Naga Dari Selatan 4

Eps 4 Naga Dari Selatan - Liang Ie Shen

Baca online Naga Dari Selatan - Liang Ie Shen

Cersil Naga Dari Selatan - Liang Ie Shen.

Senjata itu dinamakan juga "sam sat to beng kun" (toya tiga malaekat elmaut).

Mengetahui bahwa tentu akan terbit pertempuran seru, maka para hadirin segera ber-ingsut2 mundur bebrapa tindak.

Dan dengan kesadaran, kini orang2 itu terpecah menjadi dua rombongan.

Yang menyokong Nyo Kong-lim untuk melanjutkan perlawanan terhadap tentara Ceng, sama berkumpul dibelakang pemimpin Hoa-san itu.

Sedang sebagian kecil yang menyokong Ceng Bo siangjin, segera berkerumun dibelakang siangjin itu.

Sebaliknya Tio Jiang yang agak kebingungan.

Tapi demi dilihatnya Ceng Bo siangjin seperti kesima saja menghadapi ancaman sam-ciat-kun Nyo Kong-lim itu, serentak pikirannya tetap.

Sebagai seorang murid, tak pantas dia membiarkan suhunya dihina orang.

Tentang faham pendirian, itu soal lain.

Yakin akan kemajuan yang diperolehnya selama, dua bulan galang-gulung dengan Sik Lo-sam itu, dia harus bertindak cepat.

Maka sekali enjot sang kaki, dia melesat maju menengahi.

"Toa-cecu, wanpwe hendak mohon bebrapa jurus pelajaran darimu!"

Katanya, sembari melolos, pedang.

Begitu dilihatnya anak muda tengeng tadi sudah menyanggapi kehadapannya, Ceng Bo siangjin lalu duduk kembali.

Sedangkan begitu mencabut pedang, Tio Jiang segera bergerak dengan jurus "Thio Ik cu hay".

Ujung pedang dijuruskan kebawah, begitu orangnya berkelebat maju, ujung pedang itu diguratkan keatas untuk memotong janggut orang.

Atas serangan itu, Nyo Kong-lim tarik sam-ciat-kunnya kebawah untuk menutup serangan orang.

Setelah itu dia sembari mundur selangkah, sembari berseru keras.

"Siaoko, kau hendak membela suhumu, itulah sikap perwira. Tapi mengapa kau tersesat memilih seorang guru macam begitu ?"

Tio Jiang tertegun.

Memang ucapan orang itu tepat.

Kalau dulu2-nya Ceng Bo siangjin itu orang macam begitu, tak nanti dia sudi berguru padanya.

Tapi biasanya siangjin itu tidak demikian.

Entah mengapa harini mendadak sontak suhunya bisa berlaku begitu?

Ah....., tentu ada sesuatu yang memaksanya begitu, pikir Tio Jiang, siapa lebih banyak terpengaruh dari budi kecintaan terhadap sang suhu daripada kenyataan yang dihadapi pada saat itu.

"Toa-cecu, silahkan kau memberi pelajaran beberapa jurus!", serunya seraya maju. Begitu tubuhnya menurun, dia terus mengayun2kan pedangnya dalam jurus boan-thian-kok-hay. Melihat gerakan pedang dari sianak tengeng itu tak sembarangan, Nyo Kong-lim tak berani berayal. Sebenarnya dia tak bermaksud hendak bertempur dengan anak tengeng itu, namun kalau tak menundukkan anak itu lebih dahulu, sukarlah rasanya untuk mengajak berunding Ceng Bo siangjin. Juga misalnya orang lain yang mempunyai kedudukan seperti dia, yakni sebagai pemimpin dari ke 72 Cecu gunung Hoasan, biar bagaimana tentu tak sudi merosotkan diri untuk melayani seorang bocah tengeng yang tak ternama itu. Tapi dasar seorang kasar, jadi tak dapatlah orang she Nyo itu berpikir sampai sekian jauh. Begitu ujung pedang menyerang datang, diapun segera menyambut dengan sam-ciat-kunnya. Melihat cara berkelahi orang itu mengandung maksud meremehkan dirinya, Tio Jiang marah. Belum seluruh gerakan dari jurus pertama tadi dikeluarkan, atau dia tiba2 mendakkan tubuh lagi. Pedang di miringkan kesamping, di kembangkan menjadi ratusan titik sinar. Itulah gerak dari jurus ilmu pedang hay-siang-tiau-go (mengail ikan besar dilaut). Dan belum lagi kelebat lingkaran sinar pedang itu lenyap, atau secepat kilat pedang sudah mengancam muka dan kepala orang. Duapuluh tahun lamanya Nyo Kong-lim meyakinkan permainan sam-ciat-kun itu. Dalam gebrak pertama tadi, tampaknya dia hanya sembarangan saja menangkis. Tapi pada hakekatnya, gerakannya itu mengandung gerak merampas senjata lawan. Asal ujung tongkat yang ketiga menempel senjata orang, maka tongkat yang kedua akan melambung menghantam lawan, sehingga karena tak menduga, lawan pasti akan lepaskan senjatanya. Jurus itu disebut "ci bwe koan hay"

Alingkan alis untuk melihat matahari. Tapi gerak perobahan Tio Jiang tadi, sungguh diluar dugaannya, sehingga tanpa terasa dia berseru memuji .

"Bagus!"

Tio Jiang terkesiap atas pujian orang.

Dan tepat pada saat itu Nyo Kong-lim sudah sapukan sam-ciat-kunnya keperut orang.

Tadi Tio Jiang baru gerakkan separoh dari jurus hay-siang-tiau-go, atau sapuan lawan sudah tiba.

Maka dalam gugupnya tak dapat jalan mengindar, dia buang tubuhnya jatuh kesamping, wut ......

sam-ciat-kun tepat menyambar diatas tubuhnya.

Tio Jiang bangkit, tapi kembali dia jatuh lagi 3 langkah kemuka, seperti dia itu sudah tak kuasa berdiri jejak.

Tapi anehnya, pedangnya susul menyusul menyerang lawan sampai 3 kali.

Melihat cara menjatuhkan diri dari sianak tengeng tadi, bermula Nyo Kong-lim sudah termangu.

Dan setelah melihat lagi cara jatuh sianak muda yang aneh itu, bertereaklah pemimpin Hoasan itu dengan kagumnya.

"Bocah lihay, bisa ilmu istimewa dari Ang Hwat cinjin!"

Sekali Nyo Kong-Iim bertereak begitu, maka seluruh hadirin menjadi gempar!

Sedang yang bertereak sendiripun buru2 putar sam-ciat-kun hingga merupakan sebuah lingkaran sinar hitam, sedangkan orangnya menyerang maju.

Cara berkelahi begitu, Tio Jiang belum pernah mendengar atau melihatnya.

Ketika dia hendak gunakan lubang kesempatan untuk maju menyerang, sam-ciat-kun itu berubah menjadi semacam perisai sehingga Tio Jiang terdesak mundur beberapa langkah.

Dalam gugupnya Tio Jiang kembali gunakan jurus Hong-cu-may-ciu (sigila menjual arak) pikirnya hendak menyelinap kebelakang lawan.

Tentunya Kong-lim tahu akan maksud orang, tapi ternyata dia malah memperlambat serangannya se-olah2 memberi kesempatan pada orang untuk melakukan rencananya.

Tapi ketika Tio Jiang sudah berada dibelakang orang, tiba2 kedengaran suara orang mengeluh heran "iih.....".

Itulah suara Cian-bin Long-kun The Go, hingga Tio Jiang berayal dari memutar tubuh untuk melihatnya.

Tapi dalam keayalan itu, Kong-lim sudah berputar tubuh seraya menghantamkan samciat-kun, trang......beradulah pedang dengan sam-ciat-kun, disusul dengan geseran kaki tersurut 3 tindak kebelakang.

Baik Kong-lim maupun Tio Jiang, sama2 terpental.

Tio Jiang rasakan tangannya kanan kesemutan, begitu pula Kong-lim, siapa yakin hantamannya itu tentu dapat memukul lepas senjata lawan, tapi sebaliknya malah menderita kesakitan itu.

Orang she Nyo yang bertenaga kuat sekali itu, belum pernah mengalami kerugian macam begitu.

Dengan ke-heran2an kagum dia mengawasi sianak muda, yang walaupun tengeng ternyata lihay sekali kepandaiannya.

Sebagai seorang yang jujur, mau tak mau dia berseru memuji.

"Bagus!"

Kini keduanya berhadapan muka lagi.

Hanya saja karena, tengeng, jadi tubuh Tio Jiaiig menghadap kesamping, sikapnya lucu juga.

Kini mata semua hadirin terbuka.

Tak lagi mereka berani memandang sebelah mata pada anak tengeng itu.

"Toacecu, turutlah suhuku........."

Sebenarnya, Tio Jiang bermaksud menasehati toa-cecu itu supaya menurut nasehat Ceng Bo, tapi demi teringat bahwa maksud suhunya itu yalah menyuruh orang jangan melawan pemerintah Ceng, dia tak mau teruskan kata2nya dan merobahnya dengan permintaan berkelahi, serunya.

"Toacecu, silahkan memulai lagi!"

Tapi Nyo Kong-lim, yang senang akan sikap sianak muda yang polos itu, mengalah.

"Siaoko, kau saja yang mulai dulu, agar jangan dikatakan aku yang tua hendak menindas yang muda!"

Dalam kebatinan, Tio Jiangpun anggap lawannya itu seorang laki2 sejati. Hanya karena membela sang suhu, terpaksa dia harus bentrok dengannya.

"Maaf!"

Serunya sembari, melangkah maju dua tindak dan sret......

memapas bahu orang.

Atas serangan, itu Nyo Kong-lim mendak kebawah, lalu balas menyerang.

Demikianlah keduanya segera bertempur lagi.

Tio Jiang tetap gunakan ilmu pedang to-hay-kiam-hwat.

Pada 4 jurusan dan 8 penjuru, sinar pedang mengurung Nyo Kong-lim dengan gencarnya, sehingga para hadirin menjadi terkesiap kaget.

Pikir mereka, kalau muridnya saja sudah sedemikiann lihaynya, apalagi gurunya.

Kini mereka, tunduk betul2 atas kesaktian Ceng Bo siangjin.

Sedang si Ceng Bo siangjin itu sendiri, bermula terperanjat sekali melihat Tio Jiang unjukkan permainan to-hay-kiam-hwat.

Tapi demi dilihatnya semua mata hadirin tertuju kepadanya.

dengan sikap mengagumi, cepat sekali dia unjuk muka berseri.

Sedang kedua wanita muda tadipun tak putus2nya berseru me-muji2, hingga orang2 yang sedikit saja masih mempunyai perasaan halus, tentu akan mengerutkan alisnya.

Sebenarnya Nyo Kong-lim itu juga seorang jago kelas berat.

Hanya karena sejak menjadi Toa-cecu digunung Hoa-san dia jarang keluar berkelana lagi, jadi orang persilatan hanya mendengar namanya tapi belum pernah menyaksikan kepandaiannya.

Dia timpali permainan pedang Tio Jiang dengan gerakan sam-ciat-kun yang seru sekali.

Sedang dalam pada itu, tubuhnya yang tinggi besar itu berlincah2an dengan gesitnya.

Saking cepatnya pertempuran itu, dalam sekejab saja, 20 jurus sudah berlangsung, namun masih tetap seri saja.

"Toako, mengapa membuang2 tempo untuk melayani anak tengeng itu ?"

Kedengaran beberapa Cecu yang duduk dimeja pat-sian itu ramai2 menganjurkan.

Bermula karena sayang akan kegagahan Tio Jiang, Nya Kong-lim tak mau keluarkan seluruh kebiasaannya.

Nanti kalau sudah kehabisan tenaga, biarlah anak muda itu mundur sendiri.

Tapi ternyata anak muda itu makin lama malah makin bersemangat.

Maka demi mendengar anjuran saudara2nya itu, sembari mengiakan, Kong-lim segera perhebat sam-ciat-kunnya.

To-hay-kiam-hwat benar merupakan, ilmu pedang yang luar biasa indahnya, tapi karena Tio Jiang masih belum sempurna, jadi dalam beberapa jurus kemudian, dia tampak terdesak.

Kini dia hanya dapat menangkis, tapi tak mampu membalas serangan.

Pada saat itu dengan gunakan jurus hay-li-long-hoan (puteri laut memain gelang), dengan susahnya Tio Jiang menangkis serangan heng-soh-cian-kun (menyapu ribuan serdadu) dari Nyo Kong-lim.

Nyo Kong-lim tak mau sia2kan kesempatan itu.

Tiba2 sam-ciat-kun dilempangkan seperti pit untuk menutuk jalan darah siang-jiok-hiat dipinggang sianak muda.

Tapi ketika melihat sianak muda itu rupanya tak dapat menghindar lagi, karena sayang akan bakatnya, maka Nyo Kong-lim agak tarik sedikit tangannya kebelakang, asal menutuk kena saja, sudahlah, jangan sampai membahayakan jiwa orang.

Tapi diluar dugaan, tubuh Tio Jiang terhuyung dan jatuh menengadah kebelakang, seperti macam gerak tiat-pian-kio, maka serangan sam-ciat-kun tadipun hanya melayang diatas tubuhnya saja.

Karena tadi sudah dikendorkan, begitu luput, cepat sekali Nyo Kong-lim, menarik balik sam-ciat-kunnya.

Tapi berbareng pada saat itu, seperti macam orang gila Tio Jiang menubruk lawan dengan membolang-balingkan pedangnya.

Melihat itu, sudah tentu Nyo Kong-lim tertegun heran.

Terang itu bukan gerakan ilmu silat.

Jangan2 karena kalap, sianak muda itu lalu membabi buta hendak mengadu dliwa, Maka diapun tak mau melayani dengan kekerasan, melainkan mundur 3 tindak.

Tapi ternyata Tio Jiang tetap mengejarnya dengan mengobat-abitkan pedangnya keatas.

To-hay-kiam hwat sudah sakti, ditambah pula dengan gerakan Tio Jiang yang serba aneh itu, telah membuat Nyo Kong-lim kebingungan serta terpaksa main mundur lagi.

Dengan begitu, kini Tio Jianglah yang memegang inisiatip penyerangan.

Maju lagi kemuka, dia kirim tebasan kemuka dan bahu orang.

Dua kali Nyo Kong-lim terdesak mundur tadi, sudah membuat gempar para penonton.

Masa seorang pemimpin darl ke 72 Cecu gagah itu sampai kena didesak mundur oleh seorang pemuda tengeng yang tak ternama.

Maka kini Nyo Kong-lim.

mulai unjuk gigi.

Begitu serangann pedang tiba, sam-ciat-kun segera menyambutnya seperti seekor ular keluar dari guanya.

Ujung toya membabit keatas, disusul dengan sodokan kemuka, ujung kedua menonjol maju untuk menutuk jalan darah lwe-kwan-hiat disiku tangan orang.

Jadi sekali gerak, dua serangan Indah dan sebatnya bukan kepalang.

Benar juga pengaruh serangan Tio Jiang menjadi lambat.

Buru2 dia tarik pedangnya, tapi orangnya.

tak mau mundur melainkan meraba maju.

Hal mana telah membuat Nyo Kong-lim kaget, serunya.

"Mau kepingin mati?"' Tapi ternyata Tio Jiang bukan merabu maju, melainkan dengan se-konyong2 miring kesamping, terus menyelinap kebelakang orang. Tanpa memutar kebelakang lagi, Nyo Kong-lim mainkan sam-ciat-kun dalam jurus giok-tay-wi-yau (sabuk kumala melibat pinggang). Setelah sam-ciat-kun ber-putar2 baru orangnya membalik, kebelakang, tapi ternyata sianak muda sembari melorot turun sudah menyusup kesamping lagi. Dan dari situ dengan gerak "Ho Peh koan-hay,"

Dia menusuk pinggang orang.

Gerakan itu sungguh membingungkan Nyo Kong-lim yang belum tahu dimana posisi lawan, atau dari sebelah kanannya ada angin menyamber kepinggag.

Dalam gugupnya dia menyapu sembari berputar kesamping.

Tapi bagaikan bayangan, sianak muda, itu tetap mengintil sembari guratkan ujung pedangnya, bret kolor celana pemimpin Hoasan itu tergurat putus.

Hal mana sudah tentu membuatnya gusar sekali.

Cepat diaa kebas pedang lawan dengan sam-ciat-kunnya, dan berbareng dengan memutar tubuh dia ulurkan tangannya kiri untuk merebut senjata sianak muda.

Dikebas sam-ciat-kun tadi, tangan Tio Jiang sudah kesemutan lagi rasanya, dan tahu2 ada sebuah tangan besar yang penuh bulu hendak mencengkeram mukanya, ter-sipu2 dia melangkah mundur.

Tapi astaga, begitu terdengar suara orang tinggi besar itu ketawa, pedangnya sudah pindah tangan.

Senjata dapat direbut lawan, sudah cukup berbicara kalah atau menang.

Dengan merah padam mukanya, Tio Jiang berdiri menjubelek.

Tapi berbareng dengan itu terdengarlah riuh rendah gelak tawa dari para hadirin.

Nyo Kong-lim lemparkan pedang sianak muda, tapi dalam pada itu kedua gundik Ceng Bo siangjin itu menjerit-jerit.

"Ai....., ai....., mampus aku! Orang tinggi besar itu masa didepan orang banyak, meloloskan celananya?!"

Nyo Kong-lim terperanjat mengawasi celananya, aduh mati aku......karena kolornya putus digurat sianak muda, celananya kedodoran dan pahanya yang penuh bulu itu tampak bulat2 kelihatan oleh orang banyak, sehingga menimbulkan buah tertawaan mereka.

Dengan geram ke-malu2-an, buru2 Nyo Kong-lim beresi tali celananya itu, kemudian tantang lagi pada Tio Jiang.

"Anak muda, ambillah pedangmu dan hayo bertempur lagi!"

GAMBAR 29 Disusul dengan terpental pedangnya Tio Jiang, tahu2 celana Nyo Kong-lim kedodoran hingga kelihatan kedua pahanya yang penuh bulu.

Menurut nilai pertandingan itu, terang Nyo Kong-lim lebih unggul.

Sebagai orang jujur macam Tio Jiang, sedikit itu ya sedikit, kalah ya kalah.

Apa yang dipikir dalam hatinya, mulutnyapun mengatakan begitu.

Senjatanya terebut lawan, secara sportief dia mengaku kalah.

Biar sang suhu saja yang menghadapinya.

"Toa-cecu, banyak terima kasih atas pengajaranmu tadi. Hopwe mengaku kalah dan menghaturkan hormat,"

Kata Tio Jiang sembari menjura.

Setelah itu dia memungut pedangnya, lalu hendak mundur.

Nyo Kong-lim terperanjat dan kagum atas kejujuran sianak muda itu.

Seketika timbullah perasaannya senang akan dia, ujarnya.

"Siaoko, sayang seorang anak laki perwira seperti kau ini, keliru memilih guru yang sesat!"

Mendengar suhunya dimaki lagi, Tio Jiang putar tubuhnya untuk melototi mata pada orang she Nyo itu.

Tiba2 serasa dilihat ada sesosok bayangan berkelebat disamping Ceng Bo siangjin.

Sayang kepalanya tengeng, jadi gerakannya tak leluasa.

Ketika dia putar tubuhnya untuk mengawasi adakah orang itu si The Go, ternyata bayangan itu sudah lenyap lagi.

Karena sudah 3 kali ini Tio Jiang merasa, yakin kalau bayangan ituu adalah si The Go, kini dia mulai curiga.

Tapi tatkala dia hendak mencarinya, tiba2 kedengaran Ceng Bo, siangjin berkata.

"Jiang-ji, terhadap sibangsat tadi, mengapa kau tak mau menempur sekuat tenaga?"

Tio Jiang melengak lagi.

Baru dua bulan dia tak berjumpa dengan suhunya mengapa kini sang suhu berobah sedemikian galaknya.

Enam tahun lamanya, belum pernah dia mendengar suhunya memaki bangsat.

Tapi karena di sesali oleh sang suhu, diapun hanya mengaku salah saja.

"Murid memang bersalah!"

Serunya, lalu menuding pada Nyo Kong-lim.

"Toa-cecu, aku masih hendak minta pelajaran lagi padamu!"

Habis berkata, terus saja dia melangkah maju, menusuk kedada Nyo Kong-lime Belum orang she Nyo itu bergerak menangkis, atau tiba2 dari tengah2 lapangan muncullah seseorang dengan seruannya yang keras.

"Siaoko, tahan!"

Melihat orang itu, bukan kepalang kaget Tio Jiang, sampai2 pedang yang dicekalnya itu hampir terlepas.

Bermula dia tak percaya kepada matanya.

Tapi serta diawasi dengan perdata, memang tak salah lagilah dianya.

Mukanya kotor, punggung menonjol keatas, ya sidia, Hwat Ji tojin atau sibongkok yang menjadi pelayan biara Cin Wan Si digunung Lo-hou-san!

Pertama, mengapa dia turut hadir dalam pertemuan para orang gagah ini?

Kedua, dahulu gagu tuli mengapa mendadak sontak kini bisa bicara?

,Suhu berobah aneh, sigagu bisa bicara, aneh, adakah aku ini sedang bermimpi tanya Tio Jiang seorang diri.

Karena bingung memikirkan dia menjublek disitu sampai sekian saat.

Si Bongkok unjukkan muka-setan pada Tio Jiang, lalu menuding kearah Ceng Bo, serunya.

"Ceng Bo siangjin, kau maukan agar saudara2 dalam dunia persilatan itu ber-hamba pada tentara Ceng saja, bukan ?"

Bening dan nyaring nada suara si Bongkok itu, suatu tanda bagaimana tinggi ilmunya lwekang.

Tapi karena si Bongkok itu memakai dialect (logat) utara, jadi orang2 sama kurang jelas.

Sebaliknya Tio Jiang kembali terperanjat.

Ingin sekali dia mendengar bagaimana penyahutan suhunya itu.

Bermula kaget juga Ceng Bo melihat munculnya si Bongkok, tapi dengan cepat dia segera dapat menyahut.

"Memang pinto mempunyai maksud begitu."

Si Bongkok kelihatan maju beberapa tindak kemuka, lalu bertanya dengan suara keras.

"Maksudmu sendiri atau atas perentah dari Li Seng Tong congpeng tentara Ceng itu?"

Karena pertanyaan itu diucapkan pe-lahan2, maka semua orang sama mendengar jelas, dan mereka merasa heran bagaimana seorang bongkok yang tak mempunyai tanda2 keistimewaan suatu apa, berani begitu garang menanyai seorang tokoh macam Ceng Bo siangjin.

Siangjin ini tertawa tawar, lalu berbangkit me-ngebut2kan lengan bajunya.

Dengan wajah cemas, dia menyahut.

"Pinto hanya memikirkan keselamatan saudara2 seperjoangan saja. Mau, tidaknya, terserah pada masing2. Kalau saudara2 ingin mengadu telur dengan batu, silahkan cari kematian sana !"

Atas penyahutan itu, rombongan Nyo Kong-lim menjadi panas hati. Ada beberapa orang yang tak kuat menahan kemarahannya lagi, segera berteriak.

"Bagaimana kau merasa pasti kalau kita semua ini bukan lawan pemerintah Ceng?"

Ceng Bo siangjin hendak menyahut, tapi si Bongkok maju lagi selangkah seraya me-lambai2kan tangannya kepada hadirin supaya jangan gaduh. Setelah itu, dia mengajukan pertanyaan lagi.

"Ceng Bo siangjin, apakah kau mengenal aku si Bongkok ini?"

Bermula Tio Jiang menganggap pertanyaan si Bongkok itu edan. Masakan suhunya tak kenal padanya? Tapi ternyata, setelah bersangsi sebentar, kedengaran suhunya itu berkata .

"Banyak tahun yang lalu, pinto pernah bertemu dengan cunke (anda), tapi lupalah siapakah gelaran cunke ini?"

Tio Jiang seperti rasakan otaknya terbalik.

Sebaliknya si Bongkok itu segera mendongak keatas tertawa keras.

Bening dan nyaring nada ketawanya itu, hingga kalau tak melihat orangnya, tentu orang takkan percaya kalau suara sebagus itu ternyata keluar dari mulut seorang bongkok.

"Benar, 10 tahun yang lalu kau memang pernah bertemu dengan aku disebuah pondok dikaki gunung Lo-hou-san! Ha, ha.............! 10 tahun, lamanya terpaksa aku bertapa menjadi orang gagu, baru hari ini dapat mencari keterangan yang jelas! Kau masih berani jual lagak disini, tak takut kalau Kiang Siang Yan akan mencarimu ?"

Pucat lesi wajah Ceng Bo siangjin seketika itu. Berpaling kebelakang dia segera ber-kaok2 ketakutan.

"Cian-bin Long-kun........! Cian-bin Long-kun.........!"

Sebenarnya saat itu seharusnya Tio Jiang sudah mengetahui duduk perkara mengenai diri "suhunya"

Itu. Tapi dasar dia itu sedang buta cinta, jadi waktu mendengar Cian-bin Long-kun dipanggil, diapun ikut2an berseru.

"Cian-bin Long-kun, mana Lian suci ?"

Karena kedua 'orang itu ber-teriak2 tak keruan, hadirin menjadi panik. Sebaliknya Nyo Kong-lim yang menampak si Bongkok itu hanya bersenyum mengawasi saja, segera maju menghampiri, tanyanya.

"Bukankah cunke ini seperti yang diagungkan oleh orang persilatan sebagai Thay-san sin-tho Ih Liok ?"

"Benar, siapakah gelaran yang mulia dari Toa-cecu ini, Ih Liok lama nian mengaguminya!"

Sahut Ih Liok seraya mengangguk. Sebagai orang yang berwatak blak-blakan, seketika berserulah Nyo Kong-lim dengan girangnya.

"Ih thocu, 72 Cecu dari Hoa-san, hendak mohon kau menjadi Toa-cecu !"

Sebenarnya Thay-san sin-tho atau si Bongkok sakti dari gunung Thay-san itu hanya berkelana didaerah utara dan selatan dan Sungai Kuning saja, jarang dia berkunjung ke Kwitang dan Kwisay.

Tapi ilmu "tho kang" (tenaga punuk), sangat termasyur diseluruh penjuru.

Melihat walaupun Nyo Kong-lim itu orangnya tinggi besar namun hatinya masih seperti anak kecil, tertawa si Bongkok, ujarnya .

"Mengapa Toa-cecu mengucap begitu !"

Kemudian menuding pada Ceng Bo siangjin, dia berkata lagi ."Tunggu dulu sehabis Ih Liok beresi bangsat itu!"

Dan sambil berkata Itu, dia maju menghampiri Ceng Bo siangjin.

Ber-ulang2 mengaoki Cian-bin Long-kun tetap orang itu tak muncul, Ceng Bo itu sudah kelabakan.

Kini demi dilihatnya Thay-san sin-tho yang lihay Itu menghampirinya, dengan ketakutan dia putar tubuhnya ter-birit2 lari.

Tapi dengan sebat sekali, Ih Liok melesat maju dengan kelima jarinya dipentang.

Melihat itu Tio Jiang cemas.

Sekali enjot, dia melesat kebelakang si Bongkok.

"Thocu, jangan kurang ajar!"

Serunya sembari menusuk kebahu kanan orang.

Sebenarnya Ih Liok hendak menangkap orang yang mengaku menjadi Ceng Bo siangjin itu, guna ditanyai keterangan tentang peristiwa 10 tahun yang lalu itu beserta hilangnya sebuah pedang pusaka.

Tapi serentak Tio Jiang hendak menusuknya, tahulah dia kalau anak itu tetap menyangka si Ceng Bo tetiron itu sebagai suhunya.

Dia kenal watak anak itu, maka tak dapat mempersalahkannya.

Tapi untuk memberi penjelasan, terang memakan waktu.

Maka sembari pendakkan badan, dia menyeruduk Tio Jiang dengan punuknya, Tio Jiang terperanjat, masa daging punuk hendak diadu dengan ujung pedang.

Cepat2 dia hendak tarik pedangnya itu, tapi tahu2 tangan si Bongkok sudah membalik kebelakang dan menyawut tangannya.

Selcali dipijat, aduh mak, bukan kepalang sakit tangan Tio Jiang dibuatnya, sehingga trang..........

pedangnya terlepas jatuh.

Saking terkesiap melihat kesaktian si Bongkok itu, Tio Jiang ter-longong2!

disitu.

Kini barulah si Bongkok berpaling kebelakang, ujarnya dengan ketawa.

"Siaoko, jangan cemas, nanti saja-pasti kujelaskan padamu!"

"Suhu........"

Belum Tio Jiang melanjutkan kata2nya, atau tiba2 dia berseru kaget. ,Ai........., kemana, suhu tadi ?"

Kiranya selagi kedua orang itu berayal, si Ceng Bo tetiron sudah menghilang ketikungan balik gunung.

"Ho, hendak lari kau?!"

Seru si Bongkok sembari enjot tubuhnya mengejar.

Tapi baru memburu sampai ditengah, tiba2 terdengar suara sorak sorai bergemuruh dan muncullah sejumlah besar orang2 yang memakai kuncir.

Terang itulah tentara, Ceng.

Dalam sekejap mata, men-desing2lah ribuan anak panah terbang diudara, menghujani rombongan orang gagah yang berada ditanah lapangan situ.

Yang paling celaka, adalah Thay-san sin-tho.

Karena berada dimuka sendiri, dia seperti dihujani dengan anak panah.

Syukur ilmu silatnya tinggi.

Selagi melayang ditengah udara, begitu didengar ada suara mendesing, dia cepat meluncur turun.

Begitu punggungnya yang bongkok itu mengenai tanah, sembari, berjumpalitan, dia sudah menyawut dua batang anak panah yang lalu digunakan untuk melindungi tubuhnya hingga tak sampai terluka.

Mulut menyumpah serapah Ceng Bo tetiron sebagai penghianat yang keji, sekalian orang gagah itu segera putar senjatanya untuk menangkis hujan anak panah, sembari mundur.

Ada beberapa orang yang tadinya menyokong usul Ceng Bo tetiron, karena memangnya mereka itu adalah kaki tangan pemerintah Ceng yang menyelundup kedalam rombongan orang gagah, sudah ber-kaok2.

"Ceng Bo siangjin, mengapa kawan2 sendiri kau binasakan ?"

Tapi belum ucapan itu selesai, sudah ada beberapa orang yang rubuh ...........

terkena panah.

GAMBAR 30 Mendadak Tio Jiang dan Nyo Kong-lim dihujani anak panah meyusul serombongan tentara Ceng yang berkuncir sudah datang menyerbu.

Tio Jiang yang hanya memikiri diri Bek Lian, bermula hendak mengejar jejak The Go, tapi hujan anak panah yang lebat itu, telah merintanginya.

Terpaksa dia putar pedangnya untuk melindungi diri sembari melangkah maju.

Tapi barisan pemanah musuh itu, kuat dan gapah sekali.

Tidak semakin reda, sebaliknya hujan anak panah itu makin deras seperti hujan dicurahkan dari langit.

Sudah beberapa kali Tio Jiang hampir terkena.

Saat itu rombongan orang gagah lainnya sembari menangkis sembari mundur ketepi pantai.

Jadi yang masih tinggal, hanya Thay-san sin-tho dan Tio Jiang.

"Suhu, suhu! Lian suci berada dengan Cian-bin Longkun, ha!"

Teriak Tio Jiang sembari menangkis. Mendengar itu terpaksa si Bongkok mundur kedekat sianak muda itu, ujarnya.

"Siaoko, 3 bulan tak berjumpa, kepandaianmu maju pesat sekali!"

"Thocu, kau bukan orang baik. Mengapa dalam 6 tahun kau pura2 gagu?"

Tanya Tio Jiang, yang sudah biasa ber-canda dengan si Bongkok itu.

Tapi pada lain ketika teringat bahwa dengan kesaktiannya tadi, terang si Bongkok itu juga seorang cianpwe dalam persilatan, maka dia kemalu2-an sendiri, karena merasa tak pantas memanggil begitu "Siaoko ceritanya panjang sekali.

Nanti saja setelah mengundurkan rombongan tentara Ceng itu dan menangkap Ceng Bo siangjin, baru kujelaskan padamu,"

Sahut si Bongkok dengan tertawa sembari menangkis serangkan anak panah.

Mendengar suhunya hendak ditangkap, kembali Tio Jiang tertegun.

Dan karena gerakan tangannya agak terlambat, sebatang anak panah menyambar didekat sisi telinganya, sehingga dia berjingkrak kaget.

"Thocu (bongkok), enam tahun suhu memperlakukan baik2, mengapa kau hendak menangkapnya?"

"Ho, jadi kau masih menganggap imam tua tadi sebagai suhumu?"

Tanya si Bongkok tertawa.

Terkilas dalam pikiran Tio Jiang bagaimana aneh sekali sikap suhunya tadi.

Tapi biar bagaimana juga, dia merasaa berhutang budi besar pada suhunya itu.

To-hay-kiam-hwat yang sedemikian saktinya, sedang puterinya sendiri tak diajari, sebaliknya diturunkan padanya.

Adakah dia sampai hati untuk membaliki muka kepada suhu yang berbudi itu?

Nyo Kong-lim tadipun mendamprat habis2an pada suhunya.

Jadi terang suhunya pasti tak dapat melawan dikerubuti oleh sekian tokoh2 lihay nanti.

Memikir sampai disitu, ujung pedang dimiringkan dan sret ........

memapas bahu si Bongkok, serunya.

"Kalau hendak menangkap suhu, harus kalahkan dulu aku!"

Tapi berbareng pada saat itu, dua batang anak panah menyambar disisinya.

Malah yang sebatang telah menyusup bajunya hingga robek.

Waktu dipuncak Giok-li-nia dahulu, 'sering si Bongkok itu' menyaksikan Tio Jiang berlatih ilmu pedang.

Jadi tahulah kalau serangan sianak muda itu disebut jurus "ching wi kiam hwat", maka dengan tenangnya dia pakai anak panah untuk membuat lingkaran sinar, guna menghalau serangan itu.

Tapi kini Tio Jiang sudah mempelajari habis dan mengerti keindahan sari ilmu pedang to-hay-kiam-hwat itu.

Begitu dilihatnya si Bongkok pakai sebatang anak panah untuk menangkis, dia segera geser sedikit kesamping pedangnya, dap tiba2 ujungnya ditusukkan kemuka.

Ih Liok tak menyangka sama sekali akan gerakan yang luar biasa dari sianak muda itu.

Dengan gugupnya, dia cepat memutar tubuhnya kebelakang, terus menyingkir dua tindak, baru dia dapat menghindar.

Tapi tak urung sebatang anak panahnya tadi, sudah kena terpapas kutung oleh pedang Tio Jiang.

Namun Thay-san sin-tho adalah tokoh kenamaan, begitu membuang kutungan anak panah itu, ,segera dia sudah dapat mencari gantinya lagi.

"Siaoko, kenapa kau ini"

Serunya dengan geli.

Tapi berbareng dengan itu, tiba2 dari arah belakang sana terdengar suara tambur riuh rendah dipukul orang, dan tereakan gegap gempita dari rombongan orang gagah tadi.

Lekas2 Tio Jiang berpaling dan menampak dimulut muara sana muncul ber-puluh2 perahu kecil yang penuh membawa barisan pemanah.

Malah sudah di lancarkan serangan anak panah yang gencar.

Jadi kini rombongan orang gagah itu dijepit dari muka belakang.

Saking marahnya, Nyo Kong-lim kedengaran ber-tereak2 seperti kebakaran janggut.

"Hay-te-kau, orang mengagungkan kau ini sebagai lelaki sejati, tak tahunya tak nempil dengan binatang berekor macam babi dan anjing saja!"

Sembari ber-tereak2 begitu, Nyo Kong-lim putar sam-ciat-kunnya dengan dahsyat maju menyerbu maju.

Tadi saja demi diketahui tentara Ceng sudah mengatur stelling bayhok (barisan pendam) dibelakang gunung, pemimpin Hoa-san itu sudah murka.

Tapi setelah berunding dengan saudara2-nya para Cecu, diputuskan mundur kembali dulu ke Hoa-san, Disana hendak menyusun kekuatan, guna meI kukan perang total dengan musuh itu.

Tapi demi kini diketahuinya musuh telah mengurungnya dengan rapat, dia teramat gusar.

Dengan memutar sam-ciat-kun laksana kitiran, dia mengamuk seperti banteng ketaton.

Ber-puluh2 batang anak panah yang menuju kepadanya, segera tersinglap berhamburan terbentur sam-ciat-kun.

Tak berapa lama kemudian, pemimpin Hoa-san itu makin mendekati kearah Thay-san sin-tho dan Tio Jiang sana.

Sembari berjuang mati2-an, mulut pendekar gunung Hoa-san itu tak henti2-nya mengumpat caci Ceng Bo siangjin.

Mendengar makian Toa-cecu Nyo Kong-lim, Tio Jiang makin marah.

Sembari teruskan serangannya kepada Thay-san sin-tho Ih Liok, dia bentak Nyo Kong-lim.

,Toa-cecu kau memaki siapa?"

Nyo Kong-lim berasal dari keluarga pasaran (rendah), jadi soal "me-maki2"

Sudah menjadi darah dagingnya. Apalagi pada, saat itu, dia sedang gusar sekali, maka tak peduli setan belang lagi, dia, segera menyahut seribu satu makian.

"Ceng Bo siangjin, makanya orang2 persilatan sama mengatakan kalau isterimu minggat. Karena menilik perbuatanmu macam babi anjing itu, kalau yang menjadi isteri tak main gila dengan lain lelaki, sungguh dunia ini tidak adil. Hayo, unjukkan cecongornya untuk mengetahui siapa lelaki siapa perempuan. Apakah kau kira permainan kanak2 ini akan dapat menangkap Nyo toaya-mu ini?"

Tio Jiang teringat akan sumaoynya, Yan-chiu.

Kalau sumoay itu ada disitu tentu akan dapat me-retour makian itu kepada sipengirim.

Tapi ah..., sumoay itu tiada kabar beritanya, kemungkinan besar lebih banyak celaka daripada selamat.

Maka kini dia tumpahkan kejengkelannya itu kepada Nyo Kong-lim.

Begitu tarik pulang serangannya, dia cepat beralih menyerang Nyo Kong-lim.

Seorang-kasar macam Nyo Kong-lim mana mau memikir ini itu.

Tanpa banyak bicara lagi, dia segera sambut serangan anak muda itu.

Demikianlah dalam sekejab saja keduanya segera terlibat dalam pertempuran yang seru.

Ber-kali2 Thay-san sin-tho menereakinya supaya berhenti, namun kedua orang itu sudah seperti orang kalap.

Tiba2 dari atas gunung sana kedengaran seseorang ketawa gembira sekali.

"Ha......, ha......, anjing berkelahi dengan anjing, saling gigit menggigit mati2an. Biarlah....., biarlah......, toh nanti keduanya akan mati dalam hujan panah!"

Tio Jiang rasanya kenal sekali akan suara orang itu.

Cepat sekali dia putar separoh tubuhnya mengawasi keatas.

Ya, benar, itu dia si Cian-bin Long-kun The Go!

Tapi karena dia mendongak begitu, wut.........., sam-ciat-kun Nyo Kong-lim sudah menyambar datang.

"Cian-bin Long-kun, mana Lian suci?"

Tereak Tio Jiang tanpa pedulikan Nyo Kong-lim lagi.

"Toa-cecu, tahan!"

Tiba2 Thaysan sin-tho yang sedari tadi mengawasi akan jalannya pertempuran itu, kedengaran berseru.

Atas seruan itu, Nyo Kong-lim tersadar.

Memang anak itu seorang anak jujur setia, tak boleh dicelakai.

Maka buru2 dia sentakkan tangannya kebelakang.

Tapi biar bagaimana juga, serangannya dalam jurus "Sun Bu patahkan kaki"

Itu, dilancarkan dengan se-kuat2-nya, maka walaupun dia berhasil juga untuk menarik balik dengan tiba2 itu, namun tak urung dia terjorok kebelakang.

Justeru pada saat itu salah satu dari hujan anak panah yang masih deras itu, telah menyambar pundaknya, sehingga pemimpin Hoa-san itu ber-kaok2 mengaduh kesakitan, dan mulutnya segera menghamburkan makian.

"Keparat, anggaplah kalian anjing, tapi aku tetap akan menghajarmu, anjing!"

Yang dimaki itu bukan Tio Jiang, melainkan The Go.

Dan ber-sama2 Thay-san sin-tho, kini dia menyerbu keatas.

Sebaliknya Tio Jiang yang sudah -dibutakan cinta kepada Bek Lian itu, kembali ulangi pertanyaannya tadi, serunya.

"Cian-bin Long-kun, Lian suci kau bawa kemana, hayo bilang tidak ?"

The Go dengan enak saja ber-kipas2, seraya menyahut dengan tertawa, mengejek.

"Hem.........., menjadi sute tak tahu kemana perginya sang suci, masa tanya pada lain orang? Siaoko, kurasa kau tak menanyakan sucimu, tapi menanyakan orang yang kau cintai bukan? Ha....., ha....., sewaktu kau sakit, orang yang kau cintai itu pergi tanpa pamit. Bukankah ini berarti menyintai orang yang tak cinta? Ho, ngenas, kasihan!"

Ucapan itu telah menusuk betul2 keulu hati Tio Jiang.

Lupa dia kalau saat itu, masih ditengah hujan panah.

Pedang terkulai kebawah, orangnya menjublek berdiri seperti patung.

Hujan anak panah yang masih berseliweran dikanan kirinya itu, tak diacuhkan sama sekali.

Mata The Go yang tajam dapat mengetahui keadaan saingannya itu.

Pikirannya jahat timbul.

Dia ambil busur dan anak panah dari seorang serdadu Ceng yang berada didekatnya.

Busur dipentangnya lebar2, sekali lepas maka menderulah sebatang anak panah kearah tenggorokan Tio Jiang.

Anak ini tengah merenungkan ucapan si Cian-bin Long-kun itu tadi.

Memang rasanya kata2 itu tepat.

Buktinya, Bek Lian telah lari bersama.

The Go ketika dia pingsan dipulau kosong tempo hari.

Tapi heran, kalau Bek Lian benar tak menyinta, mengapa malam itu ia memberikan tanda, mata peniti kupu2 padanya?

Justeru dia melamun sampai disitu, anak panah tadi sudah terpaut hanya 2 meteran jauhnya.

Kalau dia mau menghindar, rasanya masih bisa.

Tapi seperti orang linglung, dia malah merogoh kedalam baju, Perlunya untuk merabah peniti kupu2.

Dan begitu tangannya menyentuh benda itu, hatinya serasa terhibur.

Namun pada detik itu, anak panah telah menyambar tiba, tepat mengenai tenggorokannya, sret ...........

darah muncrat keluar, dan barulah dia tersadar.

Secepat kilat, dia tangkap tangkai anak panah itu.

Untunglah dia lekas2 bisa berbuat begitu, karena terang tadi The Go telah gunakan seluruh kekuatannya untuk memanah.

Tak boleh tidak, panah itu tentu akan menembus batang leher Tio Jiang.

Maka meskipun tangan Tio Jiang keburu mencekalnya, tak urung setengah dim dari ujung panah itu telah menyusup kedalam tenggorokan.

Sakitnya sampai menusuk ke-ulu hati.

Dan begitu tubuhnya terhuyung, kembali betisnya termakan sebatang anak panah lagi.

Tempo hari Yan-chiu memberikan peniti kupu2 milik Bek Lian itu kepada Tio Jiang, se-mata2 adalah untuk memper-olok2-nya saja.

Jadi bukan untuk mencelakai sukonya itu.

Maka kalau saat itu ia menyaksikan buah perbuatannya yang dipikul oleh Tio Jiang itu, ia pasti, akan mengucurkan air mata.

Tapi bagaimanaa lagi, nasi sudah menjadi bubur.

GAMBAR 31 Selagi Tio Jiang ter-menung2 dilanum, cinta meradadak The Go lepaskan anak panah dan tepat menancap ditenggorokan pemuda itu.

Balik menutur keadaan Tio Jiang, dalam pikirannya yang sudah limbung akibat luka ditenggorokannya itu, tiba2 dia beringas pula.

Biar bagaimanaa dia harus cari orang she The itu untuk menanyakan dimana sang suci itu.

Ini perlu, sebab dia ingin mendengar keterangan dari mulut orang yang dicintai itu sendiri, bagai manakah sejatinya pikirannya itu.

Yang perlu, dia hendak bertanya, mengapa malam itu Bek Lian sanggup untuk menjadi isterinya?

"Cinta menangkan segala", demikian kata orang.

Dan ini rupanya berlaku jugaa bagi Tio Jiang.

Tenggorokan adalah bagian yang berbahaya dari tubuh manusia.

Ini sudah terpanah, begitu pula betisnya.

Andaikata lain orang pasti siang2 sudah rubuh.

Tapi karena mempunyai kekuatan batin Yang keras, Tio Jiang malah beringas.

Dengan putar pedangnya, dia menerjang maju.

Benar anak panah tadi sudah dicabutnya, tapi karena dia bergerak, maka darahpun mengalir seperti menganak sungai.

Kini Tio Jiang bukan seperti manusia lagi macamnya, melainkan seperti manusia darah.

Begitu menghampiri kedekat Thay-san sin-tho dan Nyo Kong-lim, kedua orang ini menjadi berdiingkrak kaget.

"Siaoko, kau kenapa itu ?"

Tanya mereka serentak. Tio Jiang memutar kepalanya, dengan bengis dia deliki mata kepada mereka Tapi begitu mulutnya hendak berkata2, se-konyong2 dia kesima, serunya dalam hati.

"Hai? Leherku! Mengapa dapat diputar?"

Dia coba lagi untuk menoleh kekanan kiri dan ternyata mudah sekali, tidak tengeng kaku lagi.

Dalam kegirangannya, dia unjukkan ketawa pada kedua orang tadi.

Biasanya orang ketawa itu tentu sedap dipandang.

Tapi tidak dengan Tio Jiang.

Karena dia sudah berobah menjadi manusia-darah, begitu ketawa, malah membikin takut orang.

"Kau ini orang mati atau orang hidup?"

Seru Nyo Kong-lim.

Tio Jiang tak sahuti pertanyaan orang.

Pikirannya dikliputi rasa girang, karena bukankah nanti Bek Lian takkan mencelahnya sebagai orang tengeng?

Tapi dalam pada itu, dia juga merasa heran.

Mengapa dengan terpanahnya tenggorokannya itu, malahan dapat memulihkan tengengnya?

Bukankah tempo hari Sik Lo-sam mengatakan, tiada obatnya lagi?

Kiranya dia memang tak mengetahui, bahwa untuk menyelamatkan jiwanya, Sik Lo-sam terpaksa gunakan ciong-chiu-hwat (ilmu tutuk berat) untuk menutup jalan darahnya.

Sebenarnya walaupun dikatakan tutukan tangan berat, tapi seharusnya tak boleh seratus persen digunakan.

Tapi karena kurang faham, jadi Sik Lo-sam telah pakai seluruh tenaga untuk menutuknya, hingga akibatnya dia menjadi tengeng.

Sudah begitu orang tua kate itu masih malu mengatakan kalau dia tak bisa memulihkan kembali, maka mengatakan kalau tiada obatnya lagi.

"Siaoko, ini sambutlah dan poleskan pada tenggorokanmu!"

Seru.

Thay-san sin-tho seraya melemparkan sebuah bungkusan kertas.

Sibongkok ini tahu bahwa sekalipun Tio Jiang mandi darah, tapi lukanya tak berbahaya.

Kini ketiga orang itu sudah berhasil menyerbu sampai kekaki gunung.

Barisan pemanah tentara Ceng itu bertempat diatas batu2 besar.

Maka begitu ketiga orang tadi sudah mencapai kaki gunung dimana banyak terdapat batu2, mereka tak bisa berbuat apa2 lagi.

Sekalipun masih menghujani anak panah, tapi percuma saja.

Juga hujan panah dari jurusan laut tadi, karena sudah terpisah pada jarak jauh, pun tak sampai disitu.

Entah sudah berapa kali Tio Jiang pakai obat kepunyaan si Bongkok itu.

Ketika masih digunung dahulu, setiap kali tertusuk duri atau jatuh, begitu pakai obat itu, tentu sembuh dengan lantas.

Maka meskipun masih mendendam karena orang hendak menangkap suhunya, namun Tio Jiang sambuti obat itu dan dipakainya untuk mengobati tenggorokan dan betisnya yang kena panah itu.

Kemudian diangsurkannya kepada Nyo Kong-lim yang terluka pundaknya itu.

Mereka bertiga adalah orang2 yang berwatak sama, suka blak2an tanpa tedeng aling2.

Baru beberapa menit tadi mereka saling bertempur, kini sudah baik dan akur kembali.

"Sayang, siaoko. Kau sesungguhnya seorang lelaki utama, mengapa memperoleh seorang guru yang begitu?"

Kata Nyo Kong-lim sembari mengobati lukanya.

Kembali Tio Jiang kerutkan alisnya, namun mulutnya tak dapat berkata apa2.

Tiba2 dia teringat bahwa tempatnya situ adalah dikaki gunung, jadi kalau membiluk sedikit, tentu akan bisa berjumpa dengan suhunya.

Tanpa banyak pikir lagi, dia lantas berseru keras2.

"Suhu, suhu!"

Baru dua kali dia bertereak, tenggorokannya berasa sakit lagi.

Maka dia tak mau lagi bertereak, melainkan hendak lanjutkan penyerbuannya lagi.

Tapi tiba2 si The Go yang berada dipuncak gunung sana menjerit kaget.

Sudah tentu Tio Jiang berpaling kebelakang untuk mengetahui apa yang terjadi.

Hai, tentara Ceng yang berada ditepi laut sana, tampak kacau balau keadaannya.

Dalam kekacauan itu tampak ada seorang dalam sebuah perahu, mengamuk laksana banteng ketaton.

Setiap arah tangan menghantam, terdengarlah jeritan orang.

Setiap kaki menendang, terdengarlah orang mengerang.

Dan demi didengarnya Tio Jiang berseru memanggil tadi, orang itu segera berseru.

,Jiang-ji, mengapa kau juga berada disini ?"

Tio Jiang mengawasi pula dengan seksama.

Orang itu mengenakan jubah pertapaan, Gerak terjangnya bebas lepas.

Sekian ratus tentara Ceng itu dianggapnya seperti rumput saja.

Ah............, siapa, lagi imam gagah itu kalau, bukan gurunya yang teramat dicintai itu!

Diam2 dia bergirang hati dan mengira dugaannya tadi tepat, yakni mengapa sang suhu sengaja menganjurkan para orang gagah supaya takluk kepada fihak Ceng, yalah karena, disebabkan sesuatu hal, Buktinya kini suhunya itu kembali sudah mengamuk tentara Ceng lagi.

Saking girangnya, dia deliki mata pada Nyo Kong-lim.

"Toa-cecu, orang bagaimanakah suhuku itu, seharusnya kau sudah tahu sekarang."

Toa-cecu dari Hoasan itu ter-longong2 melihat keanehan itu.

Dilihatnya belasan perahu tentara Ceng itu dalam sekejab saja sudah disapu bersih oleh Ceng Bo siangjin.

Sebagai seorang yang polos, cepat dia mengakui kesalahannya.

Untuk menyahut pertanyaan Tao Jiang, dia segera menampar mukanya sendiri, plak.........!

,Manusia edan..........!"

Serunya memaki diri sendiri. Tio Jiang geli, tapi Nyo Kong-lim itu sudah lari menghampiri kearah Ceng Bo, seraya bertereak-tereak.

"Hay-tekau, 72 saudara Cecu dari Hoa-san, tetap akan minta kau menjadi pemimpin kami!"

Bermula para orang gagah itu terkesiap melihat munculnya Ceng Bo, tapi demi diketahui sepak terjang siangjin itu membasmi tentara Ceng, mereka bersorak kegirangan.

Ber-bondong2 mereka datang mengerumuni imam yang gagah perkasa itu.

Kawanan orang yang tadi pro menakluk pada pemerintah Ceng, juga menjadi heran atas kejadian itu.

Tapi Ceng Bo tak mengacuhkan mereka.

Langsung dia memapaki Nyo Kong-lim, serunya sembari memberi hormat.

"Adakah saudara ini Nyo Toa-cecu dari ke 72 cecu Hoa-san ? "

Sudah tentu sikasar itu melengak.

"Hay-te-kau, kau pandai juga bersandiwara!"

Sahutnya dengan ter-gelak2.

Ceng Bo siangjinpun heran.

Tapi karena menganggap orang she Nyo itu seorang kasar yang blak2an, maka diapun tak marah.

Tapi ketika hendak berkata lagi, se-konyong2 dari balik gunung muncul seseorang yang sambil bertepuk tangan segera mengeluh keras.

"Ah......, sayang! Terlambat sedikit saja, mereka sudah lolos!"

Itulah sibongkok Thay-san sin-tho Ih Liok. Tapi begitu melihatnya, Ceng Bo siangjin tampak kerutkan alisnya. Wajahnya nampak kurang senang. Sebaliknya Nyo Kong-lim segera memanggil sibongkok.

"Tho-cu, lekas kemari!"

Sibongkok segera menghampiri.

Tapi tatkala lewat disamping Tio Jiang, dia segera seret tangan si anak muda itu.

Karena ber-tahun2 sibongkok itu mengelabuhi Tio Jiang, dengan ber-pura2 sebagai orang gagu, Ceng Bo tak menyukai sibongkok, maka diapun tak mau menyapanya, melainkan bertanya kepada muridnya.

"Jiang-ji, mengapa kau berada disini? Dimana Ki dan Kiau-susiok berdua? Dan mana Siao Chiu?"

"Suhu, apa kau tak mengetahui bahwa, Li Seng-Tong sudah menduduki Kwiciu. Setelah membunuh kaisar Siau Bu, dia mengirim 300 ribu tentara untuk mengurung Gwat-siu-san. Saudara Thian Te Hui boleh dikata telah binasa!"

Wajah Ceng Bo tampak berobah keren, serunya.

"Mengapa kau takut mati melarikan diri ?"

Saking takutnya, Tio Jiang ter-sipu2 jatuhkan diri berlutut.

Sedang disana demi menyaksikan peribadi Ceng Bo siangjin yang sedemikian perwiranya itu, Nyo Kong-lim lalu unjukkan, jempol tangannya, berseru memuji.

"Hebat!"

"Murid berhasil menerjang kepungan musuh dan bisa lolos. Ki dan Kiau susiok diserang cerai berai oleh musuh. Sedang sumoay yang bermula, selalu berdampingan dengan murid, karena gelombang serangan serdadu musuh yang sedemikian banyaknya itu, maka terpencarlah kita semua ...... entah kemana,"

Tio Jiang memberi keterangan.

Kemudian tuturkan juga pengalamannya selama itu.

Karena dia tak dapat berbohong, maka tentang bagaimana dirinya terluka, bagamana dia hendak mengadu jiwa, bagaimana, dia tukar menukar ilmu dengan Sik Lo-sam, Kemudian bagaimana dia sampai di pulau Ban-san-to.

Setelah itu dia menyerahkan diri rela menerima, hukuman apapun yang hendak dijatuhkan sang suhu, karena dengan menurunkan ilmu pedang to-hay-kiam hwat kepada Sik Lo-sam itu, dia telah menyalahi peraturan perguruan.

Memang setelah mendengar penuturan muridnya itu, wajah Ceng Bo tampak berobah bengis, kemudian pada lain saat kedengaran dia berkata.

"Menurut peraturan kaum kita, sekalipun saudara seperguruan, tak diperbolehkan untuk mencuri lihat latihan lain saudara seperguruan ................"

Belum dia menghabiskan keputusannya itu, sikasar Nyo Kong-lim terus saja mengibaskan sam-ciat-kun seraya berseru keras.

"Hay-te-kau, kalau kau hendak menghukum anak itu, sungguh tak mempunyai liang-sim (hati bajik)!"

"Apa maksud Toa-cecu berkata begitu?"

Tanya Ceng Bo dengan heran.

Tanpa tedeng aling2 lagi, Nyo Kong-lim segera menuturkan apa yang terjadi barusan tadi.

Bagaimana karena membela, sang suhu, anak itu telah bertempur dengan dia.

Keterangan Nyo Kong-lim itu dibenarkan oleh para orang gagah.

Ceng Bo siangjin tergerak hatinya.

Tapi dia adalah seorang yang dapat membedakan mana soal peribadi dan mana soal hukum.

Dengan menghela napas, dia berkata.

"Bangunlah, setelah urusan segera selesai, kupertimbangkan lagi. Kini kuberi! kesempatan padamu, mendirikan jasa untuk menebus dosa! "

Tio Jiang menghaturkan terima kasih.

"Hay-te-kau, sandiwara yang kau bawakan tadi, sungguh bagus!"

Kembali Nyo Kong-lim bergelak tertawa. Ceng Bo siangjin tetap tak mengerti, mengapa seorang lelaki gagah begitu, omongannya tak keruan. Tapi tiba2 Thay-san sin-tho turut campur bicara.

"Ceng Bo siangjin, dengarkanlah penjelasanku. Memang urusan itu panjang nian untuk diceritakan. Mengapa aku si Bongkok ini sampai ber-tahun2 menjadi orang bisu adalah karena untuk menyelidiki urusan itu, syukur kini sudah dapat kubikin terang. Ceng Bo siangjin, kau benar2 seorang lelaki berpambek perwira sekali, bukan orang yang takut mati!"

Ceng Bo siangjin kerutkan alisnya, menegas.

"Apa maksudmu ?"

"Siangjin, apakah kau pernah mendengar bahwa didunia persilatan terdapat seorang yang bernama Tan It-ho?"

Tanya si Bongkok pula.

"Rasanya sudah, bukankah yang gelarannya 'Yau-sin-ban-pian' (Gerak robah selaksa) itu ?"

Ujar Ceng Bo. Atas itu Thay-san sin-tho mengiakan, katanya pula .

"orang itu pandai sekali bermake-up (menyaru) dengan topeng kulit muka, lagi pintar meniru nada suara orang. Ilmu silatnya sih biasa saja, tapi dengan mengandalkan kedua macam kepandaiannya itu, dia banyak melakukan perbuatan2 jahat. Tadi diapun muncul disini, menyaru menjadi dirimu, menganjurkan supaya para saudara kaum persilatan tunduk saja pada pemerentah. Ceng!"

Bukan saja Ceng Bo, pun sekalian orang2 yang hadir disitu terperanjat bukan kepalang.

"Masakan kepandaiannya tadi sedemikian hebat hingga dapat mengelabuhi orang banyak ?"

Kata Ceng Bo.

"Tadi sih dia gagal, tapi pada 10 tahun yang lalu, karena disewa oleh orang dia telah berhasil dengan bagus sekali memainkan peranannya dikaki gunung Lo-hou-san. Dia dapat menipu sehingga dapat mencerai beraikan 'Kau' (Hay-te-kau) dan 'Yan' (Kiang Siang Yan), serta melarikan sebatang pedang pusaka !"

Menerangkan si Bongkok. Hati Ceng Bo tergerak, maju selangkah dia menegas.

"Bagaimana kau tahu? !"

"Kata Sik Lo-sam bahwa saat itu aku berada ditempat kejadian itu, memang aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri!"

Sahut Thay-san-sin-tho. Tiba2 Ceng Bo siangjin bertereak keras2, sehingga sekalian orang sama berd ingkrak kaget.

"Dimana manusia itu ?"

Tanyanya. Tapi si Bongkok kedengaran menghela napas, jawabnya.

"Karena ayal sedikit saja, dia sudah lolos dengan perahu. Tapi terang dia bersama Cian-bin Long-kun. Kalau kita dapat mengejar Cian-bin Long-kun itu, bangsat itu tentu takkan dapat Lari!"

Ceng Bo tampak berdiam diri.

Pikirannya jauh melayang akan peristiwa 10 tahun yang lalu, serta siwanita berambut panjang yang dijumpainya dilaut itu.

Samar2 dia serasa terang akan duduk perkaranya.

Melihat ditinggal bicara sendiri, sikasar Nyo Kong-lim.

muring2.

"Hay-te-kau, mengapa tak lekas2 pergi ke Hoa-san? Sekalian saudara sudah menunggumu!"

Serunya. Mendengar itu, Ceng Bo, agak gelagapan. Urusan peribadi pada 10 tahun itu, tinggalkan dulu saja. Urusan negara lebih penting. Baik, mari kita berangkat ke Hoa-san!"

Sahutnya, Kemudian diajaknya para orang gagah itu menuju kepantai, dari situ mereka berlayar keutara.

Tio Jiang, Ceng Bo siangjin, Thay-san sin-tho, dan Nyo-lim berkumpul disebuah perahu.

Selama dalam perlayaran itu, tampak Ceng Bo selalu merenung saja.

Sebaliknya dengan mendapat kawan seorang imam yang begitu gagah perwira, Nyo Kong-lim tak putus2nya bicara dan tertawa, sehingga perahu itu penuh diliputi dengan gelak ketawanya.

Lewat bebrapa saat, Ceng Bo siangjin minta supaya Thay-san sin-tho, menghampiri kedekatnya.

Sedang Nyo Kong-lim asyik menceritakan pada Tio Jiang tentang keadaan ke 72 Cecu Hoa-san itu.

Sembari mendengari.

Tio Jiang sembari se-bentar2 memasang mata kearah suhunya.

Dia heran sewaktu sang suhu memanggil si Bongkok.

Entah apa yang dibicarakan mereka.

Tapi samar2 Tio Jiang seperti teringat akan kejadian pada masa yang lalu.

Misalnya bagaimana sekali ketika masih digunung, Bek Lian telah menangis dengan ter-lara2.

Bermula dikiranya kalau dia (Bek Lian) kesalahan padanya, tapi ternyata suci itu teringat akan ibundanya.

Bek Lian telah menanyakan perihal ibunya kepada sang ayah, tapi ayah itu tetap tutup mulut saja.

Dan teringat pula tempo hari Sik Lo-sam pernah menyebut kata2 ,Hay-te-kau dan "Kiang Siang Yan."

Sedangnya dia berpikir sampai disitu, dilihatnya wajah Ceng Bo siangjin berobah murka sekali.

Kemudian pada lain saat, suhunya itu mondar mandir diatas lantai perahu, krak......, krak.....

lantai perahu yang dilewatinya itu sama melekah atau ada yang amblong.

"Hay-te-kau, mengapa tak kau jumpalikkan sekali perahu ini untuk melampiaskan kemarahanmu itu, perahu tenggelam ....... kita semua kan akan mandi dilaut ?"

Seru sikasar Nyo Kong-lim demi melihat gerak gerik Ceng Bo.

Atas seruan itu, Ceng Bo hentikan langkahnya.

Tapi dari mimik wajahnya, dia tetap dirangsang kemurkaan hebat.

Tio Jiang juga tak mengerti apa kata si Bongkok tadi, hingga menyebabkan sang suhu sedemikian murkanya.

Selama ini belum dia melihat suhunya sedemikian murkanya.

Juga lain2 orang yang tak tahu menahu akan urusan peribadi Ceng Bo, hanya menganggap bahwa siangjin itu sebagai seorang patriot besar tentu sedang tumpahkan kemurkaannya terhadap tindakan tentara Ceng selama ini.

Menampak siangjin itu begitu murka, merekapun tak berani bercuit.

Perahu berlayar dengan cepatnya dan saat itu sudah tengah hari.

Tiba2 Nyo Kong-lim berteriak .

"Hai, mengapa kapal besar dimuka sana itu ter-katung2 ditengah laut ?"

Ceng Bo pun melihat hal itu.

Perahu besar itu adalah perahu yang dipakai The Go dan Bek Lian beserta sejumlah tentara Ceng untuk menggempur Kwiciu tapi telah dipegat oleh Ceng Bo tempo hari.

Terang kala itu perahu membentur karang dan sudah akan tenggelam, tapi mengapa sampai sekarang masih ter-katung2 timbul tidak tenggelam bukan ?

"Siapa diantara saudara2 yang mengetahui laut sana itu terdapat karang ?"

Tanya Ceng Bo kepada awak kapal. Salah seorang tampil kemuka dan menerangkan bahwa laut itu disebut Hay-sim-kau atau Laut Karang.

"Siapakah nama saudara ? Tempat itu bukankah dahulu tempat pertapaan Su Liong Po ?"

Tanya Ceng Bo.

Orang itu menerangkan bahwa dia bernama Su Khin-ting bergelar Bo-lin-hi (ikan tak bersisik), kemudian menuturkan bahwa Su Liong Po itu sudah lama meninggal.

Ceng Bo memandang orang itu, wajah siapa sih tak mengunjuk apa2 yang luar biasa, kecuali sikap dan bicaranya tadi cukup tegas.

Tahu Ceng Bo bahwa dengan bergelar Bo-lin-hi itu, kepandaian didalam air dari orang itu tentu istimewa.

Sekilas terbayang dalam ingatan Ceng Bo, bahwa wanita berambut panjang yang muncul diperahu tenggelam itu dulu, menilik daerah laut situ adalah Hay-sim-kau, ke-mungkinan besar ia itu adalah murid daripada Su Liong Po tersebut.

Su Liong Po, juga seorang wanita yang sudah berumur lanjut.

Ia termasyhur memiliki ilmu lwekang istimewa yang disebut ,Thay-im lian sing".

Setelahh mendapat keterangan dari Thay-san sin-tho tadi, samar2 Ceng Bo menjatuhkan dugaannya kalau wanita berambut panjang itu, adalah orang yang ber-tahun2 ini dicarinya dengan sia2 itu.

"Saudara Su, apakah kau pernah menyelam kebawah laut situ ?"

Tanyanya kemudian.

"Dua tahun yang lalu, pernah dua kali meninjau kesana. Tapi ternyata dibawah laut situ hanya terdapat batu2 karang yang aneh bentuknya, tapi tak dapat kuketemukan pintu goa dimana dahulu Su Liong Po telah meyakinkan pelajarannya,"

Sahut Su Khin-ting.

"Ilmu lwekang dari Su Liong Po itu disebut 'thay-im lian sing,"

Suatu jenis lwekang yang paling istimewa sendiri.

Untuk meyakinkan ilmu itu, harus berada dibawah tanah, Tiap sejam sekali muncul keatas untuk, menghirup hawa sampai 32 kali.

Akhirnya setelah mencapai tingkat seperti apa yang dikatakan dalam kitab Lam Hwa Keng "dimana sang malaekat tinggal, disitulah sang naga akan muncul.

Tenang bagaikan sesosok malaekat, bergerak bagaikan seekor naga', maka sempurnakah sudah peyakinan itu.

Su Liong Po atau wanita malaekat naga, begitulah mendapat gelarannya.

Terang ia tentu mempunyai goa rahasia didasar laut Hay-sim-kau situ, soalnya saudara belum dapat menemukannya saja,"

Menerangkan Ceng Bo.

Sekalipun penumpang2 perahu itu sebagian besar adalah orang2 persilatan namun mereka tak pernah mendengar hal itu.

Hal ini menambah kekaguman mereka, terhadap Ceng Bo siangjin yang begitu luas pengalamannya.

Malah setelah habis menutur tadi, Ceng Bo tampak melucuti jubah pertapaannya, lalu mengajak Su Khin-ting.

"Sdr. Su, karena kau sudah pernah kesana, maukah menemani aku sekali lagi ?"

Sudah tentu Su Khin-ting menurut, tapi sebaliknya Nyo Kong-lim cemas, serunya.

"Hay-to-kau, jangan lupa kita masih mempunyai urusan besar!"

Namun Ceng Bo hanya mendengus saja, terus loncat kedalam laut.

Gelar Hay-te-kau atau Naga didasar laut itu, ternyata tak bernama kosong.

Sekali terjun kedalam air, dia sudah menyelam jauh kedalam.

Ketika Su Khin-ting yang mengikuti dibelakang membuka mata, ternyata siangjin itu sudah berada 3 tombak lebih didepan sana.

Nyo Kong-lim perentah menurunkan layar, supaya perahu berjalan selambat mungkin.

Tio Jiang sebaliknya segera menanyai si Bongkok apa yang dibicarakan dengan suhunya tadi.

"Siaoko, mengapa harini kau begini teliti?"

Sahut si Bongkok sembari menoleh kekiri kanan.

Melihat sikap si Bongkok itu, tahulah Tio Jiang kalau pertanyaannya tentu tak dijawab.

Kini kita ikuti perjalanan Ceng Bo siangjin dan Su Khin-ting.

Tak berselang berapa lama, Ceng Bo tiba pada sebuah deretan batu karang raksasa yang ber-warna hitam bertutulkan putih.

Batu2 itu menjulang didasar laut.

Ceng Bo meluncur turun kesana.

Karena tengah hari, jadi dasar laut situpun kelihatan terang.

Pegunungan karang itu tinggi rendah menonjol turun, bentuknya beraneka ragam anehnya.

Tapi walaupun berenang mengelilingi seputarnya, namun kedua orang itu tak berhasil menemukan sesuatu yang luar biasa.

Ceng Bo berhenti sejenak sambil memegangi sebuah tiang batu, kemudian dia meneliti lagi sekeliling tepian pegunungan itu, namun tetap tak berhasil menemukan apa2.

Su Kin-ting membuat isyarat tangan yang maksudnya menerangkan, dua kali sudah dia berkunjung kesitu, pun tiada berhasil.

GAMBAR 32 Sesudah Ceng Bo Siangjin menyelam kedasar laut bersama Su Kin Ting, tidak lama lantas tertampak didepan ada batu2 karang, putih yang aneh2.

Pikiran Ceng Bo bekerja.

Lam-hay Hek-mo-kun (Raja Iblis Hitam dari Laut Selatan) yakni gelaran dari Su Liong Po sebelumnya, meyakinkan ilmunya di laut Hay-sim-kau situ, semua orang sudah mengetahuinya.

Benar semasa Hek-mokun tersebut masih hidup, tiada seorangpun yang diidinkan Masuk kedalam laut Hay-sim-kau situ, namun bagaimana dia tentu melakukan peyakinannya itu dibawah laut dan se-kali2 bukan diatas permukaan laut.

Konon kabarnya, ilmu thay-im-liang-sing itu, sewaktu meyakinkannya, tak boleh tersentuh dengan benda yang bagaimana pun kecilnya juga.

Kalau dia meyakinkan diluar karang (diatas permukaan laut), terang tak mungkin karena gelombang laut itu penuh dengan bermacam2 benda.

Memikir sampai disitu, Ceng Bo siangjin mulai mencari lagi.

Dan akhirnya jerih payahnya itu berbuah.

Dia menemukan sebuah batu karang yang bentuknya luar biasa serta berbeda dengan yang lain.

Batu itu hanya 2 meter pesegi besarnya.

Anehnya, diatas batu tersebut tiada tumbuh pakis (lumut), jadi licin2 saja.

Terang kalau sering dijamah oleh tangan orang.

Karena berada didasar laut, batu itu sebagian telah ditimbun oleh pasir, maka pada pencarian pertama tadi, sudah tak tertampak jelas.

Ceng Bo memberi isyarat supaya Su Khin-ting datang kesitu.

Mereka berdua segera menyingkirkan timbunan pasir itu.

Setelah itu Ceng Bo menghantam kemuka.

Hantamannya itu diarahkan pada air, bukan pada batu tadi.

Ber-gulung2 air meluncur kemuka, lalu dengan tiba2 dia menarik tangannya kebelakang.

Begitulah dengan mendorong-tarik itu, maka timbullah suatu tenaga hantaman yang dahsyat.

ilmu silat Su Khin-ting juga tak lemah, tapi terdampar oleh tenaga dahsyat tadi, dia sudah tak dapat berdiri tetap.

Diam2 dia kagum sekali kepada imam yang sakti itu.

Pada lain saat, ketika Ceng Bo menarik tangannya kebelakang, dia sertai dengan tenaga Iwekang sehingga air ber-gulung2 turut tersedot kebelakang.

Oleh tenaga sedotan yang kuat sekali itu, akhirnya batu karang tadi turut bergoyang2 dan bergeser beberapa dim.

Sekali Ceng Bo mendorong kuat2, maka batu karang itu segera bergeser jauh dan tampaklah sebuah lubang goa.

Sebenarnya pegunungan karang tersebut, adalah gunung didasar laut.

Sifatnyapun serupa dengan gunung didaratan, maka juga terdapat goa2-nya.

Tanpa, ragu2 lagi, keduanya segera menyusup kedalam lubang itu.

Kiranya benar seperti yang diduga mereka, tempat itu merupakan sebuah goa bundar seluas satu tombak.

Goa itu penuh dengan ikan2 kecil yang tubuhnya dapat memancarkan cahaya sinar, sehingga goa itu seperti diterangi dengan ratusan lampu kecil.

Air disitu pun jernih sekali, sehingga kalau orang berada disitu rasanya seperti memasuki sebuah Cui-ci-kiong (istana didalam air).

Ceng Bo menduga disitulah tempat pertapaan dari So Liong Po dahulu.

Dia berenang mengelilingi dinding goa itu.

Disana sini didapati seperti ada ukiran huruf2, tapi kini sudah rusak oleh guratan2 yang malang melintang memenuhi dinding itu, sehingga tulisan2 tadi tak dapat dibaca lagi.

Tak tahu Ceng Bo apa maksud kesemuanya itu.

Tiba2 pada sebuah dinding lain, dia tertegun mengawasi sebuah lukisan yang diukir disitu.

Melihat itu, Su Khin-tingpun lekas2 menghampiri.

Entah bagaimana dulu sipelukis dapat mengukir lukisan itu didinding tersebut.

Tapi jelaslah sudah, lukisan itu menggambarkan sebuah pondok gubuk, seorang wanita cantik tidur diatas balai2, wajahnya mengunjuk malu dan marah besar.

Ditepi balai2, tampak ada 2 orang lelaki yang dengan beringas bengis tengah mencekik tengkuk (leher bagian belakang) dari seorang lelaki lain, wajah siapa mirip dengan Ceng Bo siangjin.

Orang laki itu (yang melukiskan Ceng Bo) tampaknya seperti me-ratap2 minta ampun.

Diantara buaian air laut mengalir, lukisan itu tampaknya hidup sekali.

Bagi Su Khin-ting, lukisan itu tak dimengertinya.

Tapi Ceng Bo siangjin segera menginsyafi apa artinya.

Kiranya apa yang telah dikatakan Thay-san sin-tho itu, benar semua.

Kedua penjahat tadi (yakni lukisan kedua orang laki yang mencekik orang) karena hendak mencuri pedang pusaka kepunyaannya (Ceng Bo) dan Kiang Siang Yan, telah gunakan tipu muslihat yang keji.

Selagi Ceng Bo naik keatas gunung mencari obat, mereka telah menutuk jalan darah Kiang Siang Yan yang tengah sakit berat itu.

Kemudian menyuruh si Yau-sin Ban-pian Tan It-ho menyaru jadi Ceng Bo dan disuruh membujuk agar Kiang Siang Yan menyerahkan pedangnya pusaka !

Ah........, tak heranlah kini Ceng Bo, mengapa sedemikian murka Kiang Siang Yan pada saat itu.

Tanpa mengucap apa2, ia lolos merana ke-mana2.

Tentu isterinya itu sampai ditempat situ dan berhasil menemukan goa tempat pertapaan Su Liong Po.

Ukiran tulisan2 pada sekeliling dinding gua itu tadi, tentulah merupakan pelajaran dari ilmu sakti thay-im-lian-sing, dan mulailah Kiang Siang Yan meyakinkannya.

Kiang Siang Yan seorang wanita yang pandai ilmu sastera dan ilmu silat.

Dengan kecerdasan otaknya, ia tentu dapat menangkap inti sari pelajaran itu.

Terang kalau lukisan keadaan digubuk kaki gunung Lo-hou-san itu, ialah yang membuatnya !

Hati Ceng Bo makin pilu.

Sekilas terbayanglah dia akan siwanita rambut panjang yang dijumpai diatas perahu tempo hari.

Sebelum menjadi isterinya, Kiang Siang Yan itu sebenarnya adalah sumoaynya.

Sudah tentu ilmunya lwekang sama.

Tapi kala itu, ketika memeriksa bekas tiang perahu yang ditabas oleh wanita tersebut, ternyata berlainan sekali.

Kini baru dia jelas duduk perkaranya, bahwa ilmu lwekang wanita itu adalah dari pelajaran thay-im-lian-sing.

Dengan begitu, jelaslah sudah wanita berambut panjang itu bukan lain yalah isterinya sendiri, Kiang Siang Yan, atau ibu dari Bek Lian.

Ah, hampir sepuluh tahun dia selalu mengenang dan mencari isteri yang dikasihinya, tapi begitu berjumpa, dia sudah tak mengenalnya!

Ah..., sayang......, sayang...........

Sebaliknya, Kiang Siang Yan tentu sudah mengenal suaminya itu.

Hanya mengapa ia tak mau mengenal lagi, itu disebabkan dua hal.

Pertama, dalam kalbu nyonyah gagah itu tentu masih ter-bayang2 bagaimana wajah sang suami yang begitu pengecut minta ampun pada musuh, Kedua, karena thay-im-lian-sing itu harus diyakinkan dibawah tanah atau laut, jadi sipeyakin tentu menjadi orang yang mempunyai watak aneh dan hatinya berobah dingin tak berperasaan lagi.

"Untuk menyelesaikan salah faham itu, jalan satu2nya yalah harus dapat membekuk Tan It-ho dan kedua bangsat itu. Demikianlah putusan Ceng Bo. Su Khin-ting menampak Ceng Bo ter-longong2 mengawasi lukisan didinding gua itu, pun tak berani mengusiknya. Berkat ilmu dalam, air sangat mahir, maka walaupun sampai sekian lama mereka berdua berada dalam air, namun tak menjadi halangan. Lewat beberapaa saat Imemudian, barulah Ceng Bo kelihatan bergerak keluar, diikuti Su Khing-ting. Setelah meletakkan batu karang tadi ditempat semula, keduanya segera melambung keatas. ---oodw0tahoo---BAGIAN 10 . GURITA RAKSASA Baru saja muncul dipermukaan air, kedengaran Ceng Bo menghela napas, ujarnya.

"Saudara Su, apa yang kau ketahui dalam gua karang tadi, harap saudara suka merahasiakan."

Su Khing-ting mengangguk.

Tampak oleh kedua orang itu, perahu yang ditumpangi Nyo Kong-lim dan kawan2 berada tak jauh disebelah muka.

Tapi anehnya perahu itu kelihatan terombang-ambing keras sekali, dan kedengaran pula Nyo Kong-lim ber-tereak2 dengan nyaringnya.

Ber-gegas2 Ceng Bo sianjin dan Su Khin-ting berenang menghampiri.

Kiranya orang2 sama berkumpul ditepian badan perahu.

Terdengar angin pukulan men-deru2, rupanya Nyo Kong-lim tengah berkelahi.

Dengan terkejut, Ceng Bo segera meluncur pesat untuk mendekati perahu.

Tampak dengan jelas tubuh Nyo Kong-Iim, yang tinggi besar itu berloncatan kian kemari berkelahi dengan seorang wanita, yang bukan lain adalah siwanita berambut panjang tempo hari dan yang kini dia yakin itu adalah isterinya sendiri Kiang Siang Yan In Hong.

Sudah tentu bukan kepalang girangnya.

Gerakan dari wanita itu cukup lincah dengan serunya, namun sedikitpun tak mengeluarkan suara apa2.

Benar tampaknya sam-ciat-kun dari ketua Hoa-san itu dimainkan dengan gencar sekali, tapi dalam pandangan seorang akhli, itu sia2 saja.

Nyata2 dia bukan tandingan siwarita ltu.

Di bawah serangan siwanita yang ber-tubi2 itu, permainan sam-ciat-kun sudah kacau balau.

Hanya karena mengandalkan tenaga besar dan perawakannya yang kuat, barulah orang she Nyo itu dapat bertempur dengan gigih, walaupun dengan susah payah sekali.

Melihat itu, Ceng Bo meluncur cepat.

Baru dia hendak ayunkan tubuhnya keatas perahu, tiba,2 didengarnya disebelah sana Su Khing-ting menjerit ngeri.

Cepat Ceng Bo mengawasi.

Kiranya orang she Su itu tampak membelalakkan mata, kedua tangannya diacungkan keatas, macamnya seperti orang dicengkeram setan.

"Sdr. Su!, kau kenapa?"

Ceng Bo berseru, tanya. Su Khin-ting dengan napas ter-engah2 menyahut ter-putus2.

"Siangjin......lekas tinggalkan....... jangan sampai terlambat....... biar aku saja........ yang korban ........"

Nada suaranya sedih memilukan.

Ceng Bo heran.

Su Khin-ting, dialah yang mengajaknya kedalam laut.

Kalau ada bahaya apa2, masa dia berpeluk tangan saja?

"Saudara Su, apakah kau mendapat kejang urat (kram)?"

Tanyanya sembari berenang menghampiri. Memang bagi seorang perenang, kejang urat dikaki, adalah suatu hal yang membahayakan jiwa. Begitu urat kaki kejang, orangnyapun tentu akan tenggelam binasa.

"Hai ........!, hai........!"

Tiba2 Su Khing-ting berteriak kalang kabut demi dilihatnya Ceng Bo hendak menghampari.

Dan, sehabis itu, dia bergerak me-regang2 tangan dan tubuh, kemudian tenggelam kedalam air.

Sudah tentu Ceng Bo teramat kagetnya.

Dengan mengempos semangat, dia selulup kedalam air untuk memeriksanya.

Tapi baru saja selulup, atau pahanya terasa dilibat kencang2 oleh semacam benda, sehingga dia tak kuasa lagi bertahan dan kena diseret masuk kedalam laut.

Dalam gugupnya, Ceng Bo masih sempat mengawasi keadaan Su Khin-ting.

Kiranya kawannya itu juga mengalami nasib serupa, dilibat oleh semacam benda hitam.

Karena air laut bergelombang keras, jadi tak dapat Ceng Bo me-lihat jelas.

Samar2 seperti dilihatnya orang she Su itu tengah digubat oleh semacam tali jaring yang berwarna putih.

Tengah Ceng Bo hendak mengawasi dengan perdata, tiba2 kakinya terasa, sakit sekali.

Buru2 dia kerahkan lwekang untuk meronta se-kuat2nya, namun tak berhasil.

Hal itu makin membuatnya terkejut.

Tenaga yang digunakan tadi, bukan kepalang dahsyatnya.

Ibarat bisa digunakan untuk menghancurkan gunung, tapi mengapa tak mampu lepas dari libatan benda putih itu.

Tambahan pula, rasa nyeri pada kakinya itu, tetap tak berkurang.

Hendak dia memeriksanya, atau tiba2 tampak sebuah benda macam sutera putih ber-gerak2 dari dalam laut.

Dan pada lain saat, Ceng Bo melihat dari dasar laut disebelah muka sana ada dua buah lentera besar yang memancarkan cahaya warna hijau gelap.

Benda putih macam selendang sutera itu, kiranya berasal dari lentera hijau itu.

Kini jelaslah sudah Ceng Bo siangjin apa artinya itu.

Diam2 dia mengeluh dalam hati.

Baru saja hatinya merasa girang bakal berjumpa dengan isteri yang dicintainya itu, atau kini dia sudah ditimpaa bahaya besar.

Dengan ilmunya kepandaian, tidaklah sukar untuk melepaskan diri dari genggaman makhluk laut itu.

Tapi biar bagaimana dia harus menolong juga Su Khin-ting.

Tak mau dia cari selamat dewek.

Ketika, dipereksanya, ternyata benda yang melibat kakinya itu, pada bagian atas terdapat banyak sekali lubang2 penyedot.

Kulitnya licin dan kusam.

Tenaganya maha kuat.

Terang itulah salah sebuah tangan dari seekor ikan gurita, raksasa.

Sama sekali gurita raksasa itu mempunyai 8 tangan.

Maka disebut juga ikan pat-jiao-hi atau delapan cakar.

Binatang itu dapat hidup lama sekali.

Yang tergolong raksasa, benar hanya lebih kurang 3 meter besarnya, namun kedelapan tangannya itu dapat dijulurkan sejauh tiga empat tombak.

Ada kalanya binatang itu menghampiri ketepi laut, untuk mencari mangsa berupa binatang kerbau atau kambing yang kebetulan berada ditepi situ.

Korban itu disergap dengan gubatan tangannya yang kuat dan panjang, terus diseret masuk kedalam laut.

Setiap pelaut kenal apa artinya bahaya yang dihadapi bila berpapasan dengan makhluk jahat itu ditengah laut.

Maka sedapat mungkin, mereka menjauhi binatang itu.

Sekali kena digubat, jangan harap dapat lolos lagi.

Mengetahui kelihayan musuhnya itu, Ceng Bo kerahkan seluruh tenaganya untuk meronta.

Saking kerasnya tenaga ronta itu, air sampai muncrat ber-gulung2 keatas.

Namun libatan pat-jiao-hi itu tetap tak terlepas bagaikan terpateri.

Tapi dalam pada itu, dia mendengar suara berkeretakan beberapa kali.

Benar genggaman tak lepas, tapi tangan itu menjadi rowak, hingga libatan pada kaki Ceng Bo pun tak sekencang tadi lagi.

Saking kesakitan, tangan yang melibat itu segera, dikendorkan lalu di-kibas2kan sedemikian hebatnya, sehingga air muncrat seperti ditiup badai yang dahsyat.

Tapi berbareng itu, tangannya yang lain segera menyambar untuk menggubat pinggang Ceng Bo.

Betapapun saktinya siangjin itu, namun tak dapat dia menghadapi kekuatan makhluk laut raksasa itu.

Cepat dia merabah kepinggang, pikirnya hendak mencabut pedangnya pusaka, yang ketajamannya dapat digunakan untuk memotong segala macam logam.

Tapi pada lain saat, dia segera mengeluh hebat.

Kiranya pedang itu masih terselip pada jubah pertapaan yang ketika hendak masuk menyelidiki gunung karang didasar laut tadi, telah ditanggalkan dan ditinggalkan diatas perahu.

Baru2 dia meluncur jauh untuk menghindar.

Kemudian setelah ber-putar2, dia berenang menghampiri pula.

GAMBAR 33 Mendadak Ceng Bo Siangjin merasa kakinya digubat oleh sesuatu, lalu badannya terseret kedasar laut.

Waktu ia tegasi, ternyata seekor gurita raksasa dengan delapan kakinya yang panjang telah menggubat badannya.

Setelah sekali mengungkap balik tubuhnya, makhluk raksasa itu kelihatan berdiam tenang.

Untuk mencari tahu keadaan Su Khing-ting, Ceng Bo tak jeri lagi berenang mendekati.

Amboi, kiranya Su Khing-ting sudah tak berdaya diringkus gurita itu, siapa tengah mengangkat tubuh orang Su itu untuk dimasukkan kedalam mulutnya.

Tapi serta dilihatnya orang she Su itu masih me-ronta2 kaki tangannya, timbullah harapan Ceng Bo.

Terang sang kawan itu masih belum binasa.

Sekali kedua kakinya menjejak, Ceng Bo melesat maju, lalu menghantam tangan sigurita.

Untuk melancarkan hantaman didalam air, berbeda dengan diatas daratan.

Karena terhalang oleh desakan air, jadi tenaga hantaman itu agak berkurang dayanya.

Tapi karena didalam air, tambahan lagi tangan sigurita itu licin luar biasa, jadi tak memberi hasil apa2.

Malah pada saat itu, sigurita sudah kibaskan kedua tangannya yang lain untuk menyerang.

Tapi kini Ceng Bo sudah tak menghiraukan suatu apa lagi.

Seluruh perhatiannya hanya ditimpahkan untuk menolong Su Khing-ting saja.

Cepat dia cengkeram tangan sigurita yang tengah melibat Su Khing-ting itu.

Kalau diatas daratan, cengkeram Ceng Bo itu pasti akan menghancur remukkan benda yang dicengkeramnya.

Tapi karena didalam air, cengkeram itu hanya berhasil menguntungkan tangan sigurita.

Walaupun kutungannya masih tetap melibat Su Khin-ting, namun dengan sekali meronta saja dapatlah orang she Su itu terlepas, terus berenang melambung keatas permukaan air.

Tapi tatkala Ceng Bo hendak mengikuti, tiba2 pinggang dan pahanya terasa dilibat kencang sekali.

Kiranya kedua tangan sigurita tadi, sudah berhasil melibat Ceng Bo siangjin.

Dua kali kedua tangan sigurita itu putus, maka saking marahnya kali ini binatang itu melibat se-kuat2nya.

Kalau Ceng Bo pada saat itu tak lekas2 kerahkan lwekangnya untuk melawan, tentu dia akan sudah binasa.

Setelah berhasil melibat Ceng Bo, binatang itu segera membawanya kedasar laut.

Dalam pada itu, Ceng Bo menghantam lagi dan berhasil memutuskan salah sebuah tangan sigurita.

Namun dua tangannya yang lain, dengan cepat sekali sudah bergerak melibat tubuhnya.

Bagaikan sebuah karung yang melembung kempes, gurita itu masuk kedalam dasar laut sembari menyeret sang korban.

Saking pesatnya sigurita itu berjalan didalam air, hidung Ceng Bo serasa dituangi air.

Buru2 Ceng Bo menutup napasnya.

Tapi karena begitu, gerakannyapun agak lambat.

Baru setelah kedua tangan sigurita yang hendak melibat tadi dapat dibikin putus, Ceng Bo jejakkan kakinya kepada kutungan tangan-gurita tadi, lalu bagaikan anak panah dia melesat 3 tombak jauhnya, pikirnya hendak muncul kepermukaan air.

Tapi meskipun dari 8 tangan sudah 7 yang putus, namun gurita itu masih tetap mengejarnya.

Dalam kecepatan berenang, sudah tentu orang tak bisa menang dengan binatang itu.

Pikir Ceng Bo, sekalipun semua tangan sigurita itu dibikin putus, namun binatang itu tetap mengejar dan menggubatnya.

Maka jalan satu2nya ialah membunuhnya saja.

Tapi untuk melakukan hal itu, tak semudah seperti kehendaknya, karena dia tak membekal senjata apa2.

Tiba2 terkilaslah suatu pikiran bagus.

Ketika digubat lagi, dia tak mau melawan dan biarkan dirinya diseret kedasar laut.

Begitu melalui pegunungan karang Hay-sim-kau tadi, dia hantam sebuah batu karang yang panjangnya hampir 2 meter.

Potongan batu itu ujungnya tajam, dan kini segera dicekalnya untuk dijadikan senjata.

Pada saat itu, sigurita sudah menyeret tubuh Ceng Bo untuk dimasukkan kedalam mulut.

Malah karena tadi ke 7 tangannya diputuskan, dengan marahnya binatang itu hendak lekas2 menelan sang korban.

Ceng Bo kerahkan tenaganya, batu lancip itu dihantamkan se-kuat2nya kedalam mulut sibinatang, dan setelah itu, dengan tangannya kiri dia hantam putus tangan yang melibat tubuhnya itu, lalu tubuhnya membarengi melesat kebelakang.

Karena hantaman Ceng Bo itu keras sekali, maka batu sepanjang 2 meter tadi dengan cepatnya masuk kedalam mulut sigurita, terus meluncur kedalam perut.

Begitu perutnya kemasukan benda keras itu, tubuh sigurita, seketika.

Menjadi surut kecil dan pada lain saat melembung besar.

Oleh karena gerak surut-melembung itu dilakukan ber-ulang2, maka air disekitar situ menjadi berombak keras, bertaburan buih.

Saat itu Ceng Bo sudah menyingkir beberapa tombak jauhnya.

Sembari melepaskan kutungan tangan-gurita yang melibat tubuhnya tadi, dia menunggu kesudahan dari sigurita.

Rupanya binatang itu tengah menderita kesakitan hebat.

Tubuhnya berkembang kempis beberapa kali, lama kelamaan tenaganya makin berkurang, dan akhirnya bagaikan sebuah kantong, gurita itu silam kedasar laut tiada berkutik lagi.

Secepat terlepas dari bahaya itu, Ceng Bo ber-gegas2 naik kepermukaan air.

Tapi se-konyong2 matanya tertumbuk pada sebuah benda mencorong berkilauan ditempat sigurita jatuh itu.

Ketika diawasi dengan seksama kiranya perut sigurita tadi sudah pecah dan, batu karang tadi menonjol keluar.

Tapi benda tadi tetap ber-kilau2an memancarkan cahaya.

Rupanya benda itu keluar dari dalam perut sigurita.

Karena binatang itu sudah mati, tanpa ragu2 lagi Ceng Bo menyelam menghampiri.

Ketika benda itu dijemputnya, ternyata sebuah kotak dan terbungkus dengan lemak yang licin sekali.

Rupanya saking keliwat lama berada didalam perut sigurita, benda itu terbungkus dengan ludah atau getah perut.

Oleh karena, didalam air tak dapat melihat jelas apakah adanya benda itu, maka setelah diselipkan dalam baju, dia meluncur naik kepermukaan air.

Begitu berada dipermukaan air, ternyata matahari sudah condong disebelah barat.

Entah sampai kemana, tadi dia diseret oleh gurita itu.

Tapi yang nyata baik laut perairan, Hay-sim-kau maupun perahu Nyo Kong-lim dan kawan2, sudah tak nampak lagi disitu.

Dia mendongkol sekali kepada gurita tadi.

Coba kalau tidak terganggu sibinatang itu, tentu tadi dia sudah dapat bertemu dengan isterinya.

Kini dia ter-katung2 ditengah lautan.

Dan karena sudah keliwat menggunakan tenaga, walaupun kepandaiannya tinggi, namun tak urung dia merasaa cape juga.

Apa boleh buat kini dia apungkan diri, biarkan kemana ombak hendak mendamparnya.

Jaraknya, dengan daratan tak jauh, bila air pasang datang tentu dalam setengah malam saja dia akan sudah dibawa ketepi pantai.

Tapi kalau jauh dengan daratan, satu2nya harapan yalah kalau ada perahu berlayar lewat disitu.

Jika tiada perahu yang lalu disitu, terpaksa dia harus ter-apung2 dilaut sampai entah berapa lama.

Se-konyong2 dia teringat akan benda yang keluar dari perut gurita tadi.

Ketika benda itu diambil dan dipereksanya, hatinya ber-debar2 keras.

Begitu kotoran dan lendir gurita yang melekat dibersihkan, Ceng Bo segera berseru kaget.

Kiranya benda itu adalah sebuah peti kecil berbentuk, persegi, terbuat dari emas.

Kunci daripada kotak kecil itu, merupakan dua batang pedang2an kecil, yang halus sekali buatannya.

Tangan Ceng Bo serasa gemetar.

Walaupun dia sudah mengetahui akan isinya, namun dibukanya juga tutup kotak itu.

Benar seperti apa, yang diduganya, kotak emas itu berisi sebutir beng-cu (mutiara mustika) yang luar biasa bagusnya.

Sampai sekian saat baru Ceng Bo menutup kotak emas itu lagi.

Pikirannya me-layang2.

Kotak emas berisi beng-cu adalah miliknya sendiri yang telah diberikan kepada sang isteri.

Kiang Siang Yan pernah bersumpah, bahwa dalam hidupnya, ia takkan berpisah dengan mustika itu.

Tapi mengapa kotak itu berada didalam perut gurita?

Adakah isterinya itu sudah mengingkari sumpah kesetiaannya?

Lagi2 pikirannya melayang kepada, siwanita berambut panjang.

Siapakah gerangan ia itu?

Dari sikap dan nada suaranya, wanita itu tak mirip dengan sang isteri.

Rambut sang isteri dahulu hitam mengkilap bagus sekali.

Sedang rambut wanita, aneh itu berwarna kelabu serta morat-marit tak karuan.

Entah berapa lama Ceng Bo ter-menung2 dalam lamunan kenangannya itu, tapi tahu2 dia sudah terdampar kedekat pantai.

Baru pada saat itu, dia tersadar lagi.

Kepentingan negara dan rakyat, diatas kepentingan peribadi.

Biarlah dia kubur dulu kenangannya tentang sang isteri itu, karena negara sedang dalam bahaya.

Demikian pikirannya tergugah dan semangatnya timbul lagi.

Kini dia silam kedalam air terus berenang se-kuat2nya.

Begitu sampai ditepi pantai, dia lalu loncat keatas daratan.

Kalau menilik keadaannya, tempat itu terang bukan sebuah pulau, namun keadaan disitu sunyi sekali, tiada tampak barang seorang manusiapun jua.

Untuk sesaat tak dapat dia mengenal nama tempat itu.

Maka lebih dahulu dia jemur pakaiannya yang basah kuyup itu, lalu mengobati luka2nya.

Setelah itu dia teruskan perjalanannya.

Menjelang magrib, dia tiba ditepi sebuah hutan.

Dibelakang hutan itu rupanya terdapat sebuah gunung.

Tapi oleh karena hari petang, jadi tak dapat melihatnya dengan jelas.

Baru dia hendak ayunkan langkahnya masuk kedalam hutan, tiba2 didengarnya ada beberapa puluh anak panah melayang kearahnya.

Mengira kalau disebelah muka ada bayhok (barisan pendam) tentara Ceng, maka dia maju memapaki.

Dalam beberapa gerakan saja, dia sudah berhasil menghalau anak panah itu.

Setelah itu dia hendak menyerbu maju, pikirnya hendak menanyakan jalan pada si penyerang.

Tapi se-konyong2 terdengar suara orang perempuan berseru nyaring.

"Gunung ini milikku, jalan ini aku yang membuat, kalau hendak lalu disini, tinggalkanlah uang sewanya !"

Suara itu melengking bening.

Nadanya mirip dengan suara kanak2, tapi sengaja di-buat2 agar kedengaran garang.

Ceng Bo cepat mengenali suara itu.

Dia mendongkol dan geli.

Dan habis mengeluarkan gertakan tadi, melesatlah sesosok tubuh keluar, dibarengi dengan gertak ancaman yang garang.

"Saudara2, ada seekor kambing gemuk datang !"

Berbareng mulut berseru, begal perempuan itu terus memutar liu-sing-tui (bandringan) menghantam dada Ceng Bo.

"Berani mati kau!"

Bentak Ceng Bo seraya menangkap bandringan itu.

"Makanan keras, angin kencang, lari!"

Teriak begal perempuan, itu dengan kagetnya, sambil terus lari kedalam rimba lagi.

"Siao Chiu, apa2an kau!"

Seru Ceng Bo.

Atas seruan itu sibegal perempuan merandek kesima.

Begitu maju mengawasi, selebar mukanya merah padam.

Kiranya begal perempuan yang garang itu, bukan lain adalah Liau Yan-chiu, sumoay Tio Jiang atau murid buncit dari Ceng Bo siangjin yang genit nakal itu.

Sesaat itu, dari dalam rimba, muncul tiga atau empat puluh lelaki yang bertubuh kuat serta masing2 mencekal senjata.

Tampak bandringan dari pemimpinnya kena direbut musuh, mereka berteriak gempar.

Tapi hanya berteriak saja, tak berani maju menyerang.

Takut digegeri suhunya, Yan-chiu segera timpahkan kemarahannya pada kawanan anak buahnya itu, serunya lantang2.

"Manusia tak punya guna, apa tak tahu siapa yang datang ini. Mengapa berani ribut tak keruan dihadapan suhuku?"

Aneh sekali begitu sinona mendamprat, ber-puluh2 lelaki yang gagah itu segera mengiakan dengan serta merta.

Setelah itu, Yan-chiu segera memberi hormat pada suhunya.

Dengan mata merah dan seperti mewek ia memberi keterangan.

"Suhu, sepergi suhu tempo hari, tentara Ceng dalam jumlah yang besar telah menyerbu. Ki dan Kiau susiok serta suko kukuatir sudah dibinasakan musuh. Murid yang berhasil lolos kemari ini, segera mengumpulkan ratusan orang, tetap melanjutkan perlawanan kepada tentara Ceng !"

Ceng Bo tergerak hatinya melihat jiwa patriot dari muridnya itu. Tapi demi teringat akan tingkah laku Yan-chiu tadi, dia geli juga. Sampai sekian saat, baru dia menghela napas berkata.

"Siao Chiu, sukomu tak kurang suatu apa. Aku sudah berjumpa dengannya."

"Benarkah itu, suhu? Tapi Lian suci kemana?"

Tanya Yan-chiu sambil berjingkrak kegirangan. Demi mendengar pertanyaan itu, wajah Ceng Bo tambah keren, hingga Yan-chiu tak berani mendesak lagi, katanya .

"Suhu, kedatanganmu kemari ini sungguh kebetulan sekali. Kita dapat kumpulkan anak buah, beli kuda dan bikin pembalasan pada musuh!"

Oleh karena banyak sekali yang hendak ditanyakan, maka Ceng Bo segera ikut sang murid menuju ke "soache" (markas diatas gunung). Apa yang disebut "soache"

Itu ternyata adalah sebuah biara gunung, yang pada kedua sampingnya dialingi oleh beberapa buah pondok gubuk.

Ketika Ceng Bo masuk, per-tama2 yang dilihatnya yalah tho-te-ya (patung penunggu bumi) sudah dihancurkan.

Di-tengah2 ruangan tergantung sebuah papan yang bertuliskan "tiong gi tong"

Atau paseban setia luhur. Dari coretannya, terang tulisan itu ditulis oleh Yan-chiu sendiri. ,Suhu, lihatlah. Disitu aku telah mencontoh perilaku kaum gagah dari gunung Liang-san dahulu!"

Kata Yan-chiu dengan bangga.

Atas keterangan itu, walaupun biasanya Ceng Bo mahal senyuman, kini terpaksa tertawa juga.

Yan-chiu dapat hati.

Dituturkannya bagaimana tempo hari dia telah lolos dari kepungan tentara Ceng.

Waktu menceritakan tentang keganasan tentara Ceng yang mem-bunuh2i rakyat tak berdosa wajah Yan-chiu merah padam murka sekali.

Dalam markasnya situ, Yan-chiu mempunyai anak buah sebanyak 30 orang lebih.

Pemimpinnya bernama Siao-pah-ong Tan Jiang.

Bermula pada waktu mendapatkan Yan-chiu, Tan Jiang hendak mengambilnya menjadi isteri.

Tapi dalam dua tiga gebrak saja, Yan-chiu telah berhasil merobohkan.

Sejak itu, si genit tersebut diangkat menjadi pemimpin mereka.

Yan-chiu telah mengadakan reorganisasi dalam rombongannya.

Banyak juga ia menerima tambahan tenaga dari pelarian2 yang singkirkan diri dari tindasan tentara Ceng.

Sehingga kini jumlahnya menjadi 100 orang lebih.

Dengan melakukan taktik gerilya, Yan-chiu dan rombongannya berhasil menerbitkan gangguan besar pada pasukan2 Ceng yang lalu didaerah tersebut.

"Siao-chiu, apakah namanya tempat ini? Berapa jauhnya dari Hoa-san ?"

Tanya Ceng Bo kemudian segera setelah Yan-chiu menutur habis. Tapi Yan-chiu hanya membelakakkan mata, karena ia sendiri tak mengetahui juga. Saking mabuk "naik pangkat"

Menjadi pemimpin rombongan, ia sudah tak pusing2 lagi mencari tahu apakah namanya, gunung situ.

"Hayo, salah seorang maju kemari!"

Serunya setelah dia tak dapat menjawab pertanyaan sang suhu. Seorang liaulo (anak buah) masuk kedalam.

"Li-tay-ong ada perentah apa ?"

Katanya dengan memberi hormat.

Mendengar liaulo itu menyebut li-tay-ong (ratu begal) pada Yanchiu, gelilah Ceng Bo.

Dia, duga tentang si Yan-chiu sendiri yang meng-ada2kan.

Begitu siliaulo masuk, Yan-chiu mulai beraksi.

Dengan dehem2 dahulu, ia berkata.

"Lekas katakan apakah namanya tempat ini! Dari Hoasan masih berapa jauhnya? Kalau tak dapat memberi keterangan, akan kupersen 20 gebukan!"

"Li-tayong, gunung ini disebut Yan-san, kalau menuju kebarat sampailah ke Hoasan,"

Sahut siliaulo ter-sipu2. Mendengar itu, Ceng Bo segera bertanya kepada sang murid.

"Siao-chiu, bukankah tadi kau mengatakan kemaren ada sepasukan tentara Ceng menuju kearah barat?"

"Benar, mereka keliwat besar jumlahnya, sedang fihak kami hanya 100-an orang, maka terpaksa dengan mata merah kami awasi mereka berjalan. Syukur aku berhasil membekuk seorang ordonan (pemberita). Setelah kusuruh orangku memotong kuncirnya, orang itu kumasukkan dalam perapian!"

Sahut Yan-chiu.

Girang hati Ceng Bo mengetahui bahwa, sang murid ternyata tak men-sia2kan harapannya.

Sekalipun gadis itu genit nakal, namun dapat menjalankann tugas se-baik2nya.

Bermula Yan-chiu sudah segera akan menghabisi jiwa ordonan itu, tapi karena siordonan tersebut ber-ulang2 menyebutnya "li-tay-ong"

Untuk minta ampun, saking senangnya disebut begitu, Yan-chiu tak jadi membunuhnya.

Coba jangan Yan-chiu dimabuk sebutan itu, walaupun ia tak turun tangan tapi anakbuahnya yang sebagian besar terdiri dari pemuda2 atau orang2 lelaki yang telah kehilangan rumah tangga anak isteri serta ayah bunda, tentu segera mencingcang serdadu musuh tersebut.

Ceng Bo minta supaya ordonan itu dibawa menghadap, siapa segera ditanyainya.

"Mengapa tentara Ceng setelah berhasil menduduki Kwitang tak sekalian menyerbu Kwisay, sebaliknya menuju kearah barat laut?"

"Li congpeng mengatakan ........"

Belum ordonan tersebut menghabiskan kata2nya, Yan-chiu sudah cepat2 memutusnya.

"Li Seng Tong!"

"Ya, ya, ya......, Li Seng Tong mengatakan, salah seorang dari kedua kaisar Lam Beng sudah dibinasakan, tinggal satu masih bersemayam di Kwisay. Kaisar itu sudah seumpama kura2 dalam jambangan. Tapi yang paling menjengkelkannya yalah orang2 Hoa-san yang berkeras kepala itu"

"Hohan,"

Lagi2 Yan-chiu menukas omongan orang. Saking takutnya ordonan itu terpaksa mengulangi lagi kata2nya.

"Ya......., terhadap para hohan (orang gagah) Hoa-san itu. Maka dia lalu mengirim sejumlah besar pasukan !"

"Berapakah jumlahnya tentara ltu ?"

Tanya Ceng Bo dengan terperanjat.

"3000 orang tentara pilihan dan 10 pucuk meriam besar", sahut siordonan. Atas pertanyaan Ceng Bo, siapa yang memimpin pasukan itu, siordonan menerangkan .

"Li cong .......... Seng Tong sendiri."

Diam2 Ceng Bo mengeluh dalam hati.

Sudah lama dia mendengar bahwa Li Seng Tong itu seorang panglima perang yang pandai.

Benar pertahanan ke 72 markas digunung Hoa-san itu cukup kokoh, tapi mana bisa tahan dibombarder dengan meriam ?

Karena baru kemaren hari pasukan Ceng itu menuju ke Hoa-san, terang akan dapat mempergoki rombongan Nyo Hong-lim.

Teringat nasib apa yang bakal menimpa ke 72 markas Hoa-san itu, Ceng Bo menjadi gelisah sekali.

Ular tanpa kepala, tentu tak dapat berjalan.

Pasukan tanpa pemimpin, pasti akan kalut.

Begitu pula nasib ke 72 markas di Hoa-san yang tanpa Cecu (pemimpin markas ) masing2.

Terkilas dalam hati Ceng Bo, bahwa kini mencari sang isteri untuk menjelaskan kesalahan paham itu, makin penting artinya.

Karena dengan tambahan seorang tenaga macam sang isteri itu, kubu2 pertahanan melawan tentara Ceng, pasti bertambah kokoh lagi.

Maka dengan serentak berbangkitlah dia dari tempat duduknya, sehingga membikin siordonan tadi gemetar ketakutan.

"Siao-chiu, lekas kumpulkan anak buahmu disini. Pilih salah seorang yang faham jalanan menjadi pengunjuk jalan ke Hoasan. Jangan berayal, lekas!"

Serunya pada Yan-chiu, siapa segera melakukan perentah itu.

Dari mulut li-tay-ong Yan-chiu, anak buah sekalian sama mengetahui bahwa guru dari li-tayongnya itu adalah Hate-kau Bek Ing, tokoh yang termasyhur didunia persilatan itu.

Kedatangan Ceng Bo kesitu, telah mengobarkan semangat keberanian mereka.

Begitulah dengan dua, orang pencari kayu dan, Yan-chiu berangkat menuju Hoa-san.

Dengan mengambil jalan-singkat, yang ber-belit2 melalui tebing dan naik turun gunung, keesokan harinya saja mereka tiba, pada sebuah soache (markas).

Dimuka itu sudah telah ditumpuki kayu2, rupanya mereka, bersiap.

Begitu Ceng Bo melesat maju menghampiri, dan orang membentak keras.

"Siapa yang berani mengadu biru kemarkas ini ?!"

"Adakah Nyo-toa cecu sudah kembali?"

Sahut Ceng Bo dengan pertanyaan. Sampai sekian saat tiada penyahutan dari sebelah dalam. Baru setelah itu ada seseorang menonjolkan kepalanya keluar seraya bertanya.

"Siapakah yang datang ini? Mengapa menanyakan, Nyo-toa cecu? Toa cecu memenuhi undangan Ceng Do siangjin datang kepulau Ban-san-to, sampai saat ini belum pulang."

Ceng Bo telah menduga akan adanya keterangan itu, maka dengan cepatnya dia segera memberi perintah.

"Lekas buka pintu markas, aku ini adalah Ceng Bo siangjin sendiri !"

Orang itu melihat bahwa rombongan tamu diluar markas itu, terdiri dari 100 orang. Kuatir mereka adalah kaki tangan pemerintah Ceng, orang tadi tak membukakan pintu, serunya.

"Sebelum mendapat perintah dari Toa cecu, harap anda pulang dahulu !"

Yan-chiu sangat murka. Sekali enjot kaki, tubuhnya melayang melalui pagar tumpukan kayu itu. Dan pada lain saat terdengar suara "plak"

Maka, orang yang munculkan kepalanya tadi, segera terbanting meloso.

Dan berbareng itu, pintu markaspun terpentang lebar !

Tieng Bo siangjin tak keburu mencegah perbuatan muridnya itu.

Dia menghampiri dan menolong orang itu.

Melihat siangjin itu berwajah agung, walaupun pakainnya sudah kumal2 tak keruan, orang tadi buru2 hendak berbangkit.

Tapi ternyata bantingan Yan-chiu tadi cukup hebat, hingga dia tak kuasa untuk bangun.

Ceng Bo menerangkan bahwa dia telah bertemu dengan pemimpin mereka, Nyo Kong-lim dipulau Ban-san-to, Kedatangannya kemari itu.

Ialah hendak merundingkan cara perlawanan terhadap tentara Ceng yang kini sudah menyusun barisannya dikaki gunung situ.

Seluruh thaubak (kepala liaulo) dan anak buah dari markas itu segera berkumpul untuk mendengarkan amanat Ceng Bo.

Kiranya markas itu adalah markas pertama dari ke 72 markas gunung Hoasan.

Yang menjadi Cecu bernama Ko Kui, seorang bun-bu coan-cay (pandai sastera dan iimu silat), disamping memiliki kecerdasan otak , yang luar biasa.

Tapi itu waktu diapun ikut pada Nyo Kong-iim kepulau Ban-san-to, jadi belum pulang juga.

Ceng Bo terperanjat.

Terlambat sedikit saja dia datang kesitu markas no.

1 itu tentu akan jatuh ketangan musuh.

Dan kalau markas kesatu jatuh, ke 71 markas lainnya sukar dipertahankan.

Tengah berunding itu, tiba2 terdengarlah suara ledakan dahsyat.

Sebuah bola api, jatuh diluar markas.

Ledakan itu men-denging2 ditelinga.

Disusul lagi dengan beberapa kali dentuman menggelegar, maka kapur dinding ruangan situ menjadi rontok, bumipun bergoncang.

Sampai2

"raja gunung dua bulan"

Yan-chiu, ciut nyalinya, Wakil Cecu bernama Liang Pheng, bergelar Ban Li Hui (terbang selaksa Ii).

Oleh karena iImunya silat biasa saja, jadi belum2 dia sudah pucat wajahnya.

Lebih2 para anak buahnya.

Melihat kepanikan suasana para anak buah dimarkas situ, Ceng Bo membesarkan semangat mereka.

"10 kali dentuman tadi, hanya suatu percobaan menyulut meriam dari fihak tentara Ceng. Malam ini mereka baru tiba, jadi tentunya belum menyerang sungguh2, harap saudara2 tenang."

Tapi wakilnya Ko Kui tadi menyatakan, bahwa lebih baik segera mundur kemarkas pusat saja, karena walaupun bagaimana juga, markas disitu yang hanya terbuat dari bahan balok kayu, mana bisa tahan serangan meriam.

Pernyataan itu rupanya didukung oleh seluruh anak buahnya Kalau menurut disiplin tentara, wakil Cecu tadi harus segera dibunuh agar disiplin anak buah dapat dipulihkan.

Tapi di-pikir lagi untuk merebut hati anak tentara, tak se-mata2 mengandallkan cara tersebut.

Ceng Bo sudah mendapat cara lain, yakni mengadakan serbuan pada fihak musuh.

Menghasilkan kemenangan sedikit saja, cukup sudah untuk memulihkan semangat para anak buah.

"Siao-chiu, ada berapa orang dari anak buahmu yang bernyali besar?"

Tanyanya kepada sang murid. Yan-chiu terkejut girang. Tak disangkanya kalau sang suhu memandang mata pada anak buahnya. Dengan berlagak geleng2 kepala, dia menyahut.

"Pun-tayong ........."

Baru dia mengucap kata2nya yang berarti "aku siraja gunung"

Itu, sang suhu telah deliki mata kepadanya, hingga semangatnya buyar, mulutnya terkancing rapat.

Karena selama 2 bulan ini ia biasa menyebut dirinya sebagai "pun-tayong", maka sampai2 ia lupa dengan siapa ia berhadapan ketika itu.

"Ada berapa?"

Ceng Bo ulangi lagi pertanyaannya tadi. Kini baru Yan-chiu berani menyahut.

"Kalau disorter, 8 atau 10 orang rasanya, ada."

"Saudara Liang supaya berjaga disini. Biar aku bersama muridku dan anak buahnya melakukan penyelidikan kefihak musuh!"

Kata Ceng Bo kepada si Liang Pheng.

"Apa maksud suhu itu?!"

Tanya Yan-chiu dengan kagetnya. ,Aku hendak ajak kau bersama beberapa anak buahmu untuk menyelidiki markas besar tentara Ceng sana,"

Sahut Ceng Bo dengan tegasnya.

Betapapun, centil dan lincahnya nona itu, namun pada saat mendengar ucapan itu, tak urung bercekat juga hatinya.

Mengapa tidak?

Tentara Ceng yang bermarkas dikaki gunung, tidak kurang 3000 jiwa, jumlahnya.

Mereka, adalah tentara pilihan.

Untuk melakukan penyelidikan kesana terang sukar, tapi lelah sukar lagi kalau dengan rencana merebut kemenangan kecil.

Tapi sebagai nona yang berotak, cerdas, tahulah ia bahwa gerakan itu hanya dimaksud untuk mempertinggi moreel anak buah markas disitu.

Dan ini memang penting.

"Baik, mengapa mesti takuti orang2 yang bukan laki bukan perempuan memakai kuncir itu? Lihatlah pun-tay................... eh, aku turun gunung nanti, tentu akan kuangkut meriam2 mereka itu kemari"

Sahutnya dengan garang.

Liang Pheng tak berani buka mulut, tapi hatinya tetap tak percaya kepada si nona.

Memang dia seorang yang ber-hati2.

Tak temaha jasa, tapi jangan sampai kesalahan.

Terpaksa dia menyangupi permintaan Ceng Bo untuk berjaga markas situ.

Ceng Bo siangjin segera perentah Yan-chiu supaya memilih 10 orang anak buahnya yang berani serta sedikit2 mengerti ilmu silat.

Demikian Suhu dan murid beserta 10 orang itu segera turun gunung.

---oodw0tahoo---BAGIAN 11 .

LICIN BAGAI BELUT Setelah mengantar keberangkatan mereka, Liang Pheng segera menutup rapat2 pintu markas.

Dia tak berani lengah tidur.

Diperintahkan supaya semua liaulo mengadakan ronda dan penjagaan yang kuat.

Para thaubak berkumpul dalam gedung permusyawaratan, untuk menanti perkembangan lebih jauh.

Hampir sejam lamanya, Ceng Bo dan rombongannya tak kedengaran beritanya, sedang dibawah kaki gunung sanapun sepi2 saja keadaannya.

Mau tak mau, mereka, menjadi gelisah juga.

Tengah mereka mondar-mandir di ombang-ambingkan kecemasan itu, tiba2 kedengaran diluar sana, ada suara gaduh.

Diantaranya ada orang berseru "jangan main gila"

Buru2 Liang Pheng dan kawan2-nya menuju keluar.

Ternyata para liaulo sudah panik dan mundur dengan kacaunya.

Malah ada beberapa, orang yang mengaduh kesakitan dan terjungkal ditanah.

Ada seorang lelaki yang hendak menerobos masuk kedalam markas situ, tapi dihadang oleh beberapa liaulo.

Namun dengan memukul dan menyepak, berhasillah orang itu membubarkan penghadangnya, dan terus melangkah masuk.

Orang itu ternyata seorang pemuda, Rupanya, dia memiliki ilmu silat yang tinggi.

Kalau tak menyaksikan sendiri, mungkin Liang Pheng dkk tak percaya kalau siorang yang dandanannya sebagai seorang mahasiswa itu dapat merobohkan kawanan liaulo.

Dan setelah menghalau lagi ber-puluh2 liaulo orang itu akhirnya menghampiri kemuka Liang Pheng.

"Adakah kau ini Cecu disini?"

Tanya orang muda itu setelah sejenak mengawasi tuan rumah. Sambil mundur selangkah, Liang Pheng menyahut.

"Benar. Ada keperluan apakah maka saudara malam2 begini datang kemari?"

Mahasiswa muda itu segera mengeluarkan sebuah kipas, sambil ber-kipas2 dia berkata.

"Aku yang rendah ini orang she The nama Go. Orang memberi julukan Cian-bin Long-kun. Kini menjadi kunsu (pesehat militer) dari congpeng Li Seng Tong!"

Liang Pheng melengak kaget, begitu pula seluruh liaulo. Seperti telah diterangkan diatas, walaupun ilmunya silat kurang tapi Liang Pheng itu mempunyai otak.

"Oh, kiranya saudara ini adalah kunsu dari tentara Ceng, maaf kami sudah tak menyambut sepantasnya. Tapi entah ada keperluan apa kedatangan saudara ini ?"

The Go tak mau marah mendengar ucapan orang yang sinis itu. Sebaliknya dengan mendongak tertawa lebar, dia berkata.

"Induk pasukan Ceng yang kuat, sudah tiba dikaki gunung. 10 kali dentuman meriam tadi, kurasa Cecu pasti sudah mendengarnya. Karena kini Nyo Kong-lim sudah binasa ditangan Ceng Bo siangjin, maka ke 72 Cecu Hoa-san ibarat ular yang tak berkepala lagi. Taruh kata Cecu tak ingin dikatakan temaha pangkat, tapi se-kurang2nya tentu mau juga memikirkan kepentingan ke 72 Cecu sekalian"

Kata2 The Go itu sudah tentu menyebabkan Liang Pheng pusing kepala.

Kalau diingat tadi Ceng Bo siangjin mengatakan bertemu dengan Nyo Kong-lim dipulau Ban-san-to dan ternyata kini sebelum Toa cecu itu datang, siangjin tersebut sudah datang kesitu lebih dahulu, kemungkinan besar Toa cecu Nyo Kong-lim itu tentu sudah dibunuh oleh siimam tersebut.

Tapi kalau dipikir lagi, mengapa Ceng Bo membunuh Nyo Kong-lim, tokh mereka berdua tak saling bermusuhan.

Oleh karena pikiran hanya ribut mencari kesimpulan, lupalah sampai si Liang pheng itu memberitahukan pada The Go bahwa Ceng Bo siangjin tadi sudah datang kemarkas situ.

Coba dia mengatakan hal itu, tak nanti The Go berani unjuk kegagahan lagi disitu.

Setelah berpikir sejenak, akhirnya wakil Cecu itu berkata.

"Ceng Bo siangjin dengan Toa cecu tak mempunyai dendam permusuhan apa2, mengapa mencelakainya ?"

Kiranya The Go sudah memperhitung orang akan rnengajukan pertanyaan begitu, rnaka; diapun sudah siap dengan jawabannya ."Kata orang 'kenal orangnya tapi sukar mcngenal hatinya'.

Undangan Ceng Bo siangjin kepada sekalian orang gagah supaya datang kepulau Ban-san-to-itu, sebenarnya xnemang, suatu rencananya hendak menumpas mereka.

Karena Nyo-cecu membandel, Ceng Bo siangjin telah bertindak.

Lama sudah, siangjin itu mengiler akan kedudukan gunung Hoa-san dengan ke 72 markasnya, maka tak segan2 lagilah dia melakukan rencananya yang keji itu.

Ah, kasihan Nyo-cecu yang mati dalam penasaran itu!,"

Berkata sampai disini, untuk mengunjukkan kesungguhan kejadian itu, The Go pura2 bersedih.

Sebagai Cecu pertama dari Hoasan, sudah tentu Liang Pheng banyak menerima budi kebaikan dari Nyo Kong-lim.

Apalagi peribadi Nyo Kong-lim yang tegas jujur itu telah dapat merebut hati sekalian anak buahnya.

Sudah tentu mereka menjadi gusar mendengar berita itu.

Melihat umpannya termakan, The Go maju selangkah lagi, ujarnya.

"Jalan yang terbaik, kita harus buka pintu markas ini guna menyambut kedatangan tentara Ceng. Ini untuk menghindari malapetaka yang tak diinginkan !"

Betul semula sekalian orang sama percaya atas keterangan The Go tadi.

Tapi karena terlalu pagi, dia sudah membuka kartu, sebaliknya malah menerbitkan kesangsian orang.

Kiranya sejak Li Seng Tong berhasil menduduki wilayah Kwiciu, Nyo Kong-lim melatih keras anak buahnya.

Toa-cecu itu telah menanam kesadaran kedalam sanubari seluruh anak buah, bahwa musuh negara itu adalah tentara penjajah asing Ceng, bahwa melawan penjajah itu adalah tugas suci dan mulia.

Dan indoktrinasi kesadaran itu, termakan betul2 oleh anak buah Hoa-san.

Mendengar anjuran menakluk dari The Go tadi, Liang Pheng masih berdiam merenung, tapi ada beberapa kawan yang berwatak keras, sudah tak tahan lagi.

Sret....., sret........, mereka loncat kemuka untuk membacok pada The Go.

"Kalau menyuruh kami menyambut tentara penjajah Ceng, rasakan dulu golokku ini!"

Seru mereka.

"Tahan!"

Buru2 Liang Pheng mencegahnya, tapi sudah terlambat.

Hujan bacokan telah menabur The Go, siapa ternyata masih ber-kipas2 sembari tersenyum.

Tapi begitu bacokan2 itu tiba, se-konyong2 dia perdengarkan tertawa keras panjang.

Begitu lengan bajunya di-kibas2an, orangnya pun segera tampak melesat kesana-sini dalam ruangan itu.

Dan tahu2 hanya kedengaran bunyi berkerontangan beberapa kali dari senjata yang jatuh ketanah, disusul dengan suara gedebak-gedebuk dari tubuh yang menggelepar rubuh.

Beberapa penyerang itu hanya thaubak2 kecil, maka dalam beberapa gebrak saja dengan mudahnya The Go telah dapat menutuk jalan darah mereka hingga rubuh.

Sekalipun begitu, masih ada beberapa orang lagi yang hendak mengunjuk rasa setia-kawan terus hendak menerjang The Go, tapi keburu dicegah oleh Liang Pheng.

Dengan ber-kipas2 dan unjuk senyuman, berkatalah The Go.

"Kutahu Cecu seorang yang mengenal gelagat. Kalau nasehatku ini diturut, bukan saja jasa besar serta kekayaan Liang Pheng tak berani bergerak karena insyaf bukan lawannya, tapi serta orang begitu rendah menganggap peribadinya, maka cepat ia memutus kata2 orang.

"Bagaimana saudara begitu yakin, kalau aku ini kemaruk akan pangkat dan harta kekayaan?"

"Ah........., tapi mati hidup saudara2 disini ini, hanya tergantung pada keputusan Cecu seorang!"

The Go mengancam halus.

Rupanya kata2 yang terakhir dari The Go itu, mempengaruhi pikiran Liang Pheng, yang akhirnya mengakui bahwa ada sebagian dari ucapan anak muda itu memang beralasan.

Bagaimana kedahsyatan meriam tentara Ceng itu, telah disaksikannya sendiri.

Kalau ke 10 buah meriam musuh itu berbareng diletuskan, dapatkah anak buah markas disitu yang hanya berjumlah lebih kurang 200 orang bertahan?

Mundur salah, majupun keliru.

Di-pikir2 lebih baik tarik mundur seluruh anak buahnya dari markas situ.

Peribahasa 'selama gunung itu masih menghijau, masakan takut tak bakal mendapat kayu bakar'.

Asalkan kekuatan masih utuh, masakan tak ada harapan untuk balas menggempur musuh.

Rupanya The Go telah dapat membaca pikiran orang.

Dia biarkan saja Cecu itu berpikir sampai sekian Iama.

Lewat beberapa jenak, akhirnya kedengaran juga Liang Pheng berkata.

"Kalau aku disuruh ajak sekalian saudara menakluk pada tentara Ceng, itulah tak mungkin!"

Pernyataan yang gagah itu, telah disambut dengan sorak gembira oleh sekalian anak buahnya, selaku pendukungnya.

"Maksud kedatanganku kemari ini, adalah demi kepentingan saudara2 sekalian, agar tak mengalami apa2!"

Kata The Go dengan tertawa. Liang Pheng setengah tak percaya, tanyanya.

"Habis kalau menurut pendapat saudara, sebaiknya bagaimana?"

"Rencana Li congpeng untuk menyerang markas ini, itu sudah pasti. Cecu boleh ajak sekalian saudara tinggalkan tempat ini. Tindakan ini menguntungkan kedua fihak bukan?"

Menerangkan The Go.

Bermula Liang Pheng pun sudah mempunyai rencana itu.

Jadi kata2 sang tetamu itu, sesuai dengan pikirannya.

Begitulah dia segera perentahkan pada anak buahnya supaya mundur kemarkas kedua.

Bahwa tanpa mengucur darah setetespun, The Go telah dapat merebut markas kesatu yang penting sekali kedudukannya itu, telah membuatnya kegirangan sekali.

Dengan mendapat kedudukan markas kesatu yang dapat dijadikan pangkalan penting itu, rasanya ke 72 markas digunung Hoasan situ tentu akan mudah direbutnya.

Dalam pikirannya, dia sudah membayangkan suatu pahala besar.

Mengapa tahu2 The Go bisa muncul disitu?

Baik kita mundur sedikit.

Setelah bersama Bek Lian dia meninggalkan pulau kosong dulu itu, akhirnya berhasillah dia tiba di Kwiciu.

Sebagai jenderal yang pandai, Li Seng Tong tak hanya mengandalkan pada The Go seorang.

Kwiciu sangat penting artinya, dan tempat ituu harus dapat direbutnya untuk memberi pukulan terakhir dari sisa kerajaan Lam Beng.

Mata2-nya melapor, bahwa ditengah perjalanan romhongan The Go telah mengalami halangan.

Kuatir kalau kabar itu bocor sehingga, musuh siap mengadakan penjagaan, Li Seng Tong segera pimpin sendiri 3000 tentara pilihan, menyerang Kwiciu.

Ternyata gerakan itu telah mendapat hasil gilang gemilang, karena boleh dibilang tanpa, perlawanan suatu apa.

Pembesar2 militer Lam Beng kalau tidak lari tunggang langgang, tentu menyerah tanpa bersyarat.

Maka pada keesokan harinya, tatkala penduduk Kwiciu membuka pintu, mereka dapati jalan2 dikotanya sudah penuh dengan serdadu2 Ceng yang mondar-mandir kian kemari.

Setelah menduduki Kwiciu, pertama hal yang dikerjakan Li Seng Tong ialah mengirimm pasukan besar untuk mengurung gunung Gwat-siu-san, tempat dimana, seluruh anggota Thian Te Hui dan tokoh2 persilatan sama berkumpul mendirikan pertandingan luitay.

Li Seng Tong cukup menginsyafi, sumber perlawanan terhadap fihak Ceng itu, pertama bersumber pada rakyat, ini harus selekasnya ditindas.

Hal kedua, ialah membunuh kaisar Siau Bu yang berkedudukan di Siau Ging segera ter-birit2 lari ke Ngo-ciu di Kwisay.

Tengah Li Seng Tong sibuk mencari tenaga yang cakap, datanglah The Go.

Anak muda itu terus saja diberi kedudukan penting.

Rencana menggunakan nama Ceng Bo siangjin untuk mengundang para orang gagah kepulau Ban-san-to itu, adalah The Go yang mengusulkan.

Siapa tahu, rencananya yang mendapat pujian dan persetujuan penuh dari Li Seng Tong, telah gagal.

Malah kalau tak lekas2 lolos, dia tentu akan-celaka ditangan Thay-san sin-tho Ih Liok.

Dengan bermuram durja, dia menghadap Li Seng Tong lagi.

Dalam pembicaraan selanjutnya, The Go, mengusulkan untuk menduduki gunung Hoa-san.

Lagi2 usul itu mendapat persetujan Li Seng Tong.

The Go tahu bahwa untuk menyerang Hoa-san yang mempunyai 72 markas itu, terang sukar sekali.

Maka dia gunakan siasat gertakan.

Dengan membawa sejumlah besar tentara Ceng, dan membawa 10 pucuk meriam, dia bermarkas dikaki gunung tersebut.

Secara demonstratif, dia perentahkan 10 kali tembakan.

Setelah itu baru dia datangi kemarkas kesatu tadi seorang diri.

Kalau orang macam Ceng Bo siangjin atau lain2 tokoh yang bernyali besar, tak nanti kena digertak.

Tapi Liang Pheng bukan tokoh yang berkaliber begitu.

Maka dengan mudahnya did digertak mundur dari markas situ.

Tapi, dari pengalaman pertama itu, tahulah The Go bahwa semangat anak buah sudah digembleng kokoh.

Andaikata Liang Pheng tadi tak kena dipengaruhi, rasanya tak semudah itu dia dapat merebut markas no.

1 dari Hoa-san tersebut.

Pada saat itu The Go ber-kipas2 dengan puas sekali.

Lewat setengah jam lamanya datang seorang liaulo melapor pada Liang Pheng bahwa semua persiapan untuk mundur sudah siap, tinggal menunggu perintah saja.

Dengan batuk2, Liang Pheng segera berbangkit.

Tapi tepat pada saat itu diluar sana terdengar ramai2 para liaulo berseru "Cecu!."

Kemudian terdengar seseorang berkata dengan suara keras.

"Hai, tentara Ceng sudah berada dikaki gunung, mengapa kalian tak bersiap. Pintu markas tak dijaga barang seorang penjagapun juga? Mana Liang-cecu?"

Mendengar suara itu, serasa longgarlah kesesakan dada Liang Pheng.

Buru2 dia lari keluar menyambutnya.

Sebaliknya The Go mengeluh dalam hati.

Diapun ikut keluar.

Seorang lelaki gagah berumur 30-an yang berwajah kuning langsap dan memiliki sepasang alis bagus, tengah naik keatas markas situ.

"Ko-heng, syukur kau sudah datang. Sungguh berat masalah ini, aku tak sanggup memutuskan!"

Seru Liang Pheng kepada orang itu yang bukan lain adalah Ko Kui, Cecu dari markas ke 1 yang ikut menyertai kepergian Nyo Kong-lim ke Ban-san-to.

Belum lagi menyahut seruan wakilnya itu, demi melihat The Go berada disitu, alis Ko Kui segera tampak menjungkat, lalu berkata dengan suara dingin.

"Hm, bangsat, mengapa, kau berada disini ?"

Kiranya waktu dipuncak gunung Ban-san-to The Go memberi perintah pada barisan panah supaya menyerang para orang gagah tempo hari, telah dapat dilihat jelas oleh orang banyak.

Sebagai seorang yang terang otaknya, Ko Kui tentu masih ingat akan wajah The Go.

Sebaliknya dari marah, The Go segera menyahut dengan tenangnya.

"Tadi Liang cecu telah menurut anjuran siaote untuk tinggalkan markas ini dari serbuan musuh. Ini demi mengingat keselamatan para saudara2 sekalian. Adakah Ko-cecu bermaksud hendak menghalanginya?"

"Liang-heng, apakah keterangan orang itu benar?"

Tanya Ko Kui setengah tak percaya.

"Benar!"

Sahut Liang Pheng. Serentak murkalah Ko Kui, katanya dengan pedas.

"Liang-heng, apakah pesan Toa-cecu kita sewaktu hendak pergi tempo hari? Tentara Ceng itu amat ganasnya. Kalau markas pertama ini jatuh, ke 72 markas yang lain, sukar dipertahankan. Kekuatan untuk melawan penjajah, akan patah. Apakah kau tak menyadari hal itu?"

Liang Pheng bungkam dalam seribu bahasa. Sebenarnya tahu juga dia akan hal itu. Soalnya dia itu kurang tegas dan kedua kalinya karena memikiri nasib anak buahnya.

"Karena toako sudah kembali, kami semua tentu tunduk pada perintahmu,"

Akhirnya dia berkata. Ko Kui menghela, napas, ujarnya.

"Saudaraku yang baik, mengapa kau sampai gelap pikiran begitu? Sedetik saja aku terlambat datang, bukankah markas ini akan jatuh ketangan musuh?"

Liang Pheng mengunjuk penyesalannya. Sebaliknya The Go segera menyela dengan tertawa tawar.

"Ucapan Ko cecu itu kurang tepat!"

"Apa?"

Sahut Ko Kui sembari deliki mata.

"Sekalipun sejam tadi kau sudah datang kemari, markasmu ini tetap akan jatuh kedalam tanganku!"

Ko Kui tahu apa artinya kata2 orang she The itu.

Sekalipun ilmunya silat Iihay tapi masakan dia dapat tahan dikeroyok sekian banyak orang.

Ah.........., kalau tak dihajar, belum tahu rasa rupanya bangsat itu, demikian pikir Ko Kui.

"Lama nian kudengar cerita dikalangan persilatan, bahwa Cian-bin Long-kun dan ibunya telah mendapat gemblengan dari Ang Hwat cinjin, maka ingin sekali aku meminta barang sedikit pengajaran !"

Katanya sembari tanggalkan pakaiannya luar yang sudah compang camping tak keruan itu.

Dengan pakai baju dan celana pendek dia tampil kemuka menghadapi lawan.

Yang paling dibenci The Go ialah apabila ada orang berani menyindir "anak dan ibu sama mendapat pelajaran dari Ang Hwat cinjin."

Perkelahiannya dengan Kiau To ketika dipuncak Giok-li-nya tempo hari, adalah karena kata2 itu juga. Dengan wajah pucat ke-hijau2an karena menahan murka, dia tantang lawan .

"Jadi Ko-cecu ini hendak ajak berkelahi ?"

Sebagai jawaban, Ko Kui segera cabut sepasang senjata yang aneh bentuknya.

Bermula kelihatannya hanya seperti dua lembar kain hitam.

Tapi begitu dikibaskan, kiranya merupakan sepasang sarung tangan yang selengan panjangnya.

Jari-jari dari sarung tangan itu, panjangnya ada 1/2 meter.

Mau tak mau ter-kesiap juga The Go.

Teringat dia akan pembilangan orang bahwa senjata itu disebut "ing jia thao"

Sarung cakar garuda.

Ujung jari2 yang lancip itu, dapat dipergunakan untuk menutuk jalan darah orang.

Jurus permainan hampir menyerupai dengan permainan "Toa lat Ing jiao chiu hwat" (ilmu cakar, garuda yang bertenaga besar) ciptaan Tat Mo loco, itu cikal bakal dari Siao-lim-pay.

GAMBAR 34 Dengan senjatanya yang berupa sarung tangan berjari sepanjang hampir setengah meter, segera Ko Kui melancarkan serangan ber-tubi2 pada The Go.

Tapi The Go tak gentar.

Dia yakin, dalam dunia persilatan tiada ilmu tutukan yang dapat menandingi kesaktian Ang Hwat cinjin.

Cepat dia pun tebarkan kipasnya, lalu berputar2 sejenak.

Ko Kui tertawa dingin, tanpa menunggu orang berdiri tegak, dia segera menyerang dengan sepasang sarung tangan itu, yang satu dihantamkan keatas yang lain kebawah.

Melihat serunya serangan itu, The Go melejit menghindar.

Agar jangan sampai terlibat lama2 dengan sigapnya dia maju menutuk jalan darah tay-meh-hiat dipinggang lawan.

Ko Kui tak mau menyingkir, melainkan gerakkan senjata ditangan kiri untuk mencakar kipas musuh.

Kelima jari dari sarung tangan itu bermula lemas2 saja tampaknya.

Tapi begitu berada ditangan Ko Kui, jari2 itu segera menjulur kaku bagai baja kerasnya.

Tampak orang begitu sembrono itu, The Go balikkan tangkai kipas untuk menutuk jalan darah disiku tangan lawan.

Tapi lagi Cecu itu tak mau menyingkir, malah maju selangkah untuk mengemplang kepala orang dengan senjatanya yang kanan.

The Go heran.

Separoh tubuhnya bagian atas dia surutkan kebelakang untuk menghindar, namun tutukan2-nya tadi tetap dilangsungkan, dan berhasil mengenai sasarannya.

Menurut dugaan, tangan Ko Kui pasti akan lumpuh, tapi kenyataan tidak apa2.

Dan berbareng pada saat itu, jari2 sarung tangan itu malah merangsang kemukanya.

Dalam gugupnya, terpaksa The Go gunakan jurus permainan "hong cu may ciu" (sigila menjual arak).

Begitu tubuhnya mendak, dia segera melesat kebelakang lawan.

Disitu dengan sebat dia tutuk jalan darah sin-to-hiat dipunggung orang.

Lagi2 Ko Kui unjuk permainan yang aneh.

Terang hendak ditutuk punggungnya, dia tak mau berpaling kebelakang, melainkan ayunkan sepasang sarung tangannya kebelakang.

Kesepuluh jari2 sarung tangan itu me-nari2 dengan lincahnya.

Sebentar lemas, sebentar kaku.

Otak The Go bekerja keras.

Tadi terang dia sudah berhasil menutuk tangan lawan, tapi lawan tak kena apa2 berkat memakai sarung tangan itu.

Ditilik dari situ terang sarung tangan itu merupakan suatu senjata yang kebal dengan segala tabasan senjata tajam.

Teringat dia akan suatu tokoh persilatan yang kenamaan, Sin Eng Ko Thay atau Ko Thay si Garuda Sakti, yang telah gunakan waktu 3 tahun lamanya untuk mencari kulit kura2 hitam dari dasar Laut.

Secara istimewa kulit (bukan batoknya yang tebal) itu telah dibuatnya menjadi semacam sarung tangan.

Kalau benar Ko Kui itu turunan Sin Eng Ko Thay, terang dia mempunyai senjata yang ampuh sekali.

Jangankan ditutuk, sedang ditabas dengan pedang yang bagaimana tajamnyapun takkan mempan.

Memikir sampai disini, tercekat juga hati The Go.

Tapi pada lain saat terkilaslah suatu pikiran bagus dalam otaknya.

Karena memiliki senjata kebal itu, lawan tentuu bernyali besar tak menghiraukan setiap serangan.

Andalan lawan itu, hendak dia gunakan sebagai siasat untuk merebut kemenangan.

Se-konyong2 dia miringkan tubuh kekiri tapi lalu menjatuh kekanan, tingkahnya macam orang mabuk yang terhuyung2 hendak jatuh.

Begitu jatuh, sebelah tangannya bertahan ketanah, lalu kakinya kanan menendang kearah jalan darah ci-ceng-hiat dilengan orang.

Ko Kui tertawa dingin.

Tanpa menghindar, dengan "gerakan garuda lapar menerkam mangsa"

Kedua tangannya menyawut betis lawan.

Karena dugaannya, benar, The Go girang sekali.

Begitu tubuhnya membalik, dia bergelundungan sampai 2 meter jauhnya.

Dan setelah dapat menghindar dari sergapan lawan tadi, tiba2 dia loncat bangun.

Laksana kilat, dia menerjang kemuka untuk menutuk jalan darah leng-to-hiat disiku tangan lawan.

Melihat lagi2 orang hendak mengarah jalan darah dibagian lengannya, Ko Kui tak ambil mumet lagi.

Dia tokh mempunyai senjata kebal, mengapa takuti tutukan itu?

Maka demi serangan The Go tiba, dia malah menyambutnya dengan hantaman kearah kepala lawan.

The Go telah memperhitungkan hal itu.

Serangannya kearah siku tadi hanyalah serangan kosong.

Dia tahu musuh tentu tak menghiraukan dan tentu akan menerkam kepalanya.

Ini berarti dadanya terbuka, tak terlindung lagi.

Secepat tubuhnya mendak sembari condong kemuka, ujung kipas yang sedianya ditutukkan pada lengan tadi, lekas ditarik untuk ditutukkan kedada orang pada bagian jalan darah hoa-kay-hiat.

"Rubuhlah, jangan membandel!"

Serunya.

Karena terlalu mengandalkan pada-sarung tangannya yang kebal, tadi Ko Kui biarkan saja lengannya ditutuk.

Dan untuk merebut kemenangan dia menghantam kepala lawan.

Maka atas perobahan serangan orang yang sedemikian cepat dan dekat sekali, sudah tentu dia tak berdaya menghindar lagi.

Jalan darah hoa-kay-hiat, merupakan jalan darah utama dari tubuh manusia.

Begitu kena ditutuk, maka tangan dan kaki Ko Kui serasa lemah lunglai, matanya ber-kunang2 dan kepalanya pening.

Dalam keadaan antara sadar tak sadar itu, terdengar suara ketawa panjang dari The Go, dan pada lain saat tak kuasa lagi Ko Kui untuk berdiri tegak, Bumi dirasakan seperti ber-putar dan sekali mulutnya memuntahkan darah segar, rubuhlah dia ketanah.

Liang Pheng pucat seperti mayat wajahnya.

Sebaliknya sembari ber-kipas2 The Go mengejek.

"Bukankah telah kukatakan tadi, walaupun kau datang sejam lebih pagi, namun markas ini tetap akan jatuh ketanganku ?"

Setelah rubuh ditanah, Ko Kui coba empos semangatnya.

Tapi karena hoa-kay-hiat terluka, seluruh kepandaiannya pun punah.

Sekalipun dia sembuh, namun dia bakal menjadi seorang invalid.

Terdengar dia menghela napas, sekalipun didengarnya ejekan The Go tadi, namun dia tetap meramkan mata tak menghiraukan.

The Go sudah merasa pasti, dengan menundukkan Ko Kui itu, berarti sudah mengukup kemenangan total, maka dia segera ulangi permintaannya kepada Liang Pheng agar lekas memerentahkan pengunduran anak-buahnya.

Namun Liang Pheng masih bersangsi.

"Liang-heng,"

Tiba2 dengan suara sember tak lampias Ko Kui berseru.

"tak lama Toa-cecu pasti datang, jangan sampai terperangkap ....... tipu muslihat bangsat itu!"

The Go murka sekali.

Segera dia maju menghamperi Ko Kui tahu bahwa jiwanya terancam, maka dia tetap meramkan mata menunggu sang ajal.

Sekali The Go mendupak, maka Ko Kui, salah seorang pendekar, perwira perserekatan orang gagah dari Hoasan telah binasa secara mengenaskan dikaki The Go!

Melihat kekejaman itu, Marahlah seluruh anak buah markas disitu.

Namun karena merasa bukan tandingannya, mereka tak dapat berbuat apa.

Yang paling sulit sendiri kedudukannya, adalah Liang Pheng.

"Liang-cecu kau tak lekas memberi perintah, akupun tak sungkan lagi!"

Ancam The Go pada wakil Cecu itu.

Liang Pheng memandang kearah anak buahnya.

Dari sorot mata dan wajah mereka, mengunjuk kemarahan.

Jalan satu2nya ialah mengulur waktu, demikian pikir Liang Pheng, siapa sembari batuk2 segera berkata.

"Cian-bin Longkun .............."

"Liang-cecu, bukankah kau hendak main ulur waktu? Kukuatir sebelum balabantuanmu datang, jiwamu sudah melayang!"

Tukas The Go dengan tertawa dingin.

Karena siasatnya ditelanjangi, wajah Liang Pheng pucat lesi sehingga ter-huyung2 mundur sampai beberapa langkah.

Tiba2 dari arah belakang terasa ada angin menyambar.

Coba dia tak lekas2 menyingkir, pasti akan sudah tertumbuk oleh seseorang yang menobros datang.

Begitu orang itu muncul, maka gegap gempitalah sorak sorai dari sekalian anak buah markas.

Begitupun Liang Pheng yang mengetahui siapa yang datang itu segera bertereak girang.

"Toa-cecu!"

Orang bertubuh tinggi besar yang muncul itu, memang adalah Nyo Kong-lim sendiri.

Mengikut dibelakangnya adalah rombongan tokoh2 kaum persilatan.

Begitu tampil kemuka segera toa-saycu dari Hoasan itu berseru lantang2.

"Hola, kiranya kutu busuk ini!"

Melihat kedatangan Nyo Kong-lim diiringi oleh tokoh2 persilatan yang mengunjukkan kemurkaan kepadanya, The Go telah memikirkan suatu siasat.

Maka dengan berlaku tenang sedapat mungkin, dia bersenyum menyambutnya.

"Bagus, Nyo-toa-cecu sudah datang. Aku datang kemari untuk menyerahkan surat permakluman perang. Besok terang tanah fihak kami akan menyerang markas ini, harap Toa-cecu bersiap, agar jangan menuduh fihak kami main curang! "

Sebenarnya begitu tampak The Go, Nyo Kong-lim sudah siapkan sam-ciat-kun untuk menghantamnya.

Tapi demi mendengar mulut orang mengatakan begitu, dia tertegun sejenak karena mengingat bahwa tak selayaknya seorang utusan musuh yang menyampaikan surat tantangan itu dibunuh.

The Go yang licin segera gunakan kesempatan itu untuk melangkah keluar pintu markas.

Dan rupanya karena melihat Nyo Kong-lim diam saja, orang2pun tak mau menghalangi.

The Go tahu kalau semua mata memandang kearahnya dengan penuh kebencian, namun kesemuanya itu dianggap sepi saja.

Dengan langkah lebar dia menuju kepintu.

Adalah pada saat sang rase hendak berhasil lolos, tiba2 terdengarlah suara jeritan yang seram.

Dengan berlagak ke-gagah2an, The Go berpaling.

kebelakang, seraya siap dengan kipasnya.

"Bagus, mengapa tak berani tampil ber-terang2an?"

Serunya dengan garang. Tantangan itu sudah bersambut dengan cepatnya. Dari dalam rombongan para orang gagah, tampillah seorang bongkok.

"Orang she The, lain orang rela melepasmu, tapi aku si Bongkok tetap hendak menahanmu beberapa hari disini!"

Seru orang bongkok itu yang bukan lain. Thay-san sin-tho Ih Liok. Wajah The Go pucat seketika.

"Toa-cecu, bagaimana ini?"

Tanyanya kepada Nyo Kong-lim yang kebetulan pada saat itu justeru sedang berjongkok untuk memereksa mayat Ko Kui.

Mendapatkan salah seorang saudara seperjoangannya mati secara begitu mengenaskan, bukan kepalang kemurkaan Nyo Kong-lim.

Maka atas pertanyaan The Go tadi, dia segera berbangkit.

"Apa kataku? Hutang jiwa bayar jiwa!"

Serunya dengan kalap sembari melangkah maju terus hantamkan sam-ciat-kun kepundak orang untuk mengarah jalan darah keng-thian-hiat.

Dengan tertawa mengejek, The Go menghindar kesamping.

Tapi se-konyong2 dari arah belakang ada samberan angin dingin, tahu2 rambutnya telah rompal kena dibabat senjata tajam.

Ketika dia buru2 menyingkir, Nyo Kong-lim kedengaran berseru.

"Siaoko, tunggu, aku hendak balaskan sakit hati Ko-cecu!"

Orang yang menyerang dari belakang tadi, adalah Tio Jiang, itu murid kesayangan Ceng Bo siangjin.

"Toa-cecu, biarkan kutanyakan dia dimana adanya suci-ku dulu!"

Sahutnya dengan geram.

Pada saat itu, seluruh orang yang hadir disitu sama bersiap dengan senjata masing2.

The Go terkepung di-tengah2.

Sekalipun dia mempunyai kepandaian untuk menobros langit mebyelusup kebumi, namun sukar juga rasanya dia lolos dari kepungan terapat itu.

Tahu The Go bahwa jiwanya berada ditangan sekalian patriot penentang penjajah Ceng.

Kesemuanya itu harus dilawan dengan akal, se-kali2 tak boleh dengan kekerasan.

Setelah menetapkan haluannya, dia segera menertawai Tio Jiang, serunya.

"Siaoko, taruh kata benar kau hendak menanyakan soal suci-mu, apakah pantas membokong orang ?"

Seorang jujur macam Tio Jiang, terpaksa mengakui bahwa serangannya dari belakang tadi memang tak layak, karena itu dia tak mampu berbantah, kecuali mukanya menjadi merah padam.

Setelah memukul knock-out Tio Jiang dengan kata2 yang tajam, The Go mendongak ketawa ter-bahak2, lalu berseru dengan nyaring.

"Nyo toa-cecu, dengan setulusnya hati aku datang menyampaikan surat tantangan. Tapi aku dikepung begini rupa. Apakah kau tak takut diketawai oleh kaum persilatan ?"

Kembali seorang jujur hampir menjadi korban lidah The Go yang tajam.

Menilik pertanyaan itu memang beralasan, maka Nyo Kong-lim sudah ambil keputusan untuk melepas sirase yang licin.

Dan keputusan itu segera hendak dia keluarkan coba tidak si Bongkok keburu maju kemuka dan menuding pada The Go, dampratnya.

"Orang she The, jangan kau mimpi bisa bersilat lidah. Karena kejujurannya, saudara2 yang hadir disini pasti akan tertipu dengan kata2-mu yang penuh muslihat itu. Tapi bagi si Bongkok ini, sudah kenyang dengan segala macam permainan bangsat itu. Persetan dengan kata2mu yang indah itu. Kalau kau, hendak berlalu dari sini, kau harus minta idin dulu padaku si Bongkok ini!"

Selama pertempuran dipulau Ban-san-to tempo hari, tahulah sudah The Go bahwa diantara sekian tokoh yang berada dimarkas situ, hanyalah si Bongkok itu yang paling lihay sendiri.

Entah dapatkah dia mengatasi, itu tak diketahuinya.

Tapi baiklah dicobanya dulu, untuk menguji sampai dimana kesaktian si Bongkok.

"Silahkan cuwi sekalian memberi tempat yang lebih longgar, agar aku dapat meminta pengajaran barang sejurus dua dari Thay-san sin-tho yang termasyhur ini"

Serunya sembari mengangkat tangan memberi hormat.

Mengira kalau orang hendak menantang berkelahi, maka sekalian orang sama mundur kedekat tembok ruangan disitu.

Dengan laku tenang sembari menyungging senyuman, The Go lalu mulai berputar dalam sebuah lingkaran kecil, serunya.

"Nah, Bongkok, kalau tak biarkan aku berlalu, habis kau. Mau apa?"

Bongkok hanya perdengarkan ketawa dingin.

Tiba2 The Go menerjang kemuka terus menutukkan kipasnya kepada orang.

Gerakan itu sangat cepat dan secara tak terduga sekali.

Tapi Ih Liok bukan si Bongkok sakti dari gunung Thay-san kalau dia kaget dengan serangan mendadak itu.

Dengan tertawa menghina, dia balikkan tubuhnya kebelakang.

Tutukan kipas The Go tadi, tepat membentur punuk daging dipunggung si Bongkok ....................

---oodw0tahoo---BAGIAN 12 .

SI BONGKOK Diam2 The Go bersorak dalam hati.

Rangka kipasnya terbuat dari lidi baja murni.

Baja diadu dengan daging, terang menang.

Maka dengan kerahkan seluruh tenaganya, dia tusukkan kipas se-kuat2nya.

Tapi astaga, begitu ujung kipas menyentuh daging-tambahan itu, serasa seperti membentur segunduk kapas yang empuk.

Dan malah rasanya, tubuhnyapun ikut kesedot menjorok kemuka.

Terang kipasnya menyusup kedalam daging, mengapa dirinya yang tersedot ?

Mati aku demikian dia mengeluh.

Thay-san sin-tho terkenal mempunyai tho-kang, ilmu-punuk yang sakti.

Segumpal daging mentah yang menemplek dipunggungnya itu telah dilatih menjadi semacam senjata yang ampuh.

Dia dapat dijulur-surutkan menurut sekehendak hati, dapat berobah menjadi lunak bagaikan kapas untuk menerima setiap serangan, tapi dapat pula berobah menjadi tenaga, gempuran hebat untuk melemparkan setiap penyerang.

Cepat The Go kendorkan tangannya lalu mundur, tapi si Bongkok sudah mendahuluinya, dengan Sebuah tamparan yang dengan tepatnya mengenai sasaran.

Betapapun The Go sudah bertindak dengall cepatnya, namun tak urung siku tangannya telah kena, dihantam, Syukur dia tadi memang hendak mundur, maka tak sampai menderita luka berat.

Mengingat bahwa lebih banyak bahaya daripada selamatnya kalau dia terus berada diruangan situ, maka jalan satu2nya ialah meloloskan diri.

Dilihatnya dijendela sana hanya terdapat seorang liaulo, maka sekali melesat dia merat kesana.

Orang banyak coba menghalanginya, namun sekali hantam dapatlah The Go merobohkan liaulo itu, lalu loncat menobros keluar dari jendela.

"Jangan lepaskan dia!"

Teriak si Bongkok dengan geramnya.

"Jangan kuatir, dia tak mampu lari!"

Tiba2 terdengar suara sambutan, disusul dengan terlemparnya sesosok tubuh dari jendela kedalam ruangan.

Itulah si Cian-bin Long-kun The Go.

Selagi orang2 sama ke-heran2an, tiba2 seorang nona dara masuk kedalam ruangan sembari tertawa cekikikan dan mencekal sebuah bandringan.

"Yan-chiu sumoay?"

Seru Tio Jiang demi melihatnya. Memang dia itu adalah Yan-chiu.

"Suko, kiranya kau tak terbunuh tentara Ceng?!"

Sahut nona itu dengan tak kurang girangnya. Tapi demi teringat akan peristiwa "pertunangan"

Pada malam itu, dia ke-merah2an mukanya.

"Siao Chiu, kau sudah mendirikan pahalamu pertama!"

Kata si Bongkok sembari menekan jalan darah The Go.

Bahwa si Bongkok gagu bekas kawannya dahulu dapat berbicara, telah membuat Yan-chiu melengak kaget.

Sebelum ia tahu apa yang harus diperbuat, se-konyong2 Ceng Bo siangjinpun menobros masuk, seraya berseru pada Nyo Kong-lim.

"Nyo-heng, lekas atur siasat untuk menghadapi tentara Ceng!"

Setelah sampai ditengah jalan, Ceng Bo anggap lebih baik dia ajak Yan-chiu seorang diri untuk menyelidiki kekubu musuh.

Maka disuruhnya ke 10 anak buahnya itu menunggu disitu, sedang dia sendiri bersama Yan-chiu lalu gunakan ilmunya berjalan cepat meluncur kekaki gunung.

Ternyata kubu2 tentara Ceng itu sangatlah rapatnya, namun rapih sekali formasinya.

Terang kalau musuh berjumlah besar, keduanyapun tak berani gegabah.

Tapi yang aneh, sekalipun sudah mondar mandir beberapa kali, tetap mereka tak berhasil mendapatkan tempat persembunyian dari ke 10 pucuk meriam itu.

Begitu pula tak diketahuinya, yang manakah markas panglima.

Sebagai orang yang faham ilmu perang, tahulah Ceng Bo bahwa musuh mempunyai seorang panglima perang yang pandai sekali.

Jadi nyatalah Li Seng Tong itu tak bernama kosong.

Karena sudah sekian lama melakukan penyelidikan itu, dikuatirkan akan diketahui jejaknya oleh fihak musuh, maka dia segera ajak Yan-chiu balik keatas gunung.

Setiba dimuka pintu markas, mereka merasa suasananya agak berlainan.

Yan-chiu lari mendahului sang suhu.

Tapi begitu tiba dimarkas, ia kesamplokan dengan seorang yang lari dari jendela.

Cepat ia ayunkan bandringannya menurut ilmu bandringan yang diajarkan oleh Kui-eng-cu.

Tapi The Go cukup lihay, dengan tipu tiat-pan-kio, yakni tubuhnya diayunkan kebelakang seperti sebuah jembatan melengkung.

Tapi permainan bandringan "hong hong sam thau" (burung Kim 3 kali mengangguk) dari Yan-chiu jauh berbeda dengan dahulu.

Begitu bola bandringan melayang diatas tubuh The Go, Yan-chiu cepat sentakkan tangannya kebawah sehingga bola itu dapat membal balik menghantam tubuh lawan.

The Go dihadapkan dengan dua pilihan, yaitu loncat masuk kembali kedalam ruangan dan diringkus atau mandah terhantam bola bandringan yang akan menyebabkannya kalau tak mati konyol tentu luka berat.

Dia memilih jalan pertama dengan berkesudahan begitu masuk kedalam ruangan, terus ditutuk jalan darahnya oleh Thay-san sin-tho.

Dan begitu 'Ceng Bo muncul, nyali The Go semangkin copot.

Tapi sebagai seorang yang penuh tipu muslihat, dia tetap melipur getar bibirnya mengunjuk wajah yang tenang.

Kalau tak dibikin lumpuh oleh tekanan si Bongkok tadi, mungkin dia masih akan jual lagak sebagai utusan negara.

Melihat beradanya The Go disitu, menimbulkan kebimbangan Ceng Bo.

Disamping dia hendak lekas2 merundingkan siasat menghadapi musuh dengan Nyo Kong-lim, juga ingin tanya peristiwa si Yau-sin ban-pian Tan It-ho pada The Go.

Juga rasanya tak dapat dia menahan hatinya untuk segera monanyai Tio Jiang, bagaimana jalannya pertempuran Nyo Kong-lim dengan siwanita berambut panjang diatas geladak perahu tempo hari itu.

Setelah ditimbang dengan kepala dingin, akhirnya dia hendak mendahulukan kepentingan negara dari urusan lain2nya.

Musuh didepan mata, harus segera dihalau.

"Nyo-heng, hasil penyelidikanku dengan Yan-chiu kemarkas musuh tadi, menyatakan bahwa disiplin mereka sangat rapi sekali. Panglimanya tentu seorang jenderal yang pandai. 3000 serdadu, sih tak perlu ditakuti. Tapi ke 10 pucuk meriam mereka itulah yang perlu kita pikirkan. Oleh karena tadi kami belum berhasil menemukan tempat persembunyiannya, maka, malam ini harus dilakukan penyelidikan lagi sampai berhasil. Ini untuk menentukan langkah kita selanjutnya."

Sebaliknya Nyo Kong-lim yang jujur itu, menyatakan isi hatinya.

,Ceng Bo siangjin, boleh dikata wilayah Kwitang kini sudah diduduki musuh.

Mumpung sekalian saudara persilatan sama berada disini, maka Hay-te-kau, peganglah pucuk pimpinan Hoa-san ini, karena tempat ini merupakan kubu2 pertahanan rakyat yang terakhir, Aku, Nyo Kong-lim, senang mendengar titahmu!"

Habis berkata begitu, dia mengambil sebuah lencana-baja dari dalam baju, diserahkan kepada Ceng Bo. Lencana itu diukir bentuk gunung Hoa-san dengan ke 72-Ce.

"Inilah lencana pimpinan dari ke 72 Cecu Hoasan, harap kau suka terima!"

Ceng Bo siangjin terharu.

Tak disangkanya didalam semak belukar pegunungan lebat, terdapat seorang peribadi yang berwatak kuat macam Toa-cecu itu.

Ia lihat bagaimana pembesar2 kerajaan saling berebut mencari pangkat dan kedudukan hingga merusak negara, tapi siorang jujur begitu tulus ikhlas menyerahkan kedudukan padanya.

"Nyo-heng, saat ini bukan saat main sungkan2-an. Musuh sudah didepan mata, usah kita main mengalah. Kau lebih faham akan keadaan ke 72 ce disini, peganglah terus tampuk pimpinannya !"

Nyo Kong-lim hendak membantah, tapi Thay-san sin-tho keburu mendahului-nya.

"Mengapa ini itu seperti ular kambang? Nyo-heng, ucapan Ceng Bo siangjin itu tepat. SudahIah jangan sungkan, lebih baik lekas2 jatuhkan hukuman pada bangsat ini!"

Katanya sembari perkeras tekanannya.

The Go sudah kerahkan lwekang untuk menahan, tapi mana dia mampu menangkan kesaktian si Bongkok, apalagi memang si Bongkok itu sengaja hendak memberi pil-pahit padanya.

Maka saking sakitnya, kepala The Go basah dengan kucuran keringat.

The Go sadar bahwa sekalian yang berada disitu itu adalah para orang gagah patriot dalam dunia persilatan.

Meminta ampun, itu akan sia2 saja malah tentu di-maki2.

Maka lebih baik dia berlaku gagah saja.

Walaupun selebar mukanya pucat pasi menahan penderitaan hebat, namun, bybirnya tetap berhias senyuman.

"Ih-heng, tutuk saja nui-hiatnya (jalan darah supaya orang lemas). Tunggu nanti sampai kita selesaikan urusan penting ini,"

Kata Ceng Bo.

Ih Liok segera jalankan perintah siangjin tersebut.

Sekali tutuk, maka lemah lunglailah tubuh The Go seperti tak bertulang.

Terbaring ditanah, dia hanya me-ngicup2kan kedua matanya.

Kini sekalian orang sama mendengarkan penuturan Liang Pheng tentang kejadian yang dialaminya.

Melihat wajah, dan sikap dari sekalian orang yang bertekad bulat melawan penjajah Ceng itu, diam2 Liang Pheng menjadi malu sendiri.

Orang2 sama bersyukur, kalau terlambat sedikit saja markas ke 1 disitu tentu akan sudah jatuh ditangan The Go, dan ini membahayakan kedudukan seluruh Hoa-san.

Nyo Kong-lim segera mengirim berita agar pasukan dimarkas besar lekas datang kesitu.

Dalain waktu semalam itu saja, maka pertahanan markas ke 1 telah diperkuat.

Balok2 dan tong2 besi di-tumpuk2 merupakan perbentengan yang kokoh.

Juga penguburan Ko Kui telah mendapat perhatian selayaknya.

Semua orang turut mengucurkan air mata atas gugurnya seorang pahlawan yang berhati baja itu.

"Kalau Sin-eng Ko Thay mengetahui tentang kematian saudara Ko Kui, dia pasti tak mau sudah!"

Kata Nyo Kong-lim. Sembari menghela napas, dia serahkan senjata sarung-tangan kulit kura2 milik Ko Kui itu kepada Tio Jiang, ujarnya.

"Siaoko, sarung tangan ini tak mempan senjata tajam. Karena kini belum dapat diserahkan kepada Ko lo-tayhiap, maka untuk sementara kau pakailah!"

Maksud Nyo Kong-lim itu baik sekali.

Karena diketahuinya anak muda itu hanya mempunyai sebilah pedang yang bertotolkan karatan, maka disuruhnyalah memakai.

Tapi dia tak mengira, kalau hal itu kelak bakal menimbulkan bermacam2 urusan.

Tio Jiang juga senang akan senjata ampuh itu, tapi dia tak berani mengambil putusan, melainkan memandang kearah gurunya.

Setelah Ceng Bo mengangguk barulah dia mau menerimanya.

Nyo Kong-lim menyuruh dua orang liaulo yang berkepandaian cukup dan faham keadaan gunung Hoasan, untuk turun kekaki gunung guna menyelidiki meriam fihak tentara Ceng.

Sekalipun malam itu tak terjadi apa2, tapi orang2 sama tak dapat tidur nyenyak.

Dalam kesempatan itu Ceng Bo menanyakan Nyo Kong-lim perihal pertempurannya dengan siwanita berambut panjang diatas perahu tempo hari.

"Huh, jangan di-ungkat2 lagi urusan itu, aku heran dengan wanita yang luar biasa ganasnya itu!"

Sahut Nyo Kong-lim.

"Adakah wanita itu menyebutkan namanya ?"

Tanya Ceng Bo. Setelah mengingat sebentar Nyo Kong-lim menyahut tidak.

"Karena laut keliwat dalam, terpaksa kita tak dapat melepas jangkar (sauh), maka segera kusuruh putar haluan perahu mengitari perairan karang Hay-sim-kau situ. Lewat beberapa lama, karena kau masih belum nampak muncul, aku lantas hendak menyuruh orang menyusulmu kedalam dasar laut baru menutur sampai disitu, tampak Nyo Kong-lim celingukan kian kemari, lalu tiba2 berseru. ,Hai, mana Bo-lin-hi Su Khin-ting?"

Ceng Bo cepat2 menuturkan apa yang telah dialaminya dengan Su Khin-ting dibawah laut situ.

Mendengar kisah pertempuran antara dua orang manusia dan seekor gurita raksasa, semua orang sama leletkan lidah.

Setelah melihat lukisan pada dinding gua dibawah laut, bermula Ceng Bo yakin bahwa siwanita berambut panjang itu tentulah sang isteri, Kiang Siang Yan In Hong.

Tapi ketika didapati kotak berisi mutiara berada dalam perut sigurita, pikiran Ceng Bo agak bersangsi.

Kotak berharga itu dahulu adalah pemberiannya kepada In Hong selaku tanda pengikat kawin.

Dengan beradanya barang itu didalam perut gurita, jangan2 sang isteri itu telah binasa dimangsa makhluk laut tersebut.

Maka dia cenderung pada dugaan, kemungkinan besar wanita berambut panjang itu adalah kawan dari sang isteri.

Tapi itu hanya dugaan, yang penting dia harus lekas dapat berjumpa, dengan wanita berambut panjang itu lagi guna ditanyai keterangan yang jelas.

Maka setelah menuturkan pengalamannya dengan seringkas mungkin buru2 dia minta agar Nyo Kong-lim melanjutkan lagi penuturannya.

Nyo Kong-lim masih meng-ingat2 lagi, dan ketika dia baru hendak membuka mulut, Thay-san-sin-tho Ih Liok sudah mendahuluinya.

"Nyo-heng tak pandai bercerita, biarkan aku saja yang menuturkan."

Memang watak Nyo Konglim itu menyamai Tio Jiang, seorang jujur yang tak pandai berbicara.

Maka dengan girang dia menyetujui.

Karena para orang gagah lainnya sudah sama mengalami sendiri peristiwa diatas perahu itu, jadi mereka, tak mau mendengarkan lagi cerita itu.

Ada yang masuk tidur, ada yang keluar meninjau pos penjagaan.

Begitulah kini dalam ruangan situ hanya tinggal Nyo Kong-lim, Ih Liok, Ceng Bo siangjin, Tio Jiang, Yan-chiu dan beberapa orang saja, serta si The Go yang menggeletak dilantai sana tak dapat berkutik.

Karena percaya akan kelihayan si Bongkok, maka orang2 yang berada disitu tak ambil perhatian lagi kepada penghianat The itu.

Betapapun lihaynya tokh se-kurang2-nya 4 atau 5 jam barulah dia akan dapat sembuh, demikian pikir mereka.

Yan-chiu, belum pernah merasakan begitu girang seperti pada malam itu.

Tadi suhunya menuturkan pertempurannya dengan gurita raksasa, hatinya berdebar keras, peluhnya mengalir deras dan mulutnya meng-gigit2 kuku jarinya.

la begitu tegang, se-olah2 turut ambil bagian sendiri dalam pertempuran itu.

Dan kini si Bongkok bakal membawakan kisah pertempuran lain yang tak kurang serunya, ia makin terpesona.

Juga Tio Jiang yang rindukan sang suhu, ikut duduk disitu menemaninya.

Mulailah Thay-san-sin-tho Ih Liok menghidangkan ceritanya.

"Karena sudah menunggu sampai sekian lama, kami sekalian menjadi gelisah. Toacecu mondar mandir digeladak dengan cemas sekali. Tiba2 dari arah laut sana, terdengar suara aneh yang halus, dan nyaring sekali. Para saudara2 yang biasa hidup dilautan, menjadi heran juga. Ketika itu perahu ditengah laut besar, tiada bertepi tiada pula sebuah perahupun yang mendatangi, mengapa ada suara tersebut? Lama kelamaan nada suara aneh itu berobah menjadi semacam orang merintih, tapi lengking suaranya menusuk tajam kedalam anak telinga. Ini menandakan bahwa siorang itu tentu tinggi sekali ilmunya lwekang. Kini dari heran sekalian orang diperahu itu menjadi tegang. Terang itulah seorang kaum persilatan yang berkepandaian tinggi. Dan tepatlah dugaan itu, karena tak lama kemudian dipermukaan laut tampak mengapung sebuah benda hitam. Benda itu dengan pesatnya meluncur kearah perahu. Suara rintihan itu makin lama makin jelas juga........."

"Apakah yang dirintihkan orang itu ?"

Tiba2 Ceng Bo memutus.

"Akh........., sayang kepandaianku dalam ilmu surat terbatas, namun masih dapat juga kukenal rintihan itu sebagai syair Souw Hak Su dalam kisah tragedi 'Ratapan kalbu Ong Ciau-kun' !"

Adakah syair itu berbunyi begini. 'Siapakah gerangan yang berdendang itu, sehingga. membuyarkan impian indah dibalik jendela hijau. Rembulan sisir dan asap kesedihan bertebaran memenuhi angkasa'?"

Tanya Ceng Bo.

"Hai, mengapa Bek-heng tahu sekali ?"

Tanya Ih Liok dengan terperanjat. Tapi Ceng Bo hanya menghela napas saja.

"Teruskanlah penuturan tadi!"

Katanya dengan rawan. Orang2 yang berada disitupun siap mendengarinya lagi dengan penuh perhatian, sebaliknya si Bongkok tak mau lekas2 mulai menutur lagi, melainkan merenung sampai sekian lama.

"Thocu, lekaslah!"

Tiba2 Yan-chiu yang tak sabaran mendesaknya.

Karena ketika digunung Giok-li-nia dahulu ia biasa memanggilnya ,thocu" (si Bongkok), jadi otomatis iapun berseru begitu.

Tapi sesaat ingat bahwa si Bongkok itu ternyata seorang cianpwe kenamaan yang menyamar, ia merasa jengah sendiri.

Tapi si Bangkok rupanya tak menghiraukan hal itu.

Tiba2 tangan si Bongkok menggebrak meja dan mulutnya berseru keras.

"Bek-heng, bukankah ia itu ........."

GAMBAR 35 Dengan panjang lebar si Bongkok menceritakan pertempuran diatas perahu antara Nyo Kong-lim dan wanita aneh yang berambut panjang itu.

Belum lagi dia teruskan kata2nya, atas dilantai sana The Go mendadak melesat menerobos keluar.

Gerakannya amat gesit sekali.

Orang2 yang mendengari cerita si Bongkok tadi, sama duduk membelakangi The Go, jadi tak tahulah mereka akan lolosnya sibelut yang licin itu.

Hanya si Bongkoklah yang tak pernah lengah sedetikpun.

Walaupun sembari bercerita, tapi dia tetap dapat mengetahui lolosnya orang muda itu.

Maka itu, ketika The Go baru tiba diambang pintu, ia serentak bangkit dari tempat duduknya.

Ceng Bo dan Nyo Kong-lim pun cepat mengetahui hal itu.

Ketiga jago lihay itu dengan serentak melesat memburu.

Se-konyong2 The Go kibaskan lengan baju dan belasan siucian (passer) melayang berhamburan.

Ceng Bo kebutkan lengan bajunya dan beberapa batang siucian itu segera terjemput didalam tangannya.

Ketika dipereksa ternyata siucian itu adalah lidi baju rangka kipas si The Go.

Jelaslah kalau rencana meloloskan diri dari orang she The itu memang sudah disiapkan dengan masak, yaitu menggunakan kesempatan selagi orang2 tengah asyik mendengarkan cerita si Bongkok.

Tapi yang mengherankan orang, mengapa selekas itu The Go dapat sembuh dari tutukan si Bongkok yang teramat saktinya itu?

Tapi justeru karena berayal dilamun keheranan itu, The Go sudah melesat keluar.

Thay-san sin-tho coba menghalangi.

Lebih dahulu dia menghantam kemuka, hingga daun pintu rubuh dan menyusul itu tubuhnya melejit keluar.

Tapi disana, The Go sudah tak kelihatan bayangannya lagi.

Saat itu Ceng Bo dan Nyo Kong-lim pun sudah menyusul keluar.

Yan-chiu mendongkol dan me-maki2 dalam hati.

Tapi ia bukan getun karena lolosnya The Go, melain marah karena The Go itu menyebabkan putusnya cerita si Bongkok yang menarik perhatiannya itu.

Mereka berpencar mencarinya.

Ketika menanyai saudara2 yang bertugas menjaga diluar ruangan, semua menyatakan tak nampak barang seorangpun yang loncat keluar.

Thay-san sin-tho menarik kesimpulan.

Betapapun lihaynya ilmu mengentengi tubuh dari anak muda itu, tak nanti dalam sekejab itu dapat melenyapkan diri.

Jadi tentunya dia masih bersembunyi disekeliling tempat situ.

Setelah menyuruh Nyo Kong-lim memerintah agar para penjaga berjaga2, dia sendiri lalu mencari disekeliling gedung permusyawaratan situ.

Tapi tetap sia2.

"Ah dasarnya bangsat itu masih terang bintangnya, maka aku sampai lupa bahwa dia itu memiliki kekebalan antitutuk. Karena dia itu rapat sekali hubungannya dengan Ang Hwat cinjin, maka begitu lahir, setiap hari dia tentu digosok dengan obat-istimewa-, hiat-ko buatan cinjin itu, yang khasiatnya yalah untuk menutup jalan darah dari tutukan. Ditambah pula anak itu tentu mewarisi ilmu memindah kedudukan jalan darah dari Ang Hwat. Kalau penghianat itu sampai berhasil meloloskan diri dan mengadu pada Ang Hwat cinjin, rasanya tentu berabe juga!"

Ceng Bo sendiri yang mempunyai keperluan untuk bertanya pada The Go, terpaksa kembali kedalam ruangan lagi.

Pada saat itu, kedua liaulo yang diperintahkan menyelidiki tempat persembunyian meriam2 musuh itu sudah kembali dengan hasil nihil.

Malah hampir sedikit saja, mereka dipergoki musuh.

Ceng Bo sangsikan kepandaian kedua liaulo itu, makanya tak berhasil.

"Pergilah kalian berdua untuk menyelidiki,"

Kata Ceng Bo kepada Tio Jiang dan Yan-chiu berdua.

"kalau sampai terang tanah tak berhasil, markas ini sukar dipertahankan. Tugas kali ini berat dan penting sekali, harap kalian berhati2!"

Tio Jiang dan Yan-chiu ber-gegas2 menjalankan titah suhunya itu. Setelah itu, si Bongkok lanjutkan penuturannya lagi, sebagai berikut.

"Kiranya setelah dekat benda hitam itu adalah seorang wanita berambut panjang. Karena tak mengerti bahwa wanita itu tengah merintihkan syair "Ratapan kalbu Ong Ciau Kun", maka Nyo toa-cecu segera berseru keras2.

"Ih-heng, wanita itu seorang siluman jahat!"

Ih Liok yang yakin bahwa wanita itu tentu seorang tokoh persilatan lihay, buru2 hendak mencegahnya, tapi ternyata Nyo Kong-lim sudah terlanjur mengatakannya dengan kasar. Maka sahutnya.

"Nyo-heng, harap jangan sembarangan mengomong! "

Namun rupanya wanita aneh berambut panjang itu telah mendengarnya.

Diantara segompyok rambut panjang yang terurai kacau balau itu, tampak sepasang matanya memancarkan sorot ber-api2, sehingga walaupun ketika itu masih pada waktu siang hari, tak urung orang2 sama berdiri bulu romanya.

"Kalau bukan bangsa siluman, masa sorot matanya begitu macam?"

Kembali Nyo Kong-lim omong seenaknya sendiri tanpa menghiraukan peringatan si Bongkok.

Tapi baru kata2nya itu selesai, tanpa mengeluarkan sedikit suarapun, wanita aneh itu ayunkan tubuhnya loncat keatas haluan perahu.

Yang luar biasa adalah gerakannya itu, sedikitpun tak mengeluarkan suara apa2.

Orang2 yang berada didalam perahu sama mundur.

"Mengapa katakan mataku ber-api2 seperti setan api ?"

Tanya wanita itu dengan nada yang dingin sekali. Nyo Kong-lim yang kasar dan sembrono itu, menjadi kurang senang.

"Lantas kau mau apa ?"

Sahutnya.

Wanita yang rambutnya hampir menutupi selebar muka itu perdengarkan suara ketawa yang dingin sekali.

Rambutnya itu tiba2 berayun2 naik turun sampai 3 kali.

Sebagai orang persilatan yang penuh pengalaman, si Bongkok segera tahu bahwa siwanita itu memiliki lwekang yang teramat sakti.

Dalam dunia persilatan itu tak sedikit jumlahnya tokoh2 yang berilmu tinggi, dan terhadap mereka lebih baik jangan sampai kebentrok.

Maka dengan ter-sipu2, dia segera menyanggapi.

"Saudaraku ini memang gemar omong, harap cunke (saudara yang terhormat), jangan ambil marah!"

"Tapi kalau mulutnya besar, tentu besar juga kepandaiannya,"

Kata wanita aneh itu sembari menyapukan matanya kesekelilingnya.

"Hiii.......,"

Serunya sembari menghampiri kearah Tio Jiang.

Sejak siwanita berambut panjang itu naik keatas perahu, orang2 diatas situ sudah sama bersiaga.

Melihat wanita yang menghampiri itu matanya memancar sorot yang jahat, tanpa banyak omong lagi Tio Jiang lagi putar pedangnya dalam gerak "Ceng Wi mengisi laut"

Guna melindungi dirinya.

Kalau bermula hanya berjalan pelan2, kini demi melihat jurus permainan ilmu pedang itu, se-konyong2 wanita aneh itu menerjang maju.

Bukan kepalang terkejutnya Tio Jiang.

Gerakan tadi sebetulnya hanya melindungi diri, tak nyana kalau siwanita aneh itu berbalik malah menyerbunya.

Walaupun masih pada jarak jauh, tapi gerakan wanita itu telah menerbitkan samberan angin.

Hi........, jangan2 ia itu benar2 seorang siluman, tapi masakan pada tengah hari bolong ada setan muncul ?

Ah, tentunya seorang tokoh lihay dari dunia persilatan, pikir Tio Jiang sembari robah setengah bagian yang terbelakang dari permainan pedang itu menjadi jurus menyerang.

Begitu pedang menurun, dia lalu menusuk kearah siwanita.

Sejak mendapat pelajaran lwekang "Cap ji si heng kang sim ciat"

Dari Sik Lo-sam dipulau kosong tempo hari, kepandaian Tio Jiang bertambah pesat majunya.

Apalagi selama 3 bulan sesudah itu, sering dia bertempur dengan musuh yang tangguh, jadi latihannya ilmu pedang to-haykiam-hwat, mendekati kesempurnaan.

Perobahan gerak dari bertahan menjadi menyerang itu, teramat cepat dan tangkas sekali.

Yakin dia, taruh kata lawan bisa xnenghindar tapi ilmu permainannya pedang itu memiliki perobahan yang sukar diduga, bagairriana.pun juga wanita aneh itu tentu sukar bertahan.

Tapi segera dugaannya itu kecele.

Dia memang gesit, tapi siwanita aneh lebih tangkas lagi.

Begitu pedang membabat, siwanita sudah condongkan tubuhnya kemuka dalam kedudukan yang bagus sekali.

Memang setiap jurus permainan silat dengan senjata itu, tentu masih ada lubang kekurangannya, Hanya, saja dalam ilmu permainan yang lihay, lubang kekurangan itu sedikit sekali.

Atau kalau ada, tentu tak mudah orang mengetahuinya.

Malah terhadap ilmu silat atau senjata yang sakti, biarpun tahu ada lubang kekurangan itu, namun orang tak berani gegabah menyerangnya.

Dalam jurus "Ceng Wi mengisi laut"

Yang dimainkan Tio Jiang itu, lubang kelemahannya adalah pada bagian pundak kiri.

Tapi manakah orang yang berani menyerang bagian itu ?

Karena dikala tangan kanan memainkan pedang, tangan kiripun ber-gerak2 dalam jurus permainan untuk mengimbangi gerakan pedang.

Apabila pundaknya kiri diserang, terang orang bakal dibabat oleh pedang ditangan kanan itu.

Taruh kata hantaman pundak kiri itu dari sebelah atas, pinggang orang pasti termakan oleh tutukan Tio Jiang.

Namun kenyataannya, wanita aneh itu sudah gerakan tangannya untuk menebas pundak kiri Tio Jiang.

Tio Jiang buru2 mundur sembari menarik pedangnya.

Adalah karena kemajuan yang didapatnya dalam waktu2 terakhir ini, maka, dia sudah dapat menghindar tabasan siwanita aneh yang luar biasa cepatnya itu.

Tapi celaka, walaupun tabasan tak mengenai, namun samberan anginnya yang menyambar disisinya itu, telah membuat Tio Jiang cukup meringis kesakitan.

Hal mana sangat membuat terperanjat Tio Jiang.

Terang siwanita aneh itu hanya menyerang dengan seenaknya saja, tampaknya tak memakai tenaga sama sekali, tapi mengapa samberan anginnya sedemikian dahsyat?

Oi, hebat..........

kalau tadi sampai kena ditabas, bukantah tulang pundaknya akan remuk luluh?

Dia tak kenal dan tak bermusuhan dengan si-wanita itu, mengapa seganas itu ia menurunkan tangan jahat kepadanya ?

Dalam penghindarannya tadi, Tio Jiang mundur kesamping sampai dua tindak.

Tapi bagaikan bayangan saja, siwanita aneh itu tetap mengintilnya.

Dalam jarak yang sedemikian dekatnya itu, lebih nyata pula bagaimana, hebat mengerikan orang sorot sepasang mata dari siwanita aneh itu.

Tapi heran, mengapa bentuk dan gaya kicupan.

mata itu menyerupai mata Bek Lian ?

Demikian dalam saat2 yang berbahaya itu tiba2 Tio Jiang teringat pada sang-suci.

---oodw0tahoo---BAGIAN 13 .

MASUK SARANG MACAN Karena mengenang sang suci itu, Tio Jiang tertegun.

Tahu2 kelima, jari siwanita yang bagaikan kait besi itu menerkam dadanya.

Baru kini Tio Jiang gelagapan.

Hendak menyingkir, terang tak keburu.

Maka cepat dia hendak kerahkan lwekang untuk melindungi dada supaya jangan terluka.

Tapi pada saat2 yang berbahaya itu, untung Nyo Kong-lim keburu bertindak memberi pertolongan.

Tanpa menghiraukan peraturan apa2 lagi, dia menyapu dengan sam-ciat-kun.

Nyo Kong-lim suka akan pemuda yang jujur itu, maka tak segan dia memberi pertolongan seperlunya.

Selagi cengkeram siwanita hendak mencapai sasarannya sapuan sam-ciat-kun menyambar datang.

Siwanita perdengarkan sebuah ketawa seram.

Batal menerkam, ia gunakan tangannya kiri untuk menampar.

Benar Tio Jiang lolos dari bahaya besar, tapi tak urung dadanya terasa sesak, sehingga dia harus mundur sampai beberapa langkah.

Karena perahu itu tak berapa besar, hampir saja dia kecebur kelaut.

Siwanita melihati Tio Jiang dengan tertawa dingin, sembari sedikit loncat kesamping, hingga hantaman Nyo Kong-lim tadi menemui tempat kosong.

Kong-lim hendak tarik pulang sam-ciat-kun tapi karena tadi dihantamkan dengan keras, jadi agak ayal sedikit.

Dan lubang kesempatan sedikit itu, telah digunakan secara mengagumkan sekali oleh siwanita, yang secara tiba2 dan cepat luar biasa apungkan diri menginjak ujung sam-ciat-kun yang diatas.

Nyo Kong-lim diam2 memaki wanita yang dianggapnya gila itu, dia balikkan tangannya hendak membetot, tapi dengan berjumpalitan wanita itu sudah menginjak kegeladak, krek.....

, krek......

, sam-ciat-kun itu terinjak melesek masuk kedalam papan geladak.

Kalau sekalian orang berseru kaget, adalah Nyo Kong-lim yang ber-kaok2 seperti orang kalap.

Dengan undang seluruh kekuatannya, dia sentakkan sam-ciat-kun keatas.

Nyo Kong-lim dikaruniai tenaga kekuatan besar.

Tatkala.

berumur 8 tahun, dia sudah dapat mengangkat lumpang batu seberat ber-puluh2 kati, untuk dinaik turunkan.

Apalagi kini setelah dewasa dan belajar silat.

Sekalipun sam-ciat-kun itu ditindih oleh batu besar ribuan kati, tentu dapat juga dia, menariknya.

Apalagi hanya diinjak oleh seorang wanita kurus.

Ak.....

, ak......

, ak......

, 3 kali sudah mulut Nyo Kong-lim menggeram dan 3 kali pula dia kerahkan tenaganya menarik.

Tapi wanita aneh itu tetap tegak seperti gunung, sedikitpun tak bergeming.

Malah bukan begitu saja.

Melalui sam-ciat-kun.

yang dicekalnya itu, rasanya ada semacam tenaga yang menyerang ketangannya hingga tangannya serasa sakit kesemutan, dan akhirnya lengannya berasa lemas sekali.

Celaka aku, keluhnya.

Terang wanita aneh itu sudah salurkan lwekang untuk menyerangnya.

Tapi entah macam lwekang apa yang sedemikian lihaynya itu.

Tahu gelagat jelek, buru2 Nyo Kong-lim lepaskan sam-ciat-kun, kemudian loncat mundur.

Yakin dia, kalau berkeras adu tenaga, terang dia bakal menderita.

GAMBAR 36 Se-konyong2 bagian toya Nyo Kong-lim kena diinjak wanita aneh yang rambutnya hampir menutupi seluruh wajahnya.

Baca Juga: Lencana Pembunuh Naga 2

Baca Juga: Perguruan Sejati 3

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger