Eps 1 Naga Dari Selatan - Liang Ie Shen
Baca online Naga Dari Selatan - Liang Ie Shen
Cersil Naga Dari Selatan - Liang Ie Shen.
LAM BENG TJIAM LIONG Naga Dari Selatan Karya . Liang Ie Shen saduran . SD Liong Uploader . TAH di Indozone Final Edit & Ebook oleh . Dewi KZ.
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com/
http.//dewi-kz.info/
http.//cerita-silat.co.cc/
http.//kang-zusi.info/
Daftar Isi .
LAM BENG TJIAM LIONG................................1 Daftar Isi .
................................................................2 PENDAHULUAN .................................................4 BAGIAN 1 TAMU TAK DIUNDANG ................................5 BAGIAN 2 .
CENG BO SIANGJIN ...........................46 BAGIAN 3 .
HILANG TAK BERBEKAS ...................87 BAGIAN 4 .
PERTEMPURAN DIATAS LUITAY ....
127 BAGIAN 5 .
ANTARA CINTA DAN BENCI............
164 BAGIAN 6 .
WANITA BERAMBUT PANJANG ......
238 BAGIAN 7 .
HATI NAN LARA ..............................
257 BAGIAN 8 .
SI TENGENG ....................................
276 BAGIAN 9 .
RAPAT PARA ORANG GAGAH.........
291 BAGIAN 10 .
GURITA RAKSASA ...............................
333 BAGIAN 11 .
LICIN BAGAI BELUT ............................
352 BAGIAN 12 .
SI BONGKOK ......................................
371 BAGIAN 13 .
MASUK SARANG MACAN ......................
387 BAGIAN 14 .
LAWAN LAMA .....................................
408 BAGIAN 15 .
LUPA DARATAN ..................................
424 BAGIAN 16 .
SETAN LAWAN IBLIS...........................
444 BAGIAN 17 .
ADU JAGO..........................................
453 BAGIAN 18 .
TELUR DIUjUNG TANDUK.............
476 BAGIAN 19 .
IBU DAN ANAK ...................................
485 BAGIAN 20 .
PEDANG JANTAN DAN BETINA .............
505 BAGIAN 21 .
MEMBAYAR HUTANG...........................
524 BAGIAN 22 .
TIGA ORANG HWESHIO DAN SEORANG PEMALSU..............................................................
541 BAGIAN 23 .
KERA BERSAUDARA BUAYA ..................
565 BAGIAN 24 .
KETAWA MONYET ...............................
578 BAGIAN 25 .
BATU MUSTIKA...................................
590 BAGIAN 26 .
ORANG UTAN .....................................
611 BAGIAN 27 .
SI RAJA ULAR.....................................
625 BAGIAN 28 .
ISTERI DI TUKARKAN PEDANG.............
640 BAGIAN 29 .
KALAH DAN MENANG ..........................
657 BAGIAN 30 .
PUNGGUNG DAN TUMIT ......................
674 BAGIAN 31 .
YAN CHIU BERJUDI.............................
686 BAGIAN 32 .
MASUK SARANG HARIMAU...................
722 BAGIAN 33 .
LOLOS DARI LUBANG JARUM ...............
739 BAGIAN 34 .
SETAN BERKEPALA DUA ......................
759 BAGIAN 35 .
TULISAN DI BATU...............................
772 BAGIAN 36 .
TULISAN DI BATU HITAM ....................
790 BAGIAN 37 .
PERJAMUAN DARAH ............................
810 BAGIAN 38 .
SETERU LAMA ....................................
831 BAGIAN 39 .
MAUT MULAI MENGINTAI....................
848 BAGIAN 40 .
BERSATU KEMBALI .............................
863 BAGIAN 41 .
RENCANA KEJI....................................
885 BAGIAN 42 .
PAHIT EMPEDU...................................
906 BAGIAN 43 .
BERGENIT DENGAN MAUT ...................
923 BAGIAN 44 .
ANJING GILA......................................
936 BAGIAN 45 .
DI CENGKERAMAN IBLIS .....................
955 BAGIAN 46 .
DUKA MERANA ...................................
974 BAGIAN 47 .
MENGUNDANG HARIMAU BUAS............
987 BAGIAN 48 .
PEMILIHAN UMUM ............................
1003 BAGIAN 49 .
LELATU YANG BERBAHAYA ................
1022 BAGIAN 50 .
HALILINTAR DI SIANG HARI ..............
1046 BAGIAN 51 .
DITOLONG LINTAH...........................
1064 BAGIAN 52 .
PERANG TANDING ............................
1083 BAGIAN 53 .
PATUNG HIDUP ................................
1105 BAGIAN 54 .
ASMARA MURNI................................
1117 BAGIAN 55 BERPANTANG AJAL .............................
1139 BAGIAN 56 .
HABIS GELAP TERBITLAH TERANG .....
1155 PENDAHULUAN Gunung Lo-hu-san yang terletak ditengah propinsi Kwitang, termasuk dalam wilayah kabupaten Ceng-seng-koan.
Bagian timur dari pegunungan itu memasuki kabupaten Pok-lo-koan.
Puncaknya menjulur surut.
Keliling luas pegunungan itu hampir 500 li, penuh dengan puncak2 yang aneh berhiaskan hutan belantara nan menghijau lebat.
Puncak2 yang telah diberi nama oleh rakyat, ada lebih dari 400 buah.
Sedang disamping itu, tak terhitung jumlahnya puncak2 yang belum pernah dijelajah dan belum diberi nama.
Kebanyakan puncak2 tersebut, merupakan gunung karang dan padas yang curam melandai, sukar didaki.
Sekalipun barisan puncaknya sedemikian banyak, namun karena banyak sekali puncak2 tersebut yang kepundannya indah megah, maka gunung Lo-hu-san merupakan suatu gunung yang paling terkenal dalam propinsi Kwitang.
Konon menurut cerita, pada jaman ahala Tang Cin, ada seorang bernama Kat Hong, bertapa digunung Lo-hu-san, dia mengarang sebuah kitab "Pao-bu-cu"
Memperoleh penerangan dan menjadi dewa.
Kitab tersebut hingga kini masih beredar.
Kota Ceng-seng dikaki gunung Lo-hu-san itu, sejak pada masa terakhir dari ahala Han, sudah ramai.
Turut naluri kepercayaan, karena kemegahan dan keangkerannya, Lo-husan merupakan sumber kelahiran dari para orang suci dan orang gagah dan memang kenyataan dari daerah gunung tersebut muncullah tokoh2 perwira pada setiap jaman.
Ini berlangsung dari jaman kejaman.
Pada hakekatnya, gunung tersebut merupakan tempat ziarah suci dari kaum agama, sumber inspiratie (ilham) dari para pujangga serta tunas2 gagah perwira.
Cerita yang akan kami hidangkan ini, dimulai ketika tentara Ceng-tiau sudah memasuki wilayah Kwitang, sedang induk pasukannya sudah tiba dipropinsi Hokkian.
Kepala angkatan perang Ceng, jenderal Li Seng Tong, sudah siapkan tentaranya untuk menyerbu Kwitang.
Peristiwa itu menurut perhitungan tahun Ceng-tiau, ialah kaisar Sun Ti naik takhta pada tahun ke 3 bulan 11.
Sedang kalau menurut tahun ahala Beng, termasuk tahun ke 2 bulan 11, Lam Beng Liong Bu atau kaisar Liong Bu dari ahala Beng selatan.
---oo0dw0oo---BAGIAN 1 TAMU TAK DIUNDANG Hari itu merupakan suatu pagi yang cerah.
Matahari nan merah tengah pe-lahan2 memancarkan sinarnya dari ufuk timur.
Cakrawala bagian timur, tampak marong ke-merah2an.
Bagaikan helai sutera kuning emas, ribuan sinarnya menyusup diantara kabut pagi yang tebal.
Sepintas pandang tak ubah bagai ribuan ulat emas tengah be-renang2 menyenangkan diri.
Di-tengah2 Lo-hu-san terdapat sebuah puncak yang disebut "Giok-li-nia"
Atau kepundan bidadari. Walaupun bukan tergolong puncak yang tertinggi, namun "Giok-li-nia"
Tersebut merupakan puncak yang sangat berbahaya sekali keadaannya.
Tebingnya yang curam serta kalderanya yang mengombak laut, jika ditinjau dari kejauhan, mirip dengan lapisan tirai hijau yang ditebarkan dari langit.
Pada puncak yang teratas terdapat sebuah biara, disebut biara "Cin Wan Kuan".
Biara itu terdiri dari sebuah ruangan besar, sedang dikanan kirinya dibangun belasan ruang kamar lagi.
Hari makin lama makin tinggi.
Se-konyong2 dari pintu sebelah ruang besar Cin Wan Kuan, muncul seorang pemuda sekira berusia delapan atau sembilan belas tahun.
Langkah kakinya tegap tenang, alis lebat mata bundar besar.
sikap dan dandanannya polos sederhana.
Dia mencekal sebatang pedang panjang yang sana sini terdapat "bintik2 tahi karatan.
Menatap matahari pagi, dia kelihatan beberapa kali mengambil napas.
Setelah itu dia menuju kebawah sebuah pohon siong (sejenis cemara).
Disitu dengan pejamkan mata dan mengorak paha (duduk bersila), beberapa kali dia berlatih duduk-berbangkit.
Setelah napasnya teratur lebih tenang, dia tenang menatap kebawah.
Kabut pegunungan bertebaran membungkus dirinya.
Tengah pemuda itu asyik berlatih gi-kang (ilmu bernapas), tiba2 dari arah dalam biara itu, terdengar serangkum kumandangnya tertawa kecil.
Nadanya melengking tinggi, di-padu dengan kicauan burung menyambut sang pagi, rasanya lebih merdu.
Menyusul dengan itu, segera tampak sebuah bayangan berkelebat.
Sesosok tubuh langsing kecil, bagaikan terbang lari menghampiti kearah anak muda tadi.
Gerakannya lincah dan enteng, sehingga sedikitpun tak mengeluarkan auaraa apa2.
Sekejap saja, ia sudah berada dimuka anak muda tadi.
Oi, oi, kiranya ia itu seorang dara remaja berumur lima atau enambelas tahun.
Rambutnya dikepang menjadi dua konde, biji matanya besar terang, jadi surup dengan bulu matan ya yang lebat panjang.
Ditilik dari indera alat penglihatnya saja, cukup sudah untuk memberi kesan, bahwa ia, seorang dara yang cerdas tangkas.
Demi melihat anak muda itu tengah meramkan mats, berlatih napas, sidara segera leletkan lidahnya, meng-iwi2 mengunjukkan muka "setan"
Kepada sianak muda, siapa karena sedang memusatkan pikirannya sudah tentu tak mengetahui suatu apa.
Setelah berbuat itu, dara nakal itu segera berputar kearah belakang puhun.
Sekali pelan2 enjot kakinya, tubuhnya tampak melambung keatas.
Begitu tangan mengulur, ia dapat menangkap sebuah cabang, terus untuk pegangan memanjat.
la pernahkan diri ditengah daun yang lebat.
Tak antara berapa lama, sianak muda tampak loncat berbangkit.
Wajahnya ke-merah2an, kepalanya mandi keringat.
Dengan lengan baju, dihapusnya keringat itu.
Memungut pedang yang diletakkan disamping, dia segera berIatih.
Dalam latihan itu, gerakannya sangat pelahan sekali.
Dan anehnya, bolak balik latihan itu hanya terdiri dari 4 bagian jurus.
Yang pertama, kedua kakinya dipentang kesamping, tangannya kiri ditaruh didada seperti seorang paderi berdoa, sedang ujung pedang yang dicekal dalam tangan kanan diacungkan kemuka.
Mungkin itulah jurus pembukaan.
Yang kedua, pedang digoyangkan.
Begitu sinar mata pedang berkilau, secepat angin terus dikibaskan keatas.
Sementara itu, tangannya kiripun turun bergerak mengimbangi gerak pedang tadi.
Sewaktu bergerak itu, jari tengah dan telunjuk, dirapatkan satu sama lain.
Kaki kananpun melangkah maju, tubuhnya ikut dipendekkan kebawah.
Pedang ber-putar2 turun naik, sementara sepasang matanya tak henti2nya memandang kemuka.
Jurus yang ketiga ialah, secara tiba2 pedang ditarik, kakinya mundur dua tindak, tapi tangannya dijulurkan kemuka.
Begitu sinar pedang berkelebat kearah diri, mendadak sontak ditusukkan kemuka se-keras2nya.
Bermula gadis yang bersembunyi diatas pohon tadi, memperhatikan betul2.
Tapi serta anak muda itu bolak balik hanya melakukan ke 4 jurus tersebut, hilanglah kesabarannya.
Dengan mendekap mulut, ia menguap.
Tapi serta mengawasi lagi, kiranya sianak muda itu masih terus mengulang-balik latihan keempat jurus itu.
Begitu sampai pada jurus ke 4, ialah ketika dia menusuk keras2 kemuka, sigadis lincah itu segera diam2 melorot turun dari pohon.
Dilihat naga2nya, ia hendak menggertak supaya anak muda itu terkejut.
Tapi sewaktu masih melorot turun, tiba2 tampak olehnya anak muda itu miringkan tubuh menggeser kakin ya.
Begitu ujung pedang menusuk kemuka, secepat kilat dia berputar kebelakang, wut, wut, pedang dibolang balingkan dengan santer sekali, menusuk keatas bawah kanan dan kiri empat jurusan.
Sehabis itu, lalu menarik gerakan pedangnya.
Melihat itu, bukan kepalang girangnya sigadis.
Hendak ia memanjat keatas lagi, tapi baru tubuhnya bergerak atau disana sianak muda sudah kedengaran membentak.
"Siapakah yang bersembunyi disitu, berani mencuri lihat orang berlatih pedang ?!"
Tahu kalau sudah kepergok, tak mau nona itu bersembunyi, tapi dengan unjukkan muka "setan" (ngiwi2), ia loncat turun.
"Ha, adik Yan-chiu, lagi2 kaulah yang mengadu biru,"
Seru sianak muda itu dengan tertawa.
"kalau tadi kusalah lihat mengira kalau kau seorang luar, tentu pedangku akan kesalahan menusukmu, dan pasti kau akan menangis menggerung-gerung."
Mulut sinona menyeringai, tangannya membereskan konde. Wajahnya yang merah dadu, makin bersemu, sedap nian dipandang mata.
"Oi, suko! Sekalipun kau lebih lama belajar silat dari aku, belum tentu sekali tusuk dapat melukai aku! Tak percaya, boleh kau coba!"
Sinona balas mengejek.
Sianak muda betul2 lakukan tantangan itu.
Begitu pedang dikibaskan keatas, secepat kilat ditusukkan kemuka.
Nona bengal itu tertawa cekikikan.
Tubuhnya yang langsing lemah gemulai menggeliat, tangannya kanan maju pura2 hendak menabas, lalu menghindar kesamping seraya cascis-cus mengejek.
"Suko, enggan benar aku dengan jurusmu 'boan thoan kok hay' (menutup langit melintasi laut)!"
Sianak muda tegakkan pedangnya.
"Kau kepingin jurus 'cing wi thian hay' (Cing Wi mengisi laut) atau 'ho pek kuan hay' (Ho Pek memandang laut)?"
"Emoh semua!"
Seru sinona menggeleng kepala.
"coba unjukkan saja jurus 'hay siang tiau go' (diatas laut memancing ikan besar)!"
Mendengagar itu, wajak sianak muda berobah. Sesaat hijau, sesaat pucat, matanya menunduk kebawah. Melihat itu sidara komat kamitkan bibirnya.
"Hm, hm kalau tak mau, sudahlah! Mengapa harus unjuk roman muka yang memuakkan orang?"
"Sumoay, jangan2 kau tadi telah melihat seluruh permainan pedangku bukan?"
Tegur sianak muda dengan bengis. Sidara remaja mengangguk.
"Yan-chiu, kau nakal sih boleh, tapi mengapa berani melanggar pantangan suhu? Ah, tidakkah suhu mengajarkanmu jurus 'hay siang tiau go' itu?"
Sinona gelengkan kepala.
"Suhu berat sebelah, ya berat sebelah. Dia ajarkan kau, tidak padaku. Telah kukatakan, keempat jurus itu sudah kufahami, seharusnya jurus yang kelima. Tapi suhu tetap tak mau mengajarkan, katanya yang empat Itu saja aku masih belum sempurna. Tadi sewaktu nampak begitu pagi kau sudah keluar, kuduga tentu bakal melihat suatu pertunjukkan bagus. Ya, tobat, suhu benar2 telah mengajarkan kau jurus yang ke-lima itu!"
Demikian mulut sinona kedengaran mencecer bagai rentetan petasan dipasang.
Bebrapa kali sianak muda hendak menyela, tapi tiada kesempatan.
Dan sehabis menghamburkan kata2nya itu, mata sinona tampak berabak ke-merah2an, mirip seorang yang menderita penasaran.
Tapi sebaliknya wajah sianak muda itu malah tambah keren, katanya.
"Sumoay, pantangan suhu ialah. 'tak boleh mencuri apabila saudara seperguruan tengah berlatih. Dilarang keras diam2 menurunkan pelajaran pada saudara seperguruan'. Apakah kau masih ingat?"
"Kan suhu tak tahu, takut apa sih?"
Sidara jebikan bibir.
"Sumoay, mengapa kau begitu bengal ? Karena sudah diterima menjadi murid masakan suhu tak mau mengajarimu? Coba pikir, belum 2 tahun kau datang kemari, bukan saja lwekangmu mempunyai dasar yang kokoh, pun ilmu tan-to (golok tunggal), ilmu liu-ce-cui (banderingan) serta ilmu silat tangan kosong, telah kau miliki dengan genah. Ya tidak?"
Sigadis merenung sejenak. Tanpa terasa dia tertawa sendiri. Tapi pada lain saat, bibirnya kembali menyeringai, serunya.
"Tapi suhu tetap tak mau mengajarku jurus ke 5 itu!"
"Sumoay, kukira bukan suhu tak mau mengajarmu, melainkan karena jurus ilmu pedang to-hay-kiam-hwat (pedang membalikkan laut ) itu, lain dari yang lain. Sekalipun seluruhnya hanya terdiri dari 7 bagian, namun bagian memerlukan latihan yang keras. Dari bagian yang ke 4 saja, sudah tampak benar bedanya dari jurus pembukaan. Jadi apabila belum mempunyai dasar yang genah, rasanya jurus ke 5 itu malah2 akan mencelakaimu! Ketahuilah, bahwa setiap bagian itu, mempunyai 7 gerak perobahan, jadi 7 bagian kali 7 jurus sama dengan empatpuluh sembilan d yurus. Memang kalau dijalankan satu bagian saja, tak kelihatan sari kebagusannya. Tapi apabila 7 bagian itu dirangkai, wah hebat sekali, 7 serangan kosong dan 7 serangan isi, jadi seluruhnya 49 jurus dikalikan 2 macam serangan kosong dan isi, ada 98 jurus! Kalau 4 jurus dasar itu belum sempurna, walaupun diajari seluruh ilmu itu, tapi nantinya tetap hanya terdiri dari 7 bagian saja, tiada gerak perobahannya sama sekali."
Sinona mendengari uraian suhengnya itu (kakak seperguruan) dengan asyiknya. Dan setelah habis, bertepuk tanganlah ia seraya berseru girang.
"Suko, begitu sakti ilmu pedang to-hay-kiam itu, mengapa aku tak mengetahuinya'? Kapankah suhu menceritakan padamu?"
"Baru kemaren siang saja, ketika tak ter-duga2 dia menerima surat dari burung merpati pos, burul aku dipanggilnya dan diuraikannya pelajaran tadi. Malah diapun terus menurunkan pelajaran jurus ke 5 'hay slang tiau go', jurus ke 6 'hay li long hoan' (puteri laut memasang gelang) serta jurus ke 7 'hay lwe cap ciu' (dalam laut 10 benua), sekali gus diturunkan padaku. Beliau menerangkan, telah menerima surat dari toa-a-ko (ketua) Thian Te Hwe dari propinsi Kwiciu, mengabarkan kalau tentara Ceng sudah tiba di propinsi Hokciu. Pasukan besar sudah dipusatkan diperbatasan Hokkian. Sembarang saat akan sudah menyerbu karesidenan Tiau-yang!"
Mendengar itu, tanpa terasa mulut sinona mengeluh. Ia she Liau namanya Yan-chiu, kelahiran Tiau-yang dipropinsi Kwitang. ia terus mendesak dengan bernapsu.
"Suko, ceritakan terus!"
"Pemimpin pasukan Ceng itu bernama Li Seng Tong, salah seorang jenderal pemerintah Ceng-tiau.. Orang itu pandai menggunakan tentara. Selanjutnya suhu menutur, bahwa pangeran Ing-bing-ong Cu Yu-long telah diangkat oleh sementara menteri2 berpengaruh, menjadi Kaisar dan berkedudukan di Siau-ging. Tapi ada lain golongan yang mengangkat lagi seorang kaisar lain. Sungguh mengenaskan! Kantong2 nasi yang tak punya guna itu, jika disuruh berbunuhan dengan saudara sebangsa aendiri atau disuruh memeras dan menindas rakyat, wah jempol. Tapi kalau disuruh lawan penjajah, paling pintar panjangkan kaki angkat langkah seribu! Oleh karena itu suhu memesan, kali ini beliau turun gunung, bukan untuk membantu kaisar Beng se-mata2, tapi demi untuk melindungi kampung halaman kita ini. Oleh karena dipropinsi Kwitang bakal terjadi peristiwa2 dari segala kemungkinan, maka mungkin juga akupun disuruhnya mengikut, dan itulah makanya sekaligus dia menurunkan ketiga jurus pelajaran itu padaku. Namun dia pesan wantir apabila setiap jurus belum diyakinkan sempurna, hendaknya jangan berlatih jurus berikutnya!"
Sinona yang sedari tadi mendengari dengan membisu saja, tiba2 kini berseru.
"Suko, karena tumpah darah kita menghadapi bahaya, seharusnya suhu juga menyuruhku turun gunung. Apakah dia siorang tua itu tak pernah mengemukakan suci dan aku?"
"Entahlah, tak pernah kudengar!"
"Suko, kau seharusnya menurunkan juga ketiga jurus itu padaku!"
"Demi pesan suhu, mana aku akan berani melanggarnya!"
Sahut sianak muda dengan wajah berobah. Tahu sang suko tak meluluskan, sengaja Yan-chiu tertawa tawar.
"Hem, suko, kalau suci yang menyuruh, masa kau berani membantah!"
Sianak muda merah mukanya.
Suci si Yan-chiu, juga sucinya (taci seperguruan).
Anak muda itu lebih muda satu tahun dari sang suci itu yang ternyata adalah puteri dari suhunya.
Sejak meningkat akal balig (dewasa), diam2 pemuda itu mencintai ayundanya (suci) itu.
Tapi sigadis itu, jinak2 merpati sikapnya.
Diburu lari, ditinggal mendekati.
Diwaktu ramah suka mengajak bicara dan bercanda, dikala ngambul sehari suntuk tak mau diajak bercakap.
Sampai sekian jauh, sianak muda itu tertumbuk fahamnya, tak tahu bagaimana harus menghadapinya.
Perangai anak muda itu polos jujur, getaran kalbunya itu tetap disimpannya erat2 dalam hatinya, tak berani dicurahkannya.
Liau Yan-chiu, seorang dara yang cerdas tangkas, sekalipun usianya masih begitu muda, tapi dia mengerti apal.
Bahwa ji-sukonya mengandung perasaan "istimewa"
Terhadap sang suci, siang2 ia, sudah mengetahui. Maka sengaja saat itu ia, memper-olok2-kannya. Dan ternyata, benar sianak muda itu merah padam. Sampai sekian saat, baru kedengaran pemuda itu berseru.
"Sebelum mendapat ijin dari suhu, walaupun sucipun tak dapat kuajarkan!"
Baru saja sirap kumandang kata2nya itu, tiba"
Terdengarlah suatu suara bernada tinggi laksana burung kenari.
"Tak mau mengajari ya sudah, siapa yang kesudian ............"
Dibawa oleh alunan kabut pagi, suara yang bagaikan imbauan (nyanyian) pagi itu, sebaliknya telah membuat kaget sianak muda dan Yan-chiu.
Serentak keduanya menoleh kebelakang.
Disana tampak seorang nona sekira umur 20-an, dalam pakaian warna biru laut, tubuhnya langsing, berambut hitam jengat.
Sepasang matanya, bening laksana air kolam, dipagari oleh bulu mats, yang lebat panjang, makin menyemarakkan sepasang alisnya yang melengkung bak rembulan sisir.
Warna bibirnya semerah delima terbentang riang dibawah naungan hidungnya yang mancung agung.
Sekalipun dalam marah, tetap orang akan limbung terpesona, mengapa dimayapada terdapat insan yang menyerupai bidadari cantiknya.
Saat itu, kabut pagi sudah menipis.
Taburan kabut lamat2 mengerubungi tubuhnya, sehingga makin mengesankan orang, kalau betul' ada seorang bidadari turun didunia.
Nona itu, bukan lain adalah suci yang telah menambat hati sianak muda itu.
Is, adalah puteri tunggal dari Ceng Bo siangjin kepala biara Cin-wan-kuan, sebelum dia menyucikan diri menjadi tosu (imam).
Sesuai dengan she sebelum Ceng Bo siangjin menjadi tojin, gadis itu she Bek dan diberi nama tunggal "Lian"
Atau bunga terate.
Tio Jiang, demikian nama sipemuda itu, begitu melihat sang suci muncul dengan tiba2, menduga kalau semua kat a-nya tadi tentu didengar seluruhnya oleh sang suci.
Sesaat itu ia ter-longong2, tak tahu apa yang harus dilakukan.
Tapi sebaliknya, Yan-chiu yang berada disebelahnya segera bertepuk tangan ber-gelak2.
"Bagus, bagus! Sang tikus melihat kucing! Coba, kini kau mau mengajari tidak! Kalau mau, beres dah. Tapi kalau tidak mau, hem, hem, berani mengajari Lian suci, mengapa tidak padaku?"
Nona kecil itu menutup kata2nya dengan meng-iwi2 kan muka, girangnya bukan kepalang. Tapi sianak muda itu tak hiraukan olokan Yan-chiu, dengan "a-u a-u"
Tak lampias dia menerangkan kepada Bek Lian.
"Suci ketika suhu hendak berangkat telah mengatakan, jurus ke 5, 6, dan 7 itu, tak boleh diajarkan pada lain saudara. Karena mentaati pesan suhu, kalau kalian suka, baik belajar saja ilmu pedang lain yakni 'to-kang-kiam hwat'........"
"Apa? 'To-kang-kiam hwat'? Mengapa tak pernah kudengar macam ilmu pedang begituan?"
Yan-chiu sigenit centil itu sudah merebut percakapan.
"To hay kiam hwat"
Artinya. ilmu pedang membalik laut. Sedang ,To kang kiam hwat"
Ialah . ilmu pedang membaiik sungai.
"Suhu mengatakan, kedua ilmu pedang itu, kelak kalau dimainkan oleh sepasang pria dan wanita, saktinya bukan olah2,"
Kata Tio Jiang tanpa mempedulikan Yan-chiu, dan kalau orang sudah mempelajari 'to hay kiam hwat', konsentrasi (pemusatan) pikirannya akan terpengaruh, tak nanti dapat mengerti jelas kesaktian dari sari pelajaran 'to kang kiam hwat' "
Sepasang mata bening dari Bek Lian ber-kicup2 mengawasi sang sute (adik seperguruan). Ketika anak itu makin lama makin ter-bata2 sehingga mukanya pun turut merah, buru2 ia menyelutuk.
"Fui, jangan berdoa seperti seorang alim ulama! Siapa yang minta, kau mengajari? Apa yang kau maksudkan dengan 'diam2 menurunkan pelajaran' itu ?"
Sesaat setelah mulutnya menghamburkan kemengkalan hati, wajah Bek Lian tampak merah ke-malu2an.
Pembawaannya sebagai seorang gadis telah mengetuk nuraninya, bahwa tak selayaknya ia berbuat sekasar itu.
Tapi justeru dalam kemarahannya itu, ia nampak makin cantik menggiurkan.
Dalam keadaan itu, hati Tio Jiang makin dak-diduk tak keruan rasanya.
Ter-sipu2 dia menjelaskan.
"Lian suci, aku.... bukan mengatakan ...... bukan mengatakan diam2 mengajari padamu, tapi mengatakan........."
Dara cerdas tangkas Liau Yan-chiu makin geli melihat kelakuan sang suko, yang maunya menjelaskan, siapa tahu makin menjelaskan makin runyam itu, cepat2 ia menyela.
"Haya, sudahlah! Kami berdua emangnya tak mau kau ajari, cukup?"
Seperti terlepas dari tindihan batu berat, kini legahlah rasa hati Tio Jiang.
Tapi ketika dia menatap kearah Bek Lian, tampak sucinya itu tengah memandang jauh kemuka, seperti tetap menyesali dia.
Karena sifatnya yang jujur dan wajar itu, menyebabkan dia tak dapat segera bertindak suatu apa.
Menghampiri untuk menghaturkan maaf .
Ah, jangan2 malah membikin kurang senang sang suci.
Namun kalau tinggal diam saja, kemungkinan besar yang suci itu akan mendapat kesan jelek terhadap dirinya, masa begitu berat mulut untuk menyatakan penyesalan.
Oleh learena itu, kakinya yang sudah dilangkah kemuka itu buru2 ditariknya kembali.
Sebaliknya Bek Lian hanya bersenyum tawar saja.
Matanya jauh memandang kelautan kabut disebelah muka sana yang menutupi puncak gunung.
Bagian yang teratas dari puncak itu, tampak menonjol keatas, bagaikan sebuah puIau ditengah laut nan lepas.
Chiu-yan tetap mendongkol karena sukonya tak mau mengajari lanjutan 3 jurus dari to-hay-kiam-hwat tadi.
Maka diapun tak mau mempedulikan sukonya lagi dan terus berdiri disamping sang suci, Kedua gadis itu sesaat menuding2 kearah pemandangan alam dihadapannya, sesaat saling ber-cakap2 dan ter-tawa2 sendirian, sedikitpun mereka tak menghiraukan Thio Jiang, sehingga anak muda itu herdiri menjublek bagaikan terpaku tak tahu spa yang harus dilakukan.
Lewat beberapa saat, baru kedengaran dia berseru.
"Suci, aku....."
Bek Lian cepat berpaling dan bertanya.
"Kau? Kau mengapa? Apa kau berani melanggar pesan dia siorang tua itu?"
Saking polosnya, ditanya begitu segera Tio Jiang menyahut.
"Aku tak berani!"
"Hi, hi, hi!"
Saking gelinya Yan-chiu tak kuat menahan ketawanya.
Juga Bek Lian terpaksa geli.
Suara ketawa cekikikan dari kedua gadis yang berdiri dikanan kiri itu, tak ubahnya seperti berketesnya air hujan didalam tempayan, menyengsamkan yang mendengarkannya.
Melihat sucinya tertawa geli, Tio Jiang legah sekali.
Ketika dia hendak maju menghampiri untuk menghaturkan maaf, tiba2 Yan-chiu berseru nyaring.
"Hai, lihatlah, apa ini?"
Sewaktu Tio Jiang dan Bek Lian mengawasi, merekapun tak mengetahui benda apakah itu. Sebuah benda bergerak 'naik turun muncul tenggelam"
Diantara lapisan kabut.
Tujuh macam warna laksana bianglala, tampak tergores jelas pada kedua sayapnya.
Burungkah itu?
Tapi burung tak nanti dapat terbang selincah dan seindah begitu.
Makin lama, makhluk itu makin tinggi terbangnya.
Ah, kiranya sepasang kupu2 yang besar.
Kedua sayapnya hampir setengah meter panjangnya.
Makin dekat, makin bagus sekali kupu2 itu.
Warna sayapnya itu, makin jelas pula indahnya.
"Suci, suko, jenis kupu2 apa itu?"
Yan-chiu berseru dengan bertepuk tangan. Tio Jiang kelahiran kota Ceng-seng-ko dikaki gunung Lo-hu-san situ. Sekali lihat, tahulah dia bahwa itulah kupu2 keluaran istimewa dari Lo-hu-san, sahutnya.
"Itulah kupu sian-tiap dari Lo-hou-san! Keluaran istimewa dari gunung ini. Yan sumoay, kalau"
Kau inginkan mereka "
Tiba2 mulutnya tak dapat melanjutkan kata2nya, karena dilihatnya wajah Bek Lian mengunjuk kurang senang. Maka ter-sipu2 dia berkata.
"Lian suci, kalau kau suka, akan kutangkapkan untukmu!"
Melihat sukonya berganti lagu, Yan-chiu jebirkan bibirnya.
"Baru hendak mengasih padaku, mendadak sontak hendak diberikan pada suci!"
Mendengar itu Bek Lian cepat menyanggapi.
"Aku sih tak kepingin. Mau main2, bisa cari sendiri! Siapa, yang tak tahu kalau itu kupu sian-tiap dari Lo-hou-san, atau yang disebut siau-hong-hong!"
Sian-tiap artinya kupu dewata, sementara siau-hong-hong ialah sicenderawasih kecil.
Ingin merebut hati, malah berbalik serba salah, maka pikir Tio Jiang, daripada ribut2 mulut menerangkan lebih baik tangkap dulu kupu2 itu baru penjelasan menyusul.
Kebetulan sekali saat itu sepasang kupu sian-tiap tersebut tengah berlincahan terbang diatasn ya, kira2 han ya beberapa depa tingginya.
Sekali mengempos semangat, kakinya diend yot, bagai peluru roket tubuhn yapun segera meluncur keatas.
Kedua tangannya diulur untuk menangkap.
Tapi ketika tampaknya sudah akan mengenai, tiba2 kedua ekor kupu itu melayang kesamping, sehingga tangan Tio Jiang menangkap angin.
Melihat itu Yan-chiu tak henti2nya berseru "sayang".
Namun Bek Lian tak mengacuhkan sama sekali, matanya tetap memandang kemuka.
Gambar 1
"Tangkap kupu2 itu, lekas, Suko! Samber, cepat". seru Yan-chiu. Kupu2 itu ternyata tak mau terbang jauh, masih berputar2 diatas kepala Tio Jiang, siapa kini ulangi lagi sergapannya dengan sungguh2. Tapi lagi2 luput, malah kupu2 itu segera terbang pergi. Tio Jiang bertekad untuk menangkapnya, segera dia mengejar. Bentuk dari puncak Giok-lt-nia, bagaikan seorang wanita cantik, tegak menjulang keangkasa. Pada puncak kalderanya, tiada terdapat dataran yang luas. Ketiga muda mudi itu, berada disebuah tanah lapang yang hanya 10 tombak luasnya. Maka baru berlari beberapa langkah, Tio Jiang sudah berada dilamping menurun gunung. Dillhatnya kupu2 itu sudah terbang jauh rasanya tiada harapan untuk mengejarnya. Tapi pada saat dia hentikan pengejarannya, tiba2 kupu2 itu terbang balik kearahnya seraya mengitari.
"Suko, suko, lekas sambutlah!"
Seru Yan-chiu.
---oo0dw0oo---Tio Jiang enjot keras2 tubuhnya dan benar juga dia berhasil loncat diatas kupu2 itu.
Wut, wut terdengar kedua tangannya menepuk.
Karena serunya samberan angin tepukan itu, sepasang kupu2 tersebut melorot jauh kebawah, menyusul dengan itu Thio Jiang turut melayang turun.
Tapi baru dia hendak tengadahkan sepasang tangannya untuk menyambuti, tiba2 terdengar suara benda men-desing2 diudara.
Beberapa titik putih macam bintang, meluncur keatas menghamburi kupu2 sian-tiap itu.
Kalau tetap menyambuti, terang tangan Tio Jiang pasti terpanggang senjata rahasia berbentuk bintang2an itu.
Dalam terkejutnya, Tio Jiang masih bisa menarik tangannya dengan sebatnya.
Begitu desingan suara yang lemah itu berlalu, ternyata sayap yang indah dari kupu2 itu telah kena tertusup pecah dan bagaikan layang2 putus kupu2 itupun me-layang2 jatuh.
Sekalipun sikapnya tampak acuh tak acuh, namun sebenarnya secara diam2 Bek Lian terus menerus mengawasi gerak gerik Tio Jiang tadi.
Kepingin sekali ia mengetahui, hendak diberikan kepada siapakah nanti kupu2 itu?
Liau Yan-chiu adalah sumoaynya, sedemikian akrab perhubungan mereka sehingga tak nanti disebabkan soal kupu2 saja mereka sampai jadi bentrok.
Tapi Bek Lian itu seorang gadis aleman yang manja.
Mendengar Tio Jiang hendak kasihkan kupu2 itu pada Yan-chiu tadi, belum2 ia sudah mengambek tak senang hatinya.
Dan kenyataannya, kupu2 sian-tiap itu memang bagus sekali.
Kalau tak bisa dipelihara hidup2 untuk perhiasan tembok kiranya cukup menarik.
Maka demi diketahui ada orang melepas senjata rahasia hendak menghancurkan kupu2 itu, tanpa terasa ia, menjerit kaget.
Malah sitangkas Yan-chiu sudah terus mendamprat.
"Siapakah yang begitu kurang ajar melepas senjata rahasia?"
Tio Jiang tak begitu gemar akan kupu2 itu, jadi diapun tak begitu kecewa.
Cuma saja heran dia, mengapa begitu pagi sudah ada orang yang naik kegunung situ?
Tebing puncak Giok-li-nia begitu curam berbahaya, bagi orang tang cukup sedang saja kepandaiannya, tak nanti mampu mendaki keatas.
Dan tegas dilihatnya, cara senjata rahasia ini dilepas, indah dan rapih sekali.
Ah, kalau yang datang itu seorang musuh, tentu berat baginya karena justeru sang suhu sedang bepergian.
Tengah dia ter-mangu2, kedengaran ada orang berseru.
Negara dalam bahaya besar, pasukan Ceng yang berjumlah besar sudah tiba diperbatasan Kwitang, mengapa masih enak2an ber-main2 menangkap kupu2?
Menyusul dengan seruan itu, dari tabir kabut loncatlah seseorang, terus meIangkah ketengah tanah lapang.
Gerakannya begitu tangkas dan lincah sekali, hingga membuat kagum ketiga murid Ceng Bo siangjin itu.
Kini jelaslah siapa orang itu.
Dandanannya seperti seorang mahasiswa, alisnya bagus matanya terang, mencekal sebuah kipas lempit yang tak henti2nya dibuat kipas2.
Dari wajahnya yang cakap itu, terang dia itu masih muda, belum ada 30 tahun umurnya.
Walaupun ucapannya itu memang benar, tapi karena caranya yang begitu tak tahu aturan ialah datang2 terus mendamprat, tak senanglah hati Tio Jiang dibuatnya.
Tapi karena kepolosannya, Tio Jiang tak dapat balas mendamprat melainkan mendengus "hem"
Saja.
Karena yang datang itu seorang anak muda yang ganteng sikapnya, Yan-chiu turun marahnya dan hanya menyeringai saja.
Sebaliknya Bek Lian yang begitu menyayangi sekali akan kupu2 sian-tiap tadi, tanpa menghiraukan siapa yang datang, terus saja mengata2inya.
"Kenapa kau begitu tak tahu aturan? Datang2 terus menghancurkan sepasang sian-tiap Lo-hou-san ini?"
Kalau itu kabut sudah sirna, ribuan larik cahaya matahari pagi yang gemilang, memancar kearah gunung situ.
Dan ini merupakan suatu penerangan yang lebih menyemarakkan kecantikan Bek Lian.
Mendengar dampratan itu, mahasiswa itu mendongak keatas tertawa, dia bermaksud menganggap sepi saja kata2 itu.
Tapi begitu dia angkat kepalanya dan nampak akan kecantikan yang gilang gemilang dari Bek Lian, hilang lenyaplah maksud mengejek yang hendak dibawakan dalam tertawanya itu.
Bagaikan sebuah patung, dia tegak membisu ter-longong2.
Tapi keadaan itu tak berlangsung lama, karena pada lain saat dia sudah dapat menguasai kegoncangan perasaannya.
Wajahnya berobah seri, bibirnya berhias tertawa dan mulutnya bertanya kepada Bek Lian.
"Ah, kiranya nona suka sekali akan kupu2 sian-tiap Lo-hou-san itu? Tadi sewaktu kunaiki kemari kebetulan ditengah jalan berpapasan dengan sepasang binatang itu dan berhasil menangkapnya hidup. Inilah, kalau nona menghendakinya, akan kuhaturkan padamu!"
Habis berkata, dia merogoh kedalam baju dan mengeluarkan sehelai bungkusan saputangan.
Begitu dibuka ternyata disitu terdapat sepasang kupu2 Lo-hu-sian-tiap.
Tapi sayangnya tak sebesar kupu2 yang hendak ditangkap Tio Jiang tadi.
Dengan memain ketawa dibibir, orang itu mempersembahkan kupu2 itu kepada sijelita.
"Nona, turut pandanganku, kau berlipat ganda cantiknya dari kupu Lo-hou-sian-tiap ini. Kalau Lo-hou-sian-tiap mendapat julukan siau-hong-hong, sepantasnya kau digelari say-hong-hong!"
Say-hong-hong artinya "seperti cendrawasih".
Bermula Bek Lian mendongkol terhadap mahasiswa itu.
Tapi demi didengarnya dia ber-kata2 dengan nada yang empuk sedap didengar, apalagi sikapnya sopan, seketika itu menurunlah kemarahannya.
Apalagi bukan saja orang itu telah mempersembahkan benda yang dipenujunya, malah disertai juga puja puji mengagungkan kecantikannya melebihi kupu Lo-hou-sian-tiap.
Selama ia berdiam digunung situ, tak pernah ayahnya memuji kecantikannya, sedang sumoaynya, Yang-chiu, juga tunggal kaum dengannya.
Satu2nya orang kaum hawa yang sebaya dengan usianya, ialah Tio Jiang.
Cuma saja anak itu tak bisa bicara.
Hatinya sih penuh dengan berbagai perasaan, namun mulutnya seperti terkancing rapat susah untuk mengutarakan.
Ya, kalau tetap tutup niulut sih masih mending, tapi begitu membuka mulut terus plegak-pleguk entah apa yang dikatakan.
Maka dalam usia berahinya itu, belum pernah Bek Lian mendengar orang memuji kecantikannya.
Dan sudah menjadi psykhologi (kebatinan) seorang gadis, paling senang mendengar dirinya dipuji cantik.
Tanpa terasa Bek Lian memandang kearah simahasiswa.
Seketika itu se-olah2 berhentilah jantung simahasiswa berdenyut.
Sampai sekian lama, dia terlongong2.
"Nona, ambillah!"
Katanya kemudian. Bek Lian ternyata mau juga menerima pemberian itu, lalu memeriksa sayapnya yang indah itu.
"Benarkah aku ini secantik yang dikatakan orang itu, yakni lebih cantik dari sian-tiap ini dan pantasnya digelari say-hong-hong? Ah, sudah tentu memang begitu, rupanya orang itu........", berpikir sampai disini ia kembali memandang mahasiswa tersebut, siapa, matanya tampak berkeredepan, seperti hendak tertawa. Seketika itu wajah Bek Lian terasa panas, dengan tundukkan kepala, ia merenung lagi.
"Rupanya orang ilu bukan macam orang yang suka bohong!"
Melihat sianak muda memberikan kupu2 sian-tiap pada Bek Lian, sebaliknya dari mengiri, Yan-chiu malah lari menghampiri sang Suci untuk turut melihat kupu2 itu.
Hanya Tio Jiang yang dalam kebatinannya mengejek simahasiswa itu.
Bukankah tadi datang2 dia terus mendamprat "negara dalam bencana, tak seharusnya ber-senang2 diri main2 dengan kupu2?"
Tapi nyatanya dia sendiripun malah menangkap sepasang!
Sebagai seorang yang jujur, dia paling benci dengan orang yang mulut dan perbuatannya tak sepadan.
Dan karena melihat sikapnya yang begitu kurang ajar mengawasi pada sang suci, bertanialah Tio Jiang dengan serentak.
"Siapakah saudara ini? Hendak ada keperluan apa datang kemari?"
Dalam pertanyaannya itu, bernada permusuhan.
Simahasiswa memutar kebelakang memandang beberapa jenak kepada Tio Jiang.
Dengan menyungging senyuman dan merangkapkan sepasang tangannya kebelakang, dia mendongak sembari bersenandung.
"Dibawah markas, musim semi datang membawakan pemandangan alam yang indah, burung meliwis terbang tanpa berkesan. Diempat penjuru suara terompet sahut sahutan. Dalam ribuan kubu pertahanan, kabut bertebar, matahari terbenam, pintu kota tutup. Dengan setuang arak mengenang rumah nan ribuan Ii jauhnya, sang burung seriti bebas berterbangan tanpa memikir pulang, embun berhamburan memenuhi tanah, tak mau nian mata dibawa tidur, rambut memutih sang jenderal menahan air mata."
Dia sih orangnya ganteng cakap, gayanya sudah tentu makin menarik.
Tapi Tio Ciang ternyata tak mengerti apa yang dimaksudkan dalam senanjungnya itu.
Dia berasal dari seorang anak gembala sapi digunung situ.
Enam tahun yang lalu.
Ceng Bo siangjin yang kebetulan ada urusan turun gunung, telah melihat dia sedang dicambuki oleh majikannya, sehingga kepala dan mukanya bercucuran darah.
Dia tak tegah.
Apalagi dilihatnya anak itu sikapnya polos jujur, segera Ceng Bo siangjin menebusnya dengan beberapa potong perak lalu membawanya pulang kegunung.
Diajarinya anak itu ilmu silat dan sedikit ilmu surat.
Tetapi rupanya Tio Jiang menumpahkan seluruh perhatiannya akan ilmu silat saja, ilmu surat dia agak kesampingkan.
Maka demi mendengar senandung simahasiswa itu, dia hanya kerutkan alis saja.
Hendak dia menyahuti atau Bek Lian telah mengeluarkan pujian.
"Suatu pambek yang tinggi!"
Gambar 2
"Cayhe she The bernama Go,"
Dengan lagak tengik pemuda itu perkenalkan diri kepada Bek Lian. Mendengar pujian itu, simahasiswa berputar kebelakang menjurah pada sinona, sikapnya ber-lebih2an sekali, serunya.
"Aku yang rendah orang she The nama Go, tinggal dilaut ber-sama2 keluarga Ciok, Ma dan Chi. Telah lama mendengar Ceng Bo siangjin menuntut penghidupan suci ditempat ini, ingin benar untuk menjumpai entah bisa diterima tidak?" ---oo0dw0oo---Makin simahasiswa mengunjuk gaya-pelajarnya, makin Tio Jiang mengerutkan keningnya. Yan-chiu anggap orang itu suka ber-main2, sebaliknya Bek Lian beranggapan lain. La yang sejak kecil diasuh dengan pendidikan silat dan sastera oleh sang ayah, telah mempunyai dasar yang dalam tentang syair menyair, yang kesemuanya itu telah dapat dinikmati sungguh2. Dari senandung simahasiswa tadi, dapatlah ia mengetahui kalau orang tengah mencurahkan isi kalbunya, maka cepat2 ia memberi pujian. Kini kembali dengan gaya yang terpelajarnya, anak muda itu mengucapkan kata2nya, buru2 Bek Lian menyahuti dengan sungguh2, Ceng Bo siangjin adalah ayahku sendiri. Sayang kemarin siang dia turun gunung sampai sekarang belum pulang. Kongcu (sebutan untuk anak muda terhormat) silahkan mampir dulu kebiara kami sana!"
Mendengar penyahutan Bek Lian itu, tertawalah Yan-chiu.
"Suci, kalian berdua tengah main sandiwara apa itu? Mengapa bernyanyi sembari berkata?"
Wajah Bek Lian bersemu merah. Sementara The Go tertawa menanyai Yan-chiu.
"Siapakah gerangan nama nona yang indah ini?"
Ditanyai begitu, buru2 Yan-chiu robah sikapnya. Dengan meniru lagak lagu sang suci tadi, iapun memanggut kepada The Go, mengatur nada suaranya lalu menyahut.
"Ah, maafkan.... Yang ini adalah suciku, she Bek nama Lian. Itu sukoku, she Tio nama Jiang. Sedang aku yang rendah ini tang she Liau nama Yan-chiu. Aku tinggal disini bersama suci dan suko belajar silat."
Karena berlagak yang tak semestinya itu, tingkah sinona centil telah membuat orang2 tertawa.
Malah ia sendiripun turut geli juga.
Buru2 kepalanya disusupkan kedada sang suci dan tertawa ter-kial2.
Karena tak mengira akan dibuat perlindungan, Bek Lian terkejut dan kendorkan genggaman tangannya.
Sekali kendor terbanglah sepasang kupu2 Lo-hou-sian-tiap tadi.
Saking terkejutnya Yan-chiu berseru "haya", sebaliknya The Go buru2 menghibur.
"Biarlah, tak perlu disayangkan. Siau-hong-hong lepas, masih ada, say-hong-hng""
Tio Jiang anggap si The Go itu licin orangnya.
Tapi karena nampak sang suci begitu gemar, diapun tak berani berbuat apa2.
Pada saat itu, adalah bulan 11, hawa pagi dingin sekali rasanya.
Karena dari setadian dia berdiri menjublek saja, lama2 merasa kedinginan juga.
Selama mereka bertiga ber-cakap2 dengan gembira itu, dia tak mempunyai kesempatan untuk turut bicara.
Dengan mengkal dia berputar tubuh, terus lari kembali kearah biara.
Sekalipun didengarnya juga Bek Lian dan Yan-chiu segera mengikuti dari belakang namun tak mau dia hiraukan.
Masuk keda-lam kamarnya, dia memakai baju luar lagi, menyembat pedang yang bertutulan karat, terus keluar pula.
Karena sesak dengan nafsu kemarahan, dia segera enjot tubuhnya berlari2 turun kesebelah bawah.
Tiba2 hidungnya tersampok dengan suatu bebauan yang wangi, ya begitu wangi sekali bau itu.
Maju beberapa tindak lagi, bau itu makin keras.
Setelah menikung pada sebuah batu karang, dilihatnya ada seorang tua kate kira2 satu meter tingginya, tengah menghadapi sebuah kuali besi.
Mulutnya menggigit sebatang tongkat kayu.
Hawa wangi tadi, keluar dari kuali tersebut.
Melihat itu, Tio Jiang terkejut.
Buru2 dia bersembunyi kedalam semak2 pohon.
Pikirnya, 6 tahun sudah dia tinggal digunung situ, tapi belum pernah suhunya mengatakan kalau disekitar situ ditinggali oleh lain orang.
Tinggi siorang tua kate itu kira2nya hanya sebatas perutnya Tio Jiang, kepalanya gundul, umbun2nya menonjol keatas, persis seperti bintang Lo-siu-cee yang sering terdapat dalam lukisan.
Tapi jenggotnya, begitu panjang menjulai sampai ketanah.
Jubah yang dikenakannya, nampaknya bersih sekali.
Sepasang tangannya diletakkan dibelakang punggung, seluruh perhatiannya dicurahkan untuk menggigit batang tongkat itu yang dibuatnya untuk mengaduk kuali besi.
Tak berapa lama kemudian, bau wangi itu makin keras.
Se-konyong2 orang tua itu menyingkir setindak kebelakang.
Dari tanah dia memungut sehelai kain warna kelabu untuk dibuat selimut dirinya.
Kain selimut itu ternyata lubang disebelah atas dan ini untuk tempat supaya kepalanya dapat menonjol keluar.
Kalau dia berteliku kaki, mungkin orang akan mengira kalau sebuah batu adanya.
Tak tahu Tio Jiang spa yang sedang dilakukan oleh orang tua aneh itu.
Karena tak ada keperluan lain2 Tio Jiang pun kepingin tahu sekali.
Tapi sampai sekian saat dia menunggu, walaupun sepasang mata siorang tua kate itu tampak melotot, namun orangnya sih bagaikan tidur, sedikitpun tak bergerak.
Kini tak sabar lagi Tio Jiang menunggunya.
Hendak dia tinggalkan tempat persembunyiannya untuk mencari lain tempat guna berlatih pedang, tiba2 terdengar suara men-desis2.
Seketika wajah siorang tua berobah gembira sekali.
Mata dan alisnya naik turun berkedipan.
Sikapnyapun lucu.
Tio Jiang mendengar juga suara desisan yang aneh itu.
Sebagai anak kelahiran gunung, tahulah dia hanya bangsa ular atau binatang berbisa saja yang mengeluarkan suara begitu.
Sewaktu mengawasi dengan cermat, darahnya menjadi tersirap.
Gambar 3 ....
Suara mendesis itu makin nyata dan pada saat lain dari sela2 batu sana merayap keluar seekor ular yang tak seberapa besar.
Kiranya dihadapan siorangtua kate ada sebuah goa kecil macam terowongan.
Dalam 4 musim, gunung Lo-hou-san itu tetap sedang saja iklimnya.
Banyak turun hujan, sehingga penuh dengan belukar2 yang lebat.
Tapi anehnya disekitar goa kecil itu, tiada tumbuh suatu tanaman atau belukar apapun juga.
Dan keadaan karang disitu, ada yang menonjol ada yang melekuk.
Maka bila didalam goa kecil itu tiada terdapat suatu binatang yang luar biasa atau ular yang berbisa, tak mungkin sedemikian keadaannya.
Jadi terang siorang tua itu adalah seorang tukang tangkap binatang berbisa.
Dia tengah membuat perangkap kuali yang mengeluar hawa wangi untuk menangkap suatu binatano.
Tio Jiang ternyata sifatnya saja yang jujur polos, dan se-kali2 bukan seorang yang tolol.
Pengiraannya itu, 90% benar.
Tak antara lama kemudian, desisan itu makin keras dan kini berobah nadanya seperti bercicitan.
Dan pada lain saat.
Muncullah seekor kepala ular dimulut goa kecil itu.
Ular itu tak sebrapa besar, hanya sebesar ibu jari tangan saja.
Tapi lidahnya yang menjulur keluar itu, panjang dan merah warnanya.
Selain kepalanyapun merah dan matanya hitam, tubuh ular itu hijau seluruhnya.
Hanya warna hijau itu, persis seperti batang bambu yang tersiram air hujan, hijau bening sedap dipandang.
---oo0dw0oo---Melihat sang korban keluar, orang tua itu makin menjublek diam.
Siular dongakkan kepalanya mengawasi kesekeliling, dan sembari lidahnya bercicitan, dia makin merayap keluar sehingga hampir separoh tubuhnya sudah berada diluar goa.
Melihat bentuk dan warnanya, tahulah Tio Jiang kalau ular itu adalah yang disebut ular "tiok yap ceng" (daun bambu hijau).
Tapi pada umumnya, tiok-yap-ceng hanya sedepa panjangnya.
Ini saja cukup untuk menyembur mati seorang yang berada pada jarak 7 tindak jauhnya.
Tapi tiok-yap-ceng ini, hampir ada 3 depa (lebih kurang 2 meter) menonjol keluar, tapi masih belum kelihatan ekornya.
Ah.
Iuar luar biasa dan belum pernah dilihatnya.
Bermula ular itu pe-lahan2 merayap keluar.
Akhirnya karena tak tahan mernbaui hawa wangi itu, terus saja melesat keluar, dengan pesatnya menghampiri kuali.
Dengan gunakan ekornya untuk menahan dibawah, kepala ular itu menjulang keatas terus dimasukkan kedalam kuali.
Sekonyong2 mata Tio Jiang disilaukan dengan suatu bayangan melesat, ah, kiranya itulah siorang tua yang telah ayunkan sang tubuh menerkam siular.
Gerakannya tadi itu, Laksana burung terbang pesatnya.
Tapi ternyata binatang itupun cukup waspada.
Tahu akan gelagat jelek, dia berpaling kebelakang terus menyurut sampai beberapa tindak.
Tahu ada ular bisa menyurut kebelakang, Tio Jiang sudah heran.
Tapi serta tampak bagaimana gerakan siorang tua itu lebih cepat dari siular, tanpa terasa dia mengikutinya.
Sekali kepala ular memagut, mulutnya mengeluarkan hawa merah.
Dua larik gigi yang beracun, menggigit siorang tua.
Hai, apa2an itu?
Bukannya siorang tua berusaha untuk menghindar, tapi sebaliknya diapun pentang mulutnya lebar2, maju memapaki.
Sampai disini, mau tak mau terpaksa Tio Jiang tak dapat menahan keheranannya.
"Hai"......dia berseru! Mendengar seruan itu, baik ular maupun siorang tua, sama2 tertegun. Tapi menggunakan kesempatan detik ketegunan itulah, siular terus memberosot mundur. Laksana anak panah terlepas dari busurnya, si tiok-yap-ceng itu segera meluncur masuk kedalam goanya. Melihat korbannya lolos, marahlah siorang tua. Jeuggotnya yang putih meletak itu ber-goyang2, maju beberapa Iangkah kemuka, selimut kain dilontarkan, begitu angkat sebelah kaki didupaknya kuali besi itu "grombyang ............. Kuali itu mencelat kearah tempat persembunyian Tio Jiang. Men-deru2 suaranya, pesat jalannya. Kini tak dapat Tio Jiang tetap bersembunyi ditempatnya lagi. Sekalipun tadi siorang tua tak gusar, dia sendiri karena merasa telah membuat kapiran usaha orang, juga akan keluar untuk menghaturkan maaf. Demi sikuali melayang tiba, dia segera melesat keluar.
"Bum!", demikian kuali besi itu jatuh membentur batu, isinya menumpah semua. Melihat isinya itu, hati Tio Jiang bercekat. Kiranya bau wangi yang keluar dari kuali besi itu, berasal dari ramuan binatang2 kecil dan kutu2. Ada yang sudah hancur terebus, ada lagi yang masih berkutetan meregang jiwa. Ngeri juga Tio Jiang melihatnya.
"Buyung, mengapa kau berani merusakkan urusan Sam-thay-ya ini?"
Bentak siorang tua itu demi melihat Tio Jiang munculkan diri.
Ternyata biarpun tubuhnya kate, tapi suaranya keras menggeledek.
Sewaktu menampak isi kuali yang tumpah itu, Tio Jiang sudah mundur beberapa tindak.
Tapi demi mendengar suara geledek siorang tua itu, buru2 dia berpaling, dengan hormat sekali dia memberi hormat.
"Sam-thay-ya, aku tak tahu sama sekali kalau kau tengah menangkap ular, jadi aku kuatir jangan2 kau akan digigit binatang itu!"
Siorang tua yang menyebut dirinya sebagai Sam-thay-ya (tuan besar ketiga) itu mengawasi sampai sekian lama pada Tio Jiang.
Kembali dia tampak merenung.
Mata, alis, hidung, mulut ya sampaipun daun telinganya, tampak bergerak2 lucu benar kelihatannya.
Tapi kali ini karena sudah merasa salah, tak berani Tio Jiang tertawa.
Beberapa saat kemudian, orang tua itu menggeleng berkata.
"Aneh, aku tak kenal padamu seorang buyung itu, mengapa kau ketahui namaku Sam-thay-ya?!"
Diam-Tio Jiang mendapat kesan bahwa orang tua itu ternyata seorang yang sudah linglung pikirannya.
Bukantah tadi dia sendiri yang memberitahukan namanya, mengapa lupa?
Kalau Tio Jiang itu seorang yang licin, tentu dia akan segera mengatakan ini itu.
Tapi bagi Tio Jiang, putih tetap putih, hitam tetap hitam.
Tak dapat dia "berhias bibir"
Menipu orang.
"Kau sendiri tadi yang mengatakan, menuduh aku merusakkan urusan Sam-thay-ya!"
Katanya menurut apa adanya. Mendengar itu, siorang tua menarik tangannya yang digendong dipunggung tadi, terus menampar mukanya sendiri.
"Benar! Kau tak kenal pada Sam-thay-ya, Sam-thay-ya juga tak kenal padamu. Dengan begitu tak boleh menyebut persahabatan. Merusak urusan penting dari Sam-thay-ya, seharusnya bagaimana? Buyung, coba kau katakan sendirilah!"
Benar2 tingkah laku orang tua itu aneh lucu, nada suaranyapun menggeledek membikin terkejut orang, namun Tio Jiang mendapat kesan bahwa dia bukan seorang jahat.
Dia sendiripun tak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan itu, katanya.
"Sam-thay-ya, akupun tak tahu harus bagaimana, kau saja yang bilang!"
Mendengar itu siorang tua delikkan matanya pada Tio Jiang.
Tangannya kembali digendong dibelakang punggung, lalu mondar mandir kian kemari.
Sebelah tangannya tak henti2nya masih menampari muka.
Mata, telinga, mulut serta hidung, sebentar dikerutkan sebentar dijulurkan.
Setelah berselang bebrapa saat, dia merandek dan berseru dengan marahnya.
"Buyung, berani kau memper-olok2 Sam-thay-ya?"
Tio Jiang heran setengah mati, tanyanya.
"Ah, masakan aku berani ?"
Siorang tua kibaskan tangan, menampar sebuah batu karang, dan hancurlah batu itu.
Saking terkejutnya, TioJiang tersentak jantungnya.
Batu gunung adalah benda yang keras, tapi cukup sekali menepuk saja sudah dapat menghancurkan, dapat dibayangkan betapa sakti pukulan siorang tua aneh itu.
Kalau tubuhnya sampai kena ditabok, huh ngeri awak membayangkannya, demikian Tio Jiang berpikir.
Dapatkah suhunya berbuat demikian, entahlah, karena seIama ini belum pernah dia melihatnya.
Dia sendiri sudah helajar sampai 6 tahun, dan turut kata suhunya, kemajuannya pesat sekali.
Tapi kalau disuruh menepuk hancur batu semacam itu, aduh mak, minta ampun!
Kalau sang pikiran tengah dihujani oleh berbagai pertanyaan, adalah orangnya sendiri masih menjublek disitu, ter-longong2 mengawasi siorang tua.
"Kau masih mengatakan tak berani meng-olok2 Sam-thay-ya? Suruh kau punya Sam-thay-ya berpikir sendiri? Apakah ini bukan hendak meng-olok2 namanya? Siapakah yang tak kenal Sam-thay-ya-mu ini seorang yang tahu makan tak tahu berpikir?"
Gambar 4 Tio Jiang heran setengah mati, tanyanya.
"Ah, masakan aku berani ?"
Siorang tua kibaskan tangan, menampar sebuah batu karang, dan hancurlah batu itu.
Saking terkejutnya, Tio Jiang tersentak jantungnya.
Karena makin mendengar siorang tua berkata makin tak karuan, hati Tio Jiang seperti di-kili2.
Kalau mau ketawa nanti dikatakan kurang pantas, namun tidak ketawa sesungguhnya tak dapat dia menahan gelombang tawanya.
Tapi saking seringnya, tanpa dapat ditahan lagi mulut menghambur "huh huh", tertawa ter-kial2.
Pada permulaan, masih dapat Tio Jiang ketawa mendekap mulut, tapi karena tubuhnya lama kelamaan turut ber-guncang2 tahu2
"trang", pedang yang diselipkan pada pinggangnya membentur batu karang. Bermula orang tua aneh itupun hanya mengawasi saja pada Tio Jiang, tapi demi mendengar suatu benda berkelotekan, dia terus berjingkrak dan ber-kaok2 dengan keras.
"Buyung! Kau bisa silat, bukan?"
Tadi ber-kata2 saja, suaranya sudah seperti geledek.
Kalau kini dia ber-kaok2, sudah tentu suaranya seperti halilintar memecah bumi kerasnya.
Saking dahsyatn ya, dari arah gunung sana mengeluarkan kumandang yang gemuruh, sehingga Tio Jiang bising dibuatnya, tak tahu dia apa yang dikatakan orang tua itu.
"Sam-thay-ya, harap berkata sedikit pelan saja."
Siorang tua-aneh tertawa, ujarnya.
"Kubertanya, kau bisa ilmu silat tidak? Dengan membekal pedang, berani kau mengatakan tak bisa silat?"
"Ya, bisa sedikit2, tapi jelek,"
Sahut Tio Jiang. Siorang tua aneh miringkan kepalanya berpikir, kemudian kedengaran berseru.
"Kau telah mengagetkan ceng-ong-sin (ular tadi). Ini berarti aku harus buang waktu selama dua bulan lagi untuk mengumpulkan kutu2, harus menanti sampai ada kabut tebal lagi, dan harus naik turun gunung pula. Kurang dari 3 bulan sungguh tak bisa."
Sembari berkata itu, jari tangannya tak henti-nya ditekuk2, rupanya untuk menghitung. Pancainderanya pun turut ber-gerak2. Dan menghitung sampai disitu, dia mendongak lagi sembari berkata.
"Buyung, dengarlah. Sam-thay-ya karena teriakanmu tadi, harus buang waktu 3 bulan lagi untuk menangkap si Ceng-sin-ong itu. Nah, begini saja. Kau bisa main pedang, maka kau kuhukum supaya memberi pelajaran 3 jurus ilmu pedang padaku. Kalau kau menolak, ho, akan kulempar tubuhmu kesebelah gunung sana !"
Tio Jiang menjawab dengan sangsi.
"Sam-thay-ya, bukan aku tak mau. Hanya saja ilmu pedang perguruan sebelum mendapat idin suhu, mana bisa diajarkan pada lain orang?"
Biji mata, siorang tua berkeliaran bolak-balik, tanyanya .
"Siapakah suhumu itu?"
"Ceng Bo siangjin dari biara Cin-wan-kuan."
Kembali siorang tua miringkan kepalanya berpikir, kemudian kedengaran ber-sungguh2 sendirian.
"Ceng Bo siangjin? Sam-thay-ya juga ber-tahun2 keliaran didunia persilatan, Kwitang sampai ke Kwisay, tidak sedikit tokoh2 ternama yang kujumpai. Tapi mengapa belum pernah kudengar nama Ceng Bo siangjin itu? Habis ber-sungguh2 dia segera berseru.
"Apa itu Ceng Bo siangjin, Cut Cui hejin? Ilmu pedang cakar ayam dan anjing remuk, tak sudi Sam-thay-ya belajar. Coba kau unjukkan sejurus dulu kulihatnya !"
Tio Jiang tahu bahwa ilmu pedang to-hay-kiam-hwat perguruannya, penuh dengan gaya yang indah.
Kalau hanya dipertunjukkan saja, rasanya tak mengapa.
Disamping itu ingin sekali dia lekas2 lolos dari situ, karena hendak menjenguk bagaimana keadaan sang suci dan sumoay tadi.
Sekali pedang dikiblatkan, lengannya mengibas, memapas keatas.
Sementara itu kedua jari tangan kiri, telunjuk dan tengah, ikut2 mengimbangi dengan gerak yang rapi sekali.
Menampak gerakan jurus itu, tahu2 tubuh siorang tua aneh melesat kebelakang sampai 3 tindak jauhnya.
"Boan thian kok hay", serunya. Tio Jiang tak kurang terkejutnya. Begitu gerak pedang ditarik, segera dia bertanya.
"Sam-thay-ya, mengapa kau mengetahuinya ?"
Tapi siorang tua aneh itu tak mau menyahut dan melainkan berteriak lagi.
"Hay-te-kau!" (biawak dari dasar laut).
"Apa?"
Menegas Tio Jiang.
"Kiang Siang-yan!"
Seru siorang tua pula. Tio Jiang makin tak mengerti, berserulah dia keras2 .
"Apa katamu?"
"Wut"
Tiba2 siorang tua itu melesat maju.
"wut2, se-konyong2 dia loncat undur sampai 3 tindak. Anehnya, walaupun berloncatan maju mundur itu kedua kakinya tak kelihatan bergoyang. Hanya tumitnya saja yang kelihatan mempunyai daya membal seperti karet. Tio Jiang tahu bahwa itulah kesaktian ilmu Iwekang yang disalurkan kearah tumit, terus langsung menyentuh tanah, sehingga dapat wat-wut wat-wut maju mundur. Dengan kepandaian itu teranglah bahwa siorang tua aneh tersebut seorang cianpwe (angkatan tua) yang lihay. Tapi heran, mengapa selinglung begitu? Seraya berloncatan maju mundur itu, berserulah siorang tua aneh itu.
"Hay-tee-kau, Kiang Siangyan, sepasang pedang yang mengadu biru didunia persilatan, menjungkirkan sungai membalikkan laut selama 30 tahun. Buyung, kau pernah apa dengan Hay-tee-kau ?"
"Apa itu Hay-tee-kau?"
Sahut Tio Jiang dengan keheranan.
"selama 6 tahun diatas gunung, kecuali suhu, suci dan sumoay, hanya ada seorang tojin (iman) tua yang tuli dan gagu."
Sikate aneh tak percaya, ujarnya.
"Kau berani membohong pada Sam-thay-ya buyung? Kalau tidak kenal Haytee-kau, mengapa kau bisa ilmu pedang to-hay-kiam-hwat? Hayo, jawablah!"
"Ilmu pedang itu suhu yang mengajarkan,"
Sahut Tio Jiang apa adanya.
"Siapa suhumu?"
Tio Jiang anggap orang tua itu agak 'setengah', segera dia menyahut keras2 .
"Suhuku adalah Ceng Bo siangjin, ya Ceng Bo siangjin!"
Benar2 orang tua kate itu tak mengerti, comelnya.
"Apa itu 'siang siang'? Kumaksudkan Hay-tee-kau!"
Karena kewalahan, Tio Jiang tak mau bicara lagi.
"Pulang kasih tahu pada Hay-tee-kau, Sam-thay-ya amat merinduinya. Kasih tahu lagi padanya, bukan Sam-thay-ya takut menjumpainya, melainkan.... hm ....."
Kembali siorang itu miringkan kepalanya merenung, sehingga saking getolnya, mulutnya hampir menempel sang hidung.
"Tidak menjumpainya, apa alasannya, kau bilang Sam-thay-ya ini tak bisa mengutarakan. Ya, Sam-thay-ya cuma bisa makan tak bisa berpikir!"
Habis menyomel panjanglebar itu, terus "sret, sret, sret", lari turun kebawah.
Kesemuanya itu berlangsung sebelum Tio Jiang dapat menyangkanya.
---oo0dw0oo---Seperginya siorang tua kate yang aneh itu, Tio Jiang terpaksa harus memutari dulu lamping gunung, baru dia berbasil mendapatkan jalanan naik keatas puncak.
Tapi ketika dia melihat kemuka, tampak disebelah atas sana ada beberapa sosok bayangan tengah lari dengan pesatnya.
Sejak pada usia 12 tahun dia tinggal digunung situ, entah berapa ratus kali dia naik turun gunung itu.
Dan itu memang merupakan latihan yang berharga, karena kini Ilmunya berjalan tambah sempurna sekali.
Dikala dia memikirkan bahwa diatas gunung sana hanya ada suci dan sumoayn ya, dia terkesiap dan sesalkan dirinya mengapa sekehendaknya sendiri saja tinggalkan mereka.
Juga simahasiawa tadi, pun belum diketahui asal usulnya, lawan atau kawan.
Tapi ketika pikirannya terlintas renungan bagaimana Bek Lian telah begitu manis sikapnya terhadap simahasiswa tadi hatinya entah karena apa, menjadi tawar.
Tapi pada lain saat rasa kuatir telah menguasai pikirannya.
Sekali enjot kakinya, secepat kilat dia lari se-keras2nya keatas gunung.
Tak antara lama, beberapa sosok bayangan yang mendahuluinya tadi, segera tersusul.
Kiranya mereka ada 6 orang.
Ada setengahnya yang bertubuh tinggi besar, membawa senjata.
Tio Jiang makin gellsah buru2 kepingin sampai dirumah.
Dilihatnya diantara keenam orang itu ada seorang paderi yang gemuk, memakai jubah warna hijau, dadanya memakai kalung 108 biji liam-cu (mutiara).
Alisnya menjungkat keatas, matanya bersorot bengis.
Yang tiga orang bermuka brewok dan berd yenggot lebat.
Wajahnya hampir sama satu dengan lain.
Agaknya mereka bertiga saudara.
Sementara yang dua orang lagi, adalah kaum wanita.
Yang satu umurnya antara 30-an tahun, lainnya agak mudaan sekira umur 20 tahunan.
Perempuan yang tua umurnya itu membekal sebuah senjata rode, sebelah dalam dan luar roda itu berbentuk runcing.
Dari warnanya yang ke-biru2an, terang kalau senjata itu terbuat daripada baja murni.
Sedang yang mudaan itu tampak bermuram durja, tangannya mencekal sebatang senjata macam tusuk ikan.
Panjang senjata itu lebih tinggi dari orangnya.
Gambar 5 Ketika mendadak melihat ada beberapa sosok bayangan orang melesat kearah biara, cepat Tio Jiang menyusulnya.
Ternyata satu diantaranya adalah seorang Hwesio gemuk berjubah hljau.........
Tengah keenam orang itu mendaki keatas, tiba2 dirasainya ada angin meniup dari arah belakang, dibawakan oleh seseorang yang tengah mengejarnya.
Dengan terkejut, mereka cepat menoleh kebelakang.
Dan keheranan mereka bertambah besar, ketika diketahuinya bahwa orang yang mendatangi itu ternyata seorang anak muda yang dandanannya seperti tukang angon sapi.
Salah seorang dari siberewok segera berkata.
"Ah, Lo-hou-san ini sungguh2 suatu tempat persembunyian dari harimau dan naga, maka tak heran kalau Ceng Bo siangjin memilih tempat ini untuk mengasingkan diri!"
Mendengar itu buru2 Tio Jiang memberi hormat dan bertanya.
"Para eng-hiong (orang gagah) ini hendak mencari suhuku perlu ada urusan apa?"
Dalam bertanya itu, hati Tio Jiang tetap curiga.
Belum pernah ada orang luar yang berkunjung kesitu, mengapa begitu suhunya pergi, tahu2 ada sekian banyak orang asing mencarinya?
Dengan tabahnya, Tio Jiang mengawasi keenam orang itu satu per satu.
Dari wajah mereka yang bengis dan sikapnya yang kasar, terang mereka itu bukan orang baik.
Sampai2 siwanita yang tuwaan itu, wajahnyapun tak mengasih.
Hanya siwanita muda tadi wajahnya tampak bermuram durja, kasihan tampaknya.
"O, kiranya engkoh kecil ini murid Ceng Bo siangjin,"
Sahut si-hweshio gemuk.
"apakah suhumu dirumah? Tolong sampaikan padanya bahwa 4 orang she The, Ciook, Ma dan Chi dari Lam-hay datang berkunjung!"
Mendengar itu, teringatlah Tio Jiang akan keterangan simahasiswa, tanyanya.
"Masih ada seorang she The dandanannya sebagai seorang mahasiswa, apakah juga kawanmu ?"
"Hai, kiranya The toako sudah mendahului kemari!"
Serentak ketiga orang yang bermuka brewok itu berseru. Sebaliknya si-hweshio itu hanya tertawa tawar saja dan dengan sinis berkata.
"Langkah kaki yang cepat, kalau menyelamatkan jiwa kiranyapun tak nanti terlambat!"
Ketiga orang brewok itu delikkan mata kepada sihweshio, agaknya akan cari setori. Tapi wanita yang membekal roda-baja tadi segera melerai.
"Apa kalian hendak bikin onar? Belum bertemu dengan tuan rumah, mengapa ribut2 dihadapan seorang siaupwee (angkatan muda), apa2an itu!"
Sihweeshio dan ketiga orang brewok itu rupanya jeri terhadap siwanita, nyatanya mereka lantas bungkam. Hanya sigadis yang maju selangkah bertanya kepada Tio Jiang.
"Tolong tanya, mahasiswa she The itu sudah berapa lama tiba kemari?"
Melihat orang begitu perhatikan sekali pada si The Go, Tio Jiang mengawasi sipenanya.
Didapatinya bahwa gadis itu walaupun agak hitam kulitnya, namun manis juga.
sesaat muka Tio Jiang ke-merah2an karena dia merasa tak patut melihati seorang gadis sampai sedemikian rupa, lalu sahutnya.
"Baru tadi pagi datangnya, mungkin dua jam yang lalu!"
Sigadis hitam mendenguskan hidungnya.
Ketika Tio Jiang mengawasi kearahnya lagi, ternyata gadis itu ber-linang2 air matanya.
Dua butir air mata mengucur dari kelopaknya.
Rupanya gadis itu berdaya se-kuat2nya untuk menahan sedu sedannya, maka ia segera kacupkan bibirnya se-kencang2nya.
Sudah tentu Tio Jiang menjadi heran.
Tapi karena baru saja berkenalan, tak layaklah kiranya untuk menanyai keadaan orang.
Pada lain saat berkatalah dia dengan lantang.
"Kemaren tengah hari, suhu telah menerima surat dari seekor merpati pos. Ber-gegas2 beliau turun gunung, entah bila akan kembali pulang. Adakah saudara2 sekalian ini hendak beristirahat dulu kedalam biara atau "
"Ciok jiso, dari siapakah surat burung merpati itu?"
Pernyataan Tio Jiang telah diputus oleh sihweeshio yang bertanya kepada siwanita tuaan tadi, siapa dengan nada yang dingin menyahut.
"Toa-ah-ko dari Thian-tee-hwee!"
"Kalau begitu, kita terlambat sedikit ini?!"
Tanya aihweeahio pula.
"Kita be-ramai2 naik kegunung sini. Setiba di Kwitang tiada tunggu berjumpa dengan toa-ah-ko dari Thian-tee-hwee, dia tentu akan sudah mengetahuinia. Kalau dia bisa melihat gelagat bahwa kita, berempat keluarga ini tak boleh dibuat main2, dia tentu ber-gegas2 pulang!"
Dengan mengiangkan seruan "oh"
Hweeshio tersebut segera memuji.
"Kau benar, Ciok jisoh!"
Setelah itu dia lalu berpaling kepada Tio Jiang.
"Siauko (engkoh kecil), sekalipun nanti malam kemungkinan besar suhumu belum pulang, tapi rasanya besok pagi dia tentu sudah kembali. Tak apalah kita bermalam dibiara Cing-wan-kuan sana, harap siauko jalan dululah!"
Dari nada bicara sihweeshio gemuk itu, teranglah kalau dia (Tio Jiang) dianggap sebagai tuan rumah.
Tapi mengapa tadi mereka sebut2 nama Thian-tee-hwee?
Apakah mereka itu musuh2 sang suhu?
Kalau benar demikian, jumlah mereka begitu banyak, terang fihaknya takkan dapat melawan.
Ah, biarlah dia pura2 tak tahu saja, nanti apabila sudah sampai digunung hendak dia rundingkan dengan suci dan sumoaynya, daya untuk mengundurkan mereka.
Dengan ketetapan itu, Tio Jiang terus ayunkan langkah mendaki keatas.
Tak berapa lama kemudian, biara Cinwan-kuan sudah tertampak.
Keenam orang asing itu tetap mengikuti dibelakangnya.
Tapi baru kakinya sampai dimuka pintu biara atau telinganya segera mendengar suara cekikikan dan ter-bahak2 dari Bek Lian, Yan-chiu dan The Go yang tengah berkelakar dengan teramat gembiranya.
Kening Tio Jiang mengerut, dengan berseru keras2 dia menereaki.
"Suci! Ada 6 orang tamu hendak mengunjungi suhu."
Bek Lian menyahut seraya muncul keluar.
Saat itu Tio Jiang tampak bagaimana wajah sucinya itu ber-seri2 girang, mulutnya menyungging senyum gembira, suatu hal yang belum pernah dilihatnya sejak dia berada disitu.
"Tetamu?"
Menegas Bek Lian dengan lebih dahulu bergelak tawa. Belum Tio Jiang menyahut, atau The Go dan Yan-chiu sudah menyusul keluar. Begitu melihat akan keenam orang itu, The Go ter-bahak2 menegur.
"Ciok jiso, mengapa kalian baru sekarang tiba?"
Yang dipanggil Ciok jiso itu diam saja.
Tapi gadis hitam manis yang berada dibelakangnya segera melangkah maju mendekati The Go dan hendak mengucap suatu apa kepadanya.
Namun The Go pura2 tak melihatnya dan terus bertanya kepada ketiga orang brewok tadi.
"Sam-kiat (3 orang gagah) dari keluarga Chi juga ikut datang. Marilah, kuperkenalkan kalian!"
Kalau The Go begitu ramah terhadap ketiga orang brewok itu, sebaliknya dia tak ambil perhatian terhadap sihweeshio gemuk.
Rupanya hweeshio gemuk itu pun sudah menduga kalau orang she Tio tersebut akan berlaku demikian padanya.
Dengan memasukkan tangan kedalam jubah, dia tertawa dingin.
"Suko, siapakah orang2 ini ? Kawan atau lawankah?"
Tanya Yan-chiu kepada Tio Jiang, siapa menyahut dengan Gejujurnya saja.
"Entah, akupun tak tahu, sedang suhu tak berada dirumah, sungguh repot nih !"
Meskipun tanya jawab itu dilakukan dengan suara pelahan, namun tak urung dapat didengar juga oleh The Go, siapa dengan senyum tawanya menerangkan kepada Yan chiu.
"Dik Yan-chiu, usah kuatir, orang2 ini adalah sahabatku semua."
"Setan", demikian diam2 Tio Jiang memaki orang she The. Masa dalam waktu sesingkat itu, sudah begitu akrab dengan suci dan sumoaynya. Tapi walaupun hatinya mendongkol, namun mulut Tio Jiang tidak dapat mengucap apa2. Dan karena itu, diapun lalu tak mau mengomong lagi. Oleh sebab Bek Lian dan Yan-chiu adalah gadis2, jadi tak enak kiranya untuk mengawani bicara keenam orang yang belum dikenalnya itu. Maka dengan sendirinya, The Go wakilkan dirinya sebagai tuan rumah untuk memperkenalkan rnereka. Kini baru Tio Jiang tahu bahwa hweshio gemuk itu bergelar Ti Gong hweshio. Asalnya orang she Ma. Ketiga orang brewok itu dari keluarga she Chi, masing2 bernama Chi Beng, Chi Kwi dan Chi Sim. Wanita setengah tua tadi bernama Ciok Ji-so. Sedang sigadis hitam mania itu bernama Ciok SiaU-lan. Samar2 Tid Jiang teringat akan kata2 suhunya, bahwa di Lam-hay (laut selatan) ada gerombolan bajak laut terdiri dari empat keluarga. The, Ciok, Ma dan Chi. Mereka mengganas penumpang2 kapal. Setiap orang, mempunyai ratusan anak buah. Mereka masing2 mempunyai kepandaian istimewa sendiri2. Sang suhu memesan, kelak kalau sudah turun gunung, lebih baik jangan kesamplokan dengan mereka. Karena keempat orang itu menganggap dirinya sebagai raja dilautan, maka merekapun tak mau mengindahkan lagi apa yang disebut sebagai "tata kesusilaan dunia persilatan". Sekali terikat permusuhan dengan mereka, sudah tentu banyak bahayanya, karena jumlah mereka banyak sekali. Adakah ketujuh tetamunya itu termasuk The Go dan kedua wanita itu benar2 gerombolan bajak laut ganas itu? Kalau benar, mengapa mereka mencari suhunya? Demikian Tio Jiang me-nimang2 dalam hatinya. Tapi orang telah mengunjungi dengan sikap yang hormat, sekalipun mereka mengandung maksud jahat, tapi karena belum jelas diketahui, maka tak pantaslah kiranya untuk bersikap memusuhi. Karena itu, Tio Jiang segera persilahkan ketujuh tetamunya itu masuk kedalam. Tapi setelah sama berdudukan, lagi2 Tio Jiang tak dapat memulaikan pembicaraan. Oleh sebab memang sifatnya yang pemaluan dan jujur, apalagi dihadapan sekian banyak orang, Tio Jiang makin tak dapat ber-kata2. Bek Lian juga hanya tundukkan kepalanya memainkan ujung bajunya. Sedang orang she The itu tak henti2nya mengawasi padanya. Sebaliknya sigadis hitam manis itupun tak putus2nya memandang pada The Go. Dengan begitu suasana dalam ruang biara situ, menjadi hening lelap. Tiba2 terdengar derap langkah orang mendatangi. Ah, kiranya yang datang itu seorang bongkok. Wajah sibongkok itu kotor, matanya merah dan suram. Melihat siapa yang datang, Tio Jiang segera memberi isyarat dengan gerakan tangan, maksudnya menyuruh sibongkok lekas menghidangkan minuman teh pada tetamu2nya. Tapi begitu sihweshio gemuk menampak sibongkok itu, alisnya segera menjungkat, serentak dia terus berbangkit ! ---oo0dw0oo---BAGIAN 2 . CENG BO SIANGJIN Melihat kelakuan yang aneh dari sihweshio gemuk itu, semua orang menjadi heran. Mata sihweshio itu ber-api2 mengawasi tanpa berkesiap kepada sibongkok. Tapi sibongkok itu acuh tak acuh, seperti tidak kejadian apa2, membalas isyarat tangan, lalu pergi dengan pe-lahan2. Setelah mengantarkan bayangan sibongkok sampai lenyap, barulah sihweshio itu bertanya kepada Tio Jiang.
"Maaf, siauko, siapakah sibongkok tadi?"
"Dia adalah imam pelayan dari biara ini. Seorang yang tuli dan gagu. Sejak aku datang kemari, dia sudah disini. Tadi karena kupanggil dia membuatkan teh untuk tetamu, baru dia masuk keruangan ini,"
Sahut Tio Jiang. Sihweshio kedengaran ber-sungut2 tak jelas suaranya. Setelah sekian saat berdiam diri, The Go tertawa bertanya.
"Mengapa mendadak toasuhu tanyakan hal itu?"
Karena sihweshio tengah merenung, tanpa hiraukan siapa yang bertanya itu, dia segera menyahut dengan semaunya saja.
"Jangan turut campur !"
Serentak The Go berbangkit. Sembari kibaskan lengan bajunya, dia menegas dengan sinisnya.
"Toasuhu, apa katamu tadi?"
Sepasang matanya yang ber-api2 me-mancar2 kearah Ti Gong hweshio.
Rupanya Ti Gong terkesiap atas kegarangan simahasiswa, mulutnya ber-gerak2 tapi tak dapat mengucapkan sesuatu.
Chi Sim, itu salah seorang dari orang yang bermuka brewok, karena tak akur dengan sihweshio, buru2 menambahi minyak.
"The toako, tadi diapun mengatakan bahwa kau cepat kaki, cepat pula menyelamatkan jiwa!"
"Ha, ha!"
The Go dongakkan kepala lalu menegas dengan keras.
"Apa?"
Begitu nyaring dan tangkas bentakan itu sehingga membuat semua orang tersentak kaget.
Yan-chiu membelalakkan matanya, heran atas tingkah laku tetamu2nya itu.
Dihadapan sekian banyak orang, sudah tentu Ti Gong tak mau mundur, sahutnya dengan tak kurang garang.
"Ya, lalu bagaimana.?"
Diapun segera berbangkit.
Dari sikapnya berdiri, terang dia seperti tengah menghadapi.
musuh besar.
Kedua kakinya tegak dengan kokohnya, tangannyapun tak bergerak, hanya jubahnya yang kelihatan berguncangan.
Melihat dia berdiri, The Go segera menghampiri.
Ini membuat Ti Gong menjadi tegang.
Bek Lian diam2 kuatirkan The Go.
Dalam percakapan tadi, walaupun semuda itu usianya, ternyata The Go bukan saja cakap wajahnya, pun juga cakap dalam segala pengetahuan.
Hanya dalam ilmu silat orang itu agak merendah.
Dari sikapnya terang kalau orang muda itu hendak cari setori dengan sihweshio yang telah memperolokann ya itu.
Dibanding dengan dia, hweshio itu seorang yang bertubuh gemuk besar, jadi kalau berkelahi terang bukan tandingannya.
Memikir sampai disini Bek Lian jengah sendiri.
Mengapa ia begitu menaruh perhatian atas diri The Go?
Namun tak tahu dia mencari jawaban dari pertanyaan dalam hatinya itu.
Yang menguasai pikirannya pada saat itu ialah, hendak dia nantikan dulu perkembangannya, kalau ternyata nanti The Go mengalami kerugian, ia akan turun tangan membantunya.
Bahwa sekalipun sedang sibuk menyambut sekian banyak tamu, namun perhatian Tio Jiang tak pernah lepas kepada Bek Lian, sucinya itu.
Demi tampak bagaimana pandangan mata dari sang suci itu tertumpah dengan penuh arti kepada The Go, diam2 Tio Jiang mendongkol.
Dia harap hweshio itu dapat memberi hajaran yang setimpal pada si The Go itu.
Lain2 anggauta dari rombongan tetamu, tampak The Go tengah pe-lahan2 menghampiri Ti Gong, pun tak berdaya untuk mencegahnya.
Ciok Jiso melengos, pura2 seperti tak melihat.
Ketiga persaudaraan Chi, tegang wajahnya.
Hanya Ciok Siau-lan yang mengawasi dengan sorot mata yang mengandung seribu arti kepada The Go.
Begitu maju 3 tindak kemuka, orang she The itu segera berhenti, lalu tenang2 berkata.
"Aku yang rendah ini kepingin melihat, adalah toasuhu ini bisa cepat tidak menyelamatkan jiwa?"
Kata2 itu ditutup dengan mengibaskan lengan kanannya.
Berbareng dengan deru samberan angin lengan baju itti.
tinjunya melayang kemuka.
Cepat dan seru hantaman itu datangnya, sehingga diluar dugaan orang2.
Juga pukulan itu luar biasa dahsyatnya.
Tapi ternyata Ti Gong sudah siap sedia.
Begitu The Go melancarkan pukulannya, sebat sekali dia menghindarkan mundur.
"krak...."
Karena sihweshio sudah menyingkir kedekat pintu, maka kursi yang didudukinya tadi menjadi sasaran pukulan The Go, hingga sungsal sumbal. Dengan sabar The Go menarik tangannya lalu tersenyum berkata.
"Oho, kiranya toasuhu juga tangkas sekali menyelamatkan jiwa!"
Dan sehabis berkata itu, dengan gaya tindakan seorang pelajar, dia kembali ketempat duduknya semula.
Sewaktu lalu dihadapan Bek Lian, dia unjuk senyuman.
Makin kagum dan mengindahkanlah Bek Lian kepada orang muda itu, yang ternyata mempunyai kepandaian yang sedemikian hebatnya.
Dengan menyungging sarinya madu, dia balas bersenyum.
Melihat itu Tio Jiang makin mendedek hatinya.
Tanpa dapat dikendalikan.lagi dia segera ikut menimbrung berseru.
"The .... The..... toako, kalau hendak berkelahi, mengapa tak berkelahi diluar saja? Tuan rumah dari biara ini sedang tidak dirumah, mengapa kau berani merusakkan alat2 perabot disini?"
Mengetahui sang sute merah padam mukanya, tahulah Bek Lian bahwa sute itu tak senang kalau ia, terlalu rapat pada The Go.
Ia, lebih tua setahun dari Tio Jiang.
Pada umumnya, anak perempuan lebih dahulu masak pikirannya dari anak lelaki.
Rasa kasih Tio Jiang yang ditujukan kepadanya itu, bukan ia tak mengetahuinya.
Tapi karena ia merasa 3 hal yang terutama,"
"rupa, kepandaian ilmu silat dan ilmu surat", mana ia dapat menyambut kasih seorang macam Tio Jiang itu? Dalam perkenalan yang singkat dengan The Go yang orangnya cakap, pandai ilmu surat dan tinggi ilmunya silat, diam2 bersemilah bibit asmara dalam hatinya. Maka atas ucapan sang sute tadi, buru2 ia membentak.
"Sute, terhadap tetamu mengapa kau berlaku begitu?"
Sebaliknya The Go segera berpaling kearah Tio Jiang, serunya.
"Sedari tadi, engkoh ini selalu mencekal pedangnya saja. Telah lama kudengar.ilmu pedang Ceng Bo siangjin itu sangat menjagoi, sukakah kiranya memberi sedikit pelajaran padaku?"
Tak sangka Tio Jiang kalau orang she The itu sedemikian sombongnya.
Memang sejak tadi dia tak menyukai gerak-gerik orang itu.
Sebagai seorang jujur yang tak bisa mendendam, serentak berbangkitlah Tio Jiang.
"Kalau The toako ingin aku mempertundukkan permainan yang jelek, akupun tak berani membantahnya."
Dengan berkata itu, dia terus melangkah keluar.
The Go ganda bersenyum.
Dari atas mejanya dia memungut kipasnya, terus dibukanya.
Sepasang matanya sebaliknya dari melihat Tio Jiang, mengawasi terus kepada Bek Lian.
Maksudnya dia hendak melihat bagaimana perobahan Bek Lian.
Sijelita ini memangnya tak mempunyai rasa apa2 terhadap Tio Jiang.
Tapi sebagai kakak seperguruan, diapun tak ingin melihat sutenya dicelakai lain orang.
Tadi demi diketahuinya bagaimana sekali pukul The Go telah dapat menghancurkan kursi sihweshio, ia yakin kalau Tio Jiang tentu bukan tandingannya.
"Sute, jangan berlaku kurang adat!"
Katanya kemudian.
Sekalipun masih penasaran, namun karena Bek Lian yang melarang, Tio Jiang terpaksa menurut.
Memang terhadap sang suci itu, Tio Jiang tak pernah berani membantahnya.
Selagi dia hendak kembali ketempat duduknya, sibongkok dengan membawa senampan teh masuk keruangan situ.
Setelah menyingkir dari hantaman The Go tadi, sihweeshio gemuk mengambil tempat duduk pada sebuah kursi dipinggir pintu.
Begitu nampak dibongkok, kembali dia menjadi beringas dan menatapnya dengan tajam2.
Tapi tetap sibongkok itu tak menghiraukannya.
Dia ambil cawan2 teh itu untuk dihidangkan pada tetamu.
Ketika berada disebelah Tio Jiang, tiba2 anak itu mendapatkan bahwa kawannya bongkok itu mengicup-ngicapkan mata kepadanya, sikapnya agak aneh.
Selama 6 tahun berada digunung situ, belum pernah Tio Jiang mendapatkan sibongkok berlaku begitu aneh.
Dalam kagetnya, hampir2 cawan yang tengah dipegangi Tio Jiang itu terlepas dari tangannya.
Sebaliknya dengan tenangnya, sibongkok berlalu untuk mengantarkan teh pada Ti Gong.
Setelah menaruhkan cawan dimeja sihweeshio, sibongkok terus hendak berlalu dengan membawa menampannya.
Tapi tiba2 Ti Gong menggerung keras.
Sekali kakin ya diangkat dia tendang penampan itu hingga terbang keatas, seraya membentak.
"Thocu (bongkok)! Kiranya kau bersembunyi disini. Ini namanya pucuk dicinta ulam tiba", berjerih payah mencari tak berhasil, ternyata tanpa disengaja bisa ketemu!"
Kejadian itu menjadikan paniknya suasana.
Tiada seorangpun yang tahu apa sebabnya sihweeshio berlaku begitu.
Semua orang segera berbangkit dari tempat duduknya.
Begitu penampan ditangan kena ditendang keatas, sibongkokpun nampak ter-huyung2 kebelakang sampai beberapa tindak.
Wajahnya mengunjuk kecemasan.
Malah pada saat itu, Ti Gong segera akan menyusuli dengan sebuah hantaman dan sibongkok yang nampaknya tak bisa ilmu silat, diam saja tak mau menyingkir.
Tio Jiang tak dapat bersabar lagi.
Begitu tinggalkan tempat duduk, tanpa berkata ba atau bu, dia segera serang Ti Gong dengan jurus "ceng wi thian hay", salah satu dari jurus ilmu pedang to-hay-kiam-hwat.
Kepala sihweeshio tampak ber-goyang2 dan kalung tasbih yang terkulai dilehernya itu tiba2 ber-goyang2, merupakan sebuah lingkaran bundar.
Dan ini ternyata dapat menangkis serangan pedang Tio Jiang.
Gambar 6 Tanpa bicara lagi segera Tio Jiang segera serang Ti Gong Hwesio gemuk itu.
Diluar dugaan kalung tasbih Ti Gong Hwesio menjungkat dan tepat membentur ujung pedang Tio Jiang.
Tio Jiang terkesiap.
Masa tanpa menggerakkan tangan, orang telah dapat menangkis serangannya dengan hanya cukup meng-goyang2kan kepalanya saja.
Tapi dia benci akan kelakuan sihweshio yang hendak menganiaya kawannya tadi.
Tanpa banyak cingcong, dia segera susuli lagi dengan jurus "hay siang tiau go".
Jurus ini walaupun baru saja dipelajarinya, tapi karena merupakan salah satu jurus dari to-hay-kiam-hwat, sudah tentu gayanya lain dari yang lain.
Begitu ujung pedangnya bergerak, diam2 Tio Jiang menghapalkan kunci rahasia dari ilmu pedang itu.
"dalam 49 gerakan, memikat lawan kedalam kait". Ini diambilkan dari dasar nama gerakan itu yang disebut 'hay siang tiau go' diatas laut mengail ikan besar. Dan memangnya jurus itu terdiri dari 49 gerakan. Karena dengan gerakan leher saja tadi telah dapat menghalau serangan orang, maka Ti Gong tak memandang mata pada sianak muda yang dianggapnya hanya begitu saja ilmu kepandaiannya. Tapi segera kesombongannya itu berobah menjadi suatu keluhan hebat, ketika menghadapi serangan yang kedua dari Tio Jiang. Bukan saja gayanya jauh berlainan dari serangan pertama tadi, pun tahu2 dihadapannya seperti terkurung dengan ratusan sinar pedang yang me-magut2 seru, sehingga menyebabkan matanya ber-kunang2 dan kewalahan untuk menghindar. Dengan ter-birit2 dia lekas2 menyingkir kesamping. Tapi sedikitpun sihweeshio itu tak menyangka bahwa sesuai dengan namanya "hay siang tiau go", ilmu pedang itu betul2 seperti memikat orang supaya kena digait. Ke 49 sinar pedang itu, ternyata serangan kosong. Begitu Ti Gong menyingkir dan hendak dongakkan kepalanya untuk gerakkan kalung tasbihnya, pedang Tio Jiang telah mengikutinya kesamping.
"sret"
Terus menusuk kemuka.
Kala itu kaki Ti Gong belum dapat berdiri jejak ditanah, maka mana dia bisa menghadapi serangan kilat itu?
Namun hweeshio itu cukup lihay juga, begitu sang tumit dienjot, dia melambung keatas.
Sewaktu serangannya menemui sasaran kosong, karena ilmunya pelajaran masih belum sempurna, buru2 Tio Jiang tarik balik pedangnya.
Sebaliknya karena tak mengetahui kelemahan lawan, sewaktu diatas udara dengan gerak "lee hi bak thing"
Ikan leehi berd yumpalitan, Ti Gong lont yat kebelakang sampai beberapa langkah.
Karena tempat duduknya itu dekat pintu, maka dengan loncatan itu tubuh Ti Gongpun sudah berada diluar ruangan.
Sesaat itu tak berani Ti Gong masuk kedalam.
Tio Jiang tak ambil peduli akan sihweeshio, terus dia mengangkat bangun sibongkok.
Sejak dia belajar silat digunung tersebut, walaupun suhunya amat menyayanginya, tapi diwaktu memberikan pelajaran dia bersikap bengis.
Maka dalam kebatinan Tio Jiang, hanya tergores rasa hormat dan jeri pada suhunya itu.
Sebaliknya dengan sibongkok yang tuli dan gagu itu, Tio Jiang bersahabat karib sekali.
Sibongkok itupun bisa beberapa macam permainan, misalnya memanjat puhun tangkap burung, membuat perangkap untuk menjebak binatang buas dan sebagainya.
Karena belum dapat melepaskan sifatnya kanak2, sudah tentu Tio Jiang amat menyukai permainan itu.
Sekalipun sibongkok itu tak dapat berbicara, tapi dengan gerak isyarat tangan, dapat juga dia diajak sambung bicara.
Begitulah selama 6 tahun, keduanya menjadi sahabat yang akrab sekali.
Sudah tentu tadi Tio Jiang tak ijinkan orang menganiaya sahabatnya itu.
Dalam dua gebrak saja ternyata dia dapat mengundurkan Ti Gong.
Kecuali terhadap The Go, Bek Lian tak menyukai tetamu2nya itu.
Terutama terhadap sigadis hitam yang bernama Ciok Siau-lan itu, siapa terus menerus mengawasi sembarang tingkah laku The Go saja.
Hal mana telah membuat Bek Lian heran dan sirik.
Tadi sewaktu sihweeshio hendak memukul sibongkok, iapun gusar sekali.
Kalau menuruti perangainya, tentu siang2 ia sudah turun tangan.
Tapi entah karena apa, hari itu ia harus berlaku istimewa susilanya dihadapan simahasiswa itu.
Tak mau ia sampai dicacat dalam pandangan anak muda itu.
Maka tadi demi sang sutee turun tangan, iapun tak mau mencegahnya.
Mungkin diantara ketiga saudara seperguruan itu, adalah Yan-chiu yang paling merasa erat hubungannya dengan sibongkok.
Tadi iapun sudah serentak berbangkit, tapi sudah kedahuluan sukonya.
Begitu Tio Jiang sudah dapat menghalau sihweeshio, berserulah nona centil itu.
"Suko, jangan ijinkan hweeshio biadab itu masuk. Masa mertamu begitu kurang ajar, apa2an itu!"
Dara itu ternyata tangkas orangnya, tajam mulutnya.
Dia pandai menyindir orang.
Bagian yang terakhir dari dampratannya itu, sebenarnya ditujukan pada rombongan tetamu lainnya.
Dan setelah puas mendamprat, ia tertawa sendiri.
---oo0-dwkz-TAH-0oo---Setelah mengangkat bangun sibongkok, Tio Jiang masih mengawasi sihweeshio itu dengan gusarnya.
Ti Gong ternyata sedang berpikir keras.
Baik masuk atau tetap diluar saja.
Kalau tetap diluar, rasanya dia akan kehilangan muka.
Namun kalau masuk, tentu akan terjadi onar dan ini berarti akan membikin kapiran urusan besar kedatangannya disitu.
Selagi dia mondar mandir dalam kesangsian itu, tiba2 dari arah belakang terdengar orang berkata.
"Aha, hweeshio yang telah menjadi pembesar tentara, benar2 cepat kaki. Mengapa tak mau masuk saja?"
Dengan terkejut Ti Gong berpaling kebelakang dan dapatkan disana kelihatan ada 3 sosok bayangan tengah mendatangi.
Hendak dia tegur mereka itu, atau salah seorang dari mereka goyangkan lengan bajunya.
Sebuah samberan angin yang kuat menyampok datang.
Astaga, kakinya serasa digempur dan ter-huyung2lah Ti Gong beberapa tindak hingga kini dia terdorong masuk lagi kedalam ruangan.
Mengira kalau hweeshio itu hendak membalas, Tio Jiang lepaskan sibongkok terus menyerang dengan pedangnya.
Tapi segera diapun mengetahui bahwa diluar pintu sana tampak ada 3 sosok bayangan ber-gegas2 masuk.
Salah seorang dari mereka ternyata adalah suhunya sendiri, Ceng Bo siangjin.
Melihat kedatangan siangjin, Bek Lian dan Yan-chu tersipu2 berbangkit.
Ceng Bo siangjin mengangguk sedikit.
Dengan wajah keren, dia tegak berdiri sembari merangkap kedua tangannya.
Kiranya siangjin itu seorang tosu (imam setengah tua), mengenakan jubah dan topi keagamaan.
Wajahnya terang berseri, sikapnya agung berwibawa, sehingga orang terpaksa tak berani berlaku sembarangan dihadapannya.
Dibelakang siangjin itu terdapat dua orang yang masing2 berpakaian aneh.
Mereka mengenakan kain kepala pahlawan, yakni yang sebelah warnanya hitam yang sebelah warnanya putih.
Bajunya hitam, celananya putih, begitu juga sepatunya pun hitam putih.
Yang tepat berada dibelakang Ceng Bo siangjin, usianya hampir sebaya dengan tosu itu.
Sedang kawannya yang dibelakang sendiri, agak mudaan, tapi wajahnya sangat keren, tidak seperti kawannya yang lebih tua tadi siapa berwajah riang peramah.
Rombongan tetamu yang berada dalam ruangan itu, walaupun belum pernah mengenal Ceng Bo siangjin, namun dari sikapnya tahulah mereka kalau tosu itulah tuan rumahnya.
Merekapun segera berbangkit.
Malah The Go sembari menutup kipasnya terus hendak membuka mulut, tapi orang berpakaian aneh yang agak tuaan umurnya tadi, tiba2 tampil kemuka mengawasi sampai beberapa jenak pada The Go.
Kata2 yang sudah siap hendak diucapkan The Go tadi, terpaksa dibatalkan.
Semua hadirin pun tak mengerti sikap orang aneh tadi, siapa pada lain saat kedengaran berseru.
,,Bagus, Cian-bin Long-kun (anak muda seribu wajah) yang telah menjadi cong-peng-kuan (pembesar militer) juga berada disini!"
Sehabis berkata begitu, orang itu mengalihkan pandangannya kearah Ciok Jiso, ujarnya.
"Bagus juga, Ciok Jiso, sam-kiat (3 orang gagah) keluarga Chi yang menjadi pembesar2 militer, juga berkumpul disini!"
Gambar 7
"Bagus, bagus, kiranya Cian-bin Long-kun yang sudah menjabat Cong-peng-kuan juga berada disini."
Tiba2 kawan Ceng Bo Siangjin yang agak tuaan Itu menegur The Go.
Kecuali Tio Jiang, Bek Lian dan Yan-chiu yang tak tau apa artinya semua2nya itu, rombongan tetamu cukup menginsyafi ucapan siorang yang berpakaian aneh itu.
Seketika itu The Go lalu membentang kipasnya, sembari di-kipas2kan dia tertawa berkata.
"Ah, kiranya yang datang ini adalah Ki lotoa. Benar, aku yang rendah ini memang telah menjadi pembesar militer kerajaan. Apabila Ki lotoa berkenan menerima panggilan kerajaan, kurasa akan mendapat kedudukan lebih dari congpeng!"
Orang yang disebut Ki lotoa itu, tertawa dingin. Sedang Ceng Bo siangjin dengan perasaan heran, berkata dengan lelahnya.
"Tuan2 ini adalah pembesar2 kerajaan. Pinto (bahasa yang digunakan oleh seorang imam bila membahasakan dirinya) adalah rahayat gunung. Entah tuan2 datang kemari ini hendak mempunyai keperluan apa saja, harap lekas mengatakan!"
Ucapan Ceng Bo siangjin itu mengandung suatu paksaan kepada sang tetamu, ini cukup diketahui oleh semua orang.
Bek Lian yang tak mengetahui asal usul romhongan tetamu itu, merasa heran atas sikap sang ayah.
Karena biasanya orang tua itu senantiasa membawa sikap yang sabar peramah, masa kali ini begitu keras tak sabaran.
Diluar dugaan, The Go dengan tenangnya menyuruh kawan2nya duduk pula.
"Harap saudara2 duduk dulu, kita bicara dengan tenang."
Dan setelah semuanya duduk kembali, dengan tertawa The Go menjurah kepada Ceng Bo siangjin, katanya.
"Aku yang rendah Cian-bin long-kun The Go, dan ini adalah Ciok Jiso yang dijuluki orang sebagai 'Kim kong song lun', sedang yang ini......", dalam berkata itu tangannya menunjuk kearah ketiga persaudaraan Chi. Tapi orang berpakaian aneh yang mudaan yang selama tadi masih tutup mulut saja, kini tiba2 menyela dengan bengis.
"Tak usah diperkenalkan, itu sam-kiat dari keluarga Chi, itu Ti Gong hweeshio bekas orang she Ma. The, Ciok, Ma, Chi, adalah golongan2 rendah dalam dunia persilatan. Kini menjadi pembesar kerajaan, hem, apa2an itu!"
Ketiga persaudaraan Chi dan Ciok Jiso merah mendengarnya.
Kim-kong-lun atau senjata roda baja ditangan wanita itu, sudah terus hendak diayunkan, tapi dengan tetap menyungging senyum The Go memberi isyarat tangan kepada kedua kawannya itu.
Anehnya walaupun orang she The itu masih muda usianya, namun mempunyai wibawa juga.
Semua kawan2nya tak berani membangkang.
The Go masih ter-senyum2, sembari ber-kipas2 berkata kepada orang tadi.
"Hari ini sungguh beruntung sekali dapat dapat berjumpa dengan Ki lotoa dan Kiau loji dari Thian-te-hwe! Dari lagu ucapan Kiau loji tadi, apakah bukannya sudah berhamba puda Siau Ging?"
Siau Ging adalah kota kerajaan dari baginda Ing-bing-Ong dari ahala Beng didaerah selatan yang sekarang ini. Orang yang disebut Kiau loji itu kedengaran mengelah napas, katanya.
"Ah, sungguh tak tahu mati! Induk pasukan Ceng sudah tiba diperbatasan Hokkian, sembarang saat akan sudah masuk ke Tiau-yang. Sebaliknya, kita orang2 Han, dalam wilayah yang sesempit ini, masih main mendirikan dua orang kaisar dan main gasak2an sendiri. Bukankah ini berarti tak tahu mati namanya? Ki toako, patriot macam kau dan aku ini, apakah tidak merasa sedih berkumpul dengan orang2 macam begini !"
"Ha, ha..."
Demikian orang yang lebih tua yakni yang dipanggil Ki toako (ketua Ki) itu tertawa.
"Kiau jite, benar katamu ini! Baru saja masuk tadi, hidungku telah mencium bau yang busuk, namun tak kukira kalau berasal dari orang2 ini."
Riang gembira kedua orang itu bertanya jawab dan memaki sembari tertawa-tawa, se-olah2 menganggap sepi akan sekalian tetamu itu.
The Go tetap masih tersenyum, Ceng Bo siangjin memandang keatas, seperti tak menghiraukan apa2.
Sebaliknya ketiga saudara Chi tadi tak kuat lagi menahan-nahan napasnya.
Serempak mereka berseru dengan gusarnya.
"Awas, kalau berani ngoceh tak keruan lagi !"
Kiau loji atau yang sebenarnya bernama Kiau To, secepat kilat menoleh.
Entah bagaimana dia bergerak tadi, tapi tahu2 orangnya sudah melesat kehadapan ketiga saudara Chi.
Dalam penglihatan ketiga saudara Chi, pada saat itu dihadapannya berkelebat sesosok bayangan warna putih hitam.
Hendak mereka berbangkit mencabut senjatanya, tapi tiba2 kedengaran suara "plak, plak, plak", dan Kiau To tampak duduk kembali ketempat duduknya semula.
Aha, kiranya ketiga saudara Chi itu mukanya masing2 telah mendapat persen sebuah tamparan.
"Kiau jite, mengapa kau tak sayang tanganmu kotor? Mengapa tak lekas2 keluar cuci sana?"
Seru Ki lotoa.
Kejadian itu telah membuat Tio Jiang dan kawan2 terperanjat.
Pertama atas ketangkasan Kiau To dan kedua karena nyata2 kedua orang berpakaian aneh itu tak memandang sama sekali pada rombongan The Go.
Tapi mengapa suhunya tinggal diam saja?
Apakah memang benar rombongan tetamu itu orang2 yang rendah?
Demikian Tio Jiang, Bek Lian dan Yan-chiu saling mengawasi satu sama lain.
Bek Lian alihkan pandangannya kearah The Go.
Dilihatnya anak muda itu masih tetap tenang2 saja, hal mana telah menimbulkan rasa kagum atas peribadi orang.
Tapi mana Bek Lian tahu sebabnya The Go digelari "Cian bin long kun"
Atau siorang muda seribu muka?
Yang diketahui oleh gadis jelita itu, hanialah kedua orang yang datang bersama ayahnya itu, telah berlaku kurang hormat kepada The Go dan kawan2, dan untuk itu symphatinya tercurah pada siorang muda.
Segera ia menghampiri kedekat sang ayah lalu katanya dengan bisik".
"Tia, mereka adalah tamu2 yang datang dari tempat jauh, bukankah tidak seyogyanya disuruh minum dahulu baru nanti diajak bicara? Ceng Bo siangjin menghela napas, ujarnya.
"Lian-ji, Jiang-ji dan Siau-chiu, apakah kalian tahu maksud kedatangan mereka kemari ini?"
Ketiga anak muda itu menggeleng.
"Induk pasukan Ceng sudah mendesak ditapal batas, kalian tentu sudah mengetahuinya. Segolongan menteri yang berkuasa, karena untuk kepentingan kedudukan mereka, telah mengangkat seorang kaisar di Siau Ging. Tapi ada lain golongan yang iri, dan mengangkat pula seorang kaisar berkedudukan di Kwiciu. Dewasa ini wilayah kita hanya tinggal Kwitang, Kuiciu dan berapa propinsi lagi, namun kedua kaisar itu saling gasak rebutan takhta sendiri. Kedatangan mereka kemari ini ialah hendak meminta aku turun gunung bantu memukul kaisar di Siau Ging. Ha, ha, mereka adalah orang2 yang rakus akan pangkat, kalau akupun berbuat demikian, apakah gelar yang kalian hendak berikan padaku?"
Kata2 itu diucapkan dengan penuh keperwiraan. Ketiga anak muridnya itu sama bungkam. Malah Yan-chiu yang tangkas itu segera lari kehadapan Kiau To, terus unjuk jempolnya.
"Kiau loji, bagus juga kau telah menghajar mereka tadi!"
Muda usianya, tapi kalau bicara sicentil itu suka meniru lagak orang tua.
Tak mau dia ambil pusing Kiau To itu tergolong angkatan apa, tapi demi didengar The Go tadi menyebutnya Kiau loji, iapun lalu tiru2 saja.
Dan begitu garang nada suaranya itu sehingga membuat Kiau To ter-kial2 menahan gelaknya.
"Bek-heng, anak didikmu ini sungguh hebat!"
Serunya kepada Ceng Bo siangjin. Sudah tentu Ceng Bo siangjin ter-sipu2, bentaknya .
"Siao-Chiu, jangan kurang ajar, harus panggil Susiok!"
Kiau To mengawasi dara nakal itu dengan seksama, lalu ujarnya.
"Bek-heng, usah sungkan. Sikap nona kecil itu cukup garang, tentu memiliki dasar ilmu silat yang kokoh. Adakah ilmu pedang kesayangan Bek-heng itu sudah diajarkan padanya?"
Ceng Bo siangjin menghela napas, tak menyahut. Adalah siorang yang disebut Ki lotoa yang umurnya agak tuaan, rupanya mengerti tentu ada persoalannya, buru2 dia menyela .
"Loji, bukankah maksudmu hendak menguji kepandaian orang, karena hendak memberi bingkisan lagi?"
Yan-chiu yang cerdas tangkas itu, segera merasa ada sesuatu dalam ucapan orang she Ki itu.
Jelas tadi diketahuinya bagaimana sebat orang she Kiau itu memberi tamparan pada ketiga orang brewok she Chi itu.
Ter-sipu2 Yan-chiu berjongkok ketanah untuk memberi hormat sampai 3 kali.
Begitu berbangkit ia terus mengatur kata2.
"Kiau susiok, ajarkan aku ilmu gerakan menampar ketiga kantong-nasi tadi !"
Melihat kelakuan dara jenaka itu, kembali Kiau To tertawa gelak2.
Demikianlah dengan asyik dan gembira rombongan tuan rumah itu ber-cakap2 sendiri, sehingga rombongan The Go seperti tak dihiraukan lagi.
Muka ketiga saudara Chi tadi biru telur, Ciok Jiso tertawa urung, sedang Ti Gong dengan uring2an tampak hendak turun tangan, tapi lagi2 dicegah oleh The Go.
Dalam pada Yan-chiu bertukar pembicaraan begitu asyik gembira dengan Kiau To, sikap The Go itu tenang2 saja.
Dengan ber-kipas2, dia se-akan2 tak menghiraukan kesemuanya itu.
Hanya sebentar2 ekor matanya dikerlingkan kearah Bek Lian.
Tapi kini setelah mendengar keterangan ayahnya tadi, Bek Lianpun mendongkol.
Dalam keadaan negara sudah separoh bagian terjajah itu, masa orang masih bersitegang leher saling jegal2-an sendiri.
Benar Bek Lian mempunyai pendirian yang begitu mulia, namun kesannya terhadap The Go tetap tak berobah.
Dalam pandangannya, The Go itu seorang muda yang cakap, pandai berkelakar dan sangat menarik.
Sampaipun gelaran anak muda itu "Cian bin long kun", juga merdu kedengarannya.
Ah, memang begitu kalau orang suka, segala apa kelihatannya bagus semua.
Maka tatkala The Go menatap kearahnya, sebagai tersedot besi-semberani, Bek Lianpun balas memandangnya.
Ketika pandangan matanya tertumbuk dengan sinar mata sianak muda, hati sinona serasa mendebur keras.
---oo0-dwkz-TAH-0oo---Catatan.
-Ketika pemerintah Beng telah didesak oleh tentara Ceng hingga mengungsi kedaerah Kwitang, ternyata disitu dalam kalangan kerajaan Beng timbul pertentancan sendiri.
Pada tahun ketiga dari pemerintahan Ceng kaisar Sun Ti, pangeran Ing-bing-ong Cu Yu-Iong telah angkat dirinya menjadi kaisar Beng dengan gelar Liong Bu dan berkedudukan di Siau Ging.
Tapi pada bulan 11 tahun itu Tong-ong-tee Cu Gi-yap pun diangkat oleh menteri2nya menjadi kaisar Siau Bu berkedudukan di Kwiciu.
Dipanggilnya empat bajak laut kesohor yakni The Go, Ciok Jiso, Ti Gong dan ketiga saudara Chi, untuk menjabat sebagai cong-peng (jenderal perang) guna menggempur Siau Ging.
Demikian menurut catatan dalam kitab "Ikhtisar sejarah ahala Beng didaerah selatan." ---oo0-dwkz-TAH-0oo---Ketika The Go mengetahui bahwa Kiau To telah mengabulkan permintaan Yan-chiu untuk mengajarkan ilmu silat, dengan batuk2 The Go melangkah kemuka, sembari membentang kipasnya untuk dibuat kipas2 beberapa kali.
Kini tahulah sekalian orang, bahwa kipas orang muda itu ternyata diberi lukisan, yakni 3 larik gelombang laut.
Corak lukisan itu kuat tandas, warnanya ke-hitam2an.
Sehabis ber-kipas2 sementara saat, kipasnya itu kembali dilipat.
Tingkah lakunya itu, kecuali Bek Lian, tiada seorangpun yang menghiraukan.
Namun baginya, Bek Lian seorang sudah cukup daripada sekian banyak manusia.
"Kalau begitu, siauseng pun hendak belajar ilmu silat pada Kiau locianpwe!"
Serunya kepada Kiau To.
Kumandang getaran suara The Go itu ternyata sekali kedengarannya.
Biara Cin Wan Kuan yang begitu kasar bangunannya itu, se-olah2 tergetar oleh kumandang suaranya itu.
Ada beberapa tempat, dimana temboknya kurang kokoh, telah berhamburan kapurnya.
Ini menandakan, sekalipun masih berusia begitu muda, tapi ilmu lweekang dari The Go itu telah mencapai tingkat yang tinggi.
"Kau ingin belajar apa pada Kiau loji?"
Tanya Kiau To dengan serentak.
"Ingin belajar memukul, untuk membalas serangan orang!"
Sahut The Go dengan tertawa.
Orang2 sama terkejut, terang kalau pernyataan The Go itu berarti suatu tantangan.
Malah Bek Lian yang selalu perhatikan diri anak muda itu, diam2 telah kucurkan keringat dingin.
Tapi disana, dengan tertawa dingin Kiau To menyahut.
"Siapakah orang persilatan yang tak mengetahui bahwa walaupun namanya saja kau ini adalah cucu murid dari Ang Hwat cinjin di Ko-to-san, tapi sebenarnya karena ibu dan anak sama2 belajar pada sesama guru, jadi tergolong anak murid cinjin tersebut. Mau belajar apa lagi sih?"
Sejak tadi The Go selalu unjuk senyuman saja, tapi demi dikatakan Ibu dan anak sama2 belajar pada seorang guru,"
Berobahlah warna wajahnya dengan seketika. Sewaktu kata2 Kiau To itu selesai, tampak wajah The Go sedemikian rupa bengianya.
"Mau belajar ilmu memukul orang secara membokong, agar bisa mendapat kemenangan yang mudah!"
Ujarnya dengan nada sedingin es.
Dan ucapan itu telah ditutup dengan merangkap kearah Kiau To.
Kiau To geser kakinya sembari mendakkan tubuh, karena dia kira kalau The Go hendak menyerangnya.
Tapi tak tahunya begitu samberan angin menyampok, ternyata The Go melejit disampingnya.
Maka dengan ter-sipu2 dia julurkan kedua tangan untuk mencengkeram anak muda itu.
Tapi astaga.
"plak, plak", berbareng dengan cengkeramannya terdengar suara tamparan sampai dua kali. Buru2 Kiau To berpaling kebelakang dan, ai, kurang ajar betul! Orang she Ki, toa-ah-ko dari Thian-tee-hwee, yang tak tahu apa2, ternyata kedua belah pipinya telah benjol merah, dua buah giginya rontok mulutnya berdarah! Gerakan si The Go itu laksana kilat cepatnya, lebih hebat dan pesat dari Kiau To. Kalau tadi walaupun keras suaranya, namun ketiga saudara Chi itu hanya ber-kunang2 matanya. Tapi kini orang she Ki itu telah mendapat tamparan yang digerakkan dengan lweekang, hingga giginya sampai ada yang rontok. Orang diruang situ terkejut dan keheranan. Terkejut, mengapa The Go bukan memukul Kiau To melainkan menampar orang she Ki. Heran, karena hasil dari pembokongan itu hebat dan tepat sekali. Bukankah orang she Ki toa-ah-ko (ketua) dari sebuah perkumpulan yang berpengaruh macam Thian-tee-hwee? Mustahil kalau tak memiliki kepandaian yang hebat bisa diangkat menjadi toa-ah-ko dari perkumpulan semacam itu, yang anggautanya saja pasti terdiri dari orang-gagah yang berkepandaian tinggi. Heran bukan? Diantara orang2 yang tak mengerti kejadian itu, hanya Kiau To dan Ceng Bo siangjin yang mengetahui sebab2nya. Malah yang tersebut belakangan itu segera menghela napas. Diam2 dia kagum atas kecelian si The Go yang sepintas pandang segera dapat mengetahui bahwa ketua dari Thian-tee-hwee itu telah punah ilmu kepandaian alias menjadi seorang tanpaguna lagi!. Begitu habis membokong, The Go sudah dengan segera balik ketempat duduknya lagi. Kejadian itu hanya berlangsung dalam beberapa kejab saja. Kecuali perdengarkan suara mengaduh "ah"
Dan disusul dengan muntahan dua buah gigi, orang she Ki itu segera tenang kembali, se-olah2 tak kejadian suatu apa. Katanya dengan tertawa.
"Cian-bin long-kun, hebat nian gerakanmu tadi! Aku Ki Cee-tiong, rela mengaku kalah. Dua buah gigi ini untuk sementara biar terlepas dulu, apabila sampai temponya pasti akan kembali padamu!"
"Tiga tamparan dibayar dengan dua, sudah selayaknya lebih keras sedikit. Gigimu sendiri yang tumbuhnya tak kuat, kalau hendak mengembalikan, kapan saja pun boleh!"
Sahut The Go dengan garangnya.
Namun dibalik kegarangannya itu, tak urung hatinya diliputi dengan rasa kegelisahan.
Dia cukup kenal siapakah toa-ahko dari Thian-tee-hwee itu.
Setiap orang persilatan pasti mengenal siapa Ki Cee-tiong yang dijuluki "Thong thian pa" (Penjelajah langit) itu.
Baik ilmunya gwakang (luar) maupun lweekang, telah mencapai kesempurnaan.
Lebih2 sepasang tun-kong-kian (semacam tongkat pesegi terbuat dari bahan baja murni), lihaynya bukan olah2.
Kalau tiada memiliki kepandaian yang sehebat itu, masakan dia dapat diangkat menjadi ketua Thian-tee-hwee?
Tapi mata The Go yang celi, segera mengetahui, bahwa sewaktu masuk kedalam ruangan tadi langkah kaki dari orang she Ki tersebut enteng mengambang bagai orang yang tak mengerti ilmu silat saja.
Bagi seorang akhli, itu saja sudah cukup memberitahukan, kalau orang telah punah kepandaiannya.
Untuk membuktikannya, dia telah menyelonong menamparnya, dan ternyata dugaannya itu tak meleset.
Karena tak dapat menghalangi gerakan The Go itu, Kiau To menyala kemarahannya, bentaknya.
"Bagus, aku Kiau lojin, juga akan meminta pengajaran barang sejurus!"
Mulut mengucap, tangan menjulur dan tubuhnya sudah segera melesat kebelakang The Go, wut, wut wut, kelima jarinya bagaikan deru angin menyambar siku lengan The Go.
Tapi orang she The ini, begitu melihat orang melesat kebelakangnya, pun segera ikut berputar.
Untuk ancaman cengkeram itu, tak mau dia menyingkir, melainkan membalikkan kipasnya, gunakan tangkai kipas untuk menutuk lengan belakang lawan.
Yang diarah adalah "yang ti".
"yang ko"
Dan "yang kee", 3 buah jalan darah.
Dengan tertawa dingin, Kiau To turunkan lengannya, diteruskan untuk mencengkeram perut orang.
The Go cukup insyaf akan kelihayan cengkeram itu.
Sekali kena dicengkeram, isi perutnya pasti akan merocot keluar.
Cengkeram itu disebut "toh beng cap jit jiau"
Atau 17 cakar perampas jiwa.
Salah satu kepandaian istimewa dari orang she Kiau itu.
Sewaktu tegas melihat bahwa setiap kali menyerang tentu terdiri dari 3 buah cengkeraman, The Go tak mau berlaku terburu-buru.
Dengan tenang dinantikannya kelima jari orang menyentuh pakaiannya, baru miringkan kipasnya.
Sebat luar biasa, kipas itu di-kebut2-kan 3 kali, dan 3 kebutan itu ternyata untuk menutuk jalan darah "siang yang".
"tiong tiong"
Dan "kwat tiong".
Ketiga jalan darah itu masing2 dibawah kuku dari jari telunjuk, tengah dan manis.
Gerak serangan Kiau To tadi, bukan saja amat cepat, pun isi kosongnya sukar diduga.
Bahwasanya The Go dapat tepat menduga jatuhnya serangan orang dengan suatu tutukan yang tepat, telah memaksa Kiau To buru2 menarik kembali cengkeramannya.
Begitulah dalam sekejab saja, kedua orang itu telah bertempur sampai 6 jurus, dan selama itu masih belum ketahuan menang kalahnya.
Tapi dalam penilaian seorang akhli, sudah dapat menaksir siapa yang lebih unggul.
Kiau To menyerang dulu, tapi dapat dipaksa mundur oleh The Go.
Ceng Bo siangjin yang selama itu mengawasi disamping, diam2 mengalem The Go yang dalam usia semuda itu telah dapat memiliki kepandaian yang sedemikian tingginya.
Walaupun didengarnya cerita2 tentang keganasan orang she The itu, namun selama itu belum pernah dia menyaksikan sendiri.
Pada saat itu dia masih mempunyai urusan penting, kiranya lebih baik menghindari bentrokan2 yang tiada gunanya, maka berserulah dia.
"Kiau-heng silahkan mundur. The-heng, jika tiada urusan lain, harap tinggalkan tempat ini!"
Ramah tamah nadanya, namun dalam ucapan itu tergenggam suatu perbawa yang memaksa orang mengindahkan.
Ketiga saudara Chi dan Ti Gong hweeshio sudah terus hendak ayunkan langkah pergi, sebaliknya Ciok Jiso perdengarkan suara ketawa dingin acuh tak acuh.
Sedang The Go bibirnya ber-gerak2 seperti hendak mengucap apa2, tapi tiba2 terdengar gemeroncangnya senjata dan Ciok Siaulan, itu nona yang sejak masuk kedalam biara tadi tak bicara apa2, kini dengan hi-jat (garu ikan), tampil kehadapan The Go.
Dari gerakannya, terang nona itu tak lemah kepandaiann ya.
Tapi demi sudah berhadapan dengan The Go, mukanya menjadi merah dan dengan tundukkan kepala ke-malu2an ia berkata dengan suara sember.
"Engko Go, turutlah kata2 totiang itu, mari kita tinggalkan tempat ini!"
Kalau semua orang tak menghiraukan hal itu, adalah Bek Lian yang menjadi sibuk sendiri.
Sejak diketahui sikap sinona tersebut yang begitu memperhatikan sekali akan The Go, hati Bek Lian sudah kurang senang.
Kini demi didengar mulut sinona memanggil "engko"
Pada The Go, Bek Lian tak dapat mengendalikan perasaannya lagi.
Memang dalam biara Cin Wan Kuan itu, selain sang ayah, se-olah2 dialah yang menjadi ratunya.
Segala perentahnya tak boleh dibantah.
Perangainya keliwat angkuh karena dimanjakan.
"Hai, kau mau apa?"
Bentaknya kepada Siau-lan sigadis hitam manis itu.
Ciok Siau-lan berpaling.
Demi tampak Bek Lian itu bagaikan seorang puteri kahyangan cantiknya dan dari sikapnya kentara menaruh perhatian pada engkoh Go-nya itu, merahlah mata sinona.
Ciok Siau-lan itu hanya berkulit agak hitam saja, karena sebenarnya iapun cantik juga.
Dalam sikapnya yang begitu minta, dikasihani, ia tambah kelihatan menarik.
Katanya dengan ter-iba2.
"Taci, kau sungguh cantik sekali! Engkoh Go adalah kepunyaanku, jangan kau tega merebutnya! Kalau kau hendak merebut, karena kalah cantik, aku pasti kalah!"
Sedikitpun Bek Lian tak mengira, kalau dihadapan sekian banyak orang, gadis hitam Itu berani mengatainya secara begitu.
Memang ia sendiri sudah merasa tak pada tempatnya menanyai orang begitu tadi.
Maka dari malu, ia berobah menjadi gusar.
"Budak hina, apa katamu itu?"
Dampratnya, terus ulurkan tangan merebut senjata sinona.
Tapi dengan hanya goyangkan sedikit senjatanya itu, tangan Bek Lian sudah menangkap angin.
Gelang besi yang dipasang pada ketiga ujung garu penusuk ikan itu, menjadi berkerontangan, namun Ciok Sian-lan tak mau balas menyerang.
Malah dengan tertawa sedih ia berkata.
"Taci, kalau kau tak merebut engkoh Go-ku kau sungguh taciku yang berbudi."
Rawan dan lembut kata2nya itu diucapkan, sehingga meluluhkan perasaan orang.
Bek Lian kesima seperti terpaku ditanah.
Tetap menyerang, salah berhentipun malu.
Sebenarnya perasaan itu hanyalah suara hatinya sendiri, karena selain The Go, semua orang ternyata tak menghiraukan hal itu.
Kini tahulah orang she The tersebut, bahwa sijelita yang berhati tinggi itu, ternyata menaruh hati padanya.
Begitu penuh rasa hati Bek Lian yang mengira bahwa sekalian orang diruangan situ se-akan2 mencemohkan kelakuannya.
Saking malu dan gusarnya terdengarlah suara "hu, hu"
Dan pecahlah tangisnya.
Sekali memutar tubuh, ia terus lari keluar menuju kekamarnya.
Tio Jiang yang sangat open terhadap sucinya itu, sambil delikkan matanya kepada The Go terus ber-gegas2 mengikuti Bek Lian.
Setelah sijelita pergi, legahlah hati Ciok Siau-lan, lalu mengajak lagi kepada The Go.
"Engkoh Go, mari kita lekas turun gunung. Hidup ditengah laut, kan lebih berbahagia! Peduli apa sih dengan tentara Ceng atau Beng?!"
Sebaliknya demi mengetahui sinona itu mengganggu kesenangannya, The Go tumpahkan kemarahannya padanya. ,,Budak hina, jangan ngaco belo!"
Didamprat begitu, ternyata Siau-lan tak marah, malah dengan mengucur beberapa butir air mata, ia tampak meratap.
"Engkoh Go, makilah sesukamu, aku takkan marah. Sekalipun kau pukul, akupun tetap tak marah. Pukullah!"
Untuk membuktikan kata2nya itu, sinona angsurkan senjatanya, siapa oleh The Go ternyata juga disambutinya.
Senjata hi-jat itu berbentuk seperti garu berujung tiga yang tajam.
Setiap ujung, dipasangi sebuah gelangan besar.
Begitu gerak, tentu mengeluarkan bunyi berkerontangan.
Begitu menyambuti dengan wajah bengis, The Go undur selangkah terus menusuk ulu hati sinona.
Sebaliknya sinona, malah meramkan kedua matanya, dengan wajah ikhlas, ia nantikan sang ajal.
Baginya binasa ditangan orang yang dicintainya, adalah suatu kebahagian besar.
Tapi secepat kilat, begitu ujung hi-jat menusuk, sekonyong2 Ciok Jiso menyampok dengan kim-kong-lunnya.
Karena memang tak gunakan kekuatan, begitu disampok, The Go segera undur lagi.
"Cian-bin long-kun, jangan keliwat menghina keluarga Ciok!"
Bentak wanita itu. Sembari tertawa dingin, The Go lemparkan hi-jat, dan menyahut.
"Kan adikmu sendiri yang memintanya, mengapa kau sesalkan orang!"
Terang kalau Ciok jisoh, atau kakak iparnya telah membantunya, namun Ciok Siau-lan malah membantahnya.
"Ensoh, sudahlah. Biarkan dia menghina, aku rela saja!"
Ciok jisoh menghela napas.
"Adikku, dikolong langit ini banyak nian orang yang melebihi dia, mengapa kau mantep padanya saja?"
"Ya, memang hatiku tertampak padanya seorang,"
Sahut Sian-lan dengan rawan.
Mendengar itu, The Go tertawa dingin.
Kini tahulah sekalian orang disitu, bahwa Ciok Siau-lan telah ter-gila2 pada The Go, tapi sebaliknya anak muda itu tak menghiraukannya.
Bagi seorang macam Ceng Bo siangjin yang telah merasakan pahit getirnya gelombang asmara sehingga rela menjadi seorang sahit, kedengaran menghela napas.
Sebaliknya tidak demikian dengan Kiau To dan Ki Cee-tiong.
Kedua orang ini bermula meyakinkan ilmu gwakang (tenaga luar) kemudian baru lweekang.
Untuk memelihara peyakinan gwakang itu, orang harus tetap membujang, menjauhkan diri dari paras cantik.
Kata "asmara"
Tak terdapat dalam kamus hatinya.
Begitu melihat kelakuan The Go terhadap sinona Siau-lan, karena sudah menjadi seorang tanpa guna Ki Cee-tiong sih hanya menggeram saja dalam hati, tapi Kiau To mana mau sudah.
Dengan suara keras dia segera berseru.
"Orang she The, pergilah sana bereskan urusan gelapmu dengan wanita itu. Jangan unjuk kemesuman di Giok-li-nia sini!"
Sedari dikatakan "ibu dan anak belajar sama seorang guru"
Tadi, The Go benci sekali kepada Kiau To. Maka dengan delikkan matanya dia segera menyahut.
"Adakah Giokli-nia ini milikmu orang she Kiau? Memang harini aku The Go hendak bikin ramai disini, habis kau mau apa?"
Ucapan dan sikap Cian-bin long-kun itu memang keliwat kurang ajar sekali, sehingga sampai2 seorang sabar macam Ceng Bo siangjin membeliakkan mata, kearahnya serta diam2 memaki "biadab".
Tapi Ceng Bo orangnya keliwat menjaga nama, sekalipun hati mendongkol namun mulutnya tak mau mendamprat.
Sebaliknya Kiau To dengan tertawa dingin segera menyahut.
"Siapa bilang Giok-li-nia ini tiada bertuan, hanya saja pemiliknya itu tak sudi kotorkan tangan untuk menghajar adat padamu. Maka biarlah Kiau jiya ini yang akan mewakili tuan rumah untuk memberi hajaran padamu!"
Cepat The Go pentang kipasnya.
"Kiau loji, lama nian kudengar bahwa sebatang tiang-pian dan sepasang kepalanmu itu tiada lawannya didunia persilatan. Maka hari ini aku hendak mohon pengajaran ilmumu ke 36 jurus 'liok kin pian hwat' serta 'toh beng cap jit jiao' itu!"
"Liok kin plan hwat"
Ilmu pian (cambuk 6 indera itu, adalah kepandaian istimewa yang diwarisi dari guru Kiau To, Tay Siang Siansu. Yang dimaksud dengan "liok kin"
Yakni berdasarkan keenam indera yang termaktub dalam kitab keagamaannya, yakni "mata, telinga, hidung, tubuh, mulut dan perasaan."
Kesemuanya itu diciptakan dalam sebuah ilmu pian yang disebut "liok kin pian hwat".
Setiap baglan terdiri dari 6 jurus, jadi sama sekali berjumlah 36 jurus.
Terutama ke 6 jurus yang terakhir yang disesuaikan dengan bunyi kitab itu.
"Perasaan, adalah akar (sumber) dari keinginan."
Karena keinginan itu tiada batasnya, maka ke 6 jurus itupun penuh dengan gerak-perobahan yang sukar diduga.
Lemah gemulai tampaknya namun hebat keliwat2, tangkas cepat tiada terkira.
Kiranya sukar untuk melukiskan dengan kata2, cukup kalau dikatakan "datangnya tanpa bayangan, perginyapun tanpa bekas."
Berkat ilmupiannya itu, dapatlah Tay Siang Siansu malang melintang selama lebih dari 20 tahun didunia persilatan dengan tanpa tandingan.
Tapi kemudian, karena salah paham kena diadu domba oleh siaojin (orang yang bermartabat rendah), dia telah bentrok dengan sepasang suami isteri yang terkenal gagah dan perwira budinya, dan berakhir Siansu itu telah kena dijatuhkan oleh pasangan suami isteri yang memiliki dua macam ilmu pedang sejodoh, saling mengisi dan saling bantu membantu.
Buru2 Tay Siang Siansu pulang kebiara Liok-yong-si di Kwiciu, kemudian kepada murid tunggalnya, Kiau To, ia meninggalkan pesan.
"Luasnya dunia, dalamnya ilmu silat, sungguh tiada dapat diukur. Kali ini aku hendak berkelana lagi. Kalau dalam 10 tahun nanti tak kembali, anggaplah aku sudah meninggal 10 tahun. Kalau 20 tahun, anggap 20 tahun yang meninggal."
Setelah meninggalkan kata2 itu, berangkatlah Tay Siang Siansu pergi berkelana.
Pada ketika itu, Kiau To baru berumur 20-an.
Dia baru saja mendapat pelajaran ilmu pian.
Dia asalnya memang seorang kacung biara Liok-yong-si situ.
Ketika Tay Siang Siansu mengetahui anak itu mempunyai tulang yang bagus, Tay Siang berkeras menyuruh anak itu menjadi orang biasa lagi, karena masih belum temponya untuk menjadi orang pertapaan, tapi disamping itu dia menurunkan pelajaran ilmu silat pada anak itu.
Orang yang meyakinkan ilmu pian "liok kin pian hwat", harus menjaga betul2 ke 6 inderanya itu supaya jangan sampai ternoda oleh nafsu2 selera.
Memang pada hakekatnya, itulah intisari daripada pelajaran Buddha.
Dalam kebatinan, Kiau To penasaran dirinya dianggap belum berjodoh masuk ke lapangan agama itu.
Begitu suhunya pergi, diapun tak lama kemudian juga tinggalkan biara Liok-yong-si untuk berkelana didunia persilatan, kemudian masuk dalam Thian-tee-hwee.
Dengan kepandaiannya silat yang tinggi, tak berapa tahun kemudian, dia segera menduduki kursi kedua dalam pimpinan Thian-tee-hwee tersebut.
Ber-tahun2 dalam pertempuran, paling banyak dia hanya gunakan sampai jurus ke 28 saja dari "liok kin pian hwat", dan lawan pasti akan sudah keok.
Tapi orang yang dapat bertahan sampai jurus ke 28 itupun sudah tergolong jago yang sukar dicari.
Maka selama itu, ke 6 jurus penghabisan itu belum pernah digunakannya.
Bahwa kini The Go telah menantang "liok kin pian hwat"nya itu, diapun tak berani memandang ringan pada lawan itu.
Karena dari beberapa gerakannya tadi, cukup diketahuinya bahwa orang she The itu telah dapat mewarisi kepandaian dari suhunya, Ang Hwat cinjin, yang sangat terkenal sebagai akhli tutuk jempolan.
Kalau tidak demikian, masa anak itu sedemikian temberangnya?
"Kalau Cian-bin long-kun menghendaki begitu, akupun mengiringkan saja.
Bagaimana kalau kita ambil tempat dilapangan luar sana?"
Sahutnya.
Tanpa mengucap apa2 The Go ber-kipas2 seraya melangkah keluar.
Dengan memungut senjata hi-jat, Ciok Siaulanpun mengikutinya.
Tapi baru The Go melangkah beberapa tindak, dari luar pintu se-konyong2 menobros masuk seseorang, yang begitu menampak The Go terus menusuk dengan pedangnya.
Sebat sekali The Go mengegos kesamping dan karena tak keburu menarik serangannya ujung pedang orang itu Iangsung menusuk kepada Ciok Siau-lan.
Nona yang berada dibelakang The Go itupun dengan gugup segera hadangkan hi-jatnya untuk menangkis.
Kini tahulah sekalian orang, bahwa sipenyerang itu bukan lain adalah Tio Jiang.
"Siau-ko, dia cukup keras, biarkan aku yang membereskan!"
Seru Kiau To, namun Tio Jiang tak mau menghiraukan.
Begitu pedang dibalikkan, dengan jurus "Ho peh kuan hay", ujung pedangnya diguratkan keatas menyerang The Go.
Tapi kini The Go sudah siaga.
Dengan tenang, dia ulurkan kipas.
Begitu ujung pedang tiba, kipas dipalangkan dan laksana besi sembrani telah menempel lekat2 dibatang pedang.
Sekali tangannya kanan mengibas, mulutnyapun membentak.
"Enyahlah!"
Gambar 8 Baru saja The Go melangkah keluar, tahu2 ia dipapak sekali tusukan oleh Tio Jiang, cepat ia mengegos hingga serangan itu menuju Ciok Siau-lan yang berada dibelakangnya.
Tio Jiang merasa seperti dari ujung pedangnya mengalir suatu tenaga kuat yang menggempur siku tangannya.
Begitu keras tenaga gempuran itu, hingga terasa tangannya kesemutan dan "kerontang", lepaslah pedang itu jatuh ketanah.
The Go bergelak tawa, tapi tak mau balas menyerang.
Namun sekalipun tahu bukan tandingannya, Tio Jiang tak mau mengalah.
Dia pungut lagi pedang terus menyerang kembali dengan jurus "hay li long huan".
Jurus ini, baru saja kemaren siang dia pelajari, sehingga baru saja 2 kali berlatih.
Sampai dimana kebagusan ilmu pedang itu, entahlah.
Yang diketahuinya hanialah kunci aba2 jalannya, terdiri dari 8 kata.
"4 datar 8 tenang, mulut, hidung, mata, telinga."
Begitulah tangan kanan mencekal tangkai pedang dengan agak kendor, selekas diangkat naik terus dikibaskan keatas, tengah dan bawah.
Kemudian selagi sinar pedang berkelebatan, tiba2 ujungnya ditusukkan kearah kepala dan muka The Go.
Bermula The Go anggap kepandaian Tio Jiang itu, hanya biasa saja.
Buktinya, tadi dengan hanya gunakan sedikit lweekang, dia telah berhasil membikin terpental pedang anak itu.
Nah karena anak itu tetap membandel, biar dia unjuk sedikit kepandaian untuk menghajarnya.
Tapi sedikitpun dia tak menduga, kalau ilmu pedang "to hay kiam hwat"
Dari Ceng Bo siangjin itu, hebatnya bukan kepalang. Sampai jurus ke 4
"Ho Peh kuan hay"
Tadi, sudah mulai nampak keindahannya. Jurus "hay li long huan"
Itu adalah jurus yang ke 6, istimewa diperuntukkan menyerang kepala dan muka orang.
Sewaktu, Tio Jiang membolang balingkan pedangnya dalam 3 kiblat tadi, masih The Go tak mengacuhkan.
Tapi se-konyong2 ujung pedang dalam gaya yang luar biasa dapat menusuk kemuka, telah membuat The Go serasa terbang semangatnya.
Gaya serangan macam itu, betul2 belum pernah dilihatnya selama ini.
Dengan sibuknya, segera dia gunakan jurus "tiat pan kiau" (jembatan besi gantung) badannya membalik kebelakang terus melengkung kebawah.
Dengan tiara itu, barulah dia dapat terhiiidar dari tusukan pedang.
Tapi ketika mata pedang berkelebat lewat disamping mukan ya, muka teraaa seperti disambar deru angin yang dingin.
Diam2 dia mengeluh "celaka", dia perkokoh kuda2 kakinya.
Kakinya tetap tegak terpaku, tapi tubuhnya tiba2 menggeliat kesamping.
Itulah ilmu "i heng huan wi" (memindah bayangan, mengganti kedudukan), suatu ilmu mengentengi tubuh tingkat tinggi.
Sayang Tio Jiang bukan Ceng Bo siangjin.
Ilmunya pedang itu baru saja kemaren dipelajari, jadi masih belum sempurna.
Coba pada saat itu, dia terus susuli lagi dengan jurus yang ke 7"hay Iwee sip ciu", kalau tidak binasa se-kurang2nya The Go pasti akan terluka berat.
Malah hal yang harus disayangkan itu tak cukup begitu saja, karena setelah mendapat pengalaman pahit itu, The Go telah dapat menarik pelajaran berharga dari ilmupedang "to hay kiam hwat"
Tersebut.
Dikelak kemudian hari walaupun ilmu pedang Tio Jiang telah sempurna, namun tak mudah lagilah kiranya untuk mengalahkan The Go.
Dan memang hal itu telah terjadi dikemudian harinya, hanya saja lebih baik kita jangan melantur kekejadian yang belum datang.
Sewaktu The Go dengan cara-geliatannya yang luar biasa itu dapat menggelincir keluar pintu, dengan bernapsu sekali Tio Jiang terus akan mengejarnya, tapi Ceng Bo siangjin yang tahu akan kekuatan mereka tadi, buru2 mencegahnya.
"Jiang-ji, Kiau susiok hendak bertanding dengan dia, mengapa kau turut2an menimbrung?"
Tio Jiang menurut tapi mulutnya menyomel.
"Bangsat itu telah membuat marah suci, sehingga suci menangis tak mau sudahnya!"
Orang2 bermula mengira kalau anak itu tentu mempunyai dendam besar sehingga hendak mengadu jiwa dengan The Go, siapa kira hanya lantaran soal Bek Lian menangis saja.
Sudah tentu orang2 sama geli melihatnya.
Tapi bagi Tio Jiang hal itu merupakan soal penting.
Bek Lian tertawa, dia juga merasa berbahagia.
Bek Lian menangis, diapun turut bersedih.
Ya, segala apa yang dirasakan oleh sijelita itu, se-olah2 seperti dirasakannya juga.
Tadi dia coba hiburi sang suci, tapi sebaliknya dari menerima kasih Bek Lian malah menumpahkan kemendongkolan hatinya pada Tio Jiang.
Anak itu sudah kenyang menerima gegeran (dampratan) sang suci, jadi dianggapnya biasa saja.
Tapi apa yang paling menyakitkan hatinya ialah rasa sedih yang dikandung oleh Bek Lian itu.
Mengapa sang suci sampai sedemikian berdukanya?
Ah, tak lain tak bukan, The Go lah biang keladinya.
Maka tanpa banyak cingcong lagi, tadi dia telah serang si Cian-bin long-kun itu.
Walaupun akhirnya ditegur oleh Ceng Bo siangjin, namun hati Tio Jiang tetap puss, karena dengan perbuatannya tadi dia merasa seperti telah Tio Jiang tetap puas, karena dengan perbuatannya tadi dia merasa seperti telah menunaikan panggilan hatinya untuk membela Bek Lian.
"Jiang-ji jangan sembarangan mengomong!"
Lagi2 sang suhu membentaknya.
Dan Tio Jiangpun tak berani bercuit lagi.
---oo0-dwkz-TAH-0oo---Setelah sekalian orang sama keluar untuk menyaksikan pertempuran, Ceng Bo siangjin segera mengajak Ki Cee-tiong.
"Ki-heng, mari kita masuk kedalam saja untuk merundingkan masalah yang peting."
Dengan ucapan itu, Ceng Bo telah mengira, betapa lihaynya The Go namun rasanya Kiau To cukup dapat mengatasi.
Dan kalau orang she The itu sudah dipecundangi, kiranya yang lain2pun takkan berani mengadu biru.
Adanya Ceng Bo ber-gegas2 balik kegunung lagi, kiranya memang mempunyai suatu urusan yang penting.
Oleh karena Ceng Bo mengatakan "masalah penting,"
Maka Ki Cee-tiong segera mengikutnya.
Sudah sejak menyaksikan ramai2 tadi, Yan-chiu ketarik sekali hatinya.
Hanya lantaran suhunya berada disitu, jadi tak beranilah ia ini itu.
Tapi begitu sang suhu sudah berlalu, segera ia loncat mencekal tangan Tio Jiang.
"Suko. hayo kita lihat Kiau susiok menghajar sikurang ajar itu!"
Dengan tersenyum tawar, Tio Jiang menurut.
Tapi baru saja dia melangkah keluar pintu, disana dilihatnya Kiau To sudah saling berhadapan dengan The Go.
Jarak keduanya hanya terpisah 2 meter saja.
Ber-gegas2 Tio Jiang menuju kedekat tanah lapang itu.
Dengan tempelkan badannya pada suatu batu karang yang menonjol, dia tegak berdiri mengawasi jalannya pertandingan.
Tahu orang tak begitu mempedulikan, Yan-chiu mendongkol.
Iapun menyingkir agak jauh dari sukonya itu.
Tak berapa lama kemudian, Kiau To dan The Go masing2 bertukar salam, setelah itu mereka lalu sama mundur sampai satu tombak jauhnya.
Dengan mata saling mengawasi, mereka segera bergerak ber-putar2.
Sekalipun Tio Jiang bukan tergolong jago kelas satu, namun 6 tahun diasuh oleh seorang akhli kenamaan macam Ceng Bo siangjin, diapun cukup mengetahui arti gerakan kedua orang itu.
Betul nampaknya saja mereka main ayal2an, yang satu ber-kipas2 yang lain menggendong tangan, namun sebenarnya mereka itu sedang ber-siap2 untuk suatu pertempuran dahsyat.
Gerak kaki The Go merupakan sebuah lingkaran kecil.
Sewaktu ber-gerak2 itu sikapnya tenang sekali.
Pula gerakannya itu agak aneh, sehingga tiada seorangpun yang mengetahui gerakan-kaki ilmu silat apakah itu.
Sebaliknya kaki Kiau To ber-putar2 dalam formasi lingkar besar, malah mengitari daerah The Go sana.
Langkah kakinya sangat anteng, kokoh bagai gunung Thay-san.
Nyata ilmu silat keduanya itu berlainan, namun dua2nya adalah akhli semua.
Kini perhatian semua orang ditumpahkan kesitu.
Sejenak kemudian, tiba2 Kiau To tertawa keras.
Ilmunya lweekang adalah pelajaran dari kaum agama.
Dalam beberapa kitaran saja, dia telah dapat mengalurkan tenaga dalamnya keseluruh tubuh.
Tertawanya tadi, pertanda dari sudah mengalirkan tenaga itu dan begitu keras suara ketawa itu hingga orang yang belum tinggi ilmu silatnya, pasti akan terpelanting kaget.
"Cian-bin long-kun, silahkan menyerang dulu!"
Serunya kemudian, Gambar 9 Dengan sengit Kiau To tempur The Go yang telah membokong kawannya.
Tapi The Go tak menyahut.
IImunya lweekang adalah ad yaran dari Ang Hwat cind yin gunung Ko-to-san, yang berpokok pada ketenangan.
Menghadapi musuh lihay, harus makin tenang dan se-kali2 tak mau menyerang lebih dahulu.
Memang hal itu sudah diketahui Kiau To, siapa telah sengaja bertanya untuk menggodanya.
Tapi diluar dugaan The Go telah menyahut.
"Baik!"
Seraya menghampiri maju, sembari melipat kipas terus gunakan tangkainya untuk menutuk kedua pundak lawan.
Cepat dan berbahaya adalah serangan The Go itu, sehingga Kiau To tak menyangka barang serambutpun juga.
Cepat2 dia pendakkan tubuh, begitu membalik siku lengannya, kelima jari yang laksana kulit besi itu, segera mencengkeram siku tangan orang.
Atas ancaman itu, The Go mundur kebelakang seraya tertawa, karena serangannya tadi itu ternyata hanya gertakan kosong saja.
"Jangan lari!"
Bentak Kiau To dengan marah ketika tahu dirinya dipermainkan begitu.
Berbareng dengan memburu maju, kini dia gunakan dua tangannya untuk mencengkeram.
Begitu hampir mengenai, kedua tangannya itu dipentang.
Yang kiri untuk mencengkeram pinggang orang, sedang yang kanan untuk mencengkeram kearah dada.
Dengan bersuit nyaring, tiba2 The Go melambung keatas, melayang keatas kepala lawan.
Dan ketika berada diatas kepala, dia segera tutukkan kipasnya kearah jalan darah ,,peh hap hiat"
Di-umbun2 kepala.
Menampak lawan telah gunakan jurus yang berbahaya, Kiau To segera putar tubuhnya untuk mencengkeram paha belakang lawan, tapi si The Go dengan lincahnya sudah melorot turun ketanah lagi.
Kini dengan tangkai kipas, dia merangsang seru sekali, menghujani lawan dengan tutukan2 yang berbahaya.
Mau tak mau terpaksa Kiau To harus mengakui kalau lawan itu betul2 seorang berisi.
Dalam pada itu berpikirlah dia, kalau kali ini sampai tak dapat mengatasi lawan, mungkin dikemudian hari sukar untuknya mendapat kedudukan layak didunia persilatan, akibatnya, Thiantee-hweepun akan merosot namanya.
Dengan ketetapan itu, dia segera berlaku hati2 sekali gunakan ilmu cengkeram "toh beng cap jit jiao".
Begitulah dalam beberapa kejab saja, kedua rival itu telah bertempur lebih dari 30 jurus.
Makin lama, makin seru.
Sesaat saling merapat, sesaat saling berpencar, gerakannya kian pesat.
Orang2 yang menyaksikan, sama berpudar penglihatannya.
Selama itu sudah beberapa kali Ciok Siau-lan hendak tampil membantu, tapi selalu dicegah oleh Ciok jisoh.
Pada saat itu Tio Jiang menampak Bek Lian muncul dan berdiri ditempat agak berjauhan, sedang Yanchiu malah sudah lari memapaki sang suci.
Seperti terkena stroom, Tio Jiang segera hendak menghamperi sang suci juga, tapi baru hendak mengangkat kaki, tiba2 merasa ada suatu tenaga yang luar biasa kuatnya telah mencekik tengkuknya (leher belakang).
Dalam kagetnya, dia terus hendak berpaling kebelakang, tapi oleh begitu kuat cekikan itu sehingga tak dapatlah dia gerakkan lehernya.
Malah sesaat itu kedengaran sipencekik itu berseru.
"Buyung, jangan lari. Kalau kau pergi, Sam-thay-ya pasti takkan bisa melihat pertunjukan bagus. Mereka berdua telah bertempur dengan seru, ya tidak?"
Dari nada suaranya, tahulah Tio Jiang kalau orang itu adalah siorang tua kate yang dijumpainya digunung tempo hari.
"Sam-thay-ya!"
Serunya dengan kaget. Tapi baru mulutnya bertereak, atau lehernya dirasakan seperti dicekik keras sehingga sampai hampir tak dapat bernapas rasanya.
"Buyung, kalau berani bertereak lagi, awas! Jangan sampai orang2 itu tahu aku berada disini!"
Siorang tua aneh itu mendampratnya. Dengan terengah2 Tio Jiang mengiakan.
"Sam-thay-ya, tapi kendorkan sedikit cengkerammu itu ah!"
"Bagus, buyung, kau berani mempermainkan Sam-thayya?!"
Kembali orang tua aneh itu mendamprat. Tio Jiang meringis, namun tak berdaya untuk lepaskan diri.
"Masa aku berani mempermainkan kau?"
Dia memperotes dengan berjengit. Sam-thay-ya ketawa ter-besit2, rupanya saking gembiranya, ujarnya.
"Kalau Sam-thay-ya kendorkan tangan, kau tentu akan ngacir pergi bukan?"
Pikir Tio Jiang, orang tua itu memang benar2 seorang aneh yang linglung, sahutnya.
"Aku tak pergi dan membayangimu, kau mau tidak melepas aku?"
Kini agaknya siorang tua linglung itu puas, lalu kendorkan cengkeramannya.
Beberapa kali Tio Jiang usap2 batang lehernya, dan coba gerak2kan kepalanya supaya kendor, setelah itu lalu menghela napas.
Ketika dia mengawasi lagi kegelanggang pertempuran, kiranya kini cara bertempur dari Kiau To dan The Go itu sudah berobah sifatnya.
Kalau tadi keduanya adu kegesitan, kini ternyata lambat2 saja gerakannya, sehingga Tio Jiang dapat melihatnya dengan jelas.
Tapi Itu bukan berarti keduanya sudah kepayahan, malah pada kebalikannya kini telah menginjak dalam phase (tingkatan) yang berbahaya.
Tak lagi The Go jual obral tertawanya, tapi dengan delikkan sepasang matanya dia menatap tajam2 kearah Kiau To, siapa sebaliknyapun berlaku demikian juga.
Keduanya sama ber-putar2 kian kemari, kemudian pada lain saat, dengan menggerung keras terus saling menerjang.
Anehnya, hanya sebentar saja saling terjang itu berlangsung, karena pada lain saat mereka sudah saling pencar dan kembali ber-putar2 lagi.
Bagi orang yang belum tinggi ilmunya silat, tentu tak tahu apa artinya itu.
Ini berlaku juga pada Tio Jiang.
Tapi Sam-thay-ya yang bersembunyi dibelakangn ya selalu kedengaran mericis sendirian.
Sesaat mengatakan "ah, sudah 6 jurus, kipas anak itu meleset, kalau tidak tentu dapat menutuk jalan darah thian-tee-hiat lawan"!
Tapi pada lain saat kedengaran dia berbisik "ah, 3 jurus yang hebat, cengkeram orang itu luput, sayang, sayang!"
Bermula Tio Jiang mengira kalau orang tua linglung itu ngaco belo tak keruan.
Tapi begitu dia memperhatikan dengan seksama, ialah ketika kedua orang itu saling terjang lagi, ternyata memang benar seperti yang diocehkan oleh silinglung tadi, kedua orang Itu telah saling lancarkan serangan dengan gerak yang luar biasa cepatnya.
Mengetahui itu, diam2 Tio Jiang kagum atas kelihayan siorang tua aneh.
Demikianlah kedua orang itu telah bertempur hampir 200 jurus, tapt tetap belum ketahuan menang kalahn ya.
Cian-bin long-kun The Go berpuluh kali melancarkan tutukannya, tapi tak dapat menemui sasarannya, aebaliknya ilmu "toh beng cap jit jiao"
Yang bergaya 3 kali serangan kosong satu kali serangan iai dari Kiau Topun tak banyak gunanya.
Masing2 saling mengagumi kepandaian lawan.
Tapi se-konyong2 The Go merobah gayanya.
Kakinya dimiringkan, sebentar kekanan sebentar kekiri, aehingga sukar lawan untuk menerjangnya.
Sedang kipasnya tiba2 dikibaskan, sehingga kain lipatannya terlepas jatuh.
Kiranya rangka kipas itu terdiri dari 14 batang lidi baja.
Begitu dipentang untuk dibuat menyerang, dapat menusuk jalan darah lawan sampai 14 buah banyaknya.
"cret, cret!"
Pakaian Kiau To telah dapat dilubanginya beberapa buah. Sudah tentu buru2 Kiau To lancarkan pukulannya, terus loncat mundur, serunya.
"Orang she The, Kiau jiyapun hendak gunakan senjata!"
"Silahkan!"
Sahut The Go.
Begitu tangannya merogoh pinggang, Kiau To telah menarik keluar sebatang pian sebesar lengan anak bayi, panjangnya hampir dua meteran.
Pian itu lemas sekali, 'warnanya kuning ke-merah2an, terbuat dari anyaman urat2 kerbau.
Dengan mencekal pecut, Kiau To makin bertambah garang.
Sekali mengibas, dia menghajar lawan.
Namun dari menyingkir, sebaliknya The Go tetap berdiam diri, malah maju menerjang sekali.
Benar ujung pian itu melayang kepunggung The Go, tapi 14 batang lidi baja dari rangka kipas itu maju menusuk.
Sudah tentu karena tak mau tertusuk, Kiau To menggeliat kebelakang dan karena tubuhnya mundur kebelakang, tangannyapun turut tersentak kebelakang, jadi piannya pun makin keras jalannya.
Namun bagaikan seekor belut, The Go miringkan tubuhnya kesamping sampai hampir seperti jatuh ketanah dan berhasil menghindar dari hajaran pian yang sebaliknya kini terus langsung menghajar tuannya sendiri.
Cepat2 Kiau To memutar tubuh agar piannya melibat lawan lagi.
Tapi The Go tak kurang sebatnya dorongkan kipasnya kemuka sehingga terserak 7 batang dikiri dan 7 batang dikanan, dengan dijepit oleh kedua jari ditusukkan kearah jalan darah hong-si dan hok-tho, sekali gus dua.
Dan dalam pada itu, dia loncat keatas untuk menghindari hajaran pian, lalu maju menerjang.
Dua buah serangan itu, aneh dan cepat sekali.
Hajaran pian tadi, telah dilancarkan se-kuat2n ya oleh Kiau To yang ingin lekas2 merebut kemenangan.
Dirangsang begitu aneh sehingga hampir sad ya jalan darah hong-si-hiatn ya kena ditutuk, telah membuatnya terperanjat dan ter-sipu2 buang dirinya ketanah untuk bergelundungan.
Dengan berbuat begitu, barulah dia dapat menghindar dari serangan musuh.
Kalau akhli silat bertempur, jurus2nya memang aneh luar biasa.
Cara Kiau To menolong diri itu memang istimewa, tapi lebih istimewa lagi adalah serangan yang berikutnya dari The Go.
Dengan miring2 seperti orang mabuk yang sukar diduga arah langkahnya, tiba2 dia merangsang dengan cepatnya.
Lagi2 Kiau To terpaksa menyingkir mundur.
Saking bingung akan gaya serangan orang, dan sibuk menyingkir kesana sini, terpaksa Kiau To tak dapat gunakan pisaunya.
Melihat Kiau susioknya terdesak, Tio Jiang ber-ulang2 membanting kaki.
Tlba2 orang tua linglung yang bersembunyi dibelakangnya tadi berkata.
"Gerakan anak itu disebut 'hong cu may ciu', ilmu istimewa Ang Hwat cinjin dari gunung Ko-to-san!" ---oo0-dwkz-TAH-0oo---BAGIAN 3 . HILANG TAK BERBEKAS Mendengar itu, hati Tio Jiang tertarik.
"Loocianpwee..... eh, salah, Sam-thay-ya, bagaimana kau tahu kalau itu jurus ilmu silat 'hong cu may ciu' (orang gila menjual arak)?"
Tanyanya. Orang tua kate yang aneh itu tertawa tawar, sahutnya .
"Buyung, kau berani tak memandang mata pada Sam-thay-ya"
Karena sudah ber-kali2 mendengar ucapan yang melantur dari siorang tua aneh itu, kini Tio Jiang tak kaget lagi.
"Kalau Sam-thay-ya tahu, coba katakan kali ini orang itu akan menutuk bagian mana?"
Pada saat itu Kiau To tengah abitkan piannya kearah The Go, siapa tampak miringkan tubuhnya kesebelah kanan. Melihat itu berserulah Sam-thay-ya.
"Setelah memutar tubuh, dia (The Go) tentu akan menutuk jalan darah yang-kwan-hiat dipunggung orang itu (Kian To)."
Tio Jiang agak sangsi, karena The Go kala itu bereda disebelah kanan Kiau To, bagaimana dapat menutuk punggungnya?
Tapi berbareng dengan ucapan siorang tua aneh itu, tampak tubuh The Go menggeliat condong kemuka, lalu se-konyong2 berputar mengangkat tubuhnya lagi.
Dengan rebah bangun cara begitu itu, kini The Go berada disamping lawan, dan apabila dengan sekali rebah-bangun lagi, dia tentu akan tepat berada dibelakang lawan serta dapat menutuk punggung.
"Hai,"
Tio Jiang mengeluarkan seruan tertahan sambiI mengawasi Kiau To.
Rupanya orang she Kiau belum insyaf kalau lawan bisa menutuk punggung, maka begitu mendengar ada samberan angin dari belakang, dengan sibuk dia terus maju dua langkah kemuka untuk menghindar.
Ini bukan berarti karena tahu akan ditutuk lawan, melainkan hanya sekedar penjagaan saja atas serangan lawan yang sangat membingungkan itu.
Oleh karena inisiatip berada ditangan musuh, diapun tak dapat menguasai permainannya pian lagi.
Buru2 Tio Jiang berpaling.
Dilihatnya orang tua aneh itu tengah kerat-kerutkan alisnya sehingga hidungnyapun turut naik turun.
"Buyung, percaya tidak omonganku?"
Tegur orang tua tersebut.
Pepatah mengatakan "didalam keadaan mendesak, orang bisa mengeluarkan pikiran yang cerdas".
Tio Jiang bukan seorang yang sama sekali tak berbakat.
Soalnya dia itu tak pandai omong.
Maka sesaat itu terkilaslah suatu pikiran bagus padanya.
"Sam-thay-ya, kalau ber-turut2 10 kali kau bisa menebak jitu, aku benar2 tunduk padamu!"
"Baik,"
Sahut siorang tua sambil mengatupkan kelopak matanya.
Ketika Tio Jiang alihkan pandangannya kegelanggang, dilihatnya Kiau To baru saja dengan susah payah lolos dari dua buah serangan The Go.
Ikat kepalanya yang berwarna hitam putih itupun sudah terpapas jatuh oleh rangka kipas The Go.
Kini pemimpin no.
2 dari Thian-Tee-Hui itu makin keripuhan, sebaliknya si The Go makin tangkas.
Gerak serangannya memang seperti gaya seorang gila, menjorok ketimur tapi ternyata memukul kebarat, berkelebat kearah selatan namun kearah utara yang dihantamnya.
Tio Jiang tak dapat mengendalikan diri lagi, serunya.
"Kiau susiok, jangan kuatir. Ilmu menutuk orang itu dinamakan 'hong cu may ciu', semuanya aku tahu!"
Mendengar itu, The Go terperanjat sekali. Masakan anak gembala itu tahu akan ilmu perguruannya "hong cu may ciu"
Yang istimewa itu? Karena pikirannya terpecah, gerakannyapun agak lambat. Kiau To pun bukan seorang jago sembarangan, begitu gerak lawan lamban maka piannya hidup gayanya lagi.
"Wut......"
Dia lancarkan serangan balasan. The Go seperti orang gelagapan, buru-dia tenangkan pikirannya, lalu rubuhkan diri kebelakang. Begitu pian sudah lewat, serentak dia berdiri tegak lagi.
"Sam-thay-ya, dia mau menutuk apa?"
Buru2 Tio Jiang bertanya, tapi hai, mengapa orang tua aneh itu tak menyahut? Tio Jiang menoleh kebelakang dan dapatkan siorang tua aneh itu unjuk kemarahan.
"Sam-thay-ya, mengapa kau diam saja?"
Tanyanya dengan heran.
"Kau ini seorang bujang yang licin. Suhu dari anak muda itu adalah sahabatku. Kau hendak memberi kisikan pada orang itu, supaya anak itu kalah?"
Sudah terlanjur diketahui, Tio Jiang tak mau kepalang tanggung, ujarnya.
"Sam-thay-ya, kalau sememangnya tak tahu, bilang saja tak tahu dah!"
Kontan saja siorang tua linglung itu menyahut dengan murkanya.
"Kau berani memandang remeh pada Sam-thay-ya? Hm, kali ini dia hendak menutuk jalan darah si-tiokgong dipinggir mata!"
Tanpa pedulikan lagi, lekas2 Tio Jiang berpaling kemuka.
Tepat pada saat itu, The Go tutukkan kipasnya, dan benar juga yang diarah ialah jalan darah si-tiok-gong yang terletak dipinggir mata.
Benar Kiau To dapat menghindar, tapi karena tak mengerti akan gerak serangan lawan, dia tak berani gegabah balas menyerang, dengan begitu dia tetap dipihak yang diserang.
Setelah mengirim tutukannya tadi, The Go tampak huyung2kan tubuhnya kesamping, sedang Kiau To sambil tegak berdiri, bolang balingkan piannya siap untuk menyambut.
"Wi-tiong-hiat!"
Tiba2 mulut siorang tua aneh berseru pelan2, tanpa ditanya lagi. Jalan darah wi-tiong-hiat itu terletak pada buku-persambungan betis dengan paha, jadi tampaknya mustahil dapat diarah."
Tapi karena sudah bulat kepercayaannya, dengan tak banyak cingcong lagi, buru2 Tio Jiang berseru.
"Kiau susiok, kali ini dia hendak menutuk 'wi-tiong-hiat'mu!"
Baru seruan itu keluar, tiba2 The Go melengak, namun karena tangan sudah bergerak maju sukarlah untuk ditarik kembali.
Se-konyong2 dia melambung keatas meloncati samberan pian.
Dengan tangan dan kaki berserabutan macam orang kelelap disungai, dia meluncur turun dibelakang Kiau To.
Begitu hampir ketanah, tiba2 tangannya kiri dicengkalkan kebumi, sedang tangan kanan menutukkan rangka kipas kearah jalan darah wi-tiong-hiat dibetis orang!
Karena mendapat peringatan dari Tio Jiang, kini Kiau To sudah bersiaga.
Tahu musuh melayang turun kebelakangn ya, dia tinggal diam saja.
Tapi begitu musuh sudah menyentuh bumi serta belum sempat untuk melancarkan serangannya, Kiau To barengi memutar tubuhnya dengan sebuah hajaran pian yang seru.
Sudah tentu The Go tak mau biarkan iganya dilibat cambuk musuh, maka buru2 dia batalkan rencana penyerangannya tadi, diganti dengan jejakkan kedua kakinya ketanah untuk berdiri tegak.
Dalam kesibukannya itu, dia sempat juga melirik kearah Tio Jiang, namun anak itu tak mau hiraukan.
Dengan balingkan tangannya kebelakang dia kutik2 tubuh siorang tua linglung lagi.
"Jin-tiong-hiat"
Bisik suara dari belakang, dan kembali Tio Jiang berseru keras lagi.
"Kiau susiok, orang itu hendak menutuk jin-tiong-hiat-mu!"
Memang setelah berdiri tegak, tiba2 The Go berjongkok dan ber-putar2 kemuka Kisu To lalu secepat kilat angkat tubuhnya keatas.
Menurut rencana Kiau To tiara menghalau serangan orang itu ialah putar pian untuk melindungi tubuh bagian muka.
Tapi karena sudah mendapat peringatan Tio Jiang, maka sengaja dia biarkan saja lawan menyerang.
Sebaliknya dari memutar pian, dia kibaskan pian itu keatas melampaui kepala lawan, kemudian dengan se-konyong2 disentaknya pian itu menurun kebelakang musuh untuk menghantam bagian tengkuknya (leher sebelah belakang).
Jadi kalau The Go tetap hendak menutuk jintiong-hiat lawan, tengkuknyapun tentu terhantam pian.
Maka buru2 dia menghindari hajaran pian dan dalam penghindarannya itu gerakannyapun tak menurut gaya "hong cu may ciu"
Lagi.
Tapi menggunakan kelemahan lawan itu, Kiau To segera hajarkan piannya lagi.
Wet, wet, wet, ber-turut2 The Go undur sampai 3 langkah, baru dia dapat dengan susah payah menghindar.
Jurus2 selanjutnya, Kiau To menang angin.
Tiang-pian atau ruyung panjang macam cambuk me-nari2 dengan lincah dan seru, samberan anginnya kedengaran men-deru2.
Beberapa kali The Go berganti gaya, baru akhirnya dapat dia balas menyerang.
Tapi setiap kali dia hendak lancarkan serangannya jurus "orang gila menjual arak"
Itu, setiap kali itu pula tentu dipecahkan oleh tereakan Tio Jiang.
Dalam beberapa jurus saja, topi-pelajar yang menutupi kepalanya kena dihajar jatuh oleh pian Kiau To.
Bahkan kini keadaan The Go tak keruan macamnya.
Rambutnya terurai kacau, mukanya bercucuran keringat dan kotor dan gaya gerakannyapun sudah limbung.
Asal dua kali lagi Tio Jiang memberi kisikan kepada Klan To, maka si The Go itu pasti akan rubuh.
Dalam saat2 yang genting itu, tiba2
"trang"
Terdengar bunyi senjata berkeroncangan, dibarengi dengan melesatnya sesosok tubuh kedalam gelanggang, serta seruan melengking.
"Cis, tak malu, dua mengerubut satu!"
Kiranya itulah sigadis nelayan Ciok Siau-lan.
Begitu melesat maju, dia tusukkan hi-jat (garu ikan) kedada Kiau To.
Namun pemimpin kedua dari Thian-te-hwe hanya berkelit saja tak mau balas menyerang, karena dia curahkan perhatiannya mendengari seruan Tio Jiang untuk menghadapi serangan The Go.
Sampai pada saat itu, siorang tua aneh tadi sudah memberi 8 kali petunjuk yang kesemuanya jitu sekali.
Jadi masih kurang 2 kali lagi.
Tapi dengan tampilnya sigadis nelayan itu, walaupun menang angin, kiranya masih sukar juga bagi Kiau To untuk mengalahkan The Go.
Dalam pada itu sempat pula Kiau To menyapukan matanya kesekeliling tempat itu.
Dilihatnya sigenit Yan-chiu berdiri disebelah sucinya (Bek Lian), memandang dengan penuh keheranan kepadanya (Kiau To) mengapa dapat memecahkan gaya ilmu silat The Go yang luar biasa anehnya itu.
Buru2 dia (Kiau To) memberi isyarat tangan kepada gadis lincah itu, siapapun ternyata dapat menangkap maksud orang serta terus ber-kaok2.
"Mengapa kau tak tiru2 memberi tahu saja? Apakah karena ilmu tutukanmu terpecahkan, kau marah karena malu? Kalau mau berkelahi, akulah tandingmu."
Habis berkata begitu, tangannya melepaskan senjatanya bandringan yang terikat dipinggang, begitu melangkah maju, kira2 masih satu tombak jauhnya, ia sudah lontarkan bandringan rantai itu seraya enjot tubuhnya kemuka.
Tadi karena kuatir orang yang dikasihinya (The Go) sampai celaka, Ciok Siau-lan buru2 maju membantu.
Tapi seperti dikatakan orang "kalau hati gelisah, orangnyapun kacau".
Siau-lan mainkan ilmu permainannya garu "Lamhay cak sat" (laut selatan mendampar ikan tawes) secara rancu sekali.
Maka dalam 10-an jurus, ia tak dapat melukai Kiau To.
Malah pada saat itu, keburu Yan-chiu sudah menyerang dari belakang, maka buru2 ia putar tubuh dan menangkis dengan hi-jatnya (penusuk ikan).
"Oho, kiranya hanya begini saja!"
Seru Yan-chiu sambil leletkan lidah demi senjatanya saling beradu.
Tapi apakah benar kepandaian sigadis hitam dari laut selatan itu hanya sebegitu saja?
Bukan, itulah siasat cerdik dari sigenit Yan-chiu untuk membikin panas hati lawan.
Karena pada hakekatnya, gerakan memutar tubuh sembari menusuk dari Siau-lan tadi, terselip jurus dari ilmu tombak Yo-kee-jiang yang termasyhur.
Yo-kee-jiang atau ilmu tombak keluarga Yo (Nyoo), adalah buah ciptaan Yo Ci-giap, seorang panglima yang terkenal pada jaman Pak Song (kerajaan Song utara).
Salah satu jurusnya yang paling lihay ialah yang disebut "hwee ma jiang"
Atau memutar kuda dengan menusuk.
Ilmu permainan jat (tusuk garu) dari keluarga Ciok Siau-lan, penuh dengan gaya perobahan.
Hampir gaya yang indah dari pelbagai permainan senjata panjang, diambil dan dipersatukan dalam satu permainan jat itu.
Sewaktu berada ditengah laut, asal kelihatan ada ikan mengambang, sekali tusuk tentu kena.
Saking gapahnya Siau-lan mainkan jat itu, ia telah digelari sebagai Lam-hay hi-li (sigadis nelayan dari laut kidul).
Sebenarnya tadi, dengan susah payah baru Yan-chiu dapat menghindar dari tusukan Siau-lan, namun dasarnya genit, mulut Yan-chiupun tetap mengeluarkan ejekannya tadi.
Tapi Siau-lan tak mau ambil mumet, melainkan menyerang lagi.
Karena merasa tak ada lagi angin menyambar dibelakangnya, tahulah Kiau To kalau sigadis hitam tadi sudah dilibat oleh Yan-chiu.
Tapi pada saat itu justeru The Go sudah menyerangnya, rangka kipasnya dipecah menjadi 3 bagian berbareng maju menutuk.
"Kiau susiok, awas kong-sun-hiat!"
Kembali Tio Jiang berseru.
Kini Kiau To dapat memperhitungkan, meskipun gaya si The Go itu seperti orang ter-huyung2, tapi karena jalan darah kong-sun-hiat itu terletak pada 3 dim dibelakang ibu jari kaki, maka dia duga lawan tentu akan menjorok maju.
Maka dia segera gunakan jurus "cu ham to cuan"
Hajarkan piannya.
Benar juga, The Go se-konyong2 jatuhkan tubuhnya kemuka untuk menutuk jempol kaki orang, tapi ujung tiangpianpun sudah menurun datang.
Saking kagetnya, buru2 The Go loncat bangun, sehingga buyarlah kuda2 kakinya.
Sekali Kiau To angkat kakinya kiri, dia mendupak se-kuat2nya kebetis The Go.
Betapapun anak muda itu coba loncat mundur dengan cepatnya, namun samberan angin dupakan yang keras itu telah membuatnya ter-huyung2 sampai 7 atau 8 langkah kebelakang, baru dia dapat berdiri anteng lagi.
Tapi baru sang kaki anteng, laksana bayangan, Kiau To sudah melesat datang terus menghajarkan pian kemukanya.
Dalam gugupnya, The Go hendak menangkis dengan lengan kanan, tapi serangan lawan itu adalah jurus dari permainan pian liok-kin-pian-hwat yang penuh dengan variasi gaya.
Tiba2 tangkai pian menurun, hendak melibat siku tangan kanan lawan.
Hendak The Go menarik mundur siku tangannya itu, tapi ujung pian telah melibat kipasnya.
Melihat tiang-pian berhasil melibat kipas, Kiau To membentak.
"Lepas!", dengan kerahkan seluruh tenaganya dia sentakkan pian kebelakang untuk membetot kipas. Tangan The Go segera terasa kesemutan, buru2 diapun kerahkan lweekangnya untuk menarik balik kipasnya. Jadi kini kedua seteru itu saling tarik adu lweekang. Hanya beberapa kejab saja adu tarik itu berlangsung, karena tiba2 terdengar bunyi yang keras "krakkk"
Dan putuslah rangka kipas yang terbuat daripada baja murni itu.
Bagian tangkainya masih terpegang The Go, tapi bagian atasnya kecantol diujung tiang-pian.
Sekali Kiau To kibaskan piannya, maka diudara segera tampak beberapa puluh bintik sinar kemilau dari kutungan batang rangka tertimpa cahaya matahari, dan cet, cet cet, berpuluh kutungan lidi baja itu menyusup masuk ke sebuah puhun siong semua.
Penilaian meskipun orang menganggap The Go telah kalah karena senjatanya patah, namun sebenarnya kepandaiannya setingkat lebih atas dari Kiau To.
Kutungnya kipas itu, bukan karena lweekang The Go kurang tinggi, tapi oleh karena rangka kipas itu merupakan lidi2 yang terbuat dari baja, jadi begitu saling ditarik, tentulah putus.
Melihat kipasnya patah, merahlah selebar muka si The Go, siapa lalu mundur beberapa langkah dan dengan tertawa mesam dia berkata.
"Kiau loji, aku mengaku kalah!"
Kiau To seorang yang berwatak jujur. Tahu kalau kemenangannya itu tak begitu gemilang, dia segera rangkapkan kedua tangan memberi hormat seraya berseru.
"Maafkanlah........"
Tapi baru ucapan itu keluar, disana terdengar Yan-chiu berteriak.
"Aku tak mau berkelahi lagi dengan kau!"
Ternyata hanya dalam tujuh delapan jurus saja, Siau-lan telah dapat mendesak Yan-chiu sampai kewalahan tak bisa balas menyerang.
Tapi sembari bertempur itu, mata Siau-lan senantiasa diarahkan pada The Go.
Demi melihat pemuda kesayangannya itu kalah, iapun agak lambat gerakannya.
Dan karena memperoleh kesempatan ini, Yan-chiu dapat loncat undur beberapa tindak.
Tapi dasar nona genit, ia tetap tak mau akui kekalahannya melainkan keluarkan jengekannya lagi, se-olah2 dia tak mau kotorkan tangannya berkelahi dengan nona lawannya itu.
Dan karena memangnya Siau-lan tak mau terlibat dalam pertempuran dengan Yan-chiu, begitu lawan lari, iapun buru2 menghampiri The Go seraya bertanya dengan cemasnya.
"Engkoh Go, bagaimana?"
Dihadapan sekian banyak orang, dirinya telah kena dipecundangi itu, perasaan The Go sukar dilukiskan.
Dupakan Kiau To tadi, terasa sakit sekali.
Belum sempat dia empos semangatnya untuk menghilangkan rasa sakit itu, dia sudah dipaksa untuk adu Iweekang lagi.
Ini menyebabkan rasa sakit itu makin menghebat.
Kalau bukannya dia itu tergolong orang yang berhati keras, apa lagi dihadapan sekian banyak orang dan teristimewa dihadapan Bek Lian, tentu siang2 dia sudah tak kuat lagi berdiri jejak.
Tapi disebabkan terlalu memaksa diri itu, keningnya tampak bercucuran keringat.
GAMBAR 10 Dengan perasaan cemas, Siau-lan keluarkan saputangan untuk mengusap muka The Go yang dicintainya itu.
Melihat itu, hati Siau-lan seperti di-remas2.
Buru2 ia keluarkan saputangan putih, niatnya hendak menyeka kening sang kekasih itu.
Tapi The Go menghindar kesamping seraya mendamprat.
"Menjemukan sekali, budak yang tak tahu malu!"
Namun gadis nelayan yang hitam manis kulitnya itu sudah dimabuk asmara.
Walaupun dimaki, ia tetap mengikuti lagi untuk menyeka kening orang.
Kalau sinona begitu ter-gila2, sebaliknya The Go makin jemu.
Tadi sewaktu melihat Bek Lian lari masuk dengan menangis karena ucapan Siau-lan, The Go gusar sekali.
Maka setelah menghindar dari rangsangan Siau-lan, dia (The Go segera melirik kearah Bek Lian.
Demi diketahuinya juwita itupun mengawasi dirinya, terhiburlah hati The Go sehingga untuk sesaat itu dia ter-longong2.
Tapi justeru selagi dia ter-longong2 seperti kehiIangan semangat itu, tahu saputangan Siau-lan sudah menyeka dikeningnya.
Seketika itu meluaplah kemarahan The Go, serentak dia ulurkan tangannya kanan, dengan kelima jari yang bagaikan kait besi kerasnya itu, dia cengkeram bahu sinona.
Sudah tentu karena tak mengira orang yang dikasihinya itu berbuat begitu, menjeritlah Siau-lan karena kesakitan.
Malah saking hebatnya cengkeram itu, muka sinona berobah ke-hijau2an dan bibirnya menjadi pucat lesi.
Namun sembari meronta, masih sinona ikhlas menderita, serunya.
"Engkoh Go, tumpahkan kemarahanmu itu padaku, aku tak sesalkan kau!"
Empat keluarga The, Ciok, Ma dan Chi dari Laut Selatan itu, sebenarnya akrab sekali hubungannya, lebih dari itu, malah hubungan mereka itu dipererat juga dengan perkawinan.
Misalnya Ciok jisoh itu adalah berasal dari keluarga Ma.
Bermula karena Ciok Siau-lan jatuh hati padanya.
walaupun gadis itu tak secantik bidadari, namun karena dilautan ia tergolong jelita kelas pilihan, maka The Gopun bersikap mengimbangi kasih sinona itu.
Tapi sejak dia berjumpa dengan bidadari Lo-hou-san Bek Lian, lupalah sudah dia akan Siau-lan.
Untuk mengunjukkan pada sijuwita bahwa dia tiada sedikitpun mempunyai perasaan apa2 terhadap sigadis nelayan, The Go lupa akan rasa kasihan lagi.
Apalagi sememangnya dia itu seorang yang berwatak kejam ganas, seketika itu timbullah rencananya yang jahat.
Dengan menyeringai, dia segera mendamprat .
"Budak hina yang tak punya malu?"
Demi mengetahui tindakan The Go itu, cemaslah Ciok jisoh. Ia cukup kenal keganasan orang she The itu, yang berani melakukan segala macam perbuatan jahat.
"Orang she The. kau berani menghina adikku?"
Serunya cemas sembari lari menghampiri, namun sudah terlambat. Karena pada saat itu, tampak The Go mengangkat kakinya kanan. Dengan lututnya dia bentur dada sinona, sembari lepaskan cengkeramnya tadi.
"Aduh...."
Hanya sekali mulut Siau-lan merintih tubuhnya sudah segera rubuh terlentang kebelakang..........
Syukur tepat pada saat itu, Ciok jisoh sudah tiba disitu, sehingga terus dapat menyanggah tubuh adik iparnya.
Melihat tindakan yang kejam itu, bukan saja Ciok jisoh, pun Kiau To, Tio Jiang dan Yan-chiu yang berwatak jujur perwira itu, marah sekali.
Baca Juga: Hikmah Pedang Hijau 8
Baca Juga: Kisah Dua Saudara Seperguruan 2