Eps 2 Pedang Asmara - Kho Ping Hoo
Baca online Pedang Asmara - Kho Ping Hoo
Cersil Pedang Asmara - Kho Ping Hoo.
Dua orang yang masih saling berpelukan dalam keadaan pakaian tidak lengkap itu terkejut dan mereka berdua meloncat bangun.
Melihat kekasihnya agaknya kesadaran menyelinap dalam benak Li Lan dan ia pun menjerit lirih menyambar pakaiannya dan menutup tubuhnya, terhenyak di atas pembaringan sambil membelalakkan mata memandang kepada kekasihnya yang berdiri dengan muka sebentar pucat sebentar merah.
Yeliu Cutay juga seperti baru sadar dari mimpi.
Dia bangkit duduk di atas pembaringan, memandang kepada sutenya dan dengan mengerahkan daya kekuatan batinnya dia berhasil menguak dari selimut berahi yang membutakan kesadarannya tadi.
"Sute..... dengarkan keteranganku...."
"Yeliu Cutay!"
Phoa Giok Hin membentak.
"Dasar engkau orang Liau-tung yang berjiwa khianat! Engkau tahu bahwa Li Lan adalah kekasihku, calon isteriku akan tetapi engkau tega untuk mengkhianatiku, merusak kebahagiaanku.....!"
"Sute, tunggu....."
Kata Yeliu Cutay melihat sutenya mencabut pedang.
"Tunggu apa lagi! Engkau atau aku yang harus mati! Penghinaan ini hanya dapat dicuci dengan darah dan nyawa!"
Berkata demikian, Giok Hin sudah menerjang dan membacokkan pedangnya ke arah kepala suhengnya.
Yeliu Cutay maklum akan dahsyatnya serangan sutenya.
Bagaimanapun juga, dia harus membela diri karena dia sama sekali tiduk merasa bersalah.
Sambil menyambar Pedang Asmara yang tadi menggeletak di atas pembaringan, dia pun menggulingkan tubuhnya ke bawah pembaringan.
"Brettt.....!"
Pembaringan itu patah menjadi dua potong oleh sabetan pedang di tangan Giok Hin, akan tetapi karena pembaringan itu lebar, maka tidak sampai ambruk dan Li Lan yang duduk terhenyak di pojok pembaringan, hanya memandang dengan muka pucat sekali dan mata terbelalak.
Ia hendak menjerit, hendak berteriak, namun tidak mampu mengeluarkan suara.
Ia masih merasa heran, terkejut, dan bingung.
Baru sekarang ia teringat bahwa ia telah nyerahkan.
tubuhnya kepada toa-suhengnya, menyerahkannya dengan suka dan pasrah.
Padahal ia mencinta Phoa Giok Hin!
Ia merasa heran mengapa itu sampai terjadi, akan tetapi ia tidak merasa menyesal, hanya bingung.
Kini melihat kekasihnya menyerang toa-suhengnya mati-matian, ia menjadi semak bingung dan khawatir.
Kini Giok Hin sudah menghujani serangan ke arah toa-suhengnya, serangan yang dilakukan penuh rasa dendam, benci dan.
sakit hati.
Pedangnya berkelebat menyambar-nyambar.
Yeliu Cutay yang masih setengah telanjang itu mengelak dengan loncatan-loncatan, akan tetapi akhirnya ia tersudut dan tidak mampu mengelak lagi.
Dia harus membela diri maka begitu melihat sinar pedang meluncur ke arah dadanya, dia pun menggerakkan Pedang Asmara di tangannya untuk menangkis sambil menggetarkan pedang untuk balas menyerang agar sutenya tidak terlalu mendesak.
Akan tetapi dia sama sekali tidak memperhitungkan kehebatan Pedang Asmara itu, pedang pusaka yang belum dia kenal kehebatannya.
"Cringgggg....!"
Pedang di tangan Giok Hin patah ketika bertemu dengan Pedang Asmara, dan saking tajam dan kuatnya pedang pusaka ini, ketika pedang Giok Hin patah, pedang pusaka itu masih meluncur dengan kecepatan kilat dan tahu-tahu pedang itu telah menusuk leher Phoa Giok Hin.
"Aughhhhh.....!"
Phoa Giok Hin berseru dan tubuhnya roboh terjengkang, lehernya tadi tertusuk Pedang Asmara dan dia pun kini rebah, memandang kepada Yeliu Cutay dengan sinar mata lemah dan mulut tersenyum!
Lalu terdengar suaranya, serak dan lirih.
"Suheng.. .. bahagiakanlah Lan-moi....."
Dan dia pun memejamkan matanya, lehernya terkulai.
"Sute... ah, apa yang kulakukan ini.....?"
Yeliu Cutay menjadi pucat sekali dan pedangnya terlepas dari tangannya, seolah-olah dia memegang seekor ular dan merasa jijik.
Pedang itu jatuh ke atas lantai, dekat tubuh Giok Hin yang sudah menjadi mayat.
"Suheng.....!"
Li Lan menjerit dan meloncat turun dari pembaringannya. Dalam keadaan masih setengah telanjang ia menubruk tubuh Giok Hin yang sudah menjadi mayat akan tetapi masih hangat.
"Suheng..... jangan tinggalkan aku.... Suheng, bukankah kita sudah bersumpah sehidup semati?"
Ia meratap dan menangis, sedangkan Yeliu Cutay hanya berdiri seperti telah berubah menjadi sebuah patung mati.
"Suheng, kau tunggu aku.....!"
Li Lan menyambar Pedang Asmara yang masih menggeletak dengan ujung berlepotan darah Giok Hin tadi, dan sebelum Yeliu Cutay mendapatkan kembali kesadarannya, gadis itu telah menusukkan pedang itu ke arah dadanya.
"Cappppp.. !"
Pedang itu menancap ke dada, menembus jantung dan Li Lan roboh menelungkup di atas mayat kekasihnya. Darahnya membanjir dan membasahi mayat Giok Hin.
"Sumoi.....! Ya Tuhan. apa yang telah kulakukan ini.....?"
Yeliu Cutay menjerit dan dia pun roboh tersungkur, pingsan di dekat mayat kedua orang adik seperguruannya.
Ketika dia siuman dari pingsannya, Yeliu Cutay mendapatkan dirinya menggeletak di atas pembaringan, dalam sebuah tenda lain.
Temucin dan tiga orang Kakek berada di tepi pembaringan.
Melihat pemuda itu siuman, Temucin berkata dengan suara halus.
"Taihiap, tenanglah..... engkau perlu mengaso dan engkau berada di bawah perawatan para tabib kepercayaanku....."
Yeliu Cutay teringat akan semua hal yang terjadi.
Dia terbelalak, teringat dia akan perbuatannya bersama Li Lan, betapa mereka seperti mabuk, menjadi hamba nafsu berahi sehingga mereka lupa akan Giok Hin!
Mereka berdua telah melakukan perjinaan yang paling hina dari apa yang dapat dia bayangkan.
Li Lan adalah sumoinya, dan tunangan sutenya!
Dan dia malah membunuh sutenya, walaupun tidak sengaja, dalam pembelaan dirinya sehingga sumoinya juga membunuh diri.
"Ahhhhh, tidak mungkin....., tidak mungkin..!"
Dia tidak percaya bahwa dia dapat melakukan perbuatan seperti itu! "Taihiap, engkau mendapatkan guncangan batin yang hebat, perlu beristirahat. Minumlah ini dan engkau akan tidur....."
Kata seorang di antara tiga, kakek yang duduk di situ, menyodorkan sebuah cawan terisi cairan putih.
Akan tetapi Yeliu Cutay bangkit duduk, kepalanya pening sekali sehingga memejamkan mata, akan tetapi dia memaksa diri membuka lagi kedua matanya dan bertanya kepada Temucin.
"Panglima, di mana..... di mana sute dan sumoi.....? Di mana jenazah mereka?". Temucin tersenyum.
"Taihiap, seorang gagah harus mampu menghadapi segala keadaan, betapa pahit sekalipun. Sute dan sumoimu telah kami rawat, kami kuburkan, tiga hari yang lalu. Engkau selama tiga hari dalam keadaan pingsan. Karena itu, sebaiknya engkau minum obat yang diberikan oleh tabib kami agar sembuh benar, baru kita bicara."
Yeliu Cutay terkejut.
Tiga hari dia pingsan!
Akan tetapi, jenazah sute dan sumoinya sudah diurus dengan baik.
Dia mengangguk, menerima sodoran cawan dan meminum isinya.
Tak lama kemudian dia pun pulas.
Temucin mengangguk-angguk senang, lalu meninggalkan tenda itu untuk kembali ke dalam tendanya sendiri.
Temucin melewati tenda ibunya dan dia pun memasuki tenda itu.
Ibunya sedang duduk seorang diri.
Para wanita muda pergi bekerja di luar perkemahan.
Holun, ibu Temucin, masih nampak sehat dan cantik walapun usianya sudah mendekati empat puluh tahun.
Sebagai ibu kandung kepala suku, tentu saja Holun terhormat dan mempunyai kedudukan penting, tidak diharuskan bekerja berat, bahkan dilayani.
Akan tetapi, Holun bukan seorang yang gila hormat dan malas.
Biarpun puteranya telah menjadi kepala suku, ia tetap bersikap sederhana, tidak mau bermalas-malasan.
Ketika Temucin masuk ke tenda itu, dia mendapatkan ibunya duduk sambil menjahit pakaian.
Melihat puteranya, Holun mempersilakannya duduk dan mereka duduk berhadapan.
Holun menghormati puteranya yang satu ini, maka ia pun menaruh jahitannya, menghentikan pekerjaannya dan memandang wajah puteranya dengan perasaan bangga.
Puteranya ini mirip benar dengan suaminya, bahkan agaknya dalam segala hal, puteranya ini tidak mau kalah oleh mendiang bapaknya.
Temucin lalu bercerita kepada ibunya tentang tiga orang tamunya.
"Cinta membuat mabuk, Ibu. Aku melihat bahwa Yeliu Cutay adalah seorang yang gagah perkasa, bijaksana dan pandai. Akan tetapi, di bawah pengaruh cinta, dia sampai hati untuk mengkhianati sutenya berjina dengan kekasih sutenya, yaitu sumoinya sendiri. Bahkan ketika sutenya mempergoki perbuatan mereka, dan kakak beradik seperguruan itu berkelahi. Yeliu Cutay sampai hati pula untuk membunuh sutenya. Melihat kekasihnya tewas, nona Li Lan membunuh diri. Sungguh mengherankan sekali, Yeliu Cutay kelihatan amat berduka dan menyesal, dan nona itu membunuh diri tanda bahwa dia mencinta Giok Hin, akan tetapi mengapa ia mau berjina dengan toa-suheng-nya? Apakah aku harus menghukum Yeliu Cutay, ibu? Dia orang jahat ataukah orang baik? Kalau dia orang jahat, bagaimana mungkin kelak dia menjadi pembantuku? Tentu akan membahayakan sekali."
Holun mendengarkan dengan penuh perhatian. Puteranya menceritakan dengan jelas peristiwa yang terjadi menimpa tiga orang tamunya itu.
"Kau bilang tadi bahwa mereka bermalam di dalam tendamu sendiri?"
Tanya wanita itu.
"Benar, Ibu. Untuk menghormati mereka yang telah membantuku, aku menyerahkan tendaku untuk tempat tinggal mereka sebagai tamu kehormatan."
"Dan pedangmu itu, Pedang Asmara itu, berada di dalam tendamu ketika semua itu terjadi?"
"Benar, Ibu. Bahkan, aneh sekali kematian Phoa Giok Hin dan Ciu Li Lan juga di ujung Pedang Asmara. Yeliu Cutay mempergunakan Pedang Asmara ketika melawan sutenya sehingga sutenja tewas, dan nona itu membunuh diri dengan Pedang Asmara pula."
Wanita itu mengerutkan alisnya dan mengangguk-angguk.
Terbayang olehnya peristiwa yang menimpa dirinya, ketika mendiang Galasing memasuki tendanya dan pria itu merayunya.
Ketika itu, pedang berada di dalam tendanya dan sungguh mengherankan, Juga mengerikan betapa ketika Galasing merayunya, la menerima rayuan itu bahkan membalasnya dengan gairah berahi yang berkobar!
Ia ingat benar akan hal itu.
Ketika ia minta agar Galasing membawanya keluar tenda karena di situ tidur pula para madunya dan anak-anak, dan Galasing membawanya ke luar, barulah setibanya di luar tenda, ia sadar dan tidak lagi dimabuk berahi, dan ia memberontak dan melawan!
Dan kini, peristiwa yang sama terjadi pula di dalam tendaputeranya,menimpa paratamu terhormat itu.
Seorang kakak seperguruan berjina dengan adik seperguruannya, padahal kakak itu seorang bijaksana dan tahu bahwa adiknya itu telah bertunangan dengan adik seperguruan yang lain.
Dan ketika peristiwa itu terjadi, Pedang Asmara juga berada di dalam tenda itu!
Kemudian ia melihat pula betapa puteranya menjadi lunak seperti seekor domba setelah memasuki tendanya, hidup berkasih-kasihan dengan isterinya, seolah-olah melupakan tugas-tugas terpenting kalau sudah tidur bersama isterinya.
Semua itu tentu juga karena pengaruh Pedang Asmara!
"Aihhhhh.....
semua karena pedang itu.....!"
"Apa maksud Ibu ?"
Tanya Temucin mendengar ibunya seperti bicara kepada diri sendiri.
"Pedang itu! Pedang Asmara! Pengaruh pedang itulah yang membuat kakak seperguruan dan (Lanjut ke
Jilid 04) Pedang Asmara (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 04 adiknya itu melukukan perjinahan.
Hawa pedang itu membuat mereka mabuk dan tidak sadar akan apa yang mereka lakukan, dan kini kembali pedang itu minum darah dua orang muda yang saling mencinta.
Bukankah dahulu pedang itu sudah pula minum darah mendiang Bailun dan Harkai?"
Temucin tertawa dan bangkit dari tempat duduknya.
Dia adalah seorang yang tidak mau menerima segala macam tahyul, bahkan tidak percaya dan tidak takut terhadap segala macam setan dan iblis seperti yang didongengkan orang-orang.
"Ha-ha-ha-ha-ha! Ibu, jangan bicarakan segala macam tahyul itu! Pedang itu memang sebuah pedang pusaka yang baik, akan tetapi mempengaruhi orang-orang bermain cinta? Ha ha-ha, tak masuk akal!"
Dan dia pun meninggalkan ibunya yang duduk termenung sambil berulang kali menarik napas panjang.
"Jelas.. .. pedang itulah..... kalau bukan karena pedang itu, tidak mungkin aku hampir saja melayani Galasing....."
Bisiknya perlahan kepada diri sendiri.
Temucin memasuki tendanya yang lebar.
Sunyi di dalam tenda, lsterinya juga tidak berada didalam, mungkin sibuk membantu para wanita lain mempersiapkan masakan.
Dia lalu menuju ke sudut tenda, mengambil Pedang Asmara yang tergantung.
Dicabutnya pedang itu.
Betapa indahnya.
Sinarnya gemilang.
Akan tetapi masih ada noda merah di ujungnya.
Darah itu telah mengering dan untuk membersihkannya harus dipergunakan kain dan minyak.
Dia menoleh ke arah pintu untuk berteriak memanggil pelayan yang mungkin berada di luar agar diambilkan kain dan minyak.
Akan tetapi mulutnya yang sudah terbuka itu tidak mengeluarkan suara dan tetap terbuka bersama matanya yang terbelalak!
ketika dia melihat seorang wanita di pintu tenda.
Agaknya wanita itu baru saja datang dan menyingkap pintu tenda.
Melihat Temucin seorang diri, wanita yang usianya kurung lebih dua puluh lima tahun itu tersipu malu, apalagi tidak terdapat seorung pun wanita di situ.
"Aih, maafkan hamba....., hamba mencari isteri Paduka....."
Kata wanita itu tersipu dan mukanya berubah kemerahan. Temucin terpesona. Wajah itu Nampak demikian cantiknya sehingga dia mengamatinya tak pernah berkedip.
"Masuklah. Engkau siapa dan mengapa mencari isteriku?"
Tanyanya sambil mempersilakan wanita itu masuk.
Wanita itu tidak berani membantah.
Biarpun malu malu, ia masuk dan atas isyarat tuan rumah, ia duduk pula di atas bangku, sikapnya malu-malu, dan sungkan.
"Saya..... Ogui..... isleri Barcan....., saya datang mencari isleri Paduka yang menjadi sahabat baik saya. Sebelum menikah dengan Paduka, Bortay telah menjadi sahabat saya....."
Temucin tersenyum, sambil menimang nimang pedang pusakanya di luar kesadarannya, dia pun menghampiri wanita itu.
"Ah, kiranya engkau isteri dari kepala kelompok Barcan yang belum lama ini menggabungkan diri? Pantas aku tidak pernah melihatmu, engkau.....namamu Ogui....? Engkau cantik sekali, Ogui....."
"Aihhh, Paduka main-main....."
Ogui tersenyum malu-malu, menundukkan mukanya, akan tetapi sepasang matanya melirik dari bawah.
Melihat ini, ada sesuatu tenaga yang mendorong Temucin untuk makin mendekat, lalu tiba tiba saja dia merangkul dan menarik wanita itu bangkit berdiri.
Dia mendekap daa menciuminya.
Sungguh luar biasa.
Wanita itu, biarpun dengan sikap malu-malu membalas belaian, pelukan dan ciumannya dengan penuh gairah!
Temucin lupa diri, lupa akan pedang pusaka di tangannya, lupa akan percakapannya dengan ibunya tadi.
Dia menarik Ogui ke pembaringan, melempar Pedang Asmara diatas pembaringan pula dan wanita itupun menjadi penurut sekali, penuh kemesraan, tidak kalah mesranya seperti kalau dia menggauli Bortay sendiri!
Temucin adalah seorang yang mempunyai jiwa kepemimpinan besar sekali mempunyai cita-cita yang besar.
Maka biarpun dia seperti terbuai dalam mimpi indah dan mabuk nafsu berahi, setelah semua itu terlewat, dia segera teringat akan kerugian yang dapat menimpa dirinya akibat dari hubungannya dengan isteri seorang kepala kelompok ini.
teringat akan cerita ibunya tadi, maka biarpun hatinya terasa berat, dia setengah memaksa Ogui mengenakan pakaiannya kembali dan setengah menyeret wanita itu keluar dari dalam tenda.
Setelah tiba di luar tenda, barulah dia menyadari sepenuhnya kebenaran cerita ibunya.
Setelah mereka tiba di luar tenda, dia sadar sepenuhnya dan merasa malu dan menyesal sekali atas peristiwa perjinaan tadi.
Bukan dia saja.
bahkan Ogui juga nampak terkejut lalu wanita itu menangis sejadi-jadinya!
Temucin adalah seorang yang amat cerdik.
Dia tahu bahwa tangis wanita ini akan menarik banyak perhatian dan kalau semua orang mendengar bahwa dia telah mengkhianati kepala kelompok yang telah bergabung kepadanya, akibatnya akan hebat dan berbahaya sekali bagi wibawanya.
Maka, tanpa banyak pikir lagi, dia mengambil keputusan tetap dan tangannya lalu bergerak menghantam ke arah tengkuk wanita itu.
"Desss.....!"
Tanpa dapat mengeluarkan suara lagi, Ogui roboh dan tewas seketika!
Setelah itu, barulah Temucin bertepuk tangan memanggil pengawal!
Beberapa orang perajurit pengawal berlarian datang dan mereka terkejut dan heran melihat mayat Ogui di depan kaki junjungan mereka.
Namun dengan tenang Temucin memberi keterangan bahwa Ogui telah berlaku tidak sopan dan mencobt merayunya sehingga dia menjadi marah dan membunuh wanita yang tidak setia kepada suaminya itu untuk memberi peringatan kepada semua wanita.
Dia memerintah mereka untuk memanggil Barcan pada saat itu juga.
Dua orang perajurit pergi melaksanakan perintah ini dan tak lama kemudian Barcan datang menghadap Temucin di dalam tendanya.
Begitu melihat Barcan datang, Temucin bangkit dan memegang kedua pundaknya "Barcan, apakah wanita yang bernama Ogui itu isterimu?"
Barcan memandang heran dan mengangguk.
"Benar sekali, Panglima."
"Hemmm, untung bahwa yang digodanya adalah aku, kalau pria lain, tentu namamu akan tercemar selama hidup. Isterimu mencoba untuk menggodaku ketika ia datang berkunjung ke sini. Mengingat bahwa perbuatannya itu merupakan suatu aib yang akan membuat namamu tercemar, aku menjadi marah sekali dan aku menghukumnya, membunuhnya seketika. Kalau engkau membutuhkan isteri lain, katakan, wanita mana yang kau suka dan aku akan meminangkannya untukmu, Barcan."
Wajah Barcan berubah pucat, lalu merah tiba-tiba dia pun menjatuhkan diri berlutut di depan Temucin.
"Terima kasih, Panglima! Sungguh tidak kunyana bahwa ia akan berbuat serendah itu dan hampir saja menodai nama baik hamba. Benarlah kata orang tua bahwa di balik kecantikan wanita tersembunyi ular beracun! Baiknya Paduka telah menghukumnya, kalau tidak, hamba sendiri yang akan membunuhnya seperti seekor anjing!"
Temucin menarik napas lega. Untung bahwa kecerdikannya membuat dia bertindak cepat tadi.
"Sudahlah, Barcan. Kurasa hal ini tidak perlu dibicarakan lagi. Kalau terdengar orang lain, setidaknya engkau masih akan menderita malu. Sebaiknya, rawat jenazah isterimu baik-baik."
Barcan pergi membawa jenazah islerinya, dan Temucin memanggil beberapa orang pengawalnya tadi, melarang mereka untuk menceritakan ketidaksetiaan Ogui kepada orang lain.
Setelah semua orang pergi, Temucin duduk termenung di dalam tendanya, Pedang Asmara di kedua tangannya.
Dia mengamati pedang itu dengan alis berkerut.
Pada saat itu, Bortay, isterinya, melangkah masuk.
Melihat suaminya duduk memegang Pedang Asmara, dengan sikap manja Bortay lalu mendekat, duduk di atas pangkuan suaminya, merangkul dan mencium dengan mesra.
Temucin merasa betapa semangatnya bangkit, gairahnya timbul dengan hebat.
Akan tetapi, tidak seperti biasa, dia menahan dirinya, bahkan dengan lembut mendorong Bortay turun, kemudian menyarungkan Pedang Asmara dengan sikap tenang sekali, bahkan agak dingin sehingga Bortay menjadi heran dan khawatir.
Suaminya ini biasanya amat mesra dan penuh gairah.
"Ada apakah suamiku? Mengapa engkau nampak..... gelisah dan duka?"
Ia merayu dan memandang dengan penuri kasih sayang.
Temucin menarik napas panjang.
Tanpa pengaruh pedang apa pun, isterinya memang sudah menggairahkan sekali apalagi dengan pengaruh Pedang Asmara.
Kini teringatlah dia betapa setiap kali berada di dalam tenda bersama Bortay dia mencurahkan seluruh waktu, perhatian dan tenaganya untuk bermain cinta dengan isterinya itu.
Bahkan seringkali dia tidak mengacuhkan urusan penting bahkan selalu menolak kunjungan kepala kelompok yang hendak menyampaikan sesuatu yang amat penting.
Tidak, ini harus berhenti!
Dia tidak boleh menjadi seperti boneka yang lemah begini, pikirnya.
"Tidak ada apa-apa, Bortay. Coba panggilkan pelayan, suruh siapkan air mandi yang hangat dan panggil pengawal ke sini. Ada urusan penting sekali."
Dengan pandang mata heran dan juga kecewa, Bortay mengangguk dan keluar dari dalam tenda.
Kemudian Bortay mendengar akan peristiwa terbunuhnya Ogui dari seorang pelayan yang tadi kebetulan, melihat peristiwa ketika Ogui dipukul mati oleh Temucin di luar tenda, dan Bortay tidak banyak bertanya lagi.
Tahulah ia bahwa sikap Temucin yang berubah itu karena terjadinya peristiwa itu.
Ia merasa heran sekali mengapa Ogui, sahabat baiknya, dibunuh Temucin.
Setelah pengawal datang, Temucin memerintahkan untuk memanggil Yeliu Cutay menghadap, kalau tamu itu sudah pulih kesehatannya.
Kemudian dia mandi sampai bersih, seolah-olah dia hendak mencuci semua pengaruh Pedang Asmara dari tubuh dan hatinya.
Peda keesokan harinya, Yeliu Cutay sudah merasa sehat kembali.
Obat-obat yang diberikan oleh para tabib itu memang manjur, Juga tekanan-tekanan dengan ibu jari pada jalan-jalan darah tertentu di tubuhnya, suatu ilmu pijat yang kuno dari Mongol, telah menyegarkan tubuhnya dan memulihkan semangatnya.
Panggilan Temucin disampaikan kepadanya dan dia pun bergegas pergi menghadap pemimpin muda itu di tendanya.
Semua orang lain, juga Bortay, disuruh keluar oleh Temucin yang ingin bicara empat mata saja dengan tamu yang dihormatinya itu.
"Yeliu Talhiap, ingin aku bertanya, Tahukah engkau apa yang menyebabkan terjadinya malapetaka yang menimpi dirimu dan dua orang saudara seperguruanmu?"
Sejenak Yeliu Cutay menantap wajah Temucin, alisnya berkerut karena dia mengira bahwa pemimpin suku Mongol itu hendak menghinanya, akaa.
tetapi melihat kejujuran keluar dari sinar mata itu, dia pun menundukan mukanya yang menjadi merah sekali dan dia meresa menyesal dan berduka.
"Paduka bertanya lagi sebabnya? Tiada lain karena aku telah melakukan perbuatan khianat yang amat keji, Panglima. Mungkin pada saat itu aku telah kemasukan roh jahat sehingga aku menjadi lupa dan melakukan perbuatan rendah itu. Paduka tentu sudah tahu, mengapa masih bertanya lagi?"
Temucin menggeleng kepalanya.
"Tidak, Talhiap. Sama sekali bukan karena engkau jahat dan berkhianat. Periksalah dirimu sendiri. Apakah engkau seorang laki-laki hamba nafsu berahi yang demikian buta sehingga dapat melakukan perbuatan rendah seperti Itu? Tidak, bukan? Nah, memang sesungguhnyalah bahwa pada saat itu, engkau telah dimasuki roh jahat, roh jahat yang keluar dari pedang ini."
Yeliu Cutay terkejut dan memandang pedang yang berada di tangan Temucin.
Temucin perlahan-lahan mencabut pedang itu dari sarungnya dan nampaklah cahaya terang.
Tiba-tiba Yeliu Cutay merasa betapa semua kedukaan dan penyesalan lenyap, terganti oleh gairah yang aneh.
"Pe..... pedang itu.....? Apa..... maksud Paduka?"
"Pedang pusaka ini adalah sebuah pusaka yang ampuh sekali, terbuat dari Batu Dewa Hijau atau juga terkenal sebagai Batu Asmara. Oleh karena itu, pedang ini kuberi nama Pedang Asmara. Khasiat pedang ini amat ampuh, bukan saja ampuh sebagal senjata, juga ampuh sebagal obat penolak segala macam racun. Akan tetapi, pedang ini juga menyebarkan pengaruh yang amat kuat untuk menjatuhkan hati setiap orang manusia terhadap lawan jenisnya."
"Ahhh.....! Sekarang aku teringat, Panglima. Ketika itu, aku..... aku memang sedang mengagumi pedang itu, kucabut dari sarungnya, dan su..... mendiang sumoi. ia datang menghampiri untuk ikut melihatnya. Aku sudah merasakan suatu ketidakwajaran dan berusaha untuk melarang ia mendekat, akan tetapi ia tetap mendekat dan menyentuh lenganku dan..... semua itu pun terjadilah! Ah, sekarang aku mengerti mengapa sumoi mau melakukan hal itu! Kiranya sumoi adalah seorang wanita yang suci, tetap ia suci dan bukan seorang penyeleweng ! Sungguh hal ini menggembirakan sekali, Panglima. Hatiku gembira karena mendapat kenyataan bahwa sumoi adalah seorang gadis yang setia kepada cintanya. Kalau ia melakukan hal terkutuk itu bersamaku, hal itu adalah karena pengaruh Pedang Asmara. Sungguh, kenyataan ini melegakan hatiku, dan tentu arwah sute Phoa Giok Hin akan dapat pula melihatnya sehingga dia akan dapat memaafkan perbuatanku dan sumoi."
Temucin mengangguk-angguk.
"Engkau gembira karena kenyataan bahwa engkau melakukan hal itu karena pengaruh Pedang Asmara, bukan karena engkau telah berubah menjadi seorang lemah dan hamba nafsu, bukankah begitu, Taihiap?"
Yeliu Cutay terkejut dan cepat memberi hormat.
"Paduka memang bijaksana dan waspada. Memang demikianlah, Panglima, di samping kegembiraan hatiku melihat sumoi bukan seorang penyeleweng."
"Kalau aku tidak menyadari hal itu, apakah kiranya engkau akan dapat lolos dari sini tanpa hukuman? Yeliu Taihiap, sekarang aku hendak menghadiahkan Pedang Asmara ini kepadamu!"
Yeliu Cutay terkejut bukan main, memandang kepada pemimpin itu dengan mata terbelalak.
"Akan tetapi, pusaka itu milik Paduka....."
Temucin tersenyum dan menggeleng kepala.
"Pusaka ini sama sekali tidak cocok untukku, Yeliu Taihiap. Seorang pemimpin haruslah memiliki hati yang keras membaja, semangat yang berkobar kobar. Pedang ini dapat membuat aku menjadi seorang pria yang lemah, menjadi hamba nafsu berahi saja. Tidak, Pedang ini tidak cocok dengan watakku yang penuh semangat dan keras membaja, watak seorang panglima sejati. Engkaulah yang harus berusaha menundukkannya, Taihiap. Usahakanlah agar pengaruh jahat yang disebarkan pedang ini dapat ditundukkan, setidaknya agar jangan sampai mendatangkan malapetaka kepada orang-orang yang saling mencintai seperti yang terjadi pada sute dan sumoimu, juga kepada pasangan-pasangan lain yang pernah menjadi korban pengaruh pedang ini. Nah, terimalah. Kuberikan kepadamu karena aku mengagumimu, menghormatimu dan mengharapkan engkau kelak menjadi seorang pembantuku yang setia."
Tentu saja Yeliu Cutay menjadi gembira bukan main.
Dia mengenal pedang pusaka ampuh.
Biarpun pedang itu mempunyai pengaruh yang luar biasa terhadap pria dan wanita, namun harus diakuinya bahwa pedang pusaka itu ampuh dan jarang bandingnya di dunia ini.
Dan pedang pusaka seampuh itu diberikan begitu saja sebagai hadiah oleh panglima Mongol itu kepadanya.
Dia diampuni, tidak dihukum atas perbuatannya yang mengakibatkan matinya sute dan sumoinya, terjadi di dalam tenda Temucin, bahkan diberi hadiah pedang pusaka.
Tentu saja Yeliu Cutay merasa gembira dan berterima kasih sekali.
Dia berlutut di depan Temucin dan menerima pedang pusaka itu.
"Saya menghaturkan terima kasih atas budi kemuliaan Paduka dan saya berjanji, kalau memang berjodoh seperti yang diramalkan perbintangan, kelak saya akan menghambakan diri kepada Paduka dan berjanji akan menjadi seorang pembantu yang setia!"
Temucin tersenyum gembira sekali.
Memang itulah yang dikehendakinya.
Pedang itu, biarpun merupakan pusaka ampuh, tidak akan mampu membantunya mencapai cita-citanya yang besar, bahkan akan merugikan sekali karena akan menyeret dia menjadi seorang hamba nafsu berahi saja.
Pedang itu mempunyai hawa pengaruh membuat dia menjadi lemah, walaupun pedang itu juga mengandung khasiat melumpuhkan kekerasan hati orang lain seperti pernah dialaminya!
ketika dia mengunjungi para kepala kelompok.
Dengan pedang itu di tubuhnya, para kepala kelompok seperti kehilangan sikap bermusuhan mereka, sebaliknya menjadi ramah dan mau bersahabat.
Akan tetapi, dia mengharapkan bantuan Yeliu Cutay kelak, dan kini dia menanamkan kesan mendalam berupa budi kebaikan yang tentu tidak akan dilupakan seorang!
yang gagah seperti Yeliu Cutay!
Setelah menerima perjamuan perpisahan, Yeliu Cutay lalu berpamit dan meninggalkan perkampungan Temucin untuk kembali ke selatan.
Pedang Asmara itu tergantung di pinggangnya, tertutup jubah luarnya, dan bekal pakaiannya digendongnya di atas punggung.
Dia kini menunggang seekor kuda yang besar dan kuat, Jauh berbeda dari kuda yang menjadi tunggangannya ketika dia tiba di tempat itu bersama kedua saudara seperguruan.
Kuda pemberian Temucin Ini merupakan kuda pilihan yang baik sekali.
Yeliu Cutay adalah seorang bersuku bangsa Liau-tung, suku bangsa yang tinggal di perbatasan utara di dekat Tembok Besar.
Suku bangsa Liau-tung ini merupakan suku bangsa yang terkenal pandai bercocok tanam, juga menjadi pemburu-pemburu yang pandai.
Akan tetapi, sejak lama, bangsa atau suku Liau-tung ini telah tunduk di bawah kekuasaan bangsa atau suku Khitan.
Kerajaan Khitan menguasai sebagian besar daerah Mancuria Selatan, Hopeh dan daerah Timur Laut dan merupakan Kerajaan yang cukup kuat dan berpengaruh sekali.
Berkali-kali pasukan Kerajaan Sung yang ketika itu menguasai Tiongkok bentrok dengan pasukan Khitan dan pasukan Sung mengalami kekalahan.
Bahkan kekuasaan Khitan sedemikian hebatnya sampai pernah terjadi Kaisar Kerajaan Sung mengirim upeti kepada Kerajaan Khitan!
Akan tetapi, pada permulaan abad ke dua belas, terjadilah perubahan besar.
Di antara suku-suku bangsa yang ditundukkan oleh bangsa Khitan terdapat suku bangsa Yu-cen yang berasal dari sebelah tara Propinsi Shansi.
Selelah mencapai kekuasaan besar, bangsa Khitan mabuk kemenangan dan setiap hari hanya bersenang senang saja, menghabiskan upeti yang dikirim oleh Kaisar Kerajaan Sung.
Kesempatan ini dipergunakan oleh suku bangsa Yu-cen yang sakit hati, dan bersekutu dengan Kerajaan Sung, untuk melakukan serangan besar-besaran terhadap bangsa Khitan yang hidupnya hanya bersenang-senang itu.
Padahal ketika sedang memperbesar dan memperkuat kedudukannya, bangsa Khitan terkenal sebagal bangsa yang besar, golongan Nomad yang gagah perkasa dan pandai berkelahi.Suku Yu-cen menyerang dari utara, dan Kerajaan Sung mengerahkan pasukannya menyerang dari selatan.
Pasukan Khitan terhimpit dari utara dan selatan.
Hancurlah pasukan Khitan yang mengakhiri kekuasaan bangsa Khitan!
Kini yang bangkit adalah suku bangsa Yu-cen yang kemudian mendirikan wangsa baru, yaitu Wangsa Cin!
Demikianlah, kini Wangsa Cin memegang kekuasaan di sebelah utara sampai di Tembok Besar.
Setelah suku bangsa Yu-cen mendirikan Kerajaan Cin, bagi Kerajaan Sung bahkan amat merugikan.
Ternyata suku bangsa Yu-cen adalah suku yang amat keras dan bengis.
Kerajaan Cin bukan saja menuntut upeti dari Kerajaan Sung untuk menjamin persahabatan agar pasukan Cin tidak menyerang ke selatan, juga Kerajaan Cin memandang rendah bangsa Han di selatan.
Mereka ini jauh lebih serakah dibandingkan bangan Khitan yang sudah hancur.
Bangsa Khitan masih bersahabat dengan orang-orang selatan yang menyebut diri mereka sebagai suku bangsa Han, asalkan pemerintah Khitan menerima upeti tanda persahabatan.
Akan tetapi, Kerajaan Cin terus memperbesar dan memperluas wilayah mereka dengan serbuan-serbuan ke selatan, terang-terangan merampas banyak wilayah yang tadinya menjadi daerah kekuasaan Kerajaan Sung.
Ketika Yeliu Cutay dan dua orang adik seperguruannya mencari pengalaman ke utara, di luar Tembok Besar, Kerajaan Cin sedang jaya-jayanya.
Kerajaan ini maju pesat setelah pada tahun 1127, suku Yu-cen ini melakukan penyerbuan besar-besaran ke selatan.
Tentara yang besar jumlahnya, dan rata-rata memiliki keberanian dan kepandaian yang hebat itu menyerbu dan menghancurkan setiap perlawanan pasukan Sung.
Penyerbuan itu berhasil masuk ke kota raja.
Kaisar Sung dan keluarganya ditangkap dan dibuang, kota raja diduduki dan Kerajaan Cin di pindahkan ke istana-istana di kota raja yang ketika itu bernama Yen-cing (sekarang Peking).
Sisa keluarga Kaisar Sung yang dapat melarikan diri, lari ke selatan.
Pasukan Cin terus mengejar sampai ke sebelan utara Sungai Yang-ce dan wilayah dari utara sampai ke tepi Sungai Yang-ce-ini terjatuh ke dalam kekuasaan Kerajaan Cin!
Seorang saudara kaisar kemudian mengangkat diri menjadi Kaisar Sung Kao Cung dan berdirilah Kerajaan Sung Selatan (Lam Sung), sedangkan Kerajaan Sung yang sudah jatuh itu dinamakan Sung Utara.
Demikianlah, puluhan tahun telah lewat dan Kerajaan Cin menjadi besar.
Yeliu Cutay adalah keturunan orangorang penting dari suku Liau-tung.
Semenjak kakek buyutnya, keluarga Yeliu ini mengabdi kepada Kerajaan Cin yang telah merampas tahta Kerajaan dari tangan suku Khitan di mana suku Liau-tung termasuk, Nenek moyang Yeliu Cutay memegang jabatan penting dalam pemerintahan Kerajaan Cin karena mereka memang merupakan orang-orang pandai.
Bahkan ayah Yeliu Cutay sendiri adalah seorang pembesar tinggi yang mengurus bagian perpustakaan Kerajaan.
Yeliu Cutay adalah anak tunggal dari Yeliu Koan, pejabat tinggi bagian perpustakaan itu.
Sejak kecil, Yeliu Cutay sudah menerima pelajaran kesusastraan dari ayahnya.
Sejak kecil dia suka sekali membaca kitab-kitab lama sehingga dia mengenal sejarah.
Hatinya tergerak ketika dia membaca sejarah suka bangsanya yang dulu terkenal sebagai pemburu-pemburu yang gagah berani dan pandai.
Oleh karena itu, dia pun minta kepada ayahnya agar supaya di samping Ilmu kesusastraan, dia pun diperbolehkan belajar ilmu silat.
Ayahnya tidak melarang dan sejak kecil, Yeliu Cutay lalu mulai belajar ilmu silat.
Dia berangkat remaja sebagai seorang ahli sastra dan silat.
Setelah dia berusia dua puluh tahun dia masih belum puas dengan segala ilmu yang telah dipelajari.
Dia pamit dari ayahnya untuk merantau dan mencari ilmu yang dapat dipakai sebagai bekal menghambakan diri kepada kerajaan sebagai seorang yang berguna.
Akhirnya dia bertemu dengan seorang tosu tua yang sakti.
Tosu ini adalah seorang pertapa di Pegunungan Thaisan, berjuluk Pek Bi Tojin (Pendeta Alis Putih).
Tosu itu baru saja menerima dua orang anak-anak menjadi muridnya, seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan yang baru berusia belasan tahun.
Anak laki-laki itu adalah Phoa Giok Hin dan anak perempuan itu Ciu Li Lan.
Mereka lalu menjadi sute dan sumoi dari Yeliu Cutay ketika mereka bertiga menjadi murid Pek Bi Tojin.
Karena Yeliu Cutay telah memiliki kepandaian yang lumayan tingginya, maka dia dianggap sebagai yang tertua dan pandai.
Selain ilmu silat, Pek Bi Tojin juga seorang sastrawan yang pandai dan dia memiliki ilmu perbintangan.
Yeliu Cutay segera tertarik akan ilmu perbintangan ini karena dia melihat bahwa ilmu ini dapat menjadi bekal baik sekali untuk memperoleh kedudukan tinggi, karena ilmu ini amat berguna bagi kerajaan.
Dia lalu mempelajari ilmu ini di samping ilmu silat.
Phoa Giok Hin lebih tertarik akan sejarah yang dibacanya dari buku buku Pek Bi Tojin.
Setelan Pek Bi Tojin yang usianya sudah amat tua itu meninggal dunia, mereka bertiga lalu bersepakat untuk mengadakan perjalanan ke utara, ke luar Tembok Besar untuk meluaskan pengalaman mereka dan secara kebetulan mereka berjumpa dengan Temucin.
Peristiwa yang terjadi ketika menjadi tamu Temucin, yang mengakibatkan kematian sute dan sumoinya, sungguh membuat hati Yeliu Cutay berduka sekali.
Dia meresa bertanggung jawab atas kematian mereka walaupun semua itu terjadi di luar kesadarannya.
Dia tidak memperkosa Li Lan.
Hubungan mereka itu, biarpun tidak wajar, terjadi karena keinginan kedua pihak yang terbuai oleh nafsu berahi yang dikobarkan karena pengaruh Pedang Asmara.Dan dia tidak sengaja membunuh Giok Hin.
Dia hanya, membela diri, tak disangkanya bahwa Pedang Asmara demikian ampuhnya sehingga sutenya itu tewas tanpa dia mampu mencegahnya lagi.
Dan Li Lan membunuh diri juga bukan atas kehendaknya.
Semua sudah digariskan oleh Tangan Tuhan.
Penyesalan tidak ada gunanya, demikian dia menghibur diri sendiri ketika dia membalapkan kudanya meninggalkan daerah liar di utara itu untuk kembali ke selatan.Bagaimanapun juga, kini hatinya merasa gembira sekali mengingat betapa Temucin telah menghadiahkan sebuah pedang pusaka yang ampuh dan luar biasa kepadanya.
Pedang Asmara!
Akan tetapi jantungnya berdebar penuh ketegangan ketika dia teringat akan khasiat lain dari pedang itu, pengaruh yang amat berbahaya karena pedang itu dapat melumpuhkan, daya tahan seseorang akan rangsangan nafsu berahi!
Dia harus dapat melawan pengaruh itu!
Dia harus mampu mengalahkan dan menundukkan pedang pusaka itu yang mempunyai daya sedemikian anehnya terhadap orang yang berada di dekatnya, baik wanita maupun pria.
Dia merasa yakin benar akan kekuatan pedang itu, karena dia sendiri sudah merasakannya.
Dia bukan seorang pria mata keranjang, bukan seorang pria pengejar kesenangan melalui sex.
Dan dia tahu pula bahwa dalam bati Li Lan sama sekali tidak pernah ada perasaan cinta seorang wanita terhadap pria kepada dirinya melainkan kasih sayang seorang saudara seperguruan yang menganggap dia sudah seperti pengganti guru dan orang tua.
Namun, pengaruh pedang itu telah memabukkan mereka berdua sehingga terjadilah hubungan yang amat mesra itu.
Pada waktu itu, Yeliu Cutay telah berusia dua puluh lima tahun dan selama hidupnya, belum pernah dia jatuh cinta.
Pengalamannya dengan wanita hanya satu kali saja, yaitu dengan Li Lan!
Sebelum itu, belum pernah dia berdekatan dengan wanita, belum pernah pula jatuh cinta.
Padahal, Yeliu Cutay adalah seorang pemuda yang cukup tampan, dengan tubuh yang tinggi dan sikap halus lembut seperti umumnya seorang yang terpelajar.
Baginya, tidak ada waktu untuk bermain cinta, bahkan tidak ada selera untuk mendekati dan bergaul dengan wanita.
Akan tetapi kini, berulang kali kemesraan yang pernah dicicipinya bersama Li Lan terbayang di depan matanya dan sungguhpun dia sudah berusaha keras mengusirnya, tetap saja kenangan itu muncul kembali.
Betapa hangat dan mesranya, betapa indah dan nikmatnya.
Yeliu Cutay adalah seorang yang cerdik dan dia menduga bahwa semua kenangan mesra ini demikian sering muncul tentu karena pengaruh Pedang Asmara.
Yeliu Cutay melakukan perjalanan yang cepat.
Kudanya memang merupakan kuda pilihan yang sudah biasa melakukan perjalanan jauh sehingga dalam sehari saja dia mampu melakukan perjalanan sampai puluhan li jauhnya tanpa berhenti.
Yeliu Cutay baru berhenti kalau matahari sudah condong ke barat dan dia mencari tempat bermalam seadanya saja.
Kadang-kadang dia tidur di dalam goa batu, ada kalanya dia terpaksa tidur di dalam pohon besar karena di tempat itu banyak terdapat binatang liar yang dapat menyerangnya selagi dia tidur di bawah pohon.
Bahkan beberapa kali di waktu malam terpaksa dia bangun dan melindungi kudanya dari gangguan binatan buas.
Akhirnya, setelah melakukan perjalanan beberapa pekan lamanya, tanpa banyak halangan tibalah dia di sebuah dusun di sebelah dalam Tembok Besar.
Sebuah dusun pertama dari luar daerah gurun yang dikuasai para suku liar.
Daerah pertama dari tempat yang ditinggal orangorang "beradab", daerah kekuasaa Kerajaan Cin.
Dusun itu cukup besar dan ramai karena di situ menjadi pusat perdagangan jual beli atau tukar menukar antara orang-orang yang datang dari sebelah dalam Tembok Besar dengan mereka yang datang dari luar.
Kulit-kulit dan bulu binatang, tanduk-tanduk dan daging kering, ditukar dengan rempah-rempah dan kain sutera atau bermacam alat-alat dari dunia "beradab"
Yang dibutuhkan oleh suku yang disebut masih liar Karena perdagangan ini, dusun itu menjadi maju dan ramai, dan di situ terdapat banyak sekali orang dan pendatang dari luar dusun, dengan bermacam-macam suku bangsa.
Tempat yang menjadi ramai dengan perdagangan tentu didatangi banyak orang dan di mana terdapat orang-orang berduit, tentu di situ terdapat pula tempat-tempat hiburan di mana orang dapat bersenang-senang dan menghamburkan uangnya.
Dan kalau sudah begitu, berdatanganlah orangorang jahat yang suka mencari uang mudah, dengan membuka tempat hiburan, penipuan bahkan tekanan dan paksaan kepada para tamu.
Bermunculanlah rumah-rumah makan yang dilayani oleh wanita-wanita cantik, rumah-rumah penginapan yang merangkap menjadi tempat pelacuran, rumah-rumah judi dan banyak tempat pelesir lainnya.
Dusun Pak-hong-cun menjadi besar dan ramai, seperti kota saja keadaannya.
Ketika Yeliu Cutay tiba di dusun ini, dia menjadi heran dan kagum.
Dia pernah ke tempat ini lima enam tahun yang lalu, dan .ketika itu, keadaan dusun ini masih belum seramai ini.
Ketika dia bersama sute dan sumoinya melakukan perjalanan ke utara, mereka tidak melalui dusun ini, karena mereka langsung dari puncak Thai-san pergi ke utara menyeberang Tembok Besar.
Yeliu Cutay menjalankan kudanya perlahan-lahan dan dia mencari sebuah rumah penginapan.
Hari sudah sore dan dia kini ingin bermalam di dusun yang ramai ini.
Ketika berangkat, di atas sela yang berada di punggung kuda pemberian Temucin, dia menemukan sebuah kantung kecil yang terisi penuh potongan emas.
Dia tahu bahwa memang sengaja Temucin menaruh emas sekantung itu di sana dan tidak memberikan langsung kepadanya karena kalau langsung diberikan, dia tentu akan menolak.
Dia berterima kasih sekali atas kebaikan Temucin, tidak tahu bahwa itu memang merupakan siasat cerdik dari Temucin yang membuktikan jiwa kepimpinannya karena dia dapat menalukkan hati orang-orang pandai yang akan berguna baginya.
Seperti juga pemberian pedang pusaka itu, maka pemberian emas itu pun untuk "mengikat"
Yeliu Cutay, menanamkan "budi"
Sehingga Temucin boleh mengharapkan kelak Yeliu Cutay akan membalas budinya itu dengan menghambakan diri kepadanya.
Dengan adanya emas di dalam kantung itu, Yeliu Cutay berani mencari kamar di sebuah penginapan terbesar di dusun itu.
Setelah menemukan sebuah rumah penginapan yang cukup besar, dia turun dari kudanya dan menambatkan kudanya di depan rumah penginapan.
Ketika dia turun, dia melihat seorang laki-laki muka hitam memandang ke arah kudanya dengan penuh kagum.
Mata orang itu terbelalak dan diam-diam Yeliu Cutay merasa tidak enak.
Pandang mata orang itu demikian mencurigakan, maka dia pun lalu menurunkan buntalan pakaiannya dan menggendongnya sehingga di atas sela kuda tidak ada lagi barang yang dapat dicuri orang.
Kemudian dia memasuki ruangan depan rumah penginapan itu untuk memesan sebuah kamar.
Setelah memperoleh sebuah kamar, dia berkata kepada pengurus dan pelayan.
"Harap suka merawat kudaku di luar itu, membawanya ke kandang. Biaya perawatannya boleh disatukan dengan uang sewa kamar besok."
Akan tetapi pada saat itu tiba-tiba terdengar bunyi suara kuda meringkik disusul teriakan beberapa orang.
"Maling kuda.....! Maling kuda.....!"
Dengan beberapa langkah lebar, Yeliu Cutay telah berada di luar dan dia melihat bahwa kudanya yang hendak dicuri!
Pencurinya adalah si muka hitam yang dilihatnya tadi.
Dua orang menghampiri dan agaknya hendak menangkap si mukai hitam, akan tetapi beberapa kali tendangan dan tamparan membuat dua orang itu terjengkang dan si pencuri kuda sudah hendak meloncat ke atas punggung kuda yang dicurinya.
"Heiii! Hendak kaubawa ke mana kudaku itu?"
Bentak Yeliu Cutay dan dia sudah meloncat ke dekat si pencuri kuda yang tidak jadi naik ke punggung kuda melihat pemilik kuda sudah berada di situ.
Dicabutnya sebatang golok dari punggungnya dan dia mengancam Yeliu Cutay dengan golok itu.
"Mundur kau! Relakan kudamu, aku butuh kuda ini!"
Setelah berkata demikian, dengan golok masih di tangan kanan dan kendali kuda di tangan kiri, orang itu meloncat ke atas punggung kuda.
Gerakannya gesit dan loncatannya ringan sekali.
Akan tetapi, Yeliu Cutay sudah meloncat dekat dan tangannya menyambar ke arah pinggang orang itu.
"Hei, Sobat! Tunggu dulu! Aku pun membutuhkan kudaku itu!"
Tanpa dapat dicegah lagi tubuh orang itu terpelanting dan jatuh dari atas kuda.
Yeliu Cutay tidak ingin melukai orang itu.
Dari sikap orang itu yang tadi mengancamnya, tidak langsung menyerang, dia pun tahu bahwa orang itu tidaklah sejahat yang disangkanya.
Mungkin seorang biasa yang benar membutuhkan kuda, dan agaknya bukan seorang penjahat ulung.
Golok itu hanya untuk mengancam saja tadi.
Akan tetapi, karena orang itu terpelanting dan terbanting keras, dia menjad marah.
Ketika tubuhnya terbanting, dia dapat bergulingan dan kini dia sudah meloncat berdiri lagi dengan golok di tangan.
Mukanya yang hitam itu nampak lebih hitam lagi dan sepasang matanya mencorong ketika memandang kepada Yeliu Cutay.
"Engkau sudah bosan hidup"
Bentaknya dan kini dia menyerang dengan goloknya.
Akan tetapi Yeliu Cutay sudah siap siaga.
Biarpun orang itu dapat bergerak cepat dan sigap, dan agaknya mengerti ilmu silat, namun masih jauh kalau dibandingkan dengan Yeliu Cutay.
Dengan tenang saja Yeliu Cutay mengelak ke kiri dan ketika golbk orang itu menyambar dari atas ke bawah lewat di samping tubuhnya, cepat sekali tangannya menyambar dan sekali ketuk saja dengan tangan miring mengenai pergelangan tangan orang itu, goloknya terlepas dan orang itu meringis kesakitan.
Akan.
tetapi, dengan nekat pencuri kuda itu menyerang lagi dengan kedua tangan mencengkeram ke arah Yeliu Cutay yang menangkis lalu tangan kirinya menampar ke arah pipi orang itu.
"Plakkkkk!"
Orang itu terpelanting keras dan Yeliu Cutay melihat ke arah telapak tangannya yang berubah hitam!
Ternyata orang itu menutupi mukanya dengan hangus atau bahan penghitam lain!
Pada saat itu, semua orang yang tadi berkumpul dan nonton di situ, sudah berloncatan maju untuk memukuli si pencuri kuda.
Di tempat itu, seorang pencuri kuda dianggap orang yang sejahat-jahatnya.
Tidak ada kejahatan yang dipandang lebih hina dan kotor daripada mencuri kuda.
Perbuatan ini dianggap hina dan kejam karena bagi semua orang di daerah itu, kuda merupakan suatu kebutuhan yang mutlak, bahkan merupakan nyawa ke dua.
Orang yang melakukan perjalanan di daerah tandus, dalam jarak yang amat jauh, kadang-kadang ratusan li tidak bertemu manusia, kalau sampai kehilangan kuda dapat berarti orang itu akan mati dalam penderitaan yang hebat, kelelahan, kelaparan dan mati sedikit demi sedikit.
Belasan orang sudah mengepung dan siap memukuli si pencuri kuda sampai mati.
Si pencuri kuda kini kehilangan kegalakannya.
Tamparan pada pipinya yang dilakukan Yeliu Cutay tadi, biarpun tidak mendatangkan luka parah namun membuat kepalanya pening dan dia hanya rebah dengan kepala rasanya berpusing.
Dia tahu bahaya maut mengancam dirinya, akan tetapi dia hanya dapat terbelalak memandang kepada orang-orang yang mengepung dirinya.
Melihat sikap semua orang itu, Yeliu Cutay merasa kasihan kepada laki-laki muda muka hitam yang terancam maut.
Dia tahu bahwa laki-laki itu masih muda sekali.
Bahwa mukanya hitam buatan, bahwa sebagai seorang penjahat apalagi seorang pencuri kuda, orang itu sungguh canggung dan tidak layak kalau sampai dibiarkan mati di bawah pengeroyokan orang-orang itu.
"Tunggu.....!"
Teriaknya sambil maju ke depan.
"Jangan pukuli dia!"
Semua orang, menoleh kepada Yeli Cutay dan memandang dengan heran. Seorang laki-laki gendut setengah tua, bertanya dengan suara mengandung penasaran.
"Dia pencuri kuda! Dia hendak mencuri kudamu dan engkau malah melindungi dia?"
Yeliu Cutay maklum bahwa sukar untuk meredakan kemarahan mereka, kecuali dengan suatu akal.
Dia dapat mengorbankan kuda itu, karena bukankah dia mempunyai banyak emas sehingga mudah saja baginya untuk membeli seekor kuda lain.
"Tidak!"
Katanya tegas.
"Dia bukan pencuri kuda. Dia tadi hendak meminjam kudaku, akan tetapi kutolak. Sekarang aku ingin meminjamkan kudaku itu kepadanya, harap Cu-wi (anda sekalian) jangan mencampuri urusan kami dan melepaskan dia!"
Semua orang tentu saja saling pandang dan merekapun mengundurkan diri, masih melepaskan pandang mata penuh kecurigaan dan keheranan kepada Yeliu Cutay dan pencuri kuda itu.
Akan tetapi Yeliu Cutay mengambil tindakan cepat.
Dia menuntun kudanya dan menghampiri pencuri kuda yang sudah bangkit berdiri dengan bingung.
"Nah, kaupakailah kuda ini dan jangan kembalikan sebelum kebutuhanmu tercukupi dan urusanmu selesai. Tunggangilah dan pergilah dengan cepat dari sini."
Pencuri kuda itu terbelalak, heran dan juga terkejut, nampak bingung sekali.
Akan tetapi Yeliu Cutay tersenyum dan kelihatan wajar dan tidak berpura-pura, maka dia pun mengangguk, lalu meloncati ke atas punggung kuda dan melarikan kuda itu dengan cepat pergi dari situ diikuti pandang mata Yeliu Cutay dari orang-orang yang tadi hendak mengeroyok si pencuri kuda.
Untuk menghindarkan perhatian orang, dengan tenang Yeliu Cutay lalu masuk ke dalam rumah penginapan, memasuki kamar yang disewanya.
Setelah membersihkan tubuhnya, malam itu Yeliu Cutay yang merasa lapar pergi ke sebuah rumah makan yang memasang lampunya dengan terang sehingga menarik sekali.
Bau sedap menyambutnya di depan rumah makan, membuat perutnya terasa semakin lapar.
Dia meninggalkan buntalan pakaiannya di dalam kamar hotel, dan membawa kantung emas dan pedang yang disembunyikan di bawah jubahnya.
Yeliu Cutay memasuki rumah makan itu.
Biasanya, kalau dia memasuki rumah makan, yang menyambutnya dan mempersilakan duduk adalah pelayan-pelayan yang ramah.
Akan tetapi sekali ini lain.
Dia melihat betapa di rumah makan itu terdapat kurang lebih sepuluh orang wanita muda yang rata-rata cantik, dan bersikap genit.
Ketika itu, di dalam restoran sudah ada banyak tamu dan para wanita yang agaknya menjadi pelayan itu melayani para tamu dengan sikap yang hangat menarik.
Akan tetapi aneh, begitu Yeliu Cutay melangkah masuk, lima orang wanita sudah bangkit berdiri meninggalkan para tamu dan menyambutnya dengan senyum manis dan pandang mata memikat sekali!
"Selamat malam, Kongcu....."
"Silakan duduk di meja sudut sana, Kongcu....."
"Kongcu hendak minum apakah? Akan saya sediakan dengan cepat."
"Dan masakan apa yang Kongcu pesan? Di sini, masakan le-hi (semacam ikan kali) amat lezat, Kongcu."
Mereka itu beramai-ramai menyambut dengan kata-kata yang merdu seperti bernyanyi, dan mereka itu seperti hendak berlumba untuk menarik perhatian Yeliu Cutay.
Pemuda ini, walaupun usianya sudah dua puluh lima tahun, namun tidak pernah bergaul dengan wanita, maka kini dikepung lima orang wanita cantik yang genit-genit, Yeliu Cutay menjadi bingung dan mukanya berubah merah sekali.
Apalagi ketika semua orang yang berada dalam restoran itu menoleh dan memandang kepadanya, dia menjadi serba salah.
"Terima kasih...... beri makanan kepadaku apa saja untuk mengenyangkan perutku yang lapar dan tinggalkanlah aku sendiri saja, aku tidak suka ramai-ramai....."
Akan tetapi, jawaban ini tidak membuat mereka mundur, bahkan dengan sikap ramah dan genit, mereka menggandeng Yeliu Cutay dan menuntunnya ke aran meja kosong di sudut.
Yeliu Cutay duduk di atas kursi dan mereka berlima duduk di kursi lain yang mengelilingi meja itu.
Lalu terjadi saling dorong siapa yang harus pergi ke dapur menyampaikan pesan Yeliu Cutay.
Akhirnya dua orang di antara mereka mengalah dan pergi ke dapur.
Tiga orang wanita lainnya duduk merapat, menarik bangku mereka dekat sekali dengan pemuda itu, bahkan lutut-lutut dan paha mereka bertemu dengan lutut Yeliu Cutay di bawah meja!
Sikap mereka demikian mesra dan sama sekali tidak tahu malu, sebaliknya Yeliu Cutay yang menjadi bingung dan mukanya menjadi semakin merah.
Yang membuat pemuda ini menjadi semakin gugup adalah karena kini tiba-tiba perasaan tidak suka dan rikuh di hatinya lenyap, terganti rasa suka sekali dan dia merasa betapa gairah mulai bernyala di dalam tubuhnya!
Betapa timbul dorongan yang amat kuat untukdia membalas senyuman mereka, membalas rayuan mereka dan kaki tangannya seperti terdorong untuk membalas sentuhan-sentuhan genit mereka!
Tiba-tiba dia memejamkan kedua matanya dan kedua alisnya berkerut.
Pemuda ini teringat akan pengaruh hebat dari Pedang Asmara yang tersembunyi di bawah jubahnya.
Tahulah dia bahwa keadaannya terhadap tiga orang wanita itu tidak wajar sama sekali, bukan timbul karena wataknya, melainkan karena dorongan pengaruh mujijat dari Pedang Asmara.
Dia mengerahkan kekuatan batinnya untuk membebaskan diri dari pengaruh yang amat kuat itu, dan perlahan-lahan tubuhnya mulai keluar dari pengaruh luar biasa itu.
Pada saat itu, terdengar jerit tertahan di depannya.
Dia membuka kedua matanya dan melihat betapa seorang diantara tiga orang wanita yang tadi duduk di dekatnya, kini telah berdiri dan ialah yang mengeluarkan suara jerit lirih itu, jerit kesakitan dan ketakutan.
Seorang laki-laki tinggi besar yang berpakaian mewah berdiri di dekatnya dan pria ini memegang pergelangan tangan kiri wanita itu dengan wajah membayangkan kemarahan.
"Perempuan keparat kau!"
Bentak laki-laki itu sambil mengguncang-guncang tubuh wanita berbaju hijau Itu.
"Engkau sudah kupesan untuk melayani kami, apakah kurang aku memberi hadiah kepadamu? Apa yang dimiliki pemuda ini yang tidak ada padaku? Tampan sekali dia tidak! Kaya raya pun tidak! Perempuan busuk, engkau berani menghinaku, ya?"
"Aduuuhhhhh..... lepaskan..... lepaskan tanganku, Ji-loya....."
Perempuan itu menjerit kesakitan.
"Huh! Membeli nyawamu pun aku mampu, apalagi membeli tubuhmu, perempuan lacur!"
Laki-laki itu menariknya.
"Engkau harus melayani kami sampai kami merasa bosan dan mengusirmu, tahu?"
Yeliu Cutay marah sekali.
Dia sendiri tidak suka kepada para wanita genit ini.
Walaupun dia kurang pengalaman, dia pun dapat menduga perempuan macam apa yang menjadi pelayan-pelayan restoran ini.
Tentu semacam perempuan pengerat, perayu untuk mencari uang sebanyaknya dan semudahnya.
Akan tetapi, melihat pelacur itu disakiti, dia menjadi marah.
Bagaimanapun Juga, wanita itu adalah orang lemah yang tidak selayaknya diperlakukan kasar.
"Sobat, sungguh tidak patut seorang pria menghina dan memaksakan kehendaknya terhadap seorang wanita. Lepaskan dia!"
Berkata demikian, Yeliu Cutay menggerakkan tangannya menotok ke arah siku tangan yang mencengkeram dan menyeret pergelangan tangan wanita itu.
"Aduh.....!"
Orang tinggi besar itu melepaskan cengkeraman tangannya karena seketika tangannya terasa lumpuh dan nyeri.
Wanita itu terhuyung ketika terlepas dari cengkeraman dan ia memijit-mijit pergelangan tangan yang tadi dicengkeram karena nyeri rasanya.
Laki-laki itu marah sekali.
Dia sudah terlalu banyak minum arak dan dalam keadaan setengah mabuk dia memandang Yeliu Cutay dengan mata melotot.
"Jahanam busuk! Kau..... kau berani merampas pelacur itu dariku?"
Berkata demikian, dia lalu melayangkan tinjunya menghantam ke arah dada Yeliu Cutay.
Pemuda ini miringkan tubuh dan menangkap pergelangan tangan yang memukul itu.
Orang itu berusaha melepaskan tangannya dan meronta, namun sia-sia belaka karena tangannya seperti terhimpit jepitan baja.
"Tenanglah, Sobat. Tidak ada yang merampas pelayan itu. Kau lihat sendiri bahwa ia yang menyambutku, bukan aku yang mengajaknya. Sekarang pun kau boleh minta kepadanya untuk melayanimu, akan tetapi dengan sikap hormat dan tidak menyakitinya. Hayo kau minta maaf padanya dan minta dengan hormat agar ia melayanimu kembali."
Orang itu menjadi semakin marah. Dia menengok dan berseru kepada dua orang kawannya yang tadi duduk semeja dengannya.
"Kalian bantu aku menghajar anjing busuk ini!"
Mendengar ucapan ini, panaslah rasa perut Yeliu Cutay.
Orang ini tidak tahu diri, pikirnya, orang kasar yang suka mempergunakan kekerasan terhadap orang lain, orang yang berwatak sewenang-wenang.
Orang seperti ini sekali waktu perlu dihajar biar kapok.
Melihat dua orang itu sudah bangkit berdiri, bahkan keduanya sudah mencabut golok dan lari menghampiri, Yeliu Cutay lalu memegang tengkuk orang tinggi besar itu, mengangkatnya dan begitu dua orang itu menyerbu, dia sudah memutar tubuh si tinggi besar, lalu melemparkannya ke arah dua orang temannya itu.
"Bressss! Bruk-bruuukkk.....! "
Tiga orang itu jatuh bangun, terbanting keras pada meja dan kursi dan jatuh tunggang langgang saling timpa.
Yeliu Cutay tidak memperhatikan mereka lagi, melainkan duduk kembali karena pada waktu itu, dua orang wanita yang tadi mengambilkan makanan pesanannya telah datang kembali.
Dengan sikap manis lima orang wanita itu lalu mempersilakan dia makan minum!
"Terima kasih, kalian baik sekali.
Akan tetapi aku tidak biasa makan ditemani orang lain.
Pergilah dan terimalah sedikit hadiah ini!"
Berkata demikian, dia mengeluarkan kantung dari dalam saku bajunya.
Tadi dia sudah menukarkan sepotong emas dengan potongan-potongan perak yang lebih kecil, dan kini dia menghadiahkan lima orang wanita itu masing-masing sepotong perak!
Mereka terbelalak dan menjerit kecil karena girang.
Belum pernah mereka menerima, hadiah sebanyak itu, dan mereka pun merasa amat tertarik kepada pemuda ini bukan mengharapkan hadiah, melainkan karena pemuda itu mempunyai daya tarik yang luar biasa besarnya, yang membuat mereka berlima itu seketika jatuh hati!
Biarpun mereka sudah menerima hadiah dan disuruh pergi oleh Yeliu Cutay, namun lima orang gadis pelayan itu enggan untuk pergi meninggalkannya, dan mereka masih berdiri di dekat meja itul sambil memandang kepada pemuda yang kini mulai makan minum itu dengan pandang mata manis.
Bahkan kini, satu demi satu para wanita pelayan di situ berdatangan, mendekati ke meja Yeliu Cutay, meninggalkan para tamu lainnya yang tentu saja menjadi marah-marah.
Sikap sepuluh orang wanita pelayan itu sungguh membuat semua tamu penasaran.
Di antara para tamu terdapat pemuda-pemuda yang kaya raya dan dalam hal ketampanan tidak kalah oleh Yeliu Cutay akan tetapi kenapa para wanita itu seperti segerombolan kumbang yang tertarik oleh sebatang kembang yang mempunyai daya tarik istimewa?
Apanya sih yang menarik pada diri pemuda yang kini makan minum tanpa mempedulikan para wanita itu?
Memang tampan, akan tetapi tidak terlalu istimewa.
Dan pakaiannya bahkan sederhana, tidak seperti pakaian pemuda kaya raya.
Bahkan sikapnya terhadap para wanita itu demikian acuh.
Selagi Yeliu Cutay makan dengan asyiknya, tanpa mempedulikan lima orang wanita itu, juga mengacuhkan pandangan semua tamu, tiba-tiba muncul seorang laki-laki tinggi kurus yang mukanya kuning.
Melihat munculnya orang ini, para tamu menjadi tegang.
Inilah Ui-bin-houw (Harimau Muka Kuning), pemilik restoran itu, juga pemilik rumah-rumah perjudian dan dia terkenal sebagai seorang yang memiliki ilmu silat yang lihai, juga amat ditakuti orang karena dia terkenal sebagai seorang jagoan di dusun itu!
Kiranya, para tamu yang dihajar oleh Yeliu Cutay tadi telah lari melapor dan memprotes kepada pemilik restoran ini.
Ui-bin-houw yang tidak ingin kehilangan langganan, mendengar laporan bahwa di restorannya ada seorang tamu asing yang membikin ribut, segera datang ke tempat itu, membawa pedangnya yang diselipkan di pinggang.
Melihat lima orang gadis pelayan berdiri dekat meja di mana seorang pemuda sedang makan minum, dan ada lima orang gadis pelayan lain mulai mendekati meja itu dengan sikap genit mereka, hati Ui-bin-houw menjadi panas sekali.
Memang laporan tadi mengatakan bahwa pemuda asing yang membikin ribut itu memonopoli semua gadis pelayan di restoran itu, mengandalkan kepandaian silatnya!
Dia merasa ditantang.
"Hah kalian anjing-anjing betina! Aku membayar kalian untuk melayani para tamu, bukan untuk bergerombol di sini dan hanya melayani satu orang saja! Tidak ada seorangpun manusia di sini yang boleh memonopoli gadis-gadisku!"
Berkata demikian Ui-bin-houw menggerakkan sebatang cambuk yang sejak tadi memang dibawanya ke tempat itu.
Ui-bin-houw jarang menggunakan pukulan atau pedangnya.
Dia terkenal pandai bermain cambuk.
Cambuk panjang hitam itu amat berbahaya.
Sudah banyak lawan yang berani menentang Ul-bin-houw, dibuat tidak berdaya oleh cambuk ini yang dapat merampas segala macam senjata dari tangan lawan.
Cambuk itu panjangnya ada dua meter, berwarna hitam dan bentuknya seperti cambuk para penggembala ternak di utara.
"Tar-tar-tarrrrr!"
Cambuk itu meledak-ledak di atas kepala para wanita itu yang menjadi panik dan ketakutan.
Jerit-jerlt kecil mulai terdengar ketika ujung cambuk itu melecut kulit-kulit halus itu.
Kulit-kulit itu menjadi merah membiru, ada pula yang lecet berdarah dan para gadis pelayan itu menjadi semakin panik.
"Hayo kembali ke tempat kalian masing-masing, di meja tamu, kalian anjing-anjing betina! Atau aku akan mencambuki kalian sampai mampus!"
Gadis-gadis pelayan itu berlarian ketakutan.
kembali ke meja yang tadi mereka tinggalkan.
Sementara itu, Yeliu Cutay melanjutkan makan minum tanpa menghiraukan peristiwa itu.
Bukan urusannya, pikirnya.
Para gadis pelayan itu bukan orang baik-baik.
Mereka adalah pelacur-pelacur terselubung, dan kalau mereka menerima hukuman dari majikan mereka, itu adalah urusan antara mereka dan majikan mereka.
Dia tidak akan mencampuri urusan itu.
Setelah semua gadis pelayan pergi, Yeliu Cutay menyelesaikan makannya dan baru saja dia menurunkan cawan berisi air teh yang diminumnya, tiba-tiba ada suara meledak dan ujung cambuk melecut dan meledak di depan mukanya.
Yeliu Cutay tenang-tenang saja, lalu menoleh ke arah orang yang melecutkan cambuknya itu.
Dia melihat seorang laki-laki tinggi kurus bermuka kuning, usianya sekitar empat puluh tahun dan sikapnya congkak sekali.
"Sobat, apa maksudmu main-main dengan cambuk di depanku?"
Tanya Yeliu Cutay.
dengan tenang, masih duduk di atas kursinya, hanya menggerakkan tubuh mundur sehingga kursi itu pun bergeser mundur menjauhi meja.
Ui-bin-houw merasa lebih penting membela para tamu lamanya daripada tamu baru yang asing ini.
Mereka yang tadi melapor kepadanya, yang katanya telah dipukuli oleh tamu baru itu, adalah langganan-langganan lama yang royal.
Jauh lebih baik kehilangan tamu baru yang asing ini daripada para langganan lama itu, dan pula, sikap pemuda asing ini menjagoi di restorannya merupakan pukulan bagi nama besarnya.
"Orang muda sombong. Jangan mencoba, untuk menjadi jagoan di restoranku! Engkau belum mengenal Ui-bin-houw!"
"Hemmm, siapa yang ingin menjadi jagoan? Aku masuk ke sini untuk membeli makanan dan para gadis itu datang melayaniku tanpa kuminta, kemudian ada di antara para tamumu yang marah dan menyerangku. Aku hanya membela diri! Soal restoran ini milik Harimau Muka Kuning atau Iblis Muka Pucat, aku tidak peduli. Aku makan minum dan akan membayarnya!"
"Ha, kau akan membayarnya! Tentu saja engkau harus membayarnya, akan tetapi engkau belum membayar!"
Ui-bin-houw berseru, menahan kemarahannya karena pemuda itu mengejek julukannya dengan menyebut Iblis Muka Pucat.
"Hemmm, tentu saja akan kubayar. Nah, hitung saja berapa harga makanan dan minuman ini? Akan kubayar sekarang juga!"
Kata Yeliu Cutay sambil bangkit berdiri.
"Bagus, harga makanan minuman itu harus dibayar dengan lima kali cambukan pada muka! Hayo, orang muda, angkat mukamu dan bayar! Aku akan mencambuk mukamu lima kali, baru engkau boleh pergi dari sini !"
Sepasang alis Yeliu Cutay berkerut dan matanya mencorong marah.
"Ui-bin-houw, Jangan engkau bicara sembarangan dan bersikap seperti ini! Jangan sampai julukanmu nanti menjadi Hek-bin-houw (Harimau Muka Hitam)!"
Ucapan Yeliu Cutay ini menambah kemarahan Ui-bin-houw dan dia sudah menggerakkan cambuknya ke udara.
"Tarrr.....!"
Cambuk itu menyambar ke arah muka Yeliu Cutay, akan tetapi dengan mudah saja Yeliu Cutay mengelak sehingga cambuk itu menyambar lewat di atas kepalanya.
Melihat betapa pemuda itu dapat mengelakkan lecutan pertama, Ui-bin-nouw menjadi marah dan penasaran.
Dia menyerang lagi, kini dengan kekuatan lebih besar dan dengan cepat sekali cambuk itu menyambar ke arah muka Yeliu Cutay lagi.
Pemuda ini juga sudah marah.
Orang macam si muka kuning ini harus dihajar, pikirnya, kalau tidak, tentu akan merajalela dan hanya akan mengganggu orang-orang lain yang lemah dengan kekerasan, mengandalkan kepandaiannya.
"Tarrrrr.....!!"
Cambuk itu melecut dengan kuatnya ke arah muka Yeliu Cutay.
Akan tetapi dengan sikap tenang sekali, namun cepat bagaikan kilat menyambar, tangan pemuda itu telah bergerak ke atas menyambut sinar cambuk dan di lain detik, ujung cambuk itu telah dapat ditangkapnya.
Ui-bin-houw terkejut, berusaha untuk menarik cambuk yang tertangkap ujungnya dan pada saat itu, selagi lawan menggunakan tenaga besar untuk menarik cambuknya, Yeliu Cutay melepaskan ujung cambuk dibarengi gentakan tangan.
Ujung cambuk itu dengan kerasnya menyambar kembali ke arah pemiliknya.
"Tarrrrr.....1"
Muka Ui-bin-houw sendiri yang kena lecutan cambuk sehingga nampak garis melintang di mukanya garis yang merah kebiruan!
Pada saat dia terkejut dan melangkah mundur, Yeliu Cutay sudah melangkah maju dan tangan kanan kirinya bergerak cepat ke depan.
"Plakkk! Plakkkkk!!"
Muka Ui-bin-houw kena ditampar kanan kiri dan muka yang berkulit kuning itu kini benar-benar telah berubah biru menghitam dan agak bengkak!
"Nah, engkau menjadi Hek-bin-houw sekarang, harap saja pelajaran ini membuat engkau jera untuk bertindak sewenang-wenang kepada orang lain!"
Kata Yeliu Cutay.
Para tamu yang menonton perkelahian itu, memandang dengan mata terbelalak.
Mereka tidak percaya melihat betapa dalam satu dua gebrakan saja, Ui-bin-houw telah dikalahkan, bahkan mukanya yang kuning benar-benar berubah hitam oleh tamparan pemuda itu.
"Uang harga makanan dan minuman sudah kubayar pada mukamu, sekarang aku akan pergi!"
Kata Yeliu Cutay dan dengan cepat dia meloncat keluar dari restoran itu, lalu menuju ke rumah penginapan.
Dia tahu bahwa dia telah membuat ribut dan tidak enak sekali kalau dia harus tinggal bermalam di dusun itu.
Tentu akan ada bahaya mengancam dan dia tidak akan dapat tidur nyenyak karena harus waspada selalu.
Maka, dia pun membayar kepada pengurus hotel, kemudian membawa buntelannya, pergi meninggalkan dusun itu.
Sementara itu, Ui-bin-houw, tadi terkejut bukan main.
Seperti para tamu yang hadir di situ, dia pun tidak percaya bahwa dia dapat dipecundangi sedemikian mudahnya oleh pemuda itu.
Diam-diam dia merasa jerih pula, dan kepalanya masih pening ketika pemuda itu meninggalkan restoran.
Akan tetapi setelah pemuda itu pergi, pening kepalanya hilang dan Ui-bin-houw menyadari bahwa kekalahannya tadi disaksikan banyak orang.
Celaka, pikirnya, nama besarnya akan rusak.
Dicabutnya pedangnya diputar-putar di atas kepala dan dia berteriak-teriak.
"Di mana dia? Mana anjing keparat itu? Akan kubunuh dia!!"
Para tamu yang khawatir melihat kemarahan Ui-bin-houw, lalu menjauhkan diri, khawatir terkena sambaran pedang, dan seorang tamu berseru.
"Dia berlari Keluar!"
Mendengar seruan ini, dengan sikap garang Ui-bin-houw berteriak.
"Jangan lari, keparat! Akan kucari dia dan kubunuh!"
Dan dia meloncat keluar dan tak lama kemudian, Ui-bin-houw mengajak empat orang anak buahnya menunggang kuda untuk melakukan pengejaran setelah didengarnya dari pengurus hotel banwa pemuda yung dicarinya telah pergi dari dusun itu.
Terpaksa Yeliu Cutay bermalam di dalam sebuah kuil rusak di puncak sebuah bukit diluar dusun itu.
Masih lumayan bermalam di kuil rusak ini daripada di luar yang dingin, pikirnya, walaupun tempat itu kotor dan berbau tidak enak.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi dia sudah meninggalkan kuil rusak itu, berjalan kaki menuju ke selatan.
Sayang terjadi keributan di restoran itu pikirnya.
Kalau tidak, tentu dia tidak perlu tergesa-gesa meninggalkan dusun itu dan dia dapat membeli seekor kuda sebagai pengganti kuda yang telah dia berikan kepada pemuda yang sengaja menutupi muka dengan warna hitam dan yang berusaha mencuri kudanya itu.
Kini dia harus berjalan kaki.
Akan tetapi mengapa pula tergesa-gesa?
Dia melakukan perjalanan seenaknya.
Setelah kini melewati Tembok Besar, dia seringkah melewati dusun dan kota, tidak seperti ketika melakukan perjalanan di luar Tembok Besar.
(Lanjut ke
Jilid 05) Pedang Asmara (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 05 Belum jauh dia meninggalkun bukit di mana terdapat kuil tua itu, tiba-tiba dia mendengar derap kaki kuda dari belakang.
Dia menoleh dan melihat lima orang menunggang kuda membalap dan debu mengepul di belakang mereka.
Yeliu Cutay menepi dan menanti sampai lima orang penunggang kuda itu lewat.
Akan tetapi setelah dekat dia mengenal penunggang kuda terdepan adalah Ui bin houw!
Muka orang itu masih agak menghitam, bekas tamparannya semalam.
Yeliu Cutay bersiap siaga karena munculnya Ui-bin-houw ini menimbulkan persangkaan buruk.
Tentu orang itu mengejarnya, pikirnya.
Dugaannya memang benar.
Begitu melihat pemuda itu, Ui-bin-houw berseru keras, menyuruh orang-orangnya berhenti dan dia sendiri menghentikan kudanya di depan Yeliu Cutay, lalu meloncat turun dan mencabut pedangnya.
Empat orang pembantunya juga berloncatan turun mencabut pedang dan menambatkan lima ekor kuda mereka pada batang pohon.
"Ah, kiranya Hek-bin-houw yang datang mengejarku!"
Kata Yeliu Cutay, mengejek karena dia mendongkol sekali melihat orang ini begitu tidak tahu diri dan agaknya sengaja mengejarnya bersama empat orang lain dan melihat betapa mereka semua mencabut pedang, mudah diduga bahwa mereka itu mengejarnya dengan niat yang buruk.
Ui-bin-houw melotot dengan marah.
Dia tahu bahwa mukanya memang masih biru menghitam akibat tamparan pemuda itu, maka ejekan itu tentu saja membuat perutnya terasa panas.
"Orang muda sombong, beritahukan namamu sebelum pedangku mengirim nyawamu ke neraka! Aku harus tahu lebih dulu nama orang yang akan mati di tanganku!"
Yeliu Cutay tersenyum mengejek.
"Namaku Yeliu Cutay dan aku seorang pengembara yang kebetulan lewat di dusun tadi....."
"Aha! Kiranya hanya seorang suku Liau-tung, suku taklukan?"
Ui-bin houw berseru, mengejek.
"Kalau begitu, membunuhmu tidak ada urusannya dan tidak perlu seorang suku Liau-tung memperkenalkan namanya. Namanya tidak ada artinya!"
Mendengar penghinaan atas suku bangsanya itu, wajah Yeliu Cutay menjadi merah.
Memang bangsanya, suku Liau-tung, adalah suku yang kecil.
Tadinya suku Liau-tung seperti lenyap, di telan suku Khitan, kemudian ketika bangsa Khitan dikalahkan oleh orang Yu-cen yang membangun Kerajaan Cin, maka dengan sendirinya suku Liau-tung semakin tidak ada artinya lagi.
"Ui-bin-houw! Semua suku dan bangsa hanyalah sekumpulan manusia, dan antara manusia tidak ada bedanya! Yang beda hanyalah watak pribadi masing-masing manusia, dan watak seperti watakmu itu adalah watak manusia jahat, tidak peduli suku apa yang kau miliki. Engkau dan teman temanmu ini mengejarku apakah hendak menyerahkan seekor kuda? Kebetulan sekali, aku memang membutuhknn kedua tunggangan. Terima kasih atas kebaikanmu, Ui-bin-houw!"
Dalam kemarahannya, Yeliu Cutay masih dapat mengejek karena baru saja muncul dalam pikirannya bahwa dia membutuhkan kuda dan orang-orang jahat ini menunggang kuda yang baik.
Mereka ini perlu dihajar, dan alangkah baiknya kalau dia mengambil seekor di antara kuda mereka yang terbaik agar perjalanannya tidak terlalu melelahkan.
Bukan karena dia iugin menjadi pencuri atau perampas kuda, melainkan sekedar untuk memberi hajaran kepada mereka yang jahat ini.
Ui-bin-houw yang sudah marah sekali, kini sudah menggerakkan pedangnya, diikuti oleh empat orang pembantunya dan Yeliu Cutay telah dikepung dan diserang dari segala jurusan oleh mereka.
Pedang mereka berkilauan dan berkelebatan, tertimpa matahari pagi.
Yeliu Cutay bergerak cepat, meloncat ke kanan kiri, kadang-kadang melambung ke atas untuk menghindarkan bacokan-bacokan dan tusukan-tusukan mereka.
Gerakan pemuda ini memang gesit sekali, dan dia memang memiliki tingkat kepandaian silat yang, jauh lebih tinggi dibandingkan lima orang lawannya.
Maka biarpun lima orang itu mengepung dan mengeroyok, menggerakkan pedang di tangan mereka dengan ganas, tetap saja ujung pedang mereka tidak mampu menyentuh tubuh Yeliu Cutay.
Bahkan menyentuh ujung bajunya saja tidak mampu.
Biarpun Yeliu Cutay tidak gentar menghadapi pedang mereka hanya dengan tangan kosong saja, namun dia ingin sekali menguji keampuhan Pedang Asmara.
Maka, begitu tangan kanannya bergerak, dia telah mencabut pedang itu dan nampaklah sinar terang ketika sinar matahari pagi yang lembut menyentuh mata pedang, dan dengan gerakan halus, Yeliu Cutay menggerakkan Pedang Asmara untuk menangkis lima betang pedang yang menyerangnya dari berbagai jurusan itu.
Terdengar suara berdencing keras berturut-turut disusul teriakan-teriakan kaget dan ternyata lima batang pedang ditangan Ui-bin-houw dan empat orang pembantunya itu telah patah-patah ketika bertemu dengan Pedang Asmara!
Yeliu Cutay yang tidak bermaksud membunuh mereka, tidak mau mengotorkan pedang dengan darah mereka.
Dia hanya mengelebatkan pedangnya dengan kecepatan kilat.
Pedang Asmara lenyap bentuknya, berubah menjadi gulungan sinar terang yang menyambar-nyambar dan menyelimuti tubuh lima orang itu yang kini berdiri gemetaran saking takutnya.
Kini, nampaklah berhamburan pakaian mereka!
Ternyata pakaian mereka itu telah disayat-sayat pedang, terbang berhamburan sehingga dalam waktu sebentar saja, lima orang itu telah menjadi panik dan bingung karena mereka berdiri telanjang!
Yeliu Cutay menyusulkan tendangan-tendangan kakinya yang membuat mereka jatuh berpelantingan.
Yeliu Cutay tertawa lirih, hatinya girang bukan main melihat kehebatan Pedang Asmara.
Belum pernah selama hidupnya dia melihat ketajaman pedang sehebat itu!
Kiranya, di samping pengaruhnya yang amat buruk dan berbahaya, yaitu dapat mengobarkan kegairahan nafsu berahi seseorang, pedang ini pun merupakan pedang pusaka yang amat ampuh!
Timbul rasa sayangnya kepada pedang itu dan setelah menyimpan kembali Pedang Asmara, dia pun lalu meninggalkan lima orang yang sudah telanjang bulat dan masih rebah oleh tendangan-tendangannya tadi dan tidak berani segera bangkit itu.
Kemudian dia memilih seekor kuda terbaik di antara kuda kuda mereka, dan meloncat ke atas punggung kuda lalu membalapkan kudanya ke selatan.
Baru kurang lebih tiga puluh li jauhnya dia meninggalkan tempat itu, melalui padang rumput setelah menuruni gunung tandus, tiba-tiba dari arah kiri muncul belasan orang yang kesemuanya menunggang kuda yang tinggi besar dan kuat.
Dari jauh saja sudah nampak belasan orang itu tidak bermaksud baik, karena mereka telah memutar-mutar dan mengacung-acungkan golok mereka di atas kepala sambil berteriak-teriak.
Jelaslah bahwa mereka itu adalah segerombolan perampok.
Apakah mereka masih kawan-kawan dari pemilik rumah makan berjuluk Ui-bin-houw yang ditelanjanginya tadi dan kini mereka mengejar untuk membalas dendam?
Agaknya bukan, mengingat bahwa mereka datang dari kiri, dari arah timur dan pula, dia sudah melakukan perjalanan terlalu jauh untuk dapat disusul begitu saja.
Melihat betapa kudanya yang belum beristirahat itu telah letih dan bahwa melarikan diri pun akan dapat disusul, Yeliu Cutay lalu menghentikan kudanya, bahkan dia meloncat turun dari atas punggung kuda, membiarkan kudanya makan rumput dan dia malah menyambut kedatangan rombongan berkuda itu, agak jauh dari kudanya agar binatang itu tidak kaget dan lari ketakutan kalau terjadi keributan.
Melihat orang berkuda yang mereka kejar itu berhenti dan melompat turun dari atas kuda, kini bahkan menyambut mereka dengan sikap tenang, nampaknya tak bersenjata, tiga belas orang itu terbelalak, akan tetapi pimpinan mereka, seorang laki-laki berpakaian hitam yang pendek gemuk dengan perut besar sekali, memberi aba-aba dan mereka pun sudah tiba di situ lalu langsung mengurung Yeliu Cutay sambil tetap menunggang kuda mereka.
Beberapa ekor kuda mendengus-dengus dan meringkik ringkik, dan sikap tiga belas orang itu menyeramkan dan mengancam.
Namun, Yeliu Cutay tetap bersikap tenang saja, dan dia pun memperhatikan mereka.
Pimpinan mereka, yang barpakaian serba hitam, memang cukup berwibawa walaupun tubuhnya pendek gendut.
Matanya tajam bersinar, wajahnya bengis dan golok yang tergantung di pinggangnya itu amat lebar dan panjang, lebih dari separuh panjang tubuhnya, sepatunya dilapisi besi dan kuda yang ditungganginya amat gagah, paling baik diantara semua kuda tunggangan anak buahnya.
Dua belas orang anak buahnya itu berpakaian macam-macam, dan sikap mereka itu kasar dan buas, kesemuanya telah mencabut golok dan sikap mereka mengancam sekali.
Yeliu Cutay menghadapi pemimpinan gendut itu dan membungkuk sebagai tanda salam, lalu berkata.
"Kalau tidak salah, di antara kita tidak pernah saling bertemu atau berkenalan. Oleh karena itu, aku merasa heran dan tidak mengerti mengapa Cu-wi (Anda sekalian) mengejarku? Ada keperluan apakah?"
Pada anggauta gerombolan itu hanya menyeringai saja, akan tetapi si gendut pakaian hitam mengamati Yeliu Cutay dengan pandang mata tajam penuh selidik, kemudian dia berkata.
"Orang muda, kami pun tidak ingin mengganggumu, akan tetapi semua barang yang kau bawa itu harus diserahkan kepada kami. Kuda itu boleh kaubawa pergi!"
Yeliu Cutay diam-diam terkejut.
Demikian tajamkah penglihatan kepala gerombolan ini sehingga dapat mengetahui bahwa dia memiliki emas dan pedang yang amat berharga?
"Aku adalah seorang kelana yang miskin, tidak memiliki barang berharga kecuali yang menempel pada tubuhku.
Apakah yang dapat kuberikan kepada kalian?"
Si gendut tertawa sehingga perutnya yang gendut besar itu bergoyang-goyang di atas punggung kuda.
"Ha-ha-ha, orang muda. Tidak perlu mengclabuhi kami, karena kami bukanlah anak-anak kemarin sore yang masih hijau. Kami tahu bahwa setiap orang yang telah berani melakukan perjalanan jauh melintasi Tembok Besar dan gurun luas, sudah pasti membawa bekal yang amat berharga. Sudah, tidak perlu banyak cakap lagi. Buka semua pakaianmu dan perlihatkan apa yang kaubawa itu!"
Yeliu Cutay mengerutkan alisnya.
Kiranya kepala gerombolan ini bukan telah tahu bahwa dia membawa emas dan pedang, melainkan menduga saja bahwa sebagai seorang yang melakukan perjalanan jauh, tentu dia membawa barang berharga.
Tentu saja dia tidak mau membuka pakaiannya, apalagi dia tidak ingin menyerahkan barang-barangnya, terutama Pedang Asmara.
"Kuharap kalian tidak mengganggu aku, karena sesungguhnya aku tidak ingin bermusuhan dengan kalian atau siapapun juga!"
Katanya, ucapannya halus namun nadanya mengingatkan.
"Eh, dia hendak melawan! Anak-anak, hajar saja orang ini!"
Bentak si gendut dengan marah.
Dua orang anggauta perampok berloncatan dari atas kuda mereka dan melihat gerakan mereka, tahulah Yeliu Cutay bahwa mereka ini bukan perampok sembarangan dan tidak dapat disamakan dengan Ui-bin-houw dan kawan-kawannya tadi.
Dua orang itu sudah menggerakkan golok mereka dan serangan mereka sungguh ganas dan dahsyat!
Sinar golok yang lebar menyambar, yang satu membabat leher, yang ke dua membabat pinggang!
Dan gerakan golok itu kuat bukan main, mengeluarkan angin berdesing dan sinarnya menyilaukun mata.
Yeliu Cutay cepat melompat ke belakang, membiarkan dua batang golok itu lewat dan secepat kilat, kakinya melayang dan mengenai perut seorang penyerang.
"Bukkk!"
Orang itu terjengkang dan terbanting, akan tetapi hanya sebentar saja dia menyeringai kesakitan, lalu bangkit kembali dengan muka merah saking marahnya.
Ini saja menunjukkan bahwa orang itu memang bertubuh kuat.
Dan melihat kehebatan Yeliu Cutay, kini ada dua orang anak buah perampok lainnya yang berloncatan turun, mengikuti si perut gendut yang juga sudah lebih dulu meloncat turun.
"Eh-heh-heh, bagus sekali! Kiranya engkau memiliki sedikit kepandaian maka berani menentang kami, heh?"
Si gendut itu berseru dan tiba-tiba saja goloknya sudah membuat gulungan sinar berkeredepan yang menyambar-nyambar ke arah kepala Yeliu Cutay.
Cepat sekali gerakannya, bahkan tidak nampak kapan dia mencabut golok yang lebar dan panjang itu, tahu-tahu dia sudah memainkan golok itu dan menyerang kalang kabut!
Yeliu Cutay mengenal orang lihai.
Dia pun kembali meloncat ke belakang dan di lain saat, nampak sinar menyambar dan tahu-tahu pedang pusaka itu telah berada di tangannya.
Pedang Asmara!
Melihat pedang itu, si perut gendut berseru nyaring.
"Aha! Kiranya memiliki pedang yang bagus! Berikan pedang itu kepadaku!"
Berkata demikian, si gendut itu sudah menyerang lagi dengan golok besar di tengahnya, dan empat orang anak buahnya sudah pula membantu dengan serangan dari kanan kiri dan belakang.
Yeliu Cutay maklum bahwa dia berhadapan dengan orang-orang yang berhati kejam, yang tidak akan berkedip untuk membunuhnya dan merampas pedangnya.
Maka, dia pun cepat memutar pedangnya untuk melindungi tubuh.
Terdengar suara nyaring dan empat batang golok dari anak buah perampok itu patah-patah.
Hanya golok di tangan kepala perampok itu yang tidak patah-patah, melainkan hanya rompal bagian ujungnya.
Hal ini menunjukkan bahwa golok besar di tangan kepala perampok itu bukan senjata biasa, melainkan sebuah pusaka pula, akan tetapi juga membuktikan keampuhan Pedang Asmara.
Kepala perampok yang gendut itu mengeluarkan teriakan keras saking marah dan kagetnya, akan tetapi juga diam-diam dia girang melihat betapa pedang di tangan pemuda itu sungguh ampuh.
"Kepung dia, hati-hati jangan mengadu senjata. Robohkan dia dan rampas pedangnya!"
Teriaknya memberi aba-aba.
Kini, semua anak buah perampok sudah berloncatan turun dari atas punggung kuda mereka, dan Yeliu Cutay telah dikepung oleh tiga belas orang!
Yeliu Cutay sudah melakukan perjalanan jauh dan agak lelah, kini menghadapi pengeroyokan tiga belas orang penjahat yang rata-rata memiliki kepandaian silat yang tinggi, apalagi pemimpin mereka yang pendek gendut itu, maka dia pun repot juga.
Dia bukanlah seorang yang haus darah.
Biarpun dia tahu bahwa gerombolan ini adalah perampok-perampok jahat, namun hatinya tetap tidak tega untuk membunuhi mereka, maka dia pun hanya mengandalkan keampuhan pedangnya untuk membela diri.
Pada saat itu, terdengar bentakan nyaring.
"Perampok-perampok jahat"
Dan nampak ada dua orang yang begitu tiba di situ lalu mengamuk dan menyerang para perampok itu dengan pedang mereka.
Mereka adalah seorang pria muda dan seorang wanita muda yang datang dengan seekor kuda saja.
Agaknya mereka tadi berboncengan kuda, dan wanita itu pun perutnya besar, tanda bahwa dia sedang mengandung tua.
Namun, gerakan pedangnya tidak kalah lihainya dibandingkan dengan pria muda yang datang bersamanya.
Karena diserang dari luar kepungan, maka kepungan tiga belas orang perampok itu menjadi kacau, apalagi ketika sepasang orang muda itu berhasil merobohkan dua orang perampok.
Melihat datangnya bantuan, Yeliu Cutay mempercepat gerakan pedang pusakanya menyerang kepala perampok gendut.
Pimpinan gerombolan itu terkejut dan karena serangan Yeliu Cutay itu amat cepatnya sehingga dia tidak sempat mengelak lagi, terpaksa dia menangkis dengan goloknya.
"Tranggg.. !"
Sekali ini, ujung golok itu patah!
Si kepala gerombolan yang melihat betapa sinar pedang lawan masih terus meluncur mengancamnya, cepat dia melempar tubuh ke belakang, bergulingan dan meloncat ke atas kudanya sambil memberi aba-aba agar anak buahnya melarikan diri sambil membawa dua orang yang terluka.
Setelah para perampok itu kabur dengan kuda mereka, barulah Yeliu Cutay menghampiri dua orang penolongnya.
Dia melihat seorang pemuda tampan berusia kurang lebih tiga puluh tahun, dan seorang wanita muda berusia dua puluh tahun lebih yang sedang mengandung tua, Dia cepat memberi hormat setelah menyimpan pedangnya.
"Sungguh besar rasa syukur dan terima kasih saya karena telah mendapatkan pertolongan dari Ji-wi yang mulia."
Akan tetapi tiba-tiba Yeliu Cutay terkejut karena dia mengenal kuda yang tadi ditunggangi dua orang itu.
Kuda itu jelas adalah kudanya!
Kuda pemberian Temucin!
Tentu saja dia terbelalak dan menoleh untuk memandang kembali kepada pemuda tampan itu.
Pemuda itu tersenyum dan mengangguk.
"Benar, Tai-hiap, akulah orang itu, yang memakai arang menghitamkan mukaku dan mencuri kudamu. Aku sengaja menghitamkan muka dan menggunakan golok agar tidak dikenal orang."
"Ahhh.....!"
Yeliu Cutay yang sama sekali tidak menyangka bahwa penolongnya ini adalah pencuri kuda yang dimaafkannya, bahkan diberikannya kudanya kepada orang itu.
"Kiranya engkau.....? Dan..... dan ia.....?"
Dia menoleh dan memandang kepada wanita muda itu.
"Ia adalah..... isteriku, Tai-hiap. Karena isteriku inilah maka aku terpaksa mencuri kudamu karena aku membutuhkan seekor kuda yang baik untuk..... membawanya lari!"
"Ehhh?"
Tentu saja Yeliu Cutay terkejut dan heran mendengar ada orang mencuri kuda untuk melarikan isterinya sendiri.
"Mari, Tai-hiap, mari kita duduk dan dengarkan ceritaku. Engkau adalah penolong kami dengan menyerahkan kuda itu maka berhak mengetahui keadaan kami. Marilah, Siok-moi, kita duduk mengaso di sini....."
Dengan sikap amat mesra dan menyayang, pemuda itu lalu menuntun isterinya yang mengandung tua dan mereka bertiga duduk di atas rumput, di bawah sebatang pohon.
Agaknya wanita yang mengandung tua itu memang lelah sekali, maka dengan sikap, malu-malu sambil meminta maaf kepada Yeliu Cutay, ia minta perkenan untuk merebahkan diri.
Suaminya membantunya dan wanita itu rebah telentang di atas rumput, mempergunakan pangkuan suaminya sebagai bantal dan sebentar saja ia telah memejamkan matanya dan pulas kelelahan.
Pria itu lalu bercerita.
Dia bernama Bu Siang Hok, seorang yang hidup sebatang kara tanpa keluarga karena orang tuanya sudah meninggal dunia dan dengan bekal ilmu silat yang pernah dipelajarinya, Siang Hok tersesat menjadi seorang perampok tunggal di perbatasan dekat Tembok Besar.
Pada suatu hari, bertemulah dia dengan Tan Siok Hwa, gadis berusia sembilan belas tahun lebih, yang cantik jelita dan gagah perkasa.
Gadis ini adalah puteri tunggal dari Tang Pangcu, yaitu ketua dari perkumpulan Hek eng-pang di kota Wang-cun, beberapa puluh mil jauhnya dari Tembok Besar, sebelah selatan.
Pertemuan itu sungguh kebetulan sekail.
Tang Siok Hwa sedang diganggu oleh gerombolan penjahat ketika Bu Siang Hok melihatnya.
Biarpun dia seorang perampok, namun Siang Hok pantang mengganggu wanita, maka melihat seorang gadis dikeroyok oleh belasan orang pemuda yang jahat, dia pun lalu cepat turun tangan membantu walau pun gadis itu cukup tangguh dan agaknya belum membutuhkan bantuan.
Para pengganggu itu melarikan diri dan terjalinlah persahabatan antara Bu Siang Hok dan Tang Siok Hwa.
Hubungan ini tak lama kemudian menjadi jalinan cinta kasih antara mereka.
Akan tetapi, Tang Pangcu, ketua Hek-eng-pang sama sekali tidak menyetujui pilihan hati puteri tunggalnya.
Puteri itu telah direncanakan untuk dijodohkan dengan putera seorang pembesar di Wang-cun.
Apalagi ketika dia menyuruh anggauta Hek-eng-pang melakukan penyelidikan dan mendapat kabar bahwa kekasih puterinya itu bukan lain hanya seorang perampok yang katanya kini telah mengundurkan diri, dia menjadi marah dan melarang kerasputerinya melanjutkan hubuugan persahabatannya dengan Bu Siang Hok.
Larangan ayah ini membuat Tang Siok Hwa menjadi nekat, karena ia sudah benar-benar jatuh cinta kepada Bu Siang Hok.
Keduanya melanjutkan hubungan dengan sembunyi-sembunyi dan akhirnya mereka tidak kuasa menahan diri lagi, bahkan larangan dan pantangan orang tua gadis itu agaknya menambah berkobarnya gairah cinta mereka sehingga mereka dengan nekat melakukan hubungan badan sampai berulang kali.
Dan akibatnya mudah diduga!
Tang Siok Hwa mengandung!
Tentu saja Tang Pang-cu marah sekali.
Kalau saja Siok Hwa bukan anak tunggal, mungkin telah dibunuhnya!
Akan tetapi, ayah yang keras hati ini tetap tidak mengijinkan puterinya menjadi isteri seorang perampok!
Akan merendahkan namanya sebagai ketua Hek eng pang!
Hek-eng-pang terkenal sebagai perkumpulan orang-orang gagah yang berjiwa pendekar dan yang selalu menentang kejahatan para penjahat.
Bagaimana mungkin sekarang ketuanya mengambil mantu seorang perampok?
Dia begitu marah sehingga dia mengerahkan para murid dan anak buah untuk mencari Bu Siang Hok.
Kalau saja pemuda itu dapat tertangkap, tentu akan dibunuhnya.
Karena takut, Siang Hok melarikan diri.
Akan tetapi, cinta memang membuat orang bukan saja menjadi tolol, akan tetapi kalau saatnya tiba, dapat membuat seseorang menjadi cerdik sekali, penuh akal.
Demikian pula dengan Siang Hok.
Dengan perantaraan seorang wanita tua di kota Weng-cun, dia berhasil mengadakan hubungan surat dengan kekasihnya, selama berbulan-bulan mereka hanya saling menukar surat, dan akhirnya, setelah kandungan Tang Siok Hwa genap sembilan bulan, dari surat-suratan mereka itu akhirnya diambil keputusan untuk melarikan diri bersama.
"Untuk keperluan itulah, Tai-hiap, terpaksa aku mencuri kudamu yang amat baik dan kuat itu. Aku membutuhkan kuda yeng kuat dan dapat melarikan kami berdua. Dan berkat kuda Taihiap, kami berhasil melarikan diri dari Wang-cun."
"Tidak, diketahui oleh orang tua isterimu?"
"Ketika kami pergi belum, akan tetapi akhirnya mereka tentu akan tahu dan melakukan pengejaran. Akan tetapi kudamu itu hebat, Taihiap, dapat berlari cepat membawa kami berdua. Kami sungguh berterima kasih kepadamu, dan tidak kami sangka, di tempat ini kami melihat Taihiap dikeroyok oleh para perampok itu."
Siok Hwa yang tertidur dengan kepala di pangkuan kekasihnya, mengeluh dan membuka mata, lalu menahan jerit kesakitan sambil memegangi perutnya yang membusung, mengaduh-aduh sehingga Siang Hok menjadi terkejut dan khawatir sekali.
Dia memeluk Siok Hwa.
"Ada apakah, Siok-moi.....? Ada apa dengar perutmu.....?"
Akan tetapi Siok Hwa hanya mengerang dan merintih, dan menggeliat-geliat menahan sakit.
"Kurasa..... kukira..... ia akan melahirkan.....!"
Kata Yeliu Cutay sambil menelan ludah karena hatinya terasa tegang bukan main.
Menghadapi ancaman bahaya maut sekalipun dia tidak merasa tegang, akan tetapi menghadapi seorang wanita yang sedang akan mulahirkan, padahal di situ jauh dari dusun, jauh bidan bahkan yang ada hanya dia dan Siang Hok, laki-laki yang nampaknya lebih tegang daripada dia, Yeliu Cutay menjadi agak pucat.
"Wah, bagaimana ini.....? Biar dengan cepat kuantar ia mencari dusun dan mencari pertolongan bidan atau wanita lain.....!"
Siang Hok memondong tubuh Siok Hwa, akan tetapi Siok Hwa merintih makin keras.
"Aduh..... aduhhhhh..... aku tak tahan lagi..... aduh, rebahkan aku, lekas.. bahkan aku..... aku tidak kuat lagi.....!"
Siok Hwa merintih-rintih, dan terpaksa suaminya yang kebingungan itu menurunkan lagi tubuhnya di atas rumput seperti tadi.
"Tai-hiap..... demi Tuhan..... bagaimana baiknya ini.....?"
Biarpun dia sendiri merasa tegang, namun Yeliu Cutay lebih bijaksana dari pada Siang Hok. Dia harus berani melihat kenyataan.
"Toako, kurasa tidak ada lain jalan lagi kecuali membiarkan ia melahirkan di sini. Kalau kau bawa naik kuda atau berlari, berbahaya sekali. Jangan-jangan di tengah perjalanan ia akan melahirkan, lebih repot."
"Tapi aku..... aku..... tidak tahu..... aku tidak dapat..... tidak berani menolongnya, tidak tahu bagaimana....."
"Tenanglah, Toako. Kita berdua adalah orang-orang dewasa. Kenyataannya, isterimu akan melahirkan, agaknya tidak dapat ditunda-tunda lagi. Kita tidak dapat lari dari kenyataan ini dan sedapat mungkin kita harus menolongnya. Aku suka membantumu."
"Aduh, terima kasih, Tai-hiap....., terima kasih..... tapi, apa yang harus kita lakukan.....?"
"Hok-koko kenapa engkau begini..... lemah? Taihiap ini benar....., aku agaknya akan melahirkan..... aduhhh..... cepat kau buka buntalan pakaian itu, kau ambilkan kain-kain untuk tilam..... dan cari air..... air bersih, cepat..... ah, aduhhh....."
Siang Hok berlari-lari mengambil buntalan pakaian di punggung kudanya, membuka buntalan, mengeluarkan kain lebar putih yang diminta Siok Hwa, lalu membentangkannya di atas rumput dan dia mengangkat isterinya, direbahkan telentang di atas kain itu.
Diambilnya pula sebuah panci yang dibawanya serta dan dia segera lari mencari air.
Akan tetapi Yeliu Cutay mengejarnya.
"Biar aku yang mencari air, Toako,"
Katanya.
Tak lama kemudian Yeliu Cutay sudah kembali membawa air jernih.
Dan pada saat itu, Tang Siok Hwa mulai bekerja keras untuk melahirkan anak dalam kandungannya!
Dua orang pria itu hanya menunggu dan mereka berdua hampir pingsan menyaksikan betapa tersiksa dan sukarnya seorang wanita melahirkan!
Keduanya berwajah pucat, peluh dingin membasahi muka dan bahkan kedua tangan mereka gemetar.
Ketika akhirnya bayi itu terlahir dan terdengar suara tangis yang amat nyaring, keduanya terkejut dan merasa lega, akan tetapi juga bingung.
Namun, Yeliu Cutay yang sudah pernah membaca tentang kelahiran ini, menenangkan dirinya.
Dia mengangkat bayi yang masih merah itu, meletakkannya di atas kain yang lain, lalu menggunakan Pedang Asmara untuk memotong pusar bayi dan mengikatnya dengan benar seperti yang pernah dibacanya.
Setelah itu, walaupun dengan kedua tangan gemetar dan hati-hati sekali, seolah-olah yang dipegangnya itu sebuah benda yang mudah sekali pecah dan dia takut kalau terlepas dan jatuh, dia membersihkan tubuh bayi itu, juga mukanya, dengan sehelai kain putih yang dibasahi dengan air.
Seorang bayi laki-laki!
Setelah selesai membersihkan bayi itu dan membungkusnya dengan selimut, dia menoleh ke arah suami isteri itu.
"Anaknya laki-laki.....!"
Katanya gembira, akan tetapi dia terbelalak melihat betapa Siang Hok merangkul dan menangisi Siok Hwa, memanggil-manggil namanya.
Siok Hwa, ibu yang baru saja melahirkan itu, rebah telentang tak bergerak, mukanya sepucat mayat dan seperti telah mati saja!
Cepat Yeliu Cutay merebahkah anak bayi itu ke atas kain putih, membiarkan anak itu menjerit-jerit, lalu berlutut di dekat Siok Hwa.
"Ia.....ia terus mengeluarkan darah.....!"
Kata Siang Hok bingung.
Yeliu Cutay berusaha menghentikan darah dengan menotok jalan darah, akan tetapi usahanya sia-sia belaka.
Tubuh itu menjadi semakin lemah, wajahnya semakin pucat dan napasnya makin lemah.
"Siok-moi.....! Sadarlah..... ah, bagaimana ini? Siok-moi.....!"
Siang Hok mengguncang pundak isterinya.
"Siok-moi, anak kita telah lahir, lihatlah! Dia laki-laki, dengarlah tangisnya! Siok-moi, sadarlah.....! "
Siang Hok meratap. Sepasang mata itu terbuka perlahan dan bibir itu bergerak-gerak. Siang Hok mendekatkan telinganya depan mulut isterinya, mendengarkan bisikan lirih.
"Siapa..... siapa namanya.....?"
"Namanya? Ah, bukankah sudah kita rencanakan sebelumnya? Kalau lahir laki-laki, akan kita beri nama Tiong Sin!"
Mulut itu tersenyum lemah dan bibirnya kembali bergerak.
"Mana..... Tiong Sin....., bawa ke sini....."
Siang Hok mengambil bayi yang masih menangis itu, dan meletakkannya di dekat dada ibunya.
Siok Hwa memandang puteranya dengan mata yang sayu, dan mata itu menjadi basah.
Lalu ia memandang suaminya, berbisik lirih.
"Rawat dia baik-baik....."
Dan kepala itu terkulai kembali.
"Siok moi.....! Ah, Siok-moi....., jangan tinggalkan aku! Jangan tinggalkan anak kita....! Siok-moi.....!"
Siang Hok menjerit-jerit dan memeluk tubuh isterinya yang masih hangat, menciumi muka yang pucat itu dan hampir saja dia roboh pingsan kalau Yeliu Cutay tidak cepat mengambil bayi itu agar jangan tertindih, kemudian memegang pundak Siang Hok, mengguncangkannya dengan kuat.
"Toako, tenangkan hatimu! Sudah kehendak Thian bahwa isterimu meninggal ketika melahirkan. Ingat anakmu ini, dia membutuhkan engkau!"
Siang Hok memandang kepada anaknya dan air matanya bercucuran.
Dia menerima anak itu, didekapnya dan dibasahi muka anak itu dengan air matanya, dan anak itu pun menangis, agaknya ikut berduka dengan ayahnya.
Pada saat itu, terdengar bunyi derap kaki kuda.
Siang Hok dan Yeliu Cutay mengangkat muka dan melihat bahwa ada serombongan penunggang kuda datang menuju ke tempat itu.
"Ah, akhirnya mereka datang juga!"
Kata Siang Hok.
"Siapakah mereka?"
"Orang-orang Hek-eng-pang, dipimpin ayah Siok-moi."
Siang Hok menyerahkan bayi itu kepada Yeliu Cutay dan dengan air mata bercucuran dia pun berkata.
"Tai-hiap, aku mohon kepadamu..... kau bawalah anak kami ini pergi dari sini..... agar dia dapat diselamatkan. Taihiap, biarlah dalam penjelmaan kemudian, aku akan membalas budimu ini. Anak ini, Tiong Sin....., kau selamatkan, Taihiap!"
Yeliu Cutay tak dapat menolak dan dia pun memondong bayi itu.
"Tapi..... tapi kau sendiri.....?"
"Sudahlah, Taihiap. Aku akan menghadapi ayah Siok Hwa, mudah-mudahan dia menaruh kasihan. Kalau aku selamat, aku akan mencarimu kelak untuk menerima kembali anakku."
Yeliu Cutay tidak melihat jalan lain. Anak itu memang harus diselamatkan dulu.
"Kalau engkau kelak mencari anakmu, carilah aku di kota raja. Carilah ayahku, Yeliu Koan yang menjadi pejabat di kerajaan, atau carilah aku, namaku Yeliu Cutay."
Setelah berkata demikian, Yeliu Cutay lalu meloncat ke atas punggung kudanya dan melarikan kuda itu cepat-cepat sambil memondong anak kecil yang bernama Tiong Sin itu.
Ketika rombongan orang-orang Hek-eng-pang tiba di situ, benar seperti dugaan Bu Siang Hok, rombongan yang terdiri dari kurang lebih dua puluh orang itu dipimpin sendiri oleh Tang Pangcu.
Laki-laki yang berusia lima puluh lima tahun ini jelas kelihatan marah sekali!
ketika dia melihat Siang Hok.
"Jahanam keparat engkau Bu Siang Hok! Berani engkau melarikan puteri kami? Hayo, di mana kau sembunyikan....."
Tiba-tiba mata Tang Pangcu terbelalak memandang ke arah tubuh wanita muda yang rebah terlentang di atas kain putih itu. Kain putih yang berlepotan darah segar! "Siok Hwa.....!"
Dia menjerit, melompat turun dari atas kudanya dan lari menghampiri, lalu menubruk dan merangkul puterinya yang telah menjadi mayat.
"Apa..... apa yang terjadi.....? Jahanam, katakan apa yang terjadi?"
"Ia telah melahirkan dan meninggal dunia setelah melahirkan,"
Kata Siang Hok dengan air mata bercucuran.
"Siok Hwa.....!"
Ayahnya kembali menjerit dan kini memeluk tubuh itu sambil menangis seperti anak kecil.
Siang Hok juga menjatuhkan diri berlutut dan menangis pula.
Tiba-tiba Tang Pangcu menghentikan tangisnya dan dia meloncat berdiri, memandang kepada Siang Hok dengan muka pucat dan mata mendelik.
"Engkau pembunuh, engkau membunuh anakku!"
Siang Hok menundukkan mukanya.
"Saya tidak berdaya..... tiba-tiba saja ia melahirkan di sini, tidak ada wanita atau bidan yang membantu hingga ia..... kehabisan darah....."
Dia terisak lagi.
"Jahanam pembunuh kau!"
Tang Pangcu berteriak dan dia pun menerjang ke depan, kakinya menendang. Tubuh Siang Hok terlempar dan terguling-guling, akan tetapi dia lalu bangkit berdiri walaupun dadanya terasa nyeri.
"Pangcu, engkaulah yang telah membunuhnya! Kalau engkau tidak menghalangi perjodohan kami, tentu kami sekarang sudah gembira menyambut kelahiran putera kami. Engkaulah yang membunuh puterimu sendiri!"
Dua orang itu saling pandang dengan penuh kebencian. Tang Pangcu mencabut goloknya dan Siang Hok mencabut pedangnya.
"Keparat, engkau malah menyalahkanku? Engkau perampok hina, berani engkau mengotori puteriku dan kini akibatnya puteriku sampai mati. Dan engkau masih berani menyalahkan aku? Di mana anak yang terlahir itu?"
"Aku tidak tahu, dan engkau tidak perlu tahu!"
Siang Hok juga membentak karena kini setelah Siok Hwa tewas, du memandang orang ini sebagai musuhnya yang telah melenyapkan kebahagiaan hidupnya.
Sambil berteriak lantang Tang Pangcu meloncat dan menyerang, disambut oleh pedang di tangan Siang Hok.
Para anak buah Hek-eng-pang lalu turun tangan membantu ketua mereka.
Baru menghadapi Tang Pangcu seorang saja, Siang Hok tidak akan menang, apalagi kini dikeroyok banyak orang.
Sebentar saja tubuhnya sudah penuh luka dan dia pun terhuyung, lalu menubruk mayat Siok Hwa dan menjerit.
"Siok-moi, kau tunggulah aku.....!"
Dan dia pun menghembuskan napas terakhir di atas dada wanita yang dicintanya. Melihat ini, ketika para anak buahnya hendak menghujankan senjata mereka ke atas tubuh Siang Hok, Tang Pangcu membentak.
"Munduuurrrrr semua! Jahanam kalian, apakah kalian akan merusak mayat anakku?"
Semua anak buahnya terkejut dan mundur dan sampai lama Tang Pang-cu berdiri mengamati dua buah mayat yang tumpang tindih itu.
MayatSiok Hwa di bawah, dan mayat Siang Hok diatasnya, merangkulnya dengan mesra.
Dia melihat betapa wajah Siok Hwa mengandung senyum bahagia, juga wajah Siang Hok tersenyum.
Keduanya seperti mati dalam keadaan berbahagia karena dapat mati bersama, dan melihat keadaan mereka, seolah-olah mereka itu tidak mati melainkan sedang tidur dalam kemesraan!
Tang Pangcumenggigil dan baru dia melihat betapa dia telah bertindak kejam sekali kepada puterinya sendlri.
Benar Siang Hok!
Dia telah membunuh puterinya itu!
Bagaimana dia dapat menyalahkan dua hati yang saling mencinta?
Dia lalu menjatuhkan dirinya berlutut di dekat mayat itu, menutupi muka dengan kedua tangan sampai lama.
"Angkut dua mayat mereka dengan baik-baik, bawa pulang. Aku ingin mengubur mereka dalam satu lubang."
Katanya kemudian, membuat para anggauta Hek-eng-pang saling pandang dengan perasaan heran.
Waktu berjalan cepat sekali kalau tidak diperhatikan, lebih cepat daripada meluncurnya anak panah.
Sebaliknya kalau diperhatikan, sang waktu merayap seperti siput.
Semenjak kemenangannya yang gemilang terhadap musuh besar keluarganya, yaitu Targoutai kepala suku Taijut, nama Temucin menjadi semakin terkenal.
Kekuasaannya semakin besar dan pasukan Temucin terkenal dan ditakuti di seluruh Mongol.
Temucin.
memang pandai bersiasat dan perhitungannya tepat sekali sebagai seorang pemimpin besar, seorang jenderal perang yang tangguh.
Dia tahu bahwa bagi bangsanya, yang terpenting adalah kekuasaan, dan kekuasaan ini baru bisa diperoleh kalau dia memiliki balatentara yang besar dan kuat, memiliki sekutu yang setia.
Dipimpinnya pasukannya yang amat terkenal itu dan setiap kali dia mengadakan perang dengan kepala-kepala suku yang berani menentangnya dan tidak mengakui kedaulatannya, pasti dia memperoleh kemenangan.
Dan dia dapat memilih orang-orang yang berguna.
Mereka yang takluk, kalau dia lihat memiliki kemampuan dan benar-benar takluk dan menyatakan setia, akan diberinya kedudukan.
Sebaliknya, dia dapat menghukum dan membantai semua tawanan tanpa belas kasihan sedikit pun.
Pasukannya terdiri dari orang-orang pilihan dan kalau pasukannya menyerbu, seperti api mengganas.
Segala yang menentang dan menghalang dihancurkan!
Sebagai seorang pemimpin besar, Temucin pandai sekali bersikap sehingga mereka yang mengabdi kepadanya dengan setia, dilimpahi pangkat dan kemuliaan hingga mereka ini semakin setia dan mencinta pemimpin mereka.
Sebaliknya, Temucin paling membenci orang yang berwatak khianat.
Dia memberi hukuman berat sekali kepada orang-orang yang berkhianat, hukum siksa sampai mati.
Sebagai seorang yang mengagungkan kegagahan dan kekuasaan, agaknya Temucin yang masih sederhana jalan pikirannya itu, menyadari bahwa di luar kekuasaannya, di alam ini ada kekuasaan yang rahasia, yang amat tinggi dan yang tidak mungkin dapat dilawannya.
Kekuasaan yang mendatangkan guntur dan kilat, yang mendatangkan hujan badai, yang mengerikan tanah.
Oleh karena itu, dia memuja kekuasaan ini yang dianggapnya datang dari langit.
Seringkah nampak Temucin seorang diri mendaki sebuan bukit yang sunyi, tempat yang dianggapnya keramat karena tidak dihuni manusia.
Di tempat sunyi ini, dia membetulkan letak pakaiannya, diselempangkannya ikat pinggangnya itu di atas bahu kiri.
Dia berdiri tegak, lalu menghadap ke empat penjuru sambil menyembah dengan penuh kesungguhan dan penghormatan, mulutnya membisikkan doa.
"Semoga Langit Yang Berkuasa berkenan menolong saya, semoga para dewata yang sakti dari langit turun untuk melindungi saya dengan kesaktian mereka, dan semoga Langit Yang Berkuasa mengirimkan orang-orang pandai untuk membantu saya."
Seringkali Temucin melakukan doa seperti ini, di waktu malam sunyi, ketika bintang-bintang memenuhi langit, dan ketika bulan purnama, dia pun minta berkah dari Dewa Bulan, kalau matahari terbit dia berdoa minta berkah dari Dewa Matahari.
Dua puluh tahun kemudian, demikian cepatnya waktu berjalan, Temucin telah berhasil menjadi seorang pemimpin besar yang diakui kekuasaan dan kekuatannya di seluruh Mongol.
Suku-suku kecil takluk kepadanya, yang tidak mengakui kedaulatannya digempur dan ditaklukkan.
Suku-suku yang besar dengan sukarela mengakui kedaulatan dan kekuasaannya, yang tidak mau mengakui digempur dan ditaklukkan pula!
Panjinya amat terkenal, yaitu panji dengan sembilan utas ekor yak!
Temucin semakin terkenal dan diakui, dipuja.
Suku-suku yang berdatangan untukmenggabungkan diri dengannya amat banyak, setiap suku membawa rombongan sampai ratusan orang jumlahnya.
Temucin memang seorang pemimpin pandai, bukan saja dalam ilmu peperangan, juga pandai mengambil hati anak buahnya.
Tidak seperti kepala-kepala suku yang lain, yang suka bertindak sewenang wenang, baik dalam pembagian hasil buruan, hasil menang perang, atau mempergunakan kekuasaannya untuk merampas isteri orang, Temucin sama sekali tidak mau melakukan hal ini.
Kalau anak buahnya berhasil baik dalam perburuan, di tidak pernah merampas hasil buruan, hanya menerima saja apa yang dipersembahkan orang kepadanya.
Sikap ini justeru menimbulkan rasa suka dan kagum sehingga anak buahnya selalu mempersembahkan bagian yang paling baik dari hasil perburuan mereka.
Juga kalau pasukannya menang perang, dia selalu ingat untuk membagi-bagi barangrampasan secara adil dan merata.
Dia selalu siap mengulurkan tangan untuk membantu para anak buahnya, dan hal ini membuat dia semakin terkenal dan terpandang.
Karena para pengikutnya semakin banyak, dan dia selalu membuka tangan menerima para suku yang berkeliaran dan mencari perlindungan, maka Temucin mulai memikirkan untuk membuat suatu peraturan, memilih para pembantu utamanya dan membentuk suatu badan pemerintahan yang akan mengatur semua anak buahnya.
Mulailah dia membagi-bagi kedudukan kepada orang-orang yang dianggap berjasa, setia dan memang memiliki ilmu kepandaian yang istimewa.
Dalam hal ini pun dia bertindak adil, tidak memandang sanak keluarga atau orang lain, pendeknya dia mempergunakan orang sesuai dengan kemampuannya.
Terkenallah nama-nama para panglimanya seperti Kassar, Borcu, Arghun, Bayan, Munhuli, Soo dan masih banyak lagi.
Di seluruh Gobi, bahkan selain daerah Gurun Gobi, juga di seluruh Mongol, semua orang mengenal para panglima Temucin yang amat pandai itu sehingga mereka itu disebut Kiyat yang artinya "Air deras yang menghanyutkan segala sesuatu!"
Arghun adalah seorang yang pandai sekali bermain musik, terutama bermain kecapi (siter) sehingga dia amat diperlukan untuk menghibur Temucin dan para panglimanya, baik untuk merayakan kemenangan perang atau perburuan, maupun untuk menghibur hati gundah.
Soo adalah seorang pemain panah yang amat pandai dan para panglima lainnya, selain memiliki banyak pengalaman berperang, juga merupakan orang-orang yang memiliki kegagahan dan ilmu berkelahi yang amat baik.
Akan tetapi di antara para panglimanya itu, agaknya yang paling menonjol kemudian, karena mereka tergolong panglima-panglima muda, adalah ChepeiNoyon, dan seorang lagi Subotai Bahadur Kedua orang ini yang kelak menjadi panglima yang menggegerkan dunia ketika balatentara Temucin menyerbu sampai jauh ke barat dan ke selatan.
Pada suatu hari, datanglah berita kepada Temucin bahwa ayah mertuanya yaitu kepalakelompok yang bernama Munlik atau Karugai, ayah Bortay isterinya yang pertama, datang berkunjung bersama keluarganya.
Bahkan tujuh orang puteranya, saudara-saudara dari Bortay ikut pula datang berkunjung.
Temucin menyambut kunjungan ini dengan penuh kehormatan dan kegembiraan dan mereka segera saling menukar bingkisan.
Akan tetapi, di dalam pergaulan selanjutnya antara para putera Munlik itu dengan orang-orang Mongol, timbul rasa tidak suka dalam hati para tuan rumah terhadap tamu-tamu itu.
Terutama sekali saudara dari Bortay yang bernama Tebteng-ri, sungguh mendatangkan perasaan tak senang karena orang ini yang juga menjadi semacam dukun dan ahli nujum, bersikap amat tinggi hati dan memandang rendah orang lain.
Tebtengri, dibantu saudara-saudaranya, bersikap sombong sekali dan ketika pihak tuan rumah memperlihatkan perasaan tidak senang, mereka semakin congkak karena mereka menganggap bahwa mereka lebih "tinggi"
Daripada pihak tuan rumah.
Tentu saja untuk berterang memperlihatkan sikap bermusuhan dengan Temucin, mereka tidak berani.
Akan tetapi diam-diam mereka itu membenci Temucin karena merasa iri.
Bagaimana anak yang dulu kelihatan lemah itu, yang menjadi suami adik mereka Bortay, kini menjadi seorang pemimpin besar, bahkan dianggap sebagal raja oleh banyak kepala suku?
Untuk melampiaskan rasa penasaran dan iri, Tebtengri lalu mempermainkan Temugu, yaitu seorang di antara adik-adik tiri Temucin.
Tebtengri bersama saudara-sudaranya memaksa Temugu untuk berlutut di depannya, dengan ancaman bahwa kalau dia menolak, akan dipukuli sampai mati!
Banyak orang melerai keributan ini dan ketika mendengar peristiwa itu, Temucin mengerutkan alisnya.
Dia berada dalam kedudukan yang sulit.
Munlik adalah ayah mertuanya sendiri, di samping kedudukannya sebagai seorang kepala suku.
Bahkan sudah berulang kali Munlik membantunya dalam peperangan, maka Munlik dapat dikatakan selain ayah mertua, Juga seorang kepala suku yang sudah berjasa.
Tebtengri, kakak isterinya itu juga bukan orang sembarangan, melainkan seorang dukun dan ahli nujum, kedudukan yang dihormati orang.
Dia harus dapat mengambil keputusan yang adil karena Temugu telah dihina orang yang berarti menghina dirinya karena Temugu tidak bersalah.
Dia memanggil Temugu yang dihina orang itu dan berbisik kepadanya.
"Hari ini Tebtengri dan saudara-saudaranya akan berkunjung ke sini. Berbuatlah sekehendak hatimu terhadap dirinya."
Mendengar ucapan kakaknya ini, Temugu mengangguk.
Ucapan itu merupakan perkenan baginya untuk membalas dendam atas penghinaan Tebtengri kepadanya.
Sesungguhnya, permusuhan yang timbul antara Temucin dan orang-orang yang menetangnya, termasuk saudara-saudara Bortey sendiri, merupakan pertentangan yang sudah berlarut-larut.
Masalahnya tiada lain adalah perebutan kekuasaan.
Tebtengri adalah seorang dukun, seorang ahli nujum yang pada waktu itu merupakan kedudukan yang amat tinggi.
Ketika, orang-orang masih hidup di bawah pengaruh ketahyulan, dan seorang dukun dan peramal dianggap sebagai orang yang luar biasa dan ditakuti.
Karena itu, di masa itu, para kepala suku saja takut menghadapi kekuasaan seorang dukun, yang dianggap bersekutu dengan para dewa dan setan, dapat mencabut nyawa seseorang secara begitu saja!
Namun Temucin menentang kekuasaan yang menyalahgunakan kepercayaan dan kebodohan rakyat ini, maka terjadilah permusuhan yang hanya terpendam di dalam hati saja.
Peristiwa yang terjadi ketika Tebtengri bersama ayahnya dan saudara saudaranya datang berkunjung kepada Temucin, hanya merupakan satu di antara ledakan-ledakan dari timbunan kebencian itu.
Ketika Munlik dan tujuh orang puteranya berkunjung ke perkemahan Temucin malam itu, Temucin menyambut mereka dan mempersilakan mereka duduk.
Pada saat itu, seperti telah diatur sebelumnya, masuk pulalah Temugu.
Seperti menjadi kebiasaan dan peraturan mereka sewaktu memasuki perkemahan, semua senjata ditinggalkan di luar kemah.
Temugu langsung saja mendekati Tebtengri memegang bahunya dan berkata.
"Kemarin mengandalkan pengeroyokan, engkau menghinaku dan memaksa aku berlutut! Sekarang, mari kita mengadu kekuatan satu lawan satu!"
"Eh, babi, kau menantang?"
Jawab Tebtengri dan mereka pun bergumul.
Memang di antara bangsa Mongol ini, perkelahian yang terhormat adalah bergumul, dan bergumul dianggap seni atau tata kelahi yang paling terhormat, bukan pukul memukul atau tendang-menendang, dilihat ini, para putera Munlik sudah bangkit berdiri, akan tetapi tiba-tiba, dengan suaranya yang berwibawa, Temucin membentak.
"Heh! Apakah kalian sudah tidak mengenal aturan lagi, bergumul di dalam kemah? Hayo kalian berdua keluar dan kalau mau bergumul, di luar!"
Mendengar bentakan ini, dua orang yang sedang bergumul itu berhenti, kemudian Temugu dengan lantang berkata, sambil memandang kepada Tebtengri dengan sikap menantang.
"Kalau engkau memang laki-laki, hayo keluar, kita mengadu kekuatan di luar!"
Dan dia pun melangkah keluar.
Mendengar tantangan ini, Tebtengri yang merasa bahwa dia pasti akan menang menghadapi Temugu yang tidak berapa besar itu, segera melangkah ke luar pula.
Akan tetapi begitu dia tiba luar kemah, tiba-tiba saja tiga orang yang tinggi besar dan melihat gerakan mereka adalah jago-jago gulat yang pandai, menubruk Tebtengri dan menekuk tubuhnya ke belakang sampai patah tulang punggungnya dan tewas seketika!
Kejadian ini berlangsung amat cepatnya sehingga Tebtengri tidak lagi sempat berteriak.
Tiga orang itu melemparkan tubuh Tebtengri yang sudah tak bernyawa lagi dan mayat itu menggeletak di dekat roda sebuah gerobak.
Ketika saudara-saudara Tebtengri keluar, Temugu berkata.
"Kemarin Tebtengri menghinaku, sekarang aku menantang dia mengadu kekuatan, akan tetap dia menggeletak di sana tidak mau bangkit lagi!"
Munlik dan enam orang puteranya segera menghampiri dan melihat bahwa Tebtengri ternyata telah tewas, Munlik dan anak-anaknya menjadi marah bukan main.
Mereka mengambil senjata mereka yang tadi dilepas dan ditumpuk di depan pintu kemah, kemudian sambil mencabut senjata mereka, Munlik berkata kepada Temucin yang sudah bangkit dari tempat duduknya, dengan suara bernada penuh penyesalan, duka dan kemarahan.
"Khan (Raja), mulai detik ini aku tidak sudi lagi mengabdi kepadamu!"
Agaknya Munlik dan enam orang puteranya, saking marahnya, hendak nekat menyerang Temucin.
Namun, Temucin yang tidak memegang senjata itu, melangkah maju dengan sikap tenang.
Tidak ada jalan keluar dari kemah itu kecuali pintu yang satu itu, yang kini dipenuhi Munlik dan para puteranya yang menghadang keluarnya dengan pedang di tangan.
Lain orang tentu akan memanggil pengawal dan minta bantuan, akan tetapi Temucin adalah orang yang mampu mengendalikan perasaannya dan mempergunakan kewibawaannya.
Dengan suara lantang dan tegas, penuh perintah, Temucin membentak mereka dengan kata-kata memerintah.
"Kami hendak keluar, minggirlah kalian semua!!"
Munlik dan enam orang puteranya tercengang.
Tak mereka sangka akan menghadapi sikap Temucin seperti itu dan bagaikan kena pesona, mereka pun tidak mampu menggerakkan senjata, bahkan semua semangat permusuhan lenyap, dari hati mereka.
Mereka minggir dan membiarkan Temucin lewat ke tempat para pengawal yang menanti di luar perkemahan.
Temucin melihat bahwa Tebtengri telah tewas.
Dia memerintahkan untuk mengurus jenazah itu, menyembunyikannya agar tidak menyolok pandang mata.
Ketika banyak orang datang berkerumun untuk melihat apa yang terjadi dengan tenang Temucin berkata kepada mereka semua.
"Tebtengri telah berkhianat mengadakan persekutuan jahat untuk menentang kami, oleh karena itu para dewa menjadi marah dan mencabut nyawanya."
Kemudian, Temucin mengundang ayah mertuanya untuk mengadakan pertemuan dan percakapan empat mata, dan dengan sikap sungguh-sungguh dia pun menegur ayah mertuanya itu.
"Sungguh sayang sekali bahwa anda tidak memberi ajaran yung baik kepada putera-putera anda itu sehingga mereka menjadi kurang ajar yang akhirnya hanya akan mencelakakan mereka sendiri. Tebtengri telah mencoba untuk merendahkan kekuasaan saya, oleh karena itu, dengan terpaksa sekali saya menyingkirkannya. Siapa saja yang berani mencoba untuk menentang saya, pasti akan saya singkirkan! Mengenai anda sendiri, karena anda merupakan ayah mertua yang baik dan yang sudah banyak membantu pasukan kami, maka saya berjanji akan melindungi anda dari bahaya apa pun yang mengancam diri anda. Saya harap perkara ini dianggap selesai sampai di sini saja."
Memang Temucin berhasil menundukkan hati Munlik dan putera-puteranya yang tidak mendendam atas kematian Tebtengri yang dianggap salahnya sendiri itu.
Akan tetapi, perang antara suku-suku di daerah Gurun Gobi masih juga berkobar terus.
Namun, yang makin menonjol dan semakin besar kekuasaannya bertambah terus pasukannya, adalah Temucin.
Rencana Temucin adalah untuk mengakhiri semua pertikaian antara suku itu, mempersatukan mereka menjadi satu bangsa Mongol yang besar dan jaya.
Dengan hati-hati, dengan penuh kesabaran dan ketekunan, Temucin mulai menghimpun kekuatan raksasa yang kelak akan merupakan gelombang dahsyat yang menggetarkan sebagian besar bangsa di dunia.
Memang waktu itu tanpa terasa lewat dengan cepatnya.
Dua puluh tahun lewat dengan amat cepatnya semenjak Yeliu Cutay kembali ke rumah orang tuanya di kota raja.
Orang tua Yeliu Cutay bernama Yeliu Koan dan dia menduduki jabatan penting di bagian kebudayaan dari Kerajaan Cin, yaitu kerajaan di utara yang didirikan oleh bangsa Yucen.
Biarpun Yeliu Koan adalah seorang terpelajar dari suku Liau-tung yang termasuk suku bangsa Khitan, namun sejak muda dia mengabdi kepada.
Kerajaan Cin yang sesungguhnya adalah kerajaan yang didirikan oleh bangsa Yucen, musuh besarnya sendiri!
Hal ini menunjukkan banwa keluarga Yeliu bukanlah keluarga yang terlalu mementingkan bangsa.
Karena Yeliu Koan bekerja dengan tekun dan penuh kesetiaan, maka Raja Kerajaan Cin juga amat percaya dan suka kepadanya.
Pangkatnya naik menjadi pembantu menteri, bahkan ketika Yeliu Cutay pulang dan oleh ayahnya diajukan sebagai calon pegawai negeri, pemuda yang cerdik dan telah mahir dalam ilmu perbintangan, ilmu nujum juga ilmu silat dan siasat perang itu segera diterima dan begitu masuk sudah menjadi penasihat dari angkatan perang!
Seperti juga ayahnya, Yeliu Cutay tidak mempunyai kebanggaan berbangsa, maka dengan hati ringan saja dia menghambakan diri kepada bangsa Yucen atau Kerajaan Cin.
Bahkan hasil pekerjaannya amat baik dan menerima pujian dari atasannya.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, Yeliu Cutay membawa pulang seorang anak bayi!
Ibu bayi itu meninggal dunia, dan ayahnya berada dalam bahaya besar.
Yeliu Cutay, dengan ilmu perbintangan dan ilmu nujumnya, hampir dapat merasakan banwa ayah anak itupun takkan dapat hidup lama, dan bahwa terpaksa dia harus memelihara anak itu.
Dapat dibayangkan betapa sukarnya perjalanan yang ditempuhnya sambil memondong seorang bayi yang baru saja dilahirkan!
Untung baginya bahwa dari Temucin dia memperoleh bekal emas yang cukup banyak.
Dengan emas ini, dia mampu tinggal sampai sebulan lamanya di sebuah dusun, menyewa seorang inang pengasuh dan memelihara anak yang bernama Tiong Sin itu sebaik-baiknya.
Setelah anak itu cukup kuat disertai oleh wanita pengasuh itu, Yeliu Cutay membeli sebuan kereta dan melanjutkan perjalanan ke kota raja.
Tentu saja perjalanan ini pun tidak mudah, namun berkat ilmu silatnya, terutama sekali Pedang Asmara yang melindunginya, dia dapat tiba di Kota Raja Cin dengan selamat.
Agaknya pengalamannya yang amat pahit bersama sumoi dan sutenya itu membuat Yeliu Cutay seperti dingin terhadap wanita.
Dia tidak mau menikah!
Dan karena dia maklum bahwa Pedang Asmara mempunyai pengaruh yang amat kuat untuk menggelorakan gairah berahi orang yang berdekatan dengan pusaka itu, dan dia sendiri tidak suka berdekatan dengan wanita, maka pedang itu tidak pernah dipakainya dan hanya disimpannya selama dua puluh tahun itu ke dalam gudang ayahnya, kemudian setelah dia duduki jabatan penting, mempunyai gedung sendiri, dia memindahkan pedang itu ke dalam gudangnya sendiri.
Ini berarti bahwa Yeliu Cutay tidak pernah berhubungan dengan wanita.
Dia ada mengambil beberapa orang selir, akan tetapi dia tidak pernah mau mengambil isteri yang sah.
Dan dia pun selalu pergunakan obat untuk mencegan agar para selirnya itu tidak mempunyai keturunan.
Mereka itu hanya merupakan hiburan baginya, tidak ada pertalian cinta kasih dalam hatinya.
Yeliu Cutay adalah seorang yang keras hati dan berkemauan keras sehingga dia mampu mempertahankan sehingga dua puluh tahun kemudian, dia belum juga menikah.
Selama itu, dia memelihara dan mendidik Tiong Sin dengan baik.
Anak itu menjadi murid dan juga anaknya, diakuinya sebagai anak dan bahkan dia memberikan she Yeliu kepada anak itu, Yeliu Tiong Sin!
Hal ini dia lakukan setelah dia melakukan penyelidikan ke markas Hek-eng-pang dan mendengar akan kematian Bu Siang Hok.
Ternyata Yeliu Tiong Sin adalah seorang anak laki-laki yang cerdik dan berbakat.
Juga dia tampan sekali, dengan sepasang mata yang bersinar-sinar, lincah jenaka dan wajahnya selalu cerah.
Yeliu Cutay menggemblengnya dalam ilmu silat dan juga mengharuskan anak itu mempelajari kesusastraan.
Dia mendidik anak itu dengan tekun dan bahkan keras dan dia mengira bahwa dengan didikan itu pasti Tiong Sin kelak akan menjadi seorang manusia yang berguna.
Namun, Yeliu Cutay lupa akan sesuatu yang amat penting, bahkan teramat penting dan menjadi pokok dari pendidikan.
Dia boleh saja melimpahkan segala macam pendidikan, pengetahuan, bahkan kemewahan kepada muridnya atau anak angkatnya itu, namun tetap saja Tiong Sin merasa tidak puas dan makin dewasa, dia menjadi semakin penasaran dan gelisah seperti orang kehausan.
Memang dia haus, haus akan kasih sayang!
Inilah yang dilupakan Yeliu Cutay, Kasih sayang.
Kasih sayang merupakan dasar pendidikan yang paling mutlak.
Tanpa kasih sayang, semua pendidikan tidak ada artinya, tentu saja yang dimaksudkan adalah pendidikan di segi moral.
Orang-orang tua, seperti halnya Yeliu Cutay lupa bahwa kasih sayang bukanlah perasaan senang dan bangga kalau si anak menjadi anak penurut, lalu tidak senang dan marah kalau si anak tidak penurut.
Kasih sayang itu ikhlas, demi kebahagiaan si anak, bukan dengan jalan memberi segala yang dikehendakinya.
Itu bukan demi kebahagiaan si anak,melainkan demi kehancuran si anak yang akan menjadi manja dan jahat.
Yeliu Cutay memberikan segalanya kepada Tiong Sin.
Pelajaran ilmu silat, kesusastraan, pakaian yang indah, makanan yang baik, bahkan nama dan kehormatan sebagai putera Yeliu Cutay yang terkenal sebagai seorang pejabat tinggi yang semakin menanjak namanya.
Akan tetapi Yeliu Cutay tidak memberikan kasih sayang yang wajar kasih sayang ayah dan ibu terhadap anaknya!
Inilah sebabnya, maka Tiong Sin mencari kasih sayang itu keluar rumah!
Di antara teman-temannya, di antara orang-orang yang bersikap baik padanya.
Dia masih terlalu muda untuk melihat apa yang tersembunyi di balik "kebaikan"
Teman-teman itu!
Seolah-olah racun dibungkus gula, kebaikan teman-temannya itu menyeretnya ke arah watak yang amat merugikan pribadinya.
Dan watak ini adalah mata keranjang, watak yang melemahkan pribadinya terhadap tekanan nafsu.
Betapapun juga, harus diakui bahwa Tiong Sin adalah seorang murid yang amat menyenangkan.
Dia mudah sekali mempelajari ilmu-ilmu silat baru yang diajarkan Yeliu Cutay dan mudah menguasainya.
Juga otaknya terang sekali hingga mudah menghafal huruf-huruf baru, pandai merangkai hurut huruf itu menjadi syair yang indah.
Juga dia pandai bersikap hormat dan manis terhadap siapa saja, terutama terhadap Yeliu Cutay yang sama sekali tidak pernah menduga bahwa di balik wajah yang cerah dan senyum yang ramah penuh hormat itu tersembunyi watak yang tidak baik.
Seluruh ilmu silatnya telah dia ajarkan sehingga ketika Tiong Sin berusia dua puluh tahun, dia telah menguasai seluruh ilmu silat yang dimiliki gurunya atau ayah angkatnya.
Dia menyebut ayah kepada Yeliu Cutay, akan tetapi, dia tahu bahwa dia bukanlah putera kandung gurunya itu.
Hal ini diketahuinya dari hasil pergaulannya ke luar.
Di antara para pelayan tentu saja ada yang tahu bahwa ketika Yeliu Cutay pulang dua tahun yang lalu, pemuda itu membawa seorang bayi.
Karena Yeliu Cutay belum menikah, tentu saja keadaan bayi itu menimbulkan pertanyaan dan untuk melenyapkan dugaan yang bukan bukan, orang tua Yeliu Cutay memberitahu kepada para pelayan itu bahwa anak yang dibawa oleh Yeliu Cutay adalah anak yatim piatu dan yang menjadi anak angkat Yeliu Cutay.
Demikianlah, mendengar berita bahwa dia bukan anak kandung Yeliu Cutay, Tiong Sin menghadap ayahnya dan menanyakan hal ini.
Dahulu, sebelum dia mendengar akan hal itu, sudah berulang kali dia bertanya kepada ayahnya tentang ibunya, dan selalu ayahnya itu menjawab sambil lalu dan menyimpan.
"Ibumu sudah meninggal dunia."
Hanya itulah jawabannya.
Ketika Tiong Sin menghadap Yeliu Cutay dan menceritakan tentang apa yang didengarnya, bahwa dia bukan anak kandung orang yang selama ini dianggap ayahnya sendiri, Yeliu Cutay menarik napas panjang.
"Aku tahu bahwa hal ini takkan dapat ditutup-tutupi, Tiong Sin. Dan memang bukan maksudku untuk merahasiakannya darimu untuk selamanya. Hanya aku menanti sampai engkau benar dewasa, baru akan kuceritakan. Sekarang, setelah engkau mendengar berita itu, baiklah, kau dengarkan ceritaku." (Lanjut ke
Jilid 06) Pedang Asmara (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 06 Yeliu Cutay lalu menceritakan tentang Bu Siang Hok dan Tang Siok Hwa betapa kedua orang tua anak itu tidak dapat menjadi suami isteri yang sah karena ditentang oleh orang tua Tang Siok Hwa, yaitu Tang Pangcu ketua Hek-eng-pang.
Dan betapa ibu kandungnya itu meninggal ketika melahirkannya karena kehabisan darah dan tidak ada ahli yang membantunya melahirkan.
Kemudian betapa ayah kandungnya juga tewas, mungkin tewas dikeroyok orang Hek-eng-pang.
"Nah demikianlah riwayatmu, Tiong Sin. Akan tetapi, sejak engkau terlahir, engkau sudah kubawa. Aku yang merawat dan mendidikmu, dan aku mengangkatmu sebagai anakku, biarpun engkau sama sekali bukan darah dagingku. Dan meskipun kuberi nama keturunan keluarga kami. Sekarang, terserah kepadamu apakah engkau akan tetap mempergunakan nama keturunan Yeliu ataukah akan menggunakan nama keturunan ayah kandungmu, yaitu Bu."
Tiong Sin menghapus air matanya yang bercucuran ketika mendengar cerita ayah angkat atau gurunya, lalu dia memberi hormat dengan menyembah sampai dahinya membentur lantai.
"Sungguh besar budi yang Ayah limpahkan kepadaku. Karena Ayah ternyata bukan ayah kandungku, maka budi itu terasa semakin besar dan berat lagi. Karena itu, biar saya akan terus memakai nama keturunan Yeliu untuk membalas budi Ayah."
Semenjak mengetahui bahwa dirinya bukan anak kandung Yeliu Cutay, Tiong Sin banyak bertanya tentang ayah dan ibu kandungnya dan juga menanyakan tentang Hek-eng-pang kepada ayah angkatnya.
"Untuk apa engkau bertanya-tanya tentang Hek-eng pang?"
Tanya Yeliu Cutey curiga.
"Tidak mengapa, Ayah. Bukankah ibu adalah puteri ketua Hek-eng-pang? Maka, Hek-eng-pang adalah perkumpulan keluarga ibu, berarti juga keluargaku pula."
Karena jawaban itu menghapus kecurigaannya, maka dia pun lalu memberitahu bahwa Hek-eng-pang berada di kota Wang-cun, sebelah selatan dari perbatasan kota raja.
Setelah Tiong Sin berusia dua puluh tahun, seperti telah diceritakan di depan dia berhasil menguasai semua ilmu silat dari ayah angkatnya.
Pada suatu hari dia berlatih ilmu pedang, menggunakan sebatang pedang biasa.
Hebat ilmu pedang ini.
Pedangnya lenyap bentuknya dan nampak gulungan sinar terang.
Itulah ilmu pedang yang disebut Thay-san Kiam-sut (Ilmu Pedang Thay-san) yang merupakan inti dari kepandaian Yeliu Cutay karena ilmu pedang itu adalah ciptaan mendiang Pek-bi-tojin, guru dari Yeli Cutay.
Ilmu pedang ini bukan hanya indah dilihat, akan tetapi juga lihai sekali dan selain cepat, untuk meminkannya harus dipergunakan sinkang dengan pengerahan yang tepat pada gerakan-gerakan tertentu.
"Sing-singgggg..... krekkk!"
Tiba-tiba Tiong Sin menghentikan permainan pedangnya, memandang pedang yang patah menjadi dua potong itu.
Ketika dia membuat sentakan tiba-tiba dalam suatu jurus yang penuh daya tipu, pedang itu tidak kuat menahan sentakan ini yang dikerahkan dengan tenaga sinkang dan patah menjadi dua.
"Ah, maaf, Suhu....."
Katanya kepada Yeliu Cutay yang sejak tadi menonton latihan pedang putera angkatnya.
Dia kagum bukan main dan harus mengakui dengan diam-diam bahwa dia sendiri tidak mungkin dapat memainkan Thay-san Kiam-sut seindah itu!
Bakat yang dimiliki Tiong Sin amat besar dan tenaga sin-kangnya juga amat kuat sehingga ketika membuat sentakan itu, pedangnya menjadi patah.
"Ah, tenagamu sudah memperoleh kemajuan pesat, Tiong Sin. Memang, ilmu pedang yang hebat harus dimainkan dengan pedang pusaka yang hebat pula. Pedang biasa takkan kuat bertahan....."
"Sayang kita tidak memiliki sebuah pedang pusaka yang hebat, Ayah."
Tiba-tiba Yeliu Cutay tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, kau kira ayahmu tidak memiliki sebuah pedang pusaka? Ha, siapa bilang? Aku memiliki sebatang pedang pusaka yeng tiada keduanya di dunia ini, Tiong Sin!"
Wajah yang tampan itu berseri dan mata yang mencorong itu mengamati wajah ayahnya.
"Aih, benarkah, Ayah ? Mengapa tidak pernah Ayah keluarkan dan pergunakan? Aku belum pernah melihatnya!"
"Pedang pusaka itu amat hebat dan ampuh, anakku, demikian ampuh dan dahsyatnya sehingga amat berbahaya."
"Ayah, bolehkah aku melihatnya?"
"Kau tunggu sebentar!"
Yeliu Cutay .meninggalkan pemuda itu, mengambil kunci dan membuka pintu gudangnya lalu mengeluarkan Pedang Asmara dalam sarungnya yang nampak berdebu karena sudah terlalu lama tidak pernah disentuh.
Dia membersihkan sarung itu, juga gagang pedang dengan kain ketika membawanya ke depan putera angkatnya.
"Kelihatannya seperti pedang biasa saja, Ayah."
Kata Tiong Sin memancing. Yeliu Cutay tersenyum. Setelah sarung pedang dan gagangnya bersih, dia berkata.
"Pedang biasa? Bersiaplah engkau, anakku, dan lihat baik-baik!"
"Singgggg.....!"
Dia mencabut pedang itu dan nampaklah cahaya berkelebat menyilaukan mata ketika Pedang Asmara tercabut dari sarungnya, apalagi ketika Yeliu Cutay menggerakkan pedang memainkan beberapa Jurus, nampak sinar berkeredepan dan angin berdesingan nyaring.
"Aaahhhhh.....! Bukan main.....! Pedang pusaka itu hebat sekali, Ayah!"
Seru Tiong Sin, matanya terbelalak memancing penuh kagum. Yeliu Cutay menghentikan permainannya dan tertawa, mengelus pedang itu.
"Memang dahsyat sekali pedang ini, tidak bolen dibuat main-main dan berbanaya bekali."
Akan tetapi Tiong Sing tidak melihat bahayanya pedang pusaka yang ampuh, kecuali berbahaya untuk lawan tentu saja.
Dan Yeliu Cutay juga tidak ingin membuka rahasia pedang pusaka itu, mengenai pengaruhnya terhadap pemegangnya yang selalu berdekatan dengan pedang yang dapat mempengaruhi batin orang yang membawanya.
"Ayah, bolehkah aku meminjamnya dan mencoba untuk berlatih Thay-san Kiam-sut?"
Yeliu Cutay mengungguk dan menyerankan pedang itu.
Memang maksud nya mengambil pedang pusaka itu untuk diberikan kepada putera angkatnya agar dapat berlatih kiam-sut itu dengan Pedang Asmara.
Dengan girang Tiong Sin menerima pedang itu dan mulailah dia berlatih.!
Kini Yeliu Cutay berdiri bengong, kagum bukan main.
Memang hebat sekali putera angkatnya, juga muridnya itu.
Dan pedang pusaka itu ketika dimainkan dengan ilmu Thay-san Kiam-sut, nampak pas benar!
Lenyaplah bentuk pedang dan lenyap pula tubuh putera angkatnya, terbungkus gulungan sinar pedang.
Setelah selesai memainkan Thay-san Kiam-sut, Tiong Sin berhenti dan nampak napasnya agak terengah, mukanya penuh peluh.
Melihat ini, Yeliu Cutay berkata.
"Gerakanmu sudah bagus sekali, Tiong Sin. Namun agaknya masih ada ketidak tepatan dalam mengatur pernapasan sehingga engkau terengah dan juga berpeluh nampak kelelahan. Engkau perlu berlatih lebih banyak, terutama memperhatikan pernapasan dalam setiap gerakan."
Pemuda itu mengangguk.
"Baiklah, Ayah. Aku akan berlatih lebih giat dan tekun lagi. Memang Thay-san Kiamsut ini sukar sekali, akan tetapi kalau berlatihnya dengan pedang ini, terasa lebih ringan dan lebih mudah. Bolehkah aku meminjam pusaka ini untuk memperdalam ilmu pedangku, Ayah? Akan kujaga pedang ini baik-baik."
Yeliu Cutay mengangguk.
"Boleh engkau pakai untuk berlatih silat. Akan tetapi, hanya untuk berlatih silat saja dan sehabis berlatih, harus dikembalikan ke dalam gudang. Ini kuncinya!"
Yeliu Cutay menyerahkan kunci gudang dan sarung pedang kepada putera angkatnya, Tiong Sin menerimanya dengan gembira bukan main dan berkali-kali menghaturkan terima kasih ketika ayah angkatnya itu mengundurkan diri.
Yeliu Cutay tidak tahu sama sekali banwa Tiong Sin tadi terengah dan berkeringat bukan dengan sewajarnya, melainkan dibuat atau disengajanya.
Pemuda yang amat cerdik ini sudah memperhitungkan bahwa ayah angkatnya atau gurunya akan menyuruh dia berlatih lebih tekun lagi, sehingga dia memperoleh alasan dan kesempatan untuk meminjam pedang pusaka yang telah amat menarik perhatiannya itu.
Dia suka sekali kepada pedang itu, demikian enak dipakai bersilat pedang!
Demikianlah, mulai hari itu, setiap hari berlatih silat pedang Thay-san, Tiong Siu mempergunakan Pedang Asmara.
Dia sendiri belum sadar pengaruh apa yang dialirkan oleh pedang pusaka itu ke dalam dirinya, dan hanya menganggap bahwa pedang itu memang amat indah, juga ampuh dan baik sekali.
Pada suatu malam, Tiong Sin nampak berlatih silat pedang di dalam kebun, di bawah sinar bulan purnama.
Malam itu langit cerah sekali sehingga sinar bulan purnama menjadi penuh dan terang benderang.
Karena hawa udara amat sejuk, ketika menjenguk jendela kamarnya melihat betapa udara di luar amat jernih dan indah, Tiong Sin lalu meninggalkan kamarnya, mengambil pedang di gudang dan berlatih silat pedang di kebun, tidak di dalam lian-bu-thia (ruangan berlatih silat) seperti biasanya.
Selagi dia berlatih pedang, telinganya yang terlatih matang itu mendengar ada gerakan di belakangnya.
Tiong Sin mengira bahwa gurunya dan juga ayah angkatnya yang datang, akan tetapi ketika dia mengerling, dia melihat pakaian sutera berkembang merah muda.
Seorang wanita!
Dia menghentikan latihannya dan membalikkan tubuh, dan terpesona!
Tentu saja dia mengenal gadis yang berdiri di depannya itu.
Siauw Bwee, gadis berusia lima belas tahun yang menjadi pelayan dan selir ayahnya yang ke tiga.
Siauw Bwee seorang gadis yang manis, dengan mulut yang bibirnya merah menggairahkan.
Akan tetapi, biasanya Tiong Sin tidak pernah tertarik kepada gadis ini atau gadis manapun yang menjadi pelayan di rumah ayahnya.
Dianggapnya Siauw Bwee ini hanya seorang di antara para pelayan dan tentu saja dia merasa terlalu tinggi untuk memandang pun, apalagi sampai tertarik!
Akan tetapi, sekarang lain lagi!
Dia seolah-olah merasa berhadapan dengan seorang bidadari yang baru turun dari sorga!
Begitu cantik jelitanya, begitu menariknya, dengan senyum dikulum yang amat manis, dengan tubuh ranum yang menggairahkan.
Tiong Sin memandangi bengong, pedang itu masih dipegangnya.
Gadis itu tersenyum.
Nampak kilatan giginya sebentar ketika ia tersenyum senyum yang geli karena tidak biasanya sang kongcu (tuan muda) memandang kepadanya seperti itu!
"Kongcu.....!
Kongcu kenapakah.
Apakah lupa kepada saya?
Saya Siauw Bwee.....!"
Katanya sambil tertawa kecil dan menutupi mulutnya dengan ujung lengan baju yang panjang. Tiong Sin menghela napas panjang.
"Ah, engkau Siauw Bwee....."
Katanya seolah-olah tidak percaya bahwa gadis di depannya itu bukan seorang bidadari, melainkan seorang pelayan!
"Kongcu, permainan pedangmu tadi.....
sungguh luar biasa sekali.
Kukira apa yang menderu-deru dan yang nampak hanya gulungan sinar.
Kiranya Kongcu sedang berlatih pedang.
Hebat, Kongcu.....
kau nampak gagah dan.....
dan.....
hebat.....!"
Tiong Sin merasa betapa tubuhnya gemetar.
Dia tidak tahu bahwa ada dua kekuatan luar biasa yang telah memasuki dirinya.
Pertama adalah pengaruh aneh dari Pedang Asmara, yang menggugah gairah berahinya begitu dia berdekatan dengan Siauw Bwee.
Dan ke dua, pengaruh yang lebih ajaib lagi, adalah pengaruh sinar bulan purnama.
Bulan purnama dengan sinarnya yang lembut memang memiliki daya kekuatan yang amat besar pengaruhnya terhadap diri manusia.
Dalam kaitan yang terjadi pada alam sekalipun, bulan mempunyai pengaruh yang amat kuat terhadap lautan, membuat lautan bergelora.
Apalagi terhadap manusia, kalau diingat bahwa manusia, badan ini, lebih dari tiga perempat bagian adalah air!
Karena sadar akan pengaruh bulan pada manusia ini, maka para cerdik pandai di jaman dahulu seringkali memperdalam ilmunya di bawah sinar bulan purnama, akan tetapi juga mengingatkan kaum muda agar berhati-hati kalau sedang terang bulan, sinar bulai purnama itu dapat menggelorakan hati sanubari.
Melihat Tiong Sin gemetar dan seperti menggigil, gadis itu merasa heran.
Tidak biasanya tuan muda itu bersikap seperti itu.
Ia pun melangkah menghampiri, mendekat.
"Engkau kenapakah, Kongcu.....?"
Tanyanya lirih.
Dalam pendengaran Tiong Sin, pertanyaan lirih itu lebih merdu dan lebih sedap daripada nyanyian, bahkan seperti rayuan dan dia pun menggerakkan tangan kirinya dan di lain saat, pinggang gadis itu telah dirangkul lengan kirinya dan sekali tarik, tubuh gadis itu telah berada dalam dekapannya!
Dan gadis pelayan itupun seperti terkena pesona, tubuhnya seperti kemasukan aliran yang membuatnya menggigil, tubuhnya panas dingin dan lama sekali dia tidak menolak, bahkan membalas merangkulkan kedua lengannya di leher Tiong Sin!
Kalau nafsu sudah menguasai hati dan pikiran, maka mata seperti buta, telinga seperti tuli, dan tidak ada lain hal yang mempedulikan lagi kecuali menuruti dorongan nafsu yang bagaikan api yang membakar, makin dituruti makin bernyala!
Kedua orang muda itu seperti sudah lupa akan kesadaran dan tahu-tahu hubungan itu pun terjadilah, seperti dua ekor binatang saja yang tidak lagi mempedulikan susila atau tidak lagi mengenal susila.
Terjadi begitu saja, di tempat itu juga, di atas rumput di mana tadi Tiong Sin berlatih silat pedang!
Dan keduanya melakukannya dengah penuh kepasrahan, pasrah kepada nafsu, tanpa paksaan, bahkan dengan penuh semangat dan gairah.
Setelah lewat tengah malam, setelah mereka menuruti dorongan nafsu seolah-olah iblis sendiri yang memasuki tubuh mereka, setelah memuaskan gairah berahi berulang kali, akhirnya mereka khawatir kalau sampai ketahuan dan mereka pun kembali ke dalam kamar masing-masing.
Tidak banyak kata terucapkan di waktu mereka berdua tenggelam dalam laut nafsu itu.
dan bulan purnama seperti tersenyum.
Pedang Asmara yang masih telanjang dan menggeletak di atas rumput itu nampak semakin terang kilauannya.
Nafsu kesenangan apa pun juga selalu mengandung racun yang memabukkan membuat orang mencandu.
Demikian pula dengan Tiong Sin dan Siauw Bwee.
Begitu mereka minum anggur nafsu berahi di malam bulan purnama itu, mereka menjadi mabuk dan mereka mencandu.
Pertemuan demi pertemuan mereka lakukan di malam hari, di mana saja ada kesempatan, dan mereka pun menenggelamkan diri di dalam lautan nafsu berahi.
Sampai terjadilah pada suatu malam ketika dua orang muda ini sedang bergelut di atas rumput tebal di dalam kebun, tiba-tiba saja muncul Yeliu Cutay.
Tentu saja Tiong Sin menjadi terkejut setengah mati ketika tiba-tiba ada suara ayahnya.
"Tiong Sin! A Bwee! Apa yang kalian lakukan ini?"
"Ayah.....! Ayah, maafkan aku.....!"
Tiong Sin sudah berlutut biarpun masih dalam keadaan telanjang bulat! Siauw Bwee menangis lirih sambil menutupi tubuhnya yang telanjang dan mukanya dengan pakaiannya.
"Hemmm....., sungguh kalian tak tahu malu!"
Yeliu Cutay berseru, lirih pula agar jangan terdengar orang lain di dalam rumah besar.
"Hayo kalian cepat berpakaian yang rapi!"
Dia lalu membalikkan tubuhnya, berdiri membelakangi mereka. Dua orang muda itu cepat menyambar pakaian mereka dan mengenakan pakaian dengan gugup sehingga beberapa kali sampai terbalik balik.
"Ayah, aku..... aku bersalah....."
Tiong Sin berkata dan ketika Yeliu Cutay membalikkan tubuhnya lagi, putera angkatnya itu telah berlutut dan telah mengenakan pakaian. Siauw Bwee juga berlutut di sebelah pemuda itu.
"A Bwee, kau pergilah ke kamarmu!". kata Yeliu Cutay marah. Gadis pelayan itu pergi sambil menundukkan mukanya, menahan tangisnya. Ia takut sekali, membayangkan bahwa ia tentu akan mendapat hukuman dan bahkan mungkin akan diusir pergi dari tempat itu. Setelah gadis itu pergi menyelinap ke dalam rumah melalui pintu belakang, Yeliu Cutay berkata kepada muridnya atau putera angkatnya yang berlutut.
"Tiong Sin, hayo jawab terus terang. Sudah berapa kali engkau melakukan ini dengan A Bwee?"
"Sudah kurang lebih satu bulan, Ayah."
"Hemmm, dan dengan wanita lain?"
"Sungguh mati, belum pernah Ayah. Hanya dengan Siauw Bwee ini....."
"Ceritakan bagaimana sampai dapat terjadi hal memalukan ini. Apakah engkau jatuh cinta kepada gadis pelayan itu?"
"Tidak, Ayah."
Yeliu Cutay mengerutkan alisnya.
"Engkau tidak mencinta akan tetapi melakukan perjinaan dengannya?"
Dia menarik napas panjang.
"Coba ceritakan bagaimana bisa terjadi hal ini."
"Maaf, Ayah. Mula-mula ketika aku berlatih silat pedang di malam terang bulan, di kebun ini, tiba-tiba Siauw Bwee muncul dan..... dan..... agaknya iblis menguasai batin kami berdua dan..... hal itu terjadi begitu saja tanpa aku dapat mencegahnya seolah-olah seluruh kesadaranku telah lenyap. Setelah itu..... kami..... hampir setiap malam melakukannya di sini....."
Tiong Sin menundukkan mukanya. Tentu saja Yeliu Cutay maklum apa yang terjadi dan dia menarik napas panjang.
"Engkau selalu membawa pedang pusaka itu ke sini?"
"Benar, Ayah. Memang aku selalu berlatih pedang di sini, dan..... Siauw Bwee datang menonton."
Yeliu Cutay merasa amat menyesal, juga marah.
"Tiong Sin, sungguh tak kusangka engkau akan melakukan hal yang amat memalukan dan rendah ini! Engkau telah menghancurkan rasa bangga dalam hatiku terhadap dirimu hanya dengan sekali perbuatan saja! Bukankah sudah seringkali aku menanamkan dalam batinmu bahwa kita harus selalu waspada terhadap tindakan diri sendiri? Bukankah engkau sudah tahu bahwa mengumbar nafsu berahi akan melemahkan diri dan dapat menyeretmu ke dalam tindakan yang menyeleweng? Lihat apa yang telah kau lakukan! Engkau berjina dengan seorang pelayan kita sendiri! Akan rusak nama keluarga kita kalau orang-orang mendengarnya. Tahukah engkau?"
Dengan kepala menunduk Hong Sin mengangguk.
"Aku mengerti, Ayah dan mohon maaf....."
"Enak saja minta maaf kalau pelanggaran itu telah kau lakukan! Berikan pedang itu! Mulai sekarang, engkau tidak boleh keluar dari dalam rumah dan kalau berlatih silat, di lian-bu-thian saja! Ingat, keluar dari rumah berarti engkau melanggar laranganku!"
Tiong Sin menyerahkan Pedang Asmara.
Yeliu Cutay menerimanya dan juga minta kembalinya kunci gudang, lalu meninggalkan putera angkatnya yang masih berlutut di situ.
Setelah ayah angkatnya pergi, dia masih berlutut; kemudian dia bersila dan termenung.
Dia tahu bahwa ayah angkatnya marah kepadanya, marah sekali.
Dia sama sekali tidak menduga bahwa kemarahan ayah angkatnyu itu sebetulnya sudah mereda oleh pengertian bahwa Pedang Asmaralah yang menyebabkan terjadinya pelanggaran itu, dan bahwa ayah angkatnya melarang dia keluar hanya untuk sekedar memberi peringatan dan mencegah agar peristiwa itu tidak terdengar orang luar.
"Hemmm, dia berlaku tidak adil,"
Tiong Sin mengomel di dalam hati.
"Apa salahnya kalau aku menyukai seorang pelayan? Siauw Bwee juga seorang wanita dan aku seorang pria, apa salahnya kalau kita saling mencinta? Dia sendiri mempunyai empat orang selir! Beginilah kalau menerima budi orang. Kalau aku anaknya sendiri, tentu tidak akan dimarahi bahkan Siauw Bwee akan diberikan kepadaku untuk menjadi pelayan pribadiku."
Sampai beberapa hari lamanya, Tiong Sin mengeram diri di dalam kamarnya, dan pada hari ke lima Yeliu Cutay mendengar dari para pelayan bahwa putera angkatnya itu tidak ada di dalam kamar nya!
Pemuda itu telah pergi tanpa pamit.
Yeliu Cutay cepat memeriksa kamar pemuda itu.
Semua pakaian dibawanya.
Dia memeriksa gudang di belakang.
Pedang Asmara telah lenyap!
"Kurang ajar!"
Yeliu Cutay mengepal tinju.
Tahulah dia bahwa putera angkatnya itu telah minggat.
Cepat dia pun melakukan pengejaran sambil membawa sebatang pedang yang biarpun tidak seampuh Pedang Asmara, namun merupakan sebuah pedang pusaka yang cukup baik pemberian raja sebagai hadiah kepadanya.
Yeliu Cutay yang memiliki banyak pengalaman itu dalam waktu dua hari saja sudah berhasil menyusul dan menemukan Tiong Sin.
Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati pemuda itu ketika dia sedang menjalankan kudanya perlahan-lahan di jalan yang sunyi itu, ayah angkatnya muncul menunggang kuda, mendahuluinya, lalu memutar kuda dan mereka kini berhadapan.
Melihat ayah angkatnya, wajah Tiong Sin menjadi pucat dan dia pun cepat turun dari atas kudanya, dan memberi hormat.
Yeliu Cutay juga melompat turun dari atas kudanya, wajahnya kemerahan dan sepasang matanya memancarkan sinar kemarahan.
Dia sebetulnya tidak begitu marah tentang peristiwa pemuda itu dengan Siauw Bwee, akan tetapi kepergian pemuda itu tanpa pamit benar-benar membuat dia marah sekali.
"Manusia tidak mengenal budi!"
Bentaknya sambil menuding muka pemuda itu dengan telunjuknya.
"Engkau minggat begitu saja dari rumah tanpa pamit dan mencuri pula pedang pusakaku! Seekor anjing pun takkan merugikan orang yang memeliharanya, akan tetapi engkau, seorang manusia telah membalas budi kebaikan orang dengan kepalsuan dan kejahatan!"
Wajah pemuda tampan itu yang tadinya pucat, kini berubah merah.
Di dalam hatinya, dia memang sudah merasa penasaran kepada ayah angkatnya itu yang dianggapnya kejam dan sewenang-wenang.
Kini, ayah angkatnya itu mengejarnya dan memaki-makinya, bahkan membandingkannya dengan seekor anjing yang lebih baik daripada dia!
Segala macam perasaan penasaran yang selama ini terpendam di hatinya kini tersalurkan keluar dan dia pun berdiri dan menegakkan kepalanya, memandang kepada ayah angkatnya itu dengan sinar mata bernyala berani.
"Ayah bicara tentang hutang budi? Siapa yang berhutang budi? Aku tidak pernah merasa berhutang budi kepadamu!"
Yeliu Cutay terbelalak, alisnya berkerut dan kemarahannya seperti api disiram minyak bakar!
"Keparat!
Berani engkau bicara seperti itu?
Sejak bayi engkau kupungut, kupelihara, kemudian aku menjadi ayah angkatmu, juga gurumu yang mendidikmu dengan segala macam ilmu yang kumiliki, dan engkau bilang bahwa engkau tidak berhutang budi kepadaku?"
Dalam kemarahannya, Yeliu Cutay juga merasa heran bagaimana pemuda yang rasanya sopan dan hormat kepadanya itu kini menjadi seperti itu sikapnya, mengingkari budi yang sudah dilimpahkannya seluas lautan!
"Hemmm, aku tahu akan semua itu, sudah terlampau sering kauceritakan itu, Ayah.
Akan tetapi, coba Ayah ingat baik-baik.
Ketika aku terlahir sebagai seorang bayi, ditinggal mati ibu dan ayah kemudian aku dibawa olehmu, siapakan yang minta hal itu dilakukan?
Apakah aku pernah minta agar Ayah memeliharaku?
Sama sekali tidak!
Kemudian, Ayah mengaku aku sebagai anak angkat, apakah itu kehendakku pula?
Juga tidak!
Dan Ayah mengajarkan ilmu-ilmu kepadaku, sebagai seorang guru.
Apakah aku pernah minta menjadi muridmu?
Juga tidak sama sekali!
Nah, semua adalah kehendak Ayah sendiri, dan aku hanya menurut saja!
Dan sekarang Ayah bicara tentang budi!
Siapa yang berhutang budi?
Aku tidak pernah minta, tidak pernah merasa hutang.
Kalau semua perbuatan Ayah terhadap diriku dulu itu dianggap sebagai menghutangkan dan dulu diberitahukan kepadaku, tentu aku tidak akan sudi menerimanya!"
Terbelalak sepasang mata Yeliu Cutay.
Sungguh sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa di balik semua sikap sopan santun dan hormat dari Tiong Sin, terdapat perasaan seperti itu!
Apakah artinya semua jerih payahnya selama ini?
Hanya akan ditentang dan dilawan oleh pemuda ini, bahkan dihina!
"Keparat, berani engkau bicara seperti itu?
Setelah segala yang kulakukan untukmu selama dua puluh tahun ini!
Ya Tuhan, akan bagaimana jadinya dengan dirimu?"
"Mengenai diriku, mulai saat ini harap Ayah tidak perlu memusingkannya lagi lan tidak perlu mencampuri lagi. Aku sudah cukup dewasa dan aku dapat hidup sendiri tanpa bantuan dan bimbingan Ayah lagi!"
Yeliu Cutay mengangguk-angguk.
"Bagus! Bagus! Kalau begitu, sekarang kembalikan pedang pusakaku. Pedang Asmara itu adalah pedangku. Yang lain-lain boleh kau bawa, akan tetapi pedang itu harus kau kembalikan kepadaku!"
Tiong Sin tersenyum, bukan senyum ramah dan hormat, melainkan senyum sinis.
"Pedang Asmara? Ah, namanya Pedang Asmara? Bagus sekali, memang cocok untukku. Ayah, pedang ini cocok untukku, maka akan kubawa pergi, aku membutuhkannya untuk membela diri."
"Tidak! Itu adalah pedang pusakaku, Kembalikan!"
"Menyesal sekali takkan kukembalikan!"
"Apakah kau ingin aku menggunakan kekerasan dan merampasnya dari tanganmu?"
"Hemmm, boleh Ayah coba kalau bisa!"
Kembali mata Yeliu Cutay terbelalak!
Betapa beraninya anak ini!
Kemarahannya sampai lenyap saking herannya dan sejenak dia hanya memandang dengan mata terbelalak!
Kiranya, domba yang selama puluhan tahun ini dia belai, dia sayangi!
dia pelihara, sesungguhnya adalah seekoa harimau yang mengenakan bulu domba dan baru sekarang menanggalkan bulu domba itu, memperlihatkan watak dan sifat aselinya!
"Sudahlah, Ayah.
Relakan aku pergi membawa Pedang Asmara, Jangan memaksaku harus melawanmu!"
"Jahanam!"
Yeliu Cutay sudah mencabut pedangnya dan menyerang.
Namun, Tiong Sin yang sudah siap.
siaga itu pun mencabut Pedang Asmara dan mereka pun saling serang dengan dahsyatnya.
Sudah biasa mereka saling serang seperti ini, akan tetapi itu hanya terjadi dalam latihan silat.
Sekarang, mereka bukan berlatih, melainkan berkelahi dengan sungguh-sungguh, keduanya berpedang dan memainkan Thay-san Kiam-sut dengan dahsyatnya, berusaha merobohkan lawan!
Tidak ada lagi hubungan antara ayah angkat dan anak, atau antara guru dan murid, mereka seperti dua orang lawan yang berusaha keras untuk saling membunuh dan saling serang dengan sungguh-sungguh!
Bukan main serunya perkelahian antara kedua orang ini.
Tentu saja kedua pihak sudah mengenal baik semua jurus yang mereka pergunakan untuk menyerang sehingga mampu membela diri dengan baik.
Kalau kedua pihak sudah sama mahirnya, maka yang diadu hanyalah kematangan, keuletan, tenaga dan ketahanan, juga kekuatan napas.
Dan dalam hal ini, mereka seimbang juga.
Yeli Cutay menang pengalaman, lebih matang dan lebih ulet.
Sebaliknya Tiong Sin menang tenaga, ketahanan dan lebih panjang napasnya.
Yeliu Cutay sudah mulai lelah dan lehernya mulai berkeringat ketika mereka sudah bertanding selama seratus jurus lebih.
Tiba-tiba dia yang tahu bahwa kalau dilanjutkan, dia akan kehabisan tenaga dan mungkin akan roboh oleh putera angkatnya sendiri, menggunakan gerakan yang mengejutkan karena secara tiba-tiba dia mengubah serangan dan pedangnya menusuk dari bawah ke arah perut pemuda itu!
Serangan ini dibarengi teriakan melengking yang mengejutkan hati Tiong Sin.
Pemuda ini terkejut bukan main, cepat dia meloncat ke samping, namun pedang ayah angkatnya me ngejar terus.
"Brettt! Tranggg.....!"
Celana Tiong Sin robek tertusuk, dan sedikit kulit dan daging pahanya ikut robek.
Darah mengucur, akan tetapi ketika dia menangkis dengan pengerahan tenaga, kedua pedang bertemu dan pedang di tangan Yeliu Cutay mengalami kerusakan, patah dua tiga senti meter di bagian ujungnya!
Yeliu Cutay menarik pedangnya dan meloncat ke belakang.
Kesempatan itu dipergunakan oleh Tiong Sin untuk meloncat ke atas punggung kudanya.
"Biarlah aku membiarkan engkau hidup untuk membayar semua kebaikan yang pernah Kau lakukan untukku."
Kata pemuda itu dari atas punggung kudanya.
Yeliu Cutay marah sekali, akan tetapi patahnya ujung pedang itu saja sudah membuktikan bahwa dia tidak akan menang melawan anak angkatnya itu karena pemuda itu memegang Pedang Asmara.
Andaikata tidak demikian, andaikata dia yang memegang Pedang Asmara, dengan kematangan ilmunya, kiranya dia yang akan menang.
Maka dia pun tidak ingin mengejar pemuda itu, melainkan berseru dengan suara yang penuh kemarahan dan kebencian.
"Jahanam busuk, mulai saat ini tiada lagi hubungan di antara kita. Engkau bukan muridku, bukan pula anak angkatku dan aku melarang engkau mempergunakan nama keturunan keluarga Yeliu!"
Wajah yang tampan itu tertawa mengejek.
"Ha-ha-ha, Yeliu Cutay Mulai karang aku telah menjadi orang bebas dan tanpa kau larang sekalipun, aku juga tidak sudi memakai nama keturunan Yeliu. Ayahku she Bu, maka namaku sekarang Bu Tiong Sin."
Setelah berkata demikian, sambil tertawa Tiong Sin memutar kudanya dan membalapkan kuda itu meninggalkan orang yang selama ini dianggapnya sebagal orang tua dan juga gurunya.
Yeliu Cutay berdiri bengong, memandang ke arah bayangan pemuda itu yang pergi meninggalkan gema suara ketawanya dan tak dapat ditahankannya lagi beberapa butir air mata menetes turun ke atas pipi Yeliu Cutay yang agak pucat.
Dia merasa seolah-olah kematian seorang murid atau bahkan seorang anak yang tadinya amat disayang dan dibanggakannya!
Dan dia merasa berduka sekali.
Dua puluh tahun dia memelihara, mendidik dan menyayangi Tiong Sin, dan hari ini dia menerima penghinaan sebagai balasannya!
Cinta atau kasih sayang yang berpamrih sesungguhnya bukanlah cinta kasih, melainkan nafsu.
Seperti juga semua untuk nafsu, yang diraihnya hanyalah kesenangan untuk diri pribadi.
Kalau kita mencinta seseorang baik orang itu kekasih atau anak, akan tetapi kita menghendaki agar yang kita cintai itu membalas cinta kita dengan cinta kasih pula, dengan kepatuhan, kebaktian atau apa saja yang akan menyenangkan kita, maka cinta kita itu hanyalah nafsu belaka.
Kalau tercapai jangkauan atau pamrih kita, maka kita akan merasa.
puas, dan sebaliknya kalau tidak tercapai, kita akan merasa berduka dan kecewa.
Dan cinta kasih kita akan berubah menjadi kebencian!.
Nafsu hanya akan mendatangkan duka dan sengsara bagi batin kita sendiri.
Kalau Yeliu Cutay kini mengalirkan air mata, bukan karena dia, menyedihi Tiong Sin, melainkan menyedihi kepergiannya, menyedihi kehilangannya, dan yang ditangisinya itu bukanlah Tiong Sin melainkan dirinya sendiri yang merasa kehilangan, yang merasa dikecewakan.
Kasih sayang kepada seseorang seperti itu, sesungguhnya bukanlan cinta kasih yang sejati, karena orang yang katanya dicinta itu hanyalah dijadikan alat dan sarana untuk mencapai kesenangan diri pribadi.
Cinta kasih seperti itu tiada bedanya dengan "cinta"
Kita kepada binatang peliharaan atau benda berharga yang lain. Bisa bosan, dan rasa "cinta"
Itu bisa sewaktu-waktu berubah benci kalau binatang peliharaan atau benda berharga itu tidak menyenangkan hatinya lagi.
Cinta seperti itu melekat, mengikat dan hanya sengsara yang akan menjadi akibatnya.
Selamanya dia atau apa saja masih mendatangkan kesenangan atau keuntungan pribadi lahir batin, maka kita mencintanya!
Kalau tidak lagi menjadi sumber kesenangan dan keuntungan, maka cinta kita pun berakhir.
Kenyataan ini dapat kita lihat dengan menjenguk keadaan batin kita sendiri dalam apa yang kita anggap cinta kasih kepada mereka yang kita cinta.
Kita mencinta apa yang menyenangkan kita saja.
Kita menolak, bahkan seringkall kita membenci apa yang tidak menyenangkan kita.
Di dalam hati Yeliu Cutay kini timbul kebencian kepada pemuda yang pernah disayangnya itu.
Keadaan seperti yang dialami Yeliu Cutay ini kiranya pernah atau akan dialami juga oleh kita.
Keadaan batin yang berubah sepenuhnya, dari rasa sayang menjadi rasa benci.
Sebabnya perubahan ini jelas nampak.
Karena orang yang disayangnya itu telah mengecewakan hatinya, telah mengubah kesenangan atau keuntungan batin yang ada menjadi kerugian dan kekecewaan.
Jelaslah bahwa senang dan susah merupakan kakak beradik kembar yang tak terpisahkan.
Di mana ada senang di situ ada susah.
Seseorang yang sama, sebuah benda yang sama, bahkan suatu persoalan yang sama, bisa saja mendatangkan senang, bisa juga mendatangkan susah.
Senang susah hanyalah permainan pikiran menurut pertimbangan si aku, kalau diuntungkan senang, kalau dirugikan susah!
Bahkan turunnya air hujan pun bisa menjadi sebab senang atau susah, tergantung dari segi mana kita melihatnya.
Kalau merasa diuntungkan oleh sang hujan maka senanglah hati dan hujan dipuji puji.
Kalau merasa dirugikan oleh sang hujan, maka susahlah hati dan hujan dimaki-maki.
Yeliu Cutay dapat menduga bahwa pemuda itu kelak tentu akan celaka oleh ulahnya sendiri, akan tetapi dia tidak menyesal, bahkan diam-diam ada harapan seperti itu di dalam hatinya.
Tentu saja hal ini timbul karena kemarahan, benci dan dendam.
Kita tinggalkan dulu Yeliu Cutay yang berduka, dan tinggalkan pula Tiong Sin yang kini bagaikan seekor burung terbang bebas di udara, bukan burung merpati yang jinak dan lembut, melainkan seekor burung elang yang amat berbahaya karena selain memiliki ilmu silat yang tinggi, pemuda itu juga memiliki Pedang Asmara, dan berbahayanya, dia memiliki batin yang rapuh!
Kita menjenguk kehidupan manusia lain yang hidup di sebuah dusun kecil di kaki Pegunungan Thian-san dan kita mundur dulu kurang lebih lima tahun.
Pemuda itu berusia kurang lebih lima belas tahun, akan tetapi kalau melihat tubuhnya dari belakang, orang akan mengira bahwa dia sudah dewasa.
Tubuhnya tinggi besar dan kokoh kuat.
Akan tetapi kalau melihat wajahnya, baru orang tahu bahwa dia masih remaja, bahkan wajah itu agak kekanak-kanakan, dengan mata yang lebar dan membayangkan kepolosan dan kejujuran yang mengarah kepada kebodohan!
Mukanya tak dapat dibilang terlalu tampan, namun penuh kejantanan dan keterbukaan yang membuat orang merasa tertarik dan suka.
Kaki tangannya berotot dan kokoh, juga tubuhnya yang besar itu penuh otot yang kuat, dengan dada yang bidang, pinggang ramping dan kalau berdiri seperti batu karang kokoh kuat, tegak lurus, kalau berjalan seperti seekor harimau.
Kulitnya agak gelap, sebagai akibat jemuran matahari yang selalu menimpa dirinya karena dia setiap hari bekerja di tempat terbuka.
Dia melangkah dengan tegap namun santai, memasuki hutan di lereng Pegunungan Thian-san dan terdengar dia bersenandung dengan suaranya yang besar namun cukup merdu.
Lagu rakyat yang sederhana.
Di dalam suaranya terkandung kegembiraan, juga wajahnya berseri dan dia nampak berbahagia sekali.
Baca Juga: Memburu Iblis 6
Baca Juga: Pedang Pusaka Naga Putih 4