Eps 2 Naga Dari Selatan - Liang Ie Shen
Baca online Naga Dari Selatan - Liang Ie Shen
Cersil Naga Dari Selatan - Liang Ie Shen.
Masa seorang lelaki berbuat semacam begitu terhadap seorang gadis yang menyayanginya.
Yan-chiu yang paling tak kuat menahan peraasannya itu, segera memaki.
"Kau benar2 seorang yang tak kenal budi! Mengapa kau berbuat sekejam itu?"
Sebenarnya The Go masih belum hilang kemarahannya terhadap Siau-lan, tapi demi mendengar dampratan Yan-chiu itu, buru2 dia berganti wajah. Dengan tertawa manis dia menyahut.
"Nona Yan, kalau andainya ia itu seorang lelaki dan aku ini perempuan, dia pantas ditampar tidak?"
Yan-chiu terdesak kepojok oleh pertanyaan itu.
Kalau mengiakan, terang dia setuju perbuatan anak muda tadi.
Namun tidak setuju, berarti dia itu seorang gadis yang rendah nilainya.
Sesaat dara yang belum faham akan seluk beluk pergaulan muda mudi itu, menjadi jengah dan ter-longong2 sampai sekian detik.
"Budak perempuan yang tak kenal malu macam begitu, perlu apa diberi hidup?"
The Go main unjuk "keperwiraannya"
Seraya kerlingkan ekor mata kearah Bek Lian.
---oo0-dwkz-TAH-0oo---Sebagai seorang gadis, Bek Lian merasa kurang penuju atas perbuatan sianak muda itu terhadap sesama kaumnya.
Tapi entah bagaimana, demi mengetahui si The Go benci pada perempuan lain, diam2 ia merasa girang.
Dan ketika anakmuda itu mengawasi dirinya, ia menjadi jengah sendiri terhadap orang banyak, maka buru2 dongakkan kepala memandang awan dilangit.
Yan-chiu yang biasanya bermulut tajam itu, kali ini terpukul k.o.
oleh kelicinan The Go, namun ia tetap penasaran, serunya.
"Ya biar bagaimana juga, tak pantas kau melukai orang, nah sudah tak mau berbantah lagi dengan kau."
Sedang Tio Jiang yang tak pandai ber-kata2 itu hanya menuding kepada The Go seraya berseru dengan gelagapan .
"kau...... kau....."
"Aku bagaimana?"
Cepat The Go menukasnya sambil menahan kesakitan.
"Kau seharusnya tahu bahwa ia menaruh hati padamu?"
Sahut Tio Jiang. The Go ber-gelak2, ujarnya.
"Engkoh kecil, hatimu murni amat. Namun setiap curahan kalbu itu harus berbalas. Misalnya kau sendiri saja, menaruh hati pada seorang nona, dan ia tak membalas cintamu, andainya kau masih menguber2 saja, apakah kau harus memaksanya?"
The Go sengaja mengucap dengan nada keras, agar orang2 dapat mendengarnya.
Wajah Tio Jiang merah padam.
Sepintas teringatlah perihal dirinya sendiri.
Dia telah abdikan panggilan hatinya terhadap sang suci, namun suci itu tak ambil perhatian kepadanya.
Dalam hal itu, dia tak dapat sesalkan sikap sucinya itu.
Berpikir sampai disitu, dia melangkah maju hendak mengatakan sesuatu.
Hai, kalau tadi begitu bergerak siorang tua aneh tentu lekas2 mencengkeramnya, tapi kini tidak lagi.
Kemana dia?
Buru2 dia berpaling dan dapatkan orang tua aneh itu sudah tiada disitu.
Tapi karena saat itu dia sedang mempunyai urusan, maka dia tak mau menyibukinya lagi.
Sebaliknya karena telah dapat membuat Yan-chiu dan Tio Jiang bungkam, The Go merasa girang, dengan dongakkan kepalanya dia tertawa riang.
Tiba2 dirasanya ada sebuah sinar berkelebat disusul dengan samberan angin keras menyampok datang.
Buru2 dia tundukkan kepalanya, lalu dengan tahankan rasa sakit dia melangkah setindak kesamping.
Kiranya itulah Ciok jisoh menyerang dengan kim-kong-lun (senjata roda baja).
Kalau tadi dia tak lekas2 menghindar tentu celaka sudah.
"Ciok jisoh, kau juga akan main2 dengan aku?"
Tanyanya dengan menyeringai.
Tadi sewaktu Kiau To kirim dupakannya, dengan sebatnya The Go mundur kebelakang, maka orang2 sama mengira kalau dia dapat menghindari serangan itu.
Dan meskipun sudah terluka, masih dia unjuk senyuman sambil ber-kata2 agar tak kentara sakit.
Ternyata Ciok jisohpun dapat dikelabuhinya.
Sedikitpun jago perempuan itu tak mengetahui bahwa lutut The Go telah terluka, ya sekalipun tak sampai patah tulangnya, tapi cukup membuat gerakannnya tak leluasa.
Maka demi The Go mengeluarkan hardikannya, karena merasa kalah tinggi kepandaiannya, iapun bersangsi.
The Gopun tak mau mempedulikannya.
Dipungutnya ikat kepalanya yang jatuh ditanah, setelah membereskan rambutnya yang kacau, lalu dipakainya lagi.
Kemudian katanya kepada Kiau To dan Tio Jiang berdua.
"Kepandaian jiwi berdua, aku amat kagum. Terutama kepada engkoh kecil ini yang telah dapat mengenal ilmu tutukan darah dari perguruanku yang sangat dirahasiakan itu. Kalau benar2 seorang lelaki, nanti pada hari Peh-cun tahun muka, supaya datang kebio Ang-kun-kiong digunung Ko-to-san!"
Saat itu Tio Jiang tengah kelelap dalam pikirannya mengenai perhubungannya dengan sang suci, jadi dia tak mendengarkan apa yang dikatakan The Go itu.
Sebaliknya Kiau To yang merasa kalau kemenangannya tadi itu tak layak, hendak menghibur agar lawan itu jangan kehilangan muka.
Tapi demi menyaksikan kekejaman orang itu terhadap seorang gadis kawannya, dia berbalik gusar sekali.
Maka demi siganas itu mengeluarkan tantangannya, kontan saja dia menyahut.
"Kau mau agul2kan nama Ang-hunkiong untuk menggertak orang? Hm, ucapan seorang lelaki........"
"Laksana kuda mencongklang pesat!"
Buru2 The Go menyambung kata2 Kiau to itu.
"nah, siaoseng hendak minta diri!"
Dan dengan kata2nya itu The Go sudah melesat dua tombak jauhnya, justeru tepat disisi Bek Lian.
Melihat anak muda itu hendak berlalu, hati Bek Lian seperti terasa kehilangan sesuatu, maka tanpa dapat ditahan lagi, meluncurlah kata2 dari mulutnya.
"Kau..... kau terus pergi begini saja?"
"Tahun muka, kalau dapat kau turut saja berkunjung ke Ko-to-san, kita pasti akan berjumpa pula,"
Sahut The Go dengan berbisik.
Bek Lian sendiripun tak tahu, mengapa dalam perkenalan sesingkat waktu itu saja, dia sudah mempunyai perasaan begitu terhadap sianak muda itu.
Pehcun (Pesta air) masih setengah tahun lagi, baginya waktu itu keliwat lama sekali.
"Kecuali Pehcun itu, apakah tiada lain kesempatan lagi?"
Tanyanya. Mendengar itu, The Go girang bukan buatan, sahutnya berbisik.
"Kalau kau dapat turun gunung, carilah aku ke Kwiciu!"
Bek Lian mengangguk dan setelah melesat lagi beberapa kali.
The Gopun lenyap kebawah gunung.
Ketiga saudara Chi buru2 mengikut jejaknya.
Hweeshio gemuk Ti Gong taysu setelah merandek sejenak lalu menghampiri Ciok jisoh, siapa tengah berjongkok memeriksa luka adik iparnya.
Demi melihat sihweeshio datang, Ciok jisoh segera membentaknya.
"Kepala gundul, sejak naik kemari kaulah yang mulai cari perkara, sana enyahlah!"
Dengan tertawa menyengir, hweeshio gemuk itu pamitan lalu ayunkan langkahnya turun gunung.
Dan karena berhenti sebentar itu, dia sudah ketinggalan jauh dengan The Go dan ketiga saudara Chi.
Sukur jalanan disitu tak keliwat ber-belit2, jadi diapun tak sampai kesasar.
Malah kuatir kalau Ciok jisoh yang sedang gusar itu menyuaulnya, dia percepat langkahnya.
Kira2 satu li jauhnya, tiba2 dia teringat akan sesuatu, lalu menoleh memandang kepuncak tadi.
Sampai sekian saat dia merandek dan merenung.
Pada lain saat ketika dia hendak lanjutkan perjalanannya lagi, se-konyong2 dari sebelah samping terdengar orang berkata dengan nada yang dingin sekali.
"Kepala gundul, kau kenapa? Mengenang Liok-ya? Inilah liokya-mu berada disini!"
Mendengar nada yang dikenalnya sejak 10 tahun yang lalu.
bagaikan diburu setan Ti Gong segera loncat kemuka.
Kebetulan tempat yang diloncatinya itu adalah sebuah semak belukar duri.
Biarpun ilmunya mengentengi tubuh cukup baik, begitu turun kesemak terus secepatnya loncat keatas lagi, namun tak urung jubahnya bagian bawah tertusup pecah oleh duri2 disitu, sehingga tak keruan macamnya.
GAMBAR 11 Selagi Ti Gong Hwesio ngacir kebawah gunung, tiba2 ia dipapak si Bongkok, Thaysan-sin-tho, seorang musuh buyutan pada 10 tahun yang lalu.
"Ha. ha, mengapa takut, kepala gundul?"
Kedengaran suara tadi tertawa mengejek.
"liok-ya masih belum selesai dahar, belum sempat untuk memberesimu. Kalau kenal aelatan, lekas jongkok memberi hormat. Apabila liok-ya attdah selesai menyantap kaki anjing ini, baru nanti memberi putusan!"
Ti Gong terkejut bercampur marah, cepat dia berpaling kebelakang.
Tak jauh dari situ, tampak seorang yang berwajah mesum tengah menggerogoti sepotong paha anjing.
Ha, itulah sibongkok dari biara Cin Wan Kwan.
Melihat dugaannya tak meleset, lebih dahulu Ti Gong gunakan tangannya kiri melindungi dada, lalu tangannya kanan menuding pada sibongkok, dia balas mendamprat.
"Bagus, Thaysan Sin-tho! Mengapa kau sembunyikan diri menjadi paderi gagu berganti nama Hwat Ji tojin? Ceng Bo siangjin tentu kena kau kelabui!"
Sembari masih menggerogoti kaki anjing, si Bongkok berbangkit dan menyahut dengan pelahan.
"Benar, orang she Bek itu telah kukelabui!"
Tegas dilihat oleh Ti Gong, bahwa ketika si Bongkok itu berbangkit, meskipun masih tetap seorang bongkok, tapi jauh bedanya dengan bentuknya ketika berada dibiara Cin Wan Kwan tadi.
Kini sepasang matanya memancarkan sorot ber-api2.
Ya, itulah orang she Ih nama Liok bergelar Thaysan sin-tho (si Bongkok sakti dari gunung Thaysan) yang telah dijumpainya 10 tahun berselang dipesisir utara sungai Tiangkang.
Itu waktu dia tengah melakukan keganasan membunuh wanita hamil, mengeluarkan kandungannya untuk dibuat ramuan obat.
Perbuatannya itu kepergok Thaysan Sin-tho dan dalam pertempuran itu dia kena dijatuhkan oleh sibongkok tersebut.
Dengan kekalahan itu, Ti Gong lalu mencari guru yang pandai, mencukur rambutnya masuk menjadi hweeshio dan meyakinkan ilmu silat lagi dengan jerih payah.
Setelah merasa kepandaiannya cukup, dia cari lagi musuhnya itu guna melakukan pembalasan.
Tapi dari selatan menjelajah keutara, orang2 persilatan golongan atas yang dijumpainya sama mengatakan bahwa Ih Liok itu sudah sejak 10 tahun ini menghilang tak berbekas, entah mati atau hidup.
Ti Gong terpaksa hentikan pengejarannya.
Sewaktu melihatnya dibiara Cin Wan Kwan tadi, Ti Gong sudah curiga.
Tapi demi mendengar keterangan Tio Jiang bahwa sibongkok itu adalah seorang tuli dan gagu, apalagi setelah dicobanya ternyata benar dia itu tak bisa ilmu silat maka Ti Gongpun lepaskan kecurigaannya itu.
Ah, mimpipun tidak dia kalau kini sibongkok yang ternyata benar2 Thaysan Sin-tho itu, sudah menunggunya dibawah gunung situ.
Merasa dirinya itu sudah banyak berbuat kejahatan dan keganasan, diam-bercekat hati Ti Gong.
Tapi demi merasa bahwa jerih payahnya meyakinkan ilmu silat telah membuat dirinya jauh berlainan dari 10 tahun yang lalu, timbullah nyalinya lagi.
"Hm, orang she Ih, Ceng Bo siangjin boleh kau selomoti, tapi aku tidak!"
Ih Liok memberakot lagi segumpal daging paha anjingnya, sembari berkeruyukan mengunyah, dia menyahut dengan suara sember.
"Tak dapat mengelabui kau, Liok-yapun tak jeri. Coba kulihat, apakah mulutmu itu masih bisa dipakai berbicara lagi?"
"Celaka!"
Diam2 Ti Gong mengeluh dalam hati menduga kalau ucapan sibongkok ttu tentu ada apa2-nya. Cepat2 dengan gerak "i-heng huan-poh"
Dia raba tasbih 108 mutiaranya itu untuk mendahului menyerang musuh.
Tapi sudah terlambat.
Sesosok bayangan bundar hitam, merangsang datang.
Gerakannya lebih cepat dari suara.
Baru tangan meraba mutiara, atau serangkum angin keras telah menyampok putus kawat peronce mutiara itu.
Insyaflah Ti Gong, bahwa jerih payah peyakinannya selama 10 tahun ini masih tak dapat menandingi kesaktian Thaysan Sin-tho.
Rupanya dalam waktu itu, Thaysan Sin-thopun membuat kemajuan yang pesat sekali.
Tahu gelagat jelek, buru2 dia hendak kabur, tapi sudah tak keburu lagi.
Sesaat itu dirasanya seluruh persendian tulangnya kesemutan dan tubuhnya lemah lunglai.
Kiranya dia telah kena dicengkeram oleh Thaysan Sin-tho.
Sewaktu berpaling kebelakang, dilihatnya wajah sibongkok itu amat menakutkan sekali walaupun mulutnya masih enak2an menggeragoti santapannya itu.
Saking ketakutan, buru2 Ti Gong meratap.
"Liok-ya, ampunilah.......", tapi belum sempat dia mengucapkan "jiwaku", atau dadanya serasa sesak, mulut terasa manis dan matanya ber-kunang2 gelap. Sekali Thaysan Sin-tho menepuk kearah dadanya, tubuh Ti Gong segera ngelumpruk, kepalanya terkulai dan putuslah nyawanya. Begitu tangan Thaysan Sin-tho melepas, sekali dorong tubuh Ti Gong yang gemuk itu segera ber-guling2 kebawah gunung. Setelah itu, tampak Ih Liok menepuk2 tangan, sembari menyembat santapannya kaki anjing tadi, dia segera memanggul tong air. Dalam bentuknya sebagai imam Bongkok yang tuli gagu dari Cin Wan Kwan, dia mendaki keatas gunung lagi. Mayat Ti Gong yang digelundungkan kebawah oleh Thaysan Sin-tho dengan cepatnya telah dapat menyusul perjalanan ketiga saudara Chi. Mendengar dibelakangnya ada suara benda ber-gelundung ketiga orang itu sama menoleh kebelakang dan mengenalnya itu sebagai potongan tubuh Ti Gong. Tapi mengapa bergelundungan, tidak berjalan biasa saja? Karena tak tahu kalau Ti Gong sudah menjadi mayat, mereka sama tertawa geli. Seru Chi Sim.
"Toa-hweeahio, mengapa bergelundungan begitu? Apa kuatir kalau ketinggalan 'sepur'?"
Sedang lain saudaranya juga menambahi.
"Bukan, rupanya toa-hweeaio hendak meniru Hoa-hweesio Lou Ti-sim dari kawanan Liang-san. Bukankah setelah mencuri arak digunung Siau-pa-ong, lalu menggelundung turun gunung?"
Sewaktu ketiga saudara itu berolok2 dengan riangnya, tubuh Ti Gongpun sudah tiba dihadapan mereka.
"Celaka!"
Tiba2 Chi Sim menjerit kaget.
Ternyata kedua saudaranyapun telah mengetahui perihal Ti Gong itu.
Buru2 mereka mengangkatnya untuk diperiksa.
Amboi, ternyata dada Ti Gong telah hancur jeroannya, maka sewaktu diangkat itu mereka dapatkan bahwa mayat hweeshio yang gemuk itu sangat ringan sekali, se-olah2 tak bertulang lagi.
Saking takutnya ketiga saudara Chi berseru memanggil The Go yang jauh berada dimuka.
"The toako, ada peristiwa hebat!"
The Go mendengar juga teriakan itu, tapi mengira kalau yang dimaksudkan dengan "peristiwa"
Itu adalah Kiau To dan Ceng Bo siangjin melakukan pengejaran, dia agak terkejut.
Terang dia tak nanti sanggup melawan kedua tokoh itu, apalagi ketiga saudara Chi Itu orang2 yang tak berguna, maka dari merandek dia malah percepat langkahnya.
Ketiga saudara Chi itu adalah orang2 kasar.
Betul biasanya mereka tak takut dengan Ti Gong, tapi karena perhubungan diantara keempat keluarga The, Ciok, Ma dan Chi itu sangat akrab sekali, maka mereka anggap Ti Gong itu juga termasuk orang sendiri.
Melihat kematian yang mengenaskan dari sihweeshio, perasaan merekapun tak enak.
Diulanginya lagi seruannya memanggil The Go, namun yang tersebut belakang itu berlaga tak mendengar, malah kini lari se-kencang2nya.
Melihat itu mereka mengeluh, kenapa tadi tak lekas2 berjalan sehingga kesamplokan dengan mayat Ti Gong.
Ah, lebih baik gelundungkan lagi saja mayat itu, dan mereka mengikutinya dari belakang.
Tepat pada saat tubuh Ti Gong menggelundung dikaki gunung, The Gopun sampai ditempat situ.
Melihat ada sesosok tubuh bergelundungan, buru dia loncat menghindar, sehingga tubuh itu menggelundung beberapa meter lagi baru berhenti.
Kini baru The Go kaget, berbareng pada saat itu ketiga saudara Chi tadipun tiba, terus menuturkan apa yang dialaminya tadi.
Wajah The Go hanya mengunjuk senyuman getir, tapi diam2 dia makin mendendam pada orang2 Cin Wan Kwan.
Hanya terhadap sijuwita Bek Lian, dia tak dapat melupakannya.
Sesaat terbayanglah kecantikan puteri gunung Lo-hou-san yang sangat mempesonakan itu.
Pikirnya.
"Sungguh tak nyana kalau dipuncak yang sunyi itu, terdapat seorang bidadari. Aku, The Go, seorang bun-bu coan-cay (serba guna), mempunyai hari depan yang gemilang, apapun tentu dapat kucapai. Walaupun aku terikat permusuhan dengan kaumnya, namun hati seorang gadis itu lemah, masakan dia bakal terluput dari tanganku?"
Puas melamun, dia segera dupak mayat Ti Gong kedalam sebuah semak belukar, kemudian dengan ketiga saudara Chi, lanjutkan perjalanannya menuju ke Kwiciu.
---oo0-dwkz-TAH-0oo---Sekarang mari kita tengok keadaan digunung Lo-housan.
Sepeninggalnya The Go, Bek Lian seperti kehilangan sesuatu.
Dengan ter-longong2 ia memandang kearah awan yang bertebaran dilangit, pikirannya jauh me-layang2.
Sedang disebelah sana Ciok jisoh dan Kiau To sedang asyik memereksa luka Siau-lan.
Habis memeriksa, keduanya sama berkerut alis.
Kata Kiau To.
"Ciok jisoh, kini tiada lawan atau kawan, menolong orang adalah yang terpenting. Adikmu terluka parah, baik dibawa masuk kedalam biara dahulu!"
Sembari berkata itu dia ulurkan tangannya hendak menutuk jalan darah thian-ti-hiat yang terletak disebelah dada sinona.
Maksudnya hendak menolong supaya mengurangkan sakitnya.
Tapi teringat kalau yang sakit itu adalah seorang nona, dia batalkan niatnya dan merandek.
Tahu akan maksud baik orang she Kiau itu, karena dirinya sendiri tak mengerti ilmu menutuk, buru2 Ciok jisoh mempersilahkan.
"Kisu looji, tutuklah, jangan sungkan!"
Mendapat anjuran itu, baru Kiau To berani.
Tapi ketika tangannya menyentuh badan sinona, tiba2 hatinya bergetar.
Diam2 dia mengeluh dan lekas2 tenangkan pikirannya.
Setelah itu, Ciok jisoh menggendong adik iparnya itu masuk kedalam biara.
Yan-chiu meskipun genit dan nakal, tapi hatinya welas asih.
Tadipun dia sudah mendamprat The Go dan kini iapun mengikuti Ciok jisoh masuk kedalam.
Sebaliknya Tio Jiang melihat sucinya menjublek diam, ialu menghamperi dan berkata dengan tertawa.
"Suci, tadi Kiau susiok dapat menangkan orang itu, adalah karena kebetulan "
Belum omongan Tio Jiang itu selesai, Bek Lian sudah cepat memotongnya.
"Kau menyingkir sana, mau tidak?"
Mendapat sambutan dingin itu, tetap Tio Jiang tak marah, katanya pula.
"Tetapi orang itu........."
Kalau tadi hanya mulutnya saja yang menyemprot, kini tiba2 dengan gusarnya Bek Lian angkat kedua tangannya terus hendak menampar Tio Jiang.
Namun Tio Jiang tak mau menghindar.
Dia mempunyai cara berpikir sendiri yang aneh.
"Suci memukul aku ini karena marah padaku. Bukantah aku harus membiarkan dipukul supaya menghilangkan kemarahannya?"
Maka dari menyingkir, sebaliknya Tio Jiang lantas ulurkan kepalanya kemuka.
Bek Lian tahu kalau anak itu bukan seorang tolol.
Cuma saja, memang begitu melihat ia, Tio Jiang itu lalu seperti orang gagu dan merah mukanya.
Dahulu sebelum berjumpa dan mengetahui bahwa didunia ini ternyata ada seorang lelaki (The Go) yang bagusnya seperti Arjuna itu, ia sih tak begitu jemu terhadap Tio Jiang.
Tapi kini setelah berjumpa dengan "Arjuna"nya itu, dia benci melihat kelakuan sang sutee yang tolol itu.
Buru2 dia tarik pulang tangannya, terus melangkah maju tak ambil mumet lagi pada Tio Jiang.
Tio Jiang mengintil anjing, serunya.
"Suci aku........."
"Kau mengapa, kau menyingkir sana mau tidak?"
Bek Lian putuskan omongan orang dengan ketusnya, seraya melangkah maju lagi dua tindak.
Justeru disebelah muka itu adalah sebuah karang buntu yang meluncur kebawah curam sekali.
Melihat itu Tio Jiang gugup dan berteriak.
"Suci, hati2lah!"
Jengkel direcoki sang Sute, Bek Lian timbul kemarahannya lalu hendak me-maki2nya.
Tapi tepat pada saat itu Yan-chiu kelihatan muncul dari dalam biara dan ber-lari2 menghampiri.
Kira2 masih beberapa meter jauhnya, ia sudah me-lambai2kan tangannya seraya berseru.
"Lekas kemarilah! Mengapa kalian berdua omong tak putus2nya itu? Suhu memanggil kita, bertiga!"
Sembari berkata itu sinona genit itu masih sempat unjuk "muka setan"
Pada Tio Jiang, katanya pula.
"Suhu memanggil kita itu, apakah bukan hendak mengajarkan jurus ke 5, 6 dan 7 dari To-hay-kiam-hwat? Kau sirik,tidak?"
Namun Tio Jiang tak hiraukan olok2 sumoaynya itu.
Begitu Bek Lian ayunkan langkah pulang, diapun terus mengintil saja.
Hendak berkata lagi, dia tak berani, namun kalau diam saja dia merasa seperti ada sesuatu yang mengganjel dalam hatinya.
Tiba2 dia rasakan ada orang menarik bajunya, ketika menoleh kebelakang, ha, si Yan-chiu yang menggodanya lagi.
Menuding kearah Bek Lian, nona nakal itu mengiwi-iwi (unjuk muka seperti setan) padanya.
Sudah tentu Tio Jiang jadi uring2an bentaknya.
"Sumoay, mengapa kau terus2an menggoda orang saja?"
Yan-chiu jebikan bibirnya menyahut.
"Huh, terhadap suci sih seperti tikus berhadapan dengan kucing, tapi kalau terhadap aku mau main galak2an ya?"
Sebenarnya terhadap Yan-chiu, Tio Jiang menyayang seperti seorang adik kandungnya sendiri.
Ketika dua tahun yang lalu Yan-chiu datang digunung situ, dialah yang merawatnya.
Maka atas protes Itu, dia hanya menyengir saja.
"Sumoay, kalau kau tak selalu mencari kesalahan dan tak menggoda aku, aku pasti sayang padamu."
Yan-chiu goyang2kan tangannya berseru.
"Apa2an sih itu! Kau sayang saja pada suci, kan ia nanti tak mau menghiraukanmu!"
Sambil bicara itu, mereka sudah melangkah kedalam pintu biara.
Didengarnya Ceng Bo siangjin batuk2 diruangan samping, maka merekapun tak berani bicara keras2, terus masuk kedalam.
Begitu masuk, dilihatnya sang suhu itu duduk disebuah kursi, wajahnya keren sekali.
Memang Ceng Bo siangjin itu tak suka banyak omong.
Diantara ketiga saudara seperguruan itu, kecuali Bek Lian yang karana dimanjakan oleh kecintaan sang ayah, kalau berhadapan dengan ayahnya itu tetap berani berbicara.
dengan keras.
Tapi sutee dan sumoaynya itu karena merasa sebagai anak yatim piatu yang ditolong oleh Ceng Bo siangjin, merekapun tahu diri.
Disamping itu, keduanya pun agak jeri terhadap sang suhu yang dihormatinya itu.
Demi nampak wajah suhunya luar dari biasanya, begitu masuk Tio Jiang dan Yan-chiu terus tegak berdiri dengan khidmatnya.
Adalah Bek Lian seorang saja yang berani maju dan menghampiri kearah meja disisi ayahnya untuk melihat sebuah peta yang terbentang disitu.
Sementara Ki Cee-tiong, itu toa-ah-ko Thian Tee Hui, tetap riang berseri wajahnya.
Memang dengan wajahnya yang selalu ber-seri2 itu, kalau sedang menghadapi ketegangan, tampak makin lucu kelihatannya.
Setelah ketiga muridnya datang.
Ceng Bo siangjin segera suruh mereka melihat peta bumi itu.
Menunjuk kearah tapal batas Tiau-yang, berkatalah Ceng Bo siangjin.
"Coba kalian lihat, tentara Ceng sudah tiba disini! Turut katanya Ki susiokmu ini, kaisar Siau Bu yang bertakhta di Kwiciu itu, mempunyai dua orang menteri yang bernama Ko Tiau-cian dan Hongo-ciu. Kedua orang itu berlainan muka dengan hatinya (palsu). Salah seorang akan bersekongkol dengan tentara Ceng, agar memperoleh pangkat. Ah, anjing2 Boan-ciu terkenal ganas sekali. Misalnya peristiwa pengganasan dan pembunuhan besar2an di Yangciu dan Ka-ting, entah berapa banyak jiwa bangsa Han yang melayang! Kita akan segera turun gunung menggabungkan diri ber-sama2 dengan saudara2 dari Thian-Tee-Hui guna berusaha mengusir tentara musuh dari perbatasan Kwitang. Ini adalah urusan besar. Kepandaian kalian bertiga sebenarnya masih belum seberapa, seharusnya belum waktunya turun gunung, tapi apa boleh buat!"
Ketiga anak muda itu mendengarinya dengan penuh perhatian. Tiba2 Bek Lian kedengaran membuka mulut.
"Ayah, aku dan Yan-chiu sumoay masih belum belajar ilmu pedang dengan sempurna!"
Ceng Bo siangjin menghela napas, ujarnya.
"Ah, terus terang saja lebih baik jangan harapkan hal itu. Sebenarnya To-hay-kiam-hwat itu walaupun satu jurusnya saja, kalian berdua tak boleh belajar. Telah kuajarkan 4 jurus pada kamu berdua itu, sudah berarti mencelakai. Lian-ji, kau harus belajar ilmu pedang 'hoan kang kiam hwat' seperti ibumu itu, tetapi ah.............."
Sejak Bek Lian berangkat besar, setiap kali mendengar sang ayah membicarakan ibunya, tentu disusul dengan helaan napas yang panjang.
Entah tak tahulah Bek Lian apa sebabnya dan lama sudah ia ingin mengetahui sebab itu.
Maka menggunai kesempatan kala itu, ia beranikan diri bertanya.
"Ayah, dimanakah ibu?"
Ceng Bo siangjin ter-mangu2 sampai sekian lama, lalu tiba2 dia berkata.
"Lekas siapkan senjatamu ikut Ki dan Kiau kedua susiokmu pergi ke Kwiciu. Aku segera akan menyusul!"
Walaupun kurang puas atas jawaban yang bukan jawaban itu, namun Bek Lian tak berani membantah sang ayah.
Tiba2 Tio Jiang teringat akan halnya siorang tua aneh (Sam-thay-ya) itu, hendak dia tuturkan pada suhunya, atau tiba2 dari arah luar Ciok jisoh kedengaran berseru keras.
"Kiau loji, pil istimewa buatan suhumu Tay Siang Siansu itu, sungguh mujijat sekali. Siau-lan sudah sadarkan diri, rasanya sudah tak apa2 lagi. Biar gunung dan sungai menyaksikan, kami keluarga Ciok telah berhutang budi padamu!"
"Ciok jisoh,"
Sahut Kiau To seraya tertawa.
"apa2an kau omong begitu. Itulah sudah jamaknya orang persilatan saling tolong menolong. Kau hendak membalas budi untuk sebuah pil buatan suhuku, ah susahlah rasanya! Hati2lah setelah kau turun gunung. Sadarkan adikmu bahwa orang itu seorang ganas, tak usah memikirkan padanya!"
Tapi berbareng pada saat itu, kedengaran suara Siau-lan mengajak taci iparnya.
"Soso, hayo kita lekas pergi, kalau terlambat tentu takkan dapat berjumpa dengan engkoh Go!"
Mendengar itu Ki Cee-tiong yang berada disebelah dalam segera bertanya pada Tio Jiang.
"Hai, mengapa loji begitu murah hati mengobral pil sam-kong-tan? Siapakah yang terluka dan mengapa?"
Atas pertanyaan itu Tio Jiang -segera tuturkan duduk perkaranya.
Dan baru saja selesai menutur, Kiau To yang habis mengantar Ciok jisoh dan Ciok Siau-lan berangkat, sudah balik dan masuk kedalam ruangan lagi.
"Sisu-ko, kau sungguh hebat,"
Seru Kiau To mengalem Tio Jiang.
"tapi mengapa kau kenal akan ilmu tutuk "hong cu may ciu"
Orang itu?"
"Ah, mana aku tahu! Itulah seorang tua aneh berjanggul panjang bernama Sam-thay-ya yang memberitahu padaku!"
Sahut Tio Jiang, tapi berbareng saat itu se-konyong2 Ceng Bo siangjin berbangkit dan tangannya memijat meja, krak, krak, rompallah ujung meja ltu.
Melihat kelakuan aneh dari Ceng Bo siangjin itu, orang2 sana terkejut sekali.
Malah dengan tak terkesiap, Yan-chiu menatap sang suhu.
sesaat teringatlah Ceng Bo siangjin bahwa tadi dia telah kehilangan penguasaan dirinya, maka dengan tertawa tawar dia bertanya pada Tio Jiang.
"Sik loo-sam itu mengatakan apa lagi?"
"Sik Loo-sam,"
Tio Jiang mengulangi pertanyaan suhunya dengan keheranan.
"Itulah siorang tua kate tadi!"
Buru2 Ki Ce-tiong menanggapi.
"Oh,"
Seru Tio Jiang.
"dia bilang, dia bukannya takut menemui suhu, melainkan tak ingin bertemu saja. Dan kemudian bilang, dia hanya tahu makan tak tahu berpikir."
Ceng Bo siangjin tundukkan kepala merenung sejenak Ialu berkata.
"Sudah jangan hiraukan dia, kalian ikut saja pada saudara Ki dan Kiau menggabungkan diri dalam Thian-Hui di Kwiciu. Tak berapa hari kemudian, aku tentu menyusul kesana !"
Bagi kaum persilatan, selain senjatanya tak ada lain benda perbekalannya lagi.
Begitulah mereka bertiga lalu menuju kekamarnya masing2 untuk berkemas membawa sedikit barang yang perlu.
Mendengar dapat pergi ke Kwiciu, bukan kepalang girangnya Yan-chiu.
Tak berapa lama kemudian, Ki Ce-tiong, Kiau To, Bek Lian, Tio Jiang dan Yan-chiu berangkat turun gunung.
Meskipun ilmu silatnya sudah punah, tapi sedikit2 Ki Ce-tiong masih bisa menggunakan ilmu mengentengi tubuh, jadi kini mereka berlima dapat berjalan berendeng.
Berada sendirian didalam kamarnya, Ceng Bo siangjin tampak mondar-mandir, lalu mengambil pedangnya yang tergantung pada dinding.
Pedang itu sebuah tiang-kiam (pedang panjang), bentuknya sangat istimewa jauh berlainan dari pedang biasa, karena lebih panjang beberapa dim.
Sarung pedang itu yang sebelah berbentuk bundar, yang sebelah terepes.
Tangkai pedang itu yang sebelah kanan panjang yang sebelah kiri pendek.
Lebih dahulu Ceng Bo meniup sarung pedang itu, lalu membersihkannya dengan lengan baju.
Rupanya dia begitu sayang sekali akan pedangnya itu.
Setelah itu, dengan pe-lahan2 dia lolos keluar.
Dibarengi dengan suara bergemuruh samar2, batang pedang itu tertarik keluar ke-biru2an warnanya.
Anehnya, pedang itu seperti tak mempunyai ujung.
Jadi batang pedang itu tampaknya bundar panjang seperti sebuah berambang panjang.
Ceng Bo siangjin ketuk2kan dua buah jarinya kebatang pedang, dan terdengarlah suara bening macam suara batu pualam.
Ditariknya pula batang pedang itu sedikit keatas lagi, lalu dengan ter-longong2 dia mengawasi dua huruf "yap kun"
Yang terukir disitu.
Mendadak dia menghela napas, wajahnya mengunjuk kedukaan yang sangat.
Setelah memandang sampai sekian saat, dia segera sarungkan lagi pedangnya, lalu menuju keluar.
Saat itu keadaan disekeliling puncak situ lelap sekali.
Hanya ada sementara burung berkicau keluar dari dalam hutan puhun siong dan Hwat Ji tojin itu tojin gagu tuli yang nampak memikul tong air mendaki keatas, untuk diisikan kedalam gentong.
Karena sudah biasa jadi Ceng Bo pun tak merasa heran.
Se-konyong2 Ceng Bo siangjin bersuit pelahan, tapi nadanya ternyata melengking bening sekali.
Thaysan Sin-tho Ih Liok, itu sibongkok yang pura2 menyaru jadi orang tuli gagu, sambil menuang air sambil memperhatikan gerak-gerik Ceng Bo itu.
Tadi sewaktu dilihatnya siangjin itu keluar sendirian dengan membawa pedang pusakanya yang sama sekali tak boleh disentuh orang itu, diapun sudah terperanjat heran.
Dan begitu mendengar siangjin itu bersuit, tahulah dia kalau kepala Cin Wan Kuan itu tengah menyampaikan tantangan.
Apakah penyaruannya itu sudah diketahuinya?
Demikian pikir Ih Liok dengan gelisah dan oleh karena kegelisahannya itu dia telah keliru menuangkan setengah tong air itu keluar gentong.
Tapi ternyata suitan Ceng Bo itu makin lama makin tinggi nadanya, baru dia (sibongkok) lega hatinya karena terang itu bukan ditujukan dirinya.
Tak antara lama, kumandang suitan itu sudah jauh menyusup keseluruh pelosok.
Tapi orangnya sendiri sudah menggendong tangan dengan mencekali pedang, tampak mondar-mandir kian-kemari.
Hanya kini sikapnya sudah tenang lagi.
Diam2 Ih Liok merasa kagum.
Tapi dia tetap heran, siapakah yang hendak diundang berkelahi oleh siangjin itu?
Tengah dia me-mikir2 itu, tiba2 didengarnya ada seseorang berteriak.
"Hay-te-kau, jangan bersuit setan lagi, jantung Sam-thay-ya kau tusuk2 rasanya!"
Berbareng dengan teriakan itu, dari sebelah bawah sana melesat sesosok tubuh dan entah bagaimana caranya, dalam dua kali loncatan saja orang itu sudah berada satu tombak jauhnya dihadapan Ceng Bo siangjin.
Demi melihat siapa orang itu, sibongkok bukan main terkejutnya terus ber-gegas2 masuk kedalam bio.
Tapi disitu dia mengintip keluar dari sela2 lubang pintu.
Oleh karena bio itu sudah kosong, jadi perbuatannya itu tiada seorangpun yang tahu.
Begitu nampak munculnya orang itu, Ceng Bo siangjin segera berhenti bersuit serta lalu membentak.
"Sik Lo-sam, tidak nyana setelah berpisah 10 tahun bisa berjumpa lagi bukan?"
Batok kepala siorang tua yang besar itu tampak mengangguk beberapa kali, lalu menyahut.
"Benar, benar, Hayte-kau, sungguh tak nyana. Tapi mana Kang-siang-yan? mengapa ia tak tampak ? Kau mempunyai murid yang baik ya? Makanya sampai tak kenal suhunya itu siapa, ha, ha!"
Sambil mendengari ocehan si Sam-thay-ya atau Sik Losam itu, tangan Ceng Bo siangjin yang digendong dibelakang tadi ditarik dan dialihkan kemuka dada, lalu balas bertanya.
"Sik Lo-sam, ia berada dimana?"
"Siapa? Siapa yang kau maksudkan berada dimana itu?"
Tanya siorang tua kukway dengan heran. Ceng Bo siangjin tetap berlaku sabar, katanya.
"Yang pada 10 tahun berselang ketika sedang beristirahat sakit dikaki gunung ini, malam2 kau ......... tutuk jalan darahnya itulah!"
Ketika mengucapkan kata2nya yang terakhir itu nadanya berat tenggorokannya gemetar, seperti menderita suatu kesakitan.
Sebaliknya siorang tua kate aneh itu seperti tak kejadian apa2, ia menepuk batok kepalanya sendiri berseru.
"O, itulah Kang-siang-yan !"
"Benar, dimanakah dia?"
Hardik Ceng Bo dengan nada keras.
"Sret", se-konyong2 orang tua aneh itu melesat 3 tindak kebelakang. Ceng Bo siangjin melangkah maju setindak mengikutinya.
"Entah, aku tak tahu!"
Sik Lo-sam gelengkan kepalanya.
"Sring", Ceng Bo siangjin melolos pedangnya.
"Bagus, Hay-te-kau! Kau mau berkelahi lagi? Mari, mari, mari!"
Seru Sik Lo-sam seraya silangkan kedua tangannya, maju kemuka terus menghantam Ceng Bo siangjin. Tapi dengan kibaskan baju pertapaannya, Ceng Bo telah dapat menghalau serangan itu, seraya berseru.
"Sik Lo-sam, kau mau tidak menerangkan duduk perkara yang sebenarnya dari peristiwa dahulu itu?"
Gambar 12
"Bagus, Hay-te-kau! Kau mau berkelahi lagi? Mari, mari, mari!"
Seru Sik Lo-sam seraya silangkan kedua tangannya, maju kemuka terus menghantam Ceng Bo siangjin. Tapi dengan kibaskan baju pertapaannya, Ceng Bo telah dapat menghalau serangan itu, seraya berseru.
"Sik Lo-sam, kau mau tidak menerangkan duduk perkara yang sebenarnya dari peristiwa dahulu itu?"
"Bukan aku. Tapi siapa yang menutuk pingsan Kangsiang-yan, aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Tapi kau tetap tak mempercayai keteranganku, habis aku harus mengatakan bagaimana? Pedangmu itu, kau curi kepunyaan Kang-siang-yan !"
Melihat caranya siorang tua aneh itu berkata secara berputar balik sukar dirasakan, setelah berpikir sejenak, berkatalah Ceng Bo.
"Sik Lo-sam, pedang ini merupakan sepasang lelaki dan perempuan. Ketika itu Kang-siang-yan sedang sakit, aku kegunung mencari obat. Ketika pulang kudapati hanya kau seorang yang berada disitu, itu waktu........ ya kau tentu mengetahui sendiri keadaan itu waktu. Setelah kututuk-sembuhkan jalan darahnya, ia tak mau bicara apa, tahu2 pergi entah kemana. Adakah kau pernah bertemu padanya?"
"Haya, kalau tak kau sebut2 hal itu tentu aku lupa. Nyonya itu keliwat bengis, kalau aku tak cepat2 menyingkir, tentu sudah tak bernyawa lagi."
"Dimana kau menjumpainya?"
Tanya Ceng Bo siangjin dengan gugup. Sik Loo-sam gelengkan kepala, menyahut.
"Entahlah, aku lupa. Otak Sam-thay-ya ini, tak bisa muat barang."
Kini Ceng Bo hilang sabarnya.
"Sik Loo-sam, kau juga tergolong tokoh kenamaan dalam dunia persilatan. Menghina isteri orang, harus menerima hukuman apa, kau bilanglah!"
Mata istimewa dari siorang tua aneh itu berkicup membalik, sahutnya.
"He, siapa yang menghina isterimu?"
Ceng Bo siangjin perdengarkan ketawa tawar, terus siapkan pedangnya. Tanpa kelihatan bergoyang tubuh.
"sret"
Tahu2 Sik Loo-sam melesat kesamping pintu bio dan terus miringkan kepalanya untuk mendengari, lalu mendorong pintu terus masuk.
Sibongkok Ih Liok yang berada dibelakang pintu tak dapat lari mengumpat.
---oo0-dwkz-TAH-0oo---"Bagus, Hay-tee-kau, kau sembunyikan seorang pembantu?"
Sik Loo-sam menjerit seraya mencengkeram lengan kanan sibongkok.
Thaysan Sin-tho Ih Liok bukan seorang yang lemah, sebenarnya dia dapat menghindar dari cengkeram itu.
Tapi tiba2 dia memperoleh pikiran, maka mandah diam saja.
Gerakan Sik Lo-sam itu luar biasa cepatnya, begitu mencengkeram terus dia lemparkan sibongkok itu keluar.
Sewaktu melayang diatas, tangan dan kakinya berserabutan dan mulutnya ber-kuik2 men-jerit2.
Melihat itu buru2 Ceng Bo siangjin maju untuk menyanggapi, lalu pelan2 ditaruhkan diatas tanah.
Tadi Sik Loo-san tak mau memperdatakan siapa yang disergapnya itu.
Begitu sibongkok disambuti Ceng Bo, diapun terus ikut memburunya serta membolak-balikkan si-bongkok, kepalanya (sibongkok) ditundukkan lalu didongakkan dan dipereksanya sampai sekian saat.
"Sik Loo-sam, kau apakan dia?"
Tanya Ceng Bo siangjin dengan heran.
"Sibongkok ini! Yang malam itu masuk kedalam pondok hendak mencuri pedang, adalah sibongkok ini!"
Sahut Sik Loo-sam.
Tengah Ceng Bo siangjin melengak tak tahu apa yang harus diperbuat, se-konyongr sibongkok itu meronta terus enjot tubuhnya keatas.
Gerakannya yang luar biasa tangkasnya itu, sungguh diluar dugaan orang.
Sik Lo-sam pun cepat mundur selangkah, dan baru Ceng Bo siangjin sadar apa sebenarnya, yang telah terjadi, sibongkok itu sudah melakukan suatu gerakan yang istimewa.
Selagi melayang diudara, kakinya kiri diinjakkan kekaki kanan, sekali enjot terus melambung lagi makin tinggi.
Itulah suatu gerak ilmu mengentengi tubuh yang sakti.
Saat itu dia sudah berada diluar karang buntu tadi, dan sembari melayang turun kelembah, mulutnya berseru.
"Malam itu benar aku berada di dalam pondok, tapi belum sempat mendapatkan pedang itu. Yang menutuk jalan darah hun-hiat pun bukan aku!"
Dan berbareng dengan seruannya itu, orangnya pun sudah menobros kedalam halimun tebal.
Kalau orang biasa saja yang loncat turun tadi, tentu tak sedemikian lincahnya.
Ceng Bo siangjin dan Sik Lo-sam adalah tokoh akhli.
Tahu mereka bahwa sibongkok tadi telah gunakan gerak cian-kin-tui (tindihan seribu kati) agar secepatnya dapat turun kebawah serta dapat selekasnya lolos dari tangan kedua akhli kenamaan itu.
GAMBAR 13 Se-konyong2 si Bongkok itu meronta terus enjot tubuh meloncat keatas, terus melesat kebawah gunung melarikan diri.
"Itulah Thaysan Sin-tho!"
Tiba2 Ceng Bo siangjin teringat akan seorang tokoh persilatan yang lihay.
Karena tak tahu bahwa sibongkok itu telah menyaru sebagai Hwat Ji tojin yang gagu untuk bekerja dibiara situ, dengan delikkan mata, Sik Lo-sam menegur.
"Mengapa? Apa kau tak tahu?"
Dengan terjadinya peristiwa itu, tahulah Ceng Bo bahwa peristiwa 10 tahun yang lalu itu makin ruwet jalannya.
Thaysan Sin-tho diutara dan dia sendiri didaerah selatan, jangankan berkenalan, sedang melihat wajahnya pun belum pernah.
Apalagi Thaysan Sin-tho itu juga seorang tokoh yang namanya sangat berkumandang didunia persilatan.
Tapi mengapa pada waktu itu (peristiwa 10 tahun berselang) orang bisa kedapatan berada dipondoknya juga?
Dan yang paling tak dibuat mengerti, mengapa sibongkok itu rela kerja berat selama 6 tahun dibiara situ?
Lagi, mengapa begitu terbuka kedoknya lalu buru2 mengambil langkah seribu?
Adakah sesungguhnya dia itu tahu akan keadaan yang sebenarnya?
Orang yang dapat menundukkan isterinya, boleh dihitung dengan jari.
Kalau bukannya sibongkok, mungkinkah Tay Siang Siansu dari gereja Liokyong-si di Kwiciu?
Benar sebabnya sang isteri yang sangat dikasihi itu sampai jatuh sakit adalah karena perbuatan Tay Siang Siansu.
Tapi ia adalah seorang imam kelas tinggi yang telah menuntut penghidupan suci, masakan dia mau melakukan perbuatan yang serendah itu?
Ketika dia balik kepondok, hanya Sik Lo-sam yang ada disitu, tapi dia menyangkal keras.
Juga tadi sibongkokpun membantah tuduhan itu.
Tapi kenyataannya, begitu dipulihkan jalan darahnya yang tertutuk tadi, tanpa berkata suatu apa Kang Siangyan sang isteri itu, telah menghilang dan sejak itu sampai kini tak pernah muncul kembali.
Oleh karena kala itu dia sibuk berkelahi dengan Sik Lo-sam yang dicurigainya, jadi dia tak sempat untuk menguntit sang isteri.
Dilihat dari perkembangannya, rahasia itu takkan terpecahkan selama dia belum berhasil menjumpai sang isteri sendiri.
Namun tiga tahun lamanya dia berkeliaran mencarinya, tapi tetap sia2.
Akhirnya karena putus asa, dia ambil keputusan menjadi pertapa (imam).
Tapi setiap kali teringat nasib dari sang isteri yang tak ketahuan rimbanya itu, hatinya perih seperti di-sayat2.
Begitulah pada saat itu, lubuk pikiran Ceng Bo penuh dikarungi oleh seribu satu pertanyaan, yang tak terpecahkan olehnya.
Dengan helaan napas panjang, dia memberi isyarat tangan.
"Sik Lo-sam, kau enyahlah !"
"Suruh aku pergi sih mudah, tapi harus mengajari aku 3 jurus ilmu pedang!"
Ceng Bo siangjin tahu kalau orang tua itu seorang yang linglung, tapi sangat suka sekali belajar ilmu silat.
Adakah ilmu orang lain itu baik atau buruk, dia selalu meminta diajari beberapa jurus.
Mengingat bahwa ilmu pedangnya "to hay kiam hwat"
Itu tak boleh diturunkan pada orang luar, maka Ceng Bo siangjin mendapat akal, katanya.
"Sik Lo-sam, kalau kau dapat mencarikan isteriku, ilmu pedangku akan kuturunkan padamu seluruhnya!"
Mendengar itu, hidung Sik Lo-sam berkembang kempis saking girangnya.
"Baik, baik", serunya seraya memutar tubuh terus lari kebawah gunung. Ceng Bo siangjin menghela napas lagi, setelah menyarungkan pedangnya dia kedengaran berkata seorang diri;
"Ang-moay, Ang-moay, kemanakah kau ini? Kalau benar2 kau mempunyai dendam, biarlah seluruh sisa hidupku ini kugunakan untuk mencari musuhmu itu!"
Habis mengikrarkan isi hatinya itu, dengan pe-lahan2 dia menuju kedalam biara.
Rupanya dia mendendam kemarahan besar, maka tanah yang dilaluinya itu hingga sampai kemuka pintu, tampak ada bekas telapak kakinya yang mendalam.
Malam itu tak kejadian apa2.
Pada besoknya sore, baru kelihatan Ceng Bo siangjin muncul keluar dari biara.
Dari sikapnya yang sangat lesu itu, terang kalau tadi malam dia kurang tidur.
Dengan menyelipkan pedang dipinggang, dia gunakan ilmunya lari cepat untuk turun gunung.
Kerajaan Beng yang berhijrah kedaerah selatan itu, terpecah menjadi dua, masing2 dikepalai oleh seorang kaisar.
Kaisar2 itu saling bertempur sendiri, tapi sedikitpun tak menghiraukan akan serbuan tentara Ceng yang sudah tiba ditapal batas.
Kaisar Siau Bu yang berkedudukan di Kwiciu, telah mengirim tentara untuk menindas kaisar Liong Bu yang berkedudukan di Siao Ging.
Terang kalau pasukan penyerbu dari kaisar di Kwiciu itu telah dapat dibasmi habis2an, tapi Kaisar Liong Bu di Siau Ging telah keliru menyangka kalau tentaranya yang kalah, maka dengan ter-sipu2 dia melarikan diri.
Baru setelah tiba di Ngociu propinsi Kwisay dan mendapat laporan resmi tentang jalannya pertempuran yang sebenarnya, kaisar Liong Bu pulang kembali kekota raja Siau Ging.
Seorang junjungan yang setolol itu mana dapat memimpin pemerintahannya untuk menggempur tentara penjajah Ceng!
Sejak isterinya menghilang secara aneh itu, semangat Ceng Bo siangjin sudah padam, hatinya tawar akan urusan dunia.
Tapi kali ini setelah mendapat surat undangan dari perkumpulan Thian Te Hui, hatinya tergugah lagi.
Bahwa tanah tumpah darahnya akan dijajah oleh tentara asing, itulah suatu hinaan besar.
Maka dengan melupakan kedukaannya, dia segera berangkat ke Kwiciu memenuhi undangan lcetua Thian Te Hui tersebut.
Tapi setibanya disana, didengarnya kalau keempat bajak laut dari Laut Selatan yakni The, Ciok, Ma dan Chi berkunjung ke Lo-hou-san untuk mencarinya.
Maka dengan ber-gegas2 pulanglah dia kegummg.
Walaupun, mondar-mandir dalam perjalanan sejauh itu, namun dia tak merasa lelah.
Sewaktu turun gunung untuk yang kedua kalinya ini, Ceng Bo siangjin berlaku hati2 dalam perjalanan.
Siang hari dia tak berani gunakan ilmu berjalan cepat, karena kuatir menimbulkan kecurigaan orang.
Kalau malam hari, dia tak mau menginap dihotel tapi mencari tempat dibiara yang rusak.
Menjelang siang hari pada hari kedua, barulah dia tiba dipintu kota sebelah timur.
Markas perkumpulan Thian Te Hui yang sangat dirahasiakan itu, karena sudah pernah datang kesitu, maka dengan mudah Ceng Bo dapat langsung menuju kesana.
Tapi baru melangkah kedalam, dia segera mendapat ada sesuatu perobahan.
Biasanya, anggauta2 perkumpulan itu banyak sekali jumlahnya, sehingga keadaan markas itu selalu ramai.
Tapi saat itu, sepi2 saja keadaannya.
Juga dalam perjalanan kesitu tadi, dia tak menjumpai barang seorang anggautanya.
Diam2 Ceng Bo siangjin terperanjat dalam hatinya.
Setelah melalui beberapa rumah dan sebuah gedung hesar, baru didengarnya ada suara orang sedang ber-cakap2.
Tapi dari nada percakapan mereka yang tak keruan juntrungannya itu, terang kalau keliwat banyak minum arak.
Setelah menurut arah suara itu, ternyata disitu terdapat dua orang lelaki tengah bermain domino (terbuat dari bahan tulang), dan dihadapannya ada seguci arak.
Dari dandanannya, mereka itu adalah anggauta Thian-Te-Hui.
Baru Ceng Bo siangjin hendak membuka mulut, atau salah seorang dari mereka telah melihatnya dan meng-goyang2kan tangannya.
"Lo-to (imam tua), kali ini kau sial. Orang2 sudah sama berangkat, kau susullah!". Ceng Bo siangjin tak kenal dengan orang itu, sembari tertawa kecil dia bertanya.
"Mana toa-ah-ko?"
"Semuanya sudah pergi kegunung Gwat-siu-san, pergilah!"
Sahut yang seorang lagi dengan tak sabaran. ---oo0-dwkz-TAH-0oo---BAGIAN 4 . PERTEMPURAN DIATAS LUITAY "Mengapa disana ?"
Tanya pula Ceng Bo siangjin dengan heran. Rupanya kedua orang itu adalah golongan orang2 kasar, dengan menggebrak meja mereka berseru.
"Bukankah kau ini hendak memungut derma? Kesanalah, tanggung dalam satu bulan kau takkan kelaparan?"
Merasa bahwa didalam kata2 orang itu terselip sesuatu hal, apalagi mereka dalam keadaan mabuk mengoceh tak keruan, Ceng Bo tak mau cari urusan.
Tanpa banyak bicara dia terus keluar dari situ untuk menuju kegunung Gwat-siu-san.
Belum lagi tiba digunung tersebut, Ceng Bo sudah melihat disepanjang jalan banyak orang2 yang berjalan, malah dikedua tepi jalan banyak didirikan warung2 darurat serta penjual2 sama menjajakan dasarannya.
Dengan rasa heran, Ceng Bo siangjin lanjutkan perjalanannya.
Tapi makin dekat kegunung itu makin ramai pula orang.
Lagi maju sedikit, segera dia tampak ada dua buah luitay (panggung untuk bertempur) yang besar.
Di-tengah2 dari salah satu panggung luitay itu, digantungi sebuah lencana besar, berbentuk bulan, sebelah atas hitam dan sebelah bawahnya putih.
Sementara yang sebuah, tiada ada pertandaan apa2.
Disekeliling luitay itu didirikan panggung penonton yang penuh sesak dengan manusia.
Melihat lencana hitam putih itu, tahulah Ceng Bo siangjin bahwa Thian Tee Hui tengah membuka luitay ditempat itu.
Diam2 dia mengeluh.
Suasana negara begini suram, mengapa main dirikan luitay mencari permusuhan?
Orang2 sama ber-bondong2 kesitu, kota Kwiciu kosong, kalau se-waktu2 pasukan Ceng menyerang, bukankah celaka?
Ceng Bo siangjin ambil putusan untuk menemui Ki Cee-tiong dan Kiau To, tapi karena orang2 disekitar luitay itu penuh sesak ber-jubel2, sukarlah dia mendapatkannya.
Malah ketiga anak muridnya, Tio Jiang, Bek Lien dan Yan-chiu, pun tak kelihatan batang hidungnya.
Satu2nya jalan untuk menemui pemimpin2 Thian Tee Hui itu ialah loncat keatas luitay, tapi Ceng Bo tak mau berbuat begitu.
Dia cukup tahu, memang2 orang2 yang berjejal itu sebagian besar adalah penonton biasa, tapi tentu tidak sedikit jumlahnya tokoh2 persilatan yang turut hadir juga.
Dia membiluk, singgah pada sebuah warung dan memesan minuman.
Belum berapa lama dia duduk, dari arah belakang terdengar ada dua orang tengah ber-cakap2.
"Toako, kali ini bakal ada pertunjukkan yang bagus benar2. Sejak beberapa tahun ini, dikalangan persilatan sepi dengan keramaian macam begini,"
Kata salah seorang. Sementara kawannya dengan menghirup tehnya kedengaran berkata dengan suara sember.
"Benar, Thian Tee Hui itu sudah mempunyai nama dikalangan persilatan!"
Orang yang pertama terdengar berkata pula.
"Ya, aku merasa heran mengapa Thian Tee Hui sampai terlibat permusuhan dengan Hay-siang su-kee (4 keluarga dari Laut selatan)?"
"Akupun baru lusa datang dari Go-ciu. Konon kabarnya ji-ah-ko (pemimpin kedua) Thian Tee Hui telah membinasakan salah seorang dari bajak Laut itu, yaitu si Ti Gong hweeshio!"
Sahut kawannya.
"Astaga, dua tahun yang lalu aku pernah berjumpa dengan Ti Gong hweeshio, kepandaiannya sih tak seberapa. Mungkin karena peraturan perguruannya yang menetapkan 'dendam harus dibalas', maka kali ini kalau tiada suhunya tentu susiok (paman guru) yang mempelopori pertandingan luitay ini!"
Kata yang seorang pula.
Mendengar itu, Ceng Bo siangjin terkesiap.
Heran dia, mengapa Kiau To tertuduh membunuh Ti Gong?
Dia yakin disitu tentu terselip sesuatu yang tak beres.
Maka dia Ianjutkan mendengari lagi.
Kata salah seorang dari orang itu pula.
"Benar, tokoh yang angker macam Sam Tay tianglo dari gereja Ci Hun Si digunung Lam-kun-san itu, mana mau menerima hinaan begitu? Karena anak muridnya terbinasa, dia tentu mencari balas pada Thian Tee Hui, dan mengirim surat tantangan. Karena Thian-Te-Hui pun sedang jaya, sudah tentu terima juga tantangan itu. Menurut berita2 yang kudengar sampai siang ini, orang2 dari kedua fihak semua sudah hadir disini!"
Ceng Bo siangjin makin mengeluh.
Yang dimaksud dengan Sam Tay tianglo (tiga serangkai imam) gereja Ci Hun Si itu ialah.
To Kong, To Ceng dan To Bu.
Meskipun dia sendiri belum pernah bertemu muka, namun nama ketiga hweeshio besar itu sangatlah terkenal didunia persilatan.
Kalau kali ini mereka berserekat dengan keempat bajak dari Laut Selatan itu, urusan tentu makin besar.
Ang-hwat cinjin (suhu dari The Go) dari Ang-hun-kiong di Ko-to-san, tentu akan keluar kandang juga.
Sekali bertempur, mungkin setengah bulan atau bisa juga setengah tahun belum habis.
Dengan begitu bukankah akan membikin kapiran urusan besar?
Kini tentara Ceng sudah berada ditapal batas, rakyat hanya mengharap akan usaha Thian Tee Hui, dengan berserekat pada seluruh tokoh persilatan, untuk melawannya.
Adakah Ki Cee-Tiong dan Kiau To, kedua pemimpin Thian Tee Hui itu tak menginsyafi hal itu?
Selagi dia me-nimang2 dalam pikirannya, tiba2 dari tengah2 kedua luitay itu, terdengar bunyi genderang ber-talu2, dibunyikan 3 kali.
Ceng Bo mendongak kemuka dan dapatkan matahari sudah hampir ditengah, jadi luitay segera akan dimulaikan.
Sesaat itu hiruk pikuk suara orang menjadi sirap hening.
Pada lain saat dari belakang luitay tampak muncul 3 orang paderi yang bertubuh kurus2.
Yang dua orang memanggul sebuah bok-pay (papan) sekira 3 kaki panjangnya.
Yang seorang tidak membawa apa2.
Begitu keluar kedua paderi yang membawa bokpay tadi segera lontarkan bokpaynya keatas udara.
Dengan lurus dan tepat, bokpay itu melayang kearah tiang penglari yang paling tinggi dari luitay itu.
Ketika hampir dekat dengan penglari, tiba2 paderi yang tak membawa apa2 tadi tampak gerakkan tangannya keatas dan tik, tik, dua buah benda, hitam kecil panjang melayang menyusup kedalam bok-pay yang segera menempel lekat pada tiang penglari.
Kiranya yang dilepaskan itu adalah dua buah paku, untuk memaku bok-pay itu.
GAMBAR 14 Mendadak paderi ketiga itu ayun tangannya, dan"tak-tak"
Dua kali, dua papan kecil yang kedua kawannya telah terpaku diatas penglari.
Demonstrasi kepandaian yang ditunjukkan ketiga paderi itu, sungguh menakjubkan.
Benar papan bok-pay itu dilontarkan oleh dua orang, tapi kalau kepandaian sipelontar itu tak tinggi, pasti tak nanti dapat melayang begitu necis dan tepat sekali.
Lebih2 kepandaian melemparkan paku dari sihweeshio yang bertangan kosong tadi.
Maka tak heranlah kalau para penonton baik didalam bangsal maupun yang dibawah luitay, sama bersorak sorai dengan gemuruh sekali.
Ceng Bo siangjin mendongak mengawasi kearah bok-pay itu dan dapatkan pada papan itu ada 3 buah gambar roda.
Seketika tahulah Ceng Bo, bahwa ketiga hweeshio itu adalah 3 paderi pemuka dari Ci Hun Si, To Kong, To Ceng dan To Bu.
Setelah mengunjuk demonstrasi, ketiga hweeshio itu segera meleset naik keatas luitay.
Begitu menghadap kemuka, para penonton melihat wajah mereka itu pucat lesi bagaikan mayat hidup.
Mereka tampak duduk bersila diatas luitay.
Tapi baru ketiganya duduk tenang, dari arah timur terdengar gemuruh suara penonton.
Kiranya para penonton itu tengah menyambut dengan hangat atas kedatangan kedua pemimpin Thian Tee Hui, Ki Cee-tiong dan Kiau To, siapa terus loncat keatas luitay.
Tegas dilihat oleh Ceng Bo, sewaktu melompat itu Kiau To pakai tangannya kiri memimpin tangan kanan Ki Ceetiong untuk diangkat keatas.
Diam2 Ceng Bo siangjin itu kerutkan keningnya.
Dari tempat duduknya situ dengan luitay walaupun hanya terpisah 4 atau 5 tombak jauhnya, namun dipagari oleh lautan manusia.
Dia dapat enjot tubuhnya kesana, tapi tak mau dia buru2 unjukkan diri.
Tapi kalau berdiam diri saja, tentu takkan dilihat oleh Kiau To.
Tiba2 dia mendapat akal bagus.
Dengan sebuah jarinya dia tekan pecah cawan teh dan sentikkan pecahan cawan itu kearah Kiau To.
Sudah tentu pecahan cangkir itu menerbitkan suara angin melengking.
Saat itu Ki Cee-tiong dan Kiau To hendak membuka mulut, tapi begitu tampak ada sinar putih melayang keatas luitay.
Kiau To mengira kalau sebuah senjata rahasia, maka dengan sebatnya dia melangkah kehadapan tao-ah-ko untuk melindunginya.
Tapi begitu dia dapat menyambuti benda putih itu, ternyata adalah sebuah pecahan cawan.
Dengan keheranan, dia sapukan pandangan matanya kesekeliling penjuru.
Buru2 Ceng Bo siangjin lambai2kan tangannya, hal mana dapat dilihat juga oleh Kiau To.
Segera pemimpin kedua Thian Tee Hui berpaling kebelakang luitay serta mengucapkan sesuatu.
Saat itu segera tampak Bek Lian dan Yan-chiu muncul dari belakang lui-tay.
Dengan gunakan gerak "yan cu sam jo cui" (burung walet 3 kali menyentuh air) kedua gadis itu loncat turun.
Kedua gadis dari Lo-hou-san itu sememangnya berparas cantik.
Lebih2 Bek Lian yang laksana seorang bidadari itu.
Maka kali ini hiruk pikuk makin bergemuruh lagi.
Melihat kedua anak muridnya itu unjukkan kepandaian, Ceng Bo siangjin menghela napas.
Namun kenyataan memang begitu.
Malah itu waktu Bek Lian sudah berseru memanggil "Tia" (ayah) dan Yan-chiu berseru "Suhu"
Kepadanya. Dasarnya genit lincah, tanpa menghiraukan sekalian orang lagi, Yan-chiu terus ceriwis menuturkan pengalamannya pada sang suhu.
"Suhu, wah ramai sekali,"
Kata siceriwis itu dengan lincahnya.
"baru kita bertiga datang di Thian Tee Hui, entah bagaimana ada orang mengantar surat yang menuduh bahwa Kiau susiok telah membunuh Ti Gong sihweeshio gemuk itu ah jangan2 sibongkok yang melakukannya. Eh, surat itu menantang pibu (adu silat) pada Kiau susiok, yang sudah tentu terpaksa menerimanya. Suhu, kebenaran kau sudah tiba, apa nanti akan turut naik kelui-tay?"
Biasanya Yan-chiu takut dan menghormat pada suhunya.
Tapi karena pertama kali turun gunung, ia sudah menghadapi peristiwa begitu, maka saking girangnya, dia bicara dengan cerocos sekali.
Apalagi ketika nampak suhunya datang kesitu itu, menurut anggapannya, tentu akan turun tangan juga.
Tapi diluar dugaan sinona genit, dengan perdengarkan dengusan hidung, Ceng Bo berbangkit mengangkat bahu.
Demi tampak suhunya tak senang, Yan-chiu seperti ditapuk setan, cap kelakep tak berani bercuit lagi.
Tapi dasarnya dara nakal, ia segera unjuk muka-setan kepada sang suci Bek Lian, sehingga dua orang yang ber-cakap2 dibelakang Ceng Bo tadi tertawa ter-bahak2 saking gelinya.
Tapi Yan-chiu segera deliki mata kepada kedua orang itu.
"Mana Jiang-ji?"
Tanya Ceng Bo.
"Dia berada dibelakang lui-tay,"
Sahut Yan-chiu. Masih Ceng Bo hendak bertanya lagi, tapi ketika itu dilihatnya Kiau To sudah tegak berdiri ditengah luitay, seraya berseru dengan nyaring.
"Para enghiong dan hoohan sekalian, para saudara2 Thian Tee Hui, disini Kiau To, ji-ah-ko dari Thian Tee Hui. Sam Tay tianglo dari Ci Hun Si berkeras menuduh bahwa salah seorang muridnya yang bernama Ti Gong hweshio telah dibinasakan oleh orang Thian Te Hui. Bukannya mempersalahkan muridnya sendiri yang tak punya guna sehingga sampai dibunuh orang, sebaliknya menimpahkan kesalahan itu pada Thian Tee Hui serta menantang di luitay. Saudara2 sekalian, apakah Thian Te Hui itu mandah dihina orang?"
"Tidak, tidak!"
Terdengar tereakan bergemuruh dari sebelah timur. Rupanya mereka itu adalah rombongan orang2 Thian Tee Hui. Kiau To rangkap tangan memberi hormat seraya lanjutkan kata2nya lagi.
"Karena Thian Tee Hui tak boleh diperhina orang, dan karena Ci Hun Si sam tianglo itu tetap berkeras dengan tuduhannya, maka terpaksa diadakan luitay ini. Kalau bahasa mulut tak dapat diterima, maka kepelanlah yang memutuskan. Para sahabat persilatan sekalian, barang siapa yang hendak berminat membantu kedua fihak silahkan naik kemari untuk mengeluarkan kepandaian masing2. Mati atau hidup itu tergantung dari kepandaian kita sendiri!"
Bermula Ceng Bo siangjin mengira kalau urusan masih bisa diselesaikan dengan damai.
Tapi serta didengarnya Kiau To mengucapkan begitu, terang sudah jalan buntu.
Diam2 siangjin itu menarik napas dalam2 lagi.
Dia pun lalu memberi isyarat tangan kepada Bek Lian dan Yan-chiu, suruh mereka jangan mengajak bicara lagi.
Dia tampak duduk lagi, untuk mencari pikiran.
Jalan satu2nya ialah tunggu setelah pertempuran bubar, dia hendak meminta agar kedua pemimpin Tian Tee Hui bubarkan saja luitay itu, jangan cari setori pada orang lain.
---oo0-dwkz-TAH-0oo---Tepat disaat dia mendapat pikiran itu, disebelah luitay yang satunya sana, salah seorang hweeshio yang yang duduk di-tengah2 segera tampil kemuka.
Dan setelah memberi hormat pada para penonton, dia berseru suara tajam.
"Memang kepandaian dari murid pinceng (hweeshio membahasai dirinya) kurang tinggi, itu benar. Tapi menggunal kesempatan sebagus ini, pin-ceng hendak memohon pelajaran yang sakti dari para enghiong hoohan (orang gagah) Thian Tee Hui!"
Dari ucapan itu, terang dia tetap menghendaki pertempuran. Tapi baru tantangan itu disampaikan, dari bawah luitay sudah terdengar seorang berseru keras megyambutinya.
"To Kong tianglo, potong ayam mengapa memakai pisau pemotong sapi, biarlah kami ketiga saudara ini menjadi pelopor pihak barisanmu, yang tampil pertama kali!"
Berbareng dengan seruan itu, loncatlah 3 orang lelaki bermuka brewok, keatas luitay.
Sekali lihat, Yan-chiu segera mengenali mereka itu sebagai ketiga saudara Chi, yakni Chi Beng, Chi Kwi dan Sim.
Saking senang bakal menyaksikan pertempuran, Yan chiu seperti me-nari2.
Namun karena suhunya berada disebelah situ, tak berani ia unjuk tingkah.
Diam2 ia kutik2 Bek Lian serta membisikinya.
"Suci, lebih baik kebelakang luitay saja, supaya bisa nonton dengan jelas!"
"Huh, untuk menghadapi bangsa begitu masa kami layak maju ke luitay!"
Bek Lian tertawa, tapi cepat ayahnya mendenguskan hidung sambil tertawa dingin, Ketiganya segera bangkit untuk mengawasi kesekeliling penjuru.
Kiranya sekalian penonton tampak curahkan perhatian kearah luitay.
Sam Tay tianglo sudah turun dari luitay dan kini ketiga saudara Chi yang menggantikan naik.
Babak pertama dari pertempuran diluitay itu, Ceng Bo siangjinpun tak mau menghiraukan lagi.
Sementara Bek Than dan Yan-chiu sudah menyusup masuk diantar penonton yang ber-jubal2 itu, untuk menuju kebelakang luitay.
Begitu tiba disana, kedengaran Kiau To berkata-kata.
"Mengapa untuk babak pertama mereka menyuruh ketiga saudara Chi yang maju? Aneh juga!"
"Entah apa maksud mereka itu!"
Sahut Ki Ce-tiong. Justeru dia berkata begitu, Bek Lian dan Yan-chiu muncul, maka buru2 toa-ah-ko itu bertanya.
"Apa Bek-heng belum datang?"
"Entah apa sebabnya, kelihatannya suhu tak senang hati!"
Jawab Yan-chiu.
"Sudah tentu karena adanya luitay ini. Akupun kuatir juga, jangan2 membikin kapiran urusan besar. Tapi karena orang mencari urusan, apa kita tinggal diam saja?"
"Looji, mengapa kau begitu ngotot. Sebaiknya lekas tunjuk siapa yang harus tampil kedepan. Ketiga bajak dari keluarga Chi itu, tak boleh dipandang ringan. Masakan dalam babak pertama, mereka buru2 hendak menang angin,"
Kata Ki Ce-tiong.
Dalam kedua pemimpin Thian Te Hui itu berunding, memang ada sementara anggauta2 Thian Te Hui berpangkat thau-bak yang tawarkan diri untuk maju kegelanggang luitay, namun mata Kiau To tertuju kearah Tio Jiang yang sejak tadi berdiam diri saja itu.
Waktu Bek Lian masuk kesitu, Tio Jiang memaku (terus menerus memandang) sang suci saja, maka dia sampai tak mengetahui akan isyarat Kiau To itu.
Adalah Yan-chiu yang tahu akan isyarat itu, terus mengutik sukonya, hingga Tio Jiang gelagapan.
Sewaktu dia mendongak mengawasi kemuka, dilihatnya ada seseorang yang memakai sepasang sepatu jo-eh (sepatu rumput), mengenakan sehelai baju (pada hal itu waktu adalah bulan sebelas yang hawanya dingin) tengah setindak demi setindak menyeret kakinya menghampiri kearah ketiga saudara Chi sana.
Sambil jalan beringsut-ingsut itu, mulutnya berseru.
"Hai, adakah kalian bertiga ini orang she Chi?"
Ketiga saudara Chi itu terkesiap. Dengan perlahan diamat-amati orang yang berpakaian mesum itu, tapi mereka tak mengenalnya.
"Benar, apakah loheng ini hendak membantu fihak Thian Te Hui?"
Sahut mereka serempak. Sembari beringsut jalan menghampirl kedekat, orang itu menyahut.
"Apa itu sih Thian Te Hui, Jin Kau Hui (perkumpulan orang anjing)? Locu (membahasai dirinya sendiri) tak kenal semua. Yang kuketahui dilaut selatan ada 3 ekor belut she Chi, ganas tak kenal kasihan. Justeru kebenaran hari ini aku sempat, hendak kutangkapnya !"
Sekalian orang yang mendengar keterangan itu, sama terperanjat kaget.
Terang luitay itu diperuntukkan pertandingan antara Thian Te Hui melawan Sam-tianglo dari Ci Hun Si.
Ketiga saudara Chi itu adalah salah seorang Empat Sekawan bajak Laut Selatan.
Kalau mereka berkelahi untuk fihak Sam-tianglo (tiga paderi besar) itu dapat dimengerti.
Tapi masa tahu2 muncul orang lain yang hendak mencari ketiga saudara Chi itu!
Perawakan orang itu sedang.
Cara berjalannya yang diseret setindak demi setindak itu sih tak mengherankan, tapi yang mengherankan adalah caranya membawakan kata2nya yang begitu tajam itu.
Selagi orang masih men-duga2, orang aneh itu sudah tiba dimuka luitay, lalu berseru kearah samping luitay.
"Ambilkan tangga, supaya locu bisa naik keatas !"
Ketiga saudara Chi itu tertawa mengejek.
"Loheng tokh hendak pi-bu, mengapa keatas luitay saja tak mampu?"
Sembari memanjat ketangga, orang itu menyahut.
"Locu hanya pandai menangkap belut, baik dimana saja, didarat maupun dilaut. Tapi memang locu tak bisa main loncat !"
Setelah berada diatas papan luitay, orang itu menuding kepada ketiga saudara Chi, serunya.
"Bagaimana, kamu bertiga maju serempak atau satu per satu?"
"Kami bertiga saudara ini, selama maju berbareng. Kalau kau jeri, lekas enyah sana!"
Sahut Chi Kwi. Orang itu memutar tubuh, menghadap kearah penonton dia beraeru nyaring.
"Para enghiong hohan dari seluruh penjuru, dengarlah! Mereka bertiga hendak mengerubuti aku seorang, kalau mereka mampus rasanyapun sudah cukup pantas!" ,,Jangan jual omongan tak berguna! Siapa namamu?"
Bentak ketiga saudara Chi itu.
"Aku orang she "Si!"
"Si"
Artinya "ya". Sudah tentu ketiga saudara itu melengak seraya menegas.
"She Si?"
"Tidak salah,"
Sahut orang itu dengan tertawa.
"namaku yang lengkap ialah Si Li Tia (ialah ayah-mu)!"
Baru kini ketiga saudara itu sadar bahwa orang berniat mem-per-olok2kan.
Cepat mereka berjajar rapi, lalu siap menghunus golok kui-thau-to (kepala setan) masing2.
Melihat itu, Ki Ce-tiong berkata kepada Kiau To.
"Loji, ilmu golok dari persaudaraan Chi itu memang dimainkan oleh bertiga orang. Dan itu merupakan suatu ilmu permainan yang sukar dilayani. Kukira lebih baik kau panggil orang itu, agar publik tak menyangka kalau Thian Te Hui tiada mempunyai orangI"
Dipikir omongan toa-ah-konya itu memang tepat, maka berbangkitlah Kiau To terus berseru keras2.
"Sahabat, harap berhenti dulu!"
Lalu lolos jwan-pian (ruyung lemas semacam cambuk) dipinggangnya.
Begitu dikebutkan sehingga lempang seperti sebatang pit (pena Tiongkok), dia terus melesat ketengah luitay.
Selagi masih melayang diatas udara itu, piannya dimainkan dengan gencar sekali sehingga menderu merupakan sebuah lingkaran sinar, atau mirip dengan sekuntum bunga yang tengahnya berisi bayangan orang.
Cara pemimpin kedua dari Thian Te Hui itu naik keatas luitay, memang indah dan istimewa sekali.
Ketiga saudara Chi itu telah bertindak menurut rencana yang telah ditetapkan.
Rencana itu menghendaki agar pertempuran luitay itu bisa berlangsung sampai beberapa hari lamanya, agar mereka dapat melaksanakan rencana itu lebih ianjut.
Mengapa dalam babak pertama ketiga saudara itu yang maju, adalah karena pada pikiran mereka, masakan dalam hari pertama fihak musuh akan mengeluarkan jago2nya yang lihay.
Dengan begitu, tentu mereka bertiga akan dapat merebut kemenangan.
Pemimpin kedua dari Thian Te Hui, Kiau To itu, wataknya berangasan.
Menghadapi setiap persoalan, tak mau dia berbanyak pikir untuk menelitinya.
Lain halnya dengan Ki Cee-tiong yang cermat teliti.
Nampak ketiga saudara Chi yang pertama turun kegelanggang, dia menduga, tentu ada sebabnya, maka disuruhnya Kiau To lah yang menghadapinya.
Loncatan Kiau To ketengah luitay itu tepat jatuh di-tengah2 ketiga saudara Chi dan siorang kurus tadi.
Per-tama2 Kiau To memberi hormat kepada orang itu seraya berkata.
"Sahabat, aku yang rendah atas nama Thian Te Hui haturkan terima kasih atas bantuanmu. Hanya saja kali ini adalah menyangkut urusan Thian Tee Hui, apabila sahabat memang sungguh berhasrat membantu, sukalah kiranya pada nanti giliran yang kedua saja."
Ucapan Kiau To Itu disusun dalam bahasa tata kesopanan dunia persilatan yang sopan sekali.
Sekalipun orang itu datang bukan karena hendak membantu Thian Tee Hui tapi karena hendak membereskan permusuhannya sendiri, namun turut aturan, dia harus mengalah.
Tapi ternyata tidak demikian.
Kelopak matanya membeliak, mulutnya berseru aneh.
"Bagaimana? Bukankah luitay ini diperuntukkan berkelahi? Apa hakmu untuk melarang aku, hayo menyingkir sana!"
Orang itu berkata dengan suara keras, hingga para pera penonton dapat mendengar dengan jelas.
Tapi Kiau To masih menahan hatinya serta masih hendak menyahutinya.
Tapi dia agak dikejutkan dengan derap kaki dari belakang luitay.
Begitu berpaling kebelakang, kiranya Yan-chiulah yang ber-lari2 mendatangi terus loncat keatas luitay.
Begilu menginjak dllantai dia terus menuding pada orang jembel itu.
"Kau mau berkelahi sih boleh saja, tapi satu melawan tiga, itu tidak seimbang. Begini saja, kita bertiga ini melawan mereka bertiga, jadi satu melayani satu!"
Dan tanpa tunggu jawaban orang lagi, sigenit itu mengeluarkan bandringannya, terus dihantamkan kepada Chi Beng.
Sudah tentu si Chi Beng itu buru2 menangkis dengan goloknya.
Yan-chiu tarik kebelakang tangannya seraya memutar tubuh untuk melancarkan lagi serangannya yang kedua.
Melihat kegarangan nona itu, Chi Beng murka.
Masa seorang lelaki gagah tak bisa menangkan seorang gadis kecil, bukankah dia nanti akan kehilangan muka dikalangan persilatan?
Dengan menggerung keras, dia segera mainkan ilmu golok keluarga Chi yani yang disebut "Sam Kek To Hwat".
Dengan gencar dan serunya, dia merangsang nona itu.
Yan-chiu andalkan kelincahannya, sedang senjatanya rantai bandringan Itu merupakan senjata yang lemas dan panjang, maka dapatlah dia loncat kian kemari sambil memberi pukulan pada setiap ada kesempatan.
Dalam beberapa saat saja, pertempuran sudah berlangsung 10-an jurus.
Melihat sikap sinona yang tegas dan garang itu, siorang aneh tadi tertawa riang, serunya.
"Bagus, nona kecil, dengan memandang mukamu locu serahkan kedua ekor belut itu kepada kalian!"
Setelah mengucap begitu, dengan jarinya yang kotor penuh dangkal itu, dia tuding Chi Kwi.
"He, majulah, apa takut mati?"
Saking marahnya, dada Chi Kwi hampir meledak.
Serentak dia maju membacok dengan goloknya, tapi orang itu hanya miringkan tubuhnya.
Rantai bandringan si Yan-chiu panjangnya hampir 4 meter.
Oleh karena luitay itu memang tak sebrapa luas, jadi sewaktu Yan-chiu mainkan baderingannya itu, boleh dikata telah memakan lebih dari separoh panggung luitay itu.
Seperti telah dikatakan tadi, atas bacokan Chi Kwi, orang itu miringkan tubuhnya.
Justeru pada saat itu bandringan Yan-chiu tepat melayang kearah mukanya.
Sedang pada saat itu, karena bacokan yang pertama gagal, Chi Kwi mengirim lagi bacokannya yang kedua kearah kepala orang itu.
Namun orang itu tinggal diam saja.
Untuk bandringan Yan-chiu yang datangnya lebih dahulu, dia tampar bola besi diujung rantai itu, sehingga sesaat itu Yan-chiu seperti terjorok kemuka.
Dengan begitu bola besi itu berganti arah layangnya, wung terus menghantam Chi Kwi.
Mimpipun tidak Chi Kwi kalau bola bandringan Yan-chiu itu akan menghantam kearahnya.
Dengan gugup dia menangkiskan goloknya, trang, golok dan bola besi saling berbentur.
Yan-chiu sih tak merasakan apa2, tapi Chi Kwi kesemutan tangannya sehingga goloknya hampir terlepas "Nona kecil, sungguh kuat sekali tanganmu!"
Serunya memuji.
Tapi sebenarnya Yan-chiu sendiri ketika bola bandringannya di tampar oleh tangan siorang aneh, hampir saja juga tak dapat menguasai pegangannya.
Diam2 ia puji siorang aneh itu bukan seorang tokoh sembarangan.
Namun tak mau Ia pedulikan hal itu, serta balas membentak si Chi Kwi .
"Nonamu ini bertenaga besar, tak perlu dengan pujianmu!"
Dari berhadapan dengan Chi Beng kini Yan-chiu berganti melawan Chi Kwi.
Sebaliknya karena mendapat kesempatan, tiba2 Chi Beng membacok Yan-chiu.
Untuk menyerang Chi Kwi yang berada disebelah muka, tapi dari belakang diserang oleh Chi Beng, Yan-chiu menjadi kelabakan.
Se-konyong2 orang aneh itu kedengaran berseru.
"Nona kecil, kita saling tukar musuh!", terus melesat kehadapan Chi Beng, ulurkan tangannya hendak menampar. Buru2 Chi Beng angkat goloknya memapas lengan orang. Tapi secepat kilat tangan orang itu ditarik kebelakang dan "plak", tahu2 menampar muka lawan. Hebat kiranya tamparan itu, karena seketika itu Chi Beng ter-huyung2 mundur sampai 3 langkah, malah hampir terjungkal kebawah luitay. Separoh mukanya menjadi bengkak kebiru2an. Setelah menampar muka, orang aneh itupun tak mau mengejar. Dengan berdiri tegak, dia mengawasi Chi Beng seraya tertawa cekikikan, sepertinya tak memandang mata pada lawan.
"Locianpwe, bagus sekali pukulanmu tadi,"
Seru Yan-chiu dari samping.
"Hai, kiranya manja juga nona kecil ber-kata2,"
Sahut orang aneh itu.
Tadi bertempur dengan Chi Kwi, Yan-chiu sudah merasa berat, apalagi kini ia pecah perhatiannya untuk memuji siorang aneh, maka hampir saja golok lawan membabatnya.
Kini tak berani lagi dia bicara dengan siorang aneh, lalu menumplek perhatiannya untuk menghadapi lawan.
Disamping sana, Kiau To mengawasi dengan penuh perhatian akan jalannya pertempuran itu.
Yan-chiu keripuhan, mungkin kehabisan napas.
Tapi siorang aneh itu ternyata seorang ko-chiu (jago kelas tinggi), hingga dapat mempermainkan lawannya.
Dengan begitu pertandingan seri.
Setelah jelas, dia segera menuding pada Chi Sim, bajak yang ketiga.
"Mari, kita naik keluitay yang sana itu !"
Diantara ketiga saudaranya, Chi Sim lah yang paling rendah kepandaiannya. Tapi biarpun kalah lihay, dia menang cerdik dari kedua kakaknya itu. Kiranya ilmu golok "sam kek to hwat"
Dari keluarga Chi itu terdiri dari 3 pokok dasar.
thian (langit), tee (bumi) dan jin (orang).
Ketiga saudara itu masing2 mempelajari satu macam jurus.
Maka untuk menghadapi lawan, mereka bertiga harus maju berbareng, baru kelihatan lihaynya.
Sam-kek-to-hwat ternyata berdasarkan sebuah ucapan dalam kitab I-keng yang mengatakan.
"gerakan dari ke 6 garis, adalah jalanan dari ke 3 kek (batas)". Oleh karena itu, letak keindahan dari perobahan ilmu golok itu, ialah harus dimainkan oleh 3 orang itu, barulah hidup. Chi Sim tak mau ladeni tantangan Kiau To, karena itu berarti terpecah kekuatannya. Cepat dia maju setindak untuk berjajar dengan kakaknya, Chi Kwi yang tengah bertempur dengan Yan-chiu itu, lalu berseru menantang Kiau To.
"Disini, kalau berani majulah, kalau takut mati, sana mundur saja !"
"Bangsat yang tak tahu mati!"
Damprat Kiau To seraya ayunkan tiang-pian menyabet kaki orang.
"Toako, jiko, pundak rata!"
Chi Sim meneriaki kedua kakaknya.
Pundak rata, berarti bertempur bahu membahu.
Chi Kwi dan Chi Beng tersadar dari kekliruannya yang sudah tak mau bertempur secara berbareng itu.
Maka tanpa hiraukan sakitnya dibagian muka, Chi Beng maju dua langkah kemuka.
Tapi tepat pada saat itu siorang aneh tadipun melangkah maju, hingga saling berhadapan.
"Bagaimana? Hendak mati bersama disatu tempat?"
Kata orang mesum itu dengan cekikikan.
Karena pernah merasakan tangannya, tak berani Chi Beng menerjangnya.
Dan karena merandek itu, kini Chi Beng terpencil dihadang oleh siorang aneh itu.
Apa boleh buat, Chi Beng segera ayunkan golok kui-thao-tonya untuk menerjang.
Namun dengan ke-tawa2, siorang aneh itu berlincahan diantara samberan golok, setempo loncat keatas setempo membungkuk kebawah.
Kalau tidak menggaplok pantat, tentu me-ngitik2 iga orang, hingga dalam melancarkan serangannya yang hebat itu, mau tak mau si Chi Beng geli karena ngeri.
Mungkin karena belum pernah menyaksikan pertempuran selucu itu, para anak2 Thian Te Hui dan penonton sama ketawa ter-bahak2.
Tapi ketiga Sam Tay tianglo dari Ci Hun Si itu tetap sedingin es wajahnya.
Sementara diluitay yang satunya, Chi Kwi dan Chi Sim dapat bahu membahu bertempur.
Yang satu khusus menyerang tubuh, sedang yang lain melulu mengarah kaki.
Baik menyerang maupun menangkis, kedua orang itu tentu ajak-ajakan.
Benar ilmu permainan pian dari Kiau To cukup lihay, namun dalam waktu singkat tak dapatlah dia merebut kemenangan.
Kini dia keluarkan jurus permainan "liok kin pian hwat", sehingga gerakannya berobah menjadi gencar bagaikan angin puyuh.
Juga Yan-chiu tak kurang garangnya dengan senjata bola bandringannya.
Sebenarnya Kiau To seorang saja sudah cukup untuk menghadapi kedua saudara itu.
Maka Yan-chiu hanyalah bergerak untuk menghantam, se-waktu2 ada lubang kesempatan.
Berkelahi cara begitu, sungguh enak bagi sinona nakal.
Karena dia ber-putar2 untuk mencari kesempatan, maka gerakannyapun bagaikan seekor kupu2 me-nari2 diantara kuntum bunga.
Malah sigenit itu me-niru2 perbuatan siorang aneh tadi ialah dengan tangannya kiri menggablok pantat kedua lawannya itu.
Dan itu dapat dia lakukan se-puas2nya karena kedua saudara Chi itu tengah tumplek perhatiannya untuk melayani serangan Kiau To.
Juga pemandangan diatas luitay yang ini, tak kurang menariknya.
Para penonton sama ter-pingkal2, sampai orangnya fihak keempat bajak itu sendiri, tak kuat menahan gelinya.
Dalam waktu sesingkat saja, pertempuran itu sudah berjalan belasan jurus.
Kini Chi Kwi dan Thyi Sim tampak sudah kepayahan didesak pian Kiau To, sehingga pada lain saat saking gugupnya mereka ber-jingkrak2 seperti monyet kena api.
Dan berbareng dengan itu pantat mereka habis digaploki Yan-chiu.
Diluitay yang sebelah sana, Chi Beng anggap bahwa orang aneh yang menjadi lawannya itu sebenarnya tak seberapa lihaynya.
satu2nya kepandaian yang paling diandalkan ialah ilmun ya mengentengi tubuh yang hebat.
Ini terbukti beberapa kali sudah dia menerima tamparan siorang aneh itu, bermula memang kaget, tapi ternyata rasa sakitnya itu hanya sebentar saja terus sembuh kembali.
Dengan anggapan itu, timbullah nyali Chi Beng.
Sret, aret, sret, 3 kali dia maju membabat dan berhasil mendesak lawan mundur selangkah.
Benar dalam mundurnya itu, siorang aneh dapat memberi tamparan, namun sekali enjot, dia terus hendak melesat kearah kedua saudaranya sana.
Tapi hai, gila betul siorang aneh itu, ilmumengentengi tubuhnya sungguh sakti benar.
Sekali bergerak tahu2 dia sudah menghadang dihadapan Chi Beng lagi, bluk ......dia meninju dada Chi Beng seraya berseru.
"Tubuhmukan besar, mengapa takut ditinju!"
Mendengar itu, sudah tentu Yan-chiu ketawa meringkik.
Saking gemasnya.
Chi Beng menabas, tapi siorang itu terus menghindar.
Dalam kesempatan itu, dapatlah sekarang Chi Beng bersatu dengan kedua saudaranya, sehingga kini permainan mereka menjadi hidup.
GAMBAR 15 Mendadak banderingan Yan-chiu terpental dari tangan, berbareng bebokongnya kena digablok siorang aneh hingga tubuhnya terapung keatas.
Memang dengan tergabungnya menjadi satu, permainan golok ketiga saudara Chi tampak bersemangat.
Yang pertama menderita pengaruhnya adalah Kiau To, siapa tampak terdesak mundur selangkah.
Yan-chiu masih mengimpi hendak mengocok mereka, dengan coba2 menyodok ketiak Chi Sim.
Tapi untuk kekagetannya, Chi Kwi menabas dengan goloknya, hingga saking gugupnya sinona segera tangkis dengan bandringannya.
Tapi sekali Chi Kwi putar goloknya, bandringan itu telah kena digubatnya.
"Lepas!"
Bentak orang she Chi itu sembari mendorongkan golok keluar.
Yan-chiu rasakan tangannya kesemutan, saking kagetnya bandringan terlepas terus dilontarkan oleh Chi Kwi.
Baru Yan-chiu hendak mundur, Chi Sim sudah membarengi menusuknya.
Yan-chiu mengeluarkan keluhan tertahan, tapi sekonyong2 orang aneh itu mengulurkan tangannya yang kotor berdaki, secepat kilat telah menggaplok pantatnya sehingga selebar muka Yan-chiu ke-merah2an.
Serasa didorong oleh suatu tenaga besar, diluar kemauannya, Yan-chiu telah terangkat naik sampai satu tombak keatas.
Sebenarnya nona itu gugup sekali, tapi karena waktu melambung keatas, bandringannya tadi justeru melayang jatuh kebawah, make sebat sekali dia menjambretnya lalu ikut melayang turun bersama bandringan itu.
Ketika melayang turun, jatuhnya tepat ditepian luitay.
Setelah terhuyung sebentar, sekarang ia sudah berdirik tegak lagi.
Saking cepatnya siorang aneh itu menggerakkan tangannya tadi, maka para penonton dibawah luitay sampai tak mengetahui kalau sebenarnya Yan-chiu telah didorongnya keatas.
Mereka mengira, karena bandringannya terpental keudara, nona itu segera enjot tubuhnya mengejar.
Seorang nona semuda itu umurnya, kalau kalah kuat dengan 3 orang lelaki yang bertenaga besar sehingga senjatanya sampai kena dilemparkan keatas, itu sih sudah jamak.
Tapi bahwasannya dalam keadaan yang membahayakan jiwanya itu, sinona masih dapat mengelakkan bacokan yang gencar dari Chi Sim dan malah dapat enjot tubuhnya setinggi itu untuk menyusul senjatanya yang terlepas tadi, adalah suatu kepandaian yang luar biasa.
Jadi dapatlah dianggap bahwa nona itu dapat merobah kekalahannya dengan suatu kemenangan yang mengagumkan.
Demikian penilaian para penonton yang segera memberi pujian tepuk tangan yang meriah sekali.
Malah disana, Tio Jiang dan Bek Lianpun sama terperanjat.
Bek Lian leletkan lidah mengeluarkan seruan tertahan.
Tio Jiang yang dalam beberapa hari ini tak mempunyai kesempatan (alasan) untuk bicara dengan sucinya itu, buru2 menggunakan kesempatan baik itu, katanya.
"Suci, ilmu mengentengi tubuh sumoay mendapat kemajuan pesat sekali."
Bek Lian hanya mengiakan dengan dingin, tapi itu sudah membuat Tio Jiang girang setengah mati, maka dengan wajah ber-seri2 dia mengawasi lagi keadaan diluitay.
Hanya Ceng Bo siangjin yang mendongkol, karena melihat muridnya itu tak mengindahkan nasehat untuk tidak turun kegelanggang.
Tapi demi menampak permainan bandringan sinona nakal itu bertambah maju, dia terhibur hatinya.
Tentang gaplokan siorang aneh pada Yan-chiu tadi, Ceng Bopun dapat melihatnya dengan jelas, tapi dia malah bersyukur, karena kalau tidak tentu muridnya yang masih hijau dan baru pertama kali turun dalam pertempuran itu tentu tak dapat mengelakkan tabasan Chi Sim.
Seperti telah diterangkan diatas, tergabungnya ketiga saudara Chi itu dalam permainannya sam-kek-to, telah melahirkan suatu gaya permainan yang lihay.
Kalau tidak dua menyerang satu menjaga, tentu yang satu menyerang yang dua menjaga.
Ilmu permainan golok itu, penuh dengan ragam perobahan, sehingga ketiga golok kui-thau-to itu merupakan ribuan sinar golok yang berkelebatan dengan derasnya.
Dalam hati, Kiau To mengagumi permainan itu, maka diapun lalu mainkan piannya dengan se-hebat2nya.
Setelah mendapat pengalaman pahit bandringannya terlepas tadi, sekarang Yan-chiu tak berani gegabah lagi.
Dia andalkan kelincahannya saja.
Tapi siorang aneh yang mesum Itu dengan sepasang sepatunya rumput yang mengeluarkan bunyi tik-tak tik-tak, ber-ingsut2 kian kemari, sepertinya tak menurut gerak permainan silat.
Namun betapa deras dan serunya samberan ketiga golok lawan itu, tetap tak dapat mengenainya.
Keadaan itu berjalan sampai belasan jurus.
Sebaliknya karena sampai sekian lama tak ada kesudahannya itu, Kiau To menjadi tak sabaran lagi.
Dia perhebat permainannya pian, merangsang musuh dengan bernapsu sekali.
"Mau lekas2 memberesi ketiga ekor belut ini bukan? Mengapa tadi2 tak bilang?"
Seru siorang kotor itu dengan tertawa, sembari maju merapat.
Chi Beng dan Chi Kwi menyambutnya dengan 3 kali bacokan be-runtun2, tapi tak kuasa menahan majunya siorang aneh itu.
Chi Sim yang tengah melayani Kiau To itu menjadi lengah, betisnya kena disawut oleh siorang aneh tadi, terus dijorokkan kearah Kiau To, sehingga jatuh kemulca.
Kiau To sebat gunakan jurus "ular aneh mencari mangsa"
Menyabet dan tepat melibat betis si Chi Sim. Sekali tangan menyentak, tubuh Chi Sim yang besar itu terangkat naik. Dan begitu tangan Kiau To tampak bergerak lagi, mulutnya segera berseru.
"Enyahlah!"
Tubuh Chi Sim telah kena dilempar keluar luitay.
Ilmu mengentengi tubuh dari ketiga saudara Chi itu biasa saja.
Maka sewaktu melayang turun, tangan dan kaki si Chi Sim itu me-ronta2 seperti orang kelelap dikali.
Maka dapat dipastikan, nanti kalau jatuh, tidak mati pun tentu akan luka parah.
Tapi se-konyong2 tampak sesosok tubuh berkelebat, malah nyata2 orang itu masih duduk diatas sebuah dampar (semacam permadani) yang bulat, tepat dapat menyanggapi jatuhnya Chi Sim itu.
Dengan merah padam, Chi Sim terus hendak loncat keatas luitay lagi, karena pikirnya, dengan kurang seorang, permainan sak-kek-to itu pasti akan kacau, tapi ternyata sudah terlambat.
Kakaknya yang satu kena dihantam punggungnya oleh bola bandringan Yan-chiu hingga muntah darah terus jatuh kebawah luitay.
Sedang kakaknya yang lain, telah dihajar pian mukanya hingga berlumuran darah dan berjumpalitan loncat kebawah luitay.
Jadi dalam babak pertama itu, fihak Thian Te Hui telah mencatat kemenangan.
Diantara ketiga saudara itu, terhitung Chi Simlah yang tak mendapat luka, sekalipun dia kena dilempar keluar gelanggang oleh Kiau To.
Bermula ketiga saudara itu memperhitungkan kalau pada hari pertama fihak Thian Te Hui tentu takkan mengeluarkan jagonya yang lihay, dan ini akan memberi kesempatan fihaknya untuk menang.
Memang menurut rencana Cian-bin-long-kun The Go (si Wajah seribu) ialah.
hari pertama, kedua dan ketiga, Thian Te Hui harus dikalahkan, agar mereka tak dapat lekas2 membubarkan luitay itu.
Dengan begitu dapatlah seluruh tokoh2 Thian Te Hui dan tokoh2 persilatan lainnya semua berkumpul digunung Gwat-siu-san situ, sementara dia dapat melaksanakan rencananya dikota Kwiciu.
Namun rencana itu telah dipecahkan oleh penilaian Ki Ce-tiong yang tepat.
Dengan menganjurkan Kiau To maju kegelanggang, sebenarnya sudah cukup untuk mengatasi ketiga saudara Chi itu.
Apalagi dengan mendapat tenaga tambahan dari murid kesayangan Ceng Bo siangjin.
Bahwa munculnya siorang mesum yang aneh itu untuk fihaknya, telah membuat kekalahan ketiga saudara itu menjadi suatu kekalahan yang mengenaskan sekali.
Begitu kedua kakaknya turun dari luitay, Chi Sim buru2 memapakinya lalu dengan bermuram durja masuk kebelakang panggung.
---oo0-dwkz-TAH-0oo---Sebaliknya dalam pengalamannya turun kegelanggang itu telah mendapat kemenangan, dengan diantar oleh tepuk sorak yang gegap gempita dari orang2 Thian Te Hui, Yanchiu tak mau segera berlaku dari luitay itu.
Mata Kiau To yang tajam segera dapat mengenali bahwa orang bersila diatas dampar terbang yang memberi pertolongan pada Chi Sim tadi adalah paderi To Kong, itu salah seorang gembong dari gereja Ci Hun Si yang mengantar surat tantangan tempo hari.
Dilihat dari caranya dia menolong Chi Sim, begitu tenang dan gapah sekali, Kiau To terperanjat.
Ilmu mengentengi tubuh yang sedemikian itu, jarang sekali terdapat dikalangan kaum persilatan.
Maka ter-sipu2 dia memanggil Yan-chiu.
"Siao Chiu, lekas turun dari luitay. Hweshio itu lihay sekali!"
Walaupun enggan, namun menurut juga Yan-chiu. Tapi baru dia hendak turun, tiba2 didengarnya mulut siorang aneh tadi berseru pelan.
"Nona kecil, kepala gundul itu hanya garang diluar, tapi tak berisi. Kalau kau berani menghadapinya, kujamin kau tentu menang!"
Karena Kiau To saat itu mengawasi pada paderi To Kong yang berada dibawah luitay, jadi dia tak dapat mendengar anjuran siorang aneh kepada Yan-chiu itu.
Karena memang sifatnya nakal, begitu dianjuri ia segera memanggut kepada orang aneh itu, lalu melangkah maju dua langkah seraya menuding kearah To Kong, serunya.
"Bangkai keledai, bagus, apa kau berani naik kemari untuk ber-main2 dengan nonamu ini ?"
Lwekang dari Yan-chiu yang baru dua tahun ini dipelajarinya belum sempurna, maka sewaktu bicara tak dapat ia gunakan lwekang, sehingga para penonton sama mendengarnya jelas.
Tapi oleh karena dia itu seorang dara yang lincah sympathik, maka perhatian penontonpun terpikat kearahnya.
Apalagi dengan nada suaranya yang merdu bagaikan kicau burung kenari itu, makin membuat terpesona orang2.
Yang paling kaget setengah mati, adalah Kiau To.
Dia heran mengapa nona itu begitu berani mati?
Sam Tay tianglo atau Tiga Imam besar dari gereja Ci Hun Si, sudah terkenal didunia persilatan.
Dalam segala2nya, nona itu tak nempil dengan sebuah ujung jarinya saja.
Babak pertama, fihak lawan menderita kekalahan, babak kedua ini tentu akan mengambil pembalasan.
Hendak Kiau To melarangnya, tapi dia teringat akan peraturan dunia persilatan, bahwa barang siapa yang sudah berani menantang berkelahi dalam luitay itu, tentu berani sudah menanggung akibatnya.
Apa boleh buat, terpaksa dia hanya berseru.
"Siao Chiu!"
Sebenarnya Yan-chiupun tak mengetahui akan tokoh hweeshio To Kong itu.
Bahwa begitu dia mengeluarkan tantangannya, para penonton sama kesima, telah membuatnya heran.
Menduga kalau ada sesuatu yang kurang beres, din segera hendak mencari alasan turun saja dari panggung.
Tapi tiba2 siorang mesum aneh itu kembali berkata.
"Nona kecil, maki lagi kepala gundul itu, tanggung kau pasti menang!"
Orang aneh itu hanya tampak kemak kemik, namun suaranya begitu nyaring tajam masuk kedalam telinga Yan-chui, sedang Kiau To yang berdiri tak jauh dari situ tak dapat mendengarnya, ini mengingatkan pada Yan-chiu akan apa yang pernah dikatakan oleh suhunya, bahwa ada semacam lwekang yang dapat menyalurkan suara menyusup ketelinga orang.
Ilmu itu disebut "thoan seng jip bit" (susupkan suara kedalam lebatan), suatu ilmu Iwekang yang sudah mencapai tingkat tertinggi.
Teringat pula nona lincah itu.
bagaimana tadi siorang aneh telah begitu istimewa sekali mendorong tubuhnya keatas.
Terang dia itu bukan tokoh sembarangan.
Maka hilang kesangsian Yan-chiu.
Tanpa pedulikan kecemasan Kiau To dan para penonton lagi, dia memaki pula.
"Keledai gundul, bangsat gundul, takut naik kepanggung? Kalau kau mengharap nonamu memberi ampun itulah mudah, asal kau julurkan kepalamu yang gundul, untuk kulompati 3 kali, baru nanti kuampuni jiwamu!"
Kata2 itu menyakiti perasaan tapi lucu, sehingga walaupun para penonton tahu bahwa To kong hweshio itu se-kali2 tak boleh dibuat main2 dan nona genit itu pasti akan menyesal nantinya, namun tak urung pecah juga ketawa bergemuruh dibawah luitay.
Tapi To Kong hweshio itu tetap berwajah seperti mayat, tenang2 duduk diatas damparannya.
Setelah ketawa orang2 sirap, baru dia berkata dengan pelahan2.
"Budak hina, siapakah gurumu?"
"Bangsat gundul, pada aku saja kau tak berani bertempur, apa2an mau tanya suhu?"
Kini To Kong yang berwajah mayat itu kedengaran tertawa keras, tapi nadanya ter-kekeh2 seperti burung betet.
Yan-chiu bercekat, ketika melihat bahwa sekalipun mulut sihweeshio itu tertawa tapi wajahnya tetap pucat seperti mayat, sedikitpun tak berobah mimik wajahnya.
Karena bercekat, kini Yan-chiu berganti nada, katanya.
"Toahweshio, apa yang kau ketawakan?"
Belum To Kong menyahut, Yan-chiu sudah mendengar suara siorang aneh tadi.
"Nona kecil, mengapa bernyali kecil? Masa kau takut mendengar ketawa keledai gundul itu saja? Satu lawan satu, kalau bisa menangkan hweshio itu, namamu akan menggeletar!"
Yan-chiu berpaling kearah orang itu. Tampak orang itu masukkan sebelah tangannya kedalam lengan bajunya yang "tes"
Keluar jarinya memitas seekor kutu.
Dengan menyeret sepatunya rumput, ber-ingsut2 dia turun dari luitay, begitu jatuh ketanah dengan susah payah dia baru bisa bangun lagi terus ayunkan langkah seraya menyomel sendirian.
"Aneh, aneh, seorang hweesiho yang begitu hebat takut pada seorang nona kecil saja. Kalau dunia persilatan mendengar hal itu, sungguh dunia ini seperti terbalik!"
Sembari berkata begitu dia masuk diantara lautan penonton.
To Kong memandang kearadh Yan-chiu, siapa segera tampak bersiap untuk menghadapinya.
Sewaktu Yan-chiu memaki si hweeshio itu, Tio Jiang sudah pucat, sehingga dia ambil putusan hendak maju menggantikan sumoinya itu.
Pikirnya, lebih baik dia saja yang menderita.
Tapi dicegah oleh Ki Cee-tiong.
"Siaoko, jangan kuatir. Kali ini meskipun nona itu tentu kalah, tapi takkan terjadi suatu apa pada dirinya, percayalah!"
Tio Jiang alihkan pandangannya kearah warung dimana suhunya berada tadi.
Tampaknya suhu itu tetap enak2 saja menikmati tehnya, hal mana sungguh membuatnya tak habis mengerti.
Bukankah kepandaian dari sumoaynya itu masih belum beberapa, mengapa suhu dan Kiau susioknya itu begitu ikhlas2 saja membiarkan anak itu menghadapi sihweeshio?
Karena tak mengerti, diapun segera bertanya kepada Bek Lian.
"Lian suci, hari ni mengapa sumoay begitu garang."
Kiranya Bek Lian sendiripun tak tahu sebabnya, tapi tak mau ia kentarakan kegelapannya.
"Suhu sudah cukup tahu, mengapa kau bingung?"
Sahutnya dengan tawar.
Tepat pada saat itu, tiba2 terdengar suara menderu dan dengan duduk diatas damparnya, To Kong nampak melayang keatas panggung.
Tersambar oleh anginnya saja, Yan-chiu sudah tak dapat mempertahankan berdirinya, ia agak terhuyung kebelakang sampai beberapa langkah, dan saat itu Kiau To sudah melesat dimukanya.
Melihat itu Yan-chiupun segera mundur lagi dua tindak.
Disebabkan rasa sayangnya kepada Yan-chiu maka biarpun insyaf bahwa To Kong hweeshio itu bukan lawannya, namun terpaksa juga Kiau To maju menggantikan.
Dan demi tampak bagaimana dengan mata ber-api2 To Kong mengawasi Yan-chiu yang berada dibelakangnya, Kiau To segera menegurnya.
"To Kong tiangloo, apakah benar2 akan meladeni seorang nona kecil?"
Kiau To berwatak berangasan, tapi pada saat itu bisa gunakan otaknya yang dingin.
Dengan ucapannya tadi, asal Yan-chiu tidak usil mulut lagi, dalam kedudukannya sebagai tokoh kenamaan pasti To Kong tak nanti mau cari urusan dengan Yan-chiu.
Diam2 Yan-chiu memaki siorang aneh tadi, yang sudah tak berani bertanggung jawab.
Orang itu mengatakan To Kong seorang "bungkusan nanah" (tak berguna), tapi tu lihat, tadi samberan angin damparnya saja sudah begitu hebat hingga membuat ia (Yan-chiu) terhuyung.
Terang dia (Yan-chiu) bukan tandingannya, maka iapun segera lepaskan bola bandringannya hendak diselipkan dipinggangnya lagi.
Biar penonton akan menertawainya, pokok asal dia bisa tinggalkan gelanggang maut itu.
Tapi tiba2 dilihatnya dibawah sana tak jauh dari luitay situ, tampak siorang aneh tadi ketawa kearahnya.
Tergerak hati Yan-chiu.
Se-konyong2 orang aneh itu gerakkan tangannya kanan sebuah sinar putih ber-kilat2 meluncur kearahnya.
Benda itu seperti suatu senjata rahasia.
Hendak ia menyingkir tapi sudah tak keburu lagi.
Begitu tiba dihadapannya benda berkilat yang aneh itu se-konyong2 menghantam rantai bandringnya dan merasa tak kuasa lagi Yan-chiu mencekal rantainya itu.
Wut, bandringannya terpental menghantam kearah To Kong.
Kejadian itu berlangsung dengan teramat cepatnya, sehingga tiada seorang penontonpun yang mengetahui apa yang telah terjadi tadi.
Malang Kiau To seorang akhli silat yang tergolong kelas tinggi, tak mengetahui juga.
Apa yang dilihat oleh sekalian orang itu yakni bola bandringan itu tiba2 melayang kemuka!
Sebaliknya Yan-chin yang mengetahui dan merasakan sendiri kejadian itu, malah tubuhnya pun hampir ikut menjorok kemuka karena tak kuat menahan getaran bandringannya itu, menjadi terkejut dan girang.
Terkejut, karena dia masih belum yakin apa bisa mengatasi sihweeshio.
Girang, karena orang aneh itu ternyata begitu sakti, sehingga rasanya melebihi lihaynya dari sang suhu.
Saat itu Kiau To tengah mendesak agar To Kong batalkan niatnya mengejar Yan-chiu, atau diluar dugaan malah bandringan sinona itu telah menghantam lawan.
To Kong hanya tertawa dingin sambil tetap duduk diatas damparnya.
Dia julurkan tangannya yang kurus kering untuk menyambuti bandringan sinona itu telah menghantam lawan.
To Kong, hanya belum sempurna, tapi ilmu bandringan itu adalah ilmu warisan dari Ceng Bo Siangjin.
Begitu To Kong hendak menyambuti, ia sentak rantai bandringan, sehingga bola besinya naik keatas dan terhindar dari sawutan lawan.
Gerakan itu disebut "hong hong sam tiam thau"
Atau burung hong 3 kali menganggukkan kepala.
Sewaktu Yan-chiu datang berguru pada Ceng Bo, Ceng Bo keluarkan semua senjata dan bertanya ia suka belajar ilmu senjata apa.
Setelah me-milih2, akhirnya Yan-chiu ketarik dengan rantai bandringan yang panjang dan lemas itu.
Rantai itu panjangnya lebih dari setombak, pada dua ujungnya diberi dua buah bola besi bundar macam hamer(palu besi).
Tapi oleh karena tahu Yan-chiu itu seorang nona yang bertenaga lemah, Ceng Bo lepaskan sebuah dari bola besi itu, sehingga bandringan yang digunakan Yan-chiu itu berbeda dengan senjata bandringan yang lazim terdapat didunia persilatan.
Begitu bola bandringan terangkat naik, To Kong pun juga tampak berdiri, untuk merebut rantai bandringan dari tangan Yan-chiu.
Sedang tangannya kiri dia gunakan untuk menampar sinona.
Kiau To terkejut bukan buatan.
Dalam dunia persilatan To Kong dikenal sebagai akhli "thiat sat ciang"
Pukulan tangan besi.
Ketika menjulurkan jari2nya tangan kiri tadi, tegas kelihatan telapak tangannya hitam sekali, gerakannya cepat.
Dia (Kiau To) cemas, jangan2 Yan-chiu karena hanya memperhatikan supaya bandringannya jangan sampai kena direbut musuh, lalu tak menjaga serangan yang menyusul itu.
Jangan kata sampai kena dihantam, cukup baru terkena samberan anginnya saja, sudah tentu akan t yelaka.
Dalam gugupnya, Kiau To segera hantamkan piannya ketangan kiri To Kong.
Tapi baru pian bergerak, bola bandringan yang melayang lurus keatas itu, tiba2 meluncur kebawah dengan cepatnya.
Kalau To Kong berani teruskan rangsangannya, punggungnya pasti terhantam bola besi itu.
Dan hantaman itu tentu akan mengenakan jalan darah "leng tay hiat", dan ini pasti akan menamatkan jiwa sihweeshio.
To Kong tahu apa artinya hantaman itu.
Sebat sekali dia tarik pulang tangannya kanan, lalu melangkah setindak kesamping, sehingga dapat menghindar dari serangan sinona yang luar biasa hebatnya itu.
Kejadian itu mendapat sambutan yang hangat dari para penonton, sedang Kiau To sendiripun kesima.
Malah Yan-chiu sendiri juga ter-heran2.
Tadi sehabis gunakan gerak "hong hong sam tiam thau", ia merasa tentu akan kena disawut oleh To Kong, tapi sekonyong2 terasa ada suatu tenaga kuat mendorong bola bandringannya itu melambung keatas, kemudian ada lagi lain tenaga yang mengayunkan bola itu turun kebawah.
Sewaktu sihweeshio kerupukan menghindar, Yan-chiu sempat mengawasi kearah siorang aneh, siapa tampak meng-iwi2 unjuk muka-setan padanya seraya bersenyum.
Sebagai seorang dara yang cerdas tangkas, tahu Yan-chiu siapa yang melakukan tadi.
Mendapat hati, Yan-chiu segera susuli dengan 3 serangan ber-turut2.
Sampai pada saat itu, Kiau To sudah dapat merasakan ada sesuatu yang terjadi dibelakang layar.
Maka tanpa banyak bimbang lagi, dia segera mundur kesudut dan mengawasi jalannya pertempuran dengan penuh perhatian.
Disebelah sana, sewaktu Yan-chiu mulai buka serangan tadi, Tio Jiang seperti dipagut ular kagetnya.
Tapi serta dilihatnya sang sumoay mengeluarkan jurus yang aneh sehingga To Kong hweeshio kerupukan menghindar, bukan kepalang girangnya.
"Lian suci, kalau kali ini sumoay dapat menangkan To Kong hweeshio, wah, namanya pasti akan menjadi buah bibir seluruh orang persilatan!"
Tio Jiang orangnya polos.
Melihat sumoaynya menang, hatinyapun turut bergirang.
Bek Lian sebenarnyapun turut bergirang juga, tapi karena dasarnya seorang gadis manja yang beradat tinggi, maka tak senang ia mendengar Tio Jiang memuji Yan-chiu itu.
Sebagai seorang suci (kakak perguruan), masakan sampai kalah dengan sumoay.
Maka bulat tekadnya, baik sang sumoay nanti kalah atau menang, tetap ia tak mau dilanggar olehnya.
Oleh karena mengandung perasaan demikian, ia sudah tak pedulikan kata2 Tio Jiang tadi.
Tapi karena sudah biasa mendapat sambutan sedingin begitu, jadi Tio Jiangpun tak banyak menaruh perhatian serta mengawasi kepanggung pertempuran sana.
Seorang hweeshio yang kurus kering dan seorang dara remaja yang lincah, tengah berhantam seru.
Beberapa kali, apabila To Kong sudah nyata2 berada diatas angin dan sinona rasanya pasti celaka, sehingga para penonton sudah menahan napas dan mengucurkan keringat dingin, atau secara tak ter-duga2 keluarlah jurus2 yang aneh dari sinona itu, ya sungguh mengherankan tapi nyata.
Setiap kali peristiwa aneh itu berlangsung, maka gemuruhlah tampik sorak penonton bagai memecah bumi.
Mereka betul2 mengagumi nona kecil itu.
GAMBAR 16 Setelah berlangsung 20-an jurus, Yan-chiu tunduk betul2 akan kesaktian orang aneh yang menjadi "dalangnya"
Itu.
Maka dengan seksama ia perhatikan setiap petunjuk dari siorang aneh itu.
Selama itu didapatinya bahwa banyak sekali gerakan2 istimewa yang selama ini belum pernah dipelajarinya.
Sudah tentu girangnya sukar dilukiskan.
Dalam sekejab saja.
"kursus teori dan praktek kilat"
Ilmu permainan bandringan itu, telah menjadikan dia seorang akhli bandringan yang lihay.
Kini gerak bandringannya men-deru2 laksana angin puyuh.
To Kong hanya lihay dalam ilmunya thiat-sat-ciang, tapi tak dapat ber-buat apa2 terhadap sinona nakal itu.
Ber-kali2 dia merasa pasti berhasil dalam serangannya, tapi ternyata senantiasa mendapat hidung panjang.
Ber-tahun2 sudah dia mengangkat nama didunia persilatan, masa kini berhadapan dengan seorang nona kecil yang masih belum hilang bau pupuknya, dalam 30 jurus masih belum menang.
Saking malunya, dia marah besar.
Tapi oleh karena wajahnya itu pucat seperti mayat, makin marah malah tambah berseri kelihatannya.
Pada lain saat, setelah mendapat bantuan dari siorang aneh, Yan-chiu kembali lakukan suatu jurus gerakan yang aneh untuk menghindar hantaman lawan, sehingga hweeshio itu kini berbalik mundur 3 langkah.
Sudah sejak tadi, Yan-chiu merasa kalau tidak dengan bantuan orang aneh itu, mungkin 10 jurus dia tak nanti sanggup melawan sihweeshio.
Maka begitu sihweshio mundur, iapun ingatan tak melanjutkan lagi pertempuran itu.
Maka iapun mundur 3 langkah, seraya rangkapkan kedua tangan, pikirnya hendak mengucapkan beberapa patah perkataan sebagaimana lazim dilakukan oleh orang2 yang bertempur diluitay.
Tapi baru tangannya diangkat, atau laksana seekor harimau kelaparan, To Kong segera menyerbunya.
Yan-chiu serasa sesak napasnya tersambar oleh angin yang dahsyat, berbareng itu didepan matanya tampak ada sesosok bayangan hitam merangsang, biar bagaimana juga rasanya tak dapat ia menghindar lagi.
Dalam ketakutannya ia abat-abitkan bandringannya se-bisa2nya, tapi sekonyong2 berbareng dengan terdengarnya suara "buk", To Kong tergelincir jatuh dan berbareng dengan itu bola bandringan yang diobat-abitkan itu kebetulan tepat jatuh kepunggung sihweeshio.
Terpelantingnya si To Kong dan, jatuhnya bola bandringan dipunggungnya itu, adalah suatu hal kebetulan yang luar biasa.
Sampai2 Yan-chiu sendiri menganggap kalau rubuhnya sihweeshio itu karena terhantam oleh bola bandringannya.
Tiba2 terdengarlah siorang aneh itu menyusupkan suaranya.
"Nona kecil, kau bernyali besar dan berotak terang, tentu ada harapan. Apa yang kuajarkan tadi, kalau kau dapat memahaminya, kau pasti akan menjadi akhli yang lihay. Hweeshio itu telah terkena senjata rahasia yang kulepaskan pada jalan darah ci-tonghiat dipunggungnya. Lekas cabut dan sembunyikan, supaya jangan terbit kerewelan!"
Suara itu makin lama makin lemah.
Ternyata orang aneh itu sudah menyingkir jauh dan ketika dia menengok, sudah tak kelihatan lagi.
Sigap sekali dia membungkuk memeriksa punggung To Kong dan benar disitu terselip sebuah benda.
Ketika dicabut dan diperiksanya, ternyata itulah sebuah gelang besi yang ke-hitam2an warnanya, besarnya hanya beberapa dim saja.
Benda itu cepat dimasukkan kedalam bajunya.
Setelah senjata itu tercabut, dengan menggerang beberapa kali To Kong tampak berbangkit terhuyung2 terus duduk bersila diatas damparnya lagi.
Melihat lawan sudah pergi, Yan-chiupun tak berani lama2.
berada diluitay situ.
"Kiau susiok, mari kita pergi!"
Serunya sembari loncat turun, diikuti oleh Kiau To.
Baru saja keduanya turun, kedua hweeshio kawan To Kong tadi segera duduk diatas dampar terus melayang naik keatas luitay menghampiri To Kong.
Tanpa berkata apa2, yang satu disebelah kiri dan yang lain disebelah kanan, kedua hweshio itu ulurkan tangannya memegangi kedua samping dari jalan darah gi-hay-hiat To Kong.
Jadi dengan itu, Thian Te Hui sudah menang dua babak.
Senjata rahasia dari siorang aneh itu, ternyata merupakan rangkaikan ros (buku) sumpit kecil2.
Selain Ki Ce-tiong, Ceng Bo siangjin dan akhli2 kelas tinggi, malah Kiau To sendiripun, tak mengetahui apa namanya.
Mendapat kemenangan yang gemilang itu, gemuruhlah sorak sorai orang2 Thian Te Hui.
Juga orang2 persilatan yang hadir disitu sama gempar dengan peristiwa tadi.
Melihat suasana itu, buru2 Ceng Bo mencari kedua pemimpin Thian Te Hui, ujarnya.
"Saudara Ki, setelah menang baik kita mengalah sedikit, bubarkan luitay ini dan mulai kerjakan urusan kita!"
Ki Ce-tiong kesima.
Memang setelah menerima surat tantangan dari Sam Tay tianglo, kedua pemimpin itu berunding dengan masak.
Akhirnya diputuskan, kalau tak mendirikan luitay, pasti Thian Te Hui akan kehilangan pengaruh didunia persilatan.
Benar telah diketahui bahwa tentara Ceng sudah berada diperbatasan Hokkian, tapi masih terpisah ratusan li dari Kwiciu situ.
Jadi kalau saat itu membubarkan luitay, rasanya masih keburu mengatur persiapan pertahanan.
Atas usul Ceng Bo siangjin itu, Ki Ce-tiong diam berpikir.
Tapi Kiau To yang berangasan itu cepat menyahutnya.
"Bek-heng, kita sih boleh mengalah sedikit, tapi apakah saudara2 yang lain mau berbuat begitu?"
"Kiau-heng, rasanya saudara2 kita itu akan dapat dibikin mengerti karena urusan negara diatas urusan dunia persilatan!"
Sahut Ceng Bo sejenak kemudian.
"Bek-heng, bukannya membandel, tapi aku tak setuju!"
Kata Kiau To. Ceng Bo menatap sebentar padanya hingga Kiau To serentak berdiri tegak sebagai tanda bahwa dia merasa tak bersalah.
"Rupanya memang sudah tak bisa ditolong lagi!"
Kedengaran Ceng Bo menghela napas.
"Bek-heng, kalau tentara musuh belum masuk ke Hokkian, turut gelagatnya kita akan memperoleh kemenangan. Bukankah tak halangan kalau menunda pembubaran luitay ini sampai beberapa hari lagi?"
Kata Ki Ce-tiong.
"Tanggal berapakah ini?"
Tanya pula Ceng Bo.
"Tanggal 6 bulan 12,"
Sahut Ki Ce-tiong.
"Di Kwiciu, dua menteri besar telah bentrok. Kabarnya ada salah seorang sebelum tanggal 10 nanti akan bersekongkol dengan tentara Ceng, apakah kalian mengetahuinya?"
Ujar Ceng Bo.
Kini Ki Ce-tiong dan Kiau To melengak.
Tapi baru keduanya merenung, disebelah luitay sana terdengar suara orang ber-kata2 dengan nada yang dingin.
Kiranya itu To Ceng hweshio yang berbicara, katanya.
"Kemenangan Thian Te Hui tadi, pinto sekalian sungguh mengagumi. Diam2 membokong dengan senjata rahasia, meskipun telah menghilangkan sifat2 keperwiraan orang persilatan, namun mengunjukkan kelihayan Thian Te Hui juga, maka pintopun masih ingin menerima pelajaran lagi !"
Nada ucapannya itu tak sedap didengar.
Dan boleh dikata hampir seluruh penonton tak mengerti mengapa To Ceng menuduh orang Thian Te Hui melepaskan senjata rahasia dalam pertempuran tadi.
Kiranya naiknya To Ceng dan To Bu keatas luitay tadi ialah untuk mengobati To Kong dengan saluran lwekang.
Memang kedua paderi besar itu merasa aneh mengapa To Kong sampai jatuh ditangan seorang nona kecil.
Ketika memeriksa lukanya, mereka dapatkan bukan karena terkena bandringan.
Luka itu aneh sekali bekasnya dan tepat mengenai jalan darah yang berbahaya, sementara diatas panggung situ tersebar potongan2 kecil dari sumpit bambu.
Tahulah mereka seketika itu, bahwa tentu ada seorang jago kosen yang diam2 telah membantu sinona.
Maka dengan kata2 sindirannya yang tajam tadi, To Ceng telah melontarkan tuduhannya.
Ki Ce-tiong dan Kiau To sangat mengindahkan sekali kepada Ceng Bo siangjin.
Walaupun perkenalan mereka itu sudah lama, tapi karena mereka itu adalah tokoh2 persilatan yang memegang teguh disiplin, jadi hubungan merekapun didasarkan atas saling mengindahi.
Tahu juga bahwa 20 tahun berselang, Ceng Bo telah kehilangan isterinya yang tercinta, sehingga sejak itu dia seperti orang yang putus asa.
Bahwa dalam keadaan negara terancam bahaya, Ceng Bo telah timbul lagi semangat perjoangannya itu, Ki Ce-tiong dan Kiau To merasa kagum sekali.
Maka dengan serta merta mereka turut nasehat siangjin itu.
Tapi baru Kiau To hendak maju kedepan untuk mengucapkan kata2 pembubaran luitay itu, atau telinganya segera panas membara demi mendengar sindiran To Ceng tadi.
"Keledai gundul, jangan tekebur, akulah yang akan memberi hajaran padamu!"
Tiba2 terdengar suara nyaring wanita membentak, berbareng satu bayangan orang sudah melesat keatas dan tegak berhadapan dengan To Ceng.
---oo0-dwkz-TAH-0oo---BAGIAN 5 .
ANTARA CIN TA DAN BENCI Tengah Ki Cee-tiong men-duga2 adakah yang maju ke luitay itu sinona genit Yan-chiu tadi dan belum lagi dia mendongak mengawasinya, atau dari samping kedengaran suara mengguntur dari Tio Jiang.
"Keledai gundul, jangan menghina suciku!"
Dia terus melesat kemuka.
Dari caranya meloncat itu, terang seperti orang menyerbu dengan kalap.
Suasana menjadi tegang.
Kiranya yang pertama melesat kemuka tadi adalah Bek Lian.
Gadis yang beradat tinggi itu tanpa dapat dicegah sang ayah, telah maju dengan menghunus pedangnya.
Tubuh yang langsing gemulai dari sinona cantik itu ketika tiba diatas panggung bagaikan sebatang pohon liu yang bergoyang gontai.
Orang mengira kalau sinona itu tak dapat berdiri dengan jejak.
Tapi bagi seorang akhli tentu cukup mengetahui bahwa sinona itu sedang menggunakan jurus ilmu mengentengi tubuh yang disebut "hong pay lian hwa", angin menggoyang bunga terate.
Orangnya berparas cantik, tubuhnya langsing gemulai, maka gerak lambaiannya yang sedemikian luwes indah itu, mengaburkan pandangan orang kalau ia itu seorang bidadari yang turun dari kahyangan.
Hal mana telah membuat seluruh penonton menjadi ter-longong2 kesima!
Malah ada sementara orang persilatan yang tergolong kaum pelesiran, sudah serentak mau tampil melayaninya.
"Lian suci,"
Kata Tio Jiang yang ketika itu sudah berdiri dimuka Bek Lian.
"kau bukan tandingannya hweeshio itu. Lekas turun, biarkan aku yang menghadapinya!"
Oleh karena tadi Yan-chiu telah memperoleh kemenangan atas salah seorang hweeshio itu, sudah tentu Bek Lian tak percaya nasehat suteenya itu. Dengan mendongkol dia ancam suteenya.
"Sutee, kau mau menyingkir tidak?"
Biasanya Tio Jiang selalu menurut segala perintah sucinya, tapi kali ini demi untuk keselamatan sucinya itu, dia membandel, serunya.
"Suci, kau turunlah!"
Karena tak pandai bicara, jadi beberapa kali dia hanya mengulangi permintaannya "suci, kau turunlah"
Itu saja.
Suasana ketika itu menjadi gemuruh.
Belum pernah terjadi dalam sejarah perkelahian diluitay, bahwa ada dua orang yang ribut mulut menyuruh turun kawannya.
Bermula para penonton itu terpikat akan kecantikan Bek Lian, tapi kini mereka menjadi gaduh tak keruan.
Ada yang bersorak2 dan ada pula yang tertawa keras.
Tio Jiang sih tak peduli akan sorak teriakan orang itu, asal dia bisa mencegah sucinya.
Tapi Bek Lian yang beradat tinggi itu.
asking malunya menjadi murka.
Dengan banting kaki, dia mengancam.
"Sutee, kalau kau masih tetap membandel,mungkin aku lupa dirimu itu siapa!"
Sampai disini, Tio Jiang kewalahan.
Dengan menghela napas, dia segera loncat turun kebawah.
Namun tanpa menghiraukan tertawaan orang, dia berdiri dipinggir luitay situ.
Selama kedua saudara seperguruan itu ribut mulut, To Ceng dan To Bu se-olah2 tak mau mendengarinya.
Baru setelah Tio Jiang menyingkir turun, To Ceng segera maju selangkah hendak bicara.
Tapi se-konyong2 dari bawah luitay terdengar orang berseru.
"Tianglo, tahan, biarkan aku yang melayani nona itu!"
Berbareng dengan seruannya, orangpun sudah melayang keatas.
Begitu menginjak papan luitay, orang itu segera mengawasi sinona tanpa terkesiap.
Orang itu rambutnya kelimis, mukanya bedakan.
Sekali lihat tahulah Bek Lian kalau orang itu tentu bangsa tukang "petik bunga" (suka cemarkan kehormatan gadis/wanita baik2).
Dalam kebatinan, Bek Lian sudah benci bangsa begitu, apalagi ia tak tahu akan tata kesopanan persilatan, begitu gerakan pedang ia sudah terus akan menyerang.
Orang itu buru2 rangkapkan kedua tangannya memberi hormat seraya mengucapkan rangkaian kata2 yang halus.
"Siapakah nama nona yang mulia?"
"Apa peduli denganmu? Naik kepanggung bertanding, mengapa tanyakan nama orang?"
Bek Lian delikkan matanya.
"Nona sungguh pemarah, aku yang rendah ini adalah Hun-ouw-tiap Lim Ciong, hendak mohon pengajaran nona."
Hun-ouw-tiap atau Kupu2 Berbedak Lim Ciong memang bangsa tukang "petik bunga", tapi kepandaiannya biasa saja.
Melihat orang itu, To Ceng dan To Bu kerutkan keningnya.
Tapi karena orang sudah mendahuluinya, Merekapun tak dapat berbuat apa2, lalu loncat turun kebawah.
"Sudah tak ada yang merintangi lagi, kita boleh mulai!"
Kata Hun-ouw-tiap.
Kata2 itu kurang ajar sekali, maka meluaplah kemarahan Bek Lian.
Ia menyerangkan pedangnya dengan jurus "Tio ik thian hay", pentang sayap mengisi laut, salah satu jurus dari ilmupedang To-hay-kiam-hwat.
Ilmu pedang itu Bek Lian hanya pelajari sampai 4 jurus saja.
Tapi karena sejak kecil ia sudah belajar silat, jadi mempunyai dasar yang bagus sekali.
Walaupun hanya 4, tapi dapat dipelajari dengan sempurna.
Sari keindahannya pun dapat difahaminya dengan jelas.
"Nona, kau yang mulai dulu?"
Lim Ciong tertawa lepas tanpa membalas. Kemarahan Bek Lian makin menjadi. Serangan yang partama belum selesai, ia sudah susuli lagi dengan dua buah lainnya yakni dari jurus "Boan thian kok hay"
Dan "ching wi thian hay".
Untuk serangan pertama tadi, Lim Cong sudah setengah mati menghindarinya.
Demi nampak serangan kedua datang, dengan sibuknya dia segera gunakan jurus "thiat pan kio" (jembatan gantung besi), tubuhnya diayunkan membalik kebelakang untuk menghindari.
Tapi tanpa tarik pulang pedangnya, Bek Lian segera balikkan pedangnya untuk melancarkan serangannya yang ketiga itu.
Sesaat itu Lim Ciong rasakan hawa angin pedang yang dingin sekali, buru2 dia hendak tarik senjata poan-koan-pit yang terselip dipunggungnya, tapi sudah terlambat.
Tangannya kiri terasa nyeri, sakitnya sampai menusuk keulu hati, lengannya kiri itu ternyata telah dibabat kutung oleh Bek Lian.
Seketika itu, pandangan Hun-ouw-tiap menjadi gelap, tapi Bek Lian masih tak puas.
Memburu maju, ia terus akan membacok lagi, tapi "tring"
Se-konyong2 sebuah thiat-lian-cu (senjata rahasia macam biji terate) telah menghantam batang pedangnya hingga tangan Bek Lian serasa kesemutan dan hampir2 melepaskan pedangnya.
Terpaksa ia loncat mundur.
Tapi berbareng saat itu, kedengaran pula suara mengaung.
To Ceng hweshio dengan berduduk diatas damparnya, tampak melayang keatas panggung.
Dan begitu tiba dipanggung, dia terus menghantam kearah Bek Lian.
Bek Lian ter-sipu2 menangkis dengan pedangnya.
Tapi sementara itu tangan kiri To Ceng sudah mencekal Lim Ciong, lalu dilemparkan kebawah.
Karena sebelah lengannya sudah terkutung, begitu dilempar kebawah, darahnya muncrat kesana sini memenuhi lantai panggung itu.
Dibawah luitay, To Bu sudah siap menyambutinya, diserahkan pada kawan2 Lim Ciong untuk diobati.
Kini kita balik mengikuti keadaan diatas luitay.
To Ceng segera mendapatkan bahwa ilmu pedang sinona itu cukup lihaynya, sehingga ilmu pukulan thiat-sat-ciangnya tak dapat berbuat apa2 Maka tertawalah dia mengejek.
"Entah dimanakah orang2 Thian Te Hui, mengapa mengajukan barisan wanita? Ha, ha, lucu benar !"
Tapi dalam tertawanya mengejek itu, wajah To Ceng tak berobah, tetap pucat seperti mayat. Sewaktu menangkis pukulannya tadi Bek Lian sudah merasa hweshio itu "keras"
Sekali, maka diam2 dia merasa heran mengapa tadi Yan-chiu bisa menangkan sute sihweshio itu.
Tapi sembari berpikir begitu, ia balas menusuk dada lawan.
To Ceng masih tetap duduk diatas damparnya.
Begitu ujung pedang menusuk, dia tak berani berayal.
Secepatnya berbangkit, dia congkelkan ujung kakinya kedampar, dan melayanglah dampar itu seperti terbang kearah Bek Lian.
Bek Lian anggap, walaupun menggunakan Iwekang tapi karena itu hanya sebuah dampar, maka tak perlu ditakuti.
Maka diapun tak mau menyingkir, melainkan siap gunakan jurus "Ho Pek kuan hay", pikirnya, tentu dapat membelah dampar itu kemudian hendak dilemparkan kebawah luitay.
Tapi mana ia tahu akan kelihayan dampar itu yang dapat digunakan sebagai suatu senjata rahasia yang ampuh.
Sepintas panjang, dampar itu merupakan sebuah tikar duduk yang biasa saja.
Tapi sebenarnya benda itu terbuat daripada bulu suri kera gin-lok-kauw (kera bulu hijau perak) keluaran istimewa dari gunung Cap-ban-tay-san (gunung seribu).
Lemas dan ulatnya bukan kepalang, dapat bertahan segala macam bacokan senjata.
Tapi karena To Kong memandang remeh pada Yan-chiu, dia sudah tak gunakan damparnya.
Kalau dia gunakan dampar itu, walaupun lawan dibantu oleh tokoh lihay, namun tak semudah itu Yan-chiu mendapat kemenangan.
Biasanya apabila ketiga hweshio itu maju dalam pertempuran, mereka tentu dudiilc bersila diatas damparnya.
Baru kalau menghadapi lawan kuat, mereka akan berbangkit dan menendang dampar itu kearah lawan.
Sembilan (9) dari sepuluh (10) bagian, lawan pasti celaka.
Jurus itu dinamai "siu-Ii-kian-gun"
Atau dunia didalam lengan baju.
Sebagai anak yang masih hijau, sudah tentu Bek Lian tak mengetahui hal itu.
Begitu pedangnya menyentuh dampar dan baru saja ia hendak memapaskan kemuka, atau ia telah terbentur dengan sebuah tenaga dahsyat hingga lengannya serasa kesemutan.
Dalam gugupnya ia hendak cekal kencang2, agar pedangnya jangan sampai terlepas, tapi pada lain saat "krak"
Terdengar logam meretak dan pedangnya itu telah patah dibentur dampar To Ceng hweshio.
Tak terkira terkejutnya Bek Lian, sedang pada waktu itu dampar menjadi miring melayang disampingnya.
Samberan anginnya saja telah membuat Bek Lian sempoyongan dan To Ceng melesat maju.
Tangannya kiri menyawut dampar, tangannya kanan menghantam dada Bek Lian.
Dalam gugupnya, Bek Lian menangkis sembari loncat kesamping.
Dengan tertawa ter-kekeh2 To Ceng mengejar.
Dalam dua jurus saja, Bek Lian sudah keripuhan sekali bertahan.
Kiau To dan Yan-chiu yang mengawasi dibawah luitay, sama kucurkan keringat dingin.
Sebaliknya wajah Ceng Bo tetap keras.
Benar dia teramat kasihnya kepada sang puteri ini, tapi sebagai orang persilatan yang tahu diri, tak mati dia maju menolong.
Karena dengan berbuat begitu, dia pasti akan ditertawai orang.
Kiau To yang akan turun tanganpun dicegah oleh Ceng Bo Siangjin.
Dengan hanya bersenjata pedang kutung, gerakan Bek Lian menjadi kaku.
Apalagi memang kepandaiannyapun masih dibawah To Ceng.
Satu2nya jalan, ia hanya andalkan ilmunya mengentengi tubuh berlincahan kian-kemari.
Jadi ia hanya bertempur untuk menghindari diri.
Sebaliknya To Ceng makin garang.
Tangan kiri dampar, tangan kanan melancarkan pukulan lwekang thiat-sat-ciang.
Lewat beberapa jurus lagi, rangsekan To Ceng makin menghebat, sehingga kalangan untuk menghindarkan diri dari Bek Lian, makin lama makin sempit.
Dari satu tombak, makin menciut sampai dua tiga meter saja.
Dapat dipastikan, dalam beberapa jurus lagi To Ceng pasti berhasil.
Bek Lian kalau tidak binasa terkena thiat-sat-ciang tentu akan terluka berat terhantam dampar.
Diantara orang2 yang cemas menyaksikan keadaan sinona itu, adalah Tio Jiang yang paling gelisah sendiri.
Tadi sewaktu pedang sucinya itu kutung, sebenarnya ia hendak maju.
dan ketika Bek Lian dalam bahaya itu, dia sudah dekat dipinggiran luitay.
Dari situ kalau mau dia bisa loncat keatas.
Dengan 7 jurus ilmu pedang To-hay-kiamhwat yang baru dipelajarinya itu.
Walaupun belum tentu bisa menang, dengan kekuatan dua orang, rasanya dapatlah mereka bisa mundur dengan selamat.
Tapi demi teringat akan kata2 pedas dari Bek Lian tadi.
dia agak bersangsi.
Jangan2 kalau dia maju membantu, nanti didamprat lagi oleh sang suci.
Berapa saat lagi, kembali terdengar To Ceng tertawa dingin.
Dampar di-putar2 sehlngga menerbitkan deru angin yang dahsyat.
Bek Lian tampak agak sempoyongan.
Maka buru2 ia mundur 3 tindak kesamping.
Tapi To Ceng tetap membayangi.
Tangannya kanan diangkat keatas, jarinya dibuka, sehingga nampak telapakannya yang ke-hitam2an warnanya, lalu diayunkan menampar kepala Bek Lian.
Hendak Bek Lian menyingkir, tapi terhadang oleh dampar yang ber-putar2 itu.
Dengan begitu, jalan untuk menghindar, sudah tertutup.
Kini Bek Lian sadar, bahwa ajalnya tak dapat dielakkan lagi.
Dengan menarik napas panjang, dia meramkan mata menunggu ajal.
Adalah dalam saat2 yang berbahaya itu, tiba2 Bek Lian rasakan ada serangkum angin menderu, kedahsyatannya lain dengan sihweeshio.
Cepat Bek Lian buka matanya dan samar2 dilihatnya ada sesosok bayangan menghadang dihadapannya, malah dengan ulurkan sepasang tangannya orang itu telah memeluknya erat2.
Begitu mundur selangkah, To Ceng segera menghantam.
Dengan ter-putus2 orang itu merintih.
"Lian suci...... aku naik...... kemari lagi...... jangan kau sesali......!"
Berbareng dengan ucapannya, orang itupun roboh.
Tapi oleh karena tangannya masih memeluk erat2 maka Bek Lian terbawa jatuh juga.
Sewaktu diamatinya, ternyata orang yang membuang jiwa untuknya itu, bukan lain adalah suteenya sendiri.
Napas Tio Jiang sudah lemah, matanya meram melek, rupanya dia terluka berat.
Mau tak mau Bek Lian berterima kasih atas pengorbanan itu.
Juga Ceng Bo yang mengetahui hal itu, tergerak hatinya.
Dalam peraturan luitay, apabila sudah diketahui menang kalahnya, orang boleh maju menolong yang terluka.
Maka dengan bersuit, Ceng Bo apungkan diri keatas panggung.
Suitan itu mempunyai daya seperti mampu membelah batu, lengking kumandangnya amat tajam.
Orang2 persilatan yang berada disitu, sama terperanjat.
Juga To Ceng terkesiap.
Teringat dia pada 20 tahun yang lalu didunia persilatan ada seorang tokoh kenamaan bergelar "Hay-te-kau" (naga dari dasar laut) pada setiap kali bertempur tentu lebih dahulu mengeluarkan suitan yang panjang begitu.
Mungkinkah tokoh itu muncul pula pada saat itu?
Karena menduga begitu, To Ceng mundur selangkah untuk bersiap.
Tapi begitu naik dipanggung, Ceng Bo tak hiraukan sihweeshio, melainkan menghampiri kepada Tio jiang untuk memberi pertolongan dengan menutup jalan darahnya.
Melihat ayahnya datang, dengan muka ke-merah2an Bek Lian meronta dari pelukan Tio Jiang.
Setelah berdiri, ia tak tahu apa yang harus diperbuatnya.
Ceng Bo angkat tubuh Tio Jiang seraya membentak pada Bek Lian.
"Mengapa tak lekas turun!"
Dengan ke-malu2an Bek Lian segera turun dari luitay.
Setelah mengangguk sedikit pada To Ceng, Ceng Bo siangjin segera angkat Tio Jiang kebelakang luitay orang Thian Tee Hui.
Tio Jiang diletakkan diatas pembaringan, lalu dibuka bajunya.
Ternyata pada pundak Tio Jiang, terdapat sebuah bekas telapak tangan yang berwarna hitam.
Bekas2 kelima jari nampak dengan jelas, melekuk kedalam daging.
Sedang kulit disekelilingnya berwarna semu biru, kalau dipijat dengan tangan, turut melesak kedalam tak bisa membal balik lagi.
Tahulah Ceng Bo bahwa thiat-sat-ciang berbeda dengan thiat-sat-ciang biasa.
Bukan saja disertai dengan lweekang yang kuatpun tangannya itu mengandung racun yang dapat disalurkan begitu menyentuh tubuh musuh.
Kalau tadi Ceng Bo tak lekas menutup jalan darah supaya racun itu tak menjalar, walaupun mendapat pertolongan obat dewa sekalipun, tetap Tio Jiang takkan dapat tertolong jiwanya.
Tampak luka muridnya begitu parah, kening Ceng Bo Kelihatan mengerut dalam.
Yan-chiu menjerit dengan suara tertahan seraya memandang kearah Bek Lian, siapa kelihatan tundukkan kepalanya.
Kiau To mengambil sebuah kotak emas, begitu tutupnya dibuka, lalu menyiarkan bau yang amat harum sekali.
Dari dalam peti diambilnya sebutir pil sebesar kuku jari, terus menghampiri kesamping Tio Jiang.
Mulut pemuda itu terkancing rapat, Ceng Bo segera mencangarnya dan Kiau To lalu memasukkan sekaligus 4 butir pil.
"Bek-heng, pil ini adalah buatan guruku Tay Siang tamsu. Meskipun entah bisa memunahkan racun itu atau tidak, tapi melindungi jantung orang,"
Kata Kiau To.
Ceng Bo siangjin mengiakan, lalu duduk bersila.
Tak lama kemudian, dia berbangkit lagi, lalu me-raba2 punggung Tio Jiang.
Sewaktu menderita luka itu, pikiran Tio Jiang tak sadar lagi, mulutnya serasa manis, sementara punggungnya seperti ditusuki oleh puluhan jarum kecil.
Benar tidak sakit, tapi rasanya gatal dan kaku sekali.
Hendak dia merangkak bangun, tapi tangannya serasa tak bertenaga lagi.
Tapi setelah minum pil tadi, hatinya menjadi tenang pikirannya jernih lagi.
Ketika gurunya meng-urut2 punggungnya untuk menyalurkan lwekang, tak putus2nya Tio Jiang mengaduh kesakitan.
Matanyapun kini dibuka.
Begitu kelihatan Bek Lian tundukkan kepala sambil memain ujung baju, Tio Jiang segera berusaha keras untuk berseru.
"Lian Suci......kau..... tak apa2 bukan?"
"Lian suci tak kena apa, usah kau kuatir!"
Yan-chiu cepat2 menyanggapi.
Dengan ucapannya itu, ia seperti sesalkan sang suci yang telah menyebabkan sampai sukonya itu mendapat luka begitu parah.
Tatkala Bek Lian memperhatikan sekeliling situ, rasanya orang2pun sama mempersalahkannya.
Sampai ayahnya yang biasanya begitu memanjakannya itu, kini asyik menumplak seluruh perhatiannya kepada Tio Jiang serta sedikitpun tak menghiraukannya lagi.
Diam2 dalam hati sigadis jelita yang beradat tinggi itu mengambul.
"Kalau begini, lebih baik aku mati saja!"
Kalau tadi ia merasa berterima kasih pada Tio Jiang, sebaliknya kini ia merasa gusar padanya.
Sampai sekian saat Ceng Bo siangjin meng-urut2 punggung Tio Jiang.
Serta dilihatnya diluitay sana To Ceng sudah turun, berkatalah Ceng Bo.
"Ki-heng, rasanya hari ini baik luitay itu ditutup!"
Karena haripun sudah sore, Ki Ce-tiongpun setuju.
Dia segera maju kegelanggang luitay untuk mengumumkannya.
Jadi dalam pertempuran hari itu.
Thian Te Hui menang dua kali, kalah sekali.
---oo0dw0oo---Tak berapa lama kemudian, malampun tiba.
Orang2 yang menyaksikan keramaian luitay itu sudah sama bubar.
Juga setelah diberi pengobatan dengan saluran lwekang tadi, Tio Jiang dapat tidur pulas.
Ceng Bo siangjin, Ki Ce-tiong, Kiau To, Bek Lian dan Yan-chiu menunggu didekat situ.
Setelah sampai sekian saat tak terjadi suatu apa, berkatalah Ceng Bo.
"Ki-heng, biar Yan-chiu kutinggal disini. Aku hendak membawa Bek Lian masuk kekota untuk menyirapi kabar! Kurasa tentu ada udang dibalik batu, mengapa mereka sengaja membuka luitay guna memikat agar orang2 Thian Te Hui dan kaum persilatan sama mengumpul jadi aatu diluar kota sini. Mengapa keempat bajak Itu tak muncul disini? Apakah bukannya mengatur siasat untuk memasukkan tentara Ceng kedalam kota? Kalau benar begitu, sungguh kita telah terjebak mentah2 !"
"Kalau begitu, sebaiknya Bek-heng lekas2 kesana saja!"
Seru Ki Cee-tiong dengan terperanjat.
Ceng Bo siangjin segera ajak puterinya tinggalkan tempat itu.
Keadaan mereka dalam perjalanan nanti kita ikuti lagi, sekarang mari kita ikuti terus keadaan diruangan belakang luitay situ.
Dengan tekunnya Yan-chiu tetap menjaga disamping sukonya yang tengah tidur pulas itu.
Walaupun usia muda belia, hatinya sudah ditumpahkan kepada sang suko, satu2nya orang yang paling akrab dengan ia.
Tengah dia melamun yang tidak2, tiba2 kedengaran Tio Jiang mengerang-erang (sambat).
Ter-sipu ia menengok tapi ternyata Tio Jiang masih tidur dengan nyenyaknya.
Ditanyakan pada Kiau To, bagaimana keadaan luka sukonya itu.
Sebenarnya tak tahu Kiau To bagaimana harus menyahutnya, tapi karena ditanya begitu, se-konyong2 dia teringat akan sesuatu, katanya pada Ki Cee-tiong.
"Toako, adakah kau pernah mendengar bahwa ketiga hweeshio Ci Hun Si itu mempunyai obat istimewa pemunah racun thiat-sat-ciang?"
"Obat semacam itu tentunya ada, tapi entah apa disini,"
Sahut Ki Cee-tiong seraya menghela napas panjang karena teringat akan dirinya yang sudah punah ilmunya silat itu.
Apabila tak begitu nasibnya, dengan kepandaiannya silat yang dimiliki sebelumnya itu, dengan mudah dia tentu dapat mencuri obat tersebut.
"Siao Chiu, bagaimana kau dapat menangkan hweeshio To Kong?"
Tanya Kiau To. Waktu Yan-chiu menuturkan apa yang telah dialaminya, Ki Cee-tiong dan Kiau To terkejut bukan kepalang, katanya.
"Coba kau keluarkan gelang itu!"
Begitu menyambuti dari tangan sinona, Ki Cee-tiong segera periksa gelang itu kedekat lampu dan tiba2 berseri girang.
"Hai, siapa lagi kalau bukan dianya!"
Yan-chiu tak mengerti maksud orang, tanyanya dengan membeliakkan mata.
"Ki susiok, siapa yang kau maksudkan itu?"
Sebaliknya dari menyahut, Ki Cee-tiong mengerling kepada Kiau To, ujarnya.
"Ilmu kepandaian orang ini, sudah mencapai ketingkat yang sukar dijajaki dalamnya. Tapi audah ber-tahun2 dia tak muncul dalam dunia persilatan, mengapa hari ini bisa datang kemari? Siao Chiu, turut katamu tadi, asal kau perhatikan betul2 ajaran orang aneh itu, kau bakal menjadi tokoh yang jarang terdapat tandingannya ?"
"Ki susiok, hampir setengah harian kau mengoceh tadi, tapi belum menerangkan siapakah adanya orang itu,"
Yan-chiu tak dapat menahan kesabarannya lagi.
"Semasa aku masih muda, dia sudah terkenal dalam dunia persilatan. Tapi tiada seorangpun yang mengetahui namanya. Yang dapat diketahui, ialah orang itu dalam sehari mempunyai wajah 3. Saat ini dia berdandan macam seorang pedagang, lain saat sebagai pengemis, dan kemudian sebagai imam atau paderi. Wataknya aneh, lidahnya tajam "
Sampai disini, teringatlah Yan-chiu akan peristiwa yang dialami diatas luitay. Saking gelinya, pecahlah ketawanya. Ki Cee-tiong heran dan terlongong-longong sesaat, kemudian meneruskan kata2nya lagi.
"Terhadap musuh yang tidak ganas dan kejam sepak terjangnya, dia tak mau membunuhnya. Kaum penjahat besar, bila kesamplokan dengan dia, jangan harap bisa lolos. Oleh karena itu orang persilatan menjulukinya sebagai "Kui ing cu" (bayangan setan). Tapi tentang namanya yang aseli, tiada seorangpun yang, tahu. Gelang-besi Itu tadi, adalah pertandaannya. Mungkin kau serasi dengan wataknya, makanya bisa dihadiahi benda itu!"
Yan-chiu tak terlalu memikirkan hal itu.
Habis bercerita, Ki Cee-tiong keluar untuk berunding dengan orang2nya mengenai pertandingan besok pagi.
Kiau Topun ikut keluar.
Jadi kini Yan-chiu hanya berduaan dengan sukonya yang masih pulas itu.
Karena tak dapat tidur, terpaksa Yan-chiu ber-main2 dengan gelang besi tadi.
Kiranya gelang itu tiada sesuatu yang menyolok anehnya.
Hanya pada gelang itu terdapat sebuah cap menonjol dari seekor ular kecil.
Habis memeriksa, Yan-chiu menguap, kantuknya mulai datang.
Tapi tiba2 terdengar Tio Jiang mengigau.
"Lian suci, Lian suci!"
Terpaksa Yan-chiu tak berani tinggalkan sukonya.
"Suko, suci tidak disini, kau perlu apa?"
Katanya.
Memang sampai begitu dalamlah curahan hati Tio Jiang kepada Bek Lian.
Dalam keadaan tak sadar karena lukanya yang parah itu, dia seperti tampak bayangan Bek Lian mondar mandir dihadapannya.
Wajah sucinya itu sebentar berseri girang, sebentar ber-muram marah, tapi tetap tak menghiraukannya.
Maka dia segera me-manggil2 sucinya itu.
Habis memanggil, hidungnya serasa membaui hawa harum dari seorang nona.
Antara sadar dan tidak, dia membuka matanya dan samar2 dibawah cahaya lampu yang suram, dilihatnya Bek Lian berada setengah meter dihadapannya.
Biasanya suci itu bengis sikapnya, mengapa saat itu dia begitu menyayang?
Adakah karena dia telah menolong jiwanya maka suci itu mau merobah sikapnya?
Dendam asmaranya merangsang.
Tanpa disadari lagi dia ber-geliatan mengulur tangannya kepada Bek Lian yang ternyata si Yan-chiu itu.
Bermula Yan-chiu tak mengerti kehendak sukonya itu.
Tapi ketika kini suko itu mencekal tangannya dan berbisik.
"Lian suci, jangan tinggalkan aku. Lukaku tak berat, jangan kuatir,"
Barulah Yan-chiu menjadi jelas.
Kiranya sukonya itu telah keliru menyangkanya sebagai Bek Lian.
Sebagai gadis remaja, sewaktu tangan-nya dicekali oleh sang suko itu, merahlah selebar muka Yan-chiu.
Tapi saat itu timbullah kenakalannya.
"Suko sudah keliru menyangka aku sebagai Lian suci. Biarlah kumengaku jadi Lian suci, supaya dapat mendengarkan apa yang hendak dikatakan suko nanti. Ini kelak untuk senjata memperolokkan mereka berdua,"
Demikian pikirnya. Maka iapun lalu balas memegang tangan Tio Jiang. Merasa tangannya bercekalan dengan sebuah tangan yang halus, Tio Jiang girang setengah mati.
"Lian suci"
Kembali dia berseru. Dan sinakal itupun meniru nada suara Bek Lian, mengiakan.
"Lian suci, apa kau sesali aku tak mendengar perintahmu?"
Kata Tio Jiang lebih lanjut. Yan-chiu menahan gelinya, lalu ber-bisik' .
"Sesali apa?"
"Sesali aku karena naik keatas luitay."
Diam2 Yan-chiu mendapat kesan, bahwa sukonya itu begitu menyayang terhadap sang suci, tapi heran mengapa suci itu tak ambil pedulikan.
"Aku tak sesalkannya sedikitpun tidak!"
Sahutnya menghibur. Tio Jiang menghela napas, serasa kesesakan dadanya menjadi longgar seketika. Yan-chiu turut senang, lalu mencekal tangan sukonya makin erat.
"Lian suci, aku, aku hendak mengatakan sesuatu padamu, kau marah tidak?"
Bisik Tio Jiang. Lebih dulu Yan-chiu dekap mulutnya sendiri supaya jangan sampai kedengaran tertawanya, kemudian menyahut.
"Katakanlah, apapun aku takkan marah."
Mendengar itu, Tio Jiang pe-lahan2 membuka matanya.
Takut kalau sukonya itu akan mengetahui siapa dirinya, hingga permainan yang menyenangkan itu tak bisa langsung terus, dengan cepatnya Yan-chiu meniup padam lampu.
Tio Jiang pun segera tempelkan tangan Yan-chiu kedadanya, lalu berbisik pelahan.
"Lian suci, aku hendak memperisterikanmu, kita berdua takkan berpisah se-lama2nya."
Serambutpun Yan-chiu tak mengira kalau sukonya akan mengucapkan kata2 begitu.
Maka meskipun tiada orang yang tahu, tak urung wajahnya merah padam ke-malu2-an.
Hatinya berdebar keras, hendak ia, tarik tangannya tapi tak dapat, apa boleh buat ia, lalu membisiki kedekat telinga Hang suko .
"Kusedia menjadi isterimu, jagalah dirimu baik2 supaya lekas sembuh. Kata Kiau susiok, kau telah diberi minum 4 butir pil sam-kong-tan, kalau kau tak pikirkan apa2, dalam sesingkat waktu tentu akan sembuh."
Kembali Tio Jiang menghela napas, malah kali ini agak panjang sekali, saking leganya. Karena masih tak percaya akan ucapan "Lian sucinya"
Itu, dia menegas lagi .
"Lian sucinya -suka menjadi isteriku ?"
"Hem, apakah aku berbohong?"
Sahut Yan-chiu. Mendadak Tio Jiang menggeliat. Dari pinggangnya dia mengambil sebuah batu giok (pualam), batu itu disisipkan ketangan Yan-chiu, katanya.
"Lian suci, batu giok ini adalah pemberian suhu, kini kupersembahkan padamu."
Teringat Yan-chiu, bahwa kalau orang hendak mengikat tali pertunangan itu, tentu saling tukar barang selaku panjer (tanda mata). Dia makin geli, serunya.
"Tunggu!"
Lalu terus lari keluar menggeledahi tempat pakaian Bek Lian.
Benar juga disitu dia mendapatkan seekor kupu2 yang tersulam dengan benang sutera emas.
Kupu2 itu seharusnya ada sepasang, tapi entah dimana yang seekor, mungkin juga dibawa Bek Lian.
Secepat mengambil kupu itu, dia terus balik lagi kekamar untuk diberikan pada sukonya.
"Ini untukmu,"
Katanya.
Mengetahui benda, apa yang diberikan itu, Tio Jiang tak sangsi lagi, karena dia tahu kalau sang suci itu paling suka dengan kupu tersebut.
Sambil mendekap kupu, dia kembali jatuh tidur dengan puasnya.
Yan-chiupun girang melihat sang suko tidur lagi.
la lalu mengaso.
Sekarang mari kita ikuti perjalanan Ceng Bo siangjin dengan Bek Lian.
Dengan gunakan ilmu berjalan cepat, mereka berlari menuju ke kota Kwiciu.
Ceng Bo telah mendahului puterinya.
Dia langsung menuju kegedung Pohceng-si tempat kediaman menteri.
Kala itu hari sudah malam dan sepi sekali.
Ceng Bo dan Bek Lian cukup libay ilmunya mengentengi tubuh.
Tanpa kedengaran suara apa2, mereka loncat keatas tembok.
Dilihatnya dibagian tengah dari gedung itu ada sebuah bagian yang masih terlihat ada penerangannya.
Kesitulah mereka menuju.
Baru hendak tiba disitu, mereka sudah mendengar suara gelak tertawa dan suara orang berkata.
"Ko tayjin, rencana kita, yang bagus kali ini, tentu berhasil. Orang apa Ho Ngo Ciu itu, berani bermusuhan dengan tayjin. Begitu tentara Ceng datang, dia pasti tak punya tempat untuk mengubur mayatnya, ha,ha, ha, ........."
Mendengar itu Ceng Bo terkejut. Apa yang diduganya, ternyata benar. Yang dipanggil "Ko tayjin"
Itu tentulah Ko Tian Cian.
Dengan Ho Ngo Ciu, orang she Ko itu adalah menteri2 besar dari kaisar Siau Bu di Kwiciu.
Tapi oleh karena rebutan pengaruh, dia telah bersekongkol dengan tentars, Ceng.
Memasukkan tentara musuh, perlunya untuk menindas saingannya (Ho Ngo Ciu).
Setelah memberi isyarat tangan kepada puterinya, Ceng Bo mendahului maju lagi beberapa langkah, diikuti dari belakang oleh Bek Lian.
Begitu enjot kakinya Ceng Bo melesat keatas genteng.
Dengan kedua kaki dikaitkan pada talang, dia gunakan gerak "to kwa cu liam" (membalik saringan mutiara) tubuhnya menggelantung kebawah.
Dijilatnya kertas jendela untuk membuat lubang, kemudian mengintip kedalam.
Tampak didalam situ ada seorang gemuk tengah duduk ditengah ruangan.
Dari sikap dan dandanannya, terang dia itu adalah Ko Tiau Cian.
Disekelilingnya terdapat beberapa belas orang, ada yang duduk ada yang berdiri.
Pada lain saat kedengaran orang she Ko itu berkata.
"Malam ini The congping berangkat. Pemberontak2 Thian Te Hui itu telah dijebak dengan luitay digunung Gwat-siu-san, tentu tak dapat merintangi. Rasanya dalam beberapa hari saja, pasukan besar Ceng dibawah Li Seng Tong congpeng, tentu akan sudah masuk kemari!"
"Siasat yang bagus dari Ko Tayjin itu, benar2 menyamai Cukat Bu-houw!"
Mengiakan orang2nya seraya jual puji. Diam Ceng Bo sianjin mendamprat kawanan penghianat itu. Dia menduga, yang dimaksud dengan ,The congpeng"
Itu tentulah si Cian-bin Long-kun The Go.
Orang itu kepandaiannya tinggi, dia baru sore tadi berangkat menuju kemarkas Li Seng Tong congpeng yang berada diperbatasan Tiausan (Kwitang) yang jaraknya antara lima enam ratus li.
Rasanya kalau dia (Ceng Bo) lekas2 mengejar, tentu kecandak.
Tapi sukarnya, orang she The itu entah mengambil jalanan yang mana.
Dalam urusan sepenting itu, tak bisa dia berlaku ayal.
Sebaliknya, dia dengan Bek Lian saling berpencar menyusul.
Setelah rencananya tetap, dia loncat turun, melambaikan tangan kearah puterinya terus lari menuju kesebelah barat kota.
Tak antara lama, mereka sudah berada diluar kota.
Dengan wajah ber-sungguh2, dia berkata.
"Lian-ji, si Cian-bin Long-kun The Go telah mendapat perentah dari Ko Tiau Cian untuk mengundang tentara Ceng di Hokkian. Petang tadi, dia baru berangkat. Untuk memburu cepat, kita harus ambil jalanan menyusur tepi sungai. Kau berjalan ditepi sebelah selatan, aku dari tepi utara, biar bagaimana harus dapat mencandaknya. Jangan tempur dia, karena dia bukan tandinganmu, cukup kau memberi tanda suitan panjang, dalam beberapa saat saja aku pasti datang, mengerti?"
Dari cara sang ayah memberikan pesanannya, tahulah Bek Lian bahwa hal itu menyangkut urusan besar.
Maka tak berayal lagi, dia terus berangkat.
Keduanya menuju ketepi sungai.
Disitu Ceng Bo memotes sebuah dahan pohon, dilemparkan ketengah sungai, terus enjot tubuhnya menyusul.
Dengan gerak "kim ke tok lip" (ayam emas berdiri dengan sebelah kaki), kakinya kanan diinjakkan pada dahan kayu, lalu bagaikan terbang dipermukaan sungai, meluncurlah dia ketepi sebelah sana.
GAMBAR 17 Setelah memberi pesan cara bagaimana harus menghadapi The Go, lalu Ceng Bo Siangjin meluncur keseberang sungai dengan sebatang ranting kayu.
Bek Lian mengetahui kalau sang ayah sedang mengeluarkan Ilmu "teng bing-tok cui" (naik alang2 menyeberang sungai).
Suatu ilmu mengentengi tubuh tingkat tinggi.
Dilihatnya sungai mengombak alun, permukaan luas sekali hingga tepi yang disebelah sana hampir tak tampak.
Setelah ayahnya berlalu, iapun gunakan ilmu berjalan cepat untuk menyusur sepanjang pantai sungai.
Kala itu hampir tengah malam.
Langit tak berbintang.
Sudah hampir 3 jam ia berlari, tapi sepanjang itu belum juga ia bersua dengan suatu bayangan orangpun juga.
Tapi ia, tak berani beristirahat.
Sembari berjalan itu, diam2 ia me-mikir2 nantinya bagaimana kalau bertemu muka dengan pemuda yang dikenangnya itu.
Ah, kalau ia yang memberi nasehat, tentu pemuda itu tak nanti mau melakukan perbuatan khianat mengundang tentara musuh masuk ke Kwiciu.
Demikian pikirnya selama dalam perjalanan itu.
Tak antara lama, kembali ia sudah menempuh 10-an li jauhnya.
Diaebelah muka sana tampak segundukan warna hitam, seperti sebuah rimba.
Dengan lantas ia percepat larinya masuk kerimba itu, mengaso sebentar lalu meneruskan perjalanannya lagi.
Tapi belum tiba disitu, tiba2 dia mendengar ada seseorang tengah me-maki2.
"Bagus, keluar saja kalau mau adu kepandaian. Main sembunyi seperti setan belang itu, kan bukan cara yang layak!"
Mendengar nada suara itu, hati Bek Lian bergoncang keras.
Bukankah itu suara orang yang siang malam dikenangnya itu?
Tapi menurut ucapannya itu, rupanya dia tengah ketemu dengan seorang musuh.
Kalau tidak, masakan dia memaki kalang kabut begitu.
Maka ber-gegas2-lah Bek Lian memburunya.
Dengan gunakan gerak "yan cu sam jo cui" (burung seriti 3 kali menyentuh air), dalam 3 kali loncatan saja ia sudah sampai dipinggir rimba situ.
Tiba2 disitu terdengar suara "plak", menyusul dengan itu terdengarlah The Go menggerang keras.
Menduga jangan2 ayahnya berada disitu, Bek Lian tak berani gegabah memanggil The Go, melainkan lalu bersembunyi dibalik sebatang pohon.
Dari situ ia mengawasi kesebelah muka.
Amboi, kiranya didalam rimba situ The Go tengah berputar2 seorang diri.
Dari warna mukanya, nyata orang itu sedang marah besar.
Setelah sekian saat berputar, orang muda itu tegak berdiri diam lagi.
Rupanya dia tengah merenungkan sesuatu.
Tak berapa saat lagi, kedengaran dia terlaiwa dingin.
"Hem, sekalipun cianpwe (angkatan tua) dari persilatan, namun perbuatan itu tadi juga tak pantas!"
Bek Lian melihat bahwa orang itu hanya seorang diri, tapi mengapa ber-kata2 sendiri dan bersikap seperti menghadapi seorang musuh tangguh.
Tengah Bek Lian heran, tiba2 dari atas udara muncul sesosok bayangan orang yang dalam kegelapan malam tampaknya seperti segumpal asap ber-gulung2.
Gerakannya luar biasa cepatnya, sehingga dalam sekejab saja, sudah lenyap dari pemandangan.
Tapi yang mengherankan, pada saat itu terdengar pula suara "plak"
Tadi, kemudian lagi2 The Go men-jerit2 dengan marahnya, ber-jingkrak2 seperti menginjak api.
Setelah menunggu sampai beberapa saat sampai The Go sudah selesai memberesi pakaiannya, Bek Lian terus hendak menghampirl.
Tapi baru tubuhnya bergerak hendak keluar, tiba2 dari arah belakang terasa ada angin mendorongnya keras2, hingga hampir saja ia terjorok kemuka.
Sebat sekall ia berpaling kebelakang, tapi tak tampak apa2.
Dorongan angin tadi, terang dilakukan oleh seorang akhli persilatan yang berilmu tinggi, cuma saja hal itu membuktikan kalau orang itu tak berhasrat mencelakai dirinya, karena kalau memang hendak berbuat jahat, pasti ia (Bek Lian) akan sudah celaka tadi.
Mengingat hal itu, tanpa terasa Bek Lian kucurkan keringat dingin.
Dan karena didorong tadi, kini dia menjorok kemuka sampai 7 atau 8 langkah jauhnya.
The Go yang dijadikan bulan2 permainan tadi, menjadi merah matanya.
Kalau dapat, hendak dia telan hiduplah orang yang kurang ajar itu.
Tapi orang itu luar biasa sebatnya, hingga bagaimanapun dia tadi telah melesat mengejarnya, namun bayangan orang itu sudah menghilang tanpa bekas.
Kiranya sewaktu mendapat laporan dari kaki tangannya yang mengatakan kalau fihak Thian Te Hui telah menderita kekalahan dipanggung luitay pada babak ketiga dan salah satu jagonya terluka parah kena pukulan thiat-sat-ciang To Ceng hweshio, The Go menduga tentu orang2 Thian Te Hui akan kecantol membikin pembalasan.
Maka The Go anggap itulah saat yang baik untuk melaksanakan rencananya.
Malam itu juga dia menuju ke Hokkian untuk menghadap Li Seng Tong, congpeng (jenderal) tentara Ceng, guna menyerahkan Kwitang.
Rencana penghianatan itu, terkilas dalam pikirannya sewaktu dia turun dari gunung Lo-hou-san tempo hari.
Kunjungannya ke Lo-hou-san dulu itu, sebenarnya dia bermaksud dengan lidahnya yang tajam hendak menganjurkan Ceng Bo siangjin dan orang2 Thian Te Hui supaya jangan melawan tentara Ceng.
Tapi disana dia telah terbentur karang.
Ceng Bo siangjin ternyata seorang laki2 yang berpambek perwira, sedang dalam percekcokan yang terakhir dengan perkelahian, dia telah menderita kekalahan.
Nah, inilah yang mengobarkan kemarahannya terhadap orange Lo-hou-san dan Thian-te-hui.
Sewaktu tampak mayat Ti Gong bergelimpangan, dia mendapat pikiran bagus.
Sam Tay-tianglo dari gereja Ci Hun Si, terkenal sebagai tokoh2 yang suka mengagungkan gengsi tak mau tunduk pada lain orang.
Dia suruh orangnya mengantar surat pada ketiga paderi besar itu, anjurkan mereka supaya menantang orang Thian Te Hui pibu diatas luitay.
Pertandingan itu harus di-ulur2 sampai setengah atau satu bulan lamanya, agar dia dapat kesempatan untuk melaksanakan rencananya.
Begitu tentara Ceng sudah masuk ke Kwiciu, bereslah semua.
Rencana itu diberitahukan kepada menteri dorna Ko Tiau Cian, slapa, menyetujui sepenuhnya.
Begitulah malam itu, dia lakukan rencananya itu.
Tapi belum berapa lama dia keluar kota atau dia telah bertemu dengan seorang jail yang dalam beberapa kejab saja, sudah berhasil merampas kipasnya.
Sudah tentu bukan terkira kaget si The Go itu.
Buru2 dia mengejarnya, tapi pada lain saat se-konyong2 punggungnya dirasakan dingin sekali.
Ketika dirabah, ternyata kipasnya telah dise1ipkan ditengkuk, entah oleh siapa karena sampai sebegitu jauh dia tak melihat adanya seorangpun juga.
Yang paling menjengkelkan hatinya, setan jail itu terus menerus mengikuti perjalanan The Go saja.
Kalau tidak merabah mukanya, tentu menggaplok pantat atau karena sampai setengah harian tak muncul maka The Go mengira kalau tak diikuti, tapi tahu2 belakang kepalanya disemprot tiupan angin.
Benar2 The Go kelabakan setengah mati.
Beberapa kali dia tantang orang itu supaya unjuk diri berkelahi, tapi tiada penyahutan lama sekali.
Yang bisa diketahuinya hanyalah sesosok bayangan berkelebatan pergi datang, tapi bagaimana sebenarnya orang itu, dia tak jelas karena tak mampu menghampiri dekat.
Tadi sewaktu Bek Lian didorong kemuka sampai hampir jatuh, karena suasana dirimba situ gelap sekali, The Go sudah mengiranya itulah orang jail yang mempermainkan-nya tadi, Dengan sebat sekali, dia melesat maju menutuk jalan darah hun-cui, ki-kwat, kian-ce dan tiong-thing sekaligus empat.
Tatkala terjorok kemuka tadi, Bek Lian buru2 menoleh kebelakang tapi tak melihat siapa orangnya yang jail itu, dan kini tahu dari sebelah muka terasa ada angin menyambar, diam2 ia mengeluh.
Dalam gugupn ya buru2 ia buang tubuhn ya kebelakang terus bergelundungan sampai beberapa meter jauhnya.
Melihat orang hanya menyingkir dengan cara bergelundungan dan lagi cara penghindaran itu dilakukan dengan sedemikian susahnya, kemudian setelah diawasi dengan perdata potongan tubuh orang itu begitu langsing seperti seorang wanita, The Go kesima dan berhenti menyerang.
"Mengapa begitu bertemu terus menyerang?"
Seru Bek Lian setelah berdiri tegak lagi. Mendengar nada suara orang, The Go mengeluh ke-malu2-an. Dibawah cahaya rembulan remang2, dilihatnya jelas siapa yang berada dihadapannya itu.
"Nona Lian, engkaukah?"
Tanyanya ter-sipu2.
Biasanya kalau orang berani menyerang begitu kurang ajar, Bek Lian tentu tak mau memberi ampun.
Tapi entah bagaimana, demi mendengar nada suara sianak muda yang begitu halus merayu, lenyaplah amarahnya dengan seketika.
"Hm, masih pura2 bertanya, masa begitu bertemu terus mau membunuh!"
Pada saat itu keadaan The Go seperti kata orang "sigagu makan empedu", menderita susah tapi tak dapat mengucapkan.
Sudah tentu dia tak mau menceritakan kalau tadi ada setan jail mempermainkannya, malu sih!
"Nona Lian, karena salah mengira kalau ada orang hendak membokong, maka aku telah keliru menyerang nona tadi.
Ah, aku int patut dihajar, ya harus dihajar!"
Katanya kemudian.
Dan untuk mengunjukkan penyesalannya, si Wajah Seribu (Cian-bin-long-kun) itu segera menggaplok punggungnya dua kali dengan kipas.
Melihat itu sinona tertawa.
Da1am sekejab saja amarahnya telah dibawa lenyap oleh kepandaian bersandiwara dari si Wajah Seribu.
Kalau yang berbuat itu Tio Jiang, mungkin mulut sinona akan tak henti2 nya menghemburkan makian.
Tapi terhadap anak muda yang dikenangnya itu, lain halnya!
"Ha ......, ha ......, sudahlah, Say-hong-hong (nona yang menyamai burung cenderawasih cantiknya) sudah ketawa!"
Seru The Go menggoda.
Dan untuk itu, hati Bek Lian meluap girang sehingga tak dapat mengucap apa2.
The Go maju menghampiri kedekat sinona.
Dibawah cahaya rembulan, dilihatnya kecantikan sijelita itu jauh bedanya daripada waktu siang hari.
Dalam pandangannya, rembulan dilangit se-olah2 suram cahayanya dibanding dengan wajah jelita Lo-hou-san yang berseri gemilang itu.
Matanya bagaikan bintang kejora yang memancarkan sinar keagungan.
The Go menarik napas panjang.
Bertemu dengan orang yang dikenangnya itu, hati Bek Lian dilamun rasa girang dan resah.
Tapi anehnya, dia merasa mulutnya seperti terkancing.
Sekalipun ingin mengucap beberapa patah kata, namun berat rasanya untuk me-ngatakan karena ia itu seorang gadis.
Akhirnya perasaan ingin bicara dengan orang yang dikenanginya itu lebih menang.
Demi mendengar The Go menghela napas, bertanyalah ia .
"Mengapa menghela napas begitu?"
Terkejut ditanya begitu, The Go menyahut ter-putus2.
"Nona, Liaaaannn."
Kata "Lian"
Itu sengaja dia tarik panjang sekali. Tapi bagi pendengaran Bek Lian, suara anak muda itu sudah merupakan seperti buluh perindu (seruling untuk menidurkan anak). Dengan suara pelahan dia mengiakan.
"Teringat kala dipuncak Giok-li-nia tempo hari, begitu pertama kali melihat nona, aku terus, aku terus ........ siang malam memikiri saja. Bahwa malam ini bisa berjumpa pula, adalah berkahnya yang Maha Kuasa, seharusnya aku tak layak menghela napas,"
Kata The Go pula. Bek Lian hanya sekenanya saja bertanya, tak kira kalau sianak muda bisa merangkai kata2 yang sedemikian memikatnya.
"Kenapa kau harus menghela napas?"
Tanyanya.
"Karena tadi aku telah kesalahan tangan, kalau nona selanjutnya tak mempedulikan aku lagi, hidupku pasti kosong melompong."
Hati Bek Lian seperti terbetot, tukasnya .
"Tolol, siapa yang tak mempedulikanmu?"
Tapi habis berkata begitu, Bek Lian merasa sudah kelepasan omong.
Sebagai seorang gadis tak seharusnya ia berkata begitu.
Mukanya ke-merah2an dan kepalanyapun lalu ditundukkan, mulutnya bagai terkancing.
The Go seperti mendapat jalan, kakinya bergerak maju, hampir kedekat Bek Lian.
Bek Lian tampak bergerak kakinya, tapi hanya bergerak saja, tidak mau menyingkir.
Saat itu hidung The Go tertusuk dengan bau harum seorang perawan, matanya disuguhi dengan paras nan cantik gemilang, telinganya mendengar nada suara bening laksana kicauan burung kenari.
Ya, tak salahlah kalau dia gerakkan kakinya maju selangkah lagi.
Selebar muka Bek Lian makin merah, jantung berdetak keras, tapi ia tetap diam saja, malah agak berkisar maju sedikit.
Tampak sang juwita juga mendekati, secepat kilat The Go ulurkan tangan memegang bahu sinona, siapa dengan serta merta terus rubuhkan kepalanya kedada orang.
Kedua pemuda yang tengah dibuaikan oleh dendang asmara itu, hatinya penuh dengan beribu perkataan, namun mulutnya sukar unutk mengatakan.
Lupalah Bek Lian untuk bertanya, mengapa The Go melakukan perjalanan pada waktu malam begitu.
Sebaliknya si Wajah Seribu itu tetap ingat akan tugasnya menuju ke Hokkian, Tapi pada saat itu, dia tak mau membikin kaget "sang burung".
Dipeluknya sinona erat2 dan bagaikan anak kambing menyerah sajalah Bek Lian.
Hanya kepalanya diangkat naik, matanya yang bening laksana air telaga itu ber-kicup2 memandang The Go.
Entah berapa lama kemudian, barulah The Go lepaskan pelukannya itu.
Dengan memegangi tangan sinona berkatalah dia.
"Lian, tepat nian peribahasa 'garam dilaut, asam digunung, akhirnya akan ketemu juga'. Bukankah kita ini juga begitu?"
Ucapan itu bagaikan menyadarkan Bek Lian. la disuruh ayahnya untuk mencari The Go, jadi bukan secara kebetulan berjumpa padanya.
"Ah, aku memang berniat mencarimu!"
Katanya.
Bermula The Go tak begitu menghiraukan kata2 sinona itu, dan hanya mempermainkan tangan Bek Lian.
Tapi pada lain saat dia teringat, mengapa nona itu tahu kalau dia berada dalam perjalanan ditempat itu.
Jalanan itu hanya menuju ke Hokkian, apa tidak mungkin kalau sinona itu tahu bahwa dia hendak mengundang tentara Ceng di Hokkian?
Tugasnya itu sangat rahasia sekali, mengapa sampai bocor?
The Go tertegun memikirkan hal itu, namun sebagai si Wajah Seribu, dia tetap mengunjukkan muka yang menyayang.
"Lian-moay, mengapa kau tahu aku akan berada dijalan ini?"
Tanyanya mencari keterangan.
Pertama kali terperangkap dalam jaring asmara, Bek Lian anggap bahwa segala apa yang diketahuinya itu tiada halangan untuk diberitahukan kepada sang kekasih.
Tanpa banyak pikir lagi, ia menyahut.
"Ayahku yang bilang. Dia berjalan ditepi utara, aku ditepi selatan sini, kita berpencar menyusulmu."
"Mengapa hendak mencari aku ?"
Tanya The Go dengan terperanjat.
"Ayah bilang, kau hendak mengundang tentara Ceng di Hokkian, maka menyusulmu supaya kau jangan jadi kesana."
Karena dugaannya tak meleset, tertawalah The Go.
"Lian moay, kalau begitu kaupun takkan meluluskan aku pergi?"
"Jangan pergi, maukah?"
Pikiran The Go yang licin bekerja, tanyanya pula.
"ApaIcah ada lain orang lagi yang mengejar aku?"
"Tak ada, melainkan ayah dan aku !"
The Go mendapat siasat bagus.
Jalan satu2-nya yalah membujuk sinona untuk diajak ber-sama2 menuju ke Hokkian.
Melihat sinona telah jatuh hati padanya, rasanya siasat itu pasti berhasil.
Dan memang dia sendiripun ketarik dengan kecantikan nona itu, jadi "sekali dayung dua tepian"
Namanya.
"Lian-moay ada suatu hal yang hendak kukatakan, entah kau suka mendengarinya tidak?"
Hati Bek Lian sudah diserahkan pada sianak muda.
Kalau orang sudah dimabuk cinta, apalagi seorang gadis, segala apa dapat dilakukan.
Bek Lian sebenarnya seorang gadis yang beradat tinggi, tapi terhadap The Go, dia menurut saja seperti seekor anak kambing.
"Engkoh Go, jangan kata hanya sepatah, seribu patah perkataanmupun aku tentu senang mendengarnya."
Mengetahui bahwa hati sijuwita sudah terjerat dalam asmara, barulah The Go tak ragu2 lagi, katanya.
"Lian-moay, ikutlah padaku menghadap Li congpeng di Hokkian!"
Bek Lian tertegun. Kuatir jangan2 salah mendengar, dia menegas.
"Apa katamu itu?"
The Go seorang yang cerdik.
Sebagai puteri seorang perwira macam Ceng Bo siangjin, tentu Bek Lian itu telah diasuh dengan didikan keluhuran budi.
Jadi sewaktu mendengar kata2nya tadi, nona itu tentu terperanjat.
Tapi biar.
bagaimana hati nona itu sudah dibutakan oleh asmara, tak nanti bisa terlepas dari genggamannya.
Maka diulanginya lagi maksudnya tadi .
"Lian-moay, aku minta kau ikut padaku menghadap Li congpeng di Hokkian !"
Bek Lian agak terhuyung.
"Untuk apa kesana?"
Tanyanya. dengan mata terbeliak. The Go menebarkan kipasnya di-goyang2kan, ujarnya .
"Adalah sudah menjadi kehendak alam, bahwa kerajaan Beng sudah tak dapat dipertahankan lagi. Kita undang tentara Ceng masuk ke Kwiciu !"
Tadi Bek Lian melayang dalam nirwana asmara, kini demi mendengar ucapan The Go itu, serentak dia gelagapan tersentak dari lamunannya.
Terkilas dalam batinnya, segala ajaran dan petuah dari sang ayah tentang garis2 kehidupan manusia yang berwatak luhur, jauh berlawanan dengan perbuatan dan peribadi The Go.
Maksudnya semula, ialah hendak menginsyafkan anak muda itu, supaya jangan mau menjadi kaki tangan kaisar Siau Bu dan gabungkan diri saja dalam Thian Te Hui untuk melawan penjajah Ceng.
Serambut dibelah tujuhpun ia tak menyangka kalau anak muda itu mengajukan permintaan begitu.
Maka untuk beberapa saat, ia ter-mangu2 seperti orang gagu.
Keduanya tadi masih berdiri berendeng sambil bercekalan tangan.
Tatkala ter-mangu2 kaget tadi, Bek Lian segera hendak lepaskan tangannya dari cekalan sianak muda.
Tapi The Go yang cerdik, cepat menggenggam kencang2 tangannya lalu dipeluknya lagi.
Bek Lian tak kuasa meronta.
Pada lain saat ketika The Go mencium lehernya, seketika Itu Bek Lian rasakan aliran darahnya berjalan keras tubuhnya bagaikan tak bertulang.
Sepasang matanya yang bagus, mengundang The Go dengan ter-longong2.
"Lian-moay, tadi kau katakan seribu patah perkataanku! kau tentu suka mendengarnya. Tapi mengapa baru sepatah saja kau sudah tak menyukainya?"
Bek Lian menghela napas, sahutnya .
"Engkoh Go, bukan aku tak suka mendengarnya, tapi tentara Ceng itu sangat ganas sekali. Kita sebagai putera puteri Han, mengapa tak melawan malah mau menyambutnya?"
The Go mendongak tertawa gelak2. Ian ulurkan tangannya utuk meraba janggut sinona, lalu didongakkan. Begitu keempat mata saling beradu pandangan, berkatalah The Go .
Baca Juga: Rahasia 180 Patung Mas 5
Baca Juga: Perguruan Sejati 5