Eps 12 Perjodohan Busur Kumala - Liang Ie Shen
Baca online Perjodohan Busur Kumala - Liang Ie Shen
Cersil Perjodohan Busur Kumala - Liang Ie Shen.
Tiba-tiba mereka bersomplok-an dengan Seng Lam, yang lari keluar.
Nona itu riap-riapan rambutnya, dia tak terlihat tegas, dia asing.
Hansie menyerukan suara heran dan kagetnya, sebelum dia sempat menanya, dia dibikin kaget pula oleh sikap Seng Lam.
Si nona menghunus pedang Cay-in Kiam dengan apa ia memapas!
Bukan kepalang kagetnya nyonya rumah.
Kedua goloknya kena terpapas kutung pedang nona itu!
Phang Lim gusar, ia menyerang dengan ikat pinggangnya.
Ia mau menggulung kedua kaki si nona.
Seng Lam tak menghiraukan serangan itu.
Dengan berani, dengan sebat, ia menyambut dengan tabasannya.
Pedangnya pedang mustika yang terlebih tajam dari pedang Yuliong Kiam, maka itu ikat pinggang si nyonya tak berdaya menghadapinya.
Kontan ikat pinggang itu kena dibabat kutung, tak perduli Phang Lim mencoba menolongnya dengan tipu silat huruf "Lolos".
Maka ikat pinggang itu tinggal sepotong!
Ek Tiong Bouw sudah lantas mengenali si nona sebagai si wanita muda yang mengacau Beng Keechung, sarangnya Beng Sin Thong, ia lantas berteriak.
"Inilah kenalan!"
Phang Lim sendiri sudah siap dengan seraup biji catur dengan apa ia telah menimpuk dengan tipu silat "Thianlie Sanhoa".
Biji catur jauh lebih berat daripada bunga atau daun, tak heran jikalau serangannya ini berbahaya luar biasa.
Seng Lam melindungi diri dengan pedangnya, tak urung dia kena terhajar pada jalan darahnya, honghu di punggung, kinceng di pundak kiri, dan tekma di kaki kanan, syukur ia telah melatih diri dengan ilmu silatnya Kiauw Pak Beng yaitu "Na-ie Hiattoo", maka meski ia merasakan nyeri, ia masih dapat bertahan hingga tak usahlah ia sampai roboh.
Phang Lim mendapat dengar suaranya Tiong Bouw itu, ia menunda menyerang lebih jauh.
Di tangannya masih ada sisa lima atau enam biji caturnya.
Seng Lam menggunai orang berhenti menyerang, dia lompat melewati tembok pekarangan, untuk menyingkirkan diri.
Ketika itu ialah saatnya Kok Cie Hoa berteriak-teriak ada penjahat, maka Hansie dan Phang Lim tak menghiraukan Seng Lam, keduanya lari ke arah suaranya Cie Hoa itu, hingga Nyonya Phang dan Sie Ie telah bersomplokan.
Phang Lim heran sampai ia melengak, begitu pun Hansie.
Sie Ie tidak dapat dikenali ibunya Kim Bwee lantaran ia memakai topeng, sedang Cie Hoa mengenali Tokciu Hongkay dari suara orang.
Cie Hoa lari pada ibu angkatnya tanpa dapat menahan diri lagi, ia roboh di dalam rangkulan ibu itu, tubuhnya menjadi lemas, hingga Hansie mesti memeluknya dengan keras.
Hansie kaget dan heran.
"Cie Hoa! Cie Hoa! Kau kenapa?"
Tanya si ibu. Dengan suaranya tak tegas, tetapi cepat, Cie Hoa kata.
"Ibu, mari kita lekas berlalu dari sini!"
Menyusul kata-katanya Nona Kok, dari tempat yang dekat terdengar suara tertawa dingin dari Seng Lam.
"Hm! Hm! Haha!"
Dengan kecerdasannya Phang Lim lantas menduga pasti orang tadi Kim Sie Ie adanya.
Sikapnya Cie Hoa ini luar biasa sekali, sikap itu mendatangkan kecurigaannya hingga ia lantas menerka.
Ia menjadi mendongkol sekali, maka dengan sisa biji caturnya ia lantas menyerang sambil ia berseru.
"Bagus kau masih ada muka menemui aku!"
Kim Sie Ie yang belum mengangkat kaki berseru dengan tubuhnya berbareng melesat ke atas tembok pekarangan untuk melewatinya.
Ia berduka karena urusannya yang ruwet dan sulit sekali itu, terpaksa ia mesti mengangkat kaki dulu.
Biji-biji catur mengenai tubuhnya tetapi ia tidak menghiraukannya, benar semua biji itu terpental balik, ia toh merasakan nyeri, cumalah itu tak senyeri luka di hatinya karena sikapnya Cie Hoa itu.
Ia menyingkir untuk menyusul Seng Lam, yang kabur ke jalanan kecil di samping gunung.
Ia dapat menyandak, lantaran Seng Lam berhenti lari, bahkan nona ini kata dengan dingin.
"Jauh-jauh kau datang ke kota Siangyang ini, mengapa kau tidak berdiam lebih lama dengan kekasihmu itu? Kenapa kau menguber aku? Mau apakah kau?"
Sie Ie mendongkol hingga ia seperti lupa akan dirinya. Sepasang matanya melotot. Kata ia dengan nyaring.
"Sebenarnya apakah yang kau omongkan dengan dia?"
Dengan tawar Seng Lam menjawab.
"Aku tidak omong apaapa! Orang yang kau kasihi itu, menempel dia aku tak sanggup, cara bagaimana aku dapat berbuat salah terhadapnya?"
"Sebenarnya kau omong apa dengannya?"
Sie Ie membentak. Dengan acuh tak acuh, Seng Lam menjawab.
"Kau kelihatannya begini bernapsu, mengapa kau tidak tanyakan sendiri kepadanya?"
Dia hening sejenak, lalu mendadak dia tertawa dan menambahkan.
"Kau jangan kuatir! Terhadapnya aku bermaksud baik! Apa yang aku beritahukan dia adalah apa yang dia ingin ketahui!"
"Sebenarnya urusan apakah itu?"
Sie Ie mendesak.
"Aku minta arak kegirangan dari dianya! Arak pemberian selamat!"
Kata Seng Lam, tertawa.
"Aku membilangi dia bahwa pada tiga tahun yang lampau di pulau kosong, aku dan kau sudah menikah, bahwa karena berada di pulau itu aku tidak mempunyai kesempatan mengundang dia minum arak pengantin, dari itu aku minta dia tidak menjadi kecil hati. Karena aku tidak dapat mengundang dia, aku minta dia janganlah sampai nanti tak mengundang aku meminum arak pengantin kamu. Aku juga menasihati dia, di hari nikahnya nanti supaya dia mengundang lebih baayak jago-jago Rimba Persilatan buat menjadi saksi, supaya pernikahannya menjadi terlebih kuat!..."
"Kau!... kau!... kau!... teriak Sie Ie, yang tak dapat melanjutkan kata-katanya karena mendongkolnya yang sangat. Seng Lam pun memotongnya.
"Kau apa?"
Sebenarnya Sie Ie hendak mengatakan "Kau tidak tahu malu!"
Tetapi disela si nona dapat juga ia sedikit menguasai dirinya. Maka ia kata.
"Kau keterlaluan! Taruh kata kau bergurau denganku, tak dapat kau bergurau begini macam! Ketika tiga tahun dulu itu aku menikah denganmu, kita menikah karena paksaan pamanmu! Bukankah terlebih dahulu daripada itu aku telah bicara jelas denganmu bahwa kita hanya suami isteri palsu, bahwa sekembalinya kita ke Tionggoan ini, kita menjadi kakak beradik?"
Seng Lam mengawasi, romannya sungguh-sungguh.
"Kim Sie Ie!"
Katanya, nyaring.
"kau memakai aturan atau tidak?"
Mukanya Sie Ie pun padam. Tapi ia masih menahan sabar.
"Bagus ya!"
Serunya.
"Kau punya aturan apa? Ingin aku dengar!"
"Biarnya di pulau kosong itu kita suami isteri palsu,"
Kata Seng Lam.
"kenyataannya ialah kita benar sudah menjalankan upacara! Benar, bukan? Aku cuma bicara dari hal yang benar dengan Cie Hoa, aku tidak membilang dia bahwa kita memanglah suami isteri tulen. Dialah yang salah! Siapa suruh dia lantas pergi menyingkir begitu mendengar perkataanku itu? Apakah dengan begitu dapat kau persalahkan aku?"
Sie Ie mendongkol bukan main, ia gusar tak terkira, sampai ia berdiam saja. Selang sejenak, baru ia dapat membuka mulutnya.
"Baik!"
Katanya.
"Sekarang aku hendak tanya lagi. Kemarin ini kita pergi ke warung teh di tengah jalan itu. Aku pergi ke pasar untuk membeli pakaian. Aku minta kau menantikan aku. Kenapa kau tidak menunggui aku? Bukankah kau sengaja menghilang?"
"Benar!"
Sahut Seng Lam ringkas.
"Kalau begitu, apakah salahku?"
Tanya Sie le, gusar.
"Kenapa kau... kau... kau..."
Tak dapat ia berkata terus.
Sebenarnya ia mau menanya kenapa Seng Lam omong demikian macam terhadap Cie Hoa, itu toh sama seperti hendak merenggangkan ia dari Nona Kok, entah kenapa, ia dapat mencegahnya.
Seng Lam tidak dapat mengambil mumat orang lagi sangat gusar itu.
Dia tertawa dingin.
"Habis bagaimana kau dengan aku?"
Dia tanya.
"Hari itu kau mempedayakan aku! Kau bilang kau hendak mencari pakaian untukku, sebenarnya kau pergi menguntit itu dua bocah cilik dari Binsan Pay, untuk mencari tahu halnya nonamu she Kok itu! Apakah kau sangka aku tidak tahu itu?"
Seng Lam cerdas luar biasa, dia mudah timbul kecurigaannya.
Ketika mereka bertemu kedua anak muda she Pek dan she Louw itu, dia lantas melihat air muka Sie le berubah.
Kemudian lagi, dugaannya menjadi terlebih keras setelah dia mendengar suaranya Tokciu Hongkay.
Maka itu karena kecurigaannya, begitu Sie le pergi, dia pun menyusul dengan diam-diam, guna menguntit, guna mencari rahasia.
Bahkan dia mendahului Sie Ie pergi ke Siangyang dan sampai setengah hari terlebih dahulu.
Maka ketika Sie Ie tiba di rumah Hansie, dia sudah bersembunyi di dalam rumah keluarga she Kok itu.
Sie Ie berdiam sebentar, lalu timbul pula kegusarannya.
Dia melotot mengawasi si nona.
"Memang dalam hal itu aku mendustai kau,"
Kata dia, mengakui.
"tetapi itu bukannya alasan untuk kau bertindak begini macam! Baik, mari aku menanya pula! Bukankah kau yang membinasakan suami isteri tua pemilik warung teh itu?"
"Tidak salah!"
Seng Lam mengakui.
"Aku melakukan guna menutup mulut mereka! Mereka sudah berumur tujuh puluh lebih kurang, taruh kata aku tidak membunuhnya, mereka tak akan hidup banyak tahun pula..."
Sie Ie gusar hingga dia berjingkrak, tanpa merasa, sebelah tangannya melayang.
Akibatnya itu ialah satu suara nyaring di pipinya Seng Lam yang tidak menyangka Sie Ie bakal berbuat demikian, ia tak dapat berkelit.
Ia lantas lompat dan berseru tajam.
"Kim Sie Ie! Baik, baik, kau kejam ya! Aku sumpah, biarnya aku mesti mati, tak nanti aku bikin kau dapat hidup selamat dan berbahagia!"
Lalu dengan menutupi mukanya, ia lari kabur!
Habis menggampar itu, Sie Ie menjadi menyesal.
Ia merasa nyeri sendirinya.
Ia berdiri menjublak, tenaganya seperti habis.
Setelah lewat sekian lama, baru ia sadar.
"Aku telah lakukan apa? Aku telah lakukan apa, ya?"
Ia ngoceh sendiri.
"Kenapa aku memukul dia? Mengapa aku memukul dia?"
Mendadak ia meninju dadanya, terus ia berkaok-kaok.
"Seng Lam! Seng Lam!"
Tapi Nona Le sudah lenyap, suaranya itu merupakan kumandang belaka.
Tubuh Sie Ie menggigil, matanya seperti berkunangkunang, di depan matanya lantas terlihat pemandangan ini.
Itulah medan pertempuran di gunung Binsan.
Malam.
Ia menolongi Kok Cie Hoa dari kuil Hianbiauw Koan.
Di saat ia hendak mengutarakan rasa hatinya kepada Cie Hoa, tiba-tiba Seng Lam muncul.
Dengan akal muslihatnya, Seng Lam menghambat, mencegahnya menyusul Cie Hoa.
Sekarang, tanpa menutup matanya, ia seperti melihat muka Seng Lam berlumuran darah, tubuh Seng Lam bagaikan bergoyang limbung di hadapannya.
Tanpa merasa, ia berseru keras.
Lalu, kata ia seorang diri.
"Seng Lam! Dia... dia... Mungkinkah dia menghabiskan jiwanya sendiri?-Ah, aku bikin dia bersusah hati, aku bikin dia berduka..."
Begitu memikir demikian, seperti kalap, Sie Ie kabur ke arah menghilangnya Seng Lam, untuk mencari.
Berulangulang ia memanggil-manggil dengan suara Thiantun Toan-im.
Entah berapa ratus kali ia menyebut nama nona itu.
Ia lari terus menerus, berputaran.
Ia tidak memperdulikan sang duri melukai ia di sana-sini.
Akhirnya ia menjadi lelah sendirinya.
Ia menjatuhkan diri mendeprok di tanah.
Di sisinya itu ada solokan yang airnya mengalir, ia mencuci mukanya, ia membersihkan darah di tubuhnya.
Ia berdiam sekian lama hingga kesegarannya pulih.
Pikirannya tetap ruwet.
Ia melihat sinar mata bengis dari Seng Lam tadi.
la ingat akan ancamannya Seng Lam itu, yang tak mau membikin ia berbahagia seumur hidupnya!
"Tidak, tidak nanti Seng Lam membunuh dirinya,"
Kemudian ia pikir.
"Terang dia membenci aku dan Cie Hoa, mesti dia akan berdaya mewujudkan sumpahnya itu."
Baru pemuda ini merasa tenang, atau lain ingatan menyandingi padanya. Dalam bimbangnya ia tanya dirinya sendiri.
"Sie Ie, kau sebenarnya menyintai Cie Hoa atau Seng Lam?"
Ia ingat ia menyintai Cie Hoa, tapi setelah ia menampar Seng Lam, hatinya goncang.
Ia menyesal dan berduka sudah turun tangan atas diri Nona Le.
Ia menginsyafi cinta sangat dari Seng Lam terhadapnya.
Itulah rupanya, yang membikin Seng Lam bertabiat aneh itu.
Ia pula, tak dapat melupakan Seng Lam.
Di antara mereka berdua ada sesuatu yang mempengaruh-kannya...
Memikir lebih jauh, Sie Ie merasa pikirannya makin kacau.
Tanpa merasa, Sie Ie berdiam di gunung itu sampai sang fajar tiba, hingga sang matahari muncul.
Seluruh bukit menjadi terang dan sang angin membawa datang harumnya bunga.
Dengan begitu, dengan sendirinya ia merasa nyaman dan hatinya menjadi terbuka.
Tapi ia tak terhibur.
Lekas juga ia ingat lagi pelbagai macam sepak terjang luar biasa dari Seng Lam, sampai yang terakhir nona .itu membinasakan sepasang suami isteri tua pemilik warung teh yang tak bersalah dosa itu.
Tak dapat ia setujui itu perbuatan kejam yang tak ada perlunya.
"Orang yang aku kehendaki ialah Kok Cie Hoa!"
Akhirnya ia kata dalam hatinya.
Ia mengertak giginya.
Ia memusatkan pikirannya guna mengusir Seng Lam dari lubuk hatinya, dari depan kelopak matanya.
Lantas ia bertindak turun gunung, guna menuju ke Siongsan.
Ia tahu Cie Hoa tak sudi menemui ia pula tetapi ia hendak menguntitnya.
Ia mau menanti sampai si nona sudah sadar dan tenang hatinya, untuk mereka berdua berbicara, untuk mendapatkan saling mengerti.
Sebenarnya juga, pukulan malam itu membikin hati Cie Hoa terluka.
Ia berkeputusan buat memutuskan segala perhubungan dengan Sie Ie.
Kelihatannya ia dapat menguasai diri, maka pikirannya menjadi terlebih tenang.
Ia tidak kabur.
Besoknya bersama Phang Lim, Ek Tiong Bouw, Thia Ho dan Lim Seng, ia berangkat menuju ke Siauwlim Sie untuk menemui Co Kim Jie, kakak seperguruan yang berbareng menjadi ketua itu.
Selama di perjalanan, Ek Tiong Bouw menguatirkan kesehatan si nona.
Phang Lim pun turut berkuatir, maka ia memberikan si nona dua butir Pekleng Tan, obatnya yang mujarab itu.
Ek Tiong Bouw menggunai beberapa ekor burung dara, untuk memberi kabar pada pihaknya --pihak Kaypang di sebelah depan--supaya di setiap tempat dimana ada orangorang pihaknya itu, mereka sudah bersiap sedia memapak dan menyambut serta menyediakan kuda tukaran, dengan begitu, perjalanan mereka itu tidak menampak kesulitan, bahkan tidak ada penghalang.
Pada suatu hari tibalah mereka di kota kecamatan Yansu.
Dari situ, mereka terpisah dari gunung Siongsan tinggal tiga puluh lie.
Cie Hoa ingin melanjuti perjalanan, untuk beristirahat di Siauwlim Sie.
Sang waktu tapinya sudah magrib.
Maka Ek Tiong Bouw menyarankan untuk singgah saja.
Perjalanan sukar, ada baiknya si nona beristirahat.
Tempo pertemuan dengan Beng Sin Thong masih dua hari lagi, mereka tak usah menguatirkan nanti terlambat atau gagal.
Buat membikin Co Kim Jie tidak mengharap-harap atau berkuatir, pihak Kaypang lantas diminta melepas burung dara untuk mengirim kabar ke Siauwlim Sie halnya mereka sudah berada di Yansu.
Melihat demikian, Cie Hoa menurut saja.
Malam itu Cie Hoa tidur dalam sebuah kamar bersama Phang Lim.
Pada jam tiga, tengah Nona Kok tidur layap-layap, ia dikejutkan teriakan Phang Lim yang diiring dengan suara seperti bentrokan senjata.
Semua suara itu membuatnya tersadar.
Justeru itu, ia melihat ada orang menyingkap kelambunya, ia meletaki pedangnya, pedang Songhoa Kiam, di pinggir bantal kepala, ia segera menghunusnya sambil ia mencelat dari pembaringannya dalam gerakan "Ikan leehie meletik".
Menyusul ia menabas tangan orang itu.
Orang itu liehay.
Sempat dia menyambar bantal untuk dipakai menangkis tikaman.
Tapi bantal kena tertobloskan, maka bantal itu dilepaskan, dia sendiri mundur tiga tindak.
Sekarang Cie Hoa melihat tegas Phang Lim tengah bertempur dengan seorang laki-laki lain, karena mana, barang-barang perabotan di dalam kamar itu menjadi kacau bekas tersentuh atau tertendang, sedangkan cangkir dan piring jatuh hancur belarakan.
"Jikalau kau melawan aku, kau bakal rugi sendiri!"
Kata orang itu dengan berani.
Dia bicara sambil tertawa.
Dia pun mengulur tangan kirinya, untuk menyengkeram pergelangan tangan Cie Hoa yang hendak dicekuk.
Cie Hoa sudah lantas membabat dengan gerakan "Heng-in Toan-hong".
Atau "Mega melintang, memutuskan puncak".
Orang itu terkejut.
Terang dia tidak menyangka si nona demikian sebat.
Dia berseru sambil menarik pulang tangannya itu.
Tapi dia tetap berani, dia tertawa dan kata.
"Syukur tidak kena!"
Untuk Cie Hoa, suara orang itu suara orang yang asing.
Itulah suara yang tak dikenal.
Maka ia lantas menyerang pula.
Dari luar kamar juga terdengar suara bentrokan senjata di antara seruan-seruannya Ek Tiong Bouw.
Nyata bahwa di luar juga telah terjadi pertempuran.
Rupanya sudah datang penyerbu-penyerbu yang berani dan tangguh.
"Mari kita pergi keluar!"
Kata lawannya Phang Lim. Dia bernyali besar, dia menantang sambil tertawa.
"Di luar leluasa untuk kita bergerak!"
Phang Lim menjadi sangat mendongkol.
"Apakah kau sangka aku jeri kepadamu?"
Bentaknya.
Cie Hoa terkejut juga.
Lagu suaranya nyonya she Phang itu menandakan bahwa dia tidak menang unggul.
Ia heran atas lawan-lawan yang tangguh itu.
Segera terdengar suara daun pintu menjeblak terbuka, sebab ditendang oleh lawannya.
Maka mereka menerobos keluar.
Cie Hoa ikut bersama.
Ia melihat di pekarangan terbuka bagian dalam itu, Tiong Bouw dan yang lainnya asyik bertempur juga.
Orang yang menjadi lawannya Ek Tiong Bouw seorang yang berusia lanjut, kumis dan janggutnya panjang, senjatanya ialah sepasang Houwjiauw, senjata yang mirip kuku harimau, dengan senjatanya itu, dia mencoba mendesak lawannya.
Thia Ho bersama Lim Seng tengah mengepung seorang opsir usia pertengahan, yang gegaman-nya yaitu sebatang ruyung kong-pian.
Dia dikepung tetapi dia lebih banyak menyerang daripada membela diri.
Sebenarnya lawannya Phang Lim ialah Ko Hong Kauw, congkoan dari Taylwee, istana kaisar.
Orang yang mau menawan Kok Cie Hoa yaitu Sukhong Hoa, tongnia dari Gieliemkun.
Orang tua yang melayani Ek Tiong Bouw bukan lain daripada Lamkiong It, kauwtauw atau guru silat dari pasukan Gieliemkun.
Orang yang dikepung Thia Ho dan Lim Seng berdua yaitu Houyan Hiok, seorang jago lain dari Gieliemkun.
Penyerbuannya Ko Hong Kauw dan rombongannya terjadi akibat dari pengalaman mereka yang memalukan dan pahit getir.
Tempo Ko Hong Kauw tengah mengepalai pesta kemenangan, dalam hal mana ia mewakilkan raja, pestanya itu telah dikacau Beng Sin Thong habis mana, ia pun diubrakabrik Kim Sie Ie, sampai Seebun Bok Ya terbinasakan dan para orang tawanan dapat buron dari penjara.
Menyusul itu adalah kejadian yang lebih hebat lagi, yaitu Tong Siauw Lan ayah dan anak menyateroni istana di mana mereka menawan putera raja yang ke lima belas, yang dipaksa mesti menjadi penunjuk jalan, hingga Ko Hong Kauw lainnya kena diabui.
Akibat itulah yang menyakiti Ko Hong Kauw, sebab raja menjadi gusar sekali, dia bersama Sukhong Hoa diturunkan derajatnya tiga tingkat dan dimestikan membuat jasa guna menebus kesalahannya itu.
Yaitu pertama-tama mereka mesti dapat menangkap kembali semua orang tawanan pemimpin Binsan Pay itu.
Karena ini, dengan terpaksa, Hong Kauw dan Sukhong Hoa sudi bekerja sama dengan Beng Sin Thong.
Mereka mendapat tahu bahwa Beng Sin Thong telah menantang Tong Siauw Lan untuk bertempur di gereja Siauwlim Sie, lantas diam-diam mereka mengepalai rombongannya untuk datang terlebih dahulu, guna mengatur persiapan melakukan penyerbuan atau penangkapan.
Mereka juga memasang matamata di pelbagai tempat, guna mengawasi gerak-gerik pihak Binsan Pay itu.
Pengharapan mereka ialah, andaikata mereka tidak berhasil menawan yang disebut pemimpin, cukup asal tertangkap beberapa sebawahan atau murid, supaya sedikitnya mereka memperoleh oleh-oleh untuk melepaskan tanggung jawab.
Begitulah rombongan Phang Lim itu, siang-siang mereka sudah diintai atau diawasi, hingga mereka diketahui singgah dimana.
Telah diketahui, di antaranya ada orang-orang penting Binsan Pay, terutama Kok Cie Hoa, murid yang menjadi ahli warisnya Lu Su Nio.
Rombongan Ko Hong Kauw itu girang luar biasa.
Lu Su Nio menjadi pembunuh Kaisar Yong Ceng, alangkah besarnya jasa mereka andaikata mereka dapat membekuk nona she Kok itu, untuk diserahkan kepada raja.
Kok Cie Hoa jauh lebih berharga daripada Co Kim Jie.
Paling dulu warta diperoleh Sukhong Hoa, dia mengabarkan pada Ko Hong Kauw, lantas mereka mengambil keputusan buat menyerbu di waktu malam.
Mereka mengajak Lamkiong It dan Houyan Hiok dua jago dari Gieliemkun itu.
Di antara mereka berempat, Ko Hong Kauw yang paling tangguh, akan tetapi sebab warta didapatkan Sukhong Hoa, Hong Kauw suka mengalah untuk mendapatkan jasa pertama ia membiarkan Sukhong Hoa yang menawan Kok Cie Hoa, ia sendiri menghadapi Phang Lim.
Pentingnya Phang Lim tak di bawahan pentingnya Kok Cie Hoa, sebab dia telah turut Lu Su Nio menyerbu istana, guna membunuh Yong Ceng.
Dalam hal penyerbuan ini, mereka melakukan kekeliruan diluar perhitungan mereka.
Mereka menyangka Phang Lim yang paling liehay.
Mereka memandang ringan kepada Kok Cie Hoa sebab si nona masih berusia sangat muda, mereka menyangka si nona gagah tetapi tidak seberapa.
Siapa tahu, meski ia muda sekali, Cie Hoa ialah ahli waris Lu Su Nio serta ilmu pedangnya, yaitu Hian Lie Kiamhoat, sudah sempurna sekali.
Begitulah selang tiga puluh jurus, Sukhong Hoa belum berhasil menawan si nona.
Syukur untuknya, kesehatan Cie Hoa belum pulih, kalau tidak, siang-siang dia tentu telah kena dirobohkan.
Cie Hoa belum sembuh seluruhnya, hal ini mendukakan ia.
Selewatnya tiga puluh jurus itu, ia mulai merasa kehabisan tenaga.
Sukhong Hoa dapat melihat orang menjadi lambat gerakannya, dia girang sekali.
Dia tahu, itu artinya si nona kalah ulet.
Tidak ayal lagi, dia mendesak dengan seranganserangan ilmu Kimna Ciu, ilmu menangkap, yang terdiri dari tujuh puluh dua jurus.
Demikian berulang kali dia meluncurkan tangannya dengan cepat, untuk menyambar, menekan dan menotok.
Saking letihnya, si nona menjadi terdesak.
Phang Lim kaget ketika ia tahu Cie Hoa terancam bahaya itu.
Lantas ia memikir buat membantui si nona.
Tapi baru ia menggeser kaki, Ko Hong Kauw sudah menerka niatnya itu.
Sambil mengejek, kata si tongnia.
"Kaulah pousat yang terbuat dari lumpur! Kau hendak menyeberangi sungai, mana dapat kau menyelamatkan dirimu sendiri? Bagaimana kau hendak menolongi lain orang? Kau harus tahu diri!"
Phang Lim mendongkol bukan main.
Mendadak ia memutar tubuh, bergerak dengan sangat gesit, untuk mendekati lawan yang jumawa ini.
Itulah serangan yang dinamakan "Tiatsiu Sinkang", atau "Tangan baju besi".
Maka ia berhasil menepuk perut si congkoan.
Ko Hong Kauw benar-benar gagah.
Kalau dialah orang lain, pasti perutnya sudah pecah atau terluka parah.
Atas serangan itu, ia mengerahkan tenaga dalamnya, ia membikin perutnya lunak bagaikan kapas.
Maka tangannya lawan mengenai sasaran yang sangat empuk.
Selagi tangan orang meluncur, ia melakukan penyerangan membalas, la menolak dengan kedua tangannya sambil ia berseru.
"Anak yang manis, kau rebahlah!"
Phang Lim terperanjat.
Syukur ialah seorang yang berpengalaman dan hatinya tabah, la tidak menangkis atau mundur, hanya dengan menjejak tanah ia mencelat tinggi.
Didalam sekelebatan, lenyaplah ia dari depan matanya si congkoan.
la juga membalas menyerukan.
"Anak manis, kau rebahlah!"
Hong Kauw berbalik menjadi kaget.
Tubuh Phang Lim turun dengan tangannya diluncurkan, lima bocah jerijinya dirangkap bersikap hendak mematuk ke embun-embunannya.
Celakalah kalau ia kena tersentuh.
Maka sambil mendak dengan gerakan "Hong Tiamtauw", atau "Burung hong menggoyang kepala", ia mencelat mundur kira-kira setombak.
Maka kedua-duanya bebas, tak usah mereka rebah sebagai si anak manis...
Mereka berpisah tidak lama segera mereka bertempur pula.
Sekarang mereka sama-sama menggunai senjata tajam.
Dengan tangan kosong, mereka telah tidak memperoleh hasil.
Hong Kauw bersenjatakan sepasang bandring Liu-seng twie, yang panjang setombak tiga kaki.
Dengan itu dia melawan pedangnya jago betina dari Thiansan.
Dalam ilmu pedang, Phang Lim memang mahir, Hong Kauw sebaliknya menang tenaga besar.
Sudah hampir sepuluh tahun, Phang Lim tidak pernah menggunai pedang, akan tetapi ia percaya, dengan menggunai pedang, ia bakal lantas menang di atas angin.
Kenyataannya tidak sebagaimana sangkanya itu.
la kena dirintangi bandring lawan.
Bandring Hong Kauw panjang setombak lebih, kalau dia menggerakgeraki itu, dia dapat memperpanjang sampai jadi dua tombak.
Karena ruang sempit, Cie Hoa turut menjadi kurang merdeka.
Sukhong Hoa tertawa.
Kata ia.
"Apakah kau masih tidak mau meletaki pedangmu? Kau mau tunggu kapan lagi?"
Sembari berkata begitu, mendadak ia maju menyerang.
pedang di tangan kanan menikam, tangan kirinya menyambar ke pundak!
Hebat Cie Hoa terancam.
Pedangnya kena dikekang lawan, tak dapat ia menggunai itu.
Jeriji tangan lawan juga sudah lantas tiba pada ujung bajunya.
Hanya sekali orang menggunai tenaganya, iganya bakal tersambar.
Tepat di saat sangat berbahaya itu, tiba-tiba terdengar satu bentakan yang sangat berpengaruh.
"Tahan!"
Ketika dia mendengar itu, Sukhong Hoa melengak.
Karena itu, jari tangannya cuma dapat merobek baju si nona.
Selagi Sukhong Hoa melengak, satu bayangan orang berkelebat ke arahnya, dan sebelum dia tahu apa-apa, telapakan tangannya sudah kena tersentuh hingga terdengar suara sentuhannya.
Ia lantas menjerit.
Sentuhan itu membuatnya merasa nyeri dan gemetar pada telapakan tangannya, dia pun mundur terhuyung enam atau tujuh tindak.
"Beng Sianseng! Beng Sianseng!"
Ia memanggil berulangulang.
"Beng Sianseng! Apakah artinya ini?"
Memang, orang yang datang itu Beng Sin Thong adanya.
"Hai, bocah, mengapa kau menghina seorang anak perempuan?"
Tegurnya Sin Thong keras.
"Beng Sianseng, kau belum tahu!"
Kata Sukhong Hoa.
"Anak perempuan ini ialah muridnya Lu Su Nio dari Binsan Pay! Dia pula orang penting dari partai itu karena Co Kim Jie telah bersiap sedia menjunjungnya sebagai ketua! Lagi pula, dia... dialah si pemburon yang Sri Baginda hendak bekuk!..."
Beng Sin Thong mendongkol sekali.
Tak dapat ia membiarkan anaknya diperhina, apapula ditawan.
Maka bagaikan kilat cepatnya, tangannya meluncur menggaplok telinga dan pipi orang, hingga suaranya menggelepok nyaring sekali.
Ia pun membentak.
"Aku tak perduli dia pemburon atau bukan! Asal kau berani mengganggu selembar saja rambutnya, akan aku menghendaki jiwamu!"
Tak cukup hanya dengan gaplokannya itu, Beng Sin Thong menyambar pula, untuk mengangkat tubuh orang untuk dilemparkan keluar tembok pekarangan!
Tiba dan sepak terjangnya Beng Sin Thong membikin semua orang lainnya menjadi melengak, Kok Cie Hoa sendiri tidak menjadi kecuali.
Nona Kok berdiri menjublak.
"Kau semua, lekas kamu pergi!"
Beng Sin Thong membentak, suaranya bengis. Lamkiong It melihat gelagat buruk, dia yang paling dulu berlompat pergi. Ko Hong Kauw heran sekali.
"Apakah Beng Sin Thong sudah jadi gila?"
Tanyanya di dalam hati.
Tengah ia berpikir itu, Beng Sin Thong sudah berlompat ke arahnya sambil tangannya digerakkan, menyampok kepadanya.
Sebenarnya congkoan ini liehay sekali, akan tetapi ia merasakan sambaran angin yang membuat tubuhnya menggigil saking dinginnya, maka tidak ayal lagi, ia lompat untuk mengangkat kaki.
Houyan Hiok bangsa sembrono.
Ia heran.
Karena herannya, hendak ia menanya orang she Beng itu.
Akan tetapi Sin Thong tidak mempunyai kesabaran buat menjawab pertanyaan orang.
Buat mene-gurpun ia tak sudi.
Maka itu, selagi orang hendak mengajukan pertanyaan, ia sudah mendahului mengangkat kaki orang.
Tubuh Houyan Hiok lantas terangkat terlempar melewati tembok pekarangan.
Untung baginya, sebelum ia jatuh terbanting di luar tembok, Hong Kauw yang baru lompat keburu menyanggapinya, untuk segera mengajaknya kabur bersama.
Celaka untuknya yaitu ilmu kedotnya, Kimciong Tiauw, telah rusak karena dupakan dahsyat itu.
Kedatangan Beng Sin Thong tepat sekali.
Ia baru saja memperoleh kabar dari Kie Siauw Hong, murid yang cerdas dan gesit itu, yang memberitahukan ia bahwa Kok Cie Hoa bakal pergi ke Siauwlim Sie.
Ia sangat menyayangi puterinya, tanpa bersangsi pula, ia pergi menyusul.
Begitulah ia menjadi penolong puterinya itu.
Sesudah mengusir rombongan Ko Hong Kauw, Beng Sin Thong mengawasi Phang Lim dan lainnya, la sampaikan melotot.
"Apakah kamu semua tuli?"
Ia menegur.
"Apakah kamu masih tidak mau lekas mabur?"
Phang Lim menjadi gusar sekali.
Tanpa berkata apa-apa, ia maju untuk menyerang.
Ek Tiong Bouw menebalkan kulitnya, ia maju sambil memutar tongkatnya.
Matanya Bang Sin Thong bercahaya.
Dia tertawa tawar.
Segera dia mengibaskan kedua belah tangannya, yang kiri dipakai menyampok senjatanya Ek Tiong Bouw, yang kanan untuk menghajar pedangnya Phang Lim.
Menyaksikan demikian, Kok Cie Hoa menjadi bergelisah.
Ia berseru.
"Jikalau kau binasakan mereka ini, aku juga tidak mau hidup lebih lama pula!"
Mendengar itu Beng Sin Thong terperanjat, lekas-lekas ia menarik pulang kedua tangannya.
"Baik!"
Sahutnya.
"Suka aku mengampuni jiwa mereka! Akan tetapi, aku juga tidak dapat membiarkan mereka melintang di depan mataku!"
Ketika itu tongkatnya Ek Tiong Bouw sudah kena tersampok.
Tak sanggup dia bertahan dari pukulan anginnya jago she Beng itu.
Tidak demikian dengan pedangnya Phang Lim.
Ilmu pedang Phang Lim ada warisan dari Pekhoat Molie, sama liehaynya dengan ilmu pedang Thiansan Pay dari Tong Siauw Lan, yang beda cuma caranya yang bertentangan satu dengan lain, maka itu diberi juga nama "Hoan Thiansan Kiamhoat", artinya.
"kebalikan dari ilmu pedang Thiansan". Sudah begitu, Beng Sin Thong menangkis tidak dengan sepenuhnya tenaga. Cocok dengan namanya, pedang tidak kena disampok, sebaliknya, menikam terus dari lain arah.
"Hm!"
Beng Sin Thong mengasih dengar suara menghina.
Ia terperanjat melihat serangan berlangsung terus, meluncur kepada pundaknya dan mengenai tepat.
Akan tetapi ia tidak takut.
Pedang itu tidak dapat melukakannya.
Ia masih keburu mengerahkan tenaga dalamnya.
Bahkan sebaliknya tubuh Phang Lim tertolak mundur tiga tindak, hampir dia terkena tongkatnya Tiong Bouw.
Cie Hoa terkejut melihat berlangsungnya bentrokan itu, sambil berseru, ia lompat maju, untuk menubruk, akan tetapi Beng Sin Thong justeru menyambut padanya untuk dirangkul.
"Aku telah memberi janji kepadamu, tidak nanti aku tarik pulang janjiku!"
Katanya tertawa pada puterinya itu.
"Kau jangan kuatir! Kau lihat bagaimana aku mengusir mereka pergi!"
Tidak dapat Cie Hoa meronta. Rangkulan ayah itu keras sekali. Akan tetapi ia lega hati. Ia percaya janji ayah itu.
"Muka tebal!"
Phang Lim mendamprat, gusar.
"Kau berani menangkap orang?"
"Gila!"
Bentak Sin Thong.
"Anak ini anakku! Siapakah berani campur urusan kami? Jikalau tetap kau banyak bacot, nanti aku pun menggaplokmu!"
Phang Lim jeri juga.
Celaka kalau Sin Thong membuktikan perkataannya itu.
Beng Sin Thong merangkul puterinya dengan sebelah tangan.
Dengan begitu dapat ia mencegah andaikata si puteri menjadi .nekad dan mencoba membunuh diri.
Di lain pihak, dengan tangannya yang lain, dapat ia melayani siapa juga andaikata orang menyerangnya.
Phang Lim mendongkol, meski ia tidak mendamprat pula, ia toh menyerang terus.
Maka ia dilayani jago she Beng itu.
Ia mendesak hebat, ia menggunai kepandaiannya dengan sungguh-sungguh.
Kira-kira tujuh kali Sin Thong kena tertikam atau terbacok, dia tidak terluka.
Dia telah mengerahkan tenaga dalamnya, dia sudah menutup diri dengan ilmunya yang dinamakan "Hu-tee Sinkang", atau "Pelindung tubuh".
Hanya karena kena tertikam, pakaiannya robek di sana-sini.
Thia Ho dan Lim Seng tidak berani maju membantu.
Mereka tahu ilmu silat mereka jauh tidak berarti dibanding dengan Beng Sin Thong.
Mereka melainkan berdiri menonton.
Beng Sin Thong mendongkol sekali karena berulangkah tertikam itu.
Karena janjinya kepada anaknya, tidak dapat ia membinasakan Phang Lim.
Justeru itu ia melihat Thia Ho dan Lim Seng menonton, mendadak ia mendapat satu pikiran, mendadak juga ia lompat kepada mereka itu.
Ek Tiong Bouw yang juga berdiri menonton saja, menjadi kaget.
Thia Ho dan Lim Seng terancam bahaya.
Dengan lantas ia lompat maju, untuk melindungi dua kawan itu.
Akan tetapi dia bergerak terlambat.
Hanya sekejab itu, Thia Ho dan Lim Seng roboh bersama.
Ia menjadi kaget dan gusar.
Tak tahu ia bahwa sengaja Sin Thong berbuat demikian, guna memancingnya.
Menyangka kedua adik seperguruan itu telah terkena tangan jahat, Tiong Bouw menyerang hebat sambil ia berseru.
"Bangsat tua she Beng, akan aku mengadu jiwa denganmu!"
Ia menggunai pukulan "Guntur dan halilintar saling berbunyi", tongkatnya turun ke batok kepala.
Dalam murkanya itu, ia menggunai semua tenaganya.
Berbareng dengan itu, Phang Lim juga menyerang sama hebatnya.
Seperti Ek Tiong Bouw, pedangnya turun dari atas ke bawah.
Dua-dua penyerangan sama hebatnya, tetapi dua-dua penyerangnya pun mempunyai kelemahannya sendiri.
Saking gusarnya, mereka cuma menuruti hawa amarah, mereka melupakan penjagaan diri.
Beng Sin Thong yang liehay melihat itu, dia menggunai ketikanya yang baik.
Tongkat Tiong Bouw tiba lebih dahulu.
Sebelum tongkat itu turun, Sin Thong sudah memapaknya, untuk ditempel terus disampok, hingga senjata itu mental, tepat menyambut datangnya pedang Phang Lim.
Kesudahannya itu hebat sekali.
Pedang membacok hebat, mengenai tongkat yang berat, pedang itu kalah kuat.
Membarengi nyaringnya bentrokan, pedang patah menjadi dua potong, ujungnya yang patah itu menyambar ke arah Tiong Bouw.
Di dalam keadaan seperti itu, Tiong Bouw tidak dapat mempertahankan diri.
Selagi tongkatnya mental tubuhnya terhuyung, bacokan pedang membikin ia terhuyung terus, tak dapat ia mempertahankan diri.
Begitulah ia terku-sruk ke arah Phang Lim, siapa sebaliknya, telah terjerunuk ke depan.
Tanpa ada yang cegah, dua kawan itu tentulah akan saling tubruk...
Beng Sin Thong tertawa menyaksikan kesudahannya tangkis-annya itu.
Lantas tubuhnya mencelat maju, menghampirkan kedua lawan.
Dengan kesehatan yang luar biasa, ia menotok mereka itu bergantian tanpa mereka itu berdaya.
Lantas juga Tiong Bouw roboh tengkurap dan Phang Lim jatuh terlentang!
"Sungguh berbahaya!"
Kata Sin Thong seorang diri walaupun kemenangannya itu.
Ia menjanjikan anaknya tak akan membinasakan Tiong Bouw beramai, sudah begitu, ia diserang hebat.
Kalau ia tidak liehay, tongkat dan pedang itu dapat merampas jiwanya.
Bagusnya kedua penyerang dipengaruhi angkara murka, lupa mereka akan penjagaan diri.
Maka mereka itu kena tertotok dan roboh Kok Cie Hoa kaget sekali, ia menjerit satu kali, lantas ia pingsan.
Beng Sin Thong mengerti sema-putnya anak itu, lekas-lekas ia menguruti punggung si anak.
Ia menepuk-nepuk dengan perlahan, guna membantu dengan tenaga dalamnya menyalurkan darah si nona.
Ia berhasil.
Selang sesaat, anak itu sadarkan diri.
"Ah, anak tolol!"
Kata Sin Thong tertawa.
"Ayahmu telah memberikan janjinya padamu, mustahil dia akan menelan janjinya itu? Kau lihatlah, bukankah mereka itu tidak mati?"
Cie Hoa mengawasi.
Sekarang dapat ia melihat tegas.
Phang Lim berempat rebah tak berkutik tetapi tubuh mereka utuh, tak ada darah setetes jua.
Cuma napas mereka yang menghembus keluar masuk keras, hingga debu di depannya mengepul.
Itulah bukti bahwa mereka itu terkena totokan yang berat.
Baru sekarang Beng Sin Thong mengasih turun tubuh anaknya itu.
"Nah sekarang,"
Kata ia tertawa.
"sekarang kita ayah dan anak dapat bicara dengan merdeka! Bukankah kau telah mendengar tentang halku dan Tong Siauw Lan sudah berjanji untuk mengadu kepandaian?"
"Ya,"
Sahut si anak tawar.
"Kalau begitu,"
Kata sang ayah.
"kau datang kemari, mungkinkah kau hendak membantui mereka memusuhkan ayahmu?"
"Jikalau kau tidak menyesal dan mengubah sepak terjangmu, semua orang di kolong langit ialah musuhmusuhmu!"
Sahut si anak "Jangan kau menyingkir dari pertanyaanku. Aku lagi menanya kau! Bagaimana dengan kau?"
Didesak ayahnya itu, air matanya Cie Hoa berlinang-linang.
"Sebenarnya aku... aku... tidak ingin menemui kau..."
Sahutnya, terpaksa.
"Perjalananku ini ada untuk menjenguk suci Co Kim Jie yang lagi menderita sakit berat. Sayang... sayang..."
"Sayang kau telah menemui urusanku ini, bukankah?"
Tiba-tiba mata Cie Hoa memperlihatkan sinar harapan.
"Manusia itu, dia berbahagia atau bercelaka, semua itu karena pikiran di satu waktu,"
Kata ia, suaranya lembut.
"maka itu, kalau... kalau kau dapat mengeraskan hati dan sudi mendengar kata-kataku, bukankah itu suatu hal baik sekali?"
Sin Thong menghela napas. Wajahnya yang muram, nampak sedikit terang.
"Bagus!"
Katanya selang sesaat.
"Biarlah semua orang di kolong langit memusuhkan aku, asal jangan kau satu orang. Sekarang ada satu perkataan, yang hendak aku utarakan kepadamu. Kata-kata itu pernah aku ucapkan selama pertemuan kita di Binsan. Sekarang aku hendak mengulanginya menanya satu kali lagi dan ini yang penghabisan. Kau... kau... sebenarnya mau atau tidak mengakui aku sebagai ayahmu?"
Cie Hoa mengangkat kepalanya, untuk menatap ayah itu.
"Jawabanku sama seperti jawabanku dahulu hari,"
Sahutnya perlahan, tetapi nadanya keras.
"Asal kau dapat menerima baik tiga syaratku, maka suka aku merawati kau, supaya kau tidak hidup terlantar sebagai sekarang!"
Sin Thong berdiam, wajahnya memain. Cie Hoa mengawasi, hatinya tidak tenang. Lewat sesaat, mendadak Sin Thong kata.
"Coba kau ulangi apakah ketiga syaratmu itu?"
Cie Hoa nampak mendapat harapan. Segera dia kata, terang dan jelas.
"Pertama-tama kau menyerahkan kitab silat rahasia dari Kiauw Pak Beng. Yang kedua, mulai sekarang kau keluar dari dunia Rimba Persilatan untuk selama-lamanya. Dan yang ketiga yaitu, kau harus memperbaiki kesalahanmu terhadap semua orang partai lurus, untuk memohon maaf. Jikalau kau suka menerima baik tiga syarat ini, akan aku menjadi orang perantara, untuk bicara dengan mereka itu, untuk mengadakan perdamaian, habis itu, kita akan mencari sebuah tempat yang tenang dan indah dimana kita berdua dapat tinggal hidup buat mengicipi penghidupan kekeluargaan yang damai."
Beng Sin Thong menghela napas.
"Sekarang sudah kasip,"
Bilangnya.
"Aku sudah menjanjikan Tong Siauw Lan buat nusa mengadu kepandaian. Jikalau aku menerima baik permintaanmu ini dunia akan menganggap aku takut padanya!"
"Tidak!"
Kata Cie Hoa.
"Jikalau kau sadar maka mereka itu akan memuji keluhuran budi pekertimu! Pasti mereka akan memuji kau cerdas dan gagah perkasa!"
"Hm!"
Sin Thong memperdengarkan suaranya.
"Tak dapat! Kau nyata belum mengenal sifatku! Selama aku masih bernapas, tak sudi aku tunduk terhadap siapa juga! Kau harus ingat, berapa susahnya aku melatih diri hingga aku memiliki kepandaianku sekarang ini! Maksudku tak lain tak bukan, untuk menguji semua orang gagah untuk aku menempati kedudukan yang pertama! Akupun tidak perlu dengan segala pujian! Telah aku menantang Tong Siauw Lan, tak dapat tidak, mesti aku menempur dia!"
Cie Hoa menjadi putus asa hingga ia menangis sesegukan.
"Jikalau begitu, di antara kita berdua tidak ada bicara lagi..."
Katanya. Sin Thong menghela napas, kembali wajahnya muram. Hanya sekejab, sinar matanya lantas berubah menjadi lembut.
"Akan tetapi,"
Katanya.
"dapat aku menjanjikan kau satu hal. Inilah hanya untukmu seorang..."
Hati si nona berdenyut.
"Apakah itu?"
Tanyanya cepat.
"Hendak aku menyerahkan kepadamu semua kepandaianku berikut kitab silatnya,"
Kata Sin Thong.
"Tentang dua syaratmu yang lainnya, semua itu tak dapat aku lakukan. Ah, dapatkah kau mengerti maksudku?"
Cie Hoa melengak. Tak dapat ia segera menerka hati ayahnya itu. Sin Thong mengawasi tajam puterinya itu. Lantas ia kata perlahan.
"Tahukah kau bahwa pemerintah hendak menawan kamu semua orang Binsan Pay, terutama kau sendiri?"
"Aku tahu,"
Sahut si anak, cepat.
"Kau tahu, orang yang tadi menempurmu,"
Kata Sin Thong.
"Dialah Sukhong Hoa, tongnia dari Gieliemkun. Orang yang melawan Phang Lim ialah Ko Hong Kauw, congkoan dari istana. Dengan kepandaianmu, dapat kau melayani Sukhong Hoa, akan tetapi untuk menghadapi Ko Hong Kauw, meski kau belajar lagi lima tahun, belum tentu kaulah lawannya. Kau tahu pahlawan-pahlawan di istana bukan cuma mereka berdua. Karena itu, mana hatiku tenang memikirkan kau?"
Akan tetapi si puteri kata keras.
"Semasa hidupnya guruku, setiap waktu ia telah mengajari aku bahwa untuk melakukan sesuatu, aku harus menanya diri sendiri perbuatan itu layak atau tidak, jikalau itu layak, tak usah aku menghiraukan siapa lemah siapa kuat, siapa sedikit atau siapa banyak jumlahnya, dan meski menyerbu api, jangan kita mundur! Lihatlah guruku dahulu hari dengan cuma mengandalkan sebatang pedang Cenghong Kiam, dia telah menyateroni istana, dia membunuh si raja lalim! Ketika itu guruku tidak ingat lagi akan dirinya sendiri!"
Jawaban ini menunjuki si nona, hingga dia tak terbujuk dengan janji atau tawaran ayahnya itu. Beng Sin Thong mengangguk.
"Tak perduli paham kita berlainan, tetapi kau bersemangat begini, tidaklah kecewa kau menjadi anakku!"
Katanya, kagum. Ia hening sejenak. Ketika ia bicara pula, suaranya sabar.
"Aku telah menjanjikan Tong Siauw Lan mengadu kepandaian, tentang hasilnya atau kesudahannya, tak aku berani pastikan dari sekarang. Umpama kata aku berhasil maka akulah orang Bulim paling liehay, dengan begitu dapat aku melindungimu. Menurut anggapanku, pertandingan yang bakal dilakukan ini lebih banyak bahayanya daripada keselamatannya, maka itu, andaikata aku kalah, itulah saat dari habisnya jiwaku! Dahulu hari itu, aku menyesal bahwa aku telah berpisah dari kamu ibu dan anak berdua, tak dapat aku melindungi kamu, sampai kau mesti mendapat perlindungan lain orang, hingga kau mesti merebah she dan nama. Maka itu sekarang, hendak aku menyerahkan semua kepandaianku kepadamu, maksudku tidak lain yaitu untuk memperbaiki kelalaianku dahulu hari. Biarlah, setelah semasa hidupku aku tidak bisa merawat kau, sesudah mati, dapat aku melindungi padamu. Kau telah mendapatkan ilmu Lu Su Nio, tak sulit buat kau menjadi jago kelas satu! Nah, cukup sudah! Tak perduli kau suka memanggil ayah atau tidak padaku, sekarang kau berilah ketika buat aku dapat melakukan tugasku ini supaya hatiku menjadi lega..."
Suaranya jago ini menjadi lemah sekali.
Itulah suaranya orang yang lagi memberi pesan terakhir, di saat dia hendak melepaskan napasnya yang penghabisan.
Baru sekarang Cie Hoa menginsyafi sebab dari penderitaan sang ayah mencari kitab silatnya Kiauw Pak Beng.
Semua itu terutama untuk kepentingan ia sendiri-ia yang memusuhkan ayahnya...
Tak perduli ia membenci ayah itu atau tidak, hatinya toh tergerak, ia terharu.
Hampir saja ia berseru memanggil "Ayah!"
Pada akhirnya, dapat juga ia menguasai diri sendiri.
Sin Thong puas melihat anaknya bersedia menerima kitab silatnya saking lega hatinya, tanpa merasa air matanya keluar bercucuran.
Meski ia tahu, tidak dapat anaknya mengikuti ia, toh ia masih tak tega segera meninggalkannya, ia terus mengawasi, menatap dengan tajam.
Akhir-akhirnya ayah ini mengulur tangannya.
Cie Hoa berdiam, ia tak berkutik.
Kata ayah itu, berduka.
"Kali ini ialah pertemuan kita yang penghabisan, maka itu marilah kau ijinkan aku mencium kau satu kali..."
Tepat di itu waktu Beng Sin Thong mendengar satu suara memasuki telinganya.
"Bangsat tua she Beng! Nyata kau cuma pandai menghina yang kecil dan lemah! Apakah kau berani menempur aku untuk menentukan siapa jantan siapa betina?"
Hati jago ini bercekat.
Kok Cie Hoa tidak mendapat dengar suara itu, ia tetap berdiri menjublak.
Sin Thong menoleh, lalu ia mengawasi pula puterinya.
Cie Hoa terus berdiam, wajahnya juga tidak berubah.
Kembali terdengar suara tadi.
"Bangsat tua she Beng, apakah kau tidak berani menempur aku?"
Itulah suara yang dikenal baik sekali. Dengan air mukanya berubah, Sin Thong lantas kata pada anaknya.
"Kau simpan baik-baik kitab silat ini, jaga supaya tidak sampai terjatuh di tangan lain orang!"
Kata-kata itu ditutup dengan gerakan tubuh berlompat keluar jendela.
Cie Hoa menjublak pula.
Ia berduka dan bingung, ia putus asa, tak tahu ia mesti berbuat apa.
Ia tidak tahu bahwa suara dua kali tadi, yang terdengar Beng Sin Thong adalah suaranya Kim Sie Ie, yang menggunai saluran "Thiantun Toan-im", atau "Saluran alam".
Sebab Tokciu Hongkay terus melindungi Cie Hoa secara diam-diam.
Dia pun mengambil tempat di pondokan yang menjadi tetangganya pondokan Cie Hoa beramai.
Ia mendengar suara berisik dari pertempuran, lantas ia keluar, hanya ia terlambat setindak dari Sin Thong, maka itu, tak tahu ia duduknya kejadian, sampai ia menyangka Sin Thong mau mengajak pergi pada puterinya, maka sengaja ia kasih dengar suara menantang yang memanaskan hati itu.
Beng Sin Thong lagi berduka dan bingung, ia menjadi mendongkol.
Tak ada jalan untuknya melampiaskan hati yang pepat itu.
Maka lantas ia pergi dengan mengikuti saling kejar mengejar sebelum mereka berhadapan satu dengan lain.
Lekas sekali mereka telah meninggalkan kota.
Sie Ie sengaja memancing, ia lari ke arah gunung Siongsan.
'Kim Sie Ie!"
Bentak Beng Sin Thong.
"Kau berani menantang aku, mengapa sekarang kau cuma tahu lari saja?"
Jago ini mahir ilmu ringan tubuhnya tetapi Sie Ie tak mudah dicandak. Sembari lari terus, ia kata sambil tertawa.
"Aku tengah memikir mencari satu tempat supaya merdeka kita bertempur!"
Hati Sin Thong makin panas. Dia tertawa dingin.
"Untuk kita bertempur perlukah untuk memilih tempat lagi?"
Katanya.
"Aku kira kau sebenarnya lagi mencari suatu hongsui yang baik untuk menjadi tempat kuburmu! Baiklah! Tempat ini tempat bagus, kau pilih ini saja!"
Dalam ilmu lari Sie Ie tak ada di bawahan Beng Sin Thong, hanya mengenai tenaga dalam, dia kalah lama latihannya, maka itu biar bagaimana, dia menjadi kurang ulet.
Selama mereka berlari-larian, Sin Thong mendatangi semakin dekat.
Begitulah, sesudah lari lagi sekian lama, Sin Thong dapat menyusul, dengan lantas dia lompat, untuk menyerang.
Itulah pukulan Siulo Imsat Kang tingkat sembilan, bisa dimengerti hebatnya.
Sie Ie tapinya sudah siap sedia.
Dengan gesit ia berkelit, untuk berbareng balas menyerang.
Sambil mengegos tubuh ke samping, tangannya meluncur, sebuah jerijinya menotok!
Inilah ilmu totok yang Tokciu Hongkay dapat dari gurunya Tokliong Cuncia.
Untuk kaum Shia-pay, atau Kaum Sesat, itulah ilmu totok terliehay, beda dari ilmu totok Angkauw Biteong akan tetapi sama pokok atau faedahnya.
Hanya Tokliong Cuncia hidup berselang seratus tahun dari Kiauw Pak Beng.
Beng Sin Thong tahu liehaynya ilmu totok Kim Sie Ie, ia tidak mau berlaku alpa.
Ia membatalkan serangannya, ia menyingkir ke samping dengan tindakan Thianlo Pou.
Kim Sie Ie berkelahi dengan maksud cuma untuk melibat orang.
Ia lebih banyak berkelit atau berlompat.
Hal itu benarbenar membikin panas hati si jago tua.
"Lihat!"
Seru Beng Sin Thong.
Kembali dia menyerang dengan satu pukulan Siulo Imsat Kang tingkat sembilannya.
Sie Ie terperanjat, Sin Thong benar-benar liehay luar biasa.
Ia tahu digunainya Siulo Imsat Kang membutuhkan sangat banyak tenaga dalam, siapa terlalu sering menggunakan itu, dia pasti akan letih sendirinya.
Tidak demikian dengan ini jago tua, dia tetap ulet dan gagah.
Pula selama satu bulan ini, berhubung dengan niatnya menempur Tong Siauw Lan, Beng Sin Thong juga telah berlatih keras sekali, hingga ia berhasil memahamkan pelajaran terakhir dari kitab silatnya yang sisa itu.
Ia telah memahirkan Siulo Imsat Kang hingga ia dapat menggunainya merdeka dengan kedua tangannya, dapat ia menyerang atau membatalkannya sekehendak hatinya.
Ketika dulu hari Kim Sie Ie menempur Beng Sin Thong di Gie-hoo Kauw, di solokan istana, ia kalah unggul, maka itu, dapat dimengerti, sekarangpun ia tak akan dapat bertahan, tetapi ia cerdas, dapat ia mengandal ilmu totoknya serta kegesitannya itu.
Tak dapat ia merebut kemenangan tetapi bisa ia menggodai.
Dalam penasarannya, Beng Sin Thong menyerang berulang kali, terus hingga belasan kali.
Sie Ie terdesak, sampai ia merasai darahnya bergolak dan isi perutnya goncang.
Di saat terdesak itu, ia mendapat akal.
Mendadak ia berludah ke arah lawannya itu.
Beng Sin Thong terkejut.
Dia tahu, Tokciu Hongkay mempunyai Tokliong Ciam, jarum beracun, yang disimpan di dalam mulutnya.
Memang, tak mungkin dia tercelakakan jarum itu, akan tetapi, buat dia, kena tertusuk saja sudah suatu hal yang memalukan, yang akan menodai pamornya.
Maka itu, terpaksa dia meniup, untuk menolak balik jarum itu.
Menggunai saat jarumnya ditolak itu, Kim Sie Ie berlompat jumpalitan mundur beberapa tombak jauhnya.
Itulah semacam lompatan aneh warisan istimewa dari gurunya, guna dipakai di saat-saat terancam atau untuk menghindari diri dari desakan.
Dengan begitu di dalam tempo sedetik, ia lolos dari pengaruh Siulo Imsat Kang.
"Bocah yang baik, kau mau main gila, ya?"
Tegur Beng Sin Thong.
"Kau jadi mau berlalu sebelum ada keputusan? Hendak aku lihat, kau mau kabur kemana!"
Ia menjejak tanah, untuk berlompat mengejar.
Bagaikan bayangan, ia mengintil di belakang si Pengemis Edan.
Di saat Kim Sie Ie hampir kena disusul, di depan mereka tampak mendatangi tiga orang, di antara mereka itu, lantas terdengar yang satunya seorang wanita muda, berseru.
"Toaie, tua bangka itu ialah Beng Sin Thong!"
Itulah Lie Kim Bwee, yang datang bersama-sama Phang Eng serta Ciong Tian.
Suratnya Ek Tiong Bouw, yang dibawa burung, sudah sampai di Siauwlim Sie, maka di dalam wihara itu orang ketahui halnya rombongan Phang Lim sudah berada di Yansu.
Lie Kim Bwee ingin lekaslekas menemukan Kok Cie Hoa, iapun kuatir nanti terbit onar, maka ia mendesak Phang Eng, sang toa-ie atau bibi, lekas berangkat menyusul.
Phang Eng juga ingin lekas bertemu dengan adiknya, Phang Lim, suka ia meluluskan permintaan sang keponakan.
Demikian dengan mengajak Ciong Tian, mereka berangkat dengan cepat.
Kebetulan sekali, disini mereka bertemu dengan Kim Sie Ie dan Beng Sin Thong.
Mulanya Phang Eng tidak tahu siapa orang yang dikejar Sin Thong itu, dia cuma menyangka seorang dari kalangan lurus, maka juga, sekalian mendengar suaranya Kim Bwee, dia lantas menghunus pedangnya dan maju menghadang, untuk segera menyerang.
Phang Eng menjadi murid kesayangan dari Liehiap Ie Lan Cu, tertua Thiansan, ilmu silatnya jauh terlebih tinggi daripada ilmu silatnya Phang Lim, adiknya, bahkan ia tak berbedaan dengan Tong Siauw Lan, suaminya.
Beng Sin Thong terkejut.
Ia mau menangkis tetapi sudah terlambat.
Ia cuma dapat mendak, untuk me-ngelit kepalanya.
Akan tetapi rambutnya kena juga terpapas kutung!
Phang Eng pun heran.
Serangannya itu serangan "Thaysiebie Kiam"
Atau pedang "Sumeru Besar", suatu jurus terliehay dari ilmu silat pedang Thiansan Pay.
Ia percaya, sedikitnya ia akan melukai lawan, ia tidak menyangka, ia melainkan memapas rambut orang.
Pula ini disebabkan, tengah mengejar Sie Ie, tubuh Sin Thong seperti tak dapat ditahan lajunya.
Tentu sekali Sin Thong menjadi gusar.
Sambil berseru ia balas menyerang dengan menolakkan berbareng kedua belah tangannya.
Phang Eng sudah lantas mengurung diri dengan sinar pedangnya, ia berhasil merintangi serangan hebat lawan itu.
Ketika itu, Lie Kim Bwee menjerit sambil ia segera menarik tangannya Ciong Tian.
Itulah sebab ia mendadak melihat seorang, yang romannya menakuti.
Ia tidak tahu bahwa itulah Kim Sie Ie yang dengan sangat sebat sudah mengenakan topeng kulitnya, hingga orang tak mengenalinya.
Ciong Tian juga terkejut akan tetapi dapat ia menenangkan diri.
"Jangan takut, jangan takut!"
Ia menghibur.
"Dialah orang kita!"
Ciong Tian beranggapan sama dengan Phang Eng.
Siapa dikejar Beng Sin Thong, dia mesti orang dari pihak lurus.
Meski ia menghibur, tanpa merasa, ia merangkul tubuh orang.
Maka merahlah mukanya waktu ia melihat orang itu bertindak menghampirkan mereka berdua.
Lekas-lekas ia melepaskan tubuh Kim Bwee.
Sekarang ia berniat menyapa orang itu.
Sekonyong-konyong Kim Sie Ie berlompat, lewat pesat di sisinya muda-mudi itu.
Lie Kim Bwee terkejut.
Berbareng dengan tiupan angin, ia merasa ada tangan yang meraba kepalanya, pada rambutnya.
Saking kaget, kembali ia berteriak.
Hanya sejenak, Kim Sie Ie sudah lewat dan hilang!
Sementara itu Kok Cie Hoa, yang berdiri menjublak saja ditinggal pergi ayahnya, sadar dengan perlahan.
Ia lantas merasai sepinya keadaan di sekitarnya.
Semua orang hotel sudah ditotok Beng Sin Thong, dan Phang Lim bertiga tak mudah mendusin sendirinya.
Mereka ini bertiga mesti menanti dua belas jam, baru mereka akan sadar.
Setelah sadar itu, Cie Hoa lantas mencoba menolongi Phang Lim.
Sia-sia saja, totokannya tidak memberi hasil.
Tentu saja, ia menjadi bingung.
Tepat itu waktu, telinganya mendengar.
"Jangan bersusah hati atau berkuatir! Aku mengerti bagaimana harus menyadarkan orang yang menjadi korban-korban totokan Beng Sin Thong!"
Heran si nona, atau mendadak satu bayangan berkelebat di depan matanya.
Lantas ia melihat Kim Sie Ie tahu-tahu muncul di depannya!
Mau ia menyingkir, akan tetapi kakinya tidak mau menuruti hatinya.
Kim Sie Ie menghela napas.
"Dapatkah kau mendengari dua patah kataku?"
Katanya dia perlahan.
"Ah, kalau kau sudah ketahui apa yang bakal terjadi hari ini, kenapakah kita mulai dahulu harinya?"
Nona itu terkejut.
"Hari ini bagaimana? Dahulu hari itu bagaimana?"
Tanyanya, heran.
"Ketika dahulu hari buat pertama kali kau melihat aku,"
Kata Sie Ie.
"selagi semua orang lain mengatakan aku hantu kepala, kaulah yang justeru menaruh kepercayaan kepadaku! Setelah itu kita bergantian mengalami kejadian-kejadian yang sulit yang mendukakan, tetapi kita selalu dapat saling menghibur. Sekarang di luar dugaanku, kau sebaliknya percaya perkataan orang luar!"
Cie Hoa heran, ia melengak.
"Siapakah orang luar itu?"
Ia tanya. Atau segera ia sadar. Kim Sie Ie maksudkan Le Seng Lam. Tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang manis. Tapi ia masih nampak heran, fa menanya pula.
"Siapakah orang luar itu? Apakah kau pandang isterimu juga sebagai orang luar? Sungguh aku tidak pernah menyangka kaulah seorang tidak berbudi!"
Tak tahan hati si nona, matanya menjadi merah. Dengan tegurannya ini, ia seperti membantu Seng Lam, akan tetapi ia tidak menginsyafinya. Sie Ie bingung.
"Siapa bilang dialah isteriku?"
Jawabnya cepat.
"Dia yang mengatakan sendiri!"
Sahut si nona.
"Apakah dia mendusta? Aku tidak percaya di kolong langit ini ada seorang wanita demikian tidak tahu malu mengakui seorang pria menjadi suaminya' Dia kata menikah denganmu di atas pulau kosong. Orang yang menjadi saksi ialah pamannya. Benar bukan?"
Sie le jengah tetapi dia mengangguk.
"Benar, ada terjadi hal demikian,"
Sahutnya, jujur.
Parasnya Cie Hoa menjadi pucat Ia lantas mengulapkan tangannya, untuk berlalu.
Toh ia tidak bergerak.
Tubuhnya berdiam bagaikan menjadi kaku.
Kemudian ia merasa kepalanya pusing, tubuhnya bagaikan berputar.
Sie Ie sudah lantas memegang tubuh orang.
"Kau belum tahu bahwa di dalam situ ada urusan lainnya,"
Kata ia, perlahan, la menarik napas panjang.
"Itulah kejadian di suatu waktu, untuk mengikuti suasana... Itu... itulah palsu, palsu! Kami menjadi suami isteri palsu! Kau mengerti atau tidak? Oh, kau masih belum mengerti? Baiklah, baik aku omong terus terang padamu! Kau tahu, siapakah Le Seng Lam? Dialah turunan Le Kong Thian yang dahulu hari menjadi murid kepala dari Kiauw Pak Beng!"
Cie Hoa terkejut. Dia melengak.
"Ada sangkut pautnya itu dengan soal kamu berdua menjadi suami isteri?"
Ia tanya.
Ia menjadi sedikit sabar melihat bingungnya Sie Ie itu, hingga ia menjadi tidak tega.
Sebenarnya ia sangat berduka.
Sie Ie membuka rahasia tanpa tanggung-tanggung.
Ia menuturkan lakonnya mulai ia kenal Seng Lam sampai mereka bersama pergi ke pulau kosong.
Setengah jam ia bercerita, jelaslah semua.
Paling belakang ia menambahkan.
"Aku berjanji mau membantu dia membalas sakit hati karena kesatu aku merasa kasihan untuk peruntungannya dan kedua karena ia telah pernah melepas budi terhadapku, karena itu, dengannya aku cuma hidup sebagai kakak beradik. Apakah kau sekarang sudah mengerti hatiku?"
Sie Ie menutup kata-katanya dengan terus mengawasi nona itu, lantas ia tunduk.
Ia berduka sekali.
Ia jengah, iapun bingung.
Benar-benar sulit.
Musuhnya Le Seng Lam ialah Beng Sin Thong, sedangkan Beng Sin Thong itu ayahnya Kok Cie Hoa.
Jadi ia hendak membinasakan ayahnya si nona.
Meskipun ayah Cie Hoa jahat dan Cie Hoa membenci ayahnya itu, masih sulit untuknya membunuh ayah orang...
Cie Hoa berdiri diam bagaikan patung.
Sampai lama, ia masih tidak dapat membuka suara.
Selama berdiam itu, hatinya bergolak.
Ia pun menjadi bingung sekali.
Sekarang tahulah ia dari lakonnya Le Seng Lam bahwa ayahnya benar seorang busuk dan licik.
Untuk memiliki kitab silat Kiauw Pak Beng, tega ayahnya membinasakan Keluarga Le.
Maka sekarang dapat ia mengerti Kim Sie Ie.
Melainkan satu hal, yang ia belum menginsyafinya.
Inilah dia sifatnya wamita.
Wanita yang hatinya mudah tersentuh.
Sie le menikah dengan Seng Lam karena terpaksa, untuk bersandiwara.
Sie le berbuat begitu karena ia berkasihan terhadap Seng Lam, sebab Seng Lam pernah melepas budi terhadapnya.
Jadi Sie Ie tidak menyintai nona itu.
Toh mereka itu menikah satu dengan lain, mereka bergaul erat seperti hidup bersama.
Bukankah itu disebabkan Sie Ie menyinta Seng Lam tanpa merasa?
Dapatkah ia menerima keadaan yang sedemikian ganjil itu?
Setelah mengetahui riwayatnya Seng Lam itu, Cie Hoa jadi memikirkan riwayatnya sendiri.
Ia benar-benar sulit.
Tak sudi ia mengakui Sin Thong sebagai ayahnya, toh kenyataannya, ayah itu tetap ayahnya sendiri.
Nyatanya ayahnya demikian jahat, sebab ayah itu sudah membinasakan Keluarga Le.
Kalau begitu, ia jadi berdosa terhadap Seng Lam.
Ia berhutang!
Kalau sekarang ia rampas Sie Ie dari tangan Seng Lam, hutangnya jadi berlipat ganda!
Banyak yang Cie Hoa pikirkan, akhirnya ia menghela napas.
"Sie Ie, sekarang aku mengerti kau,"
Katanya, perlahan. Bagaikan orang yang memperoleh pengampunan, Tokciu Hongkay cepat berkata.
"Jadinya sekarang kau dapat memaafkan aku?"
"Dalam hal ini tidak ada soal memaafkan,"
Kata si nona, perlahan sekali.
"Kau ingin bersahabat dengan seorang sahabat, mana dapat aku mencegah? Terhadapku kau telah membantu banyak, dengan anjuran dan tenagamu, karena itu, terhadapmu, aku bersyukur sekali. Hanya..."
"Hanya apa. Cie Hoa?"
Tanya Sie le. Paras si nona menjadi merah.
"Inilah soal kami kaum wanita,"
Akhirnya.
"tak dapat aku menjelaskan itu."
"Ah, Cie Hoa! Apakah tetap kau masih tidak percaya aku?"
"Bukan, bukannya soal itu! Aku percaya kau! Aku tidak percaya bahwa kau nanti tersesat! Besar pengharapan guruku terhadapmu. Aku juga mengharap dalam ilmu silat kau nanti memperoleh, kemajuan pesat, supaya di dalam dunia Bulim kau meninggalkan nama harum!"
"Bukan, aku bukan maksudkan hal itu!"
Kata Sie Ie. Cie Hoa tidak menjawab, hanya ia melanjuti kata-katanya.
"Kau bermaksud baik terhadap aku, inilah aku tahu. Tapi tentang itu aku sudah mengambil keputusan dan putusan itu buat selama-lamanya tidak dapat dirobah lagi. Aku tidak mempunyai apa-apa guna dipakai membalas budimu, maka kau ambillah ini, kitab silat rahasia! Ambillah!"
Sie Ie heran, dia berdiri menjublak.
Cie Hoa menyesapkan kitab silat Kiauw Pak Beng di tangan orang, ia seperti juga memerintah supaya orang jangan menampik pemberiannya itu.
Sie Ie hendak mengucapkan sesuatu, tetapi ia tidak dapat mengeluarkannya.
Tiba-tiba dari luar penginapan terdengar suara nyaring dari Lie Kim Bwee.
"Enci Kok! Enci Kok! Dimana? Aku kangen kepadamu!"
Itulah bukti bahwa pertempuran di antara Phang Eng dan Beng Sin Thong sudah berakhir.
Karena melihat Se Ie lolos, Beng Sin Thong tidak punya kegembiraan akan melayani terlebih lama pula pada Nyonya Tong Siauw Lan, ia menolak pedang orang, lantas ia lompat keluar kalangan, untuk mengangkat kaki.
Phang Eng juga tidak mengejar, ia terus mengajak Kim Bwee dan Ciong Tian melanjuti perjalanan menuju ke rumah penginapan.
Kim Bwee begitu sangat keinginannya menemui Cie Hoa, tanpa memperdulikan lain-lain tetamu bisa terganggu atau tidak, ia lantas mengasih dengar panggilannya itu.
Ia menggunai saluran suara "Toan-im Jinbit".
Tentu sekali ia tidak tahu Cie Hoa dan Sie Ie lagi berbicara hingga ia mengganggu pertemuan orang.
Sie Ie menjadi berduka, ia bingung.
Kim Bwee datang bersama Ciong Tian, tak ingin ia menemui mereka itu, apapula si nona.
Lebih-lebih tak suka ia membikin nona itu ketahui bahwa ia masih hidup.
Ia mengawasi kitab pedang di tangannya.
Ia telah memikir buat membayarnya pulang, atau di lain saat, ia berpikir lain.
Segera ia masuki kitab ke dalam sakunya.
Kepada si nona, ia kata.
"Cie Hoa, jangan beritahukan Kim Bwee tentang aku. Bukankah lain kali aku masih dapat menemukan kau?"
Si nona tidak menjawab, ia melainkan menggeleng kepala.
Tapi ia melihat Sie Ie tidak lantas mengangkat kaki, orang masih berdiri diam saja, akhirnya ia mengangguk.
Justeru itu Phang Eng bertiga tiba, mereka sudah lantas bertindak masuk.
Tanpa ayal lagi, Sie Ie lompat naik ke tembok.
Dari situ, dengan menggunai batu-batu kecil, yang ia telah sediakan terlebih dahulu, ia menimpuk ke arah Phang Lim, Ek Tiong Bouw, Thia Ho dan Lim Seng berempat, untuk membebaskan mereka dari totokan.
Lie Kim Bwee sempat melihat tubuh orang, dia berseru.
"Hai, lagi-lagi si orang aneh! -Bagaimana... bagaimana ini? Eh...'ma, mama, kau kenapakah?"
Kemudian ia menanya ibunya.
Phang Eng berdiri menjublak.
Begitu dia masuk, begitu dia melihat Phang Lim semua tengah rebah tak berkutik, hingga dia jadi kaget dan heran.
Dia juga melihat Sie Ie, hendak dia mengejar, buat menahan orang, tetapi dia lantas merebah niatnya itu.
Phang Lim yang paling tangguh.
Dengan cepat dia mendusin.
Ketika dia membuka matanya, heran dia melihat Phang Eng, sang kakak, bertiga.
"Eh, mana dia si bangsat tua she Beng?"
Tanyanya. Paling dahulu ia ingat Beng Sin Thong.
"Bangsat tua she Beng itu telah diusir oleh toa-ie?"
Sahut Kim Bwee.
"Eh, mama, bagaimana sebenarnya kejadian ini?"
"Karena aku alpa, aku kena dipermainkan bangsat tua she Beng itu,"
Sahutnya, jengah.
"Syukurlah enci bersama kau keburu datang..."
Nyonya ini menyangka Phang Eng beramai datang menolongi mereka untuk mengusir Beng Sin Thong. Lantas ia mau mengucap terima kasih kepada kakaknya itu. Phang Eng tertawa. Ia kata.
"Omongnya Kim Bwee tidak jelas, hingga dia menimpahkan jasa atas diriku. Ketika tadi aku bertempur dengan Beng Sin Thong, tempatnya disana, terpisah sepuluh lie lebih dari sini! Orang yang membebaskan kau dari totokan ialah orang lain..."
Ek Tiong Bouw bertigapun mendusin saling susul. Mereka mendengar perkataan si nyonya.
"Siapakah penolong itu?"
Tanya mereka.
"Dialah seorang yang mukanya mengenakan topeng,"
Sahut Phang Eng.
"Ketika kami bertemu dengan Beng Sin Thong, itulah di saat orang itu dikejar jago she Beng itu. Aku tidak sangka bahwa dia dapat lari sangat cepat, dia telah mendahului kami datang kemari..."
Ek Tiong Bouw heran hingga dia berseru.
"Mana si orang aneh itu?"
Tanyanya.
"Dia pergi lari begitu lekas dia melihat aku beramai tiba,"
Phang Eng menerangkan.
"Dapatkah kamu menduga siapa dia itu?"
Phang Lim sudah lantas menerka kepada Kim Sie Ie. Untuk menjawab, lebih dahulu ia batuk-batuk.
"Dia... dia..."
Katanya.
"dialah murid yang nomor tiga dari Kim Kong Taysu dari Ngobie Pay. Dia mempunyai sifat serupa dengan aku, suka bergurau! Enci, kau juga pernah bertemu dengannya, cuma sekarang ini dia pakai kedok, kau tidak lantas mengenalinya..."
Phang Eng melengak.
Ia tahu, Kim Kong Taysu mempunyai cuma dua orang murid dan murid-muridnya itu alim semuanya.
Lantas ia menduga adik ini tentu lagi menyembunyikan sesuatu, yang tak hendak dibeber di antara mereka.
Karena itu, ia tidak mau menanya melit-melit lagi.
"Eh, enci Kok,"
Kim Bwee tanya Cie Hoa.
"Kenapa kau kelihatannya tidak gembira? Apakah enci tidak ingin menemui aku?"
Diam-diam Phang Lim menarik ujung bajunya Cie Hoa. Nona Kok bersenyum.
"Kenapa aku tidak ingin menemui kau?"
Kata ia.
"Aku hanya berduka karena aku memikirkan sakitnya ketua kami."
Kim Bwee percaya itu, hatinya menjadi lega. Ia mengangguk dan kata.
"Suci-mu itu bermula berbuat tidak selayaknya terhadap kau, sekarang lain, sekarang dia justeru memikirkan kau, sampai dalam satu hari, beberapa kali dia menanya aku tentang kau, kau sudah tiba atau belum. Karena itu, sebentar selekasnya terang tanah, kita berangkat!"
Phang Eng lantas memeriksa pondokan.
Ia menolongi semua orang yang ditotok Beng Sin Thong.
Ia menolongi tanpa diketahui mereka itu, hingga menyangka bahwa mereka baru sadar dari mimpi mereka...
Phang Lim meninggalkan uang sewa kamar.
Sebelum terang tanah, mereka lantas meninggalkan pondokan itu.
Tempo mereka sampai di Siauwlim Sie, hari belum lewat tengah hari.
Hari pertandingan Tong Siauw Lan dengan Beng Sin Thong besok tengah hari, maka itu di dalam kuil Siauwlim Sie, orang berkumpul dengan hati merasa tegang sendirinya.
Ketika itu telah berkumpul hampir semua jago pelbagai partai.
Cie Hoa telah memikir, setelah menjenguk Kim Jie, hendak ia pulang ke Binsan, guna menjagai kuburan gurunya, siapa tahu ketuanya itu, berat sakitnya.
Waktu dia baru bertemu si nona, dia tampak segar, setelah itu, kembali dia menjadi lesu, bahkan habis bicara, dia pingsan.
Hal itu merepotkan, maka Cie Hoa batal pergi, terpaksa ia mesti merawati dulu.
Satu hal membikin hati Cie Hoa tidak tenang, sekali pun Kim Jie sudah mengatur rencana.
Selama sakitnya, Kim Jie mengangkat Ek Tiong Bouw sebagai wakil untuk mengepalai partai.
Dia berpesan, kalau dia mati, Cie Hoa mesti lantas menggantikannya.
Rencana ini membikin Cie Hoa tak usah menemui ayahnya sebagai musuh di hari 'mengadu kepandaian.
Toh ia bingung, ia bersangsi, berulangkah ia tanya dirinya perlu atau tidak ia menemui ayahnya itu...
Besoknya pagi, selagi hati orang terus tegang, sebab hari itu mereka harus menantikan tibanya Beng Sin Thong, tibatiba mereka dikejutkan suara berisik yang datangnya dari luar.
Hari itu tugas menjaga di ruang Gwasam Tong ialah tugas Tay Tie dan Tay Pie kedua siansu, dua anggauta dari "Cappwee Lohan".
Mereka yang pertama mendengar suara berisik di pintu pekarangan.
Kata Tay Pie heran.
"Mungkinkah iBeng Sin Thong datang begini pagi?"
Selagi Tay Tie memikir buat "mengasih isyarat, lantas tampak masuknya tiga orang ke dalam ruang Gwasam Tong itu.
Beberapa murid yang menjaga di luar ruang tidak sanggup mencegah mereka.
Ja mengenali salah satu orang yaitu 'Kie Siauw Hong.
Dua yang lainnya dua orang pendeta dari Seehek, wilayah Barat, yang tak dikenal.
Selama di Binsan mereka itu tak tampak.
Mereka berhidung mancung dan bermata celong.
"Tahan!"
Tay Tie dan Tay Pie berseru. Kie Siauw Hong tertawa haha-hihi, lagaknya jenaka.
"Aku tidak sabaran menantikan sampai kamu memberi kabar!"
Katanya. Dan ia melejit, nyeplos di sisi kedua pendeta itu! Kedua pendeta itu menjadi gusar. Justeru kedua pendeta dari Seehek pun mau lewat dengan paksa, mereka membentak.
"Apakah kamu kira kamu dapat main gila di dalam Siauwlim Sie?"
Lantas mereka menyerang, hingga empat tangan mereka bagaikan turunnya empat bocah golok.
"Hm! Darimana sih datangnya segala aturan busuk ini?"
Kata kedua pendeta See Hek itu sambil mereka menangkis dengan pundak mereka!
Dua suara keras adalah kesudahannya serangan itu.
Lalu terjadi hal yang mengejutkan Tay Tie dan Tay Pie.
Tanpa merasa, tubuh mereka tertolak mundur sendirinya.
Syukur mereka memiliki tenaga dalam yang sempurna, dapat mereka terus lompat berjumpalitan, hingga mereka dapat menaruh kaki dengan tegak.
Disitu ada banyak murid Siauwlim Sie lainnya dan sejumlah tetamu, mereka semua menjadi heran.
Di antara murid-murid itu sudah lantas ada yang memberikan isyarat ke dalam kuil.
Tanpa menanti orang maju pula, untuk mencegah, tiga orang itu sudah lantas memasuki ruang Gwasam Tong, untuk melewatinya.' Tiba-tiba terdengar suara batuk-batuk, lalu disitu muncul dua orang pendeta yang telah berusia lanjut, yang romannya alim sekali.
Sebab merekalah dua anggauta dari ruang Tatmo Ih dan dengan Tong Sian Siangjin terhitung satu tingkat kedudukannya.
Mereka termasuk tiangloo atau tertua.
Merekalah Wie Cit dan Wie Cin kedua taysu.
Tatmo Ih termasuk sebuah ruang dari Lweesam Tong, baru Kie Siauw Hong bertindak memasukinya, atau kedua taysu sambil merangkap tangan mereka masing-masing menyapa dia.
"Mohon tanya, siecu, ada urusan apa siecu datang kemari?"
Kie Siauw Hong terperanjat.
Mendadak ia merasakan tolakan angin yang keras, yang membuat tubuhnya bagaikan tergoncang.
Syukur ia cerdik dan gesit, segera ia lompat minggir tiga tombak lebih, hingga ia bebas seketika.
Kedua pendeta Seehek maju terus.
Mereka merangkap kedua tangan mereka, memberi hormat seraya terus menanya.
"Di antara kedua taysu, siapakah Tong Sian Siangjin ketua dari Siauwlim Sie?"
Sementara itu, tenaga dalam mereka sudah bentrok satu dengan lain. Terlihat tegas jubahnya kedua taysu dari Siauwlim Sie melendung, sedang jubahnya kedua tetamu tidak diundang itu bergerak sedikit.
"Kiranya tuan bertiga mencari ketua kami,"
Kata Wie Cin.
"Silahkan tunggu, nanti kami menitahkan murid kami pergi memberi warta."
"Aku membuat berabe saja,"
Kata Kie Siauw Hong.
"Sekalian tolong minta Toaciangbun dari Thiansan keluar bersama untuk menemui kami!"
Sekarang orang she Kie ini tidak berani membawa terus sikap berandalannya.
Wie Cit lantas memimpin ketiga tetamunya masuk ke ruang Kiatyan Cengshia.
Itulah ruang tetamu.
Wie Cin sendiri masuk ke dalam.
Tak lama maka tampaklah munculnya Tong Sian Siangjin bersama Tong Siauw Lan.
Tong Sian menjadi tuan rumah, melihat di antara tetamunya ada pendeta sekaum dengannya, lantas ia merangkap kedua tangannya sambil memuji Sang Budha.
Terus ia berkata.
"Maaf, loolap berayal menyambut! Tak tahu loolap, apakah maksudnya kunjungan tuan-tuan bertiga?"
"Atas perintah guruku, aku yang muda hendak menanyakan kesehatan Toahongthio dan Tong Ciangbun,"
Sahut Kie Siauw Hong, sambil memberi hormat.
Kedua pendeta Seehek itu telah mendapat kenyataan bahwa tenaga dalam mereka tidak berjauhan dengan tenaga dalamnya Wie Cit berdua, mereka penasaran, sekarang mereka hendak mencoba ketua dari Siauwlim Sie.
Sembari memberi hormat sambil terus mengibas tangan, keduanya bertata.
"Telah lama kami mendengar nama besar kuil toahongthio ini, maka itu sekalian kami mendapat undangan Beng Sianseng, kami datang untuk berjalan-jalan, guna "menyaksikannya."
Mereka juga menyebut nama mereka yaitu Tek Hoat Lan dan Tek Hoat Siu.
"Oh begitu!"
Kata Tong Sian bersenyum.
"Itulah pujian yang tak sanggup kami terima!"
Tubuh ketua Siauwlim Sie ini terserang tenaga dalam kedua pendeta dari Barat itu, akan tetapi ia tidak bergeming.
Inilah sebab ia pandai ilmu melindungi diri Hutee Sinkang, hingga ia bagaikan tidak merasakan sesuatu.
Ia berlaku begini sebab ia memegang derajat sebagai tuan rumah, tak ingin ia mengganggu tetamunya.
Tong Siauw Lan tidak demikian sungkan sebagai si pendeta.
Dia menyambut dengan mengerahkan lima bagian dari tenaga Hutee Sinkang maka itu, kedua pendeta dari Seehek itu menjadi terkejut.
Mereka bagaikan melempar batu ke dalam laut, serangan tenaga dalam mereka tidak menemukan sasarannya.
Tentu sekali, mereka menjadi 'sangat kaget.
Lebih-lebih setelah itu, lantas mereka merasakan tolakan yang keras, yang membuat 'mereka terhuyung mundur beberapa tindak hampir mereka roboh terguling.
Siauw Lan tertawa dan kata.
"Oh, jiewie, jangan sungkan! Berdirilah biar tetap dan duduklah! Silahkan!"
Di dalam hati, Tek Hoat Lan dan Tek Hoat Siu menjadi sangat heran. Karena ini lenyap sudah kejumawaannya. Mereka memberi hormat pula sambil berkata.
"Maaf, Tong Ciangbun!"
Siauw Lan membalas hormat wajar, ia tak menolak pula.
Maka duduklah mereka bersama.
Diam-diam Siauw Lan tidak enak hati.
Kepandaiannya dua orang pendeta ini cuma di bawahan Tong Sian Siangjin.
Inilah berbahaya.
Ia sendiri tidak takut, akan tetapi ia menguatirkan keselamatannya sebawahannya andaikata mesti terjadi pertempuran kacau.
Terang sudah bahwa Beng Sin Thong telah minta bantuannya banyak orang liehay.
Kie Siauw Hong lantas menyerahkan surat gurunya.
Tong Sian Sianjin menyambuti dan membaca, habis itu, ia menyerahkan terlebih jauh kepada Tong Siauw Lan sambil ia kata.
"Beng Sianseng tidak bakal datang ke sini. Jam pertandingan tetap tetapi tempat pertandingan dirobah menjadi di Cianciang Peng. Tong Ciangbun, bagaimana pendapatmu?"
Siauw Lan membaca. Beng Sin Thong mengasih alasan, karena kuatir merusak Siauwlim Sie, dia menyebut penggantinya tempat pertandingan itu. Ia lantas kata pada Kie Siauw Hong.
"Pikiran gurumu cocok dengan pikiranku. Tolong beritahukan bahwa pada waktunya, akan aku datang ke Cianciang Peng."
Habis itu, kedua pendeta dari Seehek menanya Tong Sian Siangjin apa dapat mereka mohon melihat-lihat Siauwlim Sie, kuil kenamaan yang namanya sudah lama mereka dengar.
Tong Sian Siangjin memuji Sang Budha, ia lantas memberikan persetujuannya.
Ia pun mengucap terima kasih.
Lantas ia minta Pun Khong adik seperguruannya, menjadi penunjuk jalan untuk membantui Wie Cit dan Wie Cin.
Pun Khong menjadi kamsie, yaitu penilik kuil.
Dalam kepandaian, dia hanya di bawahan ketuanya.
Dia ditugaskan sebab Tong Sian ingin supaya Kie Siauw Hong diawasi.
Si raja pencopet sangat liehay, dia harus dicurigai.
Kedua pendeta Seehek itu mengucap terima kasih, bersama Kie Siauw Hong, mereka mengundurkan diri, terus mereka mengikuti Wie Cit dan Wie Cin serta Pun Khong.
Semundurnya sang tetamu, Tong Sian Siangjin mengerutkan alis.
Kata ia pada Siauw Lan.
"Tong Ciangbun, bagaimana kau lihat lagaknya Beng Sin Thong? Benarkah dia begitu baik hati menguatirkan kuil kami menjadi rusak?"
"Menurut aku, mungkin sekali dia menguatirkan kita memperoleh kedudukan lebih menguntungkan karena kita berada di tempat kita sendiri,"
Siauw Lan mengutarakan dugaannya.
"Dimanakah letaknya Cianciang Peng?"
"Di utara gunung Siongsan ini, terpisahnya hanya beberapa lie,"
Sahut Tong Sian.
"Kalau dekat letaknya, kita tidak usah berabe,"
Kata Siauw Lan.
"Cuma tempat itu sebuah tempat buntu,"
Tong Sian memberitahukan.
"Bagaimana itu, siangjin?"
"Cianciang Peng menjadi sebuah tanah datar, di dalam lembah, dikitarkan puncak atau gunung. Demikian maka dia mendapat namanya, datar itu luas."
"Jikalau begitu, taruh kata Beng Sin Thong mengatur barisan sembunyi, tak usah kita takut,"
Kata Siauw Lan tertawa.
"Menurut penglihatanku, meskipun dia busuk dan licik, karena dia sangat jumawa, tidak nanti dia menggunai keeurangan untuk merebut kemenangan."
Tong Sian membenarkan, ia kata, memang tempat itu lebih baik daripada Siauwlim Sie, yang jadi bebas dari ancaman kerusakan.
Sejak itu hari, setelah datang kepastian, pihak Siauwlim Sie sudah melakukan perondaan di sekitar wilayahnya.
Pemimpin penilik itu ialah Tay Hiong Siansu dari Cappee Loohan.
Dia menilik sampai di Cianciang Peng.
Tempo Tong Sian tanya, apa yang dia lihat di tempat pertandingan itu, jawabnya "tidak apa-apa".
Lewat satu jam, Pun Khong 'kembali kepada ketuanya mengabarkan bahwa ketiga tetamunya sudah diantar pergi.
"Adakah sesuatu yang hilang?"
Tanya Siauw Lan tertawa.
"Aku tahu Kie Siauw Hong sebagai Biauwciu Sintouw, maka itu, siang-siang aku sudah waspada,"
Sahut Pun Khong.
"Begitulah aku cuma mengajak mereka ke beberapa ruang atau pendapa yang tidak berarti. Ke Chongkeng Kok, tidak 'sama sekali, Kie Siauw Hong sangat liehay, dia sangat memperhatikan sesuatu yang dilihatnya. Ayo!..."
"Eh, kau kenapakah?"
Tanya Tong Sian heran. Pun Khong jengah, terus ia menghela napas.
"Aku sudah berjaga-jaga tetapi aku masih menjadi korban,"
Sahutnya menyesal.
"Apakah itu yang lenyap? Adakah itu barang berarti?"
Tanya Tong Sian.
"Sebuah cincin kemala,"
Sahut Pun Khong.
"Cincin itu tidak berarti, hanya aku menyayanginya. Aku pakai itu pada jeriji tengah tangan kananku. Tempo jahanam itu berpamitan, dia menjura terhadapku. Aku membalas hormat, aku mencegah dia menjura. Karena itu, tangan kita beradu. Tidak kusangka, saat itu ia telah jadikan saat baiknya. Baru sekarang aku mendusin lenyap cincinku itu..."' Pendeta ini menjadi malu dan masgul sekali. Dia pernah beristeri, dia jadi bukan menyucikan diri sejak kecil. Cincin itu cincin peninggalan isterinya. Wie Cit tertawa dan kata.
"Untuk kami kaum penganut agama, segala apa di sekitar kami kosong belaka. Kalau kita kehilangan sesuatu, ya sudah saja. Menurut aku, yang penting ialah soal pertandingan. Aneh Beng Sin Thong merubah tempat! Aku pikir, kitapun harus mengatur sesuatu."
Wie Cit mengajukan sarannya itu karena meskipun Beng Sin Tong menantang Tong Siauw Lan seorang akan tetapi dia datang dengan banyak kawan, dari pelbagai kalangan, lurus dan sesat, maka itu dikuatirkan, di dalam keadaan kacau, nanti ada orang atau orang-orang tidak keruan yang memancing di dalam air keruh.
Inilah harus dijaga.
Tong Sian Siangjin lantas berpikir, kemudian ia kata.
"Pun Khong Sutee, kau bersama empat tiangloo dari Tatmo Ih serta rombongannya Tay Hiong, Tay Tie dan Tay Pie baiklah berdiam di dalam kuil. Juga separuh dari rombongan Lweesam Tong baik membantumu, guna melakukan pengawasan di bagian dalam dan terutama luar. Yang lainnya, semua harus turut aku ke Cianciang Peng. Tentang anggauta-anggauta lain partai, biarlah diatur oleh masing-masing ketuanya sendiri."
Rencana Tong Sian ini disetujui, maka itu, perintah lantas diberikan guna melaksanakan itu.
Di dalam tempo setengah jam, segala apa sudah selesai diatur.
Di dalam Siauwlim Sie anggautanya berjumlah hampir seribu orang, maka itu, meski separahnya lebih pergi ke Cianciang Peng, sisanya masih cukup banyak untuk menjaga kuil.
Dari pihak pelbagai partai, semua orang mau pergi ke tempat pertandingan, kecuali beberapa orang, ialah.
Beberapa wanita dari Cengshia Pay, Thia Ho, Lim Seng, Lou Eng Ho dan Pek Eng Kiat dari Binsan Pay, juga Lie Kim Bwee dari Thiansan Pay.
Mereka itu bersedia menemani Co Kim Jie dan Kok Cie Hoa.
Phang Lim tadinya mau berdiam di dalam kuil tapi akhirnya, ia turut pergi juga.
la sangat ketarik dengan pertandingan.
Ciong Tian menjadi muridnya Tong Siauw Lan, tidak dapat ia tidak turut, terpaksa ia berpisahan dari Lie Kim Bwee.
Pihak Binsan Pay pergi semua, Ek Tiong Bouw yang menjadi pemimpinnya.
Inilah sebab Beng Sin Thong menjadi musuh mereka-musuh hidup atau mati.
Co Kim Jie terpaksa ditinggal pergi, meskipun dia sakit berat, setiap waktu dia bisa putus jiwa.
Dia jadi ditemani Thia Ho berempat di samping Cie Hoa.
Demikian, berangkatlah rombongannya Tong Siauw Lan ini ke Cianciang Peng.
Ada yang menjadi penunjuk jalan.
Ketika itu tengah hari tepat.
Di dalam lembah, Beng Sin Thong dan rombongannya sudah menantikan.
Dia diapit di kiri kanannya oleh Yang Cek Hu, Kie Siauw Hong, Hu Lie Ciat, dan Leng Siauw Cu serta Tek Hoat Lan dan Tek Hoat Siu.
Yang lainnya lagi beberapa orang yang tidak dikenal.
Tong Sian Siangjin menanya beberapa muridnya yang di tempatkan di Cianciang Peng.
Mereka ini menerangkan bahwa rombongannya Beng Sin Thong itupun baru saja tiba.
Katanya pula mereka tidak melihat sesuatu persiapan lainnya dari pihak Beng Sin Thong.
Segera setelah mengambil tempat kedudukan berhadapan dengan pihak lawan, Tong Sian Sianjin dan Tong Siauw Lan muncul menghampirkan mereka itu.
Dari pihak sana, Beng Sin Thong maju sendiri.
Tong Sian menjadi tuan rumah, ialah yang paling dulu bicara.
Habis memberi hormat, ia kata.
"Tuan-tuan berdua menjadi guru-guru besar kaum persilatan, kedatangan kamu ke sini membuat kami .mendapat kehormatan besar. Berhubung dengan urusan tuan-?tuan, loolap memikir sesuatu, dari itu ingin loolap bicara sedikit."
Beng Sin Thong mengangguk. Ia kata pendeta itu dapat bicara, tidak ada halangannya.
"Melihat kepandaian tuan-tuan berdua,"
Kata si pendeta.
"pertemuan kali ini ialah satu pertemuan yang cemerlang sekali, meski demikian, loolap ingin minta sukalah Ifuan-tuan melakukan pertandingan secara persahabatan satu dengan lain, supaya tak usahlah gunung kami yang kenamaan ini mendapat bencana karenanya." -Kata-kata pendeta ini berarti bahwa urusan kedua belah pihak itu, supaya mereka jangan bertempur secara kacau supaya pihaknya tidak sampai tersangkut paut dan ijuga jangan sampai terbit perkara jiwa. Atas itu Tong Siauw Lan berkata.
"Tuan Beng menjadi tetamu, aku bersedia untuk menurut pikiran pihak tetamu saja."
"Hongthio berpokok kepada welas asih, aku si orang she Beng kagum sekali,"
Kata Beng Sin Thong.
"Cuma di dalam hal kita ini, aku kuatir bahwa aku nanti tak sanggup memenuhkan keinginan atau pengharapan hongthio ini. Di antara orangorang di pihakku, yang datang untuk meramaikan pertemuan ini, yang jumlahnya besar sekali, banyak yang bukan orangorang sebawahanku, karenanya tidak dapat aku mengendalikan mereka itu. Di samping itu, karena aku mau mohon pengajaran dari Tong Ciangbun, aku juga hendak memohon supaya ciangbun, jangan pelit, agar ia suka mengeluarkan semua kepandaiannya--ilmu Thiansan Pay ituguna membuka mata kami. Aku sendiri juga, meski kepandaianku beda jauh sekali, akan aku keluarkan seluruhnya. Oleh karena demikian, aku kuatir pertandingan kita ini tidak dapat hanya sampai pada tarap saling towel saja. Dari itu, aku lihat, baiklah kita pasrah kepada Thian saja. Jikalau terjadi aku sampai hilang jiwa di tangan Tong Ciangbun, akan aku mati rela. Sebaliknya, apabila aku beruntung memperoleh kemenangan satu atau setengah jurus, hingga aku melukakan Tong Ciangbun, hendak aku mohon hongthio memaafkan aku. Tapi, maksudku yang sebenarnya sama dengan pendapat hongthio sendiri, yaitu di dalam pertemuan itu maksudku cuma memohon pengajaran, tak lebih, maka itu, kita tidak mempunyai urusan dengan orang lain. Hendak aku jelaskan, jikalau aku kalah tetapi jiwaku masih hidup, selanjutnya aku akan mengundurkan diri dari kalangan Bulim, dan aku tidak akan mau menuntut balas salah seorang dari Siauwlim Sie. Umpama kata ada lain orang yang mau menyeterukan aku, aku cuma mau melayani dia itu sendiri, tak nanti aku usilan!"
Tong Sian Siangjin percaya Tong Siauw Lan bakal menang, maka itu, mendengar suaranya Beng Sin Thong itu, ia berkata.
"Jikalau kau kata demikian, Tuan Beng, baiklah, loolap tidak mau mengatakan sesuatu lagi. Tentang pertandingan, bagaimana caranya itu, silahkan tuan-tuan berdua saja yang mengatur sendiri."
Habis berkata, pendeta ini memberi hormat, terus ia mengundurkan diri. Tong Siauw Lan lantas berkata pada Beng Sing Thong.
"Tuan Beng, kau menjadi tetamu, suka aku mengalah untuk kau yang menunjuk caranya kita bertanding. Aku selalu siap sedia."
Sin Thong pun sudah siap dengan rencananya akan tetapi ia berpura diam untuk berpikir. Selang sedetik, baru ia membuka mulutnya.
"Menurut aku, ilmu silat itu mengutamakan kemahiran,"
Demikian katanya.
"Ilmu silat juga luas kalangannya, tidak berhenti hanya kepada arti kata ilmu silat saja. Pula orangorang sebagai kita berdua, mana dapat begitu kita maju dalam kalangan begitu kita menggeraki tinju atau tendangan, atau memutar golok dan membalingkan pedang? Bukankah itu caranya si orang kasar?"
"Kau benar, Tuan Beng,"
Bilang Siauw Lan.
"Apakah kau berniat kita melakukan piebun dan bukan piebu?"
Jago Thiansan ini heran, ia mengajukan pertanyaannya itu. Piebu berarti "mengadu silat", dan piebun yaitu "mengadu surat"
Atau lain cara lunak tanpa menggunai kekerasan. Beng Sin Thong bersedia mengadu jiwa, kenapa ia bicara begini rupa? Sin Thong menjawab tanpa berpikir lagi.
"Bukannya piebun atau piebu. Hari ini telah datang ketikanya yang sangat baik, jikalau kita mau mengadu, kita mesti mengadu semua kepandaian kita, untuk mendapat kepastian, siapa yang lebih pandai atau lebih rendah..."
Siauw Lan tetap tidak mengerti.
"Habis, kita mengadu apa saja? Silahkan kau tunjuki."
"Meski ilmu silat itu luas ka-langannya,"menjawab Sin Thong.
"akan tetapi menurut pandanganku, semua itu tidak melebihkan tiga sudut. Yang pertama yaitu penger-.tian tentang ilmu silat. Yang nomor .dua ialah keberanian atau nyalinya orang yang mempelajari ilmu silat. Dan yang ketiga, itu barulah ilmu silatnya sendiri. Karena itu, aku memikir buat kita mengadu salah satu dari ketiga sudut itu."
Siauw Lan menyetujui pandangan itu akan tetapi ia tidak akur dengan caranya, akan tetapi sebab ,ia telah menyerahkan segala apa pada Sin Thong, tak mau ia menentang.
"Baik, Tuan Beng,"
Katanya.
"Sekarang kau sebutkanlah caranya!"
"Tong Toaciangbun, kaulah -seorang pandai, tidak selayaknya aku mendahului kau,"
Kata Sin Thong.
"akan tetapi karena kau sudi mengalah, baiklah, biar aku lancang, akan aku turut kau. Kita mengadu tiga macam kepandaian, ksiapa yang menang dua saja, dialah yang terhitung menang. Aku percaya habis pada toaciangbun, kaukah seorang terhormat, walaupun demikian, aku pikir ada baiknya -untuk aku menjelaskan dahulu, supaya orang luar tidak sampai membuatnya bocah tutur nanti."
Siauw Lan mengurut kumisnya, ia bersenyum.
"Benar, Tuan Beng,"
Katanya.
"Sebenarnya tak usah kita perdulikan siapa menang dan siapa kalah. Kalau aku kalah dalam dua pertandingan yang pertama, sudah tentu yang ketiga tak usah diadu lagi."
Mendengar begitu, semua orang pihaknya Siauw Lan menjadi berkuatir. Inilah sebab mereka tahu Sin Thong sangat pintar dan licik. Entah akal apa yang manusia licin ini bakal ajukan.
"Baiklah, toaciangbun,"
Kata Sin Thong.
"Sekarang yang pertama. Silahkan kau menyuruh salah seorang muridmu yang paling kau sayangi supaya dia mengadu silat dengan seorang muridku."
Siauw Lan heran.
"Apakah yang pertama itu bukannya soal mengadu pengertian tentang ilmu silat?"
Tanyanya.
"Benar, toaciangbun,"
Sahut Sin Thong.
"Tetapi benar seperti katamu, ilmu silat itu luas. Kalau kita berdua yang bicara, mungkin kita memerlukan waktu tiga hari dan tiga malam. Apakah artinya itu? Aku percaya, buat orang lain, pasti mereka tidak akan mengerti. Maka aku ingin murid kita yang bertanding, lalu kita membicarakan ilmu silat mereka, siapa pandai dan siapa ada cacadnya. Dengan cara ini, sama saja andaikata kita yang bertanding sendiri. Siapa dapat menyebut lebih banyak, dialah yang menang. Ini berarti, kita bicara dari pokok yang kita lihat!"
Siauw Lan mengangguk.' "Dengan caramu ini, kau meniru cara berundingnya orang jaman dahulu,"
Katanya.
"Untuk sekarang, inilah suatu cara baru."
"Kalau toaciangbun setuju, silahkan kau menyuruh muridmu keluar,"
Kata Sin Thong.
"Aku akan menunjuk muridku ini, Kie Siauw Hong. Toaciangbun dan Tong Sian Hongthio tentu telah mengenalnya."
Siauw Lan mengerutkan alis mengetahui ornng mengajukan Kie Siauw Hong.
"Dia sangat mahir ilmu ringan tubuhnya, mungkin Ciong Tian tidak dapat melawannya,"
Katanya di dalam hati.
Ia bingung.
Keputusan berada di antara mereka berdua meski demikian kalau Ciong Tian kalah, ia toh tak bermuka terang.
Ciong Tian menjadi murid kepala, dia telah mewariskan ilmu silat sejati, tetapi latihannya masih belum mencapai puncaknya.
Selagi ayah itu ragu-ragu, Keng Thian maju seraya berkata.
"Ayah, kasihlah aku main-main dengan murid pandai dari Tuan Beng!"
Beng Sin Thong lantas saja tertawa.
"Jikalau siauwciangbun yang maju, sungguh itulah penghargaan yang berlebihan untuk muridmu!"
Kata ia.
"Siauw Hong, pergi kau minta pengajaran dari siauwciangbun, tetapi kau harus berhati-hati!"
Siauw Lan menyesal atas sikap puteranya itu tetapi dia tidak bisa menolak lagi.
Dibanding dengan Siauw Hong, derajat Keng Thian jauh sekali terlebih tinggi, sudah ia bakal menjadi ahli waris Thiansan Pay, namanya juga sudah lama terkenal, Buat ia, menang ia tidak bakal jadi kesohor, kalah ia bisa ditertawakan orang.
Mungkin Siauw Hong liehay tetapi dia tetap si pencopet!
Siauw Hong sambil tertawa haha-hihi, kata pada Tong Keng Thian.
"Siauwciangbun, silahkan menghunus pedang!"
"Kau bertangan kosong, aku juga bertangan kosong!"
Kata Keng Thian wajah dan romannya sungguh-sungguh. Beng Sin Thong tertawa. Dia kata.
"Siauwciangbun, kau salah paham! Pertandingan ini ialah pertandingan untuk ayahmu dan aku mengadu pandangan atau pengetahuan ilmu silat. Cara ini ialah cara untuk kita membuat perbandingan. Thiansan Pay kesohor buat ilmu pedang, mana bisa aku menyatakan pikiranku?"
"Anak Keng, kau pakailah pedangmu!"
Kata Siauw Lan, yang tahu ia tidak dapat menentang Sin Thong. Keng Thian menjadi apa boleh buat. Segera ia menghunus pedangnya. Kie Siauw Hong tertawa.
"Sungguh pedang yang bagus!"
Dia memuji.
"Inilah pasti suatu permainan yang menarik hati!"
Berbareng dengan itu, mendadak dia meluncurkan tangannya hendak merampas pedang orang!
Untuk itu, dia mau menyengkeram nadi jago muda dari Thiansan itu.
Tong Keng Thian menjadi gusar.
Segera ia meneruskan membabat tangan orang itu.
Ia menggunai jurus "Mega melintang, memapas puncak gunung".
Ia dapat bergerak dengan kecepatan luar biasa, sebab ia sudah dapat menguasai pedangnya.
"Aduh, celaka!"
Berteriak Siauw Hong, yang menarik tangannya sambil tubuhnya turut berkelit berputar. Setelah berbalik, menghadapi pula Keng Thian, ia tertawa dan kata.
"Syukur! Syukur aku tidak kena tertabas!"
Ia tidak berhenti bergerak dengan kata-katanya itu, ia terus bertindak dengan tindakan Thianlo Pou, maka dengan lincah sekali, tubuhnya mencelat ke samping terus ke belakang lawannya.
Disini ia mengulur pula tangannya, untuk merampas pedang orang.
Inilah siasat Siauw Hong yang cerdik.
Dia tahu dia kalah dari Keng Thian dalam ilmu silat, maka dia membawa sikapnya ini, guna membikin mendongkol lawan, agar lawan jadi alpa atau ayal.
Siasat ini memberi hasil.
Keng Thian panas hati karenanya.
Setelah beberapa jurus, kembali Siauw Hong meluncurkan tangannya.
Keng Thian kaget sekali.
Hampir pergelangan tangannya kena kecekal atau pedangnya dirampas.
Baiknya ia lantas mengerahkan tenaga dalamnya.
Ketika tangan Siauw Hong menyentuh tangannya, tangan si malaikat pencopet mental sendirinya!
Bahkan tubuhnya turut mundur sampai tiga tindak!
Segera setelah itu, Keng Thian insyaf bahwa ia telah kena dipengaruhi sikap lawan yang licin itu.
Lekas-lekas ia menenangkan diri.
Terus ia mengasih dengar seruan yang panjang, buat mulai dengan penyerangannya berulang-ulang dengan tipu silat pedang "Twie-hong Sippat Sie"
Atau "Mengejar angin", yang terdiri dari delapan belas jurus.
Dengan demikian, lantas saja penyerangannya itu menjadi bergelombang, yang satu disusul yang lain.
Kie Siauw Hong juga bergerak terus dengan cepat dan lincah sekali.
Sangat mahir dia dengan tindakannya "Thianlo Pou".
Terlihat tegas kemahiran ilmu ringan tubuhnya.
Ia bagaikan molos tak hentinya dari ujung pedangnya Keng Thian, tak pernah tubuhnya kena tersentuh.
Para penonton menjadi kagum sekali.
Mata mereka seperti kabur dan kepala mereka terasa pusing, melihat pelbagai kelitannya si malaikat pencopet.
Selagi bertanding itu, kembali terdengar seruan Keng Thian, lantas ia memperhebat serangannya.
Siauw Hong seperti juga terkurung sinar pedang.
Dia sungguh cerdik.
Dia lantas mengerti bahwa di dalam hal tenaga dalam, dia kalah dari lawannya.
Inilah berbahaya.
Dengan kalah ulet, dia bisa celaka.
Lantas dia ingat akan akal.
Tiba-tiba dia menyerbu ancaman bahaya.
Ialah dengan mendadak dia meluncurkan jeriji tangannya, guna mengorek mata lawan.
Dia memang pandai ilmu totok "Hian-im Cie", yang dahulu diciptakan Kiauw Pak Beng berpokok kepada Siulo Imsat Kang.
Dia dapat kepandaian dari Sin Thong, yang mengajarinya dengan melompati ilmu Siulo Imsat Kang itu.
Kepandaian Siauw Hong ini dapat dibanding dengan Siulo Imsat Kang tingkat tiga.
Dengan itu tak nanti dia bisa mengalahkan Keng Thian tetapi dia menggunakannya juga, guna menyingkirkan ancaman bahaya saja.
Tong Keng Thian terperanjat.
Totokan itu sangat berbahaya.
Kalau ia terkena, kedua matanya bisa menjadi buta.
Terpaksa ia lantas berkelit.
Walaupun demikian, ia masih berayal sedikit.
Maka dahinya kena tersentuh perlahan.
Ia kaget akan mendapatkan bekas sentuhan itu menjadi merah dan bengkak sedikit, hingga air matanya mengembeng.
Kie Siauw Hong tertawa dan kata.
"Siauwciangbun aku cuma menyentuh kau perlahan sekali, tentunya tidak sangat nyeri, karena itu, tak usahlah kau menangis!"
Keng Thian tidak menjawab, tetapi ia gusar sekali.
Maka ia menyerang dengan "Taybok Hong-see", atau "Badai pasir di gurun besar".
Saking cepatnya ia menggunai pedangnya, pedang itu berkelebatan seperti ratusan pedang, suara anginnya menghembus sar-ser keras tak hentinya.
Kembali Kie Siauw Hong seperti terkurung pedang.
Ia tidak terlukakan akan tetapi sekarang bajunya pecah lima atau enam lubang.
Ia berani sekali.
Kembali ia mencoba mendesak untuk menggunai lagi totokan Hian-im Cie.
Kali ini Keng Thian sudah siap sedia.
Ia bukan menangkis atau berkelit, ia meniup dengan tenaga dalamnya, membuat serangan itu habis tenaganya.
Hanya, karena ia menggunai terlalu banyak tenaga dalamnya itu, kesehatannya jadi berkurang.
Ini ada baiknya untuk Siauw Hong, yang jadi sedikit bebas dari desakan.
Mengenai pertempurannya ini, Keng Thian jengah sendirinya, ia merasa tak enak di hati, sebab meskipun benar bajunya Siauw Hong robek di sana-sini akan tetapi ia sendiri, dahinya kena tersentuh hingga meninggalkan bekas.
Sentuhan itu di bagian otot yang berhubungan dengan mata, hingga matanya mengeluarkan air.
Ia jadi berpikir keras, lantas ia mengambil suatu keputusan.
Segera ia menggunai siasat.
Bertempur selanjutnya, jago muda dari Thiansan ini, nampak berkurang kegesitannya, seperti juga pedangnya menjadi berat seribu kati, hingga terlihat tegas setiap serangannya ke kiri atau ke kanan.
Berbareng dengan itu, Kie Siauw Hong pun menjadi heran.
Selagi lawan bergerak lambat, ia sendiri turut menjadi lamban, hilang kegesitannya, hingga sukar ia merapatkan lawan meski ia inginkan itu.
Ia merasa ia seperti dirintangi tembok besi, yang mengurung padanya.
Sebenarnya Tong Keng Thian menggunai ilmu pedang istimewa yang dinamakan "Taysiebie Kiam-sie", atau ilmu "Pedang Sumeru Besar".
Dalam hal ini, ia mengutamakan tenaga dalamnya.
Siauw Hong kalah tenaga dalam, dia segera kena terpengaruhkan.
Tentu sekali, dari heran, dia menjadi berkuatir.
Asal dia alpa, dia bisa celaka.
Segera juga Siauw Hong ber-cekat hati.
Dia merasakan suatu perbedaan hingga dia menjadi kaget.
Lantas dia berpikir.
"Tidak apa jikalau aku kalah, hanya kalau aku mati konyol di hadapan guruku, pasti guruku tak dapat tempat untuk menaruh mukanya... Kalau aku mesti kalah, aku mesti kalah dengan muka terang gemilang!"
Tengah Keng Thian mendesak dengan tetap dan tenang itu, mendadak Siauw Hong mengajukan dirinya.
Dia merangsak ke ujung pedang seperti juga dia mau mengadu jiwa.
Jago Thiansan itu terkejut.
Ia ingat pertandingan untuk melatih kepandaian mereka.
Benar senjata tak ada matanya tetapi kalau tidak terpaksa, jiwa tak dapat dibuat permainan.
Maka tak dapat ia membinasakan Siauw Hong secara demikian.
Siauw Hong bukan kalah hanya dia mengadu jiwanya...
Dalam ilmu pedang, puteranya Tong Siauw Lan sudah dapat menguasai senjatanya.
Demikian kali ini, meski ia sudah terlanjur dan lawanpun mengajukan diri sendiri, ia masih sempat mengegoskan pedangnya, untuk diteruskan menikam ke samping sasarannya.
Inilah justeru yang dikehendaki Siauw Hong.
Dia meneruskan gerakannya, dia menjejak tanah, untuk mencelat tinggi dengan tipu silat "Burung jenjang, terbang menembusi langit".
Sembari lompat itu, tangannya menyambar dengan sambaran "Imyang Jiauw", atau "Kuku Imyang".
Kie Siauw Hong telah mendapatkan tenaga besar separuh dari tenaga gurunya, dari itu dapat dimengerti hebatnya sambarannya ini.
Keng Thian terperanjat.
Baru sekarang ia mengerti yang ia telah kena tertipu si raja pencopet, yang mengadu jiwa sebagai gertakan belaka.
Lekas-lekas ia menekan dengan tangan kirinya, dengan tenaga tujuh bagian, guna mencegah sambaran itu.
Siauw Hong cerdik sekali.
Dia tak berhenti sampai disitu.
Dia terus menggunai ketikanya yang baik itu.
Beruntun-runtun dia meneruskan penyerangannya sampai tiga kali, semua dengan ilmu silat warisan Kiauw Pak Beng yang Beng Sin Thong turunkan padanya.
Di samping kuku Imyang Jiauw itu serta Hian-im Cie, dia juga menggunai "Cwiesim Ciang", pukulan "Tangan Meremukkan Hati".
Syukur Keng Thian waspada, ia tak mengijinkan dirinya menjadi korban serangan tiga kali saling susul itu.
Tapi lantaran ia repot membela diri, Siauw Hong menjadi bebas lompat meloloskan dirinya.
Puas si raja pencopet.
Ia sudah bebas.
Maka mau ia memutar tubuh, guna mengejek lawannya itu.
Baru ia mau menaruh kakinya dan berniat memutar kepala, guna menoleh ke belakang, mendadak ia mendengar mendengungnya suara nyaring, suara dari senjata rahasia.
Ia kaget sekali, ia lantas jumpalitan, niat menyingkirkan diri terlebih jauh, tetapi ia tak mendapat ketika pula.
Sebatang Thiansan Sinbong dari Keng Thian sudah bekerja, menyambar tepat si raja pencopet, maka robohlah dia ke tanah sebelum sempat dia turun menaruh kakinya...
Syukur buat Kie Siauw Hong, Tong Keng Thian tidak menyerang dia sekeras-kerasnya, dengan begitu lukanya tidak sampai kepada tulangnya Dengan begitu dalam babak ini, Keng Thian yang menang, akan tetapi jago muda dari Thiansan ini tak enak hati, ia merasa malu sendirinya.
Kemenangannya itu bukan kemenangan sepenuhnya.
"Keng Thian, berikan dia sebutir Pekleng Tan!"
Siauw Lan kata pada puteranya Tiba-tiba Siauw Hong mencelat bangun.
"Tak usah!"
Katanya, lekas.
"Aku sudah mengambil sendiri!"
Sembari berkata, raja pencopet ini mengeluarkan sebotol kecil dalam mana ada belasan butir pil, ia mengambil dua biji, selebihnya bersama botolnya ia kembalikan pada Keng Thian sambil dilemparkan seraya ia kata tertawa.
"Terima kasih untuk kebaikanmu menaruh belas kasihan kepadaku, obat ini tak berani aku mengambil banyak-banyak! Inilah selebihnya!"
Pencopet yang liehay ini sudah bekerja ketika tadi dia bentrok tangan dengan jago Thiansan itu, dia memindahkan obat orang di luar sangkaannya Keng Thian.
Maka jago Thiansan itu menyambuti botolnya tanpa membilang apa-apa.
Beng Sin Thong tertawa.
Dia kata.
"Kamu berdua sudah mengeluarkan semua kepandaianmu masing-masing, maka sekarang tibalah giliranku bersama Tong Toa-ciangbunjin merundingkan sarinya ilmu silat!"
"Beng Sianseng, jangan sungkan,"
Kata Siauw Lan.
"Silahkan kau mulai memberi petunjuk mengenai ilmu silatnya anakku barusan."
"Baiklah,"
Sahut Sin Thong bersenyum.
"Mari aku omong dulu perihal tenaga dalamnya. Menurut penglihatanku, dia telah mencapai .batas semangat dan hawanya tergabung menjadi satu, cuma belum memasuki apa yang disebut tiga wujud pulang kepada pokoknya!..."
Di dalam hati, Siauw Lan terperanjat.
Tepat pendapat orang she Beng itu.
Apa yang mengherankan, sebagai orang luar, lawan ini mengenal baik ilmu tenaga dalam Thiansan Pay dan bicaranya demikian lancar.
Dahulu hari Kiauw Pak Beng pernah berunding hal ilmu tenaga dalam dengan Hok Thian Touw, pembangun dari Thiansan Pay, hasil perundingan itu dimuat dalam kitab warisannya.
Ada dibilang, untuk menyempurnakan ilmu Thiansan Pay itu dibutuhkan latihan tiga puluh tahun, jadi ilmu itu lebih sulit, atau lebih lama rampungnya dibanding dengan ilmunya pihak sesat.
Beng Sin Thong baru melakukan tiga tahun, malah dia tak bersungguh-sungguh, maka dalam ilmu itu, pelajarannya masih rendah, tetapi di lain pihak, pengetahuannya sudah banyak, maka pengetahuannya itu dapat dipakai dalam perundingan bersama, hingga bisa ia mengeritik...131) "Beng Sianseng, apa yang kau tunjuki ini justerulah kekurangannya anakku itu,"
Kata Siauw Lan, mengakui terus terang.
"Aku kagum padamu!"
"Aku minta Toaciangbun juga jangan sungkan,"
Kata Sin Thong merendah. Keduanya bicara begitu rupa hingga mereka mirip bukan musuh-musuh lagi.
"Menurut apa yang aku lihat,"
Kata Siauw Lan, yang mulai membicarakan ilmu silatnya Kie Siauw Hong.
"mengenai muridmu, dia rupanya terlalu mengutamakan bagian apa yang dinamakan 'mencuci bulu dan membersihkan sumsum'. Buat dia, untuk kekerasan berlebihan, untuk kebejikan kekurangan."
Beng Sin Thong mengangguk.
Ia kagum buat petunjuk tepat itu.
Pembicaraan lantas dilanjuti.
Dahulu hari itu, Kiauw Pak Beng kena dikalahkan Thio Tan Hong.
Dia pergi hidup menyendiri di pulau kosong, buat belajar silat lebih jauh, maksudnya untuk nanti kembali melawan pula Tan Hong dan merobohkannya, tapi maksud itu tak tercapai.
Dia cuma menulis tentang ilmu pedang Tan Hong itu.
Tapi itu tak bedanya dengan dmu pedang Thiansan, atau Thiansan Kiamhoat, karena dulu hari itu Hok Thian Touw telah memperoleh petunjuk dari Tan Hong.
Hanya, sesudah berselang dua ratus tahun lebih, kenyataan tak sesuai seanteronya.
Sebab Hok Thian Touw dan muridnya, terus sampai di tangan Tong Siauw Lan, telah memperoleh banyak kemajuan.
Yang sama ialah pokok dasarnya.
Beng Sin Thong dapat bicara.
Begitulah ia menyebut tiga belas macam cacadnya Tong Keng Thian, sedang bagian-bagiannya yang sempurna, ia menunjuki semuanya sebelas pasal.
Mendengar perundingan orang, Siauw Lan melongo, diamdiam ia memuji.
Beng Sin Thong tertawa, dia kata pula.
"Cacad puteramu berjumlah tiga belas, dari antaranya yang sembilan disebabkan belum dilatih sempurna. Maka itu cacad Thiansan Kiamhoat cuma empat rupa. Dengan begitu, dibandingkan dengan pelbagai partai lainnya, partaimu tetap yang nomor satu!"
Siauw Lan masgul.
Dengan lancar dan beralasan orang mengeritik ilmu silatnya, sebaliknya ia sendiri, tak banyak yang ia dapat utarakan mengenai ilmu silatnya Kie Siauw Hong.
Ilmu silat itu asing baginya.
Kalau toh ia paksa mencari cacadnya, ia cuma mendapati sepuluh macam.
Sin Thong sebaliknya dapat menunjuk sampai dua puluh empat rupa!
"Muridku baru belajar lamanya tiga tahun,"
Beng Sin Thong menjelaskan. Ia bicara sambil tertawa.
"Karena itu, dia belum dapat memahami banyak, hingga pasti dia banyak cacadnya. Silahkan Toaciangbun berikan petunjukmu, aku akan bersyukur sekali. Ah mengapa Toaciangbun ragu-ragu? Oh, apakah Toaciangbun merasa masih kurang saksi atau wasit? Kalau begitu, mari kita minta bantuannya beberapa guru besar."
"Sudah, Beng Sianseng, tak usahlah,"
Sahut Siauw Lan cepat.
"Pengetahuan sianseng dalam sekali, tak dapat aku si orang she Tong melawannya, maka itu, kali ini aku mengaku kalah saja."
Mendengar pengakuan jago Thiansan Pay itu, para hadirin di pihaknya menjadi kaget sekali.
Banyak di antaranya yang merasa tidak puas.
Siauw Hong yang kalah, boleh berbalik dialah yang menang, dan Keng Thian yang menang, ber-balik menjadi yang kalah.
Kenapa pertandingan silat dicampur baurkan dengan perundingan mulut?
Bukankah itu terlalu bagus untuk Beng Sin Thong?
Tapi perjanjian telah dibikin, dan Tong Siauw Lan mentaati perjanjian itu, mereka tidak bisa berbuat lain daripada menutup mulut.
"Toaciangbun mengalah saja!"
Kata Sin Thong.
"Aku menghaturkan terima kasihku. Sekarang mari kita mulai dengan yang kedua! Apakah Toaciangbun akur?"
"Silahkan, Beng Sianseng,"
Jawab Siauw Lan, yang hatinya berpikir keras. Ia tak dapat menerka, keanehan macam apa lagi ditimbulkan jago sesat yang liehay itu. Beng Sin Thong lantas menoleh kepada pihaknya.
"Yang Sutee, apakah kau sudah siap?"
Ia tanya Yang Cek Hu, adik seperguruannya.
"Sudah siap!"
Cek Hu jawab cepat.
Dia lantas menghampirkan dengan tangannya membawa sebuah nenampan.
Di atas itu ada sebuah cawan besar serta dua bocah yang kecil.
Cawan besar itu ada isinya, sedang yang kecil, dua-duanya kosong.
Orang tak tahu apa perlunya semua cawan itu, semuanya merasa heran.
Beng Sin Thong mengeluarkan satu bungkusan kecil, ia buka itu dengan merobek, lantas isinya ia tuang ke dalam cawan besar itu.
Isi itu ialah bubuk putih.
Ia goyang cawan pergi datang, untuk membikin bubuknya hancur rata, setelah itu, ia menuangnya ke dalam kedua cawan kecil.
Isinya kedua cawan kecil tepat sama banyaknya dengan satu cawan besar itu.
"Bubuk putih itu bubuk racun ramuan yang paling berbahaya,"
Kata dia kemudian, sabar.
"Siapa minum racun ini, dia bakal lantas terbinasa dengan mengeluarkan darah dari mata, hidung, mulut, telinga serta liang-liang peluhnya! Kali ini kita menguji keberanian serta nyali kita. Toaciangbun, apakah kau mempunyai cukup nyali untuk menemani aku meminum racun ini?"
Sungguh pertandingan yang di luar dugaan semua orang. Maka bergolaklah suara mereka itu, seperti suaranya air mendidih.
"Muka tebal!"
Terdengar satu suara.
"Pertandingan apa ini? Terang-terang inilah siasat mencelakai Tong Tayhiap!"
"Jangan kasih diri kita kena diakali!"
Teriak yang lain.
"Dia pasti mempunyai obat pemunahnya!"
"Dia tahu saat kematiannya sudah tiba, dia tahu dia tak bakal luput dan keadilan umum, maka dia mau menyeret Tong Tayhiap mati bersama!"
Teriak lain orang lagi.
"Sungguh pikiran yang luar biasa!"
"Dimana ada pertandingan cara begini!"
Lagi terdengar suara mengejek.
"Buat dapat hidup atau mati kenapa orang tidak mau terang-terang saja menguji ilmu silatnya?"
Di sebelah itu, selain yang mendamprat Beng Sin Thong, ada orang-orang yang menasihati atau menganjurkan Tong Siauw Lan jangan minum racun itu.
Hanyalah cacian yang terlebih hebat.
Beng Sin Thong dengar semua suara itu, ia bersikap tawar.
"Tuan-tuan jangan berisik!"
Kata ia tawar.
"Silahkan kamu dengar dulu perkataanku!"
Tak tinggi nada suara itu tetapi siapa mendengarnya, dia merasa seperti mendengar barang logam beradu keras, hingga semua menjadi heran dan kaget, semua lantas sirap!
Beng Sin Thong mengasih dengar ejekan "Hm!"
Bebarapa kali, baru ia tertawa dan berkata pula.
"Bicara dari hal obat pemunah racun, di kolong langit ini tidak ada yang melebihkan Pekleng Tan campur teratai salju buatan Thiansan Pay! Jikalau ada bicara dari hal diam-diam memakan obat pemunah racun, mana dapat aku melawan Tong Toaciangbun? Baiklah tuantuan ketahui, kali ini kita mengadu keberanian dan nyali besar, kita bukan mengadu memunahkan racun! Tong Toaciangbun seorang besar dalam Rimba Persilatan, aku si orang she Beng juga bukan orang tak ternama sama sekali! Coba pikir, di hadapan banyak orang ini, setelah orang minum racun, selagi kita mengawasi lain orang mau mampus, kita sendiri lekas lekas makan obat pemunah-nya! Apakah dengan begitu dia tak takut dunia nanti mentertawainya? Kata-kata itu benar. Itulah hebat! Dengan begitu tertutup sudah jalan hidup apabila orang benar-benar minum racun itu. Maka semua orang saling mengawasi, semua bungkam. Beng Sin Thong mengawasi semua hadirin, lalu dia tertawa terbahak-bahak.
"Sebenarnya, tuan-tuan, kamu sangat bercuriga tak keruan!"
Katanya.
"Kamu seperti orang-orang dalam dongeng yang ketakutan langit roboh! Marilah aku omong lebih jelas. Bubuk racun ini terbuat dari campuran nyali burung merak, jengger burung jenjang, cacing berbisa, bisa ular, bunga usus buntung, rumput tulang nowa dan teratai hitam! Kalau serupa racun dimakan dan lantas orang makan teratai salju mungkin dia dapat ketolongan buat sementara waktu, tetapi ramuan yang tujuh ini, tak ada obat yang dapat menolongnya! Maka itu aku mau anggap inilah pertandingan paling adil! Aku bersama Tong Toaciangbun sama-sama meminumnya, kita bakal mati bareng dengan begitu, siapapun tak ada yang menang ketika!"
Tong Siauw Lan telah memberi kata-katanya, acara dapat disusun oleh Beng Sin Thong, tak dapat ia menarik pulang perkataannya itu.
Benar cara Sin Thong ini aneh dan membahayakan, tetapi alasannya tepat.
Mereka akan minum bersama tanpa nanti menggunai obat pemunah!
Tapi para hadirin bingung dan berkuatir.
Semua mata diarahkan kepada ketua Thiansan Pay itu.
Mereka merasa sayang kalau ketua ini mati keracunan...
Janji telah diberikan dan ini tak dapat ditarik pulang!
Yang Cek Hu sudah lantas menggeser nenampan ke muka kedua orang yang mau mengadu kepandaian itu...
"Tong Toaciangbun,"
Kata Beng Sin Thong, sabar tetapi nadanya dalam.
"umpama kata kau tidak mempunyai nyali, sekarang juga boleh kau mengakui dan menyerah kalah. Setelah itu maka selanjutnya Toaciangbun tak dapat usil pula segala urusanku si orang she Beng!"
Siauw Lan sudah kalah satu babak, kalau sekarang ia kalah juga, habislah harapannya, percuma andaikata ia memenangkan yang ketiga.
Hingga yang ketiga itu tak usah diperebuti lagi.
Untuk menepati janji, bolehlah ia pulang ke Thiansan!
Sekian lama, jago Thiansan ini berdiam saja.
Ia berpikir keras.
Tak dapat ia berdiam terus, maka di akhirnya, ia memberikan suaranya dengan ringkas.
"Sudah, tak usah kau banyak omong, akan aku temani kau minum!"
Suara itu sabar dan tenang, sama tenang seperti sikap orangnya. Tong Sian Sianjin sudah lantas mengasih dengar pujiannya.
"Omietoohud! Tong Tayhiap benar-benar seorang pengasih dan penyayang! Seorang mulia dan gagah perkasa! Sekalipun Tayhiap tak mencukur rambut menjadi orang suci, tayhiap telah memiliki hatinya Bodhisatya!"
Begitu memang hatinya Siauw Lan.
Ia tahu, kalau ia menyerah kalah dengan begitu saja, Beng Sin Thong tidak bakal ada yang mengekangnya, maka itu ia mengambil putusan rela mati bersama jago sesat itu, supaya dengan begitu bisalah ia mencegah berlangsungnya bencana Rimba Persilatan.
Nampak Sin Thong heran sekali Siauw Lan mengambil keputusan-nya itu, untuk sejenak, wajahnya berubah, lalu menjadi tenang pula seperti biasa.
Lalu dia kata dengan suara dalam.
"Kalau begitu, marilah kita mulai minum! Toaciangbun, dua cangkir ini sama isinya, tetapi untuk mencegah kecurigaan orapg, baiklah kau yang memilih dulu, kau boleh ambil cangkir yang mana kau suka!"
Siauw Lan menjawab cepat.
"Pasti sekali aku percaya kau, Beng Sianseng!"
Dan lantas ia mengambil dan mengangkat cawan yang berada di depannya. Beng Sin Thong pun mengangkat cawannya. Kedua berdiri berhadapan.
"Tong Toaciangbun!"
Berkata jago sesat itu.
"Aku minta kau tunjuk satu orang untuk dia yang menghitung isyarat! Dia menyebut satu, kita mengangkat tinggi cawan kita! Dia menyebut dua, kita bawa cangkir ke depan mulut, nempel dengan bibir! Begitu dia menyebut tiga, maka berbareng kita minum kering isinya cawan! Coba Toaciangbun pikir, cara ini adil atau tidak?"
"Sutee-mu ini hadir di muka kita, biar dia saja yang menghitung!"
Siauw Lan memberikan jawabannya. Di dalam hati, jago Thiansan ini kata.
"Kalau aku pilih orangku, mungkin dia tak dapat membuka mulutnya untuk menghitung..."
Yang Cek Hu tahu acaranya itu, ia hanya tidak menyangka Tong Siauw Lan berani menerima tantangan, karena itu ia menjadi kaget hingga mukanya menjadi pucat.
Ia lantas mundur ke pinggiran ia menyedot napas dalam-dalam.
Sekian lama barulah ia menyebut.
"Satu!"
Di pihak lurus, ada orang yang telah lantas menutupi mukanya karena tak berani melihat. Ada yang terisak juga... Yang Cek Hu berseru pula.
"Dua!"
Kedua pihak mengangkat cawan ke mulut mereka.
Tong Keng Thian kaget, hampir ia menimpuk dengan Thiansan Sinbong, guna menghajar hancur cawan racun itu.
Ia batal sebab ia melihat ayahnya mengawasi tajam kepadanya, hingga hatinya menjadi menggetar, segera ia tunduk...
Hadirin disitu berjumlah tak kurang daripada seribu orang, ketika itu semua pada berdiam, hingga suasana menjadi sangat sunyi, hingga lembah mirip lembah mati.
Di saat yang sangat menggelisahkan itu, akhirnya terdengarlah suaranya Yang Cek Hu.
"Tiga!"
Tepat di saat Tong Siauw Lan menggeser tangannya, untuk membawa cawan ke mulut, tangan kirinya Beng Sin Thong diangkat, dipakai menyentil ke arahnya, maka jatuhlah cawannya itu, menjadi hancur dan racunnya berhamburan di tanah, bahkan racunnya mengeluarkan uap api bersinar biru, hingga rumput dan pohon bunga liar disitu menjadi kering dan layu.
Tong Siauw Lan terkejut juga.
"Apakah artinya ini?"
Ia menegur. Selagi jago Thiansan itu menegur, Beng Sin Thong telah membanting cawannya. Dengan muka tertawa meringis, ia kata.
"Tong Toaciangbun, kau benar-benar besar nyalimu! Kali ini aku kalah!"
Siauw Lan heran, ia menatap.
Inilah cara Beng Sin Thong mengadu nyali.
Ia menduga Tong Siauw Lan tidak berani, siapa tahu ia salah menerka.
Ia percaya ia bakal menang, tapi nyatanya ia gagal.
Tentu sekali ia tidak mau mati minum racun, meskipun mati bersama.
Ia masih mempunyai harapan.
Sampai disitu, legalah hati semua orang pihak lurus.
Tong Siauw Lan lantas kata.
"Beng Sianseng, aku pikir kita tak usah melanjuti acara ketiga seperti caramu ini. Sekarang aku si orang she Tong bersedia memohon pengajaran beberapa jurus dari kau!"
Beng Sin Thong paksakan diri tertawa.
"Inilah keinginanku si orang she Beng,"
Kata ia.
"Kalau kita sudah menguji ilmu silat kita, umpama kata aku mati, aku mati puas. Coba barusan kita mati bersama, siapa akan menyaksikan ilmu silat Toaciangbun?"
Orang baru merasa lega, atau hati mereka dibikin tegang pula. Memang akan hebat pertempuran di antara dua jago ini.
"Ayah, inilah Yuliong Kiam!"
Kata Keng Thian pada ayahnya sambil ia menyerahkan pedang mustikanya. Tong Siauw Lan bersenyum.
"Baiklah!"
Katanya.
"Memang sudah hampir dua puluh tahun aku tidak pernah menggunai pedang, hari ini biar aku membikin keeua-lian untuk menemani Beng Sianseng!"
Sin Thong lantas berkata.
"Terima kasih Toaciangbun menghargai aku. Nah, silahkan mulai!"
"Beng Sianseng menjadi tetamu, tak berani aku melancangi,"
Kata Siauw Lan.
"Kalau begitu, maaf!"
Kata jago sesat itu.
"Silahkan... Toaciangbun memberikan... pengajaranmu!"
Kata-kata itu sengaja dibikin lebih lama dan keras, hingga rasanya sangat menusuk telinga.
Itulah suatu ilmu suara yang luar biasa dari golongan sesat, namanya "Mo-seng Toatpok", atau "Suara Hantu Membetot Sukma", yang mirip dengan ilmu suara kaum pendeta Budhist yang dinamakan "Saycu Hauw"
Atau "Deruman Singa".
Siapa mendengar itu, dia bisa kaget dan hatinya goncang, dan yang tak kuat, pikirannya akan kacau.
Maka itu banyak orang yang lekas-lekas menekap telinga.
Tenaga dalam Tong Siauw Lan sudah mahir sekali, dia tidak tergempur suara yang memukul jantung itu, dia cuma lantas mengawasi tajam, siap sedia untuk sesuatu serangan.
Begitu keluar perkataan Sin Thong yang terahir, tangannya lantas diluncurkan, kelihatannya ia memberi hormat, tidak tahunya, ia sudah lantas mulai dengan penyerangannya dengan Siulo Imsat Kang tingkat ke sembilan.
Bahkan sekarang ia menggunai dua-dua tangannya, hingga bisa dimengerti hebatnya gempuran itu.
Siauw Lan terperanjat.
Segera ia merasai hawa dingin.
Tapi ia menetapkan hati, ia bersikap wajar.
Ia membalas hormat sambil terus memegang pedangnya, habis mana ia mundur tiga tindak.
Dengan kumisnya berkibaran, dengan mata tajam mengawasi, ia kata dingin.
"Tak usah banyak adat peradatan, Beng Sianseng! Sekarang aku si orang she Tong hendak membalas menyerang!"
Perkataan itu diikuti dengan dihunusnya pedang, yang terus dipakai menikam.
Beng Sin Thong tidak berkutik.
Ia tahu serangan itu serangan gertakan belaka, kalau ia berkelit, barulah ia bakal diserang terus.
Ia lantas melintangi kedua tangannya di depan dada, sembari tertawa ia kata.
"Aku si orang she Beng sudah mulai lebih dulu, maka itu baiklah Tong Toaciangbun jangan sungkan-sungkan, silahkan berikan pengajaranmu!"
Kali ini Sin Thong bersikap jumawa.
Kecuali Tong Sian Siangjin bersama Kim Kong Taysu, semua yang lainnya heran menyaksikan kelakuannya kedua jago itu.
Sam-paipun Kang Lam si tukang ngoceh mendumal seorang diri.
"Pertempuran macam ini aneh sekali! Buat apa saling mengawasi seperti melotot? Bukankah lebih baik segera saling menyerang?"
Murid wanita dari Ngobie Pay, yang berada dekat Kang Lam tertawa mendengar ocehan itu, sedang Tan Thian Oe, sambil mendelik, menegur.
"Kau tahu apa! Jangan ngaco belo!"
Thian Oe menegur, sebenarnya ia sendiripun heran.
Ia menegur agar jangan sampai timbul anggapan di antara orang lain bahwa Kang Lam berlaku kurang hormat terhadap Tong Siauw Lan.
Di tengah kalangan, Siauw Lan dan Sin Thong tengah memusatkan perhatian mereka, mereka seperti tidak mendengar apa yang orang kata.
Pedang Siauw Lan terus mengancam dadanya Sin Thong.
Dan tangan Sin Thong tetap melintang di depan dadanya, sedang wajahnya bersungguhsungguh.
Kira-kira sehirupan teh, baru Siauw Lan bergerak.
Dengan matanya yang tajam, ia melihat sinar sedikit jeri pada matanya Sin Thong.
Mendadak saja ia meneruskan menikam.
Itulah tikaman yang berbahaya, yang dapat berlanjut terus untuk mencari tiga puluh enam jalan darah lawan.
Tiba-tiba saja terdengar satu suara nyaring.
"Traang!"
Tong Sian Siangjin dan Kim Kong Taysu memasang mata mereka akan tetapi mereka tak melihat bentrokan yang pertama itu kecuali mereka menyaksikan Beng Sin Thong mundur dengan lompat jumpalitan, sedang tubuhnya Siauw Lan mencelat menyusul, ujung pedang Yuliong Kiam mengancam punggungnya jago sesat itu.
Karena gerakan Sin Thong itu dan susulannya Siauw Lan, pasir dan debu di kaki mereka mengepul dan berhamburan.
Tong Sian Sianjin berdiam, tetapi ia menghela napas sedang Kim Kong Taysu berkata.
"Sungguh berbahaya! Sungguh berbahaya! Syukur Tong Tayhiap yang menang unggul!"
Sudah dibilang, kitabnya Kiauw Pak Beng mengutamakan perlawanan terhadap ilmu pedang Thiansan Pay, hanya karena dia telah menutup mata sejak banyak tahun, dia tak dapat mengikuti terus ilmu pedang itu, yang selanjutnya mendapatkan beberapa perubahan terutama di tangannya Tong Siauw Lan.
Karena ini, di waktu saling mengawasi satu pada lain, hati Sin Thong gentar, hingga dia menjadi sedikit jeri.
Apamau, Siauw Lan dapat melihat sinar mata orang yang tak mantap itu dan telah menggunai ketikanya yang baik ini.
Demikianlah, bentrokan yang pertama itu mengakibatkan jago Siulo Imsat Kang kalah sebat.
Serangan Siauw Lan itu membikin kumis orang yang panjang terpapas sedikit dan bajunya robek di tujuh tempat.
Di waktu membebaskan diri dari desakan, Sin Thong menggunai dua macam ilmu ringan tubuh.
Pertama-tama ialah tindakan Thianlo Pou yang gesit, lalu loncatan Teng-in Ciong atau "Naik Mega".
Yang terakhir ialah dia menyentil dengan sentilan Hian-im Cie kepada pedang lawan hingga terdengar suara "traang"
Itu.
Sentilan itu membuat incaran Siauw Lan menjadi meleset.
Siauw Lan sendiri kembali merasakan hawa dingin, yang membuat hatinya terkejut.
Inilah sebab Sin Thong sudah berhasil meyakini sempurna ilmu sesat "Kekbut Toankang"
Atau "Serangan Renggang".
Dengan ilmu itu, yang dihubungi dengan sentilan "Hian-im Cie", ia menyentil pedang Yuliong Kiam untuk berbareng memindahkan hawa dingin dari Siulo Imsat Kang.
Hawa dingin itu, dengan perantaraan pedang, mengalir ke tangan Siauw La Siauw Lan terkejut, meski tenaga dalamnya mahir, ia toh gentar juga. Tong Sian Siangjin segera dapat melihat keadaan itu, diamdiam hatinya berdebaran, Siauw Lan menang unggul tetapi bukan tanpa bahaya. Tong Siauw Lan memusatkan perhatiannya menyelami cara berkelahinya Beng Sin Thong. Tak ayal lagi, ia menggunai ilmu pedang "Taysiebie" Atau "Sumeru Besar". Dengan pedangnya ingin ia mengurung lawannya, sedang sinar pedang turut mengurung tubuhnya sendiri. Beng Sin Thong melakukan perlawanan hebat. Dia menggunai pelbagai macam ilmu sesatnya. Tak berhasil ia lekas-lekas menyingkir dari kurungan pedang, sedang setiap serangannya kepada lawan, selaku pembalasan, semuanya seperti hilang lenyap dalam lautan besar. Dengan begitu, hatinya bertambah gentar. Sebenarnya ia telah berhati-hati sekali mengatur rencananya melawan Siauw Lan dengan tiga macam acaranya itu dan ia percaya ia bakal berhasil. Dengan mengadu Siauw Hong dengan Keng Thian, ia bisa melihat dan memperhatikan ilmu pedang Thiansan Pay. Dengan acara yang kedua, iapun melihat tegas keberaniannya Tong Siauw Lan. Tinggal acara yang ketiga. Dengan ini ia hendak menguji Siauw Lan, siapa tahu jago Thiansan itu habis sabar dan lantas menantangnya, hingga mereka jadi lantas bertarung. Dalam hal ini, ia menjadi pihak yang terdesak, bahkan dalam pertempuran, ia lantas kena dirangsak. Sulitnya untuk ia, meski ia mengenal baik pokok dasar ilmu pedang lawan, ia gelap untuk pelbagai perubahannya. Maka itu, repotlah ia melawannya. Bertempur lebih jauh, kembali Sin Thong mendapat kerugian. Bajunya yang panjang telah tertusuk atau terobek lagi beberapa kali, bahkan pundaknya kena ditowel ujung pedang hingga lecet. Syukurnya ia waspada dan masih keburu berkelit dengan tindakan Thianlo Pou. Ia terkejut dan berkuatir, maka ia pikir. "Kalau terus begini, aku bisa celaka di ujung pedang lawan!" Lantas ia mengerahkan semangatnya, dengan sebat ia menyentil hingga beruntun tiga kali. Beruntun-runtun terdengar suara "Traang!" Yang keras, begitu Sin Thong bebas dari bahaya maut, tetapi tidak urung rambutnya kena terpapas kutung hingga hampir-hampir ia menjadi gundul. Menampak itu, Yang Cek Hu dan Kie Siauw Hong kaget tak terkira. Empat kali sudah pedang Yuliong Kiam disentil Sin Thong, biar bagaimana semua itu ada juga akibatnya. Setiap kali tersentil, Siauw Lan merasakan getaran pada nadinya. Sabansaban hawa yang dingin tersalurkan pedang dan sampai pada nadinya itu. Satu dua kali getaran masih tidak apa, lama-lama, itu terasa juga. Karena itu, tanpa terasa, gerakan jago Thiansan ini menjadi rada lambat sendirinya hingga berkuranglah kelincahannya. Sin Thong tak berhenti dengan usahanya membebaskan diri. "Bagus!" Seru Siauw Lan ketika ia melihat orang hendak mendobrak kurungan pedangnya. "Aku memang hendak mencoba-coba Siulo Imsat Kang!" Dengan berani jago Thiansan ini meluncurkan terlepas pedangnya ke tengah udara, sebagai gantinya itu, dengan dua tangan kosong ia menyambut serangan dua tangan lawannya, hingga empat tangan beradu keras satu dengan lain, suaranya terdengar sangat nyata. Pihak lurus terkejut menyaksikan Siauw Lan melepaskan pedangnya, hingga ada yang mukanya menjadi pucat pasi. Mereka tidak menyangka, mereka tidak tahu, bahwa pedang itu sengaja dilemparkan, supaya jago Thiansan itu dapat menguji Siulo Imsat Kang yang kesohor dan dimalui itu. Dengan itu Siauw Lan mau menguji tenaga dalamnya, supaya sekalian tak usah ia saban-saban kena disentil lawannya yang licik itu. Juga Beng Sin Thong mengandung maksud yang serupa. Dengan lawan melepaskan pedang, ia percaya ia bakal menggunai Siulo Imsat Kang dengan merdeka. Atau kalau toh ia gagal, ia masih mempunyai semacam ilmu kepandaiannya yang terakhir guna mati bersama... Bertempur lagi sekian lama, terlihat dari embunembunannya Tong Siauw Lan menghembus hawa putih seperti kabut. Itulah tanda dari hawa yang panas. Para ahli silat ketahui baik, dengan itu jago Thiansan ini lagi mengerahkan tenaga dalamnya, untuk mendatangkan hawa hangat atau hawa panas, guna menolak pergi serangan hawa dingin dari Beng Sin Thong. Sebab hawa Siulo Imsat Kang telah bekerja hebat untuk mencoba membikin beku lawan. Sin Thong telah menyempurnakan gabungan dari ilmu sesat dan ilmu lurus, untuk itu ia tinggal membutuhkan latihan terlebih jauh. Sebaliknya Tong Siauw Lan, latihan tenaga dalamnya sudah mencapai puncaknya lama sekali. Karena ia dari pihak lurus, bisa dimengerti tangguhnya tenaga dalamnya itu. Beng Sin Thong mendesak terus, ia seperti mau "merobohkan gunung untuk menguruk Jautan". Dengan perantaraan telapakan tangannya, ia saban-saban mengeluarkan hawa dinginnya. Kumisnya Siauw Lan berkibar-kibar seperti tertiup angin keras, sedang uap putih di atasan kepalanya nampak makin tebal. Tenaga dalamnya itu lunak tetapi kuat, makin lama makin kokoh. Maka itu, tak perduli hawa dingin menyerang dahsyat, ia terus dapat bertahan, ia membuat lawan kewalahan. Kalau yang satu datang seperti hawa dingin di musim ke empat, yang lainnya menyambut dengan hawa hangat di musim pertama, selamanya, hawa hangatlah yang menang... Di mata para hadirin, kedua pihak tetap saling menyerang dengan hebat. Tong Sian Siangjin dan Kim Kong Taysu liehay, tetapi sulit mereka menyelami keadaan yang benar dari pertarungan dua jago itu. Di mata umum, orang mengharapkan Siauw Lan menang unggul, tidak tahunya sekarang, mereka melihat keduanya berkutat hebat, Siauw Lan seperti kalah angin. Tentu sekali mereka menjadi heran berbareng berkuatir, hingga mereka berduka, hati mereka tegang. Mereka mau percaya, siapa kalah, dia tak bakal dapat melarikan diri... Bagaimana jadinya andaikata kedua pihak berkutat sampai nempel, sampai mereka tak dapat melepaskan diri satu pada lainnya? Para penonton berdiam seperti susah bernapas, mereka bersitegang hati dan gelisah. Tong Sian Siangjin memejamkan mata, ia cuma memasang telinga. Daripada melihat, ia lebih suka mendengari... Tiba-tiba hati pendeta itu berdenyut. Ia mendengar suatu suara, yang bukan datang dari arah Tong Siauw Lan dan Beng Sin Thong yang lagi mengadu jiwa itu hanya dari dalam tanah. Itulah seperti suara menjerujus atau menghembus. "Tooheng, coba dengar!" Ia kata pada Kim Kong Taysu. "Suara apakah itu?" Kim Kong Taysu memusatkan perhatiannya. Iapun lantas dapat mendengar. "Aneh!" Katanya, herannya bukan main. Suara ini seperti suara lagi menggali... "Bukankah itu perbuatan manusia?" Tong Sian tanya. "Tak miripnya," Sahut Kim Kong. "Rasanya itu lebih mirip dengan suara membakar kertas atau arang batu..." Suara sangat perlahan, cuma dua orang beribadat itu yang mendengarnya. Tong Sian menjadi bercuriga. Di saat ia hendak mengisiki kawan-kawannya, mendadak ia mendengar suara berisik di pihaknya Beng Sin Thong, disana terlihat seorang bergerak bagakan satu bayangan, cepatnya seperti elang terbang. Dia lompat melewati banyak kepala orang, sebelah tangannya membawa tubuh seorang lain. Dia lari keras sekali. Leng Siauw Cu bersama Yang Cek Hu, Kim Jit Sian dan Hu Lie Ciat hendak mencegah orang itu, mereka tak berdaya. Mereka semua liehay tetapi mereka masih kalah gesit. Rupanya itu disebabkan karena tak bersedia, karena peristiwa terjadi sangat di luar dugaan. Tiba-tiba Phang Eng berseru. "Eh! Eh! Lihat! Bukankah dia si orang yang baru-baru ini menempur hebat pada Beng Sin Thong?" Phang Lim mengawasi, dia mementang matanya lebarlebar tetapi dia tidak bersuara, hanya di dalam hatinya dia kata. "Syukur Kim Bwee tidak ada disini..." Orang itu memakai topeng. Ia bergerak sangat gesit, mirip dengan gerakan hantu. Kecuali Phang Lim, tidak ada yang mengenali siapa ia. Adalah orang yang ia cekuk itu yang dikenal banyak orang. Dialah Sukhong Hoa, komandan dari pasukan Gieliemkun! Sukhong Hoa kosen sekali, semua orang ketahui itu dengan baik, maka heran sekarang dia kena terbekuk orang "tak dikenal itu" Hingga dia menjadi tidak berdaya. Bahkan Tong Sian Siangjin turut heran dan terperanjat. Selagi orang-orang di pihak Sin Thong itu kaget dan heran hingga mereka mendatangkan suara berisik, orang itu sudah berhasil turun ke arah pihak kaum lurus. Karena dia tidak dikenal siapa, beberapa orang Siauwlim Sie lantas maju untuk memegat. "Bagus kamu maju!" Berkata orang itu, suaranya dalam. Dia menyambuti Tay Pie Siansu, kepala dari Cappwee Lohan, atau Delapan belas Arhat dari Siauwlim Sie. Dengan kesehatan dan kepandaiannya yang luar biasa, tahu-tahu dia sudah menyambar hongpian-san, senjata mirip sekup dari pendeta itu, dengan menggunai itu sebagai galah, dia menekan tanah dan berlompat sambil terus membawa orang tawanannya. Dengan begitu dia tak dapat dirintangi, sampai ujung bajunyapun tak kena dito-wel! Baru sekarang Tong Keng Thian mengenali orang itu-orang yang baru-baru ini menolongi Le Seng Lam. Ia kuatir orang itu bermaksud buruk terhadap ayahnya, yang lagi berkutat dengan Beng Sin Thong, dengan lantas ia menyerang dengan tiga biji Thiansan Sinbong. Dengan membawa terus hong-piansan, orang itu berlari-lari dengan berlompatan. Satu kali, justeru kakinya belum turun ke tanah, sinbong menyambar ke arah punggungnya. Itulah berbahaya sebab senjata rahasianya Keng Thian bukan sembarang senjata rahasia. Di tanah datar sukar untuk berkelit, apapula selagi orang berlompat.' Kang Lam melihat itu, dia lantas berteriak. "Jangan! Jangan! Tong Siauwciangbun, jangan!..." Akan tetapi pemuda ini berteriak sesudah terlambat. Sinbong sudah mengancam sasarannya. Tepat bahaya mengancam, orang itu menangkis dengan hongpiansan hingga sinbong jatuh ke tanah. Tapi yang kedua sudah lantas tiba. Kali ini yang jadi sasarannya ialah batok kepala. Atas itu tubuhnya lantas berjumpalit, mengikuti gerakannya menangkis sinbong barusan. Orang semua kaget berbareng kagum. Tapi sekarang datang sinbong yang ketiga. Justeru itu, orang itu terlihat jatuh ke arah kobakan di lembah. Melihat demikian, banyak orang berseru karena kaget. Tong Sian Siangjin heran. "Orang itu liehay sekali," Pikirnya. "Mungkin dia gagah berimbang dengan Tong Siauw Lan. Seharusnya dia dapat menangkis sinbong yang ketiga ini! Kenapa dia justeru kena terhajar?..." Belum lagi orang hilang heran dan kagetnya mendadak mereka melihat orang tadi lompat mencelat dari dalam air, pakaiannya kuyup, airnya mengucur. Di tangannya, orang itu masih tetap mencekal Sukhong Hoa. Begitu dia menginjak tanah datar, dia kabur pula. Kang Lam mengeluarkan napas lega. Senang ia melihat orang itu tidak terluka. Ia menyusut keringat yang membasahkan dahinya. "Eh, Kang Lam, kau kenapa?" Tanya Thian Oe heran. "Kenapa barusan kau berteriak mencegah Tong Siauwciangbun menyerang orang itu?" "Sebab aku melihat orang itu mestinya... mestinya..." Kang Lam ragu-ragu. "Dia siapa?" Thian Oe mendesak. "Dia mestinya... Kim Tayhiap!" "Ah, kau ngaco belo!" Kata Thian Oe. "Kim Sie Ie toh sudah ditelan ikan cucut di dalam laut! Phang Liehiap sendiri telah pergi ke Pulau Ular dan membawa pulang sisa barangnya! Mustahil dia dapat hidup pula?..." "Kau tidak percaya?" Kata Kang Lam, mengawasi. "Coba perhatikan! Benar dia memakai topeng tetapi tubuhnya tak berubah! Lihatlah tubuhnya itu! Dan dengarlah suaranya!" Thian Oe melongo. Masih ia sempat melihat tubuh orang yang berlari-lari jauh itu. Iapun mengingat-ingat lagu suara orang walaupun tadi orang bicara dengan suara dalam. Benarlah seperti katanya Kang Lam, orang itu mirip dengan Kim Sie Ie. Ia jadi heran, ia jadi bercuriga. Mereka ini bicara tanpa didengar atau diperhatikan siapa juga, orang umumnya masih bersuara berisik dan memperhatikan pada pembawa lari Sukhong Hoa itu. Orang heran dan kagum, orangpun tak berdaya... Kim Sie Ie sendiri bersama orang tawanannya sudah sampai di dasar lembah. "Lekas bilang!" Kata dia membentak, di telinga Sukhong Hoa, begitu lekas dia berhenti berlari. Dia menurunkan tubuh orang tetapi tak melepaskannya. "Dimana dipendamnya obat pasang itu?" Kata-kata ini dibarengi dengan totokan pada iga si orang tawanan. Kontan Sukhong Hoa meringis-ringis. Dia merasa nyeri seperti dipaguti ribuan ular. Sie Ie mengawasi, lalu ia menepuk lengan orang. Itulah cara guna mengurangi siksaan itu. "Lekas ajak aku pergi ke tempat mendam obat pasang itu!" Kata pula ia. "Obat pasang itu mesti dipadamkan! Jikalau tidak, nanti kau rasai pula yang jauh terlebih sedap daripada ini!" Ketika itu suara tadi, yang didengar Tong Sian Siangjin dan Kim Kong Taysu, terdengar terus, sekarang semakin nyata. Itulah buah hasil pemikiran telengas dari Ko Hong Kauw dan Sukhong Hoa. Bersama-sama dua orang ini bekerja. Mereka memendam sejumlah besar obat pasang di lembah itu, lalu dihubungi dengan semacam pipa untuk sampai di luar rimba, di tempat dimana mereka memasang orang, guna menyulut bahan peledak itu. Cianciang Peng merupakan tanah mencil setengah lie sekitarnya, itulah tempat yang tepat untuk diledakkan, guna memusnahkan orang-orang yang tak disukai. Siapa dapat ditawan, akan ditawan, siapa tidak, biarlah mereka mati! Maka lembah itu ialah lembah kematian. Sekalipun rombongannya Beng Sin Thong tak bakal lolos... Setelah memikir menggunai obat pasang itu maka Ko Hong Kauw dan Sukhong Hoa bicara dengan Sin Thong, menganjuri supaya tempat pertandingan dirubah, pindah dari kuil Siauwlim Sie ke tanah datar Cianciang Peng itu. Katanya Siauwlim Sie bukan tempat yang tepat, sebab itulah kuil yang merupakan seperti sarang musuh. Sin Thong pun setuju karena ia ingat anak perempuannya berada juga di dalam kuil. Sebenarnya Ko Hong Kauw mengusulkan agar Beng Sin Thong membasmi pihak Siauwlim Sie tapi usul ini ditolak Sin Thong. Inilah yang membikin Ko Hong Kauw ingin .sekalian menghabiskan konconya ini. Kim Sie Ie selalu bekerja sebagai bayangan. Ia mengawasi gerak-geriknya Sukhong Hoa dan Ko Hong Kauw itu. Maka ia mendapat-tahu niat jahat dari dua orang ini. Cuma ia tidak berhasil mencari tahu sendiri tempat mendam obat pasang. Maka terpaksa ia muncul dan membekuk Sukhong Hoa di muka umum, di saat perhatian semua orang ditumplaki pada pertempuran di antara Beng Sin Thong dan Tong Siauw Lan. Sukhong Hoa sendiri alpa hingga ia kena dibokong dan dibawa lari, untuk dipaksa membuka rahasia. Sebenarnya di saat itu, Sukhong Hoa sendiri telah memikir untuk memadamkan api, guna mencegah perledakan. Ia mendapat kenyataan bahkan pihaknya sendiri terancam perletupan. Tak mau ia mati hancur lebur. Maka itu, ia lantas memberikan petunjuknya. "Disana!" Katanya. Ia mengajak lari ke sisi sebuah batu besar. Sie Ie sudah lantas menggunai hongpiansan untuk membongkar minggir batu besar itu. Ia lantas melihat setumpuk bahan peledak itu, di antaranya ada sumbu yang tengah menyala, yang apinya bergerak seperti ular menyelosor. Lekas-lekas ia menginjak mati sumbu itu. "Sungguh berbahaya!" Ia mengeluh. Jarak api dan tumpukan obat pasang tinggal tak setombak lagi! Tengah Sie Ie melengak habis memadamkan api itu, tibatiba ia dibikin terkejut oleh menyambarnya sebatang jemparing berapi. Mulanya anak panah itu melayang di udara. Dengan satu pukulan Pekkhong Ciang, ia membikin anak panah mental balik. Justeru itu terdengar pula suaranya jemparing yang kedua dan ketiga. Lekas-lekas ia membuka bajunya yang basah, untuk dipakai menutupi tumpukan obat pasang itu. Iapun menotok Sukhong Hoa, yang tubuhnya ia angkat, untuk diletaki di atas tumpukan itu. Habis menyingkirkan anak panah kedua dan ketiga itu, Kim Sie Ie mengangkat kepalanya, dongak melihat ke arah dari mana datangnya pelbagai penyerangan panah berapi itu. Maka terlihatlah Ko Hong Kauw serta rombongannya di sebuah tempat tinggi, supaya tak usah turut menjadi korban perledakan, mereka itu memilih tempat yang tinggi dan jauh itu. Dari situ mereka memanah berulang-ulang akan tetapi kebanyakan panah jatuh di tengah jalan, tidak sampai ke tempat pendaman obat pasang itu. Yang dapat sampai cuma panahnya Ko Hong Kauw sendiri serta beberapa konconya yang liehay. Orangpun menjadi ribut dan kacau. Pihak lurus dan sesat sama kagetnya. Pelbagai anak panah berapi itu justeru jatuh di antara, atau di dekat-dekat mereka. Tentu saja mereka menjadi kaget dan takut, lalu menjadi gusar, maka banyak di antaranya lantas lari mendaki, guna menyerang Hong Kauw. Ko Hong Kauw mengepalai empat puluh wiesu, bersama iapun berada beberapa pemimpin Gieliemkun. Mereka mengambil kedudukan bersama, terus mereka memanah ke arah orang banyak. Ketika itu pertempuran di antara Beng Sin Thong dan Tong Siauw Lan telah memasuki babak yang gawat, mereka masing-masing tengah saling memperhatikan lawan, bersiapsiap memberi pukulan yang terakhir sambil mereka menjaga diri baik-baik. Siapa ayal dan alpa, dialah yang bakal celaka. Karena itu mereka tidak menghiraukan segala suara berisik dan kekacauan di sisi mereka itu, Bahkan mereka masih berdiam saja waktu beberapa potong anak panah berapi jatuh di dekat mereka, menyala dan membakar rumpur atau bunga hutan disitu. Kim Sie Ie terkejut melihat Tong Siauw Lan terancam bahaya itu. Dengan berdiam saja, jago Thiansan dapat kena terpanah atau terbakar kobaran apinya anak-anak panah itu. Ia menjadi bingung sebab sulit ia memisah diri, guna mengasih kisikan atau menolong jago Thiansan itu. Di lain pihak, tak dapat ia tidak memberi pertolongannya. Di saat sangat berbahaya itu, Sie Ie mengambil keputusannya. Ia meninggalkan tumpukan obat pasang, ia membuang diri, untuk bergulingan ke tempat pertempuran. Habis itu ia mencelat bangun dengan satu loncatan "Ikan Gabus Melentik". Begitu ia berdiri, begitu ia menyelak di antara kedua musuh dengan mementang kedua tangannya. Itulah daya untuk memisahkan kedua orang yang lagi berkutat itu. Adalah itu waktu mendadak terdengar suara meletup yang keras sekali. Itulah suara meledaknya obat pasang. Karena sebatang anak panahnya Ko Hong Kauw mengenai tepat tanpa rintangan, api membakar, lalu obat pasang itu bekerja! Sie Ie kalah tenaga dalam dibanding dengan dua jago itu, mestinya ia tak berdaya memisahkan mereka, akan tetapi ia cerdik, ia menggunai akal. Ia menggunai tipu yang didapat dari kitabnya Kiauw Pak Beng. Itulah tipu "Meloloskan", yang dapat menggeser tenaganya kedua orang itu. Tepat kedua musuh terpisah, tepat letupan mengancam. Tubuh Tong Siauw Lan terpental jauhnya belasan tombak. Tubuh Sin Thong, terpental mendekati . tempat letupan... Sie Ie sudah tahu bahaya, ia telah siap sedia, begitu ia memisahkan, begitu ia berlompat, tetapi tak urung, ujung kakinya kena juga tersambar api hingga terbakar, syukur lukanya enteng. Ledakan tak sehebat rencananya. Sebabnya ialah kesatu obat pasang telah dikerebongi baju basah Sie Ie dan kedua, tubuhnya Sukhong Hoa terletak di atasnya. Tenaga meledak itu menjadi berkurang. Maka celakalah komandan dari Gieliemkun itu, tubuhnya terlempar hancur lebur. Api lantas melulahan. Orang pun sangat kacau. Semua orang lari ke tempat tinggi, yang dipandang aman. Yang tadinya berdiam di lerengpun lari mendaki, menuju ke tempatnya rombongan Ko Hong Kauw. Syukur buat Kim Sie Ie, dia habis nyebur di kobakan, tubuhnya tak terasakan terlalu panas. Tong Siauw Lan menghalau api dengan kebutan bajunya yang ia lekas-lekas loloskan. Ia mengerahkan tenaga dalamnya, hingga bajunya dapat digunakan mirip tameng. Meski begitu, ketika ia sudah lolos dari bahaya, bajunya itu habis hangus. Phang Eng bersama Tong Sian Siangjin lompat untuk menyambut. Tong Sian mendahulukan memberikan obat buatan Siauwlim Pay, yaitu pel Pekhoa Gioklouw Wan, untuk menyingkirkan keracunan api. Beng Sin Thong pun membela diri dari serangan api. Dia murka sekali hingga dia berseru nyaring. Dia melawan hawa panas dengan serangan-serangan Siulo Imsat Kang. Hawa dinginnya itu lebih bermanfaat seratus kali daripada pilnya Tong Sian Sianjin. Meski begitu, karena dia terlambat, dalam hal luka, dia lebih parah daripada Tong Siauw Lan, cuma di pandangan mata saja, dia lebih segar... Dua jago ini menyingkir di daerah yang berlainan. Tong Sian Siangjin berkuatir melihat Sin Thong dapat menolong diri. Ia takut, saking mendongkol Sin Thong nanti mengamuk. Maka ingin ia mencegahnya. Siauw Lan mengawasi ke arah jago sesat itu, ia kata. "Dia telah tergempur nadinya yang disebut Sam-yang, karena disana ada Kim Kong Taysu dan ketua Cengshia Pay, taruh kata dia mau mengamuk, dia tak akan dapat berbuat banyak." Ketika itu orang mendengar teriakannya Beng Sin Thong. "Ko Hong Kauw, buah, kau sangat jahat! Kiranya kau juga hendak membinasakan aku! Dalam usia enam puluh tahun inilah baru pertama kali aku dicurangi orang! Hm! Jikalau aku tidak dapat membinasakan kau, orang-oarang gagah di kolong langit ini pasti bakal mentertawakan aku!" Nyata jago sesat itu gusar pada konconya sendiri. Habis berteriak itu, dia lompat melesat, untuk naik ke tinggi. Dia dapat lompat jauh, dia tak menghiraukan tempat yang sukar dilalui itu. "Hantu itu benar-benar sangat jumawa," Kata Siauw Lan. "Dia tak suka dicurangi orang! Dia telah terluka parah, meskipun dia masih gesit, dengan dia menggunai tenaga berlebihan, dia menambah celakanya. Kalau dia dapat memelihara diri, dia masih dapat hidup setengah tahun, sekarang dia mau menempur Ko Hong Kauw, dia memperpendek umurnya itu..." Pada saat itu Tong Keng Thian dan rombongannya sudah mendekati rombongannya Ko Hong Kauw. Ia menggunai Thiansan sinbong, maka ia dapat maju cepat. Beberapa musuh yang liehay telah runtuh terkena senjata rahasianya itu. Hati Hong Kauw sudah menjadi ciut, dia telah memikir untuk lekas menyingkir. Di samping rangsakan rombongan Keng Thian itu, dia mendengar suaranya Beng Sin Thong. Dalam takutnya, dia tak mau main lambat-lambatan lagi. Beng Sin Thong maju terus. Dengan lantas dia menghajar roboh beberapa orang Gieliemkun yang hendak menghadang, hingga yang lain-lainnya lantas lari tunggang-langgang. Tong Keng Thian juga bekerja terus. Ia menghajar Ko Hong Kauw dengan Thiansan sinbong, justeru komandan itu menjatuhkan diri bergulingan, untuk lari menyingkir. Karena itu, sinbong menjurus ke arah Sin Thong. Jago Siulo Imsat Kang melihat datangnya senjata rahasia, dia kata tertawa. "Kau telah melukai muridku, baik, sekarang aku beri rasa sebatang anak panah padamu!" Lantas dia menyentil dengan dua jerijinya. Phang Lim berada di sisi Keng Thian, ia menolak tubuh keponakan itu, dengan begitu senjata rahasia itu tak berbalik makan tuan. Melihat demikian, Beng Sin Thong tertawa terbahak-bahak. Ia tidak mau melayani Keng Thian, hanya ia lari ke lain arah, guna menyusul Ko Hong Kauw! Tiba-tiba muncullah dua orang. "Bangsat tua she Beng, apakah kau memikir buat kabur?" Demikian bentakan dua orang itu, yang murka sekali. Kiranya merekalah Ek Tiong Bouw ketua Kaypang, Partai Pengemis, dan Sin In Long, wakil ketua Cengshia Pay. Itulah dua orang yang justeru sangat membenci jago sesat itu. Ek Tiong Bouw ingin membalaskan sakit hati mendiang Ciu Kie, ketua Kaypang yang kedudukannya ia gantikan. Itu pula peristiwa yang membikin Sin Thong dimusuhkan Binsan Pay. Dan Sin In Long membenci, sebab dilukainya Han In Ciauw, ketuanya, yang sampai pada saat itu masih juga belum sembuh. Dua-dua Tiong Bouw dan In Long telah menjadi nekad. Mereka tahu mereka bukan lawan Sin Thong tetapi mereka berani meme-gat, mereka mau melawan juga. Inilah saat yang tepat, sebab lain ketika yang baik sukar dicari. Mereka pikir asal mereka bisa melibat musuh ini, pasti kawankawannya bakal menyusul. Kalau Sin Thong kena dikurung dan dikepung, tak nanti dia dapat lolos lagi... Tiong Bouw menyerang dengan jurus dari Hokmo Thunghoat, ilmu toya Menakluki Hantu, sedang Sin In Long dengan pedangnya, dalam hal mana, dia memang kesohor. Sin Thong kaget. Sebenarnya ia tidak jeri sedikit juga menghadapi dua musuh itu walaupun mereka semua kesohor gagah, tapi sekarang ia berkuatir lantaran ia tengah terluka bagian dalam. Ketika pedang Cengkong Kiam tiba ke dadanya, ia berkelit dengan tindakan Poanliong Jiauwpouw atau Naga Mendekam. Sebagai pembalasan, ia menyentil ke arah mata penyerangnya. In Long berkelit, tangan kirinya menangkis. Maka tangan kiri itu menjadi korban sentilan, yang membuatnya merasa sakit sampai di uluhatinya. Sebaliknya ujung pedang menowel juga perut sasarannya, hingga Sin Thong mesti mengucurkan darah. Ketka itu tiba juga tongkatnya si ketua pengemis. Tongkat menyambar bagaikan ambruknya gunung Taysan. Sin Thong mendapat lihat datangnya bahaya, ia berseru, tangannya digeraki untuk menangkis. Dengan wajar ia menggunai Siulo Imsat Kang. Tongkatnya Tiong Bouw tapinya dilepaskan, tongkat itu meluncur, cepatnya bukan buatan. Itulah tipu tongkat "Naga terbang ke langit", suatu tipu simpanan, sebab itulah daya untuk mati bersama musuh... Beng Sin Thong berkelit, masih juga punggungnya kena terhajar. Sebenarnya dia kebal, dia tak mempan senjata, tetapi sekarang, selagi dia terluka, dia sudah tak gesit lagi dan daya bertahannya berkurang. Maka matanya menjadi kabur, mulutnyapun terbuka, menyemburkan darah hidup. Tiong Bouw juga tak bebas. Hajaran Siulo Imsat Kang membuatnya roboh! Sin Thong gusar bukan main. Begitu dia dapat melihat tegas, begitu dia menyerang kepada ketua Kaypang itu. Tepat di saat Tiong Bouw menghadapi ancaman maut. Tong Sian Siangjin sudah memburu tiba. Pendeta ini segera menyerang dengan seratus delapan biji liam-cu, yaitu mutiara atau biji tasbihnya. Sin Thong berseru, dia lompat ke belakang dengan berjumpalitan, dengan begitu dia bisa membebaskan dirinya, kecuali tujuh bocah mutiara mengenai juga jalan darahnya, menambah parah kepada lukanya. Tong Sian lantas mengasih dengar pujinya. "Omietoohud!" Lantas ia lompat kepada Ek Tiong Bouw, guna mengasih bangun ketua Kaypang itu. Syukur buat Tiong Bouw, ia telah mempelajari Siauwyang Sinkang, serangannya Sin Thong tidak sampai merampas jiwanya. Maka sekarang tubuhnya menggigil terus saking tak sanggup ia bertahan dari hawa dingin. Sebaliknya Sin In Long terluka lebih parah. Inilah sebab ia tidak mempelajari Siauwyang Sinkang. Bagus ia mahir tenaga dalamnya, ia tak usah sampai terancam bahaya maut. Sementara itu Tiong Bouw heran, maka ia tanya Tong Sian. "Bangsat tua she Beng itu sudah terluka, Siulo Imsat Kang-nya tak berbahaya lagi seperti semula, karena itu, kenapa loosiansu tidak menghajar terus untuk menyingkirkan ia dari dunia?" Pendeta itu tunduk seraya merangkap kedua tangannya. "Omietoohud," Pujinya perlahan. "Beng Sin Thong jahat memenuhkan takarannya saat kematiannya bakal segera tiba, maka itu sakit hati kau, kiesu, tak usahlah dibalas terlebih jauh..." Terluka nadinya, usia Sin Thong tinggal lagi setengah tahun, sekarang dia mendapat tambahan luka di perut terkena pedang dan punggung terhajar tongkat, juga terhajar jalan darahnya oleh Tong Sian, usianya itu menjadi pendek hingga tak usah lewat sampai sepuluh hari lagi. Si pendeta berhati sangat suci dan pemurah, tak dapat ia menjadi pembunuh. Tadipun, jikalau tidak sangat terpaksa hendak menolongi Tiong Bouw, tidak nanti ia memberondong dengan tasbihnya itu, dengan timpukan "Tengcu Hang-mo" Atau. "Mutiara Penakluk Hantu". Setelah menyerang itu, ia merasa tak enak hati sendirinya... Ko Hong Kauw sementara itu menggunai ketika kekacauan untuk melarikan diri. la kabur sampai belasan lie baru merasa lega. Akan tetapi, belum sempat ia beristirahat, tiba-tiba ia mendengar bentakan. "Binatang, walaupun kau kabur sampai di ujung langit, kau tak nanti dapat lolos dari telapakan tanganku!" Ia kaget bukan kepalang, terutama karena ia mengenali suaranya Beng Sin Thong. Iapun kaget karena ia mendengar suara tanpa melihat orang atau bayangannya! Beng Sin Thong menggunai ilmu "Thiantun Toan-im" Untuk bentakannya itu. Itulah besar pengaruhnya, karena ia membuat hati Hong Kauw kacau balau. Pahlawan istana itu takut dan berniat menyingkir terlebih jauh, apa celaka, kedua kakinya seperti tak mau mendengar suara hatinya, maka di dalam tempo yang pendek, ia sudah kena disusul jago Siulo Imsat Kang itu. "Beng Sianseng," Tanya Hong Kauw dengan hatinya ciut. "selagi sekarang kita menghadapi musuh besar, mengapa Sianseng mau menyeterukan aku hingga kita seumpama kata ada sebagai musuh besar satu dengan lain?" "Kau ngaco!" Bentak Sin Thong bengis. "Bagus perkataanmu ya! Sampai aku sendiri kau hendak bikin binasa! Masihkah kau memikir buat mendapat ampun?" Hong Kauw melihat ia tidak dapat jalan lolos lagi, ia menjadi nekad. Ia lantas tertawa dingin dan kata. "Beng Sianseng, kau cuma tahu menegur lain orang! Kau tak sudi menegur dirimu sendiri! Memang aku memikir untuk membikin kau dan Tong Siauw Lan musnah bersama, sayang maksudku itu tidak kesampaian! Kau bilang aku hendak mencelakai kau, tapi coba kau jawab, kau sendiri, selama seumurmu berapa banyak jiwa yang telah melayang di tanganmu? Maka itu aku si orang she Ko, melainkan meniru contohmu!" Ditegur demikian macam, Sin Thong melengak. Selagi orang berdiam itu, Hong Kauw mengangkat pula kakinya untuk lari kembali, guna mencoba menyingkir terlebih jauh. Mendadak ia mendengar suara nyaring dari Beng Sin Thong, yang berkata seorang diri. "Biar aku mencelakai lain orang asal jangan lain orang mencelakai aku! Aku si orang she Beng biasa melakukan kejahatan, supaya tak kepalang, hari inipun aku membunuh kau! Aku anggap ini juga suatu perbuatan mulia!" Perkataan itu diikuti dengan serangannya dengan Siulo Imsat Kang, ilmu silatnya itu, yang mengeluarkan hawa dingin sekali. Ko Hong Kauw tidak mau menyerah binasa kecewa, ia membalik tubuhnya buat melakukan perlawanan, ia menyambut serangan itu. Dengan lantas ia merasakan dadanya sesak dan darahnya bergolak, terus tubuhnya menggigil keras. Akan tetapi ia tidak roboh, hingga ia heran sendirinya. Sebagai Taylwee Congkoan, pemimpin barisan istana, Hong Kauw memang liehay sekali, maka itu, setelah dipaksa mundur enam tindak, ia dapat menahan tubuhnya untuk berdiri tegak. Hal ini membuatnya mendapat hati. Ia menghadapi Sin Thong dan tertawa ber-gelak. Katanya. "Beng Sianseng, kiranya kau juga mendapat luka parah! Kalau begitu, kaupun tidak bakal hidup lebih lama pula! Maka kenapakah kau mendesak begini rupa padaku! Aku pikir baiklah kita menjadi akur pula, untuk bekerja sama lebih jauh! Disini aku mempunyai obat yang mujarab buatan istana!" Sin Thong tahu, ia bakalnya tak dapat disembuhkan dengan obat macam apa juga. Hanya hal itu tak diketahui Ko Hong Kauw. Congkoan ini tidak menduga luka orang demikian parah, dari itu ia menawarkan obatnya, supaya dengan memberi pertolongan itu, Sin Thong tidak jadi membunuhnya. "Terima kasih untuk kebaikan hati kau!" Kata Sin Thong tawar. "Tahukah kau apa yang sekarang ini aku pikir hendak lakukan?" Hong Kauw tercengang. Ia mengawasi, la mendapat lihat roman orang yang tak wajar. Beng Sin Thong melihat orang ragu-ragu itu, ia tertawa pula, kembali ia berkata keras. "Seumurku aku telah malang melintang di dalam dunia ini, selama itu cuma orang lain yang mendapat hajaran dari aku, maka adalah di luar dugaan, hari ini aku hampir terbinasa di tangahmu! Ini dia yang dibilang perahu karam di air dangkal! Maka hari ini di saat kematianku, sebelum aku dapat membunuh kau, tak nanti aku mati meram!" "Beng Sianseng," Berkata Hong Kauw, suaranya menggetar. "kenapa... kenapa kau tidak mau dengar nasihat baik? Benar-benarkah kau sudah tidak menghendaki pula jiwamu?" "Benar!" Sahut Sin Thong tertawa. "Memang aku ingin kau, Congkoan Tayjin, untuk kau turut aku bersama!..." Belum habis kata-kata itu dikeluarkan, jago ini sudah menyerang dengan pukulan Kimkong Ciang dengan tangan kiri dan dengan tangan kanannya dengan Siulo Imsat Kang yang berhawa sangat dingin. Ia mengerahkan tenaga dari tingkat ke sembilan! Itulah pukulan dengan tenaga yang terkerahkan semua, tak perduli itulah tenaga sisa. Hebat akibatnya itu walaupun Ko Hong Kauw mencoba untuk bertahan, dengan satu jeritan hebat tubuhnya lantas roboh terkulai dan mandi darah! Beng Sin Thong berlenggak, dia tertawa nyaring, akan tetapi justeru dia merasa puas tenaganya habis, terus perutnya terasa sangat nyeri seperti ususnya melilit-lilit. Ia menjadi sangat bingung. Itulah penderitaan hebat, alamat yang meminta jiwanya. Justeru itu, telinganya mendengar kata-kata ini. "Bangsat tua she Beng, sekarang tibalah saatnya aku membuat perhitungan denganmu! Kau berhutang banyaknya empat puluh tiga jiwa! Itulah permusuhan berdarah selama dua puluh tahun lebih! Sekarang bilanglah, bagaimana caranya perhitungan harus dibikin?" Suara itu bernada penasaran dan membenci sangat, biarnya Sin Thong seorang hantu, dia toh kaget dan jeri, sampai dia bergemetar sendirinya. Itulah suaranya Le Seng Lam! "Nona Le," Kata dia, yang terus menoleh. "kau bermaksud membalas sakit hati terhadapku, untuk itu kau berdaya hingga menderita hebat, aku si orang tua sangat kagum padamu! Aku telah membinasakan jiwa sekeluargamu, sekarang aku cuma mengganti dengan satu jiwaku! Kalau kau mau ambil jiwaku, nah, kau ambillah." Mendadak jago tua itu berlompat maju, seperti juga dia mau menyerahkan diri! Le Seng Lam, yang muncul secara tiba-tiba setelah dia memasang mata sekian lama, sudah siap sedia. Ia memegang semacam bungbung di tangannya, ia hadapi itu pada Sin Thong dan menekan pesawat rahasianya. Maka dengan lantas keluarlah asap mengepul, menyembur pada jago itu! Beng Sin Thong menjerit, tubuhnya mencelat tinggi, untuk menubruk. Kembali Seng Lam menyambut. Mulanya ia lompat ke samping, untuk menyingkirkan diri, lalu ia menerbangkan sehelai ikat pinggang sulam yang berwarna lima rupa dengan apa ia menyambar dan melilit kedua kaki orang! Sin Thong lompat jumpalitan, dengan begitu kepalanya berada di bawah dan kakinya di atas, melihat datangnya serangan, ia mengulur tangannya guna menangkap, untuk menariknya. Walaupun ia tengah terluka parah, ia masih dapat menggunai sisa tenaganya untuk membela diri atau melakukan perlawanan. Hanya kali ini ia tidak mempunyai perkiraan lagi, tak dapat ia memikir banyak. Ia tidak tahu bahwa senjata si nona telah penuh ditancapkan jarum-jarum berbisa, maka juga telapakan tangannya lantas kena tertusuk banyak jarum. Ikat pinggang itu sendiri terbuat dari kulit ular, ular berbisa juga, yang pun direndam di dalam racun, maka racunnya jahat luar biasa. Sin Thong telah terluka di dalam, sekarang ia terluka bisa, ia menjadi seperti kalap, bagaikan binatang liar, ia mengasih dengar suaranya yang keras dan nyaring serta menyayatkan hati. Racun ular sudah lantas bekerja, mendatangkan rasa gatal dan nyeri. Le Seng Lam telah berhasil merampas pulang kitab racun Pektok Cinkeng dari tangannya Seebun Bok Ya, ia sudah lantas pahamkan kitab itu, dengan begitu ia berhasil membuat dua macam racun yang paling liehay, ialah yang satu itu bungbung yang mengepulkan asap bisa, yang sebenarnya obat busuk Ngotok San, dan yang lainnya ialah ikat pinggang tersebut, yang dinamakan Coagee So, atau tali Gigi Ular. Giginya ialah semua jarum itu! Maka itu jangan kata Beng Sin Thong sudah terluka parah dan tinggal menantikan saat kematiannya, walaupun ia segar bugar, sulit untuk ia membebaskan diri dari serangan dua senjata yang maha dahsyat itu. Sukar untuk menjaga diri dari kedua macam senjata itu. Setelah menaruh kaki, dengan mata mendelik Beng Sin Thong berkaok-kaok. "Bagus, bagus ya, budak cilik! Cara pembalasan kau ini nyata jauh terlebih telengas daripada caracaranya aku si orang tua!" Habis itu, jago tua ini menggigit lidahnya, hingga darahnya muncrat, tetapi ia tidak roboh terkulai, bahkan sebaliknya, ia lantas berteriak, sambil berteriak, ia lompat pula menerjang si nona, menerjang dengan tangannya yang kuat luar biasa. Sin Thong sudah berhasil melatih "Thianmo Kaytee Tayhoat", atau ilmu "Hantu Langit Mengurai Tubuh". Itulah ilmu kaum sesat yang paling liehay, digunakannya untuk mati bersama. Dengan ilmu itu orang dapat mengumpul sisa tenaganya di saat kematian mengancam, tenaganya dapat menjadi tiga lipat terlebih kuat. Ketika Sin Thong menempur Tong Siauw Lan, ia sudah memikir buat menggunai Thianmo Kaytee Tayhoat itu, sayang sebelum ia mendapat kesempatannya, sudah terjadi perletupan dahsyat akibat sepak terjangnya Ko Hong Kauw. Baru sekarang ia dapat menggu-nainya di waktu menghadapi Seng Lam ini. Seng Lam terkejut melihat orang masih sanggup mengadakan perlawanan terlebih jauh, bahkan ia terancam bahaya. Dengan sebat ia menghunus pedang Cay-in Kiam, untuk membarengi menikam. Ia menikam tapi ia merasakan dorongan yang kuat sekali, hingga ia susah bernapas. Justeru itu, mendadak ia merasa ada orang yang menarik tubuhnya, hingga ia terpisah dari Sin Thong jauhnya beberapa tombak, karena mana ia jadi bebas dari serangan jago tua itu. Ketika ia sudah berdiri tegak dan mengawasi ke depan, ia melihat Beng Sin Thong sudah roboh dengan mandi darah, sebab pedangnya telah nancap telak di tubuh orang, hingga pedang itu masih nampak bergoyang-goyang! Tapi Beng Sin Tong tidak lantas putus jiwa. Di antara pengempang darahnya sendiri, ia bergerak bangun hingga ia bisa duduk lalu dengan tangannya ia mencabut pedang yang nancap di tubuhnya itu, sembari tertawa dingin dengan roman bengis, ia kata. "Jiwaku dapat aku serahkan kepada kau tetapi tidak dapat kau menurunkan tanganmu sendiri!" Perkataan ini diakhiri dengan tabasan ke arah leher, maka jago tua itu roboh terguling berbareng dengan jatuh bergelindingan kepalanya itu! Seng Lam berdiri menjublak. Ia mau menuntut balas, ia sudah men-dayakannya tetapi sekarang, menyaksikan kebinasaannya musuh itu hatinya gentar. Ia menjublak dengan mulut terbuka lebar dan mata mendelong! Kim Sie Ie, orang yang menarik si nona, sudah lantas bertindak maju. Ia menggeleng-geleng kepala. "Pepatah membilang, siapa berbuat kejahatan, dia pasti akan terbinasa sendiri, sekarang itu berbukti!" Katanya. "Maka itu Seng Lam, setelah sekarang kau berhasil dengan pembalasanmu, aku harap sukalah kau ambil dia sebagai contoh, supaya kau dapat menguasai dirimu sendiri." Dengan menolongi si nona, Sie Ie pun menerjang bahaya. Coba Sin Thong sebat seperti biasa, serangannya itu tak dapat ditahan olehnya, mesti dia turut Seng Lam terbinasa bersama, syukur disebabkan luka parahnya, tenaga jago tua itu sudah berkurang banyak dan tak dapat dikerahkan sepenuhnya. Seng Lam sadar sesudah sekian lama tercengang itu. Lalu dia kata dingin pada Kim Sie Ie. "Kenapa kau tidak pergi ke Siauwlim Sie menjenguk kau punya enci Kok? Perlu apa kau datang kemari?" Sie Ie belum menjawab, si nona sudah bertindak, menghampirkan kepalanya Beng Sin Thong. Dia menjemput kepalanya jago tua itu untuk dikasih masuk ke dalam sebuah kantung yang dia bekal. Setelah itu dia mendekati tubuh Sin Thong, yang sementara itu dengan cepat telah lumer sendirinya hingga ketinggalan saja rambut serta tulangtulangnya serta beberapa barang yang berada di sakunya. Sie le seorang jago tetapi menyaksikan itu, ia bergidik sendirinya. Hebat sekali racunnya Seng Lam itu. Sebenarnya si nona sendiri giris hati tetapi ia menguatinya. Ia mengambil pedangnya, dengan itu ia mengorek-ngorek barang-barang warisannya musuh besarnya itu. Ia bekerja sabar dan teliti. Sie Ie mengawasi tingkah laku orang. "Sudah, tak usah kau cari lebih jauh!" Kata Tokciu Hongkay. "Barang itu ada padaku!" Seng Lam heran, ia menoleh, mengawasi si pengemis edan. "Apa kau bilang?" Ia tanya. Sie Ie mengeluarkan dari sakunya kitab yang separuh yang diwariskan kepada puterinya, dan Cie Hoa menyerahkan lagi kepadanya, sembari menunjuki itu, ia tanya. "Bukankah kau mencari kitab ini?" Seng Lam kembali melengak. "Bagaimana kau mendapatkannya itu?" Ia tanya. "Tentang caranya aku mendapatkan, tak usah kau ambil tahu!" Kata Sie le. "Inilah kitab yang harus menjadi milik keluargamu, kau boleh ambil pulang!" "Kau sendiri, mengapa kau tak menghendaki itu?" Si nona masih menanya. Sie le menjawab tertawa. "Aku sendiri, sejak mulanya tak ada niatku mendapatkan kitab ilmu silat warisannya Kiauw Pak Beng, tidak juga barang lainnya apa juga, kalau baru-baru ini aku turut kau, itulah lantaran aku telah berjanji hendak membantumu membalas sakit hati atasnya. Untuk itu, perlu aku mempelajari isinya kitab itu bagian atasnya. Sekarang kau sudah selesai mencari balas, dengan begitu janjiku pun sudah dipenuhkan, dari itu, buat apa aku kitab ini?" Kitab bagian atas yang dipegang Sie Ie sudah diserahkan pada Le Seng Lam, sekarang ia menyerahkan juga bagian bawah yang didapat dari Beng Sin Thong, maka selanjutnya cuma Seng Lam seorang yang memiliki kitab yang lengkap, yang dia merdeka memahamkannya. Tapi, mendengar katakata Sie le, hati si nona bimbang, dia merasa takut, hingga hatinya tegang dan menggetar. "Sebenarnya apakah maksudnya perkataanmu?" Ia tanya dengan suara tak lancar. Sie Ie berkata pula menegaskan. "Aku telah memberi janji membantu kau, janji itu telah aku lakukan, maka itu sekarang kita boleh mengambil jalan masing-masing! Umpama kata kau setuju, dapat kita berdua menjadi kakak beradik, tetapi jikalau tidak, ya sudah saja, kita tetap jadi seperti*ekarang ini!" Mendengar itu, parasnya Seng Lam berubah. Hanya sejenak, ia kata keras. "Baik, baik! Nah, kau pergilah! Akhirnya nanti datang satu hari yang aku menghendaki kau lari balik, untuk bertekuk lutut di hadapanku, untuk kau memohon dengan meratap!" Sie Ie bicara dengan sikap tenang akan tetapi sebenarnya, hatinya terluka dan perih. Sudah banyak kali ia hendak mengutarakan itu selalu gagal, baru sekarang ini ia dapat mengatakannya, habis mengucapkan itu, ia tetap merasa hatinya terluka dan perih. Tak berani ia melihat pula wajah Seng Lam, tak berani ia mendengar lagi suara si nona, ia kuatir hatinya tak kuat, begitu ia melemparkan kitab silat bagian bawah itu, lantas ia memutar tubuhnya untuk berjalan pergi. Iapun sampai tak berani menoleh ke belakang! Tengah ia berlalu dengan dengan pikiran terganggu kekuatiran si nona nanti menggerecoki ianya, tiba-tiba Sie Ie dikejutkan guntur menggelegar serta kilat berkelebat, disusul turunnya hujan lebat. "Bagus!" Katanya di dalam hati. "Mereka itu tak usah repot bekerja memadamkan api! Mereka tentulah sudah lantas berangkat pulang ke Siauwlim Sie... Mereka mempunyai masing-masing arahnya, tetapi aku... kemana aku mesti menuju?" Di antara sinar kilat terlihat bangunan paling tinggi dari kuil Siauwlim Sie, yaitu menara Kimkong Ta. Sie Ie berjalan terus hingga tahu-tahu ia sudah mendekati kuil tersebut. Sekarangpun ia sadar bahwa ia menuju ke kuil itu untuk menjenguk Kok Cie Hoa... Selagi bertindak terus, mendadak Sie Ie mundur pula. "Tidak, tidak dapat!" Pikirnya.. Mendadak ia ingat Kim Bwee. "Tadi Kim Bwee tidak terlihat di Cianciang Peng, terang sudah ia berada di dalam kuil menemani Cie Hoa... Sekarang ini belum layaknya aku menemani dia!" Lantas Sie Ie berjalan balik. Hanya baru beberapa tindak, kembali ia berpikir. "Untuk apakah aku mengambil keputusan menjauhkan diri dari Seng Lam? Bukankah itu membuat Kok Cie Hoa mengerti apa yang aku pikir? Sekarang pasti Cie Hoa lagi sangat berduka. Orang yang dapat menghiburnya melainkan aku sendiri, karena itu kenapa takut menemuinya?..." Berpikir demikian, orang she Kim ini berjalan balik pula, menuju ke arah kuil. Hanya, baru beberapa tindak, kembali ia merandak. Kembali ia berpikir. "Sekarang dia tentu lagi menemani Co Kim Jie yang tengah sakit itu. Co Kim Jie sangat membenci aku, apabila ia melihat aku, mesti ia menjadi gusar, atau ada kemungkinan, karena saking mendongkol, ia akan putus jiwa... Tidakkah itu akhirnya bakal membuatnya Cie Hoa tambah susah hati? Pula Siauwlim Sie bukannya tempat dimana aku dapat pasang omong dengan merdeka dengan Cie Hoa ... Baiklah aku bertahan sabar sampai lain ketika, ialah sampai nanti dia sudah melewat saat yang tak tenang ini, sampai luka di hatinya sudah sembuh..." Hujan turun terus menerus dan dengan derasnya. Hati Sie Ie tetap kacau. Ada satu sebab lain yang membuatnya raguragu. Sebab itu ia sampai tak berani memikirkannya. Iapun tak mengerti kenapa ia diganggu pikiran semacam itu! Di antara Cie Hoa menyelak Seng Lam! Inilah pokok soalnya! Dalam kesangsian, Sie Ie bertindak kembali ke arah darimana ia datang. Batal ia pergi ke Siauwlim Sie, pikirannya seperti kosong. Semenjak pertama kali berkenalan dengan Seng Lam, Sie Ie diganggu keruwetan pikirannya. Ia ingin bebas dari Seng Lam tetapi sukar. Baru sekarang ia merasa sedikit merdeka, tetapi bimbangnya tak mau pergi. Ingat Seng Lam, ia merasa kehilangan sesuatu... Dengan sekonyong-konyong mata jeli Tokciu Hongkay melihat satu sosok tubuh berkelebat di sampingnya sejarak beberapa tombak, cepat bergeraknya, sedang itu waktu selagi hujan turun dan pandangan guram. Ia dapat melihat karena ia terlatih kepandaian melepaskan jarum Bweehoa ciam. Ia terkejut tapi ia lantas ingat. "Kie Siauw Hong!" Ia berseru. Orang di samping itu berhenti berlari dengan segera. "Kim Tayhiap!" Dia menjawab. "Banyak kali tayhiap telah menolong aku, sukalah kau menerima hormatku!" Dia lantas memberi hormat. "Kau bikin apa dengan lagakmu sebagai hantu ini?" Sie le tanya. "Aku lagi cari guruku," Sahut Siauw Hong. "Aku tahu pihakmu semua membenci guruku itu, akan tetapi dia tetap guruku, karena dia terluka, mesti aku cari padanya." Hati Sie Ie tergerak. "Aku tidak menyangka Beng Sin Thong mempunyai murid setia sebagai kau," Katanya. "maka itu sudah seharusnya dia merapatkan matanya!" Siauw Hong terkejut. "Apakah katamu, tayhiap?" Ia tanya. "Tak usah kau pergi cari pula gurumu itu," Sie Ie jawab. "Dia sudah mati. Semasa hidupnya setahu berapa banyak dia telah membunuh orang, maka hari ini dia sudah dibinasakan musuhnya. Inilah yang dinamakan keadilan,-pembalasan datang tepat. Kau tak usah bersedih hati untuk dia! Sekarang lekas kau menyingkir, orang-orang Siauwlim Sie justeru pada hendak pulang ke kuilnya! Aku dapat melepaskan kau, mereka belum tentu..." Benar Sie Ie baru berkata sampai disitu, mereka berdua sudah lantas mendengar tindakan banyak orang. Kie Siauw Hong tidak mau menempuh bahaya, ia mendengar kata, cepat-cepat ia berlalu. Kim Sie Ie tidak mau bertemu dengan Phang Lim dan lainnya, ia mengawasi ke arah kuil seraya menarik napas, didalam hatinya ia kata. "Biarlah aku tunggu sampai Cie Hoa sudah pulang ke Binsan, nanti aku melihatnya disana..." Maka ia lantas bertindak cepat, menghilang di antara sang hujan... Di dalam kuil Siauwlim Sie, di dalam sebuah kamar, Kok Cie Hoa berdiam di tepi pembaringan menemani Co Kim Jie, suci atau kakak seperguruannya atau ketuanya, ciangbunjin dari Binsan Pay. Ia menemani tetapi hatinya sendiri kusut. Kim Jie agak sebaliknya. Tiba-tiba dia mencoba bergerak, untuk duduk menyender pada pembaringan. "Apakah sudah ada kabar?" Dia menanya. "Belum," Sahut si nona. Ketua itu menghela napas. "Aku merasa aku tidak sanggup menanti tibanya kabar girang," Kata dia. "Disana ada Tong Tayhiap yang memegang pimpinan, hatiku tetap, hanya apa yang aku pikirkan ialah kau..." Cie Hoa terkejut. "Kenapa, suci?" Ia tanya. Kembali Kim Jie menarik napas. "Cie Hoa, aku menghendaki kau menerima baik dua permintaanku," Kata dia. "kalau tidak, apabila aku mati nanti sulit aku memejamkan mataku." "Silahkan Ciangbun suci menyebutkannya," Sang adik seperguruan minta. Kim Jie mencekal tangan si nona. "Pertama-tama kau mesti menerima baik kedudukan Ciangbunjin sebagai pengggantiku. Partai kita akan dapat maju dan makmur pula atau tidak, semua itu bergantung kepada kau!" Cie Hoa bersangsi. "Ini... ini..." Katanya, sukar. Kim Jie mengawasi, matanya seperti terbalik. "Kau... kau benarkah hendak membikin aku putus asa?" Dia tanya. "Baiklah, akan aku lakukan apa yang aku bisa," Sahut si nona, terpaksa. Mendengar itu, Kim Jie bersenyum. "Bagus, bagus, inilah baru sumoay-ku yang baik!" Katanya. Cie Hoa mengambil obat, ia membantui kakak seperguruan itu meminumnya. Kim Jie bernapas memburu, habis itu dia melanjuti berkata. "Sekarang yang kedua. Ini... ini... mungkin aku hendak memaksa kau... Kau suka menerima atau tidak, inipun bergantung kepada kau... Tak dapat aku tidak memberitahukan ini padamu..." "Silahkan bicara, suci." Cie Hoa kata. "Tak perduli urusan sulit bagaimana, meski mesti menyerbu api, tak nanti aku menampik!" Kim Jie berkata lantas. "Partai kita adalah satu di antara enam partai terbesar, setelah kau menerima baik menggantikan aku sebagai ketua, aku harap kau memperhatikan martabatmu sebagai ketua Binsan Pay, aku minta kau jangan... jangan bergaulan lagi dengan itu hantu kepala!" Habis mengucap begitu-kata-kata mana diucapkan dengan menggunakan banyak tenaga,-Kim Jie mengawasi sumoay-nya dengan mata terbuka lebar dan napas memburu. Mendengar permintaan itu, hati Cie Hoa panas berbareng ia merasa malu. Ia ketahui baik, dengan si "hantu kepala" Dimaksudkan Kim Sie Ie. Akan tetapi ia lantas memberikan jawabannya. "Jangan kuatir, suci! Seumurku aku tidak bakal menikah!" Walaupun ia dapat berkata demikian, air mata nona ini mengalir turun dan hatinya terasa nyeri dan perih. Kim Jie batuk-batuk, lalu dia bersenyum. "Mendengar suara kau ini, tetaplah hatiku," Katanya. "Cumalah, buat aku kau tidak menikah, itulah tak usah..." Selagi ketua Binsan Pay mau meneruskan kata-katanya, telinganya mendengar suara berisik di antara hujan dan angin. Dia terkejut. "Ada terjadi apakah?" Dia tanya. "Mungkinkah... mungkinkah Beng Sin Thong datang menyerbu kemari?... Ah, tak... tak mungkin... Coba kau suruh Kim Bwee pergi melihat..." Walaupun Kim Jie percaya Tong Siauw Lan akan tetapi mengingat pertempuran mestinya hebat sekali, hatinya goncang, hingga timbullah keragu-raguannya itu. Kok Cie Hoa belum bertindak sampai di pintu, lantas ia mendengar suara nyaring dari Pek Eng Kiat. "Suci!" Lalu orangnya sudah nerobos masuk. "Eng Kiat, ada terjadi apakah?" Kim Jie tanya. Dengan napas memburu keras, hingga sukar ia bicara lancar, Eng Kiat menjawab. "Co Suci... selamat... selamat!" "Selamat apakah?" Sang ketua tanya pula. "Beng... Beng Sin Thong tak bakal hidup lebih lama pula!..." Sahut Eng Kiat. "Ek Suheng telah menghajarnya dengan tongkatnya!" Kim Jie heran hingga dia tercengang. "Benarkah itu?" Dia menegasi. "Benar! Tak salah lagi!" Eng Kiat memberi kepastian. "Telah datang berita dari Cian Ciang Peng dan katanya Tong Tayhiap beramai segera bakal kembali!" Eng Kiat menjadi salah satu orang Binsan Pay yang ditugaskan berdiam di dalam kuil untuk melakukan penjagaan, dan ia memperoleh kabar dari kamsie, penilik dari Siauwlim Sie, saking girangnya, ia lari masuk menyampaikan kabar girangnya itu, sebelum menjelaskan apa-apa, ia sudah menyebut halnya Ek Tiong Bouw berhasil menghajar Beng Sin Thong, hingga wartanya itu seperti berbunyi bahwa Beng Sin Thong telah terbinasa di tangan kakak seperguruannya itu. Co Kim Jie tidak bisa percaya warta itu. Dia mementang kedua matanya. "Benarkah itu?" Tanyanya, suaranya tak jelas. "Benarkah itu?" Dia seperti menanya dirinya sendiri. Ketika itu terlihat munculnya Phang Lim yang datang sambil berlari-lari. Begitu dia bertindak masuk, dia tertawa dan berkata gembira. "Co Toacie, sakit hati terhadap musuh besarmu telah dapat dibalas! Beng Sin Thong tidak bakal hidup lebih lama!" Phang Lim mengingat anaknya, maka itu, ia lari pulang mendahului yang lain-lain. Ia anggap disana sudah tidak ada bahaya lagi. Iapun meniru Pek Eng Kiat, ia bukannya menyebut "si bangsat tua she Beng" Hanya "Beng Sin Thong". Inilah disebabkan ia ingat Kok Cie Hoa. Sementara itu, hati Cie Hoa lantas saja memukul keras. Nona ini tahu ayahnya sangat jahat, mestinya ayah itu tak dapat makan umur panjang, akan tetapi dasar orang ialah ayahnya, mendengar beritanya Eng Kiat dan Phang Lim itu, ia kaget sekali. "Hantu tua itu terbinasa di tangan siapa?" Co Kim Jie tanya. "Mula pertama dia kena digempur nadi sam-yang keng-nya oleh Siauw Lan," Phang Lim memberi keterangan. "habis itu dia terhajar tongkat Ek Pangcu, kemudian diapun terserang mutiaranya Tong Sian Siangjin! Benar dia tidak mati lantas akan tetapi katanya dia tak bakal hidup lebih lama daripada sepuluh hari. Itulah pembilangannya Tong Siauw Lan dan Tong Sian Siangjin. Karena itu juga dia dibiarkan dapat lari meloloskan dirinya." "Kenapa dia dikasih lolos?" Tanya Kim Jie pula. "Tong Sian Sianjin bilang itulah disebabkan biar bagaimana dialah seorang guru besar dalam dunia ilmu silat, karena dia toh mesti mati, dianggap baiklah dia nanti mati sendirinya." Phang Lim berkata demikian karena ia tidak tahu Beng Sin Thong sudah lantas terhajar hebat oleh Le Seng Lam, hingga dia mesti membunuh diri, hingga kemudian kepalanya dibawa pergi serta tubuhnya dibikin lumer dan sirna hingga tinggal tulang belulangnya. "Jikalau demikian, pasti sudah hantu itu bakal terbinasa!" Kata Co Kim Jie. "Pasti!" Sahut Phang Lim. Kedua mata Kim Jie mendadak terbalik, mendadak juga dia tertawa bergelak-gelak! Phang Lim terperanjat. Tertawa itu tak wajar terdengarnya. "Co Toacie, kau kenapa?" Suara tertawanya Co Kim Jie berhenti dengan tiba-tiba, tubuhnya lantas jatuh rebah, waktu Phang Lim meraba tubuhnya itu, ternyata napasnya sudah berhenti. Cie Hoa kaget, lantas saja ia menangis menggerung. "Sudah," Kata Phang Lim, menghibur. "suci kau ini mati girang, itulah bagus. Manusia siapa yang dapat tak mati? Syukur dia menutup mata secara begini menyenangkan! Sudah, kau jangan menangis." Cie Hu menangis terus. Di sebelah menangisi kakak seperguruan itu, iapun menangisi nasibnya sendiri. Maka itu, makin si nyonya membujuki, ia menangis semakin sedih. Tidak lama tibalah rombongannya Tong Siauw Lan. Ketika mereka itu mendengar hal kematian Kim Jie, semua menjadi berduka, semua masuk ke dalam kamar guna mengunjuk hormat mereka yang penghabisan. Cuma sebentar, Tong Sian Sian-jin semua mengundurkan diri dari dalam kamar dimana tinggal saja beberapa murid wanita Binsan Pay, guna mengurus mayatnya ketua mereka. Lie Kim Bwee bukan anggauta Binsan Pay akan tetapi karena ia bersahabat kekal dengan Kok Cie Hoa, ia berdiam terus menemani sahabatnya itu. Setelah semua orang salin pakaian, Tong Sian Siangjin mengundang mereka berkumpul di dalam ruang istirahat Kiatyan Cengshia. Disini mereka duduk memasang omong sambil beristirahat. Ketika itu dengan saling susul kembalilah murid-murid Siauwlim Sie, yang diperintah memeriksa dan mencari sisa-sisa musuh. Di antaranya ada warta hal Ko Hong Kauw kedapatan telah binasa. Warta itu menambah kegirangan orang banyak. Benar mereka bersedih karena kematian Co Kim Jie, tetapi kematian taylwee congkoan itu suatu kabar penting. Itu berarti Rimba Persilatan tertolong dari tangannya satu manusia buruk. Dengan kebinasaan congkoan itu serta komandan Gieliemkun, pihak lurus dapat berlega hati. Sebaliknya beberapa anggauta penting dari Siauwlim Sie yang berduka. Mereka itu nampak masgul dan jengah, alis mereka berkerut. Menampak demikian, Phang Lim heran. Kata ia. "Tadi di tengah jalan, di dalam hujan, aku melihat seorang berlari-lari keras, dia mirip dengan Kie Siauw Hong, mungkin binatang itu telah nelusup masuk ke sini dan sudah melakukan pencurian?" "Benar," Menjawab Pun Khong Siansu, kamsie dari Siauwlim Sie. "Pintoo telah alpa melakukan penjagaan, dia berhasil memasuki lauwteng Chongkeng Kok dimana dia telah berhasil mencuri tiga Jilid kitab. Berhubung dengan itu pintoo justeru hendak memberi laporan kepada hongthio suheng untuk sekalian memohon maaf..." "Kitab-kitab apakah itu yang lenyap?" Tanya Tong Sian Siangjin. "Itulah kitab-kitab yang mengenai pelajaran Laykang," Sahut Pun Khong. "Yang pertama yaitu Thay-hie Cinkeng untuk pelajaran bernapas, yang satu lagi Thayhian Cinkeng untuk pelajaran mengendalikan pikiran, dan yang ketiga ialah Khongbeng Cinkeng untuk pelajaran semangat." Siauwlim Sie masih mempunyai kitab-kitab yang penting untuk pelajaran olah raga dan ketiga kitab tersebut termasuk satu di antaranya, maka itu, mendengar keterangan itu, semua orang menjadi kaget. "Kie Siauw Hong ialah orang yang tadi pagi turut datang bersama-sama kedua pendeta dari Wilayah Barat," Kata Pun Khong pula. "Kedua pendeta itu telah berhasil ditangkap oleh tiangloo dari ruang Tatmo Ih. Bagaimanakah hongthio suheng hendak mengambil tindakan?" Tong Sian Siangjin sudah lantas memberi keputusannya. "Mengingat mereka sama-sama murid Sang Budha, sedang merekapun pernah menjadi tetamutetamu kita, merdekakan saja mereka itu. Beng Sin Thong boleh dibilang sudah mati, Kie Siauw Hong tidak nanti dapat berbuat banyak, meski demikian, pergi kau memerintahkan enam belas murid kita yang terpillih untuk pergi ke pelbagai penjuru guna mencari dan membekuknya. Mulai sekarang ini dan selanjutnya, kita harus berjaga-jaga dengan terlebih hatihati lagi." Kejadian itu hebat, maka itu orang banyak telah memberikan janjinya untuk membantu pihak Siauwlim Sie mencari-tahu tentang gerak-geriknya Kie Siauw Hong. Sebenarnya kedua pendeta dari Barat itu mengandung maksud mencuri kitab. Kebetulan untuk mereka ada terjadi pertempuran di Cianciang Peng itu. Justeru Tong Sian Siangjin tidak berada di dalam kuil, mereka mengajak Kie Siauw Hong dan menganjurkan si raja copet pergi melakukan pencurian, Siauw Hong menerima ajakan itu, sebab ia sekalian hendak mencari-tahu perihal gurunya. Iapun memikir, bolehlah ia menggunai ketika yang baik untuk mengacau di dalam kuil. Memang telah biasa untuknya sebagai pencopet, dimana dia sampai, tentu-tentu dia meninggalkan bekas untuk kerugian setempat. Demikian ia turun tangan mengantongi tiga Jilid kitab laykang Siauwlim Sie itu. Syukur untuknya, ketika itu hujan dan angin, kalau tidak, sukar dia lolos dari matanya pendeta yang menjaga lauwteng itu. Kemudian Ek Tiong Bouw berkata. "Kemenangan kita ini berkat bantuannya Tong Tayhiap serta semua saudara! Dengan begini, kecuali musuh umum Rimba Persilatan dapat disingkirkan, sakit hati partai kami juga dapat dilampiaskan, maka itu, meski ketua kami, Co Suci, telah meninggal dunia, ia tentu menutup mata dengan puas. Semasa hidupnya Co Suci, ia sudah menetapkan Kok Cie Hoa muridnya Susiok Lu Su Nio sebagai pengganti ketua, dari itu setelah selesai upacara penguburan jenazah Co Suci, kita harus memilih hari yang baik guna melangsungkan upacara keang-katan ketua yang baru. Demikian, kalau nanti tiba saatnya, aku minta supaya semua saudara sudi datang menghadiri upacara itu." Menurut aturan Rimba Persilatan, seorang calon ketua suatu partai harus berkabung tiga bulan baru dia dapat diangkat resmi menjadi pengganti ketua, demikian sudah terjadi dengan Kok Cie Hoa ini, maka itu Ek Tiong Bouw sudah lantas menyampaikan undangannya itu, tinggal tunggu harinya saja yang belum dapat ditetapkan seketika itu. Semua orang senang mendengar pemilihan ketua itu, Tong Siauw Lan dan Phang Eng pun girang sekali, bahkan Siauw Lan sambil tertawa dan mengurut kumisnya kata. "Dulu hari kita bersama Lu Su Nio menyerbu ke istana membunuh Yong Ceng, peristiwa itu terasa seperti di depan mata, dan sekarang kita bakal menyaksikan muridnya menjadi pengganti ketua, sungguh sang waktu berjalan cepat sekali! Sekarang ini kita semua juga telah menjadi tua..." Maka itu, mengingat hal dulu-dulu itu, Siauw Lan girang berbareng masgul. Sementara itu sambil menanti tempo tiga bulan untuk berkabung, semua orang lantas berpisahan dengan janji mereka akan menghadiri upacara peresmian keangkatan ketua Binsan Pay itu. Tong Siauw Lan dan isteri berangkat pulang tanpa mengajak anak dan menantunya. Thiansan terpisah terlalu jauh, maka mereka mewakilkan Tong Keng Thian dan Pengcoan Thianlie, karena mana, anak dan mantu itu tak turut pulang. Lie Kim Bwee ingin meminta ibunya supaya ibu itu dan ianya tak berangkat pulang, tetapi Phang Lim menolak dengan alasan bahwa kebiasaan Thiansan Pay, setiap tiba saat ujian persilatan, semua ang-gautanya tak dapat tak hadir Tahun itu ialah tahun ujian, yang biasa dilakukan setiap tiga tahun satu kali. Jadi puteri itu mesti pulang ke Thiansan guna berlatih sungguh-sungguh. Ibu ini kata sambil tertawa. "Kau harus ketahui di kolong langit ini tidak ada pesta yang tidak bubar, kau dengan enci Kok-mu itu sudah berdiam bersama lama, layaklah kalau kau berpisah dari ianya. Kau sabar sampai nanti datang waktunya kamu berkumpul pula. Kau tahu sendiri, selama tiga tahun ini kau sudah alpakan latihanmu, sampai suheng-mu Ciong Tian telah melombai padamu. Apakah kau tak kuatir di belakang hari dia nanti menghinamu?" Kim Bwee jengah, mukanya menjadi merah. "Ibu, kau terlalu!" Kata si anak. "Kenapa kau menggoda aku?" "Ibumu tidak bergurau!" Kata Phang Lim. "Ciong Tian itu jujur dan sopan, tak nanti dia menghina kau, akan tetapi kau mesti menggantikan aku memegang nama, supaya dalam ilmu silat kau tetap berada di atasnya!" Dalam beberapa tahun ini Ciong Tian terhadap Lie Kim Bwee selalu menurut saja, terutama selama yang paling belakang, mereka dapat bergaul rapat dan bekerja sama, maka itu, kesan mereka berdua satu dengan lain menjadi bertambah baik. Di dalam hatinya, Lie Kim Bwee sudah setuju buat menyerahkan dirinya kepada itu saudara seperguruan, karena itu, mendengar ibunya bergurau, ia tidak gusar, cuma ia merasa likat. Iapun setujui kata-kata beralasan ibunya itu. Ciong Tian di pihak lain juga menghendaki si adik seperguruan pulang ke Thiansan. Hanya Kim Bwee tidak tahu maksud sebenarnya dari ibunya. Si Ibu sebetulnya kuatir puterinya itu nanti bertemu dengan Kim Sie Ie .. Lewat beberapa hari, rombongan Binsan Pay meninggalkan kuil Siauwlim Sie untuk pulang ke gunung mereka sambil membawa jenazahnya Co Kim Jie, untuk melakukan penguburannya. Ketika Tong Siauw Lan berangkat, Lie Kim Bwee turut bersama. Berat ia berpisahan dari Kok Cie Hoa. Di antaranya ia kata. "Enci Kok, apakah kau masih ingat Nona Le?" Cie Hoa tercengang. "Apakah kau maksudkan Le Seng Lam?" Ia menegaskan. "Benar! Aku tahu dia dulu hari ikut Kim Sie Ie pergi berlayar. Ketika belum lama ini kakak misanku bertemu dengannya, entah kenapa, dia agaknya bersikap bermusuh dengan Thiansan Pay, sebagaimana terbukti dia telah merampas pedang Yuliong Kiam dari tangan kakak misanku itu. Baru kemudian, pedang itu dapat dirampas pulang oleh ibuku. Nona Le itu sungguh sukar diterka hatinya! Ada kalanya dia seperti baik sekali terhadap aku, ada satu kali dia telah mengabuiku... Demikianpun terhadap kau, dia rupanya mengandung maksud yang tidak baik, maka itu justeru dia telah muncul pula dalam dunia Kangouw, baiklah kau berlaku waspada." Kim Bwee bicara demikian karena ia tidak tahu Cie Hoa sudah bertemu dengan Le Seng Lam telah mendatangkan kedukaan baginya, karena ini dengan menahan kedukaannya, ia berkata. "Terima kasih, nanti aku berhati-hati. Tapi, menurut aku, tidak nanti Nona Le itu datang mencari aku pula..." Cie Hoa berkata demikian karena ia pikir ia toh sudah menampik Kim Sie Ie, dengan begitu Seng Lam bolehlah merasa puas hati. Kim Bwee sebaliknya heran. "Kenapa kau dapat beranggapan demikian?" Tanyanya. Cie Hoa tidak mau membuka rahasia bahwa Kim Sie Ie masih hidup, maka ia kata saja. "Tidak apa-apa. Aku dengannya tidak punya sangkutan lagi, buat apa dia datang pula padaku?" Mendengar demikian, Kim Bwee jadi berpikir. "Tidak salah! Le Seng Lam bermusuh dengan Beng Sin Thong. Dulu hari itu dia membenci enci Kok sebab enci Kok ialah puterinya Beng Sin Thong, sekarang Beng Sin Thong sudah mati, mungkin dia tak membenci lebih jauh pada enci Kok." Kim Bwee tidak mau membicarakan terus urusan itu, ia kuatir Cie Hoa menjadi berduka. Ia lantas bicara dari lain hal. "Enci Kok, aku beri selamat padamu yang kau bakal menjadi ketua partaimu!" Ia kata. "Sayang aku tidak dapat menghadiri upacara kau nanti. Tapi aku mempunyai satu tanda mata tak berarti, aku minta sukalah kau terima." Ia mengeluarkan sebuah kotak dan menambahkan. "Di dalam ini ialah setangkai teratai salju, kau simpanlah, untuk nanti dipakai di suatu saat yang perlu!" Cie Hoa terima tanda mata itu, habis itu barulah mereka dengan sama-sama menepas air mata berpisahan. Setibanya di gunung Binsan dimana ia berkabung, dengan perlahan-lahan Cie Hoa dapat menenangkan diri. Dulu ia malu sendirinya karena ayahnya Beng Sin Thong, sekarang ayah itu sudah tidak ada, selanjutnya tidak ada soal atau gangguan lagi, cuma kadang-kadang saja ia berduka dan menyesal kapan ia ingat sepak terjangnya ayah yang sesat itu, yang membuatnya malu. Di sebelah itu ia berhasil menetapkan hati mengambil kepu-tusan untuk membangun partainya supaya dengan begitu bisa' ia menebus dosa ayahnya. Mengenai dirinya sendiri, ia telah berkepu-tusan untuk tidak menikah, benar ia belum dapat melepaskan perasaan cinta dari hatinya tetapi hatinya tak kacau balau lagi. Ek Tiong Bouw semua girang melihat calon ketua mereka berubah demikian rupa. Dengan begitu mereka girang juga yang mereka sudah mendapatkan ketua yang tepat. Dengan lekas sang waktu berjalan, tiga bulan telah lewat, maka Ek Tiong Bouw lantas memilih tanggal lima belas bulan delapan, Peegwee Capgouw, sebagai hari baik untuk upacara pengangkatan atau peresmian Kok Cie Hoa sebagai Ciangbunjin, atau ketua mereka. Untuk itu dari siang-siang ia telah melepas surat undangan kepada ketua pelbagai partai lainnya hingga mereka itu ada yang datang sendiri, ada juga yang cuma mengirim wakil. Di harian Peegwee Capgouw itu, gunung Binsan ramai luar biasa. Upacara sudah lantas dijalankan. Di waktu tengah hari, selesai upacara, maka ketua yang baru itu, mulai menyambut para tetamunya yang memberi selamat kepadanya. Justeru itu waktu mendadak muncullah Lim Seng, murid kepala Binsan Pay yang bertugas menyambut tetamu terus ia memberi laporan sebagai berikut. "Di luar ada datang seorang wanita yang berpakaian hitam yang mohon bertemu dengan Ciangbun, harap Ciangbun memutuskan suka menerima kedatangannya atau tidak." "Dia itu sahabat dari mana?" Tanya Cie Hoa. "Apakah kau telah menanyakan keterangannya?" "Dia kata dialah sahabat lama dari Ciangbun, kalau nanti Ciangbun sudah bertemu dengannya, Ciangbun akan ketahui sendiri," Sahut Lim Seng. Hati Cie Hoa tergerak. "Baiklah, kau persilahkan dia masuk!" Ia memberi keputusan. la lantas dapat menduga siapa tetamu wanita itu. Hari ini hari baik untuknya, tidak dapat ia menampik tetamu, andaikata ada tetamu yang hendak mengacau, ia mesti menyambutnya juga, tak dapat ia menunjuki kelemahan. Hanya sebentar, Lim Seng sudah kembali bersama tetamunya itu yang Cie Hoa kenali sebagai Le Seng Lam. Ek Tiong Bouw, Louw Eng Kiat dan Pek Eng Kiat kenal Seng Lam, merekapun tahu si nona memusuhkan Beng Sin Thong, maka itu mereka lantas berlaku waspada. Di antara para tetamu, Tong Keng Thian dan isterinya heran melihat tibanya nona tetamu itu, mereka juga tidak senang akan tetapi mereka terpaksa mesti berlaku sabar, tak dapat mereka berbuat sembrono. "Enci Le, hari ini angin apa yang meniupmu datang kemari?" Cie Hoa menyapa. "Maafkan aku, yang telah alpa menyambutmu!" "Hari ini, enci Kok, hari kau menjadi ciangbunjin," Sahut Seng Lam. "Di dalam kalangan Kangouw, siapakah yang tak ketahui hari baik ini? Maka itu aku datang untuk menggerecoki secangkir arak kegiranganmu!" Cie Hoa memandang tetamunya, yang ia lihat sikapnya tenang dan bicaranya wajar, maka ia pikir. "Disini berkumpul banyak orang liehay, walaupun dia licin, aku rasa tidak nanti dia berani mengacau..." Karena itu ia lantas merendahkan diri dan mengundang si tetamu duduk. Le Seng Lam tidak lantas berduduk, hanya ia maju menghampirkan dua tindak, dengan sabar ia berkata pula. "Hari ini aku datang kesatu untuk memberi selamat kepada kau, enci, dan kedua guna menyampaikan sebuah tanda mata yang berharga besar, guna menyemarakkan pestamu ini!" Kata-katanya Seng Lam aneh. Tak pernah ada tetamu yang menyebut bingkisan berharga atau lebih-lebih berharga besar. Karena itu, kata-kata itu membuat orang heran dan terperanjat. Cie Hoa sendiri tercengang. "Enci," Katanya. "kedatanganmu saja sudah membuat aku bersyukur, maka itu bagaimana dapat kaupun membawa bingkisan yang berharga besar itu?" "Jangan sungkan!" Kata Seng Lam. "Lainnya bingkisan dapat kau tidak terima tetapi ini mesti kau menerimanya!" Cie Hoa heran hingga timbul kecurigaannya. "Jikalau begitu baiklah, akan aku menerimanya," Ia kata. "Ek Suheng, tolong kau menyambuti bingkisan dari Nona Le ini!" Seng Lam tertawa, ia kata. "Bingkisan ini mesti kau sendiri yang menerima dan melihatnya dulu, enci! Bukannya aku jumawa, inilah bingkisan bukan sembarang bingkisan, terutama mengenai partai kamu, bingkisan ini berharga luar biasa!" Seng Lam memegangi sebuah kotak besar persegi empat, ia bersikap sangat hati-hati ketika ia mengangkatnya dan membuka tutupnya dengan perlahan-lahan. Semua anggauta Binsan Pay mengawasi dengan mementang mata mereka, semua ingin mengetahui apa isinya kotak itu-apa itu barang yang katanya sangat berharga... Dengan tiba-tiba saja terdengar Kok Cie Hoa menjerit tajam. Di dalam kotak itu terlihat sebuah kepala orang, yang romannya bengis seperti kepala orang hidup! Dan itulah kepalanya Beng Sin Thong! Semua orang lainnya juga turut berseru bahna heran dan kagetnya. Selama di Cianciang Kok, orang percaya keterangannya Tong Siauw Lan dan Tong Sian Siangjin bahwa Beng Sin Thong mesti mati, hanya orang tak menemui mayatnya, karenanya orang bersangsi dan berkuatir juga, maka juga selama tiga bulan, orang terus me-nyerep-nyerepi kabar halnya jago Siulo Imsat Kang itu, siapa tahu, sekarang dengan sekonyong-konyong mereka melihat kepalanya yang masih segar itu... "Bagaimana?" Tanya Seng Lam tertawa. "Aku telah membawakan kamu kepalanya musuh besar kamu! Bukankah benar tak ada lain bingkisan yang terlebih berharga daripada ini?" Cie Hoa berdiri menjublak. Ia seperti telah ditinggalkan semangatnya. Ia terus bungkam, matanya mendelong saju. Akan tetapi ketika Ek Tiong Bouw hendak menyambuti kepala itu, mendadak ia mendahului menyambuti dan mengangkatnya. "Sumoay, mari serahkan padaku!" Kata suheng itu. "Tak usah kau lihat lagi!" Menurut aturan Rimba Persilatan, siapa menerima bingkisan berupa kepalanya musuh, bingkisan itu berharga bukan main, demikian pihak Binsan Pay, seharusnya mereka sangat bersyukur kepada Le Seng Lam. Karena itu, meskipun Ek Tiong Bouw ketahui nona ini hendak mengganggu ketua mereka yang baru, ia tidak dapat menyalahi aturan umum itu yang mesti dihormati, tak dapat ia menegur Seng Lam. Cie Hoa tidak menjawab perkataan suheng-nya itu. Mendadak ia berseru pula lantas kepala ayahnya di tangannya itu jatuh, ia sendiri turut roboh dengan lantas tak sadarkan diri. Dua orang Binsan Pay berlompat maju, guna memungut kepala orang itu, guna mengasih bangun ketuanya yang baru, akan tetapi hampir berbareng mereka pada mengeluarkan serupa jeritan yang hebat, bukan saja mereka gagal mengangkat kepala orang atau membanguni Cie Hoa, sebaliknya, tubuh mereka turut terguling roboh! Ek Tiong Bouw kaget bukan kepalang, hingga diapun melengak. Kanglam Ie In Yap Ya It hadir bersama, ia lompat maju untuk melihat, segera ia berseru. "Jangan raba kepala orang ini. Ada racunnya!" Di saat orang kaget itu, Le Seng Lam sudah berlompat untuk menyingkir, sembari lari, ia bersenyum. "Enci Kok, harap saja di belakang hari kita akan bertemu pula!" Tong Keng Thian melihat orang mengangkat kaki, ia lantas menyerang dengan tiga biji Thiansan Sinbong, sembari menyerang itu, ia berseru. "Siluman wanita! Kau sudah celakai orang, bagaimana kau masih mengharap kabur?" Le Seng Lam menghunus pedangnya dengan apa ia menangkis senjata rahasia dari Thiansan Pay itu, sembari tertawa dingin, ia kata keras. "Siauwciangbun, jangan terburu napsu! Setelah beres urusanku disini, nanti aku pergi sendiri ke Thian San mencari padamu!" Selagi orang bicara itu, Keng Thian sudah lompat menerjang dengan pedangnya, sedang Pengcoan Thianlie telah menyerang dengan peluru es Pengpok Sintan! Yap Ya It pun bekerja, la mencari sebuah kantung kain untuk menempatkan kepala Beng Sin Thong itu. Ketika ia memandang kedua murid Binsan Pay, ia mendapatkan mereka itu sudah putus jiwa dengan darah mengucur keluar dari mata, lubang hidung, telinga dan lainnya. Kok Cie Hoa sebaliknya rebah dengan muka sangat pucat dan mata tertutup rapat. Cia In Cin dari Ngobie Pay menghampirkan. "Masih ada napasnya..." Kata dia. Cie Hoa telah melatih sempurna ilmu tenaga dalam ajarannya Lu Su Nio, ia beda jauh dibanding dengan dua murid Binsan Pay yang roboh sebagai korban-korban itu, maka itu walaupun ia telah terkena racun, ia tidak mati seketika. Kata Ek Tiong Bouw dalam bingungnya. "Aku ingat Lie Kim Bwee telah memberikan Kok Sumoay setangkai soatlian, baik lekas cari teratai itu untuk dikasih makan padanya!" "Racun ini liehay luar biasa," Kata Kanglam le In. "aku kuatir meskipun soatlian manjur, itu tak akan menolong banyak! Paling benar lekas susul wanita muda itu, untuk minta obat pemunah dari ianya!" Cia In Cin sebagai isteri Tiatkoay Sian Lu Ceng, bekas ketua Kaypang, menjadi juga ipar dari Cie Hoa, ia bertabiat keras, maka ia digelarkan "Cieeiu Siannio", si Dewi Tangan Telengas, mendengar perkataan Yap Ya It, segera ia menjawab. "Benar! Ek Suheng, mari kita susul dia!" Ek Tiong Bouw menurut, maka ia lantas lompat berlari. Di sebelah belakang menyusul sejumlah tetamu. Ketika itu di luar Hian Lie Koan, Le Seng Lam lagi melayani Tong Keng Thian dan Pengcoan Thianlie suami isteri. Ia melihat banyak orang memburu keluar, ia tertawa nyaring dan kata. "Eh, kamu mau apa, ya? Apakah kamu mau'menghina aku seorang wanita sebatang kara? Baik, baik! Nanti aku beri rasa terlebih dulu kepada kamu, supaya kamu dapat lihat!" Ketika itu Tong Keng Thian tengah menikam, Seng Lam mengangkat pedangnya untuk menyambuti dengan dadanya. Itulah hebat, sampai jago muda Thiansan Pay itu terkejut. Tidak ada semacam ilmu silat membiarkan sendiri adanya lowongan. Selagi Keng Thian tercengang, tubuh Seng Lam sudah lewat di sisinya, lalu tangan bajunya menyambar, dengan kesudahannya terdengarlah satu suara nyaring. Ialah suara dari bentroknya Yuliong Kiam ketua muda itu dengan pedang Pengpok Hankong Kiam dari isterinya, Pengcoan Thianlie. Atas itu Seng Lam tertawa nyaring, pedangnya menyelak di antara kedua pedang suami isteri itu, hingga terdengar satu suara keras. Tempo orang-orang Binsan Pay dan lainnya terperanjat, Keng Thian dan isterinya sudah berpisah, di tengah-tengah di antara mereka terlihat sebuah batu terbelah dua! Le Seng Lam telah memiliki lengkap kitab warisannya Kiauw Pak Beng di dalam tempo singkat tiga bulan, ia sudah berhasil membaca dan memahamkannya, maka itu kepandaiannya menjadi beda daripada tiga bulan yang baru berlalu itu, benar ia belum dapat menjadi seorang guru besar tetapi ia sudah melebihkan Keng Thian berdua suami isteri. Ia sengaja mempertontonkan kepandaiannya itu guna membikin kaget pada semua orang. Habis itu Nona Le dengan sabar memasuki pedangnya ke dalam sarungnya, ia terus berkata dengan tawar. "Tong Siauwciangbun, kau bukanlah lawanku, maka pergi kau pulang untuk memberitahukan ayahmu supaya dia membuat persiapan! Paling lama tiga tahun, atau cepatnya satu tahun, akan aku pergi ke gunung Thiansan guna mohon pengajaran dari ianya!" Keng Thian mendongkol bukan main. Tapi ia mesti memegang derajatnya. Ia berdua isterinya telah dikalahkan, kalau ia maju pula, untuk menempur lebih jauh, itu cuma mendatangkan malu saja. Karena itu ia cuma mengawasi dengan bengis tapi mulutnya bungkam. Baca Juga: Iblis Sungai Telaga 15 Baca Juga: Misteri Kapal Layar Pancawarna 8