Ceritasilat Novel Online

Tangan Berbisa 10

Eps 10 Tangan Berbisa - Khu Lung Tjan Id

Baca online Tangan Berbisa - Khu Lung Tjan Id

Cersil Tangan Berbisa - Khu Lung Tjan Id.

Disaat ini, tiba-tiba terdengar suara Sulek yang menggelegar, tubuhnya berputar, pedang yang diangkat tinggi itu mencelat, memapaki datangnya serangan Kim Hong.

Kecepatan ini begitu cepat, lebih cepat dari gerakan Tamu tak diundang dari luar daerah, lebih hebat dari ilmu pedang huruf ENG Tentu saja Kim Hong terkejut, serangan tadi seperti sengaja menyerahkan tangannya kepada sang lawan, apa boleh buat, ia menggeser sedikit dan menggunakan kedua kakinya menendang kearah tangan Sulek.

Sulek mengeluarkan suara dengusan, seperti sudah menduga akan adanya cara penghadangan yang seperti ini, pedang yang membacok turun itu menggeser berganti arah.

kini memapas kearah datangnya kaki Kim Hong.

Lagi-lagi Kim Hong dikejutkan, kini dia seperti mengantarkan Kakinya kepada kelewang musuh.

Apa boleh buat dengan menanggung resiko bahaya besar, dia melompat turun-Saat itu, tiba-tiba terdengar suara letusan yang mengejutkan kedua orang.

Masing-masing mundur kebelakang.

Kim Hong menengok kebawah, celana kakinya telah sobek.

Yang untung, Sabetan senjata itu tidak mengenai kulitnya, walau demikian.

Kim Hong sudah mengeluarkan keringat dingin.

Sulek juga menderita sedikit kerugian, senjatanya hampir terpukul pergi, ia terganggu sebentar sesudah itu maju lagi menubruk, kelewang panjang itu menari-nari bagaikan ular yang lincah memagut dan menyampok.

Kim Hong mengelit mundur, lompat kadang-kadang menggunakan jurus kipas wasiat, melayang dengan kecepatan-kecepatan kilat.

Masing-masing sudah menforsir ilmu kepandaiannya.

bertarung menjadi satu.

Semakin lama, kilauan cahaya pedang semakin cepat bergulung-gulung, akhirnya membuat satu bola tidak membedakan dimana adanya kedua orang itu.

Pertempuran berjalan terus sehingga hampir seratus jurus, Kim Hong belum bisa mengubah situasi, Sulek memang jago hebat, jago dari luar daerah.

Jago negara Tay-Wan-kok yang luar biasa.

Kelewang sulek menekan kegarangan Kim Hong situasi berada didalam tangannya, ia ber-dehem dan berkata "Kawan, ilmu kepandaianmu hebat juga untuk daerah Tionggoan tentunya menduduki urutan tertinggi "

Dengan suara keras Kim Hong berkata.

"Terima kasih kepada pujianmu. Aku hanya bisa menduduki kelas dua."

Dengan dingin Sulek berkata.

"Huh Jago kelas dua memiliki kekuatan yang seperti ini? Tidak percaya."

Kim Hong tertawa besar ia berkata.

"Betul-betul aku hanya bisa menduduki kelas dua, bagaimana keadaaamu didalam negaramu, kau adalah jago kelas satu, bukan?"

"Kedudukan lebih payah lagi. Aku hanya jago nomor tiga."

Berkata sulek. Dengan tertawa Kim Hong berkata.

"Maka aku masih berada diatasmu."

"Kenyataan tidak. Kini kau sudah hampir kalah."

"Ha ha..,., hayo Kita bertempur lagi."

Kim Hong lompat mundur kebelakang, kipas ditangan terlempar, dibuang kearah muka Sulek.

Sulek tidak menduga kepada keadaan itu, kelewang diayun, memukul kipas dengan maksud menjatuhkan senjata aneh itu.

Secepat kilat Kim Hong maju kedepan, tangannya didorong, dengan tipu Kui Ko sin-houw, salah satu dari tiga pukulan maut, dia menghantam dan menghajar.

"Nah Terima, ini."

Berkata Kim Hong.

SuleK berhasil sudah memukul kipas Kim Hong, tapi kelewangnya sudah digerakkan, untuk menarik kembali tidak keburu.

Dadanya terpukul beek...

seperti dihantam palu besar, isi-isi jeroan itu bergolak darahnya mau menyembur keluar, dengan langkah terhuyung dia terdorong kebelakang, Kim Hong berhasil mengubah posisi, tidak memberi kesempatan sang lawan membuat situasi baru, ia menubruk maju disaat tangannya masih ditengah udara, dengan jurus clok-po-thian-kang, ia menghajar pula.

Kelengahan Sulek telah membuat kesalahan yang terbesar.

Dia sudah menerima pukulan pertama ini dalamnya menderita luka tidak ada kekuatan lagi untuk menempur musuh itu, tubuhnya melejit kebelakang, dengan maksud mengelakan datangnya pukulan tiga pukulan maut.

Tapi terlambat, kekuatan raksasa dari pukulan Kim Hong mengenai pundak kiri 'bletak.....buk....' tulang tangan telah copot dari kedudukan semula, tubuh Sulek jatuh.

Dokucan sedang bingung mencloag keadaan Alwi, kekalahan Sulek membuat ia terkejut, meninggalkan Alwi, Dokucan menghalangi didepan, ia berteriak kaget.

"Sulek bagaimana keadaanmu?"

Tubuh Sulek meletik bangun, ia berkata.

"Tulang kiriku sudah patah. Tapi tidak mengapa, mari kita bersama-sama menggempur bocah ini."

Sulek dikanan dan Dakucan dikiri mereka menggempur Kim Hong.

Kedudukan berubah, dengan tangan kosong Kim Hong harus melayani dua jago dari luar daerah tay-wan itu, Sulek dan Dokucan menggunakan kelewang, gerakannya masih cukup lincah, gesit dan aneh, tentu saja membuat Kim Hong kerepotan.

Beberapa jurus lagi agak sulit untuk Kim Hong mempertahankan diri.

Mungkin jiwa si pemuda bisa terancam.

Saat itu, meluncur datang seekor kuda hitam, penunggangnya adalah seorang pemuda berbaju putih segera ia meluncurkan kudanya kearah pertempuran dan berteriak.

"Tidak tahu malu? Dua keroyok satu?"

Dalam kerepotan, Kim Hong masih bisa melirik kearahnya seekor kuda tunggangan ini. itulah sijago muda Bok siu. cepat-cepat Kim Hong berteriak.

"Saudara Bok Siu, lekas tolong aku."

Pemuda berpakaian putih itu lompat turun dari kudanya, betul-betul Phiauw-peng Kiam-kek Bok Siu. Mengeluarkan pedang dan menunjuk kearah Sulek ia berkata.

"Hei Berani kau menempur aku?"

Dokucan menoleh kearah Sulek dan bertanya.

"Toako, bagaimana baiknya ?"

Sulek berkata.

"Kau coba-coba lawan "

Dokucan lompat keluar dari kalangan, menyabatkan kelewangnya kearah Phiauw-peng Kiam-khek Bok siu.

Bok Siu menggunakan pedang, menangkis datangnya Kelewang, dengan ilmu pedang huruf Eng, menggencar kearah Dokucan-Ilmu pedang huruf Eng adalah ilmu pedang kenamaan, terdengar Satu suara.

Trang ......

masing-masing mundur kebelakang.

Datangnya Phiauw-peng Kiam-khek Bok Siu meringankan Kim Hong, untuk melawan Sulek yang sudah menderita luka, tentu saja tak begitu sulit, dengan tiga pukulan maut yang dikirim pulang pergi, sulek terdesak, bek, satu kali pula Sulek jatuh ngeloso.

Dokucan meninggalkan Phiauw-peng Kiam-khek Bok siu, mendekati Salek.

dan dengan penuh perhatian berkata.

"Toako, bagaimana keadaanmu?"

Wajah Sulek pucat pasi, tenggorokannya mengeluarkan suara kerokok-kerokok, itulah tersumbat oleh darah mati, dia meluncurkan ganjelan itu, memandang kearah Kim Hong sebentar, dengan dingin berkata.

"Baiklah. Hari ini kami menyerah kalah. Tapi aku masih mengharapkan pertempuran ulang, lain kali, aku maSih ingin mencoba-coba ilmu kepandaianmu."

Kim Hong bisa melihat keadaan luka Sulek yang sangat berat, ia tidak mempunyai dendam permusuhan denganjago dari luar daerah itu, hanya karena tidak sedap dan muak, dia sudah memukul orang sehingga begitu berat, hatinya agak menyesal, memberi hormat dan berkata.

"Setiap waktu aku bersedia menerima tantanganmu, tapi aku tidak bisa menunggu, katakan dimana kita akan mengadakan pertempuran ulang ?"

Sulek sedang menoleh kearah Phiauw-peng Kiam-khek Bok Siu dan bertanya.

"Berani kau menyebut ?"

Sulek juga sakit hati kepada Phiauw-peng Kiam-khek Bok siu, kalau tidak ada kedatangannya jago muda ini, ia bisa menumpas Kim Hong.

Karena itulah ia hendak memberi Phiauw-peng Kiam-khek Bok Siu bUkan seorang yang takut diancam, dengan ketus ia berkata.

"Aku Phiauw-peng Kiam-khek Bok Siu, jago nomor dua didaerah Tionggoan-"

"ooo..."

Sulek berkata dingin.

"Jago nomor dua? Siapakah jago nomor satu untuk daerah Tionggoan ?"

Phiauw-peng Kiam-khek Bok Siu mengangkat pundak. dan berkata.

"Kau kalah dengan siapa? Itulah jago nomor satu."

Sulek menoleh kearah Kim Hong, bibirnya tergerak memperlihatkan senyuman ewah, kemudian minta bantuan Dokucan.

kemudian menyuruh Dokucan membangunkan Alwi, ditunggangkan keatas kuda bertiga meninggalkan tempat tersebut.

Ketiga jago dari luar daerah Taiwan dikalahkan oleh Kim Hong dan Phiauw-pek kiam-khek Bok siu.

Kim Hong memberi hormat pada Phiauw-peng Kiamkhek seraya berkata.

"Terima kepada bantuanmu."

Bok siu sudah lompat naik keatas kuda tunggangannya, dengan dingin berkata.

"Tidak perlu mengucapkan terima kasih. Aku bukan datang chusus untuk membantu."

Kim Hong mendekati kuda Bok Siu, dengan tertawa berkata.

"Mau kemana? Bisakah kita bercakap-cakap sebentar?"

"Kita orang sudah tidak ada hubungan."

Berkata Bok Siu ketus.

"Mengapa harus bicara lagi?"

Kim Hong memberi hormat dan berkata.

"Hanya karena urusan Leng Bie Sian, mengapa harus marah?"

Dengan benci Bok Siu berkata.

"Aku tidak bisa melupakan cara-cara pengusiranmu."

"Maaf,"

Berkata Kim Hong "Aku sedang dirundung Kesusahan, maka kurang hormat, dengan itu aku minta maaf."

Berulang kali Kim Hong meminta maaf, Bok Siu juga bisa tertawa, ia berkata.

"Baiklah Aku bisa menerima permintaan maafmu. Hei, bagaimana kau bisa bentrok dengan tiga laki-laki dari luar daerah itu ?"

"Bukan bentrokan."

Berkata Kim Hong.

"Mereka bersenang-senang diatas loteng rumah makan, bernyanyinyanyi dengan tiga hostess. Aku menjadi sebaL Maka memanggil tiga hostess lainnya, mereka itu banyak uang. tapi tentu saja tidak bisa menandingi aku. Karena itulah mereka menantang sehingga bertanding silat ditempat ini."

Mata Bok Siu melotot, dengan kaget ia berteriak.

"Eh, kau juga bisa main hostess? Wah, celakalah negara kita. Apa akibatnya kalau semua jago-jago silat dijajal dengan hostes ?"

Wajah Kim Hong menjadi merah, dengan gelagapan ia berkata.

"Sungguh mati, aku tidak mengganggu mereka. Hanya menyuruh mereka menyanyikan beberapa lagu saja."

Bok Siu berkata.

"Ah, disinilah letaknya kebobrokan rimba persilatan."

Kim Hong menundukkan kepala.

"Heh"

Bok Siu berkata lagi.

"Apa kau mengetahui asal usulnya ketiga tamu dari luar daerah itu?"

Kim Hong sudah merobek sebagian baju dalam, membalut luka dipundak kiri, dan sambil mengerjakan itu ia menjawab.

"Menurut keterangan mereka, semua datangnya dari daerah Tay-Wan. Kau tahu letaknya negara Tay-wan itu?"

Bok Siu lompat turun dari kuda tunggangannya, ia tidak bisa berpeluk tangan karena melihat cara-cara Kim Hong yang membalut luka secara kasar itu, dibalut-balut sekali lagi dan sambil mengerjakan pekerjaan itu ia berkata "Negara Tay-wan terletak dibagian timur se-hek.

semua orang disana mengerti ilmu silat, maka negaranya kuat, karena itu, mereka sudah menjatuhkan daerab Poh-lie, dan daerah Lam-tau.

Menjatuhkan Tay-wan raja."

"Eei?"

Berteriak Kim Hong.

"Pengetahuan umummu banyak sekali?"

Dengan bangga Bok siu berkata.

"Ayahku yang memberitahu, dia adalah jendral diperbatasan kota Beng-koan."

"oh"

Berkata Kim Hong.

"Ternyata anak jendral. Maaf, aku tidak mengenal."

Dengan lebih bangga, Bok Siu berkata.

"Ayahku, adalah jendral kenamaan, Sri-baginda sering mengirim undangan untuk memperbincangkan situasisituasi daerah."

Kim Hong bisa percaya kepada keterangan itu, kini ia bertanya lagi.

"Apa maksudnya ketiga tamu dari luar daerah Tay-wan itu? ilmu kepandaian mereka hebat, juga aneh, kalau mereka merencanakan sesuatu, kukira kita harus hati-hati."

Bok Siu berkata.

"Kedatanganku juga mempunyai hubungan erat dengan mereka."

"Bagaimana hasilnya?"

Bertanya Kim Hong. Bok Siu berkata "Jumlah mereka yang datang kedaerah Tionggoan sembilan orang. Terpecah menjadi tiga kelompok. orangorang yang baru pergi itu adalah rombongan pertama."

"Dan dua rombongan lainnya?"

"Mereka masih berada dibelakang, bagaimana pendapatmu dengan ilmu kepandaian orang yang bernama Sulek itu?"

Kim Hong berkata "Kalau tidak menggunakan tiga pukulan maut, kalau tidak menggunakan kelengahannya biar bagaimanapun tidak mudah mengalahkan mereka."

"Sedangkan mereka itu hanya jago kelas tiga didaerah jago negara Taywan."

Bok siu memberi keterangan. Kim Hong terkejut, mulutnya berteriak "Mereka hanya jago kelas tiga?"

"Betul."

Berkata Bok Siu.

"Tiga orang dari rombongan yang kedua adalah iago kelas dua, dan tiga orang lagi adalah jago kelas satu.Jumlah mereka sembilan orang. Tiga kelas satu, tiga kelas dua, tiga kelas tiga."

"Wah kalau begitu, ilmu kepandaian daerah luar Taywan-kok lebih hebat dari kepandaian kita didaerah Tionggwan, bukan?"

Bok siu menganggukan kepala berkata.

"Karena itulah, kalau jago-jago didaerah Tionggoan tidak mengutamakan ilmu silat, kalau jago -jago didaerah Tionggoan hanya mabok-mabokan dengan hostess. bagaimana kita bisa melawan datangnya musah dari luar daerah?"

Kim Hong menundukan kepala, dia diam.

"Apa lagi sesudah terJadinya rumah penjara rimba persilatan. Semua jago kita dipenjarakan didalam kurungankurungan itu. Satu rumah penjara saja sudah membingungkan orang, kini, timbul lain rumah penjara. Apa akibatnya? oh........ kecuali mereka, golongan Kalong mulai bertingkah lebih sulit untuk menegakkan ketenteraman rimba persilatan-"

Kim Hong bisa menerima keterangan Phiauw-peng Kiam-khek Bok Siu. Bok Siu sudah berkata lagi.

"Kudengar kau mempunyai hubungan dengan penguasa rimba persilatan digunung Tay-pa San, mengapa tidak mencoba membujuknya menantang penguasa rumah penjara digunung Bu San?"

Phiauw-peng Kiam-khek Bok siu adalah murid Tamu Tidak Diundang dari luar daerah mengapa dia memberi anjuran agar Kim Hong bisa membujuk penguasa rumah penjara rimba persilatan digunung Tay -pa-san bentrok dengan penguasa rumah penjara digunung Bu-san?"

Suara yang dicetuskan oleh Phiauw-Peng Kiam-khek Bok Siu sejajar dengan suara Tamu Tidak diundang dari luar daerah.

juga segaris dengan suara Oey Ceng.

Permainan apa yang sedang diracik oleh mereka?

Kim Hong belum berpikir, karena itu waktu otaknya sedang pepat dan bungpet.

Kim Hong sedang memikirkan, bagaimana cara-cara untuk membujuk sang ibu, agar ibu itu bisa membubarkan rumah penjara, kekerasan hati Suma siu-khim tidak mudah digoyahkan hal itu agak sulit.

Sesudah Kim Hong mengetahui bahwa penguasa rumah penjara rimba persilatan digunung Tay-pa-san itu ibu kandungnya sendiri, pikiran Kim Hong berubah.

Lebih baik menggunakan kekuatan ibunya untuk menumpas kekuatan golongan Kalong yang jahat.

atau lebih baik membujuk ibunya membebaskan tokoh-tokoh silat golongan ksatria, agar mereka bisa mengikuti percaturan politik rimba persilatan.

Bisakah hal ini terjadi ?

Dengan adat-adat sang ibu.

Kim Hong menghela napas.

penguasa rumah penjara rimba persilatan yang baru digunung Bu-san menculik Leng Bie Sian.

Apa maksudnya?

Siapa pula yang menggunakan tutup kerudung dan selubung warna kuning itu?

Kekuatan rimba persilatan di daerah Tionggoan telah terpecah belah, kelompok kesatu adalah kekuatan Suma siu Khim.

Kekuatan kedua adalah golongan kalong.

Kekuatan ketiga adalah kekuatan rumah penjara di gunung Bu-san-Diantara ketiga kekuatan itu, kekuatan golongan Kalong yang terjahat.

Kim Hong sedang berdaya upaya untuK menumpas golongan Kalong.

Sebagai apa yang kita ketahui, golongan Kalong berada dibawah pimpinannya seorang wadam, disiang hari ia menjadi seorang laki-laki yang bernama Jie Hong Hu.

Dan mana kala malam hari, ia berubah menjadi wanita cantik dengan nama Jie BiauW Kouw.

Tidak perduli Jie Hong IHu atau Jie Biauw Koaw, ketua golongan Kalong ini adalah manusia cabul.Jie Hong IHu disiang hari main perempuan dan Jie Biauw Kouw dimalam hari mempermainkan laki-laki.

Jie Biauw Kouw lebih terkenal dengan Rumah Setannya.

Inilah pemegang peran yang terjahat.

Bagaimana anak buah golongan Kalong?Jie Biauw Kouw atau Jie Hiong Hu memegang peranan dobel itu?

Para pembaca dipersilahkan mengikuti bagian yang didepan.

Hal ini kita singkirkan untuk sementara mengikuti Kim Hong dan Bok Siu.

Kim Hong sedang melamun jauh, mengenangkan hari depan rimba persilatan yang mulai suram.

Piauw-peng Kiam-khek Bok Siu berkata.

"Hei, apa yang sedang kau pikirkan?"

"oh..."

Kim Hong tersadar.

"Sedang kupikirkan, penguasa rumah penjara digunung Tay-pa-san, kukira, dia bukan tandingan penguasa rumah penjara digunung Bu-san-..."

Karena sang ibu masih mau menutupi dirinya.

Kim Hong tidak membongkar rahasia penguasa rumah penjara rimba persilatan digunung Tay-pa San itu.

Langkah Kim Hong ini agak tepat karena sifat2nya Suma Siu Khim yang keras, akibatnya bisa memburuk kalau sampai terjadi sesuatu yang sulit.

Hari mulai bersurut.

keadaan gelap.

Bok siu lompat naik keatas kuda tunggangannya, ia berkata.

"Mari kita berangkat bercakap-cakap diperjalanan."

Kim Hong juga lompat diatas kuda tunggangannya, merendengi Bok Siu, mereka menuju kearah utara.

Disepanjang jalan, Kim Hong menceritakan pengalaman-pengalamannya didalam rumah penjara baru digunung Bu-san-Bok siu memasang telinga dengan sabar, tapi acuh tak acuh mengikuti jalan cerita itu, seolah-olah dia sudah tahu.

Mengapa Bok siu bisa tahu?

Barang kali para pembaca bisa menduga?

Hanya sang tolol Kim Hong yang tidak tahu, mengawasi Bok siu tertawa.

Singkatnya cerita Kim Hong dan Bok Siu tiba disebuah desa kecil.

ini waktu, luka dipundak Kim Hong menjadi Sakit lebih hebat maka si pemuda berkata.

"saudara Bok Siu, aku agak letih. Kita istirahat saja disini."

Bok siu memandang rekan seperjalanannya. Sesungguhnya luka Kim Hong dirasakan sakit, ia berkata.

"Saudara Bok Siu, kita bermalam disini saja. Besok baru melanjutkan perjalanan-"

Bok siu menolak. dia mengemukakan alasan.

"AkU hendak mengikuti ketiga tamu dari luar daerah itu, mungkin tidak keburu,"

Kim Hong berkata.

"Raut muka mereka dan dandannannya tak sama dengan orang lain, hanya sekali selidik pasti ketemu. Dan juga diantara ketiga orang itu dua menderita luKa. Tidak mungkin bisa melakukan perjalanan malam. Besar kemungkinan mereka juga menginap ditempat ini."

Bok siu bisa menerima keterangan ilmiah seperti itu, ia menundukan kepala, setuju pada pendapat Kim Hong.

Dua orang mencari rumah penginapan satu-satunya dikota tersebut.

Dan yang lebih mengecewakan, disana hanya ada sebuah kamar kosong.

Tidur disatu tempat atau berpisah, tak menyulitkan Kim Hong, tapi Phiauw-peng Khiam-khek Bok siu tidak setuju, ia berteriak.

"Tidak mungkin-Aku tidak biasa tidur dengan lain orang, lebih baik kita meneruskan perjalanan saja."

Kim Hong tertawa nyengir, ia berkata.

"Lukaku sakit lagi, satu malam saja kita bermalam disini."

Bok siu mengerutkan alis, ia memberi alasan datang mengapa tidak mau bermalam di tempat itu, katanya.

"Aku belum pernah tidur bersama-ama orang lain-Hei, kau tidak tidur mengorok ?"

"Tidak."

Berkata Kim Hong.

"juga tidak mencakmencak."

Bok siu berpikir sebentar dan berkata.

"Baiklah. Tapi aku bisa menendang nendang, aku tidak biasa tidur dengan orang banyakkan. Kalau saja sampai menyulitkan dirimu, jangan sesalkan aku."

Sesudah itu, mereka memesan makanan makan didalam kamar.

Keduanya bicara hingga larut malam.

Sesudah malam larut, mereka naik ketempat tidur untuk istirahat.

Bok siu tidur tanpa ganti pakaian lagi, betul-betul ia tidak biasa tidur bersama-sama orang, Bolak-balik, gulang-guling ditempat tidur, tampaknya sangat gelisah.

Lama sekali kejadian seperti itu, akhirnya Bok siu pun tertidur.

Tapi seperti apa yang sudah dikatakan, ia masih tidak bisa tidur tenang, tangan dan kakinya menendang kekanan kekiri mendesak Kim Hong, hal ini membuat sipemuda kelabakan, tertendang beberapa kali.

Akhirnya Kim Hong meninggalkan tempat tidur itu, duduk meringguk dikursi.

Disaat Kim Hong sudah hampir mengantuk, tiba-tiba terdengar suara panggilan Bok Siu.

"Kim Hong toako ..."

Kim Hong sudah mengantuk sekali, tidak membuka matanya, dia menyahut.

"Saudara Bok Siu, kau belum tidur?"

"Kim Hong toako ..."

Kata Bok siu lagi.

"Kau.,,kau... eh, jangan lari"

Kim Hong membuka matanya, dia heran. ternyata Bok siu sedang berada dialam impiannya. Terdengar suara Bok Siu mengoceh lagi.

"Hei, jangan lari...Bah...mau pergi?... Aku tidak kesudian denganmu....."

Kim Hong meninggalkan kursinya, memperhatikan Phiauw-peng Kiam-khek yang mengimpi dan mengigau ditempat tidur. Terdengar lagi impian Bok Siu, dan orang itu mengoceh terus.

"Ah...dia sudah begitu Cinta kepada sumoaynya, hanya gadis yang bernama.....Leng Bie Sian itu.....huh......"

Semakin diperhatikan, keadaan Phiauw-peng Kiam-khek Bok Siu ini semaKin aneh.

Kim Hong bisa membedakan, cara-cara tidur kawan tersebut yang tidak sama.

Lebih mirip dengan cara tidurnya seorang wanita dari pada cara tidurnya seorang laki-laki.

Lekukan-lekukan bentuk tubuhnya sangat ramping itulah ciri-ciri dari seorang gadis.

Tiba-tiba terdengar lagi suara ingauan Bok Siu.

"Nggg......uh.....Sungguh...aku bukan menipu dirinya, aku memang begini....sedari kecil begini......sedari kecil aku mengenakan pakaian laki-laki, bukan sengaja menipu Kim Hong......"

Hati Kim Hong lebih terkejut, dugaannya tidak meleset, betul-betul Phiauw-peng Kiam-khak adalah seorang gadis yang menyamar berpakaian pria.

Mengigau terus menerus adalah kejadian yang tidak baik, cepat-cepat Kim Hong memegang tangan Bok Siu dan memanggilnya perlahan.

"Saudara Bok Siu.... Saudara Bok Siu...."

"Ngg...."

Bok siu memberi sahutan.

Perlahan-lahan ia membuka matanya.

dan ia sadar dari impian itu.

Melihat adanya Kim Hong yang menyaksikan ia begitu rupa, wajahnya berubah, cepat-cepat menarik selimut menyelebungi dirinya.

"Eh,... .aku menendang-nendang dan menyusahkanmu?"

"Tidak "

Berkata Kim Hong tertawa. Bok siu mengeluarkan elahan napas lega, menghindari kerlingan mata Kim Hong, ia berkata dengan tawar "Mengapa kau tidak tidur?"

"Aku tak bisa tidur."

Berkata Kim Hong. Bok siu menggeser tubuhnya, memberi tempat kepada Kim Hong, dengan suara acuh tak acuh ia berkata "Jangan memikir yang bukan-bukan. Tidurlah."

Kim Hong memandang dengan perasaan geli, diperhatikannya bagaimana Bok Siu itu menyingkap rambutnya, memanggil.

"Saudara Bok Siu....."

Suara ini juga mengejutkan Bok Siu, ia menoleh, dengan sungguh-sungguh bertanya "Ada apa?"

Dengan suara kecil, Kim Hong berkata.

"Kudengar tadi kau sedang mengigau."

Bok siu Kaget, cepat-cepat ia lompat duduk dan bertanya.

"Apa yang sudah kukatakan?"

Kim Hong hanya tertawa, tidak menjawab pertanyaan itu.

Wajah Bok siu makin berubah, tiba-tiba menjadi merah.

Menyingkap kain selimutnya, lompat meninggalkan tempat tidur mengambil pedang yang tergantung dan dia berjalan kearah pintu.

cepat-cepat Kim Hong menghadang didepan gadis itu, dengan kedua tangan dipaparnya kekanan dan kekiri, Kim Hong berkata.

"Eh, mau kemana?"

"Minggir"

Berkata Bok Siu ma rah.

"Aku tidak sudi berjalan dengan pemuda ceriwis, aku mau berangkat."

"Mengapa haruS berangkat sekarang?"

Bertanya Kim Hong, Bok siu mendelikan matanya yang jeli, dengan mengertek gigi, menundukan kepala kebawah menahan rasa malunya dan berkata "Kau.....kau...

,kau......sudah mengetahui rahasiaku, kalau kau betul sebagai seorang laki-laki Sejati, biarkan aku pergi,"

"Kepergianmu bukan berarti putus hubungan?"

Bertanya Kim Hong. BOK SIU menggelengkan kepala perlahan, Kim Hong berpikir sebentar, ia berkata.

"Tidurlah lagi. Biar aku diluar, bagaimana?"

Wajah Bok Siu semakin malu, penyamarannya sudah terbuka, sedari kecil, ia mengenakan pakaian pria, sifat-sifat ini tidak bisa dirubah, karena itu ia berkata.

"Tidak Lepaskan. aku. Biar aku pergi."

Kim Hong tidak memaksa, membuka pintu, dan ia berkata.

"Baik. Tapi.... kalau kita berjumpa dikemudian hari, bagaimana panggilan kepadamu ?"

Dengan suara yang sangat perlahan, Bok siu berkata.

"Panggil saja nona Bok Siu."

Sesudah itu, ia berjalan kearah pintu, menoleh kearah belakang sebentar, mengirim satu kerlingan yang menarik, dan melejitkan tubuh, ia lenyap dikegelapan.

Tidak lama, terdengir suara ketoprakan kaki kuda, Bok siu menunggang kudanya, semakin lama, suara kaki kuda semakin perlahan, akhirnya lenyap....

Kim Hong masih berpikir untuk beberapa waktu, benak pikirannya mengenang waktu berkenalan dengan Phiauw Peng Kiam-khek Bok siu.

Pertemuan yang pertama adalah diperjalanan ke Siauwlim-sie, tiba-tiba saja muncul Phiauw Peng Kiam-khek Bok siu.

membunuh mati Pocu cabang dari perkumpulan golongan Kalong, Kesannya itu berdarah dingin, Walau Bok Siu menggunakan pakaian pria tetap menarik dan memikat.

Pertemuan yang kedua.

adalah kemarin sore hari, tibatiba ia meminta Leng Bie Sian, mengatakan bahwa dia hendak memperistri Leng Bie Sian mencegah Kim Hong mengikuti sayembara dirumah penjara rimba persilatan yang baru.

Dan pertemuan yang ketiga.....ha-ha.....bagaimanapun penyamarannya, akhirnya terbongkar juga diatas tempat tidur.

Ah......

Bok siu adalah seorang gadis yang cantik dan memikat.

Kim Hong kembali lagi ketempat tidur, tempat itu bekas dibaringi Bok Siu, semacam hawa seorang gadis masih mengendus hawa avons?

ia tidak bisa menenangkan pikirannya, Kim Hong gelisah sendiri.

Tidak lama kemudian akhirnya Kim Hong berhasil juga menguasai situasi yang seperti itu, ia memeramkan mata.

Tiba-tiba saja Kim Hong dikejutkan ada seorang menowel, dan dengan suara yang adem, seorang itu berkata.

"Hei Kukira kau sudah tidak bisa tidur pulas lagi. Hayo bangun Ikut aku "

Kin Hong lompat meletik, didepannya berdiri seorang berbaju hitam, bersepatu hitam.

itulah penguasa rumah penjara rimba persilatan di gunung Tay-pa-san.

Aaaa...inilah ibunya yang bernama Suma Siu Khim "Kau...,"

Kim Hong terkejut. Suma Siu Khim mengeluarkan emas dari dalam kantong bajunya, ditaruh diatas meja sebagai pembayaran sewa rumah penginapan, sesudah itu ia berkata kepada Kim Hong.

"Mari kita berangkat "

Kim Hong menurut, mengambil buntalannya, dan meninggalkan kamar itu.

Bersama-sama dengan Suma Siu Khim yang tetap mengenakan kerudung muka hitam, Kim Hong mengambil kudanya, meninggalkan rumah penginapan.

Suma Siu Khim masih tetap menggunakan kerudung muka, ia tidak tahu, kalau Kim Hong itu sudah mengetahui penyamarannya, dengan sikap yang dingin, acuh tak acuh dia mengajak Kim Hong.

Kim Hong tidak membongkar rahasia itu, dia juga mengikutinya dengan hati yang kebat-kebit.

Beberapa Saat kemudian, suma Siu Khim bertanya.

"Kau sudah menantang rumah penjara digunung Bu San ?"

"Tidak jadi."

Jawab Kim Hong menggelengkan kepala, Suma Siu Khim menatap dan menoleh kearah Kim Hong, dengan suara keren dan berwibawa ia membentak.

"Sebutkan alasanmu "

Kim Hong mengeluarkan sepucuk surat dari kantong bajunya, itulah surat Leng Bie Sian, diserahkan kepada sang ibu, dan berkata.

"Bacalah Inilah surat dari muridmu."

Suma Siu Khim belum mau mengenal putranya, karena itu Kim Hong juga belum mau membongkar penyamaran sang ibu.

Suma Siu Khim gelisah, satu tanda dari gejolak hatinya yang tidak bisa ditenangkan-Tangan Kim Hong juga agak gemetar, dia sedang berhadapan dengan ibu kandungnya.

tapi sebuah garis pemisah yang tidak terlihat, meredakan hubungan baik itu.

Suma Siu Khim tetap menggunakan kerudung hitam, Satu tanda bahwa penguasa rimba persilatan Tay-pa-san ini belum mau mengakui putra sendiri.

Tampak Suma Siu Khim baca isi surat, dengan mendadak ia menyobek-nyobek surat itu, mengeluarkan gerungan suara marah.ia berteriak.

"Budak hina, berani memberi petuah kepadaku, betul-betul gila Gila "

Suara Suma Siu Khim dilagukan seperti suara pria.

itulah suara penguasa rumah penjara rimba persilatan digunung Tay-pa San Kim Hong merasa agak geli menghadapi ibu sendiri yang bersuara pria, marah-marah dan uring-uringan.

Tentu saja ia merasa geli.

Ibunya tidak mengetahui kalau penyamarannya sudah terbongkar, sangkanya tidak seorang yang tahu kalau penguasa rumah penjara itu adalah Suma Siu Khim yang bernama.

Untuk sementara, Kim Hong tidak membongkar rahasia itu, dengan tertawa tertahan ia berkata.

"Kukira Leng Bie Sian tidak salah. Kau mengejamkan hatimu, memenjarakan begitu banyak tokoh-tokoh rimba persilatan, Maka, kini muridmu ditawan orang. Inilah akibat timbul balik dari perbuatanmu, kalau saja kau tidak membangun sebuah rumah penjara digunung Tay-pa-san mana mungkin ada rumah penjara baru digunung Bu San? Kalau kau tidak mempenjarakan begitu banyak tokoh-tokoh ksatria dirumah penjaramu, tidak mungkin simanusia banci Jie Hong Hu alias Jie Biauw Kow itu mendirikan golongan Kalong, simanusia banci Jie Hong Hu menjadi laki-laki disiang hari, dan menjadi wanita dimalam hari. Parbuatan ini adalah reaksi dari akibat dari cara-caramu yang membuat rumah penjara. Kau harus memikul tangguagjawab."

Dengan marah Suma Siu Khim berkata.

"Kalau aku tidak mau memikul tanggung jawab, bagaimana ?"

Kim Hong menghela napas, dengan menundukkan kepala ia berkata.

"Maka tidak mungkinlah tercapai harapanmu yang membangun dan mendirikan rumah penjara rimba persilatan itu. Kau mengadakan rumah penjara dengan maksud-maksud tertentu, maksudmu itu tidak mungkin bisa berhasiL"

Suma Siu Khim tertawa, dengan suara laki-laki, perlahan-lahan berkata.

"Urusan sipil, hei bergiliran aku yang bertanya, Kau sudah berjanji untuk menolong Leng Bie Sian, bukan?"

"Ya."

Kim Hong menganggukkan kepala.

"Tahukah kau berapa berat harga janji itu? Kini kau tidak mau menolongnya lagi. Mau menelan janji?"

"Sesudah kau membaca surat muridmu itu mungkinkah masih tidak tahu alasannya?"

"Buat apa mengikuti kemauan Leng Bie Sian? Kau tahu, bagaimana sayembara nomor tiga dari rumah penjara digunung Bu San ?"

Kim Hong berkata.

"orang yang bisa menerima satu gebrakan dari rumah penjara digunung Bu San, orang itu keluar sebagai juara. Dan mempunyai kesempatan untuk menolong istri, adik perempuan atau lainnya. Siapa saja yang hendak dipilih atau boleh memilih salah seorang gadis yang tertawan didalam rumah penjara itu, maka penguasa penjara digunung Bu San akan menikahkan."

"Betul,"

Berkata Suma Siu Khim.

"Tahukah maksud tujuan itu ?"

"Maksudmu, aku hendak dijodohkan dengan Leng Bie Sian ?"

Bertanya Kim Hong.

"Sudah jelas dan gamblang. kalau kau berhasil memenangkan pertandingan, penguasa rumah penjara baru dia berhak memaksa orang tawannya dijodohkan kepadamu. Tidak ada alasannya lagi yang bisa menolak."

"Tapi aku mengetahui, tak mungkin bisa memenangkan penguasa rumah penjara yang baru."

Jawab Kim Hong.

"Bohong"

Bentak Suma Siu Khim.

"Tidak bohong"

"Paling sedikit kau bisa menerima tiga puluh jurus serangannya."

"Tidak. Satujuruspun tidak bisa menerima."

"Begitu hebat?"

Suma Siu Khim menatap Kim Hong dengan penuh kecurigaan.

Maka, Kim Hong menceritakan pertemuannya dengan seorang misterius yang bernama Oey Ceng, bagaimana Oey Ceng itu mendahuluinya menempur rumah penjara yang baru digunung Bu-san.

Dengan hasil untuk kemenangan bagi penguasa rumah penjara yang baru.

"Seorang laki-laki yang bernama Oey Ceng?"

Penguasa rumah penjara lama Suma Siu Khim memperhatikan rasa tidak perCaya.

"Didalam rimba persilatan tidak ada tokoh silat yang bernama Oey Ceng."

Kim Hong mengeluarkan batu Han-Giok milik Oey Ceng, batu Han-Giok itu sedianya dijadikan barang taruhan, bilamana Oey Ceng kalah, batu han-Giok harus diserahkan kepada Penguasa rumah penjara yang baru.

Kim Hong berhasil kembali, dan kini diserahkan kepada Suma Siu Khim seraya berkata.

"Inilah barang yang paling disayang olehnya, ia pernah berkata, Han-Giok ini akan diserahkan kepada orang pertama yang bisa memenangkan pertandingan sayembara rumah penjara yang baru, dan berhasil kudapatkan."

Su ma Siu Khim mengambil batu han-Giok itu, wajahnya berubah. Bulak balik diperhatikannya, tiba-tiba ia berteriak seperti orang gila "Aa.......dia.........dia....."

"Dia Siapa?"

Bertanya Kim Hong.

"Dia adalah ayahmu"

Berkata Suma Siu Khim.

"oh"

Kim Hong terbelalak.

"orang yang mengaku bernama Oey Ceng itu adalah ayahKu?"

"Oey Ceng adalah samaran Kim Hoong"

"Bagaimana kau tahu?"

Pertanyaan Kim Hong ini tentu saja ber-lebih2an, orang berkerudung serba hitam yang berada didepannya, Walau tetap menggunakan kedudukan sebagai penguasa rumah penjara yang lama itulah ibu kandungnya, mana mungkin Suma Siu Khim tidak mengenal kepada pusaka kesayangan suami sendiri?

Ai......pantas saja orang itu memiliki wajah yang hampir sama dengan Kim Hong.

Kim Hoong dan Kim Hong adalah ayah dan anak tentu saja memiliki wajah yang hampir sama.

Oey Ceng adalah samaran Kim Hoong?

Suma Siu Khim berhasil menguasai gejolak hatinya, dengan tenang ia berkata.

"Dengar, aku pernah mendengar Cerita dari ibumu, kalau benda yang bernama batu Han-Giok ini, adalah benda pemberian ibumu yang diserahkan kepada ayahmu, inilah tanda pertunangan."

Kim Hong menatap sang ibu beberapa saat, tiba-tiba ia lompat kearah kuda dan dikabur kearah selatan.

Suma Siu Khim bergerak sangat Cepat, kini ia sudah sampai didepan kuda itu menghadang perjalanan Kim Hong dan membentak.

"Hei Mau kemana ?"

Kim Hong menarik les kudanya, menatap kearah ibu sendiri yang menggunakan tutup kerudung berwarna hitam itu, ia berkata.

"Aku hendak bertemu dengan ayah didalam rumah penjara yang baru. Aku hendak menantang penguasa rumah penjara baru itu."

Suma Siu Khim berkata.

"Kau tidak bisa memenangkan sayembara pertandingan dirumah penguasa penjara yang baru bukan ?"

"Aku bersedia duduk didalam rumah penjara, aku hendak menemani ayah disana."

"Apa artimu?"

Bertanya Suma Siu Khim dengan air mata mengucur keluar, Kim Hong berkata.

"Karena ibuku sudah tidak mau mengaku anak, maka aku hendak bersama ayah saja."

Hati Suma Siu Khim tercekat, ia bertanya "Siapa yang bilang, kalau ibumu tidak. membutuhkanmu lagi ?"

Dengan menundukkan kepala kebawah, Kim Hong bertanya.

"Kalau ibu masih membutuhkan aku, mengapa sampai detik-detik ini tidak mau membuka tutup kerudung mukanya ?"

Suma Siu Khim lompat kebelakang, sepasang matanya bersinar terang menyorot kedepan. dan dia berkata.

"Siapa yang memberitahu? Ayahmu? Apa Leng Bie Sian ?"

"Leng Bie Sian,"

Berkata Kim Hong.

"Tapi ia membuka rahasia tanpa disadari."

Mengetahui rahasianya sudah terbuka, Suma Siu Khim menghampiri putra itu, mengelus-elus rambutnya, berkata dengan mesra.

"oh, bukan sengaja. Bukan aku tidak mau mengenal, aku takut kalau kau meminta sesuatu yang bukan bukan2, seperti yang sudah kau tahu, keadaanku sangat sulit."

"Kedudukan apa yang sangat sulit."

Bertanya Kim Hong.

"Kedudukanku mempunyai hubungan erat dengan jagojago silat yang kutawan dalam kurungan-kurungan rumah penjara itu."

"Ibu...."

"Memang"

Berkata Suma Siu Khim.

"Adatku kurang begitu baik.

"Aku tidak sengaja untuk menawan dan mengurung orang itu. maksudku hanya main-main saja. Tapi lihat Di dalam keadaan yang seperti ini bagaimaaa ibumu bisa membubarkan rumah penjara rimba persilatan? Apa lagi munculnya rumah penjara baru digunung Bu San-Apa yang dikatakan orang kepadaku? oh. ...."

"Kau tidak mau kepenjara digunung Bu-san, kau tidak mau menolong ayah dan Leng Bie Sian?"

"inilah maksadnya rumah penjara yang baru."

Berkata Suma Siu Khim.

"Siapakah otak ini? Betul-betul aku tidak mengerti. Adanya ia membuat rumah penjara kembar tentu dengan maksud tertentu, dengan maksud menentang kedatanganku. Tapi tidak....tidak.... aku tidak mau datang ketempatnya"

"ibu."

Panggil Kim Hong.

"Menurut apa yang kutahu, kau berjanji tidak turun gunung, hari ini kau sudah melanggar janji sendiri."

"orang yang tidak turun gunung adalah penguasa rumah penjara rimba persilatan digunung Tay-pa-san."

Berkata Suma Siu Khim tertawa.

"Apa lagi hal itu tidak pernah dijanjikan-Mengapa salah? Hari ini yang turun gunung adalah Suma Siu Khim."

"Dimisalkan, disaat kau tidak berada digunung Tay-pasan, datang pula tantangan-tantangan yang bagaimana ?"

"Tidak mungkin-"

Berkata Suma Siu Khim.

"Sudah kupasang pengumuman, bahwa rumah penjara Tay-pa-San istirahat satu bulan."

"Haa, haa...."

Kim Hong tertaWa.

"Jangan tertawa"

Bentak Suma Siu Khim tiba-tiba.

"Ada orang datang"

Secepat itu, Suma Siu Khim buka tutup kerudungnya, dan kini terbongkarlah rahasia rumah penjara digunung Tay-pa San-Betul-betul ia seorang wanita yang masih cantiK.

"Ada orang?"

Bertanya Kim Hong.

"Lihat "

Berkata Suma Siu Khim.

"Itulah duarang satu tua dan satu muda, mereka dari luar daerah."

Seperti apa yang Suma Siu Khim katakan, tidak lama kemudian disana bertambah dua orang, mereka adalah orang-orang asing yang dari luar daerah.

Itulah jago-jago dari negara Tay wan, Kim Hong kenal kepada salah satu diantaranya, itulah Dokucanorang yang merendengi Dokucan adalah seorang tua bercodet, orang tua ini tentunya jago dari luar daerah pula.

Dokucan menunjuk kearah Kim Hong dan berkata kepada siorang tua bercodet.

"Susiok ini dia orangnya"

Orang tua bercodet memandang Kim Hong kemudian menoleh kearah Suma Siu Khim.

Ia memperhatikan kepada kedua orang yang berada didepannya.

Suma Siu Khim tidak memperhatikan keadaan itu, ia memandang Kim Hong dan bertanya.

"Bagaimana keadaan lukamu?"

"Sudah hampir baik."

Berkata Kim Hong.

"Bisa dijajal untuk melaWan mereka."

Orang tua bercodet menggapaikan tangan kearah Kim Hong ia berkata.

"Kemari Ada beberapa kata yang hendak kutanyakan-"

Kim Hong Seperti ditarik oleh gaya magnit, ia menggerakkan kaki hendak menghampiri orang tua bercodet itu.

Tapi Suma Siu Khim keburu menyeret anaknya, ia keburu mencegah kepergian Kim Hong.

Kini dihadapinya seorang tua bercodet dari luar daerah, dan ia bertanya.

"Aku adalah ibu dari anak ini, mau tanya -Tanya saja kepadaku"

Orang tua bercodet itu tertegun sejenak. matanya dikedipkan, dan tiba-tiba ia tertawa.

"Bagus, bagus."

Ia berkata.

"Anakmu ini tanpa sebab musabab telah melukai kedua keponakanku, aku datang untuk membikin perhitungan,"

"ouw ...."

Menganggukkan kepala Suma Siu Khim.

"Perhitungan ini boleh diselesaikan dengan diriku "

Orang tua bercodet berkata "Sebetulnya aku hendak bertanya."

"Tanya Saja."

Berkata Suma Siu Khim. Dengan sungguh-sungguh orang tua bercodet itu bertanya.

"Siapa yang memberi pelajaran silat kepada anaknya?"

"Tentu saja gurunya"

Berkata Suma Siu Khim.

"Siapa nama gurunya?"

Bertanya orang tua bercodet.

"Gurunya adalah tokoh ajaib dari daerah Tionggoan."

"Aku hendak tahu namanya."

Orang tua bercodet mulai naik darah.

"Bicaralah pakai aturan sedikit."

Tiba-tiba Suma Siu Khim mengeluarkan suara bentakkan sangat garing dan merdu, tapi sangat berwibawa.

"Inilah ajaran untukmu,"

Tiba-tiba orang tua bercodet mengayun tangan, memukul kearah Suma Siu Khim.

Dari sana meluncur kekuatan yang mengandung unsur hawa panas.

Suma Siu Khim bisa merasakan adanya hawa panas itu, cepat-cepat menarik Kim Hong kebelakang dirinya dan mendorong tangan menerima serangan.

Secepat itu pula terdengar suara letupan, akibat dari benturan kedua pukulan.

Dari sana menyembur lelatu api, bersembur kekanan dan kekiri.

Dimana terjadi benturan pukulan itu menjadi hangus, Sesudah debu-debu ity melepus, timbul pula asap hitam kebesaran, disana kehilangan jejaknya orang tua bercodet, juga tidak terlihatjejaknya Dakucan-Kedua jago dari luar daerah itu sudah lenyap tanpa bekas.

Lenyap tanpa bekaS ?

Tidak Disana masih ada bekas percikan darah.

Ternyata orang tua bercodet menderita luka, mengetahui tidak unggulan melawan Suma Siu Khim, dengan mengajak kemenakan muridnya dia melarikan diri.

Kim Hong melihat adanya adegan-adegan yang begitu mendebarkan jantung, memandang kearah Sang ibu, dan timbul rasa kagetnya, ia takut kalau ibu itu juga menderita luka.

Suma Siu Khim mematung ditempat.

"ibu kan tidak menderita sesuatu apa?"

Tanya Kim Hong. Suma siu Khim berdiri tenang, untuk beberapa waktu, dia menahan gejolak peredaran jalan darahnya, sesudah berhasil memulihkan peredaran jalan darah itu, lalu membuka mata dan berkata.

"Mari kita kejar mereka."

"Mengejar mereka?"

Bertanya Kim Hong heran.

"Ya. orang tadi memiliki ilmu silat yang tinggi, dia sudah menderita luka Aku hendak menyelidiki asal usulnya."

"Asal usul siapa yang harus diselidiki?"

Bertanya Kim Hong "Hayo kita kejar dulur berkata Suma siu Khim. Kim Hong menyerahkan kuda tungganganya dan berkata.

"ibu, naiklah kuda ini."

Suma Siu Khim tertawa ia berkata.

"Jangan memperlihatkan kebaktianmu dengan cara ini, lekas kau naik kuda, kita harus mengejar."

Kim Hong mengetahui kalau tidak naik diatas kuda, mungkin ia tidak bisa merendeng kecepatan sang ibu dan karena itu ia mencongklang kudanya, mengaburkan kedepan.

Suma Siu Khim sudah bergerak, berdua mereka mengejar kearah larinya kedua jago dari luar daerah itu.

Ditengah perjalanan, Kim Hong bertanya.

"Bagaimana hasil pertempuran tadi?"

Suma Siu Khim berkata.

"Si codet sudah menderita luka, tapi aku juga berat memenangkan pertandingan tadi."

"Mengapa kita harus mengejar mereka?"

"Kalau kita biarkan mereka manantang penguasa rumah penjara yang baru, aku tidak bisa memenangkannya lagi."

"Mereka datang dan daerah Tay wan."

Berkata Kim Hong.

"Menurut cerita, jumlah mereka sembilan orang. Tiga jago kelas satu. Tiga jago kelas dua dan tiga jago kelas tiga, Tadi, anak muda yang bernama Dakocan itu adalah jago kelas tiga. Dan entah bagaimana kedudukannya siorang tua bercodet?"

"Tentu saja termasukjago kelas satu."

Berkata kata Suma siu Khim.

"ia terlalu mengagul diri, maka bisa kukalahkan. Mengetahui tak ungkulan melawan aku, mereka melarikan diri."

"Tidak disangka, daerah itu memiliki jago hebat. Apa maksud mereka datang kedaerah Tionggoan?"

"Yang penting, aku harus mencegah mereka menantang rumah penguasa rimba persilatan yang baru."

"Ibu juga hendak menempur penguasa rumah penjara yang baru."

"Tidak sekarang. Kukira harus satu bulan"

"Mengapa harus satu bulan kemudian?"

"Sebab-sebabnya, biar lain kali kuberi tahu kepadamu."

Mereka berdua membikin pengejaran terus-menerus, tiga puluh lie kemudian masih tidak nampak jejaknya orang tua bercodet.

"Lebih baik kita berpencaran-"

Berkata Suma siu Khim.

"Atau aku kejar sendiri, kau balik menunggu dirumah penjara Tay-pa-san."

"Tidak."

Berkata Kim Hong.

"Aku mau pergi ketelaga Tay-pek tie mencari Yo in-jie sumoay. Dan sekalian membantu dua belas partay besar menempur golongan Kalong."

"Jangan usil."

Berkata Suma siu Khim.

"Lebih baik mengurus diri sendiri .Jangan turut campur dengan urusan orang lain-"

"Ini bukan urusan orang lain-"

Berkata Kim Hong.

"Inipun termasuk salah satu urusan kita."

"Sudahlah. Aku hendak mengejar mereka."

Berkata Suma Siu Khim.

"Biar lain kali kita bertemu dirumah penjara Tay-pa-san saja."

Tabuh Suma siu Khim melejit lagi bagaikan asap yang melepus maju kedepan teruskan pengejaran.

Kim Hong memandang lenyapnya bayangan ibu itu, ibu yang menciptakan drama rumah penjara rimba persilatan-Menunggu sampai lenyapnya bayangan sang ibu, Kim Hong berganti arah, menuju kearah telaga Tay-pek tie.

Tiga hari kemudian-...

Gunung Tay-pek san yang menjulang tinggi telah berada diambang mata.

Kim Hong menguatirkan keselamatan Yo in-jie, dan tanpa istirahat, langsung ia mendekati bukit Tay-pek san.

Disaat ini, tiba-tiba seorang pemuda berpakaian ringkas berlari datang, menghampiri Kim Hong dan berteriak.

"Kawan yang didepan, kau yang menjadi murid It-hu Sianseng ?"

Kim Hong menoleh kearah orang itu menganggukkan kepala dan bertanya.

"Saudara dari mana ?"

"Kau yang bernama Cin Hong? murid It-hu Sianseng?"

Mengulang pertanyaan orang itu. orang lebih mengenal nama Cin Hong daripada Kim Hong nama Kim Hong digunakan sesudah sipemuda tahu asal usulnya. Dia adalah putra Kim Hoong.

"Ya."

Jawab Kim Hong singkat.

"Ada orang yang hendak bertemu, Mari ikut aku."

Berkata Sipemuda berpakain ringkas itu.

"Siapa yang hendak bertemu?"

Bertanya Kim Hong.

"Segera kau tahu."

Berkata pemuda tersebut.

Tidak lama kemudian, mereka sudah berada disebuah tanah pekuburan, disana terdapat patung-patung batu, dan pemuda berpakaian rinkas itu menuju kesalah satu makam, membungkukkan kepala tanda hormat, inilah yang membuat Kim Hong merasa heran.

Dan yang lebih heran lagi segera ternyata batu makam kuburan itu terpentang, perlahan-lahan terbuka, ternyata terdapat kunci, rasanya disana sangat gelap.

tidak teriihat.

Pemuda itu memandang Kim Hong dan berkata "Silahkan Saudara Cin Hong masuk kedalam."

Kesiap siagaan Kim Hong tidak pernah mereda, kalau seorang yang berjiwa ksatria, tidak mungkin mau menggunakan tempat yang seperti ini sebagai penghuni, karena ia menduga kepada golongan jahat, ia menolak.

"Aku tidak mau. Siapa yang hendak berjumpa dengan aku, silahkan saja kemari. orang yang menggunakan makam sebagai tempat tinggal adalah orang-orang yang sudah tidak normal."

Tiba-tiba dari dalam makam itu terdengar satu suara.

"omitobud,"

Satu bayangan meloncat keluar, itulah hweeshlo siauw-lim-sie yang bernama Tie hui taysu. Kim Hong terbelalak heran, cepat-cepat memberi hormat kepada Tie-hui taysu, katanya.

"Ternyata Tie-hui taysu, Mengapa Taysu bisa berada ditempat ini ?"

Tie-hui taysu membalas hormat itu dan berkata.

"Banyak sekali yang harus diceritakan-Silahkan Cin kongcu masuk kedalam."

Adanya Tie-hui taysu ditempat ini tidak meraguragukan Kim Hong, ia mengikuti dibelakangnya memasuki makam itu.

Didalam makam terdapat lorong gelap.

semakin lama semakin lebar, ternyata itulah istana terpendam.

Di ruang pertemuan dari istana terpendam telah berkumpul banyak orang, di dalam istana terpasang banyak lilin, tapi keadaannya sangat sepi.

Setelah tiba disana.

Tiehui Taysu menyilakan Kim Hong duduk.

Kim Hong memandang kearah hweeslo itu dan bertanya.

"Apa maksud Tie-hui Taysu membawa boanpwee ke tempat seperti ini?"

"Lihat"

Berkata Tie-hui Taysu.

Berbareng dengan ucapan Tie-hui Taysu disana tampil beberapa orang, orang pertama adalah ketua golongan Kalong Jie Hiong Hu.

Hari masih siang, ketua golongan Kalong itu menjadi seorang laki-laki, kita sebut Saja Jie Hiong Hu.

Rupanya tempat itu adalah markas golong Kalong Dibelakang Jie Hiong Hu berdiri tiga orang wanita, mereka adalah ouw yang Po kui, Touw Kim Hoa dan Lim Keng Hee.

orang yang menjadi ketiga selir Jie Hiong Hu.

Kim Hong terlompat dari tempat duduknya menudingkan jari kearah Tie-hui Taysu dan membentak.

"Taysu......"

Tie-hui Taysu meraup wajahnya, disana terjadi perubahan, itulah ketua Hek bok-tong dari golongan Kalong yang menyamar.

ia menggunakan kedok kulit Tiehui Taysu, Perangkap yang liehay Kim Hong merasa tertipu, didalam keadaan ini, tidak mungkin bisa melarikan diri lagi.

Disaat bersamaan, di belakang Kim Hong sudah menyusul dua orang, seorang putih dan seorang merah, itulah Lam-kek Sin-kun Im-liat Hong dan Tamu tidak diundang dari luar daerah yang palsu.

Disana sudah berkumpul jago-jago kelas satu untuk golongan Kalong Kemajuan ilmu silat Kim Hong sudah hampir tiada yang menandingi, ia tidak takut kepada Tamu Tidak Diundaog dari luar daerah yang palsu, juga tidak takut kepada im Liat Hong.

Tapi kalau im Liat Hong dan Tamu Dari Luar Daerah yang palsu menempur dirinya secara serentak, tidak mungkin bisa mengalahkan mereka.

Disaat ini, terdengar suara cengekannya ketua golongan Kalong Jie Hiong Hu.

"Kim Hong, lebih baik kau duduk saja."

Kim Hong menghadapi simanusia banci dan membentak "Mau apa?"

"Duduklah"

Berkata Jie Hiong Hu.

"Ada apa?"

"Ada setuatu yang hendak kurundingkan denganmu."

"Urusan apa?"

Bentak Kim Hong.

"Banyak sekali yang hendak dibicarakan-seperti mengambil contoh, golongan kami telah berhasil mendapatkan kotak ajaib peninggalan Dewa Purbakala ditelaga Tay-pek tie."

"Apa?"

Berteriak Kim Hong.

"Kalian sudah berhasil menemukan kotak batu kumala didasar telaga Tay-pek tie?"

Cerita ini betul-betul mengejutkan Kim Hong, apa yang bisa dilakukan olehnya?

Seperti apa yang Kim Hong mengetahui, ketiga nyonya Jie Hiong Hu dan im Liat Hong sudah terluka oleh pukulan Oey Ceng.

Oey Ceng adalah ayah Kim Hong, nama aslinya Kim Hoong ini diketahui dikemudian hari Jie Hiong Hu bisa merasakan, tetap keragu-raguan Kim Hong, segera ia berkata.

"Aku tahu, kau tidak percaya. Nah Untuk membuktikan kebenaran kata-kataku, akan ku-perlihatkan sesuatu."

Jie Hiong Hu mengangkat tangannya, maka dari balik tirai kain bergerak sembilan orang, masing-masing membawa sebuah bungkusan, bungkusan itu diletakkan didepan Kim Hong, satu persatu membukanya,jelas itulah sembilan kepala manusia yang masih mengetel darah.

Dari kepala-kepala manusia itu, terdapat kepala tosu, terdapat kepala hweeshlo, dan terdapat juga kepala dari orang-orang biasa, rata-rata mendelikkan mata, meleletkan lidah.

mereka ialah korban-korban yang sudah mati secara penasaran.

Wajah Kim Hong menjadi pucat pasi, menunjukkan jari kearah Jie Hiong Hu dan membentak.

"Manusia banci, kau kejam Biar kuhajar dirimu"

Manusia wadam itu mengibaskan lengan, maka gagallah serangan Kim Hong.

Jie Hiong Hu memberi perintah kepada orang-orangnya untuk menyimpan kembali sembilan kepala manusia itu.

Dan dia mengeluarkan sesuatu kotak yang berwarna hitam, diletakkan diatas meja dan berkata.

"orang-orang itu tidak mempunyai hubungan baik denganmu. Tidak perlu dipikiri, inilah yang harus kita perhatikan."

Kim Hong segera menduga kepada kotak batu kumala.

Ingin sekali Kim Hong merampas kotak batu kumala itu, tapi didepannya begitu banyak jago-jago kelas Satu, apa yang bisa dilakukan olehnya ?

Ketua golongan Kalong .Jie Hiong Hu berkata.

"Inilah kotak ajaib yang ditinggalkan oleh Dewa persilatan Thay-pek Sian ong. Didalamnya berisi dua belas butir obat anti tua, dan dua belas macam ilmu silat ternama. Hari ini, akutelah mendapatkannya. ha-ha......Apa artinya penguasa rumah penjara yang lama ? Apa artinya penguasa rumah penjara yang baru ? Mulai saat ini, aku adalah jago tunggaL Tak ada orang yang bisa memenangkan aku lagi. Hua, hua, hua ... ."

"Hm ... ."

Berdengus Kim Hong.

"Kau sudah berhasil mendapatkan kotak ini, tapi kau belum berhasil mendapatkan dua belas kunCinya apa guna ?"

"Kau belum tahu."

Berkata ketua golongan Kalong Jie Hong Hu.

"Digunung ong ok-san aku telah mendapatkan delapan kunci mas. Kemudian, secara beruntun, dari Siauw-lim-pay, Bu-tong-pay dan Khong-tong-pay, aku mendapatkan tiga kunci mas lagi. hanya kurang satu, kunci mas Hoa-san-pay itu. Sedangkan kunci mas oey-san pay berada ditanganmu, kau sudah berada disini, apa susahnya lagi. ha ha ha..."

Hati Kim Hong semakin tercekat, tapi ia berusaha menenangkan hatinya, ia berkata.

"Jangan mempunyai pikiran yang tidak-tidak. Kunci mas itu sudah tidak berada diatas tubuhku."

"Tidak perlu menyangkaL"

Berkata ketua golongan Kalong Jie Hiong Hu.

"Telah kuseliki betul-betul, kunci mas itu masih berada didalam tanganmu."

Kim Hong tidak berhasil mengelabui si iblis banci itu, ia memegang kunci masnya dan lalu mengeluarkan ancaman.

"Betul kunci mas ini adalah hakku. Siapa yang hendak merampasnya akan kuhancurkan."

Wajah Jie Hiong Hu berubah, kalau saja, kunci Kim Hong dihancurkan ludeslah pengharapannya, tidak mungkin menggunakan sebelas kunci mas membuka kotak ajaib.

Tapi, dia sudah siap dengan rencana berikutnya.

"Cin Hong."

Ia berkata.

"lebih baik kita bekerja sama, akan kubagi bagian untukmu."

Cin Hong adalah panggilan yang lain kepada Kim Hong.

"Aku tidak mau."

Maka Kim Hong menolak.

"fifty fifty ?"

Ketua golongan Kalong Jie Hiong Hu merayu.

"juga tidak mau"

Berkata Kim Hong.

"Apa yang kau kehendaki ?"

"Aku menghendaki kotak ini dan sebelas kunci lainnya."

Berkata Kim Hong.

"Huh "

Ketua golongan Kalong Jie Hiong Hu berkerut alis.

"Baik Mm, kemana orang ? Bawa dia kemari."

Dia mengganti taktik baru Membarengi perintah Jie Hong Hu dua anak buah golongan Kalong menenteng papan salib, papan Salib itu sangat besar, diatas papan salib terikat seorang gadis berbaju merah, tangannya terikat, kedua kakinya juga terikat, kepalanya ditundukkan-Munculnya papan salib itu sangat mengejutkan Kim Hong, itulah Yo In-jie.

Papan Salib diletakkan di depan Jie Hiong Hu, Jie Hiong Hu menjulurkan tangan, ditujukan kearah ubun-ubun Yo in-jie, dengan suara tawa yang menghina ia berkata.

"Nah Sudah kau lihat? Berani kau bergerak sedikit? Hilanglah sudah jiwanya."

Didalam situasi yang seperti ini, Kim Hong tidak berdaya. ia diam.

"Bagaimana?"

Bertanya Jie Hiong Hu.

"Sudah mau menyerahkan kunci mas itu?"

Yo In-jie memandang kearah Kim Hong, berkata.

"Kim Hong koko, lekas lari"

"Lari?"

Berkata ketua golongan Kalong Jie Hiong Hu.

"Mau lari kemana lagi? Kim Hong sedang mencari jalan untuk menghadapi persoalan ini."

Ketua golongan Kalong menjulurkan tangan meminta kunci mas kepada Kim Hong dan berteriak.

"Serahkan kunci itu."

Kim Hong masih mematung ditempatnya.

"Kau tidak mau menyerahKan kunci tersebut?"

Bertanya Jie Hiong Hu.

"Tidak."

Berkata Kim Hong.

"Baik "

Berkata ketua golongan Kalong . Jie Hiong Hu. la memandang kepada kedua orang anak muridnya dan berkata.

"Lucuti bajunya."

Tipu berikutnya dijalankan Dua anak muridnya menghampiri Yo In-jie, menyobek-nyobek baju si gadis.

Dalam keadaan seperti itu, tidak mungkin dapat diperpanjang, dengan air mata bercucuran ia berteriakteriak.

"Tidak tahu malu---tidak tahu malu....."

Secepat itu pula, Kim Hong mengeluarkan suara teriakan.

"Stop Hentikan perbuatan itu"

Kedua anak murid golongan Kalong memandang kearah pemimpinnya meminta intruksi.

"Hentikan"

Berkata ketua golongan kalong. Kemudian ia menoleh kearah Kim Hong, mengulurkan tangan dan berkata.

"Serahkan kunci itu."

"Baik,"

Berkata Kim Hong menyerah.

"Bebaskan dahulu sumoayku."

Lalu ketua golongan Kalong tertawa dan bekata.

"Aku tidak takut pada kalian-Baik lebih baik kau menyerahkan kunci lebih dulu."

Dalam keadaan yang seperti itu, Kim Hong tak berdaya, ia melempar kunci masnya, ketua golongan Kalong menyambuti lemparan kunci mas itu, diperhatikannya beberapa Waktu dan ia tertawa berkakakan.

Kim Hong membentak.

"Lekas bebaskan sumoayku."

Ketua golongan Kalong memandang pada kedua muridnya dan berkata "Bebaskan."

Yo In-jie mendapat kebebasan, cepat2 menarik kembali pakaiannya, dia menangis berkata .

"Kim Hong koko, aku mencari akan dirimu."

Dia menghampiri Kim Hong.

Kim Hong menjulurkan kedua tangannya siap sedia menyambuti in-jie.

Tiba-tiba, iga Kim Hong dirasakan ditotok lenyap semua kekuatannya, dia jatuh ngeloso.

Yo In-jie menotok jalan darah Kong-hong-hiat Yo in-jie meloncat, wajahnya yang sedih itu berubah segera.

kini ceria dan riang, ia tertawa, menepuk tangan dan berkata.

"Ha-ha........"

Wajah Kim Hong menjadi pucat, dia berteriak.

"in-jie permainan apa lagl nih?"

Yo In-jie menggunakan tangannya dia mengusap wajahnya, maka copotlah selembar kulit tipis, turut copot pula kulit in-jie disana berdiri seorang gadis lain, itulah Patkiong-cu dari golongan Kalong.

"Aaaa..,"

Kim Hong ditipu mentah-mentah.

Kemarahan Kim Hong meluap-luap.

lagi2 ia dipermainkan oleh golongan Kalong.

Lain perasaan datang meranggang, itulah perasaan lega dan tenang, karena Yo In-jie masih belum jatuh kedalam tangan golongan Kalong.

Ketua golongan Kalong Jie Hiong Hu alias Jie Biauw Kow tertawa terbahak-bahak.

"Ha, ha ...dengar, Cin Hong, hubunganmu dengan penguasa rumah penjara rimba persilatan gunung Tay-pasan sangat baik, karena itu aku tidak bisa melepaskan dirimu."

Kita menyebut Jie Hiong Hu alias Jie Biauw Kow, karena sudah hampir tiba.

apabila malam telah berlangsung, terjadilah seorang wanita yang bernama Jie Biauw Kow.

Bersamaan itu pula lenyaplah Jie Hiong Hu, ini keistimewaan manusia wadam.

Hati Kim Hong terCekat, dia mendelikan mata dan membentak.

"Apa yang kau tahu? Mungkin kau belum tanu kalau penguasa rumah penjara digunung Tay-pa-san itu adalah ... dia adalah ayahku. Berani kau mengganggu selembar rambutku, daging-dagingmu akan dikeping-kepingkan olehnya."

Sibanci Jie Hiong Hu Jie Biauw Kow terbelalak inilah berita baru "ouw"

Ia mengeluarkan suara tertahan.

"Penguasa rumah penjara rimba persilatan digunung Tay-pa-san adalah ayahmu?"

"Tidak salah,"

Berkata Kim Hong.

"Lekas bebaskan aku. Dan serahkan kembali kunci emas naga itu."

Selaput hawa pembunuhan meliputi wajah ketua golongan Kalong, dengan geram dia berkata.

"Biarpun kau sudah menjadi putra penguasa rumah penjara rimba persilatan, pekerjaan hari ini tidak diketahui olehnya, kalau saja kau sudah kubunuh mati, siapa yang tahu kau mati dibawah tanganku?"

Kim Hong tertawa dingin. katanya.

"Mengapa tidak tahu? Ayahku sudah memperhatikan adanya rombongan kalian yang hendak mengambil kotak Sim-kie-ie-hat, maka aku diutus olehnya untuk melihat-lihat keadaan-Hari ini kematianku pasti bukan ditangan orang lain, mana mungkin kalian tidak tahu, siapa yang membunuhku?"

Ketua golongan Kalong tertegun sebentar, tiba-tiba ia tertawa lagi.

"Ha-ha, biarpun ia tahu, sesudah aku mendapatkan kotak ajaib itu, sesudah aku mendapat obat pel panjang umur, dan mempelajari dua balas macam ilmu mujijat tersimpan disana siapa lagi yang kutakuti? Dua penguasa rumah penjara juga tidak kutakuti."

Sukma Kim Hong dirasakan mau terbang, inilah kejadian yang menyulitkannya, dia berseru.

"Dengar, ayahku segera tiba. Apa kau masih mempunyai waktu melatih ilmu kepandaian silat yang tercatat didalam kotak ajaib?"

Ketua golongan Kalong Jie Hiong Hu berkata.

"Apa ayahmu tahu, kalau sekarang kau berada didalam kuburan ini? IHm ...hmm . .. dengarlah, inilah markas pusat golongan Kalong. Sesudah berhasil menipumu ketempat ini, rencanaku berikutnya adalah merenggut jiwa anjingmu itu. Hati.....hmm....."

Sambil berkata, sibanci Jie Hiong Hu-Jie Biauw Kow melangkahkan kaki, perlahan-lahan diangkat tinggi kaki tersebut, hendak diterapkan keatas wajah Kim Hong......

Kalau saja telapak kaki itu ditancapkan ketempat batok kepala Kim Hong, ludeslah semua harapan Kim Hong, otaknya pasti berceceran, jiwanya pasti melayang.

Tiba-tiba ........

"Pangcu ..."

Tamu Tidak Diundang dari Luar daerah yang palsu mengeluarkan suara tertahanMendengar seruan sang penasehat, ketua golongan Kalong yang banci itu menarik kembali tangannya, menolehkan kepala dan-bertanya.

"Ada apa?"

Kedudukan simanusia imitasi adalah penasehat golongan Kalong. Dengan patuh Tamu dari Luar daerah palsu itu berkata.

"Tidak salahnya membunuh si Cin Hong tapi bukan sekarang, baik juga mengurungnya, mungkin kita bisa menggunakan untuk digunakan sebagai sesuatu."

Ketua golongan Kalong Jie Hiong Hu berpikir sebentar, akhirnya ia menganggukkan kepala, setuju kepada usul sang penasehat, katanya.

"Baiklah"

Menoleh kearah seorang anak buah ia memberi perintah.

"Ambil urat sapi, dia harus diikat keras-keras, harus berhati-hati agar tidak bisa meloloskan diri dia bukan Cin Hong yang masih upilan, ilmu kepandaiannya telah majusatu lompatan besar, mungkin bisa menjebolkan totokan-totokan-kalau gunakan urat sapi berbahaya"

Anak buah golongan Kalong itu segera menjalankan perintah ketua, dia menggulungkan urat sapi keseluruh tubuh Kim Hong.

Ketua golongan Kalong duduk kembali di kursi kebesarannya, mengeluarkan kotak ajaib, dikumpulkan dua belas kunci emas mulai dari kunci tikus, dibukanya terusmenerus, sehingga pada kunci emas yang kesepuluh tibatiba ia mengeluarkan jeritan kaget.

"Eh, kunci emas ini mungkin tidak beres."

Tamu dari luar daerah imitasi mendekat dan berkata.

"Kunci emas ini telah kudapat dari ketua partay Bu-tongpay."

Ketua golongan Kalong Jie Hiong Hu berkata.

"Mungkin kunci emas palsu."

"Palsu?"

Berkata tamu dari luar daerah palsu itu.

"Dimana letak Kepalsuannya?"

Ketua golongan Kalong Jie Hiong Hu berkata "Setiap kumasukan kunci emas ketempat lobang, terdengar suara klik, hanya kunci mas kesepuluh ini tidak mengeluarkan suara."

Tamu dari luar daerah yang palsu berkata "Mungkinkah Yoe Hoa Liong sudah mengetahui rencana, dia telah membawa kunci mas palsu yang dikantongi padanya ?"

Ketua golongan Kalong Jie Hiong Hu berkata.

"Yoe Hoa Liong memiliki otak yang bercabang kemungkinan tadi besar sekali."

"Pangcu tidak bisa meneruskan pembukaan kotak ajaib itu?"

Bertanya tamu tidak diundang dari luar daerah.

"Kita harus menemukan Yoe Hoa Liong, Meminta kunci mas yang asli."

Berkata Jie Hiong Hu.

Seperti yang sudah kita ketahui, kotak ajaib bisa dibuka dengan dua belas kunci mas satupun tidak boleh salah.

Maka isi dari kotak ajaib tersebut yang berupa dua belas butir obat panjang umur dan dua belas macam pelajaran ilmusilat luar biasa didapatkan olehnya.

Tentu saja, kalau kunci-kunci mas itu adalah anak kunci mas yang asli.

Dimisalkan ada sesuatu kekurangan maka kotak ajaib itu bisa meledak menghancurkan seluruh isi ruangan, Adanya kunci mas palsu yang diragukan.

membuat ketua golongan Kalong tidak bisa meneruskan usahanya, Ketua golongan Kalong Jie Hiong Hu berata.

"Yoe Hoa Liong masih berada didalam rumah penjara rimba persilatan, kita harus memintanya ."

Tamu dari luar daerah yang palsu berkata.

"Bagaimana caranya bisa memasuki tempat itu?"

"Sudah kurecanakan-Hamid beserta ketiga kawankawannya sedang menantang penguasa rumah perjara rimba persilatan itu, entah bagaimana dari hasil pertempurannya?"

Disaat mana, tiba-tiba seorang anggota golongan Kalong berlari masuk. lalu beri hormat pada Jie Hong Hu dan berkata.

"Pangcu. Hamid cianpwee berempat sudah kembali."

Ketua golongan Kalong Jie Hiong Hu meletakkan kotak ajaib dibawah laci meja, ia ber-gegas2 hendak menyambut kedatangan rombongan yang baru datang itu.

Disaat ini, empat orang berpakaian kembang-kembang berjalan masuk, mereka adalah orang-orang dari luar daerah.

Seorang dari ke empat orang itu adalah kakek-kakek, tiga lainnya adalah laki-laki setengah umur.

Rambut mereka merah, mata mereka berwarna biru, mempunyai badan tinggi.

Kedatangan keempat orang itu mendapat penyambutan dari semua golongan Kalong, semua memberi hormat patuh.

Lebih-lebih kakektua yang bernama Hamid itu, langsung mendekati tempat duduk ketua golongan Kalong, dan menduduki tempar ketua tertinggi.

Ketua golongan Kalong mengalah, duduk disampingnya.

Kim Hong mengkerutkan alis, dia heran dan tidak tahu keempat orang dari luar daerah itu adalah jago-jago ternama.

Tapi nama golongan kalong juga hebat, mengapa harus tunduk dibawah kekuasaannya?

Ketua golongan Kalong mendampingi Hamid, dia berkata.

"Hamid cianpwe sudah menantang rumah penjara digunung Tay-pa San? Bagaimana hasilnya?"

Hamid memang menemukan sesuatu yang murung, mendapat pertanyaan itu, dia mendelikkan mata, dengan tidak senang berkata.

"Kau kira aku bisa kalah?"

Jie Hiong Hu membungkukkan badan berkata.

"Hamid cianpwee adalah jago silat nomor satu dari daerah See-hek. apa lagi ilmu Tay-yang-sin-kang sangat luar biasa, tentu saja tidak bisa dikalahkan orang. Betapa hebatpun ilmu kepandaian penguasa rumah penjara itu, mana mungkin bisa menandingi cianpwee?"

"Jangan banyak Cingcong"

Berkata Hamid mendamprat.

"Aku belum menempur jago silat itu, daerah Tionggoan betul-betul luas, kukira belum tentu bisa mengalahkan dia."

Jie Hiong Hu memperlihatkan sikapnya yang sangat serius, dia berkata.

"Hamid cianpwee dan ketiga suheng belum pergi kesana?"

Hamid berkata.

"Sudah. Tapi penguasa rumah penjara di gunung Tay-pasan telah memberi pengumuman istirahat untuk satu bulan-Huh Aku tidak perduli, langsung menerjang masuk. ternyata Penguasa rumah penjara di gunung Tay-pa-san tidak ada di tempatnya."

"Wah? "Jie Hiong Hu-Jie Biauw Kouw terbelalak.

"Betul-betul penguasa rumah penjara sudah turun gunung?"

Menurut keterangan yang ia dapat dari Kim Hong, penguasa rumah penjara di gunung Tay-pa San adalah ayah bocah ini, dikatakan sedang turun gunung, dia tidak percaya, baru sekarang ia yakin, karena itu rasa takutnya menjadi-jadi, cepat-cepat menggapaikan tangan kepada seorang anak buahnya dan berkata.

"Hui, lekas bawa bocah ini ke penjara di bawah air. Baik-baik menjaganya."

Hatinya mengkirik takut Anak buah golongan Kalong itu menjalankan perintah, menggendong Kim Hong untuk diajak berangkat. Hamid memperhatikannya dan bertanya.

"Siapa anak itu?"

Jie Hiong Hu berkata.

"Dia adalah putra dari Penguasa rumah penjara di gunung Tay-pa-san."

"Apa guna kau menangkapnya?"

Bertanya Hamid. Ketua golongan Kalong Jie Hiong Hu mennjadi bingung, dia berkata.

"Bocah ini---bocah ini selalu memusuhi golongan kita. Maka meringkusnya, kalau perlu kita bisa membunuhnya."

Orang tua berambut merah segera menggapaikan tangan kearah anak buah golongan Kalong itu dan membentak.

"TUnggu dulu. Bawa dia kemari"

Anak buah golongan Kalong tersebut memandang kearah Jie Hiong Hu.

Jie Hiong Hu menganggukkan kepala, suatu tanda bahwa ia mengijinkan adanya permintaannya itu.

Anak buah golongan Kalong segera meletakkan Kim Hong ditanah, dan berdiri disamping sisinya.

Tertawa cengar-cengir, ketua golongan Kalong bertanya.

"Ada petunjuk baru?"

Hamid menganggukkan kepala dan berkata "Sesudah mengetahui ini anak penguasa rumah penjara, aku mau menjajalnya dahulu Kalau saja aku bisa memenangkan orang ini, tentu saja bisa memenangkan Rumah penjara rimba persilatan---"

Tiba-tiba Hamid teringat sesuatu, Hamid mengalihkan pembicaraan, ia berkata lagi "Perjalananku ke daerah Tionggoan telah mendapat penemuan baru, ternyata daerah Tionggoan tidak persis apa yang kau katakan, bukan tidak becus semua, mengambil contoh, kejadian disaat kemarin, disaat aku menerjang masuk ke dalam rumah penjara rimba persilatan di gunung Tay-pa-san, aku telah menemukan tokoh silat hebat."

"ouw?"

Berkata Jie Hiong Hu.

"Tay Giam ong yang dimaksudkan?"

"Bukan-"

Berkata orang tua berambut merah Hamid.

"Seorang kakek bersifat kegila-gilaan, dia bersama seorang gadis kecil itu, itulah dia yang berhasil meloloskan diri dari telaga Tay-pek tie, mereka kebetulan bertemu denganku. entah apa yang diucapkan oleh si gadis ciik, tiba-tiba si kakek gila menerjang......"

"Bagaimana hasilnya?"

"Aku tidak dikalahkan. Tapi kenyataannya jauh berbeda lagi, kalau penyakit gila orang itu sudah sembuh, menurut perkiraanku. orang yang seperti si kakek gila bisa menjadi orang tawanan rumah penjara rimba persilatan, kukira betul-betul penguasa rumah penjara yang memiliki kepandaian hebat."

"Ouw......kakek yang cianpwee temukan adalah kakek gelandangan, dia adalah putra Dewa persilatan Kiat Hian-Dia ditipu orang memasuki rumah penjara Tay-pa San, entah dengan cara bagaimana, menggunakan penguasa rumah penjara tidak berada ditempatnya, dia melarikan diri."

Orang tua berambut merah Hamid berkata "Aku tidak sependapat dengan rencanamu itu, para jago dari daerah kami, Tay-wan-kok hanya ingin menggunakan tipu silat asli menempur jago-jago Tionggoan, tapi kau menggunakan keliCinan dan akal bulus, cara ini tidak bisa menundukkan orang."

"Boanpwee menerima salah."

Berkata Jie Hiong Hu.

"Sekarang, lekas bebaskan totokan anak muda itu. Beri kesempatan dia istirahat sebentar."

Ketua golongan Kalong Jie Hiong Hu memberi perintah kepada anak buahnya membuka kembali ikatan urat sapi yang membelenggu kebebasan Kim Hong, sesudah itu dia turun tangan dan membebaskan totokannya pula, menendang pundak Kim Hong dia berkata.

"Cin Hong, baik-baik kau istirahat, sebentar lagi kau bisa merasakan kehebatan ilmu kepandaian asli dari daerah Taywan-kok, ilmu Tay-yang Sin-kang yang hebat."

Sebelum Kim Hong mengetahui asal-usul dirinya dia bernama Cin Hong karena itu sebagian besar dari orangorang masih memanggilnya dengan panggilan Cin Hong.

Kim Hong bisa menduga, Hamid beserta tiga lelaki berambut merah itu adalah jago-jago pilihan dari daerah Tay-wan-kok, kalau saja ia hari ini dikalahkan, mungkin pamor daerah Tionggoan juga turutjatuh maka dia segera menenangkan dirinya, membenarkan peredaran jalan darah.

Ini waktu, Hamid memandang ketua golongan Kalong Jie Hiong Hu, dia bertanya.

"Kau pernah menempur anak muda ini?"

Jia Hiong Hu menjawab .

"Dihulu. Itu waktu ilmu kepandaiannya biasa-biasa saja. Sesudah mendapat petunjuk dari beberapa tokoh silat, dia mendapat kemajuan yang pesat. sekarang belum pernah dicoba, menurut apa yang kutahu. im Liat Hong sudah dilukai olehnya."

Hamid menoleh kearah Lam-kek sin-kun im Liat Hong, orang yang dipandang menundukkan kepala. Hamid menoleh lagi kearah Jie Hiong Hu dan berkata.

"coba kau jajal dia."

Jie Hiong Hu membawakan sikap yang malu-malu, terjadi perobahan besar.

Kalau sebelumnya ia galak dan garang, kini ia menjadi seorang pemalu dan lincah.

Dengan suara keCil ia berkata "Disaat ini mungkin tidak bisa, seperti apa yang cianpwee ketahui...."

Suara Jie Hiong Hu yang terakhir adalah suara wanita.

Terjadi perobahan pada banci lihay itu, banyak yang tidak diketahui oleh umum, kala siang dia menjadi lelaki, kalau malam dia jadi perempuan-Sudah Waktunya dia menjelma jadi betina, Hamid tertawa berkakakan.

"Ha, ha...apa sudah waktunya?"

"Iya........"Berkata Jie Biauw Kow. Kini namanya harus menggunakan Jie Biauw Kow. karena waktu wanitanya sudah tiba.

"Sekarang sudah malam."

"Ha ha...."

Orang tua berambut merah Hamid tertawa lagi.

"sangat menyenangkan sekali, kalau berkawan dengan orang yang seperti kau ini, sebentar kau menjadi jantan, sebentar berubah perempuan. He he he....."

Ketiga laki-laki berambut merah juga ikut tertawa.

Tapi saat ini, Kim Hong sudah selesai mengatur peredaran jalan darahnya.

Ia berhasil memulihkan tenagatenaga yang luntur.

Dengan sepasang sinar mata yang bercahaya terang menghadapi orang-orang itu.

Hamid menghentikan tertawanya, dia memandang kearah Kim Hong, berpandangan beberapa saat.

Akhirnya Hamid berkata.

"Anak muda, aku hendak mencoba mencoba ilmu kepandaianmu, bertandinglah dengan muridku, siapa yang kalah? Kalau kau berhasil memenangkannya, kau mendapat kebebasan."

"Baik."

Jawab Kim Hong menerima tantangan.

"Aku bersedia menempur."

Hamid menoleh kearah tiga laki-laki berambut merah yang dibawa olehnya, itulah muridnya, ia berkata.

"Brey, lawan dia"

Laki-laki yang bernama Brey itu adalah jago kenamaan dari daerah Tay-wan-kok juga segera ia menghampiri Kim Hong dengan sikap bersitegang.

Kim Hong selalu siap sedia, mendapat penyambutan yang saperti itu, dia bertanya.

"Bagaimana caranya kita bertanding?"

Brey berkata tawar.

"Kalau betul kau bisa mengalahkan Lam-kek Sin-kun im Liat Hong didalam tiga gebrakan, ini membuktikan ilmu kepandaianmu cukup hebat. Begini saja kuatur, kita menempur tangan tiga kali, kalau aku kalah, aku menyerah."

"Baik."

Jawab Kim Hong.

"Kapan boleh mulai?"

"Sekarangpun boleh.

"Jawab Brey. Kim Hong mengerahkan tenaganya, didorongnya kedepan, itulah salah satu tipu dari jurus Tiga Pukulan Maut. Kekuatan ini bisa membelah gunung, bisa menghancurkan batu, apa lagi dibantu oleh tenaganya yang tidak kunjung padam, tidak bisa disamakan dengan tiputipu biasa, kalau saja gerakkan oleh penguasa rimba persilatan, pasti orang ini jatuh. Sayang, kekuatan Kim Hong belum bisa disamakan dengan ibunya maka kekuatannya pun merosot. Brey mempunyai kedudukan kelas dua didalam jago-jago daerah Tay-wan-kok, pengalamannya sangat banyak, tampak pukulan Kim Hong yang tanpa desiran angin, dia bisa mengetahui sampai dimana kehebatan kepandaian ini. Wajahya berubah. Benar-benar dia tidak berani memandang ringan-Dengan bersungguh-sungguh hati dia juga mendorong kedua tangan, memapak pukulan itu. Pukulan haWa panas meluncur keluar dari telapak tangan Brey "Bluaarr..."

Seolah-olah terjadi gempa bumi, ruang rahasia dibawah tanah kuburan itu bergoyang sebentar.

Tubuh Kim Hong terdorong mundur kebelakang, tangannya seperti terbakar, panas dan sakit.

Brey juga tidak mendapat kemenangan mutlak, dadanya tergebuk, darahnya bergejolak, dia juga mundur kebelakang sampai empat langkah, Si KAKEK RAMBUT MERAH Hamid bangkit dari tempat duduknya, dia membentak.

"Bagaimana?"

Brey menggeleng-gelengkan kepala. berkata.

"Aku belum dikalahkan. Dia hebat Tapi aku masih kuat"

Sesudah itu dia menyedot napas dalam, maju pula ke depan-"Bang......."

Terjadi benturan pukulan pula, Kim Hong merasakan dirinya seperti mau dilebur api, panas, sakit, nyeri, terdorong mundur dan membentur pilar.

Buk Kim Hong jatuh duduk.

Jatuhnya Kim Hong bukan berarti kemenangan Brey, jago daerah Tay-wan-kok itu juga menyemburkan darah, matanya dipelototkan, dia sangat galak.

Kim Hong sudah meletik bangun, dia menerjang pula.

Saat yang sama, Brey sudah bersiap siaga, keadaannya lebih baik, dari sudut yang lebih menguntungkan-dia memukul Kim Hong.

"Bung......."

Lagi-lagi tanah bergetar, akibat dari beradunya kekuatan raksasa itu.

Kim Hong jatuh menggeletak, pingsan tak sadarkan diri Lagi-lagi Brey memuntahkan darah, dia menudingkan jarinya kearah Kim Hong, tertawa berkakakan dan berkata.

"Ha, ha......aku menang Lihat Lihat dia sudah....."

Rubuh Brey juga jatuh roboh.

Disaat Kim Hong sadarkan diri, dia mendapatkan dirinya terikat pada sebuah pilar, dia tertawan di dalam ruangan di bawah tanah, air menggenangi sebatas dada.

Kim Hong disekap didalam tawanan air Rasa dingin air membuat luka-lukanya nyeri, tapi akibat dari pukulan Brey yang panas berapi membuatnya agak nyaman-Timbul pikiran untuk melarikan diri, Kim Hong berontak.

tubuhnya mengejang.

dia telah ditotok orang.

Teringat kata kata Jie Hong Hu, sebagai ahli waris rumah penguasa rumah penjara, Kim Hong bisa meyakinkan dan membebaskan totokan yang mengekangnya.

Kim Hong telah mendapatkan kemajuan pesat, ilmunya berlipat ganda, ia belum menjajal bagaimana untuk membebaskan totokan-totokan yang dijatuhkan kepada dirinya, hal ini mungkin saja bisa dilakukan.

Yang menjadi gangguan ialah sesudah berhasil membebaskan totokannya, bisakah ia memutuskan tali urat sapi?

Kim Hong mengosongkan pikirannya, mencurahkan daya imannya, menjebol peredaran darah yang tersumbat.

Detik-detik berlalu....Waktu sangat cepat berlalu, suatu ketika.

telinga Kim Hong yang tajam bisa menangkap datangnya suara derap langkah kaki, walau sangat perlahan, derap langkah kaki itu mendatangi kearahnya.

Kim Hong terkurung diruangan dibawah tanah, tergenang oleh air.

Diatas Kim Hong terbuka sebuah papan, menuruni tangga-tangga batu, dari atas sana bertindak jalan seseorang.

"Aaaa Mungkinkan ibu yang datang menolongku?"

Hati Kim Hong berdebar-debar, menantikan reaksi itu.

Dugaan Kim Hong tidak mengenakan sasaran, orang yang baru datang bukanlah penguasa rumah penjara rimba persilatan digunung Tay-pa-san Suma Siu Khim, orang yang datang itu lebih muda dari ibu Kim Hong, itulah selir ketiga dari ketua golongan Kalong Jie Hiong Hu, namanya Lim Keng Hee.

Lim Keng Hee adalah selir tercantik dari Jie Hiong Hu, Seperti apa yang kita ketahui Jie Hiong Hu itu adalah seorang wadam istimewa.

Menjadi laki disaat siang hati, dan menjadi wanita disaat malam hari.

Membutuhkan wanita disiang hari dan membutuhkan pria pada malam hari.

Walau mendapat Cinta kasih yang berlebih-lebihan, tidak mungkin Lim Keng Hee mendapat kepuasan-Karena itu, sesudah bertemu dengan Kim Hong, timbul daya pemberontakannya .

Sekarang.

Lim Keng Hee telah mendatangi kamar tahanan dibawah tanah, dengan maksud menolong Kim Hong.

Wajah Lim Keng Hee yang cantik sudah berada didepan wajah Kim Hong, air mulai menggenangi tubuhnya yang montok.

dengan suara yang merdu perlahan-wanita itu bertanya.

"Adik Cin Hong, bagaimana keadaanmu?"

"cici Lim Keng Hee...."

Panggil Kim Hong perlahan.

"Kau tidak takut diketahui orang ?"

Bertanya Kim Hong.

"Apa boleh buat."

Jawab Lim Keng Hee.

"Dengan menolong kebebasanmu, aku bersedia berkorban."

"oh....."

"Eh,"

Berkata Lim Keng Hee.

"Apa maksud kedatangannya?"

"Kedatangan siapa?"

Bertanya Kim Hong heran.

Wajah Lim Keng Hee juga memperlihatkan keheranannya, ia berkata "Kulihat Tamu tak diundang dari luar daerah imitasi itu baru keluar dari tempat ini, Tingkah lakunya sangat mencurigakan, dia telah meninggalkan dirimu,.

aku kaget sekali,.

karena itu aku terlambat datang menolong mu."

"Tamu tak diundang dari luar daerah initadi datang kemari?"

Bertanya Kim Hong heran-Tentu saja, didalam keadaan pingsan, dia tak tahu, siapa yang telah menolong menyembuhkan luka-luka dalamnya.

"Kau tidak tahu?"

Bertanya Lim Keng Hee.

"oh Mungkin kau masih berada dalam keadaan tak sadarkan diri. Dia baru saja keluar dari tempat ini, kuketahul dengan pasti. Entah apa maksud tujuannya?"

"Apa maksud tujuan Tamu tidak diundang dari luar daerah imitasi keluar dari kamar tahanan Kim Hong?"

Hal ini betul-betul membingungkan si pemuda.

juga membingungkan Lim Keng Hee, dia hendak menolong Kim Hong, tentu saja takut diketahui orang, terlebih-lebih pula Tamu tidak diundang imitasi yang berkepandaian silat tinggi itu.

Kim Hong memikir sebentar dan berkata.

"Mungkin dia yang mengikat diriku di tempat ini?"

"Salah "Berkata Lim Keng Hee.

"orang yang melakukan perbuatan itu adalah anak buah biasa."

Kim Hong tidak habis mengerti, Lim Keng Hee bertanya "Eh, bagaimana dengan lukamu?"

Kim Hong berkata.

"Aku tidak menderita luka."

"Bohong Kau sudah terkena serangan ilmu Tay-yang sinkang darijago daerah Tay-wan-kok yang bernama Brey itu."

"Aku tidak terluka."

Mengulangi keterangan Kim Hong.

"Aku hanya jatuh pingsan karena tidak tahan panasnya kekuatan Tay-yang Sin-kang."

"Ah.......tidak mungkin. Itu waktu lukamu berat, menurut keterangan Hamid, didalam tiga hari kalau tidak mendapat obat pel Sin-tan-tidak mungkin kau berumur panjang."

Kim Hong mendelikkan mata selebar-lebar ia tidak mengerti.

Ya Kalau tidak ada Tamu tidak diundang dari luar daerah imitasi yang menolong, Kim Hong tidak bisa bertahan hidup lebih dari tiga hari.

Lim Keng Hee berkata.

"Lekas gUnakan kekuatanmu, coba luka-luka itu."

Betul-betul Kim Hong menjalankan berputaran peredaran jalan darahnya dengan lebih gencar, sangat lancar. Tidak ada sesuatu gangguan. ia tersenyum dan berkata.

"Tidak apa-apa, kau jangan kena obrolan kakek rambut merah itu. Eh, orang-orang dari luar daerah itu banyak sekali. Apa maksud kedatangannya? Bagaimana hubungan mereka dengan golongan Kalong ?"

Mengetahui Kim Hong kalau betul-betul tidak menderita luka, hati Lim Keng Hee agak gembira, ini sangat mengherankan dirinya, telah disaksikan dengan pasti bahwa Kim Hong itu sudah menderita luka hebat, mengapa bisa lenyap mendadak?

"Mereka adalah jago-jago istimewa dari negara Tay-wankok,"

Berkata Lim Keng Hee memberi keterangan-"Hamid adalah jago nomor satu, diwaKtu Jie Hiong Hu lari dalam pengembaraan menyelamatkan dirinya dinegara Tay-wankok.

Disana pernah mendapat petunjuk ilmu silat dari Hamid itu, maka ilmu kepandaiannya bertambah-tambah, ia datang kedaerah Tionggoan dengan rencana yang sudah diatur oleh Hamid, untuk menaklukkan daerah Tionggoan."

Kim Hong berkata.

"Kuharap saja ibuku dapat mengalahkan orang tua berambut merah itu."

"Ibumu"? bertanya Lim Keng Hee heran, Kim Hong memberi keterangan.

"Ya. ibuku adalah penguasa rumah penjara digunung Tay-pa San-Namanya Suma Siu Khim."

"Tadi kau katakan penguasa rumah penjara digunung Tay-pa San adalah ayahmu."

"Aku mengelabui mereka,"

Lim Keng Hee memancarkan sepasang sinar matanya yang girang, mengeluarkan pisau yang dibawa, ia berkata.

"Mari...Biar kupotong belenggu yang mengikat kebebasanmu."

"Jangan-"

Berkata Kim Hong.

"Kalau sampai Jie Hiong Hu mengetahui perbuatanmu, kau bisa mendapat celaka."

Lim Keng Hee meneruskan usahanya, seutas demi seutas dipegangnya tali urat sapi itu, dia membebaskan belenggubelenggu Kim Hong sambil mengerjakan perbuatan tadi, ia berkata.

"Jie Hiong Hu adalah nama disiang hari, kini namanya harus diganti denganJie Biauw Kow.Jangan kuatir, dia sedang menemani murid Hamid yang bernama Kasefu itu."

Singkatnya cerita, Lim Keng Hee berhasil membebaskan Kim Hong dari belenggu didalam kamar tahanan dibawah tanah.

Mereka keluar dari tempat itu.

Kini mereka berada didalam sebuah lorong, didepan pintu kamar tahanan itu berjongkok dua orang anggota golongan Kalong, mereka tertidur nyenyak.

Memandang kepada orang itu, Lim Keng Hee berkata.

"Penjaga-penjaga ini memang sangat malas disaat aku tiba, mereka tertidur, sampai sekarang."

Tentu saja Lim Keng Hee tidak tahu, kedua penjaga itu bukan tertidur.

mereka telah ditotok oleh Tamu Tidak Diundang dari Luar Daerah imitasi.

Disini letak kemisteriusannya Tamu tidak diundang imitasi.

sebentar ia seperti memihak kepada golongan Kalong, sebentar pula seperti berpihak dipihak Kim Hong.

Kim Hong bertanya.

"cici Lim Keng Hee. dimanakah kotak ajaib disembunyikan oleh Jie Biauw kow?"

Lim Keng Hee berkata.

"Tidak tahu. sekarang harus berusahalah untuk membebaskan diri. Jangan mempunyai pikiran sampai disitu."

Kim Hong berkata "Kotak ajaib itu sangat penting sekali...."

Mereka sudah menembusi lorong dibaWah tanah itu, begitu keluar mereka terkejut, disana mendatangi seseorang.

Itulah tamu tidak diundang dari luar daerah yang palsu.

Lim Keng Hee tertegun, tubuhnya gemetaran, gagallah usahanya.

Ia Tidak tahu bahwa Tamu Tidak Diundang yang palsu itu telah berdiri dipihaknya.

Tamu Tidak Diundang dari luar daerah menghampiri mereka, ia berkata perlahan-"Harus berhati-hati lewat diruang depan, murid si Hamid yang bernama Paul itu sedang berada disana.

"Apa?"

Lim Keng Hee berteriak heran, ia tidak mengerti sikapnya Tamu Tidak Diundang dari luar daerah yang palsu ini.

"Sekarang kau tidak mempunyai kesempatan untuk mendengar cerita."

Berkata Tamu Tidak Diundang dari luar daerah yang palsu.

"Lain kali saja kuberitahukan padamu."

Sesudah itu ia berjalan pergi. Kim Hong memandang kearah Lim Keng Hee yang masih gemetaran, ia bertanya.

"cici Lim Keng Hee, apa artinya kata-kata tadi?"

"Aku juga tidak tahu."

JaWab Lim Keng Hee.

"Siapakah Tamu Tidak Diundang dari luar daerah yang palsu ini?"

"Kecuali Jie Hiong Hu, tidak ada yang tahu dari mana asal usulnya,"jawab Lim Keng Hee. Seperti apa yang Kim Hong ketahui, dia telah berjumpa dengan dua Tamu tidak diundang dari luar daerah, Satu asli dan satu palsu. Yang asli berpihak kepada panji kebenaran, berpihak kepada dirinya, dan yang palsu berpihak kepada golongan Kalong, mengekor dibelakang Jie Hiong Hu. Yang berpihak kepada golongan Kalong adalah Tamu tidak diundang imitasi. Kini Tamu tidak diundang yang imitasi ini berganti arah pula. Permainan apa yang hendak dilakukan? Mendapat peringatan Tamu tidak diundang dari luar daerah yang palsu, ia berjalan lebih hati-hati. Betul saja, disaat mereka hendak melewati ruangan tengah, tiba-tiba terdengar satu suara bentakan-"Siapa yang benda di depan?"

"Aku"

Jawab Lim Keng Hee terkejut.

"Lim Keng Hee"

Suara itu datangnya dari sebelah kamar, itulah suara Paul.

"Ha-ha-ha...."

Paul tertawa.

"Aku sedang bercakapcakap dengan cabo golongan Kalong ini, sedang kuperbincangkan, kecuali kau, tidak ada wanita yang kupetujui. Ayo kemari"

Lim Keng Hee menoleh kearah Kim Hong memberi isyarat agar si pemuda menyembunyikan diri, sesudah itu, dengan menenangkan hatinya ia menjawab kearah kamar.

"Saudara Paul, jangan bergurau, aku mempunyai urusan penting....."

Terdengar suara bentakan Paul yang marah.

"Urusan penting apa? Kalau aku memberi perintah Jie Biauw Kow menemani aku, berani dia membantah? Apalagi kau? Lekas masuk"

"sebentar."

Jawab Lim Keng Hee.

"Jangan tunggu-tunggu lagi."

Berkata pula Paul didalam kamar.

"Lekas"

Lim Keng Hee berkata.

"Bukankah saudara Paul sudah dikawani?"

Paul berteriak.

"cabo ini tak guna, dia mempunyai bau busuk."

Sesudah Kim Hong mempersilahkan dirinya dengan baik. Lim Keng Hee mendorong pintu kamar itu, ia berjalan masuk. Terdengar lagi suara Paul.

"Lekas "

Lim Keng Hee memberi isyarat kepada Kim Hong, ia memasuki kamar itu. Terdengar suara berkakakan didalam kamar, terdengar pula suara.

"cabo genit, lekas pergi Aku tidak membutuhkanmu lagi."

Beberapa saat kemudian, dari dalam kamar itu berjalan keluar seorang perempuan golongan Kalong, dia adalah kawan tidur yang disediakan untuk para tamu dari daerah Tay-wan-kok itu.

Tentu saja, kalau dibandingkan dengan Lim Keng Hee wanita anggota golongan Kalong itu jauh tidak menarik, maka Paul tidak membutuhkannya lagi.

Wanita itu sedang mengenakan pakaian dengan tergesagesa, menundukkan kepala berjalan keluar.

"creet....."

Kim Hong menjulurkan jarinya, menotok rubuh wanita tersebut.

"ouw....."

Wanita itu menjeluarkan jeritan tertahan, dan tubuhnya menggeloso.

cepat-cepat Kim Hong maju kedepan, menyanggah jatuhnya tubuh orang itu.

Dengan-pelahan-lahan diletakkannya di tanah.

Di dalam kamar, ternyata Paul mempunyai pendengaran yang hebat, suara teriakan tertahan dari wanita yang sudah digerayangi olehnya membuat ia terkejut, ia berkata.

"Eh, mengapa cabo tadi berteriak?"

Terdengar suara Lim Keng Hee cekikikan.

"Kau sudah menyepaknya pergi, tentu saja dia bersedih."

"Ha ha..."

Paul tertawa.

"Siapa yang suruh dia tidak memakai parfum banyak2? Mengapa dia berbau busuk? Haha... hayo, lekas buka baju,"

"Tidak"

Terdengar suara Lim Keng Hee, Terdengar lagi suara Paul berkata.

"Ha-ha. takut apa? Semua orang ingin beginian, semua orang dari daerah Taywan-kok semua seperti ini berbulu."

Masih tidak terdengar suara Lim Keng Hee.

"Ha-ha...."

Suara Paul tertawa sangat puas.

"Lekas"

Kim Hong memasang kuping betul-betul, tidak terdengar suara Lim Keng Hee Tiba-tiba terdengar suara orang yang berteriak.

"Eh, kau... ."

Suara itu terputus, dan seterusnya tidak terdengar lagi suara ini. Disaat pintu terbuka, Lim Keng Hee muncul disana, ia membereskan bajunya menggapaikan tangan kearah Kim Hong dan berkata.

"Kemari bawa orang itu"

Lim Keng Hee menunjuk kearah wanita yang disediakan untuk Paul.

Kim Hong menjinjing perempuan anggota golongan Kalong itu, diletakkannya didalam kamar, disana Paul sudah menggeletak.

ternyata sudah ditotok oleh Lim Keng Hee.

Kim Hong masih belum puas.

dengan gemas dan ganasnya menotok jalan darah Cin-kau ia membentak.

"Kau, manusia dari luar daerah berani mengganggu daerah Tionggoan, kini akan kuberi sedikit hajaran-Untuk selanjutnya. kau tidak berkepandaian silat lagi."

Kim Hong menotok dan memunahkan semua ilmu kepandaian Paul. Lim Keng Hee membentak membanting-bantingkan kaki dan berkata "Lekas Kita harus meninggalkan tempat ini."

Setelah membaringkan wanita golongan Kalong disebelah Paul, Kim Hong dan Lim Keng Hee meninggalkan ruangan tersebut.

Tidak terjadi gangguan, sehingga tiba di ruang depan, sesudah mendapat peringatan Tamu tak diundang dari luar daerah yang palsu, Kim Hong dan Lim Keng Hee saling pandang.

"Tunggu sebentar,"

Berkata Lim Keng Hee Dia meninggalkan Kim Hong, dan menyerap-nyerapi kamar.

Betul saja, diruangan depan itu duduk seorang tua berambut merah, itulah jago nomor satu dari luar daerah Tay-wan-kok yang bernama Hamid.

Kini Lim Keng Hee menghampiri Hamid dan berkata "Hamid cianpwee, kau seorang diri saja?"

"Ya,"

Jawab Hamid sangat singkat.

"Mengapa Hamid cianpwee tidak istirahat?"

Bertanya lagi Lim Keng Hee.

"Aku sedang menunggu kembalinya mereka."

"JoosS cianpwee dan Mobilson cianpwee yang Hamid cianpwee maksudkan?"

"Ngg......."

Hamid mengeluarkan suara dari hidung.

"Kemana mereka pergi?"

Bertanya Lim Keng Hee.

"Yang seorang sedang pergi menyerap-nyerapi kabar dirumah penjara batu digunung Bu-san. Seorang lagi pergi kegunung Lui San mencari istrinya yang melarikan diri. Menurut perhitunganku sudah waktunya mereka kembali."

"Mengapa cianpwe tidak menunggu di dalam?"

"Didalam keadaan sangat lembab. Aku tidak biasa."

"Ilmu kepandaian Tay-yang Sin-kang cianpwee bisa menghanguskan setangkai pohon. Dengan ilmu kepandaian sehebat ini mungkinkah masih takut dingin?"

"Ha-ha..."

Hamid tertawa.

"Budak tolol, betapapun lihay ilmu seseorang, ada juga yang harus ditakutinya?"

"Masakan ilmu Tay-yang sing-kang takut hawa lembab?"

"Bah Siapa yang takut kepada hawa lembab? ilmu kepandaian yang seperti Jie Biauw Kouw juga tidak kutakuti sifatnya lebih lembab dan lebih dingin, tapi masih berani dia menerima seranganku?"

"oo....keadaan didalam kamar itu tak begitu dingin, mengapa cianpwe harus menunggu ditempat ini?"

Hamid kalah berdebat, untuk bebarapa waktu dia terdiam.

"Hamid cianpwee...."

Panggil lagi Lim Keng Hee, ia sedang berusaha memanCing Hamid menyingkir dari ruangan tersebut.

"Hai,"

Hamid kewalahan.

"Mengapa kau banyak usil?"

"Boanpwee heran,"

Kata Lim Keng Hee.

"Mengapa Hamid cianpwee belum istirahat?"

"Mengapa kau juga tidak istirahat?"

Bertanya Hamid. Lim Keng Hee berkata "Aku tidak biSa tidur, Brey suheng merintih-rintih. aku merasa terganggu."

"Apa?"

Hamid terkejut.

"Apa yang menyebabkan Brey merintih-rintih?"

"Entahlah"

Lim Keng Hee memaparkan sepasang tangannya "Biar kulihat apa yang telah terjadi."

Betul-betul Hamid meninggalkan ruangan itu, menuju kedalam.

Sesudah betul-betul menyaksikan Hamid pergi jauh.

Lim Keng Hee menggapaikan tangan kearah Kim Hong, cepatcepat mereka melarikan diri dari dalam kuburan yang lembab itu.

Berhasilkah Kim Hong dan Lim Keng Hee melarikan diri?

Tidak begitu Cepat disaat itu, dari luar berlari datang empat orang, empat orang ini dibawah pimpinan seorang kakek bercodet, dibelakangnya adalah Sulek.

Alwi, dan Dokucan.

Kim Hong bergerak cepat, mengayun tangan dan memukul mereka.

Kakek bercodet terserang oleh pukulan Kim Hong.

Kim Hong bergerak cepat tanganya diayun kembali, sudah waktunya kena giliran.

kini memukul kearah Sulek.

Alwi dan Dokucan.

orang tua bermuka codet adalah jago nomor satu dari daerah Tay-wan-kok, namanya Mobilson, urutannya hanya berada dibawah Hamid dan Jooss.

Kedatangannya Kedaerah Tionggoan adalah untuk mengembangkan dan menjajakan ilmu kepandaian mereka.

Begitu memasuki daerah Tionggoan, dia bertemu dengan Suma Siu Khim dan hampir terpukul jatuh.

Kini menuju kearah markas besar golongan Kalong, mana disangka, kalau dari dalam markas besar itu muncul seorang musuh.

Pukulan Kim Hong adalah ciok-kok-thian-keng, salah satu dari tiga pukulan maut yang terlihay.

Pukulan-pukulan itu sudah dijuruskan kearah Mobilson, Sulek.

Alwi dan Dokucan.

orang tua bercodet Mobilsan bergerak cepat, walau didalam keadaan tidak terduga, dia mendorong tangan menerima pukulan Kim Hong.

Hal ini berarti menolong jiwa Suiek.

Alwi dan Dokucan.

"Pang...."

Kim Hong terpukul mundur, kepalanya dirasakan sangat berat membentur Lim Keng Hee, dua-duanya jatuh kebelakang.

Yang beruntung, si codet Mobilson sudah menderira luka, karena itu pukulan Tay-yang-sin-kangnya tidak sehebat apa yang dimiliki, ia juga termundur sampai empat langkah.

Disaat yang sama, Alwi, Sulek dan Dokucan sudah menghadapi Kim Hong, juga merintangi jalan maju Lim Keng Hee.

Alwi.

Sulek dan Dokucan adalah jago-jago dari luar daerah, untuk menghadapi seorang diantaranya, mungkin bisa saja Kim Hong bertahan, tapi untuk sekaligus bertahan melawan tiga jago itu, tidak mungkin Kim Hong bisa menerjang.

Keadaan sangat krisis....

Terlebih lebih krisis lagi, karena disaat ini Mobilson, siorang tua berambut merah yang bercodet, terhuyunghuyung maju ke depan Kim Hong dipaksa mundur ke belakang.

Tiba-tiba.....

"Siiuuuuutt. ....."

Dari lubang kuburan gerbang golongan Kalong muncul seseorang, dia menggunakan kerudung, inilah Tamu tidak diundang dari luar daerah Ada dua orang tokoh silat yang menggunakan nama Tamu tidak diundang dari luar daerah.

Yang satu tulen, yang Satu imitasi.

Yang tulen mengabdikan diri kepada kebenaran.

Yang palsu mengekor di kalangan golongan Kalong....

Yang ini adalah tiruan-Tangan Tamu tidak diundang dari luar daerah imitasi terayun, dari sana berhamburan beberapa gelintir jarumjarum.

Dibarengi oleh terdengarnya jeritan-jeritan Sulek.

Alwi dan Dokucan.

masing-masing jatuh berkelojotan-Tentu saja keadaan yaag berada diluar dugaan, kalau Tamu tidak diundang dari luar daerah yang palsu itu bisa membela Kim Hong, mana mungkin pemuda kita bila melarikan diri?

Maka Sulek.

Alwi dan Bokucan jatuh terbokong.

Lim Keng Hee menarik Kim Hong dan berkata.

"Mari kita lari"

Disaat yang sama, Tamu tidak diundang dari luar daerah melemparkan sebuah bungkusan kearah Kim Hong. dia berkata "Terima bingkisan ini."

Kim Hong menyambutinya, bersama-sama dengan Lim Keng Hee melarikan diri.

Disana masih ada seorang yang belum terkalahkan, itulah Mobilson, tangannya terayun, memukul kearah Kim Hong.

Pusat perhatian Kim Hong sedang dicurahkan ketempat bungkusan yang dioper oleh Tamu tidak diundang dari luar daerah, dia agak lengah, karena itu ia alpa terhadap penyerangan Mobilson.

Lim Keng Hee selalu siap sedia, dia menghadang di depan Kim Hong, menghadang datangnya pukulan itu.

"Aduuuhhh.,..."

Tubuh Lim Keng Hee terlempar jauh, dari mulutnya bersembur darah hidup, Dia terkena serangan Mobilson disaat Mobilson hendak meneruskan penyerangannya Tamu tidak diundang dari luar daerah yang palsu sudan bergerak datang, ke dua jago ini bertarung, Kim Hong tercekat, ia lompat menghampiri Lim Keng Hee, terdengar suara rintihan nyonya ketua golongan Kalong itu.

"Adik Kim Hong lekas kau lari seorang diri."

Tanpa banyak suara, Kim Hong menggendong tubuh Lim Keng Hee, mereka melarikan diri meninggalkan Mobilson yang mulai bergebrak dengan Tamu tidak diundang dari luar daerah.

Itu waktu, Sulek.

Alwi, dan Dokucan sudah dijatuhkan, maka, tidak ada orang yang mengejar.

Dengan kecepatan lari Kim Hong, mereka sudah jauh meninggalkan tempat itu, meletakkan Lim Keng Hee dibaiik tanah kuburan, ia bertanya.

"cici Lim Keng Hee, bagaimana keadaanmu?"

Lim Keng Hee tertawa meringis, dia berkata terputusputus.

"Tidak... tidak apa... walaupun aku segera menghembuskan napasku... aku,.. aku puas ...."

Kim Hong berkata.

"cici Lim Keng Hee,jangan berkata seperti itu. Lukamu segera sembuh."

Napas Lim Keng Hee sudah menjadi agak lemah, dan berkata lagi.

"Lukaku....iukaku tidak bisa ditolong..."

"Akan kuusahakan."

Teriak Kim Hong.

"sebelum aku mati... aku hendak ..."

Suara Lim Keng Hee terputus.

"Jangan berpikir jauh seperti itu."

"Aku hendak mengajukan satu permintaan-"

Berkata Lim Keng Hee.

"Katakanlah."

Kau tidak malu berkawan dengan orang yang seperti aku, bukan,?"

Cepat-cepat Kim Hong berkata "Mengapa harus malu?"

Lim Keng Hee berkata dengan air mata berlinang-linang "Karena aku ..

karena aku...

adalah istri dari seorang manusia aneh.,.

manusia banci...

manusia yang bisa berubah menjadi wanita dan laki-laki....."

"Jangan memikir yang bukan-bukan,"

Berkata Kira Hong.

"cici Lim Keng Hee, aku percaya kesucianmu. Kau tidak salah."

"Masih... ingat.., ceritaku?"

Berkata Lim Keng Hee dengan sinar mata redup.

"Ingat....ceritera riwayat hidupku yang sedih? Aku mengharapkan bisa merasakan seorang pemuda idaman,pemuda yang normal. Bukan laki-laki, perempuan yang seperti Jie Hong Hu. aku... entah kesalahan apa yang sudah diperbuat oleh kedua orang tuaku? Aku harus kawin dengan Jie Hiong Hu, sesudah kau tahu rahasia ini kuharap saja kau tidak memandang rendah kepadaku....."

Buru-buru Kim Hong berkata.

"Sesudah kujelaskan, tidak pernah memandang rendah kepada cici."

Lim Keng Hee tersendat sebentar, sesenggukkan ia berkata.

"Maksudku... maksadku... sabelum aku mati bisakah kau...."

"Kau tidak akan mati,"

Kata Kim Hong. Lim Keng Hee menangis semakin sedih, katanya lagi "Seluruh isi jeroanku sudah bancur... kau...kau ..."

"Katakanlah apa yang kau mau?"

Lim Keng Hee berkata.

"Adik Cin Hong ...anggaplah aku sudah gila...sebelum aku mati, kuharap kau bisa menciumku."

Kim Hong tertegun, tapi cepat-cepat pula ia mengecupi seluruh tubuh Lim Keng Hee.

"cici Lim Keng Hee,"

Ia berkata.

"aku She Kim, bukan she Cin. Penguasa rumah penjara digunung Tay-pa San adalan ibuku, bukan ayahku, tadi aku menakut-nakuti mereka..."

Mendapat ciuman Kim Hong yang sementara itu, Lim Keng Hee tersenyum sebentar, Dia puas napasnya tersendat, dan sampai disinilah berakhir riwayat hidupnya.

Lim Keng Hee menghembuskan napasnya yang penghabisan didalam pelukan Kim Hong.

Kim Hong memanggil-manggil nama wanita itu, tiada penyahutan, membuktikan bahwa Lim Keng Hee sudah tiada napas lagi, akhirnya Kim Hong menjadi bersedih dia memanggilnya berulang-ulang .

"cici... cici... Lim Keng Hee, cici Lim Keng Hee. ..."

Disaat itu, tiba-tiba tampak satu bayangan mendatangi tempat itu, inilah bayangan sitamu tak Diundang dari luar daerah yang palsu, badannya berlepotan darah, memandang kearah Kim Hong dan bertanya.

"sudah mati?"

Kim Hong melepaskan pelukannya, meletakkan tubuh Lim Keng Hee, ia menganggukkan kepala dan berkata.

"Dia mati. karena menolong diriku, isi dalamnya hancur dipukul oleh sicebol itu..."

Tamu Tidak Diundang dari luar daerah yang palsu memeriksa urat nadi Lim Keng Hee betul-betul sudah berhenti, memandang Kim Hong dan membentak marah "Mengapa tidak kau beri makan obat kepadanya?"

Kim Hong menundukkan kepala berkata "Aku tidak mempunyai obat luka yang parah ini."

Tamu Tidak Diundang dari luar daerah yang palsu menghardik lagi "Kau tidak membuka bungkusan yang kuberikan itu?"

"Belum,"

Jawab Kim Hong.

"Mengapa tidak kau buka?"

Berkata Tamu Tidak Diundang dari luar daerah yang palsu yang penuh penyesalan.

"Apa?"

Kim Hong terbelalak.

"Disini tersedia obat untuknya?"

Tamu Tidak Diundang dari luar daerah yang palsu berkata.

"Itulah kotak ajaib."

Kim Hong mengeluarkan bungkusan yang diberi dari Tamu Tidak Diundang dari luar daerah, ia berkata mengeluh.

"ob, tidak kusangka kalau disini terdapat kotak ajaib. Tapi ....bukankah, kunci mas yang kesepuluh itu belum diketemukan?"

"Ini termasuk salah satu dari rencanaku."

Berkata Tamu Tidak Diundang dari luar daerah yang palsu.

"oh......."

Tamu tidak diundang dari luar daerah yang palsu menghela napas, berpikir sebentar dan ia berkata.

"Di dalam kotak ajaib terdapat dua belas butir obat Tiang-seng-pu-lo-tan, konon menurut cerita bisa menghidupkan orang yang baru mati, bisa menambah latihan tenaga dalam, tapi dua belas butir obat Tiang-sengpu-lo-tan milik dua belas partai besar, dimisalkan kalau diambil satu atau dua butir, bagaimana penilaianmu?"

Kim Hong terkejut, dia berkata.

"Sulit boanpwe menjawab. Tapi kalau boanpwe mempunyai seperdua belas dari bag ian itu, boanpwe bersedia diserahkan kepada cianpwee."

Tamu tidak diundang dari luar daerah yang palsu berkata.

"Bukan untuk kugunakan send iri, maksud aku Untuk digunakan kepada nona Lim Keng Hee. Beri saja sebutir obat Tiang-seng-pu-lo-tan mungkin bisa mengembalikan jiwanya."

Hati Kim Hong tergerak. cepat-cepat membuka bungkusan yang berisi kotak ajaib itu, ia berkata.

"Demi menolong jiwanya. obat bagian oey-san-pay itu biar menjadi tanggung jawab ku."

"Lekas,"

Berkata Tamu tidak diundang dari luar daerah.

"Lekas buka kotak ajaib itu."

Kim Hong sudah mengeluarkan kotak ajaib itu, tapi dia ragu-ragu dan bertanya.

"Ei, bagaimana persoalan kunci mas yang kesepuluh itu?"

Tamu tidak diundang dari luar daerah yang palsu berkata.

"Kunci yang kuserahkan kepada Jie Biauw Kow adalah kunci palsu, yang berada disini adalah kunci yang asli, buka saja."

Kim Hong tidak ragu-ragu lagi, mulai dari kunci mas yang pertama, dimasukkan kedalam lubang-lubang kotak ajaib, satu persatu diputar.

Dan, krek, krek, krek...

sehingga kunci yang terakhir, kotak ajaib itupun terbuka Keadaan Tamu tidak diundang yang palsu yang sebelumnya sudah murung, secara tiba-tiba saja menjadi segar, memanjangkan lehernya dan bertanya.

"Bagaimana?"

"Aaaaaa......"

Berbarengan terdengar suara teriakan Kim Hong yang kaget.

"Mengapa?"

"cianpwee lihat sendiri. Kukira kotak ini bukan kotak ajaib."

Pada kotak yang sudah terbuka itu, terdapat lekukanlekukan-tapi..... isinya kosong "Kosong?"

Berteriak Tamu tidak diundang dari luar daerah yang palsu. Wajah Kim Hong menjadi murung kembali, dia berkata.

"Boanpwe kira, dua belas butir obat Tiang-seng pu-lo-tan dan catatan-catatan kitab pelajaran silat sudah diambil oleh ketua golongan kalong."

Tamu tidak diundang dari luar daerah yang palsu menggelengkan kepala, dia berkata.

"Tidak mungkin. Sesudah dia membunuh mati wakil ketua dari dua belas partay, sesudah mengambil kotak ajaib, belum pernah aku meninggalkan dirinya Belum pernah membuka, apa lagi mengingat kunci mas yang kesepuluh itu adalah kunci yang palsu sengaja aku serahkan kepadanya. Kalau Ssja dia berani membuka kunci set terjadi perobahan, kotak ini bisa meledak."

Dengan dingin Kim Hong bertanya.

"Heran, menurut cerita orang, di dalam kotak ajaib berislkan dua belas butir obat Tiang-seng-pu-lo-tan dan dua belas macam ilmu mujijat, kemanakah obat-obat dan catatan ilmu-ilmu itu? Mungkinkah satu tipu muslihat untak mengelabui orang?"

"Kesucian si Dewa persilatan Kat Thian Bin jangan disangsikan, hal itu tidak bisa terjadi."

"Inilah yang Sedang kubingungkan-"

"Siapa yang mengambil kotak ajaib ini dari dasar telaga Tay-pek tie?"

"orang itu tidak perlu disangsikan, orang yang mengambil kotak ajaib dari telaga Tay-pek tie adalah aku pribadi........"

"oh ... ."

Kim Hong menjadi bingung.

Permainan apa yang dilakukan oleh Tamu Tidak Diundang dari luar daerah yang palsu ini?

Sebentar memihak kepada golongan Kalong sebentar memihak kepadanya?

Dan kini terjadi pula perobahan ajaib yang tidak mungkin bisa terjadi.

Dugaan Kim Hong jatuh kepada tipu muslihatjago samaran yang berada didepannya, pertama-tama, sengaja mengambil isi dari pada benda-benda berharga yang berada didalam kotak ajaib, sesudah itu diserahkan kepadanya.

Seolah-olah hendak menjadi orang baik.

Mau mengambil hatinya?

Inilah rencana tertentu.

Tiba-tiba saja Kim Hong tertawa berkakakan.

"Ha ha ha........."

"Apa yang kau tertawa kan?"

Bertanya Tamu tidak diundang dari luar daerah imitasi. Secepat itu pula, tangan Kim Hong bergerak, dia memegang pergelangan tangan Sijago silat misterius, dengan dingin ia berkata.

"Hei, sandiwaramu lumayan juga Sayang Kau terlalu memandang rendah diriku, kalau saja kau tidak menyerahkan catatan-catatan ilmu silat peninggalan dua belas partay dan obat Tiang Seng-pu-lo-tan, jangan harap kau bisa hidup keluar dari tempat ini."

Keadaan Tamu tidak diundang dari luar daerah sangat lemah, sesudah terpukul oleh Mobilson, dia menderita luka dibeberapa tempat.

Karena itu dengan mudah dia bisa dibekuk orang, Dituduh seperti itu dia tidak marah, hanya tertegun sebentar, dengan suara tenang dan datar dia berkata.

"Sama..... cocok"

Kim Hong membentak.

"Apa yang sama? Apa yang cocok?"

"Inilah tabiat-tabiat yang dimiliki oleh ayahmu."

Berkata Tamu tidak diundang dari luar daerah yang palsu.

"Dia penuh curiga. Kau juga penuh curiga. Dia banyak menyebar Cinta, kau juga banyak menyebar Cinta. Demikian ayahmu, demikian pula anaknya. sangat sama. Mirip sekali. cocok setali tiga uang."

"Kau kenal kepada ayahku?"

Bentak Kim Hong. Dengan dingin, Tamu tidak diundang dan luar daerah berkata.

"Lebih daripada kenal. Huh......"

"Huh apa?"

Bentak Kim Hong marah.

"Apa kesalahan ayahku?"

"Apa kesalahan ayahmu?"

Berkata jago misterius itu.

"Tanya sendiri kepadanya , dia bukan dewa, apa diwajibkan aku patuh dan hormat kepadanya?"

"Kau siapa?"

Bentak Kim Hong.

"Tanya kepada ibumu, siapa aku.

"berkata Tamu Tidak Diundang dari luar daerah yang palsu.

"Kau kenal dengan ibuku?"

Hal ini berada diluar dugaan Kim Hong.

"Mengapa tidak kenal?"

Berkata Tamu tak diundang dari luar daerah yang palsu.

"Dia Sudah menjadi penguasa rumah penjara rimba persilatan digunung Tay-pa San? Anggapannya tak ada orang yang tahu? ha ha ha..."

Kim Hong menjadi heran, dia bertanya.

"Tapi ibuku tidak kenal kepadamu. Kalau dia kenal, Sudah tentu dia beritahu."

"Tidak kenal?"

Ulang tamu tidak diundang dari luar daerah yang palsu. Ha ha..., apa betul? Apa betul dan tidak kenal, apa sengaja melupakan diriku. coba tanya lagi, pasti dia ingat."

"Berpikir sebentar, tiba-tiba setitik pikiran berkelebat, Kim Hong berkata.

"Mungkinkah kau adalah Suheng dari ibuku?"

"Aku lebih suka disebut orang sebagai murid Suma Cin,"

Berkata tamu tak diundang dari luar daerah yang palsu.

"Daripada disebut suheng dari ibumu."

Dugaan Kim Hong tidak salah Tamu tak diundang dari luar daerah yang palsu adalah SUheng dari ibunya, namanya cie Hoa Hong Menurut Cerita Suma Siu Khim sang suheng cie Hoa Hong adalah seorang baik.

Tapi dari kenyataan yang Kim Hong saksikan, tindak tanduk tamu tidak diundang dari luar daerah yang palsu ini sangat menyulitkan dirinya, karena itu ia berkata.

"Betul-betul aku tidak mengerti ?"

Tamu tak diundang dari luar daerah yang palsu cie Hoa Hong berkata.

"Apa yang tidak dimengerti ?"

"Kau memalsukan seseorang, kau berkomplot dengan golongan Kalong, terakhir kau berkhianat pula kepada golongan Kalong Apa maksud tujuanmu?"

Cie Hoa Hong berkata.

"Kau tidak mengerti maksud tujuanku, karena aku sudah menyerahkan kotak ajaib kepadamu?"

"Ya. Betul-betul tidak mengerti."

Cie Hoa Hong melirik kearah mayat Lim Keng Hee, Walau hanya sebentar, cukup menyuruhkan perasaannya, seraya menghela napas berkata.

"Sedikit banyak ada hubungannya dengan nyonya ini "

"Apa hubunganmu dengan cici Lim Keng Hee?"

Bertanya Kim Hong.

Tamu tak diundang dari luar daerah yang palsu cie Hoa Hong berkata "Lim Keng Hee adalah seorang Wanita yang baik seorang wanita suci.

Terus terang kukatakan kepadamu, sesudah meninggalkan ibumu, aku berkelana dirimba persilatan selama duapuluh tahun, aku hidup dengan kekosongan hati belum pernah terganggu, tapi...sesudah bertemu dengan Lim Keng Hee.

kelelakianku hidup kembali, walau dia tak tahu betapa Cintaku kepadanya, tapi hanya hatiku seorang diri yang tahu."

"Aaaa..."

Berteriak Kim Hong kaget.

"Mengapa kau tidak memberi tahu kepadanya?"

Ternyata cie Hoa IHong menyintai Lim Keng Hee Tamu tak diundang dari luar daerah yang palsu cie Hoa Hong berkata.

"Masih belum waktunya, Lim Keng Hee adalah seorang wanita suci, aku takut, lebih takut lagi kalau bisa mengganggu usahaku."

"Eh, apa usaha supek?"

Kim Hong harus memanggil Supek kepada cie Hoa Hong, mengingat cie Hoa Hong adalah suheng dari ibunya. cie Hoa Hong berkata.

"Tujuanku menyatmar jadi tamu tak diundang dari luar daerah yang palsu ada dua maCam yang pertama adalah mengambil kotak ajaib ini"

Napas cie Hoa Hang menjadi sangat sengal, suaranya lemah, ia mengambil sesuata, ditelannya segera, itu obat penguat badan-..

Dan sesudah makan obat tersebut, cie Hoa Hong menjadi kuat kembali, ia berkata "Sebelum aku mati ..."

"Apa? kau juga mau mati?"

Berteriak Kim Hong.

"Lukaku lebih berat dari Lim Keng Hee, aku terkena pukulan Hamid sampai dua kali, hanya obat inilah obat yang terakhir, sebelum aku mati, tolong sampaikan pesan kepada seseorang, namanya Bok Siu..."

"Piauw-peng-klam-khek Bok Siu?"

Berkata Kim Hong terkejut. Ternyata Piauw-peng-kiam-khek Bok Siu adalah murid dari Tamu tak diundang dari luar daerah yang palsu.

"Dia adalah muridku,"

Berkata cie Hoa Hong.

"Dia adalah putri tunggal dari panglima perbatasan, aku pernah menjadi guru pelatih pada tentara ayahnya. aku kenal kepadanya Negara Tay-Wan-kok adalah negara yang kuat, laki dan wanita berkepandaian silat, disaat aku memasuki negara tersebut. aku menemukan sibanci Jie-hong Hu dan jago nomor satu Hamid dan Jooss serta Mobilson. aku tahu sifat-sifat Jie Hiong Hu, atas desakan dan ajakan Jie Hiong Hu, Hamid, Jooss dan Mobilson telah berkomplot, mereka hendak menguasai daerah Tionggoan-Maka itu aku beritahu kepada panglima perbatasan, seperti apa yang kuduga Jie Hiong Hu mendirikan partay Kalong, karena itu aku menggunakan nama Kebesaran tamu tak diundang dari luar daerah mengabdikan diri kepadanya, sehingga suatu hari pertemuanku dengan ayahmu. sesudah pertemuan dengan ayahmu, hingga Jie Hiong Hu mengetahui bahwa aku adalah Tamu Tak diundang dari luar daerah yang palsu, tapi, tak menganggap sesuatu apa...."

"Bila supek bertemu dengan ayah?"

Berteriak Kim Hong kaget. Tamu tak diundang dari luar daerah yang palsu cie Hoa Hong berkata.

"Itu waktu kau juga ada, disaat aku sama sikakek ie-oe saling tarik urat, kau dan Leng Bie Sian datang, aku terpaksa menempur ayahmu."

"Eh...Tamu tidak diundang dari luar daerah itu yang diartikan sebagai ayah ?"

Berteriak Kim Hong kaget.

"Ehm,"

Cie Hoa Hong memandang Kim Hong.

"Mungkinkah ayahmu belum mau mengaku?"

"Apa yang di aku?"

Bertanya Kim Hong.

"Dia belum membuka tutup kerudungannya. Dia tak menyebut bahwa dia adalah ayahmu?"

"Maksudmu. Tamu tidak diundang dari luar daerah yang asli itu adalah ayah?"

Bertanya Kim Hong.

"Ya, Tamu tak diundang dari luar daerah Kim Hoong adalah ayahmu."

"Tidak mungkin-...tidak mungkin-.."

Berkata Kim Hong.

"Apa yang tidak mungkin?"

Bertanya cie Hoa Hong.

"Mana mungkin Tamu tidak diundang dari luar daerah yang asli menjadi ayahku?"

"Ha ha...."

Cie Hoa Hong terrawa.

"Betul-betul tamu tak diundang dari luar daerah adalah ayahmu."

Kim Hong berkerut alis, ia berkata.

"Terus terang kukatakan, aku sudah berhasil menemukan ayahku. itulah yang bernama oey-ceng, itu waktu aku tidak tahu, ia menyerahkan kipas Han-Siong-Giok-tlok. Dan sesudah dibuktikan ibuku, betul-betul dia adalah ayahku."

"Tidak salah lagi. Tamu tak diundang dari luar daerah asli itu adalah ayahmu namanya Kim Hoong."

"Tidak mungkin."

Berkata Kim Hong.

"Tamu tak diundang dari luar daerah yang asli sudah tertawan didalam rumah penjara rimba persilatan yang baru."

"Mengapa kau keras kepala."

Bertanya cie Hoa Hong.

"Apa buktinya?"

Bertanya Kim Hong.

"Karena urusan ibumu dan ayahmu. telah bertahuntahun kuikuti dirinya, mungkin orang lain tidak tahu, siapa nama asli Tamu Tidak Diundang dari luar daerah tapi aku cie Hoa Hong tahu. Tamu Tidak Diundang dari luar daerah adalah Kim Hoong, siapa berhasil mendidiknya, aku juga tahu, aku tahu orang yang menjadi gurunya."

"Siapa gurunya?"

Bertanya Kim Hong.

"Kongsun Bwee Kun-"

Berkata cie Hoa Hong.

"orang yang berhasil mendidik ayahmu berkepandaian silat tinggi adalah Kongsun Bwee Kun adalah kekasih sikakek gelandangan Kiat Hian, Kongsun Bwee Kun gagal kawin dengan sikakek gelandangan karena bujukan orang, dia berhasil kena ajakan dan desas-desus, sesudah meninggalkan daerah Tionggoan dia lari kenegara Taywan-kok, disana dia kenal kepada jago Tay-wan-kok Jooss, dan akhir Kongsun Bwee Kun menikah dengan Jooss. Kemudian mengetahui kalau langkahnya itu adalah langkah yang salah, dia kena bujukan orang, tidak seharusnya dia meninggalkan sikakek gelandangan Kiat Hian, Karena itu dia juga meninggalkan suaminya kembali kedaerah Tionggoan, menyucikan diri menjadi biarawati, dia mengganti nama menjadi Pan Su Lonnie. Hal ini betulbetul terjadi belum lama, seperti apa yang sudah kau katakan Jooss sedang pergi kegunung Lui-san mencari istrinya lagi, istri Jooss yang melarikan diri adalah Kongsun Bwee Kun"

Kim Hong semakin hebat, ia bertanya.

"Pan su Lonnie Kong-sunBwee Kun menetap digunung Lui-san?"

Cie Hoa Hong menganggukkan kepala seraya berkata.

"Dia pernah menetap untuk beberapa waktu, Karena dia malu kepada sikakek gelandangan Kiat Hian, tidak berani bertemu dengan sikakek gelandangan Kiat Hian maka dia tidak menetap disuatu tempat yang pasti. Kini dimana ia menetap? Aku tidak tahu"

Sampai Cerita ini, baru Kim Hong mengerti, apa yang menyebabkan Sifat gilanya si kakek gelandangan Kiat Hian, ternyata Kiat Hian tergila-gila Kongsun Bwee Kun, walau Kongsun Bwee Kun sudah menjadi biarawati, mengganti nama menjadi Pan Su Lonnie, Kiat Hian masih mencaricarinya tidak berhasil, karena itu ia sakit ingatan.

Lagi-lagi korban asmara Terdengar elahan napas panjang cie Hoa Hong berkata lagi.

"Umur mereka sudah hampir mencapai delapan puluhan tahun, tapi kepada kekasihnya masih tetap tidak bisa dilupakan, dalam soal ini aku tidak bisa menandingi sifat mereka........"

Kim Hong bertanya.

"Apa yang menyebabkan Kongsun Bwee Kun cianpwee meninggalkan Kiat Hian cianpwee?"

Cie Hoa Hong berkata ."Fitnah itu keluar dari mulut Yap Yok Hong.

Yap Yok Hong adalah nenek ubanan yang kau jumpai digunung Lie-Liang San itu.

Yap Yok Hong hendak kawin kepada kakek gelandangan Kiat Hian, maka dia membuat fitnah jahat sengaja dikatakan kalau Kiat Hian sudah menikah dan mempunyai anak, itulah yang menyakiti hati Kongsun Bwee Kun, tanpa menyelidiki kebenaran dari cerita tersebut, tanpa menyadari akibatnya Kongsun Bwee Kun meninggalkan sang kekasih..."

"Apa Yap Yok Hong berhasil kawin dengan Kian Hian cianpwe?"

"Kau kira Kiat Hian mau mengawini Yap Yok Hong?"

"ouw......"

"Karena itulah urusan mereka berantakan, berceceran,"

"Eh, kau katakan kalau Tamu tak diundang dari luar daerah yang asli itu sebagai ayahku, siapa pula laki-laki yang menggunakan nama samaran Oey Ceng?"

Cie Hoa Hong berkata.

"Aku belum melihat laki-laki yang menggunakan nama samaran Oey Ceng itu, maka aku tidak bisa memberitahukannya. Tapi yang pasti Oey Ceng bukanlah ayahmu."

"Tidak mungkin. Ibu mengatakan dia adalah ayahku. Dari mana dia mendapatkan kipas wasiat Hian-siang-Gioktiok? "Mana kutahu!"

JaWab cie Hoa Hong.

"Kalau kau mempunyai pegangan kuat bisa memenangkan penguasa rumah penjara yang baru mengapa kau tidak menantang, menyelidiki sendiri ?"

"Aku tidak bisa memenangkan pertandingan itu. Ilmu silat penguasa rumah penjara rimba persilatan yang baru sangat misterius, aku bukan tandingannya."

