak menghiraukan mereka itu semua. Dia hanya berpaling kepada Tong Siauw Lan.

"Tong Ciangbunjin, apa katamu?"

Dia tanya.

"Apakah katakatamu sudah tidak berarti lagi?"

Paras Tong Siauw Lan menjadi suram. Ia mengulapkan tangan.

"Semua sabar!"

Katanya. Kemudian ia memandang Seng Lam, untuk berkata.

"Nona Le, hari ini kau menjadi tetamuku, tak mau aku membikin susah padamu! Tapi ketua Binsan Pay itu menjadi keponakanku, urusan dianya tak dapat aku tidak mengambil tahu! Kabarnya kau berniat menguji pihak Thiansan Pay kami, baiklah, suka aku melayani kau! Bagaimana kalau selewatnya hari ini lantas menjadi hari perjanjian di antara kita?"

Mendengar kata-kata itu, para hadirin berbareng heran.

Heran sebab Siauw Lan ketua Thiansan Pay merangkap tertua Rimba Persilatan bersedia melayani segala bocah, apapula Seng Lam seorang bocah wanita.

Girang sebab mereka percaya satu kali Tong Siauw Lan turun tangan, pasti tak dapat Seng Lam lolos meski dia kabur ke ujung langit.

Dengan begitu juga jadi sakit hati Cie Hoa akan terbalaskan.

Seluruh ruang menjadi sunyi senyap.

Semua orang menanti jawaban Nona Le.

Semua orang ingin ketahui, apa jawaban itu.

Seng Lam tidak takut, dia bahkan tertawa girang.

"Terima kasih Tong Ciangbun!"

Katanya gembira.

"Terima kasih yang Ciangbun sudah menghargai aku! Tapi tunggulah sebentar! Aku mempunyai bingkisan, yang aku hendak haturkan!"

Benar-benar ia mengeluarkan bingkisannya, melihat mana, semua orang menjadi heran sekali!

Orang tahu bagaimana Seng Lam telah menggunakan kepalanya Beng Sin Thong sebagai bingkisan hingga Kok Cie Hoa keracunan, karena itu, sekarang ini, siang-siang orang telah mencurigainya Semua orang menerka-nerka, apa bingkisan itu.

Untuk bersiap sedia, Phang Lim menggeser tubuh ke depan puterinya, sedang Tong Keng Thian dan Pengcoan Thianlie berdiri di depan Ciong Tian.

Seng Lam mengawasi lagak orang, dia tertawa.

Dia berkata.

"Bingkisanku ini bingkisan tidak berarti, walaupun demikian harganya mahal seperti harganya sebuah kota! Inilah barang yang Tong Ciangbun memintanyapun tak dapat!"

Nona Le sudah lantas mengeluarkan bingkisannya itu ialah sebuah peles kecil terbuat dari batu kemala, tingginya lima dim, di dalamnya terlihat tiga butir pil yang warnanya merah dadu.

"Inilah obat pemunah racun Ngotok San!"

Berkata Seng Lam pula selagi semua orang berdiam mengawasi saja. la mengulapkan obatnya itu. Ia tertawa. Segera ia menyambungi.

"Siapa makan habis tiga butir obat ini dia bakal sembuh seluruhnya! Tong Ciangbun, jikalau obat ini kau hadiahkan kepada Kok Cie Hoa, pihak Binsan Pay pasti akan menerima budimu yang besar dan bakal menjadi sangat bersyukur terhadapmu!"

Kembali semua orang menjadi heran.

Buat mendapatkan obat itu, orang telah mencari dan menyusul nona ini kemanamana, siapa sangka sekarang dengan sukanya sendiri hendak dia menyerahkannya pada Tong Siauw Lan.

Ketua Thiansan Pay menjadi heran juga hingga ia melengak.

"Siapa berhati baik, Thian akan memberkahinya,"

Kata ketua ini kemudian setelah ia mendusin.

"maka itu Nona Le, lebih dulu hendak aku menghaturkan terima kasihku untuk kebaikan kau ini! Dengan begini maka selanjutnya permusuhan di antara kau dan Binsan Pay dapat disudahi, hingga akupun tak usah membuat perhitungan lagi denganmu!"

Seng Lam menyambut kata-kata tuan rumah dengan tertawanya yang manis. Setelah itu ia kata.

"Sebenarnya aku bersungguh-sungguh hati hendak menghaturkan obat ini kepada kamu, maka sayang sekali, kamu sebaliknya sudah tidak melayani aku sebagaimana selayaknya seorang tetamu, buktinya, begitu aku muncul, lantas kamu mencaci aku sebagai siluman perempuan tak hentinya! Maka itu sekarang, jikalau kamu hendak mendapatkan obat ini, kamu lebih dahulu harus menukarnya dengan serupa barang lain..."

"Barang apa yang kau kehendaki?"

Tanya Siauw Lan habis berpikir sebentar.

"Mudah saja!"

Seng Lam menjawab tawar sekali.

"Ialah kau mengangguk hingga membentur tanah sampai tiga kali! Kemudian, mulai hari ini kemana saja aku pergi, maka orang atau orang-orang Thiansan Pay mesti siang-siang menyingkir dulu jauhnya tiga puluh lie!..."

Mendengar itu, semua orang menjadi sangat murka. Siauw Lan sendiri, mau atau tidak, menjadi sangat mendongkol.

"Hm!"

Ia mengasih dengar suara dari kemurkaannya, matanya dipentang, alisnya bangun berdiri.

"Nona Le, kau terlalu menghina."

Seng Lam tertawa.

"Tidak apa jikalau kau tidak mau mengangguk kepadaku!"

Katanya, tetap tawar.

"Jikalau kau memangnya menghendaki obat ini, kau boleh mengambilnya dengan kau keluarkan semua kepandaianmu!"

"Oh, begitu?"

Kata Siauw Lan.

"Jadinya sekarang kau datang untuk menguji aku?"

"Tidak salah!"

Sahut si nona.

"Jikalau kau dapat mengalahkan aku, akan aku persembahkan obat ini, sebaliknya, jikalau aku yang beruntung memperoleh kemenangan, maka kau mesti serahkan nama besarmu sebagai orang gagah nomor satu di kolong langit ini padaku! Inilah namanya menukar guling! Adil bukan? Sudah terang bukan, kau tak usah kuatir bahwa kau nanti tak dapat mengalahkan aku? Ini pula sebabnya mengapa aku pilih ini hari baik, supaya kau mempertunjuki kepandaianmu di hadapannya sekalian orang gagah dari kolong langit ini! Dengan kau berhasil mendapatkan obatku ini bukankah kegirangan kamu menjadi dua kali lipat?"

"Nona Le, tak sanggup aku mengadu lidah denganmu!"

Tong Siauw Lan memotong.

"Baik kita jangan bicara lebih jauh! Silahkan kau tunjuki cara dan syaratmu!"

"Inilah ruang upacara pesta!"

Kata Seng Lam.

"sayang tempat indah ini mesti dijadikan medan pertempuran, maka jikalau Tong Ciangbun setuju, mari kita pergi ke depan sana, di atas puncak gunung yang penuh es itu. Disana aku nanti minta pengajaran kepandaianmu, satu macam demi satu macam!"

"Baik, terserah kepada kau!"

Siauw Lan memberikan jawabannya.

Meski ia sangat gusar, jago tua ini tak melupai tata sopan santun.

Begitulah setelah melarang semua murid membikin berisik, ia lantas berjalan di muka, buat pergi ke puncak es yang ditunjuk si nona.

Di luar dugaan, sebuah pesta yang riang gembira sekarang berubah menjadi saat pertempuran, yang mestinya dahsyat sekali.

Semua tetamu, tanpa diundang lagi, sudah lantas turut tuan rumah dan si nona tetamu bertindak keluar bahkan sepasang pengantinnya, turut keluar juga.

Kang Lam tak melupai tabiatnya.

"Inilah upacara nikah yang semenjak dahulu tidak ada keduanya!"

Katanya sambil tertawa. Dia menyebut dahulu seperti juga dialah seorang kakek-kakek.

"Kau masih bergurau!"

Tegur Ciang Hee, si isteri.

"Lihatlah kepalamu itu!"

"Ya, masih terasa sedikit nyeri!"

Sahut suami itu.

"Hanya menghadapi pertempuran ini, yang selama seratus tahun sukar dicari timpalannya, rasa nyeriku ini menjadi tak sakit lagi! Hahaha! Kau lihat itu sepasang mempelai! Mereka berlarilari dengan pakaian pengantin mereka! Bukankah itu lucu? Mereka menjadi tidak keruan macam! Lihatlah nanti, setelah mereka memperoleh anak, hendak aku menggodai mereka!"

Ciang Hee menjadi mendongkol berbareng gembira.

Kewalahan dia terhadap suami yang jenaka ini.

Mau atau tidak, dia turut tertawa juga.

Mendengar kata-kata isterinya itu, Kang Lam bertepuktepuk tangan, dia lompat berjingkrakan.

"Benar!"

Serunya tertawa.

"Benarkah? Haha! Kau sudah mulai mengandung? Haha!"

Ciang Hee jengah.

"Kau gila!"

Katanya seraya mencubit, tapi suaranya perlahan.

"Kenapa kau bikin banyak berisik? Apakah kau ingin membikin dunia tahu? Sudah tiga bulan, kau tahu? Semuanya karena kau! Kau puas, bukan? Kaulah si biang bencana!"

"Kau yang mengandung, kenapa kau salahkan aku?"

Tanya suami itu. Baru sekarang dia bicara perlahan sekali.

"Aku jadi biang bencana apa?"

Muka isteri itu menjadi merah.

"Memang kaulah si biang gara-gara!"

Kata dia likat.

Kang Lam berdiam.

Bersama isterinya itu, ia berjalan terus.

Syukur orang lagi memikir satu hal -pertempuran-jikalau tidak, mereka pasti menerbitkan tertawa banyak orang.

Semua orang mengikuti Siauw Lan naik ke puncak es.

Tiba disana, disana sudah menanti delapan anak perempuan dengan pakaian serba putih.

Melihat Seng Lam, mereka itu menyambut dengan hormat seraya menyapa.

"Nona!"

Rupanya merekalah hamba-hambanya Nona Le itu.

Menampak demikian, semua orang heran, sebab tidak sembarang orang dapat mendaki puncak gunung Thiansan.

Heran Seng Lam, di dalam tempo dua tahun itu, dia telah berhasil mendapatkan dan mendidik pelayan-pelayannya itu!

Seng Lam tertawa.

"Hari ini aku menyambut tantangan Tong Ciangbun untuk bertempur satu lawan satu!"

Kata dia pada delapan orangnya itu.

"Kamu semua berdiri di pinggiran menonton saja, tak usah kamu turut turun tangan!"

Setelah itu dia berpaling pada Siauw Lan untuk menambahkan.

"Tong Ciangbun, apakah kau mempunyai sesuatu untuk dikatakan kepada anakmu?"

Perkataan nona ini dapat diartikan.

"Kau bakal bertempur denganku, kau harus bersiap sedia buat sesuatu yang di luardugaan, maka itu baiklah kau meninggalkan pesan terakhir kepada anakmu!"

Tong Siauw Lan mengerti itu, ia mendongkol bukan main.

"Kalau begitu, Nona Le,"

Kata dia bengis.

"jadinya di dalam pertempuran ini kau rupanya berniat mengadu jiwa dengan aku si orang tua?"

"Bukan begitu Tong Ciangbun, itulah aku tidak berani,"

Sahut Seng Lam merendah.

"akan tetapi kita harus ingat juga kepalan atau senjata tajam tidak ada matanya, dari itu lebih baik kita menjelaskannya terlebih dahulu! Aku sendiri seorang kecil yang tidak ternama, jikalau aku terbinasa di tangan Tong Ciangbun, aku akan mati tanpa penyesalan atau penasaran!"

"Baik!"

Kata Siauw Lan, yang menahan sabar sebisanya.

"Aku telah berusia enam puluh lebih, jikalau dapat tulangtulangku dikubur di gunung Thiansan ini, aku juga tidak penasaran! Nona Le, kau bersemangat baik sekali, maka beberapa potong tulang-tulangku, suka aku serahkan kepada kau!"

Siauw Lan dapat mengandalkan diri, tidak demikian dengan banyak tetamunya.

Sikap Seng Lam membangkitkan amarah mereka.

Maka juga lantas ada dua orang yang lompat ke depan mereka.

Dari dua orang tetamu itu, seorang telah lanjut usianya, alis dan rambutnya sudah ubanan, sedang yang lainnya seorang imam usia pertengahan yang tangannya mencekal sebatang pedang panjang.

Mereka bukan lain daripada Ouw Thian Long, tertua dari Khongtong Pay, serta Ceng Siong Toojin, muridnya Kim Kong Taysu dari Ngobie Pay.

Ceng Siong dalam murkanya berseru.

"Untuk menyembelih ayam buat apa memakai golok peranti memotong kerbau? Tong Tayhiap, silahkan kau mengalah untuk aku yang mewakilkanmu!"

Ouw Thian Long sebaliknya kata ragu-ragu.

"Tong Tayhiap, kau telah kena ditipu! Siluman cilik ini main gila, kau melayani dia, kamu bertempur satu lawan satu, taruh kata tayhiap yang menang, kaupun mengangkat martabatnya! Aku si tua paling benci anak muda tak tahu diri, maka itu biarlah aku yang mengajar adat padanya!"

Seng Lam menjadi tidak senang.

"Eh, tua bangka telur campuran!"

Dia kata tertawa dingin.

"usiamu sudah begini lanjut, mengapa kau masih tidak tahu langit tinggi dan bumi tebal! Bagaimana dengan lukamu bekas dihajar Beng Sin Thong baru-baru ini, sudah sembuh atau belum? Cara bagaimana sekarang kau berani menerbitkan yang tidak-tidak? Aku juga paling benci pada si tua bangka yang gila dengan ketua bangkaannya! Baiklah, karena kata katamu yang terkebur ini, hendak aku memberi pengajaran kepadamu supaya semua orang gagah di kolong langit tertawa karenanya!"

Ouw Thian Long memang orang tua berkenamaan dalam dunia Rimba Persilatan, ketika dulu hari ia dihajar Beng Sin Thong, ia anggap suatu kehinaan besar untuk dirinya, sekarang ia diperhina seorang anak perempuan seperti Seng Lam ini, inilah lebih hebat seratus lipat daripada penghinaannya Beng Sin Thong.

Maka itu tanpa berkata-kata lagi ia lompat maju, untuk segera menyerang.

"Tunggu dulu!"

Seng Lam berseru sambil ia berkelit, untuk terus menepuk dengan perlahan kepada Ceng Siong Toojin sambil ia berkata.

"Masih ada kau, imam bau! Akupun tak sedap melihat kepadamu! Aku tidak sempat melayani kamu satu demi satu, maka kau majulah bersama si tua bangka bangkotan itu!"

Ceng Siong Toojin telah berhasil mewariskan kepandaian gurunya, dia sudah termasuk dalam golongan kelas satu, akan tetapi waktu ditepuk si nona itu, dia tak berhasil berkelit, bukan main kaget dan mendongkolnya.

Kalau ditepuk saja secara perlahan masih kena, bagaimana kalau dia ditikam dengan pedang?

Tong Siauw Lan menyaksikan semua itu, tak sempat ia mencegah.

Maka ia membanting kaki dan mengeluh di dalam hatinya.

Seng Lam sudah menghadapi pula Ouw Thian Long.

"Telur tua bangka!"

Kata dia, tertawa bergurau.

"kau mau bertingkah dengan ketua bangkaanmu? Baiklah, lebih dahulu, akan aku mencabut kumismu!"

Ouw Thian Long tidak melayani bicara, dengan menggeraki kedua tangannya, ia menutup diri dengan ilmu "Kimhoan Ciang", tangan "Gelang Emas".

Itulah satu ilmu pusaka Khongtong Pay.

Biasanya ilmu itu tak dapat diserang masuk apapula sekarang yang menggunai-nya jago dengan latihan beberapa puluh tahun.

Akan tetapi Seng Lam tidak menghiraukan orang jago tua dan liehay, dia merangsak maju begitu dia berkata itu, sebelah tangannya diluncurkan!

Thian Long melihat orang benar-benar mau menyambar kumisnya, ia merangkap kedua tangannya, guna menjepit tangan si nona.

Sayang ia gagal.

Jepitannya tidak mendatangkan hasil.

Tak ampun lagi, kumisnya kena dicabut seraup banyaknya, hingga bekas cabutan itu mengeluarkan darah, sedang rasa nyerinya membuatnya ber-jengit!

Menyusuli itu, terdengar tertawa nyaring Nona Le.

Habis mencabut kumis orang, tubuhnya nona ini berputar pesat.

Tahu-tahu pedangnya Ceng Siong Toojin telah pindah ke tangannya, terus dengan suara membeletek pedang itu ditekuk patah menjadi dua potong!

"Telur busuk tua!

Imam busuk!"

Kata nona itu kemudian. Dia tertawa bergelak.

"Apakah kamu masih hendak memberi pengajaran kepadaku!"

Semua hadirin menjadi kaget dan berdiam.

Hebat kejadian itu.

Siauw Lan pun kaget tanpa terkecuali.

Ia sudah merasa bahwa Seng Lam liehay luar biasa, bahwa Ouw Thian Long dan Ceng Siong Toojin tak nanti sanggup melawan dia, hanya ia tidak menyangka sekali-kali, kedua mereka itu dapat dipecundangi secara dengan cepat dan mudah!

Mereka hampir tak bergebrak lagi...

Ketika Ouw Thian Long menempur Beng Sin Thong, ia dapat bertahan sampai beberapa puluh jurus, sedang sekarang ia dibantu Ceng Siong Toojin, satu tenaga tak lemah, menurut pantas, ia mesti bisa melawan dalam lebih banyak jurus lagi, tak tahunya, ia bahkan roboh secara lebih menyedihkan...

Dalam hal ini bukannya Le Seng Lam jauh terlebih liehay daripada Beng Sin Thong.

Soalnya terletak pada kecerdasan si nona.

Setelah dia memahamkan kitab warisannya Kiauw Pak Beng, lantas dia mengerti bagian dalam dari ilmu silat pelbagai partai.

Pak Beng sudah mencatat jelas segala apa.

kebaikannya dan juga cacad atau kekurangannya ilmu pelbagai partai itu.

Lantas si nona mengandalkan kegesitan tubuhnya.

Ia melihat Thian Long tua dan pasti kurang sebat, ia menyerang lawan di bagian yang lemah itu.

Benar-benar ia berhasil.

Merampas pedang Ceng Siong, ia menggunai kesehatan dan kecerdasannya.

Ia melakukannya selagi ia mengganggu orang dengan keli-cinannya, hingga si imam menjadi rada alpa.

Menyaksikan kepandaian nona itu, Siauw Lan mengerti Seng Lam tak ada di bawahan Beng Sin Thong.

"Nona Le, kau liehay sekali!"

Ia memuji.

"Maka itu baiklah aku sendiri yang menemani kau main-main! Semua sahabatku, aku berterima kasih kepada kamu, aku minta, sukalah kamu bersabar!"

Permintaan tuan rumah ini diterima baik.

Sekarang ini para tetamu tidak bernapsu lagi seperti tadi berniat menghajar Seng Lam.

Contoh Thian Long dan Ceng Siong membuat mereka meraba iganya masing-masing.

Ceng Siong mundur dengan terpaksa, sedang Ouw Thian Long, yang roboh saking pepat pikirannya, lantas digotong oleh beberapa murid Khongtong Pay yang mengiringinya.

Dalam sekejab gelanggang dan sekitarnya menjadi sunyi sekali.

Sekarang perhatian semua orang diarahkan ke tengah gelanggang, guna menyaksikan pertempuran di antara Siauw Lan dan Seng Lam.

Semua orang ingin sekali melihat bagaimana jago Thiansan itu merobohkan si nona.

"Nona, kaulah tetamu,"

Kata Siauw Lan.

"maka itu bagaimana caranya kita harus bertindak silahkan kau saja yang menyebutkannya!"

Seng Lam mengangguk.

"Ketika dulu hari Tong Ciangbun melawan Beng Sin Thong telah ditetapkan tiga babak sebagai batas menang atau kalah,"

Kata dia sabar.

"maka itu aku pikir baiklah kita membataskan tiga babak juga, untuk kita menentukan keputusan mati atau hidup!"

Hebat kata-kata "mati atau hidup"

Itu.

Juga sikap si nona dan suaranya, tak kalah hebatnya dengan suara dan sikap Sin Thong.

Tiga babaknya Sin Thong tak semuanya merupakan pertandingan ilmu silat, entah tiga babaknya nona ini.

Pastilah itu cara yang aneh, atau luar biasa.

Maka itu, sebelum orang mengutarakannya, Siauw Lan ragu-ragu.

Tak usah disangsikan kekuatiran dan bingungnya para hadirin lainnya...

Siauw Lan tidak takut tetapi ia toh berpikir keras.

Ia menduga orang tentu berniat merobohkan, atau sedikitnya, dengan tipu daya atau akal muslihat yang licik.

Seng Lam membiarkan semua mata diarahkan kepadanya.

"Aku bukan hendak meniru Beng Sin Thong,"

Berkata dia, sabar sekali.

"dengan tiga babak itu, aku hendak menguji kepandaian yang paling istimewa dari Tong Ciangbun, supaya Ciangbun menjadi puas! Pertama-tama aku hendak mengadu pedang! Habis itu, yang kedua, kita mengadu tenaga dalam! Dan yang ketiga, yang terakhir, ingin aku melihat senjata rahasia Thiansan yaitu Thiansan Sinbong yang sangat kesohor! Ingin aku menyaksikan sendiri bagaimana liehaynya itu!"

Semua orang terperanjat berbareng gembira mendengar tiga cara bertanding yang disebutkan Seng Lam itu.

Tiga macam ilmu yang ditantang itu justeru semuanya ilmu Thiansan Pay yang menindih kepandaiannya sekalian partai lainnya.

Ilmu pedang Thiansan Pay adalah ciptaan hasil gabungan sarinya ilmu pedang banyak partai lainnya, selama beberapa ratus tahun, itulah ilmu pedang yang dianggap sebagai ilmu pedang yang nomor satu, sedang Tong Siauw Lan sangat terkenal buat tenaga dalamnya yang mahir, sebagaimana tenaga dalam itu tak tergempur hawa dingin Siulo Imsat Kang dari Beng Sin Thong.

Sekarang jago Thiansan itu justeru ditantang seorang nona usia baru dua puluh lebih sedikit, taruh kata ilmu silat si nona mahir, tak nanti dia dapat melebihkan kemahiran tenaga dalam Beng Sin Thong, maka itu, dapatkah dia bertahan?

Bagaimana berani dia menantang jago Thiansan?

"Perempuan siluman ini mencari matinya sendiri..."

Demikian orang banyak mengambil kesimpulan.

Taruh kata dia dapat melawan Yuliong Kiam, pedang Thiansan itu, tak nanti dia dapat bertahan dari tenaga dalam Siauw Lan, apapula dari Thiansan Sinbong.

Kemudian ada orang yang bertanya, dapat dilarang atau tidak kalau si nona menggunai senjata rahasia yang beracun.

Atas itu, Pun Khong dari Siauwlim Sie mengatakan.

"Menurut pandangan loolap, kalau si nona menggunai senjata beracun atau lainnya senjata rahasia, nona itu belum melewatkan batas pertandingan, baru setelah dia menggunai racun istimewa, dia dapat dicegah. Tapi, entahlah bagaimana anggapan Nona Le sendiri!"

Perkataannya pendeta Siauwlim ini sederhana sekali, tetapi di balik itu, dia mengandung arti dalam.

Terdengarnya seperti si pendeta bicara menguntungi Seng Lam, yang dibenarkan menggunai senjata rahasia, di lain pihak, itulah bantuan diamdiam untuk Siauw Lan.

Siauw Lan jadi disadarkan terhadap kelicikan Seng Lam.

Mendengar kata-kata si pendeta, Nona Le tertawa dingin.

"Pun Khong Taysu, kau memandang aku terlalu enteng!"

Tegurnya. Pun Khong merangkap kedua tangannya.

"Kalau begitu, nona tidak memikir menggunai racun?"

Dia tanya.

"Kalau benar begitu, loolap sudah bicara tak selayaknya, loolap jadi sudah berlaku hina menuduh sembarangan! Maaf, nona, maaf!"

Seng Lam tertawa dingin. Dia kata.

"Di hadapan orangorang gagah dari seluruh kolong langit ini, kau boleh lihat, apabila aku menggunai obat beracun, kamu boleh menghukum mati sesukanya kepadaku! Bahkan dapat aku jelaskan, senjataku, juga senjata rahasiaku, sedikitpun tak akan dipakaikan racun"

Hati semua orang menjadi lega. Mereka mau percaya nona itu. Siauw Lan heran hingga ia kata di dalam hatinya.

"Besar sekali mulutnya perempuan ini! Tanpa menggunai racun, habis apakah yang dia andalkan buat melawan aku? Mungkinkah dalam dua tahun ini dia telah berhasil mempelajari ilmu silat yang luar biasa sekali?"

Le Seng Lam sudah lantas menghunus pedangnya. Ia berdiri di sebelah bawah.

"Tong Ciangbun, silahkan kau mulai memberikan pengajaranmu!"

Ia mengundang, sebenarnya ia menantang.

Begitu pedang si nona dihunus, orang banyak menjadi terperanjat.

Pedangnya itu istimewa sekali, sudah tipis nampaknya, sinarnya pun hijau muda berkilauan.

Jadi itulah pedang mustika, yang mestinya tak kalah daripada pedang Yuliong Kiam.

Tong Keng Thian kuatir, ayahnya nanti berlaku kurang waspada, lekas-lekas ia menghampirkan buat menyerahkan pedang Yuliong Kiam.

Kata ia.

"Ayah, pakailah pedang ini!"

"Baiklah!"

Sahut si ayah yang menyambuti pedang pusaka itu. Kemudian dengan menyeringai ia kata.

"Tidak kusangka di dalam dua tahun ini aku telah mesti menggunai pedang ini sampai dua kali! --Nona Le, kau datang dari tempat jauh, kaulah tetamuku, silahkan kau yang mulai!"

Kalau tadinya Seng Lam membawa sikap jumawa, tiba saatnya bertanding, dia tak melupai membawa diri sebagai orang yang terlebih muda tingkat derajatnya, la berlaku hormat, habis menjura baru ia menyerang, pedangnya bersinar berkilauan.

Tong Siauw Lan memasang mata.

Ia melihat serangan tidak luar biasa, tetapi ialah jago tua, ia dapat menebak si nona rupanya ingin memapas kutung pedangnya.

Ia tahu bagaimana harus mengambil sikap.

Ia tidak menyingkirkan pedangnya, sebaliknya, ia lantas merapatkan, untuk menempel.

Dan ia berhasil dalam gebrakan yang pertama itu!

Memang juga Cay-in Kiam menang seurat daripada Yuliong Kiam, apabila kedua senjata bentrok secara wajar, mestinya Yuliong Kiam kena terbabat kutung.

Tapi keadaan sekarang tidak demikian.

Kedua pedang menempel hingga sukar buat dipisahkan.

Dengan begitu gagallah Nona Le.

Itulah bukti dari kalahnya ia dari tenaga dalam, sia-sia ia mencoba guna meloloskan diri...

Siauw Lan sudah lantas mengerahkan lebih jauh tenaga dalamnya.

Kali ini dia berniat menggempur membikin pedang si nona lepas dari cekalannya.

Justeru itu mendadak tubuh si nona bergerak, tubuh itu mendak dan pedangnya ditolakkan ke depan secara mendadak juga.

Itulah tipu untuk meminjam tenaga lawan.

Nyata dia liehay, dia berhasil dengan percobaannya itu.

Maka ia lantas berlompat minggir, tubuhnya terhuyung berputar dua kali.

"Nona, kau berdirilah biar tegak!"kata Siauw Lan.

"Sekarang aku hendak melakukan penyerangan membalas!"

Siauw Lan telah menguji tenaga dalam si nona, ia mendapat kenyataan ia menang unggul, tetapi di sebelah itu, nona itu cerdik sekali, dia dapat membebaskan pedangnya dari tempelan.

Terang si nona berimbang tangguhnya dengan Beng Sin Thong.

Untuk memegang derajatnya, ketua Thiansan Pay itu tidak mau mendesak selagi tubuh si nona terhuyung, maka juga ia telah mengucapkan kata-katanya itu.

"Jangan sungkan!"kata Seng Lam tertawa tawar.

"Aku tak dapat menerima kebaikan budimu!"

Tak puas Siauw Lan mendengar itu, tetapi ia tidak menunjuki kegusaran. Ia mulai dengan penyerangannya dengan satu jurus dari ilmu pedang "Gunung Sumeru Besar"

Yang dinamakan "Angin dan hujan di delapan penjuru".

Jurus itu dapat mengurung lawan sampai lawan sukar meloloskan diri.

Seng Lam liehay.

Ia lantas bertindak dengan tindakan "Thianlo Pouhoat".

Ia jadi bergerak gesit dan lincah sekali.

Bagaikan seekor ikan, ia meloloskan diri secara licin.

Dengan begitu juga, ia lantas dapat melakukan penyerangan membalas dan ujung pedangnya mencari sembilan jalan darah lawannya...

"Bagus!"

Siauw Lan memuji sambil tertawa.

"Ilmu pedang ini dapat dibilang sebagai suatu ilmu yang berdiri sendiri!"

Ia terus bersilat untuk meruntuhkan setiap tikaman si nona. Diam-diam Seng Lam menyedot napasnya. Benar hebat jago tua ini. Kata ia di dalam hati.

"Kiauw Couwsu memahamkan ilmu pedang istimewa guna mengalahkan ilmu pedang Thiansan Pay, tapi sekarang aku lihat, jangan kata aku, walaupun Couwsu sendiri menitis pula, sulit untuknya dapat merebut kemenangan!..."

Meski ia tidak bisa memecahkan lawan, Seng Lam dapat bertahan.

Ia terus menggunai ilmu silat Kiauw Pak Beng.

Maka itu pedang bergerak terus dengan cepat dan sinarnya berkilau terus menerus, menyilaukan tetapi bagus dipandang!

Para penonton menjadi kagum.

"Pantas Tong Tayhiap muncul sendiri, ilmu pedang si nona memang liehay sekali,"

Demikian banyak orang berpikir.

Walaupun pertempuran berjalan seru itu, orang umumnya tak menguatirkan Siauw Lan, orang hanya ingin melihat sampai di mana kegagahan Nona Le.

Terhadap Siauw Lan orang justeru kagum sekali.

Orang percaya Seng Lam tak bakal bertahan terlalu lama...

Hebat pertempuran itu.

Seng Lam kalah tenaga dalam tapi dia cerdik dan tubuhnya sangat ringan, dia terus dapat bertahan.

Maka ber-tempurlah mereka hampir seratus jurus.

Segera datang pula saatnya Siauw Lan merapat pula.

Ia bersilat dengan jurus "Gelombang dari Liongbun", dia nampak sukar bergerak.

"Tong Tayhiap menang!"

Seng Lam terdesak, sampai beberapa anak muda berseru kegirangan.

Tengah orang bergembira itu, tiba-tiba terlihat tubuh Seng Lam berputar membelakangi Siauw Lan hingga dia seperti menyerahkan punggungnya untuk ditikam.

Orang heran hingga rata-rata mereka menjadi melengak.

Siauw Lan juga turut menjadi heran.

Ia mengenal ilmu silat banyak partai, tapi belum pernah mendapatkan ilmu semacam yang dimiliki Seng Lam ini.

Tapi ia sedang bergerak, tak dapat ia menahan pedangnya, lantas pedangnya itu meluncur terus ke punggung lawannya dan mengenakan dengan jitu!

Disinilah terjadi hal di luar sangkaan.

Pedang Yuliong Kiam, pedang mustika dan yang menggunakan Tong Siauw Lan, dapat dimengerti bahayanya tikaman itu, mestinya punggung si nona tertusuk bolong atau punggungnya tertusuk terpanggang, akan tetapi kenyataannya tidaklah demikian!

Tepat ujung Yuliong Kiam bekerja, tepat Seng Lam tertawa nyaring, tepat juga tubuhnya berbalik dan pedang Cay-in Kiam meluncur ke tenggorokan ketua Thiansan Pay!

Orang heran si nona tak mempan pedang mustika, orang tak tahu bahwa dia telah memakai tameng, satu di antara tiga warisannya Kiauw Pak Beng.

Itulah tameng Joan-giok-kah, yang Pak Beng catat dalam kitab warisannya, yang ia wariskan pada muridnya sebab dikuatirkan murid itu nanti tak sanggup melawan muridnya Thio Tan Hong.

Menurut Kiauw Pak Beng, sang murid mesti lebih dulu menggunai Cay-in Kiam menabas putus senjata lawan, baru lawan dirobohkan.

Atau kalau pedang tak dapat dipakai dengan berhasil, barulah tipunya itu mesti digunakan.

Sekarang Seng Lam telah menggunai tipu itu secara berhasil, Siauw Lan kena dibikin menjadi heran karenanya, bahkan jago Thiansan itu menjadi terancam bahaya.

Atau kalau tidak, busur kemala yang harus digunai.

Beng Sin Thong mengerti segala tipu daya tetapi ia tidak dapat menggunakan itu, sebabnya ialah ketiga-tiganya benda mustika warisan Kiauw Pak Beng sudah terjatuh ke dalam tangan Seng Lam.

Maka sekarang si nonalah yang menggunainya.

Para hadirin menjadi kaget sekali, semua berdiam, mata mereka melongo, hati mereka goncang.

Tepat di saat mengancam itu, terdengar seruan Siauw Lan.

"Pedang yang telengas!"

Sebelum lain-lain orang melihatnya, Pun Khong Taysu sudah menyaksikan Siauw Lan lolos dari bahaya maut, menyusul mana, jago Thiansan itu terus membalas menyerang, untuk lantas mengurung pula!

Siauw Lan mengulangi jurusnya "Pathong Hong-ie", atau "Angin dan hujan di delapan penjuru".

Seng Lam kena dibikin repot pula, tak keburu dia menggunai tindakan Thianlo Pouhoat.

Selagi Seng Lam terkurung itu, mendadak Siauw Lan menghentikan penyerangannya, sembari tertawa ia kata.

'Terima kasih yang kau suka mengalah!

Baiklah pertandingan babak pertama tak usah dilanjuti lebih jauh!"

Belum lagi si nona menjawab, ia sudah menambahkan.

"Nona Le, kau menghendaki pertempuran yang memutuskan hidup atau mati, aku sebaliknya cuma ingin ada keputusan siapa menang dan siapa kalah di antara kita!"

Le Seng Lam melengak, tubuhnya mengeluarkan keringat dingin.

"Sebenarnya kau dapat mengambil jiwaku,"

Kata ia.

"Kau tidak mau melakukan itu, itulah urusanmu sendiri. Masih ada dua babak lagi, dua-duanya itu nanti harus dilakukan terus!"

Siauw Lan mengangguk.

"Kau benar!"

Sahutnya.

"Kita bicara dari hal tiga macam pertandingan, semua itu harus dilakukan menurut perjanjian. Mengenai babak pertama ini, kau tak usah menganggap telah menerima baik budiku. Jikalau kau mempunyai kepandaian, kau keluarkanlah semua, aku si orang she Tong, aku melainkan hendak membuka mataku, perkara hidup atau mati ada di luar pemikiranku!"

Menyaksikan keadaan itu, para hadirin merasa sangat tidak puas.

Mereka anggap Siauw Lan bermurah hati tidak keruan.

Meski begitu, mereka tidak memikir menggunai kekerasan, sebaliknya mereka kata di dalam hati.

"Biarlah dia dapat ampun! Masih ada dua babak lagi. Mereka bakal mengadu tenaga dalam. Kalau dia kena dikalahkan pula, mustahil dia tidak akan menyerah saja?..."

Di dekat mereka ada tanah tinggi dan lebar yang penuh es, tingginya kira-kira tiga tombak, Seng Lam menunjuk itu seraya menanya.

"Bagaimana kalau kita naik ke atas sana? Disana kita mengadu tenaga dalam, siapa tak dapat bertahan, dia tentu bakal jatuh terlebih dulu, maka dialah yang kalah!"

"Tuan rumah mengikuti tetamu saja,"

Sahut Siauw Lan.

"Nona Le, silahkan kau naik terlebih dahulu!"

Seng Lam tidak kata apa-apa lagi, lantas lompat naik, diturut oleh tuan rumahnya.

Di atas itu, yang rata dan licin, mereka lantas duduk bersila dengan berhadapan serta tangan mereka ditempel satu dengan lain.

Pula dengan lantas mereka mulai mengadu kepandaian mereka.

Dengan cepat sekali Siauw Lan merasa hawa dingin tersalurkan dari tangan lawannya, mulanya ia terkejut, lalu ia bersenyum.

Ia kata di dalam hatinya.

"Nyata dia telah memahamkan Siulo Imsat Kang dan telah mencapai tingkat ke sembilan! Pantaslah dia mau mengadu tenaga dalam di atas es, rupanya dia mengharap hawa es nanti membantu kepadanya!"

Selang sekian lama bukan es menjadi bertambah beku, sebaliknya, di tempat yang mereka duduki, es menjadi lumer.

Itulah bocahnya perlawanan dari Siauw Lan.

Di samping bertahan untuk serangan Siulo Imsat Kang, tenaganya yang lebih itu tersalurkan kepada es, dengan begitu, es menjadi lumer perlahan-lahan.

Lewat lagi sekian lama, pakaian Seng Lam mulai demak dan napasnya memburu.

Orang semua melihat itu.

Mereka kebanyakan lantas menyangka Siauw Lan bakal menang.

Tapi mereka yang liehay, melihat lain.

Wajah Siauw Lan dari tenang menjadi sungguh-sungguh.

Sedang es di sekitarnya Seng Lam mulai membeku pula.

Sebelumnya bertempur, Seng Lam sudah siap sedia.

Ia telah makan banyak bunga asura.

Bunga itu harum baunya, siapa dapat mencium itu, dia bisa menjadi pusing seperti mabuk arak, sedang yang tenaga dalamnya masih rendah dia dapat roboh tak sadarkan diri.

Seng Lam dapat makan bunga itu tanpa terancam bahaya karena dari dalam kitab Pektok Cinkeng ia memperoleh pelajaran cara makannya, bahkan ia pelajarkan juga ilmu mengeluarkan bau bunga untuk menyerang lawan.

Sekarang ia gunakan itu terhadap Siauw Lan.

Itulah andalannya kenapa ia berani menantang seorang yang ia tahu tenaga dalamnya sangat mahir dan jauh melebihkan ianya.

Makin ia bernapas memburu, makin banyak hawa bunganya itu keluar menyerang lawannya.

Demikianlah, meskipun Siauw Lan liehay sekali, karena ia mesti memecah perhatian atau cara bertahannya, ia menjadi repot.

Kalau tadinya ia sudah menang di atas angin, keadaan mereka lalu menjadi berimbang.

Jarak sangat dekat dari mereka memudahkan serangan bau bunga si nona.

Sebagai seorang cerdas, Siauw Lan lantas dapat menebak lawannya itu mesti telah menggunai salah satu akal.

Seng Lam berjanji tidak mau menggunai racun, ia percaya itu.

Sekarang ia dapat menyedot bau harum, tidaklah itu bakal dipandang sebagai bau biasa.

Sekali pun Seng Lam menggunai racun, ia tidak takut, untuk itu ia sudah bersedia menangkisnya, guna melawan dan memunahkannya.

Untuk membela diri, Siauw Lan lantas berhenti bernapas.

Ia menahan sambil bersemedhi.

Ia tak usah lama mengempos semangat, lantas ia menjadi terlebih unggul pula.

Bahkan dengan lekas Seng Lam terancam bahaya.

Mulanya dia pucat mukanya, menyusul itu dari pinggiran mulutnya mengalir darah!

Siauw Lan melihat itu, lantas timbul perasaan kasihannya, hatinya menjadi tidak tega, maka ingin ia mengurangi desakannya, supaya nona itu tak terbinasa di tangannya, tetapi baru ia memikir begitu, mendadak Seng Lam tertawa dingin, mendadak tenaga si nona bertambah seketika, bertambah besar sekali.

Tentu sekali ia menjadi kaget, lekaslekas ia mempertahankan diri.

Hebat desakan itu, dua kali tubuhnya bergoyang limbung!

Itulah kejadian sangat mengherankan!

Bukankah sudah terang si nona telah terdesak hebat, sampai mukanya pucat dan darahnya keluar?

Kenapa secara tiba-tiba ia menjadi dapat menyerang balik demikian dahsyat?

Sekalipun Siauw Lan sendiri ia heran bukan main.

Syukur ia tabah dan tenaga dalamnya mahir, ia dapat lekas mempertahankan diri, hingga tenaga mereka menjadi berimbang pula.

Setelah ini, ia hendak membalas menyerang lagi.

Luar biasa Seng Lam.

Kalau tadi ia menyerang bagaikan badai, lantas ia menjadi anteng pula.

Tepat Siauw Lan hendak mendesak, sekonyong-konyong ia tertawa mengejek kembali, hanya kali ini suara tertawanya itu disusul dengan muncrat darahnya!

Ketua Thiansan Pay menjadi kaget.

Ia merasakan hawa dingin masuk ke dalam tubuhnya, hingga kulitnya menjadi beku dan darahnya sukar tersalurkan.

Siapa pun tak ketahui Seng Lam sudah menyerang dengan ilmunya yang baru, yang diberi nama "Thianmo Kaytee Tayhoat", yaitu ilmu urai tubuh "Hantu Langit".

Itulah ilmu buat mati bersama dengan musuh.

Ilmu itu membutuhkan tenaga terakhir.

Ini dia ilmu yang Beng Sin Thong pakai membinasakan Congkoan Ko Hong Kauw dari istana kaisar, di saat ia sudah terluka parah dan hampir binasa.

Itulah salah satu ilmunya Kiauw Pak Beng dan Seng Lam mendapatkannya dari kitab warisannnya jago itu, bahkan ia dapat mengumpul tenaga, lebih besar daripada tenaganya Sin Thong itu.

Tenaga si nona bertambah tiga lipat, sedang tenaga Siauw Lan cuma cukup buat melawan yang dua lipat ganda.

Pun Khong Taysu melihat Siauw Lan tak dapat bertahan, dia menjadi sangat kaget.

"Celaka!"

Teriaknya.

Lalu dengan lupa segala apa, dia berlompat masuk ke dalam gelanggang, berniat menolong ketua Thiansan Pay itu.

Justeru itu Seng Lam tertawa nyaring, kedua tangannya segera ditarik pulang, atas mana nampak tubuhnya Siauw Lan bergerak, kepalanya turun ke bawah kakinya naik ke atas, terus tubuhnya itu terguling dari atas batu!

Kembali terdengar suaranya si nona yang berkata nyaring.

"Satu dibalas dengan satu. Kita sama-sama tidak menerima budi! Bagaimana aku bersikap terhadap kau Tong Ciangbun, kau pasti mengerti sendiri!"

Pun Khong maju terus, tepat ia menyambuti tubuhnya Siauw Lan.

Tapi mendadak ia menjadi sangat kaget.

Ketika ia memegang tubuh Siauw Lan, hawa sangat dingin menyerang padanya, tak dapat ia bertahan dari hawa itu, tidak ampun lagi tubuhnya terpental setumbak lebih!

Siauw Lan benar-benar luar biasa.

Di saat ia mau roboh dapat ia mempertahankan diri, bahkan ia berlompat, maka di lain saat ialah yang memegangi tubuh Pun Khong hingga pendeta ini tak usah roboh memegang tanah!

Di dalam hati Pun Khong mengeluh malu.

la insyaf akan bahayanya andaikata ia lompat naik ke atas untuk memisahkan kedua orang yang lagi mengadu kepandaian itu.

Dengan tak langsung saja ia sudah terhajar hebat hawa dingin yang istimewa itu.

Habis menolongi Pun Khong, Siauw Lan berpaling pada Seng Lam, untuk memberi hormat sambil berkata.

"Nona, terima kasih untuk kebaikan hatimu! Tenaga dalammu liehay sekali, aku si orang she Tong menyerah kepadamu!"

Mendengar suaranya ketua Thiansan Pay itu, semua orang terperanjat.

Perkataannya Siauw Lan berarti selainnya Seng Lam menang tenaga dalam juga barusan kalau dia mau, dia dapat merampas jiwa orang.

Jadi si nona telah menaruh belas kasihan.

Mereka yang tadi menyangka si nona cuma mengepul, sekarang menjadi bungkam mulutnya, mereka saling mengawasi dengan bengong!

Siauw Lan tidak ketahui ilmu Thianmo Kaytee, ia menyangka si nona benar-benar tangguh dan ulat sekali.

Karena itu iapun tak ketahui, siapa mengeluarkan tenaga berlebihan dalam ilmu itu, dia dapat roboh binasa sendirinya.

Seng Lam lompat turun dari atas buat ia terus berkata tawar;

"Ketika tadi kita mengadu pedang, kau telah memberi ampun padaku, maka itu sekarang aku memberi ampun padamu. Kita menjadi seri. Hal ini baik jangan diomongkan terlebih jauh. Sekarang aku ingin menerima pelajaran Thiansan Sinbong dari Tong Ciangbun!"

Ketika itu Keng Thian telah menghampirkan ayahnya.

Ia telah melihat sinar matanya si ayah sayup-sayup ia menjadi berkuatir.

Itulah bukti yang si ayah terganggu tenaga dalamnya.

Tak biasanya mata ayah itu guram demikian macam.

"Ayah,"

Katanya perlahan.

"Baiklah pertandingan diundurkan sampai besok saja..."

Anak itu bicara sangat perlahan, tetapi Seng Lam dapat dengar itu, maka si nona sudah lantas tertawa lebar dan kata.

"Tong Siauwciangbun, apakah kau hendak meminta penundaan untuk ayahmu?"

Tanpa menanti jawaban, ia meneruskan berkata pada Siauw Lam.

"Tong Toaciangbun, apabila benar tenagamu sudah habis, aku tidak sudi berlaku keterlaluan, dapat aku membiarkan kau hidup satu hari lebih lama!"

Bukan main hebat kata-kata itu. Mendadak kedua mata Siauw Lan menjadi seperti menyala. Iapun lantas menjadi segar luar biasa.

"Sudah diterangkan hari ini kita bertempur dalam tiga babak!"

Katanya nyaring.

"biar bagaimana, aku mesti menetapkan janji melayani kau, nona! Pula kali ini kita jangan saling menaruh belas kasihan lagi, jikalau kau mempunyai kepandaian, kau boleh ambil jiwa aku si orang tua!"

Parasnya Seng Lam pucat seperti kertas, akan tetapi ia dapat tertawa bergelak.

"Bagus!"

Dia berseru.

"Taklah kecewa Tong Ciangbun menjadi seorang guru besar!"

Ia terus meng-gape kepada delapan orangnya, antara siapa empat sudah lantas datang sambil mengggotong sebuah busur besar, busur mana berkilau seluruhnya.

Sebab itulah satu di antara warisannya Kiauw Pak Beng--itulah busur kemala yang dibuat dari kemala Han-giok dari dasar laut.

Para hadirin termasuk orang-orang yang banyak pendengarannya dan luas pengetahuannya akan tetapi busur sebesar itu, yang terbuatnya dari kemala, mereka baru pernah lihat, maka itu, mereka menjadi heran, semua menjadi kagum.

"Apakah ada sesuatu yang aneh pada busur itu?"

Dia tanya seorang diri, suaranyapun sebagai orang mendumal. Seng Lam menyapu kepada semua orang.

"Aku tak tahu diri,"

Berkata dia dingin.

"dari itu hendak aku menggunai busur ini untuk melawan Thiansan Sinbong senjata rahasia dari Tong Ciangbun yang tak ada keduanya di kolong langit ini! Sekarang aku minta siapa saja di antara para hadirin yang suka datang kemari memeriksanya!"

Siauw Lan heran.

"Apakah yang mesti diperiksa?"

Ia tanya.

"Mungkin ada orang yang mencurigai busurku ini,"

Kata Seng Lam.

"Tanpa diperiksa lagi, mana dapat aku membikin hati mereka itu tenang?"

Ketua Thiansan Pay mengerutkan alis.

"Buat apakah sampai begitu?"

Kata ia.

"Baik juga kalau orang banyak melihatnya!"

Kang Lam kata nyaring. Sin In Long lantas maju.

"Perkataannya engko kecil ini benar!"

Dia kata.

"Aku si orang tua tidak mencurigai apa-apa akan tetapi panah ini memang benar benda yang langka!"

Orang tua she In ini menjadi wakil ketua Cengshia Pay, dia memiliki tenaga dalam melebihkan Pun Khong Taysu serta dia mengerti banyak macam alat senjata, dia juga luas pemandangannya, karena dia bersahabat erat dengan Tong Siauw Lan, tak mau dia berlaku sembrono.

Karena curiga, tak mau dia sahabatnya kena tertipu musuh yang cerdik itu, dari itu, dia ingin memeriksa.

Seng Lam berpaling kepada Tong Keng Thian, ia melihat wajah orang rada bergelisah, ia lantas bersenyum dan berkata.

"Tak apa lebih banyak orang memeriksa dan juga tak usahlah mesti seorang yang telah berusia lanjut! Tong Siauwciangbun, silahkan kau maju tak usah malu-malu! Kau juga, Kang Lam, kau boleh maju memeriksa bersama! Kau harus melihatnya biar terang, agar kemudian kau tak usah menyebutkan sesuatu yang aneh!"

"Baiklah!"

Berseru Kang Lam, menjawab.

"Aku juga hendak membuka, membikin luas pandangan mataku!"

Karena itu, Keng Thian turut maju.

Kang Lam meraba busur itu, ia merasakan dingin.

Lain dari itu, tidak ada apa-apa yang luar biasa, yang dapat mendatangkan kecurigaan.

Justeru orang memegang, ke empat nona baju putih mendadak berseru.

"Sambutlah!"

Mereka berbareng melepaskan cekalannya. Kang Lam kaget sekali, dia roboh.

"Celaka aku!"

Dia berseru.

Dia takut nanti ketindihan busur ini.

Keng Thian berada di samping orang, lekas-lekas ia menyambuti.

Atas itu Kang Lam meneruskan menggulingkan diri, buat menyingkir sampai tiga tombak.

Tapi ia kaget betulbetul, waktu ia bangun berdiri, mukanya pucat dan pinggiran mulutnya mengalirkan darah!

Yo Liu Ceng ibu dan anak sudah lantas menghampirkan itu baba mantu dan suami.

Ciang Hee, si isteri, lantas menyesali, katanya.

"Dasar kau usilan! Nah lihat, bagaimana sekarang?"

"Syukur, syukur!"

Kata suami jenaka itu.

"Syukur aku tidak ketindihan. Kalau tidak tubuhku bisa menjadi gepeng remuk!"

Keng Thian jauh terlebih kuat daripada Kang Lam, ketika ia menahan busur, ia juga mesti mengeluarkan tenaga banyak sekali.

Sebab busur itu berat luar biasa, beratnya mirip dengan berat besi atau baja.

Sie Ie pun dulu cuma kuat mengangkat, tak sanggup dia menggunakannya.

Demikian Keng Thian, dia kuat mengangkat hanya tidak lama, keringat lantas keluar di jidatnya dan napasnya memburu.

Sin In Long melihat itu, ia menjadi heran sekali.

"Biarlah loohu pun melihatnya!"

Katanya cepat.

Ia menyambuti busur itu.

Di dalam halnya tenaga dalam, ia cuma menang sedikit daripada Keng Thian, maka itu, ia pun merasakan beratnya busur itu.

Ia memeriksa, ia tidak mendapatkan apa-apa yang mencurigai kecuali beratnya yang luar biasa itu.

Ia melihat batu kemala tulen, maka kalau kemala itu terkena racun, mesti ada cacadnya berwarna hitam atau abu-abu.

Sekarang ini seluruh busur mulus, maka legalah hatinya.

Seng Lam mengawasi orang memeriksa, dia tertawa.

"Sekarang kasihlah lihat tiga bocah jemparingnya!"

Ia memerintahkan orang-orangnya.

"Kasih lihat kepada Sin Toaciangbun untuk diperiksa!"

Sin In Long periksa tiga bocah jemparing yang disebutkan itu, yang pun terbuat dari kemala, kemudian ia pasang itu pada busur, ketika dieoba menarik ia gagal, tak dapat ia menariknya habis, sedang sebenarnya ia bertenaga besar.

Karena ini lekas-lekas ia menurunkan busur itu.

"Nona Le, tenagamu tenaga luar biasaP'ia memuji.

"Hebat kau dapat menggunai panah ini! Aku si tua, aku takluk padamu!"

Seng Lam tidak mengambil mumat suara orang.

"Apakah kamu sudah memeriksa jelas?"ia tanya tertawa dingin.

"Bukankah panahku ini tidak ada racun atau senjata rahasianya?"

Sin In Long terdesak, dengan terpaksa dia tertawa.

"Nona bergurau!"katanya.

"Kami cuma ingin menambah pengetahuan kami, bukannya kami tidak percaya kau!..."

Keng Thian sendiri, di dalam hatinya, tetap ia bersangsi.

"Meski panah ini tidak ada racunnya,"

Demikian pikirnya.

"tetapi beratnya luar biasa, untuk melepaskan ini, orang mesti menggunai tenaga luar biasa juga, jauh lebih besar daripada menggunai sinbong. Ayahku baru saja mengadu tenaga dalam, ia masih letih sekali, aku kuatir ia tidak dapat... Ah, sudah terlanjur, biarlah terserah kepada berkah perlindungan Thian saja! Biarlah bahaya berubah menjadi keselamatan!..."

Bukan melainkan Keng Thian yang berkuatir, juga hadirin lainnya.

Tadinya mereka menyangka Siauw Lan akan memperoleh kemenangan dengan mudah.

Maka sekarang mata orang ditujukan bergantian kepada si jago tua dan si nona.

Seng Lam berlaku tenang, ketika ia menyingkap naik rambutnya serta merapikan pakaiannya.

Ketika ia berkata, suaranya pun sabar sekali.

"Tong Ciangbun, kita sudah menang, masing-masing satu kali,"

Katanya.

"maka itu babak ini, babak yang terakhir, babak yang memutuskan menang atau kalah. Di dalam dua babak terdahulu itu selalu kau yang mengalah membiarkan aku yang mulai, dari itu sekarang sudahlah selayaknya apabila aku mempersilahkan kau yang mulai! Caranya kita atur begini saja. Lebih dulu kau melepaskan tiga biji Thiansan Sinbong, habis itu aku dengan tiga batang jemparingku ini! Jikalau aku tidak sanggup bertahan dari sinbong hingga aku mesti mati terlebih dulu, itu artinya sudah nasibku, aku tidak bakal menyesal!"

Para hadirin heran.

Mereka tidak sangka di dalam babak terakhir ini Seng Lam sudi mengalah.

Memangnya mereka berkuatir Siauw Lan tak dapat bertahan.

Siauw Lan masih letih sekali.

Tapi sekarang Siauw Lan yang bakal turun tangan terlebih dulu, hati mereka menjadi lega, timbullah harapan mereka ketua Thiansan Pay ini bakal menang.

Sekarang tinggal kekuatiran lain.

Yaitu mereka kuatir Siauw Lan nanti menampik untuk turun tangan terlebih dulu.

"Nona Le benar!"

Pun Khong Taysu lantas berkata mendahului Siauw Lan menjawab si nona.

"Sudah sepantasnya kalau Tong Tayhiap menerima baik pengaturan kau ini!"

"Benar!"

Siauw Ceng Hong turut bicara.

"Nona Le bermaksud baik, Tong Tayhiap harus menerima baik, kalau tayhiap menolak, bisa jadi orang salah paham dan menyangka tayhiap memandang tak mata kepada si nona!"

Siauw Lan sendiri merasa sangat tak enak hati.

Ia malu akan melayani lawan muda, bahkan seorang nona.

Mana dapat ia turun tangan terlebih dulu?

Tapi Siauw Lan menurut saja!

Keng Thian berlaku sebat melayani ayahnya, la memilihkan tiga biji Thiansan Sinbong.

Siauw Lan menyedot napas.

"Nona Le, maafkan aku si orang tua!"

Kata ia selagi bersiap, lantas terus ia menyentilkan dua bocah jerijinya, atas mana sebuah sinar merah, terang mengkilat meluncur pesat.

Senjata rahasia itupun menerbitkan suara angin yang keras.

Semua hadirin kagum.

Tidak disangka, sesudah letih demikian, Siauw Lan masih dapat menggunai senjata rahasianya demikian baik.

Seng Lam tidak berdiam saja, dia juga sudah lantas bekerja.

Dia menggunai pedangnya.

Maka terdengarlah satu suara bentrokan yang nyaring.

Sinbong kena terta-bas pedang Cay-in Kiam dan putus menjadi dua potong!

Thiansan Sinbong keras dan kuat seperti emas atau batu, inilah yang pertama kali ada orang yang dapat menangkis sambil menyerangnya hingga terbelah dua.

Semua orang menjadi terperanjat.

Orangpun melihat Seng Lam terhuyung mundur tujuh atau delapan tindak, hingga ia mesti menyender pada sebuah pohon cemara, napasnya bekerja keras, mukanya menjadi bertambah pucat!

"Nona Le, apakah kau ingin beristirahat?"

Siauw Lan tanya. Belum berhenti suaranya jago ini, tubuh Seng Lam sudah mencelat kembali ke dalam gelanggang, dengan suara tawar, dia berkata.

"Tenaga Thiansan Sinbong besar tak ada keduanya! Meski begitu, Tong Ciangbun, tak nanti aku bakal kena terhajar hingga mati! Tong Ciangbun, jangan berkuatir untukku! Kau masih mempunyai dua biji, silahkan kau menyerang pula..."

Habis mengucap begitu si nona batuk satu kali, kembali dia mun-tahkan darah!

Akan tetapi, mengawasi si nona, Siauw Lan menjadi heran.

Habis muntah darah, nona itu nampak tambah segar, dia bukannya menjadi bertambah lemah...

"Itulah tenaga dalam kaum sesat!"

Pikirnya.

"Benar-benar tenaga dalam yang aku belum pernah lihat atau dengar!"

Sampai disitu, jago Thiansan ini tidak dapat memikir pula berkasihan terhadap lawannya.

Diam-diam ia mengerahkan tenaganya pada jeriji tangannya, untuk melepaskan sinbong yang kedua.

Maka bisalah dimengerti kalau senjata rahasia ini melesat lebih cepat dan kuat daripada yang pertama.

Seng Lam bersedia atas datangnya serangan itu.

Ia menanti sampai sinbong sampai, mendadak ia lompat berkelit seperti burung walet menyambar, lalu terdengar suara cita pecah, sebab bagian bawah dari kun-nya kena terobek sinbong, menyusul mana tubuhnya jatuh terbanting!

Orang tidak melihat tegas kecuali menduga Seng Lam terluka dan roboh, mereka berseru kaget.

Pikiran mereka itu menjadi bertentangan sendirinya.

Mulanya semua mengharapi Siauw Lan menang, supaya si nona yang dianggap jahat dapat disingkirkan.

Sekarang melihat si nona roboh, mereka semua terkejut, mereka merasa kasihan.

Sebab biar bagaimana, si nona tetap seorang wanita muda remaja, dia demikian liehay, sayang dia bercelaka...

Selagi orang banyak itu berseru, mendadak terlihat Seng Lam berlompat bangun, terus terdengar suaranya yang dingin.

"Masih ada satu biji lagi yang terakhir! Kalau itu tidak mau digunai sekarang juga, mau tunggu apa lagi?"

Nona ini telah berkelit dengan menggunai tindakan Thianlo Pou-hoat yang digabung dengan keringanan tubuhnya, ia berhasil membebaskan diri dari Thiansan Sinbong, yang mengenai kunnya.

Karena tenaganya habis, lantas ia roboh.

Karena ia tidak kurang suatu apa, begitu ia memegang tanah, dapat ia mencelat bangun.

Siauw Lan seorang jago, melihat keadaan si nona, timbul pula rasa kasihannya, maka ia tidak melanjuti menyerang dengan sinbong yang terakhir, tetapi setelah berpikir sejenak, ia lantas mengambil keputusannya, ia mengeraskan hati.

Ia insyaf, ia sendiri belum tentu nanti dikasihani nona yang luar biasa itu, yang mestinya berhati telengas.

Demikian ia mengertak gigi, hatinya memuji.

"Semoga dia cuma terluka saja!..."

Ketika ia menyerang, ia menggunai seluruh tenaganya.

Kali ini Seng Lam berlaku aneh luar biasa.

Ia tidak menangkis atau berkelit seperti dua kali tadi.

Sebaliknya ketika serangan tiba, ia memutar tubuh, untuk menyambut dengan punggungnya, maka dengan menerbitkan suara keras, ia terhajar hebat.

Sudah suara sinbong nyaring, iapun menjerit, tubuhnya terhuyung ke depan sampai beberapa tindak.

Selagi ia mau roboh, beberapa budaknya lari menyambar, untuk mempepayang!

Semua hadirin menahan napas, semua mengawasi melongo.

Begitu ia sudah berdiri tegak, Seng Lam memutar tubuh.

Ia menggeraki kedua tangannya mengasih mundur budakbudaknya, terus ia membawakan sebelah tangannya ke belakang buat mencabut sinbong yang nancap di punggungnya itu.

Anehnya senjata rahasia itu tidak berlepotan darah sedikit juga.

Ia melemparkan senjata itu sambil ia kata tawar.

"Tong Ciangbun, sekarang tibalah giliranku!"

Seng Lam mengandal pula tamengnya.

Ia terhajar keras sekali, ia terluka di dalam, tetapi ia tidak roboh, ia masih sanggup mempertahankan diri.

Ketika orang mendengar suaranya itu, semuanya berdiam, hingga gelanggang dan sekitarnya menjadi sangat sunyi, hingga orang mendengar jantungnya yang memukul...

Tong Siauw Lan bersikap tenang.

"Nona Le, aku si orang she Tong sudah mempertontonkan kejelekannya,"

Kata ia.

"dengan begitu aku membikin orang mentertawakan aku saja. Sekarang silahkan nona melepaskan anak panahmu!"

Seng Lam tidak menyahuti, ia hanya melihat empat budaknya menggotong busur ke hadapannya.

Sepasang alisnya berkerut rapat.

Kemudian nampak ia tertawa meringis.

Melihat keadaan si nona, hati orang sedikit lega.

Mereka pikir.

"Tenaga dalam Tong Tayhiap terganggu, tetapi perempuan siluman ini mestinya terluka lebih parah. Mustahil dia dapat menggunai panahnya yang berat seperti masanya dia sehat?"

Tengah orang mengawasi dia sambil semua berdiam, Seng Lam sudah mulai beraksi.

Mendadak ia menggigit luka ujung lidahnya terus ia menyemburkan darah hidup.

Begitu ia menyembur, dengan mendadak ia terlihat menjadi segar.

Dengan sebat ia menyambuti busurnya, dengan cepat ia memasang sebatang anak panahnya, terus ia berseru.

"Tong Tayhiap, sambut panah!"

Hanya dengan satu suara nyaring maka anak panah kemala itu meluncur ke arah Tong Siauw Lan, yang terarah dadanya.

Jago Thiansan itu melihat tibanya anak panah, ia lantas menangkis dengan pedangnya.

Tepat tang-kisannya itu, kedua senjata bentrok, terus anak panah mental jatuh, sedang pedang nancap di es.

Mengikuti itu riuhlah tampik sorak para hadirin!

Pun Khong Taysu bersama-sama Sin In Long, Siauw Ceng Hong dan beberapa guru besar lainnya tidak turut bertepuk tangan atau berseru-seru.

Sebaliknya mereka memperlihatkan wajah yang lebih suram.

Sebabnya itu ialah karena mereka lihat, meski tangkisan Siauw Lan sempurna, tenaganya itu jika dibanding dengan tenaganya Seng Lam tatkala si nona menangkis Thiansan Sinbong.

Tak sama, dengan kebiasaannya Siauw Lan menangkis tanpa menanti anak panah datang sangat dekat hanya masih cukup jauh, ia sudah menimpuk hingga pedangnya itu nancap di es!

Kalau Pun Khong semua berkuatir, Seng Lam juga tak tenang hatinya.

Ia menyangka jago Thiansan itu sudah sangat letih, dia tentunya tak dapat menangkis panahnya, tak tahunya, anak panahnya yang pertama itu kena dihalau.

Maka ia kata di dalam hatinya.

"Kalau begini, sia-sia saja aku menggunai Thianmo Kaytee. Dia begini tangguh, meski aku berlatih sepuluh tahun, sulit untuk aku menyamai dia..."

Tong Siauw Lan menyedot napas dalam-dalam, lalu mendadak dia menjatuhkan diri untuk bersila di tanah. Dia mengawasi si nona, untuk berkata.

"Nona Le, panahmu benar liehay, di dalam dunia ini tak ada keduanya, maka kalau aku terbinasa di tanganmu, aku puas! Sekarang, nona, silahkan kau menyerang pula!"

Seng Lam tidak menjawab, dia hanya menggigit giginya, habis itu barulah ia menarik panahnya.

Ia menarik hingga busurnya menjadi bundar.

Begitu ia melepaskan tangannya yang kanan, maka anak panahnya yang kedua lantas meluncur dengan sangat pesat.

Sekarang ini Siauw Lan sudah tidak mempunyai pedang untuk dipakai sebagai gegaman membela diri.

Ketika ia dipanah itu, ia duduk tak bergeming.

Cuma matanya terus diarahkan tajam ke depan.

Orang banyak menjadi kaget, semua berkuatir bukan main.

Antaranya ada yang berteriak.

Tapi Siauw Lan tetap berdiam, hanya sekarang ia mengulur lempang kedua tangannya.

Maka satu hal luar biasa lantas terjadi.

Ketika anak panah tiba, bagaikan ada tenaga yang menahan, senjata itu tak menyambar terus ke tubuh Siauw Lan, hanya tertahan di depan tangan, lantas kena terjepit kedua tangan itu!

Kalau tadi orang menjerit kaget, sekarang mereka bertampik sorak.

Mereka girang dan kagum.

Kagum sebab beda sekali cara jago Thiansan itu menyambut anak panah pertama dengan anak panah yang nomor dua ini.

Kalau yang pertama dengan kekerasan, pedang lawan anak panah, sekarang dengan kelunakan, dengan tenaga dalam yang mahir sekali.

Toh telah nampak nyata, jago itu telah terluka di dalam atau tenaga dalamnya telah berkurang.

Kembali orang luar tidak mendapat tahu.

Walaupun Siauw Lan berhasil, di dalam hatinya dia mengeluh.

Sebab menyambut anak panah itu, bukan main besarnya tenaga yang ia empos dan korbankan.

Ia sudah menggunai tenaga hingga tenaga dalamnya hampir kosong sama sekali...

Maka sekarang ia mirip dengan pelita kekeringan minyak!

Diam-diam Seng Lam mengagumi jago tua itu.

Ia tanya dirinya sendiri.

"Apakah harus aku membinasakan ini guru besar yang nomor satu di kolong langit ini?"

Mengingat itu, hatinya mendadak menja-di lemah.

Hanya sejenak kemudian ia ingat pesan Kiauw Pak Beng dan lalu di depan matanya seperti berkelebat bayangannya Kim Sie Ie.

Maka ia kata pula di dalam hatinya.

"Dengan panahku ini aku bukannya memanah Tong Siauw Lan!"

Segera ia mengertak giginya, terus ia memasang anak panah yang ketiga, untuk mulai menarik perlahan-lahan, setelah mana ia melepaskan anak panahnya yang terakhir itu!

Tong Siauw Lan tetap duduk bersila, telinganya mendengar suara panah melesat.

Ia berputus asa hingga ia kata di dalam hatinya.

"Aku tidak sangka bahwa aku dapat terbinasakan seorang anak perempuan..."

Hampir berbareng dengan bunyinya panah, disana terdengar satu orang berteriak.

"Tahan!"

Akan tetapi sia-sia saja cegahan itu, anak panah sudah melesat.

Hanya, mendengar suara itu, tangannya Seng Lam menggetar.

Menyusuli bentakan itu, satu tubuh yang merupakan bayangan putih lompat melesat bagaikan kilat cepatnya, memapaki anak panah, yang dapat disambut selagi anak panah itu mendekati Siauw Lan kira-kira sepuluh tindak.

Maka dengan satu suara nyaring, anak panah itu terpental, menyambar ke batu es!

Berbareng dengan itu, robohlah tubuh yang menyambut anak panah!

Hampir berbareng dengan itu beberapa orang berseru.

"Kim Sie Ie!"

Kang Lam, dengan kegirangan luar biasa, sudah lantas berseru-seru.

"Memang aku sudah tahu! Memang aku sudah tahu! Pasti Kim Tayhiap bakal datang kemari!-Kim Tayhiap, aku disini!"

Suara orang berisik sekali, Kim Sie Ie tak dengar suara si jenaka itu.

Lie Kim Bwee kaget dan girang dengan berbareng, hendak dia berlompat lari, guna menghampirkan Tokciu Hongkay, apa mau kedua kakinya seperti tak mau menuruti kehendaknya itu, karenanya ia cuma bisa berkata-kata tak tegas.

"Dia sudah kembali! Dia sudah kembali! Ah, kiranya dia telah pergi kepadaku!"

Nyatalah senjata yang Kim Sie Ie gunai untuk mencegah panah kemalanya Seng Lam ialah tongkat besi warisannya Tokliong Cuncia untuk Kim Sie Ie.

Tongkat besi itu didapatkan Phang Lim di Coato, Pulau Ular, dia membawanya pulang dan seterusnya disimpan di dalam kamarnya Kim Bwee.

Sie Ie tidak menghiraukan suara ramai, begitu dia jatuh begitu dia berlompat bangun dengan satu gerakan "Ikan gabus meletik", terus dia lari ke arah Seng Lam!

Nona Le tidak menghiraukan orang, dia hanya memandang Tong Siauw Lan untuk mengasih dengar suaranya yang dingin.

"Tong Tayhiap, tempat ini tempatmu, sekarang ada orang mengacau disini, apakah katamu? Bagaimana pikiranmu, apakah kita masih harus mengulangi pertandingan kita ini atau tidak?"

Tong Siauw Lan menghela napas ia lantas berbangkit.

"Nona Le,"

Katanya perlahan.

"aku mengakui ilmu silat kau melebihkan ilmu silatku, buat apa kita bertanding pula?"

Suara itu keras tetapi bernada sedih, orang banyak mendengar itu, semua berduka sekali. Itulah suara menyesal dari seorang jago. Mendadak Le Seng Lam tertawa nyaring.

"Tong Tayhiap!"

Ia berkata keras.

"kau bukannya kalah dari aku, hanya kau kalah dari kakek guruku, Kiauw Couwsu kami! Kau tahu tidak? Akulah murid yang menjadi ahli waris dari Kiauw Pak Beng yang telah meninggal pada tiga ratus tahun yang lampau! --Kiauw Couwsu, aku telah memenuhi pesanmu, aku telah memukul roboh muridnya Thio Tan Hong dan Hok Thian Touw! Maksudmu telah kesampaian, Couwsu, aku minta meram dan tenang!"

Mendengar itu barulah orang tahu Seng Lam datang membalas untuk Kiauw Pak Beng-membalas sakit hatinya dari tiga ratus tahun dulu kepada Thio Tan Hong.

Kim Sie Ie menghampirkan Nona Le, dia kata perlahan.

"Seng Lam, kau telah dapat mencapai cita-citamu, sekarang kau telah menjadi orang gagah nomor satu seperti yang kau sangat harap-harap, maka itu selanjutnya apa lagi yang kau inginkan? Aku minta kau, dimana yang bisa, kau memberilah keampunan!..."

Seng Lam tertawa. Ia mengawasi orang di depannya itu.

"Kim Sie Ie!"

Katanya, tawar.

"aku juga hendak menanya kau. Kau mau apa?"

Sie Ie balik mengawasi.

"Aku hendak tanya kau,"

Ia menjawab, berbalik menanya.

"Kok Cie Hoa tidak berbuat salah terhadapmu, mengapa kau membuatnya dia mati tidak dan hidup tidak?"

Seng Lam mengasih lihat roman bengis.

"Kalau begitu, kau datang kemari buat minta obat padaku, bukan?"

Dia tanya. Itulah pertanyaan berlebihan. Seng Lam sudah ketahui maksud orang masih sengaja dia menanyakan. Sie Ie berlaku sabar sekali. Ia mengangguk perlahan.

"Buat mendapatkan obat pemunah racun itu, dua tahun lamanya aku telah mencari kau..."

Sahutnya.

"Jadinya kau menghendaki obat pemunah racun?"

Kata Seng Lam pula.

"Boleh! Hanya ada aturannya, yang mesti ditaati! Kau juga harus menempur aku dalam tiga babak!"

"Apakah artinya perkataan kau ini?"

Tanya Sie Ie tidak puas.

"Jikalau kau tidak suka memandang lagi muka Kim Sie Ie yang sekarang, kau seharusnya memandang mukanya dahulu hari! Mustahilkah karena kau mengandalkan ilmu silatmu sekarang ini yang menjagoi dunia, kau jadi melupai persahabatan kita dulu hari itu?"

Tokciu Hongkay berlaku sabar walaupun ia merasa tidak puas.

Di luar dugaan, perkataannya ini justeru membuat Seng Lam menjadi gusar, perkataannya itu seperti minyak dituangkan kepada api berkobar.

Kedua matanya si nona menjadi terbalik, sinarnya seperti api marong Sudah mendelik, atau tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak!

"Kim Sie Ie, oh, Kim Sie Ie, kiranya kaupun menemui satu hari seperti ini ialah kau datang padaku untuk memohon suatu apa!"

Katanya, keras dan dingin.

"Kim Sie Ie, kau masih mempunyai muka untuk bicara dari hal persahabatan kita dulu-dulu? Hm! Hm! Bagusnya sekarang ini ilmu silatku telah melebihkan ilmu silat kau, jikalau tidak, mungkin sekali begitu kau melihat aku lantas kau bakal mencaci dan menghajar aku, kau bakal merampas juga barangku! Bukankah tak nanti kau bicara secara begini merendah untuk mengajukan permintaanmu?..."

Kedua mata Sie Ie terbalik hingga terlihat putihnya saja.

"Kau... kau... kau... kau..."

Katanya susah, hingga tak dapat ia melanjutinya.

"Aku kenapa?"

Tanya Seng Lam tertawa.

"Bukankah kau sendiri yang membilang di antara kita segala apa sudah putus? Habis perlu apa kau menghendaki lagi aku ingat akan persahabatan kita dulu hari?"

Hebat nona ini. Dia sendiri yang membilang, bahwa hubungan mereka sudah putus, sekarang dia membaliknya. Tapi Kim Sie Ie lagi berduka berbareng mendongkol, tak ada niatnya melayani orang adu lidah.

"Kau menyebut hal dulu hari, tidak salah!"

Kata Seng Lam pula.

"Memang dulu hari itu kau berlaku baik terhadap aku, aku juga ingat saat-saat yang baik itu, hanya sayang sang waktu tak dapat kembali dan Kim Sie Ie sekarang ini bukan lagi Kim Sie Ie yang dulu!"

Seng Lam bicara dengan saluran ilmu Thiantun Toan-im, suaranya itu cuma dapat didengar Sie Ie, tidak oleh orang lain.

Orang lain cuma dapat melihat mulut si nona berkelemik, lain tidak.

Sie Ie mendengar suara orang yang bernada sedih, mau atau tidak, ia menjadi terharu, maka itu, ia membalas juga dengan saluran ilmu yang serupa.

Kata ia perlahan.

"Yang sudah biarlah dia lewat, kau anggaplah aku telah berbuat tak selayaknya terhadap kau. Kita telah berjalan bukan di satu jalanan, hal itu tidak dapat dirubah pula. Sekarang ini aku hendak minta obat padamu, budimu akan aku tak lupai seumur hidupku..."

Seng Lam telah bertanding hebat, mukanya telah menjadi sangat pucat, sekarang ia seperti telah kehabisan darahnya, tetapi hatinya masih tetap kuat dan keras, tiba-tiba ia membuka matanya, mengawasi tajam, ia kata sengit.

"Kiranya kau sangat membutuhkan sekali beberapa butir obatku!"

Sie Ie melengak.

Ia insyaf bahwa ia telah keliru bicara.

Kata-katanya itu membangkitkan kejelusan si nona.

Tapi ia tidak bisa mendusta terhadap Seng Lam.

Taruh kata ia tidak menyebutnya, Seng Lam mestinya mendapat tahu maksudnya.

Karena itu, ia berdiam.

Seng Lam menggigit giginya.

"Bagus, Kim Sie Ie, kau baik sekali!"

Kata dia, tetap sengit.

"Aku menyesal aku tidak dapat membunuh kau! Hm! Coba aku tidak ingat persahabatan kita dulu-dulu, apakah kau kira barusan dapat menahan panahku itu? Apakah kau kira dapat kau bertahan dari panahku?"

Sie Ie kenal baik tabiat si nona. Kata-kata orang membuatnya mendapat harapan.

"Kalau begitu ternyata kau baik sekali,"

Kata ia.

"Buat kebaikanmu itu aku menghaturkan terima kasih. Sekarang begini saja. Jikalau kau benar-benar sangat membenci aku, kau tunggulah sampai aku sudah mendapatkan obat pemunah racun, lantas kau boleh berbuat apa kau suka atas diriku, sekalipun kau hendak merampas jiwaku, aku rela!"

Seng Lam tertawa.

"Pulang pergi kau tak berpisah dari obat!"

Katanya, tawar.

"Tapi taklah heran jikalau kau begini bergelisah! Tentang obat beracun Ngotok San itu, dapat aku jelaskan, makin banyak hari yang dilewatkan, sifatnya makin keras! Sekarang dia baru setengah hidup setengah mati, tetapi nanti, lewat lagi sekian waktu, jikalau racun sudah masuk ke dalam pemt dan sumsumnya, meski kau kasih dia makan semua soatlian, semua itu tidak ada faedahnya lagi! Sampai itu waktu maka kekasihmu itu yang cantik manis seperti kemala dan bagaikan bunga, dia bakal mati dengan tubuh nowa! Buat apa aku mengambil jiwamu? Bukankah terlebih baik untuk membiarkan kau menyaksikan kematiannya itu?"

Sie Ie tahu orang lagi mengumr bar kemarahannya, tapi suara orang itu membuat hatinya gentar juga.

Kalau Seng Lam membuktikan kata-katanya itu?

Tidakkah itu sangat hebat?

Memang biasanya nona itu suka perbuat apa yang dia pikir atau katakan...

"Jikalau sampai terjadi seperti kata-katamu ini, di dalam dunia ini tidak bakal ada lagi orang sebagai aku,"

Kata ia, tertawa getir.

"Sampai itu waktu maka kau bakal hidup sendiri dengan segala kepuasanmu! Seng Lam, kau harus ingat satu hal! Walaupun aku tidak berlaku benar terhadapmu seperti katamu itu, itulah urusanku, aku sendiri yang bertanggung jawab, karena itu, mengapa kau sebaliknya mencoba mencelakai orang yang tidak bersalah dosa?"

"Bagus benar! Kau jadi memisahkan diri kamu! Jadi karena ini, kau jadi meminta obat padaku, bukan?"

Sie Ie melengak. Ia heran.

"Kau mengaku salah atau tidak?"

Tanya Seng Lam.

"Jikalau kau bicara dari peristiwa di gunung Siongsan, aku mengaku salah,"

Sahut Sie Ie.

"Ketika itu aku terlalu sembrono, hingga aku jadi sudah berbuat tak selayaknya terhadapmu."

Di mulut Tokciu Hongkay membilang demikian, di dalam hati, ia kata.

"Di dalam segala hal, aku cuma menyintai Kok Cie Hoa, maka buat segala itu tidak ada soal salah atau tidak..."

Nampak wajah si nona menjadi sedikit sabar.

"Hm! Jadinya sekarang kau tidak mengotot lagi?"

Kata dia.

"Baiklah, kalau kau sudah mengaku salah, maka tahulah kau apa yang kau mesti lakukan di hadapan banyak orang ini..."

"Kau artikan apa?"

Sie Ie tanya. Ia nampak bingung.

"Apakah benar kau sudah lupa?"

Tanya si nona.

Dia tertawa dingin.

Tiba-tiba Sie Ie ingat.

Itulah kejadian ketika dalam sengitnya ia menghajar si nona, karena mana, di dalam gusarnya si nona memutuskan perhubungan dengannya.

Ketika itu si nona kata bahwa bakal datang satu hari yang ia bakal berlutut di hadapan nona itu.

Ingat itu ia menjadi kaget hingga ia tercengang.

Ia mengawasi nona itu yang justeru lagi mengawasi ia, hingga sinarnya empat mata mereka bentrok satu dengan lain.

Sinar mata si nona tajam dan dingin sekali, sama dinginnya seperti wajahnya.

Sie Ie bertabiat keras, belum pernah ia minta sesuatu kepada lain orang.

Sekalipun dulu jiwanya terancam bahaya, tak sudi ia minta soatlian dari Tong Siauw Lan, akan tetapi sekarang, buat guna Cie Hoa, ia sudah merubah sikapnya itu.

Sementara itu orang banyak heran melihat mereka berdua bicara demikian lama, mulut mereka bergerak-gerak tetapi suara mereka tak terdengar.

Orangpun heran menyaksikan mereka seperti sabar dan baik satu dengan lain, sebentar agaknya bergusar atau bertengkar.

Karena itu, selain mengawasi dengan heran, ada juga yang kasak-kusuk.

"Benar-benar Sie Ie bukannya manusia baik-baik,"

Kata Phang Lim perlahan kepada encinya.

"Syukur si Kim tidak menikah dengan dia!"

Kang Lam juga berkata berbisik pada isterinya.

"Nampaknya mereka seperti dua bocah yang lagi bercekcokan... Aku kuatir sekali Kim Tayhiap nanti kena disesatkan siluman perempuan itu..."

Selagi semua orang itu heran, Sie Ie sendiri berpikir terus. Kata ia di dalam hatinya.

"Baru ini aku menghajar dia, itulah salahku, karena itu, buat dua tahun lamanya aku terus merasa menyesal. Sekarang aku menghadapi keselamatan jiwanya Cie Hoa... bagaimana?"

Tiba-tiba ia berkata nyaring.

"Baiklah! Sekarang akan aku berlutut di depan kau! Aku minta kau tolong aku dengan memberikan obat padaku!"

Kata-kata itu tak lagi dikeluarkan dengan saluran Thiantun Toan-im, supaya orang banyak mendengarnya.

Kang Lam kaget, dia berseru dan menutup mukanya.

Lie Kim Bwee tunduk, tak berani ia mengawasi, di dalam hatinya, ia mengeluh.

"Kasihan engko Sie Ie..."

Semua orang lainnya tak puas, tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa.

Semua lantas tunduk, tak ada yang mau melihat Sie Ie menerima penghinaan itu.

Dengan air mata mengembeng, Sie Ie menekuk punggungnya untuk berlutut, guna mewujudkan kata-katanya.

Seng Lam tidak menanti sampai kedua kaki orang tertekuk, dengan sebat ia menggeraki kedua tangannya, guna mencegah, buat mengangkat bangun tubuh Tokciu Hongkay, sembari tertawa ia kata.

"Sudah, aku terima kehormatan besar kau ini! Ingat, dengkulnya seorang laki-laki ada emasnya! Tak mau aku melihat kau dipandang hina dina oleh orang-orang gagah di kolong langit ini!"

Tubuh Sie Ie berdiri ketika tangan si nona dilepaskan, menyusul itu ia melihat Seng Lam membalas hormat dengan kedua tangannya dirangkap satu pada lain.

Menyaksikan demikian, lupa ia akan segala apa dengan lantas ia kata.

"Seng Lam, bukankah sekarang kau dapat menyerahkan obatmu kepadaku?"

Seng Lam berkata dingin.

"Kau telah mengaku salah dan sudah menjalankan kehormatan padaku, perselisihan di antara kita sudah dibikin habis, sekarang aku tidak akan membalas lagi buat hajaranmu tahun dulu itu. Di antara kita sudah tidak ada soal lagi, tak ada hubungan lainnya pula, karena itu, mengapa kau menyebut-nyebut soal obat?"

Sie Ie melengak mendengar perkataan orang itu, ia mengawasi bengong. Seng Lam pun mengawasi, hanya lantas dia tertawa geli. Ketika dia bicara pula, lagu suaranya tak keras lagi bahkan lunak. Dia kata.

"Melihat tingkah kau ini nyatalah kau memandang obatku itu melebihkan harga jiwamu! Sebenarnya dapat aku memberikan itu kepada kau hanya ada satu soalnya yang sulit..."

Sie Ie heran.

"Apakah soal sulit itu?"

Ia tanya.

"Apakah kau lupa aturan kami Keluarga Le?"

Seng Lam tanya. Ia berhenti sebentar. Ketika ia melanjuti, kembali ia menggunai Thian-tun Toan-im.

"Ketika tahun dulu itu kita sampai di gunung berapi, kenapa pamanku hendak membunuh kau? Kau masih ingat, bukan? Keluarga Le kami tidak mengijinkan orang luar mengetahui rahasia kami, terutama tak diijinkan orang luar dapat mengicipi barangbarang kami! Karena itu hampir dia membunuh kau! Tentu sekali kau ketahui sendiri sebabnya kenapa kau telah diberi ampun!"

Pasti sekali Sie Ie mengerti perkataan Nona Le ini.

Di antara kedua keluarga Kiauw dan Le ada hubungannya yang sangat erat.

Maka juga kitab ilmu silat Keluarga Kiauw itu oleh Keluarga Le dipandang sebagai miliknya sendiri.

Umpama kitab Pektok Cinkeng.

Kitab itu asalnya milik Cit lm Kauwcu, setelah dirampas Kiauw Pak Beng itu berbalik menjadi kepunyaan Keluarga Kiauw.

Dengan begitu, dengan sendirinya Keluarga Le mengakui sebagai miliknya juga.

Sekarang Sie le minta obat yang berasal dari kitab racun itu.

Mana dapat!

Obat itu tidak diberikan kepada orang luar, cuma kepada orang dalam!

Maka melengaklah Sie Ie.

Tidak ia sangka Seng Lam bakal mengajukan soal itu.

Dulu itu ia tidak dibinasakan pamannya Seng Lam sebab ia mengaku menjadi suaminya si nona.

Dengan mengajukan soal ini teranglah kehendak Seng Lam.

Sie Ie mesti mengakui si nona sebagai isterinya baru si nona dapat memberikan obatnya itu!

Buat sekian lama Tokciu Hongkay berdiri menjublak, pikirannya sangat kusut.

Seng Lam pun berdiam, cuma dia mengawasi langit.

Dia berkata-kata seorang diri dengan suaranya yang tawar.

"Semenjak masih kecil aku tidak percaya takdir, aku cuma percaya, apa yang aku kehendaki, mesti aku dapatkan! Walaupun sesuatu yang telah bertuliskan, aku ingin merampasnya juga!"

Semua orangpun berdiam, lebih-lebih Lie Kim Bwee.

Di itu waktu tidak ada lain orang yang lebih dipikirkan mempelai perempuan ini kecuali Tokciu Hongkay, maka ia berdiam dengan terus memasang mata.

Ia heran tanpa ia bisa berbuat apa-apa.

Ia melihat mulut orang bergerak, tak ia mendengar sesuatu apa, kecuali kata-kata yang dikeluarkan keras-keras oleh Sie Ie dan Seng Lam tadi.

Justeru ia masih mengawasi itu, tiba-tiba ia melihat Sie Ie bertindak ke arahnya.

Phang Lim menyaksikan itu, ia kaget bukan kepalang.

Dengan lantas ia meraba pedangnya.

"Sabar, adikku!"

Berkata Phang Eng.

"Kau jangan kuatir! Tidak nanti dia melakukan sesuatu yang tidak pantas! Biarkanlah mereka bicara, supaya hati Kim Bwee pun dapat dibikin puas dan lega."

Kim Bwee mengawasi dengan air matanya berlinang-linang. Ia girang berbareng berduka. Ia berdiri menantikan.

"Adik, aku menghaturkan selamat padamu!"

Kata Sie Ie setelah dia datang dekat si nona.

"Maafkan yang aku telah datang terlambat!"

Kim Bwee berdiam sekian lama, baru ia dapat bicara.

"Bagus kau telah kembali!"

Berkata ia.

"Sekarang ini apapun tak usah kau sebut-sebut lagi, aku sudah mengerti dan aku tidak bakal menyesalkan kau!"

"Hari ini hari baikmu,"

Kata Sie Ie.

"sayang aku tidak dapat menghaturkan bingkisan yang berarti padamu. Selama beberapa tahun hidup merantau, aku cuma dapat mengumpulkan barang yang tidak berharga, tapi ini mungkin cukup untuk menyatakan penghargaanku kepadamu!"

Sembari berkata, Sie le mengeluarkan sebuah kotak dan menghaturkannya.

Kim Bwee menyambuti, terus ia buka kotak itu, yang isinya ternyata ialah barang-barang mainan berupa kulit kerang, bulu burung dan batu kecil.

"Inilah bulu burung pacok udang,"

Kata Sie Ie menjelaskan.

"Sayang aku tak dapat menangkap burungnya. Dan ini bulu burung laut yang lebih indah daripada bulu burung jenjang dari gunung Tay-soat San. Dan ini kulit kerang yang aku punguti di Pulau Ular. Sebagaimana kau lihat, banyak sekali macamnya. Batu ini bukan sembarang batu, aku mengumpuiinya dari gunung berapi. Coba kau raba, bukankah seperti masih ada hawa panasnya? Dan itu bibit bunga dari pulau, yang aku tak tahu namanya, coba kau tanam di dekat sumber air, cuma tak tahulah aku dapat tumbuh dan berkembang atau tidak..."

Ketika Kim Bwee dan Sie Ie bertemu mula pertama, ia masih sangat muda mirip dengan bocah cilik, ia masih sangat gemar main-main, sedang selama mereka berada di Taysoat San, ia suka minta Sie Ie menolongi menangkap burung, memetik bunga dan memunguti batu halus.

Sie Ie ingat maka ia membekal hadiahnya ini.

Air mata si nona pengantin mengembeng.

"Kiranya selama merantau, tak ada satu hari yang dia melupakan aku..."

Pikirnya.

"Ya, di mata dia aku benar-benar menjadi adiknya!..."

Maka gemetarlah tangannya memegangi kotak tanda mata itu, hatinya berduka bukan main.

Ciong Tian mengawasi tingkah laku pengantinnya itu, awan kedukaan yang meliputi hatinya buyar lenyap.

Kata ia dalam hatinya.

"Memang aku telah melihatnya hubungan mereka melainkan hubungan kakak beradik. Dahulu hari itu si Kim masih terlalu muda, hatinya mudah tergerak, sampai dia sendiri tak mengetahui tergeraknya sebab apa..."

Dengan air matanya berjatuhan, Kim Bwee berkata.

"Hadiahmu ini lebih berharga daripada barang lainnya apa juga! Engko Sie Ie terima kasih! Aku harap tak usah menanti terlalu lama untuk kami nanti minum arak kegiranganmu!"

Sie Ie tertawa meringis.

"Hari ini juga dapat kau minum arak kegiranganku,"

Kata ia.

"Aku justeru hendak berdamai dengan kau..."

Kim Bwee heran sekali.

"Apa?"

Katanya tak dapat menguasai hatinya.

"Kau... kau... mau menikah sekarang?..."

Segera juga Kim Bwee mengerti, nona yang Sie Ie bakal nikah bukannya Cie Hoa hanya Seng Lam! Sie Ie menguasai dirinya.

"Benar!"

Kata dia perlahan.

"Sekarang aku hendak mengundang kau minum arak kegiranganku! Baru saja aku mengambil putusanku! Karena aku tidak dapat membuat persediaan aku hendak bicara dengan kau. Maksudku ialah aku hendak pinjam tempatmu ini, hendak pinjam segala perlengkapanmu, bahkan hendak pinjam juga arak dan barang-barang hidangannya! Aku minta kau mengatur upacara sekalian mengundang tetamu untuk pesta perjamuannya!"

Kim Bwee tercengang.

"Inilah urusan yang mengenai kebahagiaanmu seumur hidup, apakah kau pernah pikir masak-masak atau tidak?"

Kemudian ia tanya.

"Aku sudah pikir masak-masak!"

Kata Sie Ie dengan suara pasti.

"Apakah kau masih tidak jelas? Kecuali jalan ini sudah tidak ada jalan lain untukku!"

Kim Bwee cerdas, tahulah ia sebabnya putusan Sie Ie ini.

Itulah untuk kebaikannya Kok Cie Hoa.

Ia menjadi masgul sekali.

Tak suka ia melihat Sie Ie menikah dengan Seng Lam, sebaliknya tak dapat ia membiarkan Cie Hoa mati tanpa pertolongan.

Sekalipun air matanya mengem-beng, nona pengantin ini memaksakan diri tertawa.

"Jikalau begitu, engko Sie Ie, hendak aku memberi selamat kepada kau!"

Ia kata.

"Aku tidak sangka sama sekali bahwa kau menikah berbareng satu hari dengan aku! Baiklah, kau boleh lakukan upacara nikahmu disini, telah tersedia segala apa kecuali kamar mempelai, yang masih harus disiapkan dulu, tetapi kamarnyapun sudah sedia!"

Pembicaraan Kim Bwee dan Sie Ie itu telah didengar semua orang, di antara mereka itu lantas terdengar suara menangis perlahan.

Itulah tangisannya Kang Lam.

Ciang Hee segera berbisik di telinga suaminya.

"Orang sama-sama suka, apakah yang kau tangisi?"

"Aku berduka untuk Kok Liehiap. .."

Kata Kang Lam sesegukan.

Tak dapat ia mencegah air matanya, yang mengucur deras.

Ciang Hee menjadi repot lekas-lekas ia membekap mulut orang.

Ketika itu Seng Lam berdiam saja.

Ia seperti tidak mendengar dan tidak melihat segala apa di sekitarnya.

Ia seperti tak sadarkan diri.

Kim Sie Ie sendiri sudah lantas menghampirkan Tong Siauw Lan, sambil menjura dalam ia memberi hormat.

"Tong Tayhiap,"

Ia berkata.

"aku tidak mempunyai ayah dan ibu, tidak juga punya sanak dekat, atau orang yang tertua, maka itu aku mohon bertanya apalah tayhiap sudi menolongku dengan menjadi cuhun dari pernikahan kami?"

Siauw Lan melengak. Inilah di luar dugaannya. Tapi ia berpikir cepat.

"Di antara sahabat-sahabat gurumu yang masih hidup sekarang ini mungkin tinggal kami berdua suami isteri,"

Kata ia selang sejenak.

"dan akupun telah memandang kau sebagai keponakanku sendiri, maka itu baiklah, tak dapat aku menampik permintaan kau ini. Akupun girang sekali mendapatkan kau menikah dengan seorang nona yang paling kosen di kolong langit ini!"

Sikapnya Siauw Lan yang menerima baik permohonan Sie Ie, disambut dengan heran oleh banyak orang.

Itu juga di luar dugaan mereka.

Tapi penerimaan ini jqgo Thiansan ada sebabnya.

Di dalam tempo yang pendek itu, Siauw Lan berduka berbareng mengharap, Seng Lam tangguh hingga tiada orang yang dapat menundukkannya.

Di samping dia Sie Ie lurus.

Pernikahan mereka berdua ganjil, pernikahan itu disayangi.

Tapi pernikahan itu juga tak dapat dibatalkan.

Maka itu timbullah harapannya Siauw Lan setelah mereka itu menikah nanti Sie Ie dapat kesempatan membujuki hingga Seng Lam tidak menjadi seorang yang tersesat, supaya dia tak menjadi ancaman bencana untuk Rimba Persilatan.

Baru sekarang Seng Lam bergerak.

Ia menghampirkan Siauw Lan, untuk memberikan hormatnya.

"Terima kasih, Tong Toaciangbun,"

Katanya.

"Aku bersyukur kau tidak mengingat kejahatanku dan telah sudi menyempurnakan pernikahan kami."

Ia terus menoleh pada Sie le seraya berkata.

"Kau menjadi alpa sekali! Kenapa kau tidak lekas mengundang para hadirin disini buat menjadi tetamu-tetamu kita yang terhormat?"

Sie Ie seperti juga boneka yang dapat diperlakukan sesukanya dalang, tanpa pengutaraan sikap gembira atau berduka, ia berpaling kepada semua orang untuk menjura seraya berkata wajar.

"Hari ini aku akan menikah dengan Nona Le, aku minta semua tuan-tuan sudi memberi muka kepadaku dengan minum secangkir arak kegirangan kami."

Habis berkata, berdiam pula.

Suasana menjadi sangat sunyi.

Tidak ada seorang juga yang memberi jawaban, baik buat menerima maupun buat menampik undangan itu.

Semua orang tercengang.

Tong Siauw Lan mengerti baik suasana itu.

Karena ia sadar, ia lantas berkata.

"Hari ini aku gembira sekali! Dua pasang mempelai telah berkumpul di dalam rumahku ini! Yang sepasang ialah muridku dengan keponakanku, dan yang lainnya Kim Sie Ie yang menjadi keponakan muridku dengan seorang nona yang paling kosen di kolong langit ini! Haha! Inilah kejadian menggirangkan yang paling langka di dalam dunia Rimba Persilatan! Tuan-tuan, silahkan, silahkan kita memberi selamat kepada para mempelai!"

Suaranya Tong Siauw Lan mendapat sambutan meriah.

Sekarang ini mereka semua telah dapat berpikir.

Pertamatama tak dapat mereka tidak memberi muka kepada tuan rumah, yang menjadi jago Thiansan atau yang dipandang sebagai ketua ikatan Rimba Persilatan.

Kedua dengan menghadiri pesta, mereka terutama mengadiri pestanya Lie Kim Bwee.

Tak dapat mereka meninggalkan pesta dari Nona Lie itu.

Dan ketiga, mereka tertarik oleh rasa ingin tahu.

Mereka ingin menyaksikan pernikahan luar biasa dari pasangan yang aneh itu.

Tokciu Hongkay dan Le Seng Lam yang ditakuti itu, si hantu wanita...

Demikian semua orang berkumpul pula di ruang pesta, hanya kali ini, suasana berlainan dari suasana tadi sebelum munculnya Le Seng Lam.

Tadi semua orang memberi selamat dengan sangat gembira pada Lie Kim Bwee berdua, semua wajah berseri-seri.

Sekarang orang kehilangan kegembiraannya itu.

Malah orang-orang Binsan Pay mendongkol berbareng berduka sekali.

Luar biasa adalah Kang Lam.

Ketika ia tiba di ambang pintu, mendadak ia menangis pula dan kata dengan nyaring.

"Biarnya aku dibunuh, tidak mau aku menyaksikan Kim Tayhiap menjalankan upacara nikahnya dengan dia!"

Dengan "dia", ia maksudkan Seng Lam. Parasnya Ciang Hee menjadi pucat, lekas-lekas ia menarik mundur suaminya, sambil menyesali, ia kata.

"Kau tidak mau hadir ya sudah, buat apa kau bicara keras-keras?"

Syukur suaranya Kang Lam ini tak terdengar Seng Lam.

Di meja upacara, lilin pengantin masih belum terbakar habis, akan tetapi Tong Siauw Lan menitahkan orang menukar dengan sepasang yang baru.

'Silahkan salin pakaian, nona!"

Kata sekalian pelayannya Seng Lam.

Dengan cepat orang mengatur kamar pengantin yang baru, dan Kim Bwee, senang atau tidak, mengajak Seng Lam masuk ke kamarnya itu.

Segala apa diatur dengan kesusu.

Ciong Tian berkata pada Sie Ie.

"Saudara Kim, apakah kau hendak salin pakaian yang baru?"

Kim Sie Ie menggeleng kepala.

"Tak usah,"

Sahutnya perlahan.

Tak lama lalu tertampak beberapa pelayannya Le Seng Lam muncul berbaris dengan membawa tengloleng, untuk menjadi pengiring yang jalan di depan dari nona pengantin Le Seng Lam, nona mana sudah dandan dengan rapi, bajunya putih, kun-nya panjang terseret di lantai, hingga ia mesti bertindak dengan perlahan sekali.

Lie Kim Bwee melihat orang cantik bagaikan bidadari, ia berkata.

"Baru sekarang aku ketahui enci Le bukan saja gagah tetapi juga pandai ilmu kerajinan tangan! Lihat, bajunya demikian indah!"

Seng Lam tahu pasti dia bakal menikah maka dia menggunai kesempatan membikin sendiri baju kemantin.

Tapi Kim Bwee itu, di mulut dia memuji, di hati sebenarnya dia menyindir, sebab biar bagaimana, dia tidak puas dengan sepak terjangnya nona yang kosen itu.

Kalau pakaian Seng Lam terbuat dari bahan yang mahal dan buatannya indah, maka pakaiannya Sie Ie si mempelai laki-laki kotor tidak keruan, karena pakaian itu bekas dipakai bergulingan, ada debunya.

Sekarang kedua mempelai berdiri berendeng, pakaian mereka beda secara menyolok mata, hingga nampak lucu.

Walaupun demikian, semua hadirin berdiam.

Semua mereka berduka hati untuk Sie Ie.

Lie Kim Bwee memperhatikan Seng Lam.

Ia melihat wajah orang bersinar luar biasa.

Kelihatan Seng Lam puas akan tetapi sinar matanya layu.

Entahlah sinar mata itu sinar kegirangan atau kedukaan.

Wajah Sie Ie juga luar biasa.

Dia tak mirip orang lagi melakukan upacara nikah, dia lebih mirip dengan seorang tawanan yang dipakaikan belengguan.

Semua orang melihat tegas dia selalu menyingkir dari tatapan mata pengantinnya...

Semua orang tahu hati Sie Ie sangat tersiksa, tetapi tidak ada satu juga yang pernah menduga bahwa dia telah mengambil keputusannya untuk mati.

Le Seng Lam telah menjanjikan dia.

Selesai upacara nikah itu, Seng Lam bakal memberikan obat kepadanya.

Maka ia telah pikir, begitu menerima obat, begitu ia mau berangkat ke Binsan membawa obat itu untuk Cie Hoa.

Pada Seng Lam ia membilangi, setelah menolongi Cie Hoa, ia akan kembali, untuk hidup bersama Seng Lam seperti suami isteri.

Itulah kata-kata di mulut belaka, di hati ia sudah memutuskan untuk membunuh diri.

Jadi sebenarnya ia menaruhkan jiwanya mempermainkan dan mengabui Seng Lam.

Demikian upacara nikah berlangsung dalam suasana tak gembira itu.

Kalau tadinya Sie Ie selalu menyingkir dari tatapan Seng Lam, di saat mereka berhadapan menjalankan upacara, ia tak dapat menyingkir lebih jauh, maka ia melihat tegas wajah si nona.

Ia nampak satu muka yang putih halus sebagai batu pualam, yang cantik sekali, hanya itu bukan lagi kecantikan dari seorang mempelai yang menggiurkan hanya wajah yang menggiriskan...

Selesai upacara, pesta segera dimulai.

Seorang pelayan, yang mengepalai kawan-kawannya, berkata.

"Nona dan baba silahkan masuk ke dalam kamar untuk beristirahat sebentar, kemudian baru keluar pula untuk memberi selamat!"

Seng Lam menurut, ia bertindak masuk.

Sie Ie pun menurut, ia mengikuti.

Ketika itu nampak Seng Lam seperti menyerahkan segumpal kertas kepada pelayannya yang satu itu.

Kim Sie Ie melihat itu, ia kata di dalam hatinya.

"Aku tidak perduli kau bersandiwara apa lagi, pikiranku sudah pasti!"

Setelah berada di dalam kamar, Seng Lam menyuruh semua pelayannya mengundurkan diri. la lantas menutup pintu kamar, setelah mana dengan sabar dan halus ia kata pada Sie le.

"Sie le, apakah kau masih tetap membenci aku?"

Sie Ie tidak menjawab. Nona mempelai menarik napas.

"Tak perduli bagaimana kau membenci aku, hari ini aku telah berhasil menjadi isterimu yang sah,"

Katanya, berduka.

"Dengan begini maka puaslah hatiku..."

"Tidak salah, kau telah berhasil, kau telah mencapai citacitamu,"

Kata Sie Ie. Tak dapat ia berdiam terus.

"Maka itu sekarang, haruslah kau menyerahkan obatmu bukan!"

Seng Lam tidak menjawab hanya dengan sangat berduka ia kata.

"Tahu begini, aku menyesal yang kita sudah pulang dari pulau kosong..."

Dengan rasa tak puas, Sie le kata.

"Bukankah, sekarang ini semua maksud hatimu sudah terkabulkan?"

"Tidak salah, cuma belum seluruhnya..."

Sahut Seng Lam.

"Sie Ie coba kita berada di pulau kosong di mana siang dan malam kita berkumpul saja, nah, itu barulah kepuasan benarbenar!"

Sie Ie pun menghela napas. Di dalam hati itu, ia kata.

"Siapa suruh kau telah berubah menjadi begini rupa? Persahabatan kita dahulu hari itu ada seumpama air Sungai Besar yang mengalir pergi tak untuk kembali!..."

Meski demikian, ia menjawab isterinya itu.

"Sekarang kita telah menjadi suami isteri, maka saat untuk kita terus berada berduaan masih banyak sekali. Kau serahkan obatmu supaya aku dapat segera berangkat pergi, supaya aku dapat lekas kembali."

Seng Lam menghela napas pula.

"Sie Ie, kau toh tidak akan mendustakan aku?"

Katanya, sedang matanya menjadi merah, air matanya mau mengalir turun.

Sie Ie mengawasi nona itu, sinar mata mereka bentrok.

Mendadak ia terkejut.

Sinar mata itu layu dan mengandung penyesalan atau penasaran.

Hatinya menjadi bercekat.

Ia ingat belum pernah ia mendustakan nona itu.

Tapi sekarang, tak dapat ia tak membesarkan hati, ia mesti menebalkan kulit.

"Buat apa aku mendustakan kau?"

Katanya.

"Bahkan sekarang kita telah menjadi suami isteri?"

Seng Lam berdiam. Ia seperti memikirkan sesuatu. Selang sekian lama, baru ia mengeluarkan sebuah kotak kemala.

"Obat pemunah racun itu ada di dalam kotak ini,"

Ia kata perlahan.

"Aku masih hendak memberikan kau beberapa rupa barang..."

Sie Ie tak sempat menanyakan lainnya hal, ia lantas mengulur tangan untuk menyambuti kotak itu. Tiba-tiba Seng Lam berkata.

"Sie Ie, aku masih mengharapi kau dapat menerima baik beberapa permintaanku..."

Sie Ie terkejut.

"Kau telah merubah hatimu?"

Katanya. Sedang di dalam hatinya ia kata.

"Entah dia akan mengajukan soal apa lagi yang sulit..."

Seng Lam bersenyum.

"Kau jangan bergelisah tidak keruan!"

Katanya.

"Tidak perduli aku akan mengatakan apa, aku larang kau memutus setengah jalan. Sie Ie, bukankah di antara kita ada semacam hubungan yang erat? Mungkinkah kau sudah tidak mempunyai kesabaran lagi untuk mendengari aku bicara sebentaran?"

Sie Ie heran. Sikap si nona, juga wajahnya berubah luar biasa.

"Kau bicaralah!"

Katanya. Ia menjadi bersangsi, hatinya bimbang.

"Aku tahu kau menyintai enci Kok,"

Kata Seng Lam.

"Sebenarnya akupun ingin kamu berdua dapat berkesudahan dengan menyenangkan... Aku mengharap, di saat hari nikah kamu, atau di bawah rembulan yang indah permai, satu kali kamu dapat memikir bahwa pernah ada satu orang yang sangat menyintai kau... Kalau sampai terjadi begitu, maka... maka aku pasti bersyukur tak habisnya terhadapmu..."

"Setelah sekarang datang hari seperti ini, buat apa kau mengatakan begini?"

Kata Sie le, suara-nyapun perlahan. Seng Lam tertawa meringis.

"Apakah kau menyangka aku jelus terhadap dia?"

Ia tanya.

"Tidak! Apa yang aku bilang, setiap kata-katanya keluar dari hatiku yang tulus! Sudah, mari kau membiarkan aku bicara terus, untuk menghabiskan kata-kataku. Jangan kau memotong pula, kau dengari saja."

Sie Ie menatap. Ia merasa suara itu tak wajar. Ia menjadi curiga.

"Sie Ie,"

Berkata si nona, sabar.

"kau terima baik permintaanku, setelah itu aku menghendaki kau merawat dirimu baik-baik. Aku minta, apa juga yang terjadi, kau tetapkan hatimu, kau berdiri tegak. Dapatkah kau?"

Hati Sie Ie berdebar keras, dalam curiganya, ia pikir.

"Mustahil dia sudah dapat menebak hatiku yang hendak membunuh diri? Atau apakah racunnya Cie Hoa telah mendalam hingga dia tidak dapat ditolong lagi?"

Seng Lam berkata pula.

"Kau luluskanlah! Setelah kau meluluskan, hatiku lega, akan tetap hatiku menyerahkan obat kepadamu!"

Sie Ie masih bersangsi akan tetapi tak lama.

"Baiklah, aku menerima baik!"

Ia berikan jawabannya. Pada wajah Seng Lam lantas tertampak senyuman. Terus dia berkata.

"Sie Ie, aku mengharap kau nanti meyakinkan lebih jauh ilmu silatmu secara sungguh-sungguh, supaya kau menjadi seorang ahli silat yang melebihkan guru besar yang telah lalu! Aku telah menjadi isterimu, di saat kau berhasil dengan peryakinan kau itu-tidak perduli aku berada dimana, -pasti aku akan sama girangnya seperti kau!"

Permintaan itu, kata-kata itu, dikeluarkan dengan sungguhsungguh. Sie Ie merasakan itu. Maka ia menduga-duga.

"Mungkinkah dia hendak menyerahkan padaku kitab silatnya Kiauw Pak Beng?"

Ia tidak mengharapkan kitab silat itu akan tetapi hatinya tergerak.

"Terima kasih untuk kebaikan kau,"

Katanya.

"Aku bersyukur untuk pengharapanmu itu atas diriku ini! Nanti aku lakukan semua dengan sungguh-sungguh."

Di mulut Sie Ie mengucapkan demikian, ia masih tak merubah pikirannya yang nekad. Seng Lam menghela napas lega.

"Kaulah orang yang paling mengutamakan kepercayaan,"

Kata ia pula.

"Kau telah menerima baik permintaanku, hatiku lega..."

Sie Ie menguatkan hati. Ia malu sendirinya. Ia sudah mendustai si nona. Ia menguasai diri supaya ia tak mengentarakan apa-apa, agar rahasia hatinya tak bocor sendirinya.

"Baiklah!"

Kata si nona.

"Nah ini kotak kemala, kau boleh ambil!..."

Sie Ie menyambuti.

"Kau hendak membilang apa lagi?"

Ia tanya.

"Aku hendak pergi sekarang?"

"Mari biar dekat!"

Kata Seng Lam.

"Kau biarkan aku memandang kau lagi sekali... Mari, mari ijinkan aku mencium kau!..."

Sie Ie sangat membenci nona ini, tetapi entah kenapa, sekarang hatinya sangat tergoncangkan, maka tanpa merasa, ia membiarkan dicium dan ia membalasnya!

Mendadak alis Seng Lam terbangun, dia bersenyum, dia tertawa puas, hingga dia nampak cantik luar biasa, bagaikan bunga mawar mekar sedang indahnya.

Dia kata perlahan.

"Sie Ie, sebenarnya kau juga menyinta aku..."

Mendadak pula lenyaplah tertawanya, dia menjadi bunga mawar yang layu...

Sie Ie heran dan kaget sekali.

Lebih-lebih ketika ia merasakan tubuh si nona, yang berada dalam rangkulannya, mendadak menjadi kaku dan dingin!

Tatkala Seng Lam menempur Tong Siauw Lan, dia telah menggunai semua tenaga dalamnya, dia sudah menggunai ilmunya yang dinamakan "Thianmo Kaytee Tayhoat", atau ilmu "Hantu Langit Mengurai Tubuh".

Dia dapat bertahan tetapi rusaklah tenaga dalamnya itu, dia terluka parah di dalam tubuh, tetapi dia memiliki tenaga dalam yang sesat, untuk lama dia dapat menutup diri, untuk bertahan terus.

Hanya sekarang setelah maksud hatinya kesampaian, tak sanggup dia bertahan terlebih lama pula, tenaganya habis, maka menyusul melayang rohnya, tubuhnya cepat sekali menjadi beku.

"Seng Lam! Seng Lam!"

Sie Ie memanggil-manggil, kagetnya bukan main.

"Kau mau apa? Kau mau apa? Akan aku meluluskan semuanya!..."

Akan tetapi Le Seng Lam telah tidak dapat memberikan penyahutannya.

Sie Ie berdiri menjublak.

Dia bagaikan dihajar guntur secara tiba-tiba.

Matanya kabur secara mendadak.

Lenyap perasaannya, hingga tak dapat ia menangis meski hatinya menangis, tak dapat ia mengeluarkan suaranya!

Sekonyong-konyong pintu kamar ditolak terbuka disitu muncul pelayan-pelayannya Seng Lam.

"Benar-benar siocia kami mati!"

Seru yang menjadi kepala.

Itulah kata-kata yang diakibatkan diserahkannya surat Seng Lam kepada hambanya itu.

Itulah surat peninggalannya yang terakhir, surat wasiat.

Dengan itu sekalian pelayan itu dipesan untuk mengurus mayatnya.

Si nona memesan.

baru setelah terdengar suara keras apa-apa di dalam kamar mereka diijinkan masuk ke dalam.

Tadinya mereka semua cuma menantikan di luar kamar.

Mendadak Sie Ie berseru.

"Seng Lam, aku menyesal!"

Ia memeluk keras tubuh si nona, tanpa merasa ia menciumnya berulang-ulang. Beberapa pelayan itu pada menangis, dengan pedangnya masing-masing, mereka menuding Tokciu Hongkay, si pengemis edan.

"Semua-semua dasar kau!"

Mereka berseru.

"Kaulah yang mencelakai nona kami!"

Sie Ie berdiam saja, ia masih memeluki tubuh Seng Lam, matanya menatap isteri yang sah itu. Karena itu ia tidak menghiraukan ancaman banyak pedang.

"Nona memesan kita tidak boleh membunuh dia!"

Berseru si pelayan kepala. Ia lantas maju, untuk menyambuti tubuh Seng Lam. Ia kata pada Sie Ie.

"Siocia memesan kau tak usah perdulikan lagi urusan siocia, siocia cuma ingin supaya kau lekas lakukan pesannya! Lekas kau berangkat!"

Sie Ie menepuk-nepuk dadanya.

"Seng Lam, kau pergilah dengan tenang!"

Katanya kemudian.

"Sekarang ini aku mengakui kaulah isteriku!"

Kemudian ia kata pada sekalian pelayan itu.

"Kamu rawat baik-baik nonamu, kamu kubur dia, tetapi kamu tinggalkan batu nisan yang kosong, sampai nanti aku datang untuk mengisinya!"

Tangisan Sie Ie dan seruan para pelayannya Seng Lam menyebabkan banyak orang datang berkumpul, maka mereka jadi mendapat tahu Nona Le telah menutup mata secara tibatiba.

Mereka kaget dan heran, dengan sendirinya terjadilah kegemparan di antara mereka, yang saling menanya atau menduga-duga.

Sie Ie tidak memperdulikan orang banyak itu, ia nerobos di antara mereka, untuk lari keluar.

Bahkan teriakannya Lie Kim Bwee, yang memanggilnya, tak dapat membikin ia menghentikan tindakannya!

*** Kok Cie Hoa terus menderita selama dua tahun, tubuhnya menjadi semakin rongsok dan lemah, hingga sekarang ia merasa pasti tak lama lagi harinya yang ia bakal hidup di dalam dunia ini.

Memang ia pernah memesan Kim Sie Ie tak usah datang menjenguk pula padanya.

Akan tetapi sekarang, di hari-hari yang ia merasa ajalnya bakal tiba, mendadak ia ingat pula Tokciu Hongkay, hingga timbul keinginannya buat melihat barang satu kali lagi...

Delapan belas hari sudah berlalu semenjak peristiwa menyedihkan di gunung Thiansan.

Terpisahnya Binsan dari Thiansan ribuan lie jauhnya, sudah wajar Cie Hoa tak tahu apa-apa mengenai peristiwa di gunung itu.

Tapi ia menantikan kembalinya utusan Binsan Pay, yang pergi untuk memberi selamat kepada Lie Kim Bwee yang menikah itu.

Ia ingin mendengar kabar menggirangkan dari nona Lie.

Hari itu Tiong Bouw mendampingi Cie Hoa di tepi pembaringan.

Ia menemani si nona, adik seperguruannya yang berbareng menjadi ketuanya, untuk memasang omong.

Dengan begitu ia mau menghibur ketuanya itu.

Ia tahu apa yang si nona buat harapan.

"Sumoay, jangan tak sabaran,"

Katanya perlahan.

"Kau tahu sendiri, jalanan sangat jauh. Mana dapat Pek Sutee pergi dan pulang cepat-cepat? Kau tahu, Tong Tayhiap serta keponakannya, Kim Bwee, sangat mengharap-harap kau, maka juga baru ini sengaja minta Siauw Ceng Hong membawakan obat Pekleng Tan. Sebenarnya semua orang sangat' memikiri kau..."

Cie Hoa tertawa menyeringai.

"Aku kuatir tak dapat aku menunggu pulangnya Pek Suheng..."

Sahutnya lemah.

Dalam hidupnya itu, kecuali Kim Sie Ie, Cie Hoa sangat memikirkan Lie Kim Bwee.

Di samping ia bergirang untuk Kim Bwee, yang telah menikah itu, diam-diam ia bersusah hati.

Kim Bwee sudah menikah, itu artinya hidupnya dia sudah ada kepastiannya, tetapi ia sendiri, ia mesti rebah sakit dan sakitnya parah.

Sekarang, selagi ajalnya lagi mendatangi, ia menyesal tak dapat melihat wajahnya orang yang ia cintai...

Sorenya setelah merasa letih, Cie Hoa rebah kepulasan.

Segera ia mendapat impian yang buruk, la melihat Sie Ie datang padanya dengan pakaian berkabung, sambil mengucurkan air mata darah.

Baru ia hendak menarik tangan si pemuda, tiba-tiba Seng Lam datang menyelak di antara mereka, nona itu sudah lantas menyerang dengan pedangnya!

Dalam kagetnya Nona Kok berseru.

"Sie Ie! Sie Ie!"

Justeru itu ia merasa ada tangan yang lunak yang mengusap-usap rambutnya, disusul dengan pendengaran atas satu suara yang ia kenal baik.

"Cie Hoa! Cie Hoa! Benar, Cie Hoa, aku yang datang!..."

Cie Hoa lantas membuka matanya. Maka ia melihat Sie Ie duduk di sisinya. Ia heran hingga ia merasa masih sedang bermimpi.

"Bagus!"

Terdengar suaranya Ek Tiong Bouw.

"Sie Ie telah datang dengan membawa obat! Dia berdiam disini menantikan bangunmu, sudah setengah harian dia menantikannya!"

Ia memutar tubuh memandang Sie Ie, untuk menambahkan.

"Aku mau keluar untuk menyampaikan berita girang ini kepada semua orang, supaya mereka mendapat tahu dan menjadi girang karenanya!"

Sebenarnya Tiong Bouw bisa berpikir.

Ia mencari alasan untuk mengundurkan diri supaya dua orang itu dapat bicara dengan merdeka.

Dengan tangannya yang telah tak bertenaga, Cie Hoa mencoba menyekal erat-erat tangan Sie Ie.

Ia merasa bahwa ia memegang sebuah tangan dari orang yang berdarah daging.

Jadi itulah bukti nyata ia bukan lagi bermimpi.

Maka ia lantas menarik napas lega.

"Oh, kiranya benarlah kau!"

Katanya.

"Jadinya kita bukan bertemu di dalam impian..."

"Aku telah memberi janji padamu, mesti saja aku dapat membawakan obat untukmu,"

Kata Sie Ie.

"Sekarang kau jangan kesusu bicara saja, paling dulu marilah makan obatmu! Ini obatnya!"

Sie Ie memegang tubuh orang, buat dihantui bangun dan duduk. Ia lantas menuang secangkir air teh, yang ia bawa ke bibir si nona.

"Oh, Sie Ie,"

Kata nona itu.

"tak tahu bagaimana aku harus bersyukur terhadapmu..."

Mendengar itu, Sie Ie tertawa meringis.

Getir ia merasa di dalam hati.

Cie Hoa melihat air muka orang, hatinya menggetar.

Tibatiba ia ingat impiannya barusan.

Sie le tidak mau memberikan ketika orang bicara, ia lantas masuki obat ke dalam mulut orang, lalu terus ia menyusul dengan airnya, buat si nona minum, guna mengasih turun obat itu ke dalam perut.

Lekas juga perut si nona berbunyi bergerijukan.

"Kau rebahlah,"

Kata Sie Ie, yang merebahkannya.

"Kau menyalurkan napasmu perlahan-lahan, nanti aku membantu meng-emposnya. Dengan begini obat menjadi lebih mudah hancur dan bekerja."

Cie Hoa menurut.

Ia menyalurkan napasnya, ia tak mau ingat apa-apa lagi.

Sie Ie pun bekerja.

Dengan lekas Nona Kok merasakan hawa hangat masuk ke dalam seluruh tubuhnya, dengan lekas juga ia merasa nyaman, hatinya lega sekali.

Sie Ie masih menguruti, sampai ia kata.

"Disini ada sehelai surat obat. Kau mesti makan obat ini sampai sepuluh kali, dengan begitu racun dari dalam tubuhmu bakal terusir semuanya, hingga selanjutnya kau akan jadi sembuh dan sehat seperti sediakala."

Cie Hoa berduduk dengan hati terbuka.

Untuknya tinggal tenaganya saja yang belum dapat segera pulih.

Ia lantas menatap si anak muda.

Ia gembira sekali.

Akan tetapi, ia merasa sinar mata Sie Ie sayu.

Tentu sekali ia mengawasi dengan heran.

"Sie Ie,"

Ia tanya, perlahan.

"kau lagi memikirkan apa? Ah, sungguh aku tidak sangka bahwa aku akan dapat melihat pula padamu. Sampai tadi malam aku masih tidak sangka bahwa aku akan dapat melihat pula padamu. Sampai tadi malam aku masih tidak menghiraukan soal hidup atau mati, aku cuma pikir, asal aku melihat kau lagi sekali, rela aku meninggalkan dunia ini... Sekarang ini ternyata, bukan saja aku masih berhasil melihatmu, bahkan aku dapat hidup terus! Sie Ie, mengapa kau nampaknya tidak gembira?"

"Sebenarnya aku gembira sekali!"

Kata Sie Ie.

"Dengan lenyapnya bahaya yang mengancam jiwamu, dosaku jadi diperenteng..."

Selagi mengucap demikian mata Tokciu Hongkay merah. Ia berduka dan menyesal, hatinya perih. Cie Hoa heran, ia memandang melengak.

"Sie Ie, apakah kau masih berduka karena memikirkan kenapa aku mendapat sakitku ini?"

Ia tanya.

"Kau tak usah berkecil hati dan berduka. Segalanya kesalahan si nona... Nona Le..."

Sie Ie menyela.

"Bukan, kau tak tahu!..."

"Aku tak tahu apa?"

Si nona pun menyela.

"Kesalahan dia itu ialah kesalahanku,"

Sahut Sie Ie.

"Aku yang harus bertanggung jawab..."

Hati si nona berdebaran. Sie Ie bicara sungguh-sungguh. Ia terus menatap.

"Sie Ie,"

Katanya kemudian, suaranya bergemetar.

"bagaimana caranya kau mendapatkan obat ini? Apakah dia rela memberikannya kepadamu?"

"Ya,"

Sahutnya Sie Ie, mengangguk, suaranya perlahan.

"Begitu? "kata si pemudi.

"Mana dianya sekarang?"

"Dia... dia..."

Sahut Sie Ie, sukar.

"dia... dia... dia sudah menutup mata!..."

Tak dapat dicegah lagi, air mata Sie Ie turun bercucuran.

Cie Hoa mendelong mengawasi pemuda itu.

Segera ia dapat menerka segala apa.

Cuma ia belum tahu cara matinya Seng Lam.

Yang terang ialah Sie Ie itu menyintai juga Seng Lam!

"Cie Hoa,"

Kata Sie Ie kemudian.

"aku selalu menghargai dan menyayangi kau, untuk selamanya, perasaanku itu tidak bakal berubah, akan tetapi di samping itu aku sudah berjanji pada satu orang, aku telah memberikan perkataanku. Aku bukan memberikan janjiku selagi dia masih hidup hanya setelah dia menutup mata, aku memberikannya di dalam hatiku. Maka itu sekarang, selama aku hidup, kecuali dia, di dalam hatiku tidak ada orang lain lagi... Cie Hoa, Cie Hoa, dapatkah kau mengerti ini? Dapatkah kau memaafkan aku?"

Sie Ie bicara terputus-putus, air matanya mengucur terus.

"Sebenarnya di saat kematiannya bakal datang, aku telah menikah padanya. Tapi waktu itu aku tidak tahu... aku tidak tahu bahwa dia bakal mati... Aku cuma tahu ingin mendapatkan obatnya... Akan tetapi, meski juga benar bukan aku yang membunuhnya, toh akulah yang menyebabkannya. Aku tidak menyebut dia sebagai isteriku, adalah setelah dia menutup mata itu, aku mengakuinya..."

Tubuh Cie Hoa bergemetar, tetapi dia menahan air matanya.

"Seorang laki-laki mesti menghargai kata-katanya!"

Berkata ia, suaranya halus.

"Setelah sah kau dan dia menjadi suami isteri dan kau mengakuinya di dalam hatimu, maka dia haruslah kau pandang sebagai isterimu sendiri. Sie Ie, aku bersyukur yang kau datang menjenguk aku, aku pun bersyukur yang Nona Le suka memberikan obatnya itu! Sie Ie, untuk selama-lamanya akan ku'pandang kau sebagai sahabatku yang paling baik. Sie Ie, jangan kau berduka atau berkuatir untukku, aku dapat menerima apa yang aku mesti dapatkan!" 'Cie Hoa, kau jauh terlebih kuat daripada aku,"

Kata Sie Ie.

"Jikalau kau tidak mengatakan begini, tidak nanti aku dapat bertahan... Cie Hoa, untuk selamanya, akan aku hargai dan menyayangi kau!"

Keras sekali Sie Ie menggenggam tangan si nona, air matanya meleleh turun ke tangan nona itu, setelah ia melepaskan cekalannya lantas ia ngeloyor keluar dari dalam kamar.

Lama setelah orang sudah pergi, baru Cie Hoa mendusin dan menangis.

Memang, ia lebih kuat daripada Sie Ie, akan tetapi kedukaannya mungkin melebihkan kedukaan Kim Sie Ie...

*** Berselang satu bulan, maka pada sisi sebuah kuburan terlihat seorang muda memasang batu nisan, bunyinya katakata yang terukir di atasnya ialah.

"Kuburan Le Seng Lam, isteriku yang tercinta."

Pemuda itu ialah Kim Sie Ie.

Ia memasang nisan untuk nona yang ia benci tapi mencintainya.

Mulanya ia mencintai Cie Hoa tetapi Seng Lam mendesaknya.

Seng Lam mendesak tanpa menghiraukan segala apa.

Cinta Seng Lam buta hingga dia melakukan sesuatu tanpa memikir banyak-banyak, asal dia berhasil.

Itulah tanda dari kekuatan hatinya, yang tak kunjung padam.

Habis memasang batu nisan Sie Ie mengeluarkan dua

Jilid buku, segera ia bakar itu di depan kuburan isterinya. Ia kata perlahan.

"Seng Lam, inilah milikmu, kau ambillah pulang!..."

Itulah kitab silat warisan Kiauw Pak Beng yang orang lain sangat ingin mendapatkannya tetapi Sie Ie tidak hargai sama sekali, maka ia membakarnya.

Ia tak suka melihat lagi warisan isterinya itu.

Ia telah membaca kitab itu, ia tidak mau menyimpannya.

Inilah buat menyingkirkan bencana di belakang-hari.

Siapa tahu apabila ada orang yang ingin memilikinya?

Sie Ie telah menggabung ilmu silatnya sendiri dengan isi kitab wasiat itu.

Habis membakar kitab, ia berdiri mematung di depan kuburan.

Ia membiarkan matahari menyinarinya, membuat tubuhnya mengeluarkan bayangan.

Maka juga dengan menjublak ia mengawasi bayangannya sendiri itu, sampai merasa bayangan itu berubah menjadi bayangannya Seng Lam...

-TAMAT -CATATAN 12) halaman 890.

Dalam kisah Kangouw Sam Liehiap (Tiga Dara Pendekar), diceritakan kisah masa muda Tong Siauw Lan (Teng Hiau Lan).

Tong Siauw Lan adalah putera dari Kaisar Khong Hie dari selir.

Jadi sebenarnya kaisar Kian Liong adalah keponakannya, karena ayah Kian Liong, Yong Ceng adalah saudara tiri Tong Siauw Lan.

13) halaman 997.

Sebenarnya waktu itu Kiauw Pak Beng menipu Hok Thian Touw.

Kiauw Pak Beng membutuhkan pelajaran ilmu tenaga dalam aliran lurus untuk mencapai Siulo Imsat Kang tingkat terakhir (tingkat sembilan).

Maka ia purapura mengajak Hok Thian Touw mengadu kepandaian secara teori (piebun), maka tanpa terasa Hok Thian Touw membocorkan rahasia tenaga dalam aliran Thiansan, sehingga akhirnya Kiauw Pak Beng berhasil menggabungkan sesat dan lurus, dan berhasil mencapai Siulo Imsat Kang tingkat terakhir.

Siulo Imsat Kang tingkat terakhir ini demikian hebatnya, hingga jago nomor satu saat itu, Thio Tan Hong, hampir saja kalah.

Thio Tan Hong akhirnya menang tipis, hal ini juga karena sebelumnya Kiauw Pak Beng "dikuras"

Lebih dulu tenaganya.

Kisah menarik ini dapat diikuti dalam Kisah Pedang Bersatu Padu (Lian Kiam Hong In).

IKUTI KISAH SELANJUTNYA.

PENG HO SWEE KIAM KISAH PEDANG DI SUNGAI ES karya Gan KL -Bagaimana kelanjutan kisah Kim Sie Ie dan Kok Cie Hoa?

-Dalam kisah ini muncul jago muda yang merupakan murid dari Kim Sie Ie, Kang Hay Thian.

Kang Hay Thian adalah putera dari Kang Lam.

Baca Juga: Meteor Kupu Kupu Dan Pedang 4

Baca Juga: Pendekar Cacad 12

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger