Naga Dari Selatan 5

Eps 5 Naga Dari Selatan - Liang Ie Shen

Baca online Naga Dari Selatan - Liang Ie Shen

Cersil Naga Dari Selatan - Liang Ie Shen.

Kejadian itu telah membuat sekalian orang menjadi pucat terperanjat.

Kalau orang macam Nyo Kong-lim dengan mudah dapat ditindas, habis siapa lagi yang berani menandingi?

Sesudah mundur itu, Nyo Kong-lim tak henti2nya obat-abitkan lengannya kanan.

Pikirnya karena tadi keliwat banyak menggunakan tenaga, maka lengannya menjadi lemah lunglai.

"Huh, kalau tak mengingat karena kau hendak menolong seorang sahabat, tentu takkan kuampuni perbuatanmu menyerang secara gelap itu!"

Seru siwanita aneh sembari ketawa mengejek. Napas Nyo Kong-lim ter-engah2, tak dapat dia menyahut. Tiba2 Thay-san sin-tho yang sejak tadi menyelip diantara awak kapal, kini tampil kemuka, ujarnya.

"Cunkeh tak kenal kami, entah apa maksud kedatangan cunkeh kemari ini?"

Jelek rupanya, bongkok punggungnya, tapi Ih Liok itu cukup cerdas pikirannya.

Ucapannya itu tak dapat dianggap menyalahi orang, tapi mengandung maksud mendamprat orang yang dikatakan cari perkara.

Mendengar itu sepasang mata siwanita yang memancarkan sorot ke-hijau2an itu memandang kearah si Bongkok.

Si Bongkok seorang yang bernyali besar, tinggi pula ilmu kepandaiannya.

Benar tampaknya dia tenang2 saja, tapi diam2 hatinyapun bercekat dan bersiaga.

"Benar, dengan orang2 diperahu aku tak kenal mengenal. Tapi ada seorang yang mempunyai hubungan rapat dengan orang yang paling kubenci. Bangsa manusia begitu kalau tak dibasmi tentu menimbulkan bahaya bagi dunia!"

Kata siwanita dengan nada. yang dingin.

"Siapakah dianya?"

Tanya si Bongkok.

"Dia!"

Sahut siwanita sembari menuding pada Tio Jiang.

Karuan Tio Jiang menjadi terperanjat disamping heran, Dia seorang anak yatim piatu tiada sanak kadang lagi, mengapa dikatakan mempunyai hubungan rapat dengan seseorang.

"Cianpwe, jangan salah faham!"

Serunya serentak.

Tapi sembari perdengarkan suara ketawa yang seram, siwanita sudah segera menerjangnya.

Apa boleh buat, untuk menjaga, diri, Tio Jiang sambut kedatangan wanita itu dengan serangan to-hay-kiam-hwat.

Sedang Nyo Kong-limpun sudah berhasil membetot keluar sam-ciat-kun dari lantai geladak, terus dihantamkan pada siwanita.

Meskipun diserang dari muka dan belakang, siwanita aneh itu bagaikan sesosok bayangan berlincahan diantara sabetan pedang dan hantaman sam-ciat-kun.

Gerak tubuh siwanita itu tak mengeluarkan suara apa2, tapi baik Tio Jiang maupun Nyo Kong-lim merasa dikelilingi oleh samberan angin yang keras.

Malah seorang tokoh persilatan macam si Bongkok yang faham akan aliran cabang persilatan didaerah utara maupun diselatan, tak mampu mengenali aliran cabang dari siwanita aneh itu.

Dalam beberapa jurus saja, Tio, Jiang dan Nyo Kong-lim sudah keripuhan.

Mereka kini hanya difihak membela diri, tak dapat balas menyerang.

Sampai pada saat itu, apa boleh buat si Bongkok hendak turun tangan.

Tapi belum lagi dia bergerak, atau se-konyong2 kedengaran orang berseru.

"Ceng Bo siangjin!"

Memang pada saat itu tampak Ceng Bo siangjin dan Su Khin-ting muncul dipermukaan air.

Dan salah seorang awak perahu telah menereakinya.

Juga si Bongkok melihat hal itu, pikirnya kalau siangjin itu sudah datang, tak perlu jerikan siwanita itu lagi.

"Ceng......."

Baru dia hendak turut meneriaki, Ceng Bo sudah selulup lagi untuk menolong Su Khin-ting.

Sudah tentu siangjin itu tak mendengar teriakannya, dan si Bongkokpun tak berdaya apa2.

Tapi anehnya begitu mendengar nama Ceng Bo diteriakkan, wanita aneh itu mendorongkan kedua tangannya hingga Tio Jiang dan Nyo Kong-lim mundur kebelakang.

Kemudian dengan gerak "han te pat jong", wanita tersebut apungkan diri kedekat rombongan awak perahu seraya berseru dengan nyaring.

"Siapa yang meneriakkan Ceng Bo siangjin tadi ? Bagi orang yang kepandaiannya masih dangkal, nyalinya sudah copot mendengar suara siwanita, yang mengandung getaran lwekang itu. Yang menereaki Ceng Bo siangjin tadi, kiranya adalah salah seorang thaubak (kepala liaulo) Hoasan. Diapun seorang yang keras wataknya.

"Akulah!"

Sahutnya sembari tampil kemuka.

Siwanita aneh perdengarkan ketawa seram, wajahnya berobah, menyeramkan orang.

la singkap rambutnya yang terurai menutupi muka, dengan tajam menatap Go Tiong, thaubak itu.

Tapi Go Tiong yang tak kenal kelihayan orang, tetap tegak disitu.

Semua, orang, kagum atas keberanian dan kejujuran Go Tiong, maka mereka serentak maju mendampinginya guna.

memberi pertolongan apabila sampai thaubak itu diserang.

Betapapun lihaynya siwanita, namun kalau dikeroyok orang banyak, tentu akan kewalahan juga.

Wanita itu maju selangkah, hal mana makin membuat darah orang2 tersirap.

Tapi ternyata ia tak menyerang, melainkan bertanya.

"Mengapa tadi kau meneriaki Ceng Bo siangjin?"

"Oleh karena Ceng Bo siangjin tadi muncul dipermukaan air,!"

Sahut Go Tiong.

"Apa katamu?"

Tanya siwanita itu dengan setengah tak percaya.

Kini tahulah si-Bongkok bahwa siwanita itu mempunyai hubungan dengan Ceng Bo siangjin, mungkin suatu dendam kesumat yang hebat.

Maka diapun segera memberi penjelasan.

"Memang Ceng Bo siangjin turun naik dalam perahu ini. Oleh karena hendak melakukan penyelidikan didasar laut Hay-sim-kau, dia selulup kesana. Tapi dia sudah muncul dipermukaan air, tapi entah bagaimana, kembali silam lagi."

"Hm, mengapa dia berani menjumpai aku ?"

Siwanita perdengarkan ketawa-nya yang sinis. Heran si Bongkok dibuatnya, tapi dia tak berani menegas. Siwanita tampak merenung. Tiba2 dengan gerak "yi hi ta ting"

Ikan lehi meletik, ia loncat kedalam laut.

Adalah pada saat ia masuk kedalam laut, Ceng Bo siangjin telah diseret oleh sigurita kedasar laut, maka keduanyapun tak dapat bertemu.

Mungkin karena mempunyai perasaan lain, siwanita itu tak kembali keatas perahu dan terus menuju kedalam gua karang didasar laut Hay-sim-kau.

Oleh karena sampai sekian lama Ceng Bo tak kunjung datang, akhirnya Nyo Kong-lim perentahkan berlayar.

Dia kuatir karena waktunya mendesak kalau tak cepat2 kembali ke Hoasan mungkin nanti The Go dan Tan It-ho mengadu biru dimarkas itu, dan ini membahayakan kedudukan ke 72 Cecu Hoasan.

Tiba dipantai utara, benar juga hari sudah malam.

Begitulah langsung mereka menuju ke Hoasan.

Sewaktu dilihat disekeliling kaki gunung Hoasan tampak banyak kubu2 tentara, Ko Kui (cecu markas ke 1) menjadi heran, dia segera minta idin pada Nyo Kong-lim, untuk mendahului pergi kemarkas dengan mengambil jalan singkat.

Ketika dia tiba dimarkas, tepat kala itu wakilnya (Liang Pheng) tengah hendak memberi perintah menarik mundur anak buah kemarkas no..Kemudian bertempur dengan The Go, akhirnya wakil Cecu itu telah menemui ajalnya secara mengenaskan.

Demikian si Bongkok mengakhiri kissah penuturannya.

Entah bagaimana perasaan Ceng Bo siangjin setelah habis mendengar itu, tapi sebagai seorang yang kuat perasaannya, dia tetap berusaha menahannya.

Andaikata dia seorang diri, tentulah akan sudah mengucurkan air mata karena terharu melihat nasib sang isteri yang sangat dikasihinya itu.

Hari sudah menjelang pukul 3 malam, turut kata The Go, begitu terang tanah tentara Ceng pasti akan sudah bergerak menyerang.

Suasana sudah tentu menjadi tegang.

Hanya sebentar2 terdengar Nyo Kong-lim ber-teriak2 memberi perintah pada anak buahnya.

"Terkaan Ih-heng itu memang benar. Wanita itu adalah isteriku yang kasar!"

Tak lama kemudian Ceng Bo berkata, kepada si Bongkok, siapa tampaknya tak heran atas keterangan itu, sahutnya.

"Kalau benar ia itu Kiang Siang Yan, mengapa ilmu kepandaiannya tak sama dengan Bek-heng?"

Ceng Bo tuturkan apa yang telah disaksikan digua dasar laut Hay-sim-kau.

"Dalam 10 tahun ini, dengan tekun ia telah meyakinkan ilmu lwekang sakti thay-im-lian-sing. Dengan begitu, kini aku bukan tandingannya lagi!"

Katanya pula.

"Haya, celaka ni!"

Seru si Bongkok.

"ketika lolos dari, pondok, Kiang Siang Yan telah membawa dendam penasaran sedalam laut. Konon kabarnya, thay-im-lian-sing itu akan merobah orang menjadi seorang yang ganas ke-liwat2. Kalau lain2 ilmu lwekang akan menjadi seorang lebih tenang dan sabar, sebaliknya ilmu thay-im-lian-sing itu kebalikannya! "

"Benar, karena dengan kebencian dia meyakinkan ilmu itu, maka sudah tentu dendamnya makin menyusup kedalam tulangnya. Ia tentu akan memakan dagingku, merobek kulitku. Ah, meskipun kesalahan itu akibat perbuatan manusia terkutuk, tapi untuk menjelaskan bukanlah mudah. Makanya ia selalu menentang tindakanku, sengaja menyuruh Lian-ji ikut pada The Go!"

Kata Ceng Bo.

"Apa katamu itu, Bek-heng?"

Tanya si Bongkok dengan terperanjat sekali Apa boleh buat, Ceng Bo tuturkan juga kejadian diperahu dengan Bek Lian dan The Go.

"Habis kemana nona Lian sekarang?"

Tanya si Bongkok sembari banting2 kaki.

Ceng Bo sendiri kacau balau hatinya.

Isteri yang dicintainya, lolos tak ketahuan rimbanya, disusul dengan puteri biji matanya, menyintai seorang penghianat bangsa.

Betapapun juga, imam itu tetap seorang yang terdiri dari darah dan daging, maka, bagaimana hancurnya sang hati, tentu dapat dimaklumi.

"Kalau si The Go masih disini, kita bisa menanyainya!"

Katanya sembari menghela napas panjang.

"Ah, kalau tahu begitu, kita tentu tak membiarkan dia lolos, ai.... , ai....!"

Seru si Bongkok sembari ber-kuik2 dengan gusar.

Karena sudah terlanjur, kedua orang itu tak dapat bicara apa2.

Tiba2 datanglah Nyo Kong-lim menanyakan mengapa Tio Jiang dan Yan-chiu belum datang.

Ceng Bo terperanjat.

Memang kedua anak muridnya itu cukup lama perginya.

Si Bongkok tawarkan diri untuk menyusul.

Tapi belum setengah jam dia turun gunung, dengan cepat sudah balik melapor.

"Aneh, mengapa, siaoko dan nona Liau tak kelihatan jejaknya? Tentara Ceng masih menggeros, semua, jadi terang keterangan The Go itu bohong. Tapi yang memgherankan mengapa tak dapat kuketemukan letak markas besar panglima mereka. Juga tempat persembunyian meriam2 mereka, itu entah dimana!"

Ceng Bo makin resah, ujarnya.

"Li Seng Tong benar seorang panglima perang yang pandai, tapi menghadapi orang2 persilatan dia tentu tak dapat berbuat banyak. Turut pendapatku, tentu disana bersembunyi seorang juru pemikir yang lihay."

"Ah, tentunya si Cian-bin Long-kun The Go lah!"

Sahut si Bongkok serentak. Ceng Bo anggukkan kepalanya, ujarnya.

"Memang dia cukup hebat. Walaupun ustanya masih muda, tapi sudah begitu pandai, Sayang dia terjun kejaIan yang sesat"

Dalam hati, si Bongkok sendiri juga mengagumi kecerdikan The Go.

Dalam riwayat perkelanaannya didunia persilatan, belum pernah diingusi macam yang terjadi dengan diri The Go tadi.

Begitulah persiapan dalam markas kesatu itu, terus diatur dengan tak henti2nya.

Sekarang marilah kita tengok keadaan Tio Jiang dan Yan-chiu.

Begitu keluar dari pintu gerbang markas, dilihatnya udara mendung sekali.

Takut kalau saling berpencar, keduanya lalu bergandengan tangan.

Selama dalam perjalanan turun gunung itu tak putus2nya Yan-chiu menuturkan pengalamannya selama berpisah itu.

Dengan genit dan lucunya, ia ceritakan bagaimana rasanya menjadi raja gunung selama dua bulan.

Bermula dibiarkan saja sumoay itu bercerita sembari bergelak tawa, tapi setelah hampir dekat kemarkas musuh, dia lalu melarangnya.

Tapi Yan-chiu sudah salah mengerti, dikiranya sang suko jemu mendengar ceritanya, maka dengan ketus ia berseru.

"ya sudah...., tak boleh bicara ya sudah......!"

Tahu akan perangai sang sumoay, Tio Jiang hanya ganda tertawa saja.

Dengan begitu habislah perselisihan kecil itu.

Begitu mendekati kubu musuh, Yan-chiu sembari berjinjit kaki, membisiki kedekat telinga sang suko.

"Suko, aku hendak tanya padamu sebuah lagi, boleh tidak?"

Tio Jiang sijejaka bodoh, kuatir kalau membuat sang sumoay marah lagi, terpaksa mengiakan.

"Suko, mana peniti kupu2 yang Lian suci berikan padamu tempo hari?"

Katanya sembari ketawa cekikikan.

Tio Jiang seperti disengat kalajengking saking kagetnya.

Tukar menukar tanda pengikat kawin itu dilakukan hanya berdua orang saja, mengapa Yan-chiu dapat mengetahui?

Tapi dasarnya bodoh, dia hanya mengira kalau Yan-chiu tentu mengintip, maka rahasia itu sampal bocor.

Dengan suara ter-putus2 gemetar, dia sagera menyahut.

"Masih padaku. Sumoay ......... se-kali2 jangan bilang pada Suhu, agar dia orang tua tidak marah !"

Sudah tentu Yan-chiu geli, jawabnya ter-sipu2.

"Ya...., ya...., ya......, aku tak akan bilang!"

Dalam pikiran sinona yang nakal itu hanya terlintas suatu rencana memperolokkan suko dan sucinya.

Apabila kedua orang itu berjumpa satu sama lain hendak ia pertunjukkan barang panjer masing2 dan mengocok keduanya sampai puas betul.

Hanya begitulah maksudnya, jadi bersifat hati kanak2.

Sedikitpun ia tak sadar bahwa hal itu telah menyiksa Tio Jiang setengah mati, dan akhirnya putus asa.

Tapi biarlah jangan kita ungkap dahulu kejadian yang belum datang itu.

Karena ceriwis dan cekikikan, Tio Jiang mengira kalau sang sumoay menggodanya soal perjodohan itu, maka diapun tak marah.

Demikianlah kini keduanya sudah hampir mendekati kubu2 musuh.

Sebagai seorang anak perempuan, Yan-chiu lebih teliti.

Dilihatnya diatas tanah hutan situ banyak sekali terdapat bekas tapak kuda dan roda2 kereta.

Yan-chiu me-raba2 tengkuk leher Tio Jiang, hingga saking kagetnya Tio Jiang sampai lompat berjingkrak.

Ketika diketahuinya bahwa itulah sang sumoay yang sengaja hendak mempermainkan, Tio Jiang mendongkol sekali.

Tapi hendak mendamprat, dia tak berani kuatir menerbitkan suara yang dapat didengar oleh serdadu2 Ceng.

Maka apaboleh buat dia hanya deliki mata saja kepada gadis nakal itu.

Tahu, sang suko marah tapi tak dapat berbuat apa2, Yan-chiu makin gembira Tio Jiang mendelik, ia balas unjuk muka-setan sembari me-lelet2-kan lidah.

Tio Jiang meringis betul2.

Puas menggoda, baru Yan-chiu berbisik kedekat telinga sukonya, suruh dia melihat apa yang terlihat ditanah situ.

Saking girangnya, Tio Jiang sampai berjingkrak2.

"Sumoay, bukankah itu bekas roda2 meriam ?"

"80 persen, ya!"

Sahut Yan-chiu.

"Suhu suruh aku menebus dosa dengan jasa. Kalau aku dapat merusakkan ke 10 pucuk meriam itu, tentu akan berjasa besar,"

Kata Tio Jiang dengan girang. Yan-chiu menanyakan dengan heran. Tapi Tio Jiang membantah, masa ditempat macam begitu dia disuruh menceritakan.

"Kalau tak mau memberi tahu, aku tak mau menemani mu suko!"

Yan-chiu unjuk gertakannya.

Tahu akan tabiat sang sumoay, terpaksa Tio Jiang bercerita.

Berulang kah Yan-chiu leletkan lidah saking kagum, dan ketika mengetahui sang suko telah mempelajari sekian banyak ilmu silat yang luar biasa, Yan-chiu segera minta diajari.

Untuk jangan melenyapkan kegembiraan sinona, Tio Jiang menyanggupi.

"Baik, tapi mari lebih dahulu kita cari tempat meriam2 itu! "

Keduanya segera berjalan menurut bekas roda itu.

Tak berapa jauh, bekas2 roda itu tampak saling bersilang.

Kini makin teguhlah dugaan mereka akan tempat persembunyian meriam2 itu.

Setelah berunding, keduanya memutuskan untuk tetap bersama2 mencarinya, tak usah berpencar.

Benar juga tak berapa jauh, mereka tampak ada dua orang serdadu mondar-mandir didepan sebuah kubu.

Bekas roda, itu menjurus kesana.

Dilihat bentuknya, kubu itu menyerupai tempat tinggal orang.

Setelah saling memberi isyarat mata, keduanya segera menyelinap pe-lahan2.

Yan-chiu berhasil mendekati dibelakang, salah seorang serdadu, siapa ternyata tak mengetahuinya.

Sekali menarik kuncir orang, serdadu itu segera terjengkang jatuh kebelakang.

Begitu mulutnya hendak berteriak, buru2 Yan-chiu menutuk jalan darah thian-tho-hiat ditenggorokan, hingga tamatlah riwayatnya.

Sedang yang seorang lagi pun kena ditutuk pingsan oleh Tio Jiang.

Dengan tak menerbitkan barang suatu suara, keduanya ber-jengket2 menghamperi kubu.

Tapi begitu Yan-chiu susupkan kepalanya kedalam tenda kubu, segera ia-lekas2 tarik keluar seraya memaki sukonya.

"Suko, mengapa kau begitu kurang ajar, suruh aku tonton pemandangan macam. begitu?!"

Tio Jiang segera susupkan kepala dan diapun menjadi menyeringai juga.

Kiranya didalam kubu situ bukannya meriam yang ada, tapi 7 atau 8 orang serdadu Ceng sama terlentang tidur.

Serdadu2 itu berasal dari daerah utara yang dingin.

Meskipun didaerah selatan itu waktu dalam bulan 11, dan 12, tapi mereka tak merasa kedinginan.

Dan memang sudah menjadi adat kebiasaan orang utara, kalau tidur tentu lepas pakaian.

Sudah tentu pemandangan itu sangat "mengerikan"

Yan-chiu.

Tapi sebagai anak laki, sudah tentu Tio Jiang tak menjadi jengah.

Dia heran mengapa bekas tapak roda tadi terang masuk kedalam kubu situ, tapi mengapa kawanan serdadu yang ada?.

Diawasinya lagi dengan perdata dan akhirnya tampak juga diujung sana ada sebuah benda warna hitam, berbentuk bulat, menggeletak ditanah.

Karena tak mengetahui benda apa itu, buru2 dia memberi isyarat agar Yan-chiu datang kesitu.

Sudah tentu Yanchiu tak mau, kapok ia.

Apa boleh buat, Tio Jiang terpaksa menghampiri sang sumoay, ujarnya.

"Sumoay, mengapa pada saat2 yang penting, kau mundur teratur?"

"Suko, kalau kau menghina, tentu kubilangkan pada suhu!"

Sahut Yan-chiu dengan uring2an.

"Diujung kubu itu ada sebuah benda yang hitam gelap warnanya. Kupikir hendak menobros masuk untuk memeriksanya, harap kau berjaga diluar, sumoay,"

Kata Tio Jiang.

GAMBAR 37 Dengan batang kayu itu, Tio Jiang menyusup kedalam kemah musuh, ia gunakan ilmu menutup yang di pelajarinya dari Sih Lo-sam, dengan gerak cepat, sekejap saja ia telah tutuk jalan darah lumpuh tujuh perajurit penjaga.

Setelah sumoaynya setuju, bermula Tio Jiang hendak gunakan pedangnya tapi tak jadi.

Dia memotes sebatang ranting puhun, lalu menyusuk kedalam tenda.

Menurutkan ajaran Sik Lo-sam, dalam sekejab saja dia sudah dapat menutuk jalan darah ke-8 serdadu itu.

Setelah itu dia menghampiri kesudut tenda.

Ah......., makanya tak dapat kawan2nya yang dahulu mencari tempat persembunyian meriam, karena senjata itu disembunyikan didalam tanah.

Permukaan lubang itu, ditutup dengan sebuah papan.

Waktu papan itu diangkat, terdapatlah sebuah lubang gua dibawah tanah dengan diterangi oleh beberapa batang lilin.

Disitu terdapat dua orang serdadu tengah duduk mengantuk.

Tio Jiang berkerja sebat.

Meriam digulingkan, isinya dibuang, sementara sipenjagapun ditutuk pingsan.

Setelah merusakkan beberapa barang dalam kubu tersebut, Tio Jiang lalu menyusup keluar lagi.

Tapi disitu Yan-chiu tak nampak bayanganya.

Berulang kali Tio Jiang memanggilnya tapi senantiasa tak berbalas.

Tio Jiang makin gelisah.

Taruh kata dia berhasil merusakkan ke 10 pucuk meriam musuh, namun kalau Yan-chiu sampai ada apa2, artinya dia itu tetap berdosa.

Apa boleh buat dia terpaksa menyelidiki berpuluh kubu yang berada disitu.

Pada sebuah kubu, didapatinya ada seorang serdadu Ceng rubuh binasa.

Hal mana membuat Tio Jiang girang, karena dia dapat mengetahui jejak lari sang sumoay.

Dengan menurutkan arah pengunjukan itu, akhirnya berhasillah dia keluar dari barisan kubu2 musuh, tapi sampai berapa kali dia berseru keras, tetap tiada berbalas.

Ketika itu Tio Jiang mendongkol dan gelisah.

Mendongkol karena mengira sumoaynya lagi2 hendak main ugal2an.

Gelisah karena memikiri penemuannya tadi.

Meriam sudah diketahui, tapi kalau tak lekas2 dihancurkan, nanti terang tanah tentu akan digunakan menyerang Hoa-san.

Maka Tio Jiang mondar mandir saja disekitar kaki gunung situ, belum dapat mengambil keputusan.

Adalah pada saat itu, si Bongkok sebenarnya juga sudah datang untuk mencari dia dan Yan-chiu, tapi karena kebetulan Tio Jiang baru mengitari bagian sana, jadi tak dapat dilihat si Bongkok.

"Tio Jiang, Tio Jiang! Mengapa dikau begitu tolol? Biar tak menjumpai jejak Yan-chiu, tapi seharusnya kau lekas2 menghancurkan senjata2 maut itu dulu. Apakah kau tak mengerti bahwa keayalanmu itu berarti maut bagi sekian banyak orang2 gagah yang berada digunung Hoasan?"

Tiba2 dia bertanya seorang diri.

Memikir sampai disitu, peluh membasahi sekujur tubuhnya.

Buru2 dia kembali kedaerah perkubuan musuh lagi.

Menyusur bekas roda2 meriam, dia memasuki kubu demi kubu.

Untungnya para serdadu yang bertugas dalam setiap kubu itu sama menggeros seperti babi, jadi mudahlah dia hancurkan meriam2 itu satu per satu.

Dan dalam waktu tak berapa lama saja, berhasillah dia menghancurkan 9 pucuk meriam.

Meriam ke 10, atau meriam yang penghabisan setelah agak lama dicarinya barulah dapat diketemukan tempat persembunyiannya.

Segera ia menyusup kedalam kubu itu, ia dapatkan suasana didalam situ agak lain.

Baru dia merandek sejenak, atau tiba2 dia rasa ada serangkum angin menyambar dari muka.

Karena tak keburu berkelit, maka Tio Jiang cukup gunakan jurus "hong cu may ciu"

Melejit kesamping.

Dengan ujung ranting puhun tadi, dia segera tutuk jalan darah orang dibagian betis pada jalan darah wi-tiong-hiat.

Orang itu bergelundungan ditanah untuk menghindar, kemudian berseru melengking.

"The toako, akulah! Ini benar2 'istana raja laut kebanjiran air' (artinya orang sendiri hantam orang sendiri) !"

Tio Jiang rasanya faham akan suara itu.

Ah, benar dialah!

Itulah Chi Sim, salah seorang dari persaudaraan Chi.

Sewaktu pertempuran luitay di gunung Gwat-siu-san tempo hari, hanya dia seorang yang tak mendapat luka.

Tentu kini dia mengikut The Go.

Tapi mengapa orang she Chi itu mengira kalau dia itu si The Go?

Oho, mungkin orang mengambil kesimpulan begitu itu karena, tampak dia (Tio Jiang) tadi gunakan jurus hong-cu-may-cu, itu ilmu silat warisan Ang Hwat cinjin yang diturunkan pada The Go.

Ah, biar bagaimana meriam yang no.

10 itu harus dihancurkan agar tak menerbitkan bahaya bagi Hoa-san.

Memang penjaga dalam buku itu adalah si Chi Sim, siapa tak mengira kalau yang hendak masuk kedalam kubu situ adalah The Go.

Malah ketika si The Go palsu diam saja, Chi Sim mengira kalau orang menjadi kurang senang.

"The toako, seranganmu tadi laksana kilat cepatnya. Kalau aku tidak lekas2 menyingkir, tentu habislah riwayatku!"

Kata Thyi Sim sembari ketawa ingin mengambil hati orang. Tio Jiang geli tapi tak mau menyahut. Belum lagi dia mengambil putusan, diam saja atau menyahut, sudah kedengaran lagi si Chi Sim mengoceh.

"Tadi aku telah menjambangi nona Bek. Semalam ia tak tidur karena kau tak pulang. Kemana saja pergimu tadi malam itu toako ?"

Kaget Tio Jiang sukar dilukiskan.

Apakah betul2 Bek Lian tak mau pada dirinya dan mati hidup hendak ikut pada The Go?

Kalau tidak, mengapa suci itu tetap mengintil orang kemana The Go pergi?

Gusar dan pedih, Tio Jiang cepat melesat maju untuk menampar muka Chi Sim, plak.............

Karena sedang berusaha untuk mengambil hati "The Go", maka Chi Sim sudah tak ber-jaga2 akan datangnya serangan yang begitu mendadak itu.

Saking keras tamparan si Tio Jiang, maka gigi Chi Sim telah copot sampai dua biji.

Dia ber-kuik2 kesakitan, serunya ter-putus2.

"The toako, mengapa kau ............."

Belum kata2 itu diselesaikan, tiba2 jalan darah dibelakang batok kepalanya dipijat keras2 oleh orang (Tio Jiang).

Chi Sim coba meronta dari cengkeraman itu, tapi bukan saja tak dapat lolos malah dirasakan ada semacam tenaga yang panas, menyalur pada kepalanya.

"The toako, jangan bersenda-gurau"

Serunya. Mana Tio Jiang mau meladeni, dengan bengis dia menggertak.

"Siapa yang sudi jadi The toako-mu? Dimana nona Bek, lekas bilang!"

"Siapa .......kau .......kau ini?"

Tanya Chi Sim dengan ketakutan.

Tio Jiang makin perkeras tekanannya dan paksa orang menunjukkan tempat persembunyian Bek Lian.

Apa boleh buat Chi Sim terpaksa menurut, tapi lebih dahulu dia minta orang kendorkan cengkeramannya.

Tapi Tio Jiang sudah ketelanjur gusar melihat orang berayal, dampratnya.

"Sampai ditempatnya, tentu kukendorkan. Kalau berani main gila, tentu kukirim kau keakherat !"

Begitulah dengan serta merta Chi Sim bawa Tio Jiang ber-biluk2 diantara kubu2, sehingga sampai membingungkan Tio Jiang.

Yang diketahuinya, kubu2 itu diatur dengan rapi sekali, mirip dengan formasi sebuah barisan.

Maka tak heranlah kalau orang tak dapat mengetahui tempat markas panglima.

Untung tadi Yan-chiu dapat melihat bekas tapak roda, hingga dapat mengetahui tempat persembunyian meriam2.

itu.

Jadi kalau menurut cengli (nalar) Yan-chiulah yang harus diberi ganjaran jasa.

Ini telah menjadi keputusan Tio Jiang juga, apabila kelak berhadapan dengan suhunya.

Memikirkan hal itu, tiba2 dia teringat bahwa masih ada sepucuk meriam yang belum dihancurkan.

"Kembali"

Bentaknya dengan suara tertahan.

"Kemana?"

Tanya Chi Sim dengan heran.

Tio Jiang menyuruh kembali ketempat tadi.

Terpaksa, Chi Sim menurut.

Begitu sampai dikubu tadi, segera Tio Jiang tutuk jalan darah pemingsan Chi Sim, kemudian menghancurkan meriam disitu.

Selesai tugasnya, baru dia buka jalan darah si Chi Sim lagi dan suruh dia membawanya ketempat Bek Lian.

Sepanjang jalan, mereka tak berjumpa barang seorang serdadupun juga.

Hal mana membuat Tio Jiang heran.

"Mengapa tiada seorangpun serdadu penjaga?"

Tanyanya.

"Kubu2 disini diatur menurut susunan barisan yang ditentukan Ang Hwat cinjin. Kalau orang luar sampai masuk kemari, mereka akan ber-putar2 kesana-sini namun tetap, berada diluar. Bagi tokoh yang tinggi ilmunya, paling2 hanya, dapat mencapai susun yang ketiga,"

Menerangkan Chi Sim, Tio Jiang terperanjat.

Tapi pada lain saat Chi Sim mengatakan sudah sampai dikubu Bek Lian, Tio Jiang belum mau kendorkan cengkeramannya.

Dia, susupkan kepalanya melongok kedalam, tapi disitu tiada seorangpun juga.

Dengan geramnya Tio Jiang cekik tengkuk Chi Sim.

Cekikan itu dipelajarinya dari Sik Lo-sam, maka keadaan.

Chi Simpun persis seperti ketika dia (Tio Jiang) dicekik Sik Lo-sam di Giok-li-nia tempo hari.

Dengan meng-uak2 kesakitan, Chi Sim diseretnya masuk kedalam kubu.

Tio Jiang curiga mengapa didalamm kubu situ kosong tiada orangnya, kecuali sebuah meja hijau dengan 3 batang lilin, sebuah tempat tidur dengan selambu sulaman.

Sama sekali tak mirip dengan kubu tentara.

Diam2 Tio Jiang berpendapat, mungkin disitulah tempat tinggal Bek Lian.

Ketika memandang kearah tempat tidur, dilihat selimut dan bantal agak berserakan dan tatkala tangannya meraba keatasnya, masih terasa hangat.

Terang orang baru saja habis menidurinya "Orang she Chi, lekas katakan, adakah benar2 nona Bek berada disini ?"

Tanyanya.

Dicekik tengkuknya itu, Chi Sim ketakutan setengah mati.

Buru2 dia pegangi tangan pencekiknya itu.

Bukan hendak melawannya, tapi hendak berjaga2 kalau orang perkeras cekikannya, dapatlah dia berusaha untuk meringankan kesakitannya.

Kini kalau dia, menerangkan dengan terus terang, tentulah Tio Jiang mau mengampuninya.

Maka, tanpa ragu2 lagi, diapun segera menyahut.

"Kedatangan nona Bek ke Kwiciu sini adalah bersama dengan The toako. Sudah dua hari ini The toako pergi belum pulang, sehingga membuat nona Bek bersedih sampai tak mau makan, karena selalu mengenangkan The toako"

"Ngelantur!"

Bentak Tio Jiang demi mendengar keterangan orang yang menyayat hatinya itu.

Hal itu telah membuat kaget Chi Sim.

Coba dia itu orangnya bisa berpikir, tentulah akah segera mendapat kesan bahwa tentu ada apa2 antara pemuda itu dengan nona Bek, makanya dia begitu tanya melilit tentang sinona, Dan dengan pengertian itu, dapatlah dia merangkai kebohongan.

Tapi Chi Sim sih orangnya kasar.

Dia keliwat takut mati, maka teruskan lagi keterangannya.

"Aku omong hal yang sebenarnya. Nona Bek memang rindu pada The toako. Beberapa kali dia mengunjungi kemarkas congpeng untuk menanyakan diri The toako, mengapa sampai sekian lama belum pulang serta pergi kemana saja agar ia dapat menyusul. Oleh karena kepergian The toako kali ini bersifat rahasia, jadi Li congpeng tak mau memberitahukannya. Nona Bek marah dan membuat gaduh dimarkas congpeng!"

Tio Jiang memang kenal akan adat perangai sang suci.

Kalau sudah marah sucinya itu tentu takkan peduli segala apa.

Kalau ditilik dari tingkah laku Bek Lian terhadap The Go ketika dipulau kosong tempo hari, keterangan Chi Sim itu memang tak bohong.

"Setiap orang telah mengetahui rencana keji dari The Go dipulau Ban-san-to!"

Kata Tio Jiang sambil menghela napas. Atas penyelaan Tio Jiang itu, Chi Sim berhenti sejenak. Tapi dia. segera lanjutkan keterangannya lagi.

"Sedatangnya dari Ban-san-to, The toako kembali majukan sebuah rencana untuk menyerang Hoa-san. Kali itu Bek Lian berkata ikut pada The toako. Melihat ia itu seorang gadis, semula Li congpeng tak memberi idin. Nona Bek minta diadu dengan dua orang perwira. Akhirnya, kedua perwira itu telah dikalahkannya dan barulah Li congpeng mengidinkan."

Tio Jiang percaya penuh keterangan itu.

Makin keras niatnya untuk menemui sang suci.

Hendak dia tanyakan, mengapa malam itu sudah memberikan panjer nikah kemudian tak menyintai dia (Tio Jiang).

Dengan ketetapan itu, segera dia tutuk jalan darah pemingsan Chi Sim, hingga orang itu rubuh tak berkutik dilantai, melainkan sepasang matanya saja yang masih bisa mengawasi Tio Jiang.

"Dalam waktu empat, kau akan pulih sendiri!"

Kata Tio Jiang, terus keluar.

Diluar kubu penuh dengan kabut.

Hari sudah menjelang terang tanah.

Dia mulai lakukan penyelidikan, tapi kabut makin tebal sehmgga dalam jarak beberapa meter saja sudah tak dapat melihat apa2.

Tiba2 Tio Jiang teringat bahwa kubu2 itu disusun menurut ajaran Ang Hwat cinjin yang disebut barisan Ko-cut-tin.

Hendak dia balik saja mencari pada Chi Sim, tapi matanya sudah kehilangan penglihatan karena tebalnya sang kabut.

Apa boleh buat, Tio Jiang segera mengambil sebuah arah, terus lari kemuka.

Hari makin terang.

Oleh karena semalam tak, tidur, maka sekalipun Tio Jiang seorang sehat kuat, terpaksa merasa letih juga.

Pada kala itu, kira2 dia sudah berlari sejauh 30-an li jauhnya.

Tapi anehnya, masih ubek2an berada di-tengah2 barisan kubu situ.

Kemana dia lari, kesitu dia selalu tak menjumpai seorangpun juga.

Lama2 mendongkol juga Tio Jiang.

Sekali berbuat, tak mau kepalang tanggung lagi.

Dia menobros kedalam sebuah kubu, pikirnya hendak menyeret seorang serdadu untuk dipaksanya menjadi pengunjuk jalan.

Tapi untuk kekagetannya, begitu masuk begitu disambut dengan beberapa senjata rahasia.

Dalam gugupnya, segera dia gunakan jurus thiat-pian-kio, lengkungkan tubuhnya kebelakang.

Ber-puluh2 senjata rahasia men-desing2 diatas tubuhnya.

Diam2 Tio Jiang bersyukur didalam hati.

Tapi ketika dia hendak bangun, tiba2 melayang sebuah hantaman.

Oleh karena tubuh Tio Jiang masih melengkung kebelakang, tambahan pula tak membekal senjata apa2, terpaksa dia buang dirinya untuk bergelundungan kesamping.

Tapi tanpa disengaja, gerakannya itu sesuai dengan jurus hong-cu-may-ciu atau sigila menjual arak, itu ilmu pusaka dari Ang Hwat cinjin.

---oodw0tahoo---BAGIAN 14 .

LAWAN LAMA Dengan bergelundungan beberapa tindak, kini Tio Jiang sudah berada diluar tenda.

Justeru kabut masih tebal, jadi dia tak dapat melihat apa2.

Dengan ter-nnangu2 tak tahu apa yang harus dikerjakan, dia terkenang akan sang suci yang sudah menyintai The Go.

Hatinya serasa pilu dan pedih.

Lewat berapa saat kemudian, diantara kabut yang sudah agak menipis itu, dilihatnya ada sesosok bayangan berkelebat.

Buru2 dia bersiap.

Rupanya orang itupun mengetahui dirinya.....

Sekali enjot sang kaki, orang itu segera menerjang kearah Tio Jiang.

Orang itu bertubuh kecil kurus, sedang pakaiannya agak kebesaran.

Tio Jiang tak hiraukan lagi siapakah dia itu lalu buru2 berkelit kesamping.

Karena masih mempunyai urusan penting, Tio Jiang tak mau layani orang itu.

Begitu menghindar dia terus lari.

Tapi karena pikirannya sedang dilamun kesedihan, dia seperti orang linglung.

Maunya hendak berputar, tapi ternyata malah menuju kearah sipenyerang tadi.

Dan karena sudah begitu, tak mau dia kepalang tanggung terus ulurkan tangannya untuk menutuk jalan darah keng-tian-hiat dipundak orang.

Orang itupun tak mau unjuk kelemahan.

Begitu miringkan tubuh, dia menyambut sebuah senjata yang bulat datar bentuknya dan ke-hitam2an warnanya, mirip dengan sebuah ayakan (saringan) bakmi.

Senjata, itu diserangkan seperti cara orang hendak menutup kepala lawan.

Agak jauh jaraknya, sudah mengeluarkan samberan angin yang keras.

Tio Jiangpun tak mau berayal, cepat pedang dilolos terus dimainkan dalam jurus Ho Pek kuan hay untuk menangkis.

Sewaktu kedua senjata itu saling berbenturan, Tio Jiang rasakan suatu tenagaa yang luar biasa kuatnya.

Buru2 dia kerahkan ilmunya lwekang "yap ji si heng kang sim ciat", kearah lengan kanan.

Begitu tangannya menghantam, plak, benda bundar kepunyaan musuh itu tertindih dibawah tapi Tio Jiang sendiri telah menderita kerugian besar.

Pedang, pemberian sang suhu itu, kutung menjadi dua Kejut Tio Jiang tak terlukiskan.

Buru2 dia menyingkir beberapa langkah.

Dan karena tebalnya kabut, dapatlah dia, menyingkir serangan musuh.

Dia masih kurang pengalaman.

Sebenarnya, pedang putus, belum pasti kalau kalah angin.

Saling berbentur senjata, sudah tentu senjata yang terbuat dari bahan baja akan menderitaa kerugian.

Ditempat penghindarannya, Tio Jiang masih dapat mendengar angin pukulan men-deru2.

Tapi karena musuh tak dapat melihatnya, jadi hanya ngawur saja.

Tio Jiangpun tahan napasnya.

Berapa saat kemudian, serasa ada lain orang yang muncul kesitu, lalu bertanya.

"Apa ada mata2 musuh"

"Ya, tapi entah lari kemana karena kabut begini tebal. Bagaimana dengan budak she Lian itu ?"

Tanya orang yang menyerang Tio Jiang tadi.

"Budak itu bermulut tajam. Kalau tak dicegah cong-peng, tentu siang2 sudah kukirim keakherat!"

Sahut siorang yang baru datang.

Mendengar itu, Tio Jiang mengeluh dalam hati.

Ah, jadinya sang sumoay itu sudah kena ditangkap musuh.

Tentu karena tak sabaran menunggunya, sumoay itu segera mengaduk ke-mana2.

Sebagai seorang suko, mana dia peluk tangan tinggal diam saja?

Tanpa banyak bimbang lagi, dia terus melangkah maju.

Walaupun kutung, pedang itu masih hampir satu meter panjangnya.

Teringat dia, dahulu Sik Losam juga mengajarnya ilmu pedang pendek, ajaran Tay Siang Siansu, itu suhu-dari Kiau To.

Ternyata pedang pendek tak kurang lihaynya dari pedang panjang.

Selama itu, dia belum berkesempatan untuk mempraktekkan.

Kini baiklah dicobanya.

Dengan ber-jengket2, dia menghampiri maju.

Begitu dekat dia segera terjang kedua lawannya tadi.

Ternyata kedua orang itu tak mau menyingkir mundur, sebaliknya segera gerakan senjatanya yang berbentuk bundar tadi untuk menghadangnya.

Baru saat itu Tio Jiang tersadar.

Terang kedua orang itu adalah dua dari ketiga tianglo (paderi tua) gereja Ci Hun Si dari gunung Kun-san selatan yang dahulu pernah bertempur, diluitay Gwat-siu-san.

Ya, tak salah lagi, paderi itulah yang tempo hari pernah melukai dirinya dengan pukulan thiat-sat-ciang (pukulan pasir besi).

Senjata bundar yang digunakan masing2 itu, tentulah sebuah permadani atau dampar.

Dengan pedang kutung, terang takkan menandingi senjata mereka.

Maka lagi2 Tio Jiang loncat mundur untuk bersembunyi dalam kabut tebal.

"Tikus, mengapa bersembunyi !"

Mereka berseru dengan kerasnya.

Dan suara itu makin meyakinkan Tio Jiang akan benarnya dugaannya tadi.

Anak itu lupa atau mungkin tak sadar, bahwa kini dirinya sudah jauh berlainan dari ketika dia baru turun gunung tempo hari.

Sejak digembeleng oleh Sik Lo-sam, dia telah menjadi seorang akhli silat yang tangguh dan memiliki beraneka ilmu pelajaran silat yang sakti.

Tambahan pula sejak Sik Lo-sam menurunkan pelajaran ilmu lwekang "cap ji si heng kang sim ciat"

Yang sakti itu, ilmu lwekangnya maju pesat sekali.

Pada saat itu, dia pikir hendak lolos kembali ke Hoa-san dulu, baru nanti lakukan pembalasan pada To Ceng hweshio (salah seorang dari mereka) yang dahulu melukainya itu.

Tapi pada lain saat, dia tampar mulutnya Sendiri sembari memaki dirinya sendiri.

"Huh, Tio Jiang, mengapa kau begini tak punya malu? Sumoaymu ditangkap musuh, entah siksaan apa yang dideritanya, mengapa kau tak berusaha menolong ?"

Karena berpikir begitu, terus Tio Jiang hendak menyerbu maju, Tapi ternyata sudah kalah dulu.

Kala itu kabut sudah menipis, tadi ketika dia menampar mulutnya sendiri, telah menyebabkan kedua hwesio itu mengetahui tempat persembunyiannya.

Jadi sebelum Tio Jiang bergerak, dia, sudah diterjang.

Dengan pedang yang sudah kutung itu, Tio Jiang tak bisa berdaya.

Tapi se-konyong2 dia teringat akan senjata sarung tangan pemberian Nyoo Kong-lim tempo hari.

Sambil nienyingkir menghindar, dia keluarkan sarung "cakar garuda"

Itu.

Kedua hweshio itu, yang ternyata adalah To Ceng dan To Kong, menyerang dari kanan dan kiri.

Yang satu menghantam keatas, yang lain menyerang kebawah.

Tak tahu bagaimana harus mainkan cakar-garuda itu, terpaksa Tio Jiang gunakan hay-lwe-sip-ciu, salah satu jurus dari ilmu pedang to-hay-kiam-hwat.

Wut...., wut....., wut......, tahu2 3 jari dari sarung cakar-garuda itu menyantol permadani.

Tio Jiang buru2 hendak menariknya, tapi permadani itupun mengeluarkan suatu tenaga kuat tertarik kebelakang.

Buru2 Tio Jiang mundur sampai 3 langkah.

Namun ketika, mengawasi dengan seksama, ternyata keadaan lawan lebih celaka lagi dari dia.

Hweshio itu ter-huyung2 hampir jatuh kebelakang.

Kini timbullah nyali Tio Jiang.

Dengan andalkan kelincahan dan ketangkasannya, dia mainkan sepasang sarung tangan cakar-garuda itu.

Ya, apapun boleh.

Setempo menurut permainan golok, malah bila perlu menurut permainan ilmu silat tangan kosong.

Beberapa kali sudah, To Ceng dan To Kong merasa tentu berhasil dalam serangannya, tapi setiap kali sianak muda selalu dapat terlolos karena gunakan jurus permainan hong-cu-may-ciu atau sigila menjual arak.

Memang gerakan permainan dari ilmu silat yang luar biasa itu, seringkali diluar dugaan lawan.

Begitulah walaupun dikerubut dua, Tio Jiang main serie.

Belasan jurus telah berlangsung, masih belum ketahuan kalah menangnya.

Pada saat itu, timbullah suatu kesimpulan pada Tio Jiang.

Kiranya kedua hweshio yang namanya begitu disegani sebagai sam-tianglo (tiga tertua) gereja Ci Hun Si, hanya sebegitu sajalah kepandaiannya.

Karena mendapat kesan itu, keberaniannya makin menyala.

Dan karena hatinya besar, permainannyapun makin bersemangat.

Kadang2 dia lancarkan serangan berbahaya.

Sebaliknya karena tak dapat menangkan sianak muda, kedua hweshio itupun geram sekali.

Mereka mulai buka serangan ganas.

Begitu sang kaki menggelincir, To Kong maju merapat Tio Jiang menghantam dengan damparnya (permadani).

Karena tak mengetahui siasat orang, Tio Jiang cepat hantam iga sebelah kanan dari To Kong.

To Kong perdengarkan ketawa dingin.

Dampar dimiringkan menangkis serangan, tangannya kiri menghantam dada Tio Jiang.

Tangan kanan ataupun kiri dari ketiga hweshio gereja Ci Hun Si itu terlatih dengan thiat-sat-ciang semua.

Jarak keduanya dekat sekali, apalagi karena tadi menyerang jadi kini dada Tio Jiang tak terlindung.

Jadi hantamannya tadi, terang akan mendapat hasil.

Karena tak keburu berkelit, terpaksa Tio Jiang turunkan tubuhnya kebawah.

Pikirnya, biar kena asal tak dibagian jalan darah yang berbahaia.

Selagi memendak turun itu, dilihatnya To Kong hanya pikirkan menyerang, tapi lengah melakukan penjagaan diri, jadi bagian kakinya tak terlindung.

Kesempatan itu tak di-sia2kan Tio Jiang.

Cepat dia tarik kembali tangannya kanan, lalu secepat kilat diterkamkan pada kaki lawan, dan berhasillah.

Sekali tangan mendorong, maka terlemparlah To Kong keatas.

Jadi hantamannya kedada tadi gagal, sebaliknya dirinya kini terlempar keudara.

Buru2 To Kong gunakan jurus "le hi ta ting"

Ikan le-hi meletik.

Tapi Tio Jiangpun berjumpalitan untuk mengikutinya, terus menghantam.

To Kong hendak menangkis dengan damparnya, tapi karena sudah meluncur turun jadi kedudukannya (posisi)pun berlainan seperti kalau berada diatas tanah.

Ini sudah disadari To Kong siapa se-konyong2 segera, meronta kesamping.

Tapi Tio Jiang tak mau memberi kesempatan lagi.

Sekali cakar-garuda dijulurkan, siku tangan To Kong kena tertutuk, sehingga saking kesemutan tak bertenaga lagi, tangan To Kong dipaksa melepaskan senjata damparnya.

Tio Jiang memburu kemuka.

Sekali tendang, dampar itu terlempar, justeru tepat mengenai dampar yang hendak digunakan menyerang oleh To Ceng.

GAMBAR 38 Tio Jiang kewalahan dikeroyok To Cing dan To Kong, dua diantara tiga Tianglo atau tetua dari Cu-hun-si.

Dalam gugupnya cepat ia keluarkan sarung tangan bercakar yang diperolehnya dari Nyo Kong-lim, ketika pemiliknya, Kok Kui meninggal, dengan sarung tangan bercakar ini segera ia balas merangsak.

Dalam kesibukannya, Tio Jiang sudah keluarkan seluruh kebisaannya.

Dan hasilnya ternyata boleh dibanggakan.

Tubuh memendak turun dan berjumpalitan ditanah tadi, adalah diambil dari jurus hong-cu-may-ciu, sedang tendangan kearah dampar tadi, adalah jurus thiat-bun-tui (tendangan nyamuk), ajaran dari Sik Lo-sam.

Kemudian tutukan pada siku tangan musuh tadi, diambil dari jurus hay-siang-tiauto, salah atau jurus permainan ilmu pedang to-hay-kiam-hoat.

Karena heran atas hasil yang didapatnya, Tio Jiang terlongong2 kesima.

To Kong tak mau sia2kan ketika sebagus itu, lalu hendak balas menyerang.

Tio Jiang sudah lantas menyambutinya dengan gaya mirip orang mabuk dari ilmu silat hong-cu-may-ciu.

Karena lengannya kanan terluka, gerakan To Kong terhambat.

Dalam dua jurus saja, betisnya, kena ditutuk oleh Tio Jiang lagi.

Kali ini Tio Jiang gunakan tenaga penuh untuk menutuk, jadi sekali kena, rubuhlah To Kong.

Dan karena geram, Tio Jiang susuli lagi dengan tebasan kearah jalan darah lo-tong-hiat dipinggan orang.

Seketika To Kong roboh knock-out.

To Ceng murka dan menyerang dengan kalap.

Tio Jiang menjadi sibuk.

Kabut sudah tipis, dan para anak tangsi tentara Ceng ber-bondong2 keluar dengan berisik sekali.

Tapi anehnya, disekeliling tempat pertempuran itu tiada tampak barang seorang serdadupun.

Adakah dia sudah keliru memasuki, kubu markas panglima musuh, maka tiada sembarang serdadu berani masuk disitu?

Sekalipun demikian, Tio Jiang tetap gelisah.

Bentar hari akan terang tanah.

Seorang gagah tetap akan kewalahan kalau dikeroyok musuh yang berjumlah besar.

Untuk lolos, lebih dulu dia harus dapat merobohkan To Ceng hweshio.

Begitulah dia lalu perhebat serangannya cakar-garuda, tangan menghantam kaki menendang, namun To Ceng hanya bertahan saja, tak mau balas menyerang.

Beberapa serangan Tio Jiang telah macet ditangkis dampar.

Lama kelamaan jengkel juga, dia.

Dengan menggerung keras, dia enjot tubuhnya sampai satu tombak tingginya.

Kemudian dengan cian-kin-tui (tindihan 1000 kati) dia meluncur turun kearah lawan.

Dengan jurus pedang hay-lwe-sip-ciu, dia menusuk punggung sihweshio.

Karena tak keburu berjaga, To Ceng kibaskan tangan kirinya kebelakang untuk menangkis.

Tapi dia sudah menaksir salah.

Hay-lwe-sip-ciu adalah jurus penghabisan dari ilmu pedang to-hay-kiam-hoat.

Jurus itu mengandung 7 serangan kosong 7 serangan isi.

Gerak perobahannya amat luar biasa sekali.

Tambahan lagi, Tio Jiang telah salurkan lwekangnya kearah sang tangan, hingga kelima jari sarung tangan cakar-garuda itu merupakan 5 batang pedang pendek yang tajam.

Begitu tampak To Ceng gerakkan tangannya kiri menangkis kebelakang, sambil miringkan tubuh Tio Jiang segera mendesakkan serangannya.

Terang serangan itu akan memperoleh hasil.

Se-konyong2 terdengarlah letusan dahsyat, berbareng pada saat itu dilamping gunung Hoasan sana tampak api berkobar.

Bum..., bum...., bum..., bum..., kembali terdengar dentuman meriam ber-turut2.

Digunung sanapun lagi2 tampak 4 gulung api besar me-nyala2.

Tio Jiang kaget sampai kucurkan keringat dingin.

Kesepuluh meriam musuh sudah dihancurkan, mengapa masih bisa menembak?

Ah....., syukurlah bom yang ditembakkan itu tak jatuh di-markas2, demikian dia menghibur diri sendiri.

Tapi baru dia berpikir begitu, diatas gunung terbit kebakaran besar.

Menurut letaknya, terang itulah markas pertama yang merupakan tulang punggung Hoa-san.

Pertama kali terdengar dentuman meriam tadi, Tio Jiang sudah lambat gerakannya.

Maka dalam pada itu, To Ceng sudah keburu putar tubuhnya.

Selagi hati Tio Jiang kacau balau, tahu2 sebuah benda bundar hitam menutup mukanya.

Sesaat matanya ber-kunang2, dia tak kuasa berdiri tegak lagi ......

lalu rubuh ketanah tak ingat orang.

Entah sudah berapa lama dia berada dalam keadaan pingsan tadi, ketika ingat kembali, kepalanya serasa sakit seperti mau pecah.

Dadanyapun terasa sesak dan sakit.

Diapun tak mengetahui tempat apa disitu itu.

Dia hendak menghela napas, tapi astaga, tak dapat!

Hai........, kiranya mulutnya telah disumbat orang dengan sebiji buah tho besar.

Ketika pikirannya makin sadar, didapati tangan dan kakinya diikat pada sebuah tiang kayu.

GAMBAR 39 Ketika Tio Jiang sadar kembali, ia merasa kepala sakit, dada jarem, waktu ia pentang matanya, sekeliling gelap gelita, ia hendak menghela napas, tapi tenggorokan se-akan2 buntu, kiranya mulutnya telah disumbat musuh.

Ketika ia meronta, tapi lantas insaf dirinya terikat pada suatu tiang kayu.

Malahan samar2 dalam dilihatnya tidak jauh disebelahnya juga ada suatu bayangan orang yang mungkin juga kena, diringkus musuh.

Tio Jiang goyang2kan kepalanya, untuk coba mengerahkan lwekang, tapi tangannya malah terasa makin sakit, tali pengikatnya tetap tak bisa putus.

Tio Jiang coba gali ingatannya.

Sampai sekian lama barulah dia teringat bahwa letusan meriam tadilah yang menyebabkan dia berayal, hingga dapat dirubuhkan sihweshio.

Dia coba salurkan iImu lwekang "cap ji si heng kang sim ciat", tapi yang paling menjengkelkan yalah buah tho yang menyumpal mulutnya itu.

Kini dia mendapat akal.

Dia beringsut menghampiri ranjang yang terdapat disitu.

Begitu tempelkan mulutnya keranjang, dengan sekuat tenaga dia menggigit buah itu.

Kalau dia tak berbuat begitu, paling2 hanya tak dapat bersuara saja.

Tapi begitu menggigit se-keras2nya .....

dan menimbulkan rasa sakit bukan kepalang hingga matanya sampai kucurkan air mata, alias .....

mewek.

Kiranya buah tho itu bukan buah sesungguhnya, melainkan sebuah besi yang dibuat macam bentuk buah tho.

Sudah tentu dia meng-erang2 kesakitan.

Tiba2 didengarnya tak jauh dari situ ada juga suara orang meng-erang2 (se-sambat) seperti merintih-rintih.

Dari nada suaranya, terang orang itupun mengalami nasib serupa dengannya, yakni mulutnya tersumpal dengan buah besi.

Orang itu ternyata berada dekat sekali, tapi karena suasana disitu teramat gelapnya, jadi tadi dia tak dapat melihatnya.

Oleh sebab senasib sependeritaan, tentu orang itu bukan musuh.

Maka kali ini dia kerahkan kekuatan besar untuk mengeluarkan suara, lebih keras agar dapat didengar orang.

Dan ini ternyata, berhasil.

Orang disisi sana mengauk juga, dan ini telah membuat Tio Jiang girang setengah mati.

"Siao Chiu!"

Hendak mulutnya berteriak, tapi buah besi dimulutnya itu.....

keliwat besar, hingga tak mampu dia mengeluarkan suara kecuali a-u ....

a-u....

saja.

Tapi itu sudah cukup bagi Tio Jiang.

Terang orang yang disebelah sana itu adalah Yan-chiu, yang mengalami nasib serupa dengannya.

Dan untuk kegirangannya, kini setelah berteriak keras2 tadi buah besi didalam mulut itu agak terasa Ionggar sedikit.

Jadi kalau diusahakan, tentu dapat keluar.

Maka dicobanya sekali lagi.

Mulutnya dingangakan se-lebar2nya, lidahnya bantu men-dorong2, dan ber-gerak2lah buah besi itu.

Begitu mengempos semangat, dia menyembur se-kuat2nya, huh........bluk......!

Buah tho besi itu jatuh keluar.

"Yan-chiu sumoay! Bagaimana kau?"

Serunya dengan segeraa setelah--berhasil mengeluarkan sumpal mulutnya. Tapi Yan-chiu hanya "a-u .... a-u...."

Tak dapat menjawab. Terang nona itupun tersumbat mulutnya.

"Sumoay,........ngangakanlah mulutmu lebar2 lalu muntahlah se-kuat2nya!"

Yan-chiu turut apa yang diperentahkan, tapi walaupun hidungnya beberapa kali mendengus keras, tapi tetap tak mampu mengeluarkan sumpalnya itu.

"Sumoay, jangan takut, tunggu kulepaskan ikatan tanganku ini, nanti segera kubantu!"

Seru Tio Jiang sembari kerahkan tenaganya meronta.

Krek....., krek....., akhirnya putuslah tiang kayu dengan mana dia diikat itu.

Karena tiangnya putus, maka Tio Jiangpun jatuh tertelungkup.

Hendak dia segera bangun tapi tak bisa, karena kakinya masih terikat.

Jadi hanya bergelundung kesana kesini saja.

Tiba2 dia menyentuh sebuah benda lunak dan berbareng itu didengarnya suara "a-u ....

a-u...."

Dari atas.

Tahulah kini Tio Jiang, bahwa yang disentuhnya itu yalah kaki Yan-chiu.

Buru2 dia menggigiti tali pengikat kaki sang sumoay.

Kala mulutnya menyentuh tali itu, barulah dia tahu tali itu terbuat dari urat kerbau maka tak heranlah kalau tadi dia sudah tak berhasil untuk memutuskannya.

Begitu tali tergigit putus, saking girangnya kaki Yan-chiu lantas menendang kalang kabut hingga hampir menendang kepala Tio Jiang.

Sudah tentu Tio Jiang ber-kaok2 memperingatkannya.

Kini dia hendak coba bangun.

Begitu kerahkan seluruh kekuatan, dia, loncat bangun dan karena kaki tangan terikat lagi2 dia terjerungup kemuka.

Ini sudah diperhitungkannya, maka dia menjatuhi tubuh Yan-chiu, dan astaga tepat benar jatuhnya itu, muka menempel dengan muka.

Bagi Tio Jiang yang kalbunya hanya ada seorang Bek Lian saja, hal itu tak berarti apa2.

Tapi tidak demikian dengan Yan-chiu.

Walaupun, rapat sekali hubungan dengan sang suko, tapi selamanya belum pernah ia berapat-rapatan pipi dengan Tio Jiang seperti pada saat itu.

Serasa darahnya berdenyut keras dan jantungnya berdetak hebat.

Kini Tio Jiang segera meng-hampus2kan mulutnya ketubuh Yan-chiu untuk mencari bagian tangan.

Sudah tentu sinona merasa geli tapi nyaman juga.

Akhirnya berhasillah Tio Jiang mendapatkan tali pengikat tangan Yan-chiu.

Setelah beberapa kali mengerjakan sang gigi, talipun dapat digigitnya putus.

Saking tak tahan kerinya, begitu bebas Yan-chiu terus jorokkan sang suko.

Lupa ia kalau sang suko itu masih terikat kaki dan tangannya hingga sekali jorok, bluk .........

jatuhlah Tio Jiang.

"Siao-chiu, kenapa?"

Seru Tio Jiang dengan heran. Pada saat itu Yan-chiupun sudah mengeluarkan sumpal besi dimulutnya. Tahu kalau tadi ia yang salah, namun masih tak mau ia mengaku.

"Kau sendiri, mengapa meng-hembus2 tubuhku!"

Sahut Yan-chiu dengan ke-merah2an mukanya.

Kemudian ia loloskan semua tali yang masih mengikat dikaki tangannya.

Karena sekian lama diikat, darahnya serasa berhenti.

Untuk melancarkan, lebih dahulu nona itu berlatih silat sekali dua jurus "Siao-chiu, lekas bukakan tali pengikatku ini!"

Seru Tio Jiang dengan mendongkol karena masih menggeletak ditanah.

Yan-chiu lakukan permintaan itu dengan segera.

Tapi betapapun ia meregangnya, tali yang terbuat dari gulungan urat2 kerbau itu, tak dapat diputuskan.

Tio Jiang menyuruhnya menggigiti.

Tapi sampai beberapa jam, Yan-chiu baru berhasil menggigit putus 3 utas, pada hal tali terbuat dari 8 utas urat digulung menjadi satu.

"Sumoay kau menyingkir dulu!"

Seru Tio Jiang lalu ia kerahkan lwekang sakti "cap ji si heng kang sim ciat".

Begitu ber-gerak2, sisa tali urat kerbau yang belum terputus tadi menjadi berkeretekan putus.

Bukan kepalang girangnya Tio Jiang.

Setelah membuka tali pengikat kakinya, dia segera tarik tangan Yan-chiu untuk diajak pergi.

Sinonapun amat girang.

Sebagai seorang anak yatim piatu, ia sudah anggap suhu dan suci serta sukonya itu sebagai ayah dan kakak2nya.

Maka sembari tempelkan tubuhnya pada bahu sang suko, ia terus hendak loncat.

"Hai, dimanakah kita sekarang ini? Bagaimana kita dapat keluar dari sini ?"

Tiba2 ia berseru memperingatkan Tio Jiang.

Memang tempat disitu, gelap sekali hingga tak tampak apa2.

Mereka lari kian kemari dan dapatkan bahwa tempat itu hanya lebih kurang 5 tombak luasnya tapi dikelilingi oleh tembok yang licin penuh lumut.

Hendak loncat keatas pun tak mampu karena tak kelihatan tepi atasnya.

"Sumoay, bagaimana kau bisa sampai kemari?"

Akhirnya dia keputusan akal beritanya. Mendengar itu, se-konyong2 Yan-chiu marah besar dan mendamprat.

"Lian suci kutu busuk !"

Tio Jiang terperanjat dan menegas kenapa? "Kukatakan kutu busuk, tak peduli siapa dia tetap kutu busuk!"

Sahut sinona genit, siapa setelah mengeluarkan hawa kemarahannya lalu tertawa lagi.

Tio Jiang tak mengerti apa yang dimaksud oleh sang sumoay itu.

Tapi dia menduga, tentu sumoaynya itu ketemu dengan sang suci.

Dan begitu teringat akan orang yang dikenang itu, dengan kontan dia segera menanyakan.

"Surnoay, adakah kau berjumpa dengan Lian suci ?"

"Kalau berjumpa lalu bagaimana? Orang toh sudah tak ingat akan cinta persaudaraan lagi!"

Sahut Yan-chiu dengan dada berkembang kempis.

Tahu ada apa2 yang kurang beres, hati.

Tio Jiang berdebur keras.

Dengan tangannya yang sedingin es dia pijat lengan sang sumoay dengan keras dan menyuruhnya bicara yang jelas.

"Aduh!"

Teriak Yan-chiu karena kesakitan.

"bilang ya bilang, masa lenganku kaupijat se-mau2nya. Ketika aku berjaga diluar tenda, tiba2 disebelah muka sana tampak ada sesosok bayangan mondar-mandir .........."

"Lian suci ?"

Tio Jiang buru2 memutus "Ha, ketika kulihat orang itu berkuncir, kemarahanku timbul seketika. Begitu menghampiri segera kutendangnya dan rubuhlah dia!"

Tutur sigadis tak menjawab.

"Sumoay, kusuruh kau berjaga diluar tenda, mengapa pergi ke-mana2?"

Tio Jiang sesali sang sumoay. Padahal kalau sang sumoay masuk kedalam tenda, bukankah malah berbahaya? Tapi Yan-chiu yang lincah itu tak mau disalahkan, sahutnya dengan tangkas.

"Kalau aku tak kesana, mungkin tak nanti dapat berjumpa dengan Lian sucimu itu !"

Dalam setiap perdebatan memang Tio Jiang selalu tak menang dengan sumoaynya yang genit nakal itu.

Kali itu, diapun terpaksa bungkam saja.

Melihat itu, Yan-chiupun merobah lagunya.

Dengan nada girang ia lanjutkan pula ceritanya.

"Setelah kuberesi serdadu itu, tiba2 kudengar ada orang menghela napas. Dari nada suaranya, terang seorang wanita. Dan akupun kesanalah !"

Sampai disini lagi2 Tio Jiang hendak menyela.

Tapi baru bibirnya bergerak, teringatlah akan watak dara genit itu, jangan2 nanti membikin kurang senang hatinya.

Apa boleh buat, dia batalkan saja niatnya itu.

Kata Yan-chiu pula .

"Tapi ketika aku tiba kesana, ternyata tiada seorangpun juga. Suara itu begitu dekat kedengarannya, tapi sampai sekian lama ku-ubek2an tetap tak dapat menemukannya. Karena jengkel kumemaki . 'Siapa yang main setan2an disitu?' Baru kukeluarkan makian itu, segera kurasa ada angin menyamber dari sebelah belakang! Dan ketika kumenoleh kebelakang, ai, kiranya pecundangku, kedua keledai gundul dari Ci Hun Si! Keduanya masing2 membawa damparnya. Huh, wajahnya itu ngeri kumelihatnya, pucat lesi seperti mayat hidup. Melihat aku, mereka tak berani terus menyerang."

Memang apa yang dikatakan Yan-chiu tak dusta.

Sejak salah seorang dari ketiga hweshio Ci Hun Si itu kena dirobohkan oleh Yan-chiu, mereka agak jeri juga.

Bukan jeri terhadap sinona, tapi terhadap orang dibelakang layar yang diam2 memberi bantuan pada sinona itu.

Tapi dasar nakal, tahu orang tak berani menyerang, Yan-chiu malah memain dengan bandringannya seraya berseru.

"Hai, dua ekor keledai gundul. Tadi nonamu mendengar suara helaan napas dari seorang wanita, adakah kalian yang berbuat tak senonoh ? "

GAMBAR 40 ........

Ketika aku mendadak menoleh, wah, celaka, ternyata dibelakangku sudah berdiri dua kepala gundul, yaitu pecundangku dahulu, To Kong dan To Bu Hwesio, demikian tutur Yan-chiu kepada Tio Jiang.

Memang kedua hweshio bukan lain yalah To Ceng dan To Kong, siapa sudah tentu menjadi murka tak terkira.

Tapi mereka cukup ber-hati2.

Mengapa sinona begitu garang, tentulah dibelakangnya mempunyai andalan yang lihay.

---oodw0tahoo---BAGIAN 15 .

LUPA DARATAN "Nona kecil, besar sekali nyalimu berani masuk kedalam sarang macan sini!"

Sahut mereka dengan tertawa dingin.

"Huh, apanya yang perlu ditakuti ?"

Ujar Yan-chiu.

Ucapan itu yang sebenarnya karena kegenitan sinona, ternyata, diterima lain oleh kedua hweshio.

Kalau sinona sudah begitu tabah, tenang tentu mempunyai pelindung yang sakti.

Dan ini makin membuat mereka tak berani gegabah turun tangan.

Sebaliknya sigenit makin melonjak.

Mengira orang jeri, ia makin garang.

Tapi justeru itu telah membuka kedoknya sendiri, dan menyebabkan urusan jadi runyam.

Yan, chiu menggunakan kesempatan bagus itu untuk mengunjukkan kecakapannya bermain lidah, mencuci maki orang sampai meringis seperti monyet kena terasi.

Antara lain dikatakan kedua hweshio itu adalah bangsa hweshio cabul yang suka menodai kehormatan kaum wanita.

Sam-tianglo dari Ci Hun Si namanya cukup bersemarak didunia persilatan.

Sudah tentu lama2 panas juga telinga mereka dikocok begitu macam oleh seorang nona.

Begitu sang mata gelap, To Ceng sudah menerjang maju mencengkeram.

Karena tak keburu berkelit, Yan-chiu sudah kena dicengkeram.

Masih untung To Ceng berlaku murah karena jeri akan menerbitkan kemarahan siorang sakti yang dikiranya melindungi sinona.

Kalau tidak begitu, tentu jiwa Yan-chiu sudah amblas.

Yan-chiu diam2 mengeluh celaka.

Untuk melawan, terang ia tak ungkulan.

Satu2nya daya yalah menghadapinya dengan siasat tipuan.

Maka dengan wajah tenang menyungging senyum, ia menghardik.

"Bagus, hweshio kurus, jadi betul2 kau tak takut?"

"Takut apa?"

Tanya To Ceng coba memancing keterangan dari sinona, karena sebenarnya diapun gelisah ragu2. Yan-chiu ketawa cekikikan, serunya.

"Ho...., jadi kalian sudah lupa akan kejadian diluitay tempo hari ? "

To Ceng melengak. Baru dia hendak membuka mulut atau Yan-chiu sudah berpaling kebelakang seraya berseru keras.

"Cianpwee, silahkan kemari lekas!"

Seruan itu sudah tentu membuat kedua hweshio itu terbang semangatnya. To Ceng agak menyurut kebelakang dan Yan-chiu segera meronta. Sekali 'bergerak."

Berhasillah ia lepas dari cengkeram To Ceng.

Andaikata saat itu ia terus lari, belum tentu To Ceng dan To Kong berani mengejarnya.

Tapi dasar nona nakal, ia hendak bikin pembalasan pada To Ceng yang menyakiti lengannya tadi.

Sekali loncat kesamping, ia hantam pundak To Ceng.

Karena tak mencluga, bahu To Ceng kena dihantam telak.

Walaupun lwekang sinona belum tinggi begitu pula tenaganya tak seberapa kuat, tapi karena pukulan itu tepat sekali jatuhnya, mau tak mau To Ceng meringis kesakitan juga.

Habis memukul, Yanchiu hendak lari, tapi To Ceng yang sudah murka itu segera mencengkeram lengannya.

lagi, sehingga kini Yan-chiu harus meringis kesakitan pula.

Kini tahulah sudah hweshio itu, bahwa seruan sinona tadi hanyalah tipu muslihat untuk menyiasatinya saja.

Yan-chiu segera didorong kemuka disuruh masuk kedalam sebuah tenda.

Karena kerasnya dorongan itu, Yan-chiu terjerembab jatuh kedalam tenda.

Tapi begitu ia mendongak, girangnya bukan kepalang.

"Lian suci !"

Teriaknya.

Dibelakang meja tulis besar yang berada didalam kubu itu, duduklah seorang lelaki setengah tua.

Wajahnya keren, mengenakan pakaian pembesar kerajaan Ceng.

Berdiri disebelahnya, adalah seorang wanita muda yang sangat cantik.

Wanita yang ter-iba2 dihadapan sinar lampu, bukan lain ialah Bek Lian.

Mendengar seruan Yan-chiu, Bek Lian berpaling kebelakang dan menyahut dengan enggan sekali, se-olah2 menganggap pertemuan dengan sang sumoay yang telah lama berpisah itu tiada berarti apa2.

Hal mana sudah tentu membuat Yan-chiu heran.

"Li congpeng, sebernarnya kemanakah perginya engkoh Go? Mengapa sampai sekarang belum, pulang?"

Kedengaran Bek Lian bertanya kepada si pembesar itu. Belum sipembesar yang disebut "Li congpeng"

Itu menyahut, Yan-chiu yang sudah tak sabar lagi segera berseru.

"Lian suci, mengapa kau berada disini? Apakah juga ditangkap oleh kedua keledai.......eh, kedua hweshio itu ?"

Semula Yan-chiu hendak mengatakan "keledai gundul", tapi mengingat dirinya masih dalam tawanan orang, jadi terpaksa dia robah perkataannya seperti diatas.

"Siao-Chiu, jangan mengganggu aku dulu, karena aku masih mempunyai urusan,"

Sahut Bek Lian dengan kurang puas, lalu ulangi lagi pertanyaannya kepada sipembesar.

"Li Congpeng, kalau kau tak mengatakan, akupun tak mau menurut lagi. !"

Sipembesar kedengaran batuk2.

Yan-chiu yang cerdas segera memastikan bahwa pembesar itu tentu Li Seng Tong, itu panglima besar dari tentara Ceng.

Mengira sang suci mengancam hendak membuka rahasia militer, buru2 Yan-chiu menyeletuk.

"Bagus, Lian suci, kalau dia berani rnembandel, bongkar saja rahasianya!"

"Siao Chiu, apa kau tahu dimana engkoh Go?"

Tanya Bek Lian seraya berpaling. Sudah tentu Yan-chiu heran dan menegas.

"Sore tadi engkoh Go keluar, tapi sampai sekarang belurn pulang, ah......aku cemas setengah mati!"

Kata Bek Lian, gelisah.

Mendengar itu Yan-chiu menghela napas.

Kiranya sang suci itu sudah begitu ter-gila2 pada kekasihnya.

Bagaimana The Go ditangkap oleh Thay-san sin-tho dimarkas ke 1, telah diketahui Yan-chiu.

Namun bagaimana akhirnya pemuda itu telah berhasil melarikan diri, Yanchiu sudah tak tahu, maka ia mengatakan seenaknya saja.

"Manusia rendah macam begitu, biarkan saja digebuki orang, perlu apa kau tanyakan?"

Bek Lian meradang. Dengan sorot mata murka, dia melejit kehadapan Yan-chiu.

"Siao Chiu, mengapa kau berani omong tak keruan ?"

Bentaknya dengan sengit.

Yan-chiu heran atas sikap sang suci itu.

la tak tahu, bahwa sejak Bek Lian serahkan hatinya kepada The Go, ia sudah buta segala apa.

Apapun tak peduli baginya, kecuali keselamatan diri orang yang dicintainya itu.

Sebaliknya Yan-chiupun tak kurang sengitnya.

Masa dibilangi baik2 malah kurang senang.

"Siapa yang ngaco belo? Cian-bin Long-kun sudah didalam tangan suhu dan Thay-san sin-tho, mana dia bisa lari ?"

Kiranya Bek Lian tak kenal siapakah Thay-san sin-tho itu. Namun demi didengarnya nama sang ayah, terbanglah semangatnya. Cepat berpaling kearah sipembesar, ia berseru.

"Li Congpeng, mengapa kau biarkan engkoh Go jatuh ketangan musuh ?"

"Cian-bin Long-kun pergi menyelidiki keadaan markas ke 1 di Hoasan, mana aku tahu keadaannya waktu ini?"

Li Seng Tong balas bertanya dengan nada berat.

Hati Bek Lian serasa hancur, butir2an air mata mengucur turun dari kelopak matanya.

Melihat sang suci begitu dekat hubungannya dengan sipembesar, lekas2 Yan-chiu minta sang suci mendesak sipembesar agar membebaskan dirinya.

Tapi dalam hati Bek Lian, hanya ada seorang Cian-bin Long-kun, mana ia mau menggubris sang sumoay lagi.

Sekali bergerak, melesatlah Bek Lian keluar dari tenda situ.

Hal mana membuat Yan-chiu gusar bukan kepalang.

Mulutnya segera me-maki2 kalang kabut.

"Jiwi taysu, jebeloskan budak perempuan itu kedalam sumur kering sana!"

Perintah Li Seng Tong pada kedua hweshio tadi. Bercerita sampai disini, tiba2 Yan-chiu bertepuk tangan kegirangan, serunya.

"Suko, ya benar, inilah sebuah sumur kering!"

Tapi Tio Jiang diam saja tak mau menyahut.

"Suko, kau dimana?"

Seru sigadis heran.

Namun sampai dua kali ia ulangi pertanyaannya itu, tetap Tio Jiang tak menyahut.

Karena tempat mereka berdua situ adalah didasar sebuah sumur kering, jadi gelapnya bukan main.

Yan-chiu ulurkan tangan me-raba2, astaga, itulah lengan sang suko, siapa terus ditariknya keras2.

"Suko, apa kau sudah gagu,?"

Disentak begitu, baru Tio Jiang gelagapan.

Kiranya sewaktu mendengar cerita "Yan-chiu, bagaimana sikap Bek Lian yang begitu mesranya kepada The Go itu, hati Tio Jiang seperti dibanting hancur.

Dan sampai sekian lama dia ter-longong2 diam seperti kehilangan semangat.

Seruan Yan-chiu sampai dua kali tadi, sampai tak didengarkannya.

Kasihan anak itu.

Gadis yang siang malam dirinduinya itu, ternyata menyintai lain orang.

Dan kalau Tio Jiang berlaku begitu, sebenarnya adalah gara2 sinona genit Yan-chiu.

Memang Bek Lian sedari dulu tak mempunyai hati kepada sang sute.

Hanya karena permainan Yan-chiu yang sudah memberikan sebuah peniti kupu2, maka Tio Jiang mengira kalau sucinya itu mau membalas cintanya.

Memang cinta itu buta.

Mendadak dia tersadar.

Bek Lian tentu menyusul The Go keatas Hoasan dan dengan begitu bukankah akan celaka dibombader oleh meriam2 tentara Ceng tadi?

Sukar mencari seorang lelaki seperti Tio Jiang.

Tahu sang suci tak menyintainya, namun dia tetap tak berobah hatinya.

"Siao Chiu, hayo lekas keluar dari tempat ini. Lian suci tentu menyusul The Go keatas gunung, jangan2 ia nanti mendapat kecelakaan kalau kita tak keburu menolongnya!"

"Lian suci sudah tak menghiraukan kita, mengapa kau mau menolongnya?"

Seru Yan-chiu dengan uring2an demi diketahui sang suko itu masih mabuk cinta. Tio Jiang tak pandai main lidah, jadi apa-yang dikandung dalam hati terus dinyatakan saja, ujarnya.

"Siao Chiu, Lian suci dengan aku mempunyai ikatan janji seumur hidup bagaimana aku bisa tinggal diam saja ?"

Mendengar itu, pecahlah ringkik tertawa sinona genit. Sudah tentu Tio Jiang melongo.

"Sumoay, kau ketawai apa?"

Tanyanya.

Bermula Yan-chiu segera akan menceritakan saja duduk perkara yang sebenarnya.

Tapi terkilas pada pikirannya, lebih baik jangan sekarang, karena siapa tahu nanti Tio Jiang akan kalap benturkan kepala didinding sumur situ.

"Jiang suko, aku ewah dengan pikiranmu yang buta itu !"

"Kan sudah selayaknya berbuat begitu, karena hati kami sudah terikat cinta"

Tanpa ragu2 lagi Tio Jiang membela diri.

Diam2 Yan-chiu sangat kagumi kejujuran sang suko.

Rasa sympathinya makin besar.

Dahulu ia anggap Tio Jiang itu hanya sebagai saudara seperguruan saja.

Kini melihat isi hati Tio Jiang itu, ia menganggap itulah seorang pemuda yang di-idam2kan oleh setiap gadis, mencinta setulus hati dan rela berkorban untuk orang yang dicintainya itu.

Memikir sampai disitu, mau tak mau berobahlah wajah Yanchiu ke-merah2an karena jengah.

"Suko, marilah kita cari jalan keluar dari sini!"

Akhirnya ia terima ajakan sang suko.

Begitulah mereka berunding cara bagaimana dapat keluar dari dasar sumur kering itu.

Tengah mereka asyik begitu, se-konyong2 disebelah atas sana tampak ada sinar terang memancar kebawah.

Buru2 Yan-chiu tarik sukonya kesamping.

,Mungkin ada orang turun kemari, jangan sampai kelihatan"

Bisiknya. Begitulah keduanya segera tempelkan tubuh rapat2 kedinding sumur. Benar juga tak antara lama, terdengar ada orang berkata.

"Hi........, mengapa tak kelihatan? Jangan sampai kedua anak kurang ajar itu lolos!"

"Jangan ngoceh tak keruan! Mereka diikat dengan tali urat kerbau, mulutnya disumpal buah besi, sekalipun seorang anak dewa tak nanti dapat lolos juga!"

Sahut kawannya. Jadi terang yang disebelah atas itu ada dua orang. Habis berkata begitu, terdengarlah salah secrang dari mereka tertawa, serunya.

"Oi, budak perempuan itu boleh juga dah ! Lauko, bukankah kau bermaksud turun kebawah untuk bercumbu2an dengan ia?"

Kawannya itu menyambutnya dengan suara ter-kekeh2, ujar.

"Lauhia, jangan kasih tahu siapapun juga. Memang anak perempuan itu cukup cantik; Memikat hati orang !"

Kalau kedua orang disebelah atas itu bercanda dengan girangnya, adalah Tio Jiang menjadi murka sekali.

Tapi bagaimana lagi, dia tak dapat berbuat apa2.

Yan-chiu sembari jinjit, berbisik kedekat telinga sang suko.

"Suko, kata mereka aku ini cantik, bagaimana pendapatmu?"

"Sumoay, dalam keadaan begini kau masih suka ber-olok2 ?"

Sahut Tio Jiang.

"Hayo bilang tidak, apakah aku ini buruk rupa?"

Yan-chiu sudah mulai meradang. Tio Jiang yang tak bisa berbohong itu segera menyahut.

"Sudah tentu tak buruk dan emangnya cantik sekali !"

Yan-chiu tertawa puas dan sembari makin menempel rapat ia bertanya pula.

"Kalau melihat aku, kau tergerak hatimu tidak, suko?"

Bohwat alias kewalahan betul2 Tio Jiang saat itu.

Dengan deliki mata ia memandang Yan-chiu.

Justeru pada saat itu, sorot dari atas itu makin menerangi dasar sumur situ.

Niatnya dia hendak damprat sang sumoay, tapi demi matanya tertumbuk akan wajah sinona yang tampaknya makin cantik dalam keadaan tak berhias serta rambut terurai itu, mau tak mau tergeraklah hati Tio Jiang.

Darahnya tersirap, ingin sekali dia makin merapat kepada sinona nakal itu untuk menciumnya.

"Tergerak!"

Akhirnya meluncurlah kata2 dari mulutnya. Tapi pada lain saat, dia merasa ucapannya itu keterlaluan, maka buru2 menyusulinya.

"Ah, bukan, Siao Chiu. Kau tahu aku sudah mencintai Lian suci, maka sudah tentu tak dapat ........"

Geli Yan-chiu bukan terkira. Tapi menjaga tak sampai suara ketawanya kedengaran, ia tahan se-dapat2nya hingga tubuhnya saja yang menggigil seperti orang kedinginan. Tio Jiang makin ke-heran2an.

"Engkoh tolol, siapakah yang ingin kau peristerikan! Tak usah kau katakan yang bukan2 !"

Akhirnya Yan-chiu berkata, sehingga wajah Tio Jiang merah padam ke-malu2an.

Diam2 Yan-chiu melamun jauh.

Begitu murni cinta Tio Jiang pada sang suci, walaupun pada hakekatnya sang suko itu hanya menjadi korban perolokannya.

Kelak kalau hal itu diketahuinya dan suko itu tak memarahi bahkan mau memperisterikan ia (Yan-chiu), bagaimanakah perasaannya?

Ah, Liau Yan-chiu, Liau Yanchiu, apakah kau suka terima peminangan Tio Jiang itu?

Atau kau tolak dia?

Demikian Yan-chiu ber-tanya2 dalam lamunannya.

Dan tak dapat ia memberi jawaban pada pertanyaan yang dikhayalkan itu.

Itulah dara Lo-hu-san yang genit lincah!

Umurnya sih baru lebih kurang 16 tahun, dan ketika berada di Lo-hu-san ia selalu jengah memikirkan soal hubungan wanita dengan pria itu.

Tapi mengapa pada saat itu ia melamunkan yang tidak2, bertanya pada hatinya sendiri bagaimana jika kelak dipinang oleh sang suko?

Itulah pembaca, tanpa disadari nona genit itu telah terpanah asmara, Orang yang menjadi tambatan idam2annya, bukan lain adalah sukonya sendiri, Tio Jiang, jejaka bodoh yang polos itu.

Saat itu dari sebelah atas meluncurlah seutus tali besar hingga sampai kedasar sumur.

Setelah itu lalu ada dua orang serdadu Ceng melorot turun dari tali itu.

Begitu Mereka sudah berada di-tengah2, Tio Jiang melesat maju untuk, menarik tali itu.

"Lauko, jangan bergurau. Sumur ini sangat dalam, kalau sampai jatuh, wah, jangan main2!"

Seru salah seorang pada kawannya ketika tali ber-gerak2.

Dan sekali Tio Jiang menyentak, maka buyarlah impian yang indah dari kedua serdadu Ceng tadi.

Tubuhnya serasa dihantam oleh suatu tenaga besar dan saking sakitnya mereka dipaksa untuk lepaskan cekalannya ......

bum, .......

bum, segera kedengaran suara dua sosok tubuh jatuh dari atas sekira satu tombak tingginya.

Jatuhnya begitu payah hingga lebih banyak matinya daripada hidup.

"Lekas-naik keatas!"

Seru Tio Jiang seraya melambaikan tangan pada sumoaynya.

Sekejab saja, keduanya sudah berada diatas.

Saat itu sudah hampir sore.

Entah sudah berapa hari mereka dikurung dalam sumur kering itu.

Ketika melihat kesekelilingnya, ternyata kubu2 tentara, Ceng tadi sudah tak kelihatan disitu, entah pindah kemana.

Sedang dimarkas no.

1 gunung Hoasan sana tampak menjulang gulungan asap.

Teringat Tio Jiang sewaktu berkelahi dengan To Ceng dan To Kong, memang dimarkas ke 1 sana mendadak timbul kebakaran.

Adakah markas itu kini sudah terbakar habis ?

"Siao Chiu, hayo lekas keatas gunung!"

Serunya dengan gugup. Tapi Yan-chiu lebih terliti. Ketika habis mendengarkan keterangan Tio Jiang tadi, segera ia menyatakan pendapatnya.

"Suko, kalau memang tentara Ceng menang dan markas Hoasan no. 1 itu sudah terbakar, sukar untuk kita naik kesana. Taruh kata kita dapat sampai kesana, toh sama artinya dengan mengantar jiwa saja!"

Tio Jiang tak dapat membantah. Sampai sekian saat dia diam saja. Tiba2 dia banting2 kaki berseru.

"Waktu Lian suci naik keatas gunung, tentara Ceng tengah melancarkan serangan meriam2-nya, jangan2 ia mendapat kecelakaan. Biar bagaimana aku harus kesana!"

Yan-chiu tak dapat mencegah kemauan, sang suko itu.

Apa boleh buat iapun lari mengikutnya naik keatas gunung.

Disepanjang jalan ternyata tak menemui halangan suatu apa, karena dimarkas ke 1 itu sudah menjadi rata dengan tanah.

Mayat2 bergelimpangan disana-sini, gedung permusyarahan sudah menjadi tumpukan puing, Hanya ada sisa2 bangunan yang masih menyala lelatu apinya.

Tio Jiang dan Yan-chiu heran melihat pemandangan itu.

Baru semalam dia tinggalkan markas itu, mengapa, kini menjadi tumpukan puing?

Kemana perginya tentara Ceng itu?

Kemana pulakah beradanya rombongan orang gagah gunung Hoasan serta suhunya?

Keduanya kesima dihadapan tumpukan puing2 dan sisa api unggun yang membisu dihadapannya.

Tiba2 Yan-chiu mendapat pikiran.

Diantara sekian mayat yang bergelimpangan itu, masakan tiada seorang yang masih bernyawa, dan ini bisa ditanyai keterangan.

Setelah disetujui Tio Jiang, keduanya segera melakukan pemeriksaan pada korban2 disitu.

Keduanya adalah orang2 persilatan, jadi nyalinya cukup besar.

Tapi walaupun sampai sekian saat meriksa kesana-sini, ternyata semua korban2 yang bergelimpangan disitu sudah menjadi mayat.

Kalau tidak kepalanya hangus, mukanya hancur atau dadanya tertusuk senjata tentu tulang belulangnya remuk.

Betul diantaranya beberapa serdadu Ceng, tapi sebagian besar adalah anak buah dari gunung Hoa-san.

Dari keadaannya, mereka itu sudah lama menjadi mayat.

"Hai .....mayat2! Mengapa kamu membisu saja!, hayo lekas bersuara!"

Mendadak Yan-chiu berseru nyaring.

Mendengar sang sumoay unjuk ugal2an lagi, walaupun sedang resah hati, Mau tak mau Tio Jiang tertawa kecut juga.

Tapi diluar dugaan seruan Yan-chiu tadi sudah bersambut dengan suara rintihan.

Mendengar itu segera Tio Jiang dan Yan-chiu menghampiri kearah datangnya rintihan itu.

Segera Yan-chiu mengenali orang itu sebagai anak buahnya sendiri.

Dengan napas ter-engah2 orang itu berkata.

"Li-tayong ......meriam, lihay sekali.......sekalian saudara sama melarikan diri"

"Ceng Bo siangjinn berada dimana?"

Tanya Yan-chiu.

Orang itu ulurkan tangannya menunjuk kearah barat daya (barat selatan).

Hendak dia mengatakan sesuatu, tapi tiba2 kepalanya terkulai kedada dan putuslah jiwanya.

Yanchiu segera ajak sang suko untuk mencari suhu mereka.

Setelah mengawasi sekeliling tempat itu dengan elahan napas terharu, segera keduanya ayunkan langkahnya kearah barat.

Namun dalam hati Tio Jiang tetap mengandung pertanyaan yang tak dapat dijawabnya.

Terang semalam dia telah rusakkan 10 pucuk meriam musuh, mengapa meriam2 itu masih bisa muntahkan pelurunya.

Adakah meriam2 yang dirusakkannya itu palsu dan yang tulen masih disembunyikan mereka?

Keduanya tak faham akan jalanan digunung Hoa-san situ.

Mereka kira ke 72 markas itu terletak dibelakang satu dengan yang lain.

Mereka tak mengetahui bahwa-pegunungan Hoa-san itu luas sekali sampai beberapa ratus Ii kelilingnya.

Benar pegunungan itu disebut Hoa-san, tapi sebenarnya entah berapa jumlahnya puncak2 dari pegunungan itu.

Hampir sejam lebih mengitari gunung itu, tapi makin lama makin tersesat jalan.

Bukan jalanan yang ditemuinya, tapi, padang belantara daerah pegunungan yang sunyi senyap.

Tiba2 Yan-chiu yang berjalan dimuka, berhenti.

Tio Jiang buru2 menghampirinya.

Kiranya dibawah kaki tempat mereka berdiri itu, adalah sebuah lembah yang tak terkira dalamnya.

Begitu curam lembah itu, hingga keduanya tak dapat melihat jelas dasarnya.

Ketika terasa ada angin menyambar, maka dibawah lembah sana segera terdengar suara menderu2.

Ketika itu adalah permulaan musim semi, hawa udarapun masih dingin.

Puncak karang dimana keduanya berada itu, kira2 ada 5 atau 6 tombak luasnya.

Lembah yang memisahkan puncak itu dengan puncak karang yang disebelah sana, mirip dengan bentuk sebuah mulut yang aneh.

Yan-chiu hendak kembali kebelakang, tapi tiba2 Tio Jiang mengeluarkan seruan tertahan.

"Hai, lihatlah sumoay, siapakah yang berada dipuncak karang sebelah muka itu?"

Yan-chiu mengawasi kemuka.

Disebelah sebuah puhun siong tua yang tumbuh diatas puncak karang sana, tampak ada seorang wanita berdiri tegak.

Sambil menutupkan sepasang tangannya pada kedua belah pipi, wanita muda itu memandang kesebelah utara.

Benar karena menghadap kesebelah sana maka mukanya tak tertampak, namun dari bentuk tubuhnya yang molek langsing itu, tentulah ia itu seorang wanita yang cantik.

Dan dari potongan tubuhnya itu, kedua suko dan sumoay itu segera dapat mengenalinya.

Ya, tak salah lagi, itulah Bek Lian, suci mereka yang manis itu.

"Lian suci, kau disitu ....... mengapa?"

Yan-chiu segera meneriakinya.

Diulangnya sekali lagi teriakan itu, namun rupanya Bek Lian tak mau mendengari serta masih tetap berdiri membelakangi.

Kuatir kalau teriakan sumoaynya itu kurang keras, make Tio Jiang segera empos lwekangnya "cap ji si heng kang sim ciat"

Dan berseru lantang sekali.

"Lian,-suci!"

Karena ilmu lwekangnya maju pesat sekali, maka teriakan Tio Jiang itu menggelegar berkumandang jauh sekali. Disana sini segera riuh, sambut menyambut kumandang suara "Lian-suci"....

"Lian-suci"...... wanita itu benar2 tergetar dan berpaling kebelakang. Kini walaupun terpisah dengan jurang yang lebarnya 6 atau 7 tombak, tapi satu sama lain dapat melihat dengan jelas, memang wanita itu benar Bek Lian adanya. Hanya saja wajahnya tampak sayu muram, air matanya ber-linang2. Berjumpa dengan orang yang dirindukan, Tio Jiang ingin menumpahkan seluruh isi hatinya, tapi entah bagaimana, makin bernapsu menyatakan makin mulutnya berat sehingga akhirnya tak dapat die bicara same sekali. Setelah sejenak memandang kepada kedua saudara seperguruannya itu, tanpa mengucap apa2, Bek Lian berpaling kebelakang pula. Ia tampak memandang kearah utara lagi.

"Lian-suci!"

Teriak Tio Jiang dengan se-kuat2nya. Mestinya Bek Lian mendengar seruan itu, tapi ternyata ia tetap berdiam diri saja.

"Hai....., Lian-suci yang manis, apakah yang kau pandang itu ?"

Tanya Yan-chiu Sembari menyengir kurang senang, lalu berjengket dengan ujung kaki untuk melihat kesebelah utara.

Tapi disana ia tak melihat sesuatu yang aneh.

Buru2 ia panjat sebuah puhun yang tumbuh didekat situ untuk melongok kearah tempat Bek Lian berdiri.

Begitu mengawasi, saking terkejutnya hampir saja ia jatuh dari pohon.

Melihat tingkah Yan-chiu yang mencurigakan itu, Tio Jiang pun segera loncat keatas puhun.

Kejutnya, malah melebihi Yan-chiu tadi.

Dengan gigi bercakrukan berserulah dia ter-putus2.

"Lian-suci! Jangan..........loncat, jangan........Ioncat !"

Kiranya puncak karang tempat Bek Lian berdiri itu hanya satu tombak luasnya.

Disebelah depan pun terdapat sebuah lembah yang teramat curamnya.

Dari atas pohon situ, dapatlah dilihatnya apa yang terjadi dengan Bek Lian.

Bek Lian tengah mondar mandir ditepi puncak, sedang ketika itu angin berembus dengan kuatnya.

Pakaiannya yang bergontaian tertiup angin itu, sepintas pandang seperti orangnya sudah tengah ayunkan tubuh loncat kebawah Iembah.

Sekali loncat tentu tamatlah riwayatnya.

Maka tak heranlah ketika Yan-chiu dan Tio Jiang melihat hal itu, mereka sama berdiri bulu romanya.

Tio Jiang ulangi lagi seruannya beberapa kali, namun Bek Lian tetap tak mengacuhkan.

la memandang jauh kebawah lembah, air matanya bercucuran turun seperti hujan dicurahkan.

Tio Jiang seperti semut diatas kuali panas.

Hendak dia loncat kesana, tapi apa, daya untuk melintasi jarak pemisah yang antara 6 tombak jauhnya itu.

Sekalipun ilmunya mengentengi tubuh lihay, namun tak nanti dia dapat meloncati jarak itu, kecuali dia bisa tumbuh sayap.

Tiba2 terkilas dalam pikiran Tio Jiang, mengapa sang suci yang kepandaiannya masih kalah dengan dia itu, dapat naik kepuncak itu terpisah lima enam-tombak jaraknya, jangan2 sang suci itu pergi kesana dengan jalan melompati selat lembah itu.

Dan kalau sang suci bisa, mengapa dia tidak?

Memikir sampai disini, tanpa terasa dia meniru tingkah Sik Lo sam, menampar mukanya sendiri sembari memaki.

"Huh, Tio Jiang....., Tio Jiang....... Macammu mana berharga mencintai Bek Lian. Masa selat lembah begitu saja kau sudah jeri melompatinya ?"

Melihat kelakuan sang suko yang menampar muka dan bicara sendiri itu, Yan-chiu heran juga.

Tapi Tio Jiang tak ambil peduli lagi.

Loncat turun dari atas puhun, segera dia mundur kebelakang sampai belasan langkah.

Sekali enjot.

dia terus berjumpalitan sampai 3 kali kemuka.

Dan begitu tiba ditepi puncak dia menjejak se-kuat2nya.

Tubuhnya segera melayang diudara.

Apa yang didengarnya hanyalah deru angin menyambar disisi telinganya dan jeritan Yan-chiu dari arah belakang.

Begitu memandang kesebelah bawah, bulu romanya berdiri tegak.

Dan tepat pada saat itu, dirasanya sang tubuh melayang turun kebawah.

Buru2 dia empos semangatnya.

Tapi tepat pada detik itu, tiba2 terdengarlah suara auman senjata rahasia.

Lima bintik sinar perak, menyambar kearahnya.

Ketika hendak menurun tadi, buru2 Tio Jiang pijakkan kaki kiri nya keatas kaki kanan.

Dan sekali, enjot, dia melambung lagi keatas.

Tapi samberan kelima biji senjata rahasia itu luar biasa cepatnya.

Malah ketika sampai ditengah jalan, senjata2 rahasia itu sama berpencaran sendiri, menghantam bagian kepala, tubuh dan kaki.

Sesaat itu tahulah Tio Jiang, bahwa senjata rahasia itu adalah Bek Lian yang menyabitkan.

Itulah yang disebut liuyap-piau (piau yang bentuknya seperti daun puhun liu), permainan yang diyakinkan dengan tekun oleh Bek Lian sewaktu masih digunung Giok-li-nia.

Dalam gugupnya, Tio Jiang segera berjumpalitan.

Tapi sayang karena latihannya ilmu mengentengi tubuh masih belum sempurna, maka walaupun kelima biji liu-yap-piau itu dapat dihindari, namun tubuhnya meluncur turun kebawah lembah.

Lembah itu tak terukur dalamnya.

Dalam sekejab saja, lenyaplah sudah bayangan Tio Jiang.

Sewaktu Tio Jiang hendak loncat tadi, Yan-chiu sudah akan turun dari puhun untuk mencegahnya.

Tapi ia kalah cepat dengan sang suko yang sudah loncat kemuka itu.

Dengan menjerit kaget, dia awasi tubuh sukonya.

Dalam hati, ia mendoa mudah2an sukonya dapat berhasil melintasi lembah yang berbahaya itu.

Tapi bukan kepalang kagetnya demi dilihatnya Bek Lian dengan geram sekali sudah menaburkan liu-yap-piau.

Liu-yap-piau itu terbuat dari baja lemas pilihan.

Jumlahnya hanya belasan saja.

Jadi kalau tak bertemu dengan musuh tangguh, Bek Lian tak sembarangan mau menggunakannya.

Dan rasa kagetnya makin men-jadi2 demi setelah berjumpalitan tubuh Tio Jiang lalu meluncur kebawah lembah.

Nona yang biasa lincah tangkas itu, pada itu tak dapat berbuat apa kecuali ter-longong2 sambil mengucurkan air mata, kesedihan.

Tiba2 disebelah muka sana didengarnya Bek Lian juga ter-isak2 menangis pe-lahan2.

Kiranya nona itu juga menangis tersedu sedan.

Sebenarnya Yan-chiu tak mau mengadu biru dalam hubungan Tio Jiang dengan Bek Lian.

Tapi dalam beberapa hari ini, demi difahaminya betapa kesungguhan hati sang suko mencintai sucinya itu, iapun tergerak perasaannya.

Pula menilik kelakuan yang tak selayaknya dari sang suci itu, sympathi Yan-chiu terhadap sukonya, makin tebal.

Maka tanpa disadari, timbullah rasa bencinya terhadap Bek Lian.

"Orangnya kan sudah jatuh kebawah, masa ber-pura2 menangis seperti sang kucing menangisi sitikus saja!"

Serunya dengan sinis. Saat itu angin reda, jadi Bek Lian dapat mendengar jelas apa yang dikatakan sang sumoay itu.

"Kalian tak usah pedulikan aku!"

Sahutnya seraya mendongak.

"Apa ?"

Menegas Yan-chiu karena tak mengerti ucapan orang. Bek Lian gentakkan kepalanya tertawa dingin .

"Siapa yang mengurusi aku, tentu akan turun kebawah lembah sana. Kalau seorang ayah boleh tak mengakui anaknya, mengapa seorang suci tak boleh mengusir sutenya ?"

Mendengar sang suci mengoceh tak keruan, Yan-chiu maju selangkah seraya berseru.

"Mana suhu ?"

Bek Lian menangis.

"Entah, tak tahulah !"

Sahutnya kemudian. Yan-chiu makin gusar, tanyanya pula.

"Dan mana Cian-bin long-kun-mu itu ?"

Mendengar nama itu disebut, serentak majulah Bek Lian menghampiri ketepian puncak.

"Jadi kau tahu tentang engkoh Go?"

Tanyanya sembari menangis.

Kini Yan-chiu timbul rasa kasihannya.

Bek Lian menyintai The Go sebenarnyapun bukan suatu kesalahan.

Mungkin sang suhu menentangnya, jadi sucinya itu.

lalu mengambil putusan pendek begitu.

"Lian suci, bagaimana kau bisa berada disitu ? Sukalah memberitahukan agar aku bisa menyusul ketempatmu situ,"

Katanya dengan lemah lembut. Tapi diluar dugaan, Bek Lian segera menyahut dengan gugup .

"Jangan datang kemari !" .

"Mengapa ?"

"Ya, tak perlu kemari. Kalau kau berani datang sini, aku tentu tak sungkan lagi !"

Kata Bek Lian. Tapi dasarnya bengal, Yan-chiu menantangnya.

"Tapi aku justeru hendak kesitu !"

Katanya sembari mengambil sikap seperti hendak melompat.

Hal itu sebenarnya hanya untuk mengetahui bagaimana reaksi sang suci.

Biasanya Bek Lian cukup faham akan sifat2 yang nakal dari sumoaynya itu.

Tapi karena semalam ia menderita goncangan bathin hebat, pikirannyapun menjadi kalut.

Demi dilihatnya Yan-chiu hendak melompat, ia terus taburkan 5 biji liu-yap-piau.

Tadi memang sebelah kaki Yan-chiu sudah sengaja diacungkan kemuka, jadi bergelantungan diatas lembah.

Begitu liu-yap-piau menyambar, cepat2 ia dongakkan tubuhnya kebelakang.

Benar liu-yap-piau dapat dihindari, tapi batu ditepian puncak yang diinjak dengan sebelah kaki itu tiba2 sol alias longsor.

Sudah tentu tubuhnya terhuyung dan jatuh kebawah lembah.

Dalam lain kejab, ia tentu akan mengalami nasib serupa dengan Tio Jiang.

Untunglah dalam detik2 berbahaya itu, matanya dapat melihat serumpun puhun rotan yang tumbuh ditepi puncak situ.

Secepat kilat tangannya menyawut dua batang rotan yang tumbuh bergelantungan didinding bagian bawah samping karang itu.

Tapi mana dua batang rotan dapat menahan berat tubuh seorang yang menggandulinya?

Akar dari rotan itu, segera ber-gerak2 tercabut keatas.

Dalam keadaan yang berbahaya itu, Yan-chiu berusaha untuk menguasai ketenangannya, Sedianya ia hendak gunakan gerakan "tho cu boan sim"

Si bongkok balikkan tubuh.

Dengan meminjam kekuatan rotan, ia akan apungkan tubuh keatas puncak lagi.

Tapi baru ia hendak kerahkan tenaga kearah tangan, tiba2 terdengarlah suara angin menderu.

Sebuah liu-yap-to (golok bentuk daun liu) yang besarnya hanya lebih kurang 5 dim menyambar diatas kepalanya.

Beberapa butir batu segera berhamburan jatuh dari atas puncak.

Karena dirinya sedang bergelantungan, jadi Yan-chiu tak dapat berkelit, maka ada beberapa butir batu yang jatuh menimpa kepalanya, sakitnya lumayan juga.

Dan yang lebih hebat dari itu, salah sebatang dari 3 batang rotan yang dicekalnya itu menjadi putus terpapas liu-yap-to tadi.

Berpaling mengawasi kearah sang suci, didapatinya dalam tangan sang suci itu masih menggenggam, 3 batang liuyap-to.

Dengan wajah dingin tak kenal kasihan lagi, Bek Lian menatap tajam2 kearah Yan-chiu.

Keadaan Bek Lian pada saat itu, mirip dengan sebuah patung ukiran kayu dari seorang wanita ayu, Yan-chiu mengeluh dalam hati.

Kalau Bek Lian timpukkan dua buah liu-yap-tonya lagi, maka ia tentu akan kecemplung kedalam dasar lembah.

Ilmu menimpuk dengan liu-yap-to termasuk salah satu macam kepandaian yang luar biasa dari Ceng Bo siangjin.

Siangjin itu telah memberi pelajaran ilmu itu.

pada Bek Lian dan Yan-chiu.

Tapi disebabkan sifat Yan-chiu yang kurang sabar, setelah belajar beberapa bulan, akhirnya dia menyerah.

Pilihannya jatuh pada senjata bandringan liu-singcui yang hampir setombak panjangnya.

Kalau ilmu permainan itu diyakinkan dengan sempurna, rasanya dapat menyamai semacam senjata rahasia kegunaannya.

Maka sejak itu, ia tak lanjutkan latihanya lagi.

Sebaliknya Bek Lian siang-malam berlatih dengan tekun sekali, sehingga akhirnya ia mahir sekali dalam permainan itu.

Seratus kali timpuk, seratus kali tentu mengenai sasarannya.

"Lian-suci!"seru Yan-chiu dengan cemasnya. Seruan Yan-chiu itu sedemikian rawan menghibakan hati. Betapun keras hati seseorang, tak urung tentu tergerak juga. Tapi bagi Bek Lian yang sudah menderita siksaan batin itu, perasaannya sudah mati. Kalau Yan-chiu jatuh kedalam lembah, paling banyak ia tentu mati. Dan ini akan himpaslah sudah segala beban kuajibannya sebagai manusia. Tidak demikian dengan dirinya. Hidup tidak matipun bukan.

"Kau suruh aku bagaimana lagi ? Paling2 kau nanti mati didasar lembah, dan kematianmu itu tentu memuaskan, jauh lebih baik dari diriku ini!"

Sahutnya dengan nada dingin.

Masih Yan-chiu tak tahu mengapa Bek Lian sampai berubah sedemikian tak berperasaan itu.

Rencananya, begitu sang suci agak lengah, hendak ia apungkan tubuhnya melayang keatas puncak karang.

"Lian........ su.........", mulut berseru tangannya segera siap melakukan rencananya itu. Tapi ternyata Bek Lian tetap mengawasi gerak geriknya.

"Wut", sebuah liu-yap-to melayang pula dan sesaat Yan-chiu rasakan cekalannya agak kendor lagi. Kiranya sebatang rotan yang dicekalinya itu, putus pula.

"Aku hendak naik kesorga tapi tiada mendapat jalan, mau masuk ke neraka tiada mendapat pintu. Maka takkan kubiarkan kau menyiarkan hal ini pada lain orang. Aku tak suka dikasihani oleh siapapun juga!"

Seru Bek Lian disebelah sana.

---oodw0tahoo---BAGIAN 16 .

SETAN LAWAN IBLIS Yan-chiu tak pedulikan ocehan orang, tetap ia hendak lanjutkan rencananya.

Tapi se-konyong2 terdengarlah wut...., wut....., suara samberan dua kali dan batang rotan yang dicekalinya itu putus semua, tubuhnyapun melayang turun kebawah.

Samar2 masih didengarnya sang suci melengking seperti orang gila.

"Siao Chiu, segera kau dapat mati, wah senangnya! Ha...., ha.......ha..., ha......"

Pada lain saat, dilihatnya suasana makin gelap gelita, angin menderu-deru disisi telinganya, kepalanya terasa pening.

dan matanya ber-kunang2.

Yan-chiu yang masih belum tinggi kepandaiannya itu, segera pingsan tak sadarkan diri Entah sudah berapa lama ia dalam keadaan begitu, tapi ketika tersadar didengarnya ada suara orang ber-kata2.

Yang seorang sembari berkata sembari ketawa dengan keras, sedang yang lain nada suaran ya kecil halus macam orang perempuan.

Lapat2 didengarnya juga deru samberan angin pukulan, sepertinya kedua orang itu tengah berkelahi.

Tapi ditilik dari lagu pembicaraannya, kedua orang itu tak mirip dengan orang yang sedang tantang2an.

Dalam pada itu, tak habis keheranan Yan-chiu, Terang tadi ia telah jatuh kedalam lembah, tapi mengapa dirinya tak kurang suatu apa.

Salah seorang dari kedua orang yang tengah adu mulut dan adu kepandaiannya itu, nada suaranya tak sedap dipendengaran telinga.

Jangan2~ bangsa siluman mereka itu ?!

Tapi biarlah kunantikan saja, demikian keputusan Yan-chiu lalu meramkan matanya lagi.

"Ha...., ha...... jurus keberapakah ini, apa masih ada lainnya lagi ?"

Kata yang seorang sembari tertawa mengejek.

"Kau sambut saja, jangan banyak omong!"

Sahut yang lain dengan marahnya.

Nada suaranya melengking sedemikian tajam, sehingga mau tak mau Yan-chiu membuka matanya lagi.

Dan ketika membuka mata lebar2, bukan kepalang kejut dan girangnya.

Kiranya terpisah hanya berapa meter dari tempatnya situ, tampak Tio Jiang tengah berdiri.

Malah tampak sang suko itu mengawasi kearahnya.

Tapi ketika ia hendak meneriaki, Tio Jiang cepat2 menggoyangkan tangan, menyuruhnya diam.

Setelah itu sang suko menunjuk kemuka.

Yan-chiu memandang kearah yang ditunjuk itu, dan amboi........, hampir saja dia berjingkrak bangun.

Kiranya disana, tampak ada seorang lelaki dan seorang perempuan tengah ber-putar2 dalam lingkaran.

Ternyata didasar lembah itu tak segelap yang diduganya.

Sinar matahari dapat menyinari masuk, maka walaupun menjelang magrib, namun masih tampak terang benderang.

Dasar lembah itu penuh ditumbuhi tanam2an.

Cuma saja disekitar tempat silelaki dan siwanita ber-putar2 itu, puhun2 yang tumbuh disekelilingnya sama tumbuh.

Wanita itu berambut panjang terurai menutupi mukanya.

Sepasang matanya memancarkan sorot ke-hijau2an warnanya.

Barang siapa yang mengawasinya, tentu akan bergidik.

Sedang silelaki itu pakaiannya luar biasa anehnya.

Dia seperti memakai sarung dari kulit rase, tapi kakinya tak memakai sepatu.

Gerak kakinya mantep, jauh berlainan dengan gerak kaki siwanita yang se-olah2 terapung diatas tak menyentuh tanah itu.

Begitu mereka berputar tubuh, Yan-chiu melengak.

Rasanya ia sudah pernah kenal dengan silelaki itu.

Ya, benar ia sudah kenal baik dengan orang itu, tapi ah....., lupalah siapa dianya itu.

Setelah saling berhadapan, siwanita itu berseru .

"Jurus ini disebut ce-gwat-bu-kong (rembulan dan bintang tiada bercahaya). Hati2lah !"

Habis berkata, terus menerjang.

Gerakannya itu luar biasa cepatnya.

Yan-chiu tak terpisah jauh dari kedua orang yang tengah bertempur itu.

Semestinya, ia tentu rasakan samberan angin dari gerakan siwanita itu.

Tapi nyatanya, baik suara maupun anginnya, tiada terasa sama sekali.

Yan-chiu kesima kaget, masa didunia terdapat manusia macam begitu.

Jangan2 ia itu berada diakherat ini ?!

Teringat ia akan penuturan orang, bahwa bangsa setan hantu itu tiada mempunyai bayangan, maka serentaklah ia berbangkit untuk mengawasi.

Oho......., mereka masing2 mempunyai bayangan, jadi bukan bangsa lelembut.

Waktu mengawasi jalannya pertempuran, kiranya silelaki dan siwanita itu sudah merapat satu mama lain hingga merupakan sebuah lingkaran bayangan.

Tapi pada lain saat, keduanya saling berpencar lagi.

"Bagus, bagus, lihay amat kau! Didunia jarang mendapat tandingan tentu !"

Seru silelaki dengan tertawa keras. Dan serta tampak Yan-chiu sudah berdiri, silelaki aneh itu segera unjuk muka-setan, serunya.

"Ho, kau sudah bangun?"

Melihat tingkah silelaki aneh itu, tersadarlah ingatan Yan-chiu.

Tak salah lagi, dia yalah sipengemis lucu yang tempo diluitay telah membantunya merobohkan salah seorang samtianglo dari Ci Hun Si.

Tempo hari sih pakaian dan mukanya kotor kumal, tapi kini dengan mukanya yang bersih, janggut bercabang tiga serta jubah kulit rase itu, mirip sudah dia dengan seorang pedagang kaya dari daerah utara.

Malah sesaat itu teringatlah Yan-chiu bahwa ia masih menyimpan sebuah gelang besi dari orang aneh itu.

Saking girangnya, Yan-chiu bertepuk tangan berseru.

"Oi....., kiranya kau ......"

Tapi baru dia berseru begitu, siwanita tadipun memandang kearahnya.

Bulu roma Yan-chiu seketika berdiri, perasaannya tak enak, maka buru2 ia memalingkan kepalanya.

Tapi disana dilihatnya sang suko mengawasi tajam2 pada siwanita itu, rupanya tengah bersiaga keras.

Tiba2 ia teringat akan cerita Nyo Kong-lim tentang seorang wanita berambut panjang.

Jangan2 inilah wanita itu.

Dengan sigap, ia berpaling lagi kemuka; justeru kala itu mata siwanita aneh itu tengah menatapnya.

Begitu saling bentrok pandangan mata, menggigillah Yan-chiu.

Kalau pada tengah malam ia menjumpai wanita itu, mungkin ia kira tentu berhadapan dengan sesosok hantu !

Melihat Yan-chiu tak berani memandangnya, tertawalah siwanita itu ter-kekeh2, ujarnya.

"Kui Ing-cu, apakah budak perempuan itu juga muridnya Ceng Bo siangjin ?"

"Ceng Bo siangjin juga seorang pemimpin ternama dalam jaman ini, masakan dia mau mempunyai seorang murid kantong kosong seperti dianya itu!"

Sahut silelaki aneh dengan tertawa meringis.

Yan-chiu tak marah dikatakan begitu, melainkan deliki mata saja.

Mencuri kesempatan selagi siwanita itu tak mengawasinya, silelaki aneh itu kembali unjuk muka-setan pada Yan-chiu.

Matanya dimerem-melekkan beberapa kali.

Sebagai gadis yang cerdas, segera Yan-chiu dapat menangkap, maksud isyarat orang.

"Macam Ceng Bo siangjin, mana layak menjadi suhuku?"

Ia mendamperat.

Tapi segera ia jeri sendiri.

Sungguh keterlaluan sekali ucapannya tadi.

Kalau sampai didengar sang suhu, jangan tanya dosa lagi.

la celingukan kesana-sini, lalu tertawa sendiri.

Masakan sang suhu bisa datang ketempat macam begitu ?

"Siao Chiu, jangan kurang ajar!"

Tiba2 seorang lelaki membentak. Semangat Yan-chiu serasa terbang. Kedua tangannya didekapkan kekepala.

"Celaka!"

Serunya dengan ketakutan. Tapi demi ia berpaling dan melihat yang membentak tadi hanya sang suko, kontan ia menyahut.

"Fui, siapa yang kurang ajar?"

Kui Ing-cu tertawa ter-kakah2, sebaliknya siwanita aneh segera memujinya.

"Bagus! Macam apakah Ceng Bo siangjin itu. Budak, siapakah suhumu ?"

Mendengar itu Yan-chiu kemekmek. la kerlingkan ekor mata kearah silelaki aneh, siapa ternyata tengah memandang kelangit.

"Suhu wanpwe ialah Ma Bu-tek!"

Sahutnya se-kena2nya. Ma Bu-tek, artinya "kuda tiada terlawan."

"Ma Bu-tek ?"

Menegas siwanita setelah merenung sejenak.

"rasanya seorang yang tiada terkenal itu."

Kemudian ia berpaling kearah Kui Ing-cu, serunya.

"Mari mulai lagi, sudah janji 300 jurus, mengapa baru 70 saja sudah berhenti ? Kui Ing-cu ter-bahak2.

"Kiang Siang Yan, kau anggap 'thay im lian sing kang"

Mu itu tiada lawannya dikolong langit, maka setelah bertempur seri dengan aku, kau lantas kurang terima bukan ?"

Mendengar nama "Kiang Siang Yan", Tio Jiang dan Yan-chiu sama terperanjat. Kiranya wanita itu adalah isteri suhunya atau subo mereka juga! "Ya, memang. Apa kau berani lanjutkan pertempuran lagi ?"

Tanya Kiang Siang Yan dengan tertawa dingin, seraya ber-putar2 mendekati Kui Ing-cu.

Bermula Tio Diang dan Yan-chiu yang berdiri dekat sekali tak merasakan samberaan apa2, tapi tahu2.....

terasa ada dorongan suatu tenaga yang maha kuat.

Buru2 kedua anak muda itu gunakan cian-kin-tui agar tak jatuh.

Tio Jang yang yang kepandaiannya tinggi, hanya ter-huyung2 sedikit.

Tapi Yan-chiu sudah sempoyongan sampai empat-lima tindak kebelakang baru kemudian dapat tegak lagi.

Diam2 ia leletkan lidah.

Belum Pernah ia melihat atau mendengar ilmu kepandaian macam begitu.

Kiang Siang Yan pun sudah bertempur lagi dengan Kui Ing-cu.

Baru Kiang Sian Yan menghampiri, Kui Ing-cu sudah segera menyambutnya dengan sebuah hantaman keras, hingga terpaksa.

Kiang Siang Yan melambung keatas.

Rambutnya kejur menjulai kebawah, begitu ulurkan jari2 tangan kanannya yang keras bagai kait itu, ia melayang kearah kepala lawan, serunya.

"Inilah yang disebut 'peh hun kam kau' (mega putih mengejar anjing!" -Yan-chiu melengak, masa ada jurus silat Yang namanya begitu aneh ? Tiba2 Kui Ing-cu miringkan tubuh, sepasang tangannya digerak2kan terus dihantamkan kearah Kiang Siang Yan serunya.

"Jurusku ini, juga disebut Peh-hun-kam-kau."

Baru Yan-chiu ketahui bahwa kedua orang aneh itu.

tengah adu lidah (bersitegang leher ngotot).

Dalam Pertempuran sedahsyat itu, keduanya tetap dapat bergurau suatu, suatu pertanda bagaimana lihay mereka itu.

Yan-chiu makin ketarik.

Tadi Kian Siang Yan masih melayang diatas dan Kui Ing-cu telah menyambutnya dengan tebasan dua belah tangannya, tapi entah bagai mana, tahu2 Kiang Siang Yan sudah meluncur turun dibelakang lawannya.

Karena hantamannya menemui tempat kosong, maka terdenrlah bunyi krek-bum.......

dari puhun tua yang tumbang kena hantaman Kui Ing-cu itu.

Cepat2 Kui Ing-cu berpaling kebelakang seraya berseru.

"Huh, sial, sial, kepalaku dilangkahi oleh bibi itu!"

Mendengar kata2 itu, pecahlah ketawa Yan-chiu.

"Budak perempuan, kau tertawai apa"

Tiba2 Kui Ing-cu deliki mata terus mirngkan tubuh dan menampar Yan-chiu, sudah tentu bukan kepalang, kejut Yan-chiu, hendak menghindar sudah tak keburu.

Se-konyong2 dilihatnya ada sesosok bayangan berkelebat dihadapannya, dan menampar juga, plak ........

bukan Yan-thiu yang kena ketampar, tapi kedua tenaga hantaman dari Kui Ing-cu dan sibayangan yang bukan lain adalah Kiang Siang Yan itu yang saling berbentur.

Entah berapa jurus lagi pertempuran akan berlangsung setelah itu.

Tapi tahu2 Kui Ing-cu loncat kesamping dan berseru keras.

"Kiang Siang Yan, aku punya usul baru!"

"Kui Ing-cu, kaupun terhitung dalam golongan datuk jaman ini. Mengapa kau lepaskan tangan jahat pada seorang budak perempuan yang masih bau pupuk ?!"

Jawab Kiang Sian Yan dengan ejekan dingin. Kui Ing-cu tertawa panjang, serunya.

"Tapi bagaimana kau perlakukan bocah lelaki itu tadi?"

Yang dimaksud dengan bocah lelaki ialah Tio Jiang, siapa waktu jatuh kedasar lembah situ justeru tepat Kui Ing-cu tengah mengukur kepandaian dengan Kiang Siang Yan.

Demi tampak ada sesosok tubuh meluncur turun, dengan segera Kui Ing-cu melesat untuk menyanggapinya, sehingga Tio Jiang tak kurang suatu apa dan dapat berdiri tegak lagi.

Tapi begitu Kiang Siang Yan mengetahui Tio Jiang itu adalah murid Ceng Bo siangjin yang dibencinya itu, terus saja menghantamnya, sukur keburu dihadang oleh Kui Ing-cu.

Maka demi Kui Ing-cu menyebut2 hal itu, Kiang Siang Yan tak dapat menyahut, lalu berganti haluan, tanyanya.

"Lekas katakan apa usulmu itu !"

"Naga2nya kita berdua ini, sekalipun bertempur sampai 300 jurus, pun bakal tiada yang menang atau kalah....."

Baru Kui Ing -cu berkata begitu, Kiang Siang Yan terus menukasnya;

"Rasanya tak sampai begitu lama."

"Maka aku.. mempunyal usul entah bagaimana Pendapatmu,"

Teruskan Kui Ing-cu tanpa pedulikan ejekan orang.

"He, apa2an begitu sopan santun?"

"Lekas katakan"

Seru Kiang Siang Yan. Kui Ing-cu cekikikan seraya menunjuk pada Tio Jiang dan Yan-chiu.

"Kedua bocah itu, kepandaiannya tak terpaut banyak satu sama lain. Kita masing2 mengambil seorang untuk memberinya pelajaran silat. Setelah itu kita adu mereka, bermula dengan tangan kosong lalu dengan senjata. Siapa yang lebih pandai mengajar, dialah yang menang. Setuju tidak kau ?"

Tanyanya.

"Hm........, kaum persilatan menyohorkan kau seorang yang kaya muslihat. Nyatanya memang begitulah! Bocah lanang itu terang lebih lihay dari sibudak perempuan, jadi kau hendak cari enak sendiri bukan ?"

Jawab Kiang Siang Yan dengan tertawa mengejek. Kui Ing-cu balas tertawa, ujarnya.

"Kiang Siang Yan, kalau kau takut kalah, ambil saja bocah lanang itu !"

Seketika marahlah Kiang Siang Yan. Rambutnya yang terurai itu serentak menjulur dengan kaku, serunya.

"Kui Ing-cu, sambutlah seranganku ini !"

Begitu kakinya bergerak, tahu2 tubuhnya sudah melesat kesamping Kui Ing-cu.

Begitu sepasang tangan diangkat, plak........bukan untuk menampar Kui Ing-cu tapi untuk saling ditepukkan sendiri.

Tapi begitu kedua tangan itu bercerai, tahu2 mendorong kearah Kui Ing-cu.

Kui Ing-cu pun aneh.

Ketika Kiang Siang-Yan bertepuk tangan, dia diam saja.

Tapi sewaktu tangan Kiang Siang Yan hendak mendorongnya, se-konyong2 dia memutar tubuh, hingga jubahnya yang terbuat dari kulit rase itu bertebar keatas.

Sambil berseru.

"Pukulan thay-im-ciang yang lihay", orangnyapun sudah menyingkir pergi. Tio Jiang dan Yan-chiu yang mengawasi pakaian Kui Ing-cu, serentak menjadi terkejut. Baju yang terbuat dari kulit rase itu, begitu terbentur dengan tangan Kiang Siang Yan tadi, telah berlubang sebesar mangkok. Jeri, kagum dan heran, demikian perasaan Tio Jiang dan Yan-chiu terhadap kedua cianpwe persilatan itu. Sewaktu menyingkir tadi, Kui Ing-cu telah lewat disisi Yan-chiu, slapa tahu2 telinganya seperti tersusup dengan perkataan.

"Budak perempuan, makilah aku lekas. Kalau berhasil memikat wanita itu, seumur hidupmu kau tak menyesal !"

Yan-chiu yang cerdas segera mengetahui bahwa rencana Kui Ing-cu untuk mengusulkan mengambil jago itu, dimaksud agar ia dan sukonya dapat menerima pelajaran yang sakti.

Ia mengangguk mengiakan.

Begitu Kui Ing-cu sudah berada, disebelah sana, mulut Yan-chiupun segera mulai berkicau.

"Setua itu umurmu, mengapa hendak menghina seorang muda seperti nonamu ini. Apakah itu bukan perbuatan seorang .........."

Sampai disini Yan-chiu merandek.

Ia tak boleh memaki keliwat kurang ajar, jangan2 nanti bisa menimbulkan kemarahan siorang aneh yang bermaksud baik terhadap dirinya itu.

Sebenarnya ia hendak mengatakan "seorang bajingan besar", tapi tak jadi dan berganti dengan lain istilah.

"Kau ini benar2 seorang telur busuk !" (Oo-dwkz-TAH-oO) BAGIAN 17 . ADU JAGO Ilmu "Thay-im-lian-seng"

Telah merobah seorang jago wanita yang berhati mulia seperti Kang Siang Yan, menjadi seorang eksentrik atau yang beradat aneh.

Tiada barang sekejabpun dia melupakan peristiwa 10 tahun dipondok kaki gunung Lo-hu-san.

Khusus itu adegan dimana Ceng Bo siangjin, sang suami, serta merta bertekuk lutut meratap pengampunan pada musuh.

Kenangan itu menggores dalam didalam sanubarinya, dan ini membuat ia benci sekali kepada sang suami itu.

Ikatan cinta selama 20 tahun terangkap menjadi suami isteri, telah dikikis habis oleh thay-im-lian-seng.

Hilang kepercayaannya mengapa seorang jantan perwira macam sang suami dapat bertekuk lutut terhadap beberapa musuh saja.

Maka dengan me-nyala2 rasa kebencian, tempo hari ia telah selulup kedalam air untuk mencari suami itu.

Tapi setelah tiada berjumpa, ia naik pula kedaratan.

Ketika digoa gunung Hoasan ia menjumpai Bek Lian, timbullah kenangannya.

Sepuluh tahun yang lalu, Bek Lian hanya seorang gadis kecil yang rambutnya dikepang dua.

Kini sepuluh tahun kemudian ia sudah berobah menjadi seorang nona yang cantik bagaikan bidadari hidup.

Rasa kecintaan seorang ibu terhadap anak, meletik pula.

Dan ketika melihat sang puteri itu ber-sama2 dengan seorang pemuda ganteng, secara diam2 ia lalu mengikuti mereka ke Hokciu.

Kang Siang Yan sudah meliliki dasar ilmu kepandaian yang cukup tinggi.

Ditambah 10 tahun ia berlatih keras, kini sudah mencapai tingkat kesempurnaan.

Keistimewaan dari ilmu lwekang thay-im-lian-seng, yalah baik memukul, menendang, bergerak maju mundur, sedikitpun tak mengeluarkan desis suara.

Oleh karena itulah maka The Go dan Bek Lian tiada mengerti kalau dikuntit.

Ketika ia tiba didaratan, didengarnya pasukan Ceng sudah mengepung Hoasan, malah dari seorang persilatan ia mendapat tahu, bahwa The Go juga ikut dalam pasukan Ceng itu.

Terdorong hendak bertemu dengan puterinya, ia cepat2 menuju kesana.

Tiada disangka, begitu menginjak gunung ia berjumpa dengan Kui-ing-cu, siorang kurus yang tak kurang anehnya itu.

Entah apa sebabnya, orang itu menghambur-hamburkan olok dan makian, kemudian memikatnya datang kedasar lembah itu.

Pada pokoknya, Kui-ing-cu mengejek kepandaian dari Kang Siang Yan, sehingga keduanya bersepakat untuk adu kepandaian sampai 300 jurus, adalah karena itu, tanpa sengaja mereka dapat menolong jiwa Tio Jiang dan Yan-Chiu.

Kui-ing-cu pernah sekali berjumpa dengan Ceng Bo siangjin.

Dia suka sekali akan kenakalan dan kegenitan dari Yan-chiu, yang dalam banyak hal menyerupai wataknya.

Maka dia lalu merancangkan suatu akal, agar Yan-chiu bisa diterima menjadi murid-darurat dari Kang Siang Yan.

Secara rahasia dia kisiki sinona supaya memakinya, dan ketika hal itu dilakukan, diapun pura2 murka lalu hendak menyerang.

Untuk "membeli"

Kepercayaan Kang Siang Yan, dia mendampracan-chiu.

"Apa katamu, budak edan ? Tadi aku hendak mengajarmu beberapa macam kepandaian supaya dapat mengalahkan anak itu, tapi kini huh, persetan! Biar kau dipukul mampus olehnya!"

"Uiii, siapa sudi kau ajari?"

Yan-chiu jebikan bibir...........

"bibi ini lebih jempol dari kau, aku sudah melihat sendiri. Kalau kau tak jeri, tentu tak minta berhenti setengah jalan begini! Bukankah kau hendak ulur waktu untuk cari kesempatan kabur ? Kalau bibi ini mau memberi sedikit pelajaran padaku, tak nanti kau dapat lolos!"

Sahut menyahut semacam ber-olok2 itu, telah membuat Tio Jiang bersimbah peluh.

Kalau saja orang aneh itu keluar tanduk, tentu Yan-chiu akan celaka.

Beberapa kali, dia gentak2kan kakinya untuk mencegah sang sumoay, namun tak digubris.

Sebaliknya Kang Siang Yan terpikat.

la, benci sekali orang kurus itu, tapi mulutnya kaku tak dapat berdebat, Bahwa Yan-chiu telah nerocos dengan mulutnya yang tajam itu, telah membuatnya tertawa puas.

Se-olah2 seluruh isi hatinya untuk mendamprat siorang aneh itu, telah diwaklli Yan-chiu.

"Kui-ing-cu, dengar tidak kau ? Seorang anak saja tahu slapa yang lebih lihay, masa kau masih keras kepala?"

Ia menyeletuk. Melihat orang termakan jerat, Kui-ing-cu dan Yan-chiu gembira benar. Masing2 mengunjuk muka-setan dan berkatalah Kui-ing-cu.

"Siapa sudi percaya kata2 seorang budak perempuan? Sudahlah, kau berani tidak terima tantanganku tadi?"

Belum Kang Siang Yan menyahut, Yan-chiu sudah mengipasi.

"Mengapa bibi takut? Cukup satu macam ilmu pukulan saja, anak itu tentu kujatuhkan !"

Mendengar dirinya disebut "anak itu"

Dan hendak diajak berkelahi, Tio Jiang yang tak tahu akan sandiwara itu, kelabakan setengah mati, seru ya.

"Yan ...........'' "Huh, telur busuk macam kau, siapa kesudian kau panggil ?"

Bentak Yan-chiu memutus kata2 Tio Jiang, siapa menjadi cep kelakep tak dapat berkata.

Kui-ing-cu kenal watak Tio Jiang yang jujur, besok saja dia jelaskan hal itu, tapi sekarang agar tidak pecah rahasia, dia segera tarik lengan TIo Jiang, serunya.

"Anak, ikut aku. Biar kuajarimu sebuah ilmu pukulan untuk melabrak anak perempuan kurang ajar itu !"

Tio Jiang hendak bicara tapi tiada kesempatan lagi, karena tubuhnya terasa diseret oleh Kui-ing-cu menuju kebawah sebatang puhun. Didesak begitu, Kang Siang Yan terpaksa menyerah.

"Baik, Kui-ing-cu, 3 jam kemudian kita suruh mereka bertempur!"

Serunya dengan nyaring yang dijawab oleh Kui-ing-cu dengan kata "baik".

Ilmu lwekang kedua tokoh itu sangatlah tingginya, jadi suara seruan mereka melengking tajam sekali kedengarannya.

Yan-chiu bukan kepalang girangnya, tak henti2nya ia menyebut bibi kepada Kang Siang Yan yang sudah tentu menjadi senang juga.

"A-thau (budak perempuan), tunjukkan barang sejurus kebisaanmu!"

Katanya.

"Celaka, masa belum diajari, malah disuruh mengunjukhan kepandaian,"

Demikian Yan-chiu mengeluh.

Tapi ia tak berani membantah.

Untuk jangan diketahui aselinya, baiklah ia keluarkan salah satu ajaran Ceng Bo siangjin yang disebut ilmu silat Leng-wan-kun.

Sebenarnya Leng-wan-kun itu, adalah pelajaran pertama yang diterima oleh Ceng Bosiangjin ketika diwaktu muda dia belajar silat.

Ketika guru Ceng Bo tengah pesiar kegunung Ngo-bi-san, dilihatnya kawanan orang utan ber-main2 loncat naik turun diantara puhun dengan tangkas sekali.

Diperhatikan cara2 binatang itu bergerak, dan achirnya diciptakannyalah sebuah ilmu silacang berdasarkan gerak orang utan yang tangkas itu.

Maka ilmu silat itu dinamakan Leng-wan-kun, atau silat orang utan yang tangkas.

Dan ketika Yan-chiu melihat Ceng Bo siangjin memainkan ilmu itu, ia ketarik sekali dan mohon suhunya mengajarkan.

Berkat bakat pembawaannya yang lincah tangkas, Yan-chiu telah dapat mempelajari ilmu itu dengan mahir sekali.

Leng-wan-kun terdiri dari 32 jurus.

Setiap jurus merupakan jurus serangan.

Begitu dimainkan, maka ber-tubi2lah serangan menjatuhi fihak lawan, sehingga lawan tak mempunyai.

kesempatan untuk balas menyerang lagi!.

Demikian setelah mengambil keputusan, Yan-chiu terus mengambil sikap hendak memulai.

Tapi se-konyong2 Kui-ing-cu kedengaran berseru.

"Kang Siang Yan, jauh sedikitlah, jangan mencuri lihat kepandaianku !"

Saking menahan kemarahannya tapi tak dapat mengeluarkan, Kang Siang Yan mendongak, seluruh rambutnya menjingrak kebawah dengan kencangnya.

Yan-chiu dapatkan bahwa paras dari subonya (ibu guru) itu mirip sekali dengan Bek Lian..

Ah, kiranya sedemikian cantik subonya itu, tapi mengapa sepasang matanya sedemikian menakutkan ?

"Bibi, bolehkah aku mewakilimu mendamperatnya ?"

Tanyanya. Kang Siang Yan mengangguk.

"Biarpun kau tak menyuruh, kamipun juga pergi, karena kuatir kau curi lihat nanti bisa dibuat menjagoi dunia persilatan!"

Segera Yan-chiu berseru keras.

Disebelah sana terdengar orang tertawa membatu roboh, diantaranya terdapat nada ketawa Tio Jiang.

Diam2 Yan-chiu menduga kalau Kokonya sudah diberitahu.

Yan-chiu mengikut Kang Siang Yan menuju kebalik sebuah batu gunung.

"Bibi, kepandaianku jelek harap kau suka memberi petunjuk!"

Katanya setelah berada disitu dan lalu bersyiap dalam gaya "kun wan kuan thian" (kawanan kera memandang langit), sepasang kaki disurutkan, tangan kiri menutup dahi dan tangan kanan mengepal.

Diluar dugaan, waktu melihat itu, wajah Kang Siang Yan berobah, tanyanya "A-thau, dari mana kau pelajari ilmu silat itu ?"

Pertanyaan itu diajukan dengan nada, geram, terbukti dart suaranya yang tajam.

Karena hebatnya lwekang Kang Siang Yan maka anak telinga Yan-chiu seperti ditusuk jarum, sehingga saking kagetnya ia lompat berjingkrak.

Tak tahu ia apa sebabnya, tapi yang nyata dilihatnya wajah Kang Siang Yan berobah bengis.

Sekilas teringatlah akan kecerobohannya.

Ilmu silat Leng-wan-kun adalah pelajaran yang paling dibanggakan oleh sucouwnya (kakek guru), tentulah subonya itu mengetahui.

Tolol...., tolol....., mengapa pertama kali ia sudah keluarkan ilmu silat itu ?!

Tapi ia bukan Liau Yan-chiu kalau dalam menghadapi hal itu sudah mundur teratur.

Cepat ia sudah mendapat akal, serunya.

"Adalah suhuku Ma Bu Tek yang mengajarkan !"

Kang Siang Yan perdengarkan suara ter-kekeh2 yang seram, lalu setindak demi setindak maju menghampiri Yan-chiu.

Sepasang matanya pencarkan sorot ber-kilau2an, sehingga hati Yan-chiu kebat kebit.

Namun ia masih pura2 tenang.

"Teruskan lagi"

Achirnya Kang Siang Yan memberi perentah.

Kini Yan-chiu sudah mendusin.

Jurus pertama kun wan-kuan-hay tadi dilakukan dengan genah.

Tapi jurus ke dua Yang seharus "Leng wan hi kou" (orang utan mempersembahkan buah), telah diganti begitu rupa seperti orang main pencak cakalele, tubuhnya menurun sedikit lalu kakinya bergantian menendang kesana-sini, Sembari main pencak itu, ia melirik kearah Kang Siang Yan, wajah siapa tampak berobah tenang.

Heh, demikian Yan-chiu dapat bernapas legah -lagi.

"Stop, berhentilah! Apa nama jurusmu itu?"

Tanya Kang Siang Yan. Sambil menarik pulang tangannya, Yan-chiu menyahut dengan tangkasnya.

"Kata suhuku, itulah jurus 'Thian-he-bu-tek-kun'."

Dalam sepuluh tahun kemari, hati Kang Siang Yan selalu direndam oleh kebencian, sehingga perangainyapun berobah eksentrik.

Wajahnya sedingin es, tak pernah bersenyum.

Tapi pada saat itu demi mendengar jurus "thian-he-bu-tekkun"

Atau ilmu silat tiada tandingannya didunia, pecahlah mulut Kang Siang Yan menghamburkan tawa.

"A-thau, kau dibohongi suhumu, mana didunia ada ilmu silat macam begitu ?"

Hati Yan-chiu serasa terlepas dari tindihan sebuah batu besar. Menuruti lagu orang, la, menyahut.

"Bibi, sukalah kau mengajari barang sejurus saja yang genah!"

Kata orang "segala apa dapat diterebos, melainkan pantat kuda saja yang tidak". Ujar2 itu berlaku juga pada para maha wiku dan dewa, apalagi Kang Siang Yan.

"Athau, anggap saja peruntunganmu bagus. Untuk memenangkan pertaruhan tadi, kau bakal mendapat keuntungan besar!"

Katanya. Sudah tentu Yan-chiu ter-sipu2 mengiakan. Kata Kang Siang Yan pula.

"Anak itu adalah murid Hayte-kau Bek Ing, sudah tentu menjadi kebanggaan Hay-te-kau. Meskipun anaknya lolok (sedikit tolol), tapi ilmu silatnya boleh juga!"

Yan-chiu heran mengapa subonya itu begitu membenci sang suhu. Namun tak berani ia bertanya.

"Untung kepandaian dari Hay-te-kau itu, dapat kufahami semua......"

Baru saja Kang Siang Yan bicara sampai disini, Yan-chiu memberanikan diri memutusnya.

"Bibi, pernah apa kau dengan Hay-te-kau ?"

"A-thau, apa katamu ?"

Bentak Kang Siang Yan dengan mata beringas. Yan-chiu leletkan lidah, menyahut.

"Oh, kutahu bibi ini tentu susiok (paman guru) dari dia, kalau tidak masa mengetahui kepandaiannya ?"

Kang Siang Yan menghela napas panjang "Sekarang hendak kuajarmu sebuah ihnu silacang disebut Ngo-hok-kun.

Kulihat ilmu mengentengi tubuhnya cukup baik, tentu lekas dapat.

Nah, lihatlah dengan perdata!"

Habis berkata, tiba2 meloncat keudara, bum.......

tangannya menghantam kebawah, puhun2 siong didekat iitu sama bergoncang dan daunnya rontok.

Kini tubuhnya me-layang2 diudara diikuti oleh samberan angin yang men-deru2.

Gayanya tak ubah seperti seekor kelelawar yang me-nyambar2 diudara, penuh padat dengan kelincahan dan keindahan.

Ngo-hok-kun atau silat lima ekor kelelawar terdiri dari 26 jurus.

Dengan penuh perhatian Yan-chiu mencatat semuanya itu dalam hati.

Boleh dikata lebih dari separoh bagian dia telah dapat menghafalnya.

Berulang kali ia mainkan iImu silat itu, dengan Kang Siang Yan tak putus2nya memberi petunjuk.

Tak sampai dua jam, meskipun belum seluruhnya dapat memahami intisari kesaktiannya, namun ia mendapatkan ilmu silat itu jauh lebih hebat dari Leng-wan-kun.

Didalam girangnya ia segera berseru keras2.

"Telur busuk"

Tio Jiang menyahut seraya keluar, disusul oleh Yan-chiu, siapa tanpa tanya ini itu terus saja lancarkan serangannya Ngo-hok-kun yang habis dipelajari itu.

Tio Jiang memendak untuk menghindar.

Demikianlah kedua "jago"

Itu bersabung dengan seru.

Disebelah sana sang botoh, Kui-ing-cu dan Kang Siang Yan, melihati dengan penuh perhatian.

Yan-chiu tahu kalau sukonya itu tak nanti akan melukainya, maka sembari bertempur ia memikat sukonya berada lebih jauh dari kedua tokoh aneh itu.

"Suko, bikin serie saya agar kita dapat mengeduk pelajaran mereka!"

Bisik sinona.

"Siao -Ciu, Lian suci masih berada diatas karang!"

Sahut Tio Jiang. Penyahutan itu telah membuat Yan-chiu mendongkol benar, dampratnya.

"Kau ini sungguh gila basa! Mengapa otakmu penuh dengan Lian suci, saja ? Apakah aku ini bukan seorang anak perempuan ? Mengapa kau tak pikiri aku ?"

Tapi seketika itu Yan-chiu meram, telah keterlaluan bicara, wajahnya menjadi merah padam.

Untuk menutupi malu, dia perhebat serangannya kepada sang suko.

Melihat perobahan itu, Tio Jiang terkesiap.

Dilihatnya gerak sang sumoay itu luar biasa juga.

Selama dua jam dengan Kui-ing-cu tadi, dia tak diajari apa2, kecuali sedikit penjelasan tentang ilmu lwekang.

Tapi ini saja cukup membuat Tio Jiang girang bukan buatan, karena kini pengetahuannya tambah maju, Maka diapun tak berani mohon pengajaran lainlnya dari orang aneh itu.

Karena itu, dalam menghadapi serangan Ngo-hok-kun, dia telah menjadi kelabakan juga.

Akhirnya setelah dapat meloloskan diri dengan susah payah, dia keluarkan ilmu silat ajaran Sik Lo-sam.

Berkat kini ilmunya lwekang sudah dalam, jadi dapatlah dia memaksakan suatu pertandingan seri.

Sampai 3 kali Yan-chiu ulangi penyerangannya Ngo-hok-kun itu, namun tetap seri.

Akhirnya dia terpaksa loncat keluar gelanggang, serunya.

"Pertandingan seri, nanti kita bertemu lagi!"

Habis berkata begitu. ia lari menghampiri Kang Siang Yan, lapornya.

"Bibi, anak itu benar lihay, aku belum dapat menjatuhkan!"

Tadi diperhatikan oleh Kang Siang Yan bahwa anak perempuan itu benar bertempur secara mati2an. Kini demi dilihatnya wajah Yan-chiu ke-merah2an, ia menduga tentu penasaran, maka iapun menghiburinya.

"Sememangnya, anak itu mempunyai dasar latihan yang lebih tinggi dari kau. Kalau kini kau sudah dapat bertanding seri, itu menandakan bagaimana hebatnya Ngo-hok-kun. Jangan takut, kuajari lagi lain macam!"

Difihak lain, Kui-ing-cupun tampak mengajak Tio Jiang masuk kedalam rimba lagi. Ketika kedua "jago"

Itu hendak berkelahi lagi!, haripun sudah menjelang malam.

Kuying-cu memotes dua buah dahan pohon siong yang besar, lalu disulut untuk penerangan.

Lagi2 dalam pertempuran yang kedua kali itu, keduanya tetap main seri, Kui-ing-cu keluarkan olok2nya, yang dibalas dengan tepat oleh Yan-chiu.

Dalam kesempatan yang luang, Kui-ing-cu telah menyusupkan kata2nya kepada Yan-chiu.

"Budak, ilmu lwekang dari wanita Itu tinggi sekali, dalam waktu sesingkat ini tak nanti kau, dapat mempelajarinya, Tapi ia mempunyai sebuah ilmu pedang yang sakti yalah yang disebut Hoan-kang-kiam-hwat, (ilmu pedang membalikkan sungai), Besok pagi hendak ku usulkan pertandingan dengan senjata. Kau harus pura2 kalah, agar ia suka mengajarkan ilmu pedang itu !"

Dalam dua kali bertempur itu, Yan-chiu telah memperoleh kemajuan yang pesat sekali.

Sudah tentu ia ingin mendapat pelajaran lebih banyak lagi, maka iapun mengangguk.

Malam itu Yan-chiu diajak Kang Siang Yan berburu kelinci hutan, yang dipanggangnya untuk dahar malam.

Untuk tempat tidur, mereka menumpuk daun puhun.

siong buat sebagai pengganti kasur.

Keesokan harinya pagi2 sekali, Yan-chiu sudah dibangunkan Kang Siang Yan.

Saat itu kedengaran Kui-ing-cu berkaok2.

"Kang Siang Yan, lekas suruh jagomu keluar menerima hajaran !"

Yan-chiu terus saja hendak maju, tapi dicegah oleh kang Siang Yan, serunya.

"Kui-ing-cu, hari ini aku belum mengajarinya, kau mau bertanding apa ?"

"Ya, ya, benar. Dengan tangan kosong kurang menarik, apa kau berani bertanding dengan senjata ?"

Balas Kui-ingcu.

"Hm, mengapa tidak ?"

Sahut Kiang Siang Yan, tapi sesaat itu dia teringat kalau Tio Jiang adalah murid kesayangan Hay-te-kau.

Sudah tentu anak itu faham ilmu pedang to-hay-kiam-hwat (menjungkirkan laut).

Dalam ilmu thay-im-lian-seng, tiada terdapat pelajaran menggunakan senjata.

Untuk memenangkan pertandingan, ia harus mengajarkan ilmu pedang Hoan-kang-kiam-hwat pada Yan-chiu.

Setelah menentukan langkah, berkatalah ia kepada Yan-chiu.

"A-thau, ambillah setangkai dahan !"

Yan-chiu girang sekali.

Perintah itu berarti ia akan diajari ilmu pedang.

Maka dengan cepatnya diapun sudah memutus setangkai dahan puhun siong.

Kang Siang Yan beberapa kali tebaskan tangannya, hingga dahan itu kini menjadi runcing seperti pedang.

"A-thau, ilmu pedang ini, lain dari yang lain. Aku akan memainkan lambat2, supaya kau dapat mengerti jelas !"

Habis itu, Kang Siang Yan pindahkan dahan itu ditangan kiri, sedang tangan kanan lalu ber-gerak2 ngimbangl.

"Bibi, mengapa pedang itu dimainkan dengan tangan kiri ?"

Tanya Yan-chiu.

"Benar, ilmu pedang ini memang khusus diperuntukkan kaum wanita, gerakannya sangat halus tangkas dan harus, dimainkan dengan tangan kiri. Sudahlah, jangan banyak bertanya, perhatikan saja !"

Jawab Kang Siang Yan.

Yan-chiu tak berani bertanya lagi.

Tampak Kang Siang Yan ber-putar2 diri, ujung pedang mengacung keatas.

Tiba2 sekali berputar, ujung itu diguratkan dalam bentuk sebuah lingkaran kecil, kemudian tak hentinya di-kibas2kan achirnya ditusukkan kemuka.

Gerakan ilmu pedang itu memang luar biasa, maka Yan-chiupun memperhatikan sepenuhnya.

"Jurus ini dinamakan "Pah-ong oh-kang" (baginda Pahong. melintasi sungai Hitam). Coba kau lakukan!"

Kata Kang Siang, Yan sembari berikan dahan itu kepada Yanchiu.

Setelah menirukan hampir sejam lamanya, baru Kang Siang Yan mengajari lagi jurus kedua.

Ilmu pedang Hoan-kang-kiam-hwat dan To-hay-kiam-hwat, adalah sepasang.

Sama2 terdiri dari 7 bagian jurus.

Seperti jurus2 pada To-hay-kiam-hwat, pun jurus2 dari Boan-kang-kiam-hwat itu mempunyai nama2 aneh, yakni.

Pah-ong-oh-kang, Kut-ji-tho-kang, It-wi-tok-kang, Kang-sim-poh-lo, Kang-cui-kiu-jiok, Kang-te-yong-cwan dan Kang-cui-kui-tang.

Baru mempelajari jurus kelima, Yan-chiu sudah setengah mati girangnya.

Melihat anak itu lekas sekali menangkap pelajaran, Kang Slang Yanpun girang.

Setelah ke 7 jurus itu diajarkan semua, disuruhnya Yan-chiu mengulang.

lagi seluruhnya.

Pada ketika Kang Siang Yan anggap permainan Yan-chiu sudah cukup, haripun sudah dekat tengah hari.

Mereka dahar lagi santapan hasil hutan situ.

Lupa Yan-chiu akan rencananya semula.

Dengan memiliki ilmu pedang yang lihay itu nanti hendak unjuk gigi membuat kaget sang suko.

Biarkan suko itu mendapat tanda mata berupa lubang tusukan pada bajunya.

Hm....., garangnya!

Kuatir waktunya tak mengidinkan, setelah meruncingkan dahan itu lagi, Yan-chiu loncat keluar dan berseru.

"Keluarlah hai, bujang! Biar kukirim kau ke Se-thian (akherat) !"

Biasanya ia selalu membahasakan "suko"

Pada Tio Jiang, kini mendapat keaempatan bagus, berulang kali dia memanggil "bujang atau telur busuk"

Sampai puas.

Dalam setengah harian itu, lagi2 Kui-ing-cu hanya memberi penjelasan mendalam tentang ilmu lwekang, hingga makin sempurnalah pengertian Tio Jiang akan ilmu itu.

Mendengar tantangan sinona, Tio Jiangpun lalu memotes setangkai dahan.

Tanpa sungkan lagi.

Yan-chiu segera buka serangan dengan jurus pertama "Pah-ong-oh-kang", dan untuk itu Tio Jiang gunakan jurus "Tio Ik cu-hay" (Tio Ik memasak laut).

Sewaktu menyerang itu, tubuh keduanya mendorong maju, tapi anehnya, kedua dahan masing2 melayang kesamping, sehingga kini mereka saling berhadapan muka sedemikian rapatnya, se-olah2 orang membisiki kawan seperti orang bertempur.

Yan-chiu terperanjat dan kuatir kalau2 diketahui rahasianya oleh Kang Siang Yan.

Kini buru2 dia berganti dengan jurus Kut-ji-tho-kang (Kut Gwan mencebur kesungai).

Tapi astagafirullah!

Lagi2 kedua dahan itu masing2 lewat disisinya, bahkan kini lengan keduanya seperti orang saling merangkul.

Yan-chiu makin heran.

Jurus ketiga ia lancarkan, pun mengalami nasib serupa saja.

Demikan-jurus kelima dan keenam.

Tatkala menginjak jurus ke 7, atau jurus yang terakhir yang semestinya merupakan jurus yang terlihay, senjata keduanya saling berbentur.

Tubuh Yan-chiu menjorok kebelakang, sedang tangan kiri Tio Jiang tepat menjulur kemuka dan dengan tepatnya merangkul pinggang sumoay itu.

Merah padam wajah kedua anak muda itu.

Cepat2 keduanya loncat menyingkir.

"Bibi, runyam ni!"

Seru Yan-chiu.

Kang Siang Yan sendiripun tak mengerti.

Kang Siang Yan mengasah otak dan tiba2 tersedarlah ia.

Ternyata sepasang ilmu pedang itu, harus dimainkan oleh pasangan pria-wanita untuk menghadapi musuh.

Dan ini baru mengunjukkan kesaktiannya.

Tapi kalau pria dan wanita Itu saling bertempur sendiri, tiada seorangpun yang akan dapat melukai kawannya.

Sewaktu Kang Siang Yan dan Hay-te-kau masing2 mempelajari ilmu pedang itu,.

mereka masih ber-kasih2an, jadi tak pernah terlintas dalam pikirannya untuk bertempur sendiri.

Apa lagi peraturan perguruan menetapkan, siapa pun juga tidak boleh mencuri lihat kepandaian saudara seperguruannya, Jadi keduanya tak mengerti akan keindahan dari ilmupedang masing2.

Setelah menyelesaikan pelajarannya, mereka terangkap menjadi suami isteri, jadi tak pernah bertempur.

Oleh karena itu, mereka gelap akan inti kebagusan kedua ilmu pedang itu.

Baru kini Kang Siang Yan terbuka matanya.

Memikir sampai disitu, terdengar ia menghela napas.

la, menduga, pencipta dari sepasang ilmu pedang itu, tentu sudah mengerti akan kehidupan sepasang suami isteri atau sepasang kekasih.

Bagaimanapun juga, tetap ada kemungkinan bahwa suami isteri itu akan timbul perpecahan atau percekcokan.

Bermula bibit itu kecil saja, tapi jurang salah paham itu makin lama makin lebar dan achirnya jadilah suatu pertentangan hebat.

Apabila kedua suami isteri itu sampai bertempur, masing2 tiada dapat tercelaka.

Malah kedua ilmupedang itu digubah sedemikian rupa, sebingga dapatlah pasangan yang sedang menuruti kemarahan hati masing2 itu, akan tersedar dan berakhir dengan suatu perdamaian dan kerukunan kembali.

Ah, tentulah pencptanya itu seorang yang pernah mengalami badai gelombang penghidupan didalam melayari bahtera hidupnya.

Pikiran Kang Siang Yan melayang jauh akan masa kehidupan suami-isteri dengan Bek Ing.

Adakah disitu terselip suatu kesalahan faham ?

Ah, ia menyaksikan hal itu dengan mata kepala sendiri, masa bisa keliru!

Maka dalam sekejab saja kenangan Itupun lenyap dalam pikirannya.

"Kang Siang Yan, bukantah kita serie namanya ? Maaf, aku tak dapat menemani lama2 !"

Seru Kui-ing-cu.

"Jangan kesusu pergi dulu! Masa hanya sekali bertanding senjata, lantas sudah!"

Cepat Kang Siang Yan mencegahnya, sembari merebut dahan kayu yang dicekal Yan-chiu turut tertarik kemuka dan jatuh, cring.........sebuah benda jatuh keluar dari dalam bajunya.

Yan-chiu menjadi pucat dan buru2 hendak mengambilnya, tapi kalah cepat dengan Kang Siang Yan yang sudah menyambarnya.

Melihat rahasia telah pecah, dengan gugupnya Yan-chiu mundur hampai 10 tindak seraya melambaikan tangan pada Kui-ing-cu.

Begitu melihat benda itu, wajah Kang Siang Yan berobah murka besar.

Kiranya benda itu adalah thiat-hoan (gelang besi) pemberian Kui-ing-cu !

Gelang yang melingkar macam ular itu, adalah ciri peribadi dari Kui-ing-cu.

Setiap orang persilatan sama memakluminya.

Misalnya ketika pertempuran diluitay gunung Gwat-siu-san tempo hari, toa-ah-ko Thian Te Hwe yani Ki Ce-tiong pun mengenali benda itu sebagai milik Kui-ing-cu, apalagi seorang tokoh macam Kang Siang Yan.

Kini jelaslah Kang Siang Yan akan persoalannya, Dirinya dijadikan, bulan2 sandiwara kedua orang itu, yang maksudnya supaya ia menurunkan pelajaran silat pada sinona.

Sudah tentu marahnya bukan kepalang, sehingga seluruh rambut kepalanya sama menjingkrak lempang.

Dalam wajahnya yang cantik itu, terlihat juga raut muka yang menyeremkan orang.

"Setan cilik, besar sekali nyalimu ya ?!"

Yan-chiu mundur lagi sampai sepuluhan. tindak, namun Kang Siang Yan menyeringai seram.

"Setan cilik, kau naik kelangit, aku susul kelangit. Kau masuk kebumi aku kejar kesana. Apa abamu ?"

Kini Yan-chiu yang main mundur itu sudah. tiba disamping Kui-ing-ciu.

"Lo-cianpwe, tolonglah aku!"

Serunya dengan meratap. Tapi Kui-ing-cu siorang aneh itu malah terkekeh-kekeh, sahutnya.

"Apa bukan 'telur busuk' lagi ?"

Melihat sorot mata Kang Siang Yan memancar buas dan sikapnya sudah siap menyerang, wajah Yan-chiu menjadi pucat, dia meratap gugup sekali.

"Lo-cianpwe, jangan bergurau lagi!" .

"A-thau, kemana larinya kecerdasanmu biasanya itu ?"

Balas Kui-ing-cu dengan tenang2.

Memang karena jeri akan kesaktian Kang Siang Yan, Yan-chiu sudah menjadi ketakutan sedemikian rupa.

Sepatah kata darl Kui-ing-cu itu telah menyadarkannya.

Resiko itu, dia sendiri yang harus menghadapinya, karena toh ia sendiri yang berbuat.

Sesaat itu timbullah nyali ya.

Dengan mendapat ketenangannya lagi, ia berseru, kepada Kang Siang Yan.

"Subo, lain kali aku sungguh tak berani lagi!" , Mendengar dirinya disebut "subo" (ibu guru), Kang Siang Yan termangu. Diam2 dia anggap gadis itu keliwat cerdik sehingga dirinya, sampai kena dikelabui mentah2. Pertama kali sewaktu mempertunjukkan ilmu silat Lang-wan-kun, memang ia sudah curiga, Tapi karena pandainya gadis itu mainkan rolnya, sehingga kini dengan serta merta ia telah turunkan pelajaran yang sakti2. Kalau dulu, mungkin Kang Siang Yan akan menyudahi begitu saja urusan itu, tapi kini setelah kemasukan hawa jahat dari ilmu thay-im-lian-seng, sudah menjadi kerangsokan setan. Sekali bergerak tampak dia melesat kearah Yan-chiu, Kui Ing-cu dan Tio Jiang. Melihat sikapnya, ia tentu akan menyerang. Tapi entah bagaimana, terpisah tujuh delapan tindak jauhnya, tiba2 ia berhenti dengan serentak. Benar2 ia telah menguasai puncak kesempurnaan ilmunya, sehingga "kalau bergerak seperti kelinci, jika diam bagaikan gunung", artinya ia dapat menguasai gerak-geriknya dengan tepat. Yan-chiu bertiga kagum sekali atas gerakan wanita tersebut yang mengunjuk sampai dibatas mana ilmu lwekangnya. Kui-ing-cu tahu kalau wanita itu amat murka, sehingga wajahnya sedemikian pucat. Sahutnya.

"Kedua anak ini mengakui kau sebagai subo. Dalam pertemuan pertama, seharusnyalah kalau memberi sedikit hadiah, mengapa kau begitu pelit ?"

Kang Siang Yan termenung diam.

Memang peristiwa pertengkarannya dengan sang suami, sudah menjadi buah tutur orang persilatan.

Walaupun begltu, tak mau ia menerangkan kepada Kui-ing-cu.

Dalam keheningan suasana itu, tiba2 Kui-ing-cu ulurkan tangan mencubit lengan Yan-chiu, sehingga nona itu menjerit kesakitan.

Kang Siang Yan terkesiap, adalah detik2 kesiap itu, secepat kilat Kui-ing-cu melesat kearahnya dan tahu2 Kang Siang Yan rasakan matanya ber-kunang2.

Tahu ia kalau orang telah menyerang dengan tiba2, hal mana telah menimbulkan kegusarannya.

Tak kurang sebatnya, ia menebas dengan thay-im-ciang yang tak bersuara itu.

Kui-ing-cu takut kalau Kang Siang Yan menghancurkan gelang besinya itu.

Gelang besi itu merupakan ciri peribadinya, dengan dirusak orang, hilanglah mukanya.

Maka tadi dia telah nekad untuk merebutnya.

Tapi perbuatan itu telah menimbulkan kemarahan Kang Siang Yan.

Kalau kepandaian Kang Siang Yan lemah, tentu.

Kui-ing-cu akan dapat mencapai maksudnya, tapi wanita itu setingkat kepandaiannya dengan dia, malah ilmunya thay-im-ciang luar biasa berbahayanya karena tidak mengeluarkan suara hingga orang sukar untuk menolaknya.

Baru tubuh keduanya berbentur sejenak, atau secepat itu pula sudah saling berpencar lagi.

Benar gelang telah terampas oleh Kui-ing-cu, tapi pundaknyapun kena terbentur dengan samberan pukulan thay-im-ciang.

Bagaimana lihaynya, terpaksa dia menggigil juga tubuhnya.

Itu saja dia hanya terkena separoh bagian dari pukulan maut tersebut.

"A-thau, sambutilah ini !"

Serunya melemparkan gelang besi kepada Yan-chiu. Habis itu, dia lalu duduk bersila mengambil napas. Kang Siang Yan memandangnya dengan menyeringai, ujarnya .

"Kui-ing-cu, kau telah termakan thay-im-ciangku, kalau kuhajar lagi dirimu, adalah semudah orang membalik telapak tangan. Tapi kau tentu tak mau mengaku kalah. Kalau kau masih mau mengukur kepandaian, tunggulah sampai 7 hari, lagi!"

Kata2 itu ditutup dengan,sebuah tawa dingin.

Melihat tiang-pelindungnya terluka, Tio Jiang dan Yan-chiu sangat terperanjat.

Tio Jiang menyembat sebatang dahan puhun sebesar lengan, melangkah kehadapan sumoaynya, hal mana telah membuat sinona sangat berterima kasih.

Biasanya ia sangat cerdas, tapi entah bagaimana pada saat itu otaknya macet, tak dapat memikir jalan lolos.

Tampak ia kepalkan kedua tangannya sendiri yang basah dengan keringat itu.

Kang Siang Yan perdengarkan suara ketawa, yang kumandangnya makin dekat.

Dan berbareng dengan itu Kang Siang Yan loncat -merangsangnya.

Tio Jiang menyambut dengan sebuah tusukan dahan kayu tadi, tapi sesaat itu Juga sikunya terasa dipijat keras dan tahu2 dahan itu sudali pindah ketangan Kang Sang Yan, siapa sudah loncat beberapa tindak kebelakang.

"Kalian berdua ini, tidak berharga membikin kotor tanganku! A-thau, lekas kembalikan kepandaianku tadi. baru nanti kuampuni!"

Serunya kepada Yan-chiu, lalu gerakkan.

dahan kayu tadi yang secepat kilat sudah lantas melayang kearah Yan-chiu.

Yan-chiu mau menghindar, tapi sudah tak keburu lagi, sret .......dahan kayu itu menancap masuk kedalam sebuah batu karang yang berada beberapa centi dimukanya.

Tangkainya tak henti2nya bergoncang !

Saking takutnya, Yan-chiu mengucurkan keringat dingin.

"Lekas lakukan sendiri!"

Kembali Kang Siang Yan membentak yang dimaksud dengan "mengembalikan Ilmu"

Yalah suruh Yan-chiu mengutungi sendiri kaki tangannya, sehingga menjadi seorang invalid.

Kui-ing-cu terluka, sedang ia dan sukonya bukan lawan wanita itu.

Saking bingungnya, ia lalu menangis, ratapnya .

"Subo, aku berjanji tak gunakan kepandaian dari ajaranmu tadi. Kalau harus mengutungi kaki tangan, artinya pelajaranku sendiri dulu juga turut hilang, bukantah ini tak adil !"

Yan-chiu masih berusia muda, jadi lugu pembicaraannya itu pun masih mengunjuk sifat kanak2.

Dalam menghadapi ancaman sehebat itu, kata2nya masih lucu kedengarannya.

Juga Tio Jiang tak kurang kagetnya.

Dia menghampiri dan dengan kerahkan tenaganya, cabut dahan kayu yang menancap pada karang tadi.

Kala mendengar ratapan Yan-chiu, diapun tergetar hatinya.

Dipandangnya wajah Kang Siang Yan untuk mengharap kemurahan hatinya, namun agaknya hati Kang Siang Yan sudah membatu.

"A-thau, berani berbuat berani menanggung resiko. Kalau berayal dan sampai aku terpaksa turun tangan, akibatnya akan lebih hebat !"

Serunya. Kali ini Tio Jiang tak kuasa menahan perasaannya lagi!. Mulutnya menyatakan apa yang dirasa oleh sang hati.

"Subo, Siao Chiu sudah berjanji tak akan menggunakan pelajaran darimu, mengapa kau mendesaknya ? Masakan orang tak dapat menerima perasaan orang ?"

Serunya dengan tabah. Mendengar itu, Kang Siang Yan mendongak tertawa, rambutnya menjigrak kencang, lalu dengan suara yang bagaikan guntur menyambar, berkata.

"Kalau aku tak mau menerima, habis kau mau apa ? A-thau, lekas kerjakan sendiri!"

Tio Jiang segera angsurkan dahan kayu tadi pada Yan-chiu, siapa kedengaran bertanya dengan heran.

"Suko, adakah kau juga maukan aku melakukan perentah itu ?"

Tio Jiang membungkuk untuk mengambil sebatang ranting kecil sera ya berbisik.

"Siao Chiu, sedikitnya kita berharap dapat bertahan sampai beberapa jurus!"

"Suko, mana kita bisa menandinginya ?" .

"Itu bukan soal, asal kita tak mati sia2!"

Tanya jawab itu didengar juga oleh Kang Siang Yan.

Dia benci kepada sang suami karena suaminya itu dianggap berlaku pengecut.

Bahwa TIo Jiang telah berlaku gagah untuk melindungi sumoaynya, ia terpikat Juga.

"Baiklah, biar aku mengalah sampai 3 jurus!"

Serunya dengan tertawa dingin. Tiga jurus, mungkin ada perobahan, demikian pikir Yan-chiu siapa terus pindahkan "pedang"

Ketangan kiri, lalu membuat sebuah gerakan hingga menerbitkan lingkaran sinar.

Habis itu, maju selangkah ia menusuk dengan gerak jurus Hoan-kang-kiam-hwacang pertama yakni Pah-ong-oh-kang.

Ilmu pedang itu baru saja ia pelajari dari Kang Siang Yan.

Melihat sumoaynya sudah bertindak, Tio Jiang pun maju dengan serangannya Thio-Ik cu-hay.

Sepasang ilmu pedang yang sakti, saling bertemu pula dalam menghadapi bahaya.

Yang satu dari kanan dan yang lain dari kiri, berbareng menyerang dengan serentak.

Untuk serangan pertama itu Kang Siang Yan sesuai dengan janjinya, hanya menghindar kesamping, sehingga serangan kedua anak muda tadi menemui tempat kosong.

Tio Jiang tak mau buang tempo, secepat kilat merobah gerakannya dengan jurus Boan-thian-ko-hay, ujung kayu menuju kearah tenggorokan Kang Siang Yan, sedang berbareng itu Yan-chiupun lancarkan jurus kedua Khut-ji-tho-kang.

Dua buah serangan itu merupakan pasangan yang tiada bandingannya lagi, yang satu menyerang yang lain bertahan.

Tapi kepandaian Kang Siang Yan sudah mencapai tingkat yang sukar diukur.

Dengan hanya melangkah setindak, dapatlah ia menghindar.

Tapi Tio Jiang tetap membayangi, dengan sebuah serangan lagi.

Sedang disana Yan-chiupun sudah memutar tubuh lalu menyerang dari belakang Kang Siang Yan.

Satu dimuka satu dibelakang.

Sinar pedang me-lingkar2, perbawanya hebat benar.

Sekali kurang cepat, lengan baju Kang Siang Yan telah kena tertusuk oleh dahan Tio Jiang, baru ia enjot tubuhnya loncat melewati kedua samberan pedang lawan.

Pengalaman itu telah memaksanya berpikir dan mengakui betapa kehebatannya sepasang ilmu pedang.

itu, Misalnya kedua anak muda itu yang dalam tingkat kepandaian masih kalah beberapa kali lipat ganda darinya, namun sekali kurang hati2, hampir saja tadi ia terluka.

Terkenang ia akan mesa kejayaannya ber-sama2 sang suami menjagoi dunia persilatan.

Selama itu belum pernah ia mendapat tandingan.

Tapi kini hanya tinggal ia seorang diri dan memikir sampai disini, kemarahannya berkobar lagi, serunya.

"Tiga jurus sudah lampau, aku yang turun tangan atau kau mengerjakan sendiri'"

Waktu ujung dahannya menusuk lengan baju Kang Siang Yan, Tio Jiang rasakan ada suatu tenaga dahsyat menyampoknya.

Mau tak mau Tio Jiang harus mengakui betapa hebat ilmu lwekang sang subo itu.

Jangankan hanya dia dan Yan-chiu, sekalipun ditambah 20 orang lagi, rasanya masih belum mampu melawannya.

Tapi karena urusan sudah sampai sekian macam, lebih baik terus menggempur daripada melihat sang sumoay kutung kaki tangannya, Maka iapun segera memberi isyarat Yan-chiu untuk menyerang lagi.

Dengan perdengarkan suara tawa dingin, lengan baju Kang Siang Yan mengibas kemuka Yan-chiu dan tahu2 tangannya sudah mencekal dahan Yan-chiu, terus hendak menariknya.

Tapi berbareng itu, Tio Jiang sudah menusukkan dahannya kejalan darah thian-tho-hiat ditenggorokannya, sehingga terpaksa Kang Siang Yan memutar balik tubuhnya.

Kesempatan itu digunakan Yan-chiu untuk menarik kembali dahannya, inilah kesaktian dari sepasang ilmu pedang itu.

Tapi kini Kang Siang Yan tak mau memberi kesempatan kedua anak muda itu untuk melancarkan jurus ke 5.

Sang tangan baju mengebut, dan Yan-chiu rasakan dirinya tertindih oleh sebuah tenaga dahsyat, sehingga dadanya hampir susah untuk bernapas.

Tak berani ia menangkis, melainkan buru2 mundur.

Tio Jiang buru2 maju menolong, tapi jarak keduanya agak jauh, sehingga sepasang ilmu pedang itu hilang daya gunanya.

Kang Siang Yan tiba2 berputar kebelakang, kelima jarinya yang bagai kait besi itu menerkam dan Tio Jiang rasakan tangannya sakit, lalu buru2 mundur kebelakang.

Tapi dahannya sudah berpindah ditangan Kang Siang Yan, siapa dengan melintir beberapa kali saja telah membuat dahan sebesar lengan itu hancur lebur seperti bubuk.

Sekali menekan, dahan itu patah menjadi beberapa kutung kecil.

Melihat yan-chiu terpisah jauh dari Kang Siang Yan, Tio Jiang menereakinya.

"Siao Chiu, lekas, lekas lari!"

Yan-chiu tak mengerti apa maksud sang suko, tapi sekonyong2 Tio Jiang menyerang Kang Siang Yan dengan nekadnya.

Kini baru Yan-chiu tersadar akan maksud yang mulia dari sukonya itu.

Dia rela berkorban supaya sumoaynya selamat.

Adakah seorang lelaki yang berhati lebih mulia dari itu ?

Dia rela binasa, untukku, mengapa aku berlaku pengecut ?

Demikian Yan-chiu mengambil keputusan.

"Jiang suko, biarlah kita mati ber-sama2!"

Sahut menyahut itu terdengar oleh Kang Siang Yan, siapa menduga kalau kedua anak muda itu adalah sepasang kekasih.

Waktu Tio Jiang merangsang maju, ia kebutkan lengan baju dan se-olah2 ada sebuah dinding tembok kuat menghadang, hingga Tio Jiang tak dapat menobros dekat.

Waktu melihat sang sumoay tak mau lari, hati Tio Jiang makin gelisah.

Ber-ketes2 peluh mengucur dari kepalanya, urat2 didahinya pada menonjol.

(Oo-dwkz-TAH-oO) BAGIAN 18 .

TELUR DIUjUNG TANDUK Adalah karena menganggap kedua anak muda itu sepasang kekasih, maka Kang Siang Yan tergetar hatinya, maka dia tak mau balas menyerang sianak muda.

Pikirannya terkenang akan sang suami yang begitu mesra sekali kasih sayangnya, namun dalam saat2 berbahaya, dia telah berlaku begitu pengecut.

la menghela napas dalam.

Sepasang tangannya yang sedianya sudah siap dilancarkan kepada sepasang gadis dan jejaka itu, diturunkan pula.

Melihat kesempatan itu, Tio Jiang melesat kearah Yan-chiu.

Betapa tajam biasanya mulut Yan-chiu itu, namun dalam saat2 yang mengharukan itu, ia segera menyongsong kedatangan Tio Jiang itu dengan getaran jiwa raganya.

Kepalanya disusupkan kedada sang suko, air matanya membanjir dengan suara sedu-sedan.

Kang Slang Yan termenung melihatnya.

Pertama, waktu nampak pemuda itu maju kehadapan untuk melindungi Yan-chiu, ia sudah symphati.

Kemudian, waktu menyaksikan pemandangan yang tragis romantis itu, hatinyapun mengiri.

Turut perasaannya dia tak mau melukai nona itu, tapi sang napsu amarah tetap mengatakan bahwa biar bagaimana nona yang sudah berani menipu pelajarannya itu, harus dihukum.

"A-thau, apa kau masih membangkan tak mau melakukan perentahku tadi ?"

Tanyanya kemudian.

Tapi berbareng itu, disebelah sana tampak Kui-ing-cu sudah berbangkit bangun.

Kecuali wajahnya yang agak pucat, nampaknya dia tak kena apa2.

Kang Siang Yan yakin bahwa ilmunya thay-im-ciang tadi, walaupun hanya mengenai separoh, tapi biar bagaimana lihaynya orang tentu harus memerlukan 7 hari untuk bisa sembuh kembali.

"Kui-ing-cu, apakah kau hendak membantu lagi pada, kedua bocah itu?"

Tanyanya dengan sinis. Kui-ing-cu tertawa, sahutnya.

"Kang Siang Yan, benar2 lihay ilmu thay-im-ciang mu itu! Mungkin yang menjagoi dalam dunia. Rupanya seluruh kepandaian dari Hu Liong Po, telah kau warisi semua. Sayang seorang sakti seperti Hu Liong Po itu tiada meninggalkan. keharuman nama, oleh karena perjalanan hidupnya. Kang Siang Yan, renungkanlah!"

Seharusnya orang akan tergerak hatinya mendengar nasehat mas dari Kui-ing-cu itu, namun Kang Siang Yan tetap berhati batu.

"Perlu apa dengan etiket kosong itu ?"

Sahutnya dengan mengejek.

"Baik, kalau kau turut kemauanmu dewek, asal kami bertiga tua-muda ini bersatu, kaupun takkan berbuat banyak !"

Kata Kui-ing-cu dengan nada berat. Tapi belum Kang Siang Yan menyahut, dari balik gunung sana kedengaran suara orang bersenandung.

"Mengapa bersitegang leher mencari menang, damai adalah jembatan menuju kebahagiaan!"

Nampaknya senandung itu lelah dan lamban, tapi setiap patah kata me-lengking2 bagaikan martil memukul batu.

Tio Jiang dan Yan-chiu heran, tapi tak mengetahui letak keistimewaan suara itu.

Lain halnya dengan Kang Siang Yan dan Kui-ing-cu yang segera sama2 terperanjat, karena suara itu diucapkan oleh seorang ahli lwekang yang tinggi sekali tingkatannya.

Kalau ditilik dari tingkat kepandaiannya, mungkin orang itu adalah Ang Hwat cinjin dari gunung Ko-to-san.

Tapi kalau ditinjau dari senanjung itu, terang bukan.

Ah, entah kawan entah lawan.

Begitulah kedua tokoh lihay itu me-nimang2 sembari ber-siap2.

Seorang hweshio tua yang wajahnya bercahaya merah, tubuhnya tinggi besar, mengenakan jubah pertapaan kain macao kasar, telanjang kaki dan mencekal sebatang tongkat timah yang melebihi tinggi orangnya, nampak berjalan pe-lahan2 keluar dari balik gunung.

Setindak demi -setindak ia melangkah dengan tenang tapi kokoh laksana sebuah gunung.

Waktu sudah dekat, nampak bagaimana sepasang alisnya yang sudah putih semua itu menjulai panjang sampai tiga dim.

Rambut janggutnya jarang, hingga kelihatan tegas daging janggutnya.

Per-tama dia memandang kearah Tio Jiang dan Yan-chiu, habis itu lalu berputar diri menghadap Kang Siang Yan, ujarnya.

"Sian-cay...., siancay....! Sepuluh tahun tak berjumpa, kiranya li-tham (anda) sudah berubah banyak !"

Sewaktu hweshio itu tadi muncul dari balik gunung, agaknya ingat2 lupa Kang Siang Yan sudah pernah mengenalnya.

Kini demi mendengar kata2nya, ia tak merasa sangsi lagi.

Itulah suhu dari ketua kedua Thian Te Hui Kiau To yang disebut Tay Siang Siansu dari gereja Liok-yong-si di Kwiciu.

"Bagus, toa-hweshio !"

Seru Kui-ing-cu. Tay Siang Siansu berpaling, setelah mengawasi sejenak, dia berkata.

"Andapun sudah terluka, apakah tak tahu ?"

"Benar, toa-hweshio, adakah kau mempunyai daya ?"

Tanyanya seraya diam2 mengagumi kepandaian sihweshio tua itu. Tay Siang merogoh kedalam baju dan menyerahkan sebutir pil pada Kui-ing-cu, siapa dengan kegirangan sekali sudah lantas menelannya.

"Tay Siang Siansu, orang agama mengapa suka usilan ? Lekas menyingkir, jangan mengganggu aku!"

Bentak Kang Siang Yan dengan murka. Kembali sihweshio rangkapkan kedua tangannya, menyahut dengan tenang.

"Siancay......! Sepuluh tahun yang lalu pinceng pernah menerima ajaran dari kalian. Ketika menderita kekalahan, bermula pinceng menyiksa diri untuk berlatih lagi guna membalas sakit hati. Tapi ternyata pelajaran Hud (Budha) itu tiada batasnya. Nyonya, sekalipun kau sekarang tusuk tubuhku beberapa kali, akupun tak nanti membalasnya !"

Ucapan itu merupakan sumber air dingin yang mengguyur tubuh Kang Siang Yan.

Heran ia mengapa orang begitu meremehkan akan dendam kesumat ?

Jadi terang ilmu lwekang thay-im-lian-seng itu berlawanan dengan ilmu lwekang kaum Hud dari Tay Siang Siansu.

Cara jalan pikirannyapun, berbeda sekali.

Petuah dari hweshio tua itu, menggetarkan sanubari orang, tapi sayang jiwa Kang Siang Yan telah keliwat mendalam diracuni dengan thay-im-lian-seng yang jahat itu.

"Kau tak menyalahi padaku, mengapa aku harus mengusikmu ? Budak ini telah menipu pelajaranku, maka akan kumintanya mengembalikan!"

Serunya sembari terus enjot diri kearah Yan-chiu.

Kui-ing-cu cepat2 hadangkan lengannya.

Tapi gerakan Kang Siang Yan sebat, sekali.

Luput yang pertama, ia melejit lagi kesamping sinona terus mencengkeram jalan darah tay-tong-hiat dipunggungnya.

Yan-Chiu rasakan tubuhnya kedinginan sekali, sehingga giginya kedengaran gemerutuk.

Buru2 ia loncat kemuka, tapi Kang Siang Yan tetap membayangi.

Kemana Yan-chiu hendak menghindar, kesitu punggungnya selalu masih dilekati tangan Kang Siang Yan.

"A-thau, jadi kau minta aku turun tangan ?"

Serunya.

Yan-chiu tak dapat berkutik lagi, hanya sepasang matanya mengawasi kearah Kui-ing-cu.

Kui-ing-cu hilang akal.

Tadi bermula dengan munculnya Tay Siang hweshio yang pernah terikat permusuhan dengan suami isteri Kang Siang Yan -Bek Ing itu, dia kira bakal terjadi perobahan.

Tiada kira setelah 10 tahun mengisap pelajaran Hud itu, Tay Siang telah berobah menjadi seorang yang tawar akan segala dendam kesumat.

Dia sendiri merasa belum sembuh sama sekali.

Benar tadi telah menelan pil sam-kong-tan dari Tay Siang Siansu, tapi juga masih memerlukan suatu waktu yang tertentu, baru dapat pulih betul2.

Atas pandangan minta dikasihani dari Yan-chiu tadi, dia terpaksa tak dapat berbuat apa kecuali tertawa kecut.

Ternyata Kang Siang Yan telah gunakan thay-im-ciang untuk menekan punggung Yan-chiu, siapa sudah tentu tak kuat menahannya.

Tubuhnya serasa demam, giginya menggigil bergemerutukan.

Wajahnya berobah menjadi ke-hijau2an.

Beberapa kali Tio Jiang hendak maju menerjang, tapi setiap kali dengan hanya mengebutkan lengan baju Kang Siang Yan telah dapat menggebahnya.

Beberapa jenak kemudian, tampak Yan-chiu sudah kepayahan, serunya.

"Kaum agama mengagungkan welas asih, tapi kau hweshio, apakah benar2 tegah melihati aku mati ?"

Tay Siang Siansu mengawasi sejenak, lalu menghela napas, ujarnya.

"Sian-cay........, nona kecil itu benar2 tak kuat menahannya, harap nyonya suka sudahi hukuman itu'."

"Kalau aku tak melepaskannya, habis mau apa?"

Kang Siang Yan tertawa dingin. Adalah karena tanya jawab itu, Yan-chiu makin bertambah kesakitan. Melihat itu Tay Siang segera ulurkan tongkatnya kepada Yan-chiu.

"Nona kecil, peganglah ini "

GAMBAR 41

"Pegang ini !"

Mendadak Tay Siang Siansu mengulurkan tongkatnya kepada Yan-chiu hingga anak dara itu mendadak merasa semacam tenaga hangat mengalir ketubuhnya melalui tongkat itu.

Yan-chiu menurut.

Dari tongkat timah itu dirasanya ada.

Hawa hawa hangat mengalir kelengannya lalu menjalar keseluruh tubuh.

Melihat datang bintang penolong yang berupa penyaluran lwekang melalui tongkat, Yan-chiu makin memegang erat2 tongkat itu.

Wajahnyapun tampak agak tenang.

Melihat itu, Kui-ing-cu menjadi girang, tapi sebaliknya Kang Siang Yan murka sekali.

Sebenarnya tadi ia tak ingatan hendak melukai sungguh2, tapi kini berobahlah pendiriannya.

"Kepala gundul, jadi kau mau menolong jiwa budak ini ?"

Tanyanya dengan bersenyum iblis. Dan sesaat itu Yan-chiu rasakan hawa dingin tadi merangsang lagi. Tahu ia kalau Kang Siang Yan perhebat tenaga lwekangnya.

"Toa-hweshio, aku merasa dingin lagi". serunya dengan gugup. Tay Siang Siansu kedengaran menghafal ayat kitab Hud (Buddha) dan Yan-chiu segera rasakan hawa hangat pula. Tapi tak lama kemudian, tekanan thay-im-ciang merangsang hebat lagi. Dengan begitu Yan-chiu telah menjadi "medan pertarungan"

Lwekang yang hebat.

Tay Siang tak menduga kalau Kang Siang Yan berhati seganas itu.

Kini urusan sudah runyam betul, ibarat orang naik kepunggung harimau, maju mundur serba salah.

Kalau dia tak perhebat saluran lwekangnya, Yan-chiu tentu tak kuat.

Tapi kalau dia perhebat salurannya, Kang Siang Yan pun tentu memperhebat tekanannya juga.

Dengan dirangsang hawa panas dingin begitu, wajah Yan-chiu pun sebentar merah sebentar pucat.

Darahnya serasa bergolak kencang sedang pekakas dalamnya serasa bergoncang hebat.

Tahu juga Tay Siang Siansu, dalam beberapa saat kemudian tentu Yan-chiu akan tak kuat menderita lagi.

"Nyonya, mengapa harus merusakkan tubuh nona kecil ini ?"

Katanya demi kasihan atas keadaan Yan-chiu.

Tapi Kang Siang Yan sudah dirangsang kemarahan, tak mau menyahut omongan orang.

Tay Siang Siansu tak gentar menghadapi lwekang Kang Siang Yan, tapi yang jadi korban adalah Yan-chiu sendiri nanti.

Begitupun pikiran Kui-ing-cu, dan Tio Jiang yang sibuk tak keruan sendiri itu.

Kalau keduanya turut mencekali tongkat itu, tentu dapat menambah tekanan fihak Tay Siang, tapi jiwa Yan-chiu pasti akan melayang!

Baca Juga: Golok Bulan Sabit 9

Baca Juga: Bu Kek Kang Sinkang 2

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger