Ceritasilat Novel Online

Pedang Asmara 3

Eps 3 Pedang Asmara - Kho Ping Hoo

Baca online Pedang Asmara - Kho Ping Hoo

Cersil Pedang Asmara - Kho Ping Hoo.

Memang dia seorang pemuda berbahagia walaupun pakaiannya sederhana, dari kain kasar dan tidak baru lagi.

Pemuda remaja ini bernama Kwee San Hong, berusia hampir enam belas tahun.

Kwee San Hong ini putera tunggal seorang petani bernama Kwee Cun yang hidup sederhana sebagai petani di dusun Po-lim-cun di kaki Pegunungan Thian-san.

Hidup sebagai petani dan tentu saja sejak kecil San Hong juga bekerja di sawah ladang, mencari kayu bakar, memikul air, menggembala ternak dan kadang-kadang juga berburu binatang di hutan-hutan di lereng Thian-san.

Semua pekerjaan berat inilah yang membuat tubuhnya menjadi kokoh kuat.

Bukan itu saja, melainkan karena cara hidup yang bersih, hawa udara di pegunungan yang sejuk dan jernih, jauh dari debu dan kotoran, kehidupan sederhana sehingga nafsu-nafsu tidak merajalela.

Di samping semua ini, juga San Hong mempunyai bakat dan pembawaan sejak lahir sehingga dia dalam usia kurang dari enam belas tahun telah memiliki tenaga yang amat kuat, sekuat tenaga tiga orang laki-laki dewasa!

Di dusun Po lim-cun, San Hong sudah terkenal sekali sebagai seorang pemuda yang bertenaga gajah, berwatak jujur, polos dan terbuka, dan dianggap agak bodoh oleh kawan-kawannya karena pemuda yang memiliki tenaga sekuat itu, selalu mengalah dan sama sekali bukan "jagoan".

Dia tidak pernah berkelahi, dan selalu mengalah, melakukan pekerjaan yang paling berat.

Akan tetapi, pernah setahun yang lalu, dalam usianya yang baru lima belas tahun, dia selagi berburu, melihat seorang kawannya diterkam harimau!

Tanpa ragu-ragu dan dengan keberanian luar biasa, San Hong menangkap ekor harimau itu, mengangkatnya ke atas dan membanting binatang itu.

ke atas batu sehingga kepalanya pecah harimau itu tewas seketika!

Karena kekuatan dan kegagahannya, biarpun San Hong tidak mau berkelahi dan selalu mengalah, namun tidak ada orang berari mengusiknya!

Pada pagi hari yang cerah itu, San Hong berjalan seorang diri mendaki lereng Pegunungan Thian-san.

Dia hendak berburu binatang karena persediaan daging kering di rumah orang tuanya telah menipis.

Kalau dia beruntung mendapatkan binatang yang besar seperti kijang dagingnya akan mereka masak di rumah dan kelebihan daging itu akan dibuat daging asin dan kering.

Akan tetapi kadang-kadang dia hanya mendapatkan beberapa ekor kelinci saja.

Perlengkapannya berburu hanyalah sebuah gendewa dan beberapa belas batang anak panah yang sederhana sekali, buatan sendiri, digantungkan di punggung, dan sebatang tombak di tangannya.

Jarang ada orang berani melakukan perburuan seorang diri saja.

Biasanya, para pemuda di kaki Pegunungan Thian-san yang suka berburu, dulu berkelompok, sedikitnya lima orang.

Berburu seorang diri amat berbahaya, karena di dalam hutan-hutan yang masih liar di pegunungan itu terdapat pula binatang-binatang buas seperti harimau, biruaug dan lain-lain.

Namun, San Hong lebih suka berburu seorang diri dan dia sama sekali tidak pernah merasa takut.

Biarpun San Hong seorang dusun dan tidak bersekolah, namun Kwee Cun, ayahnya, tidak buta huruf.

Ayah ini mengajarkan ilmu membaca dan menulis kepada putera tunggalnya sehingga Kwee San Hong juga tidak menjadi seorang yang buta huruf.

Hal ini saja sudah merupakan suatu "kelebihan"

Bagi para pemuda dusun itu yang rata-rata buta huruf.

Selagi San Hong berjalan memasuki hutan sambil bernyanyi gembira, melihat seorang kakek berjalan di depan, Kakek itu memanggul sebuah buntalan kain di pundak kanan, sedangkan tangan kirinya masih menjinjing sebuah buntalan lain.

Kedua buntalan itu besar dan jauh lebih besar daripada tubuh kakek yang kecil pendek itu, dan nampaknya berat sekali.

San Hong adalah seorang yang selalu suka membantu orang lain.

Melihat se orang kakek kecil kurus membawa sebuah buntalan yang amat besar itu, merasa kasihan sekali.

Agaknya tak lama lagi kakek itu tentu akan roboh tertindih dua buah barang yang dibawanya, pikirnya.

Maka dia menghentikan nyanyiannya dan mengejar dengan langkah lebar.

Akan tetapi, dia harus berjalan setengah berlari barulah dia akhirnya dapat menyusul kakek kecil kurus yang larinya amat cepat walaupun dibebani dua buntalan besar yang nampaknya berat itu.

Kakek itu berhenti ketika ada seorang pemuda tinggi besar mendahuluinya dan berdiri di depannya.

Dan San Hong juga memperhatikan wajah kakek itu.

Seorang kakek yang tua renta, mungkin tujuh puluh tahun usianya, badannya nampak ringkih, kulit membungkus tulang, mukanya keriputan dan rambutnya jarang dan putih, namun matanya seperti mata kanak-kanak!

"Eh-eh, tidak malukah engkau orang nuda?

Semuda ini, dengan tubuh masih kuat untuk bekerja, hendak merampok orang tua bangka seperti aku ini?"

Orang lain tentu akan marah.

Mengejar untuk membantu malah disangka hendak merampok!

Akan tetapi San Hong tidak mudah marah.

Dia mengenal kebodohan sendiri dan dia menganggap bahwa kakek kecil ini juga bukan orang pintar, maka dapat salah duga.

Dia memaafkan kesalahan orang bodoh seperti memaafkan kebodohannya sendiri dan cepat dia menjura.

Ayahnya selalu mengajarkan bahwa seorang muda harus bersikap hormat kepada orang tua, tidak peduli orang tua itu dari golongan apa, kaya atau miskin, pria atau wanita.

"Maafkan aku, Kek. Sesungguhnya, aku mengejarmu bukan dengan niat merampok, melainkan aku kasihan melihat engkau yang tua dan ringkih ini harus membawa beban yang begini banyak dan berat. Aku ingin membantumu, Kek."

Mata yang bening itu memandang penuh selidik.

"Hemmm, engkau hendak menipuku, ya? Kau pura-pura membantuku, membawakan barang ini, dan kalau sudah kuberikan dan kaupanggul, lalu engkau melarikannya. Bukankah begitu? Tak tahu malu! Menipu dan membohongi seorang tua seperti aku!"

San Hong masih bersikap tenang dan sabar.

"Apakah semua orang yang sudah sangat tua begini penuh prasangka buruk terhadap orang lain, Kek? Aku bersungguh-sungguh, kasihan dan ingin membantumu, malah kausangka yang tidak-tidak. Kalau engkau tidak mau dibantu, akupun tidak memaksamu. Akan tetapi harap jangan menuduh aku hendak melarikan barangmu."

Sikap kakek itu kini berubah.

"Hemm, jadi engkau benar-benar hendak membantu aku membawa barang ini? Kau tahu? Aku hendak naik ke puncak bukit yang sebelah kiri. Amat jauh perjalan itu, dan membawa barang ini amat berat. Engkau mau membantuku membawakannya sampai ke sana?"

San Hong terkejut.

Mendaki puncak itu bukan pekerjaan ringan, apalagi kalau membawa beban berat.

Akan tetapi, dia sudah terlanjur menawarkan bantuan dan kalau dia mundur, tentu akan menimbulkan pula dugaan yang buruk-buruk.

Lebih lagi, kalau dia membiarkan kakek ini membawa dua buntalan berat itu mendaki puncak, tentu kakek itu akan roboh dan tewas jauh sebelum mencapai puncak.

"Baiklah, Kek, akan kubantu engkau membawa barangmu itu sampai ke puncak sana."

Tiba-tiba kakek itu tertawa, suara ketawanya terkekeh kekeh sehingga San Hong memandang dengan alis berkerut karena jelas kakek itu mentertawakan dia.

"Apakah yang kau tertawakan itu Kek?"

"Tentu saja mentertawakan engkau, Tolol! Apakah engkau kuat membawa buntalan ini ke puncak sana? Kukira, baru memanggulnya saja sudah tidak kuat kau!"

Sekali ini, San Hong menjadi penasaran.

"Kek, engkaulah yang bicara terlalu keras dan besar. Engkau saja menanggul dua buntalan ini kuat, apa lagi aku! Nah, berikan padaku yang lebih besar itu, akan kupauggul dan kubantu engkau membawanya ke puncak sana."

"Bagus. Yang lebih besar ini yang ringan. Nah, kau terimalah dari pundakku!"

Kata kakek itu.

Diam-diam San Hong mendongkol juga.

Tentu saja yang lebih besar itu lebih berat, pikirnya.

Dia pun merendahkan dirinya agar kakek itu dapat menurunkan dan memindahkan buntalan yang lebih besar di pundaknya itu ke atas pundaknya sendiri.

"Nah, terimalah buntalan ini, hati-hati, ya? Kerahkan seluruh tenagamu!"

Kata kakek itu.

Diam-diam San Hong merasa geli hatinya.

Masa dia harus mengerahkan seluruh tenaganya?

Biarpun buntalan itu kelihatan besar dan berat, namun kalau kakek itu mampu memanggulnya, tentu hanya ringan saja baginya, teramat ringan.

Akan tetapi begitu buntalan itu menimpa pundaknya, semua perasaan geli tadi lenyap, matanya terbelalak, mukanya menjadi merah dan dia benar-benar harus mengerahkan seluruh tenaganya kalau tidak ingin roboh tergencet!

Buntalan itu benar-benar amat berat!

Orang biasa yang bertenaga besar pun belum tentu sanggup memanggulnya.

Kedua kakinya sampai tergetar saking beratnya muatan itu!

Dan kakek tadi mampu memanggulnya, bukan hanya mampu, bahk tangan kirinya masih menjinjing sebuah buntalan lain dan dengan dua beban itu kakek ini malah tadi mampu berjalan amat cepatnya!

Kakek kecil itu sendiri nampak terheran dan kagum melihat San Hong mampu memanggul buntalan itu dan wajahnya berseri gembira.

"Wah, engkau ternyata memiliki tenaga yang kuat, orang muda.

"Jalanlah, Kek, aku akan membantumu membawa buntalan ini sampai ke puncak....."

Kata San Hong dan cepat dia berhenti bicara karena begitu bicara, tenaganya berkurang dan dia agak terengah.

Kakek itu lalu mengangguk-angguk, berjalan mendaki gunung itu.

San Hong terpaksa mengikutinya dan dia memang bertenaga gajah.

Biarpun terasa berat, dia mampu berjalan dengan cukup cepat, dan daya tahannya juga kuat.

Untuk nenunjukkan kepada kakek ttu bahwa dia tidak berkeberatan membantunya, dia berkata sambil menahan napas.

"Biarlah yang sebuah itu pun kubawakan juga, Kek!"

Kakek itu berhenti dan tertawa. Suara ketawanya tinggi dan terkekeh.

"Heh-heh-heh, agaknya karena terlalu berat, engkau ingin membawa buntalan yang lebih kecil ini? Nah, kalau begitu mari kita tukar saja buntalan ini, engkau membawa kecil, aku membawa yang besar."

"Bukan begitu maksudku, Kek....."

San Hong membantah, akan tetapi tiba-tiba kakek itu mengulur tangannya dan buntalan di atas pundak San Hong itu telah diambilnya.

San Hong terkejut dan tentu saja merasa heran bukan main bagaimana kakek itu demikian mudahnya mengambil buntalan seberat itu dari pundaknya dan ketika dia memandang, ternyata buntalan besar itu telah pindah ke atas pundak kakek kecil itu.

"Nah, terimalah buntalan ini!"

Kata kakek itu menyerahkan buntalan yang lebih kecil.

San Hong menerimanya akan tetapi betapa kaget rasa hatinya ketika dia merasakan beratnya buntalan yang lebih kecil itu.

Lebih berat daripada buntalan yang lebih besar!

Tentu saja mukanya berubah kemerahan.

Tadi dia minta buntalan itu agar dia bawa pula.

Padahal membawa buntalan kecil ini saja dia sudah setengah mati mempertahankan diri dan mengerahkan seluruh tenaga.

Kalau membawa dua buntalan itu, jelas dia tidak kuat!

Dan kakek itu mampu, membawa keduanya dan masih berjalan cepat pula!

Manusia ataukah setankah kakek ini?

Tubuhnya begitu kurus kecil usianya tua renta, akan tetapi bagaimana mungkin memiliki tenaga yang demikian kuatnya?

"Heh-heh-heh, engkau memang kuat."

Kata pula kakek itu.

"Apakah engkau masih nekat hendak membantuku membawa buntalan itu ke puncak?"

San Hong mengangguk dan melangkah maju, biarpun tertatih-tatih.

"Tentu saja, Kek!"

Katanya.

Kakek itu kini memandang kagum dan wajahnya berseri.

Dia juga melangkah maju dan membiarkan pemuda tinggi besar itu kepayahan membawa barangnya sampai puluhan langkah.

Kemudian, tiba-tiba dia mengulur tangan dan buntalan itu pun sudah diambilnya dari pundak San Hong.

Tentu saja pemuda ini terkejut dan ketika dia membalik, kakek itu sudah tersenyum kepadanya, buntalan besar di atas pundak kanan dan buntalan yang lebih kecil dijinjing tangan kirinya seperti tadi.

Betapa kuatnya!

Dia pun tahu bahwa kakek ini mungkin seorang sakti seperti pernah diceritakan ayahnya tentang adanya orang-orang sakti berilmu tinggi di dunia ini.

Maka dia pun lalu menjura dan mengangkat kedua tangan ke dada memberi hormat.

Kakek kecil itu terbelalak, dan memandang wajah yang jujur dan polos itu dengan penuh kagum.

Dia bukanlah orang biasa, melainkan seorang di antara Thian-san Ngo-sian (Lima Dewa dari Gunung Thian-san), yaitu lima orang tokoh besar di dunia persilatan.

Sebagai seorang tokoh besar sudah banyak Thay Lek Siansi demikian julukan kakek kecil itu, menemui banyak macam orang, akan tetapi belum pernah dia menjumpai seorang pemuda dengan watak seperti pemuda tinggi besar itu.

Dia merasa kagum sekali Pemuda ini nampaknya belum dewasa benar, sudah memiliki tenaga yang demikian kuat, akan tetapi juga memiliki watak yang demikian polos dan jujur Dan dari gerakannya, pemuda ini agaknya belum pernah mempelajari ilmu silat Tenaganya besar, daya tahannya juga kuat, semangatnya besar dan tahan uji di samping watak yang amat jujur walaupun agaknya kurang cerdik.

"Namamu Kwee Sun Hong? Eh, Sun Hong, berapakah usiamu sekarang?"

"Hampir enam belas tahun, Kek."

"Enam belas tahun? Masih kanak-kanak.....!"

Kata Thay Lek Siansu semakin kagum.

"San Hong, engkau telah memperlihatkan kemauan baik untuk membantu seorang tua seperti aku. Nah, sekarang aku pun ingin membalas kebaikan hatimu itu. Katakan, engkau menginginkan apa dariku? Kalau aku mampu, tentu permintaanmu itu akan kupenuhi."

Tentu saja kakek itu mengharapkan pemuda istimewa ini akan minta menjadi muridnya dan dia sudah siap untuk menerimanya.

"Tidak, Kek. Aku tidak membutuhkan apa-apa dan tidak minta apa-apa darimu. Terima kasih, Kek, aku hendak melanjutkan perjalananku berburu, hari sudah mulai siang."

Setelah berkata demikian, San Hong memberi hormat lagi lalu membalikkan tubuhnya pergi meninggalkan kakek kecil itu yang berdiri bengong.

Thay Lek Siansu menggeleng-geleng kepalanya dengan penuh kagum dan heran.

"Sayang..... sayang....., sungguh anak yang baik sekali dia....."

San Hong sudah menyusup ke dalam hutan dan mulai mencari-cari binatang yang dapat dibunuhnya.

Dia sudah melupakan lagi kakek kecil yang bertenaga besar tadi.

Tiba-tiba dia terkejut, memutar tubuhnya dan cepat mengambil gendewa dan anak panah.

Seekor kijang melompat dengan amat cepatnya sehingga dia tidak sempat lagi menggunakan anak panahnya.

Dan di belakang kijang itu, dia melihat seorang kakek yang agaknya mengejar kijang itu dengan lari terpincang pincang.

Ketika meliha San Hong, kakek itu berhenti berlari dan mengomel.

"Kijang sialan, larinya begitu cepat!"

San Hong melihat betapa kakek itu sudah tua, usianya tentu juga mendekati tujuh puluh tahun, sedikitnya enam puluh .lima tahun.

Tubuhnya sedang saja, wajahnya juga seperti wajah seorang kakek petani biasa, dan kaki kanannya pincang sehingga untuk membantu jalannya, kakek itu memegang sebatang tongkat butut Hampir saja San Hong tertawa karena geli hatinya.

Akan tetapi rasa kasihan menahan ketawanya dan dia memandang penuh perhatian lalu menarik napas panjang.

"Kakek yang baik, bagaimana mungkin engkau akan mampu menangkap kijang yang larinya amat cepat itu? Untuk apakah engkau mengejar-ngejar seekor kijang?"

"Hemmm, kau tidak melihat tanduknya tadi? Aku membutuhkan tanduknya, orang muda."

Jawab kakek itu dan diapun mengamati San Hong dari kepala sampai ke kaki. Betapa gagahnya pemburu ini, pikirnya.

"Membutuhkan tanduknya? Engkau orang aneh, Kek. Orang lain kalau berburu kijang tentu membutuhkan daging dan kulitnya, akan tetapi yang Kau butuhlan adalah tanduknya. Akan tetapi, bagaimana mungkin engkau dapat menangkap kijang yang muda dan kuat berlari cepat itu?"

"Heh-heh heh, apakah engkau mampu mengejarnya, orang muda?"

"Belum tentu. Akan tetapi setidaknya aku dapat berlari lebih cepat darimu Kek. Maka, kau tunggulah saja di sini! Biar aku mencoba untuk mengejar dan menangkapnya. Kalau aku berhasil, maka daging kijang itu untukku, dan tanduknya akan kuberikan kepadamu."

Setelah berkata demikian, tanpa menanti jawaban lagi San Hong lalu meloncat dan berlari secepatnya, mengejar ke arah larinya kijang tadi.

Kijang itu berlari ke selatan dan dia tahu bahwa selatan terdapat sebatang sungai.

Tentu ke sungai itulah kijang tadi pergi dan di sana akan terhalang sungai.

Karena tepi sungai merupakan padang rumput, maka akan mudahlan baginya untuk dapat menemukan kijang yang tadi dikejar oleh kakek pincang.

San Hong berlari secepatnya, mengerahkan seluruh tenaga kaki dan kekuatan napasnya.

Betapapun juga, karena jalannya naik turun, setelah tiba di padang rumput di tepi sungai, napasnya terengah-engah dan peluhnya bercucuran Tiba-tiba dia menahan kakinya, memandang terbelalak ke depan.

Apa yang dilihatnya?

Kakek pincang itu sudah duduk di sana, di atas rumput, memegangi tongkat bututnya.

Tentu saja dia menjadi heran bukan main.

Akan tetapi, kakek pincang itu agaknya bersikap biasa saja, dan mengnela napas ketika San Hong muncul, lalu berkata.

"Wah, kijang itu memang cepat sekali larinya!"

San Hong masih terbelalak saking herannya.

Kakek itu bukan saja telah lebih dulu tiba di situ, akan tetapi sedikitpun tidak berkeringat atau terengah-engah seperti dia, dan sama sekali tidak kelihatan lelah.

"Mungkin dia di sana!"

Kakek itu bangkit berdiri dan terpincang-pincang lari menuju ke kiri.

San Hong yang merasa penasaran, kini cepat mengejar karena dia merasa penasaran dan selagi kakek itu masih nampak, dia mengejar dan ingin menyusul, seolah-olah hendak berlumba lari dengan kakek itu.

Dan San Hong melihat kenyataan yang lebih aneh lagi!

Biarpun dia melihat kakek itu lari terpincang-pincang dibantu tongkatnya di depannya, dan dia sendiri sudah mengerahkan seluruh tenaga dan berlari secepatnya, namun tetap saja dia tidak dapat menyusul, bahkan makin lama jarak antara mereka menjadi semakin jauh!

Kini tidak dapat diragukan lagi bahwa memang kakek itu dapat berlari jauh lebih cepat darinya.

Muka San Hong menjadi merah sekali.

Tadi dia menganggap kakek itu cacat dan tidak mungkin dapat mengejar kijang yang larinya amat cepat, bankan dia menawarkan diri membantu kakek itu mengejar kijang.

Dan sekarang, jelaslah bahwa dia kalan jauh dalam hal kecepatan lari.

Ini tidak mungkin, pikirnya penuh penasaran dan rasa malu.

Masa dia kalah cepat larinya dibandingkan seorang kakek tua yang pincang?

Sungguh aneh.

Dia masih beberapa lamanya mencoba untuk mengejar sambil mengerahkan tenaga, dan hasilnya hanya keringat bercucuran dan napasnya terengan-engah nampir putus Maka, dia pun berteriak memanggil.

"Kek.....! Kakek..... tunggu dulu.....!"

Kakek itu berhenti dan membalikkan tubuh, terkekeh.

San Hong tiba di depannya dan napas pemuda itu sudah senin kemis hampir putus.

Dia memandang kakek itu dengan mata terbelalak, melihat betapa kakek itu masih terkekeh dan napasnya sama sekali tidak memburu, tidak ada keringat, setetes pun membasahi mukanya.

San Hong cepat menjura dan mengangkat kedua tangannya ke depan dada, memberi hormat.

"Aduh, Kek. Maafkan aku yang memandang rendah padamu. Aku mengaku kalah! Larimu cepat sekali, lebih cepat dari kijang, pantas tadi engkau mengejar-ngejar kijang!"

"Heh-heh-heh, ada yang cepat tentu ada yang lebih cepat lagi. Kijang itu larinya jauh lebih cepat sehingga buktinya aku tidak mampu menangkapnya. Engkau memiliki sifat yang lebih baik lagi daripada sekedar lari cepat, orang muda, engkau memiliki keterbukaan, budi yang luhur dan hati yang rendah. Siapakah namamu?"

"Namaku Kwee San Hong, Kek. Tentang kijang itu, kalau aku berhasil mendapatkannya, tentu tanduknya akan kuberikan kepadamu. Akan tetapi kemana aku harus mengantarnya?"

"Heh-heh-heh, engkau baik sekali. Aku akan ke puncak sana. Engkau tadi ingin membantuku menangkap kijang, kini akan memberikan tanduk kijang. Hemm, kalau aku dapat memberikan sesuatu, tentu akan kuberikan. Akan tetapi, apakah yang kau harapkan dariku? Mintalah dan aku akan berikan kalau memang dapat, orang muda yang baik."

Tanpa berpikir panjang lagi San Hong, sesuai dengan wataknya, menjawab.

"Terima kasih, Kek. Aku tadi ingin membantumu karena aku kasihan melihat seorang tua mengejar kijang, bukan membantu untuk mendapatkan imbalan. Aku tidak butuh apa-apa dan tidak minta apa-apa. selamat jalan, Kek dan maafkan kebodohanku yang memandang rendah kepadamu."

Berkata demikian, San Hong lalu meninggalkan kakek itu untuk mencari kijang tadi atau binatang lain.

Sampai lama kakek itu berdiri memandang padanya sampai pemuda itu lenyap di dalam hutan dan kakek itu menarik napas panjang.

"Siancai....., belum pernan aku melihat seorang pemuda sebaik itu.....!"

Diapun lalu membalikkan tubuh dan sekali berkelebat dia pun lenyap dari situ.

Kukek ini pun bukan orang sembarangan Dia adalah seorang di antara Thian-san Ngo-sian dan julukannya adalah Bu Eng-Sianjin (Dewa Tanpa Bayangan).

Dari julukannya saja mudah diduga bahwa dia adalah seorang sakti ahli gin-kang (ilmu meringankan tubuh) maka tidak mengherankan kalau San Hong tidak mampu menandinginya dalam hal berlari cepat!

San Hong melanjutkan perburuannya akan tetapi kini pikirannya sering melamun.

Dua peristiwa berturut-turut itu mau tidak mau mengganggu pikirannya Dua peristiwa yang aneh, pikirnya.

Pertama, ada kakek tua bertubuh kecil yang bertenaga raksasa sehingga dia sendiri yang terkenal memiliki tenaga gajah dan masih muda, tidak mampu menandingi tenaga kakek itu.

Dan kemudian, seorang kakek tua pula yang memiliki kemampuan berlari cepat melebihi cepatnya kijang!

Dua peristiwa itu membuat San Hong merasa betapa dirinya sesungguhnya lemah sekali.

Dalam hal tenaga, kalah oleh seorang kakek tua yang bertubuh kecil!

Dan berlari?

Belum ada seperempatnya seorang kakek tua renta yang kakinya pincang pula!

Kebetulan sekali ketika dia sedang menyusup-nyusup di antara semak belukar, dari jauh dia melihat seekor kijang yang berdiri terengah-engah.

Dia segera mengenal kijang itu sebagai kijang yang tadi dikejar-kejar oleh kakek pincang!

Agaknya kijang yang tadinya sudah berlari cepat dan jauh itu, bertemu dengan binatang buas seperti harimau dan dikejar kejar pula, maka kini kijang itu seperti kehabisan napas dan bersembunyi di balik semak-semak.

San Hong berindap menghampiri dan setelah cukup dekat, dia mementang gendewanya dan melepaskan anak panah.

Dari jarak yang cukup dekat itu, anak panahnya tepat menembus dada kijang itu dan binatang itu pun roboh tak berkutik lagi kareina anak panah itu menembus dada kijang itu dan binatang itu pun roboh tak berkutik lagi karena anak panah itu menembus jantungnya.

Dengan girang Sun Hong meloncat keluar dan mengambil bangkai kijang, lalu memanggulnya dan membawanya pulang.

Akan tetapi pikirannya masih selalu teringat kepada dua orang kakek aneh dan begitu menyerahkan kijang kepada ayah ibunya, mengambil tanduknya, dia pun berpamit.

"Ayah dan ibu, aku akan pergi mencari kakek pincang di atas puncak itu dan menyerahkan tanduk ini seperti yang telah kujanjikan kepadanya. Karena perjalanan itu jauh, mungkin besok aku baru (Lanjut ke

Jilid 07) Pedang Asmara (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 07 pulang."

Tentu saja ayah ibunya merasa khawatir.

Puncak itu tidak mudah didaki selain tinggi dan sukar jalannya, juga melalui hutan yang banyak dihuni binatang buas, belum lugi perampok dan setan.

Akan tetapi San Hong menghibur hati mereka dan mengatakan bahwa dia mampu menjaga dirinya, dan dengan singkat menceritakan pertemuannya dengan dua orang kakek aneh tadi.

Mendengar ini, ayahnya berseru.

"Ahhh.....! jangan-jangan engkau bertemu dengan dua orang manusia sakti anakku. Aku pernah mendengar bahwa dipuncak Pegunungan Thian-san ini terdapat orang orang sakti yang memiliki ilmu seperti dewa."

"Kukira juga begitu. Ayah. Manusia sakti atau bukan, aku hanya ingin menyerahkan tanduk yang sudah kujanjikan pada kakek pincang itu. Tidak enak rasanya kalau terus melanggar janji, Ayah."

"Memang seharusnya demikian. Baiklah, pergilah, San Hong, akan tetapi berhati-hatilah engkau."

San Hong segera berangkat.

Dia berlari-lari mendaki gunung dan menuju ke puncak.

Lembah di puncak itu dinamai orang Pek-ciok-san (Puncak Batu Putih) karena dari jauh sudah nampak sebongkah batu besar di puncak itu yang kalau di timpa sinar matahari siang berwarna putih.

Pernah setahun yang lalu dia iseng iseng mendaki puncak yang tidak pernah dikunjungi manusia itu dan dia pernah terpesona oleh keindahan pemandangan alam di sana.

Tempat yang indah dan sunyi sekali.

Di puncak itu terdapat sebidang tanah datar yang hanya ditumbuhi rumput hijau segar dan di tengah-tengahnya terdapat batu putih itulah, Dia merasa heran mengapa kakek pincang itu mengatakan hendak ke puncak itu.

Apakah dia seorang pertapa?

Matahari mulai condong ke barat ketika dia tiba di dekat puncak.

Karena khawatir kemalaman di jalan, biarpun dia sudah lelah sekali, San Hong mengerahkan tenaganya dan mempercepat pendakiannya.

Tempat di puncak itu memang indah.

Bukan saja dari tempat itu orang dapat menyaksikan keindahan tamasya alam di sekelilingnya, juga di waktu matahari terbit atau tenggelam, orang dapat menikmati pemandangan yang menakjubkan sekali.

Di bagian tertinggi dari pegununan itu terdapat sebidang tanah yang merupakan petak rumput yang segar, dan di tengah-tengah lapangan rumput itu terdapat sebongkah batu yang besarnya melebihi sebuah rumah yang cukup besar.

Putih bersih dan halus permukaannya seperti sebuah batu mata cincin raksasa.

Orang-orang mengatakan bahwa itu adalah batu bulan.

Di bagian pinggir petak rumput itu terdapat sebatang pohon yang besar dengan daun yang rindang, seperti sebuah payung raksasa yang mendatangkan keteduhan nyaman di waktu matahari sedang panas-panasnya.

Pada waktu itu, di bawah pohon tampak ada lima orang kakek sedang duduk dalam lingkaran.

Mereka bersila dan di tengah-tengah antara mereka terdapat sebuah meja besi kecil di mana ada guci arak dan cawan-cawannya.

Agaknya mereka bercakap-cakap sambil minum arak.

Lima orang inilah yang terkenal di dunia kang-ouw sebagai datuk-datuk persilatan, terkenal dengan sebutan Thian-san Ngo-sian (Lima Dewa Gunung Thian-san)!

Dua di antara mereka adalah Thay Lek Siansu, kakek kecil yang bertenaga raksasa dan pernah bertemu dengan San Hong tadi, dan yang ke dua adalah kakek pincang yang berjuluk Bu Eng Sianjin, ahli gin-kang yang juga pernah berjumpa dengan San Hong.

Orang ke tiga dari Thian-san Ngo-sian adalah seorang hweslo berusia kurang lebih enam puluh lima tahun.

Tubuhnya gendut, mukanya cerah dan selalu tersenyum lebar, bajunya selalu terbuka di bagian dada, agaknya dia selalu merasa gerah, dan dia terkenal dengan sebutan Pek Sim Siansu.

Orang ke empat disebut Lui-kong Kiam-sian (Dewa Pedang Guntur) yang terkenal sekali dengan ilmu pedangnya.

Dia seorang kakek berusia enam puluhan lebih, bertubuh tinggi kurus sikapnya pendiam dan berwibawa.

Adapun orang ke lima dari Thian-san Ngo-sian adalah seorang kakek hampir tujuh puluh tahun yang pekaiannya seperti sastrawan, bersih dan rapi, sikapnya lemah lembut dan wajahnya tampan.

Dia disebut Pek-ciang Yok-sian (Dewa Tabib Tangan Putih), terkenal sekali karena ilmu silatnya dan ilmu pengobatannya.

Lima orang berilmu ini tidak mempunyai hubungan perguruan, namun mereka pernah bersumpah mengangkat saudara sejak muda dan mereka merupakan pendekar-pendekar budiman.

Kini mereka sudah tua dan tinggal berpencar, akan tetapi sedikitnya sekali setahun mereka pasti mengadakan pertemuan di puncak Pek-ciok-san ini.

Karena mereka mem pergunakan Thian-san sebagai tempat pertemuan, bahkan sebagai pusat, maka mereka dikenal sebagai Lima Dewa Thian-san.

Pada hari itu mereka mengadakan pertemuan darurat, pertemuan penting sekali karena mereka berlima mendengar ukan adanya gerakan di luar Tembok Besar, jauh di utara, gerakan orang-orang Mongol yang kabarnya mempersiapkan diri menjadi suatu bangsa besar yang "mat kuat dan merupakan ancaman bagi negara dan bangsa.

"Keadaan ini sungguh seperti datangnya mendung tebal dari utara yang akan mendatangkan banjir di negara kita. Akan tetapi bukan banjir air yang mengandung berkah, melainkan banjir darah. Apa yang akan mampu kita lakukan untuk membuyarkan mendung itu?"

Demikian Thay Lek Siansu berkata.

"Hemmm, urusan itu adalah urusan pemerintahan, bukan tugas kita. Biarlah para cerdik pandai dan para bijaksana yang menghambakan diri di Istana memikirkan hal itu. Dari pada pusing-pusing mari kita minum saja. Pek Sim Samheng, mengapa engkau tidak pernah mengisi cawanmu? Apakah engkau masih belum juga makan daging dan minum arak? Heran aku, apa saja isinya perutmu yang gendut itu!"

Demikian Pek-ciang Yok-sin berseru.

Dia menyebut Sam-heng (kakak ke tiga) kepada hwesio itu.

Pek Sim Siansu yang sejak tadi tersenyum lebar, menjadi semakin cerah wajahnya dan dia tertawa bergelak mendengar ucapan itu.

Dia memandang kepada saudara termuda itu.

"Ha-ha-ha Ngo-te (Adik ke Lima), engkau berjuluk Yok-sian (Dewa Obat), apakah perlu kujawab pertanyaanmu itu? Dan selain tukang obat, engkau pun seorang hwesio, seorang pendeta, hal itu lebih lagi meyakinkan hatiku bahwa tentu engkau sudah tahu benar mengapa semua hwesio, kecuali engkau tentu saja, pantang minum arak dan makan daging! Dipandang dari segi batiniah maupun lahiriah makan daging dan minum arak merusak kesehatan. Tentang perutku yang gendut? Omitohud..... inilah perut orang yang tidak dipusingkan banyak persoalan dunia, Ngo-te? Ha-ha-ha-ha-ha!"

Orang ke empat yang berjuluk Lui-kong Kiam-san, yang bertubuh tinggi kurus dan sejak tadi diam saja, kini memandang kepada empat orang saudaranya sebelum dia mengeluarkan suara.

"Saudara-saudara sekalian, kita berkumpul hari ini karena menghadapi persoalan yang amat gawat. Kita semua telah mendengar akan ancaman yang datang dari utara itu. Memang amat mengerikan kalau sampai kekuatan yang amat besar dari utara itu menyerbu ke selatan dan terjadi perang. Siapapun yang menang atau kalah, yang jelas rakyat jelata yang menjadi korban dalam setiap peperangan. Banjir darah terjadi, kekejaman yang mengerikan terjadi. Lalu, apa yang dapat kita lakukan? Apa yang harus kita lakukan? Hal inilah yang terpenting bagi kita untuk merenungkan dan merundingkannya dalam pertemuan ini."

"Siancai....., ucapan Si-te (Adik ke empat) memang tepat sekali. Kita harus memikirkan hal itu baik-baik. Bahaya mengancam di depan mata. Akan tetapi kita semua mengetahui bahwa peristiwa peristiwa besar yang terjadi di dunia ini sudah digariskan oleh kekuasaan Thian. Siapa yang mampu membelokkan garis itu? Siapa yang mampu menentang kekuasaan Tuhan? Betapapun pandainya manusia, akhirnya dia harus mengakui bahwa di luar kemampuannya terdapat suatu Kekuasaan yang Maha Kuasa, kekuasaan yang mengatur matahari, bumi dan bintang-bintang, kekuasaan yang menggerakkan awan-awan di angkasa, gelombang-gelombang lautan, kekuasan yang menumbuhkan rambut kita, menggerakkan jantung kita, kekuasaan yang menghidupkan dan mematikan. Kalau Thian menghendaki suatu saat hujan turun dengan derasnya sehingga terjadi banjir, kita manusia mampu berbuat apakah? Tak mungkin kita mampu menahan atau membatalkan turunnya hujan yang sudah diatur dan direncanakan oleh Yang Maha Kuasa!"

Kata Bu Eng Siansu penuh semangat.

"Omitohud.....!"

Pek Sim Siansu berkata lagi sambil tersenyum lebar.

"Itu baru ucapan yang benar dan patut kita renungkan. Ancaman bahaya besar dari utara itu merupakan suatu kenyataan, dan menurut ilmu perbintangan, agaknya sudah digariskan bahwa suatu waktu kekuatan dari utara itu akan menerjang dan menguasai seluruh tanah air di empat penjuru. Tidak ada akibat terjadi tanpa sebab. Thian Maha Adil, maka segala yang diputuskan Nya sudah pasti adil pula. Kalau memang penyerbuan dari utara itu terjadi, maka hal itu sudah dikehendaki oleh Tuhan dan itu sudah benar dan adil pula, walaupun kita tidak mengerti mengapa demikian dan di mana letak keadilannya. Kita hanya dapat memperkuat iman kita, mohon diampuni dosa dan mohon berkah dan kemurahan hati Nya."

"Bagus sekali! Enak didengarnya, memang, akan tetapi pahit sekali hasilnya. Sam-te, apa manfaatnya kalau kita hanya berdoa saja? Rakyat tetap akan dilanda malapetaka, pembunuhan besar besaran, kejahatan merajalela. Kalau kita mendiamkannya saja, apa artinya selain ini kita mempelajari ilmu-ilmu dan bertapa? Akan sia-sia belaka semua kepandaian yang kita miliki. Kita ini manusia ingat? Seekor hewan pun akan berusaha untuk menghalau bencana yang mengancam dirinya, apalagi manusia seperti kita. Kalau kita hanya berdiam diri saja kita menjadi lebih rendah daripada binatang!"

Kata Thay Lek Siansu yang sejak tadi diam saja.

"Kita harus berdaya upaya, kita harus bertindak, sesuai dengan kemampuan kita masing-masing."

Semua orang memandang kepada orang pertama dari Thian-san Ngo-sian itu memandang penuh harapan.

"Omitohud kalau Toa-heng (Kakak Tertua) yang bicara, selalu tepat dan menarik. Toa-heng kita tidak mungkin mampu menentang kekuasaan Tuhan yang terjadi di permukaan bumi ini, tidak mungkin berhasil membelokkan garis yang sudah ditentukan oleh Tuhan!"

Kata Pek Sim Siansu.

"Akan tetapi, tidak mungkin pula kalau kita hanya memandang semua kehancuran terjadi dan hanya berpangku tangan sambil berdoa saja!"

Kata pula Pek-ciang Yok-sian. Thay Lek Siansu mengangkat tangan ke atas menyuruh mereka itu diam-diam dan dia lalu berkata suaranya tenang dan lirih namun jelas terdengar di sekitar tempat itu.

"Saudaraku sekalian, dengarlah baik-baik. Semua yang kalian ucapkan tadi memang benar. Segala peristiwa yang terjadi di dunia ini sudah diatur dan digariskan oleh kekuasaan Tuhan Yang Maha Kuasa, dan kiranya segala yang dikehendakinya tidak akan mungkin dapat digagalkan oleh kekuasaan apapun juga di dunia ini. Juga benar bahwa semua peristiwa yang sudah dikehendaki oleh Tuhan, mempunyai sebab-sebab yang sudah terjadi, dan bahwa semua itu benar dan baik dan adil belaka. Sungguh tidak benar dan tidak mungkin berhasil kalau kita manusia berniat menentang kekuasaan Tuhan. Akan tetapi, hendaknya diingat bahwa Tuhan menciptakan kita sebagai manusia disertai akal budi dan pikiran, yang harus kita pergunakan dan manfaatkan untuk perbuatan yang benar, baik dan tepat."

Dia berhenti sebentar dan terdengar Pek-ciang Yok-sian dengan suaranya yang lemah lembut.

"Nah, itu benar! Kita harus turun tangan, berdiam saja sambil berdoa tidak ada manfaatnya!"

"Omitohud,"

Kata Pek Sim siansu.

"Apa yang mampu dilakukan oleh pikiran akal budi dan kedua tangan kaki kita ini terhadap kekuasaan Tuhan? Tidak ada ilmu untuk mencegah tenggelamnya matahari yang menimbulkan kegelapan!"

"Ji-wi (Kalian Berdua) benar semua. Memang tidak mungkin kita melawan kekuasaan Tuhan, akan tetapi juga tidak mungkin kita berdiam diri saja,"

Kata Thay Lek Siansu dengan suaranya yang lantang dan jelas.

"Kalau hujan. deras jatuh dan terjadi banjir, kita memang tidak dapat mencegah turunnya hujan akan tetapi setidaknya kita dapat melakukan sesuatu, berteduh misalnya, atau memakai payung dan melihat orang menjadi korban banjir, kita dapat menolong mereka semampu kita. Andaikata matahari tenggelam ke batas di senjakala, kita tidak mungkin menahan tenggelamnya matahari, akan tetapi setidaknya kita dapat menghadapi kegelapan malam dengan membuat api unggun atau penerangan lain. Demikian pula dengan ancaman penyerbuan, dari utara. Tentu saja urusan peperangan ditanggulangi oleh pemerintah dan pasukannya, akan tetapi, kita sendiri pun mampu melakukan sesuatu dalam hal. itu. Kalau terjadi perang, tentu terjadi banyak kekacauan dan tentu kejahatan muncul di mana-mana. Nah, di sinilah kita dapat berperan, yaitu mempergunakan kepandaian kita untuk menentang kejahatan yang timbul, melindungi mereka yang lemah tertindas, mencegah terjadinya kekejaman-kekejaman dengan segala tenaga yang ada pada kita."

Empat orang saudaranya yang lebih muda mengangguk-angguk, tidak seorang pun membantah karena mereka tidak dapat melihat suatu pun alasan untuk tidak membenarkan pendapat saudara tertua itu.

Memang, kalau mereka ber diam diri saja, menyerahkan segalanya kepada kekuasaan Tuhan, berarti mereka itu tidak mempergunakan anugerah Tuhan yang ada pada mereka, dan tidak mau membantu kekuasaan Tuhan.

Andaikata orang terkena penyakit, walaupun sembuh tidaknya berada di tangan Tuhan, namun orang itu wajib untuk berikhtiar mencari obatnya dan menyembuhkan penyakitnya!

Hidup merupakan ikhtiar, perjuangan untuk mempertahankan hidup, walaupun kehidupan itu sendiri ditentukan olehi Tuhan.

"Semua itu benar belaka, Toa-heng akan tetapi, usia kita sudah lanjut, Giam-lo-ong (El-maut) sewakt waktu datang menjemput nyawa kita, dan dalam usia yang tua tenaga kita pun semakin lemah. Apa artinya tenaga orang-orang tua yang mulai lemah seperti kita?"

Ucapan Lui-kong Kiam sian ini membuat empat orang tua yang lain termenung.

Ucapan itu menyadarkan mereka bahwa betapapun lihainya mereka, betapapun besar semangat mereka, namun mereka harus melihat kenyataan bahwa mereka sudan berusia lanjut.

"Omitohud.....! Kata-katamu seperti air dingin menyiram kepala pinceng yang gundul, Si-te. Pinceng sadar bahwa pinceng ini sudah tua renta dan sebentar lagi tidak ada gunanya. Engkau benar sekali!"

"Ha-ha-ha, baru sekarangkah Sam-heng mengaku tua? Kalau aku, sudah sejak bertahun-tahun merasa diri sudah tua. Biarlah kita pergunakan segala ketuaan ini, segala sisa umur ini untuk melakukan kebaikan dan menentang kejahatan yang timbul karena adanya perang."

Kata Pek-ciang Yo-sian.

"Hernmm, ucapan Sam-te tadi memang ada betulnya, biarpun apa yang dikatakan Ngo-te juga benar. Mari kita pergunakan sisa usia kita untuk menentang kejahatan, akan tetapi dengan cara yang tepat. Kalau kita turun tangan sendiri, tenaga kita yang sudah tua ini tentu tidak akan banyak hasilnya. Satu-satunya cara bagi kita adalah mencari seorang murid yang tepat dan baik."

Kata Bu Eng Sianjin."Omitohud, tepat sekali!

Seorang murid yang baik, yang dapat kita warisi semua ilmu kita, kemudian dia mewakili kita yang sudah loyo dan tua ini untuk menghadapi semua bentuk kejahatan sehingga ilmu-ilmu yang selama ini kita pelajari tidak akan sia-sia!"

Kata Pek Sim Siansu.

"Hemmm, sungguh baik sekali! Akan tetapi, murid yang dapat menerima warisan ilmu kita haruslah yang benar-benar tepat dan cocok, dan dibutuhkan seoang calon murid yang selain bertulang juga berbakat dan berbatin mulia, manakan kita dapat memperoleh seorang murid seperti itu?"

Kata Pek-ciang Yok-sian.

"Hemmm, sungguh tepat. Siapakah diantara kita yang dapat mencari murid seperti itu? Siapa yang telah mempunyai calon?"

Tanya Lui-kong Kiam-sian.

"Aku mempunyai calon!"

Tiba-tiba Thay Lek Siansu berseru.

"Aku pun punya calon murid yang baik sekali!"

Kata pula Bu Eng Sianjin.

Selagi tiga orang saudara mereka memandang heran, tiba-tiba seorang pemuda tinggi besar muncul dari balik semak-semak dan berlari menghampiri mereka.

Pemuda itu adalah Kwee San Hong yang membawa sepasang tanduk menjangan yang tadi dibawanya dari rumah.

Dia sudah berjanji kepada Bu Eng Sianjin, kakek pincang yang dapat berlari seperti terbang bahwa kalau dia berhasil menangkap kijang atau menjangan itu, dia akan menyerahkan sepasang tanduknya kepada kakek pincang itu.

Dan kebetulan sekali dia berhasil menangkapnya, membawa kijang itu pulang, lalu membawa sepasang tanduknya ke puncak bukit.

Ketika dia melihat lima orang kakek itu, di antaranya dua orang kakek sakti yang pernah dijumpainya, dia lalu bersembunyi di balik semak-semak untuk mengintai mereka.

Karena dia mengintai dari jauh, dia tidak dapat mendengarkan apa yang mereka bicarakan.

Kemudian, setelah mengintai cukup lama, dia pun muncul dan bermaksud menyerahkan tanduk kepada kakek pincang, apalagi melihat bahwa senja telah mendatang dan cuaca mulai gelap.

"Nah, itu dia calonku!"

Kata Thay Lek Siansu ketika melihat San Hong berjalan ke arah mereka.

"Eh, dia itu calon muridku pula!"

Kata Bu Eng Sianjin dengan heran.

Tentu saja tiga orang saudara mereka itu memandang penuh perhatian kepada pemuda yang diaku sebagai calon murid yang memenuhi syarat oleh orang pertama dan orang ke dua dari Thian Ngo-sian.

San Hong yang tidak tahu apa yang mereka bicarakan, segera menghadap Bu Eng Sianjin, melihat mereka semua duduk bersila di atas tanah, dia pun berlutut sambil menghadap Bu Sianjin dan berkata.

"Locianpwe, saya datang untuk menyerahkan sepasang tanduk menjangan yang kebetulan saya tangkap. Inilah tanduk-tanduk itu". Diambilnya sepasang tanduk itu dari ikat pinggangnya dan diserahkannya kepada kakek pincang yang menerimanya dengan gembira.

"Bagus sekali! Engkau seorang pemuda yang dapat memenuhi janji! Sukar jaman ini menemukan orang yang memenuhi janjinya!"

Katanya sambil menerima tanduk itu tanpa mengucapkan terima kasih. Sementara itu, melihat Thay Lek Siansu, kakek kecil kurus yang bertenaga raksasa itu memandang kepadanya, dia pun memberi hormat.

"Kiranya Lo-cian-pwe juga berada di sini. Terimalah hormat saya, Lo-cian-pwe."

Thay Lek Siansu tertawa dan mengelus jenggotnya.

"Ha-ha-ha, bagus sekali. Engkau seorang yang mengenal aturan! Bagus! Saudara-saudaraku, inilah pemuda yang kucalonkan tadi, dia pernah menawarkan bantuannya untuk meringankan beban bawaanku, karena dia kasihan melihat aku si tua renta membawa beban berat!"

Mendengar ini, semua orang tertawa.

"Ha-ha-ha, membantu Thay Lek Siansu membawa beban berat?"

Mereka tertawa lagi. Bu Eng Sianjin juga berkata.

"Dan dialah pemuda yang kucalonkan. Dia Juga menawarkan bantuannya untuk mengejar seekor menjangan yang sedang kukejar!"

Kembali semua orang tertawa. Sim Siansu tertawa paling keras.

"Ha ha-ha, orang muda yang baik! Engkau hendak membantu Bu Eng Siansu yang larinya seperti angin?"

Wajah San Hong menjadi kemerahan.

Dia tahu bahwa dirinya ditertawakan oleh lima orang kakek yang dia dapat menduga tentulah orang-orang sakti ini.

Akan tetapi dia tidak marah karena tahu bahwa dibandingkan mereka, hanyalah seorang yang lemah dan bodoh Dia tahu betapa kakek kurus pendek yang tua renta itu memiliki tenaga yang entah berapa kali lipat lebih besar dari pada tenaganya sendiri yang bagi penduduk dusunnya sudah dikenal luar biasa dan juga dia menyadari betapa kakek pincang itu dapat berlari jauh lebih cepat darinya.

Dia pun dapat menduga bahwa tentu tiga orang kakek yang lain itu memiliki kesaktian yang hebat pula maka dia pun merendahkan diri dan memberi hormat kepada mereka.

"Saya Kwee San Hong memang telah bersikap lancang dan telah memperlihatkan kebodohan sendiri, harap Ngo-wi Lo cian-pwe (Lima Orang Kakek Pandai) memaafkan saya dan tidak mentertawakan saya. Sekarang, saya mohon diri untuk pulang ke bawah gunung."

"Orang muda, tunggu dulu!"

Tiba-tiba terdengar seruan Pek Sim Siansu dengan suara lantang. Mendengar ucapan ini San Hong menahan langkahnya, lalu membalik dan menghadapi mereka dalam jarak lima meter lebih.

"Ada apakah, Lo-cian-pwe?"

"Kwee San Hong, kesinilah dulu, kami ingin bicara denganmu."

Kata Thay lek Siansu.

"Maafkan saya, Lo-cian-pwe. Malam telah hampir tiba, saya harus pulang agar orang tua di rumah tidak mengkhawatirkan diri saya."

"Hai, orang muda"

Kata Pek-ciang Yok-sian.

"Kami ingin bicara denganmu karena kami tertarik dan senang melihat engkau begini jujur, polos dan bodoh. Ha-ha-ha, belum pernah aku melihat seorang pemuda setolol engkau!"

Lima orang kakek itu memandang penuh perhatian untuk melihat bagaimana tanggapan pemuda itu yang sengaja direndahkan oleh Si Dewa Obat yang tentu saja sengaja, hendak menguji bagaimana kalau pemuda itu menerima penghinaan orang.

Sejenak sepasang mata San Hong yang lebar itu mengamati wajah kakek yang merendahkan dirinya, akan tetapi pandang matanya sama sekali tidak mengandung kemarahan, melainkan keheranan!

mengapa orang tua yang tidak dikenalnya itu begitu kasar dan membodoh-bodohkan dia tanpa sebab.

Lalu dia teringat betapa mereka tadi mentertawakan dia karena dia tidak dapat melihat bahwa dia berhadapan dengan dua orang sakti sehingga dia lancang menawarkan bantuannya.

Dia pun mengerti betapa bodohnya dia dalam pandang mata lima orang kakek yang sakti ini.

Dia lalu menundukkan pandang matanya dan dengan sejujurnya dia pun menjawab, suaranya masih tenang dan sama sekali tidak mengandung kemarahan.

"Lo-cian-pwe berlima memang benar saya seorang yang tolol dan lancang karena itu maafkan saya. Saya tidak tepat berada di sini terlalu lama karena hanya akan mengganggu Ngo-wi Lo-cian pwe. Selamat tinggal."

Dia membalikkan tubuhnya lagi dan hendak pergi.

"Nanti dulu, San Hong."

Tiba-tiba tampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu Bu Eng Sianjin, kakek pincang telah berdiri di depannya.

"Engkau tidak boleh pergi begitu saja!"

San Hong memandang heran.

"Mengapa saya tidak boleh pergi, Lo-cian-pwe? Saya tidak mempunyai keperluan lain lagi di sini."

"Tidak, engkau tidak boleh pergi!"

Kata pula kakek pincang itu.

"Aku yang melarangmu untuk pergi dan kau harus tinggal di sini bersama kami!"

Dengan sengaja Bu Eng Sianjin meninggikan suaranya seperti orang yang memaksakan kehendaknya.

Seperti juga Pek-ciang Yok-sian tadi yang menguji kesabaran dan kerendahan hati San Hong dengan mencelanya tolol, kini Bu Eng Sianjin juga hendak mengujinya bagaimana kalau pemuda itu menghadapi kekerasan dan ancaman.

Kini San Hong mengerutkan alisnya ketika mendengar ucapan kakek pincang itu.

"Lo-cian-pwe, mengapa hendak memaksa saya tinggal di sini?"

"Tidak perlu banyak cakap, pendeknya aku melarang engkau pergi dan harus tinggal di sini."

"Hemmm, tak kusangka bahwa, seorang yang sakti seperti Lo-cian-pwe ternyata tidak berbudi baik dan bahkan tidak mengenal budi orang.

"Pemuda itu mencela.

"Eh? Kaumaksudkan bahwa karena engkau tadi memberi sepasang tanduk menjangan itu kepadaku, lalu aku harus membalas budimu, begitu?"

"Sama sekali tidak, Lo-cian-pwe Ayahku mengajarkan bahwa kalau memberikan sesuatu kepada siapapun, harus dengan hati ikhlas dan tidak mengharapkan balasan. Saya hanya memperingatkan Lo-cian-pwe bahwa tidak bijaksana membalas niat baik orang dengan kekerasan dan ancaman."

"Ha-ha-ha, pendeknya aku melarang engkau pergi, habis kau mau apa?"

Kata pula Bu Eng Sianjin dengan suara yang tinggi dan memandang rendah. Sepasang mata yang lebar itu terbelalak, lebih merasa heran daripada marah.

"Tidak akan ada yang dapat melarang saya, Lo-cian pwe. Dilarang dan dihalangi pun, tetap saya akan pergi dari sini, pulang ke rumah."

"Ha-ha-ha, engkau tahu bahwa engkau tidak akan mampu melawan aku, San Hong. Apalagi menghadapi kami berlima. Kau berani menentang kami?"

"Saya tidak berani menentang Ngo-wi Lo-cian-pwe, orang-orang tua yang sakti dan saya hormati, akan tetapi saya berani menentang perbuatan yang tidak benar dari siapapun juga. Sudahlah, saya akan pergi!"

San Hong mengangkat kaki hendak melangkah pergi, akan tetapi Bu Eng Sianjin menghalangi jalannya.

Melihat ini, San Hong lalu menggunakan kedua tangannya untuk mendorong kakek itu ke samping.

Akan tetapi, dia merasa seperti mendorong sebatang pilar saja yang tertanam ke dalam lantai batu.

Sedikitpun tidak bergerak tubuh kecil itu oleh dorongannya.

"Ha-ha-ha, engkau tidak berdaya, engkau kalah. Berlututlah dan minta ampun, baru nyawamu akan kuampuni, dan engkau harus berjanji untuk mentaati semua perintah kami!"

Kata pula Bu Eng Sianjin yang merasa puas melihat keberanian dan ketabahan hati pemuda itu, dan ingin menguji terus.

San Hong yang tidak menyadari bahwa dia diuji, kini memandang dengan, mata terbelalak mengandung kemarahan.

"Wah, sungguh benar kata ayah bahwa saya harus berhati-hati berhadapan dengan orang. Saya telah salah sangka. Kiranya Lo-cian-pwe, yang saya sangka orang sakti yang bijaksana, hanyalah orang jahat yang menggunakan kepandaian untuk bertindak sewenang wenang!"

"Sudah, jangan banyak cakap. Berlututlah dan minta ampun, atau aku akan membunuhmu sekarang juga!"

Bentak Bu Eng Sianjin sambil mengamangkan tongkat bututnya ke atas.

"Tidak! Lebih baik saya mati dibunuh daripada harus berlutut minta ampun karena saya tidak bersalah!"

"Apa? Kau berani melawan?"

Bentak Bu Eng Sianjin dan tongkatnya bergerak cepat.

San Hong hendak merampas tongkat yang menyambar ke arah dadanya itu, akan tetapi terkamannya luput dan tahu-tahu ujung tongkat telah menotok pundaknya dan dia pun roboh lemas.

Lalu tongkat itu beberapa kali menotok bagian tubuhnya yang berada di depan dan San Hong merasa betapa tubuhnya nyeri-nyeri seperti ditusuk-tusuk oleh ratusan batang senjata runcing.

"Hayo kau minta ampun, kalau tidak akan kusiksa lebih hebat lagi sebelum kubunuh!"

Bu Eng Sianjin berseru.

Pemuda itu menggeliat-geliat menahan kenyerian yang menyiksanya.Wajahnya pucat dan peluh membasahi seluruh tubuhnya bukan karena takut melainkan karena menahan nyeri, akan tetapi sedikitpun tidak keluar keluhan dari mulutnya Tidak, dia harus menahan diri dan tidak memberi kepuasan kepada kakek iblis ini melihat dia mengeluh, apalagi minta ampun!

"Orang tua jahat, biar kau siksa dan kau bunuh, aku tidak sudi minta ampun"

Teriaknya.

Kini dia melihat keanehan.

Empat orang kakek lainnya sudah berada di situ, mengelilinginya dan kakek yang menyiksanya itu menggerakkan tangan kiri menepuk dan menotok tubuhnya beberapa kali dan dia pun dapat bergerak kembali.

Rasa nyeri itu lenyap sama sekali dan kini kakek pincang itu merangkulnya dan membantunya bangkit berdiri.

"Bagus sekali, San Hong. Engkau lulus ujian !"

San Hong memandang bingung, apalagi ketika empat orang kakek yang lain juga memegang lengannya, merangkul pundaknya dan merekapun memuji-muji dengan wajah girang.

"Apa..... apa artinya semua ini? Apakah Ngo-wi Lo-cianpwe hendak mempermainkan saya?"

Kini Thay Lek Siansu yang menghadapinya.

"Sama sekali tidak, San Hong. Kami tadi hanya mengujimu dan ternyata engkau lulus ujian. Engkau dihina akan tetapi tidak mudah tersinggung. Dikatakan bodoh, engkau melihat kenyataan bahwa engkau memang bodoh dan mengakuinya dengan jujur. Diancam dan disiksa, akan tetapi engkau tetap tabah dan tidak mau menyerah. Ini tandanya bahwa engkau jujur, lembut, penyabar, adil, tidak lemah, gagah perkasa dan pemberani, tabah menghadapi ancaman maut sekalipun. Dan yang lebih pada itu semua, engkau bodoh dan ini yang amat baik sekali!"

Semua kakek itu mengangguk-angguk dan semua tersenyum ramah kepada San Hong.

San Hong mengerutkan kening karena dia masih belum mengerti apa artinya semua ini dan mengapa pula orangorang aneh ini mengujinya.

Dan lebih tidak mengerti dia mengapa kebodohannya membuat mereka menjadi demikian girang dan kebodohannya dipuji oleh mereka.

"Saya harap Ngo-wi Lo-clan-pwe tidak terlalu memuji saya. Akan tetapi sungguh saya merasa heran sekali, mengapa kebodohan saya menerima pujian? Ataukah Locian-pwe hanya hendak mengejek saja?"

"Sama sekali tidak, San Hong. Memang kebodohan dan merasa dirinya bodoh merupakan syarat utama yang paling penting bagi seseorang yang akan mempelajari sesuatu. Kertas yang terbaik untuk dilukis atau ditulisi adalah kertas yang bersih dan kosong. Gelas yang akan mampu menerima aliran air adalah gelas yang kosong. Seorang murid seperti engkau inilah yang paling tepat untuk menerima ilmu-ilmu dari kami, karena engkau bagaikan kertas masih putih bersih, bagaikan gelas masih kosong!"

"Murid? Menerima ilmu.....? Apa yang Lo-cian-pwe maksudkan?"

"San Hong, ketika aku dan juga Ji-te bertemu denganmu, kami sudah tertarik sekali dan ingin mengambil engkau sebagai murid. Kemudian kami berlima bertemu di sini dan kami membutuhkan murid, maka ketika engkau datang, kami sengaja hendak mengujimu. Ternyata engkau lulus ujian dan kami berlima bersepakat untuk mengambil engkau sebagai murid kami! Ketahuilah, kami berlima yang di dunia kang-ouw disebut Thian-san Ngo-sian dan aku sendiri disebut Thay Lek Siansu, Ji-te ini Bu Eng-Sianjin, Sam-te Pek Sim Siansu, Si-te Lui-kong Kiam-sian dan ini Ngo-te Pek ciang Yok-sian. Bagaimana, orang muda maukah engkau menjadi murid kami?."

San Hong terbelalak.

Sedikitpun dia tidak pernah menduga bahwa dia, seorang pemuda dusun yang bodoh, akan diambil murid oleh lima orang sakti yang memiliki kepandaian amat tinggi.

Dan sekaligus lima orang sakti menjadi gurunya Tentu saja dia merasa girang bukan main dan seketika dia menjatuhkan diri berlutut.

"Tentu saja saya mau dan menghaturkan terima kasih atas budi kemuliaan Ngo-wi. Saya merasa seperti mendapatkan bulan dan bintang! Akan tetapi, saya harus mendapatkan perkenan dulu dari ayah bunda saya. Oleh karena itu, ijinkanlah saya untuk pulang dan mengabarkan hal ini kepada orang tua saya agar mereka pun berkesempatan menghaturkan terima kasih kepada Ngo-wi Lo-cian-pwe."

Lima orang itu saling pandang.

Ada satu segi lagi dari kebaikan pemuda ini yang menyenangkan hati mereka.

Pemuda ini ternyata juga seorang anak yang berbakti!

Thay Lek Siansu memberi isyarat kepada empat orang adiknya dan dia pun berkata, suaranya tegas.

"San Hong, kami telah menerima engkau sebagai murid, hal ini bukan main-main. Di antara seratus ribu orang pemuda, belum tentu ada satu yang dapat kami ambil sebagai murid. Engkau boleh mengabarkan kepada orang tuamu, akan tetapi kami pun ingin melihat kesungguhan hatimu. Kami akan menanti di sini sampai besok pagi, menantimu. Begitu matahari bersinar, kami akan meninggalkan tempat ini. Kalau engkau sudah datang kembali, kami akan membawamu sebagai murid, kalau sampai saat itu engkau belum kembali, kami akan meninggalkanmu dan kami tidak jadi menjadi guru-gurumu."

Diam-diam San Hong terkejut.

Diam-diam dia menghitung-hitung dan dia harus melakukan perjalanan semalam suntuk, dengan cepat pula kalau dia ingin agar tidak ditinggalkan mereka!

Akan tetapi, dia seorang pemuda yang berkemauan keras, maka dia pun menjawab tanpa ragu-ragu lagi.

"Baik, Lo-cian pwe. Saya akan pulang sekarang juga dan secepatnya kembali lagi ke sini!"

Berkata demikian, dia lalu memberi hormat dan cepat pergi dari situ selagi cuaca belum gelap benar. Lima orang kakek itu tersenyum-senyum dan Thay Lek Siansu berbisik.

"Ujian terakhir kalinya untuk melihat keteguhan hatinya. Akan tetapi tanpa bantuan, mana mungkin dia mampu kembali ke sini sebelum fajar menyingsing"

Mereka lalu berkelebat lenyap dari situ.

Lima orang kakek ini disebut Thian san Ngo-sian, Lima Dewa Gunung Thian-san dan ilmu kepandaian mereka memang hebat bukan main.

Di waktu itu, nama besar Thian-san Ngo-sian terkenal di seluruh, dunia kang-ouw dan tidak ada yang tidak merasa segan mendengar nama mereka, bahkan para datuk sesat sekalipun merasa gentar mendengar nama ini dan tidak ada yang berani sembarangan mencari perkara dengan mereka.

Sebaliknya, sudah puluhan tahun mereka ini mengundurkan diri dari dunia kang-ouw, hidup sebagai pertapa-pertapa tanpa keluarga di dalam goa-goa di puncak puncak Pegunungan Thian-san, tempat mereka tersembunyi di dalam goa-goa dan tidak ada orang lain yang mengetahuinya.

Ayah San Hong, yaitu Kwee Cun, seorang petani yang hidup berbahagia di dusun Po-lim-cun, malam itu merasa agak khawatir kalau mereka mengingat putera mereka.

Biarpun San Hong tadi telah berpamit dan mengatakan bahwa putera mereka itu mungkin harus bermalam, namun Kwee Cun dan isterinya tidak urung merasa gelisah juga.

Puncak Thian-san merupakan puncak yang jarang dikunjungi orang, penuh dengan hutan belukar dan binatang buas.

Kwee Cun yang berusia lima puluh tahun itu hidup sederhana namun cukup untuk makan, pakaian, bersama isterinya yang rajin membantunya, dan mereka berdua merasa cukup berbahagia.

Putera mereka San Hong yang merupakan anak tunggal tidak mengecewakan, rajin pula bekerja di sawah ladang dan amat berbakti sehingga kini Kwee Cun dan isterinya hanya mengerjakan tugas yang ringan ringan saja.

Pekerjaan yang berat semua dilakukan oleh putera mereka yang bertenaga gajah itu.

Malam itu, sampai larut malam mereka belum tidur, masih rebah agak gelisah di atas pembaringan dalam kamar, mereka.

Tidak adanya San Hong di kamar sebelah membuat mereka merasa kehilangan, apalagi mereka membayangkan putera mereka itu seorang diri di puncak gunung yang menyeramkan itu.

"Ah, anak kita San Hong itu sungguh keras hati. Mengapa dia begitu bersusah-payah untuk mengantarkan tanduk menjangan itu kepada seorang kakek yang berada di puncak gunung?"

Isteri Kwee Cun berkata dengan nada menyesal.

"Seharusnya begitu"

Jawab suaminya.

"Seorang anak yang baik, harus dapat memenuhi janjinya. Apalagi dia berjanji kepada seorang kakek yang menurut dia memiliki kesaktian! Sudah lama aku mendengar bahwa di puncak terdapat banyak orang sakti yang bertapa. Agaknya San Hong berjumpa dengan orang-orang sakti. Siapa tahu hal itu akan memberi hikmah dan menambah pengetahuannya."

"Pengetahuan apa lagi?"

Bantah isterinya.

"Dia sudah pandai membaca menulis, pandai bekerja. Mau apa lagi? Kita hidup di dusun dan seorang dengan pengetahuan seperti anak kita itu sudah jarang terdapat di dusun sini....."

Tiba-tiba dua orang suami isteri itu terkejut dan serentak bangkit duduk di atas pembaringan mereka, mata mereka terbelalak dan mulut ternganga ketika melihat betapa di dalam kamar mereka itu berdiri lima orang kakek!

Mereka itu muncul begitu saja seperti setan, dan tahu-tahu pintu kamar mereka telah terbuka.

Mereka muncul seperti bayangan saja, tanpa mengeluarkan suara.

"Kwee Cun, kami adalah Thian-san Ngo-sian, sengaja datang untuk bertemu dengan kalian berdua,"

Terdengar suara seorang di antara mereka yang bertubuh kecil kurus dan pendek.

Kwee Cun adalah seorang petani yang banyak membaca kitab dan pengetahuannya lebih daripada para petani biasa Melihat munculnya lima orang kakek secara aneh itu saja sudah timbul dugaan dalam hatinya bahwa mereka ini tentulah orang-orang sakti, berbeda dengan ketahyulan para petani lain yang tentu akan menganggap mereka itu siluman siluman.

Maka dia pun cepat berlutut di atas pembaringan, diturut oleh isterinya yang gemetar ketakutan.

"Harap Ngo-wi Lo-cian-pwe maafkan kami, karena tidak mengerti lebih dulu akan kunjungan Ngo-wi, maka kami tidak menyambut dengan sepatutnya."

Melihat sikap dan mendengar ucapan itu, lima orang kakek itu saling pandang dengan sinar mata gembira dan Thay Lek Siansu lalu tertawa dan berkata.

"Ha-ha-ha, kiranya ayah San Hong adalah orang yang mengenal sopan santun, bagus, bagus! Kwee Cun, kami datang untuk memberitahu bahwa kami berlima ingin sekali mendidik anak kalian San Hong menjadi murid kami dan mewariskan ilmu-ilmu kepadanya agar kelak dia menjadi seorang yang berguna bagi masyarakat. Kami harap kalian tidak berkeberatan. Sebentar lagi putera kalian itu akan pulang dan memberitahukan hal ini kepada kalian. Kami harap kalian meluluskan permintaannya dan membiarkan dia pergi belajar ilmu kepada kami."

Mendengar ini, bukan main rasa girang dan bangga dalam hati Kwaa Cun.

Puteranya menjadi murid lima orang sakti yang memperkenalkan diri sebagai Lima Dewa Gunung Thian-san!

"Kami.....

kami bersyukur sekali dan berterima kasih kepada Ngo-wi Lo-cian-pwe....."

Kata Kwee Cun.

"Bagus! Sudah kami duga! Seorang pemuda seperti San Hong pasti mempunyai ayah dan ibu yang bijaksana. Kwee Cun, sepergi putera kalian, tentu kalian kehilangan tenaga pembantu kehidupan kalian, oleh karena itu sedikit bantuan kami ini dapat kalian pergunakan untuk hidup yang layak!"

Setelah berkata demikian, Thay Lek Siansu melempar sesuatu ke atas pembaringan, kemudian sekali berkelebat, dia dan empat orang adiknya telah lenyap dari dalam kamar itu dan pintu kamar itu pun tertutup sendiri!

Kwee Cun dan isterinya masih tertegun sehingga sampai lama mereka masih terus berlutut di atas pembaringan mereka.

Baru setelah mereka merasa yakin bahwa lima orang kakek itu benar benar telah pergi, mereka saling pandang dan isteri Kwee Cun merangkul suami sambil menangis.

"Aku..... aku takut....."

Bisik wanita itu. Kwee Cun menghibur isterinya.

"Tidak ada yang perlu ditakuti. Mereka adalah orang-orang sakti. Lihat, apa yang mereka berikan kepada kita ini?"

Kwee mengambil sebuah buntalan yang ternyata merupakan kantung kain kuning dan ketika dengan tangan gemetar dia membukanya, isinya adalah beberapa potong emas murni yang berkilauan!

Mereka semakin terbelalak dan biarpun dia seorang dusun, namun Kwee Cun tahu bahwa benda yang berada di dalam kantung itu dapat dia pergunakan untuk membeli tanah yang luas, membuat rumah yang cukup besar dan modal bercocok tanam yang lebih dari cukup!

Bahkan dia menganggap bahwa mereka seketika menjadi seorang yang kaya raya!

Sementara itu, Kwee San Hong berusaha melakukan perjalanan turun gunung secepatnya.

Akan tetapi malam itu gelap sehingga dia harus merangkak, merayap dan kadang-kadang menggunakan kedua tangan kaki untuk meraba-raba di dalam kegelapan malam, mencari jalan turun gunung menuju pulang.

Hampir dia putus asa karena malam terlalu gelap dan dia tidak mengenal jalan.

Dia segera membuat sebuah obor dari kayu kering yang dibakarnya dengan membuat api secara kuno, menggosok dua batang kayu kering dengan cepat dan kuat.

Dengan obor di tangan, dia dapat melanjutkan perjalanan tanpa khawatir terperosok ke dalam jurang.

Akan tetapi tetap saja dia bingung karena dia kehilangan arah.

Dari atas tidak nampak apa pun di bawah sana dan dia tidak tahu entah di mana adanya perkampungan, apalagi dusun tempat tinggal ayahnya yang masih jauh.

Tiba-tiba, dia melihat sinar api di bawah sana.

Di mana ada api, tentu ada manusianya, pikirnya, maka tanpa ragu ragu lagi dia pun mencari jalan turun menuju ke titik api di bawah itu.

Aki tetapi, tak pernah dia tiba di tempat api itu.

Apakah pandang matanya yang menipunya, ataukah api itu yang bergerak turun pula menjauhinya, dia tidak tahu Mungkinkah api itu dipegang seseorang yang juga turun gunung, jauh di bawah sana?

Dia terus mengikuti sinar api itu dan ketika api itu tiba-tiba padam, dia juga girang bukan mau, ternyata dia telah tiba di kaki gunung dan dia mengenal jalan menuju ke dusunnya yang sudah dekat sekali!

Dia segera berlari pulang dan mendapatkan ayah ibunya masih termangu-mangu di dalam kamar mereka.

"Ayah, Ibu! Aku pulang.....!"

Katanya di luar kamar orang tuanya.

Kwee Cun dan isterinya keluar dari dalam kamar dan San Hong memandang heran kepada ayah ibunya yang agaknya belum tidur di tengah malam itu, bahkan dari wajah mereka dia tahu tentu telah terjadi sesuatu yang luar biasa.

"Kami tahu, San Hong,"

Kata ayahnya.

"Bukankah engkau akan segera pergi lagi untuk mulai menjadi murid Thian-san Ngo-sian?"

San Hong terbelalak.

"Eh? Bagaimana ayah dan ibu mengetahuinya?"

Ibunya menghampirinya dan merangkul kedua pundak putera itu.

"San Hong, engkau hendak meninggalkan kami.....?"

Katanya menahan tangis.

"San Hong, tadi kelima orang gurumu telah datang berkunjung dan menceritakan bahwa engkau menjadi murid mereka. Bahkan mereka meninggalkan ini untuk kami, agar sepergimu kami dapat hidup layak."

Kwee Cun memperlihatkan kantung berisi beberapa potong emas murni itu.

Kwee San Hong merasa girang sekali.

Kiranya guru-gurunya telah memberitahu lebih.

dulu kepada ayah ibunya, bahkan memberi emas sehingga dia sendiri tidak akan mengkhawatirkan keadaan orang tua itu selama dia tinggalkan.

"Jadi, Ayah dan Ibu setuju kalau aku pergj berguru kepada kelima orang sakti itu?"

"Kenapa tidak, anakku? Tanpa diberi emas ini pun kami setuju. Orang tua mana yang tidak setuju anaknya yang tercinta mempelajari ilmu agar kelak berguna bagi masyarakat? Kami setuju Nak, walaupun dengan hati berat karena harus berpisah darimu."

"San Hong, engkau berhati-hatilah dan..... jangan lupa kepada ayah ibumu."

Kata ibunya sambil menangis di dada puteranya.

Lega hati San Hohg.

Dia tadinya mengkhawatirkan kalau-kalau kedua orang tuanya akan berkeberatan.

Akan tetapi ternyata mereka setuju dan ini tentu berkat kebijaksanaan lima orang gurunya yang lebih dulu datang memberi tahu kepada mereka.

"Tenangkan hatimu, Ibu. Aku berguru mempelajari ilmu bukan untuk melupakan Ayah dan Ibu, bahkan dengan ilmu yang kumiliki, aku akan dapat lebih berbakti kepada kalian, dan dapat menjadi seorang anak yang baik dan tidak mengecewakan hati Ayah dan Ibu!"

Diiringi nasihat-nasihat terakhir dari ayahnya dan tangis pesan dari ibunya, San Hong berkemas, mengumpulkan pakaiannya dalam sebuah buntalan, kemudian segera berpamit dan meninggalkan ayah ibunya untuk cepat-cepat kembali ke puncak Thian-san dan tiba di sana sebelum matahari terbit agar tidak ditinggalkan oleh lima orang gurunya.

Kembali terjadi keanehan di perjalanan mendaki puncak itu.

Ada lagi muncul sinar api yang terus mendaki, seperti manjadl penunjuk jalan baginya dan dengan mudah dia tiba di puncak itu, tepat sebelum matahari muncul di ufuk timur.

Dan lima orang gurunya telah berdiri di situ, menanti kembalinya.

San Hong segera menjatuhkan diri berlutut di depan kaki mereka berlima.

"Terima kasih teecu (murid) haturkan kepada Suhu berlima yang telah membantu teecu dalam perjalanan pulang pergi tadi."

Dia yakin bahwa tentu guru gurunya yang telah mengadakan sinar api itu untuk menuntunnya sehingga dia dapat mudah turun dari puncak kemudian naik kembali. Lima orang kakek itu tersenyum.

"Ha-ha-ha,"

Pek Sim Siansu tertawa.

"ternyata engkau tidaklah sebodoh yang kami kira!"

"Suhu, masih ada sebuah hal yang meragukan hati teecu dan teecu mohon Ngo-wi Suhu (Guru Berlima) suka memberi petunjuk."

"Hemmm, apakah itu? Tanyakanlah dan kami akan mencoba untuk menerangkan padamu kalau kami mampu."

Kata Thay Lek Siansu.

"Begini, Suhu. Selama ini teecu hidup berbahagia dan sesungguhnya, teecu masih tidak mengerti dan ragu-ragu untuk apa teecu mempelajari ilmu dari Suhu sekalian. Selama ini, teecu tidak membutuhkan apa-apa karena tidak merasa kekurangan sesuatu pun. Lalu apa yang akan teecu peroleh kalau teecu sampai menguasai ilmu-ilmu dari Suhu berlima? Hal inilah yang meragukan walaupun teecu merasa gembira sekali akan belajar ilmu dari Suhu berlima. Mohon penjelasan Suhu."

Lima orang kakek itu saling pandang dan sejenak mereka tidak mampu menjawab.

Mereka membayangkan tentang kebahagiaan.

Pemuda yang menjadi murid mereka ini hidup berbahagia karena dia tidak membutuhkan apa-apa.

Keadaan berbahagia adalah keadaan orang yang tidak membutuhkan apa-apa.

Tidak menginginkan apa-apa.

Tidak membutuhkan sesuatu itu berarti sudah tidak kekurangan apa-apa dan kalau sudah begini, tentu saja manusia dapat hidup berbahagia.

Tidak berbahagia disebabkan karena keinginan tidak tercapai, akan tetapi kalau sudah tidak menginginkan sesuatu yang tidak ada, maka dia akan dapat menerima segala yang ada tanpa mengeluh.

Menerima apa yang ada tanpa menghendaki yang lain merupakan pelaksanaan daripada kepercayaan akan kekuasaan Tuhanl Apapun yang dikehendaki Tuhan pasti terjadi dan segala yang terjadi pasti benar dan wajar karena merupakan kehendak Tuhan.

Siapa yang mampu menerima segala peristiwa yang menimpa dirinya tanpa .penilaian baik buruk, untung rugi, tidak menyambut setiap peristiwa dengan tawa atau tangis, melainkan sebagai sesuatu yang wajar, maka dialah orang yang benar-benar memiliki iman dan kepasrahan terhadap kehendak Tuhan!

Manusia berikhtiar bukan berlandaskan keinginan akan sesuatu, melainkan berlandaskan kebijaksanaan, namun ikhtiar atau usaha yang dilakukan itu berlandaskan kepasrahan akan kehendak dan keputusan yang diambil oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

Pemuda ini polos, jujur dan tidak banyak kehendak, maka tentu saja dia merasa bimbang dan bingung ketika diangkat murid oleh mereka berlima.

Di antara lima orang Thian-san Ngo-sian itu, paling cerdik adalah Pek-ciang Yok-sian, maka kini empat orang kakek yang lain memandang kepada saudara termuda ini dengan penuh harapan.

Pandang mata mereka seolah-olah menyerahkan jawaban dari pertanyaan yang sulit dari murid .mereka itu kepadanya untuk menjawabnya dengan tepat.

Sejak tadi, Pek-ciang Yok-sian juga sudah memutar otaknya.

Kemudian dia berkata dengan suaranya yang halus dan, sikapnya yang lemah lembut biarpun dia selalu bergembira.

"San Hong, engkau membutuhkan jawaban? Pertanyaanmu itu tidak dapat dijawab dengan keterangan saja, karena hal itu tentu bahkan akan membingungkan hatimu. Lebih baik kalau engkau melihat sendiri mengapa engkau perlu mempelajari ilmu-ilmu tinggi dari kami. Mari kau ikut bersamaku turun gunung dan kaulihat sendiri!"

Berkata demikian Pek-ciang Yok-sian memberi isyarat dengan pandang matanya kepada empat orang saudaranya lalu menyambar tangan San Hong dan di lain saat San Hong merasa dibawa terbang oleh kakek yang menggandeng tangannya.

Beberapa kali dia terpaksa harus memejamkan matanya karena ngeri dibawa meloncat melewati jurang yang amat lebar dan dalam.

Namun diam-diam dia kagum bukan main.

Kiranya bukan hanya Bu Eng Sianjin seorang yang memiliki ilmu berlari seperti terbang, akan tetapi kakek ini pun dapat berlari secepat terbang dan memiliki kekuatan yang besar pula karena dapat menggandeng dia melompat jurang jurang yang lebar!

Di samping kekagumannya juga San Hong merasa gembira sekali karena dia kini yakin bahwa dia telah diambil murid oleh lima orang yang benar-benar amat sakti.

Pek-ciang Tok-sian membawa San Hong ke kaki gunung yang berlawanan dengan dusun tempat tinggal orang tua pemuda itu.

Di sebuah dusun yang cukup besar mereka berhenti dan hari pun sudah mulai terang.

Agaknya Pek-ciang Yok sian masih ragu-ragu dan sedang mencari-cari sesuatu, dan sesuatu itu pun terjadilah seperti yang diharapkannya!

Dia sudah tahu bahwa di dusun ini seringkali terjadi kejahatan yang dilakukan oleh beberapa orang jagoan yang datang dari kota dan belum lama tiba di dusun itu membuat keributan dan memaksa kehendak mereka kepada orang-orang dusun.

Mereka adalah lima orang penjahat atau tukang pukul yang tidak segan-segan untuk memeras penduduk dusun, mengganggu wanita dan melakukan banyak perbuatan sewenang-wenang.

Ketika mendengar ada jeritan wanita dari sebuah rumah, Pek-ciang Yok-sian cepat menarik tangan San Hong ke arah suara itu.

Nampaklah oleh San Hong seorang laki-laki tinggi besar bermuka penuh brewok sedang memukuli seorang kakek berusia enam puluh tahunan, sedangkan laki-laki ke dua yang mukanya bopehg sedang menarik-narik seorang gadis yang menjerit-jerit ketakutan.

"San Hong, melihat kejahatan seperti itu, apa yang harus kita lakukan?"

Tanya Pek-ciang Yok-sian.

Sejak tadi San Hong sudah marah sekali melihat ada seorang laki-laki tinggi besar yang masih muda memukuli seorang kakek, apalagi melihat seorang laki-laki menyeret tangan seorang gadis.

Dia tidak menjawab pertanyaan suhunya, melainkan cepat lari menghampiri ke pekarangan rumah itu.

"Heiii! Apa yang kalian lakukan itu? Berhenti.....!!"

Bentak San Hong dengan suaranya yang mengguntur.

Dua orang laki-laki yang berusia tiga puluh tahun lebih itu terkejut mendengar ada orang berani menegur mereka.

Ketika mereka menoleh dan melihat seorang pemuda remaja yang menegur, mereka menjadi marah sekali.

Si muka brewok melepaskan kakek yang terkulai di atas tanah sedangkan si bopeng melepaskan tangan gadis itu.

Gadis itu sambil menangis menubruk kakek itu yang terengah-engah dan nampak kesakitan.

Dua orang tukang pukul itu kini menghampiri San Hong dan dengan sikap pongah mereka bertolak pinggang dan memandang kepada San Hong dengan sikap mengejek.

"Hai, engkau ini bocah dari mana berani sekali mencampuri urusan kami! Tidak tahukah engkau siapa kami?"

Tanya si muka bopeng sambil mengamangkan tinjunya ke arah muka San Hong.

San Hong yang marah itu masih menahan kemarahannya karena dia tidak tahu apa yang menjadi persoalannya maka dua orang itu melakukan kekerasan seperti itu.

Siapa tahu kakek dan gadis itu mempunyai kesalahan walaupun andaikata demikian, tidak sepantasnya kalau dua orang laki-laki menghina seorang kakek dan seorang gadis.

"Nanti dulu, kawan-kawan."

Katanya dengan suara tenang dan sabar.

"Aku sama sekali bukan bermaksud mencampuri, akan tetapi aku hanya mengingatkan kepada kalian bahwa tidak sepatutnya kalau dua orang laki-laki muda yang gagah seperti kalian ini memukuli seorang kakek yang lemah dan menyeret seorang gadis. Kalau ada urusan, dapat diselesaikan dengan cara yang baik, bukan dengan kekerasan. Apakah sebetulnya kesalahan mereka itu terhadap kalian? "

Tentu saja dua orang ayah dan enak itu sebetulnya tidak mempunyai kesalahan apa pun juga terhadap mereka, namun seperti biasa, dua orang itu mencari-cari alasan untuk membenarkan tindakan mereka.

"Heh, bocah dusun! Sebelum kami menjawab pertanyaanmu, lebih dulu jawablah. Siapa engkau dan mengapa pula engkau mencampuri urusan ini? Apamukah ayah dan anak itu?"

Tanya si brewok dengan sikap mengancam.

"Aku bukan apa-apa mereka, tidak mengenal mereka, akan tetapi sebagai sesama manusia aku berhak untuk membela mereka kalau-kalau mereka tidak bersalah dan memintakan ampun kalau mereka bersalah. Namaku Kwee San Hong, dari dusun di kaki gunung di sebelah timur sana.Nah, sekarang katakan! apa sebabnya kalian menggunakan kekerasan terhadap mereka?"

Sikap San Hong masih sabar. Sementara itu, Pek-ciang Yok-sian hanya menonton dari jauh sambil memangku kedua lengan dan tersenyum.

"Mau tahu sebabnya?"

Bentak si mukai bopeng.

"Gadis itu adalah calon istenku, dan tetapi hari ini ketika aku hendak mengajaknya pergi, ayahnya melarang dan gadis itu pun mengingkari janji, tidak mau ikut dengan aku seperti yang telah dijanjikannya."

San Hong mengerutkan alisnya. Kalau benar demikian, kakek dan gadisnya itu memang bersalah. Akan tetapi dia masih ragu-ragu dan dia menoleh kepada ayah dan anak itu.

"Lopek dan Enci, benarkah itu? Kalian telah melanggar janji kepada saudara mi?"

"Bohong! Dia bohong!"

Gadis itu berteriak sambil menangisi ayahnya yang babak belur dihajar oleh si brewok tadi.

"Mereka memang selalu menggodaku, merayuku akan tetapi aku tidak pernah mau melayani mereka. Hari ini mereka minta kepada Ayah untuk mengajak aku, tentu saja Ayah menolak dan mereka lalu memukuli Ayah dan hendak memaksaku!"

Wajah San Hong berubah merah mendengar ini, dan memang sudah setengah diduganya bahwa ayah dan anak itu tentu tidak bersalah.

"Hemmm, mengapa engkau menuduh mereka yang tidak baik Kawan? Dan mengapa pula kalian hendak memaksa Enci itu?"

"Hei, anjing dusun! Apa pedulimu? Memang kami menghendaki gadis itu baik dengan suka rela maupun secara paksa. Habis engkau mau apa?"

Bentak muka bopeng. Mendengar ini, San Hong tidak dapat menahan lagi kemarahannya.

"Kalau begitu, kalian berdua adalah orang-orang jahat!"

Bentaknya.

Si muka brewok sudah menerjang memukul San Hong dengan pukulan tangan kanannya.

Kuat sekali pukulannja itu dan kepalan tangannya yang melayang ke arah muka San Hong.

Pemuda ini cepat melangkah mundur menangkis dengan lengan kirinya.

"Dukkk!"

Tangkisan itu membuat muka brewok hampir terpelanting, terkejut.

Tak disangkanya bahwa pemuda dusun itu memiliki tenaga sedemikian kuatnya.

Dia kaget dan juga marah, lalu sambil mengeluarkan suara menggereng dia sudah meloncat dan menerjang San Hong dengan pukulan-pukulan teratur, dengan jurus-jurus ilmu silat.

Sekali ini San Hong kewalahan!

Dia berusaha untuk mengelak dan menangkis, namun dia tidak tahu caranya dan karena lawannya memang pandai silat, dia pun segera menjadi bulan-bulanan pukulan dan tendangan.

Lebih celaka lagi, si muka bopeng Juga ikut menerjang dan dia pun menjadi permainan mereka.

Hanya karena San Hong bertubuh kuat sekali, dan memiliki keberanian seperti seekor singa, maka biarpun tubuhnya menjadi bulan-bulanan pukulan dan tendangan sedangkan dia tidak berkesempatan untuk membalas sama sekali, dia tidak pernah menyerah dan terus melawan dengan nekat dan mati-matian.

Dua orang tukang pukul itu agaknya kewalahan menghadapi kenyataan dan kebandelan San Hong.

"Ah, bocah ini minta dibikin mampus agaknya!"

Bentak si muka bopeng dan dia pun mencabut sebatang golok yang tergantung di pinggangnya.

"Mampuslah!"

Bentaknya dan golok itu dibacokkan, menyambar ke arah kepala San Hong.

Melihat ini, San Hong maklum bahwa dia terancam bahaya maut, akan tetapi pada saat itu ada bayangan berkelebat dan golok itu pun terlepas dari pegangan si muka bopeng.

Di lain saat, si muka bopeng terpelanting dan tidak mampu bergerak lagi karena totokan yang dilakukan Pek-ciang Yok-sian.

Si muka brewok menjadi marah.

Dia pun mencabut goloknya dan menyerang kakek yang telah merobohkan temannya.

Akan tetapi kembali dua kali tangan Pek-ciang Yok-sian bergerak dan si muka brewok mengeluh, goloknya terlempar dan diapun roboh pingsan.

Pada saat itu, datang berlarian tiga orang tinggi besar, yaitu kawan-kawan dari dua orang tukang pukul itu, dan melihat betapa dua kawan mereka roboh, tiga orang ini mencabut senjata masing-masing.

Akan tetapi, San Hong sudah mendahului seorang di antara mereka dengan serangan pukulannya sebelum orang itu mencabut goloknya.

Pukulan tangan San Hong amat kuat dan keras, membuat orang itu terjungkal dan roboh, sedangkan dua orang lainnya, baru saja mencabut golok sudah harus roboh oleh totokan Pek-ciang Yok-sian.

Semua penduduk baru berani keluar setelah mendengar bahwa lima orang tukang pukul yang selama ini mengganggu dusun mereka, telah dirobohkan seorang pemuda asing dan seorang kakek.

Mereka berbondong-bondong datang membawa senjata seadanya dan mereka hendak mengeroyok dan menghajar lima orang yang sudah roboh itu.

Melihat ini, San Hong cepat melompat ke depan.

"Saudara-saudara, tahan semua senjata! Tidak boleh kalian membunuh begitu saja mereka ini!"

Melihat bahwa pemuda dan kakek itu yang sudah berjasa merobohkan lima orang penjahat mencegah, biarpun mereka masih penasaran dan tidak puas, namun orang-orang dusun itu menahan senjata mereka.

Pek-ciang Yok-sian hanya menjadi penonton saja sambil tersenyum, ingin dia melihat apa yang akan dilakukan muridnya itu.

Dia merasa puas bahwa kebetulan sekali terjadi kejahatan itu sehingga muridnya mengalami hal yang amat dibutuhkan untuk menjawab pertanyaannya tadi tentang manfaat mempelajari ilmu.

"Saudara sekalian, kenapa selama ini kalian mau saja ditekan oleh lima orang penjahat ini?"

Tanya San Hong kepada mereka. Seorang pria berusia lima puluhan tahun melangkah maju.

"Orang muda yang gagah, aku adalah kepala dusun di sini. Apa yang dapat kami lukukan terhadap mereka? Mereka adalah orang-orang (Lanjut ke

Jilid 08) Pedang Asmara (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 08 jahat yang tidak segan-segan memukul bahkan membunuh orang. Mereka itu kejam sekali dan kami takut kepada mereka. Sekarang, setelah mereka dpat dirobohkan, kami ingin membunuh mereka!"

San Hong menggeleng kepala "Sungguh keliru sekali, Paman.

Paman menjadi seorang kepala dusun tidak memberi contoh yang baik kalau membunuh mereka ini begitu saja!

Apalagi setelah mereka tidak berdaya.

Semestinya dengan kekuatan sekian banyaknya orang laki laki di dusun ini, kalau mau serentak bangkit menghadapi mereka, jangankan baru lima orang ini, biar ada sepuluh orang pun Paman dan teman-teman penduduk dusun tentu akan mampu membasmi mereka."

Kepala dusun itu meugangguk-angguk dan semua pria penduduk dusun di situ juga menyatakan setuju.

Mereka berjumlah hampir seratus orang, sungguh bodoh sekali kalau selama ini mereka membiarkan diri dihantui oleh para penjahat yang hanya lima orang.

Kalau melawan satu lawan satu tentu mereka kalah, akan tetapi kalau semua penduduk maju, lima orang penjahat itu dapat mereka jadikan bubur!

San Hong lalu menghampiri si muka bopeng yang agaknya menjadi pemimpin lima orang penjahat itu.

"Kalian dengar baik-baik!"

Katanya dengan suara lantang.

"Sekali ini Suhu dan aku, dan juga para penduduk dusun ini, tidak membunuhmu dan memberi kesempatan kepada kalian untuk kembali ke jalan benar. Kalau lain kali kalian berani lagi mengganggu dusun ini, kalian akan menghadapi perlawanan puluhan bahkan ratusan orang dan nyawa kalian tentu takkan dapat diselamatkan lagi!"

"Terima kasih....."

Kata si muka bopeng yang tadi sudah ketakutan setengah mati karena kalau para penduduk yang sakit hati itu dibiarkan, tentu tubuh mereka sudah hancur dihujani pukulan senjata para penduduk dusun yang marah itu.

"Kami..... kami tidak berani lagi....."

Dia melirik ketakutan ke arah kakek berpakaian sastrawan yang berdiri sambil tersenyum-senyum itu.

"..... akan tetapi... mohon dibebaskan totokan dari tubuh kami....."

San Hong tidak mengerti akan tetapi melihat betapa mereka itu tidak mampu bergerak, dia pun dapat menduga bahwa tentu suhunya yang menjadikan mereka seperti itu, maka dia pun menghadapi kakek itu.

"Suhu, harap Suhu suka mengampuni mereka."

Pek-ciang Yok-sian mengangguk angguk, kemudian berkata.

"Orang-orang seperti mereka ini, selalu mengandalkan, kekuatan untuk memaksakan kehendak mereka kepada orang lain, oleh karena itu, sebelum mereka dibebaskan, kekuatan itu harus dirampas dari tubuh mereka!"

Berkata demikian, beberapa kali tangannya bergerak ke arah tubuh lima orang itu.

Lima orang penjahat itu dapat bergerak kembali, akan tetapi mereka meringis kesakitan karena tulang-tulang pundak mereka telah remuk!

Cacat ini dapat disembuhkan, akan tetapi kekuatan mereka akan lenyap untuk selamanya, kalaupun ada, maka kekuatan itu tidak akan melebihi kekuatan orang dewasa biasa dan tentu saja hal ini tidak memungkinkan lagi bagi mereka untuk bertindak sewenang-wenang.

Apalagi, dengan cacat itu, mereka tidak akan melakukan gerakan silat dengan baik dan mengadu kekuatan dapat membahayakan pundak mereka lagi.

Tanpa berani mengeluarkan suara karena masih takut akan sikap para penduduk yang memandang mereka penuh kebencian, lima orang itu lalu pergi meninggalkan dusun itu.

Para penduduk dusun, dipimpin kepala dusun mereka, menjatuhkan diri berlutut dan memberi hormat kepada San Hong dan gurunya, akan tetapi ketika mereka mengangkat muka, pemuda dan kakek itu telah lenyap dari depan mereka!

"Bagaimana, San Hong?"

Tanya Pek-ciang Yok-sian kepada pemuda itu setelah mereka kembali ke puncak di mana empat orang kakek lain masih menunggu.

"Sudahkah engkau memperoleh jawaban pertanyaanmu apa manfaatnya engkau belajar silat dari kami?"

San Hong mengangguk-angguk.

"Kalau tidak ada Suhu, tentu teecu tadi telah tewas di tangan lima orang penjahat dan teecu tidak akan mampu menolong gadis dan ayahnya itu. Teecu kini tahu bahwa untuk dapat menolong orang lain, untuk dapat mencegah terjadinya kejahatan, menentang para penjahat, teecu harus memiliki ilmu kepandaian untuk mengalahkan mereka. Kini teecu maklum betapa pentingnya ilmu kepandaian silat bagi teecu dan terima kasih atas petunjuk Suhu sekalian."

Lima orang kakek itu tersenyum gembira dan mereka mengambil keputusan untuk tinggal di puncak yang indah itu untuk bersama-sama menggembleng murid mereka.

San Hong memperlihatkan kecakapan dan kerajinannya dengan membuatkan pondok-pondok untuk kelima orang gurunya dan untuk dia sendiri, dibangun dengan kayu yang diambilnya dari hutan.

Pondok-pondok kecil sederhana yang kokoh kuat dan para gurunya merasa senang bukan main.

Mulailah pemuda itu berlatih ilmu-ilmu silat yang tinggi dari lima orang gurunya dan dia berlatih amat tekun dan rajin.

Tepat sepeti, dugaan guru-gurunya, wataknya yang jujur dan pikirannya yang kosong bodoh bahkan mampu menerima ilmu-ilmu yang tinggi itu dengan mudah, Bakatnya amat baik dan didorong pula oleh ketekunannya, maka pemuda itu memperoleh kemajuan pesat sekali.

Di bawah bimbingan Thay Lek Siansu, tenaga raksasa, dari San Hong, tenaga alami yang dibawanya sejak lahir, dapat dikembangkan semakin hebat sehingga pemuda itu bukan hanya memiliki tenaga luar yang dahsyat, akan tetapi juga tenaga dalam yang amat kuat.

Dari gurunya ke dua, Bu Eng Sianjin, dia mewarisi ilmu gin-kang (meringankan tubuh) yang membuat tubuhnya yang tinggi besar itu mampu bergerak amat lincahnya, dan dia dapat berlari cepat seperti seekor kijang jantan.

Gurunya yang ke tiga, di samping memberi pelajaran ilmu kekuatan batin untuk menolak kekuatan sihir lawan, juga memperdalam pengertian akan hidup, mempertajam kewaspadaannya terhadap lahir dan batinnya sendiri, terhadap segala yang terjadi di sekelilingnya.

Gurunya yang ke empat, Lui-kong Kiam-sian, mewariskan ilmu pedang yang ampuh, yang diberi nama Pek-lui Kiam sut ((Ilmu Pedang Halilintar).

Gurunya yang ke lima dan terakhir, Pek-ciang Yok-sian, selain mengajarkan ilmu silat tangan kosong juga mengajarkan ilmi ilmu pengobatan yang pokok bagi seorang ahli silat seperti mengobati luka beracun luka dalam dan salah urat, patah tulang dan sebagainya.

Selama lima tahun San Hong digembleng oleh lima orang gurunya.

Setelah lima orang kakek itu menganggap bahwa murid mereka sudah boleh diandalkan pada suatu hari mereka memanggil San Hong menghadap.

Mereka berlima sudah berkumpul di puncak, di lapangan rumput dan mereka berlima duduk bersila di atas rumput.

San Hong menghadap gurunya dan berlutut di depan mereka.

"San Hong,"

Kata Thay Lek Siansu yang mewakili saudara-saudaranya bicara "Kami berlima sudah bersepakat untuk melepasmu pergi hari ini.

Kami menganggap bahwa ilmu yang kaupelajari sudah cukup untuk kaubawa sebagai bekal hidupmu.

Dan sekarang kami hendak memberimu sebuah tugas, dan untuk tugas itulah sebenarnya kami bersusah-payah memilihmu dan mendidikmu sebagai murid kami."

Diam-diam San Hong terkejut.

Dia mulai merasa sayang kepada lima orang kakek yang selalu bersikap baik kepadanya itu, lima orang kakek aneh yang sakti yang wataknya berbeda-beda.

Akan tetapi, berkat latihan yang didapatnya dari Pek Sim Siansu, rasa kaget itu dapat lebur dan lenyap seketika sehingga tidak nampak pada wajahnya.

"Ngo-wi Suhu, teecu merasa baru sebentar teecu mempelajari ilmu dari para suhu, mengapa Suhu hendak melepas teecu pergi? Sesungguhnya, teecu masih ingin memperdalam apa yang teecu pelajari dari Suhu berlima."

"Ha-ha-ha, jangan tamak, San Hong!"

Kata Pek Sim Siansu.

"Ilmu-ilmu yang sudah kau pelajari itu sudah cukup banyak, tinggal mematangkannya saja dalam latihan. Kalau engkau sudah matang bahkan kami pun kalau satu lawan satu tidak akan mampu menandingimu. Engkau telah menerima penggabungan dari semua ilmu kami yang menjadi andalan kami."

San Hong memberi hormat.

"Kalau memang Suhu sekalian menghendaki demikian, teecu hanya mentaati perintah. Tugas apakah yang Ngo-wi berikan kepada teecu? Akan teecu laksanakan sebaik mungkin menurut kemampuan teecu."

"Bagus, bagus!"

Demikianlah seharusnya sikap yang baik, San Hong."

Kata pula Thay Lek Siansu.

"Ketahuilah bahwa sekarang ini, di utara terdapat suatu kekuatan yang amat hebat, yaitu pasukan orang-orang Mongol yang makin lama semakin kuat. Bahkan kabarnya mereka telah bergerak ke perbatasan, semua suku bangsa di utara sudah mereka tundukkan dan mereka merupakan ancaman yang amat berbahaya bagi Kerajaan di selatan. Kalau tidak keliru perhitungan Pek Sim Siansu, mereka akhirnya akan membobolkan Tembok Besar dan membanjir ke selatan sebagai kekuatan yang tak dapat dibendung."

San Hong mengerutkan alisnya.

Dia sejak kecil hidup di dusun dan dia sama sekali tidak pernah tahu apa yang dinamakan perang.

Akan tetapi, karena dia tidak buta huruf dan banyak pula membaca, apalagi setelah menjadi murid Pek Sim Siansu yang memberinya banyak kesempatan untuk membaca kitab, dia mengerti apa yang dinamakan oleh Thay Lek Siansu.

"Apakah Suhu sekalian menghendaki agar teecu membantu pemerintah untuk menentang penyerbuan pasukan Mongol dari utara itu?"

"Omitohud.....!"

Pek Sim Siansu berseru.

"Engkau seorang diri, apa dayamu untuk menentang garis yang sudah ditentukan oleh Tuhan?"

"Dia benar, San Hong,"

Kata pula Thay Lek Siansu.

"Jangankan engkau seorang diri, biar ada seratus orang seperti engkau, apa artinya dibandingkan dengan ratusan ribu pasukan dari utara Tidak, perang adalah urusan pemerintah. Untuk menghadapi pasukan haruslah dikerahkan pasukan pula dan itu merupakan urusan pemerintah."

"Kalau begitu, tugas apakah yang Suhu berikan kepada teecu?"

San Hong bertanya.

"Biasanya, apabila terjadi perang maka iblis-iblis bermunculan untuk menyebar racun kejahatan. Keadaan menjadi kacau dan yang paling menderita hebat adalah rakyat jelata. Perang itu sendiri sudah sangat kejam karena pasukan pihak pemenang biasanya melakukan pembunuhan, perampokan dan perkosaan secara kejam sekali. Semua ini ditambah dengan para penjahat yang mempergunakan kesempatan selagi keadaan menjadi kacau untuk mengumbar nafsu kejahatan mereka. Nah, di sinilah engkau dapat bertugas, San Hong. Biarpun tidak mungkin engkau mencegah terjadinya semua kejahatan, setidaknya engkau dapat mengurangi terjadinya beberapa peristiwa kejahatan itu, menentang kejahatan dan melindungi yang lemah dan menjadi korban."

"Kami sudah tua, San Hong,"

Kata Pek-ciang Yok-sian.

"Karena itu, kami memilih engkau menjadi murid agar engkau dapat mewakili kami."

San Hong mengangguk mengerti dan dia pun memberi hormat.

"Teecu berjanji akan mentaati semua perintah Suhu dan semoga teecu tidak akan mengecewakan harapan Suhu sekalian."

Setelah menerima banyak nasehat dari lima orang gurunya, San Hong menerima pula hadiah sebatang pedang pusaka dari Lui-kong Kiam-sian.

Pedang pusaka yang biasanya dipergunakan San Hong untuk berlatih silat pedang di bawah pimpinan gurunya yang ke empat itu.

Sebatang pedang pusaka yang mengeluarkan sinar berkilat dan amat ampuh.

"San Hong,"

Demikian kata Lui-kong Kiam-sian kepada muridnya sambil menyerahkan pedang itu.

"Pedang Pek lu kiam (Pedang Kilat) ini selama puluhan tahun menjadi sahabatku dan tidak pernah terpisah dariku. Sekarang kuberikan kepadamu sebagai wakilku untuk mempergunakannya menentang segala bentuk kejahatan di dunia ini."

Kemudian merekapun saling berpisah San Hong meninggalkan puncak menuju ke kaki gunung untuk lebih dulu pulang ke.

kampung halamannya, dusun Po-lim-cun tempat tinggal orang tuanya.

Adapun lima orang kakek itu pergi berpencaran, kembali ke tempat pertapaan masing-masing sebelum mereka berkumpul di puncak itu dan tinggal di situ selama lima tahun.

San Hong berlari cepat sekali bagaikan terbang menuruni puncak.

Teringalah dia akan pengalamannya lima tahun yang lalu ketika dia bertemu dengan Thay Lek Siansu, kemudian dengan Bu Eng Sianjin yang menjadi awal perjumpaannya dengan Thian-san Ngo-sian, lima orang kakek sakti itu, Kini, dengan mudah dia dapat menuruni puncak itu sambil-berlari cepat, alangkah jauh bedanya dengan lima tahun yang lalu.

Kalau dia teringat betapa sebentar lagi dia akan bertemu dengan ayah ibunya, jantungnya berdebar penuh ketegangan dan kegembiraan.

Membayangkan pertemuannya dengan ayah dan ibunya mendatangkan perasaan gembira yang membuat dia ingin bersorak dan tertawa.

Terbayang pula wajah para temannya di dusun Po-lim-cun, betapa akan gembiranya bertemu dengan mereka.

Akan tetapi dia akan merahasiakan keadaan dirinya dari mereka itu, kecuali tentu saja ayah bundanya yang akan dia ceritakan semua yang telah dialaminya semenjak dia meninggalkan mereka.

Dia tidak mengkhawatirkan keadaan ayah ibunya.

Menurut ayahnya sebelum dia tinggalkan, ayahnya telah menerima sekantung emas dari Thian-san Ngo-sian, cukup untuk menjadi modal hidup selama lima tahun.

Kalau saja pemuda ini tahu apa yang telah terjadi kurang lebih dua bulan yang lalu di dusun Po-lim-cun!

Pemuda yang kini berusia dua pulun tahun itu sama sekali tidak pernah mimpi bahwa dusun itu telah dilanda malapetaka yang amat hebat dua bulan yang lalu.

Apakah yang telah terjadi di sana?

Kurang lebih dua bulan yang lalu, pada suatu malam, dusun Po-lim-cun didatangi segerombolan perampok yang berjumlah dua puluh empat orang.

Tepat seperti yang diduga oleh lima orang guru San Hong, kekacauan yang terjadi akibat perang di utara, di mana pasukan Mongol mulai merajalela, melanda di seluruh negara, bahkan terasa sampai dusun itu.

Berita tentang terjadinya perang di utara itu membesarkan hati para penjahat sehingga mereka menjadi lebih berani.

Malam itu, dua puluh empat orang perampok menyerbu dusun Po-lim cun, dipelopori oleh lima orang penjahat yang sengaja membawa kawan-kawannya menyerbu dusun itu untuk melampiaskan dendam mereka terhadap seorang pemuda bernama Kwee Sin Hong!

Mereka berlima adalah para penjahat yang pernah mengacau di dusun kaki gunung dan dirobohkan oleh San Hong dan Pek-ciang Yok-sian, dan kemudian Yok-sian mengancurkan tulang pundak mereka sehingga mereka kehilangan kekuatan untuk selamanya.

Karena sebelumnya San Hong memperkenalkan namanya dan mengatakan bahwa dia datang dari dusun di kaki gunung sebelah timur, mudah saja bagi lima orang itu untuk mendapat keterangan bahwa Kwee San Hong tinggal di dusun Po-lim-cun.

Maka, setelah berhasil mengumpulkan kawan-kawannya, mereka kini menyerbu dusun itu.

Begitu menyerbu, para penjahat ini melakukan aksi pembakaran terhadap rumah-rumah dusun yang berada di pinggir.

Tentu saja penduduk menjadi kacau dan panik.

Segera terdengar teriakan teriakan dan jeritan wanita, dan diseling suara para perampok tertawa bergelak sambil menyerang siapa saja yang nampak di dusun itu.

Melihat ini, Kwee Cuu yang sudah berusia lima puluh lima tahun, segera menemui kepala dusun dan sedapat mungkin mereka berdua mengumpulkan semua pria muda di dusun itu dan dengan penuh semangat Kwee Cun berseru kepada mereka.

"Dusun kita diserbu gerombolan penjahat. Kalau kita lari, keluarga kita tentu dibunuh dan semua harta milik. kita dirampok dan rumah kita dibakar!. Sebaiknya kita mempertahankan dusun kita mati-matian! Jumlah kita tentu lebih banyak dan marilah kita melawan para penjahat itu!"

Melihat semangat Kwee Cun, para.

pemuda di dusun itu menyambut dengar sorakan dan merekapun menyambar senjata apa saja yang dapat dipergunakan untuk melawan musuh.

Kwee Cun sendiri memegang sebatang golok yang bit dipergunakan oleh puteranya untuk berburu binatang, dan lebih dari tujuh pulut orang mengikuti Kwee Cun sambil mengacung-acungkan senjata mereka, menyambut para perampok yang sedang mulai mengganas!

Bahkan ada puluhan orang wanita dusun yang tabah, ikut pula membawa senjata dan ikut keluar menyambut para penjahat itu untuk melindungi keluarga dan harta milik mereka yang tidak banyak dan yang terancam musnah oleh para perampok, itu!

Terjadilah pertempuran yang amat seru dan hebat.

Para perampok itu jauh kalah banyak jumlahnya sehingga seorang perampok dikeroyok oleh empat lima orang, akan tetapi karena para perampok itu rata-rata memiliki kepandaian silat dan mereka merupakan orang-orang kasar yang sudah biasa berkelahi, maka pertempuran itu menjadi seru dan banyak, penduduk dusun Po-lim-cun yang menderita luka-luka.

Pertempuran terjadi di bawah sinar api yang membakar beberapa buah rumah dan teriakan-teriakan terdengar memecah kesunyian malam yang biasanya penuh damai.

Karena khawatir kalau-kalau terkepung oleh banyak-musuh dan terpencil, maka para perampok lalu bergabung dan membentuk lingkaran untuk dapat melawan lebih baik terhadap pengeroyokan penduduk dusun.

Melihat bahwa yang mengeroyok hanyalah penduduk dusun yang sama sekali tidak pandai berkelahi dan yang hanya mengandalkan tenaga kasar saja, para perampok tertawa bergelak penuh ejekan, membayangkan betapa mereka akan membantai semua pria dusun itu, kemudian menculik para wanitanya yang muda dan merampok habis semua barang berharga dari dusun itu sebagai imbalannya.

Seorang di antara para perampok itu pemimpin atau kepala mereka, adalah.

seorang laki-laki berusia empat puluh tahun yang amat menyeramkan.

Tubuhnya tinggi dan besar, perutnya gendut.

Dia bertelanjang dada, nampak dada bidang dan perut gendut, dengan dada ditumbuhi bulu keriting, kedua lengannya kokoh kuat, mukanya yang bulat itu penuh cambang bauk dengan sepasang mata yang terbelalak merah, mulutnya menyeringai nampak giginya yang besar besar.

Seorang yang seperti raksasa!

sepak terjangnya juga menggiriskan semua orang.

Setiap orang lawan yang menyerangnya, diterimanya dengan dada terbuka.

Bacokan golok atau parang yang mengenai tubuhnya mental kembali, sama sekali tidak dirasakannya karena tubuhnya yang kebal itu tidak terluka sedikit pun oleh bacokan senjata tajam.

Dan begitu tangannya bergerak menyambar, kepala penyerangnya tadi pecah dan tubuh orang itu terlempar dan tewas seketika.

"Ha-ha-ha, siapa berani melawan aku? Ha-ha-ha, kalian ini kerbau-kerbau dusun berani melawan Tiat-liong (Naga Besi) Mo Kun dan kawan-kawannya? Ha-ha-ha!"

Sambil tertawa-tawa, Si Naga Besi ini dengan pongahnya lalu mengamuk dan sepak terjangnya membuat para penghuni dusun menjadi gentar.

Entah berapa orang sudah dihancurkan kepalanya oleh kedua tangannya yang seperti palu godam itu.

Melihat ini, Kwee Cun yang memimpin pasukan dusun itu segera membawa beberapa orang pemuda yang kuat untuk mengepung dan mengeroyok pemimpin perampok yang lihai itu.

Akan tetapi sebelum mereka turun tangan, entah dari mana datangnya, muncul dua orang laki laki berpakaian serba hitam di tempat itu.

Dua orang laki-laki ini berusia kurang lebih lima puluh tahun, yang seorang tinggi kurus dan yang seorang lagi pendek gemuk dengan perut besar.

Dan begitu muncul, sambil tertawa-tawa si gendut bergerak seperti angin topan mengamuk di antara para penduduk dusun.

Si kurus juga mengamuk dengan mulut bersungut-sungut dan sepak terjangnya tidak kalah hebatnya dibandingkan si pendek gendut.

Dalam beberapa gebrakan saja, si gendut sudah menangkap dan membanting tewas tujuh orang, sedangkan si kurus juga telah menewaskan tujuh orang penduduk dusun hanya dengan tendangan-tendangan kakinya yang panjang.

Kwee Cun yang membawa golok menjadi marah sekali melihat betapa di pihak para perampok muncul dua orang lihai yang amat kejam.

Biarpun dia maklum betapa lihainya dua orang itu, juga si kepala perampok yang tinggi besar, namun dia ingin membangkitkan semangat para penduduk dusun yang sudah mulai gentar, maka dia pun mengeluarkan teriakan marah dan dengan golok di tangan dia maju menerjang kepala perampok yang tinggi besar itu.

"Perampok jahanam!"

Kwee Cun membentak dan goloknya membacok ke arah dada perampok itu yang menyambut dengan membusungkan dadanya.

"Takkk!"

Golok di tangan Kwee Cun tepat membacok dada yang telanjang itu, ikan tetapi goloknya mental dan terlepas dari pegangan tangannya.

Sebelum Kwee Curi sempat mengelak, tangan kepala perampok itu bergerak dan kepala Kwee Cun kena dihantam keras sekali sehingga kepala itu pecah dan dia tewas seketika.

Melihat Kwee Cun tewas, juga kepala dusun, bahkan hampir semua wanita, termasuk isteri Kwee Cun yang ikut mengamuk juga tewas di samping puluhan orang penduduk dusun, mereka yang masih hidup menjadi ketakutan dan orang-orang dusun itu segera melarikan diri dari tempat itu.

Mereka membawa anak-anak mereka yang menjerit-jerit ketakutan dan sebentar saja dusun Po lim cun menjadi sunyi, ditinggalkan mereka yang masih hidup.

Mayat-mayat berserakan, dan di sana-sini terdapat mereka yang luka parah sehingga tidak mampu melarikan diri, hanya menahan rasa sakit dan, berpura-pura mati.

Betapapun hebat rasa nyeri yang mereka derita, mereka tidak berani mengeluarkan suara dan dengan berpura-pura mati, mereka memandang ke arah para perampok itu dengan jantung hampir berhenti berdetak saking takut, ngeri dan tegangnya.

Sementara itu, di pihak para perampok yang dua puluh empat orang jumlahnya, tidak ada yang tewas, hanya ada beberapa di antara mereka menderita luka-luka saja.

Kini kepala perampok bernama Mo Kun berjuluk Tiat-liong itu, tertawa bergelak melihat penduduk dusun kabur, dan dia pun menghampiri dua orang laki-laki aneh berpakaian serba hitam sambil menyeringai.

"Entah dari mana datangnya dua orang rekan yang telah membantu kami. Kami tidak akan melupakan bantuan kalian dan tentu kalian akan mendapatkan bagian."

Katanya sambil mengamati dua orang berpakaian serba hitam itu.

Si pendek gendut dan si tinggi kurus yang berpakaian serba hitam itu saling pandang.

Si tinggi kurus nampak semakin cemberut dan si pendek gendut lalu tertawa bergelak, tangan kiri memegangi perutnya yang gendut dan menahan perut itu terguncang-guncang sedangkan tangan kanannya dijulurkan ke depan, telunjuknya menuding ke arah muka Si Naga Besi.

Karena kakek gendut itu hanya menuding mukanya sambil terus tertawa terpingkal-pingkal, tentu saja Si Naga Besi yang terkenal galak dan ditakuti itu menjadi tidak senang dan dia memandang dengan alis berkerut, kemudian membentak marah.

"Heh, Gendut! Apa yang kau tertawakan?"

Si gendut berpakaian hitam masih tertawa dan hanya dengan susah payah dia dapat mengeluarkan kata-kata di antara suara ketawanya.

"Ha-ha-heh..... kau..... ha-ha-ha, sudah mau mampus..... masih dapat berlagak sombong, ha-ha....."

Tentu saja Si Naga Besi menjadi semakin marah.

"Jahanam busuk, siapa engkau ini berani mengnina Si Naga Besi Mo Kun?"

Kini si perut gendut sudah berhenti tertawa dan dia pun bicara dengan muka masih menyeringai lebar menahan kegelian hatinya.

"Heh-heh-heh, engkau Tiat-liong Mo Kun? Ketahuilah bahwa di sini kami tentukan sebagai wilayah kami dan tidak seorang pun boleh melanggar kedaulata kami. Kalian telah berani beraksi di sini tanpa seijin kami, berarti kalian telah melanggar wilayah kami dan untuk itu kalian akan mampus!"

Mendengar ucapan ini, tentu saja Naga Besi menjadi semakin marah.

Mata nya melotot dan cambang bauknya ber gerak-gerak ketika mulutnya monyong tanpa dapat mengeluarkan suara saking marahnya.

Akhirnya, dia dapat juga membentak.

"Keparat!"

Hayo mengaku siapa kalian sebelum mampus di tanganku!"

"Ha-ha-ha, perampok kecil macam engkau hanyalah cacing tanah busuk yang tidak ada artinya, tidak pantas mengenal kami. Hayo berlutut dan menyerahkan diri untuk kami bunuh semua!"

Sungguh hebat penghinaan ini dan si brewok itu segera melangkah maju mendekati si pendek gendut.

"Orang macam engkau ini berani menghina kami? Hemm, tidak kaulihat tadi betapa golok, dari segala macam senjata tajam tidak mampu melukai aku? Apa kau sudah bosan hidup?"

Si gendut pendek mengejek.

"Jangan menawarkan dadamu yang lunak seperti tahu itu untuk kupukul. Sekali tusuk dengan jari telunjuk ini pun dadamu akan berlubang!"

Si Naga Besi segera membusungkan dadanya.

"Keparat, boleh kau coba, dan kalau engkau tidak mampu memenuhi ancamanmu itu, perutmu yang gendut akan kurobek dan kukeluarkan semua isinya!"

"Ha-ha-ha, benarkah? Nah, coba dada tahumu itu menerima tusukan jari telunjukku ini!"

Si gendut melangkah maju, tangan kirinya bergerak ke depan dan benar saja, jari telunjuknya dia pergunakan untuk menusuk dada yang bidang, kokoh dan berbulu tebal itu.

Si Naga Besi yang selalu mengandalkan kekebalan tubuhnya, mengerahkan tenaganya untuk menjaga dada itu dari serangan lawan, sementara dia sudah siap untuk membalas dengan mencengkeram perut si gendut itu dan dirobeknya kulit dan lemak perut itu.

Jari telunjuk yang pendek besar sesuai dengan bentuk tubuh orang itu meluncur ke arah dada, diterima dengan mulut tersenyum mengejek oleh Si Naga Besi.

Akan tetapi, ketika jari tangan itu bertemu dengan kulit dada yang tebal dan amat kuat seperti besi itu, jari tangan itu terus menusuk ke dalam dan wajah si brewok berubah, matanya melotot mulutnya mengeluarkan teriakan kesakitan, kemudian tubuhnya terhuyung ke belakang dan darah mengucur dari dadanya yang berlubang!

Jari telunjuk itu telah menembus kulit gajih dan daging, dan masih untung bagi Si Naga Besi bahwa bentuk jari telunjuk itu besar pendek sehingga tidak menyentuh jantungnya!

Dengan kemarahan meluap dia mencabut sebatang golok dari pinggangnya!

"Ha-ha-ha,dadamu itu lebih lunak daripada tahu yang sudah membusuk!"

Ejek si gendut, sedangkan temannya, si tinggi kurus, hanya cemberut saja, matanya yang sipit hampir terpejam.

Agaknya Si Naga Besi, biarpun berwatak sombong, bukan seorang bodoh.

Dia tahu bahwa orang yang mampu menembus kekebalan dadanya hanya dengan jari telunjuk, tentulah memiliki kepandaian tinggi maka sedikit banyak kemarahannya bercampur dengan rasa jerih.

Dia lalu membentak, mengeluarkan aba-aba untuk kawan-kawannya agar maju mengeroyok!

Dua puluh tiga orang, termasuk yang sudah terluka, kini mengepung si pendek gendut dan si tinggi kurus yang berpakaian hitam, dengan senjata di tangan dan sikap mengancam.

"Siauw te (Adik), hidangan sudah dikeluarkan, jangan sungkan-sungkan lagi, ganyang saja!"

Kata si gendut kepada temannya yang tinggi kurus.

"Hemmm, serahkan mereka kepadaku, Toa-ko (Kakak)!"

Kata si tinggi kurus yang mukanya selalu cemberut itu.

Dua orang ini memang aneh dan juga lucu.

Keadaan tubuh dan muka mereka sungguh merupakan kebalikan sama sekali.

Kalau yang lebih tua bertubuh pendek gendut, yang muda bertubuh tinggi kurus.

Kalau si gendut itu mukanya selalu tersenyum lebar dan mudah tertawa, sebaliknya si kurus itu mukanya selalu cemberut seperti orang berduka atau ngambek seperti mudah menangis.

Akan tetapi, biarpun tubuh mereka aneh, sungguh Si Naga Besi sekali ini keliru sama sekali kalau memandang rendah kepada mereka.

Kini dua puluh empat orang yang semuanya bersenjata tajam itu menerjang dan menghujankan senjata mereka kepada si gendut dan si kurus, dan terjadilah perkelahian yang aneh, berat sebelah dan juga lucu.

Biarpun tubuhnya dihujani senjata tajam, si tinggi kurus itu sama sekali tidak nampak gugup bahkan dia melangkah maju menyambut hujan senjata itu dengan kedua lengan diangkat, kedua tangan dengan jari-jari kecil panjang itu mencengkeram dan dia menyambut begitu saja senjata-senjata tajam, menangkap dan mencengkeramnya.

Terdengar bunyi berkretekan dan senjata-senjata yang tertangkap oleh kedua tangannya itu patah-patah dan remuk!

Sementara itu, kedua kakinya yang kecil panjang sudah bergerak bergantian dan setiap orang perampok yang kena tendangan kakinya, tentu terlempar dan roboh untuk tidak bangkit kembali karena kepala, atau dada, atau bawah pusar, sudah remuk dilanda kaki yang amat kuat itu!

Si gendut juga hebat bukan main.

Senjata-senjata tajam menimpa seperti hujan ke atas kepala dan pundaknya dari atas, ada pula yang menusuk perut gendutnya dari depan dan kanan kiri, akan tetapi semua senjata itu membalik seperti menimpa bola karet yang tebal dan kuat saja, dan sebelum para penyerang itu sempat menyingkir, tubuh gendut itu sudah "menggelinding"

Ke sana-sini dan setiap kali tangannya bergerak, tentu ada kepala pecah atau dada remuk sehingga orangnya tentu saja tewas seketika.

Si Naga Besi sendiri begitu menyerang dengan golok besarnya, disambut oleh si gendut dengan menyeringai lebar.

Golok mengenai kepala, keras sekali, akan tetapi golok itu membalik dan sebelum Naga Besi sempat mengelak, kakinya sudah kena ditangkap, tubuhnya diputar-putar ke atas oleh si gendut, lalu dibanting.

"Bresssss!"

Dan Si Naga Besi tidak mampu bangkit lagi, hanya mengerang kesakitan karena banyak tulang-tulang tubuhnya remuk.

"Siapa..... siapa kalian.....?"

Si Naga Besi masih sempat bertanya sebelum nyawanya melayang.

"Heh-heh-heh, engkau tidak pantes berjuluk Naga Besi, melainkan lebih patut berjuluk Cacing Buta! Kami adalah Hek I Siang-mo (Sepasang Iblis Baju Hitam) yang kini menguasai seluruh wilayah Pegunungan Thian-san."

Kata si gendut. Sepasang mata Si Naga Besi terbelalak.

"Hek.... I..... Siang-mo.....?"

Dan dia pun terkulai, tewas.

Tentu saja dia sudah mendengar nama dua orang datuk sesat yang amat ditakuti di seluruh dunia kang-ouw ini!

Beberapa orang anggauta perampok yang masih belum roboh menjadi panik ketakutan melihat betapa Si Naga Besi sudah tewas.

Mereka segera melarikan diri, akan tetapi nampak bayangan hitam berkelebatan dan dua orang berpakaian hitam itu berkelebatan cepat melakukan pengejaran dan di dalam waktu singkat saja, seluruh perampok berjumlah dua puluh empat orang itu tewas semua!

Si gendut pendek tertawa bergelak, memandang mayat-mayat berserakan yang memenuhi tempat itu.

Para perampok yang tewas saja dua puluh empat orang banyaknya, sedangkan orang-orang dusun yang tewas lebih banyak lagi.

Dusun yang biasanya amat tenteram itu kini menjadi tempat yang amat mengerikan, menjadi tempat pembantaian manusia!

Banyak di antara mereka yang terluka dan berpura-pura mati, menjadi sungguh-sungguh mati saking takut dan ngerinya melihat itu semua.

Ada pula yang roboh pingsan, dan hanya beberapa orang saja yang cukup tabah masih mampu melihat apa yang terjadi di situ, dengan hati diliputi ketegangan dan kengerian.

"Ha-ha-ha, hari ini kita sungguh berpesta pora sampai kenyang, Siauwte!"

Kata si gendut sambil menyeringai kejam.

"Kekuasaan yang kita tanam di daerah ini tentu akan mengesankan dan tidak akan ada seorang pun yang berani menentang kita lagi!"

"Engkau benar, Toako. Sayang masih ada yang sempat melarikan diri, terutama para wanitanya."

Kata si kecil kurus yang paling suka menambah kepuasan hatinya setelah melakukan pembunuhan-pembunuhan itu dengan mempermainkan para wanita sampai mati.

"Ha-ha-ha, biarkan mereka pergi, agar mereka menyebar berita tentang kedatangan kita. Tak seorang pun akan berani menentang kita lagi, dan amat perlu menanamkan rasa takut di hati mereka."

Tiba-tiba tempat yang kini menjadi sunyi dan menyeramkan itu dipecahkan oleh suara yang melengking nyaring.

Mula-mula suara itu terdengar hanya seperti lengking panjang, seperti lolong srigala atau binatang buas lain.

Akan tetapi, makin lama lolong atau lengking itu semakin jelas dan akhirnya terdengar dari dusun yang biasa itu sebagai suara teriakan panjang.

"A-bwee.....! A-bwee.....! Siauw-bwee di mana engkau....?"

Dua orang berpakaian hitam itu saling pandang dan keduanya mengerutkan alisnya.

Siapakah orangnya berani mendatangi tempat itu?

Si gendut menyeringai lebar, dan lidahnya keluar menjilati bibirnya, sikapnya seperti seekor srigala yang melihat datangnya mangsa baru yang menimbulkan seleranya!

Beberapa orang penduduk dusun yang masih belum tewas, yang terluka dan pura-pura mati, mempergunakan kesempatan selagi dua orang membalikkan tubuh menanti munculnya orang yang berteriak-teriak memanggil nama A-bwee atau Siauw bwee itu, mereka merangkak dan pergi dari tempat itu.

Ada dua orang penduduk dusun yang berhasil merangkak pergi, bersembunyi di balik semak-semak lalu perlahan-lahan menjauhkan diri dari tempat yang penuh mayat itu.

Tiga orang lain yang sedang merangkak, tiba-tiba melihat si tinggi kurus menoleh.

Mereka cepat berpura-pura mati lagi, namun terlambat.

Si kurus ini melihat gerakan mereka dan tangan kiri si tinggi kurus bergerak tiga kali.

Nampak ada sinar kecil hitam menyambar ke arah tiga orang yang terluka itu dan tanpa dapat mengeluh lagi, ketiganya terkulai lemas dan tewas dengan sebatang jarum menembus pelipis kepala mereka sampai dalam!

Dua orang datuk sesat itu, Hek I Siang-mo (Sepasang Iblis Baju Hitam), kini berdiri menanti munculnya orang yang berteriak-teriak tadi.

Tak lama kemudian, mereka melihat seorang kakek melangkah datang ke tempat itu.

Seorang kakek yang tinggi besar dan gagah perkasa,memakai mantel atau jubah lebar berwarna merah!

Pakaiannya putih-putih dengan sabuk emas yang lebar menghias pinggangnya.

Kakek ini usianya tentu sudah enam puluh tahun lebih, akan tetapi masih kelihatan gagah perkasa, tinggi besar dengan kaki dan tangan yang kokoh, pundaknya lebar, dadanya bidang dan pakaiannya terbuat dari sutera halus yang mahal dan terpelihara baik-baik.

Rambutnya digelung ke atas dan dihiasi oleh perhiasan rambut berbentuk seekor naga melingkari sebuah mutiara dari batui giok.

Tangannya memegang sebatang tongkat yang tingginya sepundak, dan kedua ujung tongkat itu pun dilapisi emas, yang ujung bawah meruncing, yang atas menjadi gagang berbentuk kepala naga.

Sungguh seorang kakek yang gagah dan berwibawa.

Mukanya persegi empat dengan sepasang mata yang mencorong dan wajah itu membayangkan keangkuhan yang luar biasa.

Begitu tiba di tempat itu, kakek ini menghentikan langkahnya yang lebar, memandang ke kanan kiri, ke arah mayat-mayat itu dan wajahnya yang tinggi hati itu nampak semakin mengejek dan memandang rendah.

Dengan kerlingan memandang rendah kepada dua orang berpakaian hitam-hitam itu, kakek berjubah merah mengeluarkan suaranya yang mengejutkan dua orang datuk sesat itu karena suara kakek ini amat lantang seperti guntur dan bergema di seluruh dusun.

"Heiii, kalian dua orang berpakaian hitam! Apakah kalian melihat anakku Ang Siang Bwee? Hayo katakan di mana anakku A Bwee!"

Kalimat terakhir ini bernada memerintah.

Hek I Siang-mo adalah dua orang datuk sesat yang selamanya ditakuti dan dihormati orang, dan mereka begitu percaya kepada kekuatan dan kepandaian sendiri sehingga tidak pernah memandang tinggi orang lain.

Kini, melihat munculnya seorang kakek yang begitu memandang rendah kepada mereka, tentu saja keduanya merasa mendongkol dan marah bukan main.

Akan tetapi Thian-te mo, yaitu si pendek gendut, tertawa bergelak menutupi kedongkolan hatinya.

"Hoa-ha na ha, dari mana datangnya kakek pesolek dan kaya ini? Sobat, kalau engkau mencari anakmu, cobalah cari di antara mayat-mayat ini, siapa tahu barangkali ia berada di antara mereka!"

Sepasang mata itu mengeluarkan sinar mencorong, akan tetapi kakek berjubah merah itu benar-benar melangkah dan mencari-cari di antara mayat yang berserakan dan malang-melintang di tempat itu.

Dia menggunakan kaki dan ujung tongkatnya untuk membalikkan mayat yang menelungkup untuk melihat mukanya, dan anehnya, dia bukan hanya membalikkan mayat wanita yang menelungkup, bahkan mayat pria pun dia balikkan kalau mayat itu menelungkup.

Agaknya dia tidak menemukan orang yang dicarinya karena dia meninggalkan mayat-mayat itu, kini menghampiri Hek I Siang-mo yang sudah siap untuk membunuh kakek yang sama sekali tidak menghargai mereka itu.

"Apa yang terjadi di sini?"

Kembali kakek jubah merah bertanya dan suaranya kembali terdengar seperti bernada memerintah dan menuntut jawaban yang benar!Im yang-mo, si kurus tinggi sudah hendak menggerakkan kakinya, akan tetapi Thian te mo,si gendut, menyentuh lengannya dan si gendut ini kembali tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, apa yang terjadi? Beginilah kalau orang-orang berani menentang Hek I Siang-mo. Mereka mampus semua, juga engkau..."

"Kau bilang tadi siapa membunuh mereka semua?"

Kakek berjubah merah memotong ucapan si gendut itu dengan suara tidak sabar. Kembali dua orang berpakaian hitam itu mendongkol bukan main. Kakek jubah merah ini benar-benar memandang rendah mereka.

"Siapa lagi kalau bukan Hek I Siang-mo?"

Bentak si tinggi kurus mendahului kakaknya.

"Siapakah itu Hek I Siang-mo?"

Kakek jubah merah bertanya, sikapnya memandang rendah sekali.

Kembali dua orang datuk itu merasa betapa dada mereka sesak karena mendongkol.

Kaum sesat di empat penjuru sudah mengenal nama besar mereka, akan tetapi kakek ini menyambut nama mereka seperti nama yang remeh saja!

"Hek I Siang-mo adalah kami!"

Bentak Thian-te-mo, kini untuk pertama kalinya senyumnya tidak nampak karena dia sudah marah sekali.

"Kalian bohong besar! Yang membunuh semua orang adalah aku! Hayo kalian berdua katakan bahwa yang membunuh semua orang adalah aku seorang!"

Kemarahan dua orang datuk itu tidak dapat mereka pertahankan lagi.

Si gendut Thian-te-mo mengeluarkan suara menggereng setengah tertawa dan tiba-tiba tubuhnya yang bundar itu sudah menggelinding ke depan, kedua tangannya dengan cepat dan juga dengan amat kuatnya sudah menyerang dengan dahsyat ke arah dada dan perut kakek jubah merah.

Dapat dibayangkan betapa berbahayanya serangan kedua tangan Thian te-mo yang tadi setiap kali tampar saja menghancurkan kepala setiap orang anggauta perampok.

Apalagi sekarang kedatangan itu dihantamkan dengan pengerahan tenaga yang besar karena si gendut sedang marah.

Kakek jubah merah itu agaknya tidak tahu bahwa nyawanya terancam serangan maut.

Dia enak-enak saja, hanya mengibaskan lengan jubah merahnya.

Angin besar menyambar ke arah.

si gendut dan sungguh aneh, tubuh yang bundar itu seperti sebuah bola ditendang, terlempar dan bergulingan sampai jauh!

Si kurus tinggi Im-yang-mo juga sudah menerjang maju.

Dia amat lihai mempergunakan kedua kakinya, maka kini begitu menerjang maju dia menggunakan kedua kakinya, menendang bergantian dengan cepat dan amat kuat.

Seperti juga tadi, kakek jubah merah seperti acuh saja, hanya menggerakkan lengan jubahnya yang lebar.

Kembali ada angin menyambar dahsyat dan tubuh yang kurus kering dan tinggi itu terlempar, melayang seperti sehelai layang-layang putus talinya, dan akhirnya tubuh kurus itu terbanting jatuh dekat tubuh Thian-te mo yang gendut.

Kedua orang ini bangkit duduk saling pandang seperti orang yang bermimpi buruk.

Mereka tak dapat menerima, tak dapat percaya akan peristiwa yang menimpa diri mereka.

Sungguh tidak mungkin sama sekali.

Mereka, dua orang datuk sesat yang berilmu tinggi, sudah digolongkan orang-orang sakti, dalam segebrakan saja dilemparkan oleh kibasan ujung lengan jubah kakek itu, tanpa kakek jubah merah itu menggerakkan kaki satu langkahpun!

Ini sungguh tidak mungkin!

Perasaan malu, heran, penasaran dani marah bercampur aduk dalam dada mereka.

Si gendut Thian-te-mo sudah tidak mampu tertawa lagi.

Dia menggerakkan kedua lengannya dan kedua tangan yang berjari pendek-pendek itu membentuk cengkeraman, kedua lengan tergetar diisi tenaga sin-kang sepenuhnya!

Datuk sesat ini mengambil keputusan untuk melakukan serangan maut yang amati hebat!

Selama ini, belum pernah ada lawan yang mampu bertahan menghadapi ilmu Hek-hiat-ciang (Tangan Darah Hitam), yaitu pukulan dan cengkeraman!

menggunakan kedua tangannya yang berubah hitam dan penuh dengan tenaga sakti yang amat kuat, pula mengandung hawa beracun!

"Hyaaaaattttt.....!!!"

Dia mengeluarkan suara melengking nyaring dan tubuhnya yang gendut bundar itu bergerak maju cepat sekali sehingga kelihatannya seperti menggelinding.

Tahu-tahu kedua tangannya telah mengirim serangan maut yang amat dahsyat.

Nampak uap hitam mengepul dari kedua tangannya yang berubah hitam itu, dan kedua tangan menyambar ke arah tubuh kakek jubah merah.

Seperti juga tadi, kakek itu menghadapi serangan maut ini dengan sikap acuh, dan paridang matanya yang mencorong itu memandang remeh seperti menghadapi kenakalan anak kecil saja.

Tangan kanannya masih memegang tongkat dan tidak bergerak.

Hanya tangan kirinya saja yang bergerak menyambut serangan lawan dan tahu-tahu, tangan kiri itu dapat mulur panjang!

Lengan itu mulur sampai hampir dua meter dan sebelum serangan si gendut tiba, lebih dulu tubuh si gendut sudah dicengkeram di bagian tengkuknya dan lengan yang panjang itu mengangkatnya ke atas.

lalu membanting tubuh gendut ke bawah dengari kekuatan raksasa!

"Brukkkkk!!"

Thian-te-mo dibanting ke atas tanah.

Kakek gendut itu terkejut!

bukan main dan cepat dia mengerahkan!

seluruh sin-kangnya untuk melindungi tubuhnya.

Bantingan itu sedemikian kuatnya sehingga.

tubuh Thian-te-mo yang, mengeras penuh kekebalan itu terbanting dan ambles ke dalam tanah dari kaki sampai ke pinggangnya!

Pada saat itu, Im-yang-mo, si kakek kurus tinggi sudah pula datang menyerang.

Kakek ini pun mengeluarkan ilmu simpanannya yang paling ampuh, yaitu ilmu Cui-beng-tui (Tendangan Pengejar Nyawa dan tubuhhya sudah menerjang ke depan, lalu kedua kakinya bagaikan halilintar cepatnya menyambar-nyambar dari kanan kiri dengan tendangan yang amat kuat.

Namun, yang ditendang masih tenang-tenang saja, dan begitu kaki lawan yang amat panjang itu datang menyambar, kakek jubah merah menggerakkan tangan kiri menyambut, menangkap kaki dan terus mendorong dengan sentakan keras dan akibatnya, tubuh yang kecil kurus itu terlempar ke atas, tinggi sekali dan akhirnya tubuh itu terhempas ke dalam sebatang pohon yang tinggi, lemas setengah pingsan tersampir di cabang dan terayun-ayun!

Kalau lain orang yang dibanting seperti Thian-te-mo, tentu tubuhnya akan remuk dan setidaknya, tulang-tulang kaki dan punggung akan patah-patah yang akan mengakibatkan kematiannya.

Badannya telah menancap ke dalam tanah sampai ke pinggang!

Akan tetapi dia memang kebal dan kuat sekali.

Biarpun wajah yang biasanya menyeringai dan tersenyum cerah itu kini berubah meringis kesakitan, namun dia mampu menarik dirinya keluar dari dalam tanah.

Dan keadaan Im-yang-mo tidak kalah parahnya dibandingkan saudaranya itu, Ketika dia menendang, dia mengerahkan sin-kang yang kuat, akan tetapi ketika kakinya bertemu dengan tangan kiri kakek jubah merah, kekuatan sin-kang itu membalik sehingga dia mengalami serangan dari tenaganya sendiri.

Baiknya dia dapat segera melindungi tubuh bagian dalam dengan hawa khi-kang sehingga dia tidak menderita luka parah di dalam tubuh dan guncangan hebat saja yang dideritanya sehingga ketika tubuhnya terlempar ke atas dan tertahan dalam pohon, dia hanya setengah pingsan saja.

Seperti juga saudaranya, kakek tinggi kurus ini lihai, kuat bukan main.

Dengan kepala pening dan semua nampak berputar-putar ditambah ribuan bintang menari-nari di depan matanya, kakek ini masih mampu untuk turun dari atas pohon walaupun dengan merangkak dan merosot seperti anak kecil.

Begitu tiba di atas tanah, dia pun bersama Thian-te-mo segera menjatuhkan diri berlutut di depan kakek jubah merah!

Lenyaplah semua kesombongan mereka karena keduanya mengerti benar bahwa mereka berhadapan dengan seorang yang memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi, yang pantas menjadi guru mereka!

Kini mereka pun teringat akan adanya seorang tokoh besar, seorang datuk besar yang kabarnya memiliki kepandaian seperti dewa, yang dianggap sebagai raja di antara golongan kang-ouw dan yang berjuluk Nam-san Tok-ong (Raja Racun Gunung Selatan).

Seperti inilah gambar tokoh itu, dan kalau tadi merasa tidak mengenalnya adalah karena datuk besar itu tidak pernah muncul di dunia ramai dan seperti seorang tokoh dalam dongeng para petualang di dunia kang-ouw saja.

"Mohon maaf!"

Kata Thian-te-mo.

"Apakah kami yang bodoh berhadapan dengan Nam-san Tok-ong Ang Leng Ki yang mulia?"

Kakek itu masih bersikap angkuh.

"Hemmm, ada dua hal yang membuat aku tidak ingin membunuh kalian sekarang. Pertama melihat kalian tidak mati seketika setelah bertemu dengan tanganku, dan ke dua karena kalian cukup awas untuk mengenal Nam-tok (Racun Selatan). Hayo katakan, siapa yang membunuh semua mayat ini?"

Dua orang datuk sesat itu sudah pernah mendengar bahwa Nam-san Tok-ong Ang Leng Ki adalah seorang datuk besar yang wataknya aneh, angin-anginan, akan tetapi selalu bersikap angkuh dan sombongnya -tidak ketulungan lagi!

Maka, kini mereka sama sekali tidak berani membantah dan dengan suara berbareng mereka pun berkata lantang.

"Yang membunuh semua orang ini adalah Nam-tok!"

"Kurang keras! Teriakkan yang keras agar semua orang mendengar dan tahu!"

Kata Nam-san Tok-ong Ang Leng Ki atau disingkat Nam-tok sambil menghentakkan ujung tongkatnya ke atas tanah.

Bagaikan dikomando, dengan paduan suara, Hek I Siang-mo berteriak lantang, dengan suara yang mengandung tenaga khi-kang sehingga terdengar sampai jauh sekali.

"Yang membunuh mereka semua ini adalah Nam-tok!"

Agaknya kini hati kakek jubah merah itu merasa puas.

Dan memang teriakan itu nyaring sekali, terdengar oleh mereka yang tadi melarikan diri sehingga semua sisa penduduk dusun Po-lim-cun dapat mendengarnya dan mereka pun menganggap bahwa penyebar maut di dusun itu bernama Nam-tok.

Kini Nam-tok yang masih berdiri memandang kepada dua orang datuk yang masih berlutut di depannya.

"Bangkitlah!"

Bagaikan dua ekor anjing dicambuk, dua orang itu bangkit berdiri dan memandang dengan wajah ketakutan.

Mereka adalah dua orang datuk yang biasanya berwatak kejam sekali, membunuh orang tanpa berkedip.

Akan tetapi sekarang barulah nampak betapa di balik kekejaman mereka terdapat watak yang pengecut dan penakut.

Memang demikianlah kenyataannya.

Orang yang bersikap kejam kepada bawahan, tentu menjadi penjilat terhadap atasannya.

"Sekarang katakan apakah kalian melihat puteriku yang bernama Ang Siang Bwee?"

Dua orang itu saling pandang kemudian menggeleng kepala mereka. Thian-te-mo menjawab.

"Maaf, Ong-ya, kami tidak pernah bertemu dengan puteri Ong ya."

Sebutan Ong-ya ini agaknya menyenangkan hati Nam-tok yang memang memiliki watak tinggi hati dan angkuh bukan main.

"Apakah kalian kini sudah mengakui kekuasaanku?"

"Sudah, Ong-ya dan maafkan kebodohan kami tadi."

"Kalau benar demikian, mulai sekarang, kalian kuserahi tugas untuk mencari puteriku sampai dapat dan katakan kepadanya bahwa aku tidak marah lagi padanya dan minta agar ia mau pulang."

"Baik, Ong-ya. Kami akan mengerahkan seluruh anak buah dan semua orang kang-ouw di daerah kami untuk kami sebar dan mencari puteri Ong-ya yang bernama Ang Siang Bwee itu."

"Akan tetapi kami belum pernah melihatnya, harap Ong-ya suka menggambarkan bagaimana keadaan puteri Ong-ya itu."

Dengan hati-hati Im-yang-mo yang sejak tadi diam saja ikut bicara.

Si tinggi kurus ini merasa taluk benar.

Dia tadi sudah kehilangan semangatnya ketika tubuhnya terlempar ke udara dengan tubuh lemas dan hampir pingsan.

Sejenak kakek jubah merah itu diam melamun mendengar pertanyaan itu sehingga Hek I Siang-mo menanti dengan jantung berdebar tegang.

Thian-te-mo memandang adiknya dengan mata mendelik marah karena pertanyaan adiknya itu dianggapnya lancang sehingga dia takut kalau-kalau kakek jubah merah itu menjadi marah.

Dan memang watak aneh Nam-tok sukar diduga.

Kalau saja dia tidak membutuhkan bantuan dua orang itu untuk mencari puterinya, mungkin saja dia marah mendengar pertanyaan yang seolah-olah memaksa dia harus membuat keterangan tentang puterinya itu, dan kemarahannya itu dapat saja berakibat dengan matinya dua oang itu!

Akan tetapi untung bagi mereka, sekali ini dia tidak marah.

"Puteriku bernama Ang Siang Bwee, berusia delapan belas tahun, wajahnya berbentuk bulat telur, kulitnya putih, ia manis dan matanya jeli lebar, ada lesung pipit di tepi mulutnya. Ia berandalan, pemberani, ilmu silatnya tinggi, dan ia suka menyamar sebagai pria. Nah, carilah dan kalau ia tidak mau pulang, pergunakan akal atau melaporkan kepadaku!"

Setelah berkata demikian, kakek itu lalu membalikkan tubuhnya, melangkah lebar meninggalkan tempat itu, dan biarpun dia kelihatan berjalan biasa, melangkah satu-satu, namun sebentar saja dia sudah jauh sekali dari situ, hanya nampak titik merah yang kemudian lenyap.

Thian-te-mo menarik napas panjang.

"Berbahaya sekali! Hampir saja hari ini nyawa kita melayang. Sungguh tidak kusangka bahwa orang tua itu sungguh-sungguh ada dan kini muncul di dunia ramai! Huh, kepandaiannya sungguh mengerikan. Mendiang suhu sendiri kalau masih hidup, kiranya masih bukan tandingan Nam-tok!"

"Memang mengerikan,"

Kata Im-yang-mo, bergidik.

"Selama hidupku belum pernah menemui lawan seperti itu. Kabarnya di dunia ini hanya See-thian Mo-ong (Raja Iblis Dunia Barat) dan Thian-san Ngo-sian berlima saja yang mampu menandinginya."

"Kita masih untung bahwa dia berkenan menarik kita sebagai pembantunya. Ini kebetulan sekali. Dengan menggunakan namanya, hal ini menambah pengaruh dan kekuasaan kita."

"Akan tetapi, ke mana kita harus pergi mencarinya kalau hendak melapor tentang puterinya?"

"Ah, apa sukarnya mencari seorang seperti dia? Setiap orang kang-ouw di daerah selatan pasti akan dapat menunjukkan di mana tempat tinggal Nam-tok."

Im-yang-mo yang tinggi kurus itu semakin cemberut.

"Toako, perlukah kita bersusah payah mencarikan puterinya? Bagaimanapun juga kurasa lebih baik kalau kita berdiri sendiri daripada menjadi....."

"Ssttt, hati-hati kalau bicara, Siauw te...."

Thian-te-mo menegur adiknya.

Im-yang-mo hendak membantah karena dia menganggap kakaknya kini tiba-tiba menjadi seorang yang penakut sekali.

Akan tetapi sebelum dia membuka mulut, tiba tiba terdengar suara Nam-tok!

Suara itu terdengar lapat-lapat saja, namun cukup jelas bagi mereka.

"Jejak terakhir puteriku menunjukkan bahwa mungkin ia pergi ke kota raja. Carilah ke sana!"

Setelah suara itu lenyap, suasana menjadi sunyi sekali.

Im-yang-mo bergidik.

Barulah dia mengerti mengapa kakaknya bersikap penakut.

Kiranya kakek jubah merah itu sedemikian lihainya sehingga mampu mengirim suara dari jauh sekali.

Siapa tahu dia dapat pula mendengarkan percakapan antara mereka!

Wajahnya berubah pucat membayangkan bagaimana seandainya di mengeluarkan kata-kata yang menyinggung hati kakek jubah merah itu!

Tentu dia akan mengalami kematian yang mengerikan!

"Mari kita pergi!"

Kata Thian-te-mo kepada adiknya dan sekarang Im-yang-mo tidak banyak membantah.

Keduanya berkelebat pergi meninggalkan dusun yang penuh dengan mayat berserakan itu.

Baru setelah lewat beberapa jam dan mereka merasa yakin bahwa para iblis itu sudah benar-benar meninggalkan dusun, para pengungsi berani kembali ke dusun mereka.

Dan meledaklah ratap tangis dari para keluarga yang ditinggal mereka yang jatuh sebagai korban keganasan yang amat kejam itu.

Dalam suasana penuh duka dan keprihatinan, para penduduk dusun lalu mengubur semua jenazah termasuk jenazah dua puluh empat perampok yang mula-mula menyerbu dusun mereka namun akhirnya semua perampok itu tewas pula di tangan iblis-iblis itu.

Sejak hari itu, nama Nam-tok menjadi buah bibir para penduduk dusun Po-lim-cun dan tertanam di hati mereka sebagai musuh besar yang telah mengakibatkan kematian semua orang itu.

Demikianlah, ketika Kwee San Hong tiba di dusunnya, para penduduk segera mengenal pemuda tinggi besar dan gagah ini.

Kwee San Hong hanya dapat menemukan gundukan tanah kuburan ayah ibunya dan mendengar cerita para penduduk bahwa dusun mereka diserbu perampok dan iblis-iblis jahat sehingga mengorbankan banyak sekali penduduk dusun, termasuk Kwee Cun dan isterinya Tentu saja San Hong terkejut buka main mendengar akan kematian ayah ibunya.

Hanya dengan kekuatan batinnya yang kokoh dia dapat menahan kesedihannya sehingga dia tidak meruntuhkan air matanya, walaupun hatinya seperti di tusuk-tusuk ketika dia berlutut di depan makam ayah ibunya.

Kemudian dia mendengar keterangan para penduduk dusun tentang penyerbuan segerombolan perampok sehingga terjadi pertempuran antara para penduduk dan perampok yang dua puluh empat orang jumlahnya.

"Ayahmu yang memimpin kami untuk melawan para perampok itu."

Demikian mereka bercerita.

"Sebenarnya, kami dapat mengatasi para perampok dengan jumlah kami yang lebih banyak. Aka tetapi tiba-tiba muncul iblis itu yan membunuhi semua perampok dan juga banyak penduduk dusun sehingga sisa dari kami melarikan diri."

Diam-diam San Hong merasa bangga akan kegagahan ayahnya yang memimpin penduduk melawan perampok, akan tetapi mendengar munculnya "iblis"

Yang membunuhi para perampok dan penduduk dusun, dia merasa heran dan juga marah.

"Siapakah iblis itu?"

Tanyanya.

"Kami tidak tahu. Ada di antara kami yang melihat munculnya dua orang berpakaian serba hitam, seorang pendek gendut dan seorang lagi tinggi kurus. Akan tetapi, kemudian sekali kami mendengar pengakuan iblis itu bahwa yang membunuh semua orang adalah Nam-tok!"

"Nam-tok.....?"

San Hong mengulang nama itu berkali-kali di dalam hatinya.

"Kalau begitu, sekarang juga aku akan mencari Nam-tok!"

Katanya sambil bangkit dari berlutut di depan makam ayah ibunya, lalu hendak pergi dari situ.

"San Hong, nanti dulu!"

Seorang penduduk dusun menahannya.

"Engkau baru pulang dan ayah ibumu meninggalkan rumah dan sawah ladang yang luas, kini tidak ada yang mengurusnya."

"Biarlah, kutitipkan saja kepada kalian. Rumah itu boleh kalian tempati, dan sawah ladang itu boleh kalian olah dan hasilnya untuk kalian. Kelak kalau aku kembali, baru kalian kembalikan kepadaku. Selamat tinggal, aku harus pergi mencari pembunuh itu."

Dan dia pun pergi tanpa menoleh lagi.

Setelah melakukan perjalanan selama berbulan-bulan dalam usahanya mencari Nam-tok sambil merantau meluaskan pengalamannya dan melaksanakan tugas yang dipesankan para gurunya, pada suatu pagi yang cerah San Hong berjalan seenaknya menuju ke timur.

Menurut keterangan yang diperolehnya tadi, Telaga Cing-hai yang terkenal amat luas dan indah itu berada dalam jarak belasan li lagi.

Setelah meninggalkan dusunnya, barulah San Hong merasa menyesal mengapa dia tidak mau mempedulikan akan peninggalan orang tuanya.

Guru-gurunya tidak memberi bekal uang dan bagaimana dia dapat melakukan perjalanan jauh tanpa uang di saku?

Dia membutuhkan uang, setidaknya untuk makan dan pakaian, dan biaya penginapan.

Akan tetapi karena sudah terlanjur menyerahkan semua milik ayahnya kepada penduduk dusun, tentu saja dia merasa malu kalau harus kembali lagi untuk mencari bekal perjalanan!

Terpaksa dia setiap malam melewatkan malam di hutan-hutan atau kuil-kuil tua yang kosong, dan untuk makannya, dia berburu binatang hutan.

Kurang lebih sebulan setelah meninggalkan dusunnya, di dalam sebuah hutan, tiba-tiba perjalanannya dihadang segerombolan perampok yang terdiri dari belasan orang.

Para perampok itu hendak memaksa dia menanggalkan seluruh pakaiannya.

Tentu saja San Hong menjadi marah dan dengan amat mudahnya, dia merobohkan belasan orang perampok itu.

Dia lalu mendapat akal mengingat akan kebutuhannya.

Dia mengancam para perampok setelah merobohkan mereka, memaksa mereka menyerahkan seluruh harta milik mereka dan ternyata, para perampok itu membawa buntalan yang berisi emas dan perak yang cukup banyak!

Tentu saja San Hong menjadi girang dan kini buntalan emas dan perak itu telah berada di punggungnya!

Dari keadaan merampok, dia telah berbalik merampok harta milik para penjahat itu dan kini dia dapat melakukan perjalanan dengan hati ringan, dapat tidur di rumah penginapan dan makan di restoran!

Kematian ayah ibunya tidak lagi mendatangkan perasaan duka di dalam hatinya.

Dia sudah banyak mempelajari tentang kenyataan hidup dari gurunya yang ke tiga, yaitu Pek Sim Siansu, hwesio gendut yang selalu tertawa dan bergembira itu.

Dia sudah digembleng oleh gurunya ini dan mampu membuka mata melihat kenyataan hidup.

Segala sesuatu di alam dunia ini tidak kekal adanya.

Oleh karena itu, keterikatan dengan sesuatu hanya akan menimbulkan duka karena suatu waktu, dia pasti (Lanjut ke

Jilid 09) Pedang Asmara (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 09 akan kehilangan sesuatu itu dalam perpisahan.

Dan keterikatan adalah nafsu.

Dia menyayang ayah ibunya, dan kasih sayang bukanlah nafsu menyenangkan diri sendiri dengan jalan memiliki, bukan suatu ikatan.

Ayah dan ibunya sekali waktu sudah pasti akan berpisah darinya melalui perpisahan mati, entah mereka yang mati lebih dahulu ataukah dia!

Tidak, dia tidak perlu berduka oleh kematian ayah ibunya.

Hanya dia merasa penasaran karena kematian mereka itu karena pembunuhan.

Pembunuh mereka, juga pembunuhan puluhan orang itu, tentu seorang, yang teramat kejam dan jahat, maka sudah sepatutnya kalau dia mencari Nam Tok.

Bukan sekedar membalas dendam kematian ayah ibunya dan orang-orang dusun, melainkan untuk menentang dan membasmi penjahat sekejam itu demi mencegah dia melakukan kekejian berikutnya.

Hal ini sudah sesuai pula dengan pesan para gurunya.

Dia kini menuju ke timur, ke arah kota raja.

Guru-gurunya berpesan bahwa pasukan Mongol yang amat kuat itu tentu akan menyerbu ke selatan, dan kalau perang terjadi, maka keadaan tentu akan menjadi kacau balau dan para penjahat akan keluar semua dari tempat persembunyian mereka, untuk berpesta pora merajalela di kota-kota dan dusun-dusun selagi pasukan pemerintah dikerahkan untuk perang.

Di sepanjang perjalanan, dia sudah mendengar akan ancaman perang dari utara itu.

Banyak sudah orang orang dari dekat Tembok Besar, di perbatasan utara, mengungsi ke selatan.

Dari mereka ini dia mendengar cerita betapa pasukan Mongol mulai mengganas di perbatasan dan penyerbuan mereka ke selatan melewati Tembok Besar hanya tinggal menanti waktu saja.

Jalan yang dilaluinya itu tidak lebar, hanya sekitar dua meter karena di kanan kirinya ditumbuhi ilalang belukar.

Jalan yang sunyi ini memang dipilihnya.

Ada jalan lain yang menuju ke Telaga Cing-hai, yaitu jalan raya yang lebar.

Dia lebih suka melalui jalan sempit yang sunyi ini daripada jalan raya yang ramai dan banyak kereta dan kuda lewat sehingga berdebu.

Tiba-tiba dia mendengar derap kaki kuda dari belakang.

Dia lalu minggir dan terdengar suara cambuk meledak disusul teriakan nyaring.

"Heiii.....! Minggir! Apa kau ingin ditubruk kuda?"

Kuda dengan penunggangnya itu lewat dengan cepatnya, debu mengepul tinggi dan San Hong melihat betapa pemuda tampan yang menunggang kuda itu tersenyum mentertawakan ketika pakaian San Hong menjadi kotor penuh debu.

Dan ketika kuda itu lewat dekat sekali dengan dia, San Hong mencium bau sedap, harum seperti bau bunga mawar.

Huh, pikirnya dengan hati mendongkol Seorang pemuda pesolek, genit memakai minyak wangi, sombong dan kurang ajar.

Menurut patut, menunggang kuda melalu jalan sempit itu, kalau melihat orang berjalan kaki di depan, setidaknya akan mengurangi kecepatannya, bukan malah mencambuk kuda mempercepat larinya kuda.

Dan melihat orang terkena debu sehingga pakaiannya kotor, disebabkan oleh larinya kuda, bukan minta maaf malah mentertawakan!

Hemmm, rasanya ingin dia mengetuk kepala pemuda berandalan itu biar jera.

Akan tetapi San Hong bukan seorang pemarah dan sebentar saja dia sudah melupakan pemuda pesolek itu.

Melihat kesunyian jalan sempit itu, dia lalu menggunakan ilmu berlari cepat dan tubuhnya meluncur bagaikan terbang saja ke timur.

Matahari telah naik tinggi dan San Hong merasa betapa perutnya lapar sekali.

Sejak kemarin siang dia tidak makan apa-apa.

Semalam dia terpaksa bermalam di sebuah hutan dan sejak pagi tadi dia melakukan perjalanan tanpa pernah melewati sebuah dusun pun di mana dia dapat membeli makanan.

Tiba-tiba dia menghentikan larinya dan berjalan seenaknya.

Jauh di depan dia melihat seekor kuda sedang makan rumput, dan di tepi jalan, seorang pemuda sedang membuat api unggun.

Di dekat pemuda itu terdapat buntalan yang sudah dibuka dan isinya adalah bahan-bahan masakan seperti tepung, sayur-sayuran, daging segar yang agaknya baru diambilnya dari seekor kelinci yang ditangkapnya, bumbu-bumbu masak, bahkan ada pula panci, minyak dan segala alat masak yang serba lengkap!

Tentu saja San Hong merasa geli dan juga heran.

Dari mana pemuda itu mendapatkan semua bahan dan alat masak?

Dan agaknya pemuda itu pandai memasak.

Hanya orang selatan saja yang pandai masak, yaitu kaum prianya.

Rata-rata kaum pria selatan pandai masak.

Karena perutnya terasa lapar, San Hong merasa tertarik dan dia mendekati.

Pemuda itu mengangkat muka dan......

keduanya nampak terkejut.

San Hong segera mengenal pemuda itu sebagai pemuda pesolek yang tadi hampir menubruknya dan yang menghadiahkan debu padanya, disertai ketawa yang menjengkelkan.

Juga pemuda itu memandang kepadanya dengan kaget dan agaknya merasa heran bagaimana orang yang dilanggarnya tadi dapat demikian cepat menyusulnya.

Akan tetapi hanya sebentar saja dia nampak terkejut, kemudian dia tersenyum.

Senyumnya manis dan menawan.

Pemuda ini sungguh tampan bukan main, pikir San Hong.

Tampan dan pesolek, tentu mudah meruntuhkan hati wanita.

Tiba-tiba San Hong terkejut sendiri dan mengamati wajah tampan itu penuh selidik.

Pemuda tampan menarik hati, pesolek dan genit!

Teringat dia akan cerita tentang orang jahat yang dinamakan jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga), yaitu penjahat yang suka mempergunakan ketampanan dan bujuk rayu, kalau perlu dengan kekerasan untuk menundukkan dan mempermainkan wanita.

Jangan-jangan pemuda ini seorang jai-hwa-cat!

"Heiiiii, mau apa kau memandang aku seperti itu?"

Tiba-tiba pemuda itu menegurnya.

San Hong menjadi gugup dan mukanya berubah merah.

Bagaimana dia dapat menduga yang tidak-tidak dan menuduh orang tanpa alasan?

"Aku.....

aku seperti pernah melihatmu, entah di mana....."

Jawabnya untuk menutupi kegugupannya. Pemuda itu tersenyum.

"Tentu saja pernah. Bukankah engkau tadi sudah makan debu dari kaki kudaku?"

"Ahhh, benar!"

San Hong pura-pura baru ingat.

"Kiranya engkau yang membalapkan kuda tadi dan hampir menubrukku!"

"Tentu saja aku, mana ada orang lain? Jangan pura-pura kau! Habis, engkau jalan melamun, jadi hampir ditubruk kudaku. Engkau orang aneh, jalan seorang diri di jalan kecil yang sunyi ini. Engkau tentu....."

Pemuda itu menahan ucapannya dan sepasang matanya yang jeli mengamati San Hong penuh perhatian dan selidik.

"Tentu apa?"

San Hong ingin mendengar kelanjutannya.

Pemuda itu bangkit berdiri dan ternyata dia kelihatan pendek dibandingkan tubuh San Hong yang tinggi besar.

Mungkin tingginya hanya sepundak, atau paling-paling setinggi leher San Hong dan tubuhnya jauh lebih kecil, nampak lemah dibandingkan tubuh San Hong yang kokoh kuat.

"Biar aku menebak orang macam apa adanya engkau ini,"

Katanya dan sepasang alis yang hitam tebal itu berkerut, matanya bersinar-sinar mengamati San Hong, terutama pada buntalan di punggung pemuda tinggi besar ini setelah mengamati wajah dan bentuk tubuh San Hong.

"Engkau tidak ada potongan menjadi pedagang besar walaupun engkau membawa emas dan perak yang tidak sedikit. Melihat pakaianmu dan sikapmu, engkau tidak pantas pula menjadi seorang kaya apalagi bangsawan. Nanti dulu..... keadaanmu memang agak sukar ditebak. Mukamu begitu bodoh akan tetapi sinar matamu mencorong. Hemmm, engkau tentu seorang petualang yang merantau seorang diri. Pakaianmu sederhana akan tetapi engkau memiliki banyak emas dan perak Apakah perampok? Tentu bukan. Wajahmu terlampau bodoh dan lembut untuk menjadi seorang perampok. Pencuri? Mungkin, akan tetapi matamu membayangkan kejujuran, dan suaramu mengandung harga diri yang tinggi, kiranya engkau takkan dapat melakukan pencurian karena malu. Wah, sungguh sukar menebak, akan tetapi lebih menarik hati. Teka-teki yang aneh dan tidak mudah. Jangan...... jangan bicara dulu, biarkan aku melanjutkan penyelidikanku."

Pemuda tampan itu kini berdiri dan melangkah perlahan-lahan mengelilingi San Hong.

Alisnya yang hitam berkerut, matanya bersinar dan wajahnya berseri.

Di belakang San Hong, dia berhenti dan meraba-raba buntalan terisi uang dan pakaian, emas dan perak.

Diam-diam San Hong merasa tegang.

Jangan-jangan pemuda tampan ini seorang perampok, pikirnya.

Kalau tidak, mana mungkin dapat mengetahui bahwa dia membawa banyak emas dan perak?

Pada saat itu, tiba-tiba dia merasa ada angin pukulan menyambar dari belakang.

Tepat dugaannya, pikirnya, tentu perampok ini hendak menyerangnya dari belakang, untuk merampas emas dan peraknya.

Dengan gerakan otomatis, kakinya meloncat cepat sekali ke depan sehingga kalau pemuda tampan itu benar menyerangnya, tentu serangan itu takkan mengenai tubuhnya yang juga sudah dia lindungi dengan tenaga sakti.

Ketika dia membalikkan tubuhnya, pemuda itu berdiri sambil memandang kepadanya dan mulutnya tersenyum lebar.

San Hong memandang dengan kagum.

Sungguh pemuda itu tampan sekali.

Kini dia tersenyum dan ketampanannya semakin menarik, karena wajah yang tampan itu manis bukan main.

Belum pernah dia bertemu seorang pemuda yang begini ganteng!

"Ha-ha-ha, sekarang aku sudah tahu"

Kata pemuda itu sambil menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka San Hong sedangkan tangan kanannya masih memegang pisau yang tadi dipergunakan untuk menyayat daging kelinci.

"Engkau bukan pedagang, bukan perampok, bukan pula pencuri. Mungkin saja engkau menemukan harta pusaka terpendam. Akan tetapi ketika aku melihat kain buntalan itu, aku tahu bahwa kain itu biasa dipergunakan orang kang-ouw untuk membawa barang berat. Agaknya buntalan itu berasal dari buntalan berisi emas dan perak itulah. Jadi, tadinya bukan milikmu! Dan ketika aku membuat gerakan menyerang, engkau dapat cepat menghindar, berarti bahwa engkau pandai ilmu silat, walaupun tidak berapa tinggi,"

Sampai di sini, pemuda itu mengamati wajah San Hong sambil tersenyum.

Akan tetapi pada wajah yang membayangkan kegagahan dan memang nampak agak bodoh itu tidak nampak tanda marah walaupun dikatakan pandai ilmu silat walaupun tidak berapa tinggi.

"Nah, dengan adanya kenyataan-kenyataan yang kukumpulkan ini, maka aku hampir berani memastikan bahwa engkau tentu bertemu dengan perampok yang mengganggumu. Engkau mengalahkan mereka tentu saja, karena mereka hanya perampok perampok kecil, dan agaknya engkau merampas buntalan mereka yang berisi emas dan perak!"

Sepasang mata San Hong terbelalak dan wajahnya nampak semakin bodoh ketika dia memandang dengan penuh rasa heran dan kagum kepada pemuda tampan itu.

Melihat wajah San Hong, pemuda itu memperlebar senyumnya.

"Nah, nah wajahmu itu jelas menunjukkan bahwa tebakanku tepat. Bukankah begitu?"

San Hong hampir tidak dapat percaya bahwa pemuda yang tampan ini dapat menebak sedemikian jitu dan tepat!

"Kau.....

agaknya engkau membayangi aku dan mengintai!

Atau.....

engkau sahabat dari mereka itu dan mendengar dari mereka!

Apakah engkau datang mengejarku dan hendak merampas kembali emas dan perak ini?"

Pemuda itu tertawa dan San Hong melihat deretan gigi yang rapi dan putih, rongga mulut yang merah dan lidah yang jambon.

Akan tetapi hanya sebentar saja pemuda itu tertawa dengan mulut lebar karena dia sudah menutup lagi mulutnya dan hanya terkekeh.

"Bagus, ucapanmu itu membuktikan bahwa engkau tidaklah sangat bodoh sekali, masih mampu mempergunakan otak, walaupun dugaanmu tadi sama sekali keliru. Aku tidak membayangimu, tidak mengintaimu, tidak pula bertemu dengan para perampok. Aku hanya mempergunakan ini...."

Telunjuknya yang kiri menuding ke arah kepalanya.

"Kalau orang kurang dapat mempergunakan otaknya, dia akan menjadi orang bodoh. Sekarang katakan, benar tidak semua tebakanku tadi?"

San Hong mengangguk dan dia pun tersenyum, lega bahwa pemuda ini bukan membayanginya, bukan pula sahabat dari para perampok itu.

"Semua benar dan tepat sekali. Sungguh engkau seorang pemuda yang luar biasa, Sobat, engkau cerdik dan pandai bukan main. Aku kagum dan mengaku kalah!"

San Hong lalu mengangkat kedua tangan ke depan dada, bersoja dengan sikap hormat dan ber sungguh-sungguh.

Pemuda itu membungkuk sambil tersenyum, akan tetapi matanya yang tajam itu mengamati wajah San Hong penuh selidik.

"Hemmm, hampir saja aku mengira banwa engkau bersikap begini karena menginginkan makan bersamaku! Akan tetapi tidak, engkau jujur!"

"Ehhh? Mengapa engkau menyangka begitu?"

San Hong memandang terbelalak dan mukanya berubah merah.

Biarpun dia tidak berpamrih seperti itu, harus pula diakuinya bahwa melihat perlengkapan masak dan daging segar itu, timbul seleranya dan terasa betapa lapar perutnya.

"Mengapa tidak? Hampir semua sikap menjilat dan merayu selalu ada pamrih tersembunyi di baliknya! Akan tetapi engkau tidak! Engkau jujur dan sungguh-sungguh. Karena itu, hatiku senang sekali, Sobat! Dan saking senangnya hatiku, aku mengundangmu untuk makan bersamaku di sini."

Kini San Hong yang memandang dengan alis berkerut, tidak menjawab, juga tidak bergerak untuk duduk mendekati api unggun memenuhi undangan itu. Melihat ini, pemuda tampan itu memandang heran.

"Eh, mengapa? Apakah engkau tidak mau menerima undanganku? Engkau akan rugi dan menyesal! Aku pandai sekali membuat masakan yang amat lezat! Kalau diadakan pertandingan memasak, di seluruh daerah selatan aku tentu akan menjadi juara!"

"Bukan menolak, hanya...... aku ragu-ragu apakah tidak ada pamrih sesuatu di balik sikapmu yang baik ini? Kaukatakan tadi, semua rayuan dan kebaikan selalu menyembunyikan pamrih. Jangan-jangan engkau tertarik kepada buntalanku ini....."

San Hong menepuk buntalan di punggungnya. Sepasang mata itu terbelalak, mukanya berubah merah dan jelas bahwa pemuda itu marah sekali.

"Aku? Menginginkan buntalanmu? Heh, orang bodoh! Kalau aku mau, aku bisa memiliki emas dan perak yang sepuluh kali lebih banyak dari itu ! Kau hendak menghinaku, ya?"

San Hong tersenyum dan menggeleng kepala.

"Sama sekali tidak. Aku hanya belajar darimu, meniru dugaanmu tadi. Wah, dari orang cerdik seperti engkau aku akan dapat belajar banyak, Sobat."

Mendengar ini, pemuda tampan itu tersenyum kembali dan wajahnya kembali cerah.

"Tentu saja, engkau dapat memperoleh banyak kemajuan kalau belajar dariku. Nah, silakan duduk dan tunggu sebentar aku akan masak makanan untuk kita berdua."

"Terima kasih,"

Kata San Hong.

Hatinya gembira bukan main.

Dia percaya sepenuhnya kepada sahabat baru ini, yang amat cerdik, amat ramah dan juga sikapnya memiliki daya tarik yang besar, membuat dia seketika merasa amat suka kepada pemuda itu.

San Hong duduk bersila di dekat api unggun, sedangkan pemuda tampan itu kini sibuk mempersiapkan masakan.

Disayat-sayatnya daging segar itu, menjadi sayatan tipis-tipis, lalu dimasukkannya ke dalam panci di mana telah ditaruh bumbu dan tepung, ditambah air dan daging itu diaduk-aduk sampai rata dengan bumbu dan tepung.

"Aku hanya akan membuat dua macam masakan dan menanak nasi. Sayang tidak dapat dilakukan berbareng sehingga matangnya juga berbareng, masih panas-panas dimakan sungguh lezat."

"Kenapa tidak dimasak berbareng saja?"

Tanya San Hong. Pemuda itu mengangkat muka memandang kepadanya sambil tersenyum geli, mentertawakan kebodohan pemuda itu.

"Tanganku hanya dua buah,"

Katanya.

"mana mungkin?"

"Bukankah ada aku yang menganggur? Aku dapat membantu. Dan rasanya tidak enak kalau menunggu makanan yang sedang dimasak dalam keadaan menganggur saja."

"Wah, ternyata engkau tidak bodoh! Engkau mau membantuku? Nah, kalau begitu cepat, membuat api unggun yang lain, dan tambahi kayu bakar pada api unggun yang ini, sesudah itu, beras dalam buntalan itu kaucucl di dalam panci yang kuning itu, lalu isi air sampai tiga perempat dan taruh di atas api unggun. O ya, buat gantungan untuk tempat panci. Bisakah engkau membuatnya? Sesudah panci beras itu kau taruh di, atas api, kaubantu mencuci panci penggorengan ini, lalu oleskan minyak dalam botol ini, dan tolong kupas bawang putih lima buah lagi, sayat kecil-kecil dan....."

Tiba-tiba pemuda itu berhenti bicara dan tertawa melihat betapa San Hong memandang kepadanya dengan mata terbelalak bodoh.

Pemuda tinggi besar itu memang menjadi bingung mendapatkan tugas yang begitu bertumpuk sehingga dia tidak dapat mengingatnya kembali satu demi satu.

"Aih, aku lupa! Mana engkau dapat mengingat semua itu? Nah, buat saja api unggun lebih dulu, baru nanti kuberi tahu satu demi satu apa yang dapat kaulakukan untuk membantuku!"

San Hong tersenyum dan mengangguk-angguk gembira.

Dia melepaskan buntalan dari punggungnya dan menaruhnya di dekat api unggun, lalu dia bangkit berdiri dan pergi mencari kayu bakar yang banyak berserakan di bawah pohon-pohon besar.

Dia tidak melihat betapa pemuda itu melirik ketika dia meletakkan buntalan pakaiannya dekat api unggun dan meninggalkannya begitu saja, tidak melihat betapa pemuda itu tersenyum senang!

San Hong segera membuat api unggun setelah kayu terkumpul banyak, dan pemuda tampan itu mulai menakar beras yang segera dicuci oleh San Hong dengan air sungai kecil jernih yang mengalir tak jauh dari tempat mereka berhenti.

Mereka berdua sibuk sekali sehingga tidak sempat bercakap-cakap.

Setelah panci nasi itu digantung di atas api unggun, dan pemuda tampan itu juga sudah mulai membuat masakan pertama yang membuat air liur memenuhi mulut San Hong karena, masakan itu mengeluarkan bau yang amat sedap, barulah pemuda itu bicara.

"Engkau sungguh menyenangkan!"

San Hong menoleh, tertawa.

"Engkau lebih menyenangkan lagi, Sobat!"

"Benarkah? Mengapa engkau menganggap aku menyenangkan?"

San Hong mengamati wajah yang tampan itu.

"Karena engkau tampan, eh, kau berbudi mulia, ramah dan juga amat cerdik, dan..... entahlah, pokoknya bagiku engkau menyenangkan sekali!"

Pemuda itu tersenyum, manis.

"Dan bagiku engkau menyenangkan karena engkau bodoh.... eh, maaf, maksudku jujur dan engkau amat percaya kepadaku. Buktinya, engkau meninggalkan begitu saja buntalanmu dan pergi mencari kayu bakar dan air, tidak khawatir kalau aku menyambarnya dan melarikannya. Dan engkau mau membantuku di dapur..... eh, maksudku masak-masak....."

"Tentu saja! Bukankah aku juga kau undang makan? Dan tentang buntalan itu, andaikata kepercayaanku kepadamu keliru dan engkau melarikannya, tidak mengapa karena bukankah aku pun merampasnya dari tangan perampok? Kalau akhirnya kembali ke tangan perampok lain, itu sudah adil namanya."

Tangan pemuda itu sedang membalik balik daging dan sedikit sayur yang sedang dimasaknya.

Tiba-tiba saja dia melepaskan sepasang sumpit yang dipergunakan untuk memasak, dan dia pun menoleh kepada San Hong dengan mata menyala.

"Apa? Kau maki aku perampok?"

Bentaknya.

"Sama sekali tidak. Akan tetapi, kalau engkau benar-benar melakukan seperti yang kaukatakan tadi yaitu menyambar buntalanku dan melarikannya, lalu sebutan apa yang harus kupergunakan untukmu?"

Pemuda itu tertegun, lalu senyumnya mengembang lagi.

"Aih, kukira engkau ini bukan sungguh-sungguh tolol, melainkan cerdik sekali. Engkau memaki orang secara berliku-liku, tidak langsung."

Dia kembali sibuk dengan masakannya.

Tak lama kemudian, dua orang pemuda itu sudah duduk dan menghadapi nasi putih yang masih mengepul panas, dan dua panci masakan yang mengepulkan uap yang sedap bukan main.

Ketika San Hong mulai mencicipi masakan itu, dia mengecap-ngecapkan lidahnya, bukan untuk memuji dan menjilat melainkan karena kejujurannya membuat dia tidak malu-malu.

"Bukan main! Sedap, lezat sekali! Ada gurihnya, cukup asinnya, cukup pula manisnya, dan dagingnya begini kenyal tapi tidak alot..... hemmm, enaknya.....!"

Pemuda itu nampak gembira bukan main dan dengan sumpitnya, dia mengambilkan daging terbesar ke dalam mangkok San Hong.

San Hong tidak malu-malu lagi, makan dengan lahapnya, dan pemuda sahabat barunya itu yang hanya makan sedikit, memandang dengan wajah berseri gembira melihat betapa masakannya membuat sahabat itu makan dengan gembulnya!

"Heiii, kenapa makanmu sedikit sekali?

Engkau membuat aku merasa malu saja.

Aku merasa seperti seekor kerbau yang banyak makannya!"

San Hong menegur ketika melihat pemuda itu makan sedikit saja.

"Aku..... aku baru saja makan roti, perutku tidak begitu lapar. Akan tetapi makanlah, nih, dagingnya masih. Dan yang coklat itu jamur kering, enak, tidak kalah oleh daging rasanya. Cobalah."

Nasi sepanci tinggal sedikit lagi dan dua panci masakan habis disikat oleh San Hong! Mereka berdua minum air teh yang dibuat pemuda tampan itu dan duduk dengan perut kenyang dan hati puas.

"Biar kucuci mangkok dan panci ini,"

Kata San Hong dan hendak bangkit, akan tetapi pemuda itu menggerakkan tangannya.

"Biarkan dulu, kita bercakap-cakap dulu. Nanti saja kita cuci bersama."

"Apa yang akan kita bicarakan?"

Tanya San Hong, mengatur lagi duduknya agar enak. Dia merasa senang sekali.

"Kita bicara tentang masakanmu tadi. Sungguh, selama hidupku baru sekarang ini aku merasakan makan sedemikian lezatnya! Engkau sungguh tukang masak yang paling hebat yang pernah kutemukan!"

Pemuda tampan itu makin berseri wajahnya.

"Dan aku pun baru sekarang ini bertemu dengan seorang yang demikian lahapnya makan! Bukan main! Melihat engkau makan saja sudah amat menyenangkan hatiku, Kawan. Akan tetapi banyak yang dapat kita bicarakan. Kita sudah makan bersama, akan tetapi kita belum saling mengenal."

"Belum saling mengenal?"

San Hong memandang heran.

"Kita sudah saling mengenal dengan baik, sudah makan bersama, bahkan aku.., aku merasa seolah-olah telah lama sekail menjadi sahabat baikmu..."

"Aku pun mempunyai perasaan begitu. Akan tetapi, kita belum saling mengenal nama....."

"Aih, benar!"

San Hong berseru kaget dan menepuk dahi sendiri.

"Bagaimana aku dapat melupakan hal itu?"

Dia lalu bangkit berdiri dan bersoja kepada pemuda tampan itu.

"Sahabat yang baik, namaku Kwee San Hong, berasal dari dusun Po-lim-cun di kaki Pegunungan Thian-san, usiaku dua puluh tahun dan pekerjaanku.. biasanya aku bertani. Engkau tentu lebih muda dariku, maka, sepatutnya kalau engkau tidak keberatan, kusebut siauw-te (adik laki-laki), atau kalau engkau menghendaki, kusebut kongcu (tuan muda) karena agaknya engkau seorang pemuda kaya raya....."

"Sing.....!"

Terdengar suara berdesir nyaring dan nampak sinar. berkelebat menyambar ke arah San Hong yang masih berdiri. Pemuda tampan itu menggerakkan tangan dan sebatang sumpit meluncur ke arah sinar itu.

"Tringgg.....I"

Sumpit itu runtuh bersama sebatang paku yang ditangkisnya, jatuh di depan kaki San Hong.

Pemuda, ini tentu saja tadi tahu akan datangnya senjata rahasia yang menyambar ke arahnya, akan tetapi sebelum dia menghindar, pemuda tampan itu telah lebih dahulu menangkis senjata rahasia paku itu dengan lemparan sumpitnya.

"Toako, awas, ada orang datang!"

Kata pemuda tampan itu dan tubuhnya yang tadi duduk itu bagaikan seekor burung saja sudah berkelebat dan kini dia berdiri di depan San Hong seolah-olah hendak melindunginya dari serangan orang jahat.

Keduanya memandang ke depan, ke arah dari mana datangnya senjata rahasia tadi.

Mereka muncul seperti setan saja.

Yang nampak hanya dua sosok bayangan berkelebat dan tahu-tahu dua orang pria itu telah berdiri di depan San Hong dan sahabatnya.

Dua orang pria berusia kira-kira empat puluh tahun dan San Hong membelalakkan kedua matanya, memandang bingung karena dua orang pria itu seperti seorang dengan dua badan saja.

Demikian presis demikian sama tak dapat dibedakan satu antara yang lain.

Wajahnya demikian sama, keduanya bermuka licin seperti muka wanita, mata sipit, telinga kecil, mulut lebar.

Bentuk badan mereka sedang saja, akan tetapi wajah Itu, potongan rambut, pakaian mereka sungguh tidak dapat dibedakan satu sama lain!

Tentu dua orang ini saudara kembar, pikir San Hong dan saking herannya, dia pun tanpa disadarinya sudah mengajukan pertanyaan.

"Apakah kailan ini saudara kembar?"

Pertanyaan yang bodoh tentu saja.

Akan tetapi sekali ini pemuda tampan tidak mencelanya karena keadaan yang menegangkan itu.

Pemuda tampan itu segera membuka mulut dan kata-kata penuh keberanian dan mengandung sikap memandang rendah kepada dua orang kembar itu.

"Hemmm, sejak kapan Koay-to Heng te menjadi orang-orang yang pengecut dan penakut? Tak tahu malu menyerang orang secara menggelap! Huh, ini memalukan nama besar See-thian Mo-ong yang menjadi majikan kalian tentu saja."

Mendengar ucapan itu, dua orang kembar itu saling pandang, lalu mereka mengamati wajah dan bentuk tubuh pemuda tampan itu, akan tetapi jelas bahwa mereka tidak mengenal pemuda itu.

Mereka itu memang dua orang saudaa kembar yang amat terkenal di dunia kang-ouw, bahkan dianggap sebagai datuk datuk sesat yang berilmu tinggi, ditakut lawan disegani kawan.

Nama besar Koay to Heng-te (Kakak Beradik Golok Setan) sudah terkenal di seluruh penjuru duni persilatan, maka kalau pemuda tampa ini mengenal mereka, bukan merupakan hal aneh.

Baca Juga: Pendekar Super Sakti 5

Baca Juga: Kisah Pendekar Bongkok 8

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert