Naga Dari Selatan 3

Eps 3 Naga Dari Selatan - Liang Ie Shen

Baca online Naga Dari Selatan - Liang Ie Shen

Cersil Naga Dari Selatan - Liang Ie Shen.

"Lian-moay, kau anggap aku ini juga seorang siaojin yang rendah martabatnya bukan? Huh, aku ini juga seorang yang memikirkan akan nasib saudara2 sebangsa!"

GAMBAR 18 Dibawah cumbu-rayu The Go yang cakep ganteng, Bek Lian menjadi kelelap dimabuk cinta. Dalam bualan sianak muda yang pandai merayu itu, Bek Lian seperti diayun dalam sorga ketujuh.

"Betul?"

Tanyanya.

"Kalau aku yang mengantar tentara Ceng, rahayat tentu takkan menderita kerusakan. Tapi coba pikirkan, orang2 Thian Te Hui itu bagaikan kawanan burung2 yang hendak membentur ber-laksa2-tentara pilihan Ceng yang bersenjata lengkap. Bukankah hal itu berarti hendak 'mengadui telur dengan ujung tanduk' ? Bukankah hal itu akan membawa malapetaka bagi rakyat Kwiciu?"

Bek Lian merenung sejenak dan merasa bahwa ucapan sianak muda itu memang beralasan juga.

Maka sekalipun hatinya memperotes, namun ia tak mau mengutarakan.

Dalam batinnya, terbit perkelahian sendiri.

Mengetahui sinona diam saja, The Go menduga kalau perangkapnya berhasil, maka dia segera alihkan lagi pembicaraannya .

"Lian-moay, sejak kita bertemu di Giok-li-nia, hati kita segera saling berkesan, inilah yang dibilang 'sekali lihat terus jatuh cinta'."

Walaupun merdu sekali Bek Lian mendengar senandung asmara yang didendangkan sianak muda itu, namun pura2 Bek Lian tarik lepas tangannya seraya berseru.

"Bah, siapa yang jatuh hati padamu?"

The Go tertawa riang, sahutnya.

"Siapa? Siapakah yang jatuh hati kepada Cian-bin Long-kun The Go? Tak lain siapa lagi kalau bukan sijelita yang ilmusilatnya tinggi, wajahnya bagaikan bidadari yang bernama Say-hong-hong Bek Lian !"

Bek Lian betul'2 dinina-bobokkan oleh rayuan asmara. Dalam gelak senyum sarinya madu, kedua pemuda itu berpelukan lagi dengan mesranya. ,Lian-moay, kita takkan berpisah lagi bukan?"

Mendengar itu Bek Lian hanya mengangguk saja.

"Lian-moay, mari kita, lanjutkan perjalanan lagi,"

Bujuk The Go.

"Kemana?"

Tanya Bek Lian agak terperanjat.

"Ke Hokkian!"

Setelah mengalami perjuangan batin sampai sekian saat, memang Bek Lian merasa tak dapat berpisah dengan orang muda yang menjadi tambatan hatinya itu.

Kalau tadi ia tak berjumpa, apa boleh buat ia, terpaksa harus tunggu sampai hari Pesta Air (Pehcun) tahun depan.

Tapi karena kini sudah saling berjumpa, ditambah pula keduanya telah mencurahkan isi kalbu masing2, kalau disuruh berpisah lagi, aduh, rasanya dunia ini seperti berhenti berputar.

Maka dengan menghela napas, akhirnya meluncurlah penyerahan bersyarat.

"Kalau ketahuan ayah, bagaimana nanti?"

"Mana dia bisa tahu? Taruh kata tahupun masakan kau maukan dia dan membuang aku?"

"Ah, aku maukan kau!"

Buru2 Bek Lian memutus kata2 sang kekasih.

The Go tertawa sejenak.

Puas dia dengan kemenangannya.

Itulah pembaca!

Kalau orang sudah dimabuk asmara.

Lupa sudah akan ajaran orang tua yang berbudi luhur, berwatak ksatrya seperti Ceng Bo Siangjin.

Lupa sudah ia akan kepatuhannya terhadap seorang ayah yang telah merawat, membesarkan dan memanjakannya dengan lautan kecintaan.

Ibarat matipun rasanya masih belum cukup Bek Lian untuk membalas budi sang ayah itu.

Begitulah ringkasnya saja, The Go lalu memimpin Bek Lian diajak menuju kearah barat.

Bek Lian seperti patung yang tak mempunyai kesadaran pikiran sendiri.

( Oo-dwkz-TAH-oO) Begitu keluar dari rimba itu, se-konyong2 disebelah muka sana terdengar ada orang ber-kata2.

Anehnya, nada suara orang itu bukan orang lelaki bukan pula perempuan, tajamnya sampai menusuk keanak telinga.

Keduanya melengak, tak kira mereka kalau disitu ternyata ada lain orang lagi.

Teringat akan perbuatannya tadi, merahlah selebar muka Bek Lian.

Pada lain saat, kedengaran orang itu mengoceh sendiri .

"Siapa? Siapakah yang jatuh hati padaku si Pengemis Wajah Selaksa ini? Huh, kiranya dia itu Say-ya-jat (Hantu malam) yang ilmu silatnya biasa saja, wajahnya jelek sekali !"

The Go teringat, dalam perjalanan tadi dia selalu dipermainkan orang.

Seketika tampillah kemurkaannya.

Dia andalkan ilmu silatnya yang tinggi, apalagi dihadapan Bek Lian, maka serentak membentaklah dia keras2 .

"Siapakah yang dimuka situ? Main sembunyi seperti setan itu, model orang persilatan mana?". Orang itu tak marah, sebaliknya malah tertawa cekikikan. Dengan suara melengking macam anjing digebuk, berserulah dia .

"At! Aku kan hanya mengatakan kalau si Pengemis Wajah Selaksa saling jatuh cinta dengan Say-ya-jat, adakah itu mengganggumu?"

Nada suaranya dart pelan menjadi makin nyaring. Malah perkataan yang terakhfr "adakah itu mengganggumu?"

Itu, diucapkan dengan tekanan suara yang tinggi nadanya.

Menyusul dengan itu tiba2 sesosok tubuh melesat muncul, sehingga saking kagetnya The Go lekas2 tank tangan Bek Lian inundur beberapa langkah.

Ketika diawasi dengan perdata, kiranya dia itu seorang lelaki yang dandanannya macam seorang pengemis.

Muka kotor penuh daki, tingkah lakunya menggelikan orang.

Bek Lian terkesiap, rasanya la kenal dengan wajah orang itu.

Ya, bukankah dia itu siorang aneh yang ber-sama2 Yan-chiu tempur ketiga persaudaraan Cho ketika diatas luitay itu?

Oleh karena kesannya dalam pertandingan luitay itu siorang aneh tersebut hanya berloncatan kian kemari dan sedikitpun tak mengunjukkan Ilmu kepandaian yang mengagumkan, maka Bek Lian agak tak memandang mata padanya.

Sebaliknya mata The Go yang lebih akhli, segera mendapat tahu bahwa dari gerakan siorang aneh yang sedemikian lincahnya tadi, dia segera mendapat kesimpulan bahwa yang mempermainkan selama dalam perjalanan tadi, tentulah dianya.

Maka siaplah dia dengan kipas, seperti kalau dia sedang berhadapan dengan seorang musuh yang tangguh.

Begitu munculkan diri, orang aneh itu hanya mengawasi saja kepada Theo Go dan Bek Lian, dari ujung kaki sampai keatas kepala.

Sikapnya tampak kurang senang.

Kini dia kelihatan maju menghampiri kedekat Bek Lian.

Bek Lian dan Yan-chiu berlainan perangainya.

Bek Lian angkuh, Yan-chiu peramah.

Melihat orang itu mesum dengan kotornya, Bek Lian agak merasa jijik.

Tiba2 orang aneh itu mendongak tertawa.

"Aii, mengapa melihat Ban-bin Kiau-hua (Pengemis Berlaksa Wajah) lantas jemu, tapi memandang Cian-bin Long-kun (Si jejaka Wajah Seribu) merasa senang."

Diam2 The Go mendapat kesan, walaupun orang itu sikapnya seperti orang tak waras, tapi ilmunya mengentengi tubuh sakti sekali, jadi tentunya seorang cianpwe dalam dunia persilatan.

Maka dengan serta merta dia menjurah untuk memberi keterangan.

"Ban-bin Kiau-hua, kami berdua sedang mempunyai urusan penting, kalau sekiranya cianpwe tiada akan memberi pengunjukan apa2, silahkan lanjutkan perjalanan."

"Aii, kau mempunyai urusan? Jalan saja, siapa yang menghalangimu. Aku hanya hendak mengatakan disini, bahwa diseberang tepi sungai utara sana, aku melihat ada seorang imam tua tengah2 ber-lari2 seperti dikejar setan. Hal itu, nanti hendak kuceritakan pada Say-ya-jat-ku. Siapakah yang menghadang perjalananmu?"

Betapapun pandainya The Go berputar lidah, tapi saat itu dia bungkam dalam seribu bahasa.

Benar juga orang itu tak menghadang jalannya, maka legahlah hati The Go.

Tapi Bek Lian berdebar hatinya.

Yang dimaksudkan dengan seorang imam tua oleh orang aneh tadi, tentulah ayahnya.

Teringat seketika itu, bahwa dia ditugaskan oleh sang ayah untuk menghalangi perginya The Go ke Hokkian.

Tapi ternyata sekarang ia malah ikut serta dengan anak muda itu.

Ah, bagaimana nanti dia akan mengatakan pada, sang ayah?

"Tunggu sebentar!"

Katanya serentak.

"Tunggu apa lagi?"

Tanya The Go.

"Ayahku ....... dimana imam tua itu sekarang?"

Tanya Bek Lian kepada siorang aneh. Orang itu dongakkan kepalanya melihat kelangit, ujarnya.

"Entahlah, aku tak tahu. Tapi kalau kau mau balik mencarinya, tentu ketemu."

Seketika itu terkilaslah dalam hati Bek Lian untuk bersuit panjang memberitahukan pada sang ayah, agar The Go jangan sampai mengundang tentara musuh.

Tapi terkilas pula lain suara hatinya, bahwa begitu sang ayah datang, sudah tentu akan bertempur dengan The Go.

The Go tentu bukan tandingan sang ayah, Taruh kata bisa lolos, baginya pun sukar lagi untuk bertemu dengan anak muda itu.

Memikir sampai diaini, diama is, mencuri lihat kewajah sang kekasih, siapa nampaknya juga gelisah tengah memandangnya.

Dalam pertentangan batin yang hebat itu, akhirnya suara sang hatilah yang menang, katanya.

"Engkoh Go, mari kita, jalan la,gi!"

Tadi The Go sudah gelisah, kini girangnya bukan terkira. Tapi siorang aneh itu kedengaran menghela napas panjang, katanya.

"Kalau Tuhan yang menjelmakan sidurjana, dia masih berhak hidup. Tapi kalau orang yang menjelma jadi durjana, dia tak harus hidup. Nona, ingatlah kata2ku hari ini !"

Habis berkata begitu, siorang aneh itu dengan pe-lahan2 ayunkan langkahnya.

Nampaknya saja berjalan pe-lahan2 tapi toh dalam sekejab mata saja, dia sudah tak nampak dari pemandangan.

The Go legah sudah hatinya, walaupun ada sedikit halangan namun tampaknya urusan akan berhasil baik.

Dengan girang dicekalnya tangan sinona erat2.

"Lian-moay, malam ini kita, bersatu dan selanjutnya takkan berpisah untuk se-lama2nya."

Bek Lian seperti orang mabuk arak.

Benar kata2 orang aneh itu menyayat hatinya, tapi hanya sekejab saja, hilang tertiup angin.

Menatap kearah The Go, dia tampak kemalu2an, tapi hatinya merasa bahagia sekali.

Begitulah dengan bergandengan tangan, kedua muda-mudi itu ber jalan kearah barat.

Selama dalam perjalanan itu, masing2 seperti tak mau berpisah satu sama lain.

Walaupun demikian, dalam kebatinan masing2 tengah mempunyai lamunan sendiri.

The Go melamun, Li Seng Tong congpeng dari pimpinan tentara Ceng itu kabarnya pandai memakai orang.

Dia sendiri serbaguna (pandai silat pandai sastera), tentu akan mendapat kedudukan yang setimpal.

Dia tentu dapat mendirikan pahala, akhirnya mendapat pangkat tinggi.

Hari kemudiannya gilang gemilang, dapat pangkat dapat isteri cantik.

Hm, betapakah nikmatnya penghidupan ini.

Demikian pikirannya.

Sedang Bek Lian tetap masih terkenang akan ayahnya.

Tapi demi melihat The Go itu orangnya pandai bermain senyum, cakap merangkai kata2, sikapnya begitu menyinta dan senantiasa penuh dengan kasih mesra, terhiburlah hati Bek Lian.

Maka selama dalam perjalanan sejauh itu, iapun tak merasakan capai.

Baru ketika matahari terbit dari sebelah timur, mereka saling lepaskan tangan, karena merasa likat kalau dilihat orang.

Setelah melalui kota Tang-wan, kemudian Hui-ciu, besoknya siang mereka memasuki daerah gunung Hoa-san.

Daerah itu terletak di sebelah timur dari Kwitang, sangat luas sekali.

The Go tahu bahwa didaerah situ banyak sekali orang2

"keras" (akhli persilatan) yang keluar masuk. Tapi yakin akan kepandaiannya sendiri. The Go tak kuatir. Untuk memburu perjalanan, malam itu tak mau dia beristirahat. Hari itu adalah tanggal 13 bulan 11, jadi rembulan mengunjukkan wajahnya yang penuh. Memasuki sebuah rimba, mereka berdua ber-gegas2 menempuh perjalanan. Selama dalam perjalanan sehari semalam itu, makin tetap hati Bek Lian bahwa pilihannya kepada The Go itu, tak salah. Dan dengan seni-rayuannya yang lihay, berhasillah The Go merebut betul2 hati sijelita itu. Tiba2 terasa ada angin meniup dan dilangitpun tampak tebaran awan hitam, menutup rembulan. Dalam suasana yang segelap itu, Bek Lian agak jeri dan makin menempel sang kekasih rapat. Berjalan tak berapa jauh, awan dilangit makin tebal, malah disekitar situ hawanya lembab, agaknya turun kabut.

"Lian-moay, rupanya kita terpaksa harus beristirahat,"

Kata The Go.

Bagi Bek Lian, kemana saja asal bersama The Go, la menurut saja.

The Go sulut api untuk menyuluhi disekitar tempat situ.

Kebetulan tak jauh dari situ tampak ada sebuah goa besar yang tentunya tidak ditinggali oleh bangsa binatang buas.

Kesanalah The Go ajak Bek Lian.

Karena suasana sangat gelap dan berhubung perjalanan masih jauh The Go tak mau boroskan api, maka dengan susah payah ahirnya dapatlah mereka mencapai goa itu.

Saking kurang tidur dan keliwat lelah, maka begitu masuk kedalam goa, Bek Lian terus menerus menguap.

"Lian-moay, kau tidurlah disini, besok terang tanah kita lanjutkan perjalanan lagi,"

Kata The Go.

"Engkoh Go, kalau aku tidur, jangan kau nanti tinggalkan aku !"

"Biarpun leherku dipanggal, aku tentu tak mau berpisah denganmu,"

The Go tertawa menghibur.

Bek Lian puas hatinyanya, tak antara lama tidurlah ia dengan nyenyaknya dipanggiran sianak muda.

The Go yakin dalam suasana segelap itu, tentu takkan ada binatang buas keluar berkeliaran, maka diletakkannya kepala sinona keatas tanah, karena dia sendiripun kepingin tidur, tapi pada lain saat dia batalkan niatnya itu, karena kuatir jangan2 Bek Lian terbangun dan nantinya akan marah hingga membikin gagal urusan.

Maka terpaksa dia duduk didekat situ saja.

Tapi baru dia duduk agak tenang, atau tiba2 terasa ada sesuatu yang luar biasa.

Alat pendengaran dan penglihatan dari seorang yang meyakinkan ilmu silat, tentu tajam sekali.

Sewaktu masih dalam kandungan, ayah The Go sudah meninggal.

Ayah dan ibunya itu adalah murid2 kesayangan Ang Hwat cinjin dari gereja Ang Hun Kiong.

Begitu mengetahui dirinya mengandung, ibunya lalu menyalurkan lwekangnya untuk memperkuat tubuh sang anak.

Maka, tak heranlah kiranya, dalam usia baru 24 tahun saja, The Go itu sepertinya sudah mempunyai peyakinan ilmu silat selama 24 tahun, karena disebabkan begitulah halnya.

Pada saat itu dirasanya dalam goa situ terdapat seseorang lagi.

Betapapun halusnya pernapasan orang itu, namun tertangkap juga oleh alat pendengarannya.

Bermula dipikirnya kalau hembusan napas Itu dari Bek Lian, tapi sewaktu diperiksa kedekat hidungnya, ternyata bukan.

Sudah tentu terperanjat The Go sukar dilukiskan.

Dapat masuk kedalam goa tanpa diketahui orang yang berada disitu, adalah suatu kepandaian yang luar biasa.

Ah, jangan2 siorang aneh itu lagi yang mengadu biru.

Maka The Go tak berani bergerak atau menyulut apinya, melainkan menantikan perkembangan lebih lanjut.

Tak berapa lama, kedengaran orang itu makin mendekati, seperti tengah berlarian dalam goa sebelah tengah sana.

Tapi anehnya, sedikitpun tak terdengar suaranya apa2.

Sampai disitu, timbullah rasa takut dihati The Go.

Adakah betul2 yang disebut setan rimba itu benar ada?

Karena seorang akhli yang bagaimanapun hebat ilmunya mengentengi tubuh, tapi tetap akan kedengaran derap kakinya, meskipun betapa halusnya.

Dirangsang oleh rasa takut, dengan hati2 sekali The Go beringsut beberapa langkah dari tempat Bek Lian tidur, namun "setan"

Itu agaknya dapat juga mendengar gerakannya itu, karena dengan se-konyong2 diapun berhenti diam.

The Go menjadi jengkel.

Dia sedang melakukan tugas penting, se-kali2 tak boleh terhenti disitu.

Karena bukan saja impiannya akan kosong, malah kalau ketemu dengan musuh tangguh, salah2 dia nanti terkubur digunung belantara situ.

Memikir akan kepentingan diri sendiri, rasa cintanya terhadap Bek Lian menurun beberapa derajat.

Maka dengan ber-ingsut dia bergerak beberapa tindak lagi, jaraknya makin jauh dari Bek Lian.

Bagi orang yang bersalah tentu ada2 saja gangguan perasaannya.

Se-konyong2 dilihatnya diantara kegelapan tempat situ berkelebat sebuah sinar terang.

Menurut perasaannya, itulah tentu pancaran sinar dari sepasang mata Bek Lian.

Tapi ketika diawasinya dengan seksama, ternyata tak ada apa2 kecuali kegelapan malam.

Diam2 dia memaki dirinya sendiri.

"The Go, The Go! Pantaskah kau hendak tinggalkan ia?"

Pertanyaan itu dijawabnya sendiri .

"Seorang juwita yang begitu cantik, walaupun dunia ini lebur, tapi sukarlah dicari keduanya. Ah, tak pantaslah kalau meninggalkannya!"

Tapi pada lain saat, terkilas pula lain pikiran dan bertanyalah dia kepada dirinya.

"Hai, The Go! Kalau kau sendiri berparas cakap, sekalipun gadis itu lebih cantik dari ia sekarang, apakah gunanya bagimu? Pepatah mengatakan . asal masih ada gunung yang hijau, masa takut tak ada kayu bakar. Apakah betul2 dunia ini hanya sedaun kelor saja, tiada lain gadis cantik yang melebihi itu?"

Pertentangan hebat terjadi dalam batinnya. Lewat beberapa saat, dia tertawa sendiri.

"Ah, suara napas tadi begitu lemahnya, terang bukan dari orang tapi dari binatang kecil. Mengapa aku ketakutan setengah mati sendiri, gila aku ini!"

Dari alam pikiran orang she The itu, terang sudah kalau dia itu hanya mengutamakan kepentingan diri sendiri.

Cinta?

Ah, tahulah baginya.

Cinta hanyalah semacam pakaian, yang sembarang waktu boleh dibuang kalau sudah jemu.

Kasihan Bek Lian, nona cantik yang bernasib malang itu, karena jatuhnya pilihannya ditempat yang keliru.

Untuk itu.

kelak ia akan menebus dengan penderitaan yang hebat!

Dengan anggapannya tadi, The Go kembali kedekat Bek Lian lagi dan coba meramkan matanya untuk tidur.

Tiba2 dari luar gua ada serangkum angin malam meniup masuk.

Angin itu terasa dingin sekali sampai menusuk kedalam hidung.

Dengan ter-sipu2 buru2 The Go hendak menyingkir kesamping, tapi saking gugupnya bajunya telah kecantol (terkait) pada ujung batu gua yang runcing, hingga robek sampai setengah bagian.

Suara baju robek itu, dalam kegelapan suasana malam yang sunyi, telah menerbit kumandang, yang keras.

Cepat2 The Go bersiap dengan kipasnya, tapi sampai sekian saat tak terjadi suatu apa.

Malah pada saat itu terdengarlah Bek Lian menggeliat seraya menggigau daIam mimpinya.

"Engkoh Go, jangan tinggalkan daku!"

Dengan tiupan angin yang meruntuhkan nyalinya tadi, The Go makin keras dugaannya, kalau didalam gua situ tentu terdapat seorang lihay yang berilmu tinggi.

Entah kawan entah lawan.

Dengan gunakan kepandaiannya mengentengi tubuh, hati2 sekali dia mondar-mandir didalam situ, untuk coba2 memancing apakah orang ketiga itu dapat mendengarnya.

Sampai sekian saat ternyata tidak terjadi perobaban apa2.

Tapi kini jelas didengarnya, kalau suara napas orang itu berada didekat Bek Lian tidur.

Buru2 dia menghampiri ketempat Bek Lian yang terletak didekat mulut gua.

Se-konyong2 serangkum angin malam menyerang lagi kearah mukanya.

Malah samar2 dilihat ada sesosok bayangan berkelebat.

Dari perawakannya, orang itu bukan seperti siorang aneh tempo hari itu.

Kini The Go tak sangsi lagi.

Begitu kipas digerakkan, secepat kilat terus ditutukkan kearah jalan darah yu-bun-hiat dari bayangan hitam itu.

Diluar dugaannya, sebat sekali bayangan hitam itu menghindar terus melesat kebelakangnya.

Buru2 The Go putar tubuhnya, tapi kalah cepat.

Rambutnya telah dijambak oleh sebuah tangan yang kuat dan terdengarlah suara seorang wanita menghardiknya.

,Siapakah nona itu?"

Nada suaranya itu seperti menembus pecah anak telinga The Go, siapa dengan sebatnya terus memutar tubuh untuk melepaskan jambakan orang itu.

Tapi wanita itu bagaikan bayangan saja, selalu lebih cepat dapat berada dibelakangnya, malah perkeras juga jambakannya.

Tahu akan kelihayan orang, serta merta The Go membuka mulutnya.

"Locianpwe sukalah kendorkan pegangan, ia adalah kekasihku."

"Hm,"

Wanita itu tertawa dingin.

"Siapakah namanya?"

Pikiran The Go bekerja.

Kalau sekiranya wanita itu terikat permusuhan dengan keluarga Bek Lian, bukankah dirinya sendiri nanti akan celaka?

Ah, mengapa tadi dia berterus-terang mengatakan Bek Lian itu kekasihnya!

Karena kesangsiannya itu, dia agak berayal memberi penyahutan dan tahu2 lengannya kiri telah dicengkeram oleh tangan siwanita.

Sakitnya bukan kepalang seperti dijepit besi.

Buru2 dia empos semangatnya untuk bertahan.

"Lekas bilang, siapakah namanya?"

Bentak siwanita itu dengan bengisnya.

"Ia orang she Bek namanya Lian, puteri dari Ceng Bo siangjin!"

The Go tak berlaku ayal lagi.

"Siapakah Ceng Bo siangjin itu?"

Tanya siwanita pula.

"Tokoh yang pada 10 tahun berselang menggetarkan dunia persilatan dengan nama Hay-tee-kau. Ceng Bo Siangjin adalah namanya setelah dia menyucikan diri menjadi Imam."

Wanita itu melengak sejenak, cengkeran2nya pada lengan The Go pun dikendorkan, kemudian mulutnya kedengaran kemak-kemik berkata sendiri .

"Hay-te-kau, hoan-kang-to-hay (nama ilmu pedang), kini tiba2 menjadi Ceng Bo siangjin, jadi berarti dia sudah tak menghiraukan peristiwa 'hoan-kang-to-hay' (membalik sungai menjungkirkan Iangit) yang lalu lagi."

Tak tahu The Go apa yang dikatakan oleh wanita itu.

Yang diperhatikan, adalah cengkeram wanita itu sudah kendor, maka sekali meronta dapatlah dia terlepas sama sekali dari cengkeram besi itu, enjot tubuhnya terus melesat satu tombak jauhnya.

Gerakan The Go itu amat cepat sekali, tapi siwanita lebih cepat lagi.

Belum kaki si The Go menginjak tanah, atau begitu ada angin menyamber, dia rasakan pinggangnya dicengkeram orang, sehingga hampir saja dia ter-huyung2 jatuh kemuka.

Dengan sigapnya dia bangun, tapi pinggangnya tetap tercengkeram oleh siwanita.

The Go mengeluh dalam hati.

Syukur cengkeram wanita itu tak keras, jadi hanya ingin menahannya saja, tak bermaksud membunuhnya.

The Go yang cerdik segera dapat mengetahui maksud orang.

Nyalinyapun timbul lagi.

"Locianpwe, apakah hendak memberi pengunjukan padaku?"

Tanyanya dengan lantas.

"Siapakah kau ini?"

"Aku yang rendah ini bernama The Go, cucu murid Ang Hwat cinjin dari gereja Ang Hun Kiong,"

Sahutnya. Diluar dugaan The Go, wanita itu segera berkata.

"Akupun pernah bertemu dengan beberapa murid dari Ang Hwat cinjin. Kau mengaku menjadi cucu muridnya, mengapa kepandaianmu sebagus itu?" , Kiranya wanita itu adalah seorang cianpwe yang berilmu tinggi. The Go sesalkan dirinya tadi mengapa telah mengeluarkan kepandaian, hingga dapat dikenal oleh wanita Itu.

"Hopwe (aku yang rendah) karena mengetahui berbakat jelek, lalu belajar dengan rajin, sehingga dapat lebih maju dari lain saudara seperguruan."

Wanita itu tertawa, ujarnya.

"Kau tidak tolol tapi cerdik sekali!"

Mendengar nada ucapan siwanita itu tak mengandung maksud jelek terhadap dirinya, legahlah hati The Go.

"Mengapa kau dengan Lian......... gadis she Bek itu bersama2?"

Tanya siwanita pula. Belum lagi The Go menyahut, atau disana Bek Lian sudah terbangun. Karena tak didapatinya The Go berada disamping situ, bertereaklah gadis itu.

"Engkoh Go, kau berada dimana?"

"Lian-moay, aku berada disini, jangan takut!"

"Engkoh Go, kemarilah, aku tak dapat melihat kau,"

Kembali Bek Lian menereaki.

The Gopun segera mengiakan, tapi karena pinggangnya dicengkeram siwanita, terpaksa dia tak dapat bergerak.

Tengah dia bingung apa yang harus diperbuat, tiba2 siwanita itu kedengaran berbisik.

"Kalau kau sanggupi dua hal yang kuajukan, akan kulepaskan!"

"Apakah itu?"

Tanya The Go dengan kegirangan. Tapi ternyata percakapan itu dapat didengar juga oleh Bek Lian, siapa lalu buru2 bertanya.

"Engkoh Go, kau ber-cakap2 dengan siapa itu ?"

Baru The Go hendak menyahut, tiba2 terasa pinggangnya dicengkeram makin kencang dan segera kedengaran siwanita berkata.

"Pertama, kalau kau berani mempermainkan nona Bek, meskipun kau sembunyi keujung dunia, tentu tetap akan kucari untuk mencabut jiwamu. Kedua, se-kali2 kau tak boleh mengatakan pada lain orang bahwa kau bertemu dengan aku ditempat ini. Sekalipun nona Bek itu juga tak usah tahu. Mengerti?"

The Go anggukkan kepalanya, dan wanita itu lepaskan cengkeramannya. Hanya seperti kelebat bayangan saja The Go melihatnya, atau wanita luar biasa itu sudah menghilang lenyap.

"Engkoh Go, mengapa kau belum kemari ?"

Bek Lian berseru lagi.

Atas itu, ber-gegas2 The Go menghampiri.

Ternyata disitu Bek Lian masih berbaring ditanah.

Ah, gelap nian tempat itu, betapa enaknya kalau berbaring juga disitu pikir The Go yang terus segera duduk disamping sinona, sembari tangannya merabah pipi orang.

"Kau kenapa?"

"Ah, aku bermimpi,"

Sahut Bek Lian setelah termenung sekian saat.

"Mimpi bertemu siapa?"

Tanyanya menggoda. Juga sampai sekian saat Bek Lian diam dulu, baru kemudian berseru dengan mengkal.

"Huh, tak perlu tahu !"

"Ha, ia tentu bermimpi ketemu dengan aku,"

Pikir The Go. Siapa lalu menggodanya lagi.

"Kutahu sudah !"

"Tahu apa?"

"seorang yang cakap yang selalu dikenang dalam kalbu, bukan?"

Kata The Go dengag pelan dan atas itu pecahlah ketawa dari mulut sinona yang mungil, siapa terus bangkit menuju keluar goa.

Karena kala itu cuaca sudah terang, maka Bek Lian pun segera terus berjalan kemuka.

Walaupun selama dalam perjalanan itu, dua kali The Go.

berjumpa dengan dua orang aneh yang telah membuat terkejut dan mempermainkannya, namun dengan sudah mendapatkan hati sijelita itu, puaslah sudah hatinya.

Keesokan harinya, tibalah mereka di Hokkian.

Tapi apa yang dilihatnya, disepanjang jalan sungguh membuat mereka terkejut.

Laki2 dan perempuan2 sama ber-bondong2 menuju ketimur.

Kiranya meskipun tentara Ceng belum resmi masuk ke Kwitang, tapi sudah ada sementara kerucuknya yang mengganas diperbatasan, merampok harta benda rakyat, mencemarkan orang2 perempuan dan lain2 perbuatan se-wenang2.

Pembesar2 pemerintah Beng setempat siang2 sudah angkat langkah seribu.

Begitu karena tak berdaya, rahayat sama ber-duyun2 mengungsi kearah timur.

Melihat pemandangan itu, Bek Lian merasa kurang senang, sebaliknya The Go buru2 mengatakan.

"Lian-moay, mari kita lekas2 bertindak. Begitu tentara Ceng sudah masuk kewilayah Kwitang, rahayat tentu takkan menderita lagi."

Bek Lian kena diomongi manis.

Tak berapa lama kemudian mereka masuk kewilayah Hokkian.

Melihat kedatangan The Go yang minta menghadap Li tayjin, salah seorang opsir Ceng segera memberikan dua ekor kuda untuk mengantarnya ke Hokciu.

Dengan tiada halangan suatu apa, dibawalah The Go menghadap Li Seng Tong congpeng.

The Go segera serahkan surat peribadi dari Ko Tiau Cian.

Habis membaca, Li Seng Tong segera menanyai lebih lanjut dan The Gopun memberi keterangan.

"Li tayjin, asal Kwiciu sudah jatuh, fihak Lam Beng tentu akan kocar-kacir, dan dengan mudah tayjin tentu akan dapat menduduki Kwitang."

Li Seng Tong sebenarnya adalah pembesar militer dari kerajaan Beng.

Karena pemerintah Beng pada waktu itu sangat korup, sana sini main sogok jual beli kenaikan pangkat, maka dia merasa putus asa untuk menanjak ketempat yang tinggi.

Ketika tentara Ceng menyerang wilayah Beng, dengan hanya mempunyai beberapa ratus serdadu tua dan lemah, dia telah mempertahankan daerah Tongkwan dengan gigih sekali, sehingga berhasil memukul mundur fihak penyerang.

Pemerintah Ceng terperanjat.

Mereka menduga disitu tentu terdapat seorang jenderal pandai, maka dengan berbagai jalan akhirnya dapatlah akhli perang yang cemerlang itu ditangkap hidup2an.

Dengan cara halus, Li Seng Tong dapat dibujuk untuk menakluk dan malah diangkat menjadi congpeng (panglima perang) Kerajaan Ceng.

Benar juga pilihan pemerintah Ceng itu tepat sekali.

Li Seng Tong seorang panglima yang pandai sekali menggunakan tentara, akhli strategi yang jempol.

Berkat kecerdasannya, daerah demi daerah dapat diduduki dan akhirnya masuk ke Hokkian dan kini tengah merencanakan penyerbuan ke Kwitang dan Kwisay.

Dia setuju atas keterangan The Go.

Cepat dia serahkan 300 tentara pilihan pada The Go untuk menyerang Kwiciu.

Kepada The Go dia memberi pujian hangat dan menjanjikan kedudukan tinggi apabila kedua wilayah itu berhasil didudukinya.

The Gopun segera bertindak cepat.

Dia suruh ke 300 tentara pilihan itu menyamar menjadi anak kapal, sedang dia bersama Bek Lian menyaru menjadi saudagar kaya.

Rencana The Go, yalah hendak gunakan jalan diair menyerang Kwiciu, itu tentu tak dapat diketahui musuh.

Sebagai bajak dari Laut Selatan, sudah tentu mahir sekali The Go dalam urusan pelayaran.

Dalam sehari semalam saja, perahunya sudah tak jauh dari tempat yang dituju.

Kira2 satu setengah hari lagi, tentu akan sudah tiba di Kwiciu.

Kala itu lamunan The Go meninggi langit.

Berdiri tegak diatas geladak, dia jauh memandang kemuka laut, mulutnya tak putus2nya memberi aba2 atau bersuit keras, sikapnya garang sekali, se-olah2 dunia ini dia yang punya.

Sedang Bek Lian yang berdiri disamping, merasa bahwa sang kekasih itu benar2 seorang muda yang gagah perwira.

Makin bahagialah perasaan nona itu.

Selagi kedua anak muda itu memberi komando pada awak kapal, sembari diseling dengan gelak ketawa riang, tiba2 The Go berteriak kaget.

"Astaga, aneh !"

"Ada apa engkoh Go?"

Tanya Bek Lian. Tapi sebaliknya dari menyahut, The Go cepat berpaling kebelakang seraya bertereak memanggil.

"Po tayjin!"

Yang dipanggil Po tayjin itu, adalah pemimpin dari ke 300 tentara pilihan itu.

Namanya lengkapnya yalah Po Tho, seorang Boan.

Pertama kali melihat bagaimana serdadu2 Ceng itu sama memelihara kuncir, lelaki tidak perempuan bukan, Bek Lian menjadi geli.

Tapi demi membayangkan, bahwa nantinya apabila tentara Ceng sudah menduduki Kwitang, The Go dan semua orang lelaki juga akan memelihara rambut begitu, hati Bek Lian merasa sedih.

Tapi kesedihan itu bagaikan awan tertiup angin, apabila ia membayangkan kebahagiaan hidup disamping orang yang dikasihi itu.

Kala itu ke 300 serdadu Ceng itu sama menyaru menjadi penumpang kapal, kuncirnya sama digelung.

Tapi Po Tho sendiri yang tak mau berbuat begitu.

Namun The Go terpaksa mengalah juga, karena dia masih memerlukan tenaga orang itu.

Pada saat The Go memanggil tadi, Po Tho tengah menikmati pipa huncwe (pipa bambu).

Oleh karena telah dipesan oleh panglima (Li Seng Tong), Po Tho tak berani berlaku ayal, lalu buru2 menghampiri datang, serunya.

"The tayjin, ada apa?"

"Lekas perintah dua perahu kita yang berada dibelakang itu supaya kemuka, jangan terlalu ketinggalan jauh, mungkin bakal terjadi peristiwa."

Po Tho lakukan perintah itu.

"Engkoh Go, ada kejadian apa?"

Bek Lian ulangi pertanyaannya yang belum terjawab tadi.

"Tu lihatlah!"

Seru The Go menunjuk kemuka.

Bek Lian memandang kearah yang ditunjuk The Go.

Memang jauh disebelah muka, diantara gelombang laut yang ke-biru2an, tampak ada setitik benda hitam ber-ayun2 naik turun.

Karena tak mengetahui adanya hal itu, Bek Lian memandang The Go.

"Tu lihat lagilah!"

Seru The Go.

Begitu Bek Lian memandang kemuka lagi, kini benda kecil itu ternyata sudah makin mendekat, bagaikan sebatang pelepah pisang besar.

Makin dekat, nyata bukan perahu melainkan sebatang dahan kayu yang masih penuh dengan daun.

Rupanya dahan itu begitu dipotong terus dilemparkan kedalam laut, digunakan sebagai perahu.

Tapi itu sajah masih belum mengherankan, karena yang paling aneh yakni ternyata batang dahan puhun itu dinaiki oleh seorang yang tegak berdiri diatasnya.

Massa Allah!

Batang kayu itu bulat bentuknya, jadi timbul tenggelam saja didalam air, tapi toh orang itu dapat menaikinya dengan laju sekali menghampiri datang kearah perahu The Go.

Dapat berdiri dengan kokohnya diatas batang kayu bulat yang terapung didalam air, bagi The Go yang berpengalaman luas segera mengetahuinya, bahwa orang itu tengah menggunakan ilmu cian-kin-tui (tindihan seribu kati).

Tapi dapat menggunakan ilmu cian-kin-tui sedemikian lihaynya itu, juga jarang terdapat dalam kalangan akhli persilatan.

Oleh karena dihembus angin, maka perahu The Go pun dapat berjalan dengan laju sekali.

Demi dapat melihat jelas siapa yang berlayar dengan batang dahan puhun tadi, seketika pucatlah wajah The Go.

"Astaga!"

Serunya dengan tertahan.

Juga Bek Lian pun segera mengenal orang yang berbaju dan topi bintang serta menyekal sebilah tiang-kiam itu ternyata bukan lain ialah ayahnya sendiri.

Serasa terbanglah semangat Bek Lian dibuatnya.

Tengah kedua orang itu gelisah, batang puhun itu telah maju membentur badan perahu.

"Lian-moay, bersembunyilah kebawah ruang kapal sana!"

The Go menyuruh Bek Lian, siapa pun sudah terus hendak melakukan anjuran itu.

Tapi baru hendak melangkah turun kebawah, atau orang yang berada diatas batang puhun tadi kedengaran berteriak keras, sehingga Bek Lian menjadi tertegun sesaat.

Menyusul dengan benturan tadi, anak perahu menjadi gempar.

Ada yang menjerit2 mengatakan perahunya bocor, ada yang menyerukan ayah ibunya, ya pendeknya keadaan di perahu situ menjadi panik.

Orang2 sama berebutan naik ketangga tali untuk memanjat keatas kedua perahu yang disebelahnya.

The Go tak sempat meneriaki mereka supaya tenang, karena pada saat itu, melesat sesosok tubuh kehadapannya.

Itulah Ceng Bo siangjin dengan pedang terhunus tegak berdiri di-tengah2 The Go dan Bek Lian.

Melihat sang ayah, sesaat lupalah Bek Lian akan perbuatannya dalam beberapa hari ini, maju selangkah ia berseru memanggil.

"Tia, kau............"

Belum akhir kata "datang"

Diucapkan, Bek Lian segera mendapatkan bahwa wajah sang ayah ketika itu tampak bengis sekali, sehingga saking takutnya Bek Lian tak jadi mengucap kata2nya yang terakhir, terus mundur selangkah tak berani membuka mulut lagi.

Sepasang mata Ceng Bo siangjin, memancarkan sinar ber-api2.

Tanpa disadari, Bek Lian segera menggeser kedekat The Go, sehingga kini keduanya berdiri berjajar.

Yang satu seorang gadis cantik jelita, yang lain seorang pemuda cakap garang, sepintas pandang, memang merupakan suatu pasangan yang setimpal.

Tapi bagi Ceng Bo siangjin yang sudah dirangsang oleh api kemarahan karena mengetahui puterinya telah berbuat begitu rendah, kiranya sudah lupa akan segala apa.

Sebelum melanjutkan apa yang bakal terjadi diatas geladak itu, marilah kita tengok lebih dulu mengapa Ceng Bo dengan se-konyong2 bisa muncul disitu itu.

Kiranya setelah sampai terang tanah, dia tak dapat menemukan jejak The Go, maka dia mulai bersangsi dan kuatir akan diri Bek Lian.

Kalau betul orang she The itu mengambil jalan ditepi sungai yang sebelah utara situ, biar bagaimana cepatnya dia berjalan, tapi kalau dia (Ceng Bo) mengejar sampai semalam suntuk tentu akan dapat menyusulnya.

Jangan2 orang itu mengambil jalan ditepi sungai yang sebelah sana.

Tapi mengapa Bek Lian tak memberi pertandaan ?

Diam2 dia mengeluh, jangan2 puterinya mengalami hal2 yang tak terduga.

Maka dengan gunakan ilmu istimewa "teng ping tok cui", dia melintas sungai.

Kalau itu waktu setelah melintasi sungai, dia terus mengejar kearah timur, pasti akan dapat mencandak kedua orang itu.

Tapi karena tak menduga bahwa puterinya akan berbuat semacam itu dengan orang buronannya, maka Ceng Bo lebih dahulu mengejar kearah barat.

Baru setelah disana tak menemukan jejak apa2, dia balik mengejar kearah timur.

The Go dan Bek Lian memiliki ilmu berjalan cepat yang lumayan.

Dengan penundaan tadi, begitu Ceng Bo balik ketimur, The Go dan Bek Lianpun sudah tiba di Hokkian, terus berkuda menuju ke Hokciu.

Tiba di Hokkian, Ceng Bo kaget demi mendengar pembicaraan dari salah seorang penjaga pintu kota, bahwa ada seorang gadis cantik bersama seorang pemuda cakap masuk kekota situ.

Dalam dandanannya sebagai seorang imam, Ceng Bo menanyakan hal itu kepada sipenjaga, siapa karena mengetahui bahwa tentara Beng sudah ngacir pergi jadi tentunya mustahil akan ada mata2 musuh, lalu menceritakan tentang keadaan kedua pemuda pemudi (The Go dan Bek Lian) tadi.

Saking marahnya, hampir2 saja Ceng Bo terjungkal rubuh.

Tanpa menghiraukan bahwa kala itu adalah pada waktu siang hari, dia segera enjot tubuhnya dan dalam sekejab saja sudah melesat jauh sekali.

Hal mana telah membuat penjaga itu menjadi terlongong2 karena mengira kalau imam lawan bicaranya tadi adalah seorang dewa yang turun kedunia!

Bagaikan terbang, Ceng Bo menuju ke Hokciu.

Dia segera menyirepi kabar kegedung congpeng, tapi pada waktu itu (siang hari) tak berhasil mendengar berita apa2.

Malamnya dia lakukan penyelidikan lagi kesitu dan baru mengetahui bahwa The Go sudah berangkat menuju ke Kwiciu dengan membawa sepasukan tentara Ceng pilihan.

Ceng Bo cukup menginsyafi, bahwa Kwiciu itu adalah pusat jantung propinsi Kwitang.

Kalau Kwiciu jatuh, Kwitang tentu tak dapat dipertahankan lagi.

Malam itu juga dia ber-gegas2 menuju ketepi laut.

Tapi disitu dia tak dapat menemui sebuah perahu pun juga.

Semangatnya semasa muda timbul lagi.

Dengan mengeluarkan kekuatan sakti, dia berhasil dapat mencabut sebatang puhun sampai ke-akar2nya.

Batang puhun itu dilemparkan kedalam laut, lalu dia loncat berdiri disitu.

Dengan lwekangn ya yang aakti, dia meluncur ketengah laut, laju bagaikan sebatang anak panah terlepas dari busurnya.

Didalam gelombang laut yang naik turun itu, batang puhun yang bulat bentuknya itu turut diayun tinggi rendah, timbul tenggelam.

Betapa saktinya ilmu kepandaian Ceng Bo, namun tak kuasa juga dia menguasai perahunya yang istimewa itu.

Tapi meskipun demikian, batang kayu itu dapat meluncur lebih pesat daripada perahu rombongan The Go.

Tak antara berapa lama kemudian, Ceng Bo segera tampak adp, 3 buah perahu besar berlayar kearah tempatnya.

Salah sebuah perahu besar itu, tampak ada dua orang muda mudi tengah berdiri diatas geladak.

Tak salah lagi itulah The Go dan puterinya yang "manis"

Itu.

Bahwa The Go dapat melakukan perbuatan khianat itu, memang sudah diduga oleh Ceng Bo.

Tapi bahwa puterinya sendiri, sampai terpincut dengan orang yang hendak menjual negara itu, sungguh tak terpikirkan oleh Ceng Bo.

Maka begitu dia loncat keatas geladak perahu dan Bek Lian berseru memanggilnya tadi, Ceng Bo sudah menyambutnya dengan dingin2 saja, sepatahpun tak mau dia menyahutinya.

Dari kakek gurunya, Ang Hwat cinjin, The Go pernah diceritakan tentang kesaktian tokoh yang bergelar Hay-te-kau itu.

Dia yakin, gelar "Hay-te-kau"

Itu tentu berdasarkan bahwa ilmu air dari tokoh tersebut tentu lihay sekali.

Kalau menempuh jalan kekerasan, rasanya ke 300 serdadu pilihan diatas perahu itu, tentu bukan tandingannya Hay-te-kau (Naga dari dasar laut).

Malah dirinya sendiri pun pasti takkan terluput dari kebinasaan.

Satu2nya siasat yang tepat, yalah dengan gunakan diplomasi lidah, agar tokoh itu jangan sampai unjuk kekerasan.

Setelah rencananya tetap, dengan langkah lebar majulah The Go kemuka.

Begitu memberi hormat dengan membungkuk, dia berseru lantang2.

"Karena tak mengetahui akan kunjungan lopeh (paman) kemari, maka siaotit (keponakan) telah berlaku kurang hormat menyambutnya. Harap lopeh suka memberi maaf sebesar2-nya!"

Demi tampak Bek Lian berdiri berendeng dengan siorang she The, Ceng Bo siangjin sudah dapat menduga apa yang telah terjadi. Bahwa siorang she The menyebutnya "lopeh"

Dan membahasakan dirinya sebagai "siaotit"

Itu bukan meredakan hatinya, sebaliknya malah makin mengobarkan hawa kemarahannya.

Tapi sebagai seorang pertapa yang saleh, tak mau Ceng Bo me-maki The Go.

Tak mau dia menghiraukan tegur salam penghianat itu, sebaliknya tcrus bertanya kepada Bek Lian.

"Apakah artinya ini?"

Nampakh wajah sang ayah makin suram dengan bengisnya, Bek Lian bercekat.

Selama 19 tahun lamanya melayani sang ayah, belum pernah ia menampak wajah sang ayah sedemikian murkanya.

Kalau bercerita terus terang, tentu takkan mendapat keampunan lagi.

Belum berapa hari Bek Lian turun gunung, disana sini orang2 persilatan sama bercerita bagaimana pada 10 tahun berselang ayahnya itu sangat memusuhi sekali akan segala kejahatan.

Nama Hay-te-kau cemerlang diangkasa persilatan.

Dunia penjahat menjadi tergetar, apabila mendengar disebutnya nama Hay-te-kau itu.

Tapi mendadak sontak jago pemberantas kejahatan itu lenyap dari pergaulan ramai, seolah2 telah padam api perjuangannya, lalu masuk menjadi imam.

Hal mana telah menimbulkan keheranan dikalangan persilatan pada umumnya.

Diam2 Bek Lian bercekat hatinya.

Kalau saja api-semangat ayahnya itu berkobar pula, dia pasti takkan mempedulikan ikatan ayah dan anak, sanak atau kadang lagi.

Tapi bagaimana lagi, hatinya (Bek Lian) telah tertawan oleh sianak muda, tak dapat ia melawan suara kalbunya itu.

Maka sampai sekian saat timbullah pertentangan hebat dalam batinnya.

"Lekas bilang!"

Bentak Ceng Bo. Pada saat itu keadaan Bek Lian serba salah, maju celaka mundur tersiksa. la melirik kearah The Go, tapi sianak muda itu tak mau melihatnya.

"Ah, rupanya engkoh Go tak mau dilihat ayah kalau dia yang bermaksud memikat aku. Ini adalah untuk kebaikanku sendiri. Ah, sial amat, mengapa baru beberapa hari aku berbahagia didamping engkoh Go, ayah sudah lantas datang mengadu biru. Agaknya harapanku untuk berdamping selama-lamanya dengan engkoh Go akan buyar!"

Demikian Bek Lian me-nimang2 dalam hatinya.

Bagi hati yang menyinta, memang segala tingkah dan sikap dari jantung hatinya itu hanya dipandang dari sudut yang baik saja.

Pada hal sebenarnya mengapa The Go tak mau memandangnya tadi, adalah karena kelicinannya.

Melihat sikap Ceng Bo siangjin yang bengis itu, tahulah The Go urusan bakal menjadi runyam apabila dia dituduh membawa lari gadisnya.

Maka bersikaplah dia sedemikian rupa, agar Ceng Bo tak menyangka begitu.

Ha, licin betul si Wajah Seribu itu.

"Tia............."

Tiba2 Bek Lian mengucap, tapi belum sempat ia menyelesaikan kata2nya Ceng Bo sudah menukasnya .

"Hm............"

Bek Lian tertegun sejenak, lalu memaksa berkata lagi.

"Tia, aku aku........."

Sebenarnya Bek Lian hendak mengatakan "aku cinta padanya", tapi sebagai seorang gadis sudah tentu tak dapat ia mengucapkan kata2 itu dihadapan sekian banyak orang.

Malah seketika itu wajahnya menjadi merah dan menundukkan kepala.

"Hai, anak keparat...........! Anak keparat............!"

Hanya begitu Ceng Bo dapat menghamburkan kemarahannya, karena dia segera berpaling untuk menanya The Go.

"Cian-bin Long-kun, dalam orang2mu itu apakah ada serdadu Ceng?"

The Go tersentak kaget atas ketajaman mata Ceng Bo. Hendak dia menyangkal atau tiba2 dari sebelah belakang terdengar suara seruan keras.

"Hai, tosu, perlu apa kau datang kemari ?"

Amboi, itulah si Po Tho, thongleng dari pasukan Ceng, siapa masih tetap mengenakan pakaian seragam dan kuncirnya terkulai dibelakang.

Cepat2 The Go delikkan mata kepada opsir Ceng itu seraya memaki dalam hati.

"Manusia yang bosan hidup !"

GAMBAR 19 Sekali Ceng Bo Siangjin ayun tangan, perwira Ceng Itu dilemparkannya kelaut dalam keadaan menjerit2.

Tanpa banyak bicara, Ceng Bo melesat kesamping Po Tho, sekali ulurkan tangan dia segera seret opsir Ceng itu kepinggir geladak.

"Tolong!"

Po Tho men-jerit2 seperti babi hendak disembelih, tapi siapa yang berani menolongnya. Sekali Ceng Bo mendorong, maka tubuh si Po Tho segera terlempar kedalam laut.

"Mau pergi ke Kwiciu, ambil jalan air saja !"

The Go ketar-ketir hatinya.

Dia mengira, pantangan-membunuh Ceng Bo siangjin sudah ditiadakan.

Dan siapakah yang sanggup melawannya?

Kalau dia berani turun tangan, tentu akan tersapu oleh imam yang gagah perkasa itu, dan ini berarti akan habislah seluruh rencananya, demikian pikir The Go.

Maka dia lalu mundur beberapa langkah, siap hendak lolos dengan ceburkan diri kedalam laut.

Tapi tiba2 dia merandek.

Dengan gelar "Hay-te-kau" (Naga didasar laut), tentu kepandaian air dari imam itu ber-lebih2an.

Dan karena berayal itu, Ceng Bo siangjin sudah berpaling kepadanya .

"Cian-bin Long-kun, kau sebagai orang Han masakan tak ingat akan peristiwa 'Yang-ciu 10 hari' dan '3 kali penyembelihan rakyat Ka-ting' ? Kau menjadi pengkhianat membawa tentara musuh ke Kwiciu, bilanglah, hukuman apa yang harus kau terima !"

Kata2 Ceng Bo itu diucapkan dengan penuh semangat keperwiraan, sehingga pada saat itu juga, Bek Lian mengutuk perbuatan yang sedemikian hinanya itu.

Teringat bahwa orang yang berbuat khianat itu adalah jantung hatinya sendiri, serta iapun turut membantunya, gemetarlah tubuh Bek Lian.

Betapapun The Go itu biasanya pandai adu lidah, namun hati nuraninya terasa berjengit juga mendengar tuduhan yang begitu tajam itu.

Saking gentarnya, dia mundur lagi dua langkah, hingga kedekat tepi geladak.

Ceng Bo memburu maju.

"Seorang laki2 berani berbuat berani bertanggung jawab sendiri. Apabila sampai saatnya memikul akibat perbuatannya itu hendak melarikan diri, itulah keliru !"

Ditelanjangi habis2an, muka The Go pucat lesi.

Melihat itu Bek Lian terkesiap.

Lupa bahwa setelah The Go, nanti dirinyapun akan mendapat giliran dihukum sang ayah, ia segera melesat berdiri dihadapan sianak muda, serunya.

"Tia, kau mau melukainya?" ---oo0dw0oo---Ceng Bo melengak. Tak kira dia kalau puterinya telah sekalap itu terang2an hendak melindungi The Go.

"Menyingkir sana!"

Bentaknya.

Ternyata Bek Lian masih belum seratus persen berani membangkang perentah ayahnya, tapi iapun tak mau menyingkir jauh dari sang kekasih, maka ia hanya bergeser sedikit disamping The Go.

Tapi kejadian itu, cukup memberi ilham pada The Go yang penuh akal muslihat itu.

Wajahnya tak mengunjuk kecemasan lagi.

Malah dengan ber-kipas2 sikapnya tenang sekali.

"Siangjin,"

Serunya lantang.

"memang benar siaoseng memimpin pasukan Ceng masuk ke Kwitang. Tapi puterimu pun ikut pada siaoseng menghadap Li congpeng di Hokciu. Hukuman apakah yang akan dijatuhkan padanya? Siangjin seorang yang penuh dengan pambek perwira, maka siaoaeng hendak mohon pengajaran!"

Ceng Bo tahu kepandaian orang untuk menyerang kelemahannya.

Tahu pula dia bahwa orang she The itu hendak menjual Bek Lian, tapi pikir punya pikir, dia benci pada puterinya sendiri yang telah berbuat sedemikian hinanya itu.

Ini berarti, kalau hendak memberesi orang itu, lebih dahulu harus memberesi puterinya sendiri.

Sebaliknya Bek Lian yang masih hijau dan baru pertama kali itu jatuh cinta, beranikan diri untuk mengetuk perasaan sang ayah.

"Tia, apa yang dikatakan engkoh Go tadi benar. Aku bersama dia menghadap Li Seng Tong di Hokciu."

Sedih dan murka perasaan Ceng Bo.

Sedih melihat tingkah puterinya yang tak senonoh itu, murka akan kelicikan The Go.

Orang semacam itu, kalau dibiarkan hidup lebih lama, tentu akan mencelakai orang banyak.

Begitu ambil keputusan tetap, Ceng Bo perdengarkan tertawa dingin.

"Cian-bin Long-kun, kau bertanya bagaimana aku hendak menjatuhkan hukuman kepada anak itu? Baik, bukalah matamu, karena kau sendiripun tak nanti dapat lolos!"

Habis berkata begitu, dia berpaling kearah Bek Lian. Dengan memancarkan sorot mata ber-api2, dia membentak.

"Anak keparat, dalam urusan ini, apa kau masih tak tahu ?"

GAMBAR 20 Mengetahui puterinya berbuat serendah itu, dengan perasaan cemas Ceng Bo Siangjin putar tubuh memandang jauh kepermukaan laut yang luas.

Bek Lian teringat akan apa yang pernah diajarkan oleh sang ayah, bahwa bangsa dorna dan penjahat itu, adalah penyakit masyarakat.

Apabila nanti turun gunung dan bertemu dengan bangsa begitu, harus dibunuh demi untuk kepentingan rakyat.

Maka atas ucapan terakhir dari sang ayah "apa tak tahu"

Itu, artinya harus menerima hukuman berat.

"Tia!"

Serunya dengan wajah pucat. Ceng Bo berputar tubuh membelakangi Bek Lian. Jauh memandang kepermukaan laut yang luas, dia kuatkan hatinya, mendamprat.

"Aku tak mempunyai anak perempuan kau lagi, jangan panggil ayah padaku!"

Habis mengucap begitu, bagaimanapun kerasnya sang hati, tak urung diam2 dia kucurkan air mata.

Pikirannya jauh melayang pada kejadian 10 tahun berselang.

Sejak isterinya, Kiang Siang-yan, lenyap tanpa alasan apa2, dia sayang Bek Lian sebagai nyawanya sendiri.

Kala itu Bek Lian baru berumur 9 tahun.

Dengan penuh kasih sayang, diarawat dan mengasuh puterinya tunggal itu hingga sampai menanjak usia remaja.

Bahwa buah daripada jerih payahnya itu ternyata sedemikian pahitnya, benar2 dia tak menyangkanya!

Kelemahan itu telah dipergunakan oleh The Go untuk mendesak Ceng Bo.

Mendengar ucapan sang ayah itu, pecahlah tangis Bek Lian tersedu sedan.

Cepat2 ia berlari hendak menubruk ayahnya, tapi Ceng Bo kibas2kan tangannya kebelakang, sehingga seperti disamber oleh tenaga kuat, Bek Lian merandek tak bisa maju.

"Tia, aku adalah anakmu! Aku ini anakmu!"

Hati Ceng Bo seperti di-sayat2 tapi demi jangan sampai dilihat oleh The Go yang dibencinya itu, dia pakai lengan bajunya untuk mengusap air matanya, kemudian dengan tawar berkata.

"Anakku, tentu takkan bersekongkol dengan bangsa penjajah asing, kalau berbuat berarti lebih berat dari 10 kedosaan!"

"Aku aku cinta pada engkoh Go, apakah salahnya aku bersama dia pergi ke Hokciu itu?"

Bek Lian ter-sedu2 bertanya. Tanpa menoleh lagi, Ceng Bo berseru.

"Lekas bereskan dirimu sendiri, jangan jangan sampai aku..... turun tangan!"

Sampai disini, karena teringat bahwa puterinya nanti tentu meninggal, dia menghela napas panjang, lalu berkata pula.

"Kalau dalam kematianmu itu kau tak dapat memejamkan mata, biarlah nanti kubalaskan sakit hatimu itu!"

Dengan mulut sang ayah mengucapkan "kematianmu"

Itu, Bek Lian tersentak semangatnya, ia ter-longong2 sampai lupa menangis lagi.

Hati Ceng Bo pada saat itu seperti di-remasl.

Karena tak mendengar suara Bek Lian lagi, hatinya gentar, terus berbalik tubuh kebelakang.

Demi tampak Bek Lian tak kurang suatu apa, dia menarik napas longgar.

The Go yang licin itu, cepat dapat mengetahui isi hati Ceng Bo yang masih tetap tak tegah kepada puterinya itu.

Tanpa berayal lagi, dia segera berkata seorang diri.

"Harimau yang buas takkan memangsa anaknya. Mengapa karena hendak mengunjukkan kegagahan sesaat, lalu meninggalkan penyesalan besar!"

Ceng Bo merasa terkena dengan ucapan itu.

Memang pada saat itu, timbul pertentangan hebat dalam batinnya, antars, cinta dan benci.

Kemauannya menyuruh Bek Lian bunuh diri, tapi hatinya tak tegah melihat darah dagingnya itu sampal mengalami nasib yang sedemikian mengenaskan itu.

Kembali dia menghela napas lagi, matanya memandang lekat pada Bek Lian tapi mulutnya membisu tak ber-kata2.

Tahu kalau ada setitik harapan tertolong, silicin The Go batuk2 sembari tertawa.

Hendak dia bicara lagi, tapi Ceng Bo telah keburu delikkan mata kepadanya, se-olah2 memperingati bahwa sekalipun dia dapat memaafkan puterinya, tapi tak dapat memberi ampun kepadanya.

Tapi pada lain kilasan, dia teringat akan pengakuan Bek Lian tadi ia iktut The Go ke Hokciu, sehingga membuatnya serba susah.

Tapi demi memikirkan betapa penderitaan rakyat Kwitang apabila tentara Ceng datang, dia mendamprat dirinya sendiri.

Berapa banyak orang2 tua yang akan kehilangan putera-puterinya, berapa banyak gadis2 dan wanita2 yang akan tercemar kehormatannya nantinya?

Adakah hanya karena memikirkan kepentingan Bek Lian seorang, maka dia tegah membiarkan seluruh rakyat Kwitang menderita kesengsaraan sebesar itu ?

Liangsim (nurani) Ceng Bo tergugah lagi.

Tapi karena tak tegah melihat puterinya mati secara mengenaskan itu, kembali dia berputar tubuh dan serunya dengan suara sember.

"Jangan berayal, lekas habisi jiwamu!"

Nada ucapannya itu berat sekali, menandakan bagaimana beratnya perasaan yang menindih hatinya.

Tadi The Go sudah hampir bersorak dalam hati demi melihat sikap Ceng Bo berobah tenang.

Tapi tatkala dengan tiba2 berobah beringas lagi, diam2 dia memaki siangjin itu sebagai seorang yang kukuh.

Sedang Bek Lian setelah mendengar sang ayah mendesaknya lagi, segera memandang kearah The Go seraya berseru.

"Engkoh Go!"

Begitu merawankan sekali seruan itu, biarpun berhati sekeras baja, orang pasti akan tergerak juga hatinya.

Sebaliknya tidak demikian dengan The Go.

Demi dilihatnya Ceng Bo masih membelakangi, dia segera hendak bertindak.

Baru dia hendak loncat kedalam laut, tiba2 ombak laut berserak dan berbareng dengan bunyi damparan ombak yang keras, sesosok tubuh loncat kedalam perahu situ.

Orang itu mengenakan pakaian seperti sisik ikan.

Begitu tangannya memegang buritan, dia segera berjumpalitan loncat kegeladak.

Selain Bek Lian, kedua orang (The Go dan Ceng Bo siangjin) yang berada digeladak perahu situ tadi, adalah akhli2 air yang jempolan.

The Go sejak kecil dibesarkan dilaut.

GAMBAR 21

"Orang she The, kiranya kau berada disini!"

Seru Ciok Jisoh seraya menyerang dengau rodanya yang bergigi.

Sedang gelaran Ceng Bo siangjin dahulu adalah Hay-tee-kau Tapi demi nampak kepandaian orang tadi, keduanya menjadi kesima.

Yang paling jengkel, adalah The Go.

Baru saja dia mempunyai kesempatan untuk lolos, atau orang itu datang mengadu biru, hingga kini Ceng Bo sudah berbalik badan dan mengawasi padanya.

Ketika diamat-amati ternyata orang itu adalah Kim-kong-lun Ciok jisoh, siapa begitu menginjak geladak lantas saja berseru.

"Bagus, orang she The tidak didarat, dilaut akhirnya kita berjumpa. Ha, kiranya kau berada disini!"

Habis berkata, ia perdengarkan suara keheranan, serunya.

"Hai, Ceng Bo siangjin, mengapa kau bersama puterimu juga berada disini?"

Ceng Bo hanya perdengarkan jengekan saja, sebaliknya The Go segera menegur.

"Ciok jisoh, mengapa kau tak berada di Kwiciu melindungi junjunganmu, tapi datang kemari ?"

"Huh, apa itu melindungi junjungan. Aku sudah bukan pembesar negeri lagi, tapi hendak mengarungi ujung dunia untuk mencari orang she The!"

Ciok jisoh tertawa dingin seraya melepaskan senjata jit-gwat-lun dari ikatannya. Begitu sepasang kim-kong-lun (roda baja) yang bergigi tajam itu siap ditangan, berserulah ia.

"Orang she The, kau terlalu menghina orang. Biarpun aku bukan tandinganmu, tapi aku tetap hendak adu jiwa dengan kau!"

Dari sikapnya itu, Ciok jisoh terang seorang wanita yang berterus terang tanpa tedeng aling2.

Kalau dia seorang pria, kiranya mirip dengan watak tokoh hweshio Lou Ti-sim dari kawanan Liang-san dahulu.

Ceng Bo pun memuji dalam hati, bahwa diantara keempat bajak laut itu, hanya wanita she Ciok itu saja yang masih berpambek seperti orang persilatan.

Maka demi mendengar, wanita itu hendak membuat perhitungan dengan The Go, Ceng Bo menunggu dengan penuh perhatian.

Pikirnya, apabila wanita gagah itu sampai kalah, dia hendak membantunya.

Melihat kedatangan Ciok jisoh Itu, The Go mendapat ketika untuk mengulur waktu lagi.

Dengan ber-kipas2, berserulah dia.

"Ciok jisoh, bagaimana aku siorang she The ini menghina orang she Ciok?"

Ciok jisoh tak mau menjawab dengan mulut, tapi begitu melangkah maju, ia tikamkan kim-kong-lun ditangan kiri kedada The Go, siapa cepat2 menangkisnya.

Ciok jisoh susulkan kim-kong-lun ditangan kanan kearah pundak lawan.

Tapi tanpa gugup, The Go ulurkan kipasnya untuk menangkis, dan tepat kipas itu menancap ditengah gigi baja.

Dipasangnya gigi2 baja itu, memang khusus diperuntukkan merebut senjata musuh.

Maka lekas2 Ciok jisoh menarik sekuat2nya kesamping kiri.

Yakin ia kipas The Go pasti akan tersentak jatuh.

Tapi ternyata orang she The itu sudah memperhitungkan kemungkinan itu.

Begitu dilihatnya Ciok jisoh menyentak kekiri, The Go sudah mencekal kencang kipasnya untuk dibantingkan kesamping kanan.

Jadi adu kekuatan namanya.

Seketika Ciok jisoh rasakan tangannya kesemutan, kim-kong-lun hampir2 terlepas dari cekalannya.

la coba kendorkan sentakannya, untuk selekasnya menarik kebelakang, pikirnya hendak lolos dari adu kekuatan itu.

Tapi justeru dengan begitu, tanpa disadarinya, ia masuk keperangkap The Go.

"Lepaskan!"

Kedengaran The Go membentak seraya balik membanting kipasnya kekiri. Benar juga, kim-konglun Ciok Jisoh terpental lepas, dan jatuh terlempar kedalam laut. Tapi se-konyong2 terdengar bunyi "trang"

Dari beradunya logam dan kim-kong-lun itu mencelat balik keatas perahu lagi.

Sudah tentu, dengan sebatnya Ciok jisoh menyanggapi.

Belum hilang kekagetan orang2, atau muncul pula seorang yang mengenakan pakaian kulit ikan yang dengan enteng sekali loncat keatas geladak.

Dibanding dengan Ciok jisoh, gerakannya jauh lebih lincah.

Tangannya mencekat sebatang hi-ja (garu penusuk ikan) yang berujung 3.

Begitu tiba digeladak, ia memandang kearah orang2, kemudian berseru keras.

"Engkoh Go, kiranya kau berada disini!"

Setelah itu ia memberi salam pada Bek Lian.

"Taci yang baik, sukakah kau menyingkir jauh sedikit dari engkoh. Go ?"

Kiranya itulah Lamhay hi-li Ciok Siao-lan.

"Moaycu (adik), orang yang tak kenal budi itu berada disini, mengapa kita tak adu jiwa dengannya?"

Seru Ciok d yisoh kepada adik iparnya. Siao-lan hanya sebentar mengerlingkan mata kearah taci iparnya, lalu maju beberapa tindak lagi menghampiri kedekat The Go, serunya.

"Sosoh, aku tak dapat persalahkan dia tak kenal budi!"

Setelah pemimpin mereka si Po Tho dilempar Ceng Bo kedalam laut, serdadu pilihan bangsa Ceng yang menyaru jadi penumpang itu, sama ketakutan.

Sekalipun yang agak bernyali, toh paling banyak hanya berani memandapg saja.

Oleh sebab itu, kemudi kapal tak ada yang memegangnya.

Perahu terombang-ambing didampar ombak, dan makin lama makin jauh dari kedua perahu yang tadi.

Seturunnya dari Giok-li-nia, Ciok jisoh dan Cyiok SiaoIan tak mau kembali ke Kwiciu, melainkan kembali kelaut untuk merawat luka Siao-lan.

Luka Siao-lan cukup berat, tapi setelah ditutup jalan darahnya oleh Kiau To dan diberi sebutir pil mujijad sam-kong-tan, tak berapa hari kemudian dapat sembuh juga.

Pada hari itu, kebetulan keduanya tengah pesiar dengan sebuah perahu kecil.

Melihat ada sebuah perahu besar terombang ambing tak tentu arahnya, mereka menjadi heran.

Disuruhnya Siao-lan menjaga perahunya, lalu Ciok jisoh berganti pakaian air menyelam kesana.

Dan bertemulah tadi ia dengan The Go.

Melihat sampai sekian lama taci iparnya tak balik, menyusullah Siaolan.

Begitu melihat The Go, hatinya sebesar gunung.

Tapi serta dilihatnya Bek Lian juga berada disitu, hatinya mendeluh sekali.

Mendengar kata2 sigadis nelayan itu, makin pedihlah hati Ceng Bo.

Sedikitpun tak mengira dia, kalau puterinya sampai begitu tak tahu malu lagi.

Ter-gila2 pada seorang pemuda, itu sih masih mending.

Tapi kalau turut rebutan lelaki, ah ......

demikian Ceng Bo menghela napas panjang.

"Kalau jiwi (kalian berdua) tiada urusan apa lagi, harap tinggalkan perahu ini,"

Akhirnya dia meminta kepada kedua orang wanita itu.

"Mengapa?"

Tanya Siao-lan dengan tangkasnya, atas itu Ceng Bo tak mau banyak berdebat lagi, katanya dengan suara berpengaruh.

"Laki-2 dan perempuan itu, bersekongkol hendak masukkan tentara Ceng ke Kwitang, suatu perbuatan khianat yang tak dapat diampuni, maka hendak kusuruh keduanya bunuh diri sendiri!"

"Hai, Ceng Bo sianjin, bukankah nona itu puterimu sendiri?"

Tanya Ciok jisoh dengan keheranan.

"Benar, tapi ia telah melakukan perbuatan terkutuk itu. Kecintaan kenal kasihan, tapi hukum tetap hukum!"

Sahut Ceng Bo dengan keraskan hatinya, lalu berseru kepada The Go.

"Orang she The, setelah ia beres, jangan harap kau bisa lolos!"

Wajah The Go pucat lesi.

Tak tahu dia bagaimana untuk menjawab ultimatum siangjin itu.

Dilihat naga2nya, siangjin itu sudah bulat tekadnya, anak kandung sendiri tetap dihukum, apalagi dia?

Pikirannya bekerja keras, namun tak dapat dia mencari jalan keluar.

Apa boleh buat, terpaksa dia pura2 bersikap tenang saja.

Ceng Bo masih hendak mengatakan apa2, tapi Siao-lan tampak maju kemuka, serunya.

"Ceng Bo siangjin, ilmu silatmu tinggi, itu aku tahu. Tapi apapun alasanmu hendak menganiaya engkoh Go, jika aku masih bernapas, tentu kau takkan dapat."

Kata2 itu diucapkan dengan yakin sekali oleh Siao-lan. sampai2 Ceng Bo melengak, sahutnya.

"Kau tak bersekongkol dengan tentara Ceng, buat apa menghendaki jiwamu?"

"Kalau kau hendak membunuh engkoh Go, lebih dahulu harus melangkahi bangkaiku!"

Balas Siao-lan.

Sejak menyucikan diri menjadi imam, sebenarnya Ceng Bo memegang pantangan membunuh.

Hanya karena menganggap urusan kali ini teramat besarnya, dimana menyangkut keselamatan rakyat kedua wilayah Kwitang dan Kwisay, maka dia terpaksa melanggar pantangan itu.

Atas pernyataan Siao-lan tadi, dia tampak merenung.

Selagi dalam keadaan begitu, tiba2 terdengarlah suara gedabrukan yang dahsyat sekali, disusul dengan goncangan yang hebat.

Andaikata orang2 dalam perahu tak pandai ilmu silat, pasti mereka akan terbanting jatuh.

Sudah tentu semua orang menjadi terkejut sekali, termasuk Ceng Bo juga.

Hanya Siaolan saja yang masih tampak tenang.

Meskipun geladak perahu itu terombang-ambing keras, tapi ia tetap menghampiri kedekat The Go untuk memberi tahu.

"Engkoh Go, perahu telah menubruk karang, jangan takuti imam tua itu lagi!"

Dua macam perasaan timbul dalam hati The Go, girang dan gelisah.

Girang karena dengan kejadian yang tak terduga itu, dia ada harapan besar dapat lolos dari tangan siimam.

Gelisah sebab urusan yang dikerjakan itu, telah menemui halangan.

Entah berapa jauhnya dari daratan, yang nyata kini mereka berada ditengah lautan besar.

Sekalipun ilmunya diair lihay, tapi rasanya dia pasti akan mati kelelap dalam laut itu.

Pikiran itu juga terdapat dalam pikiran semua orang yang berada didalam perahu situ, kecuali Bek Lian seorang yang tak pandai berenang.

"Engkoh Go!"

Serunya dengan cemas.

"Lian-moay, jangan takut! Ada aku disini, biarkan perahu tenggelam, nanti akan kubawamu berenang!"

Sahut The Go dengan gagahnya, dan politik itu telah termakan dalam hati Ceng Bo, siapa diam2 berpikir.

"Dia rupanya sungguh2 menyinta Bek Lian. Kata orang 'dalam kesusahan terlihatlah hati orang'. Dia rela membawa renang Lian-ji, bukankah itu suatu tanda kecintaannya pada Bek Lian ?"

Habis menyahut tadi, The Go diam2 melirik kepada Ceng Bo. Tahu siangjin itu merenung, kembali dia berkata lagi kepada Bek Lian.

"Lian-moay, kemarilah. Mati kita bersama, hidup kita bersama!"

Ucapan itu makin menyentuh hati Ceng Bo, pikirnya. ,.Kalau kelak mereka dapat kembali kejalan yang benar, rasanya tak layak untuk menceraikan mereka hidup2-an."

"Taci yang baik, kalau kau berani mendekati engkoh Go Iagi, jangan persalahkan aku berhati kejam,"

Tiba2 Siaolan menyeletuk.

Benar Bek Lian cinta pada The Go, tapi belum sampai hatinya berlaku terang2-an seperti Siao-lan itu.

Gadis hitam itu dibesarkan dilaut, jadi wataknya pun kasar terus terang.

Sudah tentu Bek Lian tak mau meladeni adu mulut, hanya karena disebabkan soal seorang lelaki saja.

Maka sejenak itu ia diam saja.

Tapi The Go yang perlu untuk mencari muka pada Ceng Bo yang agak sudah terpikat hatinya itu, cepat menarik senjata garu Siao-lan, hingga nona itu ter-huyung2 beberapa tindak jauhnya.

Dengan langkah lebar The Go segera menghampiri Bek Lian, sebaliknya lalu mendamprat Siao-lan.

"Budak hina yang tak tahu malu, aku sudah terikat janji sehidup-semati dengan Lian moay, mengapa kau selalu mengerecoki saja?!"

Siao-lan melengak kesima, serentak ia menubruk kepada Ciok jisoh, menangis ter-lara2.

"Sosoh, ternyata engkoh Go tak mau pada aku, dia ambil lain orang menjadi isterinya!"

Pikir Ciok jisoh hendak menasehati adik iparnya itu, tapi dari dalam ruang perahu rombongan serdadu Ceng berdesak2-an keluar, sembari men-jerit2.

"Air sudah masuk, air sudah masuk!"

Baru kini semua orang sama insyaf bahwa setelah terjadi goncangan hebat tapi perahu itu tetap tenang saja, adalah karena sedang tenggelam dengan pe-lahan2.

Geladak yang sesempit itu, sudah tentu menjadi penuh sesak dengan ratusan orang yang desak mendesak tak keruan.

The Go murka, wut, wut, dua kali dia menghantam.

Beberapa serdadu yang mendesak kedekatnya, telah terpental kebelakang, menjatuhi kawan2nya lain, dan kawan2 itu menjatuhi lagi yang dibelakang.

Dengan begitu segera ada beberapa orang yang kecemplung dalam laut.

Adalah karena kepanikan Orang2 itu, maka tubuh perahu menjadi miring lagi, hingga serdadu2 itu sama ter-huyung2 kesana kemari seperti gabah ditampi (diinteri).

"Engkoh Go, dalam kehidupan kita sekarang ini, adalah benar2 kita selalu bersatu?"

Bisik Bek Lian merayu.

"Sudah tentu, Lian-moay!"

Sahut The Go sembari memegang tangan sinona.

Mendadak perahu bergoncang lagi dengan hebatnya, sehingga karena miring maka ada sejumlah besar serdadu2 Ceng yang terlempar lagi kedalam laut.

Sisanya sama ber-gegas2 menurunkan perahu sekoci (perahu penolong bahaya, terus berebutan naik kedalamnya.

Dalam kepedihannya, Siao-lan tak menghiraukan segala apa, sementara Ciok jisoh yang tumpahkan perhatiannya untuk menasehatnya juga tak mempedulikan orang itu, Ceng Bo siangjin yang memikirkan soal puterinya dengan The Go, juga ter-mangu2.

Hanya The Go sendiri yang cepat dapat menginsyafi keadaan berbahaya itu.

Karena perahu2 sekoci sudah dipakai oleh secdadu2 Ceng tadi, dia terkejut dan mengeluh keras.

Ciok jisoh tersadar karenanya, cepat dia hendak meronta dari pelukan Siao-lan untuk mengejar kelaut, tapi seperti orang gila, Siao-lan tetap merangkul iparnya, seraya me-ratap2.

"Engkoh Go, jangan pergi, jangan pergi! Kau tetap bersamaku saja!"

Ciok jisoh tahu bahwa adik iparnya itu sudah ber-tahun2 ter-gila2 pada The Go.

Kejadian tadi, adalah yang paling menggoncangkan batinnya, hingga ia seperti orang linglung tak waras pikiran.

Jalan yang terbaik, yalah lekas2 singkirkan nona itu dari situ.

Cepat ia mengambil putusan, cepat pula ia bertindak.

Sang adik ipar dirangkul pinggangnya, sekali enjot sang kaki, keduanya segera melayang masuk kedalam laut.

Blung........

tahu2 ketika muncul lagi dipermukaan air, mereka berdna sudah 4 atau 5 tombak jauhnya.

Dalam sekejab saja.

Ciok jisoh sudah dapat mengejar perahu sekoci tadi.

Dengan membolang balingkan kim-kong-lun, serdadu yang berada disitu sama kecemplung kedalam air.

Cepat Ciok jisoh angkat iparnya kedalam sekoci, laksana anak panah cepatnya, ia mendayung kemuka.

Sebentar saja lenyaplah sudah.

Kini yang masih tinggal didalam perahu besar, hanya Ceng Bo siangjin, The Go dan Bek Lian.

The Go makin gelisah demi dilihatnya Ciok jisoh sudah kabur, dan tiba2 dirasanya sang kaki menjadi dingin, hai......

kiranya air laut audah merangsang keatas geladak situ.

Ketika The Go berseru kaget, air dengan cepatnya sudah naik kelutut.

Dalam waktu yang singkat, terang perahu itu pasti kelebuh.

Ditatapnya Bek Lian, tapi tampaknya nona itu juga ter-longong2 mengawasi padanya.

"Siangjin, perahu sudah hampir tenggelam. Lian-moay tak bisa berenang, bagaimana daya Siangjin sekarang?"

Tanyanya memberanikan diri. Setelah merenung sejenak, Ceng Bo balas bertanya.

"Cian-bin Long-kun, sudah berapa lama kau kenal dengan Lian-ji ?"

The Go melengak, tak tahu apa maksud orang dengan bertanya begitu. Tapi dia tak berani diam saja, sahutnya. Baru 4 atau 5 hari saja."

"Kalau begitu, kalian ini begitu ketemu sudah saling jatuh hati?"

Kata Ceng Bo pula, kemudian diam merenung.

The Go tahu siasatnya mencari muka pada Ceng Bo dengan jalan bersikap begitu menyayang sekali kepada Bek Lian, telah dapat mendobrak nurani imam itu.

Kini dalam saat2 yang seperti telor diujung tanduk berbahayanya itu.

nampaknya sikap siimam sudah berobah.

Malah siapa tahu, imam Itu berkenan juga menjodohkan puterinya dengan dia nanti.

Dengan penimangannya itu, cepat The Go merobah haluannya.

"Lopeh, sejak siaotit pertama berjumpa dengan Lian-moay, kami berdua sudah saling menyinta. Adalah karena kegelapan pikiran siaotit, maka siaotit hendak mengundang tentara musuh sehingga Lian-moaypun turut kerembet ........."

"Engkoh Go, aku kedinginan!"

Tiba2 Bek Lian berseru memutus omongan orang. Memang tampak oleh The Go, bahwa air sudah merangsang kebatas pinggang. Buru2 dia angkat Bek Lian.

"Bawalah Lian-ji keatas tiang besar, aku ada omongan denganmu!"

Kata Ceng Bo Siangjin. GAMBAR 22

"Bawalah Lian-ji keatas tiang kapal, ada yang hendak kutanya padamu."

Kata Ceng Bo Siangjin, yang lututnya sudah kerendam air laut.

The Go tak berani berlaku ayal.

Dengan sebelah tangan memanggul Bek Lian, sebelah tangannya lagi memegang tiang perahu.

Sekali enjot sang kaki, tubuhnya melesat keatas tiang besar itu.

---oo0dw0oo---BAGIAN 6 .

WANITA BERAMBUT PANJANG Begitu The Go sudah naik keatas tiang perahu.

Ceng Bo siangjinpun enjot tubuhnya menyusul.

Perahu itu be-rayun2 masuk kedalam air, tapi baru beberapa meter tiba2 berhenti tenggelam.

Heran Ceng Bo dibuatnya.

Terang kalau tempat situ adalah ditengah lautan besar, tapi mengapa sedangkal itu?

Dalamnya tak sampai dua tombak saja.

Karena masih mempunyai urusan, jadi dia tak mau banyak pikirkan hal itu.

Mengawasi kearah Bek Lian, didapati anak itu sudah merasa bena22 cintanya kepada The Go.

Sekalipun pakaiannya sudah basah kuyup dengan air, namun tampak nya seperti tak menghiraukan sama sekali.

Malah pada saat itu ia tengah bantu membereskan kain kepala The Go.

"Lian-ji,"

Akhir-nya Ceng Bo siangjin berseru dengan didahului oleh helaan napas yang panjang.

"Ayah, kau mau menyebut aku Lian-ji (anakku Lian) lagi apa engkau tak marah?"

Bek Lian angkat mukanya menyahut.

"Ah, Lian-ji, kalau kau tak berbuat kesalahan besar, tentu aku takkan semarah tadi. Ketahuilah, soal perkawinan itu bukan macam permainan kanak2. Kau hanya 5 hari mengenalnya, mana mengetahui hatinya? Mari ikut pulang dulu, kelak kita rundingkan lagi!"

Girang The Go bukan kepalang.

Ini berarti dia diberi jalan lolos, bisa melanjutkan rencananya lagi, kembali dulu ke Hokkian untuk mengambil bantuan tentara.

Buru2 dia memberi isyarat dengan ekor mata kepada Bek Lian, agar suka menurut perentah ayahnya itu.

Tapi ternyata gadis itu sudah kelebuh didasar laut asmara.

Berat sekali rasanya.

untuk berpisah dengan sang jantung hati lagi.

Maka tanpa sangsi lagi, menyahutlah ia.

"Ayah, dalam beberapa hari ini saja, cukup sudah kuketahui bagaimana kecintaan engkoh Go kepadaku. Mengapa harus menunggu beberapa tahun lagi ?"

"Lian-ji, mengajak kau berhamba pada bangsa asing sehingga kau bakal dicaci oleh rakyat sebagai penghianat, itu yang kau namakan menyinta padamu? Kalau tak menunggu beberapa tahun lagi untuk menilik bagaimana perjalanan orang itu, bagaimana kudapat menyerahkan nasibmu kepadanya?"

Tegur Ceng Bo dengan geram.

Bek Lian terbungkam oleh dampratan tajam dari ayahnya itu.

Dia memandang sayu kepada The Go dengan harapan agar sang kekasih itu mencarikan daya.

Siapa tahu, The Go malah pura2 tak tahu akan maksud Bek Lian itu, ujarnya.

"Apa yang dikatakan siangjin itu tepat sekali. Memang perlu dinantikan, adakah perbuatan The Go nanti dapat dianggap sebagai ksatrya. Lian-moay, tunggulah tiga empat tahun lagi, dan buktikanlah bagaimana peribadiku nanti!"

"Cian-bin Long-kun, dalam usiamu semuda itu, kau sudah memiliki ilmu silat yang bagus. Perjalananmu tentu penuh dengan pengalaman2 yang besar, harap saja kau ber-hati2!"

Kata Ceng Bo sembari menatapnya.

"Huh, menjemukan sekali imam ini, merusak rencanaku. Kelak kalau ada kesempatan berjumpa lagi, rasai sendiri kau!"

The Go mendamprat dalam hati, namun Iahirnya dia bersikap menerima kasih sekali atas nasehat Ceng Bo itu, maka ber-ulang2 dia mengangguk, kemudian menyahut.

"Wanpwe akan selalu ingat nasehat siangjin yang berharga itu!"

"Lian-moay, peganglah sendiri tiang ini dan ber-hati2lah!"

Katanya kepada Bek Lian.

"Tunggu! Cian-bin Long-kun ingatlah, kelak apabila kudengar berita2 buruk tentang dirimu, biarpun kau mengumpat diujung dunia, tetap akan kukejar!"

Ceng Bo siangjin memberi peringatan yang terakhir kepada The Go.

Kebencian The Go terhadap siangjin itu, sudah memuncak.

Namun karena insyaf bukan tandingannya, terpaksa dia telan perasaannya.

Biarkan saja imam itu berkata apa saja, pokok asal dia bisa lolos dulu.

Maka ber-ulang2 dia mengiakan saja.

"Engkoh Go, apa kau sungguh2 hendak pergi?"

Tanya Bek Lian demi diketahuinya anak muda itu hendak berlalu.

"Mana aku berani melanggar perentah siangjin?"

Sahut The Go dengan berat hati. Tapi baru saja kata2nya itu keluar, atau tiba2 telah disambut dengan suatu seruan yang tajam menusuk telinga.

"Hm, lagi2 ada seorang manusia yang tak berguna, sehingga tegah hati pada orang yang dicintai!"

Seruan yang sinis itu, telah membuat ketiga orang yang berada diatas tiang perahu menjadi tersirap kaget. Yang paling kaget, adalah Ceng Bo siangjin. Sebagai "Hay-tee-kau"

Atau Naga dari dasar laut, hebatlah kepandaiannya dalam ilmu air, hebat pula dalam ilmunya silat.

Benar ketika itu suasana gempar karena gemuruh ombak, namun tahu2 bisa datang tanpa diketahuinya, lihaylah kepandaian orang itu.

Ilmunya mengentengi tubuh pasti jempol sekali.

Maka cepat Ceng Bo memandang kearah datangnya suara itu, dan ah, tampaklah seorang wanita bergantungan menggelandot pada tiang perahu yang berada disebelah muka.

Rambut wanita itu panjang terlepas, sehingga wajahnya tak dapat dilihat jelas karena hampir ketutupan.

la mengenakan pakaian keper warna abu2.

Sedangkan warna rambutnya itupun kusam ke-abu2-an.

Kalau hanya sepintas pandang saja, orang bisa keliru menyangka, itulah sebuah layar abu2 yang berkibar pada tiang perahu.

Ceng Bo menggali lubuk pengalamannya didunia persilatan, tapi tetap tak dapat mengenal siapakah wanita berambut panjang itu.

"Siapakah ini?"

Tanyanya.

Wanita aneh itu menyambut pertanyaan orang dengan tertawa ter-kekeh2 seram, hingga membuat bulu roma The Go dan Bek Lian menjadi berdiri.

Keduanya sudah kedinginan karena pakaiannya basah kuyup, kini masih menggigillah rasanya.

"Sudah tentu kau tak kenal padaku. Tapi siaoko (engkoh kecil) ini, bukankah anak murid Ang Hwat cinjin dari gereja Ang Hun Kiong di Ko To San?"

Sahut wanita itu seraya balas bertanya.

The Go melengak.

Tiba2 dia seperti kenal suara itu sebagai yang dijumpainya ketika digua tengah rimba dahulu.

Kalau dahulu dia hanya merasa aneh dan tak berkesempatan melihat wajahnya, kini hatinya menjadi jeri demi melihat wajahnya.

Kalau bukan ditengah hari, mungkin dia akan sudah mengira kalau wanita berambut panjang yang datang perginya tanpa bersuara itu, sebagai sesosok setan.

"Hopwe memang begitu,"

Sahutnya ter-sipu2.

Sepasang mata siwanita itu memancar ber-api2, dan sekilas teringatlah The Go, ketika digua dahulu dia telah keliru menyangkanya sebagai sorot mata Bek Lian.

Diam2 heranlah dia, mengapa wanita itu bisa datang kesitu sedangnya perahu tengah membentur karang ditengah laut?

Dari manakah ia itu?

Dan teringat pula akan pengalamannya ketika di Hokciu, pada suatu pagi bertanyalah Bek Lian dengan ke-malu2-an apakah dia (The Go) tadi malam memberinya tutup selimut.

Kala itu dia kira kalau Bek Lian mengigau, maka tak begitu dihiraukan.

Kini dia yakin tentu siwanita aneh inilah yang melakukannya.

Jadi terang selama perjalanannya dari gunung Hoasan (goa), wanita itu tetap menguntit sebagai bayangan.

Mengapa ia berbuat begitu?

Mungkinkah ia itu masih terikat hubungan dengan Bek Lian ?

Tapi biar bagaimana, kepandaian wanita itu sudah mencapai batas yang sukar diukur dalamnya.

Memikir akan kesemuanya itu, diam2 The Go bersyukur bahwa selama dalam perjalanan itu dia tak sampai berbuat yang tak senonoh terhadap Bek Lian serta selalu rukun ber-kasih2an saja.

Karena sudah sekian lama menggelandot pada tiang perahu, maka Bek Lian rasakan tangannya kesemutan.

Tidak demikian dengan Ceng Bo siangjin atau The Go yang ilmu silat nya lebih dalam.

Karena kecapean, Bek Lian bersandar pada The Go siapapun lalu memegangi pundak sinona.

"Kau hendak bersama nona ini ......... sehidup-semati, bukan ?"

Tanya wanita itu pula.

"Kami berdua sudah saling memateri janji .........."

"Tapi mengapa kau tadi hendak tinggalkan ia?"

Tanya siwanita memutus omongan orang.

Dalam pikiran The Go yang penuh tipu muslihat itu, segera terkilas sebuah rencana.

Wanita itu berbeda fahamnya dengan Ceng Bo, kalau dia adu dombakan supaya bertempur, tentu dia akan memperoleh jalan lolos.

"Locianpwe,"

Sahutnya setelah mempunyai ketetapan.

"houpwe se-kali2 tak ingin berpisah dengan Lian-moay. Hanya totiang inilah yang mengatakan kalau tingkah laku houpwe ini kurang baik, maka disuruh menunggu lagi sampai 3 tahun. Karena malu hati, houpwe terpaksa hendak tinggalkan Lian-moay!"

Karena dikatakan manuaia yang tak berguna tadi, maka The Go hendak membela diri dan menimpahkan kesalahan itu kepada Ceng Bo.

"Kutahu, hatimu itu bukannya buruk. Orang muda siapakah yang tak menginginkan kemajuan? Seorang pemuda memang harus berbuat begitu."

Ujar siwanita itu dengan tertawa dingin.

"Hanya sipengecut sajalah yang tak berani mengadu jiwa untuk kepentingan orang yang dicintai nya.......... ! The Go girang dan terperanjat. Girang, karena faham wanita itu berlawanan dengan si siangjin dan rupanya ilmu kepandaiannya tak dibawah si siangjin itu. Terperanjat, karena dengan kata2 wanita aneh itu telah mengintilnya selama dalam perjalanan tempo hari. Sesaat dia menatap kearah Bek Lian, siapa tampaknya tengah merenung kepada siapakah ia hendak jatuhkan pilihannya. turut ayah atau ikut kekasih? Dalam hati Bek Lian timbul suatu perasaan aneh. Sejak munculnya siwanita aneh itu, walaupun wajah dan suaranya tak menyenangkan, tapi serasa ia senang sekali mendengarkannya. Menilik sikap The Go yang begitu menyayang selama berhadapan dengan ancaman sang ayah dan elmaut mati kelelap tadi, Bek Lian sudah mendapat kesan bahwa The Go itu bukan seorang yang culas (palsu) dan pengecut. Walaupun dalam hubungannya dengan The Go nanti ia tentu menerima umpat caci dari orang banyak, namun ia sedia juga untuk mengambil resiko itu. Kini mendengar siwanita aneh itu memuji sang kekasih, sudah tentu ber-lebih2-an syukurnya. Serentak ia dongakkan mukanya kemuka untuk menatap siwanita itu, siapa nyana ternyata si wanita berambut panjangpun tengah memandangnya. Tapi begitu tertumbuk dengan sorot mata siwanita yang ber-api-itu, Bek Lian terbeliak kaget. Yang paling murka adalah Ceng Bo siangjin. Pertama, kata2

"hanya sipengecut sajalah yang tak berani mengadu jiwa untuk orang yang dicintainya"

Itu, menusuk sekali ke-hatinya. Kedua, perbuatan khianat dari si The Go oleh siwanita masih dianggap baik. Karena tak kuat menahan hatinya, menyelutuklah Ceng Bo dengan pertanyaannya yang tajam.

"Tolong anda memberi pengunjukan. Kalau bersekongkol dengan tentara Ceng untuk memasukkannya ke Kwitang itu masih tak boleh dianggap jahat, nah perbuatan apakah yang baru pantas dinamakan jahat itu?"

Wanita aneh itu ter-kekeh2 mendongak keatas, lalu tundukkan kepalanya. Sewaktu mendongak-tunduk itu, rambutnya tampak kejut kuat sekali. Hal mana telah membuat Ceng Bo heran.

"Lwekang dari cabang perguruan manakah yang sedemikian anehnya itu?"

Pikirnya. Tapi sesaat itu, didengarnya siwanita aneh itu memberi penyahutan.

"Kalau seorang lelaki terhadap isterinya saja tak mampu melindungi, adakah dia itu mampu untuk melindungi negara? Segala ocehan yang muluk2 hanya membuat orang tersenyum ewa saja!"

Kaget Ceng Bo pada saat itu, sukar dilukiskan.

Tadi sewaktu mendengar "tak mampu melindungi orang yang dicintanya", dia sudah tersinggung.

Kini demi mendengar siwanita itu mengucap lagi "tak dapat melindungi isteri", dia makin termenung.

Teringat akan kejadian pada 10 tahun berselang, dimana isterinya telah menghilang tanpa bekas, dia ter-longong2 seperti patung.

Sebaliknya, siwanita aneh itu kedengaran berkata kepada The Go.

"Siaoko, menilik kepandaianmu rasanya kau tentu mampu melindungi orang yang kau cintai, mengapa kau tak lekas2 meninggalkan tempat ini?"

"Banyak terima kasih ........... Belum lagi The Go dapat mengatakan "cianpwee", atau Ceng Bo sudah menghela napas panjang dan bertanya kepada siwanita.

"Bagaimana anda tahu kalau aku tak dapat melindungi isteri?"

Siwanita aneh tertawa dingin.

Se-konyong2 dia gerakkan tangannya menebas tiang perahu, krak ..............

tiang perahu itu telah kutung 3 meter panjangnya, begitu disambuti terus dilontarkan keudara.

Dan begitu kutungan tiang itu jatuh kehadapannya, ia hantam lagi, brak...............

putuslah kutungan itu menjadi dua, lalu jatuh kedalam laut.

Yang paling mengherankan, tebasan kedua tadi sedikitpun tak terdengar suara samberan anginnya.

Begitu kutungan tiang itu jatuh kedalam laut, ia terus melesat loncat keatasnya.

Dengan gerak "kim kee tok lip" (ayam emas berdiri dengan sebelah kaki), ia tegak diatas kutungan tiang yang terapung timbul tenggelam itu.

Tanpa menghiraukan pertanyaan Ceng Bo, ia berseru kepada The Go.

"Mengapa tak lekas2 berlalu ? Dekat dengan orang begitu, apa gunanya?"

The Go tak mau sia2kan ketika sebagus itu.

Dengan empos semangat, dia menekan sisa tiang perahu, kemudian meminjam kekuatan tekanannya itu, dia rangkul Bek Lian enjot tubuhnya loncat keatas kutungan tiang yang satunya.

Jarak Ceng Bo dengan The Go itu hanya lebih kurang satu meter, kalau mau dapat dia menghadang.

Tapi karena masih ter-menung2 memikiri dampratan siwanita aneh "tak mampu melindungi isteri"

Tadi, pikirannya me-layang2 jauh pada pada peristiwa 10 tahun yang lalu.

10 tahun yang lalu, Ceng Bo siangjin masih sebagai Bek Ing yang bergelar Hay-tee-kau.

Dengan In Hong yang bergelar Kiang Siang Yan (seriti diatas sungai), sebenarnya adaIah suheng dan sumoay (saudara seperguruan).

Karena sama saling jatuh cinta, keduanya terangkap menjadi suami isteri sampai 10 tahun lamanya.

Mereka dikarunia seorang puteri, Bek Lian, yang itu waktu sudah berumur 9 tahun.

Ketika itu Kiang Siang Yan In Hong sudah hamil lagi.

Sejak sepasang suami isteri itu menerima kepandaian dari suhu dan subo, mereka berkelana didunia persilatan untuk menjalankan dharma kebajikan.

Selama itu, belum pernah mereka menemui tandingannya.

Pada kala itu, mereka telah keliru diadu domba oleh dua orang siaojin, maka bertempurlah keduanya melawan Tay Siang Siansu dari gereja Liok-yong-si Kwiciu (guru Kiau To).

Pertempuran itu telah berlangsung dengan seru sekali, hingga sampai satu hari dua malam belum putus.

Baru setelah Bek Ing mengeluarkan ilmu pedang to-hay-kiam-hwat dan In Hong menggunakan ilmu pedang boan-kiang-kiamhwat dan berkat ketajaman pedangnya masing2 yang sakti itu, dapatlah mereka mengalahkan hweshio gagah itu.

Tapi walaupun menang, mereka telah mengalami pengalaman yang pahit.

Karena keliwat menggunakan kekuatan, kandungan In Hong goyang dan akhirnya mengalami keluron (gugur kandungan).

Dan karena keluron itu, In Hong banyak mengeluarkan darah, hingga badannya lemah sekali.

Untuk sementara, terpaksa mereka menetap disebuah pondok dikaki gunung Lo-hou-san guna beristirahat.

Setiap hari, Bek Ing naik ke atas gunung untuk mencarikan daun obat2an sang isteri.

Tapi peristiwa hebat telah terjadi.

Pada suatu hari, ketika Bek Ing pulang dari mencari obat, dilihatnya pintu pondok (gubuk) terbuka lebar, sedang penerangan didalamnya tampak sebentar suram sebentar terang.

Dia terkejut karena menduga tentu terjadi apa2 yang tak diinginkan.

Secepat kilat dia menobros masuk.

Seorang tua kate yang rambut dan alisnya sudah putih tampak sedang menyeringai memandang In Hong.

Demi menghampiri dekat, diketahuinya sang isteri itu telah kena ditutuk jalan darahnya sampai pingsan.

Buru2 Bek Ing membuka jalan darah sang isteri, siapa tak antara lama kemudian dapat siuman lagi.

Sewaktu ditanya, orang kate itu ternyata seorang linglung, maka tanpa bicara lagi Ceng Bo menempurnya.

Tapi kiranya orang tua kate itu "keras"

Sekali, hinggi sampai sekian lama, belum bisa menang malah akhirnya musuh dapat lolos.

Pertempuran itu terjadi diluar pondok.

Sia2 mengejarnya, Ceng Bo kembali kedalam pondok, tapi isterinya sudah menghilang.

Cepat dia mencarinya, namun tak berhasil.

Sejak itulah dia berpisah dengan sang isteri, hingga kini sudah 10 tahun lamania.

"Adakah aku dapat dikatakan seorang yang tak mampu melindungi isteri? Peristiwa itu diluar dugaanku, serta setelah pulang dari atas gunung baru kupergoki, mengapa aku dituduh 'hanya orang pengecutlah yang tak berani mengadu jiwa untuk kepentingan orang yang dicintainya'?"

Demikian tanyanya seorang diri.

Sampai sekian lama, tak dapat dia menjawab pertanyaannya itu.

Baru setelah segelombang ombak mendamparnya, dia menjadi gelagapan tersedar.

Dia mengawasi kemuka, tapi ternyata The Go, Bek Lian serta siwanita aneh tadi sudah lenyap dari pandangannya.

Dia perdengarkan hembusan napas panjang.

Jauh memandang kelautan lepas, air laut bercahaya ke-emas2-an ditimpa pancaran sinar Batara Surya, sekilas hatinya jauh me-layang2.

Selang berapa saat kemudian, baru dia tersadar dan cepat-menabas tiang perahu.

Sewaktu dia injak kutungan tiang itu, dia merandek sebentar untuk mengawasi sisa tiang perahu lainnya yang bekas ditabas oleh siwanita aneh tadi.

Demi melihat bekas tabasan itu, mau tak mau dia geleng2 kepala.

Kiranya sisa tiang itu, ujungnya seperti ditabas rata dengan golok.

Menandakan bahwa sekalipun ilmu kepandaiannya dengan siwanita aneh itu setingkat, tapi berlainan sumbernya.

Habis itu, Ceng Bo segera meluncur dengan kutungan tiangnya, tapi bingung dia hendak menuju kemana.

---oodw0tahoo---Kini mari kita ikuti perjalanan The Go dengan Bek Lian.

Sewaktu kutungan yang ditumpanginya Au timbul tenggelam.

The Go yang membopong Bek Lian itu sudah gulangguling tak dapat berdiri jejak.

Sebaliknya dilihatnya bagaimana siwanita aneh itu begitu anteng menumpaki kutungan tiangnya.

Bagai sebatang anak panah, ia meluncur kearah utara.

Tahu kini The Go, bahwa Iwekang dari siwanita aneh itu telah mencapai tingkat yang tertinggi hingga dapat menyalurkan kedalam air melalui sang kaki.

Hanya The Go merasa bersyukur demi tampak Ceng Bo masih tertegun berdiam diri.

Sekalipun begitu, dia masih kuatir juga kalau siangjin itu akan mengejarnya.

Dan kalau kejadian begitu, terang dia pasti bakal kecandak.

"Lian-moay, coba keluarkanlah lwekangmu, sebaiknya kita terjun kedalam air saja,"

Katanya setelah memperoleh daya.

Bek Lian menurut.

Begitulah keduanya kini tak berdiri diatas kutungan tiang itu lagi, tapi terjun keair seraya merangkul erat2 pada tiang itu.

Ilmu air dari The Go amat lihay, sekali kakinya menjejak kebelakang, maka meluncurlah tiang itu dengan pesatnya kemuka.

Tak berapa saat saja, mereka sudah jauh dari perahu tadi.

Taruh kata Ceng Bo siangjin sudah teringat hendak mengejarnya, pun rasanya tak mudah.

Dengan cara berenang begitu, menyurung sebuah kutungan tiang yang digelandoti oleh Bek Lian, lama kelamaan payah juga The Go.

Akhirnya dia berhenti mengayuhkan sang kaki, dengan menggelandot pada tiang kayu tersebut, dia hendak memulangkan napasnya yang ter-sengal2.

Melihat itu, Bek Lian tak tegah, katanya.

"Engkoh Go, jangan gunakan tenaga lagi, biarkan tiang kayu ini berayun sendiri. Asal kita ber-sama2 apapun tak usah ditakuti bukan?"

Hati The Go pada saat itu, tengah mendongkol sekali.

Bukankah kalau karena tidak gara2 Bek Lian, saat itu dia sudah enak2 duduk dikursi kebesaran gedung gi-bun di Kwiciu?

Masakan dia bakal mengalami keadaan seperti kala itu, ter-apung2 ditengah laut mati tidak hidup tidak?

Tapi dia bukan si Wajah Seribu, kalau tak pandai bermain sandiwara dalam segala keadaan.

Biar hatinya mendongkol, mulutnya tetap tak mau sesali Bek Lian.

Per-tama2 takut kalau siwanita aneh akan muncul dengan tiba2, kedua dia masih tetap inginkan kecantikan sinona itu.

Maka dia hanya mengiakan sekenanya saja, tapi hal itu sudah cukup membuat Bek Lian bergirang.

---odw0taho---Kala itu adalah pertengahan bulan 11.

Angin meniup keras, sedang ombakpun bergelombang, tapi karena keduanya menggunakan lwekang, jadi masih dapat bertahan dingin.

Keesokan harinya, matahari muncul dari permukaan cakrawala timur dengan membawa cahaya ke-emasan yang gilang gemilang.

Semalam mereka tidur secara gilir.

Ketika terang tanah, mereka merasa haus sekali.

Saking tak kuatnya, The Go komat kamitkan bibirnya yang kering itu.

Diempat penjuru berpagar laut, sedikitpun tiada tampak bayangan daratan.

Segera The Go mengambil putusan robah haluan, menuju kearah utara.

Turut suara hatinya, dia ingin sekali tinggalkan Bek Lian, namun tak berani demi terbayang akan wajah siwanita aneh yang menakutkan itu.

Terpaksa dengan menggigit gigi, dia berenang lagi, kemudian setelah kecapean lalu menggelandot pada tiang kayunya.

"Engkoh Go, apa kau haus?"

Tanya Bek Lian seraya mengusap2 pipi The Go, siapa hanya mengangguk saja.

"Engkoh Go, kemarilah lebih dekat."

Karena tak mengerti maksud orang, The Go hanya menurut saja.

Tahu2 tangan Bek Lian menekan tengkuk The Go, begitu muka sianak muda condong kepadanya, ia lekas katupkan bibirnya kemulut sianak muda.

Sesaat The Go rasakan seperti menyucup anggur yang manis, cukup keras tapi tak memabukkan.

Lupalah sudah dia, kalau pada saat itu tengah berada ditengah lautan.

Rasanya dia tengah me-layang2 dikeinderaan (tempat dewa dewi), seluruh perasaannya dibuai oleh rasa yang sedap.

Entah sampai berapa lama mereka dalam keadaan begitu, baru tiba mereka tersadar kalau masih ditengah lautan.

Selebar wajah Bek Lian merah padam, ia tundukkan kepalanya berdiam diri.

"Lian-moay, seperti diriku si The Go ini, dalam kehidupan yang sekarang telah mendapatkan kasih seorang juwita seperti kau ini, rasanya matipun puas!"

Kata The Go. Bek Lian makin ke-malu2an, tanyanya.

"Engkoh Go, apa kau sudah tak haus?"

Melihat wajah Bek Lian makin malu makin cantik, The Go puas sekali. Semangatnya timbul kembali, lalu berenang lagi menuju keutara, katanya kepada Bek Lian.

"Aku hendak bercerita lelucon agar hatimu terhibur, maukah kau mendengar?"

"Lelucon apa?"

"Cerita lucu tentang orang yang takut bini."

"Bah, aku tak sudi mendengarkannya."

"Bodoh, tanggung kau nanti akan ketarik sampai lupa haus dan lapar."

Bek Lian bersenyum manis menatap The Go. Pikirnya, asal kau berada didampingku, segala penderitaan aku sang-up menghadapi.

"Berceritalah!"

Sahutnya kemudian. Setelah mengomat-ngamitkan lidahnya, mulailah The Go bercerita.

"Dahulu ada seorang Koanthayya (residen) yang terkenal takut bini. Pada suatu hari, timbullah pikirannya hendak mengetahui, ada berapakah kaum lelaki yang takut bini seperti dia itu. Maka diperentahkan pada pegawai2 bu (pengawal) dan hamba polisi sekalian, untuk menghadapnya.

"Kalian semua tentu mengetahui, pun-loya (aku) takut bini. Sekarang hendak kuketahui, bagaimanakah keadaan kalian semua itu. Kalau yang takut bini, supaya berkumpul disisi kanan, sedang yang tidak takut bini, berjajar disisi kiri!"

GAMBAR 23 Dengan kutungan tiang perahu, The Go dan Bek Lian terombang-ambing ditengah lautan sambil mengobrol hal yang lucu2.

Maka berpencarlah seluruh pegawai gedung keresidenan Itu.

Anehnya, semua sama berbaria disisi kanan, kecuali seorang saja yang menyisih kesebelah kiri.

Mendengar sampai disini, Bek Lian jebikan bibirnya seraya tertawa.

"Pegawai itu tentu tak takut .............. bininya?"

"Jangan buru2 memutus, dengarkan dulu ceritaku,"

Kata The Go.

"Nah, timbullah kesangsian dalam hati siresiden itu. Aku seorang residen takut bini, mengapa dia seorang pegawai rendah begitu bisa berani pada bininya?"

Demikian pikirnya. Maka dengan gebrakkan palu kebesarannya, dia bertanya.

"Hai, mengapa kau tak takut bini?"

Berlututlah sipegawai tadi berdatang sembah.

"Maaf, Koanthayya. Bukannya siaojin hendak menentang perentah thayya tadi, tapi karena siaojin selalu melaksanakan pesan atasan hamba, bahwa dimana banyak orang berkumpul, siaojin jangan turut berkerumun disitu. Maka tadipun siaojin tak berani ikut2-an menggerombol disebelah kanan."

Belum The Go menyelesaikan ceritanya, Bek Lian sudah tak kuat menahan gelaknya.

"Kau sungguh pintar mengilik hati orang!"

Serunya sembari menggablok pelan2 kepunggung sianak muda, siapapun turut tertawa juga.

Begitulah dengan menutur cerita yang lucu2, mereka tak putus2-nya tertawa gelak2, sehingga benar juga dapat melupakan rasa dahaga dan laparnya.

Dan tahu2 hari sudah sore, karena matahari sudah berada dipermukaan laut sebelah barat.

Se-konyong2 The Go bersorak kegirangan.

Ha, kiranya jauh dimuka sana tampak selarik benda hitam.

Bek Lian melihat juga bends, itu, tapi heran ia mengapa The Go begitu kegirangan.

Tapi bagi The Go yang sudah biasa hidup dilaut, segera mengetahui kalau bends, itu adalah daratan yang menurut taksirannya hanya antara 30-an li jauhnya.

Diketahuinya pula bahwa kala itu adalah saat air pasang, maka dalam dua jam saja, mereka tentu akan sudah dapat mencapai daratan itu.

Ketika The Go menerangkan, Bek Lian pun girang bukan kepalang.

Sesaat timbul harapannya, semangatniapun segar kembali.

Apa yang diperhitungkan oleh The Go itu, sedikitpun tak ada yang meleset.

Ketika sudah mendekati daratan, The Go menyelam kebawah dan ternyata kakinya sudah mengenai dasar karang.

Kini dengan memimpin Bek Lian, separoh berjalan separoh berenang, dia akhirnya berhasil naik kedaratan.

Saat itu rembulanpun sudah unjukkan wajahnya, angin menghempuskan kesejukan malam.

Kalau tadi terendam diair tidak terasa dingin, kini begitu naik kedaratan dan tertiup angin, menggigillah keduanya.

The Go segera ajak sinona berlari mencari rumah orang.

Kirai setengah li jauhnya, baru kelihatan ada beberapa bush gubuk yang terletak ditepi pesisir.

Setelah memilih yang agak lumayan, mereka masuk kedalam salah satu gubuk.

Untuk kegirangan mereka, disitu penuh dengan alang2 kering dan masih beberapa makanan serta perapian.

Tanpa berayal lagi, mereka segera menghidupkan api, untuk memanaskan badan.

Pada lain gubuk didapatinya masih ada beberapa bahan makanan..

Setelah menangsel perut dan pakaiannya pun kering, Bek Lian menyatakan cape dan ngantuk sekali.

The Go segera membuat tempat tidur dengan menumpuk alang2.

Setelah menyuruh Bek Lian tidur, dia melangkah keluar.

"Engkoh Go, kau hendak kemana?"

Tanya sigadis. The Go mengatakan hendak tidur dilain gubuk, tapi Bek Lian cepat menyegahnya.

"Engkoh Go, kau tidur didekatku sini saja."

The Go mengiakan.

Saking lelah dan capenya, begitu berbaring keduanya lantas jatuh pulas.

Keesokan harinya, menjelang fajar Bek Lian bangun dan menangis sesenggukan, sudah tentu The Go ter-sipu2 menghiburnya.

"Entahlah mengapa aku menangis. Sebenarnya hatiku bahagia sekali, tapi mataku ingin menangis,"

Ujar Bek Lian.

"Itulah yang dikatakan, kalau keliwat girang orang bisa bersedih."

"Apa katamu?"

Menegas Bek Lion.

"Aku maksudkan, karena keliwat girang kau lantas menangis"

Plak, terdengar tangan Bek Lian menggaplok sang kekasih, disusul dengan gelak tertawa sinona yang riang bahagia.

Begttulah mereka tidur lagi, hingga hari sudah tinggi, baru mereka terjaga.

Melihat The Go, Bek Lian ke-merah2an wajahnya, tapi sebaliknya sianak muda itu tertawa riang lalu berbangkit keluar.

Bek Lian mengikut, wajahnya membayangkan perasaan hatinya yang berbahagia.

Sebagai bajak laut, sebenarnya The Go faham akan pulau2 yang terdapat dilautan.

Tapi tentang pulau yang ditempati itu, dia sungguh tak tahu namanya.

Sampai sekian lama berjalan, keduanya masih belum menjumpai barang seorangpun juga.

Hanya jauh disana tampak beberapa ekor rusa ber-larian2 diantara batu karang pegunungan.

Nyata pulau itu sebuah pulau kosong.

"Lian-moay, pulau ini tak didiami orang."

"Engkoh Go, asal bersama kau, aku tak hiraukan lain orang lagi."

The Go kerutkan keningnya.

"Kita harus membuat api unggun dipulau yang tak kuketahui namanya ini. Akupun perlu mencari makanan, agar kita jangan kelaparan!"

Kata The Go, suara siapa mengunjukkan kejengkelan hatinya.

GAMBAR 24 Tiba2 terlihat didepan sana ada dua ekor rusa, cepat The Go sambitkan dua butir batu, tapi aneh, binatang Itu ternyata diam saja.

Berjalan lagi tak berapa lama, tiba2 disebelah muka tampak ada dua ekor rusa 'ciang' (sejenis rusa yang tak bertanduk).

Rusa itu tingginya hampir satu meter, dagingnya gemuk.

Begitu melihat orang, binatang itu mengobat-abitkan kepalanya, namun kakinya serasa terpaku ditanah tak dapat lari.

Melihat itu, The Go tak mau sia2kan kesempatan bagus.

Kalau kedua ekor rusa itu dapat ditangkapnya, berarti cukup untuk ransum lima enam hari.

Maka dijemput dua butir batu terus ditimpukkan kearah kepala sibinatang.

Aneh, binatang itu tak mau menghindar maka timpukan The Go yang dahsyat itu segera mengenakan kepalanya.

Kepala binatang itu segera terkulai dan lehernya lentuk.

Tapi anehnya, walaupun terang sudah hampir binasa, namun kaki kedua binatang itu masih tetap seperti terpaku ditanah.

---oodw0tahoo---BAGIAN 7 .

HATI NAN LARA "Engkoh Go, mengapa binatang itu tak rubuh ?"

Tanya Bek Lian.

The Gopun turut heran.

Dipungutnya dua biji batu dan ditimpukkannya lagi.

Kali ini perut kedua binatang itu terkena, usus keluar darah mengalir, terang sudah tentu mati.

Tapi yang mengherankan, binatang itu tetap tegak berdiri saja.

Selagi masih diliputi oleh rasa heran, tiba2 didengarnya ada orang berbangkit.

"Sahabat manakah yang ..................", belum habis The Go menyerukan pertanyaannya, tiba2 kedua ekor binatang rusa yang sudah mati tadi melesat maju dengan cepat sekali hingga sampai mengeluarkan deru angin. Buru2 The Go menarik Bek Lian untuk menyingkir kesamping. Pada lain saat terdengarlah dua kali suara blak....... blak....... , dan tersungkurlah kedua binatang tadi ketanah. Ketika The Go menengok kebelakang, dilihatnya binatang itu sudah hancur tubuhnya. Tahu dia bahwa tentu ada seorang berilmu tinggi yang meluncurkan binatang itu. Baik kawan atau lawan, tapi yang perlu harus bersiap dulu. The Go cepat hendak mengeluarkan kipasnya. Kipas itu terbuat dari bahan sutera yang ulet sekali, hingga tak rusak terendam dalam air laut. Tapi baru tangannya menarik kipas, atau terdengarlah suara orang memakinya.

"Jahanam, dengan susah payah Sam-thay-ya mencari tempat yang sunyi untuk tidur serta membawa dua ekor rusa untuk mengalingi diri dari sinar matahari, mengapa berani mengganggu kesenangan Sam-thay-ya"

Nada suara itu berpengaruh sekali, hingga menusuk kedalam telinga dan hidung.

The Go dan Bek Lian segera mengetahui bahwa kini mereka berhadapan dengan seorang yang tinggi ilmunya lwekang.

Ketika mengawasi dengan perdata, kiranya ditempat kedua rusa berdiri tadi, tampak ada seorang tua yang bertubuh kate dan alia serta rambutnya sudah putih semua.

Dia mengenakan jubah panjang yang warnanya menyerupai warna batu.

Oh, kiranya tadi siorang tua kate ilulah yang ber-baring dibawa kedua ekor rusa, maka kaki kedua binatang itu tampaknya seperti terpaku ditanah.

Mengetahui kesaktian siorang kate itu, The Go tak berani mencari perkara.

Tapi baru dia hendak mengatakan sesuatu, tiba2 orang kate itu loncat menghampiri kemuka Bek Lian seraya mengawasinya.

"Kiang Siang Yan!"

Serunya dengan nyaring sekali hingga membuat Bek Lian terkejut.

"Wut.......", sehabis berteriak tadi siorang tua kate itu meluncur kebelakang sampai dua meter jauhnya. Tangannya menabok pada batok kepalanya sendiri lalu mengoceh sendiri.

"Salah, he? Kalau Kiang Siang mau semacam itu, tak seharusnya kumemelihara janggut begini."

The Go dan Bek Lian tak mengerti ocehan orang itu, maka ditunggunya saja sampai beberapa saat.

"He, kalian lihat, aku ini mempunyai janggut tidak ?"

Tiba2 siorang tua kate itu mendongak bertanya.

Diam2 The Go menjadi heran.

Orang itu mempunyai buge (kepandaian silat) yang sedemikian sakti, tapi mengapa selinglung itu.

Tiba2 dia teringat akan keterangan kakek gurunya Ang Hwat cinjin, bahwa dalam dunia persilatan memang terdapat seorang tokoh yang bertubuh kate, siapa paling gemar sekali belajar silat.

Dia selalu memaksa orang yang dijumpainya supaya mengajarkan ilmu silat, maka ilmu silatnya banyak macam ragam alirannya.

Ilmunya lwekang, dipelajarinya dari seorang sakti ketika dia masih kecil.

Lihaynya tiada tertara.

Tapi pikiran orang itu seperti linglung, omongannya tak keruan juntrungannya.

Ang Hwat cinjin memesan, apabila berjumpa dengan tokoh itu, The Go harus bersikap mengindahkan, baru nanti tak mengalami kesusahannya dari dia.

Dilihat, ciri2nya, terang siorang kate inilah yang dimaksudkan oleh kakek guruna itu.

Teringat hal itu, ter-sipu2 The Go menjura memberi hormat seraya -berkata.

"Sam-thay-ya !"

Memang siorang tua kate itu bukan lain adalah si Sik Lo-sam adanya.

Sejak berpisah dengan Ceng Bo siangjin, dia lalu mengembara ke-mana2 dia tanpa disengaja telah kesasar dipulau kosong situ.

Begitu melihat The Go begitu menghormatnya, dia tertawa ter-loroh2.

Habis itu, sekonyong2 dia menampar keningnya sendiri, lalu berseru dengan murka.

"Hai, buyung, tadi Sam-thay-ya tanya kau punya janggut tidak, mengapa kau diam saja ?"

The Go tak jelas akan pertanyaan orang, dikiranya yang punya atau tidak janggut itu adalah siorang tua itu sendiri, maka cepat dia menyahutnya .

"Tidak!"

Mendadak Sik Lo-sam ber-kaok2 aneh, serunya .

"Haya, celaka, aku tak punya janggut. Kalau bukan Kiang Siang Yan siapa lagi ia itu ?"

Habis itu dia lantas memutar tubuh lari. Tapi baru beberapa tindak, se-konyong2 dia memutar tubuhnya lagi, serunya.

"Salah, asal bisa menemukan Kiang Siang Yan, Hay-te-kau tentu mau mengajari aku ilmu pedang. Ah, tak boleh lari...... , tak boleh lari...... !"

Dan "wut .....", dia loncat kesamping Bek Lian.

Geli Bek Lian melihat siorang tua kate yang linglung itu, maka kini diapun tak takut lagi, malah ter-tawa2.

Melihat dirinya diketawai, Sik Lo-sam tanya pada The Go.

"Buyung, adakah aku ini sungguh2 tak berjanggut ?"

Merasa tadi salah faham, kini The Go menyahut kalau orang tua itu berjanggut. Tapi mendadak sontak, siorang tua itu men-jerit2 dengan marahnya.

"Kau berani mempermainkan Sam-thay-ya buyung?"

Dan "wut.....", begitu meluncur tahu2 dia hendak mencengkeram dengan tangan kanannya.

Tapi anehnya tangan kanan itu walaupun menjulur tapi tetap kaku, sebaliknya tangannya kiri sudah nampak disiapkan.

The Go tahu bahwa serangan tangan kanan orang aneh itu hanya kosong, maka jika dia keburu menghindar tentu akan dicengkeram oleh tangan kiri orang.

Maka dengan gerakan yang tak mirip dengan ilmu silat, dia buang diri kesamping.

Benar jiiga cengkeram Sik Lo-sam tadi telah menemui tempat kosong, sementara The Go seperti tingkah orang mabuk, lalu ter-huyung2 bangkit kembali.

"Ang Hwat cinjin ! Bagus, buyung, kau pernah apa dengan Ang Hwat cinjin ?"

Tanya Sik Lo-sam demi melihat gerakan The Go tadi adalah dari jurus "Hong-cu-may-ciu"

Atau sigila menjual arak.

"Hopwe adalah cucu murid dari Ang Hwat cinjin,"

Sahut The Go dengan hormat sekali.

"Hai, mengapa kau tak menjura padaku ? Meskipun Ang Hwat cinjin pernah mengajari ilmu silat padaku, tapi akupun juga memberi pelajaran padanya. Jadi terhitung aku ini suhumu, hayo mengapa tak mengangguk pada Sam-thay-ya ?"

Sampai disini tak kuasa lagi Bek Lian menahan gelaknya, saking gelinya ia tertawa ter-kial2.

Sik Lo-sam penasaran, matanya terbolak-balik.

The Go cukup mengerti, kalau orang tua kate itu memang linglung, jadi tak dapat diajak bicara genah, maka dia lalu menerangkan .

"Sam-thaya, ia bukan Kian Siang Yan, tetapi puterinya."

Rupanya Sik Lo-sam agak sadar, sampai sekian saat dia diam saja. Kemudian tanyanya.

"Buyung, mengapa kau datang kepulau kosong ini ?"

The Go tahu tak usah banyak ini itu dengan orang linglung itu, karena kalau salah lidah, dia tentu dihujani pertanyaan yang tak putus2nya.

Maka dengan sembarangan saja, dia menerangkan secara ringkas.

Dan benar juga Sik Lo-sam mau mempercayainya.

"Sam-thay-ya bagaimana bisa datang kemari ?"

Kini The Go yang balas bertanya.

"Kau berani memandang rendah pada Sam-thay-ya ?"

Kembali silinglung angot penyakitnya.

"Apa kau naik perahu ?"

Buru2 The Go menyusuli pertanyaan. Sik Lo-sam tertawa, sahutnya.

"Perahu sih hanya mencuri sebuah, tapi aku berenang tadi, hanya saja perahu itu juga kubawa kemari."

The Go girang, karena kalau Sik Lo-sam bisa berenang kesitu, terang pulau itu tak jauh dari daratan besar. Kalau benar siorang tua membawa perahu, mudahlah untuk kembali kedaratan sana.

"Sam-thay-ya dari mana kau mulai terjun ?"

Tanyanya.

"Huh, masih bertanya ? Di Kwiciu diadakan luitay besar, apa kau tak tahu ?"

Muka The Go merah, sahutnya.

"Tahu."

"Dalam keramaian begitu, mana bisa Sik Lo-sam tak turut melihat ? Thian Te Hui kalah, Sam-thay-ya tentu membantunya. Kalau Thian Te Hui menang, Sam-thay-ya akan bantu fihak Ci-hun-si."

Diam2 The Go leletkan lidahnya. Dengan ilmunya itu, terang kalau mau, orang tua aneh itu tentu dapat mengacau luitay.

"Tapi, cialat, Sam-thay-ya temaha tidur, terlambat sehari. Malam itu kesana luitay sudah beristirahat. Besok paginya luitay baru dimulai lagi. Tapi Sam-thay-ya tidur, seperti orang mati lagi. Pikir Sam-thay-ya, tidur itu pengacau besar, jangan tidur saja. Tapi makin benci tidur, makin kepingin tidur, sehingga lima enam hari selalu ketinggalan spor (kereta api) saja! Entah bagaimana, orang2 sudah tak berhantam diluitay, suasananya menjadi kacau. Sam-thay-ya tak mau mumet2 dengan orang2 banyak itu, mencuri sebuah perahu, lalu berenang kemari. Aneh, sepanjang jalan, bertemu dengan beberapa orang yang kepalanya berkuncir, seperti orang perempuan. Sam-thay-ya senang sekali melihatnya, lalu membetot beberapa buah. Tapi rupanya orang2 itu sudah beberapa hari tak keramas, baunya apek sekali, lalu Sam-thay-ya lemparkan kuncir2 itu."

The Go tahu sekalipun orang tua itu linglung, tapi apa yang diceritakan tadi tentu sungguh.

Jadi nyata tentara Ceng sudah menyerang Kwiciu, maka luitay itu lantas tutup.

Tapi siapakah yang memimpin tentara Ceng itu, karena toh dia sendiri berada ditengah lautan ?

Keinginan The Go untuk lekas2 balik ke Kwiciu, makin besar.

"Sam-thayya, dimanakah perahu itu ?"

Tanyanya.

"Turut sama Sam-thay-ya yo, perahu baik2 tertambat disana,"

Kata Sik Lo-sam dan

"tok.... , tok...."

Seperti katak, dia melompat kemuka.

The Go ajak Bek Lian mengikuti siorang tua aneh itu.

Ketika sampai dipesisir, ternyata disitu tampak ada sebuah perahu.

Maju lagi beberapa tindak, Bek Lian cepat melihat ada seseorang tengkurap dipesisir.

Tubuhnya sebentar diangkat sebentar diturunkan, seperti orang yang baru saja datang dengan berenang, sehingga kehabisan tenaga.

"Engkoh Go, ada lagi seorang lain disana itu,"

Seru Bek Lian kepada The Go. Orang itu mengangkat pelan2 kepalanya, dan tiba2 berseru.

"Suci!"

Bek Lian terkejut sekali, serunya.

"Sute, mengapa kau disini ?"

Sembari lari menghampiri.

Sebagai saudara seperguruan, sudah tentu setelah lama tak berjumpa, Bek Lian ingin sekali menanyakan kabarnya Yan-chiu.

Tapi The Go menjadi cemburu.

Teringat dia ketika di Giok-li-nia tempo hari, Tio Jiang sikapnya begitu memperhatikan sekali kepada Bek Lian, terang kalau diam2 tentu menyintai.

Benar sijuwita itu telah menyerahkan seluruh hatinya kepadanya, tapi kini dengan adanya Tio Jiang, dia bersangsi.

Cepat dia ulurkan tangannya untuk menjambret Bek Lian, seraya berkata dengan dingin sekali.

"Pe-lahan2 saja berjalan, perlu apa harus begitu kesusu !"

Bermula Bek Lian tak mengerti mengapa sang kekasih menariknya, tapi demi nampak perobahan muka sianak muda itu, tahulah ia apa sebabnya.

"Engkoh tolol, aku kan sudah menjadi kepunyaanmu!"

The Go merasa tadi dia sudah keterlaluan, maka diapun segera tertawa. Dalam keayalan itu, Sik Lo-sam sudah menghampiri kemuka Tio Jiang. ,He, buyung, kaulah kiranya!"

Serunya dengan suara yang aneh. Belum Tio Jiang menyahut, The Go dan Bek Lian sudah tiba. Tio Jiang pe-lahan2 mengangkat kepalanya, lalu berseru.

"Sam-thay-ya!"

Sik Lo-sam tertawa girang. Tapi Tio Jiang tak menghiraukannya lagi, serta berkata kepada Bek Lian ."Lian-ci, kemana saja kau beberapa hari ini ? Dan suhu? Hari itu...... malam......

", tangannya lalu merabah kedalam baju. Peniti kupu2an kepunyaan Bek Lian masih berada di-situ, katanya lagi ."Malam itu aku tidur kepat, sampai keesokan harinya baru bangun. Yan-chiu mengatakan kau ber-sama suhu berangkat kedalam kota, tapi mengapa sampai beberapa hari ?"

Bek Lian tak tahu mengapa dalam keadaan sepayah itu, begitu melihat dirinya, Tio Jiang timbul lagi semangatnya.

Ia tak tahu kalau Yan-chiu main gila.

Yang diketahuinya ketika pergi dengan sang ayah itu, sutenya itu masih terluka parah.

"Sute, apa lukamu sudah baik ?"

Tanyanya. Melihat sang suci kini begitu memperhatikan dirinya, tangan Tio Jiang terus menerus me-mijat2 peniti kupu.

"Sejak Lian suci mengikat janji padaku, sikapnya betul2 sudah berobah,"

Pikirnya, lalu berbangkit sembari melolos sarung pedang yang terselip dipinggang, untuk menuang air didalamnya.

"Lukaku sudah hampir sembuh. Tapi karena ber-gegas2 terjun keair, sehari penuh berenang, maka punggungku terasa sakit lemas !"

"Mengapa lari kelaut ? Apa kau dikalahkan diluitay dan di-kejar2 musuh ? Sungguh tak ada aturan begitu!"

Tanya Bek Lian. Tio Jiang membeliakkan matanya, balas bertanya.

"Lianci, apa kau tak tahu kalau tentara Ceng sudah masuk ke Kwiciu ? Kiau susiok memimpin ratusan saudara2 Thian Te Hui untuk menyerang kekota. Aku dan Yan-chiu ikut serta. Tapi tentara Ceng keliwat banyak jumlahnya, hingga kami terkurung. Setelah bertempur mati2an sampai sehari semalam, baru bisa lolos, ah rasanya tulang2ku seperti copot!"

Mengira kalau sang suci itu sudah menjadi orangnya, maka Tio Jiang kini bisa bicara dengan lancar, tak kaku seperti dahulu. The Go bergirang, karena apa yang diduganya itu tak salah.

"Siaoko, bilamana tentara Ceng itu masuk. ke Kwiciu, siapa yang memimpinnya, tahukah kau ?"

Tanyanya seraya maju selangkah. Sejak menampak The Go, Tio Jiang sudah tak senang, maka dia hanya menggerendeng "hem"

Saja tak mau menyahut, sebaliknya lalu berbisik tanya kepada Bek Lian lagi.

"Lian-ci, mengapa kau bisa ber-sama2 dengan dia? Apa dia tak menghinamu ?"

Bek Lian jengkel. Baru saja omong genah, kini sutenya itu keluar ketololannya lagi.

"Sute!"

Bentaknya.

Tio Jiang tak mengerti mengapa sucinya berlaku begitu.

Dia melirik kepada The Go, siapa ternyata memandang dengan sikap mengejek pada Bek Lian.

Tio Jiang tahan sabarnya dan melainkan berkata lagi kepada Bek Lian.

"Lian-ci, mari kita lekas mencari suhu, kau pergi bersama suhu, dimanakah suhu sekarang ? Kalau tak dapat mencari suhu, asal ketemu susiokpun boleh juga!"

Habis berkata begitu dia segera menghampiri Bek Lian lalu menarik tangannya. Biasanya Tio Jiang tak bernyali untuk unjuk "kegagahan"

Begitu, maka karena tak mengira, Bek Lian sudah kena dicekal tangannya. Dengan wajah ke-merah2an, ia membentak.

"Sute, kau.......", belum kata2nya itu selesai, atau ia segera menampak ada sesosok bayangan berkelebat, dan tahu2 Tio Jiang menghindar kesamping, trang....... dia sudah siap pula, dengan pedangnya. Pedang itu tangkainya bertotolan, milik Ceng Bo siangjin. Ketika memberikan pedang pusaka itu, suhunya berkata .

"Nampaknya kau ini seperti orang tolol tapi sebenarnya tidak, melainkan karena terlalu polos saja. Walaupun pedang hitam badannya penuh dengan terotolan tahi karat, tapi tajamnya bukan kepalang."

Maksud dari ucapan sang suhu itu juga mengandung arti, supaya Tio Jiang jangan puas dengan apa yang didapatnya.

Ketika Tio Jiang dengan yakin sekali mencekal lengan Bek Lian, dia sudah tak menghiraukan kalau disitu masih ada Sik Lo-sam dan The Go.

The Go yang sudah mempunyai dendaman hati dengan Tio Jiang itu, sudah tentu menjadi murka melihat perbuatannya terhadap sang juwita.

Dengan sebat dia loncat menutukkan kipasnya kearah jalan darah ko-bong-hiat orang.

Jalan darah kong-bong-hiat itu termasuk salah satu jalan darah kematian.

Barang siapa kena tertutuk jalan darahnya disitu, tentu akan meninggal.

Memang The Go sudah benci sekali, hingga hendak membinasakan Tio Jiang.

Tapi dalam beberapa hari selama ikut bertempuran melawan tentara Ceng itu, Tio Jiang tambah banyak pengalamannya, makin sempurna juga latihannya dalam ilmu pedang to-hay-kiam-hwat.

Begitu merasa ada angin menyambar dari belakang, cepat dia menyingkir kesamping sambil mempersiapkan pedang.

"Cian-bin Long-kun, mengapa mau membokong orang ?"

Dampratnya. The Go tebarkan kipasnya untuk dibuat kipas2, belum lagi mulutnya menjawab dampratan orang, atau Sik Lo-sam sudah kedengaran mengoceh sendirian.

"Hm, buyung itu terlalu jahat, masa sekali turun tangan sudah mau menutuk jalan darah ko-bong-hiat ?"

Tio Jiang terperanjat. Pedangnya dibolang-balingkan sebentar, lalu bertanya.

"Sam-thay-ya, apa katamu ?"

Sik Lo-sam delikkan matanya, menyahut.

"Buyung, bocah yang itu tadi hendak menutuk jalan darah ko-bong-hiatmu. Cara kau menghindar bagus sekali! Lebih baik ajarkan padaku saja !"

Dalam kesusunya, tadi Tio Jiang menjorok kesamping, pedang terlepas.

Tapi dengan sebat sekali, tangannya membalik untuk menyawut pedang itu lagi.

Itulah yang disebut jurus "hay lwe sip ciu" (10 benua dalam laut), termasuk jurus yang ke.

7 dari ilmu pedang to-hay-kiam-hwat.

Sebagai orang yang gemar ilmu silat seperti nyawanya sendiri, sudah tentu Sik Lo-sam dapat mengenal "barang baik", maka dia telah ajukan permintaan itu.

Sebaliknya Tio Jiang tengah delikkan mata kepada The Go.

Tio Jiang murka sekali.

Sekalipun terhadap musuh, tapi tak seharusnya berbuat seganas tadi.

Pikirnya, karena bersama-sama orang itu, tentu Bek Lian dihinanya.

Sayang penyakitnya kumat lagi, makin marah makin tak dapat berkata2.

Sampai sekian saat, baru dia dapat mengucap .

"Cian-bin Long-kun, kau...... kau....."

"Aku bagaimana ?"

Tanya The Go dengan tertawa mengejek, seraya menghampiri maju.

Dia perhitungkan, sejak pertemuannya dengan anak muda itu baru lima enam hari ini, ternyata anak itu telah menderita luka parah, dan dalam pertempuran melawan tentara Ceng juga lari pontang-panting, terang kalau kepandaiannya masih sama seperti kala dijumpainya di Giok-li-nia itu.

Kini keduanya sudah blak-blakan, saling bermusuhan.

Daripada timbulkan bahaya dikemudian hari, lebih baik sekarang ini ditumpas saja.

Maka ketika jaraknya sudah diperhitungkan tentu berhasil, dia miringkan tubuh dan secepat kilat kipasnya dijulur-surutkan 3 kali.

Membarengi tangannya kiri menghantam pelan, kipas ditangan kanan tadi ditutukkan kearah kepala orang untuk mengarah jalan darah thay-yang-hiat.

Sewaktu orang mendekati tadi, Tio Jiang sudah mengira tentu akan diserang, maka siang2 dia sudah bersiap, melangkah maju, maka kebetulan sekali hantaman tangan kiri The Go tadi telah dapat dihindarinya.

Begitu dilihatnya orang sudah bergerak menyerang, Tio Jiang gunakan jurus hay-li-long-hoan (puteri laut memain gelang), pedangnya dijungkat keatas.

Kelihatannya jurus itu biasa saja, tapi ternyata telah dapat menghadang serangan lawan.

Memang serangan kipas The Go itu, hanyalah gertakan kosong.

Begitu orang hanya bermaksud melindungi muka atau kepalanya, atau mengegos kesamping, tentu akan terkena perangkapnya.

Dalam gerak perobahan selanjutnya, musuh tentu tak bisa menghindar lagi.

Tapi telah diterangkan diatas bahwa selama ikut bertempur melawan tentara Ceng itu, ilmu pedang Tio Jiang tambah maju sekali.

Benar dia terluka hantaman thiat-sat-ciang dari To Ceng hweshio, tapi setelah diminumi 4 butir pil sam-kong-tan, lukanya tak berbahaya lagi.

Dia lebih jelas lagi akan arti dua kalimat yang menjadi pokok ilmu pedang to-hay-kiam-hwat itu, yakni.

"Alun kecil gelombang besar, masih jauh tampaknya pelahan begitu dekat tentu cepat". Memang ombak laut yang mendampar ketepi itu, kalau masih jauh, tampaknya pe-lahan2 mengalun, tapi begitu sudah dekat lagi bergemuruh dan mendampar dengan cepatnya. Letak rahasia ilmupedang to-hay-kiam-hwat, adalah disitu. Jadi serupa dengan ilmu pedang Bu-kek-kiam yang berdasarkan atas "dengan ketenangan mengatasi gerakan", atau "dua tail menahan ribuan kati". Tahu bahwa ilmu permainan 'Hong-cu-may-ciu' (orang gila menjual arak) itu penuh perobahan yang lihay, Tio Jiang tak berlaku lengah. Tangan kiri untuk melindungi dada, lalu pedang ditangan kanan digerakkan dalam jurus "hay li long hoan"

Tadi.

Dengan jurus itu, The Go mati kutu tak dapat menyerang dan terpaksa mundur selangkah.

Kini Tio Jiang yang balas menyerang dengan jurus hay lwe sip ciu (10 benua dalam laut ).

Melihat kedahsyatan pedang sianak muda, The Go tak berani menyambuti.

Dia pendakkan tubuh, niatnya hendak menyusup kesamping.

Tapi untuk kekagetannya, ujung pedang lawan seperti tetap membayangi saja.

Diam2 hatinya menjadi keder, demi teringat akan kesaktian ilmu pedang Hay-te-kau Bek Ing itu.

Karena tempo hari belum pernah menyaksikannya, maka The Go menduga anak itu tentu baru saja mempelajari jurus tadi.

Diapun tak berani berayal, begitu dilihatnya empat jurusan diliputi oleh samberan pedang, dia terus main mundur sampai beberapa tindak jauhnya.

Pertempuran melawan tentara Ceng itu, ternyata merupakan latihan praktek yang berharga bagi Tio Jiang.

Entah sudah berapa banyak jiwa tentara Ceng yang melayang di, ujung to-hay-kiam-hwat itu.

Maka diam2 dia merasa kagum juga terhadap The Go, demi dalam gebrak pertama.

tadi dapat menghindar dengan jalan mundurkan langkah.

Tapi mana dia mau memberi hati lagi.

Mulai dari jurus.

"Thio Ik memasak laut"

Sampai "Ho Peh memandang laut", usul menyusul dia merangsak lawan, sehingga binggunglah lawan dibuatnya.

Baru mundur begini, atau ujung pedang sudah mengancam datang, mundur kesitu, disana sudah menanti babatan pedang.

Buru2 orang she The itu tenangkan pikirannya dan tumplak seluruh kepandaiannya.

Sekalipun dapat menghindar dari setiap serangan, namun keadaannyapun sudah tak keruan, montang-manting keripuhan.

Untunglah Bek Lian segera berseru mencegah sang sutee, siapa walaupun tak mengerti maksud sang suci, namun menurut juga.

"Lian-moay, ilmu pedang sutemu itu, jauh lebih menang dari kau !"

Kata The Go dengan napas ter-engah2. Bek Lianpun mengenal kalau sang sute itu telah dapat mempelajari habis seluruh permainan To-hay-kiam-hwat,. Kembali wataknya ingin menang-dewek timbul, katanya .

"Sute, mengapa jurus "Ho Peh kuan hay"

Tadi boleh di buat menggertak dulu baru menyerang yang sesungguhnya, sehingga memancarkan 7 buah sinar pedang ?"

"Lian-ci, mari kita cari suhu, nanti ditengah perjalanan kuajarkan jurus itu padamu,"

Kata Tio Jiang. Bek Lian heran atas perobahan sikap sute yang biasanya begitu celingus, mengapa kini begitu "gagah"

Itu. Tanpa banyak pikir lagi, dia menyemprot.

"Kau suka mengajarkan tidak, itu terserah. Tapi siapa kesudian kau ajak mencari suhu ? Aku akan tetap berdamping dengan engkoh Go."

Tio Jiang seperti disambar petir, sehingga hampir tak mempercayai apa yang didengarnya itu.

"Lian-ci, apa katamu itu ?"

Tanyanya menegas. Belum Bek Lian menjawab, The Go sudah menghamperi dan menggandeng tangan sinona. Dengan melirikkan pandangan matanya yang menghina pada Tio Jiang, dia berkata kepada Bek Lian .

"Lian-moay, buat apa dekat2 dengan anak itu? Hayo, kita ke Kwiciu sana!"

"Baiklah !"

Sahut sinona dengan tertawa riang.

Dan tanpa menghiraukan kedua orang yang masih berada disitu, mereka berdua segera lari menuju kepantai dimana perahu itu ditambatkan.

Tio Jiang seperti orang bermimpi.

Bukantah, malam itu Bek Lian telah memberi tanda pengikat padanya ?

Mengapa kini begitu mesranya terhadap The Go dan membalikkan muka padanya ?

Bermula dia kuatir kalau sedang bermimpi, maka dicubitnyalah lengannya, tapi dia menjerit sendiri karena kesakitan.

Terang kalau dia masih berjaga.

Tetapi.......

mengapa terjadi keanehan begitu ?

Tanda matanya saja masih disini, mengapa orangnya sudah membelakangi ?

Saking tak dapat memecahkan soal yang aneh itu, Tio Jiang ter-longong2 seperti patung.

Hatinya.

begitu mendelu sekali, semangatnya patah dan lukanya terkena thiat-sat-ciang itu kembali terasa sakit sekali.

Setiup angin laut telah menusuk kedalam lukanya itu, ngilu dan nyeri.

Tadi waktu datang kepulau itu, sebenarnya dia sudah kehabisan tenaga karena hampir setengah harian berenang melintasi laut.

Hanya karena melihat Bek.

Lian saja, maka timbullah semangatnya baru.

Namun hal itu terlalu dipaksakan sekali.

Kegoncangan menyaksikan Bek Lian lari bersama The Go itu, telah menusuk sekali sanubarinya, membanting hancur seluruh impiannya.

Sesaat terasa mulutnya anyir, matanya berkunang2, setelah menggigil sebentar, matanya menjadi gelap dan.

"bluk........."

Jatuhlah dia tak sadarkan diri. Karena sampai sekian detik, tak mendengar suara Tio Jiang, Bek Lian menoleh kebelakang, dan demi dilihatnya sang sute rubuh ditanah, ia merandek.

"Lian-moay, lekaslah ! tak lekas2, mungkin kita nanti alami impian yang buruk lagi!"

Cepat2 The Go menyerukan. Bek Lian kuatir kalau tak dapat berkumpul dengan The Go, maka setelah menghela napas, ia tak memikirkan sang sute lagi.

"Anak perempuan, jangan pergi !"

Tiba2 Sik Lo-sam berseru. The Go terperanjat, sembari mencekal tangan sinona kencang2, dia bertanya.

"Sam-thay-ya, ada urusan apa ?"

"Hay-te-kau suruh aku carikan Kiang Siang Yan, kalau ketemu baru dia nanti ajarkan aku ilmu pedang. Kalau kini aku berhasil menemukan anak perempuannya, masa dia tak mau mengajarkan 3 jurus saja ? Anak, berhenti, ikut aku mendapatkan Hay-te-kau !"

Sik Lo-sam itu seorang linglung yang blak2an.

Apa yang sang hati mau, mulutnya segera men yatakan.

The Go mengeluh.

Terhadap orang aneh Itu hanya bisa dilawan dengan akal, se-kali2 tak boleh dengan kekerasan.

Sembari percepat langkahnya, The Go mengajukan sebuah pertanyaan .

"Sam-thay-ya, anak perempuan dari Kiang Siang Yan itu, pernah apa dengan Hay-te-kau, mengapa kau tak dapat memikir ?"

Benar juga, Sik Lo-sam termenung memikirkan pertanyaan itu.

Dan pada saat itu The Go beserta Bek Lian audah jauh dari.

situ.

Dan begitu tiba ditempat tambatan perahu lalu cepat2 mengayuhnya.

Baru ketika melihat kedua anak muda itu melarikan perahunya, Sik Lo-sam menjadi kelabakan.

"Hai, budak kecil, berani mempermainkan Sam-thay-ya ya ?"

Serunya sembari wut..........

loncat setombak lebih jauhnya dan tak antara lama sudah sampai kepinggir laut.

Tapi dengan memasang layar, The Go serta Bek Lian sudah jauh dari pesisir situ.

Saking marahnya, Sik Lo-sam ber-jingkrak2 seperti orang kebakaran jenggot.

Dia berloncat kian kemari dipesisir situ.

Mulutnya meng-hembus2, sehingga............

rambut janggutnya yang mend yulai panjang itu, sama tegak lenc ang.

Bahkan alisnyapun mend yigrak semua.

Tangannya me-nari2 tak keruan sehingga puhun dan batu karang yang berada didekatnya menjadi hancur beterbangan.

Setelah melampiaskan kemarahannya, tiba2 dia bertereak keras.

"Ya, buyung itulah yang merusak urusanku !"

Habis itu, dia terus berloncatan menghampiri Tio Jiang.

"Buyung, kau berani merusak urusan besar Sam-thay-ya, lekas bangun, bertempur dengan Sam-thay-ya sampai 300 jurus !"

Serunya dengan suara mengguntur. Tapi bagaimana dahsyatnya tereakan Sik-Lo-sam itu. Tio Jiang yang terluka hati dan tubuhnya itu, tetap belum siuman.

"Hi? Matikah ?"

Akhirnya Sik Lo-sam menyatakan keheranannya. Dia tunggu lagi sampai beberapa saat dan sekonyong2 wut ........ dia loncat menyingkir, lalu bertereak .

"Manusia mana yang tak bermuka itu, berani membokong buyung ini ? Lekas keluar !"

Di ulangi tereakan itu sampai dua kali, tapi setelah tak mendengar balasan dan melihat seorangpun keluar, dia membungkuk kebawah untuk membau napas Tio Jiang.

"Ha, buyung ini pura2 mati!"

Tapi ketika mengawasi wajah Tio Jiang, dia terkejut lagi.

Meskipun linglung, tapi dalam hal ilmu silat, dia termasuk tokoh kelas utama.

Sepuluh tahun yang lalu, pernah bertempur dengan Hay-te-kau, siapa tak bisa berbuat banyak terhadapnya.

Tahu wajah Tio Jiang begitu lesu, dia mengerti anak itu luka berat.

Waktu memereksa getaran urat nadi jim dan tok, rupanya sudah berhenti mendenyut.

Sedang jantungnyapun sudah lemah berdetak.

Cepat dia memondongnya seraya berkata.

"Buyung, kau terluka, kalau sudah kusembuhkan, maukah kau mengajari aku ilmu pedang ?"

Ketika dipondong itu, kepala Tio Diang terkulai kebawah, dan ini diartikan oleh si Sik Lo-sam itu sebagai tanda mengiakan.

Dia girang sekali.

Brett, baju Tio Jiang dirobeknya dan jatuhlah sebuah peniti kupu2.

Dijemputnya benda itu.

"Huh, buyung yang tak tahu malu, masa mencuri perhiasan anak perempuan,"

Serunya terus membuang peniti itu.

Dia letakkan lagi tubuh Tio Jiang ketanah, lalu dia sendiri duduk bersila, kedua tangannya dilekatkan pada bagian ulu hati dan punggung sianak itu.

Setelah mendapat pengobatan secara penyaluran lwekang itu, barulah Tio Jiang tersadar.

Ingatannya masih lemah, tapi yang selalu ter-bayang2 dalam ingatannya itu hanyalah Bek Lian seorang sad ya.

Sesaat, dia membayangkan kalau sudah mend yadi suami isteri dengan Bek Lian serta bersama2 berkelana menjalan dharma kebaikan didunia persilatan.

Pada lain saat lagi, dia seperti menampak Bek Lian sudah menjadi isteri The Go, dan sikapnya seperti tak kenal padanya.

Karena selalu memilirkan hal itu saja, dadanya serasa makin sesak.

Segumpal darah panas, serasa matt muntah keluar.

Tenggorokan berasa gatal, sehingga tak kuat lagi untuk menahan muntah.

Dia membuka matanya sedikit, Atau Sik-Lo-sam sudah membentaknya.

"Tahan jangan sampai muntahkan darah.!"

Tio Jiang tak berani membangkang, buru2 dia tenangkan pikirannya untuk menahan se-dapat2nya.

Tapi pada matanya yang separoh meram separoh terbuka itu, samar2 dia melihat Bek Lian tengah bergandengan tangan The Go dipesisir sana.

Hatinya pedih sekali, dan naiklah gumpalan darah itu ketenggorokan.

Saking sudah tak tahan lagi, mulutnya sudah akan terbuka untuk muntah.

"Tahankan!"

Bentak lagi Sik Lo-sam kedekat telinganya.

Tio Jiang menurut dan bertahan se-kuat2nya.

Tapi sang kemauan tak kuasa menahan meluapnya sang darah.

Gumpalan darah, naik keatas, sehingga ketika memandang kearah Sik Lo-sam sepasang mata Tio Jiang ke-merah2an warnanya.

"Buyung, sayang. Menolong jiwa adalah yang penting. Kelak jangan membikin jengkel Sam-thay-ya lagi,"

Seru Sik Lo-sam sembari menghela napas, dan terus menarik tangannya yang dilekatkan dipunggung Tio Jiang tadi.

Karena dilekati kedua tangan Sik Lo-sam itu, maka Tio Jiang dapat menahan sehingga gumpalan darah panas itu tak cepat2 naik.

Begitu tangan Sih Loo-sam lepaskan tangannya, Tio Jiang kedengaran menguak "huk,"

Terus hendak muntah.

Ini berbahaya sekali.

Asal gumpalan darah panas itu muntah keluar, peyakinan lwekang selama 6 tahun, akan hilang musna dan orangnya akan menjadi lemah.

Kalau hendak mengulangi belajar lagi, lebih susah dari orang yang dilekatkan pada punggung Tio Jiang tadi dilepaskan, dengan sebat sekali dia pakai jari tengah untuk menekan jalan darah thian-tho-hiat ditenggorokan sianak.

Jalan darah itu termasuk salah satu pintu terpenting dari seluruh jalan darah dalam tubuh.

Kini Tio Jiang merasa longgar dadanya, tapi dalam pada itu kepalanya menoleh kesamping.

Justeru matanya terbentur peniti kupu2 milik Bek Lian yang dilempar ketanah oleh Sik Lo-sam tadi.

Terang benda itu bukan palsu dan benar pemberian Bek Lian.

Kalau sucinya itu terpaksa mengikuti The Go tentu ada apa2nya.

Memikir sampai disitu, kembali tenggorokan terdengar mengauk "kuk"

Lagi.

Kalau tadi buakan itu menyentak keatas, kini turun kebawah tenggorokan.

Tapi untungnya, darah tetap tak termuntahkan keluar.

Kini Tio Jiang sudah banyak baik.

Mengawasi kearah Sik Lo-sam dia berbisik menghaturkan terima kasih .

"Sam-thay-ya, banyak terima kasih atas budi pertolonganmu."

"Buyung, ajarkan ilmu pedang pada Sam-thay-ya,"

Alis Sik Lo-sam turun naik disungging oleh mulutnya yang bergelak tawa.

Tio Jiang melengak.

Buru2 dia hendak berbangkit memberi hormat.

Tapi ketika sudah berdiri dan hendak putar kepalanya kemuka lagi, hai ........

tak dapat.

Rasanya tulang lehernya sudah kaku, tak bisa digerakkan lagi.

---oodw0tahoo---BAGIAN 8 .

SI TENGENG Bukan kepalang kaget Tio Jiang.

Se-kuat2-nya dia hendak memutar sang kepala, namun tetap masih berpaling kesamping saja.

Karena tadi dia berpaling kesamping mengawasi peniti kupu2 itu, jadi sebelah pipinya bagian bawah hampir menempel dipundak dan tak dapat diputar lagi.

"Sam-thay-ya !"

Serunya dengan gugup, karena mengira siorang tua aneh itu tengah mempermainkannya. Tapi wut, Sik Lo-sam loncat menyingkir, serunya.

"Buyung, jangan sesalkan aku. Tadi kalau aku tak menutuk jalan darahmu thian-tho-hiat, kau tentu sudah binasa. Kini meskipun kau menjadi pemuda tengeng, tapi nyawamu masih ada, mengapa susah hati ?"

Mendengar dirinya bakal menjadi seorang tengeng yang tak sedap dipandang, buru2 Tio Jiang berseru .

"Sam-thay-ya, kau bisa menuntuk mengapa tak mampu mengembalikan?"

Sik Lo-sam menggeleng kepala. Tio Jiang seperti putus asa, berdiam diri.

"Buyung, kepala tengeng apa halangannya ?"

Tanya Sik Lo-sam.

Kesedihan Tio Jiang sukar dilukiskan.

Kalau Bek Lian nanti makin tak sudi padanya, itu sih dapat dimengerti.

Tapi dengan cacadnya tengeng itu, kelak tentu dia tak dapat belajar silat lagi.

Memikir sampai disini, pecahlah tangis Tio Jiang tersedu-sedan.

GAMBAR 25 Ketika tahu2 kepala berubah menjadi tengeng, Tio Jiang bingung dan gugup, akhirnya la menangis ter-guguk2.

Melihat sianak muda menangis, Sik Lo-sam menjadi seperti semut diatas kuali panas.

Tangannya sebentar menampar2 kepala, sebentar2 meng-usap2 matanya.

Setelah sekian saat, tiba2 dia berseru ."Buyung, lukamu masih belum sembuh betul, kalau terus menangis, tentu membahayakan jiwamu."

Hati Tio Jiang tergetar.

Teringat ia akan pesan suhunya, bahwa mati dan mati itu ada dua.

Mati yang sepele seperti rontoknya bulu angsa, dengan mati berharga seperti megahnya gunung Thaysan.

Kalau karena tengeng, dia kepingin mati, bukankah itu sama halnya dengan mati sepele seperti rontokannya bulu angsa?

Kini tentara, Ceng sudah menduduki Kwiciu.

Tunggu nanti kalau lukanya sudah sembuh betul, dia hendak adu jiwa dengan pasukan asing itu.

Kematian itu, rasanya jauh lebih berharga.

Setelah hatinya tetap, dia tak mau menangis lagi.

Melihat omongannya diturut, Sik Lo-sam sangat girang.

Diambilkannya pedang yang jatuh ditanah itu, lalu berkata kepada Tio Jiang.

"Buyung, kau tadi sudah menyanggupi, lekas ajarkan aku ilmu pedang!"

Tio Jiang terkesiap.

Bilakah dia memberi kesanggupan itu?

Tapi serta terkilas dalam pikirannya, jangan lagi hanya ilmu pedang nyawanya sendiripun belum ketentuan kalau bisa selamat, maka apa jeleknya kalau mengajarinya jurus pertama dari ilmu pedang to-hay-kiam-hwat yakni "Thio Ik cu hay" (Thio Ik membakar lautan).

Setelah melakukan gerak jurus itu beberapa kali, Sik Lo-sam kegirangan, karena menganggap jurus itu betul lihay sekali.

"Buyung, kau ajari aku ilmu pedang, apa aku harus menyebutmu suhu? Salah, kau ini hendak mempermainkan Sam-thay-ya. Pantasnya aku juga harus mengajari sebuah ilmu silat padamu, kau minta padaku pelajaran apa? Harus dijelaskan dulu, meskipun kita saling mengajari, kau tetap menjadi muridku!"

Pikir Tio Jiang, toh dia sudah bulat tekadnya untuk mati sahid, maka makin tambah ilmu kepandaian lagi makin baik.

Teringat dia, ketika menyaksikan Kiau susiok bertempur lawan The Go di Giok-li-nia tempo hari, Sik Lo-sam itu telah dapat mengatakan jurus ilmu tutukan "orang gila menjual arak"

Dari The Go, maka tanpa ragu2, dia membuka mulut.

"Sam-thay-ya, aku mau belajar jurus tipu Hong-cu-may-ciu !"

"Aduh mak!"

Tiba2 Sik Lo-sam menjerit kaget.

"sewaktu Ang Hwat cinjin menurunkan pelajaran itu padaku, aku telah memukul tanganku selaku sumpah, tak boleh mengajarkan pada lain orang!"

Apa boleh buat, Tio Jiang menurut saja apa yang hendak diajarkan siorang tua aneh itu, tapi tiba2 Sik Lo-sam itu menampar kepalanya sendiri, berseru.

"Tak apa, kalau Ang Hwat cinjin menegur, jawab saja kalau Sam-thay-ya lupa peristiwa sumpah menabok tangan itu, boleh dah!"

Meskipun hatinya berduka, namun melihat cara siorang tua linglung itu mengoceh sendirian begitu lucu, tak urung Tio Jiang tertawa geli juga.

Begitulah ringkasnya saja, Tio Jiang dan Sik Lo-sam sudah hampir dua bulan lamanya tinggal dipulau kosong itu.

Dalam dua bulan itu, setiap 10 hari sekali, Tio Jiang tentu menurunkan satu jurus dari ilmu pedang to-hay-kiam-hwat.

Saking ketariknya, Sik Lo-sam pun menurunkan seluruh ilmunya yang beraneka ragam itu kepada Tio Jiang.

Akhirnya luka Tio Jiangpun sembuh sama sekali.

Untuk itu Sik Lo-sam teramat girang-nya.

Malah saking kegirangannya me-luap2, dia turunkan juga ilmu sakti "cap-sah-sik-heng-kang-sim-coat"

Atau 13 cara untuk menyalurkan tenaga dalam dengan kekuatan hati. Ilmu tersebut adalah sebuah ilmu lwekang yang sakti sekali. Pokoknya adalah begini.

"dengan hati menyalurkan hawa, empos semangat masuk ketulang, dengan hawa menggerakkan tubuh, tentu leluasa menurut kemauan hati. Menjalankan hawa, seperti kiu-kiok-t yu (mutiara 9 lekukan), tentu takkan terhalang. Bergerak laksana baja putih, tiada benda yang tak dapat dihancurkan. Tenang laksana gunung, bergerak seperti sungai bengawan."

GAMBAR 26 Selama dua bulan tinggal dlpulau karang itu setiap hari Tio Jiang saling, barter"

Llmu silat dengan Sik Lo-sam.

Semasa masih kecil, ternyata Sik Lo-sam itu seorang anak yang berbakat jelek.

Tapi pada suatu hari secara tak disengaja, dia telah membantu kerepotan seorang lihay, siapa untuk membalas terima kasihnya telah menurunkan ilmu lwekang "cap-sah-sik-heng-kang-sim-coat"

Yang sakti itu.

Hampir separoh dari hidupnya, Sik Lo-sam telah gunakan untuk meyakinkan ilmu itu, barulah dia, berhasil.

Beda halnya dengan Tio Jiang yang berbakat bagus, apalagi sudah digembleng oleh Ceng Bo siangjin.

Begitu mendengarkan, wejangan ilmu sakti, itu, hampir separoh bagian dia sudah jelas.

Sehingga waktu dipraktekkan, seluruh tenaga dan tulang2nya bebas lepas, tepat seperti yang dimaksudkan, dalam salah satu kalimatnya "menyalurkan hawa seperti "kiu-kiok-cu"

Sudah tentu bukan alang-girangnya Tio Jiang.

Selama dua bulan itu, dia telah belajar ber-macam2 ilmusilat yang aneh2 dan sakti, sehingga kelihayannya bertambah pesat sekali.

Pada hari itu, Tio Jiang sedang mengajarkan jurus ke-7 dari to-hay-kiam-hwat yakni jurus hay-lwe-sip-ciu (10 benua dalam laut ).

Dengan pe-lahan2 dia menjelaskan jurus itu kepada Sik Lo-sam.

Setelah itu, dia kembali lanjutkan pekerjaannya membuat rakit yang telah dimulainya sejak dua bulan yang lalu.

Kebetulan hari itu, rakit tersebut sudah selesai.

"Sam-thay-ya, aku hendak menuju ke Kwiciu, kau ikut tidak ?"

Tanyanya. Sik Lo-sam yang tengah asyik meyakinkan jurus hay-lwe-sip-ciu yang baru dipelajarinya itu, menjadi marah, serunya.

"Buyung, kau mau pergi lekas pergi sana, jangan mengganggu Sam-thay-ya berlatih silat!"

Selama berkumpul dalam dua bulan itu, Tio Jiang sudah kenal betul akan watak perangai siorang tua aneh itu.

Maka dengan tertawa, dia segera luncurkan rakitnya kedalam laut dan tak berapa lama kemudian, sudah ter-apung2 ditengah laut.

Sewaktu terapung-apung seorang diri ditengah laut itu, pikiran Tio Jiang dilamun oleh pelbagai kenangan.

Benar kini kepandaiannya jauh lebih tinggi dari dulu, tapi kini dirinya telah menjadi seorang pemuda tengeng, ia menghela napas sedih.

Apakah sucinya akan dapat menyintainya lagi?

Ingin benar dia lekas sampai di Kwiciu, namun rakit itu sedemikian pelannya.

Apa boleh buat, untuk mengisi kekosongan waktu, dia tenang diri berlatih ilmu "cap-sah-sik-heng-kang-sim-coat"

Yang baru dipelajarinya itu.

Sampai setengah harian dia berada dalam keadaan begitu, lewat tengah hari samar2 seperti terdengar suara mengaung yang lemah.

Tapi ketika dia membuka mata, ternyata tak ada apa2, kecuali laut yang lepas.

Tapi karena kini dia seorang tengeng, maka dia terpaksa harus berputar tubuh kalau hendak melihat kesebelah samping dan belakang.

Benar juga ketika berputar kesebelah belakang, tampak jauh disebelah muka sana ada sebuah perahu kecil berjalan laju sekali.

Tio Jiang terperanjat dan girang.

Terperanjat melihat kecepatan luar biasa dari sampan kecil itu.

Girang karena kalau dia bisa menggabungkan diri, tentu akan dapat mencapai daratan dengan lekas.

GAMBAR 27 Sedang Tio Jiang ter-menung2 sendirian diatas rakit, tiba2 dilihatnya jauh dibelakang sana ada sebuah perahu sedang meluncur datang dengan pesatnya.

Tio Jiang segera berteriak se-kuat2-nya.

Tapi begitu suaranya keluar, dia segera menjadi kaget sendiri, karena teriakannya itu hampir menyerupai guntur dahsyatnya.

Kiranya tanpa disadari, kini lwekangnya bertambah maju sekali.

Sudah tentu orang2 dari perahu kecil itu dapat mendengarnya, dan makin cepat menghampiri.

Ketika dekat, salah seorang dari perahu itu tampak melontarkan sebuah tali yang ujungnya diberi jangkar kecil kearah rakit Tio Jiang.

"Adakah saudara ini hendak menghadiri undangan rapat ?"

Tanya orang itu. Tio Jiang melengak, sahutnya.

"Tidak !"

Dari perahu itu loncat 3 orang kerakit Tio Jiang. Salah seorang setelah mengawasi Tio Jiang dan berkata.

"Bukan, Ceng Bo sianjin hanya mengundang para enghiong dan hohan dari seluruh penjuru, mana bisa mengundang seorang anak tengeng begini !"

Hati Tio Jiang sakit sekali, ketika disebut anak tengeng itu. Tapi demi didengarnya sang suhu mengirim undangan pada seluruh orang gagah, dia girang sekali, tanyanya.

"Sam-wi toako (engkoh bertiga), Ceng Bo siangjin adalah guruku. Dimanakah beliau sekarang ini, harap suka membawa aku kesana."

Ketiga orang itu mengawasi sampai sekian lama kepada Tio Jiang.

"Siaoko, mengapa kau bisa ngelantur begitu ?"

Kata salah seorang dengan tertawa. Tio Jiang tidak pernah berbohong, maka merahlah selebar wajahnya demi dituduh begitu, sehingga tak dapat berkata apa2.

"Ceng Bo siangjin mempunyai murid, itu belum pernah terdengar. Tapi kalau dia mempunyai dua tiga orang gundik, itu memang nyata!"

Kata yang seorang lagi.

"Mengapa kau berani menghina suhuku ?"

Bentak Tio Jiang dengan marahnya.

"Siaoko, apakah kau ini benar muridnya Ceng Bo siangjin ?"

Kata siorang tadi dengan masih bergelak tawa.

"Benar !"

"Mengapa kau tak tahu suhumu mempunyai gundik ?"

Tanya orang itu.

Sudah tentu Tio Jiang tak percaya.

Suhunya seorang lelaki yang berpambek luhur, masakan dia mau berbuat hal begitu?

"Apakah saudara tahu untuk maksud apa suhu mengundang para orang gagah itu ?"

Menyahutlah ketiga orang itu dengan berbareng .

"Tentara Ceng sudah menduduki Kwitang. Bahwa masih ada setengah orang2 didunia persilatan yang tak kenal selatan hendak mengadakan perlawanan itu, kan berarti hanya ibarat 'telur diadu dengan batu' saja. Maka Ceng Bo siangjin mengirim undangan pada sekalian hohan untuk menganjurkan supaya mereka jangan mengadakan gerakan yang sia2 itu."

Tio Jiang ter-longong2 mendengarinya. ,Ah, tidak, tidak, mana suhu mau berbuat begitu?"

Katanya pada lain saat. Terkilas dalam ingatannya, bahwa baik dalam ucapan maupun dalam perbuatan, suhunya itu bukan tergolong orang yang sudi melakukan hal yang merosotkan moral itu.

"Dimanakah pertemuan itu akan diadakan?"

Tanyanya pula.

"Apa? Kau mengaku sebagai muridnya, tapi mengapa tak tahu? Ha, Ha!"

Sahut mereka bertiga. Tio Jiang tak ambil mumet disangka me-ngaku2 murid Ceng Bo siangjin itu. Dia ulangi lagi pertanyaan tentang tempat pertemuan itu. Maka menyahutlah ketiga orang itu .

"Kami bertiga ini ditugaskan untuk menyambut tetamu yang naik perahu. Jika siaoko benar2 ingin mengunjungi pertemuan itu, mari ikut pada kami menuju kepulau Ban-san-to disana itu. Tapi sesampainya disana, siaoko jangan mengatakan ini itu. Ceng Bo siangjin adalah seorang tokoh silat kenamaan, mana bisa dia mempunyai seorang anak murid yang tengeng? Jangan sampai membuat dia gusar, awas bisa dikemplang mati nanti !"

Tio Jiang makin curiga., Mengapa Ceng Bo siangjin yang dikatakan oleh ketiga orang itu, jauh bedanya dengan Ceng Bo siangjin yang menjadi suhunya?

Ah, biar dia ikut ke pulau Ban-san-to itu, guna menyaksikan sendiri.

Begitulah dia lalu berpindah keatas perahu.

Benar juga tak berapa lama, mereka menghampiri kesekelompok pulau2.

Salah seorang dari ketiga orang tadi meniup terompet terbuat dari keong laut, dan dari arah muka sana terdengarlah penyahutan bunyi macam begitu juga.

Tahu gelagatnya mencurigakan, Tio Jiang ber-siap2 dengan pedangnya.

Tatkala perahu mendekat pantai, kiranya yang disebut Ban-san-to atau pulau selaksa gunung itu, yalah pulau yang separoh terdiri dari gunung dan separoh daratan.

Karena letaknya dilaut selatan, jadi meskipun kala itu dalam musim dingin, namun didaerah situ tanam2an masih tetap menghijau.

Ketika hampir berlabuh kepantai, tiba2 dari salah satu muara tampak keluar sebuah perahu.

Orang yang berdiri diburitan perahu itu kedengaran berseru .

"Siapakah yang datang ini kali?"

"Hanya seorang anak muda yang mengaku murid Ceng Bo siangjin,"

Sahut ketiga orang tadi, lalu serentak tertawa gelak2. Tapi Tio Jiang tak menghiraukan. Jauh disebelah depan sana, dilihatnya banyak sudah orang berkumpul disebuah tanah lapang.

"Rasanya sudah tak ada orang yang datang lagi. Tadi Toa cecu (pemimpin) dari gunung Hoasan yakni Nyo Kong Lim baru saja datang. Rupanya dia tak puas dengan siangjin, maka sudah membawa beberapa kawan2nya kemari,"

Kata orang yang baru datang itu.

Dan ketiga orang tadipun mengiakan.

Sebaliknya Tio Jiang terkejut mendengar hal itu.

Teringat ia bahwa sering kali suhunya me-muji2 Nyo Konglim itu sebagai seorang persilatan yang berpambek perwira, semestinya kedua orang itu akan merasa girang dapat bertemu, masakan bisa bentrok.

Ah, lupa dia, bukankah tadi ketiga orang itu mengatakan bahwa, Ceng Bo siangjin hendak mencegah supaya orang2 persilatan jangan melanjutkan perlawanannya kepada, pemerintah Ceng Sudah tentu dalam hal ini, Nyo Kong-lim pasti akan menentangnya.

Selama berjalan dan berpikir itu, tahu2 sampai dia ketempat berkumpulnya orang banyak itu.

Ternyata orang2 gagah yang berkumpul disitu, tak dikenalnya semua.

Pada 3 deret bangku pat-sian yang berada disebelah timur sana, semua sudah penuh diduduki orang.

Salah seorang dari mereka itu, tinggi besar badannya.

Kalau bicara, orang itu suaranya seperti genta dipalu.

Orang2 yang disekitarnya tampak sangat menghormat sekali padanya.

Selain 3 buah meja pat-sian besar itu, orang2 lainnya sama duduk dibawah tanah.

Tio Jiang memilih tempat kosong lalu ikut duduk dibawah.

Tapi se-konyong2 dia berbangkit lagi, demi dilihatnya pada saat itu Ceng Bo siangjin berjalan mendatangi dari balik gunung.

Tio Jiang anak yang berwatak polos jujur.

Hampir 3 bulan tak berjumpa dengar sang suhu, dia sangat rindu, itu nampak sang suhu, terus saja mulutnya hendak berseru memanggil.

Tapi tiba2 dia mempunyai pikiran lain dan terpaksa bersabar diri, demi tampak pemandangan yang aneh.

Kiranya begitu Ceng Bo siangjin muncul, dibelakangnya mengikut 2 orang wanita muda, yang berparas cantik.

Dilihat dandananya, wanita muda itu juga seperti orang persilatan.

Yang satu disebelah kanan, yang lain disebelah kiri, keduanya seperti menggelandotkan, tubuhnya pada Ceng Bo dengan sikap yang aleman, sekali, namun Ceng Bo tak marah sebaliknya malah memegangi pinggang keduanya.

Tio Jiang hampir tak percaya pada apa yang dilihatnya itu.

Enam tahun lamanya dia berguru pada siangjin itu, baik sikap maupun bicaranya, siangjin itu sangat correct (tepat), dapat menjaga harga diri.

Sungguh tak mengira dia, kalau siangjin itu berlaku begitu, gila2an, bercanda dengan orang perempuann dihadapan umum, apalagi dihadapan sekian banyak tokoh2 persilatan !

GAMBAR 28 Mendadak siorang tinggi besar tadi berdiri dengan kerennya dan menegur Ceng Bo Siangjin.

Ternyata bukan melainkan Tio Jiang seorang yang mempunyai perasaan begitu.

Semua orang yang hadir disitu sarna ber-bisik2 satu sama lain.

Dalam hati mereka sama sangsi mengapa, Ceng Bo siangjin yang namanya begitu termasyhur ternyata, seorang yang bermoral serendah itu.

Malah siorang gagah bertubuh tinggi besar tadi, segera berbangkit dari tempat duduknya dengan kurang senang.

Karena orang itu mengenakan pakaian warna hitam, maka begitu berdiri se-olah2 merupakan sebuah menara tinggi, sehingga orang!

sama terkesiap.

Namun sikap Ceng Bo siangjin itu tetap tenang2 saja.

Dengan membawa sikapnya seperti tadi, dia menuju meja pat-sian itu dan mengambil tempat duduk disitu.

Begitu Ceng Bo siangjin sudah duduk, maka terdengarlah siorang gagah tadi berseru keras.

"Siangjin, apakah maksud tujuan dari undangan pertemuan paraa hohan harini? 72 orang saudara2 dari Hoasan hadir disini untuk bersedia mendengarkannya! Siangjin kiranya tentu sudah mengetahui bagaimana nasibnya ribuan saudara2 Thian Te Hui yang telah dihancurkan oleh tentara penjajah itu. Adakah siangjin bermaksud hendak mengadakan, perserekatan dengan seluruh enghiong dunia persilatan guna melakukan pembalasan ?"

Mendengar itu, semangat Tio Jiang me-nyala2 lagi.

Teringat dia bagaimana nasib Kiau To, Ki Ce-tiong dan Yan-chiu yang tiada kabar beritanya itu.

Li Seng Tong dengan 30.000 tentara Ceng telah mengurung gunung Gwat-siu-san, Setelah mengadakan perlawanan sehari semalam, barulah dia (Tio Jiang) dapat membuka jalan lolos.

Kiranya peristiwa itu telah diketahui oleh seluruh orang persilatan.

Tiada korban yang jatuh sia2, Thian Te Hui pecah sebagai ratna dimedan bhakti.

Maka pada saat itu, ingin sekali dia lekas2 mendengarkan bagaimana penyahutan dari sang suhu yang sudah berobah perangainya itu.

Habis mengajukan pertanyaan, orang gagah itu lalu berdiri dengan dada berkembang-kempis karena menahan kemarahannya.

"Nyo-toa-cecu,"

Ceng Bo siangjin menyahut dengan bergelak tawa, tolong tanya mengapa ribuan saudara2 Thian Te Hui tiada bernyawa lagi?

Mengapa toa-ah-ko Ki Ce-tiong dan ji-ah-ko Kiau To tiada berkubur mayatnya lagi ?"

Tanpa menunggu sedetikpun, siorang gagah itu cepat menyahuti dengan suaranya yang mengguntur.

"Seorang taytianghu (laki2 sejati), mengapa jerikan soal mati hidup?! Benar dengan toa dan ji-ah-ko dari Thian Te Hui aku, Nyo Kong-lim, belum pernah berkenalan, namun aku sungguh2 kagum pada mereka!"

Ceng Bo siangjin menyeringai, ujarnya dengan sinis.

"Jadi Nyo-toa-cecu juga siap hendak menyuruh 72 saudara dari Hoasan bernasib seperti Thian Te Hui?"

Kini tahulah Tio Jiang bahwa orang tinggi besar itu adalah Toa-cecu atau pemimpin besar dari ke 72 Cecu (kepala begal) gunung Hoasan.

Dibalik ituu dia merasa heran atas jawaban sang suhu itu.

Mengapa kini sikap suhunya itu berbalik 100 derajat?

Bukannya dia mengobarkan semangat perjoangan pemimpin besar perserekatan begal dari gunung Hoasan itu, sebaliknya memadamkan api perjoangan mereka.

Aneh, sungguh aneh......

Setelah sampai sekian saat Nyo Kong-lim diam saja, Ceng Bo siangjin bergelak tawa, ujarnya.

"Toa-cecu, apakah tahu alam ini mempunyai hukum? Dengan telur hendak memukul batu, hanya seperti anai-anai (laron) menghantarkan jiwa kedalam api! Kiranya lebih baik dengarkan nasehat pinto, bekerjalah pada kerajaan Tay Ceng!"

Bukan olah2 kaget Tio Jiang mendengar mulut sang suhu mengucapkan kata2 itu, saking tak kuat menahan perasaannya, tanpa disadari dia berbangkit seraya mengeluh keras .

"ai........"

Sehingga semua orang terkejut dan sama, mengawasi kearahnya. Ceng Bo siangjin jua memalingkan mukanya, seraya berkata dengan nada menghina.

"Ho, siaoko itu rupanya berani membangkangkah?"

Tio Jiang makin men-jadi2 terperanjatnya.

Mengapa sang suhu menyebutnya siaoko (engkoh kecil) ?

Adalah karena kejujuran Tio Jiang yang selalu ingat akan budi kebaikan suhunya, sehingga dia tak mempunyai kecurigaan apa2 kecuali, perasaan mengindahkan.

Mengapa suhu berbuat begitu, tentu ada sebabnya.

Mungkin dia hendak menyuruh aku mempelopori setuju akan anjurannya itu, hingga nanti semua hohan pun ikut2an setuju.

Biar bagaimana juga, budi suhunya itu adalah sedalam lautan, rasanya seluruh pengabdian hidupku saja masih belum cukup untuk membalas budi suhunya itu, pikir Tio Jiang.

Dan sehabis mantep berpikir, segera dia melangkah maju seraya berseru.

"Suhu!"

Lagi2 suasana, persidangan itu menjadi gempar. Ceng Bo siangjin sendiripun menjadi melengak, tapi pada lain saat dia sudah dapat menguasai perasaannya.

"Duduklah, tunggu sehabis kuselesai berunding dengan Toa-the-cu Nyo Kong-lim"

Tio Jiang tak berani membantah, dan lalu duduk dimeja pat-sian situ.

Karena kepala tengeng, maka ketika tubuhnya, mengambil tempat duduk, kepalanya bukan menghadap kemuka melainkan kesamping.

Baru dia hendak mengalih tubuhnya, tiba2 dilihatnya disebelah samping situ berkelebat sesosok bayangan orang.

Dilihat dari dandanannya, orang itu seperti Cian-bin Long-kun The Go.

Karena kini lehernya kaku melekat pada pundaknya, jadi tak leluasa diputar2.

Begitu dia memutar tubuhnya agar kepalanya menghadap kearah tadi, ternyata bayangan orang itu sudah lenyap.

---oodw0tahoo---BAGIAN 9 .

RAPAT PARA ORANG GAGAH Tio Jiang ragu2 atas penglihatannya tadi, tapi gerak orang itu memang teramat sebat sekali.

Memikir the Go, dia teringat akan Bek Lian.

Cepat dia hendak lantas berbangkit mencari keterangan, tapi pada lain saat dia tersentak diam, demi teringat dirinya kini menjadi seorang tengeng.

Adakah nanti Bek Lian sudi melihatnya?

Ah, lebih baik dia sabarkan diri menunggu sang suhu.

Bila nanti sang suhu sudah dapat mengusahakan pertolongan, barulah dia nanti ada muka untuk bertemu dengan sang suci itu.

Kalau pikiran Tio Jiang itu hanya penuh dengan persoalan Bek Lian, adalah disana kedengaran Nyo Kong-lim berkata.

"Ceng Bo siangjin, Hay-te-kau! Dunia persilatan mengagungkan namamu sebagai seorang lelaki sejati. Berapa buIan yang lalu, orang katakan kau masih berserekat dengan Thian Te Hui menentang tentara Ceng. 72 Cecu dari Hoasan, berminat untuk berserekat dengan Thian Te Hui. Kalau kini kau sudah berobah menjadi bangsa babi dan anjing, mengapa tak lekas2 memelihara buntut dibelakang kepala itu?"

Bermula Tio Jiang sangat ketarik dengan ucapan perwira dari ketua perserekatan Hoasan itu, tapi serta pada klimaksnya orang me-maki2 suhunya yang dianggapnya sebagai ayahnya sendiri itu, berobahlah wajah Tio Jiang.

Dengan sigapnya serentak dia berbangkit menuding Nyo Kong-lim.

"Kau....., kau...... mengapa memaki orang ? !"

Nyo Kong-lim berpaling, dengan sepasang alis mengerut naik turun, berkatalah dia dengan mengejek.

"Kalau sang guru kencing berdiri, tentu muridnya kencing berlari! Tak peduli setan belang mana, asal berani menyerahkan tanah air kita kepada penjajah, aku tentu akan mencaci makinya!"

Ucapan ketua Hoasan yang tegas dan perwira itu, mendapat sambutan gegap gempita dari para hadirin.

"Bagus, makian tepat! Harus dimaki begitu!"

Tereak mereka dengan me-luap2. Tapi ada juga segolongan kecil yang jebikan bibir, mengejek.

"Hem, manusia yang tak tahu mati!"

Ada juga yang menyambungi.

"Garang dibibir saja, apanya sih yang dibuat bangga!"

Dan kini suasana pertemuan itu kacau dengan suara2 yang pecah menjadi dua aliran.

Ceng Bo kerutkan jidatnya.

Begitu mendorong sisihkan kedua wanita yang dandanannya seperti perempuan rendah itu, dia segera bangkit.

"Ai....., siangjin, mengapa mengeluarkan tanduk?"

Seru kedua wanita muda itu dengan aleman sekali.

Mengkirik bulu roma Tio Jiang mendengar tingkah laku yang memuakkan dari kedua wanita muda itu.

Ah, mengapa sang suhu kini menjadi begitu lupa diri?

Namun hanya sedetik saja pikiran itu terkilas dalam hati Tio Jiang, karena biar bagaimana juga, dia tetap mengindahkan dan menjunjung tinggi sang suhu yang telah menanam budi setinggi gunung itu.

Ternyata begitu Hay-te-kau yang menggeletar namanya diangkasa persilatan itu berdiri, maka sunyi siraplah suasana.

Hanya Nyo Kong-lim beserta rombongannya saja yang kedengaran masih ter-tawa2 kecil yang sinis.

Begitu berdiri, Ceng Bo siangjin hantamkan tangannya keatas meja pat-sian, brak........

dan tembuslah meja itu dengan sebuah lubang.

Hadirin makin diam jeri.

Setelah menyapukan pandangan matanya keseluruh hadirin, barulah Ceng Bo siangjin menatap kearah Nyo Kong-lim tadi, ujarnya.

"Toa-cecu, pinto se-mata2 hanya memikirkan akan nasib saudara2 dikalangan persilatan. Kalau Toa-cecu hendak menggunakan ke 72 cecu Hoa-san itu guna mencari kebesaran nama sendiri, pintolah orang pertama, yang takkan mengijinkan!"

Nyo Kong-lim itu adalah seorang kasar.

Sejak kecilnya, dia bertenaga besar dan suka belajar silat.

Akhir masa pemerintahan Beng itu korup sekali, sehingga nasib rakyat sangat sengsara.

Itu waktu karena hendak membela rakyat sedesanya yang tertindas, dia telah membunuh seorang tuan tanah.

Setelah itu, dia merat dari kampung halamannya dan mendirikan perserekatan begal haguna digunung Hoa-san.

Digunung Hoa-san situ sebenarnya sudah ada 72 orang Cecu.

Namun karena melihat sikap dan perangai Nyo Kong-lim itu gagah perwira, mereka mengangkatnya menjadi toa-cecu atau pemimpin besar dari para Cecu.

Tatkala mendengar ucapan Ceng Bo siangjin itu, karena sesaat tak dapat mencari bantahan yang tepat, dia hanya men-dengus2kan hidungnya seperti kerbau marah.

Terang siangjin itu hendak mendesaknya dalam, suatu pertandingan pibu (adu silat).

Benar selama ini orang persilatan mengagungkan nama siangjin itu, namun dia sendiri belum pernah menyaksikan sampai dimana kelihayan siangjin itu.

Bahwasanya kini ternyata sangjin itu tak lebih tak kurang hanya seorang bangsa penjilat, dia tak mau menhiraukan soal etiket lagi.

,Sudahlah, aku tak mau banyak bicara dengan, seorang hidung kerbau macam kau ini.

Kalau hendak memaksa orang, lebih dahulu harus dapat menangkan senjataku sam-ciat-kun ini!"

Habis berkata itu, tangannya merogoh kepinggang dan "trang", sebatang sam-ciat-kun (toya yang bersambung tiga) sudah siap ditangannya.

Begitu dikebaskan, sam-ciatkun itu dapat lempeng seperti sebatang alat tulis pit, ujungnya menutuk Ceng Bo siangjin.

Sam-ciat-kun itu terbuat dari baja murni yang berwarna hitam kemilau.

Setiap batang, ada satu meter panjangnya, berat seluruhnya ada 60-an kati.

Baca Juga: Lencana Pembunuh Naga 4

Baca Juga: Elang Terbang Di Dataran Luas 5

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger