Eps 9 Pedang Bunga Mei - Gu Long
Baca online Pedang Bunga Mei - Gu Long
Cersil Pedang Bunga Mei - Gu Long.
Guru Ling Kong yang mempunyai ilmu hebat atau disebut pula dengan Da Mo adalah Pin Fan Shang-ren yang ada di depan matanya sekarang!1237 Sebenarnya apa yang telah terjadi, semua sesuai dengan tafsiran Xin Jie....
Guru Tai Jing yang membuat peraturan baru kemudian beliau pun meninggal.
Setelah melewati 2 generasi, sekarang Shao-lin berada di bawah pimpinan Guru Zhi Jing.
Selama ratusan tahun ini, Shao-lin-sie ada orang yang terus memikirkan ilmu Shao-lin yang telah musnah tapi tidak ada seorang pun yang bisa.
Para biksu Shao-lin sadar jika ingin membuat nama Shao-lin berjaya lagi, kecuali 'Ling Kong Da Shi', tidak ada seorang pun yang bisa membuat nama Shao-lin berjaya lagi.
Tapi kemanakah perginya Guru Ling Kong?
Selama ratusan tahun, tidak ada seorang pun yang tahu.
Tiba-tiba mereka ingat kalau memang Guru Ling Kong telah meninggal, beliau pasti mempunyai murid sebagai penerus ilmu-ilmunya yang hebat.
Asalkan mereka terus mencari tahu, maka di dunia persilatan ini tidak ada yang mustahil....
semua ini bukan hal menyulitkan bagi biksu-biksu Shao-lin tapi karena para biksu Shao-lin tidak boleh meninggalkan Shao-lin-sie maka gerakan mereka jadi terbatas.1238 Akhirnya Guru Shao-lin berhasil mendapatkan suatu cara.
Dia menerima seorang murid berbakat tapi orang ini bukan seorang biksu....
dia adalah Sun Qi-zhong.
Karena Guru Tai Jing sudah memutuskan kalau para biksu Shao-lin tidak boleh keluar kuil Shao-lin, tapi Sun Qi-zhong bukan seorang biksu!
Guru Zhi Jing mengumpulkan semua tetua Shao-lin, mengajarkan semua ilmu Shao-lin kepada Sun Qi-zhong.
Maka setelah Sun Qi-zhong turun gunung, dia menjadi 'Wu Lin Zi Xin' yang terkenal.
Tugas Sun Qi-zhong adalah mencari murid Ling Kong Da Shi.
Karena dia memperhatikan gerakan para pesilat terkenal....
maka dia sangat memperhatikan gerakan 'Meng Xiang Shen Jian' Xin Jie yang baru terkenal itu!
Dia menguntit Xin Jie dan tanpa alasan bertarung dengan Xin Jie.
Xin Jie mengeluarkan ilmu 'Da Yan Shi Shi' yang telah diajarkan oleh Pin Fan Shang-ren.
Dia merasa terkejut dan senang melihat kalau ilmu yang digunakan Xin Jie pakai adalah ilmu Shao-lin yang telah lama musnah, ilmu1239 itu bernama 'Bu Da Shan Shi'.
Karena itu tanpa sebab dia berhenti bertarung dan kembali ke Shao-lin untuk memberitahu para gurunya.
Baru saja dia berlari setengah kilometer, dia telah bertemu dengan biksu Shao-lin generasi kedua, murid paling berbakat yang bernama Zhi Fa.
Dia terkejut karena Zhi Fa bisa mendapatkan ijin keluar dari Shao-lin Si.
Pasti telah terjadi sesuatu....
Zhi Fa bertemu dengan Sun Qi Zong dan dia meminta Sun Qi-zhong segera kembali ke kuil, dan dia tidak diijinkan berkelana di dunia persilatan karena gurunya tahu kalau ketua Da-ji-dao, yaitu Pin Fan Shang-ren adalah 'Guru Ling Kong' yang ratusan tahun lalu telah meninggalkan Shao-lin-sie.
Sun Qi-zhong meceritakan tentang pertarungannya dengan Xin Jie.
Dia berkata kepada kakak seperguruannya.
"Yang guru maksud baru 'kemungkinan' tapi bukti yang ada di depan mata adalah bukti nyata. Kita harus mencari tahu dulu baru kembai ke kuil."
Biksu Zhi Fa mendengar kata-kata Sun1240 Qi-zhong masuk akal, maka dia pun mencegat Xin Jie dan berniat bertarung dengan Xin Jie.
Begitu Xin Jie mengeluarkan jurus 'Da Yan Shi Shi', Biksu Zhi Fa sepenuh hati melihat cara Xin Jie bertarung.
Dia melihat ilmu Xin Jie seperti 'Bu Da San Shi' yang telah lama menghilang dia ingin bertanya lebih jelas lagi.
Sun Qi-zhong berkata kepada kakak seperguruannya.
"Jika kita muncul lagi di depannya maka dia akan salah paham, lebih baik kita berputar dulu ke kota Hua Jia untuk mencarinya lalu di sana kita akan bertanya kepadanya dengan sopan."
Biksu Zhi Fa adalah murid pertama, tapi dia tidak sombong, Sun Qi-zhong adalah murid generasi kedua yang paling dihormati.
Dia telahh mendengar perkataan Sun Qi-zhong, dengan cepat mereka menyusul ke kota Hua Jia....
Mereka menunggu di Hua Jia selama 4-5 hari, tapi tidak melihat Xin Jie datang ke kota itu....
mereka tidak tahu kalau Xin Jie dikeroyok oleh Guan Zhong Jiu Hao dan nyawanya hampir saja melayang.
Di Gui Shan dalam rapat dunia persilatan, Sun Qi-zhong bertemu kembali dengari Xin Jie.
Maka dia1241 pun mengikuti Xin Jie pergi ke gunung Gui Shan dan Biksu Zhi Fa kembali ke Shao-lin-sie untuk melapor pada gurunya.
Saat Pin Fan Shang-ren muncul di ruang 'Wu Wei' dan tiba-tiba mengajarkan Xin Jie sebuah ilmu baru untuk memecahkan jurus Jinlul, Sun Qi-zhong sudah bisa memastikan kalau Xin Jie adalah murid Guru Ling Kong.
Saat dia ingin bertanya, Pin Fan Shang-ren telah membawa Xin Jie pergi.
Ooo)*(ooO BAB 37 Guru Ling Kong Malam itu Sun Qi-zhong terpaksa kembali ke Shao-lin-sie.
Dia memberitahu tentang ilmu pedang Xin Jie dan wajah Pin Fan Shang-ren kepada ketuanya, saking gembiranya Guru Zhi Jing, tanpa terasa telah meneteskan air mata.
"Budha memang maha kuasa. Kakek Guru ternyata Ling Kong belum meninggal. Beliau masih hidup, beliau tidak lain pasti Pin Fan Shang-ren...."
Karena itu orang-orang terpenting di Shao-lin-sie segera keluar dan bersama-sama pergi ke Da JiDao....
Para biksu itu diam-diam berjalan ke arah Da-ji-dao.
Mereka tidak tahu kalau1242 mereka diikuti orang lain....
Ketika Jinlul dan kakak seperguruannya datang ke Zhong Yuan, guru mereka hanya mengatakan.
"Ilmu silat Zhong Yuan sangat terbatas, hanya ada satu perkumpulan yang bernama Shao-lin Pai yang agak lihai. Jika kalian ingin menguasai Zhong Yuan, kalian harus mengalahkan dulu para biksu itu." .... Guru mereka tidak tahu kalau para biksu di Shao-lin sudah tidak mempunyai kekuatan, keadaan dunia persilatan telah berubah. Maka di Gui Shan di ruang 'Wu Wei', di mana para pendekar berkumpul, orang bodoh seperti Kaluta, saat memasuki ruangan, dia langsung mencari orang, yaitu mencari biksu Shao-lin yang dimaksud oleh gurunya. Akhirnya ketika Ku An Shang-ren keluar, dia merasa sangat senang. Dia mengira Ku An Shang-ren adalah biksu Shao-lin, tapi yang mengerti bahasa Han yaitu Jinlul memberitahu kakak sepergu-ruannya kalau Ku An Shang-ren berasal dari E Mei Pai, dia bukan biksu Shao-lin. Kaluta merasa kecewa berat. Jinlul malah berhasil dikalahkan oleh Xin Jie. Begitu 'Heng-he1243 San-fu' mendengar cerita muridnya, mereka bisa menebak kalau ketua Da-ji-dao adalah biksu dari Shao-lin. Maka Jinlul membawa mereka pergi ke Zhong Yuan.... Mereka merasa khawatir karena tidak tahu letak Da-ji-dao, Jinlul yang mendengar pembicaraan para biksu Shao-lin, tahu kalau mereka akan pergi ke Da-ji-dao untuk mencari ketua Da-ji-dao. Karena itu mereka menguntit para biksu Shao-lin itu. Ilmu silat keempat orang itu sangat tinggi. Para biksu Shao-lin yang selama ini selalu dikuntit tidak mengetahui keadaan ini sama sekali. Setelah tiba di Da-ji-dao, kedua kelompok ini sama-sama tidak menemukan Pin Fan Shang-ren karena Pin Fan Shang-ren telah membawa Xin Jie pergi ke Xiao-ji-dao untuk bertaruh dengan Guru Hui. Akhirnya Heng-he San-fu bertarung dengan para biksu Shao-lin.... Bintang di langit terus berkedip-kedip. Suara gelombang laut terdengar jelas di malam yang sepi ini. Di sekeliling sana hanya ada kegelapan, di sisi laut gelombang mengeluarkan buih berwarna putih.... Pin Fan Shang-ren terdiam, menatap1244 ke atas, janggut putihnya terus mengikuti gerakan angin. Dia seperti sebuah patung batu, diam tidak bicara. Xin Jie bertanya.
"Di mana Guru Ling Jing sekarang?"
Dengan suara berat Pin Fan Shang-ren menjawab.
"Kakak masih.... tidak, Guru Ling Jing masih hidup di dunia ini!"
Walaupun dia cepat mengubah panggilan, tapi kata kakak', telah membuktikan kalau dia memang Guru Ling Kong! Diam-diam Xin Jie berkata.
"Jika Guru Ling Jing adalah kakak seperguruan Tetua, dia pasti orang yang panjang umur, dia masih hidup di dunia ini...."
Betul, dulu ada seorang biksu tua yang menunggang seekor burung bangau dan meminta Pin Fan Shang-ren ikut dengannya.
Apakah biksu itu adalah Guru Ling Jing?
Kita tentu masih ingat ketika Xin Jie keluar dari formasi batu di Xiao-ji-dao, pada saat Pin Fan Shang-ren dan Guru Hui sedang bertarung, ada seorang biksu tua menunggang seekor bangau memanggil Pin Fan Shang-ren dan pergi dengannya.
Sebelum pergi dia sempat membacakan sebuah puisi1245 untuk Xin Jie.
Xin Jie tidak mengerti puisi itu tapi dia ingat dengan kata-katanya.
"Harimau meloncat, naga menari, berarti ada di puncak. Bangau berteriak meninggalkan Propinsi Hu Nan."
Di pantai ada sebuah perahu yang mendarat diam-diam.
Dari dalam perahu turun sekelompok orang berjumlah 18 orang.
Begitu melihat dengan jelas, ternyata mereka adalah para biksu Shao-lin.
Semenjak Pin Fan Shang-ren membawa Xin Jie pergi dari Gui Shan, para biksu Shao-lin mengikuti arah Pin Fan Shang-ren pergi.
Tapi laut begitu luas, mereka tidak tahu di mana letak Xiao-ji-dao, sekarang akhirnya mereka tiba juga di Xiao-ji-dao.
Begitu Xin Jie melihat sekelompok biksu itu, biksu yang menjadi pemimpin melihat Xin Jie dan Pin Fan Shang-ren.
Mereka bersorak dan berlari menghampiri Pin Fan Shang-ren.
Pin Fan Shang-ren terkejut, dia ingin lari dari sana.
Tapi ada yang menarik baju biksu panjangnya.
Setelah dilihat ternyata Xin Jie yang menariknya, wajah Xin Jie terlihat sangat serius dan berkata dengan suara kecil,1246
"Shang-ren, jangan menghindar lagi...."
Pin Fan Shang-ren terpaku, terpaksa dia diam di tempat, beberapa biksu Shao-lin meloncat ke depan.
18 orang secara bersamaan berlutut di hadapan Pin Fan Shang-ren.
Yang berada di depan adalah ketua Shao-lin, Guru Zhi Jing.
Wu Lin Zi Xin, Sun Qi-zhong ikut berlutut dan bersujut.
"Kakek Guru Ling Kong.... Anda.... apakah Anda masih akan menutupi hal ini...."
Kedua tangan Pin Fan Shang-ren terus bergoyang dan berteriak.
"Bukan, bukan, aku sudah mengatakan pada kalian kalau aku bukan Guru Ling Kong, bukan Guru Ling Kong...."
Guru Zhi Jing tidak bisa bicara apa-apa. melihat Pin Fan Shang-ren akan pergi lagi dari sana, sambil meneteskan air mata dia berkata.
"Muridmu ini memang tidak berguna, hanya.... hanya berharap Kakek Guru masih mau memandang.... memandang Budha...."
Pin Fan Shang-ren berteriak.
"Jangan seperti itu, jangan seperti itu, jangan menangis lagi. Menangis tidak akan ada gunanya." 1247 Guru Zhi Jing merasa serba salah. Mengingat tugas berat yaitu mengembalikan nama baik Shao-lin, hatinya bergejolak. Karena sedih dia memuntahkan darah. Hal ini benar-benar membuat Pin Fan Shang-ren terkejut. Dengan cepat dia menepuk punggung Guru Zhi Jing. Menggosok-gosok dadanya dan dia ikut menarik nafas dan berkata.
"Untuk apa kalian seperti ini? Aku.... aku beri tahu kepada kalian, betul aku adalah Guru Ling Kong...."
Guru Zhi Jing mendengar Pin Fan Shang-ren sudah mengakui kalau dia adalah Guru Ling Kong, saking gembira membuatnya meloncat-loncat, kemudian dia berlutut kembali dan berkata.
"Murid ini...."
Entah apa yang harus dikatakannya kepada kakek gurunya.
"Kakek Guru.... Kakek Guru.... apakah Anda baik-baik saja? Tuhan mengasihani kami...."
Dia meneteskan air mata lagi.
Wajah Pin Fan Shang-ren terlihat ada perasaan bergejolak tapi hanya sebentar, dia telah kembali bersikap dingin dan masa bodoh.
Guru Zhi Jing dengan suara gemetar1248 berkata.
"Dengan segala hormat, murid memohon kepada Kakek Guru supaya mau kembali ke kuil...."
Setelah itu dengan cemas dia melihat Pin Fan Shang-ren.
Biksu-biksu lainnya juga melihat Pin Fan Shang-ren.
Begitu pula dengan Xin Jie....
Pin Fan Shang-ren menatap langit dan terdiam.
Guru Zhi Jing berkata lagi.
"Murid Zhi Jing dan murid-murid Shao-lin lainnya memohon Kakek Guru sudi memandang Budha dan mengikuti hamba kembali ke kuil...."
Pin Fan Shang-ren menarik nafas. Dengan suara kecil dia berkata.
"Sudah seratus tahun aku menjadi biksu yang hidup di luar, aku tidak mungkin kembali lagi ke kuil...."
Hati para biksu Shao-lin itu menjadi berat, tapi Pin Fan Shang-ren berkata lagi.
"Hanya saja, hanya saja karena aku dari Shao-lin, ilmu silatku adalah ciptaanku sendiri, tapi dasar ilmu silatku, semua kudapatkan dari perpustakaan Shao-lin. Maka aku harus mengembalikan ilmu-ilmu ini yang sudah seratus tahun ini ke Shao-lin." 1249 Guru Zhi Jing masih ingin membicarakan hal lain tapi dia telah ditarik oleh seorang biksu tua dari belakang. Pin Fan Shang-ren berkata lagi.
"Aku lihat anak ini sangat pintar dan mudah diajar, aku akan menyuruhnya tinggal di pulauku. Aku akan mengajarkan kepadanya semua ilmu silat Shao-lin yang telah musnah."
Dia menunjuk Sun Qi-zhong yang masih berlutut di barisan belakang.
Melihat situasi seperti itu, Guru Zhi Jing tahu tidak mungkin Pin Fan Shan Ren mau kembali ke kuil Shao-lin.
Tapi Pin Fan Shang-ren telah berjanji akan mengajar Sun Qi-zhong semua ilmu Shao-lin yang telah musnah.
Artinya ilmu Shao-lin yang telah lama musnah akan mereka kuasai kembali, dia pun berdiri.
Xin Jie melihat Guru Zhi Jing terus menatapnya, sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu.
Xin Jie pintar, identitas Xin Jie membuat Guru Zhi Jing bingung.
Karena jika Xin Jie memang murid Guru Ling Kong, dia adalah tetua dari semua biksu Shao-lin tapi dia masih muda.
Maka Xin Jie segera berkata kepada Sun Qi-1250 zhong.
"Kakak Sun, selamat kau berjodoh dengan Tetua Pin Fan Shang-ren, sungguh peristiwa yang jarang terjadi."
Sun Qi-zhong mendengar Xin Jie memanggil Pin Fan Shang-ren dengan sebutan tetua bukan guru, dengan aneh dia bertanya.
"Mengapa Xin...."
Xin Jie tertawa.
"Aku tidak seberuntung dirimu bisa menjadi murid Pin Fan Shang-ren. Pin Fan Shang-ren hanya memberi petunjuk-petunjuk saja...."
Kata-kata ini memberitahukan kalau dia bukan murid Pin Fan Shang-ren, karena itu Guru Zhi Jing berkata.
"Qi Er, kau harus belajar dengan baik kepada kakek guru. Kejayaan Shao-lin berada di tanganmu.... Kakek Guru, murid-murid pamit dulu...."
Pin Fan Shang-ren tersenyum dan mengangguk. Guru Zhi Jing memberi hormat kepada Xin Jie, kedua tangannya dikatupkan.
"Tuan Xin, sampai bertemu di lain kesempatan...."
Kemudian dia memimpin 17 orang muridnya meninggalkan pulau itu.
Pin Fan Shang-ren melihat para angkatan Shao-lin telah naik perahu, dia1251 baru menarik nafas lega.
Tiba-tiba terdengar suara WUSH, bayangan hitam menutupi kepala mereka....
Ternyata batu-batu besar yang tadi ditepis oleh Heng-he San-fu lalu dipukul dengan tenaga dalam, dari luar tidak terlihat ada perubahan, tapi fondasi batu itu ternyata sudah rapuh.
Sekarang batu akan roboh....
Xin Jie sudah menghentak, kedua telapaknya menggores kemudian menutupnya.
Angin besar keluar.
Kemudian terdengar suara keras lagi, batu besar itu berubah menjadi batu kerikil dan berhamburan ke mana-mana.
Jurus ini adalah jurus yang dipelajari Xin Jie dari Pin Fan Shang-ren, yaitu jurus yang ada pada 'Kong Kong Zhang Fa' yang bernama 'Fei Lang Pai Kong' (gelombang terbang udara berserakan).
Jurus ini adalah jurus paling dasyat dari 'Kong Kong Zhang Fa'.
Pin Fan Shang-ren bersorak.
"Anak, kau benar-benar telah menguasai ilmu itu dengan sempurna."
Sun Qi-zhong yang merasa terkejut karena bulan lalu, saat dia bertarung1252 dengan Xin Jie, ilmu silat Xin Jie belum sampai seperti ini!
Hari semakin terang.
Matahari menyinari Xiao-ji-dao....
Pin Fan Shang-ren menuntun Xin Jie dengan tangan kiri, tangan kanannya menuntun Sun Qi-zhong, mereka berjalan dengan pelan menuju ke pantai.
Ooo)*(ooO Perahu tiba di Da-ji-dao.
Pin Fan Shang-ren dan Sun Qi-zhong naik ke pantai tapi Xin Jie tetap berada di dalam perahu dan berkata.
"Aku masih ada keperluan lain, aku harus segera kembali ke Zhong Yuan, aku pamit dulu. Jika ada kesempatan...."
Pin Fan Shang-ren tertawa dan berkata.
"Anak, kalau benar-benar ada perlu penting lainnya, pergilah! Tidak perlu mengatakan jika ada kesempatan atau yang lainnnya.... Baiklah Qi Er, ayo kita pergi!"
Dia mencengkram tangan Sun Qi-zhong.
Beberapa kali naik turun, mereka menghilang ke dalam hutan.
Xin Jie bengong melihat punggung mereka yang menghilang.
Dia membalikkan tubuhnya, memasang layar dan mendayung ke tengah laut.1253 Angin pagi berhembus sangat kencang.
Perahu melaju seperti panah.
Xin Jie segera memakai mantelnya.
Dia merasa lega lalu bersiul panjang.
Siulannya seperti teriakan naga mengikuti arah angin berhembus dan menyebar ke tempat jauh....
Tiba-tiba kabut tipis muncul dari laut, membuat pemandangan di sekelilingnya menjadi buram.
Lalu kabut pun semakin menebal, membuat sekeliling sana menjadi putih dan tidak terlihat apa pun.
Kabut tebal adalah ciri khas Dong Hai.
Kabut tebal tidak pernah membuat Hai Wai San Xian kerepotan atau terganggu karenanya, sedangkan para pelaut yang berlayar di Dong Hai takut dengan kabut tebal ini.
Xin Jie berpikir.
"Walaupun kabut sangat tebal, tapi angin berhembus sangat tenang, bila aku mengemudi dengan baik dan bisa mengenal arah angin, aku bisa kembali ke Zhong Yuan."
Karena itu dengan malas-malasan dia duduk di perahu membiarkan perahu kecil itu melaju dengan tenang.
Kadang-kadang dia bermain air laut, jarinya yang panjang dan lincah meninggalkan garis putih di permukaan laut, tapi dalam sekejap telah1254 menghilang ditelan gelombang....
Dalam kabut tebal perahu kecil itu terus melaju.
Pikiran Xin Jie pun mengembara....
Dia teringat pada Qing Er yang cantik....
Tapi di mana Qing Er sekarang?
Xin Jie tidak berani terus memikirkan Qing Er, gadis polos yang tidak berpengalaman sama sekali dengan hidup.
Dia malah berkelana di dunia persilatan....
Dengan lama Xin Jie berbaring di perahu itu, kemudian dia duduk kembali.
Kabut semakin tebal, melalui penglihatannya, dalam jarak 15 meter dia tidak bisa melihat sekeliling sana denganjelas.
Dari suara gelombang yang memukul dinding perahu, Xin Jie merasa daratan tidak jauh lagi.
Hatinya yang gembira membuatnya berdiri, sepasang matanya terus menatap ke depan, sewaktu dia sedang menunggu daratan muncul di depannya....
Tapi kabut begitu tebal, apa pun tidak terlihat, hanya terasa udara terus berubah, di depan seperti melihat sebuah ilusi.1255 Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang sedang mendayung.
Dalam jarak 30 meter di depan ada sebuah perahu yang akan melewati perahu Xin Jie.
Karena hampir mencapai daratan, Xin Jie menurunkan layarnya, maka perahu tidak melaju terlalu kencang lagi.
Dia merasa aneh, siapa orang yang berani ke laut dalam kabut setebal itu?
Malah menjalankan perahunya dengan kencang.
Sewaktu dia sedang berpikir, terlihat ada bayangan besar melewatinya, seperti bayangan perahu besar, perahu itu sepertinya juga sedang melaju dengan kencang, seperti sedang mengejar perahu kecil yang ada di depan tadi.
Mungkin orang yang berada di perahu itu sedang memperhatikan perahu kecil yang sedang berusaha melarikan diri, jadi mereka tidak memperhatikan perahu Xin Jie yang diam-diam muncul dari kabut tebal.
Xin Jie berada tepat di belakang perahu besar, dia menarik tali jangkar besar itu, karena ingin tahu maka dia pun naik ke atas perahu besar itu untuk melihat keadaan di sana.1256 Kecepatan perahu besar lebih kencang dari perahu kecil, perahu besar semakin mendekat, dari suara laju perahu, jaraknya tidak lebih dari 15 meter lagi....
Tiba-tiba terdengar suara tawa dari dalam perahu, kemudian ada suara kaku yang bicara dengan bahasa Han.
"Gadis cantik, jangan melarikan diri lagi, muridku menyukaimu, ini adalah keberuntungan bagimu."
Xin Jie yang baru tiba di atas perahu besar itu terkejut.
"Ternyata Heng-he San-fu! Siapa yang mereka kejar? Sepertinya seorang perempuan."
Xin Jie berpikir lalu melihat tali yang dipegangnya, anyaman tali itu memang bukan buatan Zhong Yuan.
"Gadis mana yang disukai oleh Jinlul?"
Xin Jie bertanya-tanya.
Orang yang ada di perahu kecil itu tidak menjawab, suara dayungan lebih kencang lagi, tapi karena orang yang mendayung sepertinya telah kelelahan, maka dia tidak bisa melarikan diri lebih jauh.
Terdengar suara orang muda.
"Nona tidak perlu pergi dengan terburu-buru, kami tidak akan memakanmu. Ada apa,1257 ceritakanlah!"
Xin Jie bisa membedakan kalau itu adalah suara Jinlul. Sekarang Xin Jie baru mengerti dan berpikir.
"Ternyata Heng-he San-fu sangat ketat terhadap anak buahnya, Jinlul adalah murid terkecil, dan dia sangat disayang oleh guru dan paman gurunya, karena Jinlul lebih pintar, lebih tampan, dan lebih pintar bicara. Apa pun yang diinginkan Jinlul pasti akan didapatkannya dengan mudah."
"Heh orang asing yang tidak tahu sopan santun, mana mungkin bisa menikah dengan bangsa Han yang sopan?"
Karena Xin Jie membenci Jinlul, maka dia pun membela perempuan bangsa Han itu. Suara Jinlul terdengar lagi.
"Untuk apa Nona terus merawat laki-laki yang telah terluka berat itu? Apakah dia masih bisa bertahan hidup? Lemparkan saja dia ke laut untuk dijadikan makanan ikan! Aku bernama Jinlul datang dari India, hartaku sangat banyak, mengapa Nona tidak ikut saja denganku?"
Jinlul berusaha memancing gadis itu dengan harta, mungkin dia mengira perempuan bangsa Zhong Yuan bisa dibeli dengan harta.1258 Orang yang ada di depan terus mendayung, tapi karaena sudah tidak tahan mendengar perkataan Jinlul, dia berbalik marah.
"Anjing kurang ajar! Aku bersumpah aku akan membalaskan dendam suamiku!"
Kemudian terdengar suara tangisan, hal ini membuat Xin Jie yang berada di sisi kapal merasa terkejut, seperti telah terkena godam besar, sebelah tangannya memegang tali dengan kencang, bibirnya terus berkata.
"Apakah itu adalah dia! Benarkah dia...."
Tiba-tiba sifat alaminya timbul, dia merasa dia sendiri yang mengalami kejadian ini, dan diam-diam dia berjalan ke ujung perahu....
Kabut masih tebal, Heng-he San-fu dan Jinlul tertutup oleh kabut tebal, dengan perlahan Xin Jie berjalan ke tengah perahu, tidak sampai jarak 15 meter, dia melihat dengan mata dipicingkan tenyata benar itu mereka....
Yang berdiri di tengah adalah seorang raksasa, dia pasti Poloketa, yang berpenampilan pelajar adalah Jinlul, mereka berempat sedang berkonsentrasi penuh melihat orang yang akan melarikan1259 diri, tidak ada seorang pun yang memperhatikan keberadaan Xin Jie di belakang mereka.
Mungkin orang yang mendayung perahu kecil itu tahu seluk beluk daratan yang ada di sekeliling sana, tiba-tiba arah dayungan terdengar berputar ke kanan.
Xin Jie ingat arah itu menuju daratan.
Segera Heng-he San-fu tanpa menggunakan kemudi segera memutar kapal tersebut ke kanan, perahu besar itu pun berputar, dan terus mengejar perahu kecil itu.
Tiba-tiba Poloketa bicara dengan bahasa India, tangan kirinya memberi kode, tanda kalau dia akan melempar jangkar, tapi Jinlul berusaha mencegahnya....
Kabut semakin menebal, Pin Fan Shang-ren pernah mengatakan pada Xin Jie bila perahu telah memasuki wilayah teluk, maka dari sana dalam 3 penjuru mata angin adalah gunung.
Di sana kabut sulit menyebar, malah kabut akan semakin menebal.
Sekarang kabut telah menebal hingga jari sendiri pun tidak terlihat.
Xin Jie semakin mendekati mereka, jaraknya dengan Heng-he San-fu tidak1260 sampai 10 meter lagi.
Karena mereka terus memperhatikan perahu kecil yang sedang melarikan diri, maka mereka tidak memperhatikan Xin Jie di belakang mereka.
Tiba-tiba Jinlul membentak.
"Nona, cepat berhenti! Kalau paman guruku melempar jangkar ke sana, kau tidak akan selamat!"
Mungkin dia tahu kalau kabut semakin menebal, maka mereka akan kehilanganjejak.
Mereka hampir kehilangan jejak.
Tapi Heng-he San-fu dengan sekuat tenaga terus mengejar perahu kecil itu.
Yang terburu-buru adalah Poloketa, dia mengangkat jangkar itu tinggi-tinggi, bila dia memang tidak bisa mengejar perahu kecil itu maka dengan mendengarkan suara dayungan mereka dia bisa melempar jangkar dengan tepat ke arah perahu kecil itu dan perahu pun akan tenggelam karenanya.
Kabar Heng-he San-fu menghina perempuan lemah belum menyebar ke mana-mana, kalau ada yang mendengar mereka pasti akan ditertawakan oleh kalangan persilatan.
Saat menegangkan seperti ini, tiba-tiba suara dayungan tidak terdengar lagi, di1261 sekeliling sana kecuali suara ombak, suara lainnya tidak terdengar.
Jin Bo-sheng dan Pandenful segera menurunkan tangan mereka yang sejak tadi membuka dan menutup.
Jinlul berdiri di pinggir perahu, dan berteriak.
"Hati-hati, di sebelah kanan ada batu karang!"
Dia menggunakan bahasa India.
Kecepatan perahu besar itu berkurang, tapi perahu tetap melaju dengan kencang, laju perahu bisa membuat perahu menabrak karang....
DAG!
Perahu Heng-he San-fu belum berhenti, perahu menabrak karang hingga naik ke atas, dengan bantuan tenaga dalam milik Heng-he San-fu pun perahu tetap tidak bisa turun dari batu karang itu.
Poloketa ingin marah, tapi Jin Bo-sheng melarangnya, dia tertawa sinis.
Dengan bahasa Han tidak lancar dia berkata.
"Nona Meng memang pintar, aku sangat kagum!"
Setelah selesai bicara, dia segera memberi kode kepada Poloketa, Heng-he San-fu saling mengerti apa yang dimaksud dari masing-masing, Poloketa pasti sudah tahu1262 apa maksud Jin Bo-sheng.
Jinlul terus memperhatikan ke depan, kabut masih begitu tebal, dia hampir tidak bisa melihat apa pun, mereka tidak tahu kalau musuh telah ada di belakang mereka.
Apalagi musuhnya adalah Xin Jie yang pintar dam lincah.
Benar saja dalam jarak tidak lebih dari 30 meter terdengar suara seorang perempuan berkata.
"Anjing liar, sekarang kalian baru tahu bagaimana caraku mengelabui kalian, nanti daging kalian akan kubuat makanan ikan dan udang!"
Jin Bo-sheng tertawa, Poloketa melempar jangkar itu....
Ilmu silat Poloketa selevel dengan Pin Fan Shang-ren, dengan sekuat tenaga dia melempar jangkar besi itu ke arah suara perempuan tadi.
Xin Jie tahu akan terjadi hal seperti ini, dengan cepat dia bergerak dan berlari ke tempat jangkar dilempar, tapi dia masih sempat menyerang Heng-he San-fu dan Jinlul....
Mereka merasa ada angin kencang menyerang mereka dari belakang, saat membalikkan tubuh dan dengan kedua tangan berjaga di depan dada, mereka hanya1263 memikirkan menjaga keselamatan mereka.
Xin Jie justru menginginkan mereka mengambil kesempatan ini, Xin Jie telah meloncat keluar dari perahu dan mengejar jangkar yang telah dilempar itu....
Saat mereka merasa tertipu, berniat untuk mencegah pun sudah tidak sempat, karena Jinlul sangat mengenal Xin Jie, walau hanya melihat sekilas sosoknya, tapi dia bisa memastikan kalau orang itu adalah Xin Jie, maka dia pun berteriak.
"Dia lagi! Bocah itu!"
Dengan cepat dia memberitahu Heng-he San-fu kalau orang yang ada di belakang mereka adalah Xin Jie.
Perubahan ini hanya terjadi sebentar, Heng-he San-fu sudah marah-marah, tapi Xin Jie tetap bisa mengejar jangkar itu.
Karena Xin Jie tahu di mana suara perempuan itu maka kedua kakinya mendarat di atas jangkar.
Tubuh Xin Jie memantul ke atas tapi karena jangkar telah diinjak oleh Xin Jie maka posisi jangkar agak menurun....
BYUR!
Jangkar itu jatuh ke dalam laut, kemudian terdengar teriakan perempuan, Xin Jie yang berada di udara berganti beberapa gerakan untuk mengurangi kecepatan1264 terbangnya maka dia mencari suara di manajangkar itu terjatuh tadi.
Kabut masih tebal, kedua mata Xin Jie terus mencari tempat untuk mendarat....
Orang-orang yang masih ada di perahu ketika mendengar suara jangkar jatuh ke dalam laut mereka terkejut, sekarang mereka mendengar suara besar di atas kepala.
Dia menggerakkan dayung membuat perahu bergeser 5 meter dari sana....
Xin Jie berusaha mengangkat kakinya, hampir saja kakinya mengenai permukaan air, dia baru tahu kalau di bawahnya adalah air laut bukan permukaan perahu!
Karena terkejut, Xin Jie berusaha menekan kedua lengan bajunya, dia meloncat lagi beberapa meter, kali ini dia tidak berani bertindak ceroboh, dia memanggil.
"Adik Kun, apakah itu kau?"
Segera dayung yang terbuat dari papan dijulurkan dan Xin Jie dengan ringan mendarat di atas dayung.
Dia masih merasa terkejut, kabut begitu tebal dalam jarak beberapa meter tidak terlihat keberadaan perahu.
Dengan bantuan dayung, Xin Jie bisa selamat mendarat di atas perahu.
Dalam1265 kabut tebal terlihat sepasang mata besar dan jernih, yang tampak tegang melihatnya, sorotnya matanya yang sedih mengandung rasa sakit dan pedih.
Xin Jie berdiri di depan perahu, sebelum mendapatkan ijin dia tidak berani masuk ke bagian perahu lebih dalam.
Tapi sekarang dia merasa takut, takut kalau yang ada di depannya adalah Fang Shao-kun.
"Adik Kun, apakah benar kau Adik Kun? Apakah aku boleh berjalan ke sana?"
Dalam kabut tebal Xin Jie hanya melihat bayangan perempuan yang mirip dengan Fang Shao-kun.
Tapi gadis itu begitu dingin, sikap dingin membuat Xin Jie tidak berani terus bicara....
Lama perempuan itu terdiam, Xin Jie juga dengan lama berdiri di depan perahu, kemudian dengan nada tenang perempuan itu berkata.
"Benar! Jie.... Kakak Xin, ini aku, tidak kusangka aku bisa bertemu kembali denganmu di sini."
Dari nada bicaranya, Xin Jie bisa merasakan kesedihannya, pikirannya langsung bergejolak.
Xin Jie menghembuskan nafas panjang, dia tertawa kemudian berjalan ke tengah1266 perahu.
Di tengah perahu dia melihat Fang Shao-kun yang selama ini dirindukan sedang duduk di sana, tapi Fang Shao-kun terlihat begitu dingin.
Untuk memecahkan suasana dingin ini Xin Jie berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk bicara, tapi pikirannya seperti buntu, terpaksa dia tertawa kecut.
"Adik Fang, aku senang bisa bertemu kembali denganmu, selama ini...."
Baru saja dia berkata sampai di sana, dari jauh terdengar teriakan, kemudian Jinlul berteriak.
"Guru, cepat! Cepat naik ke atas batu karang ini...."
Kemudian terdengar ada yang marah-marah dengan bahasa India, masih dengan marah Poloketa meraung....
Terlihat Fang Shao-kun sekarang baru tertawa dengan getir.
Melihat ada kesempatan, Xin Jie segera memuji.
"Adik Kun, kau memang pintar, aku kagum dengan akalmu."
Fang Shao-kun tertawa sekilas lalu berkata.
"Pendekar Xin terlalu memuji...."
Xin Jie mendengar perkataan Fang Shao-kun seperti mengandung duri, dia jadi merasa tidak enak kepada Fang Shao-kun dan merasa kasihan padanya. Tapi dia memang1267 belum bisa melupakan Fang Shao-kun.
"Adik Fang.... maafkan aku, mengenai masa lalu tidak perlu diungkit lagi, bagaimana dengan kehidupan Adik Kun? Apakah kau baik-baik saja selama ini?"
Tiba-tiba Fang Shao-kun menangis, dia mendayung dan perahu maju lagi 15 meter, kemudian dari dalam perahu dia menggendong seseorang lalu meloncat keluar.
Xin Jie terkejut mengira Fang Shao-kun akan bunuh diri, Xin Jie pun ikut meloncat keluar, begitu kakinya turun, ternyata dia menginjak pasir kering....
Fang Shao-kun berlari di dalam kabut tebal, Xin Jie hanya berhenti sebentar lalu mengejar sambil mendengar suara langkah kaki Fang Shao-kun.
Ooo)*(ooO BAB 38 Masa lalu seperti asap Ilmu silat Xin Jie jauh lebih tinggi dari Fang Shao-kun, apalagi sekarang gadis itu sedang menggendong seseorang di belakangnya.
Hanya dalam waktu singkat Xin Jie berhasil mengejarnya, Fang Shao-kun terus menggendong orang itu, sambil terus menangis....1268 Terpaksa Xin Jie mengikutinya dari belakang, dan berusaha menghibur.
"Adik Fang, beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya."
Tapi Fang Shao-kun masih terus berlari dia berputar-putar selama 2-3 jam di gunung itu, kemudian baru berhenti di mulut sebuah gua....
Fang Shao-kun berlari masuk ke dalam gua, Xin Jie tidak ragu ikut masuk....
Gua itu sangat luas, di dalam masih ada jalan kecil untuk memasuki gua bagian dalam, kelihatannya Fang Shao-kun hafal jalan masuk ke sana....
Setelah berputar beberapa kali, di depan terlihat sebuah kamar terbuat dari batu, semua perabotan tampak lengkap.
Fang Shao-kun meletakkan orang yang digendongnya di atas tempat tidur, kemudian dia membalikkan tubuh.
Xin Jie berhenti di ambang pintu kamar batu itu, dengan aneh dia melihat keadaan dalam kamar....
"Mengapa Pendekar Xin terus mengikutiku?"
Tanya Fang Shao-kun sambil terus bercucuran air mata. Wajah Xin Jie terlihat sedih, dia menarik nafas panjang.
"Adik Fang, jangan1269 berbuat seperti itu kepadaku, walaupun aku memang bersalah kepadamu, itu sudah lama berlalu seharusnya kau bisa memaafkanku!"
Fang Shao-kun tertawa dingin.
"Kau.... kau tidak bersalah kepadaku, maka aku tidak perlu memaafkanmu!"
Kata-kata singkat ini seperti sebuah pedang tajam yang menancap di ulu hati Xin Jie, kalau bukan karena dia merasa bersalah kepada Fang Shao-kun, dan kalau mengikuti sifat aslinya, mungkin dia sudah meninggalkan tempat itu sejak tadi.
Xin Jie melihat orang yang sedang terbaring di atas ranjang batu itu, rambut tampak berantakan dan menutupi wajahnya.
Dandanannya aneh, membuat orang itu terlihat lebih aneh lagi.
Karena ingin tahu apa yang menyebabkan Fang Shao-kun bisa tinggal di tempat seperti ini, maka Xin Jie bertanya.
"Siapakah dia? Kelihatannya dia terluka berat, biar aku bantu mengobatinya."
Fang Shao-kun tertawa dengan aneh, wajahnya terlihat sedikit malu dan menjawab.
"Aku tidak berani merepotkan Pendekar Xin, siapakah dia, Pendekar Xin tidak perlu tahu, silakan tinggalkan tempat1270 ini!"
Dia terus memanggil Xin Jie dengan sebutan 'Pendekar Xin', membuat Xin Jie merasa malu!
Xin Jie tidak bisa berkata apa-apa, air matanya siap menetes, tapi dia tidak membiarkan air matanya mengalir.
Dia tetap terlihat sedih dan ada sedikit kemarahan.
Xin Jie memang pernah berbuat salah kepada Fang Shao-kun, tapi setelah dia sendiri mengalami banyak cobaan, seharusnya Fang Shao-kun bisa memaafkan Xin Jie, atau setidaknya memberi sedikit penghiburan kepadanya.
Xin Jie berpikir dan bibirnya tampak bergetar, setelah lama dia baru berkata.
"Adik Fang.... kau.... kau.... Hhhh!"
Kedua tangannya terbuka, wajahnya terlihat bengong dan sedih....
Panggilan 'Adik Fang' seperti sebuah palu besar memukul ke dalam hati Fang Shao-kun, sejak tadi dia berusaha menekan perasaannya, sekarang karena mendengar panggilan itu dia tidak bisa bertahan lagi.
Air matanya terus berlinang, dia menutup wajahnya dengan tangan, lalu berkata.
"Kakak Jie, Kakak Jie! Mengapa kita harus bertemu kembali...." 1271 Wajah Xin Jie yang cemberut mulai tersenyum, rasa gembira telah mencairkan kesedihannya, paling sedikit Fang Shao-kun belum melupakannya....
"Adik Fang, aku benar-benar merasa bersalah kepadamu. Hhhh! Masa lalu tidak perlu dibahas lagi! Aku.... apakah kau sudah menikah?"
Xin Jie menunjuk orang yang sedang terluka yang sedang berbaring di atas ranjang. Fang Shao-kun mengangguk, dia tertawa kecut.
"Siapakah dia?"
Xin Jie bertanya dengan aneh, dia tidak mengerti.... Fang Shao-kun dengan sedih melihat Xin Jie, lalu dengan terpaksa menjawab.
"Jin Qi."
Karena terkejut Xin Jie memegang kedua pundak Fang Shao-kun dengan erat dengan curiga dia bertanya.
"Jin Qi? Maksudmu adalah Tian Mo Jin Qi?"
Tanpa menunggu Fang Shao-kun mengangguk, Xin Jie berlari ke depan ranjang batu itu....
Fang Shao-kun mengira Xin Jie belum melupakan dendamnya yang dulu dan berniat1272 untuk membalas dendam kepada Jin Qi, dia berteriak.
"Kakan Jie! Kau tidak boleh.... aku tidak akan mengijinkanmu melukainya,"
Dia menarik tangan kiri Xin Jie.
Dengan ringan Xin Jie menyibak rambut yang menutupi wajah orang itu, wajah yang tidak pernah dilupakannya, sekarang terlihat dengan jelas....
Ternyata benar dia adalah Jin Qi, dua goresan pisau menyilang di dekat hidung, bekas goresan itu sangat dalam.
Xin Jie teringat lagi saat Jin Qi mencengkram Wu Ling Fen dan membawanya masuk ke dalam jurang, hati Xin Jie bergetar.
Xin Jie menarik nafas mencoba nafas Jin Qi di bawah hidungnya, nafasnya datar, Xin Jie berkata.
"Untung lukanya tidak begitu berat, bila istirahat selama beberapajam, dia akan sadar."
Xin Jie melihat Fang Shao-kun yang sedang sepenuh hati melihat Jin Qi, dia merasa aneh.
"Mengapa mereka bisa menikah? Mengapa mereka bisa tinggal di pantai di sebuah gua terpencil?"
Fang Shao-kun merasa Xin Jie sedang melihatnya, kedua pipinya segera bersemu merah, dan dia tertawa.
"Kau pasti tidak1273 menyangka kalau aku bisa menikah dengannya bukan?"
Fang Shao-kun melihat Jin Qi yang sedang terbaring.
Xin Jie mengangguk.
Fang Shao-kun tertawa kecut, dia menepuk-nepuk sebuah kursi batu, mempersilahkan Xin Jie duduk, kemudian dia pun mulai bercerita....
"Ketika aku terjun ke dalam sungai...."
Dengan malu-malu dia melihat Xin Jie yang sedang seksama mendengar ceritanya.
Dia berpikir kembali tentang hal yang membuatnya tidak bisa melupakan kejadian itu seumur hidupnya.
Xin Jie mengerti apa maksudnya, perasaan bersalah membuat wajah Xin Jie menjadi seram, karena Fang Shao-kun membuatnya teringat kembali pada Jin Mei Ling yang menghilang....
"Hhhh! Kakak Jie...."
Fang Shao-kun tahu Xin Jie juga merasa sedih, begitu pula dengan dirinya.
Pertama karena dia bertemu kembali dengan Xin Jie kembali, dia berpura-pura bersikap dingin kepada Xin Jie.
Lalu Xin Jie mengikutinya masuk ke gua ini, kebenciannya malah terhapus.
Kalau1274 ingin bicara secara jujur dia pun bersalah kepada Xin Jie, karena dia telah menikah dengan orang yang paling dibencinya....
Jin Qi.
"Bagaimana keadaan Kakak Ling?"
Fang Shao-kun tidak tahu mengapa dia bisa menyebut 'Kakak Ling', tapi melihat ekspresi Xin Jie, dia bisa menebak apa yang telah terjadi.
Xin Jie tidak menjawab, hanya menggelengkan kepala, melihat Fang Shao-kun sudah tidak membenci Jin Mei Ling lagi dia merasa sedikit terhibur....
Fang Shao-kun tidak ingin mengungkit masa lalu yang membuat Xin Jie sedih, dan dia menyambung kembali membicarakan topik pertama....
"Semenjak aku terjun ke dalam sungai, aku benci dengan dunia ini, juga membenci diriku sendiri. Karena itu aku berusaha menenggelamkan diriku lebih jauh ke dalam sungai, biar air sungai merendamku hingga mati. Gelombang sungai begitu besar. Tidak lama kemudian aku pun pingsan...."
Xin Jie mendengar cerita Fang Shao-kun, dia juga ingat waktu itu dia melihat Fang Shao-kun terseret arus sungai dan1275 semakin menjauh, semakin menjauh, lalu menghilang....
Suara Fang Shao-kun terdengar tenang tapi juga lemah, selain menceritakan pengalamannya ketika dia merantau selama beberapa tahun, dia berusaha tidak menyinggung perasaan Xin Jie.
"Setelah aku sadar, tubuhku telah basah kuyup, aku tersadar mungkin aku merasa terlalu dingin."
Fang Shao-kun terus bercerita, kadang-kadang matanya yang besar terlihat sedikit kerinduan pada masa lalu...."
Waktu itu bintang tampak kelap-kelip di atas langit, aku merasa tubuhku sangat lemah, perasaanku seperti mati, aku malas bergerak....
"Aku berbaring telentang, aku tidak tahu apakah aku masih berada di dalam air atau berada di sebuah perahu? Atau di darat, sepertinya semua itu tidak ada hubungannya denganku."
"Tiba-tiba terlihat ada cahaya dan ada suara seorang anak berteriak, 'Nenek, ternyata bibi ada di sana!' kemudian perempuan itu berkata. Anak baik, coba kau ke sana dulu untuk melihat, jangan biarkan1276 orang itu mati kedinginan.'"
"Anak itu terdengar mendekatiku, dia sudah berdiri di dekatku dan berkata.
"Nek, dia sudah siuman. Ah! Dia basah kuyup." ' "Perempuan itu mendekat dan melihat keadaanku, kecuali kondisiku yang basah kuyup dan lemah, tidak terjadi apa pun padaku, terdengar dia menghembuskan nafas, Ah! Xiao Fu.... Nona, bagaimana perasaanmu?' dia melihat keadaanku yang sudah siuman."
"Aku merasa berterima kasih kepada perempuan yang baik hati itu, tapi karena waktu itu aku sedang merasa kacau dan putus asa, maka aku sudah tidak peduli dengan semuanya, sampai-sampai aku bersikap dingin kepada perempuan tua itu."
Xin Jie bertanya.
"Kau terbawa arus sampai ke mana?"
Mendengar pertanyaan Xin Jie, hati Fang Shao-kun terasa sejuk, mata Xin Jie memancarkan sinar lembut, apakah dia masih seperti dulu?
"Aku tidak tahu, kemudian perempuan yang menolongku mengatakan kalau tempat itu terletak ratusan kilometer dari Wu Han,"
Fang Shao-kun tertawa.1277 Xin Jie mengeluh.
"Nasibmu lebih baik dariku.... aku...."
Air mata Fang Shao-kun berlinang lagi, kebencian yang muncul beberapa jam lalu menguasai hatinya kini telah mencair karena kelembutan Xin Jie. Dia memegang tangan Xin Jie dan berkata.
"Jangan pikirkan lagi masa lalu, aku akan menceritakan padamu apa saja yang telah kualami...."
Xin Jie mengangguk, dia mengelus rambut panjang Fang Shao-kun yang berantakan, dia merasa sangat sedih, yang menghibur perasaannya adalah ternyata Adik Kunnya telah berkeluarga, siapa pun suaminya sekarang, paling sedikit hati Xin Jie sudah merasa tenang.
Fang Shao-kun terus bercerita.
"Aku ditolong oleh perempuan itu, dia kasihan kepadaku karena aku sebatang kara, apalagi tidak mempunyai keluarga, dia hidup ditemani oleh seorang cucu, maka dia pun menyuruhku tinggal di sana...."
"Suatu sore, dan saat itu adalah musim semi, tiba-tiba.... Jin Qi datang...."
Xin Jie terlihat, tegang, tanpa sadar dia berdiri.
"Ternyata rumah yang terlihat tenang1278 itu.... yaitu rumah nelayan perempuan itu, telah terjadi badai hebat di sana."
"Hari itu aku sedang melihat nelayan perempuan itu sedang menambal baju.... Tiba-tiba terdengar ada yang mengetuk pintu, dan ada suara seorang laki-laki berteriak, Adik Kun, buka pintu, keluarlah!'"
"Mendengar suara itu wajahku menjadi pucat, ternyata yang berteriak adalah Tian Mo Jin Qi."
"Ingin melarikan diri pun tidak bisa, lalu aku memikirkan sebuah cara, akhirnya aku mengeluarkan sebuah pisau belati yang selalu tersimpan di tubuhku lalu dengan pelan aku membuka pintu...."
"Yang muncul di hadapanku adalah seorang pemuda dengan pakaian compang camping dan terlihat lelah, aku hampir tidak mengenalinya kalau dia adalah Jin Qi yang kubenci selama ini. Adik Kun.... Adik Kun! Kau benar-benar menyiksaku!' suara Jin Qi tetap terdengar galak, satu tangannya menahan kusen pintu, seperti takut kalau terjatuh.... Dengan dingin aku menjawab, 'Keluar dari sini, Jin Qi! Pergilah ke tempat jauh! Selamanya aku tidak sudi melihatmu.... '"
"Aku juga tidak tahu mengapa hatiku yang sudah tenang bergejolak kembali, Jin Qi terus menatapku, rambutnya yang kotor tampak menutupi wajahnya, belum pernah aku melihat dia tanpa berdaya bicara kepadaku, 'Adik Kun, yang bersalah kepadamu bukan aku, mengapa aku yang selalu kau benci? Tuhan masih kasihan kepadaku, maka Dia membiarkan aku bisa bertemu kembali denganmu, aku begitu mencintaimu, mengapa kau selalu melukai hatiku?'"
"Aku menangis terseduh-sedu lalu berteriak, 'Aku benci.... benci kepada kalian berdua.... Jin Qi, apa yang terjadi padamu?"
"Karena Jin Qi saat itu memegang dadanya, wajahnya tampak terus bergerak-gerak, tiba-tiba dia tersungkur di bawah kakiku...."
Xin Jie berpikir.
"Benar, karena dia telah terkena pukulanku, demi mencari Adik Kun, selama beberapa hari dia tidak beristirahat, maka lukanya bertambah berat, kelihatannya dia memang benar-benar mencintai Adik Kun."
Fang Shao-kun terus bercerita.
"'Adik Fang.... aku mengalami luka dalam.' Jin Qi menahan sakit dan mengeluh, dia juga1280 menjulurkan tangan kanannya, aku benar-benar merasa sedih dan tidak tega melihat keadaannya. Walaupun sifat Jin Qi kejam, tapi melihat perasaannya kepadaku, dia benar-benar setia hatiku mulai luruh. Karena itu aku memapahnya masuk dan membaringkannya ke atas tempat tidur. Setelah beberapa hari berobat dan beristirahat, akhirnya dia sembuh juga...."
"Suatu hari ketika dia sudah bisa duduk, dengan serius dia berkata padaku, 'Adik Kun, aku tahu kau sangat membenciku, membenciku begitu dalam.... tapi.... tapi demi dirimu, aku akan berubah, kau tahu, aku benar-benar mencintaimu.... '"
"Aku terpaksa bersikap dingin, kebencian-ku kepadanya telah berkurang banyak, tapi aku tetap menggelengkan kepala. 'Baiklah, aku tidak akan memaksamu, walapun ini bukan sifat asliku,' Jin Qi berkata dengan tenang, kegalakan yang biasa terlihat di matanya sudah tidak tampak, dia melanjutkan, 'Tapi aku ingin tahu mengapa kau begitu membenciku? Apakah semua ini karena Xin Jie, si bocah itu?'"
"Aku tidak mau dia menyebut-nyebut namamu, biarpun aku sendiri senang1281 menyebut namamu."
Fang Shao-kun melanjutkan lagi.
"Apalagi kematian ayah dan ibuku terus terbayang di dalam pikiranku, aku berkata pada-nya, 'Kau.... kau adalah siluman! Ayah dan ibumu saja tega kau bunuh! Apakah dengan begitu aku masih bisa suka kepadamu!' "
Wajah Jin Qi tampak berubah, belum pernah aku melihat dia begitu malu, perasaan senang bergejolak di dalam darahku.
" 'Ayah, ibu, walaupun aku bukan anak kandung kalian tapi bila kalian memaksaku menikah degan orang yang tidak kusukai, aku tidak bisa.' Tapi mereka telah membesarkanku selama ini aku merasa berhutang budi."
"'Anak durhaka! Kau membunuh ayah dan ibu kandungmu sendiri, kau telah berdosa!' aku berteriak lagi, 'Kau mengatakan mencintaiku, demi diriku kau rela berkorban, sekarang goreskan wajahmu dengan pisau, maka aku akan menikah denganmu.' Aku pun berkata seperti itu."
"Wajah Jin Qi terlihat pucat, tiba-tiba dia bersikap tegas dan marah, 'Adik1282 Kun, aku memang telah melakukan kesalahan besar, tapi apakah kata-katamu tadi bisa kau pegang?' "
Aku tertawa terbahak-bahak, dari balik dadaku aku mengeluarkan sebuah pisau belati, dan memberikan padanya, 'Goreskanlah!
Gores sekarang!
Aku ingin tahu apakah orang yang telah membunuh orang tua kandungnya sendiri bisa menggores wajahnya?' "
"Jin Qi menerima belatiku, melihatku bertingkah seperti orang gila dia tidak marah, ternyata dia benar-benar menggores wajahnya sendiri dengan pisau dia menggores angka sepuluh (berbentuk seperti salib), setelah itu dia berteriak, 'Adik Kun, Adik Kun!' darah menetes dari wajahnya, dia baru saja sembuh dari sakit karena pukulan batin akhirnya dia pingsan."
"Perubahan ini membuatku terkejut dan hanya bisa terpana, melihat luka karena belati itu aku merasa sangat berdosa." 'Fang Shao-kun, Fang Shao-kun, apa yang telah kau lakukan?' Akhirnya aku meninggalkan Jin Qi yang terluka parah dan melarikan diri dari dosa yang telah kuperbuat, aku tidak berani melihat rumah1283 kecil itu...."
"Karena itu akhirnya aku pergi merantau lagi...."
Dia terus menangis, air matanya yang menetes membuat bajunya basah, jantungnya terus berdebar-debar, seperti seorang anak yang batinnya tertekan lalu bertemu dengan keluarganya, ingin mengungkapkan semua kesedihannya.
Xin Jie terus menepuk-nepuk pundaknya menghibur.
"Tenanglah, ceritakanlah dengan pelan!"
Semenjak dia tahu kalau Fang Shao-kun telah dimiliki Jin Qi, maka perasannya kepada Fang Shao-kun hanya sebagai sahabat. Setelah lama Fang Shao-kun baru bisa bicara lagi.
"Lalu aku pun berkelana di dunia persilatan, mendengar Qi-mao Shen-jun mengikuti rapat di Tai Shan, aku merasa curiga kalau Qi-mao Shen-jun adalah kau, maka aku pun pergi ke sana...."
"Setelah tiba di kaki gunung Tai Shan, semua peserta rapat telah bubar, tiba-tiba aku bertemu dengan Jin Qi, dia terluka parah dan sedang merangkak dari dasar jurang, bekas luka di wajahnya masih jelas terlihat...."
"Ternyata dia pun melihatku, dan1284 berusaha merangkak mendekatiku, dia terus berkata, Adik Kun, maafkan aku! Adik Kun, jangan tinggalkan aku!'"
"Karena aku sudah tidak tahan lagi, hatiku yang tadinya hanya merasa kasihan kepadanya mulai mencintainya, karena itu lah dia kubawa ke sini, ketempat terpencil ini, meninggalkan keramaian dunia, selamanya dan hidup menyendiri...."
Ooo)*(ooO Xin Jie baru mengerti mengapa Fang Shao-kun menikah dengan Jin Qi, tapi tetap saja dia merasa tidak enak.
"Tapi mengapa kau bisa sampai dikejar oleh Heng-he San-fu?"
Xin Jie merasa aneh mengapa Jin Qi bisa sampai terluka. Wajah Fang Shao-kun menjadi merah jawabnya.
"Semua karena dia!"
Dia menunjuk Jin Qi.
"Dia mengatakan bosan tinggal terus di dalam gua, dia ingin berjalan-jalan mencari angin."
Dengan marah Fang Shao-kun berkata lagi.
"Siapa yang tahu kami bakal bertemu dengan 3 setan tua itu dan murid mereka...."
Xin Jie mengangguk.
"Benar, murid1285 mereka bernama Jinlul, apa yang mereka lakukan kepadamu?"
Fang Shao-kun marah dan menjawab.
"Dia bukan orang baik-baik, kalau dia jatuh ke tanganku, aku akan mencincangnya!"
Xin Jie bisa menebak dan tertawa.
"Karena kau begitu cantik, maka menarik perhatian banyak orang."
Mereka telah kembali terlihat rukun dan akrab, tapi tetap ada jarak, karena dia ditertawakan Xin Jie, dia berhenti bicara lalu menjelaskan lagi.
"Orang itu benar-benar kurang ajar!"
Tiba-tiba Jin Qi berteriak.
"Adik Kun! Air! Aku ingin minum!"
Xin Jie dan Fang Shao-kun seperti baru tersadar, Xin Jie tertawa.
"Angsa jantan telah bangun!"
Fang Shao-kun tertawa malu-malu, tawanya mengandung kesedihan, dia segera berbalik untuk melihat Jin Qi dan berkata.
"Lihat, ini akibat pukulan dari orang paling tinggi itu!"
"Yang kau maksud pasti Poloketa, Heng-he San-fu benar-benar manusia kerdil!"
Seru Xin Jie. Jin Qi terus meminta air, begitu Fang1286 Shao-kun memberikan air kepadanya, dia tertidur lagi.
"Ah!"
Tiba-tiba Xin Jie berteriak.
"Adik Kun, kau dengar ada suara langkah yang datang, mereka pasti Heng-he San-fu!"
Ilmu silat Fang Shao-kun tidak setinggi Xin Jie, dia tidak mendengar ada yang datang, tapi dia tahu keadaan cuaca di sini dan berkata.
"Kabut pasti telah menyebar, kalau tidak walaupun mereka berdiri di atas batu dalam jarak 20 meter, mereka tetap tidak akan bisa melihat gua ini."
Tadi Xin Jie mengikuti Fang Shao-kun masuk ke gua, waktu itu kabut sangat tebal, apalagi dia tidak tahu situasi di sini. Maka sekarang dia bertanya pada Fang Shao-kun.
"Bagaimana keadaan gua ini? Apakah mudah ditemukan?"
Fang Shao-kun menggelengkan kepala.
"Tadi waktu aku mencari gua ini pun harus menghabiskan waktu lama, tapi karena kami tinggal di gua ini cukup lama, maka di sekeliling sini sudah ada tandanya, tapi orang-orang seperti Heng-he San-fu yang berpengalaman bisa mencari sampai di sini," 1287 Fang Shao-kun terlihat sedikit khawatir. Xin Jie berpikir sejenak, dia tahu kalau Jin Qi sedang terluka dan tidak akan bisa lolos dari kejaran Heng-he San-fu, terpaksa dia mencari akal, lalu berkata.
"Adik Kun, ikutlah denganku! Kita harus mempersiapkan barang untuk mereka, nanti mereka mengatakan kalau mereka tidak mendapatkan oleh-oleh dari Zhong Yuan...."
Di luar gua seperti yang dikatakan oleh Fang Shao-kun, kabut tebal telah menyebar, gunung tinggi dan rendah terlihat begitu kokoh.
Xin Jie dan Fang Shao-kun yang berada di dalam gua sedang sibuk mempersiapkan sesuatu....
Tiba-tiba di gunung yang berada di kejauhan terlihat ada 4 bayangan mereka pasti Heng-he San-fu dan Jinlul.
Ternyata Biksu Jin Bo-sheng telah berhasil dikelabui Fang Shao-kun dan membuat kapal mereka pecah lalu tenggelam ke dasar laut.
Dengan terpaksa mereka berempat berdiri di atas batu karang yang telah menghancurkan kapal mereka.
Walaupun jarak batu karang itu 20 meter dari daratan, tapi karena kabut sangat tebal mereka tidak bisa melihat apa pun.1288 Melihat kabut telah menipis, mereka baru melihat sekeliling sana dengan jelas, lalu mereka pun meloncat ke darat.
Di antara mereka berempat, Poloketa lah yang paling marah.
Dia segera menyuruh ketiga orang lainnya mengejar, rasanya bila berhasil membunuh Xin Jie dia baru merasa puas.
Dan mereka telah menemukan jejak kaki Xin Jie dan Fang Shao-kun.
Maka dengan cepat mereka mengikuti jejak itu dan berada tidak jauh dari gua....
"Guru!"
Sambil berlari Jinlul berkata pada Biksu Jin Bo-sheng.
"Kalau nona itu bisa tertangkap, aku mohon agar Guru jangan membunuhnya!"
Dengan dingin Biksu Jin Bo-sheng mengangguk, apa pun yang diminta oleh Jinlul, pasti akan dikabulkannya, tapi dia tetap bersikap seperti itu karena posisinya adalah sebagai guru Jinlul.
Sepertinya Jinlul mengerti dengan keadaan ini.
Pada saat mereka telah hampir dekat dengan gua, tiba-tiba Biksu Jin Bo-sheng melihat tempat persembunyian Xin Jie, dia berteriak dalam bahasa India, yang artinya adalah 'mereka ada di sana!' Sewaktu Pandenful dan Poloketa masuk1289 ke dalam gua, suara Xin Jie yang bernada dingin terdengar jelas.
"Teman-teman yang berkunjung dari luar negeri baru saja tiba, Xin Jie telah menunggu kalian lama di sini."
Di antara keempat orang itu hanya Jinlul yang mengerti bahasa Han, Poloketa hanya tahu kalau itu adalah suara Xin Jie.
Tangannya dilayangkan, dia bersiap akan menyerang....
Biksu Jin Bo-sheng walaupun datang dari India, tapi dia mengerti tentang aturan dunia persilatan Zhong Yuan, kalau menggunakan nama Heng-he San-fu menyerang seorang pemuda, dan kalau kabar ini sampai tersebar keluar maka mereka akan kehilangan muka.
Kecuali kalau mereka membunuh ketiga orang itu maka kabar ini tidak akan tersebar ke mana pun.
Karena itu dia melarang Poloketa menyerang Xin Jie, kemudian berkata kepada Xin Jie yang masih ada di dalam gua.
"Bocah tengik, kalau berani keluarlah!"
Xin Jie tertawa terbahak-bahak.
"Bodoh, ternyata kau datang ke Zhong Yuan hanya mempelajari bahasa untuk memarahi orang!" 1290 Jin Bo-sheng mendengar Xin Jie menghinanya, tapi karena musuh berada di dalam kegelapan, dan dia berdiri di tempat terang maka dia pun tidak berkutik dibuatnya. Kecuali memancing Xin Jie keluar, siapa pun tidak akan bisa lolos dari tangannya untuk menyebarkan kabar tentang kepengecutan Heng-he San-fu. Jinlul yang bisa berbahasa Han berteriak.
"Hei marga Xin, keluarlah, kita bertarung lagi sebanyak 300 jurus!"
Xin Jie masih bersembunyi di dalam gua, dengan dingin dia menjawab.
"Kau ingin aku keluar, itu mudah saja, tapi apakah kata-kata Heng-he San-fu bisa dipegang?"
Biksu Jin Bo-sheng tidak tahu apa alasan Xin Jie berkata seperti itu, maka dengan hati-hati dia menjawab.
"Kami adalah Heng-he San-fu, apa yang kami katakan pasti akan kami tepati. Hei bocah, kau punya rencana busuk apa lagi?"
Xin Jie tidak menjawab, Biksu Jin Bo-sheng bertanya lagi.
"Jinlul, bagaimana denganmu?"
Jinlul terpaku, lalu dia berkata.
"Aku pun pasti demikian!"
Xin Jie tertawa dingin.
"Kalau1291 kutunjukkan kalau kalian adalah orang-orang yang tidak bisa menepati janji, kalian harus menuruti satu kalimat dariku!"
Jinlul sudah tahu kalau Xin Jie mempunyai sebuah rencana untuk mereka, dia ingin memberi tahu gurunya, tapi Biksu Jin Bo-sheng sudah menjawab.
"Heh, jangankan satu kalimat 10 kalimat pun akan kami turuti!"
Xin Jie mendengar Heng-he San-fu masuk ke dalam perangkapnya, dengan tertawa senang dia berkata lagi.
"Kalian memang Heng-he San-fu dan Jinlul, coba katakan sendiri saat di Tai Shan di ruang 'Wu Ting' kau telah berjanji apa kepadaku? Ha ha ha!"
Jinlul terpaku.
"Aku.... aku.... oh!"
Tiba-tiba dia teringat dia pernah berjanji kepada Xin Jie kalau dia kalah maka dia tidak akan menginjakkan kakinya ke Zhong Yuan lagi....
Xin Jie tahu kalau orang India ini tidak menepati janjinya, terpaksa dengan cara seperti ini dia menjebak mereka.
"Sekarang kalian dengarkan, ilmu silat kami setaraf dengan kalian, dan formasi 'Gui Yuan' pernah kalian coba1292 bukan? Aku Xin Jie, walaupun ilmu silatku tidak seberapa tapi guruku telah mengajarkanku tentang formasi ini, sekarang aku duduk di dalam gua, kalian bisa memilih siapa saja yang akan masuk ke dalam gua. Kalau kalian tidak merusak barang yang ada di sini tapi bisa menemukanku, kami bertiga akan keluar dari gua, dan kalian bisa menghukum kami dengan cara apa pun...."
Biksu Jin Bo-sheng tampak ragu, mereka sudah pernah mencoba formasi 'Gui Yuan', formasi yang dibentuk bocah Xin pasti tidak lebih hebat dari formasi 'Gui Yuan' aslinya, tapi ada syarat tidak boleh merusak barang yang ada di dalam gua.
Dengan nama besar Heng-he San-fu, mereka tidak akan tunduk begitu saja kepada bocah itu.
"Biarkan aku menangkap bocah itu, Guru! Aku ingin tahu apakah dia bisa mengurungku!"
Dia masuk ke dalam gua.
Karena generasi Heng-he San-fu lebih tinggi dari Jinlul dan Xin Jie, maka mereka malu kalau masuk ke dalam gua, terpaksa Jinlul lah yang masuk dulu....
Begitu Jinlul masuk ke dalam, di1293 dalam gua dipenuhi dengan bebatuan yang diberdirikan....
ini adalah hasil kerja dari Xin Jie dan Fang Shao-kun, dan suara Xin Jie terdengar dari dalam.
Xin Jie selalu diajarkan oleh Qi-mao Shen-jun tentang segala hal, kecuali masa-lah 'perempuan', dan Xin Jie lebih pintar dibandingkan gurunya.
Seperti masalah formasi 'Gui Yuan' yang sulit, dia lebih memahaminya dibandingkan gurunya, walaupun tidak semua.
Sekarang membuat formasi ini bukan suatu masalah baginya.
Jinlul berputar-putar di dalam formasi itu beberapa kali, karena tidak boleh merusak barang apa pun di dalam gua, maka tidak lama kemudian, dia pun tersesat....
Karena jalan di dalam gua bercabang, kalau salah jalan, maka dalam waktu 10 hari atau setengah bulan kau tidak akan bisa keluar.
Sekarang Jinlul telah memilih jalan yang salah.
Xin Jie sengaja tertawa dingin.
Heng-he San-fu telah menunggu Jinlul selama dua jam, ternyata dia masih belum bisa keluar, mereka mulai merasa cemas.
Xin Jie merasa waktunya telah tiba,1294 dia tertawa.
"Hei tiga pak tua bodoh! Murid kalian tidak bisa keluar!"
Di antara murid-murid Jin Bo-sheng dia paling menyayangi Jinlul, karena dia pintar dan masih muda, melihat Jinlul telah lama tidak keluar-keluar, dia takut terjadi sesuatu pada muridnya, maka dia berteriak dengan terkejut.
"Hei marga Xin, keluar kau! Kalau Jinlul sampai terluka, aku akan membunuhmu!"
Xin Jie marah, dia keluar dari dalam gua, lalu berdiri di depan Heng-he San-fu, dia tertawa dingin.
"Kalian memang sombong, memang aku tidak mampu melawan kalian tapi aku tidak takut dengan pukulan telapak tangan kalian!"
Jin Bo-sheng berteriak dengan terburu-buru.
"Kalau dalam sekali serang aku tidak bisa membunuhmu, kami Heng-he San-fu bila kau masih bisa hidup di dunia ini, kami tidak akan menginjakkan kaki ke Zhong Yuan lagi!"
Xin Jie tertawa terbahak-bahak.
"Apakah kata-katamu bisa dipegang?"
Dengan marah Jin Bo-sheng mengangguk. Xin Jie berteriak ke dalam gua.
"Adik1295 Kun, bawa orang itu kemari!"
Tidak lama kemudian Jinlul berjalan mengikuti Fang Shao-kun keluar dari dalam gua, mungkin karena telah salah jalan membuat dia hanya berputar-putar di dalam gua, tampak wajahnya dipenuhi dengan kemarahan....
"Bersiaplah, Guru! Kalau dalam satu kali pukulan kalian tidak bisa membunuhku, aku persilakan Tetua kembali ke India dan selamanya jangan kembali lagi ke Zhong Yuan!"
Heng-he San-fu dan Jinlul melihat Xin Jie, Fang Shao-kun yang berdiri di sisi Xin Jie terlihat tegang, tiba-tiba Xin Jie berkata.
"Adik Kun, ambil kesempatan ini untuk membawa Jin Qi pergi dari sini! Kalau mereka berubah pikiran dan kau baru lari itu sudah tidak sempat lagi!"
Dari nada bicara dan sorot mata Xin Jie, Fang Shao-kun dapat merasakan kelembutan yang selama ini tidak pernah dia dapatkan.
Demi Xin Jie dia ingin tinggal di sini, demi Jin Qi dia harus kabur dari sana, mana yang akan dipilihnya?
Ooo)*(ooO BAB 391296 Pahlawan Gai-bang Demi dunia persilatan Zhong Yuan dan Fang Shao-kun, Xin Jie harus rela berkorban, wajahnya yang gagah tidak memperlihatkan ketakutan sedikit pun.
Melihat tubuh Fang Shao-kun yang kecil dan lembut, dia menjadi lemah dan terpaksa dengan lembut berkata.
"Adik Kun, pergilah! Jangan membuatku merasa ada beban! Aku masih bisa menahan sekali pukulan dari mereka, yang kutakutkan adalah mereka tidak akan menepati janji, waktu itu kalian mau kabur pun sudah tidak sempat lagi!"
Fang Shao-kun tampak kebingungan tapi akhirnya mengangguk, matanya berlinang air mata, pelan-pelan dia masuk ke dalam gua.
Walaupun sebenarnya dia tidak mau tapi akhirnya dengan terpaksa dia membawa Jin Qi yang belum sadarkan diri pergi dari sana.
Tentu saja bukan karena ada Heng-he San-fu di sana....
Setelah Fang Shao-kun pergi dari sana, Xin Jie tidak tampak terlalu tegang lagi, dia menghembuskan nafas panjang, berdiri di depan Biksu Jin Bo-sheng....
Pelan-pelan Biksu Jin Bo-sheng1297 mengangkat tangannya, rambutnya yang panjang dan kuning walaupun saat itu tidak ada angin terus bergerak-gerak, kedua matanya terus menatap Xin Jie, semua gerakan Xin Jie berada dalam pengawasannya....
Xin Jie mengumpulkan seluruh tenaga di kedua tangannya, sekarang otaknya jernih tidak memikirkan sesuatu, yang dia pikirkan adalah bagaimana cara menahan serangan pukulan Jin Bo-sheng....
Tiba-tiba kedua tangan Biksu Jin Bo-sheng mendorong keluar, terasa ada angin besar yang mendorong, tenaganya dahsyat, cukup untuk menghancurkan batu....
SYUUUT!
Xin Jie tidak mundur atau merasa ragu, dengan sepenuh hati dia menyambut serangan itu.
Tanah dan pasir di sana membuat keadaan di sana menjadi gelap, apa pun tidak terlihat....
Lalu dengan perlahan pasir pun mulai berjatuhan, Xin Jie dan Jin Bo-sheng baru bisa melihat dengan jelas keadaan masing-masing, terlihat wajah Xin Jie pucat, tubuhnya terus bergoyang-goyang, tapi kakinya tidak bergeser sedikit pun.1298 Dengan sikap aneh Jin Bo-sheng menarik nafasnya, tiba-tiba dia melambaikan tangan, segera keempat orang lainnya berlari ke arah pantai....
Sedangkan kedua tangan Xin Jie terjulur ke bawah, kesepuluh jarinya sedikit terangkat, seperti siap menyerang....
Malam telah tiba, bumi dan langit kembali sepi, bintang pertama telah muncul dengan cahayanya yang redup....
Tiba-tiba dari jauh terdengar langkah orang berjalan, Xin Jie memusatkan tenaganya untuk mendengar, tapi apa pun tidak terlihat di sana, dia berpikir.
"Siapakah yang datang? Apakah Heng-he San-fu kembali lagi? Atau apakah itu Adik Kun?"
Tiba-tiba di mulut gua ada seekor beruang besar, dia terus melihat Xin Jie, hidungnya besar dan tampak sedang mencium-cium ke udara, kemudian dia berbalik lagi.
Hati Xin Jie terasa agak tenang, dia menertawakan rasa curiganya, tapi pukulan Jin Bo-sheng memang sangat dahsyat, dia tidak kuat lagi, dia memuntahkan darah dan ambruk....
Di bawah sinar bulan, bintang-bintang1299 telah bermunculan, Xin Jie berbaring dengan diam.
Tubuhnya terasa sakit, tapi hatinya merasa senang, karena dia berhasil menyelesaikan tugasnya.
Hari hampir subuh, di langit masih ada beberapa bintang, masih tampak berkilauan, membuat langit terlihat sangat jauh....
Di sebuah gunung kecil di dekat kota Luo Yang, ada sebuah kuil kecil dan tua.
Angin gunung meniup kusen-kusen kuil yang sudah usang itu, karena hembusan angin maka daun jendela pun bergerak-gerak, suasana di sana membuat siapa pun yang melihatnya merasa sedih.
Dengan bantuan sinar sebuah lampu kecil, tampak seseorang sedang duduk bersila, kulitnya berwarna hitam dan perawakannya tinggi.
Di depannya duduk seorang remaja....
dia tinggi tapi tetap kelihatan usianya paling-paling baru 12-13 tahunan.
Laki-laki berwajah hitam itu tiba-tiba berkata.
"Peng Er, kita dari Gai-bang telah menunjukkan diri kita sebagai pemimpin, dan telah memimpin semua anggota pengemis. Dengan ilmu andalan Gai-bang,1300 'Bai Jie Zhang Fa', ilmu ini pasti akan diwariskan kepadamu."
Peng Er mengangguk.
"Sewaktu guru mengajarkan ilmu ini, beliau sudah terluka berat dan dengan bersusah payah beliau pernah mengajarku satu kali, setelah itu beliau langsung pingsan. Begitu beliau sadar dari balik dadanya beliau mengeluarkan sebuah buku dan menyuruhku membaca dan berlatih sendiri. Paman Jin, apakah Paman mau membaca buku ini?"
Dia mengeluarkan buku itu dan memberikannya pada laki-laki berwajah hitam itu. Laki-laki itu menggoyangkan tangannya dan berkata.
"Ilmu 'Bai Jie Zhang Fa' adalah ilmu yang diwariskan secara turun temurun oleh ketua Gai-bang. Murid-murid Gai-bang tidak diijinkan mempelajarinya atau secara diam-diam mempelajari ilmu ini."
"Paman Jin, lebih baik kita cari suatu tempat untuk sepi dan belajar ilmu silat, setelah itu kita baru membalas dendam."
"Peng Er, masih ada satu hal yang belum sempat kubicarakan denganmu, sekarang kau mau belajar ilmu silat lalu membalas dendam, itu sangat tepat dengan1301 rencanaku."
"Rencana apa?"
Tanya Peng Er.
"Kelompok Gai-bang kita tersebar di mana-mana, tapi keadaan kita semakin lemah, murid-murid Gai-bang banyak yang setia, jika ketua melayangkan tangan dan berseru ingin mengembalikan kejayaaan Gai-bang, sebenarnya ini bukan hal yang sulit."
Peng Er mendengar Paman Jin bercerita tentang masa depan Gai-bang, mengingat kalau dia harus menyelamatkan Gai-bang sedangkan usianya masih kecil, tapi sudah harus memikul tanggung jawab begitu besar, maka dia pun berkata.
"Paman Jin, apakah Paman mau aku mengumpulkan semua anak buah Gai-bang dan membuat Gai-bang berjaya kembali?"
Paman Jin menggelengkan kepala dan menjawab.
"Sekarangumurmu masih kecil, belum menguasai ilmu silat dengan benar, ingin menyatukan perkumpulan besar ini bukan hal yang mudah, maksudku adalah aku akan mengantarkanmu ke rumah teman baikku yaitu Pendekar Perbatasan Feng Bo Yang, dia akan melatihmu ilmu silat."
Tanya Peng Er dengan buru-buru.
"Paman, kau sendiri mau ke mana?"1302
"Menurut aturan Gai-bang, kalau seorang ketua sudah meninggal, penjaga Gai-bang habis masa jabatannya, aku dan Lao Er tetap harus menjalankan peraturan yang berlaku."
Peng Er berteriak.
"Paman, aku tidak mau jauh darimu, aku tidak mau pergi ke Pendekar Perbatasan! Apakah Paman tidak mau mengajariku silat?"
Dengan lembut Paman Jin menjawab.
"Anak bodoh, ilmu pedang Pendekar Feng lebih tinggi dariku bahkan beberapa kali lipat, kalau kau pergi ke sana dan belajar darinya dalam kurun waktu 5 tahun kau pasti bisa menguasai ilmu silat ketua Gai-bang yang dulu, dan kau juga bisa belajar ilmu silat perbatasan, itu lebih baik dibandingkan bila harus ikut aku berkelana."
Sifat Peng Er sangat jujur, dia seorang yatim piatu kecuali dua bersaudara Jin, dia tidak mempunyai keluarga lagi.
Perlakuan Paman Jin kepadanya seperti seorang ayah yang keras dan seorang ibu yang lembut, mereka pun sangat melindunginya, sekarang mendengar Paman Jin akan meninggalkannya, dia merasa sedih1303 dan bimbang, dia berusaha menahan air matanya supaya jangan keluar dan berkata.
"Paman Jin, apakah karena Peng Er telah bersalah kepada Paman maka Paman akan meninggalkanku, mengapa kau.... kau tidak mau mengurus Peng Er lagi?"
Paman Jin sebenarnya tidak tega, tapi demi masa depan Peng Er terpaksa dia barus berbuat kejam, dia ingin mengatakan sebenarnya, tapi terdengar suara teriakan, suara ini membuat bulu kuduk merinding.
Dengan cemas Paman Jin berkata.
"Peng Er, Lao Er bertemu dengan musuh kuat, kau.... kau cepat lari ke arah timur, semua yang terjadi di sini serahkan padaku, kalau.... kalau aku, Jin Lao-da beruntung masih bisa bertahan hidup, aku akan pergi ke Luo Yang untuk mencarimu. Peng Er, ingat kalau dalam waktu 3 hari kami tidak datang, kau harus pergi sendiri ke Luo Dong Jing Zhou, carilah Pendekar Feng dan katakan kepadanya kalau akulah yang menyuruhmu pergi ke sana."
Peng Er melihat Paman Jin berkata begitu tegas, dia tidak ingin pergi, tapi dia tahu bagaimana sifat Paman Jin, maka dia tidak berani membantah lagi, dia pun1304 mengangguk.
Tiba-tiba Jin Lao-da berkata dengan lembut.
"Peng Er, kau harus berhati-hati, Paman Jin mungkin.... mungkin Paman Jin tidak ada kesempatan melindungimu lagi."
Sudah setengah tahun Peng Er mengikuti dua bersaudara Jin melewati banyak kesulitan, tapi belum pernah dia melihat wajah Paman Jin begitu serius.
Dia tahu pasti musuh kuat telah datang, dia takut Paman Jin keduanya tidak bisa bertahan, maka dia berkata.
"Paman Jin, cepat bantu Paman Jin kedua! Peng Er akan menunggu paman berdua di Luo Yang!"
Jin Lao-da memperhatikan wajah Peng Er, wajah yang masih polos dan lugu, dia menarik nafas dalam-dalam, lalu berlari menuju suara tadi. Peng Er terpana, kemudian dia pun berpikir.
"Kalau aku sekarang pergi ke sana mencari paman, perhatian mereka pasti akan terpecah, malah akan mengganggu mereka bertarung, lebih baik aku menuruti kata-kata Paman Jin dan pergi ke Luo Yang."
Dengan langkah berat dia berjalan ke arah timur.
Dia berjalan tanpa bersemangat, tiba-1305 tiba dia merasa ada suara angin menghampirinya, begitu dia melihat, ternyata ada seorang pemuda tampan berdiri di depannya.
Kata pemuda itu.
"Adik kecil, kau berjalan tidak hati-hati, hampir saja menabrakku."
Peng Er berpikir.
"Kau juga tidak berhati-hati, aku ada di depan mengapa kau tidak melihatku?"
Tapi melihat pemuda tampan itu baik dan ramah, dia berkata.
"Aku sedang berpikir, maka aku tidak memperhatikan kalau aku berjalan di tengah jalan."
Kelihatannya pemuda itu pun sama-sama sedang banyak pikiran, dia juga tidak melihat Peng Er yang ada di depannya, setelah berada di belakang Peng Er dia baru merasa, dengan menggunakan ilmu silatnya dia maju dan bertanya pada Peng Er, dia memang tidak berpikir dulu, tapi karena lawannya yang malah merasa bersalah, dia merasa tidak enak, dan berkata.
"Adik kecil, apa yang sedang kau pikirkan? Beritahukan saja kepadaku, aku akan membantumu membereskannya."
Pikir Peng Er.
"Tadi dia berada di1306 sisiku, aku baru merasakannya, walaupun aku tidak berkonsentrasi, tapi ilmu meringankan tubuh orang ini benar-benar tinggi, mengapa aku tidak meminta saja kepadanya supaya membantu Paman Jin?"
Dia masih kecil tidak berpikir kalau orang itu baru pertama kali ditemuinya, dia hanya merasa pemuda itu tampan dan berpikiran lurus, dia pasti orang yang menjaga keadilan, maka dia pun berkata.
"Kedua Paman Jin ku diserang orang jahat, keadaan mereka sangat berbahaya, apakah kau mau membantuku menolong mereka?"
Pemuda itu melihat Peng Er begitu naif dan berpikir.
"Aku sedang tidak ada hal penting yang harus dilakukan, anak ini terlihat jujur, Paman Jin nya pasti orang yang menjaga keadilan, aku jadi ingin membantu anak ini."
Pemuda itu bertanya.
"Di mana kedua Paman Jin mu bertarung? Siapa nama Paman Jin mu?"
Mendengar nada bicaranya, Peng Er tahu kalau pemuda itu setuju untuk menolongnya, maka dengan senang dia menjawab.
"Paman Jin ku adalah penjaga Gai-bang, yaitu Jin Lao-da dan Jin Lao Er." 1307 Pemuda itu terkejut dan berkata.
"Cepat, cepat, bawa aku ke tempat mereka!"
Peng Er berlari ke arah dia datang tadi, pemuda itu meloncat dan menuntun tangan kecil Peng Er, dengan ilmu meringankan tubuh yang tinggi, dia berlari secepat mungkin.
Tidak lama setelah mereka berlari, di dalam hutan terdengar ada yang bertarung, dengan cepat dia menarik Peng Er masuk ke dalam hutan kecil itu.
Di sebuah tanah kosong di dalam hutan, ada empat pendeta sedang bertarung dengan seseorang yang berperawakan tinggi, dia sendiri melawan 3 pendeta yang memegang pedang dan seorang pendeta dengan tangan kosong, keadaannya sangat berbahaya.
Peng Er melihat Paman Jin seorang diri bertarung dengan 5 orang tapi Paman Jin Keduanya tidak terlihat.
Dia tahu kalau kedua Paman Jin nya selalu berdua bertarung melawan musuh, sekarang dia tidak melihat Paman Jin Er, dia terkejut dan berkata pada pemuda itu.
"Bantulah Paman Jin Lao-da, aku akan mencari Paman Jin Lao Er."
Pemuda itu melihat terus ke arena1308 pertarungan, sepertinya tidak mendengar perkataan Peng Er, kelihatannya pertarungan akan segera berakhir, empat pedang menunjuk empat nadi Paman Jin, seorang pendeta tua tertawa sinis.
"Jin Lao-da, cepat kembalikan sarung pedangku, kalau tidak aku tidak akan sungkan lagi...."
Mendengar kata-kata itu Peng Er merasa pemuda yang ada di sampingnya bergetar menahan marah. Pendeta itu berkata lagi.
"Jin Lao-da, jangan keras kepala, sekarang ketua Gai-bang kalian sudah berada di tangan anak buahku, jangan kau kira ketua Gai-bang kalian yang masih kecil itu bisa melarikan diri ke Luo Yang. Ha ha ha! Sejak tadi aku telah menyuruh orang mencegatnya di tengah jalan, kalau kau tidak mau menyerahkan sarung pedang itu rasakan akibatnya, Hehehe!...."
Peng Er marah dia sudah tidak tahan lagi, dia ingin menolong Paman Jin, terdengar suara angin melewatinya, pemuda tampan itu sudah berlari keluar.
Di sana ada 6 orang, semua merasa terkejut, karena pertarungan sedang seru, maka kedatangan Peng Er dan pemuda itu1309 tidak mereka ketahui....
Pemuda itu berkata.
"Chi-yang.... Penjahat Chi-yang, kau memang berjaya, dengan jumlah lebih banyak kau mengeroyok satu orang, benar-benar tidak tahu malu!"
Karena tidak bisa memarahi orang maka kata-kata pemuda itu malah terdengar gugup. Begitu pendeta tua itu melihat pemuda tampan itu, wajahnya langsung berubah, dia marah.
"Hei bocah bermarga Wu, kita bertemu lagi di saat yang tepat, kita bereskan urusan kita!"
Ternyata pemuda tampan itu adalah Wu Ling-feng, semenjak dia berpamitan dengan Su Hui Zi, dia lalu mencari A Lan.
Dia berjalan dari Shan Dong sampai ke He Nan dan sempat beberapa kali bolak balik, tapi dia tetap tidak bisa menemukan A Lan.
Hari ini saat dia akan pergi ke Luo Yang untuk menginap di sana, di tengah jalan dia bertemu dengan Peng Er, maka mereka pun sama-sama pergi ke hutan itu, karena hutan sangat gelap wajah mereka berenam tidak terlihat jelas.
Tadinya dia ingin ikut bertarung tapi di mengenali sosok pendeta tua itu dan sepertinya dia adalah Pendeta1310 Chi-yang.
Sewaktu dia sedang berpikir, keadaan di arena pertarungan telah berubah, begitu mendengar pendeta tua itu bicara, dia segera mengenali pendeta itu adalah Pendeta Chi-yang....
orang yang telah membunuh ayahnya, maka dia pun segera berlari keluar.
"Kalian telah terbiasa selalu dengan jumlah banyak menyerang satu orang, baiklah, kalian semua bertarunglah denganku!"
Wajah Chi-yang menjadi merah dan berpikir, 'Sewaktu rapat di Tai Shan, kemampuan ilmu silatnya tidak seberapa, sekarang aku tidak perlu turun tangan sendiri.' Maka sambil tertawa Chi-yang berkata.
"Bocah, kau jangan sombong dulu, kalau kau bisa mengalahkan ketiga muridku ini, aku akan melepaskan dan membiarkanmu pergi."
Wu Ling-feng telah mendapatkan ilmu dari kakek gurunya, tapi dia belum pernah bertarung secara serius dengan musuh, sebenarnya hati kecilnya merasa takut dia berpikir.
"Aku akan coba dulu bertarung dengan empat anak buah Chi-yang, kalau aku menang aku baru akan memukul yang tua!" 1311 Chi-yang membentak.
"Yi He, ambil pedangku, bertarunglah dengan bocah itu, jangan membuat nama Wu Dang malu."
Dia memberikan pedang kepada pendeta bertangan kosong dan dia sendiri berjalan ke arah Jin Lao-da.
Wu Ling-feng merasa cemas, dia takut Chi-yang akan melukai Jin Lao-da, tubuhnya bergerak, dia sudah berada di depan Jin Lao-da tangannya mengayunkan pedang sambil berteriak.
"Semua boleh bertarung denganku!"
Kata-katanya belum selesai, di belakangnya terdengar suara BRUG, ternyata Jin Lao-da jatuh terduduk di bawah, dia sudah kehabisan tenaga, melihat pedang Wu Ling-feng yang berkilau, dia merasa pusing lalu jatuh terduduk.
Tiba-tiba dari dalam hutan berlari seorang bocah, dia menangis dan berteriak.
"Paman Jin, mengapa kau jadi begini?"
Jin Lao-da membuka matanya dan membentak.
"Peng Er, aku sudah menyuruhmu pergi, mengapa kau tidak mendengar kata-kataku?!"
Peng Er menangis.
"Paman Jin, aku tidak mau meninggalkanmu begitu saja di1312 sini, mati pun kita haru s bersama."
Melihat wajahnya yang merah dan penuh dengan air mata, tapi juga terlihat tegar, Jin Lao-da tahu menasihati Peng Er pun percuma, dengan lembut dia berkata.
"Peng Er, jangan menangis lagi, Paman Jin tidak akan meninggal-kanmu!"
Peng Er merasa senang dia menunjuk Wu Ling-feng yang siap bertarung dan berkata.
"Paman Jin, dia pasti akan menang."
Jin Lao-da melihat 3 pendeta sudah berdiri dalam 3 posisi, mereka mengelilingi Wu Ling-feng. Tiba-tiba pendeta yang ada di sebelah kiri berteriak.
"Awas seranganku!"
Dia menyerang kaki Wu Ling-feng.
Wu Ling-feng menghindar ke pinggir, dia tidak mundur malah menerjang maju, pedang panjangnya telah menotok pendeta yang ada di sebelah kanan.
Pendeta itu melihat pedang Wu Ling-feng datang secepat kilat, dia merasa sedikit takut lalu mundur.
Wu Ling-feng maju dengan pedang dia menepis musuh yang ada di depan dan belakangnya, begitu pedang dikeluarkan, tiba-tiba dia menariknya kembali, dia menyambut serangan pedang dari pendeta1313 yang ada di sebelah kiri.
Dasar ilmu Wu Ling-feng sangat kuat, apalagi tanpa sengaja dia telah memakan Xue Guo, maka tenaga dalamnya menjadi sangat kuat, kekuatannya dengan Xin Jie hanya berbeda sedikit, sekarang dia hanya menggunakan 50% tenaganya, dan dia berhasil menggetarkan pedang pendeta itu hingga terlepas.
Wu Ling-feng berputar-putar di tengah ayunan pedang para pendeta itu, 3 pedang kadang-kadang terlihat hampir menusuknya, tapi dengan ringan dia berhasil menghindar.
Chi-yang yang berdiri di sisi semakin melihat mereka bertarung dia merasa semakin gentar, dia berpikir.
"Bocah ini lebih kuat dari ayahnya, ilmu pedangnya lebih lancar dan ganas, padahal dia masih begitu muda, mengapa dia bisa mencapai ilmu begitu tinggi?"
Jin Lao-da pun melihat tubuh Wu Ling-feng yang bergerak seperti angin, jurus-jurusnya mengalir seperti sungai tanpa henti.
Kakinya melangkah dengan cara Ba Gua, sikapnya terlihat santai, sama sekali tidak terlihat sedang menghadapi1314 musuh.
Dalam hati Jin Lao-da sudah tahu kalau Wu Ling-feng menguasai ilmu 'Duan Hun Jian' milik Tai Ji Men, dia juga berpikir.
"Kalau bukan karena harus melindungi-ku dan Peng Er, dari posisi bertahan lalu menyerang, ketiga pendeta busuk itu sejak tadi pasti sudah roboh."
Dia melihat ke arena pertarungan kembali, sekarang posisi Wu Ling-feng sudah berada di atas angin, pedangnya bergerak ke kiri dan ke kanan membuat ketiga pendeta itu terus berkeringat, untuk menjaga keselamatan sendiri pun sudah tidak sanggup, apalagi harus menyerang Wu Ling-feng?
Tiba-tiba Wu Ling-feng menendang, membuat seorang pendeta jatuh tersungkur, tangan kanannya mengeluarkan jurus 'Duan Hun Jian Fa' terakhir, terdengar dua kali teriakan, dua pendeta telah terjatuh.
Ternyata 3 jurus Wu Ling-feng membuat tiga pendeta itu merasa silau, dan wajah mereka terasa dingin, tiba-tiba kaki terasa mati rasa, ternyata mereka telah ditotok.
Jin Lao-da melihat semuanya dengan jelas, dia berpikir, 'Dengan 3 jurus tadi1315 seharusnya tiga pendeta itu langsung mati di bawah pedangnya, tapi pemuda itu malah menarik kembali pedangnya dan mengubahnya menusuk kaki tiga pendeta itu.
Pemuda tampan yang berilmu silat tinggi itu pasti memiliki hati yang baik."
Wajah Chi-yang tampak pucat, dia maju dan membuka totokan ketiga anak muridnya, dia ingn membalaskan dendam muridnya.
"Paman Jin, benar bukan pendapatku?"
"Tentang apa?"
Tanya Jin Lao-da.
"Menurutku dia pasti bisa mengalahkan pendeta-pendeta busuk itu,"
Kata Peng Er. Jin Lao-da mengangguk tapi tidak menjawab. Diam-diam dia berpikir.
"Tenaga dalam Chi-yang sangat kuat, pemuda itu sepertinya mempunyai dendam kepada Chi-yang, kalau terjadi pertarungan di antara mereka, pemuda itu bisa terluka atau bahkan bisa mati. Chi-yang adalah pendeta yang tidak tahu malu, kalau dia bergabung dengan anak buahnya dan menyerang pemuda itu, keadaan pemuda itu akan sangat berbahaya. Sekarang aku sudah kehabisan tenaga tidak bisa membantunya, pemuda itu hanya akan membuat Chi-yang marah."
Jin Lao-da berkata.
"Penjahat Chi-1316 yang, kau tidak akan bisa mengalahkannya, lebih baik kalian mengeroyoknya!"
Chi-yang tahu itu hanyalah akal-akalan Jin Lao-da saja, tapi dia juga berpikir mengenai ilmu pedang Wu Ling-feng yang cukup tinggi, tapi untuk tenaga dalam, Wu Ling-feng tidak akan bisa menang darinya, karena dia telah berpuluh-puluh tahun melatih ilmu 'Hun Yuan Yi Qi Tian Gong' yang sudah menyatu dengan jiwanya.
Setelah diperhitungkan matang-matang, dia membentak.
"Pengemis jahat, diam kau! Kalau aku mau membunuh bocah ini, tidak perlu dibantu orang lain!"
Setelah Wu Ling-feng berhasil mengalahkan ketiga pendeta itu, rasa percaya dirinya telah timbul, mendengar Chi-yang terus mengatakan kalau dia ingin membunuhnya, dia menjadi marah.
"Penjahat Chi-yang, tidak perlu menggerakkan lidah yang tidak bertulang, hari ini aku akan membuatmu mati di sini!"
Chi-yang benar-benar marah, dengan telapak kanannya dia menepis ke arah ketiak kanan Wu Ling-feng.
Wu Ling-feng tidak berani bertindak gegabah, saat akan bertarung jurus 'Kai1317 Shan San Shi Po Yu Quan' dikeluarkannya.
Setelah bertarung cukup lama, Chi-yang melihat Wu Ling-feng hanya mengeluarkan 10 jurus dan memakainya bolak balik, tapi tenaganya sangat besar.
Ilmu telapaknya memang bagus tapi selalu ditekan oleh tenaga Wu Ling-feng sehingga tidak bisa dikeluarkan semua.
Karena itu dia mulai merasa cemas, beberapa kali dia menyerang dengan jurus membunuh dan memaksa Wu Ling-feng mundur beberapa langkah kemudian dia mengeluarkan jurus terhebat dari Wu Dang yaitu 'Wu Ji Shen Gong Quan'.
'Wu Ji Shen Gong Quan' adalah jurus keras, segera angin dari kepalan terus terdengar, mereka bertarung dengan mempertaruhkan nyawa, maka mereka sangat berhati-hati, jurus yang dikeluarkan semakin cepat dan tenaganya semakin besar.
Jin Lao-da melihat Peng Er yang ada di sisinya, dia sedang melihat pertarungan itu tanpa berkedip, sikapnya seakan dia lah yang sedang bertarung.
Dalam hati Jin Lao-da mengeluh.
"Anak ini benar-benar masih kecil, dia tidak tahu bahaya ada di depan mata, pertarungan mempertaruhkan nyawa1318 ini menyangkut masa depan Gai-bang, kalau pemuda itu kalah, Lao Er tidak jelas nasibnya apakah sudah mati atau masih hidup, sedangkan tenaga dalamku belum pulih, Gai-bang pasti akan hancur oleh penjahat tua itu."
Perawakannya tinggi dan besar, tapi dia sangat teliti, karena tegang, membuat tangannya berkeringat dingin.
Mereka telah bertarung mencapai ratusan jurus, tenaga dalam Wu Ling-feng sangat kuat, dia tidak terlihat lelah, serangan Chi-yang sangat lihai, penjagaannya pun ketat, sepertinya dia juga tidak mudah dikalahkan, Wu Ling-feng sudah tidak sabar dan berpikir.
"Kalau tidak menggunakan serangan berbahaya sepertinya aku sulit bisa menang."
Karena dia sudah merasa tenaga dalam Chi-yang sangat kuat dan tidak berbeda dengan tenaganya, kalau mempergunakan jurus-jurus berbahaya mungkin dia akan kalah, maka dia pun menjadi ragu dan terus berpikir.
Tapi itu hanya berlangsung sebentar, dengan membentak Wu Ling-feng menutup kedua tangannya, dia mengeluarkan1319 sekaligus menarik kemudian tangan kiri secara horisontal berada di depan dadanya, tangan kanannya mengeluarkan jurus 'Kai Shan San Shi' dan 'Wu Gui Zao Hun' (tiga jurus membuka gunung, (lima, setan mencari roh).
Jurus Duan Hun Jian adalah jurus andalan Wu Zhao-yun, sekarang Wu Ling-feng menggunakannya dengan kepalan, tenaganya sangat besar, jurus-jurus itu tampak ganas dan pedas.
Chi-yang tidak menyangka kalau Wu Ling-feng akan merobah jurusnya yaitu keras melawan keras untuk memperoleh kemenangan.
Terpaksa kedua tangannya ditutup dan mundur satu langkah, dia pun siap mengeluarkan jurus keras.
Kepalan tangan kiri Wu Ling-feng diturunkan, tangan kanan dengan cepat ditarik kembali, ditarik dengan jarak di depan tubuh kurang lebih 7 inchi.
Tangan kiri membentuk lingkaran, kemudian dijulurkan.
Bersamaan waktu itu Wu Ling-feng mengeluarkan suara, yang artinya tenaganya telah terkumpul, suaranya seperti suara guntur menggelegar.
Juga seperti bisa1320 menghancurkan batu, benar-benar mengejutkan!
Di rapat Tai Shan, Chi-yang pernah bertarung dengan Wu Ling-feng, waktu itu dia merasa ilmu pedang Wu Ling-feng sangat bagus, tapi tidak membuatnya terancam.
Tapi baru saja setengah tahun berlalu, ilmu silat Wu Ling-feng sudah maju pesat, hal ini membuatnya terkejut.
Tapi dia berpikir kalau dia mempunyai tenaga dalam yang kuat dia tidak akan kalah begitu saja maka dia pun membentak, dengan satu tangannya dia mendorong keluar, itu adalah jurus 'Tui Zhang Wang Yue' (membuka jendela, melihat bulan).
Dua tenaga dalam besar itu beradu, Wu Ling-feng mengerahkan tenaga sepenuhnya, tapi dia merasa tenaga telapak Chi-yang sangat lembut, tenaga dalamnya seperti menyentuh kapas, tenaga dalam yang sudah dikeluarkan dan tidak bisa ditarik kembali.
Semua karena Chi-yang lebih berpengalaman dan licik, tampaknya Wu Ling-feng karena salah perhitungan, dia berada dalam bahaya.
Jin Lao-da yang berada di sisi karena merasa cemas dia membentak....
Pengalaman Wu Ling-feng belum1321 banyak, tapi dia bukan orang bodoh, secara reflek dia bergerak dengan cepat, disaat yang berbahaya dia mengalihkan tenaga telapaknya ke sebelah kiri lalu tubuhnya berputar ke kanan....
Terdengar suara besar kumandang, jurus Yu Gong Yi Shan' (laki-laki bodoh berpindah gunung) berobah arah kehutan.
Pohon-pohon yang ada di sana banyak yang tumbang, dia berputar 180 derajat, kemudian mundur, tangannya yang memegang pedang telah menanti.
Chi-yang melihat pohon pohon yang tumbang, dia merasa terkejut, dia tidak menyangka tenaga dalam Wu Ling-feng begitu hebat.
Wu Ling-feng mengambil nafas, kemudian dia mendekat dengan pedangnya, kali ini dia merasa tenang dan mantap, karena itu keberaniannya bertambah.
Dia mengeluarkan jurus andalannya yaitu Duan Hun Jian Fa, 3 jurus telah membuat Chi-yang mundur beberapa langkah.
Chi-yang marah tapi dia tidak bisa berbuat banyak, dia mulai mengeluarkan ilmu Wu Dang yaitu "
Qing Yun Jiu Shi' (awan hijau bergerak sembilan perubahan).1322 Chi-yang telah bersiap-siap merebut kemenangan.
Tapi Wu Ling-feng tidak memberikan kesempatan kepadanya, ilmu pedang Wu Ling-feng berada di atas Chi-yang, hanya saja Wu Ling-feng belum banyak pengalaman, setiap kali dia gagal mengambil kesempatan, hal ini membuat Jin Lao-da terus berkeringat.
Dalam pertarungan sengit itu, Pendeta Chi-yang terus menggunakan siasat curang, dia membuat Wu Ling-feng terkena tipuannya.
Wu Ling-feng bukan orang licik, tapi dia pintar, dia.
tahu apa maksud Chi-yang, maka dia terus maju....
Saat Chi-yang mengira Wu Ling-feng telah termakan tipuannya dia mengubah jurusnya, Wu Ling-feng segera mengeluarkan 'Wu Zhang Ba Cha' (garpu tanpa arah), dia telah berada di belakang Chi-yang, pedang pun diangkat dan siap ditusukkan....
Jin Lao-da merasa senang, dia mengira Chi-yang pasti akan terkena tusukan itu, dasar memang Chi-yang lebih berpengalaman, dengan tenang dia malah menyerang kaki Wu Ling-feng dan dengan jurusnya itu dia berbalik menyerang!1323 Karena jurus itu menggunakan seluruh tenaga, maka tenaga yang keluar bisa diperkirakan.
Wu Ling-feng terkejut, tangan kirinya segera melancarkan jurus 'Liu Ding Kai Shan' (enam orang membuka gunung) tangan kanannya tetap menusuk dengan mantap.
Terdengar bunyi keras, tubuh Wu Ling-feng sedikit mundur, tapi pedang di tangan kanannya masih terus dijulurkan, bagaimanapun cepatnya Chi-yang meloloskan diri tetap tidak akan sempat untuk menghindar, entah apa sebabnya pedang panjang Wu Ling-feng datang bergerak dengan lambat....
Chi-yang yang berpengalaman sudah meloncat, dan terdengar suara CES, ternyata punggung Chi-yang telah tergores dan darah langsung mengalir, tapi dia masih bisa lolos dari pedang Wu Ling-feng!
Ternyata sewaktu pedang Wu Ling-feng akan menusuk Chi-yang nuraninya yang tidak ingin membunuh memperingati hatinya, Wu Ling-feng adalah orang yang tidak suka membunuh, dia belum pernah membunuh.
Di depan matanya sekarang memang ada orang yang telah membunuh ayahnya, tapi sewaktu1324 dia akan menusuk musuhnya, tiba-tiba tumbul perasaan seperti itu, hal inilah yang menyebabkan jurusnya menjadi lambat!
Jin Lao-da pun bengong lalu melihat para pendeta Wu Dang yang telah melarikan diri mengikuti Chi-yang.
Wu Ling-feng menghela nafas, dia merasa tidak ada kelainan di tubuhnya, lalu dia melihat Chi-yang dan ketiga muridnya telah lari jauh!
Wu Ling-feng memang sangat ramah dan berhati baik, semenjak berkelana di dunia persilatan, dia tidak pernah membunuh orang, melihat Chi-yang yang sudah terluka, bisa saja dia mengejar dan membunuh Chi-yang untuk membalaskan dendam ayahnya, tapi dia tidak mau mengambil kesempatan ini.
Dia malah menghibur dirinya, dan berpikir.
"Masih banyak kesempatan jika ingin membunuhnya."
Sekarang dia percaya kalau dia bisa mengalahkan Chi-yang, tapi tidak dipungkiri ada sedikit rasa sesal di hatinya.
Peng Er melihat Wu Ling-feng berdiri dengan bengong, dia mengira Wu Ling-feng terluka dalam, dengan cemas dia bertanya,1325
"Apakah kau terluka?"
Wu Ling-feng menggelengkan kepala.
"Adik, kau tenang saja, penjahat itu mana mungkin bisa melukaiku. Paman Jin mu telah kehabisan tenaga, aku mempunyai obat Ling Quan'. Cepat kita minumkan kepadanya."
Dari balik dadanya Wu Ling-feng mengeluarkan 'Wan Nian Ling Quan' (mata air seribu tahun), lalu dia berjalan ke hadapan Jin Lao-dayang sedang duduk beristirahat.
Jin Lao-da telah menyaksikan Wu Ling-feng berhasil membuat Chi-yang terluka, dan melihat bagaimana dia dan murid-muridnya melarikan diri dari sana.
Hatinya yang tegang sekarang baru bisa tenang dan dia duduk bersila untuk mengatur nafas.
Melihat Wu Ling-feng berjalan menghampirinya, dia membuka mata bertanya.
"Siapakah nama Tuan?"
Dengan hormat Wu Ling-feng menjawab.
"Aku adalah angkatan muda Wu Ling-feng."
Lalu dia membuka tutup botol yang dibawanya lalu memberikannya pada Jin Lao-da.
"Ini adalah Wan Nian Ling Quan, khasiatnya sangat bagus, silakan Tetua1326 minum satu tetes!"
Melihat Wu Ling-feng tampak bersungguh-sungguh, Jin Lao-da pun tidak menolak tawarannya, dia segera mengambil botol itu dan minum satu tetes.
Dia merasa ada bau harum keluar dari botol itu, membuat dia bisa bernafas dengan lancar, dia lalu memejamkan mata lagi, mengatur nafas.
Tidak lama kemudian Jin Lao-da sudah bisa meloncat bangun, lalu menuntun Peng Er, dia memberi hormat.
"Pendekar Wu, Anda telah membantu Gai-bang melawan musuh yang kuat, juga telah melindungi ketua Gai-bang. Budi ini akan kami balas, semua murid-murid Gai-bang akan setia kepada Anda, biarpun menerjang api, kami akan tetap menuruti perintah Anda."
Wu Ling-feng dengan hormat berkata.
"Tetua Jin, jangan begitu, aku mempunyai saudara angkat bernama Xin Jie, dia sering menceritakan tentang Tetua Jin yang setia membela perkumpulan Gai-bang, membuat aku benar-benar kagum kepada Tetua!"
"Ternyata Pendekar Wu adalah saudara angkat Adik Xin, pantas ilmu silat Anda begitu tinggi, biarkan pengemis tua ini1327 memangil Anda dengan sebutan Adik Wu."
Meihat sikap Jin Lao-da yang begitu terbuka, dia segera bertanya.
"Ada dendam apa sebenarnya antara Gai-bang dan Wu Dang?"
"Ceritanya sangat panjang, sekarang lebih baik kita cari dulu Lao Er,"
Kata Jin Lao-da.
"Benar juga!"
Lalu mereka bertiga berjalan mencari Jin Lao Er.
Baru saja mereka berjalan 20 meter, terlihat Jin Lao Er sedang bersandar di sebuah pohon, matanya melotot, kedua tangannya seperti sedang mencengkram sebuah pedang, pedang itu seperti dilipat beberapa kali lipatan.
Melihat wajah Jin Lao Er yang pucat, Peng Er segera mendorong pundaknya.
"Paman Jin kedua, Peng Er datang!"
Jin Lao Er tidak menjawab, hal ini membuat Peng Er merasa aneh, dia ingin bertanya pada Paman Jin, terlihat Jin Lao-da hanya berdiri dengan terpaku, wajahnya tampak bergerak-gerak dan dia menggigit bibir bawahnya.
Wu Ling-feng telah tahu apa yang1328 terjadi, dia merasa sedih dan dia pun mengelus kepala Peng Er, lalu berkata.
"Peng Er, paman keduamu telah meninggal!"
Seperti disambar petir, Peng Er memeluk mayat Jin Lao Er dan terus menangis tersedu-sedu, usianya memang masih kecil, tapi dia telah mengalami beberapa kali perpisahan, apalagi dia melihat Paman Jin yang sudah dianggap sebagai ayahnya mati begitu mengenaskan.
Kesedihan di dalam hatinya sudah tidak bisa dibendung lagi, Wu Ling-feng yang berada di sisinya merasa sedih.
Wu Ling-feng melihat luka Jin Lao Er di punggung, ternyata luka ini karena dia diserang diam-diam oleh para pendeta Wu Dang itu.
Dia memegang pedang lalu menekuk pedang itu beberapa kali lipatan hingga bengkok.
Tapi telapaknya tidak terluka, itulah ilmu 'Yin Feng Zhang' yang terkenal, pedang itu tentu milik pendeta tadi.
Dia membalikkan tubuh melihat Jin Lao-da, sorot matanya hampa dan bengong, kelihatannya dia sangat sedih, Wu Ling-feng ingin menghiburnya, tapi tidak tahu apa yang harus dikatakannya.
Tiba-tiba Jin Lao-da tertawa panjang,1329 tawanya mewakili perasaannya, selama berpuluh-puluh tahun mereka akrab bagaikan hubungan kakak beradik, Mereka selalu bersama-sama, membuat nama mereka terkenal, mempunyai cita-cita sama membantu Gai-bang.
Bahkan mereka bersumpah tidak akan menikah dan tidak akan terpisahkan....
Tawanya semakin rendah, akhirnya dia menangis, air matanya setetes demi setetes berjatuhan.
Tiba-tiba Jin Lao-da berhenti menangis, dia mengelus-elus tangan Jin Lao Er yang besar dan sedang memegang pedang, dengan suara kecil dia berkata.
"Lao Er, jangan pergi, masih ada hal yang lebih menyulitkan menunggu kita, Lao Er, bersemangatlah! Apakah kau masih kuat?"
Dalam suara deru angin, dia seperti mendengar suara Jin Lao Er menjawab.
"Luka sedikit tidak apa, Kakak, hutang darah ini harus kita perhitungkan."
Jin Lao-da tertawa dengan gagah.
"Kita pasti akan menghajar mereka!"
Angin membawa tawa Jin Lao-da hingga jauh, angin membawa gema tawanya kembali, di hutan itu terdengar tawa Jin Lao-dayang1330 gagah.
Tiba-tiba dia memeluk mayat Jin Lao Er dan menarik tangan Peng Er, kemudian menundukkan kepala memberi hormat kepada Wu Ling-feng dan pergi menelusuri jalan di mana mereka datang tadi.
Ooo)*(ooO BAB 40 Bintang jatuh, perasaan mati Wu Ling-feng melihatnya dengan sedih, keadaannya sangat kacau dan risau.
Wu Ling-feng mengkhawatirkan keadaan mereka, maka dia pun mengejar Jin Lao-da dengan ilmu meringankan tubuhnya yang tinggi.
Mereka bertiga memasuki sebuah kuil, Jin Lao-da memapah mayat Jin Lao Er di bahunya, dia berlutut dan memunggungi mereka berdua, lalu berdoa.
"Kakek Guru, bukan aku murid Gai-bang yang mau melanggar sumpah, melainkan penjahat tua itu terus memaksaku, padahal aku telah bersumpah tidak akan mau mengurusi hal tentang Gai-bang lagi, tapi karena ketua Gai-bang sekarang masih kecil, ilmu silat juga belum dikuasainya dengan benar, kalau aku lepas tangan begitu saja meninggalkan ketua kecil ini, maka perkumpulan besar1331 yang telah ratusan tahun didirikan oleh kakek guru akan hancur begitu saja. Demi kelanjutan Gai-bang, murid terpaksa mengingkari sumpah."
Selesai berdoa dia membalikkan tubuh lalu dengan serius berkata pada Peng Er.
"Ketua, aku, Jin Lao-da, telah mengambil keputusan penting, aku akan masuk kembali menjadi anggota Gai-bang, berilah aku jabatan sebagai penegak hukum Gai-bang lagi!"
Peng Er menggelengkan kepala.
"Paman Jin, jangan memanggilku begitu, aku.... mana pantas aku menjadi ketua Gai-bang."
Peng Er masih seorang anak, begitu mendengar Paman Jin menyuruhnya menjalankan tugas sebagai ketua, dia merasa takut. Jin Lao-da dengan tegas berkata.
"Ketua terdahulu saat memberikan jabatan ketua kepadamu, apakah kau masih ingat pesannya?"
Peng Er melihat Jin Lao-da begitu serius, hal ini membantunya, maka keberaniannya pun bertambah, dia berkata.
"Paman Jin, maafkan aku yang bodoh ini, kalau memberikan jabatan kepada Paman1332 sebagai penegak dan pelindung Gai-bang, harus dengan cara seperti apa?"
Jin Lao-da lari dan memetik sebuah tangkai pohon, kemudian dia berkata lagi pada Peng Er.
"Pegang ranting ini, kemudian pukul dua kali di bahuku dengan ringan, kemudian umumkan bahwa Jin Lao-da telah menjadi penegak hukum dan pelindung Gai-bang generasi ke-16. Sebenarnya upacara pengangkatan ini sangat penting dan harus megah, dulu pesilat utara selalu diundang untuk menyaksikan upacara ini. Hhhhh, sekarang.... sekarang kita hanya bisa mengundang Adik Wu menjadi saksi!"
Peng Er melihat kesedihan Jin Lao-da dari wajahnya, tapi sikapnya sangat serius, dia tahu kalau Paman Jin pasti sedang mengenang saat dia dan saudaranya diangkat pertama kalinya menjadi pelindung dan penegak hukum Gai-bang.
Karena takut Paman Jin akan bersedih kembali, maka dia segera berkata.
"Paman Jin, kita mulai sekarang."
Jin Lao-da mengangguk, dia berlutut di hadapan Peng Er. Peng Er terkejut, dia ingin memapah Jin Lao-da berdiri, Jin Lao-da telah1333 berkata.
"Ini adalah peraturan Gai-bang secara turun temurun, Ketua tidak boleh melanggarnya."
Dengan terpaksa Peng Er menggunakan ranting pohon itu mengetuk kedua bahu Jin Lao-da dan berkata dengan tegas.
"Ketua Gai-bang ke-16, Li Peng mengundang Jin.... Paman Jin menjadi pelindung dan penegak hukum ketua Gai-bang."
Dia tidak tahu nama asli Jin Lao-da dan telah terbiasa memanggilnya Paman Jin, maka dia pun terlepas memanggilnya dengan sebut-an 'Paman Jin'.
Mendengar nada bicaranya yang masih seperti anak-anak tapi bisa bersikap serius serta gagah, benar-benar tampak seperti seorang ketua, Wu Ling-feng mengangguk.
Jin Lao-da berdiri dan berkata pada Wu Ling-feng.
"Adik, apakah kau dan Penjahat Chi-yang menyimpan dendam?"
Wu Ling-feng mengangguk.
"Dia adalah salah satu orang yang telah membunuh ayahku!"
Jin Lao-da berpikir sejenak, tiba-tiba berkata.
"Di dunia persilatan beredar kabar kalau Qi-mao Shen-jun, Mei Shan-ming dan He Luo Yi Jian, Wu Zhao-yun telah dibunuh1334 oleh Chi-yang dari Wu Dang, Ku An Shang-ren dari E Mei, dan Li-e dari Kong-dong. Adik Wu, kau bermarga Wu, apa hubunganmu dengan Pendekar Wu?"
Dengan serius Wu Ling-feng menja-wab.
"Beliau adalah ayahku."
Jin Lao-da menarik nafas.
"He Luo Yi Jian dan ketua Gai-bang dulu adalah sahabat baik, mereka berdua selalu menegakkan keadilan di dunia persilatan. Hhhh, tidak disangka mereka berdua bersama-sama dibunuh oleh penjahat dengan cara keji!"
Wu Ling-feng bertanya.
"Mengapa perkumpulan kalian bisa menaruh dendam dengan Chi-yang?"
"Sepuluh tahun yang lalu, waktu itu dunia persilatan telah muncul 2 orang aneh, yang satu adalah Qi-mao Shen-jun, sedangkan yang satu lagi adalah ayahmu. Ilmu silat mereka berdua sangat tinggi, apalagi ayahmu, dia berpandangan lurus dan jujur, maka beliau sangat berwibawa. Nama besar ayahmu sepertinya telah menutupi nama dari empat ketua perkumpulan itu."
Wu Ling-feng pernah mendengar tentang hal ini dari pelayan tua setia ayahnya, dia menyambung.
"Karena keempat1335 ketua itu sangat sombong, cemburu dan juga karena ingin mempertahankan nama harum mereka, maka mereka bergabung menghadapi Qi-mao Shen-jun dan ayahku."
Jin Lao-da mengangguk.
"Hal ini terjadi saat empat ketua bergabung menantang Qi-mao Shen-jun, akhirnya Pendekar Mei 'mati' di tangan mereka. Lalu mereka berempat dengan terburu-buru meninggalkan tempat pertarungan. Tapi salah satu dari empat ketua itu yaitu Li-e dari Kong-dong-pai, tanpa sengaja telah menjatuhkan sarung pedangnya di arena pertarungan dan secara kebetulan dipungut oleh salah seorang murid Gai-bang yang saat itu sedang bersembunyi di balik batu."
Dalam hati Wu Ling-feng berpikir, 'Pantas Chi-yang terus memaksa ingin mengambil kembali sarung pedangnya yang dipegang oleh Jin Lao-da.
Itu adalah milik Li-e mengapa Chi-yang begitu berambisi mengambilnya kembali?' "
Sebenarnya sarung pedang itu tidak memiliki keistimewaan sama sekali, sarung itu dipungut oleh seorang murid Gai-bang karena dia melihat ukiran di atas sarung pedang itu sangat bagus dan mengesankan1336 cita rasa seni, karena sekedar iseng maka dia pun mengambilnya.
Tidak disangka selama 2 tahun ini, di dunia persilatan telah beredar kabar, tetua dunia persilatan Pendekar Mabuk yang memiliki ilmu silat tinggi telah menulis sebuah buku berukuran kecil yang di dalamnya berisi tentang ilmu-ilmu yang dimilikinya, dan buku itu disimpannya di sebuah sarung pedang, dan sarung itu berada di tangan Gai-bang.
Kabar itu semakin menyebar, murid Gai-bang ini tiba-tiba teringat pada sarung pedang yang dipungutnya 10 tahun lalu ciri-cirinya sangat mirip dengan sarung pedang yang disebut-sebut dalam kabar itu.
Maka dia pun segera menyerahkan sarung pedang itu kepada ketua Gai-bang terdahulu.
Ketua terus mengamati sarung itu dengan teliti tapi tidak menemukan keanehan pada sarung pedang itu.
Tapi mengingat kembali kabar yang beredar di dunia persilatan, dia sedikit terpengaruh dan percaya, maka dia pun menyimpan sarung pedang itu dan membawa ke mana pun dia pergi."
"Lalu Li-e mendengar tentang kabar ini, setelah dipikir-pikir dia yakin kalau itu adalah sarung pedangnya yang telah1337 hilang 10 tahun lalu, dia merasa menyesal dan juga timbul kebencian di hatinya. Dia sadar selama hidupnya dia telah banyak berbuat dosa, di masa tuanya sekarang ini, pasti akan ada banyak pesilat tangguh mencarinya, karena itu dia terus memperdalam ilmu silat perkumpulannya dan saat itu juga dia berlatih ilmu aneh dan sesat. Semua ini dilakukannya untuk mempersiapkan diri melawan musuhnya, kalau benar di dalam sarung pedang itu tersimpan catatan ilmu silat dari pendekar besar, dia tidak akan melepaskan kesempatan ini, karena itu dia selalu mencari Gai-bang dan mencari gara-gara supaya dia bisa mendapatkan kesempatan mengambil kembali sarung pedang itu."
"Kemudian ketua kami pada malam hari diserang secara diam-diam, dan membawanya ke sebuah gunung terpencil. Aku dan Lao Er saat itu sedang berada di Shan Dong untuk membereskan suatu masalah, sebelum ketua kami menghembuskan nafas terakhirnya, beliau bertemu dengan Peng Er yang saat itu secara kebetulan lewat di sana, ketua segera memberikan sarung pedang dan plakat perintah Gai-bang kepada ketua kecil kami.1338 Li-e dengan cepat mendengar kabar ini, dia tahu kalau sarung pedangnya sekarang berada di tangan ketua kecil kami. Dia segera turun gunung, kebetulan di Gai-bang bagian utara muncul beberapa orang pengkhianat, mereka pun mengambil ksempatan saat ketua terdahulu baru meninggal dan ketua baru masih kecil, mereka ingin merebut posisi sebagai ketua Gai-bang dan mereka bergabung dengan Li-e, menyerang saudaraku dan Peng Er. Adikku melihat musuh terlalu banyak diam-diam dia menyuruh ketua kecil ini pergi ke selatan seorang diri untuk mencari ketua cabang Gai-bang di selatan. Aku dan Lao Er sengaja membuat musuh dan pengkhianat mengejar kami, supaya ketua kecil kami bisa diam-diam pergi. Tidak disangka rencana kami diketahui mereka, saat aku dan saudaraku merasa situasi semakin runyam, akhirnya kami memutuskan untuk menyusul ketua kecil, ternyata ketua terluka dan melarikan diri ke sebuah kuil. Untung kami bertemu Adik Xin, dia membantu kami, sehingga nyawa ketua kecil kami tertolong."
"Mengapa Chi-yang bisa ikut-ikutan meminta sarung pedang itu?"1339 Jin Lao-da menggelengkan kepala.
"Gai-bang dan Wu Dang tidak pernah berselisih, sewaktu ketua terdahulu masih hidup, beliau memberitahu kalau Chi-yang sangat sempit pikirannya dan dia sering kali merasa iri, maka aku memerintahkan murid-murid Gai-bang jangan sampai bentrok dengan murid-murid Wu Dang dengan tujuan supaya tidak membuat banyak kerewelan, anehnya Chi-yang berani-beraninya membunuh Lao Er, mungkin karena dia telah bergabung kembali dengan Li-e!"
Sebenarnya saat di Gui Shan, di ruang Wu Wei, Chi-yang melihat ilmu silat Xin Jie sangat tinggi, dia bisa mengalahkan musuh sekuat Jinlul.
Dia belum pernah melihat gaya ilmu silatnya, maka dia pun terkejut, mengingat kalau Xin Jie pasti akan membalas dendam kepadanya, maka dia pun tidak tahan dan tanpa meiihat peraturan dunia persilatan dia ingin merebut sarung pedang untuk kepentingannya sendiri.
Setelah mendengar cerita Jin Lao-da, Wu Ling-feng terdiam, tapi dalam hati dia terus berpikir.
"Sudah sebulan lebih ini aku mengelilingi He Nan dan Shan Dong,1340 tapi aku tidak melihat sosok A Lan, kedua matanya buta, dunia persilatan penuh dengan tipu daya, benar-benar berbahaya untuknya, kalau saja aku bisa mencarinya dengan tenagaku sendiri, tapi ini sangat sulit seperti mencari sebuah jarum di dalam tumpukan jerami, sampai kapan aku baru bisa menemukannya? Adik Jie pernah mengatakan kalau murid-murid Gai-bang tersebar di mana-mana, kalau aku meminta bantuan kepada mereka membantuku mencari A Lan, mungkin ada harapan lebih banyak!"
Dia ingin bertanya pada Jin Lao-da, tiba-tiba dia ingat.
"Sekarang Gai-bang sedang menghadapi banyak masalah, aku telah menanam budi, kalau aku membuka suara meminta bantuan kepada mereka, Jin Lao-da pasti akan malu kalau sampai menolak permintaanku. Sudahlah! Sudahlah! Untuk apa aku menyusahkan orang lain? Aku telah berjanji pada A Lan untuk selalu menemani bibi dan dia, aku.... entah dia ada di mana, aku harus tetap mencarinya, kalau dia telah tiada, aku.... aku juga akan mengikutinya pergi. Yang penting di dunia ini tidak ada yang bisa memisahkan kami berdua." 1341 Sinar bulan menyinari kusen jendela yang telah lapuk, Jin Lao-da melihat wajah Wu Ling-feng yang mengeras.... walau pun hanya sebentar tapi Jin Lao-da telah merasakan ada rasa dingin yang amat.... Tiba-tiba Wu Ling-feng berkata.
"Besok kita akan melanjutkan perjalanan, lebih baik kita istirahat dulu."
Peng Er mengangguk, dia melihat Jin Lao-da yang sedang bengong menatap lampu, dia berkata.
"Paman Jin, ayo kita tidur!"
Jin Lao-da mengangguk, dia memadamkan lampu tempel, kemudian dia berdiri lalu perlahan berjalan mendekati dinding.
Di bawah cahaya bulan terlihat bayangannya yang kaku, tapi bayangan yang ada di belakangnya besar dan mengejutkan siapa pun.
Ooo)*(ooO Hari kedua, Wu Ling-feng berpamitan secara buru-buru kepada Peng Er dan Jin Lao-da.
Dia sangat menghormati Jin Lao-da, dan juga mulai menyayangi Peng Er.
Tadinya dia ingin tinggal lebih lama bersama mereka, tapi begitu melihat Jin Lao-da akan menguburkan Jin Lao Er, maka dia pun1342 memutuskan melanjutkan perjalanan.
Dalam hati Wu Ling-feng berpikir.
"Mulai hari ini, dua saudara yang tidak pernah terpisahkan akan berpisah selamanya, hal ini benar-benar sangat menyedihkan! Seumur hidupku hari menggembirakan sangat sedikit kurasakan.... mungkin selamanya tidak akan pernah kurasakan, dan hari-hari yang menyulitkan sepertinya tidak ada habis-habisnya menekanku, beban berat membuatku sesak nafas. Untuk apa aku menyaksikan sebuah perpisahan yang begitu memilukan?"
Rencana awal, Wu Ling-feng seharusnya sudah berada di kota Luo Yang.
Hari sudah siang, dia mencari sebuah rumah makan bersih, semua orang tampak sedang makan, tanpa sengaja dia melihat ke arah tangga, Wu Ling-feng merasa aneh, ternyata di ujung tangga berdiri seorang gadis berusia sekitar 15-16 tahun.
Wu Ling-feng melihat mata nona itu dalam seperti sebuah danau, bening seperti air di musim gugur.
Wajahnya putih seperti giok, pipinya bersemu merah seperti apel, tawanya masih terlihat polos.
Rumah makan itu mendadak hening,1343 semua seperti terpukau dengan kecantikan gadis itu.
Wajannya terlihat tenang dan kecantikannya sulit dilukiskan.
Para tamu tua di rumah makan itu berpikir.
"Kalau aku mempunyai putri yang begitu cantik dan lucu, tentu akan sangat menyenangkan!"
Sedangkan tamu-tamu muda kebanyakan berpikir.
"Kalau aku mempunyai adik begitu lucu tentu akan sangat menyenangkan...."
Mereka tidak memikirkan hal lainnya, kecantikan gadis itu membuat para tamu di sana menghormatinya karena gadis itu terlihat anggun.
Wu Ling-feng pun merasa gadis itu sangat lucu, dia terus melihat gadis itu, sepertinya gadis itu merasakan tatapan Wu Ling-feng dan dia pun tersenyum lalu berjalan ke depan Wu Ling-feng.
"Hei, mengapa kau terus melihatku? Apakah kau tahu di mana Kakak Xin?"
Wu Ling-feng tahu saat itu sorot mata para tamu sedang melihat mereka, maka dia pun merasa jengah dan tidak mendengar apa yang ditanyakan gadis itu. Wu Ling-feng bertanya lagi.
"Kau, kau tadi menanyakan apa?"
Tadinya gadis itu siap marah karena1344 Wu Ling-feng tidak mendengar pertanyaanya, wajahnya mulai terlihat merah, tapi dia segera berusaha menahan diri, lalu dengan lembut berkata.
"Aku tanya, apakah kau pernah melihat Kakak Xin? Dia.... dia bermata besar...."
Wu Ling-feng segera bertanya.
"Apa? Apakah yang kau maksud adalah Adik Xin Jie?"
Gadis itu langsung tertawa manis, dia terlihat gembira dan berkata.
"Benar.... dia.... dia adalah Kakak Xin Jie, apakah dia adalah adikmu? Ini sangat baik, tolong bawa aku menemuinya."
Rumah makan menjadi ramai, tamu tua tersenyum mengerti, mereka merasa kalau gadis itu seperti sekuntum bunga teratai putih, sangat bersih dan suci, sedangkan pemuda itu tampan dan gagah, mereka sangat serasi, mereka ikut merasa senang.
Para pemuda yang melihat gadis itu mengobrol dan bercanda dengan pemuda tampan itu, mereka merasa iri.
Tapi saat melihat sorot mata Wu Ling-feng tampak berkilau, lalu membandingkan dengan mereka sendiri akhirnya timbul pikiran kalau mereka tidak memiliki separuh dari1345 ketampanan Wu Ling-feng.
Saat mendengar gadis itu terus bertanya tentang keadaan laki-laki lain, mereka merasa aneh dan berpikir.
"Siapa pemuda yang bernama Xin Jie? Gadis ini begitu cantik, kalau .... kalau dia memperhatikan aku yang hanya memiliki setengah dari ketampanan pemuda itu, disuruh mati sekarang pun aku rela."
Pemuda yang ada di rumah makan itu terus melihat Wu Ling-feng dengan pandangan tidak senang, mungkin makna pandangan mereka adalah.
"Bocah, jangan sombong kau, di dalam hati gadis itu telah ada pemuda lain."
Wu Ling-feng tidak mempedulikan sorot mata mereka, dengan suara kecil dia bertanya.
"Apakah kau bermarga Jin? Atau bermarga Fang?"
Mata besar gadis itu tampak berputar, dengan aneh dia bertanya.
"Aku bermarga Zhang. Hei, mengapa kau menanyakan apakah margaku adalah Jin atau Fang?"
Melihat wajah gadis itu menyiratkan kecurigaan, Wu Ling-feng terkejut dan berpikir.
"Nona ini begitu memperhatikan Adik Xin, saat Adik Xin terluka berat kemarin ini, dia sempat mengigau memanggil1346 nama gadis ini, aku tidak boleh mengatakannya, nanti malah akan melukai perasaan gadis ini."
Wu Ling-feng tertawa.
"Aku.... aku mempunyai seorang teman, dia bermarga Fang, dan dia sangat mirip denganmu."
Begitu melihat gadis ini, dia langsung merasa dekat, dia merasa ingin melindunginya dan membuat gadis itu merasa aman berada di dekatnya.
Karena itu dia terpaksa berbohong kepada gadis ini.
Ternyata gadis ini adalah Qing Er yang melarikan diri dari Wu Ji Dao, semenjak ikut ayahnya yang bernama Wu Hen-sheng dan ibunya yang bernama Jiao Qi-niang meninggalkan Wu Ji Dao lalu tiba di Zhong Yuan, walau dia buru-buru kembali ke pulau, tapi dia masih tertarik dengan keadaan di Zhong Yuan, apalagi setelah dia berkenalan dengan seorang kakak yang bermata besar.
Saat teringat kembali pada kakak yang bermata besar, dia merasa hatinya bertambah senang.
Kemudian dia dan ibunya tertangkap oleh Yu Gu-mo dan mereka ditotok.
Sewaktu totokan mereka dibuka oleh Wu Hen-sheng, pertama yang dilihatnya adalah sepasang1347 mata besar....
sepasang mata yang penuh pengertian dan penuh dengan perasaan.
Walaupun dia tidak mengerti dengan artinya tapi dia merasa sangat gembira dan perasaannya menjadi manis.
Saat ayah dan ibunya kembali lagi ke Wu Ji Dao, dia tidak mau.
Setelah tinggal di pulau itu kembali, yang dia ingat hanya kakak bermata besar itu.
Akhirnya dia tidak tahan begitu ayah dan ibunya lengan, diam-diam dia melarikan diri dari Wu Ji Dao.
Sebenarnya dia tidak tahu nama lengkap Xin Jie, hanya saja tanpa sengaja dia mendengar ayahnya pernah menyebut nama itu, dan dia pun menyimpan nama itu di hatinya.
Sepanjang perjalanan saat bertemu dengan orang-orang dia selalu bertanya.
"Dimanakah Kakak Xin?"
Dia seperti sedang membuat suatu lelucon mungkin hal ini disebabkan karena sejak kecil bertumbuh di pulau terpencil dan selalu dilindungi oleh ayah dan ibunya, apa yang terjadi di dunia ini dia tidak mempunyai gambaran sama sekali.
Kalau menginap atau makan di rumah makan, dia selalu meninggalkan tempat itu begitu saja.
Orang-orang yang melihatnya begitu polos1348 dan lucu, serta cantik pula, maka mereka pun tidak tega mencari ribut dengannya, maka sepanjang jalan dia tidak pernah mengalami kesulitan.
Hari ini di sebuah rumah makan, dia melihat Wu Ling-feng terus menatapnya, apalagi Wu Ling-feng adalah seorang pemuda tampan maka dia pun mendekati Wu Ling-feng dan menanyakan Xin Jie.
Dan kali ini dia tepat bertemu dengan orang yang mengenal Xin Jie.
Qing Er bertanya.
"Sekarang Kakak Xin ada di mana?"
Jawab Wu Ling-feng.
"Adik Jie ikut dengan Pin Fan Shang-ren pergi ke Da-ji-dao."
Qing Er tertawa senang.
"Ternyata dia ikut dengan Paman Biksu ke Dong Hai, ilmu silat Paman Biksu sangat tinggi!"
Wu Ling-feng mendengar Qing Er memanggil Pin Fan Shang-ren dengan sebutan 'paman biksu', dia tertawa dan berpikir.
"Gadis ini sangat polos, dia tidak berniat jahat."
Tapi begitu mendengar kalau gadis ini dan Adik Jie saling mengenal, dia merasa cemas dan timbul perasaan tidak suka, dia1349 merasa cemburu.
"A Lan, A Lan, aku dan Nona Su hanya kenal sepintas, mengapa kau harus marah dan pergi begitu saja?"
Begitu teringat pada A Lan, dia merasa hatinya sakit, dan dia pun terdiam tidak mengatakan apa pun lagi. Kata Qing Er.
"Hei, mengapa kau terlihat tidak gembira? Apa margamu?"
"Aku bermarga Wu, namaku adalah Ling Feng!"
"Aku adalah Zhang Qing, kau bisa memanggilku Qing Er."
"Xin Jie sudah pergi hampir satu bulan, sekarang mungkin sudah kembali."
"Sekarang aku akan menyusulnya ke Da-ji-dao, apakah kau mau ikut denganku?"
Tanya Zhang Qing. Wu Ling-feng memang akan pergi ke He Nan untuk mengunjungi seseorang dan ternyata perjalanannya satu arah dengan Qing Er, maka dia pun berkata.
"Aku hanya bisa menemanimu sampai di perbatasan Jiang Su."
"Baiklah, kita berangkat sekarang saja,"
Kata Qing Er.
Wu Ling-feng membayar arak dan makanannya, dia siap pergi bersama dengan1350 Qing Er.
Sepanjang perjalanan Qing Er selalu menceritakan tentang keadaan di Wu Ji Dao, di sana ditanami banyak bunga, bisa menangkap ikan, menangkap burung, menanam rumput, dan lainnya.
Sejak Wu Ling-feng meninggalkan bibi dan A Lan, setiap hari dia selalu berhadapan dengan senjata, sekarang mendengar cerita Qing Er, dia merasa kalau itu merupakan suatu hiburan baginya.
Kata Qing Er lagi.
"Wu Ji Dao sangat luas, di sana banyak bunga indah, yang tinggal di sana hanya ayah, ibu, dan aku. Seharian ayah selalu berlatih silat, kalau tidak ayah pasti membaca buku, aku hanya bermain bersama ibu. Kapan-kapan kau harus datang ke sana bersama dengan Kakak Xin dan tinggal di sana selama beberapa bulan untuk menemaniku bermain, bukankah itu akan sangat menyenangkan?"
Melihat wajahnya yang memohon, Wu Ling-feng dengan cepat berkata.
"Aku pasti akan mengunjungimu."
Qing Er menghela nafas.
"Tanpa alasan rasanya ayahku tidak suka kepada Kakak Xin, aku takut ayah tidak akan1351 mengijinkanku bermain bersama Kakak Xin."
"Oh tidak! Adik Xin sangat pintar, ilmu silatnya tinggi, pasti ayahmu akan menyukainya."
Qing Er mendengar Wu Ling-feng terus memuji Xin Jie sebagai orang terbaik di dunia ini. Tiba-tiba Wu Ling-feng berkata.
"Ayahmu adalah salah satu dari Hai Wai San Xian, ilmu silatnya pasti tinggi, kau begitu pintar, ayahmu pasti telah mengajarkan banyak ilmunya kepadamu."
"Ayah sering marah-marah, aku pun berlatih silat tidak sungguh-sungguh, ibu sering mengatakan kalau anak perempuan jangan bertarung dengan orang lain, dan ilmu silat pun tidak perlu tinggi-tinggi, maka ayah hanya mengajarkan ilmu meringankan tubuh saja."
Wu Ling-feng memuji.
"Pasti ilmu meringankan tubuhmu sangat tinggi."
Qing Er tertawa senang.
Mereka melakukan perjalanan di pagi hari dan menginap kalau sudah malam.
Dan mereka pun menjadi akrab.
Wu Ling-feng seperti seorang kakak yang selalu melindungi Qing Er.
Dia tidak mau kalau1352 Qing Er sampai terluka.
Setelah beberapa hari melakukan perjalanan, Qing Er mengomel karena berjalan melewati jalan besar sangat lama, akhirnya dia dan Wu Ling-feng berjalan melewati gunung, dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh mereka berjalan melewati pegunungan He Nan yang berliku-liku, tapi itu bukan hambatan bagi mereka.
Hari ini mereka tiba di Su Zhou, dan tempat itu berada di dekat laut, hari sudah malam, mereka beristirahat di sebuah gua.
Sekarang adalah musim dingin.
Udara yang berhembus sangat dingin.
Wu Ling-feng mencari ranting pohon untuk membuat api unggun.
Qing Er dari dalam tasnya mengeluarkan makanan kering, dia membagi separuh untuk Wu Ling-feng.
Lalu mereka pun mendekati api unggun dan mulai makan.
Melihat Qing Er terus diam, cahaya api unggun menyinari wajahnya kecilnya menjadi kemerahan.
Mulut kecilnya terlihat cemberut dan dia tampak tidak bersemangat.
Wu Ling-feng tahu kalau Qing Er sedang tidak enak hati, karena besok mereka akan berpisah.
Wu Ling-feng berpikir.
"Gadis ini1353 benar-benar baik, nasib Adik Jie memang bagus, lain kali kalau bertemu dengan Adik Xin aku akan menasihatinya untuk tetap setia kepada gadis ini. Tidak adayang lebih lucu dari Qing Er."
Wu Ling-feng memikirkan A Lan lagi.
"Hanya A Lan yang bisa menyainginya."
Bintang pertama telah muncul, bulan pelan-pelan muncul di tengah langit.
Wu Ling-feng membuka bungkusan kain yang selalu disimpannya di balik baju, dia mengeluarkan sehelai surat, telah berkali-kali dia membaca surat itu .
"Kakak, aku tidak marah kepadamu.... Nona Su adalah seorang nona yang sangat baik, dia benar-benar menyukaimu, jika kau dekat dengannya, tidak perlu mengkhawatirkan aku yang hanya seorang gadis bodoh. Kakak, aku akan pergi jauh, tapi Kakak, A Lan akan tetap menjadi milikmu, di luar sana aku tetap akan selalu mendoakan Kakak...."
Wu Ling-feng telah membacanya berkali-kali, dia terus berpikir hari itu kecuali Nona Su, yang lainnya dia tidak ingat apa pun.
"A Lan hanya meninggalkan surat dan1354 pergi begitu saja, pasti dia mendengar aku sedang berkata mesra kepada Nona Su, tapi aku sendiri tidak ingat apa-apa. Apakah karena waktu itu aku telah minum arak dan mabuk, sehingga telah melakukan hal yang tidak sopan?"
Semakin dipikir, dia merasa semakin takut dia malah menjadi tidak percaya kepada dirinya sendiri, dalam hati dia berpikir.
"Kalau begitu, aku juga telah bersalah kepada Nona Su."
Tiba-tiba Qing Er berkata.
"Kakak Wu, lihat apa itu?"
Terlihat ada sebuah bintang jatuh, dan di langit ada segaris cahaya terang.
"Itu adalah bintang jatuh,"
Jawab Wu Ling-feng. Qing Er mengangguk dan berpikir.
"Ibu sering berkata bila ada bintang jatuh berarti ada dewa yang turun ke bumi, mengapa dewa tidak mau menjadi dewa lagi malah ingin turun ke bumi ini. Dewa itu apakah perempuan atau laki-laki?"
Kemudian dia berpikir lagi.
"Sewaktu aku masih kecil, aku tidak mengerti apa-apa, setiap hari pikiranku hanya ingin bermain dan ingin dibacakan dongeng oleh1355 ibu. Kalau merasa lelah aku akan tidur di padang rumput, kalau lapar tinggal memetik buah, tidak perlu memusingkan apa pun. Hanya saja sewaktu ayah memaksaku belajar ilmu silat, aku melihat wajah ayah dilipat, baru aku merasa takut. Tapi kali ini saat aku kembali ke Wu Ji Dao, semua yang ada di sana tidak membuatku tertarik lagi, aku hanya ingat pada Kakak Xin saja. Aku khawatir kalau dia tidak mau dekat denganku lagi, aku benar-benar merasa risau. Hhhh, semakin dewasa hidup seseorang semakin tidak tenang, apakah pendapatku benar?"
Dia melihat Wu Ling-feng, kelihatannya Wu Ling-feng sedang memegang sehelai kertas, wajahnya terlihat sedih, diam-diam dia mendekati Wu Ling-feng.
"Kakak Wu, kau sedang membaca apa?"
Wu Ling-feng terkejut, surat A Lan segera disimpan lagi, dia tertawa dengan terpak-sa.
"Tidak ada apa-apa, hanya saja besok kita harus berpisah, kau harus cepat kembali ke sana, kalau tidak kau tidak akan bertemu Adik Xin."
Qing Er adalah gadis polos tapi dia tidak bodoh, sepanjang perjalanan dia1356 semakin mengenal Wu Ling-feng, dia senang bercanda dan banyak mengobrol, tapi saat dia sendiri sikapnya selalu terlihat sedih, beberapa kali Qing Er menanyakannya tapi Wu Ling-feng selalu memberijawaban tidakjelas.
Pikir Qing Er.
"Ilmu silat Kakak Wu sangat tinggi, dia tampan pula, apakah dia masih merasa tidak puas? Aku tidak akan bertanya padanya, nanti dia malah akan lebih sedih lagi, bila aku bertemu Kakak Xin, aku akan bertanya padanya."
Selama beberapa hari ini, Qing Er yang tadinya polos mulai bisa berpikir, dengan lembut Qing Er berpikir.
"Kalau Kakak ada waktu berkunjunglah ke Wu Ji Dao."
Wu Ling-feng mengangguk dan berpesan.
"Kalau kau telah bertemu dengan Adik Xin, katakan padanya dua bulan lagi aku akan menunggunya di kota Luo Yang. Kami telah berjanji, kami akan membalas dendam bersama-sama."
Bintang-bintang bersinar di langit yang gelap.
Mereka terlihat sangat terang.
Mata Qing Er yang besar sedang menatap langit dan mulai menghitung bintang-1357 bintang itu.
Di hatinya yang masih bersih dan suci muncul bayangan wajah Xin Jie yang menatapnya penuh dengan perasaan....
Langit tampak hitam, bintang-bintang tampak terang....
Saat itu di bawah temaramnya cahaya bintang, ribuan kilometer dari sana ada seseorang dengan penuh perasaan sama-sama sedang memandang langit dan menghitung bintang.
Dia adalah Xin Jie.
Xin Jie sedang duduk di depan sebuah gua, menatap langit yang tampak jauh.
Di bawah cahaya bulan, wajahnya yang putih terlihat aneh dan merah.
Mungkin dia sedang merindukan Qing Er!
Semenjak dia menyambut pukulan dari Heng-he San-fu, Jin Bo-sheng, dia tidak bergeming sedikit pun.
Pukulan Jin Bo-sheng memang mengenainya.
Dengan kemampuan ilmu silat Jin Bo-sheng walaupun Xin Jie kuat, mungkin dia tidak akan bisa menyambut pukulan itu.
Tapi dari wajah Xin Jie terlihat kalau luka dalamnya hampir sembuh.
Tidak dipungkiri lagi semua ini karena dia melakukan pengobatan dengan1358 tenaga dalamnya yang tinggi.
Dan tenaga dalam Xin Jie memang hebat.
Benar dia memang sedang merindukan Qing Er.
Wajahnya yang cantik, matanya yang bersorot polos dan suci....
Semakin dipikir dia semakin teringat pada Fang Shao-kun dan Jin Qi yang sudah pergi dari sana.
Fang Shao-kun adalah gadis pertama yang singgah di hatinya.
Nasibnya sekarang malah seperti ini, tapi manisnya cinta pertama selamanya akan bersemayam di dalam hatinya.
Sewaktu Fang Shao-kun dan Jin Qi dikejar oleh Heng-he San-fu dan mereka sudah tidak berdaya, Xin Jie lah yang keluar untuk menerima pukulan Jin Bo-sheng.
Waktu itu dia telah lupa pada dendam ayah dan ibunya yang belum sempat dibalas.
Dendam gurunya pun belum diselesaikan, dia juga lupa banyak hal sedang menunggunya untuk diselesaikan.
Dia tidak ingat semua itu.
Apakah karena di dalam hatinya masih tersimpan cinta kepada Fang Shao-kun?
Xin Jie terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
"Xin Jie, mengapa kau1359 selalu memikirkan Fang Shao-kun? Untuk apa kau terus memikirkan dia?"
Tampak sebuah kilauan yang lewat, itu adalah bintangjatuh yang melintasi bumi. Dengan tidak mengerti dia berpikir.
"Apakah aku masih mencintainya? Kalau aku tidak mencintainya, mengapa aku dengan sekuat tenaga melindunginya? Apakah semua itu hanya demi membela keadilan? Kalau aku mencintainya, aku tidak boleh terus memikirkannya, aku harus merelakannya ikut dengan Jin Qi. Siapa pun yang menjadi suaminya, yang terpenting dia telah berkeluarga, bukankah memang harus seperti itu?"
Xin Jie menjadi serba salah.
Terdengar suara ombak yang terus menggulung ke pantai, suara itu begitu jelas terdengar di malam yang sepi seperti sekarang.
Seseorang dalam keadaan seperti itu, pikirannya sering mengembara ke mana-mana.
Hati Xin Jie seperti seekor kuda liar yang berlari lalu menghilang....
Semua wajah yang dikenalnya melintas di dalam benaknya.
Membuat perasaan Xin Jie menjadi hangat.1360 Yang paling lama dipikirkannya adalah Paman Mei yang sangat pengertian, Xin Jie bisa menjadi seperti sekarang ini semua karena jasa Paman Mei.
Tiba-tiba melintas pikiran aneh di benak Xin Jie.
"Di dunia ini orang seperti apa yang disebut baik? Seperti Jin Yi-peng, Jin Qi, apakah mereka bisa disebut penjahat? Sedangkan yang disebut orang baik apakah mereka tidak pernah melakukan kejahatan?"
Orang pintar seperti Xin Jie tidak bisa menjawab pertanyaan ini.
"Seperti Paman Mei, ilmu silatnya tinggi, semua bisa dikuasainya dengan baik tapi di dunia persilatan saat mendengar nama Qi-mao Shen-jun, mereka hanya bisa ketakutan. Dan sama sekali tidak ada perasaan hormat. Dua bersaudara Jin dari Gai-bang, walaupun ilmu silatnya terbatas tapi di dunia persilatan saat menyebut nama Jin Lao-da atau Jin Lao Er, orang-orang akan segera mengacungkan jempol mereka. Berarti mereka adalah orang lihai yang patut dikagumi. Ternyata menjadi seseorang yang lihai sangat mudah, dan ingin menjadi orang baik ternyata sangat sulit...." 1361 Sebenarnya orang yang mempunyai sifat seperti Xin Jie yang pernah ikut dengan Mei Shan-ming, banyak membaca buku kuno, harus menjadi orang yang bijak. Tapi membaca kata-kata dari orang bijak jaman dulu dia tidak terlalu setuju. Bagi Xin Jie batas antara 'musuh' dan 'aku' sangat jelas, dibandingkan dengan 'salah' dan 'benar'. Asalkan orang berbuat baik kepadanya, dia akan mengembalikan kebaikan orang itu 10 kali lipatnya. Orang yang telah berbuat jahat kepadanya dia akan membalasnya. Bagaimana pandangan orang-orang kepadanya karena hal ini, dia tidak peduli. Tapi beberapa waktu ini mungkin karena usianya bertambah atau mungkin juga karena terpengaruh oleh Wu Ling-feng yang jujur dan baik sifatnya yang keras mulai melunak. Tapi perubahan ini tidak dirasakan olehnya. Dulu dia sangat mengagumi Paman Mei, tidak peduli mana yang salah dan mana yang benar, sekarang dia mulai sadar dan mulai bisa membedakan antara Paman Mei dan 2 saudara Jin, ini merupakan suatu perbedaan yang besar. Pikirannya terus mengembara,1362 akhirnya dia bertanya pada dirinya sendiri.
"Apakah aku orang baik?"
Pertanyaan ini hanya tersimpan di sudut hatinya yang paling dalam.
Semenjak dia menguasai ilmu silat tinggi, 'Mei Xiang Shen Jian' telah menjadi idola di dunia persilatan, tapi apakah dia sudah cukup baik?
Saat seseorang telah menjadi terkenal, apa pun yang dia lakukan dia akan berhati-hati melakukannya.
Xin Jie mulai mempunyai perasaan seperti itu.
Dia ingin membuat 'Mei Xiang Shen Jian' menjadi idola baru di masyarakat persilatan, bukan hanya sebagai seorang pesilat yang tidak berotak.
Dia terus berpikir, ini merupakan suatu kebiasaan seseorang pada saat mengobati dirinya sendiri dengan ilmu tenaga dalamnya....
pikiran orang itu akan menjadi kacau.
Banyak hal aneh terus berseliweran di benaknya.
Terakhir dia teringat lagi pada 3 perempuan yang pernah dia temui, yaitu Fang Shao-kun, Jin Mei Ling, dan Zhang Qing.
Saat bertemu kembali dengan Fang1363 Shao-kun, hal ini sempat membuatnya menaruh harapan besar untuk bisa bertemu kembali dengan Jin Mei Ling.
Dia berpikir suatu hari nanti dia pasti akan bertemu kembali dengan Jin Mei Ling....
Lalu dia teringat pada Zhang Qing.
"Kami baru beberapa kali bertemu, tapi sulit bagiku melupakannya. Kami jarang mengobrol tapi beberapa kali dia selalu menolongku. Bahkan dia pun mencariku.... bukankah itu lebih penting dibandingkan dengan berbagai macam janji.... kalau aku bersama dengannya, kesulitan apa pun tidak terpikirkan, yang ada hanya rasa gembira, malah sangat gembira.... Xin Jie ternyata di dalam hatimu, gadis yang paling kau sayangi ternyata Qing Er...."
Xin Jie telah beristirahat selama setengah jam.
Dia harus menyelesaikan pikirannya yang kacau dan mulai mengatur pernafasan untuk terakhir kali.
Dia mengatur nafas dengan pelan.
Wajahnya terlihat sangat tenang.
Setelah lama di atas kepala keluar asap putih.
Di luar gua terdapat pasir terbentang lebar.
Bila berjalan ke depanya sedikit, akan terlihat pantai.1364 Ooo)*(ooO BAB 41 Kilauan pedang Tiba-tiba....
Muncul dua sosok manusia di pantai.
Jaraknya cukup jauh tapi bentuk tubuh mereka tidak sama dengan orang biasa.
Apalagi salah satu dari mereka, kaki dan tangan tidak sempurna.
Sambil berjalan mereka menggerakan tangan menggunakan bahasa isyarat, artinya salah satu dari mereka bisu.
Setelah mereka mendekat, dengan bantuan sinar bulan terlihat 2 wajah menyeramkan, mereka adalah 'HaiTian Shuang-sha'!
Di tempat terpencil ini jarang ada yang datang, maka mereka pun berjalan dengan tenang dan suara langkah kaki mereka terdengar sangat keras....
Xin Jie yang berada di dalam kegelapan gua mendengar langkah kaki itu, dia melihat mereka....
karena telah melihat mereka maka hatinya tidak tenang lagi!
Wajah yang jelek, tubuh yang cacat, Xin Jie tidak akan pernah bisa melupakannya!
Sekalipun itu dalam1365 mimpinya.
Mereka adalah orang-orang yang telah membunuh ayah dan ibunya!
Dia sadar, dia sedang dalam proses penyembuhan dan saat itu sedang memasuki tahap penting, dia tidak boleh bertindak gegabah, dia terus menarik nafas panjang sebanyak 5 kali untuk meredakan kemarahan yang bergejolak di dada, tapi tidak berhasil.
Xin Jie menarik nafas.
Karena tidak tenang maka dia pun bangkit berdiri.
Dia tahu bila dia berdiri maka dia harus menghabiskan waktu 2 kali lipat untuk mengobati dirinya sendiri.
Tapi dia sudah tidak bisa menguasai diri lagi.
Dia menarik dan menghembuskan nafas.
Gerakannya sudah kembali seperti semula, tapi tenaga belum bisa terkumpul apalagi jika harus bertarung sekarang rasanya ini bukan saat yang tepat.
Langkah Hai Tian Shuang-sha seperti berjalan mendekati tempat Xin Jie.
Dengan cemas Xin Jie berpikir.
"Jika kedua siluman itu datang kemari, itu adalah kesempatan baik dan aku tidak perlu mencari mereka ke mana-mana, tapi sekarang ini tenaga dalamku belum cukup. Bagaimana aku harus berbuat? Apakah aku akan1366 membiarkan mereka pergi begitu saja?"
Dia marah dan juga cemas, kedua tangannya terus bergerak-gerak meraba-raba tubuhnya untuk mengukur kemampuannya.
Dia berharap bisa mendapatkan sesuatu untuk digunakan menghadapi kedua orang cacat itu.
Tiba-tiba jarinya menyentuh sesuatu di balik dadanya.
Segera timbul sebuah ide.
Karena senang hampir saja dia berteriak....
Dari balik dadanya, dia mengeluarkan sebuah botol.
Dalam hati dia berpikir.
"Di dalam buku 'Du Jing' karangan Jin Yi-peng, di sana disebutkan kalau Bi Yu Duan Chang yang telah dikeluarkan dari tubuh seseorang, begitu terkena udara maka sifat racun itu akan berubah. Begitu racun itu meracuni seseorang, penawarnya sangat mudah yaitu dengan memakan daging kerang biasa saja sudah cukup. Sekarang adalah waktu yang paling tepat bagiku untuk menggunakannya!"
Cairan yang tersimpan di dalam botol itu adalah racun 'Bi Yu Duan Chang' yang telah dikeluarkan oleh Pin Fan Shang-ren dan Guru Hui dari tubuh Wu Hen-sheng.
Bintang terus berkedip-kedip.
Xin Jie1367 bergeser ke balik sebuah batu.
Dalam hati dia terus berdebar-debar.
Dia terus berpikir untuk mengelabui kedua orang itu.
Hai Tian Shuang-sha semakin mendekat.
Jiao-hua dan Jiao-lao, 2 bersaudara itu terlihat kelelahan, Xin Jie bisa tahu karena mendengar tarikan nafas mereka yang berat.
Tiba-tiba Xin Jie membuka tutup botol itu kemudian dia menyiram cairan itu ke mulut gua, membentuk setengah lingkaran.
Racun 'Bi Yu Duan Chang' menguap ke udara kemudian jatuh ke tanah.
Di atas pasir, cairan itu masih mengeluarkan cahaya hijau yang berkilauan.
Tapi dalam gelapnya malam, cairan itu tidak begitu kelihatan.
Xin Jie segera memungut sebuah batu sebesar kepalan tangan manusia.
Di atas batu tidak lupa dia pun membubuhkan racun untuk persiapan rencana berikutnya.
Tian Can dan Tian Lao, dua kakak beradik ini, dalam mimpi pun tidak menyangka kalau di sebuah tempat terpencil seperti ini ada seorang musuh yang sedang memelototi dan mengawasi mereka.
Hanya saja karena tenaga orang ini belum pulih dia tidak berani bertindak gegabah, kalau1368 tidak, orang ini sudah sejak tadi keluar untuk bertarung dengan mereka.
Mereka berdua tetap berjalan ke arah Xin Jie, Xin Jie yang diam di dalam gua karena merasa tegang, malah berkeringat dingin.
Semakin mereka mendekat, wajah seram dan jelek yang terlihat sekilas di dalam kegelapan, bertambah menakutkan.
Xin Jie diam dan berdoa.
"Ayah, ibu yang di atas sana, aku mohon lindungilah putramu ini, jangan biarkan kedua penjahat ini melarikan diri lagi...."
Angin laut terus berhembus.
Hai Tian Shuang-sha semakin mendekat....
Xin Jie tidak berani memegang batu yang telah dibubuhi racun.
Dengan menggunakan ujung kakinya, dia membalik-balikkan posisi batu yang sisinya tidak terkena racun, lalu dia pun menendang batu itu.
Akhirnya batu melayang keluar.
Tenaga Xin Jie belum pulih tapi tendangannya sangat tepat mengenai sasaran.
Batu pertama yang ditendang hampir terjatuh, batu kedua yang dilempar oleh Xin Jie memukul batu pertama dan terjatuh di tempat lebih jauh lagi.
Xin Jie menghembuskan nafas lalu diam di belakang1369 batu.
Batu itu tepat jatuh di depan gua, di tempat Xin Jie menyiram racun tadi.
Hai Tian Shuang-sha adalah orang-orang yang sangat berpengalaman.
Begitu mendengar ada suara batu yang terjatuh, mereka segera tahu itu adalah jurus yang bernama 'Tou Shi Wen Lu' (melempar batu bertanya jalan).
Mereka berdua bertanya-tanya.
"Apakah di tempat terpencil seperti ini ada orang dunia persilatan?"
Walaupun mereka terkejut tapi karena sudah terbiasa berkelana di dunia persilatan, apalagi dengan sifat keras mereka, mereka seperti tidak peduli apa yang disebut jurus Tou Shi Wen Lu.
Jiao-hua berlari ke depan gua....
di sana sama sekali tidak terlihat bayangan manusia.
Xin Jie menempel di dinding gua.
Matanya dilebarkan, dan terus melihat tingkah laku Hai Tian Shuang-sha.
Saat tidak terlihat ada bayangan siapa pun, Jiao-hua melihat di depan gua sekitar 2 meter dari sana ada sebuah batu, tampaknya batu itu adalah batu yang dilempar oleh orang dengan jurus Tou ShiWenLu'.1370 Jiao-lao tidak sabar lagi tapi juga tidak berlari untuk melihatnya.
Xin Jie yang masih menempel ke dinding merasa sangat tegang.
Hai Tian Shuang-sha melihat ke mulut gua juga melihat ke arah batu itu.
Xin Jie berpikir.
"Semoga kedua siluman tua itu tidak melihat celah ini...."
Mungkin karena merasa tegang, Xin Jie melihat racun itu mengeluarkan warna hijau yang menusuk mata.
Hai Tian Shuang-sha yang berpengalaman pasti akan tahu kalau di sana ada racun, tapi setelah Xin Jie merasa tenang, ternyata batu itu hanya memendarkan sedikit cahaya hijau, itu pun karena Xin Jie tahu di sana ada racun.
Sedetik telah berlalu, semenit.
Xin Jie sadar jika garis racun itu diketahui musuh, bila mereka melangkah, melewati batu, tidak menginjak pasir beracun, mereka akan aman.
Xin Jie merasa semakin cemas, dia melihat Jiao-lao tampak berpikir sebentar kemudian berjongkok dan mengambil batu beracun itu.
Xin Jie yang banyak akal sengaja meletakkan batu itu dengan jarak sekitar 0.5-1 meter dari garis beracun itu.
Jika ada yang berniat mengambil batu itu, dia akan1371 menginjak garis itu, kalau tidak batu, batu itu tidak akan terambil.
Demikian pula dengan Hai Tian Shuang-sha.
Dia ingin mengambil batu itu, maka mau tidak mau dia harus maju, karena itu dia maju untuk memungutnya....
Hai Tian Shuang-sha yang jahat sudah sering menjadi incaran orang-orang dunia persilatan beraliran lurus untuk dibunuh, karena itu Hai Tian Shuang-sha terlatih melakukan sesuatu sangat berhati-hati.
Biasa jika sedang berjalan mereka pasti akan melihat keadaan di sana dengan seksama baik dari rumput, suara hewan, atau sebagainya.
Terutama Jiao-lao, dia sangat teliti, karena itu mereka selalu menempuh banyak bahaya.
Sebenarnya jurus 'Tou Shi Wen Lu' adalah jurus biasa tidak perlu sampai harus begitu tegang.
Hanya saja 2 orang ini hidupnya selalu penuh curiga, mereka tidak mau sembarangan mempercayai sesuatu.
Tangan Jiao-hua hampir saja menyentuh batu itu.
Jika sedikit lagi dia menjulurkan tangannya, dia akan berada tepat di garis racun.
Xin Jie yang di ada dalam gua terus1372 menggigit batu menahan emosinya.
Dia sangat tegang.
Tiba-tiba Jiao-lao mengulurkan tangannya kemudian mencengkram Jiao-hua.
Kelihatannya dia ingin menarik Jiao-hua yang sudah terkena tipuan Xin Jie....
Xin Jie terkejut dan dia mengira kalau mereka telah mengetahui rencananya, keringat dingin terus bercucuran.
Dia meraba-raba tubuhnya tiba-tiba dia menyentuh buku Du Jing karangan Jin Yi-peng.
Dia terpikir sebuah ide, maka dia pun melempar buku itu.
Jiao-lao yang berniat menarik Jiao-hua sebenarnya dia hanya ingin Jiao-hua tidak terburu-buru.
Dia berniat dengan cara 'Tou Shi Wen Lu' ingin mengetahui apakah di dalam gua itu ada seseorang.
Tadinya dia ingin menyuruh kakaknya melempar batu itu ke dalam gua.
Tapi karena Xin Jie terlalu tegang, maka dia salah duga akhirnya dia melempar buku Du Jing.
Mungkin suami istri Xin Jiu Peng melindungi putranya karena saat Xin Jie melempar buku itu, rencana Xin Jie berhasil.
Sebenarnya Xin Jie bermaksud memancing Hai Tian Shuang-sha dengan Du1373 Jing, karena mereka berebut mengambil buku itu akhirnya mereka terkena racun itu.
Xin Jie tidak tahu kalau seumur hidup Hai Tian Shuang-sha hal yang paling mereka sesalkan adalah mereka tidak bisa menguasai ilmu racun.
Karena itu setiap kali membunuh mereka harus menggunakan senjata tidak seperti Du Jun Jin Yi-peng, membunuh orang tidak perlu melihat darah berceceran.
Mereka telah menghabiskan separuh hidup berkelana di dunia persilatan dan mereka sangat ingin mempunyai sebuah buku tentang racun, tapi harapan mereka tidak pernah terkabul, sekarang mereka melihat buku yang dilempar oleh Xin Jie, mereka benar-benar merasa sangat senang.
Terdengar BRUG, buku jatuh tergeletak di bawah.
Di malam begitu sepi, suara buku jatuh seperti terdengar dari jauh.
Jiao-hua mundur untuk melihat benda yang jatuh.
Kaki yang tadinya hampir menginjak racun, tampak mundur....
Gua tetap sepi tapi terlihat ada buku yang jatuh.
Hai Tian Shuang-sha sangat lincah, mereka bergerak dengan cepat, yang satu ke1374 kiri yang satu ke kanan untuk menghindar.
Cara ini dilakukan dengan tujuan menghindari kalau-kalau ada senjata rahasia yang keluar dari dalam gua.
Jiao-hua tertawa dingin.
Dengan suara seperti setan menangis, dia berteriak, '"Siapa yang ada di dalam gua?
Jika berani keluarlah, apakah kami 2 bersaudara tidak pantas bertarung denganmu?"
Mereka adalah orang dunia persilatan garis hitam.
Begitu bersuara bisa terasa dari mana asal mereka.
Xin Jie tidak menjawab, tapi dia menyesal mengapa dia begitu tergesa-gesa.
Jika rencananya gagal, Du Jun Jin Yi-peng malah akan diambil mereka.
Seperti pepatah yang mengatakan.
mencuri ayam tidak dapat, umpan beras malah habis.
Tidak ada yang menjawab teriakan Jiao-hua, dia berkata dengan dingin.
"Rupanya jika tidak melihat peti mati dulu, kalian tidak akan meneteskan air mata. sobat, kami akan masuk!"
Dia memang bicara seperti itu, tapi tidak dengan pikirannya.
Dia memberi isyarat dengan tangan kiri kepada Jiao-lao, menyuruhnya diam-diam1375 melihat keadaan mulut gua.
2 saudara ini saling memahami satu sama lain.
Diam-diam dia sudah berada di mulut gua.
Mereka melihat judul buku yang jatuh itu yaitu 'Du Jing'.
Sudah lama 2 saudara Jiao-hua dan Jiao-lao menginginkan buku itu.
Buku ini bisa berada di pulau terpencil seperti ini, mereka merasa sangat senang.
Mereka berlari menghampiri buku itu.
Jiao-lao memberi kode kepada Jiao-hua.
Lima panca indera Jiao-lao tidak lengkap, selain itu sifatnya dingin, walaupun dia sangat pintar tapi pikirannya selalu tidak tenang.
Begitu ada hal penting yang terjadi, dia tidak bisa menguasai diri.
Sekarang dia telah lupa bersikap waspada dan berniat memungut buku itu.
Jiao-hua berteriak.
"Jangan!"
Tapi dia lupa adiknya Uili, dia menghentakkan kaki, seperti sebuah anak panah dia berlari menghampiri Jiao-lao yang akan memungut buku Du Jing.
Dia lupa melarang adiknya tapi dia masih sempat mengambil Du Jing lalu memukul ke udara, memukul beberapa kali ke gua untuk berjaga-jaga jika ada orang yang tiba-tiba1376 menyerang.
Lucunya mereka memang pintar tapi tidak bisa menahan diri.
Tetap saja mereka terkena tipuan Xin Jie.
Terdengar PAK, 4 kaki secara bersama-sama berdiri di tempat yang telah disiram racun.
Racun Bi Yun Duan Chang adalah racun terganas di dunia ini, telah membuat sepatu mereka berlubang dan mengenai telapak kaki mereka.
Hai Tian Shuang-sha tiba-tiba sadar kalau mereka telah terkena tipuan dan juga telah terkena racun.
Mereka tidak merasa gatal ataupun mati rasa.
Mereka sadar kalau racun itu bukan racun sembarangan.
Mereka segera duduk bersila dan mengatur nafas.
'Du Jing' yang mereka harapkan, jaraknya tinggal 5 sentimeter lagi, tadinya mengira buku itu akan jatuh ke tangan mereka.
Tapi sekarang buku ini tetap tergeletak di bawah.
Saat tertiup angin laut, buku bersuara SRRT, SRRT terbuka karena tiupan angin.
Xin Jie yang berada di dalam gua melihat semuanya, dia melihat Hai Tian Shuang-sha terkena racun dan roboh, dengan tenang dia menghembuskan nafas dan tertawa.
Dia pun kembali duduk bersila1377 meneruskan pengobatan luka yang belum selesai....
Di luar dan di dalam gua, ada 3 orang yang sedang duduk bersila.
Mereka adalah tiga orang pesilat paling tangguh, tapi di antara mereka tersimpan dendam yang sangat dalam.
Apakah Tuhan yang mengatur keadaan ini?
Ooo)*(ooO Sedikit cerita tentang 'Hai Tian Shuang-sha', mengapa mereka bisa datang ke tempat terpencil itu....
Dulu ketika Guan Dong Jiu Hao dibubarkan, dengan sangat kecewa Hai Tian Shuang-sha datang ke sana.
Mereka menganggap pulau itu adalah kampung halaman mereka, dan mereka berniat memperdalam ilmu silat mereka di sini.
Tapi mereka selalu saja gagal, jika mereka kembali dulu ke pulau ini dan tinggal lama, mungkin mereka akan bisa bangkit kembali, pada akhirnya mereka akan meninggalkan pulau itu untuk berjuang kembali di dunia persilatan.
Kali ini kegagalan mereka setelah bertarung dengan Xin Jie adalah yang paling parah, karena Jiu Hao gagal1378 melakukan tugas mereka!
Mereka mengira Xin Jie sudah mati tapi mereka pun tidak akan bisa berada di dunia persilatan lagi.
Di Gui Shan, Xin Jie menjadi terkenal, mereka baru tahu usaha yang mereka lakukan dengan susah payah dan menghabiskan banyak tenaga ternyata sia-sia, ternyata Xin Jie tidak mati malah dari kabar yang beredar kalau ilmu silat Xin Jie bertambah tinggi.
Kabar ini bagi Hai Tian Shuang-sha merupakan suatu pukulan besar dan mereka kecewa berat.
Mereka berpikir kalau Xin Jie mencari mereka untuk membalas dendam, mereka tidak sanggup melawannya lagi.
Karena mereka masih ingin terus hidup di dunia ini, akhirnya mereka memutuskan untuk membubarkan Jiu Hao sekali lagi.
Mereka tidak mempunyai tempat tinggal, akhirnya mereka mengambil keputusan untuk kembali ke kampung halaman mereka di pulau kecil itu.
Tapi ternyata Xin Jie yang selama ini mereka takuti dan beru saha untuk menghindari darinya, sama-sama berada di pulau itu.
Ooo)*(ooO Pukul 3 dini hari, hari masih gelap.1379 Bintang-bintang masih menggantung di langit.
Satu jam telah berlalu.
Xin Jie merasa senang karena pengobatan terhadap luka dalamnya telah selesai dan luka dalamnya telah sembuh.
Dia menarik nafas dalam-dalam.
Dengan semangat dia melangkah keluar dari gua dan melihat keadaan Hai Tian Shuang-sha, mereka masih duduk bersila di bawah.
Xin Jie tahu dengan kemampuan ilmu silat mereka, mereka hanya bisa menahan racun supaya tidak menyebar dan mereka tidak bisa mengobati luka walaupun racun Duan Chang telah berkurang khasiatnya.
Xin Jie pelan-pelan berjalan ke hadapan Hai Tian Shuang-sha, lalu mengambil Du Jing yang masih tergeletak di tanah.
Dalam hati dia berpikir.
"Lagi-lagi Du Jing yang menyelamatkan nyawaku."
Xin Jie menyimpan buku itu ke balik baju bagian dadanya kemudian mengangkat kedua tangannya. Dia siap memukul kepala Hai Tian Shuang-sha. Tiba-tiba suatu pikiran melintas di otaknya.
"Jika dengan cara seperti ini membunuh kedua binatang ini, ini bukan1380 cara yang jantan, mana mungkin aku.... Xin Jie bisa membunuh mereka dengan cara seperti ini? Racun Duan Chang telah berubah sifat aslinya, bisa ditawarkan dengan daging kerang. Lebih baik aku menawarkan terlebih dahulu racun mereka setelah itu baru bertarung dengan mereka. Yang penting ilmuku sudah cukup membuat mereka berdua takut."
Keputusan telah diambil, dia berlari keluar gua, hanya dengan beberapa kali turun naik, dia tiba di pantai dan menangkap kerang kemudian mengambil daging kerang, dia meletakkannya di depan Hai Tian Shuang-sha.
"Makanlah, daging kerang bisa menawarkan racun itu!"
Hai Tian Shuang-sha memang telah terkena racun ganas tapi mereka masih sadar.
Mereka sama sekali tidak menyangka kalau di dalam gua ada Xin Jie yang selama ini mereka hindari.
Mereka juga berpikir kalau kali ini mereka pasti akan mati di tangan Xin Jie.
Melihat tangan Xin Jie yang sudah terangkat tadi mereka sudah pasrah, tapi mereka merasa Xin Jie menurunkan tangannya, mereka mengira Xin Jie akan1381 menghina mereka terlebih dulu.
Mereka sudah terbiasa menghina orang lain, pada akhirnya mereka pun pasti akan balas dihina oleh orang lain.
Mereka marah.
Sekarang melihat Xin Jie mengambil daging kerang untuk mereka, mereka tidak mengerti maksud Xin Jie.
Melihat mereka tidak mau memakan daging kerang itu, Xin Jie berkata dengan dingin.
"Kalian harus tahu siapa Xin Jie sebenarnya, mana mungkin aku akan meracuni kalian lagi. Daging kerang ini malah bisa menawar racun...."
Dia memberikan daging kerang itu lalu berjalan ke pinggir. Melihat Xin Jie begitu serius, akhirnya mereka memakan daging kerang itu. Xin Jie berkata lagi dengan dingin.
"Aku tunggu di sini. Begitu luka kalian sembuh, baru aku akan membuat perhitungan dengan kalian...."
Hai Tian Shuang-sha tahu hari ini mereka tidak akan bisa menghindar lagi, lebih baik mereka berjuang, mungkin masih ada kesempatan untuk menang, maka mereka tidak menjawab, mereka terus mengatur nafas.1382 Benar saja, daging kerang ternyata bisa menawarkan racun, tidak membutuhkan waktu sampai setengah jam, racun di tubuh Jiao-hua telah hilang.
Dia melihat Xin Jie masih duduk di pinggir dengan jarak 6 meter dari sana dan terus mengawasi mereka.
Dia duduk bersila tapi matanya terus berputar-putar mengawasi Hai Tian Shuang-sha, seperti kucing sedang menjaga mangsanya.
Jiao-hua marah dan berteriak.
"Hei marga Xin, kalau mau bertarung, bertarunglah sekarang...."
Dengan dingin Xin Jie berkata.
"Jangan ribut! Binatangyang satu lagi belum sembuh!"
Jiao-hua semakin marah. Dia menarik nafas panjang.
"Baiklah! Baiklah...."
Karena marah dia menjadi tergagap saat bicara. Xin Jie tidak melayaninya. Dia berdiri, pedang sudah dipegangnya dan dia berkata.
"Kalian jauh datang-datang ke sini hanya untuk mengantarkan mati. Hari ini aku tidak langsung membunuh kalian saat kalian terkena racun. Kalau hari ini kalian mati, tentunya kalian tidak akan menyesal...." 1383 Xin Jie terus menerus mengatakan akan membunuh Hai Tian Shuang-sha, hal ini membuat Hai Tian Shuang-sha terlihat lebih beringas. Jiao-hua tertawa dingin kemudian melihat Jiao-lao.
"Siapa yang baksil mati, belum tentu kami yang akan mati!"
Xin Jie mengangguk lalu terdiam.
Tidak lama kemudian Jiao-lao pun mulai pulih.
Dua bersaudara itu berdiri bersamaan di hadapan Xin Jie.
Xin Jie membawa pedangnya dan berdiri.
Suasana terasa sangat tegang.
Langit masih gelap, bintang-bintang berkilauan....
Xin Jie berdoa.
"Ayah, ibu, hari ini putramu akan membalaskan dendam kalian...."
Kemudian pedangnya diayunkan, dia berteriak.
"Bawanyawamu ke sini...."
Hai Tian Shuang-sha tidak menyalahkan Xin Jie yang tampak begitu sombong karena mereka tahu hari ini harapan untuk lolos dari cengkraman Xin Jie sangat kecil.
Mereka mau tidak mau harus melawan.
Xin Jie bersiul, dia yang menyerang terlebih dulu.
Ketika bertarung di Gui Shan dulu, Xin Jie diserang dan dipukul hingga terjatuh ke jurang oleh Hai Tian1384 Shuang Jie, kemudian dia pun diserang oleh Jiu Hao.
Karena terluka parah hampir saja dia kehilangan nyawanya, kali ini mereka bertemu lagi, dia tidak akan sungkan-sungkan membalas dendam kepada mereka.
Maka sekali menyerang, jurus-jurus yang dilancarkan sangat ganas sepertinya dia siap mencabut nyawa Hai Tian Shuang-sha.
Hai Tian Shuang-sha tidak menunggu Xin Jie mendekat, 4 telapak secara bersamaan bergerak.
Dengan kemampuan tenaga dalam masing-masing, telapak membawa angin besar.
Mereka balas menyerang.
Pedang Xin Jie juga digerakan.
Pedang diturunkan, beberapa jurus 'Pan Shan Xi Shui' dan tenaga dalam kuat dikeluarkan dan dialirkan ke pedang, dia terus menyerang Hai Tian Shuang-sha.
Saat itu tangan kiri Xin Jie menyerang bagian bawah Hai Tian Shuang-sha.
Tenaga dalam Xin Jie telah mengalami kemajuan sangat pesat.
Begitu beradu tenaga dalam, Hai Tian Shuang-sha sampai harus mundur beberapa langkah.
Sedangkan Xin Jie hanya sedikit bergoyang.
Xin Jie tertawa menghina.
Jurus Za1385 Jing Mei Mian telah dikeluarkan.
Jiao-hua melipat tubuhnya kemudian tangan kiri dan kanan secara bersamaan dilayangkan.
Mereka berniat memukul kaki Xin Jie.
Jiao Lao-dalam waktu serentak juga menyerang pundak kiri Xin Jie.
Serangan Xin Jie tidak mengenai sasaran, dia mundur 1 langkah kemudian menyerang Jiao-hua.
Tiga orang bertarung, dalam waktu singkat telah mencapai 100 jurus lebih.
Semakin bertarung Xin Jie merasa semakin bersemangat, pedang pun semakin cepat diayunkan, hanya terlihat cahaya berputar-putar dan Hai Tian Shuang-sha telah terkepung dalam cahaya itu.
Dalam kegelapan, cahaya itu seperti naga terbang dan burung phoenix menari, kelihatannya Hai Tian Shuang-sha akan kalah.
Jurus-jurus Xin Jie tidak berhenti dan Hai Tian Shuang-sha semakin terdesak.
Mereka berada dalam posisi rawan.
Tiba-tiba Jiao-hua membentak, kepalan tangan digerakkan.
Sebenarnya serangan kepalan Jiao-hua berniat ingin membalikkan posisi, maka dia1386 mengeluarkan seluruh tenaganya hingga mencapai 120%.
Dapat dibayangkan kalau tenaga itu membawa suara angin dan guntur.
Keinginan Jiao-lao adalah keinginan Jiao-hua juga.
Begitu Jiao-hua menyerang dengan kepalan, kedua telapak Jiao-lao pun menyerang ketiak Xin Jie.
Pedang Xin Jie yang panjang yang telah dikeluarkan, dimasukkan kembali.
Begitu kepalan Jiao-hua keluar, dia bisa melihat dengan jelas dan dia bisa keluar dari lingkaran pedang Xin Jie.
Sambil tertawa panjang dia berkata.
"Bagaimana?"
Xin Jie menjawab dengan dingin.
"Coba sekali lagi...."
Pedang dikeluarkan lagi, jurusnya dirobah, jurus 'Ling Mei Fei Mian' dikeluarkan.
Karena Xin Jie selalu berpikir ingin mencabut nyawa mereka, maka jurus pedang yang keluar benar-benar dahsyat.
Sifat Xin Jie aneh juga keras, jika dia menyimpan dendam kepada seseorang, dia pasti akan membalas kepada orang itu.
Apalagi dua orang itu adalah orang-orang yang telah membunuh ayah dan ibunya, dia sangat benci kepada mereka, melihat wajah 21387 bersaudara Jiao yang jelek, membuat dia semakin marah, bahkan dia ingin mencincang tubuh mereka.
Begitu jurus ini dikeluarkan, Jiao-hua terkejut.
Dengan cepat dia mundur.
Pedang ditarik kemudian ditusukan lagi, sekarang jurus yang dipakainya adalah jurus 'Da Yan Shi Shi'.
Jurus ini terus mengalami perubahan.
Hai Tian Shuang-sha pernah mendengar bagaimana dahsyatnya jurus ini.
Jiao-hua terus mundur.
Ilmu pedang Xin Jie berubah lagi.
Jiao-hua tidak berhati-hati, kelihatannya dia akan terluka di bawah pedang Xin Jie.
Jiao-lao segera mengeluarkan pukulan telapak, segera terdengar suara keras, benar-benar membuat siapa pun terkejut.
Xin Jie merasa pedangnya seperti dipukul oleh sebuah palu berat, dan dia menjadi kehilangan arah.
Xin Jie terkejut karena tenaga telapak Jiao-lao cukup hebat.
Jiao-hua bisa terhindar dari bahaya.
Dua pasang telapak bersaman mengeluarkan jurus 'Shuang Long Chu Hai' (sepasang naga, muncul dari laut).
Xin Jie melenting ke belakang dan kedua kaki diangkat lalu menendang tubuh bagian bawah Jiao-hua.1388 Jiao-lao mengimbangi serangan kakaknya, dua kepalan diluncurkan lagi.
Xin Jie tidak berani menyambutnya, terpaksa dia mundur.
Dua kali serangannya berhasil dicairkan oleh 2 orang cacat ini, Xin Jie mulai marah.
Pedang melayang ke arah jantung Jiao-hua.
2 kali Jiao-lao berhasil lolos dari maut, sekarang kepalannya dilayangkan lagi dan siap memukul.
Tangan kiri Xin Jie melayang.
Jurus 'Kong Kong Quan Zao' menggeser tenaga Jiao-lao ke pinggir.
Badan Jiao-lao terbawa ke depan beberapa langkah.
Xin Jie sangat membenci orang ini.
Pedangnya berputar, dia mulai menepis.
Karena tubuh Jiao-lao tidak bisa seimbang, pedang Xin Jie terlihat mendekat, dia akan mati.
Jiao-hua yang berniat menolong saudaranya, sudah tidak sempat, dia hanya melihat saudaranya dengan cemas.
Jiao-lao bersifat keras, melihat nyawanya akan segera melayang, dia segera berpikir akan mati bersama.
Dengan cepat tangan kanan Jiao-lao menjaga keseimbangan tubuhnya, tangan kiri memukul pedang Xin Jie.
Pedang Xin Jie bergerak dengan cepat1389 seperti angin.
Tangan kiri Jiao-lao disabet hingga putus oleh Xin Jie dan Xin Jie bisa menghindari pukulan Jiao-lao.
Pukulan itu tepat mengenai pedang Xin Jie.
Xin Jie benar-benar merasakan tenaga pukulan itu sangat besar, hampir saja pedangnya terlepas dari genggaman tangannya.
Pedang yang dipegang Xin Jie terpotong ditengahnya.
Pukulan itu memang dahsyat!
Xin Jie masih terus memakai jurusnya.
Jiao-lao merasa telinganya telah dipotong oleh Xin Jie.
Xin Jie dengan marah berkata.
"Kau bisa merasakan hal seperti ini...."
Kemudian pedang digetarkan dan pedang menusuk ke jantung Jiao-lao.
Semua ini terjadi begitu cepat.
Jiao-hua baru tiba, pedang Xin Jie telah menusuk jantung Jiao Lao-dan ada sebuah lubang besar di dada Jiao-lao.
Seumur hidupnya Jiao-lao menjadi penjahat, akhirnya dia mati di bawah pedang orang yang menaruh dendam kepadanya.
Jiao-lao benar-benar kuat lagi, jantungnya sudah berlubang tapi tangan kanannya masih sempat memukul ke bawah membuat batu-batu kerikil di sana beterbangan dan debu1390 memenuhi udara.
Jiao-hua tidak menolong adiknya yang terkena tusukan pedang Xin Jie.
Dia tahu dengan kekuatannya sendiri, dia tidak akan bisa memenangkan pertarungan ini, lebih baik dia mengambil kesempatan pada saat udara dipenuhi dengan debu dan dia harus kabur dari sini.
Xin Jie melihat Jiao-hua berniat kabur, dia melihat Jiao-hua sudah lari 15 meter.
Mungkin Tuhan tidak mengijinkan orang jahat kabur, karena tergesa-gesa dia lupa kalau di sana dia telah terkena cairan racun Duan Chang.
Kaki Jiao-hua menginjak kembali cairan beracun itu kemudian tubuhnya limbung.
Racun sudah menyerangnya kembali.
Xin Jie berteriak ke arah langit.
"Ayah, ibu, lihatlah...."
Pedang meluncur terlepas dari tangan Xin Jie kemudian memaku Jiao-hua yang telah terkena racun.
Ketua Guan Zhong Jiu Hao 'Hai Tian Shuang-sha' akhirnya mati di pulau terpencil, dan berakhirlah perbuatan jahat mereka!
Tiba-tiba angin laut berhembus, membuat suara Xin Jie yang sedih menyebar hingga ke kejauhan.
Bintang, bulan, angin,1391 sepertibta ikut bersedih dan meneteskan air mata merasakan kesedihan Xin Jie.
Lama Xin Jie baru berjalan mendekati mereka dan mencabut pedang yang masih menancap di tubuh orang cacat itu.
Xin Jie tidak melihat 2 mayat yang tergeletak di bawah, dia melihat langit hitam, dalam hembusan angin malam dan cahaya bintang redup, wajahnya yang putih terlihat lebih putih lagi.
Awalnya pikiran Xin Jie sangat kacau seperti banyak masalah tapi juga seperti kosong.
Pelan-pelan bayangan kacau itu, satu persatu melintasi otaknya....
begitu jelas seperti baru terjadi kemarin.
Yun Nan, Kun Ming, desa Xin Jie....
Ibu yang ditelanjangi di dalam hembusan angin musim dingin, dilecehkan, sorot mata putus asa, malu, marah....
ayah yang hanya bisa menggigit bibir.
Tangan gemetar yang terus mengelus kepala Xin Jie.
Darah keluar dari bibir....
kemudian....
mati karena musuh....
semua dengan teratur melintas dipikiran Xin Jie, membuat hati Xin Jie bergejolak seperti gelombang pasang air laut.
Wajahnya pucat seputih kertas.
Dua matanya meneteskan air mata,1392 setetes demi setetes bergulir ke dada, membuat bajunya basah.
Dia seperti sebuah patung batu dengan keadaan seperti ini berlangsung selama setengah jam....
tapi di dalam hatinya semua ini seperti telah berlangsung 20 tahun lamanya.
Kecuali di depan Wu Ling-feng, Xin Jie biasanya selalu diam dan terlihat menyeramkan.
Perubahan yang terjadi selalu tertutup rapat, dia seperti sudah melupakan dendam ayah dan ibunya, sekarang dengan kedua tangannya dia telah membunuh Hai Tian Shuang-sha.
Semua perasaan yang tersimpan di dalam hatinya dikeluarkan semua....
Lama, baru terdengar suaranya.
"Ayah, ibu, putramu telah membalaskan dendam untuk kalian...."
Air matanya seperti mata air terus keluar dan tanpa henti.
Xin Jie mulai bernyanyi, nadanya meninggi seperti teriakan orang utan, seperti burung Du Jian yang menangis hingga mengeluarkan darah.
Tiba-tiba TRAK, suara ini mengejutkan Xin Jie yang masih bengong.
Dia melihat ke sumber suara itu, ternyata pedangnya telah1393 patah menjadi 2.
Tangan kiri memegang pedang, sedangkan tangan kanannya memegang pegangan pedang.
Kedua tangannya diturunkan, pedang dan pegangan pedang terjatuh ke tanah, dia sama sekali tidak peduli dan membalikkan tubuh pergi dari sana....
hanya sebentar, bayangannya telah menghilang di dalam kegelapan.
Di pulau itu terbaring Hai Tian Shuang-sha yang sudah lama berbuat kejahatan dan sekarang mereka telah mati.
Di pulau terpencil ini hanya ada air laut, ombak, dan pasir yang menemani roh jahat mereka.
Jika ada benda lain yang menemani mereka, itu adalah cairan beracvjn Duan Chang yang telah membuat mereka mati....
Di pantai, Xin Jie memasang layar perahu kemudian perahu dengan ringan meluncur dari pantai.
Perahu kecil terus melaju.
Dini hari.
Hari mulai terang....
Baca Juga: Renjana Pendekar 7
Baca Juga: Anak Berandalan 8