Sesudah itu, ceritakan bagaimana dia bersama-sama lakilaki yang menggunakan nama samaran Oey Ceng itu memasuki rumah penjara yang baru, menantang penguasa rumah penjara tersebut, terakhir dikalahkan.

cie Hoa Hong berpikir beberapa saat, sesudah menghela napas ia berkata.

"Kalau kau berhasil memakan obat Tiang-seng-pu-lo-tan, keajaiban bisa berubah, aku kira kau mempunyai kekuatan untuk mengalahnya....."

Disebutnya nama obat Tiang-Seng-pu-lo-tan yang berada di dalam kotak ajaib, kecurigaan Kim Hong kambuh kembali, dia bertanya.

"Kau mengaku suheng dari ibuku yang bernama cie Hoa Hong, apa buktimu?"

Cie Hoa Hong membuka tutup kerudung mukanya, disana tampak sebuah wajah yang cukup tampan-ditengahtengah dari kedua alis terdapat tahi lalat hitam, menunjukkan jarinya pada tahi lalat hitam itu, dia berkata.

"Bisakah memberi tanda ini sebagai bukti?"

Kim Hong berkata.

"Aku harus bertanya dulu kepada ibu."

"Sebelum kau mengaku aku sebagai supekku, apa yang hendak kau lakukan?"

"Aku hendak membawa kau kepada ibu, disana dia bisa membuktikannya."

"tidak mungkin, Sudah terlambat, seperti juga keadaan Lim Keng Hee, aku bisa terbaring di tempat ini. Terbaring untuk selama-salanya."

Kim Hong terkejut, hampir dia berteriak.

"Betul-betul sudah tidak bisa ditolong lagi?"

"Aku terpukul oleh Hamid, keadaan lukaku lebih hebat dari Lim Keng Hee, aku tidak mati, karena bantuannya obat-obat ini, tapi obat terakhir sudah kumakan habis, tidak mungkin dapat ditolong lagi."

"Betul-betul tidak bisa ditolong lagi?"

Bertanya Kim Hong.

"Kecuali mendapat obat Tiang-seng-pu-lo-tan,"

Berkata Tamu tidak diundang dari luar daerah yang palsu itu.

Kim Hong masih belum yakin, siapa dianya orang yang menggunakan nama samaran Tamu tidak diundang dari luar daerah yang palsu ini.

Apa bukan mungkin sebagai tipu muslihat?

Siapakah Tamu tidak Diundang dari luar daerah yang palsu?

Dia mengaku sebagai suheng dari rumah penjara rimba persilatan digunung Tay-pa-san-Apa buktinya?

Betulkah namanya cie Hoa Hong?

Apa betul-betul dia sudah hampir mati?

Napas Tamu tidak Diundang dari luar daerah yang palsu lemah kembali, ia berkata rendahan.

"Mungkin kesalahanku. Itu waktu saat aku memasuki telaga Tay-pek tie, terlalu cepat mendapatkan kotak ajaib. Sekarang kupikir kembali mungkin kotak ajaib ini adalah kotak ajaib yang palsu. Kotak ajaib yang asli masih terpendam ditelaga Tay-pek-tie. Karena salah mengambil kotak ajaib tidak mungkin mendapat pel obat Tiang sengpu-lo-tan, tidak mungkin jiwaku diperpanjang pula........"

Kim Hong berkata.

"Menurut cerita Lim Keng Hee cici. Sesudah Jie Hiong Hu mendapatkan kotak ajaib selalu dibawa-bawa olehnya, mengapa kau mengatakan kau yang menemukan didasar telaga Tay-pek-tie?"

"Ya Akulah yang mengambil kotak itu. Kuambil dari dasar telaga Tay-pet-tie."

"Betul-betul cianpwee yang mengambil kotak ajaib didasar telaga Tay-pek-tie?"

Bertanya Kim Hong.

"tidak perlu kau ragukan. Akulah yang mengambil kotak ajaib dari telaga Tay-pek-tie kuserahkan kepada jie Hiong Hu, tapi tidak begitu tolol, kuganti kunci mas yang kesepuluh dengan kunci mas yang palsu, maka diapun tidak membukanya"

"Mengapa kotak ajaib sudah kosong?"

"Inilah yang membingungkan diriku."

"Mengapa cianpwee mau bernaung dibawah panji kebesaran partay Kalong?"

"Dalam soal ini, ada sebab-sebab penting mengambil bagian juga urusan ayahmu. Terus terang kukatakan sedikit banyak aku tidak puas kepada ayahmu, aku memalsukan dirinya dan bernaung dibawah panji golongan Kalong itulah suatu pembalasan, dengan harapan ini agar ayahmu menjadi marah, biar dia menempur ibumu digunung Taypa-san, tapi tidak berhasil, ayahmu kukuh kepala....."

Baru sekarang Kim Hong mengerti, siapa adanya tamu tak diundang dari laar daerah yang asli, siapa adanya Tamu tak diundang dari luar daerah yang palsu?

Tapi.....Siapa pula Oey Ceng?

Menurut pengakuan ibunya, Oey Ceng adalah nama samaran dari ayahnya.

Persoalan ini yang membingungkan Kim Hong, satu bayangan lagi hadir ditempat itu, Kim Hong terkejut dan bersiap siaga, tiba-tiba ia berteriak "Aaaa ...

ibu"

Orang yang datang adalah penguasa rumah penjara rimba persilatan gunung Tay-pa San Suma Siu Khim Tanpa menghiraukan anaknya, Suma Siu Khim berkata.

"Lekas, lekas mencari tempat bersembunyi. Mereka sudah datang"

Sesudah itu, memandang kearah Tamu tak diundang yaog palsu cie Hoa Hong, Suma Siu Khim berkata.

"Suheng, aku datang......"

Tamu tak diundang dari luar daerah yang palsu betulbetul adalah cie Hoa Hong.

Dia sudah berada diambang pintu kematian-matanya dikatupkan, mendengar suara Suma siu Khim, ia mementangkan matanya lebar-lebar, hampir tidak percaya, ia bertanya;

"Sumoay, betul-betul kau?"

Suma Siu Khim berkata;

"Bukan waktunya kita bicara, lekas cari tempat persembunyian-"

Kim Hong mengangkat cie Hoa Hong, mereka melarikan diri. cie Hoa Hong cepat berkata;

"Kesitu Buka baju itu"

Menurut petunjuknya, Kim Hong mengangkat sebuah batu besar, disana terdapat goa, bersama-sama memasuki goa tersebut.

Sesudah membaringkan cie Hoa Hong di dalam goa tersebut, Suma Siu Khim dan Kim Hong memandangnya dengan lirih.

Suma siu Khim berkata.

"Aku dari kota Lie wie mengejar sicodet merah itu hingga disini, belum lama, aku melihat kau menempur seseorang. Lagi urusan orang-orang dari Tay-wan-kok. itu waktu aku tidak tahu kalau kau, kulihat kau terpukul, kulihat kau melarikan diri sehingga sampai disini, ternyata kau adalah cie suheng....."

Sesudah itu, Suma Siu Khim menoleh kearah Kim Hong dan berkata.

"Kau jaga mulut goa, kudengar seperti ada orang yang datang."

Meninggalkan ibunya dan cie Hoa Hong, Kim Hong menuju kemulut goa. tidak lama kemudian, dari jauh, dari luar goa tersebut terdengar Lam-kek Sin-kun Im Liat Hong;

"Hamid cianpwe, disini ada segumpal darah"

Berbareng terdengar pula suara yang lain;

"Ya Disini juga ada bekas tanda darah"

Disusul dengan suara yang lain pula.

"tidak salah lagi Mereka melarikan diri tempat ini. Lekas ikuti tanda darah itu, kejar mereka"

Itulah suara sikakek rambut merah bercodet Mobilson MENDENGAR suara Mobilson, hati Kim Hong tercekat, mengintip keluar goa, disana terdapat enam orang sedang menuju kearahnya.

Keenam orang itu berada dibawah pimpinan orangorang berambut merah, mereka adalah Hamid, Mobilson dan lain-lainnya.

Mengetahui rombongan Hamid sedang menuju ketempat ini, hati Kim Hong semakin tercekat.

Disini masih ada ibunya, sang ibu pernah menempur Mobilson, itu waktu Mobilson harus menderita sedikit luka, tapi selisih silat mereka tidak terlalu jauh.

Sesudah datang bantuan Hamid dan kawan-kawan, mungkinkah sang ibu mempunyai kekuatan untuk mengalahkan begitu banyak jago kelas satu?"

Kaki Kim Hong sudah dilejitkan, bersiap keluar untuk menampili pergi rombongan Hamid.

Tapi hal itu gagal dilakukan, mengingat bahaya yang lebih besar.

Darah cie Hoa Hong yang bertetesan dijalan menjadikan pedoman mereka, memberi petunjuk kepada rombongan itu, dimana sang buronan menyembunyikan diri.

sebentar kemudian, terdengar suara Mobilson berteriak girang.

"Ha Disini ada bekas tetesan darah. Mereka lari kearah sini."

Terdengar suara Alwi yang berteriak girang.

"ada goa... Tentu bersembunyi disana"

Terdengar suara Sulek berkata.

"Biar teecu yang masuk menangkapnya."

Terdengar suara Hamid berkata.

"Tunggu dulu"

"Tungga apa lagi?"

Inilah suafa Mobilson-Terdengar suara Hamid.

"Mobilson sute, apa betul-betul dia sudah terluka?"

Terdengar suara Mobilson.

"tidak perlu diragukan. Ia telah kena pukulanku, lihat... Dia sudah muntah darah segar. Inilah bukti."

Hamid ragu-ragu sebentar dan bertanya.

"Goa itu tertutup oleh batu besar. mengapa dia masih mempunyai kekuatan geser batu-batu besar? Bobot batu besar itu paling sedikit seribu kati."

Terdengar suara Mobilson-"Jangan lupa, menyertainya adalah sibocah Cin Hong."

Terdengar suara Hamid.

"Im Liat Hong, coba kau lihat"

Lam-kek Sin-kun Im Liat Hong mengiakan, perlahanlahan menuju kearah goa.

Didalam goa Kim Hong menahan napas, ia sedang memaki Hamid yang licik, tidak mau menyuruh orang sendiri, tapi membiarkan si Im Liat Hong dan golongan Kalong yang mengantarkan jiwa.

"Hah tidak perduli, siapa yang masuk. akan kupukul sampai remuk."

Kemudian bgrpikir Kim Hong.

Suara Lam-kek Sin-kun Im Liat Hong semakin dekat, derap langkah kaki bergeser, keadaan menjadi tegang, Kim Hong menunggu didalam goa.

Goa itu cukup dalam, sebentar kemudian Lam-kek Sinkun Im Liat Hong tidak meneruskan langkahnya, terdengar ia berteriak dalam.

"Cin Hong kalau betul-betul pria sejati, hayo Keluar.. Jangan main petak-umpat ditempat gelap"

Hati Kim Hong tercekat, sangkanya tempat persembunyiannya sudah diketahui oleh Lam-kek Sin-kun Im Liat Hong, maka gagallah rencana membikin pembokongan, dia bermaksud menerjang keluar, tiba-tiba pundaknya terasa dipegang orang, itulah Suma Siu Khim yang membisiki anaknya.

"Jangan ladeni"

Betul-betul Lam-kek Sin-kun Im Liat Hong bersifat menggertak, ia takut mendapat bokongan, karena itu berteriak-teriak.

Menunggu beberapa waktu, tidak ada reaksi, Lam-kek sin-kun Im Liat Hong semakin berani, putusannya.

tidak ada orang, Maju lagi tiga langkah dan berkata.

"Cin Hong, lebih baik kau keluar. dengan nama ayahmu sebagai penguasa rumah penjara rimba persilatan, mereka tidak berani mengganggu dirimu. Keluar Aku berpura-pura kalah kau boleh melarikan diri. Setuju?"

Suara Lam-kek Sin-kun Im Liat Hong jadi agak melemah, seolah-olah hendak mencari persahabatan-Kim Hong menolehkan kepala, memandang kearah ibunya yang berdiri dibelakang.

Suma siu Khim menggeleng-gelengkan kepala, itulah suatu tanda jangan ladeni Lam kek Sin-kun Im Liat Hong.

Terdengar lagi suara Lam-kek Sin-kun Im Liat Hong.

"Cin Hong, kuberitahu kepadamu, aku memasuki golongan Kalong bukan sejujurnya, aku tidak tahu kalau Jie Hiong Hu si banci itu hendak berlaku jahat, apa lagi sesudah kedatangan orang-orang dari luar daerah, mereka petantang-petenteng, sangat sombong, aku tidak bisa menyaksikan sikap mereka yang seperti itu maksudku hendak meninggalkan golongan Kalong, tapi tak ada kesempatan-Hayo, keluarlah, aku tidak mengganggu."

Hati Kim Hong terharu, pengalamannya masih cetek. menoleh lagi, memandang kearah sang ibu, seolah-olah berkata.

"Bagaimana, kukira dia betul-betul."

Suma Siu Khim masih tetap menggelengkan kepala.

sebentar kemudian, terdengar suara Lam-kek Sin-kun Im Liat Hong tertawa seram?

"Maknya dirodok, bocah ini tidak berada didalam, aku ketakutan kepada bayangan sendiri.

Biarpun disertai bapaknya pemilik rumah penjara rimba persilatan aku tidak takut"

Mata Kim Hong mulai melihat satu bentuk tubuh yang besar, ada bayangan yang memasuki kearah dekatnya. Disaat Kim Hong hendak mengayun tangan gerakan Suma Siu Khim lebih cepat.

"crat!! dia menotok jatuh Im Liat Hong dengan sepasang matanya yang memancarkan cahaya. Suma Siu Khim membentak.

"Im Liat Hong kenal kepada suaraku?"

Dalam keadaan samar-samar Lam-kek Sin-kun melihat seorang yang mengenakan pakaian warna hitam, suaranya adalah suara penguasa rumah penjara rimba persilatan digunung Tay-pa-san, ia berteriak kaget.

"Kau.......Laucu rumah penjara?"

Suma Siu Khim menganggukkan kepala dan berkata.

"Bagus Kukira kau tidak berani berteriak keras, berteriak berarti mati."

Lam-kek Sin-kun Im Liat Hong adalah seorang iblis jahat, tapi dihadapan Suma siu Khim tidak Ubahnya seperti seekor tikus bertemu kuCing, tidak ada perlawanan sama sekali, dia berkata memohon.

"Laucu, aku tidak pernah mengganggu dirimu.........."

"Hmm......."

Berdehem Suma siu Khim.

"Apa yang tadi kau katakan?"

Disaat ini dari luar goa terdengar suara Sulek berkata.

"Im Liat Hong mengapa tidak bersuara?"

Lam-kek Sin-kun Im Liat Hong memandang kearah Suma Siu Khim, meminta petunjuknya. Suma Siu Khim berkata perlahan.

"Beri tahu kepadanya kau menemukan sebuah benda ajaib, Suruh mereka masuk"

Lam-kek Sin-kun Im Liat Hong segera berteriak keras.

"Saudara Sulek. ada sesuatu yang sangat ajaib lekas kalian masuk"

Sebelum Sulek menjawab terdengar suara Hamid bergeram diluar.

"Apa yang kau saksikan?"

Im Liat Hong menjawab.

"SuSah disebut. Masuklah.. Saksikan bersama-sama."

Terdengar suara Hamid.

"Coba kau gambarkan benda ajaib apa yang kau temukan?"

Lam-keK Sin-kun Im Liat Hong memandang kearah Suma siu Khim lagi, meminta petunjuk berikutnya. Suma Siu Khim berkata.

"Kau beri gambaran sebuah rumput leng-cie, tapi jangan disebut leng-cie."

Mengikuti petunjuk itu, Im Liat Hong berteriak keluar goa.

"Hamid cianpwe, disini ada sebuah rumput yang aneh, bentuknya seperti jamur, ada selembar daun putih, seperti telapak tangan....."

"ouw......."Berkata Hamid ogah-ogahan-"Mungkin semacam rumput lengci. Tapi kau belum menemukan musuh?"

Im Liat Hong menjawab.

"Belum, goa ini dalam sekali."

Hamid berkata.

"Masuklah kedalam. Kalau ada berita lain, beritahu lagi kepadaku."

Suma siu Khim gagal membawakan rencananya, ternyata Hamid tidak tertarik kepada rumput Leng-ci. Sesudah itu, ia membisiki ditelinganya Im Liat Hong beberapa patah kata. Im Liat Hong berteriak keluar.

"ouw.... aduh...."

Terdengar suara Mobilson diluar goa.

"Im Liat Hong? Mengapa?"

Sesudah berteriak menjerit, Im Liat Hong merintih.

"Aku keracunan. Tangan dan kakiku tak bisa digerakkan Nah, tentu rumput ajaib ini.. Lekas kalian bantu"

Mobilson berkata diluar goa.

"Kau keluar dulu."

Im Liat Hong merintih lagi.

"tidak bisa Kakiku tidak bisa digerakkan lagi."

Terdengar suara Mobilson.

"Heran, mengapa kau begitu tidak becus?"

Im Liat Hong berteriak.

"Rumput ajaib ini sangat hebat, sudah ku usahakan, aduh.....aduh....."

Permainan sandiwara Im Liat Hong memang agak lumayan, ia berhasil memanCing orang datang.

Tanpa suara, tiada desiran angin, stsuatu bayangan memasuki lorong goa yang gelap itu.

Suma Siu Khim mempunyai mata yang lihay, ia memukul kearah Si bayangan-Tepat dan cepat Bayangan itupun menjulurkan kedua tangannya dan terjadi benturan dua kekuatan-Bang Berbareng.

batu-batu di dalam goa rontok berguguran, terjadi hujan abu.

sebentar kemudian, sesudah keadaan itu mereda.

Suma Siu Khim menempel di dinding goa.

tidak bergerak dan bayangan hitam itu sudah terpukul keluar goa lagi.

Menyaksikan keadaan sang ibu, Kim Hong mendekati dan berteriak "Ibu, bagaimana keadaanmu ?"

Im Liat Hong yang terbaring juga bisa menyaksikan keadaan Suma Siu Khim, dia terus berteriak.

"Aaa,..kau....Seorang wanita ."

Suma siu Khim mengurut peredaran jalan darahnya sebentar, mengeluarkan keluhan napas panjang, ia berkata perlahan.

"tidak apa-apa, Hamid itu memang lebih lihay dari Mobilson. Tapi aku tidak kalah darinya. Lihat Ibumu masih kuat bicara, sampai sekarang Si Hamid masih belum terdengar suaranya."

Bersamaan dengan ini, diluar goa terdengar suara Hamid;

"Mobilson sute, awasi musuh didalam goa ada dua orang. Yang satu adalah sibocah Cin Hong, seorang lagi berbaju hitam wajahnya tak terlihat jelas....."

Mobilson menyambung suaranya "Ha ....Itulah Wanita yang pernah kujumpai dahulu, istri penguasa rumah penjara?"

Hamid bertanya heran.

"Berita dari mana yang kau dapat? Masakan ada penguasa rumah penjara rimba persilatan yang mempunyai istri?"

Mobilson berkata.

"Wanita itu mengaku sebagai ibu Cin Hong, Cin Hong mengatakan, penguasa rumah penjara adalah ayahnya, kalau bukan istri dari Penguasa rumah peajara, siapa lagi?"

Terdengar suara gerungan Hamid, kemudian dengan dingin berkata.

"Bah Kalau betul penguasa rumah penjara mempunyai istri begitu hebat, lebih baik kita pulang mudik saja sudah"

Mobilson bertanya.

"Menurut pendapatmu?"

Dengan dingin Hamid berkata.

"Kukira dia adalah penguasa rumah penjara pribadi."

Dengan heran Mobilson bertanya.

"Seorang wanita yang menjadi penguasa rumah penjara."

Hamid berkata;

"Apa kau pernah kau melihat, kalau si penguasa rumah penjara seorang laki-laki?"

Mobilson berkata.

"Dimisalkan betul, kalau orang ini adalah penguasa rumah penjara rimba persilatan....."

Hamid memotong pembicaraan kawannya;

"tidak perlu menempur secara berkeras, perjalanan kita kedaerah Tionggoan, yang penting untuk menyingkirkan orang ini, lebih baik begini saja, kita atur....."

Tidak menceritakan rencana Mobilson dan Hamid, di luar goa.

Dan mengikuti cerita didalam.

Suma siu Khim memagsang telinga panjang-panjang, tidak ada reaksi yang lebih penting, dengan lega hati ia menarik tangan Kim Hong memasuki goa lebih dalam, tiba di riepan Tamu tidak diundang dari luar daerah yang palsu cie Hoa Hong, dia menundukkan kepala, memegang urat nadi suheng itu, ia berkata sedih.

"Betul-betul tidak bisa ditolong."

Dua butir air mata menetes turun, Suma siu Khim bersedih atas kematian sang suheng. Kim Hong juga memeriksa jalan pernapasan sang supek. betul-betul sudah gugur, dimedan pertempuran.

"Ibu."

Ia berkata.

"Dia seorang jago silat."

Suma Siu Khim tidak bisa bicara, suatu waktu, sang suheng pernah menaruh Cinta kepadanya, tapi itu Waktu orang yang diCintainya adalah Kim Hoong, hingga terjalin Cinta segi tiga, dan terakhir mereka pun berceceran-Kini dia harus menghadapi kenyataan-orang yang menyintai dirinya itu telah menghembuskan napasnya yang penghabisan.

cie Hoa Hong berkorban untuk menolong Kim Hong, putra dari wanita yang pernah diCintai olehnya.

Disaat ini, dari luar goa berhembus angin masuk berasap tebaL Lam-kek Sin-kun Im Liat Hiong yang tertotok dalam goa itu terbatuk-batuk, tahulah rencana busuk apa yang sedang direncanakan oleh rombongan dari luar daerah Tay-wankok itu, dia berteriak keluar "Hamid cianpwee....jangan kalian-, aeih....."

Lam-kek Sin-kun Im Liat-Hong tidak bisa meneruskan kata-katanya, ia terbatuk-batuk di-asap seperti itu. Terdengar suara Alwi diluar goa yang tertawa terbahakbahak.

"Sulek. masih ingatkah dimasa kecil kita, suatu waktu bertemu tikus memasuki Liang, maka sang tikus diasap. keadaannya seperti apa yang sekarang dihadapi, ha ha......"

Suma Siu Khim sudah cepat-cepat mengebumikan jenazah cie Hoa Hong, menarik tangan Kim Hong, berkata .

"Ayo, mari kita berangkat, jangan biarkan mereka mengasap tikus-tikus ditempat ini."

Suma Sui Khim mengajak Kim Hong memasuki Lubang goa yang Lebih dalam, Kim Hong memandang ibu itu dan bertanya.

"Lubang goa ini ada tembusannya?"

"ada,"

Berkata Suma Siu Khim berjaLan Lebih cepat.

"Bagaimana ibu tahu?"

"Supekmu yang memberi tahu, tembusan lobang goa ini adalah puncak gunung Tay-pek san"

"Aaaa..."

Kim Hong berteriak girang.

"Sekalian kita bisa ketelaga Tay-pek-tie, melihat rahasia kotak ajaib yang sebenarnya."

Suma Siu Khim berkata .

"Bukan saja melihat-lihat, aku hendak menyuruh kau menyelam kedasar telaga, mengambil kotak ajaib yang asli Kukira kotak ajaib yang asli maSih tenggelam didasar yang dalam."

"Ibu hendak mendapatkan kotak ajaib?"

"Dahulu tidak, tapi sekarang sangat kubutuhkan-seperti apa yang kau ketahui, ketiga jago dari daerah Tay-wan-kok yang bernama Hamid,Jooss dan Dokucan itu mempunyai kekuatan hebat, kalau saja mereka bergabung, celakalah aku......"

"Tapi........kotak ajaib adalah hak milik bersama dari dua belas partay besar. Mana boleh ibu mengangkangi sendiri?"

"Apa hanya golongan Kalong saja yang boleh mengangkanginya ?"

"Golongan Kalong adalah orang dari jurusan fanatik, tidak bisa disamakan dengan kita."

"Ibumu juga bukan dari golongan kesatria."

Suma Siu Khim menutup pembicaraan itu.

Hati Kim Hong bersedih, menundukkan kepala dan menetes air mata.

Suma Siu Khim dan Kim Hong meninggalkan Im Liat Hong yang diasap didalam goa, mereka merayap naik berliku-liku setengah hadan, akhirnya tembus juga dimulut goa lain itulah goa timbunan, mereka berada dipuncak gunung Tay-pek San-Setelah Suma Siu Khim dan Kim Hong muncul digoa tembusan, hari baru saja menjadi pagi, pedut masih mengumpul, puncak itu masih dengan salju yang memutih.

Menyaksikan keindahan alam yang begitu indah.

Suma Siu Khim menoleh kearah sang putra, dengan maksud memberi petunjuk yang lebih berharga, tampak olehnya, kedua kelopak mata Kim Hong yang menjadi basah, Suma Siu Khim terkejut dan bertanya.

"Eh, mengapa kau bersedih?"

Kim Hong menjawab.

"Aku bersedih atas kematian cici Lim Keng Hee, kematian supek dan kata kata ibu tadi....."

"ouw....."

Suma Siu Khim berkata.

"Jangan menganggap sesuatu itu terlalu baik. Seseorang yang hidup didalam dunia, kadang-kadang harus menyeleweng dari kematian, agar tidak bisa terjerumus kedalam kekangan-kekangan yang tidak rela "

"Ibu."

Kim Hong menghela napas.

"Aku hendak pergi kepuncak Tay-pek hong."

"Apa yang hendak kau kerjakan dipuncak Tay-pekhong?"

Kim Hong menjaWab.

"Melihat-lihat sesuatu yang belum juga kuketahui."

Suma siu Khim menganggukkan kepala dan menoleh kearah lubang goa, menggerakan tangan, maka "belegur"

Terjadi gempa bumi kecil ia menutup lubang goa itu dengan tenaga dalamnya yang luar biasa.

Kim Hong meleletkan lidah, betul-betul sang ibu memiliki kekuatan tenaga dalam hebat tenaga super sakti, kalau saja tenaga dalam ini dijatuhkan kepada seseorang, apa tidak remuk redam?

sesudah menutup goa tembusan itu, Suma Siu Khim berkata.

"Mungkin juga Hamid memasuki goa, kalau kita balik kemulut goa yang pertama, mungkin kita mendapat giliran, kita yang menjadi kuCing, mengasap tikus didalam goa."

"Betul"

Berteriak Kim Hong girang.

"Mari kita memutar."

Suma Siu Khim tertawa dan berkata.

"Hanya satu kemungkinan-Tapi bukannya pasti. Si Hamid itu adalah rambut merah berakal bulus, mana mau dia menyerempet bahaya, paling-paling menyuruh ketiga anak buafhnya yang masuk kedalam goa."

"Aaaa . percumalah kita balik kesana."

Suma Siu Khim menganggukkan kepala, dia berkata.

"Mari kita kepuncak Tay-pek-hong, melihat sesuatu yang kau sendiri tidak ketahui itu."

Ibu dan anak merembet diantara lereng-lereng gunung, melewati puncak Ngo-lo-hong, tidak lama kemudian mereka sudah tiba dipuncak Tay-pek-hong.

Kim Hong merembet-rembet dan mencari-cari pada rumput-rumput yang menghijau, pada suatu tempat batu cadas dia berteriak.

"Ini dia.. Ibu Lekas lihat"

Suma siu Khim mendatangi ketempat putera itu, memandang kearah batu cadas tadi.

disana terdapat tulisan-tulisan, tulisan itu digoreskan dengan tenaga dalam, tulisan yang dibagian kanan agak rusak.

yang dikiri berupa tulisan baru, suatu bukti bahwa tulisan itu tidak tertera pada waktu yang bersamaan, tulisan yang di kanan lebih lama dari tulisan dikiri lebih baru.

Tulisan yang dikanan berbunyi seperti berikut.

"Kutunggu rembulan yang turun, kutunggu kuli angin yang dingin, bagaimana keadaan malam ini? Dimana bayanganmu?"

Tulisan yang disebelah kiri berbunyi lain, demikian bunyinya.

"Rambut kita sudah putih, jaman kita sudah selam. Apa yang hendak diimpi-kan? Kerjaku memukul alat bok-kie."

Alat bok-khie adalah alat pemukul kentongan sembahyang yang khusus tersedia bagi biarawati.

Memeriksa huruf diatas batu tulisan itu.

Suma Siu Khim menganggukkan kepala.

Sebagai seorang wanita yang cerdik, dia bisa membedakan yang disebelah kanan adalah tulisan pria yang disebelah kiri adalah tulisan halus, tulisan tangan seorang wanita.

Dari kata-kata yang tertera pada surat itu Suma siu Khim bisa menduga-duga, apa yang terjadi diantara kisah Cinta pasangan itu, yang laki-laki adalah seorang yang mempunyai perasaan halus, Cintanya tak pernah terpadamkan-Yang wanita baru saja datang, sesudah meninggalkan kata-kata itu, pergi lagi dan menyucikan diri.

Suma Siu Khim teringat kepada nasib dirinya sendiri, kisah diantara kasih remajanya dengan Kim Hoong hanya berselang beberapa Waktu, mereka telah melahirkan seorang putera.

tapi mereka belum melakukan perkawinan-Suma Siu Khim terharu, dia bersedih dan bertanya.

"Siapa yang tulis?"

Kim Hong menjawab.

"Yang laki-laki adalah sikakek gelandangan Kiat Hian, tulisan yang perempuan adalah tulisan Kongsun Bwee Kun."

Menoleh dan memandang kearah putera tersebut, Suma Siu Khim bertanya.

"Eh, bagaimana kau tahu?"

Kim Hong berkata.

"Sikakek gelandangan yang memberitahu kepadaku, setiap tahun, pada suatu hari dia pasti mengunjungi kesini, karena dia tertawan dirumah penjara rimba persilatan, maka dia meminta pertolonganku, hari itu aku terlambat datang, menuju kerumah penjara yang baru. maka meminta tolong In-jie melihat-lihat kalau-kalau ada tanda balasan, tentunya Yo In-jie sesudah melihat adanya tanda baru ini, dia sudah kembali kerumah penjara kita, dan memberitahu akan akan adanya jawaban dari Kongsun Bwee Kunmemberitahu kepada kakek gelandangan Kiat Hian."

Dengan heran, Suma Siu Khim bertanya.

"Bagaimana kau tahu, kalau Yo In-jie sudah datang kepada Kiat Hian-"

Kim Hong menyedot napas dalam-dalam, ia berkata perlahan.

"Aku tahu kejadian ini dari mulut Hamid disaat ibu meninggalkan rumah penjara, pernah mengirim tantangan, menerjang masuk. dan disaat itu sikakek gelandangan Kiat Hian melarikan diri, mereka pernah bergebrak dan bertempur, sepasang sinar mata Suma Siu Khim menjadi liar kembali, dengan marah ia berkata.

"Hai, berani dia melarikan diri dari rumah penjaraku?"

Kim Hong menghela napas dan berkata.

"Ibu mendirikan rumah penjara rimba persilatan karena hendak memanCing ayah. Karena itu ibu telah banyak orang dipenjarakan hanya karena egoistis. Mementingkan diri sendiri. Pikirlah, apa tidak keterlaluan ?"

"Aku tidak peduli, aku harus menangkapnya kembali, dipenjarakan dan diberi hukuman yang lebih berat. Kalau tidak bagaimana aku mempunyai muka menjadi penguasa rumah penjara rimba persilatan?"

Kim Hong memandang kearah ibu itu, dia berkata dengan penuh rasa kuatir.

"Ibu, aku mempunyai firasat tidak baik, perbuatanmu yang ugal-ugalan ini bisa membawa akibat yang buruk. Mungkin pula karena inilah, ayah tidak mau menjumpaimu."

"Siapa yang sudi dengan ayahmu,"

Berkata Suma siu Khim.

"Dia mau datang, atau tidak, terserah kepadanya."

"kalau betul ibu mempunyai pikiran yang seperti itu, mengapa tidak membubarkan rumah penjara rimba persilatan?"

Kemarahan Suma siu Khim tidak kepalang, tangannya terayun.

"Pang...."

Menempeleng pipi sang putra dengan suaranya yang melengking, membentak.

"Kau dilahirkan dari mana? Berani melawan ibu sendiri?"

Butiran air mata turun menetes dari kedua kelopak mata Kim Hong, ia menatapnya sebentar, tiba-tiba loncat turun berlari pergi meninggalkan sang ibu.

Suma siu Khim hanya mempunyai seorang putra, dalam kemarahan, ia menempeleng Kim Hong, melihat putra itu cukup besar, ia mengejar.

ilmu meringankan tubuhnya lebih hebat dari sang putra, sebentar saja ia berhasil menyeret sang putra ditariknya tangan putra itu, dan membentak.

"Mau lari kemana? Huh Hanya memukul kau satu kali, kau sudah tidak mau ibu lagi?"

Kim Hong menangis Sedih, dia berkata;

"Ibu, didalam anggapanmu. keculi kau seorang, mungkinkah jiwa semua orang itu bukan jiwa manusia?"

Suma siu Khim tertegun, beberapa saat tidak bisa menjawab pertanyaan putra tersebut, Tiba-tiba diapun turut menangis.

"Ibu gunakanlah sedikit aturan,"

Bujuk Kim Hong perlahan-"Jangan kau menyebut-nyebut aturan,"

Berkata Suma Siu Khim masih menangis.

"Didalam riunla ini memang tidak ada aturan, kalau ada aturan sudah seharusnya, sudah aturannya, kalau ayahmu itu datang menjumpai aku."

Suma siu Khim mendirikan rumah penjara rimba persilatan karena hendak memaksa Kim Hoong datang menjumpainya.

Suma siu Khim menjadi ugal-ugalan, menawan banyak orang, adatnya keras dan berangasan itu disebabkan karena patah hati.

Teringat kepada nasibnya yang sedih, tangis Suma siu Khim semakin panjang.

Kim Hong terharu atas jawaban sang ibu entah bagaimana, ia harus bisa membantu usaha merangkapkan perjodohannya, ingin sekali sang ayah muncul ditempat itu, agar mereka bisa kumpul menjadi satu.

Melenyapkan bencana rumah penjara rimba persilatan-Teringat kepada ayahnya, Kim Hong bisa mengenang kembali keterangan Tamu tidak di-undang dari luar daerah yang palsu cie Hoa Hong, dikatakan, kalau Tamu tidak diundang dari luar daerah yang asli adalah ayahnya yang betul.

Karena itu, Kim Hong menarik lengan bajunya dan berkata.

"Ibu Jangan menangis Kuberitahukan sesuatu."

"Sesuatu apa?"

Suma siu Khim masih ter-isak-isak. Kim Hong berkata.

"Menurut cerita cie Hoa Hong supek. orang yang menggunakan nama samaran Tamu tidak diundang dari luar daerah yang asli itulah baru ayahku."

Mata Suma Sia Khim dipentangkan lebar-lebar, dengan tidak percaya ia berkata.

"Ia berkata seperti itu ?"

Kim Hong menganggukkan kepala lalu berkata;

"cie Hoa Hong supek menjamin kebenaran ini, dikatakannya juga , orang yang melatih ilmu silat kepandaian ayah adalah tunangan si-kakek gelandangan Kongsun Bwee Kun-Kini sudah menyucikan diri menjadi biarawati. mengganti nama menjadi Pan-su Lonni. itulah tulisan tangannya."

Kim Hong menunjuk kearah tempat batu diatas bertuliskan tadi. Suma Siu Khim mengedip-ngedipkan matanya. Khim Hong berkata lagi.

"Alasan cie Hoa Hong Supek menggunakan nama samaran tamu tidak diundang dari luar daerah menyelundup masuk menjadi anggota golongan Kalong, adalah memanCing keluar ayah. Maka dengan harapan ayah bisa menyerang ke rumah penjara rimba persilatan, disana bisa menjumpai ibu."

Hal ini berupa satu berita baru. Suma Siu Khim mengoceh.

"Keterangan supekmu tidak perlu disangsikan lagi. Mungkin juga Tamu tidak diundang dari luar daerah yang asli itu adalah ayahmu. Tapi...siapa lagi yang bernama Oey Ceng? Mengapa dia memiliki ilmu wasiat Han-tiong-Gioktiok ?"

Kim Hong mengangkat pundak berkata.

"Ini juga membingungkannya, kalau hendak ingin mendapat kenyataan, mengapa kita tidak pergi kerumah penjara yang baru digunung Bu-san?"

Suma Siu Khim berkerut alis, lalu menggelengkan kepala dan berkata.

"tidak mungkin-Rumah penjara digunung Tay-pa-san sudah belasan tahun, sedangkan sejarah rumah penjara yang baru di gunung Bu-san baru dua bulan. Kalau saja aku datang menantang, bukankah mengakui keunggulannya?"

Mendengar kata-kata ibu yang seperti itu, Kim Hong tak sepaham, ia menggelengkan kepala, berkata.

"ibu kukuh pendapat."

"Persoalannya, siapa yang lebih lama. Dia harus memimpin rimba persilatan,"

"Ibu merasa nama penguasa rumah penjara digunung Tay-pa San tercemar kalau ibu menantang rumah penjara gunung Bu-san?"

"Tentu saja. Seharusnya dia menantang kerumah penjaraku."

Kim Hong berpikir sebentar, tiba-tiba dia menepuk paha, berkata segera.

"Betul!! Mengapa kita tidak menggunakan cara yang seperti ini? ini tidak perlu menggunakan nama dari penguasa rumah penjara, ini boleh mengggunakan nama samaran menantang rumah penjara yang baru agar tak terjadi rintangan gengsi, bukan?"

Suma Siu Khim berpikir untuk menimbang-nimbang usul sang putra, lama sekali, akhirnya ia bicara.

"Bukan tidak boleh. Tapi. Kalau sampai diketahui olehnya, bukankah sangat menurunkan martabat sendiri?"

Kim Hong berkata.

"Tak mungkin, siapa yang pernah melihat wajah asli penguaSa rumah penjara di gunung Tay-pa San? Siapa yang tahu kalau seorang Wanita yang bernama suma Siu Khim menjadi penguasa rumah penjara digunung Tay-pa-san, Mana mereka tahu?"

Suma Siu Khim berkata.

"Sebelum aku menantang rumah penjara yang baru, lebih dahulu kau harus menyelam kedasar telaga Tay-pek-tie mengambil kotak ajaib yang asli."

Dengan berkerut alis Kim Hong bertanya.

"Apa yang ibu inginkan? obat Tiang-seng-pu-lo-tan, atau dua belas catatan ilmu silat luar biasa."

Suma Siu Khim berkata.

"obat Tiang-seng-pu-lo-tan, obat ini penting untuk menambah tenaga kekuatan kita, kalau ibumu tidak mendapatkan obat ini mana mungkin bisa mengalahkan ketiga jago dari daerah Tay-wan-kok? Lebih baik kau jangan kukuh kepala, jangan kau tentang maksud ibumu, aku bersedia dikalahkan oleh siapapun juga tetapi tidak mau dikalahkan oleh ketiga orang berambut merah itu."

Kim Hong bisa menerima dan berkata.

"Baiklah. Tapi ibu hanya boleh mengambil sebutir obat Tiang-seng-pu-lotan, hak itu adalah hak dari oey-san.pay, yang sebelas butir lainnya harus dikembalikan kepada partai-partai yang bersangkutan."

Suma Siu Khim menggebahnya, dengan uring-uringan ia berkata.

"Baiklah....baiklah....lekas kau ambil kotak ajaib di dasar telaga Tay-pek-tie itu."

Sesudah mengambil putusan yang dianggap tepat, Suma siu Khim mengajak Kim Hong menuju kearah telaga Taypek-tie kembali.

Disaat itu, dua bayangan mendatangi kearah mereka, seorang adalah kakek berpakaian kotor, beKWarna hitam, rambutnya sudah putih beruban, terumbang-ambing dan awut-awutan-seorang lagi adalah gadis bertubuh kecil, mengenakan pakaian berwarna merah, sangat lincah dan gesit.

Mereka adalah sikakek gelandangan Kiat Hian dan Yo In-jie Menampak datangnya dua bayangan itu, wajah Suma Siu Khim ditekuk masam-masam, dengan dingin ia berkata.

"Bagus."

Orang buronanku dan Sumoaymu itu datang,"

Yang mengejutkan Suma siu Khim bukan itu Saja, dibelakang Kiat Hian dan Yo In-jie mengejar dua orang, mereka berambut merah, dengan gesit mengintil dibelakang.

Dua orang berambut merah yang mengejar Kiat Hian dan Yo In-jie adalah Hamid dan Sulek.

Kim Hong lebih terkejut kepada dua orang dibelakang In-jie, dia berteriak kaget.

"Aaaa.......rombongan Hamid"

Suma Siu Khim berkata.

"Mari kita sembunyikan diri, menyaksikan dan melihatlihat apa yang mereka kerjakan di tempat ini."

Tanpa bisa dibantah, Kim Hong harus mengiKuti petunjuk ibunya.

Yo In-jie menarik-narik tangan Kiat Hian, napasnya sudah Sengal-sengal, menudingkan jarinya kearah batu cadas yang terdapat tulisan, dia berkata.

"Nah Diatas situ Disebelah tulisanmu. Lihat sendirilah....."

Kakek gelandangan Kiat Hian melepaskan pegangan Injie, tubuhnya meletik, merambat dan menaiki keatas batu cadas yang terdapat tulisan itu.

Dibacanya beberapa baris, tiba-tiba dia berteriak aneh, berjumpalitan balik kembali, memandang kearah sekelilingnya, sikapnya seperti yang mencari sesuatu, ia berguman.

"Bwee Kun Bwee Kun Dimana kau berada?"

Suara yang terakhir menanriakan suara kesedihan, dia menangis.

Disaat itu, dua orang berambut merah Hamid dan sulek yang mengejar sudah tiba, mereka mendekati Kiat Hian yang mempunyai pikiran yang kurang waras itu, dan menoleh kearah Yo In-jie yang nakal berandalan-Yo In-jie merepeti Kiat Hian dan berkata.

"Hee, mengapa menangis seperti anak kecil? Kongsun Bwee Kun cianpwe sekarang sudah pergi."

Kiat Hian mana bisa diberi mengerti dengan cara yang seperti itu?

Sebentar ia menangis, sebentar ia tertawa, penyakit gilanya kambuh pula.

disaat ini, Hamid sudah mendekati mereka, dengan dingin bertanya.

"Kiat Hian, apa kau mau bertemu dengan Kongsun Bwee Kun?"

Suara Hamid disalurkan dengan tenaga dalam, sepatah demi sepatah memekakan telinga Kiat Hian-sikakek gelandangan terkejut.

ia terlompat.

Matanya yang sudah sayu memancarkan cahaya, berdongak dan memandang kearah Hamid.

Kiat Hian membentak.

"Siapa kau?"

Hamid menganggukan kepala, tersenyum dan berkata.

"Kita pernah mengadu kekuatan didalam rumah penjara Tay-pa-san bukan? Kau sudah lupa?"

Mata Kiat Hian tersipit panjang, memperhatikan Sikakek berambut merah beberapa saat, akhirnya dia menundukan kepala dan berkata.

"Betul Aku masih ingat Kau kenal Kongsun Bwee Kun?"

"Tentu saja kenal."

Berkata Hamid.

"Bohong"

Bentak Kiat Hian. Hamid berkata.

"Kongsun Bweee Kun adalah istri dari saudaraku, tentu saja aku kenaL"

"Istri saudaramu?"

Kiat Hian tertegun-"Ya. Nama saudaraku itu adalah jooss. ia mempunyai seorang istri cantik, namanya Kongsun Bwee Kun."

"Bohong"

Kiat Hian menggelengkan kepala.

"Tentu bukan Kongsun Bwee Kun milikku. Kongsun Bwee Kun tidak mungkin mau diperistri oleh orang dari daerah luar."

Wajah Hamid diteKuk masam, dengan dingin ia berkata.

"tidak percaya? Ha Kongsun Bwee Kun yang kau Cinta itu sudah kawin dengan orang. Percuma saja kau uberuber."

"Bohong... Bohong....Bohong ...."

Berulang kali Kiat Hian mengucapkan kata-kata yang sama itu.

"Aku tidak percaya.....Aku tidak percaya. Lihat Apa yang sudah ditulis diatas batu itu.....dia sudah menyucikan diri, Bohong orang yang sudah menyucikan diri mana mau kawin? Hendak menipu orang? Huh"

Dengan dingin Hamid berkata.

"Apa guna menipu dirimu? Urusan kita pun belum selesai, tahu? Kalau bukan gara garamu Kongsun Bwee Kun juga belum tentu kawin dengan Jooss, Hamid adalah juara silat dari daerahnya. Belum tentu terjadi tragedi seperti ini. Inilah sebab dari kesalahanmu."

"Betul-betul Kongsun Bwee Kun sudah kawin?"

"Tentu saja sudah kawin, kini melarikan diri, suteeku mengejar istrinya, mau ditangkap pulang. Kau tahu aturan daerah kami? Setiap istri yang menyeleweng harus digantung mati tahu?"

Kiat Hian menjadi marah ... hutt.. dia memukul kearah Hamid, bentaknya keras.

"Gantung kepalamu.. Pergi!!! Semua pergi"

Dengan enak Hamid mengelakkan semua serangan Kiat Hian, dan membalas serangan itu memewekkan mulut dan berkata.

"Bagus Menurut berita orang Sebagai putra si Dewa persilatan, kau si Kiat Hian ini memiliki ilmu silat tinggi? Mari kita mengadu kekuatan Siapa yang kalah tidak boleh lari"

Kiat Hian tidak mengoceh lagi, kedua jubah lengannya digibrik-gibrikkan, menyerang diri beruntun.

Hamid adalah juara silat dari daerahnya, dia menyerang dan menangkis luar biasa manisnya, sangat indah kedua jago silat dari dua daerah itu bergebrak.

Masing-masing jago kelas satu, satu dari daerah Tay wan kok, satu dari daerah Tionggoan, yang berambut merah kuat, yang berambut putih tidak lemah, gerakan mereka cepat dan cekatan, gesit bagaikan kilat, laksana guntur, pertarungan itu berjalan seimbang, setanding.

Debu bergolak, batu berhamburan, kekuata mereka telah menghancurkan apa saja yang berani merintangi di tengah jalan-Sulek menatap pertandingan itu beberapa waktu, tibatiba menghampiri kearah Yo In-jie, memandang dan berkata.

"Numpang tanya, bagaimana nama dan sebutan nona, bukankah murid si kakek Kiat Hian?"

Yo In-jie mengirim satu lirikan mata pula, dia berkata.

"Namaku Yo In-jie. Guruku bukan Kiat Hian, nama guruku adalah Thian San Soat Po-po."

"ouW......."

Baca Juga: Laron Pengisap Darah 3

Baca Juga: Gelang Perasa 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert