Ceritasilat Novel Online

Tangan Berbisa 11

Eps 11 Tangan Berbisa - Khu Lung Tjan Id

Baca online Tangan Berbisa - Khu Lung Tjan Id

Cersil Tangan Berbisa - Khu Lung Tjan Id.

Sulek menganggukkan kepala memberi hormat dan berkata.

"Ternyata murid jago ternama dari daerah Tionggoan, selamat bertemu,"

Yo In-jie membentak.

"Sesudah bertemu, mau apa lagi?"

Sulek mengangkat pundak, dengan enak berkata.

"Menurut cerita orang gadis-gadis di daerah Tionggoan sangat cantik dan jelita, melebihi dan menyaingi bidadari. Hari ini aku bertemu dengan nona Yo In-jie, betul-betul cerita mereka itu bukan cerita bohong, sangat cantik, Sungguh menarik."

Yo In-jie menyebulkan mulutnya, ia membentak.

"Sesudah cantik mau apa? Kalau menarik berani apa?"

Sulek mengerlingkan mata dan berkata.

"Bisakah kita menjadi kawan? Namaku sulek, nama guruku ialah Jooss. Jooss itu adalah suami dari Kongsun Bwee Kun-Mereka dari dua daerah yang tidak sama, tokh bisa kawin menjadi satu, aku sangat iri hati, hari ini kalau saja kita....."

"Tutup mulutmu"

Bentak Yo In-jie.

"hahahahahaha......"

Sulek tertawa. Mendelikkan mata, Yo In-jie membentak.

"Apa yang kau tertawakan manusia bodoh"

"Ha ha ha....."

Sulek masih tertawa.

"Melihat kelakuanmu seperti itu, bagaimana aku tidak tertawa?"

"Kau masih belum melihat kekuatanku yang lebih galak lagi"

Berkata Yo In-jie.

"Nah Terima serangan"

Yo In-jie menyerang dan memukul kearah sulek. Sulek tertawa ringan, tangannya diangkat menangkiS datangnya serangan itu, begitu kedua tangan itu terbentur.

"kreek"

Hampir saja tangannya patah, ia termundur dua langkah, wajahnya berubah.

Sulek terlalu memandang rendah sebagai jago-jago dari Tay-wan-koK, Sesudah mendatangi golongan kalong, mereka mendapat pujian dan sanjungan.

Dikatakan, mereka bisa menandingi tiga jago ajaib dari daerah Tionggoan-Itulah satu jago istimewa itu adalah guru Yo-Injie yang bernama Thian-San Soat Po-po mengetahui kalau Yo In-jie murid Thian San Soat Po-po, ia memandang ringan, sesudah betul-betul merasakan kekuatan Yo in-jie, baru dia terkejut.

Tentu saja, kalau Yo In-jie itu bukan hanya murid Thiansan Po-po seorang, tidak mungkin bisa memenangkan Sulek.

Berianya Yo In-jie sudah mendapat petunjuk hebat dari kakek gelandangan Kiat Hian, sebagai putra dari Dewa Persilatan-Kiat Hian memiliki ilmu kepandaian tinggi, walau pikirannya kusut dan sinting, ilmu silatnya itu belum pernah lengah, tetap hebat seperti sedia kala.

Pelajaran yang diberikan kepada Yo In-jie pelajaran-pelajaran kelas satu, kemajuan ilmu silat Yo In-jie tidak bisa di-ukur dengan kepandaian biasa.

Berhasil memukul pergi lawannya, giliran Yo In-jie yang menjadi tinggi hati, sangkanya musuh itu musuh biasa, dia yakin sekali pukul bisa mengusir pergi.

Dia menjadi tinggi hati, serangan yang memukul itu berubah menjadi lingkaran, ia menotok kejalan darah Sulek.

"Ha ha ..."

Yo In-jie tertaWa.

"dengan ilmu silat yang seperti ini juga hendak menjagoi daerah Tionggoan? Nah Terima serangan ini"

Jurus yang digunakan oleh Yo In-jie adalah jurus Huhoa-cio-hoan, yang berartj menyiram bunga harum semerbak, ilmu silat ini adalah ilmu silat luwes, sangat lincah dan cekatan, kalau saja menghadapi jago biasa, tentu bisa mempermainkan, tapi yang dihadapi adalah Sulek murid dari Jooss yang ternama.

Inilah kesalahan Yo In-jie Sulek sudah bisa memperhitungkan sampai dimana kekuatan lawan itu, kini tangannya diangkat pulang, dengan mengerahkan kekuatan tenaga dalam dengan disertai kekuatan Tay-yang menangkis dan menyerang.

Sejurus hawa panas menyerang kearah Yo In-jie, hal ini membuat ia terkejut, ia menyingkir sedikit.

Betapa cepatpun gerakkan Yo In-jie, masih cepat gerakkan Sulek, kekuatan hawa panas Tay-yang Sin-kang berhasil mengenai kulit gadis itu.

"Akh"

Yo In-jie mundur kesamping, ia tak menjadi gentar. Dia lebih senang menghadapi musuh yang ternyata kuat itu.

"Salah dugaan, kalau ternyata bukan jago biasa, kau juga jago ketas satu Eee"

"sama-sama"

Berkata Sulek.

"Kita terlalu memandang tinggi diri sendiri, kita sama-sama jago kelaS satu. Kekuatanmu juga tidak rendah"

Mengetahui musuh yang dihadapi jago kelaS satu Yo Injie tidak berani lengah lagi, dia menempurnya dengan gencar, melawannya dengan berhati-hati.

Masing2 telah bisa menyelami dasar kekuatan lawan, mereka harus cepat menempurnya agar tidak dikalahkan.

Terjadi kancah pertempuran pada gelanggang yang kedua.

Digelanggang pertempuran yang pertama, Kiat Hian dan Hamid telah bergebrak dengan sangat cepat, orang yang tersebut belakangan semakin kuat, perlahan-lahan tapi pasti Hamid bisa mnnguasai situasi.

Betapa cepatpun gerakkan Yo In-jie, masih cepat gerakkan Sulek, kekuatan hawa panas Tay-yang Sin-kang berhasil mengenai kulit gadis itu.

"Akh"

Yo In-jie mundur kesamping, ia tak menjadi gentar. Dia lebih senang menghadapi musuh yang ternyata kuat itu.

"Salah dugaan, kalau ternyata bukan jago biasa, kau juga jago ketas satu Eee"

"sama-sama"

Berkata Sulek.

"Kita terlalu memandang tinggi diri sendiri, kita sama-sama jago kelaS satu Kekuatanmu juga tidak rendah"

Mengetahui musuh yang dihadapi jago kelaS satu, Yo In-jie tidak berani lengah lagi, dia menempurnya dengan gencar, melawannya dengan berhati-hati.

Masing2 telah bisa menyelami dasar kekuatan lawan, mereka harus cepat menempurnya agar tidak dikalahkan-Terjadi kancah pertempuran pada gelanggang yang kedua.

Digelanggang pertempuran yang pertama, Kiat Hian dan Hamid telah bergebrak dengan sangat cepat, orang yang tersebut belakangan semakin kuat, perlahan-lahan tapi pasti Hamid bisa menguasai situasi.

Hal ini bukan berarti ilmu silat daerah Tay-wan-kok lebih tinggi dari ilmu silat daerah Tionggoan, hal itu disebabkan karena kesalahan sikakek gelandangan Kiat Hian, karena ditinggal kabur oleh kekasihnya, karena siang malam memikirkan Kongsun Bwee Kun pikirannya juga tidak mantap, pikirannya kurang mantep pikirannya kurang tetap, agak sedikit linglung, sakit ingatan, dan karena itulah dia tidak melatih ilmu silat lagi.

ilmu silat yang tidak dipakai bisa mengalami kemunduran demikian juga keadaan Kiat Hian, bila dibandingkan dengan tahun yang lalu, ilmu silat Kiat Hian jauh lebih rendah, tidak ada kemajuan Berbeda dengan Kiat Hian, berbeda pula dengan keadaan Hamid, Hamid telah menjurai ilmu Silat didaerahnya, sebagai juara pertama, dia tak pernah lengah.

Setiap hari melatih dengan rajin karena itu, ilmu silatnya semakin hebat dan semakin kuat.

Diperbandingkan dan diperselisihkan dengan adanya kedudukan dari dua orang tersebut keadaan Kiat Hian agak terjepit, tambah umur yang sudah tua, tentu akan saja Kiat Hian harus main mengelak.

Hamid mendesak dengan hebat, dia ingin menjatuhkan Satria dari Kongsun Bwee Kun itu.

Kejadian tadi tidak lepas dari penilaian Kim Hong dan Suma Siu Khim, membentur lengan ibunya, Kim Hong bertanya perlahan.

"Kita hendak membantu ?"

Suma Siu Khim menganggukkan kepala dan berkata.

"Tapi jangan beritahu kepada mereka aku ini adalah penguasa rumah penjara digunung Tay-pa San."

Kim Hong menganggukkan kepala.

Suma Siu Khim dan Kim Hong sudah keluar dari tempat persembunyian mereka Kalau Kiat Hian terdesak oleh Hamid, keadaan didalam pertempuran kedua terbalik, itu waktu Yo In-jie mendesak lawannya dengan ringan dan lincah, matanya lebih jeli, adanya geseran angin yang datang membuat ia lebih cekatan, melirik kesana, dan tampaklah wajah yang tak asing baginya, itu Kim Hong.

Hal ini sangat menggirangkan Yo In-jie dia berteriak girang.

"Kim Hong koko.. Ayo bantu, kita mengusir dua orang dari luar daerah"

Mendapat terlakan itu, Sulek lebih terkejut.

Dia pernah merasakan kehebatan Kim Hong tentu saja tak mau menderita kekalahan yang berikutnya.

Saat ini dia sudah kejepit, satu Yo In-jie saja sudah tak bisa dia menang, bagaimana bila datang bala bantuan lagi?

Tentu saja ia pasti kalah.

Melihat keadaan Kim Hong, iapun menghentikan pertempuran, bergabung dengan Hamid.

Hamid juga tak lengah, dia mundur teratur, berdampingdampingan dengan Sulek, memandang dan memperhatikan kearah kehadiran Suma siu Khim.

"Aha"

Berkata Hamid,"Ternyata goa itu mempunyai lubang tembusan? Aha.. Kita pernah berkenalan bukan? Kukira aku sedang berhadapan dengan penguasa rumah penjara digunung Tay-pa-san"

Suma Siu Khim berkata dengan dingin.

"Dengan dasar apa kau memberi merek aku sebagai penguasa rumah penjara rimba persilatan digunung Tay-pa San?"

"tidak perlu alasan-"

Berkata Hamid.

"Aku bertanya kau harus menjawab."

"Kalau tidak mau menjawab, bagaimana?"

Berkata Suma Siu Khim.

"Kukira dugaanku tak salah,"

Berkata Hamid.

"Lebih baik kau pulang saja kegunung Tay-pa San, tiga hari kemudian, tunggu kehadiranku disana. aku hendak menempurmu diatas tenur, menurut peraturan yang kau tentukan, sesudah seratus jurus tidak dikalahkan olehmu, aku hendak menduduki rumah penjara Tay pa-San."

Suma Siu Khim melirik dengan sinis, dengan dingin berkata "Kau sudah pergi kerumah penjara digunung Tay-pasan?

Disana sudah terpasang papan pengumuman penundaan perang?

Satu bulan kemudian, kau boleh datang, selama itu lebih baik kau mengaso saja."

"Kau takut kepadaku?"

Bertanya Hamid.

"Ha-ha ... Siapa yang takut kepadamu?"

"Mengapa kau tak berani menerima tantanganku?"

Bertanya Hamid.

"Siapa yang tidak berani, kehadiranmu untuk bersiapsiap bertempur."

"Kukatakan tiga hari lagi."

Berkata Hamid.

"Tiga hari lagi aku bersama dua saudaraku akan mengunjungi gunung Tay-pa-san-Secara rermi menerima sayembara rumah penjara rimba persilatan gunung Tay-pa-san"

"Itu kebebasanmu."

Berkata Suma Siu Khim. Hamid memberi hormat, dan dia berkata tertawa.

"Selamat berjumpa lagi pada tiga hari kemudian-Aku meminta diri"

Suma Siu Khim membalas hormat dan berkata.

"silahkan"

Mengajak Sulek.

Hamid meninggalkan tempat itu.

Disini letak kepintaran Hamid, mengetahui tidak mungkin bisa mengalahkan penguasa rumah penjara di gunung Tay-pa-san, hanya dengan kekuatan seorang, dia menentukan waktu tiga hari kemudian Ber-sama2 dengan JooSS, dan Mobilson, kekuatan mereka lebih keras.

Suma siu Khim tidak pernah gentar, terhadap apapun juga, sebagai iblis wanita yang ugal-ugalan, dia lebih berani dari pria manapun.

Dibiarkan kepergian Hamid itu.

Berlompat-lampatan Yo In-jie menghampiri Suma Siu Khim, menarik-narik bajunya dan berkata.

"Bibi, bagaimana kau bisa dianggap sebagai penguasa rumah penjara rimba persilatan di gunung Tay-pa-san?"

Suma Siu Khim menganggukkan kepala, berkata.

"Sudah bisa diduga olehnya. maka aku tidak ingin mengelabuimu. BibimU ini adalah penguasa rumah penjara."

"ooh...."

Yo In-jie memutar-mutarkan sepasang biji matanya yang jeli, hal itu betul2 berada diluar dugaan-Suma Siu Khim menoleh mencari jejaknya Kiat Hian, dengan dingin dia bertanya "Kemana larinya orang tawananku itu?"

Kim Hong menoleh dimana Kiat Hian tadi berada, disana betul-betul sudah tidak ada bayangan manusia.

Kiat Hian telah meninggalkan tempat itu tanpa diketahui orang.

Hal ini bisa menggembirakan Kim Hong, dengan tertawa ia berkata.

"Sudah lama Kiat Hian cianpwee pergi, ini waktu mungkin sudah berada sejauh ratusan lie."

Sesudah itu, dengan sungguh-sungguh ia bertanya kepada sang ibu.

"Ibu, tiga hari kemudian bagaimana kau menghadapi orang-orang itu?"

Suma siu Khim berkata.

"Kalau saja aku berhasil menemukan kotak ajaib, hal ini mudah saja dilakukan-Tidak berhaSil mendapatkan obat pel Tiang-san-pu-lo-tan tentu saja aku tidak bisa menghadapi serangan mereka berbareng. Apa boleh buat, dengan mengajak sepuluh Giam-ong, aku bersiap mengadu jiwa."

Yang diartikan dengan sepuluh Giam-ong adalah sepuluh raja akherat, sepuluh Giam-ong adalah sepuluh jago utama dari rumah penjara digunung Tay-pa-san.

Kim Hong terharu, dia berkata "Baik Mari kita mengambil kotak ajaib didasar telaga Tay-pek tie."

Maka, Suma Siu.

Khim serta Kim Hong dan Yo In-jie menuju kearah telaga Tay-pek-tie.

Ditengah perjalanan, mulut Yo In-jie nyerocos terus, diceritakan pengalaman-pengalamannya selama bertemu dengan Kim Hong, diceritakannya juga pada empat hari yang lalu bagaimana golongan Kalong berkomplot dengan jago-jago dari luar daerah menumpas dua belas partay besar, menghancurkan jago-jago dua belas partay besar yang berkunjung ditelaga Tay-pek tie, itu waktu Yo In-jie juga turut serta dalam pertempuran tersebut kewalahan, dua belas jago dari dua belas partay besar sudah murat-marit mayat bergelimpangan disana-sini, mengetahui tidak mungkin bisa meneruskan pertempuran itu.

Yo In-jie melarikan diri.

Dengan kelincahan Yo In-jie, ia berhasil mengelakkan pengejaran-pengejaran anak buah golongan Kalong, mutar kepuncak gunung Tay-pek tie.

Betul saja, disana ada tulisan, karena itulah dia kembali kerumah penjara di gunung Tay-pa-san, diceritakan semua urusan itu dan juga diceritakan yang tertera pada batu cadas tinggi inilah pesan sikakek gelandangan Kiat Hian-Mengetahui kalau orang yang diCintainya sudah ketempat yang mereka tentukan, ingatan Kiat Hian pulih kembali, walau belum baik seratus persen.

Toch dia mengerti keadaan, mencak-mencak dan melarikan diri dari rumah penjara gunung Tay-pa San.

Semua kejadian diceritakan secara terperinci, singkat tapi jelas Sesudah itu, Yo In-jie bertanya kepada Kim Hong, dan meminta penuturan pengalaman Si pemuda.

Kim Hong pun menceritakan pengalamannya.

Bercerita pada rumah penjara di gunung Bu San, Yo Injie meleletkan lidah, ia berkata.

"Begitu hebatkah penguasa rumah penjara di gunung Bu-San?"

Hal ini sangat menyinggung dan menusuk perasaan Suma Siu Khim, dia berkata.

"Nona Yo, bisakah kau mengurangi sedikit kata-katamu?"

"oh....ya....ya.."

Yo In-Jie maklum akan keadaan penguasa rumah penjara yang lama itu. Dia berkata.

"Ya, betapa lihaypun ilmu kepandaian si penguasa rumah penjara rimba persilatan yang baru, mana mungkin bisa menandingi ilmu kepandaian bibi...."

Disaat itu mereka sudah tiba di telaga Tay-pek tie.

Disana bergelimpangan dua belas mayat tanpa kepala.

Darah itu baru saja mengering, bau amis masih merangsang menusuk hidung, drama yang paling sadis yang pernah mereka saksikan.

Kim Hong sangat terharu, dengan penuh kebencian dan kemarahan dia berkata.

"Jie Hiong Hu-Jie Biauw Kow ketua golongan Kalong itu harus di bunuh"

Suma Siu Khim berkata "Di dalam anggapanmu, hanya ibumu sajalah yang bersalah.

Mungkin sudah dianggap sebagai iblis betina.

Lihat...Bila dibandingkan dengan keadaan Jie Hiong Hu, kesalahanku itu hanya seupil."

Kim Hong berkata.

"Kalau saja ibu bisa menyingkirkan Jie Hiong Hu, orangorang rimba persilatan bisa mengganti pandangan yang lama."

"Aku berjanji,"

Berkata Suma Siu Khim.

"Aku akan menumpas kejahatan Jie Hiong Hu. sekarang yang penting kau harus mengambil kotak ajaib didasar telaga Tay-pektie."

Kim Hong membuka pakaian luarnya, lalu terjun, plung....

ia menyelami dasar telaga Tay-pek tie.

Mengayuh, semakin lama semakin dalam.

Air telaga Tay-pek tie sangat bening, dingin meresap tulang.

Bagi Kim Hong yang memiliki kekuatan tenaga dalam hebat, serangan dingin itu tidak bisa dirasakan, ia mengayuh tangannya menyelam lebih dalam.

Memelekkan sepasang mata, rumput-rumput telaga berseliweran disanasini, batu-batupun banyak.

telaga itu berbelok-belok, cukup dalam.

Kadang-kadang juga ada beberapa ekor ikan liwat didepannya, Kim Hong menyelam terus, kini keadaan mulai menjadi suram, dia sudah mendekati dasar telaga.

Terpikir olehnya, Dewa Persilatan menyimpan kotak ajaib di dasar telaga ini, tentunya di tempat yang terdalam, maka ia menyelam terus, tampak juga dasar telaga itu, disana terdapat lima batu, berbentuk bunga Bwee, batu itu agak menceng sedikit.

Kim Hong berenang menuju kearah batu-batu itu, otaknya berpikir "Mana mungkin ada batu telaga berbentuk bunga Bwee, kalau tidak diatur oleh manusia?

Pasti disini tersimpan kotak ajaib, agar kotak ajaib itu tidak diombang-ambingkan air.

Pada empat hari yang lalu, dan dari mana Kie Hoa Hong supek mendapatkan kotak ajaib?

Tentu dari salah satu batu yang tergeser itu, kalau kotak ajaib itu kotak yang palsu, dimana pula tempatnya kotak ajaib yang asli.

Disaat ini tangan Kim Hong sudah berhasil menyentuh lima buah batu yang berbentuk bunga Bwee itu, ia menggeser yang sudah tidak berada di tempatnya, disana betul-betul sudah kosong.

Satu persatu, digesernya empat buah batu itu, masih tak ada hasil Dengan adanya pergolakkan didasar air itu, dengan membongkar-bongkar batu seperti itu, air telaga menjadi keruh, pandangan mata Kim Hong mulai kabur.

Dia sudah membongkar-bongkar semua batu-batu itu.

tidak berhasil menemukan sesuatu penemuan baru.

Kini Kim Hong mengayuh keatas, hendak mencari tempat lain-Tiba tiba.....

Kaki Kim Hong terasa dipegang sesuatu Aaa....

itulah pegangan tangan orang Siapa?

Hati Kim Hong tercekat.

Hampir dia berteriak.

Tapi berteriak didasar telaga tidak memungkinkan mulut terbuka.

Ia memukul kebawah, pegangan itu lebih keras lagi, ditendang kebawah juga tidak berhasil, kakinya masih belum bebas dari belenggu.

KIM HONG sedang berusaha bergulat dengan makhluk didasar air itu.

Samar-samar tampak satu bayangan hitam, dan bayangan itu menjulurkan sesuatu, iga Kim Hong tertotok lenyap seluruh kekuatannya, ludeslah semua harapannya, Didalam keadaan tidak berdaya, Kim Hong digusur kedalam telaga lagi.

Terdengar suara kroak, keroak kroak, kroak air telaga yang bergerak cepat, Kim Hong tertarik kedasar telaga.

Siapa?

Siapa?

Pikiran Kim Hong sedang mengutik-utik pertanyaan ini, siapa yang membawanya kedasar telaga?

Makhluk telaga Tay-pek tie jejadian, Hantu?

Penunggu telaga?

"Aha...."

Dari cara-caranya makhluk hitam itu bergerak pasti seorang manusia. Siapa yang telah mendahuluinya terjun kedalam dasar telaga Tay-pek-tie? orang ini terjun terlebih dulu atau belakangan? "

Kalau terjun terlebih dulu, tentu memiliki kepandaian ilmu silat yang sangat tinggi.

Kalau terjun belakangan dari Kim Hong, mana mungkin bisa mengelakkan pandangan mata sang ibu?

Dengan ilmu kepandaian penguasa rumah penjara, Suma Siu Khim memiliki kekuatan pandanggan mata yang liehay, mana mungkin membiarkan putranya diganggu orang?

Karena itu, orang ini tidak mungkin terjun di-belakang Kim Hong.

Kalau terjun duluan bagaimana dia mempunyai itu kekuatan?

Aaaa ...bukan manusia Pasti jejadian Kim Hong tidak percaya dengan segala makhluk jejadian, tapi dia dihadapi oleh kenyataan-Kejadian ini betul-betul sangat ajaib dan misterius, terpikir bayangan makhluk jejadian hatinya hampir lompat keluar dari tempatnya.

otaknya tersendat, Kim Hong jatuh pingsan TIDAK menceritakan bagaimana keadaan Kim Hong didasar telaga.

Kita melihat kepermukaan telaga Tay-pek tie.

Sesudah Kim Hong menerjunkan diri, Suma Siu Khim dan Yo In-jie memperhatikan keadaan telaga itu.

Telaga Tay-pek tie sangat dalam, apa yang terjadi di dasar telaga tidak bisa dilihat dari permukaan air.

Mata hari telah naik tinggi, satu jam telah berlalu....Suma Siu Khim menantikan munculnya sang Putra dengan hati berdebar-debar.

Yo In-jie menantikan munculnya Kim-Hong dengan hati kebat-kebat.

Satu jam lagi berlalu ...

MaSih tidak ada gerakan, belum tampak Kim Hong muncul dari permukaan air.

Yo In-jie kurang Sabar, dia mulai menangis sedih, menggerung-gerung.

"oh, Tuhan Tentu sudah terjadi sesuatu Tentu sudah terjadi sesuatu"

Suma Siu Khim berusaha menguasai ketenangannya, berkata.

"Jangan takut kepada bayangan sendiri. Tenaga dalamnya cukap kuat. Kukira dia masih dapat bertahan Setengah jam lagi. Mari kita tunggu....."

Dengan kedua tangannya, Yo In-jie mengkucek-kucek mata yang bendul, dan katanya.

"Walau ia bisa bertahan setengah jam lagi, seharusnya ia memberi laporan, mengapa dia tidak timbul? Tentu telah terjadi sesuatu oo Kalau saja sudah terjadi sesuatu, bagaimana aku bisa...."

Suma Siu Khim semakin uring-uringan, membentak keras.

"Bisakah kau tidak menangis? Kim Hong adalah anakku. Anak yang kulahirkan dengan susah payah seorang ibu, penuh tanggung jawab kepada kehidupan-Bergelut dengan maut. Apa hubungan dengan dirimu? Kau begitu khawatir, sebagai ibunya mungkinkah aku tidak khawatir?"

Yo In-jie menghentikan isak tangisnya, mengangkat kepala memandang kearah penguasa rumah penjara itu, ia menjebikan bibirnya, marah juga, membalikan badan dudUk disebUah batu besar, menengkurapkan kepala, dia menangis lagi, menangis sesUnggUkkan-Suma Siu Khim menunggu dengan sabar, Satu jam lagi sudah dilewatkan.

........

Belum tampak kehadiran Kim Hong didepan mereka.

la mengambil sebuah batu besar, dicemplungkannya kedasar telaga.

Inilah isyarat, agar sang putra naik kepermukaan air.

Batu besar itu menyemplung membuat satu putaran lingkaran air.

Pusaran air itu semakin lama gemakin besar, akhirnya luas bergelombang.

perlahan-lahanpun lenyap.

permukaan air telaga tenang seperti sedia kala.

Suma Siu Khim menunggu, menunggu dengan tidak sabar.

Kini bisa disaksikan, sudah terjadi sesuatu didasar telaga.

Karena itu ia menepok pundak Yo In-jie yang masih menangis, berkata kepada sigadis.

"Hei, aku ingin terjun kedasar telaga mencari jejaknya, baik-baik kau menjaga disini ya, jangan menangis lagi, Perhatikan kalau ada orang datang, lekas tenggelamkan batu kedasar telaga, beritahu kepadaku."

Yo In-jie juga harus bisa mengatasi kesulitan itu, kecuali membiarkan sang pengaasa rumah penjara terjun kedasar telaga, tidak lain jalan dia bangkit berdiri memperhatikan keadaan sekeliling mereka Disaat Suma Siu Khim sudah siap terjun kedasar telaga, tiba-tiba terdengar suara berteriak Yo In-jie "Bibi, Lihat Disana ada seseorang"

Suma Siu Khim batal terjun kedasar telaga, menengok kearah yang ditunjuk oleh Yo in-jle, betul saja tampak satu bayangan yang melencur dengan cepat.

Bayangan itu sangat langsing, bayangan seorarg wanita, gerakannya gesit, langkahnya cepat sebentar kemudian ia sudah berada disana langsung menghadapi Suma Siu Khim dan bertanya.

"IHei, kau penguasa rumah penjara digunung Tay-pasan?"

Su-ma Siu Khim memandang orang itu dan berteriak.

"oh Kau nona Bok Siu?"

Orang yang datang adalah murid Tamu Tidak Diundang dari luar daerah yang palsu cie Hoa Hong, nama gadis ini adalah Phiao Peng Kiam-khek Bok siu, biasanya dia mengenakan pakaian pria,jarang orang yang tahu.

kalau Phiao Peng Kiam-khek adalah seorang gadis.

sesudah kedok penyamarannya diketahui Kim Hong, Bok Siu berpakaian wanita, inilah wajah aSlinya, Bok Siu memandang Suma Siu Khim dan bertanya lagi.

"Betul-betulkah kau yang menjadi penguasa rumah penjara gunung Tay-pa San? Kau ibu Kim Hong?"

Suma Siu Khim menganggukkan kepala dan berkata.

"Kau tahu semua ini dari gurumu bukan ?"

"Bibi...."

Phiauw Peng Kiam-khek Bok Siu menangis, bolehkah aku memanggil bibi kepadamu?"

Suma Siu Khim menganggukkan kepala, dia berkata.

"Jangan menangis Apa yang telah terjadi?"

Bok Siu menangis semakin keras, berkata.

"Bibi ..suhuku sudah mati..suhengmu sudah mati...."

Suma Siu Khim menundukan kepala, ia turut bersedih, katanya perlahan.

"Gurumu itu sudah meninggal dunia. Beberapa jam yang lalu, aku yang mengebumikan jenasahnya...."

Dengan air mata berlinang-linang, Bok Siu berkata.

"Belum lama kulihat mereka menggusur jenasah suhu dan juga mayat Lam-kek-sin-kun im Liat Hong, demikian juga mayat Lim Keng Hee, mereka menggeledah ketiga mayat itu, semua orang berteriak, kotak ajaib sudah lenyap. Kemudian Hamid kembali dan mencari tahu, kalau katak ajaib itu sudah dibawa oleh lari, maka mereka sedang berkumpul untuk mencari jejak bibi"

"Mereka?"

Bertanya Suma Siu Khim "Berapa orang kah rombengan orang yang datang?"

Dengan jarinya Bok Siu menghitung-hitung dia berkata.

"Hamid, Mobilson, murid-murid mereka tiga orang anak muda berambut merah, kemudian datang ketua golongan Kalong Jie Hiong Hu, nyonya-nyonya Jie Hiong Hu, dua iblis Lo-hu suami istri, jumlah mereka dua belas orang."

Wajah Suma Siu Khim berubah, ditatapnya air telaga beberapa saat, ia harus mengambil putusan-Terjun kedasar telaga Tay-pek-tie didalam keadaan keritis seperti ini, Sudah tentu tak mau lagi.

Berbahaya...

Sebagai penguasa rumah penjara yang hebat Suma Siu Khim sudah tetap mengambil putusan, memandang kearah Yo In-jie, ia berkata.

"In-jie, bersama-sama dengan Bok Siu lekas kau pulang kerumah penjara, beritahu kepada Tay-giam-ong, tiga hari kemudian kalau aku tidak balik kedalam rumah penjara, bubarkan saja rumah penjara itu. Suatu tanda bahwa aku didalam bahaya."

Yo In-jie menangis sesunggukan, ia berkata.

"Tidak Aku tidak mau, aku mau menunggu munculnya Kim Hong Koko."

Bok Siu juga tidak melihat kehadiran Kim Hong, ia sedang berpikir-pikir, kemanakah kepergian sipemuda? Mendengar kata-kata In-jie yang seperti itu hatinya terkejut, cepat-cepat ia bertanya.

"Bibi, kemana kepergian Kim Hong ?"

Menudingkan jarinya kearah telaga, Suma Siu Khim berkata.

"Akulah yang menjeremuskan dirinya, kupaksa ia mencari jejak kotak ajaib yang asli. Kini dia telah tenggelam. Tidak timbul lagi. Akulah yang mencelakan jiwanya."

Wajah Bok Siu juga berubah, mendelikan mata ia berkata.

"Menurut keterangan Suhu, kotak ajaib sudah diambil, mengapa kau harus mencari lagi?"

Suma Siu Khim berkata.

"Kotak ajaib yang diambil oleh gurumU adalah kotak ajaib kosong, itulah yang palsu, Lekaslah kalian berdua lekas pergi..."

Menunjukan jarinya kearah Jauh In-jie berkata.

"Mereka sudah datang"

Wajah Suma Siu Khim semakin berubah, tentu saja Hamid, Jie Hiong Hu dan rombongan Tay-wan-kok yang berjumlah dua belas orang sudah mengurung telaga Taypek-tie, Tidak mungkin in-jie dan Bok Siu melarikan diri lagi Selama sepuluh tahun Suma Siu Khim mendirikan rumah penjara, belum pernah ia dikalahkan orang, satu persatu ia telah memasukkan kedalam kamar tahanannya, tokoh-tokoh golongan sesat atau golongan ksatria, tak satupun yang berani melawannya.

Atau ada juga orang berani melawan, satu persatu jatuh kedalam kamar tahanan rimba persilatan-Karena adanya ketangguhan istimewa ini benar-benar menjadikan Suma Siu Khim sebagai seorang iblis terkenal, iblis wanita yang belum pernah terkalahkan-Sifat-sifat Suma Siu Khim sangat angkuh, binal dan tak bisa dilunakkan, dia hanya berada diatas orang.

tak mungkin berada dibawah orang.

Pada Wajahnya yang cantik, tertera hawa pembunuhan, giginya gemeretuk, dengan gemas ia berkata.

"Datanglah.... Datanglah... Bagaimana kalian membunuh dua belas partay besar satu persatu, akupun bisa memotes batok kepala kalian, potes, potes.. .."

Yoh In-jie memesut air matanya dan berkata "Ya, biar bagaimana, akupun tak kepingin hidup lagi. Biar kita mengadu jiwa, matipun rela, kalau bisa menabas beberapa batok kepala mereka."

Bok Siu mengeluarkan pedang dari kerangkanya, siap menghadapi rombongan golongan kalong dan jago-jago berambut merah, dia berkata.

"Aku berjanji mengambil empat batok kepala, dua batok kepala disajikan kepada arwah Suhuku, dua batok kepala untuk disajikan kepada arwah Kim Hong kongcu."

Yo In-jie menoleh kearah Bok siu, berkata.

"Empat batok kepala korbanmu itu kau persembahkan kepada arwah gurumu semua, tidak perlu menyembahyangi arwah Kim Hong koko, batok-batok kepala yang kupotes boleh dipersembahkan kepada arwah Kokoku."

Wajah Bok Siu tertegun, pipinya menjadi merah, dengan dia berkata "Baik. Sebetulnya hubunganku biasa. Tak ada hubungan istimewa, tak perlu menyembahyangi arwahnya."

Disaat ini, rombongan yang datang sudah mengurung tepian telaga. Jie Hiong Hu dikanan Hamid dikiri, menghadapi Suma Siu Khim membuka suara.

"Lauwcu, aku tidak tahu bila kau sudah mengambil kotak ajaib, maka menjanjikan tiga hari menempurmu lagi, lain tadi lain sekarang, ternyata kau sudah merampas kotak ajaib itu. Maka tiga hari kemudian, aku baru menempur rumah penjara Tay-pa-san-"

Suma Siu Khim tidak meladeni teguran Hamid, langsung menghadapi Jie Hiong Hu dia berkata "Jie Hiong HU, nyalimu cukup besar, he?"

Mendapat backing dari Hamid cs, nyali Jie Hiong Hu memang sudah berani, ia mengangkat pundak.

melempar pandangan mata kearah Hamid, baru berkata kepada Suma Siu Khim "Golongan kalong telah mendapat dukungan kuat Hamid cianpwee sekalian, keadaannya berbeda dengan keadaan yang dahulu.

Lebih baik Lauwcu serahkan kotak ajaib itu agar tidak mengganggu ketata tertiban."

Dengan dingin Suma Siu Khim berkata "Majulah lima langkah ke depan nanti kuberikan kotak ajaib itu."

Jie Hiong Hu adalah salah satu bekas pecundang Suma Siu Khim, mana berani mengulangi kejadian lama, ia hanya berdehem ditempat, tanpa bergeser kaki dia berkata.

"Mengapa Laucu tidak menantang Hamid cianpwee, kedatangan Hamid cianpwe kedaerah Tionggoan yang utama adalah hendak menempur dirimu."

Pandangan Suma Siu Khim dialihkan ketempat Hamid, ia mendengus dan berkata.

"Baiklah Kau juga boleh maju"

Hamid tertawa-tawa, memajukan langkah kakinya, tapi hanya lima langkah, sampai sana berhenti, mangut jenggot, mengulurkan tangan dan berkata.

"Lauwcu, serahkan kotak ajaib itu kepadaku"

"Terima ini dahulu"

Suma Siu Khim memukul kearah Hamid.

Hamid sudah bersiap sedia, tapi gerakan Suma Siu Khim terlalu cepat dari apa yang diduga, yang berada diluar dugaan wanita itu berani menempur dengan tenaga dalam untuk melawan dengan tenaga dalam pula, ia akan kalah cepat, dalam keadaan terdesak.

Hamid membungkukkan setengah badan dan lompat kesamping empat tapak dari sana dia menjulurkan tangan direntangkan, dengan cakarcakar jari, menotok jalan-jalan darah Suma Siu Khim.

Disaat mana Hamid berkata "Tidak kusangka, kau juga bisa menggunakan ilmu oeycong pan-jo-sin-ci Hehehehe...

Kau rasakan cakar setanku"

Suma Siu Khim lompat kedepan lima langkah, tangan kirinya dibacokan kedepan.

memotong kearah pergelangan tangan Hamid yang menjurus datang.

Serangan kedua Suma Siu Khim dibarengi juga dengan serangan ciok-ko thian-keng.

Salah satu dari jurus tiga pukulan maut.

Lagi-lagi Suma Siu Khim main dengan Cara keras.

Hamid salah menduga, apa boleh buat, ia harus terpaksa mengadu kekerasan, walau tanpa kekuatan Tay-yang sinkang, ia harus melawan juga.

Tangan Hamid diayun, memapaki pukulan serangan tangan Suma Siu Khim.

"Pang...."

Sesudah terjadi benturan kekuatan itu, Hamid terpukul empat langkah.

Suma Siu Khim tidak memberi kesempatan, dia maju dua langkah menyerang lagi.

Disaat Hamid sedang berdaya upaya, dengan cara apa harus menghadapi penguasa Tay-pa-san ini, tiba-tiba terdengar suara Mobilson.

"Hamid toako, gunakan tipu ilmu Liong-hui-kiu-cong-thian-"

Mendapat petunjuk baru, Hamid memekik panjang, tubuhnya melejit tinggi, dan ia berada ditengah udara, dari sana menjulurkan tangan, kini menggunakan kekuatan Tayyang Sin-kang, meluncur dan melawan Suma Siu Khim.

Terjadi pertempuran yang hebat dan setanding.

Penguasa rumah penjara Tay-pa-san Suma Siu Khim menempur juara silat daerah Tay-wan-kok Hamid.

Yo In-jie menudingkan jarinya kearah Sulek dan membentak.

"Hei, rambut merah, datang kau kemari. Tadi, kita belum berhasil meneruskan kemenangan-Lekas serahkan jiwa."

Sulek tertawa dingin, mencabut kelewang. langsung menempur Yo in-jie. Disaat yang sama, Bok Siu juga menudingkan pedangnya kearah Dokucan dan membentak.

"Hei, serahkan batok kepalamu"

Dokucan masih mengenali pemuda berbaju putih yang pernah membantu Kim Hong menempur mereka dahulu itu, kini dia ditantang terang-terangan, timbul rasa tertariknya, mengeluarkan kelewangnya, menghampiri Bok Siu dan berkata.

"Nona mari kita mengadakan perjanjian, kalau kau kalah, kau harus menjadi istriku. Kalau aku kalah, aku bersedia menjadi lakimu. setuju?"

Kemarahan Bok Siu sedang meluap-luap.

tanpa kata ia menjulurkan pedangnya, menyerang kearah Dokacan.

Suma Siu Khim kontra Hamid, Yo In-jie kontra Sulek.

Bok Siu lawan Dokucan, Tiga arena pertandingan ini berkutat dengan keadaan seimbang.

Berselang berapa saat, masih belum ada seorang yang berhasil mengalahkan lawannya.

Pertempuran berlangsung beberapa waktu, Hamid lompat keluar lapangan, dengan tertawa terbahak-bahak, ia berkata "Lauwcu, sudah lebih dari seratus jurus bukan?

Boleh dibayangkan, kalau kita menempur diatas garis tenurmu dirumah penjara Tay-pa-san, bukanlah rumah penjara itu harus diserahkan kepadaku?"

Suma Siu Khim tidak banyak mulut, beruntun ia menyerang sampai tiga kali.

Hamid dipaksa bergebrak pula, mengerahkan Tay-yang Sin-kangnya, memukul kearah Suma Siu Khim.

Bentrokan keras lawan keras tidak dapat dielakkan, pang.....

Kedua orang itu terpisah, Hamid mundur lima langkah, Suma Siu Khim mundur tiga langkah.

Kekuatan penguasa rumah penjara Tay-pa-san memang betul-betul mengagumkan.

tanpa mundur pula ia menggerakkan jari, Sreet, mengenai sedikit kulit daging Hamid.

Hamid berteriak marah, menerkam pula, menyerang dengan kekuatan Tay-yang Sin-kang.

Suma siu Shim tidak takut kepada datangnya serangan hawa panas, dia mendorong kedua tangan, menemrur kekuatan itu.

Lagi-lagi keras dilawan keras Pang.......

Sesudah terjadi benturan ini, kedudukan Hamid semakin payah ia mundur enam langkah, Suma Siu Khim hanya mundur empat langkah.

Sebagai seorang wanita, Suma siu Khim memiliki kekuatan yang berada diatas kaum pria, hal ini betul-betul mengejutkan semua orang.

Tidak memteri kesempatan kepada Hamid bergerak lagilagi Suma siu Khim menyerang, dia membentak.

"Terima lagi serangan ini. Kalau betul kau bisa memenangkanku, rumah penjara Tay-pa-san boleh kau ambil"

Suara itu begitu menggelegar, seolah-olah hendaK menelan dunia yang ada.

Mereka hampir tidak percaya kalau orang itu adalah seorang wanita biasa.

Hamid adalah juara pertama dari daerah Tay-wan-kok, seumur hidupnya belum pernah dikalahkan.

Kali ini dia harus bertemu dengan batu keras, tidak mungkin bisa memenangkan pertandingan tersebut.

Gerakan Suma Siu Khim cepat, disaat ini sudah menyerang datang.

Hamid mulai ketakutan, dan totokan Suma Siu Khim tadi mulai dirasakan sangat sakit, apa boleh buat, serangan sudah datang, dia mendorong kedua tangannya.

"Pang....."

Sesudah berakhirnya letupan, tubuh Hamid terdorong kebelakang sampai delapan langkah numprah ditanah, mulutnya dibuka sebentar oak.

dari mulut muntah gumpalan darah merah.

Suma Siu Khim juga termundur sampai enam langkah tubuhnya ber-goyang2 mau jatuh.

Wajahnya pucat pasi, tapi masih dipertahankannva sedapat mungkin, ternyata luka dalamnya juga tidak ringan-Melihat keadaan yang seperti itu betul-betul Mobilson terkejut, berjalan kearah Hamid memayangnya bangun bertanya.

"Hamid toako, bagaimana keadaanmu?"

Hamid menggeleng-gelengkan kepala perlahan-lahan ia bangkit sendiri menyusut darah yang berlepotan dimulutnya, dengan wajah yang bengis ia berkata "Dia banyak akal tipunya, sebentar begini sebentar begitu.

Sehingga aku kena diakali."

Mobilson berkata "Hamid toako, istirahalah sebentar. Serahkan kepadaku,"

Sepasang mata Hamid seperti mau memancarkan api, dia berkata.

"Aku masih kuat bertempur. Tapi ....ada lebih baik kita bersama-sama menyingkirkan siiblis betina."

"Baik."

Mobilson menyahut girang usul itu, dari kanan dan kiri mereka mendekati Suma siu Khim, Kedua kakek berambut merah ini adalah jago-jago terbesar dari daerah Tay-wan-kok, Hamid adalah jago pertama.

Mobilson adalah juara ketiga, kini boleh dibayangkan sampai dimana kekuatan mereka, sekarang bergerak bersama-sama untuk mengurung Suma Siu Khim.

Inilah takdir yang apes kepada sipenguasa rumah penjara rimba persilatan digunung Tay-pa-san.

Suma siu Khim masih berdiri, ia hanya memejamkan mata mengatur peredaran darah, berdiri keras, kokoh dan mantap seolah-olah tidak mengetahui kalau maut itu sudah diambang pintu.

Yo in-jie bisa melihat situasi itu, cepat-cepat ia berteriak.

"Bibi, awas.. Mereka sudah berada didekatmu."

Bok siu juga bingung dan repot tapi dia tidak berdaya, untuk menghadapi seorang Dokucan saja, dia tidak bisa memenangkan pertandingan itu, bagaimana mempunyai kelebihan tenaga untuk membantu Suma Siu Khim?

Hamid dan Mobilson sudah berada didekat Suma siu Khim, disaat itu si iblis betina masih berdiam tidak bergerak, hal ini betul-betul membingungkan kedua jago dari daerah Tay-wan-kok masing-masing membungkukkan kepala tanda setuju dan mengepung dari kanan dan kiri.

Secepat kilat pula, tiba-tiba terdengar pekikan nyaring dari Suma Siu Khim tubuhnya mencelat bangun berdiri, Seperti seekor burung alap-alap yang terbang keatas, kedua tangan direntangkan kekanan dan kekiri memukul kearah batok kepala Hamid dan Mobilson-Keadaan ini berada diluar dugaan semua orang, mereka tahu Suma siu Khim sudah dalam keadaan luka parah, mereka tidak menyangka kalau si iblis betina itu massih kuat menempur dua jago istimewa.

Serangan Hamid dan Mobilson mengenai tanah, tapi secepat itu pula serangan Suma Siu Khim mengarah batok kepala mereka.

Mobilson dipaksa meluncur kesamping dan mengelakkan datangnya pukulan Suma Siu Khim.

Kasihan bagi juara nomor satu si Hamid, untuk menjaga keagungan namanya, apa lagi dia sudah menderita luka tenagannya hanya sisa saja, dia maju berbereng dengan mengharapkan bantuan Mobilson, kini bantuan itu mengenai tempat kosong, dia malah diserang oleh Suma Siu Khim.

Lebih kasihan lagi adalah kedudukan Mobilson, dia salah duga, kiranya Suma Siu Khim sudah tiada tenaga, maka berani main comot.

Maut mengintai, untuk bertahan sedapat mungkin dia mengangkat tangan memukul tangan Suma siu Khim, berbareng tubuhnya bergulingan, berguling-guling beberapa kali, baru bisa mengelakkan datangnya kekuatan tadi.

Tubuh Mobilson hanya menyingkir beberapa tapak, kini dia memukul kearah tubuh Suma siu Khim yang mulai menubruk kembali.

Suma siu Khim sudah menderita luka, baru saja dia mengerahkan tenaga banyak pula, datangnya serangan Mobilson tidak bisa dielakan.

Bek....serangan panas itu mengenai pundaknya, dia juga terguling-guling jatuh.

Bibir Mobilson tersungging senyuman iblis, mengangkat kaki, menuju kearah menggeletaknya Suma Siu Khim, tangannya diangkat siap mengirim satu pukulan yang terakhir.

"Winnng "..... Tiba-tiba saja, berdesing suatu suara yang memecahkan kesunyian ditempat itu membelah angkasa disekitar telaga Tay-pek tie. Berbareng, ditengah -tengah mereka entah kapan datangnya menancap sebilah pedang. jawitan pada ujung gagang pedang masih Berkibar-kibar, pedang itu masih tertancap dan bergoyang-goyang, masih menguang-nguang. Datangnya lemparan pedang yang disertai tenaga dalam ini memecahkan kesunyian, menghentikan pertempuran-Juga menolong selembar jiwanya Suma Siu Khim Pusat perhatian semua orang beralih kearah tebing telaga Tay-pek tie, disana berdiri puluhan orang berbaju putih juga berkerudung putih, mengenakan seragam pakaian berwarna putih, Salah seorang dari rombongan berbaju dan berkerudung itu adalah seorang biarawati yang berambut putih, dialah yang menjadi pemimpin rombongan ini, kecuali dia seorang, tidak ada tokoh kedua yang tidak mengenakan kerudung. hanya dia seorang yang tidak mengenakan kain penutup kepala, memperlihatkan rambut yang berwarna putih. Bierawati tua berambut putih ini memegang kebutan, sepasang matanya memancarkan cahaya keberanian. Kejayaan, wajahnya welas asih, seolah-olah manusia yang hendak menjadi setengah dewa, Rombongan golongan Kalong terkejut, tak mereka duga kalau rombongan berbaju dan berkerudung putih itu sudah mengepung mereka. Datangnya orang-orang berbaju putih ini adalah suatu tanda, bahwa mereka telah tertipu dan terjebak, mereka telah terperangkap. Mobilson menghentikan serangannya, menoleh dan memperhatikan keadaan orang-orang berbaju putih itu, Pertempuran Bok Siu dan in-jie juga terhenti, ditengahtengah kerungan kecil adalah Suma Siu Khim, Bok Siu dan Yo in-jie, mengurung mereka adalah dua belas jago silat golongan kalong dan jago daerah Tay-wan-kok. Diluar lingkungan besar masih mengupurung lagi lain rombongan, jumlah mereka jauh lebih besar, lima orang berseragam putih berpakaian putih dan berkerudung putih mengurung. Semua siap dengan aneka senjata, Senjatasenjata itu tidak sama. Mobilson memandang kearah pemimpin rombongan orang berbaju putih itu, dia membentak..

"He Jawab pertanyaanku, dari mana kalian datang?"

Biarawati tua berambut putih berkata "Lembah Patah Hati"

Mobilson menyeringai dan membentak.

"Apa maksud kalian?"

"Menyapu kekotoran manusia yang hidup didalam dunia"

"Siapa yang diartikan dengan kekotoran manusia yang hidup didalam dunia?"

Bertanya Mobilson-Biarawati tua menjawab "Golongan Kalong beserta sembilan orang berambut merah daerah Tay-wan-kok."

"Hua, hua ha ha ha...."

Mobilson menengadahkan kepala dan tertawa besar.

"Kalian jago-jago dari Lembah Patah Hati? Ha-ha. tahukah, Siapa jago terkuat dari daerah Tionggoan?"

BiaraWati tua itu balik bertanya.

"Menurut hematmu, siapa jago terkuat dari daerah Tionggoan?"

Mobilson menunjuk kearah Suma Siu Khim yang masih jatuh terduduk dan berkata.

"Dua jago terkuat untuk daerah Tionggoan adalah dua penguasa rumah penjara rimba persilatan-Lihat salah seorang diantaranya sudah berhasil aku jatuhkan. Pikirlah baik-baik, kau mempunyai ilmu silat yang lebih tinggi dari penguasa rumah penjara?"

"Tidak bisa disangka."

Jawab biarawati tua itu.

"Diantara kamu. tidak ada satupun yang bisa melawan kekuatan penguasa rumah penjara rimba persilatan-Tapi kalian bisa menjatuhkannya, tentu saja dengan cara pengeroyokan. orang yang berjumlah besar bisa memenangkan yang berjumlah sedikit. Walau ilmu kepandaian orang itu agak lemah. Dari sini sudah kau praktekkan. Lihat Karena jumlah yang banyak. kalian mengalahkannya. Kini giliran kalian-Jumlah kamu semua dua belas orang, Tapijumlah kami lima puluh orang, pikirlah baik-baik, siapa yang akan lebih unggul?"

Mobilson masih belum mengerti akan sikap kata-katanya orang dari Lembah patah hati ini, dengan dingin ia berkata.

"Tentera belum tentu menang dengan jumlah yang besar, siapa yang kuat. Dialah yang menang."

"Masih membuat perlawanan?"

Ejek Biarawati tua itu. Mobilson mendatangi kearah Jie Hiong Hu serta kawankawan dan berkata.

"Awas Biar aku yang menempurnya terlebih dahulu."

Kemudian, memandang rombongan Patah hati dan membentak.

"Turun "

Biarawati tua itu melayang turun dari kedudukannya semula, dimana sebelah kakinya tertancap pada batu tepian tebing tinggi, gerakkannya sangat ringan, indah.

Kini si biarawati tua sudah berada didepan Mobilson, dengan kebutan ditangan kanan di-pindahkan ketangan kiri, menganggukkan kepala dan dengan gagah dia berkata.

"Baik Biar kuterima pelajaran ilmu pelajaran ilmu Tayyang Sin-kang. Terlebih dahulu silahkan mulai."

Mobilson menyedot napasnya dalam-dalam, kekuatan Tay-yang Sin-kang yang berupa kekuatan hawa panas digerakan dan disalurkan, membentak keras dan menyerang kearah biarawati tersebut.

Dia sedang bingung dan tidak mengerti, darimana biarawati tua ini bisa mengetahui asal-usulnya "omitohud"

Biarawati tua itu menyebut nama Buddha dan dirapatkannya sepasang tangan menerima serangan kekuatan Tay-yang Sin-kang Mobilson.

cara-cara ini tidak jauh berbeda dengan cara-cara yang digerakan oleh Mobilson, inipun salah satu dari tipu Tayyang Sin-kang.

Terdengar satu suara benturan yang keras, masingmasing bergoyang dan termundur tiga langkah.

Wajah Mobilson berubah, matanya didelikkan besarbesar, ia berteriak gugup.

"Kau... kau... juga bisa menggunakan kekuatan Tay-yang Sin-kang?"

Sebelumsi biarawati tua menjawab pertanyaannya, Hamid yang terbaring luka sudah menoleh kan kepala, dengan getaran jiwa yang besar dia berteriak.

"Mobilson sutee, dia adalah Kongsun-Bwee Kun"

Biarawati tua yang mengenakan seragam putih itu adalah Kongsun Bwee Kun. Mobilson juga terkejut.

"Aaa...."

Diperhatikannya beberapa waktu menganggukkan kepala dan berkata.

"Betul-betul enso KongsunBwee Kun, mulai kapan kau mensucikan diri?"

Biarawati tua itu berkata dingin.

"Mungkin kau salah lihat orang. Kongsun Bwee Kun sudah lama mati. Namaku adalah Pan-su Loonie. Lebih baik kalian jangan berteriakteriak seperti itu."

Mobilson tertawa menyeringai, dia berkata.

"Enso Kongsun Bwee Kun, meng apa mempunyai kekerasan hati yang seperti itu? Apa kau tahu, kalau Jooss sedang ubekubekkan mencari jejakmu? Lima hari yang lalu dia menuju kegunung Lu-san, sehingga saat ini dia belum kembali. Hem.... biar bagaimana kesalahan atas langkahmu sendiri, mana boleh....."

Biarawati itu Pan-su Lonnie mengebutkan kebutannya.

memotong pembicaraan itu dan berkata "cukup Kalian beberapa saudara berbuat kejahatankejahatan, kini datang pula kedaerah Tionggoan hendak mengaCau lagi?

Lekas kembali kedaerah Tay-wan-kok.

Kalau tidak hmm-hmm......"

Wajah Mobilson ditekuk, sepasang matanya memancarkan sinar kebuasan, ia berkata dinging.

"Apa betul begitu? Enso Kongsun Bweee Kun?"

"Tidak salah"

Berkata Pan-su Lonnie.

"Siapa yang tidak mau enyah dari tempat ini. orang itu akan segera menjadi tulang belulang."

"Termasuk aku?"

Mobilson menantang.

"Ya Termasuk juga dirimu."

Kata Pan-su Lonnie.

Mobilson menengok kearah orang-orang berseragam putih yang mengurung mereka, ia ber-deham2 dan berkata "Entah bagaimana kepandaian ilmu silat orang-orang yang dibawa oleh enso itu?

Berkepandaian silat tinggikah mereka itu?

Beranikah mengutus dua diantaranya untuk bermain-main beberapa jurus dengan Jie Hiong Hu atau keponakan muridku?"

Mobilson pandai menilai situasi, didalam keadaan yang seperti itu, kekuatannya hanya bertahan kepada kemenakan-kemenakan murid dan Jie Hiong Hu, dengan jumlah terbatas hanya beberapa orang, kalau saja dipihak lawan tidak bisa mengalahkan Jie Hiong Hu dan sang kemenakan murid, maka mereka masih mempunyai kesempatan dan menang.

tetapi kalau dua diantara rombongan orang berbaju putih itu bisa mengimbangi Jie Hiong Hu dan sang kemenakan murid, hehehe.....

untuk mengurangi kekuatan dirinya sendiri.

Disini letak kepintaran Mobilson, dia tak mau melakukan peperangan yang tidak menguntungkan.

Dengan dingin Pan-su Lonnie berkata.

"Mengapa tidak? Hoong Jie Biauw Kow boleh ditakuti dan disegani orang, tapi untuk pihakku, hmm..... aku masih bisa mengeluarkan empat jago kuat yang bisa merendengi dirinya."

"Keluarkanlah"

Berkata Mobilson.

"Hendak kulihat, jago Tionggoan mana lagi yang betul-betul kuat."

PanSu Loonie memandang kearah orang-orang berseragam putih itu dan berkata.

"Nomor tiga dan nomor empat kalian boleh kedepan"

Maka, dari rombongan orang berseragam putih tampil dua orang, seorang berbadan kurus kecil tidak membawa senjata, seorang lagi berbadan tinggi besar, juga bertangan kosong.

inilah nomor tiga dan nomor empat dari jago-jago Lembah Patah Hati.

Mereka mengenakan tutup kerudung muka berwarna putih, tapi bagian mata dari kerudung itu dilubangkan, dari sana mencorong cahaya-cahaya kemilauan, suatu tanda dan bukti berapa hebat ilmu kekuatan tenaga dalam kedua jago silat itu.

Mobilson agak heran atas perintah perlawanan Pan-su Lonnie, ia mengajukan pertanyaan "Eh, meng apa tidak mengeluarkan jago nomor satu dan jago nomor dua?"

"Kalau kau biSa memenangkan nomo tiga dan nomor empat masih boleh menantang dan meminta nomor satu dan nomor dua."

Berkata Pan Su Lonnie, Mobilson menganggukkan kepala, menoleh kearah rombongannya dan berkata "Kuat majU kedepan, bersama-sama dengan Jie Hiong Hu kalian boleh memandingi mereka."

Kuat adalah salah satu dari murid Hamid, Wajahnya galak, Mendapat perintah tadi, bersama-sama dengan ketua golongan kalong Jie Hiong Hu.

Kuat segera tampil kedepan.

Kini dua dari rombongan Mobilson dan dua jago dari Lembah Patah Hati berhadap-hadapan, Jie Hiong Hu berhadapan dengan jago Lembah patah Hati yang mempunyai perawakan kurus kecil itu.

Jago Taywan-kok, Kuat berhadapan dengan Si tinggi besar.

Kuat memperhatikan lawannya, dan dia bertanya "Kau yang disebut nomor tiga?"

Sitinggi besar menggelengkan kepala dan berkata.

"Bukan-Aku nomor empat."

Suaranya agak serak tapi masih gagah.

suatu bukti bahwa dibalik kerudUng mUkanya adalah wajah seorang tua rimba persilatan yang galak.

Kuat tertegun, sengaja ia memilih yang tinggi besar, dengan harapan bisa menempur jago nomor tiga dari Lembah Patah Hati Ternyata si tinggi besar hanya nomor empat.

Hal ini membuat dia tidak puas, ia menganggap dirinya jago hebat, karena itu menoleh kearah Jie Hiong Hu dan berkata.

"Jie Hiong Hu, kita berganti lawan-"

Jie Hiong Hu cengar-cengir, dia lebih senang memilih yang kurus kecil ini dari pada yang tinggi besar, mendapat perkataan Kuat yang seperti itu, ia berkata.

"Mengapa ? Sama saja bukan?"

Kuat berkata tegas.

"Tidak mungkin. Aku harus menempur yang nomor tiga."

Maka si nomor tiga, orang yang berkerudung putih yang mempunyai dada perawakan yang kurus dan kecil itu membuka suaranya seperti kacang garing, enak dan merdu.

"Jangan sok takabur, sesudah kau memenangkan nomor empat, boleh juga meminta nomor yang lain "

Dari suara dan logat si nomor tiga, suatu bukti bahwa orang berkerudung dari Lembah Patah Hati ini masih muda belia, dia seorang gadis remaja, Kuat lebih terkejut, dia memilih nomor tiga dengan harapan memilih kekuatan yang lebih hebat, ternyata sinomor tiga hanya seorang gadis remaja, karena itu dia mengedip-ngedipkan mata, heran dan terkejut, katanya "Eh, seorang Wanita?

Sial tujuh turunan, Aku tidak mau menempurmu."

Jago nomor tiga dari Lembah Patah Hati tertawa girang, dengan lincah dia berkata.

"Jangan suka memanding rendah kaum wanita, lihat GUrumU sudah dikalahkan oleh Lauwcu rimba persilatan dari gunung Tay-pa-san. Sampai disaat ini masih belum bisa bangun, tahu?"

Suma Siu Khim mengikuti pembicaraan tadi, dia menderita sedikit luka dan semUa perhatian dicurahkan kepada Pan-su Lonnie, kini munculnya sinomor tiga yang kurus kecil, cara-cara dan lagu-lagunya itu mengingatkan sang murid, menudingkan jari ia membentak.

"Nona kecil siapa kau?"

Sinomor tiga memberi hormatnya, dengan lincah dan nakal sekali ia berkata "Sebelumnya kami meminta maaf atas pertanyaan Lauwcu. Kami adalah nomor tiga dari Lembah Patah Hati."

Suma Siu Khim bertanya lagi.

"Aku hendak mengetahui namamu"

Si nomor tiga menggelengkan kapalanya, Tertawa cekikikan dan berkata.

"Kalau aku bersedia memberitahu, buat apa menggunakan tutup kerudung lagi? Percuma saja, bukan? Hi-hi-hi......"

"Huh"

Suma Siu Khim mengeluarkan suara dari hidung. Menudingkan jarinya kearah si nomor tiga, ia berkata.

"Suaramu sangat mirip dengan suaranya muridku yang nakal itu, tapi kau lebih berandalan lagi darinya......"

Suara sinomor tiga adalah suara yang juga mirip dengan Leng Bie Sian. Wajah pemimpin jago Lembah Patah Hati Pan-su Lonnie menekuk segera dia memberi perintah.

"Nomor tiga Jangan banyak main lidah Lekas bergerak"

Mendapat teguran sang pemimpin, nomor tiga dari Lembah Patah Hati, cepat-cepat menghadapi Jie Hiong Hu, segera dia membentak.

"Jie Biauw Kow, mengapa kau mematung ditempat, lekas kau keluarkan ilmu simpanan Kiu-im-hek-kut-cianglekmu itu."

Hoong adalah sebutan rangkap dari Jie Biauw Kow dan Jie Hiong Hu, ia menjadi ketua golongan Kalong yang ternama, karena bisa memegang peranan yang hebat.

DiSiang hari ia menjadi lelaki, dimalam hari ia menjadi wanita.

Nyonya rumah setan adalah jelmaannya, dia menghisap sari lelaki dimalam hari, menyedot sari wanita disiang hari, karena itu.

semakin lama semakin gagah.

Jie Hiong Hu adalah panggilan disiang hari, dan Jie Biauw Kow adalah panggilan nama untuk malam hari.

Hari masih ada sinar matahari.

mendapat panggilan Jie Biauw Kow itu Jie Hiong Hu menjadi marah, pantangan besar menyebut salah satu namanya, kalau bukan pada iklim-iklim tertentu, dengan satu geraman dia mengayun tangan dan memukul kearah si nomor tiga.

Inilah ilmu kepandaian yang bernama Kiu-im-hek-kut-ciang-lek yang berarti sembilan hawa dingin menghitamkan tulang.

Ilmu Kiu-im-hek-kut-ciang-lek didapat dari inti wanitawanita yang disedot, siapa yang terkena pukulan ini, segera menggeletak tulang-tulangnya akan Segera menjadi hitam, mati tidak tertolong.

Ilmu kepandaian jahat Ilmu yang jarang ada pada rimba persilatan.

Ilmu yang kenamaan dari Jie Hiong Hu sinomor tiga dari Lembah Patah Hati tak merasa gentar, ia tertawa cekikikan, mengangkat tangan dan dengan seenaknya saja menyambuti serangan itu, cara penyambutan dari sinomor tiga agak mirip dengan tipu silat yang bernama Jie-bengbian-biat, salah satu dari tiga pukulan maut dari Lauwcu Rumah penjara digunung Tay-pa-San.

Terdengar suara beradunya kedua pukulan Jie Hiong Hu termundur beberapa langkah.

Kekuatan sinomor tiga dari Lembah Patah Hati betulbetul menakjupkan, dia berhasil mendorong seorang jago yang seperti Jie Hiong Hu, Tapi dirinya juga terpukul kebelakang, Mereka sama kuat.

Mobilson mengerutkan alisnya, dia heran jago seperti Jie Hiong Hu ini tidak bisa mengalahkan seorang wanita kecil.

Mobilson menoleh kearah Pan Su Lonnie, dan dia bertanya "Enso Kongsun Bwee Kun, menurut ingatanku, kau memiliki baju keras dari kulit landak?"

Tanpa perobahan Wajah Pan-su Lonnie menjawab.

"Kau kira aku menyerahkan baju ajaib itu kepadanya, maka baru dia bisa menerima serangan jie Hiong Hu?"

"Kalau tidak,"

Berkata Mobilson menganggukkan kepala.

"Dengan umurnya yang begitu muda belia, bagaimana mempunyai kekuatan hebat ?"

Pan-su Lonnie berkata "Pikirlah baik-baik, kalau kuserahkan baju ajaib itu kepada nomor tiga berarti orang jago Lamhah Patah Hati tiada arti, maka si nomor empat bisa mati?

Nomor empat tidak mungkin memakai baju ajaib lagi bukan?

Boleh lawan nomor empat"

Mobilson berkata "Siapa tahu, kalau hanya tipu muslihat. orang nomor empat lebih hebat dari nomor tiga?"

Pan-su Lonnie berkata.

"Kau kira kemenakanmu itu lebih hebat dari Jie Hiong Hu ?"

Kuat sangat marah, dia menghadapi nomor empat dan membentak "Hei, apalagi yang ditunggu"

Sepasang sinar mata si nomor empat berkilat-kilat, dengan dingin dia berkata.

"Aku sedang menunggu seranganmu "

Kuat berteriak seperti serigala melolong, tiba-tiba dia memukul lawannya.

Nomor empat dari Lembah Patah Hati menggeser kaki kekanan setengah tapak.

tangan terayun, seolah-olah dukun yang berjampi-jampi.

Disaat dia mengeluarkan tenaganya.

Jarak mereka sangat dekat, terjadi benturan kekuatan, dan terdengar letupan keras, tanah-tanah disekitar itu berputar, seolaholah angin topan, dan saat ini sibaju putih sinomor empat bersaingan, terhuyung empat langkah.

Di saat yang sama.

Kuat juga terdorong mundur kebelakang dua tumbak.

Didalam tanggapan si Kuat, dia mendapat kemenangan atas hasil gemilang itu.

Maka dia tertawa berkakakan.

Tiba-tiba suara tertawa sikuat lenyap mendadak tubuhnya bergoyang-goyang, terlempar seperti gangSingan, hampir Saja dia jatuh.

Menyaksikan jalannya pertempuran itu, wajah Mobilson berubah, dia berkata keras.

"Hah, itulah tipu silat angin puyuh dari si pengemiS Lu Bong Kong."

Seperti apa yang masih kita ingat, sipengemis Sakti Lu Bong Kong sudah mengeram didalam rumah penjara rimba persilatan yang baru digunung Bu San-Munculnya permainan tipu silat Lu Bong Kong sangat mengejutkan semua orang.

Siapa jago nomor empat dari lembah Patah Hati itu?

Mendapat perawa nan tipu silat Lu Bong Kong, Si Kuat tak bisa mengalahkan lawannya dengan mudah.

Mobilson sendiri menimbang-nimbang kekuatan sendiri dan kekuatan lawan.

Hamid menderita luka.

Dia pribadi hanya bisa menandingi Pan-su Lonnie, Jie Hong Hu hanya bisa menandingi jago nomor tiga dari rombongan baru itu.

Kuat hanya bisa menandingi jago nomor empat.

Maka, jago lain hanya yang berupa jago biasa, tak mungkin bisa menghasilkan kemenangan, Menyaksikan lagi beberapa saat, Mobilson mengangkat bangun Hamid yang terbaring, bertanya sedih "Hamid toako mari kita pulang saja.

Daerah Tionggoan bukan daerah kita."

Sesudah itu ia berkata lagi "Kuat,Jie Hong Hu, hentikan pertempuran segera. Mari kita kembali,"

Maka, iring-iringan rombongan Hamid itu ngeloyor pergi.

orang-orang berseragam baju putih dari Lembah Patah Hati tidak menahan kepergian rombongan Hamid dan kawan-kawan, membuka satu jalan.

membiarkan keberangkatan mereka.

Yo In-jie segera berteriak kearah Pan-su Lonnie.

"Hei, jangan kau biarkan mereka pergi begitu saja, Katakatanya bohong semua. Mereka tidak mungkin kembali kedaerah Tay-wan-kok"

Dengan tersenyum Pan-su Loonie berkata "Kita tidak boleh sembarang membunuh orang. mengapa nona kecil ini galak?"

Yo In-jie terkejut, ia berkata.

"Kau mensucikan diri sebagai biarawati, apa anak buahmu semua sudah mensucikan diri?"

Pan Su Loonie berkata.

"Tepat. Mereka adalah orang-orang yang sudah patah hati. Sudah waktunya mensucikan diri."

"Bohong"

Bok Siu nyeletuk keras.

"orang-orang yang mau mensucikan diri mengapa mengerudungi wajahnya?"

Pan-su Lonnie berkata.

"Semua orang dari lembah Patah Hati diwajahnya mengenakan tutup kerudung muka berwarna putih."

Yo In-jie bertanya "Dimana letaknya Lembah Patah Hati?"

"Rahasia?"

Berkata Pan-su Lonnie.

"Tapi... kalau kau mau mensucikan diri, aku bisa memberitahu kepadamu."

Sepasang mata Yo In-jie masih bendul merah, melirik kearah telaga Tay-pek tie.

Disana tenggelam seorang pemuda yang dikasihi, tenggelam untuk selama-lamanya.

Hatinya bergoyah, ia tidak mempunyai kesan perasaan hidup, tidak mempunai pegangan hidup, mendapat bujukan yang seperti ini, hatinya semakin bergelombang keras.

Lirikan Yo In-jie kearah permukaan air telaga Tay-pek tie membawa akibat lain-disana belum timbul kepala Kim Hong, tidak mungkin Kim Hong bisa bertahan hidup didasar telaga Tay-pek tie.

Kecuali menjadi bangkai.

Yo In-jie putus harapan, air matanya bercucuran turun deras pula, ia menggerutuk gigi dan berkata.

"Baik, Aku juga rela mensucikan diri."

"omitohud."

Pan-su Lonnie menyebut nama Buddha.

"Semua orang boleh mensucikan diri, Silahkan kemari"

Sesudah itu, ia menoleh kearah Bok Siu dan bertanya.

"Bagaimana dengan keadaanmu? Bersedia mensucikan diri juga ?"

Bok Siu menggeleng-gelengkan kepala berkata.

"Terima kasih, Aku harus menuntut balas atas kematian suhu."

Giliran Suma Siu Khim yang haruS dibujuk Pan-su Loonie, memandang kearah Lauwcu rumah penjara itu dan berkata.

"Ilmu silat Lauwcu tiada tandingan, tapi bukan berarti tiada kesusahan, ada lebih baik mensucikan diri dan-...."

Dengan geram Suma Siu Khim berkata.

"Jangan kau mencoba kau untuk membujuk wanita, Seorang yang sudah mendapat julukan iblis betina yang seperti aku. Wanita penuh dosa yang tak mungkin naik sorga."

Dengan tenang Pan-su Lonnie berkata.

"Jangan Lauwcu berkata seperti itu, Lauwcu bukanlah iblis betina. Lauwcu bukanlah wanita penuh dosa yang tiada bisa masuk sorga, setiap orang yang sudah bertobat bisa saja kami terima, setiap orang bcerhak untuk mensucikan dirinya."

Suma Siu Kim berkata.

"Mengapa aku bukan menjadi iblis betina? Mengapa tidak menjadi wanita yang penuh dosa? Banyak orang kukurung didalam rumah penjara sehingga mereka berpisah dengan anak dan istri. Sesudah itu, aku menganiaya putra sendiri.... kukatakan kepadamu, aku adalah wanita terjahat didalam dunia."

"Dengan adanya kata-kata yang seperti ini sudah membuktikan bahwa hati Lauwcu masih cukup Suci. Mengapa tidak bisa bersama-sama...."

"Pergilah sendiri"

Berkata Suma siu Khim.

"Aku tidak bisa bertobat Lebih-lebih dari pada yang dahulu, kalau dahulu, aku hanya mengurung orang dan tidak menyiksa, mulai saat ini orang yang menentang diriku akan dibunuh...kubunuh.....kuhancurkan .... kubunuh dan kuhancurkan ....."

Pan-su Lonnie menghela napas dan berkata.

"Pantas saja dia tidak mau menemuimu. Ternyata kau sudah kehilangan sifat-sifat seorang wanita .,.,."

Dengan dingin Suma Siu Khim berkata "Apa kau masih mempunyai sifat-sifat wanita?"

Pan Su Lonnie berkata "Yang penting aku tidak mencerai-beraikan dan tidak mengganggu kesenangan orang."

"Tidak mengganggu kesenangan orang? Ha-ha...."

Suma Siu Khim tertawa.

"Kau sudah membuat seseorang sudah menjadi gila,...Nah, Lihat Siapa yang datang itu ?"

Mengikuti jari yang ditunjuk.

Pan Su Lonnie menolehkan kepala, jauh disana terdapat bintik hitam, sebentar kemudian mendatangi kearah mereka, pakaiannya compang camping, itulah Si kakek gelandangan Kiat Hian.

Seketika itu pula wajah Pan-su Lonnie berubah menjadi pucat pais, segera dia mengumpulkan orang-orang berbaju putihnya, dan berkata kepada mereka.

"Lekas membubarkan diri Sebelum matahari terbenam kita berkumpul ditempat yang sudah ditentukan."

Sesudah berkata seperti itu, menarik Yo In-Jie meloncat kearah selatan, Gerakannya cepat sekali.

Didalam sekejap mata, orang-orang berseragam putih berpencaran lari serabutan, mereka menghilang secara terpisah.

Disaat ini, sikakek gelandangan sudah terbang datang, menghampiri Suma Siu Khim.

seperti lagunya seorang anak kecil yang nakal, seorang anak kecil yang bhndak memamerkan suatu hasil karyanya, dia terteleng-teleng didepan suma Siu Khim, sebentar menggeleng-gelengkan kepala kekanan, sebentar kekiri, matanya dikerlip-kerlipkan membuat suatu sikap yang agak lucu.

Suma Siu Khim tidak menggubris adanya lagu tengik Kiat Hian itu, seolah-olah tidak ada orang, tidak dianggap Ssma sekali.

sikakek gelandangan Kiat Hian memperhatikan Suma siu Khim, mata Suma Siu Khim masih bendul merah.

Sebentar dia loncat kesamping, mempermainkannya dari belakang.

Mendongak keatas dan ditundukkan kebawah.

Ditatapnya terus wajah wanita kuat itu.

suma Siu Khim jadi naik darah, dia membentak .

"Apa yang dilihat? Jangan kira aku sudah tak bisa bergebrak. Hari ini betul-betul aku menderita luka, Tapi tiga hari kemudian aku masih kuat untuk menangkap dirimu, dibekuk dan dimasukan kedalam rumuh penjara Tay-pasan. tahu"

Kiat Hian melebarkan mulutnya.

tertawa.

haha-hihi, loncat-loncatan didepan Suma Siu Khim seolah-olah Kiat Hian hendak memberitahu hasil kerjanya yang paling memuaskan-Suma Siu Khim semakin sengit,ia membentak.

"Hai apa kau sudah tidak mau bertemu dengan Kongsun Bwee Kun"

"Kong sun Bwee Kun?"

Wajah Kiat Hian berubah. dia terjengkit dan loncat.

"Ya Dimana dia berada ?"

Suma Siu Khim menudingkan jarinya arah selatan, dan dia berkata.

"Baru saja dia disini, melihat kedatanganmu, dia lari kearah itu. Kalau kau mau menemuinya. lekas kejar"

"Kau tidak bohong?"

Kiat Hian mendelikkan matanya, kurang percaya dan tidak yakin.

"Mengapa harus bohong?"

Berkata Suma Siu Khim.

"Baru saja dia berkata kepadaku. Kalau kau berhasil menyandaknya dia bersedia kawin denganmu,"

Sikakek gelandangan Kiat Hian mengeluarkan suara lengkingan panjang, meluncur kearah selatan-Bagaikan anak panah terlepas dari busurnya, kecepatan itu tiada bisa dilukiskan-Maka, bubarlah sudah keramaian ditepi telaga Tay-pektie, rombongan golongan Kalong sudah pulang, rombongan Hamid tidak bisa memenangkan pertandingan, diapun pergi, rombongan orang-orang berbaju putih dari Lembah Patah Hati membubarkan diri, Pan-su Lonnie melarikan diri.

Kiat Hian mengejar kearah tempat yang ditunjuk oleh Suma Siu Khim, ia mengejar kekasih semasa mudanya.

Ditempat itu, keadaan sudah menjadi sunyi dan sepi kembali.

Rombongan golongan Kalong sudah pergi.

Rombongan Tay-wan-kok juga turut pergi Rombongan Lembah Patah Hati sudah membubarkan diri.

Kiat Hian yang muncul belakangan juga lenyap kembali, Di tepian telaga Tay-pek-tie hanya tertinggal Sum Siu Khim berhasil mengelakan gangguan Kiat Hian, dia tertawa terbahak-bahak tibi tiba ..."oahk"..dia memuntahkan darah, tubuhnya bergoyang-goyang dan hampir jatuh.

cepat-cepat Bok Siu memayang tubuh Suma Siu Khim bertanya.

"Bibi, lukamu parah?"

Suma Siu Khim menggelengkan kepala berkata."Aku muntah darah bukan karena luka tadi kekesalan hatiku ..."

"Istirahatlah sebentar."

Berkata Bok Siu.

"Biar aku yang menyelam kedasar telaga mencari Kim Hong kongcu."

"Tidak."

Berkata Suma Siu Khim.

"Aku hendak mencari sendiri."

Bok Siu menolah kearah kepergiannya Yo in-jie, ia berkata dingin.

"Tidak kusangka, ia begitu enak angkat kaki berangkat."

Suma Siu Khim menghela napas dan berkata "Jangan kau menyalahkannya, Kim Hong terlalu lama didasar telaga, tidak mungkin mempunyai kesempatan lagi.

Hati In-jie aku tahu jelas, dia meninggalkan kita karena tidak ada harapan."

"Apa betul-betul dia bisa menjadi orang suci?"

Bertanya Bok Siu.

"Mungkin saja."

UcapSuma Siu Khim.

"Seorang wanita mengalami penderitaan semacam ini, hanya ada dua jalan yang terbentang didepannya, jalan kesatu jalan mensucikan diri menjadi biarawati, jalan lain adalah seperti jalan yang kutempuh, mengacak-acak dunia..."

Bok Siu mengucurkan air mata, tak bicara.

Bok Siu bersedih dan menghela napas panjang, dia juga termasuk salah seorang gadis yang kena jaring asmara Kim Hong.

Apa guna?

Apa guna melekatkan diri kedalam asmara Kim Hong.

Apa guna?

Apa guna melekatkan diri kedalam asmara yang berbelit-belit.

Mengingat Kim Hong masih ada Yo In-Jie, masih ada Leng Bie Sian?

oh...

Bok Siu bersedih atas nasibnya.

Membarengi helaan napas panjang Bok Siu, Suma Siu Khim juga menghela napas, menghembuskan kekesalan hatinya, tiba-tiba ia berkerut alis dan berkata.

"Eh, ada sesuatu yang kita lupakan."

"Buh. .."

Bok Siu memandang kearah Lauwcu rimba persilatan dari gunung Tay-pa-san itu. Suma Siu Khim berkata.

"Kim Hong tenggelam dan tidak timbul kembali. dimisalkan bertemu dengan ikan besar atau binatang yang galak. dimisalkan Kim Hong terluka, tentunya timbul percikan darah. tapi telaga Tay-pek-tie masih tetap jernih. Tidak ada cedera-cedera merah. Mengapa begitu jernih dan tetap bersih?"

Bok Siu berpikir sebentar dan berkata.

"Mungkin dibelit oleh rumput-rumput telaga?"

Sepasang mata Suma Siu Khim bercahaya.

"Betul"

La membenarkan dugaan itu.

"Tolong kau jaga, aku mau masuk memeriksa."

Sesudah itu betul-betul Suma Siu Khim menerjunkan diri masuk ketelaga Tay-pek-tie, menyelidiki kemisterius kehilangan puteranya .

Air telaga berombak sebentar, bergenang, kemudian tenang kembali.

Dengan tenang Bok Siu menantikan ditepian telaga Taypek-tie.

Kadang-kadang celingukan kekanan dan kekiri takut kalau golongan Kalong itu balik kembali, inilah yang dikuatirkan.

Tidak lama kemudian, keragu-raguan Bok Siu itu menjadi kenyataan, hatinya berdebar-debar keras.

Satu bayangan bintik hitam meluncur dengan cepatnya menuju ketempat dia berada, Memperhatikan betul-betul kearah bayangan tersebut, didepan Bok Siu sudah berdiri seorang pengemis berambut kusut, bermata besar, bermulut lebar, orangnya mengenakan pakaian compang-camping yang sangat kotor tubuhnya juga cukup rumit.

Bok Siu mengeluarkan pedang melintangkan didepan dadanya sambil membentak.

"Hei, apa maksud kedatanganmu?"

Melihat cara-cara Bok Siu yang bermusuhan, pengemis yang baru datang itu mundur tiga langkah. Matanya terbelalak dan berkata keras.

"Eh. nona dari mana yang begini galak? "Kalau tidak mau digalaki lekas menyingkir dari tempat ini."

Bentak Bok siu. Pengemis itu memonyongkan mulutnya lebar-lebar dia terawa menyeringai dan berkata.

"daerah telaga Tay-pek-tie ini sudah menjadi hak warisanmu?"

Mendapat tegoran yang seperti itu, Bok Siu bingung juga . Tapi secepat itu pula ia membentak.

"Walaupun bukan hak milikku. tapi aku berhak untuk mengusirmu pergi dari tempat ini."

"Ha ha ...."

Berkata pengemis itu.

"Aku can Sa Jie berkelana dirimba persilatan belum pernah menemukan seorang gadis galak yang seperti ini."

Orang yang datang, adalah sipengemis kecil, can Sa Jie. Nama itu tidak asing bagi Bok Siu, sikapnya yang bermusuhan agak mereda. ia bertanya.

"oo.. Kau yang bernama canSa-jie? Murid ketua perkumpulan pengemis ?"

Dengan bangga can Sa Jie menganggukkan kepala dan berkata.

"Ya Kau tidak kenal kepadaku. tapi aku bisa menduga asal usul dirimu, kau adalah seorang jago baru yang baru terjun saja kedalam rimba persilatan-Tidak mempunyai pengalaman-pengalaman terang ."

Bok Siu menyimpan pedangnya, dimasukan kedalam kerangka, tertawa kecil dan berkata.

"Jangan sombong Kita belum pernah bertemu muka, tapi masing-masing sudah mengetahui dan mengagumi nama masing-masing, ilmu kepandaianmu belum tentu berada diatasku."

"Apa betul?"

Berkata can Sa Jie.

"coba sebutkan namamu. Kalau betul namamu lebih harum dan berada diatas kedudukanku, aku can Sa Jie memberi tiga anggukan kepala sebagai tanda penghormatan."

"IHei, apa kau belum pernah dengar disebutnya nama seorang jago baru yang bernama Phiauw-peng Kiam-kek Bok Siu?"

"Phiauw-peng Kiam-khek Bok Siu? Aha?"

Can Sa Jie tertawa.

"Phiauw-peng Kiam-khek Bok Siu adalah jago ternama baru, ilmu pedangnya memang luar biasa, memang dia lebih hebat dari namaku. Tapi Phiauw-peng Kiam-khek Bok Siu tidak mempunyai sangkut paut denganmu, lebih baik nona jangan menggunakan nama orang menakutnakuti can Sa Jie."

Bok Siu tertawa berkikikan, dia berkata.

"Bagus Kau sudah mengakui keunggulan Phiauw-peng Kiam-khek Bok Siu?"

"Tidak bisa disangkal, ilmu kepandaian Bok Siu mungkin lebih tinggi dari pad aku tapi kau bukan Phiauw-peng Khiam-khek Bok Siu. Mengapa harus menggunakan namanya?"

"Terima kasih, nonamu inilah yang bernama phiauwpeng Kiam-khek Bok Siu."

Can Sa Jie berlompat, ia berteriak.

"Bohong Phiauw-peng Kiam-khek Bok sia adalah seorang pria, sedangkan kau wanita."

Dengan wajah merah Bok Siu berkata.

"Apakah tidak pernah mendengar ada seorang wanita yang mengenakan pakaian pria?"

"Maksudmu,"

Berkata can Sa Jie.

"Phiauw-peng Kiamkhek Bok Siu itu adalah jelmaanmu?"

"sangat tepat,"

Berkata Bok Siu menganggukan kepala.

"Aku tidak percaya,"

Berkata can Sa Jie menggelenggelengkan kepala.

"Aku tidak bisa masuk kedalam perangkapmu."

"Bagaimana kau bisa perCaya kalau aku ini betul-betul Phiauw-peng Kiam-khek Bok Siu?"

Berkata sigadis. can Sa Jie mengkerut-kerutkan jidatnya, ia bingUng juga .

"bagaimana aku bisa perCaya?"

Bok Siu menunjuk kearah permukaan air telaga Tay-pektie, ia berkata.

"Sebentar lagi Lauwcu rimba persilatan dari gunung Taypa-san bisa membuktikan keteranganku, kaupercaya kepada keterangan Lauwcu rimba persilatan, bukan?"

Bersamaan dengan ditunjukkan permukaan air telaga itu, disana muncrat beberapa percikan air, kepala Suma Siu Khim menongol diatas permukaan, dan menggayuh ketepi.

Wajah Suma Siu Khim pucat pasi, dengan berat dan payah, dia merambat kesebuah batu naik kedaratan membaringkan dirinya.

dengan napas sengal-sengal dan dada berombak, dia terbaring putus asa.

Mudah diduga Suma Siu Khim tidak berhasil menemukan jejak putranya.

Bok Siu lompat kearah penguasa rumah penjara rimba persilatan itu, mengurut-urutnya dan bertanya "Bibi, bagaimana keadaannya?"

"Nihil"

Suma Siu Khim menggelengkan kepala dengan lemah.

"Biarkanlah aku istirahat sebentar."

Can Sa Jie mendekati Bok Siu, dengan suara perlahan bertanya "Dia itukah yang menjadi Laucu Penjara rimba persilatan?"

Bok siu menganggukkan kepala, berkata.

"Bibiku ini adalah Lauwcu rumah penjara rimba persilatan digUnung Tay-pa San?"

Lagi-lagi can Sa Jie terlompat hampir dia berteriak "Lauwcu rumah penjara rimba persilatan di gunung Taypa-san-Lauwcu rumah penjara juga seorang Wanita?"

"Dia adalah ibu Cin Hong"

Berkata Bok Siu perlahan-"Kenal kepada Cin Hong?"

Can Sa jie lebih terkejut lagi, matanya direntangkan lebar-lebar dan berkata.

"Cin Hong? Mengapa tidak kenal? Kami adalah kaWan lama. Dahulu, aku ditugaskan olehnya pergi ke gunung Kun-lun, Go-bie, cong-lay, Swat-San dan Tian-peng, memberitahu kepada mereka akan datangnya penyergapan golongan Kalong, siapa sangka mereka sudah dapat berita ini. membuat aku lari ubek-ubekan seCara perCuma. Kini aku sedang mencari jejaknya, kemarin tiba di bawah gunung, disaat aku membaringkan diri istirahat di sebuah ranting pohon, banyak suara berisik datang kearahku, siapa mereka? o.. ..mereka adalah rombongan golongan Kalong ketua golongan Kalong, dan beberapa orang berambut merah. Mereka berada di bawahku dan membicarakan sesuatu yang sangat rahasia, dikatakan kalau mereka itu sedang berusaha menyerang rumah penjara Tay-pa-san-Dan rencana berikutnya mereka hendak menyerang rumah penjara di gunung Bu-san, diceritakan bagaimana kejadian ditelaga Tay-pek-tie, seolah-olah ada yang terluka. Wah Tidak bisa main-main, nah, maka begitu mereka berangkat pergi, aku menuju kemari, hendak mengecek kebenarannya. Apa kau tahu, dimana Cin Hong berada?"

Mata Bok Siu menjadi basah, mulutnya menjebir ke arah telaga Tay-pek-tie, ia berkata sedih.

"Dia terjun kedasar telaga, mencari kotak ajaib, dan sehengga saat ini dia belum muncul kembali. Kukira.....kukira dia sudah mati...."

"Aha Apa betul ada kejadian yang seperti ini?"

Berkata can Sa Jie teriak.

"Belum kuperiksa....."

Tanpa buka pakaian lagi, can Sa Jie lompat dan terjun ketengah telaga Tay-pek-tie, menyelam dan mencari jejak Kim Hong.

Bok Siu tidak menyangka sifat-sifat can-Sa Jie yang begitu mementingkan persahabatan, ternyata can Sa Jie mempunyai hubungan baik dengan Kim Hong.

Mendengar berita buruk dari keadaan sang kawan, ia segera terjun kedasar telaga.

Bok siu malu kepada diri sendiri, disini dia bisa membuktikan jiwa kepatriotan dari golongan pengemis, dia malu kepada diri sendiri untuk berpegang dengan nama harum.

Suma Siu Khim beristirahat sebentar, perlahan-lahan dia bangkit menuju kearah Bok Siu, dia berkata "Heran Betul-betul heran"

"Apa yang mengherankan?"

Bertanya Bok Siu.

"Bibi tidaK menemukan sesuatu?"

Suma Siu Khim menggeleng-gelengkan kepala, berkata "Sudah kujelajahi seluruh dasar telaga Tay-pek-tie, tidak ada selembar bajUpUn yang menyangkut disana."

"Mungkinkah dimakan ikan besar?"

Tanya Bok Siu. Lagi-lagi Suma Siu Khim menggelengken kepala, dia menjawab.

"Tidak mungkin. Di dalam telaga ini tak ada ikan yang besar. Batu cadas banyak, tapi tak ada yang mencurigakan-"Bagaimana hal ini bisa terjadi?"

Berkata Bok Siu heran.

"Ya"

Berkata Suma Siu Khim.

"Bagaimana hal ini bisa terjadi kecuali hanya satu jawaban, kecuali Tuhan Yang Maha Esa sudah merebut jiwa Kim Hong. Kecuali ini, tidak ada lain kemungkinan-"

"Aku tidak percaya."Berkata Bok Siu. .Bagaimana kalau Yang Maha Esa menjatuhkan hukuman ini kepada Kim Hong?"

"Inilah yang kubingungkan-Tuhan Yang Maha Esa mengapa harus menghukum Kim Hong? Semua kesalahan adalah hasil Karya kedua tanganku, tidak boleh dia menghukum Kim Hong. Apapun yang terjadi biar kupikul tanggung iawab sendiri. Tidak ada hubungan dengan Kim Hong, mengapa Tuhan Yang Maha Esa menjatuhkan hukuman kepada anakku? Huh Tuhan tidak adil Mulai saat ini, aku akan melakukan pembunuhan yang besar-besaran, aku akan mengadakan banjir darah yang lebih hebat, hendak kulihat Hukuman apa pula yang bisa dilakukan atas diriku?"

Bok siu bungkam dalam seribu bahasa.

Disinilah letak perbedaan Bok siu dan Yo In-jie, kalau Yo In-jie itu nakal dan sering membantah, Bok siu lebih jinak dan lebih mudah dikuasai.

Suma Siu Khim bangun berdiri, dia mengajak Bok siu dan berkata "Mari Kita pulang kerumah penjara, Biar bibimu memberi pelajaran ilmu silat, sesudah itu kita hancurkan semua anggota golongan Kalong.

Sesudah itu, ah ....kukira telaga Tay-pek-tie ini adalah tempat bersemayam untuk selama-lamanya ."

Bok Siu berkata.

"Bibi, biar kita tunggu dia lagi sebentar. Dia baru menyelam kedasar telaga."

"Dia bisa apa? Sedangkan akupun tidak ada hasilnya."

Disaat ini, air telaga bergolak. kepala can Sa Jie nongol keluar, dia berenang ketepi dan lompat naik. Bok Siu lari menghampirinya dan bertanya.

"Saudara can Sa Jie, bagaimana keadaannya Ada penemuan?"

Can Sa Jie menggelengkan kepala, dengan sedih berkata.

"Habislah sudah...."

Bok Siu menyusut air matanya, dia bertanya kepada can Sa Jie.

"Hei, kau adalah salah satu temannya, mengapa kau tidak menangis?"

Can Sa Jie mendongakkan kepala, memandang Bok siu dan berkata.

"Aku can Sa Jie pernah berjanji kepada diri sendiri, seumur hidupku tidak akan menangis."

Suma Siu Khim mengeluarkan kotak ajaib yang sudah kosong beserta dengan dua belas kunci-kunci emasnya, dilempar ketelaga Tay-pek-tie, menggapaikan tangan kearah Bok Siu dan berkata "Mari Tidak perlu dicari lagi?"

Can Sa Jie memberi hormat kepada Suma Siu Khim, ia berkata "Liuweu boanpwe ada satu pengharapan."

"Urusan apa?"

Bertanya Suma Siu Khim.

"Sudan lama boanpwe tak bertemu dengan suhu boaopwee....."

"Aku tahu."

Suma Siu Khim menganggukkan kepala.

"Kau ingin menemuinya?"

Can Sa Jie menganggukkan kepala berkata.

"sebelumnya, boanpwee mengucapkan banyak terima kasih."

"Itulah"

Berkata Suma siu Khim.

"Kau bebas bertemu dengannya. Didalam krisis dan kehancuran rumah penjara rimba persilatan, semua tidak kupikirkan lagi."

Bertiga meninggalkan telaga Tay-pek tie, menuju kearah gunung Tay-pa-san.

Ditenguh jalan, Bok Siu menceritakan dengan lebih jelas, dan mulai saat itulah can Sa Jie mengetahui duduknya perkara.

Disaat waktu sudah menjadi gelap.

mereka tiba disuatu dusun kecil, saat ini luka Suma Siu Khim tidak tertahan lagi.

Luka penderitaan bathin dan luka bekas pukulan Mobilson-Hamid sudah membuktikan keunggulannya.

Setelah Suma siu Khim melakukan perjalanan satu hari penuh yang terus menerus, ia tidak bisa bertahan lagi.

Memuntahkan beberapa gumpal darah, jatuh ditepi jalan-Beruntung Bok Siu membawa obat-obatan, dihadiahkannya beberapa butir obat kuat sehingga banyak membantu usahanya Suma siu Khim, Mereka tidak meneruskan perjalanannya itu, mencari sebuah rumah penginapan untuk bermalam.

Bok siu adalah seorang gadis yang penuh open dan telaten, dengan penuh prihatin, ia merawat kesehatan Suma Siu Khim.

biasanya dia berkelana dengan memegang pedang, ia mengenakan pakaian pria, belum pernah melakukan sesuatu yang sangat kecil itu.

Hanya beberapa waktu, Bok siu sudah memecahkan beberapa cangkir dan menumpahkan air keduanya sangat canggung sekali.

Atas ketidak becusan Bok siu melayaninya Suma Siu Khim tidak bisa jadi marah, malah ia terharu atas kesediaan Bok Siu, teringat bagaimana dia telah menolak rara Cinta Suhu Bok siu.

dia semakin terharu.

"Bok Siu,"

Dia memanggil pelahan.

"Aku mempunyai satu permintaan, entah bagaimana usulmu "

"Perintah sajalah,"

Berkata Bok siu.

"Kau bersedia?"

Bertanya Suma Siu Khim.

"Segala sesuatu akan kulakukan-"

Jawab Bok siu.

"Baik, Aku memberi perintah agar kau segera istirahat."

Bok siu tertegun, Sangkanya permintaan apa, tidak tahu hanya kata-kata yang seperti itu. dia berkata.

"Bibi, keadaan badanmu belum baik betul."

"Eh, kau tidak mendengar perintah?"

Suma siu Khim jadi kewalahan-"Baiklah."

Bok siu menghela napas.

"Aku menggunakan kamar disebelah, kalau bibi membutuhkan sesuatu, panggil sajalah."

Betul-betul Bok Siu meninggalkan kamar Suma Siu Khim.

masuk kedalam kamarnya.

Malam berlarut.......

Disaat kentongan sudah dipukul tiga kali, keadaan sudah semakin sepi.

Suma siu Khim duduk bersila, mengatur peredaran jalan darahnya.

Ia membenarkan letak-letak tempat jalan darah yang sudan tergetar.

Tiba-tiba telinga Suma siu Khim yang tajam bisa menangkap sesuatu, hatinya tergerak, memasang kuping lebih tajam.

Suara itu sirap untuk beberapa saat, dan tiba-tiba terdengar lagi suara bletak......

Suara itu keluar dari kamar sebelah, itulah kamar Bok siu.

Suma siu Khim memanjangkan kuping, tidak terdengar suara lain-Maka timbul kecurigaannya, dia mengetok papan dan bertanya.

"Bok Siu, apa kau sudah tidur?"

Sangat sepi, tak terdengar jawaban Bok siu.

Ini lebih mencurigakan suma Siu Khim, sebagai seorang jago silat, seharusnya Bok siu bisa melatih diri.

Walau dalam keadaan tidur pulaspun, mendapat tegoran itu seharusnya dia bangun.

Tapi tak ada jaWaban-Mungkinkah sudah terjadi sesuatu,?

Suma Siu Khim meninggalkan pembaringannya, lompat dan menuju kekamar Bok Siu.

Mengetok beberapa kali, masih tidak terdengar jaWaban, dia menggebrak pintu dan menerjang masuk.

"Bias .....". Diatas pembaringan sudah tiada orang, kain sprei agak kusut, disana sudah kehilangan jejak Phiauw-peng Kiamkhek Bok Siu "Huh"

Suma Siu Khim mengeluarkan suara dari hidung seperti apa yang sudah diduga, betul-betul terjadi sesuatu.

Apa yang sudah terjadi?

Suma Siu Khim mempunyai pengalaman yang luas, daya pikirannya cepat dan tubuhnya melejit, mendorong jendela dan melesat keluar.

Secepat itu pula, mata Suma Siu Khim yang lihay bisa menangkap sesuatu, lantas mengurangi gerakannya dia menunjukkan tangan, pada dinding jendela tampak secarik kertas begitu tubuhnya melesat keluar, tangannya sudah meraih kertas tersebut dan diseretnya keluar pula.

Dia berada diluar pekarangan, membaca tulisan yang ditarik tadi yang berbunyi.

"Kalau ingin menemukan keponakan muridmu, lekas pergi kerumah penjara yang baru digunung Bu-san."

Aaaah Tindak tanduk rumah penjara Bu-san semakin misterius, semakin berani, lagi-lagi menculik wanita.

Kalau wanita biasa, mungkin tidak menjadi soal, yang penting yang diculik itu adalah keponakan murid Suma Siu Khim, penguasa rumah penjara rimba persilatan digunung Tay-pa-san yang gagah perkasa, iblis betina yang tidak pernah menemukan tandingan-Kemarahan Suma siu Khim meluap-luap.

dia lompat keatas genteng, memeriksa sekelilingnya, sunyi senyap.

tiada bayangan dan tiada sesuatu yang mencurigakan.

Dia sedang memikir-mikir, kemana larinya arah penculikan itu?

Hah Gunung Bu-san terletak didaerah tenggara, pasti mereka menuju kearah itu.

Disaat Suma siu Khim hendak meluncurkan kakinya menuju kearah tenggara, tampak suatu bayangan lompat keluar dari salah satu kamar rumah penginapan, itulah bayangan can Sa Jie, can Sa Jie mendatangi Suma siu Khim, dia bertanya.

"Lauwcu, apa yang terjadi?"

Dengan uring-uringan Suma siu Kim berkata.

"Bok Siu diculik oleh orang-orang dari gunung Bu-san-"

"Aaaa"

Can Sa Jie berteriak.

"Bagaimana baiknya?"

Suma Siu Khim tidak perlu menjawab pertanyaan can Sa Jie, kakinya melejit diarahkan tenggara.

Ia meluncur dengan keCepatan tiada tara, menuju kearah gunung dan mengejar orang yang berani menculik Bok Siu itu."

Can Sa Jie mengintil dibelakangnya, tentu saja dengan memforsir semua kekuatan yang ada.

Di dalam sekejap mata lima puluh lie telah dilewatkan-Jaraknya dengan Suma Siu Khim aemakin lama semakin jauh, akhirnya kehilangan bayangan iblis betina itu, Di saat ini, Waktu sudah menjadi pagi, can Sa Jie tak bisa mengikuti keCepatan Suma siu Khim.

Dia duduk istirahat, untuk mencari sesuatu dengan lebih teliti.

Suma siu Khim tidak menemukan jejak dari orang-orang yang menculik Bok siu, begitu juga keadaan canSa Jie tidak berhasil menemukan orang-orang yang sudah menculik Piauw-peng Kiam-khek Bok Siu.

Mereka sudah berada di tempat yang tidak jauh dari gunung Tay-pa-san-Di saat can Sa Jie Celingukkan kekanan dan kekiri, tibatiba tiga bayangan meluncur datang.

keCepatannya luar biasa, seolah-olah bintang yang jatuh dari langit, mereka datang dari arah timur.

Itulah jago-jago silat tiada tandingancan Sa Jie bersiap siaga kedatangan musuh, dia menyembunyikan diri di balik pohon, pikirannya bergumam "Jago silat dari mana yang datang?"

Can Sa Jie sedang memikir-mikir, jago dari mana pula yang memiliki kepandaian hebat seperti ketiga bayangan ini?

Mengingat semua jago rimba persilatan sudah dijebloskan kedalam kamar tahanan rumah penjara Tay-pa San dan rumah penjara Bu San, mana mungkin ada jago yang begitu hebat pula?

sepintas lalu, gerakkan ketiga bayangan itu tidak kalah dari gerakan Sang Suhu Sam-kie-hui-sian-to tiga tokoh ajaib itu.

Sebentar kemudian, ketiga bayangan sudah berada di depan can Sa Jie.

Mereka terdiri dari dua kakek dan seorang nenek, wajah itu tidak asing bagi can Sa Jie.

Karena wajah itu adalah wajah It-hu Sianseng To Lok Thian, wajah can Sa Sian Sie Koan dan wajah Thian-san Soat Po-po Sie siong In-Mereka adalah tiga tokoh ajaib yang terkurung dalam kamar tahanan rumah penjara Tay-pa-sancan Sa Jie berteriak girang, keluar dari tempat persembunyiannya, memberi hormat kepada sang suhu dan barkata "Suhu, bagaimana kau bisa bebas dari kamar tahanan Tay-pa San?"

It-hu Sianseng, Thian San Soat Po-po dan can Sa Sian juga terkejut atas hadirnya si pengemis kecil di tempat itu.

Terlebih-lebih can Sa sian, rasa girangnya tidak kepalang, diangkatnya pundak sang murid digoyang-goyangkannya dan berkata.

"Ha-ha-ha-haa.... bagaimana kau bisa berada di tempat ini?"

Dikocok pulang pergi seperti itu, kepala can Sa Jie pusing tujuh keliling, keadaan murid dan guru can Sa Jie dan can Sa sian memang agak luar biasa, agak kekonyolkonyolan-Tentu saja ia menjadi kebingungan.

It-hu Sianseng tertawa dan berkata.

"Saudara can Sa Sian, lepas dahulu peganganmu itu. Biar muridmu bisa beri jawaban-"

Can-sa sian terCengang, dilepaskannya pegangan yang menggoyangkan tubuh melewekan mulut dan bertanya.

"Ya can Sa Jie, bagaimana kau bisa berada disini? Sesudah perpisahan kita, apa saja yang kau lakukan?"

Baru sekarang can Sa-jie mempunyai kesempatan bernapas, pertama-tama ia memberi hormat kepada It-hu Sianseng dan Thian San Soat Po-po.

Sesudah itu baru ia menghadapi gurunya, dengan tertawa cekakak-cakikik berkata "Suhu, adanya teeCu berada ditempat ini tidak begitu mengherankan-Apa saja yang teeCu lakukan, juga kurang penting, yang heran bagaimana Suhunya sekalian bertiga bisa melarikan diri dari rumah penjara Tay-pa-san?"

Mendapat pertanyaan itu, can Sa Sian agak marah, karena itu membentak pada sang murid.

"Kau kira gurumu ini mau melarikan diri?"

Dengan tertawa can Sa-jie bertanya.

"Apa suhu bertiga berhasil memenangkan sayembara?"

Dengan wajah geram can Sa sian berkata. Betul-betul can Sa Jie terkejut. dia hanya hendak mencemoohkan guru itu dan menggoda, atau mengilik ngilik, ternyata betul-betul terjadi.

"Bila tahu memenangkan sayembara?"

Ia bertanya. cansa sian berkata.

"Baru saja kemarin sore, kita Sam-kie-hui-sian-po tiga orang yang mendapat panggilan tiga tokoh ajaib dari rimba persilatan berhasil memenangkan sayembara itu, masingmasing bisa menerima sepuluh jurus penyerangan penguasa rumah penjara rimba persilatan-Dengan gagah dan gilang gemilang, kita keluar dari rumah penjara Tay-pa San-"

Can Sa Jie menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, memiringkan tubuh memandang sang Suhu dengan penuh kecurigaan, bertanya.

"Suhu kalau mau membuaL membualah dihadapan lain orang. Mengapa membual dihadapan murid sendiri? Kebohonganmu itu segera bisa terbuka. Lebih baik terus terang saja berkata, baru saja Suhu melarikan diri dari rumah penjara. Lebih enak bukan?"

Dengan marah can Sa-sian membentak.

"Kurang ajar Siapa yang membual, siapa yang mau melakukan kebohongan? Siapa yang mengatakan, kalau aku can-sa-sian melarikan diri dari rumah penjara Tay-pa San? "

Can Sa Jie melompat, ia berteriak kaget.

"Suhu menempur penguasa rumah penjara digunung Tay-pa-San?"

"Tentu saja."

Berkata can sa sian "Kami bertiga memenangkan sayembara itu juga berhasil menerima sepuluh jurus pukulannya, maka bebas keluar meninggalkan rumah penjara,"

"Bila hal itu terjadi?"

Bertanya can Sa Jie.

"Dengar baik-baik. inilah keterangan yang kedua kali.

"Kemarin sore."

Berkata can-sa-sian.

"Kemarin sore kita telah memenangkan Sayembara Tay-pa San-"

Betul-betul can Sa Jie menjadi bingung. ia bertanya "Kemarin sore? Kemarin sore Lauwcu rumah penjara Tay-pa-san mana bisa berada ditempatnya? "

Dengan menekuk mukanya mesem-mesem, can-sa-sian membentak.

"Siapa yang bilang tidak ada, kemarin pagi dia pulang kerumah penjara, sesudah itu mendatangi kamar naga. menyemoohkan dan menghina kita, dikatakan, apa guna tiga manusia ajaib Sam-kie-cui sian-po? Nyalinya kecil seperti tikus, dikasih kesempatan menantang sayembara sampai tiga kali, satu kalipun tidak berani menantang.... Karena itu aku marah. Segera aku kirim tantangan perang. Betul saja Rejekiku sangat baik, Aku bisa menerima serangannya sampai cukup sepuluh jurus. Kalau diingatingat kembali, pertempuranku itu adalah pertempuran yang terbesar. Prestasi yang terhebat. Itulah pertempuran yang mengandung sejarah. Kemenangan yang paling gemilang."

Can Sa Jie masih ragu-ragu, menoleh kearah It-hu Sianseng dan bertanya.

"It-hu Cianpwee, apa betul-betul ada kejadian yang seperti ini ?"

It-hu Sianseng menganggukkan kepala, dengan tertawa berkata.

"Tentu saja betul. Mana ada kata-kata yang main-main, eh, can sa-jie, mengapa tidak perCaya kepada keterangan guru sendiri?"

Can-Sa jie lagi-lagi dipaksa menggaruk kepalanya sendiri, berkata.

"Dua jam yang lalu. aku can Sa-jie bersama-sama dengan Lauwcu rimba persilatan digunung Tay-pek san. Dari kemarin hingga hari ini. Belum pernah berpisah dengannya."

Thian San Soat Po-po segera mengeluarkan suara bentakan.

"Bocah kurang ajar. Bohong. Betapapun hebatnya ilmu kepandaian Lauwcu rimba persilatan tidak mungkin bisa lari begitu cepat. Didalam satu hari, dari puncak gunung Tay-pek San-"

"Betul heran,"

Berkata can-sa-jie.

"Sebentar berada dipuncak gunung Tay-pek-san, sebentar berada di gunung Tay-pa-san-Apa mungkin ada dua Lauwcu rumah penjara rimba persilatan Tay-pa San?"

Can Sa-sian mendelikkan matanya, membentak sang murid.

"Bagaimana kau tahu, kalau orang yang mendampingmu itu adalah Lauwcu rimba persilatan Tay-pa San?"

Can Sa Jie menceritakan kejadian kemarin, diceritakan juga bagaimana Kim Hong terjun kedalam telaga Tay pek tie dan lenyap It-hu Sianseng, Thian San Soat Po-po dan can Sa Sian terjengkit kaget, mereka saling pandang, dan disaat mendengar Cerita Yo in-jie yang mengikuti Pan-su Lonnie, bersedia mencukur rambut, siap menerima anugrah biarawati.

Thian san Soat Po-po keluarkan lengkingan-"Bohong......,Bohong.........Budak itu betul-betul sedang main gila......Satu hari tidak makan ikan saja, cukup membuatnya kelojoran, bagaimana dia bisa jadi orang suci?"

It-hu Sianseng tertawa berkakakan, seperti tertawa orang gila, digoyang-goyangkannya pundak can Sa Sian dan berkata.

"Saudara can-sa sian, coba kau katakan apa betul muridku begitu pendek umur? Didalam telaga Tay-pek-tie? Ha hua ha ha ha ...."

Can Sa-sian membentak.

"Jangan Cepat menjadi gila Kalau betul-betul tidak ada jenazahnya. Mana boleh dikatakan mati. Aku sipengemis tidak perCaya."

It-hu Sianseng berkata.

"Mari kita bersama-sama ketelaga Tay-pek-tie."

"Tunggu dulu"

Berkata can sa-sian-"Kita harus kembali kerumah penjara, menyelidik kebenaran dan kemisteriusan Lauwcu rimba persilatan kalau saja orang yang menempur kita pada kemarin itu bukan Lauwcu rumah penjara Taypa-san, bagaimana akibatnya?

Didalam tanggapan pertempuranku yang kemarin itu adalah tandingan hebat, kini, setelah kupikir pulang pergi banyak sekali kecurigaankecurigaannya...."

"Ya,"

Thian-san Soat Po-po turut bicara.

"Siapa Lauwcu rimba persilatan itu?"

Thian-san Soat Po-po mengerang dan mengulang jalannya pertempuran, orang berkerudung itu memang memiliki ilmu kepandaian Lauwcu rimba persilatan, tapi tidak segesit yang dahulu, tidak sehebat Lauweo rimba persilatan yang lama, siapa orang yang memalsukannya?"

It-hu sianseng.

Thian-san Soat Po-po, dan can-sa sian tak bisa menduga-duga siapa tokoh misterius yang berani memalsukan Lauwcu rimba persilatan?

Ketiga jago tua itu berembuk.

masing-masing mengajukan pendapat, bagaimana rencana selanjutnya.

It-hu sianseng masih terkenang kepada Kim Hong, dia mengusulkan untuk ber-sama2 menuju ketelaga Tay-pek-tie mencari bangkai Sang murid, Thian San Soat Po-po lebih sayang kepada murid sendiri, dia mengusulkan mencari tempat yang bernama lembah patah Hati, mencari Yo in-jie, maksudnya untuk ditarik kembali.

can-sa-sian mempunyai usul lain, diajaknya mereka pulang kerumah penjara Tay-pa-san, menyelidiki asal usul Sitokoh misterius.

Tidak ada kesepakatan yang sama, masing-masing ngotot dengan usul sendiri, pertandingan itu menjadi tegang.

Can Sa-sian hanya bisa mengikuti jalannya pertandingan, demi perdamaian, dia memberi usul lain, katanya.

"Lebih baik kita menuju kegunung Tay-pa-San, setelah itu balik ketelaga Tay-pek tie. harus mencari tempat yang bernama lembah Patah Hati."

Dia menyatakan ketiga usul, dengan urutan yang tidak sama.

"Aku tidak setuju.""

Berkata Thian-san Soat Po-po.

"Lebih dahulu lembah Patah Hati, baru urutan yang lain-"

"Dimana lembah Patah Hati?"

Bertanya can Sa Jie.

"Kalian tahu tempat itu?"

Thian-san Soat Po-po mendelikkan mata.

Nama lembah Patah hati baru pertama kali didengar, bagaimana bisa memberi petunjuk?

Kalau dia tahu letak tempat nama itu, tanpa bilang Ba atau Bu, tanpa kompromi lagi tanpa bantuan orang keduapun, dia bisa pergi seorang diri.

can Sa Jie berkata.

"Bukan saja kita harus membongkar rahasia kemisteriusan orang yang memalsukan Lauweu rimba persilatan Tay-pa-san, kita juga harus membantu rumah penjata itu mengusir musuh yang akan menyerbu datang, Maka, Cara pertama harus kegunung Tay-pa San"

"Mengapa harus membantu rumah penjara Tay-pa-san?"

Bertanya Thian San Soat Po-po. can Sa Jie berkata.

"Penguasa rumah penjara Tay-pa-san adalah lbu Kim Hong. orang-orang golongan Kalong hendak menyerbu dan mengambil alih tempat itu, tentu saja kita tidak bisa berpeluk tangan-"

Diceritakannya jalan bertandingan yang pernah diceritakan oleh Bok Siu, bagaimana Hamid itu hendak mengambil alih rimba penjara Tay-pa-san."

It-hu Sianseng bisa diberi mengerti, ia menganggukan kepala berkata.

"Baiklah, tapi apakah tidak lebih baik kita menyelidiki kemisteriusannya kematian Kim Hong?"

Can Sa Sian berkata "Kuberi tanggung.

Kim Hong itu belum mati, coba saja pikir, kalau seseorang yang mati didasar telaga bagaimana tidak ada bekas2nya?

Bagaimana mayatnya tidak terapung?

Tentu dasar telaga itu ada jalan rahasianya entah kemana jalan rahasia itu menembus."

It-hu Sianseng memandang kearah can Sa Jie dan bertanya "Menurut Ceritamu, golongan kalong bersatu padu dengan sembilan jago dari daerah Tay-wan-kok, hendak menyerbu rumah penjara rimba persilatan?"

"Mungkin hal ini terjadi pada enam hari lagi."

Berkata canSa-sian.

"Kaena pemimpin mereka yang bernama Hamid itu sedang menderita luka."

"Aha"

It-hu sianseng berteriak girang.

"Kalau betul saja enam hari lagi, aku masih mengusulkan pendapatku, kita menuju ketelaga Tay-pek-tie dahulu mencari Kim Hong."

Usul ini hampir mendapat persetujuan, Thian-san Soat Po-po terdiam.

can-sa sian tak membuka suara.

Terlebihlebih can Sa Jie, ia juga bungkam.

Tiba-tiba....

Dari balik rimba muncul seorang berbaju putih, berperawakan keCil dan mungil, orang itu adalah salah satu anggota dari lembah Patah Hati.

"Usul yang tepat Tapi Telaga Tay-pek tie tak perlu dijelajahi lagi, Kim Kong tidak mati"

"Aha...."

It-hu Sianseng berteriak girang.

"Kau?"

Can Sa Jie berteriak lebih girang.

"Hooo......"

Can Sa sian juga terlompat.

Kita tinggalkan It-hu sianseng.

Thian-san Soat Po-po.

can sa-sian, can Sa Jie dan orang berkerudung putih dari Lembah Patah Hati itu.

-oo0dw0oo-Tiga hari kemudian-....

Waktu menjelang musim rontok.

hari sudah menjadi sore, matahari condong dibagian barat.

Seorang wanita setengah umur menampilkan dirinya dibawah kaki puncak gunung Bu-san, berdiri didepan kelenteng Sin-li-hong.

Wanita ini sangat Cantik, mengenakan ikat kepala berwarna hijau.

Inilah iblis betina yang pernah meringkus semua jago rimba persilatan, ibu dari Kim Hong yang ugal-ugalan, Suma Siu Khim yang hendak menemukan Bok siu didalam penculikkan orangorang rumah penjara Bu-san, sekalian menemukan beberapa rahasia penting, termasuk aCara siapa yang berani memalsukan dirinya melepas It-hu Sianseng bertiga?

Tidak lama dari kehadirannya Suma Siu Khim ditempat itu, seorang kakek bopengan tampil kedepan.

Inilah bagian pendaftaran Bwee Houw An, Dengan merendah diri, Bwee Houw An menyakslkan wajah Suma siu Khim, hati Bwee Houw An tercekat, wajah ini tidak asing lagi, Wajah ini adalah yang dinanti-nantikan olehnya, segera ia menyongsong menyambut kehadiran Suma siu Khim dan berkata.

"Apa lihiap juga hendak mengikuti Sayembara?"

Suma Siu Khim menganggukkan kepalanya, dengan dingin berkata "Tepat Menurut cerita orang para pengikut sayembara diwajibkan membikin pendaftaran disini, adakah kejadian yang seperti itu?"

Bwee Houw An menyilahkan Suma Siu Khim masuk. dia berkata.

"silahkan lihiap masuk."

Suma Siu Khim diberi buku pendaftaran, ia membuka buka beberapa lembar, menoleh kearah Bwee Houw An, dengan dingin berkata.

"ohJalannya perdagangan cukup ramai ya? Rumah penjara kalian hanya dibangun dalam waktu dua bulan, ternyata sudah berhasil menyekap dan mempenjarakan enam puluh lebih orang tawanan."

Dengan merendah diri, Bwee Houw An berkata "Hanya satu pernyataan diri keCintaan para jago persilatan.

Tentu saja rumah penjara kami tak bisa disamakan dengan rumah penjara digunung Tay-pa-san-......"

"Ya Keistimewaan rumah penjara kalian adalah menculik kaum. wanita dan gadis2,"

Memotong Suma siu Khim dengan nada sangat tidak puas.

Bwee Houw An berkata dengan rendah diri "Kami kira penilaian yang kurang tepat.

Menurut apa yang kami ketahui.

rumah penjara Bu-san belum pernah menganiaya seorang wanita.

Nah Silahkan lihiap membikin pendaftaran."

Suma Siu Khim masih belum mencatat namanya, memeriksa beberapa waktu menunjuk di nama Tamu Tidak Diundang dari luar daerah, dengan dingin ia berkata.

"Apa betul orang ini tidak kuat menerima satu jurus serangan Lauwcumu?"

"Tentu saja,"

Berkata Bwe Houw An-"Kedudukan Tamu Tidak Diundang dari luar daerah adalah orang tawanan nomor dua belas."

Suma Siu Khim membalik-balik lagi, menunjuk nama Oey Ceng dan bertanya "Bagaimana keadaan orang ini?"

Bwee Houw An menjawab.

"Dia adalah orang tawanan nomor lima puluh enam."

Suma Siu Khim bertanya "Apakah rumah penjara kalian tidak menentukan batasbatas Sayembara?"

Dengan tidak mengerti, Bwee Houw An bertanya "Batasbatas sayembara yang bagaimana?"

"Dimisalkan aku berhasil memenangkan Sayembara, apa boleh terus menerus mengulangi sayembara itu?"

"Tentu saja boleh."

Berkata Bwee Houw An-"Asal saja lihiap bisa memenangkan sayembara pertama. Tapi menurut sejarah kami, belum pernah ada orng yang bisa memenangkan sayembara."

"Hendak kucoba"

Berkata Suma Siu Khim.

"Jumlah orang tawanan Bu-san berjumlah enam puluh empat orang. Aku harap saja, aku bisa mengulang sayembara hingga enam puluh empat kali."

"o."

Berkata Bwee Houw An-"Adakah jago silat yang seperti itu?

Kukira tak mungkin, dimisalkan penguasa rumah penjara dari gunung Tay-pa-san datang sendiri, belum tentu dia juga bisa mengikuti sayambara sehingga enam puluh empat kali."

Suma siu Khim mulai mengambil alat tulis dan mendaftarkan dirinya.

disana dia menulis.

Nama.

Wan Nie Taa Umur.

35 tahun-Walau pendaftaran tgl, 2 bulan 8, Barang yang rela diserahkan.

Tidak ada barang yang tidak rela diserahkan.

Karena aku segera memenangkan sayembara ini"

Sesudah menulis kata-kata yang seperti itu, dibacanya lagi sekali, agaknya Suma Siu Khim menjadi puas, dia berkata.

"Pendaftaranku yang seperti ini, kuharap saja tidak mengganggu ketenangan kalian-"

Bwee Kcuw An membaca tulisan-tuliSan tadi, dengan tenang berkata.

"Tentu saja tidak. Yang penting, kalau saja tidak bisa melaksanakan janji itu sungguh memalukan,"

Suma Siu Khim berkata.

"Tidak mungkin bisa terjadi, kecuali, apa yang kalian proklamirkan kepada orang itu adalah tipu muslihat kosong"

Dugaan Suma Siu Khim yang dikatakan mungkin ini betul2 terjadi karena itulah dia terperosok.

Apa yang digembar-gemborkan Rumah Penjara Bu San adalah tipu muslihat Gatot kaca Kembar Bwee Houw An tidak banyak bicara.

diterimanya kembali buku pendaftaran, membuat suatu pose mempersilahkan maju.

ia berkata.

"Dari tempat ini menuju ketempat pertandingan tidak terlalu jauh, di tengah jalan ada panah-panah yang memberi petunjuk. diharap saja Wan Nie Taa lihiap bisa mengikuti petunjuk itu tiba di tempat pertandingan Sayembara."

Suma Siu Khim menggunakan nama samaran Wan Nie Taa Suma siu Khim menganggukkan kepala, tidak banyak bicara lagi meninggalkan Bwee Houw An.

Mengikuti petunjuk-petunjuk panah, menuju kearah tempat pertandingan, ia menuju kearah puncak Sie-lie-hong.

Sebentar saja, gerakkan Suma Siu Khim yang cepat itu sudah lenyap dari pandang Bwee Houw An-Bwee Houw An tertawa dingin, tampak senyumnya puas, dia bergumam seorang diri.

"Wan Nie Taa? Hahahaa....Wan Nie Taa Siapa yang tidak tahu, kalau kau adalah seorang wanita? Kau adalah penguasa rumah penjara gUnung Tay-pa-san, Kiramu, tidak ada orang yang kenal? oi, dalam rumah penjara kami paling sedikit ada lima puluh orang yang sudah melihat wajahmu, siapa yang tidak tahu kau ini adalah si iblis betina dari gunung Tay-pa-san-Lauwcu rumah penjara yang tidak menggunakan aturan. Ha-ha-ha... ." -oo0dw0ooLayar tergambar pada dasar telaga Tay-pek tie. Di saat Kim Hong kelojotan dibetot orang, semakin lama semakin cepat, rasa bingung dan takut kepada kejadian penunggu air menghanyutkan pikirannya, Kim Hong jatuh pingsan-Perkembangan situasi sangat cepat sekali, Layar berganti lagi Disaat Kim Hong sadar dari pingsannya, sipemuda mendapatkan dirinya berada didalam ruang batu yang lembab. lama tidak dihuni orang. Maka hawa jamur yang tidak sedap itu merangsang hidung. Diatas ruangan batu tampak butiran mutiara bergantung bercahaya terang. Menyinari isi ruangan batu itu. Kim Hong mengedip-ngedipkan matanya, bingung dia sedang mengenang kembali, kejadian apa yang menimpa dirinya? Disaat ia membuka mata, ia bertumpak dengan seorang tua yang berambut putih, orang tua itu duduk didalam bantalan hijau, wajah welaS aSih, dengan wajah orang yang seperti ini tak mungkin jago sesat. Kim Hong duduk berhadap-hadapan dengan seorang kakek tua berwajah welas asih, berambut panjang yang duduk dibantalan. Siapa? Siapa? Kakek ini? Mengapa menyeret diriku ketempat ini? Dimana pula ruangan batu yang seperti ini? Demikian benak pikiran Kim Hong ditumpak oleh pertanyaan-pertanyaan yang sangat banyak. Sebagai golongan yang lebih muda, Kim Hong memberi hormat kepada kakek itu ia bertanya.

"cianpwee, selamat bertemu"

Kakek tua berwajah welas asih tidak bergeming dari tempat duduknya, tidak berkedip dan juga tidak menjawab pertanyaan Kim Hong seolah-olah patung yang sudah mati.

Sangka Kim Hong, orang itu tidak mendengar katakatanya, lagi-lagi ia memberi hormat dan mengulang "cianpwe, selamat bertemu.

Apa kau dengar suaraku?"

Kakek tua berwajah welas asih itu tetap duduk bersila, tiada reaksi.

Kim Hong naik darah, sedang enak-enak dia mencari kotak ajaib kakinya diseret jalan darahnya ditotok.

sesudah itu, ia mendapat tempat ruangan batu itu.

Kini dihadapinya patung tanpa suara dan tanpa keterangan, tentu saja membuat ia tidak puas, suaranya diperkeras daa berkata.

"Locianpwe aku juga bisa duduk bersila mengatur peredaran jalan darah, tapi walaupun didalam keadaan itu aku masih bisa mendengar kata-kata dan suara orang... ."

Orang tua berwajah welas asih masih tak meladeni Kim Hong.

Mendapat perlakuan yang seperti itu siapa pun pasti menjadi darah tinggi, Kim Hong tidak terkecuali, begitu merasakan dirinya dipermainkan orang, tanpa banyak pikir, ia maju melangkah, tangannya terayun.

siap memukul jago silat mempermainkannya itu.

Tiba-tiba dibelakang Kim Hong terdengar suara membentak.

"Jangan bergerak Bocah tolol"

Hati Kim Hong tercekat, tanganya yang terjulur tadi ditarik kembali, kini digunakan untuk menjaga dada.

cepat laksana kancil tubuhnya berbalik menghadapi orang yang datang, siap bersitegang.

Disana berdiri seorang kakek berpakaian compang camping rambutnya kusut.

Itulah sigelandangan Kiat Hian "Aaaaa...

Kim Hong mengeluarkan suara jeritan kaget. Kim Hong menggeleng-gelengkan kepalanya, tertawa cengar cengir, menyipitkan mata dan berkata.

"sangat heran. bukan,?"

Kim Hong mengeluarkan napas lega, dan memberi hormat lalu berkara.

"Ternyata Kiat Hian cianpwe. Mengapa menggunakan permainan konyol yang seperti ini?"

"Ha-ha....."

Kiat Hian tertawa.

"Kulihat kau sedang mengorek-ngorek tanah didasar telaga, timbul kesenangan, maka aku seret kakimu sehingga ketempat ini, hihihihi hi..."

"oh"

Kim Hong mengerti, celangak-celinguk memperhatikan ruangan batu, ia bertanya "Dimanakah kita?"

"Goa rahasia yang bisa menembus kedasar telaga Taypek tie,"

Berkata sikakek gelandangan.

"Disini adalah goa ciptaan ayahku almarhum, dia yang membuatnya. Kecuali kami berdua, tiada orang ketiga yang tahu tempat ini Dimisalkan ada, juga orang yang menduga-duga hanya tafsiran, mereka tidak bisa masuk."

Kim Hong menjadi heran, menoleh dan menunjukan jari kearah kakek tua berwajah welas asih yang duduk bersila itu ia bertanya.

"Siapa pula locianpwe ini?"

"Ayahku,"jawab Kiat Hian singkat.

"Ayah cianpwe?"

Tanya Kim Hong heran.

"Ya."

"Bukankah sudah almarhum lama?"

"Ya, Dia sudah melatih diri ilmu Kim-koan-put-huai, maka dagingnya tidak bisa membusuk."

Kim Hong menganggap sikakek tua yang berwajah welas asih itu adalah seorang hidup, ternyata dia adalah jenasah sideWa persilatan Kiat Thian Bin Mengetahui kalau dia sedang berhadapan dengan tokoh silat dari generasi lama, Kim Hong berjongkok dan menyembah kearah si Dewa persilatan, Kiat Hian mendudukkan pantatnya di bangku batu, melintangkan kaki saling tumpek, sepasang matanya tersipit-sipit dia berkata.

"Hei, bagaimana kau rasakan dengan semangatmu? Adakah sesuatu yang aneh?"

"Sesuatu yang aneh?"

Kim Hong tertegun.

Dia menyedot beberapa kali, terasa hawanya yang penuh padat, bersembur-sembur tiada henti, tenaga dalamnya seperti berlipat ganda, berlipat-lipat tiga kali dari apa yang ia ketahui.

Hatinya girang luar biasa, ia memandang kearah sikakek gelandangan dan bertanya.

"Eh, apa yang menyebabkan kejadian seperti ini? Tenaga dalamku seperti bertambah beberapa kali?"

"Tidak salah."

Berkata sikakek gelandangan-

"Itulah hasil dari kerja obat Tiang Seng-pu-lo-tan."

"Aaaa .., ."

Kim Hong terkejut.

"Aku sudah kau beri makan obat Tiang-seng-pu-lo-tan? "

"Lagi-lagi dugaanmu tepat,"

Berkata Kiat Hian tertawa.

"Disaat kau tiada sadarkan diri, kujejal sebutir obat Tiangseng-pu-lo-tan-"

Hati Kim Hong menjadi murung, masih terbenam didalam pikirannya, dua belas butir obat Tiang-seng-pu-lotan itu adalah hak milik dua belas partai besar, kini dia telah makan satu butir diantaranya, boleh saja dianggap hak untuk oey-san-pay.

Tetapi, sang ibu membutuhkan obat Tiang-seng-pu-lotan.

Hak milik siapa pula yang harus diserahkan kepada ibunda?

Inilah yang membuat Kim Hong uring2an, dia membanting-banting kaki dan berteriak-teriak.

"Wah Dengan aturan apa kau mengambil hak milik dua belas partai besar?"

Si kakek gelandangan membuat posisi yang lucu, ia berkata "Kau adalah anak Suma Siu Khim, kan?"

Kim Hong menganggukkan kepala. Kakek gelandangan Kiat Hian berkata.

"Suma Siu Khim adalah putri dari ketua partai oey-sanpay yang lama Suma Cin. Saat itu, ia telah menyerahkan kunci emas pada ibumu, suatu tanda bahwa dialah yang menjadi ahli waris hak milik oey-san-pay, ibumu itu sudah cukup tua. kau masih muda, apa bedanya itu dikasih ibumu, atau diserahkan padamu? Hahahaha....Dimisalkan ibumu yang mendapat hak warisan ini, diapun akan menyerahkan kepadamu, bukan? Apa salahnya aku menjejaikan obat itu kedalam dirimu?"

Dengan aring-uringan Kim Hong berkata.

"Siapa yang bilang ibu hendak menyerahkan kepadaku ?Dia hendak memakan sendiri."

"Hendak dimakan sendiri?"

Bertanya Kiat Hian heran.

"Tentu saja,"

Berkata Kim Hong.

"ibuku sangsi, didalam seratus jurus. ia tidak bisa memenangkan Hamid, kalau saja ia tidak bisa memenangkan jago-jago Tay-wan-kok itu dalam jurus-jurus yang telah ditentukan maka rumah penjara rimba persilatan harus diserahkan kepada mereka. Karena itulah ibuku sangat membutuhkan obat Tiang-sengpu-lo-tan."

"oh ...."

Kakek gelandangan Kiat Hian tertawa.

"Sama saja, kau boleh menalangi ibumu melawan mereka."

Kim Hong berteriak kaget.

"Glla Aku bukan tandingan Hamid sekalian."

Kiat Hian tertawa dan berkata.

"Lain dahulu, lain sekarang. Kini kau sudah memakan obat Tiang-seng-pu-lo-tan, kau saja kutambah dengan latihan ilmu silat luar biasa. Tentu bisa memenangkan mereka."

Hati Kim Hong tergerak, ia bertanya.

"Sungguh?"

"Tentu saja."

Berkata Kiat Hian, dari dalam saku bajunya ia mengeluarkan se

Jilid kitab ilmu silat, diserahkan kepada Kim Hong dan kata.

"inilah ilmu silat berkelebatnya sinar pedang cahaya keluarga Kiat, ambillah Di-dalam waktu empat hari kukira kau bisa mempelajari isinya. Sesudah berhasil pasti kau bisa mengalahkan Hamid."

Kim Hong menerima hadiah pemberian itu ia bolakbaliknya lembaran kitab ilmu silat berkelebatnya sinar pedang keluarga Kiat, dan dia bertanya.

"Apa catatan ilmu silatnya ini juga termasuk salah satu peninggalan dari dua belas macam ilmu silat luar biasa yang berada didalam kotak ajaib?"

"Ilmu silat berkelebat sinar pedang keluarga Kiat, adalah ilmu nomor satu dari dua belas ilmu silat luar biasa itu. Kim Hong bertanya lagi "Kotak ajaib yang tersimpan di dasar telaga Tay-pek tie sudah diambil oleh cianpwe?"

"Ya. Aku takut dua belas partai besar itu tidak bisa menguasai kunci-kunci emas mereka, setengah tahun yang lalu, kuambil kotak itu, kuambil semua isinya, termasuk dua belas butir obat Tiang Seng-pu-lo-tan dan dua belas macam ilmu silat luar biasa. Sengaja kukosongkan isi kotak ajaib, kemudian diletakan di tempat yang semula, dugaanku tidak meleset, anak buah dua belas partai terkucar-kacir, karena itu, kunci-kunci mas masuk kedalam tangan golongan Kalong-Hahaha ....tapi apa yang mereka dapatkan? Hanya sebuah kotak ajaib yang kosong Hahahaha.,...."

Kim Hong bertanya lagi "Bagaimana cianpwee hendak menyelesaikan persoalan yang seperti ini?"

Dengan tersenyum-senyum, si kakek gelandangan Kiat Hian berkata.

"Di dalam rumah penjara ibumu, dengan menggunakan suara tekanan tinggi, kusampaikan suaraku kepada dua belas ketua partai yang terkurung di tempat itu. Dua macam ilmu silat sudah kuajarkan kepada mereka. Tentang obat Tiang-seng-pu-lo-tan, menunggu mereka sudah bebas dari tahanan rimba persilatan, akan aku hadiahkan pada yang berhak mendapatkannya."

Sesudah itu, Kiat Hian menuju kearah jenasah ayahnya, dari belakang jenasah itu, ia mengambil sebilah pedang kuno, diserahkan pada Kim Hong dan berkata.

"Pedang ini bernama Tay-pak-kiam, adalah salah satu dari pedang cu wang dimasa dahulu. kuhadiahkan kepadamu."

Kim Hong menerima dan mengucapkan terima kasih, dia berkata.

"Entah dengan jasa apa, boanpwe baru bisa membalas budi cianpwe."

Kiat Hian bersedih, berpikir beberapa saat dia berkata "Seumur hidupku, tiada jasa bagi rimba persilatan, pedang dan kitab ilmu silat aku hadiahkan kepadamu, dengan harapan kau bisa mengeluarkan sedikit sumbang jasa kepada rimba persilatan-Hal mana sudah Cukup untuk menebus kesalahan-kesalahanku."

Lagi-lagi Kim Hong mengucapkan terima kasih.

Dia berjanji untuk melakukan apa yang dikehendaki oleh si kakek gelandangan-Wajah sedih Kiat Hian hanya sebentar, kemudian dia tertawa, Hahahihi lagi, ucapnya.

"Aku hendak berangkat, baik, kau diam didalam goa ini, empat hari kemudian aku akan datang kembali membuka kunci goa membebaskan dirimu."

Sesudah itu Kiat Hian mencelat, dengan Cara yang tidak bisa dimengerti oleh Kim Hong, dia memencet tombol sebentar disana dan sebentar disini, menghilang disalah satu dinding goa, terdengar suara krakak-krekek...goa itu terbuka.

Tabuh Kiat Hian mencelat lenyap dari pandangan mata.

Terdengar lagi suara..rkrekek..

krekek.....pintu goa tertutup kembali mengurung Kim Hong didalam goa rahasia, Tiba-tiba Kim Hong berteriak.

"cianpWe, tunggu dulu, selama empat hari, boanpwee harus makan apa?"

Terdengar suara Kiat Hian, suara itu sudah berada diluar goa, ia tertawa berkakakan, katanya meninggalkan pesan.

"Tidak usah takut, kau sudah makan obat Tiang-seng-pulo-tan-Jangan kata baru empat hari empat puluh haripun kau masih kuat bertahan, tak mungkin kau mati kelaparan, ha-ha-ha.,.."

Semakin lama, suara itu semakin jauh akhirnya menghilang.

Demikian singkatnya Cerita, kemisteriusan apa yang dijumpai dari dasar telaga Tay-pek tie, cerita berikutnya sudah kita ketahui, bagaimana Kiat Hian hendak memberitahukan tentang kejadian Kim Hong kepada Suma Siu Khim, tapi itu waktu Suma siu Khim sedang dirundung kemarahan, kebencian, dia menipu Kiat Hian dan mengatakan kalau Kiat Hian bisa mengejar kekasih lamanya, Kongsun Bwee Kun bersedia dikawini, karena itulah Kiat Hian lari kembali.

Mengejar Kongsun Bwee Kun-Tiga hari telah lalu....

Pada malam harinya, Kim Hong berhasil menyelesaikan dan menamatkan pelajaran ilmu pedang dari ilmu berkelebatnya sinar pedang dari Keluarga Kiat.

Sesudah itu Kim Hong hendak keluar dari goa rahasia, ia tidak tahu cara-cara untuk membongkar dinding goa itu, ia ubek-ubekan disana.

Dia juga tidak berani menghancur dinding goa terpaksa harus menunggu kembalinya si kakek gelandangan, mau tidak mau dia harus bersabar.

Untuk melewatkan waktu-waktu yang dirasakan sangat panjang, Kim Hong melatih kembali dan mengulang ilmu silat berkelebatnya sinar pedang keluarga Kiat.

Diulang lagi, diulang lagi, banyak sekali kelemahan-kelemahan yang ditambaL Hari itu, Kim Hong melewatkan waktu dan melatih serta menekun permainan ilmu pedang.

Pada hari keempatnya setengah hari pula ditunggu.

Sesudah siang.

baru terdengar derap langkah kaki, dan berbareng terdengar suara terbukanya pintu rahasia, kreteek....keekeks...

Pintu goa terbuka, yang diluar dugaan Kim Hong, orang yang berada dimuka pintu bukan sikakek geladangan Kiat Hian, orang ini mempunyai bentuk perawakan yang sangat kecil mengenakan pakaian berwarna putih, menyelebungi kepalanya dengan kerudung putih.

orang Lembah patah Hati la berdiri didepan pintu dengan sepasang cahaya matanya berkelap-kedip.

tidak bicara dan tidak bergerak.

Seolah-olan hantu jejadian.

Kim Hong terkejut, dia belum menyaksikan adanya orang-orang dari lembah patah hati.

Karena itu ia tidak kenal, siapa jago silat baru ini.

Dia mundur kebelakang.

secepat itu mengeluarkan pedang Taypek kiam, memukulnya dan membentak "Siapa kau ?"

Orang yang datang adalah jago nomor tiga dari Lembah patah bati, ia berdiam beberapa waktu, dengan menekan sedikit aksen suaranya, berkata.

"Nomor tiga dari Lembah Patah Hati."

"Nomor tiga dari Lembah Patah Hati?"

Kim Hong mengulang kata-kata itu.

"Apa artinya jawaban ini?"

Nomor tiga menganggukan kepala berkata.

"Artinya, aku adalahjago nomor tiga dari Lembah Patah Hati."

Wajah Kim Hong ditekuk masam. dengan dingin berkata.

"Belum pernah aku mendengar ada sesuatu tempat yang bernama Lembah Patah Hati,jangan mencoba menggoda. Lekas katakan terus terang"

"cih .-"

Nomor tiga ketawa kecil.

"Apa yang harus diterangkan? Aku hanya mendapat tugas untuk membuka pintu goa rahasia ini. Titik, tak Cukup "

"Mendapat tugas?"

Lagi-lagi Kim Hongjadi heran.

"Siapa yang memberi tugas kepadamu?"

"Tentu saja orang yang membawa masuk dirimu ketempat ini pada empat hari yang lalu."

Jawab sinona nomor tiga.

"Kakek gelandangan Kiat Hian cianpwe"

Kim Hong belum bisa membenarkan keterangan ini, menurut keterangan Kiat Hian, kecuali dia dan ayahnya almarhun, tidak ada orang ketiga yang mengetahui tempat rahasia ditempat ini, tidak mungkin orang yang bisa menemukan tempat rahasia yang menembus kedasar telaga Tay-pek tie ini.

Bagaimana si nomor tiga bisa datang?

Tentu kawan atau keluarga terdekat dengan si Kekek Gelandangan Kim Hong tidak meragukan asal usul Sinomor tiga, tentunya kawan, bukan lawan, karena itulah dia menyimpan kembali pedang Tay-pek kiam, bertanya kepada sinomor tiga "Kau kenal kepada Kiat Hian cianpwe?"

Nomor tiga dari lembah Patah Hati menganggukkan kepala, ia berkata.

"Empat hari yang lalu, dia mengejar ketua kami. Akhirnya berhasil, terjadi kesepakatan, Atas anjuran ketua Lembah patah hati, dia telah mensucikan diri, mengganti nama, kini namanya adalah Beng khong Taysu. Dia juga menjadi salah satu anggota Lembah patah hati. Atas perintahnya, aku ditugaskan membuka pintu rahasia mengeluarkan dirimu."

Ternyata, sikakek gelandangan Kiat Hian sudah mensucikan diri, mengganti nama menjadi Beng khong Taysu.

Ternyata, kekuatan Lembah patah hati telah bertambah seorang lagi.

Kim Hong belum kenal kepada jago-jago Lembah patah hati, karena itu dia bertanya.

"Siapa yang menjadi ketua kalian?"

Nomor tiga dari Lembah patah hati menjawab.

"Namanya Kongsun Bwee Kun, kini sudah mensucikan diri, nama barunya adalah Pansu Loonie, pernah dengar?"

Kim Hong berteriak girang.

"Apa Akhirnya ia berhasil menemukan Kongsun Bwee Kun"

Nomor tiga dari lembah patah hati berkata.

"Nah Kini kau boleh ikut kepadaku, bagaimana dengan hasil latihan berkelebatnya ilmu pedang keluarga Kiat ini?"

Kim Hong menganggukan kepala berkata.

"Kemarin malampun aku sudah berhasil mempelajari seluruh isi bagian dari ilmu silat tersebut."

"Ah Boleh ikut aku."

Berkata nomor tiga dari Lembah patah hati.

"TUnggu dulu"

Jawab Kim Hong.

"Ternyata kau adalah anak buah Kongsun Bwee Kun cianpwee, kita sama-sama satu jurusan, Satu orde baru, mengapa kau tak mau membuka kerudungmu, menutup wajah diri sendiri?"

Menjawab pertanyaan itu. dia mengundurkan diri dan menyilahkan Kim Hong keluar, katanya.

"Menggunakan tutup kerudung adalah rahasia pribadi dari Lembah patah hati. Kau bisa tahu pada kemudian hari Kini yang penting keluarlah dari tempat rahasiamu. Keluar"

Dengan adanya bimbingan sinomor tiga dari Lembah patah hati, Kim Hong diajak keluar dari goa rahasia yang bisa tembus kedasar telaga Tay-pek tie, berliku-liku perjalanan itu dilakukan, setengah lie kemudian, mereka keluar sebuah pohon besar.

Disana banyak lumut dan batu.

SESUDAH Kim Hong loncat keluar, si nomor tiga menutup kembali lubang rahasia itu.

Mereka berada dipuncak gunung Tay-pek san.

Kim Hong menyedot hawa udara dalam-dalam, memperhatikan gerak-gerik sinomor tiga, siapa kah wanita ini?

Suaranya begitu lemah-lembut, tetapi nakal dan binal.

"Numpang tanya."

Berkata Kim Hong.

"Bagaimana sebutan nama nona yang mulia?"

"Sudah kukatakan."

Berkata sinomor tiga dari Lembah Patah Hati.

"Kau akan tahu di kemudian hari, untuk sementara, panggil saja aku nomor tiga."

"Baiklah."

Berkata Kim Hong.

"Nona nomor tiga, atas bantuanmu kini aku Kim Hong mengucapkan banyak terima kasih."

"Terima kasih itu belum cukup,"

Berkata gsnomortiga.

"Nah Sekarang bertekuk lututlah dihadapanku."

"Bertekuk lutut?"

Kim Hong tercengang.

"Ya. Bertekuk lututlah didepanku,"

Menegasi sinomor tiga.

"Dengan alasan apa aku diharuskan bertekuk lutut."

Bertanya Kim Hong ngotot.

"Inilah perintah Beng-khong taysu Bukan-bukan Bengkhong taysu. Dahulu, namanya Kiat Hian cianpwe. Inilah perintah Kiat Hian cianpwe."

Berkata sinomor tiga dari Lembah Patah Hati.

"Mana ada itu aturan."

Berkata Kim Hong semakin ngotot. Sinomor tiga berkata.

"Kiat Hian cianpwe telah menghadiahkan kau sebutir obat Tiang-seng-pu-lo-tan. ia memberi pelajaran Silat luar biasa yang bernama berkelebatnya sinar pedang keluarga Kiat, dan menghadiahkan kau Tay-pek kiam. Mungkin tidak cukup untuk bertekuk lutut?"

"Itupun bukan diwajibkan bertekuk lutut kepadamu."

"Aku adalah wakil dari Beng-khong taysu, lupa lagi, wakil Kiat Hian cianpwe,"

Berkata sinomor tiga.

"Tentu saja harus bertekuk lutut kepadaku."

Kim Hong berpikir sebentar, ia menggeleng kepala.

"Tidak."

Ia menolak.

"Kukira Kiat Hian cianpwe tak memberi petunjuk yang seperti ini. Tentunya kaupunya bisa. Aku boleh bertekuk lutut kepada Kiat Hian cianpwe, tapi tak mau bertekuk lutut kepadamu. Kau seorang wanita, seorang wanita yang masih muda lagi. Aku tak mau."

"Eh, sinomor tiga agak marah.

"Mengapa tidak mau bertekuk lutut kepada wanita?"

"Kuharap saja nona tidak mempersulit orang "

Berkata Kim Hong.

"Baiklah,"

Akhirnya sinomor tiga mau mengalah.

"Bertekuk lututlah kearah selatan. disana ada Kiat Hian cianpwe."

Letak keadaan mereka adalah Kim Hong diselatan, sinomor tiga dari lembah patah hati dlutara.

Bertekuk lutut kearah selatan berarti membelakangi si nomor tiga.

Kim Hong bisa menerima syarat-syarat ini.

ia membelakangi Si nomor tiga, dan bertekuk lutut kearah selatan, itulah penyembahan yang agak sujud dihadiahkan kepada sikakek gelandangangan Kiat Hian-"Nona nomor tiga,"

Berkata Kim Hong membelakangi orang "Apa lagipesan Kiat Hian cianpwee."

Si nomor tiga tertawa cekikikan, ia berkata.

"Menurut cerita Beng-khong taysu, tenaga dalammu sudah berada diatas Hamid dan kawan-kawan, ilmu silatmu sudah berada diatas Jie Hiong Hu cs, cukup kuat untuk diberi beban Untuk memikul segala kejahatan, mulai saat ini, tugasmu semakin berat. Kau harus segera membebaskan orang-orang tawanan dari tumah penjara rimba persilan digunung Tay-pa-san-Kemudian mengajak mereka menyerbu rumah penjara rimba persilatan digunung Bu San"

"Baik,"

Berkata Kim Hong.

"aku sedang merencanakan usaha yang seperti ini. Tapi mungkinkah ibuku tak marah? Kalau kubebaskan orang-orang tawanannya?"

Tidak terdengar suara jawaban dari si nomor tiga dari Lembah patah Hati, Kim Hong berkata lagi.

"Misalnya, kalau kubebaskan orang-orang tawanan itu secara diam-diam, Tentu saja terjadi bentrokan dengan ibuku, itulah kejadian yang lebih sulit lagi."

Masih tidak terdengar jawaban dari si nomor tiga dari Lembah Patah Hati Hal ini betul-betul mengherankan Kim Hong, dia menoleh kebelakang, tiba-tiba berlompat, mengeluarkan suara teriakkan aneh.

Ternyata sigadis muda dari Lembah Patah Hati yang menyebut dirinya sebagai jago nomor tiga itu, sudah tiada ditempatnya semula, disana kosong melompong kehilangan jejak Si gadis nakal Dua hari sesudah Kim Hong keluar dari goa rahasia Taypek tie.

Keadaan seperti sediakala, pemandangan adalah rumah penjara rimba persilatan digunung Tay-pa-san, inilah tempat kediaman Suma Siu Khim, ibunya yang binal, tokoh silat super sakti tiada tandingan.

Keadaan seperti biasa sunyi senyap dan tenang, Kim Hong sudah balik ketempat lama, ia menemukan prototol pengajaran rumah penjara, Thiat-oe Siansu.

Mengetahui kedudukan apa yang telah memempatkan Kim Hong kepadanya, Thiat oe Siansu menyambut kedatangan kongcu itu secara penghormatan besar, Kim Hong belum tahu, kalau suhunya itu sudah tiada didalam rumah penjara itu.

Ingin sekali dia berteriak dengan sang guru, dan juga ingin menjumpai ibunya, Karena itu, tanpa bercakap-cakap dengan Thiat-oe Siansu, dia langsung menaiki keatas rumah....

Sesudah mendapat makan obat Tiang Seng-pu-lo-tan, kekuatan Kim Hong berlipat tiga-kali, gerakannya lincah dan gesit, kecepatannya bagaikan angin lalu, Wut....dia sudah berada didepan pintu rumah penjara.

Yang membuka pintu adalah raja akherat pertama Taygiam ong.

Kim Hong memberi hormat kepada Tay-giam ong dan berkata.

"Tay-giam ong, bagaimana keadaanmu? Baik-baik sajakah? Apa ibuku sudah pulang?"

Tay-giam ong memandang kehadiran Kim Hong. Dengan perasaan heran, ia menganggukkan kepala berkata.

"Lauwcu kembali pada tiga hari yang lalu, tapi bergegasgegas pula ia keluar."

"oh Tidak ada?"

Bertanya Kim Hong.

"Kemanakah perginya?"

Tay-giam-ong mengg elengkan kepala berkata.

"Menurut dugaanku, tentunya dia pergi kerumah penjara digunung Bu-San"

"Ah Mungkinkah terjadi"

Bertanya Kim Hong.

"ibu tidak mau menurunkan martabatnya sendiri, ia tak mau menempur penguasa rumah penjara ang baru itu."

Dengan bersungguh-sungguh, Tay-giam-ong berkata.

"ceritanya Sangat panjang, masuklah dahulu, biar kuceritakan seCara terperinci. Pada empat hari yang lalu, disini telah terjadi sesuatu yang menggemparkan."

Mengikuti langkah Tay-giam ong, Kim Hong memandangi Wakil rumah penjara itu, kedudukan Taygiam-ong sangat tinggi.

kecuali Suma Siu Khim, ia adalah pimpinan kepala mandor.

Ditengah jalan-Tay-giam-ong berkata.

"Kini, bagaimana aku harus memanggil dirimu? Kongcu? Atau Kim Hong?"

"Panggil saja aku Kim...."

Berkata sipemuda. Berkata Tay-giam-ong.

"Lebih patut kalau kupangggil Kim Hong kongCu. Kau adalah putra dari laucu kami, sudah selayaknya kalau ada panggilan yang seperti itu."

"coba kau Ceritakan, apa yang terjadi pada empat hari yang alu, mengapa bisa menggemparkan?"

Kim Hong tak banyak komentar.

"ceritanya seperti ini,"

Berkata Tay-giam-ong.

"Hari itu, sesudah ibumu kembali, ia masuk kamar dan menangis beberapa saat, kutanyakan sebab musababnya, hanya dikatakan seCara singkat, dia telah mencelakakan dirimu. Aku menjadi heran, sedangkan kini kau bisa balik dengan hidup, Mengapa dikatakan dia mencelakakan dirimu?"

Kim Hong menceritakan jalannya peristiwa bagaimana ia menyelam kedasar telaga Tay-pek tie, bagaimana diseret sikakek gelandangan Kiat Hian, bagaimana ia mendapat obat, pelajaran ilmu dari pedang Tay-pek-kiam.

Dan terakhir iapun menuju kemari.

"Hebat Hebat"

Tay-giam ong mengeluarkan pujian. ia menjadi girang.

"Sungguh kebetulan Sungguh kebetulan. Aku sedang mengalami proses otak bingung, menurut laporan, besok rumah penjara kita akan mendapat penyerbuan golongan Kalong, mereka dibantu dengan sembilan jago silat dari daerah Tay Wan-kok Hal ini sedang menyulitkan seluruh isi rumah penjara kita. Bagaimana harus menghadapi mereka? Siapa yang harus tampil kedepan? Kini kau hari ini balik kembali. Sungguh kebetulan Sungguh kebetulan. Kau bisa mewakili ibumu, menghadapi tantangan orang-orang itu."

"Tujuan utamaku kemari ialah untuk menghadapi mereka."

Berkata Kim Hong.

"Tapi ibu tidak ada. Mungkin peperangan besok tidak mudah dihadapi."

Tay-giam-og berkata.

"Menurut perkiraan orang,jagojago kita cukup banyak. entah bagaimana keadaan kekuatan musuh ?"

Kim Hong menceritakan pengalamannya selama bertempur dengan Hamid dan kawan kawan dengan rapi sekali. Sesudah itu ia berkata.

"Biar kuminta bantuan suhu dan suboku, eh, ya, bagaimana keadaan Yo In-jie Sumoay? Sudahkah dia kembali ?"

"Belum."

Tay-giam-ong menggelengkan kepala.

"Yo injie belum balik kembali. Leng Bie sian juga belum balik kembali."

"Tidak apalah, biar kuminta bantuan suhuku saja "

"Suhumu juga sudah tidak ada."

Berkata Tay-giam-ong.

"Tiga tokoh silat ajaib. Sam-kie-hui-sian-po, It-hu Sianseng, Thian San Soat Po-po. can-sa sian sudah tidak ada didalam rumah penjara."

Hal ini juga menggirangkan Kim Hong, bertepuk tangan, dia berkata.

"Apa ibuku yang membebaskan mereka?"

"Bukan-berkata Tay-giam-ong menggelengkan kepala.

"Lima hari yang lalu, ada seseorang yang memalsukan ibumu, itu waktu aku sedang ada urasan keluar, tidak bertemu dengannya. Menurut cerita, orang yang memalsukan ibumu itu langsung pulang dan terus menuju kearah kamar penjara, entah apa yang diceritakan kepada tiga tokoh silat ajaib can-sa sian Cs. Mereka itu marahmarah dan uring-uringan, berbareng hendak menantang Sayembara, dan betul-betul terjadi, can-sa-sian menerima sepuluh jurus serangan tokoh misterius itu. Begitu juga It-hu Sianseng, begitupun Thian-san Soat Po-po. Mereka berhak mendapat kebebasan, dan seCara lenggang kangkung, ketiga tokoh ajaib itu meninggalkan rumah penjara."

"oh..........."

Inilah berita baru bagi Kim Hong.

"Ada orang yang berani memalsukan ibu?"

"Ya."

Berkata Tay-giam ong.

"Disaat ibumu kembali segera kutanyakan hal ini, tentu saja dia marah dan uringuringan-Ternyata laucu kita itu ada yang berani main sandiwara Gatot Kaca kembar Menurut dugaan ibumu. tentu buah hasil karya penguasa Rumah Penjara digunung Bu-san-Maka langsung dia turun gunung dan meninggalkan rumah penjara."

Kim Hong semakin heran. pikirannya diasah pulang pergi untuk menemukan jawaban dari kemisteriusan2 ini, ia bertanya "Heran, apa maksud tujuan orang itu?"

Tay-giam ong berkata.

"Pasti penguasa rumah penjara gunung Bu San sengaja memanCing incident-incident. Sengaja mencari setori saja."

"oh......... karena itukah ibu meninggalkan rumah penjara?"

"Ya. Sebetulnya, sifat-sifat ibumu itu kukenal baik. Tidak mungkin ia terpanCing pergi. Hanya kematianmulah yang menyulitkan dirinya, maka segera ia menerima tantangan itu, tentunya sudah mengikuti Sayembara dirumah penjara Bu-san-hal ini mungkin bisa menurunkan derajatnya, menurunkan kedudukannya. menurunkan gengsinya, inilah anggapan-anggapan ibumu."

"Biarlah ibu menantang rumah penjara Bu-san-"

Berkata Kim Hong.

"Aku tidak percaya, kalau ibu bisa dikalahkan orang."

Tay-giam ong berkata.

"Kalau bertanding satu lawan satu, tidak mungkin ada orang yang bisa memenangkan ilmu silat ibumu. Yang kutakuti adalah........"

"Kalau mereka main keroyok?"

"Ya. Kalau terjadi pengeroyokan atau tipu muslihat, atau Jebakan-jebakanjahat sulit diduga."

"Aku sudah pergi kerumah penjara Bu-san-Kukira tidak ada seuatu yang aneh, legakan hatimu. Kuyakin ibu bisa memenangkan pertandingan itu."

Tay-giam ong berkata.

"Kalau betul ibumu menempur rumah penjara digunung Bu-san, esok hari iapun harus kembali. Kalau besok dia tidak kembali, bagaimana rencanamu?"

Lagi-lagi Kim Hong dipaksa memeras otak.

terus terang saja pemuda kita bukanlah condekiawan terlihay, menghadapi problem-problem yang tidak mudah dipecahkan, dia pun sulit mengatasinya, berpikir beberapa saat lagi, ia bertanya.

"Hei, bagaimana penghargaanmu kepadaku?"

Tay-giam Ong berkata.

"Kau adalah putera Lauwcu kami, tentu saja harus menjadi kongcu."

"Sampai dimanakah batas-batas kekuasaanku?"

"Kalau saja kau bisa mengikuti dan menggaris bawahi kemauan ibumu, apapun boleh kau lakukan-"

"Baik,"

Berkata Kim Hong.

"Kini aku hendak mengeluarkan perintah, kuharap saja kau tidak menolak."

"Pasti."

Berkata Tay-giam-ong.

"Kalau saja perintah itu tidak menyimpang dari keadaan yang semula."

"Tentu saja tidak menyimpang."

Dengan sungguhsungguh Kim Hong berkata.

"Perintah pertama, segera cabut papan pengumuman tanda istirahat perang itu."

"Baik,"

Berkata Tay-giam-ong.

"Masih ada perintah lain?"

"Di depan sekali, buatlah tulisan yang berbunyi seperti ini. SELAMAT DATANG KEPADA ROMBONGAN KALONG DAN PARA JAGO DARI DAERAH TAYWAN KOK."

"Tepat"

Tay-giam-ong bertepuk tangan.

"Perintah yang sangat tepat."

Kim Hong berkata lagi.

"Perintah lainnya, beri daftar nama dari tawanantawanan kita."

Tay-gim-ong diam sebentar dan bertanya.

"Buat apa?"

Kim Hong berkata.

"Boleh kah aku tahu, dikala ibuku berada, Sebelum dia hendak melakukan sesuatu, apakah harus berunding dahulu denganmu?"

"Ya,"jawab Tay-giam ong.

"Dia sering berunding, terlebih-lebih untuk menghadapi situasi gawat."

"Aku hendak menjadi diktator satu kali,"

Berkata Kim Hong.

"Bolehkah tidak merundingkan jalan ini? Hanya satu kali saja?"

"Baiklah,"

Tay-giam-ong menyerah.

"Segera kuberi daftar nama itu."

Kim Hong segera menjadi wakil penguasa rumah penjara rimba persilatan Tay-pa-San, Tay-giam-ong menjalankan perintah-perintah baru dari putra penguasa rimba persilatan yang disaat ini sedang absen.

SESUDAH MAKAN MALAM, dengan membawa daftar nama dari nama tawanan Rumah Penjara, seorang diri Kim Hong menuju ketempat kamar-kamar tahanan itu, ia tidak mau didampingi Tay-giam-ong.

Dikatakan, dia tidak membikin pemeriksaan pribadi.

Tay-giam-ong bisa menerima tolakan halus, betul dia tidak menyertai Kim Hong.

Kim Hong melakukan rencananya yang bertentangan dengan tujuan ibunya.

Mempercepat kita, kita tak gambarkan secara terperinci, bagaimana Kim Hong mengkong-kalingkong didalam kamar penjara.

Singkatnya cerita, Kim Hong sudah selesai menyambangi orang-orang didalam kamar tahanan rumah penjara, dia balik ketempat kamar yang sudah tersedia.

Mengikuti dibelakang Kim Hong, secara tersenyumsenyum, Tay-giam ong juga mendatangi kamar tahanannya.

Tay Giam ong tiba dikamar tahanan nomor Satu, kamar tahanan ini tersekap seorang jago silat yang pernah mempunyai kedudukan hampir sama dengan dewa persilatan, dia adalah ketua Siauw-lim-pay Lian-in Taysu.

Lian-in Taysu menjadi penghuni kamar tahanan nomor satu, umurnya telah berada di atas seratus tahun.

Tapi dia masih gagah dan bangga, rambutnya telah panjang sehingga tiga tombak, duduk seperti berdiri diatas jenggot.

Perlahan-lahan Tay-giam-ong menyentil-nyentil jeriji besi kamar tahanan itu.

"Hei,"

Ia memanggil orang tahanannya.

"Hwesio tua, kemari"

Itu waktu, Lian-in Taysu sedang duduk bersila, ia membuka kedua matanya, memandang kearah Tay-iamong bertanya.

"Ada urusan apa?"

Tay-giam-ong bertanya.

"Apa yang tadi kalian percakapan?"

"Percakapan yang mana?"

Balik tanya Lian-in Taysu.

"Percakapanmu dengan kongcu kami."

"Kongcu yang mana?"

"Kim Hong kongcu. Dia adalah putera penguasa rumah penjara kami."

"oh....mengapa kau tidak langsung bertanya kepadanya?"

"Dia tidak mau membuka rahasia."

"Nah, apa kau mau memaksa aku membuka rahasia?"

Tay-giam-ong kalah berdebat Dia meninggalkan kamar nomor satu, dan kini menuju kearah kamar tahanan nomor dua, Lian-in Taysu duduk kembali, menunggu Tay -iam-ong meninggalkan kamar tahanan nomor satu, dan kini dia sudah dlkamar tahanan nomor dua.

Penghuni kamar tahanan nomor dua adalah ketua partay Bu-tong-pay ceng-hong Tojin juga termasuk salah satu tawanan bebuyutan.

Bukan hutang Bebuyutan Mek cenghong Tojin juga termasuk salah satu nama yang sudah kita Ceritakan, Kim Hong pernah mendatangi dirinya Disaat Tay-giam ong menuju keruangan ia bisa mengikuti percakapan-percakapan Tay-giam-ong dengan ketua partay Siauw Lim Pay.

Disaat ini, dia berdiri dibalik jari-jari terali penjara, tapi membelakangi jendela, seolah-olah meremehkan pengunjung, tidak mau menjawab segala pertanyaan.

Walau Tay-giam-ong menjadi orang kepercayaan Suma Siu Khim kedudukkannya adalah mendapat kursi kedua didalam rumah penjara itu, kepada tawanan tua seperti ceng-hong Tojin ia tidak berani berlaku kurang ajar, memperlunak sikapnya dengan ramah tamah ia berkata.

"Lo ciangbunjin, apa Sseama ini keadaanmu baik-baik saja ?"

Ceng-hong Tojin tidak menjawab, juga tidak menoleh kebelakang. Tay-giam-ong mengangkat pundak berdiam beberapa saat baru berkata.

"Ayo, Lo ciangbunjin sudah cukup tua. walaupun demikian, toh masih kurang pengalaman, tidak berani bicara padaku ?"

Tiba-tiba saja ceng-hong Tojin membalikkan badan, kepalanya pun terus menoleh, ia berkata.

"Tay-giam-ong, bagaimana keadaanmu? Baik-baik sajakah? Malam ini bulan purnama bulan sangat indah sekali, he"

Dengan girang Tay-giam-ong berkata.

"Betul...Betul....Malam ini adalah malam Tiong-ciu. Setiap malam Tiong-ciu, kadangkala kita terkenang kepada famili ditempat jauh."

Ceng-hong Tojin menyambung pembicaraan tadi, katanya.

"oh Tay-giam-ong terkenang kepada famili ditempat jauh?"

Terkenang famili ditempat jauh tidak ada hubungan dengan Kongcunya Kim Hong. Tay-giam-ong menggelengkan kepala berkata.

"Aku seorang anak yatim piatu. Tidak ada saudara ada tidak tiada famili, dari mana famili ditempat jauh, bagaimana terkenang nya? Kukira ciangbunjinlah sebagai seorang bekas ketua partay, apa ciangbunjin tidak..."

Cepat-cepat ceng-hong Tojin memotong lagi, katanya.

"oh Ternyata Tay-giam ong adalah anak yatim piatu? Aku sangat kasihan sekali melihat orang yang sudah kehilangan ayah, lebih kasihan lagi kalau bertemu dengan anak tidak beribu. Paling kasihan nasib seorang yatim piatu, apalagi piatu. Betul-betul kasihan-..."

Tay-giam-ong kewalahan, ia tidak melanjutkan perkataan itu, meninggalkan kamar nomor dua, dan menuju kearah kamar nomor tiga.

Hendak menyelidiki rahasia Kim Hong, Tentu tidak mungkin Tay-giam ong menuju kamar tiga.

kamar tahanan nomor tiga lebih sulit lagi, segera ia mendapat sambutan yang keras.

"Maaf!!"

Demikian berkata penghuni kamar tahanan nomor tiga.

"Aku tidak mempunyai waktu bicara."

Tay-giam-ong melanjutkan penyelidlkannya, satu persatu didatangi kamar kamar tahanan yang pernah dikunjungi oleh Kim Hong.

JaWaban-jawaban yang didapat betul-betul mengecewakan, tak ubahnya seperti apa yang sudah ditemukan.

Dari kamar nomor lima menjawab.

"Maaf Tanya saja pada kongcu kaucu rimba persilatan-"

Penghuni kamar tahanan nomor enam menjawab.

"Sabarlah Sesudah hari menjadi pagi, kau akan mengetahui"

Tay-giam-ong tidak berhasil membikin penyelidlkan Kim Hong mengumpulkan Raja-raja akherat yang berada didalam rumah penjara Tay-pa San, kesepuluh Raja Akherat ini adalah inti kekuatan ibunya, ia mengajak mereka berembuk bersedia untuk menghadapi kedatangan dan penyerangan-penyerangan dari golongan Kalong.

Sebagai seorang pemimpin muda.

Kim Hong tidak lupa menyelidiki dan memberi perintah kepada para anak buah rumah penjara Tay-pa San menyelidiki gerakan-gerakan golongan Kalong.

Mereka masih berembuk terus.

Dengan harapan bisa menunggU kembalinya Suma Siu khim.Suma Siu khim yang ditunggu tak kembali.

Laporan-laporan dari anak buah Tay-pa-San memberikan gambaran-gambaran penyerbuan musuh, dengan jelas memperinci penyerangan golongan Kalong.

"Lapor kepada Tay-giam ong. golongan Kalong mendapat bantuan dari jago-jago Tay-wan-kok."

"Lapor kepada Tay-giam-ong, orang berambut merah langsung berada dibawah pimpinan seorang jago tua yang bernama Hamid."

"Lapor kepada Tay-giam-song, Hamid dengan kawankawan telah mendekati dan muncul didaerah Pak-tay-hiap. Jumlah mereka diperkirakan berkisar diantara seratus orang."

"Lapor kepada Tay-giam-ong, mereka sudah berada ditempat Ya-kouw."

"Lapor kepada Tay-giam-ong, mereka berada dibawah gunung kita."

Mendapat laporan-laporan yang seperti ini sebentar bentuk wajah Tay-giam-ong berubah.

Golongan Kalong dan Hamid dengan kawan-kawan ternyata begitu cepat.

Ternyata sudah berada dibawah gunung.

ia menoleh kearah Kim Hong, berkata kepada ketua muda itu.

"Kongcu, bagaimana kalau mereka tidak menantang Seperti apa yang sudah kita tetapkan pada sayembarasayembara."

Datang laporan-laporan itu, tidak mengejutkan Kim Hong, ia tersenyum mendapat pertanyaan Tay-giam ong, ketua muda laucu rimba persilatan ini berkata.

"Menurut hematku, mereka masih ragu-ragu. Melinat dicabutnya tanda pengumuman istirahat perang tentu membingungkan rombongan orang-orang berambut merah itu. Didalam anggapan mereka ibu sudah kembali, tentu akan memberi pendaftaran. Raja akherat nomor dua Jie Giam-ong berkerut alis, ia mengemukakan ketidak mengertiannya .

"Melihat dicabutnya tanda istirahat mereka tidak berani menyerbu?"

Kim Hong berkata.

"Dicabutnya tanda itu berarti ibu sudah kembali, mereka tidak berani berbuat kurang ajar. Kukira harus mengikuti apa yang ditunjuk. memberi pendaftaran seyembara."

Raja akherat nomor dua Jie-giam-ong berkerut alis dan bertanya.

"Apa mereka tak takut dikalahkan oleh Laucu?"

Kim Hong menganggukkan kepala berkata.

"Hamid, Mobilson dan Joos cukup kuat, mereka belum dapat mengalahkan ibu. Tapi mereka yakin dan sanggup menerima serangan ibu sehingga seratus kali, Karena itu lebih baik mengikuti sayembara, mereka bisa merebut rumah penjara Tay-pa-San secara syah."

Raja akherat nomor tiga Sam-giam-ong bertanya heran.

"Kongcu, hendak mewakili laucu menerima serangan mereka?"

Dengan menganggukkan kepala Kim Hong berkata.

"Aku hendak mencoba ilmu berkelebatnya sinar pedang dari keluarga Kiat, menurut keterangan Kiat IHian cianpwe, aku sudah bisa mengimbangi kekuatan mereka. Hendak mewakili laucu meneruskan upacara sayembara."

Disaat ini, berlari masuk pula seorang informan, ia memberi laporan.

"Lapor kepada Tay-giam-ong, jumlah mereka seratus dua puluh orang semua mencatatkan diri, mendaftar dan mengikuti sayembara,"

"Dimana Thiat oe siansu?"

Bertanya Tay-giam-ong. Informan itu menjawab "Thiat-oe siansu sudah memberi perintah agar melakukan pendafaran satu persatu, tapi mereka menolak, kini sudah memasuki daerah pegunungan-"

Tay-giam-ong adalah wakil Suma Siu Khim.

Suma Siu Khim tidak pernah mengurus persoalan-persoalan yang bertele-tele, semua urusan diatur oleh Tay-giam-ong.

Karena itu laporan-laporan diberikan kepadanya.

Itu bukan berarti meremehkan dan tidak menganggap adanya Kim Hong di tempat itu, Hanya kebiasaan dan tradislonal Rumah Penjara Tay-pa San-Sesudah mendengar laporan, Tay-giam-ong mengulapkan tangan dan berkata.

"Baik. Pergi selidik lagi"

Anak buah itu meninggalkan ruangan. Raja akherat nomor dua, Jie-giam-ong berkata.

"Bah Seratus dua puluh jago silat, Ha-ha Jumlah kita hanya belasan orang, satu lawan sepuluh? Bagus Sudah lama aku gatal tangan, hari ini bisa melampiaskan kepuasan hatiku."

Berbeda dengan sikap Jie-giam-ong yang ugal-ugalan, tidak takut kepada setan dan kepada siapapun juga , sifat Tay-giam ong selalu memperhatikan yang kecil, ia menjadi berduka katanya bersedih hati.

"Walau kekuatan kita tidak bisa diremehkan, tapi anak buah golongan Kalong bukanlah anak buah biasa. Kita harus berhati-hati."

Kim Hong memandang kearah Raja Akherat-Raja Akherat didikan ibunya, kepada mereka ia bertanya.

"Diantara para cianpwe, Siapa yang pandai dan mahir menggunakan senjata rahasia?"

Raja Akherat nomor tiga, Sam-giam-ocg berkata.

"Liok-giam-ong Jarum Bwe-hoa-ciam ciptaannya termasuk salah satu senjata rahasia luar biasa didalam rimba persilatan."

Kim Hong menoleh dan memandang kearah Raja Akherat nomor enam Liok giam-ong dia berkata.

"Lebih baik Liok-giam ong cianpwe menunggu di bawah tenur, siapa yang jatuh hadiahkan saja sebuah jarum Bweehoa-ciam, satu-persatu dibereskan."

Raja Akherat nomor enam Liok-giam-ong menerima perintah, cepat-cepat meninggalkan ruangan itu untuk membikin persiapan.

Ia mendapat tugas membereskan orang dari luar daerah Tay-wan-kok dan golongan Kalong.

Disaat ini, datang pula anak buah rumah penjara Tay-pa San yang melaporkan atas penyerbuan Hamid cs yang lebih dekat.

Dengan suara keras Tay-giamong membentak.

"Silahkan mereka masuk semua"

Tidak lama kemudian, dipelataran yang terdapat tujuh batang tenur besi, sudah berkerumun banyak orang, mereka dibawah pimpinan tokoh utama jago Tay-wan-kok Hamid yang didampingi oleh Jooss dan Mobilson.

Di belakang ketiga jago-jago Tay-wan-kok itu, terdapat juga Brey, Dokucan, Paul, Kuat, Alwi dan Sulek.

Di belalang sembilan jago Tay-wan-kok.

baru berdiri anak buah golongan Kalong, mereka dibawah pimpinan Jie Hiong Hu, ouwyang po-kui, Yo Kim Hwa, Yap Tiong cu, dan sepasang iblis dari daerah Lo-hu.

Semua orang mengurung dan mengincar rumah penjara Tay-pa-san.

Kim Hong mengeluarkan tertawa panjang tubuhnya melejit keluar dari salah satu jendela berbentuk hati maya.

Kim Hong sudah menempatkan dirinya pada salah satu tali tenur menudingkan jari ke arah Hamid dan membentak.

"Hai, Hamid kotor, berani bertempur dengan diriku?"

Wajah Hamid ditekuk masam, sepasang matanya memancarkan sinar beringas, dia membentak.

"Bocah tidak tahu diri, lekas masuk dan beritahu kepada ibumu, biar dia yang meneruskan pertandingan."

Dengan tertawa Kim Hong berkata.

"Hendak menerima pelajaran ibu? Baik, Tapi kau harus kujajal dahulu."

Dengan marah Hamid membentak.

"Kapan rumah penjara Tay-pa-san mengganti peraturan?"

Dengan dingin Kim Hong bertanya.

"Apa rumah penjara Tay-pa-san harus mengganti aturan seijinmu? Bah Kita orang mempunyai cara-cara tersendiri, lawannya aku. Mana dadamu? Kalau kau tidak berani melawan aku, kembalikanlah kepalamu, lekas ngiprit pergi."

Sepasang biji mata Hamid yang hitam terputar tiba-tiba ia tertawa dingin, berdehem sebentar dan berkata.

"Ha-ha... aku tahu Ibumu masih belum sembuh dari lukanya, bukan? Maka menyuruh kau keluar menampilkan diri?"

Kim Hong tersenyum dan berkata.

"Apa matamu sudah hampir buta? Tidak melihat dicabutnya tanda istirahat perang? Penyambutan-penyambutan kepada setiap orang yang hendak mengikuti sayembara?"

Hamid tidak bisa membenarkan dugaannya, mendelikkan mata dan membentak.

"Lekas suruh ibumu keluar, aku hendak menerima sayembara laucu rumah penjara rimba persilatan Tay-pa San"

"Aku adalah ketua muda dari rumah penjara Tay-pa Sanlawan aku"

Wajah Hamid menjadi matang biru, ia menganggap dirinya lebih tinggi setingkat dari Kim Hong, tidak mau melawan anak kecil, karena itu, ia menoleh kearah Brey dan berkata.

"Brey, beri persen lagi hawa panas Tay-yangsinkang kepadanya."

Brey menerima perintah itu, maksudnya hendak tampil kedepan, menerima serangan-serangan.

Disaat ini, salah satu dari kedua Lo-hu-pay.

Kha Gi San mendelikan mata, menoleh kearah Hamid dan memberi hormat.

"Hamid cianpwe,"

Memotong ayam tidak perlu mengguna kan golok besar, bocah ini serahkan saja kepadaku."

Dengan berkerut alis, Hamid berkata.

"Kau bukan tandingannya"

Dengan dingin Kha Gi San berkata."ya"

Wajah sepasang iblis dari daerah Lo-hu-pay yang terkenal sudah mulai kehilangan fungsi.

Sesudah keluar dan meninggalkan rumah penjara, selama ini tak tahu telah melakukan apa.

Sesudah mendapat tegoran Hamid dia berkata lagi.

"Aku masih ingin kembali ditangan mereka mengapa locianpwe tidak menyerahkan kedudukan pertama?"

Dengan menyeringai kejam. Hamid membentak.

"Apa kau hendak menantang diriku?"

Dengan sikapnya yang masih kaku Kha Gee San berkata .

"Mana berani dikatakan menantang? Aku hanya meminta kebijaksanaan cianpwe."

Disaat ini, ketua golongan Kalong membentak.

"Kha Gee San,jangan kau berlaku kurang ajar kepada Hamid cianpwe."

Biasanya Kha Gee San tunduk kepada ketua golongan itu, hari ini tidak, ia melirik kearah sang istri Pa cap Nio hanya sebentar tanpa mengucapkan ba dan bu tubuhnya melompat kearah tenur besi.

Disana sudah berdiri Kim Hong, tangannya terayun menyerang sipemuda dan membentak.

"Hayo bocah kurang ajar. Biar aku yang melayani permintaanmu"

Tindak tanduk Kha Gee San pada hari ini agak menyimpang dari kebiasaannya Kim Hong merasa terkejut dan heran, ia mengegos diri dari serangan Kha Gee San, kesamping sedikit, dengan dingin berkata.

"Kha Gee San, aku tidak menaruh dendam kepada kalian suami isteri dari daerah Lo-hu, tapi janganlah tidak tahu diri. Lekas mundur"

Kha Gee san tidak melayani kisikan itu, terus menerus menyerang kearah Kim Hong.

Kekuatannya juga tidak berkurang.

Sampai dimana ilmu kepandaian Kha Gee San-Kim Hong lebih maklum dari pada orang itu sendiri.

Ia sudah mendapat ilmu kepandaian hebat untuk meng a la h kan Kha Gee San bukan urusan sulit.

Tapi ia tidak mau kalau Hamid itu bisa mengetahui kemajuan ilmu silatnya, jangan terlalu panas kalau saja menjatuhkan Kha Gee San dalam waktu singkat penilaian harga bertambah, lebih Sulit mengalahkan mereka, karena itu dengan hanya mengeluarkan kekuatannya ia menggempur Kha Gee San secara bermain-main.

Bertempur lebih dari tiga puluh jurus, dengan suara perlahan tiba-tiba Ka Gee San berkata.

"Bocah Kim Hong, Hamid telah mempersiapkan boom Pek lek tan kepada setiap orang yang datang. Kau harus berhati-hati. Boom peledak ini sangat hebat, bisa menghancurkan semua isi rumah penjara. Lekas pukul jatuh aku, dan beritahu ibumu akan adanya bahaya itu"

Kim Hong terkejut, dengan menekan suara mengirim gelombang tekanan tinggi ia bertanya.

"Apa yang dimaksud dengan boom peledak Pek-lek-tan?"

Kha Gee San makin menyerang, ia juga berkata perlahan.

"Itulah semacam mesiu buatan Hamid. Sesudah dilempar bisa meledak dan menimbulkan kebakaran. Tidak mudah dipadamkan. Aku kira jumlah orang rumah penjara terlalu sedikit. Kalau saja kalian mempunyai banyak jago, lebih baik bertempur secara dekat-berdekat, jangan beri kesempatan orang-orang dari luar daerah itu melemparkan bahan peledak."

Dengan heran Kim Hong bertanya.

"Mengapa kau beritahu rahasia ini?"

Sepasang sinar mata Kha Gee San seperti menyemburkan darah, ia berkata "Si banci Jie Hiong Hu itu telah memperkosa isteriku, huh Isteriku tidak berani membikin pengaduan-Tetapi banyak orang sudah tahu mereka melakukan perbuatan terkutuk.

Dilakukannya perbuatan itu karena aku tidak ada disamping mereka.Jie Hiong Hu sangat lihay, aku bukan tandingannya Nanti, kalau bisa membunuh banci itu, aku hendak menghadiahkan semua harta kekayaan seluruh gunung Lo-hu-san-"

Kim Hong mendesak Kha Gee San sehingga kejendela rumah penjara, ia berkata "Nah Lompat dan masuklah kesana nanti akan kubunuh ketua golongan Kalong itu"

"Tidak"

Kha Gee San menolak.

"celakalah nyonyaku, lebih baik kau pukul akujatuh ke bawah."

"Bagaimana dengan nyonyamu?"

Bertanya Kim Hong.

"Tentu saja dia akan tampil kedepan. Itu Waktu kau juga boleh pukul jatuh kebawah."

Berkata Kha Gee San. Kim Hong berkata.

"Di bawah tenur ini telah bersembunyi seorang Raja Akherat, selalu siap dengan jarum Bwe-hoa-ciam. Kalau kau bisa sampai dibawah kau bisa mendapat serangan jarum hebat itu."

"Tidak takut. Aku bisa siap sedia."

"Baik"

Sesudah berkata begitu Kim Hong membentak keras, tangannya ditebas, memukul kepinggang Kha Gee San.

Kekuatan ini memang hebat dan dahsyat, dimisalkan sengaja Kha Gee San juga tak mungkin bisa mengelakkannya.

Terdengar suara jeritan Kha Gee san, bruk/ tubuhnya terpental dan jatuh kedalam jurang.

Kekalahan Kha Gee San sudah berada dibawah perhitungan semua orang.

Kecuali jeritan Pa cap Nio, tak ada yang merasa kasihan-Jeritan Pa cap Nio dibarengi oleh munculnya nyonya gunung Lo-hu-san itu, ia lompat ke tenur dan menyerang Kim Hong, dengan hati sedih ia membentak.

"Bocah tidak tahu budi biar aku mengadu jiwa "

Melupakan kepada kepentingannya, Pa cap Nio menyerang seCara membabi buta.

Dengan mudah Kim Hong mengelakan setiap serangan Pa cap Nio, menggunakan gelombang tekanan tinggi yang hanya bisa disalurkan kepada Pa cap Nio seorang dia berkata.

"Nyonya Kha Gee San apa kau sudah tidak mau menemui suamimu."

Dengan menjerit keras, Pa cap Nio berteriak.

"Mengapa tidak mau bertemu? Huh Kalau aku yang bertanya kepadamu, apa kau sudah tak mau nona Leng Bie Sian? Apa jawabanmu?"

Karena cara-cara Pa cap Nio yang tidak mengerti situasi, Kim Hong juga berteriak keras.

Kini tidak menggunakan gelombang tekanan tinggi, semua kata-kata dapat didengar oleh semUa orang "Baiklah Biar kupukul jatuh kau kebawah.

Disana sudah menanti kehadiran suamimu"

Pa cap Nio berkata.

"Tentu saja aku mau bertemu dengan suamiku, tapi tidak didalam keadaan dunia akherat sesudah aku menuntut balas."

Kim Hong merasa geli, ia juga mempunyai itikad baik, Karena itu, dengan perlahan berkata "Nyonya Kha Gee San suamimu jatuh dibawah sengaja, dia hendak meninggalkan rombongan golongan Kalong, kalau kau tidak lompat kebawah, apa lagi yang ditunggu ?"

Pa cap Nio tertegun. beberapa saat kemudian ia berkata.

"Betul? Apa kau tidak bohong ?"

"Tentu saja betul,"

Berkata Kim Hong. Saking benCinya pada ketua golongan Kalong......Wajah Pa cap Nio berubah, tangan dan kakinya gemetaran, ia bertanya kaget.

"Apa betul yang dikatakan ?"

Kim Hong menggoyangkan tangan dan berkata.

"Tanya sendiri kepada yang dibawah."

Mereka bercakap-cakap. Sehingga mengganggu jalannya pertempuran, hal ini mengejutkan semua orang. Lebihlebih ketua golongan Kalong. ia berteriak panas.

"Pa cap Nio, apa yang kalian sedang kerjakan ?"

Pa cap Nio menangis, menutup muka sendiri, lalu berteriak.

"Oh Tentu dia sudah mengetahui hal itu, oh Bagaimana aku....."

"Jangan khawatir."

Berkata Kim Hong.

"Dia masih tetap Cinta kepadamu, temuilah dia dibawah."

"Apa yang sama? Apa yang cocok?"

Tiba tiba Pa cap Nio menoleh kesamping, menuding jari kearah ketua golongan Kalong ia membentak.

"Jie Hiong Hu, kalau aku tak ikut mati pada hari ini, aku bersumpah untuk menuntut balas."

Sesudah itu, ia melepaskan injakan kakinya, terjun kedalam jurang. Dua anggauta sudah dlkalahkan Tentu saja Hamid marah besar segera ia membentak.

"Brey Lekas hantam bocah itu."

Brey sudah lompat kearah tenur besi, menudingkan jari kearah Kim Hong dan membentak.

"Hei, mengapa kau sudah menghilangkan semua ilmu kepandaian Paul?"

Paul adalah Suheng Brey, ilmu kepandaiannya sudah dihancurkan oleh Kim Hong, karena itu dia merasa Sakit hati, Kim Hong sudah bersiap sedia, ia berkata.

"Apa masih kurang pantas? Apa diharuskan membunuh dirinya?"

Sepasang mata Brey dipentangkan lebar-lebar, dengan wajah merah ia membentak.

"Akan kuhancurkan kepalamu."

"Baiklah"

Berkata Kim Hong "Lekas kau turun tangan"

Brey menjerit.

tangannya dijulurkan, menyerang Kim Hong.

Terjadi pertempuran yang hebat.

Kim Hong masih tidak menggunakan kepandaian simpanan, ia melayani dengan berhati-hati.

Ilmu kepandaian Brey bisa mengimbangi ketua golongan Kalong, dahulu, lain sekarang.

sesudah mendapatkan pelajaran berkelebatnya sinar pedang dari keluarga Kiat didaSar telaga Tay-pek-tie, sesudah memakan obat Tiangseng-pu-lo-tan, kekuatan Kim Hong jauh naik berkali lipat.

ia sudah berada diatas Brey.

Kalau Kim Hong mau, dengan mudah bisa menjatuh kan Brey, Hanya Kim Hong sudah memperhitungkan akibatnya, hal ini harus dirahasiakan dan siap untuk menempur Hamid.

Pertempuran masih berlangsung tetus, terjadi saling gebrak.

elak-mengelak.

Satu saat, Brey mendorong kedua tangan serangan ini disambuti oleh kedua tangannya Kim Hong.

"Bekkk ......"

Terdengar suara letupan yang keras, tubuh Brey terpental, kakinya meninggalkan tali tenur, jatuh kedasar jurang.

Hamid, Joos dan Mobilson berteriak kaget.

kekalahan Brey berada diluar dugaan mereka.

Apa yang menyebabkan kemajuan Kim-Hong begitu hebat?

Inilah yang menjadi teka-teki "Aha"

Tiba-tiba Hamid berteriak kaget.

"pasti Tentunya obat Tiang-seng-pu-lo-tan"

Hamid menoleh kearah Joos dan menoleh pula kearah Mobilson, mereka berkasak-kusuk.

didalam bahasanya, sesudah itu, Mobilson tampil kedepan, lompat terbang melayang ketengah-tengah jurang, meletakkan kakinya diatas tenur besi, memandang musuhnya beberapa waktu, baru ia berkata.

"He, apa kau sudah makan obat Tiang-seng-pu-lo-tan?"

Dengan tertawa Kim Hong berkata.

"Aku tidak mendapat kotak ajaib, dari mana mendapatkan obat Tiang-seng pu-lo-tan?"

Mobilson menyeringai, ia berkata.

"Kotak ajaib sudah didapatkan oleh ibumu, mengapa tidak mendapatkan Tiang-seng-pu-lo-tan ?"

"Kotak itu sudah kosong."

Berkata Kim Hong."

"Bohong"

Berkata Mobilson.

"Tidak percaya?"

Berkata Kim Kong.

"Terserah kepadamu. obat yang berada didalam kotak ajaib sudah tidak ada didalam tempatnya,"

"Mengapa?"

Baca Juga: Laron Pengisap Darah 7

Baca Juga: Iblis Sungai Telaga 7

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